PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Gratis

0
0
185
7 months ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI WUJUD KESOPANAN LEVEL INTERAKSI ANTARTOKOH DALAM NOVEL “BELANTIK” KARANGAN AHMAD TOHARI: SUATU TINJAUAN STILISTIKA PRAGMATIK SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Oleh: Asteria Ekaristi 091224049 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014

(2) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI WUJUD KESOPANAN LEVEL INTERAKSI ANTARTOKOH DALAM NOVEL “BELANTIK” KARANGAN AHMAD TOHARI: SUATU TINJAUAN STILISTIKA PRAGMATIK SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Oleh: Asteria Ekaristi 091224049 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014 i

(3) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ii

(4) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI iii

(5) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI MOTTO BERSABARLAH DENGAN SEGALA HAL, TAPI TERUTAMA BERSABARLAH TERHADAP DIRIMU. JANGAN HILANGKAN KEBERANIAN DALAM MEMPERTIMBANGKAN KETIDAKSEMPURNAANMU, TAPI MULAILAH UNTUK MEMPERBAIKINYA. MULAILAH SETIAP HARI DENGAN TUGAS YANG BARU (ST. FRANSISKUS DARI SALE) KEMALASAN ADALAH MUSUH TERBESAR JIWA (ST BENEDIKTUS DARI NURSIA) iv

(6) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI HALAMAN PERSEMBAHAN Skripsi ini saya persembahkan secara khusus untuk Ibu saya tercinta Lucia Sumaryani, S.Pd. Nenek saya Seminuk Pairodiharjo Kakak saya Rosalia Kusumaningsih Benidektus Risandra Riswan Heribertus Endro Prasetyo Keponakan saya Theodora Crystal Ararindra Gabriel Tobias Arkananta Skripsi ini saya persembahkan sebagai tanda terima kasih yang mendalam atas segala dukungan dan kasih yang diberikan selama ini. v

(7) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PERNYATAAN KEASLIAN KARYA Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah. Yogyakarta, 19 Februari 2014 Penulis Asteria Ekaristi vi

(8) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma: Nama : Asteria Ekaristi Nomor Mahasiswa : 091224049 Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya berjudul WUJUD KESOPANAN LEVEL INTERAKSI ANTARTOKOH DALAM NOVEL “BELANTIK” KARANGAN AHMAD TOHARI: SUATU TINJAUAN STILISTIKA PRAGMATIK Dengan demikian, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu izin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis. Demikian pernyataan ini yang saya buat dengan sebenarnya. Dibuat di Yogyakarta Pada tanggal: 19 Februari 2014 Yang menyatakan (Asteria Ekaristi) vii

(9) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI KATA PENGANTAR Puji Syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat, kasih dan karunia-Nya yang senantiasa menyertai saya, sehingga saya dapat menyelesaikan skripsi saya yang berjudul Wujud Kesopanan Level Interaksi Antartokoh dalam Novel “Belantik” Karangan Ahmad Tohari: Suatu Tinjauan Stilistika Pragmatik ini dengan baik. Skripsi ini ditulis untuk memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Oleh karena itu, secara khusus penulis ingin mengucapkan terimakasih kepada: 1. Dr. Yuliana Setiyaningsih, selaku Ketua Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia 2. Prof. Dr. Pranowo, M. Pd., selaku dosen pembimbing pertama yang bersedia meluangkan waktunya untuk membimbing dan mengarahkan penulis menyelesaikan skripsi ini. 3. Setya Tri Nugraha, S.Pd, M.Pd., selaku dosen pembimbing kedua, atas segala waktu, pengertian, saran, nasihat, dan bimbingannya pada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. 4. Para dosen PBSID, yang dengan caranya masing-masing telah membekali penulis dengan berbagai ilmu dan pengetahuan yang dibutuhkan. 5. Robertus Marsidiq, yang sudah membantu dan melayani penulis dalam mengurusi berbagai hal yang sifatnya administratif. 6. Teman-teman PBSID angkatan 2009, secara khusus kelas B, yang telah memberikan dukungan serta memberikan banyak masukan serta semangat sehingga penulis bisa menyelesaikan skripsi ini. 7. Teman-teman terkasih, Martinus Riski Nababan, Christina Sitorus, Ika Bonieta, Gisela Adelina metasari, Martha RiaHanesti, Elisabeth Ratih Handayani, Ade Henta Hermawan, Yustina Cantika Adventsia, dan Dedy Setya Herutomo. viii

(10) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 8. Pihak Universitas Sanata Dharma, yang telah mencipkan kondisi serta menyediakan berbagai fasilitas yang mendukung penulis dalam studi dan penyelesaian skripsi ini Penulis menyadari skripsi ini belum lah sempurna.Walaupun demikian, semoga penelitian ini berguna dan menjadi inspirasi bagi peneliti selanjutnya. Yogyakarta, 19 Februari 2014 Penulis ix

(11) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ABSTRAK Ekaristi, Asteria. 2014. Wujud Kesantunan Level Interaksi Antartokoh dalam Novel “Belantik” Karya Ahmad Tohari: Suatu Tinjauan Stilistika Pragmatik. Yogyakarta: PBSI, JPBS, FKIP, USD. Penelitian ini membahas dua persoalan, (1) Pola kesopanan yang terdapat dalam interaksi antartokoh yaitu Lasi, Bu Lanting, Mak Min, Pak Bambung, dan Kanjat dalam novel Belantik, dan (2) Pelanggaran pola kesopanan yang terdapat dalam interaksi antartokoh dalam novel Belantik karangan Ahmad Tohari. Data dalam penelitian ini adalah percakapan antartokoh yaitu Lasi sebagi tokoh utama, Bu Lanting, Mak Min, Pak Bambung, dan Kanjat, yang nantinya akan diteliti menggunakan prinsip kesopanan. Jika dilihat dari metode yang digunakan, penelitian ini merupakan kajian Stilistika Pragmatik. Stilistika Pragmatik adalah Kajian terhadap bahasa dalam penggunaanya dengan mempertimbangkan beberapa unsur dasar yang penting bagi penafsiran terhadap wacana tertulis, khususnya wacana sastra (Black, 2011: 1-2). Metode yang digunakan studi kepustakaan,yaitu pengumpulan data dengan metode baca, catat. Membaca secara cermat dan teliti sumber data yakni berupa teks novel Belantik dalam memperoleh data yang diinginkan. Hasil dari penelitian ini. Pertama, Wujud kesopanan yang terdapat dalam interaksi antartokoh dalam novel Belantik dikatakan telah memenuhi prinsip kesopanan. Hal tersebut dapat dilihat melalui enam maksim kesopanan yang dipaparkan Leech sebagai acuan, yaitu: (1) maksim kearifan, (2) maksim kedermawanan, (3) maksim pujian, (4) maksim kerendahan hati, (5) maksim kesepakatan, dan (6) maksim simpati. Untuk lebih memperdalam digunakan juga lima skala yang dipaparkan oleh Leech, yakni: (1) untung rugi, (2) opsional, (3) ketaklangsungan, (4) otoritas, dan (5) jarak sosial. Kedua, setelah menganalisis wujud kesopanan, dipaparkan juga mengenai pelanggaran wujud kesopanan dalam interaksi antartokoh. Pelanggaran wujud kesopanan ini juga menggunakan enam maksim kesopanan dari Leech, yaitu: (1) maksim kearifan, (2) maksim kedermawanan, (3) maksim pujian, (4) maksim kerendahan hati, (5) maksim kesepakatan, dan (6) maksim simpati. Digunakan juga lima skala yang dipaparkan oleh Leech, yakni: (1) untung rugi, (2) opsional, (3) ketaklangsungan, (4) otoritas, dan (5) jarak sosial. Interaksi dikatakan melanggar prinsip kesopanan karena tidak sesuai dengan ke-enam maksim kesopanan menurut Leech, penutur telah menguntungkan diri sendiri dan telah merugikan mitra tuturnya. Sebagian besar percakapan dikatakan sopan dan telah memenuhi wujud kesopanan yang sesuai dengan maksim kesopanan, selain itu ada beberapa percakapan yang telah melanggar wujud kesopanan karena tuturan dari penutur telah merugikan mitra tuturnya dan melanggar prinsip kesopanan. x

(12) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ABSTRACT Ekaristi, Asteria. 2014. Interaction Level between Characters of Politeness Representation in a Novel Entitled “Belantik” by Ahmad Tohari: A Study Of Stilistic Pragmatic. Yogyakarta: PBSI, JPBS, FKIP, USD. This research will analyze deeper on, (1) a politeness principle which occurs in the interaction between characters. The characters in the novel written by Ahmad Tohari: are Lasi, Bu Lanting, Mak Min, Pak Bambung, and Kanjat. (2) a contravention of politeness principle which occurred in the interaction between characters in the novel above. In order to collect data the writer analyzed on the conversation between the main characters with the other characters. The research is a Pragmatics Stylistics which studies on the usage of a language consider on the fundamental elements of written interpretation particularly literary discourse (Black, 2011: 1-2). In order to analyze the politeness principle and the contravention of politeness principle the writer applied politeness theory by Leech. The writer used literary study method to collect data by reading and taking notes from Belantik. As a result, first, based on the analysis, the characters interaction has fulfilled the politeness principle. Therefore, the writer used Leech six maxims to analyze the politeness principle which are Tact maxim, Agreement maxim, Generosity maxim, Approbation maxim, Modesty maxim and Sympathy maxim. Furthermore, to analyze deeper the writer also used Leech five pragmatics scale, those are the cost/benefit scale, optionally scale, indirectness scale, authority scale and the social distance scale. Second, after analyzing politeness principle interaction between characters in the novel there are also contravention towards politeness principle on the interaction between characters. The writer found that the speaker in the novel is changing between characters. Some characters interactions in the novel are not in accordance with the politeness principle since the speaker could take benefits and injured the hearer. Based on the analysis, most of the conversations is polite and has fulfilled the politeness principle in associate with politeness maxims. On the other hand, some conversations break the politeness principle because the speech has injured the hearer and break the politeness principle. xi

(13) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ................................................................................... i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ......................................... ii SUSUNAN PANITIA PENGUJI ................................................................ iii MOTTO ...................................................................................................... iv HALAMAN PERSEMBAHAN .................................................................. v LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN KARYA .................................... vi LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ..................... vii KATA PENGANTAR ................................................................................. viii ABSTRAK................................................................................................... x ABSTRACT.................................................................................................. xi DAFTAR ISI ............................................................................................... xii DAFTAR TABEL ....................................................................................... xv DAFTAR BAGAN ...................................................................................... xvi BAB I PENDAHULUAN ............................................................................ 1 1.1 Latar Belakang Masalah .................................................................... 1 1.2 Rumusan Masalah ............................................................................. 4 1.3 Tujuan Penelitian............................................................................... 4 1.4 Manfaat Penelitian............................................................................. 5 1.5 Definisi Istilah ................................................................................... 6 1.6 Sistematika Penyajian ........................................................................ 7 BAB II LANDASAN TEORI...................................................................... 8 2.1 Penelitian Yang Relevan.................................................................... 8 2.2 Landasan Teori .................................................................................. 10 2.2.1 Stilistika Pragmatik ........................................................................ 10 2.2.2 Teori-Teori Kesopanan................................................................... 12 2.2.3 Kesopanan Level InteraksiTokoh Dengan Tokoh ........................... 21 2.2.4 Prinsip Kesopanan.......................................................................... 25 xii

(14) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2.2.4.1 Maksim Kearifan (Tact Maxim) .................................................. 26 2.2.4.2 Maksim Kedermawanan (Generosity Maxim) ............................. 27 2.2.4.3 Maksim Pujian (Approbation Maxim) ......................................... 27 2.2.4.4 Maksim Kerendahan Hati (Modesty Maxim) ............................... 28 2.2.4.5 Maksim Kesepakatan (Agreement Maxim) .................................. 29 2.2.4.6 Maksim Simpati (Sympathy Maxim) ........................................... 30 2.2.5 Teori Hermeneutika ....................................................................... 31 2.3 Kerangka Berpikir ............................................................................. 33 BAB III METODOLOGI PENELITIAN .................................................. 35 3.1 Jenis Penelitian .................................................................................. 35 3.2 Sumber Data...................................................................................... 35 3.3 Data Penelitian .................................................................................. 36 3.4 Teknik Pengumpulan Data................................................................. 36 3.5 Instrumen Penelitian .......................................................................... 36 3.6 Teknik Analisis Data ......................................................................... 37 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN............................. 38 4.1 Deskripsi Data ................................................................................... 38 4.2 Hasil Analisis Data ............................................................................ 38 4.2.1 Wujud Kesopanan Interaksi Antartokoh dalam Novel Belantik ....... 40 4.2.1.1 Wujud Kesopanan Maksim Kearifan (Tact Maxim)..................... 40 4.2.1.2 Wujud Kesopanan Maksim Kedermawanan (Generosity Maxim) 47 4.2.1.3 Wujud Kesopanan Maksim Pujian (Approbation Maxim)............ 52 4.2.1.4 Wujud Kesopanan Maksim Kerendahan Hati (Modesty Maxim) 59 4.2.1.5 Wujud Kesopanan Maksim Kesepakatan (Aggrement Maxim) ... 69 4.2.1.6 Wujud Kesopanan Maksim Simpati (Sympathy Maxim) .............. 77 4.2.2 Pelanggaran Wujud Kesopanan Interaksi Antartokoh dalam Novel Belantik ............................................................................... 82 4.2.2.1 Pelanggaran Wujud Kesopanan Maksim Kearifan (Tact Maxim). 82 4.2.2.2 Pelanggaran Wujud Kesopanan Maksim Kedermawanan xiii

(15) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI (Generosity Maxim) ................................................................... 91 4.2.2.3 Pelanggaran Wujud Kesopanan Maksim Pujian (Approbation Maxim) ................................................................. 93 4.2.2.4 Pelanggaran Wujud Kesopanan Maksim Kerendahan Hati (Modesty Maxim) ...................................................................... 99 4.2.2.5 Pelanggaran Wujud Kesopanan Maksim Kesepakatan (Aggrement Maxim) ................................................................... 104 4.2.2.6 Pelanggaran Wujud Kesopanan Maksim Simpati (Sympathy Maxim) ..................................................................... 111 4.3 Pembahasan Hasil Penelitian ......................................................... 115 BAB V PENUTUP ...................................................................................... 153 5.1 Kesimpulan ....................................................................................... 153 5.2 Saran ................................................................................................. 155 DAFTAR PUSTAKA .................................................................................. 157 LAMPIRAN ................................................................................................ 159 xiv

(16) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Struktur bahasa santun adalah struktur bahasa yang disusun oleh penutur/ penulis agar tidak menyinggung perasaan pendengar atau pembaca. Hal inilah yang belum banyak mendapat perhatian para ahli menurut Pranowo (2009: 4) untuk berkomunikasi kita harus memperhitungkan struktur bahasa yang akan kita gunakan, jangan sampai tutur bicara kita menyinggung mitra tutur yang sedang kita ajak berkomunikasi. Setiap orang baiklah mampu bertutur kata secara halus dan sopan dengan lawan bicaranya. Dengan berbicara secara santun dan sopan, rasa saling menghargai satu sama lain akan timbul dengan sendirinya. Bahasa merupakan alat komunikasi, selain itu bahasalah yang menyatukan perbedaanperbedaan yang ada di dalam sebuah masyarakat. Bahasa merupakan cerminan diri dan kepribadian bangsa untuk itulah sebagai masyarakat yang bernegara dan berpendidikan baiklah kita menggunakan bahasa yang santun saat kita hendak berkomunikasi dengan orang lain. Menurut Brown dan Levinson (dalam Rahardi, 2005: 68-69) terdapat tiga skala penentu tinggi rendahnya peringkat kesantunan sebuah tuturan. Ketiga skala tersebut ditentukan secara kontekstual, sosial, dan kultural. (1) skala peringkat jarak sosial antara penutur dan mitra tutur banyak ditentukan oleh parameter perbedaan umur, jenis kelamin, dan latar belakang sosiokultural, (2) skala peringkat status sosial antara penutur dan mitra tutur atau seringkali disebut dengan peringkat kekuasaan didasarkan pada kedudukan asimetrik antara penutur 1

(17) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2 dan mitra tutur, (3) skala peringkat tindak tutur atau sering pula disebut dengan rank rating atau lengkapnya adalah didasarkan atas kedudukan relatif tindak tutur yang satu dengan tindak tutur lainnya. Ketiga skala tersebut dapat membantu kesantunan dalam proses komunikasi, semakin tua umur seseorang, peringkat kesantunan dalam bertutur semakin tinggi. Orang yang berjenis kelamin wanita, memiliki tingkat kesantunan lebih tinggi. Hal itu disebabkan dengan sesuatu yang bernilai estetika dalam keseharian hidupnya. Ketika akan berkomunikasi penutur wajib memperhitungkan umur mitra tutur, kedudukan mitra tutur, dan situasi berlangsungnya komunikasi. Peneliti akan meneliti mengenai interaksi kesopanan antartokoh dalam novel Belantik karangan Ahmad Tohari. Novel Belantik mengisahkan mengenai seorang tokoh perempuan bernama “Lasi”. Lasi adalah perempuan kampung Karangsoga yang cantik, eksotis, dan menggairahkan mata lelaki. Lasi gagal membangun rumah tangga karena dikhianati Darsa, sang suami. Lasi menumpang truk pengangkut gula aren dan terdampar di Jakarta. Lasi yang cantik dan menggiurkan, menggerakkan naluri bisnis Bu Lanting, mucikari kelas kakap. Dia pun jatuh ke dalam pelukan Handarbeni, lelaki tua kaya raya, tetapi impoten. Lasi hidup di tengah kemanjaan dan gelimang kemewahan, tetapi tidak bahagia. Bambung seorang lelaki berbirahi tinggi, mempunyai pengaruh luar biasa dalam politik, pelobi ulung, dan haus kekuasaan ingin memiliki Lasi, dia meminta pertolongan kepada Bu Lanting untuk berbicara kepada Handarbeni agar menyerahkan Lasi kepadanya dan merayu Lasi agar mau menjadi simpanannya. Tuturan-tuturan antartokoh itulah yang akan dijadikan sumber data dalam penelitian ini, seperti berikut: “Tetapi, Bu, saya kan tidak bisa. Saya tidak bisa. Saya masih istri Pak Handarbeni. Jadi mana bisa…” “Alaaah, kamu masih juga perempuan kampung. Bagaimana tidak bisa karena kamu sudah mau menerima kalung dari Pak Bambung? Kamu ngerti nggak, harga kalung itu akan membuat kamu makmur jibur-jibur tujuh turunan? Lalu

(18) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3 mengapa kamu tidak memberi apa-apa kepada Pak Bambung?” (Tohari, 2001: 57-58) Kutipan percakapan tersebut terlihat Bu Lanting merendahkan harga diri Lasi dengan mengatakan “perempuan kampung”, hal inilah yang membuat Bu Lanting melanggar prinsip kesopanan. Maksim kearifan menuntut setiap peserta untuk mengurangi keuntungan dirinya sendiri, dan memaksimalkan keuntungan kepada orang lain. Kata “perempuan kampung” telah melanggar maksim kearifan, karena perkataan itu untuk merendahkan orang lain. Lasi memang menghormati Bu lanting selain lebih tua darinya, Bu lanting lah yang membuatnya menjadi istri orang kaya walaupun hanya istri simpanan. Berbeda dengan kutipan percakapan berikut: “Nah, begitu. Sembahyang. Ada yang bilang sembahyang bisa membuat orang jadi tenang. Tetapi kalau aku bilang, orang bisa tenang karena duit. Mana yang benar Las?“ “Ibu yang benar,” jawab Lasi dengan tersenyum (Tohari, 2001: 108) Cuplikan interaksi di atas, menggambarkan penutur mencoba bersimpati kepada mitra tuturnya yang sedang bersedih atau gundah hatinya. Wujud kesopanan pada interaksi di atas terdapat pada maksim simpati, pada maksim ini penutur diharapkan dapat memaksimalkan sikap simpati antara pihak yang satu dengan pihak yang lainnya. Dengan penutur berkata “Nah, begitu. Sembahyang. Ada yang bilang sembahyang bisa membuat orang jadi tenang”, penutur mencoba untuk menenangkan hati mitra tutur yang sedang berduka hatinya. Sastra dapat berfungsi memberi kesantaian atau kesenangan; sifat kesenangan bisa bermacam-macam. Kadang-kadang benar-benar terjadi pelepasan ketegangan, adakalanya diperoleh kenikmatan estetis yang aktif, yaitu apresiasi

(19) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4 teks karena didapat kesenangan dalam mengikuti liku-liku dan kesemuan dalam teks. Dapat pula terjadi identifikasi, yaitu pelibatan pribadi dengan apa yang dikisahkan (Luxemburg, dkk, 1989: 22). Bahasa dalam karya sastra terutama novel, biasanya diambil dari perbincangan masyarakat sehari-harinya. Dari novel ini, nanti akan dilihat tuturan-tuturan santun yang diperlihatkan oleh tokoh Lasi dengan tokoh lainnya dalam novel Belantik yang menggunakan teori kesantunan dalam interaksi antartokoh , hasil yang akan diperoleh berupa analisis tuturan-tuturan santun dari tokoh tersebut. 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan alasan yang peneliti kemukakan di dalam latar belakang di atas, masalah penelitian akan dirumuskan sebagai berikut : 1. Wujud kesopanan apa yang terdapat dalam interaksi antartokoh yaitu Lasi, Bu Lanting, Mak Min, Pak Bambung, dan Kanjat dalam novel Belatik karangan Ahmad Tohari? 2. Pelanggaran wujud kesopanan apa sajakah yang terdapat dalam interaksi antartokoh yaitu Lasi, Bu Lanting, Mak Min, Pak Bambung, dan Kanjat dalam novel Belatik karangan Ahmad Tohari? 1.3 Tujuan Penelitian 1. Mendeskripsikan wujud kesopanan yang terdapat dalam interaksi antartokoh yaitu Lasi, Bu Lanting, Mak Min, Pak Bambung, dan Kanjat dalam novel Belatik karangan Ahmad Tohari.

(20) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 5 2. Mendeskripsikan wujud pola kesopanan yang terdapat dalam interaksi antartokoh yaitu Lasi, Bu Lanting, Mak Min, Pak Bambung, dan Kanjat dalam novel Belatik karangan Ahmad Tohari. 1.4 Manfaat Penelitian Peneliti berharap penelitian ini dapat memberikan manfaat bagi para pembaca. Beberapa manfaat adalah sebagai berikut : 1. Penelitian ini dapat menambah koleksi penelitian dalam bidang kajian stilistika pragmatik, khususnya mengenai kesopanan level interaksi antartokoh dalam novel Belantik. 2. Penelitian ini dapat menambah wawasan pembaca mengenai kesopanan level interaksi antartokoh, sehingga pembaca dapat menghasilkan tuturan yang sopan saat berkomunikasi. 3. Bagi para guru bahasa Indonesia hasil penelitian ini bisa dijadikan sebagai salah satu sumber penunjang pembelajaran khususnya dalam pembelajaran bahasa Indonesia 4. Hasil penelitian ini dapat dipakai sebagai sumber referensi bagi para pengarang karya sastra yang ingin menggunakan kesopanan dalam membuat karangannya.

(21) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 6 1.5 Definisi Istilah 1. Stilistika pragmatik Kajian terhadap bahasa dalam penggunaanya dengan mempertimbangkan beberapa unsur dasar yang penting bagi penafsiran terhadap wacana tertulis, khususnya wacana sastra (Black, 2011: 1-2). 2. Novel Sebuah karya fiksi prosa yang tertulis dan naratif. Biasanya dalam bentuk cerita (Mihardja, Ratih : 39). 3. Kesopanan Sebagai alat yang digunakan untuk menunjukkan kesadaran tentang wajah orang lain. Dalam situasi kejauhan dan kedekatan sosial (Yulle, 2006: 104). 4. Maksim Kearifan (Tact Maxim) Maksim ini mengungkapkan buatlah kerugian orang lain, sekecil mungkin dan buatlah keuntungan orang lain sebesar mungkin (Leech, 1993: 206). 5. Maksim Kedermawanan (Generosity Maxim) Maksim ini mengungkapkan buatlah keuntungan diri sendiri sekecil mungkin dan buatlah kerugian diri sendiri sebesar mungkin (Leech, 1993: 206). 6. Maksim Pujian (Aprobation Maxim) Maksim ini mengungkapkan kecamlah orang lain sedikit mungkin, dan pujilah orang lain sebanyak mungkin (Leech, 1993: 207). 7. Maksim Kerendahan Hati (Modesty Maxim)

(22) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 7 Maksim ini mengungkapkan pujilah diri sendiri sedikit mungkin dan kecamlah diri sendiri sebanyak mungkin (Leech, 1993: 207). 8. Maksim kesepakatan (Agreement Maxim) Maksim ini mengungkapkan agar ketaksepakatan antara diri sendiri dan orang lain terjadi sedikit mungkin, dan usahakan agar kesepakatan antara diri sendiri dan orang lain terjadi sebanyak mungkin (Leech, 1993: 207). 9. Maksim Simpati (Sympathy Maxim) Maksim ini mengungkapkan kurangilah rasa antipati antara diri sendiri dengan orang lain hingga sekecil mungkin dan tingkatkan rasa simpati sebanyak-banyaknya antara diri sendiri dan orang lain (Leech, 1993: 207). 1.6 Sistematika Penyajian Penulisan penelitian ini meliputi lima bab. Bab I berisi latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, definisi istilah, dan sistematika penyajian. Bab II berisi penelitian yang relevan dan landasan teori. Bab III berisi jenis penelitian, data penelitian, teknik pengumpulan data, instrument penelitian, dan teknik analisis data. Bab IV berisi deskripsi data, analisis data, dan pembahasan. Bab V berisi kesimpulan, saran, dan implikasi hasil penelitian dalam pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah menengah.

(23) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Penelitian yang Relevan Ada tiga penelitian terdahulu yang menunjukkan bahwa penelitian yang dilakukan masih relevan untuk dilaksanakan yang pertama adalah penelitian yang dilakukan oleh Agustina Dupa Dorem (2002) yang berjudul Kesetiaan Tokoh Lasi Dalam Novel Belantik Karya Ahmad Tohari: Suatu Tinjauan Psikologis Dan Implementasinya Dalam Pembelajaran Sastra Di SMU. Penelitian ini bertujuan untuk (1) Mendeskripsikan relasi antar unsur tokoh dan latar dalam novel belantik karya Ahmad Tohari, (2) Mendeskripsikan kesetiaan tokoh Lasi dalam novel Belantik karangan Ahmad Tohari dan (3) Mendeskripsikan implementasi kesetiaan tokoh Lasi dalam novel belantik karya Ahmad Tohari dalam pembelajaran sastra di SMU. Perbedaannya terletak pada teori analisisnya. Dorem mencoba menganalisis novel belantik dengan tinjauan psikologis, dilihat dari kesetiaan Lasi, sedangkan penelitian ini menggunakan tinjauan stilistika pragmatik berdasarkan wujud kesopanan dalam interaksi antartokoh yaitu Lasi, Bu Lanting, Mak Min, Pak Bambung, dan Kanjat. Relevansi ini terletak pada data yang diteliti yaitu novel Belantik karangan Ahmad Tohari dan tokoh Lasi yang di dalam novel tersebut merupakan tokoh utama. Beata Prima Equatoria Panuntun (2011) yang berjudul Jenis-Jenis Tindak Tutur dan Pola Kesantunan dalam Novel “9 Matahari”: Suatu Tinjauan Pragmatik. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan jenis-jenis tindak tutur yang terdapat di dalam novel “9 matahari” dan (2) mendeskripsikan pola 8

(24) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 9 kesopanan yang terdapat di dalam novel “9 matahari”. Dalam skripsi tersebut peneliti menemukan pola kesopanan yang terdapat di dalam novel “9 matahari”, yakni pola kesopanan yang telah memenuhi enam maksim kesopanan yaitu, maksim kebijaksanaan, maksim kedermawaan, maksim penghargaan, maksim kerendahan hati, maksim pemufakatan, maksim simpati. Relevansi penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan oleh Panuntun (2011) terletak pada analisis prinsip kesopanan dan penggunaan objek penelitian berupa novel. Yang membedakan adalah teori analisis dari Panuntun menyertakan analisis tindak tutur pada novel, sedangkan penelitian ini lebih pada wujud kesopanan level interaksi antartokoh. Penelitian yang ketiga adalah penelitian yang dilakukan oleh Rr. L. Santi Wardajahadi pada tahun 1999 yang berjudul Metafora dalam Percakapan Antartokoh Pada Novel Balada Becak, Rromo Rahardi, Burung-Burung Manyar, dan Burung-Burung Rantau Karya YB. Mangunwijaya: Suatu Tinjauan Semantik dan Pragmatik. Penelitian ini berusaha menemukan jawaban terhadap tiga persoalan atau masalah utama, yakni (1) menemukan dan mendeskripsikan jenisjenis pengungkapan metafora dalam percakapan antartokoh pada empat novel karya Mangunwijaya ditinjau dari penerapan kesamaan makna antara unsur-unsur yang membentuknya, (2) menemukan dan mendeskripsikan jenis-jenis tindak ilokusi yang diungkapkan metafora dalam percakapan antartokoh pada empat novel karya Mangunwijaya, dan (3) menemukan dan mendeskripsikan maksimmaksim prinsip-prinsip percakapan yang ditaati ataupun yang dilanggar metafora dalam percakapan antartokoh pada empat novel karya Mangunwijaya.

(25) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 10 Di dalam penelitian Wardajahadi (1999) ditemukan ada enam maksim kesopanan, yakni pola kesopanan yang telah memenuhi enam maksim kesopanan yaitu, maksim kearifan, maksim kedermawaan, maksim pujian, maksim kerendahan hati, maksim kesepakatan, maksim simpati. Letak relevansi penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan oleh Wardajahadi adalah sama-sama menganalisis menggunakan maksim kesopanan percakapan dalam novel. Perbedaannya, bila penelitian ini hanya menganalisis wujud kesopanan level interaksi antaratokoh , penelitian Wardajahadi difokuskan pada kajian implikatur dan metafora. 2.2 Landasan Teori 2.2.1 Stilistika Pragmatik Dalam bukunya yang berjudul “Stilistika Pragmatik”, Black (2011: xiii) mencoba untuk menunjukkan bahwa linguistik terapan termasuk pragmatik yang bisa memberikan kontribusi bagi kajian sastra. Teori-teori pragmatik nantinya akan memberikan kontribusi bagi kontekstualisasi terhadap teks dan bisa menawarkan petunjuk-petunjuk tentang penafsiran teks, yaitu sebuah fungsi yang mirip seperti intonasi dalam bahasa lisan. Pada awalnya para pelopor dalam bidang kajian stilistika memiliki anggapan bahwa bahasa dari sebuah teks mencerminkan dunia tekstual secara sempurna (Fasold, 1990; Joseph, Love and Taylor, 2001), anggapan ini mengandung hipotesis Whorf yang lemah. Dibutuhkan kajian linguistik untuk dapat mengungkapkan maknanya. Sekarang orang cenderung untuk memandang bahwa

(26) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 11 makna adalah hasil dari proses penafsiran. Para pembaca akan memahami sebuah teks dengan cara yang berbeda-beda tergantung pada apa yang pembaca bawa ke dalam teks itu. Kita tidak bisa mengganggap bahwa sebuah teks memiliki satu makna tunggal yang sama bagi semua pembacanya, karena pragmatik adalah kajian terhadap bahasa dalam penggunaannya (dengan memperhitungkan unsurunsur yang tidak dicakup oleh tatabahasa dan semantik), maka dapat dipahami jika stilistika sekarang menjadi makin tertarik untuk menggunakan pragmatik. Peran dari pembaca adalah selalu sebagai penafsir dan bukan sekedar penerima yang pasif (Black, 2011: 1-2). Stilistika atau disebut juga stile menyaran pada konteks kesusastraan bertujuan untuk mendapatkan efek keindahan yang menonjol. Adanya konteks, bentuk, dan tujuan tertentu inilah yang akan menentukan stile sebuah karya sastra (Nurgiantoro, 2007: 277). Kajian ini dimaksudkan untuk menjelaskan wujud dari kebahasaan atau gaya bahasa yang digunakan pengarang didalam karangannya. Penjelasan ini nantinya akan membantu pembaca utuk mengerti apa yang ingin disampaikan pengarang melalui karangannya. Kajian stilistika pada sebuah karya sastra disamping untuk menerangkan hubungan antara bahasa dengan fungsi artistik juga dimaksudkan untuk menentukan seberapa jauh dan dalam hal apa bahasa yang dipergunakan itu memperlihatkan penyimpangan dan bagaimana pengarang menggunakan tanda bahasa untuk memperoleh efek keindahan (Chatman dalam Nurgiantoro via Jabrohim dan Sujarwanto, 2002: 289). Selain untuk memperlihatkan efek keindahan dalam berbahasa, bahasa digunakan juga untuk memperlihatkan kepada pembaca tentang segala hal yang

(27) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 12 menyimpang, ada yang menggunakan bahasa kiasan yang lebih halus maupun yang kasar sekalipun. Dengan beberapa pandangan yang berbeda-beda inilah dapat disimpulkan bahwa dalam kajian stilistika digunakan gaya bahasa untuk menelaah sebuah karya sastra yang menunjukkan efek tertentu menurut perasaan dalam hati pengarang dan efek pembaca setelah membaca karangan sastra tersebut. Ahmad tohari memiliki gaya bahasanya sendiri untuk memperlihatkan efek keindahan dan makna yang terkandung dalam karangannya, di mana wujud kesopanan dalam novel Belantik inilah yang akan diteliti oleh peneliti. 2.2.2 Teori-Teori Kesopanan Menurut Leech (1983: 81) via Black (2011: 153) mengatakan memahami kesopanan yaitu, prinsip bahwa orang akan selalu “meminimalkan ekspresi dari keyakinan yang tidak sopan (jika keadaan lain tidak berubah)” dan “memaksimalkan ekspresi dari keyakinan sopan. Orang akan bersikap sopan terhadap orang lain yang sudah dikenalnya maupun yang belum dikenalnya. Kesopanan sudah termasuk dalam peraturan dalam bermasyarakat agar tidak menimbulkan permasalahan karena bersikap tidak sopan atau semaunya sendiri ketika sedang bersama orang lain. Ada beberapa faktor yang melibatkan status seseorang, berdasarkan pada nilai-nilai sosial yang mengikatnya, misalnya usia dan kekuasaan. Contohnya saja apabila ada seorang penutur yang status sosialnya rendah dalam berbicara dengan penutur yang status sosialnya lebih tinggi akan menggunakan gelar/pangkat (misalnya; Bapak/Ibu, Dokter, Tuan/Nyonya, dll).

(28) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 13 Menurut Yulle (2006: 104) kesopanan dalam suatu interaksi dapat didefinisikan sebagai alat yang digunakan untuk menunjukkan kesadaran tentang wajah orang lain. Dalam pengertian ini, kesopanan dapat disempurnakan dalam situasi kejauhan dan kedekatan sosial. Apabila kita sebagai penutur menggunakan bahasa santun dalam berkomunikasi dengan mitra tutur, hal itu dapat mencerminkan kepribadian kita yang dalam bermasyarakat. Dengan bertutur kata secara halus dan sopan agar memberikan efek positif bagi orang lain yang mendengarkan. Struktur bahasa yang santun adalah struktur bahasa yang disusun oleh penutur/penulis agar tidak menyinggung perasaan pendengar atau pembaca (Pranowo, 2009: 4). Menurut Pranowo ketika seseorang sedang berkomunikasi hendaknya disamping baik dan benar juga santun. Kaidah kesantunan dipakai dalam setiap tindak bahasa. Orang yang sedang bercanda, orang yang sedang bepidato dalam situasi resmi hendaknya menggunakan bahasa santun. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam berkomunikasi agar menjadi tuturan yang sopan. Berikut ini uraian mengenai apa saja yang harus diperhatikan saat berututur kata, seperti skala kesantunan, indikator kesantunan berbahasa, dan strategi berkomunikasi yang santun. a. Skala Kesantunan Sedikitnya terdapat tiga macam skala pengukur tingkat kesantunan yang sampai saat ini dijadikan sebagai dasar acuan dalam penelitian kesantunan, peneliti akan menggunakan skala kesantunan menurut Leech. Seseorang harus

(29) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 14 mengetahui sesantun apakah tuturan yang diucapkannya, agar tidak menyakiti perasaan orang lain yang mendengarnya. Di bawah ini akan dijelaskan skala kesantunan menurut Leech untuk menentukan peringkat kesantunan sebuah tuturan ( Rahardi, 2005:66-70). 1) Skala Kesantunan Leech Skala kesantunan yang dipaparkan oleh Leech terdiri dari lima skala kesantunan saat bertutur kata. a) Cost-benefit scale atau skala kerugian dan keuntungan, skala ini menunjuk pada besar kecilnya kerugian dan keuntungan yang diakibatkan oleh sebuah tindak tutur pada sebuah pertuturan. semakin tuturan merugikan diri penutur, akan dianggap semakin santunlah tuturan tersebut. Demikian sebaliknya, semakin tuturan itu menguntungkan diri penutur akan semakin dianggap tidak santunlah tuturan tersebut. Kerendahan hati sangat diperlukan ketika akan berkomunikasi dengan mitra tutur, dengan begitu akan tercipta sebuah komunikasi yang santun dari kedua belah pihak. b) Optionality scale atau skala pilihan, menunjuk kepada banyak atau sedikitnya pilihan (option) yang disampakan si penutur kepada si mitra tutur di dalam kegiatan bertutur. Semakin pertuturan itu memungkinkan penutur atau mitra tutur untuk menentukan pilihan yang banyak dan leluasa, akan dianggap semakin santunlah tuturan itu. c) Indirectness scale atau skala ketidaklangsungan menunjuk kepada peringkat langsung atau tidak langsungnya maksud sebuah tuturan. Semakin tuturan itu bersifat langsung akan dianggap semakin tidak santunlah tuturan itu.

(30) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 15 Demikian sebaliknya, semakin tidak langsung, maksud sebuah tuturan, akan dianggap semakin santunlah tuturan itu. Authority scale atau skala keotoritasan menunjuk kepada hubungan status d) sosial antara penutur dan mitra tutur yang terlibat dalam pertuturan. Semakin jauh jarak peringkat sosial antara penutur dengan mitra tutur. Tuturan yang digunakan akan cenderung menjadi semakin santun. Sebaliknya, semakin dekat jarak peringkat status sosial diantara keduanya, akan cenderung berkuranglah peringkat kesantunan tuturan yang digunakan dalam bertutur itu. sudah pasti di saat kita berbicara dengan seseorang yang jabatannya lebih tinggi dari kita, kita akan menggunakan bahasa yang berbeda berbeda dengan bahasa yang kita gunakan saat kita sedang berkomunikasi dengan teman kita. Maka dari itu, status sosial juga sangat mempengaruhi dalam kita bertutur kata. Social distance scale atau skala jarak sosial menunjuk kepada peringkat e) hubungan sosial antara penutur dan mitra tutur yang terlibat dalam sebuah pertuturan. Ada kecenderungan bahwa semakin dekat jarak peringkat sosial di antara keduanya, akan semakin kurang santunlah tuturan itu. Dengan perkataan lain, tingkat keakraban hubungan antara penutur dengan mitra tutur sangat menentukan peringkat kesantunan tuturan yang digunakan dalam bertutur. Menurut Leech dalam Gunarwan (1992: 188-189), ada tiga skala yang perlu kita pertimbangkan untuk menilai derajat kesantunan penutur dalam berkomunikasi. Ketiga skala tersebut, adalah skala biaya-keuntungan (untung-

(31) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 16 rugi), skala keopsionalan, skala ketaklangsungan. Dalam hal ini, kesantunan berbahasa (dari yang paling kurang santun sampai yang paling santun) adalah fungsi (dalam pengertian perhitungan diferensial-integral) dari ketiga skala tersebut. Skala biaya-keuntungan (untung-rugi) dipakai untuk ”menghitung” biaya dan keuntungan untuk melakukan tindakkan dalam kaitannya dengan penutur (pur) dan pendengar (par). Skala ini menjelaskan mengapa, walaupun sama-sama bermodus imperatif, ujaran-ujaran di bawah ini semakin ke bawah semakin santun. (1) Bersihkan toilet saya. Biaya bagi par Kurang santun Keuntungan bagi pur Lebih santun (2) Kupaskan manga. (3) Ambilkan koran di meja itu. (4) Beristirahatlah. (5) Dengarkan lagu kesukaanmu ini. (6) Minum kopinya. Yang kedua, skala keopsionalan, dipakai untuk “menghitung” berapa pur memberi par pilihan dalam melaksanakan tindakan. Makin besar jumlah pilihan, makin santunlah tindak ujarannya.

(32) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 17 (1) Pindahkan kotak ini. Lebih sedikit pilihan Kurang santun Lebih banyak pilihan Lebih santun (2) Kalau tidak lelah, pindahkan kotak itu. (3) Kalau tidak lelah dan ada waktu, pindahkan kotak ini. (4) Kalau tidak lelah dan ada waktu, pindahkan kotak ini–itu kalau kamu mau. (5) Kalau tidak lelah dan ada waktu, pindahkan kotak ini–itu kalau kamu mau dan tidak berkeberatan. Skala yang ketiga, skala ketaklangsungan, dipakai untuk “mengukur” ketaklangsungan tindak ujaran: seberapa panjang jarak yang “ditempuh” oleh daya ilokuksioner sampai ia tiba ditujuan ilokusioner. (1) Jelaskan persoalannya. (2) Saya ingin Saudara menjelaskan Lebih langsung Kurang santun Lebih tak langsung Lebih santun persoalannya. (3) Maukah Saudara menjelaskan persoalannya? (4) Saudara dapat menjelaskan persoalannya. (5) Berkeberatankah Saudara menjelaskan persoalannya? b. Indikator Kesantunan Indikator adalah penanda yang dapat dijadikan penentu apakah pemakaian bahasa Indonesia si penutur itu santun atau tidak. Banyak ahli yang

(33) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 18 mengemukakan pendapat berkaitan dengan indikator kesantunan. Berikut beberapa indikator kesantunan oleh para ahli (Pranowo, 2009: 100-104). 1) Indikator kesantunan Dell Hymes (1978) a) (S) Setting and Scene (latar) mengacu pada tempat dan waktu terjadinya komunikasi. b) (P) Participants (peserta) mengacu pada orang yang terlibat komunikasi (Q1 dan Q2). c) (E) Ends (tujuan komunikasi) mengacu pada tujuan yang akan dicapai dalam berkomunikasi. d) \(A) Act Sequence (pesan yang ingin disampaikan) mengacu pada bentuk dan pesan yang ingin disampaikan. Bentuk pesan dapat disampaikan dalam bahasa tulis ataupun bahasa lisan misalnya, berupa permintaan, sedangkan isi pesan ialah wujud permintaannya. e) (K) Key (kunci) mengacu pada pelaksanaan percakapan. Maksudnya, bagaimana pesan itu disampaikan kepada mitra tutur (cara penyampaian). f) (I) Instrumentalities (Sarana) mengacu pada segala ilustrasi yang ada disekitar peristiwa tutur. Segala ilustrasi yang dimaksud seperti bentuk atau gaya bahasa ataupun jalur bahasa yang digunakan, seperti jalur lisan ataupun tulis. g) (N) Norms (norma) yaitu pranata sosial kemasyarakatan yang mengacu pada norma perilaku partisipan dalam berkomunikasi. h) (G) Genres (ragam, register) mengacu pada ragam bahasa yang digunakan, misalnya ragam formal, ragam santai dan sebagainya.

(34) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 19 2) Indikator kesantunan Leech (1983) a) Tuturan dapat memberikan keuntungan kepada mitra tutur (maksim kebijaksanaan “tact maxim”). b) Tuturan lebih baik menimbulkan kerugian pada penutur (maksim kedermawanan “generosity maxim”). c) Tuturan dapat memberikan pujian kepada mitra tutur (maksim pujian “praise maxim”). d) Tuturan tidak memuji diri sendiri (maksim kerendahan hati “Modesty maxim”). e) Tuturan dapat memberikan persetujuan kepada mitra tutur (maksim kesetujuan “agreement maxim”). f) Tuturan dapat mengungkapkan rasa simpati terhadap yang dialami oleh mitra tutur (maksim simpati “thy maxim”). g) Tuturan dapat mengungkapkan sebanyak-banyaknya rasa senang pada mitra tutur (maksim pertimbangan “consideration maxim”). 3) Indikator kesantunan Pranowo (2005) a) Memperhatikan suasana hati mitra tutur dan sebisa mungkin membuat hati mitra tutur berkenan (angon rasa). b) Mempertemukan perasaan penutur dan mitra tutur supaya isi komunikasi menjadi sama-sama dikehendaki (adu rasa). c) Menjaga tuturan agar dapat diterima oleh mitra tutur (empan papan). d) Menjaga agar penutur memperlihatkan ketidakmampuannya di hadapan mitra tutur (sifat rendah hati).

(35) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 20 e) Memposisikan mitra tutur pada tempat yang lebih tinggi (sikap hormat).\ f) Tuturan memperlihatkan bahwa apa yang dikatakan kepada mitra tutur juga dirasakan oleh penutur (Sikap tepa selira). c. Strategi Komunikasi Agar Santun Agar komunikasi bisa dikatakan santun, maka dibutuhkan strategi supaya bahasa yang kita gunakan menjadi santun. Pranowo (2009: 39-46) menyebutkan tiga strategi untuk menyatakan kesantunan dalam berbahasa. 1) Apa yang dikomunikasikan: Setiap orang yang berkomunikasi dengan orang lain harus ada yang dibicarakan. Pokok pembicaraan menjadi salah satu unsur utama dalam berkomunikasi. Ketika kita akan berkomunikasi dengan orang lain, pokok pembicaraan harus jelas agar mitra tutur tidak kebingungan dengan apa yang sedang kita bicarakan. Pokok pembicaraan pun haruslah berkembang dan berubah, hal tersebut akan menambah wawasan mitra tutur dan membuat mitra tutur tidak bosan berbicara dengan kita. 2) Bagaimana cara berkomunikasi: Hal ini mengarahkan kita pada cara menyampaikan maksud dari pembicaraan antara penutur dan mitra tutur. Grice menyatakan bahwa ketika penutur berkomunikasi, informasi yang diberikan oleh penutur cukup seperlunya saja, jangan kurang dan jangan lebih. Maksud pembicaraan harus disertai fakta-fakta yang ada dan harus memperhitungkan situasi dan kondisi. 3) Mengapa sesuatu hal perlu dikomunikasikan: penutur dan mitra tutur diuji kebenaran dalam hati nuraninya. Penutur harus menjaga kapan sesuatu harus

(36) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 21 dikatakan sesuai dengan kondisi perasaan mitra tuturnya. Apa yang harus dikomunikasikan oleh penutur diharapkan dapat memberikan efek positif bagi mitra tuturnya. 2.2.3 Kesopanan Level Interaksi Tokoh dengan Tokoh Menurut Black (2011: 163-164) dialog yang berisi interaksi secara langsung sudah selaras dengan prinsip kesopanan tidaklah mudah ditemukan, karena dialog semacam itu cenderung tidak menarik. “Apakah Anda tidak berkenan untuk menambah sop?” wanita itu bertanya kepadanya sekarang. “Tidak, terima kasih. Sopnya benar-benar enak.” Kutipan di atas, dapat kita lihat bahwa ada tawaran yang disampaikan secara sopan, dan penolakan itu diperlunak dengan pujian, karena berpotensi untuk mengusik harga diri positif dari penutur. Dapat diperkirakan bahwa dialog yang tidak sopan tidak hanya sekedar merupakan hal yang wajar dalam rumah tangga, tetapi juga meningkatkan atau menjaga kedekatan hubungan. “…Kamu bisa mati kalau tidak segera berhenti”. “Tahu dari mana kamu? Dasar goblok.” Kedua orang dalam kutipan di atas berbicara terang-terangan dan ucapan orang yang kedua jelas-jelas merusak harga diri positif dari orang yang pertama. Dalam berinterkasi diharapkan penutur dan mitra tutur saling berbicara secara sopan sesuai dengan prinsip kesopanan, agar tidak melukai perasaan lawan bicaranya. Kata-kata pelunak seperti “sebenarnya”, “sepertinya agak”, dan “tetapi” dalam sebuah interaksi bertujuan untuk memenuhi kebutuhan akan harga

(37) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 22 diri dari lawan bicara, yaitu melunakkan bagian-bagian di mana terjadi perbedaan pendapat sehingga menguatkan harmoni sosial. Contoh menarik lainnya dari sebuah pertengkaran (dalam konteks rumah tangga) adalah dialog antara tiga orang usia lanjut berikut: “… Kremasi adalah yang paling baik.” “Aku sepakat denganmu,” kata Chairmian dengan mengantuk. “Salah, kamu tidak setuju dengan saya,” katanya. “Orang Katholik tidak boleh dikremasi.” “Maksudmu, aku yakin kata-katamu benar, Eric.” “Aku bukan Eric,” kata Godfrey, “dan kamu tidak tahu apakah kata-kataku benar. Kalau tidak percaya tanya saja pada Ny. Anthony. Dia pasti akan bilang bahwa orang Katholik tidak boleh dikremasi.” Dia membuka pintu dan memanggil Ny. Anthony dengan suara keras. Ny. Anthony datang sambil menghela napas. “Ny. Anthony, Anda Katholik, bukan?” kata Godfrey.” “Ya. Aku harus memeriksa masakanku.” “Anda setuju dengan kremasi?” “Yah,” katanya. “Saya sebenarnya tidak suka membayangkan kita disekop dan dibuang begitu saja. Saya merasa itu sepertinya agak …” “Yang menjadi pertanyaannya itu bukan apa perasaan Anda, Ny. Anthony. Tetapi apa ajaran Gereja Katholik tentang apa yang boleh dan apa yang tidak boleh Anda lakukan. Gereja Anda mengatakan Anda tidak boleh dikremasi. Itu yang penting.” “Seperti yang saya bilang tadi, Tn. Colston, saya sebenarnya merasa tidak enak kalau …” “Merasa tidak enak … ini bukan masalah apa yang Anda rasakan enak atau tidak enak. Anda tidak punya pilihan lain dalam hal ini, apa Anda belum paham?” … “Oh begitu, baiklah Tn. Colston. Saya harus menjaga masakan saya agar tidak hangus.” “Kalau aku setuju dengan kremasi. Tetapi, kamu Charmian, kamu tidak boleh setuju dengan kremasi kamu paham? …” “Ya, Godfrey.” “Dan Anda juga Ny. Anthony.” “Oke, Tn. Colston.” “Pada prinsipnya kremasi tidak boleh untuk kalian berdua,” kata Godfrey. “Benar sekali,” kata Ny. Anthony sambil menyelinap pergi. (Spark, Memento Mori, 1959/1961: 32-33) Adu mulut antara seorang pria tua, istrinya dan juru masaknya ini menunjukkan kebenaran dari pendapat Culpeper dkk. (2003) bahwa sikap agresif secara langsung belum dijelaskan dalam analisis kesopanan dari Brown dan

(38) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 23 Levinson. Kita tidak memiliki bukti dari perilaku semacam ini secara langsung, tetapi perilaku seperti itu kalau di lapangan bermain anak-anak disebut sebagai mencari perkara atau menantang berkelahi. Ucapan ucapan Godfrey menarik karena dia banyak sekali melakukan FTA. Dia mengkontradiksi Chairman secara agresif, sehingga mengancam harga diri positif dan negatif dari lawan bicaranya itu. Leech (1993: 19) mengkaji beberapa aspek dalam situasi ujar untuk dipakai sebagai kriteria dalam menentukan seseorang melakukan tindak pragmatik dan untuk memahami suatu situasi ujar. (i) Yang menyapa (penyapa) atau yang disapa (pesapa), untuk menyatakan orang yang menyapa dengan n (penutur) dan orang yang disapa dengan t (petutur). Sedangkan menurut Tarigan (1986: 35) dalam setiap situasi ujaran harus ada pihak pembicara (atau penulis) disingkat menjadi Pa dan pihak penyimak (atau pembaca) disingkat menjadi Pk. Hal ini mengungkapkan bahwa pragmatik tidak hanya terbatas pada bahasa lisan tetapi juga mencakup bahasa tulis. Dalam sebuah situasi ujar diwajibkan adanya penutur/ pembicara dan petutur/ penyimak agar terjadi proses timbal balik dalam situasi ujar atau berkomunikasi, situasi ujar tidak mungkin terjadi apabila hanya terdapat penutur saja atau petutur saja. (ii) Konteks ujaran, yaitu aspek yang berhubungan dengan lingkungan fisik dan sosial sebuah tuturan atau latar belakang sebuah permasalahan yang dapat membantu pihak t dalam menafsirkan makna tuturan (Leech, 1993: 20). Hal yang sama juga diutarakan oleh Tarigan (1986: 35) konteks ujaran adalah latar belakang yang diperkirakan dimiliki dan disetujui bersama oleh Pa serta yang

(39) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 24 menunjang interpretasi Pk terhadap apa yang dimaksud Pa dengan suatu ucapan tertentu. Konteks ujaran sangat dibutuhkan untuk mengetahui sebuah permasalahan yang akan dibicarakan untuk menunjang keberhasilan sebuah komunikasi. (iii) Tujuan sebuah tuturan, dalam setiap situasi ujar tentu mengandung makna atau tujuan tertentu pula. Kedua belah pihak yaitu Pa dan Pk terlibat dalam suatau kegiatan yang berorientasi pada tujuan tertentu (Tarigan, 1986: 36). Sama halnya dengan Leech (1993: 20) menurutnya, istilah tujuan dan fungsi lebih berguna daripada makna yang dimaksud atau maksud n mengucapkan sesuatu. Seorang penutur harus memiliki tujuan dalam bertutur, hal ini akan memudahkan mitra tuturnya untuk memberikan timbal balik (feed back) sesuai yang diinginkan pihak penutur. (iv) Tuturan sebagai bentuk tindakan atau kegiatan: tindak ujar, pragmatik berurusan dengan tindak-tindak verbal yang terjadi dalam situasi dan waktu tertentu. Dengan demikian pragmatik menangani bahasa pada tingkatan yang lebih konkret daripada tatabahasa (Leech, 1993: 20). Dalam hal ini Tarigan (1986: 36) menyebutnya sebagai Tindak Ilokusi. Ucapan merupakan suatu bentuk kegiatan atau suatu kegiatan tidak ujar. Penutur yang sedang berbicara dengan mitra tuturnya atau sebaliknya, dianggap sedang melakukan kegiatan yaitu kegiatan tindak ujar. (v) Tuturan sebagai produk tindak verbal, selain sebagai tindak ujar atau tindak verbal itu sendiri, dalam pragmatik “tuturan” dapat digunakan arti yang lain yaitu, sebagai produk suatu tindak verbal (Leech, 1993: 20). Sama halnya

(40) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 25 dengan Tarigan (1986: 36) ada pengertian lain dari kata ucapan yang dapat dipakai dalam pragmatik, yaitu mengacu kepada produk suatu tindak verbal, dan bukan hanya kepada tindak verbal itu sendiri. Suatu ucapan dapat merupakan suatu contoh kalimat atau bukti kalimat, tetapi jelas bukanlah suatu kalimat. Dari unsur-unsur yang disebutkan di atas dapat dijadikan pedoman dalam berkomunikasi, cara penutur dan mitra tutur dalam menggunakan bahasa untuk mengutarakan maksud dan tujuan dalam berbicara. Selain itu dapat juga menjelaskan bagaimana situasi ujar dapat berlangsung dan bagaimana sebuah tuturan dapat dikatakan sebagai tindak ujar. 2.2.4 Prinsip Kesopanan Prinsip kesopanan memiliki enam maksim, yakni maksim kearifan atau kebijaksanaan (tact maxim), maksim kedermawanan atau kemurahan (generosity maxim), maksim pujian atau penerimaan (approbation maxim), maksim kerendahan hati (modesty maxim), maksim kesepakatan atau kecocokan (agreement maxim), dan maksim Simpati (sympathy maxim). Prinsip kesopanan ini berhubungan dengan dua peserta percakapan, yakni diri sendiri dan orang lain. Diri sendiri adalah penutur, dan orang lain adalah lawan tutur dan orang ketiga yang dibicarakan penutur dan lawan tutur (Wijana, 1996: 55). Penting tidaknya perilaku sopan santun yang kita tunjukkan kepada pihak ketiga beragam sekali dan ditentukan beberapa faktor. Faktor kunci ialah apakah pihak ketiga hadir atau tidak (Leech, 1993: 206).

(41) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 26 2.2.4.1 Maksim Kearifan (Tact Maxim) Maksim ini diungkapkan dengan tuturan impositif dan komisif. Maksim ini menggariskan setiap peserta pertuturan untuk meminimalkan kerugian orang lain. Contoh: “Kalau tidak keberatan, sudilah Anda datang kerumah saya”. Demikianlah pula tuturan yang diutarakan secara tidak langsung lazimnya lebih sopan dibandingkan dengan tuturan yang diutarakan secara langsung. Memerintah dengan kalimat berita atau kalimat tanya dipandang lebih sopan dibandingkan dengan kalimat perintah Bandingkan contoh pertuturan berikut ini. Contoh: “Datanglah ke rumah saya!” Contoh pertuturan diatas tidaklah sopan karena penutur seakan-akan bersikap memerintah untuk singgah di rumahnya. Seakan-akan mitra tutur dianggap sebagai bawahan yang harus menuruti segala permintaan penutur. bila di dalam berbicara penutur berusaha memaksimalkan keuntungan orang lain, maka lawan bicara wajib pula memaksimalkan kerugian dirinya, bukan sebaliknya. Hal ini disebut dengan “paradoks pragmatik (pragmatic paradox)”.

(42) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 27 2.2.4.2 Maksim Kedermawanan (Generosity Maxim) Maksim ini diungkapkan dengan tuturan komisif dan impositif. Maksim ini mewajibkan setiap peserta tindak tutur untuk memaksimalkan kerugian bagi diri sendiri, dan meminimalkan keuntungan diri sendiri. Contoh : “Saya mengundangmu ke rumah untuk makan malam”. Penutur berusaha memaksimalkan kerugian diri sendiri dilihat dari contoh di atas. Bandingkan dengan contoh di bawah ini. Contoh: “Saya akan datang ke rumahmu untuk makan siang”. Tuturan di atas dirasa kurang sopan karena penutur berusaha memaksimalkan keuntungan dirinya dengan menyusahkan orang lain. Apalagi jika itu merupakan inisiatif penutur sendiri untuk menumpang makan siang di rumah mitra tutur. 2.2.4.3 Maksim Pujian (Aprobation Maxim) Maksim kemurahan diutarakan dengan kalimat ekspresif dan asertif. Maksim ini menuntut setiap peserta pertuturan untuk memaksimalkan rasa hormat kepada orang lain, dan meminimalkan rasa tidak hormat kepada orang lain. Contoh : + “Permainanmu sangat bagus”. - “ Tidak saya kira biasa-biasa saja”

(43) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 28 Tokoh (+) bersikap sopan karena berusaha memaksimalkan keuntungan. Lawan tuturnya (-) berusaha meminimalkan penghargaan diri sendiri. Bandingkan dengan contoh dibawah ini. Contoh: “Masakanmu tidak enak.” Tuturan di atas tidak sopan karena penutur meminimalkan rasa hormat kepada orang lain dengan berkata masakannya tidak enak, alangkah baiknya jika penutur berkata masakannya kurang enak sambil memberikan solusi agar makannya menjadi lebih enak untuk dimakan. Hal itu dirasa lebih enak didengar dan tidak menyakiti perasaan mitra tutur. 2.2.4.4 Maksim Kerendahan hati (Modesty Maxim) Maksim kerendahan hati juga diungkapkan dengan kalimat ekspresif dan asertif. Maksim ini menuntut setiap peserta pertuturan untuk memaksimalkan ketidakhormatan pada diri sendiri, dan meminimalkan rasa hormat pada diri sendiri. Contoh : +“Kau sangat pandai” -“Ah tidak, biasa-biasa saja. Itu hanya kebetulan” Percakapan di atas tokoh (-) meminimalkan rasa hormat bagi dirinya sendiri. Bandingkan contoh di bawah ini.

(44) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 29 Contoh: + “Kau sangat pandai” -“Ya, saya memang pandai Tuturan di atas dinggap melanggar maksim kesopanan. Tuturan (-) melanggar maksim kesopanan karena memaksimalkan rasa hormat pada diri sendiri. Penutur diharapkan dapat rendah hati ketika disanjung oleh mitra tutur tentang suatu hal yang menyangkut prestasinya. 2.2.4.5 Maksim Kesepakatan (Agreement Maxim) Maksim kecocokan diungkapkan dengan kalimat ekspresif dan asertif. Maksim ini menuntut setiap penutur dan lawan tutur untuk memaksimalkan kecocokan diantara mereka, dan meminimalkan ketidakcocokan di antara mereka. Contoh : +“Drama itu bagus ya?” -“Ya, tetapi blocking pemainnya masih banyak kekurangan. Tokoh (-) menyatakan ketidaksetujuannya secara lebih sopan itu terlihat jelas ketika ketidaksetujuan itu tidak dinyatakan secara frontal, sehingga tidak terkesan bahwa ia orang yang sombong. Bandingkan dengan contoh di bawah ini: Contoh : + “Bahasa Inggris sukar ya?” -“ Mudah sekali kok”

(45) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 30 Contoh di atas penutur tidak menyetujui apa yang dikatakan oleh mitra tutur, namun penuturannya itu melanggar maksim kecocokan. Apabila penutur ingin menyatakan ketidaksetujuannya dengan lebih sopan, penutur dapat menambahkan kata “tetapi” dalam membuat pernyataan yang mengandung ketidaksetujuan. 2.2.4.6 Maksim Simpati (Sympathy Maxim) Maksim kesimpatian diungkapkan dengan kalimat asertif dan ekspresif. Maksim ini mengharuskan setiap peserta pertuturan untuk memaksimalkan rasa simpati, dan meminimalkan rasa antipati kepada lawan tuturnya. Jika lawan tutur mendapatkan kesuksesan atau kebahagiaan, penutur wajib memberikan ucapan selamat. Bila lawan tutur mendapatkan kesusahan, atau musibah penutur layak turut berduka, atau mengutarakan ucapan bela sungkawa sebagai tanda kesimpatian. Contoh : +“Bibi baru-baru ini sudah tiada” -“Ikhlaskan saja, mungkin sudah takdir, Jon” Dari percakapan di atas, terlihat jelas tokoh (-) lebih sopan dalam menyampaikan rasa simpatinya. Bandingkan contoh di bawah ini. Contoh: + “Aku gagal di SNMPTN”. -“Wah, pintar sekali kamu. Selamat ya!”

(46) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 31 Contoh diatas tidak mematuhi maksim kesimpatian karena tuturan (-) memaksimalkan rasa antipasti terhadap kegagalan atau kedukaan yang menimpa (+). Dari apa yang sudah dijelaskan di atas dapat diketahui bahwa maksim kebijaksanaan, maksim penerimaan, maksim kemurahan, dan maksim kerendahan hati adalah maksim yang berskala dua kutub karena berhubungan dengan keuntungan atau kerugian diri sendiri dan orang lain. Sementara maksim kecocokan dan maksim kesimpatian adalah maksim yang berskala satu kutub karena berhubungan dengan penilaian buruk baik penutur terhadap dirinya sendiri atau orang lain. menurut Leech (1993: 208) hal ini mencerminkan berlakunya suatu hukum yang mengatakan bahwa sopan santun lebih terpusat pada lain daripada diri. Maksim-maksim ini ditaati sampai batas-batas tertentu saja dan bukannya ditaati sebagai kaidah-kaidah absolut (menurut KBBI (2008:4), absolut memiliki arti tidak terbatas; mutlak; sepenuhnya tanpa syarat; tidak dapat diragukan lagi; nyata). 2.2.5 Teori Hermeneutika Hermeneutika adalah teori tentang bekerjanya pemahaman dalam menafsirkan teks (Ricoeur dalam Rosyidi, 2010: 151), dan palmer dalam Rosyidi (2010: 151) menjelaskan bahwa dua fokus dalam kajian hermeneutika mencakup, (1) peristiwa pemahaman terhadap teks, (2) persoalan yang lebih mengarah mengenai pemahaman dan interpretasi.

(47) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 32 Menurut Ricoeur dalam Rosyidi (2010: 164-165) tugas hermeneutika tidak lagi ditafsirkan sebgai mencari kesamaan antara penafsir dengan maksud pengarang. Tugasnya adalah (1) mencari di dalam teks itu sendiri, dinamika yang diarahkan oleh strukturasi karya atau dinamika internal teks (sense), (2) mencari di dalam teks kemampuan karya untuk memproyeksikan diri keluar dari dirinya sehingga melahirkan suatu dunia baru yang merupakan halnya atau pesan teks itu (reference). Contoh sebagai berikut: Judul puisi karya Chairil Anwar “Catetan Th. 1946” Sebagai tanda menunjukkan waktu pasca Perang Dunia II atau waktu perang kemerdekaan Indonesia melawan penjajah Belanda, pada waktu orang Indonesia hidup penuh ketakutan. Ada tanganku, sekali akan jemu terkulai Mainan cahaya di air hilang bentuk dalam kabut Dan suara yang kucintai ‘kan berhenti membelai Kupahat batu nisan sendiri dan kupagut. “ada tanganku”, berarti aku masih punya kekuatan (pada waktu sekarang), tetapi pada suatu ketika nanti aku akan kehilangan kekuatanku (karena tua atau mati). Karena ketuaan itu, pendar-pendar air yang kena cahaya (mainan cahaya) akan tidak terlihat lagi karena mata telah pudar (hilang bentuk dalam kabut). Begitu juga, orang-orang yang kucintai akan tidak dapat mencintai dan menyayangi aku lagi (karena aku telah mati). Oleh karena itu, aku membuat karya yang hebat atau monumental (pahat batu nisan sendiri sebagi tanda aku pernah hidup (kupagut) (Pradopo, 2005: 269-270). Sebelum dilakukan analisis karya sastra perlu dipahami maknanya dengan pembacaan semiotik. Pembacaan semiotik itu berupa pembacaan heuristik dan pembacaan retroaktif atau hermeneutic seperti yang dikemukakan oleh Riffaterre dalam Pradopo (2005: 268). Pembacaan retroaktif atau hermeneutika adalah pembacaan ulang dengan memberikan tafsiran. Hasil dari tafsiran tersebut bukan hanya memberikan penjelasan mengenai maksud dari teks tapi juga pesan yang terkandung dalam teks tersebut.

(48) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 33 Metode hermeneutika mencoba menyesuaikan setiap elemen dalam teks menjadi satu keseluruhan yang lengkap, dalam sebuah proses yang biasa dikenal sebagai “lingkaran hermeneutik”. Heiddger dalam Eagleton (2006: 93) mengatakan, kata Hermeneutika berarti ilmu atau seni penafsiran. Tugas hermeneutika adalah menafsirkan makna dan pesan seobjektif mungkin sesuai yang diinginkan teks (Saidi, 2008: 377). Dilihat dari beberapa pandangan diatas dapat disimpulkan hermeneutika adalah sebuah metode untuk memahami makna atau tafsiran sebuah karya sastra seobjektif mungkin. Teori ini nantinya akan digunakan untuk memaknai novel karya Ahmad Tohari terutama dalam hal interaksi antar tokohnya. 2.3 Kerangka Berpikir Penelitian ini menggunakan kerangka berpikir sebagai berikut: 1) Penelitian ini mendeskripsikan wujud kesopanan yang terdapat dalam percakapan antartokoh yaitu Lasi, Bu Lanting, Mak Min, Pak Bambung, dan Kanjat dalam novel Belantik karya Ahmad Tohari. 2) Sebagai landasan teori, peneliti menggunakan teori stilistika pragmatik pada umummya dan kesopanan pada khususnya. 3) Atas dasar teori tersebut, penelitian ini akan mendeskripsikan wujud kesopanan yang digunakan Ahmad Tohari dalam membuat percakapan. 4) Sifat penelitian ini adalah penelitian studi kepustakaan dengan instrumen peneliti sendiri yang berbekal pengetahuan pragmatik, linguistik, dan sastra.

(49) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 34 Dalam menganalisis peneliti menggunakan teori stilistika pragmatik pada umumnya dan kesopanan pada khusunya. Secara skematis kerangka berpikir tersebut disusun sebagai berikut: . NOVEL BELANTIK : BEKISAR MERAH II (AHMAD TOHARI) TEORI STILISTIKA PRAGMATIK KESOPANAN LEVEL INTERAKSI ANTARTOKOH DENGAN TOKOH LAIN WUJUD KESOPANAN YANG DIGUNAKAN AHMAD TOHARI DALAM MEMBUAT PERCAKAPAN

(50) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian Penelitian ini dianalisis menggunakan kajian studi kepustakaan untuk menganalisis wujud kesopanan yang ada dalam percakapan antartokoh yaitu Lasi, Bu Lanting, Mak Min, Pak Bambung, dan Kanjat dalam novel Belantik. Studi kepustakaan dalam memperoleh data penelitiannya memanfaatkan sumber perpustakaan. Penelitian studi kepustakaan membatasi kegiatannya hanya pada bahan-bahan koleksi perpustakaan saja tanpa memerlukan riset lapangan (Zed, 2008: 1-2). Penelitian ini tidak menggunakan data-data berupa angka, namun berisi kata-kata yang mendeskripsikan tentang wujud kesantunan yang ada dalam novel Belantik. Penelitian dengan menggunakan kajian ini mengharuskan peneliti menemukan segala sumber yang terkait dengan data penelitian antara lain, novel Belantik karangan Ahmad Tohari, hasil penelitian terdahulu, dan sumber kajian teori yang membahas mengenai prinsip kesopanan. 3.2 Sumber Data Sumber data yang dipakai dalam penelitian ini berupa teks, yaitu novel Belantik karya Ahmad Tohari. Novel dengan jumlah 142 halaman ini terbit pada tahun 2001. 35

(51) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 36 3.3 Data Penelitian Dalam pragmatik kata tuturan dapat digunakan sebagai produk suatu tindak verbal. Data yang akan dianalisis dalam penelitian ini adalah percakapan antar tokoh yaitu Lasi, Bu Lanting, Mak Min, Pak Bambung, dan Kanjat yang terdapat dalam novel Belantik, yang nantinya akan dianalisis menggunakan prinsip kesopanan. 3.4 Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik baca, catat. Riset kepustakaan atau sering juga disebut studi pustaka, ialah serangkaian kegiatan yang berkenaan dengan metode pengumpulan data pustaka, membaca dan mencatat serta mengolah bahan penelitian (Zed, 2008: 3). Teknik baca dan teknik catat berarti peneliti sebagai instrument kunci melakukan pembacaan secara cermat dan teliti sebagai sumber data yakni berupa teks novel Belantik dalam memperoleh data yang diinginkan. Keseluruhan hasil pembacaan tersebut dicatat dan hasil catatan tersebut dijadikan sumber data dari penelitian yang akan dilakukan. 3.5 Instrumen Penelitian Instrumen penelitian adalah peneliti sendiri berbekal pengetahuan pragmatik, linguistik, dan sastra. Dalam menganalisis data peneliti menggunakan teori stilistika pragmatik untuk menganalisis percakapan antar tokoh yaitu Lasi, Bu

(52) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 37 Lanting, Mak Min, Pak Bambung, dan Kanjat dalam Novel Belantik karangan Ahmad Tohari. 3.6 Teknik Analisis Data Teknik dalam penelitian ini menggunakan teknik identifikasi data, klasifikasi data,dan deskripsi data (Pranowo: 2014). Menurut Sudaryanto (1993: 6), tahap analisis data merupakan upaya sang peneliti menangani langsung masalah yang terkandung dalam data yaitu mengamati yang segera diikuti dengan mengurai dan memburaikan masalah dengan cara khas tertentu. 1) Teknik Identifikasi data dilakukan dengan cara mengumpulkan semua jenis percakapan antar tokoh yaitu Lasi, Bu Lanting, Mak Min, Pak Bambung, dan Kanjat yang ada di dalam novel. 2) Teknik Klasifikasi data dilakukan dengan menggolongkan data-data percakapan yang diperoleh sesuai dengan wujud kesopanan. 3) Teknik Interpretasi data dilakukan dengan memaknai percakapan antar tokoh yaitu Lasi, Bu Lanting, Mak Min, Pak Bambung, dan Kanjat dalam novel Belantik karya Ahmad Tohari dengan wujud kesopanan. 4) Teknik Deskripsi data dilakukan dengan mendeskripsikan wujud kesopanan apa saja dan beberapa pelanggaran wujud kesopanan yang terdapat dalam percakapan antartokoh yaitu Lasi, Bu Lanting, Mak Min, Pak Bambung, dan Kanjat.

(53) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Deskripsi Data Data penelitian yang berupa tuturan yang memuat interaksi antartokoh yaitu Lasi, Bu Lanting, Mak Min, Pak Bambung, dan Kanjat. Berikut salah satu contoh percakapan antara Lasi dengan Bu Lanting. “Dua minggu tak bertemu, kulihat kamu berubah, Las,” kata Bu Lanting sambil beriringan berjalan masuk. “Saya berubah Bu?” “Jadi agak gemuk. Awas, cukuplah aku yang gembrot seperti ini. Kamu, jangan. Kamu harus menjaga tubuhmu. Kukasih tahu ya, sekarang ini yang namanya tubuh, pinya nilai sangat tinggi. Kamu sedikit bodoh tidak apa-apa, asal kakimu, lehermu, tanganmu, tetap cantik. Betul. Karena nyatanya tubuh yang bagus mampu mengubah nasib perempuan, he-he. Dengan modal tubuh yang menarik, seorang perempuan bisa menikmati hidup mewah. Jadi, kamu harus hati-hati merawat tubuh. Dan percaya atau tidak, bagi perempuan di kota ini, tubuh yang tetap bagus adalah segalanya!”. (Tohari, 2001:24) Kalimat di atas dituturkan oleh Bu Lanting kepada Lasi yang sudah lama tak dijumpainya sekitar dua minggu lamanya. Data itulah yang akan dianalisis dan dideskripsikan dalam penelitian ini untuk mengetahui wujud kesopanan yang tengah terjadi dalam pembicaraan tersebut. Apakah penutur sudah mematuhi peraturan suatu maksim tertentu. Apabila penutur telah mematuhi suatu maksim tertentu, kalimat yang diucapkan tersebut akan dideskripsikan untuk mengetahui jenis maksim kesopanan yang dipatuhinya. 4.2 Analisis Data Keseluruhan data yang telah terkumpul akan dianalisis satu persatu untuk mendapatkan jawaban atas dua rumusan masalah penelitian, yakni wujud 38

(54) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 39 kesopanan dan pelanggaran wujud kesopanan apa yang terdapat dalam interaksi antartokoh dalam novel Belantik karangan Ahmad Tohari. Langkah awalnya adalah menguraikan maksud tuturan penutur (dengan memperhatikan konteks) dan makna kalimat penutur. Dari langkah itu, dapat dipahami maksud kalimat yang dituturkan oleh penutur sehingga dapat digolongkan ke dalam salah satu jenis maksim yang sesuai. 1. Wujud Kesopanan Interaksi Antartokoh (a) Wujud Kesopanan Maksim Kearifan: WA1 (b) Wujud Kesopanan Maksim Kedermawanan: WD1 (c) Wujud Kesopanan Maksim Pujian: WP1 (d) Wujud Kesopanan Maksim Kerendahan Hati: WR1 (e) Wujud Kesopanan Maksim Kesepakatan: WK1 (f) Wujud Kesopanan Maksim Simpati: WS1 2. Pelanggaran Wujud Kesopanan Interaksi Antartokoh (a) Pelanggaran Wujud Kesopanan Maksim Kearifan: PA2 (b) Pelanggaran Wujud Kesopanan Maksim Kedermawanan: PD2 (c) Pelanggaran Wujud Kesopanan Maksim Pujian: PP2 (d) Pelanggaran Wujud Kesopanan Maksim Kerendahan Hati: PR2 (e) Pelanggaran Wujud Kesopanan Maksim Kesepakatan: PK2 (f) Pelanggaran Wujud Kesopanan Maksim Simpati: PS2 Selain digolongkan sesuai maksim, kalimat yang dituturkan juga digolongkan ke dalam salah satu skala kesantunan, untuk menentukan peringkat kesantunan penutur dalam berkomunikasi dengan mitra tutur.

(55) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 40 (a) Skala Untung-Rugi: SU1 (b) Skala Keopsionalan: SO2 (c) Skala Ketaklangsungan: SK3 (d) Skala Keotoritasan: ST4 (e) Skala Jarak Sosial: SJ5 Bagian analisis data ini akan dilaporkan satu sampai lima contoh (tergantung dari data yang diperoleh) dari masing-masing maksim kesopanan yang telah ditemukan. 4.2.1 Wujud Kesopanan Interaksi Antartokoh dalam Novel Belantik. Berdasarkan data yang diteliti, dalam novel Belantik ditemukan tuturantuturan yang memenuhi kaidah atau prinsip kesopanan yang meliputi maksim Kearifan, Kedermawanan, Pujian, Kerendahan hati, Kesepakatan, dan Simpati. 4.2.1.1 Wujud Kesopanan Maksim Kearifan (WA1) Maksim ini diungkapkan dengan tuturan impositif dan komisif. Maksim ini menggariskan setiap peserta pertuturan untuk meminimalkan kerugian orang lain dan memaksimalkan keuntungan bagi orang lain sebesar mungkin (Wijana, 1996: 56). Ada satu interaksi tuturan yang mengandung maksim kearifan dalam novel Belantik karangan Ahmad Tohari. Para penutur menujukkan sikap sopan santunnya dengan cara meminimalkan kerugian orang lain dan memaksimalkan keuntungan bagi orang lain sebesar mungkin. Untuk lebih jelasnya, berikut disajikan tiga contoh tuturannya:

(56) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI (1) Bu Lanting Lasi Bu Lanting 41 :“Dua minggu tak bertemu, kulihat kamu berubah, Las,” kata Bu Lanting sambil beriringan berjalan masuk. :“Saya berubah Bu?” :“Jadi agak gemuk. Awas, cukuplah aku yang gembrot seperti ini. Kamu, jangan. Kamu harus menjaga tubuhmu. Kukasih tahu ya, sekarang ini yang namanya tubuh, punya nilai sangat tinggi. Kamu sedikit bodoh tidak apa-apa, asal kakimu, lehermu, tanganmu, tetap cantik. Betul. Karena nyatanya tubuh yang bagus mampu mengubah nasib perempuan, he-he. Dengan modal tubuh yang menarik, seorang perempuan bisa menikmati hidup mewah. Jadi, kamu harus hati-hati merawat tubuh. Dan percaya atau tidak, bagi perempuan di kota ini, tubuh yang tetap bagus adalah segalanya!” (halaman 24, WA1.SK3) Konteks: Dituturkan oleh Bu Lanting untuk menasihati Lasi yang agak gemuk ketika bertamu di rumah Lasi. Bu Lanting melihat keadaan Lasi yang sudah dua minggu tidak ditemuinya. (2) Lasi Bu Lanting Lasi :“Tetapi Mas Han seperti terpaksa mengizinkan saya. Suaranya agak berat.” :“Mungkin suamimu sedang banyak urusan. Biasa, Las, bila sedang sibuk seorang suami akan kehilangan kehangatan. Jadi yang penting bersiaplah. Ini baru jam sepuluh. Jam setengah satu nanti saya kembali kemari.” :“Baik, Bu.” (halaman 26,WA1.SO2) Konteks: Dituturkan Bu Lanting agar Lasi berpikiran positif terhadap Pak Handarbeni, ketika Lasi meminta izin kepada Suaminya melalui telepon untuk pergi dengan Bu Lanting. (3) Pak Bambung Lasi Pak Bambung :”Yah, kita cuma ngobrol. Dan anu… minum. Ya, minum, tentu saja.” :”Bapak mau minum apa, nanti saya ambilkan.” :”Tak tahulah. Karena sebenarnya saya tidak begitu suka minum. Juga tak suka merokok. Ah, minum dan merokok

(57) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lasi Pak Bambung 42 menjadikan orang lebih cepat tua dan bobrok. Dan aku masih ingin tetap sehat.” :”Ya, Bapak masih kelihatan sehat.” :”Terima kasih.”(halaman 49, WA1.SK3) Konteks: Dituturkan Pak Bambung kepada Lasi bahwa menurutnya minum dan merokok membuat orang cepat tua dan sakit-sakitan. Sekaligus menasihati Lasi bahwa dua hal tersebut tidak baik untuk dilakukan terus-menerus. Tuturan (1), (2), dan (3) di atas dikatakan telah mengandung atau menerapkan aturan maksim kearifan, karena penutur berusaha meminimalkan kerugian orang lain dan memaksimalkan keuntungan bagi orang lain sebesar mungkin. Tuturan (1) yang dituturkan oleh Bu Lanting yang berbunyi “Jadi agak gemuk. Awas, cukuplah aku yang gembrot seperti ini. Kamu, jangan. Kamu harus menjaga tubuhmu”, menunjukkan bahwa sebagai penutur Bu Lanting rela jika dirinya dibilang lebih gemuk daripada Lasi. Tuturan tersebut menunjukkan penutur telah memaksimalkan keuntungannya bagi mitra tuturnya. Bu Lanting juga menganjurkan kepada Lasi untuk menjaga tubuhnya agar tetap cantik, tidak seperti dirinya yang gembrot. Tuturan (1) yang dituturkan oleh Bu Lanting memiliki maksud tersembunyi. Bu Lanting tidak suka melihat Lasi, bekisar kesayangannya jadi gemuk dan terlihat jelek. Dia menginginkan Lasi tetap langsing dan cantik agar pejabatpejabat negara meliriknya, terutama Pak Bambung. Dia tidak ingin kehilangan bonusnya (uang) apabila pejabat atau orang kaya sudah tidak menginginkan Lasi untuk dijadikan simpanan, oleh sebab itu Bu Lanting berbicara sopan kepada Lasi agar Lasi mau mengikuti apa yang dia katakana.

(58) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 43 Dilihat dari skala kesantunannya, tuturan ini termasuk dalam skala kesantunan ketaklangsungan. Ujaran-ujaran di bawah ini semakin ke bawah semakin sopan. 1) Kamu gemukan, Las. 2) Kulihat kamu berubah, Las. Jadi gemukan. 3) Dua minggu tak bertemu. Kulihat kamu berubah, Las. Jadi agak gemuk. Atas dasar rentangan skala ketaklangsungan di atas tuturan (3) lebih sopan dibanding tuturan (2) dan (1) sebab jarak tempuh maksud dari penutur ke mitra tutur lebih panjang dan tuturan tersebut lebih tak langsung dibanding yang lain. Pada kutipan (1), “Dua minggu tak bertemu, kulihat kamu berubah, Las,” dimaksudkan sudah lama Bu Lanting tidak bertemu dengan Lasi, karena itu Bu Lanting melihat ada hal yang berbeda dengan Lasi (pada waktu sekarang, bertemu dengan Bu Lanting di rumah Lasi). “Saya berubah Bu?”, dimaksudkan Lasi kurang paham dengan pernyataan Bu Lanting yang menganggap ada yang berbeda dengan dirinya. Lasi tidak merasa ada perubahan atau perbedaan dalam dirinya. “Jadi agak gemuk. Awas, cukuplah aku yang gembrot seperti ini”, diartikan bahwa Bu Lanting tidak ingin Lasi gemuk seperti dirinya. “Kamu, jangan. Kamu harus menjaga tubuhmu”, diartikan bahwa Bu Lanting menasihati Lasi untuk menjaga kelangsingan tubuhnya agar tidak gemuk. “Kukasih tahu ya, sekarang ini yang namanya tubuh, punya nilai sangat tinggi”, diartikan bahwa Bu Lanting berpendapat pada saat ini tubuh seorang wanita memiliki sebuah harga yang dapat dibeli dengan uang. “Kamu sedikit bodoh tidak apa-apa, asal kakimu, lehermu, tanganmu, tetap cantik”, diartikan bahwa otak pintar tidak berharga dibandingkan dengan kaki,

(59) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 44 leher, dan tangan wanita yang tetap cantik. “Betul. Karena nyatanya tubuh yang bagus mampu mengubah nasib perempuan, he-he”, diartikan bahwa nasib perempuan ditentukan oleh tubuh yang terawat. “Dengan modal tubuh yang menarik, seorang perempuan bisa menikmati hidup mewah”, diartikan bahwa hanya bermodalkan tubuh yang mulus, seorang wanita bisa menjadi orang kaya. “Jadi, kamu harus hati-hati merawat tubuh. Dan percaya atau tidak, bagi perempuan di kota ini, tubuh yang tetap bagus adalah segalanya”, diartikan bahwa Bu Lanting menyuruh Lasi untuk merawat tubuhnya, karena tubuh adalah segalanya bagi seorang wanita. Tuturan (2) yang dituturkan oleh Bu Lanting yang berbunyi “Mungkin suamimu sedang banyak urusan. Biasa, Las, bila sedang sibuk seorang suami akan kehilangan kehangatan”, menunjukkan bahwa penutur mencoba memberikan efek positif agar Lasi tidak terlalu cemas dengan keadaan suaminya, Pak Handarbeni. Maksim kearifan mewajibkan penutur untuk memaksimalkan keuntungan bagi orang lain, dengan memberikan nasihat positif, penutur telah memaksimalkan keuntungan mitra tutur. Lasi sebagai mitra tutur diuntungkan oleh perkataan Bu Lanting tersebut, hal ini membuat mitra tutur merasa tenang dan tidak khawatir mengenai suaminya, Pak Handarbeni, saat tadi dia berbicara lewat telepon. Tuturan (2) yang dituturkan Bu Lanting memiliki maksud tersembunyi. Bu Lanting menginginkan Lasi ikut dengannya ke Singapura dan tidak terlalu memikirkan suaminya. Di Singapura Bu Lanting telah merencanakan pertemuan

(60) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 45 Lasi dengan Pak Bambung, itulah sebabnya Bu Lanting bertutur sopan kepada mitra tuturnya agar mitra tutur menurut padanya. Dilihat dari skala kesantunannya, tuturan ini termasuk ke dalam skala kesantunan keopsionalan. Ujaran-ujaran berikut makin ke bawah makin sopan. 1) Bersiaplah. 2) Bersiaplah. Jam setengah satu nanti saya kembali kemari. 3) Kalau kamu sedang tidak ada pekerjaan sekarang bersiaplah. Jam setengah satu nanti saya kembali kemari. Tuturan (2) lebih sopan jika dibandingkan dengan tuturan (1), karena lebih banyak memberikan pilihan kepada mitra tuturnya. Tuturan (2) adalah tuturan yang dituturkan Bu Lanting kepada Lasi untuk menyuruhnya segera mempersiapkan diri. Pada tuturan (2), “Tetapi Mas Han seperti terpaksa mengizinkan saya. Suaranya agak berat”, diartikan bahwa Lasi merasa suaminya tidak rela untuk mengizinkannya pergi. “Mungkin suamimu sedang banyak urusan. Biasa, Las, bila sedang sibuk seorang suami akan kehilangan kehangatan”, diartikan bahwa Bu Lanting mencoba menenangkan Lasi. Pada tuturan (3), dianggap telah memenuhi maksim kearifan karena sebagai penutur, Pak Bambung dengan bijaksananya berkata bahwa “Ah, minum dan merokok menjadikan orang lebih cepat tua dan bobrok. Dan aku masih ingin tetap sehat.”, kepada mita tuturnya. Apa yang dikatakan penutur secara tidak langsung mengingatkan kepada mitra tuturnya bahwa minum dan merokok tidak baik untuk kesehatan. Tuturan (3) yang dituturkan oleh Pak Bambung memiliki

(61) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 46 maksud tersembunyi. Pak Bambung melakukan pencitraan di depan Lasi, gadis yang disukainya. Pak Bambung ingin Lasi melihatnya sebagai laki-laki yang tidak suka merokok atau pun minum, tapi sebagai laki-laki yang mencintai kesehatan, oleh sebab itu Pak Bambung berbicara sopan kepada mitra tuturnya. Dilihat dari skala kesantunannya percakapan (3) termasuk dalam skala ketaklangsungan. Ujaran-ujaran berikut ini makim ke bawah makin sopan. 1) Saya tidak suka minum dan merokok. 2) Saya tidak suka minum dan merokok, karena tidak baik untuk kesehatan. 3) Saya tidak suka minum dan merokok, karena menjadikan orang cepat tua, bobrok, dan tidak baik untuk kesehatan. Atas dasar rentangan skala ketaklangsungan, tuturan di atas dapat dinyatakan bahwa tuturan (3) lebih sopan dibanding tuturan (2) dan (1) sebab jarak tempuh maksud dari penutur ke mitra tutur lebih panjang dan tuturan tersebut lebih tak langsung daripada tuturan lainnya. Percakapan (3), “Yah, kita cuma ngobrol. Dan anu… minum. Ya, minum, tentu saja”, diartikan bahwa Pak Bambung mengajak Lasi ngobrol dan minum untuk menghilangkan rasa penatnya karena ditinggal Bu Lanting pergi, walaupun sebenarnya itu hanya akal-akalan Pak Bambung yang ingin mendekati Lasi. “Bapak mau minum apa, nanti saya ambilkan”, diartikan bahwa Lasi menawarkan diri untuk mengambilkan minuman yang diinginkan Pak Bambung. “Tak tahulah. Karena sebenarnya saya tidak begitu suka minum. Juga tak suka merokok. Ah, minum dan merokok menjadikan orang lebih cepat tua dan bobrok. Dan aku masih ingin tetap sehat”, diartikan bahwa Pak Bambung sebenarnya

(62) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 47 tidak ingin minum apalagi merokok, karena menurutnya rokok dan minuman menjadikannya semakin tua dan penyakitan. Pak Bambung masih ingin sehat, tapi dia sendiri tidak bisa menolak rayuan kedua benda tersebut. “Ya, Bapak masih kelihatan sehat”, diartikan bahwa Lasi seakan ingin menyenangkan hati Pak Bambung dan mengatakan bahwa Pak Bambung sampai sekarang masih keliahatan sehat. “Terima kasih”, diartikan bahwa Pak Bambung mengucapakan terima kasih atas sanjungan dari Lasi. 4.2.1.2 Wujud Kesopanan Maksim Kedermawanan (WD1) Maksim ini diungkapkan dengan tuturan komisif dan impositif. Maksim ini mewajibkan setiap peserta tindak tutur untuk memaksimalkan kerugian bagi diri sendiri, dan meminimalkan keuntungan diri sendiri (Wijana, 1996: 57). Ada tiga interaksi tuturan yang mengandung maksim kedermawanan dalam novel Belantik karangan Ahmad Tohari. Para penutur menujukkan sikap sopan santunnya dengan cara memaksimalkan kerugian bagi diri sendiri, dan meminimalkan keuntungan diri sendiri. Untuk lebih jelasnya, berikut disajikan tiga contoh tuturannya: (4) Lasi Bu Lanting Lasi Bu Lanting :“Saya tidak lapar, Bu.” :“Nanti badan kamu rusak.” :“Biarlah, Bu.” :“Atau begini…” Bu Lanting berpikir sejenak. “Kamu ingin makan di luar?” Nanti kuatur.”(halaman 103, WD1.SK3 ) Konteks: Dituturkan Bu Lanting untuk membujuk Lasi makan, karena Lasi tidak ingin terperangkap di rumah Pak Bambung yang sudah diberikan kepadanya. (5) Pak Bambung :”Mau duduk-duduk dulu di lobi atau kembali ke suite?”

(63) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lasi Pak Bambung 48 :”Terima kasih, Pak. Saya mau kembali ke tempat.” :”Baik, mari saya antar.”(halaman 43, WD1.SO2) Konteks : Dituturkan Pak Bambung ketika menawari Lasi untuk dudukduduk di lobi atau kembali ke penginapan setelah mereka selesai menghadiri acara makan malam. (6) Mak Min Lasi Mak Min :”Jadi Ibu tidak enak badan? Ibu mau kerokan? Atau saya pijiti?” :”Mak Min mau mijiti saya?” :”Kerokan lebih manjur, Bu” (halaman 67, WD1.SO2) Konteks: Dituturkan Mak Min untuk menawarkan dirinya memijiti tubuh Lasi yang sedang tidak enak badan karena sedang dirundung masalah. Pada tuturan (4) penerapan maksim kedermawanan yang dituturkan oleh Bu Lanting, yakni “Atau begini…” Bu Lanting berpikir sejenak. “Kamu ingin makan di luar?” Nanti kuatur”. Penutur berusaha memaksimalkan keuntungan bagi mitra tuturnya untuk mengatur keperluan bagi Lasi. Lasi yang tidak mau makan dibujuk oleh Bu Lanting dengan berbagai cara, termasuk membujuknya untuk makan di luar rumah. Tuturan (4) mengandung maksud tersembunyi dari Bu Lanting. Bu Lanting membujuk Lasi agar dia mau makan, badan Lasi yang mulai terlihat kurus dan tak terawat semenjak dia di rumah Pak Bambung, membuat Bu Lanting iba melihatnya. Selain itu Bu Lanting tidak ingin Lasi terlihat jelek dihadapan Pak Bambung, yang akan menyalahkannya karena tidak bisa membujuk Lasi untuk makan. Dilihat dari skala kesantunan, tuturan di atas termasuk dalam skala ketaklangsungan. Ujaran-ujaran di bawah ini semakin ke bawah semakin sopan.

(64) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 49 1) Makanlah. 2) Makanlah. Nanti badanmu rusak. 3) Makanlah. Nanti badanmu rusak. Kamu ingin makan di luar? Nanti kuatur. Tuturan di atas dapat dinyatakan bahwa tuturan (3) merupakan tuturan yang paling sopan daripada tuturan (2) dan (1) dilihat dari panjangnya jarak yang ditempuh oleh daya ilokusioner atau maksud yang ingin disampaikan oleh penutur kepada mitra tutur. Tuturan (3) yang dituturkan Bu Lanting kepada Lasi bersifat tidak langsung. Pada tuturan (4), “Saya tidak lapar, Bu”, diartikan bahwa Lasi berkata kepada Bu Lanting, kalau dia belum ingin makan sesuatu. “Nanti badan kamu rusak”, diartikan bahwa Bu Lanting khawatir dengan keadaan Lasi yang tidak mau makan, karena akan merusak keindahan badannya. “Biarlah, Bu”, diartikan bahwa Lasi tidak peduli apabila badannya nanti rusak. “Atau begini…Kamu ingin makan di luar?” Nanti kuatur”, diartikan bahwa Bu Lanting merelakan dirinya untuk mengantur keinginan Lasi makan di luar, makan di suatu tempat seperti restoran misalnya. Pada tuturan (5) dan (6) di atas juga telah menerapkan maksim kedermawanan karena penutur tanpa ada paksaan menawarkan dirinya untuk membantu dan menolong mitra tuturnya. Tuturan (5), “Baik, mari saya antar”, penutur Pak Bambung dengan senang hati mengantarkan Lasi, mitra tuturnya, kembali ke kamar hotel untuk beristirahat setelah semalaman menemaninya dalam acara makan malam. Tuturan (5) yang dituturkan oleh Pak Bambung memiliki maksud. Pak Bambung telah bertutur kata sopan kepada Lasi, untuk menunjukkan bahwa

(65) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 50 dia laki-laki yang bertanggung jawab, hal itu terlihat dari sikap Pak Bambung yang mau mengikuti kemauan Lasi dan mengantarkannya ke kamar tempat dia menginap. Dengan dia bertindak demikian, Pak Bambung berharap Lasi dapat tertarik dengan dirinya. Tuturan (6), “Jadi Ibu tidak enak badan? Ibu mau kerokan? Atau saya pijiti?”, penutur Mak Min dengan tanpa paksaan menawarkan dirinya untuk memijati Lasi, mitra tuturnya, yang sedang tidak enak badan karena pusing memikirkan masalah yang dihadapinya. Tuturan (6) yang dituturkan Mak Min memiliki maksud. Mak Min bertutur kata sopan kepada Lasi, karena Lasi adalah majikannya. Selain itu Mak Min hanya ingin membantu Lasi mengurangi rasa sakit Lasi, karena dia sedang tidak enak badan. Dilihat dari skala kesantunan tuturan (5) dan (6), termasuk dalam skala opsional. Ujaran-ujaran di bawah ini semakin ke bawah semakin sopan. 1) Ayo duduk-duduk dulu. 2) Mau duduk-duduk dulu di lobi atau kembali ke suite? 3) Apakah kamu lelah? Mau duduk-duduk dulu di lobi atau kembali ke suite? Tuturan (2) yang dituturkan oleh Pak Bambung kepada Lasi merupakan tuturan sopan, sebab penutur memberikan pilihan tindakan kepada mitra tuturnya. Pak Bambung memberikan dua pilihan kepada Lasi untuk duduk dulu di lobi atau kembali ke suite. Sedangkan (6), Mak Min sebagai penutur memberikan pilihan kepada Lasi untuk membantu mengurangi kesakitannya dengan memijat atau mengeroki. Ujaran-ujaran di bawah ini semakin ke bawah semakin sopan. 1) Ibu mau saya pijiti?

(66) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 51 2) Ibu mau kerokan atau saya pijiti? 3) Kalau Ibu tidak keberatan. Saya bisa membantu Ibu. Ibu mau kerokan atau saya pijiti? Tuturan (2) lebih sopan dibanding tuturan (1) karena memberikan pilihan tindakan kepada mitra tuturnya. Mak Min memberikan pilihan kepada Lasi untuk dipijat atau kerokan. Tuturan (3) merupakan tuturan yang paling sopan Karena paling banyak memberikan pilihan tindakan kepada mitra tuturnya. Percakapan (5), “Mau duduk-duduk dulu di lobi atau kembali ke suite?”, diartikan bahwa Pak Bambung memberikan pilihan kepada Lasi, untuk dudukduduk dulu di lobi sambil mengobrol atau kembali ke kamar hotel. Mereka baru saja selesai menghadiri acara makan malam bersama para pejabat penting. “Terima kasih, Pak. Saya mau kembali ke tempat”. Diartikan bahwa Lasi ingin kembali ke kamar hotel dan istirahat di sana. “Baik, mari saya antar”, diartikan bahwa Pak Bambung mengikuti kemauan Lasi dan mengantarkannya kembali ke kamar hotel. Percakapan (6), “Jadi Ibu tidak enak badan? Ibu mau kerokan? Atau saya pijiti?”, diartikan bahwa Mak Min bertanya kepada Lasi mengenai keadaannya dan ingin membantunya mengurangi rasa sakit yang dialaminya dengan memijit atau mengeroki Lasi. “Mak Min mau mijiti saya?”, diartikan bahwa Lasi menanyakan keinginan Mak Min yang ingin memijat tubuh Lasi, dia tidak ingin Mak Min keberatan karena memijitnya. “Kerokan lebih manjur, Bu”, diartikan bahwa menurut Mak Min kerokan lebih manjur menghilangkan rasa sakit daripada dipijit.

(67) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 52 4.2.1.3 Wujud Kesopanan Maksim Pujian (WP1) Maksim kemurahan diutarakan dengan kalimat ekspresif dan asertif. Maksim ini menuntut setiap peserta pertuturan untuk memaksimalkan rasa hormat kepada orang lain, dan meminimalkan rasa tidak hormat kepada orang lain (Wijana, 1996: 57-58). Ada tujuh interaksi tuturan yang mengandung maksim pujian dalam novel Belantik karangan Ahmad Tohari. Para penutur menujukkan sikap sopan santunnya dengan cara memaksimalkan rasa hormat kepada orang lain, dan meminimalkan rasa tidak hormat kepada orang lain. Untuk lebih jelasnya, berikut disajikan empat contoh tuturannya: (7) Lasi Bu Lanting Lasi Bu Lanting Lasi :“Dia itu siapa, Bu?” :“Kok tanya begitu? Dia ya pacarku.” :“Eh, maaf, Bu. Saya tahu dia pacar Ibu. Maksud saya, apakah dia juga orang Jakarta?” :“Iyalah. Dan cukup kukatakan dia orang penting, sangat penting. Nanti kamu tahu dia memang orang gedean.” :“Jadi Ibu memang hebat, ya?” (halaman 32, WP1.SJ5) Konteks: Dituturkan Lasi untuk memuji Bu Lanting karena memiliki pacar Pak Bambung, orang penting dan gedean, diumur Bu Lanting yang terbilang tidak muda lagi. (8) Bu Lanting Lasi Bu Lanting :“Las, aku bilang juga apa! Pak Bambung itu hebat. Di Jakarta, boleh jadi tak ada lelaki yang bisa menandingi kehebatannya. Dan sekarang dia mencurahkan perhatiannya kepadamu. Buktinya, kalung ini tidak diberikan kepadaku, melainkan kepadamu.” :“Kepada saya?” :“Ya.” (halaman 38, WP1.SK3)

(68) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 53 Konteks: Dituturkan Bu Lanting untuk memuji Pak Bambung dihadapan Lasi, ketika Lasi akan menemani Pak Bambung untuk acara makam malam. (9) Lasi Bu Lanting :“Sama saja, Bu. Jadi kalau Pak Bambung mau datang kemari, ya datanglah.” :“Aduh, kamu memang anak manis, Las. Ya, apa salahnya menjadi pendamping orang gedean seperti Pak Bambung. Tidak salah, menurutku, sangat beruntung.” (halaman 109, WP1.SK3) Konteks: Dituturkan Bu Lanting untuk memuji sekaligus merayu Lasi, ketika Lasi sudah mau lagi menerima kedatangan Pak Bambung untuk menemuinya. (10) Mak Min Lasi Mak Min :”Kerokan lebih manjur, Bu” :”Tidak, Pijat saja. Bapak bisa marah jika melihat punggung, apalagi leherku, coreng-moreng.” :”Ah, ya. Saya lupa; sayang benar bila kulit ibu yang putih itu jadi belang-bentong. Jadi pijiti saja.” (halaman 67, WP1.ST4) Konteks: Dituturkan oleh Mak Min untuk memuji tubuh Lasi yang putih dan mulus dan sangat disayangkan apabila tercoreng-moreng akibat kerokan. Pada tuturan (7), (8), (9) dan (10) di atas Bu Lanting dapat dikatakan bertutur sopan karena menerapkan maksim pujian. Pada tuturan (7) Lasi menyatakan kehebatan Bu Lanting karena Bu Lanting memiliki pacar orang gedean dan sangat penting; “Jadi Ibu memang hebat, ya”. Penghargaan yang diberikan oleh Lasi kepada Bu Lanting adalah sebuah perasaan kagum karena Bu Lanting bisa mempunyai pacar gedean dan orang penting dibidangnya. Tuturan (7) yang dituturkan Lasi kepada Bu Lanting memiliki maksud. Lasi memuji Bu Lanting karena dia bisa mendapatkan pacar yang gedean dan sangat penting dibidangnya.

(69) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 54 Lasi tampaknya kagum akan sosok Bu Lanting yang diusianya yang dibilang tidak muda lagi, dia bisa mendapatkan pacar gedean, oleh sebab itu penutur bertutur sopan kepada mitra tuturnya. Skala kesantunan jarak sosial terlihat dalam tuturan ini. Keakraban penutur dan mitra tutur menjadi tolak ukur sebuah tuturan dianggap sopan. Semakin akrab antara penutur dan mitra tutur, tuturan akan menjadi tidak sopan. Meskipun Lasi dekat dengan Bu Lanting, namun Lasi menyapa mitra tuturnya dengan sebutan “Bu”. Sebutan inilah yang membuat tuturan dikatakan sopan, karena penutur memberikan jarak sosial terhadap mitra tuturnya. Pada tuturan (7), “Dia itu siapa, Bu?”, diartikan bahwa Lasi bertanya mengenai seseorang yang baru saja dikenalkan oleh Bu Lanting Padanya. “dia” yang dimaksud adalah pak Bambung. “Kok Tanya begitu? Dia ya pacarku”, diartikan bahwa Bu Lanting belum paham maksud Lasi dengan bertanya mengenai Pak Bambung. Bu Lanting pun menjawab bahwa Pak Bambung adalah kekasihnya. “Eh, maaf, Bu. Saya tahu dia pacar Ibu. Maksud saya, apakah dia juga orang Jakarta?”, diartikan bahwa Lasi meminta maaf kepada Bu Lanting, apabila pertanyaannya menyinggung Bu Lanting. Lasi tahu kalau Pak Bambung adalah kekasih Bu Lanting, dia hanya ingin memastikan apakah Pak Bambung adalah orang Jakarta seperti dia dan Bu Lanting. “Iyalah. Dan cukup kukatakan dia orang penting, sangat penting.”, diartikan bahwa Bu Lanting berkata kepada Lasi jika Pak Bambung memang orang Jakarta. Bukan hanya itu saja, Pak bambung adalah orang penting, maksud dari kata “penting” adalah orang yang mempunyai pengaruh besar di bidangnya. “Nanti

(70) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 55 kamu tahu dia memang orang gedean”, diartikan Bu Lanting berkata kepada Lasi bahwa Lasi akan tahu jika Pak Bambung memang orang gedean atau orang kaya. “Jadi Ibu memang hebat, ya?”, diartikan bahwa Lasi memuji kehebatan Bu Lanting karena memiliki pacar sehebat Pak Bambung. Tuturan (8) Bu Lanting memuji Pak Bambung dihadapan Lasi dengan mengatakan bahwa Pak Bambung adalah orang yang baik, beliau memberikan perhatian kepada Lasi, bukan itu saja, beliau juga memberikan sebuah kalung kepadanya. Prinsip kesopanan berhubungan dengan dua peserta percakapan, yakni diri sendiri dan orang lain. diri sendiri adalah penutur, dan orang lain adalah mitra tutur, dan orang ketiga yang dibicarakan penutur dan mitra tutur. Hal itu dibuktikan dalam tuturan Bu Lanting, “Las, aku bilang juga apa! Pak Bambung itu hebat. Di Jakarta, boleh jadi tak ada lelaki yang bisa menandingi kehebatannya”. Tuturan (8) dituturkan Bu Lanting kepada Lasi mempunyai maksud tersendiri. Bu Lanting memberikan pujian terhadap Pak Bambung dihadapan Lasi untuk menambah kesan baik dan hebat dihadapan Lasi. Bu Lanting berharap Lasi akan tertarik dengan Pak Bambung dengan dia bertutur kata seperti itu. Penutur bertutur sopan kepada mitra tutur, agar mitra tutur mau untuk mendengarkan perkataannya. Skala kesantunan ketaklangsungan terlihat dalam tuturan di atas. Ujaranujaran di bawah ini semakin ke bawah semakin sopan. 1) Las, Pak Bambung menyukaimu. 2) Las, Pak Bambung itu hebat dan dia mencurahkan perhatiannya kepadamu.

(71) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 56 3) Las, di Jakarta boleh jadi tak ada lelaki yang bisa menandingi kehebatannya. Dia mencurahkan perhatiannya kepadamu, buktinya kalung ini diberikan kepadamu. Tuturan (3) merupakan tuturan paling sopan daripada tuturan (2) dan (1). Bu Lanting secara tak langsung mengatakan kepada Lasi bahwa Pak Bambung menyukainya. Jarak tempuh maksud yang dituturkan penutur kepada mita tuturnya paling panjang. Pada tuturan (8), " Las, aku bilang juga apa! Pak Bambung itu hebat. Di Jakarta, boleh jadi tak ada lelaki yang bisa menandingi kehebatannya.”, diartikan bahwa Bu Lanting telah membuktikan apa yang telah dikatakannya tadi kepada Lasi mengenai kehebatan Pak Bambung. Menurut Bu Lanting tidak ada orang di Jakarta yang bisa menandingi kehebatan Pak Bambung. Kehebatan dalam artian kekuasaan dan materi. “Dan sekarang dia mencurahkan perhatiannya kepadamu. Buktinya, kalung ini tidak diberikan kepadaku, melainkan kepadamu.”, diartikan bahwa Pak Bambung mulai memberikan perhatiannya kepada Lasi dengan memberikan Lasi kalung liotin seharga puluhan ribu dolar. “Kepada saya?”, diartikan bahwa Lasi masih belum percaya dengan apa yang dikatakan kepadanya mengenai kalung liontin yang diberikan oleh Pak Bambung. “Ya”, diartikan Bu Lanting memberi penegasan jawaban mengenai pertanyaan Lasi. Pada tuturan (9) Bu Lanting memuji Lasi atas kemauan Lasi menerima Pak Bambung untuk datang menemuinya. Tuturan ini termasuk sebuah rayuan agar Lasi mau menerima kedatangan Pak Bambung; “Aduh, kamu memang anak manis, Las. Ya, apa salahnya menjadi pendamping orang gedean seperti Pak

(72) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 57 Bambung. Tidak salah, menurutku, sangat beruntung”. Tuturan (9) yang dituturkan Bu Lanting kepada Lasi memiliki maksud. Penutur memuji Lasi dengan sebutan “anak manis”, karena mitra tutur mengizinkan Pak Bambung menemuinya. penutur mengatakan mitra tutur sangat beruntung menjadi pendamping Pak Bambung, agar mitra tutur akhirnya menyerah dan mau menjadi simpanan Pak Bambung. Penutur secara tak langsung menyuruh Lasi untuk menjadi pendamping Pak Bambung Dilihat dari skala kesantunannya, tuturan ini termasuk dalam skala kesantunan ketaklangsungan. Ujaran- ujaran di bawah ini semakin ke bawah semakin sopan. 1) Las, jadilah pendamping bagi Pak Bambung. 2) Las, apa salahnya menjadi pendamping bagi orang gedean seperti Pak Bambung. Menurutku sangat beruntung. 3) Kamu memang anak manis, Las. Apa salahnya menjadi pendamping bagi orang gedean seperti Pak Bambung. Menurutku sangat beruntung Tuturan (3) merupakan tuturan paling sopan dibanding (2) dan (1). Tuturan Bu Lanting bertutur secara tidak langsung kepada mitra tuturnya. Jarak tempuh maksud yang ingin disampaikan penutur kepada mitra tutur lebih panjang daripada tuturan yang lainnya. Pada tuturan (9), “Sama saja, Bu. Jadi kalau Pak Bambung mau datang kemari, ya datanglah”, diartikan bahwa menurut Lasi, rumah yang telah diberikan Pak Bambung atas namanya tetap merupakan milik Pak Bambung. Apabila Pak Bambung ingin datang menemuinya, Lasi tidak akan menolaknya. “Aduh, kamu memang anak manis, Las.”, diartikan bahwa Bu Lanting memuji Lasi karena mau

(73) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 58 menerima Pak Bambung untuk menemuinya. Meskipun pujian yang diberikan Bu Lanting berupa rayuan agar Lasi mau bertemu Pak Bambung. “Ya, apa salahnya menjadi pendamping orang gedean seperti Pak Bambung. Tidak salah, menurutku, sangat beruntung”, diartikan bahwa menurut Bu Lanting menjadi pendamping atau istri orang sehebat Pak Bambung merupakan sebuah keberuntungan. Pada tuturan (10), di atas dianggap telah memenuhi maksim pujian karena penutur telah memuji mitra tuturnya dengan berkata “Ah, ya. Saya lupa; sayang benar bila kulit ibu yang putih itu jadi belang-bentong. Jadi pijiti saja”. Mak Min memuji tubuh Lasi yang putih dan mulus seperti tanpa noda dan sangat disayangkan apabila tercoreng-moreng karena dikeroki oleh Mak Min. Tuturan (10) yang dituturkan oleh Mak Min memiliki maksud. Dengan sopan Mak Min bertutur kata kepada mitra tuturnya, karena kemulusan dan keputihan tubuh Lasi. Disisi lain Lasi adalah majikan Mak Min dan dengan sendirinya Mak Min akan bertutur sopan kepada Lasi. Dilihat dari skala kesantunannya, tuturan di atas termasuk dalam skala keotoritasan. Semakin jauh jarak peringkat sosial antara penutur dan mitra tutur, tuturan yang digunakan akan cenderung semakin santun. Dilihat dari otoritasnya Lasi adalah majikan Mak Min, karena Pak Min merupakan sopir pribadi Pak Handarbeni, suaminya, oleh sebab itu Mak Min akan dengan sendirinya bertutur kata sopan ketika berkomunikasi kepada Lasi. Percakapan (10), “Kerokan lebih manjur, Bu”, diartikan bahwa menurut Mak Min kerokan lebih manjur untuk menghilangkan rasa sakit daripada dipijit.

(74) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 59 “Tidak, Pijat saja. Bapak bisa marah jika melihat punggung, apalagi leherku, coreng-moreng”, diartikan bahwa Lasi menolak pilihan Mak Min yang ingin mengeroki tubuhnya, karena suaminya, Pak Handarbeni bisa marah melihat tubuhnya coreng-moreng akibat kerokan. “Ah, ya. Saya lupa; sayang benar bila kulit ibu yang putih itu jadi belang-bentong. Jadi pijiti saja”, diartikan bahwa Mak Min setuju dengan pendapat Pak Handarbeni karena tidak suka melihat tubuh Lasi tercoreng-moreng akibat kerokan. Mak Min menyangkan tubuh Lasi yang putih akan menjadi kemerah-merahan karena dikerokinya. Mak Min pun memenuhi keinginan majikannya dengan memijatnya saja. 4.2.1.4 Wujud Kesopanan Maksim Kerendahan Hati (WR1) Maksim kerendahan hati juga diungkapkan dengan kalimat ekspresif dan asertif. Maksim ini menuntut setiap peserta pertuturan untuk memaksimalkan ketidakhormatan pada diri sendiri, dan meminimalkan rasa hormat pada diri sendiri (Wijana, 1996: 58). Ada lima interaksi tuturan yang mengandung maksim kerendahan hati dalam novel Belantik karangan Ahmad Tohari. Para penutur menujukkan sikap sopan santunnya dengan cara memaksimalkan ketidakhormatan pada diri sendiri, dan meminimalkan rasa hormat pada diri sendiri. Untuk lebih jelasnya, berikut disajikan lima contoh tuturannya: (11) Bu Lanting Lasi :“Dari bandara, nanti akan langsung ke pusat belanja. Aku mau beli tas tangan Saint Laurent. Juga cincin berlian De Beers. Mungkin juga sepatu atau jam tangan terbaru dari Lanvin atau. Eh, kamu kepingin apa Las?” :“Sekarang saya belum punya gambaran mau beli apa. Nanti sajalah kalau kita sudah sampai di pusat belanja.” (halaman 26-27, WR1.SK3)

(75) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 60 Konteks: Dituturkan oleh Lasi untuk merendahkan diri ketika Bu Lanting bertanya akan membeli barang apa setibanya di Singapura, Saat mereka sedang ada di dalam pesawat menuju Singapura. (12) Bu Lanting Lasi :“Belum punya gambaran atau karena takut angka rekening bankmu susut? Ah, itu jalan pikiran perempuan kampung. Atau begini saja, Las. Kamu boleh belanja apa saja sampai seratus ribu dolar Amerika, dan semuanya atas beban rekeningku. Tawaran yang cukup manis?” :“Eh, jangan, Bu. Uang saya juga masih cukup kok,” kata Lasi mencoba membela harga dirinya. “Baiklah, nanti saya ikut beli-beli, tapi dengan uang sendiri.” (halaman 27, WR1.SK3) Konteks: Dituturkan Lasi untuk mencegah Bu Lanting membayar belanjaannya ketika Bu Lanting menawarkan diri untuk membayar belanjaannya nanti, setiba di pusat perbelanjaan. Saat itu mereka sedang ada di dalam pesawat menuju Singapura. (13) Bu Lanting Lasi :“Las, lelaki itu ya, gampang-gampang susah. Susahnya, pada dasarnya lelaki lebih tertarik kepada perempuan muda, cantik, singset-padet. Ya, pokoknya seperti kamulah. Namun orang setua dan segemuk diriku tak perlu merasa kehilangan peluang. Sebab ternyata mata lelaki bisa dibalik; yang jelek jadi tampak cantik, yang tua jadi tampak muda. Buktinya ya aku ini. Tetapi tak tuhulah! Soalnya tadi kulihat Pak Bambung mulai mencuricuri pandangan padamu. Ah, dasar lelaki!” :“Ah, Ibu! Meskipun saya tahu dia baik, tetapi dia kan pacar Ibu,” (halaman 32, WR1.SK3). Konteks: Dituturkan oleh Lasi untuk merendahkan diri ketika Bu Lanting memuji dirinya yang muda dan cantik, dan hal itu membuat Pak Bambung mencuri-curi pandang pada dirinya. Mereka berbicara di dalam kamar hotel di Singapura.

(76) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI (14) Mak Min Lasi Mak Min 61 :”Wah, tumben bener Ibu mau datang ke gubuk kami. Ada apa? Bapaknya anak-anak masuk kerja, kan? Atau ada apa? Saya jadi takut…” :”Tak ada apa-apa, Mak Min. saya kira suamimu bekerja biasa dan mengantar Bapak ngantor.” :”Tetapi Ibu kok tumben datang? Wah, mari masuk, Bu. Wah, saya malu. Wah, kursi saya buruk sekali.” (halaman 65, WR1.ST4) Konteks: Dituturkan Mak Min istri Pak Min (sopir pribadi Pak Handarbeni) yang kaget melihat Lasi datang ke rumahnya secara tiba-tiba, tanpa memberi kabar terlebih dahulu. (15) Mak Min Lasi Mak Min :”Ibu, saya tak punya apa-apa buat suguhan. Cuma teh manis. Eh, Ibu suka pisang? Pisang bole nanem sendiri di belakang rumah.” :”Jangan terlalu sibuk, Mak. Teh manis sudah cukup. Lagi pula saya kemari hanya untuk anu… Mak Min, saya hanya ingin istirahat di sini. Saya lelah. Saya ingin tiduran. Boleh kan? Ada kamar?” :“Ya ampun, Ibu mau tidur di kamar yang berantakan mirip sarang celeng. Ibu mau? Aduh, saya malu, Bu. Tetapi Ibu sungguh mau?” (halaman 66, WR1.ST4). Konteks: Dituturkan Mak Min kepada Lasi karena tidak menyangka istri majikan suaminya mau singgah di rumahnya yang sederhana, jauh dari kemewahan. Pada tuturan (11), (12), (13), (14) dan (15) Lasi berbicara santun untuk mempraktekkan maksim kerendahan hati pada saat berkomunikasi dengan mitra tuturnya. Pada konteks tuturan (11) saat ditanya oleh Bu Lanting ingin membeli barang bermerk apa, Lasi dengan rendah hati mengatakan belum mempunyai pandangan untuk membeli produk barang tertentu, “Sekarang saya belum punya gambaran mau beli apa. Nanti sajalah kalau kita sudah sampai di pusat belanja”. Walaupun istri simpanan seorang pejabat negara, tapi apapun yang diinginkannya pasti bisa terpenuhi. Lasi telah berusaha untuk memaksimalkan ketidakhormatan

(77) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 62 pada diri sendiri, dan meminimalkan rasa hormat pada diri sendiri. Tuturan (11) yang dituturkan oleh Lasi memiliki maksud. Lasi belum ada ketertarikan untuk membeli sesuatu di Singapura, meskipun Bu Lanting sudah mengatakan barang bermerk yang akan dibelinya. Penutur berkata sopan kepada mitra tutur untuk menghormatinya, dengan rendah hati penutur tidak terlalu terpengaruh dengan iming-iming barang bermerk. Skala kesantunan ketaklangsungan terlihat dalam tuturan ini. Ujaran-ujaran di bawah ini semakin ke bawah semakin sopan. 1) Saya tidak tertarik untuk membeli. 2) Saya tidak tertarik. Nanti sajalah kalau kita sudah sampai di pusat belanja. 3) Sekarang saya belum punya gambaran mau beli apa. Nanti sajalah kalau kita sudah sampai di pusat belanja. Peringkat langsung dan tidak langsungnya maksud sebuah tuturan menentukan sopan tidaknya sebuah tuturan. Tuturan (3) merupakan tuturan yang paling sopan karena dituturkan secara tidak langsung, selain itu jarak tempuh maksud yang ingin disampaikan juga paling panjang. Pada tuturan (11) “Dari bandara, nanti akan langsung ke pusat belanja.”, diartikan bahwa setibanya di bandara Singapura, Bu Lanting akan langsung menuju ke pusat perbelanjaan. “Aku mau beli tas tangan Saint Laurent. Juga cincin berlian De Beers. Mungkin juga sepatu atau jam tangan terbaru dari Lanvin atau. Eh, kamu kepingin apa Las?, diartikan bahwa Bu Lanting mengatakan kepada Lasi mengenai keinginannya membeli barang-barang mewah yang akan dibelinya di pusat perbelanjaan di Singapura. Bu Lanting juga

(78) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 63 menanyakan kepada Lasi mengenai barang apa yang akan dibelinya nanti. “Sekarang saya belum punya gambaran mau beli apa”, “Nanti sajalah kalau kita sudah sampai di pusat belanja”, diartikan bahwa Lasi belum memiliki ketertarikan atau pandangan suatu barang yang akan dibelinya nanti. Lasi memilih untuk menunggu sampai mereka tiba di pusat perbelanjaan, kemudian membeli barang yang diinginkannya. Tuturan (12) Lasi dikatakan bersikap santun dan rendah hati karena menolak tawaran Bu Lanting untuk membayar tagihan belanjaannya dengan berkata, “Eh, jangan, Bu. Uang saya juga masih cukup kok”. Lasi tidak ingin Bu Lanting mengeluarkan biaya untuk barang-barang yang akan dibelinya nanti. Sebagai penutur Lasi mencoba memaksimalkan rasa hormatnya kepada Bu Lanting yang mencoba menawarkan pembayaran barang belanjaan Lasi. Tuturan (12) yang dituturkan oleh Lasi memiliki maksud. Penutur mencoba membela harga dirinya dihadapan mitra tutur ketika mitra tutur menawarkan diri untuk membayar semua barang belanjaannya. Selain itu Lasi tidak ingin merepotkan Bu Lanting dengan membebankan tagihan belanjaannya ke rekening Bu Lanting. Dilihat dari skala kesantunannya, tuturan ini termasuk dalam skala kesantunan ketaklangsungan. Ujaran-ujaran di bawah ini semakin ke bawah semakin sopan. 1) Saya punya uang kok, Bu. 2) Eh, jangan, Bu. Saya punya uang kok. 3) Eh, jangan, Bu. Uang saya juga masih cukup kok. Baiklah, nanti saya ikut beli-beli, tapi dengan uang sendiri.

(79) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 64 Tuturan (3) merupakan tuturan Lasi yang dituturkan kepada Bu Lanting. Penutur secara tidak langsung menolak usulan mitra tutur untuk membebankan tagihan belanjaannya di rekening mitra tutur. Maksud yang ingin disampaikan kepada mitra tutur paling panjang dan paling sopan daripada tuturan yang lain. Pada tuturan (12) “Belum punya gambaran atau karena takut angka rekening bankmu susut?, Ah, itu jalan pikiran perempuan kampung”, diartikan bahwa Bu Lanting menggoda Lasi karena dia belum tertarik untuk membeli barang setibanya nanti di pusat perbelanjaan. Menurut Bu Lanting, takut angka rekening berkurang adalah pikiran perempuan kolot, perempuan yang belum mengenal dunia modern dan arus globalisasi. “Atau begini saja, Las. Kamu boleh belanja apa saja sampai seratus ribu dolar Amerika, dan semuanya atas beban rekeningku. Tawaran yang cukup manis”, diartikan bahwa Bu Lanting menawarkan untuk membebankan hasil belanjaan Lasi ke dalam rekeningnya. Penawaran yang sepertinya tidak akan ditolak oleh seorang wanita. “Eh, jangan, Bu. Uang saya juga masih cukup kok,” kata Lasi mencoba membela harga dirinya.”, diartikan bahwa Lasi menolak secara halus penawaran Bu Lanting, karena menurutnya uang di rekeningnya masih cukup untuk membeli barang yang diinginkannya. “Baiklah, nanti saya ikut beli-beli, tapi dengan uang sendiri”, diartikan bahwa Lasi akhirnya setuju untuk ikut membeli suatu barang namun dengan menggunakan uang miliknya sendiri. Pada tuturan (13) saat dipuji oleh Bu Lanting karena dirinya masih muda dan cantik, Lasi tidak menjadi sombong atau besar kepala. Selain memuji muda dan cantik, Bu Lanting juga mengatakan bahwa pacarnya, Pak Bambung, mencuri-curi pandang pada Lasi. Lasi yang mengetahui bahwa Pak Bambung adalah pacar Bu

(80) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 65 Lanting, mencoba untuk membuat Bu Lanting tidak cemburu. Hal itu tercermin pada tuturannya yang mengatakan, “Ah, Ibu! Meskipun saya tahu dia baik, tetapi dia kan pacar Ibu”. Tuturan (13) yang dituturkan oleh Lasi memiliki maksud. Dengan rendah hati Lasi tidak terlalu menanggapi serius ucapan Bu Lanting mengenai Pak Bambung. Penutur tidak ingin mitra tuturnya menganggap bahwa dia juga tertarik dengan Pak Bambung, meskipun Pak Bambung mulai tertarik padanya. Penutur sadar dia masih bersuami dan Pak Bambung merupakan pacar Bu Lanting. Secara sopan penutur bertutur kata kepada mitra tutur agar tidak melukai perasaannya. Skala ketaklangsungan terlihat jelas di sini. Ujaran-ujaran di bawah ini semakin ke bawah semakin sopan. 1) Saya masih punya suami dan dia pacar Ibu. 2) Ah, Ibu! Tetapi dia kan pacar Ibu. 3) Ah, Ibu! Meskipun saya tahu dia baik, tetapi dia kan pacar Ibu. Tuturan (3) penutur secara tak langsung menolak anggapan mitra tutur yang mengatakan bahwa Pak Bambung menyukai Lasi. Penutur tidak ingin merugikan atau menyakiti perasaan pendengar, penutur ingin menegaskan bahwa penutur masih mempunyai suami dan tidak ingin merusak hubungan Bu Lanting dengan pacarnya. Pada tuturan (13) “Las, lelaki itu ya, gampang-gampang susah.”, diartikan bahwa menurut Bu Lanting, menaklukan seorang laki-laki itu terkadang susah, terkadang juga mudah untuk ditaklukkan. “Susahnya, pada dasarnya lelaki lebih tertarik kepada perempuan muda, cantik, singset-padet. Ya, pokoknya seperti

(81) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 66 kamulah”, diartikan bahwa menurut Bu Lanting laki-laki lebih tertarik kepada kepada perempuan muda, cantik, singset-padet. Laki-laki melihat sosok perempuan hanya berdasar pada covernya saja, bukan kepada kepribadiannya. Bu Lanting berpendapat Lasi adalah perempuan cantik yang akan disukai banyak laki-laki. “Namun orang setua dan segemuk diriku tak perlu merasa kehilangan peluang.”, diartikan bahwa Bu Lanting berpendapat, perempuan gemuk sepertinya masih memiliki peluang untuk disukai laki-laki. “Sebab ternyata mata lelaki bisa dibalik; yang jelek jadi tampak cantik, yang tua jadi tampak muda. Buktinya ya aku ini.”, diartikan bahwa menurut Bu Lanting, di mata lelaki, perempuan jelek bisa jadi tampak cantik, perempuan tua bisa jadi tampak muda, hal itu terbukti pada dirinya. Dia bisa memiliki pacar karena materi. “Tetapi tak tuhulah! Soalnya tadi kulihat Pak Bambung mulai mencuri-curi pandangan padamu. Ah, dasar lelaki!”, diartikan bahwa Bu Lanting ragu-ragu terhadap pendapatnya sendiri mengenai laki-laki. Pak Bambung yang dikenalkannya kepada Lasi sebagi pacarnya, mulai tertarik kepada Lasi yang lebih cantik dan muda darinya. “Ah, Ibu! Meskipun saya tahu dia baik, tetapi dia kan pacar Ibu,” diartikan bahwa Lasi tidak enak hati dan serba salah dengan pernyataan Bu Lanting. Lasi mencoba menegaskan kepada Bu Lanting bahwa Pak Bambung tetap pacarnya. Lasi tidak ada niatan untuk merebut kekasih Bu Lanting. Pada tuturan (14) dan (15) di atas dikatakan telah memenuhi maksim kerendahan hati karena penutur mengecam dirinya sebanyak mungkin. Tuturan (14), “Wah, tumben bener Ibu mau datang ke gubuk kami”, “Wah, mari masuk,

(82) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 67 Bu. Wah, saya malu. Wah, kursi saya buruk sekali.”, penutur, Mak Min mengibaratkan rumah yang ditempatinya adalah gubuk. Penutur juga merasa malu karena penutur merasa dia tidak punya kursi yang bagus. Penutur merasa sangat beruntung kedatangan tamu kehormatan yaitu Lasi, majikannya. Tuturan (14) yang dituturkan Mak Min memiliki maksud. Penutur bertutur kata sopan dan bersikap rendah hati dihadapan mitra tutur, karena berupaya menghormati mitra tuturnya. Lasi Tuturan (15), “Ibu, saya tak punya apa-apa buat suguhan. Cuma teh manis. Eh, Ibu suka pisang?”, “Ya ampun, Ibu mau tidur di kamar yang berantakan mirip sarang celeng.”, penutur mengecam dirinya yang tidak punya apa-apa untuk dihidangkan kepada mitra tuturnya, selain itu penutur juga menyebut rumahnya ibarat sarang celeng hanya karena Lasi mau menumpang tidur di rumahnya. Dilihat dari skala kesantunannya tuturan (14) dan (15) termasuk dalam skala keotoritasan. Penutur merendahkan dirinya serendah mungkin karena mitra tutur merupakan majikannya, penutur tidak mungkin bersikap sombong karena dia dan keluarganya bergantung hidup dan bekerja untuk Pak Handarbeni yang kebetulan adalah suami Lasi. Percakapan (14), “Wah, tumben bener Ibu mau datang ke gubuk kami. Ada apa? Bapaknya anak-anak masuk kerja, kan? Atau ada apa? Saya jadi takut…”, diartikan bahwa kedatanga Lasi yang tiba-tiba ke rumah Mak Min membuatnya was-was apabila suaminya melakukan suatu kesalahan saat bekerja, oleh sebab itu Mak Min bertanya-tanya kepada Lasi tentang alasannya datang ke rumahnya, yang disebutnya “gubuk”. “Tak ada apa-apa, Mak Min. saya kira suamimu

(83) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 68 bekerja biasa dan mengantar Bapak ngantor”, diartikan bahwa Lasi menenangkan Mak Min dan menyuruhnya jangan khawatir kepada suaminya, Pak Min, karena Pak Min tidak melakukan sebuah kesalahan. “Tetapi Ibu kok tumben datang? Wah, mari masuk, Bu. Wah, saya malu. Wah, kursi saya buruk sekali.”, diartikan bahwa Mak Min masih penasaran kenapa majikannya, Lasi, datang ke rumahnya. Mak Min merasa malu karena di rumahnya tidak ada sofa atau kursi yang bagus untuk majikannya duduk. Percakapan (15), “Ibu, saya tak punya apa-apa buat suguhan. Cuma teh manis. Eh, Ibu suka pisang? Pisang bole nanem sendiri di belakang rumah”, diartikan bahwa Mak Min merasa tidak punya apa-apa yang pantas untuk diberikan kepada majikannya, yang ia punya hanya teh manis dan pisang yang ia tanam sendiri di belakang rumahnya. “Jangan terlalu sibuk, Mak. teh manis sudah cukup. Lagi pula saya kemari hanya untuk anu… Mak Min, saya hanya ingin istirahat di sini. Saya lelah. Saya ingin tiduran. Boleh kan? Ada kamar?”, diartikan bahwa Lasi tidak ingin Mak Min kerepotan dan terlalu sibuk memikirkan apa yang akan dihidangkan kepadanya. Kedatangannya ke rumah Mak Min hanya untuk singgah sebentar dan istirahat di rumah Mak Min. “Ya ampun, Ibu mau tidur di kamar yang berantakan mirip sarang celeng. Ibu mau? Aduh, saya malu, Bu. Tetapi Ibu sungguh mau?”, diartikan bahwa Mak Min terkejut karena majikannya mau singgah di kamar yang ia sebut seperti sarang celeng. Mak Min sangat malu dan menanyakan kembali apakah majikannya serius dengan perkataanya.

(84) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 69 4.2.1.5 Wujud kesopanan Maksim Kesepakatan (WK1) Maksim kecocokan diungkapkan dengan kalimat ekspresif dan asertif. Maksim ini menuntut setiap penutur dan lawan tutur untuk memaksimalkan kecocokan diantara mereka, dan meminimalkan ketidakcocokan di antara mereka (Wijana, 1996: 59). Ada tiga interaksi tuturan yang mengandung maksim kerendahan hati dalam novel Belantik karangan Ahmad Tohari. Para penutur menujukkan sikap sopan santunnya dengan cara memaksimalkan kecocokan diantara mereka, dan meminimalkan ketidakcocokan di antara mereka. Untuk lebih jelasnya, berikut disajikan lima contoh tuturannya: (16) Bu Lanting Lasi Bu Lanting :“Dia memang baik, gagah, dan gedean. Lebih gedean dari suamimu. Dan dia pacarku kan?” :“Tentu, Bu.” :“Baiklah. Kalau begitu aku pergi dulu untuk menemani dia. Sebaiknya kamu beristirahat, lalu mandi. Nanti kita ketemu lagi sesudah kamu beristirahat. Oke?” Lasi mengangguk dan tersenyum. (halaman 32, WK1.SJ5) Konteks: Dituturkan Lasi untuk menyetujui perkataan Bu Lanting bahwa Pak Bambung adalah pacarnya yang lebih gedean daripada suaminya. (17) Bu Lanting Lasi Bu Lanting :“Ah, aku tadi cuman guyon lho, Las. Jangan tersinggung.” :“Saya juga cuman guyon, Bu.” :“Ya, kita cuman guyon. Guyonan yang hanya akan menambah dosaku. Jadi maaf dan lupakan saja.” (halaman 108, WK1.SJ5) Konteks: Dituturkan Lasi untuk menanggapi “guyonan” Bu Lanting yang menurutnya orang bisa tenang karena duit. Bu Lanting berbicara demikian ketika Lasi sedang sedih dan gundah karena berada dalam cengkraman Pak Bambung.

(85) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI (18) Bu Lanting Lasi 70 :“Aku baru saja ditelepon Pak Bambung,” ujar Bu Lanting dengan suara tajam. ”Jadi kamu hamil? Jawab: jadi kamu hamil?” :“Ya, saya hamil, anak suami saya.”(halaman 116, WK1.SK3) Konteks: Dituturkan oleh Lasi untuk menjawab pertanyaan Bu Lanting mengenai kebenaran berita kehamilannya, hasil buah cintanya dengan Kanjat, Suaminya. (19) Lasi Pak Bambung Lasi Pak Bambung :”Oh iya, Pak. Boleh saya bertanya sedikit?” :”Apa?” :”Kalung ini. Bu Lanting bilang Bapak memberikan kalung ini kepada saya. Betul?” :”Betul! Yah, sekedar hadiah kecil karena kamu bersedia mendampingi saya dalam acara makan malam tadi. Tetapi kamu tak perlu terpengaruh. Maksud saya, bila kamu berkeberatan menemani saya seperti permintaan Bu Lanting, ya nggak apaapa.”(halaman 45, WK1.SK3) Konteks: Dituturkan Lasi kepada Pak Bambung untuk meyakinkan kepada dirinya sendiri apakah yang dikatakan Bu Lanting mengenai liontin yang dia pakai adalah benar pemberian Pak Bambung. (20) Lasi Kanjat Lasi Kanjat :”Entahlah. Tetapi, Jat, betulkah aku sekarang istri kamu?” :”Betul.” :”Jadi sekarang kamu betul-betul suamiku?” :”Ya”. (halaman 96, WK1.SJ5) Konteks : Dituturkan Kanjat kepada Lasi untuk menjawab pertanyaan Lasi bahwa mereka memang sudah sah sebagai suami istri. Mereka berdua telah dinikahkan oleh Eyang Mus. Pada tuturan (16), (17), (18), (19) dan (20) Lasi sebagai penutur, menunjukkan bahwa dia memegang prinsip kesantunan karena menerapkan maksim kecocokan

(86) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 71 saat berinteraksi dengan mitra tuturnya. Dalam tuturan (16) Lasi dapat dikatakan menerapkan maksim kecocokan karena dia membina kecocokan dengan Bu Lanting. Ketika ditanya Bu Lanting mengenai Pak Bambung yang lebih gedean daripada suaminya, Lasi tidak membantah, meragukan, atau membantahnya, melainkan setuju dengan pendapat Bu Lanting dengan berkata, “Tentu, Bu”. Lasi telah mencoba memaksimalkan kecocokan diantara mereka, dan meminimalkan ketidakcocokan di antara mereka. Tuturan (16) yang dituturkan oleh Lasi mengandung maksud. Lasi bertutur sopan kepada Bu Lanting dengan menyetujui pendapat mitra tuturnya, bahwa pacarnya, Pak Bambung lebih gedean dibanding suaminya. Penutur menyetujui perkataan mitra tutur untuk menghormati mitra tuturnya. Skala kesantunan jarak sosial antara penutur dan mitra tutur menentukan sopan atau tidaknya sebuah tuturan. Bu Lanting adalah sosok yang dihormati dan dituakan oleh Lasi. Penutur menyetujui apa yang dikatakan pendengar karena pendengar lebih berpengalaman darinya dan menurutnya apa yang dikatakan Bu Lanting adalah benar adanya. Terdapat hubungan jarak antara penutur dan mitra tutur, hal itu terlihat ketika penutur menggunakan kata “Bu” sebagai kata sapaan kepada Bu Lanting. Pada tuturan (16), “Dia memang baik, gagah, dan gedean. Lebih gedean dari suamimu. Dan dia pacarku kan?”, diartikan bahwa “dia” adalah Pak Bambung. Pak bambung adalah pacar Bu Lanting yang lebih baik, gagah, dan gedean daripada suami Lasi, yaitu Handarbeni. “Tentu, Bu”, diartikan bahwa Lasi menyetujui pendapat Bu Lanting mengenai pacarnya. “Baiklah. Kalau begitu aku

(87) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 72 pergi dulu untuk menemani dia.”, diartikan bahwa Bu Lanting berpamitan kepada Lasi untuk menemani Pak Bambung. “Sebaiknya kamu beristirahat, lalu mandi. Nanti kita ketemu lagi sesudah kamu beristirahat. Oke?”, diartikan bahwa Bu Lanting menyuruh Lasi beristirahat di kamarnya lalu mandi. Bu Lanting berjanji akan menemui Lasi setelah Lasi beristirahat. Tuturan (17) Lasi mencocokan apa yang dikatakan Bu Lanting yang hanya mengajaknya bercanda, menurutnya orang bisa tenang karena uang. Sebagai penutur Lasi diharapkan dapat memaksimalkan kecocokan diantara mereka dengan berkata, “Saya juga cuman guyon, Bu”. Lasi merasa Bu Lanting hanya ingin menghiburnya di saat ia sedang sedih, sehingga Lasi menyepakati bahwa apa yang dikatakan Bu Lanting hanyalah guyonan semata. Tuturan (17) yang dituturkan Lasi mengandung maksud. Lasi bertutur sopan kepada mitra tuturnya dengan menyepakati bahwa apa yang barusan mereka perbincangkan adalah bercandaan semata. Hal itu dilakukan penutur untuk menghormati mitra tuturnya. Skala kesatunan jarak sosial membuat tuturan percakapan (17) terlihat sopan. Lasi yang telah mengenal Bu Lanting, mengerti bagaimana kehidupannya yang tidak pernah jauh dari uang, maka Lasi tidak terlalu mempermasalahkan apa yang dikatakan Bu Lanting padanya. Terdapat jarak dalam hubungan sosial mereka, hal itu ditandai dengan kata sapaan “Bu” pada mitra tutur, meskipun mereka sudah saling kenal. Pada tuturan (17), “Ah, aku tadi cuman guyon lho, Las. Jangan tersinggung”, diartikan bahwa Bu Lanting menegaskan kepada Lasi, bahwa apa yang dibicarakannya tadi hanya bercandaan saja. Bu Lanting bercanda mengenai

(88) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 73 pendapatnya bahwa orang bisa tenang asal ada uang. Bu Lanting tidak ingin Lasi tersinggung dengan ucapannya. “Saya juga cuman guyon, Bu”, diartikan bahwa Lasi tidak terlalu menganggap perkataan Bu Lanting serius. Lasi juga menanggapi perkataan Bu Lanting sebagai candaan semata. “Ya, kita cuman guyon. Guyonan yang hanya akan menambah dosaku.”, diartikan bahwa apa yang mereka bicarakan hanyalah bercandaan semata, bukan hal yang serius dan hanya akan menambah dosa Bu Lanting, karena menurutnya berdoa dan uang, lebih penting uang. “Jadi maaf dan lupakan saja”, diartikan bahwa Bu Lanting meminta maaf atas apa yang diucapkannya dan meminta Lasi untuk melupakan apa yang telah dikatakannya tadi. Tuturan (18) dengan jelas Lasi menyatakan bahwa apa yang ditanyakan Bu Lanting mengenai kehamilannya, memang telah terjadi. Lasi tidak ingin berbohong kepada Bu Lanting mengenai kehamilannya, ketika Lasi ditanya apakah dia hamil, Lasi tidak membantah. Dengan tegas dia mengatakan,”Ya, saya hamil, anak suami saya”. Berbohong mengenai kehamilannya akan membuat penutur memaksimalkan ketidakcocokan terhadap pendengar. Tuturan (18) yang dituturkan oleh Lasi mengandung maksud. Penutur memang sudah memenuhi maksim kesepakatan dengan mengatakan apa yang ingin mitra tutur dengar. Hal itulah yang membuat tuturan Lasi menjadi sopan, tapi dibalik kesopanannya, sebenarnya Lasi ingin menyampaikan bahwa dia sedang mengandung anak Kanjat dan ingin pergi dari rumah Pak Bambung. Dengan begitu penutur berharap mitra tutur dapat mengerti dan melepaskannya dari jeratan Pak Bambung.

(89) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 74 Dilihat dari skala kesantunan terhadap tuturan (18), tuturan tersebut lebih mengarah kepada skala ketaklangsungan. Ujaran-ujaran di bawah ini semakin ke bawah semakin sopan. 1) Jadi kamu hamil? 2) Aku baru saja ditelepon Pak Bambung. Jadi kamu hamil? 3) Tadi aku baru saja ditelepon Pak Bambung. Apakah kamu memang sedang mengandung? Mau kah kamu menceritakannya? Skala ketidaklangsungan merujuk pada peringkat langsung atau tidak langsung sebuah tuturan. Tuturan (2) yang dituturkan Bu Lanting terlihat lebih tak langsung dan lebih sopan dibanding tuturan (1). Dilihat dari jarak tempuh maksud dari penutur ke mitra tutur tuturan (3) yang paling sopan. Pada tuturan (18), “Aku baru saja ditelepon Pak Bambung. Jadi kamu hamil? Jawab: jadi kamu hamil”, diartikan bahwa Bu Lanting baru saja mendapat berita mengejutkan dari Pak Bambung dan ingin mencari kebenaran dari berita tersebut dan ingin mencari kebenaran dari kehamilan Lasi. “Ya, saya hamil, anak suami saya”, diartikan bahwa Lasi dengan tegas menjawab pertanyaan Bu Lanting mengenai kebenaran kehamilannya. Lasi memang mengandung buah cintanya bersama suaminya, Kanjat. Pada tuturan (19) dan (20) di atas, dikatakan telah memenuhi maksim kesepakatan karena penutur dan mitra tutur sama-sama sepakat dengan masalah yang sedang diperbicangkan. Tuturan (19), ketika Lasi bertanya kepada Pak Bambung mengenai kebenaran bahwa liontin yang dipakainya benar pemberian Pak Bambung, Pak Bambung pun menjawab “”Betul! Yah, sekedar hadiah kecil

(90) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 75 karena kamu bersedia mendampingi saya dalam acara makan malam tadi.” Mitra tutur pun tidak menyangkal pertanyaan penutur dan mengatakan yang sebenarnya bahwa memang benar liontin yang dipakai penutur adalah pemberiannya. Tuturan (19) yang dituturkan oleh Pak Bambung mengandung maksud. Penutur telah berkata sopan kepada mitra tuturnya karena telah memenuhi maksim kesepakatan. Dibalik kesopanannya, Pak Bambung sebenarnya ingin mencoba mendekati Lasi dengan memberikan kalung liontin kepada Lasi. Penutur berharap, mitra tutur akan tertarik dan mau menjadi pendampingnya. Dengan kekayaan yang dimilikinya penutur berpikir Lasi dapat dengan mudah didapatkan. Tuturan (20), ketika Lasi bertanya kepada Kanjat apakah betul sekarang dia adalah istri Kanjat, Kanjat pun menjawab “Betul.” penutur tidak menyangkal bahwa sekarang Lasi sudah menjadi istrinya yang sah dan ketika mitra tutur bertanya lagi untuk memastikan bahwa Kanjat sekarang adalah suaminya, Kanjat pun menjawab “Ya.”, jawaban dari penutur inilah yang akhirnya meyakinkan mitra tutur bahwa mereka benar-benar sepasang suami istri. Tuturan (20) yang dituturkan Kanjat tidak mengandung maksud tersembunyi. Penutur hanya menjawab pertanyaan mitra tutur berdasarkan fakta dan mereka memang benar sudah menikah. Mereka dinikahkan oleh Eyang Mus di desa Karangsoga, kampung halaman mereka berdua. Dilihat dari skala kesantunan, tuturan (19) dan (20) termasuk dalam skala ketaklangsungan. Ujaran-ujaran di bawah ini semakin ke bawah semakin sopan. 1) Betul. Liontin ini sebagai ucapan terima kasih. 2) Betul. Yah, sekedar hadiah kecil sebagai ucapan terima kasih.

(91) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 76 3) Betul. Yah, sekedar hadiah kecil karena kamu bersedia mendampingi saya dalam acara makan malam tadi. Tuturan (19), secara tak langsung Pak Bambung berusaha memikat penutur, Lasi, dengan liontin pemberian darinya. Ibaratnya hanya untuk makan malam saja mitra tutur dengan senang hati memberikan penutur liontin seharga jutaan dolar, apalagi bila penutur menjadi istrinya. Tuturan (3) yang dituturkan Pak Bambung terlihat paling sopan dan paling tidak langsung daripada tuturan yang lainnya. Tuturan (20) secara tak langsung penutur ingin mendapat kepastian dari mitra tuturnya. Ujaran-ujaran di bawah ini semakin ke bawah semakin sopan. 1) Betul. 2) Betul, sekarang aku suamimu. 3) Betul, sekarang kita sudah menikah dan aku sudah menjadi suamimu. Tuturan (1) yang dituturkan oleh Kanjat yang paling kurang sopan, karena tuturan itu merupakan tuturan langsung. Jarak tempuh maksud dari penutur ke mitra tutur paling pendek daripada tuturan (2) dan (3). Percakapan (19), “Oh iya, Pak. Boleh saya bertanya sedikit?”, diartikan bahwa Lasi ingin meminta izin sebelum ingin bertanya mengenai sesuatu hal kepada Pak Bambung. “apa?”, diartikan bahwa Pak Bambung mengizinkan Lasi bertanya dan menanyakan kembali tentang apa yang akan ditanyakannya. “Kalung ini. Bu Lanting bilang Bapak memberikan kalung ini kepada saya. Betul?”, diartikan bahwa Lasi bertanya kepada Pak Bambung mengenai kebenaran cerita Bu Lanting, bahwa liontin yang dipakainya adalah pemberian dari Pak Bambung “Betul! Yah, sekedar hadiah kecil karena kamu bersedia

(92) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 77 mendampingi saya dalam acara makan malam tadi”, diartikan bahwa Pak Bambung membenarkan informasi yang didapat oleh Lasi. Liontin iti dianggapnya sebagai hadiah karena Lasi sudah mau menemaninya dalam acara makan malam. Pak Bambung juga menyuruh Lasi untuk tidak terpengaruh terhadap pemberiannya itu, walaupun Lasi menolak untuk menemaninya pun , Pak Bambung tidak berkeberatan. Percakapan (20), “Entahlah. Tetapi, Jat, betulkah aku sekarang istri kamu?”, diartikan bahwa Lasi masih belum percaya bahwa sekarang mereka adalah sepasang suami-istri, oleh karena itu dia bertanya kepada Kanjat. “Betul.”, diartikan bahwa Kanjat menangapi pertanyaan Lasi mengenai status mereka sekarang. “Jadi sekarang kamu betul-betul suamiku?”, diartikan bahwa Lasi bertanya kepada Kanjat Lagi untuk memastikan bahwa mereka sekarang adalah suami-istri. “Ya.”, diartikan bahwa Kanjat membenarkan apa yang telah ditanyakan Lasi kepadanya. 4.2.1.6 Wujud Kesopanan Maksim Simpati (WS1) Maksim kesimpatian diungkapkan dengan kalimat asertif dan ekspresif. Maksim ini mengharuskan setiap peserta pertuturan untuk memaksimalkan rasa simpati, dan meminimalkan rasa antipati kepada lawan tuturnya (Wijana, 1996: 50). Ada dua interaksi tuturan yang mengandung maksim kerendahan hati dalam novel Belantik karangan Ahmad Tohari. Para penutur menujukkan sikap sopan santunnya dengan cara memaksimalkan rasa simpati, dan meminimalkan rasa

(93) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 78 antipati kepada lawan tuturnya. Untuk lebih jelasnya, berikut disajikan dua contoh tuturannya: (21) Bu Lanting Lasi :“Nah, begitu. Sembahyang. Ada yang bilang sembahyang bisa membuat orang jadi tenang. Tetapi kalau aku bilang, orang bisa tenang karena duit. Mana yang benar, Las?” :“Ibu yang benar,” jawab Lasi dengan senyum. (halaman 108, WS1.SO2) Konteks: Dituturkan oleh Bu Lanting untuk menenangkan kegundahan dan kesedihan hati Lasi karena berada di rumah Pak bambung dan disaat dirinya tengah hamil. (22) Lasi Kanjat Lasi Kanjat :”Jadi sekarang kamu tahu aku seorang tahanan?” :”Ya. Tetapi hanya tahanan sementara. Tadi kami mendapat penjelasan kamu ditahan hanya untuk didengar keteranganmu sebagai calon saksi. Kukira kamu akan segera keluar begitu pemeriksaan sebagai calon saksi selesai.” :”Jadi aku akan dikeluarkan? Tidak dihukum?” :”Semoga tidak.”(halaman 137,WS1.SO2) Konteks: Dituturkan Kanjat untuk menenangkan Lasi karena Lasi takut akan dipenjara karena terseret kasus korupsi yang menimpa Pak Bambung. Walaupun hanya dijadikan saksi tapi Lasi ketakutan hingga menangis tersedu-sedu dipelukan Kanjat. Pada tuturan (21) di atas Bu Lanting menunjukkan rasa simpati terhadap mitra tuturnya yang sedang dilanda permasalahan dan dalam keadaan yang tidak baik atau memprihatinkan. Tuturan Bu Lanting menunjukkan kepedulian terhadap permasalahan yang sedang dihadapi Lasi. Dalam tuturannya Bu Lanting menasihati Lasi untuk sembahyang; “Nah, begitu. Sembahyang. Ada yang bilang sembahyang bisa membuat orang jadi tenang”. Penutur juga menghibur Lasi yang sedang sedih dengan mengajaknya bercanda. Menasihati dan mengajak

(94) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 79 bercanda adalah bentuk kepedulian Bu Lanting terhadap Lasi, mitra tuturnya. Apabila tidak ada rasa simpati atau peduli, pastinya Bu Lanting tidak akan menasihati Lasi, untuk menyuruhnya berdoa disaat dia mengalami masalah. Tuturan (21) yang dituturkan Bu Lanting mengandung maksud. Penutur berkata sopan dan bersimpati kepada mitra tutur agar perasaannya menjadi tenang. Dibalik itu, penutur merasa apa yang dilakukan Lasi dengan berdoa adalah hal yang sia-sia, karena menurutnya ketenangan berasal dari harta dan kekayaan, bukan dengan berdoa. Penutur beranggapan uang adalah kebahagiaan yang sebenarnya. Skala kesantunan keopsionalan nampaknya lebih tepat untuk mengukur kesantunan dalam tuturan di atas. Ujaran-ujaran di bawah ini semakin ke bawah semakin sopan. 1) Menurutku duit bisa membuat orang tenang. 2) Duit atau sembahyang yang bisa membuat kita tenang, Las? Menurutku duit. 3) Nah, begitu. Sembahyang. Ada yang bilang sembahyang bisa membuat orang jadi tenang. Tetapi kalau aku bilang, orang bisa tenang karena duit. Mana yang benar, Las? Tuturan (3) paling sopan diantara tuturan yang lainnya. Tuturan tersebut memberikan pilihan tindakkan kepada mitra tuturnya. Penutur memberikan pilihan kepada mitra tuturnya untuk memilih sendiri mana yang benar menurutnya.

(95) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 80 Pada tuturan (21), “Nah, begitu. Sembahyang. Ada yang bilang sembahyang bisa membuat orang jadi tenang. Tetapi kalau aku bilang, orang bisa tenang karena duit”, diartikan bahwa Bu Lanting menyuruh Lasi untuk berdoa agar segala kegundahan di hatinya dapat terobati. Bu Lanting mempunyai pendapatnya sendiri tentang seseorang agar memperoleh ketenangan. Menurutnya orang bisa tenang karena uang, bukan dengan berdoa. “Mana yang benar, Las?”, diartikan bahwa Bu Lanting meminta pendapat Lasi mengenai kedua hal tersebut, uang dan berdoa agar orang memperoleh ketenangan hati. “Ibu yang benar.”, diartikan bahwa Lasi berusaha menghormati pendapat Bu Lanting dan mengatakan bahwa yang benar adalah pendapat mitra tuturnya. Pada tuturan (22), di atas penutur juga telah memaksimalkan rasa simpati antara penutur dan mitra tutur. “Kukira kamu akan segera keluar begitu pemeriksaan sebagai calon saksi selesai.” Tuturan ini dikatakan penutur untuk menenangkan mitra tuturnya yang sedang dilanda musibah karena harus ditahan polisi akibat kasus korupsi yang menimpa Pak Bambung. Selain itu ketika mitra tutur bertanya apakah dia tidak akan dihukum, penutur pun menjawab “Semoga tidak.”, hal ini semata-mata dikatakan penutur agar mitra tutur tidak khawatir dan tidak sedih lagi. Tuturan (22) yang dituturkan Kanjat mengandung maksud. Penutur bertutur sopan agar mitra tuturnya tidak terlalu memikirkan permasalahan yang sedang dihadapinya. Penutur berusaha memenangkan pikiran mitra tutur yang sedang cemas dan takut kalau dia akan ikut dipenjara karena kasus korupsi yang menimpa Pak Bambung.

(96) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 81 Dilihat dari skala kesantunan, termasuk dalam skala ketaklangsungan. Ujaranujaran di bawah ini semakin ke bawah semakin sopan. 1) Kamu tidak akan dipenjara. 2) Kamu hanya tahanan sementara. Kamu akan segera keluar. 3) Kamu hanya tahanan sementara. Kamu hanya dimintai keterangan sebagai calon saksi. Kamu akan segera keluar begitu pemeriksaan sebagai calon saksi selesai. Tuturan (3) yang dituturkan Kanjat merupakan tuturan paling sopan dan paling tidak langsung daripada tuturan yang lainnya. Daya yang ditempuh maksud dari penutur ke mitra tutur lebih panjang dari pada tuturan (2) dan (1). Percakapan (22), “Jadi sekarang kamu tahu aku seorang tahanan?”, diartikan bahwa Lasi bertanya kepada Kanjat mengenai keadaannya sekarang yang telah menjadi seorang tahanan karena kasus korupsi yang dilakukan Pak Bambung. “Ya. Tetapi hanya tahanan sementara. Tadi kami mendapat penjelasan kamu ditahan hanya untuk didengar keteranganmu sebagai calon saksi. Kukira kamu akan segera keluar begitu pemeriksaan sebagai calon saksi selesai”, diartikan bahwa Kanjat sudah mengetahui kasus yang menimpa Pak Bambung dan menyeret Lasi, namun ada informasi bahwa Lasi tidak akan ditahan dan hanya dijadikan saksi atas kasus Pak Bambung. “Jadi aku akan dikeluarkan? Tidak dihukum?”, diartikan bahwa Lasi bertanya kepada Kanjat tentang nasib dirinya, bahwa dia tidak akan dihukum oleh pihak berwajib. “Semoga tidak”, diartikan bahwa Kanjat menjawab ada kemungkinan Lasi tidak ditahan.

(97) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 82 4.2.2 Pelanggaran Wujud Kesopanan Interaksi Antar Tokoh dalam Novel Belantik Berdasarkan data yang diteliti, dalam novel Belantik ditemukan pelanggaran tuturan-tuturan yang tidak memenuhi kaidah atau prinsip kesopanan yang meliputi maksim Kearifan, Kedermawanan, Pujian, Kerendahan hati, Kesepakatan, dan Simpati. 4.2.2.1 Pelanggaran Wujud Kesopanan Maksim Kearifan (1) Lasi Bu Lanting :“Bu, saya ingin mengembalikan kalung itu kepada Pak Bambung. Lalu saya mohon, biarkanlah saya hidup bersama Kanjat. Atau, ambillah kalung itu buat Ibu. Tetapi tolong, tinggalkanlah kami berdua di sini. Tolong, Bu.” :“Oalah, Las, saya kan sudah bilang, soal kalung tak penting bagi Pak Bambung. Kamulah! Saya pun tak berani main-main. Jadi, jangan banyak omong lagi. Ayo ikut kami.” (halaman 99, PA2.ST4) Konteks: Dituturkan Bu Lanting untuk mengajak Lasi kembali ke Jakarta menemui Pak Bambung, meskipun Lasi telah berniat ingin mengembalikan kalung yang diberikan Pak Bambung padanya. (2) Bu Lanting Lasi Bu Lanting :“Las, tadi Pak Bambung bicara banyak. Dia tidak minta kalung itu kamu kembalikan. Tidak. Menyinggung pun tidak. Tetapi dia masih penasaran dan akan menunggu sampai kamu mau. Kamu beruntung karena kali ini dia bisa bersabar. Biasanya dia main betot saja. Tahu?” :“Bagaimana saya bisa mau, Bu, saya kan masih punya suami.” :“Eh, kamu nggak ngerti juga? Dengar, Las. Aku juga sudah bicara dengan Mas Handarbeni. Dia sudah memutuskan melepaskan kamu dan membiarkan kamu jadi milik Pak Bambung. Kalau kamu butuh surat cerai dari Handarbeni dan surat kawin dari Bambung, semuanya akan diatur dan bisa terlaksana secepat yang kamu inginkan.” (halaman 58, PA2.SK3)

(98) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 83 Konteks: Dituturkan Bu Lanting untuk memberitahu Lasi, bahwa Pak Handarbeni, suaminya, akan menceraikannya dan membiarkannya menjadi milik Pak Bambung. (3) Lasi :“Yang penting duit ya, Bu?” Bu Lanting :“Ah, kamu sudah mengatakannya. Meski tahu kamu berseloroh, namun aku menganggap kata-katamu betul. Itulah sikapku; dalam hidup yang penting duit. Maka bila jadi kamu, aku akan menuruti katakata ini: daripada sakit karena melawan perkosaan, lebih baik nikmati perkosaan itu. Ya, ini gila. Tetapi pikirlah. Kamu sudah membuktikan, ke mana pun lari kamu tak akan luput dari tangan Pak Bambung. Jadi mengapa tidak kamu nikmati saja hidup bersama dia yang akan memanjakkan kamu dengan duitnya yang berlimpah? Masuk akal, kan? Lagi pula nyatanya Pak Bambung tidak ingin memperkosa kamu. Iya, kan?” (halaman 109-110, PA2.SO2) Konteks : Dituturkan oleh Bu Lanting agar Lasi tunduk kepada Pak Bambung dan tidak melawannya. (4) Lasi Pak Bambung Lasi Pak Bambung :”Bapak sudah mendengar semuanya. Kini saya sedang mengandung anak suami saya, Kanjat. Jadi, apakah Bapak tetap menghendaki saya tinggal di sini? Saya menunggu tanggapan Bapak.” :”Sampai saya memutuskan lain, kamu harus tetap di sini. Soal kehamilanmu akan menjadi urusan dokter.” :”Maksud Bapak?” :”Pertama, dokterlah yang lebih kupercaya untuk mengatakan apakah kamu benar hamil atau tidak. Kedua, dokter akan mempertimbangkan kemungkinan penggugur…” (halaman 114, PA2.ST4) Konteks: Dituturkan Pak Bambung kepada Lasi mengenai perihal kehamilannya. Pak Bambung tidak senang mendengar kabar kehamilan Lasi, terlebih bila melihat perempuan hamil dengan perut besarnya.

(99) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 84 Tuturan (1), (2), (3) dan (4) di atas dikatakan telah melanggar aturan maksim kearifan, karena ke-empat tuturan itu telah memaksimalkan kerugian orang lain. Tuturan (1), Bu Lanting menyatakan pada Lasi, “Oalah, Las, saya kan sudah bilang, soal kalung tak penting bagi Pak Bambung. Kamulah! Saya pun tak berani main-main. Jadi, jangan banyak omong lagi. Ayo ikut kami”. Dari pernyataan itu, dapat dipahami bahwa Bu Lanting memaksa Lasi untuk kembali bersamanya ke Jakarta. Seharusnya sebagai penutur Bu Lanting mencoba memaksimalkan keuntungan bagi orang lain. Kata “Ayo ikut kami” merupakan kalimat perintah dan dinilai tidak sopan. Tuturan (1) yang dituturkan Bu Lanting mengandung maksud. Penutur ingin mengatakan kepada mitra tutur bahwa Pak Bambung mencarinya dan menginginkan Lasi sebagi istrinya. Pak Bambung akan menghalalkan segala cara untuk mendapat Lasi sebagai istrinya. Skala keotoritasan terlihat di dalan percakapan (1), Bu Lanting bersama bersama polisi menggunakan otoritasnya untuk menjemput paksa Lasi ke Jakarta. Bu Lanting memaksa Lasi untuk kembali bersamanya dengan bantuan polisi, yang membuatnya mau tak mau kembali ke Jakarta bersama Bu Lanting. Pada tuturan (1), “Bu, saya ingin mengembalikan kalung itu kepada Pak Bambung. Lalu saya mohon, biarkanlah saya hidup bersama Kanjat.”, diartikan bahwa Lasi tidak ingin terjerat dalam dekapan Pak Bambung karena kalung yang diberikan kepadanya. Lasi ingin mengembalikan kalung itu, agar bisa hidup bebas dan bahagia dengan suami yang baru dinikahinya, Kanjat. “Atau, ambillah kalung itu buat Ibu. Tetapi tolong, tinggalkanlah kami berdua di sini. Tolong, Bu”, diartikan bahwa Lasi memohon kepada Bu Lanting untuk tidak mencarinya dan

(100) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 85 mengusiknya lagi. Ia berharap, dengan ia memberikan kalung itu kepada Bu Lanting, Bu Lanting mau melepaskan dia dan Kanjat. “Oalah, Las, saya kan sudah bilang, soal kalung tak penting bagi Pak Bambung. Kamulah! Saya pun tak berani main-main. Jadi, jangan banyak omong lagi. Ayo ikut kami.”, diartikan bahwa Bu Lanting menolak kalung itu, karena bagi Pak Bambung, memiliki Lasi lebih penting daripada kalung tersebut. Bu Lanting pun terlalu takut untuk memiliki kalung itu, karena kekuasaan yang dimiliki Pak Bambung. Bu Lanting ingin Lasi tetap ikut bersamanya dengan di kawal oleh Mayor Brangas dan anak buahnya, untuk kembali ke Jakarta. Pada saat itu ia dan kanjat sedang menginap di Surabaya, untuk melarikan diri ke Sulawesi. Tuturan (2) yang dituturkan oleh Bu Lanting yang berbunyi “Eh, kamu nggak ngerti juga? Dengar, Las. Aku juga sudah bicara dengan Mas Handarbeni. Dia sudah memutuskan melepaskan kamu dan membiarkan kamu jadi milik Pak Bambung.”. Menunjukkan bahwa sebagai penutur, Bu Lanting menganggap Lasi terlalu bodoh, bahkan Lasi tidak tahu kalau dia sudah diceraikan oleh suaminya, Pak Handarbeni. Kata “dengar, Las” merupakan kalimat perintah yang ditujukkan kepada pendengar. Penutur telah melanggar aturan maksim kearifan. Tuturan (2) yang dituturkan Bu Lanting mengandung maksud. Penutur telah berkata tidak sopan kepada mitra tuturnya. Bu Lanting ingin mengatakan bahwa suaminya, Pak Handarbeni, telah menyerahkannya kepada Pak Bambung untuk menjadi istri simpanannya. Skala ketaklangsungan terlihat dalam percakapan ini. Ujaran-ujaran di bawah ini semakin ke bawah semakin sopan.

(101) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 86 1) Suamimu sudah menceraikanmu. 2) Suamimu sudah melepaskanmu dan membiarkan kamu menjadi milik Pak Bambung. 3) Aku sudah bicara dengan Mas Handarbeni. Dia sudah memutuskan melepaskan kamu dan membiarkan kamu menjadi milik Pak Bambung. Tuturan (3) terlihat jelas ketika Bu Lanting secara tidak langsung mengatakan, bahwa suami Lasi telah menceraikannya tanpa sepengetahuan Lasi. Hal ini membuat percakapan di atas menjadi terlihat sopan dalam berkomunikasi. Pada tuturan (2), “Las, tadi Pak Bambung bicara banyak. Dia tidak minta kalung itu kamu kembalikan.”, diartikan bahwa Bu Lanting berkata kepada Lasi setelah sebelumnya ia berbicara dengan Pak Bambung, mengenai kalung pemberiannya. Pak Bambung tidak menginginkan Lasi mengembalikan kalung tersebut, sebaliknya Pak Bambung hanya menginginkan Lasi untuk menjadi milinya. Kalung pemberiannya hanya sebuah umpan agar Lasi mau menjadi milik Pak Bambung. “Tidak. Menyinggung pun tidak. Tetapi dia masih penasaran dan akan menunggu sampai kamu mau.”, diartikan bahwa Pak Bambung tidak menyinggung mengenai kalung pemberiannya saat dia berbicara dengan Bu Lanting. Pak Bambung masih menunggu Lasi sampai dia mau datang kepelukan Pak Bambung. “Kamu beruntung karena kali ini dia bisa bersabar. Biasanya dia main betot saja. Tahu?”, diartikan bahwa menurut Bu Lanting, Lasi sangatlah beruntung karena Bu Lanting tahu sifat Pak Bambung yang sebenarnya saat dia sedang menyukai seorang perempuan. Bisa saja waktu mereka sedang di hotel berdua,

(102) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 87 Pak Bambung langsung memperkosa Lasi, namun Pak Bambung tidak mau dan memilih bersabar sampai Lasi sendiri yang memberikannya. “Bagaimana saya bisa mau, Bu, saya kan masih punya suami”, diartikan bahwa sebagai seorang istri, Lasi tidak ingin cintanya terbagi dengan orang lain. Ia lebih memilih setia dengan suaminya meskipun diiming-imingi harta yang berlimpah. “Eh, kamu nggak ngerti juga? Dengar, Las. Aku juga sudah bicara dengan Mas Handarbeni. Dia sudah memutuskan melepaskan kamu dan membiarkan kamu jadi milik Pak Bambung.”, diartikan bahwa Bu Lanting mulai tidak menyukai sikap Lasi yang membantah padanya. Bu Lanting pun berkata kepada Lasi bahwa suaminya sudah merelakannya menjadi milik Pak Bambung. “Kalau kamu butuh surat cerai dari Handarbeni dan surat kawin dari Bambung, semuanya akan diatur dan bisa terlaksana secepat yang kamu inginkan.”, diartikan Bu Lanting akan mengatur segala keperluan perceraiannya dengan Pak Handarbeni dan juga mengenai surat pernikahannya dengan Pak Bambung. Tuturan (3) juga dikatakan melanggar aturan maksim kearifan, Bu Lanting menuturkan pernyataan yang mengandung sikap merugikan mitra tuturnya.”Itulah sikapku; dalam hidup yang penting duit. Maka bila jadi kamu, aku akan menuruti kata-kata ini: daripada sakit karena melawan perkosaan, lebih baik nikmati perkosaan itu.” sebagai penutur, Bu Lanting dituntut untuk memaksimalkan keuntungan bagi mitra tuturnya, namun dalam tuturannya, penutur seolah-olah mengancam mitra tuturnya. Penutur merayu mitra tuturnya untuk pasrah terhadap pihak ketiga, yaitu Pak Bambung. Tuturan (3) yang dituturkan Bu Lanting mengandung maksud. Penutur bermaksud menyuruh mitra tutur untuk pasrah

(103) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 88 menghadapi Pak Bambung dan merelakan diri untuk menjadi istri simpanannya. Selain itu penutur serasa mengancam mitra tutur dan menegaskan padanya bahwa dia tidak bisa lepas dari genggaman Pak Bambung. Skala kesantunan yang tepat untuk tuturan (3) adalah skala keopsionalan. Ujaran-ujaran di bawah ini semakin ke bawah semakin sopan. 1) Daripada sakit karena melawan perkosaan, lebih baik nikmati perkosaan itu. 2) Menurutmu lebih baik mana. Sakit karena melawan perkosaan atau lebih baik nikmati perkosaan itu. 3) Menurutmu lebih baik mana. Mana yang akan kamu pilih sakit karena melawan perkosaan atau lebih baik nikmati perkosaan itu. Penutur (1) Bu Lanting kurang memberikan pilihan kepada pendengar untuk melakukan tindakan sesuai dengan keinginan penutur. Penutur berkata seolah-olah tidak ada pilihan lain bagi pendengar. Penutur secara langsung ingin mengatakan untuk lebih baik berpasrah dengan keadaan daripada sakit nantinya jika melawan. Pada tuturan (3), “Yang penting duit ya, Bu?”, diartikan bahwa Lasi melanjutkan perkataan Bu Lanting, bahwa menurut Bu Lanting dalam hidup yang penting uang. “Ah, kamu sudah mengatakannya. Meski tahu kamu berseloroh, namun aku menganggap kata-katamu betul.”, diartikan bahwa apa yang dikatakan Lasi menurut Bu Lanting memang benar meskipun Lasi hanya bercanda ketika mengatakannya. “Itulah sikapku; dalam hidup yang penting duit.”, diartikan bahwa Bu Lanting tidak menampik perkataan Lasi mengenai uang lebih dari segalanya karena memang begitulah yang dipikiran Bu Lanting. “Maka bila jadi

(104) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 89 kamu, aku akan menuruti kata-kata ini: daripada sakit karena melawan perkosaan, lebih baik nikmati perkosaan itu.”, diartikan bahwa Bu Lanting menasihati Lasi untuk menyerah kepada keadaan dan menikmatinya daripada melawan tetapi mengakibatkan penderitaan yang tak berkesudahan. “Ya, ini gila. Tetapi pikirlah. Kamu sudah membuktikan, ke mana pun lari kamu tak akan luput dari tangan Pak Bambung.”, diartikan bahwa meskipun apa yang dikatakan Bu Lanting adalah suatu hal yang diluar akal sehat dan bertentangan dengan hati nurani Lasi, namun apapun yang Lasi lakukan untuk mencoba melarikan diri dari Pak Bambung tidak akan berhasil. “Jadi mengapa tidak kamu nikmati saja hidup bersama dia yang akan memanjakkan kamu dengan duitnya yang berlimpah? Masuk akal, kan?, diartikan bahwa Bu Lanting berusaha menasihati Lasi untuk menikmati kehidupannya dengan harta berlimpah bersama Pak Bambung. “Lagi pula nyatanya Pak Bambung tidak ingin memperkosa kamu. Iya, kan?”, diartikan bahwa meskipun Pak Bambung sewaktuwaktu bisa memperkosannya namun hal itu tidak dilakukan Pak Bambung kepada Lasi. Pada tuturan (4), dianggap melanggar pola kesopanan maksim kearifan karena penutur telah membuat kerugian terhadap mitra tuturnya. “Pertama, dokterlah yang lebih kupercaya untuk mengatakan apakah kamu benar hamil atau tidak. Kedua, dokter akan mempertimbangkan kemungkinan pengguguran”. Dengan tidak bijaksana penutur menginginkan Lasi menggugurkan kandungannya hanya karena dia tidak suka melihat wanita hamil. Penutur tanpa memikirkan perasaan mitra tuturnya membuat keputusan sepihak yang mengakibatkan kerugian yang

(105) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 90 akan dirasakan mitra tuturnya. Tuturan (4) yang dituturkan Pak Bambung mengandung maksud. Penutur ingin mengatakan kepada mitra tuturnya bahwa dia tidak suka mengenai kabar kehamilannya. Penutur berencana akan menyuruh dokter untuk menggugurkan kandungannya. Dia hanya menginginkan Lasi sebagai istrinya. Dilihat dari skala kesantunannya, termasuk dalam skala keotoritasan, meskipun Lasi bukan bawahannya tapi setiap keputusan berada di tangan Pak Bambung. Pak Bambung memiliki kekuasaan atas Lasi karena dia bisa memanggil polisi untuk mencari Lasi, memanggil dokter untuk meggugurkan Lasi, bahkan menyuruh Pak Handarbeni untuk melepaskan Lasi. Percakapan (4), “Bapak sudah mendengar semuanya. Kini saya sedang mengandung anak suami saya, Kanjat. Jadi, apakah Bapak tetap menghendaki saya tinggal di sini? Saya menunggu tanggapan Bapak”, diartikan bahwa Lasi memberitahu Pak Bambung mengenai kehamilannya dengan Kanjat dan bertanya apakah Pak Bambung masih menginginkan dia menjadi istrinya dan tinggal di rumahnya, sedangkan Lasi sudah menikah dan mengandung.“Sampai saya memutuskan lain, kamu harus tetap di sini. Soal kehamilanmu akan menjadi urusan dokter”, diartikan bahwa meskipun Lasi telah mengandung, namun Pak Bambung tetap menginginkan Lasi untuk tinggal dirumahnya dan soal kehamilannya Pak Bambung mempercayakan dokter untuk menanganinya. “Maksud Bapak?”, diartikan bahwa Lasi tidak mengerti apa yang dimaksudkan Pak Bambung dengan tetap tinggal dan seorang dokter yang akan menangani kehamilannya. “Pertama, dokterlah yang lebih kupercaya untuk

(106) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 91 mengatakan apakah kamu benar hamil atau tidak. Kedua, dokter akan mempertimbangkan kemungkinan penggugur…”, diartikan bahwa Pak Bambung akan mempercayakan seorang dokter untuk memastikan kehamilan Lasi, bahwa dia benar-benar hamil atau hanya pura-pura, dan bila Lasi benar-benar hamil, Pak Bambung akan menyuruh dokter untuk menggugurkannya. 4.2.2.2 Pelanggaran Wujud Kesopanan Maksim Dermawan (PD2) (5) Lasi Bu Lanting Lasi :“Tak tahulah, Bu. Tetapi saya ingin makan laksa. Dulu dekat warung Bu Koneng di Klender ada penjualnya. Ibu mau mengantar saya ke sana, kan?” :“Bagaimana bila kita suruh orang membeli ke sana?” :“Tidak. Saya harus pergi ke sana karena saya ingin makan laksa di dekat penjualnya.” (halaman 104, PD2.SU2) Konteks: Dituturkan Lasi untuk menolak keinginan Bu Lanting yang akan menyuruh orang lain untuk membelikan laksa, makanan yang diinginkannya. Tuturan (5) di atas, dapat dikatakan bahwa Lasi melanggar aturan maksim kedermawanan dalam bertutur, sebab tuturan tersebut mengandung ketidaksetujuan Lasi kepada Bu Lanting yang ingin menyuruh orang lain untuk membeli makanan keinginannya, agar Lasi tidak perlu repot-repot mencari, “:“Tidak. Saya harus pergi ke sana karena saya ingin makan laksa di dekat penjualnya”. Tuturan dirasa kurang sopan karena penutur berusaha memaksimalkan keuntungan dirinya dengan menyusahkan orang lain. Tuturan (5) yang dituturkan Lasi mengandung maksud. Penutur melanggar kesopanan karena sebenarnya ingin keluar dari rumah Pak Bambung. Lasi menolak usulan Bu

(107) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 92 Lanting untuk menyuruh orang lain membelikan laksa untuk mereka. Penutur sebenarnya ingin keluar rumah lalu menghubungi Kanjat suaminya, dia mencuri waktu untuk bisa memberi kabar kepada Kanjat bahwa dia sedang mengandung. Skala untung-rugi terdapat dalam tuturan (5) di atas. Ujaran-ujaran di bawah ini semakin ke bawah semakin sopan. 1) Ibu mau mengantar saya untuk beli laksa kan? Saya harus makan di dekat penjualnya. 2) Ibu tidak keberatan mengantar saya untuk beli laksa kan? 3) Bagaimana kalau kita menyuruh orang lain untuk membeli laksa? Penutur (1) yang dituturkan Lasi memaksa mitra tutur untuk menemaninya pergi membeli laksa. Penutur menolak bantuan dari mitra tutur yang mengusulkan menyuruh orang lain untuk membelinya. Tuturan penutur dapat dikatakann kurang sopan karena menimbulkan kerugian bagi pihak mitra tutur dalam melakukan tindakan. Pada tuturan (5), “Tak tahulah, Bu. Tetapi saya ingin makan laksa.”, diartikan bahwa Lasi kurang tahu apakah Laksa adalah makanan orang betawi, tetapi ia ingin sekali makan laksa. “Dulu dekat warung Bu Koneng di Klender ada penjualnya. Ibu mau mengantar saya ke sana, kan?”, diartikan bahwa Lasi ingin Bu Lanting menemaninya membeli laksa yang menurutnya dulu ada penjual laksa di dekat warung Bu Koneng. “Bagaimana bila kita suruh orang membeli ke sana?”, diartikan bahwa Bu Lanting menawarkan pilihan lain agar orang lain saja yang membeli laksa, agar mereka tidak repot-repot mencari penjual laksa. “Tidak. Saya harus pergi ke sana karena saya ingin makan laksa di dekat penjualnya”,

(108) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 93 diartikan bahwa Lasi menolak usulan Bu Lanting. Ia memaksa ingin makan laksa di tempat orang berjualan laksa. 4.2.2.3 Pelanggaran Wujud Kesopanan Maksim Pujian (PP2) (6) Lasi Bu Lanting :“Apa iya, Bu? Kok kemarin dia kelihatan baik, bisa melucu dan tidak sedikit pun memperlihatkan watak keras?” :“Eh, kamu memang tidak mengerti, Las. Pak Bambung itu priyayi Jawa. Dalam kehalusannya bisa tersembunyi sifat keras, pendendam, bahkan mungkin juga kejam. Maka turutilah nasihatku. Kalau tidak kamu akan mengalami banyak kesulitan. Pak Bambung bisa menyuruh polisi menangkapmu. Aku ini ngomong beneran!” (halaman 62) Konteks: Dituturkan oleh Bu Lanting untuk memberitahu dan menakutnakuti Lasi, bahwa priyayi Jawa seperti Pak Bambung, memiliki sifat keras, pendendam, bahkan juga kejam. (7) Lasi Bu Lanting :“Tetapi, Bu, saya kan tidak bisa. Saya tidak bisa. Saya masih istri Pak Handarbeni. Jadi mana bisa…” :“Alaaah, kamu masih juga perempuan kampung. Bagaimana tidak bisa karena kamu sudah mau menerima kalung dari Pak Bambung? Kamu ngerti nggak, harga kalung itu akan membuat kamu makmur jibur-jibur tujuh turunan? Lalu mengapa kamu tidak memberi apa-apa kepada Pak Bambung?”(halaman 57) Konteks: Dituturkan Bu Lanting untuk mengolok Lasi, perempuan kampung, karena Lasi tidak mau memberikan apa yang dimaui lelaki saat berduaan dengannya di kamar hotel. Lelaki yang dimaksud adalah Pak Bambung (8) Kanjat Lasi :”Dan kamu ikut berperan karena kamulah yang menyampaikan surat-surat itu kepada Bambung.” :”Iya ya? Jadi aku yang cuma perempuan kampung dan tidak tahu apa-apa ternyata ikut berperan

(109) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Kanjat 94 dalam urusan orang gedean. Kalau dipikir lucu juga, ya?” :”Lucu atau malah gendheng! Gila. Ah, sudah! Aku tidak suka cerita semacam ini. Maka lebih baik katakan kamu tinggal di Jakarta sebelah mana? Sebab kalau sudah tidak tahan mungkin aku akan menyusulmu ke tempat itu?” (halaman 126, PP2.SK3) Konteks: Dituturkan Kanjat kepada Lasi untuk menyindirnya karena ikut berperan dalam menyampaikan surat-surat Bambung yang dianggap mencurigakan. Tuturan (6), (7) dan (8) di atas, Bu Lanting dikatakan bertutur kurang sopan karena melanggar aturan maksim pujian saat bertutur. Pada tuturan (6), Bu Lanting menyatakan bahwa priyayi jawa seperti Pak bambung ternyata menyimpan sifat keras, pendendam bahkan juga kejam. Dan demi menciutkan nyali Lasi, Bu Lanting juga mengatakan Pak Bambung bisa menyuruh polisi untuk menangkapnya,”Pak Bambung itu priyayi Jawa. Dalam kehalusannya bisa tersembunyi sifat keras, pendendam, bahkan mungkin juga kejam. Maka turutilah nasihatku”. Penutur telah meminimalkan pujian terhadap pihak ketiga dihadapan mitra tuturnya, agar mitra tutur menjadi segan atau takut terhadap pihak ketiga. Kedekatan Bu Lanting dengan Pak Bambung, membuat Bu Lanting mengetahui sifat dari Pak Bambung yang sebenarnya. Tuturan (6) yang dituturkan Bu Lanting mengandung maksud. Penutur melanggar kesopanan karena ingin menakut-nakuti dan mengancam Lasi bahwa Pak Bambung sebenarnya adalah orang yang kejam. Dengan berkata demikian penutur berharap mitra tutur menuruti semua perkataan dan kemauannya agar dia menjadi pendamping bagi Pak Bambung.

(110) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 95 Skala jarak sosial di sini membuat penutur membuka sifat buruk pihak ketiga yang sebenarnya kepada pendengar. Hal ini dilakukan penutur untuk menakutnakuti pendengar agar pendengar mau dijadikan simpanan pihak ketiga. Meskipun memiliki kedekatan secara personal, namun terdapat jarak dalam hubungan sosialnya. Hal itu terlihat dari kata sapaa “Pak” dan “Bu” yang digunakan. Pada tuturan (6), “Apa iya, Bu? Kok kemarin dia kelihatan baik, bisa melucu dan tidak sedikit pun memperlihatkan watak keras?”, diartikan bahwa Lasi belum percaya dengan apa yang dikatakan Bu Lanting mengenai watak Pak Bambung yang sebenarnya. Menurut Bu Lanting, Pak Bambung sebenarnya memiliki watak keras. “Eh, kamu memang tidak mengerti, Las.”, diartikan bahwa Lasi belum mengenal Pak Bambung secara lebih mendalam, hanya melihat luarnya saja. “Pak Bambung itu priyayi Jawa. Dalam kehalusannya bisa tersembunyi sifat keras, pendendam, bahkan mungkin juga kejam.”, diartikan bahwa dibalik sifat Pak Bambung sebagai priyayi jawa yang dikenal akan kehalusannya dalam bertindak dan bertutur kata, tersimpan sifat keras, pendendam, dan juga kejam. “Maka turutilah nasihatku. Kalau tidak kamu akan mengalami banyak kesulitan. Pak Bambung bisa menyuruh polisi menangkapmu. Aku ini ngomong beneran!”, diartikan bahwa Bu lanting berharap Lasi mau mendengarkan perkataannya untuk mau menerima Pak Bambung sebagai suaminya. Pak Bambung mempunyai kekuasaan memanggil polisi untuk menangkap Lasi, apabila Lasi menolak. Bu Lanting mencoba menggertak dan menakut-nakuti Lasi, agar Lasi bertekuk lutut dihadapan Pak Bambung.

(111) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 96 Pada tuturan (7), jelas sekali Bu Lanting mengatakan kata kasar kepada mitra tuturnya, “Alaaah, kamu masih juga perempuan kampung”. Penutur telah merendahkan harga diri mitra tuturnya dengan kata “perempuan kampung”. Penutur telah meminimalkan keuntungan mitra tuturnya, dengan berkata kasar kepada mitra tuturnya. Tuturan (7) yang dituturkan Bu Lanting mengandung maksud. Penutur mengatakan mitra tutur sebagai perempuan kampung, karena mitra tutur masih saja setia kepada suaminya. Penutur berharap mitra tutur mau memberikan apa yang diinginkan oleh Pak Bambung terhadap dirinya. Skala ketaklangsungan terlihat dalam tuturan (7). Ujaran-ujaran di bawah ini semakin ke bawah semakin sopan. 1) Dasar perempuan kampung. 2) Kamu masih juga perempuan kampung 3) Kamu masih saja berpikiran seperti perempuan desa. Secara langsung penutur (2) Bu Lanting mengejek pendengar dengan sebutan “perempuan kampung”. Kata-kata ini dirasa kurang sopan bila dituturkan kepada mitra tutur, karena merendahkan harga diri mitra tuturnya. Tuturan (1) lebih kurang sopan dibanding tuturan (2) karena jarak maksud dari penutur ke mitra tutur lebih panjang. Pada tuturan (7), “Tetapi, Bu, saya kan tidak bisa. Saya tidak bisa. Saya masih istri Pak Handarbeni. Jadi mana bisa”, diartikan bahwa Lasi tidak mau menerima Pak Bambung karena dia masih terikat dengan Pak Handarbeni, suaminya. Lasi adalah istri yang setia kepada suaminya, meski dia hanya istri simpanan. “Alaaah, kamu masih juga perempuan kampung.”, diartikan bahwa Bu Lanting mengejek

(112) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 97 Lasi karena dia tidak memilih menjalin asmara dengan orang gedean dan orang penting seperti Pak Bambung, namun memilih setia dengan suaminya. Pikirannya yang seperti itu dianggap Bu Lanting seperti pikiran perempuan desa yang belum mengenal uang dan harta yang melimpah. “Bagaimana tidak bisa karena kamu sudah mau menerima kalung dari Pak Bambung? Kamu ngerti nggak, harga kalung itu akan membuat kamu makmur jibur-jibur tujuh turunan?”, diartikan bahwa karena Lasi sudah menerima kalung pemberian Pak Bambung, Bu Lanting berharap Lasi mau dijadikan istri simpanan Pak Bambung. Dengan iming-iming kalung yang jika ia jual bisa membuatnya kaya raya, Bu Lanting berpikir Lasi akan menerima Pak Bambung. “Lalu mengapa kamu tidak memberi apa-apa kepada Pak Bambung?”, diartikan bahwa Bu Lanting bertanya-tanya mengenai Lasi yang tidak memberikan tips atau sekedar bonus kepada Pak Bambung yang telah memberikannya kalung dengan harga yang fantastis. Pada tuturan (8), dianggap telah melanggar pola kesopanan maksim pujian karena penutur telah mengecam mitra tuturnya dengan berkata “Lucu atau malah gendheng! Gila”. Secara tak langsung penutur menyindir mitra tutur “gila” karena telah ikut campur dalam urusan Pak Bambung, yang bisa dibilang bisnis mencurigakan. Walaupun tak secara langsung diungkapkan, namun hal tersebut merupakan pelanggaran wujud maksim pujian. Tuturan (8) yang dituturkan oleh Kanjat mengandung maksud. Pelanggaran kesopanan yang dituturkan penutur memiliki maksud menyindir. Penutur menyindir mitra tutur gendheng/gila karena ikut campur dalam bisnis illegal yang sedang dijalani Pak Bambung. Penutur

(113) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 98 berharap mitra tutur tidak terlalu ikut campur dan berhati-hati dalam mengambil tindakkan. Dilihat dari skala kesantunannnya, interaksi di atas termasuk dalam skala ketaklangsungan. Ujaran-ujaran di bawah ini semakin ke bawah semakin sopan. 1) Kau ini gila, ikut campur dalam urusan Pak Bambung. 2) Perbuatanmu itu lucu atau malah gendheng! Gila, ikut campur dalam urusan Pak Bambung. 3) Perbuatanmu itu sungguh berbahaya, janganlah ikut campur dalam urusan Pak Bambung. Penutur (2) secara tak langsung Kanjat mengatakan Lasi adalah wanita gila yang mau ikut campur dalam urusan bisnis Pak Bambung, meskipun Lasi tidak sadar bahaya yang nanti akan dihadapinya. Tuturan (2) dianggap lebih sopan dibanding tuturan (1) karena jarak tempuh maksud dari penutur ke mitra tutur lebih panjang. Percakapan (8), “Dan kamu ikut berperan karena kamulah yang menyampaikan surat-surat itu kepada Bambung”, diartikan bahwa Kanjat tidak menyukai tindakan Lasi yang ikut berperan dalam urusan yang dilakukan Pak Bambung dan rekan bisnisnya. “Iya ya? Jadi aku yang Cuma perempuan kampung dan tidak tahu apa-apa ternyata ikut berperan dalam urusan orang gedean. Kalau dipikir lucu juga, ya?”, diartikan bahwa Lasi tidak sadar dia telah ikut berperan dalam bisnis Pak Bambung yang mencurigakan. Dia merasa hal itu lucu karena seorang wanita kampung yang tak tahu apa-apa seperti dia bisa ikut berperan dalam bisnis orang gedean.

(114) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 99 “Lucu atau malah gendheng! Gila. Ah, sudah! Aku tidak suka cerita semacam ini.”, diartikan bahwa Kanjat merasa apa yang dilakukan Lasi bukan hal yang lucu tapi gila, karena sudah ikut campur dalam sebuah bisnis yang bahkan dia tidak tahu apa yang dibisniskan Pak Bambung. Kanjat tidak suka Lasi terusterusan berbicara mengenai Pak Bambung. “Maka lebih baik katakan kamu tinggal di Jakarta sebelah mana? Sebab kalau sudah tidak tahan mungkin aku akan menyusulmu ke tempat itu?”, diartikan bahwa Kanjat ingin mengetahui di mana Lasi berada dan akan menemuinya ditempat dia berada sekarang. 4.2.2.4 Pelanggaran Wujud Kesopanan Maksim Kerendahan Hati (PR2) (9) Lasi Bu Lanting Lasi Bu Lanting :“…Anu… Tetapi Pak Bambung tetap pacar Ibu, kan?” :“Iya dong. Sampai saat ini dia tetap pacarku. Tetapi entahlah. Sudah kubilang sejak pertama kali melihatmu Pak Bambung sudah mencuri-curi pandang.” :“Jadi Ibu menyesal mengajak saya kemari?” :“Oalah, Las, aku bukan lagi perawan kencur. Aku perempuan tua yang amat cukup pengalaman. Dan tahu adat lelaki. Jadi nanti, bila ternyata Pak bambung suka sama kamu, ya sudah. Aku tak perlu merasa rugi. Betul! Toh aku sudah dapat uangnya. Pulang dari sini, lihatlah, aku akan beli Mercy model terbaru. Dengan mobil itu si Kacamata pasti mau kubawa ke mana-mana. Apa lagi?” (halaman 38-39, PR2.SK3) Konteks: Dituturkan oleh Bu Lanting untuk memamerkan pasangan barunya, dan keinginannya membeli Mercy model terbaru kepada Lasi. Ketika mereka berada di kamar hotel, sedang mendadani Lasi yang akan pergi bersama Pak Bambung. (10) Bu Lanting Lasi :”Las, aku mau ngomong ya, tak usah kaget. Saya sudah pindah ke Sea View Hotel, eh, pokoknya hotel lain.” :”Jadi Ibu di situ sekarang?”

(115) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 100 Bu Lanting :”Ya! Biasa, Las. Ketika kamu menemani Pak Bambung tadi aku bertemu, anulah, ayam jago bule. Dan aku bilang juga apa, duit memang amat penting. Buktinya, bule yang masih muda itu bisa kubeli. Memang cukup mahal, tetapi tak apa karena aku sudah lama tak makan bule, he-he-he… (halaman 44, PR2.SK3) Konteks: Dituturkan Bu Lanting untuk memberitahu Lasi, bahwa dia bertemu bule muda yang dibelinya dengan harga cukup mahal, ketika mereka di Singapura. Pada tuturan (9) dan (10), Bu Lanting berkata kurang sopan karena melanggar aturan maksim kerendahan hati pada saat berkomunikasi dengan mitra tuturnya. “Aku tak perlu merasa rugi. Betul! Toh aku sudah dapat uangnya. Pulang dari sini, lihatlah, aku akan beli Mercy model terbaru.” Penutur dengan gamblangnya mengatakan dia sudah mendapat uang dan akan membeli mobil Mercy model terbaru. Penutur telah memaksimalkan rasa hormat pada diri sendiri. Selain uang dan mobil, penutur juga memamerkan gandengan barunya kepda mitra tuturnya. Penutur menyombangkan dirinya sendiri kepada mitra tuturnya tentang segala kepunyaannya. Tuturan (9) yang dituturkan Bu Lanting mengandung maksud. Penutur ingin mendekatkan Lasi dengan Pak Bambung, dengan berkata dia sudah tak lagi menyukainya. Dengan dia bercerita kepada Lasi bahwa dia sudah mendapatkan laki-laki lain, penutur berharap mitra tutur akan mendekati Pak Bambung. Skala kesantunan ketaklangsungan terdapat dalam percakapan (9). Ujaranujaran di bawah ini semakin ke bawah semakin sopan. 1) Pak Bambung menyukaimu, Las. Buktinya dia mencuri-curi pandang padamu.

(116) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 101 2) Sepertinya Pak Bambung menyukaimu, Las. Buktinya dia sudah mencuri-curi pandang padamu. 3) Sampai saat ini dia masih pacarku. Tetapi entahlah. Sejak pertama kali melihatmu Pak Bambung sudah mencuri-curi pandang. Penutur (3) Bu Lanting secara tak langsung mengatakan kepada pendengar bahwa Pak Bambung menyukainya. Tuturan ini dikatakan secara sopan oleh penutur kepada pendengar mengenai pihak ketiga, Pak Bambung, menyukai Lasi. Tuturan (3) merupakan tuturan paling sopan diantara tuturan yang lainnya, karena dituturkan secara tidak langsung. Pada tuturan (9), “:“…Anu… Tetapi Pak Bambung tetap pacar Ibu, kan?”, diartikan bahwa Lasi merasa tidak enak hati ketika Bu Lanting memintanya untuk menemani pacarnya, Pak Bambung, dalam sebuah acara makan malam penting. Lasi berharap walaupun dia menemani Pak Bambung dalam acara makan malam, Bu Lanting tidak marah kepada pacarnya dan tidak memutus hubungan dengan Pak Bambung. “Iya dong. Sampai saat ini dia tetap pacarku. Tetapi entahlah. Sudah kubilang sejak pertama kali melihatmu Pak Bambung sudah mencuri-curi pandang”, diartikan bahwa meskipun disaat itu Pak Bambung masih menjadi pacarnya, namun Bu Lanting merasa Pak Bambung mulai tertarik dengan Lasi. “Jadi Ibu menyesal mengajak saya kemari?”, diartikan bahwa Lasi merasa bersalah karena Pak Bambung mulai ada rasa tertarik padanya dan bertanya kepada Bu Lanting apakah dia menyesal mengajak Lasi jalan-jalan ke Singapura. “Oalah, Las, aku bukan lagi perawan kencur. Aku perempuan tua yang amat cukup pengalaman. Dan tahu adat lelaki.”, diartikan bahwa Bu Lanting tidak

(117) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 102 mempermaslahkan bila Pak Bambung mulai menyukainya karena Bu Lanting merasa dirinya bukan seorang gadis muda lagi. Pengalaman yang cukup banyak membuatnya tahu bagaimana sifat lelaki yang sebenarnya. ‘Jadi nanti, bila ternyata Pak bambung suka sama kamu, ya sudah. Aku tak perlu merasa rugi. Betul! Toh aku sudah dapat uangnya.”, diartikan bahwa Bu Lanting tidak merasa keberatan dan merasa rugi apabila Pak Bambung berpaling darinya, karena Bu Lanting sudah mendapat uang dari Pak Bambung. “Pulang dari sini, lihatlah, aku akan beli Mercy model terbaru. Dengan mobil itu si Kacamata pasti mau kubawa ke mana-mana. Apa lagi?”, diartikan bahwa sepulangnya dari Singapura Bu Lanting berniat akan membeli mobil bermerk Mercy dan berharap dengan mobil tersebut si Kacamata mau dibawanya kemanamana. Si Kacamata adalah seorang pemuda pemabukan asal Cikini yang sering mengawal Bu Lanting, dan sampai ke kasur. Pada tuturan (10) Bu Lanting dikatakan bersikap sombong dan kurang sopan karena mengatakan mendapat ayam jago bule (pria bule) dan dia mengeluarkan cukup banyak uang untuk membelinya, “Ya! Biasa, Las. Ketika kamu menemani Pak Bambung tadi aku bertemu, anulah, ayam jago bule. Dan aku bilang juga apa, duit memang amat penting”. Penutur telah memaksimalkan rasa hormat pada dirinya sendiri, dengan berkata bisa membeli seorang pria bule untuk menjadi pasangannya, selain itu penutur juga berkata bahwa duit memang sangat penting, agar bisa membeli apa pun yg dia mau. Tuturan (10) yang dituturkan Bu Lanting mengandung maksud. Penutur pindah ke hotel lain agar mitra tutur dan Pak Bambung bisa leluasa berduaan.

(118) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 103 Penutur memberikan waktu kepada Pak Bambung untuk mendekati Lasi. Agar tidak menimbulkan kecurigaan di pihak mitra tutur, penutur memberikan alasan bahwa dia sudah bertemu bule sebagai pengganti Pak Bambung. Penutur juga berkata bahwa dia tidak merasa rugi meninggalkan Pak Bambung karena sudah mendapat laki-laki lain. Skala jarak sosial terlihat pada tuturan (10), penutur tanpa rasa malu mengatakan kepada pendengar bahwa dia sudah mendapat pengganti Pak Bambung. Kedekatan antara penutur dan pendengar yang membuat Bu Lanting berbicara secara terang-terangan kepada Lasi. Dalam percakapan ini masih terdapat hubungan jarak antara penutur dan mitra tutur, hal itu ditandai dengan adanya sapaan “Bu” yang digunakan mitra tutur terhadap penutur. Pada tuturan (10), “Las, aku mau ngomong ya, tak usah kaget.”, diartikan bahwa Bu Lanting ingin memberitahukan sebuah informasi kepada Lasi dan berharap Lasi tidak akan kaget mendengarnya. “Saya sudah pindah ke Sea View Hotel, eh, pokoknya hotel lain”, diartikan bahwa Bu Lanting sudah tidak menginap lagi di hotel yang sama dengan Lasi. “Jadi Ibu di situ sekarang?”, diartikan bahwa Lasi hanya ingin mempertegas perkataan Bu Lanting, yang mengatakan dia sudah pindah hotel. “Ya! Biasa, Las. Ketika kamu menemani Pak Bambung tadi aku bertemu, anulah, ayam jago bule.”, diartikan bahwa Bu Lanting bertemu dengan seorang laki-laki bule, dan ia tertarik dengan bule itu. “Dan aku bilang juga apa, duit memang amat penting. Buktinya, bule yang masih muda itu bisa kubeli.”, diartikan bahwa Bu Lanting ingin membenarkan perkataannya kepada Lasi, mengenai uang adalah segalanya. Dengan bukti bahwa

(119) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 104 ia bisa membeli seorang laki-laki bule. “Memang cukup mahal, tetapi tak apa karena aku sudah lama tak makan bule, he-he-he…”, diartikan bahwa meskipun dengan mendapatkan laki-laki bule tersebut Bu Lanting harus membayar mahal, namun baginya itu tidak masalah. 4.2.2.5 Pelanggaran Wujud Kesopanan Maksim Kesepakatan (PK2) (11) Bu Lanting Lasi Bu Lanting Lasi :“Aduh, aku sudah tiga kali nelpon! Bagaimana? Sudah selesai?” :“Sudah, Bu, baru saja.” :“Nah, gampang, kan? Cuma menemani dia makan malam kamu dapat hadiah miliaran. Bagaimana, Pak Bambung senang?” :“Tak tahulah.” (halaman 44, PK2.SK3) Konteks: Dituturkan oleh Lasi untuk menjawab pertanyaan Bu Lanting mengenai makan malamnya dengan Pak Bambung. (12) Bu Lanting Lasi Bu Lanting :“Nah karena aku sudah dapat jago lain, dan lebih greg, maka aku titip Pak Bambung sama kamu, ya? Tolong deh urus dia. Kalau perlu turuti apa maunya, toh kamu tidak akan rugi. Betul deh!” :“Tapi dia… anu…” :“Ah, sudahlah. Sampai satu jam yang lalu dia memang pacarku. Sekarang bukan lagi. Karena aku tadi; aku dapat jago baru, he-he-he…” (halaman 44, PK2.ST4) Konteks: Dituturkan oleh Lasi untuk menjawab permintaan Bu Lanting, yang menyuruhnya untuk mengurus Pak Bambung ketika mereka di hotel. (13) Bu Lanting Lasi Bu Lanting Lasi :“Las, aku baru dihubungi Pak Bambung barusan ini. Jadi tadi malam kamu tak memberikan apa-apa kepada dia?” :“Apa-apa? Maksud Ibu?” :“Ah! Masa kamu tidak tahu?” :“Apakah saya harus… Tidak. Memang tidak..” (halaman 57, PK2,SK3)

(120) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 105 Konteks: Dituturkan Lasi untuk menolak apa yang dimaksud kan Bu Lanting, memberikan sesuatu ketika dua orang, Lasi dan Pak Bambung, sedang berduaan di kamar hotel. (14) Pak Bambung Lasi Pak Bambung Lasi :”Begini, Las. Sejak datang kemari kamu adalah nyonya rumah ini.” :”Maksudnya, menjadi istri Bapak?” :”Ya.” :”Tunggu, Pak. Saya kira Bapak harus tahu dulu keadaan saya sekarang ini. Saya sedang hamil. Jadi tidak bisa…” (halaman 113, PK2.SK3) Konteks: Dituturkan Lasi untuk menolak dijadikan istri oleh Pak Bambung karena dia sudah menikah dengan Kanjat dan telah mengandung buah cinta mereka berdua. Tuturan (11), (12), (13) dan (14), Lasi sebagai penutur, menunjukkan bahwa dia tidak menerapkan maksim kecocokan saat berkomunikasi dengan mitra tuturnya. Dalam tuturan (11), Lasi kurang membina kecocokan dengan Bu Lanting. Ketika Bu Lanting menanyainya mengenai perasaan Pak Bambung saat ditemani makan malam dengannya, Lasi meragukan perasaan Pak Bambung saat itu dengan berkata; “Tak tahulah”. Mitra tutur yang memiliki harapan pihak ketiga senang ketika ditemani oleh penutur, tidak dirasakan oleh penutur. Hal itu yang mengakibatkan adanya ketidakcocokan diantara penutur dan mitra tutur. Tuturan (11) yang dituturkan Lasi mengandung maksud. Lasi melanggar kesopanan dengan kurang membina kecocokan, karena dia tidak terlalu mengerti perasaan Pak Bambung. Disisi lain awalnya Lasi memang kurang setuju dengan permintaan Bu Lanting untuk menemani Pak Bambung dalam acara makan malam.

(121) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 106 Skala kesantunan ketaklangsungan terlihat pada tuturan (11). Ujaran-ujaran di bawah ini semakin ke bawah semakin sopan. 1) Tak tahulah. 2) Saya tidak tahu, Bu. 3) Maaf, Bu. Tapi saya tidak tahu apakah Pak Bambung senang ketika saya temani dalam acara makan malam tadi. Tuturan (1) yang dituturkan oleh Lasi menunjukkan bahwa secara langsung penutur kurang senang menemani Pak Bambung dalam acara makan malam. Penutur memperlihatkan ketidakpeduliannya terhadap perasaan pihak ketiga. Penutur secara kurang sopan memperlihatkan rasa ketidakpeduliannya kepada Pak Bambung, dihadapan Bu Lanting. Pada tuturan (11), “Aduh, aku sudah tiga kali nelpon! Bagaimana? Sudah selesai?”,diartikan bahwa Bu Lanting sudah berkali-kali menelepon Lasi, tapi Lasi tak kunjung menjawab teleponnya. Bu Lanting juga bertanya apakah acara makan malam yang Lasi dan Pak Bambung hadiri berjalan dengan lancar. “Sudah, Bu, baru saja”, diartikan bahwa Lasi menjawab pertanyaan Bu Lanting mengenai acara malam yang baru saja dia datangi bersama Pak Bambung. “Nah, gampang, kan? Cuma menemani dia makan malam kamu dapat hadiah miliaran. Bagaimana, Pak Bambung senang?”, diartikan bahwa Bu Lanting bertanya kepada Lasi mengenai perasaan Pak Bambung setelah ditemani oleh Lasi dan menurut Bu Lanting menemani Pak Bambung adalah pekerjaan mudah karena hanya menemani makan malam hadiah yang bisa didapatkan harganya miliaran. “Tak tahulah”, diartikan bahwa Lasi tidak tahu bagaimana perasaan Pak

(122) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 107 Bambung seusai acara makan malam dan sepertinya Lasi enggan lebih lanjut membicarakannya. Pada tuturan (12), Lasi menyatakan ketidakcocokannya dengan Bu Lanting. Saat itu Bu Lanting ingin menitipkan Pak Bambung kepada Lasi, namun Lasi ragu untuk menerima permintaan Bu Lanting dengan berkata; “Tapi dia… anu…” . dari jawaban penutur dapat diartikan bahwa penutur tidak setuju dengan permintaan mitra tuturnya. Tuturan (12) yang dituturkan oleh Lasi mengandung maksud. Penutur melanggar kesopanan terhadap mitra tutur, karena penutur tidak setuju dengan keputusan Bu Lanting untuk menitipkan Pak Bambung padanya. Lasi merasa harus menolak perintah Bu Lanting karena Pak Bambung adalah pacar Bu Lanting dan Lasi pun masih mempunyai suami. Skala keotoritasan diperlihatkan pada tuturan (12), penutur terlihat menuntut pendengar untuk melakukan tindakan sesuai keinginannya. “Maka aku titip Pak Bambung sama kamu, ya? Tolong deh urus dia. Kalau perlu turuti apa maunya, toh kamu tidak akan rugi. Betul deh”. Bu lanting menggunakan otoritasnya untuk menyuruh Lasi mengurus keperluan Pak Bambung dan menuruti kemauannya. Bu Lanting beralasan sudah mendapat laki-laki lain dan akan meninggalkan Pak Bambung, maka dia menyuruh Lasi untuk menemaninya. Pada tuturan (12), “Nah karena aku sudah dapat jago lain, dan lebih greg, maka aku titip Pak Bambung sama kamu, ya?” diartikan bahwa Bu Lanting ingin Lasi menemani dan mengurus segala keperluan Pak Bambung karena Bu Lanting sudah mendapatkan laki-laki lain. Tolong deh urus dia. Kalau perlu turuti apa maunya, toh kamu tidak akan rugi. Betul deh”, diartikan bahwa Bu Lanting

(123) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 108 berharap Lasi mau mengurus segala keperluan Pak Bambung dan menuruti segala permintaannya, nantinya Lasi tidak akan rugi apabila mau menuruti segala permintaan Pak Bambung. “Tapi dia… anu”, Lasi keberatan dengan permintaan Bu Lanting yang akan menitipkan Pak Bambung padanya. “Ah, sudahlah. Sampai satu jam yang lalu dia memang pacarku. Sekarang bukan lagi.”, diartikan bahwa Pak Bambung bukan lagi kekasih Bu Lanting, ia tidak tertarik lagi dengan Pak Bambung. “Karena aku tadi; aku dapat jago baru, he-he-he…”, diartikan bahwa Bu Lanting sudah mendapatkan laki-laki lain yang disukainya. Begitu juga tuturan (13) yang disampaikan Lasi untuk menolak pernyataan Bu Lanting yang menyuruhnya memberikan apa pun yang dimau oleh Pak Bambung. Lasi tidak setuju untuk memenuhi keinginan Pak Bambung dengan berkata; “Apakah saya harus… Tidak. Memang tidak”. Ketidakcocokan antara penutur dan mitra tutur inilah yang mengakibatkan tuturan menjadi kurang sopan. Tuturan (13) yang dituturkan oleh Lasi mengandung maksud. Penutur melanggar kesopanan karena menurut dia, dia tidak mungkin melayani Pak Bambung padahal dia masih mempunyai suami. Lasi tidak ingin melukai perasaan suaminya, dengan berduaan dengan Pak Bambung, walaupun sebenarnya suaminya akan menceraikannya atas saran dari Bu Lanting. Pak Handarbeni akan menceraikan Lasi karena jabatannya terancam oleh otoritas Pak Bambung. Skala kesantunan ketaklangsungan terdapat pada tuturan (13). Ujaran-ujaran di bawah ini semakin ke bawah semakin sopan. 1) Jadi, semalam kamu tidak melayani Pak Bambung?

(124) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 109 2) Las, apakah kamu semalam tidak memberikan apa-apa kepada Pak Bambung? 3) Las, aku baru dihubungi Pak Bambung barusan ini. Jadi tadi malam kamu tak memberikan apa-apa kepada dia? Tuturan (3) yang dituturkan oleh Bu Lanting terlihat paling sopan. Secara tak langsung penutur menanyakan kepada pendengar tentang pihak ketiga. Bu Lanting bertanya kepada Lasi kenapa dia tidak memberikan apa yang diinginkan Pak Bambung ketika mereka sedang berduaan di dalam kamar. Pada tuturan (13), “Las, aku baru dihubungi Pak Bambung barusan ini. Jadi tadi malam kamu tak memberikan apa-apa kepada dia?” “Apa-apa?”, diartikan bahwa Bu Lanting bertanya kepada Lasi kenapa dia tidak memberikan apa yang dimaui lelaki terhadap seorang perempuan. Pak Bambung bercerita kepada Bu Lanting mengenai kejadian waktu di hotel tempat mereka menginap saat berlibur di Singapura. “Maksud Ibu?”, Lasi kurang paham dengan apa yang dikatakan Bu Lanting tentang tidak memberikan apa-apa kepada Pak Bambung. “Ah! Masa kamu tidak tahu?”, diartikan bahwa Bu Lanting merasa Lasi purapura tidak tahu mengenai kemauan Pak Bambung terhadap dirinya. “Apakah saya harus… Tidak. Memang tidak..”, diartikan bahwa Lasi mulai mengetaui apa yang dimaksudkan Bu Lanting mengenai tidak memberikan apa-apa kepada Pak Bambung, namun menurutnya hal itu tidak mungkin. Lasi mempunyai suami jadi tidak mungkin dia memberikan tubuhnya kepada orang lain yang bukan suaminya. Pada tuturan (14), dikatakan telah melanggar maksim kecocokan karena penutur telah mengungkapkan ketaksepakatan antara diri penutur dan mitra tutur.

(125) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 110 “Tunggu, Pak. Saya kira Bapak harus tahu dulu keadaan saya sekarang ini. Saya sedang hamil. Jadi tidak bisa…”, penutur telah tidak sepakat dengan pemikiran mitra tutur tentang keinginan Pak Bambung menjadikan Lasi istrinya. Penutur yang saat itu tengah mengandung dan sudah bersuamikan Kanjat tidak ingin dipinang Pak Bambung, meskipun diberikan rumah yang megah. Tuturan (14) yang dituturkan oleh Lasi mengandung maksud. Penutur melanggar kesopanan karena dia tidak ingin menjadi istri Pak Bambung. Disamping itu penutur sedang hamil buah hatinya dengan Kanjat, suami yang belum lama dinikahinya. Penutur tidak menyukai mitra tutur dan berharap mitra tutur akan melepaskannya. Dilihat dari skala kesantunannya, interaksi di atas termasuk dalam skala ketaklangsungan. Ujaran-ujaran di bawah ini semakin ke bawah semakin sopan. 1) Las, kamu sudah aku anggap istriku sekarang. 2) Begini, Las. Sejak datang kemari kamu adalah nyonya rumah ini . 3) Begini, Las. Sejak kamu datang ke rumah ini, kamu sudah dianggap sebagai nyonya rumah ini. Kamu sudah aku anggap istriku. Tuturan (2) secara tak langsung mitra tutur telah menganggap Lasi sebagai istri walaupun belum diresmikan, sedangakan secara tak langsung pula Lasi ingin memberi tahu kepada Pak Bambung bahwa dia sudah mempunyai seorang suami dan tengah mengandung buah hati mereka. Lasi menolak dijadikan istri oleh Pak Bambung. Tuturan (2) dirasa lebih sopan daripada tuturan (1) yang merupakan tuturan langsung. Percakapan (14), “Begini, Las. Sejak datang kemari kamu adalah nyonya rumah ini.”, diartikan bahwa Pak Bambung sudah menganggap Lasi sebagai

(126) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 111 istrinya semenjak Lasi tinggal ditumahnya. “Maksudnya, menjadi istri Bapak?”, diartikan bahwa Lasi mencoba memperjelas maksud perkataan Pak Bambung, bahwa Pak Bambung sudah menganggap Lasi menjadi istrinya. “Tunggu, Pak. Saya kira Bapak harus tahu dulu keadaan saya sekarang ini. Saya sedang hamil. Jadi tidak bisa…”, diartikan bahwa Lasi tidak menyetujui keputusan Pak Bambung menjadikan dia sebagai istrinya karena dia telah hamil anak dari Kanjat, suaminya yang sah. 4.2.2.6 Pelanggaran Wujud Kesopanan Maksim Simpati (PS2) (15) Bu Lanting Lasi Bu Lanting :“Dan bagaimana Pak Han? Maksudku, impotennya sudah sembuh atau malah parah?” :“Ah, Ibu,” ujar Lasi tersipu.” :“Malah parah, ya?” desak Bu Lanting (halaman 27) Konteks: Dituturkan oleh Bu Lanting mengenai impoten yang dialami suami Lasi, Pak Handarbeni, ketika Bu Lanting tengah bertamu di rumah Lasi. (16) Lasi Bu Lanting Lasi Bu Lanting :“Jadi, jadi saya sudah dicerai oleh Pak Handarbeni?” Tanya Lasi lugu. Atau bodoh :“Memang sudah. Kalau kurang percaya, bicaralah sendiri. Sekarang dia di kantor. Ayo, bicaralah sendiri.” :“Ya Bu, kalau saya sudah dicerai, ya sudah. Saya kan cuma perempuan.” :“Memang ya. Tetapi sebaiknya kamu mendengar sendiri dari Pak Han. Supaya jelas. Ayolah bicara.” (halaman 58) Konteks: Dituturkan oleh Bu Lanting untuk menyuruh Lasi berbicara kepada suaminya, Pak Handarbeni, bahwa dia sudah diceraikan oleh suaminya.

(127) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 112 Pada tuturan (15) dan (16) di atas, Bu Lanting tidak menunjukkan rasa simpatinya kepada mitra tutur yabg sedang dilanda permasalahan dan dalam keadaan yang memprihatinkan. Tuturan Bu Lanting pada (15), yakni “Malah parah, ya”, menujukkan bahwa dirinya seakan-akan mengejek suami Lasi, Mas Han. Penutur telah meminimalkan rasa simpatinya kepada mitra tuturnya karena keadaan suaminya yang kurang baik. Tuturan (15) yang dituturkan oleh Bu Lanting mengandung maksud. Penutur melanggar kesopanan dengan maksud menyindir suami Lasi, Pak Handarbeni, yang mempunyai penyakit impoten. penutur membuat kesimpulan sendiri bahwa impoten Pak Han semakin parah, padahal mitra tutur tidak menjawab secara langsung bahwa impoten suaminya semakin parah. Skala kesantunan ketaklangsungan terlihat pada tuturan (15). Ujaran-ujaran di bawah ini semakin ke bawah semakin sopan. 1) Apakah impoten Pak Han semakin parah? 2) Bagaimana Pak Han, apakah impotennya semakin parah? 3) Dan bagaimana Pak Han? Maksudku, impotennya sudah sembuh atau malah parah? Penutur (3) dituturkan Bu Lanting yang ingin menanyakan masalah suami Lasi yang impoten, mencoba basa-basi bertanya terlebih dahulu mengenai keadaan suaminya, namun secara kurang sopan penutur berkata “Malah parah, ya”, padahal pendengar belum menjawab mengenai masalah impoten suaminya. Dilihat dari daya tempuh maksud dari penutur ke mitra tutur tuturan (3) terlihat lebih sopan dan lebih panjang jarak tempuhnya.

(128) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 113 Pada tuturan (15), “Dan bagaimana Pak Han? Maksudku, impotennya sudah sembuh atau malah parah?”, diartikan bahwa Bu Lanting menanyakan keadaan Pak Handarbeni yang memiliki penyakit impoten. Sudah membaikkan impotennya atau semakin parah. “Ah, Ibu,”, diartikan bahwa Lasi malu untuk menjawab pertanyaan Bu Lanting dan tidak mungkin dia menceritakan mengenai impoten suaminya kepada Bu Lanting. “Malah parah, ya?”, diartikan bahwa jawaban yang diberikan Lasi menurut Bu Lanting menunjukkan bahwa impoten Pak Handarbeni makin parah, itu sebabnya Lasi tidak mau menceritakannya. Tuturan (16) sebagai seorang yang cukup dekat dengan Lasi, Bu Lanting tidak menunjukkan kepeduliannya kepada Lasi. Lasi yang saat itu baru tahu kalau dirinya sudah dicerai oleh suaminya, disuruh Bu Lanting untuk menanyakan kebenaran hal tersebut kepada Mas Han. “Memang sudah. Kalau kurang percaya, bicaralah sendiri”. Dan ketika Lasi tampak pasrah dengan keadaan dirinya yang sudah dicerai, Bu Lanting dengan tanpa merasa kasian berkata ” Memang ya. Tetapi sebaiknya kamu mendengar sendiri dari Pak Han. Supaya jelas. Ayolah bicara”. Hal ini menggambarkan bahwa penutur memaksimalkan rasa antipasti terhadap mitra tuturnya yang sedang dilanda permasalahan, tanpa memberikan tanda-tanda simpati kepada mitra tuturnya. Tuturan (16) yang dituturkan Bu Lanting mengandung maksud. Penutur melanggar kesopanan dengan secara langsung berkata kepada mitra tutur bahwa dia sudah diceraikan dengan suaminya. Penutur ingin agar mitra tutur tidak memikirkan suaminya lagi dan memulai hubungan baru dengan Pak Bambung.

(129) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 114 Penutur berharap dengan Lasi tahu dia sudah dicerai oelh Pak Handarbeni dia akan berpaling kepada Pak Bambung dan mau dijadikan istri olehnya. Skala kesantunan keopsionalan dituturkan penutur (16). Ujaran-ujaran di bawah ini semakin ke bawah semakin sopan. 1) Ayo, bicaralah sendiri. Kamu memang sudah diceraikan. 2) Jika kamu sudah siap, bicaralah sendiri dengan Pak Han. Kamu memang sudah diceraikan. 3) Sebaiknya kamu mempersiapkan diri dengan situasi terburuk. Tunggulah Pak Han pulang atau bicaralah sendiri. Sepertinya Pak Han sudah memutuskan untuk menceraikanmu. Penutur (1) yang dituturkan Bu Lanting memaksa mitra tutur untuk menelepon suaminya disaat mitra tutur tahu bahwa dia sudah diceraikan dari mulut penutur. Perkataan Bu Lanting dirasa kurang sopan karena secara langsung memaksa mitra tutur untuk membicarakan masalah penceraiannya dengan suaminya. Pada tuturan (16), “Jadi, jadi saya sudah dicerai oleh Pak Handarbeni?”, diartikan bahwa Lasi ingin meminta kejelasan mengenai status pernikahannya dengan Pak Handarbeni. “Memang sudah. Kalau kurang percaya, bicaralah sendiri. Sekarang dia di kantor. Ayo, bicaralah sendiri”, diartikan bahwa Bu Lanting sudah mengetahui bahwa Lasi akan diceraikan oleh Pak Handarbeni. Bu Lanting pun menyuruh Lasi untuk menghubungi suaminya dan bertanya mengenai perceraian yang dibicarakan oleh Bu Lanting kepadanya. “Ya Bu, kalau saya sudah dicerai, ya sudah. Saya kan cuma perempuan”, diartikan bahwa Lasi

(130) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 115 pasrah dengan keadaannya karena baginya suaminya mempunyai kewenangan untuk menceraikannya dan sebagai istri Lasi hanya menurut apa kata suami. “Memang ya. Tetapi sebaiknya kamu mendengar sendiri dari Pak Han. Supaya jelas. Ayolah bicara”, diartikan bahwa Bu Lanting tidak terlalu peduli dengan keadaan Lasi yang sudah diceraikan oleh Pak Handarbeni. Dia pun memaksa Lasi untuk berbicara dengan Pak Handarbeni agar semuanya lebih jelas. 4.3 Pembahasan Hasil Penelitian Dari hasil analisis terhadap data-data di atas, dapat diketahui bahwa kalimat percakapan antartokoh dalam novel Belantik karya Ahmad Tohari, telah memenuhi maksim kesantunan, yakni maksim kearifan, maksim kedermawanan, maksim pujian, maksim kerendahan hati, maksim kesepakatan, dan maksim simpati. Selain itu, dari hasil analisis, ditemukan juga kalimat-kalimat percakapan yang mengandung pelanggaran maksim kesopanan. Maksim ini diperkuat dengan skala kesopanan dari Leech, yakni skala utung-rugi, skala keopsionalan, skala ketaklangsungan, skala keotoritasan, dan skala jarak sosial. Terdapat enam maksim kesantunan yang ditemukan dalam novel Belantik, yakni maksim kearifan, maksim kedermawanan, maksim pujian, maksim kerendahan hati, maksim kesepakatan, dan maksim simpati. Menurut Wijana (1996: 55), gagasan dasar dalam maksim kearifan dalam prinsip kesopanan adalah maksim ini menggariskan setiap peserta pertuturan untuk meminimalkan kerugian orang lain. Menurut Leech (1993: 206) maksim ini mengungkapkan buatlah kerugian orang lain, sekecil mungkin dan buatlah

(131) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 116 keuntungan orang lain sebesar mungkin. Penutur yang berpegang dan melaksanakan maksim kearifan dalam berkomunikasi dapat dikatakan sebagai orang santun. Berikut contoh penutur yang memegang wujud kesopanan maksim kearifan yang terdapat dalam novel belantik. (2) Lasi Bu Lanting Lasi :“Tetapi Mas Han seperti terpaksa mengizinkan saya. Suaranya agak berat.” :“Mungkin suamimu sedang banyak urusan. Biasa, Las, bila sedang sibuk seorang suami akan kehilangan kehangatan. Jadi yang penting bersiaplah. Ini baru jam sepuluh. Jam setengah satu nanti saya kembali kemari.” :“Baik, Bu.” (halaman 26, WA1.SK3) Konteks: Dituturkan Bu Lanting agar Lasi berpikiran positif terhadap Pak Handarbeni, ketika Lasi meminta izin kepada Suaminya melalui telepon untuk pergi dengan Bu Lanting (3) Pak Bambung :”Yah, kita cuma ngobrol. Dan anu… minum. Ya, minum, tentu saja.” Lasi :”Bapak mau minum apa, nanti saya ambilkan.” Pak Bambung :”Tak tahulah. Karena sebenarnya saya tidak begitu suka minum. Juga tak suka merokok. Ah, minum dan merokok menjadikan orang lebih cepat tua dan bobrok. Dan aku masih ingin tetap sehat.” Lasi :”Ya, Bapak masih kelihatan sehat.” Pak Bambung :”Terima kasih.”(halaman 49, WA1.SK3) Konteks: Dituturkan Pak Bambung kepada Lasi bahwa menurutnya minum dan merokok membuat orang cepat tua dan sakit-sakitan. Sekaligus menasihati Lasi bahwa dua hal tersebut tidak baik untuk dilakukan terus-menerus. Tuturan (2) dan (3) adalah percakapan yang sama-sama mengandung prinsip kesopanan maksim kearifan. Hal itu ditunjukkan dengan tuturan yang diucapkan oleh Bu Lanting yang berbunyi “Mungkin suamimu sedang banyak urusan. Biasa, Las, bila sedang sibuk seorang suami akan kehilangan kehangatan”,

(132) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 117 menunjukkan bahwa penutur mencoba memberikan efek positif agar Lasi tidak terlalu cemas dengan keadaan suaminya, Pak Handarbeni. Lasi sebagai mitra tutur diuntungkan oleh perkataan Bu Lanting tersebut, hal ini membuat mitra tutur merasa tenang dan tidak khawatir mengenai suaminya, Pak Handarbeni, saat tadi mereka berbicara di telepon. Hal ini, tentu saja menguntungkan Lasi sebab dia mendapat seorang teman ketika dia sedang menghadapi problema hati yang disebabkan oleh suaminya. Sebagai seseorang yang telah cukup lama mengenal Lasi, Bu Lanting mencoba menenangkan Lasi agar tidak terlalu khawatir tentang suaminya. Tuturan (2) yang dituturkan Bu Lanting memiliki maksud tersembunyi. Bu Lanting menginginkan Lasi ikut dengannya ke Singapura dan tidak terlalu memikirkan suaminya. Di Singapura Bu Lanting telah merencanakan pertemuan Lasi dengan Pak Bambung, itulah sebabnya Bu Lanting bertutur sopan kepada mitra tuturnya agar mitra tutur menurut padanya. Alasan inilah yang mendorong Bu Lanting mengutarakan tuturan yang mengandung maksim kearifan. Dilihat dari skala kesantunannya, tuturan ini termasuk ke dalam skala kesantunan keopsionalan. Ujaran-ujaran berikut makin ke bawah makin sopan. 1) Bersiaplah. 2) Bersiaplah. Jam setengah satu nanti saya kembali kemari. 3) Kalau kamu sedang tidak ada pekerjaan sekarang bersiaplah. Jam setengah satu nanti saya kembali kemari. Tuturan (2) lebih sopan jika dibandingkan dengan tuturan (1), karena lebih banyak memberikan pilihan kepada mitra tuturnya. Tuturan (2) adalah tuturan

(133) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 118 yang dituturkan Bu Lanting kepada Lasi untuk menyuruhnya segera mempersiapkan diri. Menurut Leech via Rahardi (2005:66-70), optionality scale atau skala pilihan, menunjuk kepada banyak atau sedikitnya pilihan (option) yang disampakan si penutur kepada si mitra tutur di dalam kegiatan bertutur. Pada tuturan (3), dianggap telah memenuhi maksim kearifan karena sebagai penutur, Pak Bambung dengan bijaksananya berkata bahwa “Ah, minum dan merokok menjadikan orang lebih cepat tua dan bobrok. Dan aku masih ingin tetap sehat.”, kepada mita tuturnya. Apa yang dikatakan penutur secara tidak langsung mengingatkan kepada mitra tuturnya bahwa minum dan merokok tidak baik untuk kesehatan. Pak Bambung mencoba mengingatkan kepada dirinya sendiri dan mitra tuturnya bahwa menjaga kesehatan lebih penting daripada merusaknya dengan minuman dan rokok. Tuturan (3) yang dituturkan oleh Pak Bambung memiliki maksud tersembunyi. Pak Bambung melakukan pencitraan di depan Lasi, gadis yang disukainya. Pak Bambung ingin Lasi melihatnya sebagai laki-laki yang tidak suka merokok atau pun minum, tapi sebagai laki-laki yang mencintai kesehatan, oleh sebab itu Pak Bambung berbicara sopan kepada mitra tuturnya. Dilihat dari skala kesantunannya percakapan (3) termasuk dalam skala ketaklangsungan. Ujaran-ujaran berikut ini makim ke bawah makin sopan. 4) Saya tidak suka minum dan merokok. 5) Saya tidak suka minum dan merokok, karena tidak baik untuk kesehatan. 6) Saya tidak suka minum dan merokok, karena menjadikan orang cepat tua, bobrok, dan tidak baik untuk kesehatan.

(134) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 119 Atas dasar rentangan skala ketaklangsungan, tuturan di atas dapat dinyatakan bahwa tuturan (3) lebih sopan dibanding tuturan (2) dan (1) sebab jarak tempuh maksud dari penutur ke mitra tutur lebih panjang dan tuturan tersebut lebih tak langsung daripada tuturan lainnya. Selain itu terdapat wujud kesopanan maksim kedermawanan yang ditunjukan pada contoh seperti di bawah ini. (4) Lasi Bu Lanting Lasi Bu Lanting :“Saya tidak lapar, Bu.” :“Nanti badan kamu rusak.” :“Biarlah, Bu.” :“Atau begini…” Bu Lanting berpikir sejenak. “Kamu ingin makan di luar?” Nanti kuatur.”(halaman 103, WD1.SK3) Konteks: Dituturkan Bu Lanting untuk membujuk Lasi makan, karena Lasi tidak ingin terperangkap di rumah Pak Bambung yang sudah diberikan kepadanya. (5) Pak Bambung Lasi Pak Bambung :”Mau duduk-duduk dulu di lobi atau kembali ke suite?” :”Terima kasih, Pak. Saya mau kembali ke tempat.” :”Baik, mari saya antar.”(halaman 43, WD1.SO2) Konteks : Dituturkan Pak Bambung ketika menawari Lasi untuk dudukduduk di lobi atau kembali ke penginapan setelah mereka selesai menghadiri acara makan malam. Pada tuturan (4) dan (5) sama-sama telah menerapkan prinsip kesopanan maksim kedermawanan, hal itu dibuktikan dengan tuturan oleh Bu Lanting, yakni “Atau begini…” Bu Lanting berpikir sejenak. “Kamu ingin makan di luar?” Nanti kuatur”. Penutur berusaha memaksimalkan keuntungan bagi mitra tuturnya untuk mengatur keperluan bagi Lasi. Lasi yang tidak mau makan dibujuk oleh Bu

(135) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 120 Lanting dengan berbagai cara, termasuk membujuknya untuk makan di luar rumah. Dengan demikian¸ Bu Lanting telah mematuhi maksim kedermawanan dalam bertutur, sebab berdasarkan pengertian menurut Wijana (1996: 57) maksim ini mewajibkan setiap peserta tindak tutur untuk memaksimalkan kerugian bagi diri sendiri, dan meminimalkan keuntungan diri sendiri. Menurut Leech (1993: 206) maksim ini mengungkapkan buatlah keuntungan diri sendiri sekecil mungkin dan buatlah kerugian diri sendiri sebesar mungkin. Alasan Bu Lanting rela menawarkan diri untuk mengajaknya makan di luar, karena khawatir Lasi akan sakit. Lasi masih ngambek meskipun satu bulan telah berlalu, dia tidak ingin berada di rumah pemberian Pak Bambung, badannya nampak lemah. Jadi, karena hal itulah Bu Lanting merasa perlu membujuk Lasi sehingga menyampaikan tuturan (4) di atas. Tuturan (4) mengandung maksud tersembunyi dari Bu Lanting. Bu Lanting membujuk Lasi agar dia mau makan, badan Lasi yang mulai terlihat kurus dan tak terawat semenjak dia di rumah Pak Bambung, membuat Bu Lanting iba melihatnya. Selain itu Bu Lanting tidak ingin Lasi terlihat jelek dihadapan Pak Bambung, yang akan menyalahkannya karena tidak bisa membujuk Lasi untuk makan. Dilihat dari skala kesantunan, tuturan di atas termasuk dalam skala ketaklangsungan. Ujaran-ujaran di bawah ini semakin ke bawah semakin sopan. 1) Makanlah. 2) Makanlah. Nanti badanmu rusak. 3) Makanlah. Nanti badanmu rusak. Kamu ingin makan di luar? Nanti kuatur.

(136) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 121 Tuturan di atas dapat dinyatakan bahwa tuturan (3) merupakan tuturan yang paling sopan daripada tuturan (2) dan (1) dilihat dari panjangnya jarak yang ditempuh oleh daya ilokusioner atau maksud yang ingin disampaikan oleh penutur kepada mitra tutur. Tuturan (3) yang dituturkan Bu Lanting kepada Lasi bersifat tidak langsung. Menurut Leech via Rahardi (2005:66-70), cost-benefit scale atau skala kerugian dan keuntungan, skala ini menunjuk pada besar kecilnya kerugian dan keuntungan yang diakibatkan oleh sebuah tindak tutur pada sebuah pertuturan. Tuturan (5), “Baik, mari saya antar”, penutur Pak Bambung dengan senang hati mengantarkan Lasi, mitra tuturnya, kembali ke kamar hotel untuk beristirahat setelah semalaman menemaninya dalam acara makan malam. Tanpa ada paksaan penutur mau mengantarkan mitra tuturnya yang ingin kembali ke kamar hotel. Tuturan (5) yang dituturkan oleh Pak Bambung memiliki maksud. Pak Bambung telah bertutur kata sopan kepada Lasi, untuk menunjukkan bahwa dia laki-laki yang bertanggung jawab, hal itu terlihat dari sikap Pak Bambung yang mau mengikuti kemauan Lasi dan mengantarkannya ke kamar tempat dia menginap. Dengan dia bertindak demikian, Pak Bambung berharap Lasi dapat tertarik dengan dirinya. Dilihat dari skala kesantunan tuturan (5), termasuk dalam skala opsional. Ujaran-ujaran di bawah ini semakin ke bawah semakin sopan. 1) Ayo duduk-duduk dulu. 2) Mau duduk-duduk dulu di lobi atau kembali ke suite? 3) Apakah kamu lelah? Mau duduk-duduk dulu di lobi atau kembali ke suite?

(137) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 122 Tuturan (2) yang dituturkan oleh Pak Bambung kepada Lasi merupakan tuturan sopan, sebab penutur memberikan pilihan tindakan kepada mitra tuturnya. Pak Bambung memberikan dua pilihan kepada Lasi untuk duduk dulu di lobi atau kembali ke suite. Ada juga percakapan yang berusaha memberikan pujian kepada mitra tuturnya, berikut ini contohnya. (9) Lasi Bu Lanting :“Sama saja, Bu. Jadi kalau Pak Bambung mau datang kemari, ya datanglah.” :“Aduh, kamu memang anak manis, Las. Ya, apa salahnya menjadi pendamping orang gedean seperti Pak Bambung. Tidak salah, menurutku, sangat beruntung.” (halaman 109, WP1.SK3) Konteks: Dituturkan Bu Lanting untuk memuji sekaligus merayu Lasi, ketika Lasi sudah mau lagi menerima kedatangan Pak Bambung untuk menemuinya. (10) Mak Min Lasi Mak Min :”Kerokan lebih manjur, Bu” :”Tidak, Pijat saja. Bapak bisa marah jika melihat punggung, apalagi leherku, coreng-moreng.” :”Ah, ya. Saya lupa; sayang benar bila kulit ibu yang putih itu jadi belang-bentong. Jadi pijiti saja.” (halaman 67, WP1.ST4) Konteks: Dituturkan oleh Mak Min untuk memuji tubuh Lasi yang putih dan mulus dan sangat disayangkan apabila tercoreng-moreng akibat kerokan. Pada tuturan (9) dan (10) telah sama-sama menerapkan prinsip kesopanan maksim pujian. Bu Lanting memuji Lasi atas kemauan Lasi menerima Pak Bambung untuk datang menemuinya. Tuturan ini termasuk sebuah rayuan agar Lasi mau menerima kedatangan Pak Bambung; “Aduh, kamu memang anak

(138) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 123 manis, Las. Ya, apa salahnya menjadi pendamping orang gedean seperti Pak Bambung”. Tuturan Bu Lanting dianggap sopan karena telah memberikan pujian terhadap Lasi, karena Lasi mau menuruti perkataannya. Tuturan (9) yang dituturkan Bu Lanting kepada Lasi memiliki maksud. Penutur memuji Lasi dengan sebutan “anak manis”, karena mitra tutur mengizinkan Pak Bambung menemuinya. penutur mengatakan mitra tutur sangat beruntung menjadi pendamping Pak Bambung, agar mitra tutur akhirnya menyerah dan mau menjadi simpanan Pak Bambung. Penutur secara tak langsung menyuruh Lasi untuk menjadi pendamping Pak Bambung Hal itu sesuai dengan pengertian salah satu maksim kesantunan yang dikemukakan oleh Leech (1993: 207) menyampaikan bahwa di dalam maksim pujian, maksim ini mengungkapkan kecamlah orang lain sedikit mungkin, dan pujilah orang lain sebanyak mungkin. Menurut Wijana (1996: 57) maksim ini menuntut setiap peserta pertuturan untuk memaksimalkan rasa hormat kepada orang lain, dan meminimalkan rasa tidak hormat kepada orang lain. Dilihat dari skala kesantunannya, tuturan ini termasuk dalam skala kesantunan ketaklangsungan. Ujaran- ujaran di bawah ini semakin ke bawah semakin sopan. 1) Las, jadilah pendamping bagi Pak Bambung. 2) Las, apa salahnya menjadi pendamping bagi orang gedean seperti Pak Bambung. Menurutku sangat beruntung. 3) Kamu memang anak manis, Las. Apa salahnya menjadi pendamping bagi orang gedean seperti Pak Bambung. Menurutku sangat beruntung

(139) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 124 Tuturan (3) merupakan tuturan paling sopan dibanding (2) dan (1). Tuturan Bu Lanting bertutur secara tidak langsung kepada mitra tuturnya. Jarak tempuh maksud yang ingin disampaikan penutur kepada mitra tutur lebih panjang daripada tuturan yang lainnya. Menurut Leech via Rahardi (2005:66-70), indirectness scale atau skala ketidaklangsungan menunjuk kepada peringkat langsung atau tidak langsungnya maksud sebuah tuturan. Pada tuturan (10), di atas dianggap telah memenuhi maksim pujian karena penutur telah memuji mitra tuturnya dengan berkata “Ah, ya. Saya lupa; sayang benar bila kulit ibu yang putih itu jadi belang-bentong. Jadi pijiti saja”. Mak Min memuji tubuh Lasi yang putih dan mulus seperti tanpa noda dan sangat disayangkan apabila tercoreng-moreng karena dikeroki oleh Mak Min. Tuturan (10) yang dituturkan oleh Mak Min memiliki maksud. Dengan sopan Mak Min bertutur kata kepada mitra tuturnya, karena kemulusan dan keputihan tubuh Lasi. Disisi lain Lasi adalah majikan Mak Min dan dengan sendirinya Mak Min akan bertutur sopan kepada Lasi. Dilihat dari skala kesantunannya, tuturan di atas termasuk dalam skala keotoritasan. Semakin jauh jarak peringkat sosial antara penutur dan mitra tutur, tuturan yang digunakan akan cenderung semakin santun. Dilihat dari otoritasnya Lasi adalah majikan Mak Min, karena Pak Min merupakan sopir pribadi Pak Handarbeni, suaminya, oleh sebab itu Mak Min akan dengan sendirinya bertutur kata sopan ketika berkomunikasi kepada Lasi. Selain itu, terdapat juga percakapan yang termasuk wujud kesopanan maksim kerendahan hati pada saat bertutur, contohnya berikut ini.

(140) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 125 (11) Bu Lanting Lasi :“Dari bandara, nanti akan langsung ke pusat belanja. Aku mau beli tas tangan Saint Laurent. Juga cincin berlian De Beers. Mungkin juga sepatu atau jam tangan terbaru dari Lanvin atau. Eh, kamu kepingin apa Las?” :“Sekarang saya belum punya gambaran mau beli apa. Nanti sajalah kalau kita sudah sampai di pusat belanja.” (halaman 26-27, WR1.SK3) Konteks: Dituturkan oleh Lasi untuk merendahkan diri ketika Bu Lanting bertanya akan membeli barang apa setibanya di Singapura, Saat mereka sedang ada di dalam pesawat menuju Singapura. (12) Bu Lanting Lasi :“Belum punya gambaran atau karena takut angka rekening bankmu susut? Ah, itu jalan pikiran perempuan kampung. Atau begini saja, Las. Kamu boleh belanja apa saja sampai seratus ribu dolar Amerika, dan semuanya atas beban rekeningku. Tawaran yang cukup manis?” :“Eh, jangan, Bu. Uang saya juga masih cukup kok,” kata Lasi mencoba membela harga dirinya. “Baiklah, nanti saya ikut beli-beli, tapi dengan uang sendiri.” (halaman 27, WR1.SK3) Konteks: Dituturkan Lasi untuk mencegah Bu Lanting membayar belanjaannya ketika Bu Lanting menawarkan diri untuk membayar belanjaannya nanti, setiba di pusat perbelanjaan. Saat itu mereka sedang ada di dalam pesawat menuju Singapura. Pada konteks tuturan (11) dan (12) telah mematuhi prinsip kesopanan maksim kerendahan hati. Saat ditanya oleh Bu Lanting ingin membeli barang bermerk apa, Lasi dengan rendah hati mengatakan belum mempunyai pandangan untuk membeli produk barang tertentu, “Sekarang saya belum punya gambaran mau beli apa”. Walaupun istri simpanan seorang pejabat negara, tapi apapun yang diinginkannya pasti bisa terpenuhi. Lasi telah berusaha untuk memaksimalkan ketidakhormatan pada diri sendiri, dan meminimalkan rasa hormat pada diri

(141) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 126 sendiri. Tuturan (11) yang dituturkan oleh Lasi memiliki maksud. Lasi belum ada ketertarikan untuk membeli sesuatu di Singapura, meskipun Bu Lanting sudah mengatakan barang bermerk yang akan dibelinya. Penutur berkata sopan kepada mitra tutur untuk menghormatinya, dengan rendah hati penutur tidak terlalu terpengaruh dengan iming-iming barang bermerk. Apa yang dikatakan Lasi dalam percakapan itu memang suatu sikap kerendahan hati, sebab Lasi bisa saja membeli apapun yang diinginkannya tapi dia tidak lalu menyombongkan diri dan tergonda untuk membeli barang-barang bermerk. Menurut Leech (1993: 207) maksim ini mengungkapkan pujilah diri sendiri sedikit mungkin dan kecamlah diri sendiri sebanyak mungkin. Menurut Wijana (1996: 58) maksim ini menuntut setiap peserta pertuturan untuk memaksimalkan ketidakhormatan pada diri sendiri, dan meminimalkan rasa hormat pada diri sendiri. Skala kesantunan ketaklangsungan terlihat dalam tuturan ini. Ujaran-ujaran di bawah ini semakin ke bawah semakin sopan. 1) Saya tidak tertarik untuk membeli. 2) Saya tidak tertarik. Nanti sajalah kalau kita sudah sampai di pusat belanja. 3) Sekarang saya belum punya gambaran mau beli apa. Nanti sajalah kalau kita sudah sampai di pusat belanja. Peringkat langsung dan tidak langsungnya maksud sebuah tuturan menentukan sopan tidaknya sebuah tuturan. Tuturan (3) merupakan tuturan yang paling sopan karena dituturkan secara tidak langsung, selain itu jarak tempuh maksud yang ingin disampaikan juga paling panjang.

(142) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 127 Tuturan (12) Lasi dikatakan bersikap sopan dan rendah hati karena menolak tawaran Bu Lanting untuk membayar tagihan belanjaannya dengan berkata, “Eh, jangan, Bu. Uang saya juga masih cukup kok”. Lasi tidak ingin Bu Lanting mengeluarkan biaya untuk barang-barang yang akan dibelinya nanti. Sebagai penutur Lasi mencoba memaksimalkan rasa hormatnya kepada Bu Lanting yang mencoba menawarkan pembayaran barang belanjaan Lasi. Tuturan (12) yang dituturkan oleh Lasi memiliki maksud. Penutur mencoba membela harga dirinya dihadapan mitra tutur ketika mitra tutur menawarkan diri untuk membayar semua barang belanjaannya. Selain itu Lasi tidak ingin merepotkan Bu Lanting dengan membebankan tagihan belanjaannya ke rekening Bu Lanting. Dilihat dari skala kesantunannya, tuturan ini termasuk dalam skala kesantunan ketaklangsungan. Ujaran-ujaran di bawah ini semakin ke bawah semakin sopan. 1) Saya punya uang kok, Bu. 2) Eh, jangan, Bu. Saya punya uang kok. 3) Eh, jangan, Bu. Uang saya juga masih cukup kok. Baiklah, nanti saya ikut beli-beli, tapi dengan uang sendiri. Tuturan (3) merupakan tuturan Lasi yang dituturkan kepada Bu Lanting. Penutur secara tidak langsung menolak usulan mitra tutur untuk membebankan tagihan belanjaannya di rekening mitra tutur. Maksud yang ingin disampaikan kepada mitra tutur paling panjang dan paling sopan daripada tuturan yang lain. Tuturan berikut termasuk wujud kesopanan maksim kesepakatan karena berusaha untuk memaksimalkan kecocokan di antara penutur dan mitra tutur. Berikut contohnya.

(143) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 128 (16) Bu Lanting Lasi Bu Lanting :“Dia memang baik, gagah, dan gedean. Lebih gedean dari suamimu. Dan dia pacarku kan?” :“Tentu, Bu.” :“Baiklah. Kalau begitu aku pergi dulu untuk menemani dia. Sebaiknya kamu beristirahat, lalu mandi. Nanti kita ketemu lagi sesudah kamu beristirahat. Oke?” Lasi mengangguk dan tersenyum. (halaman 32, WK1.SJ5) Konteks: Dituturkan Lasi untuk menyetujui perkataan Bu Lanting bahwa Pak Bambung adalah pacarnya yang lebih gedean daripada suaminya. (17) Bu Lanting Lasi Bu Lanting :“Ah, aku tadi cuman guyon lho, Las. Jangan tersinggung.” :“Saya juga cuman guyon, Bu.” :“Ya, kita cuman guyon. Guyonan yang hanya akan menambah dosaku. Jadi maaf dan lupakan saja.” (halaman 108, WK1.SJ5) Konteks: Dituturkan Lasi untuk menanggapi “guyonan” Bu Lanting yang menurutnya orang bisa tenang karena duit. Bu Lanting berbicara demikian ketika Lasi sedang sedih dan gundah karena berada dalam cengkraman Pak Bambung. Dalam tuturan (16) dan (17) telah menerapkan prinsip kesopanan maksim kesepakatan. Lasi (16) dapat dikatakan menerapkan maksim kecocokan karena dia membina kecocokan dengan Bu Lanting. Ketika ditanya Bu Lanting mengenai Pak Bambung yang lebih gedean daripada suaminya, Lasi tidak membantah atau meragukan, melainkan setuju dengan pendapat Bu Lanting dengan berkata, “Tentu, Bu”. Lasi telah mencoba memaksimalkan kecocokan diantara mereka, dan meminimalkan ketidakcocokan di antara mereka. Menurut Leech (1993: 207) maksim ini mengungkapkan agar ketaksepakatan antara diri sendiri dan orang lain terjadi sedikit mungkin, dan usahakan agar kesepakatan antara diri sendiri dan

(144) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 129 orang lain terjadi sebanyak mungkin. Menurut Wijana (1996: 59-60) maksim ini menuntut setiap penutur dan lawan tutur untuk memaksimalkan kecocokan diantara mereka,dan meminimalkan ketidakcocokan di antara mereka. Tuturan (16) yang dituturkan oleh Lasi mengandung maksud. Lasi bertutur sopan kepada Bu Lanting dengan menyetujui pendapat mitra tuturnya, bahwa pacarnya, Pak Bambung lebih gedean dibanding suaminya. Penutur menyetujui perkataan mitra tutur untuk menghormati mitra tuturnya. Skala kesantunan jarak sosial antara penutur dan mitra tutur menentukan sopan atau tidaknya sebuah tuturan. Bu Lanting adalah sosok yang dihormati dan dituakan oleh Lasi. Penutur menyetujui apa yang dikatakan pendengar karena pendengar lebih berpengalaman darinya dan menurutnya apa yang dikatakan Bu Lanting adalah benar adanya. Terdapat hubungan jarak antara penutur dan mitra tutur, hal itu terlihat ketika penutur menggunakan kata “Bu” sebagai kata sapaan kepada Bu Lanting. Tuturan (17) Lasi mencocokan apa yang dikatakan Bu Lanting yang hanya mengajaknya bercanda, menurutnya orang bisa tenang karena uang. Sebagai penutur Lasi diharapkan dapat memaksimalkan kecocokan diantara mereka dengan berkata, “Saya juga cuman guyon, Bu”. Lasi merasa Bu Lanting hanya ingin menghiburnya di saat ia sedang sedih, sehingga Lasi menyepakati bahwa apa yang dikatakan Bu Lanting hanyalah guyonan semata. Tuturan (17) yang dituturkan Lasi mengandung maksud. Lasi bertutur sopan kepada mitra tuturnya dengan menyepakati bahwa apa yang barusan mereka perbincangkan adalah bercandaan semata. Hal itu dilakukan penutur untuk menghormati mitra tuturnya.

(145) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 130 Skala kesatunan jarak sosial membuat tuturan percakapan (17) terlihat sopan. Lasi yang telah mengenal Bu Lanting, mengerti bagaimana kehidupannya yang tidak pernah jauh dari uang, maka Lasi tidak terlalu mempermasalahkan apa yang dikatakan Bu Lanting padanya. Terdapat jarak dalam hubungan sosial mereka, hal itu ditandai dengan kata sapaan “Bu” pada mitra tutur, meskipun mereka sudah saling kenal. Maksim kesantunan yang terakhir yaitu wujud kesopanan maksim simpati , tuturan dianggap sopan apabila peserta tuturan memaksimalkan rasa simpati kepada mitra tuturnya. Berikut ini contohnya. (21) Bu Lanting Lasi :“ Nah, begitu. Sembahyang. Ada yang bilang sembahyang bisa membuat orang jadi tenang. Tetapi kalau aku bilang, orang bisa tenang karena duit. Mana yang benar, Las?” :“Ibu yang benar,” jawab Lasi dengan senyum. (halaman 108, WS1.SO2) Konteks: Dituturkan oleh Bu Lanting untuk menenangkan kegundahan dan kesedihan hati Lasi karena berada di rumah Pak bambung dan di saat dirinya tengah hamil. (22) Lasi Kanjat Lasi Kanjat :”Jadi sekarang kamu tahu aku seorang tahanan?” :”Ya. Tetapi hanya tahanan sementara. Tadi kami mendapat penjelasan kamu ditahan hanya untuk didengar keteranganmu sebagai calon saksi. Kukira kamu akan segera keluar begitu pemeriksaan sebagai calon saksi selesai.” :”Jadi aku akan dikeluarkan? Tidak dihukum?” :”Semoga tidak.”(halaman 137, WS1.SK3) Konteks: Dituturkan Kanjat untuk menenangkan Lasi karena Lasi takut akan dipenjara karena terseret kasus korupsi yang menimpa Pak Bambung. Walaupun hanya dijadikan saksi tapi Lasi ketakutan hingga menangis tersedu-sedu dipelukan Kanjat.

(146) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 131 Pada tuturan (21) dan (22) di atas penutur telah memaksimalkan rasa simpatinya kepada mitra tutur. Bu Lanting (21) menunjukkan rasa simpati terhadap mitra tuturnya yang sedang dilanda permasalahan dan dalam keadaan yang tidak baik atau memprihatinkan. Tuturan Bu Lanting menunjukkan kepedulian terhadap permasalahan yang sedang dihadapi Lasi. Dalam tuturannya Bu Lanting menasihati Lasi untuk sembahyang; “Nah, begitu. Sembahyang. Ada yang bilang sembahyang bisa membuat orang jadi tenang”. Penutur juga menghibur Lasi yang sedang sedih dengan mengajaknya bercanda. Menasihati dan mengajak bercanda adalah bentuk kepedulian Bu Lanting terhadap Lasi, mitra tuturnya. Apabila tidak ada rasa simpati atau peduli, pastinya Bu Lanting tidak akan menasihati Lasi, untuk menyuruhnya berdoa disaat dia mengalami masalah. Menurut Leech (1993: 207) maksim ini mengungkapkan kurangilah rasa antipasti antara diri sendiri dengan orang lain hingga sekecil mungkin dan tingkatkan rasa simpati sebanyak-banyaknya antara diri sendri dan orang lain. Menurut Wiajan (1996: 60-61) maksim ini mengharuskan setiap peserta pertuturan untuk memaksimalkan rasa simpati, dan meminimalkan rasa antipati kepada lawan tuturnya. Skala kesantunan keopsionalan nampaknya lebih tepat untuk mengukur kesantunan dalam tuturan di atas. Penutur menasihati pendengar untuk sembahyang agar hatinya menjadi tenang, namun menurutnya uang juga bisa membuat orang menjadi tenang. Pendengar dihadapkan dua pilihan, “Mana yang benar, Las?”.

(147) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 132 Pada tuturan (22), di atas penutur juga telah memaksimalkan rasa simpati antara penutur dan mitra tutur. “Kukira kamu akan segera keluar begitu pemeriksaan sebagai calon saksi selesai.” Tuturan ini dikatakan penutur untuk menenangkan mitra tuturnya yang sedang dilanda musibah karena harus ditahan polisi akibat kasus korupsi yang menimpa Pak Bambung. Selain itu ketika mitra tutur bertanya apakah dia tidak akan dihukum, penutur pun menjawab “Semoga tidak.”, hal ini semata-mata dikatakan penutur agar mitra tutur tidak khawatir dan tidak sedih lagi. Tuturan (21) yang dituturkan Bu Lanting mengandung maksud. Penutur berkata sopan dan bersimpati kepada mitra tutur agar perasaannya menjadi tenang. Dibalik itu, penutur merasa apa yang dilakukan Lasi dengan berdoa adalah hal yang sia-sia, karena menurutnya ketenangan berasal dari harta dan kekayaan, bukan dengan berdoa. Penutur beranggapan uang adalah kebahagiaan yang sebenarnya. Skala kesantunan keopsionalan nampaknya lebih tepat untuk mengukur kesantunan dalam tuturan di atas. Ujaran-ujaran di bawah ini semakin ke bawah semakin sopan. 1) Menurutku duit bisa membuat orang tenang. 2) Duit atau sembahyang yang bisa membuat kita tenang, Las? Menurutku duit. 3) Nah, begitu. Sembahyang. Ada yang bilang sembahyang bisa membuat orang jadi tenang. Tetapi kalau aku bilang, orang bisa tenang karena duit. Mana yang benar, Las?

(148) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 133 Tuturan (3) paling sopan diantara tuturan yang lainnya. Tuturan tersebut memberikan pilihan tindakkan kepada mitra tuturnya. Penutur memberikan pilihan kepada mitra tuturnya untuk memilih sendiri mana yang benar menurutnya. Percakapan di atas termasuk dalam wujud kesopanan karena penutur berusaha merugikan diri sendiri dan menguntungkan mitra tuturnya. Sebagian besar percakapan dalam novel belantik dikatakan sopan karena sesuai dengan ke-enam maksim kesopanan menurut Leech. Ahmad Tohari menceritakan tokoh dalam novel belantik dengan memperhatikan tradisi dan nilai-nilai kejawen yang kaya akan sopan santun dalam berbahasa. Bila contoh-contoh di atas, penutur berusaha memaksimalkan keuntungan mitra tuturnya, berikut ini contoh tuturan yang berusaha mengurangi keuntungan mitra tuturnya, yang disebut dengan pelanggaran wujud kesopanan maksim kesantunan. Dikatakan melanggar karena tidak tidak sesuai dengan maksim kearifan yaitu, buatlah kerugian orang lain, sekecil mungkin dan buatlah keuntungan orang lain sebesar mungkin terutama maksim kearifan (Leech, 1993: 206). Menurut Wijana (1996: 55), gagasan dasar dalam maksim kearifan dalam prinsip kesopanan adalah maksim ini menggariskan setiap peserta pertuturan untuk meminimalkan kerugian orang lain. (1) Lasi :“Bu, saya ingin mengembalikan kalung itu kepada Pak Bambung. Lalu saya mohon, biarkanlah saya hidup bersama Kanjat. Atau, ambillah kalung itu buat Ibu. Tetapi tolong, tinggalkanlah kami berdua di sini. Tolong, Bu.”

(149) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 134 Bu Lanting :“Oalah, Las, saya kan sudah bilang, soal kalung tak penting bagi Pak Bambung. Kamulah! Saya pun tak berani main-main. Jadi, jangan banyak omong lagi. Ayo ikut kami.” (halaman 99, PA2.ST4) Konteks: Dituturkan Bu Lanting untuk mengajak Lasi kembali ke Jakarta menemui Pak Bambung, meskipun Lasi telah berniat ingin mengembalikan kalung yang diberikan Pak Bambung padanya. (4) Lasi :”Bapak sudah mendengar semuanya. Kini saya sedang mengandung anak suami saya, Kanjat. Jadi, apakah Bapak tetap menghendaki saya tinggal di sini? Saya menunggu tanggapan Bapak.” Pak Bambung :”Sampai saya memutuskan lain, kamu harus tetap di sini. Soal kehamilanmu akan menjadi urusan dokter.” Lasi :”Maksud Bapak?” Pak Bambung :”Pertama, dokterlah yang lebih kupercaya untuk mengatakan apakah kamu benar hamil atau tidak. Kedua, dokter akan mempertimbangkan kemungkinan penggugur…” (halaman 114,PA2.ST4) Konteks: Dituturkan Pak Bambung kepada Lasi mengenai perihal kehamilannya. Pak Bambung tidak senang mendengar kabar kehamilan Lasi, terlebih bila melihat perempuan hamil dengan perut besarnya. Tuturan (1) dan (4) telah sama-sama melanggar prinsip kesopanan maksim kearifan hal itu dinyatakan dengan perkataan Bu Lanting pada Lasi, “Oalah, Las, saya kan sudah bilang, soal kalung tak penting bagi Pak Bambung. Kamulah! Saya pun tak berani main-main”. Dari pernyataan itu, dapat dipahami bahwa Bu Lanting memaksa Lasi untuk kembali bersamanya ke Jakarta. Seharusnya sebagai penutur Bu Lanting mencoba memaksimalkan keuntungan bagi orang lain. Kata “Ayo ikut kami” merupakan kalimat perintah dan dinilai tidak sopan.

(150) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 135 Hal ini, merugikan Lasi sebab dia tidak bisa lepas dari jeratan Pak Bambung, padahal Lasi sudah berniat untuk mengembalikan kalung pemberian Pak Bambung. Bu Lanting yang sudah diberi kepercayaan kepada Pak Bambung untuk menemukan Lasi, tidak ingin Lasi kabur lagi meskipun Lasi sudah memohon kepadanya untuk membiarkan dia pergi bersama Kanjat, suami yang baru dinikahinya. Tuturan dari Bu Lanting inilah yang mengandung pelanggaran maksim kearifan. Tuturan (1) yang dituturkan Bu Lanting mengandung maksud. Penutur ingin mengatakan kepada mitra tutur bahwa Pak Bambung mencarinya dan menginginkan Lasi sebagi istrinya. Pak Bambung akan menghalalkan segala cara untuk mendapat Lasi sebagai istrinya. Skala keotoritasan terlihat di dalan percakapan (1), Bu Lanting bersama bersama polisi menggunakan otoritasnya untuk menjemput paksa Lasi ke Jakarta. Bu Lanting memaksa Lasi untuk kembali bersamanya dengan bantuan polisi, yang membuatnya mau tak mau kembali ke Jakarta bersama Bu Lanting. Menurut Leech via Rahardi (2005:66-70), authority scale atau skala keotoritasan menunjuk kepada hubungan status sosial antara penutur dan mitra tutur yang terlibat dalam pertuturan. Pada tuturan (4), dianggap melanggar prinsip kesopanan maksim kearifan karena penutur telah membuat kerugian terhadap mitra tuturnya. “Kedua, dokter akan mempertimbangkan kemungkinan pengguguran”. Dengan tidak bijaksana penutur menginginkan Lasi menggugurkan kandungannya hanya karena dia tidak suka melihat wanita hamil. Penutur tanpa memikirkan perasaan mitra tuturnya membuat keputusan sepihak yang mengakibatkan kerugian yang akan dirasakan

(151) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 136 mitra tuturnya. Tuturan (4) yang dituturkan Pak Bambung mengandung maksud. Penutur ingin mengatakan kepada mitra tuturnya bahwa dia tidak suka mendengar kabar mengenai kehamilannya. Penutur berencana akan menyuruh dokter untuk menggugurkan kandungannya. Dia hanya menginginkan Lasi sebagai istrinya Dilihat dari skala kesantunannya, termasuk dalam skala keotoritasan, meskipun Lasi bukan bawahannya tapi setiap keputusan berada di tangan Pak Bambung. Pak Bambung memiliki kekuasaan atas Lasi karena dia bisa memanggil polisi untuk mencari Lasi, memanggil dokter untuk meggugurkan Lasi, bahkan menyuruh Pak Handarbeni untuk melepaskan Lasi. Berikut contoh pelanggaran wujud kesopanan maksim kedermawanan karena penutur berusaha memaksimalkan keuntungan dirinya sendiri, sebab berdasarkan pengertian menurut Wijana (1996: 57) maksim ini mewajibkan setiap peserta tindak tutur untuk memaksimalkan kerugian bagi diri sendiri, dan meminimalkan keuntungan diri sendiri. Menurut Leech (1993: 206). maksim ini mengungkapkan buatlah keuntungan diri sendiri sekecil mungkin dan buatlah kerugian diri sendiri sebesar mungkin 5) Lasi Bu Lanting Lasi :“Tak tahulah, Bu. Tetapi saya ingin makan laksa. Dulu dekat warung Bu Koneng di Klender ada penjualnya. Ibu mau mengantar saya ke sana, kan?” :“Bagaimana bila kita suruh orang membeli ke sana?” :“Tidak. Saya harus pergi ke sana karena saya ingin makan laksa di dekat penjualnya.” (halaman 104, PD2.SU2) Konteks: Dituturkan Lasi untuk menolak keinginan Bu Lanting yang akan menyuruh orang lain untuk membelikan laksa, makanan yang diinginkannya.

(152) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 137 Tuturan (5) di atas, dapat dikatakan bahwa Lasi melanggar aturan maksim kedermawanan dalam bertutur, sebab tuturan tersebut mengandung ketidaksetujuan Lasi kepada Bu Lanting yang ingin menyuruh orang lain untuk membeli makanan keinginannya, agar Lasi tidak perlu repot-repot mencari, “Tidak. Saya harus pergi ke sana karena saya ingin makan laksa di dekat penjualnya”. Tuturan dirasa kurang sopan karena penutur berusaha memaksimalkan keuntungan dirinya dengan menyusahkan orang lain. Lasi memaksa ingin makan di luar sehingga mau tak mau Bu Lanting harus menemaninya. Lasi membuat Bu Lanting kerepotan karena permintaanya, padahal Bu Lanting akan menyuruh orang lain untuk membeli makanana yang diinginkannya tuturan dari Lasi inilah yang mengandung pelanggaran maksim kedermawanan. Tuturan (5) yang dituturkan Lasi mengandung maksud. Penutur melanggar kesopanan karena sebenarnya ingin keluar dari rumah Pak Bambung. Lasi menolak usulan Bu Lanting untuk menyuruh orang lain membelikan laksa untuk mereka. Penutur sebenarnya ingin keluar rumah lalu menghubungi Kanjat suaminya, dia mencuri waktu untuk bisa memberi kabar kepada Kanjat bahwa dia sedang mengandung. Skala untung-rugi terdapat dalam tuturan (5) di atas. Ujaran-ujaran di bawah ini semakin ke bawah semakin sopan. 1) Ibu mau mengantar saya untuk beli laksa kan? Saya harus makan di dekat penjualnya. 2) Ibu tidak keberatan mengantar saya untuk beli laksa kan?

(153) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 138 3) Bagaimana kalau kita menyuruh orang lain untuk membeli laksa? Penutur (1) yang dituturkan Lasi memaksa mitra tutur untuk menemaninya pergi membeli laksa. Penutur menolak bantuan dari mitra tutur yang mengusulkan menyuruh orang lain untuk membelinya. Tuturan penutur dapat dikatakan kurang sopan karena menimbulkan kerugian bagi pihak mitra tutur dalam melakukan tindakan. Contoh pelanggaran wujud kesopanan maksim pujian karena telah berusaha memaksimalkan rasa hormat kepada diri sendiri dan meminimalkan rasa tidak hormat pada diri sendiri. Hal ini tidak sesuai dengan maksim pujian yaitu menyampaikan bahwa di dalam maksim pujian, maksim ini mengungkapkan kecamlah orang lain sedikit mungkin, dan pujilah orang lain sebanyak mungkin (Leech, 1993: 207) dan menurut Wijana (1996: 57) maksim ini menuntut setiap peserta pertuturan untuk memaksimalkan rasa hormat kepada orang lain, dan meminimalkan rasa tidak hormat kepada orang lain. 7) Lasi Bu Lanting :“Tetapi, Bu, saya kan tidak bisa. Saya tidak bisa. Saya masih istri Pak Handarbeni. Jadi mana bisa…” :“Alaaah, kamu masih juga perempuan kampung. Bagaimana tidak bisa karena kamu sudah mau menerima kalung dari Pak Bambung? Kamu ngerti nggak, harga kalung itu akan membuat kamu makmur jibur-jibur tujuh turunan? Lalu mengapa kamu tidak memberi apa-apa kepada Pak Bambung?”(halaman 57, PP2.SK3) Konteks: Dituturkan Bu Lanting untuk mengolok Lasi, perempuan kampung, karena Lasi tidak mau memberikan apa yang dimaui lelaki saat berduaan dengannya di kamar hotel. Lelaki yang dimaksud adalah Pak Bambung.

(154) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 139 (8) Kanjat Lasi Kanjat :”Dan kamu ikut berperan karena kamulah yang menyampaikan surat-surat itu kepada Bambung.” :”Iya ya? Jadi aku yang cuma perempuan kampung dan tidak tahu apa-apa ternyata ikut berperan dalam urusan orang gedean. Kalau dipikir lucu juga, ya?” :”Lucu atau malah gendheng! Gila. Ah, sudah! Aku tidak suka cerita semacam ini. Maka lebih baik katakan kamu tinggal di Jakarta sebelah mana? Sebab kalau sudah tidak tahan mungkin aku akan menyusulmu ke tempat itu?” (halaman 126, PP2.SK3) Konteks: Dituturkan Kanjat kepada Lasi untuk menyindirnya karena ikut berperan dalam menyampaikan surat-surat Bambung yang dianggap mencurigakan. Pada tuturan (7) dan (8) telah melanggar prinsip kesopanan maksim pujian, jelas sekali Bu Lanting mengatakan kata kasar kepada mitra tuturnya, “Alaaah, kamu masih juga perempuan kampung”. Penutur telah merendahkan harga diri mitra tuturnya dengan kata “perempuan kampung”. Penutur telah meminimalkan keuntungan mitra tuturnya, dengan berkata kasar kepada mitra tuturnya. Tuturan Bu Lanting dianggap kurang sopan karena telah melanggar aturan maksim pujian. Jelas sekali Bu Lanting tidak menghormati Lasi sebagai mitra tuturnya. Tuturan (7) yang dituturkan Bu Lanting mengandung maksud. Penutur mengatakan mitra tutur sebagai perempuan kampung, karena mitra tutur masih saja setia kepada suaminya. Penutur berharap mitra tutur mau memberikan apa yang diinginkan oleh Pak Bambung terhadap dirinya. Skala ketaklangsungan terlihat dalam tuturan (7). Ujaran-ujaran di bawah ini semakin ke bawah semakin sopan. 1) Dasar perempuan kampung.

(155) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 140 2) Kamu masih juga perempuan kampung 3) Kamu masih saja berpikiran seperti perempuan desa. Secara langsung penutur (2) Bu Lanting mengejek pendengar dengan sebutan “perempuan kampung”. Kata-kata ini dirasa kurang sopan bila dituturkan kepada mitra tutur, karena merendahkan harga diri mitra tuturnya. Tuturan (1) lebih kurang sopan dibanding tuturan (2) karena jarak maksud dari penutur ke mitra tutur lebih panjang. Pada tuturan (8), dianggap telah melanggar prinsip kesopanan maksim pujian karena penutur telah mengecam mitra tuturnya dengan berkata “Lucu atau malah gendheng! Gila”. Secara tak langsung penutur menyindir mitra tutur “gila” karena telah ikut campur dalam urusan Pak Bambung, yang bisa dibilang bisnis mencurigakan. Walaupun tak secara langsung diungkapkan, namun hal tersebut merupakan pelanggaran wujud maksim pujian. Tuturan (8) yang dituturkan oleh Kanjat mengandung maksud. Pelanggaran kesopanan yang dituturkan penutur memiliki maksud menyindir. Penutur menyindir mitra tutur gendheng/gila karena ikut campur dalam bisnis illegal yang sedang dijalani Pak Bambung. Penutur berharap mitra tutur tidak terlalu ikut campur dan berhati-hati dalam mengambil tindakkan. Dilihat dari skala kesantunannnya, interaksi di atas termasuk dalam skala ketaklangsungan. Ujaran-ujaran di bawah ini semakin ke bawah semakin sopan. 1) Kau ini gila, ikut campur dalam urusan Pak Bambung. 2) Perbuatanmu itu lucu atau malah gendheng! Gila, ikut campur dalam urusan Pak Bambung.

(156) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 141 3) Perbuatanmu itu sungguh berbahaya, janganlah ikut campur dalam urusan Pak Bambung. Penutur (2) secara tak langsung Kanjat mengatakan Lasi adalah wanita gila yang mau ikut campur dalam urusan bisnis Pak Bambung yang menjurus pada korupsi, meskipun Lasi tidak sadar bahaya yang nanti akan dihadapinya. Tuturan (2) dianggap lebih sopan dibanding tuturan (1) karena jarak tempuh maksud dari penutur ke mitra tutur lebih panjang. Berikut ini contoh pelanggaran wujud kesopanan maksim kerendahan hati karena berusaha memaksimalkan ketidakhormatan kepada orang lain. Menurut Leech (1993: 207) maksim ini mengungkapkan pujilah diri sendiri sedikit mungkin dan kecamlah diri sendiri sebanyak mungkin. Menurut Wijana (1996: 58) maksim ini menuntut setiap peserta pertuturan untuk memaksimalkan ketidakhormatan pada diri sendiri, dan meminimalkan rasa hormat pada diri sendiri. Contoh di bawah ini tidak sesuai dengan teori maksim kesopanan di atas. (9) Lasi Bu Lanting Lasi Bu Lanting Konteks: :“…Anu… Tetapi Pak Bambung tetap pacar Ibu, kan?” :“Iya dong. Sampai saat ini dia tetap pacarku. Tetapi entahlah. Sudah kubilang sejak pertama kali melihatmu Pak Bambung sudah mencuri-curi pandang.” :“Jadi Ibu menyesal mengajak saya kemari?” :“Oalah, Las, aku bukan lagi perawan kencur. Aku perempuan tua yang amat cukup pengalaman. Dan tahu adat lelaki. Jadi nanti, bila ternyata Pak bambung suka sama kamu, ya sudah. Aku tak perlu merasa rugi. Betul! Toh aku sudah dapat uangnya. Pulang dari sini, lihatlah, aku akan beli Mercy model terbaru. Dengan mobil itu si Kacamata pasti mau kubawa ke mana-mana. Apa lagi?” (halaman 38-39, PR2.SK3)

(157) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 142 Dituturkan oleh Bu Lanting untuk memamerkan pasangan barunya, dan keinginannya membeli Mercy model terbaru kepada Lasi. Ketika mereka berada di kamar hotel, sedang mendadani Lasi yang akan pergi bersama Pak Bambung (10) Bu Lanting Lasi Bu Lanting :”Las, aku mau ngomong ya, tak usah kaget. Saya sudah pindah ke Sea View Hotel, eh, pokoknya hotel lain.” :”Jadi Ibu di situ sekarang?” :”Ya! Biasa, Las. Ketika kamu menemani Pak Bambung tadi aku bertemu, anulah, ayam jago bule. Dan aku bilang juga apa, duit memang amat penting. Buktinya, bule yang masih muda itu bisa kubeli. Memang cukup mahal, tetapi tak apa karena aku sudah lama tak makan bule, he-he-he… (halaman 44, PR2SK3) Konteks: Dituturkan Bu Lanting untuk memberitahu Lasi, bahwa dia bertemu bule muda yang dibelinya dengan harga cukup mahal, ketika mereka di Singapura. Pada tuturan (9) dan (10), Bu Lanting berkata kurang sopan karena melanggar aturan maksim kerendahan hati pada saat berkomunikasi dengan mitra tuturnya. “ Jadi nanti, bila ternyata Pak bambung suka sama kamu, ya sudah. Aku tak perlu merasa rugi. Betul! Toh aku sudah dapat uangnya. Pulang dari sini, lihatlah, aku akan beli Mercy model terbaru”. Penutur dengan gamblangnya mengatakan dia sudah mendapat uang dan akan membeli mobil Mercy model terbaru. Penutur telah memaksimalkan rasa hormat pada diri sendiri. Selain uang dan mobil, penutur juga memamerkan gandengan barunya kepda mitra tuturnya. Penutur menyombongkan dirinya sendiri kepada mitra tuturnya tentang segala kepunyaannya. Tuturan (9) yang dituturkan Bu Lanting mengandung maksud. Penutur ingin mendekatkan Lasi dengan Pak Bambung, dengan berkata dia sudah tak lagi

(158) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 143 menyukainya. Dengan dia bercerita kepada Lasi bahwa dia sudah mendapatkan laki-laki lain, penutur berharap mitra tutur akan mendekati Pak Bambung. Skala kesantunan ketaklangsungan terdapat dalam percakapan (9). Ujaranujaran di bawah ini semakin ke bawah semakin sopan. 1) Pak Bambung menyukaimu, Las. Buktinya dia mencuri-curi pandang padamu. 2) Sepertinya Pak Bambung menyukaimu, Las. Buktinya dia sudah mencuricuri pandang padamu. 3) Sampai saat ini dia masih pacarku. Tetapi entahlah. Sejak pertama kali melihatmu Pak Bambung sudah mencuri-curi pandang. Penutur (3) Bu Lanting secara tak langsung mengatakan kepada pendengar bahwa Pak Bambung menyukainya. Tuturan ini dikatakan secara sopan oleh penutur kepada pendengar mengenai pihak ketiga, Pak Bambung, menyukai Lasi. Tuturan (3) merupakan tuturan paling sopan diantara tuturan yang lainnya, karena dituturkan secara tidak langsung. Tuturan (10), Bu Lanting dikatakan bersikap sombong dan kurang sopan karena mengatakan mendapat ayam jago bule (pria bule) dan dia mengeluarkan cukup banyak uang untuk membelinya, “Ya! Biasa, Las. Ketika kamu menemani Pak Bambung tadi aku bertemu, anulah, ayam jago bule. Dan aku bilang juga apa, duit memang amat penting”. Penutur telah memaksimalkan rasa hormat pada dirinya sendiri, dengan berkata bisa membeli seorang pria bule untuk menjadi pasangannya, selain itu penutur juga berkata bahwa duit memang sangat penting, agar bisa membeli apa pun yg dia mau. Bu Lanting menyombongkan diri karena

(159) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 144 dia memiliki banyak uang dan dengan uang yang dia miliki, dia dapat membeli apapun yang dia mau termasuk laki-laki. Tuturan (10) yang dituturkan Bu Lanting mengandung maksud. Penutur pindah ke hotel lain agar mitra tutur dan Pak Bambung bisa leluasa berduaan. Penutur memberikan waktu kepada Pak Bambung untuk mendekati Lasi. Agar tidak menimbulkan kecurigaan di pihak mitra tutur, penutur memberikan alasan bahwa dia sudah bertemu bule sebagai pengganti Pak Bambung. Penutur juga berkata bahwa dia tidak merasa rugi meninggalkan Pak Bambung karena sudah mendapat laki-laki lain. Skala jarak sosial terlihat pada tuturan (10), penutur tanpa rasa malu mengatakan kepada pendengar bahwa dia sudah mendapat pengganti Pak Bambung. Kedekatan antara penutur dan pendengar yang membuat Bu Lanting berbicara secara terang-terangan kepada Lasi. Dalam percakapan ini masih terdapat hubungan jarak antara penutur dan mitra tutur, hal itu ditandai dengan adanya sapaan “Bu” yang digunakan mitra tutur terhadap penutur. Menurut Leech via Rahardi (2005:66-70), social distance scale atau skala jarak sosial menunjuk kepada peringkat hubungan sosial antara penutur dan mitra tutur yang terlibat dalam sebuah pertuturan. Berikut ini pelanggaran wujud kesopanan maksim kesepakatan karena berusaha memaksimalkan ketidakcocokan di antara penutur dan mitra tutur. Dilihat dari teori maksim kesepakatan, menurut Leech (1993: 207) maksim ini mengungkapkan agar ketaksepakatan antara diri sendiri dan orang lain terjadi sedikit mungkin, dan usahakan agar kesepakatan antara diri sendiri dan orang lain

(160) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 145 terjadi sebanyak mungkin. Menurut Wijana (1996: 59-60) maksim ini menuntut setiap penutur dan lawan tutur untuk memaksimalkan kecocokan di antara mereka, dan meminimalkan ketidakcocokan di antara mereka contohnya berikut ini. (13) Bu Lanting Lasi Bu Lanting Lasi :“Las, aku baru dihubungi Pak Bambung barusan ini. Jadi tadi malam kamu tak memberikan apa-apa kepada dia?” :“Apa-apa? Maksud Ibu?” :“Ah! Masa kamu tidak tahu?” :“Apakah saya harus… Tidak. Memang tidak..” (halaman 57, PK2.SK3) Konteks: Dituturkan Lasi untuk menolak apa yang dimaksudkan Bu Lanting, memberikan sesuatu ketika dua orang, Lasi dan Pak Bambung, sedang berduaan di kamar hotel. (14) Pak Bambung Lasi Pak Bambung Lasi :”Begini, Las. Sejak datang kemari kamu adalah nyonya rumah ini.” :”Maksudnya, menjadi istri Bapak?” :”Ya.” :”Tunggu, Pak. Saya kira Bapak harus tahu dulu keadaan saya sekarang ini. Saya sedang hamil. Jadi tidak bisa…” (halaman 113) Konteks: Dituturkan Lasi untuk menolak dijadikan istri oleh Pak Bambung karena dia sudah menikah dengan Kanjat dan telah mengandung buah cinta mereka berdua. Begitu juga tuturan (13) dan (14) yang disampaikan penutur telah termasuk dalam wujud kesopanan maksim kesepakatan. Lasi (13) menolak pernyataan Bu Lanting yang menyuruhnya memberikan apa pun yang dimau oleh Pak Bambung. Lasi tidak setuju untuk memenuhi keinginan Pak Bambung dengan berkata; “Apakah saya harus… Tidak. Memang tidak”. Ketidakcocokan antara penutur dan

(161) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 146 mitra tutur inilah yang mengakibatkan tuturan menjadi kurang sopan. Lasi menolak untuk melayani Pak Bambung karena dia mempunyai suami, yaitu Pak Handarbeni. Tuturan (13) yang dituturkan oleh Lasi mengandung maksud. Penutur melanggar kesopanan karena menurutnya, tidak mungkin melayani Pak Bambung padahal dia masih mempunyai suami. Lasi tidak ingin melukai perasaan suaminya, dengan berduaan dengan Pak Bambung, walaupun sebenarnya suaminya akan menceraikannya atas saran dari Bu Lanting. Pak Handarbeni akan menceraikan Lasi karena jabatannya terancam oleh otoritas Pak Bambung. Skala kesantunan ketaklangsungan terdapat pada tuturan (13). Ujaran-ujaran di bawah ini semakin ke bawah semakin sopan. 1) Jadi, semalam kamu tidak melayani Pak Bambung? 2) Las, apakah kamu semalam tidak memberikan apa-apa kepada Pak Bambung? 3) Las, aku baru dihubungi Pak Bambung barusan ini. Jadi tadi malam kamu tak memberikan apa-apa kepada dia? Tuturan (3) yang dituturkan oleh Bu Lanting terlihat paling sopan. Secara tak langsung penutur menanyakan kepada pendengar tentang pihak ketiga. Bu Lanting bertanya kepada Lasi kenapa dia tidak memberikan apa yang diinginkan Pak Bambung ketika mereka sedang berduaan di dalam kamar. Pada tuturan (14), dikatakan telah melanggar maksim kecocokan karena penutur telah mengungkapkan ketaksepakatan antara diri penutur dan mitra tutur. “Tunggu, Pak. Saya kira Bapak harus tahu dulu keadaan saya sekarang ini. Saya

(162) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 147 sedang hamil. Jadi tidak bisa…”, penutur telah tidak sepakat dengan pemikiran mitra tutur tentang keinginan Pak Bambung menjadikan Lasi istrinya. Penutur yang saat itu tengah mengandung dan sudah bersuamikan Kanjat tidak ingin dipinang Pak Bambung, meskipun diberikan rumah yang megah. Tuturan (14) yang dituturkan oleh Lasi mengandung maksud. Penutur melanggar kesopanan karena dia tidak ingin menjadi istri Pak Bambung. Disamping itu penutur sedang hamil buah hatinya dengan Kanjat, suami yang belum lama dinikahinya. Penutur tidak menyukai mitra tutur dan berharap mitra tutur akan melepaskannya. Dilihat dari skala kesantunannya, interaksi di atas termasuk dalam skala ketaklangsungan. Ujaran-ujaran di bawah ini semakin ke bawah semakin sopan. 1) Las, kamu sudah aku anggap istriku sekarang. 2) Begini, Las. Sejak datang kemari kamu adalah nyonya rumah ini . 3) Begini, Las. Sejak kamu datang ke rumah ini, kamu sudah dianggap sebagai nyonya rumah ini. Kamu sudah aku anggap istriku. Tuturan (2) secara tak langsung mitra tutur telah menganggap Lasi sebagai istri walaupun belum diresmikan, sedangkan secara tak langsung pula Lasi ingin memberi tahu kepada Pak Bambung bahwa dia sudah mempunyai seorang suami dan tengah mengandung buah hati mereka. Lasi menolak dijadikan istri oleh Pak Bambung. Tuturan (2) dirasa lebih sopan daripada tuturan (1) yang merupakan tuturan langsung. Contoh pelanggaran wujud kesopanan maksim simpati karena berusaha memaksimalkan rasa antipasti terhadap mitra tuturnya. Menurut Leech (1993: 207) maksim ini mengungkapkan kurangilah rasa antipasti antara diri sendiri

(163) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 148 dengan orang lain hingga sekecil mungkin dan tingkatkan rasa simpati sebanyakbanyaknya antara diri sendri dan orang lain. Menurut Wijana (1996: 60-61) maksim ini mengharuskan setiap peserta pertuturan untuk memaksimalkan rasa simpati, dan meminimalkan rasa antipati kepada lawan tuturnya. Contoh ini tidak sesuai dengan teori di atas. (15) Bu Lanting Lasi Bu Lanting :“Dan bagaimana Pak Han? Maksudku, impotennya sudah sembuh atau malah parah?” :“Ah, Ibu,” ujar Lasi tersipu.” :“Malah parah, ya?” desak Bu Lanting (halaman 27, PS2.SK3) Konteks: Dituturkan oleh Bu Lanting mengenai impoten yang dialami suami Lasi, Pak Handarbeni, ketika Bu Lanting tengah bertamu di rumah Lasi. (16) Lasi Bu Lanting Lasi Bu Lanting :“Jadi, jadi saya sudah dicerai oleh Pak Handarbeni?” Tanya Lasi lugu. Atau bodoh :“Memang sudah. Kalau kurang percaya, bicaralah sendiri. Sekarang dia di kantor. Ayo, bicaralah sendiri.” :“Ya Bu, kalau saya sudah dicerai, ya sudah. Saya kan cuma perempuan.” :“Memang ya. Tetapi sebaiknya kamu mendengar sendiri dari Pak Han. Supaya jelas. Ayolah bicara.” (halaman 58, PS2.S02) Konteks: Dituturkan oleh Bu Lanting untuk menyuruh Lasi berbicara kepada suaminya, Pak Handarbeni, bahwa dia sudah diceraikan oleh suaminya. Pada tuturan (15) dan (16) di atas, Bu Lanting tidak menunjukkan rasa simpatinya kepada mitra tutur yang sedang dilanda permasalahan dan dalam keadaan yang memprihatinkan. Tuturan Bu Lanting pada (15), yakni “Malah parah, ya”, menujukkan bahwa dirinya seakan-akan mengejek suami Lasi, Mas

(164) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 149 Han. Penutur telah meminimalkan rasa simpatinya kepada mitra tuturnya karena keadaan suaminya yang kurang baik. Tuturan (15) yang dituturkan oleh Bu Lanting mengandung maksud. Penutur melanggar kesopanan dengan maksud menyindir suami Lasi, Pak Handarbeni, yang mempunyai penyakit impoten. penutur membuat kesimpulan sendiri bahwa impoten Pak Han semakin parah, padahal mitra tutur tidak menjawab secara langsung bahwa impoten suaminya semakin parah. Skala kesantunan ketaklangsungan terlihat pada tuturan (15). Ujaran-ujaran di bawah ini semakin ke bawah semakin sopan. 1) Apakah impoten Pak Han semakin parah? 2) Bagaimana Pak Han, apakah impotennya semakin parah? 3) Dan bagaimana Pak Han? Maksudku, impotennya sudah sembuh atau malah parah? Penutur (3) dituturkan Bu Lanting yang ingin menanyakan masalah suami Lasi yang impoten, mencoba basa-basi bertanya terlebih dahulu mengenai keadaan suaminya, namun secara kurang sopan penutur berkata “Malah parah, ya”, padahal pendengar belum menjawab mengenai masalah impoten suaminya. Dilihat dari daya tempuh maksud dari penutur ke mitra tutur tuturan (3) terlihat lebih sopan dan lebih panjang jarak tempuhnya. Tuturan(16) telah melanggar prinsip kesopanan maksim simpati. Sebagai seorang yang cukup dekat dengan Lasi, Bu Lanting tidak menunjukkan kepeduliannya kepada Lasi. Lasi yang saat itu baru tahu kalau dirinya sudah dicerai oleh suaminya, disuruh Bu Lanting untuk menanyakan kebenaran hal

(165) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 150 tersebut kepada Mas Han. “Memang sudah. Kalau kurang percaya, bicaralah sendiri. Sekarang dia di kantor. Ayo, bicaralah sendiri”, dan ketika Lasi tampak pasrah dengan keadaan dirinya yang sudah dicerai, Bu Lanting dengan tanpa merasa kasian berkata ” Memang ya. Tetapi sebaiknya kamu mendengar sendiri dari Pak Han. Supaya jelas. Ayolah bicara”. Hal ini menggambarkan bahwa penutur memaksimalkan rasa antipasti terhadap mitra tuturnya yang sedang dilanda permasalahan, tanpa memberikan tanda-tanda simpati kepada mitra tuturnya. Tuturan (16) yang dituturkan Bu Lanting mengandung maksud. Penutur melanggar kesopanan dengan secara langsung berkata kepada mitra tutur bahwa dia sudah diceraikan dengan suaminya. Penutur ingin agar mitra tutur tidak memikirkan suaminya lagi dan memulai hubungan baru dengan Pak Bambung. Penutur berharap dengan Lasi tahu dia sudah dicerai oleh Pak Handarbeni dia akan berpaling kepada Pak Bambung dan mau dijadikan istri olehnya. Skala kesantunan keopsionalan dituturkan penutur (16). Ujaran-ujaran di bawah ini semakin ke bawah semakin sopan. 1) Ayo, bicaralah sendiri. Kamu memang sudah diceraikan. 2) Jika kamu sudah siap, bicaralah sendiri dengan Pak Han. Kamu memang sudah diceraikan. 3) Sebaiknya kamu mempersiapkan diri dengan situasi terburuk. Tunggulah Pak Han pulang atau bicaralah sendiri. Sepertinya Pak Han sudah memutuskan untuk menceraikanmu.

(166) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 151 Penutur (1) yang dituturkan Bu Lanting memaksa mitra tutur untuk menelepon suaminya di saat mitra tutur tahu bahwa dia sudah diceraikan dari mulut penutur. Perkataan Bu Lanting dirasa kurang sopan karena secara langsung memaksa mitra tutur untuk membicarakan masalah penceraiannya dengan suaminya. Contoh wujud pelanggaran kesopanan di atas tidak sesuai dengan maksim kesopanan, karena penutur telah merugikan mitra tuturnya saat berinteraksi. Ahmad Tohari menggambarkan tokoh dalam novel Belantik sesuai dengan sikap masyarakat tertentu, contohnya sikap Bu Lanting seorang mucikari yang terbiasa dengan dunia malam dan tutur bahasa yang kasar. Hal ini dilakukan Ahmad Tohari agar membuat pembaca seolah-olah masuk dalam dunia novelnya. Gaya dalam prosa pada dasarnya lebih pada cara penulisan secara keseluruhan (Ratna, 2009: 60). Gaya bahasa adalah cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis (Keraf dalam Jabrohim dan Sujarwanto, 2002: 289). Belantik merupakan novel yang manggunakan kiasan pada diri tokoh-tokohnya. Tokoh utama dalam novel ini adalah Lasi, yang digambarkan sebagai orang desa yang dengan permasalahan kehidupannya kemudian mengalami perubahan hidup ketika pergi ke kota. Lasi digunakan sebagai kiasan wanita yang lugu, cantik, jujur, bodoh, dan setia kepada suaminya. Selain Lasi terdapat tokoh wanita lain yaitu Bu Lanting. Sangat berbeda dengan Lasi, Ahmad Tohari menggambarkan Bu Lanting sebagai sesosok mucikari dengan berbagai permainan licik yang ia gunakan kepada Lasi, haus akan harta dan kasar.

(167) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 152 Kekuasaan dan wanita mewarnai cerita dalam novel ini. Pengarang sangat berani memaparkan sebuah cerita mengenai seluk beluk kehidupan para pejabat dan orang kecil yang tidak berdaya. Kisah cinta Kanjat dan Lasi dapat dipandang sebagai bentuk nilai-nilai kejujuran, kasih sayang, dan kebenaran. Tokoh Pak Bambung dan Pak Handarbeni dpat digambarkan sebagai bentuk politik uang yang penuh dengan pelobi, cuci uang dan korupsi. Ahmad Tohari munggunakan bahasa yang lugas yang dapat dimengerti semua kalangan dalam novel ini.

(168) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis di atas, dapat disimpulkan bahwa pola kesopanan yang terdapat dalam interaksi antar tokoh dalam novel Belantik adalah wujud kesopanan yang telah memenuhi enam maksim kesopanan, yaitu maksim kearifan, maksim kedermawanan, maksim pujian, maksim kerendahan hati, maksim pemufakatan, dan maksim simpati. wujud kesopanan tersebut digunakan peneliti untuk melihat bentuk percakapan yang sopan yang digunakan Ahmad Tohari dalam novel Belantik. Terdapat pula lima skala kesantunan yang terdapat di setiap maksim kesopanan. Kelima skala tersebut adalah skala untung-rugi, skala keopsionalan, skala ketaklangsungan, skala otoritas, dan skala jarak sosial. Tuturan dikatakan santun, jika seorang penutur memperhatikan lawan bicaranya, tempat, waktu, jabatan, usia, dll. Sebagian besar interaksi yang terdapat dalam novel belantik dikatakan sopan dan telah memenuhi pola kesopanan karena penutur telah menggunakan tuturan yang sesuai dengan maksim kesopanan. Ahmad Tohari menggambarkan tokoh Lasi sebagai perempuan desa yang masih lugu dan polos. meskipun dia sudah menjadi orang kaya di Jakarta tetapi dia masih mempertahankan tata kramanya dalam berbahasa. Lasi berhasil menahan diri untuk tidak berbicara kasar kepada Pak Bambung dan Bu Lanting yang telah melukai perasaannya. Berdasarkan hasil analisis di atas, terdapat pula interaksi yang melanggar wujud kesopanan maksim kesopanan. Interaksi tersebut dikatakan melanggar 153

(169) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 154 karena tidak sesuai dengan prinsip kesopanan yang terdapat dalam maksim kesopanan, yaitu pelanggaran wujud maksim kearifan, pelanggaran wujud maksim kedermawanan, pelanggaran wujud maksim pujian, pelanggaran wujud maksim kerendahan hati, pelanggaran wujud maksim pemufakatan, dan pelanggaran maksim simpati. Di dalam pelanggaran wujud kesopanan terdapat pula lima skala kesantunan yang terdapat setiap pelanggaran pola maksim kesopanan. Kelima skala tersebut adalah skala untung-rugi, skala keopsionalan, skala ketaklangsungan, skala otoritas, dan skala jarak sosial. Ada beberapa bahasa percakapan yang digunakan Ahmad Tohari yang memang cenderung tidak sopan, hal itu terlihat dari beberapa tokoh seperti Bu Lanting, seorang mucikari yang terbiasa dengan dunia malam, dia mencari wanita-wanita cantik untuk dijualnya kepada seorang pejabat negara seperti Pak Bambung dan Pak Handarbeni. Ahmad Tohari menyesuaikan bahasa yang digunakannya dalam novel dengan keadaan kota Jakarta pada saat itu.. Terlihat sekali perbedaan cara bertutur kata orang desa dengan berbagai adat istiadatnya dengan orang kota yang memuja uang di atas segala-galanya. Adanya pelanggaran pada pola-pola kesopanan bukanlah suatu kesalahan, hal itu membuat pembaca seolah-olah melihat dan berada di kejadian yang ada dalam novel. Novel ini dikaji menggunakan kajian stilistika pragmatik untuk melihat gaya bahasa yang diguanakan ahmad Tohari dalam karangannya terutama pada novel Belantik. Untuk lebih memperdalam digunakanlah kajian pragmatik untuk memperlihatkan maksud dari pengarang kepada pembaca. Kesopanan dalam

(170) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 155 interaksi antartokoh pun tak luput untuk dikaji, seberapa besar pengarang mengunakan bentuk kesopanan di dalam karangannnya. 5.2 Saran Berdasarkan hasil temuan yang diuraikan dalam penelitian ini, ada beberapa saran yang sekiranya perlu diperhatikan. 1. Bagi peneliti lanjutan, novel yang dianalisis dalam penelitian ini adalah sebuah karya sastra dewasa yang berbobot. Dalam penelitian ini, peneliti mengkaji novel dengan menggunakan kajian stilistika pragmatik. Peneliti mengkaji dan menganalisis mengenai wujud kesopanan interaksi antar tokoh dalam novel, untuk selanjutnya peneliti menyarankan kepada pihakpihak lain untuk meneliti dan mengkaji mengenai seberapa banyak pengarang menggunakan bahasa yang sopan dalam keseluruhan percakapan antartokoh dalam novel. Peneliti menyarankan pula kepada pihak yang hendak melakukan penelitian sejenis yaitu menggunakan kajian stilistika pragmatik lainnya yang terdapat dalam sebuah novel, seperti wacana langsung dan tak langsung, simbolis, psikonarasi, dan lainlain. 2. Bagi masyarakat, dalam cerita novel ini banyak sekali pelajaran yang bisa diambil intisarinya. Pengarang secara tidak langsung mengkritik gaya hidup dan gaya bertutur masyarakat metropolitan yang terkenal dengan KKN, asal berbicara dan kehidupan seksnya, oleh karena itu pembaca diharapkan dapat memilah mana yang sebaiknya dapat dijadikan contoh

(171) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 156 dalam kehidupan sehari-hari dan mana yang tidak. Setiap perkataan yang terucap ada baiknya dapat memberikan kesan sopan saat berkomunikasi dengan mita tutur.

(172) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR PUSTAKA Black, Elizabeth. 2011. Stilistika Pragmatics. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Umum. Doren, Agustina Dupa. 2002. Kesetiaan Tokoh Lasi dalam Novel Belantik Karya Ahmad Tohari : Suatu Tinjauan Psikologis dan Implementasinya dalam Pembelajaran Sastra di SMU. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma. Eagleton, Terry. 2006. Teori Sastra: Sebuah Pengantar Komprehensif. Yogyakarta: Jalasutra. Gunarwan, Asim. 1992. “Presepsi Kesantunan Direktif Di Dalam Bahasa Indonesia Di Antara Beberapa Kelompok Etnik Di Jakarta”. Dalam B. Kaswanti Purwo (penyunting). PELLBA 5: Bahasa Budaya. Jakarta: Unika Atma Jaya. ______________. 1994.“Kesantunan Negatif Di Kalangan Dwibahasa Indonesia-Jawa di Jakarta: Kajian Sosiopragmatik”. Dalam B. Kaswanti Purwo (penyunting). PELLBA 7: Analisis Klausa, Pragmatik Wacana, dan Pengkomputeran Bahasa. Jakarta: Unika Atma Jaya. Leech, Geoffrey. 1993. Prinsip-Prinsip Pragmatik. Jakarta: Universitas Indonesia. Luxemburg, Januan, dkk. 1989. Tentang Sastra. Jakarta: Intermasa. Mihardja, Ratih. 2012. Buku Pintar Sastra Indonesia. Jakarta: Laskar Aksara. Nadar. 2009. Pragmatik dan Penelitian Pragmatik. Yogyakarta: Graha Ilmu. Nurgiantoro, Burhan. 2007. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Panuntun, Beata Prima Equatoria. 2011. Jenis-Jenis Tindak Tutur dan Pola Kesantunan dalam Novel “9 Matahari” : Suatu Tinjauan Pragmatik. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma. Pradopo, Rachmat Djoko. 2005. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Pranowo. 2012. Berbahasa Secara Santun. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Rahardi, R. Kunjana. 2005. Pragmatik: Kesantunan Imperatif Bahasa Indonesia. Jakarta: Erlangga. 157

(173) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 158 Ratna, Nyoman Kutha. 2009. Stilistika Kajian Pustaka Bahasa, Sastra dan Budaya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Rosyidi, dkk. 2010. Analisis Teks Sastra: Mengungkap Makna, Estetika, dan Ideologi dalam Perspektif Teori Formula, Semiotika, Hermeneutika dan Strukturalisme Genetik. Yogyakarta: Graha Ilmu. Sudaryanto. 1993. Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa: Pengantar Penelitian Wahana Kebudayaan Secara Linguistik. Yogyakarta: Duta Wacana University Press. Sujarwanto dan Jabrohim. 2002. Bahasa dan Sastra Indonesia: Menuju Perantransformasi Sosial Budaya Abad XXI. Yogyakarta: Gama Media. Tarigan, Henry Guntur. 1986. Pengajaran Pragmatik. Bandung: Angkasa. Tohari, Ahmad. 2001. Belantik: Bekisar Merah II. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Wardajahadi, Rr. L. Santi. 1999. Metafora dalam Percakapan Antaratokoh Pada Novel Balada Becak, Romo Rahardi, Burung-Burung Manyar, dan Burung-Burung Rantau Karya Y.B. Mangunwijaya: Suatu Tinjauan Semantik dan Pragmatik. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan: USD Wijana, I Dewa Putu. 1996. Dasar-Dasar Pragmatik. Yogyakarta: Andi Offset. Yulle, George. 2006. Pragmatik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Zed, Mestika. 2008. Metode Penelitian Kepustakaan. Jakarta: Yayasan Obor. http://journal.fsrd.itb.ac.id/jurnal-desain/pdf_dir/issue_3_7_13_5.pdf

(174) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 159 Lampiran 1 - Sinopsis Suatu hari seorang pejabat negara bernama Handarbeni merasa gelisah karena istri simpananya bernama Lasi akan dipinjam oleh Bambung. Bambung adalah seorang pejabat yang dikenal sebagai pelobi cerdik dan dia adalah musuh Handarbeni, sedangkan Lasi adalah seorang wanita dari dusun Karangsoga yang pergi ke Jakarta untuk bekerja, namun dia terjebak dalam dunia malam yang membuatnya menjadi wanita penghibur. Lasi memiliki paras yang cantik, hal itu yang membuatnya menjadi incara dan rebutan para lelaki, bahkan pejabat. Kekhawatiran Handarbeni terhadap Lasi membuatnya meminta pendapat dari Bu Lanting tentang persoalan yang dihadapinnya. Ketika Handarbeni mengucapkan nama Bambung, Bu Lanting langsung tertawa karena dia kenal sekali sifat Bambung, apalagi mengenai wanita. Bambung seperti mendapat buah simalakama, jika dia tidak meminjamkan Lasi pada Bambung, dia akan mendapat kesulitan dalam jabatannya, tapi dia juga tidak mau Lasi dipinjam oleh Bambung. Hari berikutnya Lasi diajak Bu Lanting pergi ke Singapura, dengan alasan ingin jalan-jalan sebentar. Di Singapura Lasi diajak berbelanja sepuasnya. Bu Lanting memperlihatkan sebuah liontin seharga empat puluh ribu dolar, melihat liontin itu mata Lasi seakan tidak berkedip. Bu Lanting membelikan liontin itu untuk Lasi dengan rekeningnya yang telah diisi uang jutaan dolar oleh Bambung. Setibanya di Hotel Lasi dikenalkan oleh Bambung , Bu Lanting memeperkenalkannya sebagai pacaranya. Hal ini sebenarnya hanya sebuah siasat yang direncanakan oleh Bu Lanting untuk mendekatkan Lasi dengan Bambung. Pada suatu malam Lasi disuruh Bu Lanting untuk menemani Bambung dalam acara makan malam. Acara makan malam itu dihadiri oleh para pejabat tinggi dan Duta Besar. Lasi pun dirias bak ratu dan dipakaikan liontin yang tadi diinginkannya. Seusai acara makan malam Bambung memintanya untuk menemaninya, waktu itu Bu Lanting mengatakan kepada Lasi bahwa ia sudah tidak menginap di hotel yang sama dengannya dengan alasan sudah menemukan laki-laki lain yang lebih greg. Lasi menemani Bambung berbincang-bincang di kamar hotel dan disaat Bambung meminta Lasi untuk melakukan hubungan badan Lasi menolak dengan alasan masih istri Handarbeni. Setibanya di Jakarta dia mendapati rumahnya sepi, bahkan kata sopirnya, suaminya lama tidak datang menemuinya. Hari berikutnya Lasi mendapat telepon dari Bu Lanting, ia mengatakan bahwa Handarbeni akan menceraikannya, dan ternyata benar suaminya itu aka menceraikannya. Lasi yang sedih karena suaminya akan menceraikannya memutuskan untuk pergi ke kampung halamannya di Karangsoga. Di sana ia menceritakan segalanya kepada Eyang Mus, sesepuh kampung itu. Selain bertemu dengan Mbok Wiryaji, ibunya, dia juga bertemu dengan Kanjat, teman sepermainannya waktu kecil. Ditengah

(175) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 160 perbincangannya dengan Kanjat, Lasi memintanya untuk mengantarkannya menemui pamannya di Sulawesi. Sebelum pergi Kanjat meminta pendapat dari Eyang Mus, dia pun meminta keduanya untuk menikah agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan ketika diperjalannya nanti. Karena keduanya saling mencintai akhirnya mereka menikah yang dinilai sah sesuai agama. Ketika mereka singgah di Surabaya dua orang suruhan Bambung memaksa Lasi untuk kembali ke Jakarta dan tinggal di rumah Bambung. Suatu hari Bu Lanting menemui Lasi, dan Lasi berkata bahwa dia sekarang sedang mengandung anak hasil perkawinannya dengan Kanjat. Hal ini membuat Bambung marah karena dia tidak suka pada wanita yang sedang hamil, ini membuat hati Lasi tenang. Waktu di Jakarta Lasi selalu menyempatkan diri untuk menelepon Kanjat, dengan menggunakan berbagai alasan kepada Bu Lanting agar ia bisa keluar dan memberitahukan bahwa dia sedang mengandung anak mereka. Lasi juga menceritakan tentang surat-surat penting milik Pak Bambung yang diberitahukan Bu lanting kepada Lasi. Suatu hari tidak sengaja Kanjat mendengarkan radio, dan di radio itu ada berita tentang pelobi tingkat tinggi yang telah berhasil ditangkap oleh polisi dan sudah ditahan oleh Kejaksaan Agung, dengan dugaan adanya tindak korupsi. Orang yang ditangkap itu tak lain adalah Bambung. Kanjat pun menjemput Lasi ke Jakarta untuk dibawanya pulang ke Karangsoga.

(176) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 161 Lampiran 2 – Data Interaksi Yang Mengandung Wujud Kesopanan Keterangan : L : Lasi BL : Bu Lanting WR1 : Wujud Kesopanan Maksim Rendah Hati WK1 : Wujud Kesopanan Maksim Kesepakatan SO2 : Skala Opsional SK3 : Skala Ketaklangsungan SJ5 : Skala Jarak Sosial SU1 : Skala Untung Rugi No ST4 Tuturan dan Maksim : Skala Keotoritasan Konteks Kode A. Wujud kesopanan yang sesuai dengan Maksim Rendah hati 1. L :“Saya, Bu? BL:“Iya! Ah, mendampingi Dituturkan Oleh Lasi WR1.SO2 kamu suami kan pada sering untuk menolak secara acara halus perintah seperti ini di Jakarta. Ya seperti Lanting Bu yang itulah. Bedanya, kali ini sebagian menginginkannya besar peserta adalah orang asing.” menemani L :“Ibu sendiri kenapa?” Bambung, pacarnya. BL:“Eh, sudah dibilang aku harus tahu diri. Bagaimana kalau Bapak Duta Besar nanti melihat pendamping Pak Bambung bukan istrinya, lagi pula tua dan gembrot? Lagian, kamu kan Cuma saat acara makan malam mendampingi Pak Bambung, sesudah Pak

(177) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 162 itu dia kembali jadi pacarku lagi. Gampang kok.” (halaman 35) 2. L :“Saya juga bukan istrinya, Bu?” Dituturkan oleh Lasi WR1.SO2 BL:“Lain, Las, lain. karena kamu untuk menolak secara muda dan sangat, sangat pantas, halus permohonan Bu hadir di tengah perempuan cantik Lanting yang lainnya. Duta besar dan istrinya pasti memintanya menemani akan tahu kamu memang bukan istri Pak Bambung dalam Pak Bambung. Tetapi mereka mau acara makan malam apa, sebab kamu adalah yang bersama pejabat tercantik di antara semua perempuan penting. yang pernah digandeng Pak Bambung. Paling-paling Duta besar akan tersenyum sama-sama maklum lelaki. Dan karena istrinya paling-paling hanya bisa menatapmu dengan rasa iri. Ah, entahlah. Yang penting kamu mau, kan?” L :“Anu, Bu…tetapi, Bu… saya tidak membawa pakaian yang pantas, saya…”. BL:”Eh, Las, kamu lupa ini singapura. (halaman 35) B. Wujud Kesopanan Maksim Kesepakatan 1. BL :“Lho, kok diam? Tadi aku mau Dituturkan oleh Lasi WK1.SK3 bertanya apa kamu mau menerima untuk kedatangan Pak Bambung malam kehadiran ini?” menyetujui Pak Bambung yang akan

(178) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 163 L :“Bu, saya kan tidak bisa apa-apa. menemuinya, ketika Kalau Pak Bambung mau datang, Bu Lanting bertanya saya juga tidak bisa menolak.” BL:“Jelasnya, Las, kamu tentang kesediaan Lasi mau untuk menerima dia, kan?” L :“Karena saya tidak bisa menolak, ya mau. Ini rumah Pak Bambung, kan?” BL :“Ya, Tetapi sudah diberikan kepadamu. Pak Bambung tak pernah main-main.” (halaman 109) bertemu Bambung Pak

(179) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 164 Lampiran 3 – Data Yang Mengandung Pelanggaran Wujud Kesopanan Keterangan : L : Lasi PA2 : Pelangaaran Wujud Kesopanan Maksim Kearifan PK2 : Pelanggaran Wujud Kesopanan Maksim Kesepakatan SO2 : Skala Opsional SK3 : Skala Ketaklangsungan SJ5 : Skala Jarak Sosial SU1 : Skala Untung Rugi No BL : Bu Lanting ST4 Tuturan dan Maksim : Skala Keotoritasan Konteks Kode A. Pelanggaran Pola Kesopanan Maksim Kearifan 1. BL :“Ya begitu, Las. Karena merasa Dituturkan sudah memiliki kamu maka besok pagi Lanting Pak Bambung akan datang. Dia akan takut sebelah timur Bu PA2.SO2 agar Lasi kepada Pak membawamu ke rumah baru di daerah Bambung Menteng, oleh Hotel dijadikan dan ma u simpanan Indonesia. Artinya, dekat rumahku di oleh Pak Bambung. Cikini. Jadi besok pagi kamu jangan ke Ketika Lasi tahu dia mana-mana. Jelas?” sudah diceraikan oleh L :“Sebentar, Bu. Kalau saya tak mau suaminya, Mas Han, bagaimana? Atau, bagaimana bila dan kalung itu saya kembalikan?” ingin mengembalikan BL :“E, jangan berani main-main kalung pemberian Pak dengan Pak Bambung. Dengar, Las. Bambung. Dua-duanya t ak mungkin kamu

(180) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 165 lakukan. Pak Bambung sangat keras. Kalau dia punya mau harus terlaksana. Dan kalau mengembalikan kalung itu, dia akan menganggap kamu menghinanya. Maka kubilang jangan main-main sama dia. Kamu sudah tahu, suamimu pun tak berdaya.” (halaman 61) 2. L :“Satu hal lagi, Bu,” kata Lasi Dituturkan setelah tawanya mereda. “Bagaimana Lanting oleh Bu PA2.SJ5 untuk setelah anak saya lahir kelak? Apakah menjawab pertanyaan saya masih harus tinggal di rumah Lasi ini?” mengenai nasibnya nanti ketika BL :“Terus terang, aku tidak tahu. ia sudah melahirkan. Tetapi sepanjang pengalamanku, orang gedean cepat bosan terhadap simpanannya. Karena banyak duit, ya ingin segera ganti mainan. Buktinya Pak Handarbeni. diserahkan karena kepada Kamu segera Pak Bambung diiming-imingi sebuah perusahaan perkapalan. Dan jabatan menteri. Khusus tentang Pak Bambung aku berani bertaruh; dia akan segera bosan stelah melihat perutmu buncit. Atau begini saja, Las. Berpikirlah apa yang bisa dilakukan sekarang. Soal nanti, bagaimana nanti saja. Itu lebih ringan. Iya, kan?” (halaman 120)

(181) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 166 3. BL :“He-he, tentu saja kamu cukup Dituturkan uang. Siapa Handarbeni. dulu kamu; Maka belanja-belanja. oleh Nyonya Lanting Bu PA2.SJ5 untuk okelah, kita memamerkan sesudah itu, barunya kepada Lasi, Dan pacar kamu jangan iri, ya?” yang akan ditemuinya L :“Iri bagaimana, Bu?” setiba di Singapura. BL :“Begini, Las. Kalau hanya mau belanja, saya tak pergi ke Singapura hari ini. Nah, kamu jangan iri ya. Soalnya nanti aku mau ketemu—biasa, Las—pacar. Lho iya. Meski sudah tua dan segembrot ini, apa salahnya aku cari kesenangan. Eh, Las. Aku sering dengar orang menyindirku. Katanya, aku ini orang yang tak mampu pacaran ketika muda pelampiasan sehingga sesudah tua. cari Biarin. Suka-suka! Aku memang suka pacaran meski usia sudah di atas lima puluh. Habis, enak sih! Nah, sekarang ini pun aku dalam perjalanan untuk bertemu pacar. Lalu kamu yang masih muda dan cantik, iri apa tidak?” (halaman 27) B. Pelanggaran Pola Kesopanan Maksim Kesepakatan 1. L :“Tunggu, Bu. Ada satu lagi yang akan saya pertahankan.” BL :“Apalagi, Las. Kok kamu jadi banyak macam?” PK2.ST4

(182) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 167 L :“Saya tidak mau kesucian kandungan saya dikotori. Saya mau menemani Pak Bambung ke mana pun. Dituturkan oleh Lasi Tetapi bila Pak Bambung minta hal untuk mendapat yang satu itu, saya akan menolak. kesepakatan Pokoknya menolak.” dengan Bu Lanting bahwa dia BL :“Yah, memang agak meragukan tidak mau kesucian juga, apakah Pak Bambung bisa tahan kandungannya dikotori bila sudah berdua-dua dengan kamu. oleh Pak Bambung. Setahu saya dia memang bandot. Tetapi ada satu hal yang patut kamu dengar. Tadi Pak Bambung bilang, dia tidak nafsu terhadap perempuan hamil.”(halaman 119) 2. L :“Bu, saya mau makan laksa.” Dituturkan oleh Lasi PK2.SU1 BL :“Apa? Laksa? Makanan apa itu?” untuk menjawab L :“Masa Ibu tak mengerti laksa? Itu, pertanyaan Bu Lanting yang ada taoge, ada oncom, pedas, mengenai pakek tauco…” Laksa, makanan yang BL :“Oh, aku ingat. Makanan orang diinginkannya. Betawi itu?” L :“Mungkin. Saya kurang tahu.” (halaman 104) 3. BL :“Peduli anak siapa, karena kamu Dituturkan oleh Lasi PK2.SO2 hamil, besok kamu saya bawa ke untuk dokter. Bersiaplah jam delapan pagi.” perintah Bu Lanting L :“Saya akan siap, Bu. Apa Pak yang Bambung juga bicara menolak ingin agar soal kandungannya di

(183) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 168 pengguguran?” gugurkan. BL :“Ya. Bila benar kamu hamil, dia memang menghendaki kandunganmu digugurkan.” L :“Tidak bisa, Bu. Saya tidak mau.” BL :“Ah, apa iya? Bagaimana kalau kamu dipaksa?” L :“Dipaksa? Saya… saya… saya akan nekat.” BL :“Nekat bagaimana?” L :“Pokoknya nekat. Ibu sudah tahu bila orang sudah nekat.” (halaman 116-117) 4. BL :“Las, dokter bisa menggugurkan Dituturkan oleh Lasi PK2.SO2 kandunganmu merasakannya. tanpa kamu harus kepada Paling-paling Bu Lanting kamu bahwa dia tidak ingin disuruh menghisap sesuatu dengan kandungannya hidung, lalu tidur. Begitu kamu bangun gugurkan dokter sudah selesai. Atau malah lebih karena di bukan takut sakit, mudah dari itu. Karena kandunganmu selain itu ancaman Bu masih sangat penggugurannya muda, siapa cukup tahu Lanting tidak mempan dengan kepadanya. menelan obat. Nah, gampang sekali, kan?” L :“Ibu salah paham. Saya tidak mau menggugurkan kandungan bukan karena takut sakit, melainkan karena saya ingin punya anak. Kita samasama perempuan; apa Ibu tidak pernah punya perasaan seperti itu?”

(184) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 169 BL :“Baiklah, Las. Sekarang akau bisa memahami kemauanmu. Masalahnya, kita sedang berhadapan dengan Pak Bambung yang sudah terbukti bisa melakukan kekerasan. Ah, kamu dengar dari TV kemarin, ada mayat perempuan cantik terpotong-potong dan teronggok di halte bus? Perasaanku mengatakan perempuan yang dibunuh itu tersangkut hubungan gelap dengan orang atas. Nah, aku tidak ingin hal semacam ini terjadi atas dirimu.” L :“Kok Ibu seperti mengancam? Kan saya sudah bilang kalau dipaksa menggugurkan kandungan saya mau nekat. Kalau nekat ya bekat. Buat apa hidup kalau saya harus kehilangan kandungan yang sudah sangat lama saya nantikan.” (halaman 118)

(185) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BIOGRAFI PENULIS Asteria Ekaristi anak ke-tiga dari tiga bersudara lahir di Klaten pada tanggal 3 Januari 1991. Menempuh Pendidikan Dasar di SD Kanisius Murukan Wedi, Klaten pada tahun 1997-2003. Menempuh Pendidikan Menengah Pertama di SMP Pangudi Luhur 1 Klaten pada tahun 2003-2006. Pada tahun 2006-2009 melanjutkan Pendidikan Menengah Atas di SMA Stella Duce 2 Yogyakarta. Seusai menempuh jenjang SMA pada tahun 2009 tercatat sebagai mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Pada masa pendidikan di Universitas Sanata Dharma diakhiri dengan menulis skripsi sebagai tugas akhir dengan judul Wujud Kesopanan Level Interaksi Antartokoh dalam Novel “Belantik” Karangan Ahmad Tohari: Suatu Tinjauan Stilistika Pragmatik. Skripsi ini disusun sebagai syarat yang harus ditempuh untuk mendapatkan gelar sarjana.

(186)

Dokumen baru