Peran mindfulness dalam memediasi hubungan antara kelekatan terhadap ibu dengan rejection sensitivity pada remaja - USD Repository

Gratis

0
1
150
7 months ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PERAN MINDFULNESS DALAM MEMEDIASI HUBUNGAN ANTARA KELEKATAN TERHADAP IBU DENGAN REJECTION SENSITIVITY PADA REMAJA Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi Oleh: Felicia Anindita Sunanto Putri 109114006 PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014

(2) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(3) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(4) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI HALAMAN MOTTO Karena tidak ada kehidupan Yang selalu “kaya” dan “bahagia” Maka layak direnungkan untuk Belajar indah di setiap langkah Gede Prama “It doesn’t matter how slowly you go as long as you don’t stop” - Hidup adalah keseimbangan Seberapa besar kesedihan yang kamu harus alami Maka sebesar itupulalah kebahagiaan yang juga akan kamu alami MAKA YAKINLAH SELALU ADA PELANGI SEHABIS HUJAN iv

(5) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI HALAMAN PERSEMBAHAN Puji Syukur akan Tempaan dan Karunia “Yesusku” tanpaNya semua tidak akan indah pada “WAKTU-nya” Terima kasih Papi, Mami, Eme, Aji, Retta “KELUARGA KECILKU” Untuk dukungan dan semangatnya Yang selalu mengatakan tanpa kesempurnaan sekalipun, “kamu tetap bagian dari kami” Terimakasih untuk Rumah Harapanku Baskoro SR Suhadiyono Thanks honey to teach me how to be grateful person and how can love to be unconditionally love “SELAMAT DATANG MASA DEPANKU” Terimakasih untuk dosen pembimbing tercinta “C. Siswa Widyatmoko, M.Psi dan ElisabethHaksi Mayawati, S.Psi” Terima kasih atas segala perhatian selayaknya orang tua yang menyayangi anaknya Dan proses yang menyulitkan namun penuh pembelajaran Terimakasih untuk teman-teman riset Fiona, Rinta, Dara, Marlina, Nathan, Mbak Martha Makna sahabat yang kalian berikan adalah jatuh bersama dan bangkit bersama Terimakasih untuk seluruh sahabat-sahabat dan teman-teman angkatan 2010 Cha-cha, Metha, Desy, Maya, Riska, Ninda, Tutut, Agnes 2011, Astrid, Nana Terimakasih untuk tawa dan tangis kita selama ini Bersama kalian aku memahami indahnya “masa perkuliahan” v

(6) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PER}TYATAAI\ KEASLIAN KARYA Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya onmg lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustak4 sebagaimana layaknya karya ilmiah. Yogyakart4 28Mei20l4 ru Penulis, Felicia Anindita Sunanto Putri VI

(7) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PERAN MINDFULNESS DALAM MEMEDIASI HUBUNGAN ANTARA KELEKATAN TERHADAP IBU DENGAN REJECTION SENSITIVITY PADA REMAJA Studi Pada Mahasiswa Psikologi Universitas Sanata Dharma Felicia Anindita Sunanto Putri ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk 1) mengetahui hubungan antara kelekatan terhadap ibu dengan rejection sensitivity pada remaja 2) mengetahui hubungan antara mindfulness dengan rejection sensitivity pada remaja 3) mengetahui hubungan antara kelekatan terhadap ibu dengan mindfulness pada remaja 4) mengetahui hubungan kelekatan terhadap ibu dengan rejection sensitivity yang dimediasi oleh mindfulness pada remaja. Penelitian ini melibatkan 323 orang subyek remaja yang berasal dari beberapa SMP, SMA, dan SMK di Yogyakarta. Hipotesis penelitian ini adalah 1) kelekatan terhadap ibu dapat memprediksi tingkat rejection sensitivity pada remaja 2) mindfulness dapat memprediksi tingkat rejection sensitivity pada remaja 3) kelekatan terhadap ibu dapat memprediksi mindfulness pada remaja 4) mindfulness dapat memediasi hubungan kelekatan terhadap ibu dengan rejection sensitivity pada remaja. Alat pengukuran dalam penelitian ini menggunakan skala Children Rejection Sensitivity Questionnaire (CRSQ) untuk variabel rejection sensitivity, Inventory of Parent and Peer Attachment-Mother Version untuk variabel kelekatan terhadap ibu, dan Kentucky Inventory of Mindfulness Skills untuk variabel mindfulness. Hasil penelitian ini 1) kelekatan terhadap ibu dapat memprediksi tingkat rejection sensitivity pada remaja(β= -.184,ρ=.001;ρ< 0,01) 2) mindfulness dapat memprediksi tingkat rejection sensitivity pada remaja(β= -.180,ρ=.002; ρ<0,01) 3) kelekatan terhadap ibu dapat memprediksi mindfulness pada remaja(β= .334, ρ=.000; ρ<0,01) 4) mindfulness dapat memediasi hubungan kelekatan terhadap ibu dengan rejection sensitivity(β = -.139, ρ=.020; ρ<0,05). Kata kunci: rejection sensitivity, kelekatan terhadap ibu, mindfulness, remaja vii

(8) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI THE ROLE OF MINDFULNESS MEDIATES ATTACHMENT TO MOTHER AND REJECTION SENSITVITY IN ADOLESCENTS Study in Psychology Departement of Sanata Dharma University Felicia Anindita Sunanto Putri ABSTRACT This research is intended specifically to find out 1) the relation between attachment to mother and rejection sensitivity in adolescents 2) the relation between mindfulness and rejection sensitivity in adolescents 3) the relation between attachment to mother and mindfulness in adolescents 4) mindfulness as mediate the relation between attachment to mother and rejection sensitivity in adolescents. This research involved 323 adolescents who were students from various junior high school, senior high school, and vocational school in Yogyakarta. The hypotheses of this research were 1) attachment to mother could predict level of rejection sensitivity in adolescents 2) mindfulness could predict level of rejection sensivitiy in adolescents 3) attachment to mother could predict level of mindfulness in adolescents 4) mindfulness could mediate the relation between attachment to mother and rejection sensitivity in adolescents. Children Rejection Sensitivity Questionnaire, Inventory of Parent and Peer Attachment-Mother Version, Kentucky Inventory of Mindfulness Skills were employed to measure rejection sensitvity, attachment to mother and mindfulness respectively. As the results, this research indicated that 1) attachment to mother could predict level of rejection sensitivity in adolescents(β= -.184,ρ=.001; ρ< 0,01) 2) mindfulness could predict level of rejection sensitivity in adolescents(β= .180,ρ=.002; ρ<0,01) 3) attachment to mother could predict level of mindfulness in adolescents(β= .334, ρ=.000; ρ<0,01) 4) mindfulness could mediated the relation between attachment to mother and rejection sensitivity in adolescents (β = -.139, ρ=.020; ρ<0,05). Keywords: rejection sensitivity, attachment to mother, mindfulness, adolescents viii

(9) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI L EMBAR PERNYATAA}I PERSETUJUAII PUBLIKASI KARYA ILMIAH IJNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS Yang bertanda tangan di bawah ini say4 mahasiswa Universitas Sanata Dharma Nama : Felicia Anindita Sunanto Putri NIM : 109114006 Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan Kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya, yang berjudul: PERAN MINDFULNESS DALAM MEMEDIASI HT]BUNGAI\ ANTARA KELEKATAI\{ TERIIADAP IBU DENGA}I REJECTION SENSITIWTY PADA REMAJA Berserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian saya memberikan Kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya di internet atau di media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis. Dengan demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya: Di buat di Yogyakarta Pada tanggal: 28 Mei 20 14 Yang menyatakan, W (Felicia Anindita Sunanto Putri) tx

(10) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI KATA PENGANTAR Saya mengucapkan rasa puji dan syukur untuk Tuhan Yesus Kristus dan Bunda Maria, tanpa penyertaan, karunia dan berkat-Nya. Saya tidak akan bisa setangguh ini dan mampu menyelesaikan skripsi saya. Terimakasih Tuhan Yesus yang ketika saya meminta kebijaksanaan maka diberikanNya masalah yang harus saya pecahkan untuk bisa menjadi bijaksana. Terima kasih yang sebesar-besarnya, saya ucapkan kepada Dekan Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma, Seluruh Dosen dan Staf Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma. Terima kasih atas segala pengetahuan, energi dan relasi yang begitu indah untuk saya kenang dan menjadi dasar yang membentuk pribadi saya sekarang. Terima kasih telah menjadi orang tua dan rumah kedua bagi saya. Terkhususnya bagi Dosen Pembimbing Akademik saya. Terima kasih banyak mbak Etta atas kepedulian untuk membentuk saya. Terima kasih saya ucapkan kepada mami dan papi tercinta. Terima kasih telah menjadi orang tua yang telah mendidik saya, mendukung saya secara moril dan materiil, selalu mengingatkan saya untuk bahwa untuk hasil yang besar memang dibutuhkan pengorbanan yang besar pula. Terima kasih telah menjadi orang tua yang “hebat” untuk Ditha dan selalu menerima keterbatasan Ditha. Terima kasih saya ucapkan untuk kakak dan adik-adikku yang tersayang, Retta, Eme dan Aji. Terima kasih untuk tawa dan dukungan yang tiada henti untuk x

(11) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI saya. Terima kasih telah menjadi saudara-saudara yang memahami keterbatasan saya dan mendengarkan keluhan saya. Terima kasih saya ucapkan untuk Dosen Pembimbing saya, Pak Siswa dan Mbak Haksi, terima kasih atas pengalaman yang begitu besar. Terima kasih telah mendidik saya tidak hanya terbatas pada skripsi, melainkan juga karakter saya. Terima kasih atas energi dan materi yang luar biasa. Terima kasih saya ucapkan untuk Dosen Pembimbing Akademik saya, Mbak Etta. Terima kasih atas bantuannya selama ini, membimbing dan memperhatikan saya dari semester ke semester. Terima kasih atas saran yang membangun dan bantuannya selama ini. Terima kasih saya ucapkan untuk rumah harapan saya, Baskoro SR Suhadiyono. Terima kasih mas bas untuk perjuangan membangun mimpi kita bersama. Terima kasih untuk hari-hari yang begitu luar biasa untuk bisa kita syukuri, Terima kasih sudah memberikan saya cinta yang begitu besar sehingga menjadi energi disaat saya sudah lelah, My Unconditionally Love. Terima kasih untuk teman-teman riset, Fiona, Dara, Rinta, Nathan dan Marlina. Terima kasih untuk perjuangan dan semangat kita. Terima kasih telah mengingatkan saya untuk bangkit ketika jatuh. Berjalan, berlari hingga mengejar mimpi kita bersama. Terima kasih untuk sahabat-sahabat dan teman-teman 2010, Cha-cha, Metha, Desy, Riska, Tutut, Maya, Ninda, Agnes 2011, Nana dan Astrid. Terima kasih atas tawa dan tangis kita selama 4 tahun ini. Kalian mengajarkan saya betapa indahnya xi

(12) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI "masa perkuliahan dan persahabatan yang sempurna". I will miss you all moment guys- Saya menyadari bahwa karya penelitian ini tidak lepas dari ketidaksernpurnaan. Oleh karena itu, saya dengan segala kerendah-hatian memohon kritik dan saran yang membangrrn. Semoga karya ini dapat berguna bagi masyarakat dan para pembaca. Yogyakart4 28Mei20l4 UUFelicia Anindita Sunanto Putri xii

(13) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL................................................................................................ i HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING ....................................... ii HALAMAN PENGESAHAN ................................................................................ iii HALAMAN MOTTO ............................................................................................ iv HALAMAN PERSEMBAHAN ..............................................................................v HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ........................................... vi ABSTRAK ............................................................................................................ vii ABSTRACT ........................................................................................................... viii HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH .......................... xi KATA PENGANTAR .............................................................................................x DAFTAR ISI ........................................................................................................ xiii DAFTAR TABEL .............................................................................................. xviii DAFTAR GAMBAR ........................................................................................... xix DAFTAR LAMPIRAN ..........................................................................................xx BAB I .......................................................................................................................1 A. Latar Belakang Penelitian...............................................................................1 B. Rumusan Masalah ..........................................................................................9 C. Tujuan Penelitian ............................................................................................9 xiii

(14) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI D. Manfaat Penelitian ..........................................................................................9 1. Manfaat Teoritis .......................................................................................9 2. Manfaat Praktis .............................................................................................. 10 BAB II ....................................................................................................................11 A. Rejection Sensitivity......................................................................................11 1. Pengertian Rejection Sensitivity ............................................................11 2. Faktor yang Membentuk Rejection Sensitivity ......................................13 3. Mekanisme Terjadinya Rejection Sensitivity .........................................15 4. Dampak Negatif Rejection Sensitivity yang Tinggi Bagi Remaja .........18 5. Prediktor yang Dapat Menurunkan Kecenderungan Rejection Sensitivity Berdasarkan Penelitian Sebelumnya .....................................................20 6. Pengukuran Terhadap Rejection Sensitivity ..........................................21 B. Kelekatan Terhadap Significant Others (Ibu)..............................................23 1. Pengertian Kelekatan .............................................................................23 2. Aspek dan Kelekatan .............................................................................25 3. Dampak dari Setiap Aspek Kelekatan Terhadap Ibu.............................26 4. Jenis dari Kelekatan ...............................................................................27 5. Pengukuran Kelekatan Terhadap Significant Others.............................28 C. Mindfulness...................................................................................................30 1. Pengertian Mindfulness .........................................................................30 xiv

(15) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2. Aspek dari Mindfulness .........................................................................31 3. Faktor yang Memprediksi Mindfulness .................................................33 4. Dampak Positif dari Mindfulness ..........................................................35 5. Dampak Mindfulnes pada Remaja .........................................................36 6. Pengukuran Terhadap Mindfulness .......................................................37 D. Remaja ..........................................................................................................39 1. Pengertian Remaja .................................................................................39 2. Perkembangan Kognitif Remaja............................................................41 3. Ketidakmatangan Cara Berpikir Remaja ...............................................42 E. Kaitan Antara Rejection Sensitivity dengan Mindfulness pada Remaja, Kaitan Antara Kelekatan Terhadap Ibu, Mindfulness dengan Rejection Sensitivity pada Remaja ................................................................................44 F. Hipotesis .......................................................................................................49 BAB III ..................................................................................................................50 A. Jenis Penelitian .............................................................................................50 B. Identitas Variabel Penelitian.........................................................................50 C. Definisi Operasional .....................................................................................50 1. Rejection Sensitivity ...............................................................................50 2. KelekatanTerhadapIbu...........................................................................51 3. Mindfulness............................................................................................52 xv

(16) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI D. Subjek Penelitian ..........................................................................................52 E. Prosedur Penelitian .......................................................................................53 F. Metode Pengumpulan Data ..........................................................................54 1. Metode ...................................................................................................54 2. Alat Pengumpulan Data .........................................................................54 G. Validitas dan Reliabilitas AlatUkur..............................................................58 1. Validitas Skala Mindfulness, Kelekatan Terhadap Ibu, dan Rejection Sensitivity ...............................................................................................58 2. Reliabilitas Skala Mindfulness, Rejection Sensitivity,dan Kelekatan Terhadap Ibu ..........................................................................................65 H. Uji Analisis Data ..........................................................................................68 1. Uji Prasyarat Analisis ............................................................................68 2. Metode Analisis Data ............................................................................70 BAB IV ..................................................................................................................74 A. Deskripsi Subyek Penelitian .........................................................................74 B. Pelaksanaan Penelitian..................................................................................75 C. Hasil Penelitian .............................................................................................76 1. Uji Normalitas ........................................................................................76 2. Uji Linearitas ..........................................................................................77 3. Uji Multikoloneiritas ..............................................................................78 xvi

(17) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4. Uji Heteroskendasitas .............................................................................79 5. Uji Hipotesis ...........................................................................................80 D. Pembahasan ..................................................................................................85 E. Keterbatasan Penelitian ................................................................................90 BAB V....................................................................................................................92 A. Kesimpulan ...................................................................................................92 B. Saran Penelitian ............................................................................................93 1. Saran Bagi Penelitian Selanjutnya ..........................................................93 2. Saran Bagi Orang Tua dan Pendidik di Lingkungan Remaja .................94 3. Saran Bagi Remaja ........................................................................................ 95 DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................96 LAMPIRAN .........................................................................................................107 xvii

(18) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR TABEL TABEL 1 SKOR JAWABAN SUBYEK PADA SKALA KENTUKY INVENTORY OF MINDFULNESS SKILLS ...........................................................55 TABEL 2 SKOR JAWABAN SUBYEK PADA SKALA INVENTORY OF PARENT AND PEER ATTACHMENT (MOTHER VERSION)..............................58 TABEL 3 RELIABILITY STATISTICS ...................................................................68 TABEL 4 DESKRIPSI JENIS KELAMIN SUBYEK PENELITIAN ..................74 TABEL 5 DESKRIPSI USIA SUBYEK PENELITIAN .......................................74 TABEL 6 DESKRIPSI JENJANG PENDIDIKAN SUBYEK PENELITIAN......75 TABEL 7 ONE SAMPLE KOLMOGROV SMIRNOV TEST .................................77 TABEL 8 ANOVA UJI LINEARITAS .................................................................78 TABEL 9 COEFFICIENTS UJI MULTIKOLONEIRITAS .................................78 TABEL 10 COEFFICIENTS REGRESI ANTARA KELEKATAN TERHADAP IBU DENGAN REJECTION SENSITIVITY ..........................................................80 TABEL 11 COEFFICIENTS REGRESI ANTARA MINDFULNESS DENGAN REJECTION SENSITIVITY....................................................................................81 TABEL 12 COEFFICIENTS REGRESI ANTARA KELEKATAN TERHADAP IBU DENGAN MINDFULNESS ...........................................................................82 TABEL 13 COEFFICIENTS REGRESI ANTARA KELEKATAN TERHADAP IBU DENGAN REJECTION SENSITIVITY YANG DIMEDIASI OLEH MINDFULNESS .....................................................................................................82 xviii

(19) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR GAMBAR 1. SKEMA 1 KAITAN ANTARA VARIABEL ...................................................49 2. GAMBAR 1 UJI OUTLIER DARI SEBARAN DATA ...................................77 3. GAMBAR 2 SCATTERPLOT UJI HETEROSKENDASITAS .......................79 4. SKEMA 2 HUBUNGAN LANGSUNG ANTARA KELEKATAN TERHADAP IBU DENGAN REJECTION SENSITIVITY PADA REMAJA ..83 5. SKEMA 3 HUBUNGAN TIDAK LANGSUNG ANTARA KELEKATAN TERHADAP IBU DENGAN REJECTION SENSITIVITY YANG DIMEDIASI MINDFULNESS PADA REMAJA .............................................83 xix

(20) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR LAMPIRAN 1. INFORMED CONSENT ..............................................................................108 2. SKALA PENELITIAN .................................................................................109 3. UJI RELIABILITAS .....................................................................................124 4. UJI PRASYARAT ANALISIS .....................................................................125 5. UJI DEMOGRAFIS ......................................................................................128 6. UJI HIPOTESIS ............................................................................................129 xx

(21) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam kehidupan keseharian sangat mungkin muncul konflik dalam hubungan interpersonal seseorang. Hal ini dapat dipicu oleh situasi ambigu yang menyebabkan kemarahan dan berakhir dengan konflik. Remaja adalah salah satu di antaranya yang rentan mengalami konflik karena situasi ini. . Hal ini disebabkan remaja yang memiliki kecenderungan untuk tidak menggunakan sudut pandang orang lain (Elkind dalam Pappalia, 2008). Selain itu, hal ini juga disebabkan oleh emosi remaja yang masih reaktif (Elkind dalam Pappalia, 2008). Di sisi lain, hal yang akan mempengaruhi remaja dalam hubungan interpersonalnya adalah dampak dari ekspektasi akan pencapaian penerimaan dan penghindaran akan penolakan sosialnya (Downey & Feldman, 1996; Downey, Feldman, Khuri, & Friedman, 1994; Feldman & Downey, 1994). Contoh kasus yang dialami remaja karena situasi ambigu tersebut adalah kasus yang dialami oleh 2 siswi Sekolah Menengah Atas di Manado (Manado Tribunnews, 2013). Mereka terlibat perkelahian fisik hingga harus dirawat di rumah sakit dikarenakan status yang anonim di jejaring sosial milik salah satu di antaranya, salah satu pelaku merasa status anonim tersebut ditunjukkan kepadanya (Manado Tribunnews, 2013). Konflik kedua siswi tersebut mungkin terjadi karena munculnya sebuah situasi ambigu dari status yang anonim milik salah satunya. Hal ini yang memancing emosi reaktif 1

(22) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2 salah satu remaja lainnnya yang merasa status anonim tersebut ditunjukkan untuknya. Bagi sebagian remaja status tersebut mungkin hanyalah sebuah bentuk ekspresi, namun bagi beberapa remaja lainnya bisa saja dianggap untuk menyerang karena tingkat sensitifitas mereka terhadap sebuah penolakan. Status anonim tersebut merupakan sesuatu yang sifatnya ambigu yang entah ditunjukkan kepada siapa atau mungkin hanya sebagai bentuk ekspresi, namun karena kesensitifitas remaja yang berkonflik di atas, ia merasa status tersebut adalah untuk dirinya. Kondisi ambigu yang dianggap sebagai penolakan bagi diri remaja tersebut inilah yang secara tidak sadar membuat remaja tersebut bereaksi. Berdasarkan wawancara dan data lapangan, banyak remaja di antaranya yang mengalami konflik seperti kasus di atas dikarenakan merasa ditolak pada situasi yang sebenarnya ambigu. Misalnya beberapa dari mereka pernah berkelahi dengan temannya dikarenakan bercanda. Bercanda ini tentu tidak bermaksud untuk sungguh-sungguh saling mengejek tetapi mereka malah marah dan langsung menantang untuk berkelahi. Perilaku mengejek inilah yang mereka identifikasi sebagai penolakan bagi mereka sehingga memancing emosi remaja yang masih reaktif. Di sisi lain, situasi ambigu adalah kondisi apakah temannya itu serius mengatakan hal tesebut atau tidak. Selain itu, banyak di antaranya juga terpancing karena status dari teman mereka di jejaring sosial. Misalnya menurut penuturan salah satu remaja mengatakan bahwa ia kesal dengan temannya karena membuat status “Mahasiswa ya harusnya belajar, bukan bekerja”. Status ini memang bersifat

(23) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3 ambigu karena tidak ditunjukkan untuk siapa-siapa namun malah membuat ia merasa tidak terima dan ia tanggapi secara emosional dengan membalas memberikan komentar negatif pada status tersebut. Hal ini karena ia memang sedang menempuh kuliahnya sambil bekerja. Fenomena-fenomena ini dapat dijelaskan dengan sebuah konsep psikologi bernama Rejection sensitivity. Rejection sensitivity adalah kecenderungan individu untuk merasa cemas, peka dan kemudian bereaksi akan penolakan (Downey & Feldman, 1996; Downey, Lebolt, Rincon, & Freitas, 1998; Feldman & Downey, 1994). Hal ini dapat membuat beberapa individu mudah merasa terserang oleh pengalaman penolakan dibanding orang lain (Downey & Feldman, 1996). Konsep ini ditemukan oleh Downey dan Feldman (1996) (McLachlan, Zimmer, Gembeck, & McGregor, 2010). Rejection sensitivity sendiri sangat mungkin membuat individu mengindentifikasikan interaksi interpersonalnya sebagai sebuah penolakan (Downey, Khouri, & Feldman, 1997). Selain itu, situasi ambigu juga dapat mengarahkan individu tersebut peka terhadap intensi penolakan dan merasa ditolak (Downey & Feldman, 1996). Intensitas dari rejection sensitivity terbagi atas rejection sensitivity yang rendah dan rejection sensitivity yang tinggi (Downey & Feldman, 1996; Downey, Bonica & Rincon, 1999). Bila seseorang selalu mengalami kecemasan, mudah tersinggung terhadap perilaku orang lain yang sebenarnya tidak bermaksud untuk ingin menolak ataupun memang akan menolaknya dan orang tersebut bereaksi berlebihan pada penolakan yang dialami maka orang

(24) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4 tersebut tergolong memiliki rejection sensitivity yang tinggi (Downey & Feldman, 1996). Pengalaman penolakan yang telah berakar membuat orang dengan rejection sensitivity yang tinggi menjadi sangat waspada terhadap kemungkinan ia akan ditolak dibandingkan dengan orang yang memiliki rejection sensitivity yang rendah (Purdie & Downey, 2000). Faktor yang paling stabil membentuk seseorang untuk memiliki rejection sensitivity yang tinggi adalah kelekatannya dengan significant othernya. Kelekatan adalah suatu ikatan emosional yang dapat terbentuk dengan adanya kedekatan dan terkandung rasa aman baik fisik maupun psikologis (Santrock, 2007). Kelekatan sendiri umumnya terbentuk sejak bayi bersama significant others-nya (biasanya ibu) dan ini akan menjadi dasar untuk berelasi dengan orang lain (Santrock, 2007). Menurut penelitian sebelumnya ditemukan bahwa mahasiswa dengan rejection sensitivity yang tinggi berkorelasi positif dengan gaya kelekatan anxious dan gaya kelekatan avoidant (Ozen, Sumer, & Demir, 2011). Selain itu, rejection sensitivity yang tinggi juga ditemukan pada orang yang mengalami penolakan kelompok yang tinggi, penerimaan orang tua yang rendah dan kualitas pertemanan yang rendah pada anak-anak dan remaja awal (McLachlan, Zimmer, Gembeck, & McGregor, 2010). Di sisi lain, juga ditemukan bahwa para mahasiswa yang mengalami rejection sensitivity yang tinggi memiliki penerimaan gaya pengasuhan yang bersifat otoriter dari orang tuanya (Cardak, Saricam, & Onur, 2012).

(25) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 5 Kecenderungan orang dengan rejection sensitivity yang tinggi dapat menjadi prediktor munculnya dampak negatif bagi dirinya, terkhususnya pada diri remaja. Dampak dari rejection sensitivity yang tinggi tersebut antara lain penghargaan diri yang rendah (Overall & Sibley, 2009), kekerasan, perilaku kacau dan membolos selama 1 tahun, perilaku menyakiti diri sendiri seperti bunuh diri (Romero, Canyas, Downey, Berenson, Ayduk, & Jan Kang, 2010). Selain itu, penelitian sebelumnya pada remaja yang berkaitan dengan rejection sensitivity yang tinggi mengatakan bahwa remaja usia 10-23 tahun memiliki emosi yang lebih reaktif sehingga sangat mudah berkonflik baik dengan sebayanya maupun pihak otoritasnya (Silvers, McRae, Gabrieli, Gross, Remy, & Ochsner, 2012). Penelitian lainnya mengatakan remaja dengan rejection sensitivity yang tinggi memiliki stressor yang tinggi dan mengalami gejala depresi (Chango, McElhaney, Allen, Schad, & Marston, 2012). Gejala depresi sendiri dapat dimediasi oleh relasi antara rejection sensitivity, konflik dengan ibu dan ayah pada remaja laki-laki (Puckett, 2009). Mengingat banyak dampak negatif yang oleh adanya rejection sensitivity yang tinggi pada remaja, maka penting untuk diketahui prediktor yang dapat memprediksi tingkat intensitas rejection sensitivity. Selama ini penelitian untuk membuktikan dampak dari rejection sensitivity yang tinggi banyak dilakukan dan kurang adanya penelitian untuk melihat prediktor yang dapat memprediksi tingkat intensitas rejection sensitivity pada diri seseorang (Ayduk, Mendoza, Denton, Mischel, & Downey, 2000; Ayduk, Mischel, &

(26) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 6 Downey, 2002; Ayduk, Gyurak, & Luerssen, 2007; Romero et al., 2010; Cardak, Saricam, & Onur, 2012). Saat ini terdapat satu prediktor yang dapat memprediksi tingkat intensitas rejection sensitivity yaitu delayed gratification (Ayduk, Mendoza, Denton, Mischel, & Downey, 2000). Delayed gratification adalah regulasi diri berupa kontrol diri jika orang tersebut percaya bahwa penundaan dan kondisi yang tidak menentu akan menghasilkan sesuatu yang besar (Ayduk, Mendoza, Denton, Mischel, & Downey, 2000). Delayed gratification mengarahkan individu untuk berpandangan bahwa setelah proses kesabaran akan menunggu dan menanti keadaan apa yang akan muncul, individu akan memandang selalu ada nilai kebaikan di dalamnya, termasuk apabila terdapat penolakan sekalipun (Ayduk, Mendoza, Denton, Mischel, & Downey, 2000). Penjelasan melalui penelitian sebelumnya ditemukan bahwa prediktor yang dapat memprediksi intensitas rejection sensitivity di atas mengarahkan kepada prediktor alternatif yaitu mindfulness. Hal ini dikarenakan delayed gratification membutuhkan aspek kesadaran dan aspek penerimaan akan pengalaman yang datang saat ini. Kedua aspek ini merupakan aspek yang berada dalam pendekatan mindfulness (Germer, Siegel, & Fulton, 2005). Delayed gratification sendiri mengandalkan proses berpikir mindfulness di dalamnya (Langer, 2000). Selain itu, penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa mindfulness dapat memprediksi tingkat kecemasan akan penolakan (Mckee, Zvolensky, Solomon, Bernstein, & Feldner, 2007)

(27) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 7 Mindfulness adalah bentuk regulasi diri terhadap perhatian pada tempat yang ada kini dan kekinian, daripada memusingkan masa lalu atau mencemaskan dan berfantasi tentang masa yang akan datang (Csikszentmihalyi dalam Baumgardner & Crothers, 2009). Orang yang dikatakan mindfulness adalah orang yang memiliki kecenderungan yang tinggi akan kesadaran terhadap pengalaman internal dan eksternalnya dengan menerimanya serta tanpa melakukan penilaian terhadap pengalaman tersebut (Cardaciotto, Herbert, Forman, Moitra, & Farrow, 2008). Mindfulness sendiri tumbuh pada diri individu karena adanya kelekatan yang aman terhadap significant others-nya (Brown, Ryan, & Creswell, 2007). Kelekatan yang aman dapat menghasilkan fondasi rasa aman yang telah membentuk mindfulness seseorang, dan ini telah dibuktikan secara empiris maupun teoritikal (Fonagy & Target, 1997; Hodgins & Knee, 2002; Carson, Carson, Gil, & Baucom, 2004; Brown, Ryan, & Creswell, 2007). Individu yang sedari kecil memiliki pengalaman diperhatikan dan direspon oleh pengasuhnya maka akan dapat mengembangkan mindfulness seseorang (Brown, Ryan, & Creswell, 2007). Selain itu, gaya kelekatan anxious menjadi prediktor negatif akan tumbuhnya mindfulness pada diri seseorang, tetapi tidak dengan gaya kelekatan avoidant (Walsh, Balint, Smolira, Fredericksen, & Madsen, 2009). Mindfulness mengolah perhatian, kesadaran dan penerimaan memberikan banyak dampak positif bagi individu. Dampak positif tersebut antara lain tingkat yang rendah pada distress, yang termasuk pada rendahnya

(28) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 8 kecemasan, depresi, kemarahan dan kekhawatiran (Baer, 2003; Brown, Ryan, & Creswell, 2007; Grossmann, Niemann, Schmidt & Walach, 2004), dapat meningkatkan kesejahteraan psikologi individu (Carmody & Baer, 2008), menurunkan ruminasi dalam diri individu (Didonna, 2009), menurunkan agresi dan atribusi terhadap permusuhan (Heppner et al., 2008). Prediktor terhadap penurunan intensitas rejection sensitivity yang tinggi pada remaja masih sangat dibutuhkan dan ini dapat dilakukan dengan pendekatan mindfulness. Penelitian sebelumnya berkaitan dengan mindfulness pada remaja masih relatif sedikit (West, 2008). Hasil penelitian sebelumnya yang sudah diperoleh berkaitan dengan mindfulness bahwa mindfulness dapat menurunkan emosi yang reaktif dan evaluasi sosial pada remaja yang depresi (Britton, Shahar, Szepsenwol, & Jacobs, 2012) serta dapat menurunkan tingkat agresifitas pada remaja (Singh et al., 2007). Berdasarkan penjabaran di atas, mindfulness diduga dapat menjadi salah satu prediktor yang dapat memediasi intensitas rejection sensitivity pada remaja yang sebelumnya dibentuk oleh kelekatan terhadap significant others (biasanya ibu). Menurut penelitian sebelumnya kelekatan merupakan prediktor terhadap intensitas rejection sensitivity. Selain itu, kelekatan juga merupakan prediktor terhadap mindfulness. Di sisi lain, penelitian sebelumnya menunjukkan mindfulness dapat memprediksi tingkat kecemasan terhadap penolakan dan mindfulness berasosiasi dengan salah satu prediktor yang dapat memprediksi tingkat rejection sensitivity yaitu delayed gratification. Hal ini membuat peneliti berasumsi bahwa adanya peran

(29) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 9 mindfulness dalam memediasi antara kelekatan terhadap significant others (biasanya ibu) dengan intensitas rejection sensitivity pada remaja. Proses terjadinya rejection sensitivity tidak secara langsung berhubungan dengan kelekatan terhadap significant others (biasanya ibu) melainkan melalui kemampuan mindfulness terlebih dahulu. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang diuraikan sebelumnya maka dapat dirumuskan pertanyaan yang menjadi permasalahan penelitian: apakah mindfulness dapat berperan dalam memediasi antara kelekatan terhadap significant others (ibu) dengan intensitas rejection sensitivity pada remaja? C. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan peran mindfulness dalam memediasi antara kelekatan terhadap significant others (ibu) dengan intensitas rejection sensitivity pada remaja. D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis Penelitian ini diharapkan dapat menambah khasanah pengetahuan dalam bidang psikologi positif, sosial dan perkembangan bahwa peran mindfulness dalam memediasi antara kelekatan terhadap significant others (ibu) dengan intensitas rejection sensitivity pada remaja.

(30) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 10 2. Manfaat Praktis Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menawarkan salah satu prediktor positif yang terbukti empiris yaitu mindfulness yang dapat memediasi tingkat intensitas rejection sensitivity pada remaja yang sebelumnya dibentuk sejak dini oleh kelekatan terhadap significant others (ibu) mereka, sehingga mindfulness dapat berguna sebagai dasar para ahli dalam psikologi, terapis, dan pendidik di lingkungan remaja dalam mendesain treatment atau program untuk para remaja yang memiliki rejection sensitivity yang tinggi untuk lebih adaptif di dalam berelasi. Di sisi lain, bagi orang tua terutama ibu, dapat memberikan informasi untuk lebih memperhatikan pola pengasuhan yang membentuk kelekatannya bersama anak. Hal ini dapat membentuk skema bahwa dunia dapat menerima anak, sehingga anak dapat bertumbuh menjadi lebih adaptif dalam berelasi.

(31) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB II LANDASAN TEORI A. Rejection Sensitivity Sebuah konsep psikologis yang bergerak pada kecenderungan seseorang dalam bereaksi terhadap ekspektasi akan kehidupan yang mungkin terjadi penolakan atau penerimaan (Downey & Feldman, 1996; Downey, Feldman, Khuri & Friedman, 1994; Feldman & Downey, 1994). Konsep ini sendiri baru diperkenalkan oleh Downey dan Feldman pada tahun 1994 (McLachlan, Zimmer, Gembeck, & McGregor, 2010). 1. Pengertian Rejection Sensitivity Rejection sensitivity adalah kecenderungan orang untuk merasa cemas, merasa peka dan bereaksi pada penolakan dari lingkungannya, baik orang-orang dekatnya maupun orang di sekitarnya (Downey & Feldman, 1996; Downey, Lebolt, Rincon, & Freitas, 1998; Feldman & Downey, 1994). Rejection sendiri sensitivity dapat membuat individu mengindentifikasikan interaksi interpersonalnya sebagai sebuah penolakan (Downey, Khouri, & Feldman, 1997). Selain itu, situasi ambigu juga dapat mengarahkan individu tersebut peka terhadap intensi penolakan dan merasa ditolak (Downey & Feldman, 1996). Di sisi lain, Banyak pula asumsi yang mengatakan seseorang yang sensitif terhadap penolakan lebih siap menerima penolakan daripada ekpektasi akan penolakan itu sendiri (Downey & Feldman, 1996). 11

(32) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 12 Rejection sensitivity adalah suatu kecenderungan mental yang melibatkan proses sistem kognitif dan afektif (Mischel & Shoda, 1995). Rejection sensitivity diorganisasi dari pengalaman penolakan dan menjadi aktif ketika individu tersebut berada pada situasi sosial yang memungkinkan adanya penolakan (Mischel & Shoda, 1995). Hal ini dikarenakan adanya ekspektasi akan penolakan yang dimiliki individu karena pengalaman penolakan sebelumnya (Mischel & Shoda, 1995). Intensitas dari rejection sensitivity terbagi atas rejection sensitivity yang rendah dan rejection sensitivity yang tinggi (Downey & Feldman, 1996; Downey, Bonica, & Rincon, 1999). Bila seseorang selalu mengalami kecemasan, mudah tersinggung terhadap perilaku orang lain yang sebenarnya tidak bermaksud untuk ingin menolak ataupun memang akan menolaknya dan orang tersebut bereaksi berlebihan pada penolakan yang dialami maka orang tersebut tergolong memiliki rejection sensitivity yang tinggi (Downey & Feldman, 1996). Pengalaman penolakan yang telah berakar membuat orang dengan rejection sensitivity yang tinggi menjadi sangat waspada terhadap kemungkinan ia akan ditolak dibandingkan dengan orang yang memiliki rejection sensitivity yang rendah (Purdie & Downey, 2000). Berdasarkan pengertian mengenai rejection sensitivity di atas, peneliti mengambil kesimpulan mengenai rejection sensitiviy adalah sebuah kecenderungan individu untuk mengindentifikasi pengalaman penolakan maupun ekspektasi akan penolakan, kemudian timbul perasaan

(33) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 13 cemas dan peka yang membuat individu akan bereaksi akan pengalaman tersebut. Hal-hal yang mungkin dapat memicu seseorang sensitif akan penolakan adalah interaksi interpersonalnya dan situasi yang tidak jelas bagi individu tersebut. Di sisi lain, intensitas rejection sensitivity dibagi menjadi tinggi dan rendah. Hal yang membedakannya adalah orang yang memiliki tingkat rejection sensitivity yang tinggi akan selalu cemas, waspada akan penolakan, mudah tersinggung dan mudah bereaksi terhadap pengalaman yang ia identifikasi sebagai penolakan. 2. Faktor yang Membentuk Rejection Sensitivity Faktor yang membentuk rejection sensitivity yang tinggi pada diri individu berupa pengalaman penolakan dari significant other dan juga penolakan dari lingkungan sebayanya (Downey, Bonica, & Rincon, 1999). Berikut penjabaran faktor yang membentuk rejection sensitivity yang sudah ditemukan melalui penelitian sebelumnya: a) Persepsi tentang penerimaan anak akan gaya pengasuhannya memberikan dampak pada tingkat rejection sensitivity pada mahasiswa (Cardak, Saricam, & Onur, 2012). Penerimaan terhadap orang tua yang otoriter mengarahkan pada rejection sensitivity yang tinggi sedangkan untuk penerimaan orang tua yang demokratis mengarahkan pada rejection sensitivity yang rendah (Cardak, Saricam, & Onur, 2012). b) Adanya rejection sensitivity berkorelasi dengan adanya gaya kelekatan pada mahasiswa (Ozen, Sumer, & Demir, 2011).

(34) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 14 Penelitian sebelumnya menyatakan bahwa pada mahasiswa gaya kelekatan anxious dan gaya kelekatan avoidant berkorelasi positif dengan adanya rejection sensitivity dan gaya kelekatan yang aman berkorelasi negatif dengan adanya rejection sensitivity (Ozen, Sumer, & Demir, 2011). Menurut Bowlby (1980), pribadi mereka terbentuk oleh gaya kelekatan yang mereka miliki, saat kecil bila anak menerima penolakan dan sifatnya konsisten maka anak akan cenderung tumbuh menjadi anak yang cenderung sensitif terhadap penolakan dan sebaliknya bila anak tumbuh dengan rasa penerimaan maka ia akan merasa aman dan cenderung merasa diterima atau memiliki tingkat rejection sensitivity yang rendah. c) Rejection sensitivity juga berkorelasi terhadap pengalaman penolakan kelompok pada anak-anak dan remaja awal (McLachlan, Zimmer, Gembeck, & McGregor, 2010). Menurut penelitian sebelumnya, rejection sensitivity yang tinggi ketika penolakan pada kelompok tinggi, penerimaan orang tua rendah dan kualitas pertemanan rendah sedangkan rejection sensitivity yang rendah ketika penolakan pada kelompok rendah, penerimaan orang tua tinggi, dan kualitas pertemanan tinggi (McLachlan, Zimmer, Gembeck, & McGregor, 2010). Berdasarkan beberapa faktor yang dijabarkan mengenai rejection sensitivity, peneliti dapat menyimpulkan bahwa faktor yang membentuk rejection sensitivity berasal dari pengasuhan orang tua dan pengalaman

(35) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 15 penolakan dari lingkungan. Gaya pengasuhan yang otoriter serta kelekatan terhadap orang tua yang tidak aman dapat menyebabkan orang tersebut memiliki rejection sensitivity. Selain itu, pengalaman penolakan yang konsisten serta penolakan kelompok yang tinggi ditambah dengan penerimaan orang tua yang rendah dan kualitas pertemanan yang rendah juga dapat membuat seseorang memiliki kecenderungan rejection sensitivity yang tinggi. 3. Mekanisme Terjadinya Rejection Sensitivity Pengalaman penolakan sebelumnya telah membentuk internal working model seseorang. Internal working model ini yang akan mendasari mekanisme terjadinya rejection sensitivity pada diri individu. Internal working model ini dapat dibentuk melalui tiga pendekatan, antara lain: a) Pendekatan kelekatan Jika kebutuhan anak terpenuhi secara sensitif dan konsisten, maka anak akan mengembangkan working model yang aman dan hal ini dapat mendukung anak bahwa ia diterima (Bowlby, 1969, 1973, 1980; Sroufe, 1990). Di sisi lain, jika kebutuhan anak tidak terpenuhi dan terdapat penolakan langsung maupun tidak langsung, maka anak akan mengembangkan working model yang tidak aman dan hal ini dapat mendukung anak merasa takut serta ragu bahwa ia akan diterima dan didukung oleh sekitarnya (Bowlby, 1969, 1973, 1980; Sroufe, 1990).

(36) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI b) 16 Pendekatan sosial-kognitif Pengalaman penolakan dini yang berasosiasi dengan usaha dalam coping akan membentuk skema seseorang yang meliputi tujuan, ekpektasi, nilai, fokus, interpretive bias, dan self regulatory (Downey, Bonica, & Rincon, 1999). Pengalaman diterima atau ditolak akan diinterpretasikan sebagai dasar dari skema kognitif dan afektif seseorang (Downey, Bonica, & Rincon, 1999). c) Pendekatan Interpersonal Internal working model atau skema mengenai relasi akan merefleksikan pengalaman, bila melihat dari sistem proses kognitif dan afektif yang dapat diuraikan sebagai bentuk yang dapat menjaga dan memodifikasi pentingya relasi dengan teman sebaya, pasangan romantis, dan dengan orang tua, yang kemudian akan diteruskan dalam proses interaksi sosial sesuai dengan periode perkembangan (Downey, Bonica, & Rincon, 1999). Mekanisme terjadi rejection sensitivity sendiri dapat dijelaskan dengan Defense Motivational System (Romero, Canyas, & Downey, 2005). Defense Motivational System tersebut merupakan suatu respon terhadap kemungkinan suatu penolakan yang didasari oleh skema dari internal working model seseorang, sehingga muncullah pertahanan (Romero, Canyas, & Downey, 2005). Rejection sensitivity tersebut dapat

(37) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 17 berkembang ketika seseorang berusaha mempertahankan dirinya dari penolakan sembari menjaga koneksi sosialnya (Romero, Canyas, & Downey, 2005). Individu dengan rejection sensitivity yang tinggi mengekspektasikan suatu penolakan tanpa sadar, kemudian ia akan mengaktifkan Defense Motivational System (Romero, Canyas, & Downey, 2005). Ketika Defense Motivational System aktif akan muncul motivasi yang berguna untuk mencegah adanya penolakan dan inilah bentuk pertahanan tersebut (Romero, Canyas, & Downey, 2005). Berdasarkan data di atas, peneliti menyimpulkan bahwa pengalaman penolakan sebelumnya telah membentuk internal working model seseorang. Internal working model dapat dibentuk melalui tiga pendekatan yaitu kelekatan (menekankan pada pemenuhan kebutuhan dari signifikan other, hal tersebut kemudian membentuk skema akan dunia yang menerima atau menolak), sosial-kognitif (menekankan bahwa pengalaman penolakan atau penerimaan sebagai dasar akan skema afektif dan kognitif seseorang), dan interpersonal (pengalaman sebelumnya dapat menjadi dasar manusia untuk memodifikasi cara mereka berelasi saat ini). Selain itu, terdapat mekanisme pada orang yang memiliki rejection sensitivity adalah defense motivational system. Defense motivational system suatu mekanisme pertahanan diri yang dibentuk oleh skema dari internal working model seseorang, ketika seseorang dengan kecenderungan rejection sensitivity yang tinggi mengalami pengalaman penolakan secara otomatis pengalaman penolakan tersebut akan

(38) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI diidentifikasi berdasarkan pengalaman penolakan 18 yang ia miliki sebelumnya kemudian muncullah suatu bentuk pertahanan. Defense motivational system ini memungkin seseorang dengan rejection sensitivity yang tinggi menyiapkan diri untuk menghadapi pengalaman penolakan tersebut dengan pertahanan yang dimilikinya 4. Dampak Negatif Rejection Sensitivity yang Tinggi Bagi Remaja Penelitian sebelumnya pada remaja yang berkaitan dengan dampak negatif bagi remaja yang memiliki kecenderungan rejection sensitivity yang tinggi, antara lain: a) Rejection sensitivity yang tinggi pada remaja usia 10-23 dapat membuat remaja memiliki emosi yang reaktif. Emosi yang lebih reaktif ini dapat memicu konflik baik dengan sebayanya maupun pihak otoritasnya. (Silvers, McRae, Gabrieli, Gross, Remy, & Ochsner, 2012). Selain itu, respon remaja yaitu memiliki regulasi diri yang rendah berkaitan dengan stimulus sosialnya (Silvers, McRae, Gabrieli, Gross, Remy, & Ochsner, 2012). b) Remaja dengan rejection sensitivity yang tinggi memiliki stressor yang tinggi dan mengalami gejala depresi (Chango, McElhaney, Allen, Schad, & Marston, 2012). Gejala depresi sendiri dapat dimediasi oleh relasi antara rejection sensitivity, konflik dengan ibu dan ayah pada remaja laki-laki (Puckett, 2009). c) Pada remaja dengan rejection sensitivity yang tinggi memiliki tingkat penghargaan diri yang rendah dan memiliki tingkat

(39) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 19 kepuasaan yang rendah terhadap keluarga (Overall & Sibley, 2009). d) Pada remaja yang memiliki rejection sensitivity yang tinggi berasosiasi dengan kecenderungan-kecenderungan negatif. Kecenderungan tersebut antara lain, perilaku yang kacau dan membolos pada sekolah lebih dari satu tahun (Romero, Canyas, Downey, Berenson, Ayduk, & Jan Kang, 2010). Rejection sensitivity yang tinggi juga dapat menentukan perilaku menyakiti diri sendiri, sebagai contoh rejection sensitivity yang tinggi berasosiasi dengan tingkat percobaan bunuh diri pada mahasiswa (Romero, Canyas, Downey, Berenson, Ayduk, & Jan Kang, 2010). Rejection sensitivity yang tinggi juga berasosiasi dengan perilaku yang meningkatkan resiko personal (Romero, Canyas, Downey, Berenson, Ayduk, & Jan Kang, 2010). Selain itu rejection sensitivity yang tinggi juga merupakan faktor resiko dari rasa marah dan agresi (Romero, Canyas, Downey, Berenson, Ayduk, & Jan Kang, 2010). Berdasarkan penjabaran di atas mengenai dampak negatif bagi remaja dengan kecenderungan rejection sensitivity yang tinggi, dapat peneliti simpulkan bahwa kecenderungan rejection sensitivity yang tinggi dapat lebih memungkinkan memunculkan konflik bagi remaja dan sifatnya dapat meluas. Hal ini dikarenakan berdasarkan data di atas, remaja dengan rejection sensitivity yang tinggi diketahui memiliki emosi yang lebih

(40) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 20 reaktif dan kemungkinan depresi yang tinggi. Selain itu, tingkat penghargaan diri yang rendah dan kecenderungan-kecenderungan negatif lainnya. 5. Prediktor yang Dapat Memprediksi Kecenderungan Rejection Sensitivity Berdasarkan Penelitian Sebelumnya Selama ini banyak sekali penelitian yang mendasarkan penelitian dengan tujuan untuk membuktikan rejection sensitivity yang tinggi sebagai prediktor adanya dampak negatif pada diri individu. Akan tetapi, sangat penting dilakukan penelitian untuk mengontrol kecenderungan rejection sensitivity yang tinggi pada diri individu, seperti penelitian yang dapat memprediksi tingkat rejection sensitivity pada individu (Ayduk, Mendoza, Denton, Mischel, & Downey, 2000; Ayduk, Mischel, & Downey, 2002; Ayduk, Gyurak, & Luerssen, 2007; Romero, Canyas, et al., 2010; Cardak, Saricam, & Onur, 2012). Berdasarkan penelitian sebelumnya ditemukan prediktor yang dapat memprediksi rejection sensitivity yaitu delayed gratification. Delayed gratification adalah bentuk regulasi diri berupa kesabaran dalam menunggu dan menerima keadaan yang nantinya dapat berbuah suatu gratifikasi atau kebaikan bagi diri (Ayduk, Mendoza, Denton, Mischel, & Downey, 2000). Bentuk kesabaran tersebut adalah sebuah kontrol diri yang mungkin bertahan jika seseorang percaya proses penundaan tersebut menghasilkan gratifikasi atau hasil yang besar (Mischel, 1974). Delayed gratification ini juga berguna sebagai aspek perlindungan bagi seseorang

(41) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 21 yang memiliki rejection sensitivity (Ayduk, Mendoza, Denton, Mischel, & Downey, 2000). Hal ini dikarenakan pandangan akan pemikiran bahwa setelah proses kesabaran akan menunggu dan menanti keadaan apa yang akan muncul, individu akan memandang selalu ada nilai kebaikan di dalamnya (Ayduk, Mendoza, Denton, Mischel, & Downey, 2000). Berdasarkan penjabaran di atas, peneliti yang menyimpulkan masih sangat dibutuhkan prediktor yang dapat memprediksi kecenderungan rejection sensitivity yang tinggi pada diri seseorang. Bentuk prediktor berdasarkan penelitian sebelumnya yang peneliti simpulkan adalah berkaitan dengan regulasi diri dengan delayed gratification. Regulasi diri dengan delayed gratification menawarkan konsep bahwa kita akan mengontrol diri kita ketika keadaan tidak pasti sekalipun (memungkinkan kondisi penolakan) asalakan kita menyakini bahwa selalu ada hal yang besar yang akan kita dapatkan setelah proses tersebut. 6. Pengukuran Terhadap Rejection Sensitivity Alat ukur berkaitan dengan rejection sensitivity, antara lain: a) Alat ukur yang belakangan sering digunakan dalam penelitian adalah Rejection Sensitivity Questionnaire (Downey & Feldman, 1996). RSQ sendiri telah terbukti menunjukkan konsistensi internal yang tinggi sebesar 0,83 dan hasilnya dapat dipercaya (Downey & Feldman, 1996). RSQ sendiri terbagi menjadi dua yaitu RSQ for Children yang berisi 12 skenario situasi interpersonal untuk usia sekolah dasar (Kelas 5) hingga sekolah

(42) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 22 menengah atas (Downey & Feldman, 1996). Selain itu, RSQ for Adult yang berisi 18 skenario situasi penolakan untuk usia 17/18 tahun ke atas (Downey & Feldman, 1996). RSQ dapat menjadi alat ukur yang terpercaya untuk mengukur ekpektasi kecemasan terhadap penolakan dan terfokus pada hasil dari kejadian. Ekspektasi kemarahan terhadap penolakan (Downey & Feldman, 1996). Selain itu, ekpektasi penerimaan mereka terhadap penolakan (Downey & Feldman, 1996). Nilai RSQ seseorang akan dapat memprediksi seberapa jauh mereka merasa ditolak dalam situasi yang ambigu (Downey & Feldman, 1996). b) Alat ukur lainnya adalah The Interpersonal Sensitivity Measure (Boyce & Parker, 1989). Skala ini berfokus pada pengalaman penolakan sosial. IPSM memiliki internal konsistensi yang tinggi yaitu sebesar .85 (Boyce & Parker, 1989). Pada penelitian ini skala yang peneliti gunakan adalah Rejection Sensitivity Questionnaire for Children (Downey & Feldman, 1996). Peneliti menggunakan skala ini karena internal konsistensi skala ini yang berkisar sedang hingga tinggi (ɑ = .72 hingga ɑ = .84) (Downey, Lebolt, Rincon, & Freitas, 1998). Selain itu, Skala ini memiliki skenario yang sesuai dengan konteks remaja Indonesia, yaitu skenario cerita dalam bentuk situasi sekolah.

(43) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 23 B. Kelekatan Terhadap Significant Others (Ibu) Kelekatan adalah sebuah teori yang dikembangkan oleh psikiater Inggris John Bowlby (1969) dan psikolog perkembangan Amerika Mary Ainsworth (1979) (Santrock, 2007). Para ahli ini mengatakan bahwa kelekatan di masa bayi penting bagi seluruh kompetensi sosial (Santrock, 2007). 1. Pengertian Kelekatan Kelekatan adalah suatu ikatan emosional yang terbentuk antara dua orang yang selalu memiliki kedekatan dan menawarkan keamanan fisik serta psikologis (Santrock, 2002). Kelekatan sendiri dibentuk sejak bayi dan menjadi dasar dalam membentuk relasi dengan orang lain (Santrock, 2002). Selain itu, menurut Bowly (1969,1979) kelekatan adalah suatu ikatan emosional yang kuat antara bayi dan pengasuhnya. Kelekatan ini akan membentuk kedekatan anak terhadap orang lain, tidak hanya dalam membedakan orang lain tetapi juga untuk menjadi referensi anak secara individual (Bowlby, 1973). Kelekatan sendiri lebih umum terjadi pada ibu, karena ibu dianggap sebagai figur yang dapat memberikan kepuasan oral atau kebutuhan akan ASI pada bayi (Freud dalam Santrock, 2002). Bayi akan semakin memiliki kedekatan dengan orang atau benda yang dapat memberikan ia kepuasan (Freud dalam Santrock, 2002). Selain itu, kelekatan juga terbentuk tidak terbatas pada kepuasan itu tadi melainkan berdasarkan kenyamanan kontak (Harlow & Zimmerman, 1959) dan sesuatu yang familiar bagi bayi tersebut (Lorenz, 1965). Di sisi lain, kelekatan

(44) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 24 dengan ibu berasosiasi dengan kelekatan yang akan terbentuk dengan ayah. Hal ini berarti apabila kelekatan yang dibentuk anak pada ibu adalah kelekatan yang aman maka pada ayah juga akan terbentuk kelekatan yang aman (Ainsworth, 1967; Goodsell & Meldrum, 2009 dalam Benware, 2013). Kelekatan yang terbentuk sedari bayi dapat membentuk kelekatan aman dan tidak aman (Santrock, 2007). Kelekatan yang aman terbentuk ketika bayi menggunakan pengasuhnya (biasanya ibu) sebagai dasar akan rasa aman untuk mengeksplorasi lingkungannya (Santrock, 2007). Sedangkan kelekatan yang tidak aman terbentuk ketika bayi mungkin menghindari pengasuh atau memperlihatkan penolakan atau sikap ambivalen terhadap pengasuh (Santrock, 2007). Kelekatan sendiri bersifat berkelanjutan kerena secara primer terus menerus membentuk model mental diri dan sebagai komponen kepribadian (Bowlby, 1980). Gaya kelekatan akan menjadi kepenuhan diri karena tindakan yang didasari gaya kelekatan tersebut akan juga menghasilkan konsekuensi yang menguatkan tindakan tersebut (Bowlby, 1980). Sebagai contoh, ketika individu baru memiliki kontak sosial yang baru dan ia bertindak defensive maka akan meningkatkan penolakan sosialnya, sehingga ini akan menjadi penguat akan perasaan tidak aman individu tersebut (Douglas & Atwell, 1988). Berdasarkan penjabaran di atas, dapat disimpulkan bahwa kelekatan terhadap significant others adalah suatu ikatan emosional

(45) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 25 yang dibangun sedari kecil. Hal ini dikarenakan ketika bayi, anak merasakan rasa aman dari pengasuh sehingga membantunya membangun konsep aman terhadap lingkungannya juga, dan begitu sebaliknya ketika pengasuh menunjukkan rasa yang tidak aman kepada bayi, maka bayi akan memberikan penolakan atau bersikap ambivalen terhadap lingkungannya. 2. Aspek dari Kelekatan Aspek kelekatan anak terhadap significant others dalam hal ini ibu terbagi menjadi tiga yaitu kepercayaan, komunikasi, dan keterasingan (Greenberg, 2009). a) Kepercayaan Perasaan yang muncul ketika seorang anak merasa aman dan nyaman dengan dirinya (Gutierrez, 2013). Rasa ini muncul akibat kepercayaan yang telah dibentuk ibu terhadap anak, sejak anak masih bayi (Erickson, 1968). Suatu rasa percaya memerlukan kenyamanan fisik dan sejumlah kecil rasa khawatir dan pemahaman akan masa depan (Santrock, 2002). Kepercayaan yang terbentuk pada bayi akan membuatnya melihat dunia sebagai suatu tempat yang aman, baik dan menyenangkan untuk dihumi (Erickson, 1968).

(46) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 26 b) Komunikasi Komunikasi merupakan interaksi antara anak dengan orangtua yang melibatkan sentuhan kasih sayang dan perhatian serta mendengarkan cerita anak secara penuh (Zolten & Long, 2006). c) Keterasingan Perasaan keterasingan adalah suatu perasaan yang dapat muncul akibat perceraian, pengabaian ataupun penolakan dari orangtua kepada anak yang menyebabkan keterasingan emosi antara anak dengan ibu (Garber, 2004; Lowenstein, 2010). Berdasarkan penjabaran di atas, aspek dari kelekatan terhadap significant others-nya dalam hal ini ibu adalah kepercayaan, komunikasi dan keterasingan. Kepercayaan adalah perasaan aman anak terhadap dirinya yang terbentuk karena sejak kecil terbangun rasa percaya dari ibu terhadap anaknya. Komunikasi adalah interaksi yang melibatkan rasa kasih sayang dan perhatian. Selain itu, keterasingan adalah suatu perasaan yang muncul karena anak merasa tertolak dan diabaikan sedari kecil. 3. Dampak dari Setiap Aspek Kelekatan Terhadap Ibu Setiap aspek dari kelekatan terhadap ibu memiliki dampak bagi kehidupan anak, antara lain : a) Dampak dari rasa percaya yang dibentuk ini akan membuat anak lebih sukses dalam sekolah, lebih berani dalam menghadapi dunia, dan lebih dapat mengendalikan tekanan emosinya secara lebih baik (Gutierrez, 2013).

(47) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 27 b) Komunikasi yang baik, jelas, dan efektif dapat membuat anak lebih mudah dalam menentukan perilakunya saat itu dan di masa akan datang (Aspy et., al, 2007). c) Rasa keterasingan ini menyebabkan harga diri yang rendah, depresi, penyalahgunaan narkoba, kehilangan kepercayaan, tidak mengenali diri, bahkan akan sulit untuk mempertahankan suatu hubungan (Baker, 2005). Berdasarkan penjabaran di atas, peneliti menyimpulkan kepercayaan dapat membuat anak lebih berprestasi, berani melihat dunia, dan lebih dapat mengendalikan emosinya. Sedangkan komunikasi dengan orang tua dapat membuat anak lebih mudah menentukan perilakunya. Di sisi lain, rasa keterasingan menyebabkan anak memiliki harga diri yang rendah, depresi, penyalahgunaan narkoba, dan memiliki dampak negatif lainnya. 4. Jenis dari kelekatan Jenis kelekatan ini berdasarkan aspek-aspek kelekatan terhadap ibu yaitu kepercayaan, komunikasi dan pengasingan (Armsden & Greenberg, 1987). Macam-macam kelekatan tersebut, antara lain: a) Kelekatan aman yang tinggi Kelekatan aman yang tinggi terhadap ibu dapat dibentuk bila tingkat keterasingan dari ibu rendah, sedangkan tingkat kepercayaan dan komunikasi terhadap ibu itu tinggi atau sedang (Armsden & Greenberg, 1987).

(48) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 28 b) Kelekatan aman yang rendah Kelekatan aman yang rendah terhadap ibu dapat terbentuk bila tingkat keterasingan dari ibu tinggi, sedangkan tingkat kepercayaan dan komunikasi terhadap ibu itu tinggi atau sedang (Armsden & Greenberg, 1987). Selain itu, kelekatan aman yang rendah terhadap ibu juga dapat terbentuk jika tingkat keterasingan dari ibu tinggi, sedangkan salah satu antara tingkat kepercayaan atau komunikasi berada pada tingkat rendah. Berdasarkan penjabaran di atas, peneliti mengambil kesimpulan bahwa kelekatan yang dibedakan melalui tingkat kepercayaan, komunikasi, dan rasa keterasingan terbagi atas kelekatan yang aman yang tinggi dan kelekatan aman yang rendah. Hal yang membedakan keduanya adalah tingkat keterasingan. Pada kelekatan aman yang tinggi, tingkat keterasingan akan cenderung rendah dibandingkan kedua aspek lainnya. Sebaliknya, kelekatan aman yang rendah, tingkat keterasingan akan cenderung tinggi dibandingkan kedua aspek lainnya. 5. Pengukuran Kelekatan Terhadap Significant-Others Berikut beberapa alat ukur terhadap kelekatan terhadap significantothers: a) The Adult Attachment Interview (AAI) yang mengukur representasi mental remaja dan dewasa mengenai kelekatannya terhadap orang tua sejak kecil (Ainsworth, Blehar, Waters, & Wall, 1978). Fokus utama dari skala ini adalah memprediksi pola kelekatan sejak

(49) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 29 kecil pada situasi yang ganjil (Ainsworth, Blehar, Waters, & Wall, 1978). b) The Parental Bonding Instrument (Parker, 1979) yang mengukur ingatan retrospective mengenai orang tua yang terfokus pada pengasuhan dan kontrol. c) The Attachment Style Questionnaire (ASQ) yang dikembangkan oleh Feeney, Noller, & Hanrahan (1994) yang mengukur mengenai kelekatan ketika dewasa. ASQ memiliki internal konsistensi yang adekuat yaitu berada pada nilai. 76 sampai .84 (Feeney et al., 1994). d) Inventory of Parent and Peer Attachment (Mother Version) (Greenberg & Armsden, 2009). The IPPA-M ini dikembangkan untuk melihat persepsi positif dan negatif remaja terhadap dimensi afektif dan kognitif terhadap hubungan dengan orang tua terkhususnya ibu (Greenberg & Armsden, 2009). Secara khusus, sejauh mana figur ibu menyediakan sumber rasa aman secara psikologis (Greenberg & Armsden, 2009). The IPPA terdiri dari 3 dimensi yaitu tingkatan mutual dari rasa percaya, kualitas komunikasi, dan tingkat rasa marah (keterasingan) (Greenberg & Armsden, 2009). Skala Inventory of Parent and Peer Attachment (Mother Version) memiliki nilai konsistensi internal yang tinggi (ɑ = .87). Selain itu, memiliki korelasi reliabilitas test-retest yang dilakukan 3 minggu menunjukkan korelasi yang tinggi (r=.93).

(50) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 30 Berdasarkan beberapa alat ukur di atas, peneliti memilih Inventory of Parent and Peer Attachment (Mother Version) (Greenberg & Armsden, 2009). Peneliti memilih IPPA-M karena skala ini memiliki internal konsistensi yang tinggi (ɑ = .87). Selain itu, skala ini mengungkapkan persepsi remaja terhadap dimensi afeksi dan kognitif secara spesifik terhadap hubungan dengan ibu (Greenberg & Armsden, 2009). Selain itu, skala ini memiliki subskala yang sangat spesifik seperti tingkat kepercayaan ibu terhadap anak, kualitas komunikasi ibu terhadap anak, dan sejauh mana ibu memperlakukan anak sehingga anak merasa terasing (Greenberg & Armsden, 2009). C. Mindfulness Pendekatan ini akan berhubungan dengan keterhubungan keberadaan diri dan pengalaman kita serta merupakan kumpulan tahapan tranformasi ke pribadi yang lebih positif (Siegel, Germer, & Olendzki, 2009). 1. Pengertian Mindfulness Pendekatan mindfulness adalah pendekatan yang berhubungan dengan regulasi diri terhadap perhatian dan perubahan orientasi ke arah pengalaman yang ditandai dengan keingintahuan, keterbukaan dan penerimaan (Bishop et al., 2004). Menurut Siegel, Germer, & Olendzki (2009) Mindfulness adalah kapasitas untuk menjadi penuh dalam kesadaran dan perhatian. Kapasitas ini mendukung kesadaran akan kejadian demi kejadian secara khusus ditengah emosi yang tidak

(51) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 31 stabil (Siegel, Germer, & Olendzki, 2009). Selain itu, Mindfulness merupakan perhatian pada tempat yang ada kini dan kekinian, daripada memusingkan masa lalu atau mencemaskan dan berfantasi tentang masa yang akan datang (Csikszentmihalyi dalam Baumgardner & Crothers, 2009). Menurut Marlatt & Kristeller (dalam Baer, 2003), kata mindfulness dapat dideskripsikan sebagai “memberikan perhatian kepada pengalaman saat ini dari waktu ke waktu”. Orang yang dikatakan mindfulness adalah orang yang memiliki kecenderungan yang tinggi akan kesadaran terhadap pengalaman internal dan eksternalnya dengan menerimanya serta tanpa melakukan penilaian terhadap pengalaman tersebut (Cardaciotto, Herbert, Forman, Moitra, & Farrow, 2005). Berdasarkan beberapa definisi di atas, peneliti menyimpulkan bahwa definisi mindfulness adalah sebuah bentuk regulasi diri yang mengarahkan individu ke arah perbaikan dengan dasar kesadaran dari individu terhadap pengalaman yang terjadi dengan memberikan perhatian kepada pengalaman tersebut. Kunci dari pendekatan ini menurut peneliti adalah dengan landasan kesadaran dan perhatian terhadap pengalaman tersebut, orang tersebut diminta untuk menerima keadaan tersebut dapat bermaksud untuk ingin merubah hal tersebut. 2. Aspek dari Mindfulness Mindfulness dianggap kumpulan dari kemampuan (Linehan, 1993a, 1993b; Segal et al., 2002). Kemampuan tersebut terkait akan

(52) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 32 aspek dari mindfulness yang telah lebih dikembangkan dari segala literature (Baer, Smith, & Allen, 2004). Aspek yang dimaksud kemampuan tersebut, antara lain: a) Mengamati Dalam mindfulness, mengamati, menandai dan terlibat dalam fenomena internal dan ekternal (Dimidjian & Linchan, 2003b; Kabat-Zinn, 1990; Segal et al., 2002). Fenomena internal seperti sensasi tubuh, kognisi dan emosi (Dimidjian & Linchan, 2003b; Kabat-Zinn, 1990; Segal et al., 2002). Di sisi lain, fenomena eksternal seperti bunyi dan bau (Dimidjian & Linchan, 2003b; Kabat-Zinn, 1990; Segal et al., 2002). b) Menggambarkan Menggambarkan dalam mindfulness berarti manusia dapat berusaha menggambarkan, melabel, dan menandai fenomena yang mereka alami dan amati dengan kata-kata (Goldstein, 2002; Linehan, 1993b; Segal et al., 2002). Labeling dapat dilakukan tanpa menilai dan tanpa adanya analisis konseptual (Baer, Smith, & Allen, 2004). c) Melakukan dengan kesadaran Melakukan dengan kesadaran berarti berusaha penuh dalam melakukan sesuatu tanpa membagi perhatian atau berfokus pada satu hal pada satu waktu (Hanh, 1976).

(53) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 33 d) Menerima tanpa menilai Aspek ini berkaitan dengan kemampuan menerima, mengijinkan dan tidak menilai atau mengevaluasi pengalaman saat ini (Baer, Smith, & Allen, 2004). Untuk dapat menerima tanpa menilai, manusia harus mampu menahan diri untuk tidak menggunakan label evaluasi berupa benar atau salah, baik atau jelek, bernilai atau tidak bernilai (Marlatt & Kristeller, 1999) dan mengijinkan realitas terjadi tanpa usaha untuk menghindari, lari atau mengubahnya (Dimidjian & Linchan, 2003a, 2003b; Linehan, 1993b; Segal et al., 2002). Dari penjabaran di atas, peneliti menyimpulkan aspek dalam mindfulness dibagi menjadi 4 aspek, yaitu mengamati, menggambarkan, melakukan dengan kesadaran, dan menerima tanpa menilai. Aspek mengamati menekankan adanya keterlibatan individu terhadap pengalaman. Aspek menggambarkan menekankan pada menandai pengalaman dengan kata-kata. Aspek melakukan dengan kesadaran menekankan pada individu yang tidak membagi perhatian saat terlibat pada suatu pengalaman dengan pengalaman lainnya. Selain itu, aspek menerima tanpa menilai menekankan pada menahan diri untuk tidak memberikan label evaluatif terhadap pengalaman. 3. Faktor yang Memprediksi Mindfulness Mindfulness muncul karena adanya kelekatan yang aman yang menghasilkan rasa aman, rasa aman ini baik secara empiris dan

(54) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 34 teoritikal dapat menumbuhkan kemampuan mindfulness bagi setiap individu (Fonagy & Target, 1997; Hodgins & Knee, 2002; Carson, Carson, Gil, & Baucom, 2004; Brown, Ryan, & Creswell, 2007). Orang yang memiliki mempunyai pengasuh pengalaman diperhatikan, direspon & yang sensitif akan mengembangkan kemampuan mindfulness anak (Fonagy & Target, 1997; Ryan, 2005). Hal ini dikarenakan pengasuh dapat menjadi reflektif bagi anak sehingga anak dapat merasakan sensasi pada indra mereka sejak dini (Fonagy & Target, 1997; Ryan, 2005). Kelekatan memfasilitasi terbentuknya mindfulness. Hal ini juga terlihat dari penelitian sebelumnya bahwa ketika seseorang memiliki anxious attachment style maka ini membentuk kemampuan mindfulness yang rendah (Walsh, Balint, Smolira, Fredericksen, & Madsen, 2009). Akan tetapi, avoidant attachment style tidak dapat menjadi prediktor seseorang memiliki kemampuan mindfulness tinggi atau rendah (Walsh, Balint, Smolira, Fredericksen, & Madsen, 2009). Berdasarkan penjabaran di atas, faktor yang dapat memprediksi mindfulness adalah kelekatan terhadap significant others. Hal ini dikarenakan dasar secara empiris dan teoritikal bahwa mindfulness membutuhkan fondasi rasa aman terhadap dunia yang dibentuk dari kelekatan terhadap significant others.

(55) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4. 35 Dampak Positif dari Mindfulness Pendekatan mindfulness sendiri yang mengolah perhatian, kesadaran dan penerimaan memberikan banyak dampak positif bagi individu. Dampak positif tersebut antara lain: a) Dapat menurunkan level yang rendah pada distress, yang termasuk pada rendahnya kecemasan, depresi, kemarahan dan kekhawatiran (Baer, 2003; Brown, Ryan, & Creswell, 2007; Grossmann, Niemann, Schmidt, & Walach, 2004). b) Dapat meningkatkan kesejahteraan psikologi individu (Carmody & Baer, 2008). c) Dapat menurunkan ruminasi dalam diri individu (Didonna, 2009). d) Dapat menurunkan agresi dan atribusi terhadap permusuhan (Heppner, Kernis, Lakey, Campbell, Goldman, Davis, & Cascio, 2008). e) Mindfulness dianggap dapat mengolah jalan pikiran kita menjadi lebih baik karena ia dapat mengatur pikiran kita (Bhikkhu, 2007). Hal ini dapat membantu proses pengolahan kualitas mental kita seperti kesiapan, konsentrasi, kasih sayang dang usaha kita (Diddona, 2009). Mindfulness dapat membuat kita lebih gembira, menginspirasi, bersyukur, penuh pengharapan, berisi, dan lebih puas akan kehidupan (Baer,

(56) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 36 Smith, Hopkins, Krietemeyer, & Toney, 2006; Brown & Ryan, 2003; Cardaciotto, Herbert, Forman, Moitra, & Farrow, 2008; Feldman, Hayes, Kumar, Greeson, & Laurenceau, 2007; Walach, Buchheld, Buttenmuller, Kleinknecht, & Schmidt, 2006). Berdasarkan data di atas, peneliti dapat menyimpulkan bahwa mindfulness memberikan dampak yang positif bagi diri individu. Dampak positif tersebut antara lain : menurunkan kecemasan, depresi, kemarahan, kekhawatiran, ruminasi agresi dan permusuhan. Selain itu, mindfulness juga dapat meningkatkan kegembiraan pada diri individu, meningkatkan rasa syukur, pengharapan, dan masih banyak lagi dampak positif dari mindfulness. 5. Dampak Mindfulness pada Remaja Penelitian sebelumnya berkaitan dengan mindfulness pada remaja masih relatif sedikit (West, 2008). Bila ditinjau berdasarkan penelitian sebelumnya berkaitan dengan mindfulness pada remaja, ditemukan bahwa mindfulness dapat menurunkan emosi yang reaktif dan evaluasi sosial pada remaja yang mengalami depresi (Britton, Shahar, Szepsenwol, & Jacobs, 2012). Selain itu, dapat menurunkan tingkat agresifitas pada remaja (Singh et al., 2007). Berdasarkan data di atas dapat disimpulkan pada remaja yang mindfulness dapat menurunkan tingkat emosi yang reaktif dan evaluasi sosial yang mengalami depresi.

(57) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 6. 37 Pengukuran Terhadap Mindfulness Berikut beberapa pengukuran terhadap mindfulness yang telah digunakan: a) Freiburg Mindfullness Inventory (FMI) didesain hanya untuk individu yang secara khusus pada orang-orang yang sebelumnya telah mempraktek meditasi mindfulness dan secara khusus item-item yang tersusun dalam skala ini tidak akan jelas bagi orang yang tidak memiliki pengalaman meditasi (Cardaciotto, Herbert, Forman, Moitra, & Farrow, 2005). b) The Mindful Attention Awareness Scale (MAAS; Brown & Ryan, 2003) didesain untuk mengukur mindfulness yang ditetapkan melalui pengalaman sekarang ini yang menjadi pusat perhatian dan kesadaran (Brown & Ryan, 2003). Skala ini dibangun secara unidimensional dan item-itemnya tidak memasukkan komponen penerimaan karena dianggap tidak memiliki kegunaan (Cardaciotto, Herbert, Forman, Moitra, & Farrow, 2005). c) Philadelphia Mindfullness Scale adalah sebuah skala yang dianggap merupakan perbaikan dari skala MAAS dan FMI (Cardaciotto, Herbert, Forman, Moitra, & Farrow, 2005). Skala ini memasukkan kedua komponen yang merupakan

(58) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 38 konstruk dari mindfulness yaitu kesadaran dan penerimaan (Cardaciotto, Herbert, Forman, Moitra, & Farrow, 2005). d) Kentucky Inventory of Mindfulness Skills (KIMS) didesain untuk mengukur mindfulness di dalam kehidupan sehari-hari dengan 4 dimensi yaitu observasi kepada diri, menggambarkan dan memberikan label terhadap fenomena tanpa menilai fenomena tersebut, serta berperilaku tanpa membagi perhatian lalu menerima kejadian atau pengalaman tersebut (Hoffling, Strohle, Michalak, & Heidenreich, 2011). KIMS sendiri terdiri dari 39 items pernyataan dan dirating dengan 5 point likert scale (Hoffling, Strohle, Michalak, & Heidenreich, 2011). KIMS memiliki internal konsistensi yang baik yaitu berkisar pada 0,83 hingga 0,91 untuk masing-masing subskala (Baer, Smith, & Allen, 2004). Dari beberapa alat ukur mengenai kemampuan mindfulness, peneliti menggunakan Kentucky Inventory of Mindfulness Skills (KIMS). Hal ini dikarenakan KIMS memiliki internal konsistensi yang baik yaitu berkisar pada 0,83 hingga 0,91 untuk masing-masing subskala (Baer, Smith, & Allen, 2004). Selain itu, Peneliti memilih skala ini untuk mengukur mindfulness karena skala KIMS mampu mengungkap kemampuan berpikir mindful seseorang dalam kehidupan sehari-hari tanpa harus melakukan latihan dan skala ini memiliki subskala yang sangat spesifik menggambarkan kemampuan mindfulness seseorang. Sedangkan

(59) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 39 skala lainnya, yang dapat menggambarkan kemampuan mindfulness seseorang tanpa latihan seperti The Mindful Attention Awareness Scale (MAAS) dan Philadelphia Mindfullness Scale (PMS) kurang menyeluruh dalam menggambarkan kemampuan mindfulness. MAAS sendiri diketahui tidak memasukkan aspek penerimaan pada komponen-komponen aitemnya, padahal aspek penerimaan merupakan aspek kunci dalam menggambarkan mindfulness. Di sisi lain, peneliti sudah pernah menggunakan skala PMS dalam penelitian payung bersama mahasiswa dan dosen. Ketika menggunakan skala PMS, hasil dari mindfulness pada subyek tidak begitu bervariasi, sehingga disimpulkan PMS pada populasi remaja saat itu kurang baik. D. Remaja Bagian dari suatu tahapan perkembangan manusia adalah remaja. Remaja memberikan rentangan masa transisi dari masa anak ke dewasa yang ditandai dengan perkembangan biologis, psikologis, moral dan agama, kognitif dan sosial (Sarwono, 2011). 1. Pengertian Remaja a) Batasan remaja menurut Hurlock (dalam Santrock, 2007): Remaja adalah terbagi menjadi dua rentang usia. Pertama adalah masa remaja awal dengan rentang usia 10 tahun hingga 17 tahun. Kedua adalah masa remaja akhir dengan rentang usia 18 tahun hingga 22 tahun.

(60) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 40 Pada masa perkembangan ini terjadi perubahan secara biologis kognitif dan sosio-emosional. Perubahan secara biologis dengan kematangan organ reproduksi, perubahan hormonal, perubahan dalam keterampilan motorik, perkembangan otak, perubahan fisik pada diri individu. Perubahan secara kognitif adalah melibatkan perubahan pada pemikiran, mampu berpikir abstrak dan mampu berpikir lebih luas. Sedangkan perubahan secara sosio-emosional ditandai dengan perubahan dalam hal emosi, kepribadian, relasi dengan orang lain. Perubahan secara sosio-emosional ini dapat dilihat dengan mulainya remaja dalam menanggapi perkataan orang tua, agresi terhadap kawan-kawan sebaya, kegembiraan bersama kawan-kawan sebaya, dan mulainya terlibat dalam hubungan romantis. b) Batasan remaja menurut WHO dan diakui secara Internasional: Pada 1974, WHO memberikan definisi mengenai remaja secara konseptual, Remaja memiliki 3 kriteria baik secara biologis, psikologis, dan sosio-ekonomi, antara lain (Sarwono, 2011): Remaja memasuki suatu masa dimana : 1) Individu berkembang pada saat berkembangnya kelamin sekundernya hingga kematangan kelamin primernya. 2) Individu mengalami kematangan psikologisnya yaitu mulai berusaha mengindentifikasikan dirinya yang merupakan bagian masa kanak-kanak menuju dewasa.

(61) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 41 3) Terjadi peralihan ketergantungan sosio-ekonomi yang penuh kepada keadaan relatif mandiri. WHO menetapkan kurun waktu remaja menjadi 2 bagian yaitu kurun waktu pertama berada pada usia 10-14 tahun dan kurun waktu kedua adalah remaja akhir 15-20 tahun (Sarwono, 2011). Berdasarkan definisi mengenai remaja di atas, peneliti menyimpulkan bahwa remaja adalah sebuah masa transisi dari anakanak menuju dewasa dengan rentangan usia 10 hingga 22 tahun. Selain itu, remaja memiliki karakteristik berupa penyempurnaan pada fungsi alat kelaminnya yaitu dalam hal kemampuan untuk bereproduksi, mereka berusaha mencari jati diri mereka dengan mengidentifikasi diri mereka dan mereka berusaha untuk ingin mandiri. 2. Perkembangan Kognitif Remaja Dalam teori perkembangan kognitif Piaget masa remaja adalah masa transisi dari penggunaan berpikir konkret secara operasional ke berfikir formal secara operasional (Pappalia, 2008). Remaja mulai menyadari batasan-batasan pikiran mereka dan mampu untuk berpikir abstrak (Papplia, 2008). Mereka berusaha dengan konsep-konsep yang jauh dari pengalaman mereka sendiri (Pappalia, 2008). Mereka menilai pengalaman dengan masalah yang kompleks, tuntutan dari pengajaran formal dan tukar menukar ide yang berlawanan dengan

(62) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 42 kelompok remaja, diperlukan untuk perkembangan berpikir secara operasional (Papplia, 2008). Berdasarkan data di atas, peneliti menyimpulkan bahwa perubahan pada tahapan kognitif remaja terletak pada perkembangan untuk mampu berpikir abstrak. Buah dari kemampuan remaja berpikir abstrak adalah mereka mampu menyadari batasan-batasan pikiran, memiliki strategi yang lebih luas, adanya pengembangan pengetahuan dan mengkonstruksi diri dengan pengetahuan yang baru. 3. Ketidakmatangan Cara Berpikir Remaja Remaja terlibat dalam perkembangan cara berpikir mereka, mereka berusaha memahami apa yang terjadi pada diri mereka baik perubahan yang terjadi pada diri mereka dan bagaimana mereka harus bersikap (Papplia, 2008). Menurut seorang psikolog David Elkind (dalam Papplia, 2008), beliau mengatakan bahwa ketika proses transisi terkadang remaja terlibat dalam ketidakmatangan yang terwakilkan melalui enam ciri sikap, antara lain: a) Idealisme dan suka mengkhritik Ketika remaja telah memiliki pemikiran tentang dunia ideal yang mereka miliki, mereka akan menyadari bahwa dunia nyata seperti orang tua atau guru yang mereka anggap bertanggungjawab akan diri mereka, berlaku tidak sesuai dengan dunia ideal. Hal ini akan membuat mereka akan menunjukkan sikap idealisme dan suka mengkritik.

(63) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 43 b) Sifat argumentatif Remaja selalu ingin menunjukkan kemampuan mereka dalam melakukan penalaran, mereka berusaha memamerkan kelihaian mereka dengan sering berdebat, mencari alasan dan sifat-sifat argumentatif lainnya. c) Sulit memutuskan sesuatu Remaja dapat memberikan alternatif pemikiran dalam waktu yang sama ketika mendapat permasalahan, namun mereka kurang dapat memutuskan cara yang paling efektif dan efisien bagi pemecahan masalah tersebut. d) Kemunafikan yang tampak nyata Remaja sering kali tidak menyadari adanya perbedaan dari mengekspresikan sesuatu yang menurut mereka ideal, seperti mengerti keadaan ekonomi keluarga dengan membuat pengorbanan yang diperlukan untuk hal tersebut seperti tidak meminta hal-hal yang tidak “penting” kepada orang tua mereka. e) Kesadaran diri Hal ini menekankan ketika remaja telah mampu berpikir mengenai dirinya sendiri dan orang lain dan terkadang remaja tersebut terjebak dengan pemikiran bahwa orang lain selalu berpikiran sama dengan dirinya.

(64) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 44 f) Keistimewaan dan kekuatan Bahwa keyakinan remaja bahwa diri mereka adalah sosok yang istimewa, keberadaan mereka unik dan bahwa pemikiran bahwa tidak harus menaati semua peraturan yang memerintah mereka. Berdasarkan data di atas, peneliti dapat menyimpulkan bahwa karakteristik cara berpikir remaja adalah mereka cenderung masih tidak matang yang terwakilkan dari beberapa ciri. Ciri-ciri tersebut antara lain : sikap yang idealis terlepas dari mereka salah atau benar, ingin berdebat dan mencari-cari alasan, keputusan yang tidak efisien dan efektif, sering berperilaku yang tidak sesuai dengan yang diucapkan, sulit menggunakan sudut pandang orang lain dan merasa diri paling istimewa. E. Kaitan Antara Kelekatan Terhadap Ibu, Mindfulness dengan Rejection Sensitivity pada Remaja Kecenderungan rejection sensitivity yang tinggi memberikan dampak negatif bagi remaja. remaja dengan rejection sensitivity yang tinggi memiliki stressor yang tinggi dan gejala depresi (Chango, McElhaney, Allen, Schad, & Marston, 2012). Selain itu, remaja dengan rejection sensitivity yang tinggi juga memiliki penghargaan diri yang rendah dan tingkat kepuasaan akan keluarga yang rendah (Overall & Sibley, 2009). Di sisi lain, remaja dengan rejection sensitivity yang tinggi berasosiasi dengan perilaku kacau dan

(65) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 45 membolos lebih dari satu tahun (Romero, Canyas, Downey, Berenson, Ayduk, & Jan Kang, 2010), serta meningkatkan agresi itu sendiri (Romero, Canyas, Downey, Berenson, Ayduk, & Jan Kang, 2010). Kecenderungan rejection sensitivity yang tinggi pada diri remaja akan lebih mudah untuk membuat remaja berkonflik dengan orang lain. Hal ini diperkuat dengan penelitian sebelumnya bahwa remaja usia 10-23 tahun dengan rejection sensitivity yang tinggi memiliki emosi lebih reaktif yang membuat mereka mudah berkonflik dengan sebayanya maupun otoritasnya (Silvers, McRae, Gabrieli, Gross, Remy, & Ochsner, 2012). Selain itu, karakteristik emosional remaja yang memang memiliki kecenderungan untuk lebih reaktif, meledak-ledak, dan sulit untuk menggunakan sudut pandang orang lain (Elkind dalam Papplia, 2008). Ketika remaja tersebut merasa tertolak atau hanya ekspektasi bahwa ia telah ditolak, remaja tidak akan berusaha menggunakan sudut pandang orang lain untuk berpikir sehingga remaja akan cenderung merespon secara reaktif dengan emosi yang tidak terkontrol. Faktor yang dapat memprediksi orang akan memiliki kecenderungan rejection sensitivity yang tinggi adalah kelekatan terhadap significant other-nya. Hal ini ditunjukkan dengan penelitian sebelumnya yang menemukan bahwa gaya kelekatan anxious berkorelasi positif dan gaya kelekatan avoidant berkorelasi positif dengan rejection sensitivity (Ozen, Sumer, & Demir, 2011).

(66) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 46 Sedangkan gaya kelekatan yang aman berkorelasi negatif dengan rejection sensitivity (Ozen, Sumer, & Demir, 2011). Selain itu, rejection sensitivity yang tinggi akan muncul jika penolakan kelompok tinggi, penerimaan orang tua rendah dan kualitas pertemanan rendah (McLachlan, Zimmer, Gembeck, & McGregor, 2010). Di sisi lain, penerimaan anak akan gaya pengasuhan otoriter juga berkorelasi positif dengan rejection sensitivity yang tinggi (Cardak, Saricam, & Onur, 2012). Salah satu aspek dari kelekatan adalah rasa keterasingan. Hal ini dapat muncul ketika orang tua terkhususnya ibu mengabaikan anaknya, berperilaku ambivalen, atau memberikan penolakan secara konsisten. Rasa terasing ini adalah hasil dari sebuah bentuk penolakan yang membentuk skema bahwa dunia juga akan bertindak sama, yaitu menolak mereka. Hal ini mengakibatkan seseorang memiliki kecenderungan untuk memiliki rejection sensitivity yang tinggi ketika berada pada lingkungan sosial yang mereka asosiasikan sama dengan pengalaman penolakan sebelumnya. Berdasarkan saran dari penelitian sebelumnya, telah banyak ditemukan dampak negatif dari rejection sensitivity dan kurang adanya penelitian yang menemukan prediktor yang dapat memprediksi intensitas rejection sensitivity. Hal ini membuat perlu dilakukan penelitian yang berhubungan dengan prediktor yang dapat memprediksi intensitas rejection sensitivity (Ayduk, Mendoza, Denton, Mischel, & Downey, 2000; Ayduk, Mischel, & Downey,

(67) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 47 2002: Ayduk, Gyurak, & Luerssen, 2007; Romero et al., 2010; Cardak, Saricam, & Onur, 2012). Berdasarkan penelitian sebelumnya ditemukan bahwa salah satu prediktor yang dapat memprediksi tingkat rejection sensitivity adalah delayed gratification (Ayduk, Mendoza, Denton, Mischel, & Downey, 2000). Regulasi diri dengan delayed gratification memunculkan konsep mengenai kontrol diri yang mungkin bertahan jika seseorang percaya proses penundaan tersebut menghasilkan gratifikasi atau hasil yang besar (Mischel, 1974). Delayed gratification sendiri melibatkan proses berpikir mindfulness di dalamnya (Langer, 2000). Hal ini dikarenakan seseorang akan mampu mengontol dirinya, ketika ia menyadari pengalaman tersebut dan menerima pengalaman tersebut karena meyakini bahwa selalu ada sesuatu yang besar yang akan ia dapatkan dari suatu proses pengalaman (Langer, 2000). Mindfulness dapat memprediksi tingkat rejection sensitivity pada diri individu. Hal ini didukung penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa mindfulness dapat memprediksi tingkat kecemasan yang rendah akan penolakan (Mckee, Zvolensky, Solomon, Bernstein, & Feldner, 2007). Hal ini dikarenakan aspek utama dari mindfulness adalah kesadaran dan penerimaan terhadap pengalaman. Ketika orang sadar akan pengalaman saat ini, ia tidak mudah terdistorsi oleh pengalaman masa lalu termasuk pengalaman

(68) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 48 penolakan sekalipun. Selain itu, ketika orang terbuka akan pengalaman dan telah mampu menerima pengalamannya, ia tentu juga akan mampu menerima baik pengalaman yang mungkin menyenangkan ataupun tidak menyenangkan sekalipun termasuk pengalaman akan penolakan. Orang dengan mindfulness juga memiliki kemampuan untuk mengontrol dirinya, termasuk mengontrol baik pikiran, emosi, dan perilakunya. Hal ini dapat menuntun orang untuk tidak reaktif terhadap pengalaman-pengalaman yang dilalui termasuk pengalaman penolakan sekalipun. Faktor yang dapat memprediksi mindfulness seseorang adalah kelekatan orang dengan significant others-nya. Melalui penelitian sebelumnya telah terbukti secara empiris maupun teoritikal bahwa mindfulness membutuhkan rasa aman terhadap dunia yang terbentuk dari kelekatan individu sejak bayi dengan significant others-nya (Fonagy & Target, 1997; Hodgins & Knee, 2002; Carson, Carson, Gil, & Baucom, 2004; Brown, Ryan, & Creswell, 2007). Kedua aspek dari kelekatan yaitu perasaan percaya yang diberikan significant others dan komunikasi yang baik antara significant others dengan anak dapat membentuk mindfulness anak. Hal ini dikarenakan kedua aspek tersebut menjadi media anak untuk dapat merefleksikan pengalamannya sedari kecil dan melatih pola berpikir mindful mereka. Selain itu, mereka juga membentuk skema dunia yang aman sehingga

(69) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 49 membuat mereka akan semakin terbuka dengan pengalaman dan terbiasa untuk menyadari pengalaman mereka. Skema 1 Kaitan Antara Variabel Kepercayaan Komunikasi Rasa Aman Mindfulness Kelekatan Terhadap Ibu Kesadaran Diri Penerimaan Diri Kontrol Diri Rejection Sensitivity Rejection Keterasingan Rasa Tidak Aman F. Hipotesis Berdasarkan penjabaran di atas, peneliti menarik beberapa hipotesis, antara lain : 1. Kelekatan terhadap ibu dapat memprediksi intensitas rejection sensitivity pada remaja. 2. Mindfulness dapat memprediksi intensitas rejection sensitivity pada remaja. 3. Kelekatan terhadap ibu dapat memprediksi mindfulness pada remaja. 4. Mindfulness dapat memediasi antara kelekatan terhadap ibu dengan rejection sensitivity pada remaja.

(70) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian adalah penelitian kuantitatif korelasional. Penelitian kuantitatif adalah pendekatan analisis yang menggunakan data numerik yang nantinya akan diolah menggunakan perhitungan statistik. Penelitian korelasional adalah penelitian yang ingin mengukur variasi hubungan antara sifat alami dari variabel melalui koefisien korelasinya (Zechmeister, Zechmeister, & Shaughnessy, 2001). Penelitian ini ingin melihat apakah Mindfulness dapat memediasi antara kelekatan terhadap significant others (ibu) dengan intensitas rejection sensitivity pada remaja. B. C. Identifikasi Variabel Penelitian 1. Variabel bebas : Kelekatan terhadap Ibu 2. Variabel tergantung : Rejection Sensitivity 3. Variabel mediator : Mindfulness Definisi Operasional 1. Rejection Sensitivity Rejection sensitivity adalah kecenderungan orang untuk merasa cemas, merasa peka dan bereaksi pada penolakan dari lingkungannya, baik orang-orang dekatnya maupun orang di sekitarnya (Downey & Feldman, 1996; Downey, Lebolt, Rincon, & Freitas, 1998; Feldman & 50

(71) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 51 Downey, 1994). Rejection Sensitivity ini diukur dengan Rejection Sensitivity Questionnaire. RSQ terdiri dari 3 dimensi yaitu ekspektasi kecemasan yang terfokus pada kejadian (penolakan), ekspektasi kemarahan yang terfokus pada kejadian (penolakan) dan ekpektasi penerimaan mereka terhadap penolakan (Downey & Feldman, 1996). Semakin tinggi skor untuk ketiga aspek di atas maka terdapat rejection sensitivity yang tinggi, sebaliknya semakin rendah skor untuk ketiga aspek di atas maka terdapat rejection sensitivity yang rendah. 2. Kelekatan Terhadap Ibu Kelekatan adalah suatu ikatan emosional yang kuat antara bayi dan pengasuhnya (Bowlby, 1969; 1979). Kelekatan terhadap Ibu diukur dengan Inventory of Parent and Peer Attachment (Mother Version) (Greenberg & Armsden, 2009) (IPPA). The IPPA-M ini dikembangkan untuk melihat persepsi positif dan negatif remaja terhadap dimensi afektif dan kognitif terhadap hubungan dengan orang tua terkhususnya ibu (Greenberg & Armsden, 2009). Secara khusus, sejauh mana figur ibu menyediakan sumber rasa aman secara psikologis (Greenberg & Armsden, 2009). The IPPA terdiri dari 3 dimensi yaitu tingkatan mutual dari rasa percaya, kualitas komunikasi, dan tingkat rasa marah (keterasingan) (Greenberg & Armsden, 2009). Bila skor tingkat keterasingan cenderung tinggi dan kedua aspek lainnya rendah maka terdapat kecenderungan adanya kelekatan aman yang rendah, sebaliknya bila skor tingkat keterasingan cenderung

(72) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 52 rendah dan kedua aspek lainnya tinggi atau sedang maka terdapat kecenderungan kelekatan aman yang tinggi. 3. Mindfulness Menurut Marlatt & Kristeller (dalam Baer, 2003), kata mindfulness dapat dideskripsikan sebagai “memberikan perhatian kepada pengalaman saat ini dari waktu ke waktu”. Orang yang dikatakan mindfulness adalah orang yang memiliki kecenderungan yang tinggi akan kesadaran terhadap pengalaman internal dan eksternalnya dengan menerimanya serta tanpa melakukan penilaian terhadap pengalaman tersebut (Cardaciotto, Herbert, Forman, Moitra, & Farrow, 2005). Mindfulness diukur dengan skala Kentucky Inventory of Mindfulness Skills (KIMS). Skala ini didesain untuk mengukur mindfulness di dalam kehidupan sehari-hari dengan 4 dimensi yaitu observasi, menggambarkan, berperilaku dengan sadar, dan menerima tanpa menilai (Baer, Smith, & Allen, 2004). Bila skor dari penjumlahan keempat aspek adalah tinggi, maka akan semakin menggambarkan tingkat kemampuan mindfulness seseorang. D. Subyek Penelitian Subyek penelitian adalah orang-orang yang menjadi sumber data dari penelitian, memiliki karakteristik yang sesuai variabel penelitian dan pada dasarnya yang akan dikenai kesimpulan hasil penelitian (Azwar, 1997). Penentuan subyek penelitian menggunakan kuota sampling. Kuota sampling

(73) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 53 adalah teknik untuk memilih subyek yang mempunyai ciri-ciri yang sesuai dengan karakteristik subyek penelitian dan sebelumnya telah ditentukan kuota yang diinginkan (Sugiyono, 2011). Dalam hal ini kuota yang ditentukan adalah 300 subyek. Subyek dalam penelitian ini adalah remaja dengan rentang usia 10 hingga 22 tahun. Pada rentang usia ini, mereka diasumsikan memiliki emosi yang masih belum stabil atau reaktif. Hal ini adalah dapat memancing mereka untuk bereaksi berlebihan ketika menghadapi suatu penolakan. Disisi lain, remaja dianggap telah memiliki kognitif yang sudah mampu berpikir abstrak, sehingga dapat mempersepsikan secara positif dan negatif mengenai afeksi dan kognitif hubungan mereka dengan orang tua terkhususnya ibu. Selain itu, dalam rentang usia ini remaja juga diidentifikasikan memiliki kesadaran diri yang lemah, sehingga kurang dapat menggunakan sudut pandang orang lain. Kesadaran diri adalah salah satu aspek dari mindfulness. E. Prosedur Penelitian Penelitian ini menggunakan skala yang disebarkan pada remaja di beberapa sekolah SMP, SMA, dan SMK di Kota Yogyakarta dan Kabupaten Sleman, Yogyakarta yang bersedia mengisi angket. Peneliti benar-benar berupaya menjaga identitas para subyek penelitian. Adapun prosedur pelaksanaan angket, subyek penelitian yang telah menerima angket diminta untuk membaca membaca informed consent dan memberikan tanda tangan

(74) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 54 persetujuan untuk menjadi subyek penelitian pada lembar angket. Lalu peneliti menjelaskan instruksi pengerjaan angket secara klasikal di depan kelas dan angket dibawa pulang lalu diisikan di rumah. Kemudian, Angket yang telah diisi akan dimasukkan kembali pada amlop yang telah disediakan dan ditutup dengan rapat, dan pada hari berikutnya peneliti mengumpulkannya kembali angket-angket tersebut. F. Metode Pengumpulan Data 1. Metode Metode pengumpulan data menggunakan metode skala. Skala adalah alat ukur psikologis dalam bentuk pernyataan-pernyataan atau pertanyaan-pertanyaan yang disesuaikan dengan karakteristik variabel (Azwar, 1997). Hal ini diharapkan dapat membuat respon seseorang terhadap pertanyaan atau pernyataan tersebut dapat diberi penilaian atau skor dan dapat diinterpretasikan (Azwar, 1997). Peneliti memilih menggunakan skala karena respon jawaban dari subyek terhadap pernyataan-pernyataan yang ada sesuai dengan kondisi diri sehingga mengurangi adanya faking. Selain itu, metode skala dapat mewakili desain dari penelitian ini. 2. Alat Pengumpulan Data Penelitian ini menggunakan skala pengukuran berupa skala likert. Skala likert sendiri adalah skala yang mengukur sikap, pendapat dan persepsi seseorang atau sekelompok orang terhadap suatu

(75) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 55 fenomena. (Sugiyono, 2011). Fenomena ini telah ditentukan oleh peneliti menjadi sebuah variabel (Sugiyono, 2011). Berikut skala-skala yang digunakan dalam penelitian ini: a) Kentucky Inventory of Mindfulness Skills (KIMS) Pada skala untuk variabel mindfulness yaitu Kentucky Inventory of Mindfulness Skills (KIMS). Skala Kentucky Inventory of Mindfulness Skills ini terdiri dari 4 dimensi yaitu observasi, menggambarkan, berperilaku dengan sadar dan menerima tanpa menilai (Baer, Smith, & Allen, 2004). Skala berupa rentang angka 1 sampai dengan 5. Rentang skala 1 berarti tidak pernah atau sangat jarang dialami, rentang skala 2 berarti jarang dialami, rentang skala 3 berarti kadang-kadang dialami, rentang skala 4 berarti sering dialami, dan skala 5 berarti hampir selalu atau selalu dialami. Skala Mindfulness yang akan diadaptasi ini terdiri dari 39 aitem 22 favorable dan 17 aitem unfavorable. Tabel 1 Skor Jawaban Subyek pada Skala Kentucky Inventory of Mindfulness Skills Respon Favorable Unfavorable Tidak Pernah / Sangat Jarang 1 5 Dialami Jarang Dialami 2 4 Kadang-Kadang Dialami 3 3 Sering Dialami 4 2 Hampir Selalu / Selalu 5 1 Dialami

(76) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 56 b) Children Rejection Sensitivity Questionnaire Skala untuk mengukur variabel rejection sensitivity adalah Children Rejection Sensitivity Questionnaire. Masing-masing aitem terdiri dari 6 alternatif respon yang tersusun dari satu garis kontinum dengan jawaban “sangat positif” di kanan dan “sangat negatif” di kiri. Pada penelitian ini, jawaban tidak khawatir berada di kiri garis dan sangat-sangat khawatir berada di kanan pada dimensi ekspektasi kecemasan. Jawaban tidak marah berada di kiri garis dan sangat-sangat marah di berada di kanan pada dimensi ekspektasi kemarahan. Selain itu, jawaban ya berada di kiri garis dan tidak di kanan garis pada dimensi penerimaan terhadap penolakan. 1 2 3 4 Tidak Khawatir 1 2 3 4 5 6 Sangat-Sangat Marah 2 3 4 Ya Skala 6 Sangat-Sangat Khawatir Tidak Marah 1 5 5 6 Tidak Children Rejection Sensitivity Questionnaire yang diterjemahkan terdiri dari 12 skenario cerita, yang terdiri dari 10 aitem favorable dan 2 aitem unfavorable untuk masing-masing dimensi

(77) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 57 yaitu dimensi ekspektasi kecemasan, dimensi ekspektasi kemarahan dan dimensi ekspektasi penerimaan terhadap penolakan. Walaupun skala ini menggunakan kata children, namun rentang usia untuk skala ini adalah berkisar dari (Kelas 5) hingga sekolah menengah atas (Downey & Feldman, 1996). 1) Skor untuk skala favorable adalah: 1 (Tidak Cemas / Tidak Marah / Ya) =1 2 =2 3 =3 4 =4 5 (Sangat-Sangat Cemas / Sangat-Sangat Marah / Tidak) = 5 2) Skor untuk skala unfavorable adalah: 1 (Tidak Cemas / Tidak Marah / Ya) =5 2 =4 3 =3 4 =2 5 (Sangat-Sangat Cemas / Sangat-Sangat Marah / Tidak) = 1 c) Inventory of Parent and Peer Attachment (Mother Version) Pada skala untuk variabel kelekatan terhadap ibu menggunakan Inventory of Parent and Peer Attachment (Mother Version). Skala berupa rentang jawaban dari hampir tidak pernah atau tidak benar, sering tidak benar, kadang-kadang benar, sering benar, dan hampir selalu atau selalu benar.

(78) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 58 Skala kelekatan terhadap ibu yang akan diadaptasi ini terdiri dari 25 aitem yaitu 15 aitem favorable dan 10 aitem unfavorable. Tabel 2 Skor Jawaban Subyek pada Skala Inventory of Parent and Peer Attachment (Mother Version) Respon Favorable Unfavorable Hampir tidak pernah atau 1 5 tidak benar Sering tidak benar 2 4 Kadang-Kadang benar 3 3 Sering benar 4 2 Hampir selalu atau selalu 5 1 benar Skala Inventory of Parent and Peer Attachment (Mother Version). ini terdiri dari 3 dimensi yaitu tingkatan rasa percaya, kualitas komunikasi dan tingkat marah (keterasingan) (Greenberg & Armsden, 2009). Skala yang akan diterjemahkan ini terdiri dari 25 aitem dan berikut blueprint skala ini (Baer, Smith, & Allen, 2004). G. Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur 1. Validitas Skala Mindfulness, Kelekatan Terhadap Ibu dan Rejection Sensitivity Validitas adalah ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur skala untuk benar-benar mengukur apa yang hendak diukur (Azwar, 1999). Suatu alat pengukuran dikatakan memiliki validitas yang baik jika alat pengukuran tersebut menjalankan fungsi ukurnya, atau memberikan hasil ukur, yang sesuai dengan maksud dilakukannya pengukuran tersebut. Dalam penelitian ini uji validitas digunakan

(79) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 59 untuk mengetahui sejauh mana skala Kentucky Inventory of Mindfulness Skills yang diadaptasi oleh peneliti dapat benar-benar memiliki ketepatan dan kecermatan untuk menggambarkan tingkat mindfulness pada subyek. Selain itu, uji ini juga dilakukan pada skala Inventory of Parent and Peer Attachment (Mother Version) dan Children Rejection Sensitivity Questionnaire yang diadaptasi peneliti agar benar-benar dapat mengungkapkan tingkat kelekatan terhadap ibu dan rejection sensitivity pada subyek. a) Validitas Alat Ukur a) Skala Kentucky Inventory of Mindfulness Skills Dalam hal ini, skala KIMS diuji validitasnya dengan melakukan validitas konkruen. Validitas konkruen adalah validitas yang mengacu pada suatu alat ukur yang perangkat alat ukurnya yang sudah ada dan telah valid (Azwar, 2008). Validitas KIMS diuji dikorelasikan dengan MAAS (Baer, Smith, & Allen, 2004). MAAS sendiri secara spesifik mengukur tingkat kesadaran pada pengalaman individu (Baer, Smith, & Allen, 2004). Uji validitas konkruen ini dilakukan pada 115 murid (Baer, Smith, & Allen, 2004). KIMS dilaporkan memiliki korelasi yang kuat dengan MAAS pada subskala yang berhubungan dengan kesadaran (r = 0,57 , p < 0,0001). dan memiliki korelasi yang sedang

(80) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 60 pada subskala menggambarkan (r = 0,24 , p < 0,05) dan menerima tanpa menilai (r = 0,30 , p < 0,001). dan tidak signifikan berkorelasi dengan mengamati (r = 0,02) (Baer, Smith, & Allen, 2004). KIMS juga diuji korelasinya dengan beberapa skala lainnya antara lain: KIMS diuji dengan skala GSI (Skala yang berhubungan dengan kesehatan mental) dan TMSS (skala yang berhubungan dengan kecerdasan emosi) (Baer, Smith, & Allen, 2004). Tiga dari 4 subskala KIMS berasosiasi dengan GSI dan TMSS (Baer, Smith, & Allen, 2004). KIMS juga ditemukan berkorelasi negatif dan signifikan dengan Alexithymia (gangguan kecenderungan dalam mendefinisikan perasaaan) dan pengalaman penolakan (Baer, Smith, & Allen, 2004). Selain itu, KIMS memiliki korelasi yang rendah dengan pengalaman disosiatif dan impression management (Baer, Smith, & Allen, 2004). Di sisi lain, KIMS memiliki korelasi yang positif dan signifikan dengan kepuasan hidup (Baer, Smith, & Allen, 2004). b) Skala Children Rejection Sensitivity Questionnaire Validitas skala CRSQ diuji dengan melakukan validitas konstruk. Validitas konstruk adalah validitas yang

(81) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 61 menunjukkan bahwa tes mengungkap suatu konstruk teoritik yang hendak diukurnya (Azwar, 2008). Hasil korelasi ditemukan bahwa atribusi dari intensi permusuhan berkorelasi signifikan dengan ekpektasi kemarahan terhadap penolakan (r(98) = 0,28, p < 0,01) dan reaksi kemarahan terhadap intensi penolakan yang ambigu (r(98) = 0,30, p < 0,01) (Downey, Lebolt, Rincon, & Freitas, 1998). Selain itu, penerimaan kompetensi sosial berkorelasi negatif signifikan dengan ekpektasi kemarahan terhadap penolakan (r(172) = -0,26, p < 0,001) (Downey, Lebolt, Rincon, & Freitas, 1998). Akan tetapi, tidak dengan reaksi kemarahan terhadap penolakan (r(172) = 0,06) (Downey, Lebolt, Rincon, & Freitas, 1998). Di sisi lain, penerimaan kompentensi perilaku berkorelasi negatif signifikan dengan ekspektasi kemarahan (r(172) = -0,24, p < 0,01) dan reaksi kemarahan (r(172) = -0,32, p < 0,001) (Downey, Lebolt, Rincon, & Freitas, 1998). Kedua komponen dari CRSQ berkorelasi signifikan dengan penerimaan kognitif (ekspektasi (r(172) = 0,12, p > 0,05), reaksi (r(197) = 0,13, p > 0,05) dan juga berkorelasi signifikan dengan penerimaan fisik (ekspektasi (r(172) = 0,10, p > 0,05), reaksi (r(172) = -0,06, p > 0,05) (Downey, Lebolt, Rincon, & Freitas, 1998).

(82) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 62 c) Skala Inventory of Parent and Peer Attachment (Mother Version) Skala IPPA-M diuji validitasnya dengan menggunakan validitas konkruen. Validitas konkruen adalah validitas yang mengacu pada suatu alat ukur yang perangkat alat ukurnya yang sudah ada dan telah valid (Azwar, 2008). IPPA-M memiliki korelasi yang sedang hingga tinggi dengan Family and Social Self Scores From Tennessee Self Concept Scale dan subskala pada Family Environmental Scale (Armsden & Greenberg, 1987). IPPAM juga berkorelasi sedang dengan FACES dan dengan tingkatan yang positif terhadap coping keluarga (Lewis, Woods, & Ellison, 1987). Skor dari IPPA-Mother Version juga ditemukan berasosiasi dengan beberapa variabel kepribadian (Armsden & Greenberg, 2009). Pada remaja akhir IPPA-M ditemukan berkorelasi dengan diri yang positif dan stabilitas harga diri, kepuasan hidup, dan status afektif (Armsden & Greenberg 1987). Selain itu, ditemukan bahwa kualitas kelekatan (menggunakan IPPA-Mother Version) berasosiasi dengan penggunaan lebih banyak strategi coping pemecahan masalah untuk mengatur emosi ketika muncul situasi stressfull (Armsden, 1986). Di sisi lain, juga

(83) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 63 ditemukan bahwa kelekatan (menggunakan IPPA-Mother Version) berasosiasi dengan rendahnya keputusasaan, locus kontrol eksternal dan managemen diri yang baik (Armsden et al., 1987; Lewis et al., 1987). b) Validitas Isi Yang Dilakukan Dalam Proses Penerjemahan Skala Mindfulness, Kelekatan Terhadap Ibu, dan Rejection Sensitivity. Validitas yang dilakukan peneliti adalah validitas isi. Validitas isi adalah validitas yang diestimasi melalui analisis dari professional judgement, dalam hal ini dosen pembimbing (Gregory, 2000). Hal ini bertujuan agar seluruh aitem skala yang telah diterjemahkan sesuai dengan ranah dan batasan pengukuran. Skala dalam penelitian ini diterjemahkan akan melalui teknik back-translation dan sebelumnya peneliti telah mengirimkan email kepada KIMS author, CRSQ author, dan IPPA-M author sebagai bentuk pemberitahuan bahwa skalanya akan peneliti terjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Proses Back-Translation dilakukan oleh 2 orang yang melakukan proses penerjemahan. Ketentuannya adalah 1 orang yang dianggap mahir dalam berbahasa Inggris dan 1 orang lainnya adalah orang Indonesia yang lama tinggal di luar negeri dalam hal ini negara-negara yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa ibu seperti Australia. Pertama skala asli akan

(84) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 64 diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dan kemudian hasil penerjemahan skala ke dalam Bahasa Indonesia akan diterjemahkan lagi ke dalam Bahasa Inggris. Dari proses penerjemahan ini akan memperoleh satu versi skala yang diterjemahkan. Professional judgement dalam hal ini akan membantu memberikan pertimbangan untuk membandingkan masingmasing aitem dari skala yang asli dengan skala yang diterjemahkan. Perbandingan ini bertujuan untuk melihat sejauh mana hasil dari kedua skala memiliki arti yang sama dan sesuai dengan maksud dari aitem dari skala yang asli. Sekiranya, terdapat aitem yang memiliki terjemahan yang masih jauh dari arti skala yang asli maka akan dilakukan proses revisi terhadap terjemahan skala dengan pertimbangan dosen pembimbing. Setelah proses penerjemahan selesai, maka dilakukan proses try out skala kepada 6 subyek yang memiliki karakteristik yang sama dengan subyek penelitian. Proses try out dilakukan untuk melihat kesesuaian bahasa, konteks dan pengertian dari setiap pernyataan dalam skala. Try out ini berguna untuk melihat pemahaman calon subyek penelitian terhadap pernyataan dalam skala. Hasil dari try out terhadap ketiga skala, tidak terdapat permasalahan berarti terhadap bahasa, konteks, dan pengertian

(85) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 65 dari setiap pernyataan dalam skala, sehingga dosen pembimbing menyatakan skala siap untuk digunakan. 2. Reliabilitas Skala Mindfulness, Rejection Sensitivity, dan Kelekatan Terhadap Ibu Reliabilitas mengandung makna sejauh mana hasil dari suatu alat pengukuran dapat dipercaya (Azwar, 2010). Alat pengukuran dapat dipercaya bila dalam beberapa kali pelaksanaan pengukuran terhadap kelompok subyek yang sama diperoleh hasil yang relatif sama atau dalam hal ini konsisten, selama aspek dalam diri subyek belum berubah (Azwar, 2010). a) Reliabilitas Alat ukur Reliabilitas dari alat ukur masing-masing alat ukur yang asli menggunakan reliabilitas konsistensi internal dan test-retest. Reliabilitas konsistensi internal ini diestimasi dengan ukuran-ukuran konsistensi internal masing-masing skala (Nunnaly, 1981). Dan reliabilitas test-retest adalah diestimasi dengan melihat korelasi antara hasil pengukuran yang pertama dengan hasil pengukuran yang kedua (Nunnaly, 1981). 1) Skala Kentucky Inventory of Mindfulness Skills Skala Kentucky Inventory of Mindfulness untuk setiap subskala masing-masing memiliki nilai konsistensi internal yang baik (Baer, Smith, &

(86) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Allen, 2004). Mengamati = (ɑ 66 0,91), menggambarkan (ɑ = 0,84), melakukan dengan kesadaran (ɑ = 0,83), dan menerima tanpa menilai (ɑ = 0,87) (Baer, Smith, & Allen, 2004). Selain itu, hasil dari korelasi reliabilitas testretest menunjukkan reliabilitas yang baik antara waktu yang 1 dan kedua (Baer, Smith, & Allen, 2004). Mengamati (r=0,65), menggambarkan (r=0,81), melakukan dengan kesadaran (r=0,86) dan menerima tanpa menilai (r=0,83) (Baer, Smith, & Allen, 2004). 2) Skala Children Rejection Sensitivity Questionnaire Skala Children Rejection Sensitivity Questionnaire memiliki nilai konsistensi internal sedang hingga tinggi. Ekspektasi kemarahan (ɑ = 0,79), reaksi keramahan (ɑ = 0,84), dan perasaan membenci (ɑ = 0,72) (Downey, Lebolt, Rincon, & Freitas, 1998). Selain itu, hasil dari korelasi reliabilitas testretest yang dilakukan dalam 4 minggu, menunjukkan korelasi yang tinggi yaitu ekspektasi kemarahan (r=0,85), reaksi kemarahan (r=0,90), dan

(87) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 67 perasaan membenci (r=0,85) (Downey, Lebolt, Rincon, & Freitas, 1998). 3) Skala Inventory of Parent and Peer Attachment (Mother Version). Skala Inventory Attachment (Mother of Parent Version) and Peer memiliki nilai konsistensi internal yang tinggi (ɑ = 0,87) (Armsden & Greenberg, 2009). Selain itu, memiliki korelasi reliabilitas test-retest yang dilakukan 3 minggu menunjukkan korelasi yang tinggi (r=0,93) (Armsden & Greenberg, 2009). b) Reliabilitas Skala Setelah Diterjemahkan. Reliabilitas dalam penelitian ini menggunakan reliabilitas konsistensi internal. Reliabilitas konsistensi internal ini diestimasi dengan ukuran-ukuran konsistensi internal masingmasing skala (Nunnaly, 1981). Reliabilitas konsistensi internal menggunakan teknik yang berasal dari formula Alpha Cronbach (Nunnaly, 1981). Teknik ini dapat mengestimasi konsistensi internal dengan menghitung rata-rata dari interkorelasi di antara butir-butir pernyataan skala (Nunnaly, 1981). Teknik ini dapat dilakukan dengan menggunakan analisis data SPSS 16.0 for windows.

(88) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 68 Koefisien reliabilitas berada pada rentang 0 sampai dengan 1. Bila koefisien skala semakin mendekati 1 maka dapat dikatakan skala tersebut memiliki koefisien reliabilitas yang baik (Azwar, 2010; Gregory, 2000). Berikut hasil dari reliabilitas setiap skala, setelah dilakukan tryout terhadap ketiga skala: Tabel 3 Reliability Stastistics Cronbach’s Alpha (ɑ) IPPA-M .656 KIMS .863 CRSQ .879 Dari hasil di atas, skala IPPA-M memiliki konsistensi internal yang tergolong sedang (ɑ = 0,656), skala KIMS memiliki konsistensi internal yang tergolong tinggi (ɑ = 0,863), dan skala CRSQ memiliki konsistensi internal yang tergolong tinggi (ɑ = 0,879). H. Uji Analisis Data 1. Uji Prasyarat Analisis a) Uji normalitas Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah model regresi, variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi

(89) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 69 normal (Ghozali, 2009). Hal ini dikarenakan uji KolmogrovSmirnov diasumsikan memiliki nilai residual mengikuti distribusi normal (Ghozali, 2009). Residual yang tidak terdistribusi normal biasanya dikarenakan ada data yang bersifat outlier (Ghozali, 2009). Kaidah normal untuk uji normalitas ini adalah jika p > 0,10 maka sebaran normal, sedangkan jika p < 0,10 maka sebaran tidak terdistribusi normal (Santoso, 2010). b) Uji Linearitas Uji linearitas bertujuan untuk menguji apakah model regresi atau hubungan antara variabel bebas dan variabel tergantung membentuk suatu garis lurus atau tidak (Ghozali, 2009). Kaidah untuk uji ini adalah jika p < 0,05 maka hubungan antara variabel bebas dan tergantung linear, sedangkan jika nilai p > 0,05 maka hubungan antara variabel bebas dan tergantung tidak linear (Ghozali, 2009). Hubungan yang linear berarti kuantitas data pada variabel tergantung akan meningkat atau menurun bersama dengan variabel bebas secara linear (Santoso, 2010). c) Uji Multikolonieritas Uji multikolonieritas bertujuan untuk menguji apakah model regresi yang ditemukan terdapat korelasi antara variabel bebas (Ghozali, 2009). Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi di antara variabel bebas (Ghozali, 2009).

(90) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 70 Jika nilai VIF dalam output SPSS tidak ada yang melebihi 10.0 dan nilai tolerance tidak ada yang kurang dari 0,10 maka tidak terdapat korelasi antara variabel bebas (Ghozali, 2009). d) Uji Heteroskendasitas Uji heteroskendasitas bertujuan untuk menguji apakah model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain (Ghozali, 2009). Jika variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain tetap, maka terjadi homoskendasitas dan jika berbeda disebut heteroskendasitas (Ghozali, 2009). Model regresi yang baik adalah yang homoskendasitas (Ghozali, 2009). Hal ini dapat dilihat pada grafik scatterplot bahwa jika terlihat titik-titik menyebar secara acak baik di atas maupun di bawah angka 0 pada sumbu Y, hal ini disimpulkan bahwa data bersifat homoskendasitas pada model regresi (Ghozali, 2009). 2. Metode Analisis Data Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis regresi dengan variabel mediator. Metode ini bertujuan untuk dapat mengukur kekuatan hubungan antara dua variabel atau lebih, juga dapat menunjukkan arah hubungan antara variabel tergantung dengan variabel bebas (Ghozali, 2009). Hal ini dapat membuat regresi dapat memberikan kemungkinan untuk melakukan prediksi.

(91) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 71 Pada analisis regresi yang diperhatikan adalah uji signifikansi t dan nilai standarized coefficients (β). Uji signifikansi t dapat menunjukkan sejauh mana nilai korelasi signifikan atau penelitian ini dapat dipercaya, taraf signifikansi yang digunakan adalah ρ < 0,05 (Ghozali, 2009). Nilai standarized coefficients (β) bertujuan untuk menggambarkan nilai regresi (β) yang telah distandarisasi atau mirip dengan nilai korelasi (Ghozali, 2009). Koefisien korelasi berkisar dari -0,0 sampai dengan +1,0 yang menunjukkan hubungan yang negatif maupun hubungan yang positif (Ghozali, 2009). Sedangkan koefisien determinasi (R Square) dapat menunjukkan seberapa variabel bebas memberikan sumbangan untuk memperjelas pada variabel tergantung (Ghozali, 2009). Kesemuanya komponen dari analisis regresi dapat dilakukan dengan SPSS 16.0 for windows. Langkah-langkah dalam melakukan regresi, sebagai berikut: 1) Melakukan analisis regresi antara variabel Kelekatan terhadap ibu sebagai variabel bebas dengan variabel rejection sensitivity sebagai variabel tergantung. Kelekatan terhadap ibu Rejection sensitivity 2) Melakukan analisis regresi antara variabel mindfulness sebagai variabel bebas dengan rejection sensitivity sebagai variabel tergantung. Mindfulness Rejection sensitivity

(92) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 72 3) Melakukan analisis regresi antara variabel kelekatan terhadap ibu sebagai variabel bebas dengan mindfulness sebagai variabel tergantung. Kelekatan terhadap ibu Mindfulness 4) Melakukan analisis regresi berganda antara variabel kelekatan terhadap ibu sebagai variabel bebas dan variabel mindfulness sebagai variabel mediator, dengan rejection sensitivity (bersama dua subskala rejection sensitivity yaitu ekspektasi kemarahan dan ekspektasi kecemasan) sebagai variabel tergantung. Kelekatan terhadap ibu Rejection sensitivity Mindfulness Kelekatan terhadap ibu Ekspektasi kemarahan Mindfulness Kelekatan terhadap ibu Ekspektasi kecemasan Mindfulness

(93) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 73 Setelah dilakukan langkah nomor 1 dan langkah nomor 4 (terkhusus antara variabel kelekatan terhadap ibu dengan rejection sensitivity), lalu dilakukan penyesuaian dengan ketentuan bahwa suatu variabel dapat dikatakan berfungsi sebagai mediator jika pada analisis regresi di atas, terjadi sebagai berikut: a) Partial mediator Nilai coefficients (β) pada hasil langkah nomor 4 lebih rendah daripada hasil langkah nomor 1 (harus mencapai taraf signifikansi adalah ρ < 0,05). Hal ini berarti dengan kehadiran variabel mediator dapat memperkecil hubungan variabel bebas dengan variabel tergantung. b) Perfect mediator Taraf signifikansi (ρ) pada hasil langkah nomor 4 tidak signifikan (ρ > 0,05) dibandingkan hasil langkah nomor 1. Hal ini berarti dengan kehadiran variabel mediator dapat membuat variabel bebas tidak memiliki efek terhadap variabel tergantung.

(94) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Subyek Penelitian Subyek dalam penelitian ini adalah remaja pada masa remaja awal dengan rentang 10 hingga 22 tahun. Subyek adalah para remaja yang bersekolah di SMP, SMA, dan SMK di Kota Yogyakarta dan Kabupaten Sleman. Subyek yang telah memenuhi karakteristik subyek dan kuota penelitian sebanyak 323 orang, namun setelah proses menyaring data, hanya 304 subyek yang datanya dapat digunakan dalam penelitian ini. Berikut gambaran subyek secara umum yang disajikan melalui tabel di bawah ini. Tabel 4 Deskripsi Jenis Kelamin Subyek Penelitian Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Tidak Teridentifikasi 151 132 20 Total 304 Tabel 5 Deskripsi Usia Subyek Penelitian 12 13 14 15 16 6 Total 27 30 18 88 Usia 17 117 74 18 19 7 2 Tidak Teridentifikasi 9 304

(95) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Tabel 6 Deskripsi Jenjang Pendidikan Subyek Penelitian Jenjang Pendidikan SMP SMA 67 109 Total 75 SMK 128 304 B. Pelaksanaan Penelitian Pengumpulan data dilakukan secara formal, peneliti bekerjasama dengan beberapa instansi sekolah di wilayah Kota Yogyakarta dan Kabupaten Sleman. Pada bulan Februari 2014, peneliti mengurus berbagai perijinan berkenan untuk proses kerjasama, seperti mengurus perijinan dengan proposal penelitian kepada Gubernur D.I Yogyakarta, lalu ke Kantor Walikota Yogyakarta dan Kantor BAPEDA Sleman. Setelah peneliti mendapatkan perijinan dari institusi pemerintahan, peneliti melanjutkan perijinan ke beberapa sekolah yaitu 1 SMK di Kapubaten Sleman, 2 SMA di Kota Yogyakarta, 1 SMA di Kabupaten Sleman, 1 SMP di Kabupaten Sleman, dan 1 SMP di Kota Yogyakarta. Pada bulan Maret 2014 hingga April 2014, setelah mendapatkan perijinan dan menyesuaikan penjadwalan dengan pihak sekolah, secara bergantian peneliti memasuki sekolah-sekolah SMP, SMA, dan SMK di atas. Peneliti terlibat langsung dalam proses pengambilan data. Proses pengambilan data dilakukan peneliti dengan masuk ke kelas-kelas, lalu peneliti membacakan instruksi-instruksi dalam pengerjaan angket. Pertama, peneliti memberitahukan perihal adanya informed consent kepada para siswa, kemudian peneliti membacakan instruksi cara pengerjaan dan pengisian

(96) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 76 identitas seperti jenis kelamin dan usia. Setelah selesai membacakan instruksi, peneliti meminta agar pengerjaan angket dilakukan di rumah, agar para remaja dapat secara leluasa menjawab dan tidak dalam situasi di kelas. Pada hari berikutnya, melalui para ketua kelas, peneliti memohon bantuan untuk mengumpulkan, dan peneliti lalu mengambil angket kepada ketua kelas masing-masing kelas. Dari total 340 angket yang disebarkan, angket yang kembali sejumlah 323 angket. C. Hasil Penelitian Sebelum melakukan uji hipotesis, harus dilakukan pengujian asumsi terhadap data penelitian bahwa data tersebut telah memenuhi syarat-syarat data yang tepat yang disesuiakan dengan analisis data yang dilakukan. 1. Uji Normalitas Pertama, data memiliki nilai residual yang harus terdistribusi secara normal. Residual yang tidak terdistribusi normal biasanya dikarenakan ada data yang bersifat outlier (Ghozali, 2009). Kaidah normal untuk uji normalitas ini adalah jika p > 0,10 maka sebaran normal, sedangkan jika p < 0,10 maka sebaran tidak terdistribusi normal (Santoso, 2010). Dalam hal ini uji normalitas dilakukan dengan melihat outlier dan uji KolmogrovSmirnov menggunakan SPSS 16.00 for windows.

(97) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 77 Gambar 1 (Uji Outlier Dari Sebaran Data) Tabel 7 One-Sample Kolmogrov-Smirnov Test Unstandarized Residual Kolmogrov-Smirnov Z .770 Asymp. Sig (2-Tailed) .594 a. Test distribution is normal Berdasarkan gambar 1 di atas, terdapat 3 data yang residualnya menjadi outlier sehingga data tidak terdistribusi normal, sehingga peneliti menghapus 3 data tersebut agar data terdistribusi normal. Lalu setelah outlier tersebut dihilangkan, tabel 7 menunjukkan uji Kolmogrov Smirnov bahwa nilai p > 0,10 yaitu (ρ 0,594) sehingga data telah terdistribusi dengan normal. 2. Uji Linearitas Salah satu uji asumsi yang harus terpenuhi adalah hubungan antara variabel bebas dan tergantung membentuk model yang linear atau membentuk garis lurus (Ghozali, 2009). Kaidah untuk uji ini adalah jika p

(98) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 78 < 0,05 maka hubungan antara variabel bebas dan tergantung linear (Ghozali, 2009). Uji linearitas dilakukan dengan menggunakan Compare Mean pada SPSS 16.00 for windows. Tabel 8 ANOVA Uji Linearitas Between Groups (Combined) Linearity Mean_RSQ*Mean_IPPA Mean_RSQ*Mean_Kims (Sig) 0.000 0.014 Berdasarkan tabel 8, data antara variabel bebas dengan tergantung berada pada satu garis lurus atau linear. Hal ini terlihat dari nilai p < 0,05, yaitu data antara rejection sensitivity dengan kelekatan terhadap ibu (p 0, 000) dan data antara rejection sensitivity dengan mindfulness (p 0,014). 3. Uji Multikolonieritas Syarat uji asumsi ini menekankan bahwa model regresi yang ditemukan tidak terdapat korelasi antara variabel bebas (Ghozali, 2009). Jika nilai VIF dalam output SPSS tidak ada yang melebihi 10.0 dan nilai tolerance tidak ada yang kurang dari 0,10 maka tidak terdapat korelasi antara variabel bebas (Ghozali, 2009). Uji ini dilakukan dengan melihat Collinearity Stastistics pada tabel Coefficients pada SPSS 16.00 for windows. Tabel 9 Coefficients Uji Multikolonieritas IPPA KIMS Collinearity Stastistics Tolerance VIF .899 1.113 .899 1.113

(99) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 79 Berdasarkan tabel 9, dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat korelasi di antara kedua variabel bebas. Hal ini dapat terlihat dari nilai VIF dalam output SPSS tidak ada yang melebihi 10.0 dan nilai tolerance tidak ada yang kurang dari 0,10 maka tidak terdapat korelasi antara variabel bebas. Nilai pada tolerance kelekatan terhadap ibu dan mindfulness 0,899 dan nilai VIF adalah 1.113. 4. Uji Heteroskendasitas Uji heteroskendasitas bertujuan untuk menguji apakah model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain (Ghozali, 2009). Model regresi yang baik adalah yang homoskendasitas (Ghozali, 2009). Hal ini dapat dilihat pada grafik scatterplot bahwa jika terlihat titik-titik menyebar secara acak baik di atas maupun di bawah angka 0 pada sumbu Y, hal ini disimpulkan bahwa data bersifat homoskendasitas pada model regresi (Ghozali, 2009). Gambar 2 Scatterplot Uji Heteroskendasitas

(100) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 80 Berdasarkan gambar di atas, terlihat titik menyebar baik di atas maupun di bawah angka 0 pada sumbu Y, hal ini berarti data bersifat homoskendasitas. 5. Uji Hipotesis Uji hipotesis dalam penelitian ini menggunakan analisis regresi dengan variabel mediator. Berdasarkan analisis regresi, hal yang dapat menunjukkan hasil penelitian adalah uji signifikansi t dan nilai standarized coefficients (β). Uji signifikansi t dapat menunjukkan sejauh mana nilai korelasi signifikan atau penelitian ini dapat dipercaya, taraf signifikansi yang digunakan adalah ρ < 0,05 (Ghozali, 2009). Nilai standarized coefficients (β) bertujuan untuk menggambarkan nilai regresi (β) yang telah distandarisasi atau mirip dengan nilai korelasi (Ghozali, 2009). Koefisien korelasi berkisar dari -0,0 sampai dengan +1,0 yang menunjukkan hubungan yang negatif maupun hubungan yang positif (Ghozali, 2009). Analisis ini menggunakan SPSS 16.00 for windows. Hasil penelitian menurut langkah-langkah analisis regresi dengan variabel mediator, sebagai berikut: 1) Dilakukan regresi antara kelekatan terhadap ibu sebagai variabel bebas dengan rejection sensitivity sebagai variabel tergantung. Tabel 10 Coefficients Regresi Antara Kelekatan Terhadap Ibu dengan Rejection Sensitivity Standarized Signifikansi coefficients (β) (ρ) Kelekatan terhadap ibu -.184 .001 a. Variabel tergantung: Rejection Sensitivity

(101) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 81 Dari tabel 10, dapat dilihat bahwa terdapat hubungan yang negatif dan signifikan antara kelekatan terhadap ibu dengan rejection sensitivity pada remaja (β = -0,184, ρ = 0,001; ρ<0.01). Hal ini berarti kelekatan pada ibu yang rendah dapat memprediksi tingkat rejection sensitivity yang tinggi pada remaja. Sebaliknya, Hal ini berarti kelekatan pada ibu yang tinggi dapat memprediksi tingkat rejection sensitivity yang rendah pada remaja 2) Dilakukan regresi antara mindfulness sebagai variabel bebas dengan rejection sensitivity sebagai variabel tergantung. Tabel 11 Coefficients Regresi Antara Mindfulness dengan Rejection Sensitivity Standarized Signifikansi coefficients (β) (ρ) Mindfulness -.180 .002 a. Variabel tergantung: Rejection Sensitivity Dari tabel 11, dapat dilihat terdapat hubungan yang negatif dan signifikan antara mindfulness dengan rejection sensitivity pada remaja (β = -0,180, ρ = 0,002; ρ<0.01). Hal ini berarti mindfulness yang rendah dapat memprediksi tingkat rejection sensitivity yang tinggi pada remaja. Sebaliknya, Hal ini berarti mindfulness yang tinggi dapat memprediksi tingkat rejection sensitivity yang rendah pada remaja

(102) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 82 3) Dilakukan regresi antara kelekatan terhadap ibu sebagai variabel bebas dengan mindfulness sebagai variabel tergantung. Tabel 12 Coefficients Regresi Antara Kelekatan Terhadap Ibu dengan Mindfulness Standarized Signifikansi coefficients (β) (ρ) Kelekatan terhadap ibu .334 .000 a. Variabel tergantung: Mindfulness Dari tabel 12, dapat dilihat terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara kelekatan terhadap ibu dengan kemampuan mindfulness pada remaja (β = 0,334, ρ = 0,000; ρ<0.01). Hal ini berarti kelekatan terhadap ibu yang tinggi dapat memprediksi kemampuan mindfulness yang tinggi pada remaja. Sebaliknya, Hal ini berarti kelekatan terhadap ibu yang rendah dapat memprediksi kemampuan mindfulness yang rendah pada remaja 4) Dilakukan regresi berganda antara kelekatan terhadap ibu sebagai variabel bebas dan mindfulness sebagai variabel mediator dengan rejection sensitivity sebagai variabel tergantung. Tabel 13 Coefficients Regresi Antara Kelekatan Terhadap Ibu dengan Rejection Sensitivity yang Dimediasi oleh Mindfulness Standarized Signifikansi coefficients (β) (ρ) Kelekatan terhadap ibu -.139 .020 Mindfulness -.133 .026 a. Variabel tergantung: Rejection Sensitivity Dari tabel 13, terdapat hubungan yang negatif dan signifikan antara kelekatan terhadap ibu (β = -0,139, ρ = .020; ρ<0.05) dan Mindfulness (β = -0,133, ρ = 0,026; ρ<0.05) dengan rejection

(103) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 83 sensitivity. Hal ini berarti kelekatan terhadap ibu yang rendah dapat memprediksi rejection sensitivity yang tinggi pada remaja dan sebaliknya. Selain itu, kemampuan mindfulness yang rendah dapat memprediksi rejection sensitivity yang tinggi pada remaja dan sebaliknya. 5) Membandingkan hasil regresi dari hubungan langsung antara kelekatan terhadap ibu dengan rejection sensitivity (langkah 1) dengan hubungan tidak langsung antara kelekatan terhadap ibu yang telah dimediasi dengan mindfulness terhadap rejection sensitivity pada remaja (langkah 4). Skema 2 Hubungan Langsung Antara Kelekatan Terhadap Ibu dengan Rejection Sensitivity pada Remaja β = -0,184 , ρ = 0,001; ρ < 0.01 Kelekatan terhadap Ibu Rejection Sensitivity Skema 3 Hubungan Tidak Langsung Antara Kelekatan Terhadap Ibu dengan Rejection Sensitivity yang Dimediasi Kemampuan Mindfulness pada Remaja Kelekatan Terhadap Ibu β = -0,139, ρ = 0,020; ρ<0.01 Rejection Sensitivity Mindfulness β = -0,133, ρ = 0,026; ρ <0.01

(104) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 84 Dari hasil skema 2, hubungan langsung antara kelekatan terhadap ibu dengan rejection sensitivity pada remaja menunjukkan nilai β = -0,184. Di sisi lain, dari hasil pada skema 3, hubungan tidak langsung antara kelekatan terhadap ibu yang dimediasi dengan kemampuan mindfulness terhadap rejection sensitivity β = 0,139. Kedua hubungan tersebut juga signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan tidak langsung antara kelekatan terhadap ibu yang dimediasi dengan kemampuan mindfulness terhadap rejection sensitivity memiliki nilai β yang lebih kecil daripada hubungan langsung tanpa variabel mediasi. Hal tersebut membuktikan bahwa mindfulness merupakan variabel partial mediator. Hal ini berarti dinamika psikologis terbentuknya rejection sensitivity pada remaja akan lebih kuat bila melalui kemampuan mindfulness yang rendah. Dengan kata lain, kelekatan terhadap ibu yang rendah akan membentuk mindfulness yang rendah terlebih dahulu, setelah itu akan memunculkan rejection sensitivity yang tinggi pada remaja. Sebaliknya, kelekatan terhadap ibu yang tinggi akan membentuk mindfulness yang tinggi terlebih dahulu, setelah itu akan memunculkan rejection sensitivity yang rendah pada remaja.

(105) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 85 D. Pembahasan Berdasarkan hasil penelitian ini dapat dilihat bahwa kelekatan terhadap ibu dengan rejection sensitivity pada remaja memiliki hubungan yang negatif dan signifikan. Jika kelekatan terhadap ibu rendah maka hal ini dapat memprediksi rejection sensitivity yang tinggi pada remaja, dan sebaliknya. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan pada subyek mahasiswa bahwa rejection sensitivity berkorelasi negatif dengan kelekatan anxious dan kelekatan avoidant (Ozen, Sumer, & Demir, 2011). Rejection sensitivity berkorelasi positif dengan kelekatan yang aman (Ozen, Sumer, & Demir, 2011). Selain itu, penelitian sebelumnya yang mendukung adanya kelekatan sebagai faktor yang membentuk rejection sensitivity, ditemukan bahwa pada anak-anak dan remaja awal rejection sensitivity juga ditemukan pada orang yang mengalami penolakan kelompok yang tinggi, penerimaan orang tua yang rendah, dan kualitas pertemanan yang rendah (McLachlan, Zimmer, Gembeck, & McGregor, 2010). Hasil penelitian ini ditemukan bahwa kelekatan terhadap ibu dengan rejection sensitivity pada remaja memiliki hubungan yang negatif dan signifikan dapat dijelaskan dengan adanya internal working model yang dibentuk oleh kelekatan itu sendiri. Kelekatan terhadap ibu sendiri bagi remaja tidak terbatas pada ikatan emosional berkelanjutan yang telah dibentuk antara ibu dan anak (Bowlby, 1973), melainkan berkaitan dengan persepsi positif dan negatif remaja terhadap sisi afeksi dan kognitif

(106) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 86 terhadap hubungan dengan ibu mereka (Greenberg & Armsden, 2009). Persepsi akan unsur afeksi dan kognitif ini yang telah membentuk internal working model remaja. Jika sedari kecil kebutuhan mereka akan penerimaan tepenuhi secara sensitif dan konsisten oleh pengasuhnya maka ini akan membentuk working model yang aman bahwa dunia menerima mereka (Bowlby, 1969, 1973, 1980; Sroufe, 1990). Akan tetapi, jika kebutuhan akan penerimaan tidak terpenuhi, terdapat penolakan dari pengasuhnya, maka anak akan mengembangkan working model yang tidak aman (Bowlby, 1969, 1973, 1980; Sroufe, 1990). Hal ini akan membuat mereka merasa takut serta ragu bahwa mereka akan diterima dan didukung oleh sekitarnya (Bowlby, 1969, 1973, 1980; Sroufe, 1990). Rejection sensitivity terbentuk oleh internal working model yang tidak aman karena adanya pengalaman penolakan sebelumnya yang terbentuk oleh penolakan yang konsisten dari pengasuh mereka (Bowlby, 1969, 1973, 1980; Sroufe, 1990). Berdasarkan hasil penelitian yang kedua bahwa kemampuan mindfulness dengan rejection sensitivity pada remaja memiliki hubungan yang negatif dan signifikan. Hal ini berarti kemampuan mindfulness yang rendah pada remaja dapat memprediksi rejection sensitivity yang tinggi pada remaja, dan sebaliknya. Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian sebelumnya bahwa mindfulness dapat memprediksi tingkat kecemasan yang rendah akan penolakan (Mckee, Zvolensky, Solomon, Bernstein, & Feldner, 2007). Selain itu, salah satu strategi untuk mencegah rejection

(107) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 87 sensitivity yaitu delayed gratification mengandalkan proses berpikir mindfulness di dalamnya (Langer, 2000). Kemampuan mindfulness yang tinggi dapat memprediksi rejection sensitivity yang rendah pada remaja dan sebaliknya, Hal ini dapat dijelaskan karena kemampuan mindfulness didasarkan pada perasaan aman (Fonagy & Target, 1997; Hodgins & Knee, 2002; Carson, Carson, Gil, & Baucom, 2004; Brown, Ryan, & Creswell, 2007). Perasaan yang aman akan membentuk pemikiran bahwa dunia itu aman, sehingga akan membuat orang terbuka akan pengalaman-pengalaman tanpa mengevaluasi atau tidak defensive (Heppner, et al., 2008). Di sisi lain, orang dengan kecenderungan rejection sensitivity yang tinggi merasa bahwa dunia itu tidak aman karena adanya pengalaman penolakan yang membayangi, sehingga mereka cenderung didominasi akan kecemasan dan kemarahan terhadap penolakan (Downey & Feldman, 1996). Hal ini yang mendasari mereka memiliki motivasi pertahanan akan penolakan sembari mereka berelasi (Romero, Canyas, & Downey, 2005). Selain itu, pada remaja salah satu ciri pemikiran remaja yang kurang matang adalah kurangnya kesadaran diri (Elkind dalam Papplia, 2008). Kurangnya kesadaran diri menekankan pada kemampuan remaja untuk menggunakan sudut pandang orang lain (Elkind dalam Papplia, 2008). Hal ini dapat berhubungan dengan mindfulness sekaligus dengan rejection sensitivity. Kemampuan berpikir mindful dapat mengarahkan remaja mengenali bahwa diri mereka

(108) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 88 sedang benar-benar pada pengalaman penolakan atau itu hanya pemikiran mereka yang tidak menggunakan sudut pandang orang lain. Berdasarkan hasil penelitian yang ketiga bahwa kelekatan terhadap ibu dengan kemampuan mindfulness pada remaja memiliki hubungan yang positif dan signifikan. Hal ini berarti kelekatan terhadap ibu yang tinggi dapat memprediksi kemampuan mindfulness yang tinggi pada remaja. Hal ini didukung oleh penelitian sebelumnya, ditemukan bahwa kelekatan yang aman menjadi prediktor positif akan tumbuhnya mindfulness yang tinggi pada diri seseorang (Walsh, Balint, Smolira, Fredericksen, & Madsen, 2009). Di sisi lain, gaya kelekatan anxious menjadi prediktor negatif akan tumbuhnya kemampuan mindfulness yang rendah pada diri seseorang, akan tetapi tidak dengan gaya kelekatan avoidant (Walsh, Balint, Smolira, Fredericksen, & Madsen, 2009). Kelekatan terhadap ibu yang tinggi dapat memprediksi kemampuan mindfulness yang tinggi pada remaja. Hal ini dapat dijelaskan karena mindfulness muncul karena adanya kelekatan yang aman (Fonagy & Target, 1997; Hodgins & Knee, 2002; Carson, Carson, Gil, & Baucom, 2004; Brown, Ryan, & Creswell, 2007). Kelekatan yang aman akan menghasilkan rasa aman, rasa aman inilah yang menjadi dasar yang menumbuhkan kemampuan mindfulness bagi setiap individu (Fonagy & Target, 1997; Hodgins & Knee, 2002; Carson, Carson, Gil, & Baucom, 2004; Brown, Ryan, & Creswell, 2007). Orang yang sedari kecil memiliki pengalaman diperhatikan, direspon, & mempunyai pengasuh yang sensitif

(109) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 89 akan mengembangkan kemampuan mindfulness mereka (Fonagy & Target, 1997; Ryan, 2005). Hal ini dikarenakan pengasuh dapat menjadi media reflektif bagi anak sehingga anak terbiasa merasakan sensasi pada indra sejak dini (Fonagy & Target, 1997; Ryan, 2005). Hasil penelitian yang keempat, kelekatan terhadap ibu yang tinggi dimediasi dengan kemampuan mindfulness yang tinggi dapat memprediksi rejection sensitivity yang rendah pada remaja, dan sebaliknya. Hal ini berarti dinamika psikologis terbentuknya rejection sensitivity pada remaja akan lebih kuat bila melalui kemampuan mindfulness yang rendah. Dengan kata lain, kelekatan terhadap ibu yang rendah akan membentuk mindfulness yang rendah terlebih dahulu, setelah itu akan memunculkan rejection sensitivity yang tinggi pada remaja dan sebaliknya. Hal ini didukung oleh penelitian sebelumnya bahwa kelekatan berhubungan dengan rejection sensitivity (Ozen, Sumer, & Demir, 2011), kelekatan terhadap ibu berhubungan dengan kemampuan mindfulness (Walsh, Balint, Smolira, Fredericksen, & Madsen, 2009). Selain itu, penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa mindfulness dapat memprediksi tingkat kecemasan yang rendah akan penolakan (Mckee, Zvolensky, Solomon, Bernstein, & Feldner, 2007). Hal ini dapat dijelaskan dengan adanya internal working model sebagai skema dasar individu. Jika sedari kecil kebutuhan penerimaan anak terpenuhi secara konsisten akan membentuk working model yang aman (Bowlby, 1969, 1973, 1980; Sroufe, 1990). Sebaliknya, jika

(110) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 90 kebutuhan penerimaan anak tidak terpenuhi atau terpenuhi secara tidak konsisten akan membentuk working model yang tidak aman (Bowlby, 1969, 1973, 1980; Sroufe, 1990). Working model yang aman akan membentuk perasaan aman sebagai dasar pembentukan kemampuan mindfulness (Fonagy & Target, 1997; Hodgins & Knee, 2002; Carson, Carson, Gil, & Baucom, 2004; Brown, Ryan, & Creswell, 2007). Perasaan yang aman inilah yang membuat individu akan terbuka akan pengalaman, dengan tidak mengevaluasi dan tidak defensive (Heppner, et al., 2008). Kedua hal ini, yang membentuk skema bahwa sejauh mana sebuah kejadian berakhir dengan penerimaan atau penolakan, dunia tetap akan baik adanya, karena mereka tidak lekat akan dirinya (Heppner, et al., 2008). Di sisi lain, jika kebutuhan akan penerimaan anak tidak terpenuhi, akan membentuk working model yang tidak aman, hal ini akan membuat anak merasa tidak aman. Perasaan tidak aman membuat anak cenderung memiliki ekspektasi akan ditolak yang membuat mereka cenderung defensive (Heppner, et al., 2008). E. Keterbatasan Penelitian Penelitian ini tidak lepas dari adanya keterbatasan akan penelitian. Penelitian ini hanya menggunakan satu tahapan perkembangan yaitu pada remaja, sehingga hasil penelitian ini tidak dapat digeneralisasikan ke tahapan perkembangan lainnya. Padahal, di sisi lain dengan kehadiran mindfulness sebagai mediator pada hubungan kelekatan terhadap ibu

(111) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 91 dengan kecenderungan rejection sensitivity, dapat menjadi hal yang dikontrol dari individu untuk dapat melemahkan hubungan langsung antara kelekatan terhadap ibu dengan kecendrungan rejection sensitivity. Faktor pelindung bagi rejection sensitivity masih sangat dibutuhkan tidak terbatas pada rentang tahapan perkembangan manapun.

(112) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan hasil yang diperoleh, terlihat bahwa mindfulness dapat menjadi partial mediator pada hubungan antara kelekatan terhadap ibu dengan rejection sensitivity pada remaja. Hal ini berarti kehadiran mindfulness pada hubungan tidak langsung antara kelekatan terhadap ibu dengan rejection sensitivity pada remaja, dapat memberikan dampak atau efek dalam memperkuat atau memperlemah hubungan di antaranya. Di samping itu terdapat beberapa kesimpulan yang dapat ditarik berdasarkan hasil dari penelitian ini, antara lain: 1. Terdapat hubungan yang negatif dan signifikan antara kelekatan terhadap ibu dengan rejection sensitivity pada remaja. Hal ini berarti kelekatan pada ibu yang rendah dapat memprediksi tingkat rejection sensitivity yang tinggi pada remaja. Sebaliknya, kelekatan pada ibu yang tinggi dapat memprediksi tingkat rejection sensitivity yang rendah pada remaja 2. Terdapat hubungan yang negatif dan signifikan antara mindfulness dengan rejection sensitivity pada remaja. Hal ini berarti mindfulness yang rendah dapat memprediksi tingkat rejection sensitivity yang tinggi pada remaja. Sebaliknya, 92

(113) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 93 berarti mindfulness yang tinggi dapat memprediksi tingkat rejection sensitivity yang rendah pada remaja 3. Terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara kelekatan terhadap ibu dengan kemampuan mindfulness pada remaja. Hal ini berarti kelekatan terhadap ibu yang tinggi dapat memprediksi kemampuan mindfulness yang tinggi pada remaja. Sebaliknya, kelekatan terhadap ibu yang rendah dapat memprediksi kemampuan mindfulness yang tinggi pada remaja B. Saran Penelitian 1. Saran Bagi Peneliti Selanjutnya Penelitian ini hanya terbatas pada tahapan perkembangan remaja, sehingga penting untuk melihat pada tahapan perkembangan lainnya. Hal ini dikarenakan kehadiran mindfulness sebagai mediator di antara kelekatan terhadap ibu dengan rejection sensitivity pada remaja, dapat juga menjaga faktor protektif yang dapat memperbaiki individu agar lebih adaptif pada relasinya. Oleh karena itu, penting pula untuk melihat apakah hubungan mediasi ini terjadi pula pada tahapan perkembangan lainnya, untuk menambah faktor yang dapat melindungi individu yang tidak terbatas hanya pada remaja. Selain itu, bagi peneliti selanjutnya, peneliti menyarankan untuk dilakukan penelitian kembali dengan menggunakan desain penelitian

(114) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 94 eksperimen. Hal ini untuk memperdalam temuan sehingga dapat menghasilkan bentuk kausal yang lebih efektif untuk membuat desain treatment bagi individu dengan tingkat rejection sensitivity yang tinggi. 2. Saran Bagi Orang Tua dan Pendidik di Lingkungan Remaja Berdasarkan hasil penelitian di atas, bahwa tingkat rejection sensitivity pada remaja dapat diprediksi oleh adanya kelekatan terhadap ibu. Oleh karena itu, penting bagi ibu sebagai sosok signifikan bagi remaja untuk memperhatikan pola pengasuhan yang menekankan pada tingkat kepercayaan, kualitas komunikasi, dan rasa penerimaan terhadap anak, seperti memberikan kebebasan kepada remaja, dengan tetap menekankan pada remaja pentingnya untuk adanya kesadaran terhadap proses yang terjadi pada remaja. Selain itu, berdasarkan hasil penelitian di atas, kemampuan mindfulness merupakan mediator terhadap kelekatan terhadap ibu dengan rejection sensitivity pada remaja. Oleh karena itu, bagi orang tua penting untuk memperhatikan ikatan emosional yang terjalin dengan anak, sehingga terbentuk rasa aman pada anak yang dapat meningkatkan kemampuan mindfulness yang dapat memperkecil kecenderungan rejection sensitivity. Di sisi lain, bagi pendidik di lingkungan remaja, penting untuk memberikan program-program atau latihan bagi remaja untuk memahami diri mereka dan menerima diri mereka secara utuh. Hal ini dapat dilakukan dengan latihan menggambarkan kondisi diri, menceritakan pengalaman diri, atau

(115) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 95 dalam proses pendidikan tidak hanya menyertakan penilaian-penilaian yang berupa label evaluasi seperti benar atau salah, baik atau buruk, akan tetapi, penting untuk menggambarkan penilaian yang lebih global dan menyeluruh pada remaja. 3. Saran Bagi Remaja Berdasarkan hasil penelitian di atas, remaja harus lebih memahami dan mengenali dinamika yang terjadi pada diri mereka. Ketika mereka berelasi dan merasa ditolak, penting untuk memahami apakah hal tersebut adalah murni sebuah pengalaman penolakan yang terjadi pada diri mereka ataukah hanya bentuk rasa sensitifitas mereka terhadap penolakan. Hal ini dapat didukung bagi remaja ketika mereka mengembangkan kesadaran akan diri mereka dan menerima apa yang terjadi pada diri mereka.

(116) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR PUSTAKA Armsden, G. G. (1986). Attachment to parents and peers in late adolescence: Relationships to affective status, self-esteem and coping with loss, threat and challenge. (Doctoral dissertation, University of Washington). Armsden, G. C., & Greenberg, M. T. (1987). The inventory of parent and peer attachment: Individual differences and their relationship to psychological well-being in adolescence. Journal of youth and adolescence, 16(5), 427454. Aspy, C. B., Vesely, S. K., Oman, R. F., Rodine, S., Marshall, L., & McLeroy, K. (2007). Parental communication and youth sexual behaviour. Journal of adolescence, 30(3), 449-466. Ayduk, O., Mendoza-Denton, R., Mischel, W., Downey, G., Peake, P.K., & Rodriguez, M. (2000). Regulating the interpersonal self: Strategic selfregulation for coping with rejection sensitivity. Journal of Personality and Social Psychology, 79, 776–792. Ayduk, O., Mischel, W., & Downey, G. (2002). Attentional mechanisms linking rejection to hostile reactivity: The role of ‘‘hot’’ versus ‘‘cool’ ’focus. Psychological Science, 13, 443–448. Ayduk, O., Gyurak, A., & Luerssen, A. (2008). Individual differences in the rejection-aggression link in the hot sauce paradigm: The case of rejection sensitivity. Journal of Experimental Social Psychology, 44, 775–782. Azwar, Saifuddin. (1999). Penyusunan Skala Psikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Azwar, Saifuddin. (1999).Dasar-Dasar Psikometri. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Azwar, Saifuddin. (2010). Reliabilitas dan Validitas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 96

(117) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 97 Baker, A. J. (2005). The long-term effects of parental alienation on adult children: A qualitative research study. The American Journal of Family Therapy,33(4), 289-302. Baer, R. A. (2003). Mindfulness training as a clinical intervention: A conceptual and empirical review. Clinical psychology: Science and practice, 10(2), 125-143. Baer, R. A., Smith, G. T., & Allen, K. B. (2004). Assesment of mindfulness by self-report: The kentucky inventory of mindfulness skills. Assesment, Volume 11, 191-206. Baer, R. A., Smith, G. T., Hopkins, J., Krietemeyer, J., & Toney, L. (2006). Using self-report assessment methods to explore facets of mindfulness. Assessment, 13(1), 27-45. Baumgardner, S. R,. & Crothers, M. K. (2009). Positive psychology. Upper Saddle River, NJ: Prentice Hall. Benware, J. (2013). Predictors of Father-Child and Mother-Child Attachment in Two-Parent Families. Beny, M. (2013, September 3). Queen dan Pricilia berkelahi gara-gara twitter. Tribun Manado. Retrieved from http://manado.tribunnews.com/2013/09/03/queen-dan-pricilia-berkelahigara-gara-twitter. Bhikkhu, T. (2007). Buddhist monastic code I. Retrieved 28th May, 2009. Bishop, S. R., Segal, Z. V., Lau, M., Anderson, N. C., Carlson, L., Shapiro, S. L., et al. (2003). The Toronto Mindfulness Scale: Development and validation. Manuscript under review. Bowlby, J. (1969). Attachment and Loss: Volume 1: Attachment. New York: Basic Books.

(118) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 98 Bowlby, J. (1973). Attachment and Loss: Volume 2: Separation. New York: Basic Books. Bowlby, J. (1979). On knowing what you are not supposed to know and feeling what you are not supposed to feel. The Canadian Journal of Psychiatry/La Revue canadienne de psychiatrie. Bowlby, J. (1980). Attachment and Loss: Volume 3: Loss, sadness, and depression. New York: Basic Books. Boyce, P., & Parker, G. (1989). Development of a scale to measure interpersonal sensitivity. Australian and New Zealand Journal of Psychiatry, 23, 341– 351. Britton, W. B., Shahar, B., Szepsenwol, O., & Jacobs, W. J. (2012). Mindfulnessbased cognitive therapy improves emotional reactivity to social stress: results from a randomized controlled trial. Behavior therapy, 43(2), 365380. Brown, K. W., & Ryan, R. M. (2003). The benefits of being present: mindfulness and its role in psychological well-being. Journal of personality and social psychology, 84(4), 822. Brown, K. W., Ryan, R. M., & Creswell, J. D. (2007). How integrative is attachment theory? Unpacking the meaning and significance of felt security. Psychological Inquiry, 18(3), 177-182. Cardaciotto, L., Herbert, J. D., Forman, E. M., Moitra, E., & Farrow, V. (2008) .The assessment of present moment awareness and acceptance : The Philadelphia mindfulness scale. Assessment, 15, 204-223. Cardak, M., Saricam, H., & Onur, M. (2012). Perceived Parenting Styles and Rejection sensitivity in University Students. (TOJCE) The Online Journal Couenselling and Education. Volume 1, Issue 3.

(119) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 99 Carmody, J., & Baer, R. A. (2008). Relationships between mindfulness practice and levels of mindfulness, medical and psychological symptoms and well-being in a mindfulness-based stress reduction program. Journal of behavioral medicine, 31(1), 23-33. Carson, J. W., Carson, K. M., Gil, K. M., & Baucom, D. H. (2004). Mindfulnessbased relationship enhancement. Behavior Therapy, 35(3), 471-494. Chango, J. M., McElhaney, K. B., Allen, J. P., Schad, M. M., & Marston, E. (2012). Relational stressors and depressive symptoms in late adolescent: Rejection sensitivity as a vulnerability. Abnormal Child Psycholgy, 40, 369–379. Dimidjian, S., & Linehan, M. M. (2003a). Defining an agenda for future research on the clinical application of mindfulness practice. Clinical Psychology: Science and Practice, 10, 166-171. Dimidjian ,S., & Linehan, M. M. (2003b). Mindfulness practice. In W. O’Donohue, J. E. Fisher, & S. C. Hayes (Eds.), Empirically supported techniques of cognitive behavior therapy: A step-by-step guide for clinicians. New York: John Wiley. Didonna, F., (Ed.) (2009). Clinical handbook of Springer. mindfulness. NewYork: Douglas, J. D., Atwell, F. C., & Hillebrand, J. (1988). Love, intimacy, and sex. Sage Publications. Downey, G., Bonica, C., & Rincon, C. (1999). Rejection sensitivity and adolescent romantic relationships. The development of romantic relationships in adolescence, 148-174. Downey, G., & Feldman, S. I. (1996). Implications of rejection sensitivity for intimate relationships. Journal of personality and social psychology, 70(6), 1327.

(120) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 100 Downey, G., Feldman, S., Khuri, J., & Friedman, S. (1994). Maltreatment and childhood depression. In W.M Reynolds & H. F. Johnson (Eds.), Handbook of Depression in Children and Adolescent (pp. 481 - 508), New York : Plenum. Downey, G., Khouri, H., & Feldman, S. (1997). Early interpersonal trauma and later adjustment; The mediational role of rejection sensitivity. In D. Cicchetti & S. Toth (Eds), Rochester symposium on developmental psychopathology: Volume 8, The effects of trauma on the developmental process (pp. 85-114). Rochester, NY: University of Rochester Press. Downey, G., Lebolt, A., Rincon, C., & Freitas, A. (1998). Rejection sensitivity and children’s interpersonal difficulties. Child Development, 69, 10721089. Downey, G., Mougios, V., Ayduk, O., London, B., & Shoda, Y. (2004). Rejection sensitivity and the defensive motivational system: Insights from the startle response to rejection cues. Psychological Science, 15, 668-673. Elkind, D. (1967). Egocentrism in adolescence. Child development, 1025-1034. In Pappalia, Human Development Eds 10. Jakarta : Salemba Humanika. Erikson, E. H. (1968). Identity: Youth and crisis (No. 7). WW Norton & Company. Feeney, J. A., Noller, P., & Hanrahan, M. (1994). Assessing adult attachment. In M. B. Sperling, M. B., & Berman, W. H. (Eds.). (1994). Attachment in adults: Clinical and developmental perspectives. Guilford Press. Feldman, S., & Downey, G. (1994). Rejection sensitivity as a mediator of the impact of childhood exposure to family violence on adult attachment behavior.Development and Psychopathology, 6, 231-231.

(121) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 101 Feldman, G., Hayes, A., Kumar, S., Greeson, J., & Laurenceau, J. P. (2007). Mindfulness and emotion regulation: The development and initial validation of the Cognitive and Affective Mindfulness Scale-Revised (CAMS-R). Journal of Psychopathology and Behavioral Assessment, 29(3), 177-190. Fonagy, P., & Target, M. (1997). Attachment and reflective function: Their role in self-organization. Development and psychopathology, 9(04), 679-700. Freud, S., & Strachey, J. E. (1964). The standard edition of the complete psychological works of Sigmund Freud. In Santrock, J. W, A topical approach to life-span development. McGraw-Hill. Garber, B. D. (2004). Parental alienation in light of attachment theory: Consideration of the broader implications for child development, clinical practice, and forensic process. Journal of Child Custody, 1(4), 49-76. Ghozali, Iman. (2009). Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS Cetakan IV. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro Greenberg, M. T., & Armsden, G. C. (2009). Inventory of parent and peer attachment (IPPA). University of Penn State. Gregory, R. J. (2000). Psychological testing: History, principles, and applications. Allyn & Bacon. Goldstein, J. (2002). One Dharma: The emerging western buddhism. San Francisco: Harper Collins. Grossman, P., Niemann, L., Schmidt, S., & Walach, H. (2004). Mindfulnessbased stress reduction and health benefits: A meta-analysis. Journal of psychosomatic research, 57(1), 35-43. Gutierrez, E. (2013, January 8). Attachment: Building trust in your infant. Retrieved from http://msue.anr.msu.edu/news/attachment_building_trust_in_your_infant.

(122) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 102 Hanh, T. N. (1976). The miracle of mindfulness: A manual on meditation. Boston: Beacon. Harlow, H. F., & Zimmermann, R. R. (1959). Affectional responses in the infant monkey. Science. Heppner, W. L., Kernis, M. H., Lakey, C. E., Campbell, W. K., Goldman, B. M., Davis, P. J., & Cascio, E. V. (2008). Mindfulness as a means of reducing aggressive behavior: Dispositional and situational evidence. Aggressive Behavior, 34(5), 486-496. Hodgins, H. S., & Knee, C. R. (2002). The integrating self and conscious experience. Handbook of self-determination research, 87-100. Höfling, V., Ströhle, G., Michalak, J., & Heidenreich, T. (2011). A short version of the Kentucky inventory of mindfulness skills. Journal of clinical psychology, 67(6), 639-645. Kabat-Zinn, J. (1990). Full catastrophe living: Using the wisdom of your body and mind to face stress, pain ,and illness. NewYork: Delacorte. Langer, E. J. (2000). Mindful learning. Current directions in psychological science, 9(6), 220-223. Lewis, F. M., Woods, N. F., & Ellison, E. (1987). Family impact study. Unpublished report, University of Washington, R01-NUO1000, Division of Nursing, Public Health Service. Linehan, M. M. (1993a). Cognitive-behavioral treatment of borderline personality disorder. New York: Guilford. Linehan, M. M. (1993b). Skills training manual for treating borderline personality disorder . New York: Guildford.

(123) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 103 Lowenstein, L. F. (2010). Attachment theory and parental alienation. Journal of Divorce & Remarriage, 51(3), 157-168. Marlatt, G. A. ,& Kristeller, J. L. (1999). Mindfulness and meditation. In W. R. Miller (Ed.), Integrating spirituality in to treatment (pp.67-84). Washington, DC: American Psychological Association. McKee, L., Zvolensky, M. J., Solomon, S. E., Bernstein, A., & Leen‐Feldner, E. (2007). Emotional‐Vulnerability and Mindfulness: A Preliminary Test of Associations among Negative Affectivity, Anxiety Sensitivity, and Mindfulness Skills. Cognitive Behaviour Therapy, 36(2), 91-101. McLachlan, J., Zimmer-Gembeck, M. J., & McGregor, L. (2010). Rejection sensitivity in childhood and early adolescence: Peer rejection and protective effects of parents and friends. Journal of Relationships Research, 1(1), 31-40. Mischel, W., & Shoda, Y. (1995). A cognitive-affective system theory of personality: Reconceptualizing situations, dispositions, dynamics, and invariance in personality structures, Psychological Review, 102, 246-268. Morgan, W. D., & Morgan, S. T. (2005). Cultivating attention and empathy. Mindfulness and psychotherapy, 73-90. Nunnally, C.J. (1981). Psychometric Theory Second Edition. New Delhi: McGraw-Hill. Overall, N. C., & Sibley, C. G. (2009). When rejection sensitivity matters: Regulating dependence within daily interactions with family and friends. Personality and Social Psychology Bulletin, 35(8), 1057-1070. Ozen, A., Sumer, N., & Demir, M. (2011). Predicting Friendship Quality with Rejection sensitivity and Attachment Security. Journal of Social and Personal Relationship, 164-181.

(124) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 104 Pappalia. (2008). Human Development Eds 10. Jakarta : Salemba Humanika. Parker, G. (1979). Reported parental characteristics in relation to trait depression and anxiety levels in a non-clinical group. Australasian Psychiatry, 13(3), 260-264. Puckett, M. B. (2009). Rejection sensitivity and interpersonal relationship difficulties: Depression, loneliness, and self-esteem as mediating factors. Connecticut: University of Connecticut. Purdie, V., & Downey, G. (2000). Rejection sensitivity and adolescent girls’ vulnerability to relationship-centered difficulties. Child Maltreatment, 5, 338–349. Romero-Canyas, R., & Downey, G. (2005). Rejection sensitivity as a Predictor of Affective and Behavioral Responses to Interpersonal Stress: A Defensive Motivational System. Psychological Review, 131-154. Romero-Canyas, R., Downey, G., Berenson, K., Ayduk, O., & Jan Kang, N. (2010). Rejection sensitivity and the rejection-hostility link in romantic relationship. Journal of Personality, 78, 119-148. Ryan, R. M. (2005). The developmental line of autonomy in the etiology, dynamics and treatment of borderline personality disorders. Development and Psychopathology, 17, 987-1006. Santrock, J. W. (2002). A topical approach to life-span development. McGrawHill. Santrock, J. W. (2007). Adolescence. Edisi, 11, 91-92. Sarwono, W. Sarlito. (2011). Psikologi Remaja. Jakarta : Rajawali Pers.

(125) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 105 Segal, Z. V., Williams, J. M. G., & Teasdale, J. D. (2002). Mindfulness based cognitive therapy for depression: A new approach to preventing relapse. New York: Guilford. Siegel, R. D., Germer, C. K., & Olendzki, A. (2009). Mindfulness: What is it? Where did it come from?. In Clinical handbook of mindfulness (pp. 1735). Springer New York. Silvers, J. A., McRae, K., Gabrieli, J., Gross, J., Remy, K. A., & Ochsner, K. N. (2012). Age related differences in emotional reactivity,regulation, and rejection sensitivity in adolescence. American Psychological Association, 12, 1528-3542. Singh, N. N., Lancioni, G. E., Winton, A. S., Singh, J., Curtis, W. J., Wahler, R. G., & McAleavey, K. M. (2007). Mindful parenting decreases aggression and increases social behavior in children with developmental disabilities. Behavior Modification, 31(6), 749-771. Sroufe, L., A. (1990). An organizational perspective on the self. In D. Cicchetti & M. Beeghly (Eds.), The self in transition: Infancy to childhood. The John D. And Catherine T. MacArthur foundation series on mental health and developmental (pp. 281-307). Chicago: University of Chicago Press. Sugiyono. (2011). Metode Penelitian Kombinasi (Mixed Methods). Bandung: Alfabeta. Walach, H., Buchheld, N., Buttenmüller, V., Kleinknecht, N., & Schmidt, S. (2006). Measuring mindfulness—the Freiburg mindfulness inventory (FMI). Personality and Individual Differences, 40(8), 1543-1555. Walsh, J. J., Balint, M. G., Smolira SJ, D. R., Fredericksen, L. K., & Madsen, S. (2009). Predicting individual differences in mindfulness: The role of trait anxiety, attachment anxiety and attentional control. Personality and Individual Differences, 46(2), 94-99.

(126) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 106 West, A. M. (2008). Mindfulness and well-being in adolescence: An exploration of four mindfulness measures with an adolescent sample. ProQuest. Zechmeister, Zechmeister, & Shaughnessy. (2001). Essentials of Research Methods in Psychology. Singapore: McGraw-Hill. Zolten, K. & Long N. 2006. Parental Communication. Retrieved from handout of Center for Effective Parenting. Retrieved from http://www.parentinged.org/handouts/parent%20to%20parent%20communication.pdf.

(127) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI LAMPIRAN 107

(128) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 108 LAMPIRAN 1 INFORMED CONSENT Teman-teman, Perkenankan saya memperkenalkan diri dulu ya. Saya adalah Felicia Anindita Sunanto Putri, mahasiswi Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma. Saya belajar ilmu Psikologi, jadi saya mempelajari dinamika mental dan perilaku manusia. Mempelajari dinamika manusia sangat menarik dan penting buat kita. Mengapa? Dewasa ini manusia –termasuk kitamengalami dinamika perasaan dan pikiran yang beraneka macam karena banyaknya perubahan dalam lingkungan dan kondisi hidup. Saat ini saya mempelajari pengalaman remaja. Untuk itu saya ingin meminta teman-teman untuk mengisi angket yang telah saya siapkan. Jika teman-teman mengisi angket, maka teman-teman memberikan sumbangsih pada pemahaman tentang remaja dewasa ini. Informasi yang teman-teman berikan menjadi informasi yang berharga apabila teman-teman memberikan jawaban yang jujur, spontan, dan apa adanya. Tidak ada jawaban yang benar atau salah, jawaban yang tepat adalah jawaban yang paling sesuai dengan keadaan diri teman-teman; jadi tolong teman-teman memberi jawaban dengan jujur. Saya sangat memahami bahwa informasi yang teman-teman berikan mungkin bersifat pribadi, oleh karena itu kami menjaga kerahasiaan jawaban teman-teman. Saya juga membuat angket ini bersifat anonim atau tanpa nama sehingga informasi yang teman-teman berikan tidak menunjuk pada person tertentu. Saya akan sangat berterima kasih jika teman-teman mau menjawab semua pertanyaan yang sesuai dengan diri teman-teman. Tapi, jika ada pertanyaan yang tidak ingin dijawab, kalian boleh melewatkan pertanyaan tersebut. Jika kalian bersedia mengisi angket, silakan teman-teman memberikan tanda tangan sebagai tanda persetujuan bahwa kalian bersedia mengisi angket ini. Saya telah membaca dan memahami penjelasan tentang pengisian angket ini, dan saya bersedia mengisi angket ini. Tanda Tangan, ...........................

(129) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 109 LAMPIRAN 2 SKALA PENELITIAN A. Skala Rejection Sensitivity (Rejection Sensitivity Questionnaire of Children) BAGIAN 1 Di bawah ini terdapat situasi-situasi atau keadaan-keadaan yang biasa terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari. Bayangkanlah dirimu berada dalam situasisituasi tersebut, dan ceritakanlah bagaimana perasaanmu jika kamu mengalami situasi atau keadaan itu. Berilah tanda silang (X) pada nomor yang paling menggambarkan perasaanmu. 1. Bayangkan kamu ingin membeli kado untuk seseorang yang penting bagimu, tapi uangmu tidak cukup. Lalu kamu mendekati salah seorang teman di kelasmu untuk meminjam uang. Temanmu berkata, “Tunggu aku di luar gerbang setelah sekolah selesai. Nanti aku bawakan uangnya”. Setelah sekolah selesai kamu menunggu di luar gerbang sekolah. Sambil menunggu, kamu bertanya-tanya dalam hati apakah temanmu benar-benar akan datang. Saat itu, seberapa gelisah perasaanmu, terhadap kemungkinan temanmu akan datang/ tidak datang? Tidak Gelisah Sangat Sangat Gelisah 1 2 3 4 5 6 Saat itu, seberapa marah perasaanmu, terhadap kemungkinan temanmu akan datang/ tidak datang? Tidak Marah Sangat Sangat Marah 1 2 3 4 5 6 Menurutmu, apakah temanmu akan datang untuk meminjamkan uangnya? YA!! TIDAK!! 1 2. 2 3 4 5 6 Bayangkan suatu hari kamu adalah anak terakhir yang keluar dari kelas untuk makan siang di kantin. Kamu sedang berlari menuruni tangga menuju

(130) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 110 kantin. Lalu kamu mendengar beberapa anak berbisik di beberapa anak tangga di bawahmu. Kamu bertanya-tanya dalam hati apakah mereka sedang membicarakanmu. Saat itu, seberapa gelisah perasaanmu, terhadap kemungkinan anakanak tersebut berbicara buruk tentangmu? Tidak Gelisah Sangat Sangat Gelisah 1 2 3 4 5 6 Saat itu, seberapa marah perasaanmu, terhadap kemungkinan anakanak tersebut berbicara buruk tentangmu? Tidak Marah Sangat Sangat Marah 1 2 3 4 5 6 Menurutmu, apakah mereka berbicara buruk tentangmu? YA!! TIDAK!! 1 2 3 4 5 6 3. Bayangkan salah seorang teman di kelasmu melapor ke Pak/Bu Guru bahwa kamu mengganggunya. Kamu mengatakan bahwa kamu tidak mengganggunya. Pak/Bu Guru memintamu untuk menunggu di luar kelas untuk berbicara denganmu. Kamu bertanya-tanya dalam hati apakah Pak/Bu Guru akan percaya padamu. Saat itu, seberapa gelisah perasaanmu, terhadap kemungkinan Pak/Bu Guru akan mempercayai/ tidak mempercayai ceritamu? Tidak Gelisah Sangat Sangat Gelisah 1 2 3 4 5 6 Saat itu, seberapa marah perasaanmu, terhadap kemungkinan Pak/Bu Guru akan mempercayai/ tidak mempercayai ceritamu? Tidak Marah Sangat Sangat Marah 1 2 3 4 5 6 Menurutmu, apakah Pak / Bu Guru akan mempercayai ceritamu? YA!! TIDAK!! 1 2 3 4 5 6 4. Bayangkanlah baru-baru ini kamu bertengkar sengit dengan salah seorang temanmu. Sekarang kamu memiliki masalah yang berat dan kamu ingin

(131) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 111 menceritakan masalahmu dengan temanmu tersebut. Kamu memutuskan untuk menunggu temanmu setelah sekolah selesai untuk berbicara dengannya. Kamu bertanya-tanya dalam hati apakah temanmu mau berbicara denganmu. Saat itu, seberapa gelisah perasaanmu, terhadap kemungkinan temanmu mau berbicara/ tidak mau berbicara denganmu dan mendengarkan masalahmu? Tidak Gelisah Sangat Sangat Gelisah 1 2 3 4 5 6 Saat itu, seberapa marah perasaanmu, terhadap kemungkinan temanmu mau berbicara/ tidak mau berbicara denganmu dan mendengarkan masalahmu? Tidak Marah Sangat Sangat Marah 1 2 3 Menurutmu, apakah temanmu mendengarkan masalahmu? YA!! 1 2 3 4 mau 5 berbicara 6 denganmu dan TIDAK!! 4 5 6 5. Bayangkanlah ada orang terkenal akan berkunjung ke sekolahmu. Pak/Bu Guru akan memilih 5 anak untuk bertemu dengan orang tersebut. Kamu bertanya-tanya dalam hati apakah kamu akan dipilih. Saat itu, seberapa gelisah perasaanmu, terhadap kemungkinan kamu akan dipilih/ tidak dipilih? Tidak Gelisah Sangat Sangat Gelisah 1 2 3 4 5 6 Saat itu, seberapa marah perasaanmu, terhadap kemungkinan kamu akan dipilih/ tidak dipilih? Tidak Marah Sangat Sangat Marah 1 2 3 4 5 6 Menurutmu, apakah kamu akan dipilih untuk bertemu dengan tamu istimewa tersebut? YA!! TIDAK!! 1 2 3 4 5 6

(132) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 112 6. Bayangkanlah kamu baru saja pindah sekolah dan sekarang kamu sedang berjalan pulang dari sekolah. Kamu berharap ada teman yang bisa menemanimu berjalan pulang. Kamu melihat di depanmu ada seorang teman sekelasmu sedang berjalan pulang juga. Kamu memutuskan untuk menyusul dan mengajaknya ngobrol. Ketika kamu sedang bergegas menyusulnya, kamu bertanya-tanya dalam hati apakah dia mau ngobrol denganmu. Saat itu, seberapa gelisah perasaanmu, terhadap kemungkinan dia mau ngobrol/ tidak mau ngobrol denganmu? Tidak Gelisah Sangat Sangat Gelisah 1 2 3 4 5 6 Saat itu, seberapa marah perasaanmu, terhadap kemungkinan dia mau ngobrol/tidak mau ngobrol denganmu? Tidak Marah Sangat Sangat Marah 1 2 3 4 5 Menurutmu, apakah dia mau ngobrol denganmu? YA!! 1 2 3 4 6 TIDAK!! 5 6 7. Bayangkanlah kamu duduk di kelas bagian belakang. Pak/Bu Guru meminta agar beberapa anak dapat membantu pesta syukuran kelasmu secara sukarela. Pak /Bu Guru meminta agar anak yang mau membantu mengacungkan tangan. Banyak anak mengacungkan tangan sehingga kamu bertanya-tanya dalam hati apakah Pak/Bu Guru akan memilihmu. Saat itu, seberapa gelisah perasaanmu, terhadap kemungkinan kamu akan dipilih/ tidak dipilih oleh Pak/Bu Guru? Tidak Gelisah Sangat Sangat Gelisah 1 2 3 4 5 6 Saat itu, seberapa marah perasaanmu, terhadap kemungkinan kamu akan dipilih/ tidak dipilih oleh Pak/Bu Guru? Tidak Marah Sangat Sangat Marah 1 2 3 4 5 Menurutmu, apakah Pak/ Bu Guru akan memilihmu? 6

(133) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI YA!! 1 113 TIDAK!! 2 3 4 5 6 8. Bayangkanlah pada suatu hari Sabtu siang kamu membawa barang belanjaan pulang ke rumah karena diminta orang tuamu. Saat itu hujan deras dan kamu ingin segera sampai di rumah. Tiba-tiba tas belanjaanmu robek dan barangbarang belanjaanmu tumpah. Kamu melihat ke sekeliling dan terlihat olehmu dua orang teman sekelasmu sedang berjalan cepat-cepat. Kamu bertanyatanya dalam hati apakah mereka mau berhenti dan membantumu. Saat itu, seberapa gelisah perasaanmu, terhadap kemungkinan temantemanmu mau berhenti/ tidak mau berhenti dan mau membantumu? Tidak Gelisah Sangat Sangat Gelisah 1 2 3 4 5 6 Saat itu, seberapa marah perasaanmu, terhadap kemungkinan temantemanmu mau berhenti/ tidak mau berhenti dan mau membantumu? Tidak Marah Sangat Sangat Marah 1 2 3 4 5 6 Menurutmu, apakah teman-temanmu mau menawarkan diri untuk membantumu? YA!! TIDAK!! 1 2 3 4 5 6 9. Bayangkanlah kamu baru saja pindah sekolah. Di sekolah yang baru, Pak/Bu Guru mengijinkan murid-murid untuk meminjam program video game untuk dibawa pulang dan dimainkan di rumah setiap akhir pekan (Sabtu-Minggu). Beberapa minggu berlalu dan selama ini kamu hanya melihat temanmu meminjam program video game untuk dibawa pulang. Sekarang kamu memutuskan mendatangi Pak/Bu Guru untuk bertanya apakah pada SabtuMinggu ini kamu boleh meminjam program video game. Kamu bertanya-tanya dalam hati apakah Pak/Bu Guru akan mengijinkanmu meminjam program video game. Saat itu, seberapa gelisah perasaanmu, terhadap kemungkinan Pak/Bu Guru mengijinkanmu/ tidak mengijinkanmu meminjam program video game untuk Sabtu-Minggu ini?

(134) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Tidak Gelisah 1 114 Sangat Sangat Gelisah 2 3 4 5 6 Saat itu, seberapa marah perasaanmu, terhadap kemungkinan Pak/Bu Guru mengijinkanmu/ tidak mengijinkanmu meminjam program video game untuk Sabtu-Minggu ini? Tidak Marah Sangat Sangat Marah 1 2 3 4 5 6 Menurutmu, apakah Pak/Bu Guru mengijinkanmu membawa pulang program video game untuk Sabtu-Minggu ini? YA!! TIDAK!! 1 2 3 4 5 6 10. Bayangkanlah kamu berada di dalam kelas. Semua anak di kelas membentuk kelompok-kelompok untuk mengerjakan suatu tugas kelompok. Kamu duduk melihat banyak anak-anak lain dipilih teman-temannya untuk bergabung dalam kelompok mereka. Ketika kamu menunggu, kamu bertanya-tanya dalam hati apakah teman-temanmu akan memilihmu menjadi anggota kelompok mereka. Saat itu, seberapa gelisah perasaanmu, terhadap kemungkinan temantemanmu memilihmu/ tidak memilihmu untuk menjadi anggota kelompok mereka? Tidak Gelisah Sangat Sangat Gelisah 1 2 3 4 5 6 Saat itu, seberapa marah perasaanmu, terhadap kemungkinan temantemanmu memilihmu/ tidak memilihmu untuk menjadi anggota kelompok mereka? Tidak Marah Sangat Sangat Marah 1 2 3 4 5 6 Menurutmu, apakah teman-temanmu memilihmu menjadi anggota kelompok mereka? YA!! TIDAK!! 1 2 3 4 5 6

(135) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 115 11. Bayangkanlah keluargamu baru saja pindah ke daerah yang baru, dan kamu pindah ke sekolah yang baru. Besok akan ada ulangan Matematika yang penting, dan kamu sangat cemas karena kamu sama sekali tidak paham materi pelajaran yang akan diujikan! Kamu memutuskan untuk menemui gurumu dan membicarakan masalahmu pada saat sekolah selesai. Kamu bertanya-tanya dalam hati apakah Pak/Bu Guru akan berbaik hati menawarkan diri untuk membantumu. Saat itu, seberapa gelisah perasaanmu, terhadap kemungkinan Pak/ Bu Guru akan menawarkan diri untuk membantumu? Tidak Gelisah Sangat Sangat Gelisah 1 2 3 4 5 6 Saat itu, seberapa marah perasaanmu, terhadap kemungkinan Pak/ Bu Guru akan menawarkan diri untuk membantumu/ tidak membantumu? Tidak Marah Sangat Sangat Marah 1 2 3 4 5 6 Menurutmu, apakah Pak/ Bu Guru akan menawarkan diri untuk membantumu? YA!! TIDAK!! 1 2 3 4 5 6 12. Bayangkanlah kamu sedang di kamar mandi di sekolahmu. Dari dalam kamar mandi, kamu mendengar sayup-sayup dua orang gurumu di luar sedang memperbincangkan tentang salah seorang murid. Kamu mendengar bahwa Pak/Bu Guru sangat tidak suka anak tersebut ada di kelasnya. Kamu bertanya-tanya dalam hati apakah murid yang dimaksud Pak/Bu Guru adalah kamu. Saat itu, seberapa gelisah perasaanmu, terhadap kemungkinan Bu Guru sedang membicarakanmu/ tidak sedang membicarakanmu? Tidak Gelisah Sangat Sangat Gelisah 1 2 3 4 5 6

(136) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 116 Saat itu, seberapa marah perasaanmu, terhadap kemungkinan Bu Guru sedang membicarakanmu/ tidak sedang membicarakanmu? Tidak Marah Sangat Sangat Marah 1 2 3 4 5 6 Menurutmu, apakah murid yang tidak disukai Bu Guru di kelasnya adalah kamu? YA!! TIDAK!! 1 2 3 4 5 6 B. Skala Kelekatan Terhadap Ibu (Inventory of Parent and Peer Attachment Mother-Version) BAGIAN 2 Pernyataan-pernyataan di bawah ini menanyakan tentang perasaan-perasaanmu terhadap Ibumu atau terhadap orang lain yang berperan sebagai Ibumu. Jika kamu memiliki lebih dari 1 orang yang berperan sebagai Ibu (misalnya, Ibu kandung dan Ibu tiri), maka jawablah pernyataan-pernyataan di bawah ini berdasar pada satu orang yang kamu rasa paling mempengaruhimu. Bacalah setiap pernyataan dengan seksama. Pilih dan berilah tanda silang (X) pada kolom yang mengungkapkan seberapa benar pernyataan di bawah ini terjadi pada dirimu. Tidak ada jawaban yang benar atau salah. Jawablah sesuai kenyataan yang ada pada dirimu. No. 1. 2. Pernyataan Ibuku menghargai perasaanku. Aku merasa Ibuku bertindak sebagai Ibu yang baik. Hampir Sering Kadang- Sering Hampir Tidak Tidak kadang Benar Selalu Pernah Benar Benar atau atau Selalu Tidak Benar Benar

(137) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. No. 117 Aku berharap memiliki Ibu yang lain. Ibuku menerimaku apa adanya. Aku merasa perlu mengetahui pendapat ibuku tentang hal-hal aku pikirkan. Aku merasa bahwa menunjukkan perasaanku kepada Ibu adalah tindakan yang tidak ada gunanya. Ibuku dapat memberi nasihat ketika aku sedang kesal. Membicarakan masalah-masalahku dengan Ibuku membuatku merasa malu atau bodoh. Ibuku berharap terlalu banyak padaku. Aku mudah merasa kesal ketika berada dekat dengan Ibuku. Sebenarnya ada lebih banyak kekesalan yang aku rasakan dibandingkan yang diketahui Ibuku. Pernyataan Hampir Sering Kadang- Sering Hampir Tidak Tidak kadang Benar Selalu Pernah Benar Benar atau atau Selalu

(138) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Tidak Benar 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. Ketika kami mendiskusikan sesuatu, ibuku memperhatikan pendapatku. Ibuku mempercayai keputusan atau penilaianku terhadap suatu hal. Ibuku memiliki masalah-masalahnya sendiri sehingga aku tidak mengganggu beliau dengan masalah-masalahku. Ibuku membantuku memahami diriku. Aku menceritakan masalah-masalah dan kesulitan-kesulitanku pada Ibuku. Aku merasa marah pada ibuku. Aku tidak mendapatkan banyak perhatian dari Ibuku. Ibuku mendukungku untuk membicarakan kesulitan-kesulitan yang aku alami. 20. Ibu memahamiku. 21. Ketika aku marah, Ibuku mencoba untuk memahami. 118 Benar

(139) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 22. 23. 24. 25. 119 Aku mempercayai Ibuku. Ibuku tidak memahami apa yang aku alami dalam harihari ini. Aku dapat mengandalkan Ibuku ketika aku butuh melepaskan beban yang menyesak di dadaku. Jika Ibuku mengetahui ada sesuatu yang menggangguku, ia akan menanyakan hal itu kepadaku. C. Skala Mindfulness (Kentucky Inventory of Mindfulness Skills) Pilihlah : 1, jika pernyataan tidak pernah atau sangat jarang Anda alami 2, jika pernyataan jarang Anda alami 3, jika pernyataan kadang-kadang Anda alami 4, jika pernyataan sering Anda alami 5, jika pernyataan hampir selalu atau selalu Anda alami No Pernyataan 1. Saya menyadari perubahan pada tubuh saya, seperti nafas saya menjadi melambat atau menjadi lebih cepat. 1 1 2 2 3 3 4 4 5 5 2. Saya mampu memilih kata-kata yang tepat untuk menggambarkan perasaan saya. 1 2 3 4 5 3. Ketika mengerjakan sesuatu, pikiran saya melayang-layang dan perhatian saya mudah terpecah. 1 2 3 4 5

(140) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 120 No Pernyataan 1 2 3 4 5 4. Saya mengkritik diri saya sendiri karena memiliki berbagai perasaan yang tidak masuk akal dan tidak pantas. 1 2 3 4 5 5. Saya memperhatikan apakah otot-otot saya menegang atau mengendur 1 2 3 4 5 6. Saya mudah menjelaskan keyakinan, pendapat, atau harapan dengan katakata. 1 2 3 4 5 7. Ketika saya sedang mengerjakan sesuatu, perhatian saya terpusat pada apa yang sedang saya lakukan, tidak pada yang lain. 1 2 3 4 5 8. Saya cenderung menilai anggapanku benar atau salah. apakah 1 2 3 4 5 9. Ketika sedang berjalan, saya sungguhsungguh menyadari sensasi gerakan tubuh saya 1 2 3 4 5 10. Saya pandai dalam mencari kata-kata untuk mengungkapkan persepsi saya, misalnya rasa, bau, atau suara yang saya tangkap. 1 2 3 4 5 11. Saya mengerjakan sesuatu otomatis tanpa menyadarinya. secara 1 2 3 4 5 12. Saya mengatakan pada diri sendiri bahwa seharusnya saya tidak merasakan apa yang sedang saya rasakan. 1 2 3 4 5 13. Ketika sedang mandi, saya menyadari sensasi air yang mengenai tubuh saya. 1 2 3 4 5 14. Sulit bagi saya menemukan kata-kata untuk menggambarkan apa yang sedang saya pikirkan. 1 2 3 4 5 15. Ketika 1 2 3 4 5 sedang membaca, saya

(141) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI No 121 Pernyataan memusatkan semua perhatian saya pada apa yang sedang saya baca. . 16. Saya yakin bahwa sebagian pikiran saya jelek atau tidak semestinya, dan seharusnya saya tidak berpikir seperti itu. 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 17. Saya menyadari pengaruh makanan dan minuman terhadap pikiran, sensasi pada tubuh dan perasaan saya. 1 2 3 4 5 18. Saya kesulitan mencari kata-kata yang tepat untuk mengungkapkan apa yang saya rasakan. 1 2 3 4 5 19. Ketika sedang mengerjakan sesuatu, perhatian saya begitu tertuju pada apa yang sedang saya kerjakan dan saya tidak memikirkan hal lain. 1 2 3 4 5 20. Saya menilai apakah pikiran saya baik atau buruk. 1 2 3 4 5 21. Saya memperhatikan sensasi panca indra, seperti angin yang bertiup di rambut saya atau sinar matahari yang mengenai wajah saya. 1 2 3 4 5 22. Ketika saya merasakan sensasi pada tubuh, saya sulit untuk menggambarkannya karena saya tidak bisa menemukan kata-kata yang tepat. 1 2 3 23. Saya tidak memperhatikan apa yang sedang saya lakukan karena saya melamun, khawatir, atau perhatian saya terpecah. 1 2 3 4 5 24. Saya cenderung menilai apakah pengalaman-pengalaman saya berharga atau tidak. 1 2 3 4 5 25. Saya 1 2 3 4 5 memperhatikan suara-suara, 4 5

(142) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI No 122 Pernyataan seperti suara detik jam, kicauan burung, atau mobil yang lewat. 1 2 3 4 5 26. Bahkan ketika perasaan saya sangat terguncang, saya tetap dapat mengungkapkan perasaan saya dengan kata-kata. 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 28. Saya mengatakan pada diri sendiri bahwa seharusnya saya tidak berpikir seperti ini. 1 2 3 4 5 29. Saya menyadari bau dan aroma-aroma. 1 2 3 4 5 30. Secara sadar saya mencoba selalu menyadari perasaan saya. 1 2 3 4 5 31. Saya cenderung mengerjakan beberapa hal sekaligus secara bersamaan daripada memusatkan perhatian pada satu hal pada satu waktu. 1 2 32. Menurut saya sebagian perasaan saya jelek atau tidak pantas dan seharusnya saya tidak mempunyai perasaan seperti itu. 1 2 33. Saya memperhatikan aspek visual pada alam atau karya seni, seperti warna, bentuk, bentuk permukaan, atau pola pencahayaan dan bayangan 1 2 34 Saya cenderung mengungkapkan berbagai pengalaman saya secara spontan lewat kata-kata. 1 2 35. Ketika sedang mengerjakan sesuatu, 1 . 27. Ketika sedang mengerjakan pekerjaanpekerjaan di rumah, misalnya bersihbersih atau mencuci baju, saya cenderung melamun atau memikirkan hal lain. 2 3 3 3 3 3 4 4 4 5 5 5 4 5 4 5

(143) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI No 123 Pernyataan sebagian pikiran saya disibukkan oleh hal-hal lain, misalnya apa yang nanti akan saya kerjakan, atau hal lain yang sebenarnya lebih ingin saya kerjakan. 1 2 3 4 5 36. Saya tidak menerima diri saya ketika saya memiliki pikiran yang tidak masuk akal. 1 2 3 4 5 37. Saya memperhatikan pengaruh perasaan terhadap pikiran dan tindakan saya. 1 2 3 4 5 38. Saya menjadi sangat fokus dengan apa yang saya lakukan sehingga perhatian saya terpusat pada hal itu. 1 2 3 4 5 39. Saya menyadari ketika perasaan saya mulai berubah. 1 2 3 4 5

(144) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI LAMPIRAN 3 UJI RELIABILITAS A. Tabel Uji Reliabilitas CRSQ Reliability Statistics Cronbach's Alpha N of Items .879 36 B. Tabel Uji Reliabilitas IPPA-M Reliability Statistics Cronbach's Alpha N of Items .656 25 C. Tabel Uji Reliabilitas KIMS Reliability Statistics Cronbach's Alpha N of Items .863 39 124

(145) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI LAMPIRAN 4 UJI PRASYARAT ANALISIS A. Uji Normalitas Gambar Uji Outlier Tabel Uji Kolomogrov Smirnov Test One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Unstandardized Residual N Normal Parameters 304 a Mean Std. Deviation Most Extreme Differences .0000000 3.08762635 Absolute .044 Positive .032 Negative -.044 Kolmogorov-Smirnov Z .770 Asymp. Sig. (2-tailed) .594 a. Test distribution is Normal. 125

(146) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 126 B. Uji Linearitas Uji Linearitas IPPA-M dan RSQ ANOVA Table Sum of Squares MEAN_RSQ Between Groups (Combined) * MEAN_IPPA 1286.372 Linearity Mean df 61 21.088 174.962 Deviation from Linearity 1111.410 Square 1 174.96 2 60 18.523 Within Groups 2286.432 245 Total 3572.804 306 F Sig. 2.260 .000 18.748 .000 1.985 .000 9.332 Uji Linearitas KIMS dan RSQ ANOVA Table Sum of Squares MEAN_RSQ Between Groups (Combined) Mean df Square F Sig. 677.086 57 11.879 1.021 .442 71.501 1 71.501 6.148 .014 605.585 56 10.814 .930 .618 Within Groups 2895.718 249 11.629 Total 3572.804 306 * Linearity MEAN_KIMS Deviation from Linearity

(147) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 127 C. Uji Multikoloneiritas Coefficients Model 1 (Const t) MEAN _IPPA MEAN _KIMS Unstandardized Standardized Coefficients Coefficients B Std. Error 17.719 2.822 -1.290 .387 -1.246 .927 a. Dependent Variable: MEAN_RSQ D. Uji Heteroskendasitas Beta a Collinearity Statistics t Sig. Tolerance VIF 6.278 .000 -.196 -3.334 .001 .899 1.113 -.079 -1.343 .180 .899 1.113

(148) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI LAMPIRAN 5 UJI DEMOGRAFIS A. Deskripsi Jenis Kelamin Subyek Penelitian JENIS_KELAMIN Cumulative Frequency Valid Valid Percent Percent Laki-laki 151 49.7 53.2 53.2 Perempuan 132 43.4 46.5 99.6 1 .3 .4 100.0 Total 284 93.4 100.0 999 20 6.6 304 100.0 4 Missing Percent Total B. Deskripsi Usia Subyek Penelitian USIA Cumulative Frequency Valid Total Valid Percent Percent 12 6 1.6 1.7 2.0 13 27 8.9 8.9 10.9 14 30 9.9 9.9 20.8 15 18 5.9 5.9 26.7 16 88 28.9 29.0 55.8 17 117 38.5 38.6 94.4 18 7 2.3 2.3 96.7 19 2 .7 .7 97.4 999 8 2.6 2.6 100.0 303 99.7 100.0 1 .3 304 100.0 Total Missing Percent System 128

(149) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 129 LAMPIRAN 6 UJI HIPOTESIS A. Uji Regresi Antara Kelekatan Terhadap Ibu dengan Rejection Sensitivity Coefficients a Standardized Unstandardized Coefficients Model 1 B Coefficients Std. Error Beta (Constant) 13.079 1.341 MEAN_IPPA -1.131 .348 t -.184 Sig. 9.750 .000 -3.247 .001 a. Dependent Variable: MEAN_RSQ B. Uji Regresi Antara Mindfulness dengan Rejection Sensitivity Coefficients a Standardized Unstandardized Coefficients Model 1 B Coefficients Std. Error Beta (Constant) 16.993 2.599 MEAN_KIMS -2.620 .826 t -.180 Sig. 6.537 .000 -3.174 .002 a. Dependent Variable: MEAN_RSQ C. Uji Regresi Antara Kelekatan Terhadap Ibu dengan Mindfulness Coefficients a Standardized Unstandardized Coefficients Model 1 B (Constant) MEAN_IPPA Std. Error 2.603 .088 .141 .023 a. Dependent Variable: MEAN_KIMS Coefficients Beta t .334 Sig. 29.513 .000 6.162 .000

(150) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 130 D. Uji Regresi Antara Kelekatan Terhadap Ibu dengan Rejection Sensitivity yang Dimediasi oleh Mindfulness Coefficients a Standardized Unstandardized Coefficients Model 1 B (Constant) Std. Error 18.133 2.626 MEAN_IPPA -.857 .367 MEAN_KIMS -1.942 .870 a. Dependent Variable: MEAN_RSQ Coefficients Beta t Sig. 6.904 .000 -.139 -2.334 .020 -.133 -2.233 .026

(151)

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Korelasi antara konformitas kelompok sebaya dengan hubungan interpersonal dalam keluarga pada remaja
0
5
81
Hubungan antara kelekatan terhadap ibu dengan tingkat stres pada mahasiswa perantau.
2
9
138
Hubungan antara gaya kelekatan dengan konsep diri pada remaja di panti asuhan.
2
18
153
Hubungan antara kesejahteraan psikologis dengan pola kelekatan dewasa pada ibu bekerja.
1
9
198
Hubungan kelekatan terhadap ibu dan efikasi diri akademik remaja SMP.
3
12
121
Perilaku seksual pada remaja berpacaran ditinjau dari kelekatan terhadap ibu dan rentang usia.
1
3
122
Mindfulness sebagai mediator dalam hubungan antara kelekatan pada ibu dan self-silencing pada remaja laki dan perempuan.
1
7
175
Hubungan antara kelekatan terhadap ibu dengan tingkat stres pada mahasiswa perantau
2
9
136
Peran konformitas dalam hubungan antara harga diri dan impulsive buying pada remaja putri.
6
12
150
Peran konformitas dalam hubungan antara harga diri dan impulsive buying pada remaja putri
0
24
148
Hubungan antara persepsi terhadap penerimaan orang tua dengan tingkat empati pada remaja - USD Repository
0
0
122
Hubungan antara pola asuh demokratis dengan harga diri pada remaja - USD Repository
1
2
99
Gaya kelekatan sebagai prediktor tingkat keintiman dalam hubungan berpacaran pada individu di masa dewasa awal - USD Repository
0
0
182
Perbedaan persepsi ibu terhadap kelekatan aman anak berdasarkan marital role orangtua - USD Repository
0
0
143
Hubungan antara kualitas kelekatan dan penyelesaian konflik antara remaja awal dengan orang tua - USD Repository
0
0
159
Show more