Kajian Pola Sebaran Spasial dan Keanekaragaman Jenis Vegetasi Pada Daerah Tangkapan Air Taman Wisata Alam Gunung Meja

Gratis

4
30
153
2 years ago
Preview
Full text
KAJIAN POLA SEBARAN SPASIAL DAN KEANEKARAGAMAN JENIS VEGETASI PADA DAERAH TANGKAPAN AIR TAMAN WISATA ALAM GUNUNG MEJA HANS FENCE ZAKEUS PEDAY SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2009 PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN SUMBER INFORMASI Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis yang berjudul ”Kajian Pola Sebaran Spasial dan Keanekaragaman Jenis Vegetasi Pada Daerah Tangkapan Air Taman Wisata Alam Gunung Meja” adalah karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lainnya telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam daftar pustaka di bagian akhir tesis ini. Bogor, Juli 2009 Hans Fence Zakeus Peday NRP E051060221 i HANS FENCE ZAKEUS PEDAY. Study on the Spatial Distribution Pattern and Vegetation Species Diversity in Catchment Area of Gunung Meja Nature Recreation Park. Under Supervision of ANDRY INDRAWAN and I NENGAH SURATI JAYA. ABSTRACT This study describes spatial distribution pattern and diversity of vegetation species in catchment area of Gunung Meja Nature Recreation Park. The study objective is to identify vegetation species diversity, dominance, distribution pattern and crown closure of trees having significant role in protecting condition and function of catchment area. The plot samples are located base on slope classes, forest types and spatial distance from water source. Spatial analysis was done using ArcView software, while vegetation analysis was done using Microsoft excel software. The study found that the natural forest are consisted 115 species that come from 52 genus and 38 families having cluster spatial distribution pattern. The dominant species found in the natural forest are toxicaria and Pometia coriacea for seedling stage; Aglaia spectabilis for sapling stage; Artocarpus altilis for poles stage; and Pometia pinnata and Pometia coriacea for tree stage. At the plantation forest, there are 71 species that belong to 54 genus and 28 families. The dominant tree species are mainly clustered while for less dominant trees are uniformly and randomly distributed. Based on species diversity evaluation, condition and carrying capacity, the natural forest is categorized to have high abundance value (3.65) with 91 % crown closure. In contrast, the plantation forest is categorized to have intermediate abundance value (2.64) and 96.67 % crown closure. Keywords: catchment area, vegetation, species diversity, distribution pattern, spatial study ii RINGKASAN HANS FENCE ZAKEUS PEDAY. Kajian Pola Sebaran Spasial dan Keanekaragaman Jenis Vegetasi Pada Daerah Tangkapan Air Taman Wisata Alam Gunung Meja. Di bawah bimbingan ANDRY INDRAWAN and I NENGAH SURATI JAYA. Taman Wisata Alam Gunung Meja merupakan salah satu dari tujuh kawasan taman wisata yang terdapat di Papua, berjarak 3 km dari pusat kota Manokwari. Selain sebagai sumber air bersih bagi sepuluh persen masyarakat kota Manokwari yang berada di sekitarnya, kawasan ini diperkirakan memiliki keanekaragaman jenis vegetasi yang dapat mewakili sebagian keanekaragaman jenis hutan dataran rendah di kawasan kepala burung pulau Papua (Vogelkoop). Kawasan ini telah mengalami degradasi ekologi yang dicirikan dengan penurunan fungsi hidrologi dan peningkatan luas kawasan degradasi. Kajian ini dilakukan untuk mendeskripsikan pola sebaran spasial dan keanekaragaman jenis vegetasi serta mengidentifikasi faktor-faktor penyebab terjadinya perubahan ekosistem secara khusus pada daerah tangkapan air Taman Wisata Alam Gunung Meja, sehingga dapat memberikan gambaran tentang kekayaan jenis, jenis-jenis dominan, tingkat tutupan tajuk, pola sebaran jenis vegetasi dan faktor-faktor yang mempengaruhi penurunan fungsi daerah tangkapan air, baik dari segi pemanfaatan maupun ekologi guna menjadi acuan di dalam rehabilitasi kawasan guna peningkatan dan pemanfaatan kawasan secara bijak dan lestari. Penempatan unit sampling berdasarkan tiga parameter unit lahan, yaitu kelas hutan (hutan alam dan hutan tanaman), kelas kemiringan (0 – 25 % dan > 25 %) dan radius dari mata air (< 200 meter dan 200 - 400 meter) dalam bentuk matriks. Berdasarkan pembobotan yang dilakukan terhadap ketiga parameter tersebut, terpilih enam unit sampling yang mewakili areal penelitian. Metode survey vegetasi menggunakan sistem garis berpetak sistematis (line plot systematic sampling). Kajian spasial dilakukan berdasarkan hasil analisis vegetasi yang ditautkan dengan peta rupa bumi menggunakan sofware ArcView3.3. Sedangkan analisis keanekaragaman jenis dan kondisi habitat daerah tangkapan air dilakukan berdasarkan peranan jenis tersebut (indeks nilai penting) dan nilai indeks keanekaragaman jenis (Shannon Index of General Diversity). Tipe sebaran pada tingkat populasi maupun komunitas didasarkan pada kepadatan individu di dalam plot pengamatan yang ditentukan berdasarkan perbandingan nilai ragam dan nilai rata-rata contoh melalui analisis statistik. Pada kelas hutan alam terdapat 115 jenis spesies yang terdiri dari 51 genus dan 38 family dengan tipe sebaran individunya berkelompok (clumped). Jenis indikator terdiri atas Antiaris toxicaria dan Pometia coriacea (semai), Aglaia spectabilis (pancang), Artocarpus altilis (tiang) serta Pometia pinnata dan Pometia coriacea (pohon). Pada kelas hutan tanaman terdapat 71 jenis spesies yang terdiri dari 54 genus dan 28 family dengan tipe sebaran berkelompok (cluster) pada jenis-jenis dominan, namun pada beberapa jenis lainnya membentuk sebaran seragam (uniform) dan acak (random), serta jenis indikator pada semua tingkat pertumbuhan didominasi oleh jenis Palaqium amboinensis. Tingkat tutupan tajuk kelas hutan alam sebesar 91,00 persen dan kelas hutan tanaman sebesar 96,67 persen, keduanya tergolong dalam tingkat tutupan tajuk yang sangat baik. Keywords: catchment area, vegetation, species diversity, distribution pattern, spatial study iii © Hak Cipta milik IPB, tahun 2009 Hak Cipta dilindungi Undang-undang 1. Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumber a. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu masalah b. Pengutipan tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB 2. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis ini dalam bentuk apapun tanpa izin IPB iv KAJIAN POLA SEBARAN SPASIAL DAN KEANEKARAGAMAN JENIS VEGETASI PADA DAERAH TANGKAPAN AIR TAMAN WISATA ALAM GUNUNG MEJA HANS FENCE ZAKEUS PEDAY Tesis sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada Program Studi Ilmu Pengetahuan Kehutanan SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2009 v Judul Thesis : Kajian Pola Sebaran Spasial dan Keanekaragaman Jenis Vegetasi Pada Daerah Tangkapan Air Taman Wisata Alam Gunung Meja Nama Mahasiswa : Hans Fence Zakeus Peday Nomor Pokok : E051060221 Disetujui: Komisi Pembimbing, (Prof. Dr. Ir. Andry Indrawan, MS.) Ketua (Prof. Dr. Ir. I Nengah Surati Jaya, M. Agr.) Anggota Diketahui: Ketua Program Studi Ilmu Pengetahuan Kehutanan, Dekan Sekolah Pascasarjana, (Prof. Dr. Ir. Imam Wahyudi, MS.) (Prof. Dr. Ir. Khairil A. Notodiputro, MS.) Tanggal Ujian: 03 Juni 2009 Tanggal Lulus : 31 Juli 2009 vi Penguji Luar Komisi pada Ujian Tesis: Dr. Ir. M. Buce Saleh, MS. vii KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yesus Kristus atas perkenan-Nya penulis dapat menyelesaikan studi dan penulisan tesis yang berjudul ”Kajian Pola Sebaran Spasial dan Keanekaragaman Jenis Vegetasi Pada Daerah Tangkapan Air Taman Wisata Alam Gunung Meja”. Tesis ini disusun sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan pendidikan strata dua pada Program Studi Ilmu Pengetahuan Kehutanan Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Tema yang dikaji pada tesis ini diharapkan mampu memberikan sumbangan yang terkait dengan pengembangan ilmu pengetahuan secara keseluruhan dan khususnya untuk konservasi Taman Wisata Alam Gunung Meja. Penulis menyadari akan keterbatasan dalam menyajikan tesis ini, sehingga saran, masukan dan kritik yang membangun sangat diharapkan guna penyempurnaannya. Kiranya karya ini dapat menjadi pendukung informasi ilmiah guna menunjang program pengembangan dan perlindungan ekologis maupun fungsi dari kawasan Taman Wisata Alam Gunung Meja bagi pembangunan daerah dan peningkatan kesejahteraan Masyarakat Kabupaten Manokwari Provinsi Papua Barat. Bogor, Juli 2009 Penulis viii UCAPAN TERIMA KASIH Penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada : 1. Rektor IPB, Dekan Sekolah Pascasarjana IPB, Ketua Program Studi Ilmu Pengetahuan Kehutanan Sekolah Pascasarjana IPB beserta staf atas kesempatan studi dan pelayanan akademik yang diberikan bagi penulis. 2. Rektor Universitas Negeri Papua dan Dekan Fakultas Kehutanan Universitas Negeri Papua Manokwari atas ijin yang diberikan kepada penulis untuk melanjutkan studi. 3. Komisi pembimbing: Prof. Dr. Ir. Andry Indrawan MS. dan Prof. Dr. Ir. I Nengah Surati Jaya, M. Agr. atas arahan, bimbingan serta motivasinya dalam proses penyelesaian tesis; dan Dr. Ir. M. Buce Saleh, MS. selaku penguji luar komisi atas masukannya bagi penyempurnaan tesis. 4. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional atas dukungan Beasiswa Pendidikan Pasca Sarjana (BPPS). 5. Penyelenggara Program Beasiswa Unggulan P3SOT Biro Perencanaan dan Kerjasama Luar Negeri Departemen Pendidikan Nasional atas dukungan hibah penelitian. 6. Pemerintah Daerah Provinsi Papua, dan secara khusus kepada Kepala Dinas Pendidikan dan Pengajaran Provinsi Papua beserta staf atas dukungan dana dalam pelaksanaan penelitian dan penyusunan tesis. 7. Yayasan Dana Mandiri Jakarta atas dukungan dana dalam pelaksanaan penelitian dan penyusunan tesis. 8. Kepala BP3D Kabupaten Manokwari dan staf, Kepala PDAM Kabupaten Manokwari dan staf, serta staf BKSDA Kabupaten Manokwari atas bantuan data dan informasi dalam mendukung penelitian ini. 9. Ir. Weynand B. Watory beserta keluarga, atas doa dan dukungannya yang tak terhingga bagi penulis. 10. Krisma Lekitto, S. Hut. Staf Balai Penelitian Kehutanan Papua-Maluku selaku sahabat dan rekan kerja yang telah membantu dalam analisis dan identifikasi ix vegetasi; adik Victor Simbiak, Yohanis Heipon, Alex Rejauw, Cally Peday, dan Bram Sabarofek atas bantaunnya dalam pelaksanaan penelitian di lapangan. 11. Staf Laboratorium Remote Sensing Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor : Pa’ Uus Saeful M., Pa’ Edwine SP., S. Hut., adik Iskandar, S. Hut. dan pihakpihak lainnya atas bantuan dan kebersamaannya yang tak terhingga. Secara khusus tesis ini kupersembahkan bagi istriku Yosis Selvia Napo beserta kedua anakku Grevillea Julce Peday dan Gloryo Belthazar Peday atas doa, pengorbanan, dan kebersamaannya selama penulis menjalani studi dan menyelesaikan tesis ini. Penulis menyadari akan keterbatasan dalam menyajikan tesis ini, sehingga saran, masukan dan kritik yang membangun sangat diharapkan guna penyempurnaannya. Kiranya karya ini dapat menjadi pendukung informasi ilmiah guna menunjang program pengembangan dan perlindungan ekologis maupun manfaat dari kawasan Taman Wisata Alam Gunung Meja bagi pembangunan daerah dan peningkatan kesejahteraan masyarakat Kabupaten Manokwari Provinsi Papua Barat. Bogor, Juli 2009 Penulis x RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Manokwari - Papua pada tanggal 29 Oktober 1973 dari ayah Philipus Cornelis Peday dan ibu Katje Watory. Penulis merupakan putra ketujuh dari tujuh bersaudara. Penulis menyelesaikan pendidikan strata satu Sarjana Kehutanan pada Jurusan Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Cenderawasih Manokwari (1993 – 1998). Pada tahun 1998-2003 penulis bekerja pada Perkebunan Kelapa Sawit PT. Varita Majutama – Djajanti Group dengan jabatan sebagai Field Assistant dan Kepala Kebun. Selanjutnya sejak awal tahun 2003 diangkat sebagai staf pengajar dan peneliti pada Universitas Negeri Papua (UNIPA) Manokwari hingga saat ini. Kesempatan untuk melanjutkan studi ke jenjang strata dua pada Program Studi Ilmu Pengetahuan Kehutanan Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor (SPs-IPB) diperoleh pada tahun 2006 melalui Beasiswa Pendidikan Pasca Sarjana (BPPS) dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional. xi DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL ...................................................................................................... xi DAFTAR GAMBAR ................................................................................................. xii .............................................................................................. xiii I. PENDAHULUAN .................................................................................................. 1.1. Latar Belakang .......................................................................................... 1.2. Rumusan Masalah ..................................................................................... 1.3. Tujuan dan Manfaat ................................................................................... 1.4. Hipotesis .................................................................................................... 1 1 2 4 4 II. TINJAUAN PUSTAKA ......................................................................................... 2.1. Taman Wisata Alam ..................................................................................... 2.2. Hidrologi dan Hidrologi Hutan .................................................................... 2.3. Siklus Air (Hidrologi) .................................................................................. 2.4. Analisis Vegetasi .......................................................................................... 2.5. Stratifikasi ………………………………………………………………… 2.6. Pengaruh Penutupan Vegetasi Terhadap Fungsi Hidrologi ......................... 2.7. Mekanisme Perbaikan dan Perlindungan Lahan dengan Vegetasi ............... 2.8. Sistem Informasi Geografis (Geographycal Information System) ............... 2.9 Penyebaran (Dispersion) .............................................................................. 2.9.1. Pola Penyebaran Spasial (Spatial Dispersion Pattern) ..................... 2.9.2. Luas Tutupan ..................................................................................... 5 5 6 7 10 11 13 15 16 17 17 18 III. METODOLOGI ..................................................................................................... 3.1. Waktu dan Tempat Penelitian ...................................................................... 3.2. Bahan dan Alat ............................................................................................. 3.3. Rancangan Penelitian ................................................................................... 3.3.1. Jenis dan Sumber Data ...................................................................... 3.3.2. Tahapan Penelitian ............................................................................ 3.4. Prosedur Penelitian ....................................................................................... 3.4.1. Penentuan Unit Sampling ................................................................... 3.4.2. Metode Analisis Vegetasi .................................................................. 3.4.3. Inventarisasi Faktor-faktor Penyebab Penurunan Fungsi Daerah Tangkapan Air ................................................................................... 3.5. Pengolahan dan Analisis Data ...................................................................... 3.5.1. Analisis Vegetasi …………………………………………………... 3.5.2. Analisis Spasial Sebaran Vegetasi ………………………………… 19 19 19 20 20 20 22 22 25 IV. KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN ...................................................... 4.1. Sejarah Pembentukkan Taman Wisata Alam Gunung Meja ........................ 4.2. Letak dan Luas ……………………………………………………………. 4.3. Fisiografi ………………………………………………………………….. 38 38 39 40 DAFTAR LAMPIRAN xii 27 27 27 29 4.4. 4.5. 4.6. 4.7. 4.8. 4.9. 4.10 Iklim ………………………………………………………………………. Tanah ……………………………………………………………………… Penduduk …………………………………………………………………. Flora ………………………………………………………………………. Fauna ……………………………………………………………………… Bentuk Pemanfaatan Lain Kawasan Taman Wisata Alam Gunung Meja .... Faktor-faktor Penyebab Kerusakan Kawasan Taman Wisata Alam Gunung Meja ……………………………………………………………………….. V. HASIL DAN PEMBAHASAN ………………………………………………….. 5.1. Komposisi Jenis Vegetasi Daerah Tangkapan Air Taman Wisata Alam Gunung Meja ……….................................................................................... 5.1.1. Komposisi Jenis Vegetasi Pada Kelas Hutan Alam .......................... 5.1.2. Komposisi Jenis Vegetasi Pada Kelas Hutan Tanaman .................... 5.2. Struktur Vegetasi Pada Daerah Tangkapan Air Taman Wisata Alam Gunung Meja ................................................................................................ 5.2.1. Indeks Nilai Penting Vegetasi Kelas Hutan Alam ............................ 5.2.2. Indeks Nilai Penting Vegetasi Kelas Hutan Tanaman ...................... 5.3. Keanekaragaman Jenis Vegetasi Pada Daerah Tangkapan Air Taman Wisata Alam Gunung Meja ...................................................................................... 5.3.1. Keanekaragaman Jenis Vegetasi dan Kestabilan Ekosistem Pada Daerah Tangkapan Air Kelas Hutan Alam ...................................... 5.3.2. Keanekaragaman Jenis Vegetasi dan Kestabilan Ekosistem Pada Daerah Tangkapan Air Kelas Hutan Tanaman ................................ 5.4. Kajian Spasial Vegetasi Daerah Tangkapan Air Taman Wisata Gunung Meja .............................................................................................................. 5.4.1. Kajian Pola Sebaran Spasial Jenis dan Tingkat Tutupan Tajuk Vegetasi Pada Kawasan Kelas Hutan Alam Taman Wisata Alam Gunung Meja ..................................................................................... 5.4.2. Kajian Pola Sebaran Spasial Jenis dan Tingkat Tutupan Tajuk Vegetasi Pada Kawasan Kelas Hutan Tanaman Taman Wisata Alam Gunung Meja ..................................................................................... 5.4.3. Pola Sebaran Vegetasi Pada Kelas Hutan Alam ............................... 5.4.4. Pola Sebaran Jenis Secara Spasial Pada Kelas Hutan Tanaman ......... 5.5. Stratifikasi dan Profil Tegakan Hutan .......................................................... 5.5.1. Stratifikasi dan Profil Tegakan Vegetasi Pada Daerah Tangkapan Air Kelas Hutan Alam Taman Wisata Alam Gunung Meja .................... 5.5.2. Staratifikasi dan Profil Tegakan Vegetasi Pada Daerah Tangkapan Air Kelas Hutan Tanaman Taman Wisata Alam Gunung Meja ........ 41 42 42 43 44 45 47 54 54 54 55 57 57 62 65 66 68 70 70 77 84 87 90 90 91 VI. KESIMPULAN DAN SARAN …………………………………………………... 6.1. Kesimpulan ………………………………………………………………... 6.2. Saran ………………………………………………………………………. 93 93 94 DAFTAR PUSTAKA .................................................................................................... 95 LAMPIRAN ................................................................................................................... 98 xiii DAFTAR TABEL Halaman 1. Jenis dan Sumber Data Spasial 2. Kriteria Kelas Kelerengan (Slope) ……………………………………… 22 3. Matriks Unit Sampling berdasarkan Kelerengan (Slope), Vegetasi (V) dan Radius Mata Air (J) ………………………………………....................... 23 4. Atribut Unit Sampling Lokasi Penelitian Terpilih …………………........ 24 5. Klasifikasi Vegetasi dan Ukuran Plot Pengamatan …………………....... 27 6. Sistem Kodefikasi Dalam Penentuan ID-Number ……………………..... 30 7. Klasifikasi dan Luas Lereng Pada Taman Wisata Alam Gunung Meja .... 40 8. Jenis Pohon, Tahun Tanam, Luasan, Jarak Tanam dan Potensi Hutan Tanaman Pada Kawasan Taman Wisata Alam Gunung Meja .................. 44 Bentuk-bentuk Pemanfaatan Lain Kawasan Taman Wisata Alam Gunung Meja ………………………….………………………….......................... 45 Sepuluh Jenis Vegetasi Tingkat Semai Dengan Indeks Nilai Penting Tertinggi Pada Kelas Hutan Alam ………………………….………....... 58 Sepuluh Jenis Vegetasi Tingkat Pancang Dengan Indeks Nilai Penting Tertinggi Pada Kelas Hutan Alam ……………………………………… 59 Sepuluh Jenis Vegetasi Tingkat Tiang Dengan Indeks Nilai Penting Tertinggi Pada Kelas Hutan Alam ………………………….…………... 60 Sepuluh Jenis Vegetasi Tingkat Pohon Dengan Indeks Nilai Penting Tertinggi Pada Kelas Hutan Alam ………………………….…………... 60 Sepuluh Jenis Vegetasi Tingkat Semai Dengan Indeks Nilai Penting Tertinggi Pada Kelas Hutan Tanaman ………………………….………. 62 Sepuluh Jenis Vegetasi Tingkat Pancang Dengan Indeks Nilai Penting Tertinggi Pada Kelas Hutan Tanaman ………………………………….. 63 Sepuluh Jenis Vegetasi Tingkat Tiang Dengan Indeks Nilai Penting Tertinggi Pada Kelas Hutan Tanaman ………………………….………. 64 Sepuluh Jenis Vegetasi Tingkat Pohon Dengan Indeks Nilai Penting Tertinggi Pada Kelas Hutan Tanaman ………………………………….. 64 Indeks Keanekaragaman Jenis (H’) Seluruh Tingkat Pertumbuhan Vegetasi Pada Daerah Tangkapan Air Kelas Hutan Alam ……………… 66 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. …………………………………………. ivx 20 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. Indeks Keanekaragaman Jenis (H’) Seluruh Tingkat Pertumbuhan Vegetasi Pada Daerah Tangkapan Air Kelas Hutan Tanaman ……………. 68 Tingkat Penutupan Tajuk Berdasarkan Hasil Intersect Pada Kawasan Kelas Hutan Alam Taman Wisata Alam Gunung Meja ………………… 77 Tingkat Penutupan Tajuk Berdasarkan Hasil Intersect Pada Kawasan Kelas Hutan Tanaman Taman Wisata Alam Gunung Meja …………….. 84 Hasil Uji Statistik dalam Menentukan Tipe Sebaran dan Sebaran Uji Pada Kelas Hutan Alam dari 10 Jenis Vegetasi Dengan Indeks Nilai Penting Tertinggi Pada Kawasan Kelas Hutan Alam ……………………………. 85 Hasil Uji Sebaran Poisson dan Sebaran Binomial Negatif Terhadap Tipe Sebaran Acak (Random) dan Berkelompok (Cluster) Pada Kelas Hutan Alam……………………………………………………………………….. 86 Hasil Uji Statistik dalam Menentukan Tipe Sebaran dan Sebaran Uji Pada Kelas Hutan Alam dari 10 Jenis Vegetasi Dengan Indeks Nilai Penting Tertinggi Pada Kawasan Kelas Hutan Tanaman ………………………... 88 Hasil Uji Peluang Sebaran Poisson dan Sebaran Binomial Terhadap Tipe Sebaran Acak (Random) dan Berkelompok (Cluster) Pada Kelas Hutan Tanaman ………………………………………………………………… 89 xv DAFTAR GAMBAR Halaman 1. Kerangka Pemikiran ................................................................................... 3 2. Siklus Air Yang Terjadi di Alam ……………………………………........ 8 3. Pola Sebaran Spasial Organisme : a. acak (random), b. berkelompok (cluster) dan seragam (uniform) ................................................................. 18 4. Peta Lokasi Penelitian ................................................................................ 19 5. Tahapan Penelitian ..................................................................................... 21 6. Peta Sebaran Unit Sampling dan Model Spasial Parameter Unit Lahan Kelas Hutan, Kelas Slope dan Radius dari Titik Mata Air Pada Taman Wisata Alam Gunung Meja ........................................................................ 24 7. Letak Jalur dan Plot Pada Unit Sampling ................................................... 25 8. Bentuk Jalur dan Plot Pengamatan ............................................................. 26 9. Alur Struktur Data (Algoritma) Analisis dan Model Sebaran Jenis Vegetasi…………………………………………………………………….. 31 Contoh Field Profil Hutan Extension IHMB Dengan Field Mutlak (Lingkaran Merah) Yang Harus Terdapat Pada Tabel Atribut ................... 36 Bentuk Ikon Pulldown Menu Extension IHMB (Inventarisasi Hutan Menyeluruh Berkala) …………………………………………………….. 36 Tahapan Kajian Model Spasial Vegetasi Daerah Tangkapan Air Taman Wisata Alam Gunung Meja ....................................................................... 37 13. Peta Lokasi Kawasan Taman Wisata Alam Gunung Meja ........................ 40 14. Bentuk Spasial Sebaran Kelas Lereng Pada Kawasan Taman Wisata Alam Gunung Meja ……………………………..……………………………... 41 15. Bangunan Pos Pengawas Yang Rusak dan Tidak Dimanfaatkan ……….. 46 16. Aktifitas Perladangan di Dalam dan Sekitar Kawasan …………………... 49 17. Pemukiman Di Dalam kawasan TWA Gunung Meja, Kompleks Fanindi ... 50 18. Beberapa Jenis Tumbuhan Hias Liar Di Kawasan TWA Gunung Meja (a. Cyrtosperma mercusii; b. Alpinia sp., dan; c. Costus speciosus)…………………………………………………………………… 51 10. 11. 12 xv 19. Tumpukan Sampah dan Jenis Vegetasi Ikutan Seperti Pisang (Musa sp.) dan Kacangan (Pereuria javanica) Di Dalam Kawasan TWA Gunung Meja …………………………………………………………………….... 52 Aktfitas dan Akibat Pengumpulan Batu Bangunan : (a). Tumpukan Batu Hasil Pengumpulan Liar dan Kerusakan Permudaan Akibat Aktifitas Pengumpulan Batu Berupa Jalan Angkut (Arah Panah) (b). Lokasi Bekas Penggalian dan Pengumpulan ……………………………………………. 53 21. Jumlah Jenis Berdasarkan Family Vegetasi Kelas Hutan Alam 54 22. Jumlah Jenis Berdasarkan Family Vegetasi Kelas Hutan Tanaman ……... 56 23. Contoh Model Spasial Sebaran Jenis Vegetasi Pada Kawasan Kelas Hutan Alam ........................................................................................................... 71 Contoh Model Spasial Tutupan Tajuk Diskontinyu dan Sebaran Jenis Vegetasi Pada Kawasan Kelas Hutan Alam ............................................... 72 Contoh Model Spasial Tutupan Tajuk Kontinyu dan Sebaran Jenis Vegetasi Pada Kawasan Kelas Hutan ......................................................... 73 Contoh Model Spasial Perpotongan (Intersect) Tutupan Tajuk Terhadap Plot Pengamatan dan Sebaran Jenis Vegetasi Pada Kawasan Kelas Hutan Alam ........................................................................................................... 74 Contoh Model Spasial Persentase Hasil Perpotongan (Intersect) Tutupan Tajuk Terhadap Plot Pengamatan Pada Kawasan Kelas Hutan Alam ........ 75 Contoh Model Spasial Sebaran Jenis Vegetasi Pada Kawasan Kelas Hutan Tanaman ..................................................................................................... 78 Contoh Model Spasial Tutupan Tajuk Diskontinyu dan Sebaran Jenis Vegetasi Pada Kawasan Kelas Hutan Tanaman ......................................... 79 Contoh Model Spasial Tutupan Tajuk Kontinyu dan Sebaran Jenis Vegetasi Pada Kawasan Kelas Hutan Tanaman ......................................... 80 Contoh Model Spasial Perpotongan (Intersect) Tutupan Tajuk Terhadap Plot Pengamatan dan Sebaran Jenis Vegetasi Pada Kawasan Kelas Hutan Tanaman ..................................................................................................... 81 Contoh Model Spasial Persentase Hasil Perpotongan (Intersect) Tutupan Tajuk Terhadap Plot Pengamatan Pada Kawasan Kelas Hutan Tanaman ..... 82 Profil Hutan Daerah Tangkapan Air Kelas Hutan Alam Taman Wisata Alam Gunung Meja ……………………………………………………... 91 Profil Hutan Daerah Tangkapan Air Kelas Hutan Tanaman Taman Wisata Tanaman Gunung Meja ……..…………………………………………... 92 20. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. 32. 33. 34. xvi …………. DAFTAR LAMPIRAN Halaman 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. Pengelompokkan Jenis Berdasarkan Family dan Nama Lokal Vegetasi Daerah Tangkapan Air Kelas Hutan Alam Taman Wisata Alam Gunung Meja ............ 99 Pengelompokkan Jenis Berdasarkan Family dan Nama Lokal Vegetasi Daerah Tangkapan Air Kelas Hutan Tanaman Taman Wisata Alam Gunung Meja .................................................................................................................... 102 Kerapatan (K) dan Kerapatan Relatif (KR) Vegetasi Tingkat Semai pada Daerah Tangkapan Air Kelas Hutan Alam Taman Wisata Alam Gunung Meja .................................................................................................................... 104 Kerapatan (K) dan Kerapatan Relatif (KR) Vegetasi Tingkat Pancang pada Daerah Tangkapan Air Kelas Hutan Alam Taman Wisata Alam Gunung Meja ..................................................................................................................... 106 Kerapatan (K) dan Kerapatan Relatif (KR) Vegetasi Tingkat Tiang pada Daerah Tangkapan Air Kelas Hutan Alam Taman Wisata Alam Gunung Meja ... 108 Kerapatan (K) dan Kerapatan Relatif (KR) Vegetasi Tingkat Pohon pada Daerah Tangkapan Air Kelas Hutan Alam Taman Wisata Alam Gunung Meja .................................................................................................................... 110 Kerapatan (K) dan Kerapatan Relatif (KR) Vegetasi Tingkat Semai pada Daerah Tangkapan Air Kelas Hutan Tanaman Taman Wisata Alam Gunung Meja .................................................................................................................... 112 Kerapatan (K) dan Kerapatan Relatif (KR) Vegetasi Tingkat Pancang pada Daerah Tangkapan Air Kelas Hutan Tanaman Taman Wisata Alam Gunung Meja .................................................................................................................... 113 Kerapatan (K) dan Kerapatan Relatif (KR) Vegetasi Tingkat Tiang pada Daerah Tangkapan Air Kelas Hutan Tanaman Taman Wisata Alam Gunung Meja .................................................................................................................... 115 Kerapatan (K) dan Kerapatan Relatif (KR) Vegetasi Tingkat Pohon pada Daerah Tangkapan Air Kelas Hutan Tanaman Taman Wisata Alam Gunung Meja .................................................................................................................... 116 Indeks Nilai Penting (INP) dan Indeks Shannon Vegetasi Tingkat Semai pada Daerah Tangkapan Air Kelas Hutan Alam Taman Wisata Alam Gunung Meja... 117 Indeks Nilai Penting (INP) dan Indeks Shannon Vegetasi Tingkat Pancang pada Daerah Tangkapan Air Kelas Hutan Alam Taman Wisata Alam Gunung Meja .................................................................................................................... 119 xvii 13. Indeks Nilai Penting (INP) dan Indeks Shannon Vegetasi Tingkat Tiang pada Daerah Tangkapan Air Kelas Hutan Alam Taman Wisata Alam Gunung Meja ...................................................................................................................... 121 Indeks Nilai Penting (INP) dan Indeks Shannon Vegetasi Tingkat Pohon pada Daerah Tangkapan Air Kelas Hutan Alam Taman Wisata Alam Gunung Meja... 123 Indeks Nilai Penting (INP) dan Indeks Shannon Vegetasi Tingkat Semai Pada Daerah Tangkapan Air Kelas Hutan Tanaman Taman Wisata Alam Gunung Meja .................................................................................................................... 125 Indeks Nilai Penting (INP) dan Indeks Shannon Vegetasi Tingkat Pancang pada Daerah Tangkapan Air Kelas Hutan Tanaman Taman Wisata Alam Gunung Meja ...................................................................................................... 126 Indeks Nilai Penting (INP) dan Indeks Shannon Vegetasi Tingkat Tiang pada Daerah Tangkapan Air Kelas Hutan Tanaman Taman Wisata Alam Gunung Meja .................................................................................................................... 127 19. Indeks Nilai Penting (INP) dan Indeks Shannon Vegetasi Tingkat Pohon pada Daerah Tangkapan Air Kelas Hutan Tanaman Taman Wisata Alam Gunung Meja .................................................................................................................... Contoh Data Atribut Model Spasial Sebaran Jenis dan Tutupan Tajuk Vegetasi.. 128 129 20. Contoh Data Atribut Model Profil Hutan Extension IHMB 130 14. 15. 16. 17. 18. xviii ………………….. Segala perkara dapat kutanggung di dalam DIA yang memberi kekuatan kepadaku (Filipi 4 : 13) Ku persembahkan Tesis ini bagi Istriku Yosis Selvia Napo serta Anak-anakku Grevillea Julce Peday Gloryo Belthazar Peday & “The Little” xix Keterangan Gambar : Teluk Doreri Manokwari (Dipotret dari Bagian Selatan TWA Gunung Meja) I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Papua dengan kawasan hutan seluas 41 juta hektar memiliki kawasan konservasi sebesar 16,77 persen, kawasan lindung sebesar 23,90 persen dan kawasan hutan produksi sebesar 59,33 persen dari luas kawasan hutan tersebut (PM-NRM, 2003). Kawasan pelestarian alam di Papua terdiri dari tiga taman nasional (TN) dan tujuh taman wisata alam (TWA), antara lain TN WasurMerauke, TN Lorentz-Pegunungan Tengah dan TN Laut Teluk CenderawasihTeluk Wondama, sedangkan taman wisatanya terdiri dari TWA Teluk YotefaJayapura, TWA Nabire-Nabire, TWA Sorong-Sorong, TWA Klamono-Sorong, TWA Beriat-Sorong, TWA Laut Kepulauan Padaido-Biak dan TWA Gunung MejaManokwari (Departemen Kehutanan, 1998). Taman Wisata Alam Gunung Meja merupakan salah satu kawasan konservasi yang terletak di Kabupaten Manokwari Provinsi Papua Barat dengan luas 460,25 Ha, ditetapkan melalui Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 19/Kpts/Um/I/1980 (PSL-UNCEN, 1998). Berdasarkan statusnya, kawasan ini berfungsi sebagai kawasan wisata dan rekreasi serta fungsi lainnya seperti wahana pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, dan penunjang budaya, sekaligus sebagai daerah tangkapan air (Keppres RI No. 32 Tahun 1990). Perkembangan laju pembangunan Manokwari sebagai ibukota Kabupaten Manokwari dan ibukota Provinsi Papua Barat didukung oleh Program Percepatan Pembangunan Indonesia Timur, pemberian Otonomi Khusus (Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001) serta program pemerintah lainnya dalam dekade terakhir secara tidak langsung turut meningkatkan kebutuhan masyarakat akan sumberdaya alam. Taman Wisata Alam Gunung Meja menjadi salah satu alternatif bagi masyarakat dalam memenuhi kebutuhannya, baik berupa lahan maupun sumberdaya hutan lainnya terutama kayu. Hal ini disebabkan karena letak kawasan ini berbatasan langsung dengan pemukiman penduduk, akses ke dalam kawasan yang mudah karena tidak terdapat pembatas, tingkat pengawasan yang rendah, dan kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya kawasan ini, sehingga sangat 2 berdampak pada perubahan secara ekologis maupun pemanfaatannya. Salah satunya yaitu kerusakan dan penurunan fungsi daerah tangkapan air (catchment area). 1.2. Rumusan Masalah Sumber mata air Taman Wisata Alam Gunung Meja dilaporkan Zieck (1960) dalam TP-TWAGM (2004) berjumlah 30 sumber mata air, cenderung berada di zona terluar kawasan yang berbatasan langsung dengan pemukiman penduduk pada sisi selatan kawasan hingga ke barat daya. Akibatnya interaksi masyarakat yang relatif tinggi ke dalam kawasan sumber-sumber air tersebut dalam pemanfaatan lahan dan vegetasi di sekitarnya, sehingga mengakibatkan terganggunya ekosistem daerah tangkapan air (catchment area) berupa penurunan kualitas dan kuantitas sumber air. Sumber air yang masih aktif saat ini terdiri dari 15 mata air dengan rata-rata debit 1,2 liter/detik (Wambrauw, 2004). Berdasarkan penelitian NRM (2003), TP-TWAGM (2004) dan Wambrauw (2004), pengaruh perubahan penutupan lahan berupa perubahan struktur dan komposisi vegetasi di Taman Wisata Alam Gunung Meja merupakan faktor yang berperan dalam penurunan fungsi ekologi dan hidrologi kawasan. Leppe & Tokede (2006) mengatakan peningkatan jumlah penduduk di sekitar kawasan dan kebutuhan ekonominya serta pengelolaan kawasan yang tidak optimal menyebabkan peningkatan interaksi masyarakat ke dalam kawasan guna pemanfaatan sumberdaya alamnya terutama flora, fauna dan lahan. Akibatnya terjadi tekanan terhadap ekosistem alami yang mempengaruhi penurunan kondisi tutupan lahan di Taman Wisata Alam Gunung Meja. Wambrauw (2004) melaporkan telah terjadi degradasi kawasan hutannya sebesar 19,31 persen dan turut mempengaruhi fungsi daerah tangkapan air (catchment area), dimana mengakibatkan penurunan debit air pada 7 sumber mata air yang pernah dikelola oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Manokwari yang mencapai 30 persen dalam kurung waktu tahun 1998 – 2004. Dengan demikian penulis mencoba mendekati permasalahan tersebut dengan mengkaji kondisi ekologis sumber-sumber mata air secara spasial dengan pendekatan prinsip ekologi yang dikemukakan oleh Mendoza & Prabhu (2002), dan Pukkala (2002) seperti yang diringkaskan dalam kerangka penelitian pada Gambar 1. 3 TWA GUNING MEJA PRINSIP EKOLOGI Principles DAERAH TANGKAPAN AIR Criteria Indicators Verifiers POLA LANDSCAPE (A) Slope Altitude Luasan KERAGAMAN HABITAT (C) STRUKTUR KOMUNITAS (D) Stratifikasi Komposisi Jenis Distribusi INP Tutupan Analisis Vegetasi dan Analisis Spasial STRUKTUR/KOMPOSISI/MODEL SPASIAL VEGETASI DAERAH TANGKAPAN A IR TWA GUNUNG MEJA Gambar 1. Kerangka Pemikiran 4 1.3. Tujuan dan Manfaat Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tingkat keanekaragaman jenis, jenis dominan yang berperan dan berpengaruh dalam menjaga kondisi dan fungsi ekologi daerah tangkapan air, pola sebaran spasial dan tingkat tutupan tajuk jenis vegetasi tingkat pohon pada daerah tangkapan air Taman Wisata Alam Gunung Meja. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber informasi dan acuan bagi kegiatan rehabilitasi, peningkatan pengelolaan dan perlindungan guna mempertahankan dan meningkatkan fungsi hidrologis, ekologis dan pemanfaatan kawasan tersebut. 1.4. Hipotesis Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah terdapat pola adaptasi dan penyebaran jenis vegetasi secara alami yang menunjukkan kemampuan dominasi dan peran suatu jenis dalam proses ekologi yang terjadi pada daerah tangkapan air. II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Taman Wisata Alam Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 68 Tahun 1998 tentang kawasan suaka alam dan kawasan pelestarian alam, kawasan suaka alam terdiri dari kawasan cagar alam dan kawasan suaka marga satwa. Sedangkan kawasan pelestarian alam terdiri dari taman nasional (TN), taman hutan rakyat (TAHURA) dan taman wisata alam (TWA). Taman wisata alam adalah kawasan pelestarian alam dengan tujuan utama untuk dimanfaatkan bagi kepentingan pariwisata dan rekreasi alam. Selain fungsi pokok tersebut, taman wisata juga dapat dimanfaatkan untuk keperluan penelitian dan pengembangan, pendidikan, serta kegiatan penunjang budidaya yang dikelola secara lestari. Suatu kawasan dapat ditetapkan sebagai Kawasan Taman Wisata Alam, apabila telah memenuhi kriteria-kriteria sebagai berikut: a. Mempunyai daya tarik alam berupa tumbuhan, satwa atau ekosistem, gejala alam serta formasi geologi yang menarik; b. Mempunyai luas kawasan yang cukup guna menjamin kelestarian potensi dan daya tarik untuk dimanfaatkan bagi pariwisata dan rekreasi alam; c. Kondisi lingkungan di sekitarnya mendukung upaya pengembangan pariwisata alam dan rekreasi alam. Taman wisata terdiri dari taman wisata alam (TWA) daratan dan taman wisata alam laut. Papua memiliki 7 (enam) taman wisata alam, yang terdiri dari enam taman wisata alam daratan dan satu taman wisata alam laut, yaitu TWA Gunung Meja di Kabupaten Manokwari, TWA Teluk Yotefa di Kabupaten Jayapura, TWA Sorong di Kabupaten Sorong, TWA Beriat di Kotamadya Sorong, TWA Klamono di Kabupaten Sorong Selatan, TWA Nabire di Kabupaten Nabire, dan satu-satunya taman wisata alam laut di Papua adalah TWA Laut Kepulauan Padaido di Kabupaten Biak-Numfor (Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 28/Kpts-II/2003). 6 2.2. Hidrologi dan Hidrologi Hutan Hidrologi adalah ilmu yang membahas tentang air di bumi, cara terjadi, sirkulasi dan agihannya, sifat-sifat fisik dan kimianya, reaksi dan lingkungannya, termasuk reaksinya terhadap benda-benda hidup (Lee, 1990). Pengertian lain hidrologi menurut Asdak (2004) merupakan ilmu yang mempelajari air dalam segala bentuknya (cairan, gas dan padat) pada, dalam dan di atas permukaan tanah, termasuk di dalamnya adalah penyebaran, daur dan perilakunya, sifat-sifat fisik dan kimianya serta hubungannya dengan unsur-unsur hidup di dalam air itu sendiri. Lebih lanjut menurut Arsyad (2006), hidrologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang proses penambahan, penampungan dan kehilangan air di bumi. Hidrologi mencakup bidang ilmu yang luas dan beragam, meliputi gatra agronomi, ekologi, geomorfologi, glasiologi dan fisiologi tanaman, termasuk hidrologi pertanian, perkotaan dan marga satwa, hidrologi medis, hidrologi keteknikan dan hidrologi hutan. Istilah-istilah di atas merupakan hidrologi terapan. Ada beberapa ilmu lainnya yang sangat terkait dengan hidrologi, yaitu : 1. Hidrometeorologi adalah ilmu yang mempelajari tentang fenomena air yang terjadi di atmosfir. 2. Hidrogeologi adalah ilmu yang mempelajari tentang fenomena air yang terjadi di bumi. 3. Oseanografi adalah ilmu yang mempelajari tentang fenomena air yang terjadi di lautan (air laut). 4. Limnologi adalah ilmu yang mempelajari tentang fenomena air yang terjadi pada badan-badan air di daratan (air tawar). Cabang ilmu hidrologi lainnya yang sangat terkait dengan hubungan hidrologi dan kawasan hutan adalah ilmu hidrologi hutan dan hidrologi daerah aliran sungai (DAS). Menurut Lee (1990) hidrologi hutan adalah suatu ilmu fenomena yang berkaitan dengan air yang dipengaruhi oleh penutupan hutan. Sedangkan Asdak (2004) mengemukakan bahwa hidrologi DAS adalah cabang ilmu hidrologi yang mempelajari pengaruh pengelolaan vegetasi dan lahan di daerah tangkapan air bagian hulu (upper catchment) terhadap daur air, termasuk pengaruhnya terhadap erosi, kualitas air, banjir dan iklim di daerah hulu dan hilir. Hidrologi hutan merupakan ilmu pengetahuan yang interdisiplin, 7 penyatuan antara ilmu kehutanan dan ilmu hidrologi yang terpusat pada masalah air dengan lingkup operasionalnya pada lahan hutan. Menurut Asdak (2004) daerah aliran sungai (DAS) merupakan suatu ekosistem utama yang mengatur tata air, dimana DAS merupakan wilayah daratan yang secara topografik dibatasi oleh punggung-punggung gunung yang menampung dan menyimpan air hujan untuk kemudian menyalurkannya ke laut melalui sungai utama. Kawasan DAS disebut juga daerah tangkapan air (DTA) atau catchment area merupakan ekosistem dengan unsur utama berupa tanah, air dan vegetasi serta manusia sebagai pemanfaatnya. Pendapat ini juga didukung oleh Agus et. al. (2004), bahwa hutan memiliki siklus hidrologi yang spesifik yang dikendalikan oleh interaksi antara vegetasi, tanah, landscape, iklim dan faktor-faktor lainnya. Jika interaksi ini terganggu, berbagai faktor dalam siklus hidrologi (seperti : evapotranspirasi, intersepsi, curah hujan antar tajuk dan infiltrasi) akan berubah dan responnya akan berbeda terhadap curah hujan. Lebih lanjut dikemukakan bahwa kunci dari perilaku hidrologi suatu hutan adalah keberadaan tajuk dan lantai hutan dengan serasah dedaunannya serta terkonsentrasinya akar. Tajuk (melalui intersepsi air hujan, evaporasi dan transpirasi) bersama dengan serasah di atas tanah (berpengaruh terhadap infiltrasi) sangat penting di dalam lingkaran hidrologi hutan. Sebagai akibat dari penggundulan hutan, tanggap lahan terhadap hujan akan berubah bergantung pada tingkat kerusakan hutan, iklim wilayah, kondisi geologi dan curah hujan selama dan sesudah pengerusakan tersebut terjadi. Satu faktor paling penting yang akan berubah ketika terjadinya penggundulan hutan dan gangguan terhadap tanah adalah menurunnya kemampuan tanah menyerap air (penurunan kapasitas infiltrasi). 2.3. Siklus Air (Hidrologi) Air dibutuhkan oleh semua mahluk hidup di bumi, baik manusia, hewan, tumbuhan maupun mikro-organisme lainnya, juga berfungsi sebagai sarana transportasi, sumber energi, pelarutan, dan berbagai keperluan hidup manusia lainnya. Namun demikian bila tidak dikelola dengan baik, air juga dapat bersifat merusak dan membinasakan makhluk hidup di sekitarnya, misalnya dengan hujan lebat dan banjir, tanah longsor, dan erosi. 8 Air yang jatuh ke bumi terjadi dalam bentuk hujan, salju atau embun (precipitation). Bila telah memasuki atmosfir dan berada di bumi akan mengalami berbagai proses dan peristiwa, kemudian akan menguap kembali ke udara menjadi awan dan dalam bentuk hujan, salju dan embun akan kembali jatuh ke bumi. Peristiwa ini terjadi secara berulang dangan siklus tertutup disebut siklus air (Arsyad, 2006). Gambar 2. Siklus Air Yang Terjadi Di Alam (Sumber: Enger, 2004) Sebagian air hujan yang jatuh ke bumi dalam peristiwa kondensasi menguap di atmosfir sebelum tiba di bumi. Pada daerah tanpa vegetasi dan benda lainnya, air hujan akan langsung jatuh ke permukaan tanah. Pada tempat-tempat yang ada tumbuh- tumbuhan atau benda-benda lainnya, air hujan yang jatuh akan ditahan dan melekat di permukaan tumbuhan atau benda tersebut. Air yang tertahan dan melekat di permukaan tumbuhan atau benda disebut air intersepsi (interception), sebagian akan menguap ke udara (transpirasi) dan sebagian lagi akan jatuh ke permukaan tanah atau melalui lolosan tajuk (through fall). Sedangkan sebagian lagi yang mengalir mengikuti ranting, cabang dan batang sampai ke permukaan tanah disebut aliran batang (stem flow). 9 Bagian air hujan yang sampai ke permukaan tanah disebut suplai air permukaan tanah dan akan mengalir di permukaan tanah (aliran permukaan atau runoff) atau terserap dan masuk ke dalam tanah (air infiltrasi atau infiltration). Runoff akan terkumpul di badan-badan air permukaan (sungai, danau, waduk, dan sebagainya) dan dialirkan ke laut melalui sungai-sungai utama. Sedangkan air infiltrasi sebagian akan menguap ke udara, diserap tumbuhan dan kembali ke udara (transpiration) dan sebagian akan terperkolasi masuk lebih dalam ke tanah menjadi air bawah tanah (ground water) dan melalui aliran bawah tanah (ground water flow) kembali ke badan-badan air permukaan. Besarnya aliran sungai yang mengalir dan dapat terukur ini disebut debit aliran. Debit aliran adalah laju aliran air dalam bentuk volume air yang melewati suatu penampang melintang sungai per satuan waktu, umumnya dinyatakan dalam satuan meter kubik per detik atau m3/dtk (Asdak, 2004). Data debit atau aliran sungai merupakan informasi yang penting dalam pengelolaan air. Debit puncak (banjir) diperlukan untuk merancang bangunan pengendali banjir, sedangkan debit aliran kecil diperlukan untuk perencanaan alokasi atau pemanfaatan air bagi berbagai macam keperluan terutama pada musim kemarau panjang. Debit aliran rata-rata tahunan dapat memberikan gambaran potensi sumberdaya air yang dapat dimanfaatkan dari suatu daerah aliran sungai (DAS). Secara singkat proses siklus air di atas yang terjadi berdasarkan jumlah air yang jatuh ke bumi, baik dalam bentuk hujan, embun dan salju. Besarnya jumlah air hilang kaitan dengan jumlah air tersimpan (yang dapat dimanfaatkan) secara sederhana dijelaskan dengan persamaan berikut : (Air yang diterima) – (Air hilang) = (Air tersimpan) Tinjauan singkat mengenai fase-fase siklus air menunjukkan pentingnya peranan tanah dan baik secara langsung maupun tidak langsung dipengaruhi oleh vegetasi sekitarnya. Tanah merupakan peubah yang kompleks dalam seluruh masalah tata air. 10 2.4. Analisis Vegetasi Analisis vegetasi adalah cara mempelajari susunan (komposisi) dan bentuk (struktur) vegetasi atau masyarakat tumbuh-tumbuhan (Soerianegera dan Indrawan, 2005). Analisis vegetasi dapat digunakan untuk mempelajari susunan dan bentuk vegetasi atau masyarakat tumbuh-tumbuhan yang meliputi mempelajari tegakan hutan yaitu tegakan tingkat pohon dan permudaannya (tingkat tiang, pancang dan semai) dan mempelajari tegakan tumbuhan bawah yaitu jenis vegetasi dasar yang terdapat di bawah tegakan hutan selain permudaan pohon, padang rumput/ilalang dan belukar. Selanjutnya Indriyanto (2006) mengatakan bahwa, berdasarkan analisis vegetasi tersebut dapat ditentukan beberapa besaran yang dapat memberikan gambaran tentang keseluruhan kondisi kawasan pengamatan, yaitu : 1. Kerapatan (K) dan Kerapatan Relatif (KR) Kerapatan adalah perbandingan jumlah individu suatu jenis terhadap luas petak contoh yang digunakan. Berdasarkan kerapatan suatu individu dapat ditentukan pula Kerapatan Relatif masing-masing jenis individu, yaitu kerapatan individu suatu jenis dibanding dengan kerapatan

Dokumen baru

Dokumen yang terkait

Kajian Penyebaran Air Di Daerah Perakaran Pada Beberapa Jenis Tanah dan Tanaman Dalam Skala Laboratorium
0
41
98
Pola Aktivitas Orangutan Sumatera (Pongo Abelii) Pada Struktur Dan Komposisi Vegetasi Hutan Di Pusat Pengamatan Orangutan Sumatera Taman Nasional Gunung Leuser
2
43
101
Nilai Ekonomi dan Pola Sebaran Aren (Arenga pinnata) Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) SPTN-VI Wilayah Stabat Resort Tangkahan Sumatera Utara
4
34
80
Profil dan Kajian Nilai Ekonomi Wisatawan Asing di Obyek Wisata Alam Bukitlawang, Taman Nasional Gunung Leuser, Kecamatan Bahorok, Kabupaten Langkat
3
52
92
Keanekaragaman Dan Pola Distribusi Nepenthes spp. Di Taman Wisata Alam Sicikeh-Cikeh Kabupaten Dairi Sumatera Utara
12
62
94
Kajian Pengembangan Ekowisata Di Kawasan Taman Wisata Alam Sibolangit
10
105
76
Keanekaragaman dan Konservasi Vegetasi Hutan Gunung Sinabung Untuk Pembangunan Berkelanjutan
0
30
31
Struktur Dan Komposisi Vegetasi Pohon Dan Pole Di Sekitar Jalur Wisata Taman Wisata Alam Sicikeh-Cikeh Kabupaten Dairi Sumatera Utara
3
56
112
Keanekaragaman Jenis Burung Pada Habitat Terbuka dan Tertutup di Kawasan Taman Nasional...
0
55
18
Sebaran Lokasi Penanaman Bawang Merah Lokal Samosir Berdasarkan Ketinggian Tempat Di Daerah Tangkapan Air Danau Toba
0
52
44
Perancangan buku Taman Wisata Alam Pangandaran
1
35
73
Kajian Penyebaran Air Di Daerah Perakaran Pada Beberapa Jenis Tanah dan Tanaman Dalam Skala Laboratorium
0
0
40
Pola Aktivitas Orangutan Sumatera (Pongo Abelii) Pada Struktur Dan Komposisi Vegetasi Hutan Di Pusat Pengamatan Orangutan Sumatera Taman Nasional Gunung Leuser
0
0
28
Pola Aktivitas Orangutan Sumatera (Pongo Abelii) Pada Struktur Dan Komposisi Vegetasi Hutan Di Pusat Pengamatan Orangutan Sumatera Taman Nasional Gunung Leuser
0
0
18
Pola Aktivitas Orangutan Sumatera (Pongo Abelii) Pada Struktur Dan Komposisi Vegetasi Hutan Di Pusat Pengamatan Orangutan Sumatera Taman Nasional Gunung Leuser
0
0
11
Show more