PENGARUH INFEKSI BAKTERI Enterobacter sp. DENGAN INJEKSI INTRAPERITONEAL TERHADAP KELULUSHIDUPAN IKAN NILA (Oreochromis niloticus) Repository - UNAIR REPOSITORY

Gratis

0
0
64
8 months ago
Preview
Full text

  SKRIPSI

PENGARUH INFEKSI BAKTERI Enterobacter sp. DENGAN INJEKSI

INTRAPERITONEAL TERHADAP KELULUSHIDUPAN

  IKAN NILA (Oreochromis niloticus)

Oleh :

GATOT MAHENDRA

  

BONDOWOSO – JAWA TIMUR

FAKULTAS PERIKANAN DAN KELAUTAN

UNIVERSITAS AIRLANGGA

SURABAYA

  

2016

  

RINGKASAN

GATOT MAHENDRA. Pengaruh Infeksi Bakteri Enterobacter sp. dengan

Injeksi Intraperitoneal Terhadap Kelulushidupan Ikan Nila (Oreochromis

niloticus) Dosen Pembimbing Dr. Rr. Juni Triastuti, S.Pi., M.Si. dan Sapto

Andriyono, S.Pi., M.T.

  Bakteri Enterobacter sp. diketahui memiliki berbagai aktivitas enzim salah satunya adalah aktivitas proteolitik. Bakteri Enterobacter sp. juga diketahui bertindak sebagai patogen oportunistik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh injeksi bakteri Enterobacter sp. terhadap kelulushidupan ikan. Penelitian ini dilakukan dengan metode rancangan acak lengkap (RAL) sebagai rancangan percobaan. Perlakuan yang digunakan adalah menyuntikkan bakteri secara intra

  8

  peritoneal dengan konsentrasi yang berbeda, yaitu kontrol (tanpa perlakuan), 10

  7

  6

  sel/ml, 10 sel/ml, 10 sel/ml dan NaCl 0,9%, masing-masing perlakuan diulang sebanyak 3 kali. Parameter utama yang diamati adalah survival rate (SR) atau derajat kelangsungan hidup dari ikan uji (O. niloticus) dan pengamatan secara gejala klinis yaitu keaktifan mencari makan, pembengkakan atau pendarahan pada kulit dan insang serta tingkah laku ikan selama pemeliharaan. Parameter penunjang yang diamati adalah kualitas air meliputi suhu, pH dan salinitas yang telah ditetapkan terhadap hasil penelitian. Analisis data pengamatan gejala klinis ikan uji menggunakan menggunakan metode deskriptif dan Analisis Ragam Varian (ANOVA) pada survival rate (derajat kelangsungan hidup. Uji lebih lanjut untuk mengetahui perlakuan terbaik dilakukan Uji Jarak Berganda Duncan.

  Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa infeksi bakteri Enterobacter sp. dengan injeksi intraperitoneal berpengaruh terhadap kelulushidupan ikan nila

  8

  (Oreochromis niloticus). Nilai SR terendah pada perlakuan konsentrasi 10 sel/ml

  6 yaitu 53,3% dan nilai SR tertinggi pada konsentrasi 10 sel/ml yaitu 80%.

  

SUMMARY

GATOT MAHENDRA. Effect of Bacteria Infections Enterobacter sp. with

Injected Intraperitoneally on Survival Rate of Tilapia (Oreochromis niloticus).

Academic Advisor Dr. Rr. Juni Triastuti, S.Pi., M.Si. and Sapto Andriyono,

S.Pi., M.T.

  Enterobacter sp. known to have a variety of enzyme activity one of which is a proteolytic activity, so it can be used as one of the candidate probiotic bacteria.

Enterobacter sp. also known to act as an opportunistic pathogen. This study aims

to determine the effect of the injection of Enterobacter sp. the survival of fish.

  This study was conducted using a completely randomized design (CRD) as the experimental design. The treatments used were injected intra peritoneal bacteria

  8

  7

  with different concentrations, ie control (no treatment), 10 cells/ml, 10 cells/ml,

  6

  10 cells/ml and NaCl 0,9%, the treatment was repeated 3 times respectively, The main parameters measured were survival rate (SR) or the degree of survival of test fish (O. niloticus) and the clinical symptoms observation that the activity of foraging, swelling or bleeding of the skin and gills and fish behavior during maintenance. Parameters measured were supporting water quality include temperature, pH and salinity have been assigned to the research results. Clinical symptoms observation data analysis using the test fish using descriptive and analytical methods Variety Varian (ANOVA) on the survival rate (the degree of survival). Further tests to determine the best treatment Duncan's Multiple Range Test.

  Based on the survey results revealed that bacterial infection Enterobacter sp. with the intraperitoneal injection effect on survival of tilapia (Oreochromis

  8 niloticus). SR lowest value in treatment concentration 10

  cells/ml is 53.3% and

  6 the value of the highest magnitude at a concentration of 10 cells/ml is 80%.

KATA PENGANTAR

  Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat ALLAH SWT atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga dapat menyelesaikan penyusunan skripsi yang berjudul Pengaruh Infeksi Bakteri Enterobacter sp. dengan Injeksi Intraperitoneal Terhadap Kelulushidupan Ikan Nila (Oreochromis niloticus).

  Skripsi ini disusun berdasarkan kegiatan Penelitian yang dilaksanakan pada bulan Juni-Juli 2015.

  Penulis menyadari bahwa laporan skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, sehingga kritik dan saran sangat diperlukan oleh penulis demi perbaikan dan kesempurnaan laporan atau kegiatan yang akan datang, akhirnya penulis berharap semoga laporan skripsi ini bermanfaat dan dapat memberikan informasi bagi semua pihak

  Bondowoso, 30 Juni 2016 Penulis

UCAPAN TERIMA KASIH

  Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan Laporan Skripsi ini banyak melibatkan orang-orang yang sangat berjasa dan berarti bagi penulis. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis menyampaikan rasa hormat serta ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:.

  1. Ibu Dr. Mirni Lamid, drh., MP. selaku Dekan Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga.

  2. Ibu Dr. Rr. Juni Triastuti, S.Pi., M.Si. dan Bapak Sapto Andriyono, S.Pi., MT. selaku dosen pembimbing yang telah banyak membantu serta memberikan petunjuk, arahan, dan bimbingan kepada penulis sejak penyusunan Usulan hingga selesainya penyusunan skripsi ini.

  3. Ibu Dr. Laksmi Sulmartiwi, S.Pi., MP., Ibu Rahayu Kusdarwati, Ir., M.Kes. dan Bapak Sudarno, Ir., M. Kes. selaku dosen penguji yang telah memberikan saran dan ktitik dalam penyempurnaan laporan skripsi ini.

  4. Ibu Muryanti serta kedua adikku Welli Moerdiono dan Bram Indra Triatmoko yang selalu memberikan doa dan dukungan secara moril dan materi.

  5. Agung W, Agung P, Andre, Muhandis, Faizal, Bagus, Hanna, Ade, Ica, Ardilas, Devri, Roby, Titom Gusmana Putra Perdana S.Pi dan teman-teman “Octopus 2011” yang turut memberikan inspirasi dan semangat dalam menyelesaikan laporan skripsi ini.

  6. Mas Hartono, Mas Okky, Mbak Kimbun, Mas Teto, Mas Eko, Mbak Dyah Sunaring, Mas Jambrong dan teman-teman “Piranha 2010” yang turut memberikan masukan dan semangat dalam menyelesaikan laporan skripsi ini.

7. Mas Icang, Mbak Vivin, Mas Dandi, Mas Aris, Mas Feri, Mas Harya, Mas

  Rio, Mbak Selvi dan teman-teman “GoldFish 2009” yang turut memberikan masukan dan semangat dalam menyelesaikan laporan skripsi ini.

  

DAFTAR ISI

Halaman

  RINGKASAN .............................................................................................. iv SUMMARY ................................................................................................ v KATA PENGANTAR ................................................................................. vi UCAPAN TERIMA KASIH ......................................................................... vii DAFTAR ISI ............................................................................................... viii DAFTAR TABEL ....................................................................................... x DAFTAR GAMBAR ................................................................................... xi DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................ xii

  I PENDAHULUAN ................................................................................. 1

  1.1 Latar Belakang ................................................................................. 1

  1.2 Rumusan Masalah ............................................................................ 3

  1.3 Tujuan .............................................................................................. 4

  1.4 Manfaat ............................................................................................ 4

  II TINJAUAN PUSTAKA ........................................................................ 5

  2.1 Enterobacter sp ................................................................................ 5

  2.1.1 Klasifikasi dan Jenis Enterobacter sp........................................ 5

  2.1.2 Karakter Bakteri Enterobacter sp. ............................................. 6

  2.1.3 Asal Bakteri Enterobacter sp. ................................................... 7

  2.1.4 Kegunaan Bakteri Enterobacter sp............................................ 8

  2.2 Ikan Nila (Oreochromis niloticus) ..................................................... 8

  2.2.1 Biologi Ikan Nila (Oreochromis niloticus) ................................ 8

  2.2.2 Habitat dan Penyebaran Ikan Nila ............................................. 9

  2.2.3 Kegunaan Ikan Nila sebagai Subyek Penelitian ......................... 10

  2.3 Metode Injeksi Bakteri pada Ikan ...................................................... 10

  III KERANGKA KONSEPTUAL DAN HIPOTESIS .................................. 12

  3.1 Konseptual Penelitian ........................................................................ 12

  3.2 Hipotesis .......................................................................................... 13

  IV METODOLOGI ...................................................................................... 15

  4.1 Tempat dan Waktu Penelitian ........................................................... 15

  4.2 Materi Penelitian .............................................................................. 15

  4.2.1 Alat Penelitian .......................................................................... 15

  4.2.2 Bahan Penelitian ....................................................................... 15

  4.3 Prosedur Penelitian .......................................................................... 16

  4.3.1 Rancangan Penelitian ................................................................ 16

  4.3.2 Variabel Penelitian ................................................................... 17

  4.4 Pelaksanaan Penelitian ...................................................................... 17

  4.4.1 Sterilisasi Alat dan Bahan ......................................................... 17

  4.4.2 Persiapan Ikan Nila ................................................................... 19

  4.4.3 Pembuatan Konsentrasi Isolat Bakteri Enterobacter sp.. ........... 20

  4.4.4 Penyuntikan Bakteri pada Hewan Uji........................................ 21

  4.4.5 Pemeliharaan Ikan Nila ............................................................. 21

  4.4.6 Penghitungan Kelangsungan Hidup (Survival Rate) .................. 22

  4.4.7 Pengamatan Gejala Klinis ......................................................... 22

  4.5 Parameter Pengamatan ...................................................................... 23

  A. Parameter Utama .......................................................................... 23

  B. Parameter Pendukung ................................................................... 23

  4.6 Analisis Data .................................................................................... 23

  V HASIL DAN PEMBAHASAN ................................................................. 24

  5.1 Hasil ................................................................................................. 24

  5.1.1 Survival Rate ........................................................................... 24

  5.1.2 Pengamatan Gejala Klinis Hewan Uji ..................................... 25

  5.1.3 Kualitas Air ............................................................................. 26

  5.2 Pembahasan ...................................................................................... 27

  VI KESIMPULAN DAN SARAN ................................................................ 32

  6.1 Kesimpulan ...................................................................................... 32

  6.2 Saran ................................................................................................ 32 DAFTAR PUSTAKA .................................................................................. 33 LAMPIRAN ................................................................................................. 42

  

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

  1. Tingkat Kelulushidupan Ikan nila (Oreochromis niloticus) ....................... 24

  

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

  1. Bakteri Enterobacter sp. ........................................................................... 5

  2. Diagram Kerangka Konseptual ................................................................. 14

  3. Diagram Alir Penelitian ............................................................................ 18

  4. Grafik Tingkat Kelangsungan Hidup Hewan Uji (Oreochromis niloticus) selama Pemeliharaan 2 Minggu ............................................................... 25

  5. Ikan Uji (Oreochromis niloticus) yang Terinfeksi Bakteri Enterobacter

  8

  sp. dengan Konsentrasi 10 sel/ml. ........................................................... 26

  

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Halaman

  1. Hasil Uji Identifikasi Bakteri Enterobacter sp. dari 7 Isolat Berbeda yang Diambil dari Sponge Haliclona sp. .......................................................... 42

  2. Hasil Uji Biokimia Bakteri Enterobacter sp. dari 7 Isolat Berbeda yang Diambil dari Sponge Haliclona sp. ....................................................................... 43

  3. Pengamatan Kelulushidupan (Survival Rate) ............................................. 44

  4. Pengamatan Suhu Harian .......................................................................... 45

  5. Pengamatan pH Harian ............................................................................. 47

  6. Hasil Analisis Statistika Tingkat Kelangsungan Hidup Ikan Nila (Oreochromis niloticus) pada Uji Patogenitas Bakteri Enterobacter sp.

  Menggunakan SPSS Versi 20 ................................................................... 49

  7. Ikan Uji (Oreochromis niloticus) yang Terinfeksi Bakteri Enterobacter

  8

  sp. dengan Konsentrasi 10 sel/ml. ............................................................ 50

  8. Pengamatan Gejala Klinis Ikan Nila (Oreochromis niloticus) selama Pemeliharaan 2 Minggu ........................................................................... 51

  

I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

  Bakteri Enterobacter sp. berasal dari keluarga Enterobacteriaceae menghasilkan enzim protease yang mempunyai aktivitas proteolitik (Grimont and Grimont, 2006). Feby and Nair (2010) mengungkapkan bahwa bakteri

  

Enterobacter sp. menghasilkan enzim komersial penting seperti amilase, protease,

  gelatinase, lipase, deoksiribonukleat, fosfatase dan urease. Setyati dan Subagiyo (2012) menyatakan bahwa bakteri yang mempunyai aktivitas proteolitik mempunyai kemampuan untuk menghasilkan enzim protease yang disekresikan ke lingkungannya. Enzim protease ini selanjutnya bekerja menghidrolisis senyawa-senyawa bersifat protein menjadi oligopeptida, peptida rantai pendek dan asam amino. Bakteri Enterobacter sp. memiliki enzim amilase yang berfungsi merombak amilum yang terdapat dalam pakan. Sedangkan selulosa bersifat tidak dapat dicerna sehingga dibutuhkan enzim selulase untuk mencerna selulosa lebih baik (Mohapatra et al., 2003).

  Bakteri Enterobacter sp. diketahui juga bertindak sebagai patogen oportunistik (menyebabkan sakit apabila sistem pertahanan tubuh organisme menurun atau telah terserang penyakit sebelumnya), termasuk E. aerogenes, E.

  

sakazakii, E. gergoviae dan E. agglomerans. Enterobacter sp. dapat

  menimbulkan infeksi nosokomial (infeksi silang yang ditularkan kepada ikan yang berada di lingkungan yang kurang sehat atau perlakuan kurang steril) dan juga memiliki endotoksin dan eksotoksin yang merupakan syarat bakteri patogen (Sanders and Sanders, 1997). Spesies bakteri Enterobacter sp. yang tidak patogen adalah Enterobacter cloacae dikarenakan tidak memiliki eksotoksin maupun endotoksin tetapi menghasilkan enzim β-galaktosidase yang bermanfaat bagi usus ikan (Yuningtyas, 2011).

  Sifat Enterobacter sp. menginfeksi inang menurut Darfeuille-Michaud et

  

al. (1990) yaitu keberadaan suatu reseptor pada permukaan bakteri yang tersusun

  atas protein atau glikoprotein menyebabkan bakteri mampu melakukan perlekatan spesifik dengan membran sel. Kapsul polisakarida yang mengelilingi bakteri juga berfungsi untuk memperkuat ikatan antara bakteri dengan sel, sehingga bakteri dapat terus menempel dan membentuk koloni. Setelah melakukan adhesi dan kolonisasi, bakteri dapat melepaskan toksin ke dalam sel. Pelepasan toksin dapat mengakibatkan terjadinya ketidakseimbangan tekanan osmotik dalam sel sehingga akhirnya terjadi kematian sel

  Ikan nila (Oreochromis niloticus) merupakan spesies yang berasal dari kawasan Sungai Nil dan danau-danau sekitarnya di Afrika. Bentuk tubuh memanjang, pipih kesamping dan warna putih kehitaman. Jenis ini merupakan ikan konsumsi air tawar yang banyak dibudidayakan di lebih dari 85 negara. Saat ini, ikan nila telah tersebar ke Negara beriklim tropis dan subtropis, sedangkan pada wilayah beriklim dingin tidak dapat hidup dengan baik (Dinas Kelautan dan Perikanan Propinsi Sulawesi Tengah, 2010).

  Mengingat bahwa ikan nila cukup banyak diminati masyarakat dan memiliki batas toleransi yang cukup luas yaitu antara 0–45 ppt maka ikan nila berpotensi untuk dibudidayakan di daerah pantai dengan perairan payau. Salinitas merupakan salah satu faktor fisiologis yang berpengaruh terhadap pemanfaatan pakan ikan. Pengaruh salinitas melalui tekanan osmotiknya terhadap pertumbuhan dapat terjadi baik secara langsung maupun tidak langsung. Pengaruh langsung salinitas yaitu efek osmotiknya terhadap osmoregulasi dan pengaruh secara tidak langsung salinitas mempengaruhi organisme akuatik melalui perubahan kualitas air (Gilles and Pequex, 1983 dalam Fitria, 2012).

  Keberhasilan dalam budidaya ikan nila selalu terkait dengan pengelolaan lingkungan dan daya tahan tubuh ikan. Faktor fisik, kimia, dan biologis air berperan dalam pengaturan homeostatis tubuh ikan nila yang digunakan untuk aktivitasnya. Perubahan sampai batas tertentu dapat menyebabkan ikan menjadi stres dan terserang penyakit. Apabila ikan nila stres maka berpotensi terjangkit penyakit infeksi bakteri (Irianto dkk., 2006).

  Mariyono dan Sundana (2002) menjelaskan bahwa terdapat berbagai cara untuk menginfeksikan bakteri ke dalam tubuh ikan nila. Salah satu yang paling efektif yaitu dengan penyuntikan intraperitoneal. Cara intraperitoneal lebih disukai karena bakteri lebih cepat masuk dan mengenai organ target, namun perlu dilakukan secara cermat agar tidak mengenai usus karena dapat menimbulkan pendarahan. Berdasarkan teori tersebut maka dilakukan penelitian pengaruh injeksi bakteri Enterobacter sp. secara intraperitoneal terhadap kelulushidupan ikan nila (Oreochromis niloticus).

  1.2 Rumusan Masalah

  Berdasarkan latar belakang tersebut maka rumusan masalah penelitian ini adalah apakah infeksi bakteri Enterobacter sp. dengan injeksi intraperitoneal berpengaruh terhadap kelulushidupan pada ikan nila?

  1.3 Tujuan Penelitian

  Berdasarkan rumusan masalah tersebut maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh infeksi bakteri Enterobacter sp. dengan injeksi intraperitoneal terhadap kelulushidupan ikan nila.

  1.4 Manfaat Penelitian

  Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi ilmiah tentang pengaruh infeksi bakteri Enterobacter sp. dengan injeksi intraperitoneal terhadap kelulushidupan ikan nila.

II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Enterobacter sp.

2.1.1 Klasifikasi dan Jenis Enterobacter sp.

  Klasifikasi dan tatanama bakteri Enterobacter sp. menurut Garrity et al. (2004) adalah sebagai berikut :

  Kingdom : Bacteria Phylum : Proteobacteria Class : Gamma Proteobacteria Order : Enterobacteriales Family : Enterobacteriaceae Genus : Enterobacter Species : Enterobacter sp.

  Bakteri Enterobacter sp. terdiri dari 14 jenis sub kelompok namun yang paling sering ditemukan adalah spesies Enterobacter aerogenes, Enterobacter

  

cloacae, Enterobacter agglomerans dan Enterobacter sakazakii. Ada beberapa

  jenis bakteri dari genus Enterobacter yang jarang ditemukan yaitu Enterobacter

  

taylorae, Enterobacter gergoviae, Enterobacter asburiae dan Enterobacter

amnigenus (Sanders and Sanders, 1997).

  Gambar 1. Bakteri Enterobacter sp. (Warren, 2015)

2.1.2 Karakter Bakteri Enterobacter sp.

  Enterobacter sp. merupakan bakteri gram negatif, bersifat fakultatif

  anaerobik, berbentuk batang dan bisa bergerak (motil), alat gerak tersebut berupa flagella peritrik yaitu flagela yang secara merata tersebar diseluruh permukaan sel.

  Apabila bakteri Enterobacter sp. dikembangbiakkan pada media buatan maka menampakkan aktivitas mengubah glukosa, selanjutnya membentuk asam dan gas. Bakteri tersebut mereduksi nitrat menjadi nitrit. Bakteri ini dapat membentuk kapsul, sitrat dan asetat yang dapat digunakan sebagai sumber karbon satu- satunya (Pelczar and Chan, 1986).

  Mohapatra et al. (2003) menyatakan bahwa bakteri Enterobacter sp merupakan penghasil enzim protease, amilase dan selulase. Enzim protease memiliki aktivitas proteolitik yang mengkatalisis pemutusan ikatan peptida pada protein menjadi sederhana dan mudah dicerna (Kosim dan Putra, 2010), enzim amilase dibutuhkan dalam perombakan pati (Bahri dkk., 2012) dan enzim selulase merupakan enzim pemecah selulosa yang memiliki rantai panjang glukosa menjadi rantai pendek sehingga mudah dicerna (Hidayat, 2005). Utami dkk. (2012) memperjelas bahwa bakteri penghasil protease umumnya dapat dimanfaatkan sebagai probiotik yang memberikan keuntungan bagi manusia dan hewan karena dapat menekan pertumbuhan bakteri patogen. Sebagian besar bakteri Enterobacter sp. memiliki faktor-faktor patogenitas antara lain endotoksin dan enterotoksin. Eksotoksin berasal dari bakteri yang hidup dan dapat dinetralisasi oleh antitoksin, contoh eksotoksin adalah enterotoksin. Endotoksin adalah toksin yang berasal dari dinding sel bakteri yang dilepaskan saat bakteri mati (biasanya bakteri dari Gram-negatif) (Karsinah, 1994 dalam Dewi, 2008). Salah satu informasi mengenai eksotoksin dan endotoksin bakteri Enterobacter sp. berdasarkan laporan dari Pagotto et al. (2003) dalam Dewi (2008) yaitu mengenai kandungan enterotoksin dari E. sakazakii yang mampu melisis sel epitel secara in vitro dengan menunjukkan Cytophatic Effect (CPE) sel tersebut.

  Enterotoksin adalah substansi yang mempunyai efek toksik pada usus halus, menyebabkan pelepasan cairan ke dalam ileum. Enterotoksin merupakan toksin yang dihasilkan oleh bakteri gram negatif seperti halnya E. sakazakii dan tergolong sebagai golongan eksotoksin yang dapat menyebabkan diare.

  Bakteri Enterobacter cloacae merupakan satu-satunya bakteri yang tidak patogen terhadap ikan karena tidak menghasilkan eksotoksin dan endotoksin namun menghasilkan enzim β-galaktosidase yang dapat merombak laktosa menjadi glukosa dan galaktosa yang mudah dicerna di dalam usus ikan (Yuningtyas, 2011). E. cloacae menghasilkan enzim β-galaktosidase, arginin dihidrolase dan ornitin dekarboksilase (Huber et al., 1994).

2.1.3 Asal Bakteri Enterobacter sp.

  Grimont and Grimont (2006) menjelaskan habitat asli Enterobacter sp. tidak diketahui hingga sekarang, tetapi Enterobacter sp. tersebar luas pada lingkungan, makanan, air, tanah dan sayuran. Enterobacter sp. berkembang biak dengan baik pada usus dari semua hewan berdarah panas dan biasanya tidak ada pada usus ikan dan hewan berdarah dingin. Keller et al., (1998) menambahkan bahwa organ yang sering menjadi tempat berkembang biak bakteri Enterobacter sp. pada tubuh hewan berdarah dingin adalah usus kemudian menyebar ke organ lain seperti ginjal dan hati.

2.1.4 Kegunaan Bakteri Enterobacter sp.

  Bakteri Enterobacter sp memiliki aktivitas antibakteri. Senyawa antibakteri yang dihasilkan oleh bakteri pada umumnya merupakan metabolit sekunder yang tidak digunakan untuk proses pertumbuhan, tetapi untuk pertahanan diri dan kompetisi dengan mikroba lain dalam mendapatkan nutrisi, habitat, oksigen, cahaya dan lain-lain (Muchlis, 2013). Nurfadilah (2013) menambahkan bahwa antibakteri adalah senyawa yang digunakan untuk mengendalikan pertumbuhan bakteri yang bersifat merugikan. Antibakteri menghambat sintesis dinding sel bakteri atau mengubah struktur (susunan) dinding sel, kemudian mengganggu fungsi sel membran dan mempengaruhi sintesis protein atau metabolisme asam nukleat.

2.2 Ikan Nila (Oreochromis niloticus)

2.2.1 Biologi Ikan Nila (Oreochromis niloticus)

  Adapun klasifikasi lengkap yang telah dirumuskan oleh Saanin (1984) adalah sebagai berikut : Filum : Chordata Sub-filum : Vertebrata Kelas : Osteichtyes Sub-kelas : Acanthoptherigii Ordo : Percomorphi Sub-ordo : Percoidea Famili : Cichlidae Genus : Oreochromis Spesies : Oreochromis niloticus

  Ikan nila termasuk kelompok Tilapia yang memiliki bentuk tubuh memanjang, ramping dan relatif pipih. Salah satu sifat biologi ikan nila yang penting sehingga ikan ini cocok untuk dibudidayakan adalah respon yang luas terhadap pakan yakni dapat tumbuh dengan memanfaatkan pakan alami serta pakan buatan. Kebiasaan makan nila diperairan alami adalah plankton, tumbuhan air yang lunak. Benih nila suka mengkonsumsi zooplankton seperti Rotatoria, Copepoda dan Cladocera; sedangkan termasuk alga yang menempal. Pada perairan umum anakan nila sering terlihat mencari makan di bagian dangkal.

  Sedangkan Nila dewasa di tempat yang lebih dalam. Nila dewasa mampu mengumpulkan makanan berbentuk plankton dengan bantuan lendir (mucus) dalam mulut. (Dinas Kelautan dan Perikanan Propinsi Sulawesi Tengah, 2010).

2.2.2 Habitat dan Penyebaran Ikan Nila

  Suparinto dan Susiana (2011) mengemukakan bahwa tempat hidup ikan nila biasanya berada pada perairan yang dangkal dengan arus yang tidak begitu deras, ikan ini tidak suka hidup di perairan yang bergerak (mengalir), akan tetapi jika dilakukan perlakuan terhadap ikan nila seperti pengadaptasian terhadap lingkungan air yang mengalir maka ikan nila juga bisa hidup baik pada perairan yang mengalir. Setiyono dkk. (2012) mengungkapkan bahwasannya ikan nila dapat hidup pada kadar oksigen terlarut berkisar antara 4,31-5,23 mg/l, pH berkisar antara 6,7-7 dan suhu berkisar antara 26,2°-28,9°C. Tingkat kelangsungan hidup ikan nila normal tanpa perlakuan adalah 80% (SNI, 1999).

2.2.3 Kegunaan Ikan Nila sebagai Subyek Penelitian

  Ikan nila telah banyak dijadikan sebagai subyek penelitian dikarenakan potensinya yang cukup besar dalam bidang industri perikanan. Berdasarkan laporan Fatimah (2005) dalam Perdana (2011) bahwa beberapa bakteri proteolitik berhasil diasosiasikan dengan saluran pencernaan ikan nila dengan metode kultur konvensional diantaranya dari genus Aeromonas dan Enterobacter. Selain itu juga ikan nila memiliki daya adaptasi yang tinggi terhadap perubahan salinitas dan suhu yang luas.

2.3 Metode Infeksi Bakteri pada Ikan

  Metode perendaman adalah metode yang paling mudah digunakan. Cara aplikasi metode ini dengan cara mencampurkan bakteri dengan media hidup ikan (Sekkin and Kum, 2012). Mariyono dan Sundana (2002) menambahkan bahwa dengan cara ini bakteri dapat menginfeksi ikan dengan jumlah banyak namun ikan dapat mengalami stres karena waktu perendaman relatif singkat. Modifikasi lain dari metode perendaman adalah penyemprotan yaitu ikan ditaruh di dalam wadah dan diberi air setengah badan ikan agar mudah digeser pada waktu disemprot bakteri.

  Metode infeksi bakteri pada ikan dengan cara peroral dinilai tidak efektif pada ikan yang telah sakit sebelum diberi perlakuan karena biasanya tidak mau makan selama 12-24 jam. Metode ini menggunakan pakan ikan sebagai perantaranya (Reimschuessel and Miller, 2006 dalam Sekkin and Kum, 2012).

  Metode peroral biasanya lebih menguntungkan karena dapat menginfeksi ikan dalam jumlah banyak (Mariyono dan Sundana, 2002).

  Injeksi bakteri pada ikan dibagi menjadi dua, injeksi intraperitoneal dan injeksi intramuskular. Injeksi intraperitoneal adalah injeksi yang paling sering digunakan. Ikan harus berpuasa selama 24 jam sebelum dilakukan proses injeksi. Posisi untuk injeksi intraperitoneal adalah antara sirip perut dan anus. Ukuran rata-rata ikan yang akan diinjeksi kurang lebih 35 gram. Injeksi yang tidak benar dapat menyebabkan luka pada bagian peritoneal, kegagalan ovulasi, meningkatkan kematian pasca injeksi, mengakibatkan reaksi lokal (Brown, 2001

  dalam Sekkin and Kum, 2012).

  Noga (2010) dalam Sekkin and Kum (2012) menjelaskan bahwa injeksi intramuskular adalah injeksi yang dilakukan pada bagian otot punggung. Teknik penyuntikan ini baik digunakan pada ikan yang memiliki panjang lebih dari 13 cm atau berat melebihi dari 15 gram. Penyuntikkan sebaiknya dilakukan secara perlahan. Kelemahan dari injeksi intramuskular yaitu menyebabkan kerusakan sisik di sekitar sirip punggung dan dapat menyebabkan bekas luka permanen.

III KERANGKA KONSEPTUAL DAN HIPOTESIS

3.1 Kerangka Konseptual Penelitian

  Bakteri Enterobacter sp. diketahui memiliki aktivitas antibakteri, menghasilkan enzim protease, amilase dan selulase serta memiliki karakterisasi yang dapat dilihat dari sifat biokimia yang meliputi indol, metil merah, Voges Proskauer/VP, citrat, motilitas, urease, Triple Sugar Iron Agar/TSIA, ONPG dan uji gula-gula: glukosa, laktosa dan sukrosa (Darmawati dkk., 2013). Spesies bakteri Enterobacter sp. juga diketahui memiliki endotoksin dan eksotoksin yang bersifat racun dan bersifat patogen oportunistik (menimbulkan sakit terhadap ikan apabila kondisi ikan dalam keadaan kurang sehat atau telah terinfeksi oleh patogen lain sebelumnya).

  Spesies bakteri Enterobacter sp. yang bersifat patogen adalah

  

Enterobacter sakazakii, Enterobacter aerogenes, Enterobacter gergoviae dan

Enterobacter agglomerans (Sanders and Sanders, 1997) sedangkan bakteri yang

  tidak bersifat patogen adalah Enterobacter cloacae dikarenakan tidak memiliki eksotoksin dan endotoksin namun memiliki enzim β-galaktosidase yang berguna untuk memecah laktosa menjadi glukosa dan galaktosa sehingga tidak menyebabkan diare pada organisme (ikan) dan dapat mempertahankan kerusakan dinding usus dikarenakan kerja usus tidak terlalu berat dalam mencerna laktosa (Yuningtyas, 2011).

  Pemberian bakteri pada ikan dapat dilakukan secara peroral, perendaman dan penyuntikan. Teknik penyuntikan yang paling sering dilakukan terdapat dua cara yaitu secara intraperitoneal dan intramuskular. Cara intraperitoneal lebih banyak dilakukan pada penelitian tentang bakteri dikarenakan bakteri dapat cepat masuk ke dalam tubuh ikan, namun perlu dilakukan secara cermat agar tidak mengenai usus karena dapat mengakibatkan pendarahan (Mariyono dan Sundana, 2002).

  Ikan sehat mempunyai kemampuan untuk mempertahankan diri dari serangan berbagai macam penyakit karena memiliki mekanisme pertahanan diri (sistem imun) yang sangat bergantung kepada daya tahan ikan dan kondisi lingkungan. Jika daya tahan ikan menurun atau kondisi lingkungan kurang menunjang, maka ikan akan mengalami stres, sehingga dapat menurunkan kemampuannya dalam mempertahankan diri dari berbagai serangan penyakit.

  Akhirnya proses kehidupan ikan terganggu dan mudah terserang penyakit (Afrianto dan Liviawaty, 1992)

3.2 Hipotesis Penelitian

  Hipotesis penelitian yang digunakan adalah H0 : Pemberian bakteri Enterobacter sp. dengan injeksi intraperitoneal tidak dapat meningkatkan kelulushidupan pada ikan nila (Oreochromis

   niloticus).

  H1 : Pemberian bakteri Enterobacter sp. dengan injeksi intraperitoneal dapat meningkatkan kelulushidupan pada ikan nila (Oreochromis niloticus).

  Bakteri Enterobacter sp. Eksotoksin dan Endotoksin Enzim β-galaktosidase

  Cara Pengujian Bakteri Oral Perendaman Penyuntikan Intramuscular

  Intraperitoneal Kekurangan : Dapat Mengenai Usus Kelebihan : Bakteri Cepat Sehingga Menimbulkan Pendarahan masuk ke dalam tubuh ikan Tingkat Survival Rate

  Ikan Uji Keterangan : : Aspek Yang Diteliti : Aspek Yang Tidak Diteliti

  Gambar 2. Diagram Kerangka Konseptual

IV METODOLOGI

4.1 Tempat dan Waktu

  Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Pendidikan Fakultas Perikanan dan Kelautan, Universitas Airlangga, Surabaya. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan 22 Juni – 5 Juli 2015.

  Materi Penelitian

  4.2

  4.2.1 Alat Penelitian

  Alat-alat yang diperlukan dalam penelitian ini adalah cawan petri, pipet ukur, gelas ukur, tabung reaksi, erlenmeyer, autoclave, bunsen, timbangan analitik, inkubator, refregerator, tisu, kapas, rak tabung reaksi, tabung reaksi, mikrotube, vortex, jarum ose, sentrifuge, oven, mikroskop cahaya, kran infus, wadah toples, tandon, set aerasi, set listrik, blower, termometer, refraktometer, pH meter, DO meter, penggaris, timbangan digital dan spuit volume satu mililiter.

  4.2.2 Bahan Penelitian

  Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah ikan nila sebagai hewan uji dengan ukuran 11-12 cm yang dibeli dari Pasar Ikan Gunungsari, Surabaya.

  Bakteri Enterobacter sp. didapatkan dari isolat murni yang merupakan hasil isolasi dari sampel sponge Haliclona sp., media TSB (Tryptic Soy Broth), NaCl 0,9%, 1% BaCl

  2 , 1% H

2 SO 4 , air laut steril, akuades, alkohol 70%, spirtus.

  Prosedur Penelitian

  4.3

4.3.1 Rancangan Penelitian

  Penelitian ini ini bersifat eksperimental dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari lima perlakuan dan tiga kali ulangan.

  Rancangan Acak Lengkap digunakan apabila media dan bahan percobaan seragam atau dapat dianggap seragam (Kusriningrum, 2008). Penggunaan ikan nila (Oreochromis niloticus) dikarenakan ikan ini toleran terhadap perubahan salinitas yang luas dari 0-45 ppt (Gilles and Pequex, 1983 dalam Fitria, 2012), sehingga sangat sesuai dengan bakteri Enterobacter sp. yang dapat hidup pada tingkat salinitas 30 ppt. Teknik penyuntikan dilakukan pada bagian intra peritoneal yaitu pada bagian perut ikan nila. Perlakuan pada penelitian ini mengacu pada penelitian Dewi (2008) yang menggunakan tikus putih sebagai hewan uji dengan

  8

  7

  6

  konsentrasi 10 , 10 dan 10 sel/ml yaitu sebagai berikut : Kontrol : ikan nila tanpa pemberian bakteri Enterobacter sp. dan NaCl.

  Perlakuan 1 : ikan nila diinjeksi bakteri Enterobacter sp. dengan konsentrasi

  8 10 sel/ml pada bagian intra peritoneal.

  Perlakuan 2 : ikan nila diinjeksi bakteri Enterobacter sp. dengan konsentrasi

  7 10 sel/ml pada bagian intra peritoneal.

  Perlakuan 3 : ikan nila diinjeksi bakteri Enterobacter sp. dengan konsentrasi

  6 10 sel/ml pada bagian intra peritoneal.

  Perlakuan 4 : ikan nila diinjeksi larutan fisiologis NaCl 0,9% pada bagian intra peritoneal.

4.3.2 Variabel Penelitian

  Variabel dalam penelitian ini meliputi variabel bebas, variabel tergantung dan variabel kontrol. Variabel bebas penelitian ini adalah konsentrasi bakteri yang digunakan pada ikan nila. Variabel tergantung adalah teknik injeksi bakteri pada ikan nila. Variabel kontrol adalah ikan nila, bakteri Enterobacter sp. dan kualitas air yang meliputi suhu, pH dan salinitas.

4.4 Pelaksanaan Penelitian

  Penelitian yang dilakukan meliputi sterilisasi alat dan bahan, persiapan hewan uji, penentuan konsentrasi bakteri Enterobacter sp. secara injeksi intra peritoneal dan pengamatan gejala klinis. Diagram alir penelitian dapat dilihat pada Gambar 4.

4.4.1 Sterilisasi Alat dan Bahan

  Ikan nila dipelihara dalam wadah toples plastik volume 10 liter. Toples dan seluruh peralatan yang akan digunakan selama penelitian dicuci dan dibilas terlebih dahulu dengan sabun cuci agar steril setelah itu dijemur di bawah sinar matahari. Media pemeliharaan ikan nila didapatkan dari sumur bor Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga dengan kandungan salinitas 30 ppt yang telah diuji menggunakan refraktometer dan menampungnya dalam tandon 1000 liter. Media yang akan digunakan diberi kaporit dengan dosis 30 ppm (Praditia, 2009), kemudian diendapkan dan dilakukan pemberian aerasi dengan menggunakan blower selama 24 jam (Arief dkk., 2010).

  Gambar 3. Diagram Alir Penelitian

  Persiapan hewan uji Persiapan alat dan bahan Isolat murni bakteri Enterobacter sp.

  Penentuan konsentrasi bakteri dengan menggunakan metode McFarland 10 8 ,

  10 7 dan 10 6 sel/ml; Adaptasi lingkungan meliputi suhu dan salinitas selama 7 hari

  Analisis Data Kontrol: Ikan nila tanpa injeksi bakteri

  Enterobacter sp.

  Perlakuan 1 : Ikan nila diinjeksi 0,1 ml/ekor bakteri

  Enterobacter sp. konsentrasi 10 8 Perlakuan 2 :

Ikan nila

diinjeksi 0,1

ml/ekor bakteri

  

Enterobacter sp.

konsentrasi 10

7 Perlakuan 3 : Ikan nila diinjeksi

  0,1 ml/ekor bakteri Enterobacter sp. konsentrasi 10 6 Perlakuan 4 : Ikan nila diinjeksi 0,1 ml/ekor NaCl 0,9% secara intra

  Pemeliharaan dilakukan selama 14 hari dengan pemberian pakan buatan tiga kali sehari serta pengontrolan kualitas air (suhu, pH dan salinitas) dan penggantian air setiap hari sebanyak 20%

  Ikan Mati Ikan Hidup Pengamatan gejala klinis meliputi : Keaktifan mencari makan, pembengkakan atau pendarahan pada kulit dan insang serta tingkah laku ikan

  Penghitungan SR (Survival Rate) setiap hari selama 14 hari Injeksi Intraperitoneal Sterilisasi alat-alat yang berbahan kaca dengan menggunakan autoclave. Pertama mencuci alat-alat yang berbahan kaca dengan air tawar, dikeringkan, kemudian dibungkus dengan alumunium foil. Setelah itu dimasukkan ke dalam

  o

autoclave, kemudian autoclave dioperasikan dengan suhu 121 C dan tekanan satu

  atmosfer selama 15 menit. Setelah proses selesai, alat-alat dikeluarkan dari

  

autoclave dan disimpan pada wadah yang steril. Sterilisasi bertujuan

  menghilangkan mikroorganisme yang tidak diinginkan dari alat dan bahan yang akan digunakan.

4.4.2 Persiapan Ikan Nila

  Ikan nila (Oreochromis niloticus) sebagai hewan uji dibeli dari pasar ikan Gunungsari dengan ukuran 11-12 cm/ekor sebanyak lima ekor yang dipelihara dalam lima liter media pemeliharaan (SNI, 1999) dikarenakan uji patogenitas bakteri Enterobacter sp. dilakukan secara injeksi (Masithah dkk., 2006). Ikan terlebih dahulu diaklimatisasi dengan media yang baru sebelum diberikan perlakuan meliputi aklimatisasi suhu dan salinitas. Tahapan adaptasi suhu adalah kantong plastik yang berisi ikan diapung-apungkan ke wadah adaptasi berupa bak plastik, kemudian kantong plastik dibuka secara perlahan dan dibiarkan ikan keluar dengan sendirinya. Aklimatisasi suhu berlangsung selama enam jam (Sufianto, 2008), setelah itu dilanjutkan ke tahapan adaptasi salinitas.

  Peningkatan salinitas media ikan nila secara bertahap dilakukan dengan mengalirkan air bersalinitas 5, 10, 15, 20, 25 dan 30 ppt dari dalam bak stok ke dalam akuarium selama 48 jam sampai salinitas media ikan nila dalam akuarium mencapai salinitas yang telah ditetapkan yaitu 30 ppt. Metode ini berdasarkan modifikasi penelitian yang dilakukan Watanabe (1984) dalam Triastuti (2014). Adaptasi salinitas ikan terhadap media yang baru dilakukan selama 48 jam dengan dilakukan pemberian pakan tiga kali sehari dengan jumlah pakan yang diberikan 3% dari biomasa ikan (Pusat Penyuluhan Kelautan dan Perikanan, 2011). Adaptasi ini bertujuan untuk menghindari hewan uji agar tidak stress saat diberikan perlakuan selama penelitian.

4.4.3 Pembuatan Konsentrasi Isolat Bakteri Enterobacter sp.

  Pembuatan konsentrasi isolat bakteri Enterobacter sp. dilakukan secara bersamaan dengan persiapan hewan uji. Metode pembuatan konsentrasi bakteri

  

Enterobacter sp. berdasarkan standar kekeruhan McFarland (Perilla et al., 2003).

  Langkah awal yaitu menyiapkan larutan McFarland komersial 0,5 yang berisi 1.175% barium chloride dihydrate (BaCl

  2 ) dan 1% sulfuric acid (H

  2 SO 4 ) setelah itu, menyiapkan satu tabung yang berisi 10 ml media kultur cair (TSB-SW).

  Langkah selanjutnya mengambil bahan isolat Enterobacter sp. dari mikrotube menggunakan jarum ose, setelah itu menanamnya pada media dan menginkubasinya selama 24 jam. Setelah selesai diinkubasi, tahap berikutnya yaitu melakukan sentrifugasi pada kecepatan 1500 rpm selama tiga menit, lalu membuang supernatannya. Endapan bakteri Enterobacter sp. hasil sentrifugasi kemudian dicampurkan dengan larutan NaCl 0,9% sampai volumenya sama dengan volume awal sebelum supernatan dibuang. Tahap terakhir yaitu melakukan pengamatan dengan membandingkan antara turbiditas kultur bakteri dengan larutan standar McFarland 0,5. Jika suspensi bakteri yang digunakan terlalu keruh dibandingkan larutan standar McFarland 0,5 maka perlu pengenceran lagi dengan NaCl 0,9% sampai kecerahannya sama dengan standar McFarland 0,5 dan sebaliknya.

4.4.4 Penyuntikan Bakteri pada Hewan Uji

  Suspensi bakteri Enterobacter sp. sebanyak 0,1 ml disuntikkan secara intra peritoneal dengan jarum suntik 1 ml pada lima ekor ikan nila tiap ulangan.

  Penyuntikan dilakukan secara perlahan dan lembut dengan cara menutup bagian mata ikan nila dengan kain bersih bertujuan menghindari ikan nila supaya tidak stres setelah proses penyuntikan. Ikan nila yang telah disuntik selanjutnya dimasukkan ke dalam toples plastik volume 10 liter dan telah diisi lima liter air bersalinitas 30 ppt dan dibiarkan selama 14 hari serta dilakukan pengontrolan setiap hari. Metode ini merupakan modifikasi dari penelitian Mangunwardoyo dkk. (2010).

4.4.5 Pemeliharaan Ikan Nila

  Injeksi yang dilakukan adalah injeksi bakteri secara intraperitoneal dengan

  8

  7

  6

  konsentrasi 10 , 10 dan 10 sel/ml (Dewi, 2008) dan NaCl 0,9% (Sabariah, 2010) sebanyak 0,1 ml/ekor (Aryanto, 2011). Pemeliharaan ikan nila setelah dilakukan injeksi yaitu selama 14 hari pada wadah pemeliharan dan dilengkapi aerasi (Masithah dkk., 2006). Pakan buatan diberikan dengan kandungan protein 25%

  ®

  yaitu berupa pelet dengan nama produk Hi Pro Vite 781-3 sebanyak tiga kali sehari dengan jumlah pakan yang diberikan 3% dari biomassa ikan (Pusat Penyuluhan Kelautan dan Perikanan, 2011).

  Pergantian air dilakukan sebanyak 20% setiap hari untuk menjaga kualitas air tetap optimal (Dinas Kelautan dan Perikanan Daerah Provinsi Sulawesi Tengah, 2010) dan dilakukan penjagaan kualitas air yang meliputi suhu 25°C- 30°C, pH 6,5-8,5 dan salinitas 30 ppt (SNI, 1999) agar tetap optimal. Pada akhir pemeliharaan dilakukan penghitungan terhadap kelangsungan hidup ikan dan dibandingkan dengan kontrol (tanpa injeksi bakteri Enterobacter sp.).

  4.4.6 Penghitungan Kelangsungan Hidup (Survival Rate)

  Penghitungan kelangsungan hidup (survival rate) ikan nila dilakukan pada akhir masa pemeliharaan kemudian dibandingkan dengan saat awal pemeliharaan.

  Menurut Effendie (1997) kelangsungan hidup ikan nila (Oreochromis niloticus) dapat dihitung dengan persamaan (1) berikut ini :  Nt

  

  SR   x 100 % …………………………………... (1)

   No  Keterangan : SR : Survival Rate atau derajat kelangsungan hidup (%) Nt : Jumlah ikan nila yang hidup diakhir penelitian (ekor) No : Jumlah ikan nila yang hidup diawal penelitian (ekor)

  4.4.7 Pengamatan Gejala Klinis

  Gejala Klinis adalah tanda-tanda awal yang terdapat pada ikan yang disebabkan oleh serangan hama dan penyakit ikan, berupa kelainan atau perubahan fisik, tingkah laku yang dapat dilihat secara visual (SK-BKIPM, 2015). Pengamatan gejala klinis dilakukan dengan pengamatan secara langsung tanpa menggunakan alat. Gejala yang diamati yaitu keaktifan mencari makan seperti respon terhadap pemberian pakan (cepat atau lambat), pembengkakan atau pendarahan pada kulit dan insang contohnya terdapat luka pada daerah bekas suntikan (inflamasi) serta tingkah laku ikan nila seperti cara berenang ikan masih sempurna atau tidak (Haryani dkk., 2012) selama pemeliharaan dibandingkan dengan ikan nila yang tidak diberi perlakuan (kontrol).

  4.5 Parameter Pengamatan

  A. Parameter Utama Parameter utama dalam penelitian ini adalah survival rate (SR) atau derajat kelangsungan hidup dari ikan nila dan pengamatan gejala klinis yaitu keaktifan mencari makan, pembengkakan atau pendarahan pada kulit dan insang serta tingkah laku ikan selama pemeliharaan (Hartini dkk., 2013).

  B. Parameter Pendukung Parameter pendukung digunakan untuk melengkapi data dari parameter utama. Parameter pendukung dalam penelitian ini adalah kualitas air meliputi suhu, pH dan salinitas yang telah ditetapkan terhadap hasil penelitian (Hartini dkk., 2013).

  4.6 Analisis Data

  Data hasil uji patogenisitas diaplikasikan terhadap ikan nila dicatat setiap hari kemudian dianalisa secara statistik dengan bantuan software SPSS versi 20.

  Pengamatan secara gejala klinis pada ikan nila dianalisa secara deskriptif.

  

V HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Hasil

5.1.1 Survival Rate

  Data survival rate pada tiap perlakuan yang diberikan pada hewan coba (Oreochromis niloticus) dapat dilihat pada Lampiran 1. Dari hasil penelitian didapatkan kelulushidupan berkisar 53,33%-80%. Data kelulushidupan selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Tingkat Kelulushidupan Ikan nila (Oreochromis niloticus)

  Perlakuan Kelulushidupan (%) ± SD

  a

  Kontrol 80,00 ± 0,00

  8 b

  P (10 sel/ml bakteri Enterobacter sp)

  1

  53,33 ± 11,55

  7 a

  P

  2 (10 sel/ml bakteri Enterobacter sp.)

  73,33 ± 11,55

  6 a

  P

  3 (10 sel/ml bakteri Enterobacter sp.)

  80,00 ± 20,00

  a

  P

  4 (NaCl 0,9%)

  60,00 ± 0,00 Hasil uji ANOVA menunjukkan bahwa konsentrasi bakteri Enterobacter sp. yang berbeda berpengaruh nyata (p<0,05) terhadap tingkat kelulushidupan ikan nila. Hasil Uji Jarak Berganda Duncan menunjukkan bahwa tingkat kelulushidupan tertinggi terdapat pada perlakuan P dan kontrol yaitu sebesar

  3

  80%. Tingkat kelulushidupan terendah adalah perlakuan P (53,33%). Standar

  1 deviasi yang terlalu besar menunjukkan ketidakakuratan data. a ab a

  R) b

   (S ab up Hid gan sun lang Ke at gk Tin Kontrol P 1 P 2 P 3 P 4 Perlakuan

  Gambar 4. Grafik Tingkat Kelangsungan Hidup Ikan nila (Oreochromis niloticus) Selama Pemeliharaan 2 Minggu 8 Keterangan : P = penyuntikan dengan konsentrasi 10 sel/ml bakteri Enterobacter sp.; P = 1 7 2 penyuntikan dengan konsentrasi 10 sel/ml bakteri Enterobacter sp.; P 6 3 = penyuntikan dengan

konsentrasi 10 sel/ml bakteri Enterobacter sp.; P = penyuntikan dengan NaCl 0,9%.huruf yang

4

berbeda menunjukkan perbedaan yang nyata (p<0,05)

5.1.2 Pengamatan Gejala Klinis Ikan Nila

  Hasil pengamatan gejala klinis ikan nila kontrol didapatkan bahwa ikan kontrol yang masih hidup adalah 80% selama dua minggu pemeliharaan dan tidak mengalami gangguan ataupun gejala klinis lain. Pada ikan yang diinjeksi bakteri

  

8

Enterobacter sp. dengan konsentrasi 10 sel/ml (P 1 ) hanya tersisa 40% pada dua

  minggu pemeliharaan dan gejala klinis yang terjadi adalah berenang pasif, nafsu makan berkurang dan terdapat luka mulai hari keempat.

  Pengamatan gejala klinis ikan yang diinjeksi bakteri Enterobacter sp.

  7

  dengan konsentrasi 10 sel/ml (P

  2 ) adalah berenang pasif, nafsu makan rendah dan

  terdapat luka dimulai pada hari keenam serta ikan yang tersisa 60% pada dua minggu pemeliharaan. Ikan uji yang diinjeksi bakteri Enterobacter sp. dengan

  6

  konsentrasi 10 sel/ml (P

  3 ) tidak menampakkan gejala klinis yang berbeda

  signifikan dengan ikan kontrol, hanya terdapat sedikit luka sejak hari keempat dan ikan yang tersisa dari total keseluruhan ikan yang diujikan selama pemeliharaan dua minggu adalah 80%.

  Gejala klinis ikan uji yang diinjeksi NaCl 0,9% pada bagian intraperitoneal mulai terlihat pada hari ketiga, dalam hal kemampuan berenang mulai pasif dan terdapat luka serta nafsu makan menurun pada hari keenam. Ikan uji yang tersisa adalah 60% pada dua minggu pemeliharaan. Data pengamatan gejala klinis selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 6.

  Gambar 5. Ikan Uji (Oreochromis niloticus) yang Terinfeksi Bakteri Enterobacter

  8 sp. dengan konsentrasi 10 sel/ml.

  Keterangan : lingkaran berwarna merah adalah bagian tubuh ikan yang luka akibat bakteri Enterobacter sp.

5.1.3 Kualitas Air

  Hasil penjagaan parameter kualitas air pemeliharaan ikan nila selama 2 minggu adalah sebagai berikut suhu air berkisar 27°-30°C, pH air berkisar 6,5-8,5 dan salinitas air 30 ppt. Hasil penjagaan kualitas air menunjukkan bahwa kualitas air yang ada di dalam wadah pemeliharaan dalam keadaan sangat baik. Data penjagaan parameter kualitas air selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 2 dan Lampiran 3.

5.2 Pembahasan

  Enterobacter sp. merupakan bakteri gram negatif, bersifat fakultatif

  anaerobik, berbentuk batang dan bisa bergerak (motil), alat gerak tersebut berupa flagella peritrik yaitu flagela yang secara merata tersebar diseluruh permukaan sel (Pelczar and Chan, 1986). Mohapatra et al. (2003) mengungkapkan bahwa bakteri

Enterobacter sp. juga merupakan penghasil enzim protease, amilase dan selulase.

  Selain itu, Muchlis (2013) berpendapat bahwa bakteri Enterobacter sp. juga memiliki aktivitas antibakteri. Namun, bakteri Enterobacter sp. juga memiliki faktor-faktor patogenitas antara lain endotoksin dan enterotoksin seperti yang diungkapkan oleh Karsinah (1994) dalam Dewi (2008). Bakteri patogen dapat menyebabkan penyakit apabila memiliki kemampuan untuk merusak jaringan (invasiveness) dan menghasilkan toksin (toxigenesis) (Todar, 2002).

  Pada penelitian pengaruh injeksi bakteri Enterobacter sp. ini dilakukan dengan melihat survival rate (derajat kelangsungan hidup/SR) ikan nila (Oreochromis niloticus) serta tingkah laku (pengamatan gejala klinis) ikan selama pemeliharaan. Derajat kelangsungan hidup merupakan peluang hidup suatu individu dalam waktu tertentu (Effendie, 1997). Perlakuan penyuntikan bakteri

  

8

Enterobacter sp. dengan konsentrasi 10

  sel/ml (P

  1 ) pada ikan nila menunjukkan

  hasil yang sangat rendah terhadap kelangsungan hidup ikan nila dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Hal tersebut menunjukkan bahwa dengan konsentrasi

  8

  10 sel/ml bakteri Enterobacter sp. tidak dapat mendukung kelangsungan hidup ikan nila dibandingkan dengan P

  3 maupun konsentrasi yang berbeda lainnya

  bahkan bersifat patogen dalam konsentrasi tersebut. Hal ini sesuai dengan pendapat Dewi (2008) yang menyatakan tingkat kematian akibat bakteri

  

Enterobacter sp yang diinfeksikan melalui rute intraperitoneal sangat tinggi pada

  7

  8 dosis 10 sel/ml dan 10 sel/ml. Hal ini juga didukung oleh pendapat Herfiani dkk.

  (2011) bahwa terjadinya kematian pada ikan sangat berkaitan dengan faktor-faktor patogenisitas bakteri, kecepatan perkembangbiakan patogen, maupun faktor pertahanan inang dalam melawan patogen.

  Hasil pengamatan pada ikan kontrol dan P

  4 (penyuntikan NaCl 0,9%)

  terjadi kematian yang tidak wajar, tiba-tiba ikan mati. Hal ini dimungkinkan karena ada perubahan terhadap kualitas air diluar kendali dan tidak terdeteksi pada ikan kontrol dan P

  4 . Ada beberapa parameter yang tidak diukur seperti ammonia,

  karbon dioksida. Kemungkinan perubahan ini yang menyebabkan kematian pada ikan kontrol dan P

4. Hal ini sesuai dengan pendapat Boyd (1979) bahwa

  perubahan ammonia dan karbondioksida secara fluktuatif dan dalam jumlah yang tinggi menyebabkan racun bagi ikan.

  Gejala klinis yang diamati pada ikan uji adalah kemampuan berenang, nafsu makan dan adanya luka pada daerah permukaan tubuh. Gejala klinis pada tiap perlakuan adalah sama hanya saja waktu timbulnya gejala klinis dan jumlah mortalitas tiap perlakuan yang berbeda. Gejala klinis yang paling cepat terlihat adalah pada perlakuan ikan uji yang diinjeksi bakteri Enterobacter sp. dengan

  8

  konsentrasi 10 sel/ml (P

  1 ) yaitu pada hari keempat pemeliharaan sehingga pada

  hari ke-14 pemeliharaan, ikan uji P

  1 tersisa 40% dari total keseluruhan ikan yang diujikan. Hal ini mengindikasikan jika bakteri Enterobacter sp. dengan

  8

  konsentrasi 10 sel/ml dapat menyebabkan mortalitas yang cepat dan tinggi pada ikan uji. Pagotto et al (2003) dalam Dewi (2008) juga menyampaikan bahwa

  8

  bakteri Enterobacter sp. dengan konsentrasi 10 sel/ml dapat menyebabkan mortalitas pada hari ketiga setelah infeksi.

  Mekanisme yang dapat mematikan ikan dari bakteri Enterobacter sp. yaitu dengan menonaktifkan enzim, merubah target obat dan merubah kemampuan obat untuk masuk dan menumpuk di sel-sel (Sanders and Sanders, 1997). Hal ini diperjelas oleh Todar (2002) yang menyatakan bahwa mekanisme mematikan dari bakteri Enterobacter sp. ada dua yaitu pertama, memiliki kemampuan menyerang jaringan yang meliputi pembentukan kolonisasi, merubah mekanisme pertahanan inang dan menghasilkan zat ekstraselluler yang dapat membantu penyerangan jaringan inang dan kedua, memiliki kemampuan menghasilkan racun yang meliputi eksotoksin dan endotoksin. Eksotoksin dilepaskan dari sel bakteri dan dapat bertindak di luar jaringan yang bukan merupakan habitat bakteri untuk tumbuh dan berkembang sedangkan endotoksin dapat dilepaskan dari sel bakteri yang tumbuh atau dari sel yang segaris sebagai akibat dari pertahanan inang yang efektif (misalnya lisozim) atau kegiatan antibiotik tertentu (misalnya penisilin dan sefalosporin).

  Rute yang dilalui bakteri Enterobacter sp. setelah dilakukan injeksi intraperitoneal dijelaskan oleh Gayton and Hall (1996) dalam Dewi (2008) bahwa infeksi bakteri Enterobacter sp. melalui rute intraperitoneal akan melalui pembuluh limfa diseluruh tubuh. Dinding pembuluh limfa tipis mudah ditembus oleh makromolekul dan sel-sel dari jaringan pengikat, tidak dijumpai adanya barrier yang mencegah bahan-bahan antigenik. Sel bakteri dapat dengan mudah melintasi epidermis dan epitel membrana mukosa yang membatasi ruangan dalam tubuh, yang apabila luput dari pengrusakan oleh fagosit dalam darah maka akan berproliferasi dan menghasilkan toksin yang mudah masuk dalam limfa kemudian dapat mematikan sel di dalam limfa dan mempengaruhi organ lainnya sehingga menyebabkan kematian.

  Parameter kualitas air pada awal dan akhir pengamatan menunjukkan kisaran yang layak untuk media budidaya ikan nila. Kisaran suhu selama penelitian masih berada dalam kisaran normal untuk pemeliharaan ikan nila yaitu 27°-30°C. Ikan nila dapat hidup pada suhu 25°-30°C (SNI, 1999). Suhu air secara langsung dapat mempengaruhi respon fisiologi, reproduksi dan pertumbuhan ikan.

  Effendie (1997) menyatakan bahwa perubahan suhu akan mempengaruhi kecepatan perkembangan mekanisme pertahanan dan pembentukan antibodi, selain itu perubahan suhu dapat menjadi penyebab stres yang akan mempengaruhi kesehatan ikan.

  Selama penelitian nilai pH masih berada dalam kisaran normal yang sesuai untuk pemeliharaan ikan nila yaitu berkisar antara 6,5-8,5. Boyd (1979) menyatakan bahwa air dengan pH kurang dari 4 akan membunuh ikan, antara 6,5- 8,5 baik untuk ikan budidaya, pH lebih dari 8,5 akan membahayakan ikan dan pH 11 akan membunuh ikan. Ikan nila dapat hidup pada pH 6,5-8,5 (SNI, 1999).

  Kandungan salinitas dalam media pemeliharaan ikan nila selama penelitian adalah 30 ppt, nilai ini masih sesuai dengan toleransi salinitas dari ikan nila yang dapat hidup pada salinitas 0-45 ppt (Gilles and Pequex, 1983 dalam Fitria, 2012). Pernyataan ini juga didukung oleh laporan dari Setiawati dan Suprayudi (2003) yang menyatakan bahwa nilai laju pertumbuhan harian rata-rata ikan nila semakin meningkat dengan meningginya kadar salinitas mulai dari 10 ppt.

VI KESIMPULAN DAN SARAN

  6.1 Kesimpulan

  Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa infeksi bakteri Enterobacter sp. dengan injeksi intraperitoneal berpengaruh terhadap kelulushidupan ikan nila

  8

  (Oreochromis niloticus). Nilai SR terendah pada perlakuan konsentrasi 10 sel/ml

  6 yaitu 53,3% dan nilai SR tertinggi pada konsentrasi 10 sel/ml yaitu 80%.

  6.2 Saran

  Diperlukan ketelitian dalam melakukan penelitian pengaruh injeksi bakteri

  

Enterobacter sp. secara intraperitoneal terhadap kelulushidupan ikan nila

  (Oreochromis niloticus) terutama mengenai kontrol terhadap segala aspek yang mempengaruhi agar dapat sesuai dengan hasil yang diharapkan.

  

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, A. 2006. Isolasi dan Identifikasi Mikroba Simbion Sponge Axinella sp.

  Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia, 11 (3) : 1-5. 5 hal. Afrianto, E. dan E. Liviawaty. 1992. Pengendalian Hama dan Penyakit Ikan.

  Kanisius. Yogyakarta. hal 20-21. Anggriani, R., Iskandar. dan A. Taofiqurohman. 2012. Efektivitas Penambahan

  Bacillus sp. Hasil Isolasi dari Saluran Pencernaan Ikan Patin Pada Pakan

  Komersial Terhadap Kelangsungan Hidup dan Pertumbuhan Benih Ikan Nila Merah (Oreochromis niloticus). Jurnal Perikanan dan Kelautan, 3 (3) : 75-83. 9 hal.

  Arief, M., I. Puspitasari. dan R. Kusdarwati. 2010. Pengaruh Pemberian Beberapa Bakteri Terhadap Kelangsungan Hidup Benih Ikan Lele Dumbo (Clarias sp.). Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan, 2 (2). 6 hal.

  Aryanto, E. W. 2011. Patogenisitas Streptococcus agalactiae Pada Ikan Nila (Oreochromis niloticus). Skripsi. Institut Pertanian Bogor. Bogor. 62 hal. Azhar, F. 2011. Vibriosis Pada Pendederan Ikan Kerapu Bebek Cromileptes

  altivelis Di Pulau Payung Kepulauan Seribu. Skripsi. Institut Pertanian Bogor. Bogor. 31 hal.

  Bahri, S., M. Mirzan. dan M. Hasan. 2012. Karakterisasi Enzim Amilase dari Kecambah Biji Jagung Ketan (Zea mays ceratina L.). Jurnal Natural Science, 1 (1) : 132-143. 12 hal.

  Boyd, C. F. and F. Lichtkoppler. 1979. Water Quality Management in Pond Fish Culture. Auburn University. Alabama. 30 p. Darfeuille-Michaud, A., D. Aubel., G. Chauviere., C. Rich., M. Bourges., A.

  Servin. and B. Joly. 1990. Adhesion of Enterotoxigenic Eschericia coli to the Human Colon Carcinoma Cell Line CaCO2 in Culture. Infection and Immunity, 58 (4) : 893-902. 10 p. Darmawati, S., L. Sembiring., W. Asmara. dan W. T. Artama. 2013.

  Keanekaragaman Spesies Bakteri Pada Kultur Darah Widal Positif Asal Kota Semarang Berdasarkan Karakter Fenotipik. Seminar Nasional IX Pendidikan Biologi FKIP UNS. 6 hal. Dewi, L. F. 2008. Studi Histopatologi Pengaruh Infeksi Enterobacter sakazakii Dengan Rute Intraperitoneal Pada Mencit (Mus musculus) Neonatus.

  Skripsi. Institut Pertanian Bogor. Bogor. 118 hal. Dinas Kelautan dan Perikanan Daerah Provinsi Sulawesi Tengah. 2010. Petunjuk Teknis Pembenihan dan Pembesaran Ikan Nila Oreochromis niloticus.

  Palu. 29 hal. Effendie, M. I. 1997. Biologi Perikanan. Yayasan Pustaka Nusatama. Yogyakarta. hal 130. Feby, A. and S. Nair. 2010. Sponge-Associated Bacteria of Lakshadweep Coral

  Reefs, India:Resource For Extracellular Hydrolytic Enzymes. Advances in Bioscience and Biotechnology, 330-337. 8 p. Fitria, A. S. 2012. Analisis Kelulushidupan dan Pertumbuhan Benih Ikan Nila Larasati (Oreochromis niloticus) F5 D30-D70 pada Berbagai Salinitas.

  Journal of Aquaculture Management and Technology, 1 (1) : 18-34. 17 hal. Fujaya, Y. 2002. Fisiologi Ikan dasar Pengembangan Teknologi Perikanan.

  Rineka Cipta. Jakarta. Fuller, R. 1989. A review: probiotics in man and animals. Journal of Applied Bacteriology, 66 : 365-378. 14 p.

  Garrity, G. M., J. A. Bell. and T. G. Lilburn. 2004. Taxonomic Outline of The Prokaryotes Bergey’s Manual of Systematic Bacteriology, Second Edition.

  Springer. 116 p. Gatesoupe, F. J. 1999. The Use of Probiotics in Aquaculture. Aquaculture, 180 : 147-165. 19 p.

  Graeber, I., I. Kaesler., M. S. Borchert., R. Dieckmann., T. Pape., R. Lurz., P.

  Nielsen., H. von Dohren., W. Michaelis. and U. Szewzyk. 2008.

  Spongiibacter marinus gen. nov., sp nov., A Halophilic Marine Bacterium

  Isolated From The Boreal Sponge Haliclona sp 1. International Journal of Systematic and Evolutionary Microbiology, 58 (3) : 585-590. 6 p. Grimont, F. and P. A. D. Grimont. 2006. The Genus Enterobacter. Journal Prokaryotes, 6 : 197-214. 18 p. Haetami, K., Abun. dan Y. Mulyani. 2008. Studi Pembuatan Probiotik BAS (Bacillus licheniformis, Aspergillus niger, dan Sacharomices cereviseae) sebagai Feed Suplement serta Implikasinya terhadap Pertumbuhan Ikan Nila Merah. Laporan Penelitian Universitas Padjadjaran. Jatinangor. 53 hal.

  Hardiyani, S. 2014. Uji Patogenisitas dan Studi in vivo Bakteri Biokontrol Bacillus sp. D2.2 Terhadap Vibrio alginolyticus Pada Pemeliharaan Udang Vaname (Litopenaeus vannamei). Skripsi. Universitas Lampung. Bandar Lampung. 41 Hal.

  Hartini, S., A. D. Sasanti. dan F. H. Taqwa. 2013. Kualitas Air, Kelangsungan Hidup dan Pertumbuhan Benih Ikan Gabus (Channa striata) yang Dipelihara dalam Media dengan Penambahan Probiotik. Jurnal Akuakultur Rawa Indonesia, 1 (2) : 192-202. 11 Hal.

  Haryani, A., R. Grandiosa., I. D. Buwono. dan A. Santika. 2012. Uji Efektivitas Daun Pepaya (Carica papaya) untuk Pengobatan Infeksi Bakteri

  Aeromonas hydrophila pada Ikan Mas Koki (Carassius auratus). Jurnal Perikanan dan Kelautan, 3 (3) : 213-220. 8 hal.

  Hidayat, I. 2005. Pengaruh pH terhadap Aktivitas Endo-1,4-β-Glucanase Bacillus sp. AR 009. Jurnal Biodiversitas, 6 (4) : 242-244. 3 hal. Hidayat, W. W. 2008. Densitas dan Ukuran Gamet Spons Aaptos aaptos (Schmidt 1864) Hasil Transplantasi di Habitat Buatan Ancol, DKI Jakarta. Skripsi.

  Institut Pertanian Bogor. Bogor. 84 hal. Huber, R. E., M. N. Gupta. and S. K. Khare. 1994. The Active Site and

  Mechanism of The β-Galactosidase From Escherichia Coli. International Journal Biochemistry, 26 (3): 309-318. 10 p. Irianto, A., Hernayanti. dan N. Iriyanti. 2006. Pengaruh Suplementasi Probiotik

  A3-51 Terhadap Derajat Imunitas Oreochromis niloticus Didasarkan pada Angka Kuman pada Ginjal Setelah Uji Tantang dengan Aeromonas

  hydrophila dan Aeromonas salmonicida achromogenes. Jurnal Perikanan, 8 (2) : 144-152. 9 hal.

  Iversen, C. and S. Forsythe. 2003. Risk Profile of Enterobacter sakazakii, an Emergent Pathogen Associated With Infant Milk Formula. Trends in Food Science and Technology, 14 : 443-454. 12 p.

  Jusadi, D., E. Gandara dan I. Mokoginta. 2004. Pengaruh Penambahan Probiotik

  Bacillus sp. pada Pakan Komersil terhadap Konversi Pakan dan

  Pertumbuhan Ikan Patin Pangasius hypophthalmus. Jurnal Akuakultur Indonesia, 3 (1) : 15-18. 4 hal. Karunasagar, I., I. Karunasagar. and R. K. Umesha. 2005. Microbial Diseases in Shrimp Aquaculture. University of Agricultural Sciences. India. 14 p. Keller, R., M. Z. Pedroso., R. Ritchmann. and R. M. Silva. 1998. Occurrence of

  Virulence-Associated Properties in Enterobacter cloacae. Journal Infection and Immunity, 66 (2) : 645-649. 5 p. Kennedy, J., P. Baker., C. Piper., P. D. Cotter., M. Walsh., M. J. Mooij., M. B.

  Bourke., M. C. Rea., P. M. O’oconor., R. P. Ross., C. Hill., F. O’gara., J. R. Marchesi and A. D. W. Dobson. 2009. Isolation and Analysis of Bacteria with Antimicrobial Activities from the Marine Sponge Haliclona simulans Collected from Irish Waters. Marine Biotechnology, 11 : 384- 396. 30 p.

  Kesarcodi-Watson, A., H. Kaspar., M. J. Lategan. and L. Gibson. 2008. Probiotics in Aquaculture: The Need, Principles and Mechanisms of Action and Screening Processes. Aquaculture, 274 : 1-14. 14 p. Kosim, M. dan S. R. Putra. 2010. Pengaruh Suhu Pada Protease dari Bacillus

  subtilis. Prosiding Skripsi Semester Genap 2009-2010. Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Surabaya. 7 hal.

  Kusriningrum, R. S. 2008. Perancangan Percobaan. Airlangga University Press.

  Surabaya. hal 77-170. Mangunwardoyo, W., R. Ismayasari. dan E. Riani. 2010. Uji Patogenisitas dan

  Virulensi Aeromonas hydrophila Stanier pada Ikan Nila (Oreochromis

  niloticus Lin.) Melalui Postulat Koch. Jurnal Riset Akuakultur, 5 (2) : 245- 255. 11 hal.

  Mariyono.dan A. Sundana. 2002. Teknik Pencegahan dan Pengobatan Penyakit Bercak Merah pada Ikan Air Tawar yang Disebabkan oleh Bakteri Aeromonas hydrophila. Buletin Teknik Pertanian, 7 (1). 4 hal.

  Masithah, E. D., L. Sulmartiwi. dan J. Triastuti. 2006. Uji Patogenitas Bakteri Pektinolitik Terhadap Ikan Bandeng (Chanos chanos Forskal), Upaya Seleksi Bahan Pengembangan Probiotik Penekan Pertumbuhan

  Microcystis aeruginosa. ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga.

  Surabaya. 5 hal. Mohapatra, B. R., M. Bapuji. and A. Sree. 2003. Production of Industrial

  Enzymes (Amylase, Carboxymethylcellulase And Protease) by Bacteria Isolated From Marine Sedentary Organisms. Acta Biotechnologica, 23 (1) : 75-84. 10 p.

  Muchlis, A. R. F. 2013. Skrining Bakteri Simbion Spons Asal Perairan Pulau Polewali Dan Pulau Sarappolompo Sebagai Penghasil Antibakteri Terhadap Bakteri Patogen Pada Manusia Dan Ikan. Skripsi. Universitas Hasanuddin. Makassar. 69 hal.

  Muntiha, M. 2001. Teknik Pembuatan Preparat Histopatologi Dari Jaringan Hewan dengan Pewarnaan Hematoksilin dan Eosin (H&E). Temu Teknis Fungsional Non Peneliti 2001. 8 hal.

  Naiola, E. dan N. Widhyastuti. 2007. Semi Purifikasi Dan Karakterisasi Enzim Protease Bacillus sp. Berkala Penelitian Hayati, 13 : 51-56. 6 hal. Nofiani, R., S. Nurbetty. dan A. Sapar. 2009. Aktivitas Antimikroba Ekstrak

  Metanol Bakteri Berasosiasi Spons Dari Pulau Lemukutan, Kalimantan Barat. Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, 1 (2) : 33-41. 9 hal. Nurfadilah. 2013. Uji Bioaktifitas Antibakteri Ekstrak dan Fraksi Lamun dari Kepulauan Spermonde, Kota Makassar. Skripsi. Universitas Hasanuddin.

  Makassar. 56 hal. Nurhayati, T., M. G. Suhartono., L. Nuraida. dan S. B. Poerwanto. 2006.

  Karakterisasi Awal Inhibitor Protease dari Bakteri yang Berasosiasi dengan Spons Asal Pulau Panggang, Kepulauan Seribu. Jurnal Hayati, 13 (2) : 58-64. 7 hal. Pelczar, M. J. and E. C. S. Chan. 1986. Dasar-Dasar Mikrobiologi Volume 2.

  Universitas Indonesia Press. Jakarta. hal 949. Perdana, A. B. 2011. Studi Keanekaragaman Genetik Bakteri dari Usus Ikan Nila (Oreochromis niloticus) Melalui Teknik Metagenom Sequence Based.

  Skripsi. Universitas Indonesia. Depok. 75 hal. Perilla, M .J., G. Ajello., C. Bopp., J. Elliott., R. Facklam., J. S. Knapp., T.

  Popovic., J. Wells. and S. F. Dowell. 2003. Manual for the Laboratory Identification and Antimicrobial Susceptibility Testing of Bacterial

  Pathogens of Public Health Importance in the Developing World. CDC National Center for Infectious Diseases and WHO. Atlanta. 383 p. Praditia, F. P. 2009. Pengaruh Pemberian Bakteri Probiotik Melalui Pakan

  Terhadap Pertumbuhan dan Kelangsungan Hidup Udang Windu Penaeus monodon. Skripsi. Institut Pertanian Bogor. Bogor. 52 hal. Pusat Penyuluhan Kelautan dan Perikanan. 2011. Materi Penyuluhan Budidaya Ikan Nila (Oreochromis niloticus). www.pusluh.kkp.go.id. 28 April 2015.

  59 hal. Reha, W., A. Noor., A. Ahmad., N. L. Nafie dan D. Salama. 2013. Karakterisasi

  Protein Aktif dari Spons dan Mikroba Simbionnya Sebagai Usaha Awal Menuju Agen Imunostimulan. Jurnal Marina Chemica Acta, 14 (1). 11 hal. Saanin, H. 1984. Taksonomi dan Kunci Identifikasi Ikan. Binacipta. Bandung. hal 84. Sabariah. 2010. Seleksi Bakteri Probiotik dari Saluran Pencernaan Untuk

  Meningkatkan Kinerja Pertumbuhan Ikan Jelawat Leptobarbus hoeveni blkr. Tesis. Institut Pertanian Bogor. Bogor. 73 hal. Sanders, W. E. JR. and C. C. Sanders. 1997. Enterobacter spp.: Pathogens Poised to Flourish at the Turn of the Century. Clinical Microbiology Reviews, 10

  (2) : 220–241. 22 p. Santavy, D. L. and R. R. Colwell. 1990. Comparison of Bacterial Communities

  Associated with The Caribbean Sclerosponge Ceratoporella nicholsoni and Ambient Seawater. Marine Ecology-Progress Series, 67 : 73-82. 10 p. Santoso, B. B., F. Basuki. dan S. Hastuti. 2013. Analisa Ketahanan Tubuh Benih

  Hibrida Nila Larasati (Oreochromis niloticus) Generasi 5 (F5) yang di Infeksi Bakteri Streptococcus agalactiae dengan Konsentrasi Berbeda. Journal of Aquaculture Management and Technology, 2 (3) : 64-75. 12 hal.

  Saputro, M. N. B. 2008. Karakterisasi α-Amilase dan Glukoamilase Dari Bakteri Proteolitik Asal Pencernaan Ikan Nila Gift. Skripsi. Institut Pertanian Bogor. Bogor. 25 hal.

  Schmidt, G. 2010. Secondary Metabolites in the Arctic Sponge Haliclona viscosa- Spatial and Temporal Variation. Dissertation. Universität Carolo- Wilhelmina. Braunschweig. 259 p.

  Sekkin, S and C. Kum. 2012. Antibacterial Drugs in Fish Farms:Application and Its Effects. www.intechopen.com. 28 Maret 2016. 35 p. Setiawati, J. E., Tarsim., Y. T. Adiputra dan S. Hudaidah. 2013. Pengaruh

  Penambahan Probiotik Pada Pakan Dengandosis Berbeda terhadap Pertumbuhan, Kelulushidupan, Efisiensi Pakan Dan Retensi Protein Ikan Patin (Pangasius hypophthalmus). Jurnal Rekayasa dan Teknologi Budidaya Perairan, 1 (2). 12 hal.

  Setiawati, M. dan M. A. Suprayudi. 2003. Pertumbuhan dan Efisiensi Pakan Ikan Nila Merah (Oreochromis sp.) yang Dipelihara pada Media Bersalinitas.

  Jurnal Akuakukltur Indonesia, 2 (1) : 27-30. 4 hal. Setiyono, E., R. Sri dan B. Fajar. 2012. Analisis Genetic Gain Ikan Nila Pandu F5

  Pada Pendederan I-III. Journal Of Aquaculture Management and Technology, I (1) : 77-86. 10 Hal. Setyati, W. A. dan Subagiyo. 2012. Isolasi dan Seleksi Bakteri Penghasil Enzim

  Ekstraseluler (Proteolitik, Amilolitik, Lipolitik dan Selulolitik) yang Berasal dari Sedimen Kawasan Mangrove. Jurnal Ilmu Kelautan, 17 (3) : 164-168. 6 hal.

  Shanmughapriya, S., G. S. Kiran., J. Selvin., R. Gandhimathi., T. B. Baskar., A.

  Manilal. and S. Sujith. 2009. Optimization, production, and partial characterization of an alkalophilic amylase produced by sponge associated marine bacterium Halobacterium salinarum MMD047. Biotechnology and Bioprocess Engineering, 14 (1) : 67-75. 1 p.

  Standar Nasional Indonesia. 1999. Produksi Induk Ikan Nila Hitam (Oreochromis

  niloticus Bleeker) Kelas Induk Pokok (Parent Stock). Badan Standarisasi Nasional. Jakarta. 11 hal.

  Soeseno, S. 1983. Budidaya Ikan dan Udang dalam Tambak. Gramedia. Jakarta. hal 72-73.

  Sufianto, B. 2008. Uji Transportasi Ikan Maskoki (Carassius auratus Linnaeus) Hidup Sistem Kering dengan Perlakuan Suhu dan Penurunan Konsentrasi Oksigen. Tesis. Institut Pertanian Bogor. Bogor. 135 hal.

  Suparno. 2005. Kajian Bioaktif Spons Laut (Porifera: Demospongiae) Suatu Peluang Alternatif Pemanfaatan Ekosistem Karang Indonesia dalam

  Bidang Farmasi. Makalah Pribadi Falsafah Sains. Institut Pertanian Bogor. Bogor. 20 hal.

  Suparinto, C. dan R. Susiana. 2011. Kiat Sukses Budidaya Ikan Nila. Yogyakarta : Lily Publisher. Surat Keputusan Badan Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil

  Perikanan. 2015. Petunjuk Teknis Pemantauan Hama dan Penyakit Ikan Karantina. Badan Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan. Jakarta. 47 hal.

  Swidan, N. 2009. Factors Affecting the Growth and Survival of Probiotic in Milk.

  Thesis. University of Wales Institute. Cardiff. 201 p. Taylor, M. W., R. Radax., D. Steger. and M. Wagner. 2007. Sponge-Associated Microorganisms: Evolution, Ecology, and Biotechnological Potential.

  Microbiology and Molecular Biology Reviews, 71 (2) : 295–347. 53 p. Todar, K. 2002. Mechanisms of Bacterial Pathogenicity:Endotoxins. University of Wisconsin. 8 p.

  Triastuti, J. 2014. Pengaruh Induksi Hipersalinitas Terhadap Gangguan Perkembangan dan Kejadian Kelainan pada Embrio Larva Ikan Nila (Oreochromis niloticus L.) Jatimbulan. Disertasi. Universitas Airlangga.

  Surabaya. hal 28. Utami, L. S., S. Syukur. dan Jamsari. 2012. Isolasi Bakteri Probiotik Penghasil

  Protease dan Laktase dari Fermentasi Kakao Varietas Hijau. Chemical Program, 5 (2). 6 hal. Verschuere, L., G. Rombaut., P. Sorgeloos. and W. Verstraete. 2000. Probiotic

  Bacteria as Biological Control Agents in Aquaculture. Microbiology and Molecular Biology Reviews, 64 (4) : 655-671. 17 p. Wang, Y., J. Li. and J. Lin. 2008. Probiotics in Aquaculture: Challenges and Outlook. Journal Aquaculture, 281 : 1-4. 4 p. Warren,

  B. P. 2015. Enterobacter sp. http://genome.jgi- psf.org/ent_6/ent_6.home.html. 23 agustus 2015. 1 p. Widanarni., Sukenda. dan M. Setiawati. 2008. Bakteri Probiotik dalam Budidaya

  Udang:Seleksi, Mekanisme Aksi, Karakterisasi, dan Aplikasinya Sebagai Agen Biokontrol. Jurnal llmu Pertanian Indonesia, 13 (2). 10 hal. Yuliati, P., K. Tutik., Rusmaedi dan S. Siti. 2003. Pengaruh Padat Penebaran Terhadap Pertumbuhan dan Sintasan Dederan Ikan Nila Gift (Oroechromis

niloticus) di Kolam. Jurnal Iktiologi Indonesia. III (2) : 63-66. 4 Hal.

  Yuningtyas, S. 2011. Purifikasi, Amobilisasi, dan Karakterisasi β-Galaktosidase dari Enterobacter cloacae serta Potensinya terhadap Susu UHT. Tesis.

  Institut Pertanian Bogor. Bogor. 81 hal. Yuwono. 2013. Mikrobiologi Kedokteran. Universitas Sriwijaya. Palembang. Hal 63.

  Zhang, H., F. Zhang. and Z. Li. 2009. Gene Analysis, Optimized Production and Property of Marine Lipase from Bacillus pumilus B106 Associated with South China Sea Sponge Halichodria rugosa. World Journal of Microbiology and Biotechnology, 25 (7) : 1267-1274. 8 p.

  Lampiran 1. Hasil Uji Identifikasi Bakteri Enterobacter sp. dari 7 Isolat Berbeda yang Diambil dari Sponge Haliclona sp.

  ADL N

  • – P ERP US TA KAA N UN
      • Mo + / In - Mo + / In - Mo + / In - Mo + / In - Mo + / In

  IVER SITA S A

  IRLANG GA SKRIP SI PEN GARUH

  INF EKSI BAKT ERI… GAT OT MAHENDRA

  Lampir an 2. Hasil Uji B iokim ia Bak te ri En terobacter sp . dari 7 Iso lat Be rbeda yang Dia mb il dari

  Spon ge Halic lona sp .

  Uji Biokimia Gula Maltosa

  O/F F F F F F F F

  Motilitas / Indol Mo + / In

  ISOLAT A2 B3 C6 D8 E57 F62 G67

  As/As As/As As/As As/As

    • Katalase +

  • TSIA As/As As/As As/As
  • Glukosa +
  • Laktosa +
  • Sukrosa +
  • Arabinosa +
    • Manitol +
    • Mo + / In - Oksidase -

  • Inositol -

  ANOVA

  Tingkat Kelangsungan Hidup N Mean Std. Deviation Std. Error

  60.00

  80.00 P3 3 80.0000 20.00000 11.54701 30.3172 129.6828 60.00 100.00 P4 3 60.0000 .00000 .00000 60.0000 60.0000

  60.00

  60.00 P2 3 73.3333 11.54701 6.66667 44.6490 102.0177

  40.00

  80.00 P1 3 53.3333 11.54701 6.66667 24.6490 82.0177

  80.00

  Minimum Maximum Lower Bound Upper Bound P0 3 80.0000 .00000 .00000 80.0000 80.0000

  95% Confidence Interval for Mean

  Descriptives

  Tingkat Kelangsungan Hidup Sum of Squares df Mean Square F Sig.

  nila (Oreochromis niloticus) pada uji patogenitas bakteri Enterobacter sp. menggunakan SPSS versi 20

  Lampiran 6. Hasil analisis statistika tingkat kelangsungan hidup ikan

  2 P1 3 53.3333 P4 3 60.0000 60.0000 P2 3 73.3333 73.3333 P0 3 80.0000 P3 3 80.0000 Sig. .070 .076

  1

  0.05

  Perlakuan N Subset for alpha =

  14 Tingkat Kelangsungan Hidup Duncan

  1760.000 4 440.000 3.300 .049 Within Groups 1333.333 10 133.333 Total 3093.333

  Between Groups

  60.00 Total 15 69.3333 14.86447 3.83799 61.1017 77.5650 40.00 100.00

  

Lampiran 7. Dokumentasi Pengamatan Gejala Klinis Ikan Nila (Oreochromis

niloticus) Hari ke-14.

  A B C D E Keterangan : A : Ikan Kontrol (Tanpa Penyuntikan Bakteri Enterobacter sp.)

  B : Ikan disuntik Bakteri Enterobacter sp. konsentrasi 10

  8

  sel/ml C : Ikan disuntik Bakteri Enterobacter sp. konsentrasi 10

  7

  sel/ml D : Ikan disuntik Bakteri Enterobacter sp. konsentrasi 10

  6

  sel/ml E : Ikan disuntik Larutan NaCl 0,9%

Dokumen baru

Dokumen yang terkait

PENGARUH MODEL SISTEM BUDIDAYA AKUAPONIK TERHADAP PERTUMBUHAN DAN SINTASAN IKAN NILA (Oreochromis niloticus)
1
28
17
UJI EFEKTIFITAS ANTIGEN BAKTERI Streptococcus agalactiae SECARA ORAL TERHADAP TITER ANTIBODI DAN KELULUSHIDUPAN IKAN NILA (Oreochromis niloticus)
0
15
20
PENGARUH LAMA WAKTU PEMBIUSAN YANG BERBEDA DENGAN MENGGUNAKAN MINYAK CENGKEH (Eugenia aromatica) TERHADAP KELULUSHIDUPAN PADA PROSES PENGANGKUTAN IKAN NILA (Oreochromis niloticus) UKURAN 5 – 7 cm
3
9
1
PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK AKAR TUBA ( Derris elliptica )DENGAN DOSIS BERBEDA TERHADAP KELULUSHIDUPAN BENIH IKAN NILA (Oreochromis niloticus) DALAM TRANSPORTASI
4
16
2
PENGARUH β-GLUCAN DARI RAGI ROTI (Saccharomyces cerevisiae) TERHADAP SISTEM IMUN IKAN NILA (Oreochromis niloticus)
0
6
2
UJI EFEKTIFITAS VAKSIN STREPTOCOCCUS DENGAN METODE INJEKSI TERHADAP TITER ANTIBODI DAN KELULUSHIDUPAN IKAN NILA YANG DIINFEKSI BAKTERI Streptococcus agalactiae
0
13
16
HEMATOLOGI IKAN NILA (Oreochromis niloticus) YANG DIINJEKSI DENGAN ANTIGEN BAKTERI Streptococcus agalactiae
4
48
15
PENGARUH PEMBERIAN HORMON METILTESTOSTERON TERHADAP DEFERENSIASI KELAMIN LARVA IKAN NILA (Oreochromis niloticus)
0
4
1
EFEKTIVITAS PENGGUNAAN BEBERAPA SUMBER BAKTERI DALAM SISTEM BIOFLOK TERHADAP KERAGAAN IKAN NILA (Oreochromis niloticus)
4
22
50
PEMBERIAN SENYAWA TAURIN, INOSITOL, dan Gracillaria sp. PADA PAKAN BUATAN TERHADAP LAJU PERTUMBUHAN JUVENIL IKAN NILA (Oreochromis niloticus)
1
33
43
PRODUKSI BUDIDAYA IKAN NILA (Oreochromis niloticus) SISTEM BIOFLOK DENGAN SUMBER KARBOHIDRAT BERBEDA
0
0
6
TRUSS MORFOMETRIK BEBERAPA VARIETAS IKAN NILA (Oreochromis niloticus)
0
0
10
Tersedia online di: http:ejournal-balitbang.kkp.go.idindex.phpjra STUDI KASUS INFEKSI TILAPIA LAKE VIRUS (TiLV) PADA IKAN NILA (Oreochromis niloticus)
0
0
8
SKRIPSI PENGARUH ALGA MERAH (Kappaphycus alvarezii) TERHADAP JUMLAH TOTAL BAKTERI DAN NILAI ORGANOLEPTIK PADA IKAN NILA (Oreochromis niloticus)
0
0
85
REGULASI IONIK IKAN NILA (Oreochromis niloticus) YANG TERPAPAR KADMIUM (Cd) PADA SALINITAS BERBEDA Repository - UNAIR REPOSITORY
0
0
11
Show more