PENANGGULANGAN BENCANA TANAH LONGSOR DI KABUPATEN PURWOREJO PROPINSI JAWA TENGAH Dradjat Suhardjo

Gratis

0
0
12
6 months ago
Preview
Full text

  Dradjat Suhardjo, Penanggulangan Bencana Tanah Losngsor Kabupaten ...

  PENANGGULANGAN BENCANA TANAH LONGSOR DI KABUPATEN PURWOREJO PROPINSI JAWA TENGAH 1) Dradjat Suhardjo ABSTRACT The naturaldisasteristhenaturalphenomena.Itwashappened intheworldbyspesificationoftheenvironmentcharacteristic. The grade of the disaster at the usually measured by human victimnumber.Thenaturaldisasterresearchlocationhadbeen declared as a high risk disaster zone. The habitant think first, thatthenatural disasterjustanaccident.Thoseasumechange fast when there was following disaster. The habitant refused moved to the other place first. They want to move, particulary at the location with many victim. At the location with a little victim,aversiontomovestill stronger,thereasonthatthenatu- raldisasterjustanaccident.Theychoosesurrender.Assoonas posiblethattheanxiousareamustbeminimizedfromhabitant in avoidingdisastervictim.The researchfinding showthatthe habitantprofesionmajorityattheanxiousareaarefarmes.The actionto minimizevictim opportunity was needed. The other resultshow,habitantreducing opportunitydoingbynonfarm- ing skilled empowerment. The habitant willingness theirself migrationtojobacceptancelocation,matchwiththeirskilled. Transmigrationprogramstillsocializationneededandcompre- hensivepreparation. Key word: non farming, skilled, migration. PENDAHULUAN Pada akhir tahun 2000 banyak terjadi bencana alam yang terkait 1) dengan curah hujan yang lebat dan datang lebih awal. Bencana tersebut

  Dr. Ir. H Dradjat Suhardjo, SU, Dosen Tetap Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan UII & Kepala Pusat Penelitian Lingkungan Hidup Lembaga Penelitian UII

ISSN: 1410-2315

  Dradjat Suhardjo, Penanggulangan Bencana Tanah Losngsor Kabupaten ...

  berupa banjir dan tanah longsor. Kabupaten Purworejo tidak luput dari bencana tersebut dan korbannya yang terbesar karena tanah longsor. Jumlah korban meninggal 36 orang yang terdiri atas 22 jiwa dari Desa Kemanukan, 13 orang dari desa Pacekelan dan 3 orang dari desa Somongari. Darihasilpengamatan menunjukkan bahwa lokasibencana memang pada kawasan yang rawan bencana. Penyebabnya adalah lereng terjal o lebih 20 dan adanya patahan yang menyebabkan retak-retak pada batuan andesit tersier penyangga tanah. Dengan kondisi yang rawan, kawasan tersebut semestinya memang bebas dari hunian atau lebih sesuai sebagai kawasan lindung. Persoalan yang dihadapi adalah :

  1. Apakah daerah bencana dan rawan bencana dapat dikosongkan dengan cara relokasi dan atau transmigrasi?

  2. Usaha apa yang perlu dilaksanakan bila penduduk tidak bersedia dipindahkan agar tidak terjadi korban jiwa bila terjadi bencana susulan

3. Apakah Rencana Tata Ruang Wilayah perlu revisi berdasarkan evaluasi setelah terjadi bencana. Untuk membatasi cakupan wilayah penelitian, lokasi penelitian difokuskan pada kawasan yang terjadi bencana tanah longsor dengan menimbulkankorban.KawasantersebutterletakdiDesaKemanukan,Desa Pacekelan dan Desa Somongari. Sebagian dari kawasan tersebut juga rawan bencana. Bagi bagian yang tidak rawan bencana diasumsikan sebagai bagian yang kehidupannya normal. Tujuan penelitian untuk mendapatkan gambaran cara penanggulangan bencana secara comprehensive dalam jangka pendek, menengah maupun jangka panjang. Dalam jangka panjang diharapkan menjadi model pendistribusian penduduk dari Pulau Jawa ke Luar Pulau Jawa. Pulau Jawa yang luasnya hanya 6,5% dari luas daratan seluruh wilayah Indonesia kini telah menampung 57% dari penduduk Indonesia. (Kasto dan Sembiring, 1996) Hasil penelitian juga diharapkan merupakan model penyelesaian yang paling optimal karena adanya bencana yang menimpa penduduk di Pulau Jawa. Karena kepadatan yang tinggi banyak penduduk yang bermukim pada kawasan yang rawan bencana dan kawasan lindung yang semestinya tidak untuk hunian. Pendekatan solusi masalah adalah dengan memberdayakan sumber daya manusia(SDM) agar mempunyaimotivasidan ketrampilan penduduk yang terancam bencana bila pindah ke tempat lain. Pendekatan teoritik adalahdenganpendekatanteorimobilitaskependudukanatauteorimigrasi.

ISSN: 1410-2315

  Dradjat Suhardjo, Penanggulangan Bencana Tanah Losngsor Kabupaten ...

  TINJAUAN PUSTAKA Issard (1969) menggambarkan bahwa terjadinya gerakan penduduk atau migrasi karena adanya dua konsentrasi kelompok pemukim. Dengan adanya dua kelompok tersebut maka terjadi interaksi yang diwujudkan dalam pergerakan penduduk atau terjadi mobilitas migrasi atau migration flow. Terjadinya pergerakan menurut Issard diumpamakan seperti gayatarik menarik sebagaimana dirumuskan dalam rumus fisika Newton. Besarnya daya tarik antara dua massa sebanding dengan besarnya massa, dan berbanding terbalik dengan kuadrat jarak (Issard dalam Warpuni, 1982). Lee (1992) berpendapat bahwa migrasi terjadi, secara umum karena alasan-alasan ekonomi. Lee juga sependapat dengan Ravenstein bahwa: migrasi berarti hidup dan maju, penduduk yang tetap di tempat tinggalnya berarti stagnasi (Ravenstein dalam Lee, 1992) Teague (1997) berpendapat migrasi dapat terjadi selain alasan ekonomi juga karena alasan yang bersifat psikis karena alasan keamanan, kenyamanan, politik maupun pribadi. William dan Jobes (1990) sependapat dengan Teague, migrasi dapat terjadi karena ingin mencari lingkungan yang kualitasnya lebih baik. Todaro (1992) akhirnya menyimpulkan bahwa alasan non-ekonomi tetap relevan, tetapialasan ekonomi merupakan alasan yang paling utama ialah kenaikan pendapatan yang diharapkan ( expected income) Berry (1967) menyimpulkan tentang tumbuhnya kota-kota dengan pemerataan pendudukdiAmerikaSerikatdalam empattahap proses. Studi Berry merupakan studi evolusi tahap peringkat pertumbuhan kota dan pemukiman. Masing-masing tahap adalah 40 tahun atau 5 windu. Tahap tersebut adalah: Mercantile, industrial, heatland-periphery dan decentral- ized. Pentahapan ini dimulai dari tahun 1830 -1870, 1870 - 1920 dan 1920 - 1960. Pemantapan pemerataan penduduk dipicu kemudahan interaksi antar regional dan tumbuhnya kota-kota baru secara merata. Pertumbuhan kota baru juga dipicu oleh hasrat para pensiunan untuk bermukim di kawasan yang nyaman dan lebih hangat suhunya ialah arah selatan-barat (baratdaya). Proses ini memantabkan kota Los Angeles sebagai kota dunia di tepi barat, sebagaimana pendahulunya New York di tepi Timur (Berry dalam Haggett, 1975 : 375 - 380) LANDASAN TEORI Hasil kajian pustaka dan observasi lapangan memberikan petunjuk bahwa untuk merelokasi penduduk pada daerah bencana dan rawan

ISSN: 1410-2315

  Dradjat Suhardjo, Penanggulangan Bencana Tanah Losngsor Kabupaten ...

  bencana memang rumit.Bila ada kesediaanuntukmigrasibukanlah karena alasan ekonomis sebagaimana umumnya. Alasan yang lebih kuat adalah faktor psikologis karena ancaman atau lingkungan yang kurang aman karena lingkungan fisik yang rawan bencana. Alasan ini sejalan dengan yang dikemukakan oleh Teague, William dan Jobes. Dengan demikian alasan utama adalah lebih bersifat subyektif dan emosional bukan alasan yang obyektif rasional, mencari peningkatan ekonomi dan kesejahteraan. Kondisi sebagaimana diuraikan di atas memberikan gambaran bahwa untuk penyelesaian masalah pendekatan yang bersifat personal, kultural dana persuasif tampak lebih sesuai. Untuk mendiskripsikan penelitian secara induktif lebih sesuai, ialah dengan meneliti hal-hal yang bersifat spesifik untuk menjelaskan atau mendapatkan kesimpulan secara umum. Hal yang spesifik adalah pendapat individual yang diperoleh dari angket. Kesimpulan umum adalah rangkuman pendapat dari individual yang dirumuskan secara proporsional. Kesimpulan yang diteliti adalah: kesediaan pindah, tanggapan terhadap bencana yang terjadi, lapangan pekerjaan dan ketrampilan yang diminati. Bila merujuk pada pendapat Todaro (1992) bahwa alasan non ekonomi tetap relevan, tetapi faktor ekonomi merupakan alasan yang pal- ing utama merupakan landasan yang sesuai. Ancaman adanya bahaya susulan yang mendorong untuk segera pindah memang telah terjadi khususnya di desa Pacekalan karena adanya bencana tanah longsor susulan pada 30 Nopember 2000. Bila merujuk pada Berry (1967) tentang evolusi tahap pertumbuhan kota dan pemukiman di Amerika Serikat, Indonesia baru pada tahap awal dimana konsentrasi kegiatan penduduk terpusat di Jawa, sementara Indonesia Timur masih sangat sepi. Hal inimirip Amerika pada periode 1830 - 1870 dimana konsentrasi di sekitar New York sementara di Selatan Barat (Los Angeles) belum menjadi daya tarik untuk bermukim. METEODE PENELITIAN Metode yang digunakan dalam penelitian adalah fenomenologi. Metode ini dipandang lebih sesuai, mengingat fokus obyek penelitian adalah sumberdaya manusia (SDM) yang berada dalam kondisi galau akibat adanya bencana yang menimpa. Metode fenomenologi memberi arahan kemungkinan terjadinya rumusan masalah berubah, karena adanya temuan baru di lapangan. Dengan demikian rumusan masalah bila perlu diubah sesuai temuan yang ada. Adanya temuan-temuan baru yang sulit diperkirakan, maka hipotesis juga sulit dirumuskan.

ISSN: 1410-2315

  Dradjat Suhardjo, Penanggulangan Bencana Tanah Losngsor Kabupaten ...

  Gejala adanya perubahan yang sulit diramalkan juga telah terjadi pada lokasi penelitian. Hampir satu bulan setelah terjadi bencana 5 Nopember2000,pendudukyangterkenamusibahlangsungsulitmenerima tawaran transmigrasi. Bagi yang tinggal pada lokasi yang dinyatakan rawan bencana tetapi tidak langsung terkena musibah tawaran pindah tempat atau relokasi tidak disetujui. Tetapi sejak terjadi bencana susulan

  30November2001kecenderunganuntukpindahmenguatwalaupundalam tingkat yang berbeda. Di Desa Pecekalan sangat kuat kemauan untuk pindah, sedangkan di Desa Kemanukan ada kemauan pindah, sedangkan di Desa Somongari hampir tidak ada perubahan, tetapi ingin tinggal di desanya. Hasrat untuk transmigrasi yang semula sama sekali tidak ada tanggapan ternyata sebagian telah transmigrasi secara swakarsa dengan alasan mengikuti anak. Uraian kejadian di atas makin menguatkan bahwa metode pendekatan penelitian fenomenologi lebih sesuai. Kondisilokasipenelitian secara fisik dan administratif terbagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama (A) adalah Desa Pacekelan dan Kemanukan yang sebagian daerahnya datar dan terdapat sawah. Akses menuju keluar yang paling mudahadalahDesa Kemanukan dibandingkan DesaPacekelan. Kelompok kedua (B) adalah desa Somongari yang lebih jauh ke pedalaman dengan satu-satunya akses jalan menyusuri tepi sungai yang rentan longsor dan putus. Setiap kelompok terdiri atas penduduk yang terkena langsung bencana dan yang tinggal pada kawasan yang rawan bencana. Untuk menjawab masalah yang telah dirumuskan, dengan tidak dirumuskan hipotesis maka jawaban bersifat diskriptif kualitatif. Jawaban diperoleh berdasarkan jawaban responden dari desa-desa Pacekelan, Kemanukan dan Somongari. Jawaban responden diperoleh dari angket dengan inti menjaring informasi atau jawaban dari responden tentang tanggapan setelah terjadi bencana dan bila terjadi bencana susulan. Tanggapan utama yang akan dijaring adalah tawaran migrasi, pekerjaan yang diinginkan dan tawaran jenis ketrampilan yang diinginkan bila diadakan pelatihan. Pengambilan responden sebagai sampel jumlahnya merujuk pada ketentuan tabel yang dibuat Morgan. Populasi adalah jumlah kepala keluarga (KK) yang menjadi korban dengan kriteria rumahnya hancur ditambah dengan tetangga terdekat yang juga termasuk tinggal pada kawasan rawan bencana. Jumlah KK korban kelompok A Desa Pacekelan dan Kemanukan 31 KK, sedangkan kelompok B desa Somongari 10 KK. Menurut Morgan untuk populasi (N) sampai dengan 30 sampel (S) adalah 28, sedangkan untuk N = 10 maka S=10. Untuk N=40, S=36 (Morgan

ISSN: 1410-2315

  Dradjat Suhardjo, Penanggulangan Bencana Tanah Losngsor Kabupaten ...

  dalam Mantra, 1995: 16). Mempertimbangkan perlunya sampel bagi KK yang tinggal di kawasan rawan bencana, jumlah sampel yang diambil pada kelompok A berjumlah 32, sedangkan di kelompok B berjumlah 39 sampel. Analisis dilaksanakan untuk mendapatkan jawaban secara proporsional dari opsi dan pertanyaan yang diajukan, dengan menggunakan tabel silang. Hasil analisis yang dilakukan secara diskriptif, kualitatif digunakan sebagai dasar solusi untuk mengatasi kawasan rawan bencana. Hasil optimal yang diharapkan adalah mengosongkan kawasan rawan bencana dari pemukiman, sedang minimal adalah menghindari korban jiwa bila terjadi bencana. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Rona lingkungan fisik lokasi penelitian dapat dilihat pada Tabel 1. Akses yang terdekat dengan jalan penghubung ke kota Purworejo adalah Desa Kemanukan, disusul Desa Pacekelan dan Desa Somongari yang 2 paling jauh. Pemilikan tanah per KK yang terbesar adalah 0-500 m (78,9 %) dengan status pemilik tani dan buruh tani. Tabel 1. Nomografi desa yang terkena bencana tanah longsor

  5 Nopember 2000

  Desa

No Pacekelan Kemanukan Somongari

Butir

  1 Luas wilayah (ha) 526,7 414,8 813,3

  2 Jumlah penduduk 2.333 2.189 3.311

  3 Jumlah Kepala keluarga (KK) 570 526 758

  4 Jumlah Petani 1.282 1.147 1.640

  5 Jumlah non petani 179 707 308

  • 6 Luas sawah (ha) 60,0 91,7

  7 Luas ladang (tanah kering) 466,7 282,1 813,3

  8 Jumlah korban jiwa

  13

  22

  3

  9 Jumlah rumah hancur

  16

  15

  10

  10 Jumlah rumah yang telah

  16

  8

  7 dibangun sebagai pengganti

  Sumber : Hasil Survei, 2001 Permohonan untuk pindah dan pengganti rumah di Desa Pacekelan meningkat 76 KK, setelah terjadi bencana tanah longsor susulan pada 30

ISSN: 1410-2315

  Dradjat Suhardjo, Penanggulangan Bencana Tanah Losngsor Kabupaten ...

  Nopember 2000. Permohonan meningkat lagi 82 KK dari Dusun Gunung Butak setelahadanya sosialisasitentang lokasi-lokasiyang rawan bencana (Sutikno, 2001. Op.Cit). Struktur ekonomi dan mata pencaharian di Desa Pacekelan masih dominanpertanian.DiDesaKemanukankecenderunganbergeser kesektor non pertanian tampak makin menguat ialah pada sektor perdagangan dan jasa. Hal yang menarik adalah di desa Somongari. Kehidupan petani adalah tani tradisional yang lebih utama sebagai pengumpul hasil utama buah-buahan, jenis hasil yang dikumpulkan adalah buah manggis, duku, kokosan, durian dan mlinjo. Hasil yang lain adalah jenis tanaman obat, bumbu dan sayuran seperti : kunyit, temu, laos, katuh, beluntas. Mata pencaharian lain adalah menyadap kelapa untuk dijadikan gula kelapa meliputi96K.K.Halyanglebihspefisiklagiadalah besarnyajumlah pekerja yang berstatus beboro(migran sirkuler), yang bekerja diluar daerah dengan status penduduk tetap di desa Somongari. Jumlah yang beboro (perantau) tidak kurang dari 250 orang sebagian besar adalah status masih lajang (Murgiyanto dan Karsono, 2001. Op.Cit). Sikap dan tanggapan akibat terjadinya bencana antara kelompok A yang meliputi desa Pacekelan dan Kemanukan, dan kelompok B desa Somongariadaperbedaan.Secara proporsional perkelompok dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Sikap terhadap tawaran migrasi pada kelompok A dan B

  Kelompok A Kelompok B No Sikap Jumlah Prosen Jumlah Prosen (pr) (fr) (pr) (fr)

  1 Bersedia 28 87,5 4 10,2

  2 Tidak bersedia 3 9,4 33 84,6

3 Ragu-ragu 1 3,1 - -

  4 Tidak tahu (bingung) 0,0 2 5,2 Jumlah 32 100 39 100

  Sumber: Analisis Data Primer, 2001 Terdapat perbedaan yang tajam antara kelompok A dan B terhadap tawaran untuk pindah. Perbedaan yang tajam juga terjadi pada sikap terhadap bencana susulan yang mungkin terjadi. Secara lebih rinci dapat dilihat pada Tabel 3.

ISSN: 1410-2315

  Dradjat Suhardjo, Penanggulangan Bencana Tanah Losngsor Kabupaten ...

  Tabel 3. Tanggapan terhadap bencana susulan

  Kelompok A Kelompok B No. Tanggapan fr pr fr pr

  1 Sangat beresiko 26 81,2 10 25,6

  2 Biasa saja 1 3,1 2 5,1

  3 Tidak ada kepastian 2 6,3 1 2,6

  4 Pasrah 2 6,3 24 61,5

  5 Abstain 1 3,1 2 5,2 Jumlah 32 100 39 100

  Sumber: Analisis Data Primer, 2001 Tanggapan kelompok A bahwa bencana susulan sangat berisiko cukup beralasan karena terjadikorban yang besar,sehingga terjadi trauma. Rasa tidak aman semakin menguat ketika terjadi susulan pada 30 Nopember 2001. Walaupun tidak ada korban tetapi tetap terjadi tana longsor. Sikap yang berbeda di kelompok B, walau terjadi tanah longsor,bencana susulan tak begitu berpengaruh. Sikap yang hampir sama adalah mengenai pekerjaan yang diinginkan. Secara lebih rinci dapat dilihat pada tabel 4 secara lebih tegas dan rincitampak ketika ditawarkan ketrampilan sebagaimana dapat dlihat pada t Tabel 5. Tabel 4. Lapangan usaha pekerjaan yang diinginkan

  Nomor Lapangan Pekerjaan yang diinginkan fr pr

  1 Petani lahan basah (persawahan) 10 14,1

  2 Pertanian lahan kering (perkebunan) 9 12,7

3 Nelayan

  • 4 Non Petani

  19 26,8

  5 Lain-lain 33 46,4 Jumlah 71 100

  Sumber: Analisis Data Primer, 2001

ISSN: 1410-2315

  Dradjat Suhardjo, Penanggulangan Bencana Tanah Losngsor Kabupaten ...

  Tabel 5. Jenis ketrampilan yang diminati

  Nomor Lapangan Pekerjaan yang diinginkan fr pr

  1 Pertanian terpadu 12 16,9

  2 Nelayan (budidaya perikanan) 10 14,1

  3 Tukang bangunan 13 18,3

  4 Otomotif, bengkel, las, elektronik 12 16,9

  5 Kerajinan tangan 12 16,9

  6 Dagang (usaha/jasa) 3 4,2

  7 Lain-lain 9 12,7 Jumlah 71 100

  Sumber: Analisis Data Primer, 2001 Kelompok umur yang paling tinggi proporsinya adalah kelompok umur 31 - 40 sebesar 28,2 %, 21-25 (12,7 %), 41-45 (11,3 %) dan 26-30 (9,9 %). Dari tabel tersebut juga tampak jelas bahwa 56,3 responden berminat untuk bekerja di sektor non pertanian. Dorongan untuk bekerja di sektor non pertanian disebabkan karena 2 pemilikan lahan hanya 0 - 500 m yang presentasinya mencapai 72 %. Hitungan menurut kriteria Sayogya (1982) untuk hidup di atas garis 2 kemiskinan setiap KK memerlukan lahan pertanian 1.500 m . Gejala meninggalkan sektor pertanian merupakan gejala yang uni- versal, karena sektor pertanian tak mampu lagi menampung tenaga kerja, sementara nisbah (rasio) lahan per kapita juga makin mengecil. Dengan demikian mengarahkan bekerja ke sektor non pertanian adalah keniscayaan yang perlu realisasi. Rencana pemberdayaan penduduk korban bencana maupun yang tinggal dalam kawasan rawan bencana dalam jangka pendek perlu realisasi. Minimal 41 KK yang terdiri atas penduduk yang langsung terkena bencana. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Kesimpulan dari hasil penelitian adalah :

  1. Daerah bencana dan rawan bencana mempunyai karakteristik penghuni yang beragam. Tanggapan terhadap tawaran relokasi maupun transmigrasi juga berbeda antara kelompok A yang terdiri atas Desa Pacekelan dan Kemanukan dengan kelompok B ialah desa

ISSN: 1410-2315

  Dradjat Suhardjo, Penanggulangan Bencana Tanah Losngsor Kabupaten ...

  Somongari. PadakelompokAhasratuntukrelokasisangatkuat,bahkan sebagian secara swakarsa telah transmigrasi . Pada kelompok B cenderung untukbertahan. Dengan demikian padakawasan kelompok A pengosongandaerah bencana sudahberjalan,sedang pada kelompok B cenderung mengabaikan risiko yang mungkin terjadi bila terjadi bencana. Secarakeseluruhanmemberikan petunjuk bilaada pekerjaan yang sesuai keahliannya akan dikerjakan, walaupun di luar desa ataupun di luar daerahnya. Keterampilan adalah sebagai modal dasar mendorong penduduk untuk keluar dari desanya. Diharapkan dengan keluarnya tenaga trampil dari desa rawan bencana, akan menguntungkan ataupun minimal mengurangi korban jiwa penduduk dari desa tersebut bila terjadi bencana.

  2. Bila penduduk belum mau pindah, usaha untuk menghindari korban jiwa bila terjadi bencana susulan adalah: a. Menata teras, agar rumah tidak terlalu dekat dengan lereng terjal. Diusahakan antara rumah dengan teras terjal ada ruang terbuka atau kebon tanaman sekaligus sebagai parkir longsoran bila terjadi bencana.

  b. Memberdayakan penduduk untuk cepat siaga bila terjadi hujan lebat dengan model siskamling dan peringatan dini.

  3. Rencana tata ruang wilayah kawasan bencana perlu ditinjau ulang sebagai kawasan lindung atau budidaya terbatas. Saran Saran-saran untuk menanggulangi agar tidak terjadikorban jiwa bila terjadi bencana adalah :

  1. Dalam jangka pendek penduduk yang langsung menjadi korban segera dipindahkan dan diberi pendidikan keterampilan sesuai keinginan. Demikian pula bagi yang minta pindah karena merasa tidak aman tinggal di kawasan rawan bencana.

  2. Dalam jangka menengah penduduk yang tinggal di kawasan rawan bencana tetapi belum atau tidak mau pindah tetap diberikan peningkatan ketrampilan diutamakan ketrampilan pertanian terpadu dan atau non pertanian.

  3. Dalam jangka panjang diusahakan mengosongkan atau meminimalkan penduduk di kawasan rawan bencana. Kawasan tersebut digunakan sebagai kawasan lindung atau budidaya terbatas. Bila dijadikan kawasan budidaya terbatas misalnyauntuk perkebunan, lokasi hunian pekerja dan pengelola harus pada posisi yang aman dan relatif datar.

ISSN: 1410-2315

  4. Prasarana transmigrasi tetap harus diusahakan secara berkelanjutan olehpemerintahdengan menjalinhubungandenganpemerintah daerah di luar Pulau Jawa. Untuk dapat mengirim transmigran sesuai permintaan penerima, perlu pusat pendidikan dan latihan (Pusdiklat) agar transmigran yang dikirim telah siap secara fisik, mental dan ketrampilan. DAFTAR PUSTAKA Anonim ,1997.Agenda21Indonesia.StrategiNasionaluntukPembangunan Berkelanjutan. Kantor Menteri Negera Lindkungan Hidup. Anonim , 2000. Proposal Rencana Relokasi/Penuntasan Terpadu Akibat Bencana Alam Kabupaten Purworejo, Tim Relokasi Bencana Alam. Asep, E. , 2000, Laporan Singkat Hasil Pemeriksaan Gerakan Tanah di KabupatenPurworejo, DirektoratGeologiTataLingkungan,Bandung. Haggett, P. 1975 , Geography A Modern Syntesis, Harper & Row, Publish- ers New York Karnawati, D. 2000, Menyingkap Tabir Longsoran Purworejo dan Kulon Progo serta Arahan Mitigasinya, Jurusan Teknik Geologi Universi- tas Gadjah Mada. Kasto dan Sembiring, 1996, Profil Kependudukan Indonesia. Pusat Penelitian Kependudukan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Lee, E.S. 1992. Teori Migrasi. Pusat Penelitian Kependudukan Universi- tas Gadjah Mada, Yogyakarta Mantra, I.B. 1995, Langkah-langkah Penelitian Survai, Program Pascasarjana Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Masters. G.M. 1991. Introduction to Environmental Engineering and Sci- ence. Prentic Hall. Englewood Cliffs, New Jersey. Sayogyo, 1982. Menelaah Garis Kemiskinan. Lokakarya Metodologi Kaji Tindak Proyek Pembinaan dan Peningkatakan Pendapatan Petani Kecil. Cisarua 20 - 23 Desember, 1982. Suhardjo, D. 1999. Pengaruh Daerah Burit terhadap Perkembangan Kota Wates, Disertasi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Sudjana. 1982. Metode Statistika. Penerbit Transito Bandung Dradjat Suhardjo, Penanggulangan Bencana Tanah Losngsor Kabupaten ...

ISSN: 1410-2315

  Dradjat Suhardjo, Penanggulangan Bencana Tanah Losngsor Kabupaten ...

  Teague, P.1989. Economic Development in Northern Ireland: Has it Way? Journal of the Regional Studies. No. 1,2,3. P.63-68 Todaro, M.P. 1992. Kajian EkonomiMigrasiInternaldiNegaraBerkembang. PPK-UGM, Yogyakarta Warpani, S. 1982. Analisis Kota dan Daerah. Penerbit ITB Bandung William, A.S. & P.C. Jobes, 1990. Economic and Quality of Life, Consid- eration in Urban Rural Migration. Journal of Environmental Stud- ies. Vol.6. No.2.4. p.25-29.

ISSN: 1410-2315

Dokumen baru

Download (12 Halaman)
Gratis

Tags

Bencana Tanah Longsor Di Banjarnegara Kerawanan Bencana Tanah Longsor Kabupaten Ponorogo Kajian Mitigasi Bencana Tanah Longsor Di Rawan Bencana Tanah Longsor Mitigasi Bencana Tanah Longsor Di Sum Makalah Bencana Alam Tanah Longsor Penanggulangan Program Tb Di Propinsi Jawa Timur Bencana Alam Tanah Longsor Jurusan Tarbi
Show more

Dokumen yang terkait

ANALISIS TINGKAT KERENTANAN DAERAH DALAM MENGHADAPI BENCANA TANAH LONGSOR DI KABUPATEN JOMBANG (Studi di Kecamatan Bareng, Wonosalam, dan Mojowarno)
0
3
145
MAKALAH BENCANA ALAM TANAH LONGSOR
1
5
7
PENANGGULANGAN PROGRAM TB DI PROPINSI JAWA TIMUR
0
0
56
ANALISIS KERENTANAN BENCANA LONGSOR DI LERENG GUNUNG WILIS KABUPATEN NGANJUK
0
0
8
KUALITAS PENGAWASAN KEUANGAN DAERAH DI INSPEKTORAT PROPINSI JAWA TENGAH
0
0
15
PERANAN WILAYAH AGROEKOLOGI DALAM MENINGKATKAN PENDAPATAN PETERNAK SAPI POTONG DI KABUPATEN BANJARNEGARA, PROPINSI JAWA TENGAH
0
0
5
KKN-PPM PENGEMBANGAN DESA WISATA SOMONGARI DI KABUPATEN PURWOREJO JAWA TENGAH
0
0
8
STRATEGI PENGHIDUPAN MASYARAKAT KORBAN BENCANA TANAH LONGSOR (KASUS: KECAMATAN BANJARMANGU DAN KECAMATAN KARANGKOBAR, KABUPATEN BANJARNEGARA)
0
0
8
ANALISIS PENAWARAN KARET DI PROPINSI JAWA TENGAH SKRIPSI
0
1
125
PENERAPAN KONSELING PANCAWASKITA UNTUK MENGATASI TRAUMA PASCA BENCANA TANAH LONGSOR DI DESA KAMBANGAN TAHUN 2014
0
3
20
HUBUNGAN FAKTOR KOORDINASI DAN MOTIVASI KERJA PETUGAS PENANGGULANGAN BENCANA TERHADAP KESIAPSIAGAAN BENCANA TANAH LONGSOR DI KECAMATAN LINGE KABUPATEN ACEH TENGAH TAHUN 2011 TESIS
0
2
20
EFEKTIVITAS PENANGGULANGAN BENCANA PUTING BELIUNG di DESA LIDAH TANAH KECAMATAN PERBAUNGAN KABUPATEN SERDANG BEDAGAI SKRIPSI
0
0
12
LAMPIRAN 1 KUESIONER PENELITIAN PENGARUH FUNGSI KOORDINASI PETUGAS BADAN TERKAIT TERHADAP KESIAPSIAGAAN PENANGGULANGAN BENCANA DI KABUPATEN ACEH TENGAH PROPINSI ACEH
0
0
44
LAMPIRAN 1 KUESIONER PENELITIAN PENGARUH FUNGSI KOORDINASI PETUGAS BADAN TERKAIT TERHADAP KESIAPSIAGAAN PENANGGULANGAN BENCANA DI KABUPATEN ACEH TENGAH PROPINSI ACEH
0
0
44
PENDANAAN PENANGGULANGAN BENCANA DI DAERAH
0
0
13
Show more