Uji Efikasi Ekstrak Tanaman Suren ( Toona sinensis Merr.) Sebagai Insektisida Nabati Dalam Pengendalian Hama Daun (Eurema spp. dan Spodoptera litura F.)

Gratis

0
4
73
2 years ago
Preview
Full text
UJI EFIKASI EKSTRAK TANAMAN SUREN (Toona sinensis Merr) SEBAGAI INSEKTISIDA NABATI DALAM PENGENDALIAN HAMA DAUN (Eurema spp. dan Spodoptera litura F.) WIDA DARWIATI SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2009 PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN SUMBER INFOMASI Dengan ini saya menyatakan bahwa Tesis dengan judul : Uji Efikasi Ekstrak Tanaman Suren (Toona sinensis Merr.) Sebagai Insektisida Nabati Dalam Pengendalian Hama Daun (Eurema spp dan Spodoptera litura F.) adalah karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini. Bogor, Agustus 2009 Wida Darwiati NIM E451070134 ABSTRACT WIDA DARWIATI. Efficacy test on suren (Toona sinensis Merr.) extract as control agents of leaf pests (Eurema spp. aGnd Spodoptera litura F.) Under direction of I.G.K.TAPA DARMA and KASNO. Efficacy study of suren extract as control agents to leaf pest firstly to test the potential of three fractions of compounds (methanol, n-hexane dan ethyl acetate) extracted from leaves, branches, barks and seeds to effect the mortality of leaf pests Eurema spp and S. litura , secondly to determine the lethal level of concentrations for each type extraction and thirdly to identify the type of compound of each extract fraction of the plant parts. The level of concentrations are : 0,3,5,10,15 and 20 percent (w/v) other than seeds. For seed extracts we use concentration 0,1,3,5,7,and 10 percent (w/v) with 5 replications and 10 larvaes second instars. Mortality data obtainded after 3 days are analysed by using Probit method (Finney, 1971) and Polo Plus Programmes (Robertson et al.2003) in order to measure the lethal level of concentration expected at 95% confidence interval. Result show that the highest level of larvae mortality of Eurema spp is 98% at 1 days after treatment and the lowest level is 2% at 3 days after treatment. For S. litura the highest mortality is 42% at 1 days after treatment and the lowest is 2% at 3 days after treatment. The ethyl acetate fraction is the most effective one for killing the larva and the seeds extrascts are the most toxic followed by barks, branches and leaves extracts. LC50 seeds extracts of ethyl acetate fractionation for Eurema spp treatments has the lowest level is 0,05 (0,36 – 1,18%) and for S. litura LC50 the mortality of larvae caused by the some extracts are 7,62 (3,97 – 19, 06%). GCMS product an active compound is obtained largerly from leaves, barks, branches and seeds parts of the plant species. Keywords: Extraction, Fraksination, Leaf Pest, Mortality, Insectiside, Toona sinensis Merr. RINGKASAN WIDA DARWIATI. Uji Efikasi Ekstrak Tanaman Suren (Toona sinensis Merr.) Sebagai Insektisida Nabati Dalam Pengendalian Hama Daun (Eurema spp. dan Spodoptera litura F.) Dibimbing oleh I.G.K. TAPA DARMA dan KASNO. Indonesia kaya akan keanekaragaman hayati (biodiversity) termasuk jenis tumbuhan yang mengandung bahan aktif pestisida, bahkan terdapat lebih dari 1.100 jenis tumbuhan yang mengandung bahan insektisida. Salah satu tumbuhan yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai bahan insektisida nabati dalam pengendalian hama daun adalah genus Toona (suren) yang termasuk famili Meliaceae dan belum banyak dimanfaatkan. Penggunaan insektisida sintetik dalam pengendalian hama memiliki beberapa keunggulan, diantaranya dapat mengendalikan hama sasaran dengan cepat. Selain memiliki keuntungan, penggunaan insektisida sintetik juga dapat menimbulkan dampak negatif, diantaranya dapat menyebabkan resistensi dan resurjensi hama, terbunuhnya musuh alami dll. Dampak negatif insektisida sintetik memicu reaksi balik masyarakat yang pada akhirnya memunculkan sikap keraguan terhadap insektisida sintetik. Keraguan tersebut menyebabkan orang mencari cara atau sarana pengendalian alternatif yang lebih aman. Penelitian uji efikasi ekstrak tanaman suren (Toona sinensis Merr.) sebagai insektisida nabati dalam pengendalian hama daun (Eurema spp dan Spodoptera litura F) dilakukan dilaboratorium hama dan penyakit Kelti Perlindungan Hutan Puslitbang Hutan Tanaman Bogor serta laboratorium Hasil Hutan Fahutan IPB pada bulan Januari – Mei 2009 dengan beberapa tahapan diantaranya persiapan serbuk dari bagian daun, ranting, kulit batang dan biji tanaman suren dikering anginkan hingga mencapai kadar air sekitar 15%, kemudian dipotong-potong sebesar batang korek api kemudian diblender hingga halus dan didapat serbuk dengan ukuran yang seragam, kemudian dilakukan ekstraksi yang umum untuk mengekstrak bahan insektisida botani dengan metode sokslet kemudian dilakukan fraksinasi dengan pelarut methanol, n-heksan dan etyl asetat. Tujuan penelitian ini adalah menguji bioaktivitas dari ketiga fraksinasi (methanol, n-heksan dan etyl asetat) dari ekstrak daun, ranting, kulit batang dan biji tanaman suren terhadap mortalitas hama daun (Eurema spp. dan S.litura), menentukan konsentrasi dan lethal concentration (LC) dari ketiga fraksi tersebut, serta menganalisa kandungan bahan aktif yang terdapat dalam ekstrak daun, ranting, kulit batang dan biji tanaman tsb. Konsentrasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah 0, 3, 5, 10, 15 dan 20 % (w/v) untuk perlakuan ekstrak dari daun, ranting dan kulit batang, sedangkan untuk ekstrak biji digunakan konsentrasi 0, 1, 3, 5, 7 dan 10% (w/v) dengan 5 kali ulangan dan 10 larva instar dua yang digunakan sehingga total larva yang digunakan dalam uji efikasi ekstrak suren sebanyak 300 larva untuk tiap ekstrak per fraksi. Data kematian dari serangga uji tersebut sampai pada hari ke tiga diolah dengan Analisis Probit (Finney 1971) dengan menggunakan Program Polo Plus (Robertson et al 2003). Selain dalam rangka memberdayakan tumbuhan lokal, secara umum tujuan penelitian ini adalah mencari kandidat tumbuhan sebagai sumber insektisida botani baru yang dapat dimanfaatkan oleh para pengelola hutan sebagai alternatif pengendalian hama. Hasil penelitian menunjukkan mortalitas tertinggi untuk hama Eurema spp. pada 1 HSP (Hari Setelah Perlakuan) mencapai 98% sedangkan untuk hama S. litura mencapai 42% sedangkan untuk mortalitas terendah dicapai 2% pada 3 HSP (Hari Setelah Perlakuan) untuk kedua serangga uji. Dari hasil fraksinasi perlakuan fraksi etyl asetat paling efektif dibanding fraksi yang lain dan ekstrak biji paling toksik dari ekstrak suren dibanding bagian yang lain. Hasil LC50 ekstrak biji pada perlakuan Eurema spp sebesar 0,05 dengan SK (Selang Kepercayaan 95%) (0,36 – 1,18) sedangkan pada S. litura LC50 sebesar 7,62 dengan SK (Selang Kepercayaan 95%) (3,97 – 19,06). Hasil analisa dari Gas Chromatografi Mass Spectrofotometer (GCMS) kandungan bahan aktif dari tanaman suren ini banyak didapat dari bagian daun kemudian diikuti dari perlakuan dari bagian kulit batang, ranting dan biji. Kata kunci : Ekstraksi, Fraksinasi, Hama Daun, Kematian, Insektisida, Suren. ©Hak Cipta milik IPB, tahun 2009 Hak Cipta dilindungi Undang-Undang Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh Karya tulis dalam bentuk apapun tanpa izin IPB. UJI EFIKASI EKSTRAK TANAMAN SUREN (Toona sinensis Merr) SEBAGAI INSEKTISIDA NABATI DALAM PENGENDALIAN HAMA DAUN (Eurema spp. dan Spodoptera litura F.) WIDA DARWIATI Tesis Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada Program Studi Silvikultur Tropika SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2009 Penguji Luar Komisi pada Ujian Tesis : Dr. Ir. Prijanto Pamoengkas M.Sc.F.Trop. Judul Tesis : Uji Efikasi Ekstrak Tanaman Suren ( Toona sinensis Merr.) Sebagai Insektisida Nabati Dalam Pengendalian Hama Daun (Eurema spp. dan Spodoptera litura F.) Nama : Wida Darwiati NIM : E451070134 Disetujui : Komisi Pembimbing Ir. Kasno, M.Sc Anggota Prof. Dr. Ir. I.G. K. Tapa Darma, M.Sc. Ketua Diketahui : Ketua Program Studi Mayor Silvikultur Tropika Dekan Sekolah Pascasarjana Prof. Dr. Ir. I.G. K. Tapa Darma, M.Sc Prof. Dr. Ir. Khairil A. Notodiputro, M.S. Tanggal Ujian : 21 Agusttus 2009 Tanggal Lulus : KATA PENGANTAR Puji dan syukur Penulis panjatkan ke hadirat Allah S.W.T. atas segala karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Tema yang dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan sejak bulan Januari 2009 ini ialah ” Uji Efikasi Ekstrak Tanaman Suren ( Toona sinensis Merr.) Sebagai Insektisida Nabati Dalam Pengendalian Hama Daun (Eurema spp. dan Spodoptera litura F). Pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Bapak Prof. Dr. Ir. I.G.K. Tapa Darma selaku ketua komisi pembimbing dan Bapak Ir. Kasno M.Sc selaku anggota komisi pembimbing atas segala bimbingan dan pengarahan sejak rencana penelitian, persiapan penelitian, pelaksanaan penelitian sampai dengan penulisan tesis. Penulis mengucapkan terima kasih kepada Dekan Sekolah Pascasarjana IPB beserta staf, Fakultas Kehutanan , khususnya Departemen Silvikultur beserta staf pengajar yang telah memberikan pelayanan akademik selama penulis belajar di IPB. Kepada Kepala Badan Litbang Kehutanan dan Kepla Pusat Litbang Hutan Tanaman yang telah memberikan kesempatan bagi penulis untuk melanjutkan sekolah melalui Program Research School, serta Sdr. Linda Mardia Sari Mhs Fahutan IPB angkatan 40 yang telah membantu selama penelitian dilaboratorium, penulis sampaikan terima kasih yang sebanyak-banyaknya. Ungkapan terima kasih juga disampaikan kepada Bapak, Mamie, Suami (Dede Sofyan) dan anak-anak (Hisyam dan Hasna) serta seluruh keluarga, atas segala doa, dorongan moril dan kasih sayangnya. Akhirnya, kepada Yang Maha Kuasalah penulis berserah diri dan bertawakkal untuk mendapat ridho-Nya. Semoga karya ilmiah ini bermanfaat. Bogor, Agustus 2009 Penulis RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Bogor pada tanggal 9 November 1964 dari ayah Ir. Jusuf Prawirasumantri dan Ibu Dra. Hayati. Penulis merupakan putri kedua dari tiga bersaudara. Tahun 1984 penulis lulus dari SMA Negeri 1 Bogor dan pada tahun yang sama masuk di Fakultas MIPA Jurusan Biologi Universitas Pakuan Bogor dan lulus pada tahun 1992. Pada tahun 1995 penulis bekerja sebagai honorer di Pusat Litbang Hutan dan Konservasi Alam pada kelompok peneliti Perlindungan Hutan . Baru pada tahun 2000 diangkat sebagai PNS di Instansi yang sama dengan jabatan peneliti pertama bidang perlindungan hutan. Pada tahun 2005 sampai sekarang penulis dipindahkan ke Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman dengan jabatan Peneliti Muda di Bidang Perlindungan Hutan, khususnya hama hutan dan pada tahun 2007 penulis mendapat kesempatan melanjutkan pendidikan pada Program Silvikultur Hutan Tropika, Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor (IPB). DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL............................................................................................ xiv DAFTAR GAMBAR........................................................................................ xvi DAFTAR LAMPIRAN.................................................................................... xvii I. PENDAHULUAN........................................................................................ 1 1.1. Latar Belakang ............................................................................. 1 1.2. Perumusan Masalah ..................................................................... 3 1.3. Tujuan Penelitian ......................................................................... 3 1.4. Manfaat Penelitian ....................................................................... 4 1.5. Hipotesis ...................................................................................... 4 II. TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................ 5 2.I. Insektisida Botani ......................................................................... 5 2.2. Ekstraksi ...................................................................................... 6 2.3. Senyawa Bioaktif ........................................................................ 6 2.4. Geografi dan Morfologi T. sinensis Merr..................................... 8 III. BAHAN DAN METODE ........................................................................ 10 3.1. Waktu dan Tempat ....................................................................... 10 3.2. Bahan dan Alat ............................................................................. 10 3.3. Metodologi Penelitian .................................................................. 10 3.3.1. Penyiapan Serbuk .............................................................. 11 3.3.2. Ekstraksi .............................................................................. 11 3.3.3. Uji Efikasi ........................................................................... 13 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ................................................................ 18 4.1. Pengaruh Fraksi Methanol terhdp mortalitas Eurema spp............ 18 4.2. Pengaruh Fraksi n-heksan terhdp mortalitas Eurema spp……..... 22 4.3. Pengaruh Fraksi Etyl asetat terhdp mortalitas Eurema spp……... 24 4.4. Pengaruh Fraksi Methanol terhdp mortalitas S. litura …………… 26 4.5. Pengaruh Fraksi n-heksan terhdp mortalitas S. litura ……………… 29 4.6. Pengaruh Fraksi Etyl asetat terhdp mortalitas S. litura.......................... 32 4.7. Pembahasan Umum................................................................................ 34 V. SIMPULAN DAN SARAN ............................................................................ 38 5.1. Simpulan ............................................................................................. 38 5.2. Saran ................................................................................................... 38 DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………….. 39 LAMPIRAN …………………………………………………………………... 43 DAFTAR TABEL Halaman 1 Pengaruh letal fraksi Methanol dari berbagai bagian tanaman T.sinensis Merr terhadap larva Eurema spp................................................... 19 2 Parameter hubungan konsentrasi mortalitas fraksi Methanol dari berbagai bagian tanaman T. sinensis Merr terhadap larva Eurema spp........................................................................................... 20 3 Pengaruh letal fraksi n-heksan dari berbagai bagian tanaman T. Sinensis Merr terhadap larva Eurema spp................................................ 22 4 Parameter hubungan konsentrasi mortalitas fraksi n-Heksan dari berbagai bagian tanaman T. sinensis Merr terhadap larva Eurema spp………….......................................................................... 24 5 Pengaruh letal fraksi Etyl Asetat dari berbagai bagian tanaman T. sinensis Merr terhadap larva Eurema spp……………………………….. 24 6 Parameter hubungan konsentrasi mortalitas fraksi Etyl Asetat dari berbagai bagian tanaman T. sinensis Merr terhadap larva Eurema spp………………………………………………………..... 26 7 Pengaruh letal fraksi Methanol dari berbagai bagian tanaman T. sinensis Merr terhadap larva Spodoptera litura F................................... 27 8 Parameter hubungan konsentrasi mortalitas fraksi Methanol dari berbagai bagian tanaman T. sinensis Merr terhadap larva Spodoptera litura F............................................................................ 28 9 Pengaruh letal fraksi n - heksan berbagai bagian tanaman T. sinesnis Merr. terhadap larva Spodoptera litura F................................... 10 Parameter hubungan konsentrasi mortalitas fraksi n-heksan dari berbagai tanaman T. sinensis Merr. terhadap larva S. litura F……………………………………………....... 11 Pengaruh letal fraksi etyl asetat dari berbagai bagian tanaman T. sinensis Merr. terhadap larva Spodoptera litura F................................ 30 31 32 12 Parameter hubungan konsentrasi mortalitas fraksi etyl asetat dari berbagai bagian tanaman T. sinensis Merr terhadap larva Spodoptera litura F........................................................................ 34 13 Jumlah senyawa aktif yang terdapat pada fraksinasi............................. 37 14 Data Penunjang banyak daun yang dimakan oleh serangga uji ............ 37 DAFTAR GAMBAR Halaman 1 Metode Sokslet ................................................................. 12 2 Rotary Vaccum Evaporator ................................................ 12 3 Skematis Pembuatan Ekstraksi............................................ 13 4a Daun Suren . ..................................................................... 15 4b Kulit Batang Suren ........................................................... 15 4c Ranting Suren ................................................................. 15 4d Biji Suren ........................................................................ 15 5 Sampel Ekstraksi ............................................................... 16 6 Hama Eurema spp ............................................................. 16 7 Hama Spodoptera litura F. ................................................. 16 8 Uji Efikasi di Laboratorium .............................................. 17 9 Gejala kematian dari ekstrak suren ................................. 37 10 Gejala kematian larva......................................................... 37 DAFTAR LAMPIRAN Halaman Hasil analisis GCMS bahan aktif dari tiap fraksi ekstrak suren................................................................................. 45 1 Fraksi Etyl asetat untuk ekstrak biji suren ........................................... 45 2 Fraksi Etyl asetat untuk ekstrak kulit batang suren.............................. 45 3 Fraksi Etyl asetat untuk ekstrak daun suren......................................... 46 4 Fraksi Etyl asetat untuk ekstrak ranting suren...................................... 47 5 Fraksi n – heksan untuk ekstrak biji suren........................................... 48 6 Fraksi n – heksan untuk ekstrak kulit batang suren.............................. 48 7 Fraksi n – heksan untuk ekstrak daun suren......................................... 49 8 Fraksi n – heksan untuk ekstrak ranting suren..................................... 50 9 Fraksi methanol untuk ekstrak biji suren............................................. 51 10 Fraksi methanol untuk ekstrak kulit batang suren............................... 52 11 Fraksi methanol untuk ekstrak daun suren.......................................... 52 12 Fraksi methanol untuk ekstrak ranting suren....................................... 53 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Hutan sebagai karunia dan amanah Allah SWT yang dianugerahkan kepada bangsa Indonesia, merupakan kekayaan yang dikuasai oleh negara. Hutan yang dapat memberikan manfaat serba guna bagi umat manusia, wajib disyukuri, diurus dan dimanfaatkan secara optimal serta dijaga kelestariannya untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat generasi sekarang maupun generasi berikutnya secara berkesinambungan. Di Indonesia tumbuh sekitar 30.000 – 40.000 jenis tumbuhan yang menyebar di seluruh kepulauan, dari jumlah tersebut terdapat tidak kurang dari 1.100 species tumbuhan yang dapat digunakan sebagai tumbuhan obat (Heyne 1987). Menurut Fransworth (1985) dalam Zuhud et al. (1994) menyatakan bahwa 74% dari 121 bahan aktif obat modern di USA berasal dari pengetahuan obat tradisional yang berasal dari tumbuhan hujan tropika, hal ini menunjukkan bahwa hutan tropika Indonesia sangat potensial mengandung berbagai senyawa bioaktif yaitu senyawa yang dalam kadar kecil dapat mempengaruhi fungsi fisiologi sel hidup. Dalam ekstrak tumbuhan selain beberapa senyawa aktif utama biasanya terdapat juga senyawa lain yang kurang aktif. Serangga tidak mudah menjadi resisten terhadap ekstrak tumbuhan dengan beberapa bahan aktif, karena kemampuan serangga untuk membentuk sistem pertahanan terhadap beberapa senyawa yang berbeda relatif lebih kecil dibanding terhadap senyawa insektisida tunggal (Prijono 1999). Di China, tanaman tingkat tinggi telah banyak digunakan sebagai bahan insektisida sejak 2000 tahun yang lalu (Shang 1996). Bahan tanaman diketahui kaya akan senyawa kimia, kandungan senyawa sekunder tanaman seperti flavanoid, terpenoid dan alkaloid diketahui sebagai senyawa yang melindungi tanaman dari serangan hama dan penyakit tumbuhan. Penelitian kandungan bioaktif tanaman telah membuktikan bahwa beberapa kandungan kimia berpengaruh buruk pada serangga dan mengakibatkan perubahan perilaku seperti penghambatan makan (antifeedant) dan gangguan fisiologi serangga seperti sterilan, menghambat pertumbuhan, menghambat pembentukan khitin, bersifat racun yang mematikan (Dadang 1998). Dalam pengendalian hama dengan menggunakan kandungan bahan alami tanaman, perlu memperhatikan beberapa aspek, diantaranya (1) Kandungan potensi bahan aktif telah diketahui kegunaannya untuk aplikasi pengendalian hama secara langsung maupun dalam bentuk yang telah disintetik, (2) Menciptakan tanaman resisten dengan rekayasa genetik oleh gen yang berperan dalam aktivitas biologi (Dadang 1998). Beberapa bahan alami mempunyai karakteristik penting dalam persaingannya dengan kimia sintetik dalam pertanian/perkebunan/kehutanan. Senyawa kimia yang berasal dari tanaman merupakan sumber yang kaya akan keragaman struktural. Beberapa bahan tanaman insektisida telah digunakan sebagai senyawa induk untuk dibuat sintetiknya. Salah satunya adalah piretroid (piretrin) merupakan sintetik dari ekstrak bunga Chrysanthemun cinerariaefolium (Benner 1993). Penggunaan insektisida sintetik dalam pengendalian hama memiliki beberapa keunggulan, diantaranya dapat mengendalikan hama sasaran dengan cepat. Selain memiliki keuntungan, penggunaan insektisida sintetik juga dapat menimbulkan dampak negatif diantaranya dapat menyebabkan resistensi dan resurjensi hama, terbunuhnya musuh alami hama, ledakan hama sekunder, pencemaran lingkungan, serta bahaya residu bagi konsumen (Kishi et al.1995). Dampak negatif insektisida sintetik memicu reaksi balik masyrakat yang pada akhirnya memunculkan sikap keraguan terhadap insektisida sintetik. Keraguan tersebut menyebabkan orang mencari cara atau sarana pengendalian alternatif yang lebih aman. Cara pengendalian alternatif yang dikembangkan diharapkan dapat mengatasi atau setidaknya mengurangi permasalahan penggunaan insektisida sintetik dan dapat digunakan oleh pengelola hutan dengan mudah. Berkaitan dengan persyaratan tersebut, pemanfaatan metabolit sekunder tumbuhan berkhasiat insektisida merupakan salah satu alternatif yang dapat diupayakan (Isman et al.1997). Insektisida botani kurang resisten dibandingkan dengan insektisida sintetik sehingga tidak menimbulkan banyak residu, mudah terurai di alam, aman dalam penggunaan di lapang maupun bagi musuh alami dan tidak menimbulkan resurgensi bagi hama tanaman (Prijono 1999). Insektisida botani yang diketahui mempunyai potensi besar untuk dikembangkan sebagai pengendali serangga hama dari kelompok Meliaceae, Rutaceae, Asteraceae, Annonaceae, Labiatae, Malvaceae, Zingiberaceae dan Solanaceaea (Jacobson 1989; Schmuttere 1992 dalam Chapman and Hill 1997, Dadang 1999). Jumlah bahan alami yang memiliki efek insektisida yang telah diisolasi dari anggota tumbuhan Meliaceae meningkat secara dramatis dalam dekade terakhir ini. Umumnya penelitian kimia tumbuhan menghasilkan senyawa aktif yang banyak difokuskan pada genera Melia dan Azadirachta, sedangkan jenis lain yang masih kurang diupayakan adalah pada genus Trichilia, Toona dan Aglaia (Isman et al. 1995). Diantara kelompok tanaman Meliaceae lain seperti Azadirachta indica, Aglaia odorata dan Swietenia mahogany, Toona sinensis juga berpotensi sebagai pengendali hama, banyak kandungan terpenoid yang diisolasi dari famili Meliaceae yang dapat menghambat aktivitas makan serangga, seperti cedrelobne, aphanin dan toosendanin yang masing-masing diisolasi dari Cedrella odorata, Aphanamixis sinensis dan Melia toosendan (Dadang 1998). Suren dilaporkan memiliki kandungan bahan surenon, surenin dan surenolakton yang berperan sebagai penghambat pertumbuhan, insektisida dan antifeedant terhadap larva serangga uji ulat sutera (Dinata 2005) dan ditingkat petani di daerah Jawa Barat suren telah digunakan untuk pengendalian walang sangit pada pertanaman padi dan hasilnya cukup baik (Prijono 1999). Bagian kulitnya digunakan untuk menyembuhkan berbagai penyakit misalnya oleh suku Rejang Lebong (Bengkulu) untuk obat mules, suku Jawa untuk demam, suku Bali untuk kencing manis dan oleh suku Sumawa (NTB) untuk menyembuhkan penyakit gondok (Sangat et al. 2002). 1.2. Perumusan Masalah Dalam usaha menangulangi hama yang menyerang tanaman kehutanan para pengelola hutan lebih memilih menggunakan insektisida kimia sintetis dengan alasan praktis, mudah diperoleh dan hasilnya dapat terlihat secara nyata dan cepat. Cara pengendalian dengan insektisida kimia sintetis untuk penangulangan hama hutan memberikan dampak negatif yang cukup serius, khususnya mengenai residu insektisida. Selain itu penyemprotan insektisida sintetis dapat membunuh musuh alami hama dan serangga berguna lainnya (Hill 1983). Oleh karena itu sejak awal ’80 an para ahli terdorong untuk kembali menggunakan insektisida yang berasal dari tumbuhan atau lebih dikenal dengan sebutan insektisida nabati (Saxena 1982). Penggunaan insektisida nabati dianggap kurang mencemari lingkungan, lebih bersifat spesifik residunya relatif lebih pendek dan kemungkinan hama tidak mudah berkembang menjadi resisten terhadap insektisida (Stoll 1984; Oka 1994). Sehubungan dengan hal itu dirasa perlu dilakukan penelitian-penelitian guna menggali potensi dari pestisida nabati yang bersifat insektisida terhadap hama hutan yang dapat dimanfaatkan. Salah satu alternatif pemecahan permasalahan yang tersedia adalah pemanfaatan bahan alam sebagai insektisida, misalnya pemanfaatan bahan tumbuhan sebagai insektisida. Berbagai tumbuhan telah diketahui bioaktivitasnya terhadap serangga dan potensinya sebagai insektisida , diantaranya beberapa jenis tumbuhan famili Meliaceae. Informasi tentang biaktivitas tanaman suren sebagai sumber insektisida botani masih terbatas. Dalam upaya menggali informasi tersebut pertanyaan yang diajukan adalah : dapatkah sediaan daun, ranting , kulit batang dan biji dari tanaman suren berfungsi sebagai insektisida dan seberapa besar potensinya untuk digunakan sebagai agens pengendalian hama yang ramah lingkungan dan dapat dimanfaatkan oleh para petani atau pengelola hutan. Pada dasarnya serangga mempunyai dua sistem penerimaan kimia (chemoreseptor), yaitu penciuman (Olfactory) dan pengecap (Gustatory). Stimulus untuk alat pencium berupa bau-bauan yang terbawa aliran udara, sedangkan stimulus pengecap berupa cairan. 1.3. Tujuan Penelitian • Menguji bioaktivitas dari tiga fraksi (Methanol, n-heksan dan etyl asetat) dari ekstrak daun, ranting , kulit batang dan biji tanaman Toona sinensis Merr terhadap mortalitas hama daun Eurema spp. dan Spodoptera litura F. • Menentukan konsentrasi pestisida nabati dan LC (Lethal Consentration) dari tiap fraksi tanaman suren yang dapat menekan perkembangan hama tersebut. • Mengidentifikasi golongan senyawa kimia dalam tiap fraksi dari ekstrak daun, ranting , kulit batang dan biji dari tanaman Toona sinensis Merr. 1.4. Manfaat Penelitian Selain dalam rangka memberdayakan tumbuhan lokal, secara umum tujuan penelitian ini adalah mencari kandidat tumbuhan sebagai sumber insektisida botani baru yang dapat dimanfaatkan oleh para pengelola hutan sebagai alternatif dalam pengendalian serangga hama. Diharapkan hasil penelitian ini dapat memperoleh data dan informasi mengenai sumber daya tanaman suren sebagai pestisida nabati dalam menekan hama daun (Eurema spp dan S. litura ) dan keamanannya terhadap lingkungan. 1.5. Hipotesis Ekstrak daun, ranting, kulit batang dan biji dari tanaman suren diduga dapat berfungsi sebagai pestisida nabati dalam mengendalikan serangga uji serta konsentrasi tertentu dari ekstrak tanaman suren tersebut diduga dapat menekan perkembangan serangga uji (Eurema spp. dan S.litura). II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Insektisida Botani Hutan tropik merupakan sumber keragaman hayati yang kaya. Selain dimanfaatkan sebagai sumber bahan bangunan, bahan obat-obatan dan berbagai keperluan lainnya, hutan tropik dapat dimanfaatkan sebagai sumber bahan insektisida botani. Jumlah species dan ketersediaan tumbuhan sebagai sumber insektisida botani pada hutan tropik cukup berlimpah. Informasi tentang berbagai species tumbuhan yang memiliki bioaktivitas terhadap berbagai jenis serangga banyak dilaporkan. Saat ini lebih dari 1500 species tumbuhan dari berbagai famili telah dilaporkan dapat berpengaruh buruk terhadap serangga (Grainge & Ahmed 1988). Di Filipina tidak kurang dari 100 species tumbuhan telah diketahui mengandung bahan aktif insektisida (Rejesus 1987). Laporan dari berbagai provinsi di Indonesia menyebutkan bahwa lebih dari 40 species tanaman berpotensi sebagai pestisida botani (Direktorat BPTP & Ditjenbun 1994). Hamid & Nuryani (1992) mencatat di Indonesia terdapat 50 famili tumbuhan penghasil senyawa berracun terhadap berbagai mahluk hidup. Famili tumbuhan yang dilaporkan memiliki aktivitas terhadap serangga di antaranya Meliaceae, Annonaceae, Asteraceaae, Piperaceae dan Clusiaceae (Isman 1995). Jumlah ini tentunya masih dapat bertambah dengan semakin intensifnya orang melakukan upaya pencarian sumber bahan insektisida botani. Masih banyaknya species-species tumbuhan yang kemungkinan berkhasiat insektisida yang belum diteliti mendorong peneliti untuk melakukan pencarian insektisida botani sebagai alternatif pengendalian hama. Setelah species tumbuhan diketahui memiliki aktivitas insektisida, selanjutnya dilakukan studi potensi dari berbagai segi untuk mendukung pengembangannya sebagai sumber insektisida alternatif. Terdapat tiga sumber insektisida alami yang penting dan memiliki prospek yang baik untuk dikembangkan lebih lanjut, yaitu tumbuhan, mikroorganisme tanah dan organisme laut. Insektisida botani kurang persisten dibandingkan dengan insektisida sintetik sehingga tidak menimbulkan banyak residu, aman dalam penggunaan di lapang maupun bagi musuh alami dan tidak menimbulkan resurjensi bagi hama tanaman (Prijono 1999). Senyawa kimia yang dihasilkan tanaman berdasarkan jalur metabolisme dikelompokkan menjadi dua bagian besar, senyawa primer dan sekunder ( Brielman 1999). Berkaitan dengan interaksi serangga – tanaman, metabolit primer tanaman didefinisikan sebagai metabolit yang menyediakan nutrisi esensial bagi serangga, sedangkan metabolit sekunder tanaman merupakan metabolit yang tidak memiliki arti penting bagi kebutuhan nutrisi (Vickery & Vickery 1981 , Panda & Khush 1995). Senyawa penghambat makan dapat menyebabkan serangga menghentikan kegiatan makannya secara permanen atau sementara. Dengan adanya senyawa penghambat makan, serangga dapat menggigit bagian tertentu dari makanan, kemudian menilai apakah makanan tersebut tidak/dapat dimakan, selanjutnya memutuskan untuk tetap atau pergi ke bagain lainnya. Banyak senyawa tumbuhan baik dalam bentuk ekstrak maupun senyawa murni diketahui memiliki aktivitas penghambat makan terhadap berbagai species serangga. Penghambat makan dari kelompok terpenoid yang paling dikenal ialah azadirakhtin yang merupakan senyawa insektisida utama dari tanaman mimba. Beberapa ekstrak tumbuhan selain memiliki pengaruh terhadap mortalitas, aktivitas makan, juga dapat berpengaruh terhadap penekanan kemampuan reproduksi serangga dan perkembangan generasi keturunannya (Rembold et al.1984 ; Champagne et al.1989). Oleh karena itu penggunaan insektisida botani tidak dikhawatirkan menimbulkan resurjensi, bahkan sebaliknya dalam jangka panjang akan mengakibatkan penekanan populasi hama sasaran (Prijono 1994). Keunggulan-keunggulan insektisida botani tersebut diatas terdapat pada sediaan mimba (Azadirachta indica) sebagai insektisida botani generasi terkini yang paling menonjol. Harapan-harapan tersebut memicu usaha pencarian sumber-sumber insektisida botani baru dari species tumbuhan lainnya. 2.2. Ekstraksi Ekstraksi adalah suatu metode pemisahan komponen-komponen dari suatu campuran dimana komponen yang larut masuk ke dalam pelarut yang dipakai sedangkan komponen yang tidak larut akan tertinggal didalam bahan. Metode yang paling sederhana yang digunakan untuk mengekstraksi padatan adalah mencampurkan seluruh bahan dengan pelarut, kemudian memisahkannya dari padatan yang tidak terlarut (Lehnoger dan Baverloo 1976). Hasil ekstraksi yang diperoleh bergantung pada kandungan ekstrak yang terdapat pada contoh uji dan jenis pelarut yang digunakan. Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan pelarut adalah seleltivitas, kapasitas, kemudahan untuk diuapkan dan harga pelarut tersebut. Prinsip kelarutan adalah “like dissolve like”, yaitu (1) pelarut polar akan melarutkan senyawa polar, demikian juga sebaliknya pelarut nonpolar akan melarutkan senyawa non-polar, (2) pelarut organik akan melarutkan senyawa organik (Khopkar 1990 dalam Yunita 2004). Ekstraksi yang umum untuk mengekstrak bahan insektisida botani ialah ekstraksi dengan pelarut dan distilasi uap (penyulingan) dengan metode soklslet. Tujuan metode ekstraksi ini adalah mengeluarkan bahan yang diinginkan dari sel-sel dengan proses difusi. Hasil ekstraksi dari proses ini dipengaruhi oleh suhu, pH, ukuran bahan yang akan diekstraksi dan gerakan pelarut yang terjadi di sekitarnya. Keanekaragaman senyawa yang dapat diekstraksi biasanya membutuhkan serangkaian ekstraksi yang hasilnya memberikan ciri awal komposisinya dan hal yang mempengaruhi kandungan zat ekstraktif dalam tanaman diantaranya adalah umur, site (tempat tumbuh), genetik, jenis pelarut yang digunakan dan kecepatan pertumbuhan (Fengel dan Wegener 1995). 2.3. Senyawa Bioaktif Senyawa bioaktif merupakan senyawa yang mempunyai aktivitas biologis terhadap organisme lain atau pada organisme yang menghasilkan senyawa tersebut. Senyawa bioaktif hampir selalu toksik pada dosis tinggi. Setiap zat kimia termasuk senyawa aktif dari tumbuhan pada dasarnya bersifat racun, tergantung pada penggunaan, takaran, pembuatan, cara pemakaian dan waktu yang tepat untuk mengkonsumsi. Beberapa tanaman dikenal menghasilkan senyawa bioaktif yang mepunyai berbagai aktivitas bioaktif termasuk insektisida yang pada umumnya berupa senyawa-senyawa flavonoid, glikosida, streroid, alkaloid dan terpenoid (Kurz dan Constabel 1998). Alkaloid Menurut Harbone (1987) alkaloid sekitar 5.500 jenis telah diketahui dan merupakan golongan zat tumbuhan sekunder yang terbesar. Alkaloid seringkali bersifat racun bagi manusia dan banyak mempunyai kegiatan fisiologi yang menonjol yang secara luas banyak digunakn dalam bidang pengobatan. Alkaloid dapat ditemukan dalam berbagai bagian tumbuhan seperti seperti biji, daun, ranting dan kulit batang. Alkaloid memang jarang ditemukan dalam jaringan mati. Umumnya alkaloid terakumulasi dalam jaringan yang tumbuh aktif seperti epidermis, hipodermis dan kelenjar lateks. Adapun fungsi alkaloid dalam tumbuhan belum diketahui begitu pasti, walaupun beberapa senyawa ditafsirkan berperan sebagai pengatur atau penolak dan pengikat serangga. Menurut Sumiwi (1992) fungsi alkaloid bagi tumbuhan antara lain sebagai zat beracun untuk melawan serangga atau hewan pemakan tumbuhan, faktor pengatur tumbuh, substansi cadangan untuk memenuhi kebutuhan akan nitrogen dan elemen-elemen lain yang penting bagi tumbuhan dan hasil akhir reaksi detoksifikasi dari suatu zat yang berbahaya bagi tumbuhan. Flavanoid Flavanoid merupakan senyawa fenol terbesar di alam ,terdapat dalam dua bentuk yaitu flavonoid glikosida yang umumnya larut dalam air dan flavonoid aglikon lebih mudah larut dalam pelarut seperti eter dan kloroform. Falvonoid merupakan kandungan khas tumbuhan hijau yang terdapat pada semua bagian tumbuhan termasuk daun, akar, kayu, kulit, tepung sari, biji dan bunga (Harborne 1987). Pada tumbuhan flavonoid dapat meningkatkan dormansi, meningkatkan pembelahan sel-sel kalus, sebagai enzim penghambat pembentukan protein, menghasilkan zat warna pada bunga, untuk merangsang serangga, burung dan satwa lainnya untuk mendatangi tumbuhan tersebut sebagai agen dalam penyerbukan dan penyebaran biji. Dalam dunia pengobatan, beberapa senyawa flavonoid berfungsi sebagai antibodi misalnya antivirus dan jamur, peradangan pembulh darah dan dapat digunakan sebagai racun ikan (Vickery dan Vickery 1981). Saponin Pada tumbuhan, saponin mempunyai fungsi yang sama dengan triterpenoid karena mengandung turunan dari senyawa ini, diantaranya dapat meningkatkan daya kecambah benih dan menghambat pertumbuhan akar, menghambat pertumbuhan sel-sel tumor pada tumbuhan dan satwa. Triterpenoid dan Steroid Triterpenoid dan turunannya termasuk saponin dan steroid pada tumbuhan berfungsi sebagai racun serangga, bakteri dan jamur. Steroid dapat meningkatkan permeabilitas membran sel dan merangsang proses pembungaan. Dalam pengobatan senyawa ini berguna sebagai zat antibiotik diantaranya anti jamur, bakteri dan virus. 2.4. Geografi dan Morfologi Toona sinensis Merr. Toona sinensis Merr mempunyai nama umum suren, di daerah Jawa dikenal sebagai redani atau suren, sedangkan di daerah Sunda menyebutnya ki beureum atau suren (Burger 1972). Toona sinensis Merr. diketahui sebagai tumbuhan berguna di Indonesia. Pertumbuhannya dapat mencapai ketinggian 35 – 40 m dan diameter sampai 200 cm. Pohon ini berbatang lebar dan memiliki akar banir. Di kepulauan Jawa tanaman ini tumbuh pada ketinggian 1 – 2000 m dpl. Pada ketinggian di bawah 1200 m tanaman biasanya tumbuh subur dan tersebar merata di berbagai tempat (LIPI 1997). Tanaman suren ini mempunyai batang tegak dengan cabang yang mengarah ke atas dan daunnya mejemuk, menyirip dan sisi daunnya bergerigi. Daun berstipula dan mempunyai satu tangkai pada barisan tangkai terrendah. Daun muda berwarna hijau dan berambut berbentuk lobate, helai daun majemuk terpisah, bentuk oval dengan ujung lancip pada bagian ujung dan melengkung di bagian pangkal. Daun mempunyai petiolulate yang rendah dan tersusun secara berhadapan (Burger 1972). Di alam suren memperbanyak diri dengan biji yang bersayap dan diperluaskan oleh angin. Karena bijinya yang halus, maka penanaman langsung tidak dianjurkan karena kemungkinan besar bijinya akan hanyut, jadi perlu disemai dahulu. Kulit batang beralur dangkal, berwarna abu-abu tua sampai kecoklatan dan berbau khas, sedangkan batangnya mengeluarkan getah yang tidak berbau. Pohon suren biasanya ditanam sebagai tanaman pinggir jalan dan baik untuk hutan tanaman. Kulit batang suren sering digunakan petani di Jawa Barat untuk mengendalikan walang sangit pada tanaman padi (Prijono 1999). Pohon suren ini juga digolongkan ke dalam tanaman obat. Daun dan kulit kayunya beraroma cukup tajam. Secara tradisional, petani menggunakan daun suren untuk menghalau hama serangga tanaman. Pohon suren berperan sebagai pengusir serangga (repellant) dan dapat digunakan dalam keadaan hidup (insektisida hidup). Berdasarkan penelitian, suren memiliki kandungan bahan surenon, surenin dan surenolakton yang berperan sebagai penghambat pertumbuhan, insektisida dan menghambat daya makan larva serangga. Bahan-bahan tersebut juga terbukti merupakan pengusir serangga, termasuk nyamuk. Cara penempatan tanaman ini bisa diletakkan di sudut-sudut ruangan dalam rumah, sebagai media untuk mengusir nyamuk . III. BAHAN DAN METODE 3.1. Waktu dan Tempat Penelitian ini akan dilaksanakan di Laboratorium Hama dan Penyakit Kelti Perlindungan Hutan Puslitbang Hutan Tanaman Bogor. Pelaksanaan penelitian dimulai bulan Januari – Mei 2009. Sedangkan dalam pembuatan ekstraksi dilaksanakan di Laboratorium Teknologi Hasil Hutan Fakultas Kehutanan IPB pada bulan Januari 2009. 3.2. Bahan dan Alat Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah daun, ranting , kulit batang dan biji dari tanaman suren yang berumur 5 tahun yang diperoleh dari hutan rakyat lokasi Laladon Karya Bakti, Desa Parakan, Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor. serangga OPT (hama daun Eurema spp didapat dari hutan sengon rakyat disekitar cijeruk kabupaten bogor. dan S. litura didapat dari hasil rearing departemen proteksi hama penyakit tanaman IPB, larutan methanol, larutan aseton , pengemulsi tween-80, aquades steril, tissue, kapas, kertas saring whatman no. 41, aluminium foil, kantong plastik, alkohol 70% dll, sedangkan alat yang digunakan adalah, alat ekstraksi sokslet, rotary vaccum evaporator, oven, microskop, alat blender, gelas ukur, cawan petri, tabung reaksi, timbangan, kwas yang halus, pinset, portal, pipet, kaca pembesar, kurungan serangga , camera digital, gunting, dll. 3.3. Metode Penelitian Adapun rangkaian metode penelitian dimulai dengan penyiapan pembuatan serbuk untuk tiap fraksi, uji bioaktivitas ekstrak dari tanaman suren dengan menggunakan hama daun dari ordo lepidoptera yaitu Eurema spp. dan Spodoptera litura (F). Serta mengidentifikasi senyawa kimia yang terdapat dalam bagian tanaman suren dengan Gas Chromatografi Mass Spectofotometer (GCMS). 3.3.1. Penyiapan Serbuk Bagian daun, ranting, kulit batang dan biji dari tanaman suren dikering udarakan hingga mencapai kadar air sekitar 15%, kemudian dipotong atau dicacah sebesar batang korek api kemudian diblender hingga halus dan didapat serbuk dengan ukuran yang seragam. 3.3.2. Ekstraksi Ekstraksi yang umum untuk mengekstrak bahan insektisida botani ialah ekstraksi dengan pelarut dan distilasi uap (penyulingan) dengan metode sokslet. • Serbuk daun , ranting, kulit batang, dan biji yang sudah halus ditimbang sebanyak 50 gram dan dibungkus dengan kertas whatman no.41 kemudian dimasukkan kedalam labu erlenmeyer sebagai alat ekstraksi yang sudah dicampur dengan larutan methanol sebanyak 250 ml. Ekstraksi dilakukan selama 2 jam, dengan suhu sekitar 70 derajat, sehingga didapat hasil uapan berupa ekstrak kasar. Ekstrak dipekatkan dengan menggunakan rotary vaccum evaporator pada suhu sekitar 30 – 40oC dan selanjutnya dilakukan pengeringan dalam oven pada suhu sekitar 40oC. • Ekstrak kasar yang diperoleh difraksinasi secara berturut-turut dengan menggunakan pelarut n-heksana dan etil asetat. Fraksi yang dilakukan adalah dengan cara memasukan larutan yang telah kental ke dalam funnel separator. Ekstrak methanol yang dihasilkan dimasukkan kedalam funnel dan ditambahkan sebanyak pelarut nheksana : aquades : methanol (2 : 1 : 1). Campuran dikocok dan dibiarkan hingga terjadi pemisahan, selanjutnya fraksi terlarut dalam n - heksana dipisahkan dari residunya dan dimasukkan ke dalam labu. Fraksinasi dengan menggunakan n – heksana dilakukan hingga larutan berwarna jernih dan selanjutnya fraksi terlarut n – heksana ini dipekatkan dengan menggunakan rotary vaccum evaporator pada suhu 30 – 40oC. Selanjutnya dilakukan pengeringan di oven pada suhu sekitar 40oC. • Fraksinasi berikutnya dengan menggunakan pelarut etil asetat. Residu hasil fraksinasi dengan n – heksana ditambahkan dengan 50 ml etil asetat (1 : 1). Selanjutnya campuran dikocok dan dibiarkan hingga terjadi pemisahan seperti fraksi dengan n – heksana. Setelah terjadi pemisahan fraksi terlarut etil asetat dimasukkan ke dalam botol yang tertutup rapat, fraksinasi dilakukan hingga larutan berwarna jernih. Fraksi yang terpisah dipisahkan menjadi fraksi pada bagian atas funnel merupakan fraksi etil asetat sedangkan fraksi yang berada dibagian bawah funnel merupakan residu. Selanjutnya sama dengan fraksi terlarut n – heksana, fraksi terlarut etil asetat ini dipekatkan dengan menggunakan rotary vaccum evaporator pada suhu 30 – 40oC, kemudian dilakukan pengeringan dalam oven pada suhu sekitar 40oC .Untuk lebih jelasnya tahapan fraksinasi dengan menggunakan pelarut di atas secara skematis dapat dilihat pada Gambar 3 di bawah ini : Gambar 1 Metode Sokslet Gambar 2 Rotary Vaccum Evaporator Serbuk dari Tanaman suren diekstraksi dengan alat sokslet Ekstraksi methanol Ekstrak kasar* Fraksinasi n - heksan Fraksi terlarut n – heksan Residu Fraksinasi etyl asetat Fraksi terlarut etil asetat* *Uji bioaktivitas terhadap hama daun (Eurema spp dan Spodoptera litura (F) Gambar 3 Skematis Pembuatan Ekstraksi 3.3.3. Uji Efikasi Uji pendahuluan dilakukan untuk menentukan taraf konsentrasi dari tiap fraksi (Methanol, n-heksan dan etyl asetat) ekstrak daun, ranting, kulit batang dan biji tanaman suren terhadap efek kontak dan metode celup daun terhadap larva Eurema spp dan S. litura. Konsentrasi yang digunakan untuk ekstrak daun, ranting dan kulit batang adalah Residu 0%,3%,5%,10%,15% dan 20% (w/v), sedangkan untuk ekstrak biji digunakan konsentrasi 0%,1%,3%,5%,7% dan 10% (w/v). Penentuan konsentrasi didasari pada pengujian sebelumnya, bahwa ekstrak biji pada kisaran 10% - 20% menyebabkan kematian 100% sehingga konsentrasi diturunkan. Bahan ekstrak uji dicampur dengan pelarut metanol dan aseton sebanyak 0,1 ml pengemulsi twenn sebanyak 0,2 ml dan aquades steril banyaknya disesuaikan dengan konsentrasi yang dipakai sehingga jumlah bahan ekstrak yang didapat sebanyak 10 ml. Untuk perlakuan kontrol digunakan pelarut methanol dan aseton sebanyak 0,1 ml dan pengemulsi twenn 0,2 ml dan aquadest steril sebanyak 9,7 ml . Uji efikasi terhadap larva Eurema spp. dan Spodoptera litura F. Masing-masing konsentrasi diuji cobakan pada 10 larva instar dua, dengan 6 konsentrasi dan 5 ulangan. Jadi tiap bagian tanaman suren dibutuhkan (6 x 10 x 5) = 300 larva . Perlakuan uji efikasi terhadap larva Eurema spp.disemprotkan langsung pada tubuh larva sekitar 10 detik baru dipindahkan dalam petri dish yang sudah diberi pakan daun sengon, kemudian dilakukan pengamatan sampai hari ke 3, sedangkan untuk uji efikasi terhadap larva S. litura larutan uji yang telah siap pakai diberi perlakuan daun sawi ukuran 4 x 4 cm sebanyak 4 lembar, kemudian daun yang akan digunakan dicelupkan pada larutan uji kemudian dikering anginkan baru dimasukan kedalam petri dish yang sudah berisi larva instar 2 sebanyak 10 larva. Jumlah serangga yang mati dicatat sampai hari ke 3. Ekstrak dianggap aktif bila mengakibatkan > 90% kematian dari populasi serangga uji pada hari ke 3 setelah perlakuan, kemudian dihitung mortalitasnya dengan menggunakan rumus : MA (%) = Mortalitas x 100% N Keterangan : MA = Mortalitas teramati (%) N = Jumlah larva yang digunakan Data kematian pada hari ke-3 diolah dengan analisis probit (Finney 1971) dengan program Polo Plus (Robertson et al.2003) untuk mengetahui Lethal Concentration (LC) dengan selang kepercayaan 95%. Gambar 4a Daun Suren Gambar 4c Ranting Suren Gambar 4b Kulit Batang Suren Gambar 4d Biji Suren Gambar 5 Sampel Ekstraksi Gambar 6 Hama Eurema spp Gambar 7 Hama Spodoptera litura F. Gambar 8 Uji Efikasi di Laboratorium IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil ekstraksi yang didapat dengan menggunakan tiga jenis pelarut memiliki hasil yang berbeda, hal ini ditunjukkan dengan perbedaan warna larutan ekstrak yang dihasilkan. Larutan yang didapat dengan menggunakan pelarut methanol berwarna coklat kehitaman (coklat tua), larutan yang diekstrak dengan n – heksan berwarna kehijauan sedangkan larutan yang diekstrak dengan menggunakan pelarut etyl asetat berwarna kuning kecoklatan. Menurut Syafii (2000), menyatakan bahwa kandungan dan komposisi ekstraktif dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain jenis tanaman, tempat tumbuh dan musim. Jenis tanaman dapat memberikan pengaruh terhadap hasil ekstraksi yang dilakukan begitu pula dengan tempat tumbuh suatu jenis tanaman dapat mempengaruhi hasil ekstraksi yang diperoleh, makin tinggi suatu tempat dari permukaan laut maka makin rendah zat ekstraktif yang dihasilkan dan sebaliknya makin rendah suatu tempat tumbuh dari suatu jenis tanaman maka makin tinggi pula zat ekstrak yang dihasilkan. Selain itu juga tempat tumbuh dapat berpengaruh dalam hal tingkat kesuburan tanahnya, sebab makin subur suatu tempat tumbuh maka kayu yang tumbuh diatasnya makin subur pula dan akan mempengaruhi pembentukan eksraktif dari tanaman tersebut. 4.1. Pengaruh fraksi methanol terhadap mortalitas Eurema spp. Hasil pengujian dengan menggunakan fraksi methanol dari ekstrak biji menunjukkan efek kontak yang nyata terhadap hama daun Eurema spp dibanding ekstrak dari daun , ranting dan kulit batang. Persentase kematian pada perlakuan ekstrak biji dengan konsentrasi 10% pada 1 HSP (Hari Setelah Perlakuan) menyebabkan kematian sebesar 56%, kemudian meningkat menjadi 64% pada 2HSP dan 72% pada 3HSP. Pada konsentrasi yang sama, perlakuan ekstrak daun, ranting dan kulit batang hanya mengakibatkan kematian pada 3HSP mencapai 34%, 50% dan 56%. Untuk melihat tingkat kematian sampai 50%, konsentrasi pada perlakuan ketiganya ditingkatkan hingga 20%. Berdasarkan data mortalitas Eurema spp, ekstrak daun dari fraksi metanol hanya menyebabkan kematian 60%, sedangkan ekstrak ranting dan kulit batang mencapai 64% dan 72% (Tabel 1). Table 1 Pengaruh letal fraksi Methanol dari berbagai bagian tanaman T.sinensis Merr terhadap larva Eurema spp. Fraksi Methanol Daun Konsentrasi (%, w/v) Kontrol 3 5 10 15 20 Jumlah larva 50 50 50 50 50 50 1 hari 4 18 18 22 30

Dokumen baru

Download (73 Halaman)
Gratis

Dokumen yang terkait

Efektifitas EkstrakKulit Duku ( Lansiumdomesticum) Sebagai Insektisida Nabati Dalam Membunuh Nyamuk Aedesspp Tahun 2014
1
81
68
Uji Efektivitas Beberapa Insektisida Nabati Untuk Mengendalikan Ulat Grayak (Spodoptera litura F.) (Lepidoptera: Noctuidae) di Laboratorium
1
69
74
Pengaruh Beberapa Insektisida Terhadap Hama Lamprosema indicata F. (Lepidoptera: Pyralidae) dan Spodoptera litura F. (Lepidoptera: Noctuidea) pada Tanaman Kedelai (Glycine max (L) Merril.) di Lapangan
3
75
57
Uji Efikasi Metarrhizium anisopliae dan Bacillus chitinospoms (Agro-Blo) Terhadap Ulat Grayak (Spodoptera litura F.) Pada Tanaman Kacang Kedelai (Glycine max L.) Di Laboratorium
0
32
61
Pemanfaatan Kulit Ubi Kayu Dan Daun Tomat Sebagai Insektisida Nabati Dalam Mengendalikan Ulat Grayak Spodoptera litura L. (Lepidoptera: Noctuidae) Pada Tanaman Sawi
30
162
52
Uji Beberapa Jenis Insektisida Nabati Terhadap Pengendalian Kumbang Beras (Sitophylus oryzae L.) Di laboratorium.
1
24
58
Uji Efektivitas Beberapa Insektisida Nabati Terhadap Hama Ulat Tritip (P. xylostella L.) dan Hama Ulat krop (C. binotalis Zell.) pada Tanaman Kubis (B. oleracea L.)
5
43
124
Uji Efektifitas Beberapa Insektisida Nabati Pada Tanaman Kacang Hijau Dan Kacang Panjang Terhadap Hama Maruca testulalis Geyer ( Lepidoptera : Pyralidae )
1
76
54
Uji Efektivitas Pestisida Nabati Terhadap Hama Spodoptera litura (Lepidoptera : Noctuidae) Pada Tanaman Tembakau (Nicotiana tabaccum L.)
2
34
58
Uji Efikasi Ekstrak Daun ILER (Coleus scutellarioides Linn. Benth) Sebagai PLANT-BASED REPELLENT Terhadap Aedes aegypti
7
35
122
Pengaruh Ekstrak Daun Bintaro (Cerbera odollam) terhadap Perkembangan Ulat Grayak (Spodoptera litura F.)
0
1
5
Pengaruh Ekstrak Daun Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi) Terhadap Mortalitas dan Perkembangan Larva Spodoptera litura
0
0
6
Uji Efektivitas Beberapa Insektisida Nabati Untuk Mengendalikan Ulat Grayak (Spodoptera litura F.) (Lepidoptera: Noctuidae) di Laboratorium
0
0
12
Pengaruh Beberapa Insektisida Terhadap Hama Lamprosema indicata F. (Lepidoptera: Pyralidae) dan Spodoptera litura F. (Lepidoptera: Noctuidea) pada Tanaman Kedelai (Glycine max (L) Merril.) di Lapangan
0
0
12
Pengaruh Beberapa Insektisida Terhadap Hama Lamprosema indicata F. (Lepidoptera: Pyralidae) dan Spodoptera litura F. (Lepidoptera: Noctuidea) pada Tanaman Kedelai (Glycine max (L) Merril.) di Lapangan
0
0
13
Show more