PERBEDAAN KEMAMPUAN MENGAPLIKASI DAN MENGANALISIS ATAS PENGGUNAAN MEDIA TIMELINE PADA MATA PELAJARAN IPS KELAS V SD NEGERI PERCOBAAN 3 PAKEM SKRIPSI

183 

Full text

(1)

i

PERBEDAAN KEMAMPUAN MENGAPLIKASI DAN

MENGANALISIS ATAS PENGGUNAAN MEDIA

TIMELINE

PADA MATA PELAJARAN IPS KELAS V SD NEGERI

PERCOBAAN 3 PAKEM

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar

Oleh:

Maulida Nur Hasanah NIM: 101134241

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA

(2)

ii

SKRIPSI

PERBEDAAN KEMAMPUAN MENGAPLIKASI DAN

MENGANALISIS ATAS PENGGUNAAN MEDIA

TIMELINE

PADA MATA PELAJARAN IPS KELAS V SD NEGERI

PERCOBAAN 3 PAKEM

Oleh:

Maulida Nur Hasanah

NIM: 101134241

Telah disetujui oleh:

Dosen Pembimbing I

Rusmawan, S.Pd., M.Pd. Tanggal 13 Juni 2014

Dosen Pembimbing II

(3)

iii

SKRIPSI

PERBEDAAN KEMAMPUAN MENGAPLIKASI DAN

MENGANALISIS ATAS PENGGUNAAN MEDIA

TIMELINE

PADA MATA PELAJARAN IPS KELAS V SD NEGERI

PERCOBAAN 3 PAKEM

Dipersiapkan dan ditulis oleh:

Maulida Nur Hasanah NIM. 101134241

Telah dipertahankan di depan Panitia Penguji

Pada tanggal 8 Juli 2014

dan dinyatakan telah memenuhi syarat

Susunan Panitia Penguji:

Anggota III : Laurensia Aptik Evanjeli, S.Psi., M.A. ………...

Yogyakarta, 8 Juli 2014

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Universitas Sanata Dharma

Dekan,

(4)

iv

HALAMAN PERSEMBAHAN

Karya ilmiah ini ku persembahkan kepada:

1.

Allah SWT atas limpahan karunia dan petunjukNya.

2.

Bapak, Ibu yang setia mendoakan dan memberikan motivasi.

3.

Adikku yang selalu memberikan semangat.

4.

Kakek, nenek yang senantiasa mendoakan.

5.

Teman-teman PGSD angkatan 2010 yang selalu mendukung dalam doa.

(5)

v MOTTO

Lakukan segera dengan hati yang damai terhadap apa yang harus segera kamu

kerjakan, agar Tuhan senantiasa memudahkan jalanmu.”

“Do your best any moment that you have.”

(6)

vi

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak

memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam

kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.

Yogyakarta, 8 Juli 2014

Penulis

(7)

vii

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN

PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma:

Nama : Maulida Nur Hasanah

NIM : 101134241

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan

Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya berjudul:

PERBEDAAN KEMAMPUAN MENGAPLIKASI DAN MENGANALISIS ATAS PENGGUNAAN MEDIA TIMELINE PADA MATA PELAJARAN

IPS KELAS V SD NEGERI PERCOBAAN 3 PAKEM

Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata

Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain,

mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan

mempublikasikannya di Internet atau media lain untuk kepentingan akademis

tanpa perlu meminta ijin dari saya maupun memberi royalti kepada saya selama

tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.

Dibuat di Yogyakarta

Pada tanggal 8 Juli 2014

Yang menyatakan

(8)

viii ABSTRAK

PERBEDAAN KEMAMPUAN MENGAPLIKASI DAN MENGANALISIS ATAS PENGGUNAAN MEDIA TIMELINE PADA MATA PELAJARAN

IPS KELAS V SD NEGERI PERCOBAAN 3 PAKEM Maulida Nur Hasanah

Universitas Sanata Dharma 2014

Kata kunci: media timeline, kemampuan mengaplikasi, kemampuan menganalisis, mata pelajaran IPS.

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kurangnya pemanfaatan media pembelajaran dalam menyampaikan materi pelajaran IPS kepada siswa di sekolah dasar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan 1) kemampuan mengaplikasi dan 2) kemampuan menganalisis atas penggunaan media timeline pada mata pelajaran IPS materi perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia kelas V SD Negeri Percobaan 3 Pakem tahun ajaran 2013/2014.

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah quasi experimental design tipe non-equivalent control group design. Populasi penelitian adalah kelas V SD Negeri Percobaan 3 Pakem yang berjumlah 64 siswa. Sampel yang digunakan adalah 32 siswa kelas VA sebagai kelompok eksperimen dan 32 siswa kelas VB sebagai kelompok kontrol. Instrumen penelitian berupa soal essai yang valid dengan taraf signifikansi < 0,05 dan reliabel dengan taraf signifikansi 0,771 termasuk kategori tinggi. Data dianalisis menggunakan uji independent samples t-test.

(9)

ix ABSTRACT

APPLYING AND ANALYZING ABILITY DIFFERENCES IN USING TIMELINE IN 5TH GRADE SOCIAL SCIENCE SUBJECT

OF SD NEGERI PERCOBAAN 3 PAKEM Maulida Nur Hasanah

Sanata Dharma University 2014

Keywords: timeline media, applying ability, analyzing ability, social science subjects

This research was trigged by the lack of media utilization in delivering Social Science subject materials to elementary school students. It aimed to find out the differences in 1) applying abilities and 2) analyzing abilities in using timeline media in the 5th grade of SD Negeri Percobaan 3 Pakem, academic year 2013/2014 in the Social Science subject with the topic called struggles for maintaining the independence of Indonesia.

This quasi experimental research used a non-equivalent control group design. The population consisted of 64 grade five students of SD Negeri Percobaan 3 Pakem. The samples were 32 students of class VA as the experimental group and 32 students of VB as the control group. The instrument comprised valid essays with the level of significance of < 0.05 and the reliability with the level of significance of 0.771, which was categorized as high. The data were analyzed using an independent samples t-test.

(10)

x

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas karunia dan

rahmatNya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan tepat waktu.

Skripsi dengan judul: “Perbedaan Kemampuan Mengaplikasi dan Menganalisis Atas Penggunaan Media Timeline pada Mata Pelajaran IPS Kelas V SD Negeri

Percobaan 3 Pakem” disusun sebagai syarat untuk memperoleh gelar sarjana Pendidikan Guru Sekolah Dasar.

Penulis menyadari bahwa terselesaikannya skripsi ini tidak terlepas dari

dukungan dan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini

dengan segenap hati dan rasa syukur penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Rohandi, Ph.D., selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

2. G. Ari Nugrahanta, SJ, S.S., BST, M.A., selaku Ketua Program Studi

Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

3. Catur Rismiati, S.Pd., M.A., Ed.D., selaku Wakaprodi PGSD.

4. Rusmawan, S.Pd., M.Pd., selaku dosen pembimbing I yang telah

memberikan bimbingan sehingga terselesaikannya skripsi ini tepat waktu.

5. Elisabeth Desiana Mayasari, S.Psi., M.A., selaku dosen pembimbing II

yang telah memberikan bimbingan sehingga terselesaikannya skripsi ini

tepat waktu.

6. Dra. Hj. Sudaryatun, M. Pd., selaku kepala sekolah SD Negeri Percobaan

3 Pakem yang telah memberikan ijin untuk melaksanakan penelitian.

7. Ahmad Ritaudin, S.Pd., selaku guru mitra SD peneliti yang sudah

memberikan waktu dan tenaganya sehingga penelitian dapat berjalan

dengan lancar.

8. Siswa kelas VA dan VB SD Negeri Percobaan 3 Pakem Yogyakarta, yang

telah bekerjasama dalam penelitian ini sehingga penelitian berjalan dengan

lancar.

(11)

xi

10.Sekretariat PGSD yang telah membantu proses perijinan penelitian sampai

skripsi ini selesai.

11.Kedua orangtua, Bapak Suyatno dan Ibu Tarwiyati, yang selalu

mendoakan dan memberikan dukungan kepada penulis.

12.Adikku Ahmad Rizal yang selalu memberikan semangat.

13.Teman-teman kelompok payung IPS yang telah memberikan banyak

masukan, dukungan dan bantuan kepada peneliti dalam melakukan

penelitian.

Penulis menyadari bahwa karya ilmiah ini belum sempurna karena masih

banyak kekurangan. Namun, penulis berharap karya ilmiah sederhana ini dapat

bermanfaat bagi mahasiswa Universitas Sanata Dharma.

Yogyakarta, 8 Juli 2014

Penulis

(12)

xii DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... iv

HALAMAN MOTTO ... v

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN ... vii

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS ... vii

ABSTRAK ... viii

2.1.1 Pengertian Berpikir ... 8

2.1.2 Taksonomi Bloom ... 9

2.1.3 Kemampuan Mengaplikasi ... 9

2.1.4 KemampuanMenganalisis ... 10

2.2 Media Pembelajaran ... 12

(13)

xiii

2.2.2 Fungsi Media Pembelajaran ... 13

2.3 Media Pembelajaran Timeline ... 14

2.3.1 Pengertian Media Pembelajaran Timeline ... 14

2.3.2 Manfaat Media Pembelajaran Timeline ... 15

2.4 IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial) ... 16

2.4.1 Hakikat IPS ... 16

2.4.2 Tujuan IPS ... 17

2.4.3 Materi Ajar IPS Kelas V ... 18

2.5 Karakteristik Siswa Sekolah Dasar ... 19

2.6 Penelitian yang Relevan ... 21

2.6.1 Penelitian tentang Media Pembelajaran Timeline ... 21

2.6.2 Penelitian tentang Kemampuan Berpikir ... 22

2.7 Literature Map ... 24

2.8 Kerangka Berpikir ... 25

2.9 Hipotesis Penelitian ... 26

BAB 3 METODE PENELITIAN... 27

3.1 Jenis Penelitian ... 27

3.2 Tempat dan Jadwal Penelitian ... 28

3.3 Populasi dan Sampel Penelitian ... 29

3.4 Variabel Penelitian ... 30

3.5 Definisi Operasional Variabel ... 31

3.6 Teknik Pengumpulan Data ... 32

3.6.1 Tes ... 32

3.6.2 Observasi ... 34

3.7 Instrumen Penelitian ... 34

3.7.1 Tes ... 35

3.7.2 Lembar Observasi ... 35

3.8 Validitas dan Reliabilitas ... 36

3.9 Teknik Analisis Data ... 41

3.9.1 Uji Analisis Deskriptif ... 41

3.9.2 Uji Prasyarat Analisis ... 42

3.9.2.1 Uji Normalitas ... 42

(14)

xiv

3.9.3 Uji Hipotesis ... 44

3.9.3.1 Uji Kenaikan Skor Pretest ke Posttest ... 44

3.9.3.2 Uji Perbedaan Skor Posttest ... 45

BAB 4 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 47

4.1 Deskripsi Data Penelitian ... 47

4.1.1 Deskripsi Lokasi Penelitian... 47

4.1.2 Deskripsi Pelaksanaan Pretest ... 48

4.1.2.1 Pretest Kelompok Kontrol ... 48

4.1.2.2 Pretest Kelompok Eksperimen ... 49

4.1.3 Deskripsi Pelaksanaan Posttest ... 49

4.1.3.1 Posttest Kelompok Kontrol ... 50

4.1.3.2 Posttest Kelompok Eksperimen ... 50

4.2 Deskripsi Analisis Data ... 51

4.2.1 Deskripsi Analisis Data Pretest ... 51

4.2.1.1 Pretest Kelompok Kontrol ... 51

4.2.1.2 Pretest Kelompok Eksperimen ... 52

4.2.2 Deskripsi Analisis Data Posttest ... 53

4.2.2.1 Posttest Kelompok Kontrol ... 53

4.2.2.2 Posttest Kelompok Eksperimen ... 54

4.3 Uji Prasyarat ... 55

4.3.1 Uji Normalitas ... 55

4.3.1.1 Uji Normalitas Kemampuan Mengaplikasi ... 56

4.3.1.2 Uji Normalitas Kemampuan Menganalisis ... 56

4.3.2 Uji Homogenitas ... 57

4.3.2.1 Uji Homogenitas Skor Pretest Kemampuan Mengaplikasi... 58

4.3.2.2 Uji Homogenitas Skor Pretest Kemampuan Menganalisis ... 59

4.4 Uji Hipotesis ... 60

4.4.1 Perbedaan Kemampuan Mengaplikasi Atas Penggunaan Media Timeline ... 61

4.4.1.1 Uji Kenaikan Skor Pretest ke Posttest Kemampuan Mengaplikasi ... 61

4.4.1.2 Uji Perbedaan Skor Posttest Kemampuan Mengaplikasi ... 63

(15)

xv

4.4.2.1 Uji Kenaikan Skor Pretest ke Posttest Kemampuan Menganalisis.

... 64

4.4.2.2 Uji Perbedaan Skor Posttest Kemampuan Menganalisis ... 66

4.5 Pembahasan Hasil Penelitian ... 68

4.5.1 Perbedaan Kemampuan Mengaplikasi Atas Penggunaan Media Timeline ... 68

4.5.2 Perbedaan Kemampuan Menganalisis Atas Penggunaan Media Timeline ... 70

BAB 5 KESIMPULAN, KETERBATASAN DAN SARAN PENELITIAN ... 74

5.1 Kesimpulan ... 74

5.2 Keterbatasan Penelitian ... 75

5.3 Saran ... 75

DAFTAR PUSTAKA ... 76

LAMPIRAN ... 80

(16)

xvi

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 1. Jadwal Pengambilan Data ... 29

Tabel 2. Teknik Pengumpulan Data ... 33

Tabel 3. Kisi-Kisi Instrumen Penelitian ... 35

Tabel 4. Lembar Observasi Penggunaan Media Timeline dalam Pembelajaran ... 36

Tabel 5. Hasil Validasi Perangkat Pembelajaran ... 38

Tabel 6. Kriteria Validasi Perangkat Pembelajaran ... 38

Tabel 7. Hasil Uji Validitas ... 40

Tabel 8. Kualifikasi Koefisien Reliabilitas ... 41

Tabel 9. Hasil Uji Reliabilitas ... 41

Tabel 10. Pretest Kelompok Kontrol ... 48

Tabel 11. Pretest Kelompok Eksperimen ... 49

Tabel 12. Posttest Kelompok Kontrol ... 50

Tabel 13. Posttest Kelompok Eksperimen ... 50

Tabel 14. Deskripsi Data Pretest Kemampuan Mengaplikasi ... 51

Tabel 15. Deskripsi Data Pretest Kemampuan Menganalisis ... 52

Tabel 16. Deskripsi Data Pretest Kemampuan Mengaplikasi ... 52

Tabel 17. Deskripsi Data Pretest Kemampuan Menganalisis ... 52

Tabel 18. Deskripsi Data Posttest Kemampuan Mengaplikasi ... 53

Tabel 19. Deskripsi Data Posttest Kemampuan Menganalisis ... 54

Tabel 20. Deskripsi Data Posttestt Kemampuan Mengaplikasi ... 54

Tabel 21. Deskripsi Data Posttest Kemampuan Menganalisis ... 54

Tabel 22. Hasil Uji Normalitas Kemampuan Mengaplikasi ... 56

Tabel 23. Hasil Uji Normalitas Kemampuan Menganalisis... 56

Tabel 24. Hasil Uji Homogenitas Pretest Kemampuan Mengaplikasi ... 59

Tabel 25. Hasil Uji Homogenitas Pretest Kemampuan Menganalisis ... 60

Tabel 26. Kenaikan Skor Pretest ke Posttest Kemampuan Mengaplikasi ... 62

Tabel 27. Perbedaan Skor Posttest Kemampuan Mengaplikasi... 64

Tabel 28. Kenaikan Skor Pretest ke Posttest Kemampuan Menganalisis ... 65

(17)

xvii

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 1. Media Pembelajaran Timeline ... 15

Gambar 2. Literature Map ... 24

Gambar 3. Desain Penelitian ... 28

(18)

xviii

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Lampiran 1. Silabus Kelompok Eksperimen ... 81

Lampiran 2. RPP Kelompok Eksperimen ... 84

Lampiran 3. LKS Kelompok Eksperimen ... 99

Lampiran 4. Silabus Kelompok Kontrol ... 105

Lampiran 5. RPP Kelompok Kontrol ... 107

Lampiran 6. LKS Kelompok Kontrol ... 116

Lampiran 7. Materi Ajar IPS Kelas V SD... 118

Lampiran 8. Validitas (Media Timeline, RPP, dan Soal Essai) ... 124

Lampiran 10. Hasil Uji Validitas Instrumen ... 140

Lampiran 11. Hasil Uji Reliabilitas Instrumen ... 141

Lampiran 12. Instrumen Penelitian (Soal Essai) ... 142

Lampiran 13. Tabulasi Nilai Pretest dan Posttest Siswa ... 145

Lampiran 14. Hasil Analisis Dengan SPSS 20 ... 149

Lampiran 15. Surat Izin Penelitian dari Kampus ... 159

Lampiran 16. Surat Keterangan Telah Melakukan Penelitian ... 160

Lampiran 17. Foto Kegiatan ... 161

(19)

1 BAB 1 PENDAHULUAN

Pada bagian pendahuluan terdapat lima hal yang akan diuraikan oleh peneliti.

Lima hal tersebut adalah latar belakang masalah, batasan masalah, rumusan

masalah, tujuan penelitian, dan manfaat penelitian.

1.1 Latar Belakang Masalah

Pendidikan merupakan hak bagi setiap manusia. Dunia pendidikan memuat

usaha yang dilakukan secara sengaja dan sistematis dalam tujuan untuk

mengembangkan segala potensi yang dimiliki oleh manusia, agar memperoleh

pengetahuan, pengalaman, serta mencapai kualitas hidup yang lebih baik

(Hamdani, 2011:19). Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal yang di

dalamnya terdapat proses belajar mengajar. Belajar adalah sebuah proses yang

terjadi secara menyeluruh pada semua orang dan berlangsung seumur hidup, sejak

masih berada dalam kandungan atau bayi, serta ditandai dengan adanya perubahan

tingkah laku (Siregar, 2013:3). Salah satu hasil dalam proses pembelajaran

tersebut dapat berupa berkembangnya kemampuan kognitif.

Berbagai macam ranah kognitif dalam Taksonomi Bloom idealnya mampu

menjadikan siswa memperoleh pengalaman belajar yang beragam. Tahap atau

tingkatan perkembangan kognitif dalam Taksonomi Bloom tersebut dari yang

paling rendah sampai ke tahap yang paling tinggi diantaranya, mengingat,

memahami, mengaplikasi, menganalisis, mengevaluasi dan mencipta (Anderson

dan Krathwohl, 2010:6). Salah satu tahap tersebut yaitu mengaplikasi. Tahap

(20)

2

siswa untuk dapat menerapkan sesuatu berdasarkan prosedur ke situasi atau

keadaan tertentu untuk menyelesaikan masalah.

Selanjutnya, tahap yang keempat adalah tahap menganalisis. Pada tahap

menganalisis, siswa memiliki kemampuan untuk membedakan beberapa hal ke

dalam suatu topik yang relevan dan tidak relevan, mengorganisasi konsep dalam

beberapa bagian, dan menemukan persamaan atau kaitan antara beberapa topik.

Idealnya, kemampuan berpikir siswa tidak hanya pada tahap mengingat dan

memahami namun sampai pada tahap mengaplikasi dan menganalisis.

Belajar seharusnya menjadi kegiatan yang mampu membuat siswa aktif.

Siswa tidak hanya terpaku oleh penjelasan guru yang menjadikan pengalaman

belajarnya kurang. Pengalaman belajar khususnya bagi siswa di sekolah dasar,

hendaknya disesuaikan dengan tahap perkembangannya serta dikondisikan pada

suasana belajar yang kondusif. Pembelajaran yang kondusif itu memungkinkan

siswa untuk mengeksplor segala sumber pengetahuan, membuat siswa merasa

senang dan nyaman dalam mempelajari berbagai ilmu pengetahuan, sehingga

proses belajar mengajar, interaksi guru dan siswa, serta hasil belajar siswa

menjadi maksimal.

Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan salah satu mata pelajaran wajib

yang harus dipelajari siswa. IPS adalah mata pelajaran yang diberikan mulai dari

jenjang sekolah dasar mengenai konsep yang berkaitan dengan kehidupan

masyarakat dan lingkungan kehidupan, dan mengembangkan kemampuan berpikir

logis serta kritis dalam memecahkan suatu permasalahan (BSNP, 2006:575).

(21)

3

kemampuan menganalisis siswa dapat berkembang. Siswa semestinya dapat

menerapkan dalam situasi yang baru terhadap pengetahuan yang telah didapatnya.

Selain itu, siswa idealnya mampu menganalisis, membedakan dan menemukan

persamaan topik dari berbagai sumber, sehingga perkembangan berpikir siswa

akan lebih berkembang.

Hasil observasi pada tanggal 14 September 2014 di kelas VA SD Negeri

Percobaan 3 Pakem menunjukkan bahwa proses pembelajaran hanya berpusat

pada guru (teacher centered). Guru terlihat aktif dalam menjelaskan, dan bertanya

kepada siswa mengenai materi pelajaran. Metode pembelajaran yang digunakan

oleh guru berupa ceramah. Penggunaan metode ceramah dinilai kurang efektif

bagi pembelajaran yang menjadikan proses pembelajaran kurang bermakna,

membuat siswa pasif dan menimbulkan rasa bosan pada diri siswa (Muslich,

2007:201). Dalam pembelajaran tersebut, guru menggunakan media konvensional

berupa papan tulis. Setelah guru menjelaskan materi pelajaran, siswa diminta

untuk mencatat materi yang terdapat dalam buku pelajaran. Kemudian, siswa

mengerjakan soal latihan dalam buku LKS.

Peneliti juga menemukan kondisi diantaranya, siswa kurang aktif dalam

pembelajaran, terlihat dari aktivitas seperti bermain sendiri, mengganggu teman

lain. Selain itu, siswa kesulitan dalam menerapkan materi yang dipelajari ke

dalam situasi tertentu yang dibuktikan dengan siswa mengeluh pada saat guru

meminta untuk mengerjakan soal latihan, siswa kebingungan untuk

(22)

bahwa perkembangan kognitif siswa pada kemampuan mengaplikasi masih

kurang dikembangkan.

Selain itu, siswa kurang mampu membedakan antara bagian yang relevan dan

tidak relevan dalam beberapa hal, siswa juga merasa kebingungan untuk

mengorganisasi atau mengelompokkan konsep ke dalam beberapa bagian, siswa

tidak mampu menemukan persamaan atau kaitan antara beberapa topik. Hal

tersebut menunjukkan bahwa perkembangan kognitif siswa pada kemampuan

menganalisis juga kurang dikembangkan.

Hasil observasi kegiatan pembelajaran tersebut diperkuat lagi dengan hasil

wawancara peneliti dengan guru kelas V SD Negeri Percobaan 3 Pakem yang

mengatakan bahwa pada saat pembelajaran IPS, siswa sering terlihat bosan,

kurang memperhatikan, dan sebagian siswa cenderung bermalas-malasan dalam

mengikuti pelajaran. Selain itu menurut guru kelas, materi IPS cukup sulit untuk

dipahami siswa SD, salah satunya yaitu mengenai perjuangan mempertahankan

kemerdekaan Indonesia, di mana materi tersebut cukup banyak dan terdapat

tanggal peristiwa yang beragam.

Berdasarkan kenyataan di atas, yaitu guru dalam menyampaikan materi

pelajaran kepada siswa menggunakan metode ceramah dan media konvensional

berupa papan tulis yang membuat tingkat kognitif siswa belum sampai pada tahap

mengaplikasi dan menganalisis. Melihat permasalahan tersebut, agar siswa lebih

aktif dalam proses pembelajaran, maka dibutuhkan media pembelajaran sehingga

dapat membantu siswa untuk lebih mudah memahami konsep-konsep abstrak

(23)

5

sarana dalam menyampaikan materi pembelajaran secara efektif, yang dapat

memacu siswa dalam berpikir, meningkatkan minat, perhatian sehingga

memungkinkan tercapainya tujuan pembelajaran yang telah ditentukan (Sukiman,

2012:29-30).

Salah satu media pembelajaran tersebut adalah media timeline, yang

diharapkan dapat membantu siswa dalam memahami materi pelajaran yang

abstrak. Timeline merupakan garis yang menunjukkan atau menggambarkan

urutan peristiwa dan waktu terjadinya suatu peristiwa yang disajikan dalam

sebuah bagan secara kronologis. Media timeline diharapkan dapat membantu

siswa dalam proses belajarnya. Media timeline juga membantu siswa dalam

memahami konsep-konsep yang abstrak (Obenchain, 2011:186). Siswa dapat

mengkreasikannya dengan mencantumkan gambar, dan serangkaian keterangan

mengenai suatu peristiwa serta memberikan warna yang beraneka macam.

Media timeline akan dapat membantu siswa dalam kemampuan mengaplikasi

dan menganalisis pada mata pelajaran IPS khususnya materi perjuangan

mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Penggunaan media timeline dalam

kegiatan pembelajaran IPS masih jarang sekali dilakukan. Maka dari itu, peneliti

melakukan penelitian yang berjudul “Perbedaan Kemampuan Mengaplikasi dan

Menganalisis Atas Penggunaan Media Timeline Pada Mata Pelajaran IPS Kelas V

SD Negeri Percobaan 3 Pakem.”

1.2 Batasan Masalah

Penelitian ini, peneliti memfokuskan pada perbedaan kemampuan

(24)

pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Sedangkan dalam pembelajaran Ilmu

Pengetahuan Sosial di SD, peneliti hanya akan membahas mengenai materi

perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang terdapat dalam materi

kelas V SD semester genap tahun pelajaran 2013/2014, SK. 2 Menghargai

peranan tokoh pejuang dan masyarakat dalam mempersiapkan dan

mempertahankan kemerdekaan Indonesia, KD. 2.4 Menghargai perjuangan para

tokoh dalam mempertahankan kemerdekaan.

1.3 Rumusan Masalah

Berdasarkan penjelasan di atas, peneliti merumuskan masalah dalam

penelitian, diantaranya:

1.3.1 Apakah ada perbedaan kemampuan mengaplikasi atas penggunaan media

timeline pada mata pelajaran IPS kelas V SD Negeri Percobaan 3 Pakem

tahun ajaran 2013/2014?

1.3.2 Apakah ada perbedaan kemampuan menganalisis atas penggunaan media

timeline pada mata pelajaran IPS kelas V SD Negeri Percobaan 3 Pakem

tahun ajaran 2013/2014?

1.4 Tujuan Penelitian

1.4.1 Mengetahui perbedaan kemampuan mengaplikasi atas penggunaan media

timeline pada mata pelajaran IPS kelas V SD Negeri Percobaan 3 Pakem

tahun ajaran 2013/2014.

1.4.2 Mengetahui perbedaan kemampuan menganalisis atas penggunaan media

timeline pada mata pelajaran IPS kelas V SD Negeri Percobaan 3 Pakem

(25)

7

1.5 Manfaat Penelitian 1.5.1 Secara teoritis

Penelitian ini dapat menjadi pedoman dan menambah wawasan baru

terkait pelaksanaan kegiatan pembelajaran menggunakan media timeline

terhadap kemampuan mengaplikasi dan kemampuan menganalisis.

1.5.2 Secara praktis 1.5.2.1Bagi sekolah

Sekolah dapat menjadikan penelitian ini sebagai wacana untuk semua

warga sekolah dan menambah daftar bacaan di perpustakaan.

1.5.2.2Bagi siswa

Siswa mendapatkan pengalaman belajar yang baru dalam mempelajari

materi pelajaran menggunakan media timeline.

1.5.2.3Bagi guru

Guru mendapatkan inspirasi mengenai media pembelajaran dan dapat

mengaplikasikan salah satu alternatif media pembelajaran berupa timeline

dalam pembelajaran.

1.5.2.4Bagi peneliti

Peneliti mendapatkan tambahan wawasan baru mengenai media timeline.

Selain itu, peneliti juga memperoleh inspirasi dalam menerapkan

(26)

8 BAB 2 KAJIAN TEORI

Pada bab ini berisi kajian teori mengenai kemampuan berpikir, media

pembelajaran, media pembelajaran timeline, mata pelajaran IPS, karakteristik

siswa SD, penelitian terdahulu yang relevan, kerangka berpikir, dan hipotesis

yang berupa dugaan sementara dari rumusan masalah penelitian.

2.1 Kemampuan Berpikir 2.1.1 Pengertian Berpikir

Menurut Kuswana (2011:1) berpikir merupakan suatu proses dalam

memberdayakan akal budi sebagai sarana mempertimbangkan, memutuskan

sesuatu hal yang terdapat dalam ingatan. Sedangkan menurut Ling dan Catling

(2012:181) berpikir adalah proses di mana persepsi-persepsi indera muncul dan

dapat diubah sehingga menjadikan kita untuk meniru lingkungan sekitar serta

menunjukkannya kembali sesuai dengan apa yang kita rencanakan dan kehendaki.

Berpikir adalah suatu proses mengelola informasi ke dalam memori (Santrock,

2007:357). Menurut Rahardanto (2007:402) berpikir merupakan proses yang

menghasilkan suatu persepsi baru melalui proses pengolahan informasi yang

mencakup pertimbangan, pengabstrakan, penalaran, penggambaran, pemecahan

masalah logis, pembentukan konsep, kreativitas, dan kecerdasan.

Berdasarkan beberapa pengertian berpikir menurut para ahli di atas, maka

dapat disimpulkan bahwa berpikir merupakan suatu proses yang menggunakan

(27)

9

terhadap berbagai hal atau informasi yang ada di sekitar, sebagai sarana untuk

memutuskan kehendak.

2.1.2 Taksonomi Bloom

Taksonomi adalah klasifikasi atau penggolongan tentang objek atau gejala

berdasarkan satu atau lebih prinsip tertentu (Supraptiknya, 2012:5). Sementara itu,

menurut Anderson dan Krathwohl (2010:43) proses kognitif terdiri dari enam

tahapan dari yang paling rendah hingga yang paling tinggi. Tahapan kognitif

tersebut diantaranya dari yang paling rendah yaitu mengingat (remembering),

memahami (understanding), mengaplikasi (applying), menganalisis (analyzing),

mengevaluasi (evaluating), dan yang paling tinggi yaitu mencipta (creating). Pada

penelitian ini hanya berfokus pada tahap kognitif mengaplikasi dan menganalisis.

Berikut ini merupakan penjelasan dari kedua tahap tersebut.

2.1.3 Kemampuan Mengaplikasi

Menurut Anderson dan Krathwohl (2010:116) kemampuan mengaplikasi

adalah menerapkan atau menggunakan suatu prosedur ke dalam keadaan tertentu.

Sama halnya menurut Supraptiknya (2012:9) kemampuan mengaplikasi adalah

menggunakan informasi ke dalam situasi lain dikehidupan sehari-hari (familiar

situation). Menurut Purwanto (2006:114) kemampuan mengaplikasi adalah

menggunakan pengetahuan yang telah dimiliki dalam memecahkan persoalan

dalam situasi yang baru.

Berdasarkan pendapat para ahli, dapat disimpulkan bahwa kemampuan

mengaplikasi adalah menggunakan pengetahuan atau informasi yang telah

(28)

Kategori proses mengaplikasi ini terdiri dari beberapa proses kognitif,

diantaranya mengeksekusi dan mengimplementasikan. Berikut ini merupakan

penjelasan dari masing-masing proses kognitif.

2.1.3.1Mengeksekusi adalah menerapkan atau melaksanakan suatu prosedur yang

sudah familier atau yang sudah dikenal oleh siswa sebelumnya dalam

menyelesaikan suatu tugas atau persoalan. Nama lain dari mengeksekusi

adalah melaksanakan.

2.1.3.2Mengimplementasikan adalah menerapkan suatu prosedur pada tugas yang

yang tidak familier. Nama lain dari mengimplementasikan adalah

menggunakan.

2.1.4 KemampuanMenganalisis

Menurut Anderson dan Krathwohl (2010:120) kemampuan menganalisis

adalah menghubungkan beberapa bagian yang melibatkan proses pemecahan

materi menjadi bagian-bagian, menentukan hubungan-hubungan antara beberapa

topik. Sama halnya menurut Supraptiknya (2012:8) kemampuan menganalisis

adalah mengurai informasi ke dalam bagian-bagian atau unsur-unsur untuk

menemukan pemahaman dan hubungan-hubungan, memilah materi atau konsep,

ke dalam bagian-bagian sehingga struktur organisasinya dapat dipahami,

membedakan antara fakta dan pendapat. Menurut Winkell (2007:275)

kemampuan menganalisis mencakup kemampuan untuk merinci suatu kesatuan ke

dalam bagian-bagian, sehingga struktur keseluruhan atau organisasinya dapat

dipahami dengan baik. Menurut Kuswana (2012:118) kemampuan menganalisis

(29)

11

topik. Kemampuan menganalisis adalah kemampuan untuk memahami sesuatu

dengan menguraikannya ke dalam unsur-unsur (Purwanto, 2009:51).

Menurut pendapat dari beberapa para ahli di atas, dapat disimpulkan

bahwa kemampuan menganalisis adalah membedakan, memilah, memecah suatu

topik atau materi menjadi bagian-bagian pokok dan mendeskripsikan atau

menggambarkan bagaimana bagian-bagian tersebut, dihubungkan satu sama lain

maupun menjadi sebuah topik atau hal.

Dalam kemampuan menganalisis ini, terkandung beberapa proses kognitif

diantaranya membedakan, mengorganisasi dan mengatribusikan. Berikut ini

merupakan penjelasan dari masing-masing proses kognitif.

2.1.4.1Membedakan adalah proses memilah-milah bagian yang penting dari

sebuah struktur. Proses membedakan terjadi pada waktu siswa memilih

informasi yang penting dan tidak penting atau yang relevan dan tidak

relevan, lalu selanjutnya siswa menemukan informasi yang penting atau

relevan tersebut. Nama lain membedakan yaitu menyendirikan, memilah,

memfokuskan, dan memilih.

2.1.4.2Mengorganisasi adalah mengindentifikasi situasi dan proses bagaimana

elemen-elemen dapat membentuk suatu struktur yang saling berhubungan.

Pada proses mengorganisasi, siswa menstrukturkan beberapa bagian

informasi yang saling terpisah sehingga terbangun hubungan-hubungan

yang sistematis dalam masing-masing struktur informasi. Nama lain dari

mengorganisasi yaitu membuat garis besar, mendeskripsikan peran,

(30)

2.1.4.3Mengatribusikan adalah melibatkan proses untuk menemukan persamaan

makna, dekonstruksi, di mana siswa menentukan sudut pandang, nilai atau

maksud dibalik materi pelajaran. Nama lain mengatribusikan yaitu

menemukan hubungan.

2.2 Media Pembelajaran

2.2.1 Pengertian Media Pembelajaran

Salah satu sarana sebagai penunjang dalam kegiatan kegiatan

pembelajaran yaitu berupa media pembelajaran. Media dapat digunakan sebagai

sumber belajar. Berikut ini merupakan pengertian media pembelajaran menurut

beberapa ahli.

Menurut Kustandi (2011:7-9) media pembelajaran merupakan alat yang

berfungsi untuk memperjelas pesan yang disampaikan dalam proses belajar

mengajar sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan efektif. Sama

halnya dengan pandangan Munadi (2010:5-8) media pembelajaran adalah

penghubung pesan ajar selain guru yang dapat menyampaikan pesan dari sumber

ke penerima pesan dengan terencana, terciptanya lingkungan belajar yang

kondusif serta kegiatan belajar yang efisien dan efektif. Begitu pula menurut

Sukiman (2012:29-30) media pembelajaran adalah segala sesuatu yang digunakan

oleh guru sebagai sarana untuk menyampaikan pesan berupa materi ajar dalam

kegiatan pembelajaran ke penerima pesan (siswa) sehingga memacu siswa dalam

berpikir, minatnya, perhatian dan perasaannya yang sejalan dengan tercapainya

tujuan pembelajaran yang efektif. Hal tersebut sejalan menurut Angkowo dan

(31)

13

menyalurkan pesan, merangsang proses berpikir, membangkitkan perhatian,

kemauan untuk bertindak, menumbuhkan semangat yang menjadikan siswa aktif

dalam kegiatan belajar sehingga siswa dapat mengembangkan kepribadiannya.

Berdasarkan berbagai macam pengertian mengenai media pembelajaran,

maka dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran merupakan salah satu sarana

yang dapat digunakan untuk menyampaikan pesan ajar selain guru, sehingga

membantu siswa dalam berpikir, membangkitkan semangat dalam belajar, serta

memudahkan tercapainya tujuan pembelajaran yang telah ditentukan.

2.2.2 Fungsi Media Pembelajaran

Menurut Sukiman (2012:44) fungsi media pembelajaran dalam proses

belajar mengajar diantaranya: (1) media pembelajaran memperjelas pesan dan

informasi sehingga dapat meningkatkan proses serta hasil belajar, (2) media

pembelajaran dapat mengarahkan perhatian anak sehingga timbul motivasi

belajar, interaksi langsung antara peserta didik dan lingkungan belajarnya, dan

kemungkinan peserta didik untuk belajar secara individu sesuai dengan

kemampuan maupun minatnya, (3) media pembelajaran sebagai sarana mengatasi

keterbatasan indera, ruang, dan waktu. Senada dengan Arsyad (2010:26) media

pembelajaran memiliki fungsi yaitu, (1) media pembelajaran dapat memperjelas

informasi atau pesan yang membuat proses dan hasil belajar menjadi meningkat,

(2) media pembelajaran sebagai wahana untuk meningkatkan perhatian dan

motivasi siswa dalam proses interaksi langsung antara siswa dengan

lingkungannya sesuai dengan minta dan bakatnya, (3) media pembelajaran

(32)

dan waktu, (4) media pembelajaran memberikan kesempatan kepada siswa untuk

memperoleh pengalaman yang lebih dengan lingkungan serta peristiwa-peristiwa

yang terjadi di sekeliling mereka. Sedangkan menurut Munadi (2010:37-48)

fungsi media pembelajaran diantaranya, (1) fungsi sebagai sumber belajar, (2)

fungsi semantik, (3) fungsi manipulatif, (4) fungsi psikologis yang terdiri dari

fungsi atensi, afektif, kognitif, imajinatif, motivasi, (5) fungsi sosio-kultural.

Penjelasan mengenai fungsi media pembelajaran tersebut dapat

disimpulkan bahwa media pembelajaran mempunyai fungsi sebagai sarana

penunjang kegiatan pembelajaran yang dapat membantu komunikasi dan interaksi

antara guru dengan siswa, menumbuhkan motivasi dalam belajar, membantu

proses pemahaman siswa terhadap materi yang disampaikan, memudahkan siswa

dalam mengembangkan kemampuan berpikirnya, serta sebagai sarana pendorong

tercapainya tujuan pembelajaran.

2.3 Media Pembelajaran Timeline

2.3.1 Pengertian Media Pembelajaran Timeline

Garis waktu dapat memuat tentang berbagai jenis informasi dan rentang

waktu yang berbeda. Media timeline dapat membantu siswa dalam mendalami

materi pelajaran. Media timeline juga membantu siswa dalam memahami

konsep-konsep yang abstrak (Obenchain, 2011:186). Perhatian utama media timeline

adalah alat bantu dalam pembelajaran yang merupakan tipe atau jenis dari suatu

grafik yang teratur. Media timeline mengarahkan siswa untuk membuat garis

waktu kejadian disertai dengan tanggal, gambar, dan peristiwa. Senada dengan

(33)

15

menunjukkan hubungan antara peristiwa dan waktu yang disajikan dalam bagan

yang menggambarkan alur kejadian suatu peristiwa secara sistematis dan

kronologis. Berikut ini merupakan gambar dari media timeline.

Gambar 1. Media Pembelajaran Timeline

Berdasarkan penjelasan sebelumnya, media pembelajaran timeline

merupakan media pembelajaran yang menggambarkan atau menunjukkan

hubungan antara peristiwa dan waktu, serta menguraikan tahapan suatu proses

yang terikat oleh waktu, di mana materi pembelajaran disajikan dalam sebuah

bagan secara kronologis.

2.3.2 Manfaat Media Pembelajaran Timeline

Manfaat media timeline dapat membantu siswa dalam berpikir mengenai

materi yang sulit dimengerti dalam pembelajaran. Media timeline juga membantu

siswa dalam memahami konsep-konsep yang abstrak (Obenchain, 2011:186).

Media timeline tidak membutuhkan waktu yang lama dalam penggunaannya,

membantu siswa dalam mendalami dan menguraikan materi yang dipelajari

berdasarkan urutan waktunya, penyederhanaan konsep dari keseluruhan konsep

(34)

Dari beberapa penjelasan mengenai manfaat media timeline di atas, dapat

disimpulkan bahwa manfaat media timeline yaitu praktis untuk digunakan karena

tidak membutuhkan waktu yang lama dalam penggunaannya, membantu siswa

dalam mendalami dan menguraikan materi pelajaran secara kronologis.

2.4 IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial) 2.4.1 Hakikat IPS

Menurut Trianto (2010:171) Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan

integrasi dari berbagai cabang ilmu-ilmu sosial, seperti sosiologi, sejarah,

geografi, ekonomi, politik, hukum, dan budaya. Ilmu Pengetahuan Sosial

dirumuskan atas dasar realitas dan fenomena sosial yang mewujudkan satu

pendekatan interdisipliner dari aspek dan cabang-cabang ilmu sosial (sosiologi,

sejarah, geografi, ekonomi, politik, hukum, dan budaya). IPS atau studi sosial

merupakan bagian dari kurikulum sekolah yang diturunkan dari isi materi

cabang-cabang ilmu-ilmu sosial, sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi, politik,

antropologi, filsafat, dan psikologi sosial. Senada dengan Sapriya (2009:7) mata

pelajaran IPS merupakan sebuah nama mata pelajaran integrasi dari mata

pelajaran Sejarah, Geografi, dan Ekonomi serta mata pelajaran ilmu sosial

lainnya. Begitu pula menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008:297) Ilmu

Pengetahuan Sosial adalah ilmu pengetahuan yang merupakan perpaduan dari

berbagai macam mata pelajaran sejarah, ekonomi, sosiologi, geografi dan lain

sebagainya. Sedangkan menurut Rosdijati (2010:58) Ilmu Pengetahuan Sosial

(35)

17

SD/MI/SDLB. IPS mengkaji seperangkat peristiwa, fakta, konsep, dan

generalisasi yang berkaitan dengan isu sosial.

Pada jenjang SD/MI, mata pelajaran IPS memuat materi geografi, sejarah,

sosiologi, dan ekonomi yang mengarahkan siswa untuk dapat menjadi warga

masyarakat yang menghargai nilai-nilai sosial, bertanggung jawab, mencintai

lingkungan alam, dan menjadi warga dunia yang cinta damai. Sama halnya

menurut BSNP (2006:575) Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan salah satu

mata pelajaran yang diberikan mulai dari SD/MI/SDLB sampai

SMP/MTs/SMPLB. IPS mengkaji seperangkat peristiwa, fakta, konsep, dan

generalisasi yang berkaitan dengan isu sosial. Pada jenjang SD/MI mata pelajaran

IPS memuat materi Geografi, Sejarah, Sosiologi, dan Ekonomi. Melalui mata

pelajaran IPS, peserta didik diarahkan untuk menjadi warga negara Indonesia

yang demokratis, bertanggung jawab, serta warga dunia yang cinta damai.

Dari beberapa pengertian IPS di atas, dapat disimpulkan bahwa IPS adalah

salah satu mata pelajaran yang diberikan mulai dari jenjang SD/MI/SDLB sampai

SMP/MTs/SMPLB, membahas tentang fakta, konsep, yang merupakan integrasi

dari Sejarah, Geografi, Ekonomi serta mata pelajaran ilmu sosial lainnya.

2.4.2 Tujuan IPS

Menurut BSNP (2006:575) tujuan mata pelajaran IPS sebagai berikut: (1)

mengenal konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan

lingkungannya, (2) memiliki kemampuan dasar untuk berpikir logis dan kritis,

rasa ingin tahu, inkuiri, memecahkan masalah, dan keterampilan dalam kehidupan

(36)

kemanusiaan, (4) memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik, bekerjasama

dan berkompetisi dalam masyarakat yang majemuk, ditingkat lokal, nasional, dan

global. IPS bertujuan agar siswa mampu mengaplikasikan apa yang telah

dipelajari sebagai bekal dalam menjalankan kehidupan di lingkungan masyarakat,

dan sebagai bekal untuk dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih

tinggi (Raharjo, 2007:15).

Berdasarkan penjelasan di atas, tujuan IPS yaitu sebagai sarana siswa

dalam belajar, di mana siswa mampu mengenal konsep-konsep materi, mampu

berpikir secara logis, kritis, memiliki kemampuan bekerjasama dilingkungannya,

serta menjadi bekal dalam melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

2.4.3 Materi Ajar IPS Kelas V

Standar Kompetensi pada mata pelajaran IPS yang digunakan dalam

penelitian ini yaitu 2. Menghargai peranan tokoh pejuang dan masyarakat dalam

mempersiapkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Selain itu,

Kompetensi Dasar yang digunakan yaitu 2.4. Menghargai perjuangan para tokoh

dalam mempertahankan kemerdekaan. Berikut ini akan diuraikan mengenai materi

pembelajaran yang digunakan oleh peneliti.

Menurut Zuber (2012:179-190) perjuangan mempertahankan kemerdekaan

Indonesia dibagi menjadi dua yaitu perjuangan di medan pertempuran dan

perjuangan melalui perundingan. Perjuangan para tokoh pejuang dalam

mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang terjadi di medan pertempuran

diantaranya: (1) pertempuran 10 November 1945 di Surabaya, (2) pertempuran

(37)

19

jalur pertempuran, perjuangan para tokoh dalam mempertahankan kemerdekaan

juga melalui meja perundingan. Berikut ini merupakan berbagai macam

perjuangan Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan melalui perundingan:

(1) perjanjian Linggajati, (2) agresi militer Belanda I, (3) perjanjian Renville, (4)

agresi militer Belanda II, (5) serangan umum 1 Maret 1949, (6) perjanjian

Roem-Royen, (7) konferensi meja bundar, (8) pembentukan RIS.

2.5 Karakteristik Siswa Sekolah Dasar

Setiap tahap perkembangan anak selalu memiliki karakteristik yang

berbeda. Perkembangan kognitif menurut Jean Piaget terdiri dari empat tahap

diantaranya, fase sensorimotor, fase praoperasional, fase operasional konkret, fase

operasional formal (Piaget dalam Wahyudin, 2011:19).

Fase I yaitu sensorimotor (usia 0-2 tahun). Fase ini dimulai dengan

munculnya gerakan-gerakan yang bersifat refleks sejak bayi dilahirkan. Bayi

memahami, mengeksplorasi dunia di sekitarnya dengan menggunakan indera dan

kemampuan motoriknya. Tindakan yang biasanya dilakukan bayi pada tahap ini

adalah menghisap, menggenggam, memukul, sebagai tanda bahwa dirinya

berusaha untuk menghadapi dunia yang baru setelah dilahirkan.

Fase II yaitu praoperasional (usia 2-7 tahun). Fase 2-7 tahun merupakan

fase di mana anak memulai tahap perkembangan kognitifnya dan memahami

benda-benda yang ada di sekitarnya dalam bentuk simbol. Tahapan ini anak

berusaha mengembangkan keterampilan berbahasanya. Mereka kesulitan

memahami bagaimana perasaan orang disekitarnya. Namun disamping itu, anak

(38)

logis. Pada tahap ini, anak mulai menggambarkan dunianya melalui kata dan

gambar. Kata dan gambar ini yang menunjukkan peningkatan pemikiran simbolis

dan melebihi informasi inderawi serta kemampuan motorik.

Fase III yaitu operasional konkret (usia 7-12 tahun). Pada fase ini, anak

sudah mampu berpikir secara logis, mampu mengklasifikasikan objek berdasarkan

kriterianya, mengurutkan benda sesuai dengan urutannya, kemampuan dalam

memahami persepsi orang lain, dan kemampuan untuk berpikir secara deduktif.

Pada tahap ini, anak mulai mengembangkan kemampuan berpikir sistematis,

namun terbatas pada objek-objek dan aktivitas yang konkret. Anak sudah mampu

berpikir secara logis mengenai kejadian-kejadian konkret dan mampu

mengklasifikasikan objek ke dalam kelompok yang berbeda, tetapi hanya dalam

situasi yang sudah tidak asing lagi bagi anak.

Fase IV yaitu operasional Formal (usia 12 tahun sampai dewasa). Fase

operasional formal ditandai dengan meningkatnya kemampuan berpikir anak yaitu

dari kemampuan berpikir konkret ke kemampuan berpikir abstrak. Tahap ini anak

mulai mampu berpikir secara abstrak, menalar secara logis, dan menarik

kesimpulan dari informasi yang tersedia. Tahap operasional formal adalah di

mana seseorang dapat berpikir secara lebih abstrak, sistematis, idealis, dan logis.

Berdasarkan penjelasan di atas, anak kelas V SD menurut teori

perkembangan Piaget berada pada tahap operasional konkret di mana anak mulai

mengembangkan kemampuan berpikir sistematis, namun terbatas pada

objek-objek dan aktivitas yang konkret. Anak membutuhkan media pembelajaran

(39)

21

materi pembelajaran. Media timeline merupakan media pembelajaran yang dapat

membantu anak belajar pada usia operasional konkret karena media timeline dapat

membantu memahami konsep abstrak dengan garis waktu dan gambar yang

membantu anak melihat konsep dari materi yang dipelajari secara kronologis.

2.6 Penelitian yang Relevan

2.6.1 Penelitian tentang Media Pembelajaran Timeline

Mityasari (2013) meneliti peningkatan hasil belajar dalam mata pelajaran

IPS menggunakan media bagan garis waktu (timeline chart). Jenis penelitian yang

digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas. Subjek penelitian adalah siswa kelas

V SDN Sumbersari 1 Megaluh Jombang tahun ajaran 2012/2013 sebanyak 20

siswa. Instrumen yang digunakan berupa lembar pengamatan yang berbentuk

check list, lembar kuesioner atau angket, dan lembar soal. Hasil belajar siswa

mengalami kenaikan pada siklus I 72% menjadi 75% pada siklus II. Media bagan

garis waktu terbukti dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam pelajaran IPS.

Mayasari (2013) meneliti tentang penggunaan Media time line chart

wayang dengan Penerapan Metode STAD untuk Meningkatkan Hasil Belajar

Siswa Kelas V. Jenis penelitian adalah PTK (Penelitian Tindakan Kelas). Populasi

penelitian adalah siswa kelas V SDN I Lurah Kecamatan Plumbon Kabupaten

Cirebon yang berjumlah 40 siswa. Instrumen yang digunakan adalah format

observasi kinerja guru, observasi aktivitas siswa, wawancara guru dan siswa,

catatan lapangan, alat tes hasil belajar siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa

pada siklus I kriteria ketuntasan siswa sebesar 70%. Pada siklus II, kriteria

(40)

ketuntasan siswa mencapai 92,5% atau sebanyak 37 siswa. Dari hasil tersebut

menunjukkan bahwa hasil belajar siswa mengalami peningkatan selama

menggunakan media time line chart wayang pada mata pelajaran IPS.

Silvani (2011) meneliti tentang pemanfaatan media timeline video

pembelajaran untuk meningkatkan proses dan hasil belajar IPS siswa kelas IV

SDN Gunung Jati 01 Kec. Jabung Kab. Malang. Jenis penelitian adalah PTK.

Subjek penelitian yaitu siswa kelas IV SDN Gunung Jati 01 Kec. Jabung Kab.

Malang yang berjumlah 36 siswa. Instrumen yang digunakan adalah lembar

observasi, dokumentasi, dan lembar wawancara. Hasil penelitian menunjukkan

bahwa pemanfaatan media timeline video dapat meningkatkan hasil belajar IPS

siswa kelas IV SDN Gunung Jati 01 Kec. Jabung Kab. Malang. Pada siklus I ke

siklus II, prosentase ketuntasan belajar mengalami peningkatan 33,34%.

Sedangkan hasil belajar siswa meningkat dari siklus I 65,88 mejadi 71,78 pada

siklus II, jadi peningkatan hasil belajar IPS adalah sebesar 8,96%.

2.6.2 Penelitian tentang Kemampuan Berpikir

Yustriyana dan Sudianto (2013) meneliti tentang peningkatan

keterampilan berpikir kritis melalui media kliping koran dalam pembelajaran IPS

di SD. Jenis penelitian yang digunakan yaitu PTK. Subjek penelitian adalah kelas

IVB SDN Lidah Kulon 1 Surabaya yang berjumlah 43 siswa. Instrumen penelitian

ini adalah lembar observasi, lembar tes, dan wawancara. Hasil penelitian

menunjukkan bahwa aktivitas siswa selama pembelajaran mengalami peningkatan

(41)

23

siklus II, 90% pada siklus III, artinya media kliping koran dapat meningkatkan

keterampilan berpikir kritis dalam pembelajaran IPS SD.

Yanti, Suarjana dan Arcana (2013) meneliti tentang pengaruh model

pembelajaran course review horay terhadap kemampuan berpikir kritis mata

pelajaran IPS kelas V SD di Gugus V Kecamatan Kediri. Jenis penelitian adalah

(quasi eksperimen), desain posttest only non-equivalent control group design.

Populasi penelitian adalah siswa kelas V SD gugus 5 Kecamatan Kediri semester

genap tahun ajaran 2012/2013. Sampel penelitian adalah kelas V SDN 1 Pandak

Bandung sebagai kelompok eksperimen dan kelas V SDN 2 Pandak Bandung

sebagai kelompok kontrol. Instrumen penelitian adalah tes essai. Hasil penelitian

menunjukkan ada perbedaan yang signifikan antara kemampuan berpikir kritis

kelompok yang menggunakan model pembelajaran course review horay dengan

kelompok yang menggunakan model pembelajaran konvensional pada mata

pelajaran IPS kelas V semester genap SD gugus 5 Kecamatan Kediri, dilihat dari

hasil analisis yaitu t hitung = 6,4 dan t tabel = 1,684.

Hartati (2010) meneliti tentang pengembangan Alat Peraga Gaya Gesek

untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis Siswa SMA. Jenis penelitian

ini adalah penelitian pengembangan. Subjek penelitian yaitu kelas X SMA N 2

Pekalongan sebanyak 34 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa

kegiatan praktikum menggunakan alat peraga gaya gesek mampu meningkatkan

keterampilan berpikir kritis dan hasil belajar. Hal tersebut ditunjukkan dengan

(42)

Berdasarkan penelitian-penelitian sebelumnya tentang media pembelajaran

timeline dan kemampuan berpikir, belum ada yang meneliti mengenai perbedaan

kemampuan mengaplikasi dan kemampuan menganalisis atas penggunaan media

timeline pada siswa di sekolah dasar. Maka dari itu peneliti melakukan penelitian

yang berjudul perbedaan kemampuan mengaplikasi dan menganalisis atas

penggunaan media timeline pada mata pelajaran IPS kelas V SD Negeri

Percobaan 3 Pakem.

2.7 Literature Map

Gambar 2. Literature Map

Media Timeline Kemampuan Berpikir

Mityasari (2013) Media timeline-hasil belajar

Yanti, Suarjana & Arcana (2013) Model pembelajaran course review

horay-berpikir kritis

Perbedaan penggunaan media timeline terhadap kemampuan mengaplikasi dan

menganalisis Silvani (2011)

Media timeline video-hasil belajar

Hartati (2010)

(43)

25

2.8 Kerangka Berpikir

Berdasarkan kajian teori dan hasil penelitian yang relevan maka peneliti

dapat merumuskan kerangka berpikir sebagai berikut:

Pembelajaran yang bermakna akan menjadikan siswa aktif dalam

mengikuti kegiatan belajar mengajar, serta mampu mengembangkan kemampuan

kognitifnya pada tahap mengaplikasi dan menganalisis. Kemampuan

mengaplikasi dan menganalisis merupakan tahap berpikir ketiga dan keempat

menurut Taksonomi Bloom. Kemampuan mengaplikasi adalah adalah proses

kognitif yang melibatkan penggunaan pengetahuan prosedural dengan

menggunakan suatu prosedur ke dalam keadaan tertentu. Sedangkan kemampuan

menganalisis adalah menghubungkan beberapa bagian yang melibatkan proses

pemecahan materi menjadi bagian-bagian, menentukan hubungan-hubungannya

dengan tujuan untuk mengetahui strukturnya.

Pelajaran IPS seharusnya menjadi pelajaran yang menarik bagi siswa

terutama dalam materi perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia,

karena materi tersebut dapat dikatakan mempunyai tingkat kesulitan yang tinggi,

Karena itu, perlu penggunaan suatu media pembelajaran yang mampu menunjang

tercapainya tujuan pembelajaran dan penyerapan materi pelajaran oleh siswa.

Salah satu alternatif pemecahan masalah dalam pembelajaran tersebut yaitu

berupa media timeline. Media timeline adalah alat bantu pembelajaran yang

berupa garis waktu, mengenai peristiwa, tahun, tanggal kejadian dan terdapat

rentang waktu yang berbeda secara kronologis. Media timeline diharapkan mampu

(44)

menganalisis dalam mata pelajaran IPS materi perjuangan mempertahankan

kemerdekaan Indonesia kelas V SD Negeri Percobaan 3 Pakem.

2.9 Hipotesis Penelitian

2.9.1 Ada perbedaan kemampuan mengaplikasi atas penggunaan media timeline

pada mata pelajaran IPS kelas V SD Negeri Percobaan 3 Pakem tahun

ajaran 2013/2014.

2.9.2 Ada perbedaan kemampuan menganalisis atas penggunaan media timeline

pada mata pelajaran IPS Kelas V SD Negeri Percobaan 3 Pakem tahun

(45)

27 BAB 3

METODE PENELITIAN

Pada bab ini akan dibahas mengenai metode yang digunakan dalam

penelitian. Pembahasan metode penelitian terdiri dari sembilan bagian

diantaranya, jenis penelitian, tempat dan waktu penelitian, populasi dan sampel,

variabel penelitian, definisi operasional variabel, instrumen penelitian, validitas

dan reliabilitas, teknik pengumpulan data, serta teknik analisis data.

3.1 Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian quasi experimental (Sugiyono,

2013:114). Tipe penelitian yang digunakan yaitu non-equivalent control group

design (Sugiyono, 2013:116), karena penelitian ini menggunakan desain

penelitian dengan dua kelompok yaitu kelompok kontrol dan kelompok

eksperimen di mana kedua kelompok tidak dipilih secara random. Kelompok

kontrol dan kelompok eksperimen, masing-masing diberi soal pretest yang sama

sebagai langkah untuk mendapatkan informasi atau gambaran awal sebelum diberi

perlakuan. Selanjutnya, kelas VA sebagai kelompok eksperimen yaitu kelas yang

mendapat perlakuan menggunakan media timeline. Sedangkan kelas VB sebagai

kelompok kontrol tidak mendapat perlakuan menggunakan media timeline. Kedua

kelompok tersebut diberikan posttest yang sama, baik pada kelompok eksperimen

yang mendapat perlakuan maupun kelompok kontrol yang tidak mendapat

perlakuan sehingga dapat diketahui ada tidaknya perbedaan kemampuan

mengaplikasi dan menganalisis atas penggunaan media timeline. Adapun untuk

(46)

(Sumber: Sugiyono, 2013:116) Gambar 3. Desain Penelitian Keterangan:

= rerata pretest kelompok eksperimen = rerata posttest kelompok eksperimen = rerata pretest kelompok kontrol = rerata posttest kelompok kontrol

X = perlakuan (treatment) menggunakan media timeline

3.2 Tempat dan Jadwal Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di SDN Percobaan 3 Pakem, Jalan Kaliurang

Km 17, Sukunan, Pakembinangun, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kelas

VA sebagai kelompok eksperimen yang berjumlah 32 siswa dengan 17 siswa

laki-laki dan 15 siswa perempuan. Kelas VB sebagai kelompok kontrol yang

berjumlah 32 siswa, dengan 17 siswa laki-laki dan 15 siswa perempuan.

Penelitian dilakukan di SD Negeri Percobaan 3 Pakem karena SD tersebut

merupakan salah satu sekolah di daerah Pakem yang memiliki banyak prestasi,

baik prestasi dibidang akademik maupun non akademik disetiap tahunnya,

diantaranya selalu menjadi juara dua besar dalam pelaksanaan UNAS pada setiap

tahunnya di tingkat kecamatan, juara II olimpiade IPA tingkat Nasional, juara I

olimpiade kesehatan tingkat Kabupaten, dan juara I lomba siswa berprestasi

tingkat Kecamatan, juara II lomba dokter kecil tingkat kabupaten, serta masih

banyak prestasi lainnya.

Pelaksanaan penelitian dilakukan selama 3 minggu. Dimulai dari minggu

ketiga bulan April sampai minggu pertama bulan Mei 2014. Berikut ini perincian X

. . .

(47)

29

jadwal penelitian yang dilakukan pada kelompok eksperimen dan kelompok

kontrol:

Tabel 1. Jadwal Pengambilan Data

Kelompok Kegiatan Alokasi

Waktu Hari/Tanggal

menit Sabtu, 19 April 2014 Pembelajaran mengenai

perjuangan di medan pertempuran dan perjuangan melalui

perundingan

2 x 35

menit Sabtu, 26 April 2014

Posttest 2 x 35

menit Sabtu, 3 Mei 2014

Kontrol VB

Pretest 2 x 35

menit Sabtu, 19 April 2014 Pembelajaran mengenai

perjuangan di medan pertempuran

2 x 35

menit Senin, 21 April 2014 Pembelajaran mengenai

perjuangan melalui perundingan

2 x 35

menit Selasa, 22 April 2014 Pembelajaran mengenai

3.3 Populasi dan Sampel Penelitian

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek atau subyek

yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti

untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2013:117).

Menurut Margono (2007:118) populasi adalah seluruh data yang menjadi

perhatian di dalam suatu ruang lingkup dan waktu yang sudah ditentukan.

Populasi penelitian yang digunakan yaitu seluruh siswa kelas V SD Negeri

(48)

pembagian kelas menjadi dua yaitu kelas VA dan kelas VB, beralamat di Jalan

Kaliurang Km 17, Sukunan, Pakembinangun, Sleman, DIY.

Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh

populasi tersebut (Sugiyono, 2013:118). Pengambilan sampel pada penelitian ini

ditentukan dengan diundi, yaitu menggunakan kertas yang dilipat sebanyak dua

buah yang menunjukkan jumlah kelas VA dan kelas VB. Selanjutnya, dilakukan

penentuan dengan mengambil satu lipatan kertas yang dipakai sebagai kelompok

eksperimen yang pertama muncul kelas VA, maka kelas VB sebagai kelompok

kontrol. Penentuan sampel ini disaksikan oleh guru mata pelajaran IPS yang akan

menyampaikan pembelajaran. Sampel dari penelitian ini yaitu kelas VA sebagai

kelompok eksperimen yang berjumlah 32 siswa, dengan 17 siswa laki-laki dan 15

siswa perempuan. Sedangkan kelas VB merupakan kelompok kontrol, jumlah

siswanya sebanyak 32 siswa, dengan 17 siswa laki-laki dan 15 siswa perempuan.

Pelaksanaan pembelajaran di kelas eksperimen dan kelas kontrol dilakukan oleh

satu orang guru (guru mitra) untuk mengurangi faktor bias, sedangkan peneliti

melakukan observasi dan membantu guru dalam mempersiapkan kegiatan

pembelajaran yang akan dilaksanakan.

3.4 Variabel Penelitian

Variabel merupakan segala sesuatu yang dapat berupa sifat atau nilai dari

orang, obyek atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu, di mana sudah

ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tertentu dan

kemudian dapat ditarik hasil atau kesimpulannya (Sugiyono, 2013:60). Menurut

(49)

31

nilai, keadaan serta kategori untuk memberikan gambaran yang lebih nyata

mengenai fenomena-fenomena. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini

yaitu variabel independen dan variabel dependen.

3.4.1 Variabel independen disebut juga variabel bebas merupakan variabel yang

mempengaruhi terjadinya perubahan pada variabel dependen atau variabel

terikat (Sugiyono, 2013:61). Variabel bebas dalam penelitian ini adalah

penggunaan media timeline.

3.4.2 Variabel dependen disebut juga sebagai variabel terikat yang menjadi

akibat dari adanya variabel bebas (Sugiyono, 2013:61). Variabel dependen

dalam penelitian ini berupa kemampuan kognitif mengaplikasi dan

kemampuan menganalisis.

Variabel Independen Variabel Dependen

Gambar 4. Variabel Penelitian

3.5 Definisi Operasional Variabel

3.5.1 Penggunaan media timeline adalah penggunaan suatu media pembelajaran

yang menggambarkan atau menunjukkan hubungan antara peristiwa dan

waktu, di mana materi pembelajaran disajikan dalam sebuah bagan secara

(50)

3.5.2 Kemampuan mengaplikasi adalah kemampuan pada ranah kognitif untuk

menggunakan sutau prosedur ke dalam keadaan tertentu, yang terdiri atas

proses kognitif mengeksekusi dan mengimplementasikan.

3.5.3 Kemampuan menganalisis adalah kemampuan pada ranah kognitif untuk

memisah-misahkan, memilah, membedakan, mencari keterpaduan suatu

materi lalu mencari hubungan antar bagian tersebut, yang terdiri atas proses

kognitif membedakan, mengorganisasi, dan mengatribusikan.

3.6 Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik tes dan non

tes baik pada kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen. Teknik non tes

berupa observasi.

3.6.1 Tes

Menurut Mardapi (2008:67) tes adalah sejumlah pertanyaan yang

membutuhkan jawaban, atau sejumlah pertanyaan yang harus diberikan tanggapan

dengan tujuan mengukur tingkat kemampuan seseorang atau mengungkap aspek

tertentu. Tes adalah prosedur pengukuran yang berbentuk pemberian tugas baik

berupa pertanyaan yang harus dijawab, maupun perintah yang harus dikerjakan

sehingga dapat menghasilkan nilai yang melambangkan tingkah laku atau prestasi

(Taniredja, 2011:49). Menurut Suwandi (2010:39) tes merupakan suatu bentuk

pemberian tugas yang harus dikerjakan, di mana jawaban yang dihasilkan berupa

gambaran kemampuan seseorang yang dites.

Tes essai adalah salah satu bentuk tes tertulis yang susunannya terdiri atas

(51)

33

menuntut jawaban siswa melalui uraian-uraian kata yang merefleksikan

kemampuan berpikir siswa. Tes essai dapat juga disebut sebagai tes dengan

menggunakan pertanyaan terbuka, di mana dalam tes tersebut siswa diharuskan

menjawab sesuai dengan pengetahuan yang dimiliki oleh para siswa. (Sukardi,

2008:94). Senada dengan Suwandi (2010:47) tes essai adalah memberikan

kebebasan kepada siswa untuk menyusun dan mengemukakan jawabannya sendiri

dalam lingkup yang secara relatif dibatasi. Tes essai memungkinkan siswa

menunjukkan kemampuannya dalam menerapkan pengetahuan, menganalisis,

menghubungkan, informasi baru saat membaca soal yang dihadapkan kepadanya.

Pada penelitian ini, tes yang digunakan berupa prestest dan posttest.

Kelompok eksperimen dan kontrol, masing-masing diberi pretest sebagai langkah

awal guna mengetahui keadaan sebelum diberi perlakuan. Kelas kontrol berjalan

seperti biasa tanpa adanya perlakuan, sedangkan kelas eksperimen mendapat

perlakuan menggunakan media timeline. Setelah itu, kedua kelompok tersebut

diberi soal posttest, guna mengetahui apakah ada perbedaan antara kelas yang

mendapat perlakuan menggunakan media timeline atau tidak. Berikut rincian

teknik pengumpulan data yang disajikan dalam tabel 2.

Tabel 2. Teknik Pengumpulan Data

No Kelompok Variabel Pengumpulan data

Mengaplikasi Pretest Skor Pretest Soal essai nomor 1,2

Posttest Skor Posttest

Menganalisis Pretest Skor Pretest Soal essai nomor 3,4,5

Posttest Skor Posttest

2 Kontrol

Mengaplikasi Pretest Skor Pretest Soal essai nomor 1,2

Posttest Skor Posttest

Menganalisis Pretest Skor Pretest Soal essai nomor 3,4,5

Gambar

Gambar 4. Variabel Penelitian  ............................................................................
Gambar 4 Variabel Penelitian . View in document p.17
grafik yang teratur. Media timeline mengarahkan siswa untuk membuat garis
Media timeline mengarahkan siswa untuk membuat garis . View in document p.32
Gambar 1. Media Pembelajaran Timeline
Gambar 1 Media Pembelajaran Timeline . View in document p.33
gambar. Kata dan gambar ini yang menunjukkan peningkatan pemikiran simbolis
Kata dan gambar ini yang menunjukkan peningkatan pemikiran simbolis . View in document p.38
Gambar 2. Literature Map
Gambar 2 Literature Map . View in document p.42
Gambar 3. Desain Penelitian
Gambar 3 Desain Penelitian . View in document p.46
Tabel 1. Jadwal Pengambilan Data
Tabel 1 Jadwal Pengambilan Data . View in document p.47
Gambar 4. Variabel Penelitian
Gambar 4 Variabel Penelitian . View in document p.49
Tabel 3. Kisi-Kisi Instrumen Penelitian
Tabel 3 Kisi Kisi Instrumen Penelitian . View in document p.53
Tabel 4. Lembar Observasi Penggunaan Media Timeline dalam Pembelajaran
Tabel 4 Lembar Observasi Penggunaan Media Timeline dalam Pembelajaran . View in document p.54
Tabel 5. Hasil Validasi Perangkat Pembelajaran
Tabel 5 Hasil Validasi Perangkat Pembelajaran . View in document p.56
Tabel 6. Kriteria Validasi Perangkat Pembelajaran
Tabel 6 Kriteria Validasi Perangkat Pembelajaran . View in document p.56
Tabel 7. Hasil Uji Validitas
Tabel 7 Hasil Uji Validitas . View in document p.58
Tabel 9. Hasil Uji Reliabilitas
Tabel 9 Hasil Uji Reliabilitas . View in document p.59
Tabel 11. Pretest Kelompok Eksperimen
Tabel 11 Pretest Kelompok Eksperimen . View in document p.67
Tabel 12. Posttest Kelompok Kontrol
Tabel 12 Posttest Kelompok Kontrol . View in document p.68
Tabel 14. Deskripsi Data Pretest Kemampuan Mengaplikasi
Tabel 14 Deskripsi Data Pretest Kemampuan Mengaplikasi . View in document p.69
tabel 15 berikut.
tabel 15 berikut. . View in document p.69
Tabel 17. Deskripsi Data Pretest Kemampuan Menganalisis
Tabel 17 Deskripsi Data Pretest Kemampuan Menganalisis. View in document p.70
Tabel 15. Deskripsi Data Pretest Kemampuan Menganalisis
Tabel 15 Deskripsi Data Pretest Kemampuan Menganalisis. View in document p.70
Tabel 16. Deskripsi Data Pretest Kemampuan Mengaplikasi
Tabel 16 Deskripsi Data Pretest Kemampuan Mengaplikasi . View in document p.70
Tabel 18. Deskripsi Data Posttest Kemampuan Mengaplikasi
Tabel 18 Deskripsi Data Posttest Kemampuan Mengaplikasi . View in document p.71
tabel 21 berikut.
tabel 21 berikut. . View in document p.72
Tabel 22. Hasil Uji Normalitas Kemampuan Mengaplikasi
Tabel 22 Hasil Uji Normalitas Kemampuan Mengaplikasi . View in document p.74
Tabel 23. Hasil Uji Normalitas Kemampuan Menganalisis
Tabel 23 Hasil Uji Normalitas Kemampuan Menganalisis . View in document p.74
Tabel 24. Hasil Uji Homogenitas Pretest Kemampuan Mengaplikasi
Tabel 24 Hasil Uji Homogenitas Pretest Kemampuan Mengaplikasi . View in document p.77
Tabel 25. Hasil Uji Homogenitas Pretest Kemampuan Menganalisis
Tabel 25 Hasil Uji Homogenitas Pretest Kemampuan Menganalisis . View in document p.78
Tabel 27, menunjukkan bahwa rerata skor posttest kemampuan
Tabel 27 menunjukkan bahwa rerata skor posttest kemampuan . View in document p.82
Tabel 28. Kenaikan Skor Pretest ke Posttest Kemampuan Menganalisis
Tabel 28 Kenaikan Skor Pretest ke Posttest Kemampuan Menganalisis . View in document p.83
Tabel 29. Perbedaan Skor Posttest Kemampuan Menganalisis
Tabel 29 Perbedaan Skor Posttest Kemampuan Menganalisis . View in document p.85

Referensi

Memperbarui...

Download now (183 pages)