PENGGUNAAN MASALAH KONTEKSTUAL UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMAHAMI PECAHAN DENGAN PENDEKATAN PMRI DI KELAS V SDK GANJURAN BANTUL

Gratis

0
5
354
7 months ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PENGGUNAAN MASALAH KONTEKSTUAL UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMAHAMI PECAHAN DENGAN PENDEKATAN PMRI DI KELAS V SDK GANJURAN BANTUL SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Oleh: Avi Yanti Ratna Kartikasari NIM: 101134094 JURUSAN ILMU PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014

(2) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PENGGUNAAN MASALAH KONTEKSTUAL UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMAHAMI PECAHAN DENGAN PENDEKATAN PMRI DI KELAS V SDK GANJURAN BANTUL SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Oleh: Avi Yanti Ratna Kartikasari NIM: 101134094 JURUSAN ILMU PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014 i

(3) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ii

(4) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI iii

(5) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI HALAMAN PERSEMBAHAN Karya ini dipersembahkan untuk :  Tuhan YME yang senantiasa memberikan rahmat dan karunia-Nya.  Kedua orang tua terhebat Bapak Suratno dan Ibu Suyanti yang selalu memberi doa, kasih sayang, semangat dan dukungan baik moril maupun materiil.  Adikku Djarot Dwi Seto Afriantoro yang selalu memberi doa dan semangat.  Sahabat dan teman-teman PGSD ‘10 kelas E.  Sahabat dan teman-teman PGSD maupun diluar PGSD.  Almamaterku tercinta. iv

(6) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI MOTTO “Surga itu di bawah telapak kaki ibu” (H.R. Ahmad) Tuhan kamu (Allah) berfirman, “berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku perkenankan bagimu” (Q.S. al-Mu’min/40: 60) Pemenang berkata, “saya harus melakukan sesuatu” Pecundang berkata, “harus ada yang dilakukan” (anonim) “Teman sejati adalah ia yang meraih tangan Anda dan menyentuh hati Anda” (Mahatma Ghandi) “berjanjilah di setiap hari jika lusa akan selalu melakukan yang terbaik” (Anonim) v

(7) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PERNYATAAN KEASLIAN KARYA Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah. Yogyakarta, 10 Juni 2014 Peneliti, Avi Yanti Ratna Kartikasari vi

(8) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma : Nama : Avi Yanti Ratna Kartikasari Nomor Mahasiswa : 101134094 Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul : “PENGGUNAAN MASALAH KONTEKSTUAL UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMAHAMI PECAHAN DENGAN PENDEKATAN PMRI DI KELAS V SDK GANJURAN BANTUL” Demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan atau mengalihkan dalam bentuk lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu ijin dari saya maupun memberikan royalty kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis. Demikian ini pernyataan yang saya buat dengan sebenarnya. Dibuat di Yogyakarta Pada Tanggal: 10 Juni 2014 Yang menyatakan Avi Yanti Ratna Kartikasari vii

(9) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ABSTRAK Avi Yanti Ratna Kartikasari. 2014. Penggunaan Masalah Kontekstual untuk Meningkatkan Kemampuan Memahami Pecahan dengan Pendekatan PMRI di Kelas V SDK Ganjuran Bantul. Skripsi. Yogyakarta: Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Keguruan dan Ilmu pendidikan, Universitas Sanata Dharma. Penelitian ini merupakan jenis Penelitian Tindakan Kelas yang dirancang dalam dua siklus. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan penggunaan masalah kontekstual dapat meningkatkan kemampuan memahami penjumlahan dan pengurangan berbagai bentuk pecahan dengan pendekatan PMRI di kelas V SD Kanisius Ganjuran Bantul. Subjek penelitian adalah siswa kelas V B SDK Ganuran tahun pelajaran 2013/2014 terdiri dari 22 siswa. Metode pengumpulan data melalui tes kemampuan memahami, lembar observasi, pedoman wawancara, dan lembar kuesioner. Hasil instrumen observasi dan wawancara menunjukkan bahwa karakteristik masalah kontekstual dalam PMRI sudah terlaksana dengan ditandai (1) guru memulai pembelajaran dengan mengajukan masalah nyata, (2) masalah nyata yang diceritakan guru membantu siswa mengenali materi dan hubungannya dengan masalah dalam kehidupan nyata, (3) penggunaan media pembelajaran untuk menyelesaikan masalah matematika, (4) masalah nyata dijadikan guru perantara dalam memimbimbing siswa untuk menyimpulkan materi pembelajaran. Data instrumen kuesioner menunjukkan 86% siswa memberikan respon yang baik terhadap pelaksanaan karakteristik masalah kontekstual selama pembelajaran siklus I dan 95, 23% siswa memberikan respon yang baik terhadap pelaksanaan karakteristik masalah kontekstual selama pembelajaran siklus II. Peningkatan kemampuan memahami siswa dilihat dengan mencari persentase siswa yang mencapai skor tuntas pada masing-masing indikator kemampuan memahami. Data penelitian menunjukkan indikator (1) memberikan contoh dari suatu konsep mengalami peningkatan dari kondisi awal 50% menjadi 76% pada akhir siklus. Indikator (2) menyatakan ulang sebuah konsep mengalami peningkatan dari kondisi awal 45% menjadi 80% di akhir siklus. Indikator (3) mengubah suatu bentuk ke bentuk lain mengalami peningkatan dari kondisi awal 40% menjadi 80% diakhir siklus. Indikator (4) melakukan operasi hitung dalam berbagai bentuk mengalami peningkatan dari kondisi awal 40% menjadi 76% diakhir siklus. Data tersebut menunjukkan adanya peningkatan kemampuan memahami yang signifikan antara kondisi awal dan akhir siklus. Kata kunci: masalah kntekstual, pendekatan PMRI, kemampuan memahami, penjumlahan dan pengurangan berbagai bentuk pecahan viii

(10) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ABSTRACT Avi Yanti Ratna Kartikasari. 2014. The use of realistic problem to improve understanding ability of fractions by PMRI approach in 5th grade Kanisius Ganjuran Bantul primary school. Thesis. Yogyakarta: Primary School Teacher Education Study Program, Sanata Dharma University. This research employed class action research what planned be two cycles. The purpose of this research was described the use of realistic problem can improve understanding ability of addition and subtraction various type of fractions by PMRI approach in 5th grade Kanisius Ganjuran Bantul primary school. The subject of this research were 22 students in 5th B grade Kanisius Ganjuran Bantul primary school in the academic year 2013/ 2014. Data collected by understanding ability tes, observation, interview, and kuesioner. Data form observation and interview showed that realistic problem characteristic of PMRI was carried out by (1) lesson started with story about realistic problem in daily by teacher, (2) realistic problem story told by teacher help students to know about lesson and his relations with realistic problem in daily, (3) the used of media to finished problems in mathematics lessons, (4) realistic problem be intermediatery to conclude the lessons by teacher. Data of kuesioner show that 86% students give good responses for realistic problem by PMRI in first cycle and 95, 23% students give good responses for realistic problem by PMRI in second cycle. Increase of student’s understanding ability in sight by search persentase of students who achieve thoroughness score in every indicator of understanding ability. Data of test show that indicator (1) give example form a concept increase from first conditions was 50% to 76% in cycles end. Indicator (2) repeatedly a concept increase from first condition was 45% to 80% in cycles end. Indicator (3) change a type o the other type increase form first condition was 40% to 80% in cycles end. Indicator (4) count arithmetic in various type of fractions increase form first condition was 40% to 76% in cycles end. The data show if understanding ability increase form first condition to end condition. Keywords: realistic problem, PMRI approach, understanding ability, addition and subtraction various type of fractions ix

(11) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PRAKATA Puji dan syukur peneliti panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan hidayah-Nya sehingga peneliti dapat melaksanakan penelitian serta menyelesaikan penulisan skripsi yang berjudul “Penggunaan Masalah Kontekstual untuk Meningkatkan Kemampuan Memahami Pecahan dengan Pendekatan PMRI di Kelas V SDK Ganjuran Bantul”. Skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Peneliti menyadari penulisan skripsi ini tidak akan berhasil tanpa arahan, bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, peneliti menyampaikan ucapan terimakasih kepada: 1. Rohandi, Ph. D., selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan; 2. Gregorius Ari Nugrahanta, S. J., S. S., BST., M. A., selaku Kepala Program Studi PGSD; 3. Dra. Haniek Sri Pratini, M. Pd., selaku pembimbing I yang telah memberikan bimbingan, arahan, dorongan, tenaga, dan pikiran sehingga penulisan skripsi dapat berjalan lancar; 4. Christiyanti Aprinastuti, S. Si., M. Pd., selaku pembimbing II yang telah memberikan pengarahan dan bimbingan dengan penuh kesabaran; 5. HY. Budisantoso. S, Sos selaku kepala sekolah SD Kanisius Ganjuran Bantul atas ijin melaksankan penelitian di SD Kanisius Ganjuran Bantul Yogyakarta; x

(12) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 6. Katarina Dwi Indarti, S. Pd selaku guru mata pelajaran Matematika kelas V B SD Kanisius Ganjuran atas kesediaannya menjadi guru mitra dalam penelitian ini; 7. Siswa kelas V B SD Kanisius Ganjuran yang telah bersedia menjadi subjek penelitian ini; 8. Orangtuaku (Bapak Suratno dan Ibu Suyanti) dan adikku (Djarot Dwi Seto Afriantoro) yang telah memberikan dukungan, semangat, doa, dan kasih sayang kepada peneliti sehingga skripsi ini dapat terselesaikan; 9. Teman-teman PPL (Astri, Sita dan Rudi) SD Kanisius Ganjuran 2010 atas bantuannya dalam pelaksanaan penelitian; 10. Sahabat-sahabatku (Yogi, Anisa, Fitria, Sasa) dan teman seperjuangan satu payung (Ida, Sintia, Lidia, dan Wulan) yang telah membantu dalam karya dan doa untuk menyelesaikan skripsi ini; 11. Teman-teman PGSD’10 Kelas E atas kebersamaan dan keceriannya. 12. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, yang telah memberikan dukungan dan bantuan selama penelitian dan penyusunan skripsi. xi

(13) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Peneliti menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu dengan rendah hati peneliti mengharapkan saran dan kritik yang membangun untuk menyempurnakan penulisan skripsi ini. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi penulis dan pembaca pada umumnya. Yogyakarta, 10 Juni 2014 Peneliti, Avi Yanti Ratna Kartikasari xii

(14) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL ...................................................................................... i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING .......................................... ii HALAMAN PENGESAHAN ........................................................................ iii HALAMAN PERSEMBAHAN .................................................................... iv HALAMAN MOTTO .................................................................................... v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ........................................................ vi PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI......................................... vii ABSTRAK ...................................................................................................... viii ABSTRACT .................................................................................................... ix PRAKATA ...................................................................................................... x DAFTAR ISI ................................................................................................... xiii DAFTAR GAMBAR ...................................................................................... xv DAFTAR TABEL .......................................................................................... xvi DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................. xx BAB I PENDAHULUAN ............................................................................... 1 A. Latar Belakang Masalah ......................................................................... 1 B. Pembatasan Masalah ............................................................................... 7 C. Perumusan Masalah ................................................................................ 8 D. Tujuan Penelitian .................................................................................... 8 E. Manfaat Penelitian ................................................................................. 8 F. Definisi Operasional ............................................................................... 9 BAB II LANDASAN TEORI ........................................................................ 12 A. Kajian Pustaka ........................................................................................ 12 1. Teori-teori yang mendukung ...................................................... 12 2. Penelitian yang relevan ............................................................... 25 B. Kerangka Berpikir .................................................................................. 31 C. Hipotesis Tindakan ................................................................................. 33 xiii

(15) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB III METODE PENELITIAN ............................................................... 34 A. Jenis Penelitian ....................................................................................... 34 B. Setting Penelitian .................................................................................... 35 C. Rencana Tindakan .................................................................................. 36 D. Teknik Pengumpulan Data ..................................................................... 45 E. Instrumen Penelitian ............................................................................... 46 F. Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen................................................. 51 G. Teknik Analisis Data .............................................................................. 63 H. Indikator Keberhasilan dan Pengukuran ................................................. 67 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN .............................. 70 A. B. C. Hasil Penelitian ....................................................................................... 70 1. Pra Siklus Penelitian...................................................................... 70 2. Siklus I........................................................................................... 74 3. Siklus II ......................................................................................... 110 Pembahasan ........................................................................................... 140 1. Kemampuan Memahami ............................................................... 140 2. PMRI karakter masalah kontekstual ............................................. 144 Keterbatasan Penelitian .......................................................................... 152 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ......................................................... 153 A. Kesimpulan ............................................................................................ 153 B. Saran ....................................................................................................... 154 Daftar Referensi ............................................................................................. 156 Lampiran ........................................................................................................ 158 xiv

(16) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Daftar Gambar Halaman Gambar 2.1 Diagram Penelitian yang Relevan ................................................ 30 Gambar A.1DesainPTK oleh Kemmis & Mc Taggart ..................................... 34 xv

(17) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DATAR TABEL Halaman Tabel E.1 Kisi-kisi Tes Kemampuan Memahami Siklus I dan II ....................................... 47 Tabel E.2 Kisi-kisi Wawancara Keterlaksanaan Karakter Masalah Kontekstual dalam PMRI............................................. 49 Tabel E.3 Kisi-kisi Kuesioner Respon Siswa Terhadap Keterlaksanaan Karakter Masalah Kontekstual dalam PMRI............................. 50 Tabel F.1.1 Hasil Skor Penilaian RPP ................................................................................ 53 Tabel F.1.2 Hasil Validasi Tes Kemampuan Memahami Siklus I ...................................... 54 Tabel F.1.3 Hasil Validasi Tes Kemampuan Memahami Siklus II..................................... 55 Tabel F.1.4 Hasil Validasi Lembar Kuesioner .................................................................... 55 Tabel F.1.5 Hasil Validasi Pedoman Wawancara ............................................................... 56 Tabel F.1.6 Penghitungan SPSS 16.0 Tes Kemampuan Memahami siklus I ..................... 57 Tabel F.1.7 Penghitungan SPSS 16.0 Tes Kemampuan Memahami Siklus II ................... 58 Tabel F.2.1 Kriteria Koefisien Reliabilitas ......................................................................... 59 Tabel F.2.2 Hasil Uji Reliabilitas Tes Kemampuan Memahami Siklus I dan II ................ 60 Tabel F.3.1 Indeks Kesukaran ............................................................................................. 60 Tabel F.3.2 Hasil Penghitungan IK per Soal Tes Kemampuan Memahami Siklus I ................................................................................. 61 Tabel F.3.3 Hasil Penghitungan IK per Soal Tes Kemampuan Memahami Siklus II................................................................................ 62 Tabel G.1.1 Skor Tuntas Masing-masing Indikator dalam Tes Kemampuan Memahami Siklus I dan II ............................................................ 63 Tabel G.4.1 PAP Tipe I ....................................................................................................... 66 Tabel G.4.2 Penskoran Data Kuesioner .............................................................................. 67 Tabel H.1 Target Capaian per Indikator Kemampuan Memahami .................................... 68 Tabel 1.1 Daftar Nilai Kelas V B SD Kanisius Ganjuran Materi Pecahan Tahun Ajaran 2012/ 2013..................................... 73 Tabel a.1 Jadwal Pelaksanaan Siklus I................................................................................ 75 Tabel 1.1 Skor Tuntas Tes Kemampuan Memahami Siklus I ............................................ 74 Tabel 2.1 Hasil Tes Kemampuan Memahami Indikator 1 Siklus I ..................................... 83 xvi

(18) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Tabel 2.2 Persentase Ketercapaian Indikator 1 Tes Kemampuan Memahami Siklus I ................................................................................. 83 Tabel 2.3 Hasil Tes Kemampuan Memahami Indikator 2 Siklus I .................................... 84 Tabel 2.4 Persentase Ketercapaian Indikator 2 Tes Kemampuan Memahami Siklus I ................................................................................. 85 Tabel 2.5 Hasil Tes Kemampuan Memahami Indikator 3 Siklus I ..................................... 85 Tabel 2.6Persentase Ketercapaian Indikator 3 Tes Kemampuan Memahami Siklus I ................................................................................. 86 Tabel 2.7 Hasil Tes Kemampuan Memahami Indikator 4 Siklus I ..................................... 86 Tabel 2.8 Persentase Ketercapaian Indikator 4 Tes Kemampuan Memahami Siklus I ................................................................................. 87 Tabel 2.9 Data Observasi Keterlaksanaan PMRI Karakter Masalah Kontekstual Siklus I .......................................... 88 Tabel 2.10 Data Observasi Keterlaksanaan PMRI Karakter Kontribusi Siswa Siklus I ................................................................................................................................ 91 Tabel 2.11 Data Observasi Keterlaksanaan PMRI Karakter Interaktivitas Siklus I ........... 93 Tabel 2.12 Data Observasi Keterlaksanaan PMRI Karakter Pemodelan Siklus I............... 96 Tabel 2.13 Data Observasi Keterlaksanaan PMRI Karakter Intertwining Siklus I ............ 98 Tabel 2.14 Hasil Wawancara Siklus I ................................................................................. 100 Tabel 2.15 Hasil Kuesioner Respon Siswa Terhadap Pelaksanaan Karakteristik Masalah Kontekstual Siklus I ................................................... 102 Tabel 2.16 Hasil Kuesioner Respon Siswa Terhadap Pelaksanaan Karakteristik Kontribusi Siswa Siklus I ......................................................... 103 Tabel 2.17 Hasil Kuesioner Respon Siswa Terhadap Pelaksanaan Karakteristik Masalah Interaktivitas Siklus I ................................................. 104 Tabel 2.18 Hasil Kuesioner Respon Siswa Terhadap Pelaksanaan Karakteristik Pemodelan Siklus I ................................................................... 106 Tabel 2.19 Data Kuesioner Respon Siswa Terhadap Pelaksanaan Karakteristik Intertwining Siklus I ................................................................. 107 Tabel a.1 Jadwal Pelaksanaan Siklus II .............................................................................. 110 Tabel a.2 Skor Tuntas per Indikator Tes Kemampuan Memahami Siklus II ..................... 111 Tabel 2.1 Hasil Tes Kemampuan Memahami Indikator 1 Siklus II ................................... 117 xvii

(19) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Tabel 2.2 Persentase Ketercapaian Indikator 1 Tes Kemampuan Memahami Siklus II................................................................................ 117 Tabel 2.3 Hasil Tes Kemampuan Memahami Indikator 2 Siklus II ................................... 118 Tabel 2.4 Persentase Ketercapian Indikator 2 Tes Kemampuan Memahami Siklus II................................................................................ 119 Tabel 2.5 Hasil Tes Kemampuan Memahami Indikator 3 Siklus II ................................... 119 Tabel 2.6 Persentase Ketercapaian Indikator 3 Tes Kemampuan Memahami Siklus II................................................................................ 120 Tabel 2.7 Hasil Tes Kemampuan Memahami Indikator 4 Siklus II ................................... 120 Tabel 2.8 Persentase Ketercapiaan Indikator 4 Tes Kemampuan Memahami Siklus II................................................................................ 121 Tabel 2.9 Hasil Observasi Keterlaksanaan PMRI Karakter Masalah Kontekstual Siklus II ......................................... 122 Tabel 2.10 Hasil Observasi Keterlaksanaan PMRI Karakter Kontribusi Siswa Siklus II ............................................................................................................................... 124 Tabel 2.11 Hasil Observasi Keterlaksanaan PMRI Karakter Interaktivitas Siklus II ......... 126 Tabel 2.12 Hasil Observasi Keterlaksanaan PMRI Karakter Pemodelan Siklus II ............ 128 Tabel 2.13 Hasil Observasi Keterlaksanaan PMRI Karakter Intertwining Siklus II .......... 129 Tabel 2.14 Hasil Wawancara Siklus II ................................................................................ 131 Tabel 2.15 Hasil Kuesioner Respon Siswa Terhadap Pelaksanaan Karakteristik Masalah Kontekstual Siklus II ...................................................................... 133 Tabel 2.16 Hasil Kuesioner Respon Siswa Terhadap Pelaksanaan Karakteristik Kontribusi Siswa Siklus II ............................................................................ 134 Tabel 2.17 Hasil Kuesioner Respon Siswa Terhadap Pelaksanaan Karakteristik Interaktivitas Siklus II .............................................................. 136 Tabel 2.18 Tabel Hasil Kuesioner Respon Siswa Terhadap Pelaksanaan Karakter Pemodelan Siklus II......................................................................... 137 Tabel 2.19 Hasil Kuesioner Respon Siswa Terhadap Pelaksanaan Karakter Intertwining Siklus II....................................................................... 138 Tabel 1.1 Peningkatan Kemampuan Memahami Akhir Siklus ........................................... 142 Tabel 2.1 Perbedaan Keterlaksanaan Karakter Masalah Kontekstual dalam pembelajaran ............... 148 xviii

(20) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Tabel 2.3 Respon Siswa Terhadap Keterlaksanaan Masalah Kontekstual ........................ 151 xix

(21) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Daftar Lampiran Halaman Lampiran 1. Silabus dan RPP .......................................................................... 159 Lampiran 2. Hasil Expert Judgment................................................................. 235 Lampiran 3. Tes Siklus I .................................................................................. 246 Lampiran 4. Tes Siklus II ................................................................................ 261 Lampiran 5. Observasi ..................................................................................... 282 Lempira 6. Pedoman Wawancara ................................................................... 202 Lampiran 7. Surat Ijin Penelitian .................................................................... 311 Lampiran 8. Surat Keterangan Melakukan Penelitian ..................................... 321 Lampiran 9. Datar Nilai Materi Terkait Kelas V B SD Ganjuran Tahun Ajaran 2012/2013 ........................................ 325 Lampiran 10. Foto .......................................................................................... 327 xx

(22) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pengajaran matematika di Indonesia dimulai sejak tahun 1973 bersamaan dengan pergantian pengajaran berhitung di sekolah dasar menjadi pembelajaran matematika (Hadi, 2005: 1). Penetapan kebijakan tersebut tentunya disertai dengan tujuan yang diharapkan oleh pemerintah. Seperti yang diungkapkan oleh Farah (2009) bahwa pelajaran matematika perlu diberikan kepada semua siswa, hal ini berguna membekali siswa agar dapat berpikir logis, matematis, sistematis, kritis, dan kreatif serta mampu bekerja sama. Selain tujuan pembelajaran matematika tersebut, Niss (1996) dalam Hadi (2005: 3) mengungkapkan tujuan utama pembelajaran matematika di sekolah dasar yaitu untuk membantu setiap individu dalam mengatasi berbagai hal dalam kehidupan, seperti pendidikan, pekerjaan, kehidupan pribadi, kehidupan sosial, dan kehidupan sebagai warga negara melalui sebuah pengetahuan. Menyadari tujuan pembelajaran matematika di sekolah dasar tersebut, dapat dipahami pentingnya pembelajaran matematika di sekolah. Melalui pembelajaran matematika peserta didik didorong dan dibiasakan untuk melakukan penalaran logis, rasional, dan kritis sehingga mereka dapat memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Membiasakan kemampuan-kemampuan tersebut kepada siswa bukan perkara mudah, oleh karena itu pelatihan berbagai kemampuan tersebut dibungkus dalam pembelajaran matematika yang diberikan sedini mungkin kepada 1

(23) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI peserta didik, yaitu pada masa sekolah dasar. Piaget menyatakan bahwa anak usia sekolah dasar (6-12 tahun) berada pada masa operasi konkret dimana anak dapat membentuk operasi-operasi mental atas pengetahuan yang mereka miliki sehingga memungkinkan mereka untuk memecahkan masalah secara logis (Dahlan, 2010). Menyadari hal tersebut alangkah baiknya jika sekolah-sekolah dasar mengoptimalkan pembelajaran matematika untuk peserta didiknya. Tidak cukup hanya memberikan porsi jam pelajaran lebih banyak untuk mata pelajaran matematika saja, tetapi juga harus disertai dengan pengoptimalan proses pembelajaran. Seperti yang diungkapkan Ullya (2010) dalam jurnalnya bahwa pembelajaran matematika juga dituntut lebih mengacu kepada apakah matematika itu, bagaimana cara siswa mempelajari dan kegunaannya serta bagaimana guru mengajarkannya. Berdasarkan hasil observasi hari Kamis tanggal 16 Januari 2014 di kelas V B SD Kanisius Ganjuran pada mata pelajaran matematika materi mengubah pecahan dalam berbagai bentuk, peneliti melihat peserta didik kesulitan untuk memahami penjelasan yang disampaikan guru. Terbukti ketika guru memberikan latihan soal di papan tulis setelah menjelaskan materi kemudian meminta siswa untuk mengerjakan soal tersebut tetapi tidak ada siswa yang maju mengerjakan. Karena tidak ada siswa yang maju, akhirnya guru menunjuk tiga siswa untuk mengerjakan soal-soal di papan tulis tersebut. Ketiga siswa tersebut tidak ada yang maju mengerjakan dan akhirnya guru sendirilah yang menjawab soal tersebut di depan kelas. 2

(24) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Berdasarkan kegiatan observasi tersebut, peneliti melihat guru tidak memberikan apersepsi di awal pembelajaran. Guru tiba di kelas kemudian dilanjutkan do’a dan segera meminta siswa untuk membuka buku paket sesuai dengan materi yang akan dipelajari. Dalam penyampaian materi pembelajaran, guru menggunakan metode ceramah biasa, dengan harapan siswa duduk, mendengarkan serta mencatat hal penting yang disampaikan oleh guru. Terlihat dari guru yang sering mengingatkan siswa untuk duduk, diam, mendengarkan dan mencatat hal-hal penting serta tidak ragu mengecek catatan siswa dengan berkeliling kelas. Tetapi yang terjadi adalah sebaliknya, peserta didik sibuk dengan kegiatannya sendiri di luar topik pembahasan seperti bermain mobil-mobilan dengan tempat pensil, mengganggu teman yang duduk di sebelahnya atau di depannya, melamun serta tidak memperhatikan ataupun mencatat penjelasan guru. Meskipun guru sering mengingatkan siswa untuk duduk, diam, mendengarkan dan mencatat hal penting, siswa tetap tidak menghiraukan peringatan tersebut. Justru 60% siswa menertawakan teman yang ditegur oleh guru karena ramai sendiri. Guru juga tidak ragu mengancam siswa akan dikeluarkan dari kelas jika masih sibuk dengan kegiatannya sendiri. Ancaman tersebut hanya berlaku kurang dari 15 menit, setelah itu beberapa siswa mulai ramai lagi. Selama pembelajaran berlangsung hanya 45% siswa yang terlihat mengikuti pelajaran dengan baik. Hasil wawancara dengan guru pengampu Matematika kelas V B SD Kanisius Ganjuran tanggal 16 Januari 2014 menggambarkan bahwa kemampuan memahami pelajaran matematika peserta didik tergolong lemah. 3

(25) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Beliau mengatakan, “meskipun sudah dijelaskan berkali-kali, tetapi hanya 6 dari 22 siswa saja yang dapat mengerti apa yang saya jelaskan”. Guru juga menyertakan alasan tidak menggunakan media dalam pembelajaran karena siswa lebih tertarik untuk bermain dengan media tersebut di luar kegunaannya sebagai media belajar dan semakin tidak mau mendengarkan penjelasan guru. Terlebih lagi pembelajaran formal di sekolah memiliki batasan waktu untuk setiap materinya. Guru beranggapan jika harus menggunakan model pembelajaran lain yang lebih inovatif akan memakan waktu lebih lama. Mengingat tujuan awal pembelajaran matematika adalah untuk membekali siswa agar dapat berpikir logis, matematis, sistematis, kritis, dan kreatif serta mampu bekerjasama dalam mengatasi berbagai persoalan dalam kehidupan, seperti pendidikan, pekerjaan, kehidupan pribadi, kehidupan sosial, dan kehidupan sebagai warga negara, maka sangat disayangkan jika mata pelajaran matematika di sekolah dasar tidak dimanfaatkan sebaik mungkin. Terlebih banyak fenomena atau kejadian di sekitar siswa yang sangat dekat dengan dunia matematika, seperti berhitung, mengukur, menaksir, dll. Berdasarkan wawancara dengan guru pengampu mata pelajaran matematika, guru tersebut mengakui bahwa materi pecahan selalu menjadi masalah besar bagi peserta didik, dan dirinya sendiri dalam menyampaikan materi tersebut. Hal ini dirasakan guru sejak awal beliau mengajar matematika di SD Kanisius Ganjuran. Padahal pecahan banyak dijumpai siswa dikehidupan sehari-hari, misalnya ketika berbelanja kemudian memperoleh potongan harga. 4

(26) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Jalal (2010: 5) menyatakan, “Pendididikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI) is movement to reform school mathematics education in Indonesia. PMRI reflects the awareness the whole process of developing, designing, and changing in teaching and learning mathematics must be built up”. Berdasarkan penjelasan tersebut diketahui bahwa PMRI merupakan gerakan perubahan di sekolah Indonesia untuk bidang pendidikan matematika. PMRI menunjukkan kesadaran pada proses pengembangan, perancangan, dan perubahan dalam pembelajaran matematika menjadi lebih baik. Hadi (2005) menjelaskan bahwa PMRI merupakan pendekatan pembelajaran yang diadaptasi dari RME (Realistic Matnematics Educations) khusus untuk mata pelajaran matematika dalam rangka mengembangkan daya nalar peserta didik dengan melibatkan mereka dalam proses pembelajaran yang bermakna dengan berangkat dari masalah riil. PMRI berorientai pada siswa, bahwa matematika adalah aktivitas manusia dan matematika harus dihubungkan secara nyata terhadap konteks kehidupan sehari-hari siswa ke pengalaman belajar yang berorientasi pada hal-hal yang riil (Susanto, 2013: 205). Peneliti meyakini dengan pendekatan PMRI dan berangkat dari masalah kontekstual atau nyata di kehidupan siswa, mampu membantu meningkatkan kemampuan memahami siswa. Hasil observasi dan wawancara dengan guru pengampu mata pelajaran matematika di kelas V SD Kanisius Ganjuran menjadi dasar pemilihan masalah kontekstual sebagai fokus karakteristik 5

(27) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI pelaksanaan PMRI. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara diketahui bahwa guru pengampu pelajaran matematika di kelas tersebut tidak memperhatikan masalah kontekstual yang terjadi disekitar siswa. Terlihat bahwa guru tidak memberikan apersepsi diawal pembelajaran, guru tidak menggunakan alat peraga dan media pembelajaran, serta guru menjadi sumber belajar yang utama bagi siswa. Effie (2012) menjelaskan bahwa banyak masalah yang dapat diangkat dari berbagai situasi (konteks) yang dirasakan bermakna sehingga menjadi sumber belajar. Kemampuan memahami menjadi obyek penelitian didasarkan pada hasil wawancara guru dan dokumentasi nilai siswa kelas V dalam mata pelajaran matematika tahun 2012/ 2013. Guru menyatakan bahwa kemampuan memahami siswa rendah, terlihat ketika siswa mempelajari suatu materi pembelajaran siswa tahu langkah yang harus dilakukan. Tetapi setelah beberapa bulan kedepan ketika guru mengulang kembali materi tersebut siswa sudah lupa langkah yang harus dilakukan, bahkan 35% siswa lupa pernah mempelajari materi tersebut. Berdasarkan wawancara tersebut peneliti menyimpulkan bahwa siswa hanya menghafal langkah penyelesaian suatu soal, bukan memahami materi yang disampaikan. Besarkan dokumentasi nilai terlihat bahwa nilai yang dicapai siswa tidak merata, maksudnya beberapa siswa mencapai nilai yang sangat tinggi tetapi banyak siswa yang nilainya sangat rendah. Selain itu terlihat 57, 14% siswa memiliki nilai yang tidak konsisten, nilaiPR dan latihan harian siswa tinggi dan mencapai kkm etapi nilai ulangannya rendah dan tidak mencapai kkm. 6

(28) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Berdasarkan latar belakang yang dipaparkan diatas, maka peneliti berasumsi bahwa kemampuan memahami matematika materi pecahan siswa perlu dikembangkan secara optimal. Oleh karena itu, peneliti melakukan penelitian yang berjudul : “Peggunaan Masalah Kontekstual Untuk Meningkatkan Kemampuan Memahami Pecahan dengan Pendekatan PMRI di SDK Ganjuran Bantul”. Penelitian tindakan ini dilaksanakan di kelas V B SD Kanisius Ganjuran pada materi penjumlahan dan pengurangan berbagai bentuk pecahan. Pemilihan materi pecahan ini berdasarkan hasil wawancara dengan guru pengampu yang menyatakan jika mereka belum pernah menggunakan pendekatan PMRI atau pendekatan pembelajaran lain yang lebih inovatif untuk materi pecahan. B. Pembatasan Masalah Penelitian ini dibatasi pada penggunaan masalah kontekstual dalam meningkatan kemampuan memahami penjumlahan dan pengurangan berbagai bentuk pecahan untuk standar kompetensi “Menggunakan pecahan dalam memecahkan masalah” dan kompetensi dasar “Menjumlahkan dan mengurangkan berbagai bentuk pecahan” kelas V B SD Kanisius Ganjuran Bantul Yogyakarta tahun ajaran 2013/ 2014 dengan pendekatan PMRI. 7

(29) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI C. Perumusan Masalah Berdasarkan penjelasan latar belakang dan pembatasan masalah diatas, maka peneliti merumuskan masalah “Bagaimana penggunaan masalah kontekstual untuk meningkatkan kemampuan memahami penjumlahan dan pengurangan berbagai bentuk pecahan dengan pendekatan PMRI di kelas V B SD Kanisius Ganjuran Bantul tahun ajaran 2013/ 2014?” D. Tujan Penelitian Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah yang telah disusun diatas, maka penelitian memiliki tujuan penelitian, yaitu untuk mendeskripsikan penggunaan masalah kontekstual dapat meningkatkan kemampuan memahami penjumlahan dan pengurangan berbagai bentuk pecahan dengan pendekatan PMRI di kelas V SD Kanisius Ganjuran Bantul Yogyakarta tahun ajaran 2013/ 2014. E. Manfaat Penelitian Sub bab ini memaparkan manfaat yang diharapkan oleh peneliti setelah pelaksanaan penelitian dan penulisan laporan penelitian ini. Manfaat yang diharapkan adalah: 1. Manfaat Secara Teoritis Hasil penelitian dapat menambah pengetahuan tentang penerapan PMRI karakteristik masalah kontekstual dalam meningkatkan kemampuan memahami penjumlahan dan pengurangan berbagai bentuk pecahan untuk siswa kelas V SD 8

(30) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2. Manfaat Secara Praktis a. Bagi Responden 1) Bagi guru Sebagai refleksi dalam proses belajar mengajar khususnya pada mata pelajaran matematika. 2) Bagi sekolah Sebagai sumber pengajaran baru untuk meningkatkan kemampuan memahami siswa khususnya konsep pecahan pada pembelajaran matematika. b. Bagi Pembaca Pembaca lebih mengenal PMRI karakteristik masalah kontekstual serta aplikasinya dalam proses pembelajaran di lapangan. c. Bagi Universitas Menambah wawasan atau informasi berupa tulisan yang dapat dijadikan tambahan informasi dalam materi terkait. d. Bagi Peneliti Lain Menambah wawasan atau informasi berupa tulisan yang dapat dijadikan tambahan informasi dengan materi terkait. F. Definisi Operasional Sub bab ini memaparkan batasan pengertian untuk masing-masing teori yang terkait dengan penelitian ini. Peneliti mencantumkan lima teori yaitu kemampuan memahami, pembelajaran 9 matematika, PMRI, masalah

(31) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI kontekstal dan pecahan. Adapun penjelasan untuk masing-masing teori sebagai berikut. 1. Kemampuan memahami adalah hasil dari proses pembelajaran dimana pembelajar dapat menerima dan menguasai informasi yang diperoleh sebagai materi pembelajaran. Indikator kemampuan memahami, yaitu: memberi contoh dari suatu konsep, menyatakan ulang sebuah konsep, mengubah suatu bentuk ke bentuk lain, dan melakukan operasi hitung dalam berbagai bentuk. 2. Pembelajaran matematika adalah interaksi dua arah antara guru dan siswa yang sengaja diciptakan oleh guru sebagai pendidik dalam sebuah kegiatan terprogram guna mendorong siswa sebagai pembelajar untuk melakukan penalaran baik secara deduktif maupun induktif sehingga siswa mencapai satu pemikiran untuk menyelesaikan masalah abstrak melalui pola pemikiran logis, analitis, sistematis, dan kritis serta sebagai dasar pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi lain. 3. Pendidikan Matematika Realistik Indonesia adalah pendekatan pembelajaran yang diadaptasi oleh Indonesia dari Realistic Mathematics Educations (RME) dimana proses belajar matematika berangkat dari masalah-masalah nyata disekitar siswa agar siswa dapat telibat aktif selama pembelajaran demi mendorong siswa membangun pengetahuannya sendiri dari informasi-informasi yang diperolehnya selama proses belajar. 4. Masalah kontekstual adalah fenomena atau kejadian nyata yang terjadi di sekitar siswa dan dekat dengan mereka sehingga dari kejadian atau 10

(32) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI fenomena tersebut dapat menjembatani sesuatu yang abstrak menjadi lebih konkret. 5. Pecahan adalah bilangan rasional yang merupakan bagian dari satu bilangan utuh yang dinyatakan dengan dengan syarat a dan b adalah bilangan bulat, b ≠ 0, dan b bukan faktor dari a. 11

(33) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB II LANDASAN TEORI A. Kajian Pustaka Sub bab ini memaparkan berbagai teori dan penelitan sebelumnya yang relevan dan mendukung pelaksanaan penelitian ini. Teori dan penelitian relevan dengan penelitian ini adalah sebagai berikut. 1. Teori-teori yang Mendukung Berikut merupakan enam teori yang mendukung penelitian yaitu karakteristik siswa SD, kemampuan memahami, pembelajaran matematika, PMRI, masalah kontekstual dalam PMRI, penjumlahan dan pengurangan berbagai bentuk pecahan. a. Karakteristik Siswa SD Anak memasuki dunia sekolah dasar biasanya ketika usia 6-12 tahun dan berdasarkan tahapan perkembangan kognitif menurut Piaget anak berada pada periode operasi konkret, yaitu masa berakhirnya berfikir khayal (imajinatif) dan mulai berfikir konkret dengan beberapa karakteristik yang ditunjukkan anak seperti sudah dapat membentuk operasi-operasi mental atas pengetahuan yang mereka miliki. Mereka dapat menambah, mengurangi, dan mengubah. Operasi ini memungkinkan mereka untuk dapat memecahkan masalah secara logis. Djawad Dahlan dalam buku “Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja” (2010: 24-26) membagi anak usia sekolah dasar (6-12 12

(34) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI tahun) dalam dua tahapan, yaitu masa kelas rendah sekolah dasar (6 9 atau 10 tahun) dan masa kelas atas sekolah dasar (9 - 12 tahun). Masa kelas rendah di sekolah dasar ditandai dengan beberapa sifat anak, yaitu (a) adanya hubungan yang positif antara keadaan jasmani dengan prestasi belajar, apabila keadaan jasmaninya baik maka banyak prestasi belajar yang dicapai (2) tunduk pada peraturan-peraturan permainan tradisional (3) suka membandingbandingkan dirinya dengan teman lain serta cenderungan memuji diri sendiri (4) apabila tidak berhasil menyelesaikan suatu soal, maka soal itu dianggap tidak penting (5) anak menghendaki rapornya mendapatkan nilai baik, tanpa mengingat apakah prestasinya memang pantas diberi nilai baik atau tidak. Masa kelas atas juga menunjukkan beberapa sifat khas, diantaranya yaiu (1) adanya minat terhadap kehidupan praktis seharihari yang konkret (2) amat realistic, ingin mengetahui dan belajar (3) sudah terlihat anak lebih tertarik pada mata pelajaran apa (4) anak memandang nilai rapor sebagai satu-satunya nilai yang tepat untuk melihat prestasi sekolah (5) anak suka membentuk kelompok sebaya. Djawad Dahlan juga menjelaskan bahwa anak usia 6-12 tahun ditandai dengan tiga kemampuan atau kecakapan baru, yaitu mengklasifikasikan (menglompokkan), menyusun, dan mengasosiasikan (menghubungkan atau menghitung) angka-angka atau bilangan. Di samping itu pada akhir masa ini anak sudah memiliki kemampuan memecahkan masalah yang sederhana. 13

(35) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI b. Kemampuan Memahami Istilah pemahaman berasal dari akar kata paham, yang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai pengetahuan banyak, pendapat, aliran, mengerti benar. Adapun istilah pemahaman ini sendiri diartikan dengan proses, cara, perbuatan memahami atau memahamkan. Dalam pembelajaran, pemahaman dimaksudkan sebagai kemampuan siswa untuk dapat mengerti apa yang telah diajarkan oleh guru. Dengan kata lain, pemahaman merupakan hasil dari proses pembelajaran. Serta dapat dipahami pula bahwa pemahaman adalah suatu proses mental terjadinya adaptasi dan transformasi ilmu pengetahuan (Ahmad Susanto, 2013: 208). Kemampuan ini umumnya mendapat penekanan dalam proses belajar mengajar. Siswa dituntut mengerti apa yang diajarkan, mengetahui apa yang sedang dikomunikasikan dan dapat memanfaatkan isinya tanpa keharusan menghubungkan dengan halhal lain. Bentuk soal yang sering digunakan untuk mengukur kemampuan ini adalah pilihan ganda dan uraian (Daryanto, 1997:106). Daryanto juga menjabarkan kemampuan memahami menjadi tiga indikator, yaitu yang pertama menerjemahkan (translation). Menerjemahkan bukan saja pengalihan arti dari bahasa yang satu ke bahasa yang lain. Tetapi juga dari konsepsi abstrak menjadi suatu model, yaitu model simbolik untuk mempermudah orang dalam mempelajarinya. Menginterpretasi (interpretation) lebih luas dari 14

(36) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI menerjemahkan. Ini adalah kemampuan untuk mengenal dan mengerti. Atau sering disebut dengan ide utama suatu komunikasi. Mengekstrapolasi (ekstrapolation) sifatnya lebih tinggi dari menjabarkan dan menginterpretasi. Kata kerja operasional yang dapat dipakai untuk memperhitungkan, mengukur memprakirakan, kemampuan menduga, ini adalah menyimpulkan, meramalkan, membedakan, menentukan, mengisi, dan menarik kesimpulan. Menurut bloom (Tea, 2009) dalam Ahmad Susanto (2013), siswa harus melakukan lima tahapan berikut, yaitu receiving (menerima), responding (menbanding-bandingkan), valuing (menilai), organizing (diatur), dan characterization (penataan nilai). Salami (2010) juga memberikan beberapa indikator siswa dapat dikatakan memahami konsep matematika, yaitu (1) mendefinisikan konsep secara verbal dan tulisan, (2) membuat contoh dan noncontoh penyangkal, (3) mempresentasikan suatu konsep dengan model, (4) mengubah suatu bentuk representasi ke bentuk lain, (5) mengenal berbagai makna dan interpretasi konsep, (6) mengidentifikasi sifatsifat suatu konsep dan mengenal syarat-syarat yang menentukan suatu konsep, serta (7) membandingkan dan membedakan konsepkonsep. Berdasarkan penjabaran kemampuan memahami oleh para ahli, peneliti merumuskan pengertian kemampuan memahami sebagai hasil dari proses pembelajaran dimana pembelajar dapat menerima 15

(37) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI dan menguasai informasi yang diperoleh sebagai materi pembelajaran. Peneliti juga menentukan beberapa indikator untuk kemampuan memahami, diantaranya yaitu memberi contoh dari suatu konsep, menyatakan ulang sebuah konsep, mengubah suatu bentuk ke bentuk lain, dan melakukan operasi hitung dalam berbagai bentuk. c. Pembelajaran Matematika Susanto (2013) menjelaskan pembelajaran merupakan komunikasi dua arah, mengajar dilakukan oleh pihak guru sebagai pendidik, sedangkan belajar dilakukan oleh peserta didik. Belajar tertuju pada kepada apa yang harus dilakukan oleh seseorang sebagai subjek yang menerima pelajaran, sedangkan mengajar berorientasi pada apa yang harus dilakukan oleh guru sebagai pemberi pelajaran. Adapun menurut Dimyanti (2006), pembelajaran adalah kegiatan guru secara terprogram dalam desain instruksional, untuk membuat siswa belajar secara aktif, yang menekankan pada penyediaan sumber belajar. Pembelajaran adalah suatu kondisi yang dengan sengaja diciptakan oleh guru guna membelajarkan siswa (Djamarah, 2002: 43). Berdasarkan penjelasan tentang pembelajaran oleh beberapa ahli dapat disimpulkan bahwa pembelajaran adalah kegiatan atau program yang sengaja diciptakan secara dua arah yang tidak dapat dipisahkan antara guru dan siswa, dimana guru sebagai 16

(38) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI pendidik harus menciptakan kondisi yang mengaktifkan siswa sebagai pembelajar. Matematika berasal dari bahasa Latin, manthanein atau mathema yang berarti “belajar atau hal yang dipelajari,” sedangkan dalam bahasa Belanda, matematika disebut wiskunde atau ilmu pasti, yang kesemuanya berkaitan dengan penalaran (Depdiknas, 2001:7). Unsur utama pekerjaan matematika adalah penalaran deduktif yang bekerja atas dasar asumsi (kebenaran konsistensi). Selain itu, matematika juga bekerja melalui penalaran induktif yang didasarkan fakta dan gejala yang muncul untuk sampai pada pemikiran tertentu. Tetapi perkiraan ini, tetap harus dibuktikan secara deduktif, dengan argumen yang konsisten (Susanto, 2013: 184-185). Matematika menurut Erman Suherman (2003: 253) adalah disiplin ilmu tentang tata cara berfikir dan mengolah logika, baik secara kuantitatif maupun secara kualitatif. Sedangkan Tutik (2008) menjelaskan bahwa matematika adalah kumpulan ide-ide yang bersifat abstrak dengan struktur-struktur deduktif, mempunyai peran yang penting dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Berdasarkan penjelasan beberapa ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa matematika adalah salah satu cabang ilmu pasti yang berisi kumpulan ide abstrak dan berkaitan dengan penalaran baik secara deduktif (berasumsi) maupun induktif (berdasarkan fakta dan gejala yang muncul) untuk mencapai satu pemikiran serta dasar pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi lain. 17

(39) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Berdasarkan beberapa teori yang sudah dikemukakan sebelumnya maka dapat diartikan, pembelajaran matematika adalah interaksi dua arah antara guru dan siswa yang sengaja diciptakan oleh guru sebagai pendidik dalam sebuah kegiatan terprogram guna mendorong siswa sebagai pembelajar untuk melakukan penalaran baik secara deduktif maupun induktif sehingga siswa mencapai satu pemikiran untuk menyelesaikan masalah abstrak melalui pola pemikiran logis, analitis, sistematis, dan kritis serta sebagai dasar pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi lain. d. PMRI Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI) tidak dapat dipisahkan dari institut Freudenthal. Sebuah intitut yang didirikan pada tahun 1971, berada dibawah Utrecht University, Belanda. Nama intitut diambil dari nama pendirinya yaitu Profesor Hans Freudenthal (1950-1990), seorang penulis, pendidik, dan matematikawan berkebangsaan Jerman Belanda (Hadi, 2005:7). Hadi (2005) juga menjelaskan sejak tahun 1971, institut Freudenthal mengembangkan suatu pendekatan teoritis terhadap pembelajaran matematika yang dikenal dengan RME (Realictic Mathematics Eucations). Realistic Mathematics Educations menggabungkan pandangan-pandangan tentang apa itu matematika, bagaimana siswa belajar matematika, dan bagaimana matematika 18

(40) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI harus diajarkan. Kemudian RME diadaptasi oleh Indonesia dan dikenal dengan PMRI. Pendidikan Matematika Realistik Indonesia merupakan salah satu pendekatan pembelajaran matematika yang berorientasi pada siswa, bahwa matematika adalah aktivitas manusia dan matematika harus dihubungkan secara nyata terhadap konteks kehidupan seharihari siswa ke pengalaman belajar yang berorientasi pada hal-hal yang real. Prinsip utama PMRI adalah siswa harus berpartisipasi secara aktif dalam proses pembelajaran karena pengetahuan dan pemahaman siswa harus dibentuk oleh siswa sendiri melalui pengalaman-pengalaman belajar yang mereka alami (Susanto, 2013: 205). Hadi (2005) menegaskan bahwa PMRI merupakan pendekatan pembelajaran yang dikembangkan khusus untuk matematika dalam rangka mengembangkan daya nalar peserta didik dengan melibatkan mereka dalam proses pembelajaran yang bermakna dengan berangkat dari masalah riil. Pendidikan Matematika Realistik Indonesia dapat diartikan sebagai pedekatan pembelajaran yang diadaptasi oleh Indonesia dari RME dalam rangka meningkatkan kamampuan memahami materi matematika peserta didik. Pendekatan PMRI menekankan proses belajar matematika untuk berangkat dari masalah-masalah nyata disekitar siswa agar siswa dapat telibat aktif selama pembelajaran. Hal ini dilakukan demi mendorong siswa untuk membangun 19

(41) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI pengetahuannya sendiri dari informasi-informasi yang diperolehnya selama proses belajar. Suherman (2003) menjelaskan prinsip-prinsip PMRI, yaitu (1) didominasi oleh masalah-masalah konteks, (2) perhatian diberikan kepada pengembangan model-model, situasi, skema, dan symbolsimbol, (3) sumbangan dari para siswa sehingga dapat membuat pembelajaran menjadi konstruktif dan produktif; (4) interaktif sebagai karakteristik dari proses pembelajaran matematika; dan (5) intertwining (membuat jalinan antar topik atau antar pokok bahasan). e. Masalah Kontekstual dalam PMRI Hadi (2005) menyatakan jika dalam PMRI harus dimulai dari sesuatu yang riil sebagai titik awal untuk pengembangan ide dan konsep matematika sehingga siswa dapat terlibat dalam proses pembelajaran secara bermakna. Pengembangan ide dan konsep matematika yang dimulai dari dunia nyata disebut “matematisasi konseptual” (de Lange, 1996 dalam Sutarto Hadi, 2005:20). Masalah matematika tidak secara otomatis menjadi kontekstual hanya dengan menyusunnya dalam bentuk cerita situasi (roth, 1996) atau menyajikannya sebagai soal terapan dalam pendekatan mekanistis (Van den heuvel –panhuizen). Hal yang paling penting dari suatu konteks adalah bahwa konteks harus memunculkan proses matematisasi (Van den Heuvel-panhuizen) serta mendukung pengembanagan pemahaman konseptual siswa dan kemampuan 20

(42) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI untuk mentransfer pengetahuan ke situasi baru yang relevan (finkelstein, 2001). Jadi masalah kontekstual adalah fenomena atau kejadian nyata yang terjadi disekitar siswa dan dekat dengan mereka sehingga dari kejadian atau fenomena tersebut dapat menjembatani sesuatu yang abstrak menjadi lebih konkret. Beberapa hal berikut bisa kita gunakan untuk mengembangkan konteks untuk pembelajaran suatu konsep matematika, yaitu konteks menarik perhatian siswa dan mampu mengembangkan motivasi siswa untuk belajar matematika (de lange 1978), penggunaan konteks dalam PMRI bukan sebagai bentuk aplikasi suatu konsep, melainkan sebagai titik awal pembangunan suatu konsep, konteks tidak melibatkan emosi, memperhatikan pengetahuan awal yang dimiliki oleh siswa, konteks tidak memihak gender. Jalal dalam A Decade Of PMRI In Indonesia, 2010:46 menyebutkan “In fact, we may discern two goalsof context problem: one is to offer the students a motive, the other is to offer them footholds for a solutions strategy”. Dari penjelasan tersebut diketahui bahwa dengan pemanfaatan masalah kontekstual sebagai titik awal pembelajaran maka dapat mencapai dua tujuan, yang pertama sebagai motivasi untuk siswa. Penggunaan masalah kontekstual dapat mendorong rasa ingin tahu siswa akan suatu hal karena anak merasa dekat dengan masalah tersebut. Kedua sebagai bantuan untuk menemukan strategi pemecahan masalah yang dihadapi. 21

(43) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI f. Penjumlahan dan Pengurangan Berbagai Bentuk Pecahan Pecahan adalah suatu bilangan rasional yang menyatakan bagian dari suatu benda yang utuh (Heruman, 2007: 43). Sedangkan Sa’dijah (1998: 148) mendefinisikan bilangan pecahan, yaitu bilangan yang dapat dinyatakan sebagai perbandingan dua bilangan bulat a dan b, ditulis dengan syarat b ≠ 0. Dalam hal ini a disebut pembilang dan b disebut penyebut. Dari dua pengertian tersebut, maka dapat disimpulkan jika pecahan termasuk dalam bilangan rasional yang merupakan bagian dari satu bilangan utuh yang dinyatakan dalam dengan syarat a dan b adalah bilangan bulat, b ≠ 0, dan b bukan faktor dari a. Kismiantini (2008: 33) menjelaskan penjumlahan berhubungan dengan jumlah yang bertambah banyak dan disimbolkan dengan tanda (+). Kismiantini juga menjelaskan bahwa pengurangan berhubungan dengan jumlah yang semakin sedikit dan disimbolkan dengan tanda (-). Berdasarkan penjelasan tersebut, peneliti menyimpulkan bahwa penjumlahan dan pengurangan merupakan bagian dari operasi hitung dalam matematika yang berhubungan dengan jumlah, jika penjumlahan berarti jumlah semakin banyak sedangkan pengurangan berarti jumlah semakin sedikit. Penjumlahan pecahan dapat diartikan dengan operasi hitung matematika yang melibatkan bilangan bulat yang dinyatakan dengan dengan ditandai bertambahnya jumlah bilangan tersebut. Sedangkan pengurangan pecahan dapat diartikan dengan operasi 22

(44) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI hitung matematika yang melibatkan bilangan bulat yang dinyatakan dengan dengan ditandai dengan semakin berkurang atau sedikitnya jumlah bilangan tersebut. Sa’dijah (1998) menyebutkan beberapa bentuk pecahan, yaitu pecahan biasa, pecahan campuran, desimal, dan persen. Pecahan biasa dituliskan dalam bentuk dengan a dan b bilangan cacah dan b ≠ 0. Pecahan biasa adalah bilangan yang terdiri dari pembilang dan penyebut dengan penyebut sebagai bilangan terbagi dan pembilang sebagai bilangan pembagi (Suriani, 2010). Pecahan biasa adalah pecahan yang terdiri dari pembilang dan penyebut (Sukayati, 2003). Berdasarkan penjelasan tersebut maka peneliti menyimpulkan bahwa pecahan biasa merupakan bagian dari bilangan utuh yang dinyatakan dalam bentuk dengan syarat a dan b bilangan cacah dan b ≠ 0, jika b = 0 maka menjadi bilangan tak terdefinisikan serta sebagai pembilang dan b sebagai penyebut. Contoh pecahan biasa diantaranya adalah , , , dan . Sa’dijah (1998: 151) menjelaskan jika pecahan campuran adalah pecahan yang pembilangnya lebih besar dari penyebutnya, sehingga jika disederhanakan akan menghasilkan bentuk bulat dan pecahan. Pecahan campuran adalah salah satu bentuk pecahan yang terdiri dari pembilang, penyebut, dan bilangan utuh (Suriani, 2010). Pecahan campuran adalah pecahan yang terdiri dari bilangan utuh, pembilang dna penyebut dengan pembilang lebih besar dari penyebut (Sukayati, 23

(45) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2003). Berdasarkan penjelasan tersebut, maka peneliti menyimpulkan bahwa pecahan campuran adalah pecahan yang memiliki pembilang, penyebut, dan bilangan utuh dengan syarat pembilang lebih besar dari pada penyebutnya, sehingga jika disederhanakan menghasilkan bentuk bulat dan pecahan biasa serta dituliskan dalam bentuk adalah . Sebagai contoh pecahan campuran =2 . Sa’dijah (1998: 157) menjelaskan bahwa pecahan desimal dapat dituliskan menggunkaan notasi (,) dengan memperhatikan sistem nilai tempat. Pecahan desimal adalah bilangan yang didapat dari hasil pembagian suatu bialangan dengan bilangan kelipatan 10 dan dituliskan dengan notasi koma (Suriani, 2010). Pecahan desimal merupakan pecahan yang penyebutya berbasis sepuluh dan kelipatannya dengan menggunakan notasi koma (,) dalam penulisannya (Sukayati, 2003). Berdasarkan penjelasan tersebut peneliti menyimpulkan bahwa pecahan desimal adalah pecahan yang memiliki penyebut kelipatan 10 serta dituliskan dengan notasi (,) dengan memperhatikan sistem nilai tempatnya. Sebagai contoh dapat ditulis 0,2 dengan memperhatikan sistem nilai tempatnya yaitu (0 X 10) + (2 X )= Sa’dijah (1998: 161) menjelaskan bahwa persen artinya perseratus dan dituliskan dengan notasi (%). Persen adalah bilangan yang didapat dari hasil pembagian suatu bilangan dengan bilangan 24

(46) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 100 dan dituliskan dengan notasi %. Persen artiya perseratus, sehingga nama pecahan biasa yang penyebutnya seratus dapat diartikan dengan nama persen dengan lambing % (Sukayati, 2003). Berdasarkan penjelasan tersebut peneliti menyimpulkan bahwa pecahan persen adalah pecahan yang memiliki penyebut 100 dan dituliskan dengan notasi (%). Sebagai contoh 5% berarti 2. . Penelitian yang Relevan Peneliti menemukan tiga penelitian relevan yang telah dilakukan sebelumnya oleh beberapa peneliti lain. Hasil-hasil penelitian tersebut akan diuraikan di bawah ini. Penelitian yang pertama dilakukan oleh Farah Diba, Zulkardi, dan Trimurti Saleh (2009) yang berjudul Pengembangan Materi Pembelajaran Bilangan Berdasarkan Pendidikan Matematika Realistik Untuk Siswa Kelas V Sekolah Dasar. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan materi pembelajaran matematika pada materi bilangan yang berdasarkan PMR dalam bentuk buku siswa yang valid, praktis, dan mempunyai potensial efek untuk siswa kelas V sekolah dasar. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian pengembangan yang terdiri dari analisis, desain, evaluasi, dan revisi. Pengumpulan data dilakukan dengan cara analisis dokumen, wawancara dan tes. Subjek penelitian adalah siswa kelas 5 C SD Negeri 117 Palembang yang berjumlah 41 orang. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa siswa sangat antusias dan senang dalam belajar, siswa juga memberikan sikap 25

(47) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI positif terhadap pembelajaran matematika yang dilihat dari komentar mereka, serta tes kemampuan mereka yang menunjukkan hasil baik dengan rata-rata 79, 79 dimana 34 siswa (82, 93%) memperoleh nilai ≥ 66. Oleh karena itu, prototype ketiga buku siswa yang didisain menghasilkan materi pembelajaran bilangan yang valid, praktis, dan mempunyai potensial efek untuk siswa kelas V SD Negeri 117 Palembang dan dapat digunakan sebagai salah satu alternative pembelajaran bilangan. Dari penjabaraan di atas dapat dilihat persamaan dan perbedaan dengan penelitian yang akan peneliti lakukan. Persamaan penelitian ini dengan penelitian yang akan peneliti lakukan adalah desain materi pembelajaran menggunakan pendekatan PMRI, subyek penelitian adalah kelas V SD, teknik pengumpulan data menggunakan dokumentasi, wawancara dan tes. Sedangkan perbedaannya terlihat dari tujuan penelitian. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan bahan ajar yang menggnakan pendekatan PMRI, sedangkan penelitian yang dilakukan peneliti bertujuan untuk mendeskripsikan peningkatan kemampuan memahami materi pembelajaran melalui masalah kontekstual dalam pendekatan PMRI. Penelitian kedua berjudul Desain Bahan Ajar Penjumlahan Pecahan Berbasis Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI) Untuk Siswa Kelas IV Sekolah Dasar Negeri 23 Indralaya oleh Ullya, Zulkardi, dan Ratu llma Indra Putri (2010). Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan bahan ajar mengenai pecahan berbasis PMRI untuk kelas 26

(48) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI IV SD N 23 Indralaya dan menjembatani aktivitas berfikir informal ke formal. Penelitian ini menggunakan metode penelitian “design research” dimana peneliti menyusun bahan ajar matematika berbentuk buku (buku siswa dan buku guru). buku tersebut dirancang sesuai pendekatan PMRI tentang penjumlahan pecahan sesuai dengan standar isi pada kurikulum sekolah dasar. Setiap pembelajaran dalam buku dimulai dengan masalah atau soal-soal kontekstual bagi siswa. Setelah diujikan kepada responden, ternyata desain bahan ajar penjumlahan pecahan berbasis PMRI untuk siswa kelas empat sudah dinyatakan baik, dilihat dari hasil ulangan harian siswa dari empat soal yang diberikan untuk 49 responden, ternyata untuk soal nomor satu yang dinyatakan barhasil sebanyak 48 orang (97,96%), soal nomor dua yang dinyatakan berhasil 42 responden (85, 71%), soal nomor 3 yang dinyatakan berhasil sebanyak 32 responden (65,31%), dan soal nomor 4 yang berhasil sebanyak 41 orang 83, 67%). Jika dilihat dari tugas yang diberikan guru ternyata tugas pertama yang tuntas sebanyak 33 orang (67,3%), dan pada pertemuan kedua siswa yang tuntas sebanyak 38 orang (77, 66%), dan pada pertemuan ketiga siswa yang tuntas sebanyak 40 orang (81, 63%), sedangkan untuk pertemuan keempat siswa yang tuntas mencapai 41 orang (83, 67%), kalau dilihat dari empat kali pemberian tugas ternyata ada penigkatan sebesar 20%. Jika dilihat dari proses pembelajaran menggunakan bahan ajar tersebut terlihat aktivitas siswa selama proses pembelajaran berlangsung dari 9 indikator yang diamati termasuk kategori baik ada 8 indikator, satu indikator yang termasuk kategori kurang sekali yaitu indikator nomor 9, 27

(49) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI yaitu perilaku yang tidak relevan dengan KBM seperti bermain, mengganggu teman dan termenung. Berdasarkan penjelasan diatas, dapat disimpulkan persamaan dan perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang akan dilakukan. Persamaannya terletak pada penggunaan masalah kontekstual dalam PMRI untuk menyusun bahan ajar. Persamaan selanjutnya adalah pada materi yang digunakan yaitu materi pecahan. sedangkan perbedaannya terlihat pada tujuan penelitian, tujuan penelitian ini untuk menghasilkan bahan ajar berupa buku siswa dan buku guru sedangkan tujuan penelitian yang dilakukan oleh peneliti untuk mendeskripsikan peningkatan kemampuan memahami materi pembelajaran. Selain itu perbedaan juga terlihat pada subyek penelitian, subyek penelitian ini adalah siswa kelas IV SD sedangkan subyek penelitian yang akan peneliti lakukan adalah siswa kelas V SD. Penelitian ketiga oleh Windha Kartika Kusumaningtyas, Wardono, dan Sugiarto (2012) dengan judul Penerapan PMRI Terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Berbantuan Alat Peraga Materi Pecahan. penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hasil tes belajar peserta didik aspek kemampuan pemecahan masalah dengan pembelajaran PMRI berbantuan alat peraga pada materi pecahan mencapai skor tuntas individu sebesar 60 dan skor utas klasikal 75% serta untuk mengetahui rata-rata hasil tes belajar peserta didik aspek kemampuan pemecahan masalah dengan pembelajaran PMRI berbantua alat peraga pada materi pecahan lebih tinggi dari pada pembelajaran 28

(50) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ekspositori. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil tes belajar peserta didik aspek kemampuan pemecahan masalah dengan pembelajaran PMRI berbantuan alat peraga pada materi pecahan mencapai skor tuntas individu sebesar 60 dan skor tuntas klasikal sebesar 75% serta rata-rata hasil tes belajar peserta didik aspek kemampuan pemecahan masalah dengan pembelajaran PMRI berbantuan alat peraga pada materi pecahan lebih tinggi dari pada dengan pembelajaran ekspositori. Berdasarkan penjabaran pada paragraf sebelumnya dapat dilihat persamaan dan perbedaan antara tiga penelitian yang relevan dengan penelitian yang akan peneliti lakukan. Persamaannya terlihat pada pendekatan yang digunakan yaitu pendekatan PMRI dan materi yang dipilih yaitu pecahan. Perbedaan kedua penelitian terlihat pada variabel penelitian, penelitian ini menggunakan variabel kemampuan pemecahan masalah sedangkan penelitian yang akan peneliti lakukan menggunakan variabel kemampuan memahami. Perbedaan selanjutnya terlihat pada tujuan penelitian, penelitian ini bertujuan untuk melihat hasil belajar sedangkan penelitian yang akan peneliti lakukan bertujuan untuk mendeskripsikan peningkatan kemampuan memahami. 29

(51) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Berdasarkan tiga penelitian yang relevan tersebut, peneliti menyusun diagram penelitian yang relevan seperti berikut. Farah Diba, Zulkardi, dan Trimurti Saleh (2009) Ullya, Zulkardi, dan Ratu llma Indra Putri (2010). Pengembangan Materi Pembelajaran Bilangan Berdasarkan Pendidikan Matematika Realistik Untuk Siswa Kelas V Sekolah Dasar. Desain Bahan Ajar Penjumlahan Pecahan Berbasis Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI) Untuk Siswa Kelas IV Sekolah Dasar Negeri 23 Indralaya oleh ( Jurnal Penelitian) (Jurnal Penelitian) Windha Kartika Kusumaningtyas, Wardono, dan Sugiarto (2012) Penerapan PMRI Terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Berbantuan Alat Peraga Materi Pecahan (Jurnal Penelitian) Penelitian yang dilakukan: PENGGUNAAN MASALAH KONTEKSTUAL UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMAHAMI PECAHAN KELAS V DENGAN PENDEKATAN PMRI SDK GANJURAN BANTUL Gambar 2.1 Diagram Penelitian yang Relevan 30

(52) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI B. Kerangka Berfikir Pembelajaran matematika merupakan mata pelajaran yang penting bagi siswa tingkat sekolah dasar dimana pada masa tersebut anak-anak berada pada fase operasi konkret menurut tahap perkembangan kognitif Piaget. Pada masa tersebut mereka mengalami masa perubahan dari tahap berfikir secara konkret menjadi lebih abstrak serta mulai berfikir untuk memecahkan masalah. Matematika menjadi penting karena melalui pembelajaran matematika siswa dilatih untuk berfikir secara logis, sistematis, kritis, dan kreatif serta bekerja sama. Peneliti beranggapan, jika kemampuankemampuan tersebut dilatih pada masa yang tepat yaitu usia sekolah dasar maka kemampuan yang diharapkan akan berkembang secara optimal. Meyakini hal tersebut, maka peneliti beranggapan bahwa pemahaman siswa terhadap mata pelajaran matematika sangatlah penting untuk dikembangkan agar siswa dapat berfikir secara rasional, sistematis, kritis sekaligus memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Untuk mencapai tujuan tersebut bukan pekerjaan yang mudah, terlihat dari kenyataan dilapangan bahwa matematika justru menjadi momok bagi sebagian besar siswa khususnya siswa sekolah dasar. Jika kita bertanya kepada siswa tentang mata pelajaran yang tidak disukai, sebagian besar akan menjawab matematika dengan berbagai alasan seperti susah, membuat pusing, gurunya galak, dll. Kunci utama meningkatkan kemampuan memahami konsep matematika peserta didik adalah dengan mengajak siswa untuk menyukai matematika terlebih dahulu atau dengan menghilangkan istilah matematika adalah momok 31

(53) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI sekolah dari pikiran siswa. Untuk itu guru perlu memperhatikan pemilihan materi, metode, media, bahan ajar serta komponen belajar lainnya. Salah satu pendekatan pembelajaran yang dapat dipilih untuk memperbaiki sistem pembelajaran matematika sekarang ini adalah PMRI. PMRI merupakan pendekatan pembelajaran matematika realistik yang berangkat dari masalah-masalah disekitar siswa, sehingga dapat dibayangkan pembelajaran dengan pendekatan PMRI akan lebih menekankan pada proses dimana siswa belajar. Pendekatan ini mengajak siswa untuk membangun pengetahuannya sendiri dari informasi-informasi yang mereka peroleh setelah mengalami pengalaman-pengalaman belajar nyata. PMRI berangkat dari masalah nyata disekitar siswa, maka dirasa dengan pendekatan ini siswa dapat terlibat secara langsung di dalam pembelajaran sekaligus lebih nyaman bagi mereka. Kenyamanan belajar matematika bagi siswa akan mendorong siswa untuk menyukai mata pelajaran yang selama ini dianggap sebagai momok sekolah. Siswa yang menyukai matematika akan bersemangat untuk belajar dan mencoba membangun pengetahuan mereka tentang materi matematika yang dipelajari. Pelajaran matematika yang ditekankan pada proses pembelajarannya, diharapkan dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk lebih mengasah kemampuan memahami yang dimiliki. Terlebih siswa sendiri lah yang membangun pengetahuan dari pengalaman belajar mereka. Melalui pengalaman siswa, maka pengetahuan yang dipahami oleh siswa lebih mendalam sekaligus lebih tahan lama. Karena dengan memahami siswa tidak hanya sekedar mengetahui dan menghafal saja. 32

(54) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Pemilihan materi pecahan didasarkan karena pecahan banyak sekali dijumpai atau ditemui siswa dalam kehidupan sehari-hari mereka, misalnya potongan harga saat membeli barang. C. Hipotesis Tindakan Berdasarkan kajian teori, penelitian yang relevan dan kerangka berfikir, maka diajukan rumusan hipotesis tindakan yaitu: “Penggunaan masalah kontekstual dapat meningkatkan kemampuan memahami penjumlahan dan pengurangan berbagai bentuk pecahan dengan pendekatan PMRI di SD Kanisius Ganjuran Bantul”. 33

(55) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Peneliti menggunakan penelitian tindakan kelas model Kemmis & Mc Taggart. PTK model Kemmis & Mc Taggart merupakan pengembangan dari konsep dasar yang diperkenalkan oleh Kurt Lewin (Wijaya Kusumah, 2010:20). Untuk lebih tepatnya, berikut ini adalah bentuk desainnya: Gambar A.1 Desain PTK Model Kemmis & Mc Taggart Gambar A.1 menunjukkan model Kemmis & Mc Taggart menjelaskan jika pada satu perangkat terdiri dari empat komponen, yaitu perencanaan, tindakan dan pengamatan yang dilakukan secara bersamaan serta refleksi diakhir perangkat. Wijaya Kusumah (2010:1) menjelaskan pengertian siklus menurut model ini adalah putaran kegiatan yang teriri dari perencanaan, tindakan, pengamatan dan refleksi. Dari gambar diatas terlihat bahwa di dalamnya terdiri dari dua siklus, namun untuk pelaksanaan sesungguhnya 34

(56) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI jumlah siklus sangat bergantung pada permasalahan yang perlu diselesaikan (Kusumah, 2010:21). B. Setting Penelitian Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di SD Kanisius Ganjuran, Bantul, Yogyakarta. Alasan pemilihan lokasi ini didasarkan pada hasil observasi dan wawancara peneliti di SD Kanisius Ganjuran. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara tersebut diketahui bahwa SD Kanisius Ganjuran mengalami permasalah dalam pembelajaran matematika khususnya materi penjumlahan dan pengurangan berbagai bentuk pecahan yang disampaikan di kelas V. Hal ini diakui guru matematika terjadi setiap tahunnya sejak ia mengajar di SD tersebut. Subyek penelitian adalah siswa kelas V B SD Kanisius Ganjuran. Kelas tersebut terdiri dari 22 siswa. Pemilihan subyek penelitian berdasarkan hasil wawancara dengan guru pengampu mata pelajaran matematika di SD tersebut. Obyek penelitian adalah kemampuan memahami penjumlahan dan pengurangan berbagai bentuk pecahan pada mata pelajaran matematika. Seperti subyek penelitian, pemilihan obyek penelitian juga didasarkan pada hasil wawancara dengan guru pengampu mata pelajaran matematika di kelas V B SD Kanisius Ganjuran. Penelitian ini dilakukan mulai 10 Februari 2014 sampai 14 Maret 2014. Pemilihan waktu ini menyesuaian dengan jadwal SD Kanisius Ganjuran dimana materi pecahan untuk kelas V disampaikan kepada siswa. 35

(57) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI C. Rencana Tindakan Peneliti melakukan dua siklus dalam penelitian ini. Siklus pertama peneliti menekankan materi penjumlahan dan pengurangan pecahan sejenis, sedangkan siklus kedua peneliti menekankan materi penjumlahan dan pengurangan berbagai bentuk pecahan. Untuk lebih jelasnya, berikut dipaparkan rencana tindakan setiap siklus. 1. Persiapan Pada tahap ini peneliti melakukan beberapa kegiatan sebelum memulai penelitin, dantaranya: a. Mengajukan surat izin dari Universitas Sanata Dharma untuk melakukan penelitian di SD Kanisius Ganjuran Bantul. b. Mengajukan permohonan izin observasi kepada SD Kanisius Ganjuran Bantul. c. Melaksanakan observasi di SD Kanisius Ganjuran untuk menemukan masalah yang terjadi di SD tersebut. d. Menganalisis kebutuhan berdasarkan hasil observasi di kelas V B SD Kanisius Ganjuran. e. Mengajukan judul penelitian kepada Dosen sesuai masalah yang ditemukan peneliti di SD Kanisius Ganjuran. f. Menyusun proposal dan lampiran-lampiran untuk keperluan penelitian. g. Melakukan uji validitas dan reliabilitas instrumen penelitian. h. Memperbaiki proposal dan instrumen yang diperlukan untuk penelitian. 36

(58) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2. Rencana Setiap Siklus Penelitian dilaksanakan dalam dua siklus di kelas V B SD Kanisius Ganjuran. Peneliti merancang dua siklus untuk penelitian ini karena keterbatasan waktu untuk materi penjumlahan dan pengurangan berbagai bentuk pecahan di kelas V B SD Kanisius Ganjuran. Materi pembelajaran dibagi menjadi dua siklus karena materi yang luas dalam waktu yang singkat. Selain itu siklus II juga dijadikan peneliti untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan yang terjadi pada siklus I. Siklus I peneliti menekankan pada materi penjumlahan dan pengurangan pecahan sejenis, sedangkan siklus II peneliti menekankan materi penjumlhana dan pengurangan pecahan dalam berbagai bentuk. a. Siklus I Proses pembelajaran sepenuhnya berada ditangan guru pengampu mata pelajaran matematika selaku guru mitra, sedangkan peneliti bertindak sebagai pengamat atau observer dengan beberapa observer lainnya. Peneliti mengajak beberapa peneliti lain sebagai observer untuk menghindari data subyektif. 1) Perencanaan Pada tahap ini peneliti mempersiapkan berbagai keperluan untuk melaksanakan penelitian siklus I, diantaranya sebagai berikut. 1. Menyerahkan proposal penelitian tindakan kelas kepada guru mitra. 37

(59) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2. Mengadakan pertemuan dengan guru mitra untuk menentukan waktu pelaksanaan siklus I dan skor tuntas atau kkm untuk masing-masing indikator kemampuan memahami dan kelompok belajar untuk siswa. 3. Mengadakan pertemuan dengan guru mitra untuk mendiskusikan dan mempelajari instrumen pembelajaran, diantaranya yaitu membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan Lembar Kerja Siswa (LKS), serta instrumen penilaiannya yang sudah disiapkan peneliti sebelumnya. 4. Mempersiapkan media pembelajaran. 2) Tindakan dan Pengamatan Siklus I dilaksanakan dalam tiga kali pertemuan di kelas V B SD Kanisius Ganjuran dan setiap pertemuan berlangsung selama 2 X 35 menit (2 Jp). Pada pertemuan pertama peneliti menekankan pada materi penjumlahan dan pengurangan pecahan biasa dan campuran, pada peremuan kedua peneliti menekankan pada materi penjumlahan dan pengurangan pecahan desimal, sedangkan pada pertemuan ketiga peneliti menekankan pada materi penjumlahan dan pengurangan pecahan persen. A. Kegiatan Awal 1. Orientasi a. Siswa menjawab salam pembuka dari guru. b. Do’a dipimpin oleh salah satu siswa. c. Siswa melakukan presensi dengan bimbingan guru. d. Siswa duduk berdasarkan kelompoknya masing-masing. 38

(60) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2. Apersepsi a. Siswa mendengarkan cerita guru tentang cerita nyata yang terjadi dikehidupan sehari-hari siswa dan mengarah pada materi yang dipelajari. b. Siswa menjawab pertanyaan guru seputar cerita yang baru saja disampaikan guru. c. Salah satu siswa mendemonstrasikan penggunaan alat peraga untuk menyelesaikan soal dalam cerita yang baru saja didengarkan dengan bimbingan guru. 3. Motivasi Siswa menyimak penjelasan guru tentang garis besar pembelajaran dan tujuan pembelajaran. B. Kegiatan Inti 1. Eksplorasi a. Siswa menerima media yang baru saja didemonstrasikan oleh temannya. b. Siswa mengerjakan lembar kegiatan siswa dengan teman sekelompoknya menggunakan media yang baru saja diterima. 2. Elaborasi a. Setiap kelompok mempresentasikan hasil pekerjaannya. b. Kelompok yang tidak maju memberikan tanggapan kepada kelompok presentasi. 39

(61) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3. Konfirmasi a. Siswa menyimpulkan pola penjumlahan dan pengurangan pecahan sejenis dengan bimbingan guru. b. Siswa mengerjkaan soal evaluasi secara individu. C. Kegiatan Akhir a. Siswa menyimpulkan materi yang baru saja dipelajari dengan bimbingan guru. b. Siswa menuliskan refleksi di lembar refleksi. c. Do’a penutup dipimpin oleh salah satu siswa. d. Siswa menjawab salam penutup dari guru. Pengamatan dilakukan oleh peneliti bersama peneliti lain bersamaan dengan pelaksanaan tindakan. Peneliti menggunakan lembar observasi untuk membantu kegiatan observasi selama tindakan berlangsung. Peneliti menggunakan instrumen tes kemampuan memahami untuk melihat peningkatan hasil belajar siswa sekaligus menjawab pertanyaan peneliti. Lembar kuesiner dibagikan kepada siswa setelah selesai mengerjakna tes kemampuan memahami di akhir siklus untuk melihat respon siswa terhadap pelaksanaan tindakan. Selain itu peneliti juga mengadakan wawancara dengan guru mitra untuk melengkapi instrumen keterlaksanaan tindakan. 40 observasi dalam melihat

(62) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3) Refleksi Refleksi dilakukan oleh peneliti melalui analisis data yang diperoleh selama proses pemberian tindakan. Hasil refleksi ini dilakukan untuk melihat hambatan-hambatan yang ditemui selama siklus I berlangsung dan hasil refleksi ini lah yang nantinya dijadikan acuan dalam merencanakan tindakan untuk siklus berikutnya. b. Siklus II Tahapan siklus II secara garis besar sama dengan tahapan pada siklus I. Pemilihan tindakan pada siklus II didasarkan pada hasil dari siklus I, dimana siklus II berusaha memperbaiki kekurangan-kurangan yang masih terjadi pada siklus I agar indikator yang sudah ditetapkan tercapai. 1) Perencanaan Pada tahap ini peneliti mempersiapkan berbagai keperluan untuk melaksanakan penelitian siklus I, diantaranya sebagai berikut. a. Mengadakan pertemuan dengan guru mitra untuk melakukan beberapa perubahan dalam pelkasnaaan tindakan siklus II. b. Mengadakan pertemuan dengan guru mitra untuk menentukan waktu pelaksanaan siklus II dan skor tuntas atau kkm untuk masing-masing indikator kemampuan memahami dan kelompok belajar untuk siswa. c. Mengadakan pertemuan dengan guru mitra untuk mendiskusikan dan mempelajari instrumen pembelajaran, diantaranya yaitu membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan Lembar Kerja Siswa 41

(63) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI (LKS), serta instrumen penilaiannya yang sudah disiapkan peneliti sebelumnya. d. Mempersiapkan media pembelajaran. 2) Tindakan dan Pengamatan Siklus II dilaksanakan dalam tiga kali pertemuan di kelas V B SD Kanisius Ganjuran. Setiap pertemuan dilaksankan selama 2 X 35 menit (2 Jp). Pertemuan pertama peneliti menekankan pada materi penjumlahan berbagai bentuk pecahan, pertemuan kedua peneliti menekankan pada materi pengurangan berbagai bentuk pecahan, sedangkan pertemuan ketiga peneliti menekankan pada materi penjumlahan dna pengurangan berbagai bentuk pecahan. A. Kegiatan Awal 1. 2. Orientasi a. Siswa menjawab salam pembuka dari guru. b. Do’a dipimpin salah satu siswa. c. Siswa melakukan presensi dengan bimbingan guru. d. Siswa duduk dengan kelompoknya masing-masing. Apersepsi a. Siswa mendengarkan cerita guru seputar kisah nyata yang terjadi di sekitar siswa dan mengarah pada materi yang akan dipelajari serta memperhatikan alat peraga yang digunakan guru dalam bercerita. 42

(64) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI b. Siswa menjawab pertanyaan guru seputar cerita yang baru saja didengarkan. 3. Motivasi Siswa menyimak penjelasan guru tentang garis besar pembelajaran dan tujuan pembelajaran. B. Kegiatan Inti 1. Eksplorasi a. Salah satu siswa mendemonstrasikan penggunaan media untuk menjawab pertanyaan seputar cerita yang baru saja didengar dengan bimbingan guru. b. Setiap kelompok mengambil undian. c. Siswa menerima media yang baru saja didemonstrasikan d. Siswa menyelesaikan soal dalam undian menggunakan media yang sudah diberikan bersama teman sekelompoknya. 2. Elaborasi a. Setiap kelompok secara bergantian mempresentasikan hasil pekerjaannya. b. Kelompok yang tidak maju bertugas memberikan tanggapan kepada kelompok presentasi. 3. Konfirmasi Siswa menyimpulkan pola penjumlahan dan pengurangan berbagai bentuk pecahan dengan bimbingan guru. 43

(65) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI C. Kegiatan Akhir 1. Siswa mengerjakan soal evaluasi seacra individu. 2. Siswa menyimpulkan isi pembelajaran dengan bimbingan guru. 3. Siswa menuliskan refleksi pada lembar refleksi. 4. Do’a penutup dipimpin oleh salah satu siswa. 5. Siswa menjawab salam penutup dari guru. Seperti pada siklus I, pengamatan dilakukan peneliti bersamaan dengan proses tindakan berlangsung. Instrumen penelitian seperti lembar observasi, kuesioner dan wawancara sama dengan instrumen yang digunakan pada siklus I, sedangkan instrumen tes siklus II berbeda karena disesuaikan dengan materi yang dipelajari meskipun tidak merubah indikator kemampuan memahami. 3) Refleksi Pada tahap refleksi siklus II peneliti mengolah seluruh data yang diperoleh untuk melihat tingkat keberhasilan dari tindakan yang sudah dilaksanakan.pengolahan data dilakukan sesuai teknik pengolahan data yang sudha direncanakan. Hasil pengolahan data siklus II akan digunakan untuk menentukan tindkaan selanjutnya, siklus akan dilanjutkan pada siklus III atau tidak. Jika semua indikator kemampuan memahami sudah mencapai target maka siklus akan dihentikan. 44

(66) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI D. Teknik Pengumpulan Data Peneliti menggunakan beberapa teknik pengumpulan data, yaitu tes, observasi, wawancara dan kuesioner. Pemilihan teknik tersebut ditujukan agar data yang digunakan untuk menjawab rumusan masalah dalam penelitian ini lebih akurat. Teknik pengumpulan data melalui tes tidak banyak dianjurkan dalam penelitian tindakan, tetapi teknik ini dapat digunakan jika sesuai dengan topik yang akan diteliti (Suparno, 2008:60). Dalam penelitian ini peneliti akan menggunakan instrumen tes esai. Secara ontologi, tes esai adalah salah satu bentuk tes tertulis yang susunannya terdiri atas item-item pertanyaan dimana masing-masing mengandung permasalahan dan menuntut jawaban siswa melalui uraian-uraian kata yang merefleksikan kemampuan berpikir siswa (Sukardi, 2008:94). Nasution (1988) dalam Sugiyono (2011) menyebutkan bahwa observasi adalah dasar semua ilmu pengetahuan. Para ilmuwan hanya bisa bekerja berdasarkan data, yaitu fakta mengenai dunia kenyataan yang diperoleh melalui observasi. Dari observasi, peneliti belajar tentang perilaku dan makna dari perilaku tersebut (Marshall: 1995). Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya (Sugiyono, 2011:192). Pertanyaan atau pernyataan dalam kuesioner dapat berupa pertanyaan atau pernyataan terbuka maupun pertanyaan atau pernyataan tertutup. Seperti yang dikemukakan Chatterji (2003) bahwa kuesioner tertutup digunakan untuk menjaring 45

(67) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI informasi berupa fakta sedangkan kuesioner terbuka digunakan untuk menjaring informasi berupa pendapat, gagasan, pemikiran atau perasaan. Wawancara adalah cara menghimpun bahan-bahan keterangan yang dilaksanakan dengan melakukan tanya jawab lisan secara sepihak, berhadapan muka, dan dengan arah serta tujuan yang telah ditentukan (Annas, 2001: 82). Wawancara yang digunakan peneliti dalam penelitian ini adalah wawancara terpimpin. E. Instrumen Penelitian Tes yang digunakan peneliti adalah tes essay dengan beberapa pertanyaan yang memberikan kebebasan kepada subyek penelitian untuk menjawab dan mengeluarkan gagasannya. Pemilihan tes jenis ini dikarenakan peneliti ingin melihat peningkatan kemampuan memahami subyek terhadap penjumlahan dan pengurangan berbagai bentuk pecahan. Tes kemampuan memahami yang digunakan pada siklus I dan siklus II berbeda. Perbedaan terlihat pada materi yang disampaikan pada masing-masing siklus. Tes kemampuan memahami siklus I dirancang untuk materi penjumlahan dan pengurangan pecahan sejenis. Tes kemampuan memahami siklus II dirancang untuk materi penjumlahan dan pengurangan berbagai bentuk pecahan. Berikut adalah kisi-kisi tes kemampuan memahami yang digunakan peneliti pada siklus I dan siklus II. 46

(68) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Tabel E.1 Kisi-kisi Tes Kemampuan Memahami Siklus I dan II Standar Kompetensi: 5. Menggunakan pecahan dalam pemecahan masalah Kompetensi Dasar: 5.2 Menjumlahkan dan mengurangkan berbagai bentuk pecahan No soal No Indikator Deskriptor Siklus Siklus I II 1 Memberikan a. Siswa mampu mencontohkan 1 1,2 berbagai bentuk pecahan contoh dari suatu konsep b. Siswa mampu menunjukkan penggunaan suatu bentuk pecahan dalam kehidupan sehari-hari. 2 Menyatakan Siswa mampu mendefinisikan 1 1, 2 ulang sebuah konsep berbagai bentuk pecahan konsep melalui ciri-ciri dari pecahan tersebut. 3 Mengubah Siswa mampu mengubah suatu 2, 3 3 suatu bentuk bentuk pecahan kebentuk pecahan ke bentuk yang lain tanpa mengubah nilai lain dari pecahan tersebut. 4 Melakukan a. Siswa mampu melakukan 4, 5, 6 4 (a dan operasi operasi hitung dalam pecahan b), 5(a hitung dalam sejenis. dan b), berbagai b. Siswa mampu menjumlahkan 6 (a dan bentuk beragai bentuk pecahan b), 7(a c. Siswa mampu mengurangkan dan b), beragai bentuk pecahan 8 d. Sisa mampu melakukan operasi hitung campuran dalam berbagai bentuk Tabel E.1 menunjukkan penomoran untuk masing-masing indikator kemampuan memahami penjumlahan dan pengurangan berbagai bentuk pecahan pada tes siklus I dan siklus II. Pada tes siklus I untuk indikator (1) memberikan contoh dari suatu konsep dan indikator (2) menyatakan ulang sebuah konsep berada pada nomor soal 1. Indikator (3) mengubah suatu bentuk ke bentuk lain berada pada nomor soal 2 dan 3. Indikator (4) melakukan operasi hitung dalam berbagai bentuk berada pada nomor soal 4, 5, dan 6. Peda tes siklus II untuk indikator (1) memberikan contoh dari suatu 47

(69) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI konsep dan indikator (2) menyatakan ulang sebuah konsep berada pada nomor soal 1 dan 2. Indikator (3) mengubah suatu bentuk ke bentuk lain berada pada nomor soal 3. Indikator (4) melakukan operasi hitung dalam berbagai bentuk berada pada nomor soal 4(a dan b), 5 (a dan b), 6 (a dan b), 7 (a dan b), dan 8. Observasi yang dilakukan oleh peneliti adalah observasi langsung dimana peneliti akan mengamati secara langsung subyek penelitian. Paul Suparno dalam Riset Tindakan Untuk Pendidik, 2008: 45 menjelaskan bahwa observasi langsung adalah cara yang sangat baik untuk mendapatkan data karena peneliti langsung tahu situasi nyata yang diteliti. Peneliti sebagai pengamat pasif karena proses tindakan sepenuhnya dilaksanakan oleh guru. Lembar observasi yang digunakan peneliti mengutip milik Erni Kurniasih (2008) dalam penelitiannya Pengembangan Perangkat Pembelajaran Yang Mengakomodasi Pemodelan Dalam Menyelesaikan Masalah Penjumlahan Pecahan Dengan Pendekatan PMRI Kelas IV A SD Negeri Adisucipto I. Wawancara yang dilakukan peneliti dengan guru adalah wawancara terstruktur. Wawancara terstruktur adalah teknik wawancara yang menggunkana pedoman wawancara (Sugiyono, 2011:188). Peneliti akan bertatap muka secara langsung dengan guru mitra sebagai nara sumber untuk menggali lebih dalam seputar keterlaksanaan masalah kontekstual dalam PMRI. Pedoman wawancara disusun agar arah pembicaraan tidak menyimpang dari tujuan wawancara karena pertanyaan wawancara dapat berkembang sesuai jawaban yang diberikan guru. Berikut adalah kisi-kisi instrumen wawancara yang digunakan peneliti untuk melihat keterlaksanaan 48

(70) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI karakteristik masalah kontekstual dalam PMRI selama pelaksanaan siklus I dan siklus II. Tabel E.2 Kisi-kisi Wawancara Keterlaksanaan Karakter Masalah Kontekstual dalam PMRI No Indikator No pertanyaan 1 Pembelajaran dimulai dengan memberikan contoh 1, 2 masalah nyata dalam kehidupan sehari-hari siswa. 2 Masalah kontekstual menjembatani pola pikir 3, 4, 5 konkret siswa dengan materi abstrak matematika 3 Pembelajaran menggunakan media nyata 6, 7, 8, 9 4 Masalah nyata dapat memotivasi belajar siswa 10, 11 Tabel E.2 menunjukkan kisi-kisi maising-masing indikator keterlaksanaan karakter masalah kontekstual dalam PMRI pada pedoman wawancara yang digunakan peneliti. Indiaktor (1) pembelajaran dimulai dengan memberikan contoh masalah nyata dalam kehidupan sehari-hari siswa berada pada nomor 1 dan 2. Indikator (2) masalah kontekstual menjembatani pola pikir konkret siswa dengan materi abstrak matematika berada pada nomor 3, 4, dan 5. Indikator (3) pembelajaran menggunakan media nyata berada pada nomor soal 6, 7, 8, dan 9. Indikator (4) masalah nyata dapat memotivasi belajar siswa berada pada nomor soal 10 dan 11. Peneliti menggunakan kuesioner tertutup untuk menjaring informasi dari subjek penelitian. Chatterji (2003) menjelaskan bahwa kuesioner tertutup lazimnya dipakai untuk menjaring informasi berupa fakta. Jawaban yang berisi kemungkinan fakta yang diharapkan itu bisa sudah disediakan atau disajikan sehingga subyek tinggal memilih jawaban yang dianggap paling sesuai dengan keadaan dirinya dengan memberi tanda centang pada alternatif jawaban yang sudah disediakan. Berikut adalah kisi-kisi instrumen kuesioner yang digunakan peneliti untuk melihat respon siswa terhadap pelaksanaan 49

(71) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI karakteristik masalah kontekstual dalam PMRI selama pelaksanaan siklus I dan II. Tabel E.3 Kisi-kisi Kuesioner Respon Siswa Terhadap Keterlaksanaan Karakter Masalah Kontekstual dalam PMRI No Aspek Indikator Nomor item 1 Pembelajaran dimulai Masalah nyata sesuai 1, 2, 3, 4 dengan memberikan dengan pengetahuan contoh masalah nyata siswa dalam kehidupan sehariMasalah nyata sesuai 5, 6, 7, 8 hari siswa dengan pengalaman siswa 2 Masalah kontekstual Pembelajaran 9, 10, 11, 12, membantu siswa menggunakan media 13, 14 memecahkan masalah nyata dalam matematika Masalah nyata 15, 16, 17, menjembatani pola piker 18, 19, 20 konkret siswa dengan materi abstrak matematika 3 Masalah nyata dapat Menumbuhkan rasa 21, 22, 23, memotivasi belajar siswa ingin tahu siswa 24 Menumbuhkan semangat 25 dan 26 belajar siswa Tabel E.3 menunjukkan kisi-kisi kuesioner yang digunakan peneliti untuk melihat respon siswa terhadap pelaksanaan karakter masalah kontekstual dalam PMRI. Kuesioner ini memiliki tiga aspek yang diturunkan lagi menjadi dua indikator untuk maisng-masing aspek. Aspek pertama yaitu pembelajaran dimulai dengan memberikan contoh masalah nyata dalam kehidupan sehari-hari siswa diturunkan menjadi dua indikator. Indikator (1) masalah nyata sesuai dengan pengetahuan siswa berada pada nomor item 1, 2, 3, dan 4. Indikator (2) masalah nyata sesuai dengan pengetahuan siswa berada pada nomor item 5 , 6, 7, dan 8. Aspek kedua adalah masalah kontekstual membantu siswa memecahkan masalah dalam matematika diturunkan menjadi dua indikator. Indikator (1) pembelajaran menggunakan media nyata 50

(72) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI berada pada nomor soal 9, 10, 11, 12, 13, dan 14. Indiaktor (2) masalah nyata menjembatani pola pikir konkret siswa dengan materi abstrak matematika berada pada nomor item 15, 16, 17, 18, 19, dan 20. Aspek ketiga yaitu masalah nyata dapat memotivasi belajar siswa diturunkan menjadi dua indikator. Indikator (1) menumbuhkan rasa ingin tahu berada pada nomor soal 21, 22, 23, dan 24. Indikator (2) menumbuhkan semangat belajar siswa berada pada nomor soal 25 dan 26. berdasarkan item-item kuesioner yang disusun peneliti, dipilih enam item perwakilan masalah kontekstual untuk digabungkan dengan item kuesioner dari empat karakter PMRI yang lain menjadi lembar kuesioner respon siswa terhadap pembelajaran PMRI berkarakter. F. Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen 1. Uji Validitas Sugiyono (2011:168) menyebutkan instrumen yang valid berarti instrumen tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur. Suharsimi Arikunto (1986: 57) menyebutkan bahwa sebenarnya pembicaraan validitas ini bukan ditekankan pada tes itu sendiri tetapi pada hasil pengetesan atau skornya. Sedangkan Purwanto (2008: 114) menjelaskan bahwa validitas berhubugan dengan kemampuan untuk mengukur sesuatu secara tapat yang diinginkan diukur. Sugiyono (2011:169) menyatakan instrumen tes harus memenuhi content validity (validitas isi) dan construct validity (validitas konstruk). 51

(73) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Sedangkan untuk instrumen non tes cukup memenuhi content validity (validitas isi). Validitas isi adalah penguian validitas dilakukan atas isinya untuk memastikan apakah butir soal mengukur secara tepat keadaan yang ingin diukur (Purwanto , 2008: 120). Purwanto juga menjelaskan bahwa validiatas isi dapat dilakkan melalui experts judgment yaitu memintakan pendapat orang-orang yang memiliki kompetensi dalam suatu bidang untuk menilai ketepatan isi butir soal. Sedangkan validitas konstruk adalah pengujian validitas yang dilakukan dengan melihat kesesuaian konstruksi butir yang ditulis dengan kisikisinya (Purwanto, 2008: 127). Instrumen diuji cobakan pada siswa yang sudah menerima materi dan hasilnya dihitung menggunakan rumus korelasi product moment dengan simpangan yang dikemukakan oleh Pearson (Arikunto, 1986: 61). Rumus korelasi product moment adalah sebagai berikut: √ Keterangan: = koefisien korelasi Antara variabel x dan variabel y, dua ̅ variabel lain yang dikorelasikan ( = jumlah perkalian antara x dan y = kuadrat dari x = kuadrat dari y ̅) Peneliti melakukan uji validitas untuk instrumen pembelajaran dan instrumen penelitian. Instrumen pembelajaran meliputi silabus, RPP, Lembar Kegiatan Siswa dan Lembar Kerja Siswa serta penilaian. Sedangkan instrumen penelitian meliputi tes kemampuan memahami siklus I dan siklus II, lembar kuesioner dan pedoman wawancara. Peneliti 52

(74) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI melakukan uji validitas konstruksi (construct validity) dan validitas isi (content validity) untuk instrumen tes kemampuan memahami siklus I dan II. Sedangkan untuk instrumen pembelajaran, lembar kuesioner dan pedoman wawancara, peneliti hanya melakukan uji validitas isi (content validity) melalui experts judgment. Instrumen pembelajaran berisi silabus, RPP, Lambar Kegiatan Siswa, Lembar Kerja Siswa dan penilaian. Peneliti memberikan 4 pilihan skor untuk para ahli, skor 1 berarti sangat perlu perbaikan, 2 berarti perlu perbaikan, 3 berarti baik, dan 4 berarti sangat baik. Hasil dari experts judgment tersebut digunakan untuk mengetahui kelayakan perangkat yang direncanakan. Berikut adalah hasil experts judgment untuk perangkat pembelajaran. Tabel F.1.1 Hasil Skor Penilaian RPP Komponen yang Experts judgment dinilai Dosen Guru 3 4 1 4 4 2 4 3 3 4 3 4 4 4 5 4 4 6 4 4 7 4 4 8 3 4 9 3 4 10 4 4 11 4 4 12 4 4 13 3 4 14 4 4 15 4 4 16 4 4 17 3, 76 3, 88 Rata-rata Rata-rata 3, 82 keseluruhan 53

(75) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Tabel F.1.1 menunjukkan hasil validasi isi melalui experts judgment terhadap perangkat pembelajaran yang digunakan dalam penelitian ini. Experts judgment dilakukan oleh satu orang dosen USD selaku ahli pertama dan satu guru mata pelajaran matematika selaku ahli kedua. Rata-rata skor yang diberikan oleh ahli pertama adalah 3, 76 sedangkan ahli kedua memberikan rata-rata skor 3, 88. Berdasarkan kedua rata-rata skor tersebut, diketahui skor rata-rata dari kedua ahli sebesar 3, 82. Selain skor yang ditunjukkan tersebut, peneliti masih harus melakukan perbaikan pada beberapa bagian insrumen seperti penggunaan bahasa Indonesia dan tata tulis baku. Berikut adalah hasil dari uji validitas isi melalui experts judgment untuk instrumen penelitian yang meliputi tes kemampuan memahami siklus I dan II, lembar kuesioner serta panduan wawancara. Peneliti memberikan 4 pilihan skor kepada para ahli, skor 1 berarti sangat perlu perbaikan, skor 2 berarti perlu perbaikan, 3 berarti baik dan 4 berarti sangat baik. Berikut adalah tabel hasil validasi melalui experts judgment kepada para ahli untuk tes kemampuan memahami siklus II. Tabel F.1.2 Hasil Validasi Tes Kemampuan Memahami Siklus I Komponen yang dinilai Judgment RataExperts rata 1 2 3 4 5 6 7 3 3 3 3 3 3 2 2, 85 Dosen 4 2 4 4 3 3 3 3, 28 Guru 3,60 Rata-rata keseluruhan Tabel F1.2 menunjukkan hasil validasi isi melalui experts judgment kepada para ahli. Ahli yang melakukan validasi untuk instrumen ini adalah dosen USD selaku ahli pertama dan guru matematika selaku ahli kedua. Skor rata-rata hasil validasi oleh dosen adalah 2, 85 sedangkan 54

(76) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI skor rata-rata hasil validasi oleh guru SD adalah 3,28. Berdasarkan kedua skor rata-rata tersebut diketahui rata-rata skor yang diberikan kedua ahli adalah 3, 60. Selain skor yang ditunjukkan tersebut, peneliti harus memperbaiki beberapa bagian tes kemampuan memahami siklus I seperti pemilihan kalimat dalam merumuskan pertanyaan agar mudah dipahami siswa. Tabel F.1.3 Hasil Validasi Tes Kemampuan Memahami Siklus II Komponen yang dinilai Judgment RataExperts rata 1 2 3 4 5 6 7 3 3 3 2 3 3 3 2, 85 Dosen 4 3 4 3 3 3 3 3, 28 Guru 3, 60 Rata-rata keseluruhan Tabel F.1.3 menunjukkan hasil validasi isi melalui experts judgment kepada para ahli. Ahli yang melakukan validasi untuk instrumen ini adalah dosen USD selaku ahli pertama dan guru SD bidang matematika selaku ahli kedua. Skor rata-rata hasil validasi oleh ahli pertama adalah 2, 85 sedangkan skor rata-rata hasil validasi oleh guru SD adalah 3, 28. Berdasarkan dua skor rata-rata tersebut diketahui skor rata-rata keduanya adalah 3, 60. Selain skor yang ditunjukkan tersebut, peneliti masih harus memperbaiki perumusan dalam menyusun pertanyaan dna perintah. Tabel F.1.4 Hasil Validasi Lembar Kuesioner Komponen yang dinilai Judgment RataExperts rata 1 2 3 4 5 6 7 8 3 3 3 3 3 3 3 3 3 Dosen 3 3 4 3 3 3 3 3 3, 12 Dosen 3, 06 Rata-rata keseluruhan Tabel F.1.4 menunjukkan hasil validasi isi melalui experts judgment kepada para ahli. Ahli yang melakukan validasi untuk instrumen ini adalah dua dosen USD. Skor rata-rata hasil validasi ahli pertama adalah 3 55

(77) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI sedangkan skor rata-rata hasil validasi oleh ahli kedua adalah 3, 12. Berdasarkan kedua skor rata-rata tersebut diketahui rata-rata dari kedua ahli adalah 3, 06. Selain skor yang ditunjukkan tersebut, peneliti masih harus melakukan beberapa perbaikan seperti perumusan kalimat item kuesioner agar tidak bermakna ganda. Tabel F.1.5 Hasil Validasi Pedoman Wawancara Komponen yang dinilai Judgment RataExperts rata 1 2 3 4 5 6 7 2 3 3 3 3 3 2 2, 71 Dosen 4 4 3 4 3 4 4 3, 71 Dosen 3 3 2 3 3 3 4 3 Guru 3, 14 Rata-rata keseluruhan Tabel F.1.5 menunjukkan hasil validasi isi melalui experts judgment kepada para ahli. Ahli yang melakukan validasi untuk instrumen ini adalah dua dosen USD selaku ahli pertama dan kedua dan satu orang guru bidang bahasa Indonesia selaku ahli ketiga. Skor rata-rata hasil validasi oleh ahli pertama adalah 2, 71 dan skor rata-rata hasil validasi oleh ahli kedua adalah 3, 71 serta ahli ketiga memberikan skor rata-rata sebesar 3. Berdasarkan ketiga skor rata-rata tersebut diketahui rata-rata skor dari ketiga ahli adalah 3, 14. Selanjutnya peneliti melaksanakan uji validitas konstruk (construct validity) terhadap tes kemampuan memahami siklus I dan II dengan mengujikan instrumen tes kepada siswa kelas VI. Pemilihan siswa untuk uji validasi konstruk (contruct validity) dikarena siswa kelas VI sudah pernah menerima materi yang diujikan. Peneliti menggunakan bantuan SPSS 16.0 untuk menghitung kevalidan item soal baik tes kemampuan memahami siklus I dan siklus II. Kriteria kevalidan item dilihat berdasarkan rhitung yang dinyatakan dalam Pearson Correlation dan rtabel 56

(78) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI yang dinayatakan dalam sig. (2- tailed). Jika rhitung lebih besar dari pada rtabel maka dinyatakan valid. Berikut adalah hasil uji validitas tes kemampuan memahami siklus I. Tabel F.1.6 Penghitungan SPSS 16.0 Tes Kemampuan Memahami siklus I No item Pearson Correlation Sig. (2-tailed) Keputusan 1a 0, 587** 0, 006 Valid 1b 0, 519* 0, 19 Valid 1c 0, 021 0, 931 Tidak valid 2a 0, 606** 0, 005 Valid 2b 0, 481* 0, 032 Valid 3a 0, 508* 0, 022 Valid 3b 0, 456* 0, 043 Valid 3c 0, 305 0, 192 Tidak valid 4 0, 625** 0, 003 Valid 5 0, 597** 0, 005 Valid 6 0, 354 0, 125 Tidak valid Tabel F.1.6 menunjukkan jika nomor soal yang valid adalah 1a. 1b, 2a, 2b, 3a, 3b, 4 dan 5. Nomor-nomor diatas sudah mewakili masingmasing indikator kemampuan memahi yang harus dicapai maka peneliti tidak mengganti dengan soal lain dan menggunakan semua soal valid tersebut dalam tes kemampuan memahami siklus I. Hasil uji coba tes kemampuan memahami siklus II juga menggunakan SPSS 16.0 dengan kriteria kevalidan item dilihat berdasarkan rhitung yang dinyatakan dalam Pearson Correlation dan rtabel yang dinyatakan dalam sig. (2- tailed). Jika rhitung lebih besar dari pada rtabel maka dinyatakan valid. Berikut adalah hasil uji validitas tes kemampuan memahami siklus II. 57

(79) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Tabel F.1.7 Penghitungan SPSS 16.0 Tes Kemampuan Memahami Siklus I No item Pearson Correlation Sig. (2-tailed) Keputusan 1a 0, 598** 0, 005 Valid 1b 0, 619** 0, 004 Valid 1c 0, 732** 0, 000 Valid 2a 0, 291 0, 214 Tidak valid 2b 0, 005 0, 985 Tidak valid 2c 0, 305 0, 190 Tidak valid 3a 0, 568** 0, 009 Valid 3b 0, 692** 0, 001 Valid 3c 0, 76** 0, 000 Valid 4a 0, 771** 0, 000 Valid 4b 0, 833** 0, 000 Valid 5a 0, 726** 0, 000 Valid 5b 0, 772** 0, 000 Valid 6a 0, 613* 0, 004 Valid 6b 0, 683* 0, 001 Valid 7a 0, 459* 0, 042 Valid 7b 0, 156 0, 512 Tidak valid 7c -0, 453* 0, 045 Valid 8a 0, 619** 0, 004 Valid 8b 0, 54 0, 820 Tidak valid 8c 0, 188 0, 428 Tidak valid 8d 0, 066 0, 783 Tidak valid Tabel F.1.7 menunjukkan jika soal-soal yang valid adalah nomor 1a,1b, 1c, 3a, 3b, 3c, 4a, 4b, 5a, 5b, 6a, 6b, 7a, 7c, dan 8a. Nomor-nomor diatas sudah mewakili masing-masing indikator kemampuan memahami yang harus dicapai, maka peneliti tidak mengganti dengan soal lain dan menggunakan semua soal valid untuk tes kemampuan memahami siklus II. 2. Uji Reliabilitas Reliabilitas berkaitan dengan sejauhmana tes yang diberikan ajeg dari waktu ke waktu (Surapranata, 2009:49). Arikunto (1986: 75) menerangkan bahwa reliabilitas 58 berhubungan dengan masalah

(80) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI kepercayaan, suatu tes dapat dikatakan mempunyai taraf kepercayaan yang tinggi jka tes tersebut dapat memberikan hasil yang tetap. Dengan kata lain, reliabilitas dapat terlihat jika suatu soal yang diujikan dari waktu yang berbeda-beda tetapi menunjukkan hasil atau skor yang ajeg. Uji reliabilitas soal uraian tidak dapat dilakukan seperti uji reliabilitas soal obyektif. Seperti yang dikatakan Arikunto (1986: 98) bahwa suatu butir soal urian menghendaki gradualisasi penilaian dan untuk keperluan mencari reliabilitas soal keseluruhan perlu juga dilakukan analisis butir soal seperti halnya soal bentuk obyektif. Skor untuk masing-masing butir soal dcantumkan pada kolom item menurut apa adanya. Rumus yang digunakan adalah rumus Alpha Cronbach. Sukardi (2008: 50) menyatakan bahwa Alpha Cronbach digunakan ketika mengukur tes sikap yang mempunyai item standar pilihan ganda atau dalam bentuk tes esai. Rumus Alpha Cronbach adalah sebagai berikut. ) Keterangan : : reliabilitas yang dicari : jumlah varians skor tiap-tiap item : varians total Berikut ini adalah kualifikasi penghitungan reliabilitas suatu instrumen (Masidjo, 2010: 209). Tabel F.2.1 Kriteria Koefisien Reliabilitas Interval Koefisien Reliabilitas Kualifikasi 0,91 – 1,00 Sangat tinggi 0,71 – 0,90 Tinggi 0,41 – 0,70 Cukup 0,21 – 0,40 Rendah 0 – 0,20 Sangat rendah 59

(81) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Berikut adalah tabel hasil uji reliabilitas tes kemampuan memahami siklus I dan II mengunakan SPSS 16.0. Tabel F.2.2 Hasil Uji Reliabilitas Tes Kemampuan Memahami Siklus I dan II Tes Cronbach Alpha Kualifikasi Siklus I 0, 621 Cukup Siklus II 0, 720 Tinggi Tabel F.2.2 menunjukkan kualifikasi reliabilitas tes kemampuan memahami siklus I dan II. Hasil penghitungan dengan teknik Cronbach Alpha tes kemampuan memahami siklus I sebesar 0, 621 dan termasuk dalam soal yang memiliki tingkat reliabilitas cukup. Hasil penghitungan dengan teknik Cronbach Alpha tes kemampuan memahami siklus II sebesar 0, 720 dan termasuk dalam soal yang memiliki tingkat reliabilitas tinggi. 3. Indeks Kesukaran Indeks kesukaran (IK) dalam penelitian ini didasarkan pada interprestasi indeks kesukaran (IK) sebagaimana dalam tabel berikut (Zainal Arifin, 2011: 292). Tabel F.3.1 Indeks Kesukaran Indeks Kesukaran Interprestasi IK P < 0,30 Sukar 0,31 ≤ P ≤ 0,70 Sedang P > 0,70 Mudah Tabel F.3.1 menunjukkan interval kesukaran suatu item soal. Jika suatu butir soal memiliki indeks kurang dari 0, 30 maka soal tersebut tergolong sukar. Jika suatu butir soal memiliki indeks antara 0, 31 sampai 0, 70 maka soal tersebut tergolong sedang. Sedangkan butir soal yang memiliki indeks lebih dari 0, 70 maka soal tersebut tergolong mudah. 60

(82) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Indeks kesukaran suatu item dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut: IK = Keterangan : IK B = Indeks Kesukaran = Jumlah jawaban yang benar diperoleh siswa dari suatu item N = Kelompok siswa Skor maksimal= Besarnya skor yang dituntut benar yang diperoleh siswa dari suatu item Tabel F.3.2 Hasil Penghitungan IK per Soal Tes Kemampuan Memahami Siklus I No. Item IK Keterangan 1a 0, 66 Sedang 1b 0, 73 Mudah 1c 0, 70 Sedang 2a 0, 66 Sedang 2b 0, 71 Mudah 3a 0, 77 Mudah 3b 0, 80 Mudah 3c 0, 72 Mudah 4 0, 73 Mudah 5 0, 85 Mudah 6 0, 75 Mudah Tabel F.3.2 menunjukkan hasil perhitungan indeks kesukaran untuk tiap butir soal tes kemampuan memahami siklus I dari hasil uji coba pada siswa kelas VI. Dari hasil penghitungan tersebut diketahui tiga dari sebelas butir soal tes kemampuan memahami siklus I berada pada indeks sedang. Butir-butir soal tersebut diantaranya adalah soal nomor 1a, 1c dan 2a. Sedangkan delapan butir soal sisanya berada pada indeks soal mudah. Butir-butir soal tersebut diantaranya adalah soal nomor 1b, 2b, 3a, 3b, 3c, 4, 5, dan 6. 61

(83) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Tabel F.3.3 Hasil Penghitungan IK per Soal Tes Kemampuan Memahami Siklus II No. Item IK Keterangan 1a 0, 57 Sedang 1b 0, 55 Sedang 1c 0, 55 Sedang 2a 0, 66 Sedang 2b 0, 73 Mudah 2c 0, 70 Sedang 3a 0, 80 Mudah 3b 0, 60 Sedang 3c 0, 65 Sedang 4a 0, 75 Mudah 4b 0, 73 Mudah 5a 0, 66 Sedang 5b 0, 73 Mudah 6a 0, 75 Mudah 6b 0, 76 Mudah 7a 0, 76 Mudah 7b 0, 73 Mudah 7c 0, 50 Sedang 8a 0, 72 Mudah 8b 0, 57 Sedang 8c 0, 63 Sedang 8d 0, 59 Sedang Tabel F.3.3 menunjukkan hasil perhitungan indeks kesukaran untuk tiap butir soal tes kemampuan memahami siklus I dari hasil uji coba pada siswa kelas VI. Dari hasil penghitungan tersebut diketahui 12 dari 22 butir soal tes kemampuan memahami siklus II berada pada indeks sedang. Butir-butir soal tersebut diantaranya adalah soal nomor 1a, 1b, 1c, 2a, 2c, 3b, 3c, 5a, 7c, 8b, 8c, dan 8d. Sedangkan 10 butir soal sisanya berada pada indeks soal mudah. Butir-butir soal tersebut diantaranya adalah soal nomor 2b, 3a, 4a, 4b, 5b, 6a, 6b, 7a, 7b, dan 8a. 62

(84) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI G. Teknik Analisis Data Data yang dihasilkan dari instrumen-instrumen yang sudah dirancang selanjutnya diolah dengan cara sebagai berikut. 1. Tes Kemampuan Memahami Peningkatan kemampuan memahami dilihat melalui hasil tes kemampuan memahami dengan membandingkan kondisi awal sebelum pelaksanaan tindakan dengan kondisi akhir setelah pelaksanaan tindakan. Jika siswa dapat mencapai skor tuntas atau kkm yang ditentukan maka siswa dinyatakan tuntas. Ketuntasan dalam memahami materi dilihat berdasarkan masing-masing indikator sehingga setiap indikator memiliki skor tuntas atau kkm yang berbeda. Skor tuntas atau kkm ditentukan berdasarkan tingkat kesulitan masing-masing indikator dan keadaan siswa. Berikut adalah skor tuntas atau kkm yang ditentukan peneliti bersama guru mitra. No 1 2 3 4 Tabel G.1.1 Skor Tuntas Masing-masing Indikator Tes Kemampuan Memahami Siklus I dan II Siklus I Siklus II Indikator Skor Skor Skor Skor maksimal tuntas maksimal tuntas Memberikan contoh dari 4 3 6 5 suatu konsep Menyatakan 4 3 6 4 ulang sebuah konsep Mengubah 10 7 3 2 suatu bentuk ke bentuk lain Melakukan operasi hitung 6 4 31 28 dalam berbagai bentuk 63

(85) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Selanjutnya dilakukan penafsiran klasikal untuk melihat ketercapian target masing-masing indikator kemampuan memahami. Penafsiran klasikal yang dimaksud adalah penafsiran terhadap kelas secara keseluruhan tentang hasil yang mereka capai dalam tes yang kita berikan (Nurkancana, 1983:112). Penafsiran kelas dilakukan peneliti dengan menghitung persentase ketercapian target untuk masing-masing indikator kemampuan memahami. Penghitungan persentase dilakukan dengan rumus sebagai berikut. p 100% Keterangan: p : Persentase yang dicari 2. Observasi Dalam penelitian ini, lembar observasi mengutip lembar observasi Erni Kurniasih dalam penelitian Pengembangan Perangkat Yang Mengakomodasikan Pemodelan Dalam Menyelesaikan Masalah Penjumlahan Pecahan Dengan Pendekatan PMRI Kelas IV A SD Negeri Adisucipto 1. 3. Wawancara Wawancara yang dilakukan bersama guru mitra dituliskan dalam verbatim wawancara. Peneliti mengambil beberapa bagian dari pertanyaan dan jawaban dari guru yang menunjukkan bahwa masalah kontekstual dalam PMRI sudah dilaksanakan dan berpengaruh terhadap 64

(86) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI peningkatan kemampuan memahami materi selama proses pembelajaran berlangsung. 4. Kuesioner Kuesioner respon siswa terdiri dari 30 butir pernyataan seputar respon siswa terhadap keterlaksanaan lima karakteristik PMRI dalam pembelajaran. Setiap karakteristik terdiri dari enam butir item pernyataan dan disertai alternatif jawaban yaitu sangat setuju (SS), setuju (S), tidak setuju (TS), dan sangat tidak setuju (STS). Pernyataan yang diajukan terdiri dari item favorabel dan unfavorabel. Pada pernyataan favorabel jika siswa menjawab sangat setuju maka memperoleh skor 4, jika menjawab setuju maka memperoleh skor 3, jika menjawab tidak setuju maka memperoleh skor 2, dan jika menjawab sangat tidak setuju maka memperoleh skor 1. Pada pernyataan unfavorabel jika siswwa menjawab sangat setuju maka memperoleh skor 1, jika menjawab setuju maka memperoleh skor 2, jika menjawab tidak setuju maka mempeleh skor 3, jika menjawab sangat tidak setuju maka memperoleh skor 4. Data hasil kuesiner tersebut kemudian dikategorikan menggunakan PAP tipe I. Masidjo (1995:153) menyebutkan passing score prestasi belajar dituntut sebesar 65% dari total skor yang seharusnya dicapai, lalu diberi nilai cukup. Untuk nilai diatas dan dibawah cukup diperhitungkan sebagai berikut. 65

(87) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Tabel G.4.1 PAP Tipe I Tingkat Penguasaan Kompetensi Nilai 90% - 100% A 80% - 89% B = 65% - 79% C 55% - 64% D Dibawah 55% E Berdasarkan tabel G.4.1 terlihat skor-skor diubah menjadi nilai-nilai bersimbol huruf dengan acuan presentil maksimal (PAP tipe I). dalam penelitian ini simbol huruf akan diubah menjadi pernyataan sesuai karakteristik PMRI tanpa mengubah acuan presentil maksimal dalam PAP I. Pengolahan data kuesioner pada penelitian dilakukan berdasarkan maising-masing karakteristik PMRI. Oleh karena itu nilai maksimal untuk masing-masing karakteristik adalah 24, sehingga penghitungannya adalah sebagai berikut. 66

(88) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Berdasarkan penghitungan diatas maka dapat ditentukan kriteria untuk batasan skor. Berikut adalah kriteria batasan skor kuesioner yang digunakan. Tabel G.4.2 Penskoran Data Kuesioner Skor Simbol huruf Keterangan Respon siswa terhadap pembelajaran 21-24 A PMRI berkarakter sangat baik 2 Respon siswa terhadap pembelajaran 19-20 B PMRI berkarakter baik 3 Respon siswa terhadap pembelajaran 15-18 C PMRI berkarakter cukup baik 4 Respon siswa terhadap pembelajaran 13-14 D PMRI berkarakter tidak baik 5 Respon siswa terhadap pembelajaran 0-12 E PMRI berkarakter sangat tidak baik Kemudian dilakukan penafsiran klasikal untuk melihat persentase No 1 respon yang diberikan siswa secara keseluruhan untuk masing-masing karakteristik dalam PMRI menggunakan rumus sebagai berikut: p 100% Keterangan: p : Persentase yang dicari H. Indikator Keberhasilan dan Pengukuran Indikator keberhasilan merupakan rumusan kinerja yang dijadikan acuan dalam menentukan keberhasilan atau keefektifan penelitian (Suwandi, 2011: 66-67). Indikator keberhasilan dalam penjelasan yang lainnya adalah tolak ukur keberhasilan penelitian yang dilakukan.Peneliti menggunakan indikator kemampuan memahami dari Salimi (2010) dalam Susanto, 2013: 209. Indikator-indikator Salimi tidak secara mentah digunakan, tetapi terlebih 67

(89) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI dahulu disesuaikan dengan kondisi subyek penelitian, maka diperoleh indikator-indikator siswa dikatakan memahami, yaitu: Tabel H.1 Target Capaian per Indikator Kemampuan Memahami Kondisi Awal Target Capaian Memberika n contoh dari suatu konsep Menyatakan ulang sebuah konsep 50% 75% Siswa mampu memberikan contoh untuk masing-masing bentuk pecahan Tes 45% 70% Tes 3 Mengubah suatu bentuk ke bentuk lain 40% 65% a. Siswa mampu mendefinisikan konsep berbagai bentuk pecahan melalui ciri-ciri dari pecahan tersebut. b. Siswa mampu menunjukkan penggunaan suatu bentuk pecahan dalam kehidupan sehari-hari. Siswa mampu mengubah suatu bentuk pecahan kebentuk pecahan yang lain tanpa mengubah nilai dari pecahan tersebut. 4 Melakukan operasi hitung dalam berbagai bentuk 40% 70% a. Melakukan operasi hitung dalam pecahan sejenis b. Menjumlahkan beragai bentuk pecahan c. Mengurangkan beragai bentuk pecahan d. Melakukan operasi hitung campuran dalam berbagai bentuk Tebel H.1 memaparkan indikator kemampuan memahami yang Tes No Indikator 1 2 Deskriptor digunakan oleh peneliti beserta kondisi awal dan target masing-masing inidkator yang harus dicapai oleh siswa. Indikator pertama adalah 68 Instru ment Tes

(90) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI memberikan contoh dari suatu konsep dengan kondisi awal 50% dari 22 siswa menguasai indikator tersebut dan target yang harus dicapai sebesar 75% dari 22 siswa harus mencapai skor tuntas untuk indikator pertama. Indikator kedua yaitu menyatakan ulang sebuah konsep dengan kondisi awal 45% dari 22 siswa menguasai indikator tersebut dan target yang harus dicapai sebesar 70% siswa harus mencapai skor tuntas untuk indikator kedua. Indikator ketiga adalah mengubah suatu bentuk ke bentuk lain dengan kondisi awal 40% dari 22 siswa menguasai indikator tersebut dan target yang harus dicapai sebesar 65% dari 22 siswa harus mencapai skor tuntas untuk indikator ketiga. Indikator keempat yaitu melakukan operasi hitung dalam berbagai bentuk dengan kondisi awal 40% dari 22 siswa menguasai indikator tersebut dan target yang harus dicapai 65% dari 22 siswa harus mencapai skor tuntas untuk indikator keempat. 69

(91) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian Sub bab ini memaparkan data yang diperoleh selama pelaksanaan penelitian. Data yang diperoleh adalah data pada tahap pra siklus penelitian melalui observasi, wawancara dan dokumentasi serta data yang diperoleh pada pelaksanaan siklus I dan siklus II dari instrumen tes, observasi, wawancara dan kuesioner. 1. Pra Siklus Penelitian Kegiatan pra tindakan kelas diawali dengan mengajukan permohonan izin kepada pihak SD Kanisius Ganjuran. Peneliti menemui kepala sekolah SD Kanisius Ganjuran dan guru pengampu mata pelajaran matematika kelas V SD Kanisius Ganjuran untuk meminta izin melaksanakan observasi di lingkungan SD Kanisius Ganjuran. Setelah memperoleh izin untuk melakukan observasi di SD tersebut, peneliti melakukan observasi mencari permasalahan yang ada di SD tersebut. Selain observasi peneliti juga melakukan wawancara dan dokumentasi. Observasi dilakukan di kelas V B pada mata pelajaran matematika, pemilihan obyek observasi didasarkan hasil wawancara dengan kepala sekolah. Berdasarkan wawancara dengan kepala sekolah tanggal 14 Januari 2014 diketahui bahwa nilai yang dicapai kelas V B lebih rendah dibandingkan kelas V A terutama pada mata pelajaran matematika. Tanggal 16 Januari 2014 peneliti melakukan observasi di kelas V B SD Kanisius Ganjuran pada materi mengubah bentuk pecahan. 70

(92) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Berdasarkan hasil observasi tersebut peneliti melihat bahwa metode penyampaian materi yang digunakan guru masih berpusat pada guru. Guru masuk ke dalam kelas dan langsung meminta siswa membuka buku paket sesuai dengan materi yang akan dipelajari tanpa memberikan apersepsi. Guru mulai menjelaskan materi tersebut di didepan kelas dengan harapan siswa duduk, diam, dan mendengarkan apa yang beliau sampaikan serta mencatat apa yang penting dari penjelasan guru. Tetapi yang terjadi di kelas tersebut adalah sebaliknya, sebagian besar siswa sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Beberapa anak sibuk bermain alat tulisnya, berbicara dengan teman sebelahnya, menganggu teman di depan atau sebelahnya, melamun dan keluar masuk kelas dengan alasan ke kamar mandi atau minum. Selain observasi peneliti juga menggunakan metode wawancara dengan guru pengampu mata pelajaran matematika kelas V B. Dari hasil wawancara tersebut, diperoleh keterangan bahwa guru belum pernah mencoba menggunakan metode belajar yang lain selain ceramah. Guru pernah melakukan pembelajaran menggunakan media pembelajaran, tetapi siswa lebih tertarik memainkan media tersebut diluar kegunaannya sebagai media pembelajaran dan tidak memeperhatikan penjelasan guru sehingga waktu pembelajaran banyak yang terbuang sia-sia untuk memberikan peringatan kepada siswa. Guru pengampu mata pelajaran juga menyebutkan materi yang menjadi masalah besar bagi siswa selama guru mengajar di SD tersebut adalah materi pecahan. selain menjadi masalah bagi siswa, materi 71

(93) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI pecahan juga menjadi masalah bagi guru sendiri. Berdasarkan hasil waancara tersebut, guru mengaku kesulitan dalam menyampaikan materi penjumlahan dan pengurangan berbagai bentuk pecahan sejak guru tersebut mulai mengajar di SD Kanisius Ganjuran sampai sekarang. Guru menegaskan persentase siswa yang mengalami kesulitan di materi ini mencapai 60%. Wawancara selanjutnya peneliti lakukan dengan salah satu siswa kelas V B SD Kanisius Ganjuran. Berdasarkan hasil wawancara tersebut, siswa mengungkapkan jika ia sendiri kurang mengerti pada materi pecahan sejak kelas tiga SD. Siswa tersebut mengaku bertambah bingung sejak belajar pecahan di kelas empat dan semakin bingung di kelas V ini. Selain observasi dan wawancara, peneliti juga bertanya tentang data pembelajaran matematika pada materi penjumlahan dan pengurangan berbagai bentuk pecahan di kelas lima pada tahun sebelumnya. Dokumentasi nilai siswa pada tahun sebelumnya dilakukan untuk melihat permasalahan pecahan di kelas V SD Kanisius Ganjuran tidak hanya terjadi pada tahun ajaran 2013/2014 saja. Melalui dokumentasi tersebut diperoleh data nilai ulangan harian untuk materi penjumlahan berbagai bentuk pecahan di kelas V B sebagai berikut. 72

(94) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Tabel 1.1 Daftar Nilai Kelas V B SD Kanisius Ganjuran Materi Pecahan Tahun Ajaran 2012/ 2013 Nilai No Nama PS 1 PS 2 PR 1 PR 2 UH 1 A 65 50 0 0 2 B 40 100 50 20 46 3 C 90 70 90 80 53 4 D 75 73 5 E 70 95 20 70 87 6 F 70 50 0 0 7 G 60 70 80 60 40 8 H 60 50 50 20 28 9 I 90 100 90 30 87 10 J 70 50 65 60 70 11 K 70 100 90 80 83 12 L 70 100 100 100 60 13 M 80 60 70 60 58 14 N 70 75 80 60 83 15 O 100 100 100 100 70 16 P 80 95 90 70 68 17 Q 60 90 80 90 80 18 R 100 50 80 60 40 19 S 90 55 100 100 60 20 T 90 80 100 80 68 21 U 80 85 50 60 83 Tabel 1.1 memaparkan nilai-nilai yang dicapai siswa kelas V B SD Kanisius Ganjuran tahun ajaran 2012/ 2013 untuk materi penjumlahan dan pengurangan berbagai bentuk pecahan. Data diatas menunjukkan bahwa nilai yang dicapai siswa tidak merata. Beberapa siswa mencapai nilai tinggi dan mencapai kkm yang ditetapkan sekolah sebesar 70, tetapi banyak siswa belum mencapai kkm yang ditentukan oleh sekolah tersebut. Selain itu juga terlihat jika 57, 14% siswa mencapai nilai yang tidak konsisten, nilai latihan harian dan PR siswa tinggi dan mecapai kkm, tetpai ketika ulangan ternyata nilai siswa rendah dan tidak mencapai kkm. 73

(95) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Berdasarkan hasil observasi, wawancara dan dokumentasi tersebut, peneliti memutuskan untuk melakukan penelitian pada materi penjumlahan dan pengurangan berbagai bentuk pecahan di kelas V B SD Kanisius Ganjuran. 2. Siklus I Berdasarkan kesepakatan dengan guru mitra, pelaksanaan penelitian siklus I dimulai pada tanggal 10 februari 2014. Penelitian siklus I dilaksanakan dalam tiga pertemuan. Tiap siklus terdiri dari perencanaan, tindakan dan pengamatan, serta refleksi. Subyek penelitian adalah siswa kelas V B SD Kanisius Ganjuran Bantul Yogyakarta dengan jumlah 22 siswa. Berikut adalah jadwal pelaksanaan penelitian untuk siklus I. Tabel 2.1 Jadwal Pelaksanaan Siklus I No Hari, tanggal Pertemuan 1 Senin, 10 Februari 2014 1 2 Rabu, 12 Februari 2014 2 3 Rabu, 19 Februari 2014 3 Tabel 2.1 menunjukkan bahwa siklus I diadakan selama tiga kali pertemuan. Pertemuan pertama dilaksanakan hari Senin 10 Februari 2014 dilanjutkan pertemuan kedua hari Rabu 12 Februari 2014 dan pertemuan ketiga hari Rabu 19 Februari 2014. a. Perencanaan Peneliti menyiapkan instrumen penelitian berupa tes kemampuan memahami, observasi, kuesioner, dan wawancara pada tahap perencanaan. Selain instrumen penelitian, peneliti juga menyiapkan instrumen pembelajaran berupa silabus, RPP, LKS, dan 74

(96) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI media pembelajaran. Instrumen pembelajaran tersebut terlebih dahulu dikonsultasikan dengan guru mitra agar dalam pelaksanaan tindakan, guru lebih memahami tata cara dan tujuan pembelajaran yang dilaksanakan. Selain itu peneliti bersama guru mitra juga membagi siswa kedalam lima kelompok berdasarkan nilai akademik matematika yang dicapai siswa pada materi sebelumnya. Peneliti bersama guru mitra juga melakukan diskusi menentukan kkm untuk tiap indikator kemampuan memahami yang harus dicapai siswa. Berikut adalah kkm untuk masing-masing indikator kamampuan memahami. Tabel a.1 Skor Tuntas Tes Kemampuan Memahami Siklus I No Indikator 1 Skor maksimal Skor Tuntas Memberikan contoh dari 4 suatu konsep 2 Menyatakan ulang sebuah 4 konsep 3 Mengubah suatu bentuk ke 10 bentuk lain 4 Melakukan operasi hitung 6 dalam berbagai bentuk Tabel a.1 menunjukkan skor tuntas yang harus 3 3 7 4 dicapai oleh siswa dalam tes kemampuan memahami siklus I untuk mendapatkan predikat tuntas dari masing-masing indikator. Skor tuntas untuk Indikator (1) memberikan contoh dari suatu konsep ditetapkan 3 skor dari skor maksimal 4. Skor tuntas untuk indikator (2) menyatakan ulang sebuah konsep ditetapkan 3 skor dari skor maksimal 4. Skor tuntas untuk indikator (3) mengubah satu bentuk ke bentuk lain 75

(97) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ditetapkan 7 skor dari skor maksimal 10. Sedangkan skor tuntas untuk indikator (4) melakukan operasi hitung dalam berbagai bentuk ditetapkan 4 skor dari skor maksimal 6. b. Tindakan dan Pengamatan 1) Tindakan Siklus I pertemuan pertama dilaksanakan pada hari Senin 10 Februari 2014 di kelas V B SD Kanisius Ganjuran. Pada pertemuan ini siswa diajak lebih memahami pecahan biasa dan campuran melalui serangkaian kegiatan pembelajaran. Jumlah siswa yang mengikuti pembelajaran pada siklus I pertemuan pertama sebanyak 22 siswa. Kegiatan pembelajaran dilaksanakan selama dua jam pelajaran (2x35 menit). Sebelum guru mitra memberikan apersepsi guru membacakan daftar kelompok siswa yang sudah ditentukan bersama peneliti sebelumnya kemudian meminta siswa untuk duduk berdasarkan kelompok masingmasing. Siswa terlihat sangat ramai ketika berpindah tempat duduk bersama teman sekelompoknya. Beberapa siswa berebut tempat duduk dan ada juga yang menolak untuk dikelompokkan dengan temannya serta meminta agar diganti satu kelompok dengan teman yang dekat. Tetapi guru tetap membagi siswa dalam kelompok yang sudah disepakati dengan peneliti. Setelah siswa duduk berdasarkan kelompok masing-masing guru memulai pembelajaran dengan bercerita tentang masalah yang ditemui 76

(98) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI dalam kehidupan sehari-hari. Guru menceritakan sebuah cerita berjudul “Roti Cokelat Milik Salsa”. Cerita tersebut menceritakan seorang anak bernama Salsa yang memiliki sebuah roti cokelat. Sebagian dari roti cokelat tersebut habis dimakan adik Salsa, kemudian setengah bagian dari sisa roti tersebut habis dimakan Salsa. Kemudian guru bertanya berapa bagian roti yang habis dimakan Salsa dan adik Salsa serta berapa bagian sisa roti yang belum dimakan Salsa dan adik Salsa. Sebagian siswa yang mencoba menjawab pertanyaan tersebut mengatakan jika roti tersebut habis dimakan Salsa dan adiknya serta tidak ada sisa dari roti tersebut karena sudah habis dimakan semua. Ada juga siswa yang menjawab setengah bagian dikurangi setengah bagian berarti habis. Setelah seluruh pendapat siswa disampaikan guru membagikan roti cokelat yang sesungguhnya kepada setiap kelompok. Kemudian guru mengulang kembali cerita yang sebelumnya sudah dibacakan sekaligus meminta siswa ikut memotong roti yang dimiliki masing-masing kelompok bersamaan dengan cerita yang diceritakan ulang. Setelah melakukan kegiatan memotong roti akhirnya muncul jawaban dari siswa seperti, “roti yang tersisa masih setengahnya setengah bagian” dan “roti yang habis dimakan setengah dan seperempat bagian kemudian sisanya seperempat bagian”. Kemudian guru meminta siswa yang menyebutkan sisa seperempat bagian tersebut untuk maju dan menjelaskan pendapatnya di depan kelas mengunakan roti cokelat baru yang belum dipotong-potong. Siswa tersebut terlihat belum lancar ketika diminta 77

(99) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI berpendapat di depan kelas, jadi guru harus memancing siswa agar mau berbicara di depan kelas. Guru membagikan lilin mainan yang sudah dibentuk seperti kue ulang tahun dan Lembar Kegiatan Siswa di kegiatan inti. Lembar Kegiatan Siswa tersebut berisi panduan bagi siswa untuk memotongmotong kue tart dari lilin mainan tersebut. Ketika guru berkeliling melihat kerja setiap kelompok, guru menemukan satu kelompok yang kurang tepat dalam memotong kue tart dari lilin mainan tersebut. Kue tart yang seharusnya dipotong seperti memotong kue ulang tahun justru dipotong kotak-kotak. Kemudian guru memberikan kue tart dari lilin mainan yang baru kemudian memberikan contoh cara memotong kue yang dimaksudkan. Setelah itu setiap kelompok maju mempresentasikan hasil pekerjannya di depan kelas secara bergantian. Bagi kelompok yang sedang tidak maju diminta untuk memberikan tanggapan. Tetapi dari lima kelompok yang maju, hanya ada dua kelmpok yang memberikan tanggapan. tanggapan yang diberikan kedua kelompok berupa pertanyaan. Setelah semua kelompok maju, guru memimbing siswa untuk menyimpulkan kegiatan pembelajaran pada hari ini. Guru memancing siswa untuk menyimpulkan isi pembelajaran hari ini melalui pertanyaan. Guru bertanya bagaimana cara menjumlahkan atau mengurangkan pecahan yang memiliki penyebut yang berbeda. Dari 22 siswa pada hari itu, 30% dapat mengatakan jika cara menjumlahkan atau mengurangi pecahan yang memiliki penyebut berbeda adalah dengan menyamakan 78

(100) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI penyebutnya terlebih dahulu. Diakhir pembelajaran siswa diminta mengerjakan soal evaluasi secara individu. Soal evaluasi terdiri dari empat soal cerita. Pertemuan kedua siklus I dilaksanakan pada Hari Rabu 12 Februari 2014 dikelas yang sama dengan pertemuan pertama siklus I. pada hari ini ada dua anak yang tidak masuk sekolah, jadi jumlah siswa pada hari ini adalah 20 siswa. Siswa duduk sesuai dengan kelompoknya masingmasing sesuai kelompok yang sudah ditentukan pada pertemuan pertama. Pertemuan hari ini dilaksanakan selama dua jam pelajaran (2 X 35 menit). Apersepsi diberikan guru mitra dengan menceritakan pengalaman guru berbagi air minum sambil menuangkan air kedalam gelas ukur. Pada pertemuan kedua siklus I siswa sudah terlihat lebih aktif jika dibandingkan dengan pertemuan sebelumnya. 50% siswa sudah berebut untuk membacakan angka desimal yang ditunjukkan gelas ukur dan menjawab pertanyaan dari guru. Guru membagikan media papan desimal untuk membantu siswa menjawab pertanyaan di bagian apersepsi seputar air minum yang dimiliki guru dan ada dua siswa yang mencoba menjawab pertanyaan guru menggunakan papan desimal dan jawaban keduanya benar. Setelah itu guru membagikan papan desimal kepada masing-masing kelompok untuk membantu mereka mengerjakan Lembar Kegiatan Siswa. Lembar Kegiatan Siswa pada pertemuan hari ini meminta siswa untuk membuat pertanyaan tentang pengalamannya bertemu pecahan desimal dalam 79

(101) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI kehidupan sehari-hari kemudian ditukarkan dengan kelompok lain. Setiap kelompok mengerjakan pertanyaan yang dibuat kelompok lain. Setelah selesai mengerjakan pertanyaan dari kelompok lain, setiap kelompok maju mempresentasikan hasil pekerjaannya masing-masing secara bergantian. Kelompok yang tidak maju bertugas memberikan tanggapan, tetapi pada hari ini tidak ada yang memberikan tanggapan. Setelah kegiatan presentasi selesai, guru mitra membimbing siswa untuk menyimpulkan pembelajaran melalui pertanyaan seperti pada pertemuan sebelumnya. Guru bertanya apa yang harus dilakukan ketika akan menjumlahkan atau mengurangkan pecahan desimal. Ada seorang siswa yang menjawab dengan mengurutkan komanya Siswa mengerjakan evaluasi pembelajaran secara individu di kegiatan akhir pembelajaran. Ketika mengerjakan evaluasi ternyata berbeda ketika mengerjakan Lembar Kegaiatan Siswa sebelumnya. Ketika mengerjakan Lembar Kegiatan Siswa, siswa dapat meletakkan angka-angka dalam pecahan desimal sesuai nilai tempatnya. Tetapi ketika mengerjakan evaluasi siswa tidak menggunakan papan desimal, 45% siswa masih salah dalam meletakkan angka-angka yang akan dihitung tersebut. Pertemuan tiga siklus I seharusnya dilaksanakan tanggal 14 Februari 2014, tetapi karena ada kendala yaitu debu vulkanik Gunung Kelud akhirnya pertemuan tiga siklus I diundur sampai hari Rabu 19 Februari 2014. Pada pertemuan ini seluruh siswa berangkat jadi jumlah siswa yang 80

(102) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI mengikuti kegiatan permbelajaran ada 22 siswa. Pertemuan ini dilaksanakan selama dua jam pertemuan (2 X 35 menit). Apersepsi untuk pembelajaran dimulai guru dengan bercerita pengalaman guru ketika memperoleh potongan harga di supermarket. Kemudian guru memberikan kesempatan kepada siswa yang mau bercerita seputar pengalamannya ketika mendapatkan potongan harga ketika berbelanja di supermarket. Awalnya sangat sulit meminta siswa bercerita, tetapi akhirnya ada salah satu siswa yang mau menceritakan pengalamannya ketika memperoleh potongan harga baju di matahari mall. Ketika siswa tersebut selesai bercerita, guru bertanya potongan harga yang diberikan supermarket atau swalayan dituliskan seperti apa. Kemudian guru meminta salah satu siswa untuk maju menuliskan contoh potongan harga yang sering dijumpai di beberapa swalayan. Kemudian guru bertanya bagaimana membaca pecahan itu dan tulisan tersebut menunjukkan pecahan apa. Guru juga bertanya siapa yang belum pernah bertemu pecahan ini, ternyata ada seorang anak yang tunjuk jari dan berkata kalau ia tidak tahu ada potongan harga dan tulisan seperti itu karena ia belum pernah ke swalayan. Menanggapi anak itu guru mencoba memberikan contoh lain yaitu perolehan suara ajang musik Indonesian Idol di televisi dan anak itu terlihat lebih mengerti terlihat siswa tersebut memberikan contoh lain yaitu perolehan suara saat pemilu di desanya. Guru membagikan papan persen untuk membantu siswa mengerjakan Lembar Kegiatan Siswa pada kegiatan inti. Lembar Kegiatan Siswa tersebut meminta siswa untuk membuat pertanyaan 81

(103) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI seputar pengalamannya bertemu dengan pecahan persen kemudian ditukarkan dengan kelompok lain. Seperti pertemuan-pertemuan sebelumnya, kemudian setiap kelompok mempresentasikan hasil pekerjannya di depan kelas dan kelompok yang tidak maju bertugas memberikan tanggapan. Pada hari ini juga tidak ada siswa yang memberikan tangapan karena setiap kelompok yang maju presentasi memaparkan jawaban yang benar. Kesimpulan pembelajaran hari ini dilakukan oleh guru untuk semua materi mulai dari pertemuan pertama sampai pertemuan ketiga karena pada hari ini siswa mengerjakan tes kemampuan memahami siklus I. kegiatan menyimpulkan pembelajaran dibimbing oleh guru melalui pertanyaan yang mengingatkan kembali ingatan siswa kepada pertemuan pertama sampai ketiga. Ternyata 30% siswa terlihat bingung menjawab pertanyaan yang diberikan guru. kemudian guru meminta siswa yang masih ingat untuk membimbing teman-temannya dalam menyimpulkan pembelajaran dari pertemuan pertama sampai ketiga. Setelah itu siswa mengerjakan tes kemampuan memahami siklus I secara individu. 2) Pengamatan Setelah palaksanaan tindakan selesai, peneliti membagikan tes kemampuan memahami siklus I kepada siswa untuk dikerjakan secara individu. Berikut adalah hasil dari tes kemampuan memahami penjumlahan dan pengurangan berbagai bentuk pecahan siklus I untuk indikator (1) memberikan contoh dari suatu konsep. 82

(104) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Tabel 2.1 Hasil Tes Kemampuan Memahami Indikator 1 Siklus I Skor Skor Skor yang Responden Keterangan maksimal tuntas diperoleh A 4 3 3 Tuntas B 4 3 2 Tidak tuntas C 4 3 2 Tidak tuntas D 4 3 2 Tidak tuntas E 4 3 4 Tuntas F 4 3 4 Tuntas G 4 3 4 Tuntas H 4 3 4 Tuntas I 4 3 4 Tuntas J 4 3 4 Tuntas K 4 3 4 Tuntas L 4 3 3 Tuntas M 4 3 2 Tidak tuntas N 4 3 2 Tidak tuntas O 4 3 1 Tidak tuntas P 4 3 4 Tuntas Q 4 3 4 Tuntas R 4 3 1 Tidak tuntas S 4 3 3 Tuntas T 4 3 1 Tidak tuntas U 4 3 3 Tuntas V 4 3 3 Tuntas 14 Jumlah Siswa Tuntas Tabel 2.1 menunjukkan 14 dari 22 siswa kelas V B SD Kanisius Ganjuran sudah mencapai skor tuntas atau kkm untuk indikator (1) memberikan contoh dari suatu konsep dalam tes kemampuan memahami siklus I. Berikut adalah tabel penghitungan persentase ketercapaian indikator 1 pada tes kemampuan memahami siklus I. Tabel 2.2 Persentase Ketercapaian Indikator 1 Tes Kemampuan Memahami Siklus I Target Katercapaian Indikator Keterangan capaian Siklus 1 1. Memberikan Target belum contoh dari 75% 63, 7% tercapai suatu konsep 83

(105) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Tabel 2.2 menunjukkan ketercapaian indikator (1) memberikan contoh dari suatu konsep dalam tes kemampuan memahami siklus I sebesar 63, 7%. Jika dibandingkan dengan target capaian sebesar 75% maka, dinyatakan target indikator (1) memberikan contoh dari suatu konsep pada siklus I belum tercapai. Berikut adalah hasil dari tes kemampuan memahami siklus I untuk indikator (2) menyatakan ulang sebuah konsep. Tabel 2.3 Hasil Tes Kemampuan Memahami Indikator 2 Siklus I Skor Skor Skor yang Responden Keterangan maksimal tuntas diperoleh A 4 3 3 Tuntas B 4 3 2 Tidak tuntas C 4 3 4 Tuntas D 4 3 2 Tidak tuntas E 4 3 4 Tuntas F 4 3 4 Tuntas G 4 3 4 Tuntas H 4 3 3 Tuntas I 4 3 4 Tuntas J 4 3 2 Tidak tuntas K 4 3 4 Tuntas L 4 3 4 Tuntas M 4 3 4 Tuntas N 4 3 3 Tuntas O 4 3 4 Tuntas P 4 3 4 Tuntas Q 4 3 3 Tuntas R 4 3 3 Tuntas S 4 3 3 Tuntas T 4 3 2 Tidak tuntas U 4 3 4 Tuntas V 4 3 4 Tuntas 18 Jumlah siswa tuntas Tabel 2.3 menunjukkan 18 dari 22 siswa kelas V B SD Kanisius Ganjuran sudah mencapai skor tuntas atau kkm untuk indikator (2) 84

(106) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI menyatakan ulang sebuah konsep. Berikut adalah tabel penghitungan persentase ketercapaian indikator 2 (menyatakan ulang sebuah konsep). Tabel 2.4 Persentase Ketercapaian Indikator 2 Tes Kemampuan Memahami Siklus I Target Katercapaian Indikator Keterangan capaian Siklus 1 2. Menyatakan 70% 81,8% Target ulang sebuah capaian sudah konsep tercapai Tabel 2.4 menunjukkan ketercapaian siklus I indikator (2) menyatakan ulang sebuah konsep mencapai 81, 8%. Jika dibandingkan dengan target capaian sebesar 70% maka, dinyatakan target indikator 2 pada siklus I sudah tercapai. Berikut adalah hasil tes kemampuan memahami siklus I indikator (3) mengubah suatu bentuk ke bentuk lain: Tabel 2.5 Hasil Tes Kemampuan Memahami Indikator 3 Siklus I Skor Skor Skor yang Responden Keterangan maksimal tuntas diperoleh A 10 7 5 Tidak tuntas B 10 7 4 Tidak tuntas C 10 7 6 Tidak tuntas D 10 7 8 Tuntas E 10 7 10 Tuntas F 10 7 10 Tuntas G 10 7 8 Tuntas H 10 7 9 Tuntas I 10 7 10 Tuntas J 10 7 7 Tuntas K 10 7 10 Tuntas L 10 7 6 Tidak tuntas M 10 7 6 Tidak tuntas N 10 7 5 Tidak tuntas O 10 7 6 Tidak tuntas P 10 7 10 Tuntas Q 10 7 10 Tuntas R 10 7 4 Tidak tuntas S 10 7 9 Tuntas T 10 7 4 Tidak tuntas 85

(107) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI U V 10 7 10 Tuntas 10 7 10 Tuntas Jumlah siswa tuntas 13 Tabel 2.5 menunjukkan 13 dari 22 siswa kelas V B SD Kanisius Ganjuran sudah mencapai skor tuntas atau kkm untuk indikator (3) mengubah suatu bentuk ke bentuk lain. Berikut adalah tabel penghitugan persentase ketercapaian indikator (3) mengubah suatu bentuk ke bentuk lain. Tabel 2.6 Persentase Ketercapaian Indikator 3 Tes Kemampuan Memahami Siklus I Target Katercapaian Indikator Keterangan capaian Siklus 1 3. Mengubah suatu 65% 59% Target capaian bentuk ke bentuk belum tercapai lain Tabel 2.6 menunjukkan ketercapaian indikator (3) mengubah suatu bentuk ke bentuk lain melalui tes kemampuan memahami siklus I sebesar 59%. Jika dibandingkan dengan target capaian sebesar 65% maka, dinyatakan target indikator (3) mengubah suatu bentuk ke bentuk lain dalam tes kemampuan memahami siklus I belum tercapai. Berikut adalah hasil tes kemampuan memahami siklus I indikator (4). Tabel 2.7 Hasil Tes Kemampuan Memahami Indikator 4 Siklus I Skor Skor Skor yang Responden Keterangan maksimal tuntas diperoleh A 6 4 5 Tuntas B 6 4 2 Tidak tuntas C 6 4 5 Tuntas D 6 4 4 Tuntas E 6 4 6 Tuntas F 6 4 6 Tuntas G 6 4 5 Tuntas H 6 4 6 Tuntas I 6 4 6 Tuntas J 6 4 6 Tuntas K 6 4 6 Tuntas 86

(108) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI L M N O P Q R S T U V 6 4 6 4 6 4 6 4 6 4 6 4 6 4 6 4 6 4 6 4 6 4 Siswa yang tuntas Tabel 2.7 menunjukkan 19 dari 22 siswa 6 5 4 6 6 6 2 6 2 6 5 Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tidak tuntas Tuntas Tidak tuntas Tuntas Tuntas 19 kelas V B SD Kanisius Ganjuran sudah mencapai skor tuntas atau kkm untuk indikator (4) melakukan operasi hitung dalam berbagai bentuk. Berikut adalah tabel penghitungan persentase ketercapaian indikator (4) melakukan operasi hitung dalam berbagai bentuk. Tabel 2.8 Persentase Ketercapaian Indikator 4 Tes Kemampuan Memahami Siklus I Target Katercapaian Indikator Keterangan capaian Siklus 1 4. Melakukan 70% 86% Target operasi capaian hitung dalam sudah berbagai tercapai bentuk Tabel 2.8 menunjukkan ketercapiaan siklus I indikator (4) melakukan operasi hitung dalam berbagai bentuk sebesar 86%. Jika dibandingkan dengan target capaian sebesar 65%, maka dinyatakan target indikator 4 tes kemampuan memahami siklus I sudah tercapai Peneliti tidak hanya melakukan pengamatan untuk peningkatan kemampuan emmahami siswa, tetapi juga pengamatan terhadap keterlaksanaan masalah kontekstual dalam PMRI selama pembelajaran berlangsung. Pengamatan keterlaksanaan karakter masalah kontekstual 87

(109) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI dalam PMRI dilakukan dengan bantuan lembar observasi dan panduan wawancara. Lembar observasi pada penelitian ini dikutip dari penelitian Erni Kurniasih yang Mengakomodasikan berjudul Pemodelan “Pengembangan Dalam Perangkat Menyelesaikan yang Masalah Penjumlahan Pecahan Dengan Pendekatan PMRI Kelas IV A SD Negeri Adisucipto 1”. Berikut adalah hasil pengamatan dengan lembar observasi untuk karakteristik masalah kontekstual dalam PMRI selama pelaksanaan siklus I. Tabel 2.9 Data Observasi Keterlaksanaan PMRI Karakter Masalah Kontekstual Siklus I No Aspek Narasi Singkat 1 Menggunakan masalah kontekstual a. Menggunaka Guru bercerita tentang roti milik Salsa untuk n soal cerita pecahan biasa dan campuran, cerita yang dekat pengalaman guru ketika berbagi air minum dengan untuk pecahan desimal, dan cerita tentang kehidupan pengalaman memperolah potongan harga di siswa swalayan untuk pecahan persen. Guru juga menunjukkan contoh benda nyata secara langsung seperti roti cokelat dan gelas yang ada ukurannya. Pada pertemuan ketiga yang membahas tentang pecahan persen guru hanya bercerita tanpa menunjukkan contoh nyata kepada siswa. Soal cerita juga digunakan ketika siswa mengerjakan soal-soal latihan (LKS dan evaluasi serta tes akhir siklus). Tetapi siswa kesulitan jika dihadapkan pada soal-soal cerita. Terlihat ketika siswa mengerjakan LKS secara kelompok maupun evaluasi secara individu, siswa sering bertanya, “bu ini ditambah atau dikurangi?”. Selain itu pada setiap pertemuan setelah guru bercerita diawal pembelajaran, guru meminta siswa menuliskna contoh pecahan yang akan dibahas. Pada pertemuan pertama uru meminta siswa untuk menuliskan pecahan biasa dan campuran, pada pertemuan kedua guru meminta siswa emnuliskan contoh pecahan desimal dan pada pertemuan ketiga guru 88

(110) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI b. Permasalaha n kontekstual yang disampaikan mampu mengarahkan siswa menemukan konsep c. Masalah kontekstual yang disampaikan mudah dimengerti siswa 2 meminta siswa menuliskan pecahan persen. Setelah itu guru menanyakan ciri-ciri yang terlihat dari pecahan-pechan yang dituliskan. Setiap guru menanyakan ciri-ciriya, siswa dapat menjawab pertanyaan guru dengan baik meskipun dengan kalimat yang kurang tepat seperti, “pecahan biasa itu bagian dari bilangan utuh”, “pecahan desimal itu pecahan biasa yang penyebutnya sepuluh”, “pecahan desimal memiliki tanda koma”, “pecahan persen itu memiliki tanda persen dibelakang angka”. Masalah kontekstual yang disampaiakan guru melalui cerita-cerita dalam kehidupan seharihari siswa membantu siswa dalam mengenali konsep yang dipelajari. Terlihat pada pertemuan ketiga, guru bercerita seputar pengalamannya memperoleh potongan harga ketika belanja di swalayan. kemudian ada sisw ayang mengaku tidak mengerti dengan cerita potogan harga tersebut. Kemudian guru mencoba menceritakan contoh yang lainnya yaitu perolehan suara kontes menyanyi Indonesian Idol yang ditayangkan di televise. Kemudian guru meminta siswa untuk memberikan contoh lain dari penerapan pecahan persen di kehidupan sehari-hari. Siswa tersebut dapat memberikan contoh perolehan suara ketika pemilihan kepala desa di desanya. Ya, terlihat dari beberapa siswa menyeletukkan kalimat yang dimaksudkan guru ketika bercerita. Pada pertemuan ketiga guru menceritakan pengalaman guru ketika berbelanja di swalayan dan mendapatkan potongan harga. Salah satu siswa tidak mengerti contoh nyata tentang potongan harga tersebut sehingga guru memberikan beberapa contoh lain sampai siswa tersebut mengerti. Menggunakan permainan a. Permainan Iya, pada pertemuan pertama menggunakan yang plastisin yang dibentuk menyerupai kue tart. digunakan Permainan ini cukup menarik bagi siswa, membangkitk terlihat dari antusias siswa mengikuti instruksi an semangat guru untuk memotong, membagi dan siswa menghitung pecahan yang terbentuk. Tetapi permainan dengan plastisin di pertemuan pertama ada sedikit hambatan karena instruksi yang diberikan kurang jelas, instruksi hanya 89

(111) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI dituliskan di dalam amplop tanpa penegasan dari guru lagi. Kurangnya instruksi menyebabkan ada satu kelompok yang salah ketika memotong plastisin berbentuk kue tart ulang tahun tersebut. kue yang seharusnya dipotong seperti memotong kue ulang tahun justru dipotong menjadi kotak-kotak. Iya, potongan-potongan plastisin menunjukkan bagian-bagian seperti pecahan. 3 4. b. Permainan mengambark an apa yang akan dipelajari Menggunakan media dan alat peraga a. Media dan Media yang digunakan pada pertemuan alat peraga pertama menggunakan plastisin, kedua yang menggunakan papan desimal, dan pertemuan digunakan ketiga menggunkan papan persen. Ketiga mudah media tersebut cukup mudah dibuat dan bahanditemukan/ bahan yang dibutuhkan mudah didapat. Tetapi dekat dengan media papan desimal menggunakan paku siswa sterofom sehingga sedikit berbahaya bagi anakanak. Alat peraga yang digunakan pada pertemuan pertama adalah roti cokelat asli dan pada pertemuan kedua menggunakan air dan gelas ukur. Kedua alat peraga tersebut mudah didapat dan sering dijumpai siswa dalam kehidupan sehari-hari serta tidak berbahaya bagi siswa. b. Media dan Iya, terlihat dari antusias para siswa dalam alat peraga mencoba dan mempresentasikan hasil dapat pekerjannya menggunakan media tersebut. menarik Selain itu pembelajaran menggunakan media perhatian dan alat peraga yang disipakan guru membantu siswa siswa untuk bekerjasama dengan temna sekelompoknya. Siswa yang tadinya menolak karena pembagian kelompok menjadi lupa setelah pembelajaran menggunakan alat peraga dan media. Menggali pengetahuan awal yang dmiliki siswa a. Pengetahuan Iya, cerita masalah dalam kehidupan sehariawal yang hari mengingatkan ingatan siswa pada hal-hal digali sesuai yang dalam keseharian sering mereka temui dengan tetapi kurang diperhatikan. Masalah dalam materi cerita yang disampaikan guru juga mengarah pada materi yang akan dipelajari oleh siswa. Misalnya kegiatan membagi kue menjadi beberapa bagian menunjukkan pecahan. 90

(112) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Tabel 2.9 memaparkan bahwa guru sudah menggunakan masalah kontekstual dengan cara bercerita seputar masalah yang terjadi di kehidupan sehari-hari siswa yang mengarah pada materi berbagai bentuk pecahan. Permainan juga digunakan untuk memberikan gambaran seputar materi yang akan dipelajari. Pembelajaran selama siklus I juga menggunakan media yang baru pertama kali digunakan oleh siswa dan alat peraga yang sudah sering mereka jumpai di kehidupan sehari-hari siswa. Media yang digunakan tersebut terbuat dari bahan-bahan yang tidak asing bagi siswa dan mudah didapatkan. Berikut adalah data yang diperoleh dari lembar observasi keterlaksanaan PMRI karakter kontribusi siswa selama pembelajaran siklus I berlangsung. Tabel 2.10 Data Observasi Keterlaksanaan PMRI Karakter Kontribusi Siswa Siklus I No Aspek Narasi Singkat 1 Pengungkapan berbagai strategi yang digunakan dalam pemecahan masalah a. Munculnya Selama siklus ini berlangsung tidak mucul cara berbagai cara pemecahan masalah yang beranekaragam. Cara yang yang digunakan siswa persis seperti cara yang digunakan digunakan guru. dalam pemecahan masalah oleh siswa b. Pemberian Waktu yang disediakan guru sudah cukup waktu panjang untuk memberikan kesempatan kepada mencukupi siswa dalam menemukan strategi memecahkan kepada siswa masalah. dalam pemecahan masalah c. Pemilihan Siswa juga memanfaatkan media yang media oleh disediakan untuk mempresentasikan strateginya siswa yang dalam menyelesaikan permasalahan digunakan matematika. dalam 91

(113) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2 3 4 5 pengungkapa n strategi yang digunakan Pemberian tanggapan terhadap strategi yang digunakan a. Siswa Selama siklus I berlangsung tanggapan dari memberi siswa untuk temannya hanya sedikit terlihat. komentar/ Pada pertemuan pertama ada dua kelompok saran yang bertanya kepada kelompok yang terhadap presentasi. pertemuan kedua dan ketiga tidak hasil ada kelompok yang menanggapi presentasi pekerjaan kelompok lain. siswa lain b. Siswa Pada kegiatan penyimpulan pembelajaran guru menyimpulk tidak menjelaskan ulang materi, guru an hasil memancing siswa melalui pertanyaan pelajaran (guru hanya mengarahkan siswa) Pemberian motivasi oleh guru kepada siswa untuk mengungkapkan pendapatnya terhadap pemecahan masalah a. Pemberian Guru tidak secara khusus memberikan pertanyaan pertanyaan dengan tujuan memancing siswa oleh guru bertanya. Guru hanya menanyakan apakah untuk masih ada siswa yang kurang jelas dan ingin memancing bertanya. Pemberian motivasi hanya digunakan siswa guru melalui sistem poin. bertanya Guru sudah memberikan banyak kesempatan Pemberian kepada siswa untuk berpendapat, baik diawal kesempatan pembelajaran, pembelajaran inti dan akhir oleh guru pembelajaran. Hanya saja guru tidak sabar kepada siswa dalam menunggu siswa mengungkapkan untuk mengungkapka pendapatnya. n pendapat Selama siklus I berlangsung hanya tidak ada Pengajuan siswa yang bertanya kepada guru meskipun pertanyaan oleh siswa yang guru sudah meminta siswa untuk bertanya mengarah pada berkali-kali. pembangunan konsep pembelajaran Berdasarkan tabel 2.10 dapat dilihat jika guru sudah memberikan waktu yang cukup panajang bagi siswa untuk mengungkapkan 92

(114) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI pendapatnya serta menyediakan media yang bebas digunakan siswa untuk mendemonstrasikan strategi dalma pemecahan masalahanya. Tetapi pada pelaksanaan siklus I ini siswa masih menggunakan cara atau strategi yang dicontohkan guru. Sehingga ketika presentasi berlangsung siswa tidak mengomentari strategi yang digunakan kelmpok presentasi karena strategi yang digunakan setiap kelompok sama. Komentar yang diberikan siswa kepada temannya adalah kekeliruan dalam penggunaan strategi. Guru juga tidak memberikan pertanyaan untuk memancing siswa bertanya secara khusus, guru hanya mempersilahkan siswa untuk bertanya jika masih ada yang kurang jelas. Pemberian pertanyaan digunakan guru untuk membantu siswa menemukan konsep, strategi dan menyimpulkan isi pembelajaran. Berikut adalah data yang diperoleh dari lembar observasi keterlaksanaan PMRI karakter interaktivitas selama pembelajaran siklus I berlangsung. Tabel 2.11 Data Observasi Keterlaksanaan PMRI Karakter Interaktivitas Siklus I No Aspek Narasi Singkat 1 Guru dan siswa a. Membangun Guru bersama siswa menyepakati aturan dalam norma kelas pembelajaran di awal siklus yaitu pertemuan pertama. Untuk pertemuan-pertemuan selanjutnya guru tidak mengulangi aturan yang sudah sepakati. Guru hanya mengingatkan jika ada siswa yang melanggar sallaah satu aturan yang sudah disepakati. b. Mengadakan Ya, guru aktif melakukan tanya jawab dengan tanya jawab siswa mulai dari apersepsi sampai selama menyampaiakan instruksi mengerjakan pelajaran evaluasi. Tetapi hanya 3 dari 22 siswa yang berlangsung mau bertanya ketika kebingungan dan siswa yang bertanya hanya siswa yang sama. c. Melakukan Iya, guru selalu mendemonstrasikan media demonstrasi pembelajaran yang akan dikenalkan kepada 93

(115) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI dengan menggunaka n media pembelajaran d. Membimbing siswa dalam memecahkan masalah berupa soal yang diberikan e. Memfasilitas i negosiasi antar siswa f. Melakukan penilaian proses g. Melakukan peniliaan produk h. Memberikan penguatan 2 siswa. Tetapi demonstrasi itu dilakukan oleh salah satu siswa, guru hanya bersifat membimbing. Guru membimbing siswa memecahkan masalah melalui pertanyaan-pertanyaan. Guru memberikan bimbingan hanya kepada siswa yang mau bertanya, jika siswa diam guru tidak memberikan bimbingan. Guru memberikan kesempatan yang cukup kepada siswa untuk melakukan negosiasi atau diskusi. Terlihat dari seluruh kegiatan bersifat kelompok dan dilanjutkan dengan presentasi. Ketika kelompok bekerjasama berarti guru sudah memberikan kesempatan kepada siswa untuk saling bernegosiasi. Ketika kelompok mempresentasikan hasil pekerjaannya kemudian dilanjutkan dnegan tanya jawab, ketika tanya jawab itu lah guru sudah emmberikan kesempatan kepada siswa untuk bernegosiasi antar teman beda kelompok. Penilaian proses dapat dilihat dari refleksi yang dituliskan siswa disetiap akhir pertemuan. Selain itu setiap pertemuan dalam siklus I juga delengkapai dengan penilaian berupa lembar pengamatan ranah conscience dan compassion. Penilaian produk dilakukan guru dengan meminta siswa mengerjakan soal-soal evaluasi di setiap akhir pertemuan dan tes kemampuan memahami diakhir siklus. Guru memberikan penguatan kepada siswa siswa yang berhasil menjawab pertanyaan atau mengungkapkan pendapatnya dengan memberikan pujian kemudian meminta siswa tersebut menjelaskan jawabannya kepada teman-temannya dan dilanjutkan tepuk tangan. Jika penguatan kepada siswa yang belum menguasai materi tidak terlihat jelas, guru meminta siswa tersebut untuk belajar lagi. Peguatan juga diberika di setiap akhir siklus, guru membimbing siswa untuk merefleksikan pembelajaran secara keseluruhan melaui tanya jawab. Siswa dan siswa a. Mempresenta Siswa bersama kelompoknya masing-masing sikan hasil selalu mempresentasikan hasil pekerjaannya 94

(116) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI pekerjaan menggunakan media. b. Melakukan Setiap siswa melakukan kerjasama dengan kerjasama teman sekelompoknya untuk menyelesaikan dengan siswa pekerjaannya. lain c. Menyampaik Beberapa siswa aktif menanggapi kelompok an pendapat yang presentasi, tetapi siswa yang menanggapi atau adalah siswa yang sama. pertanyaan d. Memberikan Apresiasi yang diberikan oleh siswa kepada apresiasi temannya berupa pertanyaan, pujian dan tepuk terhadap tangan. teman lain e. Memperhatik 90% siswa memperhatikan temannya yang an teman sedang menyampaikan pendapat di dalam yang kelas. menyampaik an pendapat Tabel 2.11 memaparkan jika interaktivitas dalam pembelajaran siklus I terjadi antara siswa dengan guru dan siswa dengan siswa. Interaktivitas antara guru dengan siswa terlihat diawal pembelajaran, guru bersama siswa menyepakati aturan=aturan atau norma yang harus dipatuhi bersama, baik siswa maupun guru. kesepekatan norma dilakukan melalui tanya jawab diantara keduanya. Kegiatan tanya jawab antara guru dengan siswa juga terus berlangsung selama pembelajaran tersebut. tanya jawba juga dilakukan guru dalam membimbing siswa menemukan strategi dalam memecahkan masalahyang ditemui siswa. Selain itu, ketika mendemonstrasikan penggunaan media pembelajaran, guru menunjuk salah satu siswa untuk mendemontrasikan media tersebut semnetara uru hanya bersifat membimbing. Bentuk interaksi juga ditunjukkan guru dengan melkaukan penilaian proses dan produk kepada siswa. Penilaian proses dilakukan guru dengan lembar pengamatan ranah conscience dan compassion, sementara penilaian produk dilakukan guru 95

(117) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI dengan meminta siswa mengerjakan evaluasi di setiap akhir pertemuan dan tes kemampuan emmahami di akahir siklus secara individu. Selain membuka interaktivitas antara guru dnegan siswa, guru juga memberikan kesempatan kepada sisw auntuk saling berinteraksi. Interaksi yang terjadi antar siswa terlihat ketika siswa bekerja dalam kelompok menyelesaikana suatu pekerjaan. Siswa saling berdiskusi dengan teman satu kelompoknya dna dilanjutkan dengan kegiatan presentasi. Mellaui kegiatan presentasi ini siswa berkesempatan untuk berinteraksi dnegan kelompok lain melalui tanya jawab. Kelompok yang tidak presentasi dipersilahkan untuk menanggapi presentasi kelompok yang sednag maju. Berikut adalah data yang diperoleh dari lembar observasi keterlaksanaan PMRI karakter pemodelan selama pembelajaran siklus I berlangsung. Tabel 2.12 Data Observasi Keterlaksanaan PMRI Karakter Pemodelan Siklus I No Aspek Narasi Singkat Dalam pelaksanaan siklus I tidak ada siswa 1 Penggunaan yang terlihat menggunakan strategi informal. strategi informal oleh siswa dalam pemecahan masalah 2 Penggunaan strategi formal oleh siswa dalam pemecahan masalah a. Memodelkan Dalam pertemuan ketiga siswa diminta untuk masalah membuat soal dalam bentuk cerita sehari-hari dalam yang berhubungan dnegan materi yang telah kalimat dipelajari kemudian saling ditukarkan dengan matematika kelompok lain. b. Menggunaka Pada materi ini tidak ada rumus yang harus n rumus dikuasai oleh siswa. Hanya saja siswa harus matematika dapat memahami prosedur-prosedur atau dalam langkah-langkah yang harus ditempuh untuk pemecahan menyelesaikan soal. Untuk membantu siswa masalah maka guru menyediakan media dan rancangan pembelajaran yang membantu 96

(118) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI siswa untuk memahami langkah-langkah dalam emnyelesaikana persoalan pecahan. Pada materi ini siswa harus menguasai langkah-langkah matematis dalam memecahkan masalah. c. Menggunaka n langkahlangkah matematis dalam pemecahan masalah 3 Pembimbingan oleh guru dalam menjembatani strategi informal siswa ke strategi formal a. Guru Iya. Guru aktif mengadakan tanya jawab memberi untuk membimbing siswa menemukan pertanyaan strategi formal matematika dalam yang menyelesaikan masalah. Misalnya guru mengarah ke bertanya “apa yang pertama kali harus strategi dilakukan untuk menjumlahkan pecahan yang formal berbeda penyebut?”, “apa yang harus dilakukan untuk menjumlahkan pecahan desimal?” b. Guru Selama pembelajaran berlangsung guru selalu memberi soal menggunakan soal berbentuk cerita untuk dengan membantu siswa menemukan strateginya. konteks lain yang mengarah ke strategi formal c. Guru Contoh analogi yang diberikan guru untuk memberi membimbing siswa melalui pemanfaatan contoh media dan alat peraga, sehingga siswa dapat analogi yang menalar maksud dari pembelajaran yang mengarah ke mereka lakukan. strategi formal Tabel 2.12 memaparkan jika belum ada siswa yang menggunakan strategi informal dalam menyelesaikan pembelajaran. Siswa menggunakan strtagei formal dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi berupa langkah-langkah atau prosedur matematis karena pada materi siklus I ini tidak ada rumus yang harus dihafalkan oleh siswa. Selian itu siswa juga dilatih untuk membuat soal matematika daam bentuk soal cerita yang terjadi disekitar siswa. Dari awal pembelajaran 97

(119) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI guru sudha mengarahkan siswa untuk menemukan tsrategi pemecahan masalah melalui sola-soal dalam bentuk cerita kehidupan sehari-hari. Berikut adalah data yang diperoleh dari lembar observasi keterlaksanaan PMRI karakter intertwining selama pembelajaran siklus I berlangsung. Tabel 2.13 Data Observasi Keterlaksanaan PMRI Karakter Intertwining Siklus I No Aspek Narasi Singkat 1 Adanya kaiatan materi pecahan dengan materi lainnya dalam satu mata pelajaran matematika a. Kaitannya Materi siklus I ada sedikit hubungan dengan dengan materi bilangan bulat. Karena pecahan materi merupakan bagian dari bilangan bulat. bilangan bulat (Penjumlaha n Bilangan Bulat) b. Kaitanya Materi siklus I tidak secara langsung dengan berhubungan dnegan materi bangun datar. materi Hanya saja materi pecahan dapat bangun datar dihubungkan dengan materi bangun datar c. Kaitannya Materi dalam penelitian ini adalah materi dengan pecahan. Selama pembelajaran berlanngsung materi guru menghubungkan dengan materi lain menyelesaika dalam matematika, seperti pengukuran. n masalah yang berkaitan dengan pecahan 2 Adanya kaitan materi bilangan pecahan dengan materi dari mata pelajaran diluar matematika a. Kaitannya Materi ini dihubungkan dengan materi dengan dalam bahasa Indonesia ketika siswa materi menyimak guru bercerita dan siswa dimapel menceritakan pengalamanna baik secara bahasa lisan maupun tulisan yang berbentuk soal Indonesia cerita tentang masalah dalam kehidupan sehari-hari. b. Kaitannya Materi ini dihubungkan dengan kegiatan IPS dengan pad apertemuan ke tiga. Ketika itu guru materi di menyampaiaknanmateri persen dan mapel IPS emmberikan contoh kegiatan jual beli di 98

(120) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI swalayan dan pasar tradisional. c. Kaitannya Pembelajaran di siklus satu ini tidak dengan dihubungkan dengan materi di pembelajaran materi di IPA mapel IPA d. Kaitannya Materi ini tidak dihubungkan dengan materi dengan SBK. materi di mapel SBK Tabel 2.13 memaparkan jika materi pecahan yang disampaikaan pada siklus I berhubungan dengan materi lain dalam pembelajaran matematika seperti bilangan bulat dan bangun datar. Dalam pembelajaran siklus I guru juga menghubungkan materi pecahan dengan materi pengukuran dalam matematika. Pembelajaran dalam siklus I juga dihubungkan dengan materi lain diluar materi matematika seperti bahasa Indonesia dan IPS. Materi bahasa Indonesia yang digunakan adalah menyimak dan menceritakan pengalamannya baik secara lisan maupun tulisan hanya saja cerita yang diceritakan berbentuk soal cerita. Sedangkan materi IPS dihubungkan dengan kegiatan jual beli barang di swalayan dan pasar tradisional. Peneliti juga menggunakan instrumen wawancara dengan guru mitra untuk melihat keterlaksanaan PMRI karakteristik masalah kontekstual dalam pembelajaran siklus I. Berikut adalah data hasil wawancara peneliti dengan guru mitra yang dilaksanakan pada tanggal 19 Februari 2014. 99

(121) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Tabel 2.14 Hasil Wawancara Siklus I No 1 Daftar Pertanyaan Jawaban Apakah bapak/ ibu sudah Ya, sudah. mengajukan masalah nyata Contohnya, pada pertemuan pertama saya bercerita menggunakan potongan diawal pembelajaran? roti cokelat yang dibagi-bagi menjadi dua pecahan yang berbeda misalnya potongan pertama bagian dan potongan kedua bagian. Kemudian pada pertemuan kedua saya bercerita sambil menggunakan botol ukur yang berisi air untuk menghubungkan materi penjumlahan dan pengurangan desimal. Kemudian pada pertemuan ketiga, saya bercerita tentang potongan harga di swalayan dan kegiatan tawar menawar di pasar karena ada beberapa anak yang tidak mengetahui tentang potongan harga. 2 Menurut bapak/ ibu, apakah siswa dapat mengerti masalah nyata dalam kehidupan seharihari yang bapak/ ibu ceritakan? Ya, sebagian besar anak memang sudah mengerti dan dapat menangkap apa yang saya ceritakan. Tetapi masih ada seorang anak yang tidak bisa menangkap apa yang saya ceritakan. Seperti saat saya bercerita tentang potongan harga, ada anak yang tidak mengerti dan mengatakan “saya gak pernah ke swalayan bu”, jadi saya mencoba memberikan contoh lain yaitu tawar menawar di pasar tradisional. 3 Apakah masalah nyata yang bapak/ ibu ceritakan dapat membantu siswa memahami materi matematika? Ya, setelah saya bercerita anak kemudian dapat membayangkan seperti apa toh pecahan biasa, desimal, dan sebagainya. 4 Apakah masalah nyata yang bapak ibu ceritakan dapat membantu siswa menemukan strategi dalam memecahkan masalah matematika? Ya, untuk beberapa anak memang dapat menemukan strategi pemecahan masalah dengan membayangkan apa yang saya ceritakan secara mandiri, tetapi untuk beberapa anak yang memang mengalami kesulitan belajar memang harus dipandu untuk menemukan strategi pemecahan 100

(122) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI masalah. 5 Apakah masalah nyata yang diceritakan guru membantu saya menyimpulkan isi pembelajaran Ya, cerita yang saya ceritakan diawal pembelajaran kemudian saya ulang lagi diakhir pembelajaran dan itu sangat membantu siswa untuk menyimpulkan isi pembelajaran. 6 Apakah bapak/ ibu sudah menggunakan media sesuai dengan materi yang diajarkan? Ya, saya sudah menggunakan tiga media. Pada pertemuan pertama saya menggunakan media dengan plastisin yang dibuat seperti kue ulang tahun, kemudian saya juga menggunakan papan desimal untuk menghitung pecahan desimal dan papan persen untuk menghitung pecahan persen 7 Apakah media yang digunakan membantu siswa dalam memahami materi matematika yang diajarkan? Ya, media-media tersebut memang sangat membantu siswa untuk memahami materi yang saya sampaikan. 8 Apakah media yang digunakan membantu siswa menemukan strategi dalam memecahkan masalah matematika? Ya, media-media tersebut juga membantu siswa untuk menemukan strategi dalam masalah-masalah matematika. 9 Apakah media yang digunakan membantu siswa untuk menyimpulkan isi pembelajaran? Ya, media-media tersebut juga cukup membantu siswa untuk menyimpulkan isi pembelajaran 10 Apakah siswa lebih semangat dalam belajar setelah mendengarkan bapak/ ibu bercerita? Ya, siswa-siswa menjadi lebih semangat belajar setelah saya memulai pembelajaran dengan cerita. 11 Bagaimana respon yang ditunjukkan siswa setelah mendengarkan bapak/ ibu bercerita? Respon yang ditunjukkan siswa bemacam-macam. Ada beberapa siswa yang menebak-nebak isi cerita, bertanya, dan ada pula yang sepintas menceritakan pengalamannya yang berhubungan dengan cerita saya. Berdasarkan tabel 2.14 dapat dilihat jika guru sudah memberikan masalah nyata yang dekat dengan lingkungan sekitar siswa sesuai dalam 101

(123) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI bentuk cerita yang didalamnya memiliki permasalahan matematika. Pemilihan cerita masalah nyata tersebut disesuaikan dengan pengetahuan awal yang dimiliki siswa. Cerita dalam kehidupan sehari-hari yang diceritakan guru dapat membantu siswa dalam mengenal dan memahami materi yang mereka pelajari. Dari wawancara tersebut terlihat jika masalah kontekstual yang diceritakan diawal pembelajaran dapat menumbuhkan motivasi belajar siswa. Peneliti juga menggunakan instrumen kuesioner untuk melihat respon siswa terhadap pelaksanaan PMRI berkarakter. Berikut adalah data yang dihasilkan dari kuesioner siklus I karakteristik masalah kontekstual. Tabel 2.15 Hasil Kuesioner Respon Siswa Terhadap Pelaksanaan Karakteristik Masalah Kontekstual Siklus I Skor Responden Total Keterangan 1 2 3 4 5 6 A 4 2 2 2 3 2 15 C B 3 2 3 3 3 3 17 C C 3 3 3 4 4 3 20 B D 3 3 3 2 2 2 15 C E 3 4 3 2 4 3 19 B F 3 4 4 3 3 3 20 B G 4 3 3 3 3 3 19 B H 4 4 3 3 3 4 21 A I 4 4 3 3 3 4 21 A J 4 3 3 3 3 3 19 B K 4 4 3 3 3 2 19 B L 2 3 2 2 3 3 15 C M 2 3 3 4 4 4 20 B N 3 3 2 2 3 3 16 C O 3 3 3 3 3 2 17 C P 4 3 3 3 4 3 20 B Q 3 4 3 3 3 3 19 B R 2 3 2 1 2 2 12 D S 4 4 3 4 3 3 21 A T 2 3 3 1 2 2 13 D 102

(124) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI U 3 3 2 2 2 2 14 D V 4 3 3 4 3 3 20 B Jumlah siswa yang berada di persentil maksimal 65% 19 atau dibawah skor bersimbol C Tabel 2.15 menunjukkan 19 dari 22 siswa berada di persentil maksimal yaitu 65% atau memperoleh skor minimal C. Berikut adalah penghitungan persentase respon yang diberikan siswa terhadap PMRI karakteristik masalah kontekstual dalam pembelajaran: Penghitungan diatas menunjukkan 19 dari 22 siswa atau 86% siswa memberikan respon yang baik terhadap pelaksanaan PMRI karakteristik masalah kontekstual. Berikut adalah data yang diperoleh dari kuesioner respon siswa karaketristik kontribusi siswa dalam PMRI: Tabel 2.16 Hasil Kuesioner Respon Siswa Terhadap Pelaksanaan Karakteristik Kontribusi Siswa Siklus I Skor Responden Total Keterangan 1 2 3 4 5 6 A 3 3 2 2 2 3 15 C B 3 2 3 3 2 3 16 C C 3 2 3 3 4 4 19 B D 2 3 2 3 2 4 16 C E 3 3 3 4 3 3 19 B F 4 3 3 4 4 3 21 A G 3 3 3 2 2 4 17 C H 3 3 3 4 4 4 19 B I 4 4 4 4 3 3 22 A J 3 4 3 3 2 3 18 C K 3 1 2 3 2 3 14 D L 3 2 2 2 2 4 15 C M 3 2 3 3 2 3 16 C N 4 3 3 3 3 3 19 B 103

(125) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI O 3 3 3 3 3 3 18 C P 3 4 2 3 3 4 19 B Q 4 4 3 3 3 3 20 B R 2 3 2 2 3 2 14 D S 3 3 4 4 3 4 21 A T 3 3 2 2 2 2 14 D U 3 2 3 4 4 3 19 B V 3 3 3 2 4 4 19 B Jumlah siswa yang berada di persentil maksimal 65% 19 atau dibawah skor bersimbol C Tabel 2.16 menunjukkan 19 dari 22 siswa berada di persentil maksimal yaitu 65% atau memperoleh skor minimal C. Berikut adalah penghitungan presentase respon yang diberikan siswa terhadap PMRI karakteristik kontribusi siswa dalam pembelajaran. Penghitungan diatas menunjukkan 19 dari 22 siswa atau 86% siswa memberikan respon yang baik terhadap pelaksanaan PMRI karakteristik kontribusi siswa. Berikut adalah data yang diperoleh dari kuesioner respon siswa siklus I karaketristik interaktivitas dalam PMRI. Tabel 2.17 Hasil Kuesioner Respon Siswa Terhadap Pelaksanaan Karakteristik Masalah Interaktivitas Siklus I Skor Responden Total Keterangan 1 2 3 4 5 6 A 2 3 4 2 3 3 17 C B 3 3 4 2 1 3 16 C C 3 3 3 2 1 4 16 C D 1 3 3 2 3 4 16 C E 2 3 2 2 3 4 16 C F 4 4 3 3 3 4 21 A G 3 3 3 3 3 3 18 C H 2 2 2 3 3 2 14 D 104

(126) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI I 3 2 3 3 4 4 19 B J 3 2 3 2 2 3 15 C K 3 2 2 4 3 3 17 C L 3 1 3 2 3 2 14 D M 2 1 3 3 3 3 15 C N 2 2 3 2 2 3 14 D O 4 3 3 3 3 3 19 B P 4 4 3 2 3 3 19 B Q 4 4 2 3 3 3 19 B R 2 2 2 3 2 2 13 D S 3 3 4 4 4 4 22 A T 3 2 4 3 2 3 17 C U 3 3 4 3 3 3 19 B V 4 3 3 4 4 3 21 A Jumlah siswa yang berada di persentil maksimal 65% 18 atau dibawah skor bersimbol C Tabel 2.17 menunjukkan 18 dari 22 siswa berada di persentil maksimal yaitu 65% atau memperoleh skor minimal C. Berikut adalah penghitungan presentase respon yang diberikan siswa terhadap PMRI karakteristik interaktivitas dalam pembelajaran: Penghitungan diatas menunjukkan 18 dari 22 siswa atau 81, 81% siswa memberikan respon yang baik terhadap pelaksanaan PMRI karakteristik interaktivitas. Berikut adalah data yang diperoleh dari kuesioner respon siswa karaketristik pemodelan dalam PMRI siklus I. 105

(127) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Tabel 2.18 Hasil Kuesioner Respon Siswa Terhadap Pelaksanaan Karakteristik Pemodelan Siklus I Skor Responden Total Keterangan 1 2 3 4 5 6 A 3 3 2 2 2 2 14 D B 2 2 2 3 2 2 13 D C 3 3 3 4 4 1 18 C D 3 3 3 4 4 2 19 B E 4 4 2 2 2 3 17 C F 3 3 4 4 4 3 21 A G 3 3 3 4 4 2 19 B H 2 2 3 3 3 3 16 C I 3 3 2 4 4 4 21 A J 3 3 3 4 3 4 20 B K 2 2 2 1 3 3 13 D L 2 2 3 2 2 2 13 D M 3 3 4 4 4 2 20 B N 2 2 4 2 2 2 14 D O 3 3 3 4 2 2 17 C P 3 3 3 4 4 4 21 A Q 3 3 3 3 2 4 18 C R 2 2 2 2 4 2 14 D S 4 3 3 3 4 3 20 B T 3 3 3 3 3 2 17 C U 3 4 4 2 4 2 19 B V 3 3 3 2 1 4 16 C Jumlah siswa yang berada di persentil maksimal 65% 16 atau dibawah skor bersimbol C Tabel 2.18 menunjukkan 16 dari 22 siswa berada di persentil maksimal yaitu 65% atau me mperoleh skor minimal C. Berikut adalah penghitungan presentase respon yang diberikan siswa terhadap PMRI karakteristik pemodelan dalam pembelajaran: Penghitungan diatas menunjukkan 18 dari 22 siswa atau 81, 81% siswa memberikan respon yang baik terhadap pelaksanaan PMRI 106

(128) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI karakteristik pemodelan. Berikut adalah data yang diperoleh dari kuesioner respon siswa karaketristik intertwining dalam PMRI siklus I: Tabel 2.19 Data Kuesioner Respon Siswa Terhadap Pelaksanaan Karakteristik Intertwining Siklus I Skor Responden Total Keterangan 1 2 3 4 5 6 A 3 3 3 3 3 3 18 C B 3 3 3 2 4 3 18 C C 3 3 3 3 3 3 18 C D 3 2 3 4 2 1 15 C E 3 3 3 3 3 2 17 C F 3 3 3 4 3 4 20 B G 1 1 2 3 3 2 12 E H 3 4 4 2 4 3 20 B I 3 3 4 3 4 4 21 A J 2 2 2 3 2 2 13 D K 3 2 2 3 3 3 16 C L 3 2 3 2 2 3 15 C M 3 2 2 3 2 2 14 D N 3 3 2 2 1 2 13 D O 3 2 3 1 3 3 15 C P 3 2 2 3 2 4 16 C Q 4 3 3 2 3 4 19 B R 4 4 3 3 3 3 20 B S 3 3 3 3 2 3 17 C T 2 2 3 4 2 1 14 D U 1 2 3 2 3 2 13 D V 2 3 1 2 3 4 15 C Jumlah siswa yang berada di persentil maksimal 65% atau dibawah skor bersimbol C 16 Tabel 2.19 menunjukkan 16 dari 22 siswa berada di persentil maksimal yaitu 65% atau memperoleh skor minimal C. Berikut adalah penghitungan presentase respon yang diberikan siswa terhadap PMRI karakteristik intetwining dalam pembelajaran: 107

(129) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Penghitungan diatas menunjukkan 18 dari 22 siswa atau 81, 81% siswa memberikan respon yang baik terhadap pelaksanaan PMRI karakteristik intertwining. c. Refleksi Setelah pelaksanaan tindakan dan pengamatan siklus I peneliti melakukan refleksi berdasarkan data yang diperoleh dari berbagai instrumen yang digunakan. Dari kegiatan refleksi peneliti menemukan kelebihan dan kekurangan yang terjadi selama tahap tindakan berlangsung. Kelebihan dari pembelajaran siklus I adalah penggunakan contoh benda nyata yang menunjukkan materi pembelajaran sehingga membantu siswa untuk mengenali konsep yang pelajari. Selain itu kegiatan pembelajaran yang dirancang oleh peneliti sudah memberikan kesempatan bagi siswa untuk berpendapat secara bebas. Pada pembelajaran siklus I guru menggunakan media yang dibagikan kepada masing-masing kelompok sehingga kesempatan bagi siswa untuk mencoba media tersebut lebih banyak. Kekurangan masih terlihat pada pemilihan masalah kontekstual. Pemilihan masalah kontekstual juga perlu diperhatikan lagi. Masalah yang peneliti anggap sudah kontekstual dengan kehidupan sehari-hari siswa ternyata belum tentu masalah itu sudah kontekstual bagi seluruh siswa. Seperti pada pertemuan ketiga, peneliti dan guru mitra menggunakan contoh potongan harga/ diskon yang ditawarkan di banyak swalayan. peneliti dan guru berfikir itu adalah contoh nyata yang paling dekat dengan siswa tetapi 108

(130) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ternyata ada salah satu siswa yang belum tahu tentang diskon/ potongan harga di swalayan. jadi guru mitra mencoba memberikan contoh lain yang dirasa dekat dengan kehidupan siswa tersebut secara mendadak. Peneliti merancang instruksi dalam pembelajaran masih kurang jelas. Seperti pada pertemuan pertama ketika siswa diminta mengerjakan LKS. Dalam LKS tersebut siswa diminta memotong kue tart dari plsatisin seperti ketika memotong kue ulang tahun. Tetapi instruksi hanya dituliskan dalam lampiran LKS saja, guru tidak mengulang instruksi dalam LKS secara lisan. Sehingga ada satu kelompok yang memotong kue dari plastisin tersebut menjadi kotak-kotak. Kekurangan juga terlihat pada siswa yang masih canggung ketika diminta untuk mengungkapkan pendapatnya di depan kelas. Sehingga guru harus lebih sabar dalam memotivasi siswa untuk berpendapat. Selama pelaksanaan tindakan siklus I siswa masih terlihat pasif, jika tidak ditunjuk maka siswa tidak akan berpendapat. Jika guru bertanya secara menyeluruh, seluruh siswa berani menjawab secara bersama-sama, tetapi ketika guru mengulang kembali pertanyaan yang sama dan meminta siswa untuk menjawab secara perorangan maka tidak ada siswa yang berani menjawab. Peneliti akan memperbaiki kekurangan-kekurangan yang terjadi pada tahap tindakan siklus I. Peneliti berusaha mengenali lingkungan sekitar siswa secara lebih mendalam sehingga peneliti tidak salah lagi dalam memilih contoh nyata dari materi yang dipelajari. Sebisa mungkin peneliti memilih masalah nyata yang paling dekat dengan siswa dan menunjukkan benda nyata yang dimaksudkan ketika bercerita di awal pembelajaran. 109

(131) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Meminta guru mitra untuk lebih bersabar dalam memotivasi siswa ketika berpendapat dan menunggu jawaban siswa ketika ditanya. Peneliti juga akan merancang pembelajaran yang memberikan kesempatan bagi guru untuk menyampaikan instruksi secara lisan, sehingga instruksi yag diberikan kepada siswa dapat tersampaikan lebih jelas. 3. Siklus II a. Perencanaan Tahap perencanaan siklus II tidak jauh berbeda dengan tahap perencanaan siklus I. peneliti menyiapkan instrumen penelitian berupa tes kemampuan memahami, lembar observasi, pedoman wawancara dan kuesioner. Peneliti juga mempersiapkan instrumen pembelajaran berupa silabus, RPP, LKS dan media pembelajaran. Peneliti bersama guru mitra juga menentukan kelompok siswa untuk pelaksanaan siklus II serta jadwal pelaksanaan siklus II. Berikut adalah jadwal pelaksanaan siklus II. Tabel a.1 Jadwal Pelaksanaan Siklus II No Hari, tanggal Pertemuan 1 Senin, 10 Maret 2014 1 2 Rabu, 12 Maret 2014 2 3 Jum’at, 14 Maret 2014 3 Tabel a.1 memaparkan jika siklus II dilaksanakan tiga kali pertemuan. Pertemuan pertema pada hari Senin tanggal 10 Maret 2014, pertemuan kedua dilaksankaan pada hari Rabu 12 Maret 2014 dan pertemuan ketiga dilaksanakan pada hari Jum’at 14 Maret 2014. 110

(132) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Peneliti bersama guru mitra juga menentukan kkm untuk tes kemampuan memahami penjumlahan dan pengurangan berbagai bentuk pecahan siklus II. Berikut adalah hasil diskusi peneliti dengan guru mitra. Tabel a.2 Skor Tuntas per Indikator Tes Kemampuan Memahami Siklus II Skor No Indikator Skor Tuntas maksimal 1 Memberikan contoh 6 5 dari suatu konsep 2 Menyatakan ulang 6 4 sebuah konsep 3 Mengubah suatu 3 2 bentuk ke bentuk lain 4 Melakukan operasi 31 28 hitung dalam berbagai bentuk Tabel a.2 memaparkan skor maksimal dan skor tuntas untuk masingmasing indikator tes kemampuan memahami siklus II. Skoe tuntas untuk indikator satu yaitu memberikan contoh dari suatu konsep ditetapkan sebesar 5 skor dari skor maksimal 6. Skor tuntas untuk indikator dua ditetapkan sebesar 4 skr dari skr maksimal 6. Skor tuntas untuk indikator tiga yaitu mengubah suatu bentuk kebentuk lain ditetapkan sebesar 2 dari skor maksimal 3. Sedangkan skor tuntas untuk indikator empat yaitu melakukan operasi hitung dalam berbagai bentuk ditetapkan 28 skor dari skor maksimal 42. b. Tindakan dan Pengamatan 1) Tindakan Pertemuan pertama siklus II dilaksanakan pada tanggal 10 Maret 2014 di kelas V B. Pada pertemuan tersebut ada tiga anak yang tidak 111

(133) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI masuk sekolah, sehingga jumlah siswa yang mengikuti kegiatan pembelajaran hanya 19 siswa. Mengawali pertemuan pertama, guru memberikan apersepsi dengan bercerita tentang pengalaman guru ketika membuat kado. Guru bercerita akan menghias kado dengan dua buah pita yang memiliki ukuran yang berbeda dan dinyatakan dalam bentuk pecahan yang berbeda pula. Dalam cerita itu guru harus menyambung kedua pita terlebih dahulu agar dapat digunakan untuk menghias kotak kado. Kemudian guru bertanya berapa panjang kedua pita jika disambung. Beberapa siswa mengatakan jika pita disambung akan panjang tetapi susah dihitung. Ada juga siswa yang mengatakan jika disambung harus diukur menggunakan meteran. Kemudian guru mempersilahkan siswa tersebut untuk mengukur pita yang sudah disambung menggunakan meteran. Kemudian siswa menjawab dengan benar ukuran pita tersebut dalam bentuk pecahan desimal. Kemudian guru meminta siswa tersebut untuk menyatakan panjang pita dalam bentuk pecahan biasa dan siswa tersebut kebingungan. Kemudian guru menunjukkan media papan beragai bentuk pecahan untuk membantu siswa menyelesaikan pertanyaan sebelumnya. Demonstrasi penggunaan papan berbagai bentuk pecahan itu dilakukan oleh salah satu siswa dengan bimbingan guru. Ketika membimbing siswa dalam menggunakan media papan desimal di depan kelas, guru tiba-tiba lupa cara penggunaan media tersebut. 112

(134) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Akhirnya peneliti membantu dalam mendemonstrasikan penggunaan media tersebut. Setelah memperoleh jawaban dari penggunaan media papan berbagai bentuk pecahan tersebut guru menanyakan apakah sudah bisa menggunakan media papan berbagai bentuk pecahan ini. Kemudian guru mengulang kembali cara penggunaan papan berbagai bentuk pecahan. Guru meminta perwakilan tiap kelompok untuk maju mengambil undian untuk mengawali kegiatan inti. Undian tersebut berisi pertanyaan yang harus dijawab oleh kelompok. Untuk membantu siswa menjawab soal itu, guru membagikan papan berbagai bentuk pecahan kepada masing-masing kelompok. Setelah masing-masing kelompok memperoleh papan berbagai bentuk desimal, guru mempersilahkan masing-masing kelompok untuk berdiskusi menjawab pertanyaan yang ada pada undian masingmasing. Kemudian masing-masing kelompok maju mempresentasikan hasil pekerjaannya menggunakan media papan berbagai bentuk pecahan secara bergantian. Kelompok yang tidak maju bertugas memberikan tanggapan untuk presentasi kelompok yang maju. Pada petemuan ini terlihat lebih aktif karena setiap kelompok yang maju pasti ada yang memberikan tanggapan, baik menanggapi jawaban kelompok, cara menggunakan media, cara membaca pecahan atau pun bertanya. Setelah semua kelompok selesai mempresentasikan hasil pekerjaannya, guru membimbing 113

(135) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI siswa untuk menyimpulkan pembelajaran hari ini melalui tanya jawab dengan siswa. Selanjutnya siswa diminta untuk mengerjakan evaluasi untuk pembelajaran hari ini secara individu. Pertemuan kedua siklus II dilaksanakan pada tanggal 12 Maret 2014 di kelas V B. Pada pertemuan ini ada satu siswa yang tidak masuk sehingga jumlah siswa adalah 21 siswa. Siswa sudah duduk dalam kelompok masing-masing sejak jam pembelajaran dimulai. Guru memberikan apersepsi pada pertemuan ini dengan bercerita tentang pengalaman guru dalam menghias kado lagi. Tetapi pada cerita ini pita yang dimiliki guru lebih panjang dari pada pita yang dibutuhkan untuk menghias kado, sehingga pita yang dimiliki guru harus dipotong. Setelah guru memotong pita tersebut guru mengukur sisa panjang pita yang dimiliki guru sekarang menggunakan meteran. Setelah itu guru bertanya kepada siswa berapa panjang pita yang digunakan untuk menghias kado. Banyak jawaban yang muncul dari siswa, tetapi hanya 10% siswa yang dapat menjawab dengan tepat. Kemudian guru menggunakan media papan desimal untuk membuktikan jawaban siswa. Guru meminta salah satu siswa untuk maju kedepan kelas mendemonstrasikan penggunaan papan berbagai bentuk pecahan dengan bimbingan dari guru. Guru meminta perwakilan setiap kelompok untuk maju kedepan kelas mengambil undian seperti pada pertemuan pertama. Undian tersebut bersisi cerita dalam 114 kehidupan sehari-hari yang

(136) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI berhubungan dengan berbagai bentuk pecahan. Dalam cerita tersebut ada pertanyaan yang harus dijawab oleh siswa secara kelompok. Untuk membantu siswa dalam menjawab pertanyaan dalam undian itu guru membagikan papan berbagai bentuk pecahan kepada masing-masing kelompok. Setelah kelompok selesai berdiskusi guru meminta setiap kelompok untuk mempresentasikan hasil diskusi kelompok maisng-masing secara bergantian. Sementara itu kelompok yang tidak maju bertugas memberikan tanggapan kepada kelompok yang maju. Pada pertemuan ini hanya ada satu kelompok yang memeberikan tanggapan kepada salah satu kelompok. Setelah semua kelompok mepresentasikan hasil kerja kelompoknya, guru membimbing siswa untuk menyimpulkan pola pengurangan berbagai bentuk pecahan dengan memberikan pertanyaan kepada siswa. Setelah itu siswa megerjakan evaluasi pembelajaran secara individu. Pertemuan ketiga dilaksanakan pada tanggal 14 Maret 2014 dengan jumlah 21 siswa. Pembelajaran hari ini mengulang materi pertemuan sebelumnya pada siklus II. Guru melakukan apersepsi dengan melakukan tanya jawab dengan siswa tentang materi yang sudah dipelajari dua pertemuan terakhir. Guru meminta masing-masing kelompok membuat pertanyaan berdasarkan pengalaman sehari-hari yang berhubungan dnegan penjumlahan dan pengurangan berbagai bentuk pecahan kemudian soal tersebut ditukarkan dnegan kelompok lain. Setiap kelompok 115

(137) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI bertugas menjawab pertanyaan dari kelompok lain. Setelah selesai mengerjakan masingmasing kelompok maju mempresentasikan hasil pekerjaannya. pada pertemuan ini tidak ada kelompok yang memebrikan tanggapan karena semua jawaban yang diberikan kelompok dalam presentasi sudah benar. Setelah semua kelmpok maju presentasi, guru membimbing siswa untuk menyimpulkan pola penjumlahan dan pengurangan berbagai bentuk pecahan melalui tanya jawba dengan siswa. Dari tanya jawab itu terlihat 75% siswa sudah tahu apa yang harus dilakukan dalam menjumlahkan dan mengurangkan berbagai bentuk pecahan. setelah itu kegiatan dilanjutkan dengan siswa mengerjakan soal tes kemampuan memahami siklus II secara individu. 2. Pengamatan Seperti pada siklus I, tahap pengamatan siklus II dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan tindakan sklus II. Tes kemampuan memahami siklus II dibagikan kepada siswa untuk dikerjakan secara individu. Hasil tes kemampuan memahami siklus II digunakan untuk melihat peningkatan kemampuan memahami penjumlahan dan penguranngan berbagai bentuk pecahan. Berikut adalah hasil tes kemampuan memahami siklus II untuk indikator 1 yaitu memberikan contoh dari suatu konsep. 116

(138) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Tabel 2.1 Hasil Tes Kemampuan Memahami Indikator 1 Siklus II Skor Skor Skor yang Responden maksim Keterangan tuntas diperoleh al A 6 5 4 Tidak tuntas B 6 5 6 Tuntas C 6 5 5 Tuntas D 6 5 2 Tidak tuntas E 6 5 3 Tidak tuntas F 6 5 6 Tuntas G 6 5 6 Tuntas H 6 5 I 6 5 6 Tuntas J 6 5 6 Tuntas K 6 5 6 Tuntas L 6 5 6 Tuntas M 6 5 5 Tuntas N 6 5 6 Tuntas O 6 5 5 Tuntas P 6 5 6 Tuntas Q 6 5 5 Tuntas R 6 5 3 Tidak tuntas S 6 5 2 Tidak tuntas T 6 5 5 Tuntas U 6 5 6 Tuntas V 6 5 6 Tuntas Jumlah siswa tuntas 16 Tabel 2.1 menunjukkan 16 dari 21 siswa kelas V B SD Kanisius Ganjuran sudah mencapai skor tuntas untuk indikator (1) memberikan contoh dari suatu konsep tes kemampuan memahami siklus II. Berikut adalah tabel persentase ketercapaian indikator (1) memberikan contoh dari suatu konsep dalam tes kemampuan memahami siklus II. Tabel 2.2 Persentase Ketercapaian Indikator 1 Tes Kemampuan Memahami Siklus II Target Katercapaian Indikator Keterangan capaian Siklus 1 1. Memberikan contoh Target 75% 76% dari suatu konsep tercapai Tabel 2.2 menunjukkan ketercapaian indikator (1) memberikan contoh dari suatu konsep dalam tes kemampuan memahami siklus II sebesar 76%. 117

(139) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Jika dibandingkan dengan target capaian yang ditetapkan peneliti yaitu sebesar 75%, maka, dinyatakan target tercapai. Berikut adalah hasil tes kemampuan memahami siklus II untuk indikator (2) menyatakan ulang sebuah konsep. Tabel 2.3 Hasil Tes Kemampuan Memahami Indikator 2 Siklus II Skor Skor Skor yang Responden Keterangan maksimal tuntas diperoleh A 6 4 5 Tuntas B 6 4 2 Tidak tuntas C 6 4 5 Tuntas D 6 4 4 Tuntas E 6 4 5 Tuntas F 6 4 6 Tuntas G 6 4 6 Tuntas H 6 4 I 6 4 6 Tuntas J 6 4 6 Tuntas K 6 4 5 Tuntas L 6 4 5 Tuntas M 6 4 4 Tuntas N 6 4 6 Tuntas O 6 4 4 Tuntas P 6 4 6 Tuntas Q 6 4 6 Tuntas R 6 4 2 Tidak tuntas S 6 4 2 Tidak tuntas T 6 4 3 Tidak tuntas U 6 4 6 Tuntas V 6 4 6 Tuntas 17 Jumlah siswa tuntas Tabel 2.3 menunjukkan 17 dari 21 siswa kelas V B SD Kanisius Ganjuran mencapai skor tuntas untuk indikator 2 dalam tes kamampuan memahami siklus II. Berikut ini adalah persentase penghitungan ketercapaian indikator (2) menyatakan ulang sebuah konsep dalam tes kemampuan memahami siklus II. 118

(140) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Tabel 2.4 Persentase Ketercapian Indikator 2 Tes Kemampuan Memahami Siklus II Target Katercapaia Indikator Keterangan capaian n Siklus 1 2. Menyatakan ulang 70% 80% target sebuah konsep tercapai Tabel 2.4 menunjukkan persentase ketercapaian indikator (2)b menyatakan ulang sebuah konsep dalam tes kemampuan memahami siklus II sebesar 80%. Jika dibandingkan dengan target yang ditetapkan peneliti sebesar 70% maka, dinyatakan target indikator 2 tes kemampuan memahami siklus II tercapai. Berikut adalah hasil tes kemampuan memahami siklus II untuk indikator (3) mengubah suatu bentuk ke bentuk lain. Tabel 2.5 Hasil Tes Kemampuan Memahami Indikator 3 Siklus II Skor Skor Skor yang Responden Keterangan maksimal tuntas diperoleh A 3 2 3 Tuntas B 3 2 3 Tuntas C 3 2 3 Tuntas D 3 2 3 Tuntas E 3 2 3 Tuntas F 3 2 3 Tuntas G 3 2 3 Tuntas H 3 2 I 3 2 3 Tuntas J 3 2 3 Tuntas K 3 2 3 Tuntas L 3 2 2 Tuntas M 3 2 1 Tidak tuntas N 3 2 2 Tuntas O 3 2 2 Tuntas P 3 2 3 Tuntas Q 3 2 3 Tuntas R 3 2 0 Tidak tuntas S 3 2 0 Tidak tuntas T 3 2 1 Tidak tuntas U 3 2 3 Tuntas V 3 2 3 Tuntas 17 Jumlah siswa tuntas 119

(141) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Tabel 2.5 menunjukkan 17 dari 21 siswa sudah mencapai nilai tuntas atau kkm untuk indikator (3) mengubah suatu bentuk ke bentuk lain dalam tes kemampuan memahami siklus II. Berikut dipaparkan persentase penghitungan ketercapaian indikator 3 dalam tes kemampuan memahami siklus II. Tabel 2.6 Persentase Ketercapaian Tes Kemampuan Memahami Indikator 3 Siklus II Target Katercapaian Indikator Keterangan capaian Siklus 1 3.Mengubah suatu 65% 80% target bentuk ke bentuk lain tercapai Tabel 2.6 menunjukkan ketercapaian indikator 3 yaitu mengubah suatu bentuk ke bentuk lain dalam tes kemampuan memahami siklus II mencapai 80%. Jika dibandingkan dengan target yang ditetapkan peneliti sebesar 65%, maka, dinyatakan target tercapai. Berikut adalah hasil tes kemampuan memahami siklus II untuk indikator (4) melakukan operasi hitung dalam berbagai bentuk. Tabel 2.7 Hasil Tes Kemampuan Memahami Indikator 4 Siklus II Skor Skor Skor yang Responden Keterangan maksimal tuntas diperoleh A 31 28 30 Tuntas B 31 28 18 Tidak tuntas C 31 28 31 Tuntas D 31 28 25 Tidak tuntas E 31 28 31 Tuntas F 31 28 31 Tuntas G 31 28 31 Tuntas H 31 28 I 31 28 31 Tuntas J 31 28 30 Tuntas K 31 28 31 Tuntas L 31 28 21 Tidak tuntas M 31 28 31 Tuntas N 31 28 31 Tuntas O 31 28 31 Tuntas 120

(142) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI P Q R S T U V 31 28 31 Tuntas 31 28 31 Tuntas 31 28 9 Tidak tuntas 31 28 31 Tuntas 31 28 12 Tidak tuntas 31 28 31 Tuntas 31 28 31 Tuntas 16 Jumlah siswa tuntas Tabel 2.7 menunjukkan 16 dari 21 siswa sudah mencapai nilai tuntas untuk indikator (4) melakukan operasi hitung dalam berbagai bentuk dalam tes kemampuan memahami siklus II. Berikut adalah tabel hasil penghitungan persentase ketercapaian indikator 4 dalam tes kemampuan memahami siklus II. Tabel 2.8 Persentase Ketercapiaan Tes Kemampuan Memahami Indikator 4 Siklus II Target Katercapaian Indikator Keterangan capaian Siklus 1 4. Melakukan operasi 70% 76% target hitung dalam berbagai tercapai bentuk Tabel 2.8 menunjukkan persentase ketercapaian indikator 4 yaitu melakukan operasi hitung dalam berbagai bentuk dam tes kemampuan memahami siklus II sebesar 76%. Jika dibandingkan dengan target capaian yang ditetapkan peneliti sebesar 60% maka, dinyatakan target tercapai. Seperti pada siklus I, siklus II juga melakukan pengamatan untuk keterlaksanaan karakter masalah kontekstual dalam PMRI selama pembelajaran berlangsung. Instrumen yang digunakan untuk membantu pengamatan siklus II sama dengan instrumen yang digunakan peneliti ketika mengamati tindakan siklus I. Berikut adalah data yang diperoleh peneliti dari instrumen observasi siklus II. 121

(143) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Tabel 2.9 Hasil Observasi Keterlaksanaan PMRI Karakter Masalah Kontekstual Siklus II No Aspek Narasi Singkat 1 Menggunakan masalah kontekstual a. Menggunakan Iya, guru bercerita tentang pengalaman kakak soal cerita dan adik yang menyambung dan memotong yang dekat pita untuk menghias kado. Dalam cerita dengan tersebut guru menunjukkan panjang pita yang kehidupan dinyatakan dalam pecahan biasa dan desimal. siswa b. Permasalahan Iya, melalui cerita dalam kehidupan seharikontekstual hari dan contoh benda nyata yang ditunjukkan yang guru, siswa dapat menyimpulkan kunci dari disampaikan materi yang akan dipelajari. Terbukti ketka mampu guru menanyakam cara mengetahui panjang mengarahkan pita setelah disambung tanpa menggunakan siswa meteran, ada salah satu siswa yang menjawab menemukan dengan menyamakan bentuk pecahan terlebih konsep dahulu. c. Masalah Iya, semua siswa dapat mengerti cerita yang kontekstual disampaikan guru diawal pembelajaran. yang karena tidak ada siswa yang bertanya dan disampaikan semuanya menyimak dengan cerita guru mudah dengan baik. dimengerti siswa 2 Menggunakan permainan a. Permainan Pada siklus II tidak terlihat adanya permainan yang secara khusus. Tetapi beberapa siswa digunakan mencoba, menyambung, memotong , dan membangkitka mengukur pita yang akan digunakan untuk n semangat menghias kado. siswa b. Permainan Kegiatan menyambung, memotong dan mengambarka mengukur pita menunjukkan materi seperti n apa yang apa yang akan dipelajari karena panjang akan dipelajari masing-masing pita dinyatakan dalam berbagai bentuk pecahan. 3 Menggunakan media dan alat peraga a. Media dan alat Media papan berbagai bentuk pecahan baru peraga yang prtama kali digunakan oleh siswa, tetapi siswa digunaka dapat dengan cepat belajar menggunakan mudah media tersebut. trebukti ketika siswa ditemukan/ mepresentasikan hasil pekerjaannya bersama dekat dengan kelompok maisng-masing hanya ada satu siswa kelompok yang maish salah dalam mengunkan media tersebut. b. Media dan alat Iya, karena media ini baru pertama kali 122

(144) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI peraga dapat digunakan oleh siswa sehingga siswa sering menarik berebut mencoba media tersebut dan perhatian mendemonstrasikan hasil pekerjaannya siswa didepan kelas. 4. Menggali pengetahuan awal yang dmiliki siswa a. Pengetahuan Iya, masalah nyata yang diceritakan diawal awal yang pembelajaran menggali pengetahuab awal digali sesuai yang dimiliki siswa sesuai dengan materi dengan materi yang akan dipelajari. Dalam siklus II guru menggali pengetahuan siswa dalam mengubah pecahan menjadi sejenis dengan memberikan masalah nyata dalam bentuk panjang pita yang dinyatakan dalam pecahan berbeda jenis. Tabel 2.9 memaparkan bahwa guru menggunakan masalah kontekstual berupa cerita pengalaman guru ketika membungkus kado. Seluruh siswa dapat memahami cerita yang disampaikan guru, terlihat dari siswa yang dapat menangapi cerita guru dengan celetukan-celetukan. Masalah nyata yang diceritakan guru tersebut mengarahkan siswa untuk menemukan prosedur matematika yang harus dilakukan dalam memecahkan soal matematika. Ketika bercerita guru juga menggunakan alat peraga dua buah pita asli dan media papan berbagai bentuk pecahan. media dan alat peraga tersebut merupakan benda yang mudah ditemukan disekitar siswa. Meskipun media ini baru pertama kali digunakan oleh siswa namun bahan-bahan untuk membuatnya mudah ditemukan. Media dan alat peraga tersebut dapat menarik perhatian dan menumbuhkan semangat belajar siswa, terlihat dari antusisa untuk menggunakan media meskipun pada awalnya ada satu kelompok yang bingung menggunakan media tersebut. Pada pembelajaran siklus II tidak ada permainan yang dilakukan oleh siswa. Berikut adalah data yang diperoleh dari lembar observasi keterlaksanaan PMRI karakter kontribusi siswa selama pembelajaran siklus II berlangsung. 123

(145) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Tabel 2.10 Hasil Observasi Keterlaksanaan PMRI Karakter Kontribusi Siswa Siklus II No Aspek Narasi Singkat 1 Pengungkapan berbagai strategi yang digunakan dalam pemecahan masalah a. Munculnya Ada dua cara yang muncul dari siswa dalam berbagai cara memecahkan masalah matematika meskipun yang cara-cara tersebut tidak mengubah langkah digunakan utama dalam menyelesaiakan permasalahan. dalam pemecahan masalah oleh siswa b. Pemberian Waktu yang diberikan guru kepada siswa waktu untuk memecahkan masalahnya cukup mencukupi panjang sehingga siswa tidak terburu-buru kepada siswa dalam memikirkan cara atau strategi. Terbukti dalam dari waktu diskusi yang diberikan guru adalah pemecahan 20 menit untuk satu soal. Guru juga sudah masalah terlihat sabar dalam menunggu jawaban siswa ketika bertanya secara langsung. c. Pemilihan Setiap kelompok memperoleh media satu media oleh sehingga setiap siswa bersama kelompoknya siswa yang dapat memanfaatkan media untuk mencari digunakan cara atau strategi dengan maksimal. Ketika dalam mempresentasikan hasil pekerjan pengungkapan kelompoknya siswa juga menggunakan strategi yang media. digunakan 2 Pemberian tanggapan terhadap strategi yang digunakan a. Siswa Seperti siklus I, salah satu kegiatan memberi pembelajarannya adalah presentasi setiap komentar/ kelompok. Pada pertemuan pertama setiap saran terhadap kelompok yang maju mempresentasikan hasil pekerjaan selalu memperoleh tanggapan dari temannya siswa lain baik berupa saran maupun pertanyaan. Pada pertemuan kedua hanya ada satu kelompok yang memberikan pertanyaan kepada temannya. Pada pertemuan ketiga tidak ada yang memberikan tanggapan kepada kelompok presentasi. Setiap tanggapan yang diberikan oleh siswa pada silus II, berasal dari diri siswa sendiri. Guru jarang mengingatkan siswa untuk menanggapi presentasi temannya. b. Siswa Seperti pada siklus I, siswa aktif menyimpulkan menyimpulkan pembelajaran pada setiap hasil pelajaran akhir pertemuan dan akhir siklus dengan (guru hanya bimbingan dari guru melalui pertanyaan- 124

(146) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI mengarahkan pertanyaan dari guru. siswa) 3 Pemberian motivasi oleh guru kepada siswa untuk mengungkapkan pendapatnya terhadap pemecahan masalah a. Pemberian Seperti pada siklus I, guru tidak secara khusus pertanyaan memberikan pertanyaan untuk memancing oleh guru siswa bertanya. Guru hanya mempersilahkan untuk siswa jika ada yang ingin ditanyakan lagi. memancing siswa bertanya Selama pembelajaran siklus II berlangsung 4 Pemberian kesempatan oleh guru sangat membuka kesempatan bagi siswa yang ingin berpendapat ataupun bertanya. guru kepada siswa untuk mengungkapkan pendapat Ada tiga siswa yang aktif bertanya selama 5 Pengajuan pertanyaan oleh pembelajaran berlangsung. Tetapi hanya ada satu pertanyaan dari salah satu siswa tersebut siswa yang yang mengarah pada pembangunan prosedur mengarah pada atau langkah yang akan guru sampaikan. pembangunan konsep pembelajaran Tabel 2.10 memaparkan kontribusi siswa terlihat dari munculnya dua strategi atau cara dari siswa meskipun dua strategi maupun cara tersebut tidak mengubah langkah atau prosedur dari penyelesaian masalah. Selama pembelajaran berlangsung siswa terlihat lebih aktif mengikuti jalannya pembelajaran, pada pertemuan pertama setiap kelompok presentasi selalu memperoleh tanggapan dari teman-temannya, pada pertemuan kedua ada satu kelompok yang memberikan tanggapan, dan pada pertemuan ketiga tidak ada siswa yang menanggapi presentasi kelompok lain. Selam apembelajaran siklus II berlangsung ada tiga siswa yang berani bertanya kepada guru seputar materi yang belum dipahami. Berikut adalah data yang diperoleh dari lembar observasi keterlaksanaan PMRI karakter interaktivitas selama pembelajaran siklus I berlangsung. 125

(147) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Tabel 2.11 Hasil Observasi Keterlaksanaan PMRI Karakter Interaktivitas Siklus II No Aspek Narasi Singkat 1 Guru dan siswa a. Membangun Diawal pembelajaran siklus II guru norma kelas hanya mengingatkan kembali aturan yang harus ditaati selama mengikuti pembelajaran Karen asturan yang ditetapkan sama dengan aturan pada siklus I. b. Mengadakan Selama pembelajaran siklus II tanya jawab berlangsung, guru aktif melakukan taya selama pelajaran jawab dengan seluruh siswa. Guru juga berlangsung mempersilahkan siswa yang ingin bertanya atau menwab pertanyaan dari teman sebelum guru menjawab pertanyaan tersebut. c. Melakukan Guru mndemonstrasikan penggunaan demonstrasi media pada siklus II didepan kelas. dengan Tetapi tiba-tiba guru lupa cara menggunakna penggunaan media tersebut sehingga media peneliti membantu guru pembelajaran mendemonstrasikan penggunaan media. setelah itu guru meminta siswa secara sukarela untuk mendemonstrasikan media yanga kan digunakan. d. Membimbing Selama siklus II guru selalu memberikan siswa dalam soal-soal yang berbentuk soal cerita memecahkan untuk membimbing siswa dalam masalah berupa menemukan cara atau strategi. soal yang diberikan e. Memasilitasi Seperti pada siklus I, guru memberikan negosiasi antar kesempatan kepada siswa untuk siswa melakukan negosiasi dengan teman sekelompoknya maupun teman beda kelompok. f. Melakukan Penilaian proses dilakukan guru melalui penilaian proses lembar pengamatan ranah conscience dan compassions serta dapat dilihat dari refleksi yang dituliskan siswa g. Melakukan Penilaian produk dilakukan guru dengan peniliaan produk memberikan evaluasi disetiap akhir pertemuan dan tes kemampuan memahami diakhir siklus. h. Memberikan Penguatan yang diberikan guru sama penguatan seperti penguatan pada siklus I, bagi siswa yang berani berpendapat maka 126

(148) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI guru aka memberikan pujian. Jika jawaban tersebut benar maka guru akan meminta siswa tersebut menyampaikan jawabannya kepada teman-teman yang lain. Bagi siswa yang menjawab salah guru memberikan motivasi untuk belajar lagi. Pada siklus II, guru menawarkan sistem poin agar siswa yang sebelumnya pasif menjadi lebih aktif dalam pembelajaran. 2 Siswa dan siswa a. Mempresentasika n hasil pekerjaan Pembelajaran siklus II juga meminta siswa untuk mempresentasikan hasil pekerjaan kelompoknya didepan kelas secara bergantian b. Melakukan Setiap siswa melakukan kerjasama kerjasama dengan dengan siswa lain dalam kelompoknya siswa lain untuk menyelesaikan pekerjaannya. c. Menyampaikan Siklus II hanya 25% persen siswa yang pendapat atau mau berpendapat di dlaam kelas. Tetapi pertanyaan l3bih dari 50% siswa labih banyak bertanya seputar materi yang belum dipahami. d. Memberikan Apresiasi siswa kepada temannya apresiasi terhadap ditunjukkan dengan menyimak setiap teman lain kelompok yang maju dan memberikan tanggapannya. e. Memperhatikan 85% siswa menyimak presentasi teman yang kelompok lain dengan baik. Ketika ada menyampaikan kelompok yang maju, kelompok yang pendapat tidak maju mencoba mengoreksi jaaban dari kelompok presentasi. jika berbeda siswa akan berpendapat. Tabel 2.11 memaparkan interaktivitas antara guru dengan siswa berjalan baik. Dimulai dari norm ayang disepakati bersama dan tanya jawwba yang terbuka bagi siswa dan guru. tanya jawab dilakukan guru dengan siswa untuk membimbing siswa menemukan strategi pemecahan masalah dan ketika mendemonstrasikan media pembelajaran yang akan digunakan hingga melakukan refleksi pembelajaran. Selain itu guru juga memberikan penguatan kepada siswa untuk meningkatkan minat belajarnya. Guru juga melakukan penilaian proses dan produk seperti pada siklus I. Berikut adalah data yang 127

(149) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI diperoleh dari lembar observasi keterlaksanaan PMRI karakter pemodelan selama pembelajaran siklus II berlangsung. Tabel 2.12 Hasil Observasi Keterlaksanaan PMRI Karakter Pemodelan Siklus II No Aspek Narasi Singkat 45% siswa melakukan strategi informal 1 Penggunaan dalam memecahkan masalah matematika. strategi informal Jika seharusnya yang dicari adalah kpk, oleh siswa dalam tetapi siswa mengalikan kedua pemecahan penyebutnya. masalah 2 Penggunaan strategi formal oleh siswa dalam pemecahan masalah a. Memodelkan Pembelajaran siklus II juga meminta siswa masalah dalam untuk membuat soal erita dalam kehidupan kalimat sehari-hari yang berhubungan dengan matematika materi. b. Menggunakan Dalam materi ini tidak mengharuskan rumus siswa untuk menghafalkan rumus tertentu. matematika dalam pemecahan masalah c. Menggunakan Materi ini siswa harus menguasai langkahlangkahlangkah matematis untuk menyelesaikan langkah permasalahan. matematis dalam pemecahan masalah 3 Pembimbingan oleh guru dalam menjembatani strategi informal siswa ke strategi formal a. Guru memberi Seperti pada siklus I, guru aktif pertanyaan yang mengadakan tanya jawab untuk mengarah ke membimbing siswa menemukan strategi strategi formal formal matematika dalam menyelesaikan masalah. b. Guru memberi Selama pembelajaran guru memberikan soal dengan soal-soal cerita kepada siswa. Pada soal konteks lain evaluasi juga merupakan soal cerita. Tetapi yang mengarah pada tes kemampuan memahami diakhir ke strategi siklus guru memberikan berbagai macam formal soal untuk membimbing siswa menemukan strategi formal meskipun tidak meninggalakn sola-soal cerita. c. Guru memberi Seperti pada siklus I, contoh analogi yang 128

(150) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI contoh analogi yang mengarah ke strategi formal diberikan guru untuk membimbing siswa melalui pemanfaatan media dan alat peraga, sehingga siswa dapat menalar maksud dari pembelajaran yang mereka lakukan. Tabel 2.12 memaparkan 45% siswa menggunakan strategi informal meskipun strategi tersebut tidak mengubah langkah atau prosedur dari penyelesaian soal. Selama pembelajaran siklus II, siswa juga diminta untuk membuat soal berbentu cerita seputar masalah yang terjadi disekitar mereka dan berhubungan dnegan materi yang dipelajari. Materi yang dipelajari pada siklus II tidak mengharuskan siswa untuk menghafalkan rumus-rumus, tetapi memahami langkah-langkah yang harus dilakukan dalam menyelesaikan persoalan. Meskipun selama pelaksanaan pembelajaran dan evaluasi guru memberikan soal cerita, tetapi pada tes kemampuan memahami siswa diberikan berbagai bentuk soal untuk mengarahkan siswa pada strategi formal. Berikut adalah data yang diperoleh dari lembar observasi keterlaksanaan PMRI karakter intertwining selama pembelajaran siklus II berlangsung. Tabel 2.13 Hasil Observasi Keterlaksanaan PMRI Karakter Intertwining Siklus II No Aspek Narasi Singkat 1 Adanya kaiatan materi pecahan dengan materi lainnya dalam satu mata pelajaran matematika a. Kaitannya dengan Materi siklus II tidak ada hubungannya materi bilangan scera langsung dengan matrei bilangan bulan bulat. (Penjumlahan Bilangan Bulat) b. Kaitanya dengan Materi siklus II tidak ada hubungannya materi bangun secara langsung dengan materi bangun datar datar, tetapi kedua materi ini dapat dikaitkan satu sama lain ketika memberikan latihan soal kepada siswa. Ketika itu guru memberikan soal berupa 129

(151) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI sawah berbentuk persegi panjang dengan panjang yang dinyatakab dalam bentuk desimal dan lebar dalam bentuk pecahan biasa kemudian emminta siswa untuk menhitung keliling sawah tersebut. Seerti pada siklus I, materi dalam penelitian ini adalah materi pecahan. Selama pembelajaran berlangsung guru menghubungkan dengan materi lain dalam matematika, seperti pengukuran. c. Kaitannya dengan materi menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan pecahan 2 Adanya kaitan materi bilangan pecahan dengan materi dari mata pelajaran diluar matematika a. Kaitannya dengan Seperti pada siklus I, materi ini materi dimapel dihubungkan dengan materi dalam bahasa Indonesia bahasa Indonesia ketika siswa menyimak guru bercerita dan siswa menceritakan pengalamanna baik secara lisan maupun tulisan yang berbentuk soal cerita tentang masalah dalam kehidupan sehari-hari. b. Kaitannya dengan Pembelajaran siklus II tidak dikaitkan materi di maple dnegan materi IPS. IPS c. Kaitannya dengan Pembelajaran siklus II dihubungkan materi di mapel dengan pembelajaran IPA materi sifatIPA sifat cahaya. d. Kaitannya dengan Materi ini tidak dihubungkan dengan materi di mapel materi SBK. SBK Tabel 2.13 memaparkan bahwa materi siklus II dapat dikaitkan dengan materi dalam matematika yaitu materi pngukuran. Selain itu juga dapat dikaitkan dnegan materi bangun datar dalam membuat latihan soal. Selain itu materi ini juga dapat dikaitkan dengan materi pada pembelajaran lain seperti Bahasa Indonesia dan IPA. Selanjutnya peneliti juga melakukan wawancara dengan guru untuk melihat keterlaksanaan karakteristik masalah kontekstual dalam PMRI selama pelaksanaan siklus II. Berikut adalah verbatim wawancara yang dilakukan peneliti dengan guru mitra. 130

(152) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI No 1 Tabel 2.14 Hasil Wawancara Siklus II Daftar Jawaban Pertanyaan Apakah bapak/ Ya, sudah. Contohnya saya bercerita tentang ibu sudah panjang dua pita yang berbeda baik mengajukan ukurannya ataupun satuan ukuran pita masalah nyata tersebut. saya bercerita kepada siswa jika diawal kedua pita ini akan saya gunakan untuk menghias kado dan kedua pita ini harus pembelajaran? disambung terlebih dahulu. Kemudian saya menanyakan panjang kedua pita setelah disambung. Cerita tersebut saya ceritakan di pertemuan pertama. Untuk pertemuan kedua saya menunjukkan sebuah pita dengan panjang tertentu akan saya gunakan untuk menghias kado. Karena pita tersebut terlalu panjang, pita tersebut harus dipotong terlebih dahulu sepanjang ukuran tertentu. Kemudian saya menyakan berapa siswa pita yang setelah dipotong. 2 Menurut bapak/ ibu, apakah siswa dapat mengerti masalah nyata dalam kehidupan sehari-hari yang bapak/ ibu ceritakan? Ya, semua anak sudah bisa menangkap apa yang saya ceritakan. 3 Apakah masalah nyata yang bapak/ ibu ceritakan dapat membantu siswa memahami materi matematika? Ya, dengan bercerita dan menujukkan benda nyatanya itu sudah emmbantu anak untuk memahami materi. pemahaman jika menjumlahkan pecahan yang berbeda hal pertama yang harus dilakukan adalah menyamakan jenis pecahannya terlebih dahulu. Selama ini kan siswa masih bingung Antara menyamakan penyebut dan menyamakan jenis pecahan. 4 Apakah masalah nyata yang bapak ibu ceritakan dapat membantu siswa menemukan strategi dalam memecahkan masalah Ya, seperti yang saya ceritakan sebelumnya. Siswa menjadi tahu langkah apa yang harus mereka lakukan untuk menjmlahkan berbagai bentuk pecahan. 131

(153) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI matematika? 5 Apakah masalah nyata yang diceritakan guru membantu saya menyimpulkan isi pembelajaran Ya, siswa dapat menyimpulkan isi pembelajaran yang ia alami dengan mengingat cerita yang saya sampaiakan di awal pembelajaran. 6 Apakah bapak/ ibu sudah menggunakan media sesuai dengan materi yang diajarkan? Ya, sudah. Saya menggunkan papan berbagai bentuk pecahan. 7 Apakah media yang digunakan membantu siswa dalam memahami materi matematika yang diajarkan? Ya. Melalui media papan berbagai bentuk pecahan tersebut siswa menjadi lebih tahu langkah-langkah yang harus mereka lkukan dalam menyelesaikan persoalan yang berkaitan dengan materi 8 Apakah media yang digunakan membantu siswa menemukan strategi dalam memecahkan masalah matematika? Ya, seperti tadi saya bilang jika mellaui media tersebut siswa terbantu dalam menemukan langkah-langkah penyelesaian masalah matematika. 9 Apakah media yang digunakan membantu siswa untuk menyimpulkan isi pembelajaran? Ya, media-media tersebut juga cukup membantu siswa untuk menyimpulkan isi pembelajaran 10 Apakah siswa lebih semangat dalam belajar setelah Ya, siswa-siswa menjadi lebih semangat belajar setelah saya memulai pembelajaran dengan cerita. 132

(154) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI mendengarkan bapak/ ibu bercerita? 11 Bagaimana respon yang ditunjukkan siswa setelah mendengarkan bapak/ ibu bercerita? Respon yang ditunjukkan siswa bemacammacam. Ada beberapa siswa yang menebaknebak isi cerita, bertanya, dan ada pula yang sepintas menceritakan pengalamannya yang berhubungan dengan cerita saya. Tabel 2.14 memaparkan bahwa guru sudah memberikan contoh masalah kontekstual atau nyata yang terjadi disekitar siswa. Tidak hanya bercerita, guru juga menunjukkan benda konkret yang diceritakan untuk membantu siswa memahami cerita guru. Peneliti juga menggunakan instrumen kuesioner untuk melihat respon siswa terhadap pelaksanaan PMRI karakteristik masalah kontekstual. Berikut adalah data yang dihasilkan dari kuesioner yang dikerjakan oleh siswa karakteristik masalah kontekstual. Tabel 2.15 Hasil Kuesioner Respon Siswa Terhadap Pelaksanaan Karakteristik Masalah Kontekstual Siklus II Skor Responden Total Keterangan 1 2 3 4 5 6 A 3 4 4 3 3 3 20 B B 3 3 4 4 2 4 20 B C 4 3 3 3 4 4 21 A D 4 3 4 3 3 4 21 A E 4 4 4 3 3 4 22 A F 3 3 3 2 3 3 17 B G 4 3 4 1 3 3 18 B H I 4 3 3 2 3 3 18 B J 3 2 3 4 4 4 20 B K 3 4 3 4 2 4 20 B L 3 3 2 4 3 3 18 B M 3 4 4 4 3 4 22 A N 4 4 3 4 3 4 22 A O 3 4 4 2 3 3 19 B 133

(155) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI P 3 3 3 1 4 3 17 B Q 4 3 3 2 3 4 19 B R 2 3 3 2 2 3 13 D S 4 3 4 4 4 3 22 A T 4 3 2 4 2 4 19 B U 4 4 2 4 4 3 21 A V 3 2 3 4 4 3 19 B Jumlah siswa yang berada di persentil maksimal 65% 20 atau dibawah skor bersimbol C Tabel 2.15 menunjukkan 20 dari 21 siswa berada di persentil maksimal yaitu 65% atau memperoleh skor minimal C. Berikut adalah penghitungan presentase respon yang diberikan siswa terhadap PMRI karakteristik masalah kontekstual dalam pembelajaran: Penghitungan diatas menunjukkan 20 dari 21 siswa atau 95, 23% siswa memberikan respon yang baik terhadap pelaksanaan PMRI karakteristik masalah kontekstual. Berikut adalah data yang diperoleh dari kuesioner respon siswa karaketristik kontribusi siswa dalam PMRI. Tabel 2.16 Hasil Kuesioner Respon Siswa Terhadap Pelaksanaan Karakteristik Kontribusi Siswa Siklus II Skor Responden Total Keterangan 1 2 3 4 5 6 A 3 3 3 2 2 4 17 C B 3 2 3 3 1 4 16 C C 3 2 3 3 1 4 16 C D 2 3 2 3 3 4 17 C E 3 3 3 4 2 2 17 C F 4 3 3 3 4 4 21 A G 2 4 3 2 2 3 16 C H 2 3 3 2 3 2 15 C I 4 4 2 2 4 3 19 B 134

(156) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI J 3 4 2 3 3 3 18 C K 3 1 2 3 3 3 15 C L 2 2 2 2 2 4 14 D M 1 2 3 3 2 2 13 D N 2 2 2 3 3 1 13 D O 3 2 2 3 3 3 16 C P 3 3 3 3 3 3 18 C Q 3 4 3 3 3 3 19 B R 3 3 2 2 3 2 15 C S 3 3 4 2 3 4 19 B T 3 3 3 2 1 1 13 D U 3 3 3 4 4 3 20 B V 3 3 2 2 4 3 17 C Jumlah siswa yang berada di persentil maksimal 65% atau 17 dibawah skor bersimbol C Tabel 2.16 menunjukkan 17 dari 21 siswa berada di persentil maksimal yaitu 65% atau memperoleh skor minimal C. Berikut adalah penghitungan presentase respon yang diberikan siswa terhadap PMRI karakteristik kontribusi siswa dalam pembelajaran. Penghitungan diatas menunjukkan 20 dari 21 siswa atau 95, 23% siswa memberikan respon yang baik terhadap pelaksanaan PMRI karakteristik kontribusi siswa. Berikut adalah data yang diperoleh dari kuesioner respon siswa karaketristik interaktivitas dalam PMRI. 135

(157) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Tabel 2.17 Hasil Kuesioner Respon Siswa Terhadap Pelaksanaan Karakteristik Interaktivitas Siklus II Skor Responden Total Keterangan 1 2 3 4 5 6 A 3 3 3 2 3 2 16 C B 3 3 3 2 1 1 13 D C 3 3 3 3 1 2 15 C D 2 4 3 2 3 2 16 C E 3 3 2 2 3 2 15 C F 4 4 3 3 3 2 19 B G 3 3 3 3 3 2 17 C H 2 3 2 3 3 3 16 C I 3 3 2 3 4 3 18 C J 3 3 3 2 2 3 16 C K 3 3 2 4 3 3 18 C L 3 3 3 2 3 2 16 C M 2 2 3 3 3 3 16 C N 2 2 3 3 2 3 15 C O 2 3 3 3 3 3 17 C P 2 4 3 2 3 2 16 C Q 3 4 2 3 3 3 18 C R 3 3 2 3 2 2 15 C S 3 3 4 3 2 4 19 B T 1 3 2 3 1 2 11 E U 3 3 4 3 4 4 21 A V 3 4 3 3 4 3 20 B Jumlah siswa yang berada di persentil maksimal 65% 19 atau dibawah skor bersimbol C Tabel 2.17 menunjukkan 19 dari 21 siswa berada di persentil maksimal yaitu 65% atau memperoleh skor minimal C. Berikut adalah penghitungan presentase respon yang diberikan siswa terhadap PMRI karakteristik interaktivitas dalam pembelajaran. Penghitungan diatas menunjukkan 19 dari 21 siswa atau 86, 36% siswa memberikan respon yang baik terhadap pelaksanaan PMRI karakteristik 136

(158) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI interaktivitas. Berikut adalah data yang diperoleh dari kuesioner respon siswa karaketristik pemodelan dalam PMRI. Tabel 2.18 Tabel Hasil Kuesioner Respon Siswa Terhadap Pelaksanaan Karakter Pemodelan Siklus II Skor Responden Total Keterangan 1 2 3 4 5 6 A 3 3 3 3 2 2 16 C B 2 2 3 3 2 2 14 D C 3 3 3 3 4 1 17 C D 3 3 3 3 4 2 18 C E 4 3 2 3 2 3 17 C F 3 2 4 3 3 3 18 C G 3 3 3 4 3 2 18 C H 2 2 3 3 3 2 15 C I 3 3 2 3 4 2 17 C J 3 3 3 2 3 4 18 C K 2 2 2 2 4 4 16 C L 1 3 3 3 2 2 14 D M 3 3 2 2 4 2 16 C N 1 3 3 2 4 4 17 C O 2 3 3 4 2 2 16 C P 2 3 3 4 4 2 18 C Q 4 3 3 3 2 2 17 C R 4 4 4 2 4 2 20 B S 3 3 3 3 2 3 17 C T 3 3 3 3 3 1 16 C U 3 3 2 2 4 2 16 C V 4 3 3 2 1 3 16 C Jumlah siswa yang berada di persentil maksimal 65% 19 atau dibawah skor bersimbol C Tabel 2.18 menunjukkan 19 dari 21 siswa berada di persentil maksimal yaitu 65% atau memperoleh skor minimal C. Berikut adalah penghitungan presentase respon yang diberikan siswa terhadap PMRI karakteristik pemodelan dalam pembelajaran. 137

(159) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Penghitungan diatas menunjukkan 19 dari 21 siswa atau 86, 36% siswa memberikan respon yang baik terhadap pelaksanaan PMRI karakteristik pemodelan. Berikut adalah data yang diperoleh dari kuesioner respon siswa karaketristik intertwining dalam PMRI. Tabel 2.19 Hasil Kuesioner Respon Siswa Terhadap Pelaksanaan Karakter Intertwining Siklus II Skor per item Responden Total Keterangan 1 2 3 4 5 6 A 2 3 3 3 3 3 17 C B 2 2 3 2 4 3 16 C C 3 2 3 3 3 3 17 C D 3 2 3 4 2 2 16 C E 4 3 3 3 3 2 18 C F 4 3 3 4 3 2 19 B G 3 3 2 3 3 4 18 C H 3 3 3 2 4 3 18 C I 3 2 2 3 4 2 16 C J 2 3 2 3 2 2 14 D K 3 3 2 3 3 3 17 C L 3 2 3 3 2 3 16 C M 3 2 3 3 2 3 16 C N 3 3 3 3 3 2 17 C O 3 2 3 1 3 3 15 C P 3 3 2 3 2 3 16 C Q 3 3 3 2 3 3 17 C R 3 4 3 3 3 3 19 B S 2 3 3 3 2 3 16 C T 3 2 3 4 2 1 15 C U 2 2 3 2 3 2 14 D V 2 3 2 2 3 3 15 C Jumlah siswa yang berada di persentil maksimal 65% 19 atau dibawah skor bersimbol C Tabel 2.19 menunjukkan 19 dari 21 siswa berada di persentil maksimal yaitu 65% atau memperoleh skor minimal C. Berikut adalah penghitungan presentase respon yang diberikan siswa terhadap PMRI karakteristik intertwining dalam pembelajaran. 138

(160) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Penghitungan diatas menunjukkan 19 dari 21 siswa atau 86, 36% siswa memberikan respon yang baik terhadap pelaksanaan PMRI karakteristi intertwining. c. Refleksi Berdasarkan data-data yang diperoleh setelah tindakan siklus II penelitian dapat merefleksikan kekurangan dan kelebihan yang terjadi selama tindakan dalam penelitian siklus II berlangsung. Kelebihan yang terlihat dari penelitian siklus II adalah sebagian siswa semakin aktif mengikuti kegiatan pembelajaran. Terlihat dari antusias siswa untuk menjawab jika guru bertanya dan antusias kelompok maju untuk mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya masing-masing tanpa ditunjuk oleh guru. Seluruh siswa dapat mengerti cerita masalah kontekstual yang diceritakan guru. karena pada siklus II guru melengkapi cerita dengan menunjukkan alat peraga sehingga lebih mudah bagi siswa untuk membayangkan cerita guru. Kekurangan terlihat pada pertemuan pertama ketika guru membimbing salah satu siswa untuk mendemonstrasikan penggunaan media papan berbagai bentuk pecahan. Guru secara mendadak lupa cara penggunaan media, sehingga siswa yang mendengarkan guru juga menjadi bingung. 139

(161) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI B. Pembahasan 1. Kemampuan Memahami Berdasarkan wawancara dengan guru mitra hari Kamis tanggal 16 Januari 2014, guru mengaku bahwa kemampuan memahami siswa kelas V B SD Kanisius Ganjuran rendah. Terbukti ketika mempelajari salah satu materi, sebagian besar siswa susah untuk mengerti meskipun sudah dijelaskan berkali-kali. Contoh lain terlihat ketika menjelang ulangan akhir semester. Guru berkata, “biasanya materi ulangan akhir semester kan kumpulan dari materi-materi selama semester itu kan mbak, nah ketika medekati hari pelaksanaan ulang akhir semester biasanya saya mengadakan pengayaan mulai dari materi awal sampai materi akhir yang akan diujikan. Tapi sebagian besar siswa sudah lupa dengan materi-materi awal jadi saya harus mengulang lagi menjelaskan lagi mbak”. Guru mengakui nilai akademik siswa sejak guru tersebut mulai mengajar di SD Kanisius Ganjuran untuk materi pecahan selalu rendah. Guru berkata, “materi yang sering anjlok untuk matematika adalah pecahan. Sampai saya sendiri juga bingung mau bagaimana lagi menjelaskan kepada siswa tentang pecahan”. Ketika peneliti mengadakan wawancara dengan salah satu siswa di SD Kanisius Ganjuran, siswa tersebut juga mengakui jika materi pecahan memang materi yang sulit dan siswa mengakui ketidaksukaannya dengan pelajaran matematika karena membuat pusing. Siswa tersebut mengakui bahwa teman-teman kelas V B banyak yang tidak menyukai matematika. 140

(162) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Berdasarkan observasi di kelas V B SD Kanisius Ganjuran pada hari yang sama, peneliti melihat kemampuan memahami siswa terhadap materi yang disampaikan guru rendah. Biasanya setelah menjelaskan guru akan bertanya kepada siswa tentang apa yang baru saja disampaikan, tetapi tidak ada satupun siswa yang dapat mengulangi penjelasan guru tersebut. Peneliti melihat nilai-nilai siswa untuk materi penjumlahan dan pengurangan pecahan kelas V tahun ajaran 2012/ 2013. Berdasarkan hasil dokumentasi terlihat pencapaian siswa tidak merata. Ada siswa yang mencapai nilai tinggi dan ada pula siswa yang mencapai nilai yang rendah. Selain itu juga terlihat nilai harian dan PR jika dibandingkan dengan nilai ulangan harian sangat berbeda jauh. Berdasarkan data yang terkumpul akhirnya peneliti melaksanakan penelitian untuk materi penjumlahan dan pengurangan berbagai bentuk pecahan di kelas V B SD Kanisius Ganjuran. Penelitian ini berangsung selama dua siklus. Siklus I terdiri dari tiga pertemuan dan setiap pertemuan dilaksanakan selama 2 jam pertemuan (2 X 35 menit). Begitu juga pada pelaksanaan siklus II. Setelah mengalami tindakan maka terjadi perubahan kondisi kemampuan memahami siswa seperti pada tabel dibawah ini. 141

(163) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Tabel 1.1 Peningkatan Kemampuan Memahami Akhir Siklus Indikator Kondisi Awal Target Capaian Capaian siklus I Capaian siklus II Keterangan Memberika n contoh Target 50% 75% 63, 7% 76% tercapai dari suatu konsep Menyatakan ulang Target 45% 70% 81,8% 80% sebuah tercapai konsep Mengubah suatu Target 40% 65% 59% 80% bentuk ke tercapai bentuk lain Melakukan operasi hitung Target 40% 70% 86% 76% dalam tercapai berbagai bentuk Tabel 1.1 menunjukkan persentase kondisi kemampuan memahami siswa dari kondisi awal hingga kondisi akhir siklus. Kondisi awal untuk indikator 1 yaitu memberikan contoh dari suatu konsep mencapai 50%, setelah mengalami tindakan pada siklus I, kondisi kemampuan memahami siswa mengalami peningkatan menjadi 63, 7%. Presentase tersebut menunjukkan peningkatan untuk indikator memberikan contoh dari suatu konsep, tetapi belum mencapai target yang ditetapkan peneliti sebesar 75%. Setelah mengalami tindakan pada siklus II presentase kamampuan memahami untuk indikator memberikan contoh dari suatu konsep meningkat menjadi 76% dan dinyatakan target indikator 1 yaitu memberikan contoh dari suatu konsep tercapai. Kondisi awal untuk indikator 2 yaitu menyatakan ulang sebuah konsep sebesar 45% setelah mengalami tindakan dari siklus I kondisi kemampuan 142

(164) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI memahami siswa untuk indikator tersebut mengalami peningkatan menjadi 81, 8%. Presentase tersebut menunjukkan peningkatan untuk indikator menyatakan ulang sebuah konsep dan sudah mencapai target yang ditetapkan peneliti sebesar 70%. Setelah mengalami tindakan pada siklus II presentase kamampuan memahami untuk indikator 2 mengalami penurunan menjadi 80% tetapi tetap dinyatakan target tercapai karena kondisi akhir siklus tetap mencapai target yang ditetapkan meskipun mengalami penurunan dari siklus sebelumnya. Kondisi awal untuk indikator 3 yaitu mengubah suatu bentuk ke bentuk lain sebesar 40% setelah mengalami tindakan pada siklus I, kondisi kemampuan memahami siswa untuk indikator tersebut meningkat menjadi 59%. Presentase tersebut menunjukkan peningkatan untuk indikator mengubah suatu bentuk ke bentuk lain tetapi belum mencapai target yang ditetapkan peneliti sebesar 65%. Setelah mengalami tindakan pada siklus II presentase kamampuan memahami untuk indikator 3 mengalami peningkatan menjadi 80% dan dinyatakan target tercapai karena kondisi akhir siklus mencapai target yang ditetapkan. Kondisi awal untuk indikator 4 yaitu melakukan operasi hitung dalam berbagai bentuk sebesar 40% setelah mengalami tindakan pada siklus I kondisi kemampuan memahami siswa untuk indikator tersebut mengalami peningkatan menjadi 86%. Presentase tersebut menunjukkan peningkatan untuk indikator melakukan operasi hitung dalam berbagai bentuk dan sudah mencapai target yang ditetapkan peneliti sebesar 70%. Setelah mengalami tindakan pada siklus II presentase kamampuan memahami untuk indikator 4 143

(165) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI mengalami penurunan menjadi 76% tetapi tetap dinyatakan target tercapai karena kondisi akhir siklus tetap mencapai target yang ditetapkan meskipun mengalami penurunan dari siklus sebelumnya. Berdasarkan penjabaran tersebut diketahui bahwa terjadi peningkatan kemampuan memahami siswa kelas V B SD Kanisius Ganjuran untuk materi penjumlahan dan pengurangan berbagai bentuk pecahan dengan pendekatan PMRI karaktistik masalah kontekstual. Peningkatan tersebut dapat dilihat dari tercapainya target untuk masing-masing indikator kemampuan memahami oleh siswa pada siklus II. 2. Masalah kontekstual dalam PMRI Berdasarkan hasil wawancara pada hari Kamis tanggal 16 Januari 2014, guru mitra mengakui jika selama mengajar di SD Kanisius Ganjuran kurang lebih 3 tahun ini tidak pernah menerapkan model pembelajaran inovatif yang berpusat kepada siswa. Diakui guru jika menerapkan pembelajaran yang inovatif dan berpusat kepada siswa justru materi susah tersampaikan, karena siswa di SD Kanisius Ganjuran tidak terbiasa dengan model pembelajaran yang inovatif dan berpusat kepada siswa. Guru juga mengatakan jika siswa diberikan media ketika belajar, media tersebut justru digunakan untuk bermain, tidak digunakan sebagai media. Berdasarkan hasil observasi hari Kamis tanggal 16 Januari 2014 terlihat guru hanya mengisi pembelajaran menggunakan buku paket cetakan yayasan Kanisius. Ketika guru masuk kelas guru tidak memberikan apersepsi untuk menarik minat belajar siswa. Setelah berdo’a guru langsung meminta siswa 144

(166) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI untuk membuka buku paket cetakan yayasan Kanisius pada halaman tertentu kemudian meminta siswa untuk membaca halaman tersebut. Guru menunjuk salah satu siswa untuk membaca sementara yang lain menyimak. Cara ini terlihat kurang efektif karena tidak semua siswa mau mnyimak apa yang dibacakan temannya, kebanyakan siswa justru sibuk dnegan kegiatannya snediri seperti bermain alat tulis, keluar masuk kelas, dan melamun. Ketika selesai emmbaca guru menyebarkan pertanyaan secara acak dan dari 22 siswa di dalam kelas hanya 3 siswa yang dapat menjawab pertanyaan guru. Akhirnya peneliti memutuskan untuk melaksanakan penelitian di kelas V B SD Kanisius Ganjuran untuk materi penjumlahan dan pengurangan berbagai bentuk pecahan menggunakan pendekatan PMRI masalah kontekstual. Penelitian ini berlangsung selama dua siklus, dan masing-masing siklus dilaksanakan selama tiga kali pertemuan. Setiap pertemuan dilaksanakan selama dua jam pertemuan (2 X 35 menit). Jalannya pembelajaran sepenuhnya dilaksankaan oleh guru mitra, peneliti berada di dalam kelas sebagai pengamat jalannya pembelajaran. Selama pelaksanaan siklus satu guru selalu memulai pembelajaran dengan bercerita tentang kehidupan sehari-hari yang sering dijumpai. Pada pertemuan pertama guru menceritakan cerita “Roti Cokelat Milik Salsa” untuk mengenalkan pecahan biasa dan campuran kepada siswa. Guru juga menunjukkan roti cokelat yang sebenarnya kepada siswa untuk membantu siswa memahami cerita yang dibacakan guru. Pada pertemuan kedua guru bercerita tentang pengalamannya berbagi air minum untuk mengenalkan pecahan desimal. Ketika bercerita guru juga menunjukkan gelas ukur untuk 145

(167) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI membantu siswa mengenali pecahan desimal. Pada pertemuan ketiga guru menceritakan pengalaman ketika memperoleh potongan harga atau diskon di swalayan. Pada pertemuan ketiga guru tidak menunjukkan contoh diskonnya, kemudian ada salah satu anak yang menyeletuk setelah guru selesai bercerita. Siswa tersebut mengakui jika belum pernah ke swalayan dan memperoleh diskon atau potongan harga jadi siswa tersebut tidak mengetahui sepertia apa bentuk potngan harga itu. Kemudian guru meemberikan contoh lain yang ada disekitar siswa yaitu presentase suara yang diperoleh kontestan Indonesian Idol di televisi. Untuk mengecek pemahaman siswa guru meminta siswa tersebut memberikan contoh yang lain, kemudian siswa tersebut memberikan contoh perolehan suara ketika pemilihan kepala desa. Selama pelaksanaan siklus I guru membagikan media untuk masingmasing kelompok agar setiap siswa memperoleh kesempatan yang lebih banyak untuk mencoba media tersebut. pertemuan pertama guru menggunakan media plastisin yang dibentuk seperti kue ulang tahun, pertemuan kedua guru menggunakan media papan desimal dan pada pertemuan ketiga guru menggunakan media papan persen. Siswa terlihat antusias ketika dibagikan media-media tersebut. meskipun awalnya media tersbut digunakan untuk bermain pada khirnya siswa mau menggunakan edia tersebut sesuai kegunaannya. Melalui serangakian kegiatan yang menuntut siswa untuk lebih aktif akhirnya siswa lupa untuk memainkan media-media tersebut. Ketika siswa diminta untuk berpendapat juga sangat sulit, kebanyakan siswa hnya diam. Jiak menjawab mereka menjaab secara bersama-sama. Ketika menjawab sendiri justru mengeluarkan jawaban yang 146

(168) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI tidak sesuai dnegan pertanyaan guru. tetapi ketika siswa diminta untuk mempresentasikan hasil pekerjaannya di depan kelas sambil menunjukkan media yang dibagikan siswa lebih bersemangat meskipun kalimat yang dkeluarkan siswa masih terbata-bata. Selama siklus II guru juga mengawali pembelajaran dengan apersepsi. Seperti pada pelaksanaan siklus I, guru melakukan apersepsi dnegan bercerita tentang kehidupan sehari-hari. Belajar dari pertemuan ketiga siklus I, guru bercerita menggunakan contoh benda nyata. Pada pertemuan pertama dan kedua guru bercerita seputar pengalamannya dalam menghias kado menggunakan pita. Masalah kontekstual yang diceritakan oleh guru dapat tersampaikan dengan baik kepada siswa. Pelaksanaan siklus II peneliti menggunakan media papan berbagai bentuk pecahan yang dibagikan kepada masing-masing kelompok. Diharapkan siswa juga memperoleh kesempatan yang lebih besar untuk mencoba media tersebut. dalam siklus II, siswa terlihat lebih tenang. Ketika memperoleh media siswa tidak menggunakan media tersebut untuk bermain, tetapi siswa langsung bersiap untuk mencoba media tersebut. pada siklus II baik pertemuan pertama dan kedua peneliti membuat undian, setelah mengambil undian itu siswa segera kembali ke kelompok masing-masing dan sebelum guru selesai memberikan perintah untuk menyelesaiakan soal dalam undian menggunakan media papan berbagai bentuk pecahan siswa sudah mencobanya sendiri. Berikut dipaparkan tabel perbandingan kondisi awal dan akhir dalam pelaksanaan masalah kontekstual dalam pembelajaran. 147

(169) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI No Indikator 1 Pembelajaran dimulai dengan memberikan contoh masalah nyata dalam kehidupan seharihari siswa. 2 Masalah kontekstual Tabel 2.1 Perbedaan Keterlaksanaan Karakter Masalah Kontekstual dalam Pembelajaran Kondisi awal Kondisi Akhir Deskriptor Deskriptor Ada Ada Observasi Wawancara Observasi Wawancara Tidak terlihat guru Guru mengakui tidak Guru selalu memulai Guru mengakui sudha √ memberikan contoh menggunakan model pembelajaran dengan memberikan contohmasalah nyata di awal pembelajaran yang bercerita tentang masalah contoh masalah nyata pembelajaran, guru inovatif karena nyata yang terjadi di dalam kehidupan langsung meminta siswa membuang waktu kehidupan sekitar siswa baik sehari-hari siswa di untuk membuka buku pada pada siklus I maupun siklus awal pembelajaran. halaman-halaman tertentu II. Siklus I pertemuan jika ada siswa yang pertama guru bercerita belum mengetahui tentang “roti coklat milik contoh yang Salsa”, sedangkan pertemuan disampaikan, maka kedua guru bercerita seputar guru memberikan pengalaman guru berbagi air contoh lain sepertti minum dan pertemuan ketiga yang terjadi di guru bercerita tentang pertemuan ketiga potongan harga di swalayan. siklus I. ada siswa pada siklus II pertemuan yang tidak mengetahui pertama dan kedua guru tentang potongan bercerita seputar pengalaman harga, maka guru guru membungkus kado memberikan contoh menggunakan pita dan lain yaitu pemilihan menggunakan alat peraga ajang music berupa pita asli. Indonesian Idol di televisi. Tidak terlihat adanya Masalah kontekstual tidak Guru mengakui √ 148

(170) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI menjembatani pola pikir konkret siswa dengan materi abstrak matematika masalah nyata yang diceritakan guru. 3 Pembelajaran menggunakan media nyata - Tidak terlihat menggunakan media nyata. Sumber belajar yang ada adalah buku paket, LKS dna guru. Guru mengakui tidak pernah menggunakan media lagi, karena jika menggunakan media maka siswa anya akan bermain-main dengan media tersebut di luar kegunaan dari media tersebut. √ 4 Masalah nyata dapat memotivasi belajar - Tidak terlihat karena guru tidak memulai Guru mengakui jika menggunakan model- √ 149 hanya digunakan guru diawal pembelajaran, tetapi juga untuk menyimpulkan pembelajaran. selain itu guru jug amenggunakan alat peraga dalam bercerita sehingga masalah kontekstual yang diceritakan menjadi lebih nyata Setiap pertemuan baik siklus I maupun siklus II selalu mengguakan media nyata. Pad asiklus I pertemuan pertama menggunakan media lilin mainan atau plastisin, pertemuan kedua menggunakan papan desimal, dan pertemuan ketiga menggunakan papan persen. Sedangkan siklus II menggunakan papan berbagai bentuk pecahan. setiap kelompok memperoleh satu media untuk digunakan bersama dnegan teman sekelompoknya. Selama pembelajaran siswa terlihat lebih tenang ketika masalah kontekstual membantu siswa untuk mempelajari materi pecahan yang dirasa sangat abstrak. Guru mengaku sudah menggunakan media untuk maisng-masing materi yang diajarkan. Media tersebut dibagikan kepada masing-masing kelompok agar setiap siswa memperoleh lebih banyak kesempatan untuk mencoba media tersebut. Guru berkata tidak terlalu paham

(171) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI siswa pembelajaran dengan masalah nyata. model pembelajaran yang inovatif seperti pemberian masalah kntekstual hanya membuang waktu saja. 150 guru bercerita, beberapa kali siswa menyeletuk menebaknebak apa yang akan terjadi pada cerita tersebut. bagaimana indikator siswa dikatakan lebih termotivasi secara pasti, tetapi guru mengakui jika siswa lebih aktif dalma mengikuti pembelajaran selama proses tindakan berlangsung.

(172) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Peneliti juga menyebarkan kuesioer untuk meihat respon siswa terhadap keterlaksanaan karakter masalah kontekstual dalam PMRI. Berikut adalah hasil yang ditunjukkan oleh kedua siklus. Tabel 2.3 Respon Siswa Terhadap Keterlaksanaan Masalah Kontekstual Siklus I dan II Respon siswa Karakter Siklus I Siklus II Masalah Siswa Siswa kontekstua berada berada l di di persent Jumlah persent Jumlah % % siswa siswa il il maksi maksi mal mal 65% 65% 19 22 86% 20 21 95, 23% Tabel 2.3 menunjukkan besarnya respon siswa terhadap keterlaksanaan karakter masalah kontekstual dalam PMRI selama proses tidakan berlangsung. Pada siklus I 19 dari 22 siswa berada pada persentil maksimal 65% atau minimal memperoleh skor C. Dengan kata lain 86% siswa memberikan respon yang baik terhadap pelaksanaan PMRI karakteristik masalah kontekstual pada siklus I. Sedangkan pada siklus II, 20 dari 21 siswa berada pad persentil maksimal 65% atau minimal memperoleh skor C. Dengan kata lain 95, 23% siswa memberikan respon yang baik terhadap pelaksanaan PMRI maslaah kontekstual pada siklus II. 151

(173) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI C. Keterbatasan Penelitian Penelitian yang dilakukan di kelas V SD Kanisius Ganjuran Bantul Yogyakarta memiliki beberapa keterbatasan, Antara lain: 1. Ada salah satu siswa yang sulit diajak mengikuti pembelajaran. Siswa tersebut sering mengamuk dan menangis tanpa sebab. Jika ditanya dan diminta untuk diam mengikuti pembelajaran siswa tersebut akan semakin mengamuk atau menangis tetapi jika dibiarkan ia akan mengganggu siswa yang lain atau merusak media yang digunakan. Terlebih guru mitra selaku guru matematika juga mengaku kualahan menghadapi siswa tersebut. 2. Instrumen pembelajaran disusun oleh peneliti tanpa melibatkan guru mitra sehingga peneliti kesulitan menentukan masalah nyata yang benarbenar konteks dengan siswa. 3. Kondisi kelas V B kurang kondusif jika digunakan sebagai ruang untuk belajar. Jendela samping kelas terletak sangat rendah terlebih jendela tersebut menghadap ke halaman warga secara langsung. Sehingga banyak siswa yang memperhatikan keadaan halaman dibandingkan pembelajaran yang sedang berlangsung. 152 warga tersebut

(174) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. KESIMPULAN Setelah melaksanakan penelitian di kelas V B SD Kanisius Ganjuran untuk materi penjumlahan dan pengurangan berbagai bentuk pecahan, maka peneliti dapat menyimpulkan bahwa pelaksanaan PMRI karakeristik masalah kontekstual dapat meningkatkan kemampuan memahami siswa kelas V SD Kanisius Ganjuran untuk materi penjumlahan dan pengurangan berbagai bentuk pecahan. Peningkatan kemampuan memahami penjumlahan dan pengurangan berbagai bentuk pecahan ditunjukkan dengan meningkatnya persentase kemampuan memahami pada kondisi awal dan kemampuan memahami diakhir siklus serta tercapainya masing-masing target indikator kemampuan memahami. Kondisi awal indikator (1) memberikan contoh dari suatu konsep adalah 50% meningkat menjadi 76% diakhir siklus dan mencapai target yang ditetapkan sebesar 75%. Kondisi awal indkator (2) menyatakan ulang sebuah konsep sebesar 45% meningkat menjadi 80% diakhir siklus dan mencapai target yang ditetapkan sebesar 70%. Kondisi awal indikator (3) mengubah suatu bentuk ke bentuk lain meningkat menjadi 80% diakhir dan mencapai target yang ditetapkan sebesar 65%. Kondisi awal indikator (4) melakukan operasi hitung dalam berbagai bentuk sebesar 40% meningkat menjadi 76% diakhir siklus dan mencapai target yang ditetapkan sebesar 70%. Penelitian yang dilakukan peneliti di kelas V B SD Kanisius Ganjuran untuk materi penjumlahan dan pengurangan berbagai bentuk pecahan sudah 153

(175) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI mencerminkan PMRI khususnya karakteristik masalah kontekstual. Pelaksanaan karakteristik masalah kontekstual dalam PMRI dilakukan dengan (1) memulai pembelajaran dengan memberikan masalah nyata yang terjadi dikehidupan siswa sehari-hari dengan cara bercerita dn menunjukkan alat peraga (2) masalah nyata yang diceritakan guru membantu siswa mengenali materi yang akan dipelajari dan hubungannya dengan kehidupan sehari-hari siswa (3) menggunakan media pembelajaran untuk menyelesaikan masalah matematika (4) masalah nyata yang dismapaikan diawal pembelajaran dijadikan perantara guru untuk membimbing siswa dalam myimpulkan matri pelajaran. B. Saran Setelah melaksanakan penelitian di kelas V B SD Kanisius Ganjuran untuk materi penjumlahan dan pengurangan berbagai bentuk pecahan, maka peneliti dapat memberikan beberapa saran diantaranya: 1. Saran secara umum Sebaiknya guru membiasakan siswa untuk banyak mengerjakan soalsoal cerita. Terlihat selama pelaksanaan tindakan banyak siswa yang kebingungan ketika mengerjakan soal cerita. Melalui soal cerita dirasa dapat membantu siswa untuk lebih mengenali apa yang mereka pelajari memang terjadi di kehidupan mereka sehingga materi menjadi lebih bermakna bagi siswa. 154

(176) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2. Saran bagi peneliti sendiri Peneliti sebaiknya lebih memperhatikan persiapan penelitian yang harus dilakukan dengan waktu pelaksanaan KD di SD yang bersangkutan agar pelaksanaan penelitian lebih maksimal. 3. Saran bagi peneliti selanjutnya a. Pendekatan diterapkan PMRI untuk karakteristik materi lain masalah dalam kontekstual pelajaran dapat matematika, diantaranya yaitu materi penjumlahan dan pengurangan, geometri, pengukuran, serta penaksiran. b. Selain menekankan pada karakteristik masalah kontekstual, sebaiknya peneliti selanjutnya dapat menekankan karakteristik pemodelan untuk materi penjumlahan dan pengurangan berbagai bentuk pecahan. Berdasarkan penelitian “Penggunaan Masalah Kontekstual untuk Meningkatkan Kemampuan Memahami Pecahan dengan Pendekatan PMRI di Kelas V SDK Ganjuran Bantul” terlihat pemodelan siswa untuk materi tersebut sangat rendah. Siswa cenderung mengikuti pemodelan yang dilakukan oleh guru dan tidak mau mencoba melakukan pemodelannya sendiri. 155

(177) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR REFERENSI Arifin, Zainal. (2011). Evaluasi Pembelajaran. Bandung: Rosda Diba, Farah. dkk. (2009). Pengembangan Materi Pembelajaran Bilangan Berdasarkan Pendidikan matematika Realistik Untuk Siswa Kelas V Sekolah Dasar. Jurnal Pendidikan Matematika. Vol 3, No 1. Hadi, Sutarto. (2005). Pendidikan Matematika Realistik dan Implementasinya. Banjarmasin: Tulip Jalal, Fasli. (2010). A Decade of PMRI In Indonesia. Meppel: Ten Brink. Kartika, Windha, dkk. (2013). Penerapan PMRI Terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Berbantuan Alat Peraga Materi Pecahan. Unnes Journal of Mathematics Education (UJME). Vol 1, No 2. Kusuma, Wijaya. dkk. (2011). Mengenal Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Indeks Masidjo. (1995). Penilaian Pencapaian Hasil Belajar Siswa di Sekolah. Yogyakarta: Kanisius. Purwanto. (2008). Evaluasi Hasil Belajar. Yogyakarta: Pustaka Belajar. Sa’dijah, Cholis. (1998) Pendidikan Matematika II. Malang:Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Proyek Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Sanjaya, Wina. (2009). Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana perdans media group. Sugiyono. (2008). Metode Penelitian Kombinasi. Bandung: Alfabeta. Suharsimi, Arikunto. (1986). Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT Bina aksara. 156

(178) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Suherman, Erman. (2003). Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia. Sukardi. (2003). Metodologi Penelitian. Jakarta: Bumi Aksara Sukardi. (2008). Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara. Suparno, Paul. (2008). Riset Tindakan Untuk Pendidik.Jakarta: PT. Gramedia Widiasaraa Indonesia. Surapranata, Sumarna. (2009). Analisi, validitas, Reliabilitas, dan Interpretasi hasil Tes. Bandung: Remaja Rosdakarya Susanto, Ahmad. (2013). Teori belajar dan Pembelajaran di Sekolah Dasar. Jakarta: Kencana Suwardi, Sarwiji. (2011). Penelitian Tindakan Kelas (PTK) & Penulisan Karya Ilmiah. Surakarta: Yuma Pustaka Ullya, dkk. (2010). Desain Bahan Ajar Penjumlahan Pecahan Berbasis Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI) Untuk Kelas IV Sekolah Dasar Negeri 23 Indralaya. Jurnal Pendidikan Matematika. Vol 4, No.2 Yusuf, Syamsu. (2009). Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya 157

(179) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 158 LAMPIRAN SKRIPSI

(180) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 159 Lampiran 1. Silabus dan RPP 1. Silabus Siklus I 2. SIlabus Siklus II 3. RPP Siklus I 4. RPP Siklus II

(181) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 160 SILABUS SIKLUS I Mata Pelajaran Standar Kompetensi Kompetensi Dasar Matematika 5. Menggunakan pecahan dalam memecahkan masalah 5.2 Menjuml ahkan dan menguran gkan berbagai bentuk pecahan Satuan Pendidikan : SD Kanisius Ganjuran Hari/Tanggal/Pertemuan ke : Senin/ 10 Februari 2014/ pertemuan pertama Kelas/Semester : V (lima)/ II (dua) Mata Pelajaran : Matematika Alokasi Waktu : 2 X 35 menit (2 jp) Materi Pokok Pengalaman Belajar Penjumlaha Kegiatan awal: n dan a. Orientasi  Salam pembuka penguranga  Do’a pembuka n pecahan  Presensi berpenyebu  Guru membagi siswa menjadi beberapa t berbeda kelompok b. Apersepsi  Guru menceritakan sebuah cerita berjudul “Roti Coklat Milik Salsa”.  Guru membagikan media berupa roti coklat. Indikator Penilaian Competence a. Membangun pola penjumlahan pecahan berpenyebut berbeda dengan berbantu alat peraga b. Membangun pola pengurangan Jenis: tertulis Teknik: tes dan non tes Bentuk: Tes tes evaluasi Non tes lembar observasi Sumber dan Media Belajar Sumber: Sumanto, Y.D. 2008. Gemar Matematika 5. Jakarta: Depdiknas Media: a. Soal cerita “Roti

(182) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 161  Siswa bekerja dalam kelompok untuk menyelesaikan persoalan dalam cerita tersebut menggunakan media nyata (roti coklat).  Guru meminta salah satu kelompok untuk mendemonstrasikan pekerjaan mereka.  Guru bertanya, “potongan roti itu dinyatakan dalam pecahan bentuk apa?” c. Motivasi Guru menyampaikan garis besar pembelajaran dan tujuan pembelajaran. Kegiatan Inti Eksplorasi a. Guru membagikan media berupa lilin mainan yang dibentuk menyerupai kue ulang tahun pada masing-masing kelompok. b. Siswa menyelesaikan Lembar Kegiatan Siswa secara kelompok menggunakan media lilin mainan yang sudah disediakan. Elaborasi a. Setiap kelompok diminta untuk mendemonstrasikan pekerjaanya menggunakan media lilin mainan masingmasing. b. Guru memberikan kesempatan kepada kelompok lain untuk memberikan tanggapan kepada kelompok yang sedang maju. Konfirmasi pecahan berpenyebut berbeda dengan berbantu alat peraga c. Menjumlahkan pecahan berpenyebut berbeda d. Mengurangkan pecahan berpenyebut berbeda Conscience a. Percaya diri dalam mengungkapka n pendapat didepan kelas Compassion a. Bekerjasama dengan teman didalam kelompok untuk menyelesaikan suatu pekerjaan Milik Cokelat Salsa” b. Lilin mainan c. Roti coklat

(183) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 162 Guru membimbing siswa untuk menyimpulkan pola penjumlahan dan pengurangan pecahan berpenyebut berbeda. Kegiatan penutup a. Guru meminta siswa mengerjakan Lembar Kerja Siswa secara individu. b. Guru membimbing siswa untuk menyimpulkan pembelajaran pada hari ini. c. Guru meminta siswa merefleksikan pembelajaran hari ini pada lembar refleksi. d. Do’a Salam penutup. Yogyakarta, 5 Februari 2014 Guru Mata Pelajaran Katarina Dwi Indarti, S. Pd GH. 201121 Peneliti, Avi Yanti Ratna Kartikasari

(184) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 163 SILABUS SIKLUS I Satuan Pendidikan : SD Kanisius Ganjuran Hari/Tanggal/Pertemuan ke : Rabu / 12 Februari 2014/ Pertemuan kedua Kelas/Semester : V (lima)/ II (dua) Mata Pelajaran : Matematika Alokasi Waktu : 2 X 35 menit (2 jp) Mata Pelajaran Standar Kompetensi Kompetensi Dasar Materi Pokok Matematika 5. Menggunaka n pecahan dalam memecahkan masalah 5.2 Menjuml ahkan dan menguran gkan berbagai bentuk pecahan Penjumlaha n dan penguranga n pecahan desimal Pengalaman Belajar Kegiatan awal a. Orientasi  Salam pembuka  Do’a pembuka  Presensi  Guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok b. Apersepsi  Guru bercerita dengan menunjukkankan gelas ukur yang diisi air pada ukuran tertentu dan meminta salah satu siswa untuk membaca velume air dengan melihat garis dan angka pada gelas ukur tersebut. Indikator Penilaian Competence a. Membangun pola penjumlahan pecahan desimal dengan berbantu alat peraga b. Membangun pola pengurangan pecahan desimal dengan berbantu alat Jenis: tertulis Teknik: tes dan non tes Bentuk: Tes tes evaluasi Non tes lembar observasi Sumber dan Media Belajar Sumber: Sumanto, Y.D. 2008. Gemar Matematika 5. Jakarta: Depdiknas Media pembelajara n: a. Gelas ukur dan air

(185) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 164  Guru bertanya seputar volume air yang ditunjukkan gelas ukur tersebut.  Kemudian guru menambahkan air lagi kedalam gelas ukur tersebut.  Guru bertanya kembali seputar penambahan air kedalam gelas ukur tersebut. c. Motivasi Guru menyampaikan garis besar pembelajaran dan tujuan pembelajaran. Kegiatan inti Eksplorasi a. Guru menunjukkan media papan desimal kepada siswa. b. Guru meminta salah satu siswa maju kedepan kelas untuk mencoba papan desimal dalam menyelesaikan persoalan di tahap apersepsi. c. Guru memberikan kesempatan kepada siswa tersebut untuk menjelaskan langkah yang ia lakukan. d. Guru membagikan media (papan desimal) kepada masing-masing kelompok. e. Siswa menyelesaikan Lembar Kegiatan Siswa secara kelompok menggunakan media yang sudah disediakan oleh guru. f. Elaborasi a. Setiap kelompok diminta untuk mendemonstrasikan hasil pekerjaanya menggunakan papan desimal masing-masing. b. Guru memberikan kesempatan kepada kelompok lain untuk memberikan tanggapan peraga c. Menjumlahkan pecahan desimal d. Mengurangkan pecahan desimal Conscience a. Percaya diri dalam mengungkapka n pendapat didepan kelas Compassion a. Bekerjasama dengan teman didalam kelompok untuk menyelesaikan suatu pekerjaan b. Papan desimal

(186) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 165 kepada kelompok yang sedang maju. Konfirmasi Guru membimbing siswa untuk menyimpulkan pola penjumlahan dan pengurangan pecahan desimal. Kegiatan akhir a. Guru meminta siswa mengerjakan lembar kerja siswa secara individu. b. Guru membimbing siswa untuk menyimpulkan pembelajaran pada hari ini. c. Guru bersama siswa merefleksikan pembelajaran hari ini di lembar refleksi. d. Do’a e. Salam penutup. Yogyakarta, 5 Februari 2014 Guru Mata Pelajaran Katarina Dwi Indarti, S. Pd GH. 20112 Peneliti, Avi Yanti Ratna Kartikasari

(187) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 166 SILABUS SIKLUS I Satuan Pendidikan : SD Kanisius Ganjuran Hari/Tanggal/Pertemuan ke : Rabu/ 19 Februari 2014/ Pertemuan ketiga Kelas/Semester : V (lima)/ II (dua) Mata Pelajaran : Matematika Alokasi Waktu : 2 X 35 menit (2 jp) Sumber Mata Pelajaran Standar Kompetensi Kompetensi Dasar Materi Pokok Matematika 5. Menggunakan pecahan dalam memecahkan masalah 5.2 Menjumlahk an dan mengurangk an berbagai bentuk pecahan Penjumlahan dan pengurangan pecahan persen Pengalaman Belajar Kegiatan awal a. Orientasi  Salam pembuka  Do’a pembuka  Presensi  Guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok b. Apersepsi  Guru bertanya seputar pengalaman siswa memperoleh potongan harga di supermarket. c. Motivasi Indikator Competence a. Membangun pola penjumlahan persen dalam berbagai bentuk dengan berbantu alat peraga b. Membangun pola pengurangan Penilaian dan Media Belajar Jenis: tertulis Sumber: Sumanto, Teknik: tes Y.D. 2008. dan non tes Gemar Matematika Bentuk: 5. Jakarta: Tes tes Depdiknas

(188) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 167 Guru menyampaikan garis besar pembelajaran dan tujuan pembelajaran. Kegiatan inti Eksplorasi a. Guru membagikan media berupa papan persen b. Siswa menyelesaikan Lembar Kegiatan Siswa secara kelompok menggunakan media papan persen yang sudah disediakan. Elaborasi a. Setiap kelompok diminta untuk mendemonstrasikan pekerjaanya menggunakan media papan persen b. Guru memberikan kesempatan kepada kelompok lain untuk memberikan tanggapan kepada kelompok yang sedang maju. Konfirmasi a. Guru membimbing siswa untuk menyimpulkan pola penjumlahan dan pengurangan pecahan persen. b. Guru meminta siswa mengerjakan evaluasi pembelajaran secara individu. Kegiatan akhir a. Guru membimbing siswa untuk menyimpulkan pembelajaran pada hari ini. c. d. persen dalam berbagai bentuk dengan berbantu alat peraga Menjumlahka n pecahan bentuk persen Mengurangka n pecahan bentuk persen Conscience a. Percaya diri dalam mengungkapk an pendapat didepan kelas Compassion a. Bekerjasama dengan teman didalam kelompok untuk menyelesaikan suatu pekerjaan evaluasi Media: Non tes Papan lembar persen observasi

(189) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 168 b. Guru bersama siswa merefleksikan pembelajaran hari ini di lembar refleksi. c. Do’a d. Salam penutup. Yogyakarta, 5 Februari 2014 Guru Mata Pelajaran Katarina Dwi Indarti, S. Pd GH. 20112 Peneliti, Avi Yanti Ratna Kartikasari

(190) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 169 SILABUS SIKLUS II Satuan Pendidikan : SD Kanisius Ganjuran Hari/Tanggal/Pertemuan ke : Senin/ 10 Maret 2014/ Pertemuan pertama Kelas/Semester : V (lima)/ II (dua) Mata Pelajaran : Matematika Alokasi Waktu : 2 X 35 menit (2 jp) Sumber Mata Pelajaran Matematika Standar Kompetensi Kompetensi Dasar 5. Mengguna kan pecahan dalam memecahkan masalah 5.2 Menjumlah kan dan mengurang kan berbagai bentuk pecahan Materi Pokok Pengalaman Belajar Penjumlaha Kegiatan awal n berbagai a. Orientasi bentuk  Salam pembuka pecahan  Do’a pembuka  Presensi  Guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok b. Apersepsi  Guru bercerita sambil menunjukkan dua pita yang memiliki ukuran 0, 25 Indikator Competence Penilaian dan Media Belajar Jenis: tertulis Sumber: a. Menjumlahka Sumanto, n berbagai Teknik: tes Y.D. 2008. bentuk dan non tes Gemar pecahan menggunakan Matematika Bentuk: 5. Jakarta:

(191) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 170 meter dan meter.  Kemudian guru bertanya seputar panjang pita jika digabungkan. c. Motivasi Guru menyampaikan garis besar pembelajaran dan tujuan pembelajaran. Kegiatan inti Eksplorasi a. Guru mendemonstrasikan penggunaan media “papan berbagai bentuk pecahan” untuk menyelesaikan soal yang sebelumnya diceritakan. b. Guru meminta setiap perwakilan kelompok untuk maju kedepan mengambil undian yang berisi soal untuk diselesaikan bersama kelompok masing-masing. c. Guru membagikan media “papan berbagai bentuk pecahan” untuk membantu menyelesaikan soal . Elaborasi a. Setiap kelompok diminta untuk mendemonstrasikan soal dan hasil pekerjaanya menggunakan media b. Guru memberikan kesempatan kepada kelompok lain untuk memberikan tanggapan kepada kelompok yang sedang maju. media nyata Tes tes b. Menjumlahka evaluasi n berbagai Depdiknas Media: bentuk Non tes Papan pecahan tanpa lembar berbagai media nyata observasi bentuk pecahan Conscience a. Percaya diri dalam mengungkapk an pendapat didepan kelas Psikomotorik a. Bekerjasama dengan teman didalam kelompok

(192) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 171 Konfirmasi Guru membimbing siswa untuk menyimpulkan pola penjumlahan berbagai bentuk pecahan. Kegiatan akhir a. Guru meminta siswa mengerjakan Lemar Kerja Siswa secara individu. b. Guru membimbing siswa untuk menyimpulkan pembelajaran pada hari ini. c. Guru meminta siswa merefleksikan pembelajaran hari ini pada lembar refleksi. d. Do’a e. Salam penutup. untuk menyelesaikan suatu pekerjaan melalui diskusi kelompok Yogyakarta, 6 Maret 2014 Guru Mata Pelajaran Katarina Dwi Indarti, S. Pd GH. 20112 Peneliti, Avi Yanti Ratna Kartikasari

(193) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 172 SILABUS SIKLUS II Mata Pelajaran Standar Kompetensi Kompetensi Dasar Matematika 5. Menggunakan pecahan dalam memecahkan masalah 5.2 Menjumlah kan dan mengurang kan berbagai bentuk pecahan Satuan Pendidikan : SD Kanisius Ganjuran Hari/Tanggal/Pertemuan ke : Rabu/ 12 Maret 2014/ Pertemuan kedua Kelas/Semester : V (lima)/ II (dua) Mata Pelajaran : Matematika Alokasi Waktu : 2 X 35 menit (2 jp) Materi Pokok Pengalaman Belajar Penguranga Kegiatan awal n berbagai a. Orientasi  Salam pembuka bentuk  Do’a pembuka pecahan  Presensi  Guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok b. Apersepsi  Guru mengulang pembelajaran di pertemuan sebelumnya.  Guru bercerita sambil menunjukkan sebuah pita berukuran 0, 75 meter . Indikator Penilaian Competence a. Mengurangkan berbagai bentuk pecahan dengan berbantu media nyata b. Mengurangkan berbagai bentuk pecahan tanpa berbantu media nyata Jenis: tertulis Teknik: tes dan non tes Bentuk: Tes tes evaluasi Non tes lembar observasi Sumber dan Media Belajar Sumber: Sumanto, Y.D. 2008. Gemar Matematika 5. Jakarta: Depdiknas Media: Papan berbagai bentuk

(194) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 173  Kemudian pita tersebut ibu potong bagian dari pita tersebut untuk membuat hiasan.  Kemudian guru bertanya seputar sisa panjang pita. c. Motivasi Guru menyampaikan garis besar pembelajaran dan tujuan pembelajaran. Kegiatan inti Eksplorasi a. Guru mendemonstrasikan penggunaan media “papan berbagai bentuk pecahan” untuk menyelesaikan permasalahan diawal pembelajaran. b. Guru meminta setiap perwakilan kelompok untuk maju kedepan mengambil undian yang berisi soal untuk diselesaikan bersama kelompok masingmasing. c. Guru membagikan media “papan berbagai bentuk pecahan” pada masingmasing kelompok. Elaborasi a. Setiap kelompok diminta untuk mendemonstrasikan pekerjaanya menggunakan media b. Guru memberikan kesempatan kepada kelompok lain untuk memberikan tanggapan kepada kelompok yang sedang maju. Conscience a. Percaya diri dalam mengungkapka n pendapat didepan kelas Compassion a. Bekerjasama dengan teman didalam kelompok untuk menyelesaikan suatu pekerjaan melalui diskusi kelompok pecahan

(195) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 174 Konfirmasi c. Guru membimbing siswa untuk menyimpulkan pola pengurangan berbagai bentuk pecahan. Kegiatan akhir a. Guru meminta siswa mengerjakan Lemar Kerja Siswa secara individu. b. Guru membimbing siswa untuk menyimpulkan pembelajaran pada hari ini. c. Guru meminta siswa merefleksikan pembelajaran hari ini pada lembar refleksi. d. Do’a e. Salam penutup. Yogyakarta, 6 Maret 2014 Guru Mata Pelajaran Katarina Dwi Indarti, S. Pd GH. 20112 Peneliti, Avi Yanti Ratna Kartikasari

(196) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 175 SILABUS SIKLUS II Mata Pelajaran Standar Kompetensi Kompetensi Dasar Matematika 5. Menggunaka n pecahan dalam memecahkan masalah 5.2 Menjumlah kan dan mengurang kan berbagai bentuk pecahan Satuan Pendidikan : SD Kanisius Ganjuran Hari/Tanggal/Pertemuan ke : Jum’at/ 14 Februari 2014/ Pertemuan ketiga Kelas/Semester : V (lima)/ II (dua) Mata Pelajaran : Matematika Alokasi Waktu : 2 X 35 menit (2 jp) Materi Pokok Penjumlahan dan pengurangan berbagai bentuk pecahan Pengalaman Belajar Kegiata awal a. Orientasi  Salam pembuka  Do’a pembuka  Presensi  Guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok b. Apersepsi  Guru sedikit mengulang pembelajaran pada pertemuan sebelumnya c. Motivasi Guru menyampaikan garis besar pembelajaran dan tujuan pembelajaran. Indikator Penilaian Competence a. Melakukan berbagai operasi hitung dalam berbagai bentuk pecahan Jenis: tertulis Teknik: tes dan non tes Bentuk: Tes tes evaluasi Conscience b. Percaya diri dalam Non tes mengungkapka lembar n pendapat observasi didepan kelas Psikomotorik Sumber dan Media Belajar Sumber: Sumanto, Y.D. 2008. Gemar Matematika 5. Jakarta: Depdiknas Media: Papan berbagai bentuk desimal

(197) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 176 Kegiatan inti Eksplorasi a. Guru memintasetiap kelompok untuk membuat tiga soal tentang penjumlahan dan pengurangan berbagai bentuk pecahan. b. Guru membimbing setiap kelompok untuk saling menukarkan soal yang sudah mereka buat. c. Satiap kelompok memperoleh satu paket soal dari kelompok lain. d. Setiap kelompok mengerjakan soal yang mereka peroleh. Elaborasi a. Setiap kelompok diminta untuk mempresentasikan pekerjaanya b. Guru memberikan kesempatan kepada kelompok lain untuk memberikan tanggapan kepada kelompok yang sedang maju. Konfirmasi Guru membimbing siswa untuk menyimpulkan pola penjumlahan dan pengurangan berbagai bentuk pecahan. Kegiatan akhir a. Guru meminta siswa mengerjakan evaluasi pembelajaran secara individu. b. Guru membimbing siswa untuk menyimpulkan pembelajaran pada hari ini. c. Guru meminta siswa merefleksikan c. Bekerjasama dengan teman didalam kelompok untuk menyelesaikan suatu pekerjaan melalui diskusi kelompok

(198) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 177 pembelajaran hari ini pada lembar refleksi. d. Do’a e. Salam penutup. Yogyakarta, 6 Maret 2014 Guru Mata Pelajaran Katarina Dwi Indarti, S. Pd GH. 20112 Peneliti, Avi Yanti Ratna Kartikasari

(199) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 178 RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN Siklus I Satuan Pendidikan : SD Kanisius Ganjuran Mata Pelajaran : Matematika Kelas / semester :V/2 Alokasi Waktu : 2 X 35 menit Pertemuan : Pertama I Standar Kompetensi 5. Menggunakan pecahan dalam memecahkan masalah II Kompetensi Dasar 5.2 Menjumlahkan dan mengurangkan berbagai bentuk pecahan III Indikator Competence 5.2.1 Membangun pola penjumlahan pecahan berpenyebut berbeda dengan berbantu alat peraga 5.2.2 Membangun pola pengurangan pecahan berpenyebut berbeda dengan berbantu alat peraga 5.2.3 Menjumlahkan pecahan berpenyebut berbeda 5.2.4 Mengurangkan pecahan berpenyebut berbeda Conscience 5.2.5 Percaya diri dalam mengungkapkan pendapat didepan kelas Compassion

(200) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 179 5.2.6 Bekerjasama dengan teman didalam kelompok untuk menyelesaikan suatu pekerjaan IV Tujuan Pembelajaran Competence 5.2.1.1 Siswa dapat membangun pola penjumlahan pecahan berpenyebut berbeda dengan berbatu alat peraga 5.2.2.1 Siswa dapat membangun pola pengurangan pecahan berpenyebut berbeda dengan berbantu alat peraga melalui diskusi kelompok 5.2.3.1 Siswa dapat menjumlahkan dan mengurangkan pecahan berpenyebut berbeda secara individu Conscience 5.2.4.1 Siswa percaya diri dalam mengungkapkan pendapat didepan kelas 5.2.5.1 Siswa dapat bekerjasama dengan teman didalam kelompok untuk menyelesaikan suatu pekerjaan melalui diskusi kelompok Compassion 5.2.6.1 Siswa dapat mendemonstrasikan penggunaan media menyelesaikan soal baik secara individu maupun kelompok V Materi Pembelajaran Penjumlahan dan pengurangan pecahan berpenyebut berbeda VI Pendekatan dan Metode Pendekatan : PMRI (Pendidikan Matematika Realistik Indonesia) Metode : Tanya jawab, diskusi, demonstrasi, penugasan dalam VII Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran Kegiatan Kegiatan Awal Deskripsi a. Orientasi  Salam pembuka  Do’a pembuka Alokasi Waktu 15 menit

(201) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 180 Kegiatan Inti Kegiatan Akhir  Presensi  Guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok b. Apersepsi  Guru menceritakan sebuah cerita berjudul “Roti Coklat Milik Salsa”.  Guru membagikan media berupa roti coklat.  Siswa bekerja dalam kelompok untuk menyelesaikan persoalan dalam cerita tersebut menggunakan media nyata (roti coklat).  Guru meminta salah satu kelompok untuk mendemonstrasikan pekerjaan mereka.  Guru bertanya, “potongan roti itu dinyatakan dalam pecahan bentuk apa?” c. Motivasi  Guru menyampaikan garis besar pembelajaran dan tujuan pembelajaran. Eksplorasi a. Guru membagikan media berupa lilin mainan yang dibentuk menyerupai kue ulang tahun pada masingmasing kelompok. b. Siswa menyelesaikan Lembar Kegiatan Siswa secara kelompok menggunakan media lilin mainan yang sudah disediakan. Elaborasi a. Setiap kelompok diminta untuk mendemonstrasikan pekerjaanya menggunakan media lilin mainan masing-masing. b. Guru memberikan kesempatan kepada kelompok lain untuk memberikan tanggapan kepada kelompok yang sedang maju. Konfirmasi Guru membimbing siswa untuk menyimpulkan pola penjumlahan dan pengurangan pecahan berpenyebut berbeda. a. Guru meminta siswa mengerjakan Lembar Kerja Siswa secara individu. b. Guru membimbing siswa untuk menyimpulkan pembelajaran pada hari ini. c. Guru meminta siswa merefleksikan pembelajaran hari ini pada lembar refleksi. d. Do’a e. Salam penutup. 40 menit 15 menit

(202) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 181 VIII Refleksi Competence 5.2.1.2 Apakah peserta didik dapat membangun pola penjumlahan pecahan berpenyebut berbeda dengan berbantu alat peraga? 5.2.2.2 Apakah peserta didik dapat membangun pola pengurangan pecahan berpenyebut berbeda dengan berbantu alat peraga? 5.2.3.2 Apakah peserta didik dapat menjumlahkan pecahan berpenyebut berbeda? 5.2.4.2 Apakah peserta didik dapat mengurangkan pecahan berpenyebut berbeda? Conscience 5.2.5.2 Apakah peserta didik percaya diri dalam mengungkapkan pendapat didepan kelas? Compassion 5.2.6.2 Apakah peserta didik dapat bekerjasama dengan teman didalam kelompok untuk menyelesaikan suatu pekerjaan? IX Aksi Peserta didik dapat menerapkan pola penjumlahan dan pengurangan pecahan berpenyebut berbeeda dalam kehidupan sehari-hari, misalnya saat memotong kain, kue, dll. X Sumber dan Media Pembelajaran 1. Sumber pembelajaran a. Sumanto, Y.D. 2008. Gemar Matematika 5. Jakarta: Depdiknas 2. Media pembelajaran a. Soal cerita “Roti Milik Cokelat Salsa” b. Lilin mainan c. Roti coklat

(203) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 182 XI Penilaian a. Jenis b. Teknik c. Bentuk : Tertulis : Tes dan non tes : Tes  soal uraian Non Tes  Observasi Yogyakarta, 5 Februari 2014 Guru Mata Pelajaran Katarina Dwi Indarti, S. Pd GH. 201121 Peneliti, Avi Yanti Ratna Kartikasari

(204) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 183 (Lampiran RPP) Competence  tes (Lembar Kerja Siswa) Skor No Indikator 3 Membangun pola penjumlahan pecahan berpenyebut berbeda dengan berbantu alat peraga Membangun pola pengurangan pecahan berpenyebut berbeda dengan berbantu alat peraga Menjumlahkan pecahan berpenyebut berbeda 4 Mengurangkan pecahan berpenyebut berbeda 1 2 1 2 3 Kriteria: Indikator 1 1, jika siswa tidak menjawab soal. 2, jika siswa menyusun pola penjumlahan pecahan berpenyebut berbeda tetapi salah 3, jika siswa menyusun pola penjumlahan berpenyebut berbeda dan benar Indikator 2 1, jika siswa tidak menjawab soal. 2, jika siswa menyusun pola pengurangan pecahan berpenyebut berbeda tetapi salah 3, jika siswa menyusun pola pengurangan berpenyebut berbeda dan benar Indikator 3 1, jika siswa tidak menjawab. 2, jika siswa menjawab beserta langkah penjumlahan pecahan berpenyebut berbeda tetapi salah atau menjawab benar tanpa disertai langkahnya.

(205) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 184 3, jika siswa menjawab dengan benar disertai langkah penjumlahan pecahan berpenyebut berbeda. Indikator 4 1, jika siswa tidak menjawab. 2, jika siswa menjawab beserta langkah pengurangan pecahan berpenyebut berbeda tetapi salah atau menjawab benar tanpa disertai langkahnya. 3, jika siswa menjawab dengan benar disertai langkah pengurangan pecahan berpenyebut berbeda. Conscience  non tes (pengamatan) Skor No Indikator 1 Percaya diri dalam mengungkapkan pendapat didepan kelas Kriteria: 1 1, jika ketika berpendapat siswa:    Suara pelan. Pengucapan kalimat tidak lancar. Kepala menunduk. 2, jika ketika berpendapat siswa:    Suara pelan. Pengucapan kalimat cukup lancar. Pandangan mata kedepan kelas. 3, jika ketika berpendapat siswa:    Suara keras. Pengucapan kalimat lancar. Pandangan mata kedepan kelas. 2 3

(206) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 185 Nilai = (jumlah skor X 3) + 1 = (3 X 3) + 1 = 10 Compassions  non tes (pengamatan) Skor No Indikator 1 Bekerjasama dengan teman didalam kelompok untuk menyelesaikan suatu pekerjaan Kriteria: 1, jika:  Jarang menyumbangkan pendapat.  Dapat menghargai pendapat teman. 2, jika:  Sering menyumbangkan pendapat.  Tidak bisa menghargai pendapat yang berbeda. 3, jika:  Sering menyumbangkan pendapat.  Dapat menghargai pendapat yang berbeda. Nilai = (jumlah skor X 3) + 1 1 = (3 X 3) + 1 = 10 2 3

(207) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 186 Lampiran RPP) Roti Cokelat Milik Salsa Di rumah, Salsa memiliki sepotong roti cokelat. Setengah bagian habis dimakan adik Salsa. Kemudian setengah bagian dari roti yang tersisa dimakan Salsa. Pertanyaan: a. Berapa bagiankah roti yang habis dimakan Salsa dan adiknya? b. Berapa bagiankah roti yang masih tersisa?

(208) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 187 (Lampiran RPP) Lembar Kerja Siswa Baca dan lakukanlah setiap perintah dalam lembar kerja siswa ini bersama kelompok kalian masing-masing! 1. Bagilah kue ulang tahun yang terbuat dari lilin mainan menjadi dua sama besar! 2. Kemudian bagilah kelompok kalian masing-masing menjadi dua sub kelompok dan masing-masing sub kelompok memperoleh setengah bagian kue yang tadi dipotong. 3. Untuk masing-masing sub kelompok bagilah kue yang kalian miliki menjadi beberapa bagian sama besar sesuai kesepakatan dalam sub kelompok kalian masing-masing. Usahakan banyaknya potongan kue dalam tiap kelompok berbeda! 4. Setiap sub kelompok kembali dalam kelompok besar masing-masing. 5. Ambilah sepotong kue ulang tahun yang sudah dipotong oleh masing-masing sub kelompok dalam kelompok besar kalian. 6. Gabungkanlah kedua potongan tersebut. 7. Berapa besar bagiankah gabungan dari kedua potongan tersebut? tuliskan juga pada selembar kertas bagaimana cara kalian menghitungnya! 8. Ambil lagi masing-masing satu potong kue dari hasil pemotongan sub kelompok masing-masing. 9. Tentukan mana potongan yang lebih besar dan yang lebih kecil, kemudian kurangi potongan kue yang lebih besar sebesar potongan kue yang lebih kecil. 10. Tuliskan bagaiamana langkah yang kalian lakukan untuk mengurangkan kedua potongan kue tersebut pada selembar kertas!

(209) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 188 (Lampiran RPP) Lembar Kerja Siswa a. Arga mengecat bagian dari sebuah tongkat dengan warna merah, kemudian kakak membantu menyelesaikan dan berhasil mengecat bagian lagi. Berapa bagian dari tongkat itu kah yang sudah berhasil dicat dengan warna merah? b. Tuliskan kalimat matematika dari gambar dibawah ini dan selesaikan perhitungannya! + = c. Akhirnya bagian tongkat Arga berhasil dicat hitam, berapa bagian lagikah yang harus dicat oleh Arga agar satu tongkatnya berhasil dicat hitam seluruhnya? d. Tuliskan kalimat matematika dari gambar dibawah ini dan selesaikan perhitungannya! =

(210) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 189 RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN Siklus I Satuan Pendidikan : SD Kanisius Ganjuran Mata Pelajaran : Matematika Kelas / semester :V/2 Alokasi Waktu : 2 X 35 menit Pertemuan : Kedua I Standar Kompetensi 5. Menggunakan pecahan dalam memecahkan masalah II Kompetensi Dasar 5.2 Menjumlahkan dan mengurangkan berbagai bentuk pecahan III Indikator Competence 5.2.1 Membangun pola penjumlahan pecahan desimal dengan berbantu alat peraga 5.2.2 Membangun pola pengurangan pecahan desimal dengan berbantu alat peraga 5.2.3 Menjumlahkan pecahan desimal 5.2.4 Mengurangkan pecahan desimal Conscience 5.2.5 Percaya diri dalam mengungkapkan pendapat didepan kelas

(211) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 190 Compassion 5.2.6 Bekerjasama dengan teman didalam kelompok untuk menyelesaikan suatu pekerjaan IV Tujuan Pembelajaran Competence 5.2.1.1 Siswa dapat membangun pola penjumlahan pecahan desimal dengan berbantu alat peraga 5.2.2.1 Siswa dapat membangun pola pengurangan pecahan desimal dengan berbantu alat peraga 5.2.3.1 Siswa dapat menjumlahkan pecahan desimal 5.2.4.1 Siswa dapat mengurangkan pecahan desimal Conscience 5.2.5.1 Siswa percaya diri dalam mengungkapkan pendapat didepan kelas Compassion 5.2.6.1 Siswa dapat bekerjasama dengan teman didalam kelompok untuk menyelesaikan suatu pekerjaan melalui diskusi kelompok V Materi Pembelajaran Penjumlahan dan pengurangan pecahan desimal VI Pendekatan dan Metode Pendekatan : PMRI (Pendidikan Matematika Realistik Indonesia) Metode : Tanya jawab, diskusi, demonstrasi, penugasan

(212) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 191 VII Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran Kegiatan Kegiatan Awal Kegiatan Inti Deskripsi a. Orientasi  Salam pembuka  Do’a pembuka  Presensi  Guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok b. Apersepsi  Guru bercerita dengan menunjukkankan gelas ukur yang diisi air pada ukuran tertentu dan meminta salah satu siswa untuk membaca velume air dengan melihat garis dan angka pada gelas ukur tersebut.  Guru bertanya seputar volume air yang ditunjukkan gelas ukur tersebut.  Kemudian guru menambahkan air lagi kedalam gelas ukur tersebut.  Guru bertanya kembali seputar penambahan air kedalam gelas ukur tersebut. c. Motivasi  Guru menyampaikan garis besar pembelajaran dan tujuan pembelajaran. Alokasi Waktu 15 menit 35 menit Eksplorasi a. Guru menunjukkan media papan desimal kepada siswa. b. Guru meminta salah satu siswa maju kedepan kelas untuk mencoba papan desimal dalam menyelesaikan persoalan di tahap apersepsi. c. Guru memberikan kesempatan kepada siswa tersebut untuk menjelaskan langkah yang ia lakukan. d. Guru membagikan media (papan desimal) kepada masing-masing kelompok. e. Siswa menyelesaikan Lembar Kegiatan Siswa secara kelompok menggunakan media yang sudah disediakan oleh guru. f. Elaborasi a. Setiap kelompok diminta untuk mendemonstrasikan hasil pekerjaanya menggunakan papan desimal masing-masing. b. Guru memberikan kesempatan kepada kelompok lain untuk memberikan tanggapan kepada kelompok yang sedang maju.

(213) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 192 Kegiatan Akhir Konfirmasi Guru membimbing siswa untuk menyimpulkan pola penjumlahan dan pengurangan pecahan desimal. a. Guru meminta siswa mengerjakan lembar kerja siswa secara individu. b. Guru membimbing siswa untuk menyimpulkan pembelajaran pada hari ini. c. Guru bersama siswa merefleksikan pembelajaran hari ini di lembar refleksi. d. Do’a e. Salam penutup. 20 menit VIII Refleksi Competence 5.2.1.2 Apakah siswa dapat membangun pola penjumlahan pecahan desimal dengan berbantu alat peraga? 5.2.2.2 Apakah siswa dapat membangun pengurangan pecahan desimal dengan berbantu alat peraga? 5.2.3.2 Apakah siswa dapat menjumlahkan pecahan desimal? 5.2.4.2 Apakah siswa dapat mengurangkan pecahan desimal? Conscience 5.2.5.2 Apakah siswa percaya diri dalam mengungkapkan pendapat didepan kelas? Compassion 5.2.6.2 Apakah siswa dapat bekerjasama dengan teman didalam kelompok untuk menyelesaikan suatu pekerjaan melalui diskusi kelompok? IX Aksi Peserta didik dapat menerapkan pola penjumlahan dan pengurangan pecahan desimal dalam kehidupan sehari-hari, misalnya saat menuangkan air dalam pada saat memasak.

(214) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 193 X Sumber dan Media Pembelajaran 1. Sumber pembelajaran a. Sumanto, Y.D. 2008. Gemar Matematika 5. Jakarta: Depdiknas 2. XI Media pembelajaran b. Gelas ukur dan air c. Papan desimal Penilaian a. Jenis b. Teknik c. Bentuk : Tertulis : Tes dan non tes : Tes  soal uraian Non Tes  Observasi Yogyakarta, 5 Februari 2014 Guru Mata Pelajaran Katarina Dwi Indarti, S. Pd GH. 201121 Peneliti, Avi Yanti Ratna Kartikasari

(215) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 194 (Lampiran RPP) Kognitif  tes skor No Indikator 1 3 Membangun pola penjumlahan pecahan desimal dengan berbantu alat peraga Membangun pola pengurangan pecahan desimal dengan berbantu alat peraga Menjumlahkan pecahan desimal 4 Mengurangkan pecahan desimal 1 2 2 3 Kriteria: Indikator 1 1, jika siswa tidak menjawab soal. 2, jika siswa menyusun pola penjumlahan pecahan desimal tetapi salah 3, jika siswa menyusun pola penjumlahan desimal dan benar Indikator 2 1, jika siswa tidak menjawab soal. 2, jika siswa menyusun pola pengurangan pecahan desimal tetapi salah 3, jika siswa menyusun pola pengurangan desimal dan benar Indikator 3 1, jika siswa tidak menjawab. 2, jika siswa menjawab beserta langkah penjumlahan pecahan desimal tetapi salah atau menjawab benar tanpa disertai langkahnya. 3, jika siswa menjawab dengan benar disertai langkah penjumlahan pecahan desimal. Indikator 4

(216) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 195 1, jika siswa tidak menjawab. 2, jika siswa menjawab beserta langkah pengurangan pecahan desimal tetapi salah atau menjawab benar tanpa disertai langkahnya. 3, jika siswa menjawab dengan benar disertai langkah pengurangan pecahan desimal. Afektif  non tes (pengamatan) No Indikator Skor 1 Percaya diri dalam mengungkapkan pendapat didepan kelas Kriteria: 1 1, jika ketika berpendapat siswa:  Suara pelan.  Pengucapan kalimat tidak lancar.  Kepala menunduk. 2, jika ketika berpendapat siswa:    Suara pelan. Pengucapan kalimat cukup lancar. Pandangan mata kedepan kelas. 3, jika ketika berpendapat siswa:  Suara keras.  Pengucapan kalimat lancar.  Pandangan mata kedepan kelas. Nilai = (jumlah skor X 3) + 1 = (3 X 3) + 1 = 10 2 3

(217) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 196 Compassions  non tes (pengamatan) Skor No Indikator 1 Bekerjasama dengan teman didalam kelompok untuk menyelesaikan suatu pekerjaan Kriteria: 1, jika:  Jarang menyumbangkan pendapat.  Dapat menghargai pendapat teman. 2, jika:  Sering menyumbangkan pendapat.  Tidak bisa menghargai pendapat yang berbeda. 3, jika:  Sering menyumbangkan pendapat.  Dapat menghargai pendapat yang berbeda. Nilai = (jumlah skor X 3) + 1 1 = (3 X 3) + 1 = 10 2 3

(218) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 197 (Lampiran RPP) Lembar Kegiatan Siswa 1. Coba buatlah tiga soal tentang penjumlahan dan pengurangan pecahan desimal! 2. Kemudian tukarkan soal yang kamu buat dengan temanmu kepada kelompok lain! 3. Kerjakanlah soal yang dibuat oleh temanmu!

(219) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 198 (Lampiran RPP) Lembar Kerja Siswa 1. Ada dua botol kaca yang berisi air. Botol pertama berisi 0, 5 liter air. Botol kedua berisi 0, 75 liter air. Jika isi kedua botol dijadikan satu, berapa volume air seluruhnya? 2. Tinggi badan Arin 1, 5 meter. Tinggi badan adiknya 1, 118 meter. Berapa meter selisih tinggi badan Arin dan adiknya?

(220) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 199 3. Ibu memiliki 2,5 kg beras di rumah. Kemudian ibu membeli lagi 1, 65 kg beras. a. Berapa kg beras yang dimiliki ibu sekarang ? b. Seluruh beras akan dibawa kerumah nenek. Karena tidak berhati-hati, 0,5 kg beras jatuh dijalan. Berapa kg beras yang dimiliki ibu sekarang?

(221) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 200 RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN Siklus I Satuan Pendidikan : SD Kanisius Ganjuran Kelas / semester : IV / 2 Alokasi Waktu : 2 X 35 menit Pertemuan : Ketiga I Standar Kompetensi 5. Menggunakan pecahan dalam memecahkan masalah II Kompetensi Dasar 5.2 Menjumlahkan dan mengurangkan berbagai pecahan persen III Indikator Competence 5.2.1 Membangun pola penjumlahan persen dalam berbagai bentuk dengan berbantu alat peraga 5.2.2 Membangun pola pengurangan persen dalam berbagai bentuk dengan berbantu alat peraga 5.2.3 Menjumlahkan pecahan bentuk persen 5.2.4 Mengurangkan pecahan bentuk persen Conscience 5.2.5 Percaya diri dalam mengungkapkan pendapat didepan kelas Compassion 5.2.6 Bekerjasama dengan teman didalam kelompok untuk menyelesaikan suatu pekerjaan

(222) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 201 IV Tujuan Pembelajaran Competence 5.2.5.2 Siswa dapat membangun pola penjumlahan pecahan bentuk persen dengan berbantu alat peraga melalui diskusi kelompok 5.2.6.2 Siswa dapat membangun pola pengurangan pecahan bentuk persen dengan berbantu alat peraga melalui diskusi kelompok 5.2.7.2 Siswa dapat menjumlahkan pecahan bentuk persen 5.2.8.2 Siswa dapat mengurangkan pecahan bentuk persen Conscience 5.2.9.2 Siswa percaya diri dalam mengungkapkan pendapat didepan kelas Compassion 5.2.10.2 Siswa dapat bekerjasama dengan teman didalam kelompok untuk menyelesaikan suatu pekerjaan melalui diskusi kelompok V Materi Pembelajaran Penjumlahan pecahan persen VI Pendekatan dan Metode Pendekatan : PMRI (Pendidikan Matematika Realistik Indonesia) Metode : Tanya jawab, diskusi, demonstrasi, penugasan VII Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran Kegiatan Kegiatan Awal Deskripsi a. Orientasi  Salam pembuka  Do’a pembuka  Presensi  Guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok b. Apersepsi  Guru bertanya seputar pengalaman siswa Alokasi Waktu 15 menit

(223) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 202 Kegiatan Inti Kegiatan Akhir memperoleh potongan harga di supermarket. c. Motivasi  Guru menyampaikan garis besar pembelajaran dan tujuan pembelajaran. Eksplorasi a. Guru membagikan media berupa papan persen b. Siswa menyelesaikan Lembar Kegiatan Siswa secara kelompok menggunakan media papan persen yang sudah disediakan. Elaborasi a. Setiap kelompok diminta untuk mendemonstrasikan pekerjaanya menggunakan media papan persen b. Guru memberikan kesempatan kepada kelompok lain untuk memberikan tanggapan kepada kelompok yang sedang maju. Konfirmasi Guru membimbing siswa untuk menyimpulkan pola penjumlahan dan pengurangan pecahan persen. a. Guru meminta siswa mengerjakan evaluasi pembelajaran secara individu. b. Guru membimbing siswa untuk menyimpulkan pembelajaran pada hari ini. c. Guru bersama siswa merefleksikan pembelajaran hari ini di lembar refleksi. d. Do’a e. Salam penutup. 35 menit 20 menit VIII Refleksi Competence 5.2.1.2 Apakah siswa dapat membangun pola penjumlahan pecahan bentuk persen dengan berbantu alat peraga melalui diskusi kelompok? 5.2.2.2 Apakah siswa dapat membangun pola pengurangan pecahan bentuk persen dengan berbantu alat peraga melalui diskusi kelompok? 5.2.3.2 Apakah siswa dapat menjumlahkan pecahan bentuk persen? 5.2.4.2 Apakah siswa dapat mengurangkan pecahan bentuk persen? Conscience 5.2.5.2 Apakah siswa percaya diri dalam mengungkapkan pendapat didepan kelas?

(224) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 203 Compassion IX X 5.2.6.2 Apakah siswa dapat bekerjasama dengan teman didalam kelompok untuk menyelesaikan suatu pekerjaan melalui diskusi kelompok? Aksi Peserta didik dapat menerapkan pola penjumlahan dan pengurangan pecahan persen dalam kehidupan sehari-hari, misalnya saat mendapatkan potongan harga, dll. Sumber dan Media Pembelajaran 1. Sumber pembelajaran Sumanto, Y.D. 2008. Gemar Matematika 5. Jakarta: Depdiknas 2. Media pembelajaran Papan persen XI. Penilaian a. Jenis b. Teknik c. Bentuk : Tertulis : Tes dan non tes : Tes  soal uraian Non Tes  Observasi Yogyakarta, 5 Februari 2014 Guru Mata Pelajaran Katarina Dwi Indarti, S. Pd GH. 201121 Peneliti, Avi Yanti Ratna Kartikasari

(225) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 204 (Lampiran RPP) Competence  tes Skor No Indikator 1 3 Membangun pola penjumlahan persen dalam berbagai bentuk dengan berbantu alat peraga Membangun pola pengurangan persen dalam berbagai bentuk dengan berbantu alat peraga Menjumlahkan pecahan bentuk persen 4 Mengurangkan pecahan bentuk persen 1 2 2 3 Kriteria: Indikator 1 1, jika siswa tidak menjawab soal. 2, jika siswa menyusun pola penjumlahan pecahan tetapi salah 3, jika siswa menyusun pola penjumlahan dan benar Indikator 2 1, jika siswa tidak menjawab soal. 2, jika siswa menyusun pola pengurangan pecahan tetapi salah 3, jika siswa menyusun pola pengurangan dan benar Indikator 3 1, jika siswa tidak menjawab. 2, jika siswa menjawab beserta langkah penjumlahan pecahan tetapi salah atau menjawab benar tanpa disertai langkahnya. 3, jika siswa menjawab dengan benar disertai langkah penjumlahan pecahan . Indikator 4 1, jika siswa tidak menjawab.

(226) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 205 2, jika siswa menjawab beserta langkah pengurangan pecahan tetapi salah atau menjawab benar tanpa disertai langkahnya. 3, jika siswa menjawab dengan benar disertai langkah pengurangan pecahan . Conscience  non tes (pengamatan) No Indikator Skor 1 2 3 Percaya diri dalam mengungkapkan pendapat didepan kelas 1 Kriteria: 1, jika ketika berpendapat siswa:  Suara pelan.  Pengucapan kalimat tidak lancar.  Kepala menunduk. 2, jika ketika berpendapat siswa:  Suara pelan.  Pengucapan kalimat cukup lancar.  Pandangan mata kedepan kelas. 3, jika ketika berpendapat siswa:  Suara keras.  Pengucapan kalimat lancar.  Pandangan mata kedepan kelas. Nilai = (jumlah skor X 3) + 1 = (3 X 3) + 1 = 10 Compassions  non tes (pengamatan) Skor No Indikator 1 2 3

(227) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 206 1 Bekerjasama dengan teman didalam kelompok untuk menyelesaikan suatu pekerjaan Kriteria: 1, jika:  Jarang menyumbangkan pendapat.  Dapat menghargai pendapat teman. 2, jika:  Sering menyumbangkan pendapat.  Tidak bisa menghargai pendapat yang berbeda. 3, jika:  Sering menyumbangkan pendapat.  Dapat menghargai pendapat yang berbeda. Nilai = (jumlah skor X 3) + 1 = (3 X 3) + 1 = 10

(228) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 207 (Lampiran RPP) Lembar Kegiatan Siswa 4. Coba buatlah tiga soal yang menggunakan penjumlahan dan pengurangan pecahan persen yang sering kamu temui disekitarmu! 5. Kemudian tukarkan soal yang sudah dibuat kelompokmu dengan kelompok lain 6. Kerjakanlah soal yang kamu peroleh dari kelompok lain!

(229) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 208 RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN Siklus II Satuan Pendidikan : SD Kanisius Ganjuran Mata Pelajaran : Matematika Kelas / semester :V/2 Alokasi Waktu : 2 X 35 menit Pertemuan : Pertama I Standar Kompetensi 5. Menggunakan pecahan dalam memecahkan masalah II Kompetensi Dasar 5.2 Menjumlahkan dan mengurangkan berbagai bentuk pecahan III Indikator Competence 5.2.1 Menjumlahkan berbagai bentuk pecahan menggunakan media nyata 5.2.2 Menjumlahkan berbagai bentuk pecahan tanpa media nyata Conscience 5.2.3 Percaya diri dalam mengungkapkan pendapat didepan kelas Psikomotorik 5.2.4 Bekerjasama dengan teman didalam kelompok untuk menyelesaikan suatu pekerjaan melalui diskusi kelompok

(230) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 209 IV Tujuan Pembelajaran Competence 5.2.1.1 Siswa dapat menjumlahkan berbagai bentuk pecahan menggunakan media nyata 5.2.2.1 Siswa dapat menjumlahkan berbagai bentuk pecahan tanpa media nyata Conscience 5.2.1.2 Siswa percaya diri dalam mengungkapkan pendapat didepan kelas Compassion 5.2.2.2 Siswa dapat bekerjasama dengan teman didalam kelompok untuk menyelesaikan suatu pekerjaan melalui diskusi kelompok V Materi Pembelajaran Penjumlahan berbagai bentuk pecahan VI Pendekatan dan Metode Pendekatan : PMRI (Pendidikan Matematika Realistik Indonesia) Metode : Tanya jawab, diskusi, demonstrasi, penugasan VII Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran Kegiatan Kegiatan Awal Deskripsi a. Orientasi  Salam pembuka  Do’a pembuka  Presensi  Guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok b. Apersepsi  Guru bercerita sambil menunjukkan dua pita yang memiliki ukuran 0, 25 meter dan meter.  Kemudian guru bertanya seputar panjang pita Alokasi Waktu 15 menit

(231) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 210 Kegiatan Inti Kegiatan Akhir jika digabungkan. c. Motivasi  Guru menyampaikan garis besar pembelajaran dan tujuan pembelajaran. Eksplorasi a. Guru mendemonstrasikan penggunaan media “papan berbagai bentuk pecahan” untuk menyelesaikan soal yang sebelumnya diceritakan. b. Guru meminta setiap perwakilan kelompok untuk maju kedepan mengambil undian yang berisi soal untuk diselesaikan bersama kelompok masingmasing. c. Guru membagikan media “papan berbagai bentuk pecahan” untuk membantu menyelesaikan soal . Elaborasi a. Setiap kelompok diminta untuk mendemonstrasikan soal dan hasil pekerjaanya menggunakan media b. Guru memberikan kesempatan kepada kelompok lain untuk memberikan tanggapan kepada kelompok yang sedang maju. Konfirmasi Guru membimbing siswa untuk menyimpulkan pola penjumlahan berbagai bentuk pecahan. a. Guru meminta siswa mengerjakan Lemar Kerja Siswa secara individu. b. Guru membimbing siswa untuk menyimpulkan pembelajaran pada hari ini. c. Guru meminta siswa merefleksikan pembelajaran hari ini pada lembar refleksi. d. Do’a e. Salam penutup. 35 menit 20 menit VIII Refleksi Competence 5.2.1.2 Apakah siswa dapat menjumlahkan berbagai bentuk pecahanmenggunakan media nyata? 5.2.2.2 Apakah siswa dapat menjumlahkan berbagai bentuk pecahan tanpa media nyata? Conscience

(232) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 211 5.2.3.2 Apakah siswa percaya diri dalam mengungkapkan pendapat didepan kelas? Compassion 5.2.4.2 Apakah siswa dapat bekerjasama dengan teman didalam kelompok untuk menyelesaikan suatu pekerjaan melalui diskusi kelompok? IX Aksi Peserta didik dapat menerapkan pola penjumlahan dan pengurangan berbagai bentuk pecahan dalam kehidupan sehari-hari. X Sumber dan Media Pembelajaran 1. Sumber pembelajaran Sumanto, Y.D. 2008. Gemar Matematika 5. Jakarta: Depdiknas 2. XI Media pembelajaran Papan berbagai bentuk pecahan Penilaian a. Jenis b. Teknik c. Bentuk : Tertulis : Tes dan non tes : Tes  soal uraian Non Tes  Observasi Yogyakarta, 6 Maret 2014 Guru Mata Pelajaran Katarina Dwi Indarti, S. Pd Peneliti, Avi Yanti Ratna Kartikasari

(233) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 212 GH. 201121 (Lampiran RPP) Competence  tes (Lembar Kerja Siswa) Skor No Indikator 1 2 3 Menjumlahkan berbagai bentuk pecahan menggunakan media nyata 2 Menjumlahkan berbagai bentuk pecahan tanpa media nyata Kriteria: 1 Indikator 1 1, jika siswa tidak menjawab soal. 2, jika siswa salah dalam menyusun pola penjumlahan berbagai bentuk pecahan menggunakan media nyata 3, jika siswa benar dalam menyusun pola penjumlahan dalam berbagai bentuk pecahan menggunakan media nyata Indikator 2 1, jika siswa tidak menjawab soal. 2, jika siswa salah dalam menjumlahkan dalam berbagai bentuk pecahan 3, jika siswa benar dalam menjumlahkan berbagai bentuk pecahan Conscience  non tes (pengamatan) No Indikator Skor 1 1 Percaya diri dalam mengungkapkan pendapat didepan kelas 2 3

(234) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 213 Kriteria: 1, jika ketika berpendapat siswa:  Suara pelan.  Pengucapan kalimat tidak lancar.  Kepala menunduk. 2, jika ketika berpendapat siswa:    Suara pelan. Pengucapan kalimat cukup lancar. Pandangan mata kedepan kelas. 3, jika ketika berpendapat siswa:    Suara keras. Pengucapan kalimat lancar. Pandangan mata kedepan kelas. Nilai = (jumlah skor X 3) + 1 = (3 X 3) + 1 = 10 Compassions  non tes (pengamatan) Skor No Indikator 1 Bekerjasama dengan teman didalam kelompok untuk menyelesaikan suatu pekerjaan Kriteria: 1, jika:  Jarang menyumbangkan pendapat. 1 2 3

(235) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 214  Dapat menghargai pendapat teman. 2, jika:  Sering menyumbangkan pendapat.  Tidak bisa menghargai pendapat yang berbeda. 3, jika:  Sering menyumbangkan pendapat.  Dapat menghargai pendapat yang berbeda. Nilai = (jumlah skor X 3) + 1 = (3 X 3) + 1 = 10

(236) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 215 (Lampiran RPP) Lembar Kerja Siswa 1. Arga akan menjenguk neneknya yang sedang sakit. Dari rumah, Arga membawa 2, 5 kg buah jeruk dengan sekantong plastik. Dijalan, Arga membeli 3 kg buah mangga. Kemudian buah mangga tersebut dimasukkan dalam kantong plastik bersama buah jeruk yang dibawa Arga dari rumah. Berapakah berat isi kantong plastik yang dibawa oleh Arga skarang? Jawab: 2. Kemarin Pak Toni mengunduh kuintal durian. Hari ini Pak Toni mengunduh lagi 0, 4 kuinal durian. Berapa kuintal durian yang berhasil diunduh Pak Toni? Jawab 1. 2, 5 + 3 = 2, 5 + = 2, 5 + = 2, 5 + . . . =... 2. + 0, 4 = + 0, 4 = . . . + 0, 4 =...

(237) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 216 3. 20% + = Jawab: 4. 2, 3 + 35% = Jawab:

(238) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 217 (Lampiran RPP) Lembar Kegiatan Siswa Undian 1: Ibu membeli dua kantong gula pasir. Kantong yang pertama berisi kg gula sedangkan kantong kedua berisi 0, 5 gula. Berapa kg seluruh gula yang dibeli ibu? Undian 2: Ibu membeli dua kantong gula pasir. Kantong yang pertama berisi kg gula sedangkan kantong kedua berisi 0, 25 gula. Berapa kg seluruh gula yang dibeli ibu? Undian 3: Ibu membeli dua kantong gula pasir. Kantong yang pertama berisi kg gula sedangkan kantong kedua berisi 0, 25 gula. Berapa kg seluruh gula yang dibeli ibu? Undian 4: Ibu membeli dua kantong gula pasir. Kantong yang pertama berisi kg gula sedangkan kantong kedua berisi 0, 5 gula. Berapa kg seluruh gula yang dibeli ibu? Undian 5: Ibu membeli dua kantong gula pasir. Kantong yang pertama berisi kg gula sedangkan kantong kedua berisi 0, 25 gula. Berapa kg seluruh gula yang dibeli ibu?

(239) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 218 RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (Siklus II) Satuan Pendidikan : SD Kanisius Ganjuran Mata Pelajaran : Matematika Kelas / semester :V/2 Alokasi Waktu : 2 X 35 menit Pertemuan : kedua I Standar Kompetensi 5. Menggunakan pecahan dalam memecahkan masalah II Kompetensi Dasar 5.2 Menjumlahkan dan mengurangkan berbagai bentuk pecahan III Indikator Competence 5.2.1 5.2.2 Mengurangkan berbagai bentuk pecahan dengan berbantu media nyata Mengurangkan berbagai bentuk pecahan tanpa berbantu media nyata Conscience 5.2.3 Percaya diri dalam mengungkapkan pendapat didepan kelas Compassion 5.2.4 Bekerjasama dengan teman didalam kelompok untuk menyelesaikan suatu pekerjaan melalui diskusi kelompok

(240) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 219 IV Tujuan Pembelajaran Competence 5.2.1.1 Siswa dapat mengurangkan berbagai bentuk pecahan dengan berbantu media nyata 5.2.2.1 Siswa dapat mengurangkan berbagai bentuk pecahan tanpa berbantu media nyata Afektif 5.2.1.2 Siswa percaya diri dalam mengungkapkan pendapat didepan kelas Psikomotorik 5.2.2.2 Siswa dapat bekerjasama dengan teman didalam kelompok untuk menyelesaikan suatu pekerjaan melalui diskusi kelompok V Materi Pembelajaran Pengurangan berbagai bentuk pecahan VI Pendekatan dan Metode Pendekatan : PMRI (Pendidikan Matematika Realistik Indonesia) Metode : Tanya jawab, diskusi, demonstrasi, penugasan VII Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran Kegiatan Kegiatan Awal Deskripsi a. Orientasi  Salam pembuka  Do’a pembuka  Presensi  Guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok b. Apersepsi  Guru mengulang pembelajaran di pertemuan sebelumnya.  Guru bercerita sambil menunjukkan sebuah pita Alokasi Waktu 15 menit

(241) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 220 Kegiatan Inti Kegiatan Akhir berukuran 0, 75 meter .  Kemudian pita tersebut ibu potong bagian dari pita tersebut untuk membuat hiasan.  Kemudian guru bertanya seputar sisa panjang pita. c. Motivasi  Guru menyampaikan garis besar pembelajaran dan tujuan pembelajaran. Eksplorasi a. Guru mendemonstrasikan penggunaan media “papan berbagai bentuk pecahan” untuk menyelesaikan permasalahan diawal pembelajaran. b. Guru meminta setiap perwakilan kelompok untuk maju kedepan mengambil undian yang berisi soal untuk diselesaikan bersama kelompok masingmasing. c. Guru membagikan media “papan berbagai bentuk pecahan” pada masing-masing kelompok. Elaborasi a. Setiap kelompok diminta untuk mendemonstrasikan pekerjaanya menggunakan media b. Guru memberikan kesempatan kepada kelompok lain untuk memberikan tanggapan kepada kelompok yang sedang maju. Konfirmasi Guru membimbing siswa untuk menyimpulkan pola pengurangan berbagai bentuk pecahan. a. Guru meminta siswa mengerjakan Lemar Kerja Siswa secara individu. b. Guru membimbing siswa untuk menyimpulkan pembelajaran pada hari ini. c. Guru meminta siswa merefleksikan pembelajaran hari ini pada lembar refleksi. d. Do’a e. Salam penutup. 35 menit 20 menit

(242) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 221 VIII Refleksi Competence 5.2.1.2 Apakah siswa dapat mengurangkan berbagai bentuk pecahan dengan berbantu media nyata? 5.2.2.2 Apakah siswa dapat mengurangkan berbagai bentuk pecahan tanpa berbantu media nyata? Afektif 5.2.3.2 Apakah siswa percaya diri dalam mengungkapkan pendapat didepan kelas? Psikomotorik 5.2.4.2 Apakah siswa dapat bekerjasama dengan teman didalam kelompok untuk menyelesaikan suatu pekerjaan melalui diskusi kelompok? IX Aksi Peserta didik dapat menerapkan pola penjumlahan dan pengurangan berbagai bentuk pecahan dalam kehidupan sehari-hari. X Sumber dan Media Pembelajaran 1. Sumber pembelajaran Sumanto, Y.D. 2008. Gemar Matematika 5. Jakarta: Depdiknas 2. Media pembelajaran Papan berbagai bentuk pecahan

(243) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 222 XI Penilaian a. Jenis : Tertulis b. Teknik : Tes dan non tes c. Bentuk : Tes  soal uraian Non Tes  Observasi Yogyakarta, 6 Maret 2014 Guru Mata Pelajaran Katarina Dwi Indarti, S. Pd GH. 201121 Peneliti, Avi Yanti Ratna Kartikasari

(244) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 223 (Lampiran RPP) Competence  tes (Lembar Kerja Siswa) Skor No Indikator 1 2 3 Mengurangkan berbagai bentuk pecahan dengan berbantu media nyata 2 Mengurangkan berbagai bentuk pecahan tanpa berbantu media nyata Kriteria: 1 Indikator 1 1, jika siswa tidak menjawab soal. 2, jika siswa salah dalam menyusun pola pengurangan berbagai bentuk pecahan menggunakan media nyata 3, jika siswa benar dalam menyusun pola pengurangandalam berbagai bentuk pecahan menggunakan media nyata Indikator 2 1, jika siswa tidak menjawab soal. 2, jika siswa salah dalam mengurangkandalam berbagai bentuk pecahan 3, jika siswa benar dalam mengurangkanberbagai bentuk pecahan Conscience  non tes (pengamatan) No Indikator Skor 1 1 Percaya diri dalam mengungkapkan pendapat didepan kelas 2 3

(245) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 224 Kriteria: 1, jika ketika berpendapat siswa:  Suara pelan.  Pengucapan kalimat tidak lancar.  Kepala menunduk. 2, jika ketika berpendapat siswa:    Suara pelan. Pengucapan kalimat cukup lancar. Pandangan mata kedepan kelas. 3, jika ketika berpendapat siswa:    Suara keras. Pengucapan kalimat lancar. Pandangan mata kedepan kelas. Nilai = (jumlah skor X 3) + 1 = (3 X 3) + 1 = 10 Compassions  non tes (pengamatan) Skor No Indikator 1 Bekerjasama dengan teman didalam kelompok untuk menyelesaikan suatu pekerjaan Kriteria: 1, jika:  Jarang menyumbangkan pendapat.  Dapat menghargai pendapat teman. 2, jika:  Sering menyumbangkan pendapat.  Tidak bisa menghargai pendapat yang berbeda. 3, jika: 1 2 3

(246) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 225  Sering menyumbangkan pendapat.  Dapat menghargai pendapat yang berbeda. Nilai = (jumlah skor X 3) + 1 = (3 X 3) + 1 = 10

(247) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 226 (Lampiran RPP) Lembar Kegiatan Siswa Undian 1: Pak Thomas memiliki hektar tanah kosong dibelakang rumahnya. 0, 25 bagian dari tanah tersebut akan ditanami pohon kelapa. Sisanya akan dijadikan kolam ikan lele. Berapa bagiankah tanah yang akan dijadikan kolam lele? Undian 2 Pak Thomas memiliki hektar tanah kosong dibelakang rumahnya. 0, 15 bagian dari tanah tersebut akan ditanami pohon kelapa. Sisanya akan dijadikan kolam ikan lele. Berapa bagiankah tanah yang akan dijadikan kolam lele? Undian 3 Pak Thomas memiliki hektar tanah kosong dibelakang rumahnya. 0, 15 bagian dari tanah tersebut akan ditanami pohon kelapa. Sisanya akan dijadikan kolam ikan lele. Berapa bagiankah tanah yang akan dijadikan kolam lele? Undian 4 Pak Thomas memiliki hektar tanah kosong dibelakang rumahnya. 0, 5 bagian dari tanah tersebut akan ditanami pohon kelapa. Sisanya akan dijadikan kolam ikan lele. Berapa bagiankah tanah yang akan dijadikan kolam lele? Undian 5 Pak Thomas memiliki hektar tanah kosong dibelakang rumahnya. 0, 2 bagian dari tanah tersebut akan ditanami pohon kelapa. Sisanya akan dijadikan kolam ikan lele. Berapa bagiankah tanah yang akan dijadikan kolam lel

(248) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 227 (Lampiran RPP) Lembar Kerja Siswa 1. Toni memiliki 2, 5 liter minyak tanah didalam galon. Untuk keperluan memasak, Toni memasukkan literminyak tersebut kedalam kompor. Berapakah sisa minyak tanah yang dimiliki Toni sekarang? Jawab: 2. Hari ini Apin pergi memancing dan memperoleh 3 kg ikan. Sesampainya dirumah, 0 5 kg ikan tersebut dibagikan oleh ibu kepada tetangga. Berapa kg kah sisa ikan yang masih dimilliki Apin ? Jawab: 3. 2, 5 = 2, 5 + = 2, 5 + = 2, 5 + . . . =...

(249) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 228 4. 3 - 0, 5 = + 0, 5 = . . . + 0, 5 =... 5. 80% - = Jawab: 6. 3, 5 - 10% = Jawab:

(250) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 229 RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (Siklus II) Satuan Pendidikan : SD Kanisius Ganjuran Mata Pelajaran : Matematika Kelas / semester :V/2 Alokasi Waktu : 2 X 35 menit Pertemuan : Ketiga I Standar Kompetensi 5. Menggunakan pecahan dalam memecahkan masalah II Kompetensi Dasar 5.2 Menjumlahkan dan mengurangkan berbagai bentuk pecahan III Indikator Competence 5.2.1 Melakukan berbagai operasi hitung dalam berbagai bentuk pecahan Conscience 5.2.2 Percaya diri dalam mengungkapkan pendapat didepan kelas Psikomotorik 5.2.3 Bekerjasama dengan teman didalam kelompok untuk menyelesaikan suatu pekerjaan melalui diskusi kelompok

(251) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 230 IV Tujuan Pembelajaran Competence 5.2.1.2 Siswa dapat melakukan berbagai operasi hitung dalam berbagai bentuk pecahan Conscience 5.2.1.2 Siswa percaya diri dalam mengungkapkan pendapat didepan kelas Compassion 5.2.2.2 Siswa dapat bekerjasama dengan teman didalam kelompok untuk menyelesaikan suatu pekerjaan melalui diskusi kelompok V Materi Pembelajaran Penjumlahan dan pengurangan berbagai bentuk pecahan VI Pendekatan dan Metode Pendekatan : PMRI (Pendidikan Matematika Realistik Indonesia) Metode : Tanya jawab, diskusi, demonstrasi, penugasan VII Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran Kegiatan Kegiatan Awal Kegiatan Deskripsi a. Orientasi  Salam pembuka  Do’a pembuka  Presensi  Guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok b. Apersepsi  Guru sedikit mengulang pembelajaran pada pertemuan sebelumnya c. Motivasi  Guru menyampaikan garis besar pembelajaran dan tujuan pembelajaran. Eksplorasi Alokasi Waktu 5 menit 15 menit

(252) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 231 Inti a. Guru memintasetiap kelompok untuk membuat tiga soal tentang penjumlahan dan pengurangan berbagai bentuk pecahan. b. Guru membimbing setiap kelompok untuk saling menukarkan soal yang sudah mereka buat. c. Satiap kelompok memperoleh satu paket soal dari kelompok lain. d. Setiap kelompok mengerjakan soal yang mereka peroleh. Elaborasi a. Setiap kelompok diminta untuk mempresentasikan pekerjaanya b. Guru memberikan kesempatan kepada kelompok lain untuk memberikan tanggapan kepada kelompok yang sedang maju. Kegiatan Akhir Konfirmasi a. Guru membimbing siswa untuk menyimpulkan pola penjumlahan dan pengurangan berbagai bentuk pecahan. a. Guru meminta siswa mengerjakan evaluasi pembelajaran secara individu. b. Guru membimbing siswa untuk menyimpulkan pembelajaran pada hari ini. c. Guru meminta siswa merefleksikan pembelajaran hari ini pada lembar refleksi. d. Do’a e. Salam penutup. 50 menit VIII Refleksi Competence 5.2.1.2 Siswa dapat melakukan berbagai operasi hitung dalam berbagai bentuk pecahan Conscience 5.2.2.2 Siswa percaya diri dalam mengungkapkan pendapat didepan kelas

(253) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 232 Compassion 5.2.3.2 Siswa dapat bekerjasama dengan teman didalam kelompok untuk menyelesaikan suatu pekerjaan melalui diskusi kelompok IX Aksi Peserta didik dapat menerapkan pola penjumlahan dan pengurangan berbagai bentuk pecahan dalam kehidupan sehari-hari. X Sumber dan Media Pembelajaran 1. Sumber pembelajaran Sumanto, Y.D. 2008. Gemar Matematika 5. Jakarta: Depdiknas 2. Media pembelajaran Papan berbagai bentuk pecahan XI Penilaian a. Jenis b. Teknik c. Bentuk : Tertulis : Tes dan non tes : Tes  soal uraian Non Tes  Observasi Yogyakarta, 6 Maret 2014 Guru Mata Pelajaran Katarina Dwi Indarti, S. Pd GH. 201121 Peneliti, Avi Yanti Ratna Kartikasari

(254) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 233 (Lampiran RPP) Competence  tes (Lembar Kerja Siswa) Skor No Indikator 1 Melakukan berbagai operasi hitung dalam berbagai bentuk pecahan 1 2 3 Kriteria: Indikator 2 1, jika siswa tidak menjawab soal. 2, jika siswa salah dalam menjumlahkan dalam berbagai bentuk pecahan 3, jika siswa benar dalam menjumlahkan berbagai bentuk pecahan Conscience  non tes (pengamatan) No Indikator Skor 1 Percaya diri dalam mengungkapkan pendapat didepan kelas Kriteria: 1 1, jika ketika berpendapat siswa:  Suara pelan.  Pengucapan kalimat tidak lancar.  Kepala menunduk. 2, jika ketika berpendapat siswa:    Suara pelan. Pengucapan kalimat cukup lancar. Pandangan mata kedepan kelas. 2 3

(255) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 234 3, jika ketika berpendapat siswa:    Suara keras. Pengucapan kalimat lancar. Pandangan mata kedepan kelas. Nilai = (jumlah skor X 3) + 1 = (3 X 3) + 1 = 10 Compassions  non tes (pengamatan) Skor No Indikator 1 1 Bekerjasama dengan teman didalam kelompok untuk menyelesaikan suatu pekerjaan Kriteria: 1, jika:  Jarang menyumbangkan pendapat.  Dapat menghargai pendapat teman. 2, jika:  Sering menyumbangkan pendapat.  Tidak bisa menghargai pendapat yang berbeda. 3, jika:  Sering menyumbangkan pendapat.  Dapat menghargai pendapat yang berbeda. Nilai = (jumlah skor X 3) + 1 = (3 X 3) + 1 = 10 2 3

(256) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 235 Lampiran 2. Hasil Experts Judgment 1. Experts Judgments RPP 2. Experts Judgments Tes Siklus I 3. Experts Judgments Tes Siklus II 4. Experts Judgments Wawancara 5. Experts Judgments Kuesioner

(257) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 236 Eperts Judgments RPP:

(258) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 237

(259) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 238 Experts Judgments T es Siklus I

(260) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 239

(261) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 240 experts Judgments Tes Siklus II:

(262) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 241

(263) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 242 Eperts Judgments Wawancara:

(264) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 243

(265) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 244 Experts Judgments Kuesiner:

(266) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 245

(267) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 246 Lampiran 3. Tes Siklus I 1. Uji Validitas dan Reliabilitas Tes 2. Indikator Tes yang Valid 3. Instrumen Tes Siklus 4. Kunci Jawaban Tes Siklus 5. Pedoman Penilaian Tes 6. Tes Dikerjakan Siswa

(268) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 247 Uji Validitas dan Reliabilitas siklus I: Tes Kemampuan Memahami Penjumlahan dan Pengurangan Bentuk Pecahan Standar Kompetensi: 5. Menggunakan pecahan dalam pemecahan masalah Kompetensi Dasar: 5.2 Menjumlahkan dan Mengurangkan berbagai bentuk pecahan No Indikator No. item 1a 1 Memberikan contoh dari suatu konsep 2 Menyatakan ulang sebuah konsep 3 Mengubah suatu bentuk ke bentuk lain 4 Melakukan operasi hitung dalam berbagai bentuk 1b 1c 2a 2b 3a 3b 3c 4 5 6

(269) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 248 Correlations total total Pearson Correlation 1 Sig. (2-tailed) N soal1a Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N soal1b Pearson Correlation Pearson Correlation N -.021 .931 20 .606 ** .005 20 * Sig. (2-tailed) .032 20 * Pearson Correlation .508 Sig. (2-tailed) .022 20 * Pearson Correlation .456 Sig. (2-tailed) .043 N 20 Pearson Correlation .305 Sig. (2-tailed) .192 N soal4 20 .481 N soal3c * Pearson Correlation N soal3b 20 .019 Sig. (2-tailed) soal3a .006 Sig. (2-tailed) N soal2b ** .519 Sig. (2-tailed) soal2a .587 Pearson Correlation N soal1c 20 Pearson Correlation Sig. (2-tailed) 20 .625 ** .003

(270) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 249 N soal5 Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N soal6 20 .597 ** .005 20 Pearson Correlation .354 Sig. (2-tailed) .125 N 20 **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). *. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed). Indikator Tes Kmampuan Memahami Siklus I yang Valid Tes Kemampuan Memahami Penjumlahan dan Pengurangan Bentuk Pecahan Standar Kompetensi: 5. Menggunakan pecahan dalam pemecahan masalah Kompetensi Dasar: 5.2 Menjumlahkan dan Mengurangkan berbagai bentuk pecahan No Indikator No. item Katarangan 1a Valid 1 Memberikan contoh dari suatu konsep 2 Menyatakan ulang sebuah konsep 3 Mengubah suatu bentuk ke bentuk lain 4 Melakukan operasi hitung dalam berbagai bentuk 1b Valid 1c 2a 2b 3a 3b 3c 4 Tidak valid Valid 5 Valid 6 Tidak valid Valid Valid Valid Tidak valid Valid

(271) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 250 Reliability Case Processing Summary N Cases Valid % 20 100.0 0 .0 20 100.0 a Excluded Total a. Listwise deletion based on all variables in the procedure. Reliability Statistics Cronbach's Alpha Based on Cronbach's Standardized Alpha Items .621 N of Items .630 11

(272) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 251 Kisi-Kisi Tes Kemampuan Memahami Siklus 1 Setelah Uji Validitas Tes Kemampuan Memahami Penjumlahan dan Pengurangan Bentuk Pecahan Standar Kompetensi: 5. Menggunakan pecahan dalam pemecahan masalah Kompetensi Dasar: 5.2 Menjumlahkan dan Mengurangkan berbagai bentuk pecahan No 1 Indikator Memberikan contoh dari suatu konsep Deskriptor a. Siswa mampu mencontohkan berbagai bentuk pecahan No. item Skor 1 (a dan 4 b) b. Siswa mampu menunjukkan penggunaan suatu bentuk pecahan dalam kehidupan sehari-hari. 2 Menyatakan ulang 4 sebuah bentuk pecahan melalui ciri-ciri dari pecahan konsep 3 Siswa mampu mendefinisikan konsep berbagai tersebut. Mengubah suatu Siswa mampu mengubah suatu bentuk pecahan 2 dan 3 10 4 dan 5 6 bentuk ke bentuk kebentuk pecahan yang lain tanpa mengubah 4 lain nilai dari pecahan tersebut. Melakukan a. Siswa mampu menjumlahkan pecahan operasi hitung dalam berbagai bentuk sejenis b. Siswa mampu mengurangkan pecahan sejenis c. Siswa mampu melakukan berbagai operasi hitung dalam pecahan sejenis Jumlah 24

(273) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 252 Soal Tes Kemampuan Memahami SIklus I Nama : Kelas : No. absen : Kerjakanlah soal-soal dibawah ini beserta penjelasan dan langkah-langkahnya! 1. Perhatikan bentuk-bentuk pecahan dibawah ini! Tuliskan dua pendapatmu tentang ciri-ciri yang nampak dari masing-masing pecahan tersebut pada kolom yang sudah disediakan! No Bentuk Ciri-ciri Dalam kehidupan sehari digunakan pecahan untuk menyatakan 1) Dinyatakan dalam bentuk 2) a (3) dan b (4) merupakan bilangan cacah a 4 b 2, 5 2. Perhatikan gambar gundu dibawah ini! Berat beras, potongan kue, potongan kain

(274) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 253 a. Tuliskanlah banyaknya gundu yang berada pada papan hitam diatas dalam bentuk pecahan biasa, desiaml dna persen! b. Tuliskanlah banyaknya gundu yang berada pada papan putih diatas dalam bentuk pecahan biasa, desimal dan persen! Jawab: 3. Isilah titik-titik dibawah ini dengan tepat! a. 1 b. 0, 12 = = . ,. . =...% Jawab: 4. Amri ikut ibunya kepasar membeli buah apel merah 2 kg dan apel hijau 1 kg. Kedua kantong apel tersebut ditaruh dalam satu tas besar oleh ibu kemudian tas tersebut dibawakan oleh Amri. Berapakah berat tas besar berisi apal merah dan hijau yang dibawa Amri? Jawab: 5. Andi dan kakaknya menanam pohon di halaman rumahnya. Pada minggu pertama, pohon tersebut sudah lebat dan mencapai tinggi 28, 5 cm. Karena setiap hari Andi dan kakaknya rajin menyiram dna merawat pohon tersebut, akhirnya pada minggu ke tiga tinggi pohon tersebt sudah mencapai 35, 2 cm. Berapa cm kah pertumbuhan pohon tersebut dari minggu pertama sampai minggu ke tiga? Jawab:

(275) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 254 Kunci Jawaban Kerjakanlah soal-soal dibawah ini beserta penjelasan dan langkah-langkahnya! 1. Perhatikan bentuk-bentuk pecahan dibawah ini! Tuliskan dua pendapatmu tentang ciri-ciri yang nampak dari masing-masing pecahan tersebut pada 2. kolom yang sudah disediakan! No Bentuk Ciri-ciri Dalam kehidupan sehari pecahan digunakan untuk menyatakan Berat beras, potongan kue, 1) Dinyatakan dalam bentuk potongan kain, dll a (3) dan b (4) merupakan bilangan cacah 2) Memiliki pembilang dan penyebut a 4 1) Memiliki bilangan utuh, Berat beras, potongan kue, pembilang dan penyebut. potongan kain 2) b 2, 5 1) Dituliskan dengan intonasi koma Volume air, kemasan minyak (,) goring, panjang pita, dll 2) Jika dijadikan pecahan biasa, memiliki penyebt yang merupakan hasil perpangkatan 10 3. Perhatikan gambar gundu dibawah ini! a. Tuliskanlah banyaknya gundu yang berada di kotak papan hitam, dalam bentuk pecahan biasa, desiaml dan persen! b. Tuliskanlah banyaknya gundu yang berada pada kotak papan putih, dalam bentuk pecahan biasa, desimal dan persen!

(276) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 255 Jawab: a. Gundu diatas kotak warna hitam: - Pecahan biasa : - Pecahan desimal : - Pecahan persen : b. Gundu diatas kotak warna putih: - Pecahan biasa : - Pecahan desimal : - Pecahan persen : 4. Isilah titik-titik dibawah ini dengan tepat! a. 1 b. 0, 12 = = . ,. . =...% Jawab: a. 1 b. 0, 12 = 5. = 1, 6 = 12%

(277) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 256 Amri ikut ibunya kepasar membeli buah apel merah 2 kg dan apel hijau 1 kg. Kedua kantong apel tersebut ditaruh dalam satu tas besar oleh ibu kemudian tas tersebut dibawakan oleh Amri. Berapakah berat tas besar berisi apal merah dan hijau yang dibawa Amri? Jawab: 6. Andi dan kakaknya menanam pohon di halaman rumahnya. Pada minggu pertama, pohon tersebut sudah lebat dan mencapai tinggi 28, 5 cm. Karena setiap hari Andi dan kakaknya rajin menyiram dna merawat pohon tersebut, akhirnya pada minggu ke tiga tinggi pohon tersebt sudah mencapai 35, 2 cm. Berapa cm kah pertumbuhan pohon tersebut dari minggu pertama sampai minggu ke tiga? Jawab : 35, 2 cm 28, 5 cm _ 6,7 cm

(278) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 257 Pedoman Penilaian Tes Kemampuan Memahami Siklus I No 1 Indikator Kriteria Skor 1: jika kolom diisi satu jawaban tepat. 2: jika kolom diisi dua jawaban tepat. 1: jika kolom diisi satu jawaban tepat. 2: jika kolom diisi dua jawaban tepat. 1 : jika menyebutkan satu bentuk pecahan 2 : jika menyebutkan dua bentuk pecahan 3 : jika menyebutkan tiga bentuk pecahan 4 3 (a dan b) 1 : jika menyebutkan satu pecahan lain dan benar 2: jika menyebutkan dua pecahan lain dan benar 4 Melakukan operasi 4 1: jika jawaban benar tetapi tidak hitung dalam berbagai disertai langkah pengerjaannya. bentuk 2: jika jawaban salah tetapi disertai langkah pengerjaannya. 3: jika jawaban benar dan disertai Langkah pengerjannya. 5 1: jika jawaban benar tetapi tidak disertai langkah pengerjaannya. 2: jika jawaban salah tetapi disertai langkah pengerjaannya. 3: jika jawaban benar dan disertai langkah pengerjannya. Jumlah Skor tes kemampuan memahami siklus I 4 2 3 Memberikan contoh dari suatu konsep Menyatakan ulang sebuah konsep Mengubah suatu bentuk ke bentuk lain Nomor soal 1 Penilaian: 1 2 (a dan b), 4 6 3 3 24

(279) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 258 Lampiran 12. Tes Siklus I Dikerjakan siswa

(280) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 259

(281) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 260

(282) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 261 Lampiran 4. Tes Siklus II 1. Uji Validitas dan Reliabilitas Tes 2. Indikator Tes yang Valid 3. Instrumen Tes Siklus 4. Kunci Jawaban Tes Siklus 5. Pedoman Penilaian Tes 6. Tes Dikerjakan Siswa

(283) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 262 Uji Validitas dan Reliabilitas siklus II Tes Kemampuan Memahami Penjumlahan dan Pengurangan Bentuk Pecahan Standar Kompetensi: 5. Menggunakan pecahan dalam pemecahan masalah Kompetensi Dasar: 5.2 Menjumlahkan dan Mengurangkan berbagai bentuk pecahan No Indikator No. item Memberikan contoh dari suatu konsep 1a 1 2 Menyatakan ulang sebuah konsep 1b 1c 2a 2b 3 Mengubah suatu bentuk ke bentuk lain 2c 3a 3b 3c 4 Melakukan operasi hitung dalam berbagai bentuk 4a 4b 5a 5b 6a 6b 7a 7b 7c 8a 8b 8c 8d

(284) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 263 Correlatios total total soal1a soal1b soal1c soal2a soal2b soal2c soal3a soal3b soal3c soal4a Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N 1 20 .598** .005 20 .619** .004 20 .732** .000 20 .291 .214 20 .005 .985 20 .305 .190 20 .568** .009 20 .692** .001 20 .768** .000 20 .771** .000 20

(285) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 264 soal4b soal5a soal5b soal6a soal6b soal7a soal7b soal7c soal8a soal8b soal8c soal8d Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N .833** .000 20 .726** .000 20 .772** .000 20 .613** .004 20 .683** .001 20 .459* .042 20 .156 .512 20 -.453* .045 20 .619** .004 20 .054 .820 20 .188 .428 20 .066 .783 20

(286) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 265 **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). *. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed). Indkator Instrumen Tes Siklus II yang Valid Tes Kemampuan Memahami Penjumlahan dan Pengurangan Bentuk Pecahan Standar Kompetensi: 5. Menggunakan pecahan dalam pemecahan masalah Kompetensi Dasar: 5.2 Menjumlahkan dan Mengurangkan berbagai bentuk pecahan No Indikator No. item Keterangan 1a Valid 1 Memberikan contoh dari suatu konsep 2 Menyatakan ulang sebuah konsep 1b Valid 3 4 Mengubah suatu bentuk ke bentuk lain Melakukan operasi hitung dalam berbagai bentuk 1c 2a 2b Valid Tidak valid Tidak valid 2c 3a Tidak valid Valid 3b Valid 3c Valid 4a Valid 4b Valid 5a Valid 5b 6a 6b 7a 7b 7c Valid Valid Valid Valid Tidak valid Valid 8a 8b Valid Tidak valid 8c Tidak valid 8d Reliability Tidak valid

(287) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 266 Case Processing Summary N Cases Valid a Excluded Total % 20 100.0 0 20 .0 100.0 a. Listwise deletion based on all variables in the procedure. Reliability Statistics Cronbach's Alpha .720 Cronbach's Alpha Based on Standardized Items .829 N of Items 22

(288) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 267 Pengembangan Instrumen Tes Kemampuan Memahami Setelah Uji Validitas Siklus II Tes Kemampuan Memahami Penjumlahan dan Pengurangan Bentuk Pecahan Standar Kompetensi: 5. Menggunakan pecahan dalam pemecahan masalah Kompetensi Dasar: 5.2 Menjumlahkan dan Mengurangkan berbagai bentuk pecahan No Indikator Deskriptor No. item a. Siswa mampu mencontohkan berbagai 1 dan 2 1 Memberikan contoh dari suatu bentuk pecahan konsep b. Siswa mampu menunjukkan penggunaan suatu bentuk pecahan dalam kehidupan sehari-hari. Siswa mampu mendefinisikan konsep berbagai 2 Menyatakan ulang sebuah bentuk pecahan melalui ciri-ciri dari pecahan konsep tersebut. 3 3 Mengubah suatu Siswa mampu mengubah suatu bentuk pecahan bentuk ke bentuk kebentuk pecahan yang lain tanpa mengubah lain nilai dari pecahan tersebut. a. Siswa mampu melakukan operasi hitung 4( a dan 4 Melakukan operasi hitung dalam pecahan sejenis. b), 5(a dalam berbagai b. Siswa mampu menjumlahkan beragai dan b), bentuk pecahan 6(a dan bentuk c. Siswa mampu mengurangkan beragai b), 7(a bentuk pecahan dan c), d. Sisa mampu melakukan operasi hitung 8a campuran dalam berbagai bentuk Jumlah skor Skor 6 6 3 31 46

(289) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 268 Lampiran Tes Siklus II Soal Tes kemampuan Memahami Siklus II Nama : Kelas : No. absen : Kerjakanlah soal-soal dibawah ini beserta penjelasan dan langkah-langkahnya! 1. Hari Minggu Ani dan Ibunya pergi ke pasar. Mereka membeli beberapa kebutuhan sehari-hari seperti 4 kg beras dan 2, 5 liter minyak goreng. Ternyata Ani dan ibunya mendapatkan potongan harga dari pedagangnya sebesar 10%. a. Apakah 4 kg beras yang dibeli Ani dan ibunya dituliskan dalam pecahan desimal? Berikan alasanmu beserta contoh dari pecahan desimal! b. Apakah 2, 5 liter minyak yang dibeli Ani dan ibunya ditulis dalam pecahan persen? Berikan alasanmu beserta contoh dari pecahan persen! c. Apakah 10% potongan harga yang diperoleh Ani dan ibunya dari pedagang di pasar dinyatakan dalam pecahan campuran? Berikan alasanmu beserta contoh pecahan campuran! Jawab: 2.

(290) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 269 Arga memiliki 100 kelereng berwarna putih. 35 diantara kelerangnya memiliki garis berwarna hitam. a. Bagaimana penulisan kelereng yang dimiliki Arga dalam bentuk pecahan biasa? b. Ubahlah pecahan persen diatas menjadi pecahan desimal! c. Ubahlah pecahan desimal tersebut menjadi persen! Jawab: 3. Bibi memiliki kg kedelai. Bibi membeli lagi kg kedelai untuk membuat susu kedelai. Setelah susu kedelai jadi, ternyata bibi masih memiliki sisa kg kedelai. a. Berapa kg kedelai yang dimiliki bibi seluruhnya sebelum dibuat menjadi susu? b. Berapa kg kedelai yang yang digunakan bibi untuk membuat susu kedelai? Jawab: 4. Isa membawa air mineral dari rumah sebanyak 2, 5 liter. Setelah berolah raga Isa meminumnya sebangak 0, 5 liter. Karena salah satu teman Isa tidak membawa air minum, Isa berbagi air minum dengan temannya. Teman Isa meminum air tersebut sebanyak 0, 25 liter. a. Berapa liter kah air mineral yang habis diminum oleh Isa dan temannya? b. Berapa liter kah sisa air mineral yang dimiliki Isa setelah diminum ia dan temannya? Jawab: 5. Baca dan kerjakan soal cerita dibawah ini serta tuliskan langkah pengerjaannya! a. Kemarin paman memetik 2 kuintal mangga kemudian hari ini memetik lagi 1, 3 kuintal mangga. Berapakah hasil pemetikan mangga paman seluruhnya?

(291) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 270 b. Kakak memiliki tongkat pramuka sepanjang 2, 3 meter. Kemudian meter dari panjang tongkat tersebut di cat warna merah. Berapa meter kah panjang tongkat yang tidak dicat? Jawab: 6. Lengkapilah titik-titik pada pengerjaan dibawah ini! a. 36% + – 0, 16 = + = + = + – = b. 1,56 = 1, 56 + 15% +... = 1, 56 – . . . + . . . =...+ ... = ... 7. Selesaikan operasi hitung dibawah ini! + 0, 51 - 13%

(292) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 271 Kunci Jawaban Kerjakanlah soal-soal dibawah ini beserta penjelasan dan langkah-langkahnya! 1. Hari Minggu Ani dan Ibunya pergi ke pasar. Mereka membeli beberapa kebutuhan sehari-hari seperti 4 kg beras dan 2, 5 liter minyak goreng. Ternyata Ani dan ibunya mendapatkan potongan harga dari pedagangnya sebesar 10%. a. Apakah 4 beras yang dibeli Ani dan ibunya dituliskan dalam pecahan desimal? Berikan alasanmu beserta contoh dari pecahan yang kamu anggap benar! b. Apakah 2, 5 liter minyak yang dibeli Ani dan ibunya ditulis dalam pecahan persen? Berikan alasanmu beserta contoh dari pecahan yang kamu anggap benar! c. Apakah potongan harga 10% yang diperoleh Ani dan ibunya dari pedagang di pasar dinyatakan dalam pecahan campuran? Berikan alasanmu beserta contoh dari pecahan yang kamu anggap benar! Jawab: a. Bukan, beratnya beras yang dibeli Ani dan ibunya dinyatakan dalam pecahan campuran yaitu 4 . Contoh bentuk pecahan campuran misalnya 2 , 3 , 7 , dll. b. Bukan, volume minyak yang dibeli Ani dan ibunya dinyatakan dalam pecahan desimal yaitu 2, 5 liter. Contoh bentuk pecahan persen misalnya 0, 25 ; 0, 50 ; 0, 75 ; dll. c. Bukan, potongan harga yang diperoleh Ani dan ibunya dinyatakan dalam pecahan persen 15%, 20%, 35%, dll.

(293) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 272 2. Arga memiliki 100 kelereng berwarna putih. 35 diantara kelerangnya memiliki garis berwarna hitam. a. Bagaimana penulisan kelereng yang dimiliki Arga dalam bentuk pecahan biasa? b. Ubahlah pecahan persen diatas menjadi pecahan desimal! c. Ubahlah pecahan desimal tersebut menjadi persen! Jawab: a. = b. = 0, 35 c. = 35% 3. Bibi memiliki kg kedelai. Bibi membeli lagi kg kedelai untuk membuat susu kedelai. Setelah susu kedelai jadi, ternyata bibi masih memiliki sisa kg kedelai. a. Berapa kg kedelai yang dimiliki bibi seluruhnya sebelum dibuat menjadi susu? b. Berapa kg kedelai yang yang digunakan bibi untuk membuat susu kedelai? Jawab: a. = = b. =

(294) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 273 = 4. Isa membawa air mineral dari rumah sebanyak 2, 5 liter. Setelah berolah raga Isa meminumnya sebangak 0, 5 liter. Karena salah satu teman Isa tidak membawa air minum, Isa berbagi air minum dengan temannya. Teman Isa meminum air tersebut sebanyak 0, 25 liter. c. Berapa liter kah air mineral yang habis diminum oleh Isa dan temannya? d. Berapa liter kah sisa air mineral yang dimiliki Isa setelah diminum ia dan temannya? Jawab: a. 0,5 + 0, 25 = 0, 75 b. 2,5 – 0, 75 = 1, 85 5. Baca dan kerjakan soal cerita dibawah ini serta tuliskan langkah pengerjaannya! c. Kemarin paman memetik 2 kuintal mangga kemudian hari ini memetik lagi 1, 3 kuintal mangga. Berapakah hasil pemetikan mangga paman seluruhnya? d. Kakak memiliki tongkat pramuka sepanjang 2, 3 meter. Kemudian meter dari panjang tongkat tersebut di cat warna merah. Berapa meter kah panjang tongkat yang tidak dicat? Jawab: a. Cara 1: 2 + 1,3 = +1 = + = Cara 2: 2 + 1,3 = 1,3 = 2, 8 + 1,3 = 4, 1 b. Cara 1: 2,3 -

(295) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 274 - = = - = - = Cara 2: 2,3 – = 2,3 – = 2,3 – 0, 6 = 1, 7 6. Lengkapilah titik-titik pada pengerjaan dibawah ini! a. 36% + – 0, 16 = + = + = + – = b. 1,56 + 15% = 1, 56 +... = 1, 56 – . . . + . . . =...+ ... = ... Jawaban: a. 36% + – 0, 16 = + = + = b. 1,56 = 1, 56 + 15% + 0, 15 = 1, 56 – 0, 35 + 0, 15 = 1, 21 + 0, 15

(296) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 275 = 1, 36 7. Selesaikan operasi hitung dibawah ini! + 0, 51 - 13% = Jawaban : Cara 1: + 0, 51 - 13% = = = Cara 2: + 0, 51 - 13% = + 0, 51 – = 0, 35 + 0, 51 – 0,13 = 0, 73 Cara 3: + 0, 51 - 13% = + – 13% = 35% + 51% – 0,13 = 73%

(297) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 276 Pedoman Penilaian Tes Kemampuan Memahami Siklus II No 1 2 3 Indikator Memberikan contoh dari suatu konsep Nomor soal 1 Menyatakan ulang sebuah konsep Mengubah suatu bentuk ke bentuk lain Melakukan operasi hitung dalam berbagai bentuk 2 3 4 4 5 Kriteria 1: jika memberikan satu contoh benar 2: jika memberikan dua contoh benar 1: jika jawaban benar tetapi alasan salah. 2: jika jawaban dan alasan benar. 0: jika jawaban salah 1: jika jawaban tepat Skor 6 1: jika jawaban benar tetapi tidak disertai langkah pengerjaannya. 2: jika jawaban salah tetapi disertai langkah pengerjaannya. 3: jika jawaban benar dan disertai langkah pengerjaannya. 1: jika jawaban benar tetapi tidak disertai langkah pengerjaannya. 2: jika jawaban salah tetapi disertai langkah pengerjaannya. 3: jika jawaban benar dan disertai langkah pengerjaannya. 1: jika jawaban benar tetapi tidak disertai langkah pengerjaannya. 2: jika jawaban benar tetapi tidak disertai langkah dalam menyamakan pecahan. 4: jika jawaban dan langkah pengerjaannya benar 31 6 3

(298) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 277 6 7 Jumlah Skor 1: jika satu langkah benar 2: jika dua langkah benar 3: jika tiga langkah benar 1: jika jawaban benar tetapi tidak disertakan langkah penghitungannya 2: jika jawaban benar tetapi langkah dalam menamakan pecahan tidak disertakan atau salah 3: jika jawaban salah, tetapi langkah dalam penghitunganna benar 5: jika jawaban dan langkah penghitungan pecahan benar 46

(299) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 278 Tes Siklus II Dikerjakan Siswa

(300) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 279

(301) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 280

(302) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 281

(303) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 282 Lampiran 5. Observasi 1. Lampiran observasi 2. Observasi Siklus I Diisi Observer 3. Observasi Siklus II Diisi Observer

(304) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 283 OBSERVASI Sumber: Pengembangan Perangkat Pembelajaran Yang Mengakomodasi Pemodelan Dalam Menyelesaikan Masalah Penjumlahan Pecahan Dengan Pendekatan PMRI Kelas IV A SD Negeri Adisucipto 1. 081134138. Erni Kurniasih. 1. Karakteristik Penggunaan Konteks No. 1 Aspek Menggunakan masalah kontekstual a. Menggunakan soal cerita yang dekat dengan kehidupan siswa b. Permasalahan kontekstual yang disampaikan mampu mengarahkan siswa menemukan konsep c. Permasalahan kontekstual yang disampaikan mudah dimengerti siswa 2 Menggunakan permainan a. Permainan yang digunakan membangkitkan semangat siswa b. Permainan menggambarkan apa yang akan dipelajari 3 Menggunakan media dan alat peraga a. Media dan alat peraga yang digunakan mudah ditemukan/ dekat dengan siswa Narasi Singkat

(305) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 284 b. Media dan alat peraga dapat menarik perhatian siswa 4 Menggali pengetahuan awal yang dimiliki siswa a. Pengetahuan awal yang digali sesuai dengan materi 2. Karakteristik Penggunaan Model No. Aspek 1 Penggunaan strategi informal oleh siswa dalam pemecahan masalah 2 Penggunaan strategi formal oleh siswa dalam pemecahan masalah a. Memodelkan masalah dalam kalimat matematika b. Menggunakan rumus matematika dalam pemecahan masalah c. Menggunakan langkahlangkah matematis dalam pemecahan masalah 3 Pembimbingan oleh guru dalam menjembatani strategi informal siswa ke strategi formal a. Guru memberi pertanyaan yang mengarah ke strategi formal b. Guru memberi soal dengan konteks lain yang mengarah ke strategi formal c. Guru memberi contoh analogi yang mengarah ke strategi formal Narasi Singkat

(306) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 285 3. Karakteristik Penggunaan Kontribusi Siswa No. 1. Narasi Singkat Aspek Pengungkapan berbagai strategi yang digunakan dalam pemecahan masalah a. Munculnya berbagai cara yang digunakan dalam pemecahan masalah oleh siswa b. Pemberian waktu mencukupi kepada siswa dalam pemecahan masalah c. Pemilihan media oleh siswa yang digunakan dalam pengungkapan strategi yang digunakan 2 Pemberian tanggapan terhadap strategi yang digunakan a. Siswa memberi komentar/saran terhadap hasil pekerjaan siswa lain b. Siswa menyimpulkan hasil pelajaran (guru hanya mengarahkan siswa) 3 Pemberian motivasi oleh guru kepada siswa untuk mengungkapkan pendapatnya terhadap pemecahan masalah a. Pemberian pertanyaan oleh guru untuk memancing siswa bertanya 4 Pemberian kesempatan oleh guru kepada siswa untuk mengungkapkan pendapat

(307) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 286 5 Pengajuan pertanyaan oleh siswa yang mengarah pada pembangunan konsep pembelajaran 4. Karakteristik Penggunaan Interaktivitas Siswa No. Aspek 1 Guru dan Siswa a. Membangun norma kelas b. Mengadakan tanya jawab selama pelajaran berlangsung c. Melakukan demonstrasi dengan menggunakan media pembelajaran d. Membimbing siswa dalam memecahkan masalah berupa soal yang diberikan guru e. Memfasilitasi negosiasi antar siswa f. Melakukan penilaian proses g. Melakukan penilaian produk h. Memberikan penguatan 2 Siswa dan Siswa a. Mempresentasikan hasil pekerjaan b. Melakukan kerjasama dengan siswa lain c. Menyampaikan pendapat atau pertanyaan d. Memberikan apresiasi terhadap teman lain e. Memperhatikan teman yang menyampaikan pendapat Narasi Singkat

(308) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 287 5. Karakterisik Penggunaan Intertwining No. Aspek Adanya kaiatan materi pecahan 1 dengan materi lainnya dalam satu mata pelajaran matematika a. Kaitannya dengan materi bilangan bulan (Penjumlahan Bilangan Bulat) b. Kaitanyya dengan materi bangun datar c. Kaitannya dengan materi menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan pecahan 2. Adany kaitan materi bilangan pecahan dengan materi dari mata pelajaran diluar matematika a. Kaitannya dengan materi dimapel bahasa Indonesia b. Kaitannya dengan materi di maple IPS c. Kaitannya dengan materi di mapel IPA d. Kaitannya dengan materi di mapel SBK Narasi Singkat

(309) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 288 Observasi Siklus I Diisi observer

(310) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 289

(311) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 290

(312) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 291

(313) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 292

(314) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 293

(315) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 294 Observasi Siklus II Diisi observer

(316) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 295

(317) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 296

(318) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 297

(319) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 298

(320) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 299

(321) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 300

(322) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 301

(323) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 302 Lampiran 6. Pedoman Wawancara 1. Pedoman Wawancara 2. Verbatim Wawancara Siklus I 3. Verbatim Wawancara Siklus II

(324) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 303 Pedoman Wawancara No 1 2 3 4 5 Daftar Pertanyaan - Apakah bapak/ ibu memulai pembelajaran dengan mengajukan masalah riil atau nyata bagi siswa terlebih dahulu? - Contoh masalah nyata apa yang bapak/ ibu sampaikan kepada siswa? Apakah masalah nyata yang bapak/ ibu ajukan kepada siswa sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai? - Apakah masalah nyata yang bapak/ ibu ajukan sesuai dengan pengalaman dan tingkat pengetahuan siswa? - Apakah siswa dapat mengerti maksud dari maslah nyata yang ibu sampaikan? Apakah masalah nyata yang bapak/ ibu sampaikan tidak memihak jenis kelamin tertentu? - Apakah masalah nyata yang bapak/ ibu sampaikan dapat menumbuhkan rasa ingin tahu siswa? - Dari seluruh jumlah siswa, berapa persenkah ratarata siswa yang memiliki rasa ingin tahu selama mengikuti pembelajaran ibu/ bapak? 6 Apakah masalah nyata yang bapak/ ibu sampaikan dapat menjembatani matematika yang bersifat abstrak dengan pemikiran konkret siswa? 7 Apakah masalah nyata yang bapak/ ibu sampaikan dapat membantu siswa dalam mengembangkan pegetahuan mereka terhadap materi yang akan dipelajari? 8 Apakah masalah nyata yang bapak/ ibu sampaikan dapat membantu siswa dalam menemukan strategi untuk memecahkan masalah? 9 Bagaimana siswa memberikan respon terhadap masalah nyata yang bapak/ ibu sampaikan? 10 Apakah siswa dapat menghubungkan materi pembelajaran dengan kehidupan sehari-hari melalui masalah nyata tersebut? Jawaban

(325) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 304 Verbatim Wawancara Siklus I (19 Februari 214) Peneliti (01) : Apakah ibu sudah menyampaikan masalah nyata dalam kehidupan sehari-hari diawal pembelajaran? Guru (01) : Ya, sudah. Peneliti (02) : Contoh masalah nyata dalam kehidupan sehari-hari apa yang ibu ceritakan diawal pembelajaran? Guru (2) : Seperti di RPP itu mbak, jadi pada pertemuan pertama saya bercerita menggunakan potongan roti cokelat yang dibagi-bagi menjadi dua pecahan yang berbeda misalnya potongan pertama bagian dan potongan kedua bagian. Kemudian pada pertemuan kedua saya bercerita sambil menggunakan botol ukur yang berisi air untuk menghubungkan materi penjumlahan dan pengurangan desimal. Kemudian pada pertemuan ketiga, saya bercerita tentang potongan harga di swalayan dan kegiatan tawar menawar di pasar karena ada beberapa anak yang tidak mengetahui tentang potongan harga. Peneliti (03) : Menurut ibu, apakah siswa dapat mengerti masalah nyata dalam kehidupan sehari-hari yang bapak/ ibu ceritakan? Guru (03) : Ya, sebagian besar anak memang sudah mengerti dan dapat menangkap apa yang saya ceritakan. Tetapi masih ada seorang anak yang tidak bisa menangkap apa yang saya ceritakan. Seperti saat saya bercerita tentang potongan harga, ada anak yang tidak mengerti dan mengatakan “saya gak pernah ke swalayan bu”, jadi saya mencoba memberikan contoh lain yaitu tawar menawar di pasar tradisional.

(326) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 305  Mulai dari pernyataan G(1) sampai G(03) tersebut menunjukkan bahwa guru sudah memberikan contoh-contoh nyata yang dekat dengan lingkungan sekitar siswa dan sesuai dengan pengetahuannya. Peneliti (04) : Apakah masalah nyata yang bapak/ ibu ceritakan dapat membantu siswa memahami materi matematika? Guru (04) : Ya, setelah saya bercerita anak kemudian dapat membayangkan seperti apa toh pecahan biasa, desimal, dan sebagainya. Peneliti (05) : Apakah masalah nyata yang ibu ceritakan dapat membantu siswa menemukan strategi dalam memecahkan masalah matematika? Guru (05) : Ya, untuk beberapa anak memang dapat menemukan strategi pemecahan masalah dengan membayangkan apa yang saya ceritakan secara mandiri, tetapi untuk beberapa anak yang memang mengalami kesulitan belajar memang harus dipandu untuk menemukan strategi pemecahan masalah. Peneliti (06) : Apakah masalah nyata yang ibu ceritakan dapat membantu siswa menyimpulkan isi pembelajaran? Guru (06) : Ya, cerita yang saya ceritakan diawal pembelajaran kemudian saya ulang lagi diakhir pembelajaran dan itu sangat membantu siswa untuk menyimpulkan isi pembelajaran.  Berdasarkan pernyataan guru mulai dari G-04 sampai G-6 menunjukkan bahwa cerita dalam kehidupan sehari-hari yang diceritakan guru dial pembelajaran dapat membantu siswa dalam mengenal dan memahami materi yang mereka pelajari. Peneliti (07) : Apakah bapak/ ibu sudah menggunakan media sesuai dengan materi yang diajarkan?

(327) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 306 Guru (07) : Ya, saya sudah menggunakan tiga media. Peneliti (08) : Apa saja media yang ibu gunakan tersebut? Guru (08) : Pada pertemuan pertama saya menggunakan media dengan plastisin yang dibuat seperti kue ulang tahun, kemudian saya juga menggunakan papan desimal untuk menghitung pecahan desimal dan papan persen untuk menghitung pecahan persen Peneliti (09) : Apakah media yang digunakan membantu siswa dalam memahami materi matematika yang diajarkan? Guru (09) : Ya, media-media tersebut memang sangat membantu siswa untuk memahami materi yang saya sampaikan. Peneliti (10) : Apakah media yang digunakan membantu siswa menemukan strategi dalam memecahkan masalah matematika? Guru (10) : Ya, media-media tersebut juga membantu siswa untuk menemukan strategi dalam masalah-masalah matematika. Peneliti (11) : Apakah media yang digunakan membantu siswa untuk menyimpulkan isi pembelajaran? Guru (11) : Ya, media-media tersebut juga cukup membantu siswa untuk menyimpulkan isi pembelajaran Peneliti (12) : Apakah siswa lebih semangat dalam belajar setelah mendengarkan bapak/ ibu bercerita? Guru (12) : Ya, siswa-siswa menjadi lebih semangat belajar setelah saya memulai pembelajaran dengan cerita. Peneliti (13) : Bagaimana respon yang ditunjukkan siswa setelah mendengarkan bapak/ ibu bercerita?

(328) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 307 Guru (13) : Respon yang ditunjukkan siswa bemacam-macam. Ada beberapa siswa yang menebak-nebak isi cerita, bertanya, dan ada pula yang sepintas menceritakan pengalamannya yang berhubungan dengan cerita saya.  Dari pernyataan G(12) dan G(13) menunjukkan jika masalah kontekstual yang diceritakan diawal pembelajaran dapat menumbuhkan motivasi belajar siswa.

(329) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 308 Verbatim Wawancara Siklus II (14 Maret 214) Peneliti (01) : Apakah ibu sudah menyampaikan masalah nyata dalam kehidupan sehari-hari diawal pembelajaran? Guru (01) : Ya, sudah. Peneliti (02) : Contoh masalah nyata dalam kehidupan sehari-hari apa yang ibu ceritakan diawal pembelajaran? Guru (2) : Contohnya saya bercerita tentang panjang dua pita yang berbeda baik ukurannya ataupun satuan ukuran pita tersebut. saya bercerita kepada siswa jika kedua pita ini akan saya gunakan untuk menghias kado dan kedua pita ini harus disambung terlebih dahulu. Kemudian saya menanyakan panjang kedua pita setelah disambung. Cerita tersebut saya ceritakan di pertemuan pertama. Untuk pertemuan kedua saya menunjukkan sebuah pita dengan panjang tertentu akan saya gunakan untuk menghias kado. Karena pita tersebut terlalu panjang, pita tersebut harus dipotong terlebih dahulu sepanjang ukuran tertentu. Kemudian saya menyakan berapa siswa pita yang setelah dipotong. Peneliti (03) : Berarti ibu bercerita sambil menunjukkan contoh pita nyata nya bu? Guru (03) : iya, benar.  Berdasarkan pernyataan guru (01) sampai (03) menunjukkan jika guru sudah memberikan contoh masalah kontekstual atau nyata yang terjadi disekitar siswa. Tidak hanya bercerita, guru juga menunjukkan benda konkret yang diceritakan untuk emmbantu siswa memahami cerita guru. Peneliti (04) : Menurut ibu, apakah siswa dapat mengerti masalah nyata dalam kehidupan sehari-hari yang bapak/ ibu ceritakan dengan menunjukkan contoh benda nyatanya?

(330) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 309 Guru (04) : Ya, semua anak sudah bisa menangkap apa yang saya ceritakan. Peneliti (04) : Apakah masalah nyata yang bapak/ ibu ceritakan dapat membantu siswa memahami materi matematika? Guru (04) : Ya, dengan bercerita dan menujukkan benda nyatanya itu saya lihat siswa sangat termbantu dalam memahami materi. Peneliti (05) : pemahaman yang bagaiamana bu yang sudah ditunjukkan oleh siswa? Guru (0) : pemahaman jika menjumlahkan pecahan yang berbeda hal pertama yang harus dilakukan adalah menyamakan jenis pecahannya terlebih dahulu. Selama ini kan siswa masih bingung Antara menyamakan penyebut dan menyamakan jenis pecahan. Peneliti (05) : Apakah masalah nyata yang ibu ceritakan dapat membantu siswa menemukan strategi dalam memecahkan masalah matematika? Guru (05) : Ya, seperti yang saya ceritakan sebelumnya. Siswa menjadi tahu langkah apa yang harus mereka lakukan untuk menjmlahkan berbagai bentuk pecahan. Peneliti (06) : Apakah masalah nyata yang ibu ceritakan dapat membantu siswa menyimpulkan isi pembelajaran? Guru (06) : Ya, siswa dapat menyimpulkan isi pembelajaran yang ia alami dengan mengingat cerita yang saya sampaiakan di awal pembelajaran. Peneliti (07) : Apakah bapak/ ibu sudah menggunakan media sesuai dengan materi yang diajarkan? Guru (07) : Ya, sudah. Peneliti (08) : Apa saja media yang ibu gunakan tersebut?

(331) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 310 Guru (08) : saya menggunkan papan berbagai bentuk pecahan. Peneliti (09) : Apakah media yang digunakan membantu siswa dalam memahami materi matematika yang diajarkan? Guru (09) : Ya. Melalui media papan berbagai bentuk pecahan tersebut siswa menjadi lebih tahu langkah-langkah yang harus mereka lkukan dalam menyelesaikan persoalan yang berkaitan dengan materi Peneliti (10) : Apakah media yang digunakan membantu siswa menemukan strategi dalam memecahkan masalah matematika? Guru (10) : Ya, seperti tadi saya bilang jika mellaui media tersebut siswa terbantu dalam menemukan langkah-langkah penyelesaian masalah matematika. Peneliti (11) : Apakah media yang digunakan membantu siswa untuk menyimpulkan isi pembelajaran? Guru (11) : Ya, media-media tersebut juga cukup membantu siswa untuk menyimpulkan isi pembelajaran Peneliti (12) : Apakah siswa lebih semangat dalam belajar setelah mendengarkan bapak/ ibu bercerita? Guru (12) : Ya, siswa-siswa menjadi lebih semangat belajar setelah saya memulai pembelajaran dengan cerita. Peneliti (13) : Bagaimana respon yang ditunjukkan siswa setelah mendengarkan bapak/ ibu bercerita? Guru (13) : Respon yang ditunjukkan siswa bemacam-macam. Ada beberapa siswa yang menebak-nebak isi cerita, bertanya, dan ada pula yang sepintas menceritakan pengalamannya.

(332) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 311 Lampiran 7. Kuesioner 1. Lembar Kuesioner 2. Kuesioner Siklus I Diisi Siswa 3. Kuesioner Siklus II Diisi Siswa

(333) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 312 Lampiran Kuesioner: KUESIONER KETERLAKSANAAN PMRI Bacalah setiap pernyataan dengan teliti dan berilah jawaban dengan cara mencentang (√) pada kolom yang sesuai dengan keadaanmu! Keterangan: SS = Sangat Setuju S = Setuju TS = Tidak Setuju STS = Sangat Tidak Setuju IDENTITAS No 1 2 3 4 5 6 7. Nama Sekolah : Nama : Kelas : Pernyataan Saya paham saat guru menjelaskan materi matematika yang dikaitkan dengan materi matematika lain Saya merasa kesusahan mempelajari matematika saat dikaitkan dengan materi matematika lain Saya merasa mudah mempelajari matematika saat dikaitkan dengan mata pelajaran lain Saya bingung saat guru menjelaskan materi matematika saat dikaitkan dengan mata pelajaran lain Saya senang mengikuti pelajaran matematika yang dikaitkan dengan mata pelajaran lain Saya kesulitan mengaitkan materi matematika dengan mata pelajaran lain Saya menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diberikan oleh SS S TS STS

(334) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 313 guru saat pelajaran matematika 8. Saya bertanya kepada guru saat tidak memahami materi yang disampaikan 9. Saya merasa senang jika guru memuji saya saat saya melakukan hal yang benar 10. Saya kurang berani mempresentasikan hasil kerja dengan kelompok saya 11. Saya hanya diam saat teman saya menjawab pertanyaan atau maju ke depan kelas 12. Saya meninggalkan tugas dalam kelompok saat anggota lain menyelesaikan tugas 13. Saya paham saat guru menjelaskan materi pelajaran dengan menggunakan contoh konkret 14 Saya kesulitan memahami konsep matematika dari contohcontoh konkret 15 Saya mampu menggunakan contoh-contoh yang dijelaskan guru untuk memahami pengetahuan matematika 16 Saya kesulitan menyimpulkan contoh-contoh yang dijelaskan guru menjadi pengetahuan matematika 17 Saya mudah menyimpulkan materi yang dijelaskan dengan bahasa sendiri 18 Saya kesulitan menyusun kalimat dengan bahasa yang baik untuk menyelesaikan masalah matematika 19 Saya mampu memberikan komentar terhadap penjelasan guru maupun teman 20 Saya merasa bingung apabila diminta berpendapat 21 Saya mampu memilih informasi yang dapat saya gunakan untuk menyelesaikan soal 22 Saya merasa sulit untuk menemukan cara lain dalam menyelesaikan soal selain cara yang diberikan guru 23 Saya mampu menyampaikan kembali hasil informasi yang saya peroleh dengan bahasa sendiri 24 Saya mudah terpengaruh dengan cara teman dalam

(335) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 314 menyelesaikan soal 25 Saya menemukan cerita yang disampaikan guru di kehidupan sehari-hari saya 26 Saya asing dengan cerita yang disampaikan guru diawal pembelajaran 27 Masalah nyata yang diceritakan guru membantu saya menyimpulkan isi pelajaran 28 Saya menyimpulkan isi pembelajaran dengan menghafalkan rumus matematika 29 Saya penasaran tentang materi yang akan saya pelajari setelah mendengar guru bercerita diawal pembelajaran 30 Saya bosan mendengarkan guru bercerita diawal pembelajaran

(336) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 315 Kuesioner Siklus I diisi Siswa

(337) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 316

(338) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 317

(339) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 318 Kuesioner Siklus II diisi Siswa

(340) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 319

(341) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 320

(342) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 321 Lampiran 8. Surat Ijin Penelitian

(343) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 322

(344) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 323 Lampiran 9. Surat Keterangan Melaksanakan Penelitian

(345) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 324

(346) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 325 Lampiran 10. Daftar Nilai Materi Terkait Kelas V Tahun Ajaran 2012/2013

(347) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 326

(348) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 327 Lampiran 11. Foto 1. Foto penelitian 2. Daftar Riwayat Hidup Peneliti

(349) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 328 Foto Penelitian Siklus I Siklus I Salah satu siswa mendemonstrasikan cerita guru mengunakan alat peraga roti cokelat Guru mitra menceritakan masalah kontekstual menggunakan alat peraga roti cokelat Siklus I Siswa bekerja secara kelompok di pertemuan pertama menggunakan kue tert dari plastisin Kelompok yang melakukan kesalahan ketika memotong kue tart dari plastisin. Kue yang harusnya dipotong seperti memotong kue ulang tahun justru dipotong menjadi kotakkotak

(350) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 329 Siklus I Pertemuan pertama, siswa masih susah diminta mempresentasikan pekerjaannya di depan kelas Pertemuan pertama, guru membimbing siswa untuk mempresentasikan hasil pekerjaannya Siklus I Guru membimbing siswa menyimpulkan kegiatan pembelajaran dengan melihat benda nyata atau konkret Guru bercerita dipertemuan kedua menggunakan alat peraga gelas ukur dan air

(351) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 330 Siklus I Siswa bekerja kelompok menggunakan papan desimal Siswa bekerja kelompok menggunakan papan desimal Siklus I Siswa mempresentasikan hasil pekerjaan menggunakan media papan desimal Kegiatan presentasi di pertemuan kedua lebih hidup dari pada suasana di pertemuan pertama dengan adanya tanya jawab antar siswa

(352) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 331 Siklus I Siswa bekerja secara kelompok menggunakan papan persen di pertemuan ketiga Siswa bekerja secara kelompok menggunakan papan persen di pertemuan ketiga Siklus I Setiap kelompok mempresentasikan hasil pekerjaan kelompoknya tanpa bimbingan dari guru menggunakan media papan persen Foto Penelitian Siklus II Setiap kelompok mempresentasikan hasil pekerjaan kelompoknya tanpa bimbingan dari guru menggunakan media papan persen

(353) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 332 Siklus II Guru menceritakan masalah nyata menggunakan alat peraga pita Guru mendemonstrasikan cara penggunaan media papan berbagai bentuk pecahan Siklus II Siswa bekerja dengan kelompoknya menggunakan media papan berbagai bentuk pecahan Siswa mendemonstrasikan pekerjaan kelompoknya menggunakan media papan berbagai bentuk pecahan

(354) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 333 Daftar Riwayat Hidup Avi Yanti Ratna kartikasari merupakan anak pertama dari pasangan Suratno dan Suyanti. Lahir di Klaten, 20 Januai 1992. Pendidikan awal dimulai di TK Tumus Asih Yogyakarta pada tahun 1997. Penulis melanjutkan pendidikan dasar di SD Negeri Babarsari Yogyakarta pada tahun 1997-2004. Kemudian melanjutkan ke jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 4 Bae Kudus pada tahun 2004-2007. Pada tahun 2007-2010 penulis melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Bae Kudus. Tahun 2010 penulis masuk ke Universitas Sanata Dharma (USD), Fakultas keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD). Selama menempuh pendidikan di sekolah dasar penulis aktif mengikuti beberapa kegiatan seperti pramuka dan seni tari. Ketika di sekolah menengah pertama penulis akti di organisasi osis, pramuka dan seni tari. Ketika di bangku sekolah menengah atas peneliti masih aktif di beberapa organisasi seperti osis, koperasi sekolah, dan pecinta alam. Tetapi ketika masuk perguruan tinggi peneliti hanya aktif di kegiatan-kegiatan wajib yang diadakan universitas dan beberapa kegiatan tidak wajib seperti panitia seminar diseminasi hibah dia bermutu dan diseminasi MBS. Penulis juga beberapa kali mengikuti seminar atau workshop yang diselenggarakan universitas.

(355)

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

KEEFEKTIFAN PEMBELAJARAN METODE IMPROVE DENGAN PENDEKATAN PMRI TERHADAP KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH SISWA KELAS VII MATERI SEGIEMPAT
2
14
285
PENERAPAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA SISWA DI KELAS VIII-1 SMP NASRANI 1 MEDAN.
0
6
23
PENGEMBANGAN LKS MATERI PECAHAN BERBASIS PENDEKATAN KONTEKSTUAL UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA KELAS V SD DI KEC. TANJUNG PURA.
0
2
17
PENERAPAN PENDEKATAN MATEMATIKA REALISTIK UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN OPERASI HITUNG PECAHAN PADA SISWA TUNARUNGU KELAS V SDLB.
0
3
41
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THREE-STEP INTERVIEW DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS SISWA SMP.
0
3
32
PENERAPAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL DENGAN PENGGUNAAN MATHEMATICAL MANIPULATIVE UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PENALARAN DAN KOMUNIKASI MATEMATIK SISWA SMP.
0
0
45
PENGGUNAAN MEDIA BLOK PECAHAN UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PENJUMLAHAN BILANGAN PECAHAN SEDERHANA.
0
0
6
PENGEMBANGAN MODEL MISSOURI MATHEMATIC PROJECT DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN KERUANGAN SISWA.
0
0
53
PENGEMBANGAN BAHAN AJAR MATERI PECAHAN DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL UNTUK SISWA SMP KELAS VII.
1
8
299
KEEFEKTIFAN PENDEKATAN PMRI BERBANTUAN ALAT PERAGA UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN LITERASI MATEMATIKA SISWA
0
0
61
PENDEKATAN KONTEKSTUAL DAN STRATEGI THINK-TALK-WRITE UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH DAN DISPOSISI MATEMATIK SISWA SMP Taufiq
0
0
13
SKRIPSI PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN LEMBAR KERJA SISWA (LKS) DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH SISWA KELAS VIII MTS ASSALAFIYYAH MLANGI
0
0
19
PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN PECAHAN YANG MENGGUNAKAN MASALAH KONTEKSTUAL SEBAGAI STARTING POINT PEMBELAJARAN DENGAN PENDEKATAN PMRI DI KELAS IVA SDN ADISUCIPTO 1 SKRIPSI
0
1
226
PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN BANGUN RUANG MENGGUNAKAN MASALAH KONTEKSTUAL SEBAGAI STARTING POINT PEMBELAJARAN DENGAN PENDEKATAN PMRI DI KELAS IVB SD TARAKANITA MAGELANG
0
1
202
PENGGUNAAN PENDEKATAN PMRI KARAKTERISITK INTERAKTIFITAS UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMAHAMI KONSEP BANGUN RUANG DI SDN UNGARAN 1 YOGYAKARTA SKRIPSI
0
0
343
Show more