Evaluasi hasil pendidikan karakter terintegrasi pada lima SMP di Jawa : studi evaluasi hasil pendidikan karakter terintegrasi pada lima SMP di Jawa tahun ajaran 2014/2015 dan implikasinya terhadap penyusunan silabus pendidikan karakte.

Gratis

0
1
251
2 years ago
Preview
Full text

HALAMAN MOTTO

  Subjek dalam penelitian ini berjumlah 653 siswa yang merupakan keseluruhan dari siswa kelas VII dan VIII pada lima SMP yang tersebar diPulau Jawa (162 siswa SMP Stella Maris Tangerang Selatan, 115 siswa SMP Negeri 6 Surakarta, 117 siswa SMP Negeri 4 Wates, 126 siswa SMP Negeri 13 Yogyakarta, dan 133 siswa SMP SantaMaria II Malang). Terindikasi 36 (kelas VII SMP) dan 39 (kelas VIII SMPbutir item kuesioner hasil pendidikan karakter terintegrasi yang hasilnya belum optimal (berada pada kategori cukup, buruk, dan sangat buruk), yang dijadikan sebagai dasar dan tolok ukurpenyusunan silabus pendidikan karakter.

KATA PENGANTAR

  Puji syukur kepada Tuhan Maha Esa atas limpahan rahmat dan naungan kasih- Nya, penulisan tugas akhir dengan judul “Evaluasi Hasil Pendidikan Karakter Terintegrasi pada Lima SMP di Jawa (Studi Evaluasi Hasil PendidikanKarakter Terintegrasi pada Lima SMP di Jawa Tahun Ajaran 2014/2015 danImplikasinya terhadap Penyusunan Silabus Pendidikan Karakter) dapat terselesaikan dengan baik. Rincian Populasi Penelitian Siswa kelas VII dan VIII Di SMP Stella Maris Tangerang Selatan, SMP Negeri 6Surakarta, SMP Negeri 4 Wates, SMP Negeri 13Yogyakarta, dan SMP Santa Maria II MalangTahun Ajaran 2014/2015 ............................................................

BAB I PENDAHULUAN Pada bab ini dipaparkan latar belakang masalah, identifikasi masalah, batasan

A. Latar Belakang Masalah

  Oleh karenanya, pemantapan pendidikan karakter secara komprehensif menjadi sangat penting dan mendasar untuk segera diimplementasikan di 2 Kementerian Pendidikan Nasional secara khusus mengembangkan pendidikan karakter yang diharapkan dapat diimplementasikan di seluruh sekolah di Indonesia, termasuk di jenjang SMP. Apabila dilihat dari berbagai tujuan pendidikan nasional dan pendidikan karakter yang telah berlangsung selama hampir empat tahun ini,terlihat adanya ketidaksesuaian antara tujuan tersebut dengan hasil dan berbagai fakta yang terjadi.

B. Identifikasi Masalah

  Batasan Masalah Dalam penelitian ini, fokus kajian diarahkan pada menjawab masalah- masalah yang termuat pada butir nomor 8, 9, dan 10 yang teridentifikasi diatas khususnya masalah mengenai seberapa baik (optimal) hasil pendidikan karakter terintegrasi pada lima SMP di Jawa. Bagi kepala sekolah dan para guruHasil penelitian ini menjadi tolok ukur yang dapat digunakan oleh sekolah untuk mengetahui dan memahami gambaran nyataseberapa baik (optimal) hasil pendidikan karakter terintegrasi yang selama ini diterapkan kepada para siswa.

G. Definisi Operasional Variabel

  Pendidikan karakter terintegrasi adalah upaya penanaman, penghayatan, dan pengamalan nilai-nilai luhur siswa yang diwujudkandalam interaksi dengan Tuhan, diri sendiri, sesama, dan lingkungannya untuk menjadi manusia seutuhnya yang berkarakter dalam dimensihati, pikir, raga, serta rasa dan karsa dengan model penyajian terpadu dalam pembelajaran, manajemen sekolah, dan kegiatan kesiswaan. Evaluasi hasil pendidikan karakter terintegrasi adalah upaya menilai, mengukur, dan menakar seberapa jauh capaian indikator keberhasilannilai-nilai karakter pada siswa yang dilakukan melalui proses pembelajaran, manajemen sekolah, dan kegiatan kesiswaansebagaimana dipaparkan dalam pedoman pendidikan karakter yang 14 dicanangkan oleh Direktorat Kementerian Pendidikan Nasional Tahun 2010.

BAB II LANDASAN TEORI Pada bab ini dipaparkan hakikat pendidikan karakter, hakikat siswa, hakikat evaluasi hasil program pendidikan, dan penyusunan silabus pendidikan karakter. A. Hakikat Pendidikan Karakter 1. Definisi Pendidikan Karakter Lickona (Samani, M. & Hariyanto, 2013:44) mendefinisikan

  Pendidikan karakter dimaknai sebagai pendidikan yang mengembangkan nilai-nilai karakter peserta didik sehingga merekamemiliki nilai dan karakter dalam diri, yang dapat diterapkan dalam 16 kehidupan sebagai anggota masyarakat dan warga negara yang religius, nasionalis, produktif, dan kreatif (Zubaedi, 2012: 17-18). Berdasarkan beberapa pendapat yang dikemukakan di atas, dapat disimpulkan bahwa pendidikan karakter merupakan upaya terencanauntuk menjadikan seseorang (peserta didik) mengenal, peduli, dan menginternalisasikan nilai-nilai karakter dalam diri, sehingga dapatberperilaku sebagai manusia seutuhnya.

2. Tujuan Pendidikan Karakter

  Menurut Kementerian Pendidikan Nasional (2010), pendidikan karakter bertujuan untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan danhasil pendidikan di sekolah yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter atau akhlak mulia peserta didik secara utuh,terpadu, dan seimbang, sesuai standar kompetensi lulusan. Budaya sekolah 17 merupakan ciri khas, karakter atau watak, dan citra sekolah tersebut di mata masyarakat luas.

3. Prinsip-prinsip Pendidikan Karakter

  Memiliki cakupan terhadap kurikulum yang bermakna dan menantang yang menghargai semua peserta didik, membangun karakter mereka,dan membantu mereka untuk sukses; g. Memfungsikan seluruh staf sekolah sebagai komunitas moral yang berbagi tanggung jawab untuk pendidikan karakter dan setia pada nilaidasar yang sama; 18 i.

4. Aspek-aspek Nilai Pendidikan Karakter

  Nilai karakter dalam hubungannya dengan sesama1) Sadar akan hak dan kewajiban diri dan orang lain Sikap tahu dan mengerti serta melaksanakan apa yang menjadi milik/hak diri sendiri dan orang lain sertatugas/kewajiban diri sendiri serta orang lain.2) Patuh pada aturan-aturan sosial Sikap menurut dan taat terhadap aturan-aturan berkenaan dengan masyarakat dan kepentingan umum. Pendidikan karakter terintegrasi melalui kegiatan pembinaan kesiswaanKegiatan pembinaan kesiswaan adalah kegiatan pendidikan di luar mata pelajaran dan pelayanan konseling untuk membantupengembangan peserta didik sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, dan minat mereka melalui kegiatan yang secara khususdiselenggarakan oleh pendidik dan atau tenaga kependidikan yang berkemampuan dan berwenang di sekolah.

7. Penyelenggaraan Pendidikan Karakter di SMP

  Implementasi1) Pembentukan karakter yang terpadu dengan pembelajaran pada semua mata pelajaran Berbagai hal yang terkait dengan karakter (nilai-nilai, norma, iman dan ketaqwaan) diimplementasikan dalam pembelajaranmata pelajaran-mata pelajaran yang terkait, seperti Agama, PKn, IPS, IPA, Penjas Orkes, dan lain-lainnya. 4) Mengumpulkan dan menganalisis data yang ditemukan di lapangan untuk menyusun rekomendasi terkait perbaikanpelaksanaan program pendidikan karakter ke depan.5) Memberikan masukan kepada pihak yang memerlukan untuk bahan pembinaan dan peningkatan kualitas program pembentukankarakter.6) Mengetahui tingkat keberhasilan implementasi program pembinaan pendidikan karakter di sekolah.

2. Transisi Peserta Didik Menuju Sekolah Menengah Pertama

  Saat siswa mengalami masa transisi dari Sekolah Dasar (SD) menujuSekolah Menengah Pertama (SMP) , siswa menghadapi “fenomena yang teratas ke bawah” (top-dog phenomena), yaitu keadaan-keadaan di mana siswa bergerak dari posisi yang paling atas (di Sekolah Dasar menjadi yang tertua, terbesar, dan paling berkuasa) menuju posisi yang palingrendah (di Sekolah Menengah Pertama menjadi yang paling muda, paling kecil, dan paling tidak berkuasa di sekolah). Penelitian pertama, yaitu dilakukan oleh Lord danEccles (Santrock, 2003: 260) mengungkapkan bahwa apabila orang tua membiasakan diri terhadap kebutuhan dan perkembangan remaja awaldan mendukung kemandirian mereka dalam mengambil keputusan, maka remaja akan menunjukkan penyesuaian diri yang lebih baik dan tingkatkepercayaan diri yang lebih tinggi dalam menghadapi transisi dari SD menuju SMP.

4. Tugas-tugas Perkembangan Masa Remaja

  Tugas perkembangan masa remaja difokuskan pada upaya meninggalkan sikap dan perilaku kekanak-kanakan serta berusaha untukmencapai kemampuan bersikap dan berperilaku secara dewasa. Memahami dan menginternalisasikan nilai-nilai orang dewasa dan orang tua;h.

5. Ciri-ciri Utama dan Umum Periode Pubertas

  Sikap pubertasyang paling menonjol, antara lain: sikap tidak tenang dan tidak menentu, hal yang dahulu menarik sekarang tidak lagi; adanyapenentangan terhadap orang lain seakan-akan ingin mengatasi kesenangan orang lain, penentangan terutama tertuju pada orangdewasa atau orang yang lebih berkuasa; adanya sikap negatif(misalnya: kurang hati-hati, gemar membicarakan orang lain, cepat tersinggung, dan mudah curiga). Perasaan pubertas yang sangatmenonjol, antara lain: rasa sedih, ingin menangis dan marah meskipun penyebabnya “remeh”; memusuhi lawan jenis lain; adanya rasa bosan terhadap permainan yang pernah disenanginya.

6. Ciri-ciri Remaja Awal

  Tidak aneh lagi apabila sering kita melihat sikap dan sifat remaja yang sesekali bergairah dalam bekerja tiba-tiba berganti lesu, kegembiraan yang meledak bertukarmenjadi rasa sedih yang amat dalam, atau ada pula rasa yakin pada diri berganti menjadi rasa ragu yang sangat berlebihan. Masa remaja awal adalah masa yang kritisMasa remaja adalah masa yang kritis, di mana pada masa ini remaja dihadapkan dengan persoalan yang menuntutnya untuk beranimenghadapi dan memecahkan masalahnya atau tidak.

7. Perkembangan Moral Remaja

  Pengembangan pendidikan moral dan karakter tentu didasari oleh suatu teori yang erat kaitannya dengan perkembangan moral, yakni teoriKohlberg. Teori ini didasarkan atas analisisnya terhadap hasil wawancara dengan anak laki-laki usia 10 hingga 16 tahun yangdihadapkan pada suatu dilema moral, dimana mereka harus memilih antara tindakan menaati peraturan atau memenuhi kebutuhan hidupdengan cara yang bertentangan dengan peraturan.

1. Prakonvensional Moralitas

  Orientasi Kepatuhan dan Pada level ini anak mengenal Hukuman Pemahaman anakmoralitas berdasarkan dampak yang tentang baik dan buruk ditentukan ditimbulkan oleh suatu perbuatan, oleh otoritas orientasi.yaitu menyenangkan (hadiah) atau Kepatuhan terhadap aturan adalah menyakitkan (hukuman). Pada level ini aturan dan institusi Suatu perbuatan dinilai baik dari masyarakat tidak dipandang apabila menyenangkan bagi orangsebagai tujuan akhir, tetapi lain.diperlukan sebagai subjek.

2. Ciri-ciri dan Persyaratan Evaluasi Program

  Dalam melaksanakan evaluasi, peneliti harus berpikir secara sistematis, yaitu memandang program yang diteliti sebagai sebuahkesatuan yang terdiri dari beberapa komponen atau unsur yang saling berkaitan satu sama lain dalam menunjang keberhasilan kinerja dariobjek yang dievaluasi. Tujuan Evaluasi Program Tujuan dari evaluasi program adalah untuk mengetahui pencapaian tujuan program dengan langkah mengetahui keterlaksanaan kegiatanprogram, karena evaluator program ingin mengetahui bagian mana dari komponen dan sub komponen program yang belum terlaksana dan apasebabnya.

4. Manfaat Evaluasi Program

  Secara singkat, supervisi dapat diartikansebagai upaya mengadakan peninjauan untuk memberikan pembinaan, maka evaluasi program adalah langkah awal dalam supervisi, yaknimengumpulkan data yang tepat agar dapat dilanjutkan dengan memberikan pembinaan yang tepat pula. Menyebarluaskan program (melaksanakan program di tempat-tempat lain atau mengulangi program di lain waktu), karena program tersebutberhasil dengan baik, maka sangat baik jika dilaksanakan lagi di tempat dan waktu yang lain (Arikunto, S.

6. Evaluasi Hasil Program

  Aspek hasil evaluasi inibertujuan untuk mengetahui apakah terdapat program yang memberikan pengaruh pada pencapaian kompetensi/tujuanlayanan yang telah ditetapkan (Badrujaman, A, 2011: 114).2) Menentukan kriteria evaluasi Sebuah program akan dikatakan berhasil dan sukses apabila memenuhi kriteria keberhasilan yang ditetapkan. Schimdt (Badrujaman, A, 2011: 115) menjelaskan empat 55 menggunakan pencapaian melalui persentase; membandingkan pencapaian subjek yang mengikuti program dan yang tidakmengikuti program; menanyakan kepada peserta didik, orang tua, atau guru; serta dengan membandingkan skor pre-test dan post- test.

D. Penyusunan Silabus Pendidikan Karakter

BAB II I METODE PENELITIAN Pada bab ini dipaparkan beberapa hal yang berkaitan dengan metodologi

  Melalui hasil penelitian ini, peneliti menyusun silabus pendidikan karakter yang kiranya dapat membantu guru dalam memperoleh gambaranpenyelenggaraan pendidikan karakter yang sesuai dan optimal bagi para siswa. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif evaluatif untuk menggambarkan data evaluasi hasil pendidikan karakter terintegrasi,baik secara agregat maupun pada masing-masing sekolah (SMP StellaMaris Tangerang Selatan, SMP Negeri 6 Surakarta, SMP Negeri 4 Wates,SMP Negeri 13 Yogyakarta, dan SMP Santa Maria II Malang) pada Tahun Ajaran 2014/2015.

C. Metode Pengumpulan Data dan Instrumen Penelitian

  Aspek kuesioner yang dibuat oleh peneliti didasarkan pada aspek-aspek nilai pendidikan karakter menurut PedomanDirektorat Pembinaan Sekolah Menengah Pertama DitjenManajemen Pendidikan Dasar dan Menengah KementerianPendidikan Nasional (2010). Penentuan skorResponden diminta untuk menjawab pernyataan-pernyataan yang terdapat pada kuesioner hasil pendidikan karakterterintegrasi dengan memilih salah satu alternatif jawaban yang telah disediakan dengan cara memberi tanda checklist ( ) pada rentang skala interval sesuai dengan presepsi subjek.

D. Validitas dan Reliabilitas

1. Validitas

  = jumlah perkalian antara nilai X dan Y = Kuadrat dari nilai= Kuadrat dari nilai Y probability values yang bernilai < 0,05 berarti item dianggap valid dan apabila probability values bernilai > 0,05 berarti item dianggap tidak memenuhi konsistensi internal, maka item tersebut akandigugurkan. Setelah dilakukannya uji coba terhadap instrumen penelitian kepada siswa kelas VII dan VIII pada lima SMP di Jawa (SMPStella Maris Tangerang Selatan, SMP Negeri 6 Surakarta, SMPNegeri 4 Wates, SMP Negeri 13 Yogyakarta, dan SMP Santa Maria II Malang), maka diperoleh hasil perhitungan konsistensi internal butir pada setiap aspek dengan menggunakan rumus Product- Moment dari Pearson dengan jumlah subjek 40 siswa.

2. Reliabilitas Reliabilitas artinya tingkat kepercayaan hasil pengukuran

  Pengukuran yang mempunyai reliabilitas tinggi yaitu yang mampu memberikan hasil ukur yang terpercaya, disebut reliable (Azwar,2009: 4). Menurut Azwar (2009) pengukuran yang menggunakan instrumen penelitian dikatakan mempunyai nilai reliabilitas yangtinggi, apabila alat ukur yang dibuat mempunyai hasil yang konsisten dalam mengukur apa yang hendak diukur.

E. Prosedur Pengumpulan dan Teknik Analisis Data 1. Persiapan dan Pelaksanaan

  Menentukan responden, yakni para siswa kelas VII dan VIII pada lima SMP di Jawa (SMP Stella Maris Tangerang Selatan, SMPNegeri 6 Surakarta, SMP Negeri 4 Wates, SMP Negeri 13 Yogyakarta, dan SMP Santa Maria II Malang). Pengambilan data melalui kuesioner kepada para siswa kelas VII Selatan, SMP Negeri 6 Surakarta, SMP Negeri 4 Wates, SMP Negeri 13 Yogyakarta, dan SMP Santa Maria II Malang).

2. Teknik Analisis Data

  Berikut uraian penjelasan mengenaiPenilaian Acuan Patokan (PAP) tipe I:1) Penilaian Acuan Patokan (PAP) adalah suatu penilaian yang memperbandingkan prestasi hasil belajar siswa dengan suatupatokan yang telah ditetapkan sebelumnya, suatu prestasi yang seharusnya dicapai oleh siswa yang dituntut oleh guru(Masidjo, 1995: 151). PAP berorientasi pada suatu patokan keberhasilan atau batas lulus penguasaan bahan yang sifatnya 2) Masidjo (1995) menyatakan bahwa pada PAP tipe I ini, penguasaan kompetensi minimal yang merupakan passing score adalah 65% dari total skor yang seharusnya dicapai, diberi nilai cukup (6 atau C).

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Pada bab ini dipaparkan hasil penelitian, pembahasan hasil penelitian, dan usulan silabus pendidikan karakter. A. Hasil Penelitian 1. Hasil Pendidikan Karakter Terintegrasi pada Lima SMP di Jawa Tahun Ajaran 2014/2015 Hasil pengolahan data berdasarkan kriteria Penilaian Acuan Patokan tipe I (Masidjo, 1995: 153) menyimpulkan bahwa

  Tingkat Ketercapaian Hasil Pendidikan Karakter Terintegrasi Siswa Kelas VII dan VIII pada Lima SMP di JawaTahun Ajaran 2014/2015 Norma Kriteria Jumlah Subyek Skor/Tingkat Persentase Nilai Skor Kelas Kelas Kategori Penguasaan (%) Huruf VII VIII Kompetensi 90%-100% 365 - - A Sangat Baik80%-89% 324 35 12 7 B Baik 65%-79% 263 224 185 63 C Cukup 55%-64% 223 67 118 28 D Buruk Dibawah 55% 1 11 2 E Sangat Buruk a. Persentase Ketercapaian HasilPendidikan Karakter Terintegrasi Siswa Kelas VII dan VIII pada Lima SMP di JawaTahun Ajaran 2014/2015 Berdasarkan hasil penelitian di atas, peneliti menyimpulkan bahwa sebagian besar (63%) siswa kelas VII dan VIII pada lima SMP di Jawa(SMP Stella Maris Tangerang Selatan, SMP Negeri 6 Surakarta, SMPNegeri 4 Wates, SMP Negeri 13 Yogyakarta, dan SMP Santa Maria IIMalang) memiliki tingkat ketercapaian hasil pendidikan karakter terintegrasi pada kategori cukup.

2. Profil Capaian Hasil Pendidikan Karakter Terintegrasi pada Masing-masing SMP

  Persentase Ketercapaian HasilPendidikan Karakter Terintegrasi Siswa Kelas VII dan VIII SMP Stella Maris Tangerang SelatanTahun Ajaran 2014/2015 Berdasarkan hasil penelitian di atas, peneliti menyimpulkan bahwa sebagian besar (52%) siswa kelas VII dan VIII SMP StellaMaris Tangerang Selatan memiliki tingkat ketercapaian hasil pendidikan karakter terintegrasi pada kategori cukup. Tingkat Ketercapaian Hasil Pendidikan Karakter Terintegrasi Siswa Kelas VII dan VIII SMP Negeri 6 SurakartaTahun Ajaran 2014/2015 Norma Kriteria Jumlah Skor/Tingkat Subyek Persentase Nilai SkorKategori Penguasaan Kelas Kelas (%) Huruf Kompetensi VII VIII Sangat Baik80%-89% 324 8 5 11 B Baik 65%-79% 263 44 34 68 C Cukup 55%-64% 223 6 16 19 D Buruk SangatDibawah 55% 2 2 E 2) 13 (11%) siswa memiliki tingkat ketercapaian hasil pendidikan karakter yang baik.

25 VII

20 16 VIII 15 8 10 6 5 2

5 Sangat Baik Cukup Buruk Sangat

  Tingkat Ketercapaian Hasil Pendidikan Karakter Terintegrasi Siswa Kelas VII dan VIII SMP Negeri 4 WatesTahun Ajaran 2014/2015 Norma Kriteria Jumlah Skor/Tingkat Subyek Persentase Nilai SkorKategori Penguasaan (%) Huruf Kelas Kelas Kompetensi VII VIII Sangat 10 5 13 B Baik 65%-79% 263 41 39 68 C Cukup 55%-64% 223 15 6 18 D Buruk SangatDibawah 55% 1 1 E 2) 15 (13%) siswa memiliki tingkat ketercapaian hasil pendidikan karakter yang baik. Persentase Ketercapaian Hasil Pendidikan Karakter TerintegrasiSiswa Kelas VII dan VIII SMP Negeri 4 Wates Tahun Ajaran 2014/2015Berdasarkan hasil penelitian di atas, peneliti menyimpulkan bahwa sebagian besar (68%) siswa kelas VII dan VIII SMP Negeri 4 Wates memiliki tingkat ketercapaian hasil pendidikan karakter terintegrasi pada kategori cukup.

50 Sangat

  Persentase Ketercapaian HasilPendidikan Karakter Terintegrasi Siswa Kelas VII dan VIII SMP Santa Maria II MalangTahun Ajaran 2014/2015 Berdasarkan hasil penelitian di atas, peneliti menyimpulkan bahwa sebagian besar (56%) siswa kelas VII dan VIII SMP SantaMaria II Malang memiliki tingkat ketercapaian hasil pendidikan karakter terintegrasi pada kategori cukup. Identifikasi capaian skor item kuesioner hasil pendidikan karakter terintegrasi siswa kelas VII dan VIII pada lima SMP di Jawa tahunajaran 2014/2015 terbagi dalam lima kategori menurut kriteriaPenilaian Acuan Patokan tipe I (Masidjo, 1995: 153).

3. Identifikasi Item-item Nilai Karakter yang Belum Optimal

  22) Item nomor 44Walaupun jam beribadah dari orang yang tidak seagama dengan saya belum dimulai, saya bisa mengobrol dan berbicaradi sekitar tempat ibadah tersebut.23) Item nomor 45 Saya malas kenal dan berteman dengan teman yang tidak se”tipe” (misalnya dalam hal sifat, status sosial, jenis kelamin, agama) dengan saya. 20) Item nomor 44Walaupun jam beribadah dari orang yang tidak seagama dengan saya belum dimulai, saya bisa mengobrol dan berbicaradi sekitar tempat ibadah tersebut.21) Item nomor 45 Saya malas kenal dan berteman dengan teman yang tidak se”tipe” (misalnya dalam hal sifat, status sosial, jenis kelamin, agama) dengan saya.

B. Pembahasan

  Ketercapaian hasil pendidikan karakter terintegrasi pada siswa kelas VII dan VIII yang tergolong cukup (belum optimal) selaras dengan ungkapan Kementerian Pendidikan Nasional (2010) yang menyatakanbahwa pendidikan karakter di sekolah, khususnya di SMP selama ini baru menyentuh tingkatan pengenalan norma atau nilai-nilai, belum padatingkatan internalisasi dan tindakan nyata dalam hidup sehari-hari. Saat siswa mengalami masa transisi dari Sekolah Dasar (SD) menuju Sekolah Menengah Pertama (SMP), siswa menghadapi “fenomena yang teratas ke bawah” (top-dog phenomena), yaitu keadaan-keadaan di mana siswa bergerak dari posisi yang paling atas (di Sekolah Dasar menjadi yang tertua, terbesar, dan paling berkuasa) menuju posisi yang paling rendah (diSekolah Menengah Pertama menjadi yang paling muda, paling kecil, dan paling tidak berkuasa di sekolah).

C. Usulan Penyusunan Silabus Pendidikan Karakter

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN Pada bab ini dipaparkan kesimpulan dan saran terhadap hasil penelitian. A. Kesimpulan Beberapa kesimpulan berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan

  Hal ini ditunjukkan dengan tingginya persentase dan banyaknya jumlah siswa yang memiliki tingkat ketercapaianhasil cukup pada masing-masing SMP. Terindikasi 36 (kelas VII SMP) dan 39 (kelas VIII SMP) butir item kuesioner hasil pendidikan karakter terintegrasi yang belumoptimal (berada pada kategori cukup, buruk, dan sangat buruk).

B. Saran

  Bagi Kepala Sekolah dan Para Guru (Pihak Sekolah)Seluruh pihak sekolah diharapkan ikut ambil bagian dan berperan aktif dalam membangun, mengembangkan, dan meningkatkanpendidikan karakter di sekolah, khususnya bagi para siswa. Guru pembimbing juga diharapkan untuk memberikan layanan bimbingan dan konseling yang inovatif,kreatif, inspiratif, tepat dan sesuai dengan kebutuhan siswa, sehingga dapat membantu siswa dalam mencapai nilai-nilaikarakter dikehidupan sehari-hari.

DAFTAR PUSTAKA

  Masukan-masukan yang kamu berikan secara jujur, obyektif, dan apa adanya akansangat berguna bagi kami untuk membantu merancang model pendidikan karakter yang lebih sesuai dengan keadaan dan harapan adik-adik remaja seusiamu. dan pengem- mengembangkan dan sebuah permainan yang menit inspiratif, cerita pelajaran23) Apakah saya (Ingin tahu) bangan merealisasikan sikap dapat memperlihatkan inspiratif, mencari bahan danberani bertanya sebagai keberanian mereka dalam lembar kerja materi tambahanupaya memper-dalam bertanya, yaitu permainan siswa.pelajaran dari internet?informasi dan “Bingo”.pengetahuan di 2.

3. Siswa mampu

  dan pengem- dan mengembangkan ilmu mind map yang menit pendek pelajaranbelajar bersama teman- bangan yang ia miliki dan minati menggambarkan kecintaannya inspiratif, teman.terhadap ilmu yang ia minati. 199Contoh gambaran rangkaian benang dan bola: Siswa (S) Siswa (S) Siswa (S)Siswa (S) Siswa (S)Siswa (S) Benang kasurbola 200 PERCIKAN INSPIRASI (TOKOH INSPIRASI)”Merry Riana yang Sukses karena Fokus dan Bekerja Keras Beberapa waktu yang lalu saya membaca buku “MIMPI SEJUTA DOLAR” karya Alberthiene Endah yang membahas tentang kehidupan dan semangat seorang Merry Riana.

1. Tiger Woods

  Ia digembleng dengan sangat keras oleh ayahnya yang juga berperansebagai mentor. Kalau dia tidak berlatih giat dari umur 1,5 tahun bisa jadi nama Tiger Woods tidak pernahada dalam dunia golf internasional.

2. Michael Jordan Jordan bahkan dianggap kurang tinggi untuk jadi pemain profesional

  Menyadari dirinya tidak begitu tinggi, Jordan berlatih keras agar punya kecepatan dan skill yang lebih baik dibanding pemain lain. Jika ditanya soal bakat, Jordan hanya menjawab: “Kamu bisa mendapatkan bakat yang tidak tertandingi lewat semangat dan komitmen tinggiuntuk terus berlatih.

AKU PANTANG MENYERAH!

  Mengkritisi hikmah yang dapat diambil dari pengalaman- pengalaman tokoh yang diceritakan dalam bahan-bahanlayanan.l. Percikan dan kisah inspiratifMemberikan arahan dan mempersilahakan siswamembaca percikan dan kisah inspiratif.

THOMAS ALFA EDISON

  Di atas kertas itu tertulis, ‘Karena anakmu terlampau bodoh dan tak mampu memahami pelajaran serta menghambat kemajuan proses pelajaran sekolah, dan demi rasa tanggung jawab kami terhadap murid-murid yang lain, maka kami sangat mengharapkan agar anak ini secara terhormat menarik diri sendiri dari sekolah.’ Setelah membaca nota tersebut, ibunya tak mampu menahan sedih. Ia lalu memutuskan, ‘Kalau guru tidak mengajarnya, aku akan menjadi guru bagi anakku sendiri.’ Tahukah anda apa yang terjadi pada diri anak tersebut setelah beberapa tahun kemudian?

NANCY MATTHEWS EDISON

  saya sendiri yang akan mendidik dan mengajar dia."Tommy bertumbuh menjadi Thomas Alva Edison, salah satu penemu terbesar di dunia. Nancy yang memutuskan untuk menjadi guru pribadi bagipendidikan Edison dirumah, telah menjadikan puteranya menjadi orang yang percaya bahwa dirinya berarti.

JOANNE KATHLEEN ROWLING

  keadaan yang miskin, yang bahkan membuat ia masuk dalam kategori pihak yang berhak memperolehsantunan orang miskin dari pemerintah Inggris, itu masih ia alami ketika Rowling menulis seriHarry Potter yang pertama. ditambah dengan perceraian yang ia alami, kondisi yang serba sulit itu justru semakin memacu dirinya untuk segera menulis dan menuntaskan kisah penyihir cilikbernama Harry Potter yang idenya ia dapat saat sedang berada dalam sebuah kereta api.

Dokumen baru

Download (251 Halaman)
Gratis

Dokumen yang terkait

Relevansi keteladanan beragama orang tua terhadappeningkatan hasil belajar pendidikan agama islam di SMP Pasarminggu siswa kelas IX
0
5
76
Pengaruh pembelajaran Kimia terintegrasi nilai terhadap hasil belajar siswa (sebuah studi pada siswa SMK Grafika Yayasan Lektur Jakarta)
1
11
104
Implementasi pendidikan karakter dalam pendidikan islam
0
6
113
Penagruh pemebelajaran partisipatif terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran pendidikan Agama Islam di SMP N 135 Jkarta Timur
0
3
64
Pengaruh media animasi terhadap hasil belajar siswa pada konsep asam-basa terintegrasi nilai
0
6
177
Efektifitas pembelajaran kooperatif metode numbered heads together (NHT) terhadap hasil belajar pendidikan Agama Islam di SMP Islam al-Fajar Kedaung Pamulang
0
10
20
Pengembangan karakter melalui pendidikan keluarga (studi komparatif teori Al-Ghazali dan teori Komadt)
0
16
246
Dampak konsensus Washington dan ratifikasi gats terhadap kebijakan pendidikan tinggi di Indonesia studi kasus : undang- undang pendidikan tinggi no. 12 tahun 2012
0
55
212
Implementasi pendidikan karakter dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial di SMP PGRI 1 Ciputat
0
7
148
Implementasi pendidikan karakter bangsa bagi anak terlantar di panti asuhan Nurul Qur'an Bekasi
0
6
82
konsep pendidikan karakter bangsa menurut tafsir almisbah karya M.Quraish Shihab
2
17
176
Efektivitas manajemen pendidikan karakter dalam upaya meningkatkan prestasi akademik siswa di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 2 Yogyakarta tahun ajaran 2014/2015
0
0
9
Implementasi manajemen pembelajaran dalam upaya meningkatkan mutu hasil pendidikan di SMP Terbuka 4 Pandak Bantul
0
0
7
Pelaksanaan pendidikan karakter melalui pendidikan agama Islam dan implementasinya pada perilaku siswa kelas VIII R2 di SMPN 3 Mentaya Hilir Utara - Digital Library IAIN Palangka Raya
0
0
9
Pelaksanaan pendidikan karakter melalui pendidikan agama Islam dan implementasinya pada perilaku siswa kelas VIII R2 di SMPN 3 Mentaya Hilir Utara - Digital Library IAIN Palangka Raya
0
0
37
Show more