Model Teknik dalam Pendekatan Analisis T

 0  0  11  2018-09-14 11:29:55 Report infringing document

A. Model Teknik dalam

  Pendekatan Analisis Transaksional Menurut M.

  Ramli Secara umum Teknik-teknik yang dapat dipilih dan diterapkan dalam Analisis Transaksional, yaitu:

  1. Permission

  (Pemberian Kesempatan), dalam konseling kesempatan ini diberikan kepada kilen untuk: Menggunakan waktunya secara efektif tanpa melakukan ritual pengunduran diri, Mengalami semua status ego yang biasanya dilakukan dengan mendorong klien menggunakan kemampuan Status Ego Dewasa untuk menikmati kehidupan, Tidak memainkan permainan dengan cara tidak membiarkan klian memainkannya.

  2. Protection (Proteksi), klien mungkin akan merasa ketakutan setelah ia menerima

  kesempatan untuk menghentikan perintah-perintah orang tua dan menggunakan Status Ego Dewasa dan Status Ego Anak.

  3. Potency (Potensi). Seorang konselor ahli sihir , melainkan orang tahu apa yang akan

  dilakukan dan kapan melakukannya. Oleh karena itu kemampuan konselor terletak pada keahliannya, sehingga keterampilan tersebut efektif secara optimal. Teknik Khusus menurut berne terdiri atas delapan teknik yaitu: Interogasi, Spesifikasi, Konfrontasi, Eksplanasi, Illustrasi, Konfirmasi, Interprestasi dan Kristalisasi.

  Penerapan : Teknik-teknik dan Prosedur-prosedur Terapeutik

  a) Penerapan pada kelompok Konsep-konsep dan teknik-teknik Analisis Transaksional cocok terutama untuk situasi- situasi kelompok. AT pada mulanya direncanakan sebagai suatu bentuk treatment kelompok dan prosedur-prosedur terapeutiknya memberikan hasil dalam setting kelompok. Dalam setting kelompok, orang-orang bisa mengamati perubahan orang lain, yang memberikan kepada mereka model-model bagi peningkatan kebebasan memilih. Mereka menjadi paham dengan orang lain. Transaksi-transaksi dalam kelompok memungkinkan para anggota mampu meningkatkan kesadaran, baik tentang dirinya sendiri maupun tentang orang lain dan karenanya bisa berfokus pada perubahan-perubahan dan putusan-putusan ulang yang akan mereka buat dalam kehidupan mereka.

  Harris (1967) sepakat bahwa “treatment atas individu-individu dalam kelompok adalah metode analisis-analisis transaksional”. Ia memandang fase permulaan kelompok AT sebagai suatu proses megajar dan belajar serta meletakkan kepentingannya pada peran didaktik terapis kelompok.

b) Prosedur-prosedur Terapeutik (Model Analisi dan Diagnostik Masalah AT)

1. Analisis Struktur

  Analisis struktur maksudnya adalah analisis terhadap status ego yang menjadi dasar struktur kepribadian klien yang terlihat dari respons atau stimulus klien dengan orang lain. Teknik ini dapat dikatakan sebagai alat untuk mendorong seseorang menjadi sadar terhadap isi dan fungsinya dari ego statusnya masing-masing. Dalam proses analisis transaksional klien belajar bagaimana mengidentifikasi dirinya dengan status egonya sendiri. Dalam kaitan ini analisis struktural mendasarkan pada dua masalah yang berhubungan dengan struktur kepribadian yakni : Kontaminasi dan Eksklusi

   Kontaminasi, Terjadi bilamana isi dari salah satu status ego bercampur dengan status ego yang lain seperti :

  SEO berkontaminasi dengan SED. Contoh refleksi pernyataan :

  “Anda tidak dapat menghargai kelompok minoritas yang terkutuk itu”. Pernyataan ini menunjukkan sikap dan ide prasangka yang merupakan ciri utama dari jenis kontaminasi ini.

  SEA berkontaminasi dengan SED. Contoh refleksi pernyataan :

  “Setiap orang selalu mencari saya, tak seorang pun yang berbuat baik”. Pernyataan ini menunjukkan gangguan persepsi tentang realitas yang merupakan ciri dari jenis kontaminasi ini.

  SEO dan SEA berkontaminasi dengan SED. Refleksi pernyataan jenis kontaminasi

  ini lebih bersifat mengklonkusikan tipe-tipe pernyataan pada kontaminasi orang tua dan anak. Pernyataannya lebih bersifat depensif dan rasional.

   Eksklusi, Terjadi bilamana SEO, SED, dan SEA menjadi eksklusif (membengkak).

  Ada tiga hal: SEO yang konstan, maka akan mengeksklusif SED dan SEA. Orang yang selalu berorientasi dalam pekerjaan dan tugas. Dia menjadi orang yang moralistis, judgemental, dan demand (selalu membutuhkan orang lain). Namun perilakunya mendominasi dan otoriter.

  SED yang konstan, maka akan mengeksklusif SEO dan SEA.

  Orang yang objektif, yang selalu bekerja dengan mempertimbangkan pernyataan- pernyataan fakta, kurang memiliki perasaan dan kurang spontan.

  SEA yang konstan, maka akan mengeksklusif SEO dan SED.

  Orang yang memperlihatkan perilaku anak, selalu bersifat bergantung, lari dari tanggung jawab, ingin mencoba-coba, tidak stabil dalam perilaku, kurang mampu untuk berpikir, dan mengatasi permasalahan sendiri.

2. Analisis Transaksional

  Konselor menganalisis pola transaksi dalam kelompok, sehingga konselor dapat mengetahui ego state yang mana yang lebih dominan dan apakah ego state yang ditampilkan tersebut sudah tepat atau belum. Ada tiga tipe transaksi yaitu; Komplementer, Menyilang, dan Terselubung.

   Transaksi Komplementer (Melengkapi) Yaitu bila stimulus yang diberikan mendapat respon yang diharapkan. Jenis transaksi ini merupakan jenis terbaik dalam komunikasi antar pribadi karena terjadi kesamaan makna terhadap pesan yang mereka pertukarkan, pesan yang satu dilengkapi oleh pesan yang lain meskipun dalam jenis sikap ego yang berbeda.

  Transaksi komplementer terjadi antara dua sikap yang sama yakni sikap dewasa. Transaksi terjadi antara dua sikap yang berbeda namun komplementer. Kedua sikap itu adalah sikap orang tua dan sikap anak-anak. Komunikasi antar pribadi dapat dilanjutkan jika terjadi transaksi yang bersifat komplementer karena di antara mereka dapat memahami pesan yang sama dalam suatu makna.

  Contoh : Saya kesal sekali. Ingin rasanya membuang dan melempar semua barang-barang ini.

  Ada hal yang membuat kamu marah, sehingga kamu ingin merusak semuanya? Begitukah?

   Transaksi Menyilang Yaitu bila respon terhadap stimulus tidak seperti yang diharapakan. Hal ini terjadi manakala pesan yang dikirimkan komunikator tidak mendapat respons sewajarnya dari komunikan. Akibat dari transaksi silang adalah terputusnya komunikasi antarpribadi karena kesalahan dalam memberikan makna pesan. Komunikator tidak menghendaki jawaban demikian, terjadi kesalahpahaman sehingga kadang-kadang orang beralih ke tema pembicaraan lain. Contoh : Aduh, rasanya sebel sekali jika ada orang yang selalu bicara terus-menerus seperti sekarang ini. Begitu saja mengeluh.

   Transaksi Terselubung Jika terjadi campuran beberapa sikap di antara komunikator dengan komunikan sehingga salah satu sikap menyembunyikan sikap yang lainnya. Sikap tersembunyi ini sebenarnya yang ingin mendapatkan respons tetapi ditanggapi lain oleh si penerima. Maksudnya adalah bila stimulus yang tampaknya dewasa seharusnya diarahkan pada dewasa. Tetapi dalam terselubung adalah menyembunyikan maksud yang sebenarnya yaitu sikap dewasanya malah justru mengarah lain bukan ke dewasa, tetapi dewasa ke anak atau orang tua ke anak. Dalam transaksi tersembunyi/terselubung ini biasanya diikuti oleh bahasa non verbal (pergantian tinggi nada suara, ekspresi wajah, sikap badan). Contoh : Jam berapa kita latihan dan meeting hari ini selesai? Jam 21:00. Masih ada waktu untuknonton ke bioskop.

3. Kursi Kosong

   Kursi Kosong” adalah suatu prosedur yang sesuai analisis struktual. Klien hadapannya dan mengajaknya berdialog. Prosedur ini memberikan kesempatan kepada klien untuk menyatakan pikiran-pikiran, perasaan-perasaan, dan sikap-sikapnya selama dia menjalankan peran-peran perwakilan-perwakilan egonya.

  Teknik kursi kosong bisa digunakan oleh orang-orang yang mengalami konflik- konflik internal yang hebat guna memperoleh focus yang lebih tajam dan pegangan yang kongkret bagi upaya pemecahan suatu masalah. McNeel (1976) menguraikan teknik dua- kursi sebagai alat yang efektif untuk membantu klien dalam memecahkan konflik-konflik dengan jalan menuntaskan urusan-urusan yang tidak selesai yang berasal dari masa lampau.

  McNeel menyajikan pedoman-pedoman untuk mengamati masalah-masalah dalam teknik dua-kursi, dan menganjurkan penggunaan “peninggi-peninggi” untuk memperjelas masalah-masalah yang tersangkut.

4. Permainan Peran

  Prosedur transaksional dapat juga dikombinasikan teknik psikodrama atau role playing. Dalam terapi kelompokini situasi role playing dapat melibatkan berbagai peran yang diharapkan dari anggota-anggota, termasuk peran tertentu yang menunjuk ego tertentu yang diharapkan.

  Melalui role playing ini klien kita tempatkan pada peran tertentu yang harus ia mainkan. Melalui permainan yang diciptakan ini diharapkan klien dapat mengubah perilakunya. Contoh : Dalam interaksi dengan konselor ia selalu mengemukakan bahwa ia tidak bisa mengerjakan pekerjaan si A yang selalu dapat mengatsi masalah dengan dewasanya, sedangkan dirinya merasa masih belum bisa seperti si A tapi masih belum bisa mengatasi masalahnya dengan sikap yang dewasa. Maka dalam role playing, konselor justru akan menjadikan anak tersebut untuk berperan sebagai si A. Disamping itu tanpamelibatkan suatu peran tertentu klien dapat belajar dari anggota yang lainnya, bagaimana ia harus bisa berorientasi dengan status ego yang diharapkan.

  Teknik ini digunakan sebagai salah satu pendekatan dalam analisis struktural, khususnya untuk melihat model SEO, SED, SEA. Melalui teknik ini, klien diminta untuk berimajinasi terhadap posisi tertentu. Contoh : Bagaimana kalau ia menjadi seorang direktur, aktor atau profesor. Selanjutnya imajinasi itu dan bayangannya ini digantikan (disubstitusikan) dalam situasi kelompok model ( dalam lingkungan anggota keluarganya ).

6. Analisis Script

  Analisis Script ini didasarkan pada konseppsikologi seseorang. Teknik ini didasarkan agar setiap individu untuk mengungkapkan posisinya dalam kehidupannya (life script) untuk menghadapi suatu peristiwa tertentu kemudian di analisis apakah ia berada dalam posisi : I’m OK – You’re OK, I’m not OK – You’re OK, I’m OK – You’re not OK, I’m not OK – You’re not OK

  Dari posisi diatas dapat dianalisis tentang sifat, karakteristik, serta kondisi psikologi yang dimiliki seseorang. Jika individu sadar akan life script nya maka posisi itu dapat diubah dan diprogramkan. Karena Analisis Script ini membuka alternatif baru bagi seseorang dalam memilih dan menentukan tindak lanjut kehidupannya.

B. Contoh Kasus Penerapan Analis Transaksional

  Banyak laporan, terutama dari praktioner (penganut) AT, bahwa AT berhasil dengan memuaskan. Banyak klien yang telah di sembuhkan dengan cara ini, serta “decak kagum” pun di alamatkan pada temuan Berne ini. Terbentuknya perhimpunan AT, ITAA dan terbitnya jurnal AT membuktikan bahwa AT sebagai suatu pendekatan yang sudah besar dan berkembang luas dikalangan ahli terapi.

  Keterampilan AT pada klinik psikologi boleh jadi cocok atau boleh jadi tidak. Penerapan yang tepat meminta uji coba yang cukup matang. Secara rasional, keberhasilan AT di klinik- klinik psikoterapi mungkin sekali kita rekrut ke sekolah. Malah kita lebih optimis lagi, karena dapat mengamati langsung perubahan klien di luar ruangan konseling karena titik sentral dari analisinya terletak pada transaksi. Selama klien masih berada di sekolah, transaksinya baik dengan temanya atau gurunya.

  Lebih optimis lagi, bahwa AT dapat berhasil bila digunakan sebagai penyuluh kelompok, karena orang yag sehat kriteria AT adalah yang punya perasaan bebas untuk menentukan pilihannya. Transaksi yang di gunakan untuk menentukan pilihannya. Transaksi yang di gunakan adalah terciptanya transaksi antar status ego dewasa. Kemungkinan tumbuh dan berkembang transaksi antar ego dewasa ini lebih besar dengan teman sebaya. Jadi kondisi ini memungkinkan konselor menerapkan AT sebagai penyuluhan kelompok disekolah.

  Kondisi sekolah yang menunjang penerapan AT sebagai pendekatan penyuluhan kelompok ini, justru sebalikya bagi penyuluhan individual. Harapan agar komunikasi atau transaksi antara konselor-klien dapat terbentuk transaksi antara ego state dewasa-dewasa, justru sulit terbina. Karena adanya jarak antara konselor dengan klien. Jarak itu adalah factor usia. Konselor lebih cenderung jauh lebih tua dari usia klien yang siswa (12-15 untuk SMTP, 15-19 tahun untuk SMTA). Karena itu transaksi yang mungkin sering muncul adalah antara ego state dewasa (konselor)-anak-anak (pada siswa).

  Kondisi ini di topang oleh faktor budaya kita. Indonesia sebagai bangsa yang berlandaskan pada pancasila bukanlah Negara yang berfaham liberal. Adat dan sopan santun ketimuran selalu melengket pada masyarakat Indonesia. Cara berbicara dengan orang yang sama besar atau lebih kecil tidak sama dengan cara berbicara dengan orang yang dihormati dan atau lebih besar. Pada beberapa daerah, bahasa yang di gunakan pun juga berbeda, lebih halus dan lembut. Karena itu, keberhasilan AT pada masyarakat Amerika yang egaliter belim tentu bisa sama dengan masyarakat kita.

  Contoh Kasus

  Rudy merupakan siswa kelas X SMAN 1 di kabupaten kuningan. Dia memiliki kebiasaan buruk yakni sering minum minuman keras. Hal ini menjadi kebiasaan yang harus di lakukannya ketika dirinya sedang mengalami kecemasan atau di landa sesuatu yang menyakitkan, maka pelampiasannya berkumpul dengan teman dan berpesta miras. Setelah pesta miras, dirinya merasakan sesuatu yang berbeda yakni rasa semangat kembali muncul dari dirinya, semua beban hilang, lambat laun dia merasa ketagihan akan hal itu. Kebbiasaan ini bermula semenjak dirinya masih disekolah dasr 6, dimana dia bergaul dengan teman-temanya yang lebih tua darinya yakni kelas X atau anak-anak pengangguran. Karena itulah Rudy sering di ajak untuk berkumpul bersama mereka. Dan lambat laun Rudy pun ikut minum miras karena di desak oleh teman- temannya. Akhir-akhir ini rudy sering sakit-sakitan, namun kebiasaannya berpesta miras belum bisa di hentikan. Oleh karena itu rudy memutuskan untuk menemui konselor.

  Konseling:

  Analisis transksional memberikan hubungn yang suportif dan suasana yang kondusif bagi klien untuk dapat memikul tanggung jawab pribadi yang lebih besar atas hidupnya. Pada awal konseling, konselor dank lien menetapkan aturan-aturan dasar dan menentukan elemen-elemen kontrak kerja dan kontrak belajar. Konselor melatih klien tentang keterampilan dan menganalisis ego state. Konselor memberikan kesempatan kepada klien untuk aktif dalam sesi konseling. Konselor mendukung klien pada saat mereka mengungkapkan dan menganalisis dirinya secara lebih lengkap dan menguji coba pola-pola perasaan tentang ketergantungannya terhadap miras, perasaan jika efek negative miras pada dirinya membuat orang yang disayanginya menjadi khawatir, pemikiran tentang bahaya miras, dan perilaku yang lebih adult dengan mencoba secara bertahap dengan mulai menguragi bergaul bersama teman-temannya yang gemar pesta miras hingga meninggalkan merek sampai kecanduannya bisa hilang sepenuhnya. Konselor dalam konseling analisis transaksional perlu memisahkan sebuah pola perasaan-pikiran-dan-tindakan (ego states) dengan pola lainnya. Konselor berusaha mengalihkan ketergantungannya terhadap miras melaluipemisahan tersebut. Tujuannyauntuk membebaskan klien agar memiliki akses yang tepat ke semua ego states nya tanpa eksklusi dan kontaminasi yang melemahkan.

C. Kelebihan dan Kelemahan Analisis Transaksional

  Dengan melihat Konsepsi, penekanan, serta pelaksanaanya, maka ada beberapa kelebihan dan kelemahan dari AT.

  Kelebihan Analisis Transaksioanal antara lain:

  a. Punya Pandangan Optimis dan Realistis tentang Manusia. AT memandang manusia dapat

  berubah bila dia mau. Manusia punya kehendak dan kemauan. Kemauan inilah yang memungkinkan manusia berubah, tidak statis. Sehingga manusia bermasalah sekalipun dapat berubah lebih baik, bila kemauannya dapat tumbuh.

  b. Penekanan Waktu Sekarang dan Di sini. Tujuan pokok terapi AT adalah mengatasi masalah klien agar dia punya kemampuan dan memiliki rasa bebas untuk menentukan pilihannya.

  Hal ini dimulai dengan menganalisis interaksinya dengan konselor atau orang lain. Dan itu adalah persoalan interaksi sekarang. Kini dan di sini (here and now).

  c. Mudah Diobservasi. Pada umumnya teori yang muncul dari laboratorium itu sulit diamati

  karena itu terlihat abstrak, sehingga kadang-kadang tak jarang pula yang hanya merupakan konstruk pikiran manusia penemunya. Berbeda dengan AT, ajaran Berne tentang status ego ( O, D dan A) adalah konsep yang dapat diamati secara nyata dalam setiap interaksi atau komunikasi manusia.

  d. Meningkatkan Ketrampilan Berkomunikasi. Berkomunikasi Fokus AT terpusat pada cara

  bagaimana klien berinteraksi, maka treatment juga mengacu pada interaksi, cara bebicara, kata-kata yang dipergunakannya dalam berkomunikasi. Karena itu, AT tidak hanya berusaha memperbaiki sikap, persepsi, atau pemahamannya tentang dirinya tetapi sekaligus mempunyai sumbangan positif terhadap keterampilan berkomunikasi dengan orang lain. Hal semacam ini tidak dimilliki oleh pendekatan lainnya.

  Kelemahan yang dimiliki AT antara lain :

  a. Kurang Efisien Terhadap Kontrak Treatment. AT mengharapkan, kontrak treatment antara

  konselor-klien harus terjadi antara status ego Dewasa-dewasa. Artinya menghendaki bahwa klien mengikat kontrak secara realistis. Tetapi dalam kenyataannya, cukup banyak ditemui bahwa banyak klien yang punya anggapan jelek terhadap dirinya, atau tidak realistis. Karena itu, sulit tercapainya kontrak, karena ia tidak dapat mengungkapkan tujuan apa yang sebenarnya diinginkannya. Sehingga memerlukan beberapa kali pertemuan. Hal semacam ini dianggap tidak efisien dalam pelaksanaannya.

  b. Subyektif dalam Menafsirkan Status Ego. Apakah ungkapan klien termasuk status Ego

  Orang tua, Dewasa, atau Anak-anak merupakan penilaian yang subyektif. Mungkin dalam hal yang ekstrim tidak ada perbedaan dalam menafsirkannya. Tapi bila pernyataan itu mendekati dua macam status ego akan sulit ditafsirkan, dan mungkin berbeda antara orang yang satu dengan yang lainnya. Perbedaan dalam memahami status ego ini, menyebabkan sulitnya kesamaan dalam menakar egogram klien.

  c. Kurang Petunjuk Mengenai Tingkah laku Konselor. Bagi orang yang ingin mempraktikkan AT ini perlu petunjuk bagaimana menganalisis transaksi itu secara tepat dan hemat.

  Termasuk persoalan bentuk-bentuk responsnya, dan konten dari ungkapan klien. Mungkin di atas telah disebutkan adanya analisis struktur, permainan, Skrip dengan penggunaan beberapa teknik, namun teknik mana yang dipakai dalam menganalisis itu tidak / belum dikembangkan secara khusus dalam teori AT ini. Karena belum adanya petunjuk khusus ini, orang menganggap AT kurang terinci, karena tidak ada petunjukanya.

  

REFERENSI

  Harris, T. 1981 . SAYA OKE-KAMU OKE, terjemahan, Jakarta: Yayasan Cipta Loka Caraka. Noor, M . 2002 .“Transaksional analisis”dalam buku Psikoterapi pendekatan konvensional dan kontemporer. Yogyakarta : Pustaka Pelajar offset. Subandi.A.M. 2002.Psikoterapi pendekatan konvensional dan kontemporer. Yogyakarta : pustaka pelajar Supriyo, Mulawarman, (2006). Keterampilan Dasar Konseling. Semarang: Universitas Negeri Semarang. Pujosuwarno Sayekti, (1993). Berbagai Pendekatan dalam Konseling. Yogyakarta: Menara Mas Offset. Komalasari, Gantina. Wahyuni, Eka. Karsih. 2011. Teori dan Teknik Konseling. Jakarta: PT indeks. Corey, Gerald. 2010. Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Bandung: Redaksi Rafika Aditama https://diazprabowopm.wordpress.com/2014/04/07/teori-analisis-transaksional-berne/ https://binham.wordpress.com/2012/07/02/pendekatan-analisis-transaksional/

Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
123dok avatar

Berpartisipasi : 2018-08-08

Dokumen yang terkait

Model Teknik dalam Pendekatan Analisis T

Gratis

Feedback