ASKESE DALAM WEJANGAN PENDIRI ST MAGDALENA DARI CANOSSA BAGI PARA SUSTER KONGREGASI FDCC SKRIPSI

Gratis

0
0
168
9 months ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ASKESE DALAM WEJANGAN PENDIRI ST MAGDALENA DARI CANOSSA BAGI PARA SUSTER KONGREGASI FDCC SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik OLEH : FRANSISKA YOSEFINA NUFA NIM: 091124034 PROGRAM STUDI ILMU PENDIDIKAN KEKHUSUSAN PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014

(2) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ii

(3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI iii

(4) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PERSEMBAHAN Dengan rasa syukur yang tiada terkira, skripsi ini kupersembahkan kepada Para Suster Kongregasi Putri-Putri cinta kasih Canossian Provinci Devine Mercy Indonesia. Bagi keluargaku, bagi Para Suster dan adik-adik postulan dalam Komunitas Yogyakarta yang telah mendukung dan memberi semangat melalui doa, perhatian dan cinta mereka yang tulus. iv

(5) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI MOTTO “Those Who Hope More Will Obtain More” (Siapa yang Paling Berani Berharap Dialah Yang Akan Paling Banyak Menerima) (St. Magdalena dari Canossa) “Sebab kepada-Mu Ya Tuhan, aku berharap Engkaulah yang akan menjawab,Ya Tuhan Allahku” ( Mzm. 38 : 16 ) “Dan ketahuilah Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman” ( Mat. 28 : 20 ) v

(6) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PERNYATAAN KEASLIAN KARYA Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah. Yogyakarta, 7 Juli 2014 Penulis, Fransiska Yosefina Nufa vi

(7) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS Yang bertanda tangan di bawah ini, mahasiswa Universitas Sanata Dharma: Nama : Fransiska Yosefina Nufa NIM : 091124034 Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah yang berjudul ASKESE DALAM WEJANGAN PENDIRI ST MAGDALENA DARI CANOSSA BAGI PARA SUSTER KONGREGASI FDCC. Beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolahnya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin maupun memberikan royalti kepada saya, selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis. Demikian penyataan ini penulis buat dengan sebenarnya. Dibuat di Yogyakarta, 7 Juli 2014 Yang menyatakan, Fransiska Yosefina Nufa vii

(8) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ABSTRAK Skripsi ini berjudul ASKESE DALAM WEJANGAN PENDIRI ST MAGDALENA DARI CANOSSA BAGI PARA SUSTER KONGREGASI FDCC”. Judul Skripsi ini dipilih berdasarkan Fakta akan pentingnya Askese bagi para suster FdCC sebagai warisan dari ibu pendiri St.Magdalena Dari Canossa sebagaimana tersirat dalam wejangannya. Para suster FdCC telah menghidupi askese itu sendiri baik secara pribadi,bersama dalam komunitas maupun dalam karya kerasulan dengan meneladani sang teladan utama yakni Kristus Tersalib dan dengan meneladani semangat askese yang dijalankan oleh pendiri St Magdalena dari Canossa. Namun kenyataannya askese yang dijalankan oleh para suster FdCC zaman sekarang pelan-pelan mulai memudar. Ini disebabkan karena para suster FdCC kurang menyadari akan pentingnya nilai dari sebuah askese. Askese yang dilakukan hanya semata agar dilihat dan dipuji oleh pimpinan atau pun anggota komunitas lainnya. Askese jika disadari dengan sungguh-sungguh akan membantu para suster FdCC untuk mengendalikan kecenderungan duniawi yang menjadi unsur kodrat manusia serta dapat membantu meluruskan semua keinginan para suster FdCC yang tidak teratur dengan ikut ambil bagian menyatukan pengorbanan yang dijalankan dengan pengorbanan Kristus yang Tersalib. Tidak dapat dipungkiri bahwa perkembangan zaman yang ditandai dengan kemajuan teknologi membuat praktek askese menjadi tidak mudah untuk dilaksanakan mengingat berbagai tawaran menarik yang menuntut banyak anggota FdCC untuk berani memilih. Oleh karena itu berbagai cara dan usaha di lakukan agar askese tetap menjadi keutamaan tetap relevan sebagai warisan ibu pendiri. Salah satunya melalui usaha mempertahankan dengan tetap mempraktekannya secara terus menerus secara pribadi baik dalam komunitas maupun dalam karya kerasulan yang ditopang dengan doa,amal ,pengorbanan dan matiraga. Usaha ini pada intinya merupakan proses perkembangan dan pertumbuhan bagi para suster Fdcc didalam mempertahankan keutamaan askese sebagai warisan ibu pendiri sebagaiaman tesirat dalam wejangannya. Untuk membantu para suster FdCC mempertahankan keutamaan askese sebagai warisan pendiri penulis mengusulkan program pembinaaan melalui katekese model SCP ( Share Christian Praxis) model ini merupakan salah satu model katekese yang cocok sebab di dalamnya para suster FdCC dapat saling berbagi pengalaman bersama, berefleksi, berdialog, saling menden garkan serta memperdalam sumber-sumber hidup rohani. Dengan kata lain melalui metode ini setiap anggota FdCC terbantu untuk semakin bertumbuh dan berkembang sebagai manusia yang utuh di dalam panggilan serta perutusannya. viii

(9) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ABSTRACT The topic of this thesis is “ascetic in the spirit of St Magdalen for FDCC sister. The writer chose this topic based on reality that it is very important for the FDDC sister to live out ascetic life as the tradition from St Magda, founder of FDCC. The sister has been live out ascetic life both as personal and community in their ministry. They took the spirit of Jesus Christ who was crucified and follow the ascetic spirit of St Magdalen. But, in fact nowadays the ascetic spirit for the sister is going down. It is because of the sister do not aware so much about the importance of ascetic life in their journey as sister and do not live it out in their daily life. They just practice or do it as the formality and just to follow the rule. If the sister really aware about the meaning of ascetic life, it may help them to control the personal desire as human being. It may help them to have self-discipline and participate or united their self-sacrifice with self-sacrifice of Jesus Christ on the cross. The development of technology in our world today challenges the sister to have strong motivation and commitment to live out the ascetic spirit. The changes of our world today influence the sister to see that ascetic life is no longer interested for them to choose. So that, the writer found that it is important to take some way to make the ascetic life become alive for the sister in our global world. It is the invitation to see and reflect on the spirit of our founder, how she lived out the ascetic life in her daily life as the sister. In spite of learning from the founder, as the member of FDCC, everybody should have the strong commitment to live it out both personal or in the community. They may do it by their ministry, prayer, fast and ascetic. The work of ascetic life is the process of development and growing toward the maturity in self-sacrifice for the FDCC sister to live out the virtue of ascetic as the heritage of the founder trough her “wejangan”. In order to help the sister in keeping the ascetic spirit of the founder, the writer give the solution to have the formation trough catechism (Share Christian Praxis). It is one of the catechism that good and suitable for the FDCC sister to share the reflection, dialog and listen to each other. They could read and deepen more their spiritual life. In other word to say that trough this method, every member of FDCC is helped to have the holistic development and growing as human being in responding toward the call as FDCC sister and in doing their ministry. ix

(10) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI KATA PENGANTAR Puji dan syukur kepada Allah Bapa yang Maha kuasa atas berkat dan Rahmat kasih-Nya yang besar yang senantiasa menyertai dan membimbing penulis sehingga dapat menyelesaikan penulisan skripsi yang berjudul ASKESE DALAM WEJANGAN PENDIRI ST MAGDALENA DARI CANOSSA BAGI PARA SUSTER KONGREGASI FDCC. Penulis berharap semoga skripsi ini memberikan sumbangan yang baik bagi para suster FdCC di dalam mempertahankan keutamaan askese sebagai keutamaan yang diwariskan oleh St. Magdalena dari Canossa sebagai ibu pendiri sebagaimana tertulis dalam wejangannya bagi hidup panggilan dan karya perutusan. Penulisan skripsi ini sangat dibantu dan didukung oleh banyak pihak baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu dari kedalaman hati yang tulus penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada: 1. Dr. J. Darminta,SJ selaku dosen pembimbing utama yang telah meluangkan waktu dalam membimbing penulis dan memberikan masukan serta kritikan sebagai motivasi bagi penulis dalam menuangkan gagasan-gagasan untuk penulisan skripsi ini dengan penuh kesabaran. 2. Dr.C.B.Putranta, SJ selaku dosen penguji ke II dan juga sebagai dosen pembimbing akademik yang telah memberikan perhatian dan mendukung penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. x

(11) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3. Bapak Y. H Bintang Nusantara, SFK, M. Hum Selaku dosen penguji III yang telahmendamping dan menyemangati penulis dalam menyelesaikan penulisan skripsi ini. 4. Segenap Staf Dosen dan karyawan Prodi IPPAK yang telah mendidik, membimbing dan membekali penulis dengan berbagai pengetahuan dan ketrampilan bagi penulis selama studi hingga selesainya skripsi ini. 5. Pimpinan Provincial berserta Dewan kongregasi suster FdCC, yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk studi di IPPAK-Universitas Sanata Dharma Yogyakarta serta atas dukungan melalui doa, dan cinta kasih yang tulus kepada penulis. 6. Pimpinan komunitas beserta dewan lokal, teman-teman suster dan adik-adik postulan komunitas Yogyakarta yang telah mendukung penulis dengan doa, cinta dan perhatian sehingga penulisan skripsi ini dapat berjalan dengan lancar. 7. Teman-teman Mahasiswa khususnya angkatan 2009 yang turut berperan dalam memberi perhatian dan semangat, sehingga penulisan skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik. 8. Segenap anggota keluargaku mama, saudara-saudariku serta para kerabat keluarga lainnya yang senantiasa mendukung dan memotivasi penulis dalam menjalani panggilan hidup sebagai suster Canossian dan dalam melaksanakan perutusan studi xi

(12) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI dengan cinta dan perhatian sehingga penulisan skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik. 9. Kedua sahabat baikku Frater Ferdinandus Supandri, Sx dan Frater Gordianus Afri, Sx yang telah memotivasi dan membantuku sehingga penulisan skripsi ini dapat terselesaikan . 10. Saudaraku para Frater Kongregasi SS.cc yang dengan ketulusan hati telah membantuku sehingga penulisan skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik. 11. Semua pihak lainnya yang tidak dapat disebutkan namanya satu persatu, yang selama ini telah memberikan dukungan, sehingga penulisan skripsi ini dapat berjalan dengan lancar. Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan. Hal ini dikarenakan berbagai keterbatasan. Oleh karena itu dengan penuh kerendahan hati penulis mengharapkan kritik, saran serta masukkan yang membangun dari semua pihak demi perbaikkan lebih lanjut. Akhir kata penulis berharap semoga skripsi ini dapat membantu dan sekaligus memberikan manfaat bagi semua pihak khususnya bagi para suster FdCC. Yogyakarta, 7 juli 2014 Penulis, Fransiska Yosefina Nufa xii

(13) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ................................................................................................i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ......................................................ii HALAMAN PENGESAHAN ...................................................................................iii HALAMAN PERSEMBAHAN ................................................................................iv MOTTO ....................................................................................................................v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ..................................................................vi PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ...................................................vii ABSTRAK .................................................................................................................viii ABSTRACT .................................................................................................................ix KATA PENGANTAR ...............................................................................................x DAFTAR ISI ............................................................................................................. xiii DAFTAR SINGKATAN ........................................................................................ xviii BAB I. PENDAHULUAN .........................................................................................1 A. LATAR BELAKANG .....................................................................................1 B. RUMUSAN MASALAH .................................................................................11 C. TUJUAN PENULISAN ...................................................................................11 D. MANFAAT PENULISAN ..............................................................................12 E. METODE PENULISAN ..................................................................................12 F. SISTEMATIKA PENULISAN ........................................................................12 BAB II. ASKESE DALAM TRADISI KRISTIANI ................................................15 A. Pengertian Askese secara umum ...................................................................18 1. Askese sebagai latihan .............................................................................18 2. Mortification/matiraga ............................................................................23 3. Menuju kehidup Mistik ..............................................................................26 xiii

(14) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4. Mengenakan keutamaan dan Mengalahkan cacat cela .............................30 B. Askese Sebagai Jalan ...................................................................................33 1. Kemuridan ..................................................................................................33 a. Pengertian kemuridtan secara umum ..................................................33 b Syarat-Syarat kemuridtan ........................................................................34 1 Menyangkal diri ..............................................................................35 2 Memikul salib .................................................................................36 3 Mengikuti aku .................................................................................38 2. Misteri Salib ..............................................................................................39 3. Kekudusan ...............................................................................................41 a. Pilihan Doa ..........................................................................................41 b. Pilihan Nilai ...........................................................................................42 c. Pelepasan dari Kelekatan tak teratur ....................................................43 C. Askese menurut wejangan pendiri St. Magdalena dari Canossa ......................45 1. Sejarah singkat St. Magdalena Dari Canossa ..........................................45 2. Askese menurut St. Magdalena dari Canossa ...........................................48 a.Untuk menyenangkan hati Tuhan dalam dua aspek ....................................49 1. Aspek Eksternal ...............................................................................49 2. Aspek Internal ...................................................................................50 b. Pengorbanan .......................................................................................51 c. Salib ...................................................................................................53 3. Usaha dalam mempraktekan Askese bagi para suster FdCC ...................54 a. Doa ......................................................................................................55 b. Amal ....................................................................................................58 c. Matiraga ..............................................................................................59 BAB III. Visi Askese Masa Sekarang ...................................................................61 A. Askese dalam Vita consecrata .......................................................................61 B. Askese dalam Konstitusi FdCC .....................................................................67 xiv

(15) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 1. Keheningan .............................................................................................70 2. Pertobatan .................................................................................................72 3. Relevansi keutamaan askese menurut ibu pendiri StMagdalena untuk zaman sekarang bagi para suster FdCC .......................................75 a. Kaul ketaatan ..........................................................................................76 b. Kaul kemiskinan ....................................................................................76 c. Kaul kemurnian ......................................................................................77 C. Askese dalam abad 21 ......................................................................................78 D. Askese jalan hidup Mistik dan Profetik ..........................................................82 1. Hidup Profetik .............................................................................................82 2. Hidup Mistik sesuai dengan keinginan St. Magdalena .............................85 BAB IV. Katekese sebagai Salah Satu Upaya Membantu Mempertahankan Keutamaan Askese .................................................................................89 A. Gambaran Umum Katekese .............................................................................89 1. Arti Katekese ..........................................................................................90 2. Tujuan katekese .........................................................................................93 3. Tugas katekese ............................................................................................95 B. Peranan Katekese dalam upaya mempertahankan keutamaan Askese ..............96 1 Membantu menghayati keutamaan Askese sebagai warisan dari ibu pendiri ..............................................................................................96 2 Menyadarkan kembali akan pentingnya mempertahankan Keutamaan Askese dalam panggilan hidup sebagai religius Canossian….97 3. Membantu untuk berani mengungkapkan pengalaman mempertahankan keutamaan askese dalam kehidupan kongkret sehari-hari .......................... 98 4 Memperbaharui hidup didalam pertobatan yang terus-menerus kepada Allah................................................................................................ 98 C. Beberapa kemungkinan pelaksanaan katekese dalam mempertahankan Keutamaan Askese .......................................................................................... 99 a. Pembinaan terus menerus ......................................................................... 99 b. Rekoleksi dan Retret ................................................................................. 100 xv

(16) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI D. SCP (SHARED CHRISTIAN PRAXIS ) Model Katekese yang sesuai untuk membantu mempertahankan Keutamaan Askese ............................ 101 1. Pengertian Shared Christian Praxis (SCP) dan Kekhasan SCP ................. 101 a. Pengertian SCP .................................................................................. 101 1. Shared .............................................................................................. 102 2. Christian ......................................................................................... 103 3. Praxis ............................................................................................ 104 b. Kekhasan SCP ................................................................................... 105 2. Langkah-Langkah Shared Christian Praxis (SCP) ................................ 106 a. Langkah I: Pengungkapan Pengalaman Hidup Faktual (Mengungkapkan Pengalaman Hidup Peserta) .................................. 106 b. Langkah II: Refleksi Kritis Atas Sharing Pengalaman Hidup Peserta (Mendalami Pengalaman Hidup Peserta) .......................................... 107 c. Langkah III: Mengusahakan Supaya Tradisi dan Visi Kristiani Terjangkau (Menggali Pengalaman Iman Kristiani) .......................... 107 d. Langkah IV: Interpretasi/Tafsir Dialektis Antara Tradisi dan Visi ...... 108 e. Langkah V: Keterlibatan Baru Demi Makin Terwujudnya Kerajaan ... 109 E. Usulan Program Katekese Untuk Membantu Mempertahankan .. Keutamaan Askese ...................................................................................... 110 1. Pengertian Program .................................................................................. 110 2. Tujuan program ....................................................................................... 111 3. Latar belakang penyusunan Program ....................................................... 111 4. Usulan Tema dan Tujuan ....................................................................... 113 5. Penjabaran Program ................................................................................. 114 F. Contoh Persiapan Katekese Model SCP ................................................... 122 BAB V PENUTUP ......................................................................................... 137 A. Kesimpulan ......................................................................................... 137 B. Saran ............ ......................................................................................... 140 1. Bagi Kongregasi FdCC ...................................................................... 140 xvi

(17) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2. Bagi para suster FdCC ..................................................................... 141 DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 142 DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 : Lagu “ Ambilah Ya Tuhan ...................................................... 145 Lampiran 2 : Lembaran cerita “pengorbanan diri sejati ” ................................ 146 Lampiran 3 : Lagu “ Persembahan Hidup” xvii .................................................... 149

(18) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR SINGKATAN A. KITAB SUCI Seluruh Singkatan Kitab Suci dalam skripsi ini, mengikuti Kitab Suci Perjanjian Baru lembaga Alkitab Indonesia. Jakarta : 2006. B. DOKUMEN RESMI GEREJA BSDK : Bertolak Segar dalam Kristus. Instruksi kongregasi untuk tarekat hidup Bakti dan serikat hidup Apostolik, Roma, tanggal 19 Mei 2002, pada perayaan Pentakosta. Disetujui oleh Paus Yohanes Paulus II tanggal 16 Mei 2002. CT : Catechesi Tradendae. ( Penyelenggaraan Katekese). Anjuran apostolik Paus Yohanes Paulus II kepada Para Uskup, Klerus dan segenap umat beriman tentang Katekese masa kini, 16 oktober 1979. EN : Evangelii Nuntiandi (Mewartakan Injil). Himbauan Apostolik Bapa Suci Paulus VI tentang karya pewartaan dalam zaman modern , 8 Desember 1975. KGK : Katekismus Gereja Katolik. Teks acuan untuk katekese yang bersumber pada hidup iman, diserahkan oleh Paus Yohanes Paulus II kepada umat beriman dari seluruh penjuru dunia, 11 Oktober 1992. KHK : Kitab Hukum Kanonik ( Codec Iuris Canonici). Diundangkan oleh Paus Yohanes Paulus II pada tanggal 25 Januari 1983. PC : Perfectae caritatis. Dekrit tentang pembaharuan dan penyesuaian hidup Religius. Diresmikan oleh Paus Paulus VI pada tanggal 28 Oktober 1965. xviii

(19) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI VC : Vita consecrata. Seruan apostolik Paus Yohanes Paulus II tentang pembaharuan hidup religius, 25 Maret 1996. C. SINGKATAN LAIN Art : Artikel Bdk : Bandingkan Hal : Halaman FdCC : Figlia della Carita’Canossiana ( Putri-Putri Cinta Kasih Canossian) IPPAK : Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik Konst : Konstitusi PKKI : Pertemuan Kateketik antar Keuskupan se-Indonesia SCP : Shared Christian Praxis USD : Universitas Sanata Dharma UR : Unabrigde Rule ( The Rule of congregation of the daughter of charity) xix

(20) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Hidup religius merupakan suatu cara hidup yang dibaktikan kepada Allah. Allah memanggil manusia dan manusia menjawab. Jawaban yang diberikan oleh manusia terhadap tawaran Allah ini bermacam- macam. Salah satunya yakni dengan memasuki cara hidup bakti. Hidup yang dibaktikan ini merupakan suatu hidup yang berjuang untuk mengejar kesempurnaan dalam Tuhan ( KHK 573) . Dalam mengejar Kesempurnaan itu berbagai hal haruslah mendukung. Salah satunya adalah melalui jalan askese. Askese merupakan salah satu sarana yang penting untuk melatih seseorang dalam menghadapi berbagai tawaran serta godaan. Dalam dunia yang semakin berkembang ini, yang ditandai oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, askese sungguh merupakan sebuah nilai yang perlu diperjuangkan setiap religius dalam menjalankan hidup panggilan dan perutusan mereka ditengah dunia ini Paus Yohanes Paulus ke II menghimbau kepada para religius untuk tetap menggali praktek-praktek askese yang khas bagi tradisi Gereja dan bagi tarekat sendiri. Melalui himbauan ini para religius diingatkan kembali akan semangat dan tujuan hidup bakti itu sendiri. Karena itu dalam Vita Consecrata menguraikan bahwa “askese sungguh perlu sekali, bila para anggota hidup bakti ingin tetap setia terhadap panggilan mereka sendiri dan mengikuti Yesus pada jalan salib” ( art. 38). Menanggapi hal diatas maka adalah menjadi tantangan tersendiri bagi para religius untuk dapat mempertahankan nilai askese

(21) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2 tersebut melalui anjuran dari pendiri masing- masing mengingat bahwa para religius sekarang ini hidup dalam dunia modern yang makin hari ikut serta mempengaruhi perkembangan hidup serta membuat mereka mudah jatuh dalam berbagai hal entah itu materi, kemakmuran, kenyamanan dan kesenangan duniawi. Sebagai orang - orang yang terpanggil untuk membaktikan hidup demi kemuliaan Allah. Askese menjadi salah satu sarana yang dapat membantu para religius untuk mencapai kesempurnaan hidup. Lebih dari itu askese merupakan sarana bagi setiap pribadi untuk dapat mencapai kekudusan hidup. Para suster FdCC merupakan salah satu kongregasi religius yang mendapat karunia yang khas untuk turut menghidupkan dan mempertahankan keutamaan askese. Melihat perkembangan zaman sekarang yang semakin maju maka para pimpinan kongregasi FdCC berusaha dengan mencari berbagai cara agar praktek askese tetap dipertahankan sebagai sebuah nilai yang relevan bagi para suster kongregasi FdCC dalam menjalani panggilan hidup mereka,secara khusus dalam menghadapi tawaran dunia yang semakin hari semakin menantang sesuai dengan wejangan ibu pendiri St. Magdalena dari Canossa. Sejak awal pendiri Kongregasi para suster FdCC sangat menekankan askese dan menghimbau kepada para anggotanya untuk dapat mempraktekkan askese dalam kehidupan harian sebagai orang-orang yang membaktikan diri bagi kemuliaan Allah dan kebaikan sesama. Askese menjadi bagian penting juga bagi seorang suster FdCC yang telah merangkul institut mengingat bahwa tujuan utama institut suster- suster FdCC adalah meneladan sang teladan utama yakni Tuhan Yesus yang Tersalib. Oleh karena itu

(22) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3 para suster FdCC ikut ambil bagian dalam menghidupkan askese dengan menyesuaikan diri mereka dengan sang teladan utama yakni Yesus yang Tersalib, yang melakukan segala pengorbanan-Nya tanpa memperhatikan diri sendiri. Dalam hal ini terjemahan The Rules Of Congregation FdCC (1981 : 260 ) mengatakan : “Sungguh tidak tepat apabila melihat seorang suster FdCC yang suka mencari kesenangan, disamping kepala Yesus yang bermahkota duri. Dengan semangat askese yang telah dihidupi oleh ibu pendiri St.Magdalena dari Canossa ini maka para suster FdCC diajak untuk mempertahankan keutamaan askese ini dengan mempraktekkan keutamaan askese ini setiap hari dengan kesungguhan hati serta dengan niat yang tulus dengan tidak selalu mencari keenakkan dan kenyamanan baik dalam hidup berkomunitas maupun dalam hidup karya. Praktek askese ini begitu penting sebagai bentuk mengendalikan kecenderungan duniawi yang menjadi unsur kodrat manusia. Mengingat bahwa para suster FdCC hidup dan berkarya saat ini dalam dunia yang berkembang yang mana menuntut setiap suster FdCC untuk dapat berani mengorbankan dan mematikan keinginan-keinginan mereka yang tidak teratur, seperti cinta diri, kekayaan, kenyamanan dan kehendak mereka sehingga hanya memikirkan kemuliaan Tuhan saja. Dalam hal ini wejangan ibu Pendiri St Magdalena dari Canossa (2001: 29) mengatakan : “Perlu diterapkan suatu pelepasan total untuk dapat mempergunakan seluruh waktu, perhatian dan pikiran bagi kemuliaan Allah”. Di dalam hidup sehari-hari, Para suster FdCC di minta mempersembahkan diri secara total dan berani untuk mengorbankan segala waktu, perhatian dan pikiran mereka

(23) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4 hanya untuk kemuliaan Allah saja, dengan membiarkan diri mereka dibentuk oleh Allah yang berkehendak untuk menjadi satu-satunya kekuatan mereka. Semua ini dapat dijalankan melalui praktek askese. Praktek askese ini sangat penting karena semata-mata untuk menyenangkan hati Tuhan dan bukan untuk dipuji atau dilihat orang bahwa sebagai orang yang membaktikan hidup hanya untuk Tuhan para suster FdCC sungguh - sungguh kudus, tetapi untuk mencapai jalan pengudusan yakni dapat dicapai melalui askese. Dalam hal ini wejangan ibu Pendiri St. Magdalena dari Canossa (2001: 9 alinea: 3 ) mengatakan : “Jalan pengudusan diri dibangun melalui pengorbananpengorbanan kecil hari demi hari yang disediakan oleh Tuhan setiap saat”. Oleh karena itu para suster FdCC bertanggung jawab untuk senantiasa mengusahakan kekudusan pribadi mereka melalui setiap peristiwa hidup sehari-hari. Adalah tidak mudah bagi para suster FdCC untuk melaksanakan keutamaan askese dalam hidup sehari-hari baik secara pribadi, bersama dalam komunitas serta dalam hidup karya kerasulan. Dalam melaksanakan keutamaan askese ini para suster FdCC kurang melaksanakannya dengan kesunguhan hati. Keutamaan askese yang dilakukan oleh para suster FdCC karena tuntutan dan keterpaksaan atau pun hanya ingin dilihat dan dinilai baik oleh pimpinan atau sesama suster FdCC dalam komunitas atau pun orang lain yang dijumpai dalam karya kerasulan. Karena itu yang terjadi bahwa dapat dijumpai seorang suster FdCC mudah untuk mengeluh, tidak mau untuk berkorban, serta mudah untuk menggerutu terhadap segala bentuk askese. Akibatnya praktek askese yang dilaksanakan oleh para suster FdCC, kurang dijiwai oleh kesadaran akan tujuan askese yang

(24) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 5 sesungguhnya yang mengarah kepada Allah. Praktek askese jika disadari dengan sungguh-sungguh akan dapat membantu para suster FdCC untuk mampu menghadapi godaan-godaan yang menggiurkan dalam panggilan hidup mereka sebagai seorang Canossian yang baik. Dalam hal ini wejangan ibu Pendiri St Magdalena dari Canossa (2001: 29 alinea: 5 ) mengatakan : “Lebih nyaman hidup lepas dari segalanya dan hidup dengan Dio Solo”. Melalui anjuran dari ibu pendiri ini, para suster FdCC diminta untuk melakukan praktek askese dengan baik yakni hendaknya para suster FdCC tidak mengeluh mengenai kesempatan penderitaan meskipun kecil yang mereka temukan dalam rumah maupun karya kerasulan melainkan mempersembahkan segala yang mereka alami hanya untuk Tuhan saja.Tuhalah kekutan yang senantiasa membantu dan menuntun mereka. Praktek askese jika diabaikan dapat menghambat kekudusan hidup. Disatu pihak praktek askese dapat berhasil namun kurang menampakkan nilai-nilai dan buah-buah rohani yang sesuai dengan wejangan dari pendiri yang perlu dihayati, dihidupi dan dipertahankan. Keutamaan askese yang dijalankan oleh para suster FdCC perlulah dilandasi oleh sikap kesadaran dan kebebasan dalam diri dan bukan karena sebuah keterpaksaan untuk dilihat oleh orang lain. Dengan demikian askese yang dilakukan oleh para suster FdCC tidak membawa mereka pada ketergantungan akan hal-hal duniawi yang dapat mengaburkan nilai-nilai rohani yang terkandung dalam wejangan pendiri. Hal-hal duniawi yang dapat mengaburkan nilai-nilai rohani yang terkadung dalam wejangan pendiri yakni : kesombongan, kemarahan, menolak penderitaan serta menolak untuk

(25) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 6 berperang melawan hawa nafsu. Dalam wejangan ibu pendiri St Magdalena dari Canossa (2001:30,alinea:2) mengatakan : “Mari kita berusaha untuk lahir kembali secara rohani dengan melepaskan segala hawa nafsu dan kelemahan-kelemahan sambil berusaha untuk meraih kesempurnaan sejati”. Magdalena sebagai ibu pendiri para suster FdCC meminta kepada para pengikutnya agar berani lahir kembali secara rohani dengan menanggalkan segala kelemahankelemahan untuk dipuji dihormati serta keinginan untuk memiliki harta duniawi yang dapat mengaburkan tujuan hidup yang mereka kejar yakni kesempurnaan sejati bersama Kristus. Kesempurnaan dalam Kristus dibangun melalui kepercayaan dan keterbukaan hati untuk selalu mengandalkan Allah dalam seluruh kehidupan, sebab sangat membahagiakan memiliki hanya Allah sebagai satu-satunya tumpuan dan pengiburan (wejangan St. Magdalena dari Canossa., 2001:13, alinea:2) Inilah yang merupakan suatu hal yang memprihatinkan yang dirasakan oleh tarekat, mengingat bahwa para suster FdCC hidup dalam dunia modern yang penuh dengan tantangan. Berbagai tantangan hidup yang dihadapi setiap hari menantang mereka untuk dapat berani dan terus mempertahankan keutamaan askese sebagai sebuah sarana yang dapat membantu mereka mengejar kesempurnaan dan kekudusan hidup dengan senantiasa mengendalikan diri terhadap tawaran-tawaran duniawi yang sifatnya hanya sementara. Setiap saat para suster FdCC dihadapkan pada tawaran itu. Dalam terjemahan The Rules of Congregation FdCC (1981: 2) mengatakan bahwa: “Para suster pelu menyadari bahwa tujuan penyangkalan diri adalah membawa segala

(26) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 7 bentuk hawa nafsu pada salib”. Ini merupakan sebuah ajakan yang membantu para suster FdCC untuk senantiasa dapat menjalankan askese dengan baik didalam mengejar kekudusan dan kesempurnaan hidup bersama Kristus sebagai model dan teladan utama dalam hidup. Kristus tersalib merupakan sumber kedamaian kekal, sebab dalam diri Kristus tersalib tercermin segala keutamaan Kristus Tersalib adalah pusat identitas dan sumber spiritualitas para suster FdCC. Dialah yang merupakan teladan yang harus direnungkan terus menerus oleh para suster FdCC guna membentuk hidup mereka sendiri menurut teladan Kristus yang Tersalib yang menanggalkan segala-galanya kecuali cinta kasih-Nya. Di atas salib Kristus juga mewahyukan wajah Bapa dan takaran cinta tanpa ukuran. Seperti Kristus tersalib para suster FdCC dipanggil untuk ikut serta dalam penderitaan Kristus dengan berusaha menanggalkan segala keinginan akan barang-barang material dan kebutuhan-kebutuhan yang tidak teratur yang mana dapat merintangi para suster FdCC untuk mengikuti Kristus. Para suster FdCC diharapkan juga agar mampu mengosongkan diri mereka dan bergantung hanya kepada Allah saja sebab hanya Dia sajalah yang dapat membantu mereka didalam mengejar kemuliaan Allah. Didalam mengejar kemuliaan Allah para suster FdCC diminta untuk senantiasa memiliki sikap hati yang bebas terhadap mereka semua yang dilayani dengan tidak mencari kenikmatan-kenikmatan tertentu. Dalam wejangannya St Magdalena dari Canossa ( 2001: 26) mengatakan ”Kita terpanggil bukan untuk mencari kenikmatan tetapi untuk mencari kemuliaan Allah dan keselamatan jiwa-jiwa”. Inilah kekuatan yang

(27) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 8 menopang Magdalena ibu pendiri untuk dapat membantu para pengikutnya mencari kemuliaan Allah diatas segalanya melalui pengorbanan-pengorbanan kecil setiap hari sehingga dengan demikian mereka dapat juga membantu orang lain untuk mencegah mereka dari dosa. Selain itu para suster FdCC diharapkan dapat meneladani keutamaankeutaman selain askese seperti yang telah diwariskan oleh ibu pendiri dengan tetap belajar dari teladan utama Yesus Kristus Tersalib yang menanggalkan segala-galanya kecuali cinta-Nya. Cinta tanpa syarat yang mempersembahkan diri-Nya untuk tebusan bagi umat manusia. Dalam hal ini Konstitusi Kongregasi suster FdCC mengatakan: “INSPICE ET FAC SECUNDUM EXEMPLAR” yang artinya pandanglah dan turutilah teladan-Nya adalah norma hidup yang tak bisa diubah lagi dalam pelaksanaan cinta kasih. Memperhatikan cinta kasih yang terpancar dari kristus tersalib, kita belajar mengasihi dengan cara Tuhan Yesus mengasihi yaitu : dalam kerendahan hati dan ketidakterikatan radikal. Kita berusaha bersatu dengan Dia dan membiarkan setiap kegiatan kita dijiwai oleh Roh-Nya, Roh cinta kasih, kelemahlembutan dan kerendahan hati”. ( Kons.1928: 8) INSPICE ET FAC SECUNDUM EXEMPLAR mengajak para suster FdCC untuk selalu mengarahkan hidup kepada cinta Kristus Tersalib dan belajar untuk mempersembahkan diri seutuh-Nya kepada Kristus dengan senantiasa melepaskan diri dari bentuk-bentuk ketergantungan dimana lebih mementingkan materi, kemakmuran, kenyamanan, dan kesenangan duniawi melalui praktek askese setiap hari. Dalam melakukan askese para suster FdCC haruslah dijiwai oleh semangat dan tujuan yang benar dari askese itu sendiri yaitu membawa segala bentuk hawa nafsu manusia kepada salib, supaya mengarahkan tubuh kita untuk meluruskan semua keinginan yang tidak teratur

(28) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 9 dengan ikut ambil bagian menyatukan pengorbanan yang di jalankan dengan pengorbanan Kristus yang tersalib. DalamWejangan St. Magdalena (2001; 30, alinea 4) dikatakan: Semangat pengorbanan dan salib merupakan semangat pengikut Kristus. Sebagai murid Kristus para suster FdCC diminta untuk senantiasa mengikuti teladan ibu pendiri didalam melaksanakan keutamaan askese, yakni dengan rela untuk berkorban sambil mengarahkan pandangan kepada salib yang memberi kekuatan. Di salib Yesus mengosongkan diri-Nya untuk menjadi sama dengan manusia (Flp 2:7) yang tak terikat dengan segala kelemahan dan kerapuhan-Nya. Dalam kelemahan dan kerapuhan-Nya Ia masuk dalam sejarah umat manusia. Ia secara nyata menyertai manusia dalam kerapuhan manusia setiap harinya. Sebagai putra Allah, Ia pun belajar untuk tidak terikat terhadap apa pun yang dapat merintangi diri-Nya melaksanakan perutusan yang dipercayakan oleh Bapa-Nya. Sebagai putra Allah Ia pun belajar taat sampai mati bahkan sampai mati di kayu salib (Flp 2:8). Para suster FdCC juga diharapkan agar dalam menjalani askese hendaknya senantiasa dijiwai oleh kebajikan Kristus yang Tersalib yang merupakan ungkapan cintaNya yang besar kepada Bapa-Nya dan kepada manusia. Ungkapan cinta yang dilambangkan dengan Penyerahan diri-Nya melalui kematian dikayu salib mengajak Para suster FdCC untuk tidak takut terhadap apa pun, sebab Ia senantiasa menyertai mereka seperti sabdanya “Dan ketahuilah Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman” ( Mat 28 : 20 ). Dalam memandang Yesus Kristus yang Tersalib para suster FdCC tidak melihat penderitaan-Nya melainkan cinta-Nya yang paling besarkepada umat manusia

(29) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 10 sampai wafat disalib. Dalam Wejangan St.Magdalena dari Canossa (2001:16) dikatakan : “Disalib Yesus tanggalkan segala-galanya kecuali cinta-Nya”. Semangat serta teladan Kristus yang meninggalkan segala-galanya kecuali cinta-Nya ini, merupakan daya gerak yang membantu para suster FdCC untuk senantiasa mempraktekan keutamaan askese ini. Dengan belajar bercermin pada diri Kristus yang Tersalib para suster FdCC diharapkan untuk berani melepaskan diri mereka dari bentuk-bentuk kenyamanan yang tidak teratur yang dapat merugikan panggilan mereka sebagai wanita-wanita yang disucikan. Karena hanya dengan demikian para suster FdCC dapat memusatkan perhatian mereka kepada cinta akan Allah dan sesama, baik dalam hidup berkomunitas maupun dalam karya kerasulan yang dipercayakan kepada mereka. Dalam keseharian hidup inilah para suster FdCC dapat menjalankan praktek askese mereka secara sederhana yaitu melalui doa pengorbanan dan juga beramal dengan kesungguhan dan ketulusan hati yang bebas serta dengan sikap yang dijiwai oleh Roh Yesus. Dalam Wejangan St.Magdalena dariCanossa (2001:1) dikatakan:“Hendaknyakita jiwai setiap perbuatan dan karya dengan Roh Yesus sendiri yakni Roh yang sangat lembah lembut, sangat pemurah dan sangat sabar”. Praktek askese jika dijalankan dengan baik akan dapat membantu para suster FdCC untuk semakin serupa dengan Kristus Tersalib sehingga askese yang mereka praktekan dapat membawa dampak yang positif pada orang lain baik dalam komunitas maupun bagi mereka yang dijumpai dalam karya kerasulan yakni semangat untuk mencintai dan murah hati dalam pengorbanan. Para suster FdCC telah menghidupi semangat askese itu sendiri dengan meneladani sang teladan utama yakni Kristus Tersalib

(30) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 11 dan dengan meneladani semangat askese yang dijalankan oleh pendiri St Magdalena dari Canossa, namun bagaimana agar praktek askese ini dapat dipertahankan dan dihidupi dengan penuh kesadaran dan kebebasan hati sehingga askese itu tetap menjadi sebuah keutamaan yang memiliki nilai yang tinggi?. Dengan demikian dalam penulisan skripsi ini penulis mengambil judul “ASKESE DALAM WEJANGAN PENDIRI ST MAGDALENA DARI CANOSSA BAGI PARA SUSTER KONGREGASI FDCC”. B. RUMUSAN MASALAH Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan, maka dapat dirumuskan beberapa permasalahan antara lain: 1. Apa saja yang dikatakan tentang askese dalam tradisi Kristiani? 2. Apakah gambaran umum askese menurut wejangan pendiri St Magdalena dari Canossa? 3. Bagaimana kenyataan askese masa sekarang? C . TUJUAN PENULISAN 1. Menggali lebih mendalam askese menurut wejangan pendiri St Magdalena dari Canossa yang menjadi salah satu keutamaan bagi para suster FdCC 2. Menyadarkan para suster FdCC akan pentingnya praktek askese dalam kehidupan membiara khususnya sebagai seorang suster FdCC baik di dalam komunitas maupun dalam karya.

(31) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 12 3. Memberi sumbangan bagaimana agar para suster FdCC tetap setia dalam mempertahankan,menghidupi dan mempraktekan askese ini sebagai sebuah Keutamaan telah diwariskan oleh ibu pendiri St.Magdalena dari Canossa. D. MANFAAT PENULISAN Penulisan ini diharapkan dapat memberikan manfaat: 1. Bagi penulis untuk semakin memahami askese menurut wejangan pendiri St Magdalena dari Canossa. 2. Bagi para suster FdCC agar semakin sadar akan pentingnya praktek askese dalam kehidupan baik dalam komunitas maupun karya. 3. Memberi sumbangan bagi para pembaca untuk mengenal askese menurut wejangan St Magdalena dari Canossa pendiri kongregasi suster FdCC. E. METODE PENULISAN Dalam penulisan ini, penulis menggunakan metode deskritif analisis yang memanfaatkan studi pustaka. Studi pustaka penting, karena melalui metode ini, penulis berusaha menggambarkan secara factual keadaan praktek askese para suster dalam kongregasi FdCC melalui wejangan pendiri St Magdalena dari Canossa. F. SISTEMATIKA PENULISAN Judul skripsi ini adalah: ASKESE DALAM WEJANGAN PENDIRI ST. MAGDALENA DARI CANOSSA BAGI PARA SUSTER KONGREGASI FDCC.

(32) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 13 Penulisan skripsi ini akan diuraikan dalam lima bab. Gambarannya adalah sebagai berikut: Bab I Pendahuluan. Bab ini meliputi: Latar belakang penulisan, rumusan masalah, tujuan penulisan, manfaat penulisan, metode penulisan, sistematika penulisan. Bab II Kristiani Pada bab II ini penulis akan membahas tentang askese dalam tradisi yang meliputi: pengertian Askese secara umum yang meliputi: askese sebagai latihan, mortification/matiraga, menuju ke hidup Mistik, Mengena-kan keutamaan dan Mengalahkan cacat cela. Selanjutnya tentang askese sebagai jalan, yaitu: Jalan kemuridtan, misteri salib dan kekudusan. Selanjutnya mengenai Askese menurut akan wejangan pendiri St.Magdalena dari Canossa menguraikan tentang bagaimana askese menurut wejangan penulis pendiri St.Magdalena dari Canossa yang meliputi: Penyangkalan diri untuk menyenangkan hati Tuhan,Semangat Pengorbanan, Salib, serta Usaha dalam mempraktekkan askese. Bab III ini membahas mengenai : Visi Askese masa sekarang yang meliputi Askese dalam Vita Consecrata, askese dalam konstitusi FdCC, askese dalam abad 21 dan askese jalan hidup Mistik dan Profetik. Bab IV menguraikan tentang Katekese sebagai salah satu Upaya membantu mempertahankan praktek askese para suster FdCC dalam wejangan pendiri St Magdalena dari Canossa melalui katekekese dengan Model Shared Christian Praxis yang akan dibagi dalam tiga bagian yang meliputi : Gambaran umum Katekese,

(33) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Peranan 14 Katekese dalam upaya mempertahankan keutamaan askese dan usulan program bagi usaha mempertahankan praktek askese para suster FdCC dalam wejangan pendiri St Magdalena dari Canossa Bab V Merupakan penutup meliputi kesimpulan dan saran yang dapat membantu para suster FdCC dalam mempertahankan keutamaan askese baik dalam hidup berkomunitas maupun dalam karya kerasulan.

(34) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Bab II ASKESE DALAM TRADISI KRISTIANI “Setiap orang yang mau mengikuti Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikuti Aku (Luk 9: 23)”. Inilah yang menjadi dasar Askese dalam tradisi Kristiani. Menyangkal diri, memikul salib dan mengikuti Yesus merupakan tiga sifat yang utama yang kiranya dimiliki oleh setiap pengikut Kristus. Yesus sendiri telah memberi contoh terlebih dahulu kepada kita ketika berkarya hingga akhir pengorbananNya di salib sebagai bukti kasih-Nya yang paling besar kepada umat manusia. Dokumen Konsili Vatikan II tentang pembaharuan dan penyesuaian hidup religius dalam Perfectae caritatis menguraikan: “Tujuan hidup religius pertama-tama yakni supaya para anggotanya mengikuti Kristus dan dipersatukan dengan Allah melalui ingkar diri dan memanggul salib” ( art. 2). Dengan pola hidup semacam ini kaum hidup bakti dipanggil untuk dapat meninggalkan banyak hal dan kemudian menyangkal diri dan memanggul salib. Kaum hidup bakti pun diminta untuk dapat menghidupi ketiga sifat utama ini. Hidup bakti adalah hidup yang dibaktikan, pada Allah semata. Allah dipandang sebagai pusat dari seluruh hidup. Dialah yang penting yang melebihi segala harta dan kenikmatan duniawi. Tujuan dari hidup bakti itu sendiri adalah mengejar kesempurnaan dengan mengikuti Kristus sebagai sang pemanggil. Dalam dokumen Gereja: Bertolak segar dalam Kristus art.13, dikatakan : Hidup bakti tidak mencari pujian dan penghargaan manusia, itu dibayar kembali oleh kegembiraan untuk berlanjut bekerja tanpa kenal lelah bagi kerajaan Allah,menjadi benih hidup yang

(35) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 16 tumbuh secara rahasia,tanpa mengharap ganjaran apa pun selain apa yang bakal diberikan Tuhan pada saat akhir (bdk Mat 6: 6). Setiap umat manusia dipanggil untuk berani mewartakan kasih Kristus yang besar ini melalui berbagai cara hidup yang diembannya. Tugas untuk mewartakan kasih Kristus ini merupakan tugas yang utama. Untuk sampai kepada pewartaan akan kasih Kristus ini sangat dibutuhkan juga semangat pengorbanan atau askese mengingat bahwa kita hidup dalam dunia moderen yang menawarkan berbagai jaminan hidup yang penuh arti yakni materi, pujian, kehormatan, kekuasaan dan penghargaan. Mengikuti Yesus dengan, menyangkal diri dan memanggul salib terangkum dalam komitmen untuk hidup murni, miskin dan taat. Melalui kaul kemurniaan kaum hidup bakti dipanggil untuk mempersembahkan diri secara utuh kepada Yesus dengan hati yang tak terbagi dan mempersembahkan segala sesuatu hanya kepada-Nya. Kemiskinan meminta dari kaum hidup bakti untuk mempersembahkan secara bebas apa yang menjadi kepunyaannya yang melekat pada dirinya. Kaum hidup bakti demi kaul kemiskinan melepaskan kepemilikan pribadi atas harta benda, menjadikannya milik bersama. dan kaul ketaatan menuntut adanya sikap kerendahan hati, dimana kaum hidup bakti tidak lagi dengan bebas melakukan apa yang menurutnya baik dan menyenangkan untuk dirinya sendiri tetapi melaksanakan apa yang dikehendaki oleh Allah dengan mencontoh ketaatan Kristus pada Bapa-Nya. Dalam dokumen Konsili Vatikan II tentang pembaharuan dan penyesuaian hidup religius dalam Perfectae caritatis diuraikan: “Para anggota tarekat mana pun juga

(36) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 17 hendaknya mengingat, bahwa mereka pertama-tama telah menanggapi panggilan Allah dengan mengikrarkan ketiga nasehat Injili, sehingga mereka tidak hanya mati bagi dosa, melainkan dengan mengingkari dunia hidup untuk mengabdi kepada-Nya” ( art.5). Panggilan kepada pembaktian hidup menuntut juga sebuah persembahan diri dan pengikaran diri terhadap hidup dunia dan menjadikan Allah sebagai pusat hidup dan siapa pun yang menerima anugrah ini diminta untuk menanggapi dengan sepenuh hati. Anugerah Allah menjadi benar-benar berarti dan menjadi persembahan diri yang sempurna kalau ditanggapi dan dilaksanakan secara baik dan benar. Oleh karena itu diperlukan sebuah pelepasan dari berbagai kelekatan terhadap apa saja yang dapat menghalangi dan merintangi pembaktian hidup kepada Allah. Dalam buku Mistik, devosi dan Hidup Rohani, Darminta ( 1995: 30) mengatakan: “Hidup yang dibaktikan kepada Allah itu tergantung dari rasa bakti yang dianugerahkan dan ditanamkan oleh Allah didalam hati manusia. Rasa bakti kepada Allah itu tumbuh, sejauh hati itu tetap terbuka terhadap sapaan dan sentuhan Allah.” Setiap pribadi yang telah dianugerahi panggilan khusus untuk menjadi imam, biarawan dan biarawati dipanggil untuk hidup menurut kehendak Tuhan dan menyerahkan hidup kepada-Nya dan dengan demikian disatukan dengan Tuhan sendiri. Allah memanggil setiap orang secara pribadi oleh karena itu panggilan merupakan juga tanggung jawab dari setiap pribadi. Mereka yang telah membaktikan hidup secara khusus ini dituntut untuk membangun kesatuan dengan Kristus. Kesatuan dengan misteri Kristus dapat ditempuh

(37) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 18 melalui devosi misalnya saja devosi kepada hati kudus Yesus, Bunda Maria atau kepada Santo dan Santa pelindung masing-masing. Melalui devosi diharapkan dapat membantu seorang religius untuk menghayati panggilan hidupnya dan membangun persatuan dengan mencintai orang lain dengan cinta yang murni. Cinta yang murni kepada sesama hendaknya dibuktikan dengan tindakan kongkret bukan dengan perkataan belaka. Tindakan kongkret yang dimaksud disini adalah dengan saling berbagi dalam suka, dan duka, saling tolong menolong serta siap sedia untuk berkorban bagi sesama tanpa memperhitungkan balasannya. “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawa-Nya bagi sahabat-sahabat-Nya” (Yoh 15:13). Yesus telah memberikan teladan kepada kita. Sebagai murid-Nya kita diminta untuk dapat memberikan diri, waktu, tenaga dan pikiran yang kita miliki kepada sesama yang membutuhkan dengan penuh cinta dan ketulusan hati tanpa memperhitungkan untung ruginya bagi diri sendiri. PENGERTIAN ASKESE SECARA UMUM 1. Askese sebagai latihan Kata „Askese’ sudah sejak awal dipakai terutama oleh para pertapa ditepi gurun pasir di wilayah Mesir. Para religius abad pertengahan pun menghargai praktek askese untuk menunjang karya apostolik. Kata askese dalam kamus Filsafat berasal dari bahasa Yunani “ Asketikos” dari kata kerja” askein” yang berarti seseorang yang menjalankan berolah tubuh, disiplin. Secara Etimologis istilah ini juga berarti usaha yang kuat untuk bermati raga dalam devosi ( Lorens Bagus,1996:89). Dalam kamus

(38) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 19 Teologi kata askese diartikan sebagai jalan dan cara yang ditempuh dan dipakai oleh orang Kristiani dibawah bimbingan Roh kudus untuk memurnikan diri dari dosa dan menghilangkan halangan dijalan mengikuti Kristus dengan bebas (O‟Collins dan Farrugia,1991:34). Askese yang baik dan benar akan melahirkan kedewasan rohani yang baik dan kematangan pribadi yang kokoh. Dicker dalam bukunya yang berjudul Bertobat dan Askesis (1972: 34) mengungkapkan Askese merupakan tindakan atau perbuatan matang dari orang dewasa yang karena alasan-alasan religius menyangkal dorongan-dorongan serta keinginan-keinginan pribadinya. Askese menjadi simbol dari manusia yang semakin mencari penyempurnaan rohaninya atau yang mencari dan mengejar keutamaan. Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa, pada zaman sekarang ini para religius pun yang memiliki keteraturan dalam hal hidup rohani dan hidup bersama selalu saja mengalami kekoson gan, kejenuhan dan kebosanan dalam hidup membiara. Bukan tidak mungkin hal ini terjadi. Salah satu yang menjadi penyebab terjadinya hal semacam ini adalah kurangnya praktek askese. Askese hanya dipandang sebagai sebuah kesempatan yang dilakukan pada masa prapaskah untuk dapat menghayati sengsara Tuhan Yesus Kritus dan tidak lagi dilihat sebagai sebuah latihan dalam membangun relasi yang intim dengan Allah, sekaligus sebagai sebuah latihan yang dapat membantu kemajuan dalam hidup rohani (Sardi, 03,2013:8). Relasi yang intim dengan Allah dapat dibangun melalui doa, meditasi dan kontemplasi serta melalui praktek askese yang ditemukan dalam kehidupan sehari-

(39) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 20 hari. Laku asketis memiliki pengaruh penting bagi kehidupan doa. Pengaruhnya tidak hanya bagi kemajuan dan perkembangan serta kelancaran dalam doa tetapi berdampak pada perubahan hidup dari kebiasaan berdoa (Sardi, 03,2013: 9). Doa menjadi ruang gerak tersendiri untuk dapat membangun sebuah persatuan batin yang kuat sekaligus menimbah kekuatan dari Allah untuk dapat melaksanakan praktek askese. Kesempatan untuk melakukan praktek askese dapat ditemukan tidak hanya dalam latihan rohani tetapi juga kesempatan untuk beraskese dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari melalui pengorbanan-pengorbanan kecil. Askese juga menyediakan ruang untuk dapat melatih tubuh dari segala bentuk keinginan yang tidak teratur. Zaman digital menyediakan segala sesuatu dengan serba instan. Ditengah situasi semacam ini pula keinginan untuk mengkonsumsi berbagai jenis makanan menjadi semakin tidak menentu. Sebut saja mengatur pola makan. Askese menyediakan ruang tersendiri untuk dapat mengatur keinginan tubuh khususnya dalam mengatur pola makan. Dalam buku pertobatan melalui padang gurun dan malam gelap, Darminta ( 2006 : 25 ) mengatakan: Bujukan selalu menawarkan hal-hal yang baik dan menyembunyikan hal-hal yang jelek. Nyatanya setan tidak mengatakan akibat dari makan buah larangan dan hanya menyampaikan keunggulannnya bahwa Adam dan Hawa akan serupa dengan Allah,tahu yang baik dan jahat.Tidakkah seperti itu pula bujukan yang disampaikan oleh supermi orang dibujuk dengan kata-kata yang memikat. Bujukan selalu menawarkan segala sesuatu yang instan dan membuat orang manja. Layaknya mie instan tinggal disedu dengan air panas dan siap untuk dinikmati tanpa dijelaskan akibat buruk dari mie instan tersebut. Seseorang melakukan praktek

(40) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 21 askese, dengan benar yakni kalau dia menyadari serta memiliki tujuan yang jelas yakni jika dia tahu kapan harus makan, dimana dia harus makan atau menyadari bahwa mana makanan yang baik yang dapat membantu dalam menunjang karyanya dan mana yang perlu dikurangi sebagai bentuk kepedulian terhadap yang lain. Seorang atlet melaksanakan askese dengan benar jika ia tahu pola makanan yang sehat dan bukan makan secara sembarangan yang mana dapat membantunya untuk dapat mencapai garis finish dengan baik dalam perlombaan olahraga. Dengan melakukan praktek askese semacam ini diharapkan dapat melatih kedewasaan diri dan juga sebagai salah satu bentuk latihan rohani untuk dapat membangun disposisi batin dengan Allah, sebab Perubahan datang dari Allah dan bukan dari manusia (Arnold, 2003: 1). Banyak kesempatan untuk melakukan askese,yang dibutuhkan hanyalah kemauan, kesadaran dan pengorbanan diri serta motivasi yang jelas dalam melakukan askese tersebut. Dalam melaksanakan askese tersebut setiap kita dituntut untuk melepaskan diri dari kehendak sendiri dan membiarkan diri dibimbing oleh Roh Allah karena kita adalah anak-anak-Nya. “Semua orang yang dipimpin Roh Allah adalah anak-anak Allah” (Rm 8 : 14) rasul Paulus melukiskan ini untuk mengajak kita agar senantiasa membiarkan diri dipimpin oleh Allah dengan berani menyerahkan diri dan keinginan secara bebas. Penyerahan diri dan keinginan ini tidak memusnahkan atau mengacaukan panggilan religius seseorang melainkan membuatnya menemukan kebenaran hidup ini” (Riyanto Agustinus, 2011: 31). Pemberian diri melalui askese

(41) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 22 yang dilakukan dengan melepaskan diri dari kehendak dan keinginan sendiri memberikan kekuatan dalam perjalanan panggilan hidup religius. Tantangan dalam hidup berkomunitas dimana terdapat perbedaan pendapat dan juga usia menjadi tempat tersendiri untuk melatih praktek askese. Ketika bel berbunyi di pagi hari seorang religius memilih untuk bangun dari pada tetap tidur. Seorang religius yang muda dalam usia melakukan askese jika ia berani meminta maaf terlebih dahulu kepada sesama temannya dalam komunitas ketika berbuat kesalahan. Seorang religius yang sedang studi melakukan askese dengan benar jika jam rekreasi berada bersama dengan teman-teman komunitas di ruang rekreasi dan bukan sebaliknya melakukan pekerjaan yang menyenangkan dirinya. Dengan melatih diri melalui askese dalam hal-hal sederhana ini mengajak seorang religius untuk terus-menerus meyakini jati diri dan kehidupan rohaninya dengan Tuhan. J.Nouwen dalam bukunya yang berjudul Memasuki ruang Batin (1998: 37) mengungkapkan “Hidup rohani mengajak kita untuk terus menerus meyakini jati diri kita”. Kita adalah anak-anak Allah yang dikasihi oleh Allah sendiri. Sebagai anak kita diajak untuk dapat membangun relasi kasih dengan-Nya dalam setiap dimensi kehidupan ini, dengan membiarkan diri dicintai oleh Allah dan mematikan segala bentuk keinginan yang tidak teratur agar persatuan kita dengan Allah menjadi semakin erat. Persatuan yang erat dengan Allah melahirkan perbuatan-perbuatan yang baik yang mengarah kepada kemuliaan Allah dari kepentingan dari setiap pribadi manusia yang utuh.

(42) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 23 2. Mortification/matiraga Lowery Daniel dalam bukunya yang berjudul Bertumbuh dalam keutamaan Kristiani ( 2003: 77) mengungkapkan mortification Dalam Bahasa Inggris berasal dari kata bahasa latin “mors”, yang berarti “mati”/ kematian. Dalam bahasa Inggris mortification kadang kala mengacu kepada suatu penghinaan atau keadaan yang memalukan. Dalam arti yang lebih mendalam mortification mengacu kepada keutamaan Kristen yaitu menyangkal diri dengan secara sadar menolak nafsu dan keinginan yang tidak teratur. Matiraga juga berarti mati terhadap dosa dan hidup untuk Allah. Hal ini paling jelas dikatakan dalam surat Paulus kepada jemaat di Rm 6:11 “Demikianlah hendaknya kamu memandangnya: bahwa kamu telah mati bagi dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus”. Setiap kita dipanggil sekaligus juga ditantang untuk berani mematikan keinginan-keinginan yang tidak teratur yang bertentangan dengan kehendak Allah sendiri seperti keinginan untuk mempertahankan sesuatu seperti cinta diri, harta benda dan kepemilikan berlebihan, keinginan untuk memiliki dan dimiliki oleh orang tertentu seta memiliki jabatan tertentu. Seseorang yang melakukan praktek matiraga dengan baik dalam kehidupan bersama dengan orang lain tidak akan membiarkan diri untuk ikut-ikutan dalam membicarakan kelemahan sesamanya, sebab dengan membicarakan kelemahan orang lain sama sekali tidak ada manfaat atupun maknanya. Jika kita boleh berbicara dan ada gunanya untuk berbicara, baiklah kita pergunakan pembicaraan itu untuk membangun

(43) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 24 (Thomas,1997:17). Dengan kata lain bahwa pembicaraan yang kita lakukan antara satu dengan yang lain senantiasa mengarah kepada hal-hal yang baik, saling membantu dan saling membangun serta memberi motivasi agar satu dengan yang lain dapat bertumbuh menjadi pribadi-pribadi yang matang dalam iman bukan sebaliknya untuk saling menjatuhkan satu dengan yang lainnya. Kesadaran semacam ini pada akhirnya akan membantu seseorang untuk mengadakan pembicaraan secara sehat yang mana membuat satu dengan yang lain saling mengenal dan kemudian pada akhirnya dapat saling menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing. Di sisi lain matiraga menuntut seseorang untuk melepaskan diri dari keinginan untuk memiliki banyak barang, melihat atau menonton film-film atau pun majalah yang tidak membantu, mengkonsumsi makanan secara berlebihan hanya untuk memuaskan rasa dan bukan mengkonsumsi makanan karena kebutuhan, hal ini dapat menyebabkan hati manusia menjadi tidak tenteram karena selalu saja merasa kurang dalam segala hal. Berulang kali hati kita menjadi tidak tentram apabila kita menginginkan sesuatu secara tidak teratur (Thomas,1997: 11). Agar dapat memiliki hati yang tenteram maka diperlukanlah sebuah sikap yang senantiasa mengatakan cukup untuk segala kebutuhan-kebutuhan serta keinginan yang berlebihan. Dengan bebas melepaskan serta menolak segala bentuk keinginan yang tidak teratur agar hati kita senantiasa terarah kepada Allah yang menyelenggarakan segala sesuatu dalam setiap kehidupan manusia.

(44) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 25 Dalam melaksanakan matiraga tentunya setiap kita ditantang dengan ambisi pribadi maupun keinginan-keinginan yang bertentangan dengan hal-hal yang baik. Namun yang perlu diingat adalah dalam melaksanakan matiraga diperlukan juga motivasi yang jelas yang mana menghantar seorang religius untuk dapat mengalami pengalaman kasih bersama dengan Allah. Pengalaman akan Allah dapat membantu seseorang untuk menyatukan segala keinginan yang tidak teratur dengan keinginan Allah sendiri. Dengan demikian membuat dia untuk senantiasa bersyukur atas Rahmat Allah yang diterima bagaimana pun kecilnya supaya dapat pula menerima yang lebih besar (Thomas,1997: 88). Santo Paulus dengan hidup rohani dan pelayanan yang sedemikian mengagumkan menghimbau kepada jemaatnya di Efesus untuk senantiasa mengucap syukur atas segala sesuatu dalam nama Tuhan Yesus Kristus kepada Allah dan kepada Bapa. Allahlah yang menyelenggarakan segala sesuatu bagi kita melalui perantaraan putra-Nya Yesus kristus ( Ef 5 : 20). Segala pemberian yang kita terima apa pun bentuknya hendaknya senantiasa membantu kita kepada kesadaran untuk menggantungkan diri kepada Allah. menggantungkan diri kepada berarti orang juga siap untuk melepaskan segala sesuatu yang merintangi dirinya secara bebas dan membiarkan Allah untuk meraja dalam hidupnya. Matiraga juga banyak diungkapkan dalam kitab suci Perjanjian Baru. Yesus sendiri mengatakan bahwa “Dan setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, bapa atau ibunya, anakanak atau ladangnya akan menerima seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup

(45) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 26 yang kekal”(Mat 19: 29). Tuhan Yesus sendiri mengajarkan kepada kita bahwa untuk memperoleh hidup yang kekal kita perlu untuk lepas bebas dan tidak terikat pada keluarga atau benda yang dimiliki, melainkan kita diajak menyerahkan diri kepadaNya, karena hanya dengan demikianlah kita dapat melayani orang lain dengan bebas. Janganlah kita bersandar atas diri sendiri, melainkan taruhlah harapan kita hanya kepada Allah (Thomas,1997: 12). Allah menjadi harapan hidup kita semata. Allah menjadi sandaran utama dan sekaligus menjadi kekuatan yang menopang kita disaat hati kita mulai goyang akibat pilihan hidup yang menawarkan seribu satu kenikmatan. Yang diperlukan adalah iman yang kuat yang senatiasa percaya dan mengandalkan Allah sebagai satu-satunya penolong yang dapat membantu kita untuk menghadapi segala kesulitan yang hadir dalam perjalanan hidup kita sehari-hari. Dalam menghadapi kesulitan tersebut kita pun diajak untuk bersyukur terhadap setiap hal yang terjadi dalam hidup kita. Kepada jemaatnya diTesalonika Paulus menasehati mereka agar mereka senantiasa bersyukur terhadap segala hal, sebab itulah yang dikehendaki oleh Allah bagi kamu (1Tes 5:18). 3. Menuju ke hidup Mistik Hidup kasih yang berdimensi kontemplatif dan apostolik itu sedemikian kaya dan luas, karena merupakan hidup Allah sendiri yang tak terselami dan tak terangkum dalam hidup manusia (Darminta,1995: 17). Allah adalah kasih dan Ia memanggil manusia karena kasih-Nya yang besar kepada manusia. Untuk menanggapi kasih Allah ini sendiri setiap pribadi dihadapkan dengan berbagai persoalan yang untuk dapat

(46) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 27 membantunya mengarahkan hidup sepenuhnya kepada Allah. Ada berbagai cara dan jalan menuju kepada persatuan dengan Allah yang adalah sumber dari kesempurnaan cinta kasih tersebut. Dalam keadaan apa pun setiap manusia Kristiani dipanggil untuk mengarahkan hidup kepada Allah, bersatu dengan Allah dan tinggal di dalam hadiratNya, sebagai sang pemberi kehidupan. Tinggal di dalam kasih Allah berarti Allah ada dalam diri setiap pribadi yang dipanggil. Ia hadir menyapa dan meneguhkan dalam situasi hidup. Karena Allah di dalam kita maka kita pun diharapkan pula untuk tinggal di dalam-Nya (1Yoh 4 : 16 b). Inilah hidup mistik. Hidup ini dapat kita hayati di dunia lewat pengabdian kita (Darminta,1995: 18). Kesatuan hidup dengan Allah didunia ini pada hakekatnya ialah tinggal dalam kasih-Nya, karena Allah sendiri adalah kasih. Untuk menghayati kesatuan dengan Allah itu, Allah berkenan mengutus putra-Nya yang menjadi manusia dan tinggal diantara kita (Yoh 1: 14). Jika Allah tinggal diantara kita, maka tidak ada lagi alasan untuk bermegah diri dalam segala kelemahan dan juga tidak alasan lagi untuk senantiasa mengejar keinginan-keinginan yang dapat menghalangi persatuan dengan Allah. Semakin seseorang menjalankan praktek askese ia semakin masuk dalam pengalaman mistik tersebut. Dalam pengalaman mistik tersebut sisi negatif untuk dapat mengejar nafsu duniawi, rasa sakit dan tidak nyaman seolah-olah tidak ada lagi yang ada hanyalah keinginan atau hasrat untuk senantiasa bersatu dan mempersatukan diri dengan Allah. Oleh karena itu dalam kehidupan bersama setiap manusia diharapkan dapat menanggalkan segala godaan, nafsu duniawi dan

(47) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 28 penaklukan dorongan yang dapat menghalangi manusia itu sendiri menuju kepada persatuan yang mesra dengan Allah. Pengalaman mistik Paulus selalu terarah kepada Kristus yakni kepada wafat dan kebangkitan-Nya. Hal itu paling jelas dikatakan secara dalam Flp 3:10 “Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekuatuan dalam penderitaan-Nya”. Segala-galanya dilepas dan ditinggalkan, supaya memperoleh Kristus dan berada dalam Dia (Flp 3:8-9). Seluruh pengalaman mistik Paulus senantiasa terfokus kepada Kritus yang disalibkan karena kelemahan, namun hidup karena kuasa Allah 2Kor 13:4 (Harjawiyata,1987: 37). Santo Paulus dalam suratnya kepada umat di Galatia menulis, “ Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya” ( Gal 5:24), maka untuk menjadi pengikut Kristus orang diharapkan untuk mampu mematikan bahkan menyalibkan segala kelemahan diri yang mengikatnya untuk menjadi pengikut Kristus. Dalam hal ini kedengarannya tidak masuk akal tetapi maksud utamanya amatlah sangat penting yaitu memupuk kehidupan rohani yang mana menghantar seseorang kepada pembaharuan kodratnya sebagai manusia agar menjadi serupa dengan Kristus dan semakin menyatukan kehidupan dengan-Nya. Persatuan itu juga dapat dicapai dengan saling menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat dalam Kristus Yesus (Flp 2:5). Dengan mengenakan hidup Yesus dan melakukan yang diperbuat oleh Yesus inilah jalan menuju kesatuan dengan Allah inilah jalan mistik (Darminta,1995: 2).

(48) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 29 Kesatuan dengan Allah ini memanggil kita juga untuk membangun kesatuan kasih dalam persaudaraan satu sama lain. Kesatuan kasih persaudaraan ini memanggil kita juga untuk mengikuti-Nya, membangun komunitas bersama dengan penuh kesatuan kasih yang menghantar kita kepada kesatuan dengan-Nya sehingga dunia mengakui bahwa kita ini adalah murid-murid-Nya, seperti yang diungkapkan oleh Yesus sendiri dalam doa-Nya “supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau Ya Bapa ada dalam Aku dan Aku dalam Engkau, supaya dunia percaya bahwa Engkaulah yang mengutus Aku (Yoh 17: 21). Untuk dapat menghayati perutusan kita sebagai muridmurid Kristus dan membangun kesatuan dengan-Nya membutuhkan perjuangan dan siap untuk menderita. Kedua sikap ini dibutuhkan agar semakin eratlah kesatuan kita dengan Allah. Jika kesatuan diantara kita kuat, hal ini akan bersinar dalam dunia (Arnold, 2003: 256). Membangun kesatuan kasih membutuhkan kepercayaan bahwa Allah beserta kita dan tinggal diantara kita. Ia senantiasa hadir dan menyapa kita lewat setiap peristiwa hidup kita, yang dibutuhkan adalah keterbukaan hati untuk mendengarkan dan melaksanakan kehendak-Nya. Untuk menghayati kesatuan dengan Allah itu juga, maka ia berkenan mengutus putra-Nya menjadi manusia dan tinggal diantara kita (Yoh 1: 14 ). Dia adalah terang dunia (1Yoh 1: 5), dalam terang itu ada kebenaran dan hidup (Yoh 14: 6 ). Karena Allah adalah kebenaran dan hidup maka Ia senantiasa memanggil kita untuk tinggal dalam kebenaran benar. Perbuatan yang dan melakukan perbuatan-perbuatan yang

(49) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 30 mengandung kasih, pengorbanan, kerendahan hati, kesederhanaan dan ketulusan hati. Semua ini dapat dicapai apabila kita senantiasa tinggal dalam Yesus. Jika kita tinggal dalam Yesus, kita akan menemukan keaslian dalam bentuknya yang paling jelas (Arnold, 2003: 109). Kesatuan akan Kristus juga mendorong kita untuk dapat menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat dalam kristus (Flp 2:5). Menaruh pikiran dan perasaan menurut Filipi ini menegaskan bahwa kesatuan dengan Allah membutuhkan kesatuan dalam pemikiran dan memiliki satu perasaan yakni melaksanakan kehendak Allah. Mengenakan hidup Yesus dan melakukan yang dikehendaki-Nya merupakan jalan persatuan dengan Dia sendiri, jalan mistik kita (Darminta,1995: 21). Kehidupan Yesus merupakan bukti nyata kesatuannya dengan Allah. Ia senantiasa menekankan kepada kita untuk membangun kesatuan yang terus-menerus. Dan kesatuan yang pertama yang diinginkan-Nya agar kita membangun kesatuan dengan Allah sendiri, seperti kesatuan antara Ia dan Bapa-Nya. Kemudian kita diajak pula untuk membangun kesatuan dengan sesama. Kesatuan sangat penting diusahakan, sebab kita tidak dapat memisahkan pengabdian kepada Yesus dari pengabdian kepada saudara-saudara kita (Arnold, 2003: 155). 4. Mengenakan keutamaan dan mengalahkan cacat cela Usaha untuk mengenakan keutamaan dan mengalahkan cacat cela merupakan kerinduan setiap manusia di dalam mengusahakan kekudusan hidup. Kekudusan tidak dibayangkan sebagai hidup sempurna tanpa cacat cela, tetapi perjuangan untuk hidup

(50) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 31 dalam pertobatan (seri Gedono 11: 50). Hal ini dimaksudkan untuk menyadarkan kepada kita bahwa setiap saat kita dipanggil kepada pertobatan. Pertobatan merupakan karya Allah. Melalui pertobatan Allah membalikkan hati kita kepada-Nya ( KGK, 1998 : 363). Pertobatan juga berarti mempersembahkan diri sendiri kepada Allah yang memberi pengampunan dan pembebasan dari dosa (Arnold, 2003: 36). Dengan kata lain orang yang memiliki keterbukaan hati akan senantiasa memandang kepada Allah yang adalah asal dan tujuan hidup. Karena Allah merupakan asal dan tujuan hidup maka kita diundang ke dalam pesatuan dengan-Nya. Untuk dapat membangun persatuan dengan Allah diperlukan suatu sikap hati yang berani mengakui kesalahan dihadapan Allah dan bertobat. Allah menghendaki agar kita tinggal di dalam kasih-Nya. Tinggal didalam kasih Allah berarti siap untuk diubah dan berubah menuju kepada kehidupan yang lebih baik bersama dengan Yesus Kristus sebagai sang juruselamat kita. Yesus sendiri menyerukan supaya bertobat “Bertobatlah sebab kerajaan Allah sudah dekat” (Mat 4:17). Ajakan untuk bertobat ini merupakan ajakan membaharui diri, melepaskan diri dari keinginan yang membelenggu hidup manusia serta senantiasa sadar akan setiap perbuatan maupun keinginan diri yang berlebihan dan mau kembali kepada Allah mengakui kelemahan diri dihadapan-Nya. Pertobatan tidak berarti menyiksa diri sendiri ,di adili oleh orang lain melainkan menjauhkan diri dari korupsi, kekayaan,nafsu duniawi dan membiarkan hati digerakkan oleh suasana kerajaan Allah (Arnold, 2003: 32).

(51) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 32 Dalam kesempatan lain Yesus juga menyatakan bahwa Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa (Mrk 2:17). Ungkapan yang disampaikan oleh Yesus ini merupakan sebuah pernyataan mengenai pertobatan. Ini disampaikan-Nya sehubungan dengan panggilan Lewi untuk mengikuti Yesus. Dengan mengikuti Yesus manusia harus selalu siap membongkar diri dan memperbaikinya, membuang apa saja yang tidak sejalan dengan Yesus serta menjadikan Dia sebagai andalan hidup (Stefan Leks, 2006: 34). Dengan mengikuti Yesus kita melekat pada-Nya, menyatu dengan-Nya dan menjadikan Dia sebagai pusat hidup. Karena Allah merupakan pusat dan sumber kehidupan kita maka dalam kehidupan sehari-hari kita senantiasa diajak untuk dapat menyerahkan diri dan kehendak kita kedalam bimbingan-Nya dengan kepercayaan yang penuh bahwa Ia senantiasa mengetahui kebutuhan kita masing-masing. Ruang askese ditemukan dalam kehidupan yang memiliki kehendak yang kuat dan pengenalan batin akan kebersatuan dengan Allah. Kesatuan dengan Allah dilakukan dengan pembaktian kepada Allah. Manusia berbakti kepada Allah sejauh, dia hidup dan bertindak sesuai dengan keutamaan Ilahi itu (Darminta, 2007: 45). Dengan kata lain bertindak sesuai dengan keutamaan Ilahi yakni iman, harapan dan kasih dengan penuh kebebasan sebagai manusia yang penuh dengan keterbatasan diri. Dengan mengenakan keutaman menghantar kita untuk memerangi cacat cela akibat dosa. Kita harus mempersembahkan hidup kita yang paling dalam kepada Kristus (Arnold, 2003: 90). Persembahan hidup yang paling dalam kepada Kristus menuntut adanya sikap

(52) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI kepasrahan total 33 kepada Allah sebagai Sang penyelenggara kehidupan dalam penziarahan hidup ini Dalam me mpersembahkan hidup, kita dituntut untuk melepaskan diri dari segala hal yang merintangi kita untuk membangun kesetuan kasih dengan Allah dengan penuh kepercayaan, sebab jika kita hidup menurut Yesu dan ajaran-Nya maka tidak ada alasan untuk takut (Arnold, 2003: 95). B. ASKESE SEBAGAI JALAN 1. KEMURIDAN a. Pengertian kemuridan secara umum Murid berarti orang-orang yang dipanggil-Nya untuk menyertai Yesus dalam kegiatannya mewartakan kerajaan Allah kepada segala bangsa.Yesus memanggil mereka dengan cara yang berbeda. Ada yang dipanggil pada saat bekerja dan ada pula bergabung menjadi murid-Nya karena diperkenalkan oleh orang lain. Namun semua yang dipanggil demi sebuah tugas yang mulia. Seperti yang terjadi dengan panggilan Simon yang dikisahkan dalam Luk 5:1-11( Darmawijaya, 2003: 11). Simon menanggapi panggilan Yesus dengan segera. Ia meninggalkan pekerjaan karena tertarik pada sabda Yesus yang mampu menjadikan segala sesuatu yang tidak ada menjadi ada. Simon juga tertarik pada pribadi Yesus yang dengan sabda-Nya membuat jala mereka penuh dengan ikan. Mereka mengikuti Yesus terkesan oleh pewartaan-Nya.

(53) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 34 Menjadi murid juga berarti menjadi bagian dari hidup Yesus (Kriswanta, 2009:49). Menjadi bagian dari hidup Yesus berarti tinggal bersama dengan-Nya, menyertai Dia kemana pun pergi dan melaksanakan apa yang diajarkan-Nya. Yesus memanggil para murid-Nya untuk tinggal bersama-Nya, bersatu dengan-Nya dan kemudian diutusNya mewartakan kerajaan Allah. Kemuridtan juga diartikan sebagai persembahan utuh (Arnold, 2003: 39). Persembahan utuh yang dimaksud adalah seluruh yang dimiliki hati, pikiran, akal budi, kehendak, perasaan, tenaga dan seluruh hidup baik waktu maupun tenaga yang kita miliki. Persembahan semacam ini timbul dari pengalaman kesatuan dengan Yesus Kristus sebagai satu-satunya pusat hidup kita.Keputusan untuk mempersembahkan seluruh yang dimiliki hendaknya menjadi sebuah keputusan dari kedalaman hati yang bebas yang menyadari bahwa Allah senantiasa tinggal dalam hati manusia. Ia mencari orang-orang yang mau mempersembahkan diirinya kepada Allah seutuhnya dan menggantungkan hidup-Nya hanya kepada Allah. Yang paling penting bahwa untuk menjadi murid Yesus orang perlu untuk menyangkal diri, memikul salib dan kemudian mengikuti Yesus (Kriswanta, 2009: 49). b . Syarat kemuridtan Ada tiga komponen yang digariskan sebagai syarat kemuridtan (pengikut) yaitu” Menyangkal diri, Memikul salib dan Mengikuti Aku” ( Mat.16:24 ).

(54) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 35 1. Menyangkal diri Menyangkal diri berarti tidak mengikuti kecenderungan naluriah untuk menyelamatkan diri sendiri dengan segala macam cara (Kriswanta, 2009: 59). Hal ini berarti tidak mengandalkan diri dalam segala hal. Mengakui bahwa kita tidak memiliki hak atas hidup kita, mengakui bahwa Tuhanlah yang menjadi sumber keselamatan, pertolongan dan pemeliharaan. Bukan gagah perkasa kita tetapi oleh karena Tuhan yang membuat kita kuat. Penyangkalan diri ini juga berarti menyediakan diri untuk mengikuti Yesus. Ini bukan suatu hal yang negatif melainkan sebuah tindakan yang postif yang membantu para murid Kristus untuk menjadi murid yang sejati. Menjadi murid yang sejati membutuhkan pengorbanan. Menyangkal diri juga berarti sebuah sikap jiwa yang sama sekali tidak hidup bagi diri sendiri (Liagre,1993: 42). Sikap hidup yang dituntut dalam penyangkalan diri ini adalah sikap hidup yang menjadikan Tuhan sebagai pusat hidup dengan belajar untuk mengosongkan diri dan membiarkan Allah untuk berkarya. Dalam suratnya kepada umat di Filipi Paulus menegaskan bahwa “yang walaupun dalam rupa Allah tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan melainkan telah mengosongkan diri-Nya mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia (Flp 2: 6-7). Kutipan tersebut memberikan gambaran akan pengosongan diri Yesus yang tidak lain merupakan wujud sikap menanggalkan hidup (Purnomo, 2001: 34). Menanggalkan hidup ini yakni seperti yang dihimbau oleh paulus kepada jemaat di Filipi agar memiliki sikap berani menanggalkan hidup dalam kemewahan, kemegahan dan

(55) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 36 keagungan dan masuk dalam kehinaan Kristus. Dengan demikian menyangkal diri tidak dapat dipisahkan dari penyerahan diri, pelepasan terhadap segala keterikatan, mentaati dan mencintai Yesus sepenuh hati (Kriswanta, 2009: 60). Dalam hal ini buku seri Gedono no.9, Prinsip dasar hidup monastic mengatakan : yang terpenting bukan seberapa banyak kita dapat menyangkal nafsu daging, tetapi sejauh mana hidup baru berkembang dalam diri kita sepadan dengan pengosongan diri kita sendiri. Kristus Yesus telah memberi teladan, yang mana Ia menanggalkan segala yang melekat pada diri-Nya, dengan jalan mengosongkan diri mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia. Dengan demikian Yesus mengajarkan kepada kita untuk hidup dalam kerendahan hati. Dengan menanggalkan diri seorang murid juga belajar untuk rendah hati. Kerendahan hati dapat dipelajari dalam sikap Yesus yang merendahkan diri dan taat sampai mati bahkan sampai mati di salib (Flp 2 : 8). Kerendahan hati Yesus inilah yang telah menumbuhkan keselamatan bagi umat manusia. 2. Memikul salib Syarat lain untuk menjadi murid adalah mau memikul salib (Mrk 8: 34). Salib merupakan jalan terakhir untuk meyelesaikan tugas Bapa bagi manusia. Namun salib bukanlah sebuah penderitaan, melainkan melalui salib Yesus Kristus menebus kita dari dosa-dosa dan mengangkat kita kedalam persatuan dengan Bapa. Salib sering kali dipandang sebagai sebuah penderitaan,namun karena kematian kristus disalib kita diselamatkan ini adalah bukti kasih yang terbesar. “Tidak ada kasih yang lebih besar dari

(56) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 37 pada kasih seorang yang menyerahkan nyawa bagi sahabat-sahabatnya (Yoh 15:13) Memikul salib berarti berani menanggung apa saja yang yang dialami dalam kehidupan setiap hari sebagai pengikut Kristus. Memikul salib berarti menerima kemungkinan akan kehilangan nyawa sendiri demi Yesus dan Injil (Purnomo, 2001: 61). Dengan kata lain bukan berarti menciptakan masalah bagi diri sendiri atau pun mencari-cari masalah bagi diri melainkan menjalankan dengan penuh tanggung jawab tugas sebagai sorang murid dengan segala konsekuensi hidup. Konsekuensi hidup yang dimaksud adalah juga menyangkut memikul salib. Memikul salib membutuhkan kerelaan hati dan kesiap sedian dari setiap murid. Apa pun bentuknya dari salib yang akan dihadapi oleh para murid, mereka hendaknya siap sedia berjuang untuk dapat memikulnya (Purnomo, 2001:62). Dengan kata lain dalam menjalankan tugas untuk mewartakan kabar gembira, mereka hendaknya siap untuk menghadapi berbagai tantangan yang ada baik suka maupun duka. Dengan memikul salib para murid dihantar pada pemahaman akan kemuliaan Yesus Kristus sendiri sebab salib merupakan jalan yang menghantar kita menuju kepada keselamatan dan salib juga merupakan jalan yang membantu kita menuju kepada kemuliaan bersama dengan Kristus. Dalam suratnya kepada jemaat di Galatia Paulus berkata “ tetapi aku sekali-kali tidak mau bermegah selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus” (Gal 6:14) rasul Paulus mengajak kita sebagai murid Kristus untuk bangga terhadap salib Kristus, sebab salib merupakan sumber penebusan dan pembebasan bagi kita. Dalam salib Tuhan Yesus

(57) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Kristus terkandung dan terpancar misteri cinta Allah kepada 38 manusia (Darminta, 2006: 36). Cinta Allah kepada kita umat-Nya sungguh menghidupkan karena itu Allah meembebaskan kita dan menebus kita dari dosa dengan mengutus putra-Nya sampai mengurbankan diri-Nya dikayu salib. Dengan mengurbankan diri-Nya di kayu salib Kristus memilih jalan derita menuju kepada kemuliaan untuk menebus dunia (Darminta, 2005: 1). Seperti halnya Yesus mencapai kemuliaan-Nya melalui penderitaan-Nya demikian pun para murid diajak untuk belajar siap sedia memikul salib mereka menuju kepada kemuliaan bersama dengan Kristus Yesus. Salib merupak pusat alam semesta (Arnol, 2003: 281). 3. Mengikuti Aku. Inisiatif untuk mengikuti Yesus merupakan keputusan dari para murid. Karena keputusan untuk mengikuti Yesus merupakan keputusan pribadi maka, Yesus mulai masuk dalam hidup mereka untuk kebaikkan mereka (Galilea,1996: 8). Ketika Yesus memanggil murid-murid yang pertama, Yesus mengatakan “ikutlah Aku” lalu mereka mengikut Yesus dan meninggalkan jala, perahu, ayah mereka untuk mengikut Yesus (Mat 4:18-22). Meski pun para murid sudah mempunyai pekerjaan namun mereka terpukau oleh penampilan Yesus dan memutuskan untuk mengikuti-Nya (Darmawijaya, 2003: 10).Yesus tidak meminta para murid untuk meninggalkan pekerjaan mereka dan bekerja dengannya demi kerajaan Allah, sebab pada masa mendatang mereka masih melakukan pekerjaan mereka ( Galilea,1996: 7).

(58) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 39 Mengikuti aku juga berarti terlibat secara penuh dalam pewartaan kerajaan Allah (Darmawijaya, 2003: 30). Terlibat secara penuh dalam hidup dan karya bersama dengan Yesus didalam mewartakan kerajaan Allah yang menjadi tujuan utama. Mengikuti berarti berjalan di belakang yang diikuti (Purnomo, 2001: 50). Dengan memutuskan untuk mengikuti Yesus para murid ikut serta bersama dengan Yesus., berjalan dibelakang Yesus. Berjalan dibelakang Yesus tidak berarti bahwa para murid hanya menjiplak apa yang dilakukan oleh Yesus tetapi para murid diminta untuk ikut terlibat didalam seluruh kehidupan bersama dengan Yesus. 2. MISTERI SALIB Misteri salib merupakan puncak pewahyuan Allah yang menebus dosa manusia. Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Efesus mengatakan “Kita telah memperoleh penebusan berkat darah Kristus, yaitu pengampunan dosa” (Ef 1: 7). Melalui Yesus setiap orang beroleh kembali jalan menuju Allah, berdamai dengan-Nya dan memperoleh pengampunan. Salib merupakan satu-satunya tempat dimana kita mendapat pemurnian (Arnold, 2003: 282). Puncak dari pemurnian dan perdamaian terlaksana secara nyata diatas kayu salib. Allah mengadakan pendamaian oleh darah Salib Kristus (Kol 1:20). Karena kita telah didamaikan oleh Kristus dengan kematiannya pada kayu salib, maka tidak ada alasan bagi orang beriman untuk merasakan kesedihan, ketakutan, keputuasaan didalam menghadapi salib kehidupan. Dan tidak ada alasan juga untuk menghindar dari salib. Sebab Yesus yang disalibkan demi menebus dosa-dosa kita

(59) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 40 senantiasa membantu kita di dalam peziarahan hidup ini untuk dapat menerima dan memikul salib kita. Salib membawa sukacita, kasih sayang, penyembuhan atas dosadosa kita, yang olehnya kita mampu membina persahabatan dengan Tuhan dan sesama (Martasudjita, 2004: 19). Dalam misteri salib, Kristus menunjukkan sikap kasih dan bela rasa yang radikal kepada manusia. Dalam suratnya kepada Jemaat di Korintus Paulus mengatakan : “Ia yang oleh karena kamu menjadi miskin sekali pun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh kemiskinan-Nya” (2Kor 8: 9). Melalui suratnya ini Paulus mengajak kita menyadari bahwa Kristus Yesus dalam kekayaan akan kasih rela menjadi miskin agar kita sebagai pengikut-Nya menjadi kaya dalam segala hal. Ia menanggalkan segalagalanya demi cinta kepada manusia. Hal ini tampak dalam pengosongan diri dan penyerahan diri-Nya yang total di kayu salib. Tidaklah mudah memahami dan merenungkan misteri salib, sebab misteri Salib tidak hanya berita melainkan peristiwa (Martasudjita, 2004: 31). Misteri salib hanya dapat dipahami apa bila kita mau ikut di dalam penderitaan Kristus dengan mau dekat dan menatap sendiri Yesus di salib melalui keterbukaan dan doa (Martasudjita, 2004: 90). Sebab dari salib Kristus kita dapat menimba kekuatan dan kekayaan iman yang memampukan kita untuk berani melaksanakan kehendak Allah. Untuk sampai pada pengertian akan misteri salib ini memanglah sangat sulit, namun Roh dapat membantu kita untuk dapat memahami ini melalui pengalaman hidup yang kita jumpai keseharian hidup kita.

(60) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2. 41 KEKUDUSAN Askese sebagai jalan kekudusan membantu kita mengakrabkan diri dengan Yesus. Berikut akan dibahas lebih lanjut mengenai mengakrabkan diri dengan Yesus sebagai jalan menuju kepada kekudusan melalui: a. Pilihan doa Doa merupakan dasar dalam kehidupan beriman karena melalui doa kita dapat menimbah kekuatan dan juga membina relasi dengan Allah dan sesama. Dalam doa kita dilatih untuk berserah kepada Allah. Ada berbagai macam cara dan pilihan untuk berdoa yang terpenting kita berdoa tidak untuk apa yang kita inginkan, melainkan mohon kekuatan untuk melaksanakan kehendak Allah sendiri ( Arnol, 2003 : 29). Doa adalah disiplin mendengarkan suara kasih (Nouwen, 1998: 41). Dalam dan melalui doa kita belajar untuk mendengarkan dan melaksanakan kehendak Allah yang berbicara dalam hati kita. Dengan melatih diri dalam doa kita dimampukkan untuk dapat membuat pilihan terhadap hidup, terhadap keinginan yang bertentangan dengan diri kita, kita dihantar kepada perjuangan untuk melawan godaan. Tanpa relasi pribadi dengan Tuhan yang mendalam hidup kita akan menjadi kering (Suparno 2007: 177). Sebab Tuhan adalah sumber air yang tak perna kering. Kita senantiasa diharapkan datang kepada-Nya untuk menimbah kekuatan agar kita tidak kehausan. Yesus pun dalam kehidupa-Nya di depan publik senantiasa mencari waktu untuk menimbah kekuatan dan membangun hubungan dengan Bapa-Nya melalui doa (Yoh 17 : 1). Bagi Yesus berdoa berarti mengungkapkan dan memupuk hidup doa, yakni

(61) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 42 hidup didalam Allah agar hidup dalam kuasa-Nya, yaitu dibimbing oleh Roh (Darminta, 2001:15). Yesus pun mengajarkan kepada murid-murid-Nya untuk berdoa agar mereka jangan jatuh kedalam pencobaan (Mat 26:41). Sebab para murid hidup, tinggal dan berkarya di tengah dunia. Agar mereka tidak mudah jatuh ke dalam berbagai godaan mereka diminta untuk membangun relasi kasih dengan Allah melalui doa agar membantu mereka di dalam perjuangan melawan godaan. Dengan doa para murid dibantu untuk setia mengikuti Kristus dan melalui doa para murid juga dibantu untuk memperoleh kekuatan mengatasi segala tantangan dan godaan “Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa” ( Luk 21:36 ). Kepada para murid-Nya dan kepada kita juga Yesus mengajarkan doa Bapa kami ( Mat 6: 9-13) sebagai sebuah doa sederhana namun memiliki makna yang mendalam. b. Pilihan Nilai Orang yang mampu melaksanakan nilai adalah orang yang mampu memberi nilai dalam setiap perbuatan dan perkataannya yang diwujudkan dalam kehidupan setiap hari dan juga akan menghantar kita untuk semakin berkembang dan memaknai hidup dengan penuh tanggung jawab. Pilihan untuk melaksanakan sebuah nilai dapat menghantar kita kepada kemerdekaan. Dalam hal ini tentunya kemerdekaan untuk mengadakan pilihan-pilihan. Kemerdekaan adalah bagaikan pencarían sepanjang hidup, suatu pergulatan dalam diri kita sebagai manusia untuk mengadakan pilihan-pilihan secara bertanggung jawab atas nilai-nilai tersebut (Darminta, 2006: 11). Penghayatan nilai menjadi dasar dalam

(62) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 43 pembentukkan ke arah peningkatan hidup. Contohnya saja dalam menentukan pilihan untuk melepaskan diri dari berbagai godaan duniawi dan bertumbuh dalam keutamaan menuju kepada persatuan dengan Kristus. Persatuan dengan Kristus akan terjadi apa bila kita juga rela untuk berbagi dengan sesama yang berkekurangan. Dengan berbagi kita melepaskan diri dari keinginan-keinginan untuk mengumpulkan berbagai benda materil entah itu barang, uang, orang atau pun kedudukan yang dapat merintangi kita dalam menjalani panggilan hidup ini yang penuh dengan tantangan. Karena setiap saat kita dihadapkan pada berbagai pilihan maka kreativitas sangatlah dibutuhkan dalam menjalankan askese. Kreativitas dalam askese merupakan sebuah cara untuk dapat menemukan pilihan-pilihan asketis yang tepat (Sardi,o3, 2013: 11). Pilihan tersebut ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Seorang mahasiswa religius yang sedang study ditengah-tengah kesibukan study rela membagi waktu doa, berbagi pengalaman, makan bersama dan rekreasi di komunitas. Dengan merelakan waktu, tenaga, pikiran dan seluruh diri kita untuk berada bersama dengan orang lain secara tidak langsung kita telah menemukan pilihan kreativitas untuk dapat melakukan askese. c. Pelepasan dari kelekatan tak teratur. Dengan menyerahkan diri kepada Kristus kita dipanggil juga untuk melepaskan diri dari berbagai kelekatan yang tidak teratur dan tak terarah untuk meraih tujuan hidup kita. Pelepasan dari kelekatan yang tidak teratur dimaksud disini yakni: Lepas bebas dari segala keegoisan dan cinta diri untuk memiliki harta, kekuasaan, kedudukan dan

(63) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 44 nafsu duniawi. Melepaskan diri dari kelekatan yang tidak teratur mengandaikan bahwa kita senantiasa berharap akan penyelenggaraan Ilahi dengan membebaskan diri dari berbagai kekhawtiran akan hal-hal kecil yang kadang kala menghalangi langkah kita untuk bersatu dengan-Nya, sebab Ia tidak menghendaki ini melainkan Ia akan menunjukkan hal-hal besar kepada kita (Nouwen, 2003: 49). Yesus sendiri menegaskan” karena itu Aku berkata kepadamu, janganlah kamu khawatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum dan janganlah khawatir pula akan tubuhmu. Bukankah hidup itu lebih dari makanan dan tubuh itu lebih dari pakaian?” (Mat 6:25). Sebagai murid-murid Kristus kita diajak untuk tidak terlalu menaruh kekuatiran yang berlebihan akan hal-hal material, mengesampingkan segala yang masih melekat di dalam diri dan mempercayakan segala yang di butuhkan kepada Allah sambil tetap bekerja bagi kemuliaan nama-Nya. Pelepasan dari kelekatan tak teratur meminta kita untuk dapat mempersembahkan cinta secara total kepada Allah, seperti janda miskin yang memberi dari kekurangannya (Mat 21:4). Dengan memberikan dua keping uang perak sang janda memepersembahkan seluruh yang ada padanya kepada Allah. Ia memberi dengan penuh kebebasan. Memberikan segalanya berarti menempatkan atau mempertaruhkan hidup pada pada resiko yang berbahaya (Zuidberg dan Bruggeman,1995: 45). Untuk dapat memberikan segalanya kita diminta untuk memiliki sikap lepas bebas dan tidak melekat terhadap apa pun. Sikap lepas bebas ini membutuhkan latihan yang terus

(64) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 45 menerus yang pada akhirnya menghantar kita kepada tujuan akhir dari kehidupan itu sendiri yakni: kebahagiaan untuk bersatu dengan Allah sendiri sebagai satu-satunya tujuan hidup kita yang utama. C. ASKESE MENURUT WEJANGAN PENDIRI ST. MAGDALENA DARI CANOSSA 1. Sejarah singkat St Magdalena dari Canossa. Magdalena Gabriella lahir di Verona Italy pada tanggal 1 Maret 1774. Ia lahir sebagai putri bangsawan dari pasangan Marquis Oktovianus Canossa dan Teresa Szluha. Pada tanggal 2 Maret 1774. Ia dibaptis di paroki St. Laurensius oleh Giovanni Zanetti yang merupakan pastor kepala paroki St. Laurensius. Kelahirannya sama sekali tidak diharapkan oleh kedua orang tuanya, sebab kedua orang tuanya mengharapkan seorang putera yang akan menjadi ahli waris dan penerus tahta kerajaan Canossa. Dalam buku Wanita dan Rasul mengatakan : Bayi yang baru lahir tidak disambut dengan kegembiraan yang meriah. Dia diterima dengan kekecewaan yang tak tersembunyikan. Tiada senyum disekelilingnya ( Serafini, 1941: 12). Tahun 1776 kegembiraan kembali menyelimuti istana Canossa karena seorang putra yang diharapkan oleh kedua orang tua Magdalena lahir. Ia dibaptis dan diberi nama Boniface yang merupakan ahli waris kerajaan. Kebahagiaan menyelimuti istana Canossa. Walaupun terlahir sebagai anak yang tidak diharapkan namun Magdalena tetap tumbuh sebagai seorang gadis yang dewasa, kuat, jujur, gembira dan begitu peka

(65) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 46 dalam doa dan dalam usia 5 tahun ia sudah merasakan panggilan untuk mengikuti Kristus secara lebih dekat melalui pembaktian hidup ( Serafini, 1941: 13). Pada bulan oktober tepatnya pada tahun 1791 Magdalena memutuskan untuk masuk dalam biara carmelit. Magdalena tinggal di sana selama 8 bulan. Ia menyukai segala peraturan yang ada di dalam biara tersebut. Namun kungkungan dalam biara tersebut malah membuatnya tertekan, karena ia tidak dapat berhubungan secara langsung kehidupan gereja di luar (Giacon, 1974 :30). Meski pun Magdalena kembali ke istana Canossa dan melakukan pekerjaan rumah tangga seperti biasanya namun niat untuk menyerahkan diri kepada Tuhan tetap tertanam dalam hati Magdalena. Dalam bulan Maret 1796, tentara prancis dibawah pimpinan Napoleon Bonaparte menyeberang ke Italia dan hendak menyerang Venesia dan Verona, seluruh keluarga Canossa mengungsi. Ditempat pengusian ia dan beberapa gadis yang dijumpainya melayani anak-anak dan orang dewasa yang membutuhkan kebutuhan material dan spiritual. Setelah perang berakhir, pada tahun 1801-1802 Magdalena pergi mencari suatu tempat dimana dia bisa menampung anak-anak pertama yang dihimpunya dijalan-jalan dan para guru yang terpanggil untuk berbagai cita-cita cinta kasih dan karya amal kasih bagi kaum miskin yang nantinya merupakan tua baginya ( Serafini, 1941: 22). Magdalena merasa semakin jelas akan kehendak Allah baginya untuk mempersembahkan dirinya seutuhnya kepada Kristus yang tersalib serta berkarya hanya untuk kemuliaan-Nya. Pada bulan Mei 1808, Magdalena bersama rekanrekannya pindah ke Verona. Magdalena mulai hidup miskin dan menjadi pelayan kaum

(66) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 47 miskin (Serafini, 1941: 23). Di Verona Magdalena bersama rekan-rekannya melayani kaum miskin yang datang ke biara. Anak-anak dengan baju compang-camping, gadisgadis yang tidak berpendidikan baik wanita yang kasar maupun yang bodoh mendapat bantuan materil, pelajaran agama, sekolah cuma-cuma, penghiburan dan juga pengobatan yang gratis. Berkat kesabaran dan kepercayaannya kepada kehendak Allah pada tanggal 3 Desember 1828 kongregasi Canossian mendapat pengesahan konstitusi secara sah oleh Paus Leo XII (Konst. art. 2). Magdalena bersama rekan-rekannya bekerja dengan sabar dan bahagia. Dalam buku Wanita dan Rasul mengatakan : Magdalena memperingatkan kepada rekan-rekannya bahwa di mana saja seseorang bekerja untuk kemuliaan Allah, batu-batu sandungan akan selalu dijumpai (Serafini, 1941: 26). Magdalena meminta kepada rekan-rekannya kegembiraan tanpa kesedihan, ketulusan dalam melayani, keikhlasan dalam menderita, memikul salibnya dan menyangkal diri sendiri dengan berani. Magdalena percaya bahwa barangsiapa yang mengasihi mampu mengurbankan dirinya sendiri bagi Dia yang dikasihi. Ungkapan-ungkapan semacam ini kemudian hari dapat dijumpai dalam wejangan dan tulisan-tulisan lainnya. Magdalena dari Canossa meninggal pada tanggal 10 April 1835, dinyatakan bahagia oleh Paus Pius XII pada 7 Desember 1941 dan dinyatakan Santa oleh Paus Yohanes Paulus II pada tanggal 2 oktober 1988.

(67) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 48 3. Askese Menurut St. Magdalena dari Canossa a) Melalui penyangkalan diri untuk menyenangkan hati Tuhan. Segala bentuk Askese yang dilakukan adalah semata-mata untuk menyenangkan hati Tuhan. Bagi seorang suster FdCC hal ini menjadi penting karena melatih penghayatan sebagai seorang kristiani yang menyerupai Yesus yang menyangkalkan diri-Nya kepada Allah kecuali cinta-Nya. Penyangkalan diri untuk menyenangkan hati Tuhan merupakan juga sebuah penyangkalan diri yang memiliki nilai yang mulia. Dalam terjemahan asli dari naskah Peraturan hidup bagian keutamaan matiraga, St Magdalena mengatakan bahwa: Penyangkalan diri untuk menyenangkan hati Tuhan merupakan penyangkalan diri yang terluhur, yang sama sekali tidak mementingkan diri sendiri melainkan kehendak Tuhan semata. Penyangkalan diri sebagai seorang suster FdCC memiliki tujuan yang utama yakni meneladan Tuhan Yesus yang Tersalib (UR, 1981: 2). Para suster FdCC hendaknya mengingat bahwa, segala bentuk penyangkalan diri yang mereka lakukan semata-mata bukan untuk kepentingan diri mereka sendiri, melainkan semata-mata untuk melaksanakan kehendak Tuhan. Melaksanakan kehendak Tuhan berarti berani untuk memalingkan jiwa dari sagala kecenderungan kodrati, mau mengesampingkan diri dan tidak memikirkan diri sendiri sehingga mampu mengalahkan godaan. Kristus Yesus sebagai sang teladan utama telah lebih dahulu melakukan segala pengorbanan-Nya, dengan menyerahkan segala kehendak-Nya secara total kepada Bapa, tanpa memperhatikan kepentingan sendiri melainkan kepentingan orang banyak.”Tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki melainkan seperti yang Engkau kehendaki”(Mat 26:39). Kepada para suster FdCC diharapkan

(68) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI agar mereka 49 dapat belajar untuk senantiasa mempersembahkan diri, kesukaan - kesukaan, keinginan - keinginan mereka secara bebas kepada Allah dengan penuh kesadaran dan kegembiraan serta dengan penuh pengharapan, sebab siapa yang paling berani berharap dialah yang paling memperoleh (Wejangan St.Magdalena, 2001:15) Kesadaran untuk mempersembahkan segala yang merintangi diri dapat membantu para suster FdCC untuk semakin menghayati dan mencintai panggilan hidup mereka serta dapat melayani sesama dengan cinta yang bebas. Penyangkalan diri sebagai seorang suster FdCC sangatlah penting hal ini dapat dilihat dalam dua aspek yang akan diuraikan sebagai berikut : a. Aspek Eksternal Manusia terdiri dari tubuh dan jiwa yang karena dosa mengambil jalan yang tidak sesuai dengan tujuan hidupnya. Dosa telah membangkitkan dalam jiwa manusia segala bentuk hawa nafsu. Hawa nafsu tersebut memberontak dalam jiwa manusia dan mengarahkan tubuhnya kepada dosa. Untuk meluruskan semua keinginan yang tidak teratur dan membawa segala hawa nafsu pada salib maka diperlukan aspek eksternal dari sebuah askese. Para suster FdCC menjalankan aspek eksternal ini melalui karya kerasulan, dan melalui izin dari pimpinan komunitas. Mengingat bahwa tidak semua suster dapat menanggung segala pengorbanan yang melampaui jerih payah dalam karya kerasulan mereka serta membantu mereka mengurangi kesombongan mereka dari pada kekuatan. Pimpinan komunitas dapat melarang seorang suster FdCC untuk melaksanakan aspek

(69) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 50 eksternal ini apa bila ia melihat bahwa itu baik dan dapat mengizinkannya sesuai yang ia nilai baik bagi suster tersebut dan bagi institut. Dalam hal ini terjemahan asli dari naskah Peraturan hidup”unabridged Rule” bagian Virtue of Mortification (Keutamaan Matiraga) dikatakan bahwa: “Karena karya kerasulan sudah menjadi penyangkalan diri secara eksternal dan para suster membutuhkan kesehatan dan kekuatan fisik untuk bekerja maka tidak ada ketetapan peraturan hidup mengenai ini. Pimpinan komunitas dapat mengizinkan sedikit atau banyak sesuai yang ia nilai baik” (UR, 1981: 3). Kemudian dalam wejangan Pendiri St.Magdalena dari Canossa dikatakan bahwa: “Matiraga lahir tidak berguna kalau tidak dijiwai oleh matiraga batin yang lebih tinggi dan sempurna ( 2001: 31)”. b. Aspek Internal Aspek internal ini dapat dicapai dengan mengatur semua keinginan hawa nafsu sehingga sampai pada suatu hidup yang mulia dan sempurna, sebab jiwa lebih berharga dari pada tubuh. Aspek internal dari penyangkalan diri ini lebih mulia dari pada aspek eksternal sebab didalam aspek internal ini terdapat kematian dan penaklukkan sampai pada tindakan yang salah serta segala bentuk hawa nafsu sampai ke akarnya, sehingga semua keinginan hanya terarah kepada Allah. setiap suster FdCC berusaha untuk menyatukan semua keinginan, cinta diri dan kehendak sehingga hanya memikirkan Tuhan saja. Dalam wejangan Pendiri St.Magdalena dari Canossa dikatakan bahwa: “ lebih nyaman hidup lepas dari segalanya dan hidup dengan Dio Solo (2001:29)”. Sedangkan dalam hal ini terjemahan asli dari naskah Peraturan hidup”unabridged Rule” bagian

(70) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 51 Virtue of mortification (Keutamaan matiraga) mengatakan bahwa : “Setiap orang berusaha untuk mematikkan semua keinginan,cinta dan kehendak sehingga hanya memikirkan Tuhan saja (UR,1981: 3)”. Setiap suster FdCC hendaknya senantiasa ingat bahwa keinginan dan hawa nafsu yang perlu dicabut adalah kemarahan, kesombongan dan bentuk afeksi yang tidak teratur. Kesombongan merupakan jalan yang merintangi curahan hati Allah. Karena itu para suster FdCC diharapkan untuk dapat menderita dengan sabar ketika orang lain mengetahui diri mereka tidak sempurna, tidak mampu, bodoh, miskin dan lemah dan hendaklah mereka menerima semua itu baik dari pimpinan, para suster di sekolah, di rumah sakit maupun dalam pengajaran katekese. Mengenai kemarahan hendaknya para suster FdCC tidak menuruti pikiran, kebiasaan dan ide mereka apa bila mereka berada bersama dengan orang hal. Hal ini dapat membantu menolong hidup rohani mereka karena orang-orang ini membutuhkan perhatian bagi jiwa sama seperti mereka merawat tubuh. Para suster FdCC hendaknya melatih diri untuk berperang melawan hawa nafsu dan segala keinginan yang tidak teratur untuk dapat masuk dalam kerajaan surga. Dalam wejangan Pendiri St.Magdalena dari Canossa dikatakan bahwa: “kita tidak mengecewakan Tuhan kalau kita menikmati kesenangan yang Ia sediakan sendiri bagi kita (2001:32)” b) . Pengorbanan Menjadi murid Kristus berarti orang siap untuk berkorban atau siap untuk mengorbankan segala sesuatu yang dimiliki entah itu kekayaan, kekuasaan dan jabatan. Yesus Kristus sebagai sang teladan sejati memberi contoh kepada kita. Ia menghampakan

(71) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 52 diri dan mengambil rupa sebagai seorang hamba dan taat sampai mati bahkan mati disalib sebagai bentuk pengorbanan yang mulia. Pengorbanan-Nya merupakan pengorbanan satu kali untuk selama-Nya melalui kematian di kayu salib. Surat Paulus kepada Jemaat di Roma ( Rm 6 :10) mengatakan : “ Sebab kematian-Nya merupakan kematian terhadap dosa satu kali untuk selamanya”. Kata-kata Paulus ini menjadi nasehat bagi jemaat di Roma agar senantiasa menjauhkan diri dari dosa dan menanggalkan segala bentuk hawa nafsu dan keinginan yang merintangi mereka untuk membangun hidup baru dalam Kristus. Menjadi manusia baru dalam kristus yakni dengan membiarkan diri dipimpin oleh Allah dengan bantuan Roh Kudus-Nya. Para suster FdCC hendaknya berani dan siap sedia berkorban terhadap segala sesuatu yang mereka miliki entah itu tenaga, pikiran, perasaan ataupun segala bentuk kenyamanan yang membuat mereka tidak bebas dalam pelayanan terhadap sesama. Belajar dari St Magdalena sebagai ibu pendiri para suster FdCC diajak untuk menghayati pengorbanan-pengorbanan kecil yang disediakan oleh Tuhan setiap hari, karena semangat pengorbanan dan salib merupakan semangat pengikut Kristus (wejangan St. Magdalena, 2001: art,29 alinea 2). Kenyataannya bahwa dalam mempraktekkan askese terkadang begitu sulit maka diperlukan latihan setiap hari dengan memohon bantuan Roh Kudus untuk dapat membantu, membimbing seluruh sikap hati dan batin kepada pengorbanan yang radikal. Dengan bantuan Roh Kudus para suster FdCC meresapi setiap bentuk pengorbanan yang mereka jalankan. Dalam wejangan Pendiri St. Magdalena dari Canossa dikatakan bahwa:

(72) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 53 Diperlukan sebuah pelepasan total untuk dapat menggunakakan waktu, perhatian dan pikiran bagi kemuliaan Allah”(2001: art,29: alinea 4). Mengikuti Kristus menurut Magdalena yakni haruslah melepaskan secara total dan mematikan keinginan akan hal-hal duniawi untuk dapat mempergunakan segalanya demi kemuliaan Allah. Maka sebagai pengikuti St.Magdalena dari Canossa para suster FdCC diminta untuk dapat menyadari bahwa pengorbanan yang mereka lakukan merupakan bentuk ikut ambil bagian dalam pengorbanan kristus. Dan hendaknya pengorbanan tersebut dilaksanakan dengan kesadaran dan ketulusan hati. C) Salib Salib merupakan lambang keselamatan bagi kita umat manusia, sebab Kristus Yesus mengurbankan diri-Nya dengan kematian pada kayu salib. Salib merupakan jalan ketaatan-Nya terhadap kehendak Bapa (Flp 2: 8). Ia memilih jalan penderitaan agar manusia selamat. Keselamatan tersebut tidak hanya diperuntukkan kepada mereka yang percaya kepada-Nya melainkan kepada semua manusia di muka bumi. Para suster FdCC senantiasa diminta untuk dapat memandang kepada Kristus yang Tersalib sebagai teladan hidup sekaligus sebagai pusat dari spiritualitas suster FdCC. Dengan memandang kepada Kristus Tersalib seorang suster FdCC diharapkan dapat menimba kekuatan, semangat untuk dapat menghayati panggilannya dan sekaligus untuk dapat berani menanggalkan segala bentuk ketidak teraturan dan keinginankeinginan duniawi yang menghalanginya untuk dapat melayani dan untuk dapat melaksanakan askesenya. Dalam wejangannya Pendiri St. Magdalena dari Canossa

(73) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 54 mengatakan bahwa: “Kehadiran salib selalu merupakan sebuah tanda baik ( 2001: art, 30 alinea 6 )”. Para suster FdCC dalam menjalankan askese hendaknya belajar untuk melihat salib-salib yang dihadapi setiap hari sebagai tanda yang baik yang membantu mereka untuk semakin setia dalam mengikuti Kristus. Sebab konsekuensi dari seorang pengikut Kristus adalah berani memikul salibnya sendiri. Dengan menyadari kehadiran salib sebagai jalan untuk mendewasakan iman mereka dan dengan kehadiran salib dapatlah membantu seorang suster FdCC untuk mematikan kehendaknya sendiri dan menyadarkannya bahwa cinta Allah kepadanya begitu besar dan tidak akan perna meninggalkannya dalam keadaan apa pun. Dalam wejangannya Pendiri St. Magdalena dari Canossa mengatakan bahwa: “Tuhan sewaktu-waktu mengunjungi kita dengan salibNya. Itu adalah tanda bahwa Ia mencintai kita, hal mana seharusnya menghibur kita” (2001: art;31 alinea 1). Ditengah tantangan dunia yang semakin menjanjikan ini kehadiran salib entah berupa penyakit, permasalahan maupun penderitaan lainnya sering kali merupakan hal buruk yang mana membuat orang lari dan tak mau menerima kenyataan tersebut St. Magdalena meminta agar para suster FdCC untuk tetap menghadapi dan menerima salib-salib tersebut sebagai tanda cinta Allah kepada mereka karena hanya dengan demikian mereka dapat memberi kesaksian kepada semua orang akan kehadiran mereka sebagai orang-orang yang terpanggil untuk membuat Yesus semakin dikenal dan dicintai. 3. Usaha Dalam mempraktekkan Askese bagi para suster FdCC Askese akan tetap menjadi salah satu keutamaan yang penting apabila dipraktekkan secara terus-menerus dengan penuh kesadaran dan kesungguhan hati dalam kehidupan

(74) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 55 sehari-hari. Ini bisa dilihat pada diri St. Magdalena sebagai ibu pendiri kongregasi suster FdCC. Magdalena mempunyai sikap taat kepada Allah melalui pelepasan total terhadap segala kecenderungan manusiawi dan matiraga yang dialaminya. Bagi Magdalena praktek askese itu terletak pada sikap lepas bebas dan hanya menggantungkan hidup sepenuhnya kepada kerahiman Allah yang merupakan kekayaan kita (wejangan St.Magdalena 2001: 2). Usaha dalam mempraktekkan askese bagi para suster FdCC melalui : a. Doa Doa merupakan kekuatan utama dalam pembangunan hidup rohani seorang religius. Doa merupakan juga dasar dimana seorang religius membangun keintimannya dengan Tuhan. Doa menjadi kesempatan untuk membangun relasi kasih dengan Bapa. Dalam kesibukan karya pelayanan-Nya Yesus selalu mencari waktu untuk berdoa” dan setelah orang banyak itu disuruhnya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri ( Mat 14:23)”. Melalui doa Yesus mau menunjukkan relasi kasih antara Ia dan Bapa-Nya. Sebagai seorang beriman doa hendaknya menjadi kebutuhan hidup setiap hari seperti layaknya makanan. Dalam konstitusi kongregasi FdCC ( 1828: no. 11) mengatakan sebagai berikut : Doa adalah suatu anugerah Allah, suatu pengalaman hadirat-Nya dalam Kristus Yesus yang melalui kuasa Roh-Nya, mewahyukan kepada kita misteri Allah sebagai kasih dan menjadikannnya penyembah-penyembah Bapa yang sejati. Doa membantu seorang suster FdCC untuk senantiasa mengalami persatuan yang mesra dengan Allah. Persatuan ini dapat pula menghantar manusia untuk dapat mengatasi segala godaan dan tantangan yang dapat mengahalangi manusia mencapai kesucian dan

(75) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 56 kemurnian hidup. Doa sebagai sebuah relasi personal yang menuntun orang untuk senantiasa rindu akan kemuliaan Allah, dan suatu usaha untuk senantiasa mencari kehendak Allah. Dengan doa dapat membantu kita untuk menjalankan askese dalam kehidupan yang ditandai dengan berbagai macam tawaran hidup untuk mendengar kehendak Allah dan membuat pilihan-pilihan terhadap tawaran-tawaran tersebut. Dalam wejangannya St. Magdalena dari Canossa mengatakan bahwa: “Sikap doa merupakan sebauah latihan rohani dimana jiwa belajar mendekati dan mengenal Tuhan, sehingga menjadi semakin rela dan berhasrat mencintai Tuhan ( 2001: 4)”. Dengan membangun sebuah latihan rohani yang ditempuh dengan doa seseorang dihantar pada pengenalan akan Allah dan hasrat untuk mencintai Dia setiap saat. Dengan rasa cinta kepada-Nya setiap saat membantu kita juga untuk tidak mudah jatuh kedalam godaan dan nafsu jasmani. Yesus Kristus sendiri sebagai soko guru dan teladan hidup Kristiani senantiasa membangun relasi dengan Bapa-Nya melalui doa. Ia pun mengajarkan kepada para murid-Nya bagaimana mereka harus berdoa.Ketika menghadapi berbagai godaan dan tantangan dalam pewartaaan-Nya Dia senantiasa mencari kesempatan untuk berdoa bahkan ketika tergantung di kayu salib pun Ia masih berdoa „ Ya Bapa ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat ( Luk 23:34) sebuah doa seruan kepada Bapa-Nya untuk memberikan pengampunan bagi mereka yang telah menyalibkan-Nya. Doa adalah disiplin mendengarkan suara kasih. Seperti Yesus dalam kehidupan kita setiap hari kita di tuntut untuk dapat berdoa membangun sebuah relasi kasih dengan Allah mendengarkan suara-Nya agar kita tidak mudah jatuh dalam memutuskan sesuatu dan

(76) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 57 agar suasana batin kita dapat terpelihara dengan baik. (Darminta,1998: 41). Karena doa merupakan kekuatan yang dapat menghantar kita pada kehidupan yang lebih baik maka para suster FdCC senantiasa di minta untuk dapat mencari waktu-waktu tertentu agar dapat membina hubungan yang akrab dengan Allah melalui doa baik secara pribadi maupun bersama-sama dalam komunitas. Bagi St Magdalena sebagai pendiri kongregasi FdCC doa merupakan sebuah kekuatan sekaligus penghiburan baginya dalam seluruh kehidupan entah itu dalam hidup berkomunitas maupun dalam hidup karya, sebab doa itu Mahakuasa (Wejangan Magdalena Canossa 2001:5). Karena doa itu Maha kuasa, maka para suster FdCC harus memberi waktu yang cukup untuk berdoa dalam membina relasi dengan Allah. Setiap suster FdCC harus sungguh-sungguh memperhatikan hidup doanya, baik doa pribadi maupun doa bersama. Cara-cara doa pribadi diatur masingmasing. Tanpa doa, maka segala sesuatu yang kita lakukan termasuk didalamnya segala bentuk praktek askese tidak akan berguna. Urusan- urusan kita sungguh pun berjalan lancar,selalu membutuhkan banyak doa (Wejangan St. Magdalena, 2001:6, alinea 4). Segala yang kita kerjakan akan berguna dan berkenan pada Allah apabila di awali dengan doa. “Berdoalah agar Tuhan berkenan memberkati seluruh jerih payah yang kecil ini dan ikut bekerja sama dengan Rahmat-Nya menghasilkan buah”(Wejangan St. Magdalena, 2001:6). supaya jerih payah kita

(77) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 58 b. Amal Dalam penghayatan terhadap askese diperlukan juga hidup amal. Ini dimaksudkan agar membantu seseorang untuk dapat berbagi dengan orang lain apa yang menjadi kelebihan dirinya dalam hal materi. Amal di sini dimaksudkan juga adalah untuk membantu seseorang bersolider dengan orang lain terlebih mereka yang miskin. Dalam sabda di bukit Yesus menegaskan kepada kita bahwa : “Berbahagialah mereka yang miskin karena merekalah yang empunya kerajaan Allah” ( Luk 6: 20). Mengingat bahwa orang miskin senantiasa ada disekitar kita. Sebagai salah satu bentuk pengendalian terhadap keinginan-keinginan jasmani maka adalah sebagai sebuah kewajiban bagi kita umat manusia untuk membangun sikap beramal sebagai salah satu bentuk askese. Beramal sesungguhnya merupakan berbagi berkat bersama dengan orang lain berupa apa saja yang dapat membantu mereka untuk bertumbuh dalam kehidupan. St Magdalena sebagai pendiri kongregasi FdCC menghendaki agar para suster FdCC memiliki sikap hati yang senantiasa memperhatikan orang lain dengan berbagi berkat terutama kepada mereka yang miskin dan yang berkekurangan sebab orang miskin merupakan tuan bagi kita (Wejangannya St.Magdalena 2001: 28). Para suster FdCC hendaknya selalu mengingat bahwa orang miskin juga merupakan sesama yang perlu dilayani dan perlu mendapat bantuan. Dalam pelayanan kepada mereka yang miskin hendaknya para suster FdCC tidak cepat mengeluh mengenai keadaan apa pun yang dialami bersama dengan mereka, tidak menertawakan kekurangan mereka serta tidak menunjukkan sikap yang membuat mereka merasa tersinggung. Dalam wejangannya St. Magdalena dari Canossa mengatakan

(78) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 59 bahwa: Dengan seluruh kekuatanku, aku mohon perhatikanlah kaum miskinku yang tercinta (2001: 27). Para suster FdCC hendaknya mengingat bahwa adalah perlu untuk menyisihkan kebutuhan mereka bagi kaum miskin yang mereka jumpai atau yang mereka layani baik itu anak-anak maupun orang dewasa yang sangat membutuhkan perhatian atau pun uluran tangan dari mereka baik material maupun rohani. c. Matiraga Matiraga berati mati atas kehendak, kesukaan-kesukaan, ide dan kemauankemauan untuk mengkritik orang lain sehingga hanya mencari yang terbaik demi kehidupan bersama yakni kemuliaan Allah. Dalam wejangannya St Magdalena dari Canossa di katakan bahwa: "Patutlah segala sesuatu dikorbankan demi kemuliaan Allah ( 2001: 10)". Para suster FdCC hendaknya mengingat bahwa dengan mengorbankan segala sesuatu yang membelenggu jiwa membantu mereka untuk mendekatkan diri pada Allah dan sesama. Mengingingat bahwa para suster FdCC mempunyai bentuk kecenderungan, cara berpikir dan watak tertentu maka dengan bermatiraga mereka diharapkan dapat mengikisnya dengan mempraktekkan keutamaan ini. Dalam hal ini terjemahan asli dari naskah Peraturan hidup”unabridged Rule” bagian Virtue of Mortification (Keutamaan matiraga) mengatakan bahwa : Semua tindakan ini nampaknya tidak begitu bernilai dan biasanya tidak begitu diperhatikan oleh orang lain, namun inilah yang dituntut dari pendiri bagi para suster FdCC yang memilih membaktikan hidup dalam kongregasi ini (UR, 1981: 5) Para suster FdCC hendaknya tidak mengeluh mengenai kesempatan penderitaan meski kecil yang mereka temukan baik dalam rumah cinta kasih

(79) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Canossian. Sebagai contoh hendaknya mereka tidak mengeluh mengenai makanan atau bumbu masak, cuaca yang buruk atau pun tentang persoalan yang mereka hadapi yang mana akan mengaburkan nilai askese. 60

(80) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB III VISI ASKESE MASA SEKARANG Askese dalam kenyataannya dihayati dalam kehidupan sehari-hari dalam komunitas. Oleh karena itu terlebih dahulu akan dibahas mengenai askese dalam vita consecrate, askese dalam Konstitusi FdCC dan baru kemudian askese dalam abad 21. A. ASKESE DALAM VITA CONSECRATA Paus Yohanes Paulus II dalam Vita Consecrata - Seruan apostolik tentang pembaharuan hidup religius menghimbau agar kaum hidup bakti menggali praktekpraktek askese yang khas bagi tradisi rohani Gereja dan bagi tarekat sendiri (art. 38 ). Praktek-praktek askese ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Bentuknya disesuaikan keputusan bersama dalam tarekat masing-masing atau pun dalam kebersamaan dengan umat dalam Gereja. Praktek askese yang terjadi misalnya saja dalam masa prapaskah kita diajak untuk lebih meningkatkan pantang puasa serta amal kita, dengan tujuan agar dapat membantu kita menuju kepada kehidupan yang lebih baik. Di dalam menjalankan praktek askese ini diperlukan sebuah sikap batin yang senantiasa sadar akan pentingnya pembaharuan hidup. Pembaharuan hidup terjadi didalam pertobatan yang berlangsung terus-menerus. Sebagai kaum hidup bakti kita dipanggil untuk senantiasa memperbaharui hidup dengan jalan pertobatan dan kita pun diundang untuk senantiasa mempertahankan praktek askese. Askese bagi kaum hidup bakti tetap menjadi sebuah keutamaan yang perlu dipertahankan, mengingat bahwa melalui askese kita dibantu untuk dapat mengendalikan kecenderungan manusiawi kita

(81) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 62 yang mudah dikuasi oleh nafsu duniawi. Untuk zaman sekarang ini, perlulah dibangun sikap untuk dapat mempertahankan askese sebagai sebuah keutamaan yang penting di dalam mengembangkan kehidupan rohani kaum hidup bakti. Dalam Vita Consecrata- seruan apostolik tentang pembaharuan hidup religius (1996: art,35-38) dikatakan bahwa panggilan mereka yang ditakdiskan untuk pertamatama : a. Hidup yang mengalami trasfigurasi : Mencari kerajaan Allah terutama melalui seruan untuk bertobat sepenuhnya dan mengingkari diri, supaya dapat hidup seutuhnya demi Tuhan sehingga Allah menjadi semuanya dalam segalanya ( art.35). Kaum hidup bakti dipanggil untuk senantiasa memandang wajah Kristus yang mengalami Trasfigurasi, hal ini menunjuk bahwa sebagai kaum yang membakti yang membaktikan hidup demi kerajaan Allah dipanggil untuk selalu bertobat memperbaharui diri secara terus menerus setiap hari. Selain itu berani untuk mengingkari diri dari segala macam kelekatan yang tidak teratur entah itu barang maupun hal lainnya yang dapat merintangi dirinya untuk membangun keintiman dengan Allah sebagai asal dan tujuan hidupnya. Melalui pertobatan dan pengingkaran diri terhadap hal-hal duniawi dapat membuahkan perubahan sikap hidup dan tingkah laku dan pola pikir yang mencerminkan diri sebagai murid Kristus yang sejati. b. Kesetiaan terhadap karisma : Dengan setapak demi setapak berusaha menyerupai Kristus dengan belajar melepaskan hati dari perkara-perkara lahiriah, kegaduhan

(82) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 63 panca-indra dan dari segala sesautu yang menjauhkan manusia dari kebebasan yang memungkinkannya ditangkap oleh Roh (art.36). Dengan membaktikan diri untuk mengikuti Kristus secara khusus, kaum hidup bakti diminta untuk memiliki hati yang tidak terbagi terhadap harta kekayaan, pangkat, kekuasaan, kehormatan maupun kedudukan serta menghindari diri dari semua hal yang tidak mendidik baik dari bacaan-bacaan, penggunaan televisei, internet atau VCD yang tidak membantu dalam menopang kehidupan rohani mereka. Melainkan mereka diminta untuk membiarkan Roh Allah menguasai semua keinginan mereka dan menghantar mereka untuk mencapai kekudusan hidup. c. Kesetiaan yang kreativ : Pedoman hidup dan konstitusi menyajikan peta bagi seluruh perjalanan murid Kristus. Penghargaan lebih besar terhadap pedoman hidup pasti akan memberi tolak ukur yang andal dalam usaha menemukan bentuk kesaksian yang cocok dalam menanggapi kebutuhan-kebutuhan zaman serta tabah didalam menempuh jalan kekudusan (art.37). Ini menunjuk kepada ajakan untuk tetap berada didalam kesetiaan untuk mengejar kekudusan ditengah dunia yang diwarnai oleh berbagai macam tawaran yang begitu mempersona. Untuk itu kaum hidup bakti diminta untuk senantiasa kembali ke peraturan hidup masing-masing tarekat sebagai pedoman yang dapat membantu para anggotanya mampu setia terhadap panggilan mereka sebagai murid Kristus. d. Doa dan askese : Askese sungguh perlu sekali bila para anggota hidup bakti ingin tetap setia pada panggilan mereka sendiri dan mengikuti Yesus pada

(83) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 64 jalan salib melalui doa, Ekaristi, latihan rohani dan keheningan (art.38). Ini menunjuk kepada kesetiaan terhadap komitmen untuk mengikuti Kristus secara radikal membutuhkan askese sebagai sarana menuju kepada kekudusan hidup. Untuk sampai kepada kekudusan hidup dibutuhkan sebuah latihan untuk peka mendengarkan Allah yang senantiasa hadir dan menyapa manusia. Bentuk dari askese dapat ditemukan lewat doa, keheningan batin, rekoleksi, retret dan Ekaristi yang menjadi sumber dan puncak yang memberi kekuatan bagi kita serta melatih kepekaan indra untuk menyelami kehendak Allah yang berbicara dalam hati manusia. Menghadapi tantangan zaman sekarang ini, askese menjadi bagian yang sangat penting dan menjadi keutamaan yang relevan, apalagi untuk menghadapi sekularisme yang telah menguasai manusia di mana manusia lebih mementingkan kesenangan duniawi. Visi yang menjadi askese untuk zaman sekarang dapatlah kita jumpai dalam diri orang modern saat ini . Askese orang Kristen modern saat ini tidak bedanya dengan orang-orang Kristen segala zaman yakni peka, mendengarkan dan mau memperhatikan Roh Tuhan (Darminta, 2007 : 46). Allah senantiasa berbicara dalam setiap hati manusia.Yang diharapkan dari setiap manusia adalah kepekaan untuk membuka hati dan mendengarkan bisikan Allah yang berbicara didalam kehidupan sehari-hari yang ditandai dengan perkembangan zaman, yang mana menuntut setiap manusia untuk berani memilih.

(84) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 65 Tak dapat dibendung juga bahwa godaan untuk memiliki barang-barang duniawi melanda kehidupan kaum religius. Berbagai alasan dikemukakan untuk dapat memiliki barang-barang tersebut misalnya saja godaan untuk memiliki hand phone, laptop dan alatalat teknologi lainnya. Selain itu tawaran untuk hidup dalam kenikmatan akan makanan tanpa memikirkan mereka yang kelaparan. Gaya hidup enak misalnya dalam hal makanan membuat orang sering kali memilih membuang-buang waktu dengan duduk berlama-lama untuk makan sekedar memuaskan keinginan untuk mencicipi cita rasa makanan yang enak dari pada duduk dan merenungkan sabada Tuhan. Makan bukan karena merasa lapar melainkan asal kenyang dan enak semuanya menjadi beres. Harus diakui bahwa orang yang kenyang dan berlebihan dalam makanan mudah sekali terlena tidak menyadari lagi bahwa dirinya memiliki kelaparan akan Allah, yakni makanan dari Tuhan (Darminta, 2006: 35). Bertolak segar dalam Kristus merupakan dokumen ajaran Gereja yang memiliki seruan sekaligus ajakan secara khusus bagi kaum hidup bakti untuk senantiasa menghidupi askese. Bentuk askese dari kaum hidup bakti ini disesuaikan dengan zaman dan caranya masing-masing. Sejarah hidup bakti telah mengungkapkan lukisan pada Kristus dalam banyak bentuk askese yang telah dan tetap masih merupakan dukungan kuat bagi kemajuan otentik dalam kekudusan. Askese sungguh perlu sekali bila kaum hidup bakti ingin tetap setia terhadap panggilan mereka sendiri dan mengikuti Yesus pada jalan salib bentuknya disesuaikan dengan zaman kita

(85) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 66 ( BSDK.art 27). Mereka yang terpanggil untuk hidup bakti hendaknya berusaha untuk menghidupi askese sebab, askese membantu para kaum hidup bakti membangun persatuan dengan Allah dan membantu mereka mencapai kekudusan hidup. Bentuk dari askese ini disesuaikan dengan zaman. Dengan menghidupi askese kaum hidup bakti ditantang juga untuk sungguh-sungguh menyerahkan diri dan memilih hidup dalam bimbingan Tuhan tanpa ada unsur keterpaksaan melainkan atas kehendak yang bebas. Dengan penyerahan diri dan kehendak yang bebas didalam mengikuti Kristus kaum hidup bakti juga dipanggil untuk berani ikut terlibat didalam jalan salib Kritus, dengan berani menanggalkan segala keinginan duniawi. Salib menjadi jalan keselamatan dan kesempurnaan. Melalui jalan salib Yesus membuat kita memahami bahwa solidaritas-Nya dengan umat manusia demikian radikal hingga menembus, berbagai tembok dan masuk dalam tiap aspek negatif sampai kematian, buah dari dosa (BSDK.art.27). Paus Yohanes Paulus II dalam Vita Consecrate seruan apostolik tentang pembaharuan hidup religius menghimbau “agar Perlu juga mengenali dan mengatasi godaan-godaan tertentu yang ada kalanya menyembunyikan diri dibalik tipu muslihat setan, menyajikan diri dibalik samarak kebaikan”( art.38). Maka perlu diperangi: sikap putus asa, kecenderungan-kecenderungan kodrat manusiawi yakni nafsu untuk menguasi berbagai harta atau benda. Kaum hidup bakti hendaknya senantiasa sadar bahwa harta duniawi ini sifatnya hanya sementara maka mereka diarahkan untuk senantiasa mengumpulkan harta surgawi yakni kebajikan-kebajikan ilahi yang dapat membantu kaum hidup bakti menemukan kedamaian hati. Jika kamu melepaskan dirimu dari

(86) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 67 perasaan-perasaan dan kegembiraan hidupmu serta hanya mencari Allah dengan sikap lepas bebas maka kamu akan menemukan kedamaian hati (Arnold, 2003:86). Dalam kotbah di bukit, Yesus berkata : "Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu (Mat 6:25).” Ia menghendaki kita untuk bersyukur dan hidup dengan bahagia, bebas dari rasa takut dan kekhawatiran yang berlebihan akan kenikmatan dan kenyamanan yang membuat kita terkadang menilai hidup ini hanya kini dan di sini. Kenikmatan itu bisa bermacam-macam bentuknya, gaya hidup, status sosial, kekayaan, dan lain sebagainya. Hal-hal ini akhirnya membawa pada tertutupnya mata hati sehingga tidak lagi mampu melihat pada hal-hal yang jauh ke depan. Lebih dari itu Yesus mengajak kita untuk bersadar diri bahwa Tuhan adalah Tuhan yang turun tangan, yang terlibat dan tidak pernah meninggalkan umat-Nya. B. Askese dalam Konstitusi FdCC Dasar askese yang dikehendaki pendiri bagi para suster FdCC adalah “supaya menyerupai Dia yang Tersalib” ( Konst. FdCC,1828 : no.20). Kristus yang Tersalib menyerahkan diri kepada Allah karena kasih-Nya yang besar kepada manusia. St.Magdalena sebagai ibu pendiri dengan latar belakang kehidupannya yang sejak kecil hingga remaja telah dihiasi oleh berbagai situasi yang sulit dan menyedihkan menemukkan bahwa salib merupakan saat berahmat untuk melihat cinta Allah dalam hidupnya. Yesus tersalib menjadi teladan bukan untuk kehidupannya sendiri melainkan juga untuk para suster FdCC sebagai pengikutnya. Magdalena juga melihat bahwa kasih

(87) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 68 Kristus Tersalib mendorongya untuk menghayati kehidupan yang asketis. Dalam Konstitusi Kongregasi FdCC dinyatakan bahwa: Kasih Kristus yang setia dan kerinduan kita untuk menyesuaikan diri kepada-Nya yang Tersalib mendorong kita untuk menghayati suatu kehidupan yang asketis dengan rela hati dalam hubungan yang erat dengan Dia dan dalam persatuan dengan umat manusia yang menderita kita terima dengan hati yang teguh dan tenang kesempatan-kesempatan penderitaan yang terpaut dengan kehidupan kita sehari-hari dalam tanggung jawab pembaktian kita, dalam pelayanan cinta kasih dan dalam pencobaan-pencobaan baik yang menyangkut kita sebagai pribadi maupun sebagai institut ( Konst. Kongregasi FdCC 1828: art.20). Ketika Magdalena berbicara mengenai kesempatan beraskese dengan meneladani Kristus yang Tersalib maksudnya adalah bahwa hendaknya para suster FdCC senantiasa berusaha untuk tetap mempraktekan keutamaan askese dengan keteguhan hati dan ketenangan seperti Kristus Yesus yang Tersalib. Selain dari pada itu mereka juga diminta untuk dapat menanggung segala penderitaan atau cobaan yang mereka alami misalnya saja karena sakit atau karena kemarahan oleh pimpinan, karena sebuah keputusan demi perkembangan Institut dan juga untuk perkembangan kehidupan rohani para suster FdCC yang memilih institut Canossian ini. Perkembangan zaman yang ditandai dengan kemajuan teknologi menjadi tantangan tersendiri bagi para suster FdCC. Ditengah-tengah perkembangan zaman yang begitu pesat ini, askese menjadi semakin dirasakan sulit untuk dipraktekkan, karena setiap suster FdCC dihadapkan pada semakin besarnya tuntutan dalam perutusan. Ini dapat di lihat dalam beberapa hal misalnya dalam hal penggunaan alat elektronik Para suster FdCC juga ikut tergoda untuk memiliki barang-barang elektronik seperti hand phone, ipad, laptop serta berbagai alat teknologi lainnya secara pribadi tanpa meminta izin terlebih dahulu

(88) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 69 kepada pimpinan komunitas, dengan alasan untuk menunjang karya kerasulan atau pun memperlancar study. Hal ini kerap menimbulkan perlombaan diantara para suster FdCC untuk memamerkan alat-alat elektronik yang dimiliki. Para suster FdCC merasa kurang lengkap jika tidak memiliki salah satu alat teknologi ini. Akibatnya para suster lebih memilih menyibukkan diri untuk berlama-lama berbicara dengan temanya ditelepon dari pada mengikuti rekreasi komunitas. Sibuk membalas SMS teman dari pada mendengarkan shering dari teman sekomunitas. Ada juga yang lebih memilih berjam-jam duduk didepan komputer untuk chating bersama dengan temannya dan mengesampingkan bacaan rohaninya yang hanya memakan waktu satu jam (Rencana Formasi, 2013: 28). Selain itu yang menjadi tantangan bagi para suster FdCC saat ini juga adalah adanya kencenderungan untuk membicarakan tentang kejelekan orang lain, menyebarkan hal-hal yang belum pasti kebenarannya (gosip) dan kurang menjaga rahasia baik pribadi maupun komunitas. Tidak hanya itu tawaran untuk hidup dalam kemewahan juga melanda para suster FdCC misalnya saja, ingin hidup enak, makan enak dan segala sesuatu yang dapat membuatnya merasa nyaman tanpa peduli dengan sesama disekitarnya khususnya mereka yang miskin. Hal semacam ini membuat nilai askese menjadi pelan-pelan memudar. Tidak ada lagi nilai pengorbanan. Keadaan ini menjadi keprihatinan tersendiri bagi para pimpinan. karena itu sangat dibutuhkan pembinaan untuk menumbuhkan dalam diri para suster FdCC kesadaran akan keutamaan askese. Kesadaraan tersebut perlu dilakukan sejak dini agar para suster FdCC senantiasa sadar akan tugas dan tanggung jawabnya sebagai seorang suster FdCC dalam

(89) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 70 mempraktekkan keutamaan askese, seperti keinginan ibu pendiri St. Magdelana dari Canossa sebagai mana tertuang dalam wejangan serta dalam Kostitusi Kongregasi FdCC. Konstitusi Kongregasi FdCC sebagai pedoman yang membantu para suster FdCC dalam mengembangkan panggilan hidup mereka, memberi petunjuk bagi para suster FdCC didalam menjalankan askese yakni dalam suasana hening dan dalam pertobatan yang terus menerus secara sadar akan kelemahan dan dosa. Untuk kedua hal ini yakni keheningan dan pertobatan dapat dijelaskan sebagai berikut: 1. Keheningan Menyinggung askese ini St. Magdalena memperkenalkan kepada para pengikutnya tentang pentingnya melepaskan diri dari berbagai keinginan yang tidak teratur. Surat Paulus kepada jemaat di Galatia mengatakan: Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya ( Gal 5:24) . Sebagai putri cinta kasih yang membaktikan hidupnya demi kemuliaan Allah, para suster FdCC dipanggil untuk senantiasa melepaskan dirinya dari berbagai keinginan hidup yang tidak teratur dan dari segala bentuk hawa nafsu yang dapat merintangi mereka untuk mempraktekkan askese. Keheningan membantu mereka untuk dapat memohon dan mendengarkan Allah yang berbicara melalui sabda-Nya agar dapat bertumbuh sebagai religius Canossian yang sejati. Dalam hal ini terjemahan “Plan Of Formation” (2013: 26) mengatakan bahwa : “St. Magdalena mengingatkan kita bahwa adalah penting kita mendidik diri kita kepada keheningan”. Keheningan yang ia maksudkan bukanlah diam dari kata-kata melainkan

(90) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 71 juga dari segala ikatan, afeksi atau rencana-rencana yang memisahkan diri para suster FdCC dari Allah. Demi memelihara cinta kepada Allah di dalam hati para suster maka harus didukung oleh keheningan, sebab semangat sejati seorang Puteri Cinta Kasih haruslah semangat pertapa di rumah dan merasul di luar. Keheningan dapat membantu para suster FdCC melaksanakan kehendak Allah melalui Firman Tuhan yang mereka renungkan. Diharapkan juga bahwa dengan merenungkan sabda Tuhan para suster dihantar pada sebuah perubahan sikap hati yang melahirkan suasana persaudaraan yang sejati, penuh kerendahan hati serta terbuka untuk menerima setiap orang dengan keunikannya secara tulus sebagai saudara. Dalam hal ini, Konstitusi Kongregasi FdCC (1828,art.18) mengatakan bahwa: “Bagi kita keheningan adalah suatu tuntutan kasih yang memungkinkan kita sama seperti Maria untuk menyambut dan menyimpan Firman dan untuk memberitakannya melalui persaudaraan sejati dan perbuatan cinta kasih, penuh kerendahan hati dan keterbukaan terhadap keunikkan orang lain”. Dalam menghayati askese ini, para suster FdCC berusaha untuk mempraktekkannya dalam komunitas melalui keheningan dalam komunitas secara bersama-sama. Dalam hal ini Statuta Provinci (2008.art.4, alinea pertama) mengatakan sepanjang tahun kita berusaha mempraktekkan askese keheningan pada saat makan malam satu kali seminggu. Keheningan dapat membantu para suster FdCC untuk menghindari pembicaraan yang kurang membantu yang mana dapat menimbulkan keinginan-keinginan yang tidak teratur. Dengan cara ini para suster FdCC dihantar untuk

(91) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 72 dapat menerima setiap askese yang diberikan Tuhan dalam keseharian mereka dengan pandangan mentalitas perubahan. 2. Pertobatan Didalam hidupnya Magdalena menghendaki agar segala yang di lakukan hanya membuat agar Yesus dikenal dan dicintai (Konst, Kongregasi FdCC,1828: art.5). Dalam memperkenalkan Yesus kepada sesama dibutuhkan sebuah sikap kerendahan hati, pertobatan dan pengampunan agar orang lain pun dapat mengalami hal yang sama. Tentang sikap pertobatan dan pengampunan ini dalam Konstitusi Kongregasi FdCC (1828: art,19) dikatakan bahwa : “Dengan rendah hati kita mengakui bahwa kita berada dalam kebutuhan yang tetap akan pertobatan dan pengampunan”. Menyadari diri sebagai manusia yang memiliki kerapuhan dan kelemahan-kelemahan, maka para suster FdCC dipanggil untuk senantiasa bertobat” Pertobatan dimulai dengan menyadari kelemahan dan mau memperbaikinya. Dalam mewujudkan sebuah praktek askese yang baik, para suster FdCC mengungkapkan kesetiaan mereka akan kasih kepada Kristus yang tersalib melalui pertobatan yang terus menerus. Para suster FdCC memandang bahwa pertobatan dan pengampunan merupakan kebutuhan yang tetap yang ada dalam Konstitusi, melalui pemeriksaan batin sebagai sebuah sarana yang sangat membantu dalam praktek askese. Pemeriksaan batin dilakukan dua kali dalam sehari yakni pemeriksaan batin khusus dan pemeriksaan batin umum. Pemeriksaan batin khusus dilaksanakan secara pribadi sebelum ibadat siang dan pemeriksaan batin dilakukan secara umum pada ibadat penutup (completorium). Dalam pemeriksaan batin ini para suster

(92) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 73 FdCC meminta kepada Tuhan untuk membersihkan seluruh hati dari segala kesalahan yang dilakukan sepanjang hari dan menyerahkan kepada Tuhan kehendak mereka untuk mengasihi Allah diatas segala-galanya. Karena pemeriksaan batin merupakan sarana pertobatan, maka para suster FdCC juga berusaha menilai kembali tingkah laku yang salah untuk diperbaiki. Pemeriksaan batin yang dilakukan dalam doa akan membantu para suster FdCC bersikap mawas diri dan toleransi terhadap kelemahan sesama didalam komunitas. Dalam hubungan yang erat dengan Kristus tersalib para suster FdCC dipanggil untuk senantiasa menghayati kehidupan askese dengan penuh kebebasan tanpa ada paksaan dan dengan penuh kerelaan hati. Para suster FdCC juga diajak untuk senantiasa menerima setiap kesempatan askese dengan tenang yang mana itu dapat dijumpai dalam kehidupan sehari- hari. Dengan mengikuti sang teladan Kristus yang tersalib para suster FdCC berusaha untuk dapat menyesuaikan diri mereka dengan Kristus yang tersalib yang menjadi kekuatan mereka melalui sikap lepas bebas terhadap segala bentuk keterikatan yang dapat menghalangi mereka untuk bersatu dengan Kristus dengan mempraktekkan setiap hari keutamaan askese ini sesuai dengan yang dianjurkan oleh ibu pendiri. Dalam hal ini Direktorium Kongregasi FdCC ( 1835 : no. 12 ) mengatakan: “Di dalam rencana tahunan komunitas kita menyetujui bebarapa cara askese komunitas selama beberapa waktu khusus, sesuai dengan petunjuk-petunjuk Gereja”. Setiap komunitas kongregasi FdCC senantiasa berusaha untuk tetap memelihara askese. Usaha untuk dapat menjalankan praktek askese ini tergantung dari keputusan

(93) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 74 bersama dalam komunitas dan caranya pun disesuaikan dengan kebutuhan setiap suster FdCC dalam komunitas mengingat bahwa kebutuhan dari setiap suster sangatlah berbeda, maka askese pun disesuaikan dengan keputusan komunitas masing-masing. Yang utama bahwa setiap orang dipanggil untuk menanggalkan nafsu dan kelemahankelemahan. Dalam Wejangan St. Magdalena dari Canossa (2001: 30) mengatakan : “Mari kita berusaha untuk lahir kembali secara rohani dengan melepaskan hawa nafsu dan kelemahan-kelemahan”. Keutamaan askese ini sangatlah penting bagi seorang suster FdCC yang memiliki tujuan utama meneladan Tuhan Yesus yang tersalib sebagai pusat hidup, sebab teladan Kristus tersalib merupakan sumber kasih yang besar (Kons. Kongregasi FdCC,1828:art.8). Dengan melakukan askese para suster FdCC belajar untuk menyesuaikan dirinya dengan sang teladan agung mereka yakni Kristus yang tersalib dengan berani untuk mati atas kehendak, kesukaan- kesukaan, ide, kemauan, kebiasaan-kebiasaan untuk mengkritik orang lain. Para suster FdCC hendaknya bersedia seperti patung yang siap untuk dipukuli dengan berbagai tantangan yang dihadapi dengan senantiasa membunuh dan berperang melawan kecenderungan manusiawi sehingga dalam hidup para suster FdCC hanya mencari yang terbaik demi kemuliaan Allah dan kebaikkan sesama. Magdalena sebagai ibu pendiri kongregasi FdCC meminta kepada para pengikutnya untuk tetap mempertahankan keutamaan askese ini, sebagai keutamaan yang memiliki nilai yang sangat tinggi. Bagi St.Magdalena praktek askese tentunya tetap merupakan

(94) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 75 keutamaan yang relevan termasuk pada zaman ini. Bentuknya tetap disesuaikan dengan keadaan para suster maupun situasi yang ada. 3. Relevansi keutamaan askese menurut ibu pendiri St Magdalena untuk zaman sekarang bagi para suster FdCC Relevansi keutamaan askese menurut Magdalena dalam buku “Plan Of Formation (2013 : 37) dikatakan : “Dalam praktek askese, karisma kita dimanifestasikan dalam cara-cara kongkrit kehidupan kita”. Kita dipanggil untuk mengungkapkan setiap hari, tiga keutamaan pokok. Tiga keutamaan tersebut adalah:  Ketaatan, membiarkan diri sendiri untuk dikembangkan – hati, pikiran dan keinginan – di dalam persembahan diri Yesus yang telah dilakukan Yesus di atas Salib;  Kerendahan hati, menyadari kenyataan bahwa kita adalah ciptaan dan menjadi mampu dalam sharing dan solidaritas;  Kemiskinan, mengubah logika memiliki menjadi logika memberi. Lebih lanjut dikatakan mengenai relevansi keutamaan askese bagi para suster FdCC untuk zaman sekarang dihayati demi Kristus melalui kaul-kaul. Kaul merupakan sebuah proses transformasi Paskah, kesempatan istimewa demi pertumbuhan dalam kebebasan dan kegembiraan melalui pertobatan di dalam tiga dasar kebutuhan seorang manusia yakni: keinginan akan kekuasaan, kebutuhan untuk memiliki dan afektifitas. Kaul juga merupakan sebuah jalan untuk menghidupi kemanusiaan kita seperti yang telah dihayati Yesus, sebagai Putera dan pelayan. Dengan menghayati semua ini para suster FdCC

(95) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 76 menjadi siap sedia kepada Gereja dan kepada dunia, serta mampu mengembangkan nilainilai Kerajaan, demi menciptakan ruang bagi mereka yang jauh, sehingga kehadiran para suster FdCC dapat menjadi tanda kenabian dan kegembiraan. Pentingnya para suster FdCC menghayati keutamaan askese dalam kaul yakni: a. Kaul ketaatan Ketaatan menempatkan kehidupan para suster FdCC di dalam tangan Allah supaya Ia dapat menggunakannya menurut gambaran-Nya dan membuatnya menjadi sebuah karya agung. St. Magdalena menunjukkan kepada para suster FdCC teladan Yesus Kristus, yang membuat diri-Nya “taat sampai wafat, dan wafat di kayu salib” (Fil 2:8), supaya untuk melatih diri para suster di dalam kebebasan Injil, sebagai norma hidup dan di dalam sikap tanggung jawab untuk menjalankan rencana Allah, bersama dengan “persembahan kehendak diri sendiri yang dibantu oleh Peraturan hidup dan dengan berbagai sarana. b. Kaul kemiskinan Kemiskinan membebaskan para suster FdCC dari perhambaan terhadap barangbarang dan kebutuhan-kebutuhan palsu serta membiarkan para suster FdCC menemukan Kristus secara terus menerus, yang di atas salib menanggalkan segala-galanya kecuali cinta-Nya. Sebagaimana diharapkan St. Magdalena, demi hidup sebagai kaum miskin kita harus “memusatkan pandangan kita kepada-Nya untuk beberapa saat melihat bahwa di atas Salib Dia tidak hanya kekurangan ketakberdayaan tetapi kebutuhan-kebutuhan yang mutlak (Fabian Thomas, 2013 : 27). Selain itu Para suster FdCC dipanggil untuk

(96) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 77 membagikan apa yang mereka miliki, supaya memisahkan diri dari usaha akan kekayaan untuk mengidentifikasi diri para suster FdCC dengan Kristus tersalib yang telah menjadi hamba, dengan memilih sebuah kondisi hidup yang menunjukkan marjinalitas (Fabian Thomas, 2013: 26). c. Kaul Kemurnian Kemurnian membuka hati para suster FdCC terhadap ukuran hati Kristus dan membuat mereka mampu mencintai sebagaimana Ia telah mencintai. Ini menunjukkan sebuah perjalanan dari kedewasaan pembinaan berkelanjutan dalam kasih yang membebaskan hati para suster FdCC dari keinginan tak teratur dan mampu memiliki sikap lepas bebas dari keluarga, barang ataupun orang tertentu secara menetap dengan pilihan pada kemurnian. Seperti Kristus tersalib, para Puteri Cinta Kasih dipanggil kepada “sikap lepas bebas interior dan eksterior yang total dari segala yang bukan Allah (Fabian Thomas, 2013: 29). Dalam terjemahan asli dari naskah Peraturan hidup”unabrigde Rule” dikatakan bahwa : Hendaknya mereka mempersatukan diri mereka kepada Allah saja, dengan tidak mengharapkan apa-apa, tidak mencintai yang lain selain Dia, tidak menginginkan dan tidak mencari sesuatu yang lain tetapi Allah saja di dalam diri mereka ( UR,1981 : 6 ). Di dalam segala karya sehari-hari dan dalam pelayanan cinta kasih baik di sekolah, di paroki maupun di rumah sakit, Para suster FdCC diminta untuk tidak menginginkan sesuatu yang lain selain hanya kemuliaan Allah, dengan mengosongkan diri dari segala sesuatu dan bergantung kepada Dia saja, hal ini berkenaan dengan afeksi, hasrat, keinginan-keinginan,

(97) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 78 kegiatan- kegiatan untuk menyenangkan Dia, karena dengan demikian para suster FdCC akan menjadi suster yang paling bahagia. C. Askese Dalam abad 21 Kehidupan askese pada abad 21 dapat kita lihat dalam kehidupan bermasyarakat saat ini entah sebagai awam maupun sebagai religius. Corak kehidupan askese pada abad 21 ini ditandai dengan kerelaan untuk bekerja. Kerja merupakan suatu kesempatan untuk membangun askese atau membantu dalam latihan rohani. Dengan bekerja orang dapat memenuhi segala kebutuhan hidupnya. Darminta dalam diktat mata kuliah Mahasiswa IPPAK-USD tentang Spiritualitas Dasar Kristiani (2007: 46) mengatakan : Kita harus menggunakan anugerah-anugerah Tuhan untuk diabadikan kepada seluruh Gereja. Anugerah Tuhan bagi umat manusia ditemukan dalam kehidupan nyata setiap manusia entah melalui ciptaan, bakat maupun pekerjaan yang dijalankan. Lebih lanjut dijelaskan dalam askese orang Kristen modern (2007: 47-48) yakni : a. Askese kerja Kegiatan Tuhan yang penuh cinta dapat kita lihat imajinasi iman yang mewahyukan Kristus bagi banyak misteri dialam ciptaan. Didalam Kristus kita menemukan Dia yang mutlak ada, alfa dan omega awal dan akhir segala kesatuan di dalam alam semesta. Tetapi untuk membina perkembangan yang berjalan terus menerus dalam iman, kesetiaan dan kemurahan hati ini. Seluruh dunia materi ini merupakan titik pertemuan benderang dimana Tuhan bercahaya bagi kita.

(98) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI b. 79 Penyakit manja Orang Kristen moderen hendaknya tidak boleh mengikuti penyakit manja, mengundurkan diri dari dunia ini kedalam kehidupan askese saleh yang menolak mengakui Kristus hidup justru dalam kehidupan kita sendiri. Askese modern menekankan dambaan yang besar akan perkembangan diri dan perkembangan seluruh alam materi, dibarengi dengan usaha di dalam hati mau melepaskan diri dari barang-barang dunia ini. c. Askese sosial Iman tanpa perbuatan pada hakekatnya adalah mati (Yak 2:15-17). Suatu segi positif dalam dunia moderen saat ini adalah bahwa kita semua hendaknya memasang diri kita ditengah-tengah lingkungan kita sebagai saksi Kristus dengan cara menunjukkan nilai hidup yang sesuai dengan nilai injili Kristus. Sebagai umat manusia yang hidup dalam dunia modern saat ini kita terpanggil untuk senantiasa sadar bahwa perkerjaan yang kita lakukan hendaknya membantu kita kepada kesadaraan akan keberadaan diri Allah sebagai penyelenggara kehidupan. Melalui pekerjaan dan kehidupan harian kita, kita di minta untuk tetap mencari bentuk askese yang sesuai dengan keadaan dan zaman dimana kita berada. Yang terpenting adalah bahwa askese menjadi sarana untuk mencapai tujuan, yaitu mengabdi Allah. Karena Allah sennatiasa hadir dan menyapa kita didalam setiap langkah hidup kita, tinggal bagaimana kita bersikap didalam menanggapi karya kehadiran-Nya dalam hidup kita sehari-hari.

(99) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 80 Menurut Riyanto (2010: 17-18) kenyataan yang menjadi askese misalnya saja : 1. Konsumerisme: Dimana segala yang menjadi kebutuhan manusia telah disediakan oleh dunia ini. Dampak dari konsumerisme ini adalah setiap orang tidak perlu lagi bersusah-susah menghasilkan segala sesuatu dan hanya tinggal memakai produk yang telah disediakan dengan segala jenis model baru yang diproduksi setiap waktu, atas dasar suka-tidak suka. Misalnya saja memiliki hand phone dengan merek terbaru yang sedang laku dipasaran. Hal semacam ini perlu diwaspadai, karena ketika sesuatu tidak lagi disukai, karena tidak lagi menyenangkan, maka akan ditinggalkan. Kondisi semacam ini jelas memanjakan hidup manusia namun sekaligus merenggut kreatifitas dan daya juang seseorang. 2. Instanisme: Zaman sekarang ini manusia pada umumnya cenderung hidup dalam budaya instan. Segala sesuatu ingin dijalankan atau dinikmati secara instan, cepat tanpa banyak membuang waktu. Dampaknya dapat dilihat tidak hanya dalam dunia produksi seperti mie instan tetapi segala yang berbaur instan juga terasa dalam kehidupan manusia sehari-hari. Misalnya untuk mendapat nilai baik dalam sebuah makalah maka jalan yang terbaik adalah membuat copy paste dari makalah teman tanpa berusaha untuk membuat sendiri, ingin mendapatkan nilai yang baik ketika ujian semester tinggal membuat catatan kecil untuk dipakai menyontek ketika ujian. Dalam hal doa dan ibadat pun lebih disukai yang instan dan cepat selesai. Semuanya ini menyebabkan manusia tidak mau

(100) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 81 lagi berusaha melainkan membuatnya untuk menghindari segala kerepotan dan kesusahan. 3. Hedonisme : Fenomena untuk selalu mendapatkan kenikmatan yang menyenangkan misalnya saja : Makan enak setiap hari, berbelanja barang-barang yang mewah, mencari hiburan dimol-mol atau ditempat rekreasi yang mewah, menonton di bioskop yang mana menjadikan manusia menghindari segala yang tidak mengenakkan. Manusia lebih memilih menikmati segala yang menyenangkan. Dampak dari hedonisme ini adalah tidak ada lagi pengorbanan dan kepedulian bagi mereka yang miskin dan berkekurangan. Selain itu segala hal yang menyangkut penderitaan, askese dan pengorbanan dihindari. 4. Egoisme : Merupakan salah satu hal yang membelenggu pribadi saat ini. Orang mulai bersikap tidak peduli dengan lingkungan atau sesamanya. Keegoisan ini dapat terlihat dari contohnya yakni kemajuan dunia digital seperti televisi, game, internet, hand phone, telepon dan vcd telah menguasai manusia. Ini membawa dampak yang positif sekaligus negative bagi kehidupan pribadi setiap manusia termasuk kaum religius. Dampak positifnya adalah apabila kemajuan dalam dunia digital digunakan secara tranparansi dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab sebagai sarana komunikasi yang dapat membantu setiap pribadi mengamalkan kebajikan-kebajikan Ilahi. Sebaliknya akan berdampak negative apabila segalanya disalah gunakan dengan tujuan untuk mengejar keuntungan dan kesenangan pribadi. Dunia kita yang kaya akan

(101) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 82 sumber-sumber alam dan teknologi ini menyediakan bahan bagi kita, yang harus kita hadapi dengan askese adalah mau menggunakan kekayaan itu dengan baik atau tidak menggunakannya apabila bertentangan dengan kehendak Tuhan. ( Darminta, 2007:47). D. Askese jalan hidup Mistik dan Profetik 1. Hidup Profetik Kemuridtan profetik Yesus hanya dapat dihayati seseorang apabila orang tersebut memiliki penghormatan kepada Allah dan sesama serta siap mati sebagai konsekuensi terhadap apa yang diperjuangkannya, sebab iman memampukan setiap orang untuk meyakini dan percaya bahwa kematian merupakan permulaan kehidupan yang baru. Kehidupan yang baru sebagai murid Kristus yang siap menjadi sahabat membangun persahabatan yang radikal dengan Kristus dan dengan semua orang khususnya dengan mereka yang miskin. “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan diri-Nya untuk sahabatsahabat-Nya (Yohanes 15:13). Ditengah situasi dunia saat ini, yang penuh dengan kekerasan dan ketidakadilan penghayatan akan kemuridtan profetik masih sungguh sangat relevan. Untuk menanggapi situasi semacam ini kita semua sebagai kaum beriman diharapkan mampu menjadi pembawa keadilan dan kedamaian bagi dunia, melalui kesaksian hidup . Kesaksian hidup merupakan sebuah tindakan yang paling dibutuhkan saat ini. Kesaksian bukan melalui kata-kata belaka melainkan melalui

(102) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 83 tindakan profetik sebagai murid Kristus yang mampu menghantar sesamanya pada jalan kebenaran sebagai murid Kristus. menjadi murid Kristus berarti dipanggil untuk ikut serta dalam hidup kenabian Yesus Kristus (Darminta,2005:22). Para suster FdCC yang telah menanggapi panggilan untuk membaktikan hidup kepada Allah diharapkan mampu menjadi tanda kehadiran Kristus sendiri melalui kesaksian hidup mereka sehari-hari ditengah-tengah karya pelayanan mereka bagi sesama yang dilayani. Sebagai bagian dari kemuridtan profetik Yesus dalam mencontoh ibu pendiri St.Magdalena kehadiran para suster FdCC diharapkan dapat membawa perubahan yang mampu menghantar semua orang pada jalan keselamatan. Oleh karena itu Magdalena mengharapkan dari para pengikutnya untuk “berkarya hanya demi kemuliaan Allah saja tanpa mengharapkan balas budi manusia “(Wejangan St Magdalena, 2002 : 3). Hanya dengan kemuliaan Allah semakin dapat dirasakan oleh banyak orang sehingga terciptalah sebuah kedamaian yang penuh kasih diantara umat manusia. Selain itu berhadapan dengan situasi dunia zaman sekarang yang penuh dengan gejolak para suster FdCC pun dipanggil untuk berani menyuarakan serta memperjuangkan keadilan, kebenaran dengan siap menjadi pewarta kabar gembira Kristus melalui kesaksian hidup mereka sebagai murid profetik Kristus secara radikal. Kesaksian hidup sebagai murid profetik Kristus yang radikal mengajak para suster FdCC juga untuk berani mematikan nafsu duniawi dan mengingkari diri. Demikianlah hendaknya kamu memandangnya : bahwa kamu telah mati bagi

(103) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 84 dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus ( Rm 6:11). Dalam mengikuti Kristus para suster FdCC diminta untuk mampu mempersembahkan diri, kehendak, keinginan hati kepada Allah yang diabdinya secara tak bersyarat. Intinya bahwa panggilan untuk hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus meminta para suster FdCC untuk lepas bebas serta memiliki semangat untuk tidak mengejar kepentingan-kepentingan pribadi dan tidak mencari apapun kecuali hanya mencari kemuliaan Allah (Konst. Kongregasi FdCC,1828 : art 32). Panggilan untuk mengejar kesempurnaan akan kemuliaan Allah menjadi tanda askese bagi para suster FdCC didalam membangun kesatuan dengan Kristus Yesus sebagai sumber dan teladan utama serta membangun kesatuan bersama dengan sesama didalam komunitas. Kita dipanggil untuk mengungkapkan didalam komunitas kita dengan cara yang sedapat mungkin Rahmat persatuan (Konst. Kongregasi FdCC,1828 : art 43,alinea 2). Sama seperti para rasul, para suster FdCC pun dipanggil untuk hidup dalam komunitas, dengan membentuk sebuah persatuan sebagai satu keluarga. Bentuk kesatuan sebagai satu keluarga religius Canossian terjadi melalui komunikasi harian dan sikap saling membantu, saling menerima, memberikan pengampunan dengan tulus serta mendoakan satu dengan yang lainnya didalam komunitas, sebab setiap saudara dalam komunitas adalah orang miskin yang perlu diterima dan dilayani. Dalam kesatuan hidup bersama di komunitas,Yesus Kristus menjadi sumber vital yang mengikat bentuk kesatuan tersebut. Bentuk kesatuan yang dimaksud adalah kesatuan hati dan kasih timbal balik satu sama lain. Kasih timbal balik dalam misteri Tritunggal

(104) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 85 Maha kudus merupakan asal dan tujuan dari komunitas (Konst. Kongregasi FdCC,1828 : art. 43). Sebagaimana yang telah diteladankan oleh Yesus Kristus yang senantiasa membangun kesatuan bersama dengan Bapa-Nya dan Roh Kudus, maka para suster FdCC diharapkan agar dalam hidup keseharian mereka di dalam komunitas mampu menjadi tanda kehadiran Allah sendiri bagi satu sama lain.Walau pun dalam keterbatasan dan kelemahan manusiawinya, para suster FdCC senantiasa berusaha untuk tetap menjadi tanda kenabian dan kegembiraan dalam persekutuan dalam kasih Allah yang nyata bagi sesama. Persekutuan dalam kasih Allah bagi sesama yang dilakukan oleh para suster FdCC sebagai murid Kristus yang radikal di wujudkan lewat lima bidang pelayanan cinta kasih yakni : Pendidikan, katekese, pastoral orang sakit, pembinaan kerasulan awam dan latihan rohani. Pelayanan cinta kasih ini diperuntukkan kepada semua orang yang membutuhkan dengan penuh cinta kasih yang tetap dan terus- menerus, sesuai dengan tujuan dari pelayanan itu sendiri yakni untuk memperluas cinta kasih Allah ( UR,1981:22). 2. Askese jalan hidup Mistik sesuai dengan keinginan St. Magdalena sebagai ibu pendiri bagi para suster FdCC. Pertemuan Magdalena sebagai Ibu Pendiri kongregasi para suster FdCC dengan Yang Ilahi di dalam pengalaman mistik telah membawa dia untuk melihat identitas dan misi yang spesifik. Pengalaman ini juga merupakan titik awal yang menetap bagi setiap perjalanan hidup formatif. Dalam terjemahan buku Plan Of Formation ( 2013: 24)

(105) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 86 dikatakan bahwa “Setiap Puteri Cinta Kasih Canossian, sesungguhnya, dipanggil untuk menghidupkan kembali pengalaman mistik yang adalah dasar Institut”. Bertolak dari pengalaman Rohaninya bersama dengan Allah, maka Magdalena meminta kepada para pengikutnya untuk dapat membangun persatuan dengan Allah secara terus-menerus sebab, vitalitas hidup para suster FdCC tergantung kepada persatuan dengan Allah serta kehadiran para Suster FdCC, yang hingga sekarang terus-menerus menghayati pengalaman ini di sepanjang hidup mereka. Pada permulaan perjalanan rohani St. Magdalena sebagai ibu pendiri kongregasi para suster FdCC terdapat “pengalaman mistik” yang menunjukkan bagaimana Allah telah mewahyukan diri-Nya terhadap St. Magdalena. Pengalaman-pengalaman mistik tersebut didalaminya baik dalam pengalaman doa serta dalam mengikuti Ekaristi Kudus. Dalam pengalaman doa selama pekan suci seraya membaca dalam sebuah buku meditasi kecil, Magdalena menemukan ayat kitab suci yang berbunyi : “Inspice et fac secundum Exemplar”(Kel 25:40). Ayat ini membuat Magdalena merasakan gejolak batin yang kuat akan Allah yang membuatnya terdorong untuk menghidupi kata-kata tersebut, serta merasakan sebuah dorongan untuk mengikuti Kristus yang Tersalib. Dalam diri Kristus yang tersalib Magdalena menemukan Allah sendiri saja. Kristus yang Tersalib menjadi teladan utama dalam kehidupannya ( Pollonara 1988: 23). Yesus yang Tersalib merupakan teladan hidup bagi para suster FdCC . Bagi setiap suster FdCC pengalaman mistik yang mewahyukan wajah “Allah saja” yang terkandung dalam perintah “Inspice

(106) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 87 mendorong para suster FdCC untuk senantiasa berusaha meneladan kebajikan Kristus yang tersalib sebagai pengungkapan cinta kasih yang tak terbatas. Ketika menghadiri perayaan Ekaristi dan mendengar ayat kitab suci yang berbunyi” Euntes In Universum mundum” yang berarti “ pergilah ke seluruh dunia” (Mrk 16:15). Magdalena merasakan tersentuh secara mendalam dan amat terhibur oleh kata-kata ini. Dorongan missioner ad gentes untuk mewartakan Kristus keseluruh dunia ini disimpannya dalam hati dan akan menjadi kenyataan karismatik bagi para putri cinta kasih Canossian pada tahun 1860 ( Pollonara,1988: 22). Selain itu hal yang sama terjadi ketika Magdalena mengikuti misa-misa dengan tema “Kemuliaan Ilahi”. Magdalena merasa tertarik dan begitu menyentuh hatinya secara mendalam. Magdalena merasa bahwa ia terpanggil untuk mencegah dosa. Maka sepanjang hidupnya Magdalena giat mencari kemuliaan Ilahi. Memuliakan Allah berarti menyingkapkan kebaikkan, cinta kasih dan kekudusan diatas segala-galanya serta mengabdikan diri untuk mencegah dosa. St. Magdalena berusaha menjalani kehidupannya dengan mengabdikan diri kepada Kristus tersalib demi keselamatan dunia dan mendamaikan semua orang dengan Kristus sendiri ( Pollonara,1988: 22). Magdalena juga menyadari bahwa sesungguhnya, Ekaristi merupakan tempat istimewa dalam pengalaman-pengalaman mistiknya dan sarana persatuan seluruh kehidupannya. Oleh karena itu Magdalena meminta kepada para pengikutnya untuk menjadikan Ekaristi sebagai pusat kekuatan rohani sekaligus jantung hidup dimana setiap Puteri Cinta Kasih menghayati karunia pemberian diri kepada Allah dan sesama. Pemberian diri kepada Allah dan sesama akan semakin membantu mereka

(107) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 88 untuk dapat mencintai penggilan dan perutusan mereka dalama dunia yang penuh dengan gejolak yang menawarkan berbagai pilihan hidup yang menggiurkan.

(108) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB IV KATEKEKESE SEBAGAI SALAH SATU UPAYA MEMBANTU MEMPERTAHANKAN KEUTAMAAN ASKESE DALAM WEJANGAN PENDIRI ST.MAGDELENA DARI CANOSSA BAGI PARA SUSTER KONGREGASI FDCC A. Gambaran umum katekese Penyelenggaraan katekese merupakan salah satu tugas yang sangat penting bagi Gereja. Gereja merupakan persekutuan umat beriman melalui baptisan yang diterimanya, mengemban misi untuk mewartakan karya keselamatan Allah dalam hidup bersama.” Dalam Injil Mat 28:19-20, dilukiskan tentang bagaimana Yesus mengutus para rasul untuk “pergi jadikan semua bangsa murid-Ku baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu.” Gereja sebagai persekutuan umat beriman dimana Kristus menjadi kepala utama senantiasa berusaha untuk terus menerus mewartakan karya keselamatan Allah kepada semua manusia di muka bumi ini. Melalui katekese Gereja mengembangkan panggilan dan perutusannya dengan cara mendidik dan mengajarkan kepada umat beriman Kristiani untuk menghayati iman dan mewujudkan imannya secara kongkret. Melalui kegiatan katekese ini diharapkan dapat membantu umat beriman untuk menggali pengalaman iman mereka agar semakin memahami, menghayati, dan mewujudkan imannya dalam kehidupan sehari-hari kemudian direfleksikan dalam terang sabda Allah, sehingga seluruh pribadi mereka

(109) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 90 diresapi oleh sabda Allah sendiri. Katekese juga membantu umat beriman untuk senantiasa memperbaharui hidup mereka didalam pertobatan yang terus-menerus kepada Allah. Dengan demikian melalui katekese, pewartaan mengenai kabar gembira tentang karya keselamatan Allah dapatlah dirasakan dan diterima oleh semua umat beriman. Umat beriman yang telah menerima kabar gembira keselamatan Allah ini diharapkan mampu untuk membagikan kabar gembira kepada sesamanya melalui kesaksian hidup mereka sehari-hari ditengah-tengah lingkungan masyarakat mereka. Hanya dengan demikian dapat membantu sesamanya untuk memperoleh keselamatan yang berasal dari Yesus Kristus. 1. Pengertian Katekese Istilah katekese merupakan sesuatu yang tidak asing lagi bagi kehidupan umat kristiani sebab katekese telah dilaksanakan oleh umat kristiani baik di lingkup wilayah maupun lingkungan. Dalam melaksanakan katekese tersebut diharapkan agar para peserta yakni umat setempat ikut terlibat aktif dalam berbagi pengalaman bersama. Pengertian katekese memiliki hubungan dengan arti katekese itu sendiri yakni : membuat bergema, menyebabkan sesuatu bergaung (Telaumbanua,1999:4). Kitab suci juga memuat sejumlah kata katekese. Katekese diartikan sebagai “diajarkan”(Luk 1:4),”pengajaran dalam jalan Tuhan” (Kis 21:21)”mengajar” (Kis 18:25),”diajar” (Rm 2:18),”pengajaran” (Gal 6:6). Dalam konteks ini katekese dimengerti sebagai pengajaran, pendalaman dan pendidikan iman agar seorang Kristen semakin dewasa dalam iman (Telaumbanua,1999:4).

(110) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 91 Dasar katekese ditemukan dalam penugasan Yesus kepada para murid-Nya setelah kebangkitan-Nya. “karena itu pergilah jadikanlah semua bangsa murid-Ku baptislah mereka dalam nama Bapa, anak dan Roh kudus dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu seperti yang telah Kuperintahkan kepadamu” (Mat 28:18-19). Menjadikan semua bangsa murid, membaptis mereka dan mengajar mereka merupakan tugas awal para murid bagi orang-orang yang belum mengenal Kristus. Kisah para rasul melukiskan bahwa setelah peristiwa kebangkitan Yesus, para rasul senantiasa memberi kesaksian tentang injil kasih karunia Allah (Kis 20:24) dan mewartakan tentang segala sesuatu yang diajarkan Yesus (Kis1:1). Disini tugas pokok bukan lagi mengenai apa yang mereka kerjakan, dan apa yang mereka dapatkan dalam pengajaran dan pewartaan melainkan yang menjadi tugas pokok adalah pewartaan. Dalam anjuran Apostolic Catechesi Tradendae, Paus Yohanes Paulus II mengatakan : ketekese ialah pembinaan anak-anak, kaum muda dan orang dewasa dalam imannya, yang khususnya mencakup penyampaian ajaran Kristen, yang pada umumnya diberikan secara organis dan sistematis dengan maksud mengantar para pendengar memasuki hidup Kristen (1979 art.18). Selain itu di dalam Imbauan Apostolic Evangelii Nuntiandi Bapa suci Paulus VI mengatakan : Salah satu sarana evangelisasi yang tidak boleh diabaikan ialah pengajaran katekese (1975 art.44). Lebih lanjut disebutkan juga mengenai perihal katekese yakni: a. Evangelisasi adalah rahmat dan panggilan khas Gereja, merupakan jati dirinya yang paling dasar. Gerejaada untuk mewartakan Injil (EN art 14).

(111) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 92 b. Bagi Gereja penginjilan berarti membawa kabar Baik kepada segala tingkat kemanusiaan, dan melalui pengaruh Injil mengubah umat manusia dari dalam dan membuatnya menjadi manusia baru (EN art 18) c. Injil harus diwartakan melalui kesaksian hidup (EN art 21). d. Kabar Baik yang diwartakan dengan kesaksian hidup cepat atau lambat haruslah diwartakan dengan Sabda Kehidupan. Dan segi yang penting dari pewartaan Sabda Kehidupan adalah kotbah dan katekese (EN art 22). Adisusanto (2003:33) berpendapat bahwa: katekese merupakan suatu aspek dalam pewataan Injil yakni warta gembira keselamatan untuk pembinaan iman banyak orang. Katekese adalah pelayan sabda Allah, ia mesti sadar akan hakikat dan tugasnya. (Katekese menolong manusia dengan memberitakan sabda pembebasan dan penyelamatan Allah). Dalam konteks katekese umat, pada PKKI II Yosef lalu (2005 : 5 ) mengatakan bahwa: “katekese umat diartikan sebagai komunikasi iman atau tukar pengalaman iman (penghayatan iman) antara anggota jemaat atau kelompok”. Katekese umat juga merupakan komunikasi iman dari peserta sebagai sesama dalam iman yang sederajat, saling bersaksi tentang iman mereka. Peserta saling berdialog dalam suasana terbuka, ditandai dengan sikap saling menghargai dan saling mendengarkan. Proses ini berlangsung secara terus-menerus (Telaumbanua,1999: 88). Katekese umat kapan dan dimana pun merupakan komunikasi iman. Yang menjadi pokok disini adalah komunikasi iman antar peserta, oleh karena itu keterlibatan para peserta sangatlah

(112) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 93 dibutuhkan, dimana mereka saling berbagi tidak hanya mengenai pengetahuan mereka mengenai berbagai macam rumusan iman melainkan yang paling penting dan yang menjadi tekanan utama adalah penghayatan iman mereka akan Yesus Kristus yang merupakan sang kebenaran sejati yang senantiasa hadir didalam setiap Dalam katekese umat para peserta bersaksi tentang iman akan Yesus Kristus sebagai pengantara kita dalam sabda-Nya (Telaumbanua,1999: 87). Kristus menjadi pola hidup yang pertama dan utama. Karena Kristus menjadi pola hidup para peserta katekese maka dalam dalam katekese umat yang berkatekese adalah umat, artinya bahwa semua orang beriman yang secara pribadi memilih kristus dan secara bebas berkumpul (Yosep lalu, 2005: 5). Seluruh aspek pengalaman hidup harian yang dialami, digeluti umat dibagikan bersama dengan penuh keterbukaan dan sikap saling menghargai satu dengan yang lain sehingga masing-masing umat saling diteguhkan imannya dalam Yesus Kristus sebagai satu-satunya tujuan hidup. Dengan kata lain melalui katekese, Gereja membantu umatnya untuk dapat mengerti, memahami, menghayati dan pada akhirnya dapat mewujudkan imannya dalam kehidupan sehari-hari ditengah lingkungan masyarakat. Didalam mengusahakan perkembangan iman umat ini terdapat unsur-unsur yang mengandung pewartaan, pengajaran, pendidikan, pendalaman, pembinaan, pengukuhan serta pendewasaan iman umat. 2. Tujuan katekese Tujuan katekese merupakan petunjuk yang dapat membantu umat untuk masuk dalam seluruh proses katekese. Secara universal katekese bertujuan umtuk membantu

(113) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 94 umat mendewasakan iman mereka yang diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam Catechesi Tradendae (1996, art.20) ditegaskan bahwa : Tujuan khas katekese ialah Berkat bantuan Allah mengembangkan iman yang baru mulai tumbuh, dan dari hari ke hari memekarkan menuju kepenuhannnya serta semakin memantapkan peri hidup Kristen beriman, muda maupun tua. Ini berarti : meransang, pada taraf pengetahuan maupun penghayatan, pertumbuhan benih iman yang ditaburkan oleh Roh Kudus melalui pewartaan awal dan yang dikaruniakan secara efektif melalui pembaptisan. Selanjutnya dalam artikel yang sama ditegaskan bahwa : Proses evangelisasi tujuan katekese ialah : menjadi tahap pengajaran dan pendewasaan iman, artinya : masa orang Kristen sesudah dalam iman menerima pribadi Yesus sebagai satu-satunya Tuhan, dan sesudah menyerahkan diri secara utuh kepada-Nya melalui pertobatan hati yang jujur, berusaha makin mengenal Yesus, yang diwartakan oleh-Nya dan jalan yang telah digariskan-Nya bagi siapapun yang ingin mengikuti-Nya. Yosep Lalu (2005:5) berpendapat bahwa tujuan katekese adalah: a. Supaya dalam terang Injil kita semakin meresapi arti pengalamanpengalaman kita sehari-hari. b. Dan kita bertobat (Metanoia) kepada Allah dan semakin menyadari kehadiran-Nya dalam kenyatan hidup sehari-hari. c. Dengan demikian kita semakin sempurna beriman, berharap, mengamalkan cinta kasih dan semakin dikukuhkan hidup kristiani kita. d. Kita semakin bersatu dalam Kristus, makin menjemaat, makin tegas mewujudkan tugas Gereja setempat dan mengokohkan gereja semesta. e. Sehingga kita sanggup memberikan kesaksian tentang Kristus dalam hidup kita di tengah masyarakat.

(114) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 95 Beriman secara dewasa berarti mampu untuk mewujudkan serta mempertanggungjawabkan iman tersebut dalam kehidupan sehari-hari ditengah masyarakat bukan hanya dengan perkataan melainkan dengan tindakan yang nyata. Rencana keselamatan Allah terjadi dalam kehidupan sehari-hari, yang sering tidak disadari oleh umat. Maka tugas katekese adalah membantu umat agar mampu mengartikan hidupnya. Semua rencana Allah berpusat pada pribadi Yesus Kristus. Melalui katekese jemaat dengan sendirinya dibantu untuk membangun diri sendiri dengan selalu berusaha mendewasakan dan memperdalam iman kepada Yesus Kristus sebagai kekuatan yang senantiasa menghantar mereka kepada jalan kebenaran dan kehidupan. 3. Tugas Katekese Katekese sebagai pembinaan menuju kedewasaan iman dengan tugas sebagai pendidikan iman. Sebagai pendidik iman katekese berusaha membantu manusia mengalami proses perkembangannya menjadi manusia Kristiani melalui situasi kongkretnya dalam terang sabda Allah. Dalam rangka pendewasaan iman maka pengetahuan dan penghayatannya perlu dikongkretkan atau diamalkan dalam realitas hidup sehari-hari dengan memberikan kesaksian tentang Kristus. Katekese juga membimbing seseorang kepada sebuah pembaharuan hidup yang semakin hari sesuai dengan perintah dan kehendak Allah dan demi pengembangan Gereja semesta (Telaumbanua,1999:87).

(115) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 96 B. Peranan Katekese Dalam Upaya Mempertahankan Keutamaan Askese. Katekese merupakan salah satu bentuk upaya yang di lakukan dalam rangka pembinaan iman untuk mempertahankan askese para suster FdCC. Tujuannya adalah membantu umat beriman untuk menggali pengalaman iman mereka agar semakin memahami, menyadari, menghayati, dan mewujudkan imannya dalam kehidupan sehari-hari. Katekese juga membantu umat beriman untuk senantiasa memperbaharui hidup mereka didalam pertobatan yang terus-menerus kepada Allah dan menghasilkan perubahan sikap hidup yang baru. Pembinaan iman ini merupakan salah satu upaya Katekese untuk membantu para suster FdCC agar tetap mempertahankan keutamaan askese sebagai salah satu warisan dari ibu pendiri St.Magdalena dari Canossa dalam hidup panggilan mereka. Melalui katekese para suster FdCC dibantu agar semakin memahami, menghayati menyadari dan mewujudkan keutamaan askese dalam kehidupan sehari-hari. Katekese yang akan dilaksanakan diharapkan mampu mengangkat pengalaman kongkret para suster FdCC tentang keutamaan askese. 1. Membantu Menghayati keutamaan askese sebagai warisan dari Ibu pendiri. Didalam menjalani kehidupan religius setiap pribadi yang terpanggil bertanggung jawab terhadap perkembangan Rohaninya. Perkembangan rohani menjadi hal yang penting sebab membantu seorang religius untuk dapat bertumbuh secara baik dan benar serta mampu menghayati panggilan hidupnya sebagai abdi Allah. Peranan katekese mengambil tempat yang sangat tepat dan penting didalam membantu para religius untuk menghayati penggilan mereka. Para suster FdCC sebagai kaum

(116) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 97 terbakti dipanggil juga untuk dapat menghayati panggilan mereka sehari-hari terutama didalam mempertahankan keutamaan askese sebagai warisan dari St. Magdalena ibu pendiri kongregasi FdCC. Menghayati yang dimaksudkan adalah menjadikan askese sebagai bagian dari kehidupan para suster FdCC, dengan tidak hanya berani berbicara saja mengenai keutamaan tetapi sungguh-sungguh mempraktekkannya dengan penuh kebebasan hati. Melalui keutamaan askese ini para suster FdCC senantiasa dibantu untuk mengejar kekudusan hidup serta membantu mereka untuk tinggal dalam kerendahan hati. Selain itu penghayatan keutamaan askese ini penting sebab dapat menolong para suster FdCC mengembangkan iman mereka dalam mempertahankan keutamaan askese ini melalui praktek askese sehari-hari baik dalam komunitas maupun dalam karya kerasulan. 2. Menyadarkan kembali akan pentingya mempertahankan Keutamaan askese dalam panggilan hidup sebagai seorang Religius Canossian. Sebagaimana katekese membantu umat beriman untuk menggali pengalaman iman mereka agar semakin memahami, menyadari, menghayati, serta mewujudkan imannya dalam kehidupan sehari-hari,demikian juga dengan peranan katekese dalam mempertahankan keutamaan askese bagi para suster FdCC. Melalui katekese para suster FdCC dihantar untuk senantiasa sadar akan pentingnya keutamaan askese bagi seorang religius Canossian. Penyadaran yang dimaksud adalah mengajak para suster FdCC untuk melihat kembali pengalaman- pengalaman yang

(117) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 98 telah dijalankan oleh para suster FdCC sehubungan dengan mempertahankan keutamaan askese baik secara pribadi maupun bersama dalam komunitas dan dalam karya kerasulan. Selain itu untuk membantu para suster FdCC menemukan nilai hidup yang baru dalam mempertahankan keutamaan askese melalui praktek hidup sehari-hari secara kongkret guna membunuh semua bentuk afeksi yang tidak teratur yang dapat merintangi mereka dalam menjalani panggilan hidup. 3. Membantu untuk berani mengungkapkan pengalaman mempertahankan keutamaan askese dalam kehidupan kongkrit sehari-hari. Melalui katekese diharapkan para suster FdCC dapat berkomunikasi dengan tukar menukar pengalaman antara berani terbuka, bebas dan jujur satu sehubungan dengan yang dengan lainnya dengan pengalaman dalam mempertahankan keutamaan askese melalui praktek sehari-hari baik secara pribadi, bersama-sama dalam komunitas maupun dalam karya perutusan. Dengan demikian setiap suster FdCC akan dapat saling meneguhkan, membantu dan memperkaya demi mempertahankan keutamaan askese. 4. Memperbaharui hidup didalam pertobatan yang terus-menerus kepada Allah. Katekese membantu seseorang didalam menumbuhkan sikap pertobatan secara terus–menerus kepada Allah dan menghasilkan perubahan sikap hidup yang baru. Melalui katekese para suster FdCC dihantar menuju sikap pertobatan sebagai bagian dari pembinaan iman yang memungkinkan terjadinya perubahan diri menuju kepada suatu sikap hidup yang baru yang membantu para suster FdCC untuk dapat

(118) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 99 mempertahankan keutamaan askese dan menghantar para suster FdCC untuk membangun kebersamaan hidup secara terbuka, jujur dan penuh tanggung jawab dalam panggilan hidup sebagai religius Canossian yang sejati. C. Beberapa kemungkinan pelaksanaan katekese dalam mempertahankan Keutamaan Askese yakni a. Pembinaan terus-menerus ( On Going Formation) Pembinaan berlangsung secara terus-menerus sepanjang hidup manusia, sebab pembinaan terus-menerus merupakan perwujudtan dari panggilan hidup manusia. Dalam hal ini The Rules Of Congregation of The Daugters Of Charity (1981:17-22) mengatakan : “Pembinaan kongregasi suster FdCC mengikuti dua perintah cinta kasih sebagai tujuan utamanya yakni : mencintai Allah dengan segenap hati dan mencintai sesama seperti diri sendiri demi cinta kepada Allah”. Pembinaan ini penting untuk membantu setiap pribadi yang mana mengarah kepada kesempurnaan cinta Yesus tersalib demi pembentukan hati, pikiran dan kehendak lewat seluruh kehidupan, perasaan dan keinginan. Hal kongkret yang dapat dilakukan adalah melakukan pekerjaan yang tidak disukai, tidak mengeluh mengenai makanan, pakaian, bumbu dapur, sikap teman dalam komunitas ataupun sikap rekan kerja dalam karya perutusan, tidak cepat membalas kata demi kata yang kurang baik yang diterima. Ketika bel komunitas berbunyi mereka harus meninggalkan apa yang dikerjakkannya karena hal ini dapat membantu seorang FdCC untuk mematikan kehendaknya sendiri, meminta kepada pimpinan jika

(119) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 100 membutuhkan sesuatu.Tujuannya adalah mereka dilatih untuk hidup bersolider dengan orang lain khususnya mereka yang miskin dan menderita. Saling berbagi pengalaman tentang praktek askese dapat membantu para suster FdCC mempertahankan keutamaan askese dengan ketulusan hati. Diharapkan melalui pembinaan ini para suster FdCC semakin mengerti pentinya keutamaan askese dan dapat mempraktekkannya dengan lebih baik dengan penuh kesungguhan hati dan dengan kebebasan hati dengan motivasi yang tulus dan jujur Dalam mempertahankan keutamaan askese bagi para suster FdCC pelaksanaan katekese dapat mengambil tempat yang tepat didalam pembinaan terus-menerus bagi para suster FdCC yakni melalui beberapa program yang ditawarkan yang meliputi meliputi: Rekoleksi bulanan, retret tahunan, guna memperdalam Konstitusi, Direktorium, Statuta, spiritualitas. Sharing bersama mengenai pengalaman dalam menghayati dan mempertahankan salah satu keutamaan, atau pun sharing pengalaman iman secara bersama-sama sebagai satu keluarga suster FdCC sehubungan dengan penghayatan hidup doa, kaul dan karya kerasulan guna mengembangkan kesetiaan terhadap panggilan. b. Rekoleksi dan retret Katekese juga dapat dilaksanakan dalam acara-acara kongregasi misalnya dalam rekoleksi bulanan ataupun retret tahunan. Rekoleksi dan retret menjadi salah satu sarana yang dapat membantu para suster FdCC untuk menggali pengalaman mereka sehubungan dengan upaya mereka didalam mempertahankan keutamaan askese sebagai

(120) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 101 salah satu keutamaan yang diwariskan oleh ibu pendiri. Dalam hal ini Konstitusi Kongregasi FdCC ( 1828:17) mengatakan : “ Hari rekoleksi bulanan dan retret tahunan adalah kesempatan yang berharga untuk menikmati waktu lebih banyak bersama dengan Tuhan”. Rekoleksi bulanan ataupun retret tahunan merupakan moment yang baik untuk berefleksi sekaligus mengevaluasi dan membaharui hidup para suster FdCC khususnya tentang pengalaman dalam beraskese. Rekoleksi bulanan dan retret tahunan dapat dilaksanakan dengan model katekese umat dengan penuh keterbukaan, saling berdialog satu dengan yang lainya. Penulis berharap bahwa melalui kegiatan rekoleksi dan retret akan semakin membantu para suster FdCC untuk mencari cara yang dapat membantu mengatasi permasalahan yang dapat membantu mempertahankan keutamaan askese sehingga terus dipraktekan dengan baik. D Shared Christian Praxis sebagai model katekese yang sesuai untuk membantu mempertahankan keutamaan Askese 1. Pengertian SCP dan Kekhasan SCP a. Pengertian SCP Shared Christian Prakxis ( SCP ) merupakan salah satu model katekese yang menekankan keterlibatan peserta. Katekese dengan model Shared Christian Prakxis ini menolong peserta untuk dapat mengkomunikasikan pengalaman hidupnya. Dalam pertemuan katekese permasalahan yang dialami oleh para peserta diolah sehingga pengalaman-pengalaman tersebut dijadikan pengalaman iman yang sungguh membantu dalam pendewasan iman

(121) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Shared Christian Prakxis 102 menekankan proses katekese yang bersifat dialogis-partisipatif supaya dapat mendorong peserta, berdasar komunikasi antara tradisi dan visi hidup mereka dengan tradisi dan visi Kristiani, sehingga baik secara pribadi maupun bersama-sama mampu mengadakan penegasan dan pengambialan keputusan demi makin terwujudnya nilai-nialai kerajaan Allah didalam kehidupan manusia ( Heryatno,1997: 1). Model ini diawali dengan pengalaman hidup peserta kemudian dilanjutkan dengan refleksi kritis pengalaman hidup peserta yang dikonfrontasikan dengan pengalaman hidup iman dan visi kristiani, supaya muncul sikap,kesadaran dan keterlibatan baru. Yang ditekankan dalam katekese model Shared Christian Praxis ini adalah dialog tidak hanya terjadi antara pendamping dengan peserta, tetapi juga antara peserta dengan peserta dan juga peserta dengan teks dan dengan keadaan hidup masyarakat setempat (Heryatno, 1997:1). Dalam Shared Christian Praxis terdapat Tiga komponen pokok yakni : 1) Shared Istilah ini menunjuk pengetian komunikasi yang timbal balik, sikap partisipasi aktif dan kritis dari semua peserta, sikap egalitarian, terbuka (inklusif) baik untuk kedalaman diri pribadi, kehadiran sesama, maupun untuk rahmat Tuhan. Istilah ini juga menekankan proses katekese yang menggarisbawahi aspek dialog, kebersamaan, keterlibatan,dan solidaritas. Dalam “sharing” semua peserta

(122) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 103 diharapkan secara terbuka siap mendengar dengan hati dan berkomunikasi dengan kebebasan hati (Heryatno, 1997:4). Dalam sharing peserta tidak harus bebicara terus menerus, sebab shering berarti saling berbagi pengalaman antara satu peserta dengan peserta lainnya dalam suasana persaudaraan, cinta kasih, saling menghormati, saling mendengarkan dan penuh dengan kebebasan dan keterbukaan. Oleh karena itu keatifan para peserta katekese sangatlah dibutuhkan. 2) Christian Katekese dengan model Shared Christian Praxis mencoba mengusahakan supaya kekayaan iman Kristiani sepanjang sejarah dan visinya makin terjangkau, dekat dan relevan untuk kehidupan peserta pada zamannya sekarang. Proses ini diharapkan kekayaan iman Gereja sepanjang sejarah berkembang menjadi pengalaman iman jemaat pada zaman sekarang. Terdapat dua unsur dalam model katekese ini yakni: pengalaman hidup iman kristiani sepanjang sejarah (tradisi) dan visinya. Tradisi Kristiani mengungkapkan realitas iman jemaat Kristiani yang hidup dan sungguh dihidupi. Inilah tanggapan manusia terhadap pewahyuan diri Allah yang terlaksana ditengah kehidupan manusia. Dalam konteks ini tradisi perlu dipahami sebagai Rahmat Allah dalam Kristus dan tanggapan manusia. Maka dari itu tradisi disini tidak hanya berupa tradisi pengajaran Gereja tetapi juga meliputi Kitab Suci, Spiritualitas, refleksi teologis, Sakramen, Liturgi, seni, nyanyian Rohani, kepemimpinan dan kehidupan jemaat (Heryatno, 1997:3).

(123) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 104 3) Praxis Pengertian Praxis merupakan sebuah tindakan manusia yang mempunyai tujuan untuk tercapainya suatu informasi kehidupan. Praxis sebagai sebuah tindakan meliputi seluruh keteribatan manusai dalam dunia.segala sesautu yang dilakukan oleh manusia dengan tujuan untuk perubahan hidup yang didalamnya terkandung proses kesatuan dialektis antara praktek dan teori yaitu kreativitas, antara kesadaran historis dan refleksi kritis menuju pada keterlibatan baru. Praksis mempunyai tiga unsur yang saling berkaitan yakni: aktivitas, refleksi dan kreativitas, yang berfungsi membangkitkan berkembangnya imajinasi, meneguhkan kehendak dan mendorong praxis baru yang secara etis dan moral dapat dipertanggungjawabkan (Heryatno, 1997: 2). a. Aktivitas meliputi kegiatan mental dan fisik, kesadaran, tindakan personal dan social, hidup pribadi dan kegiatan public semuanya merupakan medan untuk perwujudtan diri manusia sebagai subyek. Karena itu hidup manusia perlu ditempatkan dalam kontek waktu dan tempat. b. Refleksi Didalam komponen Refleksi ini yang ditekankan adalah refleksi kritis terhadap tindakan historis dan social, terhadap praxis pribadi dan kehidupan masyarakat serta terhadap tradisi dan visi iman Kristiani sepanjang sejarah. Refleksi kritis memungkinkan peserta untuk menganalisa dan memahami tempat dan peran mereka, memahami keadaan masyarakat dan permasalahannnya serta membuka peluang selebar-lebarnya bagi mereka untuk

(124) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 105 berjumpa dengan kekayaan refleksi iman Kristian sepanjang sejarah bukan sebagai rumusan kaku dan beku tetapi sebagai sabda yang hidup dan pantas di hidupi. c. Kreativitas merupakan perpadauan antara aktivitas dan refleksi yang menggarisbawah sifat transenden manusia. Komponen ini juga dinamakan praxis dimasa depan yang terus berkembang sehingga melahirkan praxis baru. d. Kekhasan SCP Dewasa ini banyak model katekese yang dikembangkan untuk membantu umat agar termotivasi dalam mengembangkan imannya. Dalam penulisan skripsi ini penulis memilih salah satu model katekese yakni model SCP ( Shared Christian Praxis). Alasan pemilihan Shared Christian Praksis sebagai model katekese yang sesuai untuk dapat membantu para suster FdCC mempertahankan keutamaan askese ini karena SCP merupakan suatu model katekese yang menekankan keterlibatan peserta. Model ini diawali dengan refleksi kritis pengalaman hidup peserta yang dikonfrontasikan dengan pengalaman hidup iman dan visi kristiani, supaya muncul kesadaran dan keterlibatan baru secara kongkrit. Melalui katekese model SCP ini para suster FdCC dapat dibantu untuk mengkomunikasikan pengalaman hidup mereka sebagai suatu pengalaman iman secara pribadi atau bersama secara kongkrit didalam mempertahankan keutamaan askese. Dengan katekese model SCP para suster FdCC dilatih untuk mengungkapkan diri, terlibat aktif dan bertanggung jawab dalam perkembangan

(125) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 106 kelompok. Lewat katekese model SCP ini para suster dapat saling memberi dan menerima serta mengusahakan sebuah aksi kongkrit yang dapat menolong mereka semua untuk mempertahankan keutamaan askese.Dalam katekese model SCP ini sikap acuh tak acuh dan ketidak pedulian bisa diatasi. 2. Langkah-langkah Katekese dengan model Shared Christian Praxis a Pengungkapan Pengalaman hidup Faktual Dalam langkah ini mengajak peserta untuk mengungkapkan pengalaman hidup dan keterlibatan mereka entah dalam bentuk cerita, puisi, tarian, nyanyian dan drama pendek. Dalam proses pengungkapan itu, peserta dapat menggunakan perasaan mereka, menjelaskan nilai,sikap kep ercayaan dan keyakinan yang melatar belakanginya. Dengan cara itu peserta akan dihantar pada kesadaran dan bersikap kritis terhadap pengalaman hidupnya sendiri. Disamping pengalaman pribadi peserta dapat mengungkapkan pengalaman orang lain atau keadaan masyarakatnya. Komunikasi pengalaman kongkrit peserta diharapkan melahirkan tema-tema dasar yang akan direfleksikan pada langkah berikutnya. Langkah pertama ini bersifat objektiv mengungkapkan apa yang sesungguhnya terjadi. (Groome, 1997:5). Demikian juga didalam mempertahankan keutamaan askese sebagai salah satu keutamaan yang memiliki nilai yang tinggi yang merupakan warisan pendiri diharapkan agar setiap suster FdCC mampu mengungkapkan dan menggali pengalaman pribadi, orang lain atau lingkungannya sehubungan dengan keutamaan askese.

(126) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 107 b Refleksi Kritis pengalaman Faktual Dalam langkah kedua ini mendorong peserta untuk lebih aktif, kritis, dan kreatif dalam memahami serta mengolah keterlibatan hidup mereka sendiri (tema-tema dasar) maupun masyarakatnya. Peserta diajak untuk menggunakan sarana baik analisa sosial maupun analisa cultural. pemahaman, pengenangan, serta imajinasi akan berguna sekali apabila dimanfaatkan. Tujuan langkah ini adalah memperdalam refleksi dan mengantar peserta pada keadasaran kritis akan keterlibatan mereka, akan asumsi dan alasan (pemahaman), motivasi, sumber historis (pengenangan), kepentingan dan konsekuensi yang disadari dan hendak diwujudkan (imajinasi). Dengan refleksi kritis pada pengalaman konkret peserta diharapkan sampai pada nilai dan visinya yang pada langkah keempat akan dikonfrontasikan dengan pengalaman iman Gereja sepanjang sejarah (tradisi) dan visi kristiani. Langkah ini bersifat analitis yang kritis (Groome, 1997: 5- 6). Demikian juga para suster FdCC diharapkan mampu terlibat dan bersikap kritis terhadap pengalamannya sehubungan dengan pengalamannya, sehingga mampu menemukan nilai dalam mempertahankan keutamaan askese dan menerapkannya dalam hidup sehari-hari. c Mengusahakan Supaya Tradisi dan Visi Kristiani Lebih Terjangkau Inti dari langkah ini adalah: mengusahakan supaya tradisi dan visi Kristiani menjadi lebih terjangkau, lebih dekat, dan relevan bagi peserta pada zaman sekarang, peranan pendamping mendapat tempat pada langkah ini. Diharapkan

(127) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 108 pendamping dapat membuka jalan selebar-lebarnya, menghilangkan segala macam hambatan sehingga semua peserta mempunyai peluang besar untuk menemukan nilai-nilai dari tradisi dan visi Kristiani. Dalam langkah ini pendamping dapat menggunakan salah satu bentuk interpretasi entah yang bersifat menggaris bawahi,mempertanyakan atau yang mengundang keterlibatan kreatif (Groome, 1997: 6). Disini hendaknya pendamping mengusahakan agar usaha katekese sesuai dengan upaya mempertahankan keutamaan askese zaman sekarang dan peserta mampu menemukan nilai-nilai ajaran Kristiani dalam dalam mempertahankan keutamaan askese. d Interpretasi Dialektis Antara Praksis dan Visi Peserta Dengan Tradisi dan Visi Kristiani Langkah ini mengajak peserta supaya dapat meneguhkan, mempertanyakan, memperkembangkan dan menyempurnakan pokok-pokok penting yang telah ditemukan pada langkah pertama dan kedua. Kemudian pokok-pokok penting itu dikonfrontasikan dengan hasil interpretasi tradisi dan visi Kristiani dari langkah ketiga. Diharapkan peserta dapat secara aktif menemukan kesadaran atau sikap-sikap baru yang hendak diwujudkan. Kesadaran baru akan menyemangati perwujudtan iman supaya nilai-nilai kerajaan Allah makin dapat dirasakan ditengah hidup bersama. Dengan proses ini diharapkan hidup iman peserta menjadi lebih aktiv,dewasa dan missioner.

(128) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 109 Dalam langkah ini para suster FdCC diharapkan mampu menerapkan imanya dalam mempertahankan keutamaan askese dalam hidup sehari-hari, baik dalam komunitas maupun dalam karya kerasulan. e Keterlibatan baru demi Kerajaan Allah di dunia ini ( Mengusahakan suatu aksi kongkrit) Langkah kelima bertujuan mendorong peserta sampai pada tindakan dan niat baru menyangkut pribadi maupun bersama. Mendorong peserta sebagai orang Kristen yang mengusahakan pertobatan terus menerus, membantu peserta mengambil keputusan secara moral, social dan politis sesuai dengan nilai iman kristiani (Sumarno Ds, 2009:22). Kekhasan pada langkah kelima ini ialah mendorong peserta supaya sampai pada keputusan konkrit yakni menghidupi dan menghayati iman kristiani yang telah dipahami, direfleksikan dan mempertanggungjawabkannya dalam hidup ditengah masyarakat. Dalam pengambilan keputusan hendaknya dipengaruhi oleh topik utama yang menjadi pokok renungan dan oleh konteks pribadi dan sosial peserta . artinya pertobatan yang merangkum segi personal meliputi intelektual, moral dan mental, sedangkan segi sosial meliputi solidaritas. Berpihak pada yang miskin dan tertindas demi mewujutkan kerajaan Allah ditengah masyarakat (Groome, 1997: 36). Peran pendamping pada langkah ini perlu mengusahakan aktivitas yang partisipatif dengan mempersiapkan beberapa pertanyaan yang berorientasi

(129) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 110 pada tindakan praktis. Pendamping sendiri hendaknya mendorong peserta untuk memanfaatkan imajinasi mereka (Groome, 1997: 37). Peserta diharapkan semakin terlibat dan aktif mewujudkan keputusanya secara konkrit demi terwujutnya kerajann Allah. Peserta diajak untuk merayakan liturgy sederhana atau mendoakan keputusan yang telah mereka buat bersama dan medorong mereka untuk konsisten dengan keputusan yang mereka ambil (Sumarno Ds,2010 :22; bdk.Groome, 1997: 50). Dalam langkah ini para suster FdCC diharapkan mampumenemukan aksi kongkrit atau nilai-nilai yang akan dilaksanakan dalam upaya mempertahankan keutamaan askese yang dipilih secara bebas untuk selanjutnya. E. Usulan Program Katekese Untuk Membantu Mempertahankan Keutamaan Askese 1. Pengertian Program Menurut Mangunharjana (1986: 16) program pembinaan merupakan prosedur yang dapat dijadikan landasan untuk menentukan isi dan urutan acara-acara pembinaan yang akan dilaksanakan. Suhardiyanto (2008:4) mengatakan bahwa program adalah suatu landasan untuk menentukan isi dan urutan-urutan rencana yang akan dilakukan. Kata program itu sendiri mengandung bermacam-macam makna dan arti. Program merupakan rencana kegiatan yang dibuat secara sistematis untuk memudahkan

(130) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 111 pelaksaan kegiatan dalam menjalankan rencana yang telah tercantum dalam prog ram. Program meliputi : tema,tujuan tema,sub tema,tujuan sub tema,materi,metode, sarana, sumber bahan dan proses pelaksanaan. 2. Tujuan program Pelaksanaan pertemuan akan berjalan lancar jika direncanakan dengan baik dan dengan persiapan yang matang. Program kegiatan dimaksudkan agar member arah dan tujuan yang akan dicapai serta akan dijadikan pedoman atau arahan untuk mengukur keberhasilan atau kegagalan sebuah kegiatan. Dalam pelaksanaan katekese, pembuatan program bertujuan untuk memperjelas arah dan tujuan katekese serta mempermudah pelaksanaan katekese. Selain itu program juga dimaksudkan sebagai pedoman refleksi dan evaluasi pelaksanaan kegiatan selanjutnya. Program ini memiliki tujuan untuk : a. Membangun kesadaran kritis untuk saat ini sehubungan dengan upaya mempertahankan keutamaan askese b. Mengarahkan proses kegiatan katekese c. Mempermudah para pendamping dalam mengolah suasana hingga proses dalam pertemuan katekese. 3. Latar Belakang Penyusunan Program Berdasarkan permasalahan yag telah diuraikan pada bab I keutamaan askese yang diwariskan oleh pendiri St. Magdalena dari Canossa kapada putridputrinya yakni para suster FdCC belum sepenuhnya dapat dipertahankan

(131) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 112 dengan sungguh-sungguh sesuai dengan wejangan pendiri. Hal Ini dapat ditemukan dalam pengalaman mempraktekan keutamaan askese dalam hidup sehari-hari baik dikomunitas maupun dalam karya kerasulan. Sebagian suster FdCC yang mempunyai keinginan untuk dinilai baik oleh orang lain, ingin dihormati, ingin memiliki fasilitas yang sesuai dengan zaman misalnya laptop, hand phone, ingin makan enak serta ingin dihormati dan disanjung. Fasilitas yang ada bukan lagi digunakan sebagai sarana yang membantu dalam menunjang karya kerasulan melainkan sebagai tujuan untuk bersaing bersama dengan orang lain. Keinginan dan kecenderungan ini kadang kala menimbulkan persaingan, perbedaan pendapat, iri hati, kesombongan, kemarahan, gosip kekuasaan dan cinta diri. Ini disebabkan karena setiap pribadi belum mempraktekkan dengan baik dan dengan penuh kesungguhan hati keutamaaan askese serta belum mengetahui dengan benar nilai, makna dan tujuan dari keutamaan askese ini dalam hidup membiara sebagai seorang religius Canossian. Selain itu kurang kesadaran akan pentingnya sebuah keutamaan askese. Untuk membantu para suster mengatasi kurangnya kesadaran untuk mempertahankan keutamaan askese melalui praktek beraskese sehari-hari maka, penulis mengusulkan suatu program katekese yang kiranya dapat dapat membantu para suster FdCC dalam mempertahankan keutamaan askese. Program ini merupakan sebuah tawaran yang akan dilaksanakan dalam

(132) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 113 pembinaan para suster FdCC. Program katekese direncanakan akan dilaksanakan dalam bulan juli dan agustus Karena pada bulan tersebut para suster biasanya berkumpul dan berbagi bersama dalam animasi tahunan dan retret tahunan. 4. Usulan tema dan tujuan Tema merupakan panduan untuk program pembinaan para suster FdCC.Tema ini sebagai sebuah usaha untuk membantu para suster FdCC bertumbuh didalam pembinaan yang terus-menerus demi mempertahankan dan mempraktekkan keutamaan askese dalam hidup maupun dalam karya kerasulan,sebagai salah satu keutamaan yang telah diwariskan oleh ibu pendiri yang mana semuanya demi kemuliaan Allah dan kebaikkan sesama. Berikut ini akan diuraikan penjabaran tema umum dan tujuan umum : Tema umum : Keutamaan askese dalam wejangan pendiri St. Magdalena bagi hidup dan karya perutusan . Tujuan umum: Bersama pendamping, peserta semakin mengenal dan memahami pentinganya keutamaan askese dalam dalam wejangan pendiri St. Magdalena perutusannya. bagi hidup dan karya

(133) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 114 PROGRAM PEMBINAAN USAHA MEPERTAHANKAN KEUTAMAAN ASKESE DALAM WEJANGAN PENDIRI ST. MAGDALENA DARI CANOSSA. Tema Umum : “Keutamaan askese dalam Wejangan Pendiri St. Magdalena bagi hidup dan karya perutusan para suster FdCC” Tujuan Umum :” Bersama pendamping, peserta ( para suster FdCC) semakin dibantu untuk mengenal dan memahami pentinganya keutamaan askese dalam wejangan pendiri St. Magdalena bagi hidup dan karya perutusannya. No Sub Tema Tujuan Judul Tujuan Materi Metode Sarana Sumber bahan (1) (2 (3) Pertemuan (5) (6) (7) (8) (9) -Pengertian askese - Tujuan askese - Sharing (4) 1 Keutamaan Bersama Mengenal Askese pendamping keutamaan peserta askese semakin - Membantu para suster FdCC mendalami kembali Salah satu St.Magdalena keutamaan menurut - Salib - The Rules of - kelompok - lilin - Laptop Diskusi - LCD the kelompok Of The Congregation St.Magdalena dari Canossa

(134) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI menyadari dari Canossa askese betapa yang diwaris pentingnya kan oleh menghayati St.Magdalena keutamaan dari Canossa. bagi hidup dan karya 115 - Refleksi Daughter Of pribadi Charity. perutusan sebagai Canossian. - Informasi ( 1981: 260 - - Tanya 261) bagian jawab keutamaan askese askese menurut - Wejangan St.Magdalena St.Magdalena Jakarta demi hidup (2001). panggilan Halaman 29. sebagai suster Canossian. 2 Dipanggil Bersama - Kitab Suci - Membantu Lepas bebas para suster FdCC untuk untuk pendamping dari tawaran hidup peserta di duniawi - Lepas bebas dari harta memiliki sikap hidup duniawi - Mat.16:21-28 - Sharing kelompok - Diskusi - Tafsir Kitab Suci - Teks cerita - Stefen Leks, Injil Markus dalam Renunganku,

(135) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI lepas bebas bantu agar dari menyadari keinginan bahwa yang tidak mengikuti teratur Kristus lepas bebas dari tawaran - Arti Penyakalan kelompok - Refleksi 116 tentang Magdalena duniawi dengan jalan ingkar - Mambantu diri - Makna Penyagkalan pribadi - Informasi - Tanya dari Canossa - Salib para suster dengan hendanya jalan memiliki ingkar diri. sikap FdCC untuk belajar dari teladan Kristus dan hidup lepas bebas sehingga peserta mampu hidup lepas bebas dalam ibu pendiri. diri sebagai religius Canossian. jawab - lilin - Laptop - LCD Jakarta 2002:82-84 - Serafini, Anton ieta FdCC, Bertemu dengan Sang Mempelai, Jakarta, 2002:25-27

(136) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 117 komunitas dan dalam karya perutusan. 3 Nilai hidup Bersama dari pendamping kesaksian peserta keutamaan semakin askese. menyadari Bersama a. kesaksian dalam memprakte kan keutamaan askese pentingnya dalam menjadi nitas. pendamping - Hidup yang - Sharing peserta mengalami semakin trasfigurasi memiliki - Kesetiaan - kelompok terhadap - Refleksi charisma pribadi komu penghayatan keutamaan - Kitab Suci kelompok - Salib - Diskusi - lilin - Laptop - LCD - Luk 9: 28-36 - Vita consacrata art.35 dan 36 - Konstitusi Kongregasi saksi yang askese sebagai mampu salah satu menghidupi keutamaan keutamaan yang relevan. dan doa - Informasi FdCC askese - Pertobatan. - Tanya jawab (1828:art, 19).

(137) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 118 ditengah komunitas dan karya perutusan. Bersama b. kesaksian dalam memprakte kan keutamaan askese dalam karya kerasulan. pendamping peserta semakin menyadari tugas perutusannya untuk melayani mereka yang - Terlibat belajar berbagi dengan sesama - Nonton - Belajar dari sikap Yesus Fim yang mau bersolider “Berbagi dengan sesame sukacita” - Sharing kelompok membutuhkan - pleno khususnya - Informasi yang - Tanya - Film - Kitab Suci - Salib - Mrk.12:41-44 - lilin - Laptop - LCD - Wejangan St. Magdalena Jakarta (2001) Halaman 33

(138) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI miskin dan 119 jawab menderita. Tantangan Bersama dan pendamping godaan peserta praktek memprakte dibantu kan a.Tantangan peserta dibantu - Sharing untuk -Konsumerisme kelompok keutamaan menyadari -Hedonisme - pleno untuk askese untuk pengaruh -Egoisme - Informasi keutamaan memiliki zaman kemajuan - pembaharuan - Tanya askese sikap peka sekarang zaman diri terus dan tanggap b.Keutamaan sehingga menerus - Kitab Suci - Teks Persembahan diri integral - Spidol - Kertas flap - Mat.6:25-34 - Kitab Suci - Ryanto - Wejangan jawab pendiri terhadap askese mampu - Semangat berbagai pedoman mengambil askese kelompok - Lilin - pleno - Laptop godaan dunia hidup para sikap untuk St.Magdalena (2010:17-18) - Sharing - Salib 4 Agustinus - Informasi - Fip.2:1-11 - Wejangan pendiri - LCD zaman ini. suster FdCC melawan Tanya Jakarta godaan yang jawab (2001: 17) datang.

(139) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI c. Kesatuan hati Bersama pendamping, dalam peserta tugas semakin perutusan menyadari sebagai praktek Canosian keutamaan yang sejati askese 120 - Refleksi - Sharing - Pengertian - Kitab Suci - kelompok - Informasi - Salib - Charisma -Tanya - Lilin pendiri jawab kesatuan hati - Saling melayani - Laptop - LCD - Yoh.17:1-26 - Konstitusi kongregasi FdCC (1981.art. 8) - Wejangan Kritus melalui pendiri Jakarta teladan (2001: 33-35) keutamaan askese St Magdalena. Membantu

(140) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 121 peserta dalam No Sub Tema Tujuan Judul (1) (2 (3) Pertemuan meningkatkan Tujuan pelayanan (5) sebagai (4) suster FdCC bagi sesama khususnya bagi mereka yang miskin Materi Metode Sarana Sumber bahan (6) (7) (8) (9)

(141) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 122 CONTOH PERSIAPAN KATEKESE SCP A. IDENTITAS 1. Tema : Dipanggil untuk hidup lepas bebas dengan jalan ingkar diri. 2. Tujuan : Bersama pendamping pesertasemakin menyadari bahwa mengikuti Kristus harus memiliki sikap hidup lepas bebas, se hingga peserta mampu hidup lepas bebas terhadap nafsu duni awi dalam hidup bersama. 3. Peserta : Para suster FdCC province Divine Mercy Indonesia 4. Tempat : Aula rumah Retret Canossa-Jakarta 5. Hari/Tgl : Minggu , 23 Juli 2014 6. Waktu : 90 Menit 7. Model : Shared Christian Praxis 8. Metode : − Sharing kelompok − Informasi − Tanya jawab − Refleksi pribadi 9. Sarana : − Lagu instrumental dari CD player − Teks lagu − Teks/Kitab Suci Perjanjian Baru − Lilin dan Salib − Teks pertanyaan pendalaman − Teks cerita “Pengorbanan diri sejati” 10. Sumber Bahan : − Mrk.10:17-22 − Stefan Leks Injil Markus

(142) 123 PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI dalam renunganku Jakarta, 2002. Halaman 82-84. − Antonietta Serafin. Bertemu dengan Sang mempelai. Jakarta, 2002. Halaman 25-27. B. PEMIKIRAN DASAR Menghadapi zaman moderen yang ditandai dengan kemajuan teknologi sekarang ini, keutamaan askese menjadi hal penting dan sering dipertanyakan apakah keutamaan ini masih relevan atau tidak? Perlu disadari bahwa keutamaan askese ini sampai kapan pun akan tetap menjadi keutamaan yang relevan apalagi untuk menghadapi sekularisme yang telah menguasai manusia dimana manusia lebih mementingkan kesenangan duniawi. Para religius dituntut agar dapat terus mempraktekkan keutamaan askese ini sesuai dengan anjuran pendiri masing-masing. Praktek Keutamaan askese dapat diwujudkan melalui kehidupan sehari-hari di komunitas maupun dalam karya perutusan. Namun kenyataannya bahwa masih dijumpai dalam hidup seharihari, banyak suster FdCC yang kurang menyadari akan arti pentingnya keutamaan askese ini. Praktek askese belum sesuai dengan anjuran pendiri dalam wejangannya maupun semangat untuk mengikuti Kristus yang mengosongkan diri dari segalanya agar diisi oleh Allah. Mengikuti Yesus berarti orang harus berani hidup dalam sikap lepas bebas terhadap segala sesuatu baik itu barang maupun orang tertentu. Memang tidaklah mudah untuk melakukannya namun sebagai pengikut Kristus hendaknya berani untuk memilih. Didasari oleh keyakinan bahwa mengikuti Kristus akan mendapat lebih banyak. Semuanya ini tentu membutuhkan perjuangan dan pengorbanan

(143) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 124 untuk dapat mempertahankan dan mempraktekkan keutamaan askese di zaman modern ini. Injil Mrk 10:17-22 menguraikan mengenai syarat mengikuti Yesus. Hal ini menandakan bahwa orang harus berjuang untuk hidup lepas bebas. Syarat yang diberikan Yesus adalah hidup lepas bebas sebagai pengikut-Nya berarti melepaskan diri dari segala keinginan duniawi untuk memperoleh kehidupan yang kekal. Kelekatan terhadap barang-barang duniawi akan merintangi seseorang untuk memberikan diri kepada Kristus secara total. Karena itu jangan biarkan diri dikuasi oleh nafsu duniawi. Nafsu duniawi yakni harta benda, kehendak, keh ormatan, kekuasaan tertentu. Mengikuti Yesus berarti melepaskan diri dari segalanya. Pelepasan ini mendorong kita untuk berani menjadi saksi kenabian yang gembira dan sederhana ditengah-tengah masyarakat modern. Keberanian melepaskan diri dari kelekatan-kelekatan duniawi menjadi modal pengikut Kristus yang sejati. Kadang kala ada suster yang cenderung melekat pada barang atau orang tertentu dan sulit untuk melepaskan. Kongkretnya sulit untuk melaksanakan praktek askese dan sulit untuk mematikan keinginan sendiri. Melepaskan diri dari kelekatan yang tidak teratur akan membantu upaya mempertahankan keutamaan askese sebagai keutamaan yang memiliki nilai yang tetap relevan. Dari pertemuan ini kita berharap akan semakin mampu menyadari dan melaksanakan syarat mengikuti Yesus. Dengan demikian kita akan semakin mampu menjalankan tugas panggilan dengan penuh rasa syukur dan bahagia. Dan

(144) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 125 kita dihantar pada sikap lepas bebas untuk mengikuti Kristus yang adalah sang pemanggil sejati. C. PENGEMBANGAN LANGKAH-LANGKAH 1. Pembukaan a. Pengantar Para suster yang terkasih di dalam Kristus, pada kesempatan ini kita berkumpul kembali untuk saling berbagi pengalaman iman bersama. Yesus telah melepaskan segalanya dan mengosongkan diriNya demi cinta kepada kita. Oleh karena itu sebagai pengikut-Nya kita diajak juga untuk melepaskan diri dari kelekatan duniawi sehingga kita layak menjadi murid-Nya. Maka dalam kehidupan sehari-hari kita baik di komunitas maupun dalam karya perutusan kita hendaknya meneladani sikap-Nya yang mau bersolider dengan kita yakni mengosongkan diri dan melepaskan kehendak-Nya karena cinta kepada kita. Hanya dengan demikian kita akan menjadi murid-Nya yang sejati dalam mengikuti-Nya dengan berani melepaskan keinginan-keinginan yang tidak teratur. b. Lagu Pembukaan “Ambilah Ya Tuhan (Terlampir) c. Doa Pembukaan Allah Bapa yang Maha kasih. Kami bersyukur dan berterima kasih kepada-Mu atas kasih dan cinta-Mu kepada kami semua. Kami menyadari bahwa menjadi pengikut-Mu hendaknya melepaskan diri dari keinginan yang tidak teratur yang dapat merintangi kami untuk

(145) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 126 mengikuti-Mu. Kami mohon bantuan-Mu, agar melalui pertemuan ini kami dapat menemukan sesuatu yang dapat membantu kami untuk berani hidup lepas bebas agar kami dapat menjadi murid-Mu yang sejati. Demi Yesus Kristus Tuhan dan pengantara kami Amin. Langkah I: Mengungkap Pengalaman Hidup Peserta a. Bersama dengan peserta membaca teks cerita”Persembahan diri yang sejati” b. Penceritaan kembali isi cerita: pendamping meminta salah satu peserta untuk mencoba menceritakan kembali dengan singkat tentang isi pokok dari cerita” Pengorbanan diri sejati” c. Intasari cerita “Pengorbanan diri sejati”: Menceritakan tentang Magdalena Gabriella yang meninggalkan seluruh harta miliknya, istananya serta status hidupnya sebagai seorang putri bangsawan guna mempersembahakan dirinya untuk menolong anakanak yang miskin dan terlantar di kotanya. Dalam bulan maret 1796 tentara revolusioner Prancis dibawah pimpinan jendral Napoleon Bonaparte bersama pasukannya menuju kota Verona Italia. Para tentara menjelajahi seluruh daerah, membakar dan merusak hasil panen, merampok rumah-rumah penduduk dan membakar habis rumahrumah penduduk. Penduduk kota Verona mulai mencari tempat pengungsian di Venesia. Magdalena Gabriella Canossa berserta dengan saudara-saudaranya pun ikut dalam pengungsian ke Venesia. Pada tanggal 31 juli 1986 ketika keadaan kota Verona mulai kembali aman, maka semua penduduk Verona termasuk

(146) 127 PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Magdalena bersama dengan keluarganya kembali ke istana Canossa. Melih at penderitaan warga Magdalena melepaskan kedudukannya sebagai putri Bangsawannya dan meninggalkan istananya, harta bendanya untuk mempe rsembahkan diri guna menyelamatkan dan melayani mereka yang miskin. Napoleo n mengizinkan Magdaalena untuk membuka sebuah biara yang terdapat di biara San Zeno, untuk menampung anak anak miskin dan gadis-gadis yang ditemui di tempat pengungsian maupun di jalan- jalan. Bersama rekan-rekannya Magdalena mengajarkan kepada anak-anak yang miskin pendidikan dan juga katekese yakni membaca dan menulis, mengunjungi mereka yang sakit dan mengajarkan katekese kepada anak-anak miskin tersebut. Persem ba-han diri Magdalena membuahkan hasil yakni banyak anak-anak dapat membaca, menulis dan beriman kepada Kristus. Pengungkapan Pengalaman: peserta diajak untuk mendalami cerita tersebut dengan tuntunan beberapa pertanyaan : 1. Apa yang dilakukan oleh Magdalena ketika melihat penderitaan yang dialami oleh penduduk Verona? 2. Ceritakan pengalaman para suster dalam kesulitan untuk berkorban melepaskan sesuatu entah barang atau apa pun ? 3. Ceritakan salah satu pengalaman para suster dalam suatu pilihan atau keputusan yang menuntut adanya sikap lepas bebas?

(147) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 128 d. Suatu contoh arah rangkuman Dalam cerita tersebut, kita melihat pengorbanan yang dilakukan oleh Magdalena Gabriella yang meninggalkan istanannya serta harta bendan ya guna mempersembahkan diri untuk melayani mereka yang miskin. Magdalena rela melepaskan segalanya yang melekat pada dirinya. Untuk kebahagiaan orang-orang miskin. Sebab baginya semangat pengorbanan merupakan semangat pengikut Kristus. Magdalena senantiasa menasehati rekan-rekan yang membantunya untuk tidak mengeluh mengenai kekurangan makanan, sikap dari anak-anak yang mereka layani. Ia mengajarkan kepada mereka untuk bertekun dalam doa dan biar Tuhan mengurus segalanya. Ia juga meminta mereka untuk mengorbankan tenaga, pikiran, harta benda mereka untuk melayani mereka yang miskin. Pengorbanannya memberi kebahagian bagi mereka yang dilayani karena banyak anak-anak dapat membaca, menulis dan beriman kepada Kristus. Demikian juga dengan pengalaman kita tanpa persembahan diri dan pengorbanan pribadi hidup kita tidak berguna bagi orang lain. Persembahan dan Pengorbanan diri yang sejati akan membuahkan kesaksian yang membahagiakan. 2. Langkah II: Refleksi Kritis atas Pengalaman Hidup Faktual a. Peserta diajak untuk merefleksikan sharing pengalaman atau cerita di atas dengan dibantu pertanyaan sebagai berikut:

(148) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 129 1. Dalam cerita di atas tadi apa yang dilakukan oleh Magdalena saat terjadi peperangan dikotanya? 2. Cara apa saja yang telah dilakukan oleh para suster untuk mengatasi kesulitan-kesulitan untuk berani melepaskan diri dari keinginankeinginan yang tidak teratur demi kepentingan orang banyak? b. Dari jawaban yang telah diungkapkan oleh peserta, pendamping memberikan arahan rangkuman singkat, misalnya: Kecintaannya terhadap orang miskin mendorong Magdalena rela untuk melepaskan status sebagai putri bangsawan dan harta bendanya untuk membantu melayani orang-orang miskin yang ada dikotanya. Akibat penderitaan yang dilakukan oleh tentara prancis, penduduk kota verona kehilangan tempat tinggal dan juga harta benda. Ditengah situasi seperti ini, maka bersama dengan rekan-rekannya mengajarkan kepada mereka pendidikan yakni baca dan tulis, mengunjugi mereka yang sakit, mengajarkan katekese melayani mereka dalam kebutuhan sehari-hari serta mengajarkan kepada mereka iman kepada Kristus. Hal ini membawa kebahagian bagi bangsanya. Magdalena sebagai ibu pendiri telah memberi contoh kepada kita. Ia menjawab kebutuhan-kebutuhan Hendakya pengorbanan dan sikap lepas bebas yang kita buat dilandaskan oleh tujuan yang tulus dan murni. 3. Langkah III: Menggali Pengalaman Iman Kristiani a. Salah seorang peserta dimohon untuk membacakan perikop langsung dari Kitab Suci, Injil Markus 10:17-22.

(149) 130 PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI b. Peserta diberi waktu sebentar untuk hening sejenak sambil secara pribadi merenungkan dan menanggapi pembacaan Kitab Suci dengan dibantu beberapa pertanyaan, sbb: 1. Ayat-ayat manakah yang menunjuk pada tuntutan untuk melepaskan menurut Yesus? 2. Hal-hal apa saja yang dapat kita peroleh dari perikop tersebut? 3. Sikap-sikap mana yang ingin ditanamkan oleh Yesus kepada orang yang mau mengikuti-Nya? Pendamping memberikan tafsir dari Injil Markus 10:17-22 dan menghubungkan dengan pendapat peserta dalam hubungan dengan tema dan tujuan. Dalam ayat 21 Yesus mengemukakan syarat untuk dapat menjadi pengikut-Nya kepada pemuda kaya yang datang kepada-Nya Yesus meminta kepadanya agar mewujudkan perintah-perintah Allah sebab Yesus mengerti bahwa ada perintah Allah yang belum di laksanakannya. Yesus lalu berkata : jualah hartamu dan bagikan uangnya kepada orang miskin. Saat itu juga kamu akan menjadi hartawan, sebab hartamu bukan dibumi melainkan disurga. Dan setelah itu datanglah mengikuti aku. Ayat 22 menggambarkan reaksi pemuda kaya. Ia kecewa dan tidak lagi bertanya kepada Yesus melainkan pergi sebab banyak hartanya. Untuk sampai pada kehidupan yang kekal hal kongkret yang hendaknya dilakukan adalah menjual semua harta milik yang melekat padanya dan ikut bersama dengan Yesus. Sungguh tidak mudah untuk seorang yang memiliki harta yang banyak. Pemuda

(150) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 131 kaya tersebut tidak mau melaksanakan apa yang di perintahkan oleh Yesus, sebab pola pikirnya bertolak belakang dengan pemikiran Yesus. Hal ini menimbulkan pertanyaan yakni apa yang dimaksud dengan melepaskan harta milik. Melepaskan harta milik mirip dengan melepaskan berkat dari Allah. Berkat Allah yang di yakini yakni tidak hanya material melainkan juga rohania yakni kedudukan kekuasaan dan uang, kenyamanan dan juga cita-cita. Setiap orang yang melekat pada miliknya harus meninggalkan miliknya untuk dapat memperoleh hidup yang kekal. Sebab hidup kekal tidak bergantung pada harta milik, kesenangan pribadi kekuasaan, kehormatan dan pujian melainkan dalam persatuan dengan diri Yesus. 4. Langkah IV: Menerapkan Iman Kristianitas Dalam Situasi Peserta Konkret a. Pengantar Dalam pembicaraan-pembicaraan tadi, kita sudah menemukan tuntan Yesus bagi orang yang mau menjadi murid-Nya yaitu rela melepaskan segalanya. Magdalena dari Canossa sebagai ibu pendiri menghendaki kepada kita putri-putrinya untuk hidup lepas bebas. Dalam wejanganny a Magdalena mengatakan bahwa untuk mengikuti Kristus yang tersalib dibutuhkan suatu pelepasan total agar dapat mempergunakan seluruh waktu, pikiran, perhatian bagi kemuliaan Allah. Dalam Konstitusi Magdalena juga menulis bagi kita putri-putrinya agar berakar dalam Allah, kita mencari Yesus di dalam setiap pekerjaan, dan pelayanan

(151) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 132 cinta kasih serta tidak menginginkan yang lain kecauali kemuliaanNya. Seperti Yesus menghendaki agar dalam mengikuti-Nya kita perlu memiliki sikap lepas bebas demikian pun St. Magdalena sebagai ibu pendiri kita menghendaki agar kita tidak menginginkan yang lain kecuali kemulian Allah saja. Dalam hidup kita sering kali kita tidak dapat melaksanakannya karena keegoisan dalam diri. Namun pada kesempatan ini Yesus menyadarkan kita akan pentingnya melepaskan segala sesuatu untuk mengikuti-Nya. Dan Magdalena sebagai ibu pendiri kita menghendaki agar kita berani untuk mencari kemuliaan Allah dan berkorban dengan melepaskan segalanya. b. Sebagai bahan refleksi agar kita dapat semakin menghayati dan menyandarkan diri pada Allah satu-satu-Nya pedoman hidup kita dalam menapaki panggilan kita sebagai murid Kristus, kita akan melihat situasi konkret perjuangan dan hambatan mengikuti Kristus melalui keutamaan askese dengan jalan lepas bebas, dengan mencoba merenungkan pertanyaan-pertanyaan ini sebagai berikut (dipilih salah satu yang sesuai situasi): 1. Apa arti mengikuti Kristus dengan jalan lepas bebas menurrut Yesus dan menurut St Magdalena sebagai ibu pendiri bagi para suster FdCC dalam hidup sehari-hari di komunitas maupun dalam karya perutusan?

(152) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 133 2. Apakah para suster semakin dikuatkan atau diteguhkan untuk selalu mempunyai semangat mempraktekkan keutamaan askese seperti yang telah di teladankan oleh ibu pendiri? Mengapa? c. Saat hening diiringi dengan instrumen “Hati s‟bagai hamba” untuk mengiringi renungan secara pribadi akan pesan Injil dengan situasi konkret dengan panduan 2 (dua) pertanyaan di atas. Kemudian peserta diberi kesempatan secukupnya untuk mengungkapkan hasil-hasil renungan pribadinya itu. Akhirnya, sebagai bahan renungan dalam langkah konfrontasi ini pendamping dapat memberi arah rangkuman singkat sesuai dengan hasil-hasil renungan pribadi mereka, misalnya, sbb: d. Suatu contoh rangkuman penerapan pada situasi peserta: Mengikuti Yesus Kristus membutuhkan semangat untuk berkorban. Semangat untuk berkorban merupakan jalan pelepasan. Jalan pelepasan sebagai murid Kristus yakni berani untuk melepasakan segala kelekatan dan kenikmatan duniawi. Jika kita tidak mampu melepaskan semuanya maka kita tidak dapat menjadi murid-Nya. berakar dalam Allah, kita mencari Yesus di dalam setiap pekerjaan, dan pelayanan cinta kasih serta tidak menginginkan yang lain kecuali kemuliaan-Nya. Untuk mencapai kemuliaan Allah di butuhkan semangat lepas bebas. Oleh karena itu kita hendaknya berusaha untuk memperjuangkan sikap lepas bebas memupuk semangat berbagi

(153) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 134 dengan orang lain serta mengosongkan diri dan mencari hanya kemuliaan Allah saja. 5. Langkah VI: Mengusahakan Suatu Aksi Konkret a. Pengantar Para suster yang terkasih di dalam Yesus Kristus, setelah bersamasama menggali pengalaman iman kita lewat cerita pengorbanan diri sejati, yang mana Magdalena Gabriella yang merupakan ibu pendiri meni ng-galkan istananya serta hartanya guna mempersembahkan diri untuk melayani mereka yang miskin. Magdalena rela melepaskan segalanya yang melekat pada dirinya untuk kebahagiaan orang-orang miskin. Magdalena senantiasa menasehati rekan-rekan yang membantunya untuk tidak mengeluh mengenai kekurangan makanan, sikap dari anakanak yang mereka layani. Ia mengajarkan kepada mereka untuk bertekun dalam doa dan biar Tuhan mengurus segalanya. Ia juga meminta mereka untuk mengorbankan tenaga, pikiran, harta benda mereka untuk melayani mereka yang miskin. Pengorbanannya memberi kebahagian bagi mereka yang dilayani karena banyak anakanak dapat membaca, menulis dan beriman kepada Kristus. Mengikuti Yesus Kristus membutuhkan semangat untuk berkorban. Semangat untuk berkorban merupakan jalan pelepasan. Allah senantiasa menolong kita untuk berani melepaskan kelekatan yang tak teratur yang merintangi hidup kita sebagai murid-Nya dan

(154) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 135 juga sebagai putri cinta kasih Canossian yang memilih Magdalena sebagai ibu pendiri. b. Memikirkan niat-niat dan bentuk keterlibatan kita yang baru (pribadi, kelompok, atau bersama) untuk menperbaharui diri sehari-hari.Berikut ini adalah pertanyaan-pertanyaan penuntun untuk membantu peserta membuat niat-niat: 1) Niat apa yang hendak dilaksanakan agar dapat mengikuti Kristus melalui keutamaan askese? 2) Hal-hal apa saja yang perlu diperhatikan dalam mewujudkan niatniat tersebut? c. Selanjutnya peserta diberi kesempatan dalam suasana hening memikirkan sendiri-sendiri tentang niat-niat pribadi/bersama yang akan dilakukan. Sambil merumuskan niat tersebut, dapat diputarkan lagu “s‟mua baik”. d. Niat-niat pribadi dapat diungkapkan (entah berdua/bertiga dalam kelompok kecil entah dalam pleno) untuk saling meneguhkan. e. Kemudian, pendamping mengajak peserta untuk membicarakan dan mendiskusikan bersama guna menentukan niat bersama konkret, yang dapat segera diwujudkan, agar mereka semakin memperbaharui dalam semangat lepas bebas sebagai pengikut Kristus melalui jalan askese. 6. Penutup a. Setelah selesai merumuskan niat pribadi, kemudian pendamping mengajak peserta hening sejenak mempersiapkan diri untuk doa umat,

(155) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 136 sementara itu lilin dan salib dapat di letakkan di tengah umat untuk kemudian dinyalakan. b. Kesempatan Doa Umat spontan yang diawali oleh pendamping dengan menghubungkan dengan kebutuhan peserta. Setelah itu disusul secara spontan oleh para peserta yang lain. Akhir Doa Umat ditutup dengan doa penutup dari pendamping yang merangkum keseluruhan dalam kelima langkah ini, misalnya: c. Doa Penutup: Tuhan Yesus sumber keselamatan kami, kami mengucap syukur dan terimakasih kepada-Mu karena Engkau telah mendampingi dan memberkati kami semua didalam pengalaman berbagi bersama Engkau. Kami mohon kepada-Mu agar Engkau tetap mendampingi kami, memberkati kami, serta memberikan semangat untuk melepaskan segala kenikmatan duniawi demi dengan mencontoh teladan-Mu dan teladan ibu pendiri kami St. Magdalena dari Canossa. Kami menyerahkan seluruh hidup kami, harapan dan niat-niat kami ini ke dalam tangan kasih-Mu dengan memuji dan memuliakan nama-Mu kini dan sepanjang masa. Amin d. Sesudah doa penutup, pertemuan diakhiri dengan menyanyikan lagu “ Persembahan Hidup”

(156) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Keutamaan askese merupakan salah satu keutamaan yang sangat penting bagi setiap pribadi yang terpanggil secara khusus untuk mengikuti Kristus secara lebih dekat melalui pembaktian hidup. Melalui keutamaan askese setiap pribadi yang terpanggil secara khusus ini dibantu untuk dapat tetap setia terhadap panggilan mereka sendiri dan mengikuti Yesus Kristus sebagai teladan agung yang sejati. Setiap pribadi yang beraskese adalah pribadi yang mampu untuk mengendalikan diri dari setiap sikap, keinginan-keinginan serta kesenangan - kesenangan duniawi yang tidak teratur yang dapat merintanginya di dalam mengejar kesempurnaan Kristiani yakni kekudusan hidup dengan mengikuti teladan Kristus supaya semakin serupa dengan Dia. Kesempurnaan di dalam Kristus hanya dapat terjadi jika setiap pribadi yang telah dipanggil secara khusus untuk mengikuti Kristus secara lebih dekat melalui pembaktian hidup ini mampu untuk mengosongkan diri, dan membiarkan Allah untuk merajai seluruh kehidupannya dengan menyatukan segala keinginannya dengan keinginan Kristus serta menanggalkan hidup lama dan mengenakan hidup yang baru, karena dengan demikian hidup mereka dapat menjadi berkat bagi orang-orang yang mereka jumpai baik dalam kehidupan bersama maupun dalam karya pelayanan sehari-hari. Keutamaan askese sangatlah penting bagi para suster FdCC di dalam menjalani kehidupan panggilan mereka sehari-hari maupun didalam karya

(157) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 138 pelayanan. Askese menjadi bagian penting bagi seorang suster FdCC di dalam institut sebab tujuan utama institut suster FdCC adalah meneladan sang teladan utama yakni Tuhan Yesus yang Tersalib. Oleh karena itu para suster FdCC ikut ambil bagian dalam menghidupkan askese dengan menyesuaikan diri mereka dengan sang teladan utama yakni Yesus yang Tersalib, yang melakukan segala pengorbanan-Nya tanpa memperhatikan diri sendiri. Dengan menyesuaikan diri dengan sang Teladan yang utama yakni Kristus yang Tersalib berarti para suster FdCC ikut ambil bagian dengan menyatukan pengorbanan yang dijalankannya sehari-hari dengan pengorbanan Kristus yang Tersalib yang mengosongkan diri-Nya untuk menjadi sama dengan manusia dalam segala kelemahan dan kerapuhan-Nya. Keutamaaan askese inilah yang membantu para suster FdCC agar senantiasa siap sedia untuk mengorbankan dan mematikan keinginan-keinginan mereka yang tidak teratur, sehingga dalam kehidupan mereka setiap hari hanya memikirkan kemuliaan Tuhan saja dan kepentingan sesama yang mereka layani. Sebagai murid – murid Kristus yang dipanggil untuk mengikuti-Nya secara lebih dekat, keutamaan askese menjadi bagian penting dalam kehidupan para suster FdCC. Dengan mengikuti Kristus para suster FdCC hendaknya siap menyangkal diri, memikul salib dan mengikuti Yesus. Menyangkal diri dan memanggul salib dan mengikuti Kristus terangkum dalam komitmen untuk hidup murni miskin, dan taat. Praktek Keutamaan askese yang dimaksud bagi para suster FdCC adalah untuk menyenangkan hari Tuhan, pengorbanan, serta salib yang dijumpai

(158) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 139 setiap hari dalam komunitas maupun dalam karya perutusan. Hal ini hendaknya diterima dengan kebesaran hati sebagaimana dianjurkan oleh ibu pendiri St.Magdalena dari Canossa. Praktek keutamaan askese inilah yang memampukan para suster FdCC untuk memiliki sikap hati yang senantiasa memperhatikan orang lain terutama mereka yang miskin dan yang berkekurangan. Keutamaan askese akan tercapai jika para suster FdCC sungguh-sungguh menyadari akan tujuan askese yang sesungguhnya yakni bahwa askese menjadi sarana untuk mencapai tujuan, yaitu mengabdi Allah. Karena Allah senantiasa hadir dan menyapa kita di dalam setiap langkah hidup kita tinggal bagaimana kita bersikap untuk menangggapi kehadiran-Nya dalam hidup kita sehari-hari. Adanya pembinaan yang terus-menerus merupakan sarana yang dapat membantu untuk membenahi hidup sebagai putri cinta kasih pelayan kaum miskin. Selain itu Doa, Ekaristi, keheningan dan pertobatan yang terus menerus akan membantu para suster FdCC melaksanakan keutamaan ini, mengingat bahwa para suster FdCC terkadang belum sepenuhnya menghayati keutamaan askese ini secara sungguh-sungguh sebagai sebuah keutamaan yang tetap relevan dizaman sekarang ini. Untuk dapat membantu para suster FdCC mempertahankan keutamaan askese, maka penulis mengusulkan sebuah program katekese dengan model katekese Share Christian praxis. Model ini merupakan salah satu model katekese yang cocok di sebab katekese model Share Christian praxis menekankan pengalama n hidup peserta, merefleksikannya, menghadirkan tradisi iman Kristiani,dan

(159) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI disusul dengan memberikan kesempatan kepada peserta 140 untuk mengkonfrontasikan pengalaman mereka dengan pengalaman iman Kristiani yang pada akhirnya menghasilkan sebuah aksi kongkret. Melalui katekese Share Christian praxis para suster FdCC dapat semakin terbantu untuk membagikan pengalaman mereka secara terbuka serta iman mereka semakin dikembangkan dan mereka dapat dihantar untuk memiliki kesadaran baru akan pentingnya praktek askese. Penulis menyadari bahwa segala informasi atau masukan dari luar hanya akan berguna jika setiap suster FdCC memiliki usaha untuk mempraktekkan keutamaan askese ini sebagai warisan dari ibu pendiri St.Magdalena dari Canossa. B. Saran 1. Bagi kongregasi FdCC a. Memperkenalkan sedini mungkin keutamaan askese yang merupakan salah satu keutamaan suster FdCC sesuai dengan wejangan ibu pendiri St . Magdalena dari Canossa. b. Membuat program-program pembinaan yang tepat bagi pelaksanaan praktek askese ini misalnya untuk menanggapi kemajuan dan tuntuan zaman, para suster FdCC hendaknya diberi kebebasan yang bertanggungjawab untuk menjadi media dan sarana dalam masyarakat. c. Meningkatkan hidup Doa yang Kreativ dan pertobatan yang terus menerus dengan Allah melalui pendampingan pribadi dan sharing bersama dalam setiap komunitas.

(160) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2. 141 Bagi para suster FdCC a. Keutamaan askese hendaknya menjadi keutamaan yang tetap relevan bagi para suster FdCC dalam kehidupan mereka sehari-hari serta dalam karya perutusan. b. Dengan semangat askese yang telah dihidupi oleh pendiri St.Magdale na dari Canossa mempertahankan ini maka para keutamaan suster askese FdCC dengan diajak untuk mempraktekkan keutamaan askese ini dengan kesungguhan hati. c. Dengan belajar bercermin pada diri Kristus yang Tersalib para suster FdCC diharapkan untuk saling menolong satu dengan yang lainnya dengan cara sharing pengalaman iman bersama-sama.

(161) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR PUSTAKA Bagus,Lorens.(1996). Kamus Filsafat. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka utama. Budi Purnomo, aloys, Pr (2001). Let go and Let God .Yogyakarta : Kanisius Darmawijaya, St.(2003). Para Rasul Yesus. Kisah tentang kelompok Dua B elas Rasul. Yogyakarta : Kanisius Darminta, J. (1994). Nabi dan martir bersama Yesus.Yogyakarta : Kanisius _________(1995). Mistik,devosi dan hidup rohani.Yogyakarta.Kanisius _________(1997). Yesus Mistikus dan Nabi,Yogyakarta: Kanisius. _________(2001). Yesus Sang Pendoa. Yogyakarta: Kanisius _________(2003). Perspektif hati dalam etika profesi .Girisonta: Pusat Spiritualitas. Diktat Mahasiswa IPPAK-USD. ________(2005). Kebijaksanaan orang miskin dalam pendagogi salib. Girisonta: Pusat Spiritualitas. Diktat pendalaman Kerohanian Formatif ________(2006). Pertobatan melalui padang gurun dan malam gelap. Yogyakarta: Kanisius ________(2007). Spiritualitas Dasar Kristiani. Girisonta: Pusat Spiritualitas. Diktat Mahasiswa IPPAK-USD. Dicker,P.J. (1972). Seri puskat 94. Bertobat dan Askesis. Jakarta : Lembaga Kateketik karya Wacana. Galilea, Segundo (1996). Menjadi murid Kristus. Jakarta : Obor. Giacon, Modesto. (1974). Magdalena di Kanossa. Marcel Beding (penerjemah). Diterbitkan oleh Putri-Putri Cinta Kasih di Indonesia. Groom,Thomas,H.(1997). Share Christian Praxis Berkatekese. (Drs, F.X.Heryatno,W.W.SJ.M.Ed.Penyadur) : Suatu Model

(162) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 143 Harjawiyata, Frans,Pr. (1987). Pengalaman akan Allah. Yogyakarta : Kanisius Heinrich Arnold, J. (2003). Discipleship: Merajut hidup menjadi murid Kristus.Yogyakarta: Kanisius Heuken, Adolf. (2004). Ensiklopedi Gereja, I Jakarta: Cipta Loka Caraka. Instruksi kongregasi untuk tarekat hidup bakti dan serikat hidup apostolic (2004) Bertolak Segar Dalam Kristus: komitmen hidup bakti yang diperbaharui di Milenium ketiga.Terjemahan Mgr.Alexsander Djajasiswaja (uskup Bandung). Jakarta : Depdok dan Penerangan, KWI Nouwen, H. J (1998). Memasuki ruang Batin. Yogyakarta : Kanisius Katekismus Gereja Katolik. (1998). Ende : Arnoldus Keputusan Resmi Kapitel Umum XV Kongregasi FdCC.(2008). For the sake of Christ with Saint Magdalena. Kempis, Thomas, A (1977). Mengikuti Jejak Kristus. Jakarta. Obor. Kitab Hukum Kanonik.(1991).Sekertariat KWI dan Obor. Konsili vatikan II.(1992). Perfectae caritatis. Dekrit tentang pembaharuan dan penyesuaian Hidup Religius. Dokumen Konsili vatikan II R.Hardawiryana, (penerjemah). Jakarta : Dokumentasi dan penerangan KWI & Obor. Konstitusi Kongregasi Canosian beserta Directorium (1828). Roma. Kriswanta.Gregorius, Pr (2009). Menjadi murid Kristus itu gimana sih. Yogyakarta : Kanisius Lalu,Yosef. (2007).Katekese Umat. Jakarta, Komisi kateketik KWI. Liagre, Pere,C.S.Sp. (1993). Berpadang gurun bersama St Theresia dari kanak-kanak Yesus. Bandung . Biara carmel lembang. Lowery. Daniel. (2003) Bertumbuh dalam keutamaan Kristiani. Jakarta : Obor Martasudjita, E, Pr. (2004). Tuhan yang kita sembah pada salib.Yogyakarta : Kanisius Merton, Thomas. (1965). Prinsip dasar hidup monastic. Seri Gedono 9 Pertapaan Bunda Pemersatu Gedono,Tromolpos, Salatiga.

(163) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 144 O‟Collins,dan Farrugia, Edward G (1991). Kamus teologi.Yogyakarta: Kanisius Plan Of Formation. (2013). Fabian Thomas ( Penerjemah). Jakarta.Bintaro. Pollonara Elda. (1988). Memoir St. Magdalena dari Canossa. Marsel beding ( penerjemah). Roma. Riyanto Agustinus,SCJ. (2010). Persembahan Diri Integral. Jakarta. Diktat bahan persiapan Kaul Pertama Suster-Suster Canossian. Sardi. L. A, SJ. Askese dalam hidup seharihari. Majalah Rohani, edisi no. 03, tahun ke -60 Maret, 2013 hlm, 8-11. Serafini, Antonieta, FdCC (1941). Wanita dan Rasul. Kemarin, hari ini dan selamanya. Roma Serafini, Antonieta FdCC (2002). Bertemu dengan Sang Mempelai. Fabian Thomas ( Penerjemah). Jakarta.Bintaro. Stefan Leks. (2006). Renungan Tri-Arti. Jakarta. Suparno.P,SJ ( 2007). Saat jubah bikin gerah 1. Yogyakarta : kanisius Suster-suster Gedono. Apakah kekudusan itu. Pertapaan Bunda pemersatu Gedono,Tromolpos,Salatiga. Telaumbanua, Marianus, OFMcap.(1999). Ilmu Kateketik. Jakarta : Obor. The Rules of the Congregation Of The Daughter Of Charity.( 1981). Roma. Unabridged Rule, Peraturan Lengkap Magdalena dari Canossa.(1981). Roma Wejangan St.Magdalena. (2001). Jakarta Yohanes Paulus II,Paus. (1996).Vita consecrate ( Hidup Bakti).R Hardawirjana, (Penerjemah). Jakarta : Depken KWI.(Dokumen asli diterbitkan tahun 1996) Zuidberg Gerald dan Bruggeman,P (1995). Bisakah iman membebaskan kita dari ketakutan. Yogyakarta: Kanisius.

(164) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI “ Ambilah Ya Tuhan “ Ambilah Ya Tuhan kemerdekaanku Kehendakku budi ingatanku Trimalah semua yang ada padaku Gunakanlah menurut hasrat-Mu Hanya Rahmat dan kasih-Mu padaku Yang ku mohon menjadi hartaku Hanya Rahmat dan kasih dari-Mu ku mohon menjadi hartaku 145

(165) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 146 Cerita pengorbanan diri sejati Dalam bulan maret 1796 terntara revolusioner prancis dibawah pimpinan jendral Napoleon Bonaparte bersama pasukannya menyeberangi semenanjung Italia hendak menaklukkan piedmonte dan Austria. Setelah menaklukkan kedua tersebut, Napoleon bersama tentaranya bergerak menuju kota Verona italia. Bonaparte memiliki alasan pula untuk menyerbu verona. Sesampainya diverona, ia mengirim tentaranya ke setiap sudut kota untuk menyerbu dan merampas hak penduduk. Ia pun memrintahkan agar semua biara ditutup.Tentara revolusi prancis bersifat rakus. Mereka menjelajahi seluruh daerah, membakar dan merusak hasil panen,merampok rumah-rumah penduduk dan membakar habis rumah-rumah penduduk. Seluruh penduduk kota venesia sangat ketakutan mereka. Kepanikkan pun melanda. Penduduk kota mulai mencari tempat pengungsian. Dan tempat yang dituju adalah venesia. Magdalena Gabriella Canossa berseta dengan saudara-saudaranya pun ikut dalam pengusian ke venesia. Ketika berada didalam pengungsian hati Magdalena dipenuhi dengan kegelisahan. Namun dalam kegelisahannya itu ia senantiasa berdoa kepada Allah agar mengaruniakan kepada-Nya kekuatan dan keselamatan bagi keluarga dan penduduk kota Verona. Ditempat pengungsian ia berusaha untuk melayani para pengungsi dengan cinta dan perhatian serta mengajarkan kepada mereka akan arti kepercayaan kepada Allah yakni dengan mengajarkan sabda kekal yang diambil dari Injil.

(166) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 147 Pada tanggal 31 juli 1986 ketika keadaan kota Verona mulai kembali aman, maka semua penduduk Verona termasuk Magdalena bersama dengan keluraganya kembali ke istana Canossa. Melihat penderitaan warga yang begitu menyedihkan akibat kehilangan tempat tinggal, maka Magdalena meminta izin kepada keluarga untuk meninggalkan istana guna mencari tempat untuk menampung anak-anak serta gadis-gadis miskin yang yang terlantar. Meski pun ditentang oleh keluarganya, namun Magdalena tetap pada pendiriannya. Ia melepaskan kedudukannya sebagai putri bangsawan, meninggalkan harta bendanya serta kehormatan dan tinggal bersama dengan anak-anak miskin. Pada tahun 1801 ia datang dan menghadap Napoleon untuk meminta izin mendapatkan sebuah biara, tempat ia dapat berkumpul bersama banyak gadis miskin dan anak-anak terlantar yang tinggal sendirian, tanpa bantuan pekerjaan dan makanan. Magdalena dapat meyakinkan Napoleon sehingga Napoleon mengizinkan untuk membuka sebuah biara yang terdapat di biara San Zeno. Bersama dengan beberapa gadis yang ditemui di pengungsian mereka melayani kaum miskin dengan mengajarkan kepada mereka pendidikan yakni baca dan tulis, mengunjugi yang sakit dan mengajar katekese. Suatu ketika terjadi kekurangan makanan rekana-rekan yang membantunya mulai mengeluh” kita kekurangan makanan, kemana kita akan mencarinya”? Yang lainnya mengeluh mengenai sikap anak-anak yang begitu nakal. Magdelena mendekati mereka dan kemudian dengan penuh cinta menasehati rekan-rekan katanya: “bertekunlah dalam doa dan biar Tuhan mengurus segalanya”. Serahkanlah segalanya kedalam hati Kristus Yang tersalib sebab di sana kamu

(167) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 148 akan menemukkan damai. Selanjutnya Magdalena juga mengatakan bahwa : “ Tantangan dan masalah jangan sampai membuat kita putus asa, malah sebaliknya menguatkan kita dalam melayani Tuhan”. Ia mengajarkan kepada mereka untuk tidak cepat mengeluh mengenai sikap dari anak-anak yang mereka layani, melainkan berani mengorbankan tenaga, pikiran, serta harta benda mereka untuk melayani anak-anak miskin. Hal inilah kemudian dituliskannya dalam wejangan dan juga dalam peraturan hidup. Semua pengorbanan Magdalena membuahkan hasil yakni banyak anak-anak dapat membaca, menulis dan beriman kepada Kristus.

(168) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 149 “Persembahan Hidup” Hidup kami Tuhan Engkau yang berikan Kan kami jalani demi panggilan Hidup ini memang penuh perjuangan, kadang pula penuh pergulatan Kepada-Mu hidup kami kembalikan ke dalam tangan-Mu s‟galanya kusrahkan suka duka tawa maupun tangisan s‟moga ini jadi kidung dan pujian Reff : Kusembahkan hati budi diri kami hidup mati kami dalam dunia ini biar Kau jagai sampai akhir nanti mengabdi Tuhan kini sampai mati. Coda : Bagi-Mu Tuhan persembahan hidup.

(169)

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

SKRIPSI PENDAMPINGAN KONGREGASI FMM DALAM PEMBERDAYAAN SOSIAL TERHADAP PEREMPUAN KORBAN PERDAGANGAN ORANG.
0
2
12
SKRIPSI PEMENUHAN HAK BAGI PARA KREDITOR YANG DEBITORNYA DIPAILITKAN.
0
2
12
BERTOLAK DARI SPIRITUALITAS PENDIRI pdf
0
23
166
PERINGATAN BAGI PARA PEMUDA DARI
0
0
32
UNDANGAN SPIRITUALITAS PERSEKUTUAN MENURUT DOKUMEN “BERTOLAK SEGAR DALAM KRISTUS” BAGI PENGHAYATAN CITA-CITA HIDUP KOMUNITAS KONGREGASI SUSTER FRANSISKUS MISIONARIS MARIA SKRIPSI
0
0
177
UPAYA MENINGKATKAN PENERIMAAN MASA TUA BAGI PARA SUSTER FCJM LANJUT USIA DI INDONESIA MELALUI KATEKESE SKRIPSI
0
2
188
KEPRIHATINAN RASULI DARI PENDIRI KONGREGASI CIJ TERHADAP HARKAT DAN MARTABAT KAUM PEREMPUAN DI ENDE-FLORES SKRIPSI
0
1
164
SKRIPSI DESKRIPSI PERSEPSI PARA SUSTER YUNIOR KONGREGASI FSE ANGKATAN 2002─2008 TENTANG KOMUNIKASI ANTARPRIBADI ANTARA MEREKA DENGAN PEMIMPIN KOMUNITAS DALAM BIMBINGAN PRIBADI
0
0
95
UNDANGAN GEREJA UNTUK MEMBANGUN HIDUP BERKOMUNITAS DAN JAWABAN BERDASARKAN BAGI PARA SUSTER URSULIN
0
0
165
TINGKAT AKTUALISASI DIRI PARA SUSTER JUNIOR DAN APLIKASINYA TERHADAP PROGRAM FORMASI JUNIORES KONGREGASI FIGLIE DELLA CARITA CANOSSIANA (FdCC) DI KOMUNITAS JAKARTA, JOGJAKARTA, DAN KUPANG PROVINSI DIVINE MERCY, INDONESIA 2010 SKRIPSI
0
2
124
KARYA PELAYANAN PARA SUSTER CINTA KASIH DARI MARIA BUNDA YANG BERBELAS KASIH DI PANTI LANSIA SANTA ANNA, TELUK GONG, JAKARTA BERDASARKAN SPIRITUALITAS PENDIRI
0
0
181
MANFAAT PROGRAM PEMBINAAN BAGI PENGHUNI PONDOK PENDAMPINGAN IBU DAN ANAK (PIA) “BETHLEHEM” KONGREGASI SUSTER PENYELENGGARAAN ILAHI PERIODE 2009-2010 SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Bimbin
0
0
187
PERKEMBANGAN KONGREGASI SUSTER OSA DI KETAPANG-KALIMANTAN BARAT TAHUN 1949-1992
0
0
233
PENGOLAHAN KEDEWASAAN BERKOMUNIKASI SEBAGAI SARANA HIDUP BERKOMUNITAS PARA SUSTER ABDI KRISTUS SKRIPSI
0
1
160
PERANAN HIDUP DOA DALAM MENINGKATKAN KECERDASAN SPIRITUAL PARA SUSTER YUNIOR KONGREGASI SUSTER-SUSTER CINTA KASIH SANTO CAROLUS BORROMEUS WILAYAH DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidi
0
2
187
Show more