Deskripsi kunjungan keluarga oleh suster-suster MASF sebagai anggota tim pastoral keluarga di wilayah Santo Andreas Songgolangit Paroki Santo Paulus kleco Surakarta - USD Repository

Gratis

0
0
194
2 months ago
Preview
Full text

  

DESKRIPSI KUNJUNGAN KELURAGA OLEH SUSTER-SUSTER MASF

SEBAGAI ANGGOTA TIM PASTORAL KELUARGA

DI WILAYAH SANTO ANDREAS SONGGOLANGIT

PAROKI SANTO PAULUSKLECO SURAKARTA

S K R I P S I

  

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik

  

Oleh:

Petronela Helena Balok

NIM: 091124007

PROGRAM STUDI ILMU PENDIDIKAN

  

KEKHUSUSAN PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK

JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

2013

  

iv

PERSEMBAHAN

  

Skripsi ini kupersembahkan bagi:

Para Suster Misi Adorasi dari Santa Familia Indonesia

Kedua orang tuaku, kakak-kakak dan adikku, para pendidik dan sahabat-

sahabatku yang telah memberikan dukungan moral, spiritual dan finansial.

serta

Keluarga-keluarga Katolik di wilayah Santo Andreas Songgolangit paroki Santo Paulus Kleco yang telah membantu dalam penulisan skripsi ini.

  

Terima Kasih.

  

.

  

v

MOTTO

  

“Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku

telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu

itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku,

diberikannya kepadamu. Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang akan

yang lain.” (Yoh. 15:16).

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

  

Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini

tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah

disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka sebagaimana layaknya karya

ilmiah.

  Yogyakarta, 20 Desember 2013 Penulis, Petronela Helena Balok

  

PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI

KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Yang bertanda tangan di bawah ini, mahasiswa Universitas Sanata Dharma:

Nama : Petronela Helena Balok

  NIM : 091124007 Demi pengembangan ilmu pengetahuan, penulis memberikan

wewenang bagi Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah

penulis yang berjudul

DESKRIPSI KUNJUNGAN KELUARGA OLEH SUSTER-SUSTER

MASF SEBAGAI ANGGOTA TIM PASTORAL KELUARGA DI

WILAYAH SANTO ANDREAS SONGGOLANGIT PAROKI SANTO

PAULUS KLECO SURAKARTA beserta perangkat yang diperlukan (bila

ada).

  Dengan demikian penulis memberikan kepada Perpustakaan

Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam

bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalandata,

mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di internet atau

media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin maupun

memberikan royalti kepada penulis, selama tetap mencantumkan nama saya

sebagai penulis. Demikian pernyataan ini penulis buat dengan sebenarnya.

  Yogyakarta, 20 Desember2013 Yang menyatakan Petronela Helena Balok

vii

  

ABSTRAK

Skripsi ini berjudul “DESKRIPSI KUNJUNGAN KELUARGA OLEH

  

SUSTER-SUSTER MASF SEBAGAI ANGGOTA TIM PASTORAL

KELUARGA DI WILAYAH SANTO ANDREAS SONGGOLANGGIT

PAROKI SANTO PAULUS KLECO SURAKARTA”. Penulis memilih judul ini

dilatarbelakangi oleh kunjungan yang dilaksanakan suster-suster MASF selama

ini setiap Hari Minggu sore terhadap keluarga-keluarga Katolik. Skripsi ini

bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan kunjungan keluarga yang telah

dilaksanakan.

  Kunjungan keluarga merupakan salah satu bentuk perhatian antar pribadi

untuk saling memahami pribadi yang satu dengan yang lain sebagai saudara, hadir

untuk saling memberikan perhatian, mendengarkan dan memahami kondisi

keluarga yang dikunjungi menjadi tandasolidaritas sebagai saudara seiman.

Kunjungan yang dilakukan secara sukarela bukan terutama untuk memecahkan

persoalan keluarga yang dikunjungi namun bertujuan untuk membangun

komunikasi dan membina solidaritas dan semangat paguyuban antara sesama

umat beriman yang membawa perubahan-perubahan dalam sikap dan melibatkan

diri dalam hidup menggereja. Segenap kapasitas ini dapat dipenuhi dengan sebuah

pemahaman, keterampilan dan semangat kerjasama yang baik sehingga dapat

meningkatkan mutu kunjungan.

  Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kuantitatif. Penelitian

dalam skripsi semua keluarga Katolik sebanyak 121 kepala keluarga. Namun yang

kuesioner yang kembali hanya 84 keluarga. Instrumen yang digunakan ialah

kuesioner, wawancara, dan studi dokumen. Dari hasil uji validitas pada taraf

signifikansi 5%, N 84 keluarga diperoleh sebanyak 68 item yang valid. Sedangkan

hasil uji reliabilitas diperoleh koefisien sebesar 0,926 yang menunjukkan

reliabilitas instrumen penelitian ini sangat tinggi.

  Hasil penelitian menunjukkan bahwa skor rata-rata kunjungan atas

keseluruhan aspek ialah 217,48.Hal ini menunjukkan bahwa kunjungan masuk

dalam kriteria yang baik.Berdasarkan penelitian menunjukkan bahwa kunjungan

yang dilakukan selama ini cukup baik. Faktor yang berpengaruh terhadap hasil

kunjungan ialah tenaga pastoral kurang maksimalnya kunjungan karena

pemahaman tentang kunjungan pastoral keluarga yang terbatas, kurangnya

memiliki keterampilan dan kurangnya semangat rohani dalam melaksanakan

kunjungan. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, maka disarankan perlunya untuk

semakin meningkatkan mutu kunjungan melalui pelatihan sebagai pengembangan

lebih lanjut bagi tenaga pastoral yang ada di Wilayah Santo Andreas Songgolangit

Paroki Santo Paulus Kleco Surakarta.

viii

  

ABSTRACT

The thesis entitled "THE DESCRIPTION FAMILY VISITBY MASF

  

SISTERS ASPASTORAL TEAM MEMBERS OF AT THE SAINT PAUL

PARISH SONGGOLANGIT KLECO SURAKARTA". The writer chose this

title based on the visit by the Sisters MASF on Sunday afternoonsin Catholic

families. This thesis aims to identify and describe family visits that have been

implemented.

  Family visit is one form of interpersonal attention to personal

understanding one another as brothers, bybeing present to the family to give each

other attention, listen, and understand the conditions families visited as a sign of

solidarity as brothers and sisters. Family visit carried out voluntarily is not the

only thing in solving family problems found, but rather it aims to build

communication, by fostering solidarity and community spirit. The spirit of this

visit is a means for the members of the faithful to bring changes to attitude, so as

to involve themselves in the church life. All this capacity can be met with an

understanding, skill, and spirit of good cooperation, which in turn can improve the

quality of the visit.

  This research is descriptive quantitative research. The population used in

this research were all Catholic families as many as 121 heads of families.

However, based on the results of questionnaires collected, only as many as 84

heads of families who returned the questionares. The instruments used were a

questionnaire, interview, and document research. The validity of test results at 5

% significance level, with N 84 families, as were many as 68 valid items. While

the results of test reliability showed the coefficient of 0.926 and thus the reliability

of the instrument was very high.

  The results showed that the mean score for the overall aspect of the

visitswas 217.48. This suggests that family visits were good in the criteria.

However, the results of the study indicate that the document is done during this

visit is quite good. The factors that influenced the outcome of the visit was that

pastoral workers were not optimal in doing their works, and they lack the skills,

and of spiritual zeal in carrying out the visits. Based on these results, it is

suggested they should further improve the quality of training visits, as a further

development for pastoral workers in the region of Saint Andrew Parish of St. Paul

KlecoSonggolangit Surakarta.

ix

KATA PENGANTAR

  Puji syukur kepada Tuhan Yesus yang telah menganugerahkan rahmat-Nya kepada penulis untuk menyelesaikan skripsi ini yang berjudul: “DESKRIPSI KUNJUNGAN KELUARGA OLEH SUSTER-SUSTER MASF SEBAGAI ANGGOTA TIM PASTORAL KELUARGA DI WILAYAH SANTO ANDREAS SONGGOLANGIT PAROKI SANTO PAULUS KLECO SURAKARTA”.

  Penulisan skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolikdan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

  Penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini tidak terlepas dari cinta kasih, dan bantuan serta dukungan berbagai pihak, baik secara langsung maupun tidak langsung yang telah mendampingi, memberi motivasi kepada penulis. Oleh karena itu penulis menyampaikan limpah terima kasih dan penghargaan yang setulusnya kepada:

  

1. Drs. FX. Heryatno W.W., S.J., M.Ed. selaku Kaprodi IPPAK Universitas Sanata

Dharma yang memberikan dukungan dalam seluruh proses penyelesaian skripsi ini.

  

2. F.X. Dapiyanta, SFK, M.Pd, selaku dosen pembimbing utama sekaligus sebagai

dosen pembimbing akademik yang telah memberikan perhatian dan pendampingan kepada penulis selama menjalani proses pendidikan di kampus

  IPPAK sampai selesainya skripsi ini, yang meluangkan waktu, pikiran dan tenaga dalam membimbing penulis dengan penuh kesabaran, dan memberikan masukan x dan kritikan, yang selalu memberikan peneguhan sehingga penulis lebih termotivasi dalam menuangkan gagasan-gagasan dari awal hingga akhir penulisan skripsi ini.

  

3. Dr. B. Agus Rukiyanto, SJ selaku dosen penguji II yang dalam kebersamaan

selalu meluangkan waktu, memberi sapaan dan memberi semangat kepada penulis selama menjalani proses pendidikan di kampus IPPAK hingga selesainya penulisan skripsi ini.

4. Drs.L.Bambang Hendarto.,Y. M.Hum. selaku dosen penguji III yang telah berkenan mendampingi dan menguji skripsi ini.

  

5. Segenap staf dosen prodi IPPAK, Karyawan Fakultas Keguruan dan Ilmu

Pendidikan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang dengan kerelaan hati dan penuh kesabaran telah mendidik dan membimbing penulis selama menempuh proses pendidikan sampai selesainya penulisan skripsi ini.

  

6. Para Sahabat mahasiswa, khususnya angkatan 2009 yang turut berperan dalam

memberipeneguhan, memberi dukungan, bantuan, kritik serta saran yang membangun sehingga penulis semakin termotivasi dalam menjalani pendidikan dan setia dalam menanggapi panggilan Tuhan.

  

7. Kedua orang tuaku tercinta dan segenap keluarga besarku yang dengan penuh

kasih selalu mendoakan, mendukung, memotivasi, mengingatkan dan membantu penulis selama ini.

  

8. Para sahabat karibku, Sr. Retty, Sr. Sisil, Sr. Vianey, Sr. Siska, Deslita,

Essy,Candra, Ella, Mery, Dance, Ade, Corry, Willin, Tuti, Sr. Henderina, Maria, Ibu Andri yang dengan cara masing-masing telah membantu baik secara moral, xi

  

material, maupun spiritual selama penulis menempuh pendidikan di prodi IPPAK-

USD Yogyakarta.

  

Para suster komunitas Dawung, komunitas Gentan, semua anggota MASF

9. Indonesiadan semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, yang telah

turut mendoakan, mendukung, memperhatikan, memotivasi dan mengingatkan

penulis selama ini.

  Semoga kasih karunia dan berkat Tuhan selalu berlimpah untuk kita semua.

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini masih banyak keterbatasan

dan kekurangan sehingga masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, dengan segala

kerendahan hati penulis mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca demi

perbaikan skripsi ini. Akhir kata, penulis berharap semoga karya tulis ini dapat

bermanfaat bagi setiap pihak yang berkepentingan, khususnya bagi tenaga pastoral di Wilayah Santo Andreas Songgolangit Paroki Santo Paulus Kleco Surakarta.

  Yogyakarta, 20 Desember 2013 Penulis, Petronela Helena Balok xii

  

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

DAFTAR SINGKATAN DAN ISTILAH

  A. Singkatan Kitab Suci Seluruh singkatan Kitab Suci dalam skripsi ini mengikuti Alkitab Deuterokanonika, Lembaga Biblika Indonesia, 2008.

  B. Singkatan Dokumen ResmiGereja

GS : Gaudium et Spes, Dokumen Konsili Vatikan II, Gereja dalam

Dunia Modernpada tanggal 7 Desember 1965.

  

FC : Familiaris Consortio, Amanat Apostolik Paus Yohanes Paulus II

tentang Keluarga Kristiani Dalam Dunia Modern pada tanggal 16 November 1993.

  C. Singkatan Lain Art : Artikel Ay : Ayat BKSN : Bulan Kitab Suci Nasional Bdk : Bandingkan Dkk : Dan kawan-kawan

  Gbr : Gambar KWI : KonferensiWaligereja Indonesia.

  KV II : Konsili Vatikan II KS : Kitab Suci KK : Kepala Keluarga Konst : Konstitusi LP : Lembaga Permasyarakatan

MSF : Missionarii a Sacra Familia (para Misionaris Keluarga Kudus)

MASF : Misi Adorasi Santa Familia ( Para suster Keluarga Kudus) No : Nomor PKK : Pemberdayaan dan Kesejahteran Keluarga RW : Rukun Warga RT : Rukun Tetangga St. : Santo Th : Tahun

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kongregasi Suster-suster Misi dan Adorasi dari Santa Familia (MASF) adalah

  

kongregasi religius tingkat keuskupan. Kongregasi Misi dan Adorasi dari Santa

Familia didirikan oleh Pater Antonius Maria Trampe, MSF. Kongregasi ini didirikan

untuk menanggapi tanda-tanda zaman khususnya keprihatinan karya misi yang terjadi

di Kalimantan Timur, yang pada waktu itu dilayani oleh para Pastor Kongregasi MSF.

  Veuger (1997: 13), mengungkapkan bahwa para pastor MSF mengalami

ketidakmampuan atau ketidakberdayaan dalam memaksimalkan pelayanan terhadap

perkembangan Gereja di tanah misi. Banyak anak dan remaja yang tidak mendapatkan

pendidikan formal maupun non-formal yang layak. Banyak ibu yang meninggal waktu

melahirkan, juga bayi karena tidak mendapatkan pertolongan medis yang memadai.

Kehidupan keluarga-keluarga muda kurang mampu berkembang menjadi keluarga

Kristiani sejati karena kurang pembinaan dan pendampingan, sehingga iman tidak

dapat tumbuh dan berkembang dengan semestinya.

  Selain itu dalam kunjungannya ke Indonesia, khususnya di Kalimantan Timur,

Pater Trampe juga melihat dan mengalami betapa sulit para Misionaris MSF melayani

umat yang terpencar. Minimnya tenaga pastoral keluarga, sarana transportasi, dan

medan karya yang luas dan sulit dijangkau, menyebabkan mereka mendesak

Provinsial MSF untuk mengirimkan suster-suster ke tanah misi di Kalimantan Timur.

  Panggilan dan perutusan Suster-suster MASF sebagai Kongregasi Misioner,

  

Panggilan dan perutusan menandakan kepekaan para Suster MASF terhadap dambaan

umat akan kesatuan dan persaudaraan, memberikan kesaksian iman akan Kristus

dengan sungguh; bahwa Allah sungguh hadir di tengah keluarga dan sungguh

mengasihi umatNya Konst., (2008: no.13).

  Dokumen Familiaris Consortio (1981: art.17) memuat bahwa keluarga

menemukan dalam rencana Allah pencipta dan penebus tidak hanya melalui jati

dirinya, yakni hakikat keluarga, akan tetapi juga tugas perutusannya, yakni apa yang

dapat dan harus dilakukannya. Oleh karenanya, setiap tugas khusus keluarga

merupakan pengungkapan dan perwujudan konkret dari tugas perutusan untuk

membangun persekutuan pribadi-pribadi, melayani kehidupan, berperan-serta dalam

pengembangan masyarakat, dan mengambil bagian dalam hidup dan perutusan Gereja.

  Perutusan Gereja melalui keluarga-keluarga Katolik mempunyai peranan

penting dalam pertumbuhan Gereja semesta. Dalam setiap keluarga Katolik tampak

nilai-nilai Injili, seperti: persaudaraan, cinta kasih, pengampunan, ketulusan,

kekudusan, rela berkorban, dan lain-lain.

  Konsti., (2008: no.14), memuat pengertian bahwa dengan dialog, para Suster

MASF melaksanakan pelayanan kepada sesama dan menerima mereka. Ini hanya

terlaksana apabila kehadiran para suster melalui kunjungan membawa dampak bagi

keluarga-keluarga Katolik, yakni mereka dipenuhi oleh cinta kasih, terlibat bersama

demi dunia yang lebih baik, maupun terlibat dalam pewartaan Kabar Gembira yang

nyata. Dengan demikian, perutusan para suster MASF mencakup segalanya, baik Injil

yang dihayati maupun yang diwartakan.

  Sebagai Kongregasi Misioner, para suster dipanggil secara istimewa terlibat

  

sungguh bahwa Allah sungguh mengasihi manusia. Para suster diutus oleh Allah sama

seperti Yesus untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin,

memberitakan pembebasan kepada tawanan, membuka penglihatan bagi orang buta,

dan membebaskan orang-orang tertindas (Konst., 2008: no. 12).

  Tugas perutusan para suster MASF sebagai Kongregasi Misioner dalam

rangka memberi kesaksian iman dan mewartakan Kerajaan Allah tidak hanya berhenti

di Kalimantan Timur, tetapi juga sampai di Pulau Jawa, khususnya di Solo, Jawa

Tengah.

  Kongregasi MASF masuk Kota Solo pada tahun 1970, tepatnya di Wilayah

Songgolangit Paroki Santo Paulus Kleco Surakarta. Keberadaan Kongregasi dalam

bentuk sebuah komunitas yakni komunitas Gentan merupakan bagian dari Wilayah

St. Andreas Songgolangit. Komunitas ini berada di tengah-tengah masyarakat yang

heterogen dan dikelilingi perumahan-perumahan yang sangat padat. Bertambahnya

perumahan di wilayah ini membawa dampak positif, yakni bertambahnya jumlah umat

Katolik, namun di samping itu, memunculkan sikap individualisme yang sangat tinggi

dengan sesama.

  Berada di tengah-tengah masyarakat yang heterogen, memberi pengaruh bagi

kehidupan umat di Wilayah St. Andreas Songgolangit. Pengaruh yang tampak tidak

hanya dalam profesi dan tingkat sosial, tetapi dalam aspirasi hidup dan keyakinan

beragama. Banyak keluarga Katolik mulai dikenal di masyarakat dan kemudian

membentuk paguyuban, sehingga muncul keluarga-keluarga Katolik yang mau

bergabung dalam paguyuban di wilayah dan di lingkungan.

  Selain itu, kehidupan ekonomi keluarga-keluarga Katolik pun semakin

  

banyaknya tanggung jawab yang harus dipenuhi oleh keluarga, seperti: biaya

pendidikan anak, kebutuhan rumah tangga, dan lain-lain, sehingga membuat banyak

keluarga yang bekerja sampai malam bahkan sampai larut malam.

  Tuntutan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi dalam keluarga-keluarga

Katolik sangat mempengaruhi kehidupan rohani, di mana sebagian keluarga mulai

kurang terlibat aktif dalam kegiatan di paroki maupun di lingkungan. Tidak dipungkiri

bahwa banyak anggota keluarga mengalami kesulitan kumpul bersama untuk makan

malam, rekreasi, dan doa malam bersama.

  Sebagian keluarga Katolik yang terbiasa melakukan kehidupan rohani, mulai

perlahan-lahan meninggalkan kebiasaannya, seperti: doa bersama sebelum dan

sesudah makan, membaca Kitab suci, dan doa sebelum tidur. Tidak hanya itu,

keterlibatan keluarga dalam kegiatan di paroki maupun di lingkungan sudah mulai

berkurang. Fakta menguatkan bahwa perkembangan kehidupan rohani mereka mulai

menurun dan kurang diperhatikan, khususnya ketika doa dan misa di lingkungan yang

hadir hanya sekitar 20-35 orang. Hal ini karena mereka tidak memiliki waktu luang

atau sibuk dengan tugas pribadi. Kesaksian iman keluarga perlahan-perlahan

cenderung mulai memudar, misalnya banyak keluarga takut membuat tanda salib saat

makan di restoran dan takut untuk mencantumkan nama baptis.

  Sebagai makhluk sosial, hidup keberimanan orang Katolik tidak lepas dari

sebuah komunitas bermasyarakat. Hubungan erat antara keluarga-keluarga Katolik

dan masyarakat sangat terbuka. Banyak keluarga Katolik yang terlibat dalam

kegiatan-kegiatan kemasyarakatan. Berdasarkan pengalaman penulis selama tinggal di

Solo, ada kesan bahwa keluarga-keluarga Katolik sangat disegani dalam masyarakat.

  

bergaul, dan memiliki tanggung jawab dalam menjalankan tugas. Hal tersebut

membuat sebagian dari umat Katolik dipercaya untuk memegang jabatan, seperti:

camat, RT, RW, bendahara, dan berbagai tanggung jawab yang menentukan dalam

masyarakat. Serangkaian pujian dan padatnya tugas pengabdian kepada masyarakat

yang diterima, membuat keluarga-keluarga Katolik cenderung mengabaikan

tanggungjawabnya sebagai umat beriman dalam mengikuti kegiatan-kegiatan gerejawi

di paroki maupun di lingkungan.

  Selain itu, perkembangan zaman yang serba instan turut mempengaruhi

perkembangan iman keluarga-keluarga Katolik dalam menghayati nilai-nilai dasar

kekatolikannya. Hal ini menjadi tantangan bagi Gereja untuk selalu setia

mengembangkan hidup beriman keluarga-keluarga Katolik. Bagaimana Gereja

mampu membangun dirinya lewat kegiatan-kegiatan pastoral serta membina dan

mengembangkan iman umatnya.

  Permasalahan yang dihadapi keluarga-keluarga Katolik baik dalam kehidupan

ekonomi, kehidupan doa, kehidupan bermasyarakat, maupun tantangan dalam hidup

menggereja membuat para suster MASF tergerak untuk melakukan berbagai kegiatan

atau pendekatan pastoral. Pendekatan yang dilakukan para suster MASF, khususnya

umat di Wilayah Santo Andreas Songgolagit melalui berbagai kegiatan untuk

membantu pengembangan iman keluarga-keluarga Katolik, seperti: pendalaman Kitab

Suci, doa Rosario, meditasi Kristiani, Adorasi, melibatkan umat dalam kegiatan-

kegiatan yang diadakan di susteran, menyediakan tempat untuk kegiatan lingkungan,

kunjungan orang sakit, mengirim komuni kepada orang sakit, serta kegiatan yang

dilakukan untuk mendampingi keluarga Katolik, khususnya kunjungan yang terencana

  Dasar kunjungan keluarga terletak pada hakikat Gereja sebagai paguyuban

dalam persaudaraan umat beriman. Kunjungan keluarga sebagai suatu karya kerasulan

Gereja, yang dilakukan oleh tim pastoral keluarga dari paroki dengan melibatkan

beberapa pihak maupun golongan tertentu. Kunjungan hendaknya memberi perhatian

dan berbagi kasih dengan keluarga-keluarga Katolik, menciptakan persaudaraan antar-

umat, dan menjadi pemerhati bagi perkembangan Gereja setempat dan lingkungannya.

  Kunjungan keluarga pada hakikatnya merupakan kesediaan untuk memahami

dan melibatkan diri pada situasi orang lain. Oleh karena itu, yang diharapkan dari

kunjungan keluarga tidak hanya untuk menasihati dan memecahkan masalah yang

dihadapi oleh keluarga-keluarga yang dikunjungi, akan tetapi memberi perhatiaan dan

membina persaudaraan umat beriman sehingga terciptalah sikap terbuka untuk

memperhatikan keadaan orang lain.

  Hal senada diungkapkan oleh Budyapranata (1994: 20), bahwa kunjungan

baik bersifat formal maupun bersifat non-formal pada dasarnya baik, sejauh itu untuk

kebaikan umat atau demi pembangunan umat. Kunjungan bertujuan untuk

membangun dialog yang terbuka, mendengarkan dengan sikap rendah hati, dan

memahami keluarga-keluarga yang dikunjungi. Dalam setiap kunjungan keluarga,

setiap tenaga pastoral keluarga berusaha mengajak dan membantu keluarga-keluarga

Katolik untuk menyadari tanggung jawab dan peranan mereka sebagai umat beriman

Katolik.

  Kunjungan keluarga merupakan salah satu hal mendasar untuk membangun

Gereja sebagai paguyuban dalam iman dan cinta kasih Kristus. Kunjungan keluarga

adalah pertemuan antar-pribadi, maka kunjungan bukan hanya sekedar datang pada

  

harus dijalankan, melainkan sebuah perjumpaan yang menguatkan, sapaan yang tulus

sehingga menjadi tanda solidaritas, dan kesediaan kita untuk menjadi saudara bagi

yang lain (Luk 1: 39-45).

  Kunjungan keluarga merupakan suatu bentuk kegiatan pastoral yang

diselenggarakan oleh paroki dalam usaha mengembangkan kehidupan iman keluarga-

keluarga Katolik. Dalam Gereja, para pelaksana reksa pastoral keluarga adalah uskup

yang memberi tugas kepada pastor paroki sebagai Gembala umat yang bekerja sama

dengan biarawan/biarawati, para profesional seperti ahli hukum Gereja, psikolog,

bidan dan pasangan suami istri yang hidup keluarganya cukup baik, yang peduli pada

pastoral keluarga untuk mengemban tanggung jawab utama atas reksa pastoral

keluarga.

  Selain keterlibatan para pelaksana, hal yang juga penting dan yang perlu

diperhatikan adalah perencanaan dan persiapan yang matang, baik itu persiapan

jangka pendek maupun persiapan jangka panjang dengan membuat perencanaan yang

konkret. Harapannya, persiapan dan perencanaan tersebut sesuai dengan kebutuhan

umat sehingga membantu umat Allah mengembangkan imannya yang lebih dalam dan

konsisten untuk selanjutnya diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

  Perencanaan yang matang juga merupakan suatu strategi yang efektif bagi

para Suster MASF. Dalam kunjungan kepada keluarga-keluarga Katolik sebagai hasil

kerjasama dengan tim pastoral keluarga lainnya, para suster mengagendakan sasaran

serta jadwal kunjungan pada setiap Hari Minggu sore secara rutin. Selain itu,

kunjungan yang dilakukan bersifat individu maupun komunal. Metode yang

digunakan dalam kunjungan adalah sharing, wawancara, dan tanya jawab. Waktu

  Keluarga-keluarga Katolik merupakan Gereja mini sebagai dasar

perkembangan iman dalam diri setiap umat beriman. Tujuan pokok dari kunjungan

keluarga yang dilakukan oleh salah satu tenaga pastoral keluarga paroki, yakni para

suster MASF adalah tercapainya kesejahteraan dan berkembangnya iman dalam

keluarga-keluarga Katolik serta terciptanya komunikasi timbal-balik antar- anggota

keluarga.

  Kehadiran para suster mendapat respon yang sangat positif dari keluarga-

keluarga yang dikunjungi, di mana setiap keluarga mempunyai harapan-harapan ingin

dikunjungi, didengarkan dan mendapat peneguhan iman. Hal ini tampak dalam

keterbukaan mereka untuk menceritakan permasalahan-permasalahan yang sedang

mereka hadapi, tetapi ada keluarga yang kurang terbuka dengan masalah yang

sedang dihadapi.

  Figur seorang suster yang terbuka untuk mendengarkan, dianggap mempunyai

pengetahuan tentang agama yang lebih daripada awam, sehingga keluarga-keluarga

Katolik mengharapkan adanya sikap bersahabat dan siap sedia untuk membantu

mereka mengembangkan kehidupan imannya. Selain itu, mereka mengharapkan

adanya kunjungan berkelanjutan dari para suster yang dapat menolong mereka untuk

kembali bangkit dalam penghayatan iman, sehingga tumbuh kesadaran akan tanggung

jawab mereka sebagai orang Katolik yang menyadari tugas perutusan mereka sebagai

keluarga Katolik sejati.

  Sikap memperhatikan dan menciptakan semangat kekeluargaan yang

dibangun antara para suster dan keluarga Katolik yang dikunjungi adalah suatu upaya

dalam mengembangkan kehidupan iman yang sejati. Oleh karenanya, dibutuhkan

  

seperti orang Samaria yang baik hati, yang digambarkan dalam Injil (Luk. 10: 25-37),

bahwa suasana yang terjadi dalam kunjungan keluarga adalah bertemu dengan orang

lain dalam segala keberadaanya, mendengarkan dengan penuh kasih, serta mencoba

memahami persoalan kehidupan mereka.

  Namun seiring berjalannya waktu, muncul kendala yakni kurangnya

pengetahuan dan pemahaman yang luas tentang dasar pastoral kunjungan keluarga itu

sendiri. Hal ini menuntut para suster harus belajar memiliki sikap sebagai seorang

pengunjung yang kreatif dan sekaligus sebagai seorang Gembala yang baik.

  Para suster yang kurang memahami tentang dunia keluarga dengan segala

permasalahan yang mereka hadapi, menimbulkan kesan bahwa kunjungan yang

dilakukan oleh para suster kurang menjawab kebutuhan keluarga-keluarga Katolik.

Meskipun, para suster mengadakan kunjungan keluarga secara rutin, namun mereka

tidak mempunyai perencanaan program yang tetap dan jelas. Selain itu, banyaknya

para suster yang masih studi, juga tugas karya lainnya sehingga kurangnya tenaga dari

para suster untuk mengadakan kunjungan keluarga.

  Hal ini memunculkan kesan bahwa para suster kurang menjiwai spiritualitas

Kongregasi sebagai Religius MASF, yang seharusnya lebih memberi perhatian kepada

keluarga-keluarga Kristiani melalui kunjungan keluarga. Dengan adanya kendala yang

terjadi dalam diri para suster, diharapkan mereka memiliki pengetahuan dan wawasan

pemikiran yang luas, diberi pembekalan pengetahuan dan keterampilan, serta

persiapan yang matang untuk menghadapi tantangan dan kesulitan dalam melakukan

pastoral kunjungan keluarga. Selain itu, para suster juga memiliki program kunjungan

yang jelas dan memiliki motivasi yang tulus serta kesediaan berkorban untuk

  Menurut Budyaranata (1994: 30-33), kunjungan keluarga pada hakikatnya

merupakan kesediaan setiap individu untuk saling memahami dan melibatkan diri

dengan situasi orang lain. Karena dalam kunjungan keluarga, kita hadir untuk saling

memperhatikan, mendengarkan sharing maupun ungkapan hati orang yang dikunjungi,

memahami kondisi keluarga yang dikunjungi, dan membangun suasana dialog yang

terbuka dan membahagiakan satu sama lain.

  Rutinitas kunjungan keluarga setiap Minggu yang dilakukan secara personal

maupun komunal mempunyai tujuan yang jelas, yakni untuk meningkatkan sikap

solidaritas di antara keluarga-keluarga Katolik dengan tenaga pastoral keluarga.

Kunjungan keluarga yang rutin tersebut diharapkan dapat mengetahui situasi setiap

keluarga Katolik, baik secara langsung maupun tidak langsung mengenai harapan-

harapan mereka akan perkembangan Gereja. Dengan demikian, terciptalah sebuah

komunikasi yang jujur, terbuka, saling menerima, saling memperhatikan, saling

mengampuni dan persaudaraan sejati, dan saling mendoakan.

  Kunjungan keluarga yang terencana dengan matang dari para tenaga pastoral

keluarga, yakni para suster MASF sangat membantu penghayatan iman keluarga, agar

keluarga-keluarga Katolik semakin tampak sebagai tanda kehadiran Allah di dunia.

Maka, penulis tertarik untuk memilih judul skr ipsi ini “DESKRIPSI KUNJUNGAN

KELUARGA OLEH SUSTER-SUTER MASF SEBAGAI ANGGOTA TIM

PASTORAL KELUARGA DI WILAYAH SANTO ANDREAS

SONGGOLANGIT PAROKI SANTO PAULUS KLECO SURAKARTA.”

B. Identifikasi Masalah

  Berdasarkan latar belakang di atas dengan berbagai permasalahan, maka identifikasi permasalahan dalam skripsi ini, sebagai berikut:

  

1. Kehidupan umat yang berada di tengah masyarakat yang heterogen, sehingga

banyak umat mulai kurang memperhatikan perkembangan iman.

  

2. Seberapa penting kunjungan dalam Gereja dan peran tenaga pastoral keluarga

dalam kunjungan keluarga?

  

3. Bagaimana konteks keluarga-keluarga yang ada di Wilayah St. Andreas

Songgolangit?

  

4. Keluarga-keluarga Katolik kurang menyadari tugas perutusannya sebagai anggota

umat Allah.

  

5. Perkembangan teknologi yang pesat menuntut setiap keluarga untuk bekerja keras

dalam memenuhi kebutuhan keluarga.

  

6. Sebagian keluarga-keluarga Katolik sibuk kerja untuk memenuhi kebutuhan

keluarga, sehingga kurang terlibat dalam kegiatan di paroki maupun di lingkungan.

  

7. Sikap hidup yang semakin individual memunculnya sikap kurang peduli dengan

keluarga lain dan kurang terlibat aktif dalam mengembangkan Gereja baik secara lokal maupun universal.

  

8. Kesulitan keluarga-keluarga Katolik untuk meningkatkan iman mereka melalui

kegiatan bersama dalam keluarga misalnya doa bersama, membaca Kitab Suci dan doa bersama sebelum dan sesudah

  

9. Banyak umat yang terlibat dalam hidup bermasyarakat, sehingga lupa dengan

  

10. Kurangnya perhatian tim pastoral keluarga bagi keluarga-keluarga Katolik,

sehingga banyak keluarga mengalami kebingungan mencari jalan keluar permasalahan yang mereka hadapi.

  

11. Sejauh mana kunjungan yang dilakukan oleh para suster membawa dampak bagi

perkembangan hidup beriman keluarga-keluarga Katolik?

  

12. Kurangnya pembekalan tentang pastoral, belum memiliki program kunjungan

keluarga yang jelas dan tepat, serta kesibukan studi dan tugas karya pribadi para suster MASF.

13. Kurangnya penghayatan spiritualitas kongregasi dari beberapa suster MASF dalam hal kunjungan keluarga.

  C. Pembatasan Masalah Berdasarkan permasalahan yang telah diuraikan di atas, penulisan skripsi ini

dibatasi pada “Deskripsi Kunjungan Keluarga Para Suster MASF sebagai anggota tim

pastoral di Wilayah St. Andreas Songgolangit, Paroki Santo Paulus Kleco, Surakarta”.

Pembatasan masalah ini dimaksudkan agar penulisan dapat lebih terfokus dan

mendalam.

  D. Perumusan Masalah Berdasarkan pembatasan masalah di atas, masalah dalam skripsi ini dirumuskan sebagai berikut:

  

1. Bagaimana kunjungan keluarga yang dilakukan oleh suster-suster MASF sebagai

anggota tim pastoral di Wilayah St. Andreas Songgolanggit?

E. Tujuan Penulisan

  Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan dari penulisan skripsi ini untuk:

1. Mendeskripsikan kunjungan keluarga yang dilakukan oleh Suster-suster MASF sebagai anggota tim pastoral keluarga.

F. Manfaat Penulisan

  Dari penelitian ini diharapkan akan memberikan manfaat sebagai berikut:

  

1. Keluarga-keluarga Katolik di lingkungan Songgolangit dalam berperan aktif

mengikuti kegiatan paroki dan lingkungan.

  

2. Sebagai evaluasi bagi tenaga pastoral keluarga supaya semakin menambah

wawasan, baik dari segi pengetahuan, keterampilan maupun spiritualitas dalam mengadakan kunjungan keluarga.

  3. Sebagai masukan bagi dewan para suster MASF Indonesia.

  

4. Untuk penulis: sebagai calon katekis penelitian ini sebagai sarana pengaplikasian

ilmu yang diperoleh di IPPAK dan menghayati tugas perutusan sebagai seorang pelaku Sabda.

G. Metode Penulisan

  Metode penulisan yang akan digunakan adalah deskriptif analisis. Deskripsi

artinya menguraikan masalah yang ada berdasarkan deferensi kepustakaan. Selain

kepustakaan penulis mengumpul data terkait dengan masalah yang ada dan

selanjutnya dianalisis.

H. Sistematika Penulisan

  Sistematika penulisan dalam skripsi ini, dibagi menjadi lima bagian, yakni

bagian pertama bab I, bagian kedua bab II, bagian ketiga bab III, bagian keempat bab

  IV, dan bagian kelima bab V yang dilengkapi dengan uraian sebagai berikut:

1. Bab I Pendahuluan

Bab I ini memuat latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penulisan, manfaat penulisan, metode penulisan, dan sistematika penulisan.

  2. Bab II Kajian Pustaka

  Bab II ini memuat tinjauan pustaka terhadap penelitian yang relevan dan

kajian teori pastoral, pastoral keluarga, kunjungan keluarga, dan kunjungan keluarga

menurut Spiritualitas Kongregasi MASF.

  3. Bab III Metodologi Penelitian

  Bab III ini memuat jenis penelitian, desain penelitian, populasi penelitian,

tempat dan waktu penelitian, instrumen penelitian, teknik pengumpulan data, dan

teknik analisis data.

  4. Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan

  Bab IV ini memuat hasil penelitian dan pembahasan mengenai “Deskripsi

Kunjungan Keluarga Para Suster MASF di Wilayah St. Andreas Songgolangit, Paroki

Santo Paulus Kleco, Surakarta”

5. Bab V Penutup

Bab V ini memuat kesimpulan dan saran yang ditemukan berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan.

BAB II KAJIAN PUSTAKA Kajian pustaka dalam bab yang kedua ini akan menguraikan empat hal pokok,

  

yakni pastoral, pastoral keluarga, kunjungan keluarga dan kunjungan keluarga

menurut Spiritualitas Kongregasi MASF.

A. Pastoral

1. Pengertian Pastoral

  Heuken (2005: 108), dalam Ensiklopedi Gereja jilid 6 menguraikan bahwa

pastoral adalah semua yang berhubungan dengan tugas “pastor” atau gembala paroki.

  

Namun, istilah pastoral cenderung digunakan sebagai singkatan untuk pelayanan umat

dan untuk teologi pastoral.

  Menurut Sumarno (2001: 1), istilah “Pastoral” berasal dari kata “Pastor”, yang dalam bahasa Latin berarti “Gembala”. Pastoral mempunyai arti esensial dalam kehidupan menggereja, seperti yang diungkapkan oleh Yesus, “Akulah Gembala yang B

aik” (Yoh. 10: 11). Dalam perikop ini, Yesus memberi gambaran Diri-Nya mengenai

tugas Gembala yang tidak melupakan domba-domba-Nya, yang pada akhirnya

menjadi teladan para imam-Nya. Berdasarkan pernyataan Yesus tersebut, maka

pengertian pastoral dipahami sebagai seluruh karya yang dilakukan oleh seorang

pastor sebagai pelayan imamat Gereja, yang bekerjasama dengan umat untuk

mengambil bagian dalam tugas Kristus sebagai Imam. Pengertian tersebut menandai

bahwa pelayanan pastoral tidak hanya melulu tugas para kaum tertahbis tetapi menjadi

  

Gereja, meliputi berbagai wadah atau lingkup iman yang berbeda-beda, misalnya:

pastoral sekolah, pastoral keluarga, pastoral paroki, pastoral dalam bidang

kemasyarakatan, pastoral kelompok basis, dan lain-lain.

  2. Dasar Pastoral Susanto (1986: 5), mengemukakan bahwa dasar pastoral pendampingan

keluarga adalah kegiatan untuk melayani iman. Pendampingan pastoral untuk

membantu sejauh dibutuhkan agar manusia dapat berkembang secara mandiri.

Pastoral adalah gambaran kegiatan pelayanan terhadap manusia yang berusaha untuk

menanggapi panggilan Allah.

  Menurut Mazmur 23, pastoral bersumber pada gambaran Allah adalah pastoral

yang selalu dilihat sebagai tindakan Allah. Menurut Injil (Yoh 10:11), Akulah Sang

Gembala Ilahi yang memelihara, membimbing, menuntun, melindungi, dan peduli

akan keselamatan umatnya, serta kegembalaan Tuhan yang harus tampak dalam

kehidupan menggereja.

  3. Tujuan Pastoral Hooijdonk (1980: 7), menyatakan bahwa tujuan pastoral adalah untuk

mengembangkan dan mendewasakan iman umat dan usaha untuk membantu proses

perubahan pada diri orang. Maka, peranan petugas pastoral hanya sebatas

mendampingi dengan segala kemampuan yang berusaha demi memperkembangkan

iman umat ke arah yang lebih dewasa.

  Pelayanan pastoral bersifat universal, terbuka bagi semua umat beriman yang

sesuai dengan tujuan dari pastoral itu sendiri, yakni membimbing manusia menuju

kehidupan yang seutuhnya.

4. Tiga Aspek Pelayanan Pastoral

  Hooijdonk (1980: 7), mengemukan bahwa tiga aspek pastoral Gereja adalah

setiap kegiatan pastoral yang ditentukan oleh isi, sifat, dan tindakan yang berasal dari

pastoral itu sendiri. Maka, ketiga aspek pastoral tersebut mengarah pada pastoral

sebagai pelayanan kepada perkembangan iman, pastoral adalah kharisma, dan pastoral

yang mempunyai ciri-ciri khas yang membedakannya dengan ilmu-ilmu lain.

a. Pastoral sebagai Pelayanan kepada Perkembangan Iman

  Hooijdonk (1980: 7-9) menyatakan bahwa pastoral sebagai pelayanan kepada

perkembangan iman memiliki hubungan erat dengan isi pastoral, yakni bersumber

pada gambaran Allah sebagai Gembala Ilahi yang selalu memelihara, melindungi,

menuntun, dan peduli akan keselamatan umat manusia. Karya pastoral Gereja yang

selalu mewartakan misteri keselamatan kepada seluruh dunia serta mengajak orang

menjawab panggilan Allah dan menyambut keselamatan sejati.

  Pastoral, di satu pihak mengikuti gerak dari Allah menuju manusia, namun di

lain pihak, pastoral juga mengikuti gerak dari manusia, yakni mengarahkan diri

kepada manusia dengan konsekuensi bahwa suatu relasi pastoral dapat berkembang,

apabila iman manusia semakin mendalam. Hal ini menggambarkan bahwa siapa pun

ikut ambil bagian dalam karya pastoral.

  b. Pastoral adalah Kharisma Surat Paulus (Rom. 12: 6), menggambarkan bahwa sejak Gereja Perdana,

Allah telah mengaruniakan kharisma yang berbeda-beda kepada setiap umat manusia

sesuai dengan kehendak-Nya. Kharisma yang diterima oleh setiap manusia memberi

suatu gambaran mengenai tugas perutusan dalam kehidupan sehari-hari untuk

menjalani karya pastoral. Menurut Hooijdonk (1980: 8) menyatakan bahwa karunia

kharisma yang ada dalam diri setiap umat beriman, mereka akan semakin merasakan

kebangkitan Kristus yang selalu menyertai dan berkarya dalam diri setiap orang.

  

c. Pastoral Mempunyai Ciri-ciri Khas yang Membedakan dari Ilmu-ilmu Lain.

  Hooijdonk (1980: 8) menyatakan bahwa pastoral memiliki kekhasan

tersendiri dibanding ilmu-ilmu modern. Kekhasan tersebut terletak pada pengabdian

kepada umat Allah demi memperkembangkan imannya, melalui kegiatan-kegiatan

dalam bidang pastoral, seperti: Liturgia, Diakonia, Koinonia, Kerygma, dan Martyria.

  

Kelima kegiatan tersebut merupakan fungsi dasar Gereja, yang mana mampu memberi

kesaksian iman umat serta membimbing umat agar semakin konsisten

mempertahankan imannya tengah-tengah masyarakat yang heterogen di mana pun

berada.

5. Lima Fungsi Pastoral Gereja

  Menurut Konferensi Waligereja Indonesia (2011: 15-16), berkat Sakramen

Baptis, keluarga ikut membangun Gereja. Keluarga merupakan sebuah komunitas

basis gerejawi yang mengambil bagian dalam karya penyelamatan Allah. Gereja

  

Tuhan demi terwujudnya Kerajaan Allah, yakni keselamatan. Gaudium et Spes (art.

45), menyatakan bahwa “Sementara Gereja membantu dunia dan menerima banyak

dari dunia, yang dimaksudkan hanyalah: supaya datangnya Kerajaan Allah dan

terwujudnya keselamatan segenap bangsa manusia .”

  Pelayanan pastoral adalah tugas mengabdi dan mewujudkan rencana Allah

untuk menyadarkan umat beriman akan kehadiran Allah dalam diri Yesus Kristus

dengan perantaraan Roh Kudus. Mewujudkan rencana Allah, yakni pembebasan dan

perkembangan umat manusia secara utuh, sehingga keselamatan dapat dialami oleh

setiap manusia.

  Tujuan pastoral bersifat universal artinya bahwa pelayanan dimaksudkan

untuk semua lapisan manusia dengan berbagai macam latar belakang kehidupan

sosial, ekonomi, politik, dan budaya. Pelayanan pastoral bertujuan untuk membawa

Kabar Gembira dan mengusahakan perkembangan iman umat yang semakin dewasa.

  Menurut Hooijdonk (1980: 9-11), Gereja menghadirkan Kerajaan Allah

melalui kelima bidang pastoral Gereja. Kelima bidang pastoral Gereja, seperti yang

telah disebutkan di atas sebagai berikut: a.

   Liturgia Hubungan antara manusia dengan Allah tampak dalam setiap bagian kegiatan

liturgi artinya liturgi tidak hanya diwartakan, tetapi diungkapkan dan dirayakan dalam

sakramen-sakramen dan hidup doa. Melalui upacara liturgi misalnya Liturgi Ekaristi,

manusia mengenangkan kembali kehadiran Allah di tengah-tengah dirinya dalam rupa

roti dan anggur yang disantap.

  Dalam Liturgi Ekaristi, Allah selalu hadir untuk menyapa dan bersatu dengan

umatNya melalui Sabda-sabda-Nya. Pelayanan Sabda mempersiapkan dan

membimbing kepada liturgi artinya liturgi memuat Ibadat Sabda sebagai sebuah

pewartaan. Dengan demikian, liturgi dapat dibedakan menjadi dua bagian, yakni

Liturgi Ekaristi dan Liturgi Sabda.

  b.

   Diakonia Diakonia atau pelayanan merupakan ciri utama dalam karya Yesus selama

hidup-Nya. Gereja peduli akan kegembiraan dan penderitaan dunia. Melalui

kehadirannya dalam pelayanan, Gereja mewujudkan iman dalam pengabdianya

kepada sesama yang miskin. Pelayanan kepada manusia, seutuhnya diresapi oleh nilai-

nilai Injili, yakni kebenaran, kesucian, kedamaian, keadilan, dan cinta kasih sebagai

usaha Gereja dalam mewujudkan karya keselamatan Allah di tengah-tengah

masyarakat. Sebagai contoh, membangun sebuah panti asuhan untuk anak-anak yang

kurang mampu, sehingga mereka mendapat tempat tinggal dan pendidikan yang

layak.

  c.

   Koinonia Koinonia berarti persekutuan sebagaimana telah digambarkan oleh Paulus

dalam (Kis. 2: 41-47), bahwa cara hidup Jemaat Perdana sehati sejiwa sebagai

saudara-saudari yang mambangun sebuah persekutuan penuh iman, kasih, dan

pengharapan. Melalui pembaptisan, muncul kelompok atau umat Allah yang bersedia

dan rela untuk bekerjasama mewujudkan sebuah persekutuan hidup menurut citra

  Paulus dalam suratnya (2 Kor. 5 :10), mengungkapkan bahwa sejak awal

mula sejarah penyelamatan, Allah telah memilih manusia bukan semata-mata sebagai

orang perorangan, melainkan sebagai anggota persekutuan tertentu. Wujud dan tanda

persaudaran tersebut dapat berupa sebuah paguyuban religius, kegiatan-kegiatan

religius, dan lain-lain.

  d.

   Kerygma Kerygma dimaknai sebagai pewartaan yang pertama-tama memberi kesaksian

tentang hal-hal agung yang dikerjakan Allah dalam diri manusia. Semua umat beriman

dipanggil untuk ambil bagian dalam tugas Gereja untuk mewartakan Injil. Dalam

perkataan dan perbuatan PuteraNya, Yesus Kristus, cinta kasih Allah itu menjadi

nyata.

  Pewartaan Sabda dapat terwujud dalam mendengarkan khotbah dan

menghayati serta melaksanakan dan mewartakan Sabda itu sendiri. Dengan demikian,

penghayatan akan Sabda membantu seseorang dalam membantu sesamanya

menemukan makna hidup dan saling menguatkan dalam iman dengan memberi

kesaksian di tengah-tengah hidup menggereja dan bermasyarakat.

  e.

   Martyria diartikan sebagai kesaksian melalui perkataan maupun perbuatan.

  Martyria

Setiap umat beriman hendaknya memberi kesaksian iman yang baik sebagai pengikut

Kristus dengan penuh tanggung jawab dan berani menyuarakan kebenaran, bersikap

kritis, dan menghargai martabat setiap umat manusia. Kesaksian hidup sebagai murid

  

Kristus mampu menggugah hati nurani setiap manusia untuk terlibat dalam karya

keselamatan.

B. Pastoral Keluarga

1. Pengertian Pastoral Keluarga

  Pastoral keluarga adalah kunjungan pribadi yang bersifat sukarela dengan

tujuan pendampingan terhadap saudara atau sesama seiman dalam rangka membangun

paguyuban iman. Pastoral keluarga yang dijiwai dengan semangat Kristus “Pastor Bonus ” Sang Gembala Baik dimengerti sebagai pendampingan kegembalaan (Budyapranata, 1994: 18).

  Di dalam masyarakat kita sering mendengar istilah keluarga. Istilah keluarga

sendiri sangat beragam. Keluarga diartikan sebagai saudara-saudara, kaum kerabat,

orang seisi rumah. Berdasarkan pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa keluarga

adalah siapa saja yang ada di dalam lingkungan rumah tangga.

  Sementara menurut Purwo Hadiwardoyo (2006: 1), pastoral keluarga adalah

pendampingan yang dijiwai dengan semangat Kristus, Sang Gembala yang baik.

  

Maka, pastoral keluarga adalah pendampingan kegembalaan. Proses inilah dapat

membawa keluarga-keluarga Kristiani untuk sungguh menyadari panggilan kasih

Allah dan sekaligus menjadi perutusan sebagaimana yang dicita-citakan oleh

keluarga-keluarga Kristiani. Dalam Gereja, keluarga merupakan sel dasar atau vital

dari Gereja Kristus. Hal ini karena, setiap keluarga Kristiani merupakan Gereja mini,

yang mana berperan mendayai hidup berdasarkan rahmat Ilahi demi

memperkembangkan keluarganya dan sesama keluarga Kristiani dalam hidup

  Kruyut (1975: 7), menganalogikan keluarga berdasarkan manusia pertama

ciptaan Allah. Menurutnya, penciptaan Adam dan Hawa menandai munculnya

keluarga. Sebab kepada Adam dan Hawa, rahmat keturunan serta menjaga dan

melestarikan alam beserta isinya telah diberikan oleh Allah. Jelaslah bahwa, suatu

keluarga bukan terjadi secara kebetulan dan bukan pula di luar tanggung jawab

manusia, melainkan oleh rahmat dan kehendak Allah. Oleh karena itu, tuntutannya

adalah tanggapan manusia untuk bertanggungjawab atas kebutuhan jasmani dan

rohani dalam setiap keluarganya.

2. Dasar Praktik Pastoral Keluarga

  Menurut Konferensi Waligereja Indonesia (2011: 71), sesuai dengan kondisi

dan situasi wilayah, setiap keuskupan mempunyai kebebasan dan otonomi dalam

melaksanakan pendampingan pastoral keluarga, namun sebagai Gereja universal perlu

adanya sebuah pedoman pastoral bersama karena: a. Keuskupan adalah bagian dari kesatuan Gereja universal.

  

b. Mobilitas penduduk menjadi semakin tinggi dan sarana komunikasi menjadi

canggih.

  c. Pengalaman pastoral dan tantangan yang dihadapi memiliki banyak kesamaan dasar praktik dari pastoral keluarga (Yoh.

  10:11), “Akulah Gembala yang Baik.” Dalam perumpamaan ini, Yesus memberi gambaran tugas Gembala yang mampu mengenal domba-domba-Nya. Sedangkan dalam Injil (Mat. 10: 6), Yesus mengumpulkan domba Israel yang hilang. Demikian pula yang diminta oleh Yesus kepada Petrus untuk menggembalakan domba-domba-Nya (Yoh. 21: 15-19). Oleh karena itu, dasar pastoral keluarga meliputi seluruh karya yang

dilakukan oleh seorang pastor sebagai pelayan imamat Gereja. Dalam Gereja, semua

umat beriman mengambil bagian dalam tugas Kristus, sehingga dapat membawa suatu

perubahan yang lebih baik bagi dirinya maupun sesamanya.

  3. Arah dan Tujuan Pastoral keluarga Konferensi Waligereja Indonesia (2011: 71-72), menegaskan bahwa

pendampingan pastoral keluarga hendaknya realistis, artinya sungguh-sungguh

relevan dengan keadaan keluarga yang didampingi dan tidak berdasarkan pada selera

pribadi yang mendampingi. Meskipun demikian, dalam proses pendampingan

keluarga, pendamping tidak hanya melihat dan mendengar, apalagi menyerah kepada

keadaan keluarga yang didampingi terlebih bila realitas itu jauh dari idealisme

keluarga Kristiani.

  Pastoral keluarga bertujuan mengarahkan keluarga menuju idealisme hidup

keluarga Kristiani. Meskipun, idealisme itu tidak pernah dapat dicapai sepenuh-

penuhnya. Oleh karena itu, kondisi keluarga yang biasa-biasa saja perlu

dikembangkan agar semakin mendekati idealisme hidup Kristiani.

  4. Penanggung Jawab Pastoral Keluarga Penanggung jawab pastoral keluarga adalah uskup. Secara hirarkis dan

subsidaritas uskup dapat membagikan tugas dan tanggung jawab tersebut kepada

kelompok-kelompok orang beriman. Secara teritorial, kelompok-kelompok tersebut

berada di kevikepan dan dekenat, di antaranya, yang penting adalah paroki-paroki

  

dan efektif karya, uskup memberi tugas kepada orang-orang yang mewakilinya, antara

lain: vikep, pastor paroki, dan mereka yang bekerja di bidang pastoral keluarga.

  Penanggung jawab pendampingan pastoral dalam sebuah paroki adalah pastor

paroki. Namun, karena pastor paroki mempunyai tanggung jawab yang luas, maka

pendampingan keluarga melibatkan umat yang cakap dan mampu.

5. Pelaksana Pastoral Keluarga

  KWI (2011: 73), mengemukakan bahwa komisi keluarga keuskupan bukan

hanya menjadi pengemban tanggung jawab pastoral keluarga, melainkan juga menjadi

pelaksana dari pelayanan pastoral tersebut. Sebagai pelaksana, komisi keluarga

berperan memberi arah, sebagai animator, motivator, dan koordinator. Khusus untuk

Tim Kerja atau Seksi Kerasulan Keluarga Paroki, mereka secara langsung

melaksanakan pendampingan pastoral bagi keluarga-keluarga di paroki, baik secara

individual maupun secara komunal.

  Pelaksanaan tugas pastoral keluarga sebaiknya mengikutsertakan kelompok-

kelompok kategorial atau profesional yang erat, terkait dengan perkawinan dan hidup

berkeluarga, seperti: Marriage Encounter, WKRI, Tim Kerja Pendampingan Keluarga

Paroki, Tim Kerja Pendampingan Keluarga Lingkungan, Biarawan, maupun

Biarawati.

  Penghayatan iman dalam keluarga merupakan masalah hidup atau mati bagi

pertumbuhan Gereja. Keluarga-keluarga Kristiani merupakan dasar kehidupan

Gereja. Dalam keluarga, iman bertumbuh, berkembang, dan terlibat dalam kegiatan-

kegiatan Gereja, sehingga siap memberi kesaksian dalam masyarakat di sekitarnya.

  Hakikat Gereja sebagai persaudaraan umat beriman adalah mewujudkan

tumbuhnya persaudaraan antar-umat beriman. Perwujudan itu diupayakan terus-

menerus dari setiap anggota Gereja. Oleh karena itu, kunjungan keluarga merupakan

salah satu usaha untuk membantu terwujudnya proses persaudaraan umat beriman.

  

Sedangkan dalam tugas pastoral paroki, kunjungan keluarga sangat penting

dilaksanakan. Hal ini karena, saat ini banyak keluarga merasa terasing di tengah

lingkungan masyarkat dan dalam hidup menggereja. Sebagian keluarga belum

terjangkau oleh pelayanan pastoral paroki. Padahal, keluarga-keluarga tersebut juga

memerlukan pendampingan atau kunjungan dan pelayanan Gereja (Budyapranata,

1994: 5).

C. Kunjungan Keluarga 1. Pengertian Kunjungan Keluarga

  Kunjungan keluarga merupakan salah satu bentuk perhatian antar-pribadi

untuk saling memahami pribadi yang satu dengan yang lain, yang dilandasi oleh

adanya kesediaan seseorang (Budyapranata, 1987: 8-10). Dengan demikian dalam

kunjungan keluarga, makna yang diungkapkan adalah memperhatikan, mendengarkan,

dan memahami kondisi keluarga yang dikunjungi.

  Kisah Para Rasul 2: 41-47, menggambar dengan jelas bahwa dalam

kehidupan Jemaat Perdana, mereka berkumpul sebagai orang-orang yang percaya

akan Tuhan. Mereka sehati-sejiwa. Kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama.

Mereka hidup dalam kasih karunia yang berlimpah-limpah. Melalui kebersamaan

yang saling menguatkan oleh rahmat kuasa Ilahi itu, mereka memberi kesaksian

  Kehidupan Jemaat Perdana menjadi inspirasi bagi persekutuan umat beriman,

pengikut Kristus sebagaimana tetap dan sehati-sejiwa dalam saling menguatkan

sesamanya melalui pendampingan keluarga maupun dalam pendampingan yang lain,

khususnya mereka yang mengalami penderitaan dan dalam kemerosotan iman.

  Kunjungan keluarga muncul karena inisiatif pribadi maupun kelompok secara

sukarela. Kunjungan keluarga dimaksudkan sebagai pendampingan terhadap keluarga-

keluarga Katolik dalam rangka membantu mereka mengembangkan imannya. Dalam

kunjungan, perlu dibedakan antara tugas dengan kepentingan pengunjung, sehingga

keluarga yang dikunjungi sungguh merasakan perhatian dan kehadiran pengunjung

sebagai saudara, sekaligus merupakan suatu upaya membantu terwujudnya proses

pengembangan iman umat.

  Santo Paulus (1Kor. 12: 14), “Banyak anggota tetapi satu tubuh”. Melalui

perikop tersebut, Santo Paulus menggambarkan Gereja itu laksana tubuh, yakni

Kristus, sebagai Kepala atas anggota-anggotaNya, yang adalah umatNya. Gambaran

kesatuan manusia dengan Allah menjadi lebih jelas bahwa seperti dalam tubuh

manusia sendiri, ada kesatuan organis dan kesatuan hidup. Demikian pula manusia

sebagai anggota Gereja, juga memerlukan hubungan satu sama lain. Oleh karena itu,

hubungan kesatuan manusia dengan Allah semakin harmonis, apabila hubungan

tersebut terwujud dalam kehidupan antar-manusia. Maka, kunjungan keluarga

merupakan suatu kegiatan ditujukan sebagai upaya membantu proses pengembangan

iman umat dalam hidup menggereja serta sebagai perwujudan dari suatu kesadaran

bahwa Gereja adalah satu tubuh Kristus.

  Dengan demikian, kunjungan keluarga, khususnya keluarga-keluarga Katolik

  

sesama serta terwujudnya suasana semangat kesatuan yang didasari kesatuan antara

Bapa, Putra, dan Roh Kudus dengan umat-Nya.

  Budyapranata (1987: 16), mengatakan bahwa dalam kunjungan, seseorang

akan menemukan berbagai permasalahan yang dihadapi keluarga yang dikunjungi,

misalnya; tempat tinggal, kedudukan, persoalan yang sedang dihadapi, dan

sebagainya. Maka, salah satu syarat untuk bertemu dengan orang lain dalam

kunjungan yaitu adanya kesediaan untuk memberi perhatian dengan mencoba

mendengarkan dan memahami persoalan mereka.

  Kunjungan keluarga merupakan sarana efektif untuk menciptakan komunikasi

dan menumbuhkan relasi yang akrab antara sesama umat beriman. Kunjungan itu

harus bersifat pastoral, maka dasar rohani dari para pengunjung ini sangat penting

yaitu bahwa setiap pertemuan yang tulus merupakan ungkapan iman antara

pengunjung dan yang dikunjungi. Dengan demikian kunjungan yang dilakukan akan

menciptakan atau menumbuhkan kepekaan sosial bagi sesama.

  Peranan kunjungan keluarga menjembatani antara kehidupan sehari-hari

dengan kehidupan iman, artinya dalam kunjungan, sedikit demi sedikit membawa

kehidupan iman ke dalam masyarakat sehingga dalam hidup sehari-hari, kehidupan

beriman dapat dirasakan, khususnya dalam keluarga-keluarga Katolik.

2. Dasar Pastoral Kunjungan Keluarga

  Dasar pastoral kunjungan terletak pada hakikat Gereja itu sendiri yaitu

sebagai paguyuban atau persaudaran umat beriman. Persaudaraan umat beriman

terjadi tidak begitu saja, tetapi umat perlu mengupayakannya secara terus-menerus.

  

proses persaudaraan umat beriman, dan membangun iklim persaudaraan

(Budyapranata, 1994: 22).

  Kitab Suci Perjanjian Baru memberi dasar yang sangat kuat mengenai peguyuban dan persaudaran sejati, sebagai berikut: a. Gereja adalah Tubuh Kristus

  Santo Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Korintus 12:12-26,

menjelaskan bahwa Gereja itu laksana tubuh yaitu Tubuh Kristus, di mana kita semua

adalah anggota-anggotanya. Uraian ini sebagaimana yang telah diungkapkan pada

halaman sebelumnya, menegaskan kembali bahwa gambaran Santo Paulus menjadi

lebih jelas seperti dalam tubuh manusia merupakan suatu gabungan antara kesatuan

organis dan kesatuan hidup, yang telah menunjukkan dirinya sebagai anggota Gereja,

juga membangun hubungan yang erat dengan orang lain, sebagai sesama jemaat

Kristiani dalam persekutuan dengan Bapa, Putra, dan Roh Kudus.

  Kunjungan antar-sesama warga diharapkan membantu proses penyatuan dan

pelaksanaan yang muncul dari kesadaraan bahwa, Gereja adalah Satu Tubuh Kristus.

  

Gereja ingin menjadi masyarakat yang hidup, dimana terdapat perkumpulan orang-

orang yang percaya kepada Tuhan. Berdasarkan pengertian itu, maka umat perlu

saling bertemu dan saling berkunjung demi menumbuhkan kesegaran rohani antar-

umat serta saling menguatkan satu sama lain.

  b. Manusia adalah Kawanan Sewarga dan Anggota Keluarga Allah Kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawanan sewarga

  

Rasul dan para Nabi, dengan Yesus Kristus sebagai Batu Penjuru. Pernyataan tersebut

mengandung pengertian bahwa manusia tidak boleh melepas tanggung jawab sebagai

bagian dari anggota keluarga Allah. Manusia harus menjadi kawanan demi

kesejahteraan bersama dan demi keluhuran Allah sendiri. Oleh karena itu, sebagai

anggota keluarga Allah, manusia harus tetap tinggal dalam kasih sehingga bersama-

sama membangun bangunan rohani yakni Gereja.

  Kerukunan dan paguyuban tersebut hanya terjadi, apabila muncul kerelaan

dari setiap umat untuk mau bersatu dengan lain serta saling memperhatikan sebagai

sesama saudara. Melalui pernyataan tersebut, Santo Paulus ingin menekankan bahwa

kehadiran orang lain dirasakan sebagai kawanan sewarga yang saling mendukung,

terutama terhadap warga baru dan warga yang terpencil dan yang membutuhkan

pertolongan.

c. Ajaran Kristus yang Utama adalah Cinta Kasih

  Menurut Injil Yohanes 13: 34-35, menjelaskan bahwa Gereja yang didirikan

oleh Kristus bukan suatu lembaga atau organisasi, melainkan suatu paguyuban atau

persaudaraan, dimana dasarnya adalah Kasih Kristus. Kasih diwujudkan melalui

perhatian, kerelaan, dan keikhlasan seseorang untuk membantu sesamanya.

  Sedangkan Injil Matius (25: 35-36), menaruh perhatian kepada sesama yang

menderita diwujudkan dalam tindakan memberi pertolongan atau mengadakan

kunjungan kepada sesamanya adalah bagian dari perbuatan kasih. Maka, sebagai

anggota Gereja, masing-masing pribadi dipanggil untuk menjadi saksi cinta kasih

dalam kehidupan sehari-hari.

  d. Gereja adalah Paguyuban Cinta Kasih Gereja menjadi kesatuan umat beriman atau paguyuban sejati, apabila seluruh

warganya mendukung proses terciptanya kerukunan. Salah satu proses terjadinya

paguyuban sejati adalah dengan saling mengunjungi sesama warga, karena dengan

kunjungan ada proses saling pengenalan secara pribadi dan menciptakan iklim

persaudaraan yang kuat (Budyapranata, 1994: 26).

  Gereja berperan mempersatukan semua orang dari berbagai golongan, status

sosial, dan bangsa, agar mereka benar-benar hidup dalam satu keluarga besar tanpa

adanya pemisahan. Dengan adanya persatuan antar-umat dari segala penjuru tanpa ada

perbedaan, menunjukkan bahwa peran Gereja semakin nyata dan ikut

bertanggungjawab dalam pemeliharaan umat Allah.

  e. Ajaran Sosial Gereja Ajaran Sosial Gereja (ASG) memuat beberapa ensiklik yang dicetuskan oleh

para Paus Gereja Katolik sebagai tanggapan atas keprihatinan Gereja akan kehidupan

keluarga-keluarga Katolik. Selain ASG, Konsili Vatikan II pun muncul untuk

memenuhi harapan umat Allah. Salah satunya adalah Gaudium et Spes (art. 1),

memuat bahwa kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan manusia zaman

sekarang, terutama yang miskin dan terlantar adalah kegembiran dan harapan, duka

dan kecemasan murid-murid Kristus pula. Ini artinya bahwa Gereja tidak lagi

menyingkir menutup mata terhadap realitas dunia, akan tetapi merasakan sekaligus

berjuang bersama umat Allah dalam menghadapi gejolak dunia yang terus

berkembang sesuai zamannya.

  Sementara, Budyapranata (1994: 29-30), mengungkapkan bahwa Kristus

sendiri merupakan teladan yang sempurna karena selalu prihatin dengan orang yang

menderita. Yesus berinisiatif hadir di tengah-tengah siapa saja yang membutuhkan

pertolongan-Nya, mengunjungi mereka yang membutuhkan kehadiranNya. Inisiatif

Yesus menjadi teladan bagi Gereja yang memasyarakat serta terbuka bagi semua

lapisan masyarakat.

  Dengan demikian, Gereja menjadi kesatuan umat beriman atau paguyuban

sejati. Gereja berperan untuk mempersatukan semua orang dari berbagai golongan,

status sosial, dan bangsa, agar mereka benar-benar hidup sebagai satu keluarga

berdasarkan semangat cinta kasih. Maka jelaslah bahwa tujuan dari kunjungan

keluarga adalah untuk membangun komunikasi dan membina solidaritas dalam

semangat persaudaraan antar-umat di seluruh penjuru, baik dalam penderitaan maupun

dalam satu pengharapan dan kegembiraan.

3. Maksud dan Tujuan Kunjungan Keluarga

  Tujuan kunjungan keluarga bukan semata-mata untuk memecahkan persoalan

keluarga yang dikunjungi atau menginterogasi mereka dalam kegiatan hidup

menggereja, melainkan lebih dari itu, membangun keterbukaan, menumbuhkan

suasana persaudaraan, kepercayaan, dan memperhatikan keadaan orang yang

dikunjungi (Budyapranata, 1994: 21).

  Dengan membangun keterbukaan, muncul suatu proses untuk saling

mengenal antar-pribadi, mendukung serta terlibat dalam kesulitan sesama. Dengan

memberi kepercayaan pada keluarga yang dikunjungi, secara tidak langsung memberi

  

perhatian dan pengharapan pada mereka untuk membangun komunikasi dalam cinta

kasih.

4. Model-model Kunjungan Pastoral Keluarga

  Model kunjungan tidak terletak pada siapa yang mengunjungi, tetapi lebih

pada maksud dan tujuan yang akan tercapai dalam kunjungan tersebut (Budyapranata,

1994: 16). Berikut ini, ada beberapa tinjauan mengenai kunjungan pastoral keluarga:

  a. Ditinjau dari Segi Kepentingannya Kunjungan pastoral keluarga menurut segi kepentingannya diperuntukan bagi

dua pihak, yakni kepentingan si pengunjung dan yang dikunjungi. Bagi si pengunjung,

kunjungan dimaksudkan untuk menjalin hubungan yang erat, mengetahui situasi, serta

mendukung yang dikunjungi. Sedangkan bagi yang dikunjungi, kunjungan, selain

merupakan kegiatan untuk menjali hubungan yang akrab, juga merupakan suatu

rahmat untuk berbagi persoalan yang dialami dengan si pengunjung.

  b. Ditinjau dari Segi Person Pengunjung Kunjungan pastoral keluarga bersifat ini bisa perorangan dan bisa

berkelompok, kunjungan perorangan misalnya kunjungan pastor, sedangkan

kunjungan kelompok misalnya kunjungan pastor dengan dewan paroki, suster,

mudika, bapak-ibu, dan kelompok lain.

  c. Ditinjau dari Sifat Kunjungan Kunjungan pribadi yang bersifat sukarela atas kehendak atau prakarsa si

pengunjung, misalnya untuk menjenguk dan memupuk persaudaraan. Kunjungan

resmi si pengunjung mewakili kelompok atau organisasi untuk mengunjungi salah

satu keluarga, dengan menentukan sebelumnya waktu, target dan person yang akan

dikunjungi. Sedangkan kunjungan kerja merupakan pelaksanaan tugas dari lembaga,

dengan target dan tujuan yang jelas dan sudah ditentukan.

  d. Ditinjau dari Tujuan dan Motivasi Ditinjau dari tujuan dan motivasinya kunjungan bersifat bisnis atau

kunjungan pastoral. Dengan demikian menjadi jelas bahwa ada perbedaan antara

kunjungan pastoral yang sukarela, pribadi dengan tujuan pendampingan terhadap

sesama saudara seiman dalam rangka pembanguanan iman, atau kunjungan dilakukan

karena ada urusan tertentu.

  Tujuan dari kunjungan ialah ingin menciptakan iklim di mana antar warga

umat dapat saling bertemu dan berkunjung. Kunjungan yang dilakukan karena bertitik

tolak dari pada situasi warga yang dikunjungi sehingga paguyuban iman akan lebih

terasa dan mantap.

5. Metode Kunjungan Keluarga

  Budyapranata (1994: 12-13), menyatakan bahwa Pada umumnya umat senang

dikunjungi oleh pastor paroki sebagai Gembala Gereja untuk menyapa, mengenal dan

melihat keadaan umatnya. Pada mulanya kunjungan keluarga hanya dilakukan oleh

  

pastor untuk mendampingi umatnya yang bermasalah atau karena mau meninggalkan

iman.

  Namun sekarang sebuah kunjungan menjadi syarat utama untuk membangun

Gereja sebagai paguyuban dalam iman dan cinta kasih. Kunjungan keluarga lebih

ditekankan sebagai salah satu usaha dari Gereja dalam mendampingi dan membina

keluarga-keluarga Katolik sesuai dengan kondisi dan situasi sebuah paroki berada.

  Pendampingan keluarga tidak hanya pastor tetapi diharapkan seluruh umat

beriman ikut terlibat dan bertanggungjawab atas keberlangsungan perkembangan iman

dan kesejahteraan dari keluarga-keluarga Katolik. Terdapat beberapa metode yang

harus digunakan dalam pastoral kunjungan keluarga misalnya; Tanya jawab,

wawancara, cerita, sharing dan sebagainya. Namun metode ini bisa disesuaikan

dengan keadaan keluarga yang dikunjungi.

6. Hal-hal yang Diperhatikan dalam Melaksanakan Kunjungan Keluarga

  Dalam kunjungan keluarga ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh

pengunjung sehingga pertemuan itu menjadi yang mengenangkan bagi si pengunjung

maupun keluarga yang dikunjungi.

  Budyapranata (1987: 17-19), mengatakan bahwa hal yang perlu diperhatikan dalam kunjungan keluarga adalah:

a. Jangan Menawarkan Apa-apa

  Dalam kunjungan bila bertemu dengan keluarga atau orang ingin cepat-cepat

mengajak untuk terlibat mengikuti kegiatan Gereja, rajin ke gereja seperti yang kita

  

ini memang tidak salah, namun kurang tepat sebab kunjungan keluarga pada

hakekatnya adalah suatu proses untuk mengenal dan memberikan perhatian bagi orang

lain secara pribadi.

  Dalam kunjungan keluarga hendaknya kita harus berhati-hati karena terkadang

tawaran kita kurang berkenan sehingga pembicaraan mengalami kemacetan, dan

mereka melihat bahwa kita datang untuk mempertobatan mereka, dan biarkan semua

muncul dari hati mereka sendiri dan tetap memotivasi mereka.

  b. Jangan Menggurui Dalam kunjungan keluarga kita mempunyai kecenderungan untuk lekas-lekas

membawakan apa yang baik kepada orang lain. Kecenderungan untuk cepat-cepat

memberi nasehat dan kita merasa bahwa keluarga yang dikunjungi membutuhkan

nasehat.

  Hal ini yang perlu dijaga dalam melakukan kunjungan keluarga karena yang

menjadi perhatian dalam kunjungan adalah sebuah tanda solidaritas dan persaudaraan

kita untuk memahami kesulitan keluarga yang lebih mendalam.

  c. Pertemuan yang Terbuka Sikap yang perlu diperhatikan dalam kunjungan keluarga adalah sikap terbuka.

  

Jangan memikirkan apa yang akan kita katakan, sebab persoalannya bukan terletak

pada apa yang penting bagi kita, tetapi apa yang penting bagi mereka atau apa yang

mereka kemukakan. Ketika berkunjung ke keluarga yang belum dikenal, kita tidak

perlu cemas untuk memikirkan apa yang akan dikatakan, tetapi dengan jujur kita perlu

  Dalam mengadakan kunjungan kita juga menyampaikan alasan kita

berkunjung, dan bertanya apakah kunjungan kita ini tidak mengganggu atau tidak

karena terkadang dalam kunjungan kehadiran kita ditolak oleh keluarga yang

dikunjungi. Namun ketika kita diterima dengan baik, hendaklah menciptkan suasana

yang akrab dan pembicaraan terjadi dua arah. Pertemuan yang terbuka perlu disertai

dengan kejujuran dalam komunikasi antara kita dan keluarga yang dikunjungi.

  Yang perlu diperhatikan dalam pertemuan terbuka ini adalah bagaimana

perhatiaan kita bagi keluarga yang dikunjungi, bukan apa yang akan kita katakan.

  

Terkadang keluarga yang kita kunjungi akan menceritakan banyak hal tentang

keluarga dan permasalahan yang lain, hendaknya kita menunjukkan sikap terbuka

untuk mendengarkan dengan baik.

d. Menciptakan Suasana yang Kondusif

  Dalam kunjungan hal yang paling penting adalah menciptakan suasana yang

kondusif dan terbuka untuk memahami dan mengerti situasi keluarga yang kita ajak

untuk bicara. Sikap positif dari kita untuk memberi kesempatan yang seluas-luasnya

untuk mengungkapkan keadaan mereka dan mengekspresikan diri mereka secara

tepat. Oleh karena itu kita perlu menghindari adanya pandangan-pandangan

keingintahuan kita dan merasa sudah kenal sehingga sibuk dengan ide atau rancangan

kita.

  Yang perlu diperhatikan dalam kunjungan ini adalah perlu untuk menahan diri,

mengontrol diri dan menunggu saat yang tepat untuk menyampaikan sesuatu

kebenaran bagi keluarga yang dikunjungi. Sikap positif yang kita tunjukan dalam

  

berbicara bukan sebuah sandiwara tetapi sebuah sikap yang benar-benar dari hati yang

paling dalam karena sebuah belaskasihan untuk membantu keluarga yang dikunjungi.

e. Cara Membangun Sikap Positif yang Terbuka dalam Kunjungan 1) Sikap Empati

  Sikap positif yang diekspresikan melalui kesediaannya untuk menempatkan

dirinya pada tempat orang yang sedang kita ajak bicara. Artinya kesediaan untuk

mendengarkan, merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain. Sikap belaskasihan

yang sungguh-sungguh dari hati untuk membantu dan memahami orang lain.

2) Sikap Penerimaan

  Sikap keterbukaan dan kesediaan untuk menerima orang lain dengan segala

kelebihan dan kekurangannya atau menerima orang lain dengan segala

keberadaannya. Penerimaan yang tulus akan memampukan kita untuk mengakui

keberadaan orang lain, mendukung dan memberikan peluang untuk melakukan

perbuatan-perbuatan yang baik.

  Keterbukaan dan penerimaan yang tulus akan memberikan rasa nyaman dan

menciptakan iklim positif yang mampu membangkitkan semangat orang lain untuk

menemukan aura kepercayaan dirinya sendiri, kemampuan-kemampuan, dan terlebih

mampu melihat apa yang sedang terjadi dalam dirinya dan memiliki semangat untuk

memperbaikinya.

  3) Sikap Mendengarkan Sikap mendengarkan orang atau keluarga yang berbicara itu ibarat orang yang

mendengarkan musik dengan secara teliti dengan variasi-variasi iringan-iringannya.

  

Mendengarkan merupakan sebuah unsur dan syarat utama dalam sebuah pertemuan

atau pembicaraan dengan orang lain atau keluarga yang dikunjungi.

  Mendengarkan dengan efektif adalah mendengarkan secara sungguh-sungguh

dengan sebuah perasaan yang mendalam dan memperhatikan ekspresi nada suara, raut

muka, gerak-gerik atau mimik dan kata-kata yang diucapkan oleh yang sedang diajak

bicara, sehingga kita dapat memahami apa perasaannya dan menangkap apa yang

dirasakan dibalik kata-kata yang diucapkan.

  4) Sikap Tanggapan yang Membangun Menanggapi suatu pembicaraan secara efektif adalah sebuah sikap yang sangat

positif dalam menciptakan suasana yang nyaman atau kondusif. Untuk menciptakan

suasana yang nyaman atau kondusif maka dibutuhkan:

a) Kehangatan

  Membangun suasana kehangatan kita perlu meneladan dari sikap Yesus ketika

bertemu dengan wanita berdosa di sumur (Yoh. 4: 1-42), Yesus mengajak wanita itu

untuk berbicara dari hati ke hati, dan Yesus tidak mengadili wanita itu. Sikap tidak

mengadili, menggurui dan mengganggap diri paling hebat dapat menciptakan suasana

kehangatan yang mampu memberikan rasa nyaman bagi mereka yang kita ajak bicara.

  b) Dukungan Dalam kunjungan keluarga dalam setiap percakapan akan menimbulkan

sebuah perasaan baik itu positif maupun negatif. Terkadang dalam percakapan

keluarga yang dikunjungi tidak mampu untuk mengungkapkan permasalahan yang

dihadapi karena di kuasai dengan perasaan emosional dan kedukaan yang mendalam.

  

Situasi seperti ini keluarga yang dikunjungi sangat mengharapkan bantuan dukungan

dari kita untuk memberi kekuatan dan peneguhan dalam menjernihkan permasalahan

yang sedang dihadapi.

  c) Kemurnian Sikap Dalam kunjungan satu hal yang penting diperhatikan adalah kemurnian sikap

hati. Dari setiap percakapan keluarga atau orang akan melihat sikap dan merasakan

apa yang kita bicarakan sungguh memberikan sebuah peneguhan dan kekuatan untuk

memperbaiki diri dan memiliki pandangan baru. Maka dalam kunjungan kita

diharapkan sungguh memiliki sikap kemurniaan hati untuk membantu dan menolong

mereka. Membangun sebuah sikap kemurniaan yang keluar dari hati yang

belaskasihan untuk memperkembangkan kehidupan beriman mereka.

7. Manfaat Kunjungan Keluarga

  Budyapranata (1994: 20), mengemukakan bahwa manfaat dari kunjungan keluarga adalah:

a. Bagi Para Pengunjung; kunjungan keluarga akan membuka wawasan dan

pengalaman baru, karena mendapatkan masukan-masukan dari warga atau keluarga

  

b. Pengenalan keluarga lebih dekat dan keadaan keluarga secara nyata saat membantu

pengurus pendampingan keluarga dalam membuat program atau perencanaan yang lebih konkret dan lebih sesuai dengan keadaan keluarga atau umat.

c. Kunjungan keluarga membantu untuk saling terbuka dan menciptakan iklim persaudaraan dan menumbuhkan kepekaan sosial bagi para pengunjung.

  

d. Kunjungan keluarga merupakan awal dari kunjungan pastoral yang sifatnya lebih

pribadi, dan terjadi dialog yang terbuka untuk mandapatkan penjelasan yang lebih baik.

  

e. Kegiatan kunjungan keluarga merupakan sebuah kesempatan untuk

mempersiapkan dan membina kader-kader yang bisa menyebar luaskan program kunjungan keluarga ini melalui lokakarya dan seminar-seminar, karena dengan kunjungan biasanya kesempatan untuk melihat.

8. Sasaran Kunjungan Keluarga

  Kunjungan keluarga pada dasarnya adalah untuk semua umat dari berbagai

macam golongan, kedudukan dan pangkat yang berada dalam lingkup paroki.

  

Kunjungan keluarga harus terarah kepada semua umat manusia, oleh karena itu

kunjungan tidak hanya dilakukan bagi keluarga atau orang yang bermasalah baik

dalam iman maupun kehidupan sosial tetapi hendaknya semua yang ada dalam

lingkup paroki didatangi satu persatu secara efektif dan teratur.

  Dalam kunjungan akan dihadapkan dengan situasi yang bermacam-macam

dari keluarga atau orang yang kita kunjungi, maka syarat mutlak adalah adanya

kesediaan untuk memberi bantuan semaksimal mungkin sehingga kegembiraaan,

  

harapan, duka dan kecemasan mereka menjadi kegembiran, harapan dan kecemasan

kita sebagai murid-murid Kristus.

9. Proses Kunjungan Keluarga

  Menurut Budyapranata (1994: 40), pengunjung perlu menjadi sejajar dengan

yang dikunjungi. Sikap sejajar dalam kunjungan sangat diperlukan karena justru hal

ini mendapat tekanan dari Yesus “menjadi sesama bagi saudaranya”. Sejajar berarti

solider dan senasib dengan orang yang dikunjungi, sehingga yang dikunjungi merasa

mendapatkan teman, sehingga orang atau keluarga yang dikunjungi berani bangkit

dari keadaannya.

  Santo Paulus juga memberikan nasehat kepada jemaat di Filipi (Fil. 2 : 6-16),

agar rendah hati dan punya semangat seperti Kristus, yang mengosongkan diri dan

sejajar dengan manusia. Sikap sejajar merupakan kesaksian yang nyata, bahwa semua

pengikut Kristus adalah saudara. Maka beberapa hal yang perlu diperhatikan selama

proses kunjungan:

a. Memperhatikan Keluarga yang Dikunjungi

  Memberikan perhatian merupakan suatu usaha untuk mengerti dan

memahami orang lain. Jadi memberikan perhatian bukan hanya secara formal bertemu

dengan orang lain, tetapi ikut merasakan keprihatinan orang yang dikunjungi dan

mencoba membantu untuk mengubah situasinya. Setiap kunjungan yang kita

laksanakan bersifat pastoral, maka nilai rohani para pengunjung menjadi modal utama,

yaitu kesadaran bahwa setiap pertemuaan yang tulus iklas itu merupakan ungkapan

  b. Menjadi Pendengar yang Baik Mendengarkan adalah mendengar apa yang dikatakan orang. Mendengarkan

pembicaraan orang lain itu ibarat orang yang sedang mendengarkan musik artinya

ketika kita mendengar orang berbicara tidak hanya sambil lalu atau sepintas kilas saja,

tetapi harus dengan perhatian khusus sehingga interaksinya dua arah.

  Untuk bisa menjadi pendengar dengan baik, kita harus mengindentikkan diri

dengan lawan bicara kita, artinya selama orang lain berbicara, kita berpihak pada

orang lain itu dan mengikuti jalan pikirannya sehingga kita memberikan reaksi yang

tepat dalam pembicaraan itu. Menjadi seorang pendengar yang baik butuh kesediaan

dan konsentrasi yang tinggi, hal ini menyangkut kemauan dari dalam hati.

  c. Membangun Dialog Dialog berarti mau menerima pribadi lain sebagaimana adanya, artinya

membangun pemahaman dan pengertian terhadap pribadi lain. Dialog yang baik akan

terjadi bila kedua belah pihak dapat saling memahami, dan adanya sikap mau

mendengarkan dan mau mengerti pihak yang diajak bicara.

  Tujuan dari dialog bukan untuk mempermasalahkan atau menghukum, tetapi

untuk memperbaiki komunikasi. Dialog menjadi sarana untuk mengatasi salah paham,

kecurigaan dan sebagainya.

  d. Melibatkan Diri pada yang Dikunjungi Kunjungan pastoral adalah demi kebaikan dan keselamatan orang lain. Kisah

dua murid ke Emaus (Luk. 24: 13-35), Yesus tidak hanya menenangkan hati mereka

  

mereka sendiri, dan mengembalikan iman mereka, Yesus terlibat dengan kedua murid-

Nya tetapi dilepaskan setelah kedua murid itu sadar.

  Keterlibatan tidak hanya diartikan sebagai suatu keramah-tamahan belaka.

Keterlibatan berarti merasa ikut prihatin dengan orang atau keluarga yang dikunjungi,

mau membela dan rela berkorban untuk ikut membebaskan orang lain dari keadaanya,

tanpa memperhitungkan kepentingan diri sendiri. Itulah idealisme suatu keterlibatan

seorang pengunjung, namun bagaimana pelaksanaannya di lapangan sangat tergantung

kesadaran sebagai pengunjung akan tugas perutusannya.

e. Terlibat Mengatasi Kesulitan

  Kunjungan adalah pelayanan namun tidak jarang si pengunjung menghadapi

situasi yang sulit, karena banyak menemukan segala permasalahan setelah

mengadakan kunjungan keluarga.

  Kunjungan termasuk dalam diakonia sebab kunjungan keluarga itu

bermaksud untuk menjaga kesejahteraan orang lain atau keluarga-keluarga yang

dikunjungi. Dalam kunjungan selain memperhatikan hidup rohani keluarga yang

dikunjungi, para pengunjung diharapkan juga memperhatikan kesejahteraan jasmani.

10. Fungsi Sarana Media dalam Kunjungan Keluarga

  Menurut Budyapranata (1987: 59), dalam kunjungan keluarga sarana media

hanya berfungsi sebagai penunjang karya kunjungan keluarga dan sebagai sarana

pendidikan atau latihan bagi para pengunjung. Media sebagai bahan informasi yang

mungkin akan berguna bagi calon pengunjung, sehingga kunjungan yang dilaksanakan

  

sukarela ini tidak dipandang sebagai gangguan oleh pihak yang dikunjungi, melainkan

suatu bantuan.

  Media-media yang dipersiapkan secara khusus untuk proyek kunjungan

keluarga ini tidak dimaksud sebagai resep jadi, melainkan hanya sebagai sebuah

contoh, maka jelas bahwa media tidak banyak membantu secara langsung dalam

kunjungan keluarga.

D. Kunjungan Keluarga menurut Spiritualitas Kongregasi MASF

  Kunjungan keluarga dalam mewujudkan spiritualitas atau semangat

Kongregasi MASF sesuai dengan nama Kongregasi berdasarkan pada tiga tonggak

yaitu: Misi atau perutusan, Adorasi atau sembah sujud dan Santa Familia atau

Keluarga Kudus.

1. Misi atau Perutusan

  Spiritualitas Misi diuraikan dalam Konst., (2008: no. 12, 13, 14, 28, 29, dan 31). Berikut ini penjelasan konstitusi berdasarkan nomor, sebagai berikut: Konst., no. 12: pada hakekatnya Gereja peziarah bersifat misioner, maka

sebagai Kongregasi misioner, kita dipanggil secara istimewa terlibat dalam tugas

perutusan Gereja, kita berusaha memberikan kesaksian iman kita dengan sungguh

yakni bahwa Allah sungguh mengasihi kita. Karena Allah adalah Kasih (1Yoh: 3:6),

seperti Yesus kita di utus oleh Bapa “Menyampaikan kabar baik kepada orang-orang

miskin, memberitakan pembebasan kepada para tawanan, membuka penglihatan bagi orang buta dan membebaskan orang-orang tertindas (Luk 4: 18-19). Konst., no. 13: kita mengabdikan diri untuk hidup menggereja lokal maupun

universal yang berarti kita peka terhadap dambaan umat akan kesatuan dan

persaudaraan. Pedomaan kita adalah sikap menghargai, memahami perbedaan dan

menciptakan perdamaian. Kita berpangkal pada Yesus Kristus yang melimpahkan

Roh- Nya bagi kita. “Ya Bapa yang kudus peliharalah mereka dalam nama-Mu yang

telah Engkau berikan kepada-Ku supaya mereka semua menjadi satu sama seperti

kita”. (Yoh. 17:11).

  Konst., no. 14: perutusan kita berlangsung lewat dialog. Kita berdialog dengan

sesama dan menerima mereka sebagai saudara. Ini hanya terlaksana bila kehadiran

kita dipenuhi oleh cinta kasih, terlibat bersama demi dunia yang lebih baik, maupun

pewartaan kabar gembira yang nyata. Perutusan kita mencakup segalanya, baik injili

yang dihayati maupun yang diwartakan.

Konst., no. 28: Dijiwai oleh semangat Injil, kita ambil bagian dalam misi Yesus,

dalam gereja-Nya. Kita mempertaruhkan diri tanpa syarat demi pembebasan dan

kebahagian sesama, kesejahteraan jasmani dan rohani, maupun hubungan sosial dan

budaya yang baik.

  Konst., no. 29: terarah kepada misi menandai ciri semangat Kongregasi. Kita

terutama ingin mempersembahkan diri untuk kepentingan Gereja lokal, berusaha

mewujudkan perjumpaan Gereja dengan agama atau budaya yang lain.

Konst., no. 31: Perutusan misioner Gereja tidak hanya pergi ke tempat bangsa atau

budaya asing, melainkan berlangsung juga di negeri sendiri dan lingkungan sendiri.

  

Cinta kasih Kristus merangkum segalanya. Perutusan itu terwujud ketika kita mencari

mereka yang tersingkir, kaum miskin, yang terasing dari Gereja Kristus dan dari

  

masyarakat. Dengan demikian, kita mewujudkan lahan subur bagi persekutuan

Gerejawi yang sungguh dinamis.

  2. Adorasi atau Sembah Sujud Adorasi diuraikan dalam konst., (2008: no. 15 dan 16). Menurut Konst.,

no.15: kita percaya bahwa Kristus dengan berbagai cara menyatakan kehadiran-Nya

di antara kita dalam sabda dan sakramen, dalam seluruh kehidupan Gereja, dimana

manusia dapat mengatasi dirinya. Puncak kehadiran-Nya, kita merayakan dalam

Ekaristi, di dalamnya Ia manghantar kita untuk menyerahkan diri secara total “Tubuh-

KU, Darah-KU, Hidup-KU untukmu. Maka dari itu, Ekaristi merupakan pusat, puncak

dan sumber hidup kita.

  Sedangkan, Konst., no.16: Ekaristi merupakan peristiwa, perayaan dan

tindakan, dimana Kristus menyatukan kita menjadi satu tubuh dalam diri-Nya. Dalam

perayaan itu, Kristus menjamin kehadiran-Nya yang tiada henti di te ngah kita “Barang

siapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di

dalam Dia”. Kita dapat manghayati dan menyatakan persatuan kita dengan Kristus

melalui berbagai cara, dengan memberikan perhatian khusus pada sakramen. Tanda

roti hidup menunjuk pada pusat hidup kita, Kristus mengungkapkan cinta kasih-Nya

sampai sehabis-habisnya. Oleh karena itu, kita bersembah sujud dan menanggapi cinta

kasih-Nya dengan penyerahan diri.

  3. Semangat Santa Familia atau Keluarga Kudus Nazareth Keluarga Kudus Nasareth diuraikan dalam konst., (2008 no.7, 8, dan 9).

  

mencari inspirasi dari Keluarga Kudus, didalamnya kita menghormati misteri

inkarnasi Allah yang menjadi manusia. Dalam diri Yesus Kristus Allah tinggal ada

hidup di antara kita dalam segala hal Ia menjadi serupa dengan kita, kecuali dalam hal

dosa (Ibr. 4:15). Dalam Keluarga Kudus, kita menghormati kesatuan Yesus, Maria

dan Yusuf yang dalam secara khusus dan unik mengabdikan diri kepada karya

keselamatan Allah.

  Konst., no. 8: kita hidup menghayati semangat Keluarga Kudus Nazareth. Di

dalamnya misteri Yesus dapat tumbuh dan berkembang, dimana cinta kasih dan

ketaatan terhadap Allah dan sesama menjadi matang.

  Konst., no. 9: dalam diri Maria, Sabda Allah menjadi manusia. Maria

menyimpan segala perkara itu dalam hati dan merenungkannya (Luk. 2:19). Yusuf

menemukan kehendak Allah dalam melayani Yesus dan Maria. Teladan mereka

mendorong kita untuk melihat kehendak Tuhan dalam cinta kasih yang tulus terhadap

sesama.

E. Penuntun Hidup Kongregasi Misi Adorasi Santa Familia

  Berkaitan dengan penuntun hidup Kongregasi Suster-suster Misi Adorasi Santa Familia ada lima pokok yang akan dibahas yaitu:

1. Kharisma Kongregasi MASF

  Kharisma Kongregasi MASF sama dengan kharisma Pendiri Kongregasi,

“Dengan kekuatan Kasih Kristus yang mengosongkan diri dan kasih keibuan Maria

menggerakkan kita untuk mengembalikan harkat dan martabat manusia yang lemah

  Untuk mewujudkan kharisma tersebut, para suster MASF melakukan dengan

cara: memberdayakan (inkarnasi), menyembah dan membebaskan (misioner),

merelakan diri dan memberi hidup bagi orang lain (Ekaristi) dengan kepenuhan hati,

dan masing-masing membawa pergumulannya bersama anggota komunitas kehadirat

Bapa (Adorasi).

  Tetapi penekanan perwujudannya untuk tiap regio disesuaikan dengan

tuntutan zaman dan kebutuhan Gereja di tempat para suster MASF di utus untuk

berkarya. Penekanan perwujudan ini penting karena lewat kehadiran para suster dapat

melaksanakan karya perutusan yaitu mewartakan Kerajaan Allah. Adapun wujud

konkrit dari kharisma tampak dalam kerasulan di bidang: pendidkan, kesehatan,

sosial dan pastoral.

  2. Spiritualitas Kongregasi MASF Spiritualitas atau semangat Kongregasi MASF, sesuai dengan nama

Kongregasi yang didasarkan pada tiga Tonggak Yaitu: Misi atau perutusan, Adorasi

atau sembah sujud dan Santa Familia atau keluarga Kudus. Misi diuraikan dalam

Konst., no.12,13,14, Adorasi Kons.no 15, 16, dan Santa Familia Konst., no. 7,8,9.

  3. Visi Kongregasi MASF Visi MASF: Kongregasi Suster-suster Misi Adorasi dari Santa Familia

adalah wanita religius yang dijiwai oleh semangat Keluarga Kudus Nazareth, Adorasi,

dan Misi dipanggil Tuhan untuk mewujudkan Kerajaan Allah di dunia ini.

  4. Misi Kongregasi MASF Misi MASF: Kongregasi Suster-suster Misi Adorasi dari Santa Familia

dalam mewujudkan visinya menghadirkan Kristus dalam pelayanan kepada mereka

miskin dan lemah, terutama kaum wanita dan anak-anak.

  5. Konstitusi MASF Sebagai salah satu lembaga hidup bakti, konstitusi bagi Kongregasi MASF

merupakan peraturan dasar yang menjadi sarana untuk mencapai tujuan dari

kongregasi, yaitu mewujudkan Karya keselamatan bagi sesama manusia.

F. Karya Kerasulan

  Karya kerasulan bagi Kongregasi MASF, merupakan salah satu sarana

pengabdian kepada Gereja dan kemanusiaan. Dengan karya kerasulan, Kongregasi

MASF memenuhi undangan Yesus Kristus untuk membangun dunia penuh cinta kasih

yang memberi diri secara total untuk berbuat seperti Yesus Konst., (2008: no. 12).

  Sebagai salah satu Kongregasi yang aktif, Kongregasi MASF menangani

karya kerasulan dalam bidang: Pendidikan, (formal dan non-formal), kesehatan dan

sosial dan pastoral dan salah satunya adalah mengadakan kunjungan keluarga bagi

keluarga-keluarga Katolik untuk ikut membantu mengembangkan iman umat.

  Berdasarkan lima penuntun hidup, Kongregasi MASF ingin menghadirkan

dan mewujudkan Kerajaan Allah dengan cinta kasih yang nyata kepada sesama

manusia, memperjuangkan kesatuan dan persaudaraan antar manusia sebagai satu

keluarga yang berlandaskan pada cita-cita luhur dan pengabdian pada perkembangan

  Kerjasama yang baik antara Kongregasi MASF dengan pihak Paroki, pastor,

umat dan dari berbagai kalangan memberikan peluang bagi Kongregasi MASF

sehingga secara intensif membantu mengembangkan iman umat setempat melalui

berbagai karya kerasulan yang ditangani oleh para suster MASF di manapun para

suster di utus.

  

1. Semangat yang Menggerakkan untuk Melaksanakan Karya Pastoral

Kunjungan Keluarga Berdirinya Kongregasi MASF karena keprihatinan akan penderitaan yang

dialami oleh perempuan dan anak-anak. Banyak ibu yang meninggal waktu

melahirkan, juga bayi meninggal karena tidak mendapat pertolongan medis yang

memadai. Banyak anak dan para gadis yang tidak mendapat pendidikan formal

maupun non-formal, dan banyak keluarga yang kurang mampu berkembang menjadi

keluarga Kristiani sejati karena kurangnya pembinaan dan pendampingan.

  Sebagai Suster Misi dan Adorasi dari Santa Familia, mencari inspirasi dari

Keluarga Kudus Nasareth dalam melaksanakan karya kerasulan Gereja. Berusaha

mengikuti teladan dan sikap Keluarga Kudus yang ditandai dengan kesederhanaan,

tekun bekerja, melayani dengan cinta dan selalu berada dalam hubungan dengan

Bapa. Keluarga Kudus yang terlibat berada di tengah-tengah realitas kehidupan, hidup

dalam ketidakpastian, diusir dan dikejar serta hanya bersandar pada iman akan Allah.

  

Dalam segala situasi saling menguatkan dan saling meneguhkan Konst., (2008: no.

11).

  Inspirasi Keluarga Kudus diwujudnyatakan dengan menjalin relasi dengan

  

pembebasan. Para suster MASF menghayati spiritualitas Keluarga Kudus yang

membawa perubahan pandangan dan pembentukan dalam hidup bersama dan

berusaha setiap komunitas menjadi oase yang menginspirasikan lewat doa, dan dialog,

memahami budaya, memiliki harapan untuk maju bersama, menjadi kawan

seperjalanan yang baru yang saling menemani dan menguatkan dalam mewujudkan

kerajaan Allah Konst., (2008 : 28).

  Perutusan sebagai misioner, dijiwai oleh semangat Injil kita ambil bagian

dalam misi Yesus dalam Gereja-Nya, Konst., (2008: 29). Karya pastoral yang

ditangani oleh para suster disesuaikan dengan kebutuhan Gereja setempat seperti:

mendampingi kelompok-kelompok doa, pembinaan katekumen, mendampingi ibu-ibu

WKRI, mendampingi di lembaga kemasyarakatan (LP), keluarga yang sakit,

kelompok Misdinar, kelompok mudika dan salah satunya adalah kunjungan keluarga.

  

Perutusan sebagai misioner untuk mencari mereka yang tersingkir kaum miskin, yang

terasing dari Gereja Kristus dan masyarakat Konst., (2008:31).

  Menurut Budyapranata (1994: 31), kunjungan keluarga pada hakikatnya

merupakan kesedian kita untuk memahami dan melibatkan diri pada situasi orang lain.

  

Maka yang diharapkan dari kunjungan keluarga bukan datang untuk mempertobatkan

atau memecahkan masalah yang sedang dihadapi oleh para keluarga Katolik.

  

Kunjungan keluarga yang sebenarnya adalah kerelaaan kita untuk memberikan

perhatian dan membina sebuah persaudaraan sebagai umat beriman. Maka dalam

kunjungan keluarga dibutuhkan sikap keterbukaan antar si pengunjung dan keluarga

yang di kunjungi, suatu perjumpan dari hati ke hati sehingga ada penerimaan satu

sama lain.

  Tujuan dari kunjungan keluarga yang dilakukan oleh para suster MASF

adalah kesediaan untuk berbagi pengalaman iman dengan sesama baik dalam suka

maupun dalam duka dan membantu mereka berkembang dalam iman yang sejati.

Perkembangan keluarga-keluarga Katolik dalam iman maupun dalam segala aspek

kehidupan merupakan kebahagian para suster MASF.

  Spiritualitas Kongregasi menjadi sumber penggerak bagi para suster MASF

dalam menjalani kunjungan keluarga. Kharisma dan spiritualitas Kongregasi

senantiasa menjadi penggerak bagi setiap anggota suster MASF untuk kembali ke jati

diri sebagai seorang religius dan menyadari akan karya perutusannya.

  Kehadiran para suster MASF bagi mereka yang miskin dan lemah terutama

keluarga-keluarga Katolik menandai ciri semangat Kongregasi yang terpanggil secara

istimewa terlibat dalam tugas perutusan Gereja, dan berusaha memberikan kesaksian

iman kita dengan sungguh bahwa Allah sungguh mengasihi kita Konst., (2008: no.

  12).

  Dalam bidang pastoral sangat jelas tampak dalam jiwa Pater Trampe

bagaimana menempatkan Keluarga Kudus Nasareth sebagai teladan para anggota

Kongregasi. Inspirasi Keluarga Kudus bagi anggota MASF yakni kesedian untuk

saling melayani, bersedia untuk mendengarkan dari hati ke hati, bekerja keras, saling

memahami, melayani, hidup dalam ketidakpastian namun tetap bersandar pada iman

akan Allah dan hidup dalam keheningan doa.

  Lima penuntun hidup Kongregasi yang meliputi kharisma, spiritualitas, Visi,

Misi dan konstitusi menjadi pedoman sekaligus sebuah tantangan bagi para anggota

suster MASF dalam menjalankan tugas perutusannya khususnya dalam bidang

  Kenyataan yang terjadi di zaman ini banyak keluarga Katolik yang

mengalami permasalahan yang sangat kompleks. Gereja sebagai paguyuban sungguh

merasakan sebagai kebutuhan yang mendesak untuk ditangani. Dijiwai oleh semangat

Injil, dalam Gereja-Nya, para suster memberikan diri tanpa syarat demi pembebasan

dan kebahagian sesama dengan bekerja sama dengan tim pastoral keluarga paroki

setempat dalam membantu keluarga-keluarga Katolik.

  Kunjungan keluarga merupakan salah satu bentuk pastoral yang

diselenggarakan oleh paroki dan para suster mengambil bagian dan terlibat secara

rutin setiap minggu. Kunjungan keluarga dilakukan secara individu maupun secara

kelompok, dan kahadiran para suster hanya untuk mendengarkan, sharing pengalaman

iman, dan tanyajawab tentang hidup menggereja dan sebagainya.

  Kehadiran para suster mendapat respon yang positif dari sebagian keluarga,

namun tidak bisa dipungkiri bahwa sebagian keluarga yang kurang terbuka dengan

permasalahan yang sedang dihadapi baik dalam kehidupan menggereja maupun

kehidupan sosial. Selain itu juga ada kendala intern dari para suster yakni kurangnya

pengetahuan yang luas dan pemahaman baik tentang kunjungan keluarga itu sendiri

misalnya bagaimana harus bersikap sebagai seorang pengunjung, dan kurang

mempunyai program yang jelas sehingga kunjungan berjalan seadanya.

  Melihat keprihatinan yang ada, khususnya bidang pastoral kunjungan

keluarga kurang mendapat perhatian dari Kongregasi. Kongregasi MASF belum ada

sebuah program yang jelas dan tetap dalam kunjungan keluarga. Untuk menjawab

kebutuhan iman umat maka perlu dipersiapkan dan pembekalan bagi tenaga pastoral

keluarga, khususnya bagi para suster harus memiliki pengetahuan dan wawasan luas

  

permasalahan yang dihadapi ketika mengadakan pastoral keluarga, dan bagi

Kongregasi MASF untuk mempunyai sebuah program yang jelas dan tetap.

  Keterlibatan dalam bidang pastoral keluarga membutuhkan sebuah tenaga

pastoral keluarga yang profesional sesuai dengan tuntutan zaman artinya; seorang

tenaga pastoral keluarga yang harus menjalani studi khusus dalam bidang pastoral

keluarga. Seorang tenaga pastoral keluarga yang memliki ketrampilan dalam

pendampingan dan mempunyai kepribadian yang matang dan dewasa, membentuk tim

dalam Kongregasi MASF, mengadakan evaluasi secara rutin dan sebagainya.

  Sebagai anggota Gereja, para suster MASF terpanggil untuk mengambil

bagian dalam karya perutusan penyelamatan-Nya agar semua orang memperoleh

keselamatan Konst., (2008: no. 32). Para suster MASF menerima perutusan menjadi

tanda cintakasih serta mempersembahkan diri untuk kepentingan Gereja lokal Konst.,

(2008: no. 29).

2. Karya Pastoral Kunjungan Keluarga Menurut Spiritualitas Kongregasi

  Sebagai suster Misi dan Adorasi dari Santa Familia, Kongregasi ini mencari

inspirasi dari keluarga Kudus, didalamnya kita menghormati misteri inkarnasi Allah

yang menjadi manusia. Dalam diri Yesus Allah tinggal dan hidup di antara kita, (Ibr.

4: 15). Bunda Maria dan Yusuf secara khusus dan unik mengabdikan diri kepada

rencana penyelamatan Allah. Di dalam keluarga Kudus, kehendak Allah dinyatakan

kepada Maria dan Yusuf dalam kesederhanaan hidup tersembunyi di Nasareth.

Mereka memandangnya sebagai tugas yang penting dalam mencari dan mendengarkan

kehendak Allah serta menyalurkannya dengan penuh syukur kepada orang lain, dan

  Sebagai anggota suster-suster MASF, berusaha menghayati unsur-unsur

spiritualitas, sebagai suster misi dan dalam hidup Keluarga Kudus Nasareth. Keluarga

kudus bersama banyak orang lain merupakan keluarga besar yang menantikan dengan

penuh iman menantikan Almasih yang dijanjikan serta harapan akan Yerusalem baru.

  

Sebagai keluarga yang melibatkan diri dengan irama hidup seperti orang lain, dan

bersama-sama mendengarkan, mencari serta melaksanakan kehendak Allah karena

kita bersatu dengan Kristus dalam sembah Adorasi.

  

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN Pada bab III ini memuat uraian mengenai metodologi penelitian, yang

meliputi: jenis penelitian, tempat dan waktu penelitian, populasi dan sampel, teknik

dan instrumen pengumpulan data, teknik pengolahan data dan teknik analisis data.

A. Jenis Penelitian

  Jenis penelitian dalam skripsi ini adalah deskriptif kuantitatif, yakni memberi

gambaran tentang populasi yang sedang diteliti dengan menggunakan kuesioner

sebagai alat pengumpulan data yang utama. Menurut Sudjana (1996: 7), metode

survei, deskriptif digunakan untuk melukiskan dan menganalisis suatu kelompok yang

sedang diteliti. Hal ini mengandung pengertian bahwa penelitian jenis deskriptif

kuantitatif digunakan untuk mendeskripsikan dan menganalisis masalah yang diteliti

berdasarkan data yang diperoleh.

  Metode survei deskriptif pada umumnya digunakan untuk mendeskripsikan,

menghimpun fakta, atau informasi dari suatu peristiwa yang berkaitan dengan

pengetahuan, pendapat, respon, perilaku, sikap, dan nilai dari suatu kelompok atau

individu yang sedang diteliti tanpa melakukan hipotesis. Oleh karenanya, yang

menjadi fokus dalam penelitian ini adalah keluarga-keluarga Katolik dalam

pengembangan kehidupan imannya setelah mendapat kunjungan. Hasil penelitian ini

akan mencari solusi yang tepat untuk meningkatkan dan mengembangkan aspek-aspek

yang berkaitan dengan kunjungan keluarga yang dianggap masih kurang maksimal.

  B. Tempat dan Waktu Penelitian Tempat dan waktu penelitian merupakan hal utama dalam penelitian. Tempat

penelitian dalam skripsi ini dilaksanakan di Wilayah St. Andreas Songgolangit, Paroki

  

St. Paulus Kleco Surakarta. Sedangkan, waktu penelitian dilaksanakan pada Bulan

Agustus 2013.

  C. Populasi dan Sampel Penelitian Populasi penelitian dalam skripsi adalah semua keluarga-keluarga Katolik

yang tinggal Wilayah St. Andreas Songgolangit, Paroki St. Paulus Kleco Surakarta.

  

Jumlah kepala keluarga (KK) yang tinggal di Wilayah St. Andreas Songgolangit

sebanyak 121 KK. Namun dari 121 kuisoner yang disebarkan terkumpul hanya 84

sehingga data yang dianalisis dalam skripsi ini hanya menggunakan data dari 84 KK

yang mengembalikan angket, yang telah diisi.

  Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik populatif karena menggunakan seluruh jumlah populasi yang ada sebagai sampel penelitian.

  D. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data 1. Variabel Penelitian Penelitian ini bersifat deskriptif atau menggambarkan, maka hanya ada satu

aspek atau variabel yang akan diukur atau digambarkan dalam penelitian ini yaitu

variabel mengenai Kunjungan Keluarga oleh Suster-Suster MASF bagi Keluarga-

Keluarga Katolik yang ada di Wilayah St. Andreas Songgolangit, Paroki St. Paulus

Kleco.

  2. Definisi Konseptual Variabel Kunjungan keluarga merupakan salah satu bentuk kegiatan pastoral keluarga

di mana terjadi pertemuan pribadi antara si pengunjung dan yang dikunjungi. Artinya,

bahwa kunjungan itu bukan hanya sekedar datang ke rumah orang lain dengan suatu

urusan, melainkan menyapa orang lain sebagai sesama atau saudara. Kunjungan

keluarga juga merupakan pertemuan terbuka sebagai usaha pendampingan dan

pelayanan untuk saling memperhatikan, memahami, dan memperteguhkan rasa

persaudaraan sebagai umat beriman Kristiani. Kunjungan keluarga yang dilaksanakan

oleh para suster atas kerjasama dengan tim pastoral keluarga dalam mengembangkan

kehidupan beriman keluarga-keluarga Katolik, secara terus-menerus dan terciptanya

suasana kekeluargaan yang di dalamnya ada doa, sharing pengalaman iman sebagai

umat Kristiani.

  3. Definisi Operasional Variabel Kunjungan keluarga adalah usaha pendampingan dan pelayanan yang

melibatkan seorang imam, suster dan tim melalui aksi kunjungan dari rumah ke rumah

secara rutin. Waktu kunjungan berlangsung sekitar 45 menit. Metode yang digunakan

adalah sharing, tanya jawab, wawancara, dan dialog antar si pengunjung dan keluarga

yang dikunjungi. Suasana yang terjadi adalah kekeluargaan, doa, dan kepeduliaan,

sehingga orang yang dikunjungi merasa senasib dalam keakraban, kegembiraan, dan

dalam penderitan. Pendamping perlu memiliki pengetahuan, sikap, keterampilan,

kerjasama, dan terlibat dalam membantu keluarga-keluarga Katolik menemukan cara

untuk memecahkan permasalahannya.

  4. Teknik Pengumpulan Data Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan non test, yakni melalui

penyebaran kuesioner . Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang

dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis

kepada responden untuk dijawab (Sugiyono, 2010: 199). Penyebaran kuesioner

dilakukan pada 121 KK di Wilayah St. Andreas Songgolangit, Paroki St. Paulus Kleco

Surakarta sebagai responden. Namun, data yang terkumpul hanya dari 84 KK.

  

Sedangkan, 37 KK yang lainnya tidak mengembalikan angket yang telah diberikan

untuk diisi, sehingga data yang dianalisis dalam skripsi ini hanya menggunakan data

dari 84 KK yang mengembalikan angket, yang telah diisi.

  5. Instrumen Pengumpulan Data Instrumen penelitian yang digunakan untuk mengukur nilai variabel dalam

penelitian ini adalah angket berbentuk skala likert, wawancara dan studi dokumen.

  

Dalam penelitian ini, instrument yang digunakan bersifat tertutup. Hal ini

mengandung pengertian bahwa jawaban untuk masing-masing pernyataan yang

tersedia pada kolom jawaban, sehingga responden tinggal memilih salah satu alternatif

jawaban yang sesuai dengan keadaan yang dilihat dan dialaminya. Teknik ini cocok

digunakan untuk responden yang cukup besar dan tersebar di wilayah yang luas.

  Sedangkan, skala likert merupakan skala yang mengukur pengetahuan

keterampilan, sikap, nilai, pendapat, dan persepsi sosial seseorang (Riduwan, 2010:

86). Sama halnya dengan alat pengumpul data yang lain dalam penelitian ini, skala

likert juga mengukur atau mendeskripsikan pengaruh kunjungan keluarga oleh Suster-

  

itemnya dimodifikasi menjadi 4 alternatif jawaban, yaitu Sangat Setuju (SS), Selalu

(SL) dengan skor 4, Setuju (S), Sering (SR) dengan skor 3, Tidak Setuju (TS),

Kadang-Kadang (KK) dengan skor 2, dan Sangat Tidak Setuju (STS), Tidak Pernah

(TP) dengan skor 1 (Sugiyono, 2010: 135).

  Skor tertinggi setiap item pernyataan yang positif sebesar 4 poin dan skor

terendah sebesar 1 poin, rinciannya sebagai berikut: 4, 3, 2, dan 1. Sedangkan, skor

tertinggi setiap item pernyataan yang negatif, poin tertinggi 1 dan poin terendah 4,

dengan rinciannya sebagai berikut: 1, 2, 3, dan 4. Jumlah instrumen yang positif

dalam skripsi ini, ada 73 soal dan yang negatif ada 7 soal.

  6. Kisi-kisi Instrumen Tabel 1. Kisi-Kisi Instrumen Deskripsi Kunjungan dalam Bentuk Kuesioner No. No Aspek Sub Aspek Indikator Item

1. Segi Tenaga Pengetahuan - Menjelaskan tentang ajaran

  1 Pastoral Gereja, pastoral keluarga, Keluarga masalah-masalah aktual yang terjadi dalam hidup berkeluarga.

  • Memiliki wawasan mengenai budaya dan bahasa setempat dalam melaksanakan kunjungan keluarga.

  2-3 Sikap - Memiliki semangat sebagai seorang gembala dan pelayan.

  • Membangun sikap profesional sebagai seorang Gembala dan pelayan dalam berpastoral.
  • Membangun sikap saling mendengarkan di antara si pengunjung dan keluarga- keluarga katolik.
  • Membangun sikap rela berkorban.
  • Semakin terlibat dalam hidup menggereja.
  • Mampu melaksanakan tugas-tugas dalam kegiatan liturgi, pelayanan dan pewartaan.
  • Membangun dialog yang 4-6

  Keterampilan terbuka.

  • Memiliki sikap saling mendengarkan dalam berkomunikasi.
  • Membangun komunikasi yang sejajar antara si pengunjung dan keluarga yang dikunjungi.
  • Ketepatan dalam penggunaan bahasa dalam berbicara maupun sharing.

  • Menggunakan bahasa yang mudah dimengerti.
  • Memiliki wawasan mengenai proses yang harus dibangun dalam kunjungan keluarga.

2. Segi Program Tema atau - Meningkatkan mutu 7-14 kunjungan keluarga.

  Tujuan

  • Membina dan meningkatkan karya kerasulan.
  • Memperkenalkan kegiatan- kegiatan Gereja.
  • Ketepatan dalam memilih wilayah yang akan dikunjungi.
  • Ketepatan arah, fokus pada keluarga-keluarga Katolik.
  • Meningkatkan kunjungan keluarga.

  Sasaran - Keluarga-keluarga Katolik.

  Keluarga yang bermasalah dalam perkawinan, ekonomi, sakit, dan sebagainya.

  • Ketepatan dalam memilih

  Menyusun

Jadwal hari dan waktu.

  • Menyusun jadwal secara tepat.

  Model - Kunjungan pastoral khususnya: orang sakit,

  Kunjungan bermasalah, dan sebagainya.

  • Kunjungan pastoral bertujuan untuk saling menguatkan dan membangun paguyuban.

  Materi - Pemilihan bahan yang sesuai dengan situasi keluarga-keluarga Katolik.

  • Menggunakan sumber bahan atau materi lain untuk mendukung pelaksanaan kunjugan keluarga.

  Metode - Mewawancarai keluarga untuk mendapatkan informasi yang mendukung.

  • Sharing pengalaman iman.
  • Pemilihan alat sarana

  Saran yang mendukung dalam proses kunjungan keluarga.

  Evaluasi - Menunjukkan adanya kesesuaian selama dalam pelaksanaan kunjungan.

  • Memperbaiki materi, sarana, dan lainnya yang masih kurang berjalan dengan baik.
  • Menunjukkan sejauhmana manfaat dari kunjungan keluarga.

  3. Kerja Sama Penanggung - Kerjasama dengan pastor 15-17 Jawab paroki dan tim pastoral keluarga paroki.

  Pastoral

  • Kerja sama dengan tim kerja pendamping keluarga wilayah maupun lingkungan.
  • Mengikutsertakan 18-24

  Pelaksana Pastoral kelompok-kelompok kategorial.

  • Melibatkan tenaga profesional.
  • Membangun paguyuban, 25-27

4. Segi Manfaat Sikap

  Keterlibatan Keterbukaan keakraban, dan dalam atau komunikasi.

  • Membangun sikap solider

  Kegiatan Penerimaan Gereja, baik sebagai keluarga Katolik. di Paroki, - Semakin teguh dalam iman Wilayah, dan menjadi teladan bagi maupun keluarga-keluarga Katolik. Lingkungan - Semakin berani untuk menjadi saksi Kristus.

  Menjadi - Menjadi teladan bagi 28-29 Saksi atau keluarga yang lain. Pewarta - Terlibat dalam kegiatan di masyarakat. Memberi - Membangun sikap solider 30-32 Perhatian, sebagai keluarga Katolik. Teladan, - Membangun sikap saling Penggerak mengerti dan memahami bagi kondisi antara si pengunjung dan yang

  Keluarga yang Lain dikunjungi.

  • Membangun iklim kepercayaan.

  Terlibat - Terlibat menjadi pengurus

  33 dewan paroki, wilayah, dan lingkungan.

  • Turut ambil bagian dalam tata laksana liturgi.

  Tanggung - Pembinaan iman anak. 34-39

  • Meningkatkan

  Jawab pengetahuan iman dengan berdoa, membaca Kitab Suci dalam keluarga.

  Memperkenal - Mengikuti aksi panggilan. 40-43 - Mengunjungi biara. kan Hidup Membiara terhadap Anak

5. Segi Nilai Persiapan - Mendata keluarga yang

  45 Spiritualitas akan dikunjungi.

  Kongregasi - Mempersiapkan materi dan sarana.

  Refleksi - Turut mendoakan dan 46-47 berjuang bersama dalam mengembangkan iman keluarga yang dikunjungi.

  Evaluasi - Mengadakan kunjungan 78-80 rutin setiap minggu.

  • Berusaha menyapa dan mendengarkan setiap keluarga dengan membangun komunikasi yang baik.
  • Berusaha mengenal dan memahami setiap keluarga dengan permasalahannya masing-masing.
  • Mengajak untuk terlibat dalam kegiatan-kegiatan Gereja.

  Tabel 2. Kisi-kisi Instrumen Deskripsi Kunjungan Keluarga untuk Wawancara No No Aspek Sub-aspek dan Indikator Item

1. Segi Tenaga Pengetahuan

  Pastoral Keluarga - Wawasan para tenaga pastoral keluarga

  1 tentang pastoral keluarga dan permasalahan aktual keluarga.

  • Memiliki program yang jelas dan teratur.
  • Memiliki wawasan mengenai proses yang harus dibangun dalam kunjungan keluarga.
  • Memiliki semangat sebagai gembala dan pelayan.
  • Membangun sikap profesional sebagai Gembala dan pelayan dalam berpastoral.

  Tim

  • Bekerjasama dalam kelompok untuk
  • mengumpulkan data dan menentukan

    jadwal kunjungan.

  • Memiliki program yang jelas dan teratur dalam kunjungan keluarga.

  Ketrampilan - Membangun dialog yang terbuka.

  • Memiliki sikap saling mendengarkan

  

dalam berkomunikasi.

  • Membangun komunikasi yang sejajar antara si pengunjung dan keluarga yang dikunjungi.
  • Ketepatan dalam penggunaan bahasa dalam berbicara maupun sharing.
  • Menggunakan bahasa yang mudah dimengerti.

  Sikap

  • Memiliki semangat sebagai seorang

    Gembala dan pelayan.

  • Membangun sikap profesional sebagai seorang Gembala dan pelayan dalam berpastoral.
  • Semakin terlibat dalam hidup menggereja.
  • Mampu melaksanakan tugas-tugas dalam kegiatan liturgi, pelayanan, dan pewartaan.
  • Membangun sikap saling mendengarkan di antara si pengunjung dan keluarga-keluarga katolik.

2. Segi Program Kerja Tema dan Tujuan

  2

  • Meningkatkan mutu kunjungan keluarga.
  • Membina dan meningkatkan karya kerasulan.
  • Memperkenalkan kegiatan-kegiatan Gereja.
  • Ketepatan dalam memilih wilayah yang
akan dikunjungi.

  • Ketepatan arah, fokus pada keluarga- keluarga Katolik.

  Merancang dan Menyusun Jadwal

  • Ketepatan dalam memilih tempat dan waktu.

  Model Kunjungan

  • Kunjungan pastoral khusus; orang sakit, bermasalah, dan sebagainya.
  • Kunjungan pastoral digunakan untuk saling menguatkan dan membangun paguyuban.

  Materi

  • Pemilihan bahan yang sesuai dengan keluarga-keluarga yang dikunjungi.
  • Menggunakan sumber bahan atau materi lain untuk mendukung sumber lain dalam kunjungan keluarga.

  Metode

  • Mewawancarai keluarga-keluarga Katolik untuk mendapat informasi yang mendukung.
  • - Sharing pengalaman iman.

  Sarana

  • Pemilihan alat sarana yang mendukung dalam proses kunjungan keluarga.

  Evaluasi

  • Menunjukkan adanya kesesuaian selama dalam pelaksanaan kunjungan.
  • Memperbaiki materi, sarana, dan lainnya yang masih kurang berjalan dengan baik.
  • Menunjukkan sejauhmana manfaat dari kunjungan keluarga.

  3. Segi Kerjasama Penanggung Jawab

  3

  • Kerjasama dengan pastor paroki dan tim pastoral keluarga paroki.
  • Kerjasama dengan tim pendamping

    wilayah dan lingkungan.

  Pelaksana

  • Mengikutsertakan kelompok-kelompok kategorial.
  • Melibatkan tenaga professional.

  4. Segi Keluarga Sikap Keterbukaan atau Penerimaan

  4

  • Kesediaan dan keterbukaan dalam menerima para tenaga pastoral keluarga.
  • Mengungkapkan rasa solider dengan keluarga-keluarga Katolik yang lain.
  • Semakin teguh dalam iman dan menjadi teladan bagi keluarga-keluarga Katolik.
  • Semakin berani untuk menjadi saksi Kristus.

  

Kehangatan atau Empati

- Membangun iklim kepercayaan.

  • Kemurnian hati.

  Memberi Perhatian

  • Membangun sikap solider sebagai keluarga katolik.
  • Membangun sikap saling mengerti dan memahami.

  Terlibat

  • Menjadi pengurus dewan paroki,

    wilayah dan lingkungan.

  • Turut ambil bagian dalam tatalaksana liturgi.

  Tanggung Jawab - Pembinaan iman anak.

  • Meningkatkan pengetahuan iman dengan berdoa dan membaca Kitab Suci dalam keluarga.

  Memperkenalkan Hidup Membiara terhadap Anak-anak.

  • - Mengikuti aksi panggilan

    - Mengunjungi biara-biara.

5. Nilai Spiritualitas Persiapan

  5 Kongregasi - Mendata keluarga yang akan dikunjungi.

  Refleksi

  • Turut mendoakan dan berjuang bersama dalam mengembangkan iman keluarga yang dikunjungi.

  Evaluasi

  • Mengadakan kunjugan rutin setiap minggu.
  • Berusaha menyapa dan mendengarkan setiap keluarga dengan membangun

    komunikasi yang baik.

  • Berusaha mengenal dan memahami setiap keluarga dengan permasalahannya masing-masing.

  Tabel 3. Panduan Studi Dokumen Temuan Khusus No Aspek Skor

  1. Tenaga pastoral keluarga memiliki Sangat Baik

  4

  3

  2

  1 Tidak Baik program yang baik dan teratur.

  2. Tenaga pastoral keluarga Sangat Tidak mengadakan

  4

  3

  2

  1 Teratur Teratur pertemuan atau rapat secara rutin.

  3. Tenaga pastoral Sangat Baik

  4

  3

  2

  1 Tidak Baik keluarga memiliki data yang lengkap.

  4. Tenaga pastoral keluarga selalu Sangat

  4

  3

  2

  1 Tidak Aktif mengadakan Aktif evaluasi.

7. Pengembangan Instrumen

a. Uji Validitas Instrumen

  Instrumen atau alat ukur yang telah disusun, dibagikan kepada responden

untuk memperoleh data dan dapat terpakai. Data tersebut dianalisis untuk mengetahui

tingkat validitasnya. Alat ukur dapat dinyatakan sebagai alat ukur yang baik dan

mampu memberikan informasi yang jelas dan akurat apabila telah memenuhi uji

validitas. Arikunto dalam Riduwan (2010: 97) menjelaskan bahwa validitas

merupakan suatu ukuran yang menunjukkan tingkat kehandalan atau keabsahan suatu

alat ukur. Instrumen dinyatakan valid apabila instrumen tersebut digunakan untuk

mengukur apa yang seharusnya diukur. Perhitungan uji validitas dalam penelitian ini

mengkorelasikan antara masing-masing skor item pernyataan dengan skor total

menggunakan rumus teknik Pearson Product Moment berbantuan Microsoft Excel.

  Rumus manualnya sebagai berikut: Tabel 5. Rumus Manual Pearson Product Moment

xy x y

        

  N rxy

  2

  2

  2

  2

  

  

   

x y y

  

x   

   

   

N N

  

   

    Keterangan: rxy : koefisien korelasi variabel x dengan variabel y xy : hasil perkalian antara variabel x dengan variabel y x : jumlah nilai setiap item y : jumlah nilai konstan N : jumlah subyek penelitian

  Suatu data dikatakan memenuhi standar kevalidan, apabila taraf hasil korelasi mencapai singnifikansinya ≤ 0,05 (Dapiyanta, 2008). Berdasarkan, pengertian

tersebut, maka dari hasil pengujian variabel kunjungan keluarga dengan 68 instrumen,

terdapat 68 soal memenuhi standar kevalidan, yakni 0,212 terdapat pada tabel produk.

  Soal yang valid tersebut dipakai untuk menganalisis data pada tahap selanjutnya.

  Sedangkan, instrumen yang tidak valid ada 12 nomor, yakni: soal nomor 6 (-

0,9), 7 (0,19), 9 (-0,9), 10 (0,14), 11 (0,18), 16 (0,07), 24 (-0,09), 39 (-0,09), 43 (-

0,09), 50 (-0,09), 79 (0,05), dan 80 (-0,09). Soal yang tidak valid dibuang atau tidak

digunakan, agar dalam menganalisis data menghasilkan hasil yang positif.

b. Uji Reliabilitas Instrumen

  Uji reliabilitas dilakukan untuk mengetahui tingkat ketepatan alat

pengumpulan data (Riduwan, 2010: 213). Suatu instrumen dikatakan reliabel, apabila

instrumen tersebut digunakan beberapa kali dalam mengukur objek yang sama untuk

menghasilkan data yang sama (Sugiyono, 2010: 173).

  Pengukuran reliabilitas dalam penelitian ini hanya dilakukan sekali untuk

menemukan reliabilitas internal setiap item instrumen. Besar koefisien reliabilitas

  

maka, tingkat reliabel juga mendekati taraf kesempurnaan atau sangat tinggi. Dalam

penelitian ini, hasil pengujian reliabilitas (lih. Lampiran12) dilakukan dengan teknik

formula Alpha sebesar 0,926 dengan menggunakan program SPSS 16.0 for wind

E. Teknik Analisis Data Analisis data dilakukan dengan deskriptif statistik dan deskriptif frekuensi.

  

Adapun data yang diuji melalui statistik deskriptif ini, meliputi penyajian data melalui

tabel, grafik, diagram lingkaran, dengan memperhitungkan modus (nilai yang sering

muncul), median (nilai tengah), mean (pengukuran tendensi sentral atau rata-rata),

standar deviasi , varian, range (rentang skor), skor maksimal dan minimum, serta

perhitungan persentase.

  Deskripsi frekuensi diolah berdasarkan kriteria sebagai berikut: Keterangan: Smak = Skor Maksimal Smin = Skor Minimal n = rentang skala setiap item instrumen.

  1. Skor tertinggi yang dapat dicapai dalam variabel ini: 4 x 68 = 272

  2. Skor terendah yang dicapai dalam variabel ini: 1 x 68 = 68

  3. Hasil dari skor tertinggi dikurangi skor terendah: 272

  • – 68 = 204

  4. Hasil dibagi 4 sesuai dengan skala intervalnya: 204 / 4 = 51 Untuk mendapatkan skor tertinggi (jawaban Sangat Setuju atau Selalu) dalam

variabel ini, nilai tertingginya dikalikan dengan jumlah seluruh nomor item, yaitu 4 x

  

68 = 272. Sedangkan, untuk skor terendah (untuk jawaban Sangat Tidak Setuju atau

Tidak Pernah) dalam variabel ini, nilai terendahnya dikalikan dengan seluruh nomor

item, yaitu 1 x 68 = 68.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Bab IV memuat pembahasan hasil penelitian dengan menganalisis semua data

  

yang dibutuhkan untuk mendeskripsikan Kunjungan Keluarga oleh Suster-suster

MASF dalam mewujudkan Spritualitas Kongregasi bagi Keluarga-keluarga Katolik di

Wilayah St. Andreas Songgolangit, Paroki St. Paulus Kleco Surakarta. Selain itu, pada

bab ini juga memuat usulan program.

A. Hasil Penelitian Berdasarkan hasil analisis data mengenai kunjungan keluarga di Wilayah St.

  

Andreas Songgolangit, Paroki St. Paulus Kleco Surakarta, yang dideskripsikan

sebagai berikut:

1. Deskripsi Data Kunjungan Keluarga a. Deskripsi Data Keseluruhan Kunjungan Keluarga

  

Tabel 6. Deskripsi Statistik Data Keseluruhan

Statistik

Nilai Keseluruhan

  N Valid

  84 Instrumen

  68 Mean 217,48 Median 213,00 Mode 203 a

  Std. Deviation 15,311 Variance 234,421 Range

  73 Minimum 195 Maximum 268 Dari tabel statistik deskripsi nilai keseluruhan kunjungan keluarga di atas dapat

dilihat N Valid 84 dengan jumlah instrumen yang valid sebanyak 68 butir. Diketahui

bahwa skor terendah (minimum) sebesar 195 dan skor tertinggi (maximum) sebesar

268 dengan nilai rata-rata pada periode pengamatan (mean) sebesar 217,48 dan

simpangan baku (std. deviation) sebesar 15,311 Nilai variance sendiri sebesar

234,421 dengan nilai tengah (median) sebesar 213,00 dan nilai yang sering muncul

(mode) adalah 203. Nilai kisaran (range) yang merupakan selisih antara nilai

maksimum dan nilai minimum sebesar 73.

  

Tabel 7. Deskripsi Frekuentif Data Keseluruhan Kunjungan Keluarga

Kategori Interval Jumlah Responden Persentase

  Sangat Baik 222-272 22 26,20% Baik 171-221 62 73,80% Kurang Baik 120-170 0%

  Sangat Kurang Baik 68-119 0% Jumlah Total 84 100%

  

Grafik 1. Kualifikasi Keseluruhan Kunjungan Keluarga

Sangat Baik 222- 272

70 Keseluruhan

  

Baik 171-221

Kurang Baik 120- 170 Sangat Kurang

  Baik 68-119 Persentase 26,20% 73,80% 0% 0% Frekwensi

  22

  

62

  10

  20

  30

  40

  50

  60 Pada grafik pertama menunjukkan bahwa pandangan keluarga-keluarga

Katolik di Wilayah St. Andreas Songgolangit tentang kunjungan keluarga sangat baik.

  

Hal ini ditunjukkan pada Grafik dimana dari 84 keluarga Katolik, 22 responden masuk

dalam kriteria sangat baik (26.20%) dan 62 responden masuk dalam kriteria baik

(73.80%). Hal ini berarti, aspek keseluruhan kunjungan keluarga masuk dalam

kategori sangat baik.

b. Deskripsi Aspek Tenaga Pastoral Keluarga

  

Tabel 8. Deskripsi Statistik Aspek Tenaga Pastoral Keluarga

Statistik Deskriptif

Tenaga Pastoral Keluarga

  N Valid

  84 Instrumen

  5 Mean 16,55 Median 16,00 Mode

  16 Std. Deviation 1,682 Variance 2,829 Range

  9 Minimum

  11 Maximum

  20 Salah satu aspek yang diukur dalam kunjungan keluarga adalah aspek tenaga

pastoral keluarga. Pada grafik 8 statistik deskripsi dapat dilihat bahwa N valid

sebanyak 84 keluarga dengan jumlah instrumen yang valid sebanyak 5 butir dengan

skor terendah (minimum) pada periode pengamatan sebesar 11 dan skor tertinggi

(maximum) sebesar 20. Nilai mean 16,55 dengan simpangan baku (std. deviation)

sebesar 1,682 Nilai variance didapat 2,829 dengan nilai tengah (median) 16,00 dan

nilai yang sering muncul (mode) adalah 16 dengan nilai kisaran (range) sebesar 9.

  

Tabel 9. Deskripsi Frekuentif Tenaga Pastoral Keluarga

Grafik 2. Kualifikasi Tenaga Pastoral Keluarga

  Kategori Interval Jumlah Responden Persentase Sangat memadai 16,2-20,00 35 41,66% Memadai 12,5-16,25

  48 57,14% Kurang memadai 8,76-12,50 1 1,20% Sangat kurang memadai 5,00-8,75 0% Jumlah 84 100%

60 Tenaga Pastoral Keluarga

  5,00-8,75 Sangat Kurang Memadai Persentase

  41,66% 57,14% 1,20% 0% Frekuensi

  35

  48

  Pada grafik di atas menunjukkan bahwa pandangan keluarga-keluarga Katolik

terhadap tenaga pastoral keluarga memiliki kinerja baik. Hal ini ditunjukkan dari N 84

keluarga sebanyak 41,66% masuk ke dalam kategori yang menganggap kinerja tenaga

pastoral keluarga sangat memadai dalam pengetahuannya yang berkaitan dengan

kunjungan keluarga, sebanyak 57,14% menganggap tenaga pastoral keluarga

kinerjanya dan pengetahuan memadai, dan sebanyak 1,20% menganggap tenaga

pastoral keluarga kurang memahami kinerja dan pengetahuannya yang berkaitan

  10

  20

  30

  40

  50

  Memadai 8,76-12,50 Kurang Memadai

  16,26-20,00 Sangat Memadai 12,51-16,25

  1

  

dengan kunjungan keluarga. Keseluruhan aspek tenaga pastoral keluarga masuk dalam

kategori memadai.

c. Deskripsi Aspek Kerjasama

  

Tabel 10. Deskripsi Statistik Aspek Kerjasama

Statistik Deskripsi

Kerjasama

  N Valid

  84 Instrumen

  5 Mean 16,32 Median 16,00 Mode

  15 Std.Deviation 1,673 Variance 2,799 Range

  7 Minimum

  13 Maximum

  20 Dari grafik deskriptif statistik nilai kerjasama keseluruhan kunjungan keluarga

di atas dapat dilihat N Valid 84 dengan jumlah instrumen yang valid sebanyak 5 butir.

  

Diketahui bahwa skor terendah (minimum) sebesar 13 dan skor tertinggi (maximum)

sebesar 20 dengan nilai rata-rata pada periode pengamatan (mean) sebesar 16,32 dan

simpangan baku (std. deviation) sebesar 1,673. Nilai variance sendiri sebesar 2,799

dengan nilai tengah (median) sebesar 16,00 dan nilai yang sering muncul (mode)

adalah 15. Nilai kisaran (range) yang merupakan selisih antara nilai maksimum dan

nilai minimum sebesar 7.

  

Tabel 11. Deskripsi Frekuentif Aspek Kerjasama

Kategori Interval Jumlah Responden Persentase

  Sangat baik 16,26 - 20,00 34 40,48% Baik 12,51 - 16,25 50 59,52% Kurang baik 8,76 - 12,50 0%

  Sangat kurang baik 5,00 - 8,75 0%

  Jumlah Total 84 100%

Grafik 3. Kualifikasi Kerjasama

60 Kerjasama

  Pada grafik 3 menunjukkan bahwa pandangan keluarga-keluarga Katolik

mengenai kerjasama antar tenaga pastoral keluarga dengan keluarga-keluarga Katolik

baik. Hal ini ditunjukkan dari N 84 keluarga sebanyak 40,48% masuk ke dalam

kategori yang sangat baik, dan sebanyak 59,52% menganggap kerjasama tenaga

pastoral keluarga baik. Hal ini berarti seluruh aspek kerjasama masuk dalam kategori

baik.

  16,26-20,00 Sangat Baik 12,51-16,25 Baik

  8,76-12,50 Kurang Baik 5,00-8,75 Sangat Kurang

  Baik Persentase 40,48% 59,52% 0% 0% Frekuensi

  34

  50

  10

  20

  30

  40

  50

  d. Deskripsi Aspek Program Kerja Tabel 12. Deskripsi Statistik Aspek Program Kerja

Statistik Deskripsi

Program Kerja

  N Valid

  84 Instrumen

  7 Mean 22,8571 Median 22,0000 Mode 21,00 Std. Deviation 2,08346 Variance 4,341 Range

  10 Minimum

  18 Maximum

  28 Dari grafik statistik deskripsi nilai program kerja di atas dapat dilihat N Valid

84 dengan jumlah instrumen yang valid sebanyak 7 butir. Diketahui bahwa skor

terendah (minimum) sebesar 18 dan skor tertinggi (maximum) sebesar 28 dengan nilai

rata-rata pada periode pengamatan (mean) sebesar 22,8571 dan simpangan baku (std.

deviation ) sebesar 2,08346. Nilai variance sendiri sebesar 4,341 dengan nilai tengah

(median) sebesar 22,0000 dan nilai yang sering muncul (mode) adalah 21,00. Nilai

kisaran (range) yang merupakan selisih antara nilai maksimum dan nilai minimum

sebesar 10.

  

Tabel 13. Deskripsi Frekuentif Aspek Program Kerja

Jumlah Kategori Interval Persentase Responden

  Sangat terlaksana 22,76-28,00 40 47,62% Terlaksana 17,51-22,75 44 52,38% Kurang terlaksana 12,26-17,50 0%

  Sangat kurang 7,00-12,25 0% terlaksana Jumlah Total 84 100%

  

Grafik 4. Kualifikasi Program Kerja

Pada grafik di atas data menunjukkan bahwa aspek keseluruhan dari program

kerja, terlaksana dengan baik. Hal ini ditunjukkan dari N 84 keluarga sebanyak

50 Program Kerja

  

Tabel 14. Deskripsi Statistik Aspek Keterlibatan Keluarga

Statistik Keterlibatan

Keluarga

  5

  45

  40

  35

  30

  25

  20

  15

  10

  44

  N Valid

  

47,62% masuk ke dalam kategori sangat terlaksana, dan sebanyak 52,38% masuk

dalam kategori terlaksana. Dengan demikian, data dari keseluruhan dapat disimpulkan

bahwa aspek program kerja masuk dalam kategori terlaksana.

  47,62% 52,38% 0% 0% Frekuensi

  Kurang Terlaksana 7,00-12,25 Sangat Kurang Terlaksana Persentase

  Terlaksana 17,51-22,75 Terlaksana 12,26-17,50

e. Deskripsi Aspek Keterlibatan Keluarga

  47 22,76-28,00 Sangat

  21 Minimum

  51 Std. Deviation 4,590 Variance 21,072 Range

  17 Mean 55,01

Median 54,00

Mode

  84 Instrumen

  40

  

Statistik Keterlibatan

Keluarga

N Valid

  84 Instrumen

  17 Mean 55,01

Median 54,00

Mode

  51 Std. Deviation 4,590 Variance 21,072 Range

  21 Minimum

  47 Maximum

  68 Dari grafik deskripsi statistik nilai keseluruhan keterlibatan keluarga di atas

dapat dilihat N Valid 84 dengan jumlah instrumen yang valid sebanyak 17 butir.

  

Diketahui bahwa skor terendah (minimum) sebesar 47 dan skor tertinggi (maximum)

sebesar 68 dengan nilai rata-rata pada periode pengamatan (mean) sebesar 55,01 dan

simpangan baku (std. deviation) sebesar 4,590. Nilai variance sendiri sebesar 21,072

dengan nilai tengah (median) sebesar 54,00 dan nilai yang sering muncul (mode)

adalah 51. Nilai kisaran (range) yang merupakan selisih antara nilai maksimum dan

nilai minimum sebesar 21.

  

Tabel 15. Deskripsi Frekuentif Aspek Keterlibatan Keluarga

Jumlah Kategori Interval Persentase Responden

  Sangat Terlibat 55,26-68,00 28 33,33% Terlibat 42,51-55,25 56 66,67% Kurang Terlibat 29,76-42,50 0%

  Sangat Kurang 17,00-29,75 0% Terlibat Jumlah Total 84 100%

  

Grafik 5. Kualifikasi Keterlibatan Keluarga

Keterlibatan Keluarga

  60

  50

  40

  30

  20

  10 Sangat Kurang

Sangat Terlibat Terlibat 42,51- Kurang Terlibat

Terlibat 17,00-

55,26-68,00 55,25 29,76-42,50

  29,75 Persentase 33,33% 66,67% 0% 0% Frekwensi

  28

  

56

Pada grafik 5 ini data menunjukkan bahwa aspek keseluruhan dari keterlibatan

keluarga baik. Hal ini ditunjukkan dari N 84 keluarga sebanyak 33,33% masuk ke

dalam kategori sangat terlibat, dan sebanyak 66,67% masuk dalam kategori terlibat.

  

Dengan demikian, data dari keseluruhan dapat disimpulkan bahwa aspek keterlibatan

keluarga termasuk dalam kategori terlibat.

f. Deskripsi Aspek Spiritualitas Kongregasi

  

Tabel 16. Deskripsi Statistik Aspek Spiritualitas Kongregasi

Statistik Deskriptif

Spiritualitas Kongregasi

  N Valid

  84 Instrumen

  34 Mean 106,74

Median 103,00

Mode 102

Std. Deviation 8,846

Variance 78,244

Range

  41 Minimum

  95 Maximum 136 Dari tabel deskripsi statistik nilai keseluruhan Spiritualitas Kongregasi di atas

dapat dilihat N Valid 84 dengan jumlah instrumen yang valid sebanyak 34 butir.

Diketahui bahwa skor terendah (minimum) sebesar 95 dan skor tertinggi (maximum)

sebesar 136 dengan nilai rata-rata pada periode pengamatan (mean) sebesar 106,74

dan simpangan baku (std. deviation) sebesar 8,846. Nilai variance sendiri sebesar

78,244 dengan nilai tengah (median) sebesar 103,00 dan nilai yang sering muncul

(mode) adalah 102. Nilai kisaran (range) yang merupakan selisih antara nilai

maksimum dan nilai minimum sebesar 41.

  

Tabel 17. Deskripsi Frekuentif Aspek Spiritualitas Kongregasi

Kategori Interval Jumlah Responden Persentase

  Sangat menghayati 110,51-136,00 68 80,96% Menghayati 85,01-110,50 16 19,04%

Kurang menghayati 59,51-85,00 0%

  Sangat kurang menghayati 34,00-59,50 0%

  Jumlah 84 100%

  

Grafik 6. Kualifikasi Spirtualitas Kongregasi

Spiritualitas Kongregasi

  80

  70

  60

  50

  40

  30

  20

  10

110,51-136,00 59,51-85,00 34,00-59,50

85,01-110,50

Sangat Kurang Sangat Kurang

  Menghayati

Menghayati Menghayati Menghayati

Persentase 80,96% 19,04% 0% 0% Frekuensi

  68

16 Pada grafik di atas data menunjukkan bahwa aspek keseluruhan dari

  

spiritualitas kongregasi sangat menghayati. Hal ini ditunjukkan dari N 84 keluarga

sebanyak 80,96% masuk ke dalam kategori sangat menghayati, dan sebanyak 19,04%

masuk dalam kategori menghayati. Dengan demikian, data dari keseluruhan dapat

disimpulkan bahwa aspek spiritualitas masuk dalam kategori sangat menghayati.

2. Hasil Wawancara

  Dalam penelitian ini, pengumpulan data juga menggunakan wawancara untuk

mendapatkan tambahan informasi mengenai kunjungan keluarga di Wilayah St.

  

Andreas Songgolangit untuk mendukung dan memperkuat hasil penelitian.

Keterbatasan waktu dan kesibukkan dari keluarga-keluarga menyebabkan penulis

hanya dapat mewancarai 7 responden. Para responden ini merupakan beberapa aktivis

Gereja dan tenaga pastoral keluarga. Berikut ini adalah hasil wawancara yang

didapatkan;

  a.

  

Bagaimana pengetahuan dan kinerja tenaga pastoral keluarga dalam

kunjungan keluarga?

Pendapat responden berkaitan dengan pengetahuan tenaga pastoral keluarga tentang

ajaran-ajaran Gereja, hal-hal yang perlu diperhatikan dalam kunjungan keluarga

responden 1 menjawab: Kunjungan saat misa lingkungan, bersama tim pendamping dan prodiakon lingkungan. Biasanya, dilakukan sebelum misa. Keluarga-keluarga yang dikunjungi sudah ditentukan oleh tim pendamping dan prodiakon. Kalau mengenai pengetahuan tentang ajaran Gereja, hal-hal praktis yang harus dilakukan dalam kunjungan atau pendampingan keluarga, saya melihat bahwa pengetahuan mereka cukup luas. Hal ini terbukti ketika mengadakan kunjungan mereka memiliki sikap yang ramah, mengetahui situasi keluarga yang dikunjungi, mendengarkan keluhan keluarga, yah… mereka datang memberi motivasi positif bagi keluarga yang dikunjungi. Pertanyaan mengenai pengetahuan tenaga pastoral keluarga responden 2 menjawab: Biasanya kunjungan itu sebelum misa lingkungan ya, yang datang romo, prodiakon lingkungan dan tim dari paroki, tapi terkadang hanya satu dua orang yang ikut dalam kunjungan. Kalau untuk pengetahuan mereka saya anggap cukup baik tentang ajaran Gereja, Kitab Suci tetapi pengetahuan mereka untuk kunjungan keluarga saya tidak tahu seperti apa, tapi biasanya yang terjadi dalam kunjungan adalah mereka datang mendengarkan keluhan maupun permasalahan keluarga yang dikunjungi, sharing pengalaman iman dan cerita.

Pertanyaan mengenai pengetahuan tenaga pastoral keluarga yang berkaitan dengan

ajaran Gereja, dan hal-hal praktis dalam kunjungan keluarga, respoden 3 menjawab:

  Yang saya tahu itu kunjungan pada saat misa lingkungan atau ada misa intensi. Romo bersama tim dari paroki dan ditemani oleh prodiakon lingkungan. Pengamatan saya selama ini bahwa tim ini memiliki pengetahuan tentang ajaran Gereja, Kitab Suci dan pengetahuan tentang kunjungan yang cukup luas karena ada yang dulu dosen, guru Agama. Kehadiran mereka cukup memberikan semangat, ya… banyak masukan tentang hal-hal baru tentang Gereja.

Pertanyaan mengenai pengetahuan yang dimiliki oleh tenaga pastoral keluarga yang

berkaitan dengan ajaran Gereja, hal-hal yang diperhatikan dalam kunjungan, Kitab Suci, keterampilan sikap saat berkunjung, responden 4 menjawab: Saya melihat bahwa pengetahuan mereka tentang ajaran Gereja, Kitab Suci, yang berhubungan dengan Gereja tidak diragukan. Nah dalam kunjungan mereka bertanya tentang keadaan keluarga, sharing pengalaman apa saja, dan memberi masukan sangat menyentuh karena mereka mampu melihat masalah-masalah yang terjadi di dalam keluarga-keluarga, apalagi kalau kunjungannya ada romo… wah dapat berkat melimpah.

Pertanyaan mengenai pengetahuan, sikap dan keterampilan yang di miliki oleh tenaga

pastoral keluarga, responden 5 menjawab:

  Ya, untuk pengetahuan, tanggungjawab dari tim pendampingan keluarga ini sangat baik, tentang ajaran Gereja, dan yang lain karena selain mereka mempunyai pendidikan yang tinggi dan banyak yang ikut terlibat kegiatan di lingkup keuskupan dan paroki misalnya ikut seminar-seminar, pelatihan- pelatihan.

Pertanyaan mengenai pengetahuan, sikap dan keterampilan yang dimiliki oleh tenaga

pastoral keluarga, responden 6 menjawab:

  Ya…, mendengar mereka sharing saya melihat dan merasakan bahwa mereka memiliki pengetahuan tentang ajaran Gereja, Kitab Suci yang mendalam. Yah waktu kunjungan mereka sangat terbuka dengan keluarga yang dikunjungi. Mereka sangat terampil dalam mengadakan kegiatan lain selain kunjungan keluarga. Yang selama ini saya tahu yakni mengadakan misa pembaharuan janji perkawinan dan setelah itu sharing antara keluarga. Mereka tim yang kompak.

  

Pertanyaan mengenai pengetahuan, sikap dan keterampilan yang dimiliki oleh tenaga

pastoral keluarga, responden 7 menjawab: Ya tentang pengetahuan tenaga pastoral keluarga saya melihat pengetahuan mereka sangat memadai tentang ajaran Gereja, Kitab Suci dan yang lainnya. Mereka datang menyapa, cerita tentang pekerjaan, tanya anak-anak, keadaan keluarga dan memberi masukan itu saja, kehadiran mereka sangat memberikan semangat baru.

  b.

   Bagaimana pelaksanaan program selama ini?

Pertanyaan mengenai program yang sudah terlaksana mengena pada sasaran dan

berjalan dengan baik dan lancar, responden 1 menjawab:

  Program mereka berjalan tetapi untuk kunjungan tidak berjalan setiap minggu, tetapi saat misa lingkungan. Program yang sudah berjalan rutin adalah kunjungan dan mengadakan Ekaristi untuk pembaharuaan perjanjian keluarga, setelah ramah tamah, sharing keluarga dan mengadakan kursus perkawinan pada bulan ganjil.

Pertanyaan mengenai program yang sudah terlaksana mengena pada sasaran dan

berjalan dengan baik dan lancar, responden 2 menjawab:

  Program mereka sangat bagus, misalnya pembaharuan janji perkawinan, dan kunjungan untuk semua keluarga, di paroki disediakan ruangan untuk konseling keluarga.

Pertanyaan mengenai program yang sudah terlaksana mengena pada sasaran serta

berjalan dengan baik dan lancar, responden 3 menjawab:

  Pendapat saya tentang program tim pendampingan keluarga bagus, mereka mengunjungi tiap keluarga yang bermasalah. Tidak hanya kunjungan keluarga saja, mereka mengadakan janji perkawinan 4 bulan sekali.

Pertanyaan mengenai program yang sudah terlaksana mengena pada sasaran dan

berjalan dengan baik dan lancar, responden 4 menjawab:

  Porgram sudah berjalan seperti kunjungan keluarga, kursus perkawinan, konseling k eluarga, kursus perkawinan yah… yang saya tahu itu saja… mungkin masih ada kegiatan lain.

  

Pertanyaan mengenai program yang sudah terlaksana mengena pada sasaran yang

berjalan dengan baik dan lancar, responden 5 menjawab: Menurut pengamatan saya program mereka bagus, tetapi ada yang sudah berjalan seperti kunjungan keluarga walaupun itu terjadi pada saat misa lingkungan, pembaharuan janji perkawinan, konseling keluarga.

  

Pertanyaan mengenai program yang sudah terlaksana mengena pada sasaran yang

berjalan dengan baik dan lancar, responden 6 menjawab: Wah, untuk program ada yang berjalan dengan baik yakni misa pembaharuan janji perkawinan setiap 4 bulan sekali dan kunjungan. Penanggugjawabnya orang sudah berpengalaman karena banyak keluarga yang terlibat.

Pertanyaan mengenai program yang sudah terlaksana mengena pada sasaran yang

berjalan dengan baik dan lancar, responden 7 menjawab:

  Untuk program sangat bagus... yang saya tahu selama ini mereka mengadakan kunjungan keluarga, misa pembaharuan janji perkawinan, mengadakan kursus untuk yang mau menikah, dan mengunjungi keluarga-keluarga yang mempunyai masalah.

  

c. Bagaimana mengenai kerjasama tenaga pastoral keluarga dalam

melaksanakan kunjungan?

Bagaimana kerjasama antar tenaga pastoral keluarga dan umat selama ini, responden 1

menjawab:

  Menurut saya, kerjasama sudah cukup bagus misalnya dalam menyusun program, kunjungan kegiatan misa pembaharuan janji perkawinan. Kerja sama dalam mengadakan kegiatan di paroki seperti kegiatan yang saya

sebutkan di atas dan evaluasi rutin di paroki dengan bidang yang lain.

  

Bagaimana kerjasama antar tenaga pastoral keluarga dan umat selama ini, responden

2 menjawab: Tentang kerjasama saya melihat bahwa cukup bagus, mereka membuat program yang sangat bagus untuk keluarga-keluarga, misalnya misa pembaharuan janji perkawinan, mengadakan konseling keluarga, setiap romo kunjungan pasti ada tim dari mereka dan prodiakon. Setiap bulan selalu mengadakan evaluasi di gereja dan dari bidang lain boleh memberi masukan.

Bagaimana kerjasama antar tenaga pastoral keluarga dan umat selama ini, responden

3 menjawab:

  Saya melihat selama ini dalam kerja sama baik karena dalam bidang ini ada yang sudah berpengalaman, dan ada yang masih muda tetapi mereka kompak sehingga ada beberapa program berjalan dengan baik sekali sampai sekarang.

Bagaimana kerjasama antar tenaga pastoral keluarga dan umat selama ini, responden 4

menjawab:

  Untuk kerjasama saya melihat sangat bagus dari baik itu dalam menjalankan kegiatan di paroki dan maupun sangat mengadakan kunjungan.

Bagaimana kerjasama antar tenaga pastoral keluarga dan umat selama ini, responden 5

menjawab:

  Sangat bersatu dan kerjasamanya bagus dan selama ini mereka saling mendukung. Hal ini terbukti dengan berjalannya program mereka dengan baik.

Bagaimana kerjasama antar tenaga pastoral keluarga dan umat selama ini, responden 6

menjawab:

  Ya… dalam kerjasama sangat baik, program mereka berjalan cukup bagus.

Bagaimana kerja sama antar tenaga pastoral keluarga dan umat selama ini, responden

7 menjawab:

  Dalam kerjasama cukup bagus begitu juga kerjasama dengan umat dan pastor. yah…, walaupun dalam rapat terjadi silang pendapat namun tidak membawa pengaruh dalam tugas pelayanan mereka. Terbukti program mereka berjalan dengan baik.

  d.

  

Bagaimana keterlibatan keluarga-keluarga Katolik dalam hidup menggereja

dan hidup bermasyarakat?

Sejauh mana keterlibatan keluarga-keluarga Katolik dalam kegiatan hidup

menggereja dan hidup bermasyarakat, responden 1 menjawab:

  Ya, sejauh yang saya lihat keluarga-keluarga Katolik terlibat di masyarakat dan di lingkungan, kalau di gereja orang- orang tertentu, namun ada kegiatan di gereja, keluarga-keluarga selalu berpartisipasi. Kami juga di lingkungan menyediakan sarana (tempat) dan keluarga-keluarga selalu terlibat dalam mengikuti agenda-agenda Gereja seperti BKSN, doa rosario, dan sebagainya. Yang paling manarik bahwa dalam memimpin doa rosario setiap keluarga terlibat termasuk anak-anak. Begitu juga dalam ziarah dan latihan koor dan kegiatan yang lain. Di lingkungan ini juga sangat mendukung kehidupan rohani keluarga-keluarga karena dekat susteran, dan ada keluarga juga ikut terlibat dalam Ekaristi pagi di susteran. Sedangkan keterlibatan di masyarakat ada yang pernah menjadi ketua RT, sekertaris, dan pengurus RT, dan ketua PKK. Namun tidak dipungkiri bahwa ada kurang keluarga yang kurang terlibat dalam kegiatan Gereja dan masyarakat.

  

Sejauh mana keterlibatan keluarga-keluarga Katolik dalam kegiatan hidup menggereja

dan hidup bermasyarakat, responden 2 menjawab: Keterlibatan di masyarakat ya, mengikuti kegiatan yang diadakan oleh RT dan PKK. Sedangkan keterlibatan untuk Gereja sangat kurang. Yah… di lingkungan ini banyak janda, ada beberapa keluarga sangat sibuk dalam pekerjaan. Begitu dalam hidup rohani yang dibangun dalam keluarga saya melihat kurang diperhatikan. Terkadang, pendalaman iman yang hadir hanya 4-5 orang.

  

Sejauh mana keterlibatan keluarga-keluarga Katolik dalam kegiatan hidup menggereja

dan hidup bermasyarakat, responden 3 menjawab: Ya… Keluarga-keluarga itu harus menjadi sosok teladan. Keterlibatan keluarga-keluarga di masyarakat dan kegiatan Gereja bagus. Saya melihat keluarga-keluarga Katolik berusaha menghidupi hidup rohani mereka, walaupun kita tahu bahwa mereka sangat sibuk dalam pekerjaan, urusan keluarga dan urusan yang lain. Keterlibatan mereka terkadang seperti kapal selam… kalau doa, yang hadir orang-orang yang itu saja.

  

Sejauh mana keterlibatan keluarga-keluarga Katolik dalam kegiatan hidup menggereja

dan hidup bermasyarakat, responden 4 menjawab: Ya, untuk keterlibatan di Gereja dan masyarakat cukup bagus. Kalau ada kegiatan lingkungan selalu datang, yah… ada beberapa keluarga yang tidak terlibat aktif. Biasanya yang hadir dalam setiap pertemuaan lingkungan 25-35 orang, tetapi kalau pendalaman iman biasanya kehadiran sekitar 15-25 orang.

  

Sejauh mana keterlibatan keluarga-keluarga Katolik dalam kegiatan hidup menggereja

dan hidup bermasyarakat, responden 5 menjawab: Keterlibatan di lingkungan in i cukup bagus, yah… Sebagian keluarga terlibat, begitu juga di Gereja. Setiap Minggu hampir ke Gereja, sedangakan di masyarakat keluarga-keluarga juga terlibat dalam RT dan pengurus RW dan kegiatan yang lain seperti arisan dan kegiatan PKK.

Sejauh mana keterlibatan keluarga-keluarga Katolik dalam kegiatan hidup menggereja

dan hidup bermasyarakat, responden 6 menjawab:

  Keterlibatan umat di lingkungan bagus karena masih ada anak-anak dan anak mudanya, kalau terlibat di Gereja saya kurang tahu ya…namun ada beberapa yang terlibat. Sedangkan di masyarakat umat kita cukup aktif, misalnya sekarang ada yang menjadi pengurus RT dan PKK.

  

Sejauh mana keterlibatan keluarga-keluarga Katolik dalam kegiatan hidup menggereja

dan hidup bermasyarakat, responden 7 menjawab: Saya melihat bahwa keluarga-keluarga Katolik terlibat aktif di Gereja dan masyarakat walaupun tidak semua. Ya…sekarang banyak keluarga yang sibuk kerja sampai malam, untuk berkumpul saja susah.

e. Bagaimana pengyahatan spiritualitas tenaga pastoral keluarga

  

Bagaimana penghayatan spiritualias tenaga pastoral keluarga selama ini, responden 1

menjawab: Kunjungan yang lebih rutin dan khususnya bagi keluarga-keluarga yang kurang terlibat di paroki dan lingkungan.

  

Bagaimana penghayatan spiritualias tenaga pastoral keluarga selama ini, responden 2

menjawab: Harapannya lebih mmeningkatkan lagi kunjungan, dan khusus untuk suster- suster MASF, kunjungan rutin dan kalau bisa diurut perlingkungan supaya semua mendapat kunjungan. Kunjungan lebih sering untuk keluarga-keluarga yang kurang terlibat di lingkungan.

  

Bagaimana penghayatan spiritualias tenaga pastoral keluarga selama ini, responden 3

menjawab: Harapan saya bagi tenaga pastoral keluarga dan para suster adalah kunjungan untuk keluarga-keluarga yang sibuk dan kurang aktif di lingkungan dan bisa setiap minggu karena kehadiran para suster sangat memberi energi positif dalam saling menguatkan dalam iman bagi keluarga-keluarga.

  

Bagaimana penghayatan spiritualias tenaga pastoral keluarga selama ini, responden 4

menjawab:

  Harapan saya untuk tenaga pastoral keluarga khususnya untuk suster-suster dalam kunjungan lebih rutin biar keluarga-keluarga lebih tersapa dan kuat dalam iman.

Bagaimana penghayatan spiritualias tenaga pastoral keluarga selama ini, responden 5

menjawab:

  Harapan saya ke depan bagi para suster MASF dalam kunjungan adalah semakin giat dalam mengadakan kunjungan dan mengembalikan domba- domba (keluarga-keluarga) yang telah hilang.

Bagaimana penghayatan spiritualias tenaga pastoral keluarga selama ini, responden 6

menjawab:

  Harapan saya untuk tenaga pastoral keluarga; tetap semangat dalam melayani Tuhan. Sedangakan untuk para suster; harapanku juga sebagai suster MASF, semoga setiap suster semakin menghayati spiritualitas Kongregasi dengan aksi-aksi nyata bagi keluarga-keluarga di mana komunitas MASF berada.

Ya…, harapan saya kunjungan ini harus berjalan rutin setiap minggu.

  

Bagaimana penghayatan spiritualias tenaga pastoral keluarga selama ini, responden

menjawab: Harapan saya untuk para suster, lebih meningkatkan kunjungan keluarga, karena dengan kunjungan kepada keluarga-keluarga kita dapat mengenal kehidupan keluarga- keluarga lebih dekat, dan ya… syukur bisa membantu mereka lewat, doa, dan mungkin sumbangan pikiran dan tenaga.

3. Rangkuman Keseluruhan Hasil Wawancara

  Data tersebut dianalisis dan dirangkum keseluruhan hasil wawancara dengan

mengelompokkannya berdasarkan kelima aspek yang diukur, yaitu aspek tenaga

pastoral keluarga, aspek program kerja, aspek kerjasama, aspek keterlibatan keluarga,

dan aspek spiritualitas. Berikut ini adalah penjelasan kelima aspek tersebut, sebagai

berikut; a.

   Aspek Tenaga Pastoral Keluarga Hasil wawancara dengan ketujuh responden, dapat disimpulkan bahwa rata-

rata tenaga pastoral keluarga mempunyai pengetahuan yang luas baik dalam ajaran

  

keluarga. Hal ini terbukti ketika mereka sharing dan dalam proses kunjungan ada

sikap keterbukaan, mengetahui situasi keluarga yang dikunjungi, mendengarkan

dengan baik, mampu memberi masukan dari sudut pandang ajaran Gereja, dan

memberi semangat bagi keluarga yang dikunjungi.

  Jawaban para responden dapat dipahami bahwa para tenaga pastoral keluarga

memiliki pengetahuan yang cukup baik tentang ajaran Gereja, mampu menafsirkan

Kitab Suci, mampu melihat masalah-masalah konkret dalam keluarga-keluarga, serta

mampu memberikan solusi dalam menyelesaikan permasalahan dan motivasi. Ini

artinya bahwa para tenaga pastoral keluarga mempunyai pengetahuan yang cukup baik

dan keterampilan yang berkaitan dengan kunjungan keluarga, dimana mereka tahu

bagaimana harus bersikap, bertutur kata, memberikan masukan dari pandangan

Gereja, mendengarkan dan bagaimana memberi motivasi supaya keluarga yang

dikunjungi kembali bersemangat. Mereka mampu menyesuaikan diri dengan situasi

keluarga yang dikunjungi dan memberikan peneguhan iman.

b. Aspek Program Kerja

  Berdasarkan hasil wawancara semua responden mengatakan bahwa program

kerja dari tim pendampingan keluarga itu sangat bagus, dimana selain program

kegiatan kunjungan yang sudah berjalan, terdapat kegiatan lain yang juga berjalan

dengan lancar dan sangat menarik, sehingga banyak diikuti oleh keluarga-keluarga.

  

Sebagai contoh, misa pembaharuan janji perkawinan diadakan empat bulan sekali, dan

setelah misa diadakan, ramah-tamah dan sharing dari keluarga-keluarga mengenai

hidup berkeluarga, pengalaman iman dalam hidup berkeluarga, dan saling

  Program yang tersusun dengan baik dan sesuai dengan kebutuhan keluarga

yang dikunjungi, sangat membantu keluarga-keluarga dalam mengembangkan hidup

iman mereka. Hal ini dapat dilihat pada jawaban dua responden (responden 3 dan 7)

yang menyatakan bahwa program kunjungan keluarga sangat membantu keluarga-

keluarga yang bermasalah. Dengan adanya kunjungan keluarga, misa pembaharuan

perkawinan dan konseling keluarga, dapat memberi motivasi dan membangun

interaksi dengan keluarga-keluarga Katolik dengan baik. Ini artinya, program kerja

yang ditawarkan tepat dan sesuai dengan keadaan responden.

c. Aspek Kerjasama

  Hasil wawancara ketujuh respon mengatakan kerjasama tenaga pastoral

keluarga cukup baik. Hal ini terlihat dalam penyusunan program yang dibuat.

  

Kekompakan sebuah tim dan keberhasilan sebuah kegiatan, tergantung dari kerjasama

yang dibangun oleh kelompok atau tim tersebut. Membangun kerjasama dengan umat

serta menerima pendapat orang lain dengan bijaksana, sangat membantu mereka

dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan. Sikap terbuka untuk

menerima masukan dari pihak lain serta mengevaluasi diri dan tim, menjadi satu

kekuatan bagi tim untuk memperbaiki kinerja diri secara terus-menerus. Kerjasama

yang baik terbukti dalam keberhasilan kegiatan-kegaitan yang sudah berjalan selama

ini, untuk satu tujuan dalam menjalankan tugas pelayanan, khususnya perhatian

kepada keluarga-keluarga Katolik.

  d. Aspek Keterlibatan Keluarga Hasil wawancara ketujuh respoden menyatakan bahwa keterlibatan keluarga-

keluarga Katolik dalam kehidupan menggereja maupun masyarakat merupakan sebuah

partisipasi sebagai makhluk Tuhan. Kehidupan keluarga-keluarga harus seimbang

antara rohani dan jasmani. Keterlibatan keluarga-keluarga Katolik diharapkan

menjadi sosok teladan di tengah masyarakat.

  Partisipasi dalam kegiatan hidup menggereja maupun dalam masyarakat,

diharapkan dapat membantu mengembangkan hidup rohani keluarga-keluarga Katolik.

  

Kehadiran anak-anak dan muda-mudi dalam kegiatan lingkungan membawa angin

segar bagi pertumbuhan Gereja. Namun, muncul keprihatinan bahwa kesibukan dalam

bekerja membuat keluarga-keluarga kurang memperhatikan kebutuhan bersama dalam

hidup berkeluarga, seperti doa bersama dan kegiatan lingkungan.

  e. Aspek Spiritualitas Hasil wawancara menunjukkan bahwa pelayanan yang sudah berjalan, lebih

ditingkatkan pada semangat dan tingkat kehadiran (rutin) demi keluarga-keluarga

yang bermasalah. Dari hasil wawancara, diungkapkan bahwa para suster dan tenaga

pastoral keluarga diharapkan terus meningkatkan kunjungan untuk saling menguatkan

dalam iman. Ini artinya, bahwa kehadiran tenaga pastoral keluarga dengan para suster

membawa kekuatan bagi perkembangan iman keluarga-keluarga Katolik yang

dikunjungi. Kehadiran tenaga pastoral keluarga dengan para suster secara rutin

semakin memberi pemahaman terhadap keluarga-keluarga Katolik demi

perkembangan Gereja dan mengetahui kegiatan-kegiatan Gereja yang akan

  Hasil wawancara tersebut menunjukkan bahwa penghayatan spiritualitas hidup

mereka sebagai tenaga pastoral keluarga sungguh dihayati dan diwujudkan dengan

aksi nyata melalui kunjungan terhadap keluarga-keluarga Katolik. Penghayatan

spiritualitas sebagai tenaga pastoral keluarga tampak dalam sapaan yang tulus

terhadap keluarga-keluarga yang dikunjungi, saling mengenal sebagai saudara seiman,

berbela rasa akan permasalahan keluarga yang sedang dihadapi dan berusaha untuk

membangun persaudaraan dan solidaritas sejati. Pelayanan tenaga pastoral keluarga

yang sudah baik perlu ditingkatkan lagi, sehingga kunjungan keluarga lebih bermutu

dan dapat memberikan suatu perubahan hidup dalam keluarga-keluarga Katolik.

4. Hasil Temuan Khusus Studi Dokumen

  

Gambar 1: Buku Pendukung untuk Menjalankan Tugas Pelayanan

  Gambar di atas menunjukkan sebagian besar buku untuk mendukung dalam

tugas pelayanan. Buku sebagai sumber inspirasi, menambah wawasan pengetahuan

dan sangat membantu dalam menjalankan tugas pastoral. Buku-buku tersebut adalah

Etika Pastoral, Tafsir Injil Lukas, Pedoman Pastoral Keluarga, Menjadi Keluarga

Beriman, Kompendium tentang Prodiakon (2010), Aneka Homili Café, Mingguan

Hidup, dan Aneka Hidup Doa. Semua buku ini yang dipakai untuk kepentingan

pelayanan di paroki, wilayah, dan lingkungan.

  

Gambar 2. Program Pendampingan Pastoral Keluarga

  Gambar 3. Daftar Kehadiran Kursus Perkawinan dan Misa Pembaharuan Janji Perkawinan Gambar 4. Kunjungan yang dilaksanakan setiap hari Minggu Gambar 8. Kegiatan Ziarah di Gua Maria Puh Sarang Bulan Oktober 2012

  Gambar 9. Foto Temu Terpadu Lingkungan St. Matius Jetis 21 Juli 2011.

  Selamat Datang di Lingkungan St. Matius Jetis

  Temu t er p ad u UMAT Li ng k u ng an St . Mat i u s Jet i s Ber sama sr .m.annet t e f .ch

  Jetis Permai, 21 Juli 2012

B. Pembahasan Hasil Penelitian

  

1. Pembahasan Hasil Penelitian Kunjungan Keluarga Berdasarkan Nilai

Keseluruhan Data yang Telah Dianalisis Hasil deskripsi data yang didapat melalui kuesioner menunjukkan bahwa

kunjungan keluarga di Wilayah St. Andreas Songgolangit, secara keseluruhan baik.

  

Hal tersebut dapat dilihat dari rata-rata nilai keseluruhan serta nilai per-aspek yang

mendekati skor maksimal.

  Nilai keseluruhan variabel kunjungan keluarga merupakan gabungan dari

kelima aspek yang diteliti dalam penelitian ini. Kelima aspek meliputi tenaga pastoral

keluarga, program kerja, kerjasama, keterlibatan keluarga, dan spiritualitas

kongregasi. Berdasarkan nilai keseluruhan yang telah dianalisis, diperoleh nilai rata-

rata sebesar 217,48 dari 84 responden yang menyatakan sangat setuju dengan kriteria

sangat baik sebanyak 22 orang (26,20%) dan sebanyak 62 responden yang menjawab

setuju dengan kriteria baik (73,80%). Sedangkan yang menjawab kurang baik dan

sangat kurang baik (0%). Hasil ini menunjukkan bahwa menurut pandangan keluarga-

keluarga kunjungan di Wilayah St. Andreas Songgolangit berjalan baik.

  Kunjungan keluarga merupakan salah satu hal mendasar untuk membangun

Gereja, sebagai paguyuban dalam iman dan cinta kasih Kristus. Kunjungan keluarga

adalah pertemuan antar-pribadi. Hal ini berarti bahwa kunjungan itu bukan hanya

sekedar datang ke keluarga-keluarga dengan suatu maksud tertentu atau karena sebuah

program yang harus dijalankan, melainkan sebuah perjumpaan antar-pribadi, sapaan

yang tulus sehingga menjadi tanda solidaritas dan kesediaan kita untuk menjadi

saudara bagi yang lain (Luk. 1: 39-45).

  Budyaranata (1994:30-35) menyatakan bahwa kunjungan keluarga dilakukan

secara sukarela, baik bersifat pribadi maupun kelompok dengan tujuan pendampingan

kepada keluarga-keluarga Katolik dalam rangka membantu mengembangkan iman

keluarga yang dikunjungi.

  Dengan demikian, dalam kunjungan keluarga kita hadir untuk saling memperhatikan, mendengarkan, dan memahami kondisi keluarga yang dikunjungi.

2. Pembahasan Hasil Penelitian Kunjungan Keluarga Berdasarkan Data Setiap Aspek

a. Aspek Tenaga Pastoral Keluarga

  Aspek tenaga pastoral keluarga Katolik difokuskan pada pengetahuan dan

kinerja dalam kunjungan pada keluarga-keluaga Katolik. Berdasarkan hasil deskripsi

data kuesioner aspek tenaga pastoral keluarga, diperoleh mean sebesar 16,55 dengan

N valid 84 responden menunjukkan bahwa terdapat 35 responden menyatakan sangat

setuju dengan kriteria sangat memadai (41,66%), 48 orang menyatakan setuju dengan

kriteria memadai (57,14%) dan 1 orang yang menyatakan tidak setuju dengan kriteria

kurang memadai (1,20%). Sedangkan, untuk kriteria sangat kurang memadai (0%).

Hal tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar responden memandang tenaga

pastoral keluarga mempunyai pengetahuan yang baik mengenai beberapa hal yang

berkaitan dengan kunjungan.

  Hasil analisis data kuesioner di atas semakin diperkuat oleh hasil wawancara

dengan beberapa umat yang dianggap mampu memberikan informasi kepada penulis

yang mengatakan bahwa pengetahuan tenaga pastoral keluarga cukup luas. Hal ini

  

guru dan pengalaman beberapa tenaga pastoral keluarga dalam hidup berkeluarga

sehingga dengan mudah menanggapi dan memahami masalah-masalah dalam keluarga

dan dengan rela mau membantu keluarga-keluarga Katolik dalam mengembangkan

iman, hidup menggereja dan hidup bermasyarakat.

  Para responden mengatakan bahwa selain pengetahuan tentang ajaran Gereja,

Kitab Suci dan hal-hal praktis dalam Gereja, para tenaga pastoral keluarga juga

menyediakan tenaga, waktu, dan pikiran untuk membantu keluarga-keluarga yang

dikunjungi dalam masalah iman, ekonomi dan sebagainya. Kehadiran tim tenaga

pastoral keluarga yang ramah, membangun dialog yang terbuka, mendengarkan

keluhan keluarga, sharing iman, memotivasi, memberikan suatu semangat baru

sebagai murid Kristus.

  Hal senada diungkapkan oleh Budyaranata (1994: 30-33) menyatakan bahwa

kunjungan keluarga pada hakikatnya merupakan kesediaan setiap individu untuk

saling memahami dan melibatkan diri dengan situasi orang lain. Dengan demikian

dalam kunjungan keluarga, faktor kehadiran sangat penting untuk saling

memperhatikan, mendengarkan sharing atau ungkapan hati orang yang dikunjungi,

memahami kondisi keluarga yang dikunjungi, dan membangun suasana dialog yang

terbuka, yang membahagiakan satu sama lain.

  Hasil temuan khusus dari studi dokumen berupa foto juga mendukung hasil

wawancara di atas, dimana foto tersebut (Gamb.1) menggambarkan bagaimana para

tenaga pastoral keluarga berusaha untuk selalu menambah pengetahuan dengan

memiliki buku-buku yang mendukung tugas pelayanan bagi keluarga-keluarga.

  

Pengetahuan dapat dikembangkan dengan cara membaca buku, mengikuti pembinaan,

  Bertolak dari hasil penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa tenaga

pastoral keluarga menyadari bagaimana mengembangkan pengetahuan tentang ajaran

Gereja, Kitab Suci, dan khususnya pengetahuan tentang kunjungan sehingga dapat

meningkatkan mutu kunjungan dalam membantu keluarga-keluarga Katolik untuk

mengembangkan imannya dalam hidup menggereja. Dengan pengetahuan yang

memadai para tenaga pastoral dapat menjalanakan tugas pelayanan dengan baik.

b. Aspek Program Kerja

  Pada aspek program kerja ini, keluarga-keluarga difokuskan untuk melihat

bagaimana program khususnya kunjungan keluarga yang telah disusun oleh tim

pendamping pastoral keluarga, sudah berjalan baik. Berdasarkan hasil deskripsi data

kuesioner atas aspek program kerja menunjukkan bahwa dari N valid 84 memperoleh

mean sebesar 22,8571 dengan 40 (47,62%) responden menjawab sangat setuju dengan

kriteria sangat terlaksana, 44 (52,38%) keluarga menjawab setuju dengan kriteria

terlaksana. Sedangkan yang menjawab dengan kriteria kurang terlaksana dan sangat

kurang terlaksana tidak ada (0%). Hasil analisis tersebut dapat disimpulkan bahwa

sebagian besar responden menyatakan sangat terlaksana program yang disusun oleh

tim pendamping pastoral keluarga.

  Hasil analisis data di atas juga didukung dengan hasil wawancara dari ketujuh

responden, yang mana hampir semua responden mengatakan bahwa program kerja

dapat terlaksana dengan baik. Program kunjungan dengan membentuk tim kunjungan

dari paroki dan lingkungan, konselor professional, dan ruang untuk konseling

ditargetkan pada tahun 2013 semua keluarga Katolik di lingkungan terkunjungi.

  

lingkungan bersama dengan romo, tim pendamping, dan prodiakon. Namun, terdapat

lingkungan yang tim kunjungannya mengadakan kunjungan tidak hanya pada saat

misa lingkungan, akan tetapi dilakukan secara rutin setiap bulan.

  Hal ini didukung oleh hasil studi dokumen (Gamb. 2 dan 3), bahwa tim

pendamping pastoral keluarga memiliki beberapa kegiatan yang sesuai dengan tujuan

yang direncanakan. Program yang disusun dengan baik menjadi arah atau patokan

bagi tenaga pastoral keluarga dalam mempersiapkan diri serta hal-hal yang praktis.

  Selain kunjungan yang dilakukan bersamaan dengan misa lingkungan, hasil

wawancara juga mengungkapkan bahwa perlu adanya evaluasi kunjungan kerja demi

kemajuan kinerja tenaga pastoral keluarga. Evaluasi ini sangat penting karena

merupakan kegiatan mengukur dan menilai (Dapiyanta, 2008: 10). Artinya, dengan

evaluasi kita dapat mengukur atau menilai sesuatu yang dilakukan. Evaluasi sangat

penting dilakukan agar seseorang atau kelompok dapat mengetahui letak kelemahan,

kelebihan, keberhasilan, kegagalan, dan sebagainya mengenai tindakan atau kegiatan

yang dilakukan.

  Mengingat pentingnya evaluasi, maka setiap dua bulan diadakan evaluasi

kunjungan kerja. Dengan evaluasi, para tenaga pastoral keluarga mampu melihat

sejauh mana kemajuan kunjungan serta kehadiran tim dapat membantu keluarga-

keluarga Katolik mengatasi permasalahan yang dihadapi, mengetahui kekurangan dan

keberhasilan, apa yang perlu diperbaiki, apa yang perlu dipertahankan, dan

sebagainya. Dengan demikian, evaluasi perlu dilakukan secara terus-menerus agar

semakin membantu tim untuk mengetahui hal-hal yang belum maksimal, sehingga

mampu memperbaikinya menjadi lebih baik pada kunjungan berikutnya.

c. Aspek Kerjasama

  Sebagai mana dalam tim kerja yang lain, kerjasama dalam tenaga pastoral

keluarga menjadi hal utama dalam menjalankan program yang telah direncanakan.

  

Berdasarkan hasil deskripsi data kuesioner mengenai aspek kerjasama, diperoleh mean

sebesar 16,32 dari N valid 84 menunjukkan bahwa yang menjawab dengan kriteria

sangat baik ada 34 keluarga (40,48%), yang menjawab pada kriteria baik ada 50

keluarga (59,52%), dan tidak ada yang menjawab (0%) pada kriteria kurang baik dan

sangat kurang baik. Ini artinya bahwa tenaga pastoral keluarga mempunyai

kemampuan bekerjasama dalam melaksanakan kegiatan, baik di paroki, wilayah,

maupun di lingkungan.

  Hasil analisis kuesioner di atas juga didukung dengan hasil wawancara dengan 7

responden, dimana hasil wawancara menunjukkan bahwa tim tenaga pastoral keluarga

sangat kompak dan kerjasamanya sangat bagus. Kerjasama tim sangat dibutuhkan

dalam melaksanakan tugas pelayanan karena tanpa kerjasama yang baik, semua

kegiatan tidak akan berjalan dengan lancar. Hal ini terbukti dengan beberapa kegiatan

yang ditangani oleh tim, dapat berjalan dengan baik. Para responden juga mengatakan

bahwa kerjasama tim tenaga pastoral keluarga, romo, dan umat berjalan dengan baik

dan saling mendukung. Hal ini terbukti ketika mengadakan kunjungan selalu ada

romo, tim pendamping keluarga, dan prodiakon. Ini artinya bahwa tenaga pastoral

keluarga mampu bekerjasama, saling mendukung satu sama lain sesuai dengan tugas

dan fungsi mereka masing-masing dalam melaksanakan kegiatan di paroki maupun di

lingkungan.

  Menurut Susanto (1986: 5) kerjasama sebagai rekan kerja membutuhkan

  

berkembang. Kerjasama mengandaikan orang sanggup menerima orang lain

sebagaimana adanya, memberi ruang gerak, mengikutsertakan dalam setiap kegiatan,

mengakui keahlian masing-masing, memandang orang lain sebagai rekan, memberi

kritik, dan rela dikritik pula demi perkembangan bersama.

  Hal ini didukung oleh hasil studi dokumen, dimana terdapat program yang telah

disusun secara tertulis sesuai kegiatan dan sasaran dengan baik. Daftar hadir para

peserta kursus perkawinan dan pembaharuan janji perkawinan yang selama ini sudah

berjalan dengan rutin. Gambar 2 dan 3 pada hasil studi dokumen menggambarkan tim

pendamping pastoral keluarga memiliki beberapa kegiatan yang dilaksanakan bersama

dan saling mendukung satu sama lain.

d. Aspek Keterlibatan Keluarga

  Pada aspek keterlibatan keluarga ini, pokok pembahasan difokuskan untuk

melihat sejauh mana keluarga-keluarga Katolik terlibat aktif dalam hidup menggereja

dan keterlibatan di masyarakat. Berdasarkan hasil deskripsi data kuesioner atas aspek

keterlibatan keluarga menunjukkan bahwa dari N valid 84 mendapatkan mean sebesar

55,01. Responden yang menjawab dengan kriteria sangat terlibat ada 28 keluarga

(33,33%), yang menjawab kriteria terlibat ada 56 keluarga (66,67%), dan tidak ada

yang menjawab (0%) pada kriteria kurang terlibat dan sangat kurang terlibat. Dari

hasil analisis, dapat disimpulkan bahwa keterlibatan keluarga-keluarga dalam hidup

menggereja dan masyarakat, dikatakan baik.

  Hasil analisis kuesioner di atas juga didukung dengan hasil wawancara dengan 7

responden yang menyatakan bahwa sebagian keluarga berpartisipasi dalam mengikuti

  

latihan koor, ziarah rohani, keterlibatan anggota keluarga memimpin doa rosario,

mengikuti agenda-agenda Gereja, seperti BKSN dan sebagainya. Sedangkan dalam

kegiatan bermasyarakat ada yang menjadi ketua RT, sekretaris, pengurus dan ketua

PKK. Namun tidak dipungkiri bahwa ada juga keluarga yang tidak terlibat aktif dalam

hidup menggereja dan bermasyarakat. Meskipun demikian, keluarga-kleuarga tersebut

tetap diperhatikan dengan mengunjungi dan mengajak untuk sebisa mungkin

mengikuti kegiatan di lingkungan.

  Paus Yohanes Paulus II (Familiaris Consortio 1994 art. 92) menyatakan bahwa

keluarga Kristiani dipanggil untuk mengambil bagian secara bertanggungjawab dalam

tugas perutusan Gereja dengan cara yang asli dan khas, dalam keberadaan dan

karyanya, sebagai komunitas hidup dan kasih mesra untuk melayani Gereja dan

masyarakat.

  Dengan demikian, keterlibatan keluarga-keluarga dalam hidup menggereja dan

bermasyarakat sangatlah penting sebagai umat Kristiani. Dengan keterlibatan,

keluarga-keluarga berusaha menghidupi hidup rohani dan diharapkan menjadi sosok

yang diteladani keluarga-keluarga yang lain. Namun, terkadang keluarga-keluarga

tersebut terlibat dalam kegiatan-kegiatan tertentu, seperti kehadiran dalam pertemuan

rosario dan misa intensi lebih banyak daripada dalam pendalaman iman. Hal ini

membuat keterlibatan keluarga- keluarga, seperti “kapal selam” dalam mengikuti

kegiatan di lingkungan. Tugas utama keluarga-keluarga Katolik adalah berusaha

untuk menjadi teladan dalam pengembangan iman.

  Hal ini didukung oleh hasil studi dokumen, dimana terdapat kegiatan yang

melibatkan umat. Gambar 7, 8, dan 9 pada hasil studi dokumen di atas menunjukkan

  

lingkungan. Dengan demikian, setiap pribadi dalam keluarga semestinya mewujudkan

cinta kasih melalui tindakan konkret demi kebahagiaan dan kesejahteraan keluarga

serta perkembangan Gereja di masa yang akan datang.

e. Aspek Spiritualitas Kongregasi

  Para suster MASF, sebagai bagian dari tenaga pastoral keluarga perlu

menghayati spiritualitas kongregasinya, yakni spiritualitas Kongregasi MASF sebagai

seorang pelayan bagi sesamanya. Berdasarkan hasil deskripsi data kuesioner di atas,

aspek spiritualitas kongregasi tenaga pastoral keluarga, diperoleh mean 106,74 dari N

valid 84 keluarga, menunjukkan bahwa responden yang menjawab dengan kriteria

sangat menghayati 68 keluarga (80,96%), yang menjawab dengan kriteria menghayati

16 keluarga (19,04%), dan tidak ada (0%) pada kriteria kurang menghayati dan sangat

kurang menghayati. Hasil analisis ini dapat disimpulkan bahwa banyak responden

yang menyatakan tenaga pastoral keluarga menghayati spiritualitas dalam

menjalankan tugas pelayanan. Hasil analisis data kuesioner di atas, diperkuat oleh

hasil wawancara yang menunjukkan bahwa tenaga pastoral keluarga sungguh

menghayati spritualitas sebagai seorang pelayan Tuhan.

  Menurut Frans Harjawinata, OCSO (1979:20), spritualitas kerohanian diartikan

sebagai cara orang menyadari, memikirkan, menghayati hidup religiusnya dalam

bentuk suatu pengabdian yang penuh penyerahan kepada Allah. Seseorang dapat

membangun hubungan pribadinya dengan Allah dan menghayati tugas perutusannya,

apabila hidupnya didasari oleh bimbingan Roh Kudus. Oleh karena itu, setiap orang

harus mempunyai spiritualitas dalam hidupnya . Spiritualitas atau daya kekuatan yang

  

tugasnya. Setiap pribadi tenaga pastoral keluarga memiliki spiritualitas yang

senantiasa menggerakkan, mendorong dalam menjalankan tugas, dan menghayati

peranannya sebagai abdi Kristus. Spiritualitas merupakan daya kekuatan yang

menghidupkan, yang tertuju pada hidup rohani, yang dipimpin oleh Roh Kudus untuk

semakin mengimani dan mencintai Tuhan melalui keluarga-keluarga yang dilayani.

C. Usulan Peningkatan Kwalitas Program Kunjungan keluarga bagi Tenaga Pastoral Keluarga Wilayah St. Andreas Songgolangit.

1. Latar Belakang Usulan Program

  Keluarga mempunyai peranan yang sangat fundamental. Hal ini karena,

keluarga adalah sel vital yang paling kecil dari Gereja dan masyarakat. Gereja

berusaha dengan berbagai cara untuk membantu pengembangan hidup iman keluarga-

keluarga, yaitu dengan mengadakan kunjungan keluarga. Namun muncul beberapa

permasalahan atau hambatan, yakni:

  

a. Tenaga pastoral keluarga yang sedikit jumlahnya tidak seimbang dengan jumlah

keluarga yang dilayaninya;

b. Kunjungan dilakukan mengikuti program dan jadwal yang sudah disusun dan

ditentukan, sehingga kunjungan terkesan formal oleh pengunjung maupun keluarga yang dikunjungi;

  

c. Pengetahuan tentang kunjungan atau pendampingan keluarga seharusnya perlu

diperhatikan. Hal ini karena, kurangnya materi pendukung, yang mengakibatkan dialog yang terjadi bersifat monoton. Selain itu, waktu pelaksanaan kunjungan bersamaan dengan misa lingkungan, sehingga kurangnya waktu kunjungan.

  Sebagai contoh, kunjungan yang dilakukan di wilayah atau lingkungan bersamaan dengan misa lingkungan dan maksimal hanya mengunjungi 5-7 keluarga saja;

d. Kesulitan untuk menyesuaikan waktu antara tim pendamping pastoral keluarga

dengan keluarga-keluarga karena masing-masing sibuk bekerja;

e. Tidak semua keluarga mau menerima kunjungan dengan alasan tertentu. Misalnya,

tidak berada di rumah, sibuk bekerja, tidak merasa nyaman dengan kehadiran para tenaga pastoral keluarga serta kurang mengenal dengan baik;

  

f. Kurang memahami tentang kunjungan pastoral keluarga sehingga banyak orang

mengira bahwa berkunjung keluarga tersebut karena kurang aktif dalam hidup menggereja dan keluarga yang bermasalah;

g. Kebanyakan keluarga ada kecenderungan mengharapkan kunjungan dari pastor ketimbang sesama kaum awam.

  Menanggapi keprihatinan di atas, Gereja berusaha mengatasi permasalahan

tersebut. Salah satunya dengan meningkatkan mutu pelayanan, yakni pembekalan atau

pelatihan tentang kunjungan serta kerja sama antar tenaga pastoral keluarga dengan

pimpinan Gereja setempat, para biarawan/biarawati, prodiakon, dan kelompok-

kelompok tertentu untuk membantu tenaga pastoral keluarga dalam melaksanakan

kunjungan keluarga. Tenaga pastoral keluarga berasal dari latar belakang pendidikan

yang berbeda. Mereka adalah tenaga sukarela Gereja untuk membantu

mengembangkan iman keluarga-keluarga Katolik. Mereka memiliki dedikasi yang

sangat tinggi, berani mengorbankan: waktu, tenaga, pikiran, dan materi demi melayani

keluarga-keluarga Katolik. Para tenaga pastoral keluarga berusaha dengan berbagai

kegiatan mewujudkan semangat Injil dalam hidup dan karya pelayanan mereka bagi

  

dilaksanakan, sangat diharapkan tenaga pastoral keluarga dapat menjadi rekan kerja

bagi keluarga-keluarga Katolik dalam pertumbuhan masa depan Gereja.

  Dalam kenyataannya, para tenaga pastoral keluarga kurang mendapatkan

pelatihan, secara khusus mengenai proses kunjungan. Padahal, selama ini mereka

harus berbagi waktu dengan pelatihan, yang lebih banyak mengenai kursus

perkawinan, sehingga menjadi sulit bagi tenaga pastoral keluarga yang tidak

mempunyai dasar mengenai proses kunjungan yang baik.

  Namun, berdasarkan hasil deskripsi data secara keseluruhan menunjukkan

bahwa tenaga pastoral keluarga di wilayah St. Andreas Songgolangit Paroki St. Paulus

Kleco Surakarta sudah memiliki kemampuan yang baik dalam kunjungan, yakni dari

aspek pengetahuan, keterampilan, maupun spiritualitas hidupnya. Hal ini ditunjukkan

dengan nilai keseluruhan, diperoleh mean sebesar 217,48. Sedangkan, nilai mean

aspek tenaga pastoral keluarga sendiri sebesar 16,55, yang menunjukkan bahwa dalam

beberapa hal, pengetahuan tenaga pastoral keluarga memadai. Nilai mean aspek

program kerja diperoleh 22,8571, menunjukkan bahwa program kerja tenaga pastoral

keluarga telah terlaksana. Sedangkan untuk aspek kerjasama, diperoleh nilai mean

sebesar 16,32, menunjukkan bahwa para tenaga pastoral keluarga sangat mampu

bekerjasama dalam menjalankan programnya dan tugas pelayanan mereka. Sedangkan

untuk aspek keterlibatan keluarga, diperoleh nilai mean sebesar 55,01 yang berarti

bahwa banyak keluarga-keluarga Katolik terlibat mengikuti kegiatan hidup

menggereja dan bermasyarakat. Sedangkan untuk aspek spiritualitas kongregasi,

diperoleh nilai mean sebesar 106,74 mengandung pengertian bahwa para suster

MASF, sebagai salah satu tenaga pastoral keluarga sungguh menghayati spirtualitas

  Pengetahuan tentang kunjungan keluarga, program, dan kerjasama yang baik,

diimbangi dengan penghayatan spiritualitas kongregasi, sebagai seorang pelayan

sangat penting dimiliki oleh tenaga pasoral sehingga mampu memberikan motivasi

bagi keluarga-keluarga dalam mengembangkan kehidupan iman mereka. Sebagai

seorang tenaga pastoral keluarga, sangatlah penting mempunyai pengetahuan

mengenai pengertian kunjungan, dasar pastoral kunjungan, tujuan kunjungan

keluarga, proses kunjungan, makna kunjungan dalam rangka pembangunan iman

keluarga-keluarga, dan keterampilan yang memadai berkaitan dengan kunjungan.

  

Pengetahuan tentang kunjungan yang memadai sangat membantu tenaga pastoral

keluarga dalam melihat apa saja yang perlu ditingkatkan dalam kunjungan, syarat

keberhasilan dalam kunjungan, peranan kunjungan di paroki, sikap mana yang perlu

dimiliki oleh pengunjung, cara yang benar dan tepat dalam mengadakan kunjungan,

dan proses dalam kunjungan.

  Pengetahuan tentang kunjungan dapat diperoleh dengan berbagai informasi

melalui membaca buku, mengikuti berbagai kegiatan seperti seminar, pelatihan-

pelatihan, workshop, dan sharing sejauh mendukung tugas pelayanan. Dari segi

pengetahuan, tenaga pastoral keluarga dituntut memiliki kemampuan memahami

ajaran-ajaran Gereja, Kitab Suci, masalah-masalah aktual yang terjadi dalam keluarga-

keluarga, tujuan yang dicapai dalam kunjungan, dan memiliki keterampilan dalam

kunjungan, dan sebagainya.

  Berdasarkan hasil analisis data, wawancara, dan studi dokumen mengenai

pengetahuan tentang kunjungan keluarga, menunjukkan bahwa tenaga pastoral

keluarga sudah mempunyai pengetahuan yang baik misalnya mampu mendengarkan,

  

keluarga-keluarga dalam mengatasi permasalahan iman yang dihadapi. Namun tidak

semua proses kunjungan dikuasai oleh tenaga pastoral keluarga, sehingga terkadang

kehadiran dalam kunjungan keluarga-keluarga kurang menyentuh dan mengena pada

sasaran.

  Berdasarkan aspek program kerja, tenaga pastoral keluarga dituntut

menyiapkan, melaksanakan, dan mengevaluasi kunjungannya dengan baik. Menurut

pandangan keluarga-keluarga, program kerja yang telah disusun oleh tenaga pastoral

keluarga berjalan dengan baik, dengan diadakannya beberapa kegiatan yang rutin.

  

Namun kenyataannya, kunjungan selalu dilaksanakan bertepatan dengan misa

lingkungan. Hal ini berarti bahwa hasil kuesioner dan wawancara, tidak sejalan

dengan pelaksanaan di lapangan sesuai dengan program yang telah direncanakan.

  Kerjasama yang dibangun oleh tenaga pastoral keluarga cukup baik dengan

beberapa kegiatan yang terlaksana dengan baik. Berdasarkan analisis data kuesioner,

diperoleh bahwa tenaga pastoral keluarga, program, dan kerjasama tenaga pastoral

keluarga berada dalam kriteria yang memadai, terlaksana, dan baik. Hal tersebut

sungguh baik karena menurut pandangan keluarga, tenaga pastoral keluarga sudah

mampu menyusun, melaksanakan, dan mengevaluasi kegiatan kunjungannya dengan

baik. Namun, kenyataannya di lapangan bahwa kunjungan dilakukan saat bersamaan

dengan misa lingkungan dengan alasan bahwa banyak keluarga dan tenaga pastoral

keluarga yang sibuk bekerja.

  Data hasil wawancara dan kuesioner yang diperoleh sesuai dengan kenyataan di

lapangan menunjukkan bahwa kunjungan yang diadakan masih kurang maksimal.

  

Melihat kenyataan tersebut, maka perlu ada tindakan khusus yang berkesinambungan

  

agar tenaga pastoral keluarga semakin maksimal dalam kunjungan keluarga, sehingga

target untuk mengunjungi keluarga terpenuhi.

  Pengetahuan tenaga pastoral keluarga, program kerja, kerjasama, dan

keterlibatan keluarga, yang memadai dan baik, harus diimbangi dengan penghayatan

spiritualitas yang menjiwai setiap pribadi dalam menjalani tugas pelayanan. Oleh

karena itu, tenaga pastoral keluarga harus mampu menghayati spiritualitas hidupnya

sebagai seorang pelayan Tuhan. Berdasarkan hasil analisis data dan wawancara,

diperoleh hasil yang signifikan, dimana tenaga pastoral keluarga dinyatakan sangat

mampu menghayati spiritualitas hidupnya dan mampu menerapkan dalam

melaksanakan tugas pelayanan mereka.

  Spiritualitas diperoleh dengan memotivasi diri sendiri, sharing kelompok,

sebagai satu tim tenaga pastoral keluarga. Selain itu, spiritualitas juga dapat dibina

oleh pihak paroki dengan melakukan kegiatan sehingga makin menumbuh

kembangkan spiritualitas tenaga pastoral keluarga, misalnya melalui pembinaan

rekoleksi, pendalaman iman, atau pelatihan-pelatihan yang mendukung dalam

menumbuhkan semangat tenaga pastoral keluarga.

  Bertolak dari pemaparan di atas, maka sangat penting peranan tenaga pastoral

keluarga dalam mengadakan kunjungan terhadap keluarga-keluarga Katolik untuk

membantu mereka mengembangkan imannya. Maka, penulis mengusulkan suatu

program pendampingan melalui pelatihan kunjungan bagi tenaga pastoral keluarga

Wilayah St. Andreas Songgolangit, sebagai pengembangan lebih lanjut. Model

pelatihan ini dipilih mengingat hasil penelitian tenaga pastoral keluarga sudah

memiliki kemampuan kunjungan yang baik. Maka, pelatihan ini sebagai pengayaan

  

sebagai pengembangan lebih lanjut agar tenaga pastoral keluarga semakin memahami

hal-hal baru, sehingga semakin mampu mempertahankan, meningkatkan, serta

mengembangkan pengetahuan, keahlian, keterampilan, maupun sikapnya dalam

mengadakan kunjungan.

  Kegiatan pelatihan ini dapat dilakukan di Gereja Santo Paulus Kleco. dengan

waktu 3 hari berturut-turut. Kegiatan ini dapat dilaksanakan dalam Minggu I pada

bulan Januari 2014. Mengingat bahwa kurangnya pelatihan kunjungan secara

keseluruhan untuk para tenaga pastoral keluarga yang ada di wilayah, maka kegiatan

ini terbuka bagi tenaga pastoral keluarga lainnya. Oleh karena itu, perlu adanya

koordinasi dari pihak panitia penyelenggara.

2. Tema dan Tujuan Usulan Program

  Pemilihan tema ini disesuaikan dengan hasil penelitian dan juga kebutuhan

tenaga pastoral keluarga sehingga diharapkan mereka semakin meningkatkan mutu

kunjungan bagi keluarga-keluarga Katolik. Tenaga pastoral keluarga memiliki

pengetahuan, keterampilan dan semangat yang tinggi untuk melayani keluarga-

keluarga Katolik. Namun semangat dan kemauan ini tidak didukung dengan

pengetahuan yang cukup tentang kunjungan keluarga. Oleh karena itu, usulan

program kunjungan keluarga ini memiliki tema dan tujuan umum sebagai berikut; Tema Umum :

  “Meningkatkan kwalitas mutu kunjungan keluarga”. Tujuan Umum : “Supaya tenaga pastoral keluarga sungguh memahami akan

hakekat kunjungan, semakin mengasah dan mengembangkan ketrampilan para tenaga

pastoral keluarga dalam mengadakan kunjungan dan membangun relasi dan

  

komunikasi antar pengunjung dan keluarga yang dikunjungi dan mengambil sikap

yang tepat saat berkunjung”.

  Alasan pemilihan tema ini berdasarkan pokok permasalahan dan hasil

penelitian. Peneliti melihat bahwa tenaga pastoral keluarga memiliki peranan penting

dalam membantu keluarga-keluarga Katolik dalam mengembangkan iman dan

bagaimana partisipasi dalam mengikuti kegiatan-kegiatan Gereja. Untuk itu

tenagapastoral keluarga harus mendapatkan pelatihan kunjungan yang

berkesinambungan.

  Salah satu gerakan untuk meningkatkan mutu kunjungan adalah dengan

mengadakan pelatihan, maka penulis mengusulkan beberapa tema dalam pelatihan

ini.

3. Bentuk Pertemuan

  Pelatihan adalah proses melatih kegiatan atau pekerjaan untuk lebih mahir atau

trampil. Pelatihan yang ditawarkan penulis kepada tenaga pastoral keluarga yang

sudah dewasa, sehingga ada beberapa pendekatan yang penulis gunakan dalam

pertemuan ini. Peserta dalam pelatihan adalah para tenaga pastoral keluarga dan

terbuka luas untuk umat yang peduli akan pastoral pendampingan keluarga. Pelatihan

ini akan di laksanakan tiga kali pertemuan yang sungguh membantu tenaga pastoral

keluarga dan umat dalam menjalankan tugas pelayanan. Peserta pelatihan berjumlah

50 orang dan dari kalangan orang dewasa, Maka ada beberapa metode pendekatan

yang ditawarkan penulis yang kiranya bermanfaat bagi peserta.

4. Metode

  Metode yang ditawarkan sesuai dengan usia peserta pelatihan yaitu:

Informasi, diskusi, sharing, tanya jawab, gerak dan lagu dan rolle play. Metode ini

cocok bagi peserta yang sudah berumur, karena lingkup geraknya sangat terbatas.

  

Dengan metode informasi semakin menambah wawasan pengetahuan hakekat pastoral

kunjungan keluarga, keterampilan dan menimba semangat spiritualis dari Yesus dalam

melaksanakan tugas pelayanan.

  Metode, sharing, diskusi, tanya jawab sangat cocok dalam setiap pertemuan

dalam pelatihan ini dengan alasan bahwa karakteristik peserta adalah orang-orang

yang sudah berumur, sehingga sulit diajak untuk bergerak. Peserta memiliki

pengalaman yang luas sehingga diharapkan banyak memberi masukan, pemikiran

demi meningkatnya mutu kunjungan keluarga.

  Tujuan dari pelatihan ini adalah untuk meningkat mutu kunjungan keluarga,

sehingga butuh keterampilan untuk melaksanakannya di lapangan. Maka butuh sebuah

metode rolle play dalam mengasah keterampilan tenaga pastoral keluarga secara

langsung, dan dapat memberikan masukan dan kritik demi meningkatnya mutu

kunjungan.

  Melalui metode yang ditawarkan dalam pelatihan ini diharapkan peserta dapat

menambah wawasan pengetahuan, memberikan masukan, penguatan dari diskusi

kelompok, dan dengan rolle play yang ditawarkan dalam pelatihan ini peserta semakin

trampil dalam melaksanakan kunjungan.

5. Penjabaran Program Pelatihan Kunjungan Keluarga

  Tema Umum : “Meningkatkan Kwalitas Mutu Kunjungan Keluarga”.

Tujuan Umum : Meningkatkan mutu tenaga pastoral keluarga dalam hal: pemahaman hakekat kunjungan keluarga,

keterampilan dalam kunjungan dan semangat rohani dalam kunjungan keluarga dalam rangka pembangunan man keluarga-

keluarga Katolik.

  Pendekatan Sumber No Waktu Sub Tema Tujuan Materi Langkah-langkah Metode Sarana Bahan

  Minggu

  I

1 09-10.00 Pembuka- Menjelaskan - Gambaran - Presensi peserta - Informasi - Laptom - Pengalam an/penganta gambaran umum - Gerak dan lagu - Sharing - LCD an peserta r kegiatan mengenai tentang - Doa pembukaan pengalam - Dokumen - Kitab arah pastoral - Perkenalan an - Teks Suci pertemuan kunjungan peserta - Tanya naskah - Buku sehingga keluarga - Berbagi jawab - Kertas Kunjung- dapat penglaman flap an menyesuaika tentang - spidol membang n diri dengan kunjungan -un tujuan keluarga yang persaudar pertemuan telah aan dilaksanakan 1994

  • Peserta diajak - Menjadi untuk

  Saudara merefleksikan bagi sharing dalam Sesama kelompok kecil 1987 dengan bantuan

pertanyaan

  • Peserta

    membagikan

    hasil refleksi sharing

    pengalaman

  • Pendamping

    memberikan

rangkuman 11.00-

  • Mengajak peserta memahami hakekat dari pastoral kunjungan keluarga
  • Dasar pastoral kunjungan dan tujuan yang mau dicapai dalam kunjungan keluarga
  • Tolok ukur keberhasila n dari kunjungan dan makna kunjungan dalam rangka pemba>Peserta dibagikan teks rangkuman tentang materi yang akan dibahas
  • Pembimbing memberikan penjelasan tentang materi dengan buku pedoman
  • Diskusi kelompok
  • Pleno - Rangkuman dari pembim>Informasi - Sharing pengalam an
  • Tanya j>Buku Kunjugan membang
  • un persauda- raan 1994
  • 12.00 Hakikat

      kunjungan pastoral keluarga

    • Gerak dan lagu
    • Laptom - LCD
    • Dokumen - Teks naskah
    • Kertas >Buku Menjadi saudara Bagi sesama 1987
    • Buku Familiaris consortio 1994
    • Kitab Suci
    an jemaat Minggu

      II 2 10.00-

      Agar peserta menyadari pentingnya keterampilan maupun kreatifitas dalam kunjungan sehingga proses kunjungan lebih berjalan efektif

    • Membangu n dialog yang terbuka dan menjadi pendengar yang baik
    • Melibatkan diri dengan memberi perhatian / empati kepada yang dikunj>Doa pembukaan
    • Gerak dan lagu
    • Pendamping membagikan teks materi
    • Pendalaman materi
    • Peserta dibagi dalam kelompok
    • Pleno - Rolle Play - Rangkuman dari pendam>Informasi - Sharing pengala- man
    • Tanya j>Laptop - LCD
    • Dokumen - Teks naskah
    • Kertas >Buku Kunjugan membang un persauda- raan 1994
    • Buku Menjadi saudara Bagi sesama 1987
    • Buku Familiaris

    12.00 Keterampil- an Dasar dalam melaksana- kan

    • Gerak dan
    • lagu
    • consortio 1994

      • Kitab Suci

        Minggu

        III 3 10.00-

        Peserta dapat menimba semangat rohani dari Yesus dalam melaksanaka n kunjungan

      • Menimba spiritualitas Yesus (Yoh.10:1- 12)
      • Menggali pendalaman iman dengan sharing dalam terang Kitab Suci - Doa pemb>Buku Kunjugan membang un persaudar an 1994
      • Buku Menjadi saudara Bagi sesama 1987<>Gerak dan lagu
      • Peserta diajak untuk menciptakan suasana hening dan tenang
      • Salah satu peserta dimohon bantuannya untuk membaca perikop Kitab Suci - Informasi - Sharing pengalam an
      • 12.00 Semangat rohani yang perlu dimiliki oleh tenaga pastoral keluarga

        • Tanya jawab
        • Laptom - LCD
        • Dokumen - Teks naskah
        • Kertas flap
          • Pendamping - Buku mangajak Familiaris peserta untuk consortio masuk dalam 1994 kelompok kecil - Kitab Suci

            untuk sharing

          • Rangkuman

            6. Gambaran Pengembangan Proses Pelaksanaan Contoh Satuan Persiapan Pertemuan I

          a. Identitas Paroki

            1. Nama Pelaksana : Petronela Helena Balok

            2. Nama Paroki : Paroki St. Paulus Kleco Surakarta

            3. Materi Pokok : Hakekat dari pastoral kunjungan keluarga

            4. Peserta : Tenaga pastoral keluarga dan umat (50 orang)

            5. Tempat : Aula gereja

            6. Pertemuan : 1(satu) kali

            7. Alokasi Waktu : 2x 60 menit

          b. Pemikiran Dasar

            Dewasa ini muncul keluhan berkaitan dengan tenaga pastoral keluarga yang

          jarang mengadakan kunjungan secara rutin. Kunjungan dilaksanakan hanya karena

          program dari paroki dan tidak rutin dilaksanakan oleh tenaga pastoral keluarga.

          Banyak keluarga merasa tidak terjangkau oleh pelayanan pastoral dari paroki.

          Kebanyakan umat masih mengharapkan kunjungan dari pastor dan sedikit umat yang

          mengharapkan kunjungan dari sesama awam. Kecenderungan umat untuk menantikan

          kunjungan dari pastor karena adanya gambaran yang kurang tepat mengenai hakekat

          dari pastoral kunjungan keluarga. Kurang memasyarakatnya kunjungan antar umat

          ini juga kerap mengakibatkan adanya gambaran mengenai praktik kunjungan yang

          keliru, sehingga tidak jarang kunjungan diartikan sebagai suatu teguran terhadap

          keluarga yang jarang aktif dalam kegiatan Gereja.

            Kerapkali tenaga pastoral keluarga maupun umat kurang paham tentang

          hakekat dari pastoral kunjungan sehingga muncul kesan bahwa kunjungan sering

          dirasakan oleh sebagian keluarga justru sebagai beban. Sedangkan bagi tenaga

          pastoral keluarga kunjungan merupakan program dari paroki yang harus dilaksanakan

          untuk memenuhi target program paroki, sehingga mengakibatkan tujuan dan makna

          kunjungan pastoral menjadi kabur. Hakekat dari pastoral kunjungan keluarga

          dimotivasi oleh iman, kunjungan suka rela dengan tujuan pendampingan terhadap

          sesama saudara seiman, dalam rangka pembangunan paguyuban iman.

            Dari pertemuan ini kita berharap sebagai tenaga pastoral keluarga dan umat

          sungguh memahami hakekat dari pastoral kunjungan keluarga sehingga muncul

          kesadaran untuk mengadakan kunjungan antar umat. Tenaga pastoral keluarga dan

          umat diharapkan memahami dan mengetahui bahwa dasar pastoral kunjungan pada

          dasarnya terletak pada hakekat Gereja itu sendiri di mana Gereja sebagai paguyuban

          umat beriman. Oleh karena itu kunjungan merupakan suatu usaha untuk membantu

          terwujudnya proses persaudaraan umat beriman.

          c. Tujuan Pelatihan

            

          1. Memahami hakekat dari pastoral kunjungan keluarga sebagai paguyuban sesama

          umat beriman.

            2. Menjelaskan perikop Kitab Suci Kis 4:32- 37 tentang “Cara hidup Jemaat Perdana”.

            3. Mengetahui tolok ukur keberhasilan pastoral kunjungan.

          d. Indikator Pencapaian Hasil Pelatihan

            2. Menjelaskan hakekat pastoral kunjungan keluarga.

            3. Menjelaskan tolok keberhasilan pastoral kunjungan.

          e. Materi Pokok 1. Hakekat dari pastoral kunjungan keluarga.

          2. Kitab Suci 1Kor 12:12-14.23-25.

          f. Metode Pelatihan 1. Informasi.

            2. Diskusi.

            3. Tanya jawab.

            4. Refleksi.

          g. Kegiatan Pelatihan

            Alokasi No Kegiatan Pelatihan Waktu

          1 Kegiatan Awal 5 menit

            a. Doa pembukaan

            b. Apersepsi 10 menit 1) Menyampaikan beberapa indikator yang harus dipahami dan diproses dalam lokakarya 2) Tanya jawab tentang hakekat dari pastoral kunjungan keluargas

          2 Kegiatan Inti

            a. Ceramah dan tanya jawab tentang hakekat dari kunjungan keluarga 50 menit 1) Arti kunjungan 2) Dasar pastoral kunjungan 3) Tujuan yang mau dicapai 4) Tolok ukur keberhasilan kunjungan

          5) Makna dalam rangka pembangunan jemaat

            b. Menganalis teks Kitab Suci 1Kor 12:12-14;23-25 1) Bagaimana gambaran bahwa Gereja itu satu tubuh 30 menit yakni Tubuh Kristus. 2) Gambaran Gereja seperti apa yang terungkap dalam teks? 3) Dari pengamatan dan pengalamanmu selama ini apakah Gereja sebagai paguyuban umat beriman sungguh dirasakan oleh keluarga-keluarga Katolik?

            4) Apakah gambaran St. Paulus bahwa Gereja laksana satu tubuh, yaitu Tubuh Kristus masih relavan untuk hidup menggereja pada zaman ini?

            c. Penegasan dan informasi dari pembimbing: 1) Dasar pastoral kunjungan pada dasarnya terletak pada hakekat Gereja itu sendiri yaitu Gereja sebagai paguyuban atau persaudaraan umat 25 menit beriman. 2) Paguyuban atau persaudaraan umat beriman itu perlu diupayakan terus-menerus, misalnya dengan kunjungan sebagai upaya untuk membantu terwujudnya proses persaudaraan, dan membangun iklim persaudaraan 3) Gereja memerlukan hubungan satu sama lain agar bisa tetap hidup dengan membangun berkomunikasi, memberi perhatian sebagai sesama saudara dan membangun solidaritas 4) Kunjungan keluarga merupakan kunci pembuka proses tercapainya kesetia-kawanan, menjadi senasib, sejajar dengan orang yang dikunjungi.

          5) Gereja akan menjadi kesatuan dalam saling mengasihi, mendukung satu sama lain.

            6) Gereja bertumbuh dan berkembang melalui keluarga-keluarga Katolik, dengan sikap dan kesaksian hidup dalam hidup menggereja dan bermasyarakat

          h. Sarana atau Alat

            1. Laptop

            2. LCD

            3. Dokumen

            4. Teks materi

            5. Kertap flap

            6. Spidol

            7. Teks lagu

          i. Sumber Bahan

            1. Kitab Suci 1 Kor. 12: 12-14.23-25

            2. Buku Menjadi Saudara bagi Sesama: Budyapranata (1987)

            3. Buku Kunjungan Membangun Persaudaraan 4. Buku FC: Yohanes Paulus II (1994).

            5. Etika Pastoral: Richard M. Gula, S.S (2009) Contoh Satuan Persiapan Pertemuan II

          a. Identitas Paroki

            1. Nama Pelaksana : Petronela Helena Balok

            2. Nama paroki : Paroki St. Paulus Kleco Surakarta

            3. Materi Pokok : Keterampilan Dasar dalam Kunjungan

            4. Peserta : Tenaga pastoral keluarga dan umat (50 orang)

            5. Tempat : Aula gereja

            6. Pertemuan : 1(satu) kali

            7. Alokasi Waktu : 2x 60 menit

          b. Pemikiran Dasar

            Banyak tenaga pastoral keluarga yang merasa terpanggil untuk membantu

          mendampingi keluarga-keluarga Katolik untuk membangun Gereja sebagai

          paguyuban umat beriman. Tetapi kemauan dan niat baik tidak diimbangi oleh sebuah

          keterampilan yang baik yang bisa di gunakan dalam kunjungan. Sering kunjungan itu

          kurang berhasil misalnya, kunjungan dari dewan terhadap umatnya, sehingga

          pembicaraan menjadi resmi dan kaku, monoton sehingga keluarga yang dikunjungi

          menunjuk yang baik-baik saja. Tenaga pastoral keluarga sering monopoli dalam

          berbicara dan menasehati sehingga terkadang ada keluarga yang tidak mau menerima

          kunjungan dari tim pendamping keluarga.

            Dewasa ini banyak petugas pastoral adalah kaum awam, dan orang-orang ini

          diketahui memiliki kepedulian terhadap perkembangan Gereja dan selalu siap sedia

          dalam menjalankan tugas perutusan yang diterima dari Gereja, namun tidak sertai

          dengan sebuah keterampilan dalam mendukung tugas perutusan tersebut. Permasalah

          ini kurang mendapat perhatian dari Gereja dimana tenaga-tenaga pastoral keluarga

          kurang dipersiapkan dengan baik sehingga kurang memiliki keterampilan teknik

          praktis untuk menjalankan tugas. Banyak tenaga pastoral keluarga yang sulit

          menghadapi tuntutan-tuntutan yang terjadi di lapangan perutusan, sehingga banyak

          yang mengalami putus asa dan menjalankan tugas pelayanan karena sebuah program

          yang sudah ditargetkan oleh paroki.

            Pelayanan seorang tenaga pastoral keluarga harus didukung dengan

          keterampilan teknik praktis, memiliki pengertian dasar teoritis tentang keterampilan

          dalam bidangnya. Pelayanan pastoral sebagai suatu keseluruhan yang ditandai dengan

            

          pelayanan pastoral. Tenaga pastoral keluarga membutuhkan pengetahuan tentang

          ajaran Gereja, pengetahuan tentang tradisi rohani Gererja, pengetahuan tentang

          dinamika yang akan terjadi dalam tugas perutusannya.

            Dari pertemuan kita berharap sebagai tenaga pastoral keluarga dan umat

          sungguh memiliki keterampilan dalam menjalankan tugas pelayanan. Keterampilan

          yang dimiliki membantu untuk mengkomunikasikan pengetahuan ini dengan cara

          yang sesuai dengan iman. Peserta diajak untuk membangun sikap yang keterbukaan

          dalam membangun dialog, pendengar yang baik, membangun sikap empati dan

          bagaimana melibatkan diri dengan keluarga yang dikunjungi. Peserta diajak untuk

          menemukan mengapa kunjungan yang dilakukan sering gagal dan kurang berhasil.

          Untuk itu pendamping memberikan pemahaman bagaimana tenaga pastoral keluarga

          harus memiliki keterampilan sehingga kunjungan itu lebih efektif.

          c. Tujuan Pelatihan

            1. Memahami pentingnya memiliki keterampilan

            2. Pentingnya memiliki keterampilan dalam melaksanakan kunjungan 3. Kunjungan lebih efektif.

            4. Keluarga yang dikunjungi merasa lebih diperhatikan.

            5. Kreatifitas dalam proses kunjungan

            6. Menjelaskan perikop Kitab Suci Luk. 24: 13-34

            7. Memahami professional dalam menjalankan tugas

          d. Indikator Pencapaian Hasil Pelatihan

            1. Menjelaskan manfaat memiliki keterampilan dalam kunjungan keluarga

            2. Pentingnya memiliki keterampilan dalam melaksanakan kunjungan 3. Kunjungan lebih efektif.

            4 . Menjelaskan kreatifitas dalam proses pastoral kunjungan keluarga

            5. Menjelaskan tolok keberhasilan pastoral kunjungan keluarga

            6. Menyebutkan profesional dan makna pastoral kunjungan keluarga

          e. Materi Pokok

            1. Keterampilan dalam pastoral kunjungan keluarga

            2. Kitab Suci Luk. 24:13-35

          f. Metode Pelatihan

            1. Informasi

            2. Diskusi

            3. Tanya jawab

            4. Refleksi

          g. Kegiatan Pelatihan

            Alokasi No Kegiatan Pelatihan Waktu

          1 Kegiatan Awal 5 menit

            a. Doa pembukaan

            b. Apersepsi 10 menit

            1) Menyampaikan beberapa indikator yang harus dipahami dan diproses dalam lokakarya 2) Tanya jawab tentang keterampilan yang harus dimiliki dalam pastoral kunjungan keluarga

          2 Kegiatan Inti

            a. Ceramah dan tanya jawab tentang hakekat dari kunjungan keluarga 1) Arti keterampilan 2) Apa saja yang perlu diperhatikan dalam kunjungan? 3) Tujuan yang mau dicapai dalam kunjungan? Makna professional dalam rangka pembangunan jemaat b. Sharing pengalaman ketika dalam kelompok (Luk. 24: 13-34)

            1) Bagaimana proses kunjungan yang sudah dilakukan selama ini? 2) Bagaiman gambaran kunjungan menurut Injil Luk. 24: 13-34? 3) Bagaimana Yesus hadir di tengah-tengah dua murid yang berjalan ke Emaus? 4) Bagaimana perasaan dua murid setelah mengetahui bahwa yang berjalan bersama

            50 menit 30 menit mereka adalah Yesus? 5) Apakah anda pernah mengalami kesulitan dalam berkunjung? 6) Bagaimana sikap saat mengadakan kunjungan?

            7) Ketika mengalami penolakan apa yang anda lakukan? 25 menit

          c. Penegasan dan informasi dari pembimbing.

            Maka beberapa hal yang perlu diperhatikan selama proses kunjungan.

            1) Bagaimana pengunjung menjadi pendengar yang baik. Mendengarkan harus dengan perhatian khusus sehingga interaksinya dua arah.

            2) Bagaimana pengunjung melibatkan diri pada yang dikunjung. Kunjungan pastoral adalah demi kebaikan dan keselamatan orang lain. Kisah dua murid ke Emaus (Luk. 24: 13-35), Yesus tidak hanya menenangkan hati mereka atau memberikan hiburan yang palsu, tetapi mengembalikan mereka kepada diri mereka sendiri dan mengembalikan iman mereka .

          3) Bagaimana pengunjung membangun dialog.

            Dialog berarti mau menerima pribadi lain

            

          sebagaimana adanya artinya membngaun

          pemahaman dan pengertian terhadap pribadi

          lain. 4) Bagaimana kita melibatkan diri dengan

          keluarga yang kita kunjungi sehingga terjadi

          solidaritas sebagai saudara seiman dan saling

          menguatkan satu sama lain

            5) Bagaimana kita memberi perhatian dengan

          memberi kepercayaan akan suatu nilai

          pertemuan yang lebih mendalam dalam iman,

          perjumpaan dengan iklas seperti perumpamaan

          orang Samaria yang baik hati

          h. Sarana atau Alat

            1. Laptop

            2. LCD

            3. Dokumen

            4. Teks materi

            5. Kertap flap

          i. Sumber Bahan

            1. Kitab Suci Luk. 24: 13-34

            2. Buku Menjadi Saudara bagi Sesama: Budyapranata (1987)

            3. Buku Kunjungan Membangun Persaudaraan 4. Buku FC: Yohanes Paulus II (1994).

            5. Etika Pastoral: Richard M. Gula (2009) Contoh Satuan Persiapan Pertemuan III

          a. Identitas Paroki

            1. Pelaksana : Petronela Helena Balok

            2. Nama paroki : Paroki St. Paulus Kleco Surakarta

            3. Materi Pokok : Semangat Rohani dan Kerjasama

            4. Peserta : Tenaga pastoral keluarga dan umat (50 orang)

            5. Tempat : Aula gereja

            6. Pertemuan : 1(satu) kali

            7. Alokasi Waktu : 2x 60 menit

          b. Pemikiran Dasar

            Kenyataan ini terjadi bahwa tenaga pastoral keluarga kurang memiliki

          semangat rohani yang bersumber pada Yesus. Selama ini kunjungan dilakukan oleh

          tenaga pastoral keluarga karena program dari Gereja. Semangat untuk saling

          mengunjungi belum memasyarakat di antara keluarga-keluarga Katolik, dan semangat

          untuk saling mengunjungi sangat kurang dan bahkan mulai memudar. Kurangnya

          semangat rohani yang dimiliki oleh tenaga pastoral keluarga karena kurangnya sikap

          solider dan senasib dengan keluarga yang dikunjungi. Kunjungan bersifat vertikal dan

          selalu menonjolkan kedudukan sehingga kemurahn kasih Yesus tidak tampak dalam

            Kunjungan adalah sebuah pertemuan pribadi artinya bahwa kunjungan itu

          tidah hanya sekedar datang ke rumah karena urusan tertentu, tetapi digerakan oleh

          semangat spiritualitas Yesus sendiri sebagai pelayan sejati. Semangat rohani yang

          perlu dimiliki oleh tenaga pastoral keluarga. Tujuannya mengajak peserta untuk

          menimba semangat dari spiritualitas Yesus sendiri. Peserta diajak untuk menyadari

          penting semangat yang menjadi pengerak untuk melakukan kunjungan. Menimba

          semangat dari Yesus sendiri dengan harapan bahwa kunjungan akan dilakukan dengan

          iklas dan tulus.

            Dari pertemuan kita berharap sebagai tenaga pastoral keluarga dan umat

          sungguh memiliki spiritualitas Yesus sebagai dasar yang kokoh dalam melaksanakan

          kunjungan. Dalam kunjungan terjadi jalinan kasih untuk saling mengperhatikan,

          disapa, dikuatkan dan didampingi dalam kesulitan. Kunjungan solidaritas sebagai

          saudara seiman.

          c. Tujuan Pelatihan

            1. Dapat menimba semangat rohani dari Yesus dalam melaksanakan kunjungan

            2. Menumbuhkan rasa solider sebagai saudara seiman

            3. Menjelaskan perikop Kitab Suci Luk. 9: 1-6, bdk Mat. 10: 5-15 4. Memahami beberapa hal praktis dalam kunjungan.

          d. Indikator Pencapaian Hasil Pelatihan

            1. Menjelaskan manfaat memiliki semangat rohani dalam kunjungan keluarga

            2. Menjelaskan rasa solider dalam pastoral kunjungan keluarga

          3. Menjelaskan hal-hal praktis dalam pastoral kunjungan keluarga

          e. Materi Pokok

            1. Semangat rohani dalam pastoral kunjungan keluarga

            2. Kitab Suci Luk. 9: 1-6, bdk Mat. 10: 5-15

          f. Metode Pelatihan

            1. Informasi

            2. Diskusi

            3.Tanya jawab

            4. Refleksi

          g. Kegiatan Pelatihan

            Alokasi No Kegiatan Pelatihan Waktu

          1 Kegiatan Awal 5 menit

          a. Doa pembukaan

            b. Apersepsi 10 menit 1) Menyampaikan beberapa indikator yang harus dipahami dan diproses dalam lokakarya

            2) Tanya jawab tentang semangat rohani yang harus dimiliki dalam pastoral kunjungan keluarga

          2 Kegiatan Inti

            a. Ceramah dan tanya jawab tentang semangat rohani yang harus dimiliki 50 menit dalam kunjungan keluarga. Pengalaman mereka ketika saat mengadakan kunjungan. 1) Bagaimana sikap anda dalam membangun persaudaraan? 2) Apakah anda pernah mengalami kejenuhan ketika barkunjung? 30 menit 3) Bagaimana sikap anda saat mendengarkan ungkapan-ungkapan isi hati keluarga yang dikunjungi?

            b. Menganalis teks Kitab Luk. 9: 1-6, bdk Mat. 10: 5-15 1) Bagaimana gambaran bahwa semangat rohani yang ditekan Yesus ketika mengutus para murid? 2) Apa saja yang di tekan Yesus bagi para murid ? 3) Bagaimana para murid melaksanakan tugas perutusan mereka? c. Penegasan dan informasi dari pembimbing:

          1) Semangat rohani perlu dimiliki oleh 25 menit

          seorang tenaga pastoral keluarga sebagai roh pengerak untuk melaksanakan kunjungan keluarga bagi setiap keluarga dengan permasalahannya masing-masing.

            2) Dengan semangat rohani yang dimiliki akan membantu tenaga pastoral keluarga dalam membangun iman jemaat dalam menciptkan iklim persaudaraan.

            3) Maka ada beberapa langkah yang dapat mendukung semangat tenaga pastoral keluarga dalam mengadakan kunjungan sebagai berikut; bahwa ada sikap sejajar tidak menonjolkan status sosialnya, tetapi menjadi sesama dengan yang dikunjungi.

            4) Metampakan sikap persaudaraan, memberikan perhatian dan mendengarkan ungkapan-ungkapan isi hati keluarga yang kunjungi dengan iklas dan tulus.

            5) Tujuan memiliki semangat rohani dalam melaksanakan kunjungan adalah: solider dan senasib sehingga kunjungan itu tidak bersifat vertikal dari atas ke bawah, tidak menampilkan status sehingga ada rasa takut untuk berbicara dan mengadakan kunjungan tidak untuk kepentingan diri sendiri atau kelompok sehingga terkesan mengejar target saja.

            6) Dengan menimbsa Spiritualitas Yesus dalam menjalankan tugas pelayanan, semakin memberi kita kekuatan untuk mengasihi orang lain seperti yang telah diteladan oleh Yesus.

          h. Sarana Alat

            1. Laptop

            2. LCD

            3. Dokumen

            4. Teks materi

            5. Kertas flap

            6. Spidol

          i. Sumber Bahan

            1. Kitab Suci 1Kor 12:12-14. 23-25

            2. Buku Menjadi Saudara bagi Sesama: Budyapranata (1987)

          3. Buku Kunjungan Membangun Persaudaraan 4. Buku FC: Yohanes Paulus II (1994).

          D. Keterbatasan Penelitian

            Dalam melakukan penelitian ini, penulis mengalami beberapa keterbatasan, kekurangan dan hambatan sabagai berikut:

            

          1. Penulis memiliki keterbatasan dan kekurangan dari segi pengetahuan dan

          kemampuan dalam membuat pernyataan kuesioner yang yang baik, sehingga belum bisa menggambarkan dan menjelaskan tentang kunjungan keluarga secara tepat, dalam arti menjelaskan semua indikator sesuai, namun penulis tetap berusaha agar tidak keluar dari konteks yang diharapkan.

            

          2. Penulis memiliki keterbatasan dalam bertemu dengan keluarga-keluarga karena

          sibuk bekerja, sehingga tidak dapat mendampingi responden satu persatu. Oleh karena itu, penulis meminta bantuan prodiakon dan ketua lingkungan untuk membantu menyebarkan kuesioner kepada keluarga-keluarga. Hal ini memungkinkan petunjuk pengisian kuesioner dan pernyataan-pernyataan yang ada dalam kuesioner kurang dimengerti oleh responden sehingga responden bisa keliru dalam mengisi kuesioner yang dibagikan.

            

          3. Penulis memiliki kekurangan dalam mendapatkan hasil wawancara yang lebih

          banyak dan valid untuk mendukung data kuesioner dikarenakan kurang terampilnya penulis dalam melakukan wawancara lebih mendalam dengan keluarga-keluarga karena muncul perasaan sungkan dan malu.

            

          4. Penulis memiliki keterbatasan dalam mendapatkan informasi mengenai dokumen

          berupa foto, jadwal, yang dapat digunakan untuk mendukung data penelitian karena kurang keterbatasan komunikasi dan tidak setiap kegiatan yang dilakukan mempunyai dokumentasi.

          5. Penulis mempunyai keterbatasan tenaga dan materi, sehingga sampel yang digunakan terbatas.

          BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan permasalahan dan hasil penelitian yang dipaparkan pada bab-bab

            sebelumnya, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:

            

          1. Kunjungan yang dilakukan oleh para suster selama ini merupakan suatu

          perwujudan dari spiritualitas Kongregasi yakni perutusan sebagai Kongregasi missioner. Secara istimewa terlibat dalam tugas perutusan Gereja lokal maupun universal. Kunjungan keluarga merupakan suatu usaha dan bentuk perhatian antar pribadi maupun antar keluarga beriman, dan untuk membangun komunikasi dan membina solidaritas dan semangat paguyuban antara warga umat dalam satu pengharapan, kegembiraan dalam iman.

            

          2. Dampak positif dari kunjungan adalah bahwa kehadiran tenaga pastoral keluarga

          itu sebagai saudara, memberi perhatian bagi keluarga yang dikunjungi. Kunjungan akan terwujud dengan baik apabila terjadi kedua belah pihak saling mendukung, perhatian dan menyapa orang sebagai pribadi. Perjumpaan secara iklas sehingga menyentuh dan tergerak untuk terlibat dalam kegiatan hidup menggereja.

            

          3. Hasil penelitian menunjukkan nilai mean tenaga pastoral keluarga sudut pandang

          keluarga-keluarga atas keseluruhan aspek adalah 217,48 yang menunjukkan bahwa secara umum tenaga pastoral keluarga dalam kunjungan memiliki kriteria yang baik. Hal ini juga ditandai dan didukung hasil mean dari setiap aspek variabel yang diteliti, di mana mean dari aspek tenaga pastoral keluarga dalam kunjungan sebesar

            

          16,55 yang menunjukkan bahwa tenaga pastoral keluarga memahami hal-hal yang

          berkaitan dengan kunjungan seperti yang ditanyakan dalam pernyataan instrumen.

            

          Hal ini sejalan dengan hasil wawancara yang didapatkan, di mana hampir seluruh

          responden mengungkapkan bahwa tenaga pastoral keluarga mempunyai

          pengetahuan yang luas dalam dalam kunjungan keluarga. Aspek progam

          mendapatkan mean sebesar 22,8571 yang menunjukkan bahwa program yang telah

          dijalani oleh tenaga pastoral keluarga selama ini masuk ke dalam kriteria

          terlaksana. Dari hasil wawancara menunjukkan bahwa secara umum tenaga

          pastoral keluarga sudah melaksanakan program dengan baik, namun hanya saja

          pelaksanaannya di lapangan belum maksimal karena terbentur dengan kesibukan

          baik dari tenaga pastoral keluarga maupun keluarga-keluarga. Oleh karena itu,

          secara khusus hal ini perlu diperhatikan lebih lanjut lagi dengan memikirkan

          bagaiamana program ini berjalan sesuai dengan jadwalnya. Aspek kerjasama

          mendapatkan mean sebesar 16,32. Hal ini menunjukan bahwa kriteria kerjasama

          tenaga pastoral keluarga baik. Hal ini sejalan dengan hasil wawancara dimana para

          responden menyatakan bahwa kerjasama tenaga pastoral baik terlihat dalam

          terlaksananya kegiatan-kegiatan yang diadakan cukup baik dan lancar. Aspek

          keterlibatan keluarga mendapat mean sebesar 55,01. Hal ini menunjukan bahwa

          keterlibatan keluarga-keluarga Katolik dalam hidup menggereja masuk kriteria

          terlibat. Semua responden menyatakan bahwa keluarga-keluarga selalu berusaha

          untuk mengembangakan hidup rohani lewat berbagai kegiatan hidup menggereja.

          Aspek spiritualitas mendapatkan mean sebesar 106,74. Hal ini menunjukkan bahwa

          kemampuan tenaga pastoral keluarga menghayati nilai-nilai spiritualitas dalam dengan hasil wawancara dengan para responden, di mana hampir seluruh responden yang diwawancarai mengatakan bahwa tenaga pastoral keluarga memiliki semangat pelayanan yang tinggi dengan mengorbankan waktu, tenaga pikiran demi perkembangan iman keluarga-keluarga Katolik. Dengan demikian, secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa tenaga pastoral keluarga di wilayah Santo Andreas Songgolangit sudah menjalankan kunjungan, keterlibatan keluarga dan spiritualitas hidup.

            

          4. Menanggapi hasil penelitian di atas, maka perlu diadakan suatu usaha untuk

          mengembangkan kunjungan di wilayah Santo Andreas Songgolangit dalam kunjungan, khususnya pada aspek-aspek yang kurang maksimal terlaksana dengan baik. Dalam hal ini, penulis mengusulkan suatu usaha pengembangan kunjungan dalam bentuk lokakarya seperti yang diuraikan pada bab IV. Program lokakarya ini dimaksudkan sebagai bentuk pengembangan lebih lanjut dari kunjungan untuk memberikan informasi dan pelatihan baru dalam mengembangkan pengetahuan, keterampilan dan semangat maupun sikap yang sudah dimiliki oleh tenaga pastoral keluarga dalam mengadakan kunjungan. Semoga melalui tulisan ini dapat menjadi suatu evaluasi, semakin menambah wawasan, pengetahuan, pengalaman dan keterampilan tenaga pastoral keluarga di wilayah Santo Andreas Songgolangit

          dalam mengadakan kunjungan secara lebih efektif dalam membantu keluarga-

          keluarga semakin berkembang dalam iman dan menjadi sosok keluarga teladan di tengah hidup bermasyarakat.

          B. Saran

            Berdasarkan kesimpulan di atas, penulis memberikan beberapa saran yang

          diharapkan dapat berguna dalam meningkatkan mutu kunjungan di wilayah santo

          Andreas Songgolangit sebagai berikut:

            

          1. Bagi pihak paroki agar senantiasa menjalin kerjasama dengan tim pendamping

          pastoral keluarga dalam menjalankan program kunjungan sehingga programnya berjalan dan terlaksana dengan baik. Selain itu, pihak paroki perlu mengadakan pelatihan/seminar khusus tentang kunjungan untuk tenaga pastoral keluarga agar sungguh memahami bagaiamana proses kunjungan yang tepat. Untuk program pelatihan atau seminar, pihak paroki dapat menggunakan usulan program yang penulis usulkan pada bab IV sejauh memungkinkan atau dapat disesuai dengan kebutuhan paroki.

            

          2. Bagi tenaga pastoral keluarga agar tetap mempertahankan hal-hal mendasar dalam

          kunjungan yang selama ini sudah dipahami dan dijalankan dengan baik, dan terus belajar sehingga semakin trampil dan memiliki semangat yang tinggi dalam melayani. Selain itu, tenaga pastoral keluarga diharapkan terbuka dan selalu siap untuk melayani keluarga-keluarga yang membutuhkan bantuan sehingga terjalain persauadaran dan paguyuban umat beriman, dan terjalain relasi dan komunikasi yang mendalam sebagai saudara dalam kristus.

            

          3. Bagi Tenaga pastoral keluarga diharapkan senantiasa terbuka untuk selalu

          mengevaluasi setiap kunjungan yang telah dilaksanakan terhadap keluarga- keluarga. Harapan bagi tenaga pastoral keluarga mau menerima saran dan evaluasi dari keluarga-keluarga. Dengan evaluasi ini tenaga pastoral keluarga akan kunjungan, sehingga akan semakin terbantu pula untuk berusaha mencari solusi demi perbaikan dan meningkatnya mutu kunjungan.

            

          4. Bagi keluarga-keluarga Katolik di wilayah Santo Andreas Songgolangit

          diharapkan semakin terlibat aktif dalam memberikan kritik dan saran yang membangun kepada tenaga pastoral keluarga berkaitan dengan tugas pelayanan mereka kepada umat khususnya dalam kunjungan keluarga. Dengan demikian, tenaga pastoral keluarga akan semakin terbantu untuk membenahi diri terus menerus sebagai pelayan pastoral yang tulus dan rela berkorban untuk kelangsungan perkembangan iman umatnya.

            

          5. Bagi keluarga-keluarga Katolik atau kaum awam di wilayah Santo Andreas

          Songgolangit untuk mengadakan kunjungan antar keluarga Katolik, dan membangun persaudaran lewat paguyuban yang dibentuk.

          6. Bagi para suster MASF untuk memiliki program yang jelas dan mengadakan kunjungan secara rutin.

          DAFTAR PUSTAKA

            

          Budyapranata, Al. (1987). Menjadi Saudara bagi Sesama: Meningkatan Mutu

          Kunjungan. Yogyakarta: Delegatus Komunikasi Sosial KAS.

            . (1994). Kunjungan Memebangun Persaudaraan. Yogyakarta: Kanisius.

          Campbell, Alistair. (1994). Profesionalisme dan Pendampingan Pastoral.(A. Sutama:

          Penerjemah). Yogyakarta: Kanisius. Darminta, J. (2006). Peziarahan Keluarga. Yogyakarta: Kanisius.

          Dapiyanta, F. X. (2008). Evaluasi Pembelajaran Pendidikan Agama Katolik di

            Sekolah . Yogyakarta: Diktat Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik-Universitas Sanata Dharma.

            

          Dewan Pemimpin Umum MASF. (1989). Keluarga Kudus Tonggak Sebuah

          Spritualitas Kita . Belanda.

            . (2008). Konstitusi dan Direktorium Kongregasi Suster-suster MASF Indonesia. Samarinda: Dewan Pimpinan umum Kongregasi Suster-suster MASF.

            Eminyan, Maurice. (2001). Teologi Keluarga. Yogyakarta: Kanisius. Groennen, C. (1993). Perkawinan Sakramental. Yogyakarta: Kanisius. Gula, Richard. M. (2009). Etika Pastoral. Yogyakarta: Kanisius.

          Harjawiyata, Frans. (1979). Bentuk-bentuk Hidup Religius. (Buku Seri Hidup Dalam

          Roh 6). Yogyakarta: Kanisius.

            

          Purwo Hadiwardoyo. (1988). Perkawinan dalam Tradisi Katolik. Yogyakarta:

          Kanisius. Hooijdonk, P. Van. (1980). Pengertian Pastoral. Yogyakarta: Pusat Pastoral.

          Hello, Y.Marianus. (2004). Menjadi keluarga Beriman. Yogyakarta: Yayasan Pustaka

          Nusatama. Jacobs, Tom. (1989). Spritualitas. Salatiga: Institut Roncali. Janssen. P. (1994). Pastoral Dasar. Malang: Institut Pastoral.

          Konferensi Wali Gereja Indonesia. (2011). Pedoman Patoral Keluarga. Jakarta: Obor.

          Kila, P. Pius. (2005). Keluarga Beriman. Jakarta: Obor

          LP3ES. (1989). Metode Penelitian Survai (Masri Singarimbun dan Sofian Effendi,

            Editor). Jakarta: LP3ES Lembaga Alkitab Indonesia. (1994). Alkitab. Jakarta: Lembaga Alkitab.

          Sumarno,Ds. (2001). Patoral Paroki. Diktat Mata Kuliah Pastoral Paroki untuk

          Mahasiswa Semester V, Program Studi Ilmu Pendidikan kekhususan

            Pendidikan Agama Katolik. Fakultas keguruan dan ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

          Yohanes Paulus II. (1981). Familiaris Consortio. (R. Hardawiryana, Penerjemah).

            Jakarta: DokPen KWI

          .(1994). Keluarga Kristiani Dalam Dunia Modern. Yogyakarta:

          Kanisius.

            . (1995). Katekismus Gereja Katolik. Ende: Arnoldus.

          van der Weiden, Wim. (1975). Spritualitas Keluarga Kudus. Kudus: Provinsi MASF

          Jawa.

            

          Veuger, Jacques. (1997). Semangat Misioner Pater Antonius Maria Trampe, MSF

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Pengaruh doa Bersama dalam keluarga bagi perkembangan iman remaja di Stasi Yohanes Chrisostomus Pojok Paroki Santo Petrus dan Paulus Klepu.
1
7
141
Fungsi komunikasi orangtua terhadap pembentukan karakter dan iman anak dalam keluarga Katolik di Paroki Administratif Santo Paulus Pringgolayan Yogyakarta.
3
19
162
Upaya peningkatan tanggungjawab keluarga Katolik di Paroki Santo Petrus Pekalongan terhadap pendidikan iman anak.
0
4
153
Pastoral kunjungan keluarga sebagai jalan membantu umat Paroki Administratif Santo Paulus Pringgolayan memperkembangkan iman mereka.
1
10
185
Deskripsi penghayatan spiritualitas keluarga Kudus dalam keluarga Katolik di Lingkungan St. Yohanes Kentungan Paroki keluarga Kudus Banteng, Yogyakarta.
4
35
174
Pengaruh doa Bersama dalam keluarga bagi perkembangan iman remaja di Stasi Yohanes Chrisostomus Pojok Paroki Santo Petrus dan Paulus Klepu
1
8
139
Pengaruh doa dalam keluarga sebagai upaya pembinaan iman anggota keluarga di Lingkungan Santo Stefanus Mejing 2 Paroki Maria Assumpta Gamping Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta.
0
2
155
Upaya peningkatan hidup rohani keluarga kristiani di Lingkungan Santo Paulus Maguwoharjo Paroki Marganingsih Yogyakarta melalui katekese keluarga.
0
1
150
Fungsi komunikasi orangtua terhadap pembentukan karakter dan iman anak dalam keluarga Katolik di Paroki Administratif Santo Paulus Pringgolayan Yogyakarta
0
12
160
Peranan kunjungan keluarga dalam upaya untuk meningkatkan iman keluarga Katolik di Stasi St. Paulus Pringgolayan Paroki St. Yusup Bintaran Yogyakarta - USD Repository
0
0
157
Usaha meningkatkan hidup komunitas suster-suster Santo Paulus dari Chartres di Rumah Sakit Suaka Insan Banjarmasin sesuai pedoman hidup suster-suster Santo Paulus dari Chartres melalui katekese Modelshared Christian Praxis - USD Repository
0
0
182
Upaya meningkatkan pelaksanaan peranan orang tua dalam pendidikan iman anak dalam keluarga di Kring Santo Yohanes Paroki Santo Mikael Gombong Keuskupan Purwokerto - USD Repository
0
0
134
Usaha meningkatkan spiritualitas kerasulan awam bagi prodiakon paroki di wilayah Santo Yusup Sendangsari-Sendangrejo, Paroki Santo Petrus dan Paulus Klepu, Yogyakarta, melalui katekese model Shared Christian Praxis - USD Repository
0
0
121
Peranan doa bersama dalam keluarga Katolik bagi pembentukan karakter remaja di Stasi Yohanes Chrisostomus Pojok, Paroki Santo Petrus dan Paulus Klepu, Yogyakarta - USD Repository
0
0
159
Deskripsi kunjungan keluarga oleh suster-suster MASF sebagai anggota tim pastoral keluarga di wilayah Santo Andreas Songgolangit Paroki Santo Paulus kleco Surakarta - USD Repository
0
0
194
Show more