Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Pengaruh Penggunaan Pendekatan Santifik Melaui Model Pembelajaran Problem Based Learning terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas 3 SD

Gratis

0
0
24
7 months ago
Preview
Full text

  BAB II KAJIAN PUSTAKA

  2.1 Kajian Teori

  2.1.1 Pendekatan Saintifik Melalui Model Pembelajaran Problem Based Learning

  Pendekatan pembelajaran sebagai titik tolak atau sudut pandang terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya menginsiprasi, menguatkan, dan model pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu.Pengertian pendekatan pembelajaran menurut Hosnan (2014:32)sebagai berikut:

  (a) perspektif (sudut pandang : pandangan) teori yang dapat digunakan sebagai landasan dalam memilih model, metode, dan teknik pembelajaran; (b) suatu proses atau perbuatan yang digunakan guru untuk menyajikan bahan pelajaran; (c) sebagai titik tolak atau sudut pandang terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginspirasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu.

  Kegiatan pembelajaran dalam pelaksanaanya, peran guru sangatlah diperlukankarena sebagai pengelola pembelajaran, guru perlu menetapkan pendekatan apa yang digunakan untuk ketercapaian tujuan pembelajaran. Dalam pendidikan terdapat pendekatan yang berorientasi pada siswa (oriented student approach).Pendekatan ini menempatkan siswa sebagai objek sekaligus subjek yang belajar sehingga guru hanya bertugas sebagai fasilitator dalam proses kegiatan belajar mengajar. Pendekatan ini lebih cocok diimplementasikan guru melalui pembelajaran.

  2.1.1.1 Pengertian Pendekatan Saintifik Pendekatan ilmiah menekankan pada pentingnya kolaborasi dan kerja sama di anatara siswa dalam pembelajaran. Pendekatan ilmiah juga merupakan konsep dasar yang melatar belakangi perumusan model mengajar dengan menerapkan karakteristik yang ilmiah. Menurut Hosnan (2014:38) mengatakan “pendekatan saintifik adalah pendekatan pembelajaran yang diterapkan pada aplikasi pembelajaran Kurikulum 2013”. Jadi menurut Hosnan pendekatan saintifik merupakan implementasi pada Kurikulum 2013 yang ingin ditonjolkan dalam proses pembelajaran yang dirancang sedemikian rupa agar siswa secara aktif dalam pembelajaran melibatkan keterampilan proses, seperti mengamati, mengklasifikasi, mengukur, meramalkan, menjelaskandan menyimpulkan.

  Sedangkan pengertian pendekatan saintifik menurut Kurniasih dkk.(2014:29)mengatakan: pendekatan saintifik adalah proses pembelajaran yang dirancang sedemikian rupa agar siswa secara aktif mengonstruk konsep, hukum atau prinsip melalui tahapan-tahapan mengamati (untuk mengidenifikasi atau menemukan masalah), merumuskan masalah, mengajukan atau merumuskan hipotesis, mengumpulkan data dan berbagai teknik, menganalisis data, menari kesimpulan dan mengomunikasikan konsep hukum atau prinsip “ditemukan”. Kurniasih berpendapat mengenai pendekatan saintifik ini yangmenekankan pentingnya kolaborasi dan kerja sama diantara siswa dalam menyelesaikan permasalahan dalam pembelajaran. Oleh karena itu guru sedapat mungkin menciptakan pembelajaran yang memungkinkan siswa berperilaku ilmiah dengan bersama-sama diajak untuk mengamati, menanya, menalar, merumuskan, menyimpulkan dan mengkomunikasikan. Sehingga siswa akan dapat dengan benar menguasai materi yang dipelajari dengan baik.

  Berdasarkan dua pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa pendekatan saintifik merupakan pendekatan pembelajaran untuk memberikan pemahaman kepada siswa dalam mengenal, memahami berbagai materi menggunakan pendekatan ilmiah.Oleh karena itu kondisi pembelajaran yang diharapkan tercipta untuk mendorong siswa dalam mencari tahu dalam berbagai banyak sumber.

  Proses kegiatan pembelajaran yang menggunakan pendekatan saintifik harus dipandu dengan kaidah-kaidah pendekatan ilmiah secara sistematis. Pendekatan ini bercirikan penenonjolan dimensi pengamatan, penalaran, penemuan, dan penjelasan suatu kebenaran ini yang hendak menjadi ciri khas dari pendekatan saintifik. Dengan demikian proses pembelajaran harus dipandu dengan prinsip- prinsip atau kriteria ilmiah.

  2.1.1.2 Kriteria Pendekatan Saintifik Pendekatan saintifik mempunyai beberapa kriteria yang harus diperhatikan dengan teliti supaya dalam pelaksanaanya atau implementasinya tidak rancu.Kriteria yang terdapat dalam pendekatan saintifik Kemendikbud Tahun 2013, sebagai berikut:

  (1)substansi atau materi pembelajaran berbasis pada fakta atau fenomena yang dapat dijelaskan dengan logika atau penalaran tertentu; bukan sebatas kira-kira, khayalan, legenda, atau dongeng semata. (2) penjelasan guru, respon siswa, dan interaksi edukatif guru- siswa terbebas dari prasangka yang serta-merta, pemikiran subjektif, atau penalaran yang menyimpang dari alur berpikir logis. (3) mendorong dan menginspirasi siswa berpikir secara kritis, analistis, dan tepat dalam mengidentifikasi, memahami, memecahkan masalah, dan mengaplikasikan substansi atau materi pembelajaran. (4) Mendorong dan menginspirasi siswa mampu berpikir hipotetik dalam melihat perbedaan, kesamaan, dan tautan satu sama lain dari substansi atau materi pembelajaran. (5) mendorong dan menginspirasi siswa mampu memahami, menerapkan, dan mengembangkan pola berpikir yang rasional dan objektif dalam merespon substansi atau materi pembelajaran. (6) berbasis pada konsep, teori, dan fakta empiris yang dapat dipertanggungjawabkan. (7) tujuan pembelajaran dirumuskan secara sederhana dan jelas, namun menarik sistem penyajiannya.

  Pendekatan saintifik mempunyai beberapa karakteristik dalam setiap pembelajarannya di kelas, adapun karakteristik pendekatan saintif yang dikemukakanoleh Hosnan (2014:36) sebagai berikut:

  (a) berpusat pada siswa; (b) melibatkan keterampilan proses sains dalam mengonstruksikan konsep, hukum atau prinsip; (c) melibatkan proses-proses kognitif yang potensial dalam merangsang perkembangan intelek, khususnya keterampilan berpikir tingkat tinggi siswa; (d) dapat mengembangkan karakter siswa. Agar dapat mewujudkan pembelajaran yang efektif guru harus benar-benar memahami kriteria dan karakteristik pendekatan saintifik tersebut sebelum pelaksanaan proses belajar mengajar di kelas menggunakan pendekatan saintifik.Sehingga dalam setiap titik poinnya memberi makna tersendiri untuk mendukung terlaksananya proses pembelajaran menggunakan pendekatan saintifik.

  Selain kriteria dan karakteristik, pendekatan saintifik terdapat pula beberapa prinsip menurut Hosnan (2014:37) sebagai berikut: (a) pembelajaran berpusat pada siswa; (b) pembelajaran membentuk student self concept; (c) pembelajaran terhindar dariverbalisme; (d) pembelajaran memberikan kesempatan pada siswa untuk mengasimilasikan dan mengakomodasi konsep, hukum, dan prinsip; (e) pembelajaran mendorong terjadinya peningkatan kemampuan berpikir siswa; (f) pembelajaran meningkatkan motivasi belajar siswa dan motivasi mengajar guru; (g) memberikan kesempatan pada siswa untuk melatih kemampuan dalam komunikasi; (h) adanya proses validasi terhadap konsep, hukum, dan prinsip yang dikonstruksikan siswa dalam struktur kognitifnya.

  Dengan demikian kriteria dan prinsip pendeketan saintifik sangat erat kaitannya karena siswa belajar secara aktif mengkontruksikan konsep, hukum, dan prinsip melalui tahapan-tahapan tertentu dalam pelaksanaanya bantuan guru sangat diperlukan akan tetapi semakin berkurang karena semakin mandirinya siswa membangun pengetahuannya sendiri.

  2.1.1.3 Langkah-langkah pendekatan Saintifik Pendekatan saintifik memiliki langkah-langkah dalam proses pelaksanaannya.Adapun langkah-langkahpendekatan saintifik menurut Kurniasih dkk. (2014:38) meliputi: “menggali informasi melalui pengamatan, bertanya, percobaan, kemudian mengolah data informasi, menyajikan data atau informasi, dilanjutkan dengan menganalisis, menalar, kemudian menyimpulkan dan mencipta”. Dalam proses pembelajaran dalam pendekatan saintifik dipandu dengan kaidah-kaidah pendekatan ilmiah sehingga siswa dengan benar menguasai materi dengan bukti-bukti objek yang yang dapat diobservasi.

  Lebih rincinya langkah-langkah pendekatan saintifik menurut Hosnan (2014: ) sebagai berikut:

  (1) mengamati, model mengamati sangat bermanfaat bagi pemenuhan rasa ingin tahu siswa, sehingga proses pembelajaran memiliki kebermaknaan yang tinggi; (2) menanya Guru yang efektif mampu menginspirasi siswa untuk meningkatkan dan

  (3) menalar, penalaran adalah proses berfikir yang logis dan sistematis atas fakta-kata empiris yang dapat diobservasi untuk memperoleh simpulan berupa pengetahuan; (4) mencoba, hasil belajar siswa harus nyata atau otentik, maka dari itusiswa harus mencoba atau melakukan percobaan, terutama untuk materi atau substansi yang sesuai; (5) membentuk jejaring, networking adalah kegiatan siswa untuk membentuk jejaring pada kelas misalnya menyampaikan hasil pengamatan, kesimpulan berdasarkan hasil analisis secara lisan, tertulis, atau media lainnya. Berdasarkan kedua pendapat di atas yang lebih mudah diimplementasikan ke dalam proses belajar mengajar adalah pendapat Hosnan yang menyatakan langkah-langakah pendekatan saintifik ada 5 langkah utama yaitu, mengamati, menanya, menalar, mencoba dan membentuk jejaring. Dari langkah-langkah tersebut harus dilaksanakan secara sistematis supaya terjadinya pembelajaran yang lebih bermakna bagi siswa .

  2.1.2. Model Pembelajaran Istilah model pembelajaran mengarah pada suatu pendekatan pembelajaran tertentu, sehingga model pembelajaran mempunyai makna yang lebih luas daripada pendekatan, strategi, dan metode.Jadi pengertian model pembelajaran merupakan suatu pola pembelajaran yang digunakan guru sebagai pedoman pembelajaran dari awal sampai akhir. Model pembelajaran juga bisa disebut dengan cara penyampaian yang digunakan guru agar tujuan pembelajaran tersampaikan.Ada beberapa model pembelajaran yang terangkum adalam kurikulum 2013, salah satunya yang akan dibahas adalah model pembelajaran Problem Based Learning.

  2.1.2.1 Pengertian Model Pembelajaran Problem Based Learning Model pembelajaran Problem Based Learning (pembelajaran berbasis masalah), selanjutnya disingkat PBL, pertama kali diperkenalkan pada awal tahun

  1970-an di Universitas Mc Master Fakultas Kedokteran Kanada. PBL merupakan salah satu model pembelajaran yang fokus pembelajarannya pada masalah yang harus diselesaikan siswa. Pengertian PBL sendiri menurut para ahli diantaranya menurut Bound dan Feletti, dalam Wardoyo (2013:72) mengatakan sebagai berikut: problem besed learning is an approach to structuring the curriculum which involves confronting students with problem from practice wich provide a stimulus for learning. Pembelajaran berbasis masalah merupakan pendekatan di mana dalam proses pembelajaran dengan berdasarkan pada kurikulumnya, siswa dihadapkan kepada permasalahan sebagai langkah untuk memberikan rangsangan agar terjadi kegiatan belajar. Bound dan Felleti, dalam Wardoyo mencoba mengungkapkan dengan adanya permasalahan yang dihadapi oleh siswa diharapkan mampu melakukan langkah-langkah yang tepat untuk menyelesaikan masalah yang ada, maka terjadilah proses belajar di dalamnya.

  Sedangkan pengertian PBL menurut Fogarty dalam Ngalimun (2014:89) menyatakan bahwa “Model PBL adalah salah satu model pembelajaran dengan membuat konfrontasi kepada pelajar (siswa/mahasiswa) dengan masalah-masalah praktis, berbentuk ill- struructured, atau open ended melalui stumulus dalam belajar”.Lebih lanjutnya Ngalimun (2014:90) mengatakan PBL memiliki karakteristik- karakteristik sebagai berikut:

  (1)belajar dimulai dengan suatu masalah; (2) memastikan bahwa masalah yang diberikan berhubungan dengan dunia nyata siswa/mahasiswa; (3) menggorganisasikan pelajaran diseputar masalah, bukan diseputar disiplin ilmu; (4) memberikan tanggung jawab yang besar kepada pebelajar dalam membentuk dan menjalankan secara langsung proses belajar mereka sendiri; (5) menggunakan kelompok kecil, dan; (6)menuntut pebelajar untuk mendemonstrasikan apa yang telah mereka pelajari dalam bentuk suatu produk atau kinerja. Model pembelajaran PBL ini dimulai oleh adanya masalah yang dapat dimunculkan oleh siswa/guru, kemudian siswa memperdalam pengetahuannya tentang apa yang merea telah ketahui unuk memecahkan masalah tersebut. Siswa dapat memilih masalah yang dianggap menarik untuk dipecahkan sehingga mereka terdorong belajar aktif saat proses kegiatan belajar mengajar.

  Ada pula definisi model pembelajaran PBL menurut Hosnan (2014:298) mendefinisikan bahwa “PBL adalah pembelajaran yang menggunakan masalah nyata (autenik) yang tidak terstruktur (ill-structured) dan bersifat terbuka sebagai konteks bagi siswa untuk mengengbangkan keterampilan menyelesaikan masalah dan berpikir kritis serta sekaligus membangun pengetahuan baru”. Selaras pengertian PBL dengan Hosnan yaitu pengertian PBL menurut Trianto (2012:90) mengatakan “model pembelajaran berdasarkan masalah merupakan suatu model pembelajaran yang didasarkan pada banyaknya permasalahan yang membutuhkan penyelidikan autentik yakni penyelidikan yang membutuhkan penyelesaina nyata dari permasalahan yang nyata”. PBL menyiapkan siswa untuk berpikir secara kritis dan analitis, serta mampu untuk mendapatkan dan menggunakan secara tepat sumber-sumber pembelajaran. Dalam PBL proses pembelajaran yang titik awal pembelajaran berdasarkan masalah dalam kehidupan nyata. PBL merupakan satu proses pembelajaran di mana masalah merupakan pemandu utama ke arah pembelajaran tersebut. Dengan demikian, masalah yang ada digunakan sebagai sarana agar anak didik dapat belajar sesuatu yang dapat menyokong keilmuannya dengan melakukan penyelidikan atau ekperimen.

  Berdasarkan pendapat beberapa para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran PBL adalah suatu model pembelajaran yang dimulai dengan adanya masalah dalam kehidupan sehari-hari sehingga mendorong siswa dalam berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah dalam rangka memperoleh pengetahuan baru.

  Jadi PBL merupakan salah satu model pembelajaran yang menekankan pada keaktifan siswa dalam menggunakan daya pikirnya untuk memahami konsep yang dipelajari.Pembelajaran dengan menggunakan model PBL ini diharapkan berpengaruh positif terhadap pola pikir kreatif siswa dalam memecahkan suatu masalah.Dalam pembelajaran ini siswa lebih banyak bekerja daripada mendengarkan dan sekedar menerima informasi, sehingga konsep yang diperoleh tertanam lebih kuat, dan akibatnya prestasi belajar yang dicapai oleh siswa menjadi maksimal.

  Model pembelajaran Problem Based Learning menurut Wardoyo (2013:77) menuliskan langkah-langkah PBL sebagai berikut: pada awal pembelajaran dengan menggunakan model PBL siswa diberi sebuah permasalahan (diberi skenario permasalahan), kemudian siswa memformulasikan (membuat) permasalahan dan menganaliasis permasalahan dengan cara mengidentifikasi berbagai fakta yang berkaitan dengan skenario tersebut. Tahapan ini membantu siswa untuk membuat atau menyusun permasalahan.Kemudian tahapan dilanjutkan dengan hipotesis dari permasalahan tersebut.Langkah selanjutnya siswa menemukan jawaban atau menguji hipotesis yang telah mereka buat. Siswa membuat kesimpulan dari apa yang telah mereka lakukan.

  Adapun langkah-langkah pembelajaran yang lebih rinci mengenai model pembelajaran PBL dikemukakan oleh Hosnan (2014:301) sebagai berikut: (a)orientasi siswa pada masalah. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistik yang dibutuhkan, memotivasi siswa agar terlibat pada aktivitas pemecahan masalah yang dipilih; (b) mengorganisasi siswa untuk belajar. Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut. (c) membimbing penyeledikan individual dan kelompok. Guru mendorang siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalahnya; (d) mengembangkan dan menyajikan hasil karya. Guru membantu siswa merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai, seperti laporan, video, dan model serta membantu berbagai tugas dengan temannya; (e) menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah. Guru membantu siswa melakukan refleki atau evaluasi terhadap penyelidikan dan proses-proses yang mereka gunakan. Dari dua pendapat yang dikemukan di atas yang lebih jelas dan spesifiknya mengenai langkah-langkah model pembelajaran PBL sependapat dengan yang dikemukakan oleh Hosnan yang terdapat 5 langkah dalam pelaksanaannya yaitu tahap 1 pemberian masalah konsep dasar dari guru, tahap 2 pendefinisian masalah yang dilakukan oleh siswa, tahap 3 pembelajaran mandir oleh siswa, tahap 4 pertukaran pengetahuanantar siswa, dan yang terakhir tahap 5 penilaian hasil pemecahan masalah yang dirancang guru.

  Learning Setiap model pembelajaran tentu memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing karena tidak semua model pembelajaran itu sempurna dan cocok dilaksanakan, model pembelajaran PBL menurut Trianto (2012: 96-97) memiliki kelebihan dan kelemahan sebagai berikut: kelebihan PBL adalah (1) realistik dengan kehidupan siswa; (2) konsep sesuai dengan kebutuhan siswa; (3) memupuk sifat inkuri siswa; (4) retensi konsep jadi kuat ; (5) memupuk kemampyan problem solving; kelemahan PBL adalah (1) persiapan pembelajaran (alat, problem, konsep) yang kompleks; (2) sulitnya mencari problem yang relevan; (3) sering terjadi mis-konsepsi; dan (4) konsumsi waktu yang cukup dalam proses penyelidikan. Trianto mencoba mengungkapkan kelebihan model PBL ini membuat siswa lebih aktif karena adanya proses inkuiri serta siswa mendapat manfaat apa yang telah dipelajari. Sedangkan kelemahannya siswa tidak mendapatkan pengetahuan dasar secara utuh karena dituntut untuk berpikir mandiri.Pembelajaran dengan menggunakan model PBL ini membutuhkan waktu yang cukup lama sehingga terkadang membuat para siswa merasa bosan.

  Model pembelajaran PBL memiliki kelebihan dibandingkan model pembelajaran yang lain pendapat ini datang dari Wulandari (2013:182), sebagai berikut: kelebihan PBL adalah (a) pemecahan masalah dalam PBL cukup bagus untuk memahami isi pelajaran; (b) pemecahan masalah berlangsung selama proses pembelajaran menantang kemampuan siswa serta memberikan kepuasan kepada siswa; (c) PBL dapat meningkatkan aktivitas pembelajaran; (d) membantu proses transfer siswa untuk memahami masalah-masalah dalam kehidupan sehari- hari; (e) membantu siswa mengembangkan pengetahuannya dan membantu siswa untuk bertanggungjawab atas pembelajarannya sendiri; (f) membantu siswa untuk memahami hakekat belajar sebagai cara berfikir bukan hanya sekedar mengerti pembelajaran oleh guru berdasarkan buku teks; (g) PBL menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan dan disukai siswa; (h) memungkinkan aplikasi dalam dunia nyata; (i) merangsang siswa untuk belajar secara kontinu.

  Wulandari mencoba mengungkapakan kelebihan PBL ini yang pada intinya memberi kesempatan pada siswa untuk memecahkan masalah mengembangkan ketrampilan berpikir kritis, dilatih juga dalam kemampuan bertanya, mengungkapkan, menjelaskan serta membuat keputusan. Sehingga siswa memahami pembalajaran sumbernya tidak datang hanya dari gurunya.

  Terdapat dua pendapat mengenai kelebihan model pembelajaran PBL yang tidak jauh berbeda yang pada dasarnya membantu siswa dalam berpikir kritis dalam pemecahan masalah sehingga mengaktifkan siswa dalam proses kegaiatn belajar mengajar. Namun, model pembelajaran PBL juga memiliki beberapa kelemahan yaitu berkaitan dengan waktu cukup lamadalam proses pembelajaransehingga harus dikondisikan oleh guru.

  Model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray selanjutnyadapat disebut dengan TSTS,dalam bahasa Indonesia artinya dua tinggal dua tamu. Menurut Aqib (2014:35) mengatakan “Dua tamu dua tinggal model ini disebut juga Two Stay Two Stray dan diperkenalkan oleh Spencer Kagan (1992). Tujuannya memberi kesempatan kepada kelompok untuk membagikan hasil dan informasi dengan kelompok lain”. Aqib menekankan struktur TSTS merupakan tipe pembelajaran kooperatif yang memberikan kesempatan kepada kelompok membagikan hasil dan informasi kepada kelompok lain. Hal ini dilakukan karena banyak kegiatan belajar mengajar yang diwarnai dengan kegiatan-kegiatan individu. Siswa bekerja sendiri dan tidak diperbolehkan melihat pekerjaan siswa yang lain. Padahal dalam kenyataan hidup di luar sekolah, kehidupan dan kerja manusia saling bergantung satu sama lainnya.

  Pendapat lain datang dari Ngalimun (2014:170) mengungkapkan bahwa “Model pembelajaran kooperatif tipe TSTS ini adalah dengan cara siswa berbagi pengetahuan dan kelompok dengan kelompok lain”.Menurut Ngalimun dalam bukunya TSTS merupakan teknik yang memberi kesempatan kepada kelompok untukmembagi hasil dan informasi dengan kelompok lain. Hal ini dilakukan dengan cara salingmengunjungi atau bertamu antar kelompok untuk berbagi informasi.

  Pernyataan yang hampir sama dengan Ngalimun yang diungkapkan oleh Huda (2013:207) bahwa “Model pembelajaran kooperatif tipe TS-TS merupakan sistem pembelajaran kelompok dengan tujuan agar siswa dapat saling bekerja sama, bertanggung jawab, saling membantu memecahkan masalah, dan saling mendorong satu sama lain untuk berprestasi”. Huda mengungkapkan melalui model pembelajaran kooperatif siswa akan lebih mudah menemukan dan memahamikonsep yang sulit jika mereka saling berdiskusi dengan temannyamereka dapat bekerja sama seperti menjadi pendengar aktif, memberikan penjelasan kepada teman denganbaik, berdiskusi dan sebagainya.

  Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray adalah salah satu model kooperatif yang memanfaatkan kerja sama dalam diskusi kelompok untuk saling bertukar informasi dan pengetahuan supaya siswa bekerja secara mandiri dan pengetahuan yang didapatkan dalam tertanam lebih lama.

  2.1.2.5 Pelaksanaan Model Pembelajaran Kooperatif tipe Two Stay Two Stray Dalam pelaksananannya ada beberapa langkah model pembelajaran Two

  Stay Two Stray menurut Aqib (2014:35-36) sebagai berikut: (1)siswa bekerja sama dalam kelompok berempat seperti biasa; (2) setelah selesai, dua orang dari masing-masing bertamu kedua kelompok yang lain; (3) dua orang yang tinggal dalam kelompok bertugas membagi hasil kerja dan informasi mereka ke tamu mereka; (4) tamu mohon diri dan kembali ke kelompok mereka sendiri dan melaporkan temuan mereka dari kelompok lain; (5) kelompok mencocokan dan membahas hasil kerja mereka.

  Tidak hanya Aqib yang mengungkapkan langkah-langkah model pembelajaran kooperatif tipe TSTS pendapat lain menurut Huda (2013:207-208) tahap-tahapnya berikut ini:

  (1) guru membagi siswa dalam beberapa kelompok yang setiap kelompok terdiri dari empat siswa. Kelompok yang dibentuk pun merupakan kelompok heterogen; (2) guru memberikan subpokok bahasan pada tiap-tiap kelompok untuk untuk dibahas bersama-sama dengan anggota kelompok masing-masing; (3) siswa bekerja sama dalam kelompok yang beranggotakan empat orang; (4) setelah selesai dua orang dari masing-masing kelmpok meninggalkan kelompoknya untuk bertamu ke kelompok lain; (5) tamu mohon diri dan kembali ke kelompok mereka sendiri untuk melaporkan temuan mereka dari kelompok lain; (6) kelompok mencocokan dan membahas hasil-hasil kerja mereka; (7) masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerja mereka.

  Dari pendapat dua para ahli tersebut apa yang mereka tuliskan intinya hampir sama hanya saja pendapat Huda yang lebih banyak merinci tlangkah-langkah model pembelajaran kooperatif tipe TSTS namun pada dasarnya sama .

  2.1.2.6 Kelebihan dan Kelemahan Model Pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray

  Setiap model pembelajaran kooperatif tentu mempunyai kelebihan dan kelemahan masing-masing. Begitu pula dengan model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray menurut Lie (2004:39) mengatakan kelebihan dan kekurangan model pembelajaran kooperatif Two Stay Two Stray sebagai berikut: kelebihan kelompok berempat adalah (1) kelompok mudah menjadi berpasangan; (2) Lebih banyak ide muncul; (3) lebih banyak tugas yang dilakukan dan guru mudah memonitor; kekurangan kelompok berempat adalah (1) membutuhkan lebih banyak waktu; (2) membutuhkan sosialisasi yang lebih baik; (3) jumlah genap menyuitkan proses pengambilan suara; (4) kurang kesemptan untuk kontribusi individu dan mudah melepaskan diri dari keterlibatan. Kelebihan yang dinyatakan oleh Lie cenderung membuat siswa lebih aktif, percaya diri dalam kelompoknya serta berani mengungkapkan pendapatnya, sedangkan kelemahannya terletak pada siswa yang pasif cenderung akan sulit berkomunikasi dengan yang lain yang membutuhkan waktu yang lama.

  Sedangkan menurut Pangaribuan (2013: 6-7) kelebihan dan kelemahan model pembelajaran kooperatif tipetwo stay two stray yaitu: (1) terdapat pembagian kerja kelompok yang jelas, (2) siswa dapat bekerjasama dengan temannya, dan (3) dapat mengatasi kondisisiswa yang ramai dan susah diatur saat proses belajar mengajar. Kelemahanyaitu memerlukan waktu yang lama jika tidak dapat mengontrol waktu dengan baik dan guru tidak dapat mengetahui kemampuan siswa masing-masing dalam proses memberi dan mencari informasi materi (sebelum postest). Kelebihan model pemebelajaran TSTS yang diuangkapkan Pangaribuan intinya menciptakan pembelajaran yang mebuat para siswanya aktif saling bekerjasama dalam menyelesaikan tugas yang diberikanoleh guru.Sedangkan kelemahannya guru sulit untuk mengontrol bagaimana tingkat perkembangan

  Pada dasarnya kelebihan model pembelajaran kooperatif tipe TSTS ini memeberikan kesempatan pada siswa untuk mengembangkan kreatifitas dalam melakukan komunikasi dengan kelompoknya sehingga membiasakan diri bersifat terbuka terhadap teman. Sedangkan kelemahannya membutuhkan persiapan yang

  

matang karena proses belajar mengajar dengan model TSTS membutuhkan waktu

yang lama dan pengelolaan kelas yang optimal. Jika jumlah siswa yang terdapat

  dalam suatu kelas itu ganjil model pembelajaran ini juga tidak dapat diterapkan.

  2.1.3. Hasil Belajar

  2.1.3.1 Pengertian Belajar Setiap orang tentu mempunyai pandangan yang berbeda-beda mengenai makna dari belajar. Menurut Slameto (2010: 02) mengatakan “ Belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebaagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”.Perubahan tingkah laku individu hasil interaksi dengan lingkungannya yang tujuaannya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

  Sedangkan pengertian belajar yang dikatakan Reber dalam Suprijono (2012:03) belajar adalah “The process of acquiring knowledge. Belajar adalah proses mendapatkan pengetahuan”. Konsep belajar ini berbeda dengan pendapat Slemeto karena belajar sebagai konsep mendapatkan pengetahuan dalam praktiknya banyak dianut oleh sebagian besar masyarakat. Proses belajar ini didominasi aktivitas menghafal dan guru bertindak sebagai pengajar yang berusaha memberikan ilmu pengetahuan sebanyak-banyaknya kepada siswa.

  Pendapat lain dikemukakan oleh Sardiman (2012:20) yang mengatakan bahwa “Belajar merupakan perubahan tingkah laku atau penampilan, dengan serangkaian kegiatan misalnya dengan membaca, mengamati, mendengarkan, meniru, dan lain sebagainya”. Dengan demkian dapatlah dikatakan bahwa belajar itu sebagai rangkaian kegiatan jiwa raga untuk menuju ke perkembangan pribadi manusia seutuhnya, yang berarti menyangkut unsur ranah kognitif, afektif dan psikomotorik.

  Senada dengan pendapat Sardiman pengertian belajar menurut Hamalik (2004:28) mengungkapkan bahwa belajar “Suatu proses perubahan tingkah laku individu melalui interaksi dengan lingkungan”.Perubahan tingkah laku diperoleh dari hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksinya dengan lingkungan.

  Dengan demikian dapat disimpulkan dari beberapa pengertian di atas belajar adalah serangkain aktivitas manusia dengan lingkungannya dalam rangka memperoleh pengetahuan serta diikuti dengan adanya perubahan tingkah laku yang bersifat tetap.

  2.1.3.2 Pengertian Hasil Belajar Sebagian besar masyarakat menganggap hasil belajar merupakan nilai akhir siswa setelah menerima pengalaman belajar. Adapun pengertian hasil belajar menurut Slameto (2010:03) yaitu “ Hasil belajar perubahan yang terjadi dalam diri seseorang berlangsung secara berkesinambungan, tidak statis. Satu perubahan yang terjadi akan menyebabkan perubahan berikutnya dan akan berguna bagi kehidupan ataupun proses belajar berikutnya”.Slameto menekankan pada pengertiaan hasil belajar ini merupakan suatu perubahan yang meliputi aspek kematangan atau pendewasaan seseorang yang memberi manfaat bagi kehidupannya.

  Sedangkan menurut Suprijono (2012:05) “Hasil belajar adalah pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian, sikap-sikap, apresiasi dan keterampilan”. Suprijono menekankan pengertian hasil belajar informasi verbal yaitu kapabilitas mengungkapkan pengetahuan dalam bentuk bahasa lisan maupun tulisan, ketreampilan intelektual yaitu kemapuan mempresentasikan konsep atau lambang, dan sikap yang merupakan kemampuan menerima atau menolak objek berdasarkan penilaian terhadap objek tersebut.

  Tidak jauh berbeda pengertian hasil belajar menurut Rusman (2011:123) “Hasil belajar adalah sejumlah pengalaman yang diperoleh siswa yang mencangkup ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik”. Hasil belajar yang ditekankan pada ranah kognitif berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari enam aspek yakni pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis,sintesis dan evaluasi. Ranah afektif berkenaan dengan penilaian sikap sedangkan ranah psikomotorik berkenaan dengan hasil belajar keterampilan dan kemapuan bertindak.Ketiga kemapuan tersebut berakaiatan dengan kemapuan para siswa menguasai isi bahan pengajaran.

  Pendapat lain dari Hamalik (2004:30) “Hasil belajar ialah terjadinya perubahan tingkah laku pada orang tersebut, misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, dan dari tidak mengerti menjadi mengerti”.Perubahan yang dimaksud sebagai terjadinya proses peningkatan dan pengembangan yang lebih baik sebelumnya yang tidak tahu menjadi tahu.

  Ada pula pendapat Sudjana (2011: 22) menyatakan bahwa: “Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya”. Hasil belajar yang dimaksud oleh Sudjana ini merupakan suatu proses kegiatan yang dilakukan oleh siswa dalam rangka mencapai tujuan dari suatu pembelajaran.

  Berdasarkan pernyataan beberapa pakar di atas maka dapat disimpulkan bahwa hasil belajar menurut pendapat Rusman yang lebih spesifik, jadi pengertian hasil belajar adalah perubahan perilaku secara keseluruhan yang tampak pada siswa yang mencangkup ranah kogntif, afektif dan psikomotorik setelah mendapatkan pengalaman belajar.

  2.1.3.3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar Untuk mencapai hasil belajar yang maksimal terdapat pula faktor-faktor yang dapat mempengaruhi hasil belajar.Hasil belajar siswa dipengaruhi oleh dua faktor utama yaitu faktor dari dalam diri siswa dan faktor yang datang dari luar diri siswa atau faktor lingkungan. Menurut Slameto (2010:54-72), faktor-faktor yang mempengaruhi belajar adalah:

  (1) faktor internal, yaitu jasmaniah (kesehatan, cacat tubuh), psikologis (intelegensi, perhatian, minat, bakat, motif, kematangan, kesiapan) dan kelelahan; (2) faktor eksternal, yaitu keluarga (cara orang tua mendidik, relasi antar anggota keluarga, suasana rumah, keadaan ekonomi keluarga, pengertian orang tua, latar belakang kebudayaan), sekolah (metode mengajar, kurikulum, relasi guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa, disiplin sekolah, alat pelajaran, waktu sekolah, standar pelajaran di atas ukuran, keadaan gedung, metode belajar, tugas rumah), masyarakat (kegiatan siswa dalam masyarakat, mass media, teman bergaul, bentuk kehidupan masyarakat).

  Senada dengan pendapat Slameto yaitu pendapat yang diungkapkan olehSudjana (2004:39) bahwa”Hasil belajar yang dicapai dipengaruhi oleh dua faktor yakni faktor dalam diri siswa itu dan faktor yang datang dari luar diri siswa atau faktor lingkungan”.Adapun faktor-faktor tersebut yang dimakudkan oleh Sudjana adalah faktor dari dalam diri siswa meliputi kemapuan yang dimilikinya, motivasi belajar, minat dan perhatian, sikap dan kebiasaan belajar, ketekunan, sosial, ekonomi, faktor fisik dan psikis.Sedangkan faktor datang dari luar siswaatau faktor lingkungan, berupa kualitas pengajaran.

  Sedangkan pendapat menurut Sardiman (2012:39-47), faktor-faktor yang mempengaruhi belajar adalah: Faktor intern (dari dalam) diri siswa dan faktor ekstern (dari luar) siswa. Kaitan dengan faktor dari dalam diri siswa, selain faktor kemampuan, ada juga faktor lain yaitu motivasi, minat, perhatian, sikap, kebiasaan belajar, ketekunan, kondisi sosial ekonomi, kondisi fisik dan psikis. Kehadiran faktor psikologis dalam belajar akan memberikan andil yang cukup penting. Faktor-faktor psikologis akan senantiasa memberikan landasan dan kemudahan dalam upaya mencapai tujuan belajar secara optimal. Dari beberapa pendapat para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa faktor- faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa adalah faktor internal siswa yaitu berupa faktor yang ada dalam diri siswa itu sendiri berupa faktor jasmaniah dan psikologis siswa, sedangkan faktor eksternal yaitu faktor lingkungan yang terdiri dari lingkungan keluarga seperti hubungan orang tua dengan anak, lingkungan masayarakat seperti kondisi siswa tersebut tinggal kemudian lingkungan sekolah berupa strategi pembelajaran yang digunakan guru selama kegiatan proses belajar mengajar berlangsung.

  2.1.4 Sintak Pendekatan Saintifik melalui Model Pembelajar Problem Based Learning dan Model Pembelajaran Kooperatif Two Stay Two Stray

  2.1.4.1 Sintak Pendekatan Saintifik melalui Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL)

  Berdasarkan langkah-langkah pendekatan saintifik dan langkah-langkah model pembelajaran Problem Based Learning di atas dapat disajikan dalam kegiatan belajar mengajar adalah sebagai berikut.

  1. Mengamati Mengamati pada pendekatan saintifik dapat dilakukan pada tahap 1 sintaks PBL, yaitu mengorintasi peserta didik pada masalah.Masalah tersebut dapat disajikan dalam bentuk gambar, diagram, film pendek, atau power point.

  2. Menanya Menanya pada pendekatan saintifik dapat dilakukan pada tahap 2 sintaks PBL, yaitu mengorganisasikan siswa untuk belajar. Melalui kegiatan tanya jawab, guru mengingatkan kembali langkah-langkah atau metode ilmiah. Metode ilmiah tersebut dapat disajikan dalam bentuk bagan.

  3. Menalar Menalar pada pendekatan saintifik dapat dilakukan pada tahap 2 sintaks PBL, yaitu mengorganisasikan siswa untuk belajar. Kegiatan menalar juga terdapat di tahap 2 namun kegiatan ini, setelah tanya jawab guru membimbing siswa secara individual maupun kelompok dalam merencanakan eksperimen untuk menguji dugaan (hipotesis) yang diajukan.

  4. Mencoba Mencoba pada pendekatan saintifik dapat dilakukan pada tahap 3 sintaks PBL, membimbing penyelidikan individual maupun kelompok. Dalam kegiatan ini siswa mengumpulkan informasi kemudian melakukan eksperimen berdasarkan rancangan yang telah mereka buat dengan bimbingan guru.

  5. Membentuk jejaring Membentuk jejaring padapendekatan saintifik dapat dilakukan pada tahap 4 sintaks PBL,mengembangkan dan menyajikan hasil karya.Siswa dalam kelompok mengembangkan laporan hasil penelitian sesuai format yang sudah disepakati.Kelompok terpilih mempresentasika hasil eksperimen.Juga terdapad pada tahap 5 sintaks PBL, yaitu menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah. Dalam kegitannya guru bersama siswa menganalisis dan mengevaluasi terhadap proses pemecahan masalah yang dipresentasikan setiap kelompok maupun terhadap seluruh aktivitas pembelajaran yang dilakukan.

  2.1.4.2 Sintak Pendekatan Saintifik melalui Model Kooperatif Two Stay Two Stray

  Berdasarkan langkah-langkah pendekatan saintifik dan langkah-langkah model pembelajaran kooperatif tipeTwo Stay Two Straydi atas dapat disajikan dalam kegiatan belajar mengajar adalah sebagai berikut.

  1. Mengamati Mengamati pada pendekatan saintifik dapat dilakukan pada tahap 1 dan 2 sintak TSTS yaitu, guru membagi siswa dalam beberapa kelompok yang setiap kelompok terdiri dari empat siswa, kelompok yang dibentuk pun merupakan kelompok heterogen tahap 1 dan tahap 2, guru memberikan subpokok bahasan pada tiap-tiap kelompok untuk untuk dibahas bersama-sama dengan anggota kelompok masing- masing. Kegiatan siswa ini diminta untuk mengamati objek yang diangkat sebagai tema pembelajaran.

  2. Menanya Menanya pada pendekatan saintifik dapat dilakukan pada tahap 3 dan 4sintak TSTS yaitu, pada kegiatansiswa bekerja sama dalam kelompok yang beranggotakan empat orang tahap 3 dan tahap 4, setelah selesai dua orang dari masing-masing kelmpok meninggalkan kelompoknya untuk bertamu ke kelompok lain. Kegiatan ini siswa melakukan tanya jawab dengan siswa yang lain dengan bimbingan guru.

  3. Mencoba Mencoba pada pendekatan saintifik dapat dilakukan pada tahap 3 dan 4 juga sintak TSTS yaitu, pada kegiatan siswa bekerja sama dalam kelompok yang beranggotakan empat orang tahap 3 dan tahap 4, setelah selesai dua orang dari masing-masing kelmpok meninggalkan kelompoknya untuk bertamu ke kelompok lain. Selain menanya dalam kegiatan diskusi siswa diminta untuk mencoba memecahkan masalah dalam tema yang diangkat melalui bimbingan guru.

  4. Menalar Menalar pada pendekatan saintifik dapat dilakukan pada tahap 5 dan 6 sintak TSTS yaitu, pada kegiatan siswa sebagai tamu mohon diri dan kembali ke kelompok mereka sendiri untuk melaporkan temuan mereka dari kelompok lain tahap 5 dan tahap 6, kelompok mencocokan dan membahas hasil-hasil kerja mereka.

  5. Membentuk jejaring Membemtuk jejaring pada pendekatan saintifik dapat dilakukan pada tahap 7 sintak TSTS yaitu, pada kegiatan siswa yangmasing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerja mereka.

  2.2 Kajian Hasil Penelitian yang Relevan Hasil penelitian Ade Febriyanto Wigar (29200862) pada tahun 2012 yang berjudul Efektivitas Penggunaan Model Problem Based Learning (PBL) dalam

  Pembelajaran Matematika Pada Siswa SD Kelas V Semester II Desa Depok Tahun Ajaran 2011/2012, menunjukkan bahwa siswa yang diajar menggunkaan Model PBL lebih baik dibandingkan siswa yang diajar menggunakan model pebelajaran konvensional, terbukti dari nilai rata-rata siswa sebagi kelas eksperimen yang diajar dengan menggunakan model PBL sebesar 78,60 dan rata- rata siswa sebagai kelas kontrol yang diajar menggunakan model pembelajaran konvensional sebesar 64,14.

  Sedangkan penelitian Merinda Dian Pramestari (292008001) pada tahun 2012 yang berjudul Efektivitas Penggunaan Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning-PBL) Terhadap Hasil Belajar IPA Siswa Kelas

  V Di SD Gugus Hasanudin Salatiga Semester II Tahun Ajaran 2011/2012, menunjukkan bahwa siswa yang diajar menggunakan Model PBL lebih baik dibandingkan siswa yang diajar menggunakan model pebelajaran konvensional, terbukti dari nilai kelas kontrol lebih rendah dari pada nilai kelas eksperimen dengan perolehan nilai rata-rata tes yaitu 74,53 < 83,38 dengan perbedaan rata- rata (mean difference) 8,851.

  Ada pula penelitian yang dilakukan oleh Niken Maya Yasinta (292008084) pada tahun 2012 yang berjudul Pengaruh Penggunaan Metode Problem Based Learning (PBL) dengan Memanfaatkan Media Video Compact Disc (VCD) Terhadap Hasil Belajar Matematika pada Siswa IV Sekolah Dasar Negeri Mangunrejo Kecamatan Pulokulon Kabupaten Grobogan Semester II Tahun 2011/2012, menunjukkan ada pengaruh yang signifikan ditunjukkan dengan adanya perbedaan nilai tes rata-rata kelas kontrol 70,92 sedangkan kelas eksperimen 80,15.

  Kemudian penelitian yang dilakukan oleh Heri Hendra Gunawan (292008023) pada tahun 2012 yang berjudul Pengaruh Penggunaan Metode Two Stay Two Stray (TSTS) dalam Pembelajaran Matematika Terhadap Hasil Belajar Kelas V SD Kecamatan Sidorejo Kota Salatiga Semester II Tahun Ajaran 2011/2012, menunjukkan bahwa nilai t adalah 3,7071 dengan probabilitas signifikan 0,04 < 0,05 dan perbedaan rata-ratanya berkisar 3,37644 sampai 17,28110 dengan perbedaan rata-rata 10,34524 dan dapat disimpulkan adanya pengaruh penggunaan metode TSTS.

  Penelitian yang dilakukan oleh Rendra Purnomo Putra (292008039) yang berjudul Efektivitas Pembelajaran Kooperatif Tipe TSTS Terhadap Hasil Belajar Siswa Berdasarkan Gender Pada Mata Pelajaran IPA Pokok Bahasan Sifat-Sifat Cahaya Kelas V SD Gugus Among Siswa Temanggung Semester 2 Tahun 2011/2012, menunjukkan bahwa terdapat perbedaan nilai hasil kelas eksperimen dan kelas kontrol secara statistik hasil itu signifikan. Selain itu secara signifikan pembelajaran kooperatif TSTS tidak efektif hasil belajar berdasarkan gender siswa kelas V dengan pokok bahasan sifat-sifat cahaya.

  Adapun yang membedakan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan pendekatan saintifik melalui model pembelajaran Problem Based Learning dan model kooperatif Two Stay Two Stay.Pendekatan saintifik lebih berparuh dimodel Problem Based Learning ataukah di model kooperatif tipe Two Stay Two Stray.Oleh karena itu, penelitian ini penting dilakukan untuk mengetahui pengaruhpenggunaan pendekatan saintifik melalui model pembelajaran Problem Based Learning terhadap hasil belajar di SD Negeri 01 dan 02 Tempel.

  Tabel 1 Analisis Hasil Penelitian yang Relevan

  No Nama Variabel X Variabel Y Kelas Hasil Peneliti

  1. Ade Model Problem Hasil belajar

  5 Berpengaruh Febriyanto Based Learning matematika

  Wigar

  2. Merinda Model Problem Hasil belajar IPA

  5 Berpengaruh Dian Based Learning

  Pramesti

  3. Niken Maya Metode Problem Hasil belajar

  4 Berpengaruh Yasinta Based Learning matematika

  4. Heri Hendra Metode Two Hasil belajar

  5 Berpengaruh Stay Two Stray

  Gunawan matematika

  5. Rendra Pembelajaran Hasil belajar IPA

  5 Tidak Purnomo kooperatif Tipe berpengaruh

  Putra TSTS

  2.3 Kerangka Pikir Setiap mata pelajaran tertentu memiliki karakteristik dan pemahan sendiri, termasuk mata pelajaran matematika.Salah satu karakteristik matematika adalah sifatnya abstrak banyak menggunakan rumus dan tidak dapat dipelajari hanya dengan membaca saja. Siswa Sekolah Dasar yang masih tergolong dalam tahap operasional akan kesulitan memahami konsep matematika yang abstrak tanpa benda konkrit.

  Keberhasilan suatu pembelajaran matematika ada pula faktor-faktor yang dapat mempengaruh hasil belajar yaitu faktor dari diri siswa dan faktor yang datang dari luar siswa seperti faktor lingkungan diantaranya faktor keluarga, masyarakat dan sekolah seperti metode mengajar, kurikulum, relasi guru dengan siswa, disiplin sekolah, alat pelajaran, waktu sekolah, standar pelajaran di atas ukuran, keadaan gedung, metode belajar, serta tugas rumah.Pelaksanaan pembelajaran matematika yang banyak rumus dan berifat abstak, perlu adanya model pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik siswa SD. Salah satunya model yang dapat digunakan pendekatan saintifik melalui model Problem Based Learning dan pendekatan saintifik melalui model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray yang bertujuan untuk memberi kesempatan siswa dalam mengembangkan kemampuannya dalam menyelesaikan masalah, sehingga dapat membantu proses transfer siswa memahami masalah dalam kehidupan sehari-hari.

  Penggunaan model Problem Based Learningdan model pembelajaran Two Stay Two Strayini sudah terbukti secara empiris dari penelitian-penelitian yang terdahulu yang sudah diuraikan dalam kajian hasil penelitian yang relevan di atas.

  Dengan penguanaan model pembelajaran Problem Based Learning danmodel pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray diharapkan siswa aktif dan bekerja sama memahami materi. Hasil belajar matematika yang diharapkan pada kedua model tersebut manakah yang lebih efektif.Membandingkan hasil belajar yang menggunakan pendekatan saintifik melalui model pembelajaran Problem Based Learning dan hasil belajar matematika menggunakan pendekatan saintifik melalui model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray.

  2.4. Hipotesis Penelitian Diduga adaperbedaan pengaruh yang signifikan penggunaan pendekatan saintifik melalui model pembelajaran Problem Based Learning dengan model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray terhadap hasil belajar matematika pada siswakelas 3 SD Negeri 1 dan 2Tempel.

Dokumen baru

Download (24 Halaman)
Gratis

Tags

Dokumen yang terkait

PENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPS KELAS V DENGAN MENGGUNAKAN MODEL TEAM GAMES TOURNAMENT PADA SISWA SD 5 DERSALAM SKRIPSI
0
0
21
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN EXAMPLE NON EXAMPLE DENGAN MEDIA PICTORIAL RIDDLE UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PKn SISWA KELAS V SD 2 TENGGELES
0
0
17
Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Pengaruh Penggunaan Pendekatan Saintifik Melalui Model Pembelajaran Discovery Learning dan Problem Based Learning terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas 3 SD
0
0
125
1 Bab 1 Memahami Ulang Yesus Sebagai Korban (Mat.26:36-46): Perspektif Poskolonialis Oli Somba Dalam Agama Suku Aramaba Terhadap Yesus Sang Korban 1. Pendahuluan 1.1 Latar Belakang - Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Memahami U
0
0
12
13 Bab 2 Hermeneutik Poskolonial dengan Perspektif Ritus Oli Somba dalam Komunitas Masyarakat Aramaba 2.1 Pendahuluan - Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Memahami Ulang Yesus sebagai Korban (Mat.26:36-46):Perspektif Poskolonial
0
0
24
37 Bab 3 Konteks Kultural Praktik Pengorbanan dalam Matius 26:36-46 3.1 Pendahuluan - Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Memahami Ulang Yesus sebagai Korban (Mat.26:36-46):Perspektif Poskolonialis Oli Somba dalam Agama Suku Aram
0
0
19
56 Bab 4 Memahami Ulang Yesus Sebagai Korban Dari Perspektif Ritus Oli Somba dalam Komunitas Masyarakat Aramaba 4.1 Pendahuluan - Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Memahami Ulang Yesus sebagai Korban (Mat.26:36-46):Perspektif P
0
0
23
Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Pengelolaan Homestay di Desa Wisata Nglanggeran Kabupaten Gunung Kidul
0
0
28
Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Penerjemahan sebagai Media Pekabaran Injil Middelkoop Ditinjau dari Perspektif Hermeneutika Hans Georg Gadamer
0
0
32
Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Efektivitas Penggunaan Model Problem Based Learning Dibanding dengan Model Discovery dalam Pembelajaran IPA Materi Peristiwa Alam Kelas 5 SD
0
0
26
Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Efektivitas Penggunaan Model Problem Based Learning Dibanding dengan Model Discovery dalam Pembelajaran IPA Materi Peristiwa Alam Kelas 5 SD
0
0
9
Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Efektivitas Penggunaan Model Problem Based Learning Dibanding dengan Model Discovery dalam Pembelajaran IPA Materi Peristiwa Alam Kelas 5 SD
0
0
16
Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Efektivitas Penggunaan Model Problem Based Learning Dibanding dengan Model Discovery dalam Pembelajaran IPA Materi Peristiwa Alam Kelas 5 SD
0
0
79
Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Analisis Penerapan Pembelajaran Contextual Teaching and Learning: Studi Kasus SMK N 1 Tengaran
0
0
19
Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Pengaruh Penggunaan Pendekatan Santifik Melaui Model Pembelajaran Problem Based Learning terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas 3 SD
0
0
7
Show more