Upaya meningkatkan keterlibatan kaum muda stasi Gembala yang Baik Paroki Santo Yusuf Batang dalam hidup menggereja melalui katekese kaum muda.

Gratis

6
40
156
2 years ago
Preview
Full text

  

ABSTRAK

  Judul skripsi ini adalah

  “UPAYA MENINGKAT KETERLIBATAN

KAUM MUDA STASI GEMBALA YANG BAIK, PAROKI SANTO YUSUF

BATANG DALAM HIDUP MENGGEREJA MELALUI KATEKESE

KAUM MUDA”. Penulisan skripsi ini dilatarbelakangi oleh keprihatinan penulis

  akan keadaan kaum muda di stasi Gembala Yang Baik, di mana kaum muda di stasi tersebut belum semuanya terlibat dalam hidup menggereja. Kesibukan pribadi menghambat mereka untuk terlibat dalam hidup menggereja dan belum adanya kegiatan di gereja yang dapat memotivasi mereka untuk terlibat.

  Melihat persolan tersebut, penulis mencoba melakukan penelitian untuk memperoleh data-data yang diharapkan. Penulis melakukan observasi dan menyebarkan kuesioner kepada 30 responden yaitu kaum muda. Dari penelitian yang telah dilakukan tersebut, penulis membahasnya dan menyimpulkannya. Dari penelitian tersebut diketahui bahwa kaum muda di stasi Gembala Yang Baik mempunyai keinginan untuk terlibat aktif dalam hidup menggereja, tetapi pada kenyataannya belum ada kegiatan yang dapat memotivasi mereka untuk aktif mengikuti kegiatan-kegiatan yang diadakan di gereja. Kaum muda sebenarnya juga menginginkan adanya suatu kegiatan yang dapat membimbing dan membantu kaum muda untuk dapat semakin menghayati imannya dalam kehidupan sehari-hari. Kegitan tersebut juga diharapkan sesuai dengan semangat dan jiwa muda saat ini, yang menarik dan dapat menginspirasi mereka untuk dapat menghayati iman mereka dalam kehidupan sehari-hari.

  Untuk menindaklanjuti hasil penelitian di stasi Gembala Yang Baik tersebut, penulis mengusulkan program katekese kaum muda sebagai salah satu upaya meningkatkan keterlibatan kaum muda dalam hidup menggereja. Melalui program yang ditawarkan ini, kaum muda diharapkan dapat semakin menyadari bahwa keterlibatan dalam hidup menggereja itu penting sebagai bentuk penghayatan iman mereka akan Yesus Kristus.

  

ABSTRACK

  The title of my thesis is "THE EFFORTS TO INCREASE THE YOUTH’S INVOLVEMENT FOR THE COMMUNITY OF GOOD SHEPHERD

  IN THE PARISH OF SAINT JOSEPH. REVITALIZING OF THE CHURCH THROUGHOUT THE YOUTH’S CATECHESIS". The background of this thesis is motivated by the concerns of the authors seeing the situation of young people in the community of Good Shepherd, where they are not involve in the life of the church. The personal business and the personal reasons hold up their involvement in the church activities and also there’s no good program which can motivate them to get involved.

  In response to the aforementioned problem, the author attempted to conduct a servey in order to collect the necessary informations. She did an observation and distributed a questions. She did an observation and distributed a questionnaire to 30 respondents consisting mainly of young people. Then the author discussed the results of the survey and brew conclusions. It turned out from the survey that the young people at the Gembala Yang Baik parish station whised to be actively involved in the life of christian community; yet so far there had been no activities that would motivate them to be so. They in fact wanted activities that would guide and assist them to live up their faith in daily life. It is hoped that those activities be well adapted to the mentality of the youth nowadays, and become an inspiration to put their faith into daily practices.

  To follow up the research of the community of the Good Shepherd, I prefer to propose a catechesis’s program for the youth as an effort to increase their involvement in the life of the church. Through the programs offered, hopefully their involvement and their awareness to participate the church’s life become increase and they can arrive to think that it is very important as a realization of the faith in Jesus Christ.

  

UPAYA MENINGKATKAN KETERLIBATAN

KAUM MUDA STASI GEMBALA YANG BAIK

PAROKI SANTO YUSUF BATANG

DALAM HIDUP MENGGEREJA MELALUI KATEKESE KAUM MUDA

SKRIPSI

  Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

  Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik Disusun oleh :

  Aprilia Valentina Heppi Harsari NIM : 081124024

  

PROGRAM STUDI ILMU PENDIDIKAN

KEKHUSUSAN PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK

JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

  

PERSEMBAHAN

  Skripsi ini kupersembahkan kepada kedua orang tuaku Yang selalu membimbing dan mempercayaiku selama ini

  Yang tak pernah berhenti mencintaiku Yang selalu mendukung dalam setiap keputusan yang aku ambil

  Mereka menjadi alasanku tetap bertahan dan berjuang Untuk menggapai cita-citaku

  Skripsi ini kupersembahkan untuk kedua orang tuaku yang sangat aku cintai

  MOTTO Dan aku sungguh percaya bahwa....

  “Ia membuat segala sesuatu indah pada waktu-Nya” (Pengkh 3:11)

  Tiada sesuatu apapun yang diinginkan Tuhan Selain kebahagiaan kita

  Dapatkah kita menemukan seseorang yang mencintai kita Daripada Tuhan?

  (St. Alfonsus Maria de Liguori)

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

  Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian dari karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka sebagaimana layaknya karya ilmiah.

  

PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI

KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

  Yang bertanda tangan di bawah ini, mahasiswa Universitas Sanata Dharma: Nama : Aprilia Valentina Heppi Harsari NIM : 081124024

  Demi pengembangan ilmu pengetahuan, penulis memberikan wewenang bagi Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah penulis yang berjudul

  

UPAYA MENINGKATKAN KETERLIBATAN KAUM MUDA STASI

GEMBALA YANG BAIK, PAROKI SANTO YUSUF BATANG DALAM

HIDUP MENGGEREJA MELALUI KATEKESE KAUM MUDA beserta

  perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian penulis memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin maupun memberikan royalti kepada penulis, selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis. Demikian pernyataan ini penulis buat dengan sebenarnya.

  

ABSTRAK

  Judul skripsi ini adalah

  “UPAYA MENINGKAT KETERLIBATAN

KAUM MUDA STASI GEMBALA YANG BAIK, PAROKI SANTO YUSUF

BATANG DALAM HIDUP MENGGEREJA MELALUI KATEKESE

KAUM MUDA”. Penulisan skripsi ini dilatarbelakangi oleh keprihatinan penulis

  akan keadaan kaum muda di stasi Gembala Yang Baik, di mana kaum muda di stasi tersebut belum semuanya terlibat dalam hidup menggereja. Kesibukan pribadi menghambat mereka untuk terlibat dalam hidup menggereja dan belum adanya kegiatan di gereja yang dapat memotivasi mereka untuk terlibat.

  Melihat persolan tersebut, penulis mencoba melakukan penelitian untuk memperoleh data-data yang diharapkan. Penulis melakukan observasi dan menyebarkan kuesioner kepada 30 responden yaitu kaum muda. Dari penelitian yang telah dilakukan tersebut, penulis membahasnya dan menyimpulkannya. Dari penelitian tersebut diketahui bahwa kaum muda di stasi Gembala Yang Baik mempunyai keinginan untuk terlibat aktif dalam hidup menggereja, tetapi pada kenyataannya belum ada kegiatan yang dapat memotivasi mereka untuk aktif mengikuti kegiatan-kegiatan yang diadakan di gereja. Kaum muda sebenarnya juga menginginkan adanya suatu kegiatan yang dapat membimbing dan membantu kaum muda untuk dapat semakin menghayati imannya dalam kehidupan sehari-hari. Kegitan tersebut juga diharapkan sesuai dengan semangat dan jiwa muda saat ini, yang menarik dan dapat menginspirasi mereka untuk dapat menghayati iman mereka dalam kehidupan sehari-hari.

  Untuk menindaklanjuti hasil penelitian di stasi Gembala Yang Baik tersebut, penulis mengusulkan program katekese kaum muda sebagai salah satu upaya meningkatkan keterlibatan kaum muda dalam hidup menggereja. Melalui program yang ditawarkan ini, kaum muda diharapkan dapat semakin menyadari bahwa keterlibatan dalam hidup menggereja itu penting sebagai bentuk penghayatan iman mereka akan Yesus Kristus.

  

ABSTRACK

  The title of my thesis is "THE EFFORTS TO INCREASE THE YOUTH’S INVOLVEMENT FOR THE COMMUNITY OF GOOD SHEPHERD

  IN THE PARISH OF SAINT JOSEPH. REVITALIZING OF THE CHURCH THROUGHOUT THE YOUTH’S CATECHESIS". The background of this thesis is motivated by the concerns of the authors seeing the situation of young people in the community of Good Shepherd, where they are not involve in the life of the church. The personal business and the personal reasons hold up their involvement in the church activities and also there’s no good program which can motivate them to get involved.

  In response to the aforementioned problem, the author attempted to conduct a servey in order to collect the necessary informations. She did an observation and distributed a questions. She did an observation and distributed a questionnaire to 30 respondents consisting mainly of young people. Then the author discussed the results of the survey and brew conclusions. It turned out from the survey that the young people at the Gembala Yang Baik parish station whised to be actively involved in the life of christian community; yet so far there had been no activities that would motivate them to be so. They in fact wanted activities that would guide and assist them to live up their faith in daily life. It is hoped that those activities be well adapted to the mentality of the youth nowadays, and become an inspiration to put their faith into daily practices.

  To follow up the research of the community of the Good Shepherd, I prefer to propose a catechesis’s program for the youth as an effort to increase their involvement in the life of the church. Through the programs offered, hopefully their involvement and their awareness to participate the church’s life become increase and they can arrive to think that it is very important as a realization of the faith in Jesus Christ.

KATA PENGANTAR

  Dengan kerendahan hati, penulis mengucapkan puji syukur dan terima kasih atas penyertaanNya melalui cinta, kasih dan kesetiaanNya membimbing dan menyertai penulis, sehingga penulisan dan penyusunan skripsi ini dapat berjalan dengan baik dan lancar. Meskipun dalam proses penyelesaian skripsi ini, penulis banyak mendapatkan tantangan dan hambatan, namun berkat kekuatan yang diberikanNya, penulis dapat melaluinya dengan sikap yang sabar dan tenang.

  Skripsi ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Pendidikan pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma. Skripsi ini berjudul:

UPAYA MENINGKATKAN

  

KETERLIBATAN KAUM MUDA STASI GEMBALA YANG BAIK,

PAROKI SANTO YUSUF BATANG DALAM HIDUP MENGGEREJA

MELALUI KATEKESE KAUM MUDA.

  Selama proses penulisan dan penyusunan skripsi ini, penulis merasakan rahmat kasih dan kebaikan Allah melalui dukungan dan perhatian dari beberapa pihak, baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu, penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:

  1. Romo Drs. FX. Heryatno W.W, S.J, M.Ed, selaku kaprodi dan dosen pembimbing utama, yang dengan kesediaan, kerelaan, dan kesabarannya membimbing penulis dan mengarahkan penulis dalam menyusun tugas akhir dan proses pembelajaran selama ini di Program Studi Ilmu Pendidikan

  Kekhususan Pendidikan Agama Katolik-Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan-Universitas Sanata Dharma.

  2. Bapak Yoseph Kristianto, SFK., M.Pd., selaku dosen pembimbing akademik penulis, yang telah membantu, mengarahkan dan membimbing selama studi di Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik.

  3. Bapak Drs. L. Bambang Hendarto Y, M. Hum., selaku dosen penguji ketiga yang telah merelakan waktu, pikiran dan tenaga dalam membimbing dan mengoreksi tulisan ini.

  4. Segenap Romo, Bapak dan ibu dosen serta karyawan-karyawan IPPAK , yang telah memberikan dukungan, perhatiaan, pengetahuan, ketrampilan, pengalaman dan penyediaan fasilitas pendukung demi memperlancar studi penulis.

  5. Kaum muda di Stasi Gembala Yang baik yang bersedia merelakan waktu dan keterbukaan hati untuk mengisi kuesioner yang penulis berikan demi memperlancar penulisan skripsi ini.

  6. Bapak Idris, selaku Pendamping kaum muda di Stasi Gembala Yang Baik yang dengan kerelaannya memberikan informasi mengenai hal-hal yang penulis perlukan dalam proses penulisan skripsi ini.

  7. Orang tua, adik, kakak dan saudara yang tidak pernah berhenti berdoa dan memberi semangat dalam proses studi dan penyusunan tugas akhir di Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik.

  8. Teman-teman mahasiswa Prodi IPPAK angkatan 2008, yang selama ini bersama-sama berjuang menjalani studi di Prodi IPPAK Universitas Sanata Dharma.

  9. Serta segenap pihak lainnya yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, di mana mereka telah berperan dalam proses studi, khususnya dalam penyelesaian skripsi ini.

  Penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini tidak akan berjalan dengan lancar dan baik tanpa adanya dukungan, doa, bimbingan dan motivasi yang selama ini telah diberikan. Untuk itu penulis menghaturkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Akhirnya penulis berharap semoga skripsi ini berguna dan membantu para katekis dalam melaksanakan tugasnya sebagai pewarta untuk mewartakan karya keselamatan Allah.

  DAFTAR ISI

  HALAMAN JUDUL. ........................................................................................... i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING. ................................................ ii HALAMAN PENGESAHAN. ........................................................................... iii HALAMAN PERSEMBAHAN. ....................................................................... iv MOTTO. ............................................................................................................. v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA. ........................................................... vi PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI. ............................................ vii ABSTRAK. ...................................................................................................... viii

  

ABSTRACK. ....................................................................................................... ix

  KATA PENGANTAR. ....................................................................................... x DAFTAR ISI. ................................................................................................... xiii DAFTAR SINGKATAN. ............................................................................... xvii

  BAB I. PENDAHULUAN. ................................................................................. 1 A. Latar Belakang. ............................................................................................ 1 B. Rumusan Masalah. ....................................................................................... 9 C. Tujuan Penulisan. ....................................................................................... 10 D. Metode Penulisan. ...................................................................................... 10 E. Sistematika Penulisan. ............................................................................... 11 BAB II. KETERLIBATAN KAUM MUDA DALAM HIDUP MENGGEREJA. ................................................................................. 13 A. Keterlibatan Kaum Muda. .......................................................................... 15 1. Pengertian Kaum Muda. ...................................................................... 15 2. Pentingnya Keterlibatan Kaum Muda. ................................................. 20 3. Faktor Yang Mempengaruhi Keterlibatan Kaum Muda. ..................... 23 a.

  B.

  Kaum Muda Dalam Hidup Menggereja. .................................................... 32 1.

  Pengertian Hidup Menggereja. ............................................................ 32 2. Perananan Kaum Muda Dalam Hidup Menggereja. ............................ 36 3. Bentuk-Bentuk Keterlibatan Hidup Menggereja. ................................ 37 a.

  Kegiatan Hidup Menggereja Internal. ............................................ 37 b.

  Kegiatan Hidup Menggereja Eksternal. ......................................... 41

  BAB III. KETERLIBATAN KAUM MUDA DI STASI GEMBALA YANG BAIK, PAROKI SANTO YUSUF BATANG. ................................. 44 A. Paroki Santo Yusuf Batang. ....................................................................... 45 1. Sejarah Paroki Santo Yusuf Batang. .................................................... 45 2. Gambaran Umum Stasi Gembala Yang Baik. ..................................... 48 3. Gambaran Umum Kaum Muda Stasi Gembala Yang Baik. ................ 50 B. Penelitian Mengenai Keterlibatan Kaum Muda Dalam Hidup Menggereja. ............................................................................................... 54 1. Desain Penelitian. ................................................................................ 54 a. Latar Belakang Penelitian. ............................................................. 54 b. Tujuan Penelitian. .......................................................................... 56 c. Instrument Pengumpulan Data. ...................................................... 56 d. Responden Penelitian. .................................................................... 58 e. Waktu Pelaksanaan dan Pelaksanaan Penelitian. ........................... 59 f. Variabel Penelitian. ........................................................................ 59 2. Laporan Hasil Penelitian. ..................................................................... 61 a. Identitas Responden. ...................................................................... 62 b. Laporan Hasil Penelitian Kuesioner Tertutup. ............................... 63 c. Laporan Hasil Penelitian Kuesioner Terbuka. ............................... 74 3. Pembahasan Hasil Penelitian. .............................................................. 76 a. Pembahasan Hasil Penelitian Kuesioner Tertutup. ........................ 76 b. Pembahasan Hasil Penelitian Kuesioner Terbuka. ........................ 93 4. Kesimpulan Pembahasan. .................................................................... 98

  BAB IV. KATEKESE KAUM MUDA UNTUK MENINGKATKAN KETERLIBATAN KAUM MUDA DALAM HIDUP MENGGEREJA DI STASI GEMBALA YANG BAIK PAROKI SANTO YUSUF BATANG. ........................................... 100 A. Katekese Kaum Muda. ............................................................................. 101 1. Pengertian Katekese Kaum Muda. ..................................................... 102 2. Tujuan Katekese. ................................................................................ 103 3. Kekhasan Katekese Kaum Muda. ...................................................... 103 4. Figur Katekis Untuk Kaum Muda. ..................................................... 104 B. Usulan Program Katekese Kaum Muda Dalam Rangka Peningkatan Keterlibatan Kaum Muda Dalam Hidup Menggereja. ............................. 106 1. Latar Belakang Program. ................................................................... 107 2. Alasan Diadakannya Program Katekese Kaum Muda. ...................... 108 3. Tujuan Program. ................................................................................ 109 C. Gambaran Program. ................................................................................. 109 D. Uraian Tema dan Tujuan.......................................................................... 110 E. Matriks Penjabaran Program Katekese Kaum Muda. .............................. 112 F. Contoh Persiapan Katekese. ..................................................................... 115 BAB V. PENUTUP. ........................................................................................ 122 A. Kesimpulan. ............................................................................................. 122 B. Saran. ....................................................................................................... 124 1. Bagi Kaum Muda di Stasi Gembala Yang Baik. ............................... 124 2. Bagi Katekis di Stasi Gembala Yang Baik. ....................................... 125 DAFTAR PUSTAKA. .................................................................................... 126 LAMPIRAN. ................................................................................................... 130 Lampiran 1 : Surat Pernyataan Penelitian. ...................................................... (1) Lampiran 2 : Kuesioner Penelitian Untuk Kaum Muda................................... (2)

  Lampiran 3 : Lirik Lagu .................................................................................. (6) Lampiran 4 : Video Klip Lagu. ........................................................................ (7)

DAFTAR SINGKATAN A.

   Singkatan Kitab Suci

  Seluruh singkatan Kitab Suci dalam skripsi ini mengikuti Kitab Suci Perjanjian Baru : dengan Pengantar dan Catatan Singkat. (Dipersembahkan kepada Umat Katolik Indonesia oleh Ditjen Bimas Katolik Departemen Agama Republik Indonesia dalam rangka PELITA IV). Ende: Arnoldus, 1985/1986, hlm 8.

  B. Singkatan Dokumen Resmi Gereja

  CT : Catechesi Tradendae (Penyelenggaraan Katekese), Anjuran Apostolik Sri Paus Yohanes Paulus II kepada para Uskup, Klerus dan segenap umat beriman tentang katekese masa kini, 16 Oktober 1979.

  KGK :Katekismus Gereja Katolik, (P. Herman Embiru, SVD, Penerjemah). Ende: Percetakan Arnoldus.

  LG : Lumen Gentium (Terang Bangsa-bangsa), Konsitusi Dogmatik Konsili Vatikan II tentang Gereja, 21 November 1964.

  C. Singkatan Lain

  Art :Artikel Hal :Halaman KAS :Keuskupan Agung Semarang Kej : Kejadian Komkat : Komisi Kateketik KWI : Konferensi Wali Gereja Indonesia LCD :Liquid Crystal Display Mrk : Markus

  MSC : Missionarii Sacratissimi Cordis Jesu OMK : Orang Muda Katolik PIA : Pendampingan Iman Anak PERNAS :Pertemuan Nasional Pr : Projo Rm : Romo RT : Rukun Tetangga RW : Rukun Warga SJ : Serikat Jesuit SMP : Sekolah Menengah Pertama SMA : Sekolah Menengah Atas St : Santo

  VCD : Video Compact Disc WKRI : Wanita Katolik Republik Indonesia

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Kaum muda terdiri dari pribadi-pribadi yang mulai berkembang. Mereka

  memiliki ciri khas dan potensi-potensi yang ada dalam dirinya. Potensi yang mereka miliki merupakan suatu cerminan dari perkembangan pribadi mereka dalam pencarian identitas dan jati dirinya. Dalam proses pencarian jati dirinya itu kaum muda cenderung menginginkan sesuatu yang cepat dan praktis dalam memperoleh sesuatu yang mereka inginkan. Mereka lebih senang mengikuti kegiatan yang menyenangkan, meriah dan kreatif, misalnya seperti; kegiatan

  

outbound , hiking, rekreasi bersama, main game, internet, dll. Kegiatan-kegitan

  ini lebih menarik minat kaum muda untuk diikuti karena kegiatan tersebut simple, menyenangkan dan tidak membosankan.

  Media yang berkembang saat ini menyuguhkan berbagai hal yang menarik dan sesuai dengan jiwa muda mereka yang kreatif dan inovatif. Budaya instan dan budaya pop yang saat ini berkembang banyak mempengaruhi mereka. Kebanyakan kaum muda lebih menyukai sesuatu yang berhubungan dengan musik, film, lagu dan sesuatu yang berhubungan dengan hiburan atau

  

entertaiment. Mereka lebih tertarik untuk mendapatkan informasi melalui

  internet. Dengan internet mereka dapat menemukan segala sesuatu yang mereka butuhkan dengan mudah dan cepat. Media hampir mendominasi setiap aktifitas senggang mereka di antara pekerjaan rutin setiap harinya. Radio, televisi, musik, film, komputer dan internet dipandang mampu memberi mereka solusi dari setiap permasalahan dan keingintahuan mereka akan sesuatu hal. Kaum muda lebih asyik memperluas pergaulannya dengan jejaring sosial seperti; facebook, dan media jejaring sosial lainnnya. Mereka dengan mudah

  twiter, blackberry

  mendapatkan teman dari manapun. Internet mempermudah mereka mendapatkan segala sesuatu yang mereka butuhkan secara instan dan tidak memerlukan banyak waktu.

  Pada kenyataannya kaum muda adalah harapan bagi Gereja. Peran kaum muda dalam Gereja mampu menumbuhkan semangat baru dan memberikan pencerahan. Kaum muda memiliki daya pikat bagi umat yang lainnya. Mereka dapat membuat suatu kegiatan yang dinamis, inspiratif dan kreatif. Ekaristi

  Kaum Muda yang diadakan di gereja adalah salah satu contoh kegiatan yang dilaksanakan dan dikoordinir oleh kaum muda. Perayaan Ekaristi dikemas secara menarik dengan menggunakan tari-tarian, fragmen, dan pemutaran video atau

  

slide gambar maupun lagu. Ekaristi tersebut mampu menarik banyak umat untuk

  hadir karena umat merasakan adanya sentuhan yang berbeda. Ekaristi menjadi berwarna karena menampilkan sesuatu yang baru dan inspiratif.

  Kaum muda perlu disadarkan agar mereka memiliki keinginan untuk mengembangkan imannya dengan terlibat dalam hidup menggereja. Usaha Gereja untuk menggerakkan dan mengarahkan kaum muda untuk mencintai imannya dan mau terlibat dalam kegiatan di gereja adalah dengan membentuk suatu kelompok atau organisasi bagi kaum muda yang disebut OMK atau Orang Muda Katolik. Organisasi ini membina dan membentuk kaum muda untuk terlibat dalam kegiatan di gereja. Gereja selalu mengusahakan agar kegiatan- kegiatan OMK mengarah pada hal yang positif dan meningkatkan kepedulian mereka terhadap Gereja. Gereja berperan untuk menghantar kaum muda dalam menemukan identitas dan kekatolikan mereka yang mulai menghilang. Gereja tidak cukup hanya memberi materi dan metode dalam mengarahkan kaum muda, tetapi Gereja juga membutuhkan kerjasama dan keterbukaan kaum muda untuk menerima karya Roh Kudus dalam Gereja-Nya. Roh Kudus merupakan penggerak utama dalam setiap karya perutusan Gereja. Usaha untuk mewujudkan pencarian identitas kaum muda itu sendiri tidak akan tercapai tanpa adanya keterbukaan dari kaum muda.

  Pendampingan iman bagi kaum muda juga perlu dilakukan agar kaum muda terbuka kesadarannya untuk terlibat dalam kegiatan menggereja.

  Pendampingan ini sebaiknya menjawab persoalan-persoalan yang dihadapi oleh kaum muda dan mengarahkannya kepada situasi yang menjamin kehidupan kaum muda menjadi lebih baik di tengah perkembangan zaman saat ini. Pendampingan diharapkan dapat membantu kaum muda untuk menjadi orang- orang yang mampu berperan bagi kemajuan Gereja. Peran serta kaum muda itu dapat diwujudkan dengan keterlibatan dalam hidup menggereja sebagai salah satu aktualisasi diri dari perwujudan iman mereka. Kaum muda dapat mengungkapkan imannya dalam kebersamaan serta keterlibatan dalam berbagai kegiatan Gereja.

  Pertemuan Nasional Kaum Muda 2005 merumuskan tujuannya yaitu : 1.

  Merefleksikan panggilan Allah kepada orang muda Katolik untuk merasul dalam hidup bermasyarakat.

2. Merancang gerakan-gerakan orang muda Katolik bersama seluruh umat dalam lingkup nasional dan keuskupan masing-masing.

  Tujuan tersebut bermaksud agar Gereja mampu mengajak umatnya khususnya kaum muda untuk merefleksikan panggilaanNya. Gereja mengambil langkah dengan mengadakan kegiatan-kegiatan untuk mengajak kaum muda serta umat yang lain untuk saling bekerjasama. Kegiatan tersebut mempunyai maksud untuk menggerakkan kaum muda yang aktif terlibat di dalam masyarakat maupun hidup menggereja. Kegiatan tersebut dapat berupa kegiatan sosial, kegiatan di dalam gereja dan kegiatan-kegiatan di dalam masyarakat. Dengan demikian akan timbul suatu kesadaran dari kaum muda akan perannya yang penting dalam hidup menggereja sebagai umat Allah. Kaum muda menjadi penggerak pembaharuan dalam masyarakat maupun Gereja. Semangat dan pola pikir mereka yang kreatif sungguh memberikan nuansa yang berbeda dalam setiap kegiatan yang dilaksanakan, entah itu dalam kegiatan di masyarakat maupun lingkungan Gereja. Untuk itu peranserta dan keterlibatan mereka sangat penting bagi Gereja.

  Tetapi pada kenyataannya dalam kehidupan menggereja, kaum muda kurang banyak terlibat aktif. Bila mereka ikut kadang hanya sekedar formalitas atau karena dipaksa oleh orang tua dan bukan dari inisiatifnya sendiri. Kaum muda lebih disibukkan oleh kegiatan mereka seperti misalnya; kegitan sekolah maupun kegiatan dalam organisasi lainnya yang diikuti. Sulitnya membagi waktu juga menjadi alasan mereka kurang terlibat dalam kehidupan menggereja. Kadang kegiatan gereja bertabrakan dengan kegiatan-kegiatan di luar yang mereka ikuti sehingga mereka terpaksa memilih kegiatan yang dirasa lebih menarik.

  Keterlibatan dalam kehidupan menggereja itu tidak hanya semata-mata kegiatan doa di lingkungan maupun sesuatu yang berhubungan dengan Gereja.

  Kegiatan sosial seperti bantuan saat bencana alam, dan kegiatan-kegiatan sosial di luar dari gereja yang dilakukan oleh banyak kaum muda Katolik juga dapat disebut kegiatan menggereja. Mereka beranggapan bahwa ikut dalam kegiatan sosial di luar gereja juga merupakan salah satu bagian dari perwujudan iman dan bentuk keterlibatan dalam hidup menggereja. Tetapi tidak boleh dilupakan pula bahwa penghayatan iman mereka akan Allah juga perlu dikembangkan. Kaum muda sebenarnya ingin dekat pula dengan Yesus. Mereka mencoba mendekatkan dirinya dengan Yesus dengan rajin pergi ke gereja sebagai bentuk ungkapan imannya terhadap Yesus Kristus, akan tetapi nilai-nilai religius dari iman mereka tidak mereka hayati sehingga mereka kurang dapat mengembangkan imannya. Kaum muda diharapkan semakin menghayati imannya dan perannya yang penting dalam perkembangan Gereja sehingga penghayatan iman mereka dapat diwujudkan dalam kehidupan konkret dengan ikut terlibat dalam kehidupan menggereja.

  Melihat dari permasalahan yang dialami oleh kaum muda di Stasi Gembala Yang Baik, penulis melihat ada beberapa permasalahan yang mereka hadapi. Permasalahan itu seperti misalnya mereka sulit untuk terlibat karena disibukkan oleh kegiatannya masing-masing. Mereka mengikuti kegiatan- kegiatan di Gereja hanya saat hari-hari besar saja dan mereka juga tidak terlalu aktif terlibat. Di stasi tersebut kaum mudanya didominasi oleh para pelajar dan karyawan. Kaum muda yang telah menjadi mahasiswa hanya saat libur saja ada di rumah, sehingga kegiatan-kegiatan di gereja kurang dapat diikuti. Para pelajar juga disibukkan oleh kegiatan di sekolahnya dan kegiatan di sekolah itu kadang bertabrakan dengan kegiatan menggereja. Mereka yang sudah menjadi mahasiswa atau sudah bekerja berpindah tempat di luar kota. Mereka pulang satu bulan sekali atau pada waktu liburan. Mereka yang telah bekerja dan masih menetap di stasi tersebut juga kadang sulit untuk sepenuhnya dapat mengkuti kegiatan dalam hidup menggereja, faktor waktu dan kesibukan menjadi alasannya.

  Tenaga pendamping untuk kaum muda juga menjadi permasalahan di Stasi Gembala Yang Baik. Tenaga pendamping untuk kaum muda yang ada di stasi kurang. Hanya ada satu pendamping yang mendampingi kaum muda di stasi tersebut. Pendamping tersebut adalah seorang guru agama katolik dan beliau adalah guru agama yang mengajar di beberapa sekolah Negeri di Batang.

  Kesibukan pendamping juga mempengaruhi kurangnya keterlibatan kaum muda dalam kehidupan mengereja. Pendamping kurang intensif mendampingi kaum muda dalam kegiatan menggereja di stasi karena kesibukan dan keterbatasan waktu. Kaum muda di stasi tersebut memerlukan seorang pendamping yang dapat memotivasi mereka dan siap mendampingi secara intensif. Peran pendamping sangat dibutuhkan bagi perkembangan iman kaum muda yang dapat memotivasi mereka untuk terlibat aktif dalam hidup menggereja.

  Dari keprihatinan dan permasalahan yang penulis rasakan, memotivasi penulis untuk melakukan penelitian mengenai sejauh mana terwujudnya keterlibatan hidup menggereja di stasi Gembala Yang Baik, Paroki Santo Yusuf Batang. Salah satu usaha untuk meningkatkan kesadaran kaum muda di Stasi Gembala Yang Baik Limpung akan pentingnya terlibat dalam kehidupan menggereja adalah dengan katekese. Katekese yang tepat untuk diberikan kepada kaum muda adalah katekese yang mempunyai sasaran utama yaitu kaum muda, yang memiliki pola pikir, kreatifitas dan juga sikap kritis terhadap sesuatu hal, yang dianggap tidak sesuai dengan mereka. Katekese ini juga harus bertolak pada situasi dan permasalahan yang dihadapi oleh kaum muda, sehingga mereka dapat tersentuh dan mampu untuk menghayatinya. Katekese ini juga diharapkan mampu memberikan motivasi bagi kaum muda akan kesadaran dan penghayatan imannnya yang perlu diwujudkan melalui keterlibatan dalam kehidupan menggereja. Katekese yang dipakai harus menarik dan mengikuti perkembangan zaman dan situasi saat ini. Katekese yang dipakai haruslah menggunakan metode-metode yang lebih menarik, misalnya menggunakan film, cerita yang dikemas lebih menarik dengan menggunakan alat-alat yang lebih modern seperti LCD atau VCD. Agar prosesnya tidak terlalu kaku, kaum muda diajak untuk mensharingkan pengalamannya, sehingga kaum muda merasa diakui dan diterima. Katekese dengan metode seperti ini membuat mereka tertarik dan mampu menjawab kebutuhan mereka.

  Seperti yang telah diungkapkan Yohanes Paulus II dalam Catechesi

  Tradendae sebagai berikut:

  Katekese menjadi penting sekali, karena sudah tibalah saatnya Injil dapat disajikan, dimengerti dan diterima sebagai sesuatu yang mampu memberi makna kepada kehidupam, dengan kata lain: mampu mengilhami sikap- sikap, yang tanpa Injil tidak dapat dijelaskan, misalnya pengorbanan diri, sikap lepas-bebas, sikap menahan diri, keadilan, komitmen, perdamaian, kepekaan terhadap Yang Mutlak dan tidak kelihatan. Itu semua termasuk ciri-ciri yang membedakan orang muda dengan teman-temannya sebagai murid Yesus Kristus (CT, art 39).

  Katekese yang sesuai dengan kebutuhan kaum muda di stasi Gembala Yang Baik adalah katekese kaum muda. Melalui katekese kaum muda ini, mereka diajak untuk mendekatkan diri dan mengenal Allah. Melalui katekese, mereka dapat menyadari sekaligus merefleksikan pengalaman hidupnya sehingga mereka dapat menentukan aksi konkret atau tindakan konkret sesuai dengan nilai-nilai kerajaan Allah. Melalui proses katekese semacam ini kaum muda didorong untuk berani terbuka mengungkapkan permasalahan dan pengalaman imannya sehari-hari. Peneguhan oleh katekis dalam menanggapi permasalahan yang mereka hadapi diharapkan mampu membuat mereka merasa diakui dan diteguhkan, seperti yang telah dijelaskan oleh Sri Paus Yohannes Paulus II dalam Catecese Tradende, sebagai berikut:

  Ciri-ciri Gereja muda masa kini yang begitu kompleks; dengan menunjukkan bahwa kaum muda menggunakan bahasa tertentu, dan bahwa amanat Yesus harus diterjemahkan ke dalam bahasa itu dengan sabar dan bijaksana dan tanpa mengkhianatinya; dengan memperlihatkan bahwa kendati apa yang nampak secara lahiriah bahwa orang-orang muda, meskipun sering secara kabur, bukan hanya siap sedia dan terbuka, melainkan dengan sungguh- sungguh berhasrat mengen al “ Yesus yang disebut Kristus” (CT, Art 40).

  Menurut penulis, katekese bagi kaum muda ini adalah salah satu cara untuk meningkatkan keterlibatan kaum muda dalam kehidupan menggereja di Paroki St. Yusuf Batang. Melalui katekese kaum muda diharapkan semakin menyadari kehadiran Allah dan selalu mengusahakan dirinya untuk terlibat dalam kehidupan menggereja demi perkembangan imannya. Katekese ini menjadi suatu tempat pendampingan iman bagi kaum muda yang mengarahkan, membimbing dan membantu mereka dalam menjawab kebutuhan dan menghantar mereka untuk mewujudkan iman yang dewasa dan aktif dalam kehidupan menggereja.

  Melihat kenyataan dan keprihatinan di atas maka penulis tergerak untuk menulis skripsi dengan judul MENINGKATKAN

  “UPAYA

KETERLIBATAN KAUM MUDA STASI GEMBALA YANG BAIK,

PAROKI ST. YUSUF BATANG MELALUI KATEKESE KAUM MUDA”.

B. RUMUSAN MASALAH 1.

  Sejauh mana keterlibatan kaum muda dalam hidup menggereja di stasi Gembala Yang Baik? 2. Faktor-faktor apa saja yang mendukung dan menghambat kaum muda untuk terlibat dalam hidup menggereja di stasi Gembala Yang Baik?

  3. Apa yang menjadi harapan-harapan kaum muda dalam meningkatkan keterlibatan mereka dalam hidup menggereja di stasi Gembala Yang Baik?

C. TUJUAN PENULISAN 1.

  Untuk mengetahui sejauh mana keterlibatan kaum muda dalam hidup menggereja di stasi Gembala Yang Baik.

  2. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mendukung dan menghambat kaum muda untuk terlibat dalam hidup menggereja di stasi Gembala Yang Baik.

  3. Untuk mengetahui harapan-harapan kaum muda dalam meningkatkan keterlibatan mereka dalam hidup menggereja di stasi Gembala Yang Baik.

D. METODE PENULISAN

  Skripsi ini ditulis dengan menggunakan metode observasi yang partisipatif, yaitu menggambarkan keadaan yang dialami oleh kaum muda.

  Penulis juga menguraikan dan menganalisa keadaan kaum muda terutama kaum muda di Stasi Gembala Yang Baik, mengenai permasalahan dan kesulitan yang dihadapi untuk terlibat dalam hidup menggereja. Untuk memperoleh data yang diperlukan, penulis menggunakan kuesioner, adapun kuesioner yang digunakan adalah kuesioner tertutup dan kuesioner terbuka. Kuesioner disebarkan kepada 30 kaum muda yang masih aktif dan berada di stasi tersebut. Hal ini dimaksudkan agar penulis dapat memperoleh informasi lengkap dan sesuai dengan yang diharapkan. Dari data yang diperoleh dapat diketahui permasalahan yang dialami kaum muda dan harapan-harapan mereka dalam rangka meningkatkan keterlibatan kaum muda dalam hidup menggereja. Kemudian penulis memberikan usulan program yang akan di laksanakan untuk kaum muda di Stasi Gembala Yang Baik. Usulan program itu berupa katekese kaum muda.

E. SISTEMATIKA PENULISAN

  Judul Skripsi yang dipilih penulis adalah “Upaya Meningkatkan Keterlibatan Kaum Muda Stasi Gembala Yang Baik, Paroki Santo Yusuf Batang Melalui Katekese Kaum Muda. Judul ini penulis bahas dalam lima bab, yang diuraikan sebagai berikut:

  Bab I menguraikan pendahuluan yang menjelaskan latar belakang, rumusan permasalahan, tujuan penulisan, manfaat penulisan, metode penulisan, sistematika penulisan.

  Bab II membahas tentang katerlibatan kaum muda dalam hidup menggereja yang dibagi dalam dua bagian. Bagian pertama menguraikan mengenai keterlibatan kaum muda dan bagian kedua membahas kaum muda dalam hidup menggereja.

  Bab III menguraikan tentang gambaran paroki yang meliputi: sejarah paroki dan situasi kaum muda paroki. Pada bab ini juga akan dibahas mengenai metodologi penelitian. Metodologi penelitian ini mencakup latar belakang, tujuan, instrumen pengumpulan data, responden, waktu pelaksanaan, variabel, laporan pembahasan hasil penelitian dan kesimpulan pembahasan penelitian.

  Bab IV menguraikan tentang pengertian katekese kaum muda, tujuan katekese kaum muda, kekhasan katekese kaum muda, figur katekis untuk katekese kaum muda, usulan program katekese kaum muda, contoh program katekese kaum muda, usulan program, matriks penjabaran program, dan contoh persiapan katekese kaum muda. Bab V merupakan bab terakhir sekaligus sebagai penutup dari seluruh pembahasan mengenai upaya meningkatkan keterlibatan kaum muda stasi Gembala Yang Baik, Paroki Santo Yusuf Batang melalui katekese kaum muda, yang meliputi kesimpulan serta saran.

BAB II KETERLIBATAN KAUM MUDA DALAM HIDUP MENGGEREJA Pada bab yang pertama penulis telah menguraikan alasan penulis memilih

  tema skripsi dengan judul skripsi “Upaya Meningkatkan Keterlibatan Kaum Muda

  Stasi Gembala Yang Baik, Paroki Santo Yusuf Batang Dalam Hidup Menggereja Melalui Katekese Kaum Muda

  ”. Pada bab I, tujuan, manfaat dan metode penulisan skripsi ini juga diungkapkan. Dalam bab yang kedua ini penulis akan membahas lebih lengkap mengenai keterlibatan kaum muda dalam hidup menggereja.

  Pada kenyataan yang sering kita jumpai saat ini sebagian kaum muda masih sulit untuk terlibat aktif dalam hidup menggereja. Kaum muda lebih banyak disibukkan oleh kegiatan mereka masing-masing dan terkesan mengabaikan kegiatan-kegiatan yang diadakan di gereja. Kaum muda selalu menginginkan sesuatu yang cepat, praktis dan kreatif yang sesuai dengan minat mereka. Mereka merasa bahwa kegiatan dalam hidup menggereja sangatlah membosankan dan monoton sehingga mereka tidak tertarik untuk mengikutinya. Kaum muda lebih menyukai kegiatan-kegiatan yang menyenangkan, meriah dan kreatif, seperti misalnya; kegiatan outbound, hiking, rekreasi bersama, main game, internet, dll. Kegiatan-kegiatan seperti ini menarik minat kaum muda untuk diikuti karena kegiatan tersebut dirasa menyenangkan, simple dan tidak membosankan. Untuk terlibat aktif dalam hidup menggereja kaum muda harus mempunyai kesadaran dalam dirinya. Kesadaran dalam diri kaum muda tersebut tidak tumbuh begitu membutuhkan suatu pengarahan, bimbingan dan dukungan dari orang-orang sekitar.

  Sarjumunarsa (1989:497) berpendapat bahwa keterlibatan harus berangkat dari keyakinan iman akan Kristus dan berakhir pada pengembangan iman selanjutnya. Keterlibatan umat Kristiani adalah suatu bentuk perwujudan imannya yang mendalam dan diwujudnyatakan melalui keterlibataannya dalam hidup menggereja. Khusunya kaum muda, dimana dalam masa-masa perkembangannya mereka mempunyai ide-ide, semangat dan kreatifitas yang mampu memberikan nuansa baru bagi Gereja melalui kegiatan-kegiatan yang mereka ikuti. Demi terwujudnya hal ini, Gereja juga harus berupaya untuk melibatkan kaum muda dan mengajak mereka untuk masuk dan terlibat aktif dalam kegitan-kegiatan hidup menggereja di paroki maupun di lingkungan. Gereja harus mengambil langkah agar kaum muda dengan kesadarannya mau terlibat aktif dalam hidup menggereja. Kaum muda akan tergerak hatinya untuk aktif terlibat apabila Gereja selalu memberdayakan kaum mudanya dengan dukungan dan kepercayaan pada potensi-potensi yang dimiliki oleh kaum muda untuk memperkembangkan segala kegiatan di gereja. Kepercayaan terhadap kaum muda tersebut membuat mereka menjadi bebas mengekspresikan segala yang mereka ingin lakukan dan wujudkan.

  Gereja hendaknya juga memberikan peluang-peluang bagi kaum muda untuk dapat menyalurkan pendapat, kreatifitas dan kemampuannya sehingga mereka merasa dipercayai dan diakui keberadaannya. Kaum muda akan semakin menyadari perannya sebagai umat Katolik yang mengimani Yesus Kristus dengan

  Bab yang kedua ini akan membahas beberapa bagian mengenai keterlibatan kaum muda yang meliputi: pengertian kaum muda, pentingnya keterlibatan kaum muda dan faktor yang mempengaruhi keterlibatan kaum muda.

  Bab ini juga membahas mengenai kaum muda dalam hidup menggereja yang diuraikan dalam beberapa bagian yaitu pengertian hidup menggereja, peranan kaum muda dalam hidup menggereja dan keterlibatan kaum muda dalam hidup menggereja.

A. Keterlibatan Kaum Muda 1. Pengertian Kaum Muda

  Dalam topik ini penulis akan membahas mengenai pengertian kaum muda yang dideskripsikan dalam beberapa bagian yaitu siapa saja yang disebut kaum muda dan siapa saja yang disebut kaum muda Katolik yang dipaparkan oleh beberapa tokoh.

  a.

  Siapa Saja Yang Disebut Kaum Muda Untuk mengetahui siapa saja yang disebut kaum muda kita perlu melihat kembali pengertian dari kaum muda itu sendiri. Deskripsi mengenai kaum muda sangat beragam. Pendapat dari tokoh-tokoh dan dari Kamus Bahasa Indonesia lebih jelas mendeskripsikan arti dari kaum muda tersebut. Melalui deskripsi tersebut kita dapat mengetahui siapa saja yang disebut kaum muda. Deskripsi tersebut antara lain:

  Kamus Umum Bahasa Indonesia (Poerwadarminta,1982:397.594) mengatakan bahwa ka um muda terdiri dari dua kata yaitu “ Kaum” dan “ Muda”.

  Kaum berarti golongan orang yang sekerja, sepaham, sepangkat, sedangkan muda berarti belum sampai setengah umur. Maka kaum muda adalah orang yang sekerja, sepaham, namun belum sampai setengah umur.

  Deskripsi mengenai kaum muda diuraikan oleh Tangdilintin (1984:5) dalam buku Pembinaan Generasi Muda: Visi dan Latihan, yang mengutip tulisan dr. J. Riberu dengan memakai istilah “muda-mudi”, sebagai berikut:

  Dengan “muda-mudi” dimaksudkan kelompok umur sexennium ketiga dan keempat dalam hidup manusia (±12-24). Bagi yang bersekolah, usia ini sesuai dengan usia Sekolah Lanjutan dan Perguruan Tinggi. Ditinjau dari segi sosiologis, sering kali patokan usia di atas perlu dikoreksi dengan unsur status sosial seseorang dalam masyarakat tertentu. Status sosial yang dimaksud adalah hak dan tugas orang dewasa yang diberikan kepada seseorang sesuai dengan tata kebiasaan masyarakat tertentu. Status sosial ini seiring sejalan dengan status berdikari di bidang nafkah dan status sosial berkeluarga. Unsur status sosial ini menyebabkan seseorang yang menurut usianya masih dalam jangkauan usia muda-mudi, bisa dianggap sudah dewasa dan sebaliknya orang yang sudah melampaui usia tersebut tetapi masih dianggap muda-mudi.

  Seperti yang dipaparkan oleh Tangdilintin (1984:5) bahwa kaum muda itu digolongkan dari 2 segi yaitu: segi umur dan segi sosiologis. Pada segi umur dikatakan bahwa yang disebut kaum muda adalah semua orang yang berumur dibawah umur 24 tahun dan bisa dikatakan masih berstatus bersekolah atau kuliah. Pada segi sosiologis kaum muda dilihat tidak hanya dari umur dan status pendidikannya tetapi lebih melihat dari status sosialnya. Status sosial yang dimaksud adalah dimana seseorang dapat menempatkan dirinya dalam lingkungan keluarga. Hal tersebut tidak terbatas oleh umur, bila seseorang sudah berkeluarga dan bekerja, mereka tidak bisa digolongkan sebagai muda-mudi. Mereka sudah memiliki tanggung jawab dan status sosial yang berbeda dan bisa dikatakan sudah dewasa meskipun usianya masih dalam jangkauan usia muda-mudi. Tetapi sebaliknya bila orang yang sudah dewasa dalam segi umurnya, namun belum dapat melaksanakan hak dan kewajibannya dalam masyarakat, mereka masih dikatakan muda-mudi.

  Shelton (1987: 64) mengatakan bahwa kaum muda adalah mereka yang berusia antara 15-24 tahun dan sedang mengalami pertumbuhan fisik dan perkembangan mental, emosional, sosial, moral, serta religius. Mangunharjana (1986:11-12) berpendapat bahwa istilah kaum muda dipergunakan untuk menunjuk kaum, golongan atau kelompok orang yang muda usia. Kaum muda adalah mereka yang berusia antara 15 tahun sampai 24 tahun atau usia muda-mudi yang masih berstatus sebagai siswa SMA dan berstatus sebagai mahasiswa.

  Memberi batasan kepada kaum muda memang sulit karena perlu memperhatikan berbagai segi di antaranya segi psikologis, sosiologis dan biologis. Kaum muda harus dilihat sebagai pribadi yang sedang berada dalam taraf tertentu yaitu dalam perkembangan hidup seorang manusia (Tangdilintin, 1984:6). b.

  Siapa Saja Yang Disebut Kaum Muda Katolik Pada bagian pertama telah dijabarkan deskripsi mengenai siapa saja yang disebut kaum muda menurut kamus Bahasa Indonesia dan menurut pendapat para pakar-pakar dalam bidangnya. Pada bagian ini akan dibahas mengenai siapa saja yang disebut kaum muda Katolik. Seperti halnya pada bagian sebelumnya, pada

  bagian ini juga akan dijabarkan lebih jelas siapa saja yang disebut kaum muda Katolik. Deskripsi tersebut diambil dari pendapat dan pandangan dari beberapa pakar, yang antara lain sebagai berikut: Kaum muda Katolik yaitu warga Gereja Katolik usia tingkat SMA dan perguruan tinggi yang belum menikah (Suhardiyanto, 2012:387).

  Seperti yang dipaparkan pada kutipan di atas bahwa kaum muda itu terdiri dari berbagai umur dan tingkat pendidikan yang berbeda dan belum menikah.

  Mereka menjadi warga Gereja karena telah disahkan secara resmi melalui sakramen-sakramen yang telah diterimanya. Gereja menyebut kaum muda Katolik dengan OMK atau Orang Muda Katolik. OMK adalah organisasi dimana para kaum muda melakukan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan Gereja yang mendapatkan pembinaan dari Pastor, tokoh-tokoh orang muda maupun Dewan Paroki. Umat lebih familiar memanggil kaum muda Katolik dengan sebutan OMK. Kaum muda Katolik atau OMK adalah mereka para kaum muda yang aktif dalam kegiatan gereja.

  Kaum muda Katolik atau yang sering disebut OMK harus sejak dini diciptakan Allah sesuai dengan citraNya (Kej 1:27). Mereka memiliki panggilan dasar untuk menjaga hidup dan berperilaku sebagai citra Allah, dan semakin mendekati citra Allah itu. Untuk mendekati citra Allah itu kaum muda hendaknya mampu mengenali diri dan menerima diri sebagaimana adanya. Kesadaran diri itulah yang akan melandasi kaum muda untuk membangun harga diri dan percaya kepada dirinya. Dengan dasar harga diri dan percaya diri yang dimiliki itulah maka kepribadian yang menyangkut kejujuran, sikap adil, bertanggung jawab, disiplin dan solider akan berkembang. Seperti pada kutipan berikut:

  OMK itu adalah kaum muda Katolik yang mengenal diri dan percaya diri sebagai citra Allah, berwatak jujur, adil, bertanggungjawab, terbuka, disiplin, solider, beriman kokoh-kritis dengan spiritualitas martyria, mau dan mampu berperan aktif dalam hidup menggereja, serta mengemban misi sosial membangun keadaban publik (Tangdilintin, 2008:62). Pada kutipan di atas kaum muda sungguh diharapkan dapat bertanggung jawab akan perannya sebagai orang muda Katolik. Mereka mempunyai tanggung jawab untuk mengembangkan Gereja, melalui keterlibatannya dalam hidup menggereja. Kaum muda juga harus beriman secara kokoh dan menyadari bahwa dirinya adalah citra Allah yang memiliki sikap-sikap baik dan sesuai dengan kehendak Allah. Sikap-sikap baik misalnya terbuka terhadap lingkungan sekitar dengan melihat akan tanggung jawab dan perannya terhadap Gereja maupun masyarakat.

2. Pentingnya Keterlibatan Kaum Muda

  Pada bagian pertama telah dijabarkan mengenai pengertian kaum muda yang meliputi siapa saja yang disebut kaum muda dan siapa saja yang disebut kaum muda Katolik. Pada bagian yang kedua ini akan dibahas mengenai pentingnya keterlibatan kaum muda. Namun sebelumnya terlebih dahulu akan dijabarkan mengenai deskripsi dari keterlibatan itu sendiri.

  Dalam Katekismus Gereja Katolik Art. 10, dijelaskan bahwa arti keterlibatan adalah sebuah pengabdian yang dilaksanakan secara sukarela oleh pribadi-pribadi yang sesuai dengan tempat dan peranan seseorang serta harus mengarah pada peningkatan kesejahteraan umum. Keterlibatan yang sukarela itu berasal dari keinginan diri sendiri dan tanpa paksaan dari pihak manapun. Kaum muda menyadari perannya dalam hidup menggereja atau hidup dalam masyarakat.

  Mereka akan dengan sepenuh hati mengikuti dan melaksanakan kewajiban yang seharusnya dilakukan sesuai dengan peranannya.

  Sebagai seorang Kristiani, keterlibatan hendaknya selalu berangkat dari keyakinan iman akan Kristus dan berakhir pada pengembangan iman selanjutnya.

  Keterlibatan umat kristiani harus berdasar pada keyakinan imannya bukan menjadi kepentingan pribadi maupun kelompok. Tindakan nyata atas keterlibatan umat inilah mampu menghadirkan Allah menjadi nyata di dalamnya (Sarjumunarsa, 1989:497).

  Keterlibatan kaum muda dalam hidup menggereja adalah suatu bentuk perwujudan iman. Keyakinan akan Yesus Kristus mendorong kaum muda untuk kehidupan sehari-hari. Perwujudan itu berupa keterlibatan aktif kaum muda dalam hidup menggereja. Keterlibatan itu hendaknya berasal dari keinginan dan kesadaran diri sendiri, bukan karena kepentingan pribadi maupun kelompok. Kaum muda yang menyadari akan perannya sebagai umat Kristiani, mereka akan senang dan merasa dapat menemukan bahwa Allah hadir dalam dirinya.

  Peran kaum muda untuk terlibat aktif dalam hidup menggereja maupun masyarakat sangatlah penting. Keterlibatan itu adalah buah dari perwujudan imannya akan Kristus, yang dihayati dan dikembangkan melalui sikap dan tindakan konkret. Keterlibatan mampu menggerakkan kaum muda pada penghayatan iman tidak hanya sekedar melakukan kewajiban sebagai umat Katolik saja tetapi lebih pada penghayatan iman yang terwujud dalam hidup konkretnya. Perwujudan iman yang konkret itu berupa keterlibatan kaum muda dalam kegiatan-kegiatan di lingkungan, wilayah, maupun kegiatan-kegiatan di gereja.

  Kaum muda diharapkan dapat melibatkan dirinya secara aktif dalam kegiatan-kegiatan yang diadakan di gereja. Hal ini dapat melatih kaum muda untuk dapat menjalin relasi yang baik dengan orang lain di sekitar, mengarahkan kaum muda dalam kegiatan-kegiatan positif yang dapat membentuk kepribadian mereka yang baik dan yang terpenting adalah mereka dapat menghayati imannya melalui keterlibatan mereka.

  Seperti yang tercantum dalam Pernas kaum muda tahun 2005 bahwa kegiatan-kegiatan yang diadakan Gereja maupun masyarakat yang melibatkan a.

  Menciptakan kesadaran dan keprihatinan bersama di antara orang muda Katolik (sebagai bagian tak terpisahkan dari Gereja dan masyarakat Indonesia) akan rusaknya keadaban publik.

  b.

  Menemukan makna spiritualitas panggilan dan membarui semangat orang muda Katolik Indonesia untuk ikut bertanggung jawab dalam merintis keadaban publik sebagai habitus baru bangsa sebagai perwujudan iman.

  c.

  Merancang, mempersiapkan dan melaksanakan gerakan-gerakan orang muda Katolik Indonesia sebagai pelopor gerakan-gerakan seluruh umat dalam merintis keadaban publik sebagai habitus baru bangsa.

  Dalam ketiga tujuan tersebut telah jelas bahwa peran kaum muda sangatlah penting. Mereka diharapkan mampu menjadi penggerak dan pelopor dalam setiap kegiatan dan gerakan-gerakan Gereja. Gereja sangat mengharapkan keterlibatan kaum muda dalam hidup menggereja dan masyarakat. Kaum muda menjadi bagian penting dalam perkembangan Gereja. Semangat dan jiwa muda mereka mampu memberikan nuansa yang berbeda dan pencerahan bagi kegiatan- kegiatan yang sebelumnya ada. Kaum muda perlu diberi kesadaran bahwa sebagai umat Katolik mereka mempunyai tanggung jawab untuk dapat terlibat dalam hidup menggereja. Iman mereka perlu mereka wujudkan dalam kehidupan mereka. iman bukan hanya semata percaya dan yakin saja, tetapi bagaimana iman dan kepercayaannya itu dihayati dan akhirnya mampu diwujudkan secara konkret. Untuk menyadari akan perannya di gereja, kaum muda membutuhkan pengarahan dan bimbingan dari orang-orang di sekitarnya seperti misalnya; keluarga, teman, tumbuh dan berkembang. Kepercayaan dan dukungan dari umat dan Gereja sendiri, mampu memberikan motivasi bagi kaum muda untuk berkembang dan aktif terlibat dalam hidup menggereja. Kaum muda menjadi bebas mengekspresikan diri dalam kegiatan-kegiatan yang mereka ikuti sesaui dengan jiwa dan semangat muda mereka. Keterlibatan dalam hidup menggereja itu sangatlah penting bagi semua umat Katolik. Keterlibatan tersebut dapat dilaksanakan dalam berbagai kegiatan yang sesuai dengan anjuran Gereja bahwa:

  Setiap orang beriman Kristiani dipanggil untuk bekerja sesuai dengan kondisinya masing-masing sesuai kehendak Allah (Kartosiswoyo,1993: 208-209). Kutipan di atas bermaksud bahwa setiap umat Kristiani harus dapat menghayati imannya akan Yesus Kristus dengan mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari. Perwujudan iman tersebut dilakukan oleh umat karena kesadaraannya akan imannya yang harus dikonkretkan dalam hidupnya sesuai dengan keadaannya.

3. Faktor Yang Mempengaruhi Keterlibatan Kaum Muda

  Setiap umat Katolik terpanggil untuk dapat terlibat dalam hidup menggereja. Keterbukaan untuk aktif terlibat datang dari dalam diri pribadi dan dari penghayatan iman pribadi seseorang khususnya kaum muda. Bila kaum muda mampu menyadari perannya sebagai umat Kristiani, mereka dapat menghayati imannya tersebut dengan mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari. Keterlibatan kaum muda dalam hidup menggereja adalah salah satu bentuk wujud menggereja ataupun tidak terlibat dalam hidup menggereja disebabkan oleh beberapa faktor yang mempengaruhinya (Sulendra, 1997:9). Pada bagian ini akan dijelaskan mengenai faktor-faktor penghambat keterlibatan kaum muda dan faktor-faktor pendukung keterlibatan kaum muda.

a. Faktor Penghambat Keterlibatan Kaum Muda

  Dalam kenyataan yang sering kita jumpai, jarang sekali kita melihat kaum muda aktif terlibat dalam hidup menggereja dan hanya beberapa saja yang terlibat.

  Kegiatan-kegiatan di gereja hanya didominasi oleh orang-orang dewasa, dan kaum muda kurang berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Kaum muda kurang menyadari bahwa sebenarnya peran mereka sangat penting. Kaum muda memiliki semangat, ide-ide kreatif dan potensi-potensi yang dapat dituangkan dalam kegiatan-kegiatan di gereja dan ini mampu memberikan nuansa baru bagi Gereja. Gereja berkembang apabila umatnya selalu berusaha dan menyadari akan tanggung jawabnya untuk beperan aktif mengembangkan Gereja khususnya kaum muda. Kaum muda tidak aktif terlibat dalam kehidupan menggereja kadang disebabkan oleh beberapa faktor yang menghambat mereka sehingga mereka tidak aktif terlibat. Faktor-faktor penghambat tersebut antara lain sebagai berikut: 1) Hambatan Dalam Diri

  Hambatan dalam diri ini sering dimiliki oleh kaum muda, contohnya saja mereka memiliki sikap rendah diri. Sikap rendah diri ini bisa dikarenakan oleh kondisi fisik yang kurang mendukung, tingkat pendidikan yang rendah, atau karena kondisi sosial ekonomi keluarga yang kurang memadai. Dalam kondisi seperti ini kaum muda sulit untuk ikut terlibat dan memperlihatkan kemampuannya dalam berorganisasi bersama kaum muda yang lain, karena menyadari dirinya tidak mampu. Kondisi seperti ini akan menimbulkan rasa kurang percaya diri walaupun sebenarnya kaum muda tersebut memiliki kemampuan tertentu. Kaum muda sulit untuk bersosialisasi dan cenderung menutup diri terhadap kegiatan-kegiatan di gereja maupun di dalam masyarakat.

  Kaum muda juga mengalami sesuatu hambatan untuk terlibat karena kurangnya mendapat motivasi dari orang lain. Dalam mengikuti kegiatan terkadang kaum muda hanya melakukanya asal-asalan saja atau tidak serius, hanya sekedar terlaksana saja. Mereka melaksanakan kegiatan tidak secara sepenuh hati, sehingga kegiatan tidak dapat terlaksana sesuai dengan yang diharapkan. Hal ini dikarenakan mereka kurang termotivasi, mereka kurang mendapatkan penjelasan dan pengarahan untuk menggugah kesadaran mereka akan pentingnya keterlibatan mereka dalam setiap kegiatan hidup menggereja.

  Apabila mereka menyadari hal tersebut, kemungkinan mereka dapat termotivasi mengikuti dan melaksanakannya dengan baik dan sepenuh hati.

  Kaum muda juga kurang berminat mengikuti kegiatan-kegiatan yang diadakan di gereja. Mereka menganggap kegiatan di gereja tidak menarik dan membuat mereka bosan. Kaum muda lebih menyukai kegiatan yang menarik dan sesuai dengan jiwa muda saat ini.

  2) Hambatan Dalam Keluarga Hambatan yang mungkin dialami kaum muda terkadang justru datang dari keluarga sendiri. Permasalahan keuangan kadang menjadi salah satu faktor yang mendominasinya. Banyak kegiatan-kegitan di gereja yang terpaksa ditunda atau bahkan dibatalkan kaum muda hanya karena masalah keuangan yang dibutuhkan tidak dapat terpenuhi. Hal tersebut sering dialami oleh kaum muda di gereja- gereja di pelosok atau pinggiran yang tingkat ekonomi umatnya rata-rata menengah ke bawah. Kegiatan yang seharusnya diikuti kaum muda di gereja terpaksa tidak dapat diikuti, karena tidak dapat membayar iuran.

  Faktor ekonomi keluarga kadang menjadi faktor penghambat kaum muda dalam keterlibatannya dalam hidup menggereja yang dalam kegiatan tersebut memerlukan dana utuk mengikutinya. Kaum muda menjadi tidak terlibat dan terkesan rendah diri, karena faktor ekonominya. Kegiatan menggereja kadang juga memerlukan dana atau iuran dari peserta atau anggota. Bagi kaum muda yang memiliki tingkat ekonomi rendah mereka merasa kegiatan tersebut berat untuk diikuti, sehingga mereka berfikir lebih baik tidak mengikuti.

  Selain faktor ekonomi keluarga, hambatan yang lain yang datangnya dari keluarga adalah suasana atau keadaan dari keluarga itu sendiri. Kurangnya komunikasi yang baik antar anggota keluarga berpengaruh terhadap perkembangan kaum muda dalam keluarga tersebut. Komunikasi yang baik dalam keluarga sangatlah berpengaruh bagi perkembangan mental kaum muda. Orang tua akan selalu mengarahkan dan memonitor anaknya, sehingga mereka dapat dalam keluarga tersebut tidak ada hubungan harmonis dan komunikasi pun tidak lancar, maka keluarga tersebut akan bersikap acuh tidak acuh terhadap kegiatan yang dilakukan oleh anggota keluarga lainnya khususnya orang tua terhadap anaknya. Orang tua kurang dapat memantau anaknya dan mengarahkan anaknya untuk mengikuti kegiatan-kegiatan yang sesuai dengan mereka. Akhirnya kaum muda yang ada dalam keluarga tersebut akan mengikuti kegiatan yang disukainya yang mungkin akan menjurus pada kegiatan yang negatif karena kurangnya perhatian dan pengarahan dari orang tua.

  Peran orang tua sangatlah penting. Orang tua menjadi pendidik yang pertama dan utama dalam menerapkan norma-norma yang berlaku dan mengarahkan anak pada sesuatu yang baik, khususnya membimbing anaknya untuk dapat dekat pada imannya. Apabila dalam keluarga tidak terjadi hubungan yang baik, maka dalam keluarga tersebut tidak terjadi suatu kebersamaan yang baik akan iman mereka. Orang tua kurang dapat mengarahkan anaknya untuk menghayati imannya karena kesadaran iman merekapun kurang dikembangkan. Hal ini sangat menghambat kaum muda untuk terlibat. Mereka merasa kurang diarahkan dan dibimbing oleh orang tua untuk menghayati imannya, sehingga kaum muda lebih memilih untuk mengikuti kegiatan-kegiatan sesuai dengan keinginan mereka.

  3) Hambatan Dalam Sekolah Lingkungan sekolah sangat berpengaruh terhadap perkembangan kaum muda. Lingkungan sekolah dapat mendukung kegiatan-kegiatan kaum muda tetapi sekolah yang padat menghambat kaum muda untuk dapat membagi waktunya untuk terlibat dalam kegiatan menggereja. Kaum muda yang masih bersekolah kadang disibukkan dengan kegiatan di sekolah, entah itu kegiatan tambahan maupun les di luar sekolah, sehingga mereka kurang dapat terlibat dalam hidup menggereja. Tuntutan-tuntutan akademik oleh sekolah mengharuskan mereka untuk mengikuti pelajaran tambahan seperti les dan kegiatan-kegiatan di luar sekolah yang mendukung lainnya. Hal tersebut membuat kaum muda sibuk dan sulit untuk meluangkan waktunya untuk terlibat dalam kegiatan-kegiatan di masyarakat maupun kegiatan hidup menggereja. Mereka merasa kegiatan yang diadakan di sekolah lebih penting daripada mengikuti kegiatan di gereja.

  4) Hambatan Dalam Masyarakat Lingkungan masyarakat sangat berpengaruh terhadap kaum muda.

  Lingkungan yang kurang berpendidikan biasanya cenderung membuat kaum muda mudah terpengaruh untuk melakukan kegiatan yang negatif. Hal ini disebabkan karena di lingkungan tersebut tingkat pendidikan masyarakatnya masih rendah. Kaum muda kadang masih terpengaruh oleh kebiasaan dan pergaulannya dalam masyarakat. Kaum muda kadang lebih suka untuk bepergian, nongkrong dan akhirnya mereka meninggalkan kegiatan-kegiatan di gereja yang seharusnya diutamakan. 5) Hambatan Dalam Gereja

  Hambatan yang lain yang mungkin berpengaruh terhadap keaktifan kaum muda dalam hidup menggerja adalah hambatan yang muncul dari pihak Gereja itu letak gereja yang jauh dari tempat tinggalnya dan tidak adanya sarana transportasi. Kondisi ini dapat membuat kaum muda malas untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan mengereja.

  Hambatan yang muncul dari gereja sendiri lainnya adalah bahwa gereja dalam mengadakan kegiatan-kegiatan untuk kaum muda kurang menarik dan kurang dapat memotivasi kaum muda untuk terlibat. Kaum muda menginginkan adanya suatu kegiatan yang dinamis, kreatif, dan inovatif. Bila kegiatan di gereja hanya itu-itu saja dan monoton, kaum muda menjadi malas untuk berpartisipasi dalam kegiatan tersebut.

  Kurangnya perhatian dari pendamping kaum muda juga menjadi hambatan kaum muda terlibat dalam hidup menggereja. Pembimbing adalah motivator bagi kaum muda dalam melaksanakan kegiatan menggereja dan kaum muda sangat memerlukan pendampingan dan dukungan penuh dari pendamping. Namun kadang pembimbing disibukkan oleh kegiatannya sendiri. Pembimbing yang memiliki pekerjaan pokok tentu tidak selalu mempunyai waktu untuk memberikan perhatian penuh terhadap kaum muda. Kaum muda masih kurang mendapatkan perhatian walaupun sudah memiliki pendamping, apalagi kaum muda yang tidak memiliki pendamping.

  Relasi antara umat yang didominasi oleh orang dewasa dan orang tua dengan kaum muda juga sangat menentukan keterlibatan kaum muda dalam hidup menggereja. Program-program yang akan dijalankan oleh kaum muda akan dengan kaum muda. mereka akan saling mendukung dan kegiatan yang diadakan atau dikoordinir oleh kaum muda akan berjalan dengan lancar.

  Hambatan-hambatan inilah yang sering membuat kaum muda enggan dan bahkan tidak terlibat dalam hidup menggereja. Mereka menjadi takut dan merasa bahwa mereka belum dapat melakukan sesuatu yang baik bagi Gereja. Kaum muda perlu bimbingan dan pengarahan dalam melaksanakan kegiatan-kegitan menggereja tersebut. Mereka memerlukan dukungan dari Gereja dan umat yang lainnya. Dengan dukungan tersebut, kaum muda akan merasa diakui dan dipercaya dapat melaksanakan kegiatan-kegiatan menggereja.

b. Faktor Pendukung Keterlibatan Kaum Muda

  Kaum muda dapat terlibat aktif dalam hidup menggereja itu dikarenakan adanya faktor-faktor pendukung yang dapat memotivasinya. Menurut Darmanto (1997:9), kaum muda tidak dapat berdiri sendiri tanpa adanya arahan dan bimbingan, khususnya dukungan dari beberapa pihak. Faktor-faktor pendukung itu antara lain: 1)

  Dukungan Dari Keluarga Adanya komunikasi yang baik antara keluarga akan sangat berpengaruh pada perkembangan kaum muda dalam keluarga tersebut. Keluarga merupakan tempat terbentuknya jati diri seorang anak. Pendidik pertama adalah orang tua sehingga dari keluarga, mereka akan mendapatkan bimbingan yang baik dan tepat. kaum muda akan selalu dimonitor dan selalu mendapat pengarahan dan dukungan penuh dari keluarga. Kaum muda merasa diakui dan dipercayai melakukan segala kegiatan terutama kegiatan dalam hidup menggereja. Dengan pengarahan dan bimbingan diharapkan kaum muda dapat mengikuti kegiatan-kegiatan yang positif bagi dirinya. Pendampingan keluarga khususnya dalam iman juga menjadi pendukung bagi keaktifan kaum muda terlibat dalam hidup menggereja. Kadang kaum muda belum begitu mengerti dan memahami bagaimana menghayati imannya. Orang tua menjadi pembimbing dan pendamping bagi kaum muda untuk memahami dan membantu mereka untuk menghayati imannya. Dengan pendampingan tersebut kaum muda menjadi mengerti dan mulai menghayati imannya yang diwujudkan dalam hidup sehari-hari dengan ikut terlibat dalam hidup menggereja.

  2) Dukungan Dari Masyarakat

  Semua manusia adalah anggota masyarakat yang dikelompokkan dalam golongan umur, status sosial, dan perannya di dalam masyarakat. Kaum muda adalah bagian dari masyarakat tersebut, mereka menjadi generasi penerus bagi berkembangnya norma dan kebiasaan dalam masyarakat. Aturan dan norma itu menjadi panutan bagi kaum muda dalam hidup di masyarakat. Perkembangan kepribadian dan pengetahuan kaum muda banyak dipengaruhi oleh lingkungan masyarakat baik secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung kaum muda dihadapkan pada pergaulan sehari-hari tata susila, nilai-nilai moral yang langsung berhubungan dengan dirinya. Secara tidak langsung mereka menerima semacam ini dapat menumbuhkan keinginan untuk bersosialisasi terhadap lingkungan yang ditemuinya.

  3) Pendamping Kaum Muda

  Kaum muda memerlukan pendampingan agar mereka dapat menghayati imannya secara mendalam. Dalam proses menghayati imannya tersebut, kaum muda memerlukan pendampingan dan pengarahan yang baik agar mereka dapat menghayati imannya dan pada akhirnya timbul kesadaran dalam diri mereka untuk mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari.

  Peran pendamping bagi kaum muda adalah penting. Pendamping akan membimbing, mengarahkan dan membantu kaum muda untuk memahami dan menghayati imannya. Pendamping yang baik, mampu menjawab kebutuhan kaum muda dan berusaha menggerakkan mereka untuk dapat terlibat aktif dalam setiap kegiatan di gereja yang melibatkan kaum muda. Pendamping menjadi sahabat kaum muda yang selalu terbuka dalam setiap permasalahan dan keinginan dari kaum muda sehingga kaum muda merasa disapa, diperhatikan dan diakui keberadaannya.

B. Kaum Muda Dalam Hidup Menggereja 1. Pengertian Hidup Menggereja

  Hidup menggereja itu merupakan suatu bentuk penghayatan iman umat Allah. Di dalam kehidupan menggereja umat dapat mewujudkan tindakan- iman mereka dalam kehidupan mereka sehari-hari. Hidup menggereja itu selalu tumbuh bersama dengan Gereja itu sendiri. Hidup menggereja terwujud apabila terjadi dialog dan hubungan yang baik antar pribadi dalam kehidupan sehari-hari. Kehidupan sehari-hari ini tidak terbatas pada agama, sosial, budaya tertentu saja. Konteks kehidupan sehari-hari tersebut selalu mengarah pada apa yang dikehendaki oleh Allah. Hidup menggereja lebih pada mengaktualisasikan penghayatan iman terhadap Allah melalui tindakan-tindakan, sikap-sikap yang diwujudkan dalam hidup sehari-hari (Banawiratma,1992:9).

  Hidup menggereja dalam lingkup intern yaitu pola kegiatan di dalam lingkup Gereja Katolik, yang terbagi dalam dua bentuk kegiatan. Pertama, kegiatan dalam lingkup teritorial misalnya: mudika, koor, Putra Altar dan terlibat dalam pendampingan ibu-ibu paroki. Kedua, terlibat dalam lingkup kategorial misalnya: Legio Maria, Choice, WKRI (Suhardiyanto 2005:1).

  Hidup menggereja dibedakan menjadi dua segi yaitu segi batin yang diterima melalui pembaptisan dan segi lahir yang diwujudkan dalam hidup bersama (Suhardiyanto, 2005:3). Seseorang yang telah menerima sakramen baptis dan krisma akan secara otomatis pula telah memutuskan untuk memilih dan mengikuti Kristus dengan segala konsekuensinya. Dengan meneriman baptis, umat beriman dimasukkan ke dalam Gereja dan menjadi orang Katolik. Penting untuk disadari bahwa orang-orang Katolik adalah orang-orang yang dimasukkan sepenuhnya ke dalam lembaga Gereja, dan masuk pula ke dalam Komunio.

  Setelah menyadari bahwa telah menjadi anggota Gereja, maka akan adanya dan pengakuan iman itu akan diwujudnyatakan dalam hidup sehari-hari (Suhardiyanto, 2005:4).

  Aspek yang ingin ditekankan dari hidup menggereja ialah ambil bagian di dalam tugas-tugas Kristus yaitu sebagai Imam, Nabi dan Raja. Imam bertugas menguduskan, nabi bertugas mengajar dan raja bertugas memimpin. Tugas pastoral Gereja dalam pengertian dahulu ialah ambil bagian dalam tugas imamat Kristus dan diwujudkan dalam leitorgia, sedangkan docendi atau tugas kenabian Kristus diwujudkan dalam kerygma yang bahkan di dalamnya ada unsur martyria yang bisa dikatakan ambil bagian sebagai imam dan nabi, sedangkan koinonia dan diakonia adalah ambil bagian dalam tugas Kristus sebagai Raja (Suhardiyanto, 2005:5).

  Pada kutipan di atas hidup menggereja merupakan suatu kesaksian hidup Gereja tentang Allah yang diwujudkan oleh umat dalam kehidupan konkret sehari-hari. Hidup menggereja itu dapat digolongkan dalam empat dasariah Gereja yaitu sebagai berikut: 1)

  Koinonia yang berarti persekutuan persaudaraan. Koinonia ini merupakan cara hidup bersama yang terbuka dan nyata dalam menumbuhkan kepekaan terhadap kesusahan dan penderitaan sesamanya. Dalam hidup menggereja itu persekutuan melalui kepedulian bersama tidak ditentukan dari iman dan agama tertentu melainkan oleh pengalaman hidup bersama. Iman umat berkembang melalui kepedulinnya terhadap sesamanya. Pendalaman akan iman dan Injil diolah dan dikembangkan dalam persekutuan dan persaudaraan yang dibangun berdasar Injil dan iman akan Yesus Kristus.

  2) Kerygma berarti pewartaan Injil. Pewartaan dilaksanakan dan dijalankan oleh setiap umat beriman, agar dapat mengalami perjumpaan dengan Allah mengenai kabar gembira bahwa dalam Yesus Kristus akan ada keselamatan perjumpaan dengan Allah. Pewartaan akan Allah dan Kerajaan Allah menuntut suatu tanggapan kokret dari umat untuk mewujudkannya dalam kehidupan konkret. Penghayatan iman harus dikembangkan melalui persekutuan dan persaudaraan yang berdasar pada Injil.

  3) Leitourgia atau Perayaan Iman. Dalam perayaaan Ekaristi umat dapat merasakan penghayatan imannya secara lebih mendalam. Imam membimbing umat agar kenangan akan Kristus tidak sekedar menjadi upacara wajib, melainkan mendorong dan menjiwai keterlibatan umat.

  4) Diakonia atau pelayanan. Fungsi pelayanan tidak bisa dilepaskan dari ketiga fungsi lainnya. Fungsi koinonia, kerygma, leitourgia tidak berdiri sendiri- sendiri, tetapi bersama-sama menjiwai dan mendorong umat beriman untuk melaksanakan pelayanan (diakonia). Diakonia merupakan gerak dasar seluruh kegiatan Gereja. Segala kegiatan Gereja berpusat pada pelayanan kepada sesama. Pelayanan Gereja menaruh perhatian utama pada mereka yang miskin, sakit dan tertindas. Orang-orang seperti inilah yang terutama diperhatikan oleh Yesus, dan disentuh secara mendalam oleh sabda dan karyaNya (Ardhisubagyo,1987:24).

  Terlibat dalam hidup menggereja merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan oleh kaum muda. Philip Tangdilintin (2008:65) dalam buku mengatakan bahwa:

  Pembinaan Generasi Muda

  Iman pribadi itu dihidupi dan dikembangkan dalam kebersamaan komunitas serta diwujudkan dalam relasi-relasi kemasyarakatan. Penghayatan dimensi personal-vertikal dari iman harus sampai pada Tuhan, semakin dekat pula kita pada sesama, baik dalam “komunitas

2. Perananan Kaum Muda Dalam Hidup Menggereja.

  Kaum muda adalah generasi yang dapat menumbuh kembangkan serta mewujudnyatakan Kerajaan Allah di dalam dunia saat ini. Kaum muda memiliki semangat dan potensi yang dapat membantu pada proses perubahaan dan perkembangan Gereja ke arah yang lebih baik di tengah-tengah perkembangan dunia modern saat ini. Setiap pribadi orang muda memiliki kualitas dan ciri tertentu tetapi mereka tetap membutuhkan bimbingan dan dukungan agar potensi yang mereka miliki dapat bermanfaat bagi Gereja. Bimbingan tersebut diharapkan dapat membantu kaum muda menemukan penghayatan iman dan pada akhirnya dengan kesadaran, mereka dapat mewujudkannya dalam kehidupan konkret sehari-hari (Tangdilintin, 1984:6).

  Kaum muda akan mengalami perkembangan dalam imannya apabila melalui imannya, mereka dapat menyadari akan peranannya yang penting dalam perkembangan Gereja. Perkembangan iman kaum muda akan terwujud jika segala segi hidup mereka yakni perkembangan kognitif, moral, iman, emosi, interpersonal dan panggilan hidup diarahkan menuju panggilan Yesus., sehingga membuat mereka peka akan panggilan Yes us: “Mari. Ikutilah Aku” (Mark 1:17). Sebagai manusia yang terpanggil untuk mengikuti Kristus dan percaya kepada Gereja, kaum muda memiliki kewajiban untuk terlibat dalam hidup menggereja. Gereja mengharapkan semua umat beriman dengan penuh kesadaran mau terlibat dalam setiap kegiatan Gereja sebagai bentuk perwujudan iman mereka.

  Peran serta kaum muda sangat diperlukan oleh Gereja. Para kaum muda bertanggung jawab terhadap kelangsungan hidup Gereja di masa yang akan datang. Sebagai bagian dari Gereja, para kaum muda tidak bisa menutup mata terhadap keprihatinan Gereja yang terjadi di dunia. Dengan demikian, bentuk keterbukaan Gereja terhadap dunia luar dapat diwujudkan lewat keterlibatan atau pelayanan kaum muda dalam usaha secara terus menerus mengembangkan Gereja dengan segala potensi yang dimiliki (Shelton, 1987:19).

3. Bentuk - Bentuk Keterlibatan Hidup Menggereja

  Keterlibatan kaum muda dalam hidup menggereja dibedakan menjadi dua yaitu kegiatan-kegiatan hidup menggereja dalam lingkup internal dan kegiatan- kegiatan hidup menggereja dalam lingkup eksternal.

a. Kegiatan Hidup Menggereja Dalam Lingkup Internal

  Kegiatan hidup menggereja dalam lingkup internal dapat digolongkan dalam beberapa kegiatan-kegiatan berikut: 1)

  Retret Kaum Muda Kata retret berasal dari kata Perancis yaitu la retraite yang berarti pengunduran diri, menyendiri, menyepi, menjauhkan diri dari kesibukan sehari- hari, meninggalkan dunia ramai (Mangunhardjana, 1984:7). Retret berarti mundur ke keheningan untuk mengetahui kehendak Tuhan agar selanjutnya melangkahkan hidup sesuai dengan kehendak-Nya (Sumantri, 2002:13). Tujuan dari kegiatan kehidupan itu bisa dipahami maknanya. Yang terpenting ialah memahami makna hidup yang umumnya sulit ditemukan dalam kesibukan hidup sehari-hari (Sumantri, 2002:12). 2)

  Rekoleksi Rekoleksi merupakan kegiatan pembinaan iman yang tidak jauh berbeda dengan retret. Dalam rekoleksi bahan yang diolah adalah dari pengalaman hidup yang telah dilalui atau pengalaman yang didapatnya pada saat mengikuti retret maupun pengalaman hidup yang dirasa mengena dan dapat mempengaruhi hidupnya sampai saat ini. Pengalaman hidup ini kemudian diolah pada saat proses rekoleksi dan kemudian mereka dapat menemukan hikmah maupun kedewasaan iman dalam menanggapi permasalahan hidup mereka (Mangunhardjana, 1984:18).

  Tujuan dari kegiatan rekoleksi kaum muda ini ialah membantu kaum muda untuk mengenal situasi diri dan hidupnya dalam perkara tertentu, sebagai hasil karya Allah dan tanggapan mereka kepadaNya (Mangunhardjana, 1984:20). Hal- hal yang dilakukan dalam rekoleksi yakni meninjau karya Allah dalam diri mereka, cara kerja serta bimbinganNya, serta tanggapan kaum muda terhadap karya Allah itu (Mangunhardjana, 1984:18). Rekoleksi dapat dilakukan dalam waktu beberapa jam saja misalnya dari jam 8 pagi sampai jam 1 siang. Rekoleksi dapat dikatakan sebagai kesempatan atau saat-saat penyegaran rohani. Rekoleksi mampu memperkaya hidup dan hidup seluruh umat kepada Allah dan seluruh karyaNya (Mangunhardjana, 1984:20). Melalui kegiatan rekoleksi diperoleh semangat dan motivasi baru untuk melanjutkan kegiatan atau rutinitas sehari-hari

  3) Ekaristi Kaum Muda

  Ekaristi kaum muda selalu berbeda dengan Ekaristi pada umumnya, hal ini dapat dilihat dari momen yang dirayakan, pemilihan lagu, pemilihan tema, sampai pada kotbah yang berbeda dari biasanya. Ekaristi kaum muda ini didominasi oleh kaum muda. Segala persiapan dan hal-hal teknis yang berhubungan dengan ekaristi, sepenuhnya dikerjakan oleh kaum muda. Ekaristi kaum muda diadakan untuk memberi wadah bagi kreativitas kaum muda dalam membina kebersamaan dalam Gereja, dimana dapat dibina pula unsur seni dalam liturgi misalnya menampilkan tari-tarian, teater, fragmen, puisi dan slide film.

  Daya kreativitas dan cara mereka sendiri akan membantu mereka dalam menghayati Ekaristi dengan gaya kemudaanya (Tangdilintin, 1984:89). Secara lebih khusus Ekaristi kaum muda sebenarnya melatih kerjasama atau organisasi dengan karakter yang berbeda-beda (Tim Redaksi Pusat Musik Liturgi, 2008: 101). Ekaristi kaum muda ini ingin mengajak kaum muda untuk dapat berorganisasi dan menuangkan ide-ide mereka kedalam Perayaan Ekaristi.

  Perayaan Ekaristi kaum muda lebih menarik karena dikemas dengan begitu kreatif dan memunculkan suatu nuansa baru dalam perayaan Ekaristi. Umat yang mengikutinya pun akan merasa tertarik karena Perayaan Ekaristi dirasa berbeda daripada perayaan ekaristi yang lain. Perayaan Ekaristi kaum muda lebih menarik dan isi dari setiap proses perayaan Ekaristi tersebut dijiwai oleh semangat dan kreatifitas kaum muda pada umumnya. Kreativitas tersebut berupa lagu-lagunya yang sesuai dengan tema juga dapat digunakan, pengggunaan lcd dan pertunjukan fragmen maupun tari-tarian. Dari hal-hal ini kaum muda diajak untuk mengembankan kemampuan dan bakatnya serta menjadi kebanggaan tersendiri bagi umat dan Gereja.

  4) Pendalaman Iman Atau Katekese Kaum Muda

  Di dalam katekese terdapat beberapa unsur yakni pewartaan, pengajaran, pendidikan, pendalaman, pembinaan dan pendewasaan (Telaumbanua,1996:5).

  Kegiatan katekese ini sangat bermanfaat bagi kaum muda. Mereka jadi lebih mengerti dan memahami imannya yang diharapkan dapat mereka wujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Pelaksanaan katekese ini juga harus sesuai dengan kebutuhan kaum muda yang tidak terlalu kaku dan monoton, sehingga kaum muda tertarik mengikutinya. Tujuan dari katekese ialah memaknai pengalaman hidup sehari-hari dalam terang sabda Allah. Katekese dapat diikuti oleh semua lapisan masyarakat, baik anak-anak, kaum muda (remaja, orang dewasa) dan orang tua (CT, art. 35-45)

  Pendamping katekese berperan sebagai fasilitator yang mengarahkan, dan mempermudah untuk menciptakan suasana yang komunikatif sehingga terjadi dialog antara peserta, sehingga umat terbantu untuk menemukan Yesus dalam hidup sehari-hari.

  5) Ziarah

  Ziarah merupakan kegiatan kunjungan ke tempat-tempat yang dianggap bersejarah dan suci, misalnya ziarah ke Gua Maria, gereja-gereja tua, makam- biasanya seperti doa bersama, doa Rosario, dan renungan. Agar kaum muda diberdayakan maka sebisa mungkin dalam menyiapkan persiapan selalu melibatkan mereka, misalnya dalam memimpin doa, menjadi pembaca Kitab Suci (Tangdilintin, 1984:89). Melalui kegiatan ziarah ini kaum muda diajak untuk saling memupuk rasa persaudaraan, kekompakan dan persatuan di antara satu sama lain.

b. Kegiatan Hidup Menggereja Dalam Lingkup Eksternal

  Beberapa bentuk kegiatan hidup menggereja dalam lingkup eksternal dapat dikelompokkan dalam kegiatan-kegiatan sebagai berikut: 1)

  Kegiatan Kemasyarakatan Banyak sekali kegiatan-kegiatan kemasyarakatan yang dapat diikuti oleh kaum muda. Kegiatan di dalam masyarakat tersebut adalah suatu bentuk konsekuensi yang harus diikuti oleh kaum muda sebagai bagian dari masyarakat dimana mereka tinggal. Kegitan tersebut menjadi suatu bentuk kepedulian kaum muda akan lingkungan masyarakat dan menjalin hubungan yang baik antar warga dalam masyarakat. Kegiatan-kegiatan dalam masyarakat tersebut misalnya keterlibatan kaum muda dalam keamanan desa dengan mengikuti ronda, ambil bagian dalam kepengurusan RT/RW, keterlibatan dalam kegiatan tujuh belasan dan bakti sosial. Tujuan dari kegiatan-kegiatan tersebut adalah supaya kaum muda menyadari hak-hak dan kewajibannya sebagai anggota masyarakat, sehingga mereka terlibat aktif dalam membangun masyarakat di lingkungan tempat dengan warga masyarakat yang berbeda golongan, agama dan suku, sehingga rasa persaudaraan dan perdamaian selalu terjalin (Tangdilintin, 1984; 52).

  2) Live-in

  Kegiatan live-in merupakan suatu kegiatan yang memberi kesempatan kepada setiap pribadi untuk tinggal dalam lingkungan tertentu. Maksudnya agar mereka sungguh mengalami dan merasakan cara hidup, suka-duka, penderitaan dan keterasingan suatu lapisa n masyarakat “bawah”, misalnya para tunawisma, panti rehabilitasi sosial tempat para penyandang cacat fisik dan mental dirawat

  (Tangdilintin, 1984:87). Melalui kegiatan live-in, para kaum muda diajak untuk meliahat dunia luar yang belum pernah mereka rasakan, sehingga melalui kegiatan ini akan terungkap kesaksian mengenai pengalaman hidupnya selama beberapa hari berada dalam kesederhanaan bahkan kemiskinan yang telah mengubah pola pikir dan sikap hidup mereka (Tangdilintin, 2008: 182). Kegiatan ini bertujuan untuk membantu kaum muda menyadari atas karunia yang mereka peroleh dari Tuhan dan mengajak mereka untuk selalu bersyukur atas kesempatan hidup yang diperolehnya, karena masih banyak anggota masyarakat yang mengalami kesulitan untuk hidup dan membutuhkan bantuan dari orang lain. Kegiatan ini memberikan kesadaran bagi kaum muda untuk dapat tergerak hatinya dan mau membantu sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. 3)

  Anjangsana Anjangsana merupakan kunjungan sosial-karitatif, biasanya ke panti asuhan, panti jompo, panti rehabilitasi, penjara, dan lain-lain. Tujuan dari kegiatan kaum muda kepada sesamanya. Melalui kegiatan ini diharapkan dapat menumbuhkan rasa cinta kaum muda kepada sesamanya yang menderita sehingga selalu berusaha untuk membantu. 4)

  Widyawisata Widyawisata merupakan suatau kegiatan yang biasa dikenal dengan tamasya pendidikan, kegiatan ini lebih menekankan pada aspek kognitif yakni kegiatan yang bertujuan untuk pengenalan dan perluasan wawasan sekitar dunia karya dan sistem sosial dalam masyarakat, misalnya kunjungan ke redaksi mass media, kantor tenaga kerja, daerah industri dan organisasi-organisasi politik (Tangdilintin, 2008:183). Kegiatan ini akan sangat membantu menumbuhkan rasa ketertarikan para Kaum muda untuk mengembangkan bakat serta talenta dalam bidang-bidang tersebut.

BAB III KETERLIBATAN KAUM MUDA DI STASI GEMBALA YANG BAIK, PAROKI SANTO YUSUF BATANG DALAM HIDUP MENGGEREJA Keterlibatan kaum muda dalam hidup menggereja adalah penting. Kaum

  muda menjadi harapan bagi perkembangan Gereja dimana kaum muda dapat memberikan inspirasi dan nuansa baru bagi Gereja. Dalam bab II telah dijabarkan dan dijelaskan hal tersebut. Kaum muda memiliki semangat, ide yang kreatif dan potensi-potensi yang ada dalam diri mereka. Potensi itu hendaknya dikembangkan, khususnya dikembangkan melalui keterlibatannya dalam hidup menggereja. Potensi yang mereka miliki tersebut dapat dikembangkan dalam kegiatan yang diadakan di gereja seperti misalnya ambil bagian dalam Ekaristi untuk kaum muda, menjadi panitia dalam perayaan Natal, tahun baru, Paskah dan acara-acara penting yang diadakan oleh Gereja. Keterlibatan dalam hidup menggereja merupakan salah satu bentuk penghayatan iman yang perlu dilanjutkan dalam kehidupan konkret.

  Melihat bahwa keterlibatan kaum muda dalam hidup menggereja itu penting, maka pada bab III ini penulis akan menguraikan tentang situasi kaum muda akan keterlibatan mereka. Uraian pada bab ini akan dibagi menjadi dua bagian. Pada bagian yang pertama akan dijabarkan mengenai hal-hal yang terkait dengan Paroki Santo Yusuf Batang dan stasi Gembala Yang Baik yang meliputi sejarah paroki, gambaran umum stasi Gembala Yang Baik dan situasi kaum muda stasi Gembala Yang Baik. Untuk mengetahui tingkat keterlibatan kaum muda mengenai upaya meningkatkan keterlibatan kaum muda stasi Gembala Yang Baik Paroki santo Yusuf Batang dalam hidup menggereja melalui katekese kaum muda.

  Dalam penelitian ini dijabarkan mengenai latar belakang penelitian, tujuan penelitian, instrumen pengumpulan data, responden, waktu pelaksanaan dan pelaksanaan penelitian, variabel penelitian, laporan penelitian serta pembahasan hasil dan kesimpulan penelitian.

A. Paroki Santo Yusuf Batang 1. Sejarah Paroki Santo Yusuf Batang

  Pada bagian ini penulis akan menguraikan sejarah paroki, gambaran umum stasi Gembala Yang Baik, dan situasi umum kaum muda stasi Gembala Yang Baik. Data yang berhubungan dengan hal-hal tersebut diperoleh dari data paroki yang diberikan oleh sekretariat Paroki Santo Yusuf Batang tetapi data tersebut belum di buat dalam bentuk buku. (Kilas Balik dan Profil Paroki Santo Yusuf Batang) Paroki Batang pada awal berdirinya adalah sebuah stasi Batang.

  Perkembangan stasi Batang ditandai dengan adanya misa Kudus di Batang yang ketika itu diadakan di sebuah rumah yang pemiliknya bukan beragama Katolik namun di rumah tersebut tinggal keponakan pemilik rumah yang beragama Katolik. Rumah tersebut terletak di sebelah alun-alun utara kota Batang. Pada tahun 1966 Romo yang bertugas di Pekalongan adalah Romo Weling. Setiap misa diikuti kurang lebih 30 dan dewan stasi yang menjabat saat itu adalah bapak

  Tahun 1967 Romo H. Logman, MSC yang bertugas di Pekalongan bersama dengan Bapak Agus Trenggono memprakarsai pembangunan tempat ibadah. Berdirilah sebuah kapel kecil di lokasi yang saat ini menjadi Gereja Santo Yusuf Batang. Bangunan kapel tersebut dahulu tidak begitu besar, hanya seukuran rumah yang kecil dan sederhana. Misa diadakan setiap dua minggu sekali.

  Jumlah umatpun dari tahun ke tahun bertambah banyak karena babtisan baru maupun pendatang dari luar kota Batang. Karena jumlah umat semakin bertambah maka tempatnya pun menjadi sempit untuk melaksanakan ibadah di kapel tersebut dan tidak dapat lagi menampung jumlah umat di stasi Batang. Pada tahun 80-an kapel kecil itu direnovasi dengan menyambung bangunan itu sebagian, kurang lebih tiga deret kursi sebagai tempat duduk umat dan koor, selebihnya untuk altar dan sakristi. Dengan renovasi kapel itu terwujudlah Gereja Katolik di stasi Batang dengan pelindung Santo Yoseph.

  Gereja tersebut diresmikan oleh Romo Kardinal Darmojuwono dari Semarang pada tahun 1968. Pastur yang bertugas di Pekalongan adalah Romo Sukmono, MSC. Romo-romo lain yang bertugas di Pekalongan antara lain Romo Fransiskus Widyartardi, Pr, Romo Chris Wantanis, Pr, Romo Yakobus Rudiyanto, Pr, Romo Ignatius Joko Mulyana, Pr dan Romo Yitno Puspohandaya, Pr. Para Romo yang bertugas di Paroki Pekalongan ini, setiap minggunya bergiliran untuk memimpin Ekaristi di gereja sesuai jadwal misa di stasi Batang.

  Gereja yang belum lama direnovasi itupun ternyata sudah tidak dapat menampung jumlah perkembangan umat Stasi Batang khususnya pada misa-misa diperluas kembali dan dibangun lebih besar lagi. Pembangunan gereja direncanakan melalui beberapa tahap dengan rencana anggaran mencapai 1 milyar rupiah.

  Pembangunan gereja baru tersebut dimulai pada tahun 2000 untuk tahap pertama. Pembangunan tahap pertama ini terselesaikan pada bulan Desember 2000. Pembangunan tahap pertama ini menghasilkan setengah dari seluruh bangunan gereja yang direncanakan. Bangunan yang baru separuh ini digunakan untuk tempat ibadah. Bangunan lama dirobohkan untuk selanjutnya dibangun tahap keduanya.

  Pada proses pembangunan gereja tersebut, pengurus stasi Batang bersama umat dan Romo Paroki Pekalongan mempersiapkan diri untuk berpisah dari induknya yaitu Paroki Pekalongan untuk berdiri sendiri menjadi Paroki. Dari data statistik Paroki Pekalongan yaitu umat di stasi Batang berjumlah 1670 jiwa dari 380 kepala keluarga, bangunan gereja yang baru, kesediaan umat serta dukungan dari romo-romo yang pernah bertugas di Paroki Pekalongan, pada tanggal 17 Juli 2002 stasi Batang diresmikan menjadi Paroki Administratif Santo Yusuf Batang oleh Bapak Uskup Mgr. Yulianus Sunarka, SJ.

  Gereja Santo Yusuf Batang akhirnya menjadi Gereja Paroki Batang. Paroki Santo Yusuf Batang membawahi 6 stasi 4 kring. Stasi-stasi tersebut adalah stasi santo Yohanes Bandar, stasi Gembala Yang Baik Limpung, stasi Santa Maria Simbang, stasi Santo Fransiscus Asisi Bawang, stasi Santo Paulus Subah, stasi Theresia Kedawung serta 4 kring yaitu kring Petrus, kring Maria, kring paroki ini diperoleh melalui data-data yang terdapat di sekretariat Paroki Santo Yusuf Batang).

  2. Gambaran Umum Stasi Gembala Baik Yang Baik

  Stasi Gembala Yang Baik Limpung adalah salah satu dari stasi yang ada dalam bagian dari Paroki Santo Yusuf Batang. Tahun 1960 benih-benih iman mulai tertanam di Limpung. Babtisan pertama dilaksanakan pada tanggal 2 Desember 1963 oleh Pastor Yotten, MSC di Pekalongan. Bangunan gereja saat itu kurang layak hingga dibangunnya gereja setengah permanen tahun 1968 dan diresmikan pada tanggal 9 Agustus 1968 oleh Mgr W. Schoemaker. Umat di stasi Limpung semakin bertambah dan gereja sudah tidak dapat menampung lagi jumlah umat yang bertambah. Kondisi bangunan gereja juga rusak dan rapuh, sehingga pada tahun 2001 gereja dipugar dengan gereja yang lebih besar. Tanah yang ditempati adalah tanah pemberian keluarga Bp. Yoseph The Kian Djien.

  Pemugaran selesai dan diresmikan pada tanggal 26 Desember 2003 oleh Mgr J. Sunarko yang sekarang menjabat sebagai Uskup Purwokerto.

  Stasi Gembala Yang Baik berada di wilayah kecamatan Limpung yang meliputi Reban, dan Banyuputih. Stasi Gembala Yang Baik dibagi menjadi 4 lingkungan, yaitu: a.

  Lingkungan Maria terdiri dari 33 kk dengan umat laki-laki berjumlah 45 orang dan perempuan berjumlah 54 orang.

  b.

  Lingkungan Monika terdiri dari 29 kk dengan jumlah umat laki-laki c.

  Lingkungan Petrus terdiri dari 17 kk dengan jumlah umat laki-laki 24 orang dan perempuan 30 orang.

  d.

  Lingkungan Markus terdiri dari 8 kk dengan umat lak-laki 12 orang dan perempuan 16 orang.

  Dari data umat yang ada dalam data sekretariat Paroki, tercatat jumlah umat di Stasi Gembala Yang Baik terdiri dari 87 kk dengan jumlah umat laki-laki 140 orang, perempuan 145 orang. Jumlah seluruh umat di stasi tersebut adalah 285 orang. Sebagian umat banyak bekerja dan belajar di luar daerah sehingga hanya pada saat-saat tertentu mereka datang. Wilayah di stasi Gembala Yang Baik adalah daerah pertanian dan perkebunan. Mata pencaharian umat di stasi tersebut adalah pegawai negri, karyawan perusahaan, wiraswasta dan petani.

  Stasi Gembala Yang Baik Limpung memiliki kegiatan-kegiatan rutin yang sering dilaksanakan oleh umat di gereja. Kegiatan-kegiatan tersebut meliputi: a.

  Perayaan Ekaristi sebulan 2 kali tiap hari Sabtu dan Minggu I dan III pada pukul 16.00 WIB.

  b.

  Pendalaman iman setiap hari Rabu pukul 17.00 WIB, tempat berpindah- pindah sesuai dengan jadwal.

  c.

  Pelajaran agama untuk siswa SD dan calon baptis di gereja setiap hari Minggu pukul 08.00 WIB.

  d.

  Pelajaran agama untuk siswa SLTP dan SLTA di gereja setiap hari Rabu pukul 16.00 WIB.

  3. Gambaran Umum Kaum Muda Stasi Gembala Yang Baik

  Kaum muda di stasi Gembala Yang baik Limpung tidak begitu banyak, jumlahnya kurang lebih 40 orang. Kaum muda disana terdiri dari pelajar, mahasiswa dan karyawan. Di stasi Gembala Yang Baik Limpung, kaum mudanya beragam dari yang berumur di atas 17 tahun sampai di bawah 30 tahun. Mereka kebanyakan adalah pelajar SMP dan SMU dan yang lainnya adalah mahasiswa dan karyawan. Kaum muda yang masih aktif dan sering terlibat di gereja adalah para kaum muda yang masih bersekolah dan mereka yang sudah bekerja tetapi tetap tinggal di lingkungan stasi tersebut. Kaum muda yang bekerja atau meneruskan sekolah di luar kota hanya sesekali waktu datang, sehingga kegiatan apapun yang diadakan oleh gereja, mereka jarang dapat mengikutinya. Pada acara-acara besar seperti Natal dan Paskah saja mereka dapat ikut terlibat selebihnya mereka tidak dapat secara penuh terlibat dalam kegiatan-kegiatan di gereja lainnya.

  Kaum muda di stasi Gembala Yang baik masih berada dalam masa transisi dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa. Dalam masa ini, mereka mengalami perubahan fisik, kepribadian, pola pikir dan tingkah laku. Perubahan tersebut dipengaruhi oleh cara pergaulan mereka di dalam masyarakat. Teknologi yang canggih dan modern seperti iklan-iklan televisi, alat komunikasi dan produk- produk kebutuhan yang canggih tidak sepenuhnya berpengaruh pada pola hidup mereka. Sebagian dari kaum muda ada yang mulai terpengaruh dan ada dari mereka yang tidak terpengaruh dengan teknologi dan gaya hidup modern saat ini. desa, mereka tidak begitu terpengaruh dengan pergaulan modern saat ini. Pergaulan modern yang dimaksud adalah cara berpakaian, cara pergaulan, dan penggunaan alat-alat komunikasi yang modern saat ini. Alat-alat modern seperti

  

handphone dan internet hanya digunakan sebagai alat komunikasi saja, selebihnya

  alat-alat modern tersebut tidak begitu banyak mempengaruhi cara pergaulan mereka dalam masyarakat. Dalam pergaulan, mereka masih menjunjung tinggi norma kesopanan di dalam masyarakat. Mereka masih menaati norma-norma yang berlaku dalam masyarakat tersebut, sehingga pergaulan mereka tidak terlalu bebas, ada batasan yang harus mereka patuhi. Hal ini didukung oleh situasi lingkungan masyarakat yang telah membentuk pola dan gaya hidup yang sederhana dan mengedepankan norma-norma dalam masyarakat.

  Keadaan kaum muda di stasi Gembala Yang Baik beragam. Mereka adalah pelajar SMP, SMA, sebagian mahasiswa, dan karyawan. Berikut adalah data kaum muda di stasi Gembala Yang Baik menurut jenis kelamin, pendidikan, dan keaktifan mereka di gereja yang dikelompokkan jumlahnya dalam tabel berikut:

  

Tabel Keadaan Kaum Muda di Stasi Gembala Yang baik

  Pendidikan Jumlah Jenis kelamin Jumlah yang aktif Perempuan Laki-laki Aktif Tidak aktif

  SMP

  13

  8

  5

  11

  2 SMA

  15

  9

  6

  9

  6 Mahasiswa

  7

  3

  4

  5

  2 Karyawan

  5 4 -

  1

  5 Dari data tabel yang tertera di atas, kaum muda tersebut ada yang bersekolah di daerah sekitar stasi tetapi ada pula yang bersekolah, kuliah dan bekerja di luar stasi atau berada di luar kota. Kaum muda yang berada di luar kota hanya sesekali waktu pulang ke rumah dan tidak selalu berada di rumah. Gaya hidup kaum muda yang tinggal di luar kota sedikit banyak mempengaruhi cara bergaul mereka. Mereka kebanyakan meniru dan mengikuti perkembangan jaman yang modern saat ini yang ada di kota. Pergaulan mereka kebanyakan juga dipengaruhi oleh gaya pergaulan orang-orang muda di kota. Pergaulan mereka bebas antara perempuan dan laki-laki. Mereka tidak merasa canggung dan malu- malu untuk bergaul dengan lawan jenis. Kebiasaan dan norma yang diterapkan di tempat tinggal mereka perlahan hilang dan kurang mereka perhatikan lagi. Teknologi modern saat ini juga sangat banyak mempengaruhi gaya hidup mereka. Teknologi modern seperti misalnya handphone, laptop, internet, dan alat alat komunikasi lainnya menjadi bagian yang penting dalam hidup mereka. Bagi mereka informasi apapun dapat mereka dapatkan dengan teknologi modern yang saat ini ada dan mereka miliki. Dengan teknologi yang maju, mereka merasa dimudahkan oleh hal tersebut. Informasi dan komunikasi mereka dapatkan dengan mudah dan cepat. Pola pikir dan kebiasaan mereka di desa mulai hilang dan terpengaruh oleh pola pikir dan kebiasaan hidup kebanyakan orang muda di kota yang serba cepat dan modern.

  Meskipun kaum muda di stasi Gembala Yang Baik jumlahnya tergolong berbagai kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh mudika paroki maupun stasi. Kegiatan-kegiatan yang pernah dilaksanakan dan diikuti oleh kaum muda di stasi Gembala Yang Baik misalnya; kegiatan rekoleksi mudika, retret, kepanitiaan acara Natal, Paskah dan tahun baru. Kaum muda di stasi tersebut pernah mengadakan kegiatan-kegiatan di gereja dan melibatkan pula kaum muda di stasi- stasi lain di paroki Santo Yusuf Batang. Kegiatan tersebut dimaksudkan agar dapat tercipta kerukunan dan keakraban antar kaum muda di stasi-stasi Paroki Santo Yusuf Batang.

  Kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh kaum muda di stasi Gembala Yang Baik selalu mendapatkan dukungan dari Gereja. Gereja memberikan dukungan bagi kaum muda melalui fasilitas, dana dan hal-hal yang dibutuhkan kaum muda dalam pelaksanaan kegiatan tersebut. Gereja mengharapkan dan selalu mengusahakan agar kaum muda di stasi Gembala Yang Baik dapat menyadari perannya yang penting dalam hidup menggereja. Pendampingan bagi kaum muda selalu dilaksanakan agar timbul kesadaran dari kaum muda untuk menyadari perannya tersebut. Kegiatan pendampingan yang pernah dilaksanakan di stasi tersebut seperti misalnya pendalaman iman, rekoleksi dan retret. Kegiatan seperti rekoleksi dan retret sangat disukai oleh kaum muda. Hal ini terbukti dari jumlah peserta yang ikut selalu bertambah dalam setiap tahunnya. Kegiatan tersebut biasanya diadakan di luar stasi dan biasanya dikemas dengan cara yang menarik. Kegiatan dikemas sesuai dengan jiwa dan semangat kaum muda, dimana kaum muda selalu menginginkan kegiatan menarik dan tidak monoton. Kegiatan pemutaran video, musik dan lcd. Permainan dan outbond sangat disukai oleh kaum muda, sehingga dalam retret dan rekoleksi sering disertai kegiatan outbound. Kegiatan outbond ini dikemas menarik dengan berbagai permainan yang sesuai dengan tema dan tujuan. Kegiatan seperti ini membuat kaum muda tertarik dan dapat menikmatinya tanpa merasakan bosan.

  Pendalaman iman secara khusus untuk kaum muda belum terlaksana dengan baik. Hal ini dikarenakan kesibukan kaum muda dan kesibukan dari pendamping kaum muda itu sendiri. Bila diadakan pendalaman iman untuk kaum muda hanya beberapa saja yang mengikutinya. Mereka selalu beranggapan bahwa mengikuti pendalaman iman akan membosankan. Pendalaman iman ini juga tidak rutin dilaksanakan, karena banyak tergantung pada ketersediaan pendamping.

  Keterbatasan pendamping inilah yang menyebabkan kegiatan seperti pendalaman iman kaum muda sampai sekarang belum secara rutin dilaksanakan.

B. Penelitian Mengenai Keterlibatan Kaum Muda Dalam Hidup Menggereja 1. Desain Penelitian a. Latar Belakang Penelitian

  Penulis merasa prihatin melihat sebagian kaum muda di stasi Gembala Yang baik, Limpung kurang aktif terlibat dalam hidup menggereja. Penulis melihat ada beberapa permasalahan yang mereka hadapi. Permasalahan itu misalnya seperti: mereka sulit untuk meluangkan waktu dan mereka disibukkan oleh kegiatannya masing-masing. Mereka mengikuti kegiatan-kegiatan di gereja kepanitiaan kegiatan tersebut. Di stasi tersebut kaum mudanya didominasi oleh para pelajar, dan karyawan. Kaum muda yang telah menjadi mahasiswa hanya saat libur semesteran berada di rumah, sehingga kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh Gereja tidak dapat diikuti. Para pelajar juga disibukkan oleh kegiatan di sekolahnya dan kegiatan di sekolah itu kadang bertabrakan dengan kegiatan menggereja. Mereka yang sudah menjadi mahasiswa atau bekerja di luar kota pulang hanya satu bulan sekali atau pada waktu liburan. Mereka yang telah bekerja dan masih menetap di stasi tersebut juga kadang sulit untuk sepenuhnya mengikuti kegiatan dalam hidup menggereja dan faktor waktu dan kesibukan menjadi alasannya.

  Tenaga pendamping untuk kaum muda juga menjadi permasalahan di Stasi Gembala Baik, Limpung. Tenaga pendamping untuk kaum muda yang ada di stasi kurang. Hanya ada satu pendamping yang mendampingi kaum muda di stasi. Pendamping tersebut adalah seorang guru agama Katolik, dan dia adalah Guru agama yang mengajar di beberapa sekolah Negeri di Batang. Kesibukan pendamping juga mempengaruhi kurangnya keterlibatan kaum muda dalam kehidupan mengereja. Pendamping kurang intensif mendampingi kaum muda dalam kegiatan menggereja di stasi karena kesibukan dan keterbatasan waktu.

  Kaum muda di stasi tersebut memerlukan seorang pendamping yang dapat menggerakkan dan memotivasi mereka. Peran pendamping sangat dibutuhkan bagi perkembangan iman kaum muda. Kaum muda diharapkan dapat termotivasi untuk terlibat aktif dalam hidup menggereja.

  b. Tujuan Penelitian

  Berdasarkan pada latarbelakang penelitian mengenai keterlibatan kaum muda dalam hidup menggereja tersebut, penulis merumuskan tujuan dari penelitian ini sebagai berikut:

  1) Untuk mengetahui sejauh mana kaum muda sudah terlibat atau belum terlibat dalam hidup menggereja di stasi Gembala Yang Baik.

  2) Untuk mengetahui faktor-faktor yang mendukung dan menghambat kaum muda untuk terlibat dalam hidup menggereja di stasi Gembala Yang Baik.

  3) Untuk mengetahui harapan-harapan kaum muda dalam meningkatkan keterlibatan mereka dalam hidup menggereja di stasi Gembala Yang Baik.

  c. Instrumen Pengumpulan Data

  Dalam pengumpulan data ini penulis menggunakan metode obeservasi yang partisipatif. Penulis menggunakan metode ini karena penulis sungguh mengalami dan merasakan keprihatinan yang dialami sehingga mempermudah penulis dalam melakukan penelitian dari data-data yang telah diperoleh.

  Disamping menggunakan metode observasi partisipatif, penulis juga menggunakan kuesioner, baik itu kuesioner tertutup dan kuesioner terbuka.

  Kuesioner disebarkan kepada beberapa responden yang bersangkutan. Hal ini dimaksudkan agar penulis dapat memperoleh informasi lengkap dan sesuai dengan yang diharapkan.

  Penulis mempergunakan kuesioner dengan model rating scale. Kuesioner seperangkat pertanyaaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya. Teknik ini cocok digunakan untuk responden yang cukup besar dan tersebar di wilayah yang luas. Seperti halnya kaum muda lingkungan stasi Gembala Yang Baik, di mana kaum muda tersebut tersebar dalam wilayah dan tempat yang berbeda-beda.

  Rating scale adalah data mentah yang berupa angka kemudian ditafsirkan

  dalam pengertian kualitatif. Responden menjawab, dengan pernyataan Sangat Setuju (SS) = 5, Setuju (S) = 4, Tidak Setuju (TS) = 3, Netral (N) = 2, Sangat Tidak Setuju (STS) = 1. Rating Scale umumnya terdiri dari suatu daftar yang berisi ciri-ciri tingkah laku yang harus dicatat secara bertingkat.

  Adapun tujuan penyebaran kuesioner ialah untuk memperoleh informasi yang lengkap mengenai suatu masalah melalui jawaban responden dalam pengisian daftar kuesioner. Dalam penelitian ini penulis mempergunakan jenis kuesioner tertutup (kuesioner berstruktur). Kuesioner tertutup adalah kuesioner dengan pertanyaan yang mengharapkan jawaban singkat atau mengharapkan responden untuk memilih salah satu alternatif jawaban dari setiap pertanyaan yang telah tersedia. Hal ini dipergukan karena kuesioner tertutup pada setiap item sudah tersedia beberapa alternatif jawaban sehingga responden tinggal memilih salah satu jawaban yang sesuai (Sugiyono, 2009: 143).

  Penulis juga mengggunakan kuesioner terbuka dimana responden mengisi sendiri jawaban dari pernyataan yang ada (Sambas, 2007: 25). Dalam kuesioner terbuka responden diharapkan secara bebas dapat mengungkapkan isi hatinya. responden yang diteliti. Kuesioner ini diharapkan dapat memberikan gambaran program yang akan disusun demi menindaklanjuti hasil penelitian tersebut.

  Kuesioner dengan rating scale merupakan instrumen yang cocok untuk mendapatkan jawaban tentang keterlibatan kaum muda stasi Gembala yang Baik Limpung dalam hidup menggereja, sehingga dapat mengetahui sejauh mana keterlibatan kaum muda dalam hidup menggereja serta mengetahui model katekese yang cocok dalam mengupayakan peningkatan keterlibatan kaum muda di stasi Gembala Yang Baik Limpung Paroki Santo Yusuf Batang.

  d. Responden Penelitian

  Responden dalam penelitian ini adalah kaum muda yang masih aktif di stasi Gembala yang Baik Paroki Santo Yusuf Batang. Kaum muda di stasi Gembala Yang Baik, Limpung berjumlah 40 orang. Dari 40 orang tersebut ada beberapa di antaranya tidak aktif di stasi tersebut. Hal ini dikarenakan mereka bersekolah atau bekerja di luar kota sehingga mereka kurang dapat meluangkan waktu sepenuhnya untuk mengikuti kegiatan di gereja. Kaum muda yang aktif di stasi tersebut dan tercatat masih ada dan tidak berpindah tempat adalah 30 orang. Dari jumlah kaum muda yang ada tersebut diambil 30 orang dan masing-masing kaum muda tersebut dijadikan responden untuk penelitian.

  e. Waktu Pelaksanaan dan Tempat Pelaksanaan Penelitian

  Penelitian ini dilaksanakan di stasi Gembala yang Baik, Limpung paroki Kuesioner disebarkan pada saat acara natal bersama kaum muda di stasi Gembala Yang Baik. Apabila kuesioner tersebut belum mencakup jumlah responden yang akan diteliti, maka penulis akan mendatangi tempat tinggal responden yang tidak hadir dalam acara tersebut.

f. Variabel Penelitian

  Variabel penelitian terdiri dari keterlibatan kaum muda dalam hidup menggereja. Deskripsi variabel oprasionalnya adalah sebagai berikut:

1) Sejauh mana keterlibatan kaum muda dalam hidup menggereja.

  2) Faktor pendukung dan penghambat keterlibatan kaum muda dalam hidup menggereja.

  3) Harapan-harapan dari kaum muda untuk meningkatkan keterlibatan mereka dalam hidup menggereja di stasi Gembala Yang Baik.

  Berkaitan dengan judul skripsi yang diambil, penulis mengelompokkan variabel yang tercakup dalam penelitian kedalam tabel berikut:

  Tabel 1

  Kisi-Kisi Kuesioner Penelitian

  

No No Item Variabel Jumlah

  (1) (2) (3) (4) 1 (I)

  8 K. Tertutup 1,2,3,4,5,6,7,8 Keterlibatan kaum muda dalam hidup menggereja

  2

  (II) K. Terbuka

  1,2 2 (I)

  K. Tertutup

  9,10,11,12,13,14,15,

  10 16, 17,18 Faktor pendukung dan penghambat keterlibatan kaum muda dalam hidup

  (II)

  2 menggereja.

  K. Terbuka

  3,4

  3

  2

  (I) K. Tertutup

  19,20 Harapan-harapan dari kaum muda untuk meningkatkan keterlibatan mereka dalam hidup menggereja di

  1

  (II) stasi Gembala Yang Baik. K. Terbuka

  5 Jumlah Item Pertanyaan

  25 2.

   Laporan Hasil Penelitian

  Pada bagian ini penulis akan membahas hasil penelitian ini berdasarkan urutan-urutan variabel yang akan dibahas sesuai dengan tujuan penelitian. Pada bagian pertama penulis akan membahas mengenai keterlibatan kaum muda dalam hidup menggereja. Pada bagian kedua, penulis membahas mengenai faktor pendukung dan penghambat keterlibatan kaum muda dalam hidup menggereja. Pada bagian terakhir penulis akan membahas dan menguraikan beberapa harapan dari kaum muda dalam rangka meningkatkan keterlibatan dalam hidup menggereja.

a. Identitas Responden

  Hasil penelitian dari 30 responden yang terdiri dari responden yang berumur ≤ 15 tahun, ≤ 25 tahun dan responden yang berumur ≤ 30 tahun tertera pada tabel berikut ini:

  Tabel 2

  Identitas Responden (N=30)

  No Pernyataan Jumlah %

  1 Jenis kelamin:

  • Laki-laki 11 orang 36,7 %

  Perempuan 19 orang 63,3 %

  2 Kaum muda berusia:

  ≤ 15 tahun 11 orang 36,7%

  • ≤ 20 tahun 12 orang 40 %
  • 3 Pekerjaan :
  • Pelajar

  ≤ 30 tahun 7 orang 23,3%

  20 66,6%

  Mahasiswa 5 16,7%

  5 16,7 Pada tabel 2, diketahui jumlah responden yang berjenis kelamin laki-laki sebanyak 11 orang dengan jumlah prosentase 36,7%. Jumlah ini lebih sedikit dari

  • Karyawan
pada jumlah responden yang berjenis kelamin perempuan dengan jumlah 19 orang dengan prosentase 63,3%. Dari data jumlah responden tersebut dapat diketahui bahwa jumlah responden yang berjenis kelamin perempuan lebih mendominasi dari keseluruhan jumlah responden yang ada.

  Data mengenai jumlah responden yang rata-rata berumur ≤ 15 tahun sebanyak 11 orang dengan jumlah prosentase 36,7%. Responden yang berumur ≤

  20 tahun sebanyak 12 orang dengan jumlah prosentase 40 %. Data jumlah responden yang berumur ≤ 30 tahun lebih sedikit yaitu hanya 5 orang dengan prosentase 16,7%.

  Pada tabel 2 juga diketahui data jumlah responden yang dikelompokan sebagai pelajar, mahasiswa dan karyawan. Responden yang digolongkan sebagai pelajar berjumlah 20 orang dengan prosentase 66,6%. Jumlah responden yang tercatat sebagai mahasiswa berjumlah 5 orang dengan prosentase 16,7% dan jumlah responden yang sudah bekerja sebanyak 5 orang dengan prosentase 16,7%.

b. Laporan Hasil Penelitian Kuesioner Tertutup

  Pada laporan hasil penelitian kuesioner tertutup ini, penulis melaporkannya berdasarkan dua kategori yaitu, positif dan negatif. Kategori positif diartikan bila jawaban responden sangat setuju (SS) dan setuju (S). Kategori negatif adalah bila jawaban responden pernah (P) dan tidak pernah (TP). Pembahasan hasil penelitian ini tidak mengambil jumlah pilihan jawaban menjawab positif atau menjawab sangat setuju (SS) dan setuju (S). Pilihan jawaban kadang-kadang (K) kedudukannya netral namun disesuaikan dengan pernyataan, jadi jumlah jawaban kadang-kadang dapat masuk dalam kategori positif maupun kategori negatif tergantung dari pernyataan yang diberikan. Dari jumlah jawaban responden tersebut kemudian diambil prosentasenya dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

  Jumlah responden yang menjawab x 100% Jumlah keseluruhan responden

  Contoh :

  5 (Responden Yang Menjawab) x 100% = 16,7 % 30 (Jumlah keseluruhan responden)

  Tabel 3

  Hasil Penelitian (N: 30)

  No Pernyataan Jumlah Kaum Muda A.

   Keterlibatan Kaum Muda Dalam Hidup Menggereja. SS % S % K % P % TP %

  bagian dalam panitia penyelenggara- an Misa yang bertemakan kaum muda

  2 6,7 %

4 13,3

%

  7 23,3 % 8 26,7 %

  9

  30 %

1 Saya mengambil

  2 6,7

  9

  30

  12

  40 5 16,7 2 6,7 Saya hadir dan

  2 selalu mengajak

  % % % % % teman-teman untuk aktif mengikuti pendalaman iman yang diadakan di lingkungan.

  3

  10

5 16,7

  9

  30 8 26,7 7 23,3

  3 Saya antusias mengikuti koor

  % % % % % di gereja untuk menyalurkan kemampuan saya dalam bernyanyi dan bermain musik.

  9

  30

  6

  20

  12

  40

  3

  10 - -

  4 Saya senang mengikuti

  % % % % organisasi- organisasi yang dapat melatih kepribadian dan menumbuhkan semangat muda dalam diri saya.

  4 13,3 -

  6 20 26,7 8 -

  12

  40

  5 Saya ikut serta menjadi relawan

  % % % % dan panitia penggalangan bantuan kepada korban bencana

  1 3,3

7 23,3

  12

  40

  9

  30 1 3,3 Saya ikut dalam

  6 kerja bakti di

  % % % % % lingkungan sebagai bentuk kepedulian saya menjadi anggota masyarakat yang baik.

  12

  6

  20 5 16,7 7 23,3

  • 40

7 Saya menyukai

  • kegiatan Gereja

  % % % % yang menarik dan tidak monoton yang dapat membawa saya lebih memahami iman saya dengan baik.

  9

  30

  15

  50

  3

  10 2 6,7 1 3,3

8 Saya ingin

  terlibat dalam % % % % % hidup menggereja sebagai bentuk penghayatan iman saya.

  SS % S % K % P % TP % B.

   Faktor Pendukung Dan Penghambat Keterlibatan Kaum Muda Dalam Hidup Menggereja

  3

  10 - 63,3 7 23,3 1 3,3

  • 19

9 Orang tua

  % % % % memberi dukungan dan pendampingan dalam setiap kegiatan di gereja yang diikuti oleh kaum muda.

  9

  30

14 46,7

5 - - 16,7 2 6,7

  10 Kegiatan yang dikoordinir

  % % % % kaum muda dapat berjalan lancar, karena Gereja memberi dukungan dan mempercayakan sepenuhnya pada kaum muda.

  5 16,7

  15

  50 5 16,7

  3

  10 2 6,7

  11 Kaum muda memiliki

  % % % % % kesadaran untuk mengembang- kan imannya melalui keterlibatan dalam hidup menggereja.

  13 43,3

10 33,3

4 13,3

  3

  10 1 3,3

  12 Semangat dan ide-ide kreatif

  % % % % % dari kaum muda memberikan nuansa baru bagi Gereja.

  12

  40

10 33,3

  6

  20 1 3,3 1 3,3

  13 Gereja menyediakan

  % % % % % fasilitas untuk digunakan kaum muda dalam melaksanakan segala kegiatan di gereja.

  1 3,3

1 3,3

  12

  40

  6

  20 10 33,3

  14 Kegiatan di gereja terlalu

  % % % % % monoton dan tidak cocok dengan minat kaum muda.

  1 3,3

2 6,7

10 33,3 7 23,3 10 33,3 Umat dan

  15 Gereja kurang % % % % % memberikan kebebasan bagi kaum muda untuk mengeksprikan dan menuangkan idenya dalam kegiatan- kegiatan yang melibatkan kaum muda di gereja.

  1 3,3

4 13,3

13 43,3 7 23,3

  6

  20

  16 Kesibukan di sekolah dan di

  % % % % % tempat kerja menghambat kaum muda untuk terlibat dalam hidup bermasyarakat dan menggerja.

  2 6,7

7 23,3

  15

  50 5 16,7 1 3,3

  17 Saya menggunakan

  % % % % % waktu luang dengan bermain dan browsing di internet yang dirasa lebih menyenangkan dan menguntungkan bagi saya.

  1 3,3

  6

  20

  12

  40

  6

  20 5 16,7 Belum ada

  18 kegiatan yang

  % % % % % dapat memotivasi kaum muda untuk tertarik dan terlibat dalam hidup menggereja.

  Dari Kaum Muda Dalam Rangka Meningkatkan Keterlibatan Kaum Muda Dalam Hidup Menggereja Di Stasi Gembala Yang Baik.

  13 43,3 10 33,3 - 5 16,7 - 2 6,7

  Kegiatan

  19 pendalaman

  % % % % iman kaum muda membantu kaum muda untuk semakin menghayati imannya dalam kehidupan sehari-hari.

  12

  40 16 - 53,3 2 - 6,7 -

20 Pendalaman

  • - iman kaum

  % % % muda yang sesuai dengan minat dan semangat kaum muda dapat menumbuhkan rasa persaudaraan dan penghayatan iman mereka.

1) Keterlibatan Kaum Muda Dalam Hidup Menggereja.

  Pada variabel keterlibatan kaum muda dalam hidup menggereja yang tertera dalam tabel 2 menunjukan bahwa, pada item no 1, diketahui sebagian responden menjawab tidak terlibat dalam panitia penyelenggaraan Misa yang bertemakan kaum muda sebanyak 17 responden dengan prosentase 56%.

  Pada item no. 2 diketahui responden sebanyak 23 dengan prosentase 76,7% menyatakan bahwa mereka hadir dan mengajak teman-teman lainnya untuk aktif mengikuti pendalaman iman yang diadakan di lingkungan.

  Pada item no. 3 diketahui responden sebanyak 17 dengan prosentase 56,7% menyatakan bahwa mereka antusias mengikuti koor di gereja sebagai sarana untuk menyalurkan kemampuan mereka dalam bernyanyi dan bermain musik.

  Pada item no 4 diketahui responden sebanyak 27 dengan prosentase 90 %, menyatakan bahwa mereka merasa senang mengikuti organisasi-organisasi yang dapat melatih kepribadian dan menumbuhkan semangat dalam diri mereka.

  Pada item no 5 diketahui hanya 10 responden dengan prosentase 33,3% menyatakan bahwa mereka pernah ikut serta menjadi relawan dan panitia penggalangan dana bantuan kepada korban bencana alam. Responden sebanyak 30 dengan prosentase 66,7% manyatakan bahwa mereka tidak pernah ikut menjadi relawan dan panitia penggalangan dana bantuan kepada korban bencana alam.

  Pada item no 6, diketahui responden sebanyak 20 dengan prosentase 66,7% menyatakan bahwa mereka mengikuti kerja bakti di lingkungan sebagai bentuk kepedulian menjadi anggota masyarakat yang baik.

  Pada item no 7, diketahui responden sebanyak 23 dengan prosentase 76,7% menyatakan bahwa mereka menyukai kegiatan Gereja yang menarik dan tidak monoton yang dapat membawa mereka untuk lebih memahami iman dengan baik.

  Pada item no 8, diketahui responden sebanyak 27 dengan responden 90% menyatakan bahwa mereka ingin terlibat dalam hidup menggereja sebagai bentuk penghayatan iman mereka.

  2)

Faktor Pendukung Dan Penghambat Keterlibatan Kaum Muda Dalam

Hidup Menggereja.

  Pada variabel faktor penghambat dan pendukung keterlibatan kaum muda dalam hidup menggereja menunjukan bahwa pada item no 9 responden sebanyak 27 dengan prosentase 90 % menyatakan bahwa orang tua memberi dukungan dan pendampingan dalam setiap kegiatan di gereja yang diikuti oleh kaum muda.

  Pada item no 10, diketahui responden sebanyak 28 dengan prosentase 93,4% menyatakan bahwa kegiatan yang dikoordinir kaum muda dapat berjalan lancar karena Gereja memberi dukungan dan mempercayakan sepenuhnya pada kaum muda.

  Pada item no 11, diketahui responden sebanyak 25 dengan prosentase 83,4% menyatakan bahwa kaum muda memiliki kesadaran untuk

  Pada item no 12, diketahui responden sebanyak 27 dengan prosentase 89,9% menyatakan bahwa semangat dan ide kreatif dari kaum muda dapat memberikan nuansa baru bagi Gereja.

  Pada item no 13, diketahui responden sebanyak 28 dengan prosentase 93,3% menyatakan bahwa Gereja menyediakan fasilitas untuk digunakan kaum muda dalam melaksanakan segala kegiatan di gereja.

  Pada item no 14, diketahui responden sebanyak 16 dengan prosentase 53,3% menyatakan bahwa kegiatan di gereja terlalu monoton dan tidak cocok dengan minat kaum muda.

  Pada item no 15, diketahui responden sebanyak 17 dengan prosentase 56,6% menyatakan bahwa umat dan Gereja kurang memberikan ruang bagi kaum muda untuk mengekspresikan dan menuangkan idenya dalam kegiatan-kegiatan yang melibatkan kaum muda di gereja.

  Pada item no 16, diketahui responden sebanyak 18 dengan 59,9% menyatakan bahwa kesibukan di sekolah dan tempat kerja menghambat kaum muda untuk terlibat dalam hidup menggereja dan bermasyarakat.

  Pada item no 17, diketahui responden sebanyak 21 dengan prosentase 70% menyatakan bahwa mereka tidak begitu terlalu menggunakan waktu luang dengan bermain dan browsing di internet yang dirasa lebih menyenangkan dan menguntungkan bagi mereka.

  Pada item no 18, diketahui responden sebanyak 19 dengan prosentase 63,3% menyatakan bahwa belum ada kegiatan yang dapat memotivasi kaum muda

  3)

Harapan Dari Kaum Muda Dalam Rangka Meningkatkan Keterlibatan

Kaum Muda Dalam Hidup Menggereja Di Stasi Gembala Yang Baik.

  Pada variabel Harapan dari kaum muda dalam rangka meningkatkan keterlibatan kaum muda dalam hidup menggereja di Stasi Gembala Yang Baik, item no 19, diketahui bahwa responden sebanyak 28 dengan prosentase 93,3% menyatakan bahwa kegiatan pendalaman iman kaum muda membantu kaum muda untuk semakin menghayati imannya dalam kehidupan sehari-hari.

  Pada item no 20, diketahui responden sebanyak 30 dengan prosentase 100% menyatakan bahwa pendalaman iman kaum muda yang sesuai dengan minat dan semangat kaum muda dapat menumbuhkan rasa persaudaraan dan penghayatan iman mereka.

c. Laporan Hasil Penelitian Kuesioner Terbuka

  Pada bagian sebelumnya telah dibahas mengenai hasil laporan penelitian kuesioner tertutup. Pada hasil laporan penelitian tertutup dapat kita lihat jumlah dan prosentase responden yang memilih alternatif jawaban yang telah disediakan.

  Pada bagian ini, penulis akan membahas mengenai hasil laporan penelitian kuesioner terbuka dengan menggunakan pertanyaan yang sesuai dengan variabel pembahasan yaitu keterlibatan kaum muda dalam hidup menggereja, faktor pendukung dan penghambat keterlibatan dan yang terakhir harapan kaum muda dalam rangka meningkatkan keterlibatan mereka dalam hidup menggereja. Dalam pembahasannya, penulis akan menggabungkan atau menyimpukan beberapa jawaban yang hampir sama dan dijabarkan dengan baik dan lengkap.

  Pada pertanyaan no 1 mengenai alasan kaum muda terlibat dalam hidup menggereja diketahui sebagian kaum muda menjawab bahwa terlibat dalam hidup menggereja adalah sebuah keharusan sebagai umat Katolik demi perkembangan dan penghayatan iman mereka. Mereka juga menyatakan bahwa keterlibatan dalam hidup menggereja merupakan suatu wujud nyata akan iman mereka akan Yesus Kristus.

  Pada pertanyaan no 2 diketahui beberapa motivasi yang menyebabkan kaum muda dapat terlibat dalam hidup menggereja. Kaum muda menjawab bahwa motivasi tersebut mereka dapatkan dari orang tua, teman, Gereja dan motivasi yang menurut mereka penting adalah motivasi dalam dirinya sendiri.

  Pada pertanyaan no 3 diketahui bahwa faktor pendukung kaum muda aktif dalam hidup menggereja adalah dukungan yang selalu diberikan oleh orang tua.

  Lingkungan tempat tinggal juga menjadi faktor pendukung dalam keterlibatan mereka dalam hidup menggereja. Kesadaran dalam diri untuk mengembangkan imannya sebagai umat katolik juga menjadi faktor yang mendorong mereka ingin terlibat dalam hidup menggereja.

  Pada pertanyaan no 4 diketahui beberapa faktor penghambat kaum muda belum aktif terlibat dalam hidup menggereja. Kaum muda masih menganggap bahwa kesibukan di sekolah ataupun di tempat kerja menjadi faktor utama mereka belum dapat terlibat dalam hidup menggereja. Kegiatan di gereja yang monoton juga menjadi alasan mereka belum mau terlibat dalam hidup menggereja. Mereka tidak tertarik dengan kegiatan yang diadakan oleh Gereja, karena mereka rasa kegiatan yang mengandung unsur hiburan dan sesuai dengan semangat muda mereka.

  Pada pertanyaan no 5 mengenai harapan kaum muda dalam rangka meningkatkan keterlibatan mereka dalam hidup menggereja, diketahui bahwa mereka menginginkan suatu kegiatan yang rutin dilaksanakan dan mampu membawa mereka pada penghayatan imannya. Mereka juga mengharapkan adanya pendamping yang selalu ada mendampingi dan mengarahkan mereka melalui kegiatan yang positif dan menarik minat kaum muda untuk mengikuti.

3. Pembahasan Hasil Penelitian

  Pada bagian ini akan dijabarkan mengenai pembahasan penelitian berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan dengan 30 responden kaum muda di stasi Gembala Yang Baik, Paroki Santo Yusuf Batang. Dalam pembahasan ini penulis akan memaparkannya dalam 4 (empat) bagian. Pertama, mengenai identitas responden. Kedua mengenai sejauh mana keterlibatan kaum muda dalam hidup menggereja. Ketiga faktor pendukung dan penghambat keterlibatan kaum muda dalam hidup menggereja. Keempat harapan dari kaum muda melalui katekese kaum muda untuk meningkatkan keterlibatan dalam hidup menggereja di stasi Gembala Yang Baik.

a. Pembahasan Hasil Penelitian Kuesioner Tertutup

  Pada bagian ini penulis akan menjabarkan hasil dari penelitian yang telah prosentasenya. Jumlah itu didapat dari pernyataan-pernyataan responden dengan pilihan jawaban yang telah disediakan. Penulis menjabarkan dan menyimpulkan jawaban-jawaban tersebut dengan lengkap dan jelas.

  1). Identitas Responden

  Dari hasil penelitian di atas pada tabel 2 dapat diketahui jumlah responden yaitu 30 orang yang diambil dari jumlah kaum muda yang masih aktif di stasi Gembala Yang Baik. Jumlah kaum muda di stasi Gembala Yang Baik berjumlah 40 orang, namun dikarenakan ada beberapa yang tidak tinggal di stasi tersebut, maka responden hanya diambil 30 sesuai dengan jumlah responden yang masih aktif di stasi tersebut.

  Pada tabel 2 dapat dilihat jumlah kaum muda yang berjenis kelamin laki- laki sebanyak 11 orang dengan prosentase 36,7%, sedangkan untuk kaum muda yang berjenis kelamin perempuan sebanyak 19 orang dengan prosentase 63,3 %.

  Pada tabel 2 dapat d iketahui bahwa responden berusia ≤ 15 tahun sebanyak 11 orang dengan jumlah prosentase 36,7 %. Pada usia ini dapat dikatakan bahwa mereka telah memahami maksud dari keterlibatan dalam hidup menggereja dan mengetahui kegiatan-kegiatan apa yang seharusnya mereka ikuti. Responden berusia ≤ 20 tahun sebanyak 12 orang dengan jumlah prosentase 40 %.

  Pada usia ini dapat dikatakan bahwa mereka telah mampu melakukan suatu peranan sebagai kaum muda dalam bentuk keterlibatan dalam hidup menggereja.

  Sedangkan responden berusia ≤ 30 tahun sebanyak 7 orang dengan prosentase memiliki pengalaman dalam penghayatan dan pemahaman imannya. Usia mereka adalah usia dewasa yang sekiranya dapat membantu dan membimbing kaum muda yang lainnya yang umurnya di bawah mereka dalam mengikuti setiap kegiatan yang diadakan di gereja.

  Pada tabel 2 ini juga diketahui bahwa responden yang berstatus sebagai pelajar berjumlah 20 orang dengan prosentase 66,6 %. Responden ini rata-rata adalah pelajar SMP dan pelajar SMA. Responden yang berstatus mahasiswa berjumlah 5 orang dengan prosentase 16,7 %. Responden ini adalah mahasiswa- mahasiswa yang berkuliah di luar daerah stasi Gembala Yang Baik dan seterusnya namun mereka tetap tinggal di rumah dan tidak berpindah tempat tinggal.

  Responden yang berstatus karyawan berjumlah 5 orang dengan prosentase 16,7%. Responden ini rata-rata karyawan swasta dan pegawai negeri yang bekerjanya tidak jauh dari tempat tinggalnya.

2) Keterlibatan Kaum Muda Dalam Hidup Menggereja.

  Pada variabel keterlibatan kaum muda dalam hidup menggereja yang tertera dalam tabel 3 menunjukan bahwa, pada item no 1, diketahui 17 responden dengan prosentase 56% menyatakan bahwa mereka tidak terlibat dalam panitia penyelenggaraan Misa yang bertemakan kaum muda. Hal ini dikarenakan apabila di gereja tersebut diadakan Misa yang bertemakan kaum muda, tidak sepenuhnya kaum muda menjadi panitia dalam pelaksanaan Misa tersebut. Kegiatan itu masih dikoordinir dan masih didominasi oleh orang-orang dewasa dan orang tua. Kaum begitu nampak sepenuhnya. Umat yang sebagian adalah orang tua belum dapat sepenuhnya mempercayakan setiap kegiatan gereja kepada kaum muda. Mereka menganggap kaum muda masih memerlukan bimbingan dan belum dapat berdiri sendiri mengatur dan mengkoordinir setiap kegiatan yang diadakan di gereja. Hal ini membuat kaum muda bersikap pasif dan merasa hanya menjadi pengikut saja.

  Pada item no 1 ini juga diketahui responden sebanyak 13 orang dengan prosentase 44% menyatakakan bahwa mereka pernah terlibat dalam panitia misa yang bertemakan kaum muda. Dari kenyataan yang dilihat bahwa tidak semua kaum muda tidak terlibat dalam kegiatan gereja seperti misa yang bertemakan kaum muda. Ada beberapa kaum muda yang aktif dalam kegiatan-kegiatan di gereja. Mereka juga ambil bagian dalam pendampingan untuk anak-anak misdinar dan menjadi pendamping PIA. Faktor usia yang sudah dapat dikatakan dewasa membuat umat yang lain merasa bahwa mereka sudah mampu dan mereka tidak ragu untuk melibatkannya dalam setiap kegiatan yang diadakan di gereja seperti Misa yang bertemakan kaum muda tersebut. Kaum muda yang dirasa mampu itu dilibatkan dalam penyusunan tema, metode yang akan digunakan seperti misalnya pemutaran video, musik dan tari-tarian. Mereka juga dilibatkan untuk mengkoordinir teman-teman kaum muda lainnya dalam koor dan petugas-petugas Misa.

  Pada item no 2, responden sebanyak 23 orang dengan prosentase 76,7% menyatakan bahwa mereka hadir dan mengajak teman-teman lainnya untuk aktif mengikuti pendalaman iman yang diadakan di lingkungan. Dari fakta tersebut meskipun belum rutin, hanya sekali atau dua kali dalam satu bulannya dan biasanya dilaksanakan pada malam minggu. Hari ini dipilih karena kebanyakan pada hari itu, kaum muda tidak ada kegiatan di sekolahnya atau dalam pekerjaannya sehingga tidak begitu mengganggu. Kaum muda sebenarnya menyukai kegiatan pendalaman iman terlebih pendalaman iman khusus bagi kaum muda, karena kegiatan ini menjadi ajang kumpul-kumpul antar kaum muda di stasi tersebut. Mereka yang jarang bertemu karena kesibukan masing-masing menjadikan kegiatan pendalaman iman ini sebagai kesempatan untuk bertemu dan saling mempererat hubungan persaudaraan mereka. Pada kenyataan, dapat dilihat bahwa kaum muda di stasi Gembala Yang Baik senang berkelompok dan bergerombol. Apabila diadakan pendalaman iman, mereka saling mengajak satu sama lain dan saling mengingatkan teman satu dengan yang lainnya untuk mengikuti pendalaman iman. Hal ini dapat menguntungkan karena kaum muda yang rajin mengikuti pendalaman iman akan mendorong temannya yang lain yang tidak rajin mengikuti pendalaman iman.

  Dari data tabel juga diketahui bahwa tidak semua responden hadir dan mengajak teman-temannya untuk mengikuti pendalaman iman, hal ini dapat diketahui dari 17 responden dengan prosentase 23,3% menyatakan mereka tidak pernah mengikuti pendalaman iman di lingkungan tersebut. Hal ini dikarenakan ada beberapa kaum muda yang tempat tinggalnya jauh dan sulit untuk dijangkau oleh alat transportasi. Pendalaman iman ini biasanya diadakan di gereja dan pada waktu malam hari sehingga kaum muda yang tempat tinggalnya jauh dari gereja dan orang tua yang mau mengantar, maka kaum muda itu dapat hadir, bila tidak kaum muda memilih untuk tidak hadir. Dari kenyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa kaum muda mengalami kesulitan jarak dan transportasi. Keinginan untuk mengikuti pendalaman iman sebenarnya ada, dan ada usaha mereka untuk menyempatkan sesekali waktu untuk hadir dalam pedalaman iman meskipun tidak rutin.

  Pada item no. 3 responden menyatakan bahwa mereka merasa senang dan antusias mengikuti koor di gereja untuk menyalurkan kemampuan mereka dalam bernyanyi dan bermain musik. Responden ini berjumlah 17 orang dengan prosentase 56,7 %. Dari fakta tersebut diketahui bahwa kaum muda sangat antusias mengikuti koor di gereja. Kaum muda merasa dengan menyanyi dan bermain musik, mereka dapat menyalurkan bakat dan hobi mereka dalam bidang musik. Kegiatan koor memotivasi mereka untuk menjadi lebih baik dalam bernyanyi dan bermain musik, sehingga ada juga beberapa kaum muda yang kursus atau sekolah musik sebagai usaha mereka agar dapat optimal saat tugas koor di gereja maupun di tempat lain. Kaum muda yang berbakat dalam bidang musik ini merupakan suatu kebanggaan bagi gereja, karena muncul generasi baru yang berbakat dan yang dapat memberikan nuansa baru bagi gereja.

  Namun Pada item no 3 ini juga diketahui responden sebanyak 13 orang dengan prosentase 43,3% menyatakan mereka tidak begitu antusias mengikuti koor di gereja. Dari fakta tersebut disimpulkan bahwa ada sebagian kaum muda kurang memiliki bakat dalam bernyanyi dan bermusik sehingga mereka merasa yang dapat bernyanyi dan bermain musik kadang kurang percaya diri untuk menunjukkan kemampuannya dalam bernyanyi atau bermain musik dan mereka juga kurang menyadari bahwa dengan mengikuti koor secara tidak langsung, mereka juga melatih diri untuk mengembangkan kemampuannya tersebut.

  Pada item no 4, responden sebanyak 27 orang dengan prosentase 90%, menyatakan bahwa mereka merasa senang mengikuti organisasi-organisasi yang dapat melatih kepribadian dan menumbuhkan semangat dalam diri mereka. Fakta ini menunjukan bahwa kaum muda antusias dan semangat untuk mengikuti kegiatan-kegiatan yang dapat menimba kepribadian dan menumbuhkan jiwa muda dalam diri mereka. Hal ini dikarenakan di lingkungan tersebut pernah mengadakan kegiatan seperti outbound, naik gunung dan camping. Pada pelaksanaan kegiatan, peserta yang mengikuti rata-rata adalah kaum muda di daerah tersebut. Kaum muda sangat berminat dengan kegiatan ini, karena kegiatan ini tidak hanya memperkembangkan kepribadian mereka tetapi juga menjadi sarana untuk menghilangkan kepenatan di sekolah maupun di pekerjaan mereka. Kegiatan ini juga menarik karena menantang keberanian dan mental mereka, sehingga diharapkan dalam situasi apapun mereka dapat berusaha menghadapi segala macam tantangan yang mereka hadapi. Penggerak kaum muda di lingkungan tersebut aktif dan kreatif. Mereka selalu memberikan kegiatan yang sebagian besar diminati oleh kaum muda dan mereka juga memilih waktu yang tepat dalam pelaksanaan kegiatan tersebut agar semua kaum muda dapat mengikuti tanpa mengganggu kegiatan sekolah dan pekerjaan.

  Pada item no 5, responden sebanyak 10 orang dengan prosentase 33 % menyatakan bahwa mereka pernah ikut serta menjadi relawan dan panitia penggalangan dana bantuan kepada korban bencana alam. Ada beberapa kaum muda yang tergerak hatinya dan aktif dalam kegiatan sosial di masyarakat ataupun di gereja. Mereka tidak hanya sekedar mencari dana bagi korban bencana alam, tetapi mereka terjun langsung di tempat bencana dan menjadi relawan bagi korban bencana alam tersebut. Mereka pernah menjadi relawan saat musibah gunung Merapi meletus di Yogyakarta. Dari fakta ini dapat diketahui bahwa kaum muda memiliki keprihatinan terhadap penderitaan sesama di sekitarnya. Mereka dengan rela dan ikhlas mau meluangkan waktu dan tenaganya untuk para korban yang sedang mengalami musibah.

  Pada item no 5 ini juga diketahui 20 orang dengan prosentase 66,7 % menyatakan bahwa mereka belum pernah ikut menjadi relawan dan panitia penggalangan dana bantuan bagi korban bencana alam. Jumlah ini lebih banyak daripada jumlah responden yang pernah ikut menjadi relawan. Hal ini dikarenakan kaum muda di stasi tersebut didominasi oleh pelajar dan mahasiswa, umur mereka juga dapat dikatakan masih remaja sehingga kadang orang tua kurang mengijinkan dan memperbolehkan anaknya untuk menjadi relawan. Hal lain juga dikarenakan di lingkungan tempat tinggal kaum muda tersebut, mereka tinggal di daerah yang jarang terkena bencana alam, sehingga mereka kurang mempunyai pengalaman menjadi relawan. Apabila ada kegiatan seperti itu, mereka hanya memberikan bantuan dan menyalurkan sumbangan kepada panitia

  Pada item no 6, responden sebanyak 20 orang dengan prosentase 66,7 % menyatakan bahwa mereka ikut dalam kerja bakti di lingkungan sebagai bentuk kepedulian menjadi anggota masyarakat yang baik. Dari kenyataan ini diketahui bahwa kaum muda aktif terlibat dalam kegiatan di lingkungan seperti kerja bakti.

  Hal ini dikarenakan mereka mempunyai kesadaran akan perannya dalam masyarakat. Kesadaran mereka itu muncul melalui pengarahan yang baik dari orang tua dan lingkungan yang selalu terbuka menerima kaum muda untuk terlibat dalam setiap kegiatan yang diadakan di dalam masyarakat sehingga mereka merasa diakui dan menyadari bahwa mereka menjadi bagian dalam masyarakat

  Pada item no 7, responden sebanyak 23 orang dengan prosentase 76,7 % menyatakan bahwa mereka menyukai kegiatan Gereja yang menarik dan dapat membawa mereka untuk lebih memahami iman dengan mudah. Dari jumlah responden yang menyatakan menyukai kegiatan Gereja yang menarik tersebut, diketahui bahwa mereka sangat merindukan suatu kegiatan di gereja yang menarik dan memotivasi mereka untuk mengikutinya. Kaum muda selalu mengharapkan sesuatu perubahan dan hal-hal baru yang dapat menarik minat mereka dalam mengikuti kegiatan-kegiatan yang diadakan di gereja. Kegiatan-kegiatan seperti ini mampu membantu kaum muda dalam memahami dan menghayati imannya karena dengan kegiatan yang menarik dan berbeda, kaum muda akan menjadi antusias mengikutinya.

  Pada item no 8, responden sebanyak 27 orang dengan prosentase 90% menyatakan bahwa mereka ingin terlibat dalam hidup menggereja sebagai bentuk kaum muda sebenarnya ingin terlibat dalam hidup menggereja. Mereka menyadari bahwa imannya harus dihayati dan diwujudkan dalam kehidupan konkret sehari- hari. Meskipun untuk mewujudkan hal tersebut mereka memerlukan proses dan pendampingan bagi mereka.

  3)

Faktor Pendukung Dan Penghambat Keterlibatan Kaum Muda Dalam

Hidup Menggereja.

  Variabel faktor pendukung dan penghambat keterlibatan kaum muda dalam hidup menggereja menunjukan bahwa pada item no 9 responden sebanyak 27 orang dengan prosentase 90% menyatakan bahwa orang tua memberi dukungan dan pendampingan dalam setiap kegiatan di gereja yang diikuti oleh kaum muda. Orang tua menjadi faktor utama kaum muda dapat aktif terlibat dalam hidup menggereja. Pendampingan dan pengarahan orang tua sangat berpengaruh bagi perkembangan iman anak. Anak akan aktif terlibat apabila keluarga mendorong mereka untuk terlibat dalam hidup menggereja.

  Suasana dalam keluarga yang harmonis dan selalu mengutamakan iman dapat memberikan motivasi kaum muda untuk memperkembangkan imannya.

  Suasana keluarga yang harmonis itu dapat terlihat dari hubungan antar anggota keluarga yang baik, saling mendukung dan selalu membiasakan hal-hal positif di dalam keluarga. Hal-hal positif itu tercermin dari seperti misalnya; kebiasaan makan bersama, kebiasaan saling berkumpul bersama dan yang paling utama adalah kebiasaan dalam keluarga untuk menerapkan doa bersama dalam keluarga. Apabila dalam keluarga tercermin suatu keharmonisan, maka akan berdampak menerapkan kebiasaan-kebiasaan yang ada di dalam keluarga tersebut. Orang tua juga secara serius mendampingi dan membimbing anaknya, sehingga anak tersebut dapat mematuhi dan mencontoh kebiasaan baik dari orang tuanya. Orang tua yang aktif terlibat dalam hidup menggereja secara tidak langsung juga mengajak dan mengarahkan anaknya juga untuk terlibat dalam hidup menggereja demi perkembangan dan penghayatan iman mereka.

  Keadaan lingkungan tempat tinggal juga menjadi faktor pendukung bagi keaktifan kaum muda dalam hidup menggereja. Lingkungan yang bersahabat dan tidak membeda-bedakan agama, menjadikan kaum muda dapat secara bebas melaksanakan dan mengikuti setiap kegiatan di gereja yang kadang tidak diadakan di gereja melainkan diadakan di lingkungan tempat tinggal mereka. Situasi masyarakat yang terbuka terhadap perbedaan yang ada memberikan kenyamanan dan membuat mereka diterima di dalam masyarakat. Keadaan seperti ini kadang berbanding terbalik dengan keadaan lingkungan yang kurang terbuka terhadap kaum monoritas. Kaum muda yang tinggal di lingkungan seperti itu akan merasa sendiri dan tidak bebas melakukan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan hidup menggereja. Mereka merasa takut dan merasa mengganggu kenyamanan masyarakat di lingkungan tersebut sehingga kegiatan dalam hidup menggereja kurang dapat dilaksanakan secara rutin hanya misa di gereja saja yang dapat mereka ikuti.

  Pada item no 10, responden sebanyak 28 orang dengan prosentase 93,4% menyatakan bahwa kegiatan yang dikoordinir kaum muda dapat berjalan lancar muda. Hal menunjukkan bahwa Gereja mengusahakan sikap terbuka terhadap kegiatan yang diadakan oleh kaum muda. Gereja menyediakan tempat dan kesediaan untuk membimbing dan memberikan perhatian terhadap kegiatan yang dikoordinir kaum muda. Gereja menyadari bahwa kaum muda tidak dapat sepenuhnya melaksanakan kegiatan sendiri. Mereka masih membutuhkan pendampingan dan pengarahan agar kegiatan tersebut berjalan dengan lancar.

  Meskipun kegiatan dikoordinir oleh kaum muda, Gereja tetap terbuka memberikan bantuan dan memberikan saran yang baik dan berguna bagi kelancaran kegiatan tersebut.

  Pada item no 11, responden sebanyak 25 orang dengan prosentase 83,4% menyatakan bahwa kaum muda memiliki kesadaran untuk mengembangkan imannya melalui keterlibatan dalam hidup menggereja. Dari kenyataan tersebut, dapat dilihat bahwa kaum muda mempunyai kesadaran bahwa imannya harus dikembangkan dengan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Bentuk perwujudannya itu antara lain dengan aktif terlibat dalam hidup menggereja.

  Untuk menyadarkan mereka akan pentingnya peran mereka dalam hidup menggereja, mereka memerlukan pendampingan dan pengarahan. Pendampingan bagi kaum muda juga sebaiknya disesuaikan dengan minat, harapan dan permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh kaum muda, sehingga kaum muda merasa diterima keberadannya dan semakin diteguhkan imannya dan dapat mengatasi segala macam permasalahan yang sedang dihadapi. Apabila mereka sudah memiliki kesadaran untuk mengembangkan imannya tersebut, maka mereka juga akan mengusahakan diri untuk mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari dengan aktif terlibat dalam hidup menggereja.

  Pada item no 12, responden sebanyak 27 orang dengan prosentase 89,9% menyatakan bahwa semangat dan ide kreatif dari kaum muda dapat memberikan nuansa baru bagi Gereja. Fakta tersebut menunjukkan bahwa kaum muda juga ingin diakui keberadaannya oleh Gereja. Kaum muda memiliki ide kreatif yang dapat disumbangkan untuk Gereja melalui kegiatan yang dikoordinir langsung oleh kaum muda, sehingga mereka dapat mengekspresikan apa yang ada dalam jiwa mereka. Mereka juga ingin kegiatan yang dikoordinir oleh kaum muda tersebut mendapat apresiasi positif dan dukungan dari seluruh umat, sehingga ke depannya kaum muda mempunyai kebebasan melaksanakan kegiatan di gereja dengan baik dan tentunya dengan pengarahan dan pendampingan yang tepat.

  Pada item no 13, responden sebanyak 28 orang dengan prosentase 93,3% menyatakan bahwa Gereja terbuka terhadap kaum muda yang melaksanakan segala kegiatan di gereja. Gereja memberikan perhatiannya terhadap kegiatan- kegiatan yang diadakan oleh kaum muda. Perhatiannya gereja itu dapat berupa fasilitas tempat, transportasi dan dana yang dibutuhkan kaum muda demi kelancaran kegiatan tersebut. Dukungan yang diberikan oleh Gereja tersebut dapat mempermudah dan memperlancar kegiatan-kegiatan yang dilaksakan oleh kaum muda. Kaum muda menjadi semangat dalam melaksanakan setiap kegiatan.

  Mereka membuat kegiatan yang menarik yang tidak hanya dinikmati oleh kaum muda saja melainkan seluruh warga Gereja. Kegiatan tersebut misalnya; Ekaristi malam Natal, Misa pergantian tahun, dan acara-acara lainnya yang dikoordinir kaum muda tetapi melibatkan seluruh umat Gereja.

  Pada item no 14, responden sebanyak 16 orang dengan prosentase 53,3% menyatakan bahwa kegiatan di gereja tidak cocok dengan minat kaum muda. Ada sebagian kaum muda yang aktif dalam hidup menggereja tetapi ada juga kaum muda yang belum terlibat dalam hidup menggereja. Hal ini dikarenakan belum ada kegiatan yang dapat menarik kaum muda untuk ikut terlibat. Kegiatan yang dilaksanakan juga tidak sesuai dengan minat kaum muda, sehingga terkesan tidak menarik. Kaum muda menjadi malas dan hanya sesekali saja terlibat.

  Pada item no 15, responden sebanyak 17 orang dengan prosentase 56,6% menyatakan bahwa umat dan Gereja memberikan kebebasan bagi kaum muda untuk mengekspresikan dan menuangkan idenya dalam kegiatan-kegiatan yang melibatkan kaum muda di gereja. Fakta ini dapat diketahui bahwa Gereja sudah sepenuhnya dapat mempercayakan kegiatan-kegiatan yang dikoordinir oleh kaum muda. Kaum muda menjadi percaya diri untuk dapat ambil bagian dalam setiap kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh Gereja. Kaum muda merasa bebas untuk menuangkan ide dan gagasannya dalam kegiatan-kegiatan tersebut, sehingga mereka merasa diterima dan suatu kebanggaan bagi mereka apabila dalam kegiatan tersebut mereka mendapatkan apresiasi yang positif dari Gereja maupun umat.

  Pada item no 16, responden sebanyak 18 orang dengan 59,9% menyatakan bahwa sering kali kesibukan di sekolah dan tempat kerja menggereja. Kenyataan tersebut menunjukkan bahwa kesibukan di sekolah dan tempat kerja menjadi alasan kaum muda kurang dapat aktif terlibat dalam hidup menggereja. Kaum muda yang masih pelajar disibukkan dengan kegiatan sekolah dan ektrakurikuler. Bahkan ada bebarapa kaum muda yang masih pelajar, pada hari minggupun masih mengikuti kegiatan yang diadakan di sekolah. Tuntutan dari sekolah yang tinggi membuat kaum muda banyak mengikuti kegiatan di sekolah yang dapat menunjang prestasinya, sehingga mereka mengesampingkan kegiatan di gereja maupun di lingkungan mereka tinggal. Tetapi kaum muda tersebut masih mengusahakan dirinya untuk terlibat dalam kegiatan-kegiatan di gereja maupun di lingkungan. Apabila mereka tidak disibukkan dengan kegiatan sekolah, mereka akan mengikuti kegiatan di gereja maupun lingkungan. Jadi tidak sepenuhnya mereka tidak pernah ambil bagian dalam kegiatan tersebut. Begitu pula bagi responden yang sudah bekerja, mereka akan mengikuti kegiatan di gereja atau di lingkungan apabila waktunya tepat dan tidak bertabrakan dengan pekerjaannya.

  Pada item no 17, responden sebanyak 21 orang responden dengan prosentase 70% menyatakan bahwa mereka kurang begitu menggunakan waktu luang dengan bermain dan browsing di internet. Fakta tersebut menunjukkan bahwa kaum muda tidak terlalu intensif menghabiskan waktunya untuk bermain dan browsing di internet meskipun teknologi saat ini sudah canggih dan banyak alat-alat komunikasi yang dapat terhubung langsung dengan internet. Di daerah atau lingkungan sekitar tempat tinggal kaum muda, fasilitas internet juga belum tersebut. Mereka lebih disibukkan dengan kegiatan-kegiatan di sekolah seperti misalnya; les, ekstrakurikuler dan kegiatan-kegiatan lainnya. Menurut pengamatan yang penulis lihat dan peryataan dari beberapa responden bahwa mereka kebanyakan hanya menggunakan handphone sebagai alat komunikasi dan mereka juga jarang menggunakan fasilitas internet hanya disesuaikan dengan kebutuhan atau karena ada tugas dari sekolah atau pekerjaan yang mengharuskan mereka mencarinya di internet.

  Pada item no 18, responden sebanyak 19 orang dengan prosentase 63,3% menyatakan bahwa belum ada kegiatan yang dapat memotivasi kaum muda untuk tertarik dan terlibat dalam hidup menggereja. Kenyataan ini menunjukkan bahwa kegiatan yang diadakan di gereja kurang dapat memotivasi kaum muda untuk tertarik mengikuti. Kegiatan yang diadakan terkesan monoton dan hanya itu-itu saja. Kaum muda merasa bosan bila mengikuti kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh Gereja karena belum ada kegiatan yang membuat mereka tertarik untuk mengikutinya. Kegiatan yang diadakan di gereja tidak disesuaikan dengan keadaan dari kaum muda, sehingga kadang kaum muda kurang mengerti dan memahaminya. Kaum muda lebih menyukai kegiatan yang sesuai dengan jiwa muda mereka yang mampu membawa mereka pada penghayatan iman yang mendalam tanpa merasakan bahwa kegiatan tersebut membosankan dan membuat mereka jenuh saat mengikutinya.

  4)

Harapan Dari Kaum Muda Untuk Meningkatkan Keterlibatan Mereka

Dalam Hidup Menggereja Di Stasi Gembala Yang Baik.

  Pada variabel harapan dari kaum muda dalam rangka meningkatkan no 19 menunjukkan bahwa responden sebanyak 28 orang dengan prosentase 93,3% menyatakan bahwa kegiatan pendalaman iman kaum muda akan membantu kaum muda untuk semakin menghayati imannya dalam kehidupan sehari-hari.

  Fakta tersebut menunjukkan bahwa kaum muda menginginkan sesuatu kegiatan yang dapat membawa mereka pada penghayatan iman yang lebih mendalam.

  Kegiatan seperti pendalaman iman bagi kaum muda diharapkan mampu menyadarkan mereka untuk menghayati imannya dengan mewujudkannya dalam kehidupan konkret sehari-hari. Perwujudan iman yang konkret itu adalah berupa keterlibatan dalam hidup menggereja dan masyarakat.

  Pada item no 20, responden sebanyak 30 orang dengan prosentase 100% menyatakan setuju bahwa pendalaman iman kaum muda yang sesuai dengan minat dan semangat kaum muda dapat menumbuhkan rasa persaudaraan dan penghayatan iman mereka. Pendalaman iman yang rutin dilaksanakan diharapkan dapat membantu kaum muda meningkatkan penghayatan imannya. Kaum muda semakin memahami bahwa iman mereka perlu mereka wujudkan dalam kehidupan sehari-hari, yaitu dengan terlibat aktif dalam hidup menggereja dan mengusahakan diri untuk bersikap positif terhadap orang di sekitarnya sehingga timbul rasa persaudaraan antar sesama. Pendalaman iman bagi kaum muda juga harus disesuaikan dengan semangat dan jiwa kaum muda. Metode dan materinya dibuat sesuai dengan gaya dan minat kaum muda, hal ini dimaksudkan agar kaum muda tertarik dan terdorong untuk selalu mengikuti pendalaman iman tersebut, sehingga harapan dari terlaksananya pendalaman iman bagi kaum muda ini dapat menemukan keyakinan imannya yang mendalam Oleh karena itu mereka juga memerlukan pendamping yang dapat membantu mereka dalam penghayatan dan perkembangan imannya. Pendamping tersebut diharapkan mampu mengerti situasi dan permasalahan yang dihadapi oleh kaum muda, sehingga melalui pengertian dan perhatian pendamping tersebut kaum muda dapat merasa disapa dan timbul rasa persaudaraan yang kuat.

b. Pembahasan Hasil Penelitian Kuesioner Terbuka

  Pada bagian ini penulis akan membahas mengenai jawaban-jawaban responden pada kuesioner terbuka. Pada kuesioner terbuka ini, responden dapat secara bebas menungkapkan isi hatinya dan harapannya atas pertanyaan- pertanyaan yang diberikan. Pada kuesioner terbuka ini dapat diketahui berbagai jawaban dari responden tersebut. Jawaban mereka beragam namun ada yang sama. Dalam pembahasan ini, penulis mencoba menyatukan berbagai jawaban responden yang sama dan memisahkan beberapa jawaban responden lain yang memiliki jawaban berbeda.

  Pada item no 1, diketahui bahwa responden rata-rata menjawab bahwa terlibat dalam hidup menggereja merupakan suatu keharusan bagi kaum muda namun dari jawaban tersebut ditemukan beberapa alasan dari keharusan kaum muda terlibat dalam hidup menggereja tersebut. Alasan tersebut antara lain: bahwa kaum muda merupakan masa depan Gereja; kaum muda merupakan harapan bagi Gereja. Kaum muda merupakan umat Allah yang mendapat tugas nyata dari imannya yang mendalam pada Yesus Kristus. Dari pernyataan tersebut diketahui bahwa kaum muda mengerti dan memahami sebagai umat Katolik mereka mempunyai kesadaran untuk memperkembangkan imannya melalui keterlibatannnya dalam hidup menggereja. Mereka menyadari bahwa kaum muda adalah harapan Gereja, sehingga mereka wajib ikut serta dalam setiap kegiatan yang ada di gereja demi perkembangan iman dan penghayatan iman yang semakin mendalam.

  Pada item no 2, kita akan melihat dan membahas apa saja yang menjadi motivasi bagi kaum muda untuk terlibat dalam hidup menggereja.

  Untuk terlibat dalam hidup menggereja, kaum muda membutuhkan sesuatu yang dapat memotivasi mereka untuk memiliki kesadaran sebagai orang Katolik.

  Mereka harus terlibat dalam hidup menggereja. Motivasi yang datang dari keluarga, diri sendiri, teman, Gereja dan seluruh umat membuat mereka menyadari bahwa keterlibatan itu adalah suatu bentuk iman yang konkret. Selain itu, motivasi itu juga datang dari keinginan dalam dirinya untuk memuliakan Tuhan dengan cara aktif terlibat dalam hidup menggereja. Pernyataan yang diberikan oleh responden, diketahui bahwa untuk terlibat dalam hidup menggereja mereka memerlukan sebuah dukungan dari orang-orang di sekitar mereka yang dapat memotivasi mereka. Dukungan itu berupa perhatian, pendampingan, semangat dan penerimaan yang baik terhadap keberadaan mereka di lingkungan masyarakat maupun di gereja.

  Pada item no 3, diketahui beberapa faktor yang menjadi pendukung kaum

  Faktor yang mendukung kaum muda dapat terlibat aktif dalam hidup menggereja adalah kesadaran dalam diri sendiri untuk aktif terlibat dalam hidup menggereja. Dukungan dari orang tua dan teman juga menjadi faktor penyemangat dalam mengikuti kegiatan-kegiatan di gereja. Responden juga menyatakan bahwa aktif dalam hidup menggereja merupakan suatu bentuk kewajiban untuk melayani Tuhan. Mereka menyadari bahwa iman mereka perlu diwujudkan dalam kehidupan konkret sehari-hari melalui keterlibatannya dalam hidup menggereja tetapi hal itu masih memerlukan proses dan pendampingan.

  Umat dan Gereja juga memberikan kebebasan bagi kaum muda untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan di gereja, sehingga kaum muda dapat menuangkan ide-idenya dalam kegiatan yang diadakan di gereja dan dapat memberikan nuansa yang berbeda di gereja. Dorongan kaum muda untuk terlibat dalam hidup menggereja juga dikarenakan mereka ingin mempererat persaudaraan dan mengembangkan relasi dengan sesama kaum muda yang ada di stasi maupun paroki. Apabila rasa persaudaraan antar kaum muda di stasi itu baik, maka segala yang kegiatan yang dilaksanakan oleh kaum muda dapat berjalan dnegan baik.

  Melihat kenyataan ini, dapat dilihat bahwa kaum muda juga mempunyai kesadaran untuk terlibat dalam hidup menggereja tetapi mereka juga masih memerlukan dukungan dan perhatian dari orang-orang di sekitar mereka yang mendampingi dan mengarahkan mereka.

  Pada item no 4 akan dibahas mengenai alasan-alasan yang menyebabkan kaum muda belum dapat terlibat dalam hidup menggereja di stasi Gembala Yang

  Kesibukan dan sulitnya membagi waktu antara kegiatan sekolah atau pekerjaan, kegiatan pribadi dan kegiatan dalam hidup menggereja menjadi alasan yang banyak diberikan oleh kaum muda. Mereka merasa kurang dapat meluangkan waktunya untuk terlibat dalam hidup menggereja. Banyaknya tuntutan sekolah maupun pekerjaan mengakibatkan mereka jarang mengikuti kegiatan-kegiatan gereja. Tetapi sesekali bila mereka memiliki waktu senggang dan kegiatan pribadi tidak bersamaan dengan kegiatan gereja, mereka akan menyempatkan untuk ikut dan terlibat. Kaum muda kadang juga merasa malas, karena kegiatan gereja belum menarik minat mereka. Kegiatan dirasa kurang bervariatif sehingga kaum muda tidak tertarik. Kaum muda jarang terlibat dalam hidup menggereja dikarenakan kesibukan mereka di sekolah maupun di tempat kerja. Tuntutan di sekolah juga mengharuskan mereka untuk mengikuti les atau ekstrakurikuler demi memperoleh nilai yang tinggi dan pencapaian akhir yang baik. Mereka lebih berfokus pada kegiatan-kegiatan sekolah dan mengesampingkan kegiatan-kegiatan gereja. Mereka menganggap bahwa beberapa kegiatan yang diadakan oleh Gereja yang pernah mereka ikuti biasa saja dan tidak sesuai dengan semangat dan jiwa muda saat ini. Mereka menginginkan adanya kegiatan Gereja yang dapat memotovasi semua kaum muda untuk terlibat mengikuti. Oleh karena itu diharapkan dari pihak Gereja seperti misalnya Pastor dan para pendamping kaum muda lebih memperhatikan mereka dan mengajak mereka untuk berperan aktif dalam hidup menggereja melalui kegiatan-kegiatan yang menarik dan sesuai dengan minat kaum muda.

  Pada item no 5 ini, kita akan melihat harapan-harapan kaum muda agar kegiatan untuk kaum muda sungguh dapat berguna bagi pengembangan dan penghayatan iman mereka.

  Kaum muda menginginkan bahwa setiap kegiatan untuk kaum muda dibuat dengan semenarik mungkin dan tidak monoton. Pertemuan rutin yang bervariasi seperti misalnya; retret, pendalaman iman dan rekoleksi hendaknya juga dilaksanakan dan direncanakan dengan baik. Agar pelaksanaannya tidak menggganggu kesibukan kaum muda, hendaknya kegiatan itu dilaksanakan dengan mengambil waktu yang tepat sehingga semua kaum muda dapat mengikutinya. Mereka mengharapkan pembimbing yang supel dan dapat memberi inovasi-inovasi baru dalam setiap kegiatan yang diadakan. Kegiatan yang diadakan mampu memotivasi kaum muda untuk dapat mengembangkan imannya.

  Melihat dari kenyataan yang disebutkan di atas, kaum muda mengharapkan suatu kegiatan yang menarik dan sesuai minat kaum muda saat ini.

  Yang terpenting kegiatan tersebut dapat mengembangkan iman mereka dan memberikan mereka kesadaran bahwa iman itu perlu mereka wujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Kaum muda merupakan tunas-tunas Gereja, yang mampu memperkembangkan Gereja dan memberi nuansa baru bagi Gereja. Untuk itu segenap warga Gereja juga diharapkan mampu membimbing dan mendampingi kaum muda untuk menyadarkan mereka bahwa mereka adalah bagian penting dalam perkembangan Gereja.

4. Kesimpulan Hasil Pembahasan Penelitian

  Kesimpulan dari laporan penelitian di stasi Gembala Yang Baik mengenai keterlibatan kaum muda dalam hidup menggereja ini akan menjadi titik tolak dalam penyusunan program atau kegiatan yang akan dilaksanakan di stasi Gembala Yang Baik dalam usaha meningkatkan keterlibatan mereka dalam hidup menggereja. Kaum muda di Stasi Gembala Yang Baik terdiri dari pelajar, mahasiswa dan karyawan. Mereka memiliki kesibukan dan tuntutan yang mengharuskan mereka untuk menyediakan waktu penuh terhadap kegiatan dan pekerjaan mereka, sehingga mereka kesulitan untuk terlibat dalam hidup menggereja. Tetapi sebenarnya ada kemauan dari mereka untuk meluangkan waktu terlibat dalam hidup menggereja. Kegiatan Gereja seperti misalnya Misa untuk kaum muda, pendalaman iman, koor di gereja dan kegiatan-kegiatan yang diadakan di lingkungan tempat tinggalnya pernah mereka ikuti. Kaum muda menyadari bahwa sebagai umat Katolik, mereka juga harus menunjukkan perannya dalam kegiatan-kegiatan yang diadakan di gereja maupun di masyarakat. Tetapi mereka masih memerlukan proses dan pengarahan agar mereka termotivasi dan benar-benar menyadari bahwa mereka mempunyai peranan penting bagi perkembangan Gereja. Motivasi itu berasal dari keluarga, lingkungan sekitar dan diri sendiri. Keberadan keluarga yang harmonis dan selalu menerapkan kebiasaan- kebiasaan positif dalam keluarga dapat mendukung mereka untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Situasi lingkungan yang kondusif dan terbuka dengan perbedaan, membuat kaum muda nyaman dalam melakukan tersebut dapat mendukung kaum muda terlibat dalam hidup menggereja dan yang terpenting adalah motivasi dalam diri sendiri.

  Melihat dari permasalahan dan harapan kaum muda, penulis mencoba mengusulkan sebuah program pendampingan bagi kaum muda dengan melaksanakan katekese. Katekese yang sesuai dengan situasi dan harapan dari kaum muda itu adalah katekese kaum muda. Katekese kaum muda ini dirasa dapat membantu kaum muda meningkatkan pemahaman dan penghayatan iman mereka. Melalui harapan-harapan dari kaum muda tersebut, katekese kaum muda ini diselenggarakan dengan bertitik tolak pada situasi kaum muda dan metode yang digunakan juga disesuaikan dengan minat dan semangat kaum muda saat ini.

BAB IV KATEKESE KAUM MUDA UNTUK MENINGKATKAN KETERLIBATAN KAUM MUDA DALAM HIDUP MENGGEREJA DI STASI GEMBALA YANG BAIK, PAROKI SANTO YUSUF BATANG A. Katekese Kaum Muda Pada bab sebelumnya, penulis telah memaparkan mengenai metode

  penelitian dan pembahasannya. Pada pembahasan penelitian, diketahui bahwa kaum muda merindukan suatu kegiatan yang dapat membantu mereka dalam perkembangan dan penghayatan iman mereka. Mereka menginginkan suatu pendampingan yang rutin dilaksanakan dan dapat dihadiri oleh seluruh kaum muda. Selama ini kaum muda belum mendapatkan kegiatan pendampingan dari Gereja yang mampu membuat mereka termotivasi untuk mengikutinya.

  Pada bab IV ini, penulis akan memaparkan suatu kegiatan pendampingan untuk kaum muda yaitu katekese kaum muda. Katekese kaum muda ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran kaum muda untuk aktif terlibat dalam hidup menggereja di stasi Gembala Yang Baik, Paroki Santo Yusuf Batang.

  Katekese dipahami sebagai pembinaan iman anak-anak, remaja, kaum muda dan orang tua (CT art 18). Katekese kaum muda hendaknya berangkat dari situasi yang dialami oleh kaum muda saat itu. Katekese kaum muda ini bertujuan agar kaum muda semakin memperdalam dan mengembangkan iman mereka yang diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

  Bab ini akan menjelaskan mengenai katekese kaum muda yang diuraikan katekese kaum muda, figur katekis untuk kaum muda. Bab ini juga diuraikan usulan program katekese kaum muda, uraian tema dan tujuan, matriks penjabaran program dan contoh persiapan katekese kaum muda.

1. Pengertian Katekese Kaum Muda

  Katekese kaum muda adalah komunikasi iman antarkaum muda kristiani mengenai pengalaman hidup mereka yang digali atau diungkapkan maknanya sehingga mereka terbantu untuk menjadi orang kristiani yang utuh (beriman, bermoral, terbuka, serta memiliki harapan dan cinta) dan siap menjadi pelaksana Sabda Allah demi terwujudnya Kerajaan Allah (Suhardiyanto, 2012: 387). Menurut Sene (1989:60), katekese bagi kaum muda merupakan salah satu bentuk kegiatan yang dijalankan oleh Gereja yang mengarah pada perkembangan iman kaum muda.

  Pada intinya katekese kaum muda ini adalah proses pendampingan iman bagi kaum muda, dimana dalam proses pelaksanaannya, katekese ini bertolak pada pengalaman iman kaum muda. Proses katekese ini ingin mengajak kaum muda untuk bersama-sama dapat mengartikan peristiwa hidupnya dalam terang iman akan Yesus Kristus. Pengalaman hidup iman mereka adalah sesuatu yang utama dalam katekese kaum muda ini, karena pengalaman hidup iman mereka sehari-hari inilah yang merupakan isi dari katekese yang akan dilaksanakan dan bersama-sama diolah demi perkembangan iman mereka. Pada setiap katekese diharapkan terjadi suatu komunikasi di dalamnya. Komunikasi itu terjadi antara katekese peserta dapat memahami setiap proses yang dilaksanakan dan dengan terbuka membagikan pengalaman hidup dan imannya, sehingga antar peserta saling meneguhkan dan diharapkan mereka semakin sadar untuk mewujudkan imannya dalam kehidupan sehari-hari.

  Pada proses pelaksanaan katekese kaum muda ini, tidak hanya teori mengenai Kitab Suci dan materi iman kepada peserta saja, melainkan lebih pada keadaan dan situasi yang dialami oleh kaum muda saat ini. Hal ini dimaksudkan agar peserta dapat tersentuh dan dapat mudah memahami serta menghayatinya.

  Pada kenyataannya kaum muda lebih menyukai sesuatu yang dapat menginspirasi mereka untuk dapat berekspresi sesuai dengan apa yang ada dalam dirinya. Untuk itu dalam proses katekese kaum muda ini digunakan sarana dan metode yang menarik seperti misalnya; pemutaran film, lagu-lagu yang menarik dan disukai oleh kaum muda, menggunakan alat musik untuk mengiringi proses katekese, penggunaan instrumen, cerita bergambar, permainan, outbound dan sarana-sarana lainnya yang menarik. Dalam katekese kaum muda ini menekankan relasi yang akrab antara peserta dengan peserta yang lain dan antara peserta dengan pendamping. Suasana dalam proses katekese ini juga tidak terlalu kaku tetapi santai dan kadang diselingi dengan senda gurau sehingga peserta tidak menjadi bosan. Pendamping katekese juga kreatif dan inovatif dalam menciptakan suasana yang kondusif dan akhirnya mampu mengajak peserta untuk terlibat aktif proses katekese tersebut.

  2. Tujuan Katekese Kaum Muda

  Katekse kaum muda ingin mengajak kaum muda untuk dapat mengkomunikasikan pengalaman hidupnya dalam terang iman akan Yesus Kristus. Pada proses katekese, kaum muda diberikan kebebasan untuk membagikan pengalaman imannya itu dan saling meneguhkan satu sama lain.

  Kaum muda memiliki permasalahan yang dialami dalam hidupnya. Permasalahan itu dapat berasal dari keluarga, teman atau lingkungan sekitarnya. Melalui katekse kaum muda ini, mereka diharapkan dapat menghadapi permasalahannya itu dengan imannya yang dewasa. Iman yang dewasa itu adalah mereka mampu mengatasi permasalahan yang dialami dengan mengandalakan iman dan kepercayaannya akan Tuhan dan dapat menyelesaikannya dengan sikap yang positif. Tujuan katekese ini yang terpenting adalah ingin membantu kaum muda untuk dapat menghayati imannya dan memiliki kesadaran untuk dapat mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari.

  3. Kekhasan Katekese Kaum muda

  Kita ketahui bahwa kaum muda lebih menyukai suatu kegiatan yang menarik, tidak monoton dan bervariasi. Mereka menyukai kegiatan yang sesuai dengan jiwa dan semangat muda mereka. Pada katekese kaum muda ini, kaum muda adalah fokus utama dalam katekese. Katekese kaum muda ini lebih banyak mengangkat permasalahan-permasalahan yang sedang dialami oleh kebanyakan kaum muda saat ini. Suasana dalam proses pelaksanaan katekese juga santai dan dapat membuat kaum muda tidak jenuh dan bosan. Melihat pada jaman sekarang perkembangan teknologi semakin meningkat, metode dan media yang digunakan dalam katekese juga menyesuaikan dengan perkembangan jaman saat ini. Metode yang digunakan seperti misalnya; pemutaran film, penggunaan lcd, cerita bergambar dan media-media lain yang menarik. Dari metode yang digunakan ini diharapkan kaum muda termotivasi dan mereka dapat dengan mudah memahami dan menghayati iman mereka. Sehingga mereka terbantu dalam menyikapi segala permasalahan dalam hidupnya dengan terang iman akan Yesus Kristus.

  4. Figur Katekis Untuk Kaum Muda

  Dalam proses pelaksanaan katekese, peranan katekis atau pemimping katekese juga penting dan menentukan dapat berlangsungnya ketekese. Katekis berperan sebagai fasilitator yang membantu peserta yaitu kaum muda untuk dapat menghayati dan memaknai segala permasalah hidupnya dalam terang iman akan Yesus Kristus. Untuk membantu peserta dalam penghayatan iman yang lebih mendalam, katekis juga memerlukan pendekatan secara pribadi pada peserta.

  Pendekatan itu dimaksudkan bahwa katekis mampu menjadi sahabat yang baik bagi kaum muda dan mengusahakan hubungan baik pada semua kaum muda.

  Katekis mengerti permasalahan yang sedang dialami oleh kaum muda dan mencoba menggali harapan-harapan dan kesulitan-kesulitan yang sedang mereka alami. Kaum muda menyukai katekis yang mau bersahabat dengan kaum muda tanpa membeda-bedakan satu dengan yang lainnya. Katekis juga mau mendengarkan dan memberikan pengarahan serta solusi dari permasalahan-

  Katekis harus dapat membina kaum muda untuk dapat menjaga kerukunan dan persaudaraan bagi sesama sebagai perwujudan imannya dalam kehidupan sehari-hari. Katekis yang baik adalah katekis yang dapat mencontohkan perilaku dan sikap positif terhadap kaum muda. Katekis menjadi cermin bagi kaum muda, karena katekis adalah panutan bagi kaum muda, maka katekis harus dapat bersikap dan bertindak sesuai dengan kehendak Allah.

  Katekis juga harus dapat menyesuaikan diri terhadap situasi kaum muda saat ini. Seperti yang kita ketahui bahwa budaya pop sekarang banyak mempengaruhi gaya hidup dan pergaulan kaum muda sehari-hari. Kaum muda menyukai sesuatu yang berhubungan dengan hiburan yang dapat memberi mereka kesenangan dan dapat menyediakan hal-hal yang mereka butuhkan dengan cepat. Dalam menyelenggarakan katekese, katekis harus membuat suasana ketekese disenangi oleh kaum muda dan tidak membuat mereka bosan. Metode dan sarana yang digunakan juga disesuaikan dengan gaya kaum muda saat ini, agar materi yang akan disampaikan mudah dimengerti oleh mereka. Katekis juga harus kreatif menggunakan sarana-sarana seperti pemutaran film, lagu-lagu yang saat ini disukai oleh kaum muda, permainan, cerita bergambar dan sarana-sarana lainnya yang menarik. Hal ini bertujuan agar katekese ini benar-benar membantu kaum muda dalam menghayati imannya dengan mudah. Mereka akan senang mengikuti katekese dengan nuansa yang berbeda dan dengan metode yang bervariasi dan menarik.

B. Usulan Program Katekese Kaum Muda Dalam Rangka Peningkatan Keterlibatan Kaum Muda Dalam Hidup Menggereja

  Pada bagaian sebelumnya telah dijelaskan mengenai pengertian katekese kaum muda, tujuan katekese kaum muda, ciri-ciri katekese kaum muda dan figur katekese kaum muda. Pada kenyataannya sebenarnya kaum muda ingin sekali mengembangkan imannya dan menghayati imannya, namun dalam prosesnya kaum muda mengalami kesulitan. Kesulitan itu kadang berasal dari dirinya sendiri, mereka kurang menyadari bahwa imannya itu perlu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Dapat diketahui pula bahwa kesulitan yang dialami kaum muda itu juga disebabkan karena belum adanya kegiatan di gereja yang memotivasi mereka untuk mengikutinya. Kagiatan di gereja kebanyakan terlalu membosankan dan tidak bervariasi, sehingga kaum muda kurang menyukainya dan bahkan mereka tidak mengikuti kegiatan tersebut.

  Melihat kenyataan tersebut, penulis ingin memberikan sumbangan pemikiran dalam program yang akan dirancang untuk mengatasi permasalahan dan kesulitan yang dihadapi kaum muda di Stasi Gembala Yang Baik. Program itu adalah katekese yang diperuntukkan oleh kaum muda, yaitu katekese kaum muda.

  Katekese kaum muda ini diharapkan dapat menjawab permasalahan dan harapan dari kaum muda. Katekese ini dikemas dengan bertitik tolak pada situasi kaum muda dan tentunya disesuaikan dengan jiwa dan semangat muda mereka. Materi yang diberikan harus mengena pada permasalahan-permasalahan yang dialami oleh kaum muda, metode yang digunakan juga bervariatif dengan menggunakan sarana yang menarik dan disukai oleh kaum muda. Kaum muda akan tertarik pemutaran film, permainan dan lain sebagainya yang sesuai dengan tema dan tentunya tetap dihubungkan dengan terang Injil. Mereka tidak menyukai pendalaman materi yang kaku dan hanya membahas Kitab Suci saja. Mereka menyukai suasana yang santai tetapi mengena di hati mereka. Pada pelaksanaan katekese kaum muda ini, penulis mengharapkan kaum muda dapat menghayati imannya dan termotivasi untuk aktif terlibat dalam hidup menggereja.

  Bagian ini akan diuraikan mengenai latar belakang penyusunan program, tujuan program dan gambaran pelaksanaan program, matriks program.

1. Latar Belakang Program

  Penghayatan iman yang diwujudkan dalam kehidupan konkret sehari-hari adalah penting. Keterlibatan dalam hidup menggereja adalah bentuk dari penghayatan iman yang diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam keterlibatan kita menunjukkan kesediaan kita untuk terbuka kepada Allah, melalui sesama. Keterlibatan itu misalnya kegiatan-kegiatan di gereja maupun di masyarakat. Sebagai umat Katolik, kita selalu mengusahakan diri untuk terlibat dalam hidup menggereja sebagai bentuk tindakan positif kita sebagai umat Allah.

  Kaum muda di stasi Gembala Yang Baik tidak semuanya aktif terlibat dalam hidup menggereja maupun masyarakat. Ada beberapa kaum muda yang aktif namun ada sebagian yang kurang aktif. Mereka yang kurang aktif menganggap bahwa kegiatan gereja kurang menarik minat mereka sehingga mereka lebih suka mengikuti kegiatan-kegiatan di luar gereja yang dirasa lebih menarik. Kaum muda perlu dibimbing dan diarahkan agar mereka memiliki mempunyai tugas untuk memperkembangkan Gereja melalui kegiatan-kegiatan di gereja yang mendukung hal tersebut.

  Pendampingan tersebut diharapkan mampu membawa kaum muda pada penghayatan iman yang mendalam yang dapat mereka wujudkan dalam kehidupan konkret mereka sehari-hari. Terlibat dalam hidup menggereja merupakan bentuk aktualisasi dari iman kepada Allah melalui tindakan-tindakan, sikap yang diwujudkan dalam hidup sehari-hari (Banawiratma, 1992:9).

2. Alasan Diadakannya Program Katekese Kaum Muda Katekese senantiasa menempatkan peserta sebagai subyek yang utama.

  Katekese sungguh dapat membantu umat dalam merefleksikan pengalaman hidupnya dan menemukan nilai-nilai Kristiani di dalam pengalaman tersebut.

  Katekese menjadi sarana bagi umat Kristiani untuk dapat saling bertukar pikiran dan berdialog satu sama lain. Katekese juga mengajak peserta untuk dapat menyadari serta menghayati imannya yang diwujudkan dalam kehidupan konkret sehari-hari.

  Katekese kaum muda dirasa sangat cocok sebagai sarana pendampingan iman bagi kaum muda. Melalui katekese, kaum muda dibimbing dan diarahkan imannya serta dibantu dalam penghayatan imannya. Katekese kaum muda ini ingin mengajak mereka untuk terbuka mengungkapkan permasalahan- permasalahan yang dialami dan harapan-harapan dalam hidupnya. Yang ingin dicapai dalam proses pelaksanaan katekese ini yaitu iman kaum muda semakin berkembang dan mereka dapat menghayati imannya secara mendalam dengan kesediannya untuk aktif dalam hidup menggereja sebagai bentuk imannya akan Yesus Kristus.

3. Tujuan Program

  Tujuan dibuatnya program katekese kaum muda di stasi Gembala Yang Baik adalah agar kaum muda menghayati imannya secara mendalam dan dengan kesadarannya mereka wujudkan dalam kehidupan konkret sehari-hari. Perwujudan iman mereka itu berupa keterlibatannya dalam kegiatan-kegiatan yang diadakan Gereja maupun masyarakat. Untuk sampai pada penghayatan iman yang mendalam tersebut, kaum muda memerlukan pengarahan dan pendampingan yang tepat bagi mereka dan katekese kaum muda ini dirasa cocok bagi kaum muda di stasi Gembala Yang Baik. Katekese kaum muda ini bertolak pada kaum muda, sehingga proses dan sasaran yang ingin dicapai selalu memeperhatikan situasi dan harapan dari kaum muda. Kaum muda menjadi subyek dari proses pelaksanaan katekese ini. Katekese kaum muda ini ingin mengajak kaum muda untuk menyadari imannya dan membantu mereka pada penghayatan iman yang diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Melihat dari kenyataan bahwa kaum muda tidak menyukai kegiatan yang monoton dan membosankan, maka katekese ini dibuat sesuai dengan metode yang menarik dan sesuai dengan jiwa dan semangat kaum muda.

  C. Gambaran Program

  Program katekse kaum muda ini akan dilaksanakan di stasi Gembala Yang dua kali yaitu pada hari sabtu minggu kedua dan hari sabtu minggu ke empat. Katekese kaum muda ini dimulai pada pukul 16.00-17.30 di ruang serba guna gereja stasi Gembala Yang Baik. Penulis akan memimpin jalannya katekese kaum muda di stasi tersebut yaitu pada hari sabtu minggu pertama dan pada hari sabtu minggu ke empat akan dipimping oleh katekis setempat.

D. Uraian Tema dan Tujuan

  Tema umum beserta penjabaran subtema diuraikan di dalam program pelaksanaan katekese. Uraian tema, tujuan, subtema, serta tujuan subtema yang akan digunakan dalam program diuraikan sebagai berikut: Tema Umum : Menghayati iman melalui keterlibatan dalam hidup menggereja.

  Tujuan Umum : Membantu kaum muda untuk menyadari dan menghayati imannya dalam kehidupan sehari-hari dengan terlibat dalam hidup menggereja. Tema I : Persahabatanku adalah persahabatan yang sejati dan sehati. Tujuan I : Membantu kaum muda untuk menjalin hubungan baik dengan sahabatnya tanpa membedakan dan mengusahakan sikap saling tolong menolong. Tema II : Aku berusaha maka akupun bisa.

  Tujuan II : Membantu kaum muda untuk menyadari kemampuan dan potensi-potensi dalam dirinya sehingga melalui kemampuan dan potensi yang mereka miliki tersebut dapat mereka salurkan dengan mengikuti kegiatan-kegiatan di gereja.

  Tema III : Bersahabat dengan Allah di Facebook. Tujuan III : Mengajak kaum muda untuk dapat menggunakan media

  facebook dengan sebaik mungkin dengan menjalin relasi yang

  positif dan mewartakan kasih Allah kepada teman-teman di facebook.

  Tema IV : Imanku akan berkembang bila aku terlibat dalam hidup menggereja.

  Tujuan IV : Menyadarkan kaum muda bahwa imannya perlu dikembangkan dan dihayati dengan terlibat dalam hidup menggereja.

E. Matriks Penjabaran Program Katekese Kaum Muda Tema Umum : Menghayati iman melalui keterlibatan dalam hidup menggereja.

  Tujuan Umum : Membantu kaum muda untuk menyadari dan menghayati imannya dalam kehidupan sehari-hari dengan terlibat dalam hidup menggereja No Tema Tujuan Tema Judul Tujuan Materi Metode Sarana Sumber

  Pertemuan Pertemuan Bahan

  (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9)

  • Persahabatanku Membantu Apakah kamu Membantu Kitab suci,

1 Permainan Tanya Amsal

  adalah kaum muda sahabat kaum muda Jawab slayer untuk 18:19-24 “Dimana untuk dapat

  • sejatiku? menemukan Kamu menutup mata - persahabatan

  Sharing 100 siapa yang Kawan”

  • yang sejati dan menjalin

  saat permainan permai- diskusi

  • sehati. hubungan baik menjadi sahabat - permainan dan nan Persahabat permai- dengan sejatinya. an yang nan speaker penyegar sahabatnya
  • baik pertemu- Informa- tanpa

  menurut si an membedakan Kitab Suci. dan mengusahakan sikap saling tolong menolong. Aku berusaha Membantu Aku muda aku Membantu

2 Tampilan Sharing slide lagu lagu

  • maka akupun kaum muda bisa. kaum muda slide lagu Diskusi “Aku muda “Aku bisa untuk menyadari untuk percaya “Aku muda aku bisa” - muda aku Refleksi - kemampuan dan diri

  dari Agnes aku bisa” Informa bisa” dari potensi-potensi menyalurkan dari Agnes -si Monica Agnes dalam dirinya kemampuan dan Monica. - Monica

  • sehingga potensinya dan
  • Lembaran “Aku muda Kitab melalui dalam kegiatan- lirik lagu lagu Suci Mat aku bisa”.

  Gerak Lirik lagu

  kemampuan dan “Aku muda – - kegiatan yang 25: 14 Kitab Suci potensi yang mereka ikuti di Mat 25: 14

  30 aku bisa”. mereka miliki gereja maupun – 30 Kitab Suci

  • tersebut dapat di masyarakat. mereka salurkan dengan mengikuti kegiatan- kegiatan di gereja.

  3

  Bersahabat Mengajak kaum - - - - - - Andaikan Membantu Slide Sharing Slide Slide

  aku kaum muda mengenai - - dengan Allah di muda untuk - Pengala- Tanya Pengala-

facebook. dapat bersahabat untuk dapat man jawab untung dan man

  • menggunakan dengan menggunkan pribadi rugi pribadi Informa media facebook Allah di facebook peserta dan -si menjalin dengan sebaik facebook. - sebaik pendampi- persahaba- Refleksi mungkin dengan baiknya dan ng. pribadi tan di menjalin relasi menjalin Facebook.
  • yang positif dan hubungan Pengala- mewartakan yang positif di man kasih dengan facebook . pribadi
  • sesama sesuai dengan kehendak Allah. peserta dan pendampi- ng.

      4 Imanku akan

    • Membantu

      kaum muda

      agar semakin

      menyadari

      peran sertanya

      sebagai umat

      di gereja dan

      masyarakat.

    • Banyak anggota tetapi satu tubuh.
    • Diskusi kelomp ok
    • Teks 1 Kor 12:12-26
    • I kor 12:12-26.

      berkembang bila aku terlibat dalam hidup menggereja

      Menyadarkan kaum muda bahwa imannya perlu dikembangkan dan dihayati dengan terlibat dalam hidup menggereja.

      “Gereja tanpa kaum muda itu gak gaul”.

    • Teks cerita “Beranikah kita membagi roti dan ikan di jaman modern?
    • Bergant dan Karis, 2002:300.
    • Sharing - Tanya jawab
    • Bentuk- bentuk hidup menggere- ja.
    • Informa -si.

    F. Contoh Persiapan Katekese Kaum Muda

      Berdasarkan usulan program pelaksanaan katekese kaum muda di atas, maka bagian ini penulis mengajukan satu contoh persiapan katekese. Contoh persiapan ini diambil dari salah satu tema di dalam matriks penjabaran program pelaksanaan katekese. Tema yang diangkat dalam ketekese ini disesuaikan dengan kebutuhan dan situasi peserta yaitu kaum muda di stasi Gembala Yang Baik. Tema pertemuan ini adalah “Aku berusaha maka akupun bisa”. Tujuan dari katekese ini adalah Membantu kaum muda untuk menyadari kemampuan dan potensi-potensi dalam dirinya sehingga melalui kemampuan dan potensi yang mereka miliki tersebut dapat mereka salurkan dengan mengikuti kegiatan-kegiatan di gereja.

    1. Identitas a. : Aku berusaha maka akupun bisa.

      Tema

      b. : Membantu kaum muda untuk menyadari kemampuan dan Tujuan potensi-potensi dalam dirinya sehingga melalui kemampuan dan potensi yang mereka miliki tersebut dapat mereka salurkan dengan mengikuti kegiatan- kegiatan di gereja.

      c.

      Judul Pertemuan : Aku muda aku bisa!.

      d. : Kaum muda di Stasi Gembala Yang Baik Peserta

      e. : Ruang serba guna gereja, Stasi Gembala Yang Baik Tempat

      f. : 16.00

    • – 17.30 Waktu

      g. : Katekese kaum muda Model h. : Sharing , diskusi, refleksi, Informasi, gerak dan lagu.

      Metode i. Sarana : Lagu “Aku muda aku bisa” dari Agnes Monica, lirik lagu “ Aku muda aku bisa”, Kitab suci. j.

      Sumber bahan : Injil Mat 25:14-30, Lagu “ Aku muda aku bisa” k.

      Pemikiran Dasar Pada kenyataan yang kita lihat, banyak kaum muda memilki talenta dan kemampuan yang ada dalam dirinya. Namun kadang talenta yang dimiliki tersebut tidak mereka kembangkan dan gunakan dengan sebaik-baiknya. Hal ini dikarenakan mereka belum menyadari potensi-potensi dan kemampuan yang mereka miliki. Setiap orang mempunyai kemampuan dan bakat yang berbeda. Tuhan menghendaki agar talenta itu dikembangkan dan digunakan.

      Dalam Matius 25: 14-30, dikisahkan tentang seorang tuan yang memanggil hamba-hambanya dan memberi kepada mereka sejumlah talenta untuk “dikembangkan” dan “digunakan”. Tuan yang memberi sejumlah talenta itu ternyata bertindak tegas terhadap hamba yang tidak mengembangkan dan menggunakan talenta dengan baik.

      Kaum muda hendaknya dapat menerima diri sepenuhnya. Tuhan menciptakan kita baik adanya. Menolak kehendak Allah atas diri kita adalah bukti bahwa kita telah menghalangi diri kita sendiri untuk maju dan menghalangi jalan kita menuju Allah.

    2. Pengembangan Langkah a.

      Pertemuan dibuka dengan menyanyikan lagu “ Hari Ini Kurasa Bahagia”.

      Sebelum kita memulai proses katekese ini, marilah kita berdoaa terlebih dahulu agar proses katekese dapat berjalan dengan lancar.

      Doa Pembukaan : Allah Bapa yang Maha Pengasih, terima kasih atas berkat dan rahmatMu yang berlimpah kepada kami, sehingga pada sore ini kami dapat berkumpul bersama untuk merenungkan dan merefleksikan sabdaMu dalam hati kami. Bimbinglah dan turunkanlah Roh KudusMu agar selalu menaungi kami, sehingga proses pertemuan ini dapat berjalan dengan lancar. Doa ini kami haturkan KepadaMu dalam perantaraan Tuhan kami Yesus Kristus. Amien.

      b.

      Menggali dan mengolah pengalaman peserta

    • Peserta diajak untuk melihat video lagu yang disertai lirik lagu dari Agnes Monica, yaitu “ Aku muda aku bisa”.
    • Setelah melihat tanyangan video, katekis membagikan lembaran kertas yang berupa lirik lagu yang telah didengarkan tadi.
    • Katekis menyuruh peserta untuk membaca dan meresapi dengan seksama lirik tersebut.
    • Setelah itu katekis mengajak peserta untuk mendalami permainan dengan bantuan pertanyaan sebagai berikut:

       Apa yang kamu rasakan setelah melihat tanyangan video tadi?

       Sebutkan kemampuan yang ada pada dirimu dan usaha apa yang dapat kamu lakukan untuk mengembangkannya? Pendamping mencoba merangkum tanyangan video yang telah

    • disaksikan dan merenungkan lirik lagu yang terdapat pada video tersebut.

      Dalam video yang telah kita saksikan bersama, kita dapat melihat seorang muda yang dapat membanggakan dan mempunyai prestasi yang sangat baik di negaranya maupun di luar negeri. Agnes Monika adalah salah satu artis yang mempunyai talenta dan potensi dalam dirinya. Dia begitu pecaya diri dan mantap mengasah kemampuan yang ada dalam dirinya. Pada lagu yang dikarangnya sendiri yaitu “Aku Muda Aku Bisa” ingin mengatakan pada kita bahwa orang muda itu harus menjadi dirinya sendiri, mereka mempunyai potensi yang ada dalam dirinya. Potensi itu menjadi bekal untuk maju dan membuktikan bahwa orang muda itu mampu melakukan sesuatu yang dapat membanggakan orang- orang sekitarnya. Untuk itu teman-teman kaum muda di sini, mari kita tunjukkan bahwa kaum muda dapat melakukan perubahan. Kita semua punya talenta yang harus dikembangkan. Kita harus memiliki semangat dan jiwa muda untuk melakukan hal-hal yang positif dan membuat orang-orang disekitar kita bangga karena pasti ada jalan bila kita mau berusaha.

      c.

      Mendialogkan makna pengalaman dengan terang Kitab suci Peserta diajak untuk membaca teks Kitab Suci Mat 25:14-30. Peserta

    • secara bergantian membaca ayat-ayat Kitab Suci dengan jelas dan
    lantang. Setelah peserta membaca, kemudian peserta diajak untuk mendalami teks tersebut dengan bantuan pertanyaan:  Ayat mana yang sungguh mengesan bagi teman-teman?  Bagaimana kalian mengembangkan talenta-talenta yang kalian miliki?  Inspirasi apa yang kalian dapatkan dari perumpamaan tentang talenta ini? d.

      Mengusahakan sikap dan kesadaran iman yang baru Talenta adalah kemampuan dan bakat yang diberikan Tuhan kepada kita.

      Talenta yang kita miliki itu perlu kita kembangkan. Apabila kita mempunyai talenta tetapi tidak kita kembangkan dan gunakan dalam kehidupan sehari-hari, maka talenta itu akan hilang dan percuma. Talenta menjadi ciri khas dalam diri kita dan setiap orang pasti memilikinya. Talenta akan berkembang bila kita melatih dan mengolahnya. Sebagai umat Katolik kita juga harus mampu menggunkan talenta yang kita miliki tersebut dengan sebaik-baiknya untuk memuliakan Allah seperti misalnya kita yang memiliki kemampuan dalam bermain musik atau bernyanyi, hendaknya kita salurkan potensi tersebut dengan mengikuti koor dan mengiringi musik saat koor di gereja dan kegiatan-kagiatan lain di gereja yang membutuhkan kekreatifan kita sebagai orang muda.

      Untuk itu teman-teman mari kita semua mulai sekarang menyadari talenta- talenta apa yang ada dalam diri kita masing-masing. Talenta dan potensi yang kita milkiki saaat ini adalah anugerah dari Allah yang patut kita syukuri dan sebagai kaum muda dalam hidup menggereja sebagai perwujudan konkret penghayatan iman kita.

      e.

      Merencanakan Aksi Baru Setelah kita bersama-sama merenungkan dan merefleksikan hubungan

    • persahabatan yang kita miliki, marilah kita membuat niat-niat untuk mengembangkan talenta dan kemampuan yang kita miliki:

       Talenta apa yang ada dalam diriku dan bagaimana aku mengembangkannya?  Mengapa aku harus bangga memiliki talenta yang Tuhan berikan padaku?  Apakah selama ini aku sudah menggunakan talenta yang aku miliki ini dengan baik dalam hidupku?

    • Peserta diajak untuk mensharingkan niat-niat yang ada dalam dirinya. Peserta diajak untuk merenung sambil diperdengarkan instrumen lagu
    • yang mendukung, sehingga peserta dapat terbawa suasana musik instrumen tersebut.

      f.

      Penutup Peserta diajak untuk mengungkapkan doa-doa syukur dan permohonan

    • pribadi mereka dalam doa umat. Kemudia setelah doa umat, peserta diajak bergandengan tangan sambil mendoakan doa Bapa Kami.

      Agar suasana menjadi segar kembali, pendamping mengajak peserta

    • untuk berdiri dan berjoget mengikuti gerakan yang ada di video “
    • Setelah itu pendamping mengajak peserta untuk menutup pendalaman iman dengan doa penutup: Doa Penutup:

      Ya Bapa kami bersyukur karena Engkau telah memberikan talenta dan kemampuan yang saat ini aku miliki. Bantulah aku Ya Tuhan agar aku mampu mengembangkan talenta yang aku miliki tersebut untuk memuliakan namaMu. Semoga Tuhan, talenta yang aku miliki ini menjadi bekalku untuk menjadi orang yang dapat membanggakan orang-orang disekitarku terutama Engkau. Doa ini kami haturkan kepadaMu dengan perantaraan Tuhan kami Yesus Kristus. Amien

      Setelah doa penutup, peserta diajak untuk menyanyikan lagu “ Aku

    • Muda Aku Bisa ” bersama-sama sambil bergandengan tangan.

    BAB V PENUTUP Pada bab ini penulis akan menguraikan kesimpulan dari skripsi yang

      berjudul “ Upaya Meningkatkan Keterlibatan Kaum Muda Stasi Gembala Yang Baik, Paroki santo Yusuf Batang Dalam Hidup Menggereja Melalui Katekese Kaum Muda. Kemudian penulis akan mengemukakan beberapa saran yang ditujukan kepada kaum muda dan para katekis di stasi Gembala Yang Baik, Paroki Santo Yusuf Batang A.

       Kesimpulan

      Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, diketahui bahwa keterlibatan dalam hidup menggereja adalah penting sebagai perwujudan iman yang mendalam kepada Yesus Kristus. Keterlibatan dalam hidup menggereja itu seperti misalnya mengikuti setiap kegiatan yang diadakan di gereja maupun di lingkungan masyarakat, melakukan kagiatan-kegiatan sosial yang diadakan Gereja maupun lingkungan sekitar, dan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan pendalaman dan penghayatan iman.

      Keterlibatan dalam hidup menggereja itu penting, khususnya untuk kaum muda. Kaum muda dapat memberikan nuansa baru bagi setiap kegiatan di gereja.

      Mereka adalah harapan bagi perkembangan Gereja. Dengan semangat dan jiwa muda mereka, kegiatan gereja yang dikoordinir oleh kaum muda akan bernuansa dan berbeda. Tetapi dalam kenyataan kaum muda kurang dapat terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang diadakan di gereja. Hanya sebagian kaum muda yang terlibat tetapi kaum muda yang lain belum terlibat. Untuk memotivasi mereka dapat terlibat dalam hidup menggereja perlu adanya suatu pendampingan dan pengarahan. Pendampingan dan pengarahan itu adalah suatu kegiatan yang dapat membantu kaum muda dalam menghayati dan memahami imannya. Melalui penghayatan imannya tersebut kaum muda diharapkan memiliki kesadaran untuk mewujudkannya dalam kehidupan konkret sehari-hari dengan terlibat dalam hidup menggereja.

      Kaum muda selalu menyukai kegiatan yang menarik dan dapat memotivasi mereka untuk mengikutinya. Katekese kaum muda merupakan kegiatan yang sesuai untuk diselenggarakan di stasi Gembala Yang Baik guna meningkatkan keterlibatan kaum muda dalam hidup menggereja. Katekese ini memiliki kekhasan khusus yaitu katekese dikemas dengan titik tolaknya adalah kaum muda itu sendiri. Proses pelaksanaan katekese kaum muda ini harus disesuaikan dengan situasi, semangat dan jiwa muda mereka. Sarana yang digunakan juga harus menarik seperti misalnya menggunakan media film, cerita bergambar, lagu dan media-media lain sesuai dengan tema. Sarana-sarana yang menarik ini dapat membantu kaum muda dalam merefleksikan dan mengkomunikasikan pengalaman imannya. Komunikasi iman yang berjalan dengan baik akan memotivasi terjadinya pertukaran pengalaman diantara peserta katekese, sehingga melalui pertukaran pengalaman iman tersebut, mereka akan saling meneguhkan satu sama lain. Pendamping yang mampu menyesuaikan pelaksanaan katekese ini dapat berjalan dengan lancar. Pendamping harus dapat menciptakan situasi yang komunikatif dan dapat membantu peserta untuk semakin menghayati imannya.

    B. Saran

      Bertitik tolak dari keseluruhan pembahasan yang telah diuraikan dalam setiap bab akhirnya penulis mencoba mengungkapkan saran-saran, yang dapat digunakan untuk meningkatkan keterlibatan kaum muda di Stasi Gembala Yang Baik dalam hidup menggereja. Berdasarkan pembahasan pada bab-bab sebelumnya, beberapa hal berikut ini dapat diajukan sebagai sarana untuk pihak- pihak terkait antara lain: 1.

       Bagi Kaum Muda Di Stasi Gembala Yang Baik

      Sebagai umat Katolik sudah sewajarnya apabila kita dapat mengusahakan diri untuk memperkembangkan iman dengan aktif terlibat dalam hidup menggereja. kaum muda diharapkan dapat menyadari bahwa iman mereka perlu dihayati dan di kembangkan karena “Iman tanpa perbuatan adalah mati”. Untuk sadar untuk aktif terlibat dalam hidup menggereja. Mereka harus mau meluangkan waktunya untuk ikut terlibat dalam kegiatan-kegiatan di gereja maupun di lingkungan sekitar. Sebagai kaum muda yang memiliki semangat dan jiwa muda, diharapkan kaum muda dapat ikut memperkembangkan Gereja dengan kegiatan- kegiatan positif dan kreatif yang memberi nuansa baru dan berbeda bagi Gereja. keberhasilan kegiatan yang dilaksanakan. Dengan katekese kaum muda ini diharapkan mereka dapat semakin terbantu dalam penghayatan iman dan mengusahakan diri untuk terlibat dalam hidup menggereja.

    2. Bagi Katekis di Stasi Gembala Yang Baik

      Dalam katekese, katekis adalah fasilitator dalam proses pelaksanaan katekese. Katekese akan berjalan dengan lancar bila katekisnya dapat menciptakan suasana yang komunikatif dan menarik kaum muda untuk tertarik mengikuti. Katekis juga harus memiliki kemampuan yang kreatif dalam mengolah materi dan menyampaikannya kepada peserta, sehingga peserta tidak merasa bosan. Katekis yang akrab dengan kaum muda dan terbuka terhadap permasalah- permasalahan kaum muda akan membuat kaum muda tertarik untu mengikuti. Dengan mengikuti katekese kaum muda ini, mereka akan terbantu dalam menghayati iman mereka akan Yesus Kristus dan mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari. Melalui skripsi ini katekis diharapkan memperoleh inspirasi untuk melaksanakan katekese dengan menggunakan katekese kaum muda.

    DAFTAR PUSTAKA

      Abdullah, Taufik. (1974). Pemuda Dan Perubahan Sosial. Jakarta Barat: LP3ES.

      

    Alkitab Deuterokanonika . (1976). Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia dan

    Lembaga Biblika Indonesia.

      Ardhisubagyo, Y. (1987). Menggereja Di Kota. Yogyakarta: Pusat Pastoral Yogya. Afifuddin, H. (2009). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Pustaka Setia. Banawiratma, J.B. (1992). Wujud Baru Hidup Menggereja: Diagonal Dan Transformatif. Yogyakarta: Orientasi Baru. _______________. (2000). Hidup Menggereja Kontekstual. Yogyakarta: Kanisius. B.A. Rukiyanto. (Ed). (2012). Pewartaan Di Zaman Global.Yogyakarta: Kanisius. College, Ignatius. Masalah Anak Remaja.Salatiga: Pusat Bimbingan Universitas Satya Wacana. Huber, Th. (Ed). (1981). Katekese Umat. Yogyakarta: Kanisius. Halsema. (1996). Partisipasi Kaum Awam. Yogyakarta: Pusat Pastoral. Harlianti, Tri Trifena. (1997). Bagaimana Menggerakkan Remaja.

      Yogyakarta: Lembaga Pembinaan Dan Pengaderan Sinode GKJ Dan GKI Jateng. Hartono, F. (2009). Formasi Dasar Orang Muda. Yogyakarta: Kanisius. Heryatno, Wono Wulung, FX. 2010. KATEKESE KONTEKSTUAL:

      Katekese Yang Manjing Kahanan. Diktat Mata Kuliah Pendidikan

      Agama Katolik III, Untuk Mahasiswa Semester VII, Fakultas Ilmu Pendidikan Program Studi IPPAK, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. (Manuskrip)

      _______________________ . Pembaruan Diri Agenda PAK di Millenium

      Ketiga . Diktat Mata Kuliah Pendidikan Agama Katolik III, Untuk

      Semester VII, Fakultas Ilmu Pendidikan Program Studi IPPAK, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. (Manuskrip)

      _______________________. Katekese Demi Pembangunan Komunitas

      Umat Beriman . Diktat Mata Kuliah Pendidikan Agama Katolik III

      Untuk Mahasiswa Semester VII, Fakultas Ilmu Pendidikan Program Studi IPPAK, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. (Manuskrip)

      _______________________. Katekese Umat: Katekese Demi

      Pembangunan Iman Jemaat . Diktat Mata Kuliah Pendidikan

      Agama Katolik III, Untuk Mahasiswa Semester VII, Fakultas Ilmu Pendidikan Program Studi IPPAK, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. (Manuskrip) Handoko, Martin. (2010). 100 Permainan Penyegar Pertemuan.

      Yogyakarta: Kanisius. Komisi Kepemudaan. (1993). Pedoman Karya Pastoral Kaum Muda. Jakarta: KWI. Komisi Kateketik KAS. (2000). Petunjuk Umum Katekese. Yogyakarta: Departemen Dokumentasi Dan Penerangan KWI.

      __________________. (2000). Katekese Untuk Kelompok Kaum Muda II.

      Yogyakarta: PANKAT KAS. Kilas Balik Dan Profil. (2010). Gereja Santo Yusuf Batang. Batang: Paroki

      Santo Yusuf Batang. (Manuskrip) Mangunharjana, AM. (1984). Membimbing Rekoleksi. Ende: Nusa Indah. _________________. (1989). Pendampingan Kaum Muda Sebuah Pengantar . Yogyakarta: Kanisius. M, Sumarno DS. (2006). PPL PAK PAROKI. Diktat Mata Kuliah Program

      Pengalaman Lapangan Pendidikan Agama Katolik Paroki, Untuk Mahasiswa Semester VI, Fakultas Ilmu Pendidikan Program Studi

      IPPAK, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. (Manuskrip) ______________. (1995). Bunga Rampai Pendidikan Iman. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma.

      Nouwen, Henri J.M. (1986). Pelayanan Yang Kreatif. Yogyakarta: Kanisius. Norak, Moa Hilarius. (1993). Pedoman karya Pastoral Kaum Muda. Jakarta: KWI. Poerwadarminta, W. J. S. (1982). Kamus Bahasa Indonesia. Jakarta: P dan K. Papo, Jakop. (1987). Memahami Katekese. Ende: Nusa Indah. Riberu, J. (1977). Pembinaan Muda Mudi.Jakarta: Dokpen MAWI. _______. (1984). Kemelut Anak. Remaja Dan Problema Kekeluargaannya. Jakarta: Mega Media. Soekanto, Soerjono. (1980). Remaja Dan Masalah-Masalahnya.

      Yogyakarta: Kanisius. Shelton, Charles. (1987). Spiritualitas Kaum Muda. Yogyakarta: Kanisius. _____________. (1988). Menuju Kedewasaan Kristen. Yogyakarta: Kanisius.

      . (1988). Moralitas Kaum Muda. Yogyakarta: Kanisius. Sarjumunarsa,Th. (1989). Menjadi Umat Yang Terlibat. Rohani, 36, hh. 497-499. Sene, Alfons. (1989). Kita Berkatekese Demi bangsa. Ende: Nusa Indah. Setyakarjana, J. (1997). Arah Katekese di Indonesia. Yogyakarta: Pusat Kateketik.

      Sumantri, Y. (2002). Akar Dan Sayap: Buku Paduan Retret Civita Untuk Remaja Dan Muda-Mudi Tentang Nilai Dan Kebebasan.

      Yogyakarta: Kanisius. Suhardiyanto, HJ. (1998). Pendidikan Hidup Menggereja. Diktat Mata

      Kuliah Pendidikan Hidup Menggereja Bagi Semester V, Fakultas Ilmu Pendidikan Agama, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. (Manuskrip)

      Sambas Ali Muhidin. (2007). Analisis Korelasi, Regresi dan Jalur dalam Penelitian. Bandung: Pustaka Setia. Saragih, Winnardo. (2008). Misi Musik. Yogyakarta: Andi. Sugiyono. (2012). Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta.

      Telambanua, Marinus. (1999). Ilmu Kateketik. Hakekat, Metode dan Peserta Katekese Gerejawi . Jakarta: Obor. Tangdilintin, Philips. (1984). Pembinaan Generasi Muda Visi Dan Jakarta: Obor.

      Latihan.

      Tangdilintin, Philips. (2008). Pembinaan Generasi Muda. Yogyakarta: Kanisius. Y, Hendarto Bambang L. (2006). Pedoman Penulisan Skripsi. Yogyakarta: Prodi IPPAK. Yohanes, Paulus II. (1979). Catechesi Trandandae. (R. Hardawiryana, SJ, Penerjemah). Jakarta: Dikpen KWI. _______________. (2010). Lumen Gentium.(R Hardawiryana, SJ, Penerjemah). Jakarta: Dikpen KWI.

      Lampiran 1 : Surat Pernyataan Penelitian

      Lampiran 2 : Kuesioner Penelitian Untuk Kaum Muda IdentitasResponden

      Usia : Jenis kelamin : Keadaan sekarang : SMP/SMA/Mahasiswa/Karyawan (coret yang tidak perlu)

      Petunjuk pengisian angket: 1.

      Bacalah dengan seksama pernyataan-pernyataan yang tersedia sebelum anda menjawab.

      2. Ada lima alternative jawaban yang tersedia untuk menjawab pernyataan yang terdapat dalam tabel, antara lain: SS : Selalu P : Pernah S : Sering TP : TidakPernah K : Kadang-kadang

      Silahkan memilih alternative jawaban yang sesuai dengan keadaan atau situasi yang anda rasakan atau alami dengan memberi tanda rumput

      (√ ) pada kolom

      yang anda pilih, misalnya:

      

    NO PERNYATAAN SS S K P TP

      1. Saya selalu mengikuti perayaan Ekaristi pada

       hari Minggu.

      No PERNYATAAN SS S K P TP

      Saya ambil bagian dalam panitia

      1

      penyelenggaraan Misa yang bertemakan Kaum Muda. Saya hadir dan selalu mengajak teman-teman

      2

      untuk aktif mengikuti pendalaman iman yang diadakan di lingkungan.

      PERNYATAAN

      NO SS S K P TP

      Saya antusias mengikuti koor di gereja untuk

      3

      menyalurkan kemampuan saya dalam bernyanyi dan bermain musik. Saya senang mengikuti organisasi-organisasi

      4

      yang dapat melatih kepribadian dan menumbuhkan semangat muda dalam diri saya. Saya ikut serta menjadi relawan dan panitia

      5

      penggalangan bantuan kepada korban bencana alam. Saya ikut dalam kerja bakti di lingkungan

      6

      sebagai bentuk kepedulian saya menjadi anggota masyarakat yang baik. Saya menyukai kegiatan Gereja yang menarik

      7

      dan tidak monoton yang dapat membawa saya lebih memahami iman saya dengan baik. Saya ingin terlibat dalam hidup menggereja

      8 sebagai bentuk penghayatan iman saya.

      Orang tua memberi dukungan dan

      9

      pendampingan dalam setiap kegiatan di gereja yang diikuti oleh kaum muda. Kegiatan yang dikoordinir kaum muda dapat

      10

      berjalan lancar, karena Gereja memberi dukungan dan mempercayakan sepenuhnya pada kaum muda. Kaum muda memiliki kesadaran untuk

      11

      mengembangkan imannya melalui keterlibatan dalam hidup menggereja. Semangat dan ide-ide kreatif dari kaum muda

      12 dapat memberikan nuansa baru bagi Gereja.

      Gereja menyediakan fasilitas untuk digunakan

      13

      kaum muda dalam melaksanakan segala kegiatan

      Kegiatan di gereja terlalu monoton dan tidak

      14 cocok dengan minat kaum muda.

      Umat dan Gereja kurang memberikan ruang bagi

      15

      kaum muda untuk mengeksprikan dan menuangkan idenya dalam kegiatan-kegiatan yang melibatkan kaum muda di gereja. Kesibukan di sekolah dan di tempat kerja

      16

      menghambat kaum muda untuk terlibat dalam hidup bermasyarakat dan menggerja. Saya menggunakan waktu luang dengan bermain

      17

      dan browsing di internet yang dirasa lebih menyenangkan dan menguntungkan bagi saya. Belum ada kegiatan yang dapat memotivasi

      18

      kaum muda untuk tertarik dan terlibat dalam hidup menggereja. Kegiatan pendalaman iman kaum muda

      19

      membantu kaum muda untuk semakin menghayati imannya dalam kehidupan sehari- hari. Pendalaman iman kaum muda yang sesuai

      20

      dengan minat dan semangat kaum muda dapat menumbuhkan rasa persaudaraan dan penghayatan iman mereka.

      II. Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan singkat dan jelas yang sesuai dengan kenyataan yang anda alami, misalnya :

      1. Apakah terlibat dalam hidup menggereja bagi kaum muda Katolik merupakan suatu keharusan? Mengapa? . ..................................................................................................................................... . .....................................................................................................................................

      2. Motivasi apa yang menyebabkan anda mau aktif terlibat dalam hidup menggereja? ......................................................................................................................................

      3. Sebutkan faktor-faktor yang mendukung anda untuk aktif terlibat dalam hidup menggereja? . ....................................................................................................................................... . .......................................................................................................................................

      4. Sebutkan alasan-alasan yang menyebabkan anda belum dapat terlibat aktif dalam hidup menggereja saat ini ? . ..................................................................................................................................... . .....................................................................................................................................

      5. Apa yang anda harapkan agar kegiatan kaum muda ini sungguh dapat berguna bagi pengembangan dan penghayatan iman anda? . ....................................................................................................................................... . .......................................................................................................................................

      Terima Kasih

      Lampiran 3 : Lirik Lagu “ Hari Ini Kurasa Bahagia”

      Hari ini kurasa bahagia berkumpul bersama saudara seiman Tuhan Yesus Tlah satukan kita tanpa memandang diantara kita

      Bergandengan tangan dalam kasih, dalam satu hati Berjalan dalam terang kasih Tuhan

      Kau sahabatku.. kau saudaraku.. tiada yang dapat memisahkan kita 2X

      “Aku Muda Aku Bisa”

      E lo e lo e lo heee... e lo e elo e lo hee Ku berlari pakai hati tak berhenti sampai mati

      E lo e lo e lo heee... e lo e elo e lo hee Aku dengar ada yang bicara papa mamaku punya cita-cita

      Dia baru berusia lima, namun semangatnya sunggguh sempurna Never in your life, let than talk to you like you can not

      Yes, you’re miles do your heart with a smile Couse youre young, you are young, your young

      Hidupku itu adalah aku Bukan kamu dan ragumu Jangan sama-samakan ku

      Hidupmu itu adalah kamu tak peduli usiamu Aku muda aku bisa

      Lampiran 4 : VCD Video Klip Lagu “ Aku Muda Aku Bisa “ dan Video “Chicken Dance”

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Pendampingan iman orang muda sebagai upaya meningkatkan keterlibatan hidup menggereja orang muda Katolik Paroki Kristus Raja Barong Tongkok, Kalimantan Timur.
1
15
113
Upaya meningkatkan keterlibatan umat dalam hidup menggereja di Stasi Santo Lukas, Sokaraja, Paroki Santo Yosep Purwokerto Timur, Jawa Tengah melalui katekese umat model shared christian praxis.
29
340
137
Peranan pendampingan sakramen penguatan bagi kaum muda dalam keterlibatan hidup menggereja di Paroki Santa Lidwina Bandar Jaya Lampung Tengah.
3
39
161
Sumbangan katekese umat sebagai upaya untuk meningkatkan keterlibatan umat dalam hidup menggereja di Stasi Mansalong Paroki Maria Bunda Karmel Mansalong Kabupaten Nunukan.
1
16
158
Keterlibatan kaum muda dalam hidup menggereja di Paroki Santo Petrus Sungai Kayan Keuskupan Tanjung Selor Kalimantan Utara.
1
46
171
Upaya meningkatkan keterlibatan kaum muda dalam hidup menggereja secara kontekstual di lingkungan Santo Yusuf Kadisobo Paroki Santo Yoseph Medari.
0
8
159
Menggali pesan perumpamaan orang Samaria yang baik hati (Lukas 10:25-37) melalui katekese kaum muda sebagai usaha pembinaan kaum muda di Stasi Kristus Raja Ngrambe, Paroki Santo Yoseph Ngawi, Jawa Timur.
7
80
382
Upaya meningkatkan keterlibatan kaum muda dalam hidup menggereja secara kontekstual di lingkungan Santo Yusuf Kadisobo Paroki Santo Yoseph Medari
2
17
157
Upaya meningkatkan keterlibatan kaum muda stasi Gembala yang Baik Paroki Santo Yusuf Batang dalam hidup menggereja melalui katekese kaum muda
2
2
154
UPAYA MENINGKATKAN PENGHAYATAN IMAN KRISTIANI KAUM MUDA MILIRAN, PAROKI BACIRO, YOGYAKARTA, MELALUI KATEKESE SKRIPSI
0
2
188
Upaya meningkatkan keterlibatan kaum muda dalam hidup menggereja di Paroki Santo Antonius, Bade, Keuskupan Agung Merauke melalui shared christian praxis - USD Repository
0
3
141
Upaya meningkatkan keterlibatan hidup menggereja bagi kaum muda Paroki Kristus Raja Sintang Kalimantan Barat melalui katekese - USD Repository
0
3
236
Menggali pesan perumpamaan orang Samaria yang baik hati (Lukas 10:25-37) melalui katekese kaum muda sebagai usaha pembinaan kaum muda di Stasi Kristus Raja Ngrambe, Paroki Santo Yoseph Ngawi, Jawa Timur - USD Repository
0
4
380
Pemahaman Sakramen Baptis dalam keterlibatan hidup menggereja bagi kaum muda di Paroki Santo Ignatius Danan, Wonogiri, Jawa Tengah - USD Repository
0
1
151
Deskripsi pengaruh ekaristi kaum muda terhadap keterlibatan hidup menggereja Orang Muda Katolik di Paroki Santo Antonius Kotabaru Yogyakarta - USD Repository
1
5
169
Show more