PENINGKATAN MINAT DAN PRESTASI BELAJAR IPA DENGAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN SCL MODEL PBL PADA SISWA KELAS IVA SD NEGERI NOGOTIRTO TAHUN PELAJARAN 20132014

Gratis

0
2
388
7 months ago
Preview
Full text
(1)PENINGKATAN MINAT DAN PRESTASI BELAJAR IPA DENGAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN SCL MODEL PBL PADA SISWA KELAS IVA SD NEGERI NOGOTIRTO TAHUN PELAJARAN 2013/2014 SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Disusun oleh : Margarita Nova Kurniawati 101134046 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014

(2) PENINGKATAN MINAT DAN PRESTASI BELAJAR IPA DENGAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN SCL MODEL PBL PADA SISWA KELAS IVA SD NEGERI NOGOTIRTO TAHUN PELAJARAN 2013/2014 SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Disusun oleh : Margarita Nova Kurniawati 101134046 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014 i

(3) ii

(4) iii

(5) PERSEMBAHAN Skripsi ini saya persembahkan untuk:  Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmat sehingga skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik.  Bapak Herybertus Rukiman dan Ibu Francisca Suparmi yang telah memberikan dukungan, doa yang terus menerus pada peneliti.  Dosen Program Studi PGSD Sanata Dharma yang telah memberikan bimbingan, didikan, saran, dan kritik bagi peneliti dalam menyusun skripsi ini  Teman-teman dan sahabat yang telah memberikan dukungan dan saran pada saya ketika menghadapi kesulitan iv

(6) MOTTO Waktu tidak akan terulang kembali, lakukan yang terbaik untuk setiap aktivitas, pekerjaan yang dijalani. Doa dan restu orangtua merupakan salah satu cara Tuhan untuk menunjukkan kesuksesan dan keberhasilan hidup. v

(7) vi

(8) vii

(9) ABSTRAK PENINGKATAN MINAT DAN PRESTASI BELAJAR IPA DENGAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN SCL MODEL PBL PADA SISWA KELAS IVA SD NEGERI NOGOTIRTO TAHUN PELAJARAN 2013/2014 Margarita Nova Kurniawati Universitas Sanata Dharma 2014 Penelitian ini bertujuan untuk (1) Meningkatkan minat belajar IPA dengan menggunakan pendekatan SCL (Student Centered Learning) model PBL (Problem Based Learning) pada siswa kelas IVA SD Negeri Nogotirto semester ganjil tahun pelajaran 2013/2014 dengan penelitian tindakan kelas. (2) Meningkatkan prestasi belajar IPA dengan menggunakan pendekatan SCL model PBL pada siswa kelas IVA SD Negeri Nogotirto semester ganjil tahun pelajaran 2013/2014 dengan penelitian tindakan kelas Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam dua siklus (siklus I 3 kali pertemuan, dan siklus II, 2 kali pertemuan). Masing-masing pertemuan dilaksanakan dalam waktu 2x 35 menit. Penelitian ini dilakukan pada siswa kelas IVA SD Negeri Nogotirto yang berjumlah 27 siswa dengan objek penelitian adalah peningkatan minat dan prestasi belajar menggunakan pendekatan SCL model PBL. Hasil penelitian ini adalah (1) minat belajar IPA meningkat dengan menggunakan pendekatan SCL model PBL pada siswa kelas IVA SD Negeri Nogotirto semester ganjil tahun pelajaran 2013/2014. Persentase siswa berminta yang dalam kondisi awal hanya 63% meningkat menjadi 96,3% pada siklus I dan meningkat lagi menjadi 98,15%. (2) prestasi belajar IPA meningkat dengan menggunakan pendekatan SCL model PBL pada siswa kelas IVA SD Negeri Nogotirto semester ganjil tahun pelajaran 2013/2014. Nilai KKM yang awalnya 57,2%, meningkat menjadi 70,4% pada siklus I dan menjadi , 100% pada siklus II. Kata kunci: minat, prestasi belajar, SCL, PBL viii

(10) ABTRACT IMPROVING STUDENT’S INTEREST AND LEARNING ACHIEVEMENT IN NATURAL SCIENCE USING SCL APPROACH WITH PBL MODEL FOR GRADES FOURTH A OF NOGOTIRTO ELEMENTARY SCHOOL 2013/2014 Margarita Nova Kurniawati Sanata Dharma University 2014 This study aims to (1) Increase the student’s interest in learning science by using SCL (Student Centered Learning) approach with the PBL (problem based learning) model in IVA student’s of Nogotirto elementary school at the first semester of 2013/2014 by using action research. (2) Improve science learning achievement using the SCL approach by using PBL model in IVA student’s of Nogotirto elementary school at the first semester of 2013/2014 by using action research. Type of research is action research, which implemented in two cycles (cycle I conducted in three meetings, and the second cycle was conducted in two meetings). Each meetings was held within 2x 35 minutes. Subjects In this research were students of SD Negeri IVA Nogotirto elementary school by conducting 27 students with the object of increasing the student’s interest and learning achievement using the SCL approach with PBL model. The results of this research are (1) increasing the student’s interest in the learning science by using a SCL approach with PBL model in class IVA Nogotirto Elementary School at first semester of 2013/2014. In the firt cycle, the student’s interest increased from 63% to 96,3% and it increased continuedly to 98,15% in the second cycle. (2) increasing the student’s science learning achievement using the SCL approach with PBL model in class IVA Elementary School Nogotirto in first semester of 2013/2014. KKM (the minimum passing grade kriteria) the first cycle is 57,2% to 70,4% and to be 100% in the cycle II. Keywords: student’s interest, learning achievement, SCL, PBL ix

(11) KATA PENGANTAR Puji syukur peneliti panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat dan rahmat yang diberikanNya, sehingga peneliti dapat menyelesaikan penulisan skripsi sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Penulisan skripsi ini dilakukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar sarjana (S-1) pada program studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Sanata Dharma. Peneliti menyadari bahwa penulisan skripsi ini tidak akan berhasil tanpa bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu penulis mengucapkan terimakasih kepada: 1. Bapak Rohandi., Ph.D., selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma. 2. Romo Gregorius Ari Nugrahanta SJ., SS., BST., M.A., Ketua Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar. 3. Ibu Dra. Ignatia Esti Sumarah M. Hum, Dosen Pembimbing 1 yang telah memberikan bimbingan dan arahan sehingga penulisan skripsi ini dapat berjalan dengan lancar. 4. Ibu Wahyu Wido Sari. S. Si., M. Biotech dan Ibu Catur Rismiati, S.Pd., M. A., Ed. D, dosen pembimbing penelitian kolaboratif. 5. Dosen penguji Maria Melani Ika Susanti, S. Pd., M. Pd dan Laurensia Aptik Evanjeli, S. Psi., M.A 6. Dosen validator yang telah memvalidasi instrumen pembelajaran dan instrumen penelitian yang peneliti gunakan. 7. Sekretariat PGSD yang telah membantu peneliti dalam pembuatan surat-surat penelitian. 8. Bapak Suprayana, S. Pd., Kepala SD Negeri Nogotirto yang telah memberikan izin pada peneliti untuk melakukan penelitian. 9. Bapak Toni Handoko, A. Ma., guru mata pelajaran IPA kelas IV SD Negeri Nogotirto yang sudah bersedia berkolaborasi dalam penelitian. 10. Siswa-siswa kelas IVA yang telah bersedia bekerjasama dengan peneliti sehingga penelitian ini dapat berjalan lancar. 11. Bapak Herybertus Rukiman dan Ibu Francisca Suparmi, orang tua peneliti dan keluarga besar yang telah memberikan dorongan dan semangat pada penulis dalam menyusun skripsi. 12. Sahabat-sahabat yang mendukung penelitian ini baik yang berada di PGSD maupun yang di luar PGSD. x

(12) xi

(13) DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ..................................................................................................... i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ........................................................ ii HALAMAN PENGESAHAN ...................................................................................... iii HALAMAN PERSEMBAHAN ................................................................................... iv MOTTO ......................................................................................................................... v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ..................................................................... vi ABSTRAK ..................................................................................................................... vii ABTRACT ..................................................................................................................... viii KATA PENGANTAR ................................................................................................. x DAFTAR ISI .................................................................................................................. xii DAFTAR TABEL ......................................................................................................... xiv DAFTAR GAMBAR .................................................................................................... xvi DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................................. xvii BAB I. PENDAHULUAN ............................................................................................. 1 A. Latar belakang masalah ............................................................................................... 1 B. Pembatan masalah ........................................................................................................ 5 C. Rumusan masalah ........................................................................................................ 5 D. Tujuan Penelitian ......................................................................................................... 6 E. Pemecahan Masalah ..................................................................................................... 6 F. Batasan Pengertian ....................................................................................................... 6 G. Manfaat Pengertian ...................................................................................................... 7 BAB II. KAJIAN PUSTAKA ........................................................................................ 9 A. Teori-teori yang Mendukung ........................................................................................ 9 1. Teori perkembangan ................................................................................................... 9 2. Teori Belajar yang Mendukung .................................................................................. 10 3. Minat Belajar. ............................................................................................................. 12 4. Prestasi Belajar ........................................................................................................... 17 5. Student Centered Learning (SCL) .............................................................................. 20 6. Problem Based learning (PBL) .................................................................................. 23 7. Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) ................................................................................... 29 B. Hasil Penelitian yang Relevan ..................................................................................... 35 C. Kerangka Berpikir ........................................................................................................ 40 xii

(14) D. Hipotesis Tindakan ....................................................................................................... 41 BAB III. METODE PENELITIAN ............................................................................... 42 A. Jenis Penelitian ............................................................................................................. 42 B. Setting Penelitian .......................................................................................................... 45 1. Subjek Penelitian ........................................................................................................ 45 2. Objek Penelitian ......................................................................................................... 45 3. Tempat Penelitian ....................................................................................................... 46 4. Waktu Penelitian ........................................................................................................ 46 C. Rencana Tindakan ......................................................................................................... 47 D. Teknik Pengumpulan Data ........................................................................................... 58 E. Instrumen Pengumpulan Data ....................................................................................... 61 F. Validitas, Reliabilitas, dan Indeks Kesukaran ............................................................... 76 1. Validitas ...................................................................................................................... 76 2. Reliabilitas ................................................................................................................... 102 3. Indeks Kesukaran ........................................................................................................ 104 G. Teknik Analisis Data ..................................................................................................... 110 1. Analisis Minat ............................................................................................................. 110 2. Analisis Prestasi Belajar .............................................................................................. 112 H. Kriteria Keberhasilan .................................................................................................... 114 1. Indikator Keberhasilan ................................................................................................ 114 BAB IV. DESKRIPSI, HASIL, DAN PEMBAHASAN PENELITIAN. ................... 118 A. Deskripsi Penelitian ...................................................................................................... 118 B. Hasil Penelitian ............................................................................................................. 145 1. Hasil Peningkatan Minat ............................................................................................. 145 2. Hasil Peningkatan Prestasi .......................................................................................... 165 C. Pembahasan ................................................................................................................... 173 BAB V. PENUTUP .......................................................................................................... 191 A. Kesimpulan .................................................................................................................... 191 B. Keterbatasan Penelitian .................................................................................................. 192 C. Saran ............................................................................................................................... 192 DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................................... 193 LAMPIRAN ...................................................................................................................... 196 xiii

(15) DAFTAR TABEL Tabel III.1 Jadwal penelitian .............................................................................................. 46 Tabel III.2 Peubah dan teknik pengumpulan data ............................................................. 59 Tabel III.3 Instrumen pengumpulan data ......................................................................... 62 Tabel III.4 Lembar waawancara ......................................................................................... 63 Tabel III.5 Kisi-kisi kuesioner minat belajar .................................................................... 65 Tabel III.6 Sebaran item kuesioner ................................................................................... 66 Tabel III.7 Lembar pengamatan minat ............................................................................. 67 Tabel III.8 Kisi-kisi soal evaluasi siklus I ......................................................................... 69 Tabel III.9 Kisi-kisi soal evaluasi siklus II ........................................................................ 70 Tabel III.10 Rubrik penlaian kognitif .................................................................................. 71 Tabel III.11 Rubrik penilaian afektif .................................................................................. 71 Tabel III.12 Rubrik Penilaian psikomotor siklus I pertemuan 1.......................................... 72 Tabel III.13 Rubrik penilaian psikomotorik siklus I pertemuan 2 ....................................... 72 Tabel III.14 Rubrik penilaian psikomotorik siklus I pertemuan 3 ...................................... 73 Tabel III.15 Rubrik penilaian psikomotorik siklus II pertemuan 1 .................................... 74 Tabel III.16 Rubrik penilaian psikomotorik siklus II pertemuan 2 .................................... 75 Tabel III.17 Rubrik validasi silabus .................................................................................... 78 Tabel III.18 Hasil validasi silabus siklus I oleh ahli .......................................................... 79 Tabel III.19 Hasil validasi silabus siklus II oleh ahli ......................................................... 81 Tabel III.20 Rubrik validasi RPP ....................................................................................... 82 Tabel III.21 Hasil validasi RPP siklus I oleh ahli .............................................................. 83 Tabel III.22 Hasil validasi RPP siklus II oleh ahli ............................................................. 85 Tabel III.23 Rubrik validasi soal evaluasi .......................................................................... 87 Tabel III.24 Hasil validasi soal evaluasi siklus I oleh ahli ................................................. 88 Tabel III.25 Hasil validasi soal evaluasi siklus II oleh ahli ............................................... 89 Tabel III.26 Hasil uji validitas empiris soal evaluasi siklus I ............................................ 91 Tabel III.27 Kisi-kisi soal evaluasi siklus I setelah validasi .............................................. 93 Tabel III.28 Hasil uji validitas empiris soal evaluasi siklus II ........................................... 94 Tabel III.29 Kisi-kisi soal evaluasi siklus II setelah validasi .............................................. 95 Tabel III.30 Kisi-kisi lembar wawancara setelah validasi .................................................. 96 Tabel III.31 Hasil uji validitas empiris kuesioner minat .................................................... 98 Tabel III.32 Kisi-kisi kuesioner minat setelah validasi ...................................................... 99 xiv

(16) Tabel III.33 Kisi-kisi lembar pengamatan minat setelah validasi ...................................... 101 Tabel III.34 Tabel koefisiensi korelasi ............................................................................... 102 Tabel III.35 Hasil uji reliailitas kuesioner .......................................................................... 103 Tabel III.36 Hasil uji reliabilitas soal evaluasi siklus I ..................................................... 103 Tabel III.37 Hasil uji reliabilitas soal evaluasi siklus II .................................................... 104 Tabel III.38 Kriteria indeks kesukaran ............................................................................... 104 Tabel III.39 Indeks kesukaran evaluasi siklus I ................................................................. 105 Tabel III.40 Tabel indeks kesukaran soal evaluasi siklus I ............................................... 106 Tabel III.41 Indeks kesukaran evaluasi siklus II ............................................................... 107 Tabel III.42 Tabel indeks kesukaran soal evluasi siklus .................................................. 109 Tabel III.43 Skor alternatif pilihan jawaban kuesioner ...................................................... 110 Tabel III.44 Kriteria tingkat minat belajar .......................................................................... 111 Tabel III.45 Target keberhasilan siklus I ............................................................................ 116 Tabel IV.1 Minat dan prestasi siklus I ............................................................................. 132 Tabel IV.2 Minat dan prestasi siklus II ............................................................................ 144 Tabel IV.3 Data awal minat ............................................................................................. 146 Tabel IV.4 Minat siswa siklus I pertemuan 1 ................................................................... 148 Tabel IV.5 Minat siswa siklus I pertemuan 2 ................................................................... 150 Tabel IV.6 Minat siswa siklus I pertemuan 3 ................................................................... 152 Tabel IV.7 Hasil minat siswa siklus I ............................................................................... 153 Tabel IV.8 Rerata skor pada tiap indikator ...................................................................... 155 Tabel IV.9 Peningkatan dan capaian minat siklus I ......................................................... 155 Tabel IV.10 Target keberhasilan siklus II .......................................................................... 156 Tabel IV.11 Minat siswa siklus II pertemuan 1 ................................................................. 158 Tabel IV.12 Minat siswa siklus II pertemuan 2 ................................................................. 160 Tabel IV.13 Peningkatan dan capian minat siklus II ......................................................... 161 Tabel IV.14 Data minat siswa satu kelas pada kondisi awal, siklus I, dan siklus II .......... 162 Tabel IV.15 Hasil minat siswa kondisi awal, siklus I dan siklus II ................................... 164 Tabel IV.16 Prestasi siswa siklus I ..................................................................................... 167 Tabel IV.17 Perbandingan prestasi belajar kondisi awal dengan siklus I .......................... 168 Tabel IV.18 Target capaian prestasi siklus II ..................................................................... 169 Tabel IV.19 Prestasi belajar siswa siklus II ....................................................................... 170 Tabel IV.20 Perbandingan prestasi belajar siklus I dengan siklus II .................................. 171 Tabel IV.21 Prestasi dari kondisi awal, siklus I, dan siklus II ........................................... 172 xv

(17) DAFTAR GAMBAR Gambar II.1 Bagan hasil penelitian yang relevan ............................................................. 39 Gambar III.1 Siklus PTK model Kemmis Taggart ........................................................... 43 Gambar IV.1 Siklus I pertemuan 1 ................................................................................... 174 Gambar IV.2 Siklus I pertemuan 2 ..................................................................................... 175 Gambar IV.3 Siklus I pertemuan 3 ..................................................................................... 176 Gambar IV.4 Siklus II pertemuan 1 ................................................................................... 177 Gambar IV.5 Siklus II pertemuan 2 ................................................................................... 178 Gambar IV.6 Identifikasi masalah ..................................................................................... 179 Gambar IV.7 Merancang kegiatan penyelesaian masalah ................................................. 180 Gambar IV.8 Melaksanakan kegiatan penyelesaian masalah ............................................ 180 Gambar IV.9 Kegiatan tutorial .......................................................................................... 181 Gambar IV.10 Melanjutkan kegiatan penyelesaian masalah............................................... 181 Gambar IV.11 Menyusun laporan ....................................................................................... 182 Gambar IV.12 Penilaian....................................................................................................... 182 Gambar IV.13 Peningkatan minat berdasarkan indikator ................................................... 183 Gambar IV.14 Rasa senang ................................................................................................. 185 Gambar IV.15 Perhatian siswa ........................................................................................... 185 Gambar IV.16 Keterlibatan siswa ........................................................................................ 186 Gambar IV.17 Inisiatif siswa ................................................................................................ 186 xvi

(18) DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1. Surat izin melakukan penelitian dan selesai melakukan penelitian .............. 197 Lampiran 2. Instrumen pembelajaran setelah divalidasi ................................................... 200 Lampiran 3. Hasil perhitungan indeks kesukaran dan validitas ........................................ 309 Lampiran 4. Data siswa pada kondisi awal ....................................................................... 342 Lampiran 5. Contoh hasil pekerjaan siswa ........................................................................ 357 Lampiran 6. Foto kegiatan ................................................................................................. 366 xvii

(19) BAB I PENDAHULUAN Bab ini akan menjadi pendahuluan dalam penelitian yang dilakukan peneliti. Pada bab ini termuat latar belakang masalah, pembatasan masalah, rumusan masalah, pemecahan masalah, batasan pengertian, tujuan penelitian, dan manfaat penelitian. A. Latar Belakang Masalah Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dalam dunia pendidikan merupakan salah satu mata pelajaran yang penting dan pokok dalam kurikulum di Indonesia, termasuk pada jenjang pendidikan dasar atau SD (Susanto, 2013:165). IPA menjadi salah satu mata pelajaran yang wajib siswa ikuti sebagai salah satu syarat kenaikan ke kelas selanjutnya. Pembelajaran IPA adalah pembelajaran yang mendekatkan siswa untuk mengenal lingkungan sekitarnya melalui kegiatan percobaan dan pengamatan (Samatowa, 2011:3). Fokus pembelajaran IPA di SD menurut Samatowa (2011:2) yaitu untuk memupuk minat siswa dalam mengenal lingkungan sekitar. Minat adalah dorongan dalam diri seseorang yang menyebabkan dipilihnya suatu kegiatan yang menguntungkan, menyenangkan, yang lama kelamaan mendatangkan kepuasan (Susanto, 2013:58). Minat belajar mempengaruhi hasil belajar siswa. Minat mempengaruhi prestasi belajar siswa (Susanto,2013:67). Bahan pelajaran, pendekatan, atau metode pembelajaran yang tidak sesuai dengan minat siswa, menyebabkan prestasi belajarnya tidak optimal. 1

(20) 2 Pembelajaran IPA untuk menumbuhkan minat pada kenyataannya belum peneliti lihat di SD Negeri Nogotirto. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru mata pelajaran IPA kelas IVA di SD Negeri Nogotirto pada tanggal 22 Oktober 2013, peneliti memperoleh infomasi bahwa siswa kurang berminat dalam pembelajaran IPA. Beberapa siswa kurang memperhatikan ketika mata pelajaran IPA berlangsung. Siswa sering melamun, mengobrol dengan teman, dan sikap lainnya. Siswa yang terlibat dalam pembelajaran IPA juga tidak banyak. Hal ini terlihat dari sedikitnya siswa yang menjawab pertanyaan guru. Selain itu, kurangnya minat siswa juga terlihat dari inisiatif untuk belajar IPA. Hal ini terlihat dari tidak adanya yang mengajukan pertanyaan dalam pembelajaran dengan kemauan sendiri. Guna memperkuat hasil analisis peneliti bahwa minat siswa terhadap mata pelajaran IPA masih kurang, peneliti melakukan observasi kelas sebanyak 2 kali pada saat pembelajaran IPA berlangsung. Peneliti menggunakan lembar observasi yang berisi indikator minat belajar untuk melihat minat siswa dalam belajar. Observasi yang pertama peneliti lakukan pada tanggal 24 Oktober 2013, pukul 07.00-08.10 WIB materi simbiosis. Observasi yang kedua peneliti lakukan pada tanggal 4 November 2013 pukul 09.35-10.10 WIB pada materi ekosistem. Berdasarkan hasil observasi selama dua kali terlihat bahwa rasa senang, perhatian, keterlibatan, dan inisiatif siswa ketika pembelajaran IPA terbilang kurang. Rasa senang yang kurang terlihat dari beberapa siswa yang datang terlambat, dan kurang bersemangat dengan tidur–tiduran saat pembelajaran berlangsung. Perhatian siswa yang kurang

(21) 3 terlihat dari adanya siswa yang melamun, dan tidak menyimak penjelasan guru. Keterlibatan siswa yang kurang terlihat dari tidak adanya siswa yang menjawab pertanyaan guru dan menanggapi penjelasan guru. Inisiatif siswa yang kurang terlihat dari tidak adanya siswa yang mau bertanya dan membuat ringkasan tanpa harus diminta guru. Rendahnya minat siswa juga terlihat dari perhitungan penyebaran lembar kuesioner pada siswa kelas IVA SD Negeri Nogotirto pada tanggal 24 Oktober 2013. Berdasarkan data kuesioner, terlihat bahwa minat siswa dalam belajar IPA masih kurang. Siswa yang menunjukkan minat atau berminat tinggi hanya 17 dari 27 siswa (37%). Hal ini terlihat dari perhitungan nilai rata-rata per indikator minat berdasarkan data kuesioner yang telah diisi siswa sebelumnya. Pada indikator rasa senang, nilai rata-rata siswa yang memiliki rasa senang terhadap pembelajaran IPA sebesar 3,39. Siswa yang memperhatikan guru pada saat pembelajaran IPA sebesar 2,67. Siswa yang terlibat pada waktu pembelajaran IPA sebesar 2,89. Siswa yang berinisiatif untuk mencari informasi yang terkait dengan mata pelajaran IPA yaitu sebesar 1,81. Hal itu menunjukkan bahwa minat siswa dalam pembelajaran IPA masih kurang dan perlu adanya peningkatan. Minat siswa yang rendah juga peneliti lihat melalui studi dokumetasi nilai siswa selama dua tahun pada semester ganjil. Hal ini peneliti lakukan karena minat berhubungan dengan prestasi belajar siswa. Berdasarkan studi dokumentasi nilai mata pelajaran IPA tahun 2011/2012 dari 34 siswa, 19 siswa dari 34 (54,3%) memenuhi nilai KKM yang ditetapkan oleh sekolah

(22) 4 yaitu 67. Tahun 2012/2013, adanya 18 siswa dari 30 siswa (60%) lulus KKM. Selain dari nilai KKM, rata-rata nilai kelas siswa juga mengalami perubahan. Tahun 2011/2012 rata-rata nilai kelas IVA adalah 71,5 dan pada tahun 2012/2013 adalah 74,5. Adanya nilai siswa yang tidak memenuhi KKM tersebut menunjukkan kurangnya minat belajar siswa terhadap mata pelajaran IPA. Berdasarkan data-data tersebut, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tindakan kelas guna meningkatkan minat dan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran IPA kelas IVA. Peneliti menggunakan pendekatan Student Centered Learning (SCL) untuk meningkatkan minat dan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran IPA. Pendekatan SCL merupakan suatu pendekatan pembelajaran dimana siswa aktif dalam kegiatan pembelajaran (Triyono, 2011:1). Pendekatan SCL memiliki berbagai jenis model pembelajaran antara lain model pembelajaran berbasis inkuiri, kooperatif, pembelajaran berbasis masalah, experiential learning, contextual teaching and learning (CTL), dan discovery learning. Penelitian ini peneliti menggunakan model pembelajaran berbasis masalah (problem based learning) untuk meningkatkan minat dan prestasi belajar siswa. Peneliti meyakini pembelajaran problem based learning dapat meningkatkan minat dan prestasi belajar siswa dalam mata pelajaran IPA. Keyakinan itu peneliti peroleh setelah peneliti mempelajari teori PBL yang terdiri dari tujuh langkah pembelajaran. Ketujuh langkah itu antara lain identifikasi masalah, merancang kegiatan penyelesaian masalah,

(23) 5 melaksanakan kegiatan penyelesaian masalah, kegiatan tutorial, melanjutkan kegiatan penyelesaian masalah, menyusun laporan dan penilaian. Terinspirasi dari masalah yang ada, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Peningkatan minat dan prestasi belajar menggunakan pendekatan SCL model PBL pada siswa kelas IVA SD Negeri Nogotirto semester ganjil 2013/2014”. B. Pembatasan Masalah Penelitian ini dibatasi pada peningkatan minat dan prestasi belajar kelas IVA SD Negeri Nogotirto pada mata pelajaran IPA SK 6 tentang memahami beragam sifat dan perubahan wujud benda serta berbagai cara penggunaan benda berdasarkan sifatnya. Berdasarkan SK tersebut, KD yang digunakan dalam penelitian ini dibatasi pada KD 6.2 tentang perubahan wujud benda, dan KD 6.3 tentang penggunaan benda berdasarkan sifat bahannya. C. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, masalah pada penelitian ini dirumuskan sebagai berikut: 1. Bagaimana meningkatkan minat belajar IPA dengan menggunakan pendekatan SCL model PBL pada siswa kelas IVA SD Negeri Nogotirto semester ganjil tahun pelajaran 2013/2014?

(24) 6 2. Bagaimana meningkatkan prestasi belajar IPA dengan menggunakan pendekatan SCL model PBL pada siswa kelas IVA SD Negeri Nogotirto semester ganjil tahun pelajaran 2013/2014? D. Tujuan penelitian Tujuan yang akan diwujudkan dalam penelitian ini antara lain: 1. Meningkatkan minat belajar IPA dengan menggunakan pendekatan SCL model PBL pada siswa kelas IVA SD Negeri Nogotirto semester ganjil tahun pelajaran 2013/2014 dengan penelitian tindakan kelas. 2. Meningkatkan prestasi belajar IPA dengan menggunakan pendekatan SCL model PBL pada siswa kelas IVA SD Negeri Nogotirto semester ganjil tahun pelajaran 2013/2014 dengan penelitian tindakan kelas E. Pemecahan Masalah Berdasarkan permasalahan yang diuraikan pada latar belakang masalah, rendahnya minat dan prestasi belajar siswa kelas IVA SD Negeri Nogotirto pada mata pelajaran IPA akan diatasi dengan menggunakan pendekatan Student Centered Learning (SCL) model pembelajaran berbasis masalah melalui penelitian tindakan kelas. F. Batasan Pengertian Menghindari penafsiran yang berbeda tentang istilah yang akan digunakan dalam penelitian ini, peneliti memberi batasan pengertian sebagai berikut:

(25) 7 1. Minat merupakan dorongan dalam diri seseorang yang menyebabkan dipilihnya suatu kegiatan yang menguntungkan, menyenangkan, yang lama kelamaan mendatangkan kepuasan 2. Prestasi belajar adalah bukti atau hasil yang dicapai siswa dalam melakukan kegiatan belajar 3. Pembelajaran IPA adalah suatu pembelajaran yang mempelajari peristiwaperistiwa yang terjadi di alam yang disusun secara sistematis berdasarkan hasil percobaaan dan pengamatan. 4. Pendekatan Sudent Centered Learning merupakan suatu pendekatan pembelajaran dimana siswa aktif dalam kegiatan pembelajaran dan peran guru dalam pembelajaran hanya sebagai fasilitator 5. Model Problem based learning adalah proses pembelajaran yang menekankan pada penyelesaian masalah oleh siswa secara ilmiah 6. Siswa sekolah dasar adalah siswa yang berada pada tahap opersional konkret (7-11 tahun) dan mulai memunjukkan perilaku belajar seperti berpikir objektif, operasional, dan lain sebagainya. G. Manfaat penelitian 1. Bagi siswa Melalui penelitian ini, diharapkan prestasi dan minat siswa kelas IVA SD Negeri Nogotirto dalam mata pelajaran IPA dapat meningkat 2. Bagi guru

(26) 8 Adanya penelitian ini diharapkan dapat menjadi inspirasi atau saran bagi guru untuk meningkatkan minat dan prestasi belajar siswa dengan mengembangkan pembelajaran inovatif. 3. Bagi sekolah Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi sekolah dalam mengembangkan model pembelajaan inovatif untuk meningkatkan minat dan prestasi siswa dalam belajar. 4. Bagi peneliti Peneliti dapat menerapkan salah satu pembelajaran inovatif model PBL untuk meningkatkan minat dan prestasi siswa dalam pembelajaran IPA.

(27) BAB II KAJIAN PUSTAKA Bab ini akan menjadi landasan teori peneliti dalam melakukan penelitian yang terkait dengan judul penerapan pendekatan SCL dengan model PBL untuk meningkatkan minat dan prestasi belajar IPA kelas IVA SD Negeri Nogotirto. Bab ini berisi tentang teori-teori yang mendukung, hasil penelitian yang relevan, kerangka berpikir dan hipotesis tindakan A. Teori- teori yang Mendukung. Teori yang mendukung dalam penelitian ini meliputi teori perkembangan, teori belajar, minat, prestasi belajar, SCL, PBL, dan IPA. 1. Teori perkembangan Siswa sekolah dasar adalah siswa yang berada pada tahap operasional konkret (7-11 tahun) dan mulai menunjukkan perilaku belajar seperti berpikir objektif, operasional, dan lain sebagainya (Susanto, 2013:78-79). Menurut Piaget (dalam Slavin, 2008:51) pada tahap operasional konkret anak dapat membentuk konsep, melihat hubungan, dan memecahkan masalah yang melibatkan objek atau situasi yang sudah dikenal siswa. Hal ini berarti bahwa siswa pada usia SD dapat belajar berdasarkan pengalaman-pengalaman yang pernah dialaminya. Siswa SD yang mampu belajar dari pengalaman sejalan dengan prinsip pembelajaran IPA, dimana dalam belajar IPA siswa didorong untuk lebih dekat dengan alam dan belajar berdasarkan pengalaman melalui pengamatan dan percobaan. Selain belajar berdasarkan pengalaman, siswa SD 9

(28) 10 10 juga sudah mampu dalam memecahkan masalah yang sederhana (Susanto, 2013:73). Pernyataan tersebut sejalan dengan prinsip model pembelajaran PBL, dimana dalam pembelajaran PBL, siswa dituntut untuk mampu memecahkan masalah yang berkaitan dengan materi yang dipelajari. Selain perkembangan kognitif, siswa SD juga mengalami perkembangan sosial. Perkembangan sosial siswa SD ditandai dengan adanya perluasan hubungan dengan membentuk group dengan teman sebaya. Tahap ini siswa SD umumnya sudah sanggup untuk bekerjasama dalam kelompok, dan peduli terhadap orang lain (Susanto, 2013:75). Hal yang sama juga diungkapkan oleh Erikson. Erikson berpendapat bahwa pada masa SD, peran orangtua dalam mendidik siswa berkurang. Guru dan teman sebaya memegang peran penting dalam perkembangan siswa (dalam Slavin, 2008:66). 2. Teori belajar yang mendukung Belajar menurut R. Gagne (dalam Susanto, 2013:1) adalah suatu proses dimana individu berubah perilakunya akibat pengalaman yang didapatkannya. Hal ini sejalan dengan teori belajar konstruktivistik dimana menurut teori konstruktivistik, seseorang belajar dari pengalaman yang didapatkannya (Budiningsih, 2012:58). Menurut teori belajar konstruktivistik, siswa berperan aktif dalam pembelajaran. Siswa aktif melakukan kegiatan, aktif berpikir, menyusun konsep, dan memberi makna terkait dengan hal yang sedang dipelajari. Selain itu, menurut pandangan konstruktivistik, siswa adalah pribadi yang telah memiliki pengetahuan awal sebelum mempelajari sesuatu. Pengetahuan tersebut menjadi dasar untuk mengkonstruksi

(29) 11 11 pengetahuan baru yang didapat. Peran guru menurut pandangan konstruktivistik adalah sebagai pembantu atau penolong siswa untuk mengkonstruksikan atau pengetahuan baru tersebut. Berdasarkan uraian tersebut, terlihat bahwa belajar seharusnya lebih berpusat pada siswa (student centered learning) dimana siswa aktif dalam belajar, dan guru berperan sebagai fasilitator. Hal yang sama juga diungkapkan oleh Hardini (2012:4). Menurut Hardini, belajar adalah perubahan tingkah laku seseorang sebagai akibat pengalaman yang berasal dari lingkungannya (2012:4). Melalui pengalaman atau aktivitas yang ada di lingkungan yang telah dia alami, diharapkan seseorang dapat merubah tingkah lakunya ke arah yang lebih baik. Berdasarkan kedua definisi di atas, terlihat bahwa pengertian belajar yang dikemukakan oleh R.Gagne (dalam Susanto 2013:1) dan Hardini (2012:4), terdapat persamaan pendapat. Keduanya sama-sama menyebutkan bahwa belajar adalah proses perubahan tingkah laku akibat adanya pengalaman. Jadi dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses yang dialami seseorang yang menyebabkan perubahan tingkah laku ke arah yang positif atau ke arah yang lebih baik akibat adanya pengalaman yang berasal dari lingkungan yang dia alami. 3. Minat Belajar Minat belajar berisi tentang teori-teori yang terkait dengan minat belajar. Teori-teori yang terkait dengan minat belajar antara lain definisi minat

(30) 12 12 belajar, faktor-faktor yang mempengaruhi minat belajar, dan indikator minat belajar. a. Pengertian minat belajar Minat menurut Susanto (2013:58) adalah dorongan dalam diri seseorang yang menyebabkan dipilihnya suatu kegiatan yang menguntungkan, menyenangkan, yang lama kelamaan mendatangkan kepuasan. Hal serupa juga dikemukakan oleh Djamarah (2011:166). Menurut Djamarah (2011:166) minat adalah rasa lebih dari suka dan keterikatan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh. Ketertarikan tanpa ada yang menyuruh dapat diartikan bahwa ketertarikan itu berasal dari dalam diri sendiri. Bukan karena suatu suruhan atau ajakan, melainkan karena keinginan diri sendiri. Berdasarkan pengertian minat belajar menurut Susanto (2013:58) dan Djamarah (2011:166) tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa minat belajar adalah rasa suka, ketertarikan atau dorongan yang timbul dalam diri seseorang yang mengakibatkan dipilihnya suatu kegiatan atau aktivitas. b. Faktor-faktor yang mempengaruhi minat belajar Menurut Rosdiyah dalam Susanto mempengaruhi minat ada dua yaitu: 1) Faktor minat yang berasal dari pembawaan (2013:60) faktor yang

(31) 13 13 Faktor yang berasal dari pembawaan timbul dari dalam diri individu. Minat yang berasal dari pembawaan biasanya dipengaruhi faktor keturunan atau bakat. Bakat menurut Chaplin (dalam Susanto, 2013:16) adalah kemampuan yang dimiliki seseorang untuk mencapai keberhasilan pada masa depan. 2) Faktor minat yang berasal dari luar. Minat dari luar diri seseorang dipengaruhi oleh lingkungan, dorongan orang tua, dan kebiasaan atau adat. Pendapat Rosdiyah tersebut juga sejalan dengan pendapat Slameto. Menurut Slameto (2003:180) faktor yang mempengaruhi minat ada dua yaitu faktor dari dalam (internal) dan faktor dari luar (eksternal). 1) Faktor internal Faktor internal yang mempengaruhi minat antara lain cita-cita, kepuasan, kebutuhan, bakat, dan kebiasaan. 2) Faktor eksternal Faktor eksternal yang mempengaruhi minat antara lain kelengkapan, sarana prasarana, pergaulan orangtua dan persepsi masyarakat. Pendapat Rosdiyah (dalam Susanto, 2013:60) dan Slameto (2003:180) tentang faktor-faktor yang mempengaruhi minat teryata memiliki kesamaan. Keduanya sama-sama menyebutkan bahwa minat dipengaruhi oleh faktor yang berasal dari dalam (internal) dan foktor dari

(32) 14 14 luar (eksternal). Berdasarkan hal tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa minat dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal yang mempengaruhi minat antara lain bakat, cita-cita, kepuasan, kebutuha, dan kebiasaan. Faktor eksternal yang mempengaruhi minat antara lain kelengkapan, sarana prasarana, pergaulan orangtua dan persepsi masyarakat lingkungan, dan adat. c. Indikator minat Menurut Safari (2003: 60), ada empat indikator minat siswa dalam belajar yaitu: 1) Perasaan senang Perasaan senang dapat terlihat ketika siswa melakukan kegiatan pembelajaran di kelas. Perasaan senang ditandai dengan adanya sikap siswa yang tertawa, tersenyum, dan yang menunjukkan perasaan senang lainnya. 2) Ketertarikan siswa Ketertarikan siswa sebagai indikator minat yang lain berhubungan dengan daya gerak yang mendorong siswa untuk tertarik pada sesuatu. Siswa yang memiliki ketertarikan atau tertarik pada sesuatu akan mendorongnya untuk melakukan suatu hal yang dia sukai. Misalnya siswa menyukai mata pelajaran matematika karena dalam pembelajaran guru menggunakan media. Hal itu menarik bagi siswa karena media yang digunakan cenderung bersifat nyata, dan memiliki bentuk serta warna yang indah.

(33) 15 15 3) Perhatian Perhatian siswa merupakan indikator lain dari minat siswa dalam belajar. Siswa yang perhatian terhadap sesuatu akan berkonsentrasi memperhatikan hal yang menarik perhatiannya tersebut. Perhatian siswa ini umumnya dipengaruhi oleh rasa senang dan ketertarikan terhadap sesuatu. 4) Keterlibatan Selain perhatian, ketertarikan, dan rasa senang, indikator minat yang lain adalah keterlibatan siswa. Siswa yang terlibat aktif melakukan suatu hal menunjukkan adanya minat yang besar terhadap hal tersebut. Siswa yang terlibat aktif ditandai dengan keikutsertaannya melakukan segala sesuatu yang menjadi minatnya dalam belajar. Hal yang sama juga diungkapkan oleh Djamarah (2002:132). Menurut Djamarah, indikator minat ada tiga yaitu: minat siswa dalam belajar dapat diekspresikan melalui pernyataan lebih suka terhadap sesuatu daripada lainnya, partisipasi aktif, perhatian yang lebih besar pada sesuatu yang disukai dan adanya perasaan senang dalam pembelajaran. 1) Pernyataan lebih suka terhadap sesuatu daripada lainnya. Pernyataan lebih suka terhadap sesuatu daripada yang lain merupakan salah satu indikator minat belajar yang diungkapkan oleh Djamarah (2002:132). Bila siswa berminat pada sesuatu, maka dia akan menyatakan bahwa dia lebih suka hal tersebut daripada hal yang lain.

(34) 16 16 Perasaan lebih suka ini dapat diartikan sebagai perasaan senang terhadap sesuatu daripada hal yang lain. 2) Partisipasi aktif Partisipasi aktif merupakan indikator lain yang menunjukkan minat siswa dalam belajar. Partisipasi dapat terlihat dari aktivitas siswa dalam pembelajaran. Partisipasi aktif ditandai dengan keterlibatan siswa dalam pembelajaran. 3) Perhatian yang lebih besar pada sesuatu yang disukai Indikator minat juga terlihat dari perhatian siswa. Perhatian biasanya ada karena perasaan suka atau senang. Orang yang senang terhadap sesuatu memiliki perhatian yang lebih besar hal tersebut. Siswa yang memiliki minat terhadap suatu pembelajaran akan terlihat memiliki perhatian yang besar terhadap pembelajaran tersebut. Berdasarkan pendapat Safari (2003:60) dan Djamarah (2002:132) tentang indikator minat belajar siswa, ternyata ada persamaan diantara kedua pendapat itu. Keduanya menyatakan bahwa indikator minat terlihat dari perasaan senang, dan perhatian siswa. Indikator minat siswa yaitu keterlibatan yang diungkapkan oleh Safari (2003:60) juga memiliki pengertian yang sama dengan indikator minat siswa yang dikemukakan oleh Djamarah (2002:132) yaitu partisipasi aktif. Keduanya menunjukkan bahwa siswa terlibat aktif dalam pembelajaran dengan memperhatikan guru saat memberikan penjelasan, bertanya apabila ada hal yang tidak diketahui memberikan pendapat dalam kegiatan kelompok, dan melakukan percobaan sederhana untuk memahami

(35) 17 17 materi yang diajarkan. Keduanya menunjukkan bahwa siswa dengan sukarela melakukan hal tersebut tanpa paksaan, sehingga dapat dikatakan siswa mempunyai inisiatif dalam pembelajaran. Jadi selain ketiga indikator tersebut, ada lagi indikator yang menunjukkan siswa mempunyai minat dalam belajar yaitu inisiatif. Jadi dapat disimpulkan bahwa indikator minat ada empat yaitu, rasa senang, perhatian, keterlibatan, dan inisiatif. 4. Prestasi Belajar Prestasi belajar berisi tentang teori-teori yang terkait dengan prestasi siswa dalam belajar. Teori-teori tersebut antara lain definisi belajar, pengertian prestasi belajar, dan faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar. a. Pengertian prestasi Belajar Prestasi belajar menurut Masidjo (1995:40) adalah hasil poses belajar yang khas yang dilakukan secara sengaja sebagai hasil pengkuran terhadap kemampuan siswa. Prestasi belajar merupakan pengukuran terhadap kemampuan siswa sebagai hasil dari proses belajar yang telah siswa lakukan. Menurut Darsono (2000:110) prestasi belajar merupakan perubahan yang terjadi akibat interaksi aktif dengan lingkungan yang berhubungan dengan pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotor), nilai sikap (afektif). Prestasi belajar dapat dilihat dari aspek kognitif, afektif dan psikomotor setelah siswa melakukan aktivitas belajar. Adanya ketiga aspek itu, diharapkan ada perubahan positif dalam diri siswa.

(36) 18 18 Berdasarkan definisi di atas, pendapat Masidjo (1995:40) dan Darsono (2010:110) tentang pengertian prestasi belajar, ternyata saling mendukung. Masidjo (1995:40) mengungkapkan bahwa prestasi belajar merupakan pengukuran terhadap kemampuan siswa dari hasil proses belajar sedangkan Darsono (2010:110) mengungkapkan bahwa prestasi belajar merupakan perubahan yang meliputi aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Berdasarkan hal tersebut terlihat bahwa proses belajar siswa menghasilkan perubahan pada aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Jadi, dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar merupakan pengukuran terhadap kemampuan siswa berdasarkan berdasarkan proses belajar siswa yang meliputi aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. b. Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar menurut Syah (2008: 137-138) ada tiga yaitu faktor internal, faktor eksternal, dan faktor pendekaan pembelajaran. 1) Faktor internal Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri seseorang, yaitu jasmani dan rohani. Keadaan jasmani yang baik ditandai dengan kebugaran organ tubuh dan sendi-sendinya. Sedangkan rohani terdiri dari sikap, bakat, minat dan motivasi siswa. Keadaan jasmani dan rohani seseorang mempengaruhi prestasi belajarnya. Keadaan jasmani dan rohani yang baik mendorong siswa untuk memiliki prestasi belajar yang baik.

(37) 19 19 2) Faktor eksternal. Faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari lingkungan sekitar, baik lingkungan sosial maupun lingkungan non sosial. Lingkungan sosial terdiri dari lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. Sedangkan lingkungan non sosial terdiri dari gedung sekolah, rumah, cuaca, dan lain sebagainya. Faktor eksternal yaitu lingkungan, baik lingkungan sosial maupun non sosial mempengaruhi prestasi siswa dalam belajar. 3) Faktor pendekatan pembelajaran Faktor pendekatan pembelajaran adalah upaya yang dilakukan siswa untuk mempelajari materi pelajaran guna mendapat prestasi yang bagus. Upaya yang dilakukan siswa terdiri dari strategi serta metode yang digunakan siswa dalam belajar agar mendapatkan nilai yang bagus. Jadi strategi dan metode belajar juga dapat mempengaruhi prestasi belajar. 5. Student Centered Learning (SCL) Student Centered Learning (SCL) berisi teori tentang SCL yang terdiri atas pengertian SCL, ciri-ciri SCL dan model-model pembelajaran SCL. a. Pengertian Student Centered Learning (SCL)

(38) 20 20 Student Centered Learning (SCL) menurut Triyono (2011:1) adalah pendekatan pembelajaran yang memberdayakan siswa menjadi pusat perhatian selama pembelajaran. Jadi selama pembelajaran berlangsung, siswa yang aktif melakukan segala aktivitas. Hal yang sama juga diungkapkan oleh Severinus (2013:6). Menurut Severinus (2013:6), student centered learning atau pembelajaran yang berpusat pada siswa adalah pembelajaran yang memberikan kesempatan pada siswa untuk mengalami, berinteraksi, dan menemukan masalah yang ada di lingkungan sekitarnya. Jadi guru memberi kesempatan pada siswa untuk mengalami, berinteraksi, dan menemukan masalahnya sendiri yang ada di lingkungan. Pengertian SCL atau pembelajaran yang berpusat pada siswa yang dikemukakan oleh Triyono (2011:1), ternyata memiliki kesamaan dengan pengertian SCL yang dikemukakan Severinus (2013:6). Keduanya samasama berpendapat bahwa pembelajaran yang berpusat pada siswa atau SCL, guru memberikan kesempatan pada siswa untuk berperan aktif dalam melakukan segala aktivitas. Jadi dapat disimpulkan bahwa student centered learning atau SCL adalah pendekatan pembelajaran yang menekankan siswa untuk berperan aktif dalam pembelajaran. b. Ciri-ciri SCL Triyono dalam artikel yang ditulisnya (2011:2) menyampaikan tiga ciri SCL yaitu:

(39) 21 21 1) Siswa harus aktif terkibat dalam pembelajaran yang dipicu oleh motivasi intrinsik. Keaktifan siswa dalam pembejalajaran SCL dipicu oleh motivasi intrinsik. Motivasi intrinsik adalah keinginan belajar yang muncul dalam diri siswa sendiri (Tim pengembang ilmu pendidikan FIP-UPI, 2007:85) 2) Topik, isu, atau subyek pembelajaran harus menarik dan memicu motivasi intrinsik Pembelajaran dalam SCL harus menarik sehingga dapat memicu keinginan belajar siswa. 3) Pengalaman belajar diperoleh melalui suasana yang nyata. Pengalaman belajar dalam SCL diperoleh dari suasana yang nyata yaitu melalui pengamatan atau percobaan. c. Model-model pembelajaran SCL Model pembelajaran SCL menurut Severinus (2013:8) ada lima yaitu, model pembelajaran berbasis inkuiri, kooperatif, model pembelajaran berbasis masalah, experiential learning, dan contextual teaching and learning (CTL). a. Model pembelajaran berbasis inkuiri Model pembelajaran berbasis inkuiri adalah salah satu model pembelajaran dimana siswa menguji hipotesis atau masalah yang seluruh prosesnya mendorong siswa untuk menjadi aktif terlibat dalam penemuan informasi dan membantu siswa berpikir tingkat tinggi

(40) 22 22 (Coffman dalam Severinus 2013:8). Langkah-langkah pembelajaran berbasis inkuiri antara lain adalah mengidentifikasi masalah, merumuskan hipotesis, merancang dan melakukan penyelidikan ilmiah, mengumpulkan, menganalisis, dan menafsirkan data yang diperoleh, mengembangkan penyelidikan, mnyimpulkan hubungan antar masalah, bukti dan penjelasan, serta mengkomunikasikan penyelidikan dan hasil penyelidikan. b. Model pembelajaran kooperatif Model pembelajaran kooperatif merupakan salah satu model dalam pembelajaran SCL. Model pembelajaran kooperatif adalah suatu model pembelajaran dimana siswa bekerja sama dalam kelompok kecil untuk mempelajari materi yang disajikan oleh guru (Shafritz, Koeppe & Soper dalam Severinus 2013:9). Langkah-langkah pembelajaran kooperatif antara lain adalah pembagian kelompok, pemberian materi atau masalah, bekerjasama dalam kelompok, presentasi, penilaian, kuis, pemberian penghargaan c. Model pembelajaran berbasis masalah Model pembelajaran berbasis masalah adalah salah satu model pembelajaran untuk menyelesaikan masalah dalam kehidupan (Barell dalam Severinus 2013:9). Langkah-langkah pembelajaran berbasis masalah antara lain identifikasi masalah, merancang kegiatan penyelesaian masalah, melaksanakan kegiatan penyelesaian masalah,

(41) 23 23 kegiatan tutorial, melanjutkan penyelesaian masalah, menyusun laporan dan penilaian. d. Experiental learning. Experiental learning merupakan salah satu model pembelajaran dimana siswa belajar melalui pengalaman. Langkah-langkah eksperiental learning antara lain mengamati pengamatan, melakukan refleksi dari pengalaman yang diperoleh, mencari hubungan pengalaman dengan materi yang diajarkan guru, dan merencanakan rencana lanjutan. e. Contextual teaching and learning (CTL) Contextual teaching and learning (CTL) juga termasuk model pendekatan SCL. CTL merupakan salah satu model pembelajaran yang berawal dari pengalaman siswa, mengaitkan materi dengan situasi real, belajar mandiri, guna mencapai tujuan pembelajaran. f. Problem Based Learning Problem Based Learning (PBL) berisi teori tentang pengertian PBL, ciriciri PBL, langkah PBL, serta kelebihan dan kekurangan PBL. a. Pengertian problem based learnig Problem based learning atau pembelajaran berbasis masalah menurut Arends (dalam Trianto,2009:92) adalah pendekatan pembelajaran dimana siswa menyelesaikan permasalahan nyata untuk dapat menyusun

(42) 24 24 pengetahuan, mengembangkan keterampilan inquiri, berpikir tingkat tinggi, mengembangkan kemandirian dan percaya diri. Pengertian problem based learning juga diungkapkan oleh Barell (dalam Severinus, 2013:9). Menurut Barell (dalam Severinus, 2013:9) model pembelajaran berbasis masalah adalah salah satu model pembelajaran untuk menyelesaikan masalah dalam kehidupan nyata. Berdasarkan pengertian problem based learning yang diungkapkan oleh Arends (dalam Trianto,2009:92), ternyata memiliki persamaan dengan pengertian problem based learning yang diungkapkan oleh Barell (dalam Severinus, 2013:9). Keduanya menyatakan bahwa problem based learning adalah model pembelajaran dimana siswa menyelesaikan masalah dalam kehidupan nyata. Jadi dapat disimpulkan bahwa problem based learning adalah model pembelajaran dimana siswa menyelesaikan masalah dalam kehidupan mengembangkan nyata untuk keterampilan dapat inquiri, menyusun berpikir pengetahuan, tingkat tinggi, mengembangkan kemandirian dan percaya diri. b. Ciri-ciri PBL Dain Mardi (2012:1) mengungkapkan ciri-ciri PBL menjadi 7 yaitu: 1) Pembelajaran dipicu oleh permasalahan 2) Masalah didasarkan pada situasi ntaya

(43) 25 25 Masalah didasarkan pada situasi nyata maksudnya masalah yang diambil dalam pembelajaran berdasarkan situasi pada dunia nyata, bukan rekayasa. 3) Informasi yang diperlukan untuk menyelesaikan masalah tidak diberikan terlebih dahulu Guna memecahkan masalah dalam PBL, guru tidak memberikan cara penyelesaian masalah terlebih dahulu pada siswa. Siswa dituntut untuk mencari sendiri cara penyelesaian masalahnya 4) Dilaksanakan dalam kelompok kecil Kelas dibagi dalam kelompok-kelompok kecil, yang terdiri dari 3-6 orang siswa dalam satu kelompok. 5) Berfokus pada kemampuan berpikir, diantaranya adalah menyelesaikan masalah, analisis, penetapan keputusan, dan berpikir kritis. 6) Memerlukan integrasi pengetahuan Siswa berbagi pengetahuan dengan temannya dalam kelompok saat pembelajaran, dan mengiintegrasikannya atau menghubungkannya dengan pengetahuan yang sudah dimiliki untuk menyelesaikan masalah. 7) Terjadi self directed learning dan interdependent learning Self directed learning merupakan peran aktif siswa dalam menyelesaikan masalah. Siswa menentukan jawaban sementara, menentukan sumber informasi untuk menyelesaikan masalah dan cara

(44) 26 26 mencarinya, dan setelah itu melakukan pembagian tugas pada masingmasing anggota. Sedangkan interdependent learning merupakan siswa yang saling berbagi pengetahuan dengan temannya dalam kelompok. Pengetahuan baru yang mereka dapat mereka hubungkan dengan pengetahuan yang sudah dimiliki untuk menyelesaikan masalah. c. Langkah-langkah PBL Langkah-langkah pembelajaran PBL menurut Saverinus (2013: 10) ada tujuh antara lain: 1) Identifikasi masalah Siswa atau guru menemukan masalah yang terkait dengan materi yang sedang diajarkan. Masalah yang ditemukan terkait dengan dunia nyata. Masalah tersebut kemudian didiskusikan dalam kelompok untuk dipahami bersama-sama. 2) Merancang kegiatan penyelesaian masalah Setelah masalah dipahami, siswa dalam kelompok kemudian merancang langkah penyelesaian masalah, sarana yang digunakan, narasumber, pembagian tugas, pembagian tugas, jadwal, dan biaya. 3) Melaksanakan kegiatan penyelesaian masalah Rancangan penyelesaian masalah kemudian dilaksanakan. Pelaksanaan penyelesaian masalah dilakukan secara bertahap. Setiap tahap disertai dengan evaluasi, refleksi, dan rencana tindak lanjut.

(45) 27 27 4) Kegiatan tutorial Selama melaksanakan kegiatan masalah, secara berkala kelompok harus melaporkan kegiatan penyelesaian masalah pada guru. Hal ini agar guru dapat memberikan evaluasi atau memberikan saran apabila ada masalah dalam melaksanakan kegiatan penyelesaian masalah. 5) Melanjutkan kegiatan penyelesaian masalah Setelah mendapatkan saran dari guru, siswa melanjutkan kegiatan penyelesaian masalah. 6) Menyusun laporan Setelah kegiatan penyelesian masalah selesai dilaksanakan, siswa diminta untuk menyusun terkait dengan hasil yang didapat. 7) Penilaian. Penilaian dilakukan dengan observasi kinerja pada saat kegiatan tutorial, yang dihasilkan, atau dengan tes tertulis atau lisan. d. Kelemahan PBL Sanjaya (2011:219) mengemukakan tiga kelemahan PBL yaitu: 1) Sulitnya mencari masalah yang revan 2) Persiapan untuk mencapai keberhasilan membutuhkan waktu yang lama 3) Jika siswa tidak memiliki minat atau kepercayaan dalam memecahkan masalah yang dihadapi, maka mereka akan malas mencoba.

(46) 28 28 e. Kelebihan PBL Menurut Sanjaya (2011:208-219) kelebihan PBL ada delapan, yaitu: 1) Pemecahan masalah teknik yang bagus untuk lebih memahami isi atau materi pelajaran 2) Pemecahan masalah dapat menantang siswa untuk giat belajar dan memberikan kepuasan belajar terhadap pengetahuan baru yang didapat 3) Pemecahan masalah dapat meningkatkan aktivitas pembelajaran 4) Pemecahan masalah dapat membantu siswa mentransfer pengetahuan untuk mengembangkan pengetahuan baru dan bertanggung jawab terhadap pembelajaran yang mereka lakukan serta mendorong siswa untuk melakukan evaluasi sendiri, baik terhadap hasil maupun proses pembelajaran. 5) Pemecahan masalah lebih menyenangkan dan disukai siswa 6) Pemecahan masalah dapat mengembangkan kemampuan berikir kritis dan menyesuaikan terhadap pengetahuan baru. 7) Pemecahan masalah dapat memeberi kesempatan pada siswa untuk mengaplikasikan pengetahuan yang mereka miliki pada dunia nyata 8) Pemecahan masalah dapat mengembangkan minat siswa untuk terus belajar meski telah menyelesaikan pendidikan formal. g. Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) IPA di SD belajar berisi tentang teori-teori yang terkait dengan pembelajaran IPA di SD. Teori-teori yang terkait dengan pembelajaran IPA di

(47) 29 29 SD antara lain pengertian IPA, tujuan pembelajaran IPA di SD, pembelajaran IPA di SD, dan SK, KD, dan materi pokok penelitian IPA. a. Pengertian IPA Menurut Trianto (2010:136-137), IPA adalah suatu kumpulan teori yang sistematis yang penerapannya terbatas pada gejala alam, yang lahir dan berkembangnya melalui metode ilmiah serta menuntut sikap ilmiah seperti rasa ingin tahu, terbuka, jujur, dan sebagainya. Jadi IPA adalah teori tentang gejala alam yang lahir melalui metode ilmiah dan sikap ilmiah. Susanto (2013:167) juga mempunyai pendapat tentang pengertian IPA. Menurut Susanto (2013:167), IPA adalah usaha manusia untuk memahami alam semesta melalui pengamatan yang tepat, dengan prosedur, dan dapat dijelaskan dengan nalar sehingga didapat kesimpulan. Berdasarkan pendapat Trianto (2010:136-137) dan Susanto (2013:167), terdapat persamaan dari kedua pendapat tersebut. Keduanya sama-sama menunjukkan bahwa suatu hasil muncul dari adanya suatu proses atau prosedur yang dilakukan secara sistematis. Jadi dapat disimpulkan bahwa IPA adalah suatu usaha manusia untuk memahami alam, melalui metode ilmiah yaitu pengamatan, dengan prosedur yang sistematis dan dapat dijelaskan nalar, serta menggunakan sikap ilmiah, untuk mencapai sebuah kesimpulan.

(48) 30 30 b. Tujuan pembelajaran IPA Tujuan pembelajaran IPA di sekolah dasar menurut Badan Nasional Standar Pendidikan tahun 2006 (dalam Susanto, 2013:171-172) ada tujuh yaitu: 1) Yakin terhadap kebesaran Tuhan berdasarkan keberadaan, keindahan, dan keteraturan alam 2) Mengembangkan pengetahuan dan konsep IPA yang bermanfaat dan dapat diterapkan dalam hidup sehari-hari. 3) Mengembangkan rasa ingin tahu, sikap positif, dan kesadaran tentang hubungan IPA, lingkungan, teologi dan masyarakat. 4) Mengembangkan keterampilan proses untuk menyelidiki alam sekitar, memecahkan masalah, dan membuat keputusan. 5) Meningkatkan peran serta untuk berperan serta dalam memelihara, menjaga dan melestarikan lingkungan alam 6) Sadar untuk menghargai alam dan segala isinya sebagai ciptaan Tuhan 7) Memperoleh bekal pengetahuan, konsep, dan keterampilan IPA sebagai dasar untuk melanjutkan pendidikan ke SMP. c. Pembelajaran IPA di SD Menurut Susanto (2013:170) pembelajaran IPA di SD dilakukan dengan penyelidikan sederhana. Hal itu akan membuat siswa memiliki pengalaman langsung melalui pengamatan, diskusi, dan pengamatan sederhana mengenai apa yang sedang dia pelajari. Adanya pengalaman langsung akan menumbuhkan sikap ilmiah dalam diri siswa, seperti jujur,

(49) 31 31 percaya diri, ingin tahu, dan lain sebagainya. Sikap itu terlihat dari kegiatan perumusan masalah hingga penarikan kesimpulan yang dilakukan oleh siswa. Hardini (2012:150) juga mengungkapkan tentang pembelajaran IPA. Menurut Hardini (2012:150), pembelajaran IPA di SD dan SMP sebaiknya menekankan pada pemberian pengalaman belajar langsung yang melalui penggunaan keterampilan proses dan sikap ilmiah. Pendapat Susanto (2013:170) dan Hardini (2012:150) tentang pembelajaran IPA di SD memiliki kesamaan. Keduanya sama-sama menunjukkan bahwa pembelajarn IPA di SD mengutamakan pembelajaran langsung dimana siswa sebagai subjek yang aktif dalam pemebelajaran. Pengalaman langsug dapat dilakukan melalui kegiatan pengamatan, diskusi, dan pengamatan sederhana. Jadi dapat disimpulkan bahwa pembelajaran IPA di SD adalah pembelajaran IPA yang menekankan pengalaman langsung melalui kegiatan pengamatan, diskusi, dan pengamatan sederhana. d. SK, KD, dan Materi Pokok Penelitian IPA Standar Kompetensi (SK) pada penelitian ini adalah SK 6, memahami beragam sifat dan perubahan benda serta berbagai cara penggunaan benda berdasarkan sifatnya. Berdasarkan SK tersebut, peneliti memilih kompetensi dasar (KD) 6.2 dan 6.3 yang akan diterapkan dalam penelitian ini. KD 6.2 diterapkan dalam siklus I dan KD 6.3 dalam siklus II.

(50) 32 32 KD 6.2 tentang mendeskripsikan terjadinya perubahan wujud cair  padat  cair; cair  gas  cair; padat  gas. Berdasarkan KD tersebut, materi yang diajarkan adalah perubahan wujud benda. Menurut Sulistyanto, Heri dan Edy Wiyono (2008:90) wujud benda dibedakan menjadi tiga yaitu padat, cair dan gas dan ketiga wujud benda tersebut dapat mengalami perubahan wujud. 1) Perubahan dari Cair ke Padat dan Sebaliknya Perubahan wujud benda cair ke disebut membeku. Peristiwa membeku misalnya air berubah menjadi es batu setelah didinginkan, coklat cair menjadi coklat padat setelah didinginkan, dan lain-lain. Perubahan wujud padat ke wujud cair disebut meleleh atau mencair. Contoh peristiwa meleleh atau mencair adalah lilin yang dinyalakan lama kelamaan akan habis, es krim yang dipanaskan akan mencair, dan lainlain. 2) Perubahan dari cair ke gas dan sebaliknya Perubahan wujud cair ke wujud gas disebut proses penguapan. Contoh peristiwa penguapan adalah munculnya uap yang keluar dari teko ketika ibu memasak air di dapur. Perubahan wujud gas ke wujud cair disebut proses pengembunan. Proses pengembunan dapat dilihat ketika membuat minuman. Ketika membuat minuman panas dengan memberikan tutup pada atas gelas, lama-kelamaan pada bagian dalam tutup akan terlihat titik-titik air karena udara panas pada air didinginkan oleh udara ruangan. Peristiwa tersebut disebut dengan mengembun. 3) Perubahan dari Padat ke Gas

(51) 33 33 Perubahan wujud padat ke wujud gas disebut menyublim. Contoh peristiwa menyublim adalah kapur barus yang disimpan di dalam lemari biasanya berwujud padat, jika dibiarkan, lama-kelamaan kapur barus itu mengecil dan akhirnya habis. KD 6.3 tetang menjelaskan hubungan antara sifat bahan dengan kegunaannya dengan materi mengenal kegunaan benda berdasarkan sifat bahannya. Menurut Suhartanti dan Susantiningsih (2010: 87-90) bahan benda dapat dibedakan menjadi tujuh yaitu logam, kaca, karet, kayu, plastik, kertas, dan kain. Ketujuh bahan tersebut memiliki sifat dan kegunaan antara lain: 1) Logam Logam memiliki sifat kuat, keras, dan tahan panas. Benda yang termasuk benda logam yaitu emas, perak, aluunium, besi, baja, dan lain-lain. Benda yang terbuat dari logam memiliki kegunaan antara lain untuk membuat kerangka rumah, jembatan, mobil, membuat peralatan dapur, perhiasan, dan lain sebaginya. 2) Kaca Kaca memiliki sifat, tembus pandang, tidak tembus air, tahan panas, dan keras. Kaca sering digunakan untuk membuat jendela, akuarium, piring, gelas, toples, botol, dan lain-lain. 3) Karet Karet memiliki sifat yang kuat, lentur dan isolator. Karet umumnya digunakan sebagai alas sepatu, ban, pembungkus kabel, dan lain sebagainya.

(52) 34 34 4) Kayu Kayu memiliki sifat kuat, keras, dan tidak dapat menghantarkan panas. Kayu sering digunakan untuk membuat mebel seperti kursi, meja, almari, dan sebagai pegangan alat-alat dapur. 5) Plastik Plastik bersifat tahan air, tidak mudah pecah dan mudah dibentuk. Plastik biasanya digunakan untuk membuat ember, gelas, piring, paying, kursi, dan lain sebagainya. 6) Kertas Kertas bersifat ringan, mudah robek, dan menyerap air. Kertas biasanya digunakan untuk membuat tisu, bahan buku, Koran, dan kardus. 7) Kain Kain bersifat ringan, mudah menyerap air, dan tidak mudah robek. Kain digunakan sebagai bahan handuk, pakaian, selimut, dan sprei. B. Hasil Penelitian yang Relevan Hasil penelitian yang relevan dalam penelitian ini menyangkut variabel yang sama dengan penelitian yaitu minat, prestasi dan PBL. Berikut hasil penelitian yang relevan berdasarkan ketiga variabel tersebut. Steele, Medder & Tunner (2000) melakukan penelitian dengan judul A comparison of learning outcomes and attitudes in student- versus faculty-led problem-based learning: an experimental study. Penelitian ini bertujuan untuk compare learning outcomes and perceptions of facilitator behaviours and small-group process in problem-based learning (PBL) groups led by

(53) 35 35 students and those led by faculty. Maksudnya penelitian ini digunakan untuk membandingkan hasil belajar dan persepsi perilaku fasilitator dan proses kelompok kecil dalam pembelajaran berbasis masalah (PBL) kelompok yang dipimpin oleh pelajar dan yang dipimpin oleh staf pengajar. Penelitian ini dilakukan pada 127 mahasiswa kedokteran tahun kedua dan 30 ilmu dasar dan klinis fakultas. Hasil penelitian ini adalah no differences were detected in student performance on the objective evaluation based on whether the facilitator was a faculty member or peer group member, nor were there any differences in the perceptions of group process. Maksudnya tidak ada perbedaan yang terdeteksi dalam kinerja pada evaluasi obyektif berdasarkan apakah fasilitator adalah seorang staf pengajar atau anggota kelompok sebaya, juga tidak ada perbedaan persepsi dalam proses kelompok. Demirel, Melek & Belma Arslan (2010) melakukan penelitian dengan judul the effects of problem based learning on achievement, attitude, metacognitive awareness and motivation. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan determine the effects of problem based learning on students’ success, attitudes towards course, metacognitive awareness and motivation level in the Primary Education Science and Technology course. Penelitian ini dilakukan pada dua kelompok yang berbeda pada siswa kelas enam dari IDV Bilkent Sekolah Dasar Swasta di Ankara. Hasil penelitian ini adalah there was a significant difference between the experimental group which was exposed to problem based learning and control group which wasn’t in terms of success, attitudes, metacognitive awareness and motivation means in favour of the

(54) 36 36 experimental group. Maksudnya, ada perbedaan yang signifikan antara kelompok eksperimen yang terkena menggunakan pembelajaran problem based learning dan kelompok kontrol yang menunjukkan bahwa keberhasilan, sikap, kesadaran metakognitif dan motivasi lebih berpihak pada kelompok eksperimen. Syaiful Risdiato (2012) melakukan penelitian dengan judul peningkatan minat dan prestasi belajar siswa dengan menggunakan demonstrasi materi pesawat sederhana siswa kelas V SD Kanisius Kotabaru tahun pelajaran 2011/2012. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan minat dan prestasi belajar siswa kelas V SD Kanisiuas Kotabaru dengan menggunakan metode demonstrasi materi pesawat sederhana yang ditandai dengan peningkatan rata-rata minat siswa, peningkatan nilai rata-rata siswa, dan persentase siswa yang mencapai KKM. Penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan kelas. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas V SD Kanisius Kotabaru. Hasil penelitian ini ada adalah adanya peningkatan minat dari siswa kelas V setelah dilakukan tindakan siklus I, dan siklus II yang ditandai dengan peningkatan rata-rata minat, peningkatan nilai rata-rata siswa kelas V dan peningkatan persentase siswa yang mencapa KKM. Hananto (2011) melakukan penelitian dengan judul peningkatan prestasi belajar IPA materi wujud benda dan sifatnya mnggunakan metode eksperimen pada kelas IV SD Negeri Krinjing I semester I tahun jaran 2011/2012. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah dengan metode eksperimen dapat meningkatkan prestasi belajar IPA kelas IV SD Negeri

(55) 37 37 Krinjing I semester I tahun 2011/2012, pada materi wujud benda dan sifatnya Penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan kelas. Subjek penelitian ini adalah siswa SD Krinjing I semester I tahun 2011/2012 kelas IV. Hasil dari penelitian ini adalah metode eksperimen dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Yohanes Batista Ibnu P (2012) melakukan penelitian dengan judul peningkatan minat dan prestasi belajar IPA materi pembentukan tanah dengan metode penemuan terbimbing pada siswa kelas V semester 2 SD K Totogan tahun pelajaran 2011/2012. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui peningkatan minat dan prestasi belajar IPA materi pembentukan tanah dengan metode penemuan terbimbing pada siswa kelas V semester 2 SD Totogan tahun pelajaran 2011/2012. Peningkatan ditandai dengan peningkatan rata-rata minat siswa dan persentase siswa yang mencapai KKM. Penelitian ini dilakukan dengan penelitian tindakan kelas pada siswa kelas V SD K Totogan yang berjumlah 22 siswa. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan metode penemuan terbimbing pada mata pelajaran IPA materi pembentukan tanah dapat meningkatkan minat dan prestasi belajar siswa kelas V SD K Totogan tahun pelajaran 2011/2012. Kelima penelitian yang relevan tersebut akan peneliti gunakan sebagai salah satu acuan penelitian. Penelitian dari Demirel, Melek & Belma Arslan (2010) dan dari Steele, Medder & Tunner (2000) akan peneliti gunakan sebagai acuan PBL. Penelitian dari penelitian dari Hananto (2012), Risdiato, S. (2012) dan Yohanes Batista Ibnu P (2012). Guna memudahkan peneliti,

(56) 38 38 kelima penelitian yang relevan tersebut peneliti kelompokkan dalam dua kelompok besar yaitu PBL serta minat dan prestasi belajar. Penelitian yang revan dengan PBL ada dua yaitu penelitian dari Demirel, Melek & Belma Arslan (2010) dan dari Steele, Medder & Tunner (2000). Penelitian yang relevan dengan minat dan prestasi ada tiga yaitu penelitian dari Hananto (2012), Risdiato, S. (2012) dan Yohanes Batista Ibnu P (2012). Berdasarkan kelima penelitian tersebut dapat dilihat bahwa belum ada penelitian yang menunjukkan bahwa model PBL dapat menigkatkan minat dan prestasi belajar siswa dalam mata pelajaran IPA. Berdasarkan masalah yang ada dan belum adanya penelitian yang menunjukkan bahwa PBL dapat meningkatkan minat siswa dalam mata pelajaran IPA, maka peneliti berniat untuk melakukan penelitian dengan menggunakan model PBL untuk meningkatkan minat dan prestasi belajar siswa dalam mata pelajaran IPA. Berikut bagan hasil penelitian yang relevan yang peneliti gunakan dalam penelitian ini.

(57) 39 39 Gambar II.1 Bagan Hasil Penelitian yang Relevan PBL Demirel, Melek & Belma Arslan (2010) “the effects of problem based learning on achievement, attitude, metacognitive awareness and motivation” Steele, Medder & Tunner (2000) “A comparison of learning outcomes and attitudes in studentversus faculty-led problem-based learning: an experimental study” Minat dan Prestasi Hananto (2012) “Peningkatan prestasi belajar IPA materi wujud benda dan sifatnya menggunakan metode eksperimen pada kelas IV SD Negeri Krinjing I semester I tahun 2011/2012 Risdiato, S. (2012) “Peningkatan minat dan prestasi belajar siswa dengan menggunakan demonstrasi materi pesawat sederhana siswa kelas V SD Kanisius Kotabaru tahun pelajaran 2011/2012” Yohanes Batista Ibnu P (2012) “Peningkatan minat dan prestasi belajar IPA materi pembetukan tanah dengan metode penemuan terbimbing pada siswa kelas V semester 2 SD K Totogan tahun pelajaran 2011/2012” Peningkatan minat dan prestasi belajar dengan menggunakan pendekatan SCL model PBL pada siswa kelas IVA SD Negeri Nogotirto semester ganjil tahun pelajaran 2013/2014

(58) 40 40 C. Kerangka Berpikir Masalah yang terjadi dalam pembelajaran IPA di kelas IVA SD Negeri Nogotirto pada tahun 2013/2014 adalah rendahnya prestasi belajar siswa. Prestasi belajar siswa yang rendah tersebut disebabkan karena kurangnya minat siswa dalam belajar IPA. Rendahnya minat siswa dalam belajar ditandai dengan rendahnya indikator minat siswa. Keterlibatan, perhatian, dan inisiatif siswa dalam belajar IPA dapat dibilang kurang. Melihat rendahnya minat siswa tersebut, peneliti terdorong untuk melakukan penelitian tindakan kelas dengan pendekatan SCL model PBL. Pendekatan SCL adalah pendekatan pembelajaran yang menekankan siswa untuk berperan aktif dalam pembelajaran. Menurut peneliti, adanya penerapan pendekatan SCL dalam pembelajaran mampu memotivasi siswa untuk aktif dalam pembelajaran pembelajaran. sehingga siswa dapat terlibat dalam kegiatan Sedangkan model pembelajaran PBL adalah model pembelajaran dimana siswa menyelesaikan masalah dalam kehidupan nyata untuk dapat menyusun pengetahuan, mengembangkan keterampilan inquiri, berpikir tingkat tinggi, mengembangkan kemandirian dan percaya diri. Kegiatan penyelesaian masalah dalam pembelajaran PBL dilakukan dengan pengamatan atau dengan percobaan sederhana, seperti yang terdapat dalam prinsip pembelajaran IPA. Kegiatan pengamatan dan percobaan dalam pembelajaran akan mendorong mnat siswa dalam belajar. Siswa akan memperhatikan guru ketika menjelaskan kegiatan penyelesaian masalah, dan mendengarkan saran dari guru ketika kegiatan tutorial. Siswa akan terlibat

(59) 41 41 dalam pembelajaran karena siswa melakukan kegiatan penyelesaian masalah dengan pengamatan atau percobaan. Selain itu siswa juga akan berinisiatif dalam belajar dengan adanya kesediaan siswa dalam melakukan percobaan. Adanya penelitian tindakan kelas dengan pendekatan SCL model PBL ini, diharapkan dapat meningkatkan minat dan prestasi belajar IPA pada siswa kelas IVA SD Negeri Nogotirto tahun ajaran 2013/2014. D. Hipotesis Tindakan Hipotesis menurut Sugiono (2012:96) adalah jawaban sementara dari rumusan masalah penelitian. Hipotesis tindakan ini disusun berdasarkan rumusan masalah pada penelitian ini. Berikut hipotesis tindakan pada penelitian ini: 1. Peningkatan minat belajar IPA pada siswa kelas IVA SD Negeri Nogotirto tahun ajaran 2013/2014 dilakukan dengan cara menerapkan tujuh langkah PBL. Ketujuh langkah tersebut antara lain identifikasi masalah, merancang kegiatan penyelesaian masalah, melaksanakan kegiatan penyelesaian masalah, kegiatan tutorial, melanjutkan kegiatan penyelesaian masalah, menyusun laporan dan penilaian, meningkatkan minat 2. Peningkatan prestasi belajar IPA pada siswa kelas IVA SD Negeri Nogotirto tahun ajaran 2013/2014 dilakukan dengan cara menerapkan tujuh langkah PBL. Ketujuh langkah tersebut antara lain identifikasi masalah, merancang kegiatan penyelesaian masalah, melaksanakan kegiatan penyelesaian masalah, kegiatan tutorial, melanjutkan kegiatan penyelesaian masalah, menyusun laporan dan penilaian.

(60) BAB III METODE PENELITIAN Bab ini merupakan metode penelitian yang digunakan oleh peneliti. Isi dari metode penelitian adalah jenis penelitian, setting penelitian, rancangan penelitian, instrumen penelitian, teknik pengumpulan data, teknik analisis data, dan jadwal penelitian A. Jenis Penelitian Penelitian ini menggunakan jenis penelitian tindakan kelas (PTK). Menurut Yudhistira (2013:29) penelitian tindakan kelas adalah suatu penelitian yang dilakukan secara sistematis oleh guru di dalam kelas sebagai upaya meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan minat belajar siswa dalam mata pelajaran IPA dengan menggunakan pendekatan student centered learning (SCL) dengan model Problem Based Learning. Model penelitian yang digunakan dalam PTK ini mengacu pada model Kemmis dan Taggart. Skema penelitian tindakan kelas menurut Kemmis dan Taggart dapat dilihat pada Gambar III. 1 42

(61) 43 43 Gambar III.1 Siklus penelitian tindakan kelas (PTK) model Kemmis dan Taggart (Kusumah, 2012:21) Gambar di atas merupakan skema PTK menurut Kemmis dan Taggart yang dilakukan dalam dua siklus dan terdiri dari empat tahap yaitu, perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi. Tahap tindakan dan pengamatan berdasarkan gambar di atas, berada dalam waktu yang sama. Keempat tahap tersebut merupakan rangkaian tahapan dari satu siklus PTK. Berikut uraian dari masing-masing tahapan dalam PTK: 1. Perencanaan Perencanaan merupakan tahap awal dalam penelitian tindakan kelas (PTK). Menurut Kusumah (2012:39) perencanaan dibedakan menjadi dua jenis yaitu perencanaan umum dan perencanaan khusus. Perencanaan umum digunakan untuk merancang atau menyiapkan seluruh aspek yang terkait dengan penelitian sebelum peneliti menemukan masalah penelitian

(62) 44 44 (Kusumah: 2012:39). Perencanaan umum dalam penelitian ini meliputi tahap penentuan lokasi penelitian, mengurus perizinan, menentukan subyek penelitian, menyiapkan alat penelitian, menyiapkan instrumen penelitian, dan penjajakan lapangan (pra survei). Sedangkan perencanaan khusus digunakan untuk menyusun rancangan penelitian setelah peneliti menemukan masalah yang diteliti (Kusumah, 2012:39). Perencanaan khusus dalam penelitian ini meliputi tahap penentuan pendekatan pembelajaran, metode pembelajaran, teknik dan strategi pembelajaran, media pembelajaran, kegiatan pembelajaran, materi pembelajaran, alat evaluasi, dan lain sebagainya. 2. Tindakan Tindakan merupakan realisasi dari perencanaan tindakan yang telah dibuat sebelumnya (Kusumah, 2012:39). Dalam penelitian ini, hal-hal yang telah peneliti siapkan dalam tahap perencanaan akan peneliti gunakan dalam tahap tindakan. Guru melakukan tindakan atau kegiatan pengajaran berdasarkan perencanaan yang telah dibuat sebelumnya. 3. Pengamatan Tahap pengamatan dilakukan bersamaan dengan tahap tindakan. Pada tahap ini, peneliti melakukan pengamatan dan mencatat semua hal yang diperlukan dan terjadi selama pelaksanaan tindakan berlangsung secara kuantitatif maupun kualitatif (Suhardjono: 2008). Pengamatan pada penelitian ini dilakukan oleh peneliti terhadap kegiatan pengajaran guru di kelas berdasarkan perencanaan yang telah dibuat sebelumnya.

(63) 45 45 4. Refleksi Refleksi merupakan tahap untuk mengkaji seluruh tindakan berdasarkan data yang telah terkumpul, yang dilanjutkan dengan evaluasi guna menyempurnakan tindakan selanjutnya (Suhardjono dalam Arikunto, 2008:72). Refleksi pada penelitian ini dilakukan peneliti bersama dengan guru dengan melakukan pengkajian terhadap tindakan atau kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan berdasarkan data yang telah diperoleh sebelumnya. Peneliti dan guru melakukan refleksi guna memperbaiki tindakan pada siklus berikutnya. B. Setting Penelitian Setting dalam penelitian ini meliputi: subjek penelitian, obyek penelitian, tempat penelitian dan waktu penelitian 1. Subjek penelitian Subjek penelitian ini adalah siswa kelas IVA SD Negeri Nogotirto tahun ajaran 2013/2014 yang berjumlah 27 siswa, dengan jumlah siswa laki-laki 11 orang dan siswa perempuan 16 orang. 2. Obyek penelitian Objek penelitian ini adalah peningkatan minat dan prestasi belajar siswa dalam mata pelajaran IPA dengan menggunakan pendekatan Student Centered Learning (SCL), metode Problem Based Learning.

(64) 46 46 3. Tempat penelitian Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri Nogotirto yang beralamat di Kelurahan Nogotirto, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. 4. Waktu penelitian Penelitian ini dilakukan pada minggu kedua bulan September sampai bulan Juni tahun 2014.Berikut uraian jadwal penelitian yang telah peneliti susun Tabel III.1 Jadwal Penelitian No Kegiatan S e p t √ 2013 O N D J k o e a t v s n F e b 2014 M A M J a p e u r r i n √ √ 1 Permohonan ijin 2 3 Observasi, wawancara, penyebaran angket, & studi dokumen Penyusunan proposal 4 Pengumpulan data 5 Pengolahan data 6 Penyusunan laporan 7 Ujian skripsi √ 8 Revisi √ 9 Pembuatan artikel J u l √ √ √ √ √ √ √ √

(65) 47 47 Tabel di atas merupakan tabel jawal penelitian yang telah peneliti susun. Terdapat 9 kegiatan dalam penelitian yang peneliti lakukan. Kesembilan kegiatan tersebut mulai dilaksanakan pada bulan September 2013, dan berakhir pada bulan Juli 2014. C. Rencana Tindakan Penelitian PTK ini akan dilakukan dalam dua siklus, siklus I dan siklus II. Peneliti menggunakan dua siklus dalam penelitian ini karena sesuai dengan salah satu salah satu syarat PTK yaitu penelitian tindakan harus dilakukan sekurang-kurangnya dalam dua siklus tindakan (Arikunto, 2008:23). Siklus I terdiri dari tiga kali pertemuan yang pada masing-masing pertemuan terdiri dari 1-2 jam pelajaran.. Siklus II terdiri dari dua kali pertemuan yang masing-masing pertemuannya terdiri dari 1-2 jam pelajaran. Durasi waktu pada masing-masing jam pelajaran adalah 35 menit. Pada setiap kegiatan pembelajaran pada siklus I dan siklus II, akan diakhiri dengan pemberian lembar refleksi dan lembar kuisioner. Pada akhir pertemuan di siklus I dan siklus II akan diadakan evaluasi. Evaluasi berupa pemberian tes tertulis pada siswa. Adapun langkah-langkah yang akan ditempuh peneliti untuk melakukan penelitian ini antara lain: 1. Persiapan Persiapan yang dilakukan peneliti dimulai dengan memilih SD yang akan digunakan untuk melakukan penelitian yaitu di SD Negeri Nogotirto. Setelah itu, peneliti meminta ijin kepada Kepala SD Negeri

(66) 48 48 Nogotirto untuk melakukan penelitian. Setelah mendapatkan ijin dari pihak sekolah, peneliti meminta surat izin penelitian di sekretariat PGSD, yang selanjutnya surat tersebut peneliti serahkan ke SD Negeri Nogotirto. Selanjutnya peneliti melakukan kegiatan wawancara, observasi, penyebaran kuesioner, dan dokumentasi data kelas IVA untuk melihat data awal. Setelah didapat data awal, peneliti selanjutnya mengidentifikasi dan merumuskan masalah yang dialami oleh siswa kelas IVA SD Negeri Nogotirto tahun ajaran 2013/ 2014. Peneliti kemudian menyusun proposal penelitian, mengkaji standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pokok, dan menyusun rencana penelitian setiap siklus sebagai upaya untuk mengatasi masalah yang telah peneliti temukan. a. Rencana Tindakan Setiap Siklus Kegiatan observasi yang dilakukan pada tahap persiapan memberikan gambaran mengenai situasi kelas ketika kegiatan pembelajaran IPA, maka langkah-langkah penelitian yang akan dilakukan adalah sebagai berikut: a) Siklus I Siklus I ini akan dilaksanakan selama 3 kali pertemuan. Setiap pertemuannya dialokasikan waktu 2 jam pelajaran. Kegiatan pembelajaran pada siklus I akan menggunakan pendekatan student centered learning (SCL) model pembelajaran problem based learning (PBL) dengan melakukan percobaan secara berkelompok.

(67) 49 49 Pada pertemuan terakhir akan digunakan untuk kegiatan evaluasi dengan tes tertulis.  Rencana Tindakan Pada tahap ini peneliti terlebih dahulu mengkaji Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) mengenai perubahan wujud benda. Selanjutnya peneliti menyusun instrumen pembelajaran yang terdiri atas silabus, RPP, LKS, materi ajar, instrumen penilaian, dan lembar evaluasi. RPP pada kegiatan inti peneliti susun berdasarkan tujuh langkah model PBL yaitu identifikasi masalah, merancang kegiatan penyelesaian masalah, melaksanakan kegiatan penyelesaian masalah, kegiatan tutorial, melanjutkan kegiatan penyelesaian masalah, menyusun laporan, dan penilaian. Peneliti selanjutnya menyusun instrumen pengumpulan data yang terdiri atas rubrik pengamatan minat, kuesioner, dan pedoman wawancara. Setelah itu peneliti melakukan pengujian (validitas dan reliabilitas) terhadap instrumen pembelajaran dan instrumen pengumpulan data yang telah peneliti buat. Setelah diujikan, peneliti mempersiapkan alat dan bahan yang diperlukan dalam proses pembelajaran.  Pelaksanaan Siklus I ini dilaksanakan dalam 3 kali pertemuan. Masingmasing pertemuan akan dilaksanakan sesuai dengan rancangan yang telah peneliti buat dalam RPP yaitu dengan menggunakan

(68) 50 50 tujuh langkah model PBL. Ketujuh langkah itu terdiri dari langkah identifikasi masalah, merancang kegiatan penyelesaian masalah, melaksanakan kegiatan penyelesaian masalah, kegiatan tutorial, melanjutkan kegiatan penyelesaian masalah, menyusun laporan dan penilaian. Pada setiap pertemuannya dialokasikan waktu 2 jam pelajaran (2 x 35 menit). Pada pertemuan pertama siswa mendapat penjelasan mengenai materi pelajaran yang akan dipelajari yaitu mengenai perubahan wujud benda dari cair ke padat dan perubahan wujud benda dari padat ke cair. Setelah itu siswa diberikan sebuah permasalahan mengenai peristiwa perubahan wujud benda cair menjadi padat dan sebaliknya. Selanjutnya, siswa bekerja secara berkelompok untuk mengerjakan LKS. Masing-masing kelompok terdiri dari 5 sampai 6 orang siswa. LKS berisi petunjuk untuk siswa untuk melaksanakan kegiatan belajar berupa percobaan mencairkan coklat dan membekukan coklat. Pertemuan kedua siswa juga mendapat penjelasan terkait dengan materi yang akan dipelajari yaitu tentang perubahan wujud benda cair menjadi gas dan perubahan wujud benda gas menjadi cair. Setelah itu siswa diberikan suatu permasalahan yang terkait dengan materi tersebut. Siswa selanjutnya juga diminta untuk mengerjakan LKS secara berkelompok, sesuai dengan kelompok yang telah dibentuk pada pertemuan sebelumnya. LKS yang berisi

(69) 51 51 petunjuk untuk melakukan percobaan memasukkan es ke dalam gelas dan peristiwa perebusan air. Pada pertemuan ketiga siswa juga diberi penjelasan tentang materi yang akan dipelajari yaitu tentang perubahan wujud benda padat menjadi gas. Sesuai dengan kelompok yang telah dibentuk sebelumnya, siswa diminta mengerjakan LKS yang berisi petunjuk untuk melaksanakan percobaan memanaskan kapur barus. Pada akhir kegiatan pembelajaran dari setiap pertemuan, siswa diminta untuk mengisi lembar evaluasi siklus 1, dan lembar kuesioner yang telah disediakan peneliti. Pelaksana tindakan dalam penelitian ini adalah guru mata pelajaran IPA kelas IVA dan mahasiswa. Guru berperan untuk menjalankan kegiatan pembelajaran sesuai dengan instrumen pembelajaran dalam penelitian. Sedangkan mahasiswa berperan sebagai pembantu guru dalam melakukan kegiatan pembelajaran. Guru berperan untuk melakukan kegiatan pembelajaran karena peneliti menganggap bahwa guru memiliki kompetensi dalam melakukan kegiatan pembelajaran dan mampu mengkondisikan kelas dengan baik. Selain itu, peneliti juga ingin menghindari adanya bias perilaku dari siswa apabila peneliti berperan dalam menjalankan pembelajaran. Hal ini peneliti lakukan karena peneliti ingin melihat kondisi kelas secara nyata dan dengan kondisi

(70) 52 52 sebenar-benarnya dalam penelitian yang peneliti lakukan, tanpa ada intervensi dari peneliti.  Observasi Observasi atau pengamatan dilakukan untuk melihat minat siswa terhadap kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan siswa dengan model PBL. Pengamatan atau observasi terhadap minat siswa selama kegiatan pembelajaran dilakukan berdasarkan pada lembar pengamatan yang telah Pengamatan terhadap peneliti buat sebelumnya. minat siswa merupakan pengamatan deskriptif terhadap minat dilihat dari sikap siswa dalam belajar. Pengisian lembar pengamatan tersebut akan dilakukan oleh rekan peneliti selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Kegiatan pengamatan dilakukan pada pra penelitian, pertemuan pertama, pertemuan kedua, hingga pertemuan ketiga. Selain dari observasi, minat siswa selama kegiatan pembelajaran juga peneliti dapat dari pengisian kuesioner yang telah dibagikan pada siswa pada setiap akhir pertemuan. Berdasarkan hasil perhitungan minat siswa dari lembar kuesioner, dapat terlihat ada tidaknya peningkatan minat siswa pada siklus I dengan model PBL. Hasil tersebut diperkuat dengan adanya hasil deskripsi lembar observasi yang rekan peneliti lakukan selama pembelajaran berlangsung.

(71) 53 53  Refleksi Refleksi peneliti lakukan berdasarkan hasil kuesioner tentang adanya peningkatan minat siswa pada siklus I pertemuan 1, 2, 3. Apabila tidak ada peningkatan yang terlihat berdasarkan empat indikator minat, maka akan dilakukan peningkatan terhadap indikator yang belum meningkat pada siklus II. Indikator yang telah meningkat pada siklus I, pada siklus II akan dilakukan pemantapan. Selain melihat ada tidaknya peningkatan minat, pada kegiatan refleksi guru dan peneliti juga mengidentifikasi kesulitan, hambatan, dan kejadian-kejadian penting yang ada dalam kegiatan pembelajaran siklus I. Hasil refleksi siklus I ini akan dijadikan pertimbangan bagi peneliti untuk melanjutkan ke siklus II agar kesulitan, dan hambatan yang terjadi di siklus II dapat dikurangi dan dapat meningkatkan indikator yang belum meningkat pada siklus I. b) Siklus II Siklus II dilakukan dalam 2 kali pertemuan yang setiap pertemuannya terdiri dari 2 jam pelajaran (2 x 35menit). Kegiatan pembelajaran pada siklus II juga akan menggunakan pendekatan SCL model pembelajaran PBL. Berikut rencana tindakan pada siklus II.

(72) 54 54  Rencana Tindakan Perencanaan tindakan dalam siklus II dimulai dengan menyusun instrumen pembelajaran yang terdiri dari silabus, RPP, LKS, materi ajar, instrumen penilaian, dan lembar evaluasi, serta menyiapkan instrumen pengumpulan data yang terdiri lembar kuesioner dan lembar observasi. Kegiatan pembelajaran dalam RPP siklus II peneliti susun berdasarkan hasil refleksi siklus I, untuk meningkatkan indikator yang belum meningkat, dan mengihindari adanya pengulangan kesalahan yang terjadi pada siklus I. RPP pada kegiatan inti peneliti susun berdasarkan tujuh langkah model PBL yaitu identifikasi masalah, merancang kegiatan penyelesaian masalah, melaksanakan kegiatan penyelesaian masalah, kegiatan tutorial, melanjutkan kegiatan penyelesaian masalah, menyusun laporan, dan penilaian. Selanjutnya peneliti melakukan pengujian (validitas dan reliabilitas) terhadap instrument pembelajaran yang peneli buat. Peneliti tidak melakukan pengujian terhadap instrument pengumpulan data karena peneliti menggunakan instrumen pengumpulan data yang sama dengan siklus I. Setelah semua instrumen yang diperlukan sudah diuji, peneliti selanjutnya menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan untuk proses pembelajaran.  Pelaksanaan Siklus II akan dilaksanakan dalam 2 kali pertemuan. Masingmasing pertemuan akan dilaksanakan sesuai dengan rancangan yang

(73) 55 55 telah peneliti buat dalam RPP yaitu dengan menggunakan tujuh langkah model PBL. Ketujuh langkah itu terdiri dari langkah identifikasi masalah, merancang kegiatan penyelesaian masalah, melaksanakan kegiatan penyelesaian masalah, kegiatan tutorial, melanjutkan kegiatan penyelesaian masalah, menyusun laporan dan penilaian. Pada tiap pertemuannya dialokasikan waktu 2 jam pelajaran. Pada pertemuan pertama siswa mendapatkan penjelasan tentang materi yang akan dipelajari mengenai bahan-bahan penyusun benda. Setelah itu siswa diberikan sebuah masalah terkait dengan materi yang akan dipelajari. Selanjutnya siswa secara berkelompok mendapatkan LKS yang berisi kegiatan belajar yang akan dilakukan untuk memecahkan masalah yang mereka hadapi. Setiap kelompok terdiri dari 5 sampai 6 orang siswa. Kegiatan belajar yang dilakukan siswa adalah dengan melakukan pengamatan terhadap benda-benda yang ada di lingkungan sekolah. Pertemuan kedua, siswa mendapatkan penjelasan tentang materi yang akan dipelajari yaitu tentang sifat dan manfaat penyusun benda. Siswa diminta untuk mengingat-ingat bahan penyusun benda yang telah mereka pelajari pada pertemuan sebelumnya. Setelah itu siswa diberi masalah tentang sifat dan manfaat dari bahan penyusun benda yang telah mereka pelajari. Siswa diberikan LKS yang akan dikerjakan secara berkelompok guna memecahkan masalah tersebut. Setiap kelompok terdiri atas 5 sampai 6 orang siswa. Siswa kemudian

(74) 56 56 melakukan pecobaan mengenai sifat dan manfaat penyusun benda. Seperti pada siklus I, setiap akhir kegiatan pembelajaran siswa diberikan lembar evaluasi untuk mengetaui prestasi siswa dan lembar kuesioner untuk mengetahui minat siswa dalam belajar IPA. Pelaksana tindakan pada siklus II ini juga dilakukan oleh guru mata pelajaran IPA kelas IVA dan mahasiswa dengan alasan yang sama dengan siklus I.  Observasi Kegiatan observasi atau pengamatan pada siklus II pada dasarnya sama dengan kegiatan observasi pada siklus I. Peneliti dibantu oleh rekan peneliti dalam melakukan observasi atau pengamatan untuk mengetahui minat belajar siswa pada saat mengikuti kegiatan pembelajaran IPA. Kegiatan observasi dilakukan dengan mengisi lembar pengamatan yang telah dibuat peneliti sebelumnya. Kegiatan observasi dilakukan pada pertemuan pertama dan pertemuan kedua. Selain dari pengamatan, peneliti juga mendapatkan data minat siswa dalam belajar IPA dari kuesioner yang telah dibagikan kepada siswa pada setiap akhir pertemuan. Berdasarkan hasil perhitungan kuesioner yang didukung dengan deskripsi hasil pengamatan , dapat terlihat ada tidaknya peningkatan minat siswa dalam belajar berdasarkan empat indikator minat. Apabila ada peningkatan dan semua indikator telah meningkat dan memenuhi target, maka tindakan akan berakhir pada siklus II. Apabila ada indikator

(75) 57 57 masih belum ada peningkatan, maka peneliti akan melakukan tindakan siklus III.  Refleksi Seperti pada siklus I, refleksi peneliti lakukan berdasarkan hasil observasi tentang ada tidaknya peningkatan minat siswa pada siklus II pertemuan 1 dan 2. Apabila tidak ada peningkatan yang terlihat berdasarkan empat indikator minat, maka akan dilakukan peningkatan terhadap indikator yang belum meningkat pada siklus III. Indikator yang telah meningkat pada siklus II, pada siklus III akan dilakukan pemantapan. Selain melihat ada tidaknya peningkatan minat peneliti dengan guru juga mengkaji proses pembelajaran yang telah berlangsung selama siklus II. Peneliti dan guru mengidentifikasi kesulitan, hambatan, dan kejadian-kejadian penting yang ada di dalam kegiatan pembelajaran selama siklus II. Peneliti kemudian melihat tingkat minat dan prestasi belajar siswa selama melakukan kegiatan belajar IPA pada siklus II, dengan melakukan perhitungan hasil pengisian lembar observasi, lembar kuesioner dan hasil belajar siswa dari pengerjaan soal evaluasi. Hasil perhitungan tersebut kemudian dibandingkan dengan hasil perhitungan tingkat minat dan prestasi belajar pada siklus I, dan sebelum diberikan tindakan. Apabila setelah dibandingkan terjadi adanya peningkatan, maka penelitian ini akan dihentikan sampai siklus II. Sebaliknya, apabila setelah dibandingkan terlihat adanya penurunan dari penghitungan minat

(76) 58 58 dan prestasi belajar IPA, maka peneliti akan melanjutkan penelitian ini pada siklus III, sampai peneliti melihat adanya peningkatan minat dan prestasi belajar IPA. D. Teknik Pengumpulan Data Berdasarkan judul penelitian, pada penelitian terdapat dua peubah (variabel) yang diamati yaitu, minat dan prestasi belajar. Pengamatan tentang minat dilakukan peneliti pada saat kegiatan pembelajaran saat pertemuan pertama, kedua dan ketiga pada siklus I dan pertemuan pertama dan kedua pada siklus II. Pengamatan ini dilakukan untuk mengetahui peningkatan minat belajar siswa sebelum dan sesudah dilaksanakan siklus. Sedangkan pengamatan tentang prestasi belajar dilakukan peneliti dengan mengukur hasil belajar siswa berdasarkan lembar evaluasi yang diberikan peneliti pada tiap pertemuan terakhir pada siklus I dan siklus II. Guna mengetahui atau mengukur minat dan prestasi belajar di SD Negeri Nogotirto, peneliti menggunakan berbagai teknik pengumpulan data. Berikut tabel peubah serta teknik pengumpulan pada penelitian ini. Tabel III.2 Peubah dan Teknik Pengumpulan Data No Peubah (variabel) 1 Minat 2 Prestasi belajar Indikator Data a. b. c. d. a. Jumlah siswa yang berminat Rasa senang Perhatian Keterlibatan Inisiatif Persentase jumlah siswa yang memenuhi KKM b. Rata-rata nilai kelas Nilai tes siswa Teknik Pengumpulan Data Wawancara Observasi Kuesioner Dokumentasi Tes tertulis Tes tertulis

(77) 59 59 Tabel di atas merupakan tabel peubah dan teknik pengumpulan data penelitian ini. Berdasarkan tabel di atas, pengumpulan data minat siswa dalam belajar dilakukan dengan wawancara, observasi, kuesioner, dan dokumentasi. Sedangkan pengumpulan data prestasi siswa dalam belajar dilakukan dengan melihat persentase jumlah siswa yang memenuhi KKM dan rata-rata nilai kelas yang dilihat berdasarkan tes tertulis yang dikerjakan siswa. Berikut uraian pengumpulan data pada penelitian ini. 1. Wawancara Wawancara adalah salah satu metode pengumpulan data dengan mengajukan pertanyaan secara lisan pada subjek (Kusumah, 2008:77). Kegiatan wawancara dilakukan berdasarkan panduan wawancara yang telah dibuat peneliti sebelumnya. Wawancara dalam penelitian ini peneliti lakukan pada saat pra penelitian pada guru mata pelajaran IPA kelas IVA SD Negeri Nogotirto guna melihat minat siswa dalam pembelajaran IPA. 2. Observasi Guna melihat kebenaran atas data wawancara yang telah diperoleh, peneliti melakukan pembuktian melalui kegiatan observasi. Observasi merupakan proses pengambilan data dalam penelitian dimana peneliti melihat situasi penelitian (Kusumah, 2012:66). Jenis observasi yang digunakan penelitian adalah observasi tertutup. Observasi tertutup adalah pengamatan yang dilakukan peneliti dengan menggunakan suatu instrumen pengamatan yang hanya melihat pada hal-hal yang ingin diamati. Kegiatan observasi dilakukan berdasarkan lembar observasi yang telah peneliti buat sebelumnya.

(78) 60 60 Kegiatan observasi hanya akan peneliti gunakan untuk mendukung tingkat minat siswa dalam pembelajaran berdasarkan data kuesioner. Kegiatan observasi peneliti lakukan pada saat pra penelitian dan pada saat kegiatan pembelajaran pada tiap pertemuan. Kegiatan observasi pada saat pra penelitian peneliti lakukan untuk melihat kondisi awal minat siswa. Sedangkan kegiatan observasi pada saat pembelajaran peneliti lakukan untuk melihat peningkatan minat. Observasi pada saat kegiatan pembelajaran pada tiap pertemuan peneliti lakukan dengan bantuan rekan peneliti. 3. Kuesioner Kuesioner adalah daftar pertanyaan atau pernyataan tertulis yang terkait dengan masalah yang diteliti yang diberikan pada subjek penelitian (Kusumah, 2012:78). Peneliti menggunakan kuesioner sebagai salah satu intrumen penelitian untuk mengetahui tingkat minat siswa dalam belajar. Kuesioner atau angket yang peneliti gunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner tertutup, dimana responden tinggal memilih jawaban yang telah disediakan (Masidjo, 2010: 71). Kuesioner minat ini peneliti gunakan untuk mengukur minat siswa dalam belajar IPA. Kuesioner minat ini peneliti gunakan pada pra penelitian dan pada setiap akhir kegiatan pembelajaran. 4. Dokumentasi Dokumentasi adalah dokumen-dokumen yang digunakan peneliti untuk mengumpulkan data penelitian. Dokumentasi dilakukan dengan dua tahap. Kegiatan dokumentasi yang pertama dilakukan saat pra-penelitian atau sebelum penelitian. Kegiatan ini dilakukan untuk mengetahui prestasi belajar

(79) 61 61 siswa dalam belajar IPA. Prestasi siswa dalam belajar IPA dilihat melalui daftar nilai siswa selama tiga tahun. Sedangkan dokumentasi yang kedua dilihat setelah diadakan tindakan dengan melihat prestasi belajar siswa dari hasil perhitungan lembar evaluasi yang telah siswa kerjakan. Selain prestasi, peneliti juga melihat minat siswa dalam belajar. Minat siswa dalam belajar IPA dapat dilihat dengan mengkaji foto dan video dari setiap kegiatan pembelajaran pada setiap siklus. E. Instrumen Pengumpulan Data Pada penelitian ini instrumen pengumpulan data dibedakan menjadi dua yaitu instrumen pengumpulan data minat dan instrumen pengumpulan data prestasi. Adapun instrumen pengumpulan data dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel III.3 Instrumen Pengumpulan Data N o Peubah (variabel) 1 Minat 2 Prestasi belajar Indikator a. b. c. d. a. Rasa senang Perhatian Keterlibatan Inisiatif Persentase jumlah siswa yang memenuhi KKM b. Rata-rata nilai kelas Teknik Pengumpulan Data Wawancara Instrumen Pengumpulan Data Observasi Lembar observasi Kuesioner Tes tertulis Lembar kuesioner Tes prestasi (soal evaluasi), rubrik penilaian (kognitif, afektif, psikomotor) Lembar wawancara Tes tertulis Tabel di atas merupakan tabel instrumen pengumpulan data. Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa minat siswa dalam belajar dilihat melalui

(80) 62 62 empat indikator minat yang pengumpulan datanya dilakukan dengan teknik wawancara, observasi, pengumpulan data kuesioner, tersebut dan dilakukan dokumnetasi. dengan Keempat berdasarkan teknik instrumen pengumpulan datanya masing-masing. Wawancara dilakukan dengan berdasar lembar wawancara, Observasi dilakukan berdasarkan lembar observasi, dan kuesioner dilakukan dengan lembar kuesioner. Sedangkan peningkatan prestasi belajar siswa, dilihat melalui persentase jumlah siswa yang memenuhi KKM dan rata-rata nilai kelas yang dapat dilihat melalui perhitungan tes prestasi yang telah dikerjakan siswa. Tes tertulis dilakukan dengan memberikan tes objektif pada siswa, dan dengan rubrik penilaian kognitif, afektif, serta psikomotor untuk melihat nilai yang didapat siswa pada tiap indikator. Berikut uraian tentang instrumen pengumpulan data minat dan prestasi. 1. Instrumen pengumpulan data minat Sebagaimana yang telah dituliskan dalam tabel instrumen pengumpulan data, pengumpulan data minat siswa dilakukan berdasarkan lembar wawancara, lembar kuesioner, lembar observasi, dan dokumen nilai siswa. Instrumen pengumpulan data minat ini akan divalidasi oleh tiga ahli melalui expert judgment. Berikut uraian masing-masing instrumen: a. Lembar Wawancara Lembar wawancara peneliti gunakan untuk melakukan wawancara pada guru pada saat pra penelitian untuk melihat minat

(81) 63 63 siswa selama pembelajaran IPA berlangsung. Berikut tabel lembar wawancara yang peneliti gunakan. Tabel III.4 Lembar Wawancara No. Indikator 1. Siswa memiliki rasa senang saat pembelajaran IPA 2. 3. 4. Pernyataan Apakah siswa menyiapkan alat tulis sebelum pelajaran dimulai? Apakah siswa bersikap ceria pada saat bekerjasama dalam kelompok? Apakah siswa sudah siap di dalam kelas untuk mengikuti seluruh pembelajaran? Apakah siswa bersukacita pada saat mengikuti pembelajaran IPA? Apakah siswa bersemangat saat mengerjakan soal IPA? Apakah siswa ingin mendapatkan nilai yang baik pada mata pelajaran IPA? Apakah siswa menyukai pelajaran IPA? Siswa Apakah siswa memperhatikan seluruh proses memperhatikan pembelajaran? saat proses Apakah siswa menyimak penjelasan guru pada awal pembelajaran pembelajaran IPA? IPA Apakah siswa fokus saat mengerjakan tugas IPA? Apakah siswa berkonsentrasi saat memecahkan persoalan yang berkaitan dengan materi IPA? Apakah siswa mencatat hal-hal penting yang berkaitan dengan materi IPA? Apakah siswa melihat guru ketika guru sedang memberikan contoh yang berkaitan dengan materi IPA? Siswa terlibat Apakah siswa menjawab pertanyaan guru? dalam proses Apakah siswa ikut melakukan percobaan dalam pembelajaran kelompok? IPA Apakah memberikan pendapat saat diskusi kelompok? Bagaimana siswa bekerja sama dengan kelompok? Apakah mengerjakan tugas saat pelajaran IPA? Bagaimana siswa menanggapi penjelasan guru? Siswa Apakah siswa mempelajari materi atas kemauan diri berinisiatif sendiri? mencari Apakah siswa membaca atau mencari materi dari informasi baru sumber lain? Apakah siswa mau mempelajari kembali materi IPA

(82) 64 64 Jumlah yang sudah diajarkan? Apakah siswa bertanya hal-hal lain yang berkaitan dengan materi IPA? Apakah siswa tertarik melakukan percobaan pada saat pembelajaran IPA? Apakah siswa membuat ringkasan mengenai materi IPA sesuai kemauan diri sendiri? 25 item peryataan Berdasarkan tabel di atas, terdapat 25 item pertanyaan yang merupakan hasil penjabaran dari 4 indikator minat siswa dalam belajar yaitu rasa senang, perhatian, keterlibatan, dan inisiatif. b. Lembar Kuesioner Lembar kuesioner diberikan kepada siswa untuk mengetahui minat belajar siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran IPA. Berikut tabel kisi-kisi lembar kuesioner yang peneliti gunakan pada penelitian ini. Tabel III.5 Kisi-Kisi Kuesioner Minat Belajar Siswa No. Indikator 1. Siswa memiliki rasa senang saat pembelajaran IPA 2. Pernyataan Saya menyiapkan alat tulis sebelum pelajaran dimulai Saya bersikap ceria pada saat bekerjasama dalam kelompok Saya sudah siap di dalam kelas untuk mengikuti seluruh pembelajaran Saya bersukacita pada saat mengikuti pembelajaran IPA Saya bersemangat saat mengerjakan soal IPA Saya ingin mendapatkan nilai yang baik pada mata pelajaran IPA Saya menyukai pelajaran IPA Siswa Saya memperhatikan seluruh proses pembelajaran memperhatikan Saya menyimak penjelasan guru pada awal saat proses pembelajaran IPA

(83) 65 65 pembelajaran IPA 3. 4. Saya fokus saat mengerjakan tugas IPA Saya berkonsentrasi saat memecahkan persoalan yang berkaitan dengan materi IPA Saya mencatat hal-hal penting yang berkaitan dengan materi IPA Saya melihat guru ketika guru sedang memberikan contoh yang berkaitan dengan materi IPA Siswa terlibat Saya menjawab pertanyaan guru dalam proses Saya ikut melakukan percobaan dalam kelompok pembelajaran Saya memberikan pendapat saat diskusi kelompok IPA Saya bekerja sama dengan kelompok Saya mengerjakan tugas saat pelajaran IPA Saya menanggapi penjelasan guru Siswa Saya mempelajari materi atas kemauan diri sendiri berinisiatif Saya membaca atau mencari materi dari sumber lain mencari Saya mau mempelajari kembali materi IPA yang informasi baru sudah diajarkan Saya bertanya hal-hal lain yang berkaitan dengan materi IPA Saya tertarik melakukan percobaan pada saat pembelajaran IPA Saya membuat ringkasan mengenai materi IPA sesuai kemauan diri sendiri 25 item peryataan Jumlah Berdasarkan tabel di atas, terdapat 25 item pernyataan yang merupakan hasil penjabaran dari 4 indikator minat. Berikut persebaran item pernyataan kuesioner minat yang telah peneliti susun. Tabel III.6 Sebaran Item Kuesioner No Indikator 1. Siswa memiliki rasa senang saat pembelajaran IPA 2. Siswa memperhatikan saat proses pembelajaran IPA 3. Siswa terlibat dalam proses pembelajaran IPA 4. Siswa berinisiatif mencari informasi baru Item 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7 8, 9, 10, 11, 12, 13 14, 15, 16, 17, 18, 19 20, 21, 22, 23, 24, 25

(84) 66 66 Tabel sebaran item kuesioner di atas menjelaskan bahwa masing-masing indikator minat tersebar secara merata. Masing-masing indikator dijabarkan ke dalam 6 sampai 7 pernyataan yang tersebar secara runtut sesuai dengan indikatornya masing-masing. 2. Lembar Observasi Selain lembar kuesioner, lembar observasi juga akan peneliti gunakan sebagai pedoman dalam melakukan pengamatan minat belajar siswa dalam pembelajaran IPA. Lembar observasi yang peneliti gunakan disusun berdasarkan empat indikator minat yaitu perasaan senang, perhatian siswa dalam belajar, keterlibatan siswa dalam kegiatan pembelajaran, inisiatif siswa untuk mencari informasi lain yang berhubungan dengan materi. Lembar observasi ini akan diisi oleh rekan peneliti pada saat kegiatan pembelajaran berlangsung. Lembar observasi ini akan peneliti gunakan pada saat pra-PTK, siklus I, dan siklus II. Lembar pengamatan yang digunakan dalam penelitian ini ditunjukkan dalam tabel berikut. Tabel III.7 Lembar Pengamatan Minat Indikator Pernyataan Siswa memiliki rasa senang saat pembelajaran IPA Siswa menyiapkan alat tulis sebelum pelajaran dimulai Siswa bersikap ceria pada saat bekerjasama dalam kelompok Siswa sudah siap di dalam kelas untuk mengikuti seluruh pembelajaran Siswa bersukacita pada saat mengikuti pembelajaran IPA Siswa bersemangat saat mengerjakan soal IPA Siswa memperhatikan seluruh proses pembelajaran Siswa menyimak penjelasan guru pada awal pembelajaran IPA Siswa memperhatik

(85) 67 67 an saat proses pembelajaran IPA Siswa fokus saat mengerjakan tugas IPA Siswa berkonsentrasi saat memecahkan persoalan yang berkaitan dengan materi IPA Siswa mencatat hal-hal penting yang berkaitan dengan materi IPA Siswa melihat guru ketika guru sedang memberikan contoh yang berkaitan dengan materi IPA Siswa terlibat Siswa menjawab pertanyaan guru dalam proses Siswa ikut melakukan percobaan dalam kelompok pembelajaran Siswa memberikan pendapat saat diskusi kelompok IPA Siswa bekerja sama dengan kelompok Siswa mengerjakan tugas saat pelajaran IPA Siswa menanggapi penjelasan guru Siswa mempelajari materi atas kemauan diri sendiri Siswa berinisiatif Siswa membaca atau mencari materi dari sumber lain mencari Siswa mau mempelajari kembali materi IPA yang sudah informasi diajarkan baru Siswa bertanya hal-hal lain yang berkaitan dengan materi IPA Siswa tertarik melakukan percobaan pada saat pembelajaran IPA Siswa membuat ringkasan mengenai materi IPA sesuai kemauan diri sendiri Jumlah 23 item Berdasarkan tabel di atas, lembar pengamatan minat terdiri dari 23 item pernyataan yang merupakan hasil penjabaran dari 4 indikator minat. 2. Instrumen pengumpulan data prestasi Selain melihat minat, dalam penelitian ini peneliti juga melihat prestasi belajar siswa dengan instrumen pengumpulan data prestasi. Intrumen pengumpulan data prestasi ini akan divalidasi oleh 3 expert judgment dan oleh siswa. Berikut uraian instrumen pengumpulan data prestasi. a. Tes prestasi Tes menurut Anne Anastasi adalah sebuah pengukuran yang objektif dan standar terhadap sampel perilaku seseorang (dalam Azwar, 2012:3).

(86) 68 68 Tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes prestasi. Tes prestasi merupakan tes yang disusun secara sistematis untuk mengungkapkan peformansi maksimal (tingkat pemahaman) subjek dalam menguasai materi yang telah diajarkan (Azwar, 2012:9). Tes prestasi yang digunakan pada penelitian ini adalah tes tertulis berupa tes pilihan ganda yang diberikan pada setiap akhir siklus. Berikut ini merupakan kisi-kisi soal evaluasi pilihan ganda siklus I dan siklus II yang telah divalidasi. Tabel III.8 Kisi-kisi Soal Evaluasi Siklus I Standar Kompetensi: 6. Memahami beragam sifat dan perubahan benda serta berbagai cara penggunaan benda berdasarkan sifatnya. Kompetensi Dasar: 6.2 Mendeskripsikan terjadinya perubahan wujud cair menjadi padat, padat menjadi cair; cair menjadi gas, gas menjadi cair; padat menjadi gas. Indikator Menyebutkan proses terjadinya perubahan wujud cair menjadi padat dan padat menjadi cair Menemukan peristiwa lain yang merupakan contoh perubahan wujud cair menjadi padat menjadi cair Merancang percobaan yang merupakan contoh perubahan wujud cair menjadi padat dan perubahan wujud padat menjadi cair Menyebutkan proses terjadinya perubahan wujud cair menjadi gas dan gas menjadi cair Menemukan peristiwa lain yang merupakan contoh perubahan wujud cair menjadi gas menjadi cair Merancang percobaan yang merupakan contoh perubahan wujud cair menjadi gas dan perubahan wujud gas menjadi cair Menyebutkan proses terjadinya perubahan wujud padat menjadi gas Menemukan contoh peristiwa perubahan wujud padat menjadi gas Merancang percobaan yang merupakan contoh perubahan wujud padat menjadi gas Jumlah soal No. Soal 2,3 5,7, 8,10 1,4,6,9 11,13,16, 20 14,15 12,17, 18,19 21,23,26 22,25,29 24,27,28,30 30

(87) 69 69 Berdasarkan tabel di atas, terdapat 30 soal evaluasi yang merupakan hasil penjabaran dari 9 indikator. Masing-masing indikator dijabarkan ke dalam tiga sampai dengan item soal pilihan ganda. Berikut ini juga akan dijelaskan dalam tabel kisi-kis soal evaluasi pada siklus kedua. Tabel III.9 Kisi-kisi Soal Evaluasi Siklus II Standar Kompetensi: Benda dan Sifatnya Memahami beragam sifat dan perubahan benda serta berbagai cara penggunaan benda berdasarkan sifatnya. Kompetensi Dasar: 6.3 Menjelaskan hubungan antara sifat bahan dengan kegunaannya Indikator Menemukan contoh benda berdasarkan bahan penyusunnya No.Soal 2,4,9,11,22,29 Mengelompokkan benda berdasarkan bahan penyusunnya Menjelaskan sifat bahan penyusun benda 3,6,10,23,24,25,30 13,15,20,26 Membedakan bahan penyusun suatu benda berdasarkan sifatnya Menganalisis kegunaan benda berdasarkan bahan penyusunnya Jumlah soal 8, 16,18,27 12,14,17,19,28 30 Tabel di atas menunjukkan bahwa terdapat 6 indikator yang dijabarkan ke dalam 30 item soal. Masing-masing indikator dijabarkan ke dalam 6 item soal yang persebarannya dilakukan secara merata. 3. Rubrik Penilaian Rubrik penilaian akan peneliti gunakan untuk mengetahui prestasi belajar siswa dalam ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Rubrik penilaian prestasi belajar siswa dalam ranah kognitif, dan afektif pada pertemuan 1, 2, dan 3, serta pada pertemuan siklus II pada dasarnya sama.

(88) 70 70 Perbedaannya hanya pada tabel penilaian prestasi belajar dalam ranah kognitif. Berikut tabel penilaian kognitif dan afektif. Tabel III.10 Rubrik Penilaian Kognitif No. Nama Siswa Skor Nilai Nilai = Jumlah skor benar x 5 = 100 Tabel III.11 Rubrik penilaian afektif No Nama Siswa Skor 1 2 3 4 1. 2. 3. 4. 5. Pedoman Skoring : menggunakan kuesioner Penilaian Kuesioner Tidak pernah =1 Kadang-kadang =2 Sering =3 Selalu = 4 skor = (jumlah skor : 115) x 100 Berikut ini merupakan tabel penilaian prestasi belajar dalam ranah psikomotorik.

(89) 71 71 Tabel III.12 Rubrik Penilaian Psikomotorik Siklus I Pertemuan 1 6.2.4 Melakukan percobaan dengan tepat Hal yang dinilai Skor 3 Keruntutan 2 1 3 Kelengkapan 2 1 Deskriptor jika mengikuti 7 langkah kerja secara urut. Langkahlangkah tersebut adalah: 1. Menyalakan lilin menggunakan korek api 2. Meletakkan kasa di atas kaki tiga 3. Meletakkan panci di atas kasa 4. Memasukkan coklat ke dalam panci kecil 5. Mengaduk coklat tersebut secara perlahan 6. Menunggu beberapa saat 7. Mengamati perubahan yang terjadi jika mengikuti 7 langkah kerja tidak urut jika tidak mengikuti 7 langkah kerja dan tidak urut jika menyediakan 7 bahan . Bahan-bahan tersebut adalah kaki tiga, lilin, kasa, korek api, nampan, panci kecil, sendok, cetakan agar-agar berbentuk binatang, air, cokelat, dan es batu jika menyediakan 6 bahan jika menyediakan < 6 bahan Tabel di atas menjelaskan mengenai kriteria penilaian yang dilakukan pada pertemuan pertama siklus pertama. Peneliti memberikan skor kepada siswa melalui pengamatan dengan menggunakan rubrik penilaian psikomotorik ini. Selanjutnya akan dijelaskan tentang rubrik penilaian psikomotorik pada pertemuan kedua.

(90) 72 72 Tabel III.13 Rubrik Penilaian Psikomotorik Siklus I Pertemuan II 6.2.4 Melakukan percobaan dengan tepat Hal yang dinilai Skor 3 Keruntutan 2 1 3 Kelengkapan 2 1 Deskriptor Jika mengikuti 8 langkah kerja secara urut. Langkahlangkah tersebut adalah: 1. Menyiapkan alat dan bahan, 2. Memasukan air ke dalam panci kemudian tutup panci tersebut, 3. Meletakkan pembakar spritus di bawah kaki tiga, 4. Menyalakan pembakar spritus dengan menggunakan korek api, 5. Meletakkan kasa di atas kaki tiga, 6. Meletakkan panci yang di atas kasa, 7. Menunggu beberapa saat, 8. Mengamati perubahan yang terjadi jika mengikuti 8 langkah kerja tidak urut jika tidak mengikuti 8 langkah kerja dan tidak urut Jika menyediakan 5 bahan. Bahan-bahan tersebut adalah panci, kaki tiga, lilin, korek api, dan air jika menyediakan 4 bahan jika menyediakan < 4 bahan Berdasarkan tabel di atas rubrik penilaian psikomotorik ini digunakan pada siklus pertama pertemuan kedua. Peneliti memberikan skor kepada siswa melalui pengamatan dengan menggunakan rubrik penilaian psikomotorik ini. Selanjutnya akan dijelaskan tentang rubrik penilaian psikomotorik pada pertemuan ketiga.

(91) 73 73 Tabel III.14 Rubrik Penilaian Psikomotorik Siklus I Pertemuan III 6.2.4 Melakukan percobaan dengan tepat Hal yang dinilai Skor 3 Keruntutan 2 1 3 Kelengkapan 2 1 Deskriptor Jika mengikuti 8 langkah kerja secara urut. Langkahlangkah tersebut adalah 1. Menyiapkan alat dan bahan 2. memasukan kapur barus ke dalam panci 3. meletakkan pembakar spritus dibawah kaki tiga 4. menyalakan pembakar spritus dengan menggunakan korek api 5. meletakkan kasa diatas kaki tiga 6. meletakkan panci yang berisi kapur barus di diatas kasa 7. menunggu beberapa saat 8. mengamati perubahan yang terjadi jika mengikuti 8 langkah kerja tidak urut jika tidak mengikuti 8 langkah kerja dan tidak urut Jika menyediakan 5 bahan . Bahan-bahan tersebut adalah kaki tiga, korek api, lilin, kaleng bekas, kapur barus jika menyediakan 4 bahan jika menyediakan < 4 bahan Tabel di atas menjelaskan mengenai kriteria penilaian yang dilakukan pada pertemuan ketiga siklus pertama. Peneliti memberikan skor kepada siswa melalui pengamatan dengan menggunakan rubrik penilaian psikomotorik ini. Selanjutnya akan dijelaskan tentang rubrik penilaian pengamatan pada siklus kedua pertemuan pertama.

(92) 74 74 Tabel III.15 Rubrik Penilaian Psikomotorik Siklus II Pertemuan I 6.3.5 Melakukan pengamatan dalam kegiatan pembelajaran mengenai bahan penyusun benda Aspek Skor Deskriptor Pembagian tugas 4 3 2 1 Jika semua anggota mendapatkan bagian kerja yang sama Jika satu siswa tidak mendapat bagian dalam presentasi Jika dua siswa tidak mendapat bagian dalam presentasi Jika tiga siswa tidak mendapat bagian dalam presentasi Jika lebih dari tiga siswa tidak mendapat bagian dalam presentasi Jika dapat mengamati benda sesuai dengan tempat yang ditentukan sebelumnya, mengisi tabel pengamatan, sesuai dengan waktu yang ditentukan, dan bersemangat. Jika ada 1 hal yang tidak nampak dalam kegiatan pengamatan Jika ada 2 hal yang tidak nampak dalam kegiatan pengamatan Jika ada 3 hal yang tidak nampak dalam kegiatan pengamatan Jika semua hal tidak nampak dalam kegiatan pengamatan 0 4 Pelaksanaan kegiatan 3 2 1 0 Tabel di atas menjelaskan mengenai kriteria penilaian yang dilakukan pada pertemuan pertama siklus kedua. Peneliti memberikan skor kepada siswa melalui pengamatan dengan menggunakan rubrik penilaian pengamatan ini. Selanjutnya akan dijelaskan tentang rubrik penilaian pengamatan pada siklus kedua pertemuan kedua. Tabel III.16 Rubrik Penilaian Psikomotorik Siklus II Pertemuan II 6.3.5 Melakukan percobaan dalam kegiatan pembelajaran mengenai sifat bahan penyusun benda dan kegunaannya. Aspek Keruntutan Skor Deskriptor 3 Jika mengikuti 13 langkah kerja secara urut. Langkah-langkah tersebut adalah: 1. Siapakan alat dan bahan yang akan kalian gunakan untuk

(93) 75 75 Kelengkapan 2 1 3 2 1 percobaan. 2. Ambillah korek api, gunakan korek api tersebut untuk menyalakan lilin. 3. Secara perlahan bakarlah kertas tisu yang kalian bawa maksimal selama 10 detik 4. Amati apa yang terjadi? Catatlah pada tabel dibawah ini! 5. Lakukan langkah 3 dan 4 dengan menggunakan bahan yang lainnya, yaitu bahan plastik, karet, kaca, logam, kain, dan kayu. 6. Setelah itu, coba tuangkan 3 sendok air di nampan 7. Ambil sebuah kertas tisu dan letakkan pada air yang kalian tuangkan di nampan selama maksimal 10 detik. 8. Amati apa yang terjadi! Lalu catatlah pada tabel. 9. Lakukan langkah 6, 7, dan 8 menggunakan bahan yang lain, yaitu plastik, karet, kaca, logam, dan kain. 10. Setelah itu, ambil sebuah kertas tisu lagi, 11. Berikan tekanan pada kertas tisu tersebut dengan cara menekan bahan-bahan tersebut menggunakan tangan 12. Amati apa yang terjadi! Lalu catatlah pada tabel. 13. Lakukan langkah 6, 7, dan 8 menggunakan bahan yang lain, yaitu plastik, karet, kaca, logam, dan kain. Jika mengikuti 13 langkah kerja tidak urut Jika tidak mengikuti 13 langkah kerja Jika menyediakan 14 bahan percobaan. Bahan-bahan tersebut adalah: kertas tisu, ertas karton, gelas “aqua”, bungkus makanan “sukro”, uang perak 500an, penggaris besi, kain untuk bahan seragam sekolah, kain jeans, cermin. botol c100, karet gelang, ban motor, triplek, pensil Jika menyediakan 10 buah bahan Jika menyediakan < 10 buah bahan Tabel di atas menjelaskan mengenai kriteria penilaian yang dilakukan pada pertemuan kedua siklus pertama. Peneliti memberikan skor kepada siswa melalui pengamatan dengan menggunakan rubrik penilaian pengamatan ini. F. Validitas, Reliabilitas, dan Indeks Kesukaran 1. Validitas Validitas adalah kemampuan untuk mengukur dengan tepat sesuatu yang ingin diukur (Masidijo, 1995: 242). Menurut Masidjo, dengan

(94) 76 76 mengukur validitasnya, maka kita dapat mengetahui kualitas suatu instrumen. Validitas pada penelitian ini ada tiga yaitu content validity (validitas isi), construct validity (validitas konstruk) dan face validity. Validitas isi adalah ukuran dimana tes evaluasi mampu mengukur cakupan substansi yang akan diukur (Sukardi, 2008:32). Validitas isi ditentukan berdasarkan pendapat ahli melalui expert jugment. Pengujian validitas isi peneliti lakukan berdasar pertimbangan pendapat dari tiga ahli yaitu dosen, kepala sekolah dan guru. guru, kepala sekolah, dan dosen. Validitas konstruk adalah ukuran yang menunjukkan suatu tes mampu mengukur konstruk sementara. (Sukardi, 2008:33). Face validity menunjuk kepada 2 arti yaitu menyangkut pengukuran atribut yang konkret serta menyangkut penilaian dari para ahli maupun konsumen alat ukur tersebut (Margono, 2007: 187). Ketiga validitas tersebut peneliti gunakan untuk menguji mutu instrumen pembelajaran yaitu silabus, RPP (bahan ajar, Lembar Aktivitas Siswa, penilaian) dan soal evaluasi. Selain lembar pembelajaran, peneliti juga melakukan uji validitas isi, konstruk dan face validity pada instrumen penelitian yaitu lembar kuesioner. Uji validitas juga dilakukan pada instrumen penelitin yang lain yaitu pada lembar pengamatan dan rubrik pedoman wawancara. Keduanya dilakukan uji validitas isi pada ahli. Berikut uraian validitas pada penelitian ini.

(95) 77 77 a. Validasi instrumen pembelajaran Pada validasi instrumen pembelajaran yaitu silabus, RPP (bahan ajar, Lembar Aktivitas Siswa, penilaian) dan soal evaluasi, peneliti menggunakan validitas konstruk,validitas isi, dan face validity. Instrumen pembelajaran tersebut divalidasi oleh 3 ahli yaitu dosen evaluasi pembelajaran, kepala sekolah, dan guru kelas. Validator pertama adalah dosen evaluasi pembelajaran. Peneliti memilih beliau karena beliau dapat mengerti kriteria instrumen pembelajaran yang berkualitas dengan baik. Validator kedua adalah kepala sekolah. Peneliti memilih kepala sekolah sebagai validator kedua karena menurut peneliti, kepala sekolah telah memiliki wawasan yang luas dan memiliki kompetensi yang cukup dalam bidang pendidikan. Sedangkan validator ketiga adalah guru mata pelajaran IPA kelas V. Peneliti memilih guru mata pelajaran IPA kelas V karena beliau sudah memiliki kompetensi yang cukup dalam mata pelajaran IPA, sehingga dapat mengerti tentang kualitas instrumen pembelajaran IPA yang baik. Guna memudahkan mengukur kualitas instrumen pembelajaran, peneliti menggunakan skala likert 1, 2, 4,dan 5. Skor 1 berarti tidak baik, 2 kurang baik, 4 berarti baik, dan skor 5 berarti sangat baik. Peneliti dalam penelitian ini sengaja tidak menggunakan skor 3 karena skor 3 merupakan skor yang berada di tengah antara 1 sampai 5, yang sulit dikategorikan sebagai kriteria yang baik atau yang buruk. Setelah dinilai oleh ketiga validator, peneliti akan menghitung nilai rata-rata dari ketiga validator

(96) 78 78 tersebut. Apabila nilai rata-ratanya kurang dari 3, maka peneliti akan memperbaiki instrumen yang telah peneliti buat. Selain dari nilai rata-rata, peneliti juga akan melihat setiap komentar yang diberikan validator sebagai bahan pertimbangan untuk memperbaiki instrument yang akan peneliti gunakan dalam penelitian. Berikut validitas terhadap instrumen pembelajaran dalam penelitian ini. a) Validasi silabus Terdapat 7 komponen penilaian yang digunakan untuk menilai atau mengukur kualitas silabus. Ketujuh komponen tersebut termuat dalam rubrik validasi silabus berikut. Tabel III.17 Rubrik Validasi Silabus No. 1 2 3 4 5 6 7 Komponen Penilaian Kelengkapan komponen silabus Kesesuaian antara SK, KD, dan Indikator Kesistematisan langkah-langkah pembelajaran Kesesuaian alokasi waktu dengan materi ajar dan langkah-langkah pembelajaran Kelengkapan sumber belajar yang digunakan Kesesuaian teknik penilaian dengan indikator Penggunaan bahasa Indonesia dan tata tulis baku Skor 1 1 1 1 2 2 2 2 Komentar 45 45 45 45 1 2 45 1 2 45 1 2 45 Tabel di atas adalah tabel validasi silabus. Terdapat tujuh komponen dalam menilai silabus antara lain: kelengkapan komponen silabus; kesesuaian antara SK, KD, dan indikator; kesistematisan langkah-langkah pembelajaran; kesesuaian alokasi waktu dengan materi dan langkahlangkah pembelajaran; kelengkapan sumber belajar, kesesuaian teknik

(97) 79 79 penilaian dengan indikator; dan penggunaan bahasa dan tata tulis baku. Selain itu terdapat pula skor yang menunjukkan kualitas masing-masing komponen. Berdasarkan rubrik tersebut, ahli melakukan penilaian terhadap silabus yang peneliti buat. Berikut hasil penilaiann ahli terhadap silabus siklus II. Tabel III.18 Hasil Validasi Silabus Siklus I oleh Ahli N o 1 2 3 4 5 6 7 Komponen Penilaian Kelengkapan komponen silabus Kesesuaian antara SK, KD, dan Indikator Kesistematisan langkahlangkah pembelajaran Kesesuaian alokasi waktu dengan materi ajar dan langkah-langkah pembelajaran Kelengkapan sumber belajar yang digunakan Kesesuaian teknik penilaian dengan indikator Penggunaan bahasa Indonesia dan tata tulis baku Rata-rata Validator 1 Skor Validator 2 Validator 3 5 5 5 5 4 5 5 4,7 4 5 5 4,7 5 2 4 3,7 5 4 4 4,3 4 5 4 4,3 2 5 4 3,7 4,1 4,4 4.9 4,7 Rata -rata Berdasarkan tabel di atas, dapat dilihat bahwa nilai rata-rata dari ketiga validator berdasarkan ketujuh komponen penilaian silabus adalah 4,7. Nilai 4,7 menunjukkan bahwa ketiga validator menganggap bahwa instruen silabus siklus I sudah baik karena sudah melebihi kriteria nilai untuk perbaikan yang telah peneliti buat yaitu 3. Rata-rata penilaian validator pertama (dosen) sebesar 4,1. Rata-rata nilai dari validator kedua

(98) 80 80 (kepala sekolah) adalah 4,4, rata-rata nilai dari validator ketiga (guru) adalah 4,9. Berdasarkan keempat rata-rata tersebut tidak ada nilai rata-rata yang berada dibawah nilai 3, sehingga peneliti memutuskan untuk tidak akan melakukan perubahan terhadap silabus yang peneliti buat. Selain melakukan penilaian, ketiga validator juga memberikan komentar terhadap silabus yang peneliti buat. Validator pertama (dosen) memberikan komentar bahwa peneliti harus bisa memperhatikan penggunan bahasa antara bau dan rasakan. Selain itu validator juga menyarankan peneliti untuk menyesuaikan tata tulis debgan SK dan KD agar mata tidak capek. Validator kedua memberi saran pada peneliti untuk memperhatikan penulisan alokasi waktu pada silabus. Sedangkan validator ketiga tidak memberikan komentar apapun terhadap silabus yang peneliti buat. Berdasarkan komentar dari validator tersebut, maka peneliti merubah silabus yang peneliti buat pada bagian penggunaan bahasa dan tata tulis silabus. Selain melakukan validasi terhadap silabus siklus I, peneliti juga melakukan validasi silabus siklus II kepada 3 ahli yang sama yaitu dosen, kepala sekolah, dan guru. Hasil validasi instrumen silabus siklus II dapat dilihat pada tabel berikut.

(99) 81 81 Tabel III.19 Hasil Validasi Silabus Siklus II oleh Ahli No Komponen Penilaian Kelengkapan komponen silabus Kesesuaian antara SK, KD, 2 dan Indikator Kesistematisan langkah3 langkah pembelajaran Kesesuaian alokasi waktu 4 dengan materi ajar dan langkah-langkah pembelajaran Kelengkapan sumber belajar 5 yang digunakan Kesesuaian teknik penilaian 6 dengan indikator Penggunaan bahasa Indonesia 7 dan tata tulis baku Rata-rata 1 Validator 1 Skor Validator 2 5 5 5 5 4 5 5 4,7 4 5 5 4,7 4 5 5 4,7 5 5 5 5 4 5 5 4,7 4 5 4 4,3 4,3 5 4,9 4,7 RataValidator rata 3 Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa hasil rata-rata keseluruhan 4,7. Nilai 4,7 menunjukkan bahwa ketiga validator menganggap bahwa instruen silabus siklus II sudah baik karena sudah melebihi kriteria nilai untuk perbaikan yang telah peneliti buat yaitu 3Hasil rata-rata validator pertama 4,3, validator kedua 5, dan validator ketiga 4,9. Berdasarkan nilai tersebut, terlihat bahwa keempat nilai tersebut sudah melampaui kriteria perbaikan yang ditentukan, maka peneliti memutuskan bahwa perangkat pembelajaran silabus layak untuk digunakan dalam penelitian ini. Komentar validator pertama (dosen) terhadap silabus siklus kedua adalah cara siswa mengidentifikasi masalah belum terlihat, dan penilaian

(100) 82 82 indikator pada teknik penilaian belum terlihat jelas. Validator kedua memberikan komentar baik pada tiap komponen penilaian. Sedangkan validator ketiga berpendapat bahwa ada beberapa penulisan kata yang belum benar. Berdasarkan komentar dari ketiga validator tersebut, maka peneliti memutuskan untuk merevisi silabus siklus II pada bagian penilaian, dan tata tulis. b. Validasi RPP Peniliti juga melakukan validasi Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan menggunakan rubrik penilaian RPP. Berikut rubrik validasi RPP yang peneliti buat. Tabel III.20 Rubrik Validasi RPP No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Komponen Penilaian Kelengkapan komponen RPP Kesesuaian Indikator yang akan dicapai dengan SK dan KD Kesesuaian rumusan tujuan pembelajaran dengan indikator Kesesuaian materi ajar dengan SK dan KD Ketepatan pemilihan model/metode pembelajaran Tingkat kesesuaian langkah-langkah pembelajaran dengan indikator, tujuan, dan model/metode Kesesuaian penilaian dengan indikator yang akan dicapai Kelengkapan sumber belajar yang digunakan Kesesuian media pembelajaran dengan materi ajar Kesesuaian Lembar Kerja Siswa dengan kegiatan pembelajaran Kelengkapan instrumen penilaian Penggunaan bahasa Indonesia & tata tulis baku Skor 1 2 45 1 2 45 1 2 45 1 2 45 1 2 45 1 2 45 1 2 45 1 2 45 1 2 45 1 2 45 1 2 45 1 2 45 Komentar

(101) 83 83 Tabel di atas merupakan tabel validasi RPP. terdapat 12 komponen penilaian yan menjadi pedoman validasi RPP. 12 komponen tersebut antara lain kelengkapan komponen; kesesuaian indikator, SK, dan KD; kesesuaian tujuan dan indikator; kesesuaian materi dengan SK, KD; ketepatan model/metode pembelajaran; kesesuaian langkah pembelajaran dengan indikator, tujuan dan model/metode; kesesuaian penilaian dengan indikator; kelengkapan sumber belajar; kesesuaian media pembelajaran dengan materi ajar, kesesuaian Lembar Kerja Siswa dengan kegiatan pembelajaran, kelengkapan instrumen penilaian, penggunaan bahasa Indonesia & tata tulis baku. Hasil validasi RPP siklus I dapat dilihat pada tabel 3.16. Berdasarkan rubrik diatas, berikur hasil validasi oleh 3 ahli. Tabel III.21 Hasil Validasi RPP Siklus 1 oleh Ahli No Komponen Penilaian 1 Kelengkapan komponen RPP Kesesuaian Indikator yang akan dicapai dengan SK dan KD Kesesuaian rumusan tujuan pembelajaran dengan indikator Kesesuaian materi ajar dengan SK dan KD Ketepatan pemilihan model/metode pembelajaran Tingkat kesesuaian langkahlangkah pembelajaran dengan indikator, tujuan, dan model/metode Kesesuaian penilaian dengan indikator yang akan dicapai Kelengkapan sumber belajar yang digunakan Kesesuian media pembelajaran dengan materi ajar 2 3 4 5 6 7 8 9 Skor RataValidator Validator Valdator rata 1 2 3 5 5 5 5 4 5 4 4,3 4 5 5 4,7 5 5 5 5 4 5 5 4,7 2 5 4 3,7 2 5 4 3,7 5 4 5 4,7 5 5 5 5

(102) 84 84 10 11 12 Kesesuaian Lembar Kerja Siswa dengan kegiatan pembelajaran Kelengkapan instrument penilaian Penggunaan bahasa Indonesia & tata tulis baku Rata-rata 5 5 5 5 4 5 5 4,7 4 5 4 4,3 4,1 4,9 4,7 4,6 Berdasarkan 12 komponen yang dinilai oleh ketiga validator tersebut, diperoleh rata-rata keseluruhan 4,6. Nilai 4,6 menunjukkan bahwa ketiga validator menganggap bahwa instruen RPP siklus I sudah baik karena sudah melebihi kriteria nilai untuk perbaikan yang telah peneliti buat yaitu 3. Nilai rata-rata validator pertama yaitu 4,1, validator kedua 4,9, dan validator ketiga 4,7. Hasil rata–rata yang diperoleh sudah melampaui kriteria perbaikan yang ditentukan, sehingga perangkat pembelajaran ini layak digunakan dalam penelitian. Peneliti melakukan revisi berdasarkan komentar ketiga validator. Validator pertama berkomentar bahwa bahasanya pada indikator kurang operasional, dan lagu pada motivasi kurang tepat digunakan karena tidak berhubungan dengan topik yang ada. Menurut peneliti, komentar dari validator pertama sudah cukup baik, namun kurang sesuai dengan pembelajaran yang peneliti terima dalam mata kuliah perencanaan pembelajaran. Menurut pembelajaran yang peneliti terima pada mata kuliah perencanaan pembelajaran, indikator tersebut sudah operasional karena sudah memenuhi prisip A, B, C, D. Selai itu, motivasi juga tidak harus sesuai dengan topik yang akan dibahas, yang terpenting motivasi mampu menyemangati

(103) 85 85 siswa untuk belajar. Hal itulah yang peneliti dapat dalam mata kuliah perencanaan pembelajaran. Validator kedua memberikan komentar bahwa RPP sudah cukup baik, hanya perlu ditambah hari dan tanggal pelaksanaan. Sedangkan validator tidak memberikan komentar apapun terhadap RPP yang peneliti buat. Berdasarkan komentar dari validator dan pertimbangan dari peneliti, peneliti merevisi RPP pada bagian tata tulis yang masih kurang tepat. Selain RPP siklus I, peneliti juga melakukan validasi RPP siklus II kepada validator yang sama yaitu dosen evaluasi pembelajaran, kepala sekolah, dan guru mata pelajaran IPA kelas V. Hasil validasi RPP siklus II dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel III.22 Hasil Validasi RPP Siklus II oleh Ahli No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Komponen Penilaian Kelengkapan komponen RPP Kesesuaian Indikator yang akan dicapai dengan SK dan KD Kesesuaian rumusan tujuan pembelajaran dengan indikator Kesesuaian materi ajar dengan SK dan KD Ketepatan pemilihan model/metode pembelajaran Tingkat kesesuaian langkahlangkah pembelajaran dengan indikator, tujuan, dan model/metode Kesesuaian penilaian dengan indikator yang akan dicapai Kelengkapan sumber belajar yang digunakan Kesesuian media pembelajaran dengan materi ajar Validator 1 5 Skor Validator 2 5 Validator 3 5 4 5 5 4,7 4 5 5 4,7 4 5 5 4,7 4 5 5 4,3 4 5 5 4 4 5 5 3,3 5 5 5 4,3 4 5 4 4,3 Ratarata 5

(104) 86 86 10 11 12 Kesesuaian Lembar Kerja Siswa dengan kegiatan pembelajaran Kelengkapan instrument penilaian Penggunaan bahasa Indonesia & tata tulis baku Rata-rata 4 4 5 4,3 5 4 4 4,3 4 5 4 3,3 4,3 4,8 4.8 4,6 Nilai rata-rata validator pertama terhadap RPP siklus II yang peneliti hitung adalah 4,3, validator kedua 4,8 dan validator ketiga 4,8.Sedangkan nilai rata-rata dari keseluruhan kompomponen penilaian dari ketiga validator adalah 4,6. Nilai 4,6 menunjukkan bahwa ketiga validator menganggap bahwa instruen RPP siklus II sudah baik karena sudah melebihi kriteria nilai untuk perbaikan yang telah peneliti buat yaitu 3. Berdasarkan nilai rata-rata tersebut, maka RPP siklus II yang peneliti buat layak digunakan dalam penelitian. Hal itu karena nilai rata-ratanya melebihi batas nilai minimal perbaikan. Peneliti juga mempertimbangkan komentar dari validator untuk menyempurnakan RPP yang peneliti buat. Validator pertama berkomentar bahwa RPP yang peneliti buat sudah cukup baik. Sedangkan validator kedua dan ketiga secara umum berkomentar bahwa RPP yang dibuat peneliti sudah baik, hanya saja lembar kuesioner belum peneliti cantumkan dan ada penulisan yang kurang baku. Berdasarkan komentar dari ketiga validator dan pertimbangan peneliti, maka peneliti akan memperbaiki RPP siklus II pada bagian tata bahasa tulis dan melengkapi dengan lembar kuesioner. c. Validasi Soal Evaluasi Selain silabus dan RPP, peneliti juga melakukan validasi terhadap soal evaluasi. Soal evaluasi divalidasi oleh ketiga ahli yang sama yaitu dosen,

(105) 87 87 kepala sekolah dan guru. Validasi dilakukan berdasarkan rubrik validasi soal evaluasi. Berikut rubrik validasi soal evaluasi. Tabel III.23 Rubrik Validasi Soal Evaluasi No. 1 2 3 4 5 6 Komponen Penilaian Kesesuaian soal evaluasi dengan indikator Kejelasan instruksi dalam soal evaluasi Kesesuaian tingkat kesukaran soal dengan tahap perkembangan siswa Pembobotan item soal dan penyebarannya Penggunaan bahasa Indonesia dan tata tulis baku Ketepatan penggunaan opsi jawaban Skor 1 2 45 1 2 45 1 2 45 Komentar 1 2 45 1 2 45 1 2 45 Tabel di atas merupakan tabel rubrik validasi soal evaluasi. Terdapat 6 komponen penilaian dalam rubrik tersebut. Keenam komponen tersebut antara lain kesesuaian soal evaluasi dengan indikator, kejelasan instruksi, kesesuaian tingkat kesukaran item dengan tahap perkembangan siswa, pembobotan item soal dan penyebaran. penggunaan bahasa dan tata tulis baku, serta ketepatan penggunaan opsi jawaban. Ahli melakukan uji validitas soal evaluasi berdasarkan rubrik validasi soal evaluasi. Berikut hasil uji validitas soal evaluasi tersebut. Tabel III.24 Hasil Validasi Soal Evaluasi Siklus I oleh Ahli No. Komponen Penilaian 1 2 Kesesuaian soal evaluasi dengan indikator Kejelasan instruksi dalam soal Validator 1 Skor Validator 2 5 5 5 4,7 4 5 4 4 RataValidator rata 3

(106) 88 88 3 4 5 6 evaluasi Kesesuaian tingkat kesukaran soal dengan tahap perkembangan siswa Pembobotan item soal dan penyebarannya Penggunaan bahasa Indonesia dan tata tulis baku Ketepatan penggunaan opsi jawaban Rata-rata 5 5 4 5 4 5 5 4,7 2 5 5 3,3 4 5 5 4,7 4 5 4,7 4,6 Berdasarkan tabel di atas, nilai rata-rata validator pertama adalah 4, validator kedua adalah 5, dan validator ketiga adalah 4,7. Sedangkan nilai rata-rata dari ketiga validator adalah 4,6. Nilai 4,6 menunjukkan bahwa ketiga validator menganggap bahwa instruen soal evaluasi siklus I sudah baik karena sudah melebihi kriteria nilai untuk perbaikan yang telah peneliti buat yaitu 3. Validator pertama memberikan nilai terendah 2 pada item nomor 5. Validator pertama memberikan masukan agar bahasa dan tata tulis diperbaiki lagi. Sedangkan pada validator kedua dan ketiga secara umum mereka memberikan komentar bahwa soal evaluasi sudah bagus. Berdasarkan saran dari validator pertama, peneliti merevisi soal evaluasi pada bagian penggunaan bahasa dan tata tulis baku. Selain validasi soal evaluasi siklus I, peneliti juga melakukan validasi siklus II. Validasi dilakukan pada ketiga ahli yang sama yaitu dosen, kepala sekolah dan guru. Hasil validasi soal evaluasi dapat dilihat pada tabel berikut.

(107) 89 89 Tabel III. 25 Hasil Validasi Soal Evaluasi Siklus II oleh Ahli No 1 2 3 4 5 6 Komponen Penilaian Kesesuaian soal evaluasi dengan indikator Kejelasan instruksi dalam soal evaluasi Kesesuaian tingkat kesukaran soal dengan tahap perkembangan siswa Pembobotan item soal dan penyebarannya Penggunaan bahasa Indonesia dan tata tulis baku Ketepatan penggunaan opsi jawaban Rata-rata Validator 1 Skor Validator 2 Validator 3 4 4 5 4,7 4 4 4 4,3 4 5 5 3,7 5 5 5 5 5 4 4 4,7 5 5 5 4,3 4,5 4,3 4,8 4,5 Ratarata Berdasarkan tabel di atas, dapat dilihat bahwa nilai rata-rata validator pertama terhadap soal evaluasi siklus II yang peneliti hitung adalah 4,5, validator kedua 4,3 dan validator ketiga 4,8. Sedangkan nilai rata-rata dari keseluruhan kompomponen penilaian dari ketiga validator adalah 4,5. Nilai 4,5 menunjukkan bahwa ketiga validator menganggap bahwa instruen soal evaluasi siklus II sudah baik karena sudah melebihi kriteria nilai untuk perbaikan yang telah peneliti buat yaitu 3. Validator pertama tidak memberikan komentar pada penilaian soal evaluasi yang peneliti buat. Validator dua dan tiga juga memberi komentar atas soal evaluasi yang peneliti buat. Mereka berkata bahwa soal evaluasi sudah

(108) 90 90 bagus. Berdasarkan nilai rata-rata tersebut dan komentar komentar validator, maka peneliti memutuskan untuk tidak merevisi soal evaluasi. Selain dilakukan uji validitas konstruk pada ahli, dilakukan juga uji validitas konstruk secara empiris dengan uji per item. Validitas konstruk secara empiris ini dilakukan pada 30 orang siswa kelas V SD Negeri Nogotirto, sama dengan tempat peneliti melakukan penelitian, untuk menguji kevalidan lembar evaluasi siklus I. Peneliti memilih tempat yang sama dengan tempat penelitian peneliti karena peneliti kesulitan mencari SD yang memiliki karakteristik yang sama dengan SD Negeri Nogotirto. Berdasarkan hal tersebut, peneliti memutuskan untuk melakukan validasi di SD Nogotirto pada kelas yang setingkat di atas kelas peneliti melakukan penelitian yaitu pada kelas V. Penghitungan validitas soal evaluasi menggunakan rumus korelasi point biserial. Peneliti menggunakan teknik ini karena instrumen tes pilihan ganda berupa data nominal dan interval. Point biserial merupakan korelasi product moment yang diterapkan pada data, dimana variabel-variabel yang dikorelasikan, sifatnya masing-masing berbeda satu sama lain (Surapranata, 2009: 60). Guna menguji validitas instrumen tes menggunakan point biserial dapat dilakukan dengan rumus sebagai berikut (Surapranata, 2009: 60): r_bis = (M_P-Mt)/SD X√(p/q) r_bis = koefisien korelasi biserial M_P = rerata skor tes dari peserta tes yang memiliki jawaban benar Mt = rerata skor total

(109) 91 91 SD = standar deviasi skor total p = proporsi peserta tes yang jawabannya benar pada soal(tingkat kesukaran) q = 1-p Untuk mempermudah, perhitungan validitas soal evaluasi dilakukan dengan menggunakan program SPSS 16. Kriteria yang digunakan untuk menentukan valid dan tidaknya soal yang diolah menggunakan SPSS 16 dapat dilakukan dengan cara melihat nilai Corrected Item-Total Correlation. Jika nilai Corrected Item-Total Correlation > 0,25 dapat disimpulkan bahwa soal tersebut valid. Jika nilai Corrected Item-Total Correlation < 0,25 dapat disimpulkan bahwa soal tersebut tidak valid. Hasil validitas soal pilihan ganda siklus I dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel III.26 Hasil Uji Validitas Soal Evaluasi Siklus 1 soal1 soal2 soal3 soal4 soal5 soal6 soal7 soal8 soal9 soal10 soal11 soal12 soal13 soal14 Corrected ItemTotal Correlation (r Hitung) .349 .557” -.110 .235 .802” .579” .423’ .243 .455’ .579” -.223 .563” .490” .237 r Tabel (N= 30) Perhitungan Keputusan 0.361 0.361 0.361 0.361 0.361 0.361 0.361 0.361 0.361 0.361 0.361 0.361 0.361 0.361 r Hitung< r Tabel r Hitung> r Tabel r Hitung< r Tabel r Hitung< r Tabel r Hitung> r Tabel r Hitung> r Tabel r Hitung> r Tabel r Hitung< r Tabel r Hitung> r Tabel r Hitung> r Tabel r Hitung< r Tabel r Hitung< r Tabel r Hitung> r Tabel r Hitung< r Tabel Tidak Valid Valid Tidak Valid Tidak Valid Valid Valid Valid Tidak Valid Valid Valid Tidak Valid Valid Valid Tidak Valid

(110) 92 92 soal15 soal16 soal17 soal18 soal19 soal20 soal21 soal22 soal23 soal24 soal25 soal26 soal27 soal28 soal29 soal30 .802” .696” .075 -.333 .490” .563” .468” .579” .444’ .528” .885” .802” .294 .802” .563” -.006 Berdasarkan tabel 0.361 0.361 0.361 0.361 0.361 0.361 0.361 0.361 0.361 0.361 0.361 0.361 0.361 0.361 0.361 0.361 r Hitung> r Tabel r Hitung> r Tabel r Hitung< r Tabel r Hitung> r Tabel r Hitung> r Tabel r Hitung> r Tabel r Hitung> r Tabel r Hitung> r Tabel r Hitung> r Tabel r Hitung> r Tabel r Hitung> r Tabel r Hitung> r Tabel r Hitung< r Tabel r Hitung> r Tabel r Hitung> r Tabel r Hitung< r Tabel Valid Valid Tidak Valid Tidak Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Tidak Valid Valid Valid Tidak Valid uji validitas soal evaluasi siklus I di atas, terlihat bahwa 20 dari 30 item soal telah valid. Ke-20 item soal yang valid tersebut akan peneliti gunakan peneliti gunakan untuk mengukur prestasi siswa siklus I. Kisi-kisi soal evaluasi pilihan ganda siklus I setelah validitas dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel III.27 Kisi-kisi Soal Evaluasi Siklus I Setelah Validasi Standar Kompetensi: 6. Memahami beragam sifat dan perubahan benda serta berbagai cara penggunaan benda berdasarkan sifatnya. Kompetensi Dasar: Mendeskripsikan terjadinya perubahan wujud cair menjadi padat, padat menjadi cair; cair menjadi gas, gas menjadi cair; padat menjadi gas. TIDAK Indikator VALID VALID Menyebutkan proses terjadinya perubahan wujud cair 2 3 menjadi padat dan padat menjadi cair Menemukan peristiwa lain yang merupakan contoh 5,7,10 8 perubahan wujud cair menjadi padat menjadi cair Merancang percobaan yang merupakan contoh perubahan 6,9 1,4 wujud cair menjadi padat dan perubahan wujud padat menjadi cair

(111) 93 93 Menyebutkan proses terjadinya perubahan wujud cair menjadi gas dan gas menjadi cair Menemukan peristiwa lain yang merupakan contoh perubahan wujud cair menjadi gas menjadi cair Merancang percobaan yang merupakan contoh perubahan wujud cair menjadi gas dan perubahan wujud gas menjadi cair Menyebutkan proses terjadinya perubahan wujud padat menjadi gas Menemukan contoh peristiwa perubahan wujud padat menjadi gas Merancang percobaan yang merupakan contoh perubahan wujud padat menjadi gas Jumlah soal 13,16, 20 11 15 14 12, 19 17, 18 21,23,26 22,25,29 24,28 27, 30 20 10 Tabel di atas merupakan tabel kisi-kisi soal evaluasi siklus I. Terdapat 9 indikator pembelajaran dalam siklus I yang dijabarkan dalam 20 item soal evaluasi pilihan ganda. Selain soal evaluasi siklus I, peneliti juga melakukan uji validitas terhadap soal evaluasi siklus II. Validitas konstruk secara empiris soal evaluasi siklus II dilakukan pada 30 orang siswa kelas IV di SD Negeri Jongkang. Peneliti memilih SD Negeri Jongkang karena peneliti menganggap SD Negeri Jongkang memiliki karakteristik yang sama dengan SD tempat peneliti melakukan penelitian, yaitu SD Negeri Nogotirto. Penghitungan validasi soal evaluasi siklus II, sama dengan penghitungan validasi siklus I yaitu dengan korelasi product moment akan menggunakan program Statistical Product and Service Solution (SPSS) versi 16. Berikut tabel hasil penghitungan validasi soal evaluasi siklus II.

(112) 94 94 Tabel III.28 Hasil Uji Validitas Soal Evaluasi Siklus II No. Soal soal1 soal2 soal3 soal4 soal5 soal6 soal7 soal8 soal9 soal10 soal11 soal12 soal13 soal14 soal15 soal16 soal17 soal18 soal19 soal20 soal21 soal22 soal23 soal24 soal25 soal26 soal27 soal28 soal29 soal30 Corrected Item-Total Correlation (r Hitung) -.221 .241 .845” .111 .241 -.211 .241 .569” .383’ .593” .527” .440’ .723” .241 .486” -.083 .737” .723” .383’ .737” .737” .845” .771” .527” .737” .569” .845” .636” .241 .035 r Tabel (N= 30) 0.361 0.361 0.361 0.361 0.361 0.361 0.361 0.361 0.361 0.361 0.361 0.361 0.361 0.361 0.361 0.361 0.361 0.361 0.361 0.361 0.361 0.361 0.361 0.361 0.361 0.361 0.361 0.361 0.361 0.361 Perhitungan r Hitung < r Tabel r Hitung < r Tabel r Hitung > r Tabel r Hitung < r Tabel r Hitung < r Tabel r Hitung < r Tabel r Hitung < r Tabel r Hitung > r Tabel r Hitung > r Tabel r Hitung > r Tabel r Hitung > r Tabel r Hitung < r Tabel r Hitung > r Tabel r Hitung < r Tabel r Hitung > r Tabel r Hitung < r Tabel r Hitung > r Tabel r Hitung > r Tabel r Hitung > r Tabel r Hitung > r Tabel r Hitung > r Tabel r Hitung > r Tabel r Hitung < r Tabel r Hitung > r Tabel r Hitung > r Tabel r Hitung > r Tabel r Hitung > r Tabel r Hitung > r Tabel r Hitung < r Tabel r Hitung < r Tabel Keputusan Tidak Valid Tidak Valid Valid Tidak Valid Tidak Valid Tidak Valid Tidak Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Tidak Valid Valid Tidak Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Tidak Valid Tidak Valid Berdasarkan tabel di atas terlihat bahwa terdapat 20 item soal dari 30 item soal yang valid. Item soal yang valid itu akan peneliti gunakan untuk mengukur prestasi pada siklus II. Kisi-kisi soal evaluasi setelah validasi dapat dilihat pada tabel berikut

(113) 95 95 Tabel III.29 Kisi-Kisi Soal Evaluasi Siklus II Setelah Validasi Standar Kompetensi: Benda dan Sifatnya 6. Memahami beragam sifat dan perubahan benda serta berbagai cara penggunaan benda berdasarkan sifatnya. Kompetensi Dasar: 6.3 Menjelaskan hubungan antara sifat bahan dengan kegunaannya Tidak Indikator Valid valid Menyebutkan macam-macam bahan penyusun benda 21 1,5,7, Menemukan contoh benda berdasarkan bahan 2, 11,22 4,9, 29 penyusunnya Mengelompokkan benda berdasarkan bahan 3,10,23,24,25 6, 30 penyusunnya Menjelaskan sifat bahan penyusun benda 13,15,20,26 8, 18,27 16 Membedakan bahan penyusun suatu benda berdasarkan sifatnya 12, 17,19,28 14 Menganalisis kegunaan benda berdasarkan bahan penyusunnya Jumlah soal 20 10 Tabel di atas merupakan tabel kisi-kisi soal siklus II. Materi pembelajaran siklus II memiliki 6 indikator pembelajaran. Keenam indikator pembelajaran tersebut dijabarkan dalam 20 item soal evaluasi pilihan ganda pada siklus II. b. Validitas Instrumen Penelitian a) Validitas Lembar Wawancara Pada penelitian ini, validasi lembar wawancara diujikan secara konten pada dosen metodologi penelitian. Menurut Sugiyono (2012:177) uji validitas isi atau konten pada instrumen pembelajaran, dilakukan dengan membandingkan antara isi instrumen dengan isi atau rancangan yang telah ditetapkan. Berdasarkan hal tersebut, berikut kisi-kisi lembar wawancara

(114) 96 96 yang akan peneliti gunakan dalam tahap pra penelitian guna melihat ada tidaknya minat siswa dalam belajar. Tabel III.30 Kisi-kisi Lembar Wawancara Setelah Validitas No. Indikator Pernyataan 1. Siswa memiliki Apakah siswa menyiapkan alat tulis sebelum pelajaran rasa senang saat dimulai? pembelajaran IPA Apakah siswa bersikap ceria pada saat bekerjasama dalam kelompok? Apakah siswa sudah siap di dalam kelas untuk mengikuti seluruh pembelajaran? Apakah siswa bersukacita pada saat mengikuti pembelajaran IPA? Apakah siswa bersemangat saat mengerjakan soal IPA? Apakah siswa ingin mendapatkan nilai yang baik pada mata pelajaran IPA? Apakah siswa menyukai pelajaran IPA? 2. Siswa Apakah siswa memperhatikan seluruh proses memperhatikan pembelajaran? saat proses Apakah siswa menyimak penjelasan guru pada awal pembelajaran IPA pembelajaran IPA? Apakah siswa fokus saat mengerjakan tugas IPA? Apakah siswa berkonsentrasi saat memecahkan persoalan yang berkaitan dengan materi IPA? Apakah siswa mencatat hal-hal penting yang berkaitan dengan materi IPA? 3. Siswa terlibat Apakah siswa menjawab pertanyaan guru? dalam proses Apakah siswa ikut melakukan percobaan dalam pembelajaran IPA kelompok? Bagaimana siswa bekerja sama dengan kelompok? Apakah mengerjakan tugas saat pelajaran IPA? Bagaimana siswa menanggapi penjelasan guru? 4. Siswa berinisiatif Apakah siswa mempelajari materi atas kemauan diri mencari informasi sendiri? baru Apakah siswa membaca atau mencari materi dari sumber lain? Apakah siswa mau mempelajari kembali materi IPA yang sudah diajarkan? Apakah siswa bertanya hal-hal lain yang berkaitan dengan materi IPA? Apakah siswa tertarik melakukan percobaan pada saat pembelajaran IPA? Apakah siswa membuat ringkasan mengenai materi IPA sesuai kemauan diri sendiri? Jumlah 23 item peryataan

(115) 97 97 Tabel di atas merupakan tabel kisi-kisi lembar wawancara setelah divalidasi. Terdapat 23 pertanyaan yang telah dinyatakan valid dan menjadi kisi-kisi lembar wawancara berdasar tabel di atas. 23 pertanyaan tersebut akan digunakan peneliti dalam mengetuhui minat siswa dalam belajar IPA pada saat pra penelitian. b) Validitas Kuesioner Minat Pada penelitian ini, validitas kuesioner minat diujikan secara empiris. Sebelum kuesioner digunakan dalam penelitian, kuesioner tersebut diujikan terlebih dahulu untuk mengetahui kevalidannya. Peneliti melakukan uji validitas empiris kuesioner minat kepada 30 siswa di SD Negeri Nogotirto kelas V, sama dengan tempat peneliti melakukan penelitian. Peneliti memilih tempat yang sama dengan tempat penelitian karena peneliti kesulitan mencari SD yang memiliki karakteristik yang sama dengan SD Negeri Nogotirto. Berdasarkan hal tersebut, peneliti memutuskan untuk melakukan validasi di SD Nogotirto pada kelas yang setingkat diatas kelas peneliti melakukan penelitian yaitu pada kelas V. Kuesioner yang diujikan terdiri dari 4 indikator yang dijabarkan ke dalam 25 item pernyataan. Perhitungan validitas kuesioner menggunakan SPSS 16, dengan tujuan memudahkan peneliti dalam menghitung validitas dan realibilitas kuesioner. Penghitungan validitas instrumen kuesioner minat belajar menggunakan rumus korelasi product moment dari Pearson. Berikut hasil uji validitas empiris kuesioner minat dapat dilihat pada tabel berikut.

(116) 98 98 Tabel III.31 Hasil Uji Validitas Kuesioner Minat No. Item 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 r hitung 0,485 0,651 0,406 0,515 0,378 0,522 0,430 0,523 0,527 0,545 0,746 0,637 0,323 0,686 0,514 0,277 O,536 0,368 0,421 0,496 0,508 0,619 0,559 0,383 0,585 r tabel 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 Keterangan Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Tidak valid Valid Valid Tidak valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Berdasarkan tabel di atas terlihat bahwa 2 dari 25 item pada kuesioner minat tidak valid dan 23 item valid. Berdasarkan hasil tersebut, peneliti memutuskan menggunakan 23 item yang valid untuk mengukur minat siswa dalam kegiatan belajar IPA. Kisi-kisi kuesioner minat setelah dilakukan validasi dapat dilihat pada tabel berikut.

(117) 99 99 Tabel III.32 Kisi-kisi Kuesioner Minat Setelah Validitas No. Indikator Item Valid 1. Siswa Saya menyiapkan alat tulis sebelum pelajaran dimulai memiliki rasa Saya bersikap ceria pada saat bekerjasama dalam kelompok senang saat Saya sudah siap di dalam kelas untuk mengikuti seluruh pembelajaran pembelajaran IPA Saya bersukacita pada saat mengikuti pembelajaran IPA Saya bersemangat saat mengerjakan soal IPA Saya ingin mendapatkan nilai yang baik pada mata pelajaran IPA Saya menyukai pelajaran IPA 2. Siswa Saya memperhatikan seluruh proses pembelajaran memperhatika Saya menyimak penjelasan guru pada awal pembelajaran n saat proses IPA Saya fokus saat mengerjakan tugas IPA pembelajaran Saya berkonsentrasi saat memecahkan persoalan yang IPA berkaitan dengan materi IPA Saya mencatat hal-hal penting yang berkaitan dengan materi IPA 3. Siswa terlibat Saya menjawab pertanyaan guru dalam proses Saya ikut melakukan percobaan dalam kelompok Saya bekerja sama dengan kelompok pembelajaran Saya mengerjakan tugas saat pelajaran IPA IPA Saya menanggapi penjelasan guru 4. Siswa Saya mempelajari materi atas kemauan diri sendiri Saya membaca atau mencari materi dari sumber lain berinisiatif Saya mau mempelajari kembali materi IPA yang sudah mencari informasi baru diajarkan Saya bertanya hal-hal lain yang berkaitan dengan materi IPA Saya tertarik melakukan percobaan pada saat pembelajaran IPA Saya membuat ringkasan mengenai materi IPA sesuai kemauan diri sendiri 23 item pernyataan Jumlah Tabel di atas merupakan tabel kisi-kisi kuesioner setelah divalidasi. Terdapat 23 pernyataan yang telah dinyatakan valid dan menjadi kisi-kisi kuesioner berdasar tabel di atas. 23 pernyataan tersebut merupakan penjabaran dari 4 indikator minat. Indikator rasa senang dijabarkan dalam 7

(118) 100 100 pernyataan. Indikator perhatian dan keterlibatan masing-masing dijabarkan dalam 5 pernyataan, sedangkan indikator inisiatif dijabarkan dalam 6 pernyataan. c) Validitas Lembar Pengamatam Sama seperti lembar pengamatan, validasi lembar pengamatan diujikan secara konten pada dosen metodologi penelitian. Menurut Sugiyono (2012:177) uji validitas isi atau konten pada instrumen pembelajaran, dilakukan dengan membandingkan antara isi instrumen dengan isi atau rancangan yang telah ditetapkan. Berdasarkan hal tersebut, berikut kisi-kisi lembar pengamatan yang akan peneliti gunakan dalam tahap pra penelitian guna melihat ada tidaknya minat siswa dalam belajar. Tabel III.33 Kisi-kisi Lembar Pengamatan Minat Setelah Validitas No. Indikator Pernyataan 1. Siswa memiliki rasa senang saat pembelajaran IPA 2. Siswa memperhatika n saat proses pembelajaran IPA 3. Siswa terlibat dalam proses Siswa menyiapkan alat tulis sebelum pelajaran dimulai Siswa bersikap ceria pada saat bekerjasama dalam kelompok Siswa sudah siap di dalam kelas untuk mengikuti seluruh pembelajaran Siswa bersukacita pada saat mengikuti pembelajaran IPA Siswa bersemangat saat mengerjakan soal IPA Siswa memperhatikan seluruh proses pembelajaran Siswa menyimak penjelasan guru pada awal pembelajaran IPA Siswa fokus saat mengerjakan tugas IPA Siswa berkonsentrasi saat memecahkan persoalan yang berkaitan dengan materi IPA Siswa mencatat hal-hal penting yang berkaitan dengan materi IPA Siswa melihat guru ketika guru sedang memberikan contoh yang berkaitan dengan materi IPA Siswa menjawab pertanyaan guru Siswa ikut melakukan percobaan dalam kelompok Siswa memberikan pendapat saat diskusi kelompok

(119) 101 101 pembelajaran IPA 4. Siswa berinisiatif mencari informasi baru Jumlah Siswa bekerja sama dengan kelompok Siswa mengerjakan tugas saat pelajaran IPA Siswa menanggapi penjelasan guru Siswa mempelajari materi atas kemauan diri sendiri Siswa membaca atau mencari materi dari sumber lain Siswa mau mempelajari kembali materi IPA yang sudah diajarkan Siswa bertanya hal-hal lain yang berkaitan dengan materi IPA Siswa tertarik melakukan percobaan pada saat pembelajaran IPA Siswa membuat ringkasan mengenai materi IPA sesuai kemauan diri sendiri 23 item Tabel di atas merupakan tabel kisi-kisi lembar pengamatan setelah divalidasi. Terdapat 23 pertanyaan yang telah dinyatakan valid dan menjadi kisi-kisi lembar pengamatan berdasar tabel di atas. 23 pertanyaan tersebut akan digunakan peneliti dalam mengetuhui minat siswa dalam belajar IPA pada saat pra penelitian. 2. Reliabilitas Peneliti juga melakukan uji reliabilitas terhadap soal evaluasi dan lembar kuesioner. Reliabilitas adalah ketetapan atau keajegan instrumen dalam menilai apa yang yang akan dinilai. Kapanpun instrumen tersebut digunakan, maka akan memberikan hasil yang relatif sama (Sudjana, 2009: 16). Peneliti menggunakan teknik Cronbach’s Alpha dengan SPSS 16 dalam melakukan perhitungan reliabilitas soal evaluasi dan kuesioner. Hal ini bertujuan untuk memudahkan peneliti menghitung reliabilitas soal evaluasi dan kuesioner. Setelah didapat hasil perhitungan reliabilitas selanjutnya hasil tersebut dibandingkan dengan kriteria koefisien korelasi (Masidjo, 1995:

(120) 102 102 209) guna mengetahui tingkat reliabilitas soal evaluasi dan kuesioner yang dibuat peneliti. Berikut tabel kriteria koefisiensi korelasi menurut Masidjo. Tabel III.34 Tabel Koefisiensi Korelasi Koefisien Korelasi 0,91-1,00 0,71-0,90 0,41-0,70 0,21-0,40 Negatif-0,20 Kualifikasi Sangat Tinggi Tinggi Cukup Rendah Sangat Rendah Berikut ini tabel hasil uji reliabilitas kuesioner dan soal pilihan ganda dalam penelitian ini: Tabel III.35 Hasil Uji Reliabilitas Kuesioner Reliability Statistics Cronbach's Alpha N of Items .879 23 Tabel di atas menunjukkan bahwa hasil perhitungan reliabilitas pada lembar kuesioner yang menggunakan SPSS 16 adalah 0,874. Hasil tersebut apabila dibandingkan dalam kriteria koefisien korelasi, dapat dikatakan bahwa lembar kuesioner yang peneliti buat memiliki memiliki reliabilitas yang tinggi. Selain reliabilitas lembar kuesioner, peneliti juga melakukan uji reliabitas terhadap soal evaluasi siklus I dan soal evaluasi siklus II. Berikut hasil uji reliabilitas soal evaluasi siklus I.

(121) 103 103 Tabel III.36 Hasil Uji Reliabilitas Soal Evaluasi Siklus I Reliability Statistics Cronbach's Alpha N of Items .918 20 Berdasarkan tabel di atas, hasil uji reliabilitas pada soal evaluasi siklus I adalah 0,918. Hasil tersebut menunjukkan bahwa soal evaluasi yang telah peneliti buat termasuk ke dalam kategori sangat tinggi karena berada dalam interval 0,710,90, yang merupakan kategori sangat tinggi. Selain uji reliabilitas siklus I, peneliti juga melakukan uji reliabitas soal evaluasi siklus II. Berikut hasil uji reliabilitas soal evaluasi pada siklus II pada tabel berikut. Tabel III.37 Hasil Uji Reliabilitas Soal Evaluasi Siklus II Reliability Statistics Cronbach's Alpha .934 N of Items 20 Tabel di atas menunjukkan bahwa hasil uji reliabilitas dengan teknik alpha conbrach’s adalah 0,934. Hal ini menunjukkan hasil tersebut dalam tabel koefisiensi korelasi berada dalam interval 0,91-1,00 yang berarti soal evaluasi siklus II yang dibuat peneliti mempunyai tingkat reliabilitas yang sangat tinggi.

(122) 104 104 3. Indeks Kesukaran Indeks kesukaran merupakan hasil perbandingan antara jawaban benar yang didapat dengan jawaban benar yang seharusnya diperoleh dari suatu item (Masidjo, 2010: 189). Suatu soal dikatakan baik apabila memiliki tingkat kesukaran yang seimbang antara soal yang sukar, sedang dan mudah. Berikut kriteria indeks kesukaran terlihat pada tabel berikut. Tabel III.38 Kriteria Indeks Kesukaran Indeks 0,81 – 1,00 0,61 – 0,80 0,41 – 0,60 0,21 – 0,40 0,00 – 0,20 Kategori Mudah sekali Mudah Sedang/Cukup Sukar Sukar sekali Peneliti melihat indeks kesukaran soal evaluasi siklus I dan siklus II untuk memlihat kualitas soal evalusi yang peneliti buat. Indeks kesukaran ini dihitung dengan rumus Keterangan: IK = Indeks Kesukaran Σx = Banyaknya peserta tes yang menjawab benar N = Jumlah peserta tes

(123) 105 105 Berdasarkan rumus dan kriteria tersebut, berikut indeks kesukaran soal evaluasi siklus I yang telah peneliti hitung, berdasarkan hasil uji coba 30 orang siswa di SD Negeri Nogotirto. Tabel III.39 Indeks Kesukaran Soal Evaluasi Siklus I No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Jumlah Jawaban Benar 27 15 5 23 15 12 15 16 22 24 15 Skor Maksimal 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Jumlah Siswa 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 Indeks Kesukaran 0,90 0,50 0,17 0,77 0,50 0,40 0,50 0,53 0,73 0,80 0,50 Mudah sekali Cukup Sukar Sekali Mudah Cukup Sukar Cukup Cukup Mudah Mudah Cukup 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 24 15 14 15 18 10 9 15 20 15 24 5 21 14 15 5 15 20 17 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 0,80 0,50 0,47 0,50 0,60 0,33 0,30 0,50 0,67 0,50 0,80 0,17 0,70 0,47 0,50 0,17 0,50 0,67 0,57 Mudah Cukup Cukup Cukup Cukup Sukar Sukar Cukup Mudah Cukup Mudah Sukar Sekali Mudah Cukup Cukup Sukar Sekali Cukup Mudah Cukup Kriteria

(124) 106 106 Berdasarkan tabel hasil uji indeks kesukaran soal evaluasi siklus I di atas, ada 3 soal termasuk dalam kriteria sukar. 15 soal dalam termasuk soal yang sedang/cukup, dan 9 soal yang termasuk dalam soal yang mudah dan 1 soal yang termasuk dalam kriteria soal yang mudah sekali. Setelah melakukan uji indeks kesukaran soal, kisi-kisi indeks kesukaran soal dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel III.40 Tabel Indeks Kesukaran Soal Evaluasi Siklus 1 No. Soal 1 Menyebutkan proses terjadinya perubahan wujud cair menjadi padat dan padat menjadi 3 cair 7 Menemukan peristiwa lain yang merupakan 5 contoh perubahan wujud cair menjadi padat 8 menjadi cair 10 2 Merancang percobaan yang merupakan 4 contoh perubahan wujud cair menjadi padat 6 dan perubahan wujud padat menjadi cair 9 11 Menyebutkan proses terjadinya perubahan wujud cair menjadi gas dan gas menjadi 13 cair 16 14 Menemukan peristiwa lain yang merupakan 15 contoh perubahan wujud cair menjadi 17 gasmenjadi cair 20 12 Merancang percobaan yang merupakan contoh perubahan wujud cair menjadi gas 18 dan perubahan wujud gas menjadi cair 19 21 Menyebutkan proses terjadinya perubahan 23 wujud padat menjadi gas 26 22 Menemukan contoh peristiwa perubahan 25 wujud padat menjadi gas 29 24 Merancang percobaan yang merupakan contoh perubahan wujud padat menjadi gas 27 Indikator MS √ Kisi-kisi MD C SK √ √ √ √ √ √ √ √ √ SS √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √

(125) 107 107 √ √ 28 30 Keterangan: MS: Mudah Sekali MD: Mudah C: Cukup SK: Sukar SS: Sukar Sekali Tabel di atas menjelaskan tentang indeks kesukaran dari soal evaluasi siklus I. Selain indeks kesukaran siklus I, peneliti juga menghitung indeks kesukaran soal pada soal evaluasi siklus II. Berikut perhitungan indeks kesukaran soal evaluasi siklus II pada tabel berikut. Tabel III.41 Indeks Kesukaran Soal Evaluasi Siklus II No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Jumlah Jawaban Jumlah Benar Siswa 26 30 11 30 25 30 22 30 24 30 25 30 18 30 25 30 22 30 15 30 30 30 27 30 27 30 16 30 25 30 25 30 13 30 28 30 28 30 19 30 Skor Maksimal 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Indeks Kesukaran 0.87 0.37 0.83 0.73 0.80 0.83 0.60 0.83 0.73 0.50 1.00 0.90 0.90 0.53 0.83 0.83 0.43 0.93 0.93 0.63 Kriteria mudah sekali sukar mudah sekali mudah mudah mudah sekali sedang mudah sekali mudah sedang mudah sekali mudah sekali mudah sekali sedang mudah sekali mudah sekali sedang mudah sekali mudah sekali mudah

(126) 108 108 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 25 28 16 29 11 28 28 27 19 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0.83 0.93 0.53 0.97 0.37 0.93 0.93 0.90 0.63 1.00 mudah sekali mudah sekali sedang mudah sekali sukar mudah sekali mudah sekali mudah sekali mudah mudah sekali Berdasarkan tabel hasil uji indeks kesukaran soal evaluasi siklus II di atas, ada 2 soal termasuk dalam kriteria sukar. 5 soal dalam termasuk sedang, dan 5 soal termasuk dalam kriteria soal yang mudah dan 18 soal termasuk dalam kriteria soal yang mudah seklali. Berdasarkan perhitungan tersebut, berikut kisikisi indeks kesukaran soal evaluas siklus II. Tabel III.42 Tabel Indeks Kesukaran Soal Evaluasi Siklus II Indikator Menyebutkan macam-macam penyusun benda bahan 1 5 7 21 25 Menemukan contoh benda berdasarkan 2 bahan penyusunnya 4 9 22 29 Mengelompokkan benda berdasarkan 3 bahan penyusunnya 6 10 23 30 Menjelaskan sifat bahan penyusun 8 benda 13 No.Soal Kisi-kisi MS MD C √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ SK √ √ SS

(127) 109 109 15 20 26 Membedakan bahan penyusun suatu 11 benda berdasarkan sifatnya 16 18 24 27 Menganalisis kegunaan benda 12 berdasarkan bahan penyusunnya 14 17 19 28 MS: Mudah Sekali MD: Mudah C: Cukup SK: Sukar SS: Sukar Sekali √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ G. Teknik Analisis Data Data yang dianalisis adalah data minat dan prestasi belajar siswa. Data minat belajar siswa dianalisis melalui penghitungan pada lembar kuesioner, sedangkan prestasi belajar dianalisis melalui perhitungan soal evaluasi yang telah dikerjakan siswa. 1. Analisis Minat belajar Analisis minat belajar siswa peneliti hitung dengan menggunakan kuesioner minat dan didukung dengan lembar observasi. Peneliti melihat minat siswa melalui empat indikator minat belajar yang dijabarkan ke dalam 12 item pernyataan. Masing-masing pernyataan memiliki 5 alternatif jawaban yaitu sangat setuju, setuju, cukup setuju, tidak setuju, dan sangat tidak setuju. Penyekoran yang digunakan untuk tiap pilihan jawaban menggunakan

(128) 110 110 skala sikap Likert (Sugiyono, 2011: 136). Penyekoran pada tiap jawaban kuesioner dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel III.43 Skor Alternatif Pilihan Jawaban Alternatif Jawaban Sangat Setuju Setuju Ragu-ragu Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju Skor 5 4 3 2 1 Berdasarkan tabel di atas, skor maksimal terdapat pada alternatif jawaban sangat setuju dengan skor 5. Skor minimal terdapat pada alternatf jawaban sangat tidak setuju dengan skor 1. Berdasarkan penyekoran dari alternatif jawaban tersebut, maka siswa akan memperoleh skor maksimal 115 apabila menjawab seluruh pernyataan (23 pernyataan) dengan jawaban sangat setuju. Sebaliknya siswa akan memperoleh skor minimal 23 apabila siswa menjawab seluruh pernyataan dengan jawaban sangat tidak setuju. Berdasarkan selisih perhitungan skor maksimal dan minimal tersebut dapat dihitung jangkauan data atau range (r). Jangkaua data digunakan untuk menentukan lebar kelas. Purwantiningsih (2010: 10) menyatakan bahwa dalam menentukan lebar kelas suatu interval, dilakukan dengan membagi jangkuan data (r) dengan banyaknya kelas (k). Peneliti menentukan 5 interval yang akan digunakan untuk menentukan kriteria minat belajar, dalam penelitian ini. Berikut tabel kriteria minat siswa yang telah peneliti buat.

(129) 111 111 Tabel III.44 Kriteria Tingkat Minat Belajar Skor 23 – 41 42 – 60 61 – 79 80 – 98 99 – 117 Kriteria Minat Belajar Sangat Rendah Rendah Cukup Tinggi Sangat Tinggi Berdasarkan di atas, siswa memiliki minat yang sangat rendah apabila berada pada rentang skor 23 sampai 41. Siswa memiliki minat yang rendah apabila berada dalam rentang 42 sampai 60. Siswa memiliki minat cukup apabila dalam rentang skor 61 hingga 79. Siswa memiliki minat tinggi apabila berada pada rentang skor 80 hingga 98, sedangkan apabila siswa berada dalam rentang skor 99 -117 berarti siswa memiliki minat sangat tinggi. Guna menghitung persentase siswa yang memiliki minimal cukup berminat. Persentase siswa yang masuk kategori minimal cukup berminat dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut: Selain menghitung persentase siswa yang cukup berminat, peneliti juga menghitung rata-rata skor minat pada tiap indiktor. Berikut rumus untuk menghitung rata-rata skor minat tiap indikator: Rata-rata skor minat =

(130) 112 112 Hasil dari perhitungan rata-rata skor tiap indikator minat tersebut kemudian dibandingkan dengan data kondisi awal dan target keberhasilan untuk menentukan apakah terjadi peningkatan minat pada tiap indikator atau tidak. 2. Analisis Prestasi Belajar Prestasi belajar siswa peneliti lihat melalui 3 ranah pembelajaran yaitu kognitif, afektif, dan psikomotor. Ranah kognitif, peneliti ukur dengan soal pilihan ganda pada evaluasi. Ranah afektif diukur dengan menggunakan kuesioner minat, sedangkan ranah psikomotorik, peneliti menggunakan rubrik penilaian psikomotorik. a. Penyekoran  Ranah kognitif soal pilihan ganda: Jawaban benar bernilai 1 Jawaban salah bernilai 0 Rumus menghitung soal evaluasi:  Ranah afektif Perhitungan nilai afektif adalah sebagi berikut:  Ranah psikomotorik

(131) 113 113 b. Nilai akhir siswa c. Persentase jumlah siswa yang mencapai KKM SD Negeri Nogotirto menentukan bahwa nilai KKM IPA adalah 67. Siswa dikatakan berhasil apabila memiliki nilai yang melebihi KKM yang telah ditetapkan oleh sekolah. Berdasarkan hal tersebut, peneliti menetapkan keberhasilan prestasi siswa sah satunya dengan membandingkan nilai evaluasi siswa dengan KKM sekolah. Peneliti melihat persentase siswa yang memenuhi KKM untuk melihat keberhasilan penelitian. Berikut cara menentukan persentase jumlah siswa yang mencapai KKM: d. Rata-rata nilai kelas Peneliti juga menghitung rata-rata nilai kelas dalam menentukan keberhasilan penelitian. Cara yang digunakan untuk menghitung ratarata nilai kelas dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

(132) 114 114 Membandingkan nilai rata-rata kelas dan persentase jumlah siswa yang mencapai KKM dengan target (indikator keberhasilan) untuk menentukan kesimpulan apakah terjadi peningkatan atau tidak terjadi peningkatan. H. Kriteria Keberhasilan 1. Indikator Keberhasilan Indikator keberhasilan pada siklus I dan siklus II ditentukan sebelum penelitian dengan mempertimbangkan beberapa hal, antara lain data siswa pada kondisi awal dan informasi yang diperoleh dari guru mengenai karakteristik siswa. Ketercapaian Indikator keberhasilan dilakukan dengan cara membandingkan data ketercapaian setiap akhir siklus dengan kondisi awal seperti pada tabel berikut. Guna melihat keberhasilan penelitian, maka peneliti perlu melihat ketercapaian indikator penelitian tersebut. Apabila terdapat peningkatan dari sebelum dilakukan tindakan, setelah tindakan siklus I, dan setelah tindakan siklus II, maka penelitian tersebut dikatan berhasil. Keberhasilan tersebut dapat dilihat dari adanya peningkatan perhitungan pada tiap indikator minat. Indikator minat ada 4 yaitu perasaan senang yang ditunjukkan siswa, perhatian siswa selama kegiatan pembelajaran, keterlibatan siswa dalam kegiatan pembelajaran, dan inisiatif siswa untuk mencari informasi lain yang berhubungan dengan materi yang dipelajari. Kondisi awal minat siswa dalam belajar didapat dari penghitungan penjumlahan data hasil

(133) 115 115 pengamatan dan lembar kuesioner minat oleh siswa sebelum dilakukan tindakan atau sebelum silakukan penelitian. Sedangkan kondisi awal prestasi belajar siswa dalam penelitian ini dilihat dari nilai rata-rata siswa dalam satu kelas dan jumlah siswa yang mencapai KKM dalam satu kelas. Apabila didapat adanya peningkatan minat dan prestasi belajar siswa dari data awal setelah setelah dilakukan tindakan dengan adanya ketercapaian target pada tiap indikator, maka penelitian dikatan berhasil. Berikut indikator keberhasilan yang ditargetkan oleh peneliti dalam penelitian ini. Tabel III.45 Target Keberhasilan Siklus I Variabel dan Kondisi Indikator Awal Minat 1. Perasaan senang. 3,39 No. 2. 3. 4. 5. 1. Perhatian siswa dalam belajar. Keterlibatan siswa dalam kegiatan pembelajaran. Inisiatif siswa untuk mencari informasi lain yang berhubungan dengan materi. Persentase siswa yang memiliki minimal cukup berminat Target siklus I 3,89 2,89 3,39 3,04 3,59 1,93 61,54% Siswa yang 57,2% memenuhi KKM 2,43 75% 68% Deskriptor Jumlah skor minat seluruh siswa pada indikator 1 dibagi jumlah seluruh siswa Jumlah skor minat seluruh siswa pada indikator 2 dibagi jumlah seluruh siswa Jumlah skor minat seluruh siswa pada indikator 3 dibagi jumlah seluruh siswa Jumlah skor minat seluruh siswa pada indikator 4 dibagi jumlah seluruh siswa Jumlah siswa yang memiliki minimal cukup berminat dibagi jumlah seluruh siswa dikali 100% Jumlah siswa yang lulus KKM dibagi dengan jumlah seluruh

(134) 116 116 2. Rata-rata kelas 73 84 siswa dikali 100% Jumlah nilai seluruh siswa dibagi jumlah seluruh siswa Tabel di atas menunjukkan bahwa kondisi awal minat belajar dan prestasi belajar siswa belum optimal (belum mencapai 100%). Minat belajar siswa yang belum optimal dapat terlihat dari nilai rata-rata empat indikator minat. Indikator rasa senang rata-ratanya 3,39. Indikator perhatian, rata-ratanya 2,89, indikator keterlibatan 3,04 dan indikator inisiatif 1,93. Selain minat perindikator, peneliti juga menghitung persentase minat siswa dalam satu kelas. Persentase minat siswa pada kondisi awal adalah 61,54%. prestasi belajar siswa juga masih belum optimal. Hal ini terlihat dari persentase nilai rata-rata kelas dan persentase siswa yang mencapai KKM. Siswa yang mencapai KKM hanya 70,9%, dan rata-rata nilai kelas adalah 73,7. Melihat belum optimalnya minat dan prestasi belajar siswa, peneliti kemudian melakukan penelitian tindakan kelas untuk meningkatkan minat dan prestasi belajar siswa. Guna melihat keberhasilan penelitian yang akan peneliti lakukan, peneliti menetukan target peningkatan minat dan prestasi belajar. Berikut target yang peneliti tentukan terhadap minat dan prestasi belajar siswa. Siswa memiliki rasa senang saat pembelajaran IPA berlangsung skor rataratanya 3,89. Siswa yang memperhatikan saat proses pembelajaran IPA berlangsung skor rata-ratanya 3,39. Siswa yang terlibat dalam proses pembelajaran IPA yaitu 3,59 Sedangkan siswa yang berinisiatif

(135) 117 117 mencari informasi baru yaitu 2,43. Target peneliti terhadap prestasi belajar siswa yaitu siswa yang memenuhi KKM ada 68% dan nilai rata-rata kelas 84.

(136) BAB IV DESKRIPSI, HASIL PENELITIAN, DAN PEMBAHASAN Bab ini akan membahas hasil penelitian tindakan kelas yang telah peneliti lakukan dengan model PBL di SD Negeri Nogotirto. A. Deskripsi Penelitian Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang berjudul “Peningkatan Minat dan Prestasi Belajar IPA dengan Menggunakan Pendekatan SCL Model Problem Based Learning Pada Siswa Kelas IVA SD Negeri Nogotirto Tahun Pelajaran 2013/2014”. Ruang kelas IVA terletak di belakang ruang guru dan ruang kepala sekolah. Terdapat satu lemari buku, satu papan tulis, satu meja guru dan 30 meja dan kursi siswa. Kelas IVA terdiri dari 16 siswa perempuan dan 11 siswa laki-laki. Penelitian ini dilaksanakan dengan dua siklus. Siklus pertama dilaksanakan sebanyak tiga pertemuan yaitu pada tanggal 11 November 2013, 13 November 2013 dan 14 November 2013. Sedangkan siklus kedua dilaksanakan sebanyak dua kali pertemuan yaitu pada tanggal 20 November 2013, dan 21 November 2013. Waktu yang diperlukan pada setiap pertemuan adalah 2 x 35 menit. 118

(137) 119 119 1. Siklus I Penelitian siklus I ini dilakukan di SD Negeri Nogotirto kelas IVA dengan jumlah siswa 27 orang. Penelitian ini dilakukan dalam tiga kali petemuan yaitu pada tanggal 11 November 2013, 13 November 2013, dan 14 November 2013. Materi yang akan diajarkan pada siklus I ini adalah tentang perubahan wujud benda. Pada penelitian ini peneliti bertugas sebagai asisten guru dimana peneliti membantu guru dalam mengajar. Peneliti dipersilahkan untuk membantu guru dalam mengajar apabila guru lupa urutan pembelajaran yang ada dalam RPP. Pada penelitian ini peneliti meneliti variabel minat dan prestasi dengan menggunakan metode problem based learning (PBL). a. Perencanaan Pada tahap perencanaan, peneliti mempersiapkan segala sesuatu yang peneliti butuhkan dalam pembelajaran guna meningkatkan minat dan prestasi siswa seperti menyusun silabus, RPP, ringkasan materi, LKS, soal evaluasi, dan media pembelajaran dengan menggunakan model Problem Based Learning. Hal tersebut peneliti lakukan setelah peneliti memperoleh SK dan KD yang dapat peneliti gunakan. Selain itu peneliti juga mempersiapkan instrumen penelitian berupa lembar pengamatan serta lembar kuesioner yang telah peneliti susun sebelumnya dan telah divalidasi untuk mengukur minat siswa dalam belajar. Selanjutnya peneliti melakukan uji validitas dan uji reliabilitas terhadap instrumen yang telah peneliti buat.

(138) 120 120 Uji validitas peneliti lakukan pada tiga ahli yang terdiri dari dosen, guru mata pelajaran IPA, dan kepala sekolah. Setelah penilaian dari ketiga ahli tersebut dirasa sudah cukup untuk mengukur mutu instrumen pembelajaran yang akan peneliti gunakan, peneliti memutuskan untuk menggunakan instrument pembelajaran tersebut untuk penelitian. Selain melakukan uji validitas pada ahli, peneliti juga melakukan validitas empiris untuk menguji soal evaluasi dan lembar kuesioner yang peneliti buat. Validasi empiris soal evaluasi siklus I dan lembar koesioner peneliti lakukan pada 30 siswa kelas VB di SD Negeri Nogotirto. Peneliti memilih SD yang sama dengan tempat peneliti melakukan penelitian karena peneliti kesulitan mencari SD yang memiliki karakteristik yang sama dengan SD penelitian. Selain itu peneliti memilih kelas V dalam melakukan uji validitas karena peneliti menganggap bahwa siswa kelas V telah menerima materi pembelajaran soal evaluasi siklus I pada kelas IV. b. Pelaksanaan siklus I Penelitian siklus I ini dilaksanakan dalam 3 kali pertemuan. Pertemuan 1 berlangsung pada tanggal 11 November 2013. Pertemuan 2 berlangsung pada tanggal 13 November 2013 sedangkan pertemuan 3 berlangsung pada tanggal 14 November 2013. Berikut uraian pelaksanaan pada tiap pertemuan.

(139) 121 121 a) Pertemuan 1 Pertemuan 1 akan dilaksanakan sesuai dengan instrumen pembelajaran yang telah dibuat sebelumnya. Pertemuan 1 dilakukan dengan model pembelajaran PBL dengan metode tanya jawab, presentasi, diskusi kelompok dan ceramah. Kegiatan pembukaan pada pertemuan 1 dilakukan dengan doa, salam pembukaan dan presensi. Setelah kegiatan pembuka, peneliti menyanyikan lagu “ibu guru punya kotak” sebagai motivasi. Guru dan siswa kemudian melakukan tanya jawab mengenai lagu yang telah dinyanyikan dan menunjukkan beberapa gambar cokelat dalam kegiatan apersepsi. Setelah itu guru menyampaikan tujuan pembelajaran tentang bagaimana perubahan wujud benda cair-padat-cair dan selanjutnya masuk ke dalam kegiatan inti. Kegiatan inti diawali dengan kegiatan mengidentifikasi masalah yang dilakukan oleh siswa dalam kelompok kecil. Siswa dibantu dengan guru memahami masalah yang mereka dapatkan yaitu bagaimana proses perubahan wujud benda cair ke padat kemudian berubah menjadi cair lagi. Benda yang digunakan dalam pertemuan ini adalah cokelat. Jadi siswa diminta untuk memahami bagaimana cokelat yang awalnya cair dapat berubah menjadi padat dan kemudian berubah menjadi cari lagi. Siswa dengan bimbingan guru menemukan jawaban sementara berdasarkan hasil analisis yang mereka lakukan. Setelah siswa memahami masalah yang

(140) 122 122 didapat dan menentukan jawaban sementara, siswa kemudian merancang kegiatan penyelesaian masalah. Siswa merancang suatu percobaan untuk membuktikan kebenaran jawaban sementara yang mereka buat sebelumnya. Langkah-langkah, alat dan bahan yang digunakan dalam percobaan, siswa tulis dalam LKS. Selanjutnya siswa melaksanakan kegiatan penyelesaian masalah dengan melakukan percobaan berdasarkan alat, bahan dan langkahlangkah yang telah mereka susun. Pada saat melakukan percobaan, siswa melakukan kegiatan tutorial berupa melaporkan sejauh mana pelaksanaan kegiatan yang mereka lakukan dan meminta saran pada guru apabila menghadapi kesulitan dalam pelaksanaan kegiatan. Selanjutnya siswa melanjutkan kegiatan penyelesaian masalah dengan melanjutkan percobaan berdasarkan saran yang mereka dapat dari guru. Setelah kegiatan penyelesaian masalah selesai dilakukan, siswa menyusun laporan atas kegiatan penyelesaian masalah dan mempresentasikan hasil laporannya di depan kelas. Tahap selanjutnya setelah menyusun laporan adalah penilaian. Penilaian dilakukan guru pada saat kegiatan tutorial dengan melihat kegiatan siswa saat melakukan kegiatan percobaan dengan menggunakan rubrik penilaian psikomotor. Selanjutnya setelah kegiatan inti selesai, dilanjutkan pada kegiatan konfirmasi. Pada kegiatan konfirmasi ini siswa bersama guru kemudian

(141) 123 123 membuat kesimpulan tentang materi yang dipelajari berdasarkan kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan. Selain itu siswa dan guru juga melakukan tanya jawab tentang materi yang belum dimengerti siswa. Lanjutan dari kegiatan konfirmasi, adalah kegiatan penutup. Kegiatan penutup dilakukan dengan penyampaian tindak lanjut, pengisian kuesioner dan refleksi serta salam penutup. b) Pertemuan II Pertemuan II pada dasarnya sama denngan pertemuan I. Perbedaannya hanya pada materi yang diajarkan. Pada pertemuan II, materi yang diajarkan adalah tentang perubahan wujud benda daric air ke gas, kemudian berubah ke cair lagi (cair-gas-cair). Pada kegiatan awal pertemuan kedua, kegiatan diawali dengan salam, doa dan absensi. Selanjutnya guru memberikan motivasi pada siswa dengan mengajak siswa untuk melakukan yel-yel “peel banana” yang disertai dengan gerakan. Setelah itu siswa dan guru melakukan tanya jawab terkait dengan yel-yel yang telah dilakukan, yang berkaitan dengan materi yang akan dipelajari pada hari ini. Siswa kemudian mendapat penjelasan tentang materi yang akan dipelajari pada pertemuan kedua yaitu tentang perubahan benda dari cair ke gas dan kemudian berubah menjadi cair kembali.

(142) 124 124 Kegiatan dilanjutkan dengan kegiatan inti. Pada tahap eksplorasi, guru menampilkan gambar seri tentang kegiatan seseorang yang merebus air dan meminum air tersebut dengan menambahkan es kedalamnya. Berdasarkan gambar tersebut, siswa dan guru kemudian melakukan tanya jawab terkait dengan gambar yang diperlihatkan guru. Selanjutnya siswa diminta untuk duduk dalam kelompok yang telah dibentuk pada pertamuan sebelumnya dan diberikan dua pertanyaan atau dua masalah terkait dengan gambar yang diperlihatkan guru. Guna menjawab pertanyaan guru siswa dalam kelompok kemudian diberikan LKS, dan selanjutnya guru bersama siswa mendiskusikan LKS yang telah diterima siswa. Tahap pada kegiatan inti selanjutnya adalah tahap elaborasi. Pada tahap ini siswa diminta untuk mengidentifikasi masalah. Siswa berdiskusi dalam kelompok untuk memahami masalah yang disampaikan oleh guru dan menuliskan jawaban sementara terkait masalah yang dihadapi dalam LKS. Guna memecahkan masalah yang dihadapi siswa kemudian merancang kegiatan penyelesaian masalah. Pada tahap ini siswa merancang sebuah percobaan sederhana untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Siswa menuliskan alat, bahan, dan urutan kegiatan percobaan dalam LKS.

(143) 125 125 Selesai merancang kegiatan penyelesaian masalah, siswa melaksanakan kegiatan penyelesaian masalah dengan melaksanakan rancangan kegiatan yang dibuat sebelumnya dengan melakukan percobaan sederhana. Selama kegiatan percobaan, siswa melakukan kegiatan tutorial dengan melaporkan perkembangan percobaan yang dilakukan dan meminta saran pada guru apabila mengalami kesulitan selama melakukan percobaan. Setelah mendapat saran guru, siswa melanjutkan kegiatan penyelesaian masalah dengan melanjutkan percobaan yang telah dilakukan sebelumnya berdasarkan saran yang diberikan guru. Setelah kegiatan penyelesaian masalah selesai dilaksanakan, kegiatan dilanjutkan dengan menyusun laporan. Laporan berisi proses percobaan yang telah dilakukan dan jawaban atas pertanyaan guru yang telah didapatkan berdasarkan percobaan yang dilakukan. Laporan tersebut ditulis dalam LKS. Selanjutnya siswa diminta untuk mempresentasikan hasil laporan di depan kelas Tahap selanjutnya setelah menyusun laporan adalah penilaian. Penilaian dilakukan guru pada saat kegiatan tutorial dengan melihat kegiatan siswa saat melakukan kegiatan percobaan dengan menggunakan rubrik penilaian psikomotor. Kegiatan inti dilanjutkan pada tahap terakhir yaitu tahap konfirmasi. Pada tahap ini guru dan siswa menyimpulkan

(144) 126 126 kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan dan melakukan tanya jawab terhadap materi yang belum dimengerti siswa. Setelah kegiatan inti selesai, kegiatan dilanjutkan dengan kegiatan akhir. pada kegiatan akir ini siswa dan guru melakukan kegiatan refleksi, membahas materi yang akan dipelajari pada pertemuan selanjutnya (kegiatan tindak lanjut), doa, dan salam penutup. Selain itu, pada kegiatan akhir juga dilakukan kegiatan pengisian kuesioner oleh siswa. c) Pertemuan III Pertemuan ketiga diawali dengan kegiatan doa, salam, absensi oleh guru dan apersepsi. Selanjutnya kegiatan dilanjutkan dengan motivasi. Motivasi dilakukan guru bersama siswa dengan melakukan tepuk “I’m the best”. Selanjutnya guru menyampaikan materi yang akan dipelajari siswa yaitu tentang perubahan wujud benda padat menjadi gas. Kegiatan senjutnya adalah kegiatan inti. Pada tahap eksplorasi dalam kegiatan inti, siswa dan guru mengidentifikasi bau yang ada di ruang kelas dan asal bau tersebut. Dalam hal ini bau yang dicium siswa berasal dari pengharum ruangan yang berada di dalam kelas. Siswa kemudian duduk dalam kelompok yang telah dibentuk pada pertemuan sebelumnya dan diberi pertanyaan “Mengapa pengharum ruangan bisa menghasilkan bau

(145) 127 127 yang harum”. Guna menjawab pertanyaan guru tersebut, guru diberikan LKS dan mendiskusikan perintah-perintah yang ada dalam LKS. Tahap selanjutnya setelah eksplorasi adalah elaborasi. Pada tahap ini awalnya siswa mengidentifikasi masalah yang didapat. Siswa mengindentifikasi pertanyaan yang diberikan guru sebelumnya dan menuliskan jawaban sementara atas pertanyaan tersebut dalam LKS yang telah diterima siswa dalam kelompok. Berdasarkan masalah yang didapat sebelumnya, siswa dalam kelompok kemudian merancang kegiatan penyelesaian masalah. Siswa merancang sebuah percobaan untuk memecahkan masalah yang didapatkannya. Siswa menuliskan alat, bahan, dan langkah-langkah percobaan dalam LKS. Setelah rancangan selesai, siswa melaksanakan kegiatan penyelesaian masalah. Siswa melakukan percobaan berdasarkan rancangan yang telah dibuat sebelumnya. Selama kegiatan penyelesaian masalah berlangsung, siswa melakukan kegiatan tutorial. Pada kegiatan ini siswa menyempaikan sampai mana kegiatan percobaan yang dilakukan, dan meminta saran dari guru apabila ada kesulitan dalam melakukan percobaan. Setelah itu siswa melanjutkan kegiatan penyelesaian masalah dengan melanjutkan percobaan berdasarkan saran yang didapat dari guru. Setelah kegiatan penyelesaian masalah selesai, siswa kemudian menyusun laporan. Laporan berisi proses percobaan yang dilakukan dan hasil yang didapat setelah melakukan

(146) 128 128 percobaan yang kemudian dituliskan dalam LKS. Selanjutnya siswa diminta untuk mempresentasikan hasil laporan di depan kelas. Tahap selanjutnya setelah menyusun laporan adalah penilaian. Penilaian dilakukan guru pada saat kegiatan tutorial dengan melihat kegiatan siswa saat melakukan kegiatan percobaan dengan menggunakan rubrik penilaian psikomotor. Tahap selanjutnya atu tahap terakhir dalam kegiatan inti adalah tahap konfirmasi. Pada tahap ini siswa dan guru menyimpulkan kegiatan yang telah dilakukan dan menyimpulkan materi yang didapat pada pertemuan ketiga ini. Selain itu siswa dan guru juga melakukan tanya jawab terkait dengan materi yang belum dimengerti siswa. Setelah kegiatan inti berakhir, kegiatan selanjutnya adalah kegiatan akhir. Pada kegiatan ini siswa melakukan refleksi, tindak lanjut tentang materi pada pertemuan selanjutnya, doa, dan salam penutup. Selain itu pada kegiatan akhir juga dilakukan pengisian kuesioner oleh siswa untuk mengetahui minat siswa dalam belajar dan nilai afektif siswa. Siswa juga diberikan lembar evaluasi untuk mengetahui ketercapaian indiktor pada siklus I. Siswa diminta untuk mengerjakan lembar evaluasi untuk mengetahui nilai kognitif yang didapat siswa.

(147) 129 129 c. Pengamatan Siklus I Pengamatan pada siklus 1 dilakukan menggunakan lembar observasi dan lembar kuesioner untuk mengetahui minat dan prestasi siswa dari ranah afektif dan psikomotor. Pengamatan dilakukan dengan bantuan dari dua orang rekan peneliti yang bertindak sebagai observer selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Observasi dilakukan dengan objek yang berbeda. Observer pertama mengobservasi 2 kelompok untuk mengetahui minat siswa dalam belajar dan observer kedua 3 kelompok untuk mengetahui minat siswa dalam belajar. Observasi dilakukan dengan menggunakan lembar observasi yang berupa deskripsi hasil pengamatan terhadap minat siswa selama proses pembelajaran. Selain lembar observasi, peneliti juga menggunakan lembar kuesioner untuk melihat minat siswa dalam belajar. Minat berdasarkan lembar kuesioner dilihat dengan menghitung perolehan nilai rata-rata pada tiap indikator dan persentase siswa yang berminat dalam satu kelas. Nilai ratarata minat satu kelas dihitung dengan menjumlahkan nilai rata-rata minat pada masing-masing siswa dibagi dengan jumlah total siswa. Persentase siswa yang berminat pada tiap indikator dihitung dengan menghitung jumlah perolehan skor siswa pada kuesioner dan dibandingkan dengan kriteria minat. Berdasarkan perbandingan tersebut, kemudian didapat kriteria minat minat siswa dari sangat tinggi, tinggi , cukup, rendah, dan sangat rendah.

(148) 130 130 Berdasarkan perolehan kriteria tersebut, kemudian dihitung jumlah siswa yang memiliki minat cukup, tinggi dan sangat tinggi, kemudian dibagi dengan jumlah siswa dalam satu kelas, dikali 100%. Demikian rumus cara menghitung persentase siswa yang berminat dalam satu kelas. Berdasarkan perhitungan nilai rata-rata pada tiap inidikator dan presentase siswa berminat dalam satu kelas, didapat perolehan peningkatan minat di kelas IVA. Hasil perolehan tersebut didukung dengan deskripsi lembar observasi yang telah diisi rekan peneliti. Selain untuk menghitung peningkatan minat, lembar kuesioner juga peneliti gunakan untuk melihat nilai afektif siswa dalam belajar. Penghitungan nilai afektif dilakukan dengan menghitung jumlah skor kuesioner pada masing-masing siswa dibagi dengan skor maksimal kuesioner, dikali seratus. Peneliti juga melakukan peilaian psikomotor. Penilaian psikomotor dilakukan dengan pengamatan saat siswa melakukan percobaan dan saat siswa melakukan presentasi hasil laporan percoban. Pengamatan dilakukan dengan acuan rubrik penilaian psikomotor. Sedangkan penilaian kognitif peneliti lakukan dengan melihat nilai yang didapat siswa berdasarkan lembar evaluasi. d. Refleksi siklus I Penelitian yang dilakukan pada siklus I pada dasarnya sudah sesuai dengan rencana tindakan yang telah dibuat sebelumnya. Pelaksanaan

(149) 131 131 pembelajaran pada pertemuan 1, 2, dan 3, sudah sesuai dengan instrumen pembelajaran yang telah dibuat sebelumnya. Berdasarkan hasil observasi dan perhitungan kuesioner minat pada siklus I, ternyata minat siswa belum sepenuhya meningkat. Ada sebuah indiktor yang belum memenuhi target siklus I. Indikator minat yang belum mencapai target adalah indikator “inisitif siswa”. Tidak tercapainya indikator tersebut disebabkan oleh beberapa hal. Ketika guru menyampaikan pertanyaan tentang materi yang diajarkan pada pertemuan sebelumnya, siswa cenderung tidak bisa menjawab karena siswa tidak mempelajari kembali materi yang diajarkan pada pertemuan sebelumnya. Selain itu, tidak ada siswa yang memiliki kemauan untuk bertanya tentang hal-hal yang terkait dengan materi dalam proses pembelajaran. Berdasarkan hasil tersebut, peneliti kemudian memutuskan untuk melanjutkan penelitian pada siklus selanjutnya yaitu siklus II dan merubah kelompok untuk menghindari kegagalan yang terjadi pada siklus I. Pada siklus II, peneliti akan mengajak siswa untuk melakukan pembelajaran di luar kelas. Diharapkan dengan pembelajaran di luar kelas siswa dapat lebih punya ketertarikan dalam belajar sehingga materi yang diajarkan dapat lebih mudah dipahami, dan apabila guru bertanya tentang materi yang telah diajarkan pada pertemuan sebelumnya siswa mampu menjawab tanpa harus ditunjuk. Pada pertemuan-pertemuan pada siklus II juga akan ada balikan bagi siswa yang mampu menjawab pertanyaan guru

(150) 132 132 tanpa disuruh, dan bertanya pada guru tanpa disuruh dengan memberikan tepuk tangan, atau pujian pada siswa tersebut agar siswa mempunyai inisiatif dalam belajar. Selain minat peneliti juga menghitung prestasi belajar siswa. Berdasarkan perhitungan prestasi belajar siswa pada siklus I, prestasi belajar siswa dalam mata pelajaran IPA pada materi perubahan wujud benda, sudah memenuhi target capaian siklus I. Berikut tabel capaian target siklus I. Tabel IV.1 Tabel Minat dan Prestasi Siklus I Indikator Deskriptor Minat Rasa senang Jumlah skor minat terhadap seluruh siswa pada pembelajaran indikator 1 dibagi jumlah IPA seluruh siswa Perhatian Jumlah skor minat siswa terhadap seluruh siswa pada pembelajaran indikator 2 dibagi jumlah IPA seluruh siswa Keterlibatan Jumlah skor minat siswa terhadap seluruh siswa pada pembelajaran indikator 3 dibagi jumlah IPA seluruh siswa Inisiatif siswa Jumlah skor minat dalam seluruh siswa pada mengikuti indikator 4 dibagi jumlah pembelajaran seluruh siswa IPA Persentase Jumlah siswa yang siswa yang memiliki minimal cukup memiliki berminat dibagi jumalh minimal seluruh siswa dikali cukup 100% berminat Prestasi Belajar Kondisi Awal Siklus I Target Capaian Ket. Target Tercapai 3,39 3,89 3,93 Target Tercapai 2,67 3,39 3,64 Target Tercapai 2,89 3,59 3,64 1,81 2,31 2,18 63% 73% 96,3% Target Belum Tercapai Target Tercapai

(151) 133 133 Indikator Siswa yang lulus KKM Rata-rata nilai kelas Deskriptor Jumlah siswa yang lulus KKM dibagi dengan jumlah seluruh siswa dikali 100% Jumlah nilai seluruh siswa dibagi jumlah seluruh siswa Kondisi Awal Siklus I Target Capaian 57,3 % 70 % 70,4% 73 80 76,4 Ket. Target Tercapai Target Belum Tercapai Tabel IV.1 menunjukkan bahwa pada tiga indikator minat yaitu sikap ceria, keterlibatan dan perhatian dalam pembelajaran IPA sudah meningkat dari kondisi awal dan sudah mencapai target yang diharapkan. Indikator keempat minat yaitu inisiatif, juga sudah meningkat dari kondisi awal, namun peningkatannya belum mencapai target yang diharapkan. Sedangkan pada variabel prestasi dilihat dari banyaknya siswa yang lulus KKM dan rata-rata nilai kelas, telah mengalami peningkatan dari kondisi awal dan telah mencapai target yang diharapkan peneliti. Adanya indikator minat yang belum memenuhi target mendorong peneliti untuk melanjutkan penelitian pada siklus selanjutnya yaitu pada siklus II untuk dapat memenuhi target yang diharapkan peneliti. 2. Siklus II Penelitian siklus II dilakukan pada tempat dan subjek yang sama yaitu di SD Negeri Nogotirto pada 27 siswa kelas IVA. Penelitian siklus II dilakukan dalam dua kali pertemuan yaitu pada tanggal 20 November 2013 dan 21 November 2013. Pada penelitian ini peneliti akan tetap menggunakan model Problem Based Learning (PBL) dalam kegiatan pembelajaran. Peneliti melanjutkan penelitian

(152) 134 134 pada siklus II karena ada satu indikator minat yang belum tercapai yaitu inisiatif. Sedangkan untuk indikator minat yang sudah mencapai target pada siklus 1, dilakukan pemantapan pada siklus II, guna mengatuhui kebenaran peningkatan minat belajar siswa. Pada indikator minat yang telah tercapai dan variabel prestasi yang telah tercapai, peneliti juga menentukan target capaian siklus II, meskipun siklus II hanya peneliti gunakan untuk pemantapan. Peneliti melakukan beberapa perubahan dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran siklus II. Peneliti membuat kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan di luar kelas. Diharapkan dengan pembelajaran di luar kelas siswa dapat lebih punya ketertarikan dalam belajar sehingga materi yang diajarkan dapat lebih mudah dipahami, dan apabila guru bertanya tentang materi yang telah diajarkan pada pertemuan sebelumnya siswa mampu menjawab tanpa harus ditunjuk. Selain itu, akan ada balikan bagi siswa yang mampu menjawab pertanyaan guru tanpa disuruh, atau bertanya pada guru tanpa disuruh dengan memberikan tepuk tangan, atau pujian pada siswa tersebut agar siswa mempunyai inisiatif dalam belajar. Peneliti berharap dengan adanya perubahan-perubahan dalam siklus II ini dapat meningkatkan inisiatif siswa dalam belajar dan target capaian indikator inisiatif dapat terpenuhi. a. Perencanaan Perencanaan siklus II pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan siklus I. Setelah peneliti mendapatkan SK dan KD yang akan peneliti gunakan dalam

(153) 135 135 siklus II, peneliti membuat instrumen pembelajaran yang terdiri dari silabus, RPP, ringkasan materi, LKS, soal evaluasi, dan media pembelajaran dengan model PBL. Setelah perangkat pembelajaran selesai dibuat, peneliti kemudian melakukan uji validitas dan uji reliabilitas terhadap instrumen yang telah peneliti buat. Uji validitas peneliti lakukan pada tiga ahli yang terdiri dari dosen, guru mata pelajaran IPA, dan kepala sekolah. Setelah penilaian dari ketiga ahli tersebut dirasa sudah cukup untuk mengukur mutu instrument pembelajaran yang akan peneliti gunakan, peneliti memutuskan untuk menggunakan instrumen pembelajaran tersebut untuk penelitian. Selain instrumen pembelajaran, peneliti juga menyiapkan instrument penelitian berupa lembar observasi dan kuesioner yang telah peneliti buat sebelumnya dan telah divalidasi untuk mengukur minat siswa dalam belajar. Instrumen penelitian yang peneliti gunakan dalam siklus II ini sama dengan instrumen penelitian pada siklus I. Selain melakukan uji validitas pada ahli, peneliti juga melakukan validitas empiris untuk menguji soal evaluasi. Validasi empiris soal evaluasi siklus II peneliti lakukan di SD Negeri Jongkang kelas VA. Peneliti memilih SD Negeri Jongkang karena menurut peneliti, SD Negeri Jongkang memiliki karakteristik siswa yang sama dengan SD Negeri Nogotirto, tempat peneliti melakukan penelitian.

(154) 136 136 b. Pelaksanaan siklus II Pelaksanaan penelitian siklus II ini dilaksanakan dalam 2 kali pertemuan dengan metode PBL. Pertemuan 1 berlangsung pada tanggal 20 November 2013. Sedangkan pertemuan 2 berlangsung pada tanggal 21 November 2013. Pertemuan pada siklus II mempelajari tentang KD “hubungan sifat bahan dan kegunaannya”. Berikut uraian pelaksanaan pada tiap pertemuan. a) Pertemuan 1 Pertemuan pertama siklus II dilaksanakan sesuai dengan RPP yang telah disusun sebelumnya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah tanya jawab, diskusi, kerja kelompok, observasi, pemberian tugas, demonstrasi. Kegiatan pada pertemuan ini dimulai dengan doa, presensi, apersepsi, motivasi dan dilanjutkan dengan penyampaian tujuan pembelajaran tentang “bahan-bahan penyusun benda”. Pada kegiatan motivasi, guru mengajak siswa untuk bernyanyi lagu “di sini senang di sana senang” yang telah diubah liriknya. Kegiatan selanjutnya adalah kegiatan inti. Kegiatan inti dimulai dengan tahap eksplorasi. Pada tahap ini siswa mengamati benda-benda sekitar yang dibawa oleh guru kemudian melakukan tanya jawab mengenai benda-benda tersebut. Selanjutnya siswa masuk ke dalam kelompok dan mendengarkan pertanyaan-pertanyaan dari guru. Masalah

(155) 137 137 atau pertanyaan yang diberikan guru adalah “Apakah benda-benda yang ada di sekitar terbuat dari bahan yang sama dan apakah kalian bisa menunjukkan cara mengelompokkan benda-benda tersebut sesuai dengan bahan penyusunnya?”. Siswa dalam kelompok kemudian dibagikan LKS untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang guru berikan. Tahap selanjutnya dalam kegiatan inti adalah elaborasi. Pada tahap ini siswa dibimbing untuk mengerjakan LKS guna menjawab pertanyaan guru dengan mengidentifikasi masalah yang didapat siswa. Siswa berdiskusi memahami masalah yang dihadapi dan menuliskan jawaban sementara atas masalah tersebut. Selanjutnya siswa merancang kegiatan penyelesaian masalah. Siswa dalam kegiatan ini diperbolehkan untuk mengamati benda-benda di luar kelas. Siswa kemudian memilih salah satu tempat yang akan diamati sepeti ruang kelas, kamar mandi, kantin atau perpustakaan dan menyiapkan tabel pengamatan. Setelah selesai, siswa melaksanakan kegiatan penyelesaian masalah berdasarkan rancangan yang telah dibuat. Siswa melakukan pengamatan, menuliskan hasil pengamatan dalam tabel pengamatan, dan mengelompokkan benda-benda yang sudah mereka tulis berdasarkan bahan penyusunnya. Selama melakukan pengamatan, siswa melakukan kegiatan tutorial dengan melaporkan perkembangan pengamatan dan menyampaikan hambatan-

(156) 138 138 hambatan yang ditemui selama pengamatan. Berdasarkan laporan tersebut siswa akan mendapatkan saran dari guru. Selanjutnya siswa dapat melanjutkan kegiatan penyelesaian masalah dengan melanjutkan pengamatan berdasarkan saran yang didapat dari guru. Setelah selesai melakukan penyelesaian masalah, siswa membuat laporan proses pengamatan dan hasil pengamatan yang telah dilakukan dalam LKS. Laporan tersebut kemudian dipresentasikan di depan kelas. Tahap selanjutnya setelah menyusun laporan adalah penilaian. Penilaian dilakukan guru pada saat kegiatan tutorial dengan melihat kegiatan siswa saat melakukan kegiatan percobaan dengan menggunakan rubrik penilaian psikomotor. Tahap elaborasi selesai dan dilanjutkan ke tahap konfirmasi. Pada tahap ini guru dan siswa memberikan komentar, pertanyaan, kritik, atau saran atas hasil presentasi siswa. Pada tah ini siswa dan guru juga melakukan tanya terkait dengan materi yang belum dimengerti siswa. Selain itu, siswa dan guru membuat kesimpulan terkait dengan materi yang telah dipelajari dalam pertemuan hari ini. Setelah kegiatan inti selesai, kegiatan dilanjutkan dengan kegiatan akhir. Pada kegiatan akhir ini siswa melakukan refleksi, mengisi kuesioner, tindak lanjut dan melakukan doa serta salam penutup. Pada tahap tindak lanjut, siswa diminta untuk mempelajari materi pada

(157) 139 139 pertemuan selanjutnya dan diminta untuk membawa bahan-bahan yang akan digunakan pada pertemuan selanjutnya. b) Pertemuan II Pelaksanaan pertemuan kedua tidak jauh berbeda dengan pertemuan 1. Perbedaannya hanya terletak pada kegiatan yang dilakukan siswa pada kegiatan inti. Pada pertemuan pertama siswa belajar di luar kelas, sedangkan pada pertemuan kedua dilakukan didalam kelas. Pertemuan kedua dimulai dengan kegiatan salam, doa, dan presensi. Selanjutnya guru dan siswa menyanyikan “lagu tik-tik bunyi hujan” sebagai motivasi. Kegiatan selanjutnya adalah apersepsi, dan orientasi dengan menyampaikan tujuan pembelajaran pada siswa. Kegiatan setelah kegiatan awal adalah kegiatan inti. Kegiatan inti dibagi dalam tiga tahap yaitu eksplorasi, elaborasi dan konfirmasi. Pada kegiatan eksplorasi siswa menunjukkan berbagai barang yang telah dibawa dari rumah yang menjadi tugas pada pertemuan sebelumnya. Selanjutnya siswa dan guru melakukan tanya jawab terkait dengan barangbarang yang telah mereka bawa meliputi sifat bahan, keguanaan dan lainlain. Siswa diminta untuk menjawab pertanyaan tersebut dalam kelompok dengan mengisi LKS yang dibagikan guru. Selanjutnya kegiatan masuk pada tahap elaborasi. Pada tahap ini siswa mengidentifikasi masalah untuk menjawab pertanyaan guru. Siswa secara berkelompok berdiskusi

(158) 140 140 memahami masalah yang dihadapi dan menuliskan jawaban sementara atas masalah yang dihadapi dalam LKS. Setelah memahami masalah, siswa merancang kegiatan penyelesaian masalah berdasarkan barangbarang yang telah mereka bawa pada pertemuan sebelumnya. Siswa merancang kegiatan percobaan dengan bahan barang-barang yang telah mereka bawa. Mereka diminta untuk menuliskan langkah-langkah percobaan serta alat dan bahan yang dibutuhkan dalam percobaan tersebut. Selanjutnya siswa melaksanakan kegiatan penyelesaian masalah dengan melakukan percobaan sederhana guna membuktikan kebenaran dari jawaban sementara yang mereka tulis. Selama melakukan percobaan siswa melakukan kegiatan tutorial dengan melaporkan perkembangan kegiatan yang mereka lakukan dan menyampaikan hambatan yang ditemui dalam melakukan percobaan. Berdasarkan laporan tersebut, mereka akan mendapat saran dari guru. Setelah melakukan kegiatan tutorial, mereka dipersilahkan untuk melanjutkan kegiatan penyelesaian masalah dengan melanjutkan percobaan berdasarkan saran yang diberikan guru. Kegiatan selanjutnya setelah kegiatan penyelesaian masalah selesai dilakukan adalah menyusun laporan. Laporan berupa proses kegiatan percobaan yang telah mereka lakukan dan hasil yang telah mereka dapat berdasarkan percobaan tersebut. Semua laporan tersebut mereka tuliskan dalam LKS dan selanjutnya dipresentasikan di depan kelas. Tahap selanjutnya setelah

(159) 141 141 menyusun laporan adalah penilaian. Penilaian dilakukan guru pada saat kegiatan tutorial dengan melihat kegiatan siswa saat melakukan kegiatan percobaan dengan menggunakan rubrik penilaian psikomotor Tahap terakhir dari kegiatan inti adalah konfirmasi. Pada tahap ini siswa dan guru mendiskusikan materi yang dipelajari dari kegiatan yang dilakukan. Selain itu siswa juga dipersilhkan untuk bertanya pada guru apabila ada materi yang belum dimengerti. Kegiatan setelah kegiatan inti adalah kegiatan akhir. Pada kegiatan akhir ini siswa melakukan refleksi, mengisi lembar kuesioner, tindak lanjut dengan memberikan tugas pada siswa, dan siswa diminta untuk mengerjakan lembar evaluasi siklus II. Kegiatan kemudian ditutup dengan salam dan doa penutup yang dilakukan siswa bersama-sama guru. c.Pengamatan Siklus II Pengamatan yang dilakukan pada siklus II sama dengan pengamatan pada siklus I. Pengamatan dilakukan menggunakan lembar observasi dan kuesioner untuk mengetahui minat dan prestasi siswa dalam belajar dari ranah afektif dan psikomotor. Pengamatan dilakukan dengan bantuan dari dua orang rekan peneliti yang bertindak sebagai observer selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Pengamatan dilakukan dengan bantuan dari dua orang rekan peneliti yang bertindak sebagai observer selama kegiatan

(160) 142 142 pembelajaran berlangsung. Observasi dilakukan dengan objek yang berbeda. Observer pertama mengobservasi 2 kelompok untuk mengetahui minat siswa dalam belajar dan observer kedua 3 kelompok untuk mengetahui minat siswa dalam belajar. Observasi dilakukan dengan menggunakan lembar observasi yang berupa deskripsi hasil pengamatan terhadap minat siswa selama proses pembelajaran. Selain lembar observasi, peneliti juga menggunakan lembar kuesioner untuk melihat minat siswa dalam belajar. Minat berdasarkan lembar kuesioner dilihat dengan menghitung perolehan nilai rata-rata pada tiap indikator dan persentase siswa yang berminat dalam satu kelas. Nilai ratarata minat satu kelas dihitung dengan menjumlahkan nilai rata-rata minat pada masing-masing siswa dibagi dengan jumlah total siswa. Persentase siswa yang berminat pada tiap indikator dihitung dengan menghitung jumlah perolehan skor siswa pada kuesioner dan dibandingkan dengan kriteria minat. Berdasarkan perbandingan tersebut, kemudian didapat kriteria minat minat siswa dari sangat tinggi, tinggi , cukup, rendah, dan sangat rendah. Berdasarkan perolehan kriteria tersebut, kemudian dihitung jumlah siswa yang memiliki minat cukup, tinggi dan sangat tinggi, kemudian dibagi dengan jumlah siswa dalam satu kelas, dikali sertus persen. Demikian rumus cara menghitung persentase siswa yang berminat dalam satu kelas. Berdasarkan perhitungan nilai rata-rata pada tiap inidikator dan

(161) 143 143 presentase siswa berminat dalam satu kelas, didapat perolehan peningkatan minat di kelas IVA. Hasil perolehan tersebut didukung dengan deskripsi lembar observasi yang telah diisi rekan peneliti. Selain untuk menghitung peningkatan minat, lembar kuesioner juga peneliti gunakan untuk melihat nilai afektif siswa dalam belajar. Penghitungan nilai afektif dilakukan dengan menghitung jumlah skor kuesioner pada masing-masing siswa dibagi dengan skor maksimal kuesioner, dikali seratus. Peneliti juga melakukan peilaian psikomotor. Penilaian psikomotor dilakukan dengan pengamatan saat siswa melakukan percobaan dan saat siswa melakukan presentasi hasil laporan percobaan. Pengamatan dilakukan dengan acuan rubrik penilaian psikomotor. Sedangkan penilaian kognitif peneliti lakukan dengan melihat nilai yang didapat siswa berdasarkan lembar evaluasi. d. Refleksi siklus II Penelitian yang dilakukan pada siklus II pada dasarnya sudah sesuai dengan rencana tindakan yang telah dibuat sebelumnya. Pelaksanaan pembelajaran pada pertemuan 1, dan 2 sudah sesuai dengan instrumen pembelajaran yang telah dibuat sebelumnya. Berdasarkan hasil observasi dan perhitungan kuesioner minat pada siklus II, adanya perubahan dalam kelompok, dan adanya balikan yang diberikan guru ternyata dapat meningkatkan minat siswa. Hal ini terlihat dari tercapainya target

(162) 144 144 indikator minat yang keempat yaitu inisiatif pada siklus II. Berikut tabel target capaian siklus II Tabel IV.2 Minat dan Prestasi Belajar Siklus II Var. Indikator Sikap ceria Perhatian Min at Keterlibat an Inisiatif Persentase siswa berminat dalam satu kelas Prest asi Deskriptor Jumlah skor minat seluruh siswa pada indikator 1 dibagi jumlah seluruh siswa Jumlah skor minat seluruh siswa pada indikator 2 dibagi jumlah seluruh siswa Jumlah skor minat seluruh siswa pada indikator 3 dibagi jumlah seluruh siswa Jumlah skor minat seluruh siswa pada indikator 4 dibagi jumlah seluruh siswa Jumlah siswa yang memiliki minimal cukup berminat dibagi jumalh seluruh siswa dikali 100% Capaian siklus 1 Target capaian siklus 2 Capaian siklus 2 Ket 3,93 4.42 4,49 Terc apai 3,64 4.14 4,49 Terc apai 3,64 4,14 4,41 Terc apai 2,18 2,68 4,28 Terc apai 96,3% 98% 98,15% Terc apai Siswa yang lulus KKM Jumlah siswa yang lulus KKM dibagi dengan jumlah seluruh siswa dikali 100% 70,4% 81% 100% Terc apai Rata-rata nilai Jumlah nilai seluruh siswa dibagi jumlah seluruh siswa 76,4 87 93.2 Terc apai Tabel di atas menunjukkan bahwa semua indikator minat sudah meningkat dan sudah memenuhi target yang diharapkan. Indikator inisatif yang pada siklus I belum mencapai target, pada siklus II sudah mencapai

(163) 145 145 target yang diharapkan. Prestasi belajar siswa menurut tabel di atas juga telah meningkat. Nilai rata-rata nilai kelas yang pada siklu I belum memenuhi target, meningkat dan telah mencapai target pada siklus II. B. Hasil Penelitian 1. Hasil Peningkatan Minat Minat adalah rasa suka, ketertarikan atau dorongan yang timbul dalam diri seseorang yang mengakibatkan dipilihnya suatu kegiatan atau aktivitas. Menurut Susanto (2013:66) minat merupakan faktor penting dalam kegiatan belajar. Minat mempengaruhi konsentrasi belajar dan hasil belajar siswa. Pentingnya minat tersebut, membuat peneliti ingin meningkatkan minat siswa dalam belajar khususnya dalam mata pelajaran IPA dengan pendekatan SCL model PBL di SD Negeri Nogotirto. Minat dapat terlihat dari beberapa indikator yaitu sikap ceria, perhatian, keterlibatan, dan inisiatif. Dalam penelitian penelitian ini keempat indikator minat tersebut diukur dengan menggunakan kuesioner dengan 23 item pernyataan dan lima pilihan jawaban (sangat setuju, setuju, ragu-ragu, tidak setuju, dan sangat tidak setuju. Lembar kuesioner dibagikan pada setiap akhir kegiatan pembelajaran. Sebelum melakukan tindakan untuk meningkatkan minat, peneliti melihat kondisi awal dari minat siswa yang digunakan sebagai acuan dalam menentukan target penelitian. Berikut tabel kondisi awal minat siswa.

(164) No Nama 2 2 2 4 2 4 5 4 3 4 2 4 4 2 4 4 2 3 4 2 4 4 2 4 4 4 2 4 3 4 5 4 3 4 5 4 4 4 4 3 4 2 4 3 2 2 4 3 2 3 4 4 4 2 4 4 5 5 2 4 2 3 4 2 3 2 2 4 3 4 3 4 2 3 3 2 2 4 3 3 4 4 2 2 6 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 2 4 4 4 3 4 4 4 4 4 4 3 4 4 5 4 7 Rata2 8 4 3.43 2 3 3.43 3 3 3.43 2 2 3 3 2 3.57 2 5 4.71 4 3 3.29 3 4 3.43 5 3 3.57 3 2 3.29 2 5 3.71 5 2 3.29 2 2 3 2 2 3.57 2 3 3.43 2 2 2.14 2 2 3.14 2 2 3.43 3 2 3.14 2 3 3.43 4 2 3.43 2 2 3.43 2 2 3.43 2 2 3.57 2 3 3.43 4 2 3.29 3 3 3.43 3 3.39 9 3 4 2 2 2 3 2 3 4 2 2 2 2 2 5 2 3 5 2 3 2 2 4 2 2 2 4 No. Item Kuesioner Indk 2 Rata2 Indk 3 10 11 12 13 14 15 16 2 2 4 2.6 2 2 2 3 2 2 2 2.6 5 2 2 4 4 2 2 2.4 3 2 2 4 3 2 2 2.4 2 2 2 3 4 2 2 2.4 2 2 3 5 4 2 4 3.4 2 3 2 4 5 2 2 2.8 3 2 3 3 2 2 4 3.2 2 1 3 3 2 2 2 2.6 3 3 3 5 4 2 2 2.4 2 2 2 3 2 3 2 2.8 2 2 3 5 3 2 2 2.2 3 2 3 3 5 2 2 2.6 3 3 3 4 3 2 2 2.2 2 2 2 5 4 2 2 3 3 3 2 5 3 2 2 2.2 3 3 3 3 3 2 4 2.8 2 3 2 3 2 3 2 3 3 3 3 3 4 2 2 2.4 2 2 2 3 3 4 4 3.6 4 4 3 5 4 2 2 2.4 2 4 3 2 2 4 2 2.4 2 3 3 5 4 2 2 2.8 5 3 3 3 3 2 3 2.4 2 3 2 4 2 2 2 2.4 2 3 3 4 5 2 2 2.8 2 3 2 5 2 4 4 3.4 3 3 3 4 2.7 17 4 3 3 2 2 4 3 3 3 2 3 3 2 5 3 2 3 3 3 3 3 2 3 2 3 2 3 Rata2 18 19 2.6 2 2 3.2 3 1 2.8 3 1 2.2 3 2 2.8 2 2 3 3 1 2.8 2 2 2.4 5 2 3.4 2 3 2.2 2 2 3 2 1 2.8 2 1 3 3 1 3.2 3 3 3.2 3 1 2.8 2 2 2.6 2 2 3 3 2 2.4 2 1 3.8 3 2 2.8 2 1 3 2 1 3.4 3 2 2.6 2 1 3 5 3 2.8 2 1 3.2 4 1 2.89 Indk 4 20 21 3 1 3 1 2 3 2 2 3 3 1 2 3 2 3 1 3 2 2 1 2 3 1 3 2 2 2 3 2 1 2 2 3 3 3 1 2 3 3 1 2 3 1 1 3 3 2 2 3 2 2 2 1 1 22 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 1 23 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 3 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 4 1 1 Rata2 2 1.667 1.833 1.833 2 1.5 1.833 2.167 2 1.5 2.167 1.5 1.667 2.167 1.5 1.667 2 1.833 1.667 1.833 1.667 1.167 2.167 1.5 3.167 1.5 1.5 1.81 Jumlah Kriteria 62 63 61 55 63 74 62 65 67 55 68 57 59 65 64 50 61 65 56 72 60 58 68 59 70 60 66 C C C R C C C C C R C R R C C R C C R C R R C R C R C 146 1 BD 2 AP 3 RG 4 RS 5 BQ 6 CY 7 CT 8 DM 9 LN 10 MT 11 IG 12 NY 13 AN 14 MD 15 FH 16 RD 17 ND 18 DD 19 NR 20 IS 21 RS 22 SS 23 FR 24 TR 25 NL 26 RN 27 NS 1 3 4 2 4 4 5 4 3 4 4 4 4 3 4 4 2 4 4 5 4 5 4 4 4 3 4 4 Indk 1 4 2 4 3 4 4 5 2 3 4 5 2 4 4 4 2 2 4 3 4 5 2 5 4 3 4 4 3

(165) 147 Keterangan: ST = Sangat Tinggi T = Tinggi C = Cukup R = Rendah SR = Sangat Rendah Berdasarkan tabel perhitungan lembar kuesioner yang telah dibandingkan dengan kriteria minat di atas, terlihat bahwa minat belajar siswa belum optimal. Hal ini terlihat tinggi rendahnya minat siswa dalam satu kelas. Siswa yang memiliki minat belajar dalam satu kelas hanya 17 dari 27 siswa (63%). 17 siswa yang memiliki minat belajar tersebut berada pada tingkat minat cukup yang merupakan kriteria syarat minimal adanya minat belajar. Sedangkan 10 siswa lainnya (37%) berada dalam kategori minat rendah. Data tersebut menunjukkan bahwa minat siswa kelas IVA SD Negeri Nogotirto dalam pembelajaran IPA belum optimal. Selain dari perhitungan minat pada masing-masing siswa, pada tabel di atas juga terlihat rata-rata skor minat per indikator. Rata-rata skor indikator rasa senang adalah 3,39, indikator perhatian, keterlibatan 2,89, dan inisiatif adalah 1,81. Berdasarkan kedua data minat tersebut, yang menunjukkan bahwa minat siswa dalam belajar IPA belum optimal, maka peneliti melakukan Penelitian Tindakan Kelas untuk meningkatkan minat siswa. Peneliti kemudian memberikan tindakan siklus pertama. Berikut hasil peningkatan minat setelah siklus pertama dilakukan.

(166) No Nama No. Item Kuesioner Indkt 2 5 6 7 Rata2 8 9 10 11 12 Rata 13 4 4 4 4.14 4 3 4 3 4 3.6 3 4 5 3 4 5 3 2 4 5 3.8 4 4 4 3 3.86 4 3 4 5 4 4 3 4 5 4 4.14 4 4 4 4 4 4 4 3 5 3 3.43 3 4 3 4 5 3.8 3 2 4 3 3.57 4 4 4 5 2 3.8 2 5 5 2 3.57 2 3 5 4 4 3.6 2 5 5 4 3.71 3 4 5 4 5 4.2 3 5 5 5 4.57 5 4 5 5 5 4.8 4 4 4 5 4.57 4 4 5 4 5 4.4 5 3 4 5 3.71 5 2 4 2 4 3.4 3 4 4 4 3.86 4 4 5 4 5 4.4 5 4 4 2 3.43 5 5 5 4 4 4.6 4 4 4 5 4.71 4 4 4 4 5 4.2 4 4 4 3 2.86 2 2 3 2 2 2.2 3 4 3 3 3.86 3 3 3 4 3 3.2 5 5 4 2 3.71 3 5 4 5 5 4.4 3 4 4 4 3.71 4 5 3 5 5 4.4 5 5 4 2 3.57 3 2 2 2 3 2.4 2 5 4 2 3.71 3 3 4 4 3 3.4 3 4 4 3 3.71 4 5 3 3 4 3.8 4 5 5 4 4 2 5 4 3 4 3.6 3 4 4 2 3.43 4 4 3 5 3 3.8 4 5 5 4 4.57 4 4 2 4 3 3.4 4 4 5 5 4.43 2 3 4 2 4 3 3 4 4 5 4.29 3 4 3 2 4 3.2 4 3 5 4 4.29 4 4 4 4 2 3.6 3 3.9 3.74 Indkt 3 14 15 4 3 3 3 4 2 3 5 5 3 4 4 3 3 4 5 3 4 3 3 5 5 3 3 4 4 4 3 3 4 5 3 4 5 3 3 2 3 5 3 5 4 5 5 3 4 4 4 4 4 3 5 4 3 16 4 4 3 4 3 5 5 4 3 4 3 4 3 4 3 3 4 4 3 4 3 5 3 4 3 5 4 17 Rata 3 3.4 5 3.8 4 3.2 3 3.8 5 3.8 4 3.8 5 3.6 3 3.8 5 3.8 3 3.6 4 4 5 4 5 4 3 3.6 2 3 4 4 3 3.8 4 3.8 2 2.4 4 3.8 5 4.2 4 4.4 3 3.4 3 3.8 4 3.6 5 4.4 3 3.4 3.71 18 1 2 1 3 2 1 2 1 2 1 1 2 2 1 2 1 2 2 1 2 3 1 2 2 1 1 2 19 3 2 2 1 2 1 1 2 1 2 2 1 3 2 1 2 1 3 1 1 2 1 1 2 2 3 3 Indkt 4 20 21 2 2 1 2 2 2 2 3 2 3 2 2 2 3 3 2 2 3 3 1 2 2 2 1 1 3 2 3 1 2 4 2 2 2 2 1 1 2 2 2 1 3 2 2 2 2 1 2 1 2 2 2 2 2 22 4 4 5 4 5 4 4 4 5 4 5 4 5 5 3 4 5 4 3 5 5 4 4 4 4 5 4 23 Rata 1 2.2 2 2.2 1 2.2 2 2.5 1 2.5 2 2 1 2.2 1 2.2 1 2.3 1 2 2 2.3 1 1.8 1 2.5 1 2.3 1 1.7 1 2.3 2 2.3 2 2.3 1 1.5 1 2.2 1 2.5 2 2 2 2.2 1 2 2 2 1 2.3 2 2.5 2.2 jumlah Kriteria 70 79 82 83 78 77 72 77 91 85 74 74 81 85 59 77 80 80 63 74 81 70 75 79 73 79 81 C C T T C C C C T T C C T T R C C C C C C T C C C C T 148 1 BD 2 AP 3 RG 4 RS 5 BQ 6 CY 7 CT 8 DM 9 LN 10 MT 11 IG 12 NY 13 AN 14 MD 15 FH 16 RD 17 ND 18 DD 19 NR 20 IS 21 RS 22 SS 23 FR 24 TR 25 NL 26 RN 27 NS TARA2 Indkt 1 1 2 3 4 5 4 5 3 3 5 4 4 4 5 3 4 4 5 3 4 2 4 2 5 3 5 3 5 4 3 2 4 3 2 5 2 4 5 3 5 5 4 5 5 4 4 4 2 5 4 2 4 4 3 4 3 5 5 5 5 2 2 2 3 4 4 4 5 4 4 3 4 3 5 2 4 4 4 2 4 5 2 4 4 3 5 5 2 4 3 3 4 4 4 4 2 4 4 5 5 5 5 4 3 4 4 5 4 5 4 5 4

(167) 149 Tabel di atas adalah data minat siswa pada siklus I pertemuan 1. Berdasarkan tabel d iatas dapat terlihat tinggi rendahnya minat siswa dalam satu kelas. Siswa yang termasuk dalam kategori minat tinggi ada 8 dari 27 (29,6%). Siswa yang memiliki minat cukup ada 18 siswa (66,7%). Sedangkan 1 siswa (3,7%) lainnya berada dalam kategori rendah. Berdasarkan kategori minat tersebt dapat dikatakan bahwa minat siswa dalam satu kelas pada siklus I pertemun 1 adalah sebesar 96,4%. Perhitungan tersebut berdasarkan penjumlahan persentase minat siswa mulai dari minat yang minimal yaitu cukup, tinggi dan sangat tinggi. Selain dari jumlah siswa satu kelas, tinggi rendahnya minat juga terlihat dari nilai rata-rata pada masing indikator. Indikator rasa senang rata-rata nilainya 3.9. Perhatian 3.74, keterlibatan 3.71, dan inisiatif 2.19. Selain tabel minat siklus I pertemuan 1, peneliti juga menghitung minat siswa pada siklus I pertemuan 2. Berikut perhitungan minat siswa pada siklus I pertemuan 2.

(168) No Nama Siswa BD AP RG RS BQ CY CT DM LN MT IG NY AN MD FH RD ND DD NR IS RS SS FR TR NL RN NS 2 4 3 5 5 3 3 5 4 5 4 3 4 5 3 4 4 3 3 3 5 5 3 4 5 4 4 5 5 3 5 3 5 4 3 5 5 5 3 3 5 5 4 5 5 3 4 5 3 5 4 3 4 3 5 4 6 5 4 5 5 5 3 3 5 5 5 5 5 4 5 5 5 3 3 4 5 3 5 3 5 4 4 5 7 Rata 3 3.7 2 3.9 3 3.7 3 4.4 3 3.6 5 3.7 2 3.4 5 4.4 3 4.3 4 4.1 4 4 3 4 2 4.1 3 3.7 3 4.3 4 4 2 3.3 3 3.4 4 4.1 3 3.9 4 4.1 3 4.3 3 3.1 3 4.3 5 4.1 2 3.9 3 4.3 3.94 8 2 2 5 4 4 5 3 3 5 3 4 4 3 5 3 5 5 4 5 3 4 5 4 3 3 3 4 9 3 3 2 4 3 4 2 4 4 3 2 4 2 4 2 3 3 5 4 3 4 4 4 4 4 2 3 No. Item Kuesioner Indkt 2 10 11 12 Rata2 13 4 4 5 3.6 2 3 4 4 3.2 4 4 3 4 3.6 4 3 2 4 3.4 4 4 4 2 3.4 3 4 2 4 3.8 4 2 3 2 2.4 2 2 2 3 2.8 4 3 4 4 4 5 4 5 3 3.6 2 3 2 2 2.6 3 4 3 4 3.8 3 3 3 5 3.2 5 5 4 2 4 5 4 2 4 3 3 3 5 4 4 4 4 4 3 3.8 3 4 3 2 3.6 4 3 4 5 4.2 5 5 2 3 3.2 3 4 2 4 3.6 5 5 3 5 4.4 3 3 4 5 4 4 4 3 2 3.2 3 5 4 4 4 4 4 4 3 3.2 3 4 3 3 3.4 4 3.52 Indkt 3 14 15 16 3 2 4 3 3 4 3 4 4 4 2 3 4 3 4 3 2 3 3 2 2 4 3 4 4 3 4 3 5 4 3 3 4 4 3 3 4 5 5 4 4 4 4 3 2 3 4 4 5 4 4 4 5 5 4 3 4 4 3 4 3 4 5 3 4 3 2 5 4 5 3 3 3 4 4 5 3 4 5 3 5 jumlah Indkt 4 17 Rata2 18 19 20 21 22 23 Rata2 2 2.6 3 2 2 1 3 1 2 73 3 3.4 1 2 3 3 3 2 2.3 76 4 3.8 3 3 1 2 3 2 2.3 74 4 3.4 2 2 2 3 4 1 2.3 81 3 3.4 3 2 3 2 3 1 2.3 75 4 3.2 2 1 3 2 4 1 2.2 77 3 2.4 1 1 1 1 3 1 1.3 62 4 3.8 2 3 3 2 3 1 2.3 78 3 3.8 2 3 2 2 5 2 2.7 85 5 3.8 1 2 1 4 3 1 2 77 3 3.2 2 3 3 1 3 1 2.2 74 4 3.4 1 3 3 3 2 1 2.2 80 3 4.4 2 3 1 2 3 2 2.2 78 5 4.4 2 1 3 2 3 1 2 76 4 3.2 2 1 3 3 4 2 2.5 75 3 3.6 1 2 3 1 3 3 2.2 81 5 4.2 2 1 3 1 4 2 2.2 74 3 4.2 2 1 1 2 3 1 1.7 71 5 4.2 2 2 1 3 5 3 2.7 78 4 3.6 3 3 2 3 3 1 2.5 77 4 4.2 2 5 1 1 4 3 2.7 84 4 3.4 2 2 2 3 3 1 2.2 87 3 3.6 2 3 3 3 5 2 3 77 3 3.4 3 2 3 1 2 2 2.2 78 3 3.6 2 1 2 1 4 2 2 79 4 3.8 3 2 1 2 3 1 2 77 5 4.4 1 2 1 1 3 1 1.5 73 3.64 2.2 Kriteria C C C T C C C C T C C T C C C T C C T C T T C C T C C 150 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 1 3 5 3 4 3 4 3 4 5 5 4 5 4 5 4 2 3 3 5 4 5 5 3 5 4 3 4 Indkt 1 3 4 4 4 5 3 3 4 5 4 4 3 5 3 3 3 3 5 4 3 5 3 4 5 3 3 4 5 4 2 5 4 5 3 5 4 5 3 4 4 3 4 4 3 5 5 3 3 3 5 5 4 4 5 5 4

(169) 151 Tabel di atas adalah data minat siswa pada siklus I pertemuan 2. Berdasarkan tabel di atas dapat terlihat bahwa siswa yang termasuk dalam kategori minat sangat tinggi ada 8 dari 27 (29,6%). Sedangkan 19 siswa (70,4%) lainnya memiliki minat yang termasuk cukup. Berdasarkan perhitungan tersebut minat pada siklus I pertemuan 2 tersebut, terlihat tidak ada siswa yang memiliki minat belajar yang rendah. Hal ini berarti bahwa persentase siswa yang memiliki minat dalam satu kelas ada100%. Selain itu, tinggi rendahnya minat juga terlihat dari persentase pada tiap indikator minat. Nilai rata-rata indiator rasa senang mengikuti pembelajaran ada 3.94. Nilai rata-rata indikator perhatian 3.52. Indikator keterlibatan 3.64, dan indikator inisiatif nilai rata-ratanya 2.2. Selain tabel minat siklus I pertemuan 1, dan siklus 1 pertemuan 2, peneliti juga menghitung minat siswa pada siklus I pertemuan 3. Berikut perhitungan minat siswa pada siklus I pertemuan 3.

(170) No. Item Kuesioner No Nama Siswa 2 3 2 4 5 4 3 3 4 4 4 5 3 4 5 4 4 4 5 4 3 4 3 4 4 4 4 5 3 4 3 4 3 5 3 5 3 4 4 3 4 5 4 3 2 5 2 4 4 4 3 2 3 4 4 3 5 2 2 4 4 5 4 5 5 5 4 4 5 5 4 5 3 5 4 4 4 5 3 4 3 5 3 5 6 3 5 5 5 5 4 5 4 4 4 5 4 4 5 4 5 4 5 4 5 4 3 4 5 5 4 4 7 Rata2 8 2 2.86 3 3 3 4 5 4.14 3 3 3.86 4 4 4.57 3 4 3.43 4 3 4.43 5 4 4 3 3 3.86 4 5 4.29 3 4 4.14 4 3 4.14 3 3 4 3 5 4.29 3 4 4.29 3 2 3.57 5 5 4.43 3 4 4 4 5 4.14 5 5 4 4 4 4 4 3 2.86 3 3 3.57 4 4 3.86 4 4 3.86 5 5 4 4 3 3.86 4 3.9 9 2 5 4 5 3 3 3 4 3 4 4 4 5 3 4 3 4 5 3 4 4 3 3 4 3 3 3 Indkt 2 10 3 5 5 5 3 3 4 3 3 3 4 5 3 5 3 3 4 5 4 4 3 2 3 3 3 2 4 11 3 4 5 4 5 3 3 5 3 5 3 4 3 5 5 3 5 3 4 3 3 3 3 4 4 3 3 12 Rata2 13 3 2.8 2 4 4.4 3 3 4 5 3 4.2 2 3 3.4 2 5 3.6 5 3 3.6 2 3 3.6 4 5 3.6 5 3 3.6 4 3 3.6 4 3 3.8 2 4 3.6 5 5 4.2 2 5 4 4 4 3.6 5 4 4 4 4 4.2 3 3 3.8 4 4 3.8 4 3 3.4 3 2 2.6 2 3 3.2 4 4 3.8 2 3 3.6 4 4 3.2 5 4 3.6 4 3.66 14 2 4 5 5 4 2 4 2 5 2 2 3 4 3 3 4 3 5 3 5 4 2 2 3 2 4 3 Indkt 3 15 2 4 4 4 5 5 4 5 5 5 5 4 3 5 4 5 4 4 5 3 5 2 4 4 3 3 4 16 2 5 4 4 4 5 4 4 2 4 4 3 4 4 2 2 5 4 2 4 5 2 5 5 4 4 3 17 2 3 4 4 5 4 2 2 4 4 2 2 3 3 5 4 2 2 3 2 4 4 4 4 2 3 4 Rata2 18 2 1 3.8 3 4.4 2 3.8 3 4 1 4.2 2 3.2 1 3.4 2 4.2 1 3.8 3 3.4 3 2.8 1 3.8 3 3.4 2 3.6 3 4 2 3.6 2 3.6 3 3.4 2 3.6 2 4.2 3 2.4 1 3.8 1 3.6 3 3 2 3.8 1 3.6 2 3.57 19 2 3 2 2 2 1 1 2 1 2 2 2 1 2 1 2 1 2 2 1 2 1 2 3 2 3 2 Indkt 4 20 21 1 1 1 2 1 2 2 1 2 1 2 1 2 1 1 1 1 2 3 2 2 1 1 1 2 4 2 1 1 4 2 3 2 2 3 1 1 2 1 1 3 3 2 1 3 2 2 1 2 3 2 2 1 3 22 3 3 3 3 3 5 4 4 4 4 4 4 4 3 4 2 3 5 5 4 4 3 5 5 3 5 4 23 1 2 1 2 1 2 2 2 1 2 2 2 1 3 1 2 1 1 4 1 2 1 2 1 3 2 2 Rata2 1.5 2.33 1.83 2.17 1.67 2.17 1.83 2 1.67 2.67 2.33 1.83 2.5 2.17 2.33 2.17 1.83 2.5 2.67 1.67 2.83 1.5 2.5 2.5 2.5 2.5 2.33 2.17 Jumlah Kriteria 56 74 79 78 76 71 72 77 74 83 77 76 83 86 80 74 83 85 85 75 83 59 74 78 78 78 81 R C C C C C C C C T C C T T T C T T T C T R C C C C T 152 1 BD 2 AP 3 RG 4 RS 5 BQ 6 CY 7 CT 8 DM 9 LN 10 MT 11 IG 12 NY 13 AN 14 MD 15 FH 16 RD 17 ND 18 DD 19 NR 20 IS 21 RS 22 SS 23 FR 24 TR 25 NL 26 RN 27 NS 1 3 4 4 4 4 3 5 4 3 4 3 5 3 4 5 5 5 4 5 5 3 2 4 4 3 4 4 Indkt 1 4 3 2 3 3 5 3 5 4 4 5 5 5 4 3 5 4 3 4 3 2 4 3 4 4 2 4 3

(171) 153 153 Tabel di atas adalah data minat siswa pada siklus I pertemuan 3. Berdasarkan tabel di atas dapat terlihat tinggi rendahnya minat siswa dalam satu kelas. Siswa yang termasuk dalam kategori minat sangat tinggi ada 9 dari 27 (33,3%). 16 siswa (59,3%) termasuk kategori cukup. Sedangkan 2 siswa (7,4%) lainnya memiliki minat yang termasuk rendah. Berdasarkan perhitungan persentase minat dalam satu kelas tersebut, didapat bahwa ada 2 siswa yang memiliki minat yang rendah, hal ini berarti bahwa persentase minat pada siklus I pertemuan 3 ada 92,59%. Perhitungan ini berdasarkan jumlah siswa yang memiliki minat, minimal memiliki skor cukup hingga sangat tinggi. Selain itu, tinggi rendahnya minat juga terlihat dari skor ratarata pada tiap indikator. Indikator rasa senang rata-rata skornya 3.90. Indikator perhatian rata-rata skornya 3,66, keterlibatan 3.57 dan inisiatif 2.17. Berdasarkan perhitungan tinggi rendahnya minat dilihat dari persentase minat siswa dalam satu kelas pada pertemuan 1, 2, 3 siklus I, didapat hasil rata-rata minat siswa dalam satu kelas. Berikut hasil perhitungan minat siswa pada siklus I. Tabel IV.7 Minat dalam Satu Kelas pada Siklus I No 1 2 3 4 5 6 Nama BD AP RG RS BQ CY Pert 1 Pert 2 Pert 3 70 73 56 79 76 74 82 74 79 83 81 78 78 75 76 77 77 71 Rata2 66 76 78 81 76 75 Kriteria C C C T C C

(172) 154 154 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 CT DM LN MT IG NY AN MD FH RD ND DD NR IS RS SS FR TR NL RN NS 72 77 91 85 74 74 81 85 59 77 80 80 63 74 81 70 75 79 73 79 81 62 78 85 77 74 80 78 76 75 81 74 71 78 77 84 87 77 78 79 77 73 72 77 74 83 77 76 83 86 80 74 83 85 85 75 83 59 74 78 78 78 81 69 77 83 82 75 77 81 82 71 77 79 79 75 75 83 72 75 78 77 78 78 C C T T C C T T C C C C C C T C C C C C C Tabel di atas merupakan tabel minat siswa pada siklus I yang diperoleh dari penghitungan rata-rata jumlah skor kuesioner siswa pada pertemuan 1, 2, dan 3 pada siklus I. Berdasarkan tabel di atas, terlihat bahwa siswa yang menunjukkan minat yang tinggi pada siklus I ada 6 siswa (22,22%). Sedangkan siswa yang menunjukkan minat cukup ada 21 siswa (77, 78%). Selain minat dalam satu kelas, peneliti juga menghitung rerata skor minat pada masing – masing indikator untuk mengetahui perbedaan kondisi minat saat kondisi awal dengan siklus I, dan adanya peningkatan minat setelah dilakukan tindakan siklus I. Berikut retata pada tiap indikator.

(173) 155 155 Tabel IV.8 Rerata Skor pada Tiap Indikator Indikator Rasa senang Perhatian Keterlibatan Inisiatif Pert 1 Pert 2 Pert 3 Rata2 siklus I 3.91 3.94 3.90 3.92 3.74 3.52 3.66 3.64 3.71 3.64 3.57 3.64 2.18 2.20 2.17 2.18 Tabel di atas merupakan rerata skor pada tiap indikator minat. Berdasarkan pada tabel di atas terlihat bahwa rerata indikator rasa senang adalah 3,92. Rerata perhatian adalah 3,64. Rerata keterlibatan 3,64 dan Rerata inisiatif 2,18. Berdasarkan perhitungan persentase minat salam satu kelas dan rerata skor pada tiap indikator minat, terlihat adanya peningkatan anatara kondisi awal dengan setelah diberi perlakuan pada siklus I. Berikut tabel peningkatan minat siklus I. Tabel IV. 9 Peningkatan dan Ketercapaian Minat Siklus I Kondisi awal Target Rasa senang Perhatian 3.39 Indikator Siklus 1 Rata2 siklus I Ket 3.93 Meningkat & tercapai 3.89 Pert 1 3.91 Pert 2 3.94 Pert 3 3.90 2.89 3.39 3.74 3.52 3.66 3.64 Meningkat & tercapai Keterlibatan 3.04 3.59 3.71 3.64 3.57 3.64 Meningkat & tercapai Inisiatif 1.81 2.31 2.18 2.20 2.17 2.18 63% 73% 96.3% 100% 92.6% 96.3% Meningkat & Tidak tercapai Meningkat & tercapai minat kelas satu

(174) 156 156 Tabel di atas merupakan tabel peningkatan dan ketercapaian minat siklus I. Berdasarkan tabel di atas, 3 dari 4 indikator minat yaitu rasa senang, keterlibatan dan inisiatif telah meningkat dan memenuhi target. penelitiPersentase minat siswa dalam satu kelas juga telah meningkat dan telah memenuhi target capaian siklus I Sedangkan pada indikator yang keempat yaitu inisiatif, skor rata-ratanya telah meningkat namun peningkatannya tidak sesuai dengan target yang diharapkan. Berdasarkan hasil tersebut, maka. peneliti memutuskan untuk melanjutkan PTK pada siklus II dan menentukan target capaian pada siklus II. Berikut target capaian pada siklus II Tabel IV.10 Target Capaian Minat Siklus II Indikator Rata2 siklus I Target siklus II Rasa senang 3.92 4.42 Perhatian 3.64 4.14 Keterlibatan 3.64 4.14 Inisiatif 2.18 2.68 96.30% 98% minat satu kelas Tabel di atas merupakan tabel target capaian minat siklus II. Berdasarkan tabel di atas, peneliti mentargetkan skor rata-rata siklus minat per indikator dan persentase minat siswa dalam satu kelas dapat meningkat. Peneliti mentargetkan dlam

(175) 157 157 siklus II skor rata-rata indikator rasa senang dapat meningkat menjadi 4,42, indikator perhatian 4,14, indikator keterlibatan 4,14 dan indikator inisiatif 2,68. Persentase minat siswa dalam satu kelas peneliti mentrgetkan meningkat menjadi 98% dalam sikus II. Berdasarkan penelitian yang telah peneliti lakukan berikut data minat siswa dalam siklus II pada siswa kelas IVA SD Negeri Nogotirto.

(176) No. Item Kuesioner No Nama Siswa 2 5 5 3 5 5 3 5 4 5 5 5 4 5 5 5 4 4 5 4 3 5 5 5 4 5 5 4 3 5 4 3 5 5 5 5 4 5 5 5 5 4 5 4 4 4 3 5 3 4 4 4 4 5 4 5 5 5 5 4 5 5 5 4 5 5 4 5 4 5 4 5 4 5 4 4 3 5 5 3 3 3 5 3 6 4 5 4 5 5 4 5 5 5 5 5 4 4 5 4 5 5 5 5 3 5 4 3 5 3 5 4 7 5 3 5 3 3 3 5 3 5 3 5 4 3 3 5 4 3 4 5 3 4 3 5 5 4 5 3 4.71 4.57 3.71 4.71 4.43 4.29 4.86 4.43 4.86 4.43 4.86 4.43 4.43 4.43 4.57 4.29 4.14 4.14 4.71 3 4.71 4.43 4.14 4.29 4 4.71 4 4.38 8 5 5 3 5 5 4 5 5 5 5 5 5 5 4 5 5 4 4 4 3 5 5 5 5 3 5 5 9 5 5 5 4 5 5 5 5 5 5 4 4 5 5 5 5 5 5 5 2 5 5 3 5 3 5 5 Indkt 2 10 5 4 5 5 5 4 5 4 5 4 5 5 4 5 5 4 5 4 5 3 4 5 5 4 3 5 5 11 5 5 5 5 4 5 5 4 5 5 5 4 5 4 5 5 5 4 5 2 5 5 3 5 3 5 5 12 Rata2 13 4 4.8 4 5 4.8 5 5 4.6 4 5 4.8 5 5 4.8 5 5 4.6 5 5 5 4 5 4.6 5 4 4.8 5 5 4.8 5 5 4.8 3 4 4.4 5 4 4.6 5 5 4.6 4 5 5 5 5 4.8 5 3 4.4 3 5 4.4 5 5 4.8 5 3 2.6 2 5 4.8 5 4 4.8 5 5 4.2 5 5 4.8 5 3 3 3 5 5 5 4 4.8 5 4.57 14 5 5 5 4 5 5 5 5 4 4 3 4 4 5 5 5 4 4 5 3 5 5 4 5 3 5 4 Indkt 3 15 16 4 5 4 5 5 3 5 5 5 5 4 5 5 5 5 5 5 3 4 4 5 5 5 4 5 5 5 5 4 5 4 5 5 4 5 4 4 5 2 2 5 5 4 5 5 3 4 5 3 2 4 5 5 5 17 Rata2 18 5 4.6 5 4 4.6 5 5 4.4 4 5 4.8 5 4 4.8 5 5 4.8 4 4 4.6 5 5 5 5 4 4.2 5 5 4.4 5 3 3.8 4 4 4.4 5 4 4.6 5 5 4.8 5 5 4.8 4 5 4.8 5 3 3.8 3 5 4.6 4 5 4.8 5 2 2.2 3 5 5 4 5 4.8 3 5 4.4 5 5 4.8 5 2 2.6 3 5 4.8 3 5 4.8 5 4.44 19 4 5 3 5 4 5 5 3 5 4 5 3 3 5 4 5 3 4 3 2 5 3 4 5 2 5 3 Indkt 4 20 21 5 5 5 3 5 3 4 5 5 5 4 4 3 3 5 3 5 3 5 4 5 3 3 4 4 5 5 4 4 5 5 5 3 5 4 4 5 3 2 2 4 5 3 3 5 5 4 5 2 2 4 3 5 5 Jumlah Kriteria 22 5 5 4 5 5 4 5 3 5 4 5 5 4 5 5 5 5 4 5 3 5 4 4 5 3 4 5 23 4 5 3 4 3 5 5 3 5 4 5 5 3 5 4 5 4 4 4 2 5 3 5 5 2 5 5 4.67 4.67 3.67 4.67 4.5 4.33 4.33 3.67 4.67 4.33 4.5 4.17 4 4.83 4.33 5 3.83 4 4.17 2.33 4.67 3.17 4.67 4.83 2.33 4 4.67 4.19 108 107 93 109 106 103 108 101 107 103 104 100 101 107 107 108 93 98 106 59 110 98 100 107 70 106 104 ST ST T ST ST ST ST ST ST ST ST ST ST ST ST ST T T ST R ST T ST ST C ST ST 158 1 BD 2 AP 3 RG 4 RS 5 BQ 6 CY 7 CT 8 DM 9 LN 10 MT 11 IG 12 NY 13 AN 14 MD 15 FH 16 RD 17 ND 18 DD 19 NR 20 IS 21 RS 22 SS 23 FR 24 TR 25 NL 26 RN 27 NS 1 4 5 3 5 4 5 5 5 5 4 5 5 5 5 4 4 4 4 5 3 5 5 5 5 3 5 5 Indkt 1 4 5 5 4 5 4 5 5 5 4 5 4 5 5 4 5 5 4 4 5 3 5 5 4 4 5 4 4

(177) 159 Tabel di atas merupakan data minat siswa pada siklus II pertemuan 1. Berdasarkan tabel di atas dapat terlihat tinggi rendahnya minat siswa dalam satu kelas. Berdasarkan data di atas, siswa yang memiliki minat rendah sebanyak 1 siswa (3,7%). Siswa yang memiliki minat cukup 1 siswa (3,7%). 4 dari 27 siswa (14,8%) memiliki minat yang tinggi, dan sisanya yaitu 21 siswa (77,78%) memiliki minat yang sangat tinggi. Sedangkan skor rata-rata minat per indikator menunjukkan bahwa pada indikator rasa senang rata-rata skor yang diberikan siswa adalah 4,38. Indikator perhatian skor rata-ratanya 4,57. Indikator keterlibatan rata-ratanya 4,44 dan indikator inisiatif rata-ratanya 4,19. Selain tabel minat siklus II pertemuan 1, peneliti juga menghitung minat siswa pada siklus I pertemuan 2. Berikut perhitungan minat siswa pada siklus I pertemuan 2.

(178) No.Item Kuesioner No Nama Siswa 1 BD 2 AP 3 RG 4 RS 5 BQ 6 CY 7 CT 8 DM 9 LN 10 MT 11 IG 12 NY 13 AN 14 MD 15 FH 16 RD 17 ND 18 DD 19 NR 20 IS 21 RS 22 SS 23 FR 24 TR 25 NL 26 RN 27 NS 1 4 5 4 5 4 5 5 5 5 4 5 5 4 5 3 5 5 4 5 3 4 5 4 5 4 4 5 2 5 5 5 4 5 5 4 5 5 4 5 4 5 5 4 5 5 5 5 4 5 5 5 5 3 5 4 3 4 5 5 5 5 5 5 4 5 5 3 5 5 5 3 4 4 5 5 4 5 5 4 5 3 5 5 Indkt 1 4 5 5 3 5 5 5 3 5 4 5 4 4 5 4 5 5 5 5 4 4 5 5 5 5 4 5 5 5 5 4 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 3 5 5 5 5 4 5 5 5 4 4 5 5 6 5 5 5 5 3 5 3 5 5 5 5 5 5 5 4 5 5 5 5 3 4 5 5 5 2 5 5 7 5 5 5 5 5 4 5 5 5 5 3 5 4 5 3 3 5 5 5 4 5 5 5 4 2 5 4 9 5 5 5 4 5 5 3 4 5 5 5 4 5 5 3 5 5 5 5 3 5 5 4 5 2 5 5 11 5 5 3 5 4 5 4 5 5 5 5 5 4 5 3 4 5 4 5 3 5 5 5 5 3 5 5 12 5 4 5 5 3 5 5 3 5 5 5 5 3 5 4 5 4 5 5 2 4 5 5 5 2 5 4 4.8 4.8 3.8 4.8 4.4 4.2 4.4 3.6 4.8 5 4.4 4.8 4 4.8 3.2 4.4 4.8 4.8 5 2.8 4.8 5 4.8 4.4 2.8 4.8 4.8 4.41 13 5 5 4 5 3 5 4 5 5 4 5 5 4 5 3 5 5 5 5 3 5 4 5 5 2 4 5 14 3 5 3 4 5 5 5 4 5 5 5 5 5 5 3 4 5 4 4 3 5 4 5 5 2 5 5 Indkt 3 15 3 4 5 5 3 4 3 5 4 5 5 4 5 5 5 5 5 5 5 4 5 4 4 5 3 5 5 16 4 5 3 5 4 5 5 5 5 5 3 5 5 4 5 5 4 5 5 3 4 5 3 5 2 5 4 17 5 5 3 5 3 5 3 5 5 5 3 5 5 5 3 3 5 5 5 3 5 5 5 5 2 3 5 4 4.8 3.6 4.8 3.6 4.8 4 4.8 4.8 4.8 4.2 4.8 4.8 4.8 3.8 4.4 4.8 4.8 4.8 3.2 4.8 4.4 4.4 5 2.2 4.4 4.8 4.39 18 5 5 5 3 4 5 4 5 3 3 3 4 5 5 3 4 5 4 5 2 5 4 5 5 2 4 5 19 3 3 3 5 5 4 5 5 3 3 5 5 5 5 3 5 5 5 5 3 5 4 5 5 3 5 4 Indkt 4 20 21 5 5 5 5 3 3 5 4 3 3 3 3 5 3 4 3 4 5 3 5 3 3 5 5 4 3 5 5 3 3 5 5 5 5 5 5 4 5 2 2 3 4 3 4 5 3 4 5 2 2 5 5 5 5 Jumlah Kriteria 22 5 5 4 5 5 5 5 5 5 4 5 5 4 5 5 5 5 5 5 4 5 5 5 5 5 4 5 23 3 4 3 5 5 5 3 3 5 5 3 5 3 4 3 3 5 5 5 3 5 4 4 5 2 5 5 4.33 4.5 3.5 4.5 4.17 4.17 4.17 4.17 4.17 3.83 3.67 4.83 4 4.83 3.33 4.5 5 4.83 4.83 2.67 4.5 4 4.5 4.83 2.67 4.67 4.83 4.22 103 109 90 109 97 104 97 101 107 105 95 110 101 111 80 103 112 111 112 72 108 106 106 109 63 108 110 ST ST T ST T ST T ST ST ST T ST ST ST T ST ST ST ST C ST ST ST ST C ST ST 160 4.71 4.86 4.57 4.86 4.57 4.86 4.29 4.86 4.86 4.71 4.29 4.71 4.71 4.86 3.57 4.57 4.86 4.86 4.86 3.71 4.71 5 4.71 4.71 3.14 4.86 4.71 4.59 8 5 5 3 5 5 3 5 3 5 5 4 5 5 4 3 3 5 5 5 4 5 5 5 3 3 4 5 Indkt 2 10 4 5 3 5 5 3 5 3 4 5 3 5 3 5 3 5 5 5 5 2 5 5 5 4 4 5 5

(179) 161 161 Tabel di atas adalah data minat siswa pada siklus II pertemuan 2. Berdasarkan tabel di atas dapat terlihat tinggi rendahnya minat siswa dalam satu kelas. Berdasarkan data di atas, 2 siswa (7,4%) memiliki minat yang cukup. 5 siswa (18,5%) memiliki minat yang tinggi dan 20 siswa (74,1%) memiliki minat yang sangat tinggi. Berdasarkan data di atas juga diperoleh skor rata-rata masing-masing indikator minat siswa. Indikator rasa senang skornya rata-ratanya 4,59. Indikator perhatian 4,41. Indikator keterlibatan 4,39 dan indikator inisiatif 4,22. Berdasarkan perhitungan persentase minat siswa dalam belajar dan skor ratarata per indikator, diperoleh hasil adanya peningkatan dan ketercapaian minat pada siklus II. Berikut tabel peningkatan dan ketercapaian minat pada siklus II Tabel IV. 13 Peningkatan dan Ketercapaian Minat pada Siklus II Rata2 siklus I Target siklus II Pert 1 Siklus II Pert 2 Rata2 Perasaan senang 3.93 4.42 4.38 4.59 4.49 Perhatian 3.64 4.14 4.57 4.41 4.49 Keterlibatan 3.63 4.13 4.44 4.39 4.41 Inisiatif 2.18 2.68 4.19 4.22 4.28 96.3% 98% 96.30% 100% 98.15% Indikator Minat satu kelas Keteragan Meningkat & Tercapai Meningkat & Tercapai Meningkat & Tercapai Meningkatn & Tercapai Meningkat & Tercapai

(180) 162 162 Tabel di atas merupakan tabel peningkatan dana ketercapaian minat pada siklus II. Berdasarkan tabel di atas terlihat bahwa setelah dilakukan tindakan pada siklus II, semua indikator minat dapat meningkat dan memenuhi target yang ditetapkan peneliti. Selain itu, minat siswa dalam satu kelas juga meningkat dan memenuhi target. Hal ini menunjukkan bahwa penelitian pada siklus II telah berhasil. Berdasarkan data pada tabel IV.9 dan IV.13 yang merupakan tabel minat pada siklus I dan siklus II, terlihat bahwa minat siswa dalam belajar dari kondisi awal, siklus I sampai siklus II terus mengalami peningkatan. Hal ini dapat terlihat dari banyaknya siswa yang awalnya memiliki minat rendah atau cukup dalam kondisi awal, berubah menjadi memiliki minat yang tinggi atau sangat tinggi dalam siklus I dan siklus II. Berikut tabel peningkatan minat dari kondisi awal samapai siklus II Tabel IV.14 Data Minat Siswa Satu Kelas pada Kondisi Awal, Siklus I, dan Siklus II No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Nama BD AP RG RS BQ CY CT DM LN MT Data Awal Skor Kriteria 62 C 63 C 61 C 55 R 63 C 74 C 62 C 65 C 67 C 55 R Siklus 1 Skor Kriteria 66 C 76 C 78 C 81 T 76 C 75 C 69 C 77 C 83 T 82 T Siklus 2 Skor Kriteria 106 ST 108 ST 92 T 109 ST 102 ST 104 ST 103 ST 101 ST 107 ST 104 ST

(181) 163 163 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 IG NY AN MD FH RD ND DD NR IS RS SS FR TR NL RN NS Siswa berminat Presentase 68 57 59 65 64 50 61 65 56 72 60 58 68 59 70 60 66 C R R C C R C C R C R R C R C R C 15 siswa 55,56% 75 77 81 82 71 77 79 79 75 75 83 72 75 78 77 78 78 C C T T C C C C C C T C C C C C C 100 105 101 109 94 106 103 105 109 66 109 102 103 108 67 107 107 27 siswa 100% ST ST ST S T ST ST ST ST C ST ST ST ST C ST ST 27 siswa 100% Tabel di atas menunjukkan adanya peningkatan jumlah siswa yang memiliki minat belajar dari kondisi awal, siklus I sampai siklus II. Pada kondisi awal, siswa yang terlihat memiliki minat belajar dari kriteria cukup hingga sangat tinggi sebanyak 15 siswa (55,6%). Hasil tersebut meningkat pada siklus I dan siklus II. Pada siklus I dan siklus II minat siswa meningkat menjadi 100%. Minat siswa pada siklus I dan siklus II sama-sama meningkat menjadi 100%, perbedaannya terdapat pada jumlah pada tiap kategori minat. Siswa yang memiliki minat sangat tinggi dalam siklus II lebih banyak daripada siswa yang memiliki minat sangat tinggi pada siklus I.

(182) 164 164 Berdasarkan data peningkatan minat pada siklus I dan siklus II, diperoleh peningkatan minat dari kondisi awal, siklus I, hingga siklus II. Berikut peningkatan minat dilihat dari ketercapaian target indikator minat mulai dari kondisi awal, siklus I hingga siklus II. Tabel IV.15 Hasil Minat Kondisi Awal, Siklus I dan Siklus II Var. Minat Minat siklus 1 Indikator Target capaian siklus 1 Sikap ceria 3,39 3.89 3.93 Tercapai 4.42 4.49 Tercapai Perhatian 2,67 3.39 3.64 Tercapai 4.14 4.49 Tercapai Keterlibat an 2,89 3.59 3.64 Tercapai 4.13 4.41 Tercapai Inisiatif 1.81 2.31 2.18 Tidak Tercapai 2.68 4.20 Tercapai 98% 98.15 % Tercapai Persentase minat satu kelas 63% 73% Ket 96.30% Tercapai Target capaian siklus 2 Minat siklus 2 Kon disi awal Ket Data di atas adalah data peningkatan minat dilihat dari peningkatan pada tiap indikator. Berdasarkan data di atas, dapat terlihat bahwa skor rata-rata pada tiap indikator minat saat kondisi awal meningkat setelah dilakukan tindakan siklus I dan siklus II. Skor rata-rata minat siswa yang pada kondisi awal yang bisa dibilang rendah, pada siklus I dan siklus II terjadi peningkatan. Selain itu persentase minat dalam satu kelas yang dalam kondisi awal 63% meningkat 96,30% pada siklus I, dan meningkat lagi menjadi 98,15% pada siklus II.

(183) 165 165 2. Hasil Peningkatan Prestasi Prestasi belajar adalah hasil atau umpan balik yang diterima siswa setelah melakukan aktivitas belajar. Menurut Azwar (2012:8) tes prestasi belajar mencakup tiga kawasan tujuan pendidikan menurut Bloom yaitu kognitif, afektif dan psikomotor. Berdasarkan hal tersebut, maka dalam peneliti menggunakan ketiga kawasan atau aspek tersebut (kognitif, afektif, psikomotor) untuk mengukur prestasi siswa dalam belajar. Aspek kognitif dilihat dari penilaian peneliti terhadap lembar evaluasi. Aspek afektif peneliti ambil dari penilaian rubrik afektif, dan aspek psikomotor peneliti ambil dari penilaian saat percobaan. Lembar evaluasi siklus I dan siklus II berisi 20 item tes pilihan ganda yang diberikan pada siswa pada setiap akhir siklus. Penilaian afektif dilakukan dengan melihat minat siswa pada setiap pertemuan yang terlihat pada lembar kuesioner yang diisi siswa. Penilaian psikomotor peneliti dapat berdasarkan rubrik pengamatan psikomotor pada saat siswa melakukan percobaan. Nilai akhir prestasi belajar siswa siklus I ditentukan dengan menghitung rata-rata nilai kognitif, afektif dan psikomotor. Berdasarkan perhitungan nilai akhir tersebut, dapat dihitung nilai rata-rata siswa dalam satu kelas. Rata-rata nilai akhir siswa dalam satu kelas yang dibagi dengan jumlah siswa satu kelas merupakan penghitungan nilai rata-rata satu kelas. Penghitungan jumlah siswa yang lulus KKM tidak jauh berbeda dengan

(184) 166 166 penghitungan rata-rata nilai satu kelas. Siswa dapat dikatakan lulus KKM apabila siswa tersebut memiliki nilai diatas atau sama dengan standar nilai KKM yang ditentukan oleh sekolah. KKM mata pelajaran IPA Kelas IVA SD Negeri Nogotirto adalah 67. Berikut tabel prestasi belajar siswa siklus I.

(185) No Nilai Psikomotor 3 Rata2 afektif Pert 1 Pert 2 Pert 3 Rata2 psikomotor Nilai Akhir 56 60.9 50.0 50.0 50.0 55.6 60 74 67.0 50.0 66.7 83.3 66.7 66 79 65.5 83.3 83.3 83.3 88.9 83 78 78.8 66.7 83.3 66.7 83.3 87 76 64.1 83.3 83.3 100.0 88.9 81 71 76.2 83.3 66.7 66.7 83.3 87 72 59.1 50.0 50.0 83.3 61.1 60 77 73.9 83.3 83.3 83.3 83.3 81 74 74.2 66.7 50.0 66.7 77.8 84 83 73.3 66.7 83.3 50.0 83.3 84 77 70.4 66.7 83.3 100.0 94.4 65 76 68.4 66.7 66.7 66.7 72.2 79 83 73.9 83.3 66.7 66.7 83.3 86 86 73.0 83.3 100.0 83.3 88.9 87 80 72.2 50.0 83.3 66.7 72.2 66 74 75.4 50.0 66.7 66.7 77.8 74 83 69.9 83.3 83.3 100.0 88.9 76 85 71.9 83.3 50.0 50.0 83.3 78 85 75.9 66.7 66.7 100.0 88.9 72 75 55.4 50.0 50.0 50.0 66.7 64 83 75.7 83.3 83.3 100.0 94.4 85 59 83.2 83.3 50.0 83.3 72.2 80 74 72.5 50.0 50.0 50.0 83.3 64 78 71.3 66.7 66.7 50.0 83.3 80 78 67.5 100.0 66.7 83.3 94.4 66 78 75.7 50.0 66.7 50.0 66.7 81 81 68.1 66.7 100.0 66.7 94.4 88 70.9 80.7 76.4 KKM 67 67 67 67 67 67 67 67 67 67 67 67 67 67 67 67 67 67 67 67 67 67 67 67 67 67 67 Ket Tidak lulus Tidak lulus Lulus Lulus Lulus Lulus Tidak lulus Lulus Lulus Lulus Tidak lulus Lulus Lulus Lulus Tidak lulus Lulus Lulus Lulus Lulus Tidak lulus Lulus Lulus Tidak lulus Lulus Tidak lulus Lulus Lulus 167 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 Nilai afektif Nama Nilai Evaluasi Pert 1 Pert 2 Pert BD 65 61 63 AP 65 69 66 RG 95 71 64 RS 100 72 70 BQ 90 68 65 CY 100 67 67 CT 60 63 54 DM 85 67 68 LN 100 79 74 MT 95 74 67 IG 30 64 64 NY 95 64 70 AN 100 70 68 MD 100 74 66 FH 55 51 65 RD 70 67 70 ND 70 70 64 DD 80 70 62 NR 50 55 68 IS 70 64 67 RS 85 70 73 SS 85 61 76 FR 35 65 67 TR 85 69 68 NL 35 63 69 RN 100 69 67 NS 100 70 63 Rata2 84

(186) 168 168 Tabel di atas adalah data prestasi belajar siswa siklus I. Data tersebut menunjukkan perolehan nilai kogitif, afektif, dan psikomotor masing-masing siswa, hingga didapat nilai akhir masing-masing siswa. Berdasarkan data di atas terlihat bahwa nilai rata-rata prestasi belajar siswa kelas IVA adalah 76,4. Sedangkan jumlah siswa yang lulus KKM ada 19 siswa (70,37%). Berdasarkan data tersebut peneliti kemudian membandingkan data nilai siswa dalam satu kelas dan jumlah siswa yang lulus KKM dengan nilai siswa saat kondisi awal serta target capaian prestasi siklus I. Berikut tabel perbandingan prestasi belajar siswa siklus I dengan kondisi awal dan target capaian siklus I. Tabel IV.17 Perbandinagn prestasi belajar kondisi awal dengan siklus I Variabel Prestasi Indikator Kondisi Awal Target Capaian Siklus I Prestasi Siklus 1 Siswa yang lulus KKM 57,2% 68% 70,4% Rata-rata nilai 73 83 74,6 Ket. Meningkat & Tercapai Meningkat & Tidak tercapai Tabel di atas adalah perbandingan prestasi belajar siswa dalam kondisi awal dengan prestasi belajar siswa pada siklus I. Selain itu pada tabel di atas juga dapat dilihat ketercapaian target prestasi siklus I dengan prestasi belajar siswa pada siklus I. Berdasarkan perbandingan prestasi belajar siswa pada kondisi awal dengan prestasi

(187) 169 169 saat siklus I pada tabel di atas, terlihat ada peningkatan prestasi setelah dilakukan tindakan siklus I. Siswa yang lulus KKM yang awalnya hanya 57,2% setelah siklus I meningkat menjadi 70,4%. Sedangkan nilai rata-rata kelas yang dalam kondisi awal 73 meningkat menjadi 74,6 setelah dilakukan tindakan siklus I. Peningkatan yang terjadi pada prestasi belajar siswa berbanding terbalik dengan ketercapaian prestasi belajar siswa. Prestasi belajar siswa dilihat dari rata-rata kelas pada siklus I belum memenuhi target capaian yang ditetapkan peneliti. Nilai rata-rata kelas pada siklus I sebesar 74,6 belum sesuai dengat target yang ditetapkan peneliti sebesar 84. Berdasarkan data tersebut, peneliti memutuskan untuk melanjutkan penelitian pada siklus II. Peneliti berharap nilai rata-rata kelas pada siklus I yang belum memenuhi target dapat meningkat dan memenuhi target pada siklus II. Guna melihat peningkatan yang terjadi pada siklus II, peneliti membuat target capaian minat. Berikut tabel target capaian prestasi siklus II. Tabel IV.18 Tabel target capaian siklus II Variabel Indikator Prestasi Siswa yang lulus KKM Belajar Rata-rata kelas Prestasi siklus I 70,4% 74,6 Target capaian siklus II 81% 75 Selain prestasi belajar siswa siklus I, peneliti juga menghitung pretasi siswa siklus II. Berikut perhitungan prestasi belajar siswa siklus II.

(188) No Nama Siswa Nilai Evaluasi 75 95 75 75 80 75 95 100 80 90 90 75 85 75 100 80 100 85 95 80 90 85 95 100 95 85 90 86.9 Rata2 Nilai Afektif 91.7 93.9 79.6 94.8 88.3 90.0 89.1 87.8 93.0 90.4 86.5 91.3 87.8 94.8 81.3 91.7 89.1 90.9 94.8 57.0 94.8 88.7 89.6 93.9 57.8 93.0 93.0 88.0 Pert 1 83.3 66.7 66.7 100.0 83.3 100.0 66.7 100.0 100.0 83.3 100.0 100.0 83.3 100.0 100.0 100.0 100.0 83.3 100.0 100.0 100.0 100.0 66.7 100.0 100.0 100.0 100.0 Nilai Psikomotor Pert 2 100 66.7 66.7 83.3 100.0 100 83.3 100.0 100 83.3 100.0 100.0 83.3 100.0 100.0 83.3 100.0 100.0 83.3 100.0 66.7 100.0 100.0 66.7 100.0 100.0 100.0 Nilai PsikoNilai Akhir 91.7 66.7 66.7 91.7 91.7 100.0 75.0 100.0 100.0 83.3 100.0 100.0 83.3 100.0 100.0 91.7 100.0 91.7 91.7 100.0 83.4 100.0 83.3 83.4 100.0 100.0 100.0 91.7 86.1 85.2 73.7 87.1 86.6 88.3 86.4 95.9 91.0 87.9 92.2 88.8 85.4 89.9 93.8 87.8 96.4 89.2 93.8 79.0 89.4 91.2 89.3 92.4 84.3 92.7 94.3 88.8 KKM Ket 67 67 67 67 67 67 67 67 67 67 67 67 67 67 67 67 67 67 67 67 67 67 67 67 67 67 67 Lulus Lulus Lulus Lulus Lulus Lulus Lulus Lulus Lulus Lulus Lulus Lulus Lulus Lulus Lulus Lulus Lulus Lulus Lulus Lulus Lulus Lulus Lulus Lulus Lulus Lulus Lulus 170 1 BD 2 AP 3 RG 4 RS 5 BQ 6 CY 7 CT 8 DM 9 LN 10 MT 11 IG 12 NY 13 AN 14 MD 15 FH 16 RD 17 ND 18 DD 19 NR 20 IS 21 RS 22 SS 23 FR 24 TR 25 NL 26 RN 27 NS Rata-rata Nilai Afektif Pert 1 Pert 2 93.9 89.6 93.0 94.8 80.9 78.3 94.8 94.8 92.2 84.3 89.6 90.4 93.9 84.3 87.8 87.8 93.0 93.0 89.6 91.3 90.4 82.6 87.0 95.7 87.8 87.8 93.0 96.5 93.0 69.6 93.9 89.6 80.9 97.4 85.2 96.5 92.2 97.4 51.3 62.6 95.7 93.9 85.2 92.2 87.0 92.2 93.0 94.8 60.9 54.8 92.2 93.9 90.4 95.7

(189) 171 171 Tabel di atas merupakan data prestasi belajar siswa siklus II. Data tersebut menunjukkan perolehan nilai kogitif, afektif, dan psikomotor masing-masing siswa, hingga didapat nilai akhir masing-masing siswa. Berdasarkan data dia tas terlihat bahwa nilai rata-rata prestasi belajar siswa kelas IVA adalah 88,8. Sedangkan jumlah siswa yang lulus KKM ada 27 siswa (100%). Berdasarkan data tersebut peneliti kemudian membandingkan data nilai siswa dalam satu kelas dan jumlah siswa yang lulus KKM dengan nilai siswa saat siklus I serta target capaian prestasi siklus II. Berikut tabel perbandingan prestasi belajar siswa siklus II dengan siklus I dan target capaian siklus II. Tabel IV.20 Perbandingan prestasi belajar siklus I dan siklus II Variabel Indikator Siswa yang lulus KKM Prestasi Siklus 1 Target Capaian Siklus II Prestas Siklus II Ket. 70,4% 81% 100% Meningkat & Tercapai 74,6 75 88,8 Meningkat & Tercapai Prestasi Rata-rata nilai Tabel di atas adalah perbandingan prestasi belajar siswa siklus I dengan siklus II. Berdasarkan perbandingan prestasi belajar siswa pada siklus I dengan siklus II pada tabel diatas, terlihat ada peningkatan prestasi setelah dilakukan tindakan siklus II. Siswa yang lulus KKM yang pada siklus I ada 70,4% meningkat menjadi 100%. Sedangkan nilai rata-rata kelas yang pada siklus I 74,6 meningkat menjadi 88,8 setelah dilakukan tindakan siklus II. Selain itu pada tabel di atas juga dapat dilihat ketercapaian target prestasi siklus II dengan prestasi

(190) 172 172 belajar siswa pada siklus II. Prestasi belajar siswa pada siklus II telah melampai target prestasi belajar yang peneliti tetapkan. Siswa yang lulus KKM dalam siklus II sebesar 100% telah melampaui target prestasi belajar siklus II yang ditetapkan peneliti sebesar 81%. Sedangkan nilai rata-rata siswa yang pada siklus II mencapai 88,8 telah melampaui target nilai rata-rata siswa siklus II sebesar 75. Berdasarkan data perbandingan prestasi belajar siswa pada kondisi awal dengan siklus I dan siklus I dengan siklus II, terlihat ada peningkatan prestasi yang dialami siswa. Peningkatan tersebut dapat terlihat dari tabel berikut. Tabel IV. 21 Prestasi dari kondisi awal, siklus I, dan siklus II Var. Indikator Prestasi Siswa yang lulus KKM Nilai ratarata kelas Kondisi Awal Target capaian siklus I Siklus I Target capaian siklus II Siklus II 57,3% 68% 70,4% 81% 100% 73 83 76,4 87 93,2 Tabel di atas adalah perbandingan prestasi belajar siswa dari kondisi awal, siklus I dan siklus II. Berdasarkan tabel di atas, terjadi peningkatan prestasi belajar siswa dilihat dari persentase siswa yang lulus KKM dan nilai rata-rata kelas. Selain itu, pada tabel di atas juga dapat dilihat bahwa peningkatan minat tersebut telah melampaui target yang telah ditetapkan peneliti. Nilai rata-rata kelas yang pada siklus I belum melampaui target, pada siklus II dapat meningkat dan melampaui target.

(191) 173 173 C. Pembahasan Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas model Kemmis dan Taggart yang dilakukan dalam dua siklus seperti yang dikemukakan Arikunto (2008:23) dengan urutan rancangan kegiatan pada tiap siklus meliputi: perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Pada model Kemmis dan Taggart, kegiatan pelaksanaan dan observasi dilakukan dalam waktu yang sama sesuai dengan yang dikemukakan oleh Kusumah (2012:21). Penelitian ini dilakukan untuk meningkatan minat dan prestasi belajar siswa dalam mata pelajaran IPA menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas IVA SD Negeri Nogotirto yang berjumlah 27 siswa. Guna mengukur peningkatan minat yang terjadi pada siswa, peneliti berdasarkan 4 indikator minat seperti yang dikemukakan oleh Safari (2003:60) dan Djamarah (2002:132). Keempat indikator minat itu antara lain rasa senang, perhatian, keterlibatan, dan inisiatif, yang dijabarkan dalam 23 item pernyataan pada lembar kuesioner dan lembar observasi. Sedangkan untuk mengukur peningkatan prestasi peneliti menggunakan tiga aspek pembelajaran yaitu aspek kognitif, afektif dan psikomotor. Aspek kognitif peneliti lihat berdasarkan hasil nilai siswa pada lembar evaluasi. Aspek afektif peneliti lihat berdasarkan penilaian terhadap lembar kuesioner yang telah diisi masing-masing siswa. Sedangkan aspek psikomotor peneliti ukur dengan menggunakan lembar pengamatan saat percobaan.

(192) 174 174 Siklus pertama pada penelitian ini dilaksanakan dalam 3 kali pertemuan dengan alokasi waktu 2 x 35 menit pada setiap pertemuan. Pada setiap pertemuan, siswa melakukan percobaan yang berbeda. Pertemuan pertama sikls I berlangsung pada tanggal 11 November 2013. Pada pertemuan ini siswa melakukan percobaan mengenai materi perubahan benda padat ke cair dan padat ke cair. Percobaan yang dilakukan dengan mengencerkan cokelat dan membekukannya kembali. Berikut gambaran pertemuan pertama siklus I. Gambar IV.1 Siklus I pertemuan 1 Gambar di atas adalah gambar pada siklus I pertemuan 1 pada materi perubahan wujud benda padat ke cair dan dari cair ke padat. Pada gambar diatas terlihat bahwa siswa sedang membekukan coklat yang ada pada mangkuk dengan memasukkan es batu kedalam mangkuk. Sebelumnya coklat tersebut berbentuk batang kemudian dicairkan dengan cara didinginkan, setelah itu dipadatkan kembali dengan dimasukkan es. Pertemuan kedua siklus I terjadi pada tanggal 13 November 2013, siswa melakukan percobaan mengenai materi perubahan benda cair ke gas dan gas ke

(193) 175 175 cair. Percobaan yang dilakukan dengan merebus air berwarna dan kemudian mendinginkannya. Berikut gambaran kegiatan siswa pada pertemuan 2 siklus I. Gambar IV.2 Siklus I pertemuan 2 Gambar di atas adalah gambar pada siklus I pertemuan 2. Pada gambar di atas terlihat siswa memanaskan air berwarna dan melihat perubahan yang terjadi setelah dipanaskan. Setelah dipanaskan, siswa mendinginkan air tersebut kemudian melihat perubahan yang terjadi. Pertemuan ketiga terjadi pada tanggal 13 November 2013. Pada pertemuan ketiga dengan menggunakan model PBL, siswa melakukan percobaan mengenai perubahan benda padat menjadi gas. Percobaan yang dilakukan dengan memanaskan kapur barus. Berikut gambaran percobaan siswa pada pertemuan 3.

(194) 176 176 Gambar IV.3 Siklus I pertemuan 3 Pada gambar di atas terlihat bahwa siswa sedang memanaskan kapur barus. Hal ini dilakukan untuk membuktikan adanya perubahan benda dari padat ke gas.Hal inilah yang dilakukan siswa pada pertemuan 3 siklus I. Selain siklus I, peneliti juga melakukan tindakan siklus II. Berikut bukti pertemuan pada siklus II Siklus kedua pada penelitian ini dilaksanakan dalam 2 kali pertemuan dengan alokasi waktu 2 x 35 menit pada masing-masing pertemuan. Pertemuan pertama berlangsung tanggal 20 November 2013. Pada pertemuan pertama, siswa mempelajari materi tentang bahan-bahan penyusun benda. Siswa pada pertemuan pertama melakukan observasi bahan penyusun benda dari benda-benda yang ada di lingkungan sekitar sekolah. Berikut gambaran kegiatan siswa pada siklus II pertemuan 1.

(195) 177 177 Gambar IV.4 Siklus II pertemuan 1 Gambar di atas adalah gambar siswa yang sedang belajar di luar kelas. Siswa pada siklus II pertemuan 1 diminta untuk mengidentifikasi bahan penyusun benda dari benda-benda yang ada disekitar lingkungan sekolah siswa. Siswa mengidentifikasi benda dikantin, perpustakaan dan ruang kelas. Terlihat seorang anak sedang membawa sebuah hiasan kayu yang terbuat dari batok kelapa. Pertemuan selanjutnya adalah pertemuan dua. Pertemuan 2 siklus II terjadi pada tanggal 21 November 2013. Pada pertemuan kedua, siswa mempelajari materi tentang sifat bahan dan kegunaan benda. Siswa melakukan percobaan untuk membuktikan sifat benda-benda yang ada di lungkungan sekitar yang telah siswa bawa. Siswa melakukan percobaan apakah benda yang terbuat dari kaca mudah terbakar atau tidak, benda yang terbuat dari kayu tembus air atau tidak dan lain sebagainya. Berikut bukti pertemuan pembelajaran yang dilakukan peneliti pada pertemuan 2

(196) 178 178 Gambar IV.5 Siklus II pertemuan 2 Gambar di atas adalah gambar pada pertemuan 2 siklus II. Pada pertemuan ini siswa diminta untuk mengidentifikasi sifat-sifat bahan penyusun benda dengan cara dipanaskan, ditekan, dan dimasukkan kedalam air. Kedua siklus tersebut menggunakan pendekatan SCL model PBL. Penerapan pendekatan SCL dalam penelitian ini terlihat dari peran aktif siswa ketika melaksanakan tujuh langkah PBL. Peneliti menerapkan 7 langkah model pembelajaran PBL dalam setiap proses pembelajaran sesuai dengan teori Saverinus (2013: 10). Peneliti yakin ketujuh langkah PBL tersebut mampu meningkatkan minat siswa dalam belajar setelah melihat 7 ciri PBL yang dikemukakan oleh Dain Mardi (2012:1) bahwa PBL mengaktifkan siswa dalam belajar, yang menjadi salah satu pendorong munculnya minat. Selain itu, peneliti memilih PBL untuk meningkatkan minat siswa dalam belajar karena pada lima penelitian yang relevan yang peneliti gunakan dalam penelitian, belum ada yang menyetakan bahwa PBL mampu meningkatkan minat siswa dalam Belajar. Kelima penelitian itu antara lain dari Demirel, Melek & Belma Arslan (2010) dan dari Steele, Medder & Tunner (2000), Hananto (2012), Risdiato, S. (2012) dan

(197) 179 179 Yohanes Batista Ibnu P (2012). Berikut garis besar uraian ketujuh langkah PBL yang telah peneliti lakukan pada setiap pertemuan pembelajaran: 1. Identifikasi masalah Setelah siswa dan guru menemukan masalah yang terkait dengan materi yang sedang diajarkan, masalah tersebut diidentifikasi. Masalah tersebut didiskusikan dalam kelompok untuk dipahami bersama-sama dan dirumuskan jawaban sementara terhadap masalah tersebut. Berikut bukti gambaran identifikasi masalah. Gambar IV.9 Identifikasi masalah 2. Merancang kegiatan penyelesaian masalah Setelah masalah dipahami, siswa dalam kelompok kemudian merancang kegitatan penyelesaian masalah berupa merancang percobaan atau pengamatan sederhana yang akan dilakukan untuk membutktika jawaban sementara. Siswa menuliskan alat, bahan, serta langkah-langkah yang akan dilakukan. Berikut penyelesaian masalah. bukti gambaran siswa merancang kegiatan

(198) 180 180 Gambar IV.10 Merancang Kegiatan Penyelesaian Masalah 3. Melaksanakan kegiatan penyelesaian masalah Rancangan yang telah selesai kemudian dilaksanakan. Pelaksanaan penyelesaian masalah dilakukan sesuai dengan rancangan yang telah dibuat sebelumnya. Sesuai dengan alat, bahan, serta langkah yang telah dibuat sebelumnya. Berikut gambar pelaksanaan kegiatan masalah. Gambar IV.11 Melaksanakan kegiatan penyelesaian masalah 4. Kegiatan tutorial Selama melaksanakan kegiatan penyelesaian masalah, secara berkala kelompok harus melaporkan kegiatan penyelesaian masalah pada guru. Hal ini dilakukan agar guru dapat memberikan evaluasi atau memberikan

(199) 181 181 saran apabila ada masalah dalam melaksanakan kegiatan penyelesaian masalah. Berikut gambaran kegiatan tutorial. Gambar IV.12 Kegiatan tutorial 5. Melanjutkan kegiatan penyelesaian masalah Setelah mendapatkan saran dari guru, siswa melanjutkan kegiatan penyelesaian masalah dengan melanjutkan percobaan atau pengamatan. Gambar IV.13 Melanjutkan kegiatan penyelesaian masalah 6. Menyusun laporan Setelah kegiatan penyelesian masalah selesai dilaksanakan, siswa diminta untuk menyusun laporan terkait dengan proses percobaan yang telah dilakukan dan hasil yang didapat setelah melakukan percobaan. Berikut gambaran siswa menyusun laporan

(200) 182 182 Gambar IV.14 Menyusun Laporan 7. Penilaian. Guru melakukan penilaian dengan melakukan observasi kinerja pada saat kegiatan percobaan, dengan tes tertulis, dan melalui lembar kuesioner yang dibagikan pada siswa. Observasi kinerja dilakukan untuk mengukur aspek psikomotor. Tes tertulis berupa tes pilihan ganda dilakukan untuk menilai aspek kognitif. Sedangkan penilaian afektif dilakukan dengan menilai perolehan skor yang didapat siswa berdasarkan lembar kuesioner. Gambar IV.15 Penilaian Ketujuh langkah PBL tersebut telah peneliti terapkan dalam kegiatan inti. Selain penerapan PBL dalam proses pembelajaran, pada setiap akhir pertemuan peneliti juga telah membagikan kuesioner dan lembar refleksi untuk mengetahui

(201) 183 183 minat siswa dalam belajar. Penilaian prestasi yang meliputi tiga aspek pembelajaran (kognitif, afektif, dan psikomotor) juga telah peneliti lakukan dengan melakukan penilaian pada lembar evaluasi, penilaian pada lembar kuesioner, dan penilaian saat siswa melakukan percobaan atau pengamatan. Berdasarkan semua itu, berikut hasil penelitian ini: Berdasarkan hasil penelitian yang telah peneliti lakukan pada siklus I dan II dengan menerapkan 7 langkah model PBL, terbukti bahwa pendekatan SCL model Problem Based Learning (PBL) dapat meningkatkan minat belajar siswa dalam mata pelajaran IPA. Hal tersebut terbukti dari hasil peningkatan minat pada kondisi awal, siklus I, hingga siklus II yang telah peneliti lakukan pada siswa kelas IVA SD Negeri Nogotirto. Berikut grafik peningkatan minat siswa. Gambar IV.16 Peningkatan Minat Berdasarkan Indikator

(202) 184 184 Berdasarkan tabel dan gambar diagram di atas terbukti bahwa ada peningkatan minat siswa dalam belajar setelah dilakukan pembelajaran dengan pendekatan SCL model PBL. Peningkatan terjadi pada keempat indikator minat pada siklus I dan siklus II setelah dilakukan pendekatan SCL model PBL. Hal tersebut sesuai dengan teori Safari (2003:60) dan Djamarah (2002:132) bahwa minat dilihat dari empat indikator yaitu rasa senang, perhatian, keterlibatan, dan inisiatif. Pada indikator rasa senang yang skor rata awalnya hanya 3,39, pada siklus I meningkat menjadi 3,92, dan meningkat lagi menjadi 4.49 pada siklus II. Indikator perhatian yang awalnya 2.89 meningkat menjadi 3.64 pada siklus I, dan pada siklus II meningkat lagi menjadi 4.49. Indikator keterlibatan yang awalnya 3.04 meningkat menjadi 3.64 pada siklus I dan meningkat menjadi 4.41. Indikator inisiatif yang dalam kondisi awal hanya 1.81 meningkat menjadi 2,18 pada siklus I dan meningkat lagi menjadi 4,2 pada siklus II. Peningkatan tersebut tergambar dari hasil perhitungan lembar kuesioner yang diisi siswa. Gambaran pengerjaan lembar kuesioner dapat dilihat dalam lampiran 2. Peningkatan minat siswa dalam bejar juga terlihat dari sikap siswa yang sesuai dengan empat indikator minat dalam belajar. Sikap tersebut terlihat ketika siswa melakukan pembelajaran dengan pendekatan SCL model PBL. Berikut bukti-bukti adanya peningkatan minat belajar siswa pada pembelajaran sesuai indikator minat.

(203) 185 185 Gambar IV.17 Rasa senang siswa Gambar di atas menunjukkan bahwa siswa senang terhadap pembelajaran. Siswa terlihat senang ketika melakukan kegiatan percobaan. Seperti yang diungkapkan peneliti sebelumnya, rasa senang merupakan salah satu indikator minat. Siswa yang merasa senang dengan tersenyum dn tertawa menunjukkan adanya minat dalam diri siswa. Gambar IV.18 Perhatian Siswa Gambar di atas merupakan gambaran bahwa ada perhatian ketika belajar. Siswa memperhatikan guru saat mengajar. Perhatian merupakan salah satu

(204) 186 186 indikator minat. Siswa yang memiliki perhatian dalam pembelajaran, dapat dikatakan siswa tersebut memiliki minat belajar. Gambar IV.19 Keterlibatan siswa Gambar di atas menunjukkan adanya indikator minat yang ketiga yaitu keterlibatan siswa. Keterlibatan siswa dalam penelitian ini ditunjukkan dengan kemauan siswa untu mengerjakan tugas dari guru, bekerjasama dalam kelompok, dan ikut terlibat dalam kegiatan percobaan. Gambar IV.20 Inisiatif Siswa

(205) 187 187 Inisiatif merupakan indikator terakhir dari minat siswa. Siswa yang memiliki inisiatif dalam belajar dapat dikatakan memiliki minat belajar. Berdasarkan gambar diatas inisiatif ditunjukkan dengan ketertarikan siswa melakukan percobaan, dan kemauan siswa untuk mengeluarkan pendapat tanpa diminta guru. Adanya peningkatan pada minat siswa dalam belajar setelah dilakukan tindakan siklus I dan siklus II tersebut membuktikan bahwa model pembelajaran PBL mampu meningkatkan minat belajar siswa dalam mata pelajaran IPA. PBL yang menurut Severinus (2013:8) merupakan salah satu model pembelajaran SCL, dimana siswa menyelesaikan masalah dalam kehidupan nyata melalui kegiatan percobaan atau pengamatan ternyata dapat meningkatkan minat siswa. Siswa menjadi tetarik atau terdorong untuk melakukan setiap kegiatan pembelajaran setelah proses pembelajaran dilakukan dengan model PBL. Ketertarikan siswa tersebut dapat terlihat berdasarkan peningkatan pada empat indikator minat (rasa senang, perhatian, keterlibatan, dan inisiatif) setelah dilakukan siklus I dan II. Peningkatan minat siswa juga terlihat dari lembar observasi. Berdasarkan lembar observasi, siswa yang pada awalnya datang terlambat, setelah pembelajaran dilakukan dengan PBl menjadi datang tepat wantu. Selain itu siswa beberapa siswa juga terlihat memperhatikan guru ketika pmbelajran IPA berlangsung agar dapat menyelesaikan masalah dengan baik. Keterlibatan siswa juga meningkat. Hal ini terlihat dari kerjasama siswa dalam kelompok dan kemuan siswa untuk menjawab pertanyaan dari guru. Inisiatif siswa dalam

(206) 188 188 pebelajaran juga terlihat. Siswa mau melakukan percobaan dan beberapa siswa mau mencatat materi yang sedang dipelajari. Adanya peningkatan minat, menurut Susanto (2013:67) juga mempengaruhi peningkatan prestasi belajar siswa. Hal tersebut terbukti dari hasil peningkatan prestasi siswa berdasarkan ranah kognitif, afektif, dan psikomotor pada siswa kelas IVA SD Negeri Nogotirto dengan menggunakan pendekatan SCL model PBL. Penilaian terhadap ranah kognitif peneliti lihat berdasarkan pengerjaan soal evaluasi siswa pada siklus I dan II. Penilaian afektif peneliti lakukan melalui perhitungan pengerjaan lembar kuesioner dan nilai psikomotor peneliti liat melaui pengamatan peneliti saat kegiatan tutorial. Berdasarkan penelitian yang telah peneliti lakukan pada siklus I dan II, minat siswa yang meningkat juga menyebabkan prestasi belajar siswa yang meningkat. Peningkatan prestasi tersebut peneliti lihat berdasarkan perhitungan nilai rata-rata nilai kelas dan persentase siswa yang memenuhi KKM pada kondisi awal dengan siklus I dan siklus II. Persentase siswa yang lulus KKM dalam kondisi awal sebesar 57,3% dan pada siklus I meningkat menjadi 70,4%, pada siklus II persentase siswa yang lulus KKM meningkat lagi sebesar 100%. Nilai rata-rata kelas yang dalam kondisi awal sebesar 73 meningkat menjadi 76,4 dan meningkat lagi menjadi 93,2 pada siklus II. Berdasarkan perhitungan tersebut maka terbukti bahwa dengan adanya peningkatan minat, prestasi siswa dalam belajar juga meningkat. Berikut grafik peningkatan prestasi belajar siswa.

(207) 189 189 Gambar IV.28 Grafik peningkatan prestasi Prestasi Belajar Siswa 100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 Siswa lulus KKM Rata-rata Nilai Kelas Kondisi Awal Siklus I Siklus II 57.3 70.4 100 73 76.4 93.2 Berdasarkan grafik di atas terbukti bahwa ada peningkatan prestasi belajar siswa dalam belajar setelah dilakukan pembelajaran dengan pendekatan SCL model PBL. Peningkatan terlihat dari siswa yang lulus KKM dan rata-rata nilai kelas siswa. Siswa yang lulus KKM pada siklus I ada19 siswa (70,9%), setelah dilakukan tindakan siklus II meningkat menjadi 100% atau semua siswa kelas IVA (27 siswa) lulus KKM. Sedangkan rata-rata nilai kelas IVA yang awalnya hanya 73,3, setelah diberi tindakan meningkat menjadi 96. Berdasarkan hasil-hasil di atas membuktikan bahwa pendekatan SCL model PBL mampu meningkatkan minat dan prestasi siswa dalam belajar. Pendekatan SCL yang mempuyai ciri mengharuskan siswa aktif, topik pebelajaran menarik, dan pengalaman belajar diperoleh dalam dunia nyata pada penelitian ini benar-benar terlaksana dan mampu meningkatkan minat dan prestasi belajar siswa. Selain itu, model PBL yang terdiri dari 7 tahap pembelajaran dan memiliki ciri dipicu oleh masalah, kelompok kecil, berdasarkan pada situasi nyata juga

(208) 190 190 telah terlihat dalam aktivitas pembelajaran serta mampu meningkatkan minat dan prestasi siswa. Peningkatan minat ditandai dengan adanya siswa yang datang tepat waktu, perhatian siswa saat mendengarkan penjelasan gur, keterlibatan siswa dalam melakukan kerja kelompok, dan inisiatif atau kemuan siswa dalam belajar sendiri. Adanya peningkatan prestasi belajar siswa menunjukkan bahwa pendekatan SCL model PBL selain dapat meningkatkan minat, juga dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Siswa yang merasa senang, memiliki perhatian, terlibat dalam pembelajaran, dan mempunyai inisiatif menjadi faktor yang mendorong siswa untuk meningkatkan prestasi belajar. Hal tersebut terjadi karena minat merupakan faktor internal atau faktor yang berasal dalam diri seseorang yang dapat mempengaruhi prestasi siswa dalam belajar. Jadi apabila minat siswa dalam belajar meningkat prestasi belajar siswa juga akan meningkat. Hal inilah juga yang peneliti dapatkan setelah melakukan penelitian ini. Siswa yang dalam kondisi awal memiliki prestasi belajar dibawah rata-rata dan tidak lulus KKM, prestasinya meningkat seiring meningkatnya minat siswa.

(209) BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang telah peneliti lakukan dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: 1. Penerapan pendekatan SCL model Problem Based Learning (PBL) meningkatkan minat belajar IPA pada siswa kelas IVA SD Negeri Nogotirto semester ganjil tahun pelajaran 2013/2014. Hal ini terbukti dengan meningkatnya minat siswa setelah dilakukan penelitian tindakan kelas pada siklus I dan siklus II. Persentase siswa yang memiliki minat dalam satu kelas pada kondisi awal hanya 63% meningkat menjadi 96,3% pada siklus I dan meningkat lagi menjadi 98,15%. Peningkatan minat juga terlihat skor rata-rata per indikator dalam satu kelas. Indikator rasa senang yang skor awalnya 3,39 meningkat menjadi 3,92 pada siklus I dan meningkat lagi menjadi 4,49. Indikator perhatian yang kondisi awalnya 2,89, meningkat menjadi 3,84 pada siklus I, dan pada siklus II meningkat menjadi 4,49. Indikator keterlibatan yang dalam kondisi awal 3,04 meningkat menjadi 3,64 pada siklus I dan meningkat lagi menjadi 4,41 dalam siklus II. Indikator inisiatif yang dlam kondisi awal 1,81 meningkat menjadi 2,18 dan meningkat lagi menjadi 4,20. 2. Penerapan pendekatan SCL model Problem Based Learning (PBL) meningkatkan prestasi belajar IPA pada siswa kelas IVA SD Negeri Nogotirto semester ganjil tahun pelajaran 2013/2014. Hal tersebut terbukti dari pencapaian nilai KKM oleh siswa dan nilai rata-rata kelas IVA. Awalnya siswa yang lulus KKM hanya 57,2%. Hasil ini berubah setelah peneliti melakukan tindakan siklus I dan siklus I. Setelah adanya siklus I, siswa yang lulus KKM sebesar 100%, dan pada siklus II sebesar 100%. Selain dari banyaknya siswa lulus KKM peningkatan prestasi 191

(210) 192 192 belajar siswa juga terlihat dari nilai rata-rata kelas. Pada kondisi awal, rata-rata nilai kelas siswa sebesar 73. Setelah diadakan tindakan siklus I, rata-rata kelasnya meningkat menjadi 74,4 dan pada siklus II menngkat lagi menjadi 88,8. B. Keterbatasan Penelitian Penelitian yang dilakukan peneliti ini dirasa masih memiliki banyak kekurangan. Kekurangan-kekurangan tersebut peneliti anggap sebagai keterbatasan penelitian. Berikut keterbatasan-keterbatasan penelitian dalam penelitian ini: 1. Perencanaan model PBL membutuhkan waktu yang cukup lama. Akan tetapi pada penelitian ini persiapan yang dilakukan peneliti hanya sebentar. 2. Pelaksanan PBL membutuhkan waktu yang lama karena harus menerapkan 7 langkah PBL dalam pembelajaran C. Saran 1. Pelaksanaan model PBL di sekolah sebaiknya dipersiapkan dengan baik mulai penyusunan instrumen, uji validitas, hingga penilaian. 2. Pelaksanaan ketujuh tahap PBL tidak harus dilaksanakan dalam satu kali pertemuan. Apabila waktu pembelajarn tidak cukup, tahap 6 (menyusun laporan) dapat dilaksanakan pada pertemuan selanjutnya

(211) 193 193 DAFTAR PUSTAKA Arikunto, Suharsimi, dkk. (2008). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara Azwar, Saifuddin. (2012). Tes Prestasi: Fungsi dan Pengembangan Pengukuran Prestasi Belajar. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Baharudin, Esa. (2007). Teori Beljar dan Pembelajaran. Yogyakarta: Ar-ruzz Media Bahri Djamarah, Syaiful dan Zain Azwan . (2010). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta Darsono, Max. (2000). Belajar dan Pembelajaran Semarang: IKIP Semarang Pres Demirel, Melek & Belma Arslan (2010) The Effects of Problem Based Learning on Achievement, Attitude, Metacognitive Awareness and Motivation. Djamarah, Syaiful B. (2011). Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta Djamarah, Syaiful Bahri.(2002). Psikologi Belajar . Jakarta: PT Rineka Cipta Hananto, Bayu. (2012). Peningkatan Prestasi Belajar IPA Materi Wujud Benda dan Sifatnya Menggunakan Metode Eksperimen pada Siswa Kelas IV SD Negeri Krinjing 1 Semester 1 Tahun Ajaran 2011/2012 (skripsi tidak diterbitkan). Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma Hardini & Puspitasari. (2012). Strategi Pembelajaran Terpadu.Yogjakarta: familia Kusumah, Wijaya. (2012). Mengenal Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: PT Indeks Permata Puri Media Masidjo. (1995). Penilaian Pencapaian Hasil Belajar Siwa di Sekolah. Yogyakarta: Kanisius Margono, S. (2007). Metodologi penelitian pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta. Muhibbin Syah.(2008). Psikologi Berlajar. Jakarta: Raja Grafindo persada Safari. (2003). Evaluasi Pembelajaran. Jakarta: Depdiknas, Departemen Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Tengah Kependidikan. Samatowa, U. (2011). Pembelajaran IPA di Sekolah Dasar. Jakarta: Indeks Sanjaya, W. (2006). Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta. Kencana Prenada Media Group Severinus. (2013). Model-Model Pembelajaran. Yogjakarta: Universitas Sanata Dharma Slavin, Robert E. (2008). Psikologi Pendidikan: Teori dan Praktik. Jakarta: Indeks

(212) 194 194 Steele, Medder, Turner. (2000). A Comparison of Learning Outcomes and Attitudes in Student- Versus Faculty-Led Problem-Based Learning: An Experimental Study. Medical Education Sudjana, Nana. (2009). Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Kombinasi. Bandung: Alfabeta Sukardi. (2008). Evaluasi Pendidikan Prinsip dan Operasionalnya. Jakarta: Bumi Aksara Supranata. (2004). Analisis, Validitas, Reliabilitas dan Intepretasi Hasil Tes (Implementasi Kurikulum 2004). Bandung: Rosdakarya Supratiknya, A. (2012). Penilaian Hasil Belajar dengan Teknik Nontes. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma Susanto, Ahmad. (2013). Teori Belajar dan Pembelajarand di Sekolah Dasar. Jakarta: Kencana Prenada Media Susanto. (2013). Teori Belajar dan Pembelajaran di Sekolah Dasar. Jakarta: Kencana Prenada Media Group Syaiful Risdiato. (2012). Peningkatan Minat dan Prestasi Belajar Siswa dengan Menggunakan Demonstrasi Materi Pesawat Sederhana Siswa Kelas V SD Kanisius Kotabaru Tahun Pelajaran 2011/2012 (skripsi tidak diterbitkan). Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma Tim pengembang ilmu pendidikan FIP-UPI. (2007). Ilmu dan Aplikasi Pendidikan. Jakarta: Grasindo Trianto. (2010). Model Pembelajaran Terpadu: Konsep, Strategi, dan Implementasi dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Jakarta: Bumi Aksara Trianto.(2009). Mendesain Model Pembelajaran Inovatif Progresif: Konsep, Landasan, dan Implementasinya pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Jakarta: Kencana Triyono. (2011). Student Center Learning: Aplikasi di laboratorium/Bengkel. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta Yohanes Batista Ibnu P. (2012) . Peningkatan Minat dan Prestasi Belajar IPA Materi Pembetukan Tanah dengan Metode Penemuan Terbimbing pada Siswa Kelas V Semester 2 SD K Totogan Tahun Pelajaran 2011/2012 (skripsi tidak diterbitkan). Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma Yudhistira, Dadang. (2013). Menulis Penelitian Tindakan Kelas yang APIK (Asli, Perlu, Ilmiah, Konsisten). Jakarta: Grasindo

(213) 195 195 http://blog.trisakti.ac.id/dianmardi/2012/07/01/mahasiswa-berdaya-lebih-dengan-problembased-learning/ diakses tanggal 2 Mei 20:15 http://staff.uny.ac.id/site/default/files/SCL-Politek%20Balibruri.pdf/ diakses tanggal 2 Mei 20.45

(214) LAMPIRAN 196

(215) 197 197 LAMPIRAN 1 SURAT IZIN MELAKUKAN PENELITIAN & SELESAI MELAKUKAN PENELITIAN

(216) 198 198 Surat Izin Melakukan Penelitian

(217) 199 199 Surat Selesai Melakukan Penelitian

(218) 200 200 LAMPIRAN 2 INSTRUMEN PEMBELAJARAN SETELAH VALIDASI

(219) 201 201

(220) 202 202

(221) 203 203

(222) 204 204

(223) 205 205

(224) 206 206

(225) 207 207

(226) 208 208 RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (Siklus 1 Pertemuan 1) I. SATUAN PENDIDIKAN : SD Negeri Nogotirto KELAS/ SEMESTER : IV (Empat) / 1 (Satu) MATA PELAJARAN : Ilmu Pengetahuan Alam ALOKASI WAKTU : 2 JP (2 x 35 menit)/ 1 Pertemuan STANDAR KOMPETENSI Benda dan Sifatnya 6. Memahami beragam sifat dan perubahan benda serta berbagai cara penggunaan benda berdasarkan sifatnya II. KOMPETENSI DASAR 6.2 Mendeskripsikan terjadinya perubahan wujud cair  padat  cair; cair  gas   cair; padat gas III. INDIKATOR PEMBELAJARAN Kognitif: 6.2.1 Menyebutkan proses terjadinya perubahan wujud cair menjadi padat dan padat menjadi cair 6.2.2 Menemukan peristiwa lain yang merupakan contoh perubahan wujud menjadi padat dan kembali lagi ke 6.2.3 cair cair Merancang percobaan yang merupakan contoh perubahan wujud cair menjadi padat dan padat menjadi cair Afektif: 6.2.4 Menunjukkan minat dalam pembelajaran Psikomotorik: 6.2.5 Melakukan percobaan dengan tepat IV. TUJUAN PEMBELAJARAN Kognitif: 1. Siswa mampu menyebutkan sebuah proses terjadinya perubahan wujud cair menjadi padat dan padat menjadi cair berdasarkan percobaan yang dilakukan

(227) 209 209 2. Siswa mampu menemukan minimal tiga peristiwa lain yang merupakan contoh perubahan wujud cair menjadi padat dan kembali lagi ke cair secara berkelompok 3. Siswa mampu merancang sebuah percobaan yang merupakan contoh perubahan wujud cair menjadi padat dan padat menjadi cair secara berkelompok Afektif: 4. Siswa dapat menunjukkan empat indikator minat dalam pembelajaran mengenai perubahan wujud benda cair menjadi padat dan padat menjadi cair Psikomotorik: 5. Siswa dapat melakukan sebuah percobaan mengenai perubahan wujud cair ke gas sesuai dengan langkah-langkah dalam lembar kerja siswa (LKS). V. MATERI PEMBELAJARAN Perubahan Wujud Benda:  Perubahan wujud benda cair menjadi padat  Perubahan wujud benda padat menjadi cair VI. PENDEKATAN, MODEL, DAN METODE PEMBELAJARAN Pendekatan Pembelajaran : Student Centered Learning Model Pembelajaran : Problem Based Learning Metode Pembelajaran : Tanya Jawab, kerja kelompok, eksperimen, observasi, penugasan, presentasi VII. KEGIATAN PEMBELAJARAN Kegiatan Waktu Metode Kegiatan Awal 15 menit Tanya jawab  Salam, Doa, Presensi  Perkenalan  Motivasi Menyanyikan lagu “ibu guru punya benda” Ibu guru punya kotak….(guru) Apa, apa, apa.. (siswa) Didalamnya ada air (guru) Byur…… byur…….byur (siswa)

(228) 210 210 Di dalamnya ada api (guru) Panas……. panas……. panas (siswa) Di dalamnya ada es (guru) Dingin…dingin……dingin…. (siswa) Di dalamnya coklat (guru) Enak…enak…enak….(siswa)  Apersepsi Siswa dan guru melakukan tanya jawab mengenai lagu yang sudah dinyanyikan. Contoh pertanyaan: - Anak-anak, dalam lagu tadi benda apa saja yang ada di dalam kotak yang ibu guru bawa? - Nah kalau coklat itu wujudnya apa? - Apakah wujud coklat yang padat itu bisa berubah menjadi cair? - Apakah kalian tahu bagaimana proses perubahan tersebut? Mari kita cari tahu bersama-sama  Orientasi Siswa mendapat penjelasan dari guru tentang kegiatan yang akan dilakukan mengenai perubahan wujud cair menjadi padat dan padat menjadi cair agar siswa mampu memahami berbagai peristiwa perubahan wujud yang terjadi di kehidupan sehari-hari. Kegiatan Inti Eksplorasi  Siswa mengamati gambar coklat batang dan coklat cair yang ditampilkan oleh guru.  Siswa dan guru melakukan tanya jawab mengenai gambar yang telah ditampilkan oleh guru. 40 Menit - Tanya jawab - Kerja kelompok - Diskusi - Eksperimen  Siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok kecil. - Observasi Masing-masing kelompok terdiri dari 5-6 orang siswa. - Penugasan  Guru memberikan sebuah pertanyaan kepada siswa - Presentasi

(229) 211 211 tentang bagaimana coklat batang dapat menjadi coklat cair, dan coklat cair bisa menjadi coklat batang.  Untuk menjawab pertanyaan yang telah diberikan oleh guru, siswa dibagikan Lembar Kerja Siswa (LKS) yang berisi petunjuk percobaan yang akan dilakukan mengenai perubahan wujud cair menjadi padat dan padat menjadi cair. (LKS terlampir).  Siswa bersama dengan guru mendiskusikan LKS yang telah diterima siswa. Elaborasi  Identifikasi Masalah - Siswa berdiskusi untuk memahami masalah yang disampaikan oleh guru sesuai petunjuk dalam LKS. - Siswa dalam kelompok menentukan jawaban pertanyaan yang disampaikan guru dengan mengisi kolom pada LKS.  Merancang kegiatan penyelesaian masalah - Siswa dalam kelompok menentukan sebuah kegiatan percobaan untuk membuktikan jawaban yang telah mereka tulis sebelumnya. - Siswa dalam kelompok mendaftar alat dan bahan yang diperlukan dalam percobaan yang akan dilakukan dengan mengisi tabel yang telah disediakan dalam LKS. Alat dan bahan tersebut adalah kaki tiga, bunsen spritus, korek api, cetakan agar-agar yang berbentuk binatang, nampan, panci kecil, sendok, air, coklat, dan es batu. - Siswa dalam kelompok merancang langkah-langkah percobaan berdasarkan pengetahuan yang mereka miliki dan atau dari buku paket.  Melaksanakan kegiatan penyelesaian masalah - Perwakilan kelompok mengambil alat dan bahan yang diperlukan dalam percobaan yang akan

(230) 212 212 dilakukan. Siswa melakukan percobaan sesuai dengan langkah- - langkah yang telah mereka tentukan sebelumnya mengenai perubahan wujud cair menjadi padat (mendinginkan coklat cair dengan es batu) dan perubahan wujud padat menjadi cair (memanaskan coklat batangan). Siswa mengamati kegiatan percobaan dan mencatat - hasil pengamatannya dalam tabel pengamatan yang ada di LKS.  Kegiatan Tutorial - Siswa melaporkan hasil pengamatan percobaan yang telah mereka lakukan ke depan kelas. Laporan tersebut berisi mengenai ada atau tidak adanya hambatan dalam percobaan yang telah dilakukan. Misalnya saja percobaan yang dilakukan gagal karena kebanyakan air, kekurangan air, kebanyakan coklat, dan lain-lain. - Siswa menyimak masukan yang diberikan oleh guru tentang hasil pengamatan percobaan  Melanjutkan kegiatan penyelesaian masalah - Siswa dalam kelompok mendiskusikan masukan yang diberikan oleh guru untuk menyempurnakan hasil percobaan.  Menyusun laporan - Siswa dalam kelompok menuliskan laporan percobaan yang telah mereka lakukan di dalam LKS. - Siswa mengumpulkan LKS yang telah mereka buat kepada guru.  Penilaian - Guru menilai hasil kerja siswa ketika melakukan kegiatan tutorial

(231) 213 213 Konfirmasi  Siswa dipersilahkan untuk bertanya apabila ada yang belum jelas.  Siswa dan guru mendiskusikan kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan mengenai perubahan wujud cair menjadi padat dan perubahan wujud padat menjadi cair. Kegiatan Akhir 15 Menit  Pengisian Kuesioner jawab  Refleksi - - Tanya - Penugasan Siswa dibimbing guru untuk menemukan manfaat yang didapatkan setelah mempelajari materi perubahan wujud cair menjadi padat dan padat menjadi cair. - Siswa mengisi lembar refleksi yang diberikan guru.  Tindak lanjut - Siswa diberi tugas untuk mempelajari materi pada pertemuan selanjutnya tentang perubahan wujud cair menjadi gas dan perubahan wujud gas menjadi cair.  Doa dan Salam Penutup VIII. MEDIA PEMBELAJARAN DAN SUMBER BELAJAR 1. Media Pembelajaran  “Kotak Bu Guru”, kotak ini berisi gambar benda-benda yang dapat mengalami perubahan wujud dari cair menjadi padat dan padat menjadi cair.  Alat dan bahan percobaan: Alat: -Kaki tiga -Nampan -Korek api -Panci kecil -Lilin -Sendok - Gelas plastik kecil Bahan: -Air -Coklat -Es batu

(232) 214 214 2. Sumber Belajar Irianto, Teguh., Eddy Rohanadi., F. Supardi. (2005). Eksperimen sains jilid 4. Jakarta: Penerbit Erlangga. Halaman 79-82 Irianto, Teguh., Eddy Rohanadi., F. Supardi. (2005). Eksperimen sains jilid 4. Jakarta: Penerbit Erlangga. Halaman 79-82 S, Rositawaty. 2008. Senang belajari ilmu pengetahuan alam 4: untuk kelas IV sekolah dasar/ madrasah ibtidayah. Jakarta: Pusat Perbukuaan Departemen Pendidikan Nasional. Halaman 89-91 Sulistyanto,Heri. 2008. Ilmu pengetahuan alam 4 untuk SD dan MI kelas IV. Jakarta: Pusat Perbukuaan Departemen pendidikan Nasional. Halaman 81-83 Zuneldi., Dian Okky S, M. Parilian. (2011). IPA 4 Ilmu pengetahuan alam SD Kelas IV. Jakarta: Yudhistira. Halaman 47-50 IX. PENILAIAN 1. Prosedur Penilaian  Proses 2. Jenis Penilaian  Non Tes 3. Teknik Penilaian  Kinerja  Sikap 4. Instrumen Penilaian (terlampir)  Lembar Kegiatan Siswa  Rubrik penilaian  Kuesioner minat 5. Pedoman Penilaian (terlampir)

(233) 215 215 LEMBAR PENILAIAN Rubrik Penilaian Psikomotor Indikator : 6.2.4 Melakukan percobaan dengan tepat No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. Nama Siswa Aspek yang dinilai Keruntutan Kelengkapan 1 2 3 1 2 3

(234) 216 216 Kriteria penilaian: Hal yang dinilai Skor Deskriptor jika mengikuti 6 langkah kerja secara urut. Langkah-langkah tersebut adalah: menyalakan pembakar spritus menggunakan korek api, 3 Keruntutan meletakkan kasa di atas kaki tiga, meletakkan panci di atas kasa, memasukkan coklat ke dalam panci kecil, mengaduk coklat tersebut secara perlahan, menunggu beberapa saat, dan mengamati perubahan yang terjadi 2 jika mengikuti 6 langkah kerja tidak urut 1 jika tidak mengikuti 6 langkah kerja dan tidak urut jika menyediakan 7 bahan . Bahan-bahan tersebut adalah kaki tiga, 3 pembakar spritus, kasa, korek api, nampan, panci kecil, sendok, cetakan agar-agar berbentuk binatang, air, cokelat, dan es batu Kelengkapan 2 jika menyediakan 6 bahan 1 jika menyediakan < 6 bahan Skor Psikomotorik: skor yang didapat x 10 6

(235) 217 217 Rubrik Penilaian Afektif Indikator : 6.2.5 Menunjukkan minat dalam pembelajaran No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. Nama Siswa Skor 1 2 3 4

(236) 218 218 Pedoman Skoring : menggunakan kuesioner Penilaian Kuesioner Tidak pernah Kadang-kadang Sering Selalu =1 =2 =3 = 4 skor = Kriteria skor: Skor Tertinggi 100 Skor Terendah 26 Jarak 74: 4 = 18,5 Jadi interval minat siswa dapat di petakan sebagai berikut: Sangat rendah 26 - 44,5 Rendah 44,5 - 63 Tinggi 63 - 81,5 Sangat tinggi 81,5 - 100

(237) 219 219 LEMBAR KEGIATAN SISWA

(238) 220 220 LEMBAR REFLEKSI

(239) 221 221 RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (Siklus 1 Pertemuan 2) I. SATUAN PENDIDIKAN : SD N Nogotirto KELAS/ SEMESTER : IV (Empat) / 1 (Satu) MATA PELAJARAN : Ilmu Pengetahuan Alam ALOKASI WAKTU : 2 JP (2 x 35 menit)/ 1 Pertemuan STANDAR KOMPETENSI Benda dan Sifatnya 6. Memahami beragam sifat dan perubahan benda serta berbagai cara penggunaan benda berdasarkan sifatnya II. KOMPETENSI DASAR 6.2 Mendeskripsikan terjadinya perubahan wujud cair  padat  cair; cair  gas   cair; padat  gas III. INDIKATOR PEMBELAJARAN Kognitif: 6.2.1 Menyebutkan proses terjadinya perubahan wujud cair menjadi gas; dan gas menjadi cair 6.2.2 Menemukan peristiwa lain yang merupakan contoh perubahan wujud cair menjadi gas kemudian menjadi cair 6.2.3 Merancang percobaan yang merupakan contoh perubahan wujud cair menjadi gas; dan gas menjadi cair Afektif: 6.2.4 Menunjukkan minat dalam pembelajaran Psikomotorik: 6.2.5 Melakukan percobaan dengan tepat IV. TUJUAN PEMBELAJARAN Kognitif:

(240) 222 222 1. Siswa mampu menyebutkan sebuah proses terjadinya perubahan wujud cair menjadi gas; dan gas menjadi cair berdasarkan percobaan yang dilakukan 2. Siswa mampu menemukan minimal tiga peristiwa lain yang merupakan contoh perubahan wujud cair menjadi gas kemudian menjadi cair secara berkelompok 3. Siswa mampu merancang sebuah percobaan yang merupakan contoh perubahan wujud cair menjadi gas dan gas menjadi cair secara berkelompok Afektif: 4. Siswa dapat menunjukkan empat indikator minat dalam pembelajaran mengenai perubahan wujud benda cair menjadi padat dan padat menjadi cair Psikomotorik: 5. Siswa dapat melakukan sebuah percobaan mengenai perubahan wujud cair ke gas sesuai dengan langkah-langkah dalam lembar kegiatan siswa (LKS). V. MATERI PEMBELAJARAN Perubahan Wujud Benda (Terlampir): - Perubahan wujud cair menjadi gas - Perubahan wujud gas menjadi cair VI. PENDEKATAN, MODEL, DAN METODE PEMBELAJARAN Pendekatan Pembelajaran : Student Centered Learning Model Pembelajaran : Problem Based Learning Metode Pembelajaran : Tanya Jawab, kerja kelompok, eksperimen, observasi, penugasan, presentasi VII. KEGIATAN PEMBELAJARAN Kegiatan Waktu Metode Kegiatan Awal 10 Tanya  Salam, Doa, Absensi menit jawab  Motivasi Siswa melakukan sebuah yel-yel “Peel Banana” beserta dengan gerakannya. Peel Banana. . . Peel Peel Banana (siswa juga memperagakan gerakan mengupas pisang)

(241) 223 223 Eat Banana. . . Eat Eat Banana (siswa juga memperagakan gerakan memakan pisang) Shake Banana . . . Shake Shake Banana (siswa juga memperagakan gerakan tangan memutar) Exit Banana. . . Exit Exit Banana (siswa juga memperagakan gerakan menunjuk tanah) BaaaaaaaaNanaaaaaaaa (siswa memperagakan gerakan mengangkat tangan)  Siswa dan guru melakukan tanya jawab tentang yel-yel yang sudah dilakukan. Contoh pertanyaan: - Anak-anak, siapa yang tahu arti “Banana”? - Biasanya pisang itu diolah menjadi makanan apa? - Kalau pisang rebus, cara memasaknya bagaimana? - Pada saat pisang direbus, apa saja yang kalian lihat? - Apa yang terjadi pada air sebelum direbus dan sesudah direbus?  Orientasi - Siswa dan guru melakukan tanya jawab tentang kegiatan yang telah dilakukan pada pertemuan sebelumnya. - Siswa mendapat penjelasan dari guru tentang kegiatan yang akan dilakukan mengenai perubahan wujud cair menjadi gas dan gas menjadi cair gas agar siswa mampu memahami berbagai peristiwa perubahan wujud yang terjadi di kehidupan sehari-hari. Kegiatan Inti 45 Eksplorasi menit   Siswa memperhatikan gambar seri yang ditampilkan oleh guru si, - Tany mengenai kegiatan seseorang yang merebus air dan meminum a airnya dengan menambahkan es pada air tersebut. jawab Siswa dan guru melakukan tanya jawab mengenai gambar seri yang , telah ditampilkan oleh guru.  - Disku - Kerja Siswa duduk bersama dengan kelompok yang sudah dibentuk pada kelo pertemuan sebelumnya. mpok

(242) 224 224  Guru memberikan dua pertanyaan kepada siswa. Pertanyaan - Ekspe pertama tentang apa yang terjadi pada air sebelum direbus dan rimen setelah direbus, dan alasannya. Pertanyaan kedua tentang apa yang - Obser terjadi pada gelas yang berisi air sebelum ditambahkan es dan vasi sesudah ditambahkan es, dan alasannya  - Penu Untuk menjawab pertanyaan yang telah diberikan oleh guru, Siswa gasan dibagikan Lembar Aktifitas Siswa (LKS) yang berisi petunjuk - Prese kegiatan yang akan dilakukan mengenai perubahan wujud cair ntasi menjadi gas dan perubahan wujud gas menjadi cair. (LKS terlampir)  Siswa bersama dengan guru mendiskusikan LKS yang telah mereka terima Elaborasi  Identifikasi Masalah Siswa berdiskusi untuk memahami masalah yang disampaikan - oleh guru sesuai petunjuk dalam LKS. Siswa dalam kelompok menentukan jawaban pertanyaan yang - disampaikan guru dengan mengisi kolom pada LKS.  Merancang kegiatan penyelesaian masalah - Siswa dalam kelompok menentukan sebuah kegiatan percobaan untuk membuktikan jawaban yang telah mereka tulis sebelumnya. - Siswa dalam kelompok mendaftar alat dan bahan yang diperlukan dalam percobaan yang akan dilakukan dengan mengisi tabel yang telah disediakan dalam LKS. Alat dan bahan tersebut adalah kaki tiga, korek api, spritus, panci, es batu, pisang, piring, air - Siswa dalam kelompok merancang langkah-langkah percobaan berdasarkan pengetahuan yang mereka miliki dan atau dari buku paket.  Melaksanakan Kegiatan Penyelesaian Masalah - Perwakilan kelompok mengambil alat dan bahan yang diperlukan dalam percobaan yang akan dilakukan - Siswa melakukan percobaan sesuai dengan langkah-langkah yang

(243) 225 225 telah mereka tentukan sebelumnya mengenai perubahan wujud cair menjadi gas (merebus air) dan gas menjadi cair (memasukkan es batu ke dalam gelas yang telah berisi air sebelumnya) - Siswa mengamati kegiatan percobaan dan mencatat hasil pengamatannya dalam tabel pengamatan yang ada di LKS  Kegiatan Tutorial Siswa melaporkan hasil pengamatan percobaan yang telah mereka - lakukan ke depan kelas. Laporan tersebut berisi mengenai ada atau tidak adanya hambatan dalam percobaan yang telah dilakukan. Misalnya saja karena ukuran wadah yang berbeda, jumlah air yang berlebih, dan sebagainya Siswa menyimak masukan yang diberikan oleh guru tentang hasil - pengamatan percobaan  Melanjutkan kegiatan Penyelesaian Masalah Siswa dalam kelompok mendiskusikan masukan yang diberikan - oleh guru untuk menyempurnakan hasil percobaan.  Menyusun Laporan - Siswa dalam kelompok membuat laporan mengenai proses percobaan yang telah mereka lakukan dalam LKS - Siswa mengumpulkan LKS yang telah mereka buat kepada guru  Penilaian - Guru menilai hasil kerja siswa ketika melakukan kegiatan tutorial Konfirmasi  Siswa dipersilahkan untuk bertanya apabila ada yang belum jelas.  Siswa dan guru mendiskusikan kegiatan pembelajaran yang telah mereka lakukan mengenai perubahan wujud cair menjadi gas dan gas menjadi cair. Kegiatan Akhir 15 Tanya  Pengisian Kuesioner Menit jawab,  Refleksi - Siswa dibimbing guru untuk menemukan manfaat penugas yang an

(244) 226 226 didapatkan setelah mempelajari materi perubahan wujud cair menjadi gas dan gas menjadi cair. - Siswa mengisi lembar refleksi yang telah diberikan oleh guru  Tindak lanjut Siswa diberi tugas untuk mempelajari materi pada pertemuan selanjutnya mengenai perubahan wujud padat menjadi gas  Doa dan Salam Penutup VIII. MEDIA PEMBELAJARAN DAN SUMBER BELAJAR 3. Media Pembelajaran  Gambar seri air yang mendidih dan mengeluarkan uap serta air yang mengeluarkan embun  Alat dan Bahan Percobaan: Alat: -Kaki tiga -Lilin -Korek api -Panci Bahan: -Es batu -Air Berwarna 4. Sumber Belajar Irianto, Teguh., Eddy Rohanadi., F. Supardi. (2005). Eksperimen sains jilid 4. Jakarta: Penerbit Erlangga. Halaman 79-82. S, Rositawaty. 2008. Senang belajari ilmu pengetahuan alam 4: untu kkelas IV sekolah dasar/ madrasah ibtidayah.. Jakarta: Pusat Perbukuaan Departemen Pendidikan Nasional. Halaman 89-91. Sulistyanto,Heri. 2008. Ilmu pengetahuan alam 4 untuk SD dan MI kelas IV. Jakarta: Pusat Perbukuaan Departemen pendidikan Nasional. Halaman 81-83. Zuneldi., Dian Okky S, M. Parilian. (2011). IPA 4 Ilmu pengetahuan alam SD Kelas IV. Jakarta: Yudhistira. Halaman 47-50. IX. PENILAIAN 1. Prosedur Penilaian  Proses

(245) 227 227 2. Jenis Penilaian  Non Tes 3. Teknik Penilaian  Kinerja  Sikap 4. Instrumen Penilaian (terlampir)  Lembar Kegiatan Siswa  Rubrik penilaian  Kuesioner minat 5. Pedoman Penilaian (terlampir)

(246) 228 228 Lampiran LEMBAR PENILAIAN Rubrik Penilaian Psikomotor Indikator : 6.2.4 Melakukan percobaan dengan tepat No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. Nama Siswa Aspek yang dinilai Keruntutan Kelengkapan 1 2 3 1 2 3

(247) 229 229 Kriteria penilaian: Hal yang dinilai Skor 3 Keruntutan Deskriptor 1. Jika mengikuti 6 langkah kerja secara urut. Langkah-langkah tersebut adalah menyiapkan alat dan bahan, memasukan air ke dalam panci kemudian tutup panci tersebut, meletakkan pembakar spritus dibawah kaki tiga, menyalakan pembakar spritus dengan menggunakan korek api, meletakkan kasa diatas kaki tiga, meletakkan panci yang di diatas kasa, menunggu beberapa saat, mengamati perubahan yang terjadi 2 jika mengikuti 6 langkah kerja tidak urut 1 jika tidak mengikuti 6 langkah kerja dan tidak urut 3 Jika menyediakan 5 bahan . Bahan-bahan tersebut adalah panci, kaki tiga, pemanas spritus, korek api, dan air 2 jika menyediakan 4bahan 1 jika menyediakan < 4 bahan Kelengkapan Skor Psikomotorik: skor yang didapat x 10 6

(248) 230 230 Rubrik Penilaian Afektif Indikator : 6.2.5 Menunjukkan minat dalam pembelajaran No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. Nama Siswa Skor 1 2 3 4

(249) 231 231 Pedoman Skoring : menggunakan kuesioner Penilaian Kuesioner Tidak pernah =1 Kadang-kadang =2 Sering =3 Selalu = 4 skor = Kriteria skor: Skor Tertinggi 100 Skor Terendah 26 Jarak 74: 4 = 18,5 Jadi interval minat siswa dapat di petakan sebagai berikut: Sangat rendah 26 - 44,5 Rendah 44,5 - 63 Tinggi 63 - 81,5 Sangat tinggi 81,5 - 100

(250) 232 232 LEMBAR KEGIATAN SISWA

(251) 233 233 LEMBAR REFLEKSI

(252) 234 234 RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (Siklus 1 Pertemuan 3) SATUAN PENDIDIKAN : SD Negeri Nogotirto KELAS/ SEMESTER : IV (Empat) / 1 (Satu) MATA PELAJARAN : Ilmu Pengetahuan Alam ALOKASI WAKTU : 4JP (4 x 35 menit)/ 2 Pertemuan IX. STANDAR KOMPETENSI Benda dan Sifatnya 6. Memahami beragam sifat dan perubahan benda serta berbagai cara penggunaan benda berdasarkan sifatnya X. KOMPETENSI DASAR 6.2 Mendeskripsikan terjadinya perubahan wujud cair  padat  cair; cair  gas   cair; padat  gas XI. INDIKATOR PEMBELAJARAN Kognitif 6.2.6 Menyebutkan proses terjadinya perubahan wujud padat menjadi gas 6.2.7 Menemukan peristiwa lain yang merupakan contoh perubahan wujud padat menjadi gas 6.2.8 Merancang percobaan yang merupakan contoh perubahan wujud padat menjadi gas Afektif 6.2.9 Menunjukkan minat dalam pembelajaran Psikomotorik 6.2.10 Melakukan percobaan dengan tepat XII. TUJUAN PEMBELAJARAN Kognitif

(253) 235 235 1. Siswa dapat menyebutkan sebuah proses terjadinya perubahan wujud padat menjadi gas berdasarkan percobaan yang dilakukan 2. Siswa secara berkelompok dapat menemukan tiga peristiwa lain yang merupakan contoh perubahan wujud padat menjadi gas 3. Siswa dapat merancang sebuah percobaan yang merupakan contoh perubahan wujud padat menjadi gas secara berkelompok Afektif 4. Siswa dapat menunjukkan empat indikator minat dalam proses pembelajaran mengenai perubahan wujud padat menjadi gas Psikomotorik 5. Siswa dapat melakukan sebuah percobaan mengenai perubahan wujud padat menjadi gas sesuai dengan langkah-langkah yang ada di dalam lembar kegiatan siswa XIII. MATERI PEMBELAJARAN Perubahan Wujud Benda (Terlampir) - XIV. Perubahan wujud padat menjadi gas PENDEKATAN, MODEL, DAN METODE PEMBELAJARAN Pendekatan Pembelajaran : Student Centered Learning Model Pembelajaran : Problem Based Learning Metode Pembelajaran : tanya jawab, kerja kelompok, diskusi, eksperimen, observasi, penugasan, presentasi XV. KEGIATAN PEMBELAJARAN Pertemuan Ketiga Kegiatan Kegiatan Awal  Salam, Doa, Absensi  Apersepsi Guru bertanya tentang kegiatan yang telah dilakukan pada pertemuan sebelumnya mengenai percobaan perubahan benda cair menjadi gas dan gas menjadi cair. Waktu 10 menit Metode Tanya jawab

(254) 236 236  Motivasi Siswa melakukan sebuah tepuk “I’m the best” Tepuk the best Prok.. Prok… Prok I’m the best Prok… Prok… Prok You are the best Prok… Prok… Prok I’m the best… You are the best.. We are the best… Prok… prok… prok  Orientasi Siswa menyimak penjelasan dari guru tentang kegiatan yang akan dilakukan mengenai perubahan wujud padat menjadi gas agar siswa mampu memahami berbagai peristiwa perubahan wujud padat menjadi gas yang terjadi di kehidupan sehari-hari. Kegiatan Inti 45 menit Eksplorasi   Tanya Siswa diajak guru untuk mengidentifikasi bau jawab, yang ada di ruang kelas Presentasi, Siswa memperhatikan benda (pengharum ruangan) yang ditunjukkan oleh guru  Siswa dan guru melakukan tanya jawab mengenai bau yang mereka rasakan.  Siswa duduk bersama dengan kelompoknya masing-masing.  Guru memberikan pertanyaan “Mengapa pengharum ruangan bisa menghasilkan bau yang harum?  Siswa mencoba menjawab pertanyaan yang disampaikan oleh guru di dalam kelompok.  Diskusi, Siswa mendapatkan lembar kegiatan siswa (LKS) penugasan

(255) 237 237 yang berisi petunjuk kegiatan yang akan dilakukan mengenai perubahan wujud padat menjasi gas. (LKS terlampir)  Siswa bersama dengan guru mendiskusikan LKS yang telah diterima siswa. Elaborasi  Identifikasi Masalah - Siswa berdiskusi untuk memahami masalah yang disampaikan oleh guru sesuai petunjuk dalam LKS. - Siswa dalam kelompok menentukan jawaban pertanyaan yang disampaikan guru dengan mengisi kolom pada LKS.  Merancang kegiatan penyelesaian masalah - Siswa dalam setiap kelompok menentukan sebuah kegiatan percobaan untuk membuktikan jawaban atas pertanyaan guru yang telah mereka tulis dalam LKS. - Siswa dalam kelompok mendaftar alat dan bahan yang diperlukan dalam percobaan dengan mengisi tabel yang telah disediakan dalam LKS. Alat dan bahan tersebut adalah kapur barus,, panci kecil, kaki tiga, dan lilin. - Siswa dalam kelompok merancang langkah-langkah percobaan berdasarkan pengetahuan dan buku paket yang dimiliki.  Melaksanakan kegiatan penyelesaian masalah - Perwakilan kelompok mengambil alat dan bahan yang diperlukan dalam percobaan. - Siswa melakukan percobaan sesuai dengan langkahlangkah yang telah mereka tentukan sebelumnya yaitu mengenai perubahan wujud padat menjadi gas. - Siswa mengamati percobaan yang dilakukan dan

(256) 238 238 mencatat hasil pengamatannya dalam tabel pengamatan yang ada di LKS.  Kegiatan tutorial - Siswa melaporkan hasil pengamatan percobaan yang telah mereka lakukan. - Siswa menyimak masukan yang diberikan oleh guru tentang hasil pengamatan percobaan.  Melanjutkan kegiatan penyelesaian masalah - Siswa dalam kelompok mendiskusikan masukan yang diberikan oleh guru untuk menyempurnakan hasil percobaan.  Menyusun laporan - Setiap kelompok membuat laporan percobaan yang telah mereka lakukan, dengan cara melengkapi LKS. - Setiap kelompok mengumpulkan LKS.  Penilaian - Guru menilai hasil kerja siswa ketika melakukan kegiatan tutorial Konfirmasi  Siswa dipersilahkan untuk bertanya apabila ada hal yang belum diketahui.  Siswa dan guru mendiskusikan kegiatan pembelajaran yang telah lakukan mereka mengenai perubahan wujud padat  gas. Kegiatan Akhir 15 Menit Tanya  Siswa mengerjakan soal evaluasi siklus pertama jawab,  Pengisian Lembar Kuesioner penugasan  Refleksi - Siswa dibimbing guru untuk menemukan manfaat yang didapatkan setelah perubahan wujud padat  gas mempelajari materi

(257) 239 239 - Siswa mengisi lembar refleksi yang telah diberikan oleh guru  Tindak lanjut Siswa diberi tugas untuk mengerjakan soal latihan yang ada dalam buku pegangan siswa. Siswa diminta untuk mempelajari materi sebelumnya karena akan ada evaluasi pada pertemuan selanjutnya.  Doa dan Salam Penutup VIII. MEDIA PEMBELAJARAN DAN SUMBER BELAJAR 1. Media Pembelajaran  Pengharum ruangan yang berbentuk padat  Alat dan Bahan: Alat: - Kaki tiga - Korek api - Lilin - Panci kecil Bahan: - Kapur barus 2. Sumber Belajar Irianto, Teguh., Eddy Rohanadi., F. Supardi. (2005). Eksperimen sains jilid 4. Jakarta: Penerbit Erlangga. Halaman 79-82. Zuneldi., Dian Okky S, M. Parilian. (2011). IPA 4 ilmu pengetahuan alam SD Kelas IV. Jakarta: Yudhistira. Halaman 47-50. S, Rositawaty. 2008. Senang belajar ilmu pengetahuan alam 4: untuk kelas IV Sekolah Dasar/Madrash Ibtidayah.\ Jakarta: Pusat Perbukuaan Departemen pendidikan Nasional. Halaman 89-91. Sulistyanto, Heri. (2008). Ilmu pengetahuan alam 4 untuk SD dan MI kelas IV Jakarta: Pusat Perbukuaan Departemen pendidikan Nasional. Halaman 81-83.

(258) 240 240 IX. PENILAIAN 1. Prosedur Penilaian  Proses  Post Test 2. Jenis Penilaian  Non Tes  Tes 3. Teknik Penilaian  Kinerja  Tes  Sikap 4. Instrumen Penilaian (terlampir)  Kisi-kisi soal evaluasi  Soal dan kunci jawaban soal evaluasi  Lembar Kegiatan Siswa  Rubrik penilaian  Kuesioner minat 5. Pedoman Penilaian (terlampir)

(259) 241 241 LEMBAR PENILAIAN Rubrik Penilaian Psikomotor Indikator : 6.2.4 Melakukan percobaan dengan tepat No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. Nama Siswa Aspek yang dinilai Keruntutan Kelengkapan 1 2 3 1 2 3

(260) 242 242 Kriteria penilaian: Hal yang Skor dinilai 3 Jika mengikuti 6 langkah kerja secara urut. Langkah-langkah tersebut adalah menyiapkan alat dan bahan, memasukan kapur barus ke dalam panci, meletakkan pembakar spritus dibawah kaki tiga, menyalakan pembakar spritus dengan menggunakan korek api, meletakkan kasa diatas kaki tiga, meletakkan panci yang berisi kapur barus di diatas kasa, menunggu beberapa saat, mengamati perubahan yang terjadi 2 jika mengikuti 6 langkah kerja tidak urut 1 jika tidak mengikuti 6 langkah kerja dan tidak urut 3 2 Jika menyediakan 5 bahan . Bahan-bahan tersebut adalah kaki tiga, korek api, pembakar spritus, kaleng bekas, kapur barus jika menyediakan 4bahan 1 jika menyediakan < 4 bahan Keruntutan Kelengkapan Deskriptor Skor Psikomotorik: skor yang didapat x 10 6

(261) 243 243 Rubrik Penilaian Afektif Indikator : 6.2.5 Menunjukkan minat dalam pembelajaran No Skor Nama Siswa 1 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 2 3 4

(262) 244 244 24. 25. 26. 27. Pedoman Skoring : menggunakan kuesioner Penilaian Kuesioner Tidak pernah =1 Kadang-kadang =2 Sering =3 Selalu = 4 skor = Kriteria skor: Skor Tertinggi 100 Skor Terendah 26 Jarak 74: 4 = 18,5 Jadi interval minat siswa dapat di petakan sebagai berikut: Sangat rendah 26 - 44,5 Rendah 44,5 - 63 Tinggi 63 - 81,5 Sangat tinggi 81,5 - 100

(263) 245 245 LEMBAR KEGIATAN SISWA

(264) 246 246 LEMBAR REFLEKSI

(265) 247 247 Ada tiga jenis berdasarkan wujudnya yaitu benda padat, benda cair, dan benda gas. Ada berbagai macam proses perubahan wujud benda. Benda berubah wujud karena adanya pengaruh energi panas. Masing-masing wujud dapat mengalami perubahan. A. PERUBAHAN WUJUD BENDA CAIR-PADAT CAIR Air merupakan contoh benda yang dapat memiliki ketiga wujud tergantung perubahan pada suhunya.  Wujud padat(es)  Wujud cair (air)  Wujud gas (uap air) Naik turunnya suhu air tergantung pada apakah air menerima panas atau melepas panas. Jika air menerima panas (dipanaskan) berarti suhu naik dan jika air melapas panas (didinginkan) berarti suhu air turun. Jadi dapat dilihat bagan sebagai berikut: ES dipanaskan AIR dipanaskan UAP Didinginka AIR didinginkan 1. Perubahan Wujud Benda Cair Manjadi Benda Padat UAP AIR ES

(266) 248 248 Es krim berwujud padat, akan tetapi lama-kelamaan es krim tersebut akan berubah menjadi wujud cair. Es krim dibuat dari adonan yang dilarutkan dalam air. Kemudian, adonan tersebut didinginkan pada suhu yang sangat dingin. Air yang ada dalam adonan akan membeku sehingga es krim menjadi padat. Perubahan adonan es krim dari wujud cair ke padat disebut membeku. Agar tetap berwujud padat, es krim harus disimpan di tempat yang dingin seperti lemari es. Perubahan wujud benda dari air (zat cair) menjadi es (zat padat) disebut membeku. Air dapat membeku jika mengalami perubahan suhu yang sangat dingin. Banyak benda-benda yang dapat mengalami perubahan wujud. Peristiwa perubahan wujud benda cair menjadi padat selain adonan es krim menjadi padat adalah  larutan agar-agar menjadi agar-agar  menyimpan minyak goreng dalam lemari es. 2. Perubahan Wujud Benda Padat Menjadi Benda Cair Ketika es krim berada di tanganmu, es krim berada di tempat yang lebih panas dibandingkan dengan di lemari es. Panas yang ada di sekitar es krim tersebut akan menyebabkan es krim berubah menjadi wujud cair. Perubahan es krim dari wujud padat ke wujud cair disebut meleleh atau mencair. Perubahan wujud tersebut dapat dicapai melalui pemanasan zat. Contoh perubahan wujud benda padat menjadi benda cair adalah 1. Es batu yang ada dalam minuman es sirup lama-lama berubah menjadi cair karena kenaikan suhu.

(267) 249 249 2. Mentega berubah menjadi cair saat berada di penggorengan. Ayo kita Coba Alat dan Bahan: Alat: - Kaki tiga - Pembakar spritus - Kasa - Korek api - Nampan - Panci kecil - Sendok - Cetakan agar-agar berbentuk binatang. Bahan: - Air - Cokelat - Es batu Cara kerja : 1. Nyalakan pembakar spritus menggunakan korek api 2. Letakkan kasa di atas kaki tiga 3. Letakan panci di atas kasa 4. Masukkan coklat ke dalam panci kecil 5. Aduklah coklat tersebut secara perlahan 6. Tunggulah beberapa saat 7. Amati perubahan yang terjadi pertanyaan: a. bagaimana wujud coklat setelah dipanaskan? b. Mengapa hal tersebut dapat terjadi?jelaskan!

(268) 250 250 Ayo kita coba Tujuan - Mengamati perubahan wujud benda cair menjadi padat Alat: - Panci kecil Sendok Nampan Cetakan agar-agar berbagai bentuk Bahan: - Coklat cair - Es batu Cara kerja : 1. Siapkan coklat yang telah di cairkan 2. Letakkan es batu di atas nampan 3. Siapkan cetakan agar-agar berbagai bentuk 4. Tuangkan coklat cair ke dalam nampan 5. Letakkan cetakan yang berisi coklat cair diatas nampan yang beisi es batu 6. Tunggulah beberapa saat 7. Amati perubahan yang terjadi pertanyaan: a. Bagaimana wujud coklat setelah dipanaskan? b. Mengapa hal tersebut dapat terjadi?jelaskan!

(269) 251 251 B. PERUBAHAN WUJUD BENDA CAIR –GAS-CAIR CAIR GAS Di panaskan GAS Di dinginkan CAIR Jika benda berwujud cair dipanaskan berarti suhu naik hal ini menyebabkan air menjadi gas. Jika benda gas di dinginkan berarti suhu gas turun menyebabkan gas berubah menjadi air. 1. Perubahan Wujud Benda Cair Ke Gas Dalam peristiwa memanaskan air air mengalami perubahan wujud. Mula• mula air yang di masuk kan ke dalam panci atau teko berwujud cair. Beberapa menit kemudian dari panci atau teko tersebut, akan terlihat uap yang keluar. Pada saat panci belum dipanaskan, air yang ada di dalamnya berwujud cair. Kemudian, setelah panci dipanaskan, panci dan air menjadi panas. Panas tersebut dapat menyebabkan air mendidih. Air mendidih biasanya terjadi padasuhu 100 ºC. Air mendidih ditandai dengan bergolaknya air. Panas ini akan menyebabkaan pula air berubah menjadi uap atau gas. Perubahan wujud cair (air) menjadi gas (uap air) ini disebut menguap. Contoh penguapan :  Pakaian yang dijemur akan menjadi kering karena proses penguapan.

(270) 252 252 2. Perubahan Wujud Gas Menjadi Cair Setelah air dipanaskan dan tutup panci dibuka banyak tetesan air yang jatuh dari tutup panci tersebut. Tetesan air tersebut berasal dari uap air yang naik menyentuh tutup panci. Tutup panci itu bersuhu lebih dingin dibandingkan dengan suhu panci. Uap air yang panas apabila didinginkan, akan berubah menjadi wujud cair kembali. Perubahan air dari wujud gas ke wujud cair disebut mengembun. Perhatikan dinding gelas bagian luar pada saat gelas berisi air es. Pada dinding gelas terjadi titik-titik air berasal dari udara yang berwujud gas menjadi cair. Pagi-pagi sebelum matahari terbit, kita sering melihat rumput dan daun-daun basah oleh embun. Embun itu berasal dari uap air yang ada di udara. Pada malam hari, suhu udara sangat dingin sehingga uap air berubah wujud menjadi titik-titik air yang disebut embun. Ketika matahari semakin tinggi dan suhu udara mulai panas, embun itu menguap kembali.

(271) 253 253 Ayo kita coba Alat dan bahan Alat - Panci Pemanas spritus Korek api Bahan - Air Sirup Cara kerja: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Siapkan alat dan bahan Masukan air ke dalam panci kemudian tutup panci tersebut Letakkan pembakar spritus dibawah kaki tiga Nyalakan pembakar spritus dengan menggunakan korek api Letakkan kasa diatas kaki tiga Letakkan panci yang di diatas kasa Tunggu beberapa saat Amati perubahan yang terjadi Pertanyaan: a. Perubahan apa yang terjadi pada air? b. Mengapa hal tersebut dapat terjadi? Jelaskan!

(272) 254 254 Ayo kita coba Alat - Gelas Bahan - Air Es Sirup Cara kerja: 1. 2. 3. 4. 5. 6. Siapkan alat dan bahan Masukan sirup ke dalam gelas Tuangkan air kedalam gelas Masukaan es batu ke dalam gelas Tunggu beberapa saat Amati perubahan yang terjadi Pertanyaan: a. Perubahan apa yang terjadi pada gelas? b. Mengapa hal tersebut dapat terjadi? Jelaskan!

(273) 255 255 C. Perubahan Wujud Benda Padat menjadi Gas Kapur barus atau kamper adalah benda padat yang mengeluarkan aroma. Jika kita menyimpan kamper pewangi di ruangan atau kamar mandi, lama-kelamaan akan habis. Kamper berubah menjadi gas. Buktinya kita dapat merasakan harumnya. Perubahan dari kamper yang padat menjadi gas disebut peristiwa menyublim. Aroma tersebut dapat menghilangkan bau apek dan tidak disukai oleh kecoak. Oleh karena itu, untuk mencegah kecoak masuk ke dalam lemari pakaian, kamu dapat meletakkan kapur barus di dalam lemari.

(274) 256 256 Ayo kita coba! Tujuan - Mengetahui perubahan wujud benda padat menjadi gas. Alat: - Kaki tiga - Korek api - Pembakar spritus - Kaleng bekas Bahan: - Kapur barus Cara kerja: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Siapkan alat dan bahan Masukan kapur barus ke dalam panci Letakkan pembakar spritus dibawah kaki tiga Nyalakan pembakar spritus dengan menggunakan korek api Letakkan kasa diatas kaki tiga Letakkan panci yang berisi kapur barus di diatas kasa Tunggu beberapa saat Amati perubahan yang terjadi Pertanyaan: a. Perubahan apa yang terjadi pada air? b. Mengapa hal tersebut dapat terjadi? Jelaskan!

(275) 257 257 DAFTAR PUSTAKA Irianto, Teguh., Eddy Rohanadi., F. Supardi. (2005). Eksperimen Sains Jilid 4. Jakarta: Penerbit Erlangga. Halaman 79-82. Mikrodo, Gordo., M, Lukman. (2010). Science 4A for Elementary School Year IV semester 1. Jakarta: Penerbit Erlangga. Halaman 140. S, Rositawaty. 2008. Senang Belajari lmu Pengetahuan Alam 4: untuk kelas IV Sekolah Dasar/Madrash Ibtidayah.. Jakarta: Pusat Perbukuaan Departemen pendidikan Nasional. Halaman 89-91. Sulistyanto, Heri. 2008. Ilmu Pengetahuan Alam 4 untuk SD dan MI kelas IV. Jakarta: Pusat Perbukuaan Departemen pendidikan Nasional. Halaman 81-83 Sumantoro.(2009). Ayo Belajar Ilmu Pengetahuan Kelas 4 SD. Yogyakarta: Penerbit Kanisius. Halaman 105106. Zuneldi., Dian Okky S, M. Parilian. (2011). IPA 4 Ilmu Pengetahuan Alam SD Kelas IV. Jakarta: Yudhistira. Halaman 47-50.

(276) 258 258

(277) 259 259

(278) 260 260

(279) 261 261

(280) 262 262

(281) 263 263 RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (Siklus 2 Pertemuan 1) Satuan Tingkat Pendidikan : SD Negeri Nogotirto Mata Pelajaran : Ilmu Pengetahuan Alam Kelas/Semester : IV/ 1 Alokasi Waktu : 2 JP (2 x 35 menit)/1 Pertemuan I. Standar Kompetensi 6. Memahami beragam sifat dan perubahan benda serta berbagai cara penggunaan benda berdasarkan sifatnya. II. Kompetensi Dasar 6.3 Menjelaskan hubungan antara sifat bahan dengan kegunaannya. III. Indikator Kognitif: 6.3.1 Menyebutkan macam-macam bahan penyusun benda 6.3.2 Menemukan contoh benda berdasarkan bahan penyusunnya 6.3.3 Mengelompokkan benda berdasarkan bahan penyusunnya Afektif 6.3.4 Menunjukkan minat dalam pembelajaran mengenai bahan penyusun benda Psikomotorik: 6.3.5 Melakukan pengamatan dalam kegiatan pembelajaran mengenai bahan penyusun benda IV. Tujuan Pembelajaran Kognitif: 1. Siswa dapat menyebutkan 7 macam bahan penyusun benda tanpa membuka buku catatan. 2. Siswa dapat menemukan 3 contoh benda berdasarkan bahan penyusunnya melalui kegiatan pengamatan. 3. Siswa dapat mengelompokkan 3 benda berdasarkan bahan penyusunnya dengan tepat tanpa membuka buku catatan.

(282) 264 264 Afektif 4. Siswa dapat menunjukkan 4 indikator minat dalam kegiatan pembelajaran mengenai bahan penyusun benda secara mandiri Psikomotorik: 5. Siswa dapat melakukan sebuah pengamatan dalam kegiatan pembelajaran mengenai bahan penyusun benda secara berkelompok. V. Materi Pembelajaran Penggunaan benda sesuai dengan sifat bahannya: - Bahan Plastik - Bahan Karet - Bahan Logam - Bahan Kaca - Bahan Kayu - Bahan Kain - Bahan Kertas VI. Pendekatan, Model dan Metode Pembelajaran Pendekatan pembelajaran : Student Centered Learning Model pembelajaran : Problem based learning Metode pembelajaran : Tanya jawab, diskusi, kerja kelompok, observasi, pemberian tugas, demonstrasi VII. Kegiatan Pembelajaran Kegiatan Kegiatan Awal  Salam, Doa, Absensi  Motivasi Siswa menyanyikan lagu “Di Sini Senang, Di Sana Senang” secara bersama-sama Di rumah senang Di sekolah senang Di mana-mana hatiku senang Di sini benda Di situ Benda Dimana-mana ada bendanya **Kaki di hentak-hentak Waktu 10 menit

(283) 265 265 (Siswa memperagakan menghentakkan kaki di lantai) Pinggul digoyang-goyang (Siswa memperagakan menggoyangkan pinggul) Tangan melambai-lambai (Siswa melambaikan tangan) Putar badan (Siswa memutar badan) Kembali ke **  Apersepsi Siswa dan guru melakukan tanya jawab mengenai lagu yang telah dinyanyikan bersama-sama. Misalnya: - Pada lagu yang kita nyanyikan tadi, ada tempat apa saja yang disebutkan? - Benda apa saja yang berada di rumah? Benda apa saja yang berada di sekolah - Nah, siapa yang tahu, bahan yang digunakan untuk membuat sepatu itu apa?  Orientasi Siswa menyimak penjelasan dari guru tentang kegiatan yang akan dilakukan hari itu, yaitu tentang bahan-bahan penyusun benda. Selain itu, siswa juga menyimak penjelasan guru mengenai manfaat dari kegiatan yang akan dilakukan yaitu agar siswa dapat memahami macam-macam bahan penyusun benda, sehingga tidak menyia-nyiakan bahan-bahan yang ada di lingkungan sekitar. Kegiatan Inti Eksplorasi  Siswa memperhatikan benda-benda yang ditunjukkan oleh guru di depan kelas. Benda-benda tersebut antara lain: benda yang berbahan kertas, kayu, logam, karet, kaca, kain, dan plastik  Siswa dan guru melakukan tanya jawab mengenai benda-benda yang ditunjukkan oleh guru. Misalnya: Siapa yang tahu ini benda apa? 40 menit

(284) 266 266 Benda ini terbuat dari apa?  Siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok kecil, masingmasing kelompok terdiri dari 5 sampai dengan 6 orang siswa, kemudian siswa duduk bersama dengan kelompoknya.  Siswa dalam setiap kelompok menyimak pertanyaan yang diberikan guru seperti, “Apakah benda-benda yang ada di sekitar terbuat dari bahan yang sama dan apakah kalian bisa menunjukkan cara mengelompokkan benda-benda tersebut sesuai dengan bahan penyusunnya?”  Siswa dibagikan LKS yang berisi petunjuk kegiatan yang akan mereka lakukan.  Siswa dan guru mendiskusikan LKS yang telah siswa terima. Elaborasi  Identifikasi Masalah - Siswa berdiskusi untuk memahami masalah yang disampaikan oleh guru. - Siswa dalam kelompok menentukan jawaban pertanyaan yang disampaikan guru dengan mengisi kolom pada LKS.  Merancang kegiatan penyelesaian masalah - Siswa diperbolehkan untuk mengamati benda di luar kelas. - Siswa dalam setiap kelompok secara bersama-sama akan memilih tempat untuk kegiatan pengamatan benda-benda yang ada di sekitar sekolah, seperti:  Ruang kelas  Kantin  Halaman Sekolah  Tempat ibadah  Perpustakaan - Setiap kelompok dapat membagi tugas anggotanya untuk melakukan pengamatan di tempat-tempat tersebut. - Siswa dalam kelompok menyiapkan tabel yang akan digunakan untuk pengamatan benda.

(285) 267 267  Melaksanakan kegiatan penyelesaian masalah - Siswa dalam kelompok melakukan pengamatan sesuai dengan tempat yang mereka pilih - Siswa menuliskan hasil pengamatannya pada tabel pengamatan. - Siswa mengelompokkan benda-benda yang sudah mereka tulis berdasarkan bahan penyusunnya. Bahan-bahan tersebut adalah bahan plastik, logam, kayu, kertas, karet, kaca, kain di dalam tabel yang tersedia.  Kegiatan Tutorial - Siswa melaporkan hasil pengamatan mengenai pengelompokan macam-macam benda berdasarkan bahan penyusunnya dan menjelaskan hambatan-hambatan yang dialami pada saat kegiatan pengamatan. - Siswa menyimak penjelasan yang diberikan oleh guru tentang hasil pengamatan yang telah mereka laporkan.  Melanjutkan kegiatan penyelesaian masalah - Siswa dalam kelompok mendiskusikan masukan yang diberikan oleh guru untuk menyempurnakan hasil pengamatan yang telah mereka tuliskan.  Menyusun laporan - Siswa melanjutkan mengisi LKS secara berkelompok - Siswa mempresentasikan LKS yang telah mereka kerjakan  Penilaian Guru menilai hasil kerja siswa ketika melakukan kegiatan tutorial Konfirmasi  Siswa dipersilahkan untuk bertanya apabila ada materi yang belum jelas.  Siswa dan guru mendiskusikan kegiatan pembelajaran yang telah mereka lakukan mengenai berdasarkan bahan penyusunnya pengelompokan benda

(286) 268 268 20 menit Kegiatan Akhir  Refleksi - Siswa dibimbing guru untuk menemukan manfaat yang didapatkan setelah mempelajari materi pengelompokkan benda berdasarkan bahan penyusunnya - Siswa mengisi lembar refleksi yang diberikan guru  Siswa mengisi kuisioner yang diberikan oleh guru  Tindak lanjut - Siswa diberi pertemuan tugas untuk selanjutnya mempelajari mengenai materi penggunaan pada benda berdasarkan sifatnya. - Siswa diberi tugas untuk membawa bahan-bahan yang akan digunakan untuk percobaan pada pertemuan selanjutnya. Bahan-bahan tersebut adalah kertas tisu, kertas karton, kelas “aqua”, bungkus makanan “Sukro”, uang perak 500an, penggaris besi, kain untuk bahan seragam sekolah, kain jeans, cermin, botol c1000, karet gelang, potongan ban motor, triplek, dan pensil.  Doa dan Salam Penutup VIII. Media Pembelajaran dan Sumber Belajar 1. Media Pembelajaran Benda-benda di lingkungan sekitar - Benda-benda yang terbuat dari bahan plastik: gayung, pulpen, payung - Benda-benda yang terbuat dari bahan logam: Penggaris besi, steples, kunci - Benda-benda yang terbuat dari kayu: kursi, meja, penggaris kayu, papan tulis - Benda-benda yang terbuat dari kertas: kertas binder, kalender, buku, kardus - Benda-benda yang terbuat dari kaca: kaca jendela, cermin, kaca spion, kaca lampu motor - Benda-benda yang terbuat dari kain: baju olahraga, seragam sekolah, mukena

(287) 269 269 Benda-benda yang terbuat dari karet: penghapus, sandal, sepatu, karet - gelang, 2. Sumber Belajar Rositawaty, S dkk. (2008).Senang Belajar Ilmu Pengetahuan Alam 4: Untuk Kelas IV Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah. Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional. Halaman 92-98 Wahyono, Budi. (2008). Ilmu Pengetahuan Alam 4untuk SD/MI Kelas IV. Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional. Halaman 7981 Sumantoro.(2009). Ayo Belajar Ilmu Pengetahuan Kelas 4 SD. Yogyakarta: Penerbit Kanisius. Halaman 110-112 IX. Penilaian 1. Prosedur Penilaian - Proses 2. Jenis Penilaian - Non Tes 3. Teknik Penilaian - Kinerja 4. Instrumen Penilaian (terlampir) - Kisi-kisi soal evaluasi - Soal dan kunci jawaban - Rubrik penilaian - Kuesioner minat 5. Pedoman Penilaian (terlampir)

(288) 270 270 Rubrik Penilaian Psikomotorik Indikator: Melakukan pengamatan dalam kegiatan pembelajaran mengenai bahan penyusun benda No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. Nama Siswa Aspek yang dinilai Pembagian tugas Pelaksaan kegiatan 1 2 3 1 2 3

(289) 271 271 Kriteria Penilaian: Aspek Pembagian tugas Pelaksanaan kegiatan Skor Deskriptor 4 Jika semua anggota mendapatkan bagian kerja yang sama 3 Jika satu siswa tidak mendapat bagian dalam presentasi 2 Jika dua siswa tidak mendapat bagian dalam presentasi 1 Jika tiga siswa tidak mendapat bagian dalam presentasi 0 Jika lebih dari tiga siswa tidak mendapat bagian dalam presentasi Jika dapat mengamati benda sesuai dengan 4 tempat yang ditentukan sebelumnya, mengisi tabel pengamatan, sesuai dengan waktu yang ditentukan, dan bersemangat. 3 Jika ada 1 hal yang tidak nampak dalam kegiatan pengamatan 2 Jika ada 2 hal yang tidak nampak dalam kegiatan pengamatan 1 Jika ada 3 hal yang tidak nampak dalam kegiatan pengamatan 0 Jika semua hal tidak nampak dalam kegiatan pengamatan

(290) 272 272 Rubrik Penilaian Afektif Indikator : 6.2.5 Menunjukkan minat dalam pembelajaran Skor No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. Nama Siswa 1 2 3 4

(291) 273 273 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. 32. Penilaian Kuesioner Tidak pernah =1 Kadang-kadang =2 Sering =3 Selalu = 4 skor = Kriteria skor: Skor Tertinggi 100 Skor Terendah 26 Jarak 74: 4 = 18,5 Jadi interval minat siswa dapat dipetakan sebagai berikut: Sangat rendah 26 - 44,5 Rendah 44,5 - 63 Tinggi 63 - 81,5 Sangat tinggi 81,5 - 100

(292) 274 274 LEMBAR KEGIATAN SISWA

(293) 275 275 LEMBAR REFLEKSI

(294) 276 276 RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (Siklus 2 Pertemuan 2) Satuan Tingkat Pendidikan : SD N Nogotirto Mata Pelajaran : Ilmu Pengetahuan Alam Kelas/Semester : IV /1 Alokasi Waktu : 2 JP (2 x 35 menit) X. Standar Kompetensi 7. Memahami beragam sifat dan perubahan benda serta berbagai cara penggunaan benda berdasarkan sifatnya. XI. Kompetensi Dasar 6.4 Menjelaskan hubungan antara sifat bahan dengan kegunaannya XII. Indikator Kognitif: 6.4.1 Menjelaskan 3 sifat bahan penyusun benda 6.4.2 Membedakan bahan penyusun suatu benda berdasarkan sifatnya 6.4.3 Menganalisis kegunaan benda berdasarkan sifat bahan penyusunnya Afektif 6.4.4 Menunjukkan minat dalam pembelajaran mengenai sifat bahan penyusun benda dan kegunaannya. Psikomotorik: 6.4.5 Melakukan presentasi dalam kegiatan pembelajaran mengenai sifat bahan penyusun benda dan kegunaannya. XIII. Tujuan Pembelajaran Kognitif: 1 Siswa dapat menjelaskan 3 sifat bahan plastik, logam, karet, kertas, kaca dengan tepat tanpa membuka buku catatan 2 Siswa dapat membedakan bahan penyusun suatu benda berdasarkan sifatnya dengan tepat tanpa membuka buku catatan

(295) 277 277 3 Siswa dapat menganalisis kegunaan benda berdasarkan sifat bahan penyusunnya dengan tepat tanpa membuka buku catatan Afektif 4 Siswa dapat menunjukkan 4 indikator minat dalam kegiatan pembelajaran mengenai sifat bahan penyusun benda secara mandiri Psikomotorik: 5 Siswa dapat melakukan sebuah percobaan dalam kegiatan pembelajaran mengenai sifat bahan penyusun benda secara berkelompok XIV. Materi Pembelajaran Penggunaan benda sesuai dengan sifat bahannya: XV. - Bahan Plastik - Bahan Karet - Bahan Logam - Bahan Kaca - Bahan Kayu - Bahan Kain - Bahan Kertas Pendekatan Pembelajaran Pendekatan pembelajaran : Student Centered Learning Model pembelajaran : Problem based learning Metode pembelajaran : Tanya jawab, diskusi, kerja kelompok, observasi, pemberian tugas, demonstrasi XVI. Kegiatan Pembelajaran Kegiatan Kegiatan Awal  Salam, Doa, Presensi  Motivasi Siswa menyanyikan lagu “Tik-tik Bunyi Hujan” secara bersama-sama Tik-tik-tik bunyi hujan diatas genting Airnya turun tidak terkira Cobalah tengok Daun dan ranting Pohon dan kebun Waktu 15 menit

(296) 278 278 Basah semua  Apersepsi Siswa dan guru melakukan tanya jawab mengenai lagu yang telah dinyanyikan bersama-sama. Misalnya: - Peristiwa apa yang ada dalam lagu tersebut? - Apakah kalian pernah kehujanan? - Apa yang terjadi dengan pakaian kalian? - Bagaimana upaya kalian agar pakaian kalian tidak basah? - Apakah bahan untuk membuat pakaian sama dengan bahan membuat payung/jas hujan?  Orientasi Siswa menyimak penjelasan dari guru tentang kegiatan yang akan dilakukan hari itu, yaitu tentang sifat bahan dan kegunaannya. Selain itu, siswa juga menyimak penjelasan guru mengenai manfaat dari kegiatan yang akan dilakukan yaitu agar siswa dapat menggunakan bahan yang ada di alam dengan mempertimbangkan sifat bahannya sesuai dengan kebutuhan Kegiatan Inti Eksplorasi  Siswa menunjukkan benda-benda yang pada pertemuan sebelumnya sudah diminta guru untuk dibawa. Benda-benda tersebut adalah kertas tisu, kertas karton, kelas “aqua”, bungkus makanan “Sukro”, uang logam 500an, penggaris besi, kain untuk bahan seragam sekolah, kain jeans, cermin, botol C1000, karet gelang, potongan ban motor, triplek, dan pensil.  Siswa dan guru melakukan tanya jawab mengenai benda-benda yang sudah mereka bawa Misalnya: “Siapa yang dapat menyebutkan bahan utama yang digunakan untuk membuat benda-benda yang kalian bawa?” Apakah ada yang tahu sifat bahan (kertas) ini?  Siswa diberi permasalahan mengenai apa saja sifat-sifat bahan logam, kertas, kain, plastik, kaca, kayu, dan karet. Setelah mengetahui sifatnya, siswa diminta menentukan sebaiknya benda-benda tersebut 35 menit

(297) 279 279 digunakan untuk apa.  Siswa duduk secara berkelompok pada kelompoknya masing-masing untuk menjawab permasalahan yang diberikan oleh guru.  Siswa dibagikan LKS yang berisi petunjuk kegiatan yang akan mereka lakukan  Siswa dan guru bersama-sama mendiskusikan LKS yang telah siswa terima Elaborasi  Identifikasi Masalah - Siswa berdiskusi untuk memahami masalah yang disampaikan oleh guru sesuai petunjuk dalam LKS. - Siswa dalam kelompok menentukan jawaban pertanyaan yang disampaikan guru dengan mengisi kolom pada LKS.  Merancang kegiatan penyelesaian masalah - Setiap kelompok mengumpulkan benda yang telah dibawa oleh anggotanya masing-masing untuk ditata diatas meja yang akan digunakan untuk percobaan. - Salah satu siswa mengambil alat percobaan yang telah disiapkan oleh guru, misalnya lilin, korek api, sendok, nampan, dan penjepit.  Melaksanakan kegiatan penyelesaian masalah - Siswa mulai melakukan percobaan yang pertama dengan cara membakar bahan-bahan yang telah mereka bawa diatas api yang berasal dari lilin. - Siswa melakukan percobaan yang kedua dengan cara menaruh bahan-bahan yang mereka bawa di atas air. - Siswa melakukan percobaan yang ketiga dengan cara menekan bahan-bahan yang mereka bawa dengan menggunakan tangan - Siswa menuliskan hasil percobaan yang telah mereka lakukan di dalam tabel yang telah disediakan di dalam LKS.  Siswa menuliskan hasil percobaan mereka pada tabel Kegiatan Tutorial - Siswa melaporkan hasil percobaan yang telah mereka lakukan

(298) 280 280 kepada guru. Siswa juga melaporkan hambatan-hambatan yang mereka temui selama kegiatan percobaan. Misalnya saja kekurangaan atau kelebihan air, ukuran bahan-bahan percobaan yang tidak sama, dan lain-lain - Siswa menyimak penjelasan yang diberikan oleh guru tentang hasil pengamatan yang telah mereka laporkan.  Melanjutkan kegiatan penyelesaian masalah - Siswa dalam kelompok mendiskusikan masukan yang diberikan oleh guru untuk mengisi tabel pengelompokan benda-benda berdasarkan mudah/ tidaknya terbakar, mudah/ tidaknya menyerap air, mudah/ tidaknya berubah bentuk apabila ditekan. - Siswa berdiskusi untuk menemukan kegunaan dari benda-benda yang telah mereka temukan sifat-sifatnya. Hasil diskusi mereka dituliskan dalam tabel yang ada di LKS.  Menyusun laporan - Siswa secara berkelompok menyelesaikan LKS yang telah mereka isi sebelumnya. - Siswa mengumpulkan LKS yang telah mereka kerjakan secara berkelompok kepada guru.  Penilaian Guru menilai hasil kerja siswa ketika melakukan kegiatan tutorial Konfirmasi  Siswa dipersilahkan untuk bertanya apabila ada yang belum jelas.  Siswa dan guru mendiskusikan kegiatan pembelajaran yang telah mereka lakukan mengenai kegunaan benda berdasarkan sifatnya Kegiatan Akhir  Siswa mengerjakan soal evaluasi  Siswa mengisi kuisioner yang diberikan oleh guru  Refleksi - Siswa dibimbing guru untuk menemukan manfaat yang didapatkan setelah mempelajari materi pengelompokkan benda berdasarkan bahan penyusunnya 20 menit

(299) 281 281  Siswa mengisi lembar refleksi yang telah diberikan oleh guru Tindak lanjut - Siswa diberi tugas untuk mengerjakan soal-soal yang ada di dalam buku paket  Doa dan Salam Penutup XVII. Media Pembelajaran dan Sumber Belajar 3. Media Pembelajaran o Kertas, kantong plastik, penggaris besi, kaca, baju, balok kayu 4. Sumber Belajar Rositawaty, S dkk. (2008).Senang Belajar Ilmu Pengetahuan Alam 4: Untuk Kelas IV Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah. Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional. Halaman 92-98 Wahyono, Budi. (2008). Ilmu Pengetahuan Alam 4untuk SD/MI Kelas IV. Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional. Halaman 7981 Sumantoro.(2009). Ayo Belajar Ilmu Pengetahuan Kelas 4 SD. Yogyakarta: Penerbit Kanisius. Halaman 110-112 XVIII. Penilaian 6. Prosedur Penilaian - Proses - Post Test 7. Jenis Penilaian - Tes - Non Tes 8. Teknik Penilaian - Tes - Kinerja 9. Instrumen Penilaian (terlampir) - Lembar Kegiatan Siswa - Kuisioner Minat - Kisi-kisi soal evaluasi

(300) 282 282 - Soal dan kunci jawaban - Rubrik penilaian 10. Pedoman Penilaian (terlampir)

(301) 283 283 Rubrik Penilaian Psikomotorik Indikator: Melakukan percobaan dengan tepat No Nama Siswa . 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 Keruntutan 1 2 Kelengkapan 3 1 2 3

(302) 284 284 Kriteria Penilaian: Aspek Keruntutan Skor 3 2 1 Kelengkapan 3 2 1 Deskriptor Jika mengikuti 13 langkah kerja secara urut. Langkah-langkah tersebut adalah: 1. Siapakan alat dan bahan yang akan kalian gunakan untuk percobaan. 2. Ambillah korek api, gunakan korek api tersebut untuk menyalakan lilin. 3. Secara perlahan bakarlah kertas tisu yang kalian bawa maksimal selama 10 detik 4. Amati apa yang terjadi? Catatlah pada tabel dibawah ini! 5. Lakukan langkah 3 dan 4 dengan menggunakan bahan yang lainnya, yaitu bahan plastik, karet, kaca, logam, kain, dan kayu. 6. Setelah itu, coba tuangkan 3 sendok air di nampan 7. Ambil sebuah kertas tisu dan letakkan pada air yang kalian tuangkan di nampan selama maksimal 10 detik. 8. Amati apa yang terjadi! Lalu catatlah pada tabel. 9. Lakukan langkah 6, 7, dan 8 menggunakan bahan yang lain, yaitu plastik, karet, kaca, logam, dan kain. 10. Setelah itu, ambil sebuah kertas tisu lagi, 11. Berikan tekanan pada kertas tisu tersebut dengan cara menekan bahan-bahan tersebut menggunakan tangan 12. Amati apa yang terjadi! Lalu catatlah pada tabel. 13. Lakukan langkah 6, 7, dan 8 menggunakan bahan yang lain, yaitu plastik, karet, kaca, logam, dan kain. Jika mengikuti 13 langkah kerja tidak urut Jika tidak mengikuti 13 langkah kerja Jika menyediakan 14 bahan percobaan. Bahan-bahan tersebut adalah: 1. Kertas tisu 2. Kertas karton 3. Gelas “Aqua” 4. Bungkus Makanan “Sukro” 5. Uang perak 500an 6. Penggaris besi 7. Kain untuk bahan seragam sekolah 8. Kain jeans 9. Cermin 10. Botol C100 11. Karet gelang 12. Ban motor 13. Triplek 14. Pensil Jika menyediakan 10 buah bahan Jika menyediakan < 10 buah bahan

(303) 285 285 Rubrik Penilaian Afektif Indikator : Menunjukkan minat dalam pembelajaran Skor No Nama Siswa 1 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 2 3 4

(304) 286 286 24. 25. 26. 27. Pedoman Skoring : menggunakan kuesioner Penilaian Kuesioner Tidak pernah =1 Kadang-kadang =2 Sering =3 Selalu = 4 skor = Kriteria skor: Skor Tertinggi 100 Skor Terendah 26 Jarak 74: 4 = 18,5 Jadi interval minat siswa dapat dipetakan sebagai berikut: Sangat rendah 26 - 44,5 Rendah 44,5 - 63 Tinggi 63 - 81,5 Sangat tinggi 81,5 - 100

(305) 287 287 LEMBAR KEGIATAN SISWA

(306) 288 288 LEMBAR REFLEKSI

(307) 289 289 Kompetensi Dasar 6.3 Menjelaskan hubungan antara sifat bahan dengan kegunaannya. A. Bahan dan Kegunaannya Ada banyak benda yang berada di lingkungan sekitar kita. Benda-benda tersebut terbuat dari bahan yang berbeda-beda. Jenis bahan yang digunakan untuk membuat benda-benda tersebut antara lain plastik, kayu, logam, karet, kaca, kertas dan kain. 1. Plastik Plastik merupakan bahan yang terbuat dari minyak mentah dan diolah secara kimiawi. Plastik memiliki sifat ringan, tahan air, lentur, tidak menghantarkan listrik, dan mudah dibentuk. Berdasarkan sifatnya mudah dibentuk plastik dimanfaatkan sebagai bahan dasar berbagai jenis alat dan mainan anak-anak. Banyak sekali benda yang terbuat dari plastik. Contohnya kantong plastik, ember, gayung, tempat makan, botol, dan mainan anak-anak banyak terbuat dari plastik. Berdasarkan sifatnya yang tidak tembus air plastik digunakan sebagai bahan untuk membuat berbagai jenis wadah, antara lain ember, gelas plastik,

(308) 290 290 kantong plastik, mangkuk plastik dll. Plastik dapat digunakan untuk membuat jas hujan dan payung. Penggunaan plastik yang berlebihan dapat menyebabkan pencemaran lingkungan karena sampah plastik sulit terurai. 2. Logam Logam merupakan bahan yang kuat, kokoh, tahan panas, dapat menghantarkan panas dan listrik dengan baik. Bahan logam digunakan untuk benda-benda yang berkaitan dengan proses pemanasan dan bahan dasar untuk untuk membuat benda-benda yang kuat. Logam baik juga digunakan untuk sebagai bahan untuk menahan dan memperkokoh suatau benda atau bangunan. Logam merupakan bahan yang sangat keras dan sulit dibentuk, logam dapat dibentuk dengan mudah jika dilebur dengan suhu yang tinggi, setelah dilebur logam akan berwujud cair dan mudah untuk dibentuk. Jenis logam yang banyak digunakan adalah alumunium, besi, baja dan tembaga.  Alumunium banyak dimanfaatkan untuk membuat bahan bangunan dan perabot rumah tangga. Alumunium mudah dibentuk dan tahan karat, selain itu dapat didaur ulang sehingga tidak mencemari lingkungan.  Besi dan baja biasanya digunakan untuk membuat tiang atau rangka beton karena sifatnya yang sangat kuat.  Tembaga banyak digunakan untuk bahan dasar membuat kabel listrik. Bagian dalam kabel yang berwarna kuning terbuat dari tembaga. Tembaga dapat menghantarkan panas dan arus listrik dengan baik. Contoh benda yang terbuat dari logam antara lain penggaris besi, panci, rel kereta api, uang logam, kunci,

(309) 291 291 3. Kayu Kayu adalah bahan yang berasal dari tumbuhan berkayu seperti pohon damar, pohon jati, dan pohon cendana. Kayu merupakan bahan yang bersifat kuat dan mudah dibentuk. Kayu dapat dibentuk dengan cara digergaji atau diukir. Berdasarkan sifatnya yang kuat dan kokoh kayu banyak digunakan sebagai bahan untuk penyangga seperti untuk tiang, atau penyangga atap rumah. Selain itu kursi juga digunakan untuk membuat alat-alat rumah tangga seperti kursi, meja, lemari dll. Kekuatan kayu tidak sekuat logam. Apabila kayu sering berada di tempat basah kayu akan cepat lapuk sehingga tidak dapat digunakan sebagaimana mestinya. Kayu memiliki sifat penghantar panas yang kurang baik, oleh karena itu kayu juga dapat digunakan sebagai pegangan atau gagang alat-alat memasak. Disamping itu, kayu mempunyai sifat mudah terbakar. Di daerah pedesaan kayu masih banyak digunakan untuk bahan bakar. 4. Kertas Kertas berbentuk lembaran yang dibuat dari serat kayu atau bambu. Kegunaan kertas antara lain, untuk menulis, menggambar, dan sebagai pembungkus makanan. Kertas juga dapat digunakan sebagai media untuk membuat koran, majalah, dan buku

(310) 292 292 tulis. Kertas memiliki jenis yang bermacam-macam mulai dari kertas yang lembut hingga kertas karton yang keras. Kertas yang tipis dapat menyerap cairan sehingga digunakan untuk membuat tissu. Kertas merupakan bahan yang dapat didaur ulang. Kertas daur ulang merupakan kertas yang terbuat dari kertas bekas. Kertas memiliki kelemahan yaitu mudah terbakar, mudah robek, dan tidak tahan air. 5. Karet Ada dua jenis karet yaitu karet alam dan karet buatan. Karet alam berasal dari getah pohon karet yang disadap sedangkan karet buatan terbuat dari unsur-unsur kimia. Karet memiliki sifat yang lentur, elastis dan tidak dapat ditembus air serta tidak mudah robek atau patah. Beberapa benda yang memanfaatkan sifat karet antara lain ban kendaraan, balon, sandal/sepatu. Karet digunakan sebagai bahan dasar pembauatan alat-alat yang berfungsi untuk melindungi dan meredam benturan. Karet bersifat tidak menghantar arus listrik hal ini dapat dilihat pada kabel. Bagian luar yang terdapat pada kabel yang berwarna hitam terbuat dari karet hal ini bertujuan untuk melindungi kita dari arus listrik yang mengalir di sepanjang logam. 6. Kaca

(311) 293 293 Kaca adalah salah satu benda yang banyak digunakan dalam kehidupan seharihari. Banyak sekali benda yang terbuat dari kaca seperti jendela, cermin, botol, akuarium, lensa, layar televisi, gelas, dll. Kaca berbentuk padat akan tetapi bentuk kaca dapat diubah dengan cara dipanaskan. Kaca terbuat dari pasir silika yang dicampur dengan abu soda dan batu kapur, melalui pemanasan ketiga bahan tersebut dicampur dan dijadikan kaca yang kita kenal sekarang. 7. Kain Kain merupakan salah satu bahan yang sering dijumpai dalam kehidupan seharihari. Kain sering dimanfaatkan untuk membuat pakainan, tas, hiasan, peralatan pel, keset, korden, dll. Fungsi tersebut disesuaikan dengan sifat kain yang bisa menyerap air, mudah terbakar, berubah bentuk apabila diberi tekanan, ringan, dan lentur. Ada beberapa jenis kain yang sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Penggunaan jenis kain biasanya disesuaikan dengan kebutuhan. Ada kain yang tebal, biasanya digunakan untuk kain pel, baju hangat atau selimut. Ada pula kain tipis yang digunakan untuk pakaian di daerah yang panas, untuk bahan pakaian dalam, dll.

(312) 294 294 B. Mengetahui Sifat-Sifat Bahan Mari melakukan percobaan! Alat: 1. Korek api 5. Penjepit 2. Lilin 6. Nampan 3. Segelas air 4. Sendok makan Bahan: 15. Kertas tisu 16. Kertas karton 17. Gelas “Aqua” 18. Bungkus Makanan “Sukro” 19. Uang perak 500an 20. Penggaris besi 21. Kain untuk bahan seragam sekolah 22. Kain jeans 23. Cermin 24. Botol C100 25. Karet gelang 26. Ban motor 27. Triplek 28. Pensil

(313) 295 295 Langkah-langkah percobaan: 14. Siapakan alat dan bahan yang akan kalian gunakan untuk percobaan. 15. Ambillah korek api, gunakan korek api tersebut untuk menyalakan lilin. 16. Secara perlahan bakarlah kertas tisu yang kalian bawa maksimal selama 10 detik 17. Amati apa yang terjadi? Catatlah pada tabel dibawah ini! 18. Lakukan langkah 3 dan 4 dengan menggunakan bahan yang lainnya, yaitu bahan plastik, karet, kaca, logam, kain, dan kayu. 19. Setelah itu, coba tuangkan 3 sendok air di nampan 20. Ambil sebuah kertas tisu dan letakkan pada air yang kalian tuangkan di nampan selama maksimal 10 detik. 21. Amati apa yang terjadi! Lalu catatlah pada tabel. 22. Lakukan langkah 6, 7, dan 8 menggunakan bahan yang lain, yaitu plastik, karet, kaca, logam, dan kain. 23. Setelah itu, ambil sebuah kertas tisu lagi, 24. Berikan tekanan pada kertas tisu tersebut dengan cara menekan bahan-bahan tersebut menggunakan tangan 25. Amati apa yang terjadi! Lalu catatlah pada tabel. 26. Lakukan langkah 6, 7, dan 8 menggunakan bahan yang lain, yaitu plastik, karet, kaca, logam, dan kain. Nama benda Bahan Dibakar selama <10 detik Diletakkan di atas air selama <10 detik Ditekan 1. Kertas tisu kertas Mudah terbakar Tembus air Berubah bentuk 2. Kertas karton Kertas Mudah terbakar Tembus air Berubah bentuk 3. Gelas “Aqua” plastik Mudah terbakar Tidak tembus air Berubah bentuk 4. Bungkus Makanan Plastik Mudah Tidak Berubah bentuk

(314) 296 296 “Sukro” terbakar tembus air 5. Uang perak 500an Logam Tidak mudah terbakar Tidak tembus air Tidak berubah bentuk 6. Penggaris besi logam Tidak mudah terbakar Tidak tembus air Tidak berubah bentuk 7. Kain untuk bahan seragam sekolah Kain Mudah terbakar Tembus air Berubah bentuk 8. Kain jeans Kain Mudah terbakar Tembus air Berubah bentuk 9. Cermin kaca Tidak mudah terbakar Tidak tembus air Tidak berubah bentuk 10. Botol C100 Kaca Tidak mudah terbakar Tidak tembus air Tidak berubah bentuk 11. Karet gelang Karet mudah terbakar Tidak tembus air Tidak berubah bentuk 12. Ban motor Karet Mudah terbakar 13. Triplek kayu Mudah terbakar Tidak tembus air Tidak berubah bentuk 14. Pensil Kayu Mudah terbakar Tidak tembus air Tdak berubah bentuk Tidak tembus air Tidak berubah bentuk Berdasarkan percobaan tersebut dapat diketahui bahwa setiap bahan memiliki sifat yang berbeda-beda. Sifat-sifat bahan yang dapat diketahui berdasarkan percobaan tersebut adalah:  Daya serap terhadap air bahan yang terbuat dari kainatau kertas biasanya dapat menyerap air, sedangkan bahan yang tidak mudah menyerap air contohnya plastik  Kelenturan. Bahan yang memiliki kelenturan meisalnya karet. Karet sangat lentur sehingga tidak mudah patah atau pecah..

(315) 297 297  Tahan terhadap api. Bahan ini biasanya terbuat dari logam dan serat asbes. benda yang tahan api misalnya wajan, kompor. Pakaian penjinak bom dan pemadam kebakaran terbuat dari serat asbes. Selain itu, bahan-bahan tertentu juga memiliki sifat lain seperti:  Kekuatan menahan beban. Bahan ini biasanya terbuat dari logam misalnya baja dan besi  Daya hantar panas dan atau listrik  Berat dan ringan. Bahan juga memiliki berat. Kertas juga memilik berat tergantung tebal tipisnya bahan tersebut  Keawetan bahan. Bahan yang awet biasanya tidak mudah sobek, berkarat atau patah. Salah satu contohnya adalh alumunium DAFTAR PUSTAKA Rositawaty, S dkk. (2008).Senang Belajar Ilmu Pengetahuan Alam 4: untuk Kelas IV Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah. Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional. Halaman 92-98 Sumantoro.(2009). Ayo Belajar Ilmu Pengetahuan Kelas 4 Sd. Yogyakarta: Penerbit Kanisius. Halaman 110-112 Wahyono, Budi. (2008). Ilmu Pengetahuan Alam 4untuk SD/MI Kelas IV. Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional. Halaman 79-81

(316) 298 298 Nama : Kelas : Berilah tanda silang pada huruf A, B, C, atau D di depan jawaban yang tepat! 1. Di bawah ini yang merupakan 7 macam bahan penyusun benda adalah ... a. Plastik, logam, kaca, kertas, karet, kayu, kain b. Batu, plastik, besi, kaca, karet, kayu, kertas c. Plastik, besi, kaca, karet, meja, kertas, kain d. Kaleng, air, karet, kertas, kayu, kain, besi 2. Berikut ini merupakan contoh benda yang terbuat dari bahan logam adalah ... a. Lemari baju b. Sepatu c. Panci d. Sabun 3. Berikut ini benda yang terbuat dari kayu dan benda yang terbuat dari logam adalah ... a. Kayu: lonceng, kentongan Logam:ujung bolpint, meja dan kursi belajar b. Kayu: meja dan kursi belajar, kentongan Logam: lonceng, ujung bolpoint c. Kayu: meja dan kursi belajar, ujung bolpint Logam: lonceng, kentongan d. Kayu: lonceng, kentongan Logam: meja dan kursi belajar, ujung bolpoint 4. Benda di bawah ini yang terbuat dari plastik adalah ... a. Jendela

(317) 299 299 b. Lampu c. Buku d. Ember 5. Penghapus dan ban sepeda merupakan benda yang terbuat dari ... a. Karet b. Kayu c. Plastik d. Kertas 6. Bu Sindi memiliki lensa, cermin, dan layar televisi. Benda-benda yang dimiliki bu Sindi terbuat dari bahan ... a. Kayu b. Karet c. Kaca d. Kain 7. Baju terbuat dari bahan ... a. Kain b. Kayu c. Kaca d. Logam 8. Sifat dari bahan kain adalah lentur, mudah terbakar, dan dapat didaur ulang, sedangkan sifat dari bahan kertas adalah ... a. Padat, terbuat dari serat kayu dan lentur b. Berbentuk padat dan terbuat dari serat kayu c. Berbentuk cair, tembus pandang dan lentur d. Berbentuk lembaran dan tidak dapat di daur ulang

(318) 300 300 9. Benda-benda di bawah ini yang terbuat dari bahan kertas adalah .... a. Buku, televisi, radio, ban sepeda b. Pena, pensil, majalah, koran c. Baju, meja, kursi, kulkas d. Majalah, buku, koran 10. Perhatikan gambar gambar di bawah ini! Di bawah ini benda yang terbuat dari bahan kayu adalah ... a. Pena, kulkas, jam, helm b. Lemari baju, meja, kursi c. Meja, kursi, televisi d. Jam, meja, helm 11. Benda di bawah ini terbuat dari bahan kaca, kecuali ... a. Layar televisi b. Kaca mata c. Cermin d. Pensil 12. Sifat dari bahan logam adalah tidak tembus air, tidak mudah terbakar, dan padat. Kegunaan dari benda berbahan logam adalah ...

(319) 301 301 a. Untuk membuat baju b. Sebagai bungkus makanan c. Sebagai bahan alat rumah tangga d. Sebagai bahan untuk membuat sandal 13. Berikut inimerupakan sifat dari berbagai bahan. 1. Padat 2. Lentur 3. Dapat tembus air 4. Tidak mudah terbakar 5. Tidak dapat tembus air Yang merupakan sifat dari bahan karet adalah ... a. 1,2,4 b. 1,2,3 c. 2,3,4 d. 1,2,5 14. Berikut ini yang merupakan kegunaan dari bahan kayu adalah ... a. Sebagai bahan untuk tidur b. Sebagai bahan bangunan c. Sebagai bahan untuk membuat baju d. Sebagai bahan untuk membuat kabel 15. Kemasan minuman bersifat tahan lama, kuat dan tidak menyerap air. Bahan yang mencerminkan sifat tersebut adalah ... a. Kertas b. Kain c. Plastik

(320) 302 302 d. Karet 16. Buku tulis terbuat dari kertas. Yang bukan merupakan sifat dari bahan kertas adalah ... a. Tidak dapat menghantarkan panas dengan baik b. Dapat mengantarkan panas dengan baik c. Mengalami pelapukan d. Tidak tahan lama 17. Kegunaan benda yang terbuat dari bahan kain adalah ... a. Sebagai tempat minum b. Sebagai tempat makan c. Sebagai bahan bangunan d. Untuk mengepel lantai 18. Perhatikan sifat-sifat bahan penyusun benda di bawah ini - Kuat - Tahan lama - Tidak mudah terbakar - Tidak tembus air dan tahan api Sifat-sifat tersebut merupakan sifat dari bahan ... a. Kain b. Karet c. Logam d. Kaca 19. Kegunaan benda yang terbuat dari bahan karet adalah ... a. Bahan bangunan b. Untuk membuat ban sepeda

(321) 303 303 c. Bahan makanan d. Bahan kosmetik 20. Logam dapat digunakan sebagai kerangka rumah karena bersifat .... a. Kuat b. Mengkilap c. Mudah dibentuk d. Tembus pandang 21. Panci, wajan. Serok dan sendok terbuat dari bahan ... a. Plastik b. Kain c. Kayu d. Logam 22. Di bawah ini benda yang terbuat dari bahan karet adalah ... a. Bungkus makanan b. Sandal jepit c. Perhiasan d. Cermin 23. Perhatikan benda-benda berikut ini. 1. Tas sekolah 2. Papan tulis 3. Sedotan 4. Pensil 5. Baju 6. Meja Benda-benda di atas yang terbuat dari bahan dasar kayu adalah ...

(322) 304 304 a. 2-4-6 b. 1-3-5 c. 2-3-6 d. 1-4-5 24. Benda benda di bawah ini yang terbuat dari kaca adalah ... a. Kabel, spion, cermin b. Pakaian, layar televisi, spion c. Sepatu, ban mobil, kaca mata d. Kaca mata, spion, layar televisi 25. Berikut ini merupakan pasangan yang sesuai tentang benda dan bahan penyusunnya adalah ... a. Ban mobil terbuat dari karet b. Meja belajar terbuat dari kain c. Seragam sekolah terbuat dari plastik d. Peralatan rumah tangga terbuat dari karet 26. Berikut ini yang merupakan sifat benda berbahan dasar logam adalah ... a. Kuat, dapat tembus air dan, musah di daur ulang b. Lentur, padat dan tidak dapat di daur ulang c. Kuat, padat dan tidak dapat tembus air d. Elastis, padat dan dapat tembus air 27. Berikut ini merupakan sifat bahan penyusun suatu benda 1. Tidak tembus air 2. Tahan panas 3. Lentur 4. Elastis

(323) 305 305 5. Keras 6. Kuat Yang merupakan sifat bahan plastik adalah ... a. 1-3-5 b. 1-3-4 c. 2-3-4 d. 4-5-6 28. Bahan yang cocok untuk membuat kabel adalah ... a. Logam b. Karet dan logam c. Plastik d. Karet 29. Perhatikan benda benda berikut ini. Yang terbuat dari bahan kertas adalah ... a. Majalah, buku dan koran b. Pena, kompor dan meja c. Koran, pakaian dan pensil d. Pembungkus makanan, pena dan pensil 30. Berikut ini merupakan benda benda yang terdapat di sekitar kita. 1. Celana 2. Sedotan 3. Bolpoin 4. Papan tulis 5. Sepatu sandal 6. Bungkus makanan Benda benda di atas yang terbuat dari bahan plastik adalah ...30

(324) 306 306 a. 1-2-6 b. 2-3-5 c. 2-3-6 d. 2-3-5

(325) 307 307 PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA Mrican, Tromol Pos 29 Yogyakarta 55002, Telp. (0274) 513301, 515352; Fax. (0274) 56283 Homepage: http://www.usd.ac.id Nama : Kelas : KUESIONER UNTUK SISWA Petunjuk: Berikan tanda (√) pada jawaban yang telah tersedia No. 1 2 3 4 5 6 7 PERNYATAAN Saya menyiapkan alat tulis sebelum pelajaran dimulai Saya bersikap ceria pada saat bekerjasama dalam kelompok Saya sudah siap di dalam kelas untuk mengikuti seluruh pembelajaran Saya bersukacita pada saat mengikuti pembelajaran IPA Saya bersemangat saat mengerjakan soal IPA Saya ingin mendapatkan nilai yang baik pada mata pelajaran IPA Saya menyukai pelajaran IPA Saya memperhatikan seluruh proses pembelajaran Saya menyimak penjelasan 9 guru pada awal pembelajaran IPA Saya fokus saat mengerjakan 10 tugas IPA Saya berkonsentrasi saat 11 memecahkan persoalan yang berkaitan dengan materi IPA 8 SANGAT SETUJU SETUJU RAGURAGU TIDAK SETUJU SANGAT TIDAK SETUJU

(326) 308 308 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 Saya mencatat hal-hal penting yang berkaitan dengan materi IPA Saya menjawab pertanyaan guru Saya ikut melakukan percobaan dalam kelompok Saya bekerja sama dengan kelompok Saya mengerjakan tugas saat pelajaran IPA Saya menanggapi penjelasan guru Saya mempelajari materi atas kemauan diri sendiri Saya membaca atau mencari materi dari sumber lain Saya mau mempelajari kembali materi IPA yang sudah diajarkan Saya bertanya hal-hal lain yang berkaitan dengan materi IPA Saya tertarik melakukan percobaan pada saat pembelajaran IPA Saya membuat ringkasan mengenai materi IPA sesuai kemauan diri sendiri

(327) 309 309 LAMPIRAN 3 VALIDITAS DAN INDEKS KESUKARAN

(328) 310 310 Validator 1 Siklus I

(329) 311 311

(330) 312 312

(331) 313 313 Validator 2 Siklus I

(332) 314 314

(333) 315 315

(334) 316 316 Validator 3 Siklus I

(335) 317 317

(336) 318 318

(337) 319 319 Validator 1 siklus II

(338) 320 320

(339) 321 321

(340) 322 322 Validator 2 siklus II

(341) 323 323

(342) 324 324

(343) 325 325 Validator 3 Siklus II

(344) 326 326

(345) 327 327

(346) 328 328 Validasi Soal evaluasi siklus I

(347) 329 329

(348) 330 330 Validasi Soal Evaluasi Siklus II

(349) 331 331

(350) 332 332 Validitas Kuesioner

(351) 333 333

(352) 334 334 Reliabilitas Soal Siklus I Reliability Statistics Cronbach's Alpha N of Items .918 20 Item Statistics Mean Std. Deviation N VAR00002 .50 .509 30 VAR00005 .50 .509 30 VAR00006 .80 .407 30 VAR00007 .50 .509 30 VAR00009 .73 .450 30 VAR00010 .80 .407 30 VAR00012 .67 .479 30 VAR00013 .50 .509 30 VAR00015 .50 .509 30 VAR00016 .60 .498 30 VAR00019 .50 .509 30 VAR00020 .67 .479 30 VAR00021 .50 .509 30 VAR00022 .80 .407 30 VAR00023 .17 .379 30 VAR00024 .70 .466 30

(353) 335 335 VAR00025 .47 .507 30 VAR00026 .50 .509 30 VAR00028 .50 .509 30 VAR00029 .67 .479 30 Item-Total Statistics Cronbach's Scale Mean if Item Deleted Scale Variance if Corrected ItemItem Deleted Total Correlation Alpha if Item Deleted VAR00002 11.07 32.754 .462 .916 VAR00005 11.07 31.168 .753 .909 VAR00006 10.77 32.806 .586 .913 VAR00007 11.07 33.926 .256 .921 VAR00009 10.83 33.523 .380 .918 VAR00010 10.77 32.806 .586 .913 VAR00012 10.90 32.162 .609 .913 VAR00013 11.07 32.340 .537 .914 VAR00015 11.07 31.168 .753 .909 VAR00016 10.97 31.964 .619 .912 VAR00019 11.07 32.340 .537 .914 VAR00020 10.90 32.162 .609 .913 VAR00021 11.07 33.030 .413 .917

(354) 336 336 VAR00022 10.77 32.806 .586 .913 VAR00023 11.40 33.972 .359 .918 VAR00024 10.87 33.085 .448 .916 VAR00025 11.10 30.714 .841 .907 VAR00026 11.07 31.168 .753 .909 VAR00028 11.07 31.168 .753 .909 VAR00029 10.90 32.162 .609 .913 Scale Statistics Mean 11.57 Variance 35.702 Std. Deviation 5.975 N of Items 20

(355) 337 337 Reliabilitas siklus II Reliability Statistics Cronbach's N of Items Alpha .934 20 Item Statistics Mean Std. Deviation N VAR00003 .63 .490 30 VAR00008 .50 .509 30 VAR00009 .70 .466 30 VAR00010 .83 .379 30 VAR00011 .87 .346 30 VAR00012 .87 .346 30 VAR00013 .60 .498 30 VAR00015 .53 .507 30 VAR00017 .87 .346 30 VAR00018 .60 .498 30 VAR00019 .70 .466 30 VAR00020 .87 .346 30 VAR00021 .87 .346 30 VAR00022 .63 .490 30 VAR00023 .60 .498 30 VAR00024 .87 .346 30 VAR00025 .87 .346 30 VAR00026 .50 .509 30 VAR00027 .63 .490 30 VAR00028 .90 .305 30

(356) 338 338 Item-Total Statistics Cronbach's Scale Mean if Item Deleted Scale Variance if Corrected ItemItem Deleted Total Correlation Alpha if Item Deleted VAR00003 13.80 28.924 .769 .928 VAR00008 13.93 30.064 .519 .933 VAR00009 13.73 31.030 .380 .935 VAR00010 13.60 30.455 .626 .931 VAR00011 13.57 30.944 .561 .932 VAR00012 13.57 31.357 .450 .933 VAR00013 13.83 29.109 .718 .929 VAR00015 13.90 30.231 .489 .934 VAR00017 13.57 30.116 .786 .928 VAR00018 13.83 29.109 .718 .929 VAR00019 13.73 31.030 .380 .935 VAR00020 13.57 30.116 .786 .928 VAR00021 13.57 30.116 .786 .928 VAR00022 13.80 28.924 .769 .928 VAR00023 13.83 29.247 .691 .929 VAR00024 13.57 30.944 .561 .932 VAR00025 13.57 30.116 .786 .928 VAR00026 13.93 30.064 .519 .933 VAR00027 13.80 28.924 .769 .928 VAR00028 13.53 30.878 .663 .931 Scale Statistics Mean 14.43 Variance 33.220 Std. Deviation 5.764 N of Items 20

(357) 339 339 Reliabilitas Kuesioner Reliability Statistics Cronbach's Alpha N of Items .879 23 Item Statistics Mean Std. Deviation N item1 4.40 .621 30 item2 4.07 .907 30 item3 4.33 .547 30 item4 4.13 .819 30 item5 4.37 .615 30 item6 4.67 .547 30 item7 4.33 .606 30 item8 4.20 .484 30 item9 4.27 .521 30 item10 4.00 .910 30 item11 4.17 .699 30 item12 4.20 .805 30 item14 3.70 .702 30 item15 4.07 .583 30 item17 4.33 .479 30 item18 4.47 .571 30 item19 3.87 .681 30 item20 3.90 .960 30 item21 4.00 .830 30 item22 4.10 .759 30 item23 4.03 .615 30 item24 3.80 .805 30 item25 3.70 .877 30

(358) 340 340 Item-Total Statistics Cronbach's Scale Mean if Scale Variance if Corrected Item- Item Deleted Item Deleted Total Correlation Alpha if Item Deleted item1 90.70 67.114 .465 .874 item2 91.03 63.137 .574 .870 item3 90.77 68.737 .353 .876 item4 90.97 66.033 .415 .875 item5 90.73 68.478 .332 .877 item6 90.43 67.289 .518 .873 item7 90.77 68.047 .381 .876 item8 90.90 68.369 .453 .875 item9 90.83 67.799 .485 .874 item10 91.10 64.783 .452 .875 item11 90.93 63.926 .699 .867 item12 90.90 64.369 .558 .871 item14 91.40 64.731 .620 .869 item15 91.03 67.275 .482 .873 item17 90.77 68.047 .500 .874 item18 90.63 68.792 .328 .877 item19 91.23 68.047 .331 .877 item20 91.20 64.993 .408 .877 item21 91.10 65.679 .436 .875 item22 91.00 64.621 .577 .870 item23 91.07 66.685 .515 .872 item24 91.30 67.183 .333 .878 item25 91.40 64.248 .513 .872 Scale Statistics Mean 95.10 Variance 72.231 Std. Deviation 8.499 N of Items 23

(359) 341 341 Indeks Kesukaran Indeks Kesukaran evaluasi Siklus I No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 Jumlah Jawaban Benar 27 15 5 23 15 12 15 16 22 24 15 24 15 14 15 18 10 9 15 20 15 24 5 21 14 15 5 15 20 17 Skor Maksimal 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Jumlah Siswa 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 Indeks Kesukaran 0,90 0,50 0,17 0,77 0,50 0,40 0,50 0,53 0,73 0,80 0,50 0,80 0,50 0,47 0,50 0,60 0,33 0,30 0,50 0,67 0,50 0,80 0,17 0,70 0,47 0,50 0,17 0,50 0,67 0,57 Kriteria Mudah sekali Cukup Sukar Sekali Mudah Cukup Sukar Cukup Cukup Mudah Mudah Cukup Mudah Cukup Cukup Cukup Cukup Sukar Sukar Cukup Mudah Cukup Mudah Sukar Sekali Mudah Cukup Cukup Sukar Sekali Cukup Mudah Cukup

(360) 342 342 Tabel Indeks Kesukaran Soal Evaluasi Siklus 1 Indikator Menyebutkan proses terjadinya perubahan wujud cair menjadi padat dan padat menjadi cair Menemukan peristiwa lain yang merupakan contoh perubahan wujud cair menjadi padat menjadi cair Merancang percobaan yang merupakan contoh perubahan wujud cair menjadi padat dan perubahan wujud padat menjadi cair Menyebutkan proses terjadinya perubahan wujud cair menjadi gas dan gasmenjadi cair Menemukan peristiwa lain yang merupakan contoh perubahan wujud cair menjadi gasmenjadi cair Merancang percobaan yang merupakan contoh perubahan wujud cair menjadi gas dan perubahan wujud gas menjadi cair Menyebutkan proses terjadinya perubahan wujud padat menjadi gas Menemukan contoh peristiwa perubahan wujud padat menjadi gas Merancang percobaan yang merupakan perubahan wujud padat menjadi gas Keterangan: MS: Mudah Sekali MD: Mudah C: Cukup SK: Sukar SS: Sukar Sekali contoh No. Kisi-kisi Soal MS MD 1 √ 3 7 5 √ 8 10 √ 2 4 √ 6 9 √ 11 13 16 14 15 17 20 12 √ 18 19 21 23 26 √ 22 √ 25 29 √ 24 √ 27 28 30 C SK SS √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √

(361) 343 343 Indeks Kesukaran Soal Evaluasi Siklus II Jumlah Jawaban No. Benar 1 26 2 11 3 25 4 22 5 24 6 25 7 18 8 25 9 22 10 15 11 30 12 27 13 27 14 16 15 25 16 25 17 13 18 28 19 28 20 19 21 25 22 28 23 16 24 29 25 11 26 28 27 28 28 27 29 19 30 30 Jumlah Siswa 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 Skor Maksimal 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Indeks Kesukaran 0.87 0.37 0.83 0.73 0.80 0.83 0.60 0.83 0.73 0.50 1.00 0.90 0.90 0.53 0.83 0.83 0.43 0.93 0.93 0.63 0.83 0.93 0.53 0.97 0.37 0.93 0.93 0.90 0.63 1.00 Kriteria mudah sekali sukar mudah sekali mudah mudah mudah sekali sedang mudah sekali mudah sedang mudah sekali mudah sekali mudah sekali sedang mudah sekali mudah sekali sedang mudah sekali mudah sekali mudah mudah sekali mudah sekali sedang mudah sekali sukar mudah sekali mudah sekali mudah sekali mudah mudah sekali

(362) 344 344 Tabel Indeks Kesukaran Soal Evaluasi Siklus II Indikator Menyebutkan macam-macam 1 bahan penyusun benda 5 7 21 25 Menemukan contoh benda 2 berdasarkan bahan penyusunnya 4 9 22 29 Mengelompokkan benda 3 berdasarkan bahan penyusunnya 6 10 23 30 Menjelaskan sifat bahan 8 penyusun benda 13 15 20 26 Membedakan bahan penyusun 11 suatu benda berdasarkan sifatnya 16 18 24 27 Menganalisis kegunaan benda 12 berdasarkan bahan penyusunnya 14 17 19 28 MS: Mudah Sekali MD: Mudah C: Cukup SK: Sukar SS: Sukar Sekali No.Soal Kisi-kisi MS MD C √ √ √ √ SK SS √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √

(363) 345 345 LAMPIRAN 4 DATA MINAT SISWA PADA KONDISI AWAL

(364) 1 BD 2 AP 3 RG 4 RS 5 BQ 6 CY 7 CT 8 DM 9 LN 10 MT 11 IG 12 NY 13 AN 14 MD 15 FH 16 RD 17 ND 18 DD 19 NR 20 IS 21 RS 22 SS 23 FR 24 TR 25 NL 26 RN 27 NS 1 3 4 2 4 4 5 4 3 4 4 4 4 3 4 4 2 4 4 5 4 5 4 4 4 3 4 4 2 2 2 4 2 4 5 4 3 4 2 4 4 2 4 4 2 3 4 2 4 4 2 4 4 4 2 4 3 4 5 4 3 4 5 4 4 4 4 3 4 2 4 3 2 2 4 3 2 3 4 4 4 2 4 4 5 5 2 4 2 3 4 2 3 2 2 4 3 4 3 4 2 3 3 2 2 4 3 3 4 4 2 2 6 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 2 4 4 4 3 4 4 4 4 4 4 3 4 4 5 4 9 3 4 2 2 2 3 2 3 4 2 2 2 2 2 5 2 3 5 2 3 2 2 4 2 2 2 4 17 4 3 3 2 2 4 3 3 3 2 3 3 2 5 3 2 3 3 3 3 3 2 3 2 3 2 3 Rata2 2.6 3.2 2.8 2.2 2.8 3 2.8 2.4 3.4 2.2 3 2.8 3 3.2 3.2 2.8 2.6 3 2.4 3.8 2.8 3 3.4 2.6 3 2.8 3.2 2.89 Indk 4 18 19 20 21 2 2 3 1 3 1 3 1 3 1 2 3 3 2 2 2 2 2 3 3 3 1 1 2 2 2 3 2 5 2 3 1 2 3 3 2 2 2 2 1 2 1 2 3 2 1 1 3 3 1 2 2 3 3 2 3 3 1 2 1 2 2 2 2 2 2 3 3 3 2 3 1 2 1 2 3 3 2 3 1 2 1 2 3 2 1 1 1 3 2 3 3 2 1 2 2 5 3 3 2 2 1 2 2 4 1 1 1 22 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 1 23 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 3 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 4 1 1 Rata2 2 1.667 1.833 1.833 2 1.5 1.833 2.167 2 1.5 2.167 1.5 1.667 2.167 1.5 1.667 2 1.833 1.667 1.833 1.667 1.167 2.167 1.5 3.167 1.5 1.5 1.81 Jumlah Kriteria 62 63 61 55 63 74 62 65 67 55 68 57 59 65 64 50 61 65 56 72 60 58 68 59 70 60 66 C C C R C C C C C R C R R C C R C C R C R R C R C R C 346 7 Rata2 8 4 3.43 2 3 3.43 3 3 3.43 2 2 3 3 2 3.57 2 5 4.71 4 3 3.29 3 4 3.43 5 3 3.57 3 2 3.29 2 5 3.71 5 2 3.29 2 2 3 2 2 3.57 2 3 3.43 2 2 2.14 2 2 3.14 2 2 3.43 3 2 3.14 2 3 3.43 4 2 3.43 2 2 3.43 2 2 3.43 2 2 3.57 2 3 3.43 4 2 3.29 3 3 3.43 3 3.39 No. Item Kuesioner Indk 2 Rata2 Indk 3 10 11 12 13 14 15 16 2 2 4 2.6 2 2 2 3 2 2 2 2.6 5 2 2 4 4 2 2 2.4 3 2 2 4 3 2 2 2.4 2 2 2 3 4 2 2 2.4 2 2 3 5 4 2 4 3.4 2 3 2 4 5 2 2 2.8 3 2 3 3 2 2 4 3.2 2 1 3 3 2 2 2 2.6 3 3 3 5 4 2 2 2.4 2 2 2 3 2 3 2 2.8 2 2 3 5 3 2 2 2.2 3 2 3 3 5 2 2 2.6 3 3 3 4 3 2 2 2.2 2 2 2 5 4 2 2 3 3 3 2 5 3 2 2 2.2 3 3 3 3 3 2 4 2.8 2 3 2 3 2 3 2 3 3 3 3 3 4 2 2 2.4 2 2 2 3 3 4 4 3.6 4 4 3 5 4 2 2 2.4 2 4 3 2 2 4 2 2.4 2 3 3 5 4 2 2 2.8 5 3 3 3 3 2 3 2.4 2 3 2 4 2 2 2 2.4 2 3 3 4 5 2 2 2.8 2 3 2 5 2 4 4 3.4 3 3 3 4 2.7 Data Kuesioner No Nama Indk 1 4 2 4 3 4 4 5 2 3 4 5 2 4 4 4 2 2 4 3 4 5 2 5 4 3 4 4 3

(365) 347 347 Data Observasi

(366) 348 348

(367) 349 349

(368) 350 350

(369) 351 351 Nilai Semester Ganjil

(370) 352 352 NILAI SEMESTER GANJIL KELAS IVA SD NEGERI NOGOTIRTO TAHUN PELAJARAN 2011/2012 No. Nama 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 EL GH DT WH JH FN FT HS IN NN LT RD RS ST TT NR AM AJ YD FS FJ IR IY GB IM NO RG RC RO SD RM DN RF BL Nilai MATA PELAJARAN AGM 70 72 93 70 67 70 90 77 63 82 84 80 80 85 72 80 90 73 71 70 73 73 75 74 90 70 80 73 71 70 75 80 70 73 PKN 73 71 91 73 86 80 87 91 81 90 95 92 77 75 80 68 80 65 70 66 72 74 75 83 77 77 75 70 67 71 70 75 82 71 93 95 B.IND MTK 70 67 70 71 90 97 77 69 80 83 80 72 80 70 90 89 72 70 90 81 90 93 80 80 80 70 90 90 70 70 70 74 80 80 75 70 73 66 75 72 70 72 70 63 72 81 80 70 70 80 70 70 80 77 75 74 75 75 70 80 75 70 70 79 70 87 80 84 90 97 IPA 60 65 90 60 75 80 65 90 60 65 90 91 60 90 75 70 85 50 50 60 60 55 80 90 90 60 70 60 70 70 75 60 80 80 IPS 65 75 80 65 80 75 77 80 70 70 80 85 70 80 70 75 70 65 70 67 65 80 80 80 85 75 75 65 65 75 80 65 70 80 91 85 B. JW 67 70 83 75 82 70 67 85 73 70 90 74 72 85 71 74 80 77 65 60 70 60 70 75 70 83 70 73 77 77 70 77 67 80 B. ING 76 72 92 80 82 88 82 90 84 72 90 80 67 90 70 74 72 54 60 70 82 67 70 70 85 67 70 70 70 80 72 80 74 76 90 92 JML 548 566 716 569 635 615 618 692 573 620 712 662 576 685 578 585 637 529 525 540 564 542 603 622 647 572 597 560 570 593 587 586 600 624 RATA2 68.5 70.8 89.5 71.1 79.4 76.9 77.3 86.5 71.6 77.5 89.0 82.8 72.0 85.6 72.3 73.1 79.6 66.1 65.6 67.5 70.5 67.8 75.4 77.8 80.9 71.5 74.6 70.0 71.3 74.1 73.4 73.3 75.0 78.0

(371) 353 353 Tertinggi Nilai Terendah Nilai Ratarata KKM 63 65 70 63 50 65 60 54 76.1 70 77.4 70 76.7 70 76.4 67 71.5 67 73.8 67 73.8 67 75.8 67 Mengetahui, Nogotirto, 21 Oktober 2013 Guru Kelas Suprayana, S. Pd Sri Rahayu NIP. 19630304 19820 1 001 NIP. 19600104 198201 2 008

(372) 354 354 NILAI SEMESTER GANJIL KELAS IVA SD NEGERI NOGOTIRTO TAHUN PELAJARAN 2012/2013 No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 Nama EZ FZ AR OK ZL PT AN RM AL ND NV RF AL RZ ST AD NR RG BM SR SJ ER NB RC YN DN AS RN NL FN Nilai Tertinggi Nilai Terendah MATA PELAJARAN AGM 75 77 93 85 85 70 90 70 95 81 80 75 90 80 81 70 80 70 85 80 70 75 75 83 70 80 75 90 94 75 PKN B.IND 70 70 81 71 91 60 73 71 86 70 80 91 87 90 81 91 91 91 80 90 85 80 92 80 75 94 75 81 70 80 78 90 90 71 75 71 70 80 63 51 72 81 79 75 74 80 82 71 76 75 75 85 75 85 70 95 67 40 71 72 MTK 77 73 71 73 71 96 76 67 73 70 73 70 77 70 67 73 71 70 84 67 70 80 74 71 70 86 90 97 56 74 IPA 70 70 65 65 54 86 90 96 86 66 63 63 86 83 63 90 87 69 83 50 91 76 53 57 73 91 65 98 54 71 IPS 66 71 73 76 70 83 90 90 90 84 67 93 91 80 76 93 76 70 74 70 83 77 76 61 77 80 90 93 64 73 B. JW 74 70 67 72 71 77 82 86 83 80 75 75 80 80 85 80 83 73 78 86 82 78 70 60 90 78 70 60 68 77 B. ING 78 75 80 72 75 95 85 88 85 83 67 88 90 93 77 83 78 63 92 73 93 83 80 72 72 95 98 97 57 70 95 92 95 97 98 93 90 98 70 63 40 56 50 61 60 57 JML 580 588 600 587 582 678 690 669 694 634 590 636 683 642 599 657 636 561 646 540 642 623 582 557 603 670 648 700 500 583 RATA2 72.5 73.5 75.0 73.4 72.8 84.8 86.3 83.6 86.8 79.3 73.8 79.5 85.4 80.3 74.9 82.1 79.5 70.1 80.8 67.5 80.3 77.9 72.8 69.6 75.4 83.8 81.0 87.5 62.5 72.9

(373) 355 355 Nilai Ratarata KKM 80.0 70 77.8 70 77.7 70 Mengetahui, 74.6 67 73.8 67 78.6 67 76.3 67 81.2 70 Nogotirto, 21 Oktober 2013 Guru Kelas Suprayana, S. Pd Sri Rahayu NIP. 19630304 19820 1 001 NIP. 19600104 198201 2 008

(374) 356 356 Nilai IPA Siswa NILAI MATA PELAJARAN ILMU PENGETAHUAN ALAM KELAS IVA SD NEGERI NOGOTIRTO TAHUN PELAJARAN 2011/2012 NOMOR NAMA SISWA PRESENSI NILAI KKM KETERANGAN 1 EL 60 67 Tidak lulus 2 GH 65 67 Tidak lulus 3 DT 90 67 Lulus 4 WH 60 67 Tidak lulus 5 JH 75 67 Lulus 6 FN 80 67 Lulus 7 FT 65 67 Tidak lulus 8 HS 90 67 Lulus 9 IN 60 67 Tidak lulus 10 NN 65 67 Tidak lulus 11 LT 90 67 Lulus 12 RD 91 67 Lulus 13 RS 60 67 Tidak lulus 14 ST 90 67 Lulus 15 TT 75 67 Lulus 16 NR 70 67 Lulus 17 AM 85 67 Lulus 18 AJ 50 67 Tidak lulus 19 YD 50 67 Tidak lulus 20 FS 60 67 Tidak lulus 21 FJ 60 67 Tidak lulus 22 IR 55 67 Tidak lulus 23 IY 80 67 Lulus

(375) 357 357 24 GB 90 67 Lulus 25 IM 90 67 Lulus 26 NO 60 67 Tidak lulus 27 RG 70 67 Lulus 28 RC 60 67 Tidak lulus 29 RO 70 67 Lulus 30 SD 70 67 Lulus 31 RM 75 67 Lulus 32 DN 60 67 Tidak lulus 33 RF 80 67 Lulus 34 BL 80 67 Lulus Jumlah 2431 Nilai Tertinggi 91 Nilai Terendah 50 Nilai Rata-rata 71.5 Mengetahui, Nogotirto, 21 Oktober 2013 Guru Kelas Suprayana, S. Pd Sri Rahayu NIP. 19630304 19820 1 001 NIP. 19600104 198201 2 008

(376) 358 358 NILAI MATA PELAJARAN ILMU PENGETAHUAN ALAM KELAS IVA SD NEGERI NOGOTIRTO TAHUN PELAJARAN 2012/2013 NOMOR NAMA SISWA PRESENSI NILAI KKM KETERANGAN 1 EZ 70 67 Lulus 2 FZ 70 67 Lulus 3 AR 65 67 Tidak lulus 4 OK 65 67 Tidak lulus 5 ZL 54 67 Tidak lulus 6 PT 86 67 Lulus 7 AN 90 67 Lulus 8 RM 96 67 Lulus 9 AL 86 67 Lulus 10 ND 66 67 Tidak lulus 11 NV 63 67 Tidak lulus 12 RF 63 67 Tidak lulus 13 AL 86 67 Lulus 14 RZ 83 67 Lulus 15 ST 63 67 Tidak lulus 16 AD 90 67 Lulus 17 NR 87 67 Lulus 18 RG 69 67 Lulus 19 BM 83 67 Lulus 20 SR 50 67 Tidak lulus 21 SJ 91 67 Lulus 22 ER 76 67 Lulus 23 NB 53 67 Tidak lulus 24 RC 57 67 Tidak lulus

(377) 359 359 25 YN 73 67 Lulus 26 DN 91 67 Lulus 27 AS 65 67 Tidak lulus 28 RN 98 67 Lulus 29 NL 54 67 Tidak lulus 30 FN 71 67 Lulus Jumlah 2234 Nilai Tertinggi 98 Nilai Terendah 50 Nilai Rata-rata 74.5 Mengetahui, Nogotirto, 21 Oktober 2013 Guru Kelas Suprayana, S. Pd Sri Rahayu NIP. 19630304 19820 1 001 NIP. 19600104 198201 2 008

(378) 360 360 LAMPIRAN 5 CONTOH HASIL PEKERJAAN SISWA

(379) 361 361 Siklus I

(380) 362 362

(381) 363 363

(382) 364 364

(383) 365 365

(384) 366 366

(385) 367 367

(386) 368 368

(387) 369 369 LAMPIRAN 6 FOTO KEGIATAN

(388) 370 370

(389)

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN PRESTASI BELAJAR IPA DENGAN MENGGUNAKAN ALAT PERAGA PADA SISWA KELAS IV (EMPAT) SD NEGERI 3 PAKUAN RATU TAHUN 2012
0
10
50
PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR DENGAN MENGGUNAKAN KIT IPA PADA MATA PELAJARAN IPA SISWA KELAS IV SD NEGERI 2 METRO SELATAN
0
9
9
PENINGKATAN HASIL BELAJAR TEMA MAKANANKU SEHAT DAN BERGIZI MENGGUNAKAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING PADA SISWA KELAS IVA SD NEGERI 2 LABUHAN RATU TAHUN PELAJARAN 2013/2014
3
18
62
PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR IPA DENGAN KIT IPA PADA SISWA KELAS VI SD ( PTK PADA SD NEGERI 3 PAKEL TAHUN PELAJARAN 2009 2010 )
0
28
69
PENINGKATAN AKTIVITAS BELAJAR SISWA PADA PELAJARAN IPA DENGAN MENGGUNAKAN MODEL GROUP INVESTIGATION DI KELAS IVA SD NEGERI 101776 SAMPALI KABUPATEN DELI SERDANG T.A 2015/2016.
0
3
28
PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR IPA DENGAN KIT IPA PADA SISWA KELAS VI SD ( PTK PADA SD NEGERI 3 PAKEL TAHUN PELAJARAN 2009/2010 ).
0
0
10
PENINGKATKAN MINAT DAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA MENGGUNAKAN MODEL STUDENT TEAM ACHIEVEMENT DIVISION PADA SISWA KELAS VIIIC TAMAN DEWASA IBU PAWIYATAN YOGYAKARTA TAHUN PELAJARAN 20132014
0
0
8
HUBUNGAN MINAT BELAJAR DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS V SD NEGERI 4 SRAGEN TAHUN PELAJARAN 20102011 SKRIPSI
0
0
172
HUBUNGAN MINAT BELAJAR DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS V SD NEGERI SOROYUDAN SEMESTER 2 TAHUN PELAJARAN 20112012
0
0
129
PENINGKATAN MINAT DAN PRESTASI BELAJAR MENGGUNAKAN METODE INKUIRI TERBIMBING PADA MAPEL PKN KELAS VA SD NEGERI BABARSARI, SLEMAN TAHUN PELAJARAN 20112012
0
1
217
HUBUNGAN MINAT BELAJAR DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS V SD NEGERI BABARSARI TAHUN PELAJARAN 20112012
0
0
152
PENINGKATAN KEAKTIFAN DAN PRESTASI BELAJAR IPA SISWA KELAS III SD NEGERI PLAOSAN 1 MENGGUNAKAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL SKRIPSI
0
0
251
PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR DENGAN MENGGUNAKAN METODE DISCOVERY-INQUIRY TERBIMBING PADA MATA PELAJARAN IPA SISWA KELAS IVA SD KANISIUS SENGKAN SEMESTER GENAP TAHUN PELAJARAN 20122013
0
0
110
PENINGKATAN MINAT DAN PRESTASI BELAJAR IPA SISWA KELAS VA SD NEGERI NOGOTIRTO MENGGUNAKAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL
0
0
396
PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR IPA DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL PADA SISWA KELAS IV SD NEGERI PLAOSAN 1
0
1
181
Show more