2. Klasifikasi Lansia - PRIMA NURDIANA PUTRA, BAB II pdf

Gratis

0
0
29
5 months ago
Preview
Full text

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Lansia 1. Pengertian Lanjut usia adalah seorang yang berusia 60 tahun atau lebih, yang

  secara fisik terlihat terlihat berbeda denan kelompok umur lainnya (Depkes RI, 2005; dalam Puspitasari, 2014).

  2. Klasifikasi Lansia

  Menurut WHO dalam Maryam (2008) klasisifikasi lansia digolongkan menjadi 4 yaitu: a. Usia pertengahan atau middle age yaitu seseorang yang berusia 45-59 tahun.

  b. Lanjut usia atau elderly yaitu seseorang yang berusia 60-74 tahun.

  c. Lanjut usia tua atau old yaitu orang yang berusia 75-90 tahun.

  d. Lanjut usia sangat tua atau very old yaitu seseorang yang berusia diatas 90 tahun.

  3. Perubahan Fungsional pada Lanjut Usia

  Fungsi masing-masing organ pada usia lanjut menurun secara kualitatif maupun kuantitatif. Tubuh manusia akan mengalami proses degeneratif. Menurut Nugroho (2008) perubahan yang terjadi pada lansia meliputi:

  10

  1) Perubahan Fisik

  a) Sel: jumlah berkurang, ukuran membesar dan cairan tubuh menurun.

  b) Sistem persarafan: saraf pancaindra mengecil sehingga fungsinya menurun serta lambat dalam merespon. Respon motorik dan refleks juga berkurang.

  c) Sistem pendengaran: membran timpani atrofi sehingga terjadi gangguan pendengaran.

  d) Sistem penglihatan: respon terhadap sinar, adaptasi terhadap gelap, akomodasi,dan lapang pandang menurun.

  e) Sistem kardiovaskuler katup jantung menebal dan kaku, kemampuan memompa darah menurun, serta meningkatnya resistensi pembuluh darah perifer sehingga tekanan darah meningkat.

  f) Sistem pernafan: terjadi penurunan kekuatan otot-otot pernapasan dan menjadi kaku, menarik napas lebih berat, kemampuan batuk menurun, serta terjadi penyempitan bronkus.

  g) Sistem gastrointestinal: asam lambung, rasa lapar dan indra pengecapan menurun.

  h) Sistem genitourinaria: terjadi penurunan kemampuan ginjal untuk mengonsentrasi urin. Otot kandung kemih melemah sehingga frekuensi buang air kecil meningkat, kandung kemih sulit dikosongkan sehingga meningkatkan retensi urin. i) Sistem endokrin: produksi hormon menurun. j) Kulit menjadi keriput akibat kehilangan jaringan lemak, permukaan kulit kasar bersisik, proteksi kulit menurun, berkurangnya elastisitas akibat menurunnya cairan. k) Sistem musculokeletal: tulang kehilangan kepadatanya, bungkuk, persendian membesar dan menjadi kaku, kram tremor dan tendon mengerut. 2) Perubahan Mental

  Perubahan mental yang biasanya terjadi pada lansia meliputi depresi, frustasi, kesepian, takut menghadapi kematian dan kecemasan.

  3) Perubahan Psikososial Perubahan psikososial didasari nilai yang diukur melalui produktivitasnya dan identitasnya dikaitkan peranan dalam pekerjaan, biasanya terjadi saat seseorang mengalami pensiun.

B. Hipertensi 1. Definisi Hipertensi

  Hipertensi merupakan pembunuh tersembunyi

  (“silent killer“) dan

  perannya terhadap gangguan jantung dan otak tidak diragukan lagi (Budisetio, 2011). Sesorang dikatakan mengalami hipertensi apabila tekanan darah sistolik >140 mmHg dan diastolik 90 mmHg (Rachman, 2011). Hipertensi atau sering disebut dengan darah tinggi adalah suatu keadaan peningkatan tekanan darah yang memberi gejala berlanjut pada suatu target organ tubuh sehingga timbul kerusakan lebih berat seperti stroke (terjadi pada otak dan berdampak pada kematian yang tinggi), penyakit jantung koroner (terjadi pada kerusakan pembuluh darah jantung) serta penyempitan ventrikel kiri/ bilik kiri (terjadi pada otot jantung) (Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2012).

  Sedangkan Menurut (Wahdah, 2011) hipertensi pada lansia yaitu tekanan darah sistolenya diatas 140 mmHg dan diastolnya diatas 90 mmHg. Hipertensi pada lansia disebabkan karena gangguan psikologi, diantaranya kecemasan, depesi stres, dan marah yang tidak tersalurkan, sehingga tekanan darah pada lansia terus meningkat (Nugroho, 2008). Pada lansia hipertensi lebih menonjol dibandingkan dengan hipotensi karena hipertensi merupakan faktor resiko utama dari perkembangan penyakit jantung dan stroke (Noviani, et al 2011). Lansia yang mengalami hipertensi dibiarkan dalam waktu yang lama akan mengakibatkan kerusakan serius pada pembuluh darah, jantung dan gagal ginjal (Wahdah, 2011).

2. Klasifikasi Hipertensi

  a. Klasifikasi hipertensi menurut etiologinya dibedakan menjadi 2 yaitu: 1) Hipertensi esensial (primer)

  Hipertensi esensial disebut juga hipertensi idiopatik karena tidak diketahui penyebabnya. Tipe ini terjadi pada sebagian besar kasus tekanan darah tinggi yaitu sekitar 95%. Faktor yang mempengaruhi yaitu: genetik, lingkungan, hiperaktifitas saraf simpatis sistem renin. Angiostensin dan peningkatan Na + Ca intraseluler. Faktor-faktor yang meningkatkan resiko: obesitas, merokok, alkohol, dan polisitema (Nurarif & Kusuma, 2013). Pada hipertensi primer tidak ditemukan penyakit renovaskuler, aldosteronism, pheochromocytoma, gagal ginjal, dan penyakit lainya genetika dan ras merupakan bagian yang menjadi penyebab timbulnya hipertensi primer, termasuk faktor lain diantaranya faktor stres, intake alkohol moderat, merokok, lingkungan, demografi, dan gaya hidup (Lewis, et al 2000).

  2) Hipertensi Sekunder Hipertensi yang penyebab spesifiknya sudah diketahui, seperti gangguan pada ginjal, terganggunya keseimbangan hormon, yang merupakan faktor pengatur tekanan darah, pengaruh obat obatan seperti KB, kortikosteroid, siklosporin, eritropeitin, kokain, penyalahgunaan alkohol, kayu manis (dalam jumlah yang sangat besar) (Martuti, A. 2009).

  b. Berdasarkan Bentuk Hipertensi (Gunawan, 2001): 1.) Hipertensi Sistolik

  Hipertensi sistolik (Isolated systolic hypertension) yaitu hipertensi yang biasanaya ditemukan pada usia lanjut, yang Hipertensi bersifat diturunkan atau bersifat genetik. Individu dengan riwayat keluarga hipertensi mempunyai risiko dua kali lebih

  ditandai dengan peningkatan tekanan sistolik tanpa diikuti peningkatan tekanan diastolic.

  2.) Hipertensi Diastolic Hipertensi diastolic (diastolic hypertension ) yaitu peningkatan tekanan diastolic tanpa diikuti peningkatan tekanan sistolik, biasanya ditemukan pada anak-anak dan dewasa muda. 3.) Hipertensi campuran

  Hipertensi campuran yaitu peningkatan tekanan sistolik dan diikuti peningkatan tekanan diastolic.

Table 2.1 klasifikasi derajat hipertensi menurut WHO.

  No Kategori

  Sistolik (mmHg)

  Diastolik (mmHg)

  1. Optimal <120 <80

  2. Normal 120 -129 80 -84

  3. High normal 130 -139 85 -89

  4. Hipertensi Grade 1 (ringan) 140

  90

  • – 159
  • >– 99 Grade 2 (sedang) 160 -179 100
  • – 109 Grade 3 (berat)
  • – 209
  • – 119 Grade 4 (sangat berat) >210 >120 3.
besar untuk menderita hipertensi primer daripada orang yang tidak mempunyai keluarga dengan riwayat hipertensi.

  100

   Faktor Risiko

  Faktor risiko yang relevan terhadap mekanisme terjadinya hipertensi adalah: 1) Genetik

  2) Jenis Kelamin Menurut Sutomo (2009), Hipertensi banyak ditemukan pada laki-laki dewasa muda dan paruh baya. Sebaliknya, hipertensi sering terjadi pada sebagian besar wanita setelah berusia 55 tahun atau yang mengalami menopouse. Hipertensi primer lebih jarang ditemukan pada perempuan pra menopouse dibanding pria karena pengaruh hormon. Wanita yang belum mengalami menopouse dilindungi oleh hormon estrogen yang berperan dalam meningkatkan kadar High

  

Density Lipoprotein (HDL). Kadar kolesterol HDL yang tinggi

  merupakan faktor pelindung dalam mencegah terjadinya proses aterosklerosis.

  3) Usia Insidensi hipertensi primer meningkat seiring dengan pertambahan usia. 50-60% pasien dengan umur lebih dari 60 tahun memiliki tekanan darah lebih dari 140/90 mmHg. 4) Obesitas

  Obesitas dapat meningkatkan kejadian hipertensi. Hal ini disebabkan lemak dapat menimbulkan sumbatan pada pembuluh darah sehingga dapat meningkatkan tekanan darah (Anggraini, et al, 2009).

  5) Asupan Garam Asupan garam yang tinggi dapat meningkatkan sekresi hormon natriuretik. Hormon tersebut menghambat aktivitas sel pompa natrium dan mempunyai efek penekanan pada sistem pengeluaran natrium sehingga terjadi peningkatan volume plasma yang mengakibatkan kenaikan tekanan darah. 6) Hiperaktivitas Simpatis

  Pada hipertensi primer, sekresi katekolamin yang meningkat akan memacu produksi renin menyebabkan kontriksi arteriol dan vena serta meningkatkan curah jantung. (Gray, et al 2002). 7) Aktivitas fisik

  Aktivitas fisik adalah setiap gerakan tubuh yang meningkatkan pengeluaran tenaga/ energi dan pembakaran energi. Aktivitas fisik dikategorikan cukup apabila seseorang melakukan latihan fisik atau olahraga selama 30 menit setiap hari atau minimal 3-5 hari dalam seminggu (Mukti, 2012).

4. Patofisiologi Hipertensi

  Mekanisme yang mengontrol kontriksi dan relaksasi pembuluh darah terletak di pusat vasomotor, pada medulla di otak. Dari pusat vasomotor ini bermula jaras saraf simpatis, yang berlanjut kebawah korda spinalis dan keluar dari kolumna medulla spinalis ganglia simpatis di toraks dan abdomen. Rangsangan pusat vasomotor dihantarkan dalam bentuk impuls yang bergerak kebawah melalui sistem saraf simpatis ke ganglia simpatis. Pada titik ini, neuron preganglion melepaskan asetilkolin yang akan merangsang serabut saraf pasca ganglion ke pembuluh darah. Dimana dengan dilepaskanya noreepineprin mengakibatkan kontriksi pembuluh darah. Berbagai faktor seperti kecemasan dan ketakutan dapat mempengaruhi respon pembuluh darah terhadap rangsang vasokontriksi. Individu dengan hipertensi sangat sensitiv terhadap norepinefrin. Meskipun tidak diketahui dengan jelas mengapa hal tersebut bisa terjadi.

  Disaat yang bersamaan sistem saraf simpatis merangsang pembuluh darah sebagai respon rangsang emosi, kelenjar adrenal juga terangsang, mengakibatkan tambahan aktivitas vasokontriksi. Medulla adrenal mensekresi epinefrin, yang menyebabkan vasokontriksi. Korteks adrenal mensekresi kortisol dan steroid lainya, yang dapat memperkuat respon vasokonstriktor pembuluh darah. Vasokonstriktor yang menyebabkan penurunan aliran ke ginjal, menyebabkan pelepasan renin. Renin merangsang pembentukan angiostensin I yang kemudian diubah menjadi angiostensin II, suatu vasokontriksi kuat, yang pada giliranya merangsang sekresi aldosterone oleh korteks adrenal. Hormon ini menyebabkan retensi natrium dan air oleh tubulus ginjal, menyebabkan peningkatan volume intra vaskuler. Semua faktor ini cenderung mencetuskan keadaan darah tinggi.

  Untuk pertimbangan gerontology, perubahan struktural dan fungsional pada sistem pembuluh perifer bertanggung jawab pada perubahan tekanan darah yang terjadi pada usia lanjut. Perubahan tersebut meliputi aterosklerosis, hilangnya elastisitas jaringan ikat dan penurunan dalam relaksasi otot polos pembuluh darah yang pada giliranya menurunkan kemampuan distensi dan daya regang pembuluh darah.

  Konsekuensinya, aorta dan arteri besar berkurang kemampuanya dalam mengakomodasi volume darah yang dipompa oleh jantung (volume sekuncup), mengakibatkan penurunan curah jantung dan peningkatan tahanan perifer (Brunner &Suddart, 2002).

5. Tanda dan Gejala Hipertensi

  Menurut Sutarni (2004), gejala-gejala hipertensi antara lain sakit kepala, jantung berdebar-debar, sulit bernafas setelah bekerja keras atau mengangkat beban kerja, mudah lelah, penglihatan kabur, wajah memerah, hidung berdarah, sering buang air kecil terutama malam hari, telinga berdering (tinnitus) dan duinia terasa berputar. Crowin (2000:359) menyebutkan bahwa sebagian besar gejala klinis timbul setelah mengalami hipertensi bertahun-tahun berupa: nyeri kepala saat terjaga, kadang-kadang disertai mual dan muntah, akibat peningkatan tekanan darah intra kranial, penglihatan kabur akibat kerusakan retina akibat hipertensi, ayunan langkah yang tidak mantap karena kerusakan susunan saraf pusat, nokturia karena peningkatan aliran darah ginjal dan filtrasi glomerolus, edema dependen dan pembengkakan akibat peningkatan tekanan kapiler.

6. Komplikasi Hipertensi

  Komplikasi akibat hipertensi menurut Palmer & Wiliams (2007) antara lain: a. Gagal jantung

  Gagal jantung adalah istilah untuk suatau keadaan dimana secara progresif jantung tidak dapat memompa darah ke seluruh tubuh secara efisien.

  b. Angina Angina adalah rasa tidak nyaman atau nyeri dada.

  c. Serangan jantung Serangan jantung atau disebut dengan infark miokard karena terjadi saat sebagian otot jantung mengalami infark atau mati.

  d. Stroke Tekanan darah tinggi akan menyebabkan dua jenis stroke, yaitu stroke iskemik dan stroke hemorargik.

  e. Gagal ginjal Gagal ginjal kronik biasanya berakhir pada gagal ginjal terminal. Keadaan ini bersifat fatal kecuali jika pendritanya menjalani dialysys atau transplatasi ginjal.

  f. Gangguan sirkulasi Gangguan sirkulasi akan merusak atau menyerang bagaian tungkai dan mata. Pada tungkai akan menyebabkan nyeri tungkai dan kaki sehingga akan menjadikan sulit untuk berjalan. Sedangkan pada mata dapat menyebabkan kebutaan atau retinopati.

7. Pengendalian hipertensi

  Hipertensi merupakan salah satu faktor resiko timbulnya penyakit kardiovaskuler atau komplikasi organ lainya, untuk itu diperlukan upaya pengendalian yang bertujuan mencegah terjadinya komplikasi dan meningkatkan kualitas hidup serta memperpanjang lama hidup penderita hipertensi. Dengan mengendalikan tekanan darah, angka mortalitas dan morbiditas dapat diturunkan. Pengendalian hipertensi dibedakan dalam dua jenis penatalaksanaan, diantaranya:

  a. Farmakologis Menurut Divine (2012) beberapa obat farmakologi yang dianjurkan untuk penderita hipertensi yaitu:

  1) Diuretik Jenis obat ini adalah obat yang mempengaruhi ginjal. Kadar garam di dalam tubuh dikeluarkan bersamaan dengan zat cair yang ditahan oleh garam. Biasanya tidak ada efek samping yang mengganggu, tetapi efek tambahan dari diuretik adalah tidak saja garam yang dikeluarkan dari tubuh, tetapi zat penting seperti kalium juga ikut keluar.

  2) Alpha, beta, dan alpha-beta adrenergic blocker Obat-obatan ini bekerja menghalangi pengaruh bahan-bahan kimia tertentu dalam tubuh, juga dapat membuat jantung berdetak lebih lambat dan tidak begitu keras dalam memompa. 3) Inhibitor ACE (Angiostensin Corverting Enzym)

  Inhibitor ACE membantu mengendurkan pembuluh darah dengan menghalangi pembentukan bahan kimia alamiah dalam tubuh yang disebut angiostensin II. 4) Calcium Chanel Blocker

  Obat ini membantu mengendurkan pembuluh darah dan mengurangi aliran darah. Pengaruh penurunan tekanan darah dari obat ini bisa singkat, bisa juga lama. Penurunan singkat tidak direkomendasikan pada tekanan darah tinggi, sebab kontrolnya tidak menentu, dan beberapa laporan mengaitkan dengan pengaruh terhadap jantung yang merugikan.

  Pengobatan modern untuk hipertensi banyak menyembuhkan hipertensi namun pengobatan ini juga memiliki efek samping. Efek samping yang sering timbul adalah sakit kepala, pusing, lemas, dan mual (Susilo & Wulandari, 2011).

  b. Non Farmakologis Perubahan pola hidup sehat merupakan pengobatan non farmakologis yang bertujuan menghilangkan faktor resiko yang dapat memperberat penyakit (Marliani, 2007). Penatalaksanaan non farmakologi misalnya dengan menjalankan pola hidup sehat, menurunkan berat badan sampai batas ideal dengan cara membatasi makan dan mengurangi penggunaan garam, menghentikan pemakaian alkohol dan narkoba, hidup dengan pola yang sehat istirahat yang cukup, berhenti merokok, mengelola stres, melakukan olahraga yang tidak terlalu berat secara teratu ( Susilo & Wulandari, 2011). Disamping menurunkan tekanan darah pada pasien hipertensi, modifikasi gaya hidup juga dapat mengurangi terjadinya kenaikan tekanan darah.

  Modifikasi gaya hidup yang dapat dilakukan diantaranya: 1) Mengatur Pola Makan

  Hipertensi merupakan salah satu penyakit akibat gaya hidup yang buruk, oleh karena itu memerlukan pengaturan komposisi makan. Pengaturan pola makan yang diimbangi dengan olahraga dapat meningkatkan kualitas hidup penderita. Bagi penderita hipertensi selain mengatur asupan kalori yang seimbang dan membatasi asupan garam (natrium klorida), misalnya pada mie instan. Selain itu, makanan yang diawetkan (ikan asin) juga hendaknya dikurangi. Untuk mengurangi tekanan darah dapat dilakukan dengan meningkatkan asupan kalium dalam bentuk suplemen atau sayuran yang mengandung banyak mineral (seledri, kol, jamur, dan kacang-kacangan) (Pattisina, 2006).

  Dengan menurunkan asupan garam diperkirakan akan menurunkan tekanan darah sampai dengan tingkatan yang lebih optimal, sehingga mencegah ribuan kematian akibat CVD (Cardiovascular Disease) dan stroke. Di Inggris diperkirakan pengurangan asupan natrium sebesar 100 mol/ hari akan menyebabkan tekanan darah turun dari 5,0-2,8 mmHg dan mencegah kematian akibat PJK serta 15.000 kmmatian akibat stroke (Brown et al 2009). 2) Meningkatkan aktivitas fisik

  Aktivitas fisik dapat didefinisikan sebagai pergerakan otot yang menggunakan energi. Olahraga adalah salah satu jenis aktivitas fisik yang didefinisikan sebagai aktivitas yang direncanakan dan diberi struktur dimana gerakan bagian tubuh diulang untuk memperoleh kebugaran, misalnya jalan kaki, jogging, berenang, dan aerobik. Secara substansial kegiatan olahraga dengan intensitas sedang lebih baik daripada olahraga dengan intensitas berat, hal tersebut dikarenakan dapat meningkatkan kardiak output dengan sedikit kenaikan tekanan darah. Selain olahraga, kegiatan rumah tangga sehari-hari misalnya menyapu halaman dan lainya juga dapat diklasifikasikan sebagai aktivitas fisik. Aktivitas fisik yang dilakukan merupakan akumulalsi atau total jumlah dari beberapa aktivitas fisik sepanjang hari. Pada dasarnya setiap orang dewasa harus melakukan paling sedikit 30 menit aktivitas fisik dengan intensitas sedang setiap hari (Soeharto, 2004).

  Irmawati (2013), senam lansia terbukti bermanfaat dalam menurunkan tekanan darah bagi lansia penderita hipertensi.

C. Senam Lansia 1. Pengertian

  Olahraga senam sekarang ini banyak sekali macam dan ragamnya yang ada dipergaulan masyarakat, termasuk dalam dunia pendidikan dan Kesehatan. Kelenturan, koordinasi, dan sesuai dengan prinsip latihan. Prinsip latihan yang meliputi : kualitas latihan, frekuensi latihan, interval latihan, lama latihan, kualitas latihan dan variasi latihan (Suroto, 2004).

  Lansia adalah seorang individu laki-laki maupun perempuan yang berumur 60-69 tahun (Nugroho 1999:20; dalam Agustina, 2010).

  Senam lansia adalah serangkaian gerak nada yang teratur dan terarah serta terencana yang diikuti oleh orang lanjut usia dalam bentuk latihan fisik yang berpengaruh terhadap kemampuan fisik lansia. Aktifitas olahraga ini akan membantu tubuh agar tetap bugar dan tetap segar karena melatih tulang tetap kuat, dan membantu menghilangkan radikal bebas yang berkeliaran di dalam tubuh (Widianti & Atikah, 2010).

  Melakukan olahraga seperti senam lansia mampu mendorong jantung bekerja secara optimal, olahraga untuk jantung mampu meningkatkan kebutuhan energi oleh sel, jaringan dan organ tubuh akibat peningkatan tersebut akan meningkatkan aktivitas pernafasan dan otot rangka, dari peningkatan aktivitas pernafasan akan meningkatkan aliran balik vena sehingga menyebabkan peningkatan volume sekuncup yang akan langsung meningkatkan curah jantung sehingga menyebabkan tekanan darah arteri meningkat sedang, setelah tekanan darah arteri meningkat akan terjadi fase istirahat terlebih dahulu, akibat dari fase ini mampu menurunkan aktivitas pernafasan dan otot rangka dan menyebabkan aktivitas saraf simpatis dan epinefrin menurun, namun aktivitas saraf simpatis meningkat, setelah itu akan menyebabkan kecepatan denyut jantung menurun, volume sekuncup menurun, vasodilatasi arteriol vena, karena penurunan ini mengakibatkan penurunan curah jantung dan penurunan resistensi perifer total, sehingga terjadinya penurunan tekanan darah (Sherwood, 2005).

2. Manfaat Senam Lansia

  Menurut Suparto (2000) Senam lansia bermanfaat dalam memperlambat proses penuaan, mengurangi kejadian kegemukan, DM, hipertensi, kelainan otot-otot sendi dan tulang, serta memperbaiki keadaan mental lansia. Sedangkan menurut Darmojo (1999), senam lansia mempunyai manfaat melindungi, yaitu memperbaiki tenaga cadangan dalam fungsinya terhadap bertambahnya tuntutan, misalnya dalam kondisi sakit, dapat digunakan sebagai fungsi rehabilitasi. Pada usia lanjut terjadi penurunan masa otot serta kekuatanya, laju denyut jantung maksimal, toleransi latihan, kapasitas aerobik, dan terjadinya peningkatan lemak tubuh. Dengan melakukan olahraga seperti senam lansia dapat mencegah atau melambatkan kehilangan fungsional tersebut. Bahkan dari berbagai penelitian menunjukan bahwa latihan atau olahraga seperti senam lansia dapat mengeliminasi berbagai resiko penyakit seperti hipertensi, diabetes melitus, penyakit arteri koroner dan terjatuh. Senam lansia membantu tubuh tetap bugar dan segar karena melatih tulang tetap kuat, mendorong jantung bekerja optimal, dan membantu menghilangkan radikal bebas yang berkeliaran di dalam tubuh. Dapat dikatakan bugar, atau dengan kata lain mempunyai kesegaran jasmani yang baik bila jantung dan peredaran darah baik sehingga tubuh seluruhnya dapat menjalankan fungsinya dalam waktu yang cukup lama (Sumosardjuno, 1998; dalam Agustina, E. 2010).

  3. Lamanya senam

  Senam akan bermanfaat untuk kesehatan jasmani jika dilaksanakan dalam zona latihan 15 menit (Maryam, 2008). Sedangkan menurut Murray (1993); dalam Agustina (2010) latihan fisik (senam) lansia sebaiknya dilakukan dalam periode waktu 20-30 menit.

  4. Aspek Fisiologi Senam Lansia

  Respon kimiawi menghasilkan penurunan pH dan kadar , terakumulasinya asam laktat, adenosin dan oleh metabolisme selama otot aktif berkontraksi. Akumulasi zat metabolik ini menyebabkan pembuluh darah mengalami dilatasi yang akan menurunkan tekanan arteri, namun berlangsung sementara karena adanya respon arterial baroreseptor dengan meningkatkan denyut jantung dan isi sekuncup sehingga tekanan darah meningkat (Roni, 2009).

  Tekanan darah yang meningkat akan meningkakan stimulus impuls pada pusat baroreseptor di arteri karotis dan aorta. Impuls ini akan menuju pusat pengendalian kardiovaskuler di medula oblongata melalui neuron sensorik yang akan mempengaruhi kerja saraf simpatis dan melepaskan NE (noreprinephrin dan epinephrin), dan saraf parasimpatis yang akan melepaskan lebih banyak ACH yang mempengaruhi SA node yang akan menurunkan tekanan darah (Guyton, 2001).

5. Teknik dan Cara Senam

  a. Pemanasan (warming up) Gerakan umum (yang dilibatkan sebanyak-banyaknya otot dan sendi) dilakukan secara lambat dan hati-hati. Dilakukan bersama dengan peregangan (stretching). Lamanya kira-kira 8-10 menit. Pada 5 menit terakhir pemanasan dilakukan lebih cepat. Pemanasan dimaksud untuk mengurangi cedera dan mempersiapkan sel-sel tubuh agar dapat turut serta dalam proses metabolisme yang meningkat (Menpora, 2008).

  b. Latihan Inti Tergantung pada komponen/ faktor yang dilatih maka bentuk latihan tergantung pada faktor fisik yang paling buruk. Gerakan senam dilakukan berurutan dan dapat diiringi dengan musik yang disesuaikan dengan gerakan.

  c. Pendinginan (cooling down) Dilakukan secara aktif artinya sehabis latihan inti perlu dilakukan gerakan umum yang ringan sampai suhu tubuh kembali normal yang ditandai dengan pulihnya denyut nadi dan terhentinya keringat. Pendinginan dilakukan seperti pemanasan yaitu selama 8-10 menit.

6. Pengaruh Senam Lansia Terhadap Tekanan Darah

  Prinsip yang penting dalam olahraga untuk mereka yang menderita tekanan darah tinggi ialah melalui dengan olahraga ringan lebih dulu seperti jalan kaki atau senam. Berjalan kaki secara teratur sekitar 30-45 menit setiap hari dan makin lama jalan dapat dipercepat akan menurunkan tekanan darah. Dengan olahraga seperti senam maka sel, jaringan yang membutuhkan peningkatan oksigen dan glukosa untuk membentuk ATP.

  Terkait dengan pembuluh darah maka dapat digambarkan bahwa pembuluh darah mengalami pelebaran (vasodilatasi), serta pembuluh darah yang belum terbuka akan terbuka sehingga aliran darah ke sel, jaringan meningkat (Darmojo, 2006).

D. Senam Aerobik 1. Pengertian Senam Aerobik

  Jika dinyatakan secara sederhana, aerobik berarti “dengan oksigen”. Segala sesuatu yang kita lakukan, setiap gerakan, setiap pemikiran, setiap detak jantung, dan setiap milimeter gerakan saluran pencernaan memerlukan kiriman oksigen ke sel-sel yang sedang bekerja.

  Kita begitu tergantung pada oksigen hingga tanpa oksigen selama lebih dari beberapa menit sel-sel kita akan mati. Banyak sel mempunyai kemampuan menjadi lebih efisien dengan oksigen terkirim dengan cara menyesuaikan dengan beban kerja yang lebih berat (Divine, 2012).

  Menurut Sharkey (2002), aerobik merupakan kapasitas maksimal untuk menghirup, mengeluarkan, dan menggunakan oksigen.

2. Klasifikasi Aerobik

  Menurut Brick (2001); dalam Sumarwan (2013), gerak aerobik dikategorikan menjadi beberapa bagian, diantaranya: 1) Aerobik kursi: aerobik yang dilakukan sambil duduk disebuah kursi.

  Aerobik ini baik digunakan bagi orang yang mempunyai masalah keseimbangan.

  2) Aerobik low impact: gerakan yang membutuhkan sebuah kaki selalu berada di lantai setiap waktu.

  3) Aerobik moderate impact: gerakanya mengangkat tumit tetapi jari kaki tetap dilantai.

  4) Aerobik high impact: gerakanya mengarah pada kaki yang meninggalkan lantai, seperti melompat.

  5) Aerobik dengan dingklik: gerakanya sama dengan low impact, hanya saja menggunakan sebuah dingklik, bangkua tau kursi atau sandaran untuk digunakan gerakan naik turun. 6) Latihan meluncur: latihan gerak menyamping dengan intensitas tinggi yang menyerupai gerakan meluncur.

  Sedangkan menurut Susanto (2008); dalam Rokhmah (2014), Senam aerobik dibagi menjadi dua yaitu : high impact dan low impact.

  Pertama yaitu high impact, untuk orang yang terlatih karena gerakan ini cenderung keras pada waktu melakukan senam, ada saat kedua kaki melayang, sehingga gerakanya berupa gerakan lari, melompat, dan melemparkan kaki, sehingga senam ini tidak cocok untuk penderit hipertensi, karena olahraga yang keras dapat membahayakan penderita hipertensi itu sendiri. Senam aerobik low impact sendiri merupakan senam yang gerakannya ringan, bisa dilakukan siapa saja mulai dari usia anak-anak, dewasa bahkan lansia. Gerakannya ini berupa gerakan- gerakan kaki, seperti jalan di tempat, jalan maju mundur tepuk tangan, serta dikombinasikan dengan gerakan-gerakan tangan dan bahu, sehingga olahraga jenis ini cocok digunakan untuk orang yang menderita penyakit jantung maupun hipertensi.

  3. Tujuan dari Senam Aerobik

  Menurut Dinata (2007), tujuan dari senam aerobik adalah :

  a. Meningkatkan kemampuan jantung dan paru-paru. Gerakan yang dipilih harus mampu menyebabkan denyut nadi meningkat sedemikian rupa ke target atau disebut juga zona latihan.

  b. Pembentukan tubuh. Gerakan yang dipilih harus mengandung kalestenik yang memenuhi tuntutan teknik dan ketentuan anatomis tertentu.

  4. Manfaat Fisiologi dari Senam Aerobik

  Kata lain dari aerobik ialah “oksigen”. Dimana selama kita bergerak akan membutuhkan oksigen untuk bekerja secara optimal.

  Semakin berat aktifitas maka kebutuhan oksigen yang diperlukan akan meningkat juga, sehingga oksigen diperlukan lebih banyak untuk dikirim ke otot-otot seluruh tubuh dan jantung, oksigen yang masuk akan diubah menjadi karbondioksida, kemudian dihembuskan. Saat tubuh berkeringat disitulah terjadi proses pembakaran lemak dan kalori. Latihan aerobik dalam beberapa minggu dapat menurunkan tekanan darah, jantung akan memompa darah lebih banyak untuk mentransfer oksigen pada otot-otot yang sedang bekerja.

  Gerakan aerobik juga dapat menghindari kegemukan pada seluruh tubuh, gerakan aerobik dapat dilakukan dengan intensitas rendah sampai sedang selama 20 menit atau lebih akan membakar lemak, sedangkan pada intensitas tinggi dalam waktu singkat (<20 menit) akan membakar gula dalam tubuh (Brick, 2001; dalam Sumarwan, 2012).

5. Senam Aerobik Low Impact

  Sebenarnya low impact hampir sama dengan aerobik dalam variasi gerakanya. Hanya saja dilakukan dengan irama low atau rendah yaitu lebih lambat. Dengan gerakan-gerakan dasar jalan tidak ada loncatan sama sekali. Manfaat senam ini sama dengan aerobik, untuk menjaga kesehatan jantung dan stamina tubuh, karena sifatnya low, maka senam ini boleh dilakukan siapa saja yang masih mampu melakukanya karena variasi- variasi gerakanya sederhana dan mudah diikuti (Dolmage & Goldstein, 2006).

  Pengertian senam aerobik low impact menurut (Nelly, 2008; dalam Indrawan, 2009) adalah senam aerobik aliran gerakan ringan dengan salah satu kaki tetap menapak pada lantai setiap waktu. Dalam penelitian ini terapi senam aerobik low impact memberikan gerakan senam yang terstruktur, ritmik dengan diiringi musik yang semangat untuk mencapai perbedaan jumlah score pre-test dan post-test pada sampel.

  Sistematik latihan senam aerobik low impact tidak terlepas dari sistematika umum berolahraga yang terdiri dari tiga fase yang terdiri dari ( Anonim, 2012) : a. Pemanasan (warming up) Dalam fase ini dapat menggunakan pola warming up yang didahului dulu kegiatan stretching atau penguluran otot-otot tubuh dengan dilanjutkann dengan gerakan dinamis pemanasan. Pola yang kedua yaitu kebalikan dari pola yang pertama dimana seseorang melakukan pemanasan dinamis dulu kemudian dilanjutkan dengan melakukan kegiatan penguluran otot-otot tubuh atau stretching.

  Kegiatan pemanasan atau warming up ini memiliki tujuan untuk meningkatkan elastisitas otot dan ligament disekitar persendian untuk mengurangi resiko cidera, meningkatkan suhu tubuh dan denyut nadi sehingga mempersiapkan diri agar siap menuju keaktivitas utama yaitu aktivitas latihan.

  Dalam fase ini, pemilihan gerakan harus dilakukan dan dilaksanakan secara sistematis, runtut dan konsisten. Misalnya, apabila gerakan tersebut dimulai dari kepala maka urutannya adalah kepala, lengan, dada, pinggang dan kaki. Begitu pula sebaliknya.

  b. Kegiatan Inti Fase latihan adalah fase utama dari sistematika latihan senam aerobik. Dalam fase ini target latihan haruslah tercapai. Salah satu indikator latihan telah memenuhi target adalah dengan memprediksi bahwa latihan tersebut telah mencapai training zone. Training zone daerah ideal denyut nadi dalam fase latihan. Rentang training zone adalah 60%-90% dari denyut nadi maksimal seseorang (DNM).

  Denyut nadi yang dimiliki oleh setiap orang berbeda tergantung dari tingkat usia seseorang. Berikut ini rumus untuk mencari denyut nadi maksimal seseorang (DNM) : DNM = 220

  • – usia (tahun). Umumnya rumus ini digunakan untuk atlit. Sedangkan rumus menghitung deyut nadi maksimal bagi orang awam atau bukan atlit adalah : SDNM = 200
  • – usia (tahun). Dalam senam aerobik, fase ini dapat dilakuakan dengan aktivitas senam aerobik low impact, moderate impact, hight impact maupun mix impact selama 25-55 menit.

  c. Pendinginan (Cooling down) Pada fase ini hendaknya melakukan dan memilih gerakan- gerakan yang mampu menurunkan frekwensi denyut nadi untuk mendekati denyut nadi yang normal, setidaknya mendekati awal dari latihan. Pemililhan gerakan pendinginan ini harus merupakan gerakan penurunan dari intensitas tinggi ke gerakan intensitas rendah.

  Ditinjau dari segi faal, perubahan dan penurunan intensitas secara bertahap tersebut berguna untuk mengindari penumpukan asam laktat yang akan menyebabkan kelelahan dan bagian tubuh atau otot tertentu.

  Pada gerakan senam aerobik low impact maka salah satu kaki selalu berada dan menapak setiap waktu. Berikut ini adalah gerakan kaki senam aerobik low impact : a. Single step (langkah tunggal) Langkahkan kaki kenan kearah kanan lanjutkan dengan membawa kaki kiri kearah kaki kanan dan menutup langkah

  (hitungan 1 pake angka).

  b. Doble step (Langkah ganda) Langkahkan kaki ke kanan kearah kanan, lanjutkan dengan membawa kaki kiri ke arah kanan dan menutup langkah (hitungan

  1). Lakukan hitungan 1 sekali lagi atau kearah kanan (hitungan 2).

  c. V step (Langkah segitiga) Langkahkan kaki kanan kearah diagonal kanan depan (1), langkahkan kaki kiri kearah diagonal kiri depan (2), bawa kembali kaki kanan ke posisi awal (3) dan bawa kaki kiri kembali ke posisi awal (4).

  d. Berjalan Melangkah maju mundur. Hamper sama dengan doble step, hanya dalam penggunaan langkah kaki kiri tidak menutup langkah ke kaki kanan (pada hitungan 1) melainkan bahwa kaki kiri disisi belakang kaki kanan. Salah satu kaki menapak dilantai, kaki lainnya digunakan untuk mengangkat lutut.

E. Kerangka Teori

  Penatalaksanaan Farmakologis:  Diuretik  Alpha, beta, dan alpha-beta adrenergic blocker  Inhibitor ACE (Angiostensin Hipertensi Primer

  Corverting Enzym )

   Calcium Chanel Blocker

  Faktor Resiko:

  Penatalaksanaan Non Farmakologis: Hipertensi

   Genetik  Mengatur Pola Makan  Jenis Kelamin  Usia  Meningkatkan aktivitas fisik  Obesitas  Asupan Garam  Hiperaktivitas Simpatis  Aktivitas Fisik Tekanan darah

  Hipertensi Sekunder Tekanan darah turun

  Keterangan: = tidak diteliti = diteliti

Gambar 2.1 kerangka teori menurut Divine (2012), Sherwood (2005), Brick (2001).

F. Kerangka Konsep

  

Variabel independen Variabel dependen

Senam lansia Perubahan tekanan darah Senam aerobik low impact

Gambar 2.2 kerangka konsep G.

   Hipotesis

  Saryono (2011) mengatakan hipotesis penelitian sebagai terjemahan dari tujuan penelitian ke dalam dugaan yang jelas. Berdasarkan uraian teorisasi diatas dapat ditarik hipotesis penelitian yaitu “terdapat perbedaan efektifitas senam lansia dan senam aerobik low impact terhadap perubahan tekanan darah pada penderita hipertensi di Baturaden”.

Dokumen baru

Download (29 Halaman)
Gratis

Tags