Water economic value change analysis caused landuse changing case study in Cidanau Watershed in Banten Province

Gratis

0
3
175
2 years ago
Preview
Full text
TESIS ANALISIS PERUBAHAN NILAI EKONOMI AIR AKIBAT PERUBAHAN PENUTUPAN LAHAN Studi Kasus Di DAS Cidanau Propinsi Banten OLEH : IGNATIUS ADI NUGROHO SEKOLAH PASCA SARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2006 © Hak cipta milik Institut Pertanian Bogor, tahun 2006 Hak Cipta dilindungi Dilarang mengutip dan memperbanyak tanpa izin tertulis dari Institut Pertanian Bogor, sebagian atau seluruhnya dalam Bentuk apa pun, baik cetak, fotokopi, microfilm dan sebagainya Pernyataan Mengenai Tesis dan Sumber Informasi Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis dengan judul Analisis Perubahan Nilai Ekonomi Air Akibat Perubahan Penutupan Lahan : Studi Kasus Di DAS Cidanau Propinsi Banten adalah benar-benar hasil karya saya sendiri dan belum pernah digunakan sebagai karya ilmiah pada perguruan tinggi atau lembaga manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupu tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam daftar pustaka di bagian akhir tesis ini. Bogor, Agustus 2006 Ignatius Adi Nugroho E.051.030.181 RINGKASAN ANALISIS PERUBAHAN NILAI EKONOMI AIR AKIBAT PERUBAHAN PENUTUPAN LAHAN Studi Kasus Di DAS Cidanau Propinsi Banten Cidanau merupakan DAS yang sangat penting di propinsi Banten karena mampu memberikan jasa air yang sangat besar bagi kegiatan pertanian, rumah tangga, perikanan, industri kecil, industri air minum kemasan dan PT Krakatau Tirta Industri sebagai pensuplai air baku untuk kebutuhan industri- industri besar di kota Cilegon. Sebagai penyedia jasa air, DAS Cidanau mengalami tekanan yang amat berat karena perubahan lingkungan DAS, perubahan penggunaan lahan dan bertumbuhnya industri yang membutuhkan air dari DAS. Sementara itu, air yang berasal dari DAS Cidanau seringkali dipandang sebagai barang bebas sehingga memiliki nilai yang amat rendah (intangible goods). Untuk mengetahui besarnya nilai air yang berasal dari DAS Cidanau perlu diketahui nilai air total dari DAS tersebut. Tujuan penelitian ini terdiri atas beberapa hal, yaitu : a. Melakukan analisis nilai ekonomi air melalui pendekatan biaya pengadaan air terhadap masing-masing pengguna air, yaitu pertanian, rumah tangga dan industri dalam memanfaatkan jasa air dari DAS Cidanau, b. Melakukan analisis terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan air DAS Cidanau yang dilakukan oleh para pengguna jasa air, c. Melakukan analisis terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan nilai sumberdaya air pada DAS Cidanau secara multiwaktu (temporal) dari tahun 1997 hingga 2004. Sedangkan metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan harga pasar dan metode biaya pengadaan, yaitu biaya -biaya yang dikeluarkan oleh para pengguna jasa air untuk mendapatkan air dalam satuan waktu tertentu. Harga pasar dan biaya pengadaan digunakan untuk menduga perubahan nilai ekonomi air yang digunakan selama tahun 1997 hingga 2004. Sementara itu, untuk mengetahui perubahan penutupan lahan yang terjadi selama tahun 1997 hingga 2004 menggunakan metode Remote Sensing dan GIS. Metode ini sangat efektif dalam menelaah perubahan lingkungan DAS Cidanau secara cepat dengan membandingkan peta-peta tematik yang dihasilkan. Kemudian nilai ekonomi air yang diperoleh dan peta-peta perubahan lingkungan DAS Cidanau tersebut kemudian dianalisis untuk mendapatkan hubungan diantara keduanya. Hasil penelitian ya ng diperoleh menunjuk kan bahwa nilai ekonomi air total DAS Cidanau pada tahun 1997 bertambah sebesar Rp 52,006,323,743 per tahun sedangkan pada tahun 2004 bertambah sebesar Rp 126,456,999,536 per tahun. Sehingga perubahan nilai ekonomi air total DAS Cidanau pada tahun 1997 hingga 2004 adalah sebesar 114.31 %. Sedangkan perubahan penutupan lahan yang terjadi pada DAS Cidanau sepanjang tahun 1997 hingga 2004 adalah sebagai berikut : luas lahan kering menyusut menjadi 35.56 %, luas lahan sawah bertambah menjadi sebesar 0.59 %, luas hutan menyusut menjadi 4.2 %, kebun campuran luasnya bertambah menjadi 21.072 %, luas semak bertambah menjadi 28.25 % dan luas lahan basah menyusut menjadi 9.39 %. ABSTRACT Water Economic Value Change Analysis Caused Landuse Changing Case Study in Cidanau Watershed in Banten Province Cidanau is the most important watershed in Banten Province because it has provided economic activity in Serang and Cilegon regions. The users of water services from Cidanau watershed are farmers, households, fisheries, small scale industries, water industries and Krakatau Tirta Industries. Those have been analized to find total economic values of Cidanau water. The aims of the reaserch are to analize water economic value by market pricing and gathering cost, to analize factors influencing water demand curve, and to analize landuse changes of Cidanau and its relationships with water economic values changes from 1997 to 2004. Landsat imaging and GIS of Cidanau have been used the research. The methods of the research are use gathering cost and market pricing to find water values from the users. While the GIS and Remote Sensing have been used to detect landuse changes in Cidanau watershed from 1997 to 2004. Both water values and landuse changes have been analized to find relation the others. The results of the reaserch allows that firstly, total water economic value in 1997 increase Rp 52.006.323.743 per year and in 2004 increase Rp 126.456.999.536 per year. Secondly, landuse of Cidanau has changed in 1997 to 2004; bare land changed is decrease 35.56 %, paddyfield is increase 0.59 %, forest is decrease 4.2 %, agroforest is increase 21.072 %,, shrubs is increase 28.25 %, and wet lands is decrease 9.39 %.. ANALISIS PERUBAHAN NILAI EKONOMI AIR AKIBAT PERUBAHAN PENUTUPAN LAHAN Studi Kasus Di DAS Cidanau Propinsi Banten IGNATIUS ADI NUGROHO TESIS Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada Program Studi Ilmu Pengetahuan Kehutanan SEKOLAH PASCA SARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2006 PENDAHULUAN Latar Belakang DAS Cidanau terletak Kabupaten Serang di Propinsi Banten dan merupakan satusatunya DAS unik yang berbentuk plato dengan danau di tengah-tengahnya. Danau tersebut bernama Rawa Danau seluas 2.500 hektar. DAS ini melingkupi areal seluas 22.620 hektar dan ditetapkan sebagai kawasan lindung pada tahun 1921 oleh pemerintah kolonial Belanda. Menurut Setiawan dan Sato (1999), Rawa Danau merupakan penyedia sumber air yang utama bagi pengembangan Kabupaten Serang, khususnya untuk kawasan industri di wilayah Cilegon. Pengelolaan jasa air tersebut diserahkan kepada sebuah perusahaan yang bernama Krakatau Tirta Industri (KTI) yang merupakan anak dari perusahaan Krakatau Steel. KTI berperan besar dalam menyediakan jasa air bagi kebutuhan industri maupun rumah tangga di kawasan tersebut. Seiring dengan makin pesatnya pembangunan di sektor hilir sehingga meningkatkan permintaan akan air, baik dari sektor rumah tangga maupun industri, menyebabkan peran DAS Cidanau sebagai penyedia air semakin penting. Sementara itu, di sekitar kawasan DAS terjadi juga perubahan-perubahan dalam hal pertambahan jumlah penduduk, penambahan areal sawah maupun kebun pertanian, berkembangnya industri air kemasan dan pabrik pengolahan tempe dan tahu, sehingga me ningkatkan penggunaan air permukaan dan atau air tanah. Pentingnya suplai air yang teratur bagi kegiatan pertanian, rumah tangga dan industri baik di sekitar kawasan DAS Cidanau maupun untuk kota Cilegon menunjukan bahwa air memiliki peran dalam kegiatan ekonomi. Sayangnya, sumberdaya air belum seluruhnya memiliki harga pasar sehingga sukar untuk dinilai oleh sistem pasar yang ada. Hal ini dapat dimengerti karena sumberdaya air hanya memberikan nilai guna tidak langsung dalam proses produksi. Adanya nilai guna tidak langsung terhadap sumberdaya air menyebabkan air kerapkali dipandang sebagai barang bebas (intengible goods) sehingga nilainya menjadi rendah. Untuk meningkatkan nilai sumberdaya air diperlukan berbagai upaya penilaian yang memadai dari sudut ekonomi sumberdaya sehingga air tidak lagi dipandang sebagai barang bebas (Darusman, 2002). Untuk melakukan penilaian terhadap sumberdaya air sebagai output utama dari DAS Cidanau dibutuhkan berbagai pendekatan yang lengkap. Pendekatan tersebut digunakan untuk menilai jasa-jasa yang diberikan oleh air, sehingga keberadaan air pada DAS Cidanau tidak dapat dipisahkan lagi dalam kegiatan pertanian, rumah tangga maupun industri. Keberadan hutan sebagai komponen penjerap air di DAS Cidanau juga cukup pe nting. Adanya hutan yang terawat dengan baik di sekitar kawasan DAS mampu mempertahankan siklus hidrologis sehingga pasokan air bagi sektor pertanian, rumah tangga maupun industri dapat terjamin. Dalam melakukan penilaian terhadap sumberdaya, harga pasar merupakan pendekatan yang paling baik. Tetapi pendekatan tersebut sangat cocok digunakan dimana produk yang dinilai telah diterima oleh sistem pasar yang ada dalam bentuk harga pasar dan biasanya produk tersebut memiliki nilai guna langsung, seperti kayu bakar, kayu gergajian, tumbuhan obat dan lain- lain. Sedangkan untuk sumberdaya air, pendekatan nilai guna langsung melalui harga pasar jarang dilakukan sehingga dibutuhkan pendekatan lain yang lebih cocok. Pendekatan biaya pengadaan air, biaya perjalanan untuk menikmati aktifitas rekreasi sumber air panas dan pendekatan faktor pendapatan bersih (residu) dapat juga digunakan untuk menilai jasa-jasa air yang diterima oleh pertanian, rumah tangga maupun industri (James, 1991). Salah satu pendekatan lain yang berguna dalam melakukan penilaian terhadap sumberdaya air adalah melalui penggunaan Sistem Informasi Geografis (SIG) dan citra satelit. Hal ini mudah dipahami mengingat hampir semua obyek yang hendak dinilai memiliki keterkaitan secara geografis dan spasial sehingga penggunaan SIG dan citra satelit cukup relevan dalam penilaian ekonomi. Manfaat penggunaan SIG dan citra satelit dalam menduga nilai ekonomi air DAS Cidanau adalah terpantaunya perubahan nilai obyek suatu kawasan secara multi waktu (time series). Perubahan ini dapat memberikan gambaran nilai ekonomi yang lebih heterogen dibandingkan tanpa menggunakan SIG dan citra satelit (Eade dan Moran, 1995). 2 Perumusan Masalah Permasalahan yang hendak diajukan pada penelitian ini adalah bahwa nilai sumberdaya air DAS Cidanau dapat didekati melalui para pengguna jasa air tersebut, yaitu pertanian (sawah dan perikanan), rumah tangga dan industri (pabrik air mineral, pabrik tahu dan tempe serta KTI). Hutan rakyat maupun negara dan perkebunan karet yang berfungsi sebagai penjerap air tidak diikutkan dalam penilaian karena peranannya hanya sebagai pendukung tersedianya sumberdaya air dari DAS Cidanau. Sumberdaya air yang hendak dinilai adalah semua sumberdaya air yang berasal dari permukaan (danau dan sunga i) dan air yang berasal dari tanah yang biasa digunakan oleh rumah tangga. Sehingga permasalahan yang hendak dijawab dalam penelitian ini adalah : 1. Seberapa besar nilai sumberdaya air di DAS Cidanau agar dapat mendukung kegiatan pertanian, rumah tangga maupun industri secara lestari, 2. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi nilai sumberdaya air di DAS Cidanau, 3. Berapakah surplus konsumen yang masih tersedia bagi kegiatan pertanian, rumah tangga dan industri dalam memanfaatkan air dari DAS Cidanau, 4. Dan bagaimanakah perubahan nilai sumberdaya air DAS Cidanau mulai tahun 1997 hingga tahun 2004. Tujuan Penelitian Penilaian mengenai sumberdaya air yang dihasilkan oleh DAS Cidanau ini memiliki beberapa tujuan, yaitu : a. Melakukan analisis nilai ekonomi air melalui pendekatan biaya pengadaan air terhadap masing- masing pengguna air, yaitu pertanian, rumah tangga dan industri dalam memanfaatkan jasa air dari DAS Cidanau, b. Melakukan analisis terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan air DAS Cidanau yang dilakukan oleh para pengguna jasa air, c. Melakukan analisis terhadap faktor- faktor yang mempengaruhi perubahan nilai sumberdaya air pada DAS Cidanau secara multiwaktu (temporal) dari tahun 1997 hingga 2004. 3 Manfaat Penelitian Penelitian ini bermanfaat dalam memberikan gambaran yang lebih baik (terkuantifikasi) terhadap jasa-jasa air sebagai nilai guna tak langsung dalam kegiatan pertanian, rumah tangga, industri dan jasa wisata yang disediakan oleh DAS Cidanau. Adanya nilai air yang telah terkuantifikasi ini diharapkan mampu memberikan masukan bagi pengelola jasa air DAS Cidanau dalam mengambil kebijakan agar sumberdaya tersebut dapat berfungsi dengan baik sehingga meningkatkan kesejahteraan manusia sebagai penggunannya. Kerangka Pemikiran Penelitian ini dimulai dengan menggunakan dua pendekatan, yaitu pendekatan ekonomi untuk menilai sumberdaya air DAS Cidanau dan pendekatan spasial untuk melihat perubahan nilai air secara multi waktu (1997 – 2004). Nilai air DAS Cidanau dipisahkan menurut para pengguna air sebagai langkah dalam melakukan penilaian ekonomi. Para pengguna air tersebut terdiri atas petani yang mengerjakan lahan sawah, petambak, rumah tangga, industri pengolahan tahu-tempe, industri air minum kemasan dan pengguna terbesar air DAS Cidanau, yaitu PT Krakatau Tirta Industri (KTI). Melalui KTI industri dan rumah tangga yang terdapat di kota Cilegon memperoleh suplai air bersih sehingga peranannya amat penting dalam penelitian ini. Setelah para pengguna air dipisahkan ke dalam masing- masing segmen, kemudian dilakukan pencarian data melalui wawancara untuk memperoleh korbanan yang dilakukan oleh para pengguna air dalam memperoleh air. Korbanan total para pengguna air untuk mendapatkan air merupakan nilai air dari DAS Cidanau. Kerangka pemikiran penelitian ini juga disajikan dalam dua tahap, yaitu tahap pertama kerangka pemikiran lebih dipusatkan pada pemahaman bagaimana analisis ekonomi dan spasial dapat digabungkan secara bersama-sama dalam penelitian sehingga bersifat umum dan belum mendetil. Tahapannya disajikan pada Gambar 1. Sedangkan pada tahap dua, kerangka pemikiran sudah dilakukan secara lebih khusus dan mendetil dimana analisis ekonomi dan spasial didefinisikan sesuai dengan kondisi lapangan yang ada. Tahapannya disajikan pada Gambar 2. 4 Tahapan kerangka pemikiran penelitian pertama (I) : Mulai DAS Cidanau Data Citra Sawah Pengguna Air Tambak Rumah tangga Pabrik tahutempe Korbanan Para Pengguna Air Vegetasi Landuse DAS Cidanau Non Vegetasi Analisis Perubahan Air kemasan KTI Nilai Air DAS Cidanau Gambar 1. Kerangka Pemikiran Penelitian I 5 Tahapan kerangka pemikiran kedua (II) : Data Bapedalda Propinsi Banten Citra Landsat Rumah Tangga Jenis-jenis Pengguna lahan Industri lokal Tahu-Tempe Konsumsi Air Nilai Air untuk setiap Pengguna (luas, Rumah tangga, industri) Rupiah per unit Air Kemasan KTI Nilai Air DAS 2004 Nilai Air DAS 1997 Citra Landsat 1997 Luas Data rumah tangga dan industri 1997 Citra Landsat 2004 Luas KK, unit KK, unit Data rumah tangga dan industri 2004 Rp/unit x jumlah unit Rp/unit x jumlah unit NAT 2004 NAT 1997 Interpretasi Perubahan Fisik dan Nilai Air Gambar 2. Kerangka Pemikiran Tahap II 6 TINJAUAN PUSTAKA Nilai Ekonomi Air DAS Cidanau Konsep Nilai Sumberdaya Davis dan Johnson (1987) menyebutkan bahwa penilaian sebagai area subyek merupakan suatu teknik yang memperhatikan atau mencermati hal- hal yang berkaitan dengan pengembangan konsep-konsep dan metodologi- metodologi yang tepat untuk menduga nilai suatu barang dan jasa. Sedangkan appraisal adalah terapan dari teknik teknik dan metode- metode di atas untuk membuat suatu pendugaan yang spesifik mengenai nilai dari suatu benda atau hal tertentu bagi individu tertentu pada saat itu. Nilai suatu benda dalam persepsi manusia merupakan sesuatu yang didapatkan pada waktu dan peristiwa tertentu yang ukurannya ditentukan oleh waktu, barang, atau uang dimana seseorang bersedia untuk memberikannya agar memperoleh hasil berupa penggunaan barang atau jasa. Konsep nilai ini terdiri atas tiga macam, yaitu : a. Nilai pasar, merupakan nilai dimana terjadi pertukaran barang dan jasa pada suatu pasar melalui mekanisme harga pasar. Harga pasar merupakan keput usan yang diambil oleh seorang individu dalam pertukaran barang dan jasa dalam bentuk kesedian membayar, b. Nilai guna, merupakan nilai dari suatu sumberdaya (barang maupun jasa) yang berguna pada masa yang akan datang, masa kini maupun berguna bagi sejumlah pembeli potensial, c. Nilai sosial, merupakan nilai dari suatu barang dan jasa yang diberikan atau muncul berdasarkan keputusan para pengambil kebijakan melalui undang-undang atau peraturan pemerintah sehingga sumberdaya tersebut bernilai bagi semua pihak baik saat ini maupun masa datang. Sementara itu menurut Bann (2001), nilai guna terdiri atas nilai guna langsung, nilai guna tidak langsung dan nilai pilihan. Perlindungan terhadap DAS merupakan bagian dari nilai guna tidak langsung. Nilai guna tidak langsung ini berhubungan pada tersedianya dukungan secara tidak langsung dan perlindungan yang diberikan pada aktifitas ekonomi dan kepemilikan yang ada di dalamnya melalui fungsi alami hutan tropika atau jasa-jasa lingkungan yang terdapat di dalamnya secara teratur, misalnya pertanian, suplai air dan aktifitas ekonomi lainnya. Jika fungsi lingkungan dan jasa yang disediakan melalui hutan mengalami gangguan, maka akan mengubah nilai produksi atau konsumsi dari aktifitas tersebut dan kepemilikan yang ada di dalamnya yang dilindungi atau didukung oleh hutan. Perlindungan terhadap sumberdaya air DAS Cidanau sesungguhnya merupakan bagian dari konsep nilai ekonomi total bagi hutan tropika. Konsep ini dapat dibagi kedalam beberapa kategori nilai ekonomi total yang disajikan pada Tabel 1. Tabel 1. Nilai Ekonomi Total Hutan Tropika Nilai Ekonomi Total Hutan Tropika Nilai Guna Langsung Nilai produksi kayu Nilai produksi non kayu Rekreasi dan turisme Tumbuhan obat Genetika tumbuhan Pendidikan Habitat manusia Nilai Guna Tidak Langsung Perlindungan DAS Siklus nutrien Reduksi polusi udara Fungsi iklim mikro Cadangan karbon Keanekaragaman Nilai Pilihan Kegunaan masa depan dari nilai guna langsung maupun tidak langsung Nilai Non Guna Nilai keberadaan Nilai budaya Keanekaragaman Sumber : Bann, 2001 Sumberdaya Air DAS Cidanau Air yang terdapat pada DAS Cidanau merupakan sumberdaya alami yang dapat terbarukan tergantung dari sumbernya dan penggunaannya. Suplai air dibedakan atas dua macam, yaitu air permukaan dan air di bawah permukaan tanah. Air permukaan terdiri atas danau, sungai dan samudera raya yang merupakan sumberdaya terbarukan dari proses hidrologi, sedangkan air bawah tanah terdiri atas air-air yang terakumulasi selama ratusan hingga ribuan tahun dibawah akuifer disela-sela batuan tanah. Ketika suplai air permukaan dan air di bawah tanah lebih kecil dibandingkan laju agregat penggunaan air yang ada, maka akan terjadi kelangkaan dalam penggunaan air karena air tergantung dari kondisi iklim yang ada, kondisi geografis, bentuk-bentuk penggunaan air, kebijakankebijakan harga air yang diberikan oleh pemerintah (Hartwick dan Olewiler, 1998). Sedangkan menurut Hendrakusumaatmaja (2003), sumberdaya air memiliki ciri-ciri sebagai berikut : (a) merupakan kebutuhan pokok atau dasar sehingga dapat menjadi 8 barang publik, (b) memiliki hak guna bersama, untuk pemanfaatannya membutuhkan modal yang besar sehingga tidak terjangkau oleh private sector, (c) memiliki sifat ketergantungan dalam pemanfaatannya sehingga sering menjadi masalah masyarakat umum, (d) dapat dipakai sebagai alat distribusi politik karena menyangkut distribusi manfaat dan biaya, (e) mobilitas air mudah mengalir, menguap dan meresap sehingga sulit upaya untuk mewujudkan dan melaksanakan penegasan hak-hak diatasnya secara eksklusif, (f) sifat penawaran air dapat berubah-ubah tergantung dari waktu, tempat dan kekeringannya, (g) merupakan barang umum, penggunaannya dapat beruntun berupa berubahnya aspek kualitas dan kuantitas (eksternalitas), (h) adanya bulky sehingga menyebabkan biaya transportasi menjadi mahal, (i) multiguna dalam pemanfaatannya (opportunity cost) dan (j) adanya nilai kultural yang melekat dimana air dianggap sebagai anugerah Tuhan. Hal ini menyebabkan sumberdaya air sebagai manfaat intangible dari DAS Cidanau belum dapat dinilai oleh sistem pasar akibat adanya pemahaman dan pengetahuan yang masih rendah terhadap manfaat perlindungan DAS, khususnya manfaat hidrologis. Rendahnya pemahaman dan pengetahuan terhadap manfaat intangible ini menyebabkan belum adanya penilaian ekonomi secara kuantitatif terhadap sumberdaya air padahal air yang dihasilkan oleh DAS Cidanau memiliki manfaat yang tinggi bagi kesejahteraan manusia (Darusman, 2002). Metode Penilaian Ekonomi Sumberdaya Air Menurut Davis dan Johnson (1987), konsep penilaian sumberdaya air tidak dapat dilepaskan dari konsep apraisal dimana pada konsep tersebut terdapat beberapa patokan yang digunakan dalam menilai sumberdaya air, yaitu : bukti adanya pasar (harga pasar), dihitung berdasarkan nilai bersih bagi penggunaan sekarang, nilai residual turunan, kuantifikasi pasar, biaya penggantian dan pertimbangan para ahli. a. Kenyataan pasar (Market evidence) Tersedianya rekaman-rekaman penjualan aktual sebagai bukti transaksi dari penjualan yang sama sebelumnya baik terhadap lahan, kayu atau pun aset-aset lain merupakan pendekatan yang paling baik dan disenangi untuk merancang nilai pasar. Kenyataan pasar merupakan ukuran langsung apa saja barang-barang yang pada saat itu diperdagangkan di pasar. 9 b. Nilai Bersih bagi Penggunaan Sekarang Untuk menentukan apakah lahan, kayu, air dan aset-aset lainnya merupakan nilai yang berguna bagi seorang individu, maka menggunakan satu atau lebih rencana tertentu perlu dilakukan oleh calon penggunanya. Rencana tersebut akan memerlukan sebuah daftar perkiraan dari kegiatan pengeluaran dan penerimaan yang dihubungkan dengan rencana yang sudah disepakati. Pemberian asumsi menge nai harga, biaya-biaya, teknologi, interest rate dan lain- lain merupakan sebuah analisis finansial dari setiap usulan penggunaan rencana yang dapat diduga melalui nilai bersih sekarang. Nilai bersih sekarang merupakan nilai ekonomi dari suatu aset atau sumberdaya dimana untuk penggunaannya memerlukan rencana -rencana tertentu sesuai dengan pertimbanganpertimbangan yang berkaitan dengan guna dari sumberdaya tersebut. Ketika harga pasar tidak tersedia (market evidence), pendekatan nilai bersih bagi penggunaan sekarang biasanya digunakan untuk membuat pendugaan terbaik berikutnya. d. Nilai Residual Turunan Nilai air yang digunakan untuk kegiatan produksi biasanya dihitung menggunakan pendekatan nilai residual turunan untuk penilaian materi- materi yang dihasilka n (air mineral kemasan) dan input- input produksi lainnya. Pendekatan tersebut pertam-tama menetapkan nilai jual dari produk yang dibuat oleh pabrik dan kemudian dilakukan pengurangan terhadap semua biaya pembuatan dan bahan baku yang digunakan sehingga me ninggalkan residu atau sisa terhadap air maksimum yang digunakan yang dapat dibayarkan untuk bahan baku yang digunakan. e. Kuantifikasi Pasar Pendekatan penilaian lainnya yang mencakup kuantifikasi secara numeris kurva permintaan dan atau penawaran pada masa yang telah lewat dan saat sekarang bagi pasar dan produk tertentu dan kemudian menggunakan kurva tersebut untuk menduga harga dan nilainya. Pendekatan ini sering sekali digunakan untuk meramalkan kondisi, penjualan dan harga pada pasar yang akan datang kemudian informasi tersebut digunakan untuk menentukan nilai yang berlaku saat ini. Kuantifikasi pasar dilakukan dengan dua cara yang dibedakan oleh sumber dan tipe data yang digunakan untuk menduga permintaan dan penawaran. Ekonometrika dapat memperhalusnya dan penggunaan rekaman historis dari harga pasar dan jumlah yang dijual untuk menduga fungsi 10 permintaan dan penawaran secara statistik yang dinyatakan secara tidak langsung melalui harga-harga yang diamati pada jumlah yang dijual, sehingga dapat dijelaskan secara logis. Hasil persamaan tersebut juga dapat digunakan untuk peramalan, jika kita menganggap orang-orang akan berekasi pada masa yang akan datang sebagaimana mereka telah melakukannnya pada masa sebelumnya dan tidak ada peristiwa-peristiwa seperti perang dan depresi ekonomi yang terjadi. Teknik-teknik ekonometrika secara jelas dibatasi untuk menghasilkan apa yang hendak dijual di pasar dan untuk rekaman historis yang baik yang sungguh-sungguh mampu menjaga harga, jumlah yang dijual, dan faktor- faktor pasar lainnya. f. Biaya Penggantian Pada kasus-kasus kerusakan, pencurian atau kehilangan aset barang dan jasa, pendekatan penilainnya adalah untuk menentukan biaya penggantian langsung melalui barang-barang yang sebanding. Kerusakan barang-barang yang dimiliki oleh seseorang, kemudian membutuhkan biaya untuk membeli barang yang baru merupakan biaya penggantian. Barang-barang baru tersebut berada dalam manfaat kompensasi yang tetap ketika jasa-jasa yang ada yang digunakan merupakan barang-barang yang tidak dapat ditemukan di pasar. Biaya penggantian merupakan konsep yang sukar untuk digunakan bagi penggantian barang-barang yang langka. Pendekatan biaya penggantian bukanlah pendekatan yang secara luas digunakan pada bidang kehutanan karena vegetasi atau lahan tidak dapat digantikan secara tiba-tiba pada lahan yang sama yang telah hilang. Konsep ini hanya bekerja secara baik pada perlengkapan-perlengkapan, struktur dan kepemilikan lain yang dapat bergerak, yang mudah dikenali dan dijual secara luas pada pasar yang ada. g. Penetapan Para Ahli Teknik penilaian yang paling akhir adalah menggunakan penetapan manusia sebagai metode dan konsep yang kurang mencukupi dibandingkan bertanya pada seseorang mengenai sesuatu yang berharga dalam bentuk mata uang. Permasalahan yang timbul adalah memutuskan : (1) siapakan orang yang harus melakukan keputusan, (2) berapakan jumlah rata-rata yang dihasilkan, dan (3) bagaimana mereka menggunakannya untuk membuat suatu keputusan. 11 Masyarakat, pejabat pemerintaha n, pelayan publik, para profesional dan para anggota dewan dapat dipandang sebagai orang-orang yang ahli (expert) dan dapat menawarkan pendapatnya pada nilai dari sesuatu. Hal ini merupakan sesuatu yan gmasuk akal unmtuk menganggap bahwa para pejabat dan anggota dewan yang terpilih telah dipilih karena mereka merupakan bagian atau cerminan nilai dari para pemilih mayoritas. Sebagai tambahan, mereka juga bertanggungjawab terhadap masyarakat. Para pejabat, anggota dewan dan orang-orang yang diangkat secara politis membuat penetapan-penetapan nilai melalui keputusan mereka. Jika sistem politik dapat diterima, sehingga alasan-alasan yang dapat dibuat bahwa penetapan nilai bersama (kesepakatan) dari para politisi yang dipilih merupakan kuantifikasi sosial terbaik dan nilai non pasar lainnya yang tersedia. Untuk melakukan penilaian terhadap sumberdaya air yang terdapat di DAS Cidanau dapat dilakukan dengan beberapa pendekatan, yaitu menggunakan metode biaya pengadaan air untuk menilai manfaat intangible dari DAS dan pendekatan kontingensi (CVM). Biaya pengadaan adalah biaya-biaya yang dikeluarkan oleh pengguna sumberdaya air dalam periode waktu tertentu untuk mendapatkan dan memanfaatkan air (Darusman, 2002). Sedangkan Contingent Valuation Method (CVM) merupakan metode untuk menduga kesediaan pengguna air bersedia membayar air yang telah digunakannya dengan cara bertanya secara langsung pada pengguna tersebut. Metode ini bersifat subyektif–hipotetis (Davis dan Johnson, 1987; PHPA/AWB, 1991; WWF, Pemda Kalbar dan NRMP, 2000). Selanjutnya Bann (2001) menyebutkan bahwa wawancara yang dibangun menggunakan metode CVM sangat tergantung pada sejumlah faktor yang ditanyakan yang dapat digambarkan dengan baik sehingga orang bersedia untuk membayar faktor yang ditanyakan. Para pengguna sumberdaya air di DAS Cidanau terdiri atas sektor pertanian, perikanan, rumah tangga, industri, dan jasa wisata air panas. Permintaan air untuk sektor pertanian berupa manfaat yang diperoleh karena adanya irigasi yang dibatasi oleh pena mbahan manfaat bersih dari lahan yang memungkinkan, sedangkan untuk rumah tangga berupa manfaat-manfaat dari suplai air bagi rumah tangga yang dibatasi oleh nilai tambah air yang tersedia secara tidak langsung dari data yang menghubungkan kegunaan dan harga bagi para penggunanya (James dan Lee, 1971). Sedangkan hasil penelitian Van de Sand (2004) menggunakan metode CVM 12 menyebutkan bahwa kesedian membayar industri di kota Cilegon terhadap air yang dihasilkan oleh DAS Cidanau sebesar Rp 10 – 3.500/m3. Roslinda (2002) juga menyebutkan bahwa faktor jarak juga berperanan bagi pertanian maupun rumah tangga di desa-desa sekitar Hutan Pendidikan Gunung Walat dalam memberikan nilai dari air yang digunakan. Sedangkan penelitian mengenai manfaat hidrologis Gunung Gede Pangrango bagi sektor pertanian maupun rumah tangga di Kabupaten Sukabumi, Kodya Bogor,dan Kabupaten Bogor menunjukan nilai yang sangat besar, berkisar Rp 13,34 milyar sampai dengan Rp 3,47 trilyun (Fahada, Yustiana dan Ibrahim, 1992). Berikut disajikan mengenai studi penilaian ekonomi sumberdaya di Indonesia mulai dari tahun 1992 hingga tahun 1999. Pendekatan untuk melakukan penilaian terhadap sumberdaya tersebut menggunakan metode kontingensi, produksi, harga bayangan, model ekonometrik, biaya perjalanan, benefit transfer dan lain- lain. Hasilnya disajikan pada Tabel 2. 13 Tabel 2. Beberapa Studi Penilaian Ekonomi Sumberdaya di Indonesia tahun 1992-1999 Tahun 1992 Lokasi TN Taka Bone, Sulsel Sponsor Metode Hasil Saywer/thesis Pendekatan NPV dari perikanan sebesar Rp 103,43 M.Sc. produksi miliar selama 20 tahun dengan tingkat Jack Ruitenbeek/ Harga bayangan, Nilai TEV dari produksi lokal yang dapat EMDI Pendekatan produksi dan tidak dapat dipasarkan masing- diskon 5 % 1992 Bintuni Bay, Papua masing sebesar Rp 5.1 juta dan Rp 9 juta /tahun/kepala rumah tangga 1993 TN Gn Gede-Pangrango Darusman/IPB Jawa Barat Model ekonometrik Rp 280 juta/ha/tahun berdasarkan manfaat hidrologis aliran sungai 1995 TN Gn Gede-Pangrango Adi Susmianto/ Pendekatan TN ini mempengaruhi 13 sektor ekonomi Jawa Barat Thesis M.Sc. pengeluaran dengan total pengeluaran sebesar Rp 471 juta dari output atau penjualan, Rp 80 juta dari pendapatan dan 155 pekerja 1996 TN Bunaken, Sulut Saunders/NRMP/ Trevel Cost USAID 1996 TN Bunaken, Sulut Saunders/NRMP/ tahun Contingent valuation USAID 1996 TN Bunaken, Sulut Nilai rekreasi sebesar Rp 9.8 miliar per Nilai perlindungan diperkirakan sebesar 9.6 miliar per tahun Saunders/NRMP/ Pendekatan Nilai ekonomi perikanan sebesar $ 3.8 USAID produksi juta/tahun bagi nelayan penuh waktu dan $ 330.000 bagi nelayan paruh waktu 1996 1996 TN Bukit Baka Kalteng Saunders/NRMP/ dan Kalbar USAID Sungai Ciliwung Saunders/NRMP/ Jakarta USAID Contingent valuation Nilai perlindungan diperkirakan sebesar Rp 10 miliar/tahun Contingent valuation Manfaat ekonomi dari membaiknya kualitas air sungai Ciliwung diperkirakan sebesar $ 30 juta/tahun 14 Lanjutan Tabel 2. 1997 Siberut dan Ruteng Kramer et al/ADB Pendekatan Kesediaan turis membayar untuk produktifitas, biaya mendukung konservasi dan budaya perjalanan dan tradisional P. Siberut sebesar $ 23. Contingent valuation Manfaat ekonomi perlindungan air di Ruteng Flores sebesar $ 35/kepala rumah tangga/tahun 1998 Kebakaran Hutan WWF/EEPSEA Indonesia Produktifitas, kesehatan, pengeluaran dan benefit Kerugian ekonomi sebesar $ 4.5 miliar transfer (penggunaan studi kasus di negara lain untuk dijadikan acuan nilai ekonomi) 1998 TN Gn. Leuser Elfian/WWF dan Pendekatan produktifitas Nilai ekonomi air untuk irigasi, industri, CIFOR dan pengeluaran dan kebutuhan sehari-hari diperkirakan Kepulauan Togean Cannon/NRMP/ Pendekatan produktifitas Dengan tingkat diskon sebesar 5 % Sulawesi Tengah USAID dan pengeluaran selama 25 tahun, NPV dari ekowisata bernilai sebesar $ 4.3 juta/tahun 1999 dan kehutanan sebesar Rp 5.3 miliar dan Rp 4.1 miliar. Nilai ekonomi dan perikanan tradisional antara Rp 36.3 miliar s/d Rp 196 miliar Sumber : WWF dan NRMP, 2000 Pendekatan atau metode penilaian sumberdaya air atau sumberdaya lainnya dapat juga dilakukan dengan pendekatan spasial. Pendekatan spasial digunakan karena sumberdaya alam yang ada dipermukaan bumi terikat secara geografis sehingga penggunaan alat penginderaan jauh maupun Geographical Information System (GIS) semakin relevan digunakan. Eade dan Moran (1996) melukiskan penilaian ekonomi secara spasial di kawasan konservasi Rio Bravo di sebelah Barat Daya Balize menggunakan pendekatan benefit transfer dan GIS. Nilai ekonomi yang dihasilkan dari pendekatan tersebut dalam unit US $ untuk setiap selnya. Berikut disajikan hasil penilaian ekonomi terhadap kawasan konservasi Rio Bravo menggunakan pendekatan ekonomi spasial pada Tabel 3. 15 Tabel 3. Hasil Penilaian Ekonomi Kawasan Konservasi Rio Bravo dengan Metode Ekonomi Spasial (US$ per sel) Modal Alami Minimum Maksimum Rata-Rata Rempah-rempahan Getah-getahan Produk non kayu Tumbuhan obat Material genetik Jasa wisata Penyerapan karbon Konservasi tanah Pengendalian banjir Nilai Keberadaan (CV) Nilai Keberadaan (PfB) 0 - 00 0 - 00 0 - 00 0 - 00 0 - 00 0 - 00 0 - 53 0 - 53 2 - 65 0 - 02 36 - 83 0 - 34 0 - 47 112 - 36 446 - 41 3 - 40 755 - 10 360 - 49 444 - 50 10 - 60 1 - 729 36 - 83 0 - 036 0 - 102 26 - 654 244 - 586 1 - 311 0 - 340 249 - 784 4 - 751 3 - 303 0 - 524 36 - 830 Nilai Ekonomi Total (TEV) 43 - 36 2000 - 55 686 - 742 Sumber : Eade dan Moran, 1996 Penggunaan penginderaan jauh dalam penghitungan nilai ekonomi sumberdaya alam semakin penting. Hal ini terlihat dari upaya Pemerintah Singapura dalam menghitung kerugian ekonomi akibat kebakaran hutan yang terjadi di Sumatera dan Kalimantan. Data tersebut diperoleh dari Centre for Remote Imaging, Sensing and Processing (CRISP) Universitas Nasional Singapura dengan penyesuaian oleh EEPSEA dan WWF untuk wilayah yang terbakar. Hasil yang diperoleh terdiri atas luas total wilayah yang terbakar diperkirakan mencapai 5 juta hektar, yaitu 20 % hutan, 50 % lahan pertanian/perkebunan dan 30 % lahan-lahan yang tidak produktif (Glover, 2002). SIG dan Penginderaan Jauh Sistem Informasi Geografis (SIG) SIG (Sistem Informasi Geografis) merupakan suatu teknologi baru yang pada saat ini menjadi alat bantu (tools) yang sangat esensial dalam me nyimpan, memenipulasi, menganalisis, dan menampilkan kembali kondisi-kondisi alam dengan bantuan data atribut dan spasial (Prahasta, 2002). Sedangkan Jaya (2002) menyebutkan bahwa SIG bukanlah suatu sistem yang semata- mata berfungsi untuk membuat peta, tetapi 16 merupakan alat analitik (analytical tools) yang mampu memecahkan masalah spasial secara otomatis, cepat dan teliti. Pada bidang kehutanan (pengelolaan lingkungan), SIG sangat diperlukan guna mendukung pengambil keputusan untuk memecahkan permasalahan keruangan, mulai dari tahap perencanaan, pengelolaan sampai dengan pengawasan. SIG sangat membantu memecahkan permasalahan yang menyangkut luasan (polygon), batas (line atau arc) dan lokasi (point). Prahasta (2002) menyebutkan bahwa SIG dapat digunakan untuk bidang-bidang sebagai berikut, yaitu untuk pengelolaan sumberdaya alam (kehutanan, pertanian, DAS dan lain- lain), perencanaan wilayah, kependudukan/demografi, lingkungan, pertanahan, pariwisata, ekonomi, bisnis dan marketing, perpajakan, biologi, telekomunikasi, hidrografi dan kelautan, pendidikan, geologi, pertambangan, dan perminyakan, transportasi dan perhubungan, kesehatan dan militer. Sedangkan SIG sendiri terdiri atas tiga komponen utama, yaitu hardware (PC Desktop, workstation dan multiuser host), software (modul- modul pemasukan, penyimpanan, pemanggilan dan pengeditan : modul analisis, modul display dan modul pencetakan/output) dan brainware/manajemen (Jaya, 2003). Penginderaan Jauh (Remote Sensing) Penginderaan jauh (remote sensing) merupakan suatu ilmu yang membahas pengumpulan informasi mengenai suatu objek, kejadian (fenomena), atau area melalui analisis data yang didapat dari pengamatan dengan menggunakan peralatan sedemikian rupa sehingga tidak terjadi kontak langsung dengan objek, kejadian (fenomena) atau area yang diamati. Bidang indraja ini sering menggunakan peralatan-peralatan berupa kamera, scanner, atau sensor-sensor lainnya yang dibawa oleh wahana pengangkut (platform) yang dapat bergerak cepat (Prahasta, 2002). Data citra penginderaan jauh dari suatu permukaan bumi biasanya tersedia dalam bentuk format digital dan disusun dari elemen-elemen gambar diskret secara spasial (piksel-piksel) atau jika secara radiometrik terdapat dalam bentuk tingkat kecerahan diskret. Sebagian besar karakteristik data citra penginderaan jauh disajikan dalam rupa band-band panjang gelombang. Citra-citra tersebut merupakan mengukur lokasi spasial dari pantulan radiasi sinar ultraviolet, cahaya tampak, inframerah dekat hingga inframerah sedang dalam rentang panjang gelombangnya. Panjang gelombang yang 17 paling banyak digunakan sebagai alat untuk penginderaan permukaan bumi antara 0.4 – 12 um yang merupakan jangkauan radiasi cahaya tampak hingga inframerah (Richards, 1987). Resolusi Citra Ada empat macam resolusi yang digunakan dalam penginderaan jauh, yaitu resolusi spasial, resolusi spektral, resolusi radiometrik dan resolusi temporal. Menurut Jaya (2002) masing- masing resolusi tersebut adalah : (a) Resolusi spasial adalah ukuran terkecil dari suatu bentuk (feature) permukaan bumi yang bisa dibedakan dengan bentuk permukaan di sekitarnya atau yang ukurannya bisa diukur. Misalnya data citra yang diambil dari Landsat memiliki resolusi spasial 30 m x 30 m; (b) Resolusi spektral diartikan sebagai dimensi dan jumlah daerah panjang gelombang yang sensitif terhadap sensor, misalnya citra Landsat TM memiliki resolusi spektral sebesar 7 band dimana masing-masing band memiliki rentang panjang gelombang sendiri-sendiri ; (c) Resolusi radiometrik adalah ukuran sensitifitas sensor untuk membedakan aluran radiasi (radiant flux) yang dipantulkan atau diemisikan dari suatu obyek permukaan bumi, misalnya radian pada panjang gelombang 0.6 -0.7 um akan direkam oleh detektor MSS band 5 dalam bentuk voltage ; dan (d) Resolusi temporal merupakan frekuensi dari suatu sistem sensor merekam suatu areal yang sama (revisit), misalnya Landsat TM mempunyai ulangan overpass 16 hari. Interpretasi Citra Untuk melakukan interpretasi citra Landsat interpreter perlu memilih saluran (band) yang paling sesuai dengan tujuannya. Band 4 (hijau) dan band 5 (merah) biasanya paling baik untuk mendeteksi kenampakan budaya seperti daerah perkotaan, jalan rincian baru, tempat penambangan batu dan tempat pengambilan kerikil. Bagi daerah semacam itu, saluran 5 biasanya lebih disukai karena pada saluran 5 daya tembus atmosferiknya lebih baik daripada saluran 4 sehingga memberikan kontras citra yang lebih tinggi. Di daerah perairan dalam dan jernih, daya tembus air yang lebih besar diperoleh pada band 4, band 5 sangat baik untuk menunjukan aliran air berlumpur yang masuk ke air jernih, serta band 6 dan 7 sangat baik untuk menunjukan batas tubuh air (Lillesand dan Kiefer, 1990). 18 Setelah pemilihan band terbaik dilakukan, tahapan berikutnya yang sangat penting dalam penggunaan citra penginderaan jauh adalah klasifikasi. Ada dua jenis klasifikasi, yaitu klasifikasi tak terbimbing (unsupervised classification) dan klasifikasi terbimbing (supervised classification). Klasifikasi tak terbimbing adalah metode klasifikasi dimana piksel-piksel yang berada dalam satu kelompok diberikan sebuah symbol yang menunjukan bahwa piksel-piksel tersebut berada dalam satu klaster atau kelas spektral yang sama. Melalui penggunaan simbol-simbol tersebut maka dapat diperoleh sebuah peta baru. Peta baru tersebut berhubungan dengan citra yang telah diklaster tetapi pikselpiksel yang disajikan dalam simbol kemungkinan berlainan dengan data multispektral asli dari permukaan bumi (Richards, 1987). Jaya (2002) menambahkan bahwa pengklas ifikasian pada metode ini menggunakan algoritme hirarkis (k-mean) atau non hirarkis (isodata). Sedangkan klasifikasi terbimbing adalah suatu metode klasifikasi kuantitatif yang dilakukan dengan memilih sejumlah piksel yang memawakili masingmasing kelas atau kategori yang diinginkan melalui penggunaan training area. Klasifikasi Citra (Supervised Classification) Seperti telah disebutkan diatas bahwa klasifikasi secara terbimbing (supervised classification) merupakan suatu metode interpretasi terhadap data citra secara kuantitatif. Metode interpretasi tersebut memiliki beberapa tahapan sebagai berikut : 1. Tentukan sekelompok tipe penutupan lahan yang terdapat pada citra agar dapat dipisah-pisahkan. Sekelompok data tersebut menyimpan sejumlah informasi seperti air, kawasan perkotaan, kawasan pertanian, pegunungan dan lain- lain, 2. Pilihlah piksel-piksel yang mewakili atau prototipe dari setiap kelompok kelas yang diinginkan. Piksel-piksel tersebut akan membentuk suatu data percobaan. Sekelompok data percobaan dari setiap kelas dapat ditetapkan menggunakan lokasi kunjungan, peta-peta, foto udara atau fotointerpretasi dari produk warna komposit yang dibentuk dari data citra. Biasanya piksel-piksel percobaan untuk kelas yang diberikan akan terletak didalam suatu kawasan yang terdekat pada batas tersebut. Kawasan itu disebut sebagai lapangan percobaan, 3. Gunakanlah data percobaan untuk menduga parameter-parameter dari algoritme klasifikasi tertentu untuk pemakaiannya, parameter-parameter tersebut akan menjadi pelengkap dari model peluang yang digunakan atau akan menjadi 19 persamaan yang akan membatasi pemilahan di dalam lingkup multispektral. Sekelompok parameter bagi kelas yang diberikan kadangkala disebut sebagai signature kelas, 4. Gunakan klasifikasi percobaan, label atau klasifikasikan setiap piksel yang ada pada citra menjadi satu tipe penutupan lahan yang dikehendaki (kelas informasi). Disini seluruh segmen citra yang diminati telah diklasifikasikan secara tertentu. Dimana percobaan pada langkah kedua di atas merupakan syarat bagi pengguna untuk melakukan indentifikasi sekitar 1 % dari piksel-piksel citra yang ada melalui pemahaman yang lain, komputer akan melabelnya dengan klasifikasi, 5. Hasil yang diperoleh akan disajikan dalam bentuk data tabular atau peta tematik (kelas) yang merupakan ringkasan hasil dari klasifikasi (Richards, 1987) Klasifikasi citra secara terbimbing membutuhkan analisis separabilitas, agar dapat menampilkan data percobaan yang telah diambil sehingga adanya kesalahan dalam proses klasifikasi dapat diduga (Swain dan Davis, 1978 dalam Schowengerdt, 1997). Separabilitas juga dapat digunakan untuk menentukan kombinasi tampilan terbaik secara rata-rata dalam membedakan kelas-kelas yang dibuat. Sebagai sebuah alat untuk pemilihan tampilan, ukuran separabilitas dihitung secara khusus untuk semua pasangan kelas yang memungkinkan dan untuk semua kombinasi dari q tampilan yang menghasilkan K total tampilan (Jansen, 1996 dalam Schowengerdt, 1997). Ada beberapa model klasifier yang dapat digunakan dala m membuat klasifikasi (Thomas, Benning dan Ching, 1987) yaitu : 1. Parallelepiped, merupakan model klasifier yang termudah dan menggunakan sumberdaya komputer yang paling minim dari semua klasifier. Pengguna hanya menentukan rata-rata ± batasan yang dapat diterima untuk kelas sebaran statistik dan merupakan batasan parallelepiped pada kelas yang terpotong. 2. Jarak Euclidean, merupakan klasifier yang terbaik dimana melalui penilaian jarak Euclidean dalam ruang multidimensi dilakukan antara posisi piksel data dan lokasi dari rata-rata statistik untuk setiap kelas tertentu. Piksel-piksel tersebut diletakan pada kelas yang terdekat. 20 3. Jarak Mahalanobis, merupakan suatu teknik untuk mengetahui interrelasi dari saluran spektral. Teknik klasfikasi yang digunakan yaitu mengevaluasi jarak antara sebuah titik yang terdapat dalam ruang spektral atau ruang tampilan dan posisi rata-rata untuk kelas tersebut. Pendekatan ini hampir sama dengan jarak Euclidean. Kemudian jarak tersebut diubah melalui pemecahan keragaman dari kelas di dalam ruang berdimensi n searah yang sesuai (point to mean). 4. Maximum Likelihood, merupakan teknik klasifier yang memiliki beberapa tahapan, yaitu (a) mempersiapkan suatu fungsi peluang berdimensi n yang menghitung korelasi anta saluran data. Fungs i tersebut mencerminkan korelasi yang terlihat dalam tanda spektral yang ada pada saat itu; (b) mengevaluasi fungsi peluang berdimensi n pada lokasi piksel data dan kemudian menghitungnya dalam nilai yang memungkinkan untuk piksel tersebut ke dalam kelas-kelas tertentu. Selanjutnya perbedaan analisis antara klasifikasi terbimbing dan tak terbimbing disajikan pada Gambar 3. Klasifikasi tak terbimbing Klasifikasi terbimbing Rektifikasi Rektifikas i Training area Algoritme : Hirarchical (k-mean) atau non hirarchical (isodata) Uji separabilitas Edit/evaluasi kelas Klasifikasi citra Klasifikasi citra Evaluasi akurasi Evaluasi akurasi Gambar 3. Perbedaan Proses Klasifikasi Terbimbing dan Tak Terbimbing (Jaya, 2002) 21 METODOLOGI Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian mengenai penilaian sumberdaya air di DAS Cidanau ini akan dilaksanakan mulai bulan September tahun 2005 sampai dengan bulan Februari tahun 2006 di tiga kecamatan, yaitu Kecamatan Cinangka, Ciomas dan Padarincang di DAS Cidanau. Alasan pemilihan lokasi bagi penelitian ini karena pada ketiga kecamatan tersebut air digunakan bagi kegiatan pertanian sawah, perikanan, rumah tangga dan industri baik industri kecil non formal maupun industri air minum kemasan sehingga sesuai dengan tujuan penelitian. Sedangkan DAS Cidanau merupakan sumber air utama bagi PT KTI dalam memproduksi air bagi kegiatan industri- industri besar di kota Cilegon. Bahan dan Alat Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah data Citra Landsat Cidanau tahun 1997 hingga tahun 2004 untuk melihat sebaran para pengguna jasa air di sekitar DAS Cidanau serta kondisi lingkungannya dan daftar pertanyaan untuk wawancara, sedangkan alat yang digunakan adalah seperangkat komputer, GPS (Global Positioning System) dan program software ERDAS 8.5., Arview 3.2./Arc- info dan Stepwise regression dari Minitab. Metode Penelitian Jenis Data Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri atas data primer dan data sekunder. Data primer merupakan data yang diambil langsung dari lapangan melalui wawancara yang terdiri atas : biaya-biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan pertanian dan perikanan (Rp/ha), banyaknya produk yang dihasilkan (ton), jumlah air rumah tangga dan industri kecil non formal yang digunakan (m3 /kapita/hari) dan (m3 /industri/hari), biaya-biaya yang dikeluarkan untuk menggunakan air rumah tangga (Rp/m3 /hari) dan industri kecil non formal (Rp/m3 /hari), pendidikan (skala 0 – 4), jarak untuk mendapatkan air (m), jumlah anggota keluarga, harga-harga air di tingkat produsen dan kesedian membayar para pengguna jasa air terhadap air yang digunakan (WTP). Semua nilai diatas dihitung selama satu tahun. Sedangkan data sekunder yang digunakan terdiri atas data citra, peta-peta tematik DAS Cid anau, jumlah penduduk, luas sawah total, jumlah produksi total, penggunaan air total, data vektor batas-batas kecamatan dan lain- lain. Teknik Pengambilan Data Pengambilan data terhadap para pengguna jasa air pada lokasi penelitian dilakukan dengan cara stratifikasi sampling. Jumlah responden yang akan diambil diklasifikasikan berdasarkan luas lahan sawah dan balong/kolam yang ada, sedangkan untuk rumah tangga, jumlah responden diklasifikasikan berdasarkan jumlah penduduk yang terdapat pada lokasi penelitian. Untuk industri kecil non formal, air minum kemasan dan KTI menempati jumlah yang sedikit sehingga dapat diambil seluruhnya. 1. Pengambilan n contoh dari N populasi Jumlah responden n yang akan diambil dari N populasi ditentukan menggunakan formula Slovin (1960) dalam Sudjana (1991), yaitu : N n=- - - - 1 + N.e 2 dimana, n = ukuran contoh N = ukuran populasi e = nilai kritis (batas kekeliruan) yang diinginkan (persen kelonggaran ketidaktelitian karena kesalahan pengambilan sampel populasi) Sedangkan nilai kritis yang diinginkan dari responden yang diambil adalah sebesar 10 %. Pemilihan responden hanya dibatasi pada desa-desa yang merupakan daerah tangkapan air DAS Cidanau di tiga kecamatan, yaitu Kecamatan Padarincang, Cinangka dan Ciomas. 2. Stratifikasi Sampling Setelah jumlah responden yang terdapat di lokasi penelitian diketahui, kemudian dilakukan pengkelasan terhadap luas lahan sawah, luas lahan balong dan jumlah 23 penduduk yang terdapat pada Kecamatan Padarincang, Ciomas, dan Cinangka. Lahan sawah yang terdapat pada lokasi penelitian dibagi ke dalam tiga kelas, yaitu lahan sawah kecil (0 – 250 ha), sedang (251 – 500 ha) dan besar (> 500 ha). Sedangkan balong juga dibagi kedalam tiga kelas luas lahan, yaitu luas balong kecil (0 – 100 ha), sedang (101 – 200 ha) dan besar (> 200 ha). Kelas luas lahan sawah disajikan pada Tabel 4 dan kelas luas lahan balong disajikan pada Tabel 5. Tabel 4. Kelas Luas Lahan Sawah pada Lokasi Penelitian No. Kelas Sawah 1 Kecil 2 Sedang 3 Besar Luas (Ha) 0 - 250 251 - 500 > 500 Luas Desa (Ha) 1588.77 cibojong, cisaat, curuggoong, kadubereuem, kramat laban, cikolelet, padarincang, cinangka, kubang baros, sindang laya, siketug, cisitu, lebak, pondok kahuru, sukabares, sukadana, ujung tebu 1382.51 batukuwung, bugel, cipayung, rancasanggal 3127.96 barugbug, ciomas, kalumpang Sumber : Bapedalda Propinsi Banten, 2001 Tabel 5. Kelas Luas Lahan Balong pada Lokasi Penelitian No. Kelas Balong 1 Kecil 2 Sedang 3 Besar Luas (Ha) 0 - 100 Luas (Ha) 22.75 101 - 200 > 200 0 415.2 437.95 Desa batukuwung, cibojong, ciomas, cipayung, siketug, kadubereum, kramat laban, cikolelet, cinangka, karang suraga, kubang baros, rancasanggal, sindang laya,

Dokumen baru

Download (175 Halaman)
Gratis

Dokumen yang terkait

Factors affecting customer satisfaction in purchase decision on ticket online : a case study in air asia
0
5
122
An analysis of the students errors in reading comprehension question in the Summative test : a case study at the year students of sma budi mulia ciledug academic year
0
5
45
An analysis of students’ error in learning noun clause: a case study in the second grade students of SMA Darul Ma’arif
0
7
64
An error analysis in learning direct and indirect speech of imperative sentences: a case of study at SMK Perwira Jakarta
0
3
124
An analysis on students’ error in using modal auxiliaries: a case study in the eighth grade students at SMP Muhammadiyah 17 Ciputat
0
2
1
An Error analysis on verb usage in english writing : a case study at the third year students of smk puspita bangsa ciputat
1
6
57
An analysis of illocutionary acts in business letters (a case atudy of some companies in Cilegon
0
13
72
An error analysis in making wh-questions: a case study of the second year students of SMP Islam Al-Syukro Universal
10
104
176
An analysis on students’ errors in using relative pronouns (Who, Whom, Which, Whose): a case study in the second year of Fatahillah senior high school
1
13
76
Strengthening Regional Economic Policy for Investment Attraction: Case in Banten Province
0
0
11
Study of salak fruit post harvest and its economic analysis in Balikpapan City, East Kalimantan
0
0
7
A case study of the Indonesia–Malaysia frontier in Sebatik Island
0
0
16
The comparison analysis of land cover change based on vegetation index and multispectral classification (a case study at Leihitu Peninsula of Ambon City District)
0
0
8
Analysis of Soil Erosion in Agricultural Land Use in Krueng Sieumpo Watershed Aceh Province
1
1
10
Presentation: Health in changing climate
0
0
24
Show more