STUDI KASUS TENTANG KESULITAN BELAJAR MEMBACA KEPADA SISWA DYSLEXIA KELAS III SD KANISIUS MINGGIR SLEMAN

Gratis

0
1
133
10 months ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI STUDI KASUS TENTANG KESULITAN BELAJAR MEMBACA KEPADA SISWA DYSLEXIA KELAS III SD KANISIUS MINGGIR SLEMAN SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Disusun oleh: Hertami Ratnafuri NIM : 101134077 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014

(2) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI STUDI KASUS TENTANG KESULITAN BELAJAR MEMBACA KEPADA SISWA DYSLEXIA KELAS III SD KANISIUS MINGGIR SLEMAN SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Disusun oleh: Hertami Ratnafuri NIM : 101134077 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014 i

(3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI SKRI PSI STUDI KASUS TENTANG KESULI TAN BELAJ AR PI I EMBACA KEPADA SI SWA D脱 粥 KELAS I I I SD KANI SI US MI NGGI R SLEMAN Pembimbing I Tanggal 27 JuliZA1,4 Pembimbing tr B rigitta Erlxa T ri Anggadewi, M. Psi Tanggal 21I:Jri2014

(4) -. !!! ue11pprrcAntu11 ucp UetLInEaX 716g sqm8y y se{qc{ "uap,{Eoa 'O'qd'umH1{''pd'S'q:eur711,{ug : e1o33uy erq8Pg,: eioEEuy .,...sing:y\L*jtptiirimS.4og,f puuSl'erg: elodbuv ISd'I{ 1'\{tP9A!uV IJJ, ur1lrg , ,.. :''.':;o?E' Yr{"pa-s.,tBlTT.ui m16 : sr.rBleqos : .--'Y'ru':JSg "S : : :-: r:':rr:,r.: : I ::ll .._,,,:, S ''fS 'epeqer8nSl IrV :_': -: *::: - r[n8ue4e4rued , I enlsx : : ::' .. ,:..-:ldg{BqeTnqgN ryTttts, : rmrf-iTci=frffi . .qe1o, unmsIP',IrBP uuldels:od1p 6ueA I\IWAIfl'IS UI)CNIW ,: :: y'3YflIAI W wrrr,'rflg NYJitnSUX'CmVrNf,"[ snsy.x IGms I ::'Isdru)rs' PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(5) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI HALAMAN PERSEMBAHAN Karya ini peneliti persembahkan kepada:  Tuhan Yesus Kristus dan Bunda Maria yang senantiasa melimpahkan rahmat dan kekuatan kepada peneliti sehingga dapat menyelesaikan pendidikan.  Dosen pembimbing I, Dra. Ignatia Esti Sumarah, M.Hum. dan Dosen pembimbing II, Brigitta Erlita Tri Anggadewi, M.Psi yang dengan sabar membimbing peneliti menyelesaikan skripsi.  Bapak Hariyadi dan Ibu Murjinem, kedua orang tua yang selalu memberikan doa, dukungan, perhatian, kasih sayang dan semangat untuk menyelesaikan pendidikan.  Albertus Gading Wijatmiko, Natalia Rani Sagita, Dimas Bayu Aji, Ibu Ruby Femy yang selalu memberikan doa.  Seluruh keluarga besar Yosodimulyo dan keluarga besar Yohanes Paulus yang telah memberikan dukungan yang besar kepada peneliti.  Sahabat-sahabat: Andi Gunawan, Sitoresmi Atika Pratiwi, Anik Susilowati, Meilani, dan teman-teman dari club JSL ( Haryanto, Adi, Antok, Asa, Hendric, Alfret, Michael dll) yang telah banyak membantu dan memberikan motivasi, semangat dan dukungan. iv

(6) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI MOTTO Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan ia memberi kekekalan di dalam hati mereka (Pengkhotbah 3 : 11) Tuhan mengulurkan tangan-Nya untuk menolong mereka yang telah berusaha keras. (Aeschylus) Tuhan itu baik, dan penuh dengan kasih, oleh karena itu apapun yang telah diberikan oleh-Nya hendaknya kita harus terus bersyukur. v

(7) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PERNYATAAN KEASLI AN KARYA Saya menyatakan bahwa skripsi yang saya tulis sendiri. Sepanjang sepengetahuan saya, skripsi ini adalah hasil pekerjaan saya ini tidak berisi materi yang ditulis oleh orang lain, kecuali bagian-bagian tertentu yang saya ambil sebagai acuan dengan mengikuti tata cara dan etika penulisan karya ilmiah yanglazim. Apabila ternyata terbukti bahwa pernyataan ini tidak benar sepenulurya menjadi tanggungjawab saya. Yogyakarta, 4 Agustus 2014 Hcr t aml Rat nai r l Vl

(8) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI LEPI BAR PERNYATAAN PERSETUJ UAN PUBLI KASI KARYA I LI l l I AH UNTUK KEPENTI NGAN AKADEPI I S Yang bertandatangandi bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma: Nama : Hertami Ratnafuri NIM :101134077 Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya itmiah yang berjudul: STUDI KASUS TENTANG KESULI TAN BELAJ AR SI SWA DysLI t t Z4 KELAS ⅡI SD KANI SI US ⅣI EⅣ I BACA ⅣI I NGGI R KEPADA SLEMAN Dengan demikian saya memberikan kepada perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikanya atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta di internet ijin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai peneliti. Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya. Yogyakarta, 4 Agustus 2014 Hertami Ratndfuri Vl l

(9) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ABSTRAK STUDI KASUS TENTANG KESULITAN BELAJAR MEMBACA KEPADA SISWA DYSLEXIA KELAS III SD KANISIUS MINGGIR SLEMAN Hertami Ratnafuri Universitas Sanata Dharma 2014 Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui kemampuan membaca dua siswa dyslexia kelas III SD Kanisius Minggir Sleman, dan (2) mengetahui faktor apa saja yang menjadi kesulitan membaca(dyslexia). Fokus penelitian ini adalah studi kasus kesulitan belajar membaca kepada siswa dyslexia kelas III SD Kanisius Minggir Sleman. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas III SD Kanisius Minggir Sendangagung Sleman tahun pelajaran 2013/2014 pada semester II (genap) dengan jumlah siswa 2 anak yang semuanya adalah siswa putra. Metode penelitian studi kasus dengan wawancara dan observasi langsung sebagai sumber data utama. Analisis data studi kasus dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas, sehingga datanya sudah jenuh.” Aktivitas dalam analisis data, yaitu data reduction, data display, dan conclusion drawing. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa, dua siswa kelas III SD Kanisius Minggir Sleman TN dan DR mengalami kesulitan belajar membaca (dyslexia). Hal ini dapat dibuktikan melalui asesmen informal, yang didalamnya terdapat kemampuan membaca lisan, dan membaca pemahaman. TN dan DR masih sulit (1) mengeja dengan benar, (2) mengeja kata atau suku kata yang bentuknya serupa, misal: b-d, u-n, v-w, k-y, i-l atau m-n, (3) ketika membaca tidak berurutan, (4) kesulitan mengurutkan huruf-huruf dalam kata, dan (5) kesalahan mengeja yang dilakukan terus-menerus Kata kunci: Studi kasus, kesulitan belajar membaca (dyslexia) viii

(10) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ABSTRACT A CASE STUDY OF DIFFICULTY IN READING TOWARDS THE STUDENTS IN THE THIRD GRADE WHO HAVE DYSLEXIA OF KANISIUS ELEMENTARY SCHOOL MINGGIR SLEMAN Hertami Ratnafuri Sanata Dharma University 2014 This research aims to (1) figure out the reading ability of students in the third grade who have dyslexia of Kanisius Elementary School Minggir Sleman, and (2) the factors of having difficulty in reading (dyslexia). Focus of research is a case study oflearning difficulties dyslexia to read to the studentsof clas III SD Kanisius Minggir Sleman. The research subjects were the two male students having dyslexia of the third grade of Kanisius Elementary School Minggir Sleman of the semester II school year 2013/2014. The research method was the case study with the data collection technique of interview and direct observation. The data analysis technique was done interactively and continously until having it out. The used data analysis were the reduction data, display data, and conclusion drawing. The result shows that the two male students of the third grade of Kanisius Elementary School Minggir Sleman with the initial TN and DR had difficulty in reading (dyslexia). This was proven in the informal assessment which provides the oral reading and reading comprehension. The characteristics of the dyslexia shown by TN and DR were about difficulties in (1) pronouncing words, (2) differentiating letters b-d, u-n, v-w, k-y, i-l, or m-n, (3) sequencing the paragraph in a text, (4) sequencing letters in a word, (5) continually spelling error and finding the text’s content. Keywords: case study, dyslexia (difficulty in reading) ix

(11) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI KATA PENGANTAR Puji Syukur kepada Tuhan Yesus, yang telah memberikan karunia dan rahmatNya sehingga skripsi ini dapat selesai tepat waktu. Tidak lupa peneliti ingin menyampaikan rasa terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu selama proses penyusunan skripsi ini. Ucapan terima kasih ini peneliti sampaikan kepada: 1. Bapak Drs. Rohandi., Ph.D., Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma yang telah memberikan ijin penelitian. 2. Romo G. Ari Nugrahanta, SJ., S.S., BST., MA., Ketua Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar. 3. Ibu Dra. Ignatia Esti Sumarah, M.Hum., dosen pembimbing I yang telah sabar membimbing dan memberikan saran serta motivasi kepada peneliti dari awal penelitian sampai akhir penelitian. 4. Ibu Brigitta Erlita Tri Anggadewi, M.Psi, dosen pembimbing II yang telah meluangkan waktu untuk membimbing, dan mengarahkan peneliti dalam penyusunan skripsi ini. 5. Para dosen dan pihak sekretariat Prodi PGSD Sanata Dharma, atas bantuan dan saran yang telah diberikan. 6. Ibu Christina Kusumastuti, S.PdSD., kepala sekolah SD Kanisius Minggir Sleman yang telah memberikan ijin dalam pelaksanaan penelitian. 7. Ibu AY. Sumiyem., guru kelas III SD Kanisius Minggir Sleman telah memberikan masukan dan mengarahkan dalam proses penelitian ini. x

(12) Ix Irluuul"u rueueH 'S'i(i) IllJeued y16g snlsn8y 7 .ege1e,{Bo1 'ue4de.ruq nlr >Jnlun 'uu8uernls>1 1u,(ueq ltlleued le8ues un8uuqureu Eue,( >lltg{ uup uures qrff., rur rsduls uepe,(uetu Illleued l,rlld 1ef,uuq 6eq uun8req u,p le,Jue., u*lrJeq.,eur ledep rur rsdrqs uerlryeued efumj eEoureg 'nlusred nl?s wrmqesrp ludup 1epr1Eue,{ nlusqueu qu1e1Euu,( )pqld ?nues .?l 'lllloued IEuq rsurrrlour ualrreqtuatu qe1e1 Eue,( B sere{ u,(usnsnq>1 0r0z uu}e>I8uu q5g4 uetuel snues.rl .u?)lrJeqrp nJBIes Ewt, tpz?uerues uup uu4eqred 'ueEunlnp sep ,e4n6 qryeg uerldes souuqol .z I 'ualrJeqrp nl?les Euu,( uumqese>l uep Blurc s?tu r1rsuleturJel ,oznoqer4 l[V qeEtC .t t 'uolrJeqrp qe1e1 Eue,( uurpqrad'uenluuq s?lB r{ls?{ srurJel >roluv'1py 'perJ1y rselrloru uep .esy .rpng o1ue,(;e11 TSf IrBp 1equgps uep IIUV ,ure1ovetu\eunC rpuv .u{lly rusero}rs :{req }uryq?S .01 'Juseq u8rcnyel qnJnles uup oryru1etr16 Euypeg n>pllpe uep rpez(l.re11,Eue,{usrst qefieuges ..p4 .g ,uaurftn141 .e1ulcre1nq1 .6 'tut uurlrleued uulep rsudrsrped.leq qelel Ewt' ueu,als rrE8ugzl snrsruux ([s m sele{ oua\st(p E^\srs ,nc[ .g PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(13) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ...................................................................................... i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ......................................... ii HALAMAN PENGESAHAN ....................................................................... iii HALAMAN PERSEMBAHAN ................................................................... iv MOTTO ....................................................................................................... v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ....................................................... vi LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS ..................... vii ABSTRAK ..................................................................................................... viii ABSTRACT .................................................................................................... ix KATA PENGANTAR ................................................................................... x DAFTAR ISI .................................................................................................. xii DAFTAR BAGAN ......................................................................................... xvi DAFTAR TABEL ......................................................................................... xvii DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................. xviii BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ................................................................................... 1 1.2 Rumusan Masalah Penelitian ............................................................ 4 1.3 Tujuan Penelitian ............................................................................... 5 1.4 Manfaat Penelitian ............................................................................. 5 1.4.1 Manfaat Teoritis........................................................................ 5 xii

(14) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 1.4.2 Manfaat Praktis ......................................................................... 5 1.5 Definisi Operasional ......................................................................... 6 BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Kajian Pustaka ................................................................................... 7 2.1.1 Hakikat Kemampuan Membaca Permulaan ............................. 7 2.1.1.1 Pengertian Kemampuan ................................................... 7 2.1.1.2 Pengertian Membaca ......................................................... 7 2.1.1.3 Pengertian Kemampuan Membaca.................................... 10 2.1.1.4 Pengertian Membaca Permulaan ....................................... 11 2.1.1.5 Pengertian Kemampuan Membaca Permulaan.................. 13 2.1.2 Kesulitan Belajar ...................................................................... 19 2.1.2.1 Definisi Kesulitan Belajar ................................................. 19 2.1.2.2 Faktor-Faktor Penyebab Kesulitan Belajar ....................... 21 2.1.3 Kesulitan Belajar Membaca (dyslexia)..................................... 24 2.1.3.1 Definisi Kesulitan Belajar Membaca (dyslexia)................ 24 2.1.3.2 Gejala dyslexia .................................................................. 26 2.1.3.3 Karakteristik dyslexia ........................................................ 28 2.1.3.4 Masalah dyslexia ............................................................... 31 2.1.3.5 Asesmen Kesulitan Belajar Membaca untuk Kelas 3 SD............................................................... 33 2.1.3.6 Cara Mengatasi Anak Dyslexia ......................................... 35 2.1.4 Penelitian yang Relevan ........................................................... 40 2.1.5 Kerangka Berpikir .................................................................... 42 xiii

(15) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB III. METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian................................................................................... 44 3.2 Setting Penelitian .............................................................................. 46 3.2.1 Tempat Penelitian ................................................................... 46 3.2.2 Subjek Penelitian ..................................................................... 46 3.3 Desain dan Langkah-langkah penelitian............................................ 46 3.4 Metode penelitian .............................................................................. 49 3.4.1 Sumber Data ............................................................................ 49 3.4.2 Teknik Sampling (Cuplikan) ................................................... 49 3.4.3 Teknik Pengumpulan Data ....................................................... 50 3.4.4 Instrumen Penelitian................................................................. 55 3.4.5 Kredibilitas, transferabilitas dan Validitas data ....................... 58 3.4.6 Analisis Data ............................................................................ 60 3.5 Prosedur Kegiatan Penelitian............................................................. 61 3.6 Jadwal Penelitian .............................................................................. 62 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian .................................................................................. 64 4.1.1 Pelaksanaan Observasi ............................................................. 64 4.1.2 Hasil Observasi ........................................................................ 65 4.1.3 Wawancara Dengan Guru Kelas ............................................. 67 4.2 Identifikasi Kesulitan Belajar ............................................................ 72 4.2.1 Definisi Kesulitan Belajar ....................................................... 72 4.2.2 Identifikasi Kesulitan Belajar Membaca (dyslexia) ................ 73 xiv

(16) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.3 Diagnosis............................................................................................ 76 4.4 Pembahasan ....................................................................................... 78 BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan ....................................................................................... 86 5.2 Saran ................................................................................................. 87 5.3 Keterbatasan Penelitian...................................................................... 87 DAFTAR REFERENSI ................................................................................. 89 LAMPIRAN ................................................................................................... 91 xv

(17) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR BAGAN Bagan 2.1 Penelitian yang Relevan ................................................................ 42 Bagan 3.1 Desain Penelitian ............................................................................ 47 xvi

(18) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR TABEL Tabel 3.1 Pedoman Observasi ........................................................................ 53 Tabel 3.2 Jadwal Penelitian.............................................................................. 63 xvii

(19) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 Hasil Observasi ............................................................................ 92 Lampiran 2 Wawancara dengan Guru Kelas ................................................... 96 Lampiran 3 Foto TN dan DR di sekolah ......................................................... 103 Lampiran 4 Foto DR saat membaca buku cerita ............................................. 104 Lampiran 5 Foto TN saat membaca buku cerita ............................................. 106 Lampiran 6 Garis besar wawancara ................................................................ 108 Lampiran 7 Surat permohonan izin penelitian ................................................ 111 Lampiran 8 Surat keterangan melaksanakan penelitian .................................. 112 Lampiran 9 Biodata Peneliti............................................................................. 113 xviii

(20) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Keberadaan anak berkesulitan belajar sekarang ini hampir selalu dijumpai dalam setiap kelas regular di sekolah dasar. Kesulitan belajar yang dihadapi tentunya bermacam-macam yaitu kesulitan membaca, menulis, dan berhitung. Anak yang memiliki kesulitan dalam satu atau lebih dan kesulitan tersebut, biasanya memiliki prestasi dan nilai yang rendah terhadap mata pelajaran tersebut. Istilah yang digunakan untuk menyebut anak berkesulitan belajar cukup beragam. Keragaman istilah ini disebabkan oleh sudut pandang ahli yang berbeda-beda. Istilah umum yang sering dipakai oleh para ahli pendidikan adalah learning disabilities yang diartikan sebagai kesulitan belajar (Donald dalam Permanarian, 2007:83). Kesulitan belajar yang akan dibahas disini adalah tentang kesulitan membaca. Kesulitan belajar membaca adalah merupakan suatu sindroma kesulitan dalam mempelajari komponen-komponen kata dan kalimat, dan dalam belajar segala sesuatu yang berkenaan dengan waktu, arah dan masa (Bryan dalam Abdurrahman, 2009:204). Gejala yang biasanya nampak yaitu pada saat anak itu mulai belajar membaca atau mulai mengenal bentuk-bentuk awal, dia sudah mengalami kesulitan. Sering kali anak tersebut salah mendengar atau mengucapkan huruf. Bagi anak yang sudah bisa membaca, bahkan ketika membaca sering ada huruf yang terlompati atau terbalik. 1

(21) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2 Menurut Akhadiah dkk (1993: 22) membaca merupakan suatu kesatuan kegiatan yang mencakup beberapa kegiatan seperti mengenali huruf dan katakata, menghubungkan bunyi serta maknanya, serta menarik kesimpulan mengenai maksud bacaan. Menurut Abdurahman (2003:200) membaca merupakan aktivitas kompleks yang mencakup fisik dan mental. Aktivitas fisik yang terkait dengan membaca adalah gerak mata dan ketajaman penglihatan. Aktivitas mental mencakup ingatan dan pemahaman. Orang dapat membaca dengan baik jika mampu melihat huruf-huruf dengan jelas, mampu menggerakkan mata secara lincah, mengingat simbul-simbul bahasa dengan tepat dan memiliki penalaran yang cukup untuk memahami bacaan. Kemampuan membaca merupakan dasar untuk menguasai berbagai bidang studi. Jika anak pada usia permulaan tidak segera memiliki kemampuan membaca, maka ia akan mengalami banyak kesulitan dalam mempelajari berbagai bidang studi dikelas-kelas berikutnya (Abdurrahman, 2009:204). Kemampuan membaca mempunyai peranan penting dalam membantu siswa dalam mempelajari banyak hal. Menurut Dhieni (2009:13), siswa kelas III harus memiliki kemampuan dasar untuk membaca yaitu kemampuan membedakan auditorial, kemampuan diskriminasi visual, kemampuan membuat hubungan suara dengan simbol, kemampuan bahasa lisan dan kemampuan membangun suatu latar belakang pengalaman. Peneliti tertarik untuk mengamati kesulitan 2 siswa dalam hal membaca khususnya di kelas III. Berdasarkan pengamatan peneliti, ada dua siswa yang kesulitan membaca dengan lancar. Berdasarkan hasil pengamatan pada saat dilakukan asesmen mengenal huruf [a] sampai [z] diketahui bahwa, kedua anak

(22) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3 tersebut sudah mampu mengenal huruf khususnya huruf vokal seperti: a, i, u, e, o. Anak sudah mengenal huruf tersebut meskipun peneliti meletakkan tidak berurutan dan memintanya menunjukkan serta menyebutkan satu persatu. Selain huruf vokal tersebut, kedua anak tersebut sudah mengenal semua huruf konsonan. Pada saat guru kelas mencoba lagi menggunakan cara membaca kata atau kalimat, kedua anak tersebut mengalami kesulitan dalam membaca huruf yang dimaksud dengan benar, atau masih banyak melakukan kesalahan dalam membaca kata tersebut. Siswa TN masih lamban dalam membaca, serta menghilangkan dan mengganti huruf dalam membaca sebuah kata. Misalnya pada kata “perahu” dibaca anak “perau”; kata “mencari” dibaca anak “mecari”. Siswa A juga belum mampu membedakan huruf w dengan v, huruf m dengan n, kesulitan membaca huruf r, dan belum bisa membaca atau mengucapkan “ng”. Siswa DR pada saat membaca selalu terburu-buru sehingga sering salah, menghilangkan huruf, mengganti huruf, menambahkan huruf dalam membaca sebuah kata, misalnya pada saat membaca; kata “mendapatkan” dibaca anak “mendapat”; kata “pelelangan” dibaca anak “pelenangan”; kata “mencukupi” dibaca anak “cukup”; kata “taman” dibaca “tamanan” dan lain sebagainya. Siswa B juga belum mampu membedakan huruf, seperti huruf b dengan d, huruf k dengan y, huruf l dengan i dan lain sebagainya. Padahal kemampuan tersebut merupakan kemampuan awal yang perlu dimiliki peserta didik untuk membaca dengan baik dan benar. Berdasarkan gagasan tersebut maka peneliti tertarik untuk membantu kedua anak tersebut agar dapat membaca dengan baik, dengan cara meminta anak untuk

(23) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4 menggabungkan huruf huruf yang dikenal dengan ditambahkan huruf vokal, sehingga huruf-huruf tersebut bisa dituliskan dalam suku kata. Misalnya anak sudah mengenal huruf [b] maka peneliti membantu atau merubah metode menulis anak sebelumnya dengan langsung mengenalkan suku katanya. Secara latar belakang anak tersebut sudah mengenal huruf vokal, sehingga dengan huruf [b], anak mampu menulis menjadi suku kata, seperti [ba,bi, bu, be,bo]. Di samping itu, anak sudah cukup baik menulisnya. Dari hasil asesmen tersebut peneliti dapat melihat anak mampu membaca suku kata yang penulis sebutkan. Anak sudah dapat membedakan antara huruf [b] dan [d], jika ditambah dengan vokal [a], maka jika [ba] itu ditulis dengan membaca [b] ditambah [a]. Demikian juga dengan [da], jika ditulis dengan menggunakan [d] ditambah [a]. Tapi, kalau disuruh membaca dalam sebuah kata, anak sering salah membacanya, karena anak menghilangkan atau mengganti dengan huruf lain. Berdasarkan permasalahan di atas, peneliti akan meneliti tentang studi kasus kesulitan belajar membaca kepada siswa dyslexia kelas III SD Kanisius Minggir Sleman. Adapun alasan peneliti memilih metode atau pendekatan studi kasus yaitu penelitian ini memusatkan diri secara intensif pada satu objek tertentu yang mempelajarinya sebagai suatu kasus. 1.2 Rumusan Masalah Penelitian Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut: 1. Faktor apa saja yang menjadi kesulitan membaca kedua siswa kelas III SD Kanisius Minggir Sleman?

(24) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 5 2. Bagaimana kemampuan membaca kedua siswa dyslexia kelas III SD Kanisius Minggir Sleman? 1.3 Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah 1. Untuk mengetahui faktor apa saja yang menjadi kesulitan membaca kedua siswa dyslexia kelas III SD Kanisius Minggir Sleman. 2. Untuk mengetahui kemampuan membaca kedua siswa dyslexia kelas III SD Kanisius Minggir Sleman. 1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Manfaat Teoretis 1. Diperolehnya pengetahuan baru tentang kesulitan belajar membaca bagi siswa dyslexia kelas III di SD Kanisius Minggir Sleman Yogyakarta. 2. Diperolehnya bahan pertimbangan dalam memahami siswa dyslexia, mengidentifikasi permasalahan-permasalahan dan jalan penyelesaian dalam rangka membimbing dan membantu siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar membaca. 1.4.2 Manfaat Praktis 1. Bagi Guru Diperolehnya informasi tentang siswanya, sehingga dapat digunakan sebagai landasan menentukan pendekatan atau layanan bimbingan belajar yang tepat dalam mengatasi siswa kelas III yang kesulitan belajar membaca.

(25) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 6 2. Bagi sekolah Diperolehnya masukan bagi sekolah dalam usaha meningkatkan kemampuan membaca siswa sehingga berdampak pada peningkatan prestasi dan nilai siswa. 1.5 Definisi Operasional 1. Membaca adalah suatu kesatuan kegiatan yang mencakup beberapa kegiatan seperti mengenali huruf dan kata-kata, menghubungkan bunyi serta maknanya, serta menarik kesimpulan mengenai maksud bacaan. 2. Kemampuan Membaca adalah kesanggupan melakukan aktivitas komplek baik fisik maupun mental untuk meningkatkan keterampilan kerja, penguasaan berbagai bidang akademik, serta berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat. 3. Kesulitan belajar membaca adalah ketidakmampuan dalam mengenal huruf, kata dan memahami fungsi serta makna yang dibaca. 4. Dyslexia berarti kesulitan dalam mengolah kata-kata.

(26) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BABII LANDASAN TEORI 2.1 Kajian Pustaka 2.1.1 Hakikat Kemampuan Membaca Permulaan 2.1.1.1 Pengertian Kemampuan Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia susunan W.J.S. Poerwadarminta yang diolah kembali oleh Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional (2007:742) kemampuan diartikan kesanggupan, kecakapan, atau kekuatan. Menurut Nurkhasanah dan Tumianto (2007:423) kemampuan diartikan kesanggupan, kecakapan, atau kekuatan. Berdasarkan dua pengertian di atas dapat di simpukan kemampuan adalah kesanggupan atau kecakapan untuk menguasai sesuatu yang sedang dihadapi. Dalam pembelajaran bahasa Indonesia kemampuan membaca sangat diperlukan dan harus dimiliki oleh seseorang karena kemampuan membaca merupakan dasar untuk menguasai berbagai bidang studi. 2.1.1.2. Pengertian Membaca Menurut Akhadiah dkk (1993: 22) membaca merupakan suatu kesatuan kegiatan yang mencakup beberapa kegiatan seperti mengenali huruf dan katakata, menghubungkan bunyi serta maknanya, serta menarik kesimpulan mengenai maksud bacaan. Anderson, dkk dalam Akhadiah (1993:22) memandang membaca sebagai suatu proses untuk memahami makna Kemampuan membaca merupakan kemampuan 7 yang suatu tulisan. kompleks yang

(27) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 8 menuntut kerjasama antara sejumlah kemampuan. Untuk dapat membaca suatu bacaan, seseorang harus dapat menggunakan pengetahuan yang sudah dimilikinya. Menurut Abdurahman (2003:200) membaca merupakan aktivitas kompleks yang mencakup fisik dan mental. Aktivitas fisik yang terkait dengan membaca adalah gerak mata dan ketajaman penglihatan. Aktivitas mental mencakup ingatan dan pemahaman. Orang dapat membaca dengan baik jika mampu melihat huruf-huruf dengan jelas, mampu menggerakkan mata secara lincah, mengingat simbul-simbul bahasa dengan tepat dan memiliki penalaran yang cukup untuk memahami bacaan. Santoso (2007: 6.3) menjelaskan bahwa, aktivitas membaca terdiri dari dua bagian, yaitu membaca sebagai proses dan membaca sebagai produk. Membaca sebagai proses mengacu pada aktivitas fisik dan mental. Sedangkan membaca sebagai produk mengacu pada konsekuensi dari aktivitas yang dilakukan pada saat membaca. Pernyataan ini sesuai dengan yang termuat dalam jurnal Reading the Media (2007) reading the media is an excellent source for devising one’ sown medialiteracy curriculum, and why medialiteracy matters (membaca merupakan sumber yang bagus dalam memikirkan /menentukan kemampuan membaca seseorang dan mengapa kemampuan membaca tersebut berarti). Menurut Rahim (2008:2) membaca adalah suatu yang rumit yang melibatkan banyak hal, tidak hanya melafalkan tulisan, tetapi juga melibatkan aktivitas visual, berfikir, psikolinguistik, dan meta kognitif. Proses membaca sangat kompleks dan rumit karena melibatkan beberapa aktivitas, baik berupa

(28) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 9 kegiatan fisik maupun mental. Menurut Santoso (2007:6-3) Proses membaca terdiri dari beberapa aspek. Aspek-aspek tersebut adalah: (1) aspek sensori, yaitu kemampuan untuk memahami simbol-simbol tertulis, (2) aspek perspektual, yaitu kemampuan untuk menginterprestasikan apa yang dilihat sebagai symbol, (3) aspeks kemata yaitu kemampuan menghubungkan informasi tertulis dengan struktur pengetahuan yang telah ada, (4) aspek berpikir yaitu kemampuan membuat inferensi dan evaluasi dari materi yang dipelajari, dan (5) aspek afektif, yaitu aspek yang berkenaan dengan minat pembaca yang berpengaruh terhadap kegiatan membaca. Interaksi antara kelima aspek tersebut secara harmonis akan menghasilkan pemahaman membaca yang baik, yakni terciptanya komunikasi yang baik antara penulis dengan pembaca. Membaca sebagai proses visual merupakan proses menerjemahkan simbol tulis dalam bunyi. Sebagai suatu proses berfikir, membaca mencakup pengenalan kata, pemahaman literal, interpretasi, membaca kritis, dan membaca kreatif. Membaca sebagai proses linguistik, skemata pembaca membantunya membangun makna. Sedangkan fonologis, semantic dan fitur sintaksis membantu mengomunikasikan pesan-pesan. Proses metakognitif melibatkan perencanaan, pembetulan suatu strategi, pemonitoran ,dan pengevaluasian. Membaca hendaknya mempunyai tujuan, karena seorang yang membaca dengan suatu tujuan, cenderung lebih memahami dibandingkan dengan orang yang tidak punyai tujuan. Dalam kegiatan membaca dikelas, guru seharusnya menyusun tujuan membaca dengan menyediakan tujuan khusus yang sesuai atau dengan membantu mereka menyusun tujuan membaca siswa itu sendiri.

(29) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 10 Menurut Rahim (2008:11) tujuan membaca mencakup: (1) kesenangan, (2) menyempurnakan membaca nyaring, (3) menggunakan strategi tertentu, (4) memperbaharui pengetahuannya tentang suatu topik, (5) mengaitkan informasi baru dengan informasiyang telah diketahuinya, (6) memperoleh informasi untuk laporan lisan atau tertulis, (7) menginformasikan atau menolak prediksi, (8) menampilkan suatu eksperimen atau mengaplikasikan informasi yang diperoleh dari suatu teks dalam beberapa cara lain dan mempelajari tentang struktur teks, (9) menjawab pertanyaan- pertanyaan yang spesifik. Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan membaca adalah suatu aktivitas komplek baik fisik maupun mental yang bertujuan memahami isi bacaan sesuai dengan tahap perkembangan kognitif. Setiap pembaca memiliki tahap perkembangan kognitif yang berbeda, misalnya siswa kelas I SD perkembangan kognitifnya tidak sama dengan siswa kelas IV, V, dan VI. Bahan ajar (bacaan yang dibaca) tidak sama, harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan kognitif yang dimiliki siswa. 2.1.1.3. Pengertian Kemampuan Membaca Menurut Lerner (dalam Abdurrahman, 2003:200) kemampuan membaca merupakan dasar untuk menguasai berbagai bidang studi. Jika siswa pada usia sekolah permulaan tidak segera memiliki kemampuan membaca maka ia akan mengalami banyak kesulitan dalam mempelajari berbagai bidang studi pada kelas-kelas berikutnya. Oleh karena itu, siswa harus belajar membaca agar ia dapat membaca untuk belajar.

(30) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 11 Mercer (dalam Abdurrahman,2003:200) menjelaskan bahwa, kemampuan membaca tidak hanya memungkinkan seseorang meningkatkan kemampuan kerja dan penguasaan berbagai bidang akademik tetapi juga memungkinkan berpartisipasi dalam kehidupan sosial, budaya, politik, dan menemukan kebutuhan emosional. Berdasarkan beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan kemampuan membaca adalah kesanggupan melakukan aktivitas komplek baik fisik maupun mental untuk meningkatkan keterampilan kerja, penguasaan berbagai bidang akademik, serta berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat. Kemampuan membaca merupakan modal utama dalam kehidupan setiap pribadi, baik disekolah maupun di dalam lingkungan masyarakat. 2.1.1.4. Pengertian Membaca Permulaan Pembelajaran membaca permulaan erat kaitannya dengan pembelajaran menulis permulaan. Sebelum mengajarkan menulis guru terlebih dahulu mengenalkan bunyi suatu tulisan atau huruf yang terdapat pada kata-kata dalam kalimat. Pengenalan tulisan beserta bunyi ini melalui pembelajaran membaca. Menurut Darmiyati Zuhdi dan Budiasih (2001:57) pembelajaran membaca dikelas I dan kelas II merupakan pembelajaran membaca tahap awal. Kemampuan membaca diperoleh siswa dikelas I dan kelas II tersebut akan menjadi dasar pembelajaran membaca di kelas berikutnya. Santoso (2007: 3-19) menjelaskan bahwa, pembelajaran membaca di sekolah dasar terdiri atas dua bagian yakni membaca permulaan yang dilaksanakan dikelas I dan II. Melalui membaca permulaan ini, diharapkan

(31) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 12 siswa mampu mengenal huruf, suku kata, kata, kalimat dan mampu membaca dalam berbagai konteks. Sedangkan membaca lanjut dilaksanakan di kelas tinggi atau dikelas III, IV, V dan VI. Pembelajaran membaca permulaan bagi siswa kelas I SD dapat dibedakan ke dalam dua tahap yakni belajar membaca tanpa buku diberikan pada awal-awal anak memasuki sekolah. Pembelajaran membaca permulaan dengan menggunakan buku dimulai setelah murid-murid mengenal huruf-huruf dengan baik kemudian diperkenalkan dengan lambang-lambang tulisan yang tertulis dalam buku (Tarigan, 1997:5.33). Membaca permulaan menurut Darmiyati Zuchdi dan Budiasih (2001: 58) yakni diberikan secara bertahap, tahap pramembaca dan tahap membaca. Pada tahap pramembaca, kepada siswa diajarkan: (1) sikap duduk yang baik pada waktu membaca; (2) cara meletakkan buku di meja; (3) cara memegang buku; (4) cara membuka dan membalik halaman buku dan (5) melihat dan memperhatikan tulisan. Pembelajaran membaca permulaan di titik beratkan pada aspek-aspek yang bersifat teknis seperti ketepatan menyuarakan tulisan, lafal dan intonasi yang wajar, kelancaran dan kejelasan suara. Berdasarkan beberapa uraian diatas dapat disimpulkan membaca permulaan adalah membaca yang dilaksanakan di kelas I dan II, dimulai dengan mengenalkan huruf-huruf dan lambang-lambang tulisan yang menitik beratkan pada aspek ketepatan menyuarakan tulisan, lafal dan intonasi yang wajar, kelancaran dan kejelasan suara.

(32) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 13 2.1.1.5. Pengertian Kemampuan Membaca Permulaan Menurut Darmiyati Zuhdi dan Budiasih (2001:57) kemampuan membaca yang diperoleh pada membaca permulaan akan sangat berpengaruh terhadap kemampuan membaca lanjut. Sebagai kemampuan yang mendasari kemampuan berikutnya maka kemampuan membaca permulaan benar-benar memerlukan perhatian guru, membaca permulaan di kelas I merupakan pondasi bagi pengajaran selanjutnya. Sebagai pondasi haruslah kuat dan kokoh, oleh karena itu harus dilayani dan di laksanakan secara berdaya guna dan sungguh-sungguh. Kesabaran dan ketelitian sangat di perlukan dalam melatih dan membimbing serta mengarahkan siswa demi tercapainya tujuan yang diharapkan. Anak atau siswa dikatakan berkemampuan membaca permulaan jika dia dapat membaca dengan lafal dan intonasi yang jelas, benar dan wajar, serta lancar dalam membaca dan memperhatikan tanda baca (Rukayah, 2004:14). Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kemampuan membaca permulaan adalah kesanggupan siswa membaca dengan lafal dan intonasi yang jelas, benar dan wajar serta memperhatikan tanda baca. Membaca permulaan merupakan pondasi bagi pengajaran selanjutnya, sehingga harus dilaksanakan dengan sungguh-sungguh dalam melatih dan membimbing siswa membaca. Pengajaran membaca permulaan lebih ditekankan pada pengembangan kemampuan dasar membaca. Siswa dituntut untuk dapat menyuarakan huruf, suku kata, kata dan kalimat yang disajikan dalam bentuk tulisan ke dalam bentuk lisan (Akhadiah,dkk.1993: 11).

(33) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 14 Contoh: Huruf Suku kata Kata Kalimat a dibaca a b dibaca be c dibaca ce ba dibaca ba bukan bea bu dibaca bu bukan beu baju dibaca baju bukan beajeu batu dibaca batu bukan beateu itu buku dibaca itu buku bukan iteu bekeu Itu budi itu Budi bukan iteu beudei dibaca Tujuan pengajaran membaca dan menulis adalah agar siswa dapat membaca dan menulis kata-kata dan kalimat sederhana dengan benar dan tepat (Ahmad,1996:4). Sesuai Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 tahun 2006 tentang Standar Isi Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia untuk siswa kelas I memuat KD: (1) membaca nyaring suku kata dan kata dengan lafal dan intonasi yang tepat; (2) membaca nyaring kalimat sederhana dengan lafal yang tepat. Berdasarkan KD itu maka tujuan membaca permulaan SD kelas I adalah agar siswa mampu membaca nyaring suku kata,kata dan kalimat sederhana dengan lafal dan intonasi yang tepat. Dalam pengajaran membaca permulaan ada empat faktor yang mempengaruhi. Menurut Arnold (dalam Rahim, 2008:16) faktor yang memengaruhi membaca permulaan adalah:

(34) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 15 1) Faktor Fisikologis Faktor fisiologis mencakup kesehatan fisik, pertimbangan neurologis, dan jenis kelamin. Kelelahan juga merupakan kondisi yang tidak menguntungkan bagi anak untuk belajar, khususnya belajar membaca. 2) Faktor Intelektual Secara umum, intelegensi anak tidak sepenuhnya memengaruhi berhasil atau tidaknya anak dalam membaca permulaan. Faktor metode mengajar guru, prosedur, dan kemampuan guru juga turut memengaruhi kemampuan membaca permulaan anak. 3) Faktor Lingkungan Faktor lingkungan juga memengaruhi kemajuan kemampuan membaca siswa. Faktor belakang lingkungan itu mencakup: (1) latar dan pengalaman siswa dirumah dan (2) sosial ekonomi keluarga siswa. 4) Faktor Psikologis Faktor lain yang juga memengaruhi kemajuan kemampuan membaca anak adalah factor psikologis. Faktor ini mencakup (1) motivasi; (2) minat;dan (3) kematangan sosial, emosi, dan penyesuaian diri. Menurut Syafi’ie yang dikutip oleh Rahim (2008:31) menjelaskan ada empat pendekatan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia: 1) Pendekatan Komunikatif Pendekatan komunikatif mengarakan pengajaran bahasa pada tujuan

(35) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI pembelajaran yang mementingkan fungsi bahasa sebagai 16 alat komunikasi. 2) Pendekatan Cara Belajar Siswa Aktif Semiawan dan Joni (dalam Rahim, 2008: 32) menjelaskan bahwa esensi pendekatan Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) bukan terletak pada digunakan atau tidak digunakannya alat dan cara duduk siswa yang berkelompok, tetapi pada penghayatan pengalaman belajar yang diprogramkan oleh siswa. Pendekatan CBSA sebagai kegiatan belajar mengajar yang melibatkan siswa, artinya siswa secara aktif terlibat dalam proses pengajaran. Mulai dari penyusunan rencana pengajaran, penyajian pelajaran sampai pada penilaian. 3) Pendekatan Pembelajaran Terpadu Pembelajaran bahasa harus dilakukan secara utuh. Misalnya antara keterampilan menyimak dengan berbicara dengan tidak mungkin dipisahkan dalam suatu kegiatan belajar mengajar, begitu juga dengan keterampilan berbahasa lainnya. Bentuk pembelajaran bahasa secara terpadu bisa berupa perpaduan antara kegiatan membaca, menulis, berbicara, dan menyimak. 4) Pendekatan Belajar Kooperatif Belajar kooperatif merupakan suatu metode mengelompokkan siswa ke dalam kelompok-kelompok kecil. Siswa bekerjasama dan saling membantu dalam menyelesaikan tugas. Menurut Slavin ( dalam Rahim, 2008:34) hasil penelitian 20 tahun terakhir mengindikasikan bahwa

(36) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 17 pendekatan belajar kooperatif bisa digunakan secara efektif pada setiap tingkat kelas untuk semua mata pelajaran. Akhadiah (dalam Darmiyati Zuchdi dan Budiasih, 2001:61-66), menjelaskan bahwa dalam pembelajaran membaca permulaan, ada beberapa metode yang dapat digunakan antara lain: 1) Metode Abjad dan Metode Bunyi Dalam penerapannya, kedua model tersebut sering menggunakan kata lepas. Misalnya: a) Metode abjad (dalam mengucapkan huruf-hurufnya sesuai dengan abjad“a”,“be”,“ce”,“de”,dan seterusnya). Contoh: bo – bo bobo b) Metode bunyi (dalam mengucapkan huruf-hurufnya sesuai dengan bunyi nyaa,beh,ceh,deh,dan seterusnya). Contoh: beh– o – bo – beh– o – bo bobo Perbedaan antara metode abjad dan metode bunyi terletak pada pengucapan huruf. 2) Metode Kupas Rangkai Suku Kata dan Metode Kata Lembaga Kedua metode ini dalam penerapannya menggunakan cara mengurai dan merangkaikan. a). Metode Kupas Rangkai Suku kata Penerapannya guru menggunakan langkah-langkah sebagai berikut: (1) Guru mengenalkan huruf kepada siswa.

(37) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 18 (2) Merangkaikan suku kata menjadi huruf. (3) Menggabungkan huruf menjadi suku kata. Misalnya: ma – ta m–a–t–a ma – ta b). Metode Kata Lembaga Penerapannya menggunakan langkah-langkah sebagai berikut: (1) Membaca kata yang sudah dikenal siswa. (2) Menguraikan huruf menjadi suku kata. (3) Menguraikan suku kata menjadi huruf. (4) Mengabungkan huruf menjadi suku kata. (5) Menggabungkan suku kata menjadi kata. Misalnya: bola bo – la b – o – l – a bo – la bola c). Metode Global Dalam penerapannya menggunakan langkah-langkah sebagai berikut: 1) Mengkaji salah satu suku kata. 2) Menguraikan huruf menjadi suku kata. 3) Menguraikan suku kata menjadi huruf. 4) Mengabungkan huruf menjadi suku kata. 5) Merangkaikan kata menjadi suku kata. 6) Merangkaikan kata menjadi kalimat.

(38) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 19 Misalnya: andi bermain catur bermain ber– ma– in b– e– r– m – a– i – n bermain andi bermain catur 2.1.2 Kesulitan Belajar 2.1.2.1 Definisi Kesulitan Belajar Kesulitan belajar adalah kondisi dimana siswa dengan kemampuan intelegensi rata-rata atau di atas rata-rata, namun memiliki ketidakmampuan atau kegagalan dalam belajar yang berkaitan dengan hambatan dalam proses persepsi, konseptualisasi, berbahasa, memori, serta pemusatan perhatian, penguasaan diri, dan fungsi integrasi sensori motorik (Clement, dalam Weiner, 2003). Berdasarkan pandangan Clement tersebut maka pengertian kesulitan belajar adalah kondisi yang merupakan sindrom multidimensional yang bermanifestasi sebagai kesulitan belajar spesifik (spesific learning disabilities), hiperaktivitas dan/atau distraktibilitas dan masalah emosional. Menurut Mulyono (1999), kesulitan belajar adalah suatu kondisi dalam proses belajar yang ditandai dengan hambatan-hambatan tertentu, dalam mencapai tujuan belajar. Kondisi ini ditandai kesulitan dalam tugas-tugas akademik, baik disebabkan oleh problem-problem neurologis, maupun sebab-sebab psikologis lain, sehingga prestasi belajarnya rendah, tidak sesuai dengan potensi dan usaha yang dilakukan. Kesulitan belajar juga merupakan ketidakmampuan dalam menghubungkan berbagai informasi yang berasal dari berbagai bagian otak mereka. Kelemahan ini akan tampak dalam beberapa hal, seperti kesulitan dalam

(39) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 20 berbicara dan menuliskan sesuatu, koordinasi, pengendalian diri atau perhatian. Kesulitan-kesulitan ini akan tampak ketika mereka melakukan kegiatan-kegiatan sekolah, dan menghambat proses belajar membaca, menulis, atau berhitung yang seharusnya mereka lakukan (Porwanto, 2003). Kesulitan belajar pada dasarnya suatu gejala yang nampak dalam berbagai jenis manifiestasi tingkah laku (bio-psikososial) baik secara langsung atau tidak, bersifat permanen dan berpotensi menghambat berbagai tahap belajar siswa. Tidak seperti cacat lainnya, sebagaimanan kelumpuhan atau kebutuhan gangguan belajar (learning disorder) adalah kekurangan yang tidak tampak secara lahiriah. Ketidakmampuan dalam belajar tidak dapat dikenali dalam wujud fisik yang berbeda dengan orang normal lainnya. Kesulitan belajar adalah keterbelakangan yang mempengaruhi kemampuan individu untuk menafsirkan apa yang mereka lihat dan dengar. Kesulitan belajar dapat berlangsung dalam waktu yang lama. Bebarapa kasus memperlihatkan bahwa kesulitan ini memengaruhi banyak bagian dalam kehidupan individu, baik itu di sekolah, pekerjaan, rutinitas sehari-hari, kehidupan keluarga, atau bahkan terkadang dalam hubungan persahabatan dan bermain. Beberapa penderita menyatakan bahwa kesulitan ini berpengaruh pada kebahagiaan mereka. Sementara itu, penderita lainnya menyatakan bahwa gangguan ini mengahambat proses belajar mereka, sehingga tentu saja pada gilirannya juga akan berdampak pada aspek lain dari kehidupan mereka. Kelompok siswa dengan Learning Dissability (LD) dicirikan dengan adanya gangguan-gangguan tertentu yang menyertainya. Tidak seperti cacat fisik, kesulitan belajar tidak terlihat dengan jelas dan sering disebut ”hidden handicap”.

(40) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 21 Terkadang kesulitan ini tidak disadari oleh orangtua dan guru, akibatnya siswa yang mengalami kesulitan belajar sering diidentifikasi sebagai siswa yang underachiever, pemalas, atau aneh. Siswa-siswa ini mungkin mengalami perasaan frustrasi, marah, depresi, cemas, dan merasa tidak diperlukan (Harwell, 2001). Definisi tersebut menunjukan bahwa learning diability tidak digolongkan ke dalam salah satu keluarbiasaan, melainkan merupakan kelompok tersendiri. Kesulitan belajar lebih didefinisikan sebagai gangguan perseptual, konseptual, memori maupun ekspresif di dalam proses belajar. Gangguan ini dapat terjadi di berbagai tingkatan kecerdasan, namun learning disability lebih terkait dengan tingkat kecerdasan normal atau bahkan di atas normal. Siswa-siswa yang berkesulitan belajar memiliki ketidakteraturan dalam proses fungsi mental dan fisik yang bisa yang bisa menghambat alur belajar yang normal, menyebabkan keterlambatan dalam kemampuan perseptual motorik tertentu atau kemapuan berbahasa. Umumnya masalah ini tampak ketika siswa mulai mempelajari matamata pelajaran dasar seperti menulis, membaca, menghitung dan mengeja. Dari pengertian kesulitan belajar di atas maka jenis-jenis kesulitan belajar di Sekolah Dasar dapat dikelompokkan kepada siswa yang mengalami kesulitan belajar membaca. Jenis-jenis kesulitan belajar tersebut yaitu kesulitan membaca (dyslexia), kesulitan menulis (disgrafia), kesulitan berhitung (diskalkulia). 2.1.2.2 Faktor-faktor Penyebab Kesulitan Belajar Masalah kesulitan belajar ini, tentunya disebabkan oleh berbagai faktor. Untuk memberikan suatu bantuan kepada siswa yang mengalami kesulitan belajar, tentunya kita harus mengetahui terlebih dahulu faktor apa yang menjadi

(41) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 22 penyebab munculnya masalah kesulitan belajar. Faktor-faktor penyebab kesulitan belajar dapat digolongkan ke dalam dua golongan, yaitu : 1) Faktor intern (faktor dari dalam diri siswa itu sendiri) yang meliputi: a. Faktor fisiologi Faktor fisiologi adalah faktor fisik dari siswa itu sendiri. Seorang siswa yang sedang sakit, tentunya akan mengalami kelemahan secara fisik, sehingga proses menerima pelajaran, memahami pelajaran menjadi tidak sempurna. Selain sakit faktor fisiologis yang perlu kita perhatikan karena dapat menjadi penyebab munculnya masalah kesulitan belajar adalah cacat tubuh, yang dapat kita bagi lagi menjadi cacat tubuh yang ringan seperti kurang pendengaran, kurang penglihatan, serta gangguan gerak, serta cacat tubuh yang tetap (serius) seperti buta, tuli, bisu, dan lain sebagainya. b. Faktor psikologis Faktor psikologis adalah berbagai hal yang berkenaan dengan berbagai perilaku yang ada dibutuhkan dalam belajar. Sebagaimana kita ketahui bahwa belajar tentunya memerlukan sebuah kesiapan, ketenangan, rasa aman. Selain itu yang juga termasuk dalam faktor psikologis ini adalah inteligensi yang dimiliki oleh anak. Siswa yang memiliki IQ ( cerdas (110140), atau genius (lebih dari 140) memiliki potensi untuk memahami pelajaran dengan cepat. Siswa yang tergolong sedang (90-110) tentunya tidak terlalu mengalami masalah walaupun juga pencapaiannya tidak terlalu tinggi. Siswa yang memiliki IQ dibawah 90 atau bahkan dibawah 60 tentunya memiliki potensi mengalami kesulitan dalam masalah belajar. Untuk itu, maka orang tua, serta guru perlu mengetahui tingkat IQ yang dimiliki siswa

(42) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 23 atau siswanya. IQ faktor psikologis yang dapat menjadi penyebab munculnya masalah kesulitan belajar adalah bakat, minat, motivasi, kondisi kesehatan mental siswa. 2) Faktor ekstern (faktor dari luar anak) meliputi: a. Faktor-faktor sosial Yaitu faktor-faktor seperti cara mendidik anak oleh orang tua mereka di rumah. Siswa-siswa yang tidak mendapatkan perhatian yang cukup tentunya akan berbeda dengan siswa-siswa yang cukup mendapatkan perhatian, atau siswa yang terlalu diberikan perhatian. Selain itu juga bagimana hubungan orang tua dengan siswa, apakah harmonis, atau jarang bertemu, atau bahkan terpisah. Hal ini tentunya juga memberikan pengaruh pada kebiasaan belajar siswa. b. Faktor-faktor non-sosial Faktor-faktor non-sosial yang dapat menjadi penyebab munculnya masalah kesulitan belajar adalah faktor guru di sekolah, kemudian alat-alat pembelajaran, kondisi tempat belajar, serta kurikulum. Ada beberapa penyebab kesulitan belajar lain yang terdapat pada literatur dan hasil riset (Harwell, 2001), yaitu : a. Faktor keturunan/bawaan b. Gangguan semasa kehamilan, saat melahirkan atau premature c. Kondisi janin yang tidak menerima cukup oksigen atau nutrisi dan atau ibu yang merokok, menggunakan obat-obatan (drugs), atau meminum alkohol selama masa kehamilan

(43) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 24 d. Trauma pasca kelahiran, seperti demam yang sangat tinggi, trauma kepala, atau pernah tenggelam e. Infeksi telinga yang berulang pada masa bayi dan balita. Anak dengan kesulitan belajar biasanya mempunyai sistem imun yang lemah f. Awal masa kanak-kanak yang sering berhubungan dengan aluminium, arsenik, merkuri/raksa, dan neurotoksin lainnya 2.1.3 Kesulitan Belajar Membaca (Dyslexia) 2.1.3.1 Definisi Kesulitan Belajar Membaca (Dyslexia) Kesulitan belajar membaca sering disebut disleksia (dyslexia). Dyslexia berasal dari kata Yunani yaitu “dys” yang berarti kesulitan dan “lexia” yang berarti kata-kata. Dengan kata lain, disleksia berarti kesulitan dalam mengolah kata-kata. Ketua Pelaksana Harian Asosiasi Disleksia Indonesia dr Kristiantini Dewi, Sp A, menjelaskan, disleksia merupakan kelainan dengan dasar kelainan neurobiologis dan ditandai dengan kesulitan dalam mengenali kata dengan tepat atau akurat dalam pengejaan dan dalam kemampuan mengode simbol. Terdapat dua macam disleksia, yaitu developmental dyslexia dan acquired dyslexia. Developmental Dyslexia merupakan bawaan sejak lahir dan karena faktor genetis atau keturunan. Penyandang developmental dyslexia akan membawa kelainan ini seumur hidupnya atau tidak dapat disembuhkan. Tidak hanya mengalami kesulitan membaca, mereka juga mengalami hambatan mengeja, menulis, dan beberapa aspek bahasa yang lain. Meski demikian, anak-anak penyandang dyslexia memiliki tingkat kecerdasan normal atau bahkan di atas ratarata. Dengan penanganan khusus, hambatan yang mereka alami bisa

(44) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 25 diminimalkan. Dan acquired dyslexia didapat karena gangguan atau perubahan cara otak kiri membaca. Sejumlah ahli juga mendefinisikan dyslexia sebagai suatu kondisi pemrosesan input atau informasi yang berbeda (dari anak normal) yang sering kali ditandai dengan kesulitan dalam membaca yang dapat memengaruhi area kognisi, seperti daya ingat, kecepatan pemrosesan input, kemampuan pengaturan waktu, aspek koordinasi, dan pengendalian gerak. Dapat juga terjadi kesulitan visual dan fonologis, dan biasanya terdapat perbedaan kemampuan di berbagai aspek perkembangan. Dyslexia adalah ketidakmampuan belajar yang terutama mengenai dasar berbahasa tertentu, yang mempengaruhi kemampuan mempelajari kata-kata dan membaca meskipun anak memiliki tingkat kecerdasan rata-rata atau di atas ratarata. Selain itu ketidakmampuan dalam motivasi dan kesempatan pendidikan yang cukup serta penglihatan dan pendengaran yang normal. Dalam dunia kedokteran istilah dyslexia banyak dikaitkan dengan adanya gangguan fungsi neurofisiologis. Pendapat Bryan dan Bryan yang dikutip oleh Mercer (1979:200) mendefinisikan bahwa dyslexia merupakan sindroma kesulitan dalam mempelajari komponen-komponen kata dan kalimat, mengintegrasikan komponen-komponen kata dan kalimat, dan dalam belajar segala sesuatu yang berkaitan dengan waktu, arah dan masa. Pengertian tentang dyslexia atau kesulitan belajar membaca sangat bervariasi, tetapi semua menunjukkan adanya gangguan pada fungsi otak. Dyslexia biasanya terjadi pada anak-anak dengan daya penglihatan dan kecerdasan yang normal. Anak-anak dengan dyslexia biasanya dapat berbicara

(45) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 26 dengan normal, tetapi memiliki kesulitan dalam menginterpretasikan “spoken language” dan tulisan. Dyslexia cenderung diturunkan dan lebih banyak ditemukan pada anak laki-laki. Dyslexia terutama disebabkan oleh kelainan otak yang mempengaruhi proses pengolahan bunyi dan bahasa yang diucapkan. Kelainan ini merupakan kelainan bawaan, yang bisa mempengaruhi penguraian kata serta gangguan mengeja dan menulis. 2.1.3.2 Gejala Dyslexia Gejala dyslexia mungkin sulit disadari sebelum anak masuk sekolah, tetapi beberapa gejala awal dapat mengidentifikasi masalah tersebut. Ketika anak mencapai usia sekolah, guru dari anak mungkin menjadi yang pertama menyadari masalah tersebut. 1) Sebelum sekolah Tanda dan gejala anak yang mungkin berisiko dyslexia antara lain: a. Terlambat berbicara b. Menambah kosa kata dengan lambat c. Kesulitan “rhyming” (rima kata) 2) Usia sekolah Ketika anak di sekolah, gejala dyslexia mungkin menjadi lebih terlihat, termasuk di antaranya: a. Membaca pada tingkat (level) di bawah apa yang diharapan untuk usia anak b. Bermasalah dalam memproses dan memahami sesuatu yang anak dengar c. Kesulitan dalam memahami secara utuh instruksi yang cepat

(46) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI d. 27 Bermasalah dalam mengikuti instruksi lebih dari satu dalam waktu yang bersamaan e. Ketidakmampuan untuk mengucapkan pelafalan dari kata-kata yang tidak familiar f. Kesulitan melihat (dan pada saat tertentu mendengar) persamaan dan perbedaan di dalam surat atau kata-kata g. Melihat surat/ kata-kata secara terbalik (b untuk d atau “saw” untuk “was”)–walaupun melihat kata-kata atau surat secara terbalik itu biasa untuk anak kecil, yang tidak mengalami disleksia, di bawah umur 8 tahun. Anak yang mengalami disleksia akan terus melihat secar terbalik setelah melewati umur tersebut h. Kesulitan mengeja i. Sulit mempelajari bahasa asing Gejala dyslexia, anak memiliki kemampuan membaca di bawah kemampuan yang seharusnya dilihat dari tingkat inteligensia, usia dan pendidikannya. Hal ini dikarenakan keterbatasan otak mengolah dan memproses informasi tersebut. Dyslexia merupakan kesalahan pada proses kognitif anak ketika menerima informasi saat membaca buku atau tulisan. Jika pada anak normal kemampuan membaca sudah muncul sejak usia enam atau tujuh tahun, tidak demikian halnya dengan anak dyslexia. Sampai usia 12 tahun kadang mereka masih belum lancar membaca. Kesulitan ini dapat terdeteksi ketika anak memasuki bangku sekolah dasar.

(47) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 28 Ciri-ciri dyslexia: 1. Sulit mengeja dengan benar. Satu kata bisa berulangkali diucapkan dengan bermacam ucapan. 2. Sulit mengeja kata atau suku kata yang bentuknya serupa, misal: b-d, u-n, atau m-n. 3. Ketika membaca anak sering salah melanjutkan ke paragraph berikutnya atau tidak berurutan. 4. Kesulitan mengurutkan huruf-huruf dalam kata. 5. Kesalahan mengeja yang dilakukan terus-menerus. Misalnya kata pelajaran diucapkan menjadi perjalanan. Banyak faktor yang menjadi penyebab dyslexia antara lain genetis, problem pendengaran sejak bayi yang tidak terdeteksi sehingga mengganggu kemampuan bahasanya, dan faktor kombinasi keduanya. Dyslexia bukanlah kelainan yang tidak dapat disembuhkan. Hal paling penting adalah anak dyslexia harus memiliki metode belajar yang sesuai. Pada dasarnya setiap orang memiliki metode yang berbeda-beda, begitupun anak dyslexia. 2.1.3.3 Karakteristik Dyslexia Menurut Mercer (1983:309) ada empat kelompok karakteristik kesulitan belajar membaca, yakni yang berkenaan dengan (1) kebiasaan membaca, (2) kekeliruan mengenal kata, (3) kekeliruan pemahaman, dan (4) kekeliruan serbaneka. Anak berkesulitan belajar membaca sering memperlihatkan sikapsikap kebiasaan membaca yang tidak wajar antara lain adanya gerakan-gerakan yang penuh ketegangan seperti mengernyitkan kening, gelisah, irama suara yang

(48) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 29 meninggi, atau berkali-kali menggigit bibir. Mereka juga sering menunjukkan perasaan tidak aman dengan memperlihatkan perilaku menolak untuk membaca, menangis, atau mencoba melawan guru. Anak berkesulitan membaca sering mengalami kekeliruan dalam mengenal kata. Kekeliruan jenis ini mencakup kehilangan, penyisipan, penggantian, pembalikan, salah ucap, pengubahan tempat, tidak mengenal kata, dan tersentak-sentak. Gejala penghilangan kata tampak misalnya ketika anak disuruh membaca kalimat “Kain putih bersih” dibaca “Kain bersih”. Penyisipan terjadi jika anak dihadapkan suatu bacaan kemudian menambahkan kata yang sebenarnya tidak ada dalam bacaan tersebut. Jika anak dihadapkan bacaan “Ayah pergi berbelanja ke pasar”, oleh anak dibaca “Ayah dan Ibu pergi berbelanja ke pasar”. Penggantian terjadi jika anak mengganti salah satu kata pada kalimat bacaan. Misalnya bacaan “Ini buku Kakak” dibaca “Ini buku Bapak”. Pembalikan akan nampak ketika anak membaca “ibu” menjadi “ubi” dan kesalahan ucap terjadi ketika anak membaca “namun” tetapi dibaca “namum” atau “nanum”. Gejala pengubahan tempat terjadi seperti membaca “Ibu pergi ke pasar” dibaca “Ibu ke pasar pergi”. Gejala keraguan nampak pada saat anak berhenti membaca suatu kata dalam kalimat karena tidak dapat membaca kata tersebut. Gejala kekeliruan memahami bacaan nampak pada banyaknya kekeliruan dalam menjawab pertanyaan yang berkaitan dengan isi bacaan, tidak mampu mengemukakan urutan cerita yang dibaca, dan tidak mampu memahami tema utama dari suatu cerita. Gejala serbaneka nampak seperti membaca kata demi kata, membaca penuh ketegangan, dan nada tinggi, dan membaca dengan intonasi yang tidak tepat.

(49) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 30 Beberapa ciri anak berkesulitan belajar membaca menurut Vernon sebagai berikut: 1. Memiliki kekurangan dalam diskriminasi penglihatan 2. Tidak mampu menganalisis kata menjadi huruf-huruf 3. Memiliki kekurangan dalam memori visual 4. Memiliki kekurangan dalam melakukan diskriminasi auditoris 5. Tidak mampu memahami simbol bunyi 6. Kurang mampu mengintegrasikan penglihatan dengan pendengaran 7. Kesulitan dalam mempelajari asosiasi simbol-simbol iregular (khusus yang berbahasa Inggris) 8. Kesulitan dalam mengurutkan kata-kata dan huruf-huruf 9. Membaca kata demi kata 10. Kurang memiliki kemampuan dalam berfikir konseptual Beberapa ahli berpendapat bahwa berbagai kesalahan membaca antara lain: 1. Penghilangan kata atau huruf 2. Penyelipan kata 3. Penggantian kata 4. Pengucapan kata salah dan makna berbeda 5. Pengucapan kata salah tetapi makna sama 6. Pengucapan kata salah dan tidak bermakna 7. Pengucapan kata dengan bantuan guru 8. Pengulangan 9. Pembalikan kata 10. Pembalikan huruf

(50) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 31 11. Kurang memperhatikan tanda baca. 12. Pembetulan sendiri. 13. Ragu-ragu dan tersendat-sendat. 2.1.3.4 Masalah Dyslexia Masalah yang juga bisa mengikuti penyandang dyslexia di antaranya konsentrasi, daya ingat jangka pendek (cepat lupa dengan instruksi). “Penyandang dyslexia juga mengalami masalah dalam pengorganisasian. Mereka cenderung tidak teratur. Misalnya, memakai sepatu tetapi lupa memakai kaus kaki. Masalah lainnya, kesulitan dalam penyusunan atau pengurutan, entah itu hari, angka, atau huruf,” papar Kristiantini (2010) yang juga seorang dokter anak. Secara lebih detail, penyandang dyslexia biasanya mengalami masalah-masalah, seperti: 1. Masalah fonologi Yang dimaksud masalah fonologi adalah hubungan sistematik antara huruf dan bunyi. Misalnya mereka mengalami kesulitan membedakan ”paku” dengan ”palu”; atau mereka keliru memahami kata-kata yang mempunyai bunyi hampir sama, misalnya ”lima puluh” dengan ”lima belas”. Kesulitan ini tidak disebabkan masalah pendengaran, tetapi berkaitan dengan proses pengolahan input di dalam otak. 2. Masalah mengingat perkataan Kebanyakan anak dyslexia mempunyai level kecerdasan normal atau di atas normal. Namun, mereka mempunyai kesulitan mengingat perkataan. Mereka mungkin sulit menyebutkan nama teman-temannya dan memilih untuk

(51) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 32 memanggilnya dengan istilah “temanku di sekolah” atau “temanku yang lakilaki itu”. Mereka mungkin dapat menjelaskan suatu cerita, tetapi tidak dapat mengingat jawaban untuk pertanyaan yang sederhana. 3. Masalah penyusunan yang sistematis atau berurut Anak dyslexia mengalami kesulitan menyusun sesuatu secara berurutan misalnya susunan bulan dalam setahun, hari dalam seminggu, atau susunan huruf dan angka. Mereka sering ”lupa” susunan aktivitas yang sudah direncanakan sebelumnya, misalnya lupa apakah setelah pulang sekolah langsung pulang ke rumah atau langsung pergi ke tempat latihan sepak bola. Padahal, orangtua sudah mengingatkannya bahkan mungkin hal itu sudah pula ditulis dalam agenda kegiatannya. Mereka juga mengalami kesulitan yang berhubungan dengan perkiraan terhadap waktu. Misalnya mereka mengalami kesulitan memahami instruksi seperti ini: ”Waktu yang disediakan untuk ulangan adalah 45 menit. Sekarang pukul 08.00. Maka 15 menit sebelum waktu berakhir, Ibu Guru akan mengetuk meja satu kali”. Kadang kala mereka pun ”bingung” dengan perhitungan uang yang sederhana, misalnya mereka tidak yakin apakah uangnya cukup untuk membeli sepotong kue atau tidak. 4. Masalah ingatan jangka pendek Anak dyslexia mengalami kesulitan memahami instruksi yang panjang dalam satu waktu yang pendek. Misalnya ibu menyuruh anak untuk “Simpan tas di kamarmu di lantai atas, ganti pakaian, cuci kaki dan tangan, lalu turun ke bawah lagi untuk makan siang bersama ibu, tapi jangan lupa bawa serta buku PR matematikanya, ya”, maka kemungkinan besar anak dyslexia tidak

(52) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 33 melakukan seluruh instruksi tersebut dengan sempurna karena tidak mampu mengingat seluruh perkataan ibunya. 5. Masalah pemahaman sintaks Anak dyslexia sering mengalami kebingungan dalam memahami tata bahasa, terutama jika dalam waktu yang bersamaan mereka menggunakan dua atau lebih bahasa yang mempunyai tata bahasa yang berbeda. Anak dyslexia mengalami masalah dengan bahasa keduanya apabila pengaturan tata bahasanya berbeda daripada bahasa pertama. Misalnya dalam bahasa Indonesia dikenal susunan diterangkan–menerangkan (contoh: tas merah). Namun, dalam bahasa Inggris dikenal susunan menerangkan-diterangkan (contoh: red bag). 2.1.3.5 Asesmen Kesulitan Membaca untuk Anak Kelas 3 SD Untuk anak usia kelas 3 sekolah dasar, seharusnya sudah bisa membaca pemahaman. Tidak menutup kemungkinan ada sebagian kecil siswa yang masih membaca permulaan atau membaca lisan. a. Membaca Lisan Menurut Hargrove dan Poteet (1984:170) ada 13 jenis perilaku yang mengindikasikan bahwa anak berkesulitan belajar membaca lisan. Adapun berbagai perilaku tersebut adalah: 1. Menunjuk tiap kata yang sedang dibaca 2. Menelusuri tiap baris yang sedang dibaca dari kiri ke kanan dengan jari 3. Menelusuri tiap baris bacaan ke bawah dengan jari 4. Menggerakkan kepala, bukan matanya yang bergerak

(53) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 34 5. Menempatkan buku dengan cara yang aneh 6. Menempatkan buku terlalu dekat dengan mata 7. Sering melihat pada gambar, jika ada 8. Mulutnya komat-kamit waktu membaca 9. Membaca kata demi kata 10. Membaca terlalu cepat 11. Membaca tanpa ekspresi 12. Melakukan analisis tetapi tidak mensintesiskan, dan 13. Adanya nada suara yang aneh atau tegang yang menandakan keputusasaan Menurut Ekwall seperti dikutip oleh Hargrove dan Poteet (1984:194) ada tujuan kemampuan yang ingin dicapai melalui membaca pemahaman, yaitu: 1. Mengenal ide pokok suatu bacaan 2. Mengenal detail yang penting 3. Mengembangkan imajinasi visual 4. Meramalkan hasil 5. Mengikuti petunjuk 6. Mengenal organisasi karangan dan 7. Membaca kritis Untuk melatih anak membaca pemahaman, guru biasanya menugaskan kepada anak untuk membaca yang dikenal dengan membaca dalam hati. Dengan demikian, tujuan membaca dalam hati pada hakikatnya sama dengan membaca pemahaman. Perbedaannya, anak-anak yang duduk di SD, tampaknya masih sulit untuk mencapai tujuan seperti yang dikemukakan oleh Ekwall di atas. Bagi anakanak yang masih duduk di SD, sudah cukup memadai jika anak memahami isi

(54) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 35 bacaan yang ditunjukkan oleh kemampuan mereka dalam menjawab berbagai pertanyaan yang sesuai dengan data dalam bacaan. 2.1.3.6 Cara Mengatasi Anak Dyslexia Dyslexia merupakan gangguan neourologis yang sifatnya genetis. Jadi kondisi ini menetap. Dyslexia tidak bisa diobati tetapi bisa diintervensi sehingga anak bisa mengatasi masalahnya. Contohnya, anak tidak bisa membaca lalu dibacakan. Bagi orang yang tidak paham anak tersebut bisa dikatakan pemalas, bodoh, keras kepala dan sebagainya. Cara yang paling sederhana, paling efektif untuk membantu anak-anak penderita dyslexia belajar membaca dengan mengajar mereka membaca dengan metode phonic. Idealnya anak-anak akan mempelajari phonic di sekolah bersama guru, dan juga meluangkan waktu untuk berlatih phonic di rumah bersama orang tua mereka. Metode phonic ini telah terbukti berpengaruh terhadap peningkatan kemampuan anak dalam membaca (Gittelment & Feingold, 1983). Metode phonic ini merupakan metode yang digunakan untuk mengajarkan anak yang mengalami problem dyslexia agar dapat membaca melalui bunyi yang dihasilkan oleh mulut. Metode ini dapat ssudah dikemas dalam bentuk yang beraneka ragam, baik buku, maupun software. Berikut ini merupakan ide-ide yang dapat membantu anak dengan phonic dan membaca: a. Mencoba untuk menyisihkan waktu setiap hari untuk membaca b. Tunda sesi jika anak terlalu lelah, lapar, atau mudah marah hingga dapat memusatkan perhatian

(55) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 36 c. Jangan melakukan sesuatu yang berlebih-lebihan pada saat pertama, mulailah dengan sepuluh atau lima belas menit sehari. d. Tentukan tujuan yang dapat dicapai: satu hari sebanyak satu halaman dari buku phonics atau buku bacaan mungkin cukup pada saat pertama e. Bersikap positif dan puji anak ketika anak membaca dengan benar. Ketika anak membuat kesalahan, bersabarlah dan bantu untuk membenarkan kesalahan f. Ketika membaca cerita bersama-sama, pastikan bahwa anak tidak hanya melafalkan kata-kata, tetapi merasakannya juga. Tanyakan pendapatnya tentang cerita atau karakter-karakter dalam cerita tersebut. g. Mulai dengan membaca beberapa halaman pertama atau paragraph dari cerita dengan suara keras untuk memancing anak. Kemudian meminta anak membaca terusan ceritanya untuk mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya h. Variasikan aktivitas dengan meluangkan beberapa sesi untuk melakukan permaianan kata-kata sebagai ganti aktivitas membaca, atau meminta anak untuk mengarang sebuah cerita, tulislah cerita tersebut, dan mintalah ia untuk membaca kembali tulisan tersebut i. Berikan hadiah padanya ketika anak melakukan sesuatu dengan sangat baik atau ketika ada perubahan yang nyata pada nilai-nilainya di sekolah Cara lain yang dapat dilakukan untuk mengatasi anak dyslexia antara lain: a. Mendemonstrasikan apa yang ingin dikerjakan anak b. Menceritakan kepada anak hal yang sedang dilakukannya c. Mendorong anak bercakap-cakap

(56) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 37 d. Memperlihatkan kepada anak gambar yang menarik (bukan gambar makhluk bernyawa) sehingga anak mampu mendeksripsikan dan menginterpretasikan e. Membaca dan menceritakan cerita pendek kepada anak f. Meminta atau memberi dukungan kepada anak untuk bercerita di depan kelas tentang situasi menarik yang dialami di rumah atau di tempat lain g. Membuat permainan telepon-teleponan Menurut Mulyono (2003) bahwa, membaca permulaan merupakan proses penerjemahan simbol bunyi menjadi bunyi yang bermakna. Membaca pemahaman merupakan proses menemukan makna/pesan/informasi dari bacaan. Beberapa tahapan membaca antara lain: a. Pra-membaca memerlukan proses pengenalan konsep arah (atas-bawah; depan-belakang; kanan-kiri), bentuk simbol huruf, dan konsep urutan b. Membaca permulaan memerlukan proses pengenalan huruf, suku kata, tanda baca, kata, dan kalimat. Ketepatan artikulasi dan intonasi juga dikembangkan pada tahap membaca permulaan ini c. Membaca pemahaman memerlukan proses pemahaman makna kata, kelompok kata dan kalimat d. Pembelajaran membaca dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatanpendekatan sebagai berikut: 1. Pendekatan Perkembangan Menilik proses tahapan belajar membaca di atas, pendekatan teori perkembangan memandang bahwa membaca merupakan bentuk kemampuan yang dipengaruhi oleh faktor kemampuan pra-membaca. Oleh karena itu, penanganan kesulitan membaca lebih diarahkan pada

(57) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 38 penguatan kemampuan pra-membacanya. Latihan-latihan persepsi visual amat dipentingkan di sini, misalnya: a) Latihan konsep lateral yang mengembangkan konsep arah (atasbawah, depan-belakang, tengah-tepi, kiri-kanan) b) Aktivitas pengenalan simbol/bentuk bermakna (tanda panah, gambar simbol umum, huruf, angka) c) Aktivitas mengurutkan benda (sesuai warna, bentuk, pola, dan seterusnya) d) Aktivitas mengaitkan antara bentuk pola huruf dan bunyinya e) Rekomendasi: Metode Selusur untuk aktivitas membaca permulaan dan Metode Pengalaman Berbahasa untuk aktivitas membaca pemahaman. 2. Pendekatan Perilaku Menilik proses tahapan belajar membaca di atas, pendekatan teori perilaku memandang bahwa membaca merupakan bentuk kemampuan yang kemampuan dan hambatannya tampak pada saat proses membacanya sendiri. Ketidaklancaran membaca merupakan salah satu bentuk hambatan yang sering tampak. Model layanan pembelajaran yang ditawarkan oleh pendekatan pembelajaran ini berupa kegiatan remediasi, seperti: a) Pembiasaan membaca huruf, suku kata, kata dan kalimat yang secara bertahap taraf kesulitannya kian ditingkatkan b) Pengenalan huruf, suku kata, kata dan kalimat, terutama pada bagian di mana anak kerap menunjukkan kesulitan

(58) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 39 c) Rekomendasi: Metode Bunyi untuk aktivitas membaca permulaan dan Metode Linguistik untuk aktivitas membaca pemahaman 3. Pendekatan Kognitif Menilik proses tahapan belajar membaca di atas, pendekatan teori kognitif memandang bahwa membaca merupakan suatu pemrosesan terhadap informasi yang berupa pola-pola. Baik itu pola penggabungan huruf menjadi suku kata, suku kata menjadi kata maupun gabungan kata menjadi kalimat. Pola-polanya sendiri bisa diajarkan secara langsung maupun secara tak langsung, atau anak akan menemukan sendiri polanya. Model layanan pembelajaran yang ditawarkan oleh pendekatan pembelajaran ini berupa kegiatan penemuan pola-pola seperti: a) Menemukan pola gabungan huruf vokal-konsonan menjadi suku kata tertentu b) Menggunakan pola kata tertentu dalam kalimat (D-M dan M-D; frasa, kata majemuk, kata ulang, dll.) c) Memahami pola kalimat sesuai jabatan katanya. d) Melakukan proses membaca pemahaman secara bertahap, sehingga pengalaman membaca menjadi sesuatu yang bermakna e) Rekomendasi: Metode Pengalaman Berbahasa untuk aktivitas membaca permulaan dan Metode SAS, Metode KWL, Metode Mindmap untuk aktivitas membaca pemahaman.

(59) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 40 2.1.4 Penelitian yang Relevan Penelitian yang relevan dengan penelitian ini adalah: 1. Hasil penelitian Sutrisna (2003) tentang “Meningkatkan Kemampuan Membaca Kata Melalui Metode Suku Kata Bagi Anak Kesulitan Belajar Di SDN 03 Bandar Buat Padang”, menyimpulkan bahwa setelah diberikan intervensi (B) kemampuan membaca anak kesulitan belajar membaca meningkat melalui metode suku kata. Di awal penelitian atau baseline (A) anak masih memiliki kemampuan membaca yang rendah dalam membaca kata, dari pengamatan yang dilakukan sebanyak enam kali persentase jumlah kata yang di baca dengan benar anak antara 0% hingga 30% namun setelah diberi intervensi berupa penggunaan metode suku kata ini dalam latihan membaca kata, kemampuan membaca anak meningkat ketika diberikan perlakukan sebanyak sepuluh kali pengamatan, persentase jumlah kalimat yang dengan benar hingga mencapai 100%. Jadi dapat disimpulkan bahwa penggunaan metode suku kata dapat menjadi salah satu metode dalam meningkatkan kemampuan membaca kata bagi anak kesulitan belajar. 2. Hasil penelitian Suparno (2006) tentang “Model layanan untuk Anak berkesulitan Belajar”, menyimpulkan bahwa anak-anak yang mengalami kesulitan berlajar baik secara umum ataupun khusus memerlukan pelayanan khusus dalam proses pembelajarannya di sekolah. Mereka memerlukan program dan bimbingan yang sesuai dengan kebutuhan belajarnya. Bimbingan khusus akan sangat membantu dalam penyelesaian permasalahan belajar siswa yang disebabkan oleh faktor psikologis. Anak-anak dengan

(60) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 41 kesulitan belajar spesifik membutuhkan program khusus yang berupa remidi dan program pembelajaran individual. 3. Hasil penelitian Ketut Miranti (2011) tentang “Disleksia dan Pembelajaran EFL Di Sisingamangaraja Bali” menyimpulkan bahwa dengan bantuan dan dukungan dari guru siswa disleksia dapat menjadi pelajar yang sukses. Peran guru adalah melakukan penyesuaian untuk memfasilitasi pembelajaran dan menciptakan lingkungan yang sukses. Pengajaran inovatif dan dengan akumulasi waktu yang berbeda tergantu ntingkat kompleksitas masalah mereka, para disleksia tampil lebih baik dalam berbicara dan mendengarbukan di menulis dan membaca, tetapi dengan waktu dan strategi mereka dapat menunjukakan perbaikan dalam menulis dan membaca. Penelitian tersebut di atas relevan dengan penelitian yang akan peneliti lakukan, yaitu Studi Kasus Tentang Kesulitan Belajar Membaca Kepada Siswa Dyslexia Kelas III SD Kanisius Minggir Sleman. Ketiga penelitian sama-sama memiliki subjek penelitian kesulitan belajar khususnya membaca pada siswa dyslexia. Perbedaan dari penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti adalah jenis penelitian. Perbedaan yang kedua yaitu, peneliti menggunakan subjek siswa kelas III SD. Dalam bentuk bagan penelitian yang relevan dengan penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti sebagai berikut.

(61) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 42 Model layanan untuk Anak berkesulitan Belajar Meningkatkan Kemampuan Membaca Kata Melalui Metode Suku Kata Bagi Anak Kesulitan Belajar Di SDN 03 Bandar Buat Padang Disleksia dan Pembelajaran EFL Di Sisingamangaraja Bali (Suparno, 2006) (Sutrisna, 2003) (Miranti, 2011) Kemampuan membaca anak kesulitan belajar membaca meningkat melalui metode suku kata Waktu, strategi bantuan dan dukungan dari guru siswa disleksia dapat menunjukakan perbaikan dalam menulis dan membaca Anak-anak yang mengalami kesulitan belajar baik secara umum ataupun khusus memerlukan pelayanan khusus dalam proses pembelajarannya di sekolah Studi Kasus Tentang Kesulitan Belajar Membaca Kepada Siswa Dyslexia Kelas III SD Kanisius Minggir Sleman Bagan 2.1. Penelitian yang Relevan 2.1.5 Kerangka Berpikir Membaca merupakan suatu kesatuan kegiatan yang mencakup beberapa kegiatan seperti mengenali huruf dan kata-kata, menghubungkan bunyi serta maknanya, serta menarik kesimpulan mengenai maksud bacaan.

(62) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 43 Anak penderita dyslexia memiliki kemampuan membaca di bawah kemampuan yang seharusnya dilihat dari tingkat inteligensia, usia dan pendidikannya. Hal ini dikarenakan keterbatasan otak mengolah dan memproses informasi tersebut. Dyslexia merupakan kesalahan pada proses kognitif anak ketika menerima informasi saat membaca buku atau tulisan. Jika pada anak normal kemampuan membaca sudah muncul sejak usia enam atau tujuh tahun, tidak demikian halnya dengan anak dyslexia. Sampai usia 12 tahun kadang mereka masih belum lancar membaca. Kesulitan ini dapat terdeteksi ketika anak memasuki bangku sekolah dasar. Studi kasus dalam penelitian ini dimana peneliti melakukan penelitian mendalam tentang kesulitan belajar membaca siswa kepada 2 siswa dyslexia kelas III di SD Kanisius Minggir Sleman, dan bagaimana kebiasaan siswa sejauh penelitian dilakukan yang meliputi perilaku siswa, sifat, dan keaktifan siswa saat mengikuti kegiatan belajar membaca yang berlangsung di dalam kelas dan saat diberikan tugas membaca oleh guru kelas.

(63) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode studi kasus. Studi kasus merupakan suatu penelitian (penyelidikan) intensif, mencakup semua informasi relevan terhadap seorang atau beberapa orang biasanya berkenaan dengan satu gejala psikologis tunggal. Studi kasus memberikan informasiinformasi historis atau biografis tentang seorang individu, seringkali mencakup pengalamannya dalam terapi. Terdapat istilah yang berkaitan dengan case study yaitu case history atau disebut riwayat kasus, sejarah kasus. Case history merupakan data yang terimpun yang merekonstruksikan masa lampau seorang individu, dengan tujuan agar orang dapat memahami kesulitan-kesulitannya yang sekarang (Putra, 2010). Menurut Bogdan dan Bikien (1982) studi kasus merupakan pengujian secara rinci terhadap satu latar atau satu orang subjek atau satu tempat penyimpanan dokumen atau satu peristiwa tertentu. Surachmad (1982) membatasi pendekatan studi kasus sebagai suatu pendekatan dengan memusatkan perhatian pada suatu kasus secara intensif dan rinci. Yin (1987) memberikan batasan yang lebih bersifat teknis dengan penekanan pada ciri-cirinya. Ary, Jacobs, dan Razavieh (1985) menjelasan bahwa dalam studi kasus hendaknya peneliti berusaha menguji unit atau individu secara mendalarn. Para peneliti berusaha menernukan sernua variabel yang penting. Hancock dan Algozzine (2006) yang menyatakan bahwa, penelitian studi kasus adalah penelitian yang dilakukan 44

(64) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 45 terhadap suatu ‘objek’, yang disebut sebagai ‘kasus’, yang dilakukan secara seutuhnya, menyeluruh dan mendalam dengan menggunakan berbagai macam sumber data. Berdasarkan batasan tersebut dapat dipahami bahwa batasan studi kasus meliputi: (1) sasaran penelitiannya dapat berupa manusia, peristiwa, latar, dan dokumen (2) sasaran-sasaran tersebut ditelaah secara mendalam sebagai suatu totalitas sesuai dengan latar atau konteksnya masing-masing dengan maksud untuk memahami berbagai kaitan yang ada di antara variabel-variabelnya. Penelitian ini menggunakan jenis studi kasus observasi, dimana pengumpulan datanya melalui observasi dan melibatkan guru serta subjek. Fokus penelitian yaitu pada 2 siswa kelas III yang mengalami dyslexia di SD Kanisius Minggir Sleman. Peneliti ikut serta terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang subjek lakukan, observasi dilakukan pada saat wawancara. Pengamatan yang dilakukan menggunakan pengamatan berstruktur yaitu dengan melakukan pengamatan menggunakan pedoman observasi pada saat pengamatan dilakukan. Pengamatan ini dilakukan saat subjek dan peneliti melakukan kegiatan membaca dan pada saat jalannya wawancara. Adapun strategi yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif studi kasus. Menurut Rahardjo (2010) yang dimaksud dengan studi kasus adalah merupakan penelitian yang mendalam tentang individu, satu kelompok, satu organisasi, satu program kegiatan, dan sebagainya dalam waktu tertentu. Sebagaimana prosedur perolehan data penelitian kualitatif, data studi kasus diperoleh dari wawancara, observasi, dan arsip. Dalam penelitian ini peneliti melakukan penelitian mendalam tentang studi kasus tentang kesulitan belajar membaca kepada siswa dyslexia kelas III di SD Kanisius Minggir Sleman,

(65) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 46 dan bagaimana kebiasaan siswa sejauh penelitian dilakukan yang meliputi perilaku siswa, sifat, dan keaktifan siswa saat membaca. 3.2 Setting Penelitian 3.2.1 Tempat Penelitian Tempat penelitian ini berlokasi di SD Kanisius Minggir Sendangagung Sleman. Penelitian ini dilaksanakan pada 2 siswa kelas III SD Kanisius Minggir Sendangagung Sleman tahun pelajaran 2013/ 2014. Sekolah ini berada di Minggir III Sendangagung Sleman Yogyakarta dengan jumlah siswa kelas III adalah 17 orang yang terdiri dari 6 siswa perempuan dan 11 siswa laki-laki. Pemilihan tempat ini didasarkan pada pertimbangan: merupakan tempat peneliti mengajar, belum pernah menjadi tempat penelitian studi kasus, ada 2 orang siswa kelas III SD Kanisius Minggir Sendangagung Sleman yang berkebutuhan khusus ( kesulitan belajar ) dalam hal membaca. 3.2.2 Subjek Penelitian Subjek penelitian ini adalah siswa kelas III SD Kanisius Minggir Sendangagung Sleman tahun pelajaran 2013/2014 pada semester II (genap) dengan jumlah siswa 2 anak yang semuanya adalah siswa putra. Semua siswa dalam kondisi normal dan berasal dari latar belakang yang berbeda-beda serta dari kalangan ekonomi menengah ke bawah. 3.3 Desain dan langkah-langkah penelitian Mengenai desain penelitian studi kasus, Yin (2011:29) mengatakan bahwa

(66) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 47 desain penelitian adalah suatu rencana tindakan untuk berangkat dari sini ke sana. Diartikan bahwa di sini sebagai rangkaian pertanyaan awal yang harus dijawab, sedangkan di sana merupakan serangkaian konklusi atas pertanyaan-pertanyaan tersebut. Desain penelitian ini akan menggunakan desain yang diungkapkan Winihasih (2005:41) berikut ini. Studi Kasus Kesulitan Belajar Membaca Kepada Siswa Dyslexia Kelas III Pemilihan Kasus Observasi Pengumpulan Data Wawancara Analisis Data Perbaikan Penulisan Laporan Bagan 3.1 Desain Penelitian Berdasarkan bagan atau desain penelitian di atas, maka prosedur dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. 1) Pemilihan kasus: dalam pemilihan kasus hendaknya dilakukan secara bertujuan (purposive) dan bukan secara rambang. Kasus dapat dipilih oleh

(67) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 48 peneliti dengan menjadikan objek orang, lingkungan, program, proses, dan masvarakat atau unit sosial. Ukuran dan kompleksitas objek studi kasus haruslah masuk akal, sehingga dapat diselesaikan dengan batas waktu dan sumber-sumber yang tersedia. 2) Pengumpulan data: terdapat beberapa teknik dalarn pengumpulan data, tetapi yang lebih dipakai dalam penelitian kasus adalah observasi, wawancara, dan analisis dokumentasi. Peneliti sebagai instrumen penelitian, dapat menyesuaikan cara pengumpulan data dengan masalah dan lingkungan penelitian, serta dapat mengumpulkan data yang berbeda secara serentak. 3) Analisis data: setelah data terkumpul peneliti dapat mulai mengagregasi, mengorganisasi, dan mengklasifikasi data menjadi unit-unit yang dapat dikelola. Agregasi merupakan proses mengabstraksi hal-hal khusus menjadi hal-hal umum guna menemukan pola umum data. Data dapat diorganisasi secara kronologis, kategori atau dimasukkan ke dalam tipologi. Analisis data dilakukan sejak peneliti di lapangan, sewaktu pengumpulan data dan setelah semua data terkumpul atau setelah selesai dan lapangan. 4) Perbaikan (refinement): meskipun semua data telah terkumpul, dalam pendekatan studi kasus hendaknya dilakukan penyempurnaan atau penguatan (reinforcement) data baru terhadap kategori yang telah ditemukan. Pengumpulan data baru mengharuskan peneliti untuk kembali ke lapangan dan barangkali harus membuat kategori baru, data baru tidak bisa dikelompokkan ke dalam kategori yang sudah ada.

(68) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 49 5) Penulisan laporan: laporan hendaknya ditulis secara komunikatif, rnudah dibaca, dan mendeskripsikan suatu gejala atau kesatuan sosial secara jelas, sehingga memudahkan pembaca untuk mernahami seluruh informasi penting. Laporan diharapkan dapat membawa pembaca ke dalam situasi kasus kehidupan seseorang atau kelompok. 3.4 Metode Penelitian 3.4.1 Sumber data Jenis sumber data yang akan dimanfaatkan dalam penelitian ini meliputi: 1) Informan atau narasumber Terdiri dari guru kelas masing-masing, para staf guru, siswa, orang tua siswa, teman sepermainan di sekolah maupun di rumah. 2) Tempat dan Peristiwa Terdiri dari kegiatan pembelajaran di kelas, pada saat siswa istirahat, lingkungan sekolah, lingkungan tempat tinggal siswa, dan keluarga. 3.4.2 Teknik sampling Moleong (2010: 224) mengemukakan maksud sampling dalam hal ini ialah “untuk menjaring sebanyak mungkin informasi dari berbagai macam sumber dan bangunannya.” Pada penelitian kualitatif tidak ada sampel acak, tetapi sampel bertujuan. Cenderung menggunakan teknik sampling yang bersifat selektif dengan menggunakan pertimbangan berdasarkan konsep teoritis yang digunakan, keingintahuan pribadi peneliti, karakteristik empirisnya, atau dengan kata lain cuplikan (sampling) yang akan digunakan adalah penelitian yang bersifat

(69) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI “pursposive sampling” atau sampel bertujuan. Dalam 50 hal ini peneliti akan memilih informan yang dipandang paling tahu, sehingga informan dapat berkembang sesuai dengan kebutuhan dan kemantapan peneliti dalam memperoleh data. Informan dalam penelitian ini adalah guru kelas III SD Kanisius Minggir Sleman. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah siswa SD Kanisius Minggir Sleman kelas III yang memiliki kesulitan belajar dalam hal ini adalah belajar membaca. 3.4.3. Teknik pengumpulan data Dalam metode penelitian kualitatif, lazimnya data dikumpulkan dengan beberapa teknik pengumpulan data kualitatif, yaitu; 1). wawancara, 2). observasi, dan 3). dokumentasi. Pada pendekatan ini, peneliti membuat suatu gambaran kompleks, meneliti kata-kata, laporan terinci dari pandangan responden, dan melakukan studi pada situasi yang alami (Creswell, 1998:15). Sebelum masingmasing teknik tersebut diuraikan secara rinci, perlu ditegaskan di sini bahwa hal sangat penting yang harus dipahami oleh setiap peneliti adalah alasan mengapa masing-masing teknik tersebut dipakai, untuk memperoleh informasi apa, dan pada bagian fokus masalah mana yang memerlukan teknik wawancara, mana yang memerlukan teknik observasi, mana yang harus kedua-duanya dilakukan. Pilihan teknik sangat tergantung pada jenis informasi yang diperoleh. Sesuai dengan bentuk penelitian kualitatif dan juga jenis sumber data yang dimanfaatkan, maka teknik pengumpulan data yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah:

(70) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 51 1) Wawancara tidak terstruktur Wawancara ialah proses komunikasi atau interaksi untuk mengumpulkan informasi dengan cara tanya jawab antara peneliti dengan informan atau subjek penelitian (Emzir, 2010:50). Byrne (2001) menyarankan agar sebelum memilih wawancara sebagai metoda pengumpulan data, peneliti harus menentukan apakah pertanyaan penelitian dapat dijawab dengan tepat oleh orang yang dipilih sebagai partisipan. Studi hipotesis perlu digunakan untuk menggambarkan satu proses yang digunakan peneliti untuk memfasilitasi wawancara. Jenis wawancara ini sudah termasuk dalam kategori in-dept-interview hal tersebut dikemukakan oleh Sugiyono (2009:233), dimana dalam pelaksanaannya lebih bebas, tidak terstruktur. Wawancara jenis ini adalah wawancara yang bebas di mana peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang telah tersusun secara sistematis dan lengkap untuk pengumpulan datanya. Pedoman wawancara yang digunakan hanya berupa garis-garis besar permasalahan yang akan ditanyakan. Wawancara dilakukan kepada semua warga sekolah baik kepala sekolah, guru dan tentunya peserta didik. Fungsi wawancara dalam penelitian ini sebagai metode yang diberi kedudukan utama dalam serangkaian metode-metode pengumpulan data lainnya, ia akan memiliki ciri sebagai metode primer. Sebagai metode primer wawancara mengemban tugas yang sangat penting. Dalam penelitian ini, wawancara dilakukan terhadap guru kelas dan kedua siswa berkebutuhan khusus kesulitan membaca tentang kesulitan membaca

(71) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 52 siswa dalam pembelajaran di kelas dan pengaruhnya terhadap prestasi siswa. Wawancara ini dilakukan oleh peneliti di luar mata pelajaran secara informal dan terencana, tetapi tidak terstruktur agar alami dan tidak dibuat-buat. Dalam pelaksanaan wawancara dengan siswa, peneliti mewawancarai kedua siswa secara terpisah agar siswa menjawab sesuai dengan apa yang dirasakan dan tidak terpengaruh oleh jawaban siswa yang lainnya. 2) Observasi langsung Selain wawancara, observasi juga merupakan salah satu teknik pengumpulan data yang sangat lazim dalam metode penelitian kualitatif. Observasi hakikatnya merupakan kegiatan dengan menggunakan pancaindera, bisa penglihatan, penciuman, pendengaran untuk memperoleh informasi yang diperlukan untuk menjawab masalah penelitian. Hasil observasi berupa aktivitas, kejadian, peristiwa, objek, kondisi atau suasana tertentu, dan perasaan emosi seseorang. Observasi dilakukan untuk memperoleh gambaran riil suatu peristiwa atau kejadian untuk menjawab pertanyaan penelitian (Guba dan Lincoln, 1981: 191-193). Observasi langsung ini akan dilakukan dengan cara formal dan informal, untuk mengamati berbagai peristiwa yang terjadi di kelas pada saat pembelajaran, juga kegiatan siswa sehari-hari dalam pergaulan di sekolah maupun di lingkungan keluarga. Sebagai metode pembantu dalam penelitian yang sifatnya sudah lebih mendalam Dalam hal ini, biasanya observasi dijadikan sebagai metode pembantu untuk menunjang wawancara sebagai metode utama. Observasi akan membantu

(72) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 53 untuk mengontrol atau memeriksa di lapangan, seberapa jauh hasil wawancara tersebut sesuai dengan fakta yang ada. Dalam penelitian ini, observasi dilakukan terhadap kedua siswa kelas III yang mengalami kesulitan belajar membaca dengan melakukan pengamatan dan pencatatan pelaksanaan kegiatan membaca dengan menggunakan lembar observasi. Observasi dilakukan dengan instrumen lembar observasi yang dilengkapi dengan pedoman observasi dan dokumentasi foto. Cara observasi yang paling efektif menurut Razak (2003) adalah, melengkapinya dengan pedoman observasi/pedoman pengamatan seperti format atau blangko pengamatan. Format yang disusun berisi item-item tentang kejadian, tingkah laku yang digambarkan akan terjadi, kondisi fisik, kondisi psikologis, dan kondisi sosial subjek. Acuan pengamatan adalah indikator, karena indikator merupakan tanda tercapainya suatu kompetensi, dan indikator harus terukur. Dalam penelitian ini indikator merupakan tanda-tanda yang dimunculkan oleh peserta didik, yang dapat diamati atau diobservasi oleh peneliti sebagai representasi dari kondisi siswa yang diamati. Berikut ini pedoman observasi menurut Razak (2003). Tabel 3.1 Pedoman Observasi Pedoman Observasi No Pengamatan 1 Kondisi Fisik Indikator Postur tubuh Ciri-ciri fisik 2 Kondisi psikologis Kognitif Deskripsi Tinggi dan berat badan Bentuk muka, warna kulit dan rambut, jenis rambut Pengetahuan yang

(73) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Afektif Psikomotorik Moral 3 Kondisi sosial Keterlibatan dalam lingkungan sekolah 54 dimiliki subjek Rendah diri, gelisah, malu, bingung, bahagia, sedih Rasa percaya diri subjek saat membaca, melamun saat belajar membaca Aktivitas ibadah yang subjek lakukan Cara berkomunikasi dengan teman, peneliti dan guru. Menarik diri pada teman Sumber: Razak (2003) Tabel 3.2 Pedoman Observasi Modifikasi Razak (2003) dan Hargrove dan Poteet (1984) No Pengamatan Indikator 1 Kondisi Fisik Postur tubuh Ciri-ciri fisik 2 Kondisi psikologis Kognitif Afektif Psikomotorik Deskripsi Tinggi dan berat badan Bentuk muka, warna kulit dan rambut, jenis rambut Tidak dapat membaca/membunyikan perkataan yang tidak pernah dijumpai, menggerakakn kepala, menelusuri tiap baris bacaan Rendah diri, gelisah, malu, bingung, putus asa saat membaca Tidak percaya diri saat membaca, melamun saat belajar membaca. Membaca lambat dan terputus-putus. Nada suara aneh atau tegang

(74) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Moral 3 3) Kondisi sosial Keterlibatan dalam lingkungan sekolah 55 saat membaca Kurang paham dalam beribadah, sering diingatkan dan dibimbing oleh guru Kesulitan mengingat nama teman, peneliti dan guru. Suka menyendiri, bermain sendiri Dokumentasi Selain melalui wawancara dan observasi, informasi juga bisa diperoleh lewat fakta yang tersimpan dalam bentuk surat, catatan harian, arsip foto, hasil rapat, cenderamata, jurnal kegiatan dan sebagainya. Fungsi dokumen yaitu untuk menggali informasi yang terjadi di masa silam. Peneliti perlu memiliki kepekaan teoretik untuk memaknai semua dokumen tersebut sehingga tidak sekadar barang yang tidak bermakna (Faisal, 1990: 77). Teknik ini dilakukan dengan mengumpulkan data yang bersumber dari dokumen dan arsip yang terdapat di masing-masing sekolah mengenai prestasi akademik siswa. Dalam penelitian ini, dokumentasi berupa foto-foto kegiatan atau untuk menangkap kejadian selama proses kegiatan belajar mengajar yang berlangsung di kelas dan pada saat peneliti melakukan tes assesmen berlangsung. 3.4.4 Instrumen Penelitian Instrumen penelitian menurut Arikunto (2006: 149) merupakan alat bantu bagi peneliti dalam mengumpulkan data. Sedangkan menurut Arikunto dalam edisi sebelumnya adalah alat atau fasilitas yang digunakan oleh peneliti dalam

(75) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 56 mengumpulkan data agar pekerjaannya lebih mudah dan hasilnya lebih baik, dalam arti lebih cermat, lengkap dan sistematis, sehingga mudah diolah. Instrumen yang digunakan oleh peneliti dalam hal ini adalah instrumen pokok dan instrumen penunjang. Instrumen pokok adalah manusia itu sendiri sedangkan instrumen penunjang adalah pedoman observasi dan pedoman wawancara. Satu-satunya instrumen terpenting dalam penelitian kualitatif adalah peneliti itu sendiri. Peneliti menggunakan alat-alat bantu untuk mengumpulkan data seperti recorder, video, atau kamera. Tetapi kegunaan atau pemanfaatan alat-alat ini sangat tergantung pada peneliti itu sendiri. Peneliti sebagai instrumen (disebut "Paricipant-Observer") di samping memiliki kelebihan-kelebihan, juga mengandung beberapa kelemahan. Kelebihannya antara lain, pertama, peneliti dapat langsung melihat, merasakan, dan mengalami apa yang terjadi pada subjek yang ditelitinya. Dengan demikian, peneliti akan lambat laut "memahami" makna-makna apa saja yang tersembunyi di balik realita yang kasat mata (verstehen). Ini adalah salah satu tujuan yang hendak dicapai melalui penelitian kualitatif. Kedua, peneliti akan mampu menentukan kapan penyimpulan data telah mencukupi, data telah jenuh, dan penelitian dihentikan. Dalam penelitian kualitatif, pengumpulan data tidak dibatasi oleh instrumen (misalnya kuesioner) yang sengaja membatasi penelitian pada variabel-variabel tertentu saja. Ketiga, peneliti menganalisanya, dapat melakukan langsung refleksi melakukan secara terus pengumpulan menerus, dan data, secara gradual/membangun pemahaman yang tuntas tentang sesuatu hal. Penelitian

(76) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 57 kualitatif, peneliti memang mengkonstruksi realitas yang tersembunyi (tacit) di dalam sekolah. Sementara beberapa kelemahan peneliti sebagai instrumen adalah pertama, sungguh tidak mudah menjaga obyektivitas dan netralitas peneliti sebagai peneliti. Keterlibatan subjek memang bagus dalam penelitian kualitatif, tetapi jika tidak hati-hati, peneliti akan secara tidak sadar mencampuradukkan antara data lapangan hasil observasi dengan pikiran-pikirannya sendiri. Kedua, pengumpulan data dengan cara menggunakan peneliti sebagai instrumen utama ini sangat dipengaruhi oleh kemampuan peneliti dalam menulis, menganalisis, dan melaporkan hasil penelitian. Peneliti juga harus memiliki sensitifitas/kepekaan dan insight (wawasan) untuk menangkap simbol-simbol dan makna-makna yang tersembunyi. Lyotard (1989) mengatakan, lantaran pengalaman belajar ini sifatnya sangat pribadi, peneliti seringkali mengalami kesulitan untuk mengungkapkannya dalam bentuk tertulis. Ketiga, peneliti harus memiliki cukup kesabaran untuk mengikuti dan mencatat perubahan-perubahan yang terjadi pada subjek yang ditelitinya. Dalam penelitian kuantitatif, penelitian dianggap selesai jika kesimpulan telah diambil dan hipotesis telah diketahui statusnya, diterima atau ditolak. Tetapi peneliti kualitatif harus siap dengan hasil penelitian yang bersifat plural (beragam), sering tidak terduga sebelumnya, dan sulit ditentukan kapan selesainya. Ancar-ancar waktu tentu bisa dibuat, tetapi ketepatan jadwal (waktu) dalam penelitian kualitatif tidak mungkin dicapai seperti dalam penelitian kuantitatif.

(77) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 58 3.4.5 Kredibilitas, Transferabilitas dan Validitas Data Kredibilitas (Credibility) merupakan penetapan hasil penelitian kualitatif yang kredibel atau dapat dipercaya dari persepektif partisipan dalam penelitian tersebut (Razak:2003). Karena dari perspektif ini tujuan penelitian kualitatif adalah untuk mendeskripsikan atau memahami fenomena yang menarik perhatian dari sudut pandang partisipan. Partisipan adalah orang yang dapat menilai secara sah kredibilitas hasil penelitian tersebut, yaitu guru dan kedua siswa dyslexia kelas III SD Kanisus Minggir Sleman. Strategi untuk meningkatkan kredibilitas data meliputi perpanjangan pengamatan, ketekunan penelitian, triangulasi, diskusi teman sejawat, analisis kasus negatif, dan memberchecking. Transferabilitas (Transferability), merujuk pada tingkat kemampuan hasil penelitian kualitatif untuk dapat digeneralisasikan atau ditranfer pada konteks atau seting yang lain (Razak:2003). Dari sebuah perspektif kualitatif transferabilitas merupakan tanggung jawab seseorang dalam melakukan generalisasi. Penelitian kualitatif dapat meningkatkan transferabilitas dengan melakukan suatu pekerjaan mendeskripsikan konteks penelitian dan asumsiasumsi yang menjadi sentral pada penelitian tersebut. Orang yang ingin mentransfer hasil penelitian pada konteks yang berbeda bertanggung jawab untuk membuat keputusan tentang bagaimana transfer tersebut masuk akal, dalam hal ini dalah peneliti. Menurut Moleong (2010: 324), untuk menetapkan keabsahan (trustworthiness) data diperlukan teknik pemeriksaan. Pelaksanaan teknik pemeriksaan didasarkan atas sejumlah kriteria tertentu. Ada empat kriteria yang digunakan menurut Moleong (2010: 324) yaitu derajat kepercayaan (credibility),

(78) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI keteralihan (transferability), kebergantungan (dependability), 59 kepastian (confirmability). Dalam penelitian kualitatif ini memakai tiga macam antara lain : 1) Derajat kepercayaan (credibility) Kredibilitas data dalam penelitian ini dimaksudkan untuk menunjukan dan membuktikan data yang berhasil dikumpulkan dari lapangan apakah sesuai dengan sebenarnya. Dalam derajat kepercayaan ada beberapa teknik untuk mencapai kreadibilitas ialah teknik: teknik triangulasi, sumber, perpanjangan kehadiran peneliti dilapangan, diskusi teman sejawat, dan menggunakan bahan referensi. 2) Kebergantungan (dependability) Kriteria ini digunakan untuk menjaga kehati-hatian akan terjadinya kemungkinan kesalahan dalam mengumpulkan dan menginterprestasikan data sehingga data dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Dalam penelitian kualitatif uji dependability dilakukan dengan melakukan audit terhadap keseluruhan proses penelitian. Audit dilakukan oleh auditor yang independen untuk mengaudit keseluruhan aktivitas peneliti dalam melakukan penelitian. Dalam penelitian ini dilakukan oleh dosen pembimbing. 3) Kepastian (confirmability) Pengujian confirmability dalam penelitian kualitatif disebut dengan uji obyektifitas penelitian. Penelitian dikatakan obyektif jika hasil penelitian telah disepakati oleh banyak orang. Menguji confirmability berarti menguji hasil penelitian dikaitkan dengan proses yang dilakukan.

(79) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 60 3.4.6 Analisis data Analisis data dalam penelitian studi kasus dilakukan pada saat pengumpulan data berlangsung, dan setelah selesai pengumpulan data dalam periode tertentu. Dalam analisis data peneliti menggunakan teknik analisis data model Miles dan Huberman yang dikutip dari buku karangan Sugiyono (2009: 246), “mengemukakan bahwa aktivitas dalam analisis data studi kasus dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas, sehingga datanya sudah jenuh.” Aktivitas dalam analisis data, yaitu data reduction, data display, dan conclusion drawing. Berikut langkah-langkahnya: 1) Data Reduction (reduksi data) Data yang diperoleh dari lapangan jumlahnya cukup banyak mulai dari catatan lapangan, komentar-komentar dari peneliti, gambar, foto, dokumendokumen, bahkan ada video dan lain sebagainya. 2) Data Display (penyajian data) Setelah data direduksi maka langkah selanjutnya adalah mendisplaykan data. Dalam penelitian ini penyajian data dilakukan dalam bentuk uraian singkat dengan teks yang bersifat naratif. 3) Conclusion drawing/verification (menarik kesimpulan) Langkah ketiga dalam analisis data adalah menarik kesimpulan dan verifikasi. Kesimpulan awal yang dikemukakan masih bersifat sementara, dan akan berubah bila tidak ditemukan bukti-bukti yang kuat yang mendukung pada tahap pengumpulan data berikutnya. Tetapi apabila kesimpulan pada tahap awal, didukung oleh bukti-bukti yang valid dan konsisten saat peneliti

(80) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 61 kembali ke lapangan mengumpulkan data, maka kesimpulan yang dikemukakan merupakan kesimpulan yang kredibel (Sugiyono, 2009: 252). 3.5 Prosedur Kegiatan Penelitian Bogdan dalam Moleong (2010: 126) tahap dalam penelitian kualitatif ada 3 tahapan yaitu tahap pra-lapangan, tahap kegiatan dilapangan, dan tahap analisis data yang diperoleh dari lapangan. Dalam penelitian ini dilakukan tahap-tahap dan kegiatan sebagai berikut: 1) Tahap Pra-lapangan (a) Menyusun rancangan penelitian (b) Melakukan perijinan penelitian, yakni kepada sekolah yang bersangkutan (c) Menentukan lokasi yang akan dijadikan lokasi penelitian. (d) Meninjau sekolah yang terpilih sebagai lokasi penelitian. (e) Menyusun protokol penelitian, pengembangan pedoman pengumpulan data (daftar pertanyaan dan petunjuk observasi), dan penyusunan jadual secara rinci. 2) Tahap kegiatan lapangan (a) Mengumpulkan data dilokasi penelitian dengan melakukan observasi, wawancara dan mencatat dokumen. (b) Melakukan review dan pembahasan beragam data yang terkumpul dengan melaksanakan refleksinya. (c) Mengatur data dalam kelompok untuk kepentingan analisis, dengan memperhatikan semua variabel yang terlibat. 3) Analisis Data

(81) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 62 (a) Melakukan analisis awal, yaitu menganalisis data dari lapangan mulai dari dokumen, catatan lapangan, hasil wawancara, dan semua sumber data yang diperoleh peneliti selama dilapangan. (b) Melakukan penafsiran data yang telah diperoleh. (c) Melakukan pengecekan kembali terhadap data yang diperoleh dengan memperhatikan teknik pengumpulan data dan sumber data. (d) Melakukan verifikasi, pengayaan, dan pendalaman data. Bila dalam persiapan analisis ternyata ditemukan data yang kurang lengkap atau kurang jelas, maka perlu dilakukan pengumpulan data lagi secara lebih khusus. (e) Melakukan simpulan akhir sebagai hasil temuan penelitian. (f) Merumuskan implikasi kebijakan sebagai bagian dari pengembangan dalam laporan akhir penelitian. 3.6 Jadwal Penelitian Penelitian dilaksanakan pada semester ganjil tahun pelajaran 2013/2014 selama 3 bulan mulai bulan Januari 2013 sampai dengan bulan April 2014. Adapun waktu dan jenis kegiatan penelitian dapat dilihat pada tabel 3.2

(82) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 63 Tabel 3.2 Jadwal Penelitian No. 1 2 Kegiatan Penyusunan dan Penyeminaran Proposal Pengurusan ijin Penelitian 3 Pelaksanaan Tindakan 4 Penyusunan Laporan Januari Februari Maret 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 April Mei 1 2 3 4 1 2 3 4

(83) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(84) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian 4.1.1 Pelaksanaan Observasi Tempat penelitian adalah SD Kanisius Minggir Sendangagung Sleman Yogyakarta. Kegiatan observasi dilaksanakan pada hari Selasa 6 Januari 2014 mulai pukul 07.00 hingga pukul 10.00 WIB. Peneliti mengadakan observasi dengan objek siswa-siswi kelas III SD Kanius Minggir, khususnya yang memiliki keunikan dan kekhasan. Sebelum masuk ke dalam, peneliti berbincang dengan wali kelas mengenai anak yang memiliki keunikan dan kekhasan,dan akhirnya merujuk pada 2 nama, yaitu DR dan TN. Akhirnya peneliti memilih DR dan TN sebagai objek penelitian. Kegiatan observasi dilaksanakan dengan beberapa metode yaitu, metode pengamatan langsung dan metode wawancara. Pengamatan langsung dilakukan dengan cara pengamatan langsung terhadap sasaran observasi yakni DR dan TN. Peneliti mengamati kegiatan kedua siswa tersebut pada saat sedang mengikuti kegiatan belajar mengajar di dalam kelas, khususnya kegiatan membaca. Metode wawancara dilakukan dengan cara melakukan wawancara terhadap guru kelas III SD Kanisius Minggir Sleman untuk mendapatkan informasi awal tentang kemampuan membaca kedua siswa tersebut. Wawancara juga dilakukan terhadap kedua siswa tersebut sebagai subyek penelitian yaitu TN dan DR, untuk mendapatkan informasi yang lebih mendalam. 64

(85) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 65 4.1.2 Hasil Observasi Dari kegiatan observasi yang telah dilaksanakan oleh peneliti, diperoleh data sebagai berikut : 1. Identifikasi Siswa TN dan Orang Tua TN TN lahir di Sleman tanggal 25 Januari 2003, berjenis kelamin laki-laki dan beragama katolik. Berambut lurus hitam, berkulit sawo matang dan berwajah bulat. Tinggi badan TN 129 cm dan berat badannya 21 kg. TN tinggal di Minggir Sleman, dia adalah anak 1 dari 1 bersaudra (tunggal). Hobinya menggambar dan bercita-cita menjadi pembalap motor. Pada saat duduk di kelas 1 TN pernah tinggal kelas. Ayah TN bernama Bapak LH, bekerja sebagai buruh dan pendidikan terakhir D1. Ibu TN bernama Ibu SS, beliau adalah seorang ibu rumah tangga, pendidikan terakhir D3. Perkembangan TN baik, normal (tidak cacat), tidak ada gangguan dalam penglihatan maupun pendengaran Intelegensi Pemikiran, TN belum matang dan belum bisa memahami tulisan dan soal bahkan membaca masih susah. Secara emosional TN terkadang masih sering berubah-ubah terutama disaat belajar. Bakat khusus, TN terlihat dibidang menggambar. Sosial cultural, dalam bergaul dengan teman, TN cenderung kurang dan bahasa yang digunakan dalam komunikasi sehari-hari hanya bahasa daerah sekitarnya. Secara spiritual/agama kurang paham dalam beribadah sehingga lebih sering diingatkan dan dibimbing. seperti: pada saat berdoa mereka sering bercanda. Komunikasi, TN sedikit

(86) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI pendiam, ia tidak akan 66 bertanya sebelum teman maupun gurunya bertanya terlebih dahulu dan cenderung malas. 2. Identifikasi Siswa DR dan Orang Tua DR DR lahir di Sleman 30 Januari 2005, berjenis kelamin laki-laki dan beragama katolik. DR berambut lurus hitam, berkulit sawomatang dan berwajah bulat. Tinggal di Minggir Sleman, DR adalahanak ke 3 dari 3 bersaudara. Hobi bermain main catur dan bercita-cita menjadi polisi. Tinggi badan 126 cm dan berat badan 25 kg. Ayah DR bernama bapak FM, bekerja sebagai petani, pendidikan terakhir SLTA. Ibu DR bernama ibu ES, beliau seorang ibu rumah tangga dan pendidikan terakhir SLTA. Perkembangan DR baik, normal (tidak cacat), tidak ada gangguan dalam penglihatan maupun pendengaran. Intelegensi Pemikiran, DR belum matang dan belum bisa memahami tulisan dan soal bahkan membaca masih susah. Secara emosional, DR memiliki emosinal yang stabil. Bakat khusus DR yaitu pandai bermain catur. Sosial cultural, dalam bergaul dengan teman, DR cenderung kurang dan bahasa yang mereka gunakan dalam komunikasi seharihari hanya bahasa daerah sekitarnya. Spiritual/agama kurang paham dalam beribadah sehingga lebih sering diingatkan dan dibimbing. seperti: pada saat berdoa DR sering bercanda. Komunikasi, DR cenderung aktif, tidak sungkan bertanya baik pada teman-temannya maupun kepada gurunya. Walaupun

(87) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 67 terkadang pertanyaan yang Iyeng ajukan tidak jelas dan Iyeng sendiri tidak mengerti apa yang dia tanyakan. 4.1.3 Wawancara dengan Guru Kelas Wawancara dilakukan dengan cara tanya jawab dengan pihak terkait sehubungan data yang akan diambil. Peneliti mewawancarai guru Kelas III sehubungan dengan kesulitan belajar membaca yang dialami oleh kedua siswa di SD Kanisius Minggir Sleman. Hasil wawancara dengan guru kelas III mengenai kesulitan belajar membaca yang dialami oleh TN dan dan DR. a. Wawancara dengan guru kelas III mengenai Siswa TN Menurut hasil wawancara peneliti dengan guru kelas III bahwa, perilaku TN sehari-hari sama dengan murid yang lainnya, namun TN lebih cendrung pendiam. Dalam pembelajaran di kelas, didapati TN kesulitan membaca. TN sudah tahu huruf namun belum bisa membaca huruf X-Y-Z. Menurut informasi guru kelas III untuk mengeja satu suku kata atau lebih TN juga masih mengalami kesulitan , terutama suku kata NGA-NGI,-NGU-NGE-NGO dan NYA-NYI-NYU-NYE-NYO. Pada awal masuk kelas III TN sama sekali belum bisa membaca walaupun sudah mengerti huruf. Mungkin salah satu penyebabnya adalah saat kelas I TN tidak mengerti huruf sama sekali dan pernah tinggal kelas. Saat naik kelas II TN sudah mulai mengenal huruf walaupun belum bisa membaca, sehingga ketika TN masuk kelas III dia belum bisa membaca, dia benar-benar harus dari nol untuk belajar membaca.

(88) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 68 Ayah TN bekerja sebagai buruh sedangkan ibunya dirumah bekerja sebagai ibu rumah tangga. Menurut guru kelas III bahwa, ketika TN memiliki pekerjaan Rumah (PR) ibunya menyempatkan untuk membantu TN mengerjakannya. TN tinggal dirumah hanya dengan Bapak dan Ibunya . TN sangat dimanja oleh orang tuanya dikarenakan anak tunggal. Di sekolah, TN diberikan pendekatan khusus dan pengawasan. Guru kelas sering mendatangi meja TN agar bisa membantu ketika TN sulit dalam membaca. Guru kelas juga memberikan motivasi TN untuk belajar membaca, tujuannya agar TN lebih semangat dalam belajar. Selain pendekatan didalam kelas guru juga memberikan les tambahan yang dilakukan setelah jam pelajaran usai selama satu jam. Les tambahan diadakan pada hari selasa dan kamis. Les tambahan yang diberikan guru kelas III itu hanya berjalan beberapa waktu saja, sekarang sudah tidak diberikan les tambahan dikarenakan kesibukan guru kelas III. Setelah di berikan pendekatan khusus dan les tambahan TN menunjukkan ada perubahan, dari yang berawal tidak bisa membaca sama sekali sekarang sudah paham huruf dan bisa membaca walaupun masih kesulitan membaca kata-kata panjang. Kendala yang dihadapi oleh guru kelas III dalam memberikan bantuan pelayanan terhadap TN yaitu, pertama dari anaknya sendiri yang malas, ketika keinginannya hanya ingin bermain, TN tetap kekeuh dan susah untuk belajar. Terkadang belajarnya kurang serius. TN selalu menolak membaca didepan kelas. Kedua dari orangtuanya kurang mendukung. Orang tua TN pernah dipanggil ke sekolah, namun undangan tersebut tidak dipenuhi. Guru kelas juga pernah menemui orang tua TN pada saat menjemput TN pulang sekolah, namun kurang merespon.

(89) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 69 Bantuan pelayanan yang diberikan sekolah terhadap TN tidak akan maksimal apabila tidak didukung tambahan dari rumah yaitu kedua orang tuanya. Saat ini TN mendapatkan layanan bimbingan dari peneliti berupa bimbingan belajar membaca. Menurut pendapat guru kelas III bahwa, setelah di berikan bimbingan belajar/les tambahan oleh peneliti TN mengalami perubahan yang cukup baik. Kemampuan membaca TN jauh lebih baik dan lebih lancar. TN sekarang sudah lebih berani apabila diberi tugas membaca, walaupun masih ada kesalahan saat membaca. Seperti kata-kata BEBERAPA dan TERTABRAK TN sudah bisa membaca dengan benar. Dulu TN tidak bisa membaca kata TERTABRAK selalu dibaca TERTABAK, dan kata BEBERAPA dibaca BERAPA. TN dalam membaca sering menghilangkan huruf dan sekarang sudah mulai benar membacanya. b. Wawancara dengan guru kelas 3 mengenai Siswa DR Menurut hasil wawancara peneliti dengan guru kelas III bahwa, perilaku DR di sekolah sehari-hari sama dengan murid yang lainnya, namun DR cendrung lebih aktif dibandingkan dengan TN, terkadang dia suka sibuk bermain sendiri. Dalam pembelajaran di kelas, dia kesulitan dalam hal membaca. DR sudah mengerti huruf namun belum bisa membedakan huruf d dengan b. DR juga belum bisa membaca huruf X-Y-Z sama seperti TN. Dalam hal mengeja satu suku kata atau lebih DR masih mengalami kesulitan terutama NGA-NGI,-NGU-NGE-NGO dan NYA-NYINYU-NYE-NYO hal ini juga di alami oleh TN. Pada awal masuk kelas III DR dengan TN sama-sama belum bisa membaca walaupun sudah mengerti huruf. Mungkin salah satu penyebabnya, karena dia saat kelas I tidak mengerti huruf dan tidak bisa membaca sama sekali. Tetapi saat naik di kelas II, dia sudah mulai

(90) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 70 mengenal huruf walaupun belum bisa membaca. Sehingga ketika DR masuk kelas III masih belum bisa membaca, dia benar-benar harus belajar membaca dari nol sama kasusnya dengan TN. Ayah DR bekerja sebagai petani sedangkan ibunya dirumah bekerja sebagai ibu rumah tangga. DR adalah anak bungsu dari 3 bersaudara, ibu DR sibuk karena harus mengurus ketiga anaknya. Mungkin itu salah satu hal yang menyebabkan DR kurang diperhatikan oleh orang tuanya. Menurut informasi dari guru kelas III bahwa, Guru kelas pernah bertanya kepada ibunya tentang keadaan DR. Menurut pengakuan ibunya bahwa DR itu berbeda (maksudnya kurang pandai) tidak seperti kakakkakaknya sehingga ibunya membiarkan saja apapun yang DR lakukan dan tidak pernah memaksa DR untuk belajar, dengan alas an DR memang tidak mampu. DR tinggal di rumah tidak hanya dengan Ayah dan Ibunya, di rumah itu ada kakek dan kakak-kakaknya . Menurut informasi dari guru kelas III, kakeknya sibuk bekerja di sawah jadi kurang bisa memperhatikan DR. Kakak-kakaknya juga masih sekolah, salah satu kakaknya bersekolah di SD yang sama dengan DR dan kakak tertua DR sudah SMP. Kakak-kakaknya juga kurang bisa memperhatikan DR. Dia sering bermain sendiri, terkadang hingga jauh dari rumahnya namun tidak ada yang mencari. Menurut guru kelas III, DR pun diberikan pendekatan khusus dan pengawasan yang lebih seperti TN. Guru kelas III sering mendatangi meja mereka agar bisa membantu ketika DR maupun TN kesulitan dalam membaca. Guru kelas juga memberikan motivasi DR untuk semangat dalam belajar membaca. belajar membaca. Tujuannya agar DR lebih

(91) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 71 DR dan TN diperlakukan sama oleh guru kelas III, selain pendekatan di dalam kelas guru juga memberikan les tambahan yang diberikan setelah jam pelajaran usai selama satu jam. Les tambahan untuk DR diadakan pada hari selasa dan kamis, namun hal itu berjalan hanya beberapa waktu saja. Kesibukkan guru kelas III membuat les tambahan tidak berjalan. Menurut guru kelas III, setelah di berikan pendekatan khusus dan les tambahan DR menunjukkan ada perubahan. DR yang awalnya tidak bisa membaca sekarang sudah bisa membaca walaupun belum lancar dan masih sering salah. DR masih harus sering diingatkan kembali saat membaca. DR juga sudah mulai berani kalau diberi tugas membaca, dulu sama sekali tidak mau. Dalam memberikan bantuan pelayanan terhadap DR, guru kelas III memiliki kendala, yang pertama dari kemampuan anaknya sendiri memang kurang bisa menangkap pelajaran. Sebenarnya DR merupakan anak yang memiliki semangat untuk belajar membaca tetapi tidak bisa tenang ketika belajar membaca, setiap kali membaca terkesan terburu-buru sehingga sering salah pengucapannya atau lain dalam penulisannya. Kedua, dari orangtuanya kurang mendukung, cenderung cuek dengan kondisi anaknya. Pelayanan dari sekolah berupa les tambahan untuk DR hasilnya kurang maksimal, karena tidak mungkin apabila bantuan yang diberikan disekolah saja yang digunakan. Seharusnya ada tambahan dari rumah yaitu kedua orang tua dan keluarga lainnya. DR mendapatkan layanan bimbingan dari peneliti berupa bimbingan belajar membaca. Menurut pendapat guru kelas III, setelah di berikan bimbingan belajar/les tambahan oleh peneliti ada perubahan yang cukup baik. Kemampuan membaca DR jauh lebih baik dan lebih lancar. Kepercayaan diri DR untuk membaca didepan kelas

(92) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 72 jauh lebih baik daripada sebelumnya, walaupun masih ada kesalahan saat membaca DR sudah tidak takut dan malu. Dulu DR tidak bisa membaca huruf NG dan kata yang mengandung huruf NG, sekarang sedikit demi sedikit sudah bisa. 4.2 Identifikasi Kesulitan Belajar 4.2.1 Definisi Kesulitan Belajar Aktifitas belajar bagi setiap individu tidak selamanya dapat berlangsung secara wajar. Kadang-kadang lancar, kadang-kadang tidak, kadang-kadang dapat cepat menangkap apa yang dipelajari, kadang-kadang terasa amat sulit. Dalam hal semangat, terkadang semangatnya tinggi, tetapi juga sulit untuk mengadakan konsentrasi. Demikian kenyataan yang sering kita jumpai pada setiap anak didik dalam kehidupan sehari-hari dalam kaitannya dengan aktifitas belajar. Setiap individu memang tidak ada yang sama. Perbedaan individu ini pulalah yang menyebabkan perbedaan tingkah laku dikalangan anak didik. “dalam keadaan di mana anak didik / siswa tidak dapat belajar sebagaimana mestinya, itulah yang disebut dengan kesulitan belajar. Kesulitan belajar merupakan kekurangan yang tidak nampak secara lahiriah. Ketidakmampuan dalam belajar tidak dapat dikenali dalam wujud fisik yang berbeda dengan orang yang tidak mengalami masalah kesulitan belajar. Kesulitan belajar ini tidak selalu disebabkan karena faktor intelligensi yang rendah (kelaianan mental), akan tetapi dapat juga disebabkan karena faktor lain di luar intelligensi. Dengan demikian, IQ yang tinggi belum tentu menjamin keberhasilan belajar. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kesulitan belajar adalah suatu kondisi proses belajar yang ditandai hambatan-hambatan tertentu dalam mencapai hasil belajar.

(93) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 73 Dalam kegiatan pembelajaran di sekolah, kita dihadapkan dengan sejumlah karakterisktik siswa yang beraneka ragam. Ada siswa yang dapat menempuh kegiatan belajarnya secara lancar dan berhasil tanpa mengalami kesulitan, namun di sisi lain tidak sedikit pula siswa yang justru dalam belajarnya mengalami berbagai kesulitan. Kesulitan belajar siswa ditunjukkan oleh adanya hambatan-hambatan tertentu untuk mencapai hasil belajar, dan dapat bersifat psikologis, sosiologis, maupun fisiologis, sehingga pada akhirnya dapat menyebabkan prestasi belajar yang dicapainya berada di bawah semestinya. 4.2.2 Identifikasi Kesulitan Belajar Membaca (Dyslexsia) Istilah disleksia berasal dari bahasa Yunani, yakni dys yang berarti sulit dalam dan lex berasal dari legein, yang artinya berbicara. Jadi secara harfiah, disleksia berarti kesulitan yang berhubungan dengan kata atau simbol-simbol tulis. Kelainan ini disebabkan oleh ketidakmampuan dalam menghubungkan antara lisan dan tertulis, atau kesulitan mengenal hubungan antara suara dan kata secara tertulis. Bryan & Bryan (dalam Abdurrahman, 1999: 204), menyebut dyslexia sebagai suatu sindroma kesulitan dalam mempelajari komponen-komponen kata dan kalimat, mengintegrasikan komponen-komponen kata dan kalimat dan dalam belajar segala sesuatu yang berkenaan dengan waktu, arah dan masa. Sedangkan, menurut Lerner seperti di kutip oleh Mercer (1979: 200), mendefinisikan kesulitan belajar membaca sangat bervariasi, tetapi semuanya menunjuk pada adanya gangguan fungsi otak. Pada kenyataannya, kesulitan membaca dialami oleh 2-8% anak sekolah dasar. Sebuah kondisi, dimana ketika anak atau siswa tidak lancar atau ragu-ragu

(94) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 74 dalam membaca; membaca tanpa irama (monoton), sulit mengeja, kekeliruan mengenal kata; penghilangan, penyisipan, pembalikan, salah ucap, pengubahan tempat, dan membaca tersentak-sentak, kesulitan memahami; tema paragraf atau cerita, banyak keliru menjawab pertanyaan yang terkait dengan bacaan; serta pola membaca yang tidak wajar pada anak. 1. Karakteristik dyslexia Ada empat kelompok karakteristik kesulitan belajar membaca, yaitu kebiasaan membaca, kekeliruan mengenal kata, kekeliruan pemahaman, dan gejala-gejala serba aneka, (Mercer, 1983). Dalam kebiasaan membaca anak yang mengalami kesulitan belajar membaca sering tampak hal-hal yang tidak wajar, sering menampakkan ketegangannya seperti mengernyitkan kening, gelisah, irama suara meninggi, atau menggigit bibir. Mereka juga merasakan perasaan yang tidak aman dalam dirinya yang ditandai dengan perilaku menolak untuk membaca, menangis, atau melawan guru. Pada saat mereka membaca sering kali kehilangan jejak sehingga sering terjadi pengulangan atau ada baris yang terlompat tidak terbaca. Dalam kekeliruan mengenal kata ini memcakup penghilangan, penyisipan, penggantian, pembalikan, salah ucap, perubahan tempat, tidak mengenal kata, dan tersentak-sentak ketika membaca. Kekeliruan memahami bacaan tampak pada banyaknya kekeliruan dalam menjawab pertanyaan yang terkait dengan bacaan, tidak mampu mengurutkan cerita yang dibaca, dan tidak mampu memahami tema bacaan yang telah dibaca. Gejala serba aneka tampak seperti membaca kata demi kata, membaca dengan penuh ketegangan, dan membaca dengan penekanan yang tidak tepat.

(95) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 75 2. Gejala Gejala dyslexia, anak memiliki kemampuan membaca di bawah kemampuan yang seharusnya dilihat dari tingkat inteligensia, usia dan pendidikannya. Hal ini dikarenakan keterbatasan otak mengolah dan memproses informasi tersebut. Dyslexia merupakan kesalahan pada proses kognitif anak ketika menerima informasi saat membaca buku atau tulisan. Jika pada anak normal kemampuan membaca sudah muncul sejak usia enam atau tujuh tahun, tidak demikian halnya dengan anak dyslexia. Sampai usia 12 tahun kadang mereka masih belum lancar membaca. Kesulitan ini dapat terdeteksi ketika anak memasuki bangku sekolah dasar. Ciri-ciri dyslexia: a. Sulit mengeja dengan benar. Satu kata bisa berulangkali diucapkan dengan bermacam ucapan. b. Sulit mengeja kata atau suku kata yang bentuknya serupa, misal: b-d, u-n, atau m-n. c. Ketika membaca anak sering salah melanjutkan ke paragraph berikutnya atau tidak berurutan. d. Kesulitan mengurutkan huruf-huruf dalam kata. e. Kesalahan mengeja yang dilakukan terus-menerus. Misalnya kata pelajaran diucapkan menjadi perjalanan. Banyak faktor yang menjadi penyebab dyslexia antara lain genetis, problem pendengaran sejak bayi yang tidak terdeteksi sehingga mengganggu kemampuan bahasanya, dan faktor kombinasi keduanya. Namun, disleksia bukanlah kelainan yang

(96) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 76 tidak dapat disembuhkan. Hal paling penting adalah anak disleksia harus memiliki metode belajar yang sesuai. Pada dasarnya setiap orang memiliki metode yang berbeda-beda, begitupun anak dyslexia. 4.3 Diagnosis Dari hasil penelitian yang peneliti lakukan pada saat bimbingan belajar dan juga hasil wawancara dengan wali kelas III SD Kanisius Minggir kedua siswa ini memiliki masalah. 1. Masalah siswa TN TN memiliki masalah dalam kurang minatnya belajar serta belum bisa membaca. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi Rian adalah : a. TN terlalu dimanja oleh orang tuanya karena anak tunggal b. Kurangnya minat belajar dari diri TN (malas) c. Kurangnya Komunikasi. TN cenderung pendiam sehingga ia sulit dalam mengerjakan tugas kususnya membaca. d. Dari aspek intelegensi TN masih sulit dalam membaca sehingga ia pun masih sulit memahami tulisan yang ada dipapan tulis dan di buku. TN juga kurang pemahaman dalam mengerjakan soal yang diberikan guru dan tulisannya masih kurang rapi, sering saat menulis masih kurang huruf atau mengganti huruf. Contohnya : kata WARNA dia mampu membaca dengan benar, tetapi saat disuruh menulis dia menulis WARVA. e. Kesulitan membaca. Sering menghilangkan, mengganti, manambah huruf pada saat membaca. Contohnya Kata BERBAGAI dibaca BAGI, kata

(97) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 77 TERTABRAK dibaca TERTABAK, kata ROMLI dibaca ROMI, kata MOTOR dibaca MONTOR 2. Masalah siswa DR DR memiliki masalah dalam kurang minatnya belajar serta belum bisa membaca. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi DR adalah : a. Kurangnya perhatian dari kedua orang tuanya, karena kedua orang tuanya sibuk dengan pekerjaannya, waktu orang tua DR terbatas sehingga sangatlah sulit beliau dalam memperhatikan perkembangan anaknya. b. Minat belajar DR cukup bagus tetapi kemampuan belajar dari diri DR kurang. c. Kurangnya konsentrasi. DR cenderung aktif (tidak bisa tenang) dan saat membaca terburu-buru sehingga ia sulit membaca dengan benar dan sulit dalam mengerjakan tugas. d. Dari aspek intelegensi DR masih sulit dalam membaca sehingga ia pun masih sulit memahami tulisan yang ada dipapan tulis dan buku. DR juga kurang pemahaman dalam mengerjakan soal yang diberikan oleh guru dan tulisannya pun masih kurang jelas (sulit dibaca). Dalam hal membaca dan menulis DR masih sering berbeda contohnya: kata GEROBAK, DR bisa membaca dengan benar, tetapi saat menulis kata GEROBAK dia menuliskan GERODAY. e. Kesulitan membaca. Sering menghilangkan, mengganti, manambah huruf pada saat membaca. Kata CUACA dibaca CACAT, kata SURYA dibaca SURHA. kata HALAL dibaca HALAI, kata MENEMUI dibaca

(98) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BENEMU, kata BERITA dibaca BENCANA, kata 78 MENDADAK dibaca MENABRAK, kata WILAYAH dibaca WIYALAH. 4.4 Pembahasan Dyslexia adalah kesulitan belajar, khususnya membaca, yang dialami oleh anak yang bukan disebabkan oleh kecacatan tertentu. Anak yang mengalami disleksia ini biasanya memiliki kecerdasan rata-rata. Mereka mengalami kesulitan membaca bukan karena penglihatan atau pendengaran mereka terganggu. Namun, terjadinya kesulitan membaca ini disebabkan oleh adanya gangguan pada otak. Tidak sedikit diantara anak-anak kita mengalami dyslexia yang ditandai diantaranya dengan lambatnya belajar membaca karena kesulitan membedakan hurufhuruf tertentu. Kasus dyslexia sebenarnya banyak terjadi di seluruh dunia. Namun belum ada laporan jumlah yang kongkrit. Dalam kasus yang sangat berat dyslexia bisa terbawa hingga usia dewasa. Dari beberapa informasi tentang dyslexia ditemukan bahwa kebanyakan anak diketahui mengalami dyslexia agak terlambat, biasanya dikarenakan baru belajar membaca di usia lebih dari 6 tahun. Akibatnya, orang tua agak terlambat menyadari di akhir semester 2 (kelas 1 SD) menjelang kenaikan kelas atau setelah diultimatum oleh guru kelasnya bahwa apabila di akhir tahun pelajaran anaknya belum dapat membaca dengan lancar maka anak tersebut terpaksa tidak naik kelas. Penelitian yang telah ditemukan oleh Glenn Doman selama berpuluh-puluh tahun di 100 negara di 5 benua bahwa seorang anak akan belajar membaca lebih cepat apabila mereka belajar di usia yang lebih muda (How to Teach Your Baby to

(99) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 79 Read; 1987). Hanya memang mengajar anak yang lebih muda memerlukan kesabaran ekstra, selain pengetahuan kependidikan yang cukup. Gejala yang biasanya nampak yaitu pada saat anak itu mulai belajar membaca atau mulai mengenal bentuk-bentuk awal, dia sudah mengalami kesulitan. Sering kali anak tersebut salah mendengar atau mengucapkan huruf. Anak dengan dyslexia akan kesulitan dalam membaca. Misalnya, ketika membaca sering ada huruf yang terlompati, atau terbalik, atau bahkan ada yang bisa membaca tapi mereka tidak mengerti apa yang mereka baca. Pada kasus yang lain, ketika membaca, anak dengan dyslexia ini melihat tulisan seperti berbayang. Hal ini bukan karena ada gangguan pada matanya, tapi karena pemprosesannya yang tidak benar. Kondisi tersebut hanya bisa dideteksi oleh dokter dengan menggunakan alat yang disebut "Erlen Lens". Pada kondisi lain, anak dengan dyslexia menulis secara terbalik. Kita baru bisa memahami tulisannya jika kita membacanya dengan kaca. Kasus ini disebut dengan "Mirror Writing". Kesulitan membaca pada anak penderita dyslexia tentu saja akan berpengaruh pada kemampuannya memahami mata pelajaran yang lain. Dalam pelajaran matematika, misalnya, anak akan kesulitan memahami symbol-simbol. Karena anak yang mengalami dyslexia, akan berpengaruh ke seluruh aspek kehidupannya. Kadang-kadang dalam berbicara pun maksud mereka sulit dipahami. Pada kasus yang dialami oleh ke dua siswa kelas III SD Kanisius Minggir Sleman, maka dapat diketahui bahwa TN dan DR mengalami kesulitan belajar membaca (dyslexia). Hal ini dapat dibuktikan melalui asesmen informal, yang didalamnya terdapat kemampuan membaca lisan, dan membaca pemahaman.

(100) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI a. 80 Membaca lisan Menurut Hargrove dan Poteet (1984), ada 13 jenis perilaku yang mengindikasikan bahwa anak berkesulitan belajar membaca lisan, dibawah ini adalah perilaku yang dialami oleh TN dan DR, yaitu: 1. Menunjuk tiap kata yang sedang dibaca. Hal ini dialami oleh TN dan DR tiap kali mereka disuruh membaca mereka pasti menunjuk tiap kata yang dibaca. 2. Menelusuri tiap baris yang sedang dibaca dari kiri ke kanan dengan jari. Selain menunjuk tiap kata mereka juga menelusuri tiap baris yang dibaca dengan jari atau alat tulis yang dibawanya. 3. Menggerakkan kepala, bukan matanya yang bergerak. Setiap mereka membaca pasti kepalanya ikut bergerak sama dengan posisi kata yang dibacanya. 4. Menempatkan buku dengan cara yang aneh. Hal ini terlihat ketika mereka akan mulai membaca, mereka sering meletakkan buku miring. 5. Menempatkan buku terlalu dekat dengan mata. Buku yang dibaca oleh mereka letaknya sangat dekat dengan matanya, seringkali mereka menutup wajahnya dengan buku jika dia kelelahan belajar membaca. 6. Sering melihat gambar. Mereka lebih tertarik dengan buku yang terdapat gambar didalamnya, meskipun mereka sudah duduk dikelas III, mereka masih suka memperhatikan gambar daripada tulisan yang ada disebelah gambar. 7. Mulutnya komat-kamit waktu membaca. Sebelum membaca dengan bersuara, TN dan DR terlebih dahulu komat-kamit dengan kata yang akan dibacanya.

(101) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 81 8. Membaca kata demi kata. Meskipun mereka saat ini sudah kelas III, mereka masih tetap mengeja tulisan yang dibaca, bahwan memerlukan waktu yang lama. 9. Membaca tanpa ekspresi. Setiap mereka disuruh membaca maka akan membaca tulisan tersebut, namun dia tidak bisa mengekspresikan apa yang mereka baca. 10. Adanya suara aneh atau tegang, hal ini sering terjadi jika mereka disuruh membaca satu kalimat yang sama akan tetapi masih tetap tidak lancar. Dari 10 jenis perilaku yang dialami TN dan DR, sudah cukup membuktikan bahwa sebagian perilaku mereka sudah tergolong dalam kesulitan membaca lisan. b. Membaca pemahaman Menurut Ekwall (1984), ada tujuan kemampuan yang ingin dicapai melalui membaca pemahaman, yaitu: 1. Mengenal ide pokok suatu bacaan 2. Mengenal detail yang penting 3. Membangkitkan imajinasi visual 4. Meramalkan hasil 5. Mengikuti petunjuk 6. Mengenal organisasi karangan 7. Membaca kritis Untuk melatih membaca pemahaman, biasanya anak diberi tugas untuk membaca yang dikenal dengan membaca dalam hati. Yang tujuan membaca

(102) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 82 dalam hati sama dengan membaca pemahaman. Dalam hal ini TN dan DR tidak dapat melakukannya, jika mereka disuruh membaca dalam hati, mereka justru diam dan mengalihkan perhatiannya. Selain membaca dalam hati. Membaca pemahaman juga dapat diketahui jika anak dapat menjawab pertanyaan yang sesuai dengan data dalam bacaan. TN dan DR juga belum bisa menjawab pertanyaan jika dia tidak dibantu. Selain melalui asesmen informal dapat diketahui juga bahwa TN dan DR mengalami dyslexia hal ini dapat dilihat dari ciri-ciri dyslexia sebagai berikut: 1. Sulit mengeja dengan benar. Satu kata bisa berulangkali diucapkan dengan bermacam ucapan 2. Sulit mengeja kata atau suku kata yang bentuknya serupa, misal: b-d, u-n, atau m-n 3. Ketika membaca anak sering salah melanjutkan ke paragraph berikutnya atau tidak berurutan 4. Kesulitan mengurutkan huruf-huruf dalam kata 5. Kesalahan mengeja yang dilakukan terus-menerus. Misalnya kata pelajaran diucapkan menjadi perjalanan Dari ciri-ciri yang dialami TN dan DR, sudah cukup membuktikan bahwa perilaku mereka sudah tergolong dalam kesulitan membaca lisan. Masalah yang juga bisa mengikuti penyandang dyslexia di antaranya konsentrasi, daya ingat jangka pendek (cepat lupa dengan instruksi). “Penyandang dyslexia juga mengalami masalah dalam pengorganisasian. Mereka cenderung tidak teratur. Seperti yang dialami TN dan DR, memakai seragam tetapi lupa

(103) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 83 memakai ikat pinggang atau kelengkapan seragam yang lain seperti topi dan dasi. Masalah lainnya, TN dan DR kesulitan dalam penyusunan atau pengurutan, entah itu angka atau huruf. Dalam kasus ini kedua siswa juga mengalami masalah fonologi, yang dimaksud masalah fonologi adalah hubungan sistematik antara huruf dan bunyi. Misalnya mereka mengalami kesulitan membedakan ”halal” dengan ”halai”; atau mereka keliru memahami kata-kata yang mempunyai bunyi hampir sama, misalnya ” tujuh puluh lima” dengan ” lima puluh tujuh”. Kesulitan ini tidak disebabkan masalah pendengaran, tetapi berkaitan dengan proses pengolahan input di dalam otak mereka. Pada umumnya anak dyslexia mempunyai level kecerdasan normal atau di atas normal. Namun, mereka mempunyai kesulitan mengingat perkataan. Hal ini juga dialami oleh kedua siswa tersebut, mereka sulit menyebutkan nama temantemannya dan memilih untuk memanggil teman-temannya dikelas dengan “heh” atau “hei”. Mereka sering ”lupa” susunan aktivitas yang sudah direncanakan sebelumnya, misalnya lupa membawa buku pelajaran atau tugas sekolah. Padahal, orangtua sudah mengingatkannya bahkan hal itu sudah ditulis dalam jadwal pelajaran. Anak dyslexia mengalami kesulitan memahami instruksi yang panjang dalam satu waktu yang pendek. Hal ini terjadi pada kedua siswa tersebut, pada saat peneliti memberikan tugas pada TN untuk membaca paragraf ke 3 dan kemudian dilanjutkan DR membaca paragraf ke 4, paragraf ke 5 dibaca TN dan paragraph ke 6 dibaca DR, tetapi mereka tidak melakukan seluruh instruksi tersebut dengan

(104) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 84 sempurna karena tidak mampu mengingat seluruh perkataan peneliti. TN membaca pada paragraf ke 5 sedangkan DR membaca paragraf ke 3 yang harusnya dibaca TN. Kondisi yang dialami oleh kedua siswa diatas, maka mereka memerlukan bantuan agar mereka bisa membaca dengan lancar. Penanganan anak dyslexia ini berbeda pada setiap individu. Seorang guru sebaiknya memberikan sistem pengajaran yang individual. Untuk itu, kerjasama antara orang tua, guru dan psikolog sangat diperlukan untuk menangani dyslexia pada anak. Jika masalah dyslexia pada anak tidak ditangani secara tuntas, akan memberikan dampak yang buruk terhadap masa depan anak. Banyak anak yang mengalami dyslexia yang tidak mendapatkan penanganan menjadi frustasi dan drop out dari sekolah. Menurut Mulyono (2003) bahwa, pembelajaran membaca dapat salah satunya dilakukan dengan menggunakan pendekatan perilaku yaitu dengan : 1. Pembiasaan membaca huruf, suku kata, kata dan kalimat yang secara bertahap taraf kesulitannya kian ditingkatkan. 2. Pengenalan huruf, suku kata, kata dan kalimat, terutama pada bagian di mana anak kerap menunjukkan kesulitan. 3. Metode bunyi untuk aktivitas membaca permulaan dan metode linguistik untuk aktivitas membaca pemahaman. Selain pendekatan perilaku juga bisa menggunakan pendekatan kognitif. Pendekatan kognitif dilakukan dengan penggabungan huruf menjadi suku kata, suku kata menjadi kata maupun gabungan kata menjadi kalimat. Pola-polanya sendiri bisa diajarkan secara langsung maupun secara tak langsung, atau anak akan

(105) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 85 menemukan sendiri polanya. Model layanan pembelajaran yang ditawarkan oleh pendekatan pembelajaran ini berupa kegiatan penemuan pola-pola seperti: 1. Menemukan pola gabungan huruf vokal-konsonan menjadi suku kata tertentu 2. Menggunakan pola kata tertentu dalam kalimat (D-M dan M-D; frasa, kata majemuk, kata ulang, dll.) 3. Memahami pola kalimat sesuai jabatan katanya. 4. Melakukan proses membaca pemahaman secara bertahap, sehingga pengalaman membaca menjadi sesatu yang bermakna Kurangnya pengetahuan para orang tua mengenai masalah dyslexia menyebabkan kasus dyslexia pada anak sering tidak terdeteksi. Jika ditangani secara dini kondisi ini dapat diatasi. Oleh karena itu, para orang tua dituntut untuk lebih perhatian pada anak-anak, terutama ketika mereka mulai belajar membaca. Dengan begitu, kelainan seperti dyslexia dapat dideteksi dan ditangani sejak dini.

(106) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang peneliti lakukan, dapat disimpulkan bahwa ke 2 siswa kelas III SD Kanisius Minggir TN dan DR mengalami kesulitan dalam : 1. Memahami huruf sehingga masih kesulitan dalam membaca (dyslexia). Dyslexia merupakan sulit mengeja dengan benar. Satu kata bisa berulangkali diucapkan dengan bermacam ucapan. 2. Sulit mengeja kata atau suku kata yang bentuknya serupa, misal: b-d, u-n, v-w, ky, i-l atau m-n. 3. Ketika membaca mereka sering salah melanjutkan ke paragraph berikutnya atau tidak berurutan. 4. Kesulitan mengurutkan huruf-huruf dalam kata. 5. Kesalahan mengeja yang dilakukan terus-menerus. Misalnya kata “pelajaran” diucapkan menjadi “perjalanan”, kata “pelelangan” diucapkan “pelenangan”, kata “tumbuh” diucapkan “tubuh”, kata “tertentu” diucapkan “tentu”, kata “wilayah” diucapkan “wiyalah”, kata “halal” diucapkan “halai”. 6. Kesulitan dalam membaca baik membaca permulaan maupun pemahaman. Perkembangan kemampuan membaca terlambat, kemampuan memahami isi bacaan rendah, kalau membaca sering banyak kesalahan. 7. Mengalami kesulitan terutama NGA-NGI,-NGU-NGE-NGO dan NYA-NYINYU-NYE-NYO. 86

(107) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 87 5.2 Saran Berdasarkan kesimpulan dan hasil penelitian, maka peneliti dapat menyarankan hal-hal sebagai berikut. 1. Kesulitan belajar spesifik memang sering ditemukan pada setiap pembelajaran berdasarkan sifat dan karakteristik setiap siswa. Oleh karena itu perlunya kita mempelajari dan memahami tentang anak yang kesulitan belajar membaca sehingga kita bisa memberikan layanan atau pendekatan secara tepat. 2. Anak dyslexia sering terlihat pada anak kelas rendah, pada tahap membaca permulaan. Oleh karena itu disarankan seharusnya anak diberi pengenalan huruf pada masa pra-sekolah agar dapat memahami huruf pada masa membaca dan menulis permulaan. 3. Apabila benar-benar menemukan anak yang mengalami dyslexia guru-guru harus benar-benar memberikan perhatian khusus dan pengajaran tentang huruf secara menarik agar anak menjadi paham. Karena membaca dipermulaan sangat penting dan berpengaruh pada kegiatan membaca dan menulis lanjutan yang berpengaruh pada kehidupannya. 5.3 Keterbatasan Penelitian Penelitian studi kasus tentang kesulitan belajar membaca kepada siswa dyslexia kelas III SD Kanisius Minggir Sleman ini mengalami keterbatasan yaitu: 1. Keterbatasan waktu dan tenaga dari peneliti membuat penelitian ini hanya dilakukan pada dua siswa dyslexia kelas III, sedangkan untuk kelas yang lain

(108) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 88 belum dilakukan. Jumlah subjek yang relative kecil ini tentunya membuat peneliti perlu berhati-hati dalam menggeneralisasikan data yang diperoleh. 2. Wawancara pada dua siswa dilakukan pada siang hari yaitu pada waktu istirahat dan setelah usai kegiatan belajar. Siswa sering tidak fokus saat menjawab pertanyaan peneliti karena terganggu dengan teman-teman yang sedang istihat dan bermain. Wawancara yang dilakukan pada saat setelah usai kegiatan belajarpun tidak biasa fokus karena subjek ingin segera pulang seperti teman-temannya. Kejadian ini membuat peneliti perlu berhati-hati dalam mencari data agar semua subjek bisa fokus saat wawancara.

(109) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR PUSTAKA Abdurrahman, Mulyono. 1999. Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan bersama Rineka Cipta. Bowo, Prasetyo. 2009. Penelitian Studi Kasus. Penerbit: Erlangga Semarang. Budiono. 2005. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Surabaya: KaryaAgung. Darminati. 1996. Pendidikan bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas Rendah. Jakarta: Depdikbud. ---------. 1992.Pelaksanaan Pengajaran Membaca dan Menulis Permulaan. Jakarta: Depdikbud. Daruma, Razak. 2003. Studi Kasus. Makassar: Penerbit FIP UNM Daryanto. 1997.Kamus Lengkap Bahasa Indonesia Lengkap EYD dan Pengetahuan Umum. Surabaya: Apollo Dede, Eko. Putra. 2010. StudiKasus. Penerbit: Pusat Education Bekasi Jawa Barat. Hal 2. Djaja, Rahardja. 2006.Pengantar Pendidikan Luar Biasa. Universitas Tsukuba: Criced Erna Febri, Aries. S. 2008. Design Action Research. Penerbit: Balai Pustaka Jakarata. Juang, Sunanto. 2005.Pengantar Penelitian Dengan Subyek Tunggal. Universitas Tsukuba: CricedLexy, Moleong. 2010. Metode Penelitian Kualitatif edisi revisi. Bandung: Remaja Rosdakarya. Makmur, Karim. 1984. Mampu Berbahasa Indonesia. FPTK. Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Padang. Manulang. 2004. Pedoman Teknis Menulis Skripsi. Andi: Yogyakarta Mudjia, Rahardjo. 2010. Jenis dan Metode Penelitian Kualitatif. Diakses dari http://mudjiarahardjo.com/materi-kuliah/215-jenis-dan-metode-penelitiankualitatif.html pada tanggal 9 Juni 2012. 89

(110) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 90 Munawir, Yusuf. 1997. Mengenal Siswa Berkesulitan Belajar. Jakarta: Depdikbud. PPPG. 2008. Pendidikan bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta: Dirjen Dikti PPPG. Porwanto, Ngalim. 2003. Psikologi Pendidikan.Rosdakarya: Jakarta Ritawati, Wahyudin. 1996. Bahan Ajar Pendidikan Bahasa Indonesia di Kelas-kelas Rendah SD. Padang. IKIP Rahayu, Iin Tri. Tristiadi, Ardi Ardani. 2004. Observasi dan Wawancara. Malang: Bayumedia. Somantri, T. Sutjihati. 1996. Psikologi Anak Luar Biasa. Jakarta: Dirjen Dikti PTA. Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R & D. Bandung: Alfabeta. Sutjihanti. 1995. Psikologi Anak Luar Biasa. DIRJEN PendidikanTinggi http://deddysumardi.wordpress.com/2012/05/02/memahami-wawancara/ pada tanggal 4 Juli 2014.

(111) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI LAMPIRAN 91

(112) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 92 Lampiran 1.Hasil Observasi Dari kegiatan observasi yang telah dilaksanakan oleh peneliti, diperoleh data sebagai berikut : 1. Identifikasi SiswaTN dan Orang Tua TN a. Siswa Nama : TN Tempat Tanggal Lahir : Sleman, 25 Januari 2003 Nis : 1336 Kelas : III (tiga) Jenis Kelamin : Laki-laki Agama : Katolik Alamat Siswa : Minggir Sleman Anak ke : 1 dari 1 bersaudra (tunggal) Hobi : Menggambar Cita-cita : Jadi pembalap motor Riwayat Tinggal Kelas : Di Kelas 1 Keterangan fisik Tinggi badan : 129cm Berat badan : 21 kg Warna kulit : Sawo matang Warna rambut : Hitam Jenis rambut : Lurus

(113) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Bentuk muka : Lonjong b. Orang Tua 2. Ayah : Bapak LH Pekerjaan : Buruh Pendidikan : D1 Ibu : Ibu SS Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga Pendidikan : D3 Identifikasi SiswaDR dan Orang Tua DR 1. Siswa Nama : DR Tempat Tanggal Lahir : Sleman, 30 Januari 2005 Nis : 1362 Kelas : III (tiga) Jenis Kelamin : Laki-laki Agama : Katolik Alamat Siswa : Minggir Sleman Anak ke : 3 dari 3 bersaudra Hobi : Bermain Catur Cita-cita : Polisi Riwayat Tinggal Kelas : - 93

(114) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 94 Keterangan fisik Tinggi badan : 126cm Berat badan : 25 kg Warna kulit : Sawo matang Warna rambut : Hitam Jenis rambut : Lurus Bentuk muka : Bulat 2. Orang Tua 3. Ayah : Bapak FM Pekerjaan : Tani Pendidikan : SLTA Ibu : Ibu ES Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga Pendidikan : SLTA Identifikasi dari beberapa aspek a. Perkembangan TN dan dan DRbaik, normal (tidak cacat), tidak ada gangguan dalam penglihatan maupun pendengaran b. Intelegensi Pemikiran,TN dan dan DRbelum matang dan belum bisa memahami tulisan dan soal bahkan membaca masih susah. c. Emosional, DRmemiliki emosinal yang stabil. Sedangkan TN terkadang mood nya tidak teretentu terutama disaat belajar. d. Bakat khusus, Bakat khusus TN terlihat dibidang menggambarsedangkan DR pandai bermain catur.

(115) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 95 e. Sosial cultural, Sosialisasi dengan teman agak berkurang. Bahasa yang mereka pakai dalam komunikasi sehari-hari dengan bahasa daerah sekitarnya. f. Spiritual/agama kurang paham dalam beribadah sehingga lebih sering diingatkan dan dibimbing.seperti: pada saat berdoa bercanda. g. Komunikasi, TN sedikit pendiam ia tidak akan berbicara sebelum ia ditanya oleh teman-temannya atau gurunya dan cenderung malas.DRcenderung aktif, tidak sungkan bertanya baik pada teman-temannya taupun ke pada guru. Walaupun terkadang pertanyaan yang DR ajukan tidak jelas dan DR sendiri tidak mengerti apa yang dia tanyakan.

(116) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 96 Lampiran 2. Wawancara dengan Guru Kelas Hasil wawancara dengan Ibu A. Y. Sumiyem mengenai kesulitan belajar membaca yang dialami oleh TN dan dan DR. a. Wawancara dengan guru kelas 3 mengenai SiswaTN 1. Bagaimana perilaku TN sehari-hari, termasuk di dalam kelas? Jawaban :PerilakuTNsehari-hari sama dengan murid yang lainnya, namun dia lebih cendrung pendiam dengan teman-temannya. Dalam pembelajaran dia kesulitan dalam hal membaca.Dalam membaca tahu huruf namun belum bisa membaca huruf X-Y-Z.Mengeja satu suku kata atau lebih masih mengalami kesulitan terutama NGA-NGI,-NGU-NGE-NGO dan NYA-NYINYU-NYE-NYO. Pada awal masuk kelas 3 ia sama sekali belum bisa membaca walaupun sudah mengerti huruf.Mungkin salah satu penyebabnya adalah karena dia saat kelas 1 tidak mengerti mengerti huruf sama sekali dan sempat tinggal kelas.Tetapi saat naik di kelas 2 dia sudah mulai mengenal huruf tetapi belum bias membaca.Sehingga ketika ia masuk kelas 3 dia belum bisa membaca, dia benar-benar berasal dari nol untuk belajar membaca. 2. Bagaimana latar belakang orang tuaTN? Jawaban :AyahTN bekerja sebagai buruh sedangkan ibunya dirumah sebagai ibu rumah tangga. 3. Pernahkah Ibu menanyai,apakah orang tua TNmemperhatikan TN saat dirumah? Jawaban :Pernah saya bertanya kepada ibunya dan beliau menjawab bahwa

(117) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 97 ketika TN memiliki pekerjaan Rumah (PR) beliau menyempatkan untuk membantu TN mengerjakannya. 4. Lalu bagaimana dengan saudara atau pihak lain, apakah ada yang memperhatikannya? Jawaban :TN tinggal dirumah hanya dengan Bapak dan Ibunya . Yang pastinya di rumah TN dimanja oleh orang tuanya mungkin karna anak tunggal. 5. Di sekolah sendiri,bagaimana perlakuan atau layanan yang ibu berikan kepadaTN? Jawaban :Pendekatan khusus dan pengawasan yang lebih seperti saya sering mendatangi meja mereka agar saya bisa membantu ketika ia sulit dalam membaca.Memberikan motivasi agar ia mau belajar membaca bertujuan ia lebih semangat dalam belajar. 6. Selain di saat pelajaran,adakah layanan yang Ibu berikan untuk TN? Jawaban :Selain pendekatan didalam kelas saya pun memberikan les tambahan setelah jam pelajaran usai selama satu jam. Dan diadakan pada hari selasa dan kamis, itu berjalan hanya beberapa waktu saja. Karna saya sibuk jadi sekarang sudah tidak lagi. 7. Kemajuan apa yang di dapat dari pelajaran tambahan itu? Jawaban :Setelah di berikan pendekatan khusus dan les tambahan sedikit ada perubahan. Dari yang berawal tidak bisa membaca sama sekali ia sekarang sudah paham huruf dan bias membaca walaupun masih sulit membaca katakata panjang.

(118) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 8. 98 Kendala apa saja yang ibu hadapi dalam memberikan bantuan pelayanan terhadap TN ini? Jawaban :kendala yang ada pertama dari anaknya sendiri yang malas, ketika keinginannya hanya ingin main ia tetap kekeuh dan susah untuk belajar. Terkadang belajarnya kurang serius.Dia selalu menolak membaca didepan kelas.Dan yang kedua dari orangtuanya kurang mendukung.Orang tua pernah dipanggil ke sekolah, namun undangan tersebut tidak dipenuhi beliau sekalipun pernah saya temui saat menjemput TN pada saat pulang sekolah namun kurang merespon. Karena tidak mungkin apabila bantuan yang dibrikan disekolah saja yang digunakan ,seharusnya ada tambahan dari rumah. 9. Setelah peneliti memberikan layanan bimbingan belajar kepada TN, menurut ibu apakah ada kemajuan? Jawaban :setelah di berikan bimbingan belajar/les tambahan oleh peneliti ada perubahan yang cukup baik. Kemampuan membaca TN jauh lebih baik dan lebih lancar. 10. Setelah TN mengikuti bimbingan belajar perubahan apa yang sangat terlihat dalam hal membaca? Jawaban :Sekarang sudah lebih berani kalau disuruh membaca, walaupun masih ada kesalahan saat membaca. Seperti kata-kata BEBERAPA dan TERTABRAK TN sudah bisa membaca dengan benar.Dulu tidak bisa kata TERTABRAK selalu dibaca TERTABAK, dan kata BEBERAPA dibaca

(119) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 99 BERAPA.TN dalam membaca sering menghilangkan hufur sekarang sudah mulai benar membacanya. b. Wawancara dengan guru kelas 3 mengenai Siswa DR 1. Bagaimana perilaku DR sehari-hari,termasuk di dalam kelas? Jawaban :PerilakuDR sehari-hari sama dengan murid yang lainnya, namun dia lebih cendrung aktif dengan teman-temannya, terkadang ia suka sibuk bermain sendiri. Dalam pembelajaran dia kesulitan dalam hal membaca. Dalam membaca sudah mengerti huruf-huruf namun belum bisa membedakan huruf d dengan b. DR juga belum bisa membaca huruf X-Y-Z. Mengeja satu suku kata atau lebih masih mengalami kesulitan terutama NGA-NGI,-NGUNGE-NGO dan NYA-NYI-NYU-NYE-NYO. Pada awal masuk kelas 3 DRdengan TNsama, belum bisa membaca walaupun sudah mengerti huruf. Mungkin salah satu penyebabnya adalah karena dia saat kelas 1 tidak mengerti mengerti huruf sama sekali dan tidak bisa membaca sama sekali. Tetapi saat naik di kelas 2 dia sudah mulai mengenal huruf walaupun belum bisa membaca. Sehingga ketika ia masuk kelas 3 dia belum bisa membaca, dia benar-benar berasal dari nol untuk belajar membaca sama kasusnya dengan TN. 2. Bagaimana latar belakang orang tuaDR? Jawaban :AyahDR bekerja sebagai tani sedangkan ibunya dirumah sebagai ibu rumah tangga. DRanak bungsu dari 3 bersaudara, ibuknya juga sibuk

(120) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 100 harus mengurus 3 anak.Mungkin itu yang menyebabkan DR kurang diperhatikan. 3. Pernahkah Ibu menanyai,apakah orang tua DRmemperhatikan DR saat dirumah? Jawaban :Pernah saya bertanya kepada ibunya dan beliau menjawab bahwa DR itu berbeda (maksutnya kurang pandai) tidak seperti kakak-kakaknya sehingga ibuknya membiarkan saja apapun yang DR lakukan dan tidak pernah memaksa DR untuk belajar, dengan alasan DR memang tidak mampu. 4. Lalu bagaimana dengan saudara atau pihak lain, apakah ada yang memperhatikannya? Jawaban :DR tinggal dirumah tak hanya dengan Bapak dan Ibunya .Yang pastinya di rumah itu kakeknya dan kakak-kakaknya . Kakeknya bekerja di sawah jadi kurang bisa memperhatikan dia, sedangkan kakak-kakaknya masih sekolah. Sehingga dia sering bermain sendiri, terkadang hingga jauh dari rumahnya namun tidak ada yang mencarinya. 5. Di sekolah sendiri, bagaimana perlakuan atau layanan yang ibu berikan kepada DR? Jawaban :Sama dengan TN, TNpun saya memberikan pendekatan khusus dan pengawasan yang lebih seperti saya sering mendatangi meja mereka agar saya bisa membantu ketika ia sulit dalam membaca. Memberikan motivasi agar ia mau belajar membaca bertujuan ia lebih semangat dalam belajar. 6. Selain di saat pelajaran, adakah layanan yang Ibu berikan untuk DR? Jawaban :DR dan TN saya perlakukan sama, ada pendekatan didalam kelas

(121) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 101 saya pun memberikan les tambahan setelah jam pelajaran usai selama satu jam. Dan diadakan pada hari selasa dan kamis, itu berjalan hanya beberapa waktu saja. Karna saya sibuk jadi sekarang sudah tidak lagi. 7. Kemajuan apa yang di dapat dari pelajaran tambahan itu? Jawaban :Setelah di berikan pendekatan khusus dan les tambahan sedikit ada perubahan.Dari yang berawal tidak bisa membaca sekarang sudah bisa membaca walaupun belum lancar dan masih sering salah. sedikit harus sering diingatkan kembali DR juga sudah mulai berani kalau disuruh membaca dulu sama sekali tidak mau. 8. Kendala apa saja yang ibu hadapi dalam memberikan bantuan pelayanan terhadap DR ini? Jawaban :Kendala yang ada pertama dari kemampuan anaknya sendiri memang kurang bisa menangkap pelajaran, sebenarnya DR anaknya memiliki semangat untuk belajar membaca tetapi tidak bisa tenang ketika belajar membaca, setiap kali membaca terkesan terburu-buru sehingga sering salah pengucapannya atau lain tulisannya apa dibacanya apa. Dan yang kedua dari orangtuanya kurang mendukung, cenderung cuek dengan kondisi anaknya. Karena tidak mungkin apabila bantuan yang dibrikan disekolah saja yang digunakan ,seharusnya ada tambahan dari rumah. 9. Setelah peneliti memberikan layanan bimbingan belajar kepada DR, menurut ibu apakah ada kemajuan?

(122) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 102 Jawaban :Setelah di berikan bimbingan belajar/les tambahan oleh peneliti ada perubahan yang cukup baik. Kemampuan membaca DR jauh lebih baik dan lebih lancar. 10. Setelah DR mengikuti bimbingan belajar perubahan apa yang sangat terlihat dalam hal membaca? Jawaban :Kepercayaan diri DR untuk membaca didepan kelas jauh lebih baik daripada sebelumnya, walaupun masih ada kesalahan saat membacaDR sudah tidak takut dan malu. Dulu DRtidak tidak bisa membaca huruf NG dan kata yang mengandung huruf NG, sekarang sedikit demi sedikit sudah bisa.

(123) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 3. Foto TN dan DR di sekolah 103

(124) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4. Foto DRSaat membaca buku cerita 104

(125) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 105

(126) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 5. Foto TNSaat membaca buku cerita 106

(127) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 107

(128) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 108 Lampiran 6. Garis Besar Wawancara Garis besar wawancara awal dengan guru kelas 3 dan 2 siswa kelas 3 berkebutuhan khusus (kesulitan belajar membaca) SD Kanisius Minggir Sleman Tabel 3.1 Pedoman wawancara awal dengan guru kelas 3 No Pengalaman 1 Pengetahuan tentang siswa Deskripsi Pengetahuan perilaku siswa selama mengikuti pembelajaran di sekolah 2 Penilaian terhadap siswa Penilain terhadap siswa selama mengikuti pembelajaran membaca 3 Layanan 4 Dampak Layanan yang diberikan guru untuk siswa yang mengalami kesulitan membaca Hasil yang diperoleh dari layanan 5 Kendala 6 Faktor-faktor internal maupun eksternal yang mempengaruhi perkembangan dari layanan yang diberikan Keadaan keluarga siswa Latar belakang keluarga siswa Fokus Siswa kelas III SD Kanisus Minggir Sleman penyandang dyslexia Kemampuan siswa membaca dan kesulitan yang dihadapi siswa dalam pembelajaran Cara untuk membantu siswa membaca Kemajuan siswa dalam belajar membaca Kendala yang dialami informan Orang tua dan anggota keluarga yang lain

(129) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Tabel 3.2 Garis besar wawancara awal dengan siswa dyslexia No Pengalaman 1 Pengetahuan diri 2 Penilaian diri 3 Kemampuan diri 5 Kendala Deskripsi Pengetahuan diri siswa terhadap pembelajaran membaca Penilain diri terhadap pembelajaran membaca Fokus Pembelajaran yang disampaikan guru Penilaian siswa terhadap kesulitan membaca dan Kemampuan siswa dalam Pengenalan huruf, hal membaca kemampuan membaca kata dan kalimat Faktor-faktor internal kesulitan yang maupun eksternal yang dihadapi siswa dalam mempengaruhi belajar membaca kemampuan siswa dalam hal membaca Garis besar wawancara akhir dengan guru kelas 3 dan 2 siswa kelas 3 berkebutuhan khusus (kesulitan belajar membaca) SD Kanisius Minggir Sleman Tabel 3.3 Garis besar wawancara akhir dengan guru kelas 3 No Pengalaman 1 Layanan 2 Penilaian guru Deskripsi Layanan yang diberikan peneliti untuk siswa dyslexia Penilain guru terhadap siswa selama mengikuti bimbingan belajar Fokus Layanan dari guru kelas Perkembangan siswa dalam hal membaca 109

(130) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Tabel 3.4 Garis besar wawancara akhir dengan siswa dyslexia No Pengalaman 1 Penilaian diri 2 Kemampuan diri Deskripsi Penilaian diri terhadap kemampuan membaca setelah mengikuti bimbingan belajar Kemampuan siswa dalam hal membaca setelah mengikuti bimbingan belajar Fokus Kesan setelah guru kelas Kemampuan membaca kata dan kalimat 110

(131) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 7. Surat ijin melakukan penelitian 111

(132) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 8. Surat keterangan telah melakukan penelitian 112

(133) L1.3 PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BI ODATA PENELI TI Hertami Ratnafuri lahir di Kulon Progo tanggal 23 Mei 1992. Pendidikan Dasar diperoleh di SD 1 Kalikajar Wonosobo tamat pada tahun 2004. Pendidikan Menengah pertama diperoleh di SMP Bhakti Mulia Wonosobo tamat pada tahun 2007 dan melanjutkan di SMA Negeri 1 Sentolo Yogyakarta tamat pada tahun 2010. Pada tahun 2010 melanjutkan studi di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan , program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Masa Pendidikan akhir di Universitas Dharma menulis skripsi dengan judul: * Studi Kasus Tentang kesulitan Belajar Membaca Kepada Siswa Dyslexia kelas Kanisius Minggir Sleman. Sanata III SD

(134)

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

KESULITAN BELAJAR MEMBACA DAN MENULIS PERMULAAN PADA SISWA KELAS 1 SD NEGERI 2 SERENAN, JUWIRING KLATEN KESULITAN BELAJAR MEMBACA DAN MENULIS PERMULAAN PADA SISWA KELAS 1 SD NEGERI 2 SERENAN, JUWIRING KLATEN.
0
0
12
PENDAHULUAN KESULITAN BELAJAR MEMBACA DAN MENULIS PERMULAAN PADA SISWA KELAS 1 SD NEGERI 2 SERENAN, JUWIRING KLATEN.
0
0
6
MENGATASI KESULITAN SISWA KELAS III SDN UMBUL KAPUK DALAM MEMBACA PUISI DENGAN TEKNIK DRILL.
0
1
36
IDENTIFIKASI KESULITAN BELAJAR SISWA KELAS V SD NEGERI SOSROWIJAYAN KOTA YOGYAKARTA.
0
0
195
STUDI KASUS TENTANG MOTIVASI BELAJAR SISWA SLOW LEARNER DI KELAS III SD INKLUSI KARANGREJEK 2 WONOSARI GUNUNGKIDUL.
1
2
155
ANALISIS KESULITAN MEMBACA PERMULAAN SISWA KELAS I SD NEGERI BANGUNREJO 2 KRICAK TEGALREJO YOGYAKARTA.
7
65
130
ANALISIS KESULITAN BELAJAR SISWA KELAS I
0
0
13
STUDI KASUS KESULITAN BELAJAR SISWA YANG TINGGAL KELAS SMP NEGERI 13 PONTIANAK ARTIKEL PENELITIAN YUSMIATI NIM F26111031 Disetujui,
0
0
13
ANALISIS KESULITAN BELAJAR BAHASA ARAB SISWA KELAS IX MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI 2 SLEMAN YOGYAKARTA
1
4
150
TEKNIK, HAMBATAN, DAN PEMECAHAN MASALAH DALAM PEMBELAJARAN KETERAMPILAN MEMBACA DAN MENULIS DI KELAS I SD SEMESTER I: STUDI KASUS SD KANISIUS WATES, KULON PROGO, YOGYAKARTA TAHUN AJARAN 20072008
0
0
155
EFEKTIFITAS PEMBELAJARAN IPA TENTANG SIFAT-SIFAT CAHAYA MELALUIMETODE INQUIRY TERBIMBINGPADA SISWA KELAS V SD KANISIUS KALASAN DALAM HAL PENCAPAIANHASIL BELAJAR
0
0
159
HUBUNGAN ANTARA MOTIVASI BELAJAR DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS V SD KANISIUS SOROWAJAN TAHUN PELAJARAN 20102011
0
0
184
HUBUNGAN ANTARA MOTIVASI BELAJAR DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS V SD KANISIUS WIROBRAJAN TAHUN PELAJARAN 20102011
0
3
226
DESKRIPSI KEMAMPUAN REFLEKTIF SISWA KELAS V SD KANISIUS SENGKAN DAN SD KANISIUS EKSPERIMENTAL MANGUNAN
0
1
158
PENINGKATAN MINAT DAN PRESTASI BELAJAR IPS SISWA KELAS IV SD KANISIUS MINGGIR DENGAN MEDIA GAMBAR
0
1
256
Show more