Menggali nilai pengorbanan diri dari Paulus berdasarkan 2 Korintus 9:6-15 sebagai sumber inspirasi bagi pelayanan katekis di zaman sekarang - USD Repository

Gratis

0
0
129
2 weeks ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI MENGGALI NILAI PENGORBANAN DIRI DARI PAULUS BERDASARKAN 2 KORINTUS 9:6-15 SEBAGAI SUMBER INSPIRASI BAGI PELAYANAN KATEKIS DI ZAMAN SEKARANG SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Agama Katolik Oleh: Juli Sunarti NIM: 141124026 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2019 i

(2) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI SKRIPSI MENGGALI NILAI PENGORBANAN DIRI DARt PAULUS BERDASARKAN 2 KORINTUS 9:6-15 SEBAGAI SUMBER INSPIRASI BAGI PELAYANAN KATEKIS DI ZAMAN SEKARANG Oleh: -~ Juli Sunarti ..... ,.........NIM:1.41124026 ,. • !i) r Pembimbing· 0, ~. \ [:IK Tanggal 17 Desember 2018 St Eko Riyadi, Ph. D. , 11

(3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI SKRIPSI MENGGALI NILAI PENGORBANAN DIRI DAR! PAULUS BERDASARKAN 2 KORINTUS 9:6-15 SEBAGAI SUMBER INSPIRASI BAGI PELAYANAN KATEKIS DI ZAMAN SEKARANG Dipersiapkan dan ditulis oleh Juli Sunarti NIM: 141124026 Nama Ketua \ !.LJ ~ \ Dr.. Kri~t an o Agus ~ftk .!r l1\ o II --;::. : Sf'r.~ : y, Anggota : 1. St. Eko Riyadi, Ph. 1'. 3. Ij[~\ SFK., M'rd. Sekretaris ~ ~. -r. ,':Z:' [i.! Banyu D.ewa Y. H. Bmtang Nusant~ , ,~H :L) (, Tanda tangan J' . @+: ~ 1/ . . CJi7... '. '. .D f .;:jf~ ;U - S.Ag., M:Si. ,. Il/fmjlj/1!4 ./~el1 SFK, M.Hun:f Yogyal{arta, 4 Jinuari 2019 Fakultas Keguruan dan lImu Pendidikan Universitas Sanata Dharma Dekan, 111 /'1

(4) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PERSEMBAHAN Skripsi ini kupersembahkan kepada almarhum tercinta bapakku Matius Jumat yang setengah perjalanan skripsiku meninggalkan kupergi untuk selamanya dan sekarang menjadi pendoa bagi keluarga. Kepada yang tercinta ibuku Terina, kakak Petrus, kakak Yanti, kakak Mantio, adik Pelipus, adik Yosafat dan adik Romero, yang telah mendukung dan mendoakan selama menempuh pendidikan hingga selesai. Tidak lupa juga skripsi ini kupersembahkan kepada pihak bidikmisi yang telah membiaya perkuliahan hingga selesai, serta semua sahabat yang selalu memperhatikan melalui kasih, doa dan perhatian. iv

(5) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI MOTTO “Tetapi orang-orang yang menanti-nantikan Tuhan mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah”. (Yes 40:31) v

(6) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PERNYATAAN KEASLIAN KARYA Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya dari orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka sebagaimana layaknya karya tulis ilmah. Yogyakarta, 4 Januari 2019 Penulis, 9ti Ju1i Sunarti VI -)

(7) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS Yang bertandatangan di bawah ini, mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta: Nama : Juli Sunarti NIM : 141124026 Demi pengembangan ilmu pengetahuan, penulis memberikan wewenang bagi Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah penulis yang berjudul MENGGALI NILAI PENGORBANAN DIRI DARI PAULUS BERDASARKAN 2 KORINTUS 9:6-15 SEBAGAI SUMBER INSPlRASI BAG! PELAYANAN KATEKIS DI ZAMAN SEKARANG Dengan demikian penulis memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengolahnya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta izin maupun memberikan royalti kepada penulis, selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis. Demikian pernyataan ini penulis buat dengan sebenarnya. Yogyakarta, 4 Januari 2019 Yang menyatakan, g.. Juli Sunarti VB

(8) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ABSTRAK Skripsi ini berjudul “MENGGALI NILAI PENGORBANAN DIRI DARI PAULUS BERDASARKAN 2 KORINTUS 9:6-15 SEBAGAI SUMBER INSPIRASI BAGI PELAYANAN KATEKIS DI ZAMAN SEKARANG”. Aneka keprihatinan dan tantangan yang dialami oleh katekis dalam melaksanakan tugas dan pelayanan, sehingga semangat melayani semakin menurun. Dalam sebuah kemajuan Gereja katekis memiliki peran dan tanggung jawab yang sangat besar, maka tidak mungkin Gereja dapat hidup dan berkembang tanpa peran katekis di dalamnya. Oleh karena itu, dalam tugas pewartaan, katekis perlu menemukan sosok yang dapat memberi inspirasi dalam melaksanakan tugas pelayanan mereka. Bertolak dari keprihatinan tersebut, skripsi ini bermaksud untuk memberi inspirasi bagi katekis dalam melaksanakan tugas dan panggilan sebagai pewarta agar tetap semangat dalam melayani. Persoalan pokok dalam skripsi ini adalah inspirasi macam apa yang dapat digali dari pengorbanan diri dari Rasul Paulus berdasarkan 2 Korintus 9:6-15 untuk meningkatkan pelayanan katekis di zaman sekarang. Persoalan ini dikaji dengan menggunakan studi pustaka terhadap kisah pelayanan Rasul Paulus guna memperoleh inspirasi-inspirasi pelayanan terutama pelayanan dalam 2 Korintus 9:6-15 yang kiranya dapat berguna bagi para katekis untuk meningkatkan semangat pelayanan dalam melaksanakan tugas pewartaan mereka. Rasul Paulus merupakan sosok yang menginspirasi bagi pelayanan katekis zaman sekarang, keseluruhan hidupnya diserahkan untuk mewartakan Kristus. Dalam mewartakan Kristus, Paulus juga mengalami berbagai macam kesulitan sama halnya juga dengan katekis. Paulus banyak melakukan pengorbanan diri. Aniaya dan penjara pernah ia alami bahkan dalam pelayanannya seringkali ia ditolak. Meski mengalami berbagai macam tantangan dan kesulitan tidak membuat Paulus putus asa bahkan menyerah begitu saja. Paulus merupakan sosok yang pantang menyerah, semangat Paulus dalam mewartakan Kristus tak pernah padam. Paulus juga merupakan sosok yang berani dan rela menderita sebagai seorang pewarta. Rasul Paulus dapat menjadi contoh pewarta atau pelayan yang setia. Oleh karena itu, katekis sebagai seorang pewarta diharapkan mampu memiliki semangat yang sama seperti Rasul Paulus demi meningkatkan semangat pelayanan mereka. Dengan demikian, sosok katekis yang diharapkan zaman sekarang adalah sosok yang mampu memberi dengan rela, melayani dengan tulus, meningkatkan hidup doa, berani berkorban, dan mampu bersyukur dalam segala hal. viii

(9) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ABSTRACT This undergraduate thesis is titled "DIGGING THE SELF-SACRIFICE VALUE OF PAUL BASED ON 2 CORINTHIANS 9: 6-15 AS THE SOURCE OF INSPIRATION FOR CATECHIST SERVICE TODAY". Many concerns and challenges are catechistically natural in carrying out their duties and services, so that the spirit of service decreases. In a progress the Catechist Church has very large roles and responsibilities, so it is impossible for the Church to live and develop without the role of catechists in it. Therefore, in the preaching of catechists, it is necessary to find a figure who can inspire them to carry out their ministry duties. Starting from these concerns, this thesis intends to inspire catechists in carrying out their duties and calls as evangelists to keep their spirit in service. The main problem in this undergraduate thesis is what kind of inspiration can be extracted from the self sacrifice of the Apostle Paul based on 2 Corinthians 9: 6-15 to improve catechistical services today. This issue is examined by using a literature study of the ministry of the Apostle Paul to obtain ministry inspirations, especially ministry in 2 Corinthians 9: 6-15 which may be useful for catechists to increase the spirit of service in carrying out their proclamation. The Apostle Paul was a figure who inspired the catechist ministry of today, his whole life was given up to proclaim Christ. In proclaiming Christ, Paul also experienced various difficulties as well as catechists. Paul made many selfsacrifices. He had experienced persecution and prison even in his ministry he was often refused. Although experiencing various kinds of challenges and difficulties did not make Paul desperate and even gave up. Paul is an unyielding figure, Paul's enthusiasm in proclaiming Christ never goes out. Paul is also a person who is brave and willing to suffer as an evangelist. The Apostle Paul can be an example of a faithful steward or servant. Therefore, catechists as evangelists are expected to be able to have the same enthusiasm as the Apostle Paul in order to increase their spirit of service. Thus, the figure of the catechist who is expected today is a person who is able to give willingly, serve sincerely, improve the life of prayer, dare to sacrifice, and be able to be grateful in all things. ix

(10) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI KATA PENGANTAR Puji dan syukur yang berlimpah penulis haturkan kepada Tuhan Yesus dan Bunda Maria atas segala berkat, cinta, dan kasih setia yang selalu menyertai dan mendampingi, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “MENGGALI NILAI PENGORBANAN DIRI DARI PAULUS BERDASARKAN 2 KORINTUS 9:6-15 SEBAGAI SUMBER INSPIRASI BAGI PELAYANAN KATEKIS DI ZAMAN SEKARANG”. Skripsi ini ditulis berdasarkan pengalaman keprihatinan pelayanan katekis yang banyak dihadapkan dengan berbagai tantangan zaman. Dengan berbagai tantangan tersebut banyak katekis tidak mau berkorban diri, mereka melaksanakan tugas hanya sebatas kewajiban, tidak memandang bahwa tugas tersebut merupakan tugas yang mulia. Dalam Evangelii Gaudium penulis mengambil beberapa tantangan zaman yakni: konsumerisme, globalisasi ketidakpedulian, klerikalisme dan relativisme. Penulis juga mengambil tantangan zaman dalam Direktorium Formatio Iman yakni: sekularisasi dan sekularisme, pendangkalan hidup dan budaya instan, krisis iman dan moral: ateisme dan relativisme dan merebaknya kemiskinan. Dari berbagai tantangan zaman tersebut katekis diharapkan mampu meyikapinya secara bijaksana dan tetap semangat dalam melayani meskipun mengalami banyak tantangan pelayanan. Oleh karena itu, penulisan skripsi ini dimaksudkan untuk mencari dan menemukan inspirasi pelayanan dari Rasul Paulus sebagai sumber inspirasi bagi pelayanan katekis di zaman sekarang. Selain itu, skripsi ini ditulis sebagai salah satu syarat untuk x

(11) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI memperoleh gelar Sarjana Pendidikan pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Proses penulisan skripsi ini tidak lepas dari bantuan dan dukungan berbagai pihak baik secara langsung maupun tidak langsung. Maka, penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada: 1. Dr. Bernadus. Agus Rukiyanto, SJ selaku Kaprodi Pendidikan Agama Katolik Universitas Sanata Dharma yang telah memberikan perhatian dan dukungan selama penulis menyelesaikan skripsi ini. 2. St. Eko Riyadi, Ph.D. selaku dosen pembimbing utama yang selalu memberikan perhatian, meluangkan waktu untuk mendampingi dan membimbing penulis dengan penuh kesabaran, memberi masukan-masukan, memotivasi penulis dalam menyelesaikan penulisan skripsi ini. 3. P. Banyu Dewa HS, S.Ag., M.Si selaku dosen penguji kedua dan dosen pembimbing akademik yang telah mendukung dan memberikan semangat dalam menyelesaikan skripsi ini 4. Y. H. Bintang Nusantara, SFK, M.Hum selaku dosen penguji ketiga yang telah bersedia membaca, memberikan masukan serta mendampingi penulis dalam mempertanggungjawabkan skripsi ini. 5. Y. Kristianto SFK, M.Pd selaku Wakaprodi Pendidikan Agama Katolik, yang telah memberikan semangat dan menyelesaikan penulisan ini. xi dukungan kepada penulis dalam

(12) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 6. Seluruh staf dosen dan karyawan, Program Studi Pendidikan Agama Katolik yang telah mendidik dan membimbing penulis sehingga dapat menyelesaikan studi di Pendidikan Agama Katolik Universitas Sanata Dharma dengan baik. 7. Ibu, kakak, adik dan semua keluarga yang memberikan semangat, motivasi, dukungan moral dan doa bagi penulis dalam menyelesaikan perkuliahan sampai pada menyelesaikan skripsi ini. 8. Seluruh staf perpustakaan Kolese St. Ignatius Kotabaru dan perpustakaan Program Studi Pendidikan Agama Katolik yang murah hati dalam meminjamkan buku dan melayani dengan baik selama ini. 9. Teman-teman angkatan 2014 (teristimewa Sr. Maxima PI, Sr. Elisa PPYK, Sr. Theodora ADM, dan Sr. Helmi FMM) yang selalu memberikan semangat, motivasi, dorongan serta bantuan kepada penulis selama perkuliahan hingga skripsi ini selesai. 10. Ibu kost Retno Wulan yang telah menerima dengan baik untuk tinggal di kostnya selama awal perkuliahan hingga selesai dan teman-teman kost (Sesi, Cika, Nita, Riana Nana, Arni, Agnes, Niken, Lusi, Maria, Ivon, Ayu, Elis, Wiwit, Silvia, Fika, Santi, Lestari, Vera dan Nova) yang dengan caranya sendiri telah membantu penulis selama hidup bersama dalam satu kost 11. Seluruh warga kampus Program Studi Pendidikan Agama Katolik yang telah menemani, memberikan semangat, serta dukungan doa dari awal perkuliahan hingga penyelesaian skripsi ini. 12. Kepada pihak bidikmisi yang telah memberikan beasiswa kepada penulis dari awal perkuliahan hingga selasai. xii

(13) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 13. Kepada semua pihak yang tidak dapat disebutkan namanya satu persatu yang telah memberikan motivasi serta' bantuan, kepada penulis dari awal perkuliahan hingga selesai. Penulis menyadari skripsi ini masih memiliki keterbatasan dan kekurangan. Oleh karena itu, penulis terbuka akan segala kritik, saran dan masukan yang membangun demi perkembangan skripsi ini. Akhir kata, penulis berharap skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi siapa saja yang membaca. Yogyakarta, 4 Januari 2019 Penulis, f) Juli Sunarti X111

(14) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ....................................................................................... i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ............................................. ii HALAMAN PENGESAHAN ......................................................................... iii HALAMAN PERSEMBAHAN ..................................................................... iv MOTTO .......................................................................................................... v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ......................................................... vi PERNYATAAN PERSETUJUAN ................................................................. vii ABSTRAK ...................................................................................................... viii ABSTRACK ..................................................................................................... ix KATA PENGANTAR .................................................................................... x DAFTAR ISI ................................................................................................... xiv DAFTAR SINGKATAN ................................................................................ xvii BAB I. PENDAHULUAN .............................................................................. 1 A. Latar Belakang .................................................................................... 1 B. Rumusan Permasalahan ....................................................................... 5 C. Tujuan Penulisan ................................................................................. 6 D. Manfaat Penulisan ............................................................................... 6 E. Metode Penulisan ................................................................................ 7 F. Sistematika Penulisan .......................................................................... 7 BAB II. TANTANGAN ZAMAN MODERN DAN SOSOK KATEKIS YANG DIBUTUHKAN .................................................................... A. Tantangan Zaman Menurut Paus Fransiskus dalam Evangelii Gaudium ................................................................................................ 1. Konsumerisme .................................................................................. xiv 9 10 11

(15) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2. Globalisasi Ketidakpedulian ............................................................. 13 3. Klerikalisme ...................................................................................... 15 4. Relativisme ....................................................................................... 17 B. Tantangan Zaman dalam Direktorium Formatio Iman ......................... 19 1. Sekularisasi dan Sekularisme ............................................................ 19 2. Pendangkalan Hidup dan Budaya Instan .......................................... 20 3. Krisis Iman dan Moral: Ateisme dan Relativisme ............................ 22 4. Merebaknya Kemiskinan .................................................................. 23 C. Sosok Katekis di Zaman Sekarang ........................................................ 24 1. Sosok Katekis .................................................................................... 24 2. Kepribadian Seorang Katekis ........................................................... 32 3. Spiritualitas Katekis .......................................................................... 34 D. Rangkuman ............................................................................................ 40 BAB III. KEUTAMAAN HIDUP DAN KARYA KERASULAN PAULUS 42 A. Identitas Paulus ...................................................................................... 43 1. Paulus dari Tarsus ............................................................................ 43 2. Orang Farisi ..................................................................................... 45 3. Penganiaya Orang Kristen ............................................................... 46 4. Paulus Menuju Damsyik .................................................................. 47 5. Pemberitaan Injil Paulus .................................................................. 49 B. Karya Kerasulan Paulus ......................................................................... 52 C. Tafsiran Atas 2 Korintus 9:6-15 ............................................................ 56 1. Konteks ............................................................................................. 56 xv

(16) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2. Struktur Teks ..................................................................................... 57 3. Penjelasan Teks ................................................................................. 59 D. Keutamaan Kerasulan Paulus ................................................................ 66 1. Menabur Banyak ............................................................................... 66 2. Memberi dengan Rela ....................................................................... 67 3. Tahan Uji ......................................................................................... 68 BAB IV. INSPIRASI RASUL PAULUS BAGI PELAYANAN KATEKIS ZAMAN SEKARANG ................................................................... A. Menggali Inspirasi dari Rasul Paulus Berdasarkan 2 Kor 9:6-15 .......... 69 70 1. Memberi dengan Rela ........................................................................ 70 2. Melayani dengan Tulus ..................................................................... 72 3. Hidup dalam Doa .............................................................................. 75 4. Berani Berkorban .............................................................................. 76 5. Bersyukur dalam Segala Hal ............................................................. 78 B. Refleksi Kateketis .................................................................................. 80 C. Usulan Program Retret untuk Meningkatkan Semangat Pelayanan Katekis Paroki St. Alfonsus Nandan Yogyakarta ............................................... 83 1. Latar Belakang Program .................................................................... 83 2. Matriks Usulan Program Retret ........................................................ 85 3. Contoh Persiapan Program Retret ...................................................... 90 BAB V. PENUTUP ......................................................................................... 104 A. Kesimpulan ........................................................................................... 104 B. Saran ...................................................................................................... 107 DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 109 xvi

(17) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR SINGKATAN A. Singkatan Kitab Suci Ams : Amsal Ef : Efesus Flp : Filipi Gal : Galatia Kis : Kisah Para Rasul 1Kor : 1Korintus 2Kor : 2Korintus Mat : Matius Mrk : Markus Rm : Roma Ul : Ulangan Yoh : Yohanes B. Singkatan Dokumen AG : Ad Gentes, Dekrit Konsili Vatikan II tentang Kegiatan Misioner Gereja, 7 Desember 1965 CEP : Congregation for Evangelization of Peoples, (Kongregasi Evangelisasi Bangsa-bangsa) xvii

(18) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI CT : Catechesi Tradendae, Anjuran Apostolik Sri Paus Yohanes Paulus II kepada para uskup, klerus, dan segenap umat beriman tentang katekese masa kini, 16 Oktober 1979. EG : Evangelii Gaudium, Anjuran Apostolik Paus Fransiskus tentang Sukacita Injil, 24 November 2013. GS : Gaudium Et Spes, Konstitusi Pastoral Konsili Vatikan II mengenai Gereja di Dunia Dewasa Ini, 7 Desember 1965. KHK : Kitab Hukum Kanonik, susunan atau kodifikasi peraturan kanonik dalam Gereja Katolik, 25 Januari 1983. RM : Redemptoris Missio, Ensiklik Bapa Suci Yohanes Paulus II tentang Amanat Misioner Gereja, 7 Desember 1990. C. Singkatan Lain APP : Aksi Puasa Pembangunan Art : Artikel Bdk : Bandingkan BKSN : Bulan Kitab Suci Nasional Hal : Halaman LAI : Lembaga Alkitab Indonesia LBI : Lembaga Biblika Indonesia xviii

(19) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lih : Lihat Kan : Kanon KBBI : Kamus Besar Bahasa Indonesia KWI : Konferensi Waligereja Indonesia M : Masehi SM : Sebelum Masehi xix

(20) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pewartaan Injil oleh Gereja tidak terlepas dari sosok tokoh yang menginspirasi setiap pewarta saat ini. Salah satu tokoh yang menjadi inspirasi pewarta Injil sampai saat ini adalah Rasul Paulus. Paulus dikenal sebagai seorang yang mewartakan Injil kepada segala bangsa. Paulus dipandang sebagai inspirator dan teladan dalam menyebarkan Injil. Ia adalah orang Yahudi dari suku Benyamin yang lahir di Kota Tarsus dan dibesarkan di Yerusalem. Lukas mengatakan bahwa Paulus berkebangsaan Roma (Kis 22). Masa muda dilaluinya sebagai seorang Farisi yang sangat taat pada Hukum Taurat sehingga hidup rohaninya dibentuk dengan latarbelakang demikian. Tentunya, lingkungan Yunani dimana ia tinggal pun turut memberi adil dalam pembentukan hidupnya sehingga walaupun berlatar belakang Yahudi, ia tetap hidup dalam kebudayaan Yunani. Dengan kata lain, ia tidak berasal dari Palestina, melainkan wilayah “diaspora”, yaitu jemaat Yahudi yang tinggal di antara kaum kafir (Jacobs, 1983: 9). Paulus mengikuti jalur pendidikan seorang rabbi dan untuk itu ia dikirim ke Yerusalem. Di kota itu ia belajar pada Gamaliel, seorang rabbi dari golongan Farisi yang terkenal pada zamannya (Kis 22:3). Gamaliel adalah cucu sekaligus penerus ajaran Rabbi Hillel (60 SM-20 M). Berkat pendidikan yang

(21) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2 diperolehnya, Paulus menjadi “jauh lebih maju dari banyak teman yang sebaya dengan aku diantara bangsaku, sebagai orang yang sangat rajin memelihara adat istiadat nenek moyangku” (Gal 1:14). Bahkan, ia berani menyatakan bahwa “tentang kebenaran dalam menaati hukum Taurat aku tidak bercacat” (Flp 3:6). Paulus merupakan sosok yang menginspirasi bagi seorang pewarta. Dalam mewartakan Injil Paulus rela dipenjara dan dianiaya, rela melakukan perjalanan yang berbahaya demi mewartakan Injil kepada segala bangsa. Semangat Paulus tak pernah padam bahkan setelah beberapa kali didera dan diterpa bahaya maut (lih. 2 Kor. 11:23-30; Kis 27:27). Sesungguhnya ia dapat mengasihi Kristus sedemikian rupa karena Yesus terlebih dahulu mengasihi dia. Perjumpaan dengan Kristus di perjalanan menuju Damsyik mengubah seluruh hidupnya, dan melalui sentuhan kasih Kristus ia menjadi manusia baru (lih Kis 9:1-19, 22:1-16, 26:9-18). Paulus tidak lagi hidup menurut pengertian dan kehendaknya sendiri, namun menurut ajaran dan kehendak Kristus. Keseluruhan jiwa dan kehendaknya begitu terarah kepada Kristus. Semangat Paulus dalam mewartakan Injil dapat menjadi inspirasi bagi para katekis untuk melakukan tugas dan perwartaannya di tengah-tengah arus zaman yang terus berkembang. Perubahan zaman nampaknya berlangsung semakin cepat. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi modern senantiasa menjadi bagian dari kehidupan setiap orang. Teknologi dapat membawa bentuk perubahan di segala bidang kehidupan termasuk dalam bidang pewartaan. Tatanan ekonomi dan gaya hidup

(22) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3 manusia berubah, khususnya di era sekarang perubahan itu semakin cepat. Semua kemajuan dan perubahan ini bukan tidak membawa masalah. Masalah yang cenderung dihadapkan pada manusia dalam tantangan zaman ini adalah hidup materialisme dan hedonisme. Inovasi produk-produk untuk kebutuhan hidup manusia terus berubah mengikuti perkembangan zaman. Orang muda maupun dewasa diperkenalkan dengan barang-barang yang berteknologi. Ditempat tertentu masih ada katekis yang belum mampu berkorban demi pelayanannya. Misalnya saja ketika diminta untuk memimpin ibadat lingkungan masih memikirkan banyak hal, memperhitungkan untung dan ruginya. Berkorban dalam hal ini bisa saja katekis memberikan waktu dan tenaganya demi pelayanan. Ketika ditelusuri, ada beberapa faktor penyebab yang membuat para katekis kurang berkorban. Adapun penyebabnya yaitu, pengorbanan diri dianggap hanya membuang waktu dan tenaga yang sia -sia. Mereka lebih baik bekerja keras meluangkan waktu untuk diri dan keluarga mereka daripada untuk Gereja. Kemudian ada alasan lain bahwa faktor ekonomi tidaklah menjamin kehidupan mereka. Mereka bekerja keras, meluangkan waktu dan tenaga tetapi mendapatkan upah yang amat minim. Mereka harus menghidupi keluarga mereka. Jika mereka bekerja lebih banyak untuk Gereja, bagaimana dengan ekonomi keluarga mereka? Inilah tantangan yang dihadapi zaman sekarang. Ketekis yang bekerja di Gereja amatlah kecil jumlahnya jika dibandingkan dengan dunia pekerjaan lain.

(23) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4 Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa katekis, penulis menemukan tantangan-tantangan yang para katekis alami saat ini. Tantangan tersebut antara lain gaji yang rendah sedangkan kebutuhan ekonomi terus meningkat, sebagian orang tidak tertarik berkumpul untuk membaca dan merenungkan Kitab Suci, enggan untuk mengikuti pertemuan lingkungan misalnya ketika ada pendalaman adven, pendalaman APP, dan ketika pendalaman BKSN, begitu juga jika lingkungan menanggung tugas koor di gereja sedikit yang ikut mengambil bagian di dalamnya. Berbagai tantangan tersebut membuat mereka terkadang merasa putus asa bahkan ingin menyerah. Dalam tantangan tersebut para katekis perlu menyadari tugas dan tanggungjawab mereka sebagai pewarta. Memang sulit memilih bila dihadapkan dengan situasi yang sulit, namun karena mereka adalah seorang pewarta bagaimanapun keadaan dan kondisi bahkan ditolak sekalipun mereka tetap mewartakan. Ketika mewawancarai katekis penulis mendengar kisah satu ibu yang membuat penulis merasa sedih sekaligus terharu, yakni ibu ini mengatakan bahwa dalam pelayanan yang ia berikan seringkali ia tidak mendapatkan upah yang layak sedangkan ia harus memenuhi kebutuhan keluarga dan kebutuhan keluarga semakin hari terus meningkat. Namun, meskipun demikian ibu ini terus melayani dan mewartakan. Melihat realitas yang ada saat ini, penulis ingin menggali nilai pengorbanan diri yang ada dalam diri katekis berinspirasi pada nilai-nilai yang dapat ditemukan dalam surat 2 Kor 9:6-15. Di dalam teks ini, dapat dibaca bagaimana pengorbanan

(24) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 5 Paulus dalam melayani jemaat, terutama dalam hal pemberitaan Injil. Dari teladan Paulus ini, para katekis belajar untuk melayani Gereja zaman ini. Penulis meyakini bahwa nilai pengorbanan diri Paulus sangat menginspirasi dalam pewartaan Injil. Berdasarkan latar belakang dan fakta-fakta di lapangan yang penulis temui, penulis ingin mengangkat masalah itu menjadi judul skripsi yaitu: “MENGGALI NILAI PENGORBANAN DIRI DARI PAULUS BERDASARKAN 2 KOR 9:6-15 SEBAGAI SUMBER INSPIRASI BAGI PELAYANAN KATEKIS DI ZAMAN SEKARANG.” B. Rumusan Permasalahan Berdasarkan uraian latar belakang di atas, penulis merumuskan permasalahan yang akan dibahas dalam penulisan ini sebagai berikut: 1. Bagaimana riwayat kerasulan Paulus? Apa nilai-nilai utama yang dihayatinya dalam kerasulannya? 2. Apakah tantangan-tantangan katekis dalam pelayanan pemberitaan Injil di zaman sekarang? 3. Inspirasi apakah yang bisa ditimba dari Paulus oleh para katekis dalam hal pengorbanan diri dalam kerasulan?

(25) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 6 C. Tujuan Penulisan Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan yang hendak dicapai dalam penulisan ini sebagai berikut: 1. Menguraikan riwayat kerasulan Paulus, nilai-nilai yang dihayati terutama nilai pengorbanan diri. 2. Menjelaskan sosok katekis dan tantangan-tantangan pelayananya di zaman sekarang. 3. Memaparkan pengorbanan diri sebagai nilai yang perlu diperjuangkan oleh seorang katekis dengan mengambil inspirasi dari kerasulan Paulus. D. Manfaat Penulisan Adapun beberapa manfaat penulisan sebagai berikut: 1. Menambah wawasaan dan pengetahuan baru bagi para katekis tentang sosok yang memberikan inspirasi bagi pelayanan katekis di zaman sekarang lewat sosok diri Paulus. 2. Memberi pengetahuan dan pemahaman baru kepada umat akan siapa itu katekis dan bagaimana pelayanannya di zaman sekarang, sehingga para katekis juga dapat menyadari tugas dan tanggungjawab mereka dalam pelayanan yang mereka berikan.

(26) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 7 3. Memberi inspirasi kepada para katekis dalam usaha menghayati dan mencintai tugas dan panggilannya sebagai pewarta sehingga bersemangat dalam melayani dan mewartakan di tengah-tengah umat. E. Metode Penulisan Untuk mengembangkan kerangka pemikiran dalam tulisan ini, penulis mengadakan riset kepustakaan. Dalam artian, metode yang digunakan oleh penulis dalam mengembangkan tulisan ini adalah metode analisis deskriptif, yakni penulis memaparkan hasil yang diperoleh dari studi pustaka. F. Sistematika Penulisan Untuk memperoleh gambaran lebih jelas, penulis menyampaikan pokok-pokok sistematika penulisan sebagai berikut: BAB I: Dalam bab I ini, penulis akan menjabarkan pendahuluan berupa latar belakang, rumusan permasalahan, tujuan penulisan, manfaat penulisan, kajian pustaka, metode penulisan, dan sistematika penulisan. BAB II: Dalam bab II ini, penulis akan menguraikan situasi zaman sekarang yang berkaitan dengan tantangan katekis dan katekis yang seperti apa yang dibutuhkan di zaman sekarang.

(27) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 8 BAB III: Dalam bab III ini, penulis akan membahas tentang riwayat Rasul Paulus, karya kerasulan Paulus dan tafsiran atas 2 Kor 9:6-15 BAB IV: Pada bab IV ini, penulis akan menemukan inspirasi dari karya kerasulan Paulus bagi pelayanan katekis di zaman sekarang berdasarkan teks 2 Kor 9:6-15. BAB V: Pada bab V ini berisikan tentang kesimpulan dan saran.

(28) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 9 BAB II TANTANGAN ZAMAN MODERN DAN SOSOK KATEKIS YANG DIBUTUHKAN Kemajuan sebuah Gereja tergantung dari orang yang berperan di dalamnya. Gereja tidak bisa berkembang sendiri tanpa bantuan dari pihak-pihak yang berkepentingan di dalamnya; antara lain katekis. Dalam perkembangan Gereja, kehadiran para katekis telah memberi dampak positif bagi terwujudnya visi dan misi Gereja. Melihat kontribusi begitu penting dari para katekis, Gereja dengan tegas mengakui dan mengapresiasi keberhasilan pelayanan mereka. Terutama pada waktu awal evangelisasi, kehadiran para katekis mempercepat perkembangan Gereja baik dari segi teritorial maupun dari segi jumlah umat. Karena pelayanan sangat vital bagi Gereja, para katekis perlu dipersiapkan dengan baik melalui berbagai usaha terusmenerus agar mampu melaksanakan tugas dan pelayanan dalam situasi zaman yang dihadapi. Oleh karena itu dalam bab ini penulis akan menguraikan tantangantantangan zaman, sosok katekis, kepribadian, dan spritualitas katekis di zaman sekarang sehingga katekis dapat semakin menyadari peranan mereka dalam sebuah kemajuan Gereja. Pembahasan bab II ini dibagi dalam tiga bagian utama, yaitu bagian pertama membahas tantangan zaman menurut Paus Fransiskus dalam Evangelii Gaudium.

(29) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 10 Bagian kedua membahas tentang tantangan arus zaman dalam Direktorium Formatio Iman. Bagian ketiga membahas sosok katekis di zaman sekarang, yang meliputi pembahasan tentang sosok katekis, kepribadian seorang katekis, dan spiritualitas katekis. A. Tantangan Zaman Menurut Paus Fransiskus dalam Evangelii Gaudium Dewasa ini banyak orang beralih dari gaya hidup tradisional menjadi modern. Bahkan banyak dari antara mereka mulai meninggalkan nilai-nlai kebudayaan Indonesia. Norma dan adat istiadat mulai terkikis. Banyak juga gaya hidup yang bertentangan dengan nilai-nilai Kristiani. Zaman yang terus berkembang ini membuat manusia semakin dihadapkan pada berbagai tantangan. Tantangan-tantangan tersebut dapat menghambat perkembangan iman dan spiritualitas di zaman sekarang. Manusia perlu mengenali berbagai tantangan tersebut agar mampu menghadapinya. Terutama untuk para pemberita Injil. Mereka harus peka dan tanggap terhadap situasi zaman. Dalam pembahasan tantangan zaman ini, penulis mengambil beberapa tantangan zaman dalam dokumen Evangelii Gaudium. Mengapa penulis mengambil tantangan zaman dalam Evangelii Gaudium? Karena dokumen ini merupakan dokumen yang ditulis oleh bapa suci tentang pemberitaan Injil di dunia modern dan ketekis merupakan salah satu pemberita Injil di dunia modern. Kemudian ditunjukan oleh bapa suci tantangan-tantangan Gereja di dunia modern, yang tentunya juga menjadi tantangan-tantangan pemberita Injil di zaman sekarang. Beberapa tantangan zaman dalam EG dapat penulis uraikan sebagai berikut:

(30) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 11 1. Konsumerisme Konsumerisme merupakan sebuah “cara hidup (a way of life), dengan kata lain sebuah gaya hidup yang terpenuhi dengan mengomsumsi secara berlebihan” (Soedjatmiko Haryanto, 2008: 29). Ada orang dengan tingkat konsumsi yang melampaui batas. Manusia terkadang dipandang sebagai barang yang dapat diperjualbelikan dan dapat ditukar, sehingga lahir dalam diri manusia sifat dan tindakan manipulasi sesama. Manusia tidak lagi dianggap sebagai makhluk yang berharga, manusia dipandang tidak mempunyai kehendak bebas. Ia diterima oleh orang sekitar karena ia berguna, setelah tidak lagi berguna maka ia akan dibuang. Dalam Evangelii Gaudium, Paus Fransiskus menyebutkan gaya hidup seperti ini sebagai “budaya sekali pakai lalu dibuang” (EG, art. 53). Paus Fransiskus mengatakan tentang bahaya besar dalam dunia sekarang ini dalam artikel berikut; Bahaya besar dalam dunia sekarang ini, yang diliputi oleh konsumerisme, adalah kesedihan dan kecemasan yang lahir dari hati yang puas diri namun tamak, pengejaran akan kesenangan sembrono dan hati nurani yang tumpul. Ketika kehidupan batin kita terbelenggu dalam kepentingan dan kepeduliannya sendiri, tak ada lagi ruang bagi sesama, tak ada tempat bagi si miskin papa. Suara Allah tak lagi didengar, sukacita kasih-Nya tak lagi dirasakan, dan keinginan untuk berbuat baik pun menghilang. Ini merupakan bahaya yang sangat nyata bagi kaum beriman. Banyak orang menjadi korban, dan berakhir dengan rasa benci, marah, dan lesu. (EG, art. 2). Tantangan zaman seperti yang diungkapkan Paus Fransiskus dalam artikel di atas membuat manusia tidak lagi peduli terhadap sesamanya. Manusia lebih memilih

(31) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 12 untuk mencari kebahagiaan masing-masing tanpa mempedulikan kebutuhan sesama di sekitar. Gaya konsumtif seperti ini mengabaikan orang miskin dan terlantar. Semua yang dia miliki adalah untuk dirinya sendiri, untuk kepuasan jasmaninya semata. Gaya hidup seperti ini bukanlah gaya hidup yang terpuji, banyak orang menjadi korban bahkan berakhir dengan rasa benci. Hal seperti ini membuat hidup manusia berada dalam ruangnya masing-masing. Artikel dalam Evangelii Gaudium oleh Puas Fransiskus berikut mengatakan: Mekanisme ekonomi dewasa ini meningkatkan konsumsi berlebihan, namun jelas bahwa konsumerisme tak terkendali yang bergandengan dengan ketidaksetaraan terbukti dua kali lipat merusak struktur sosial. Kesenjangan sosial akhirnya menimbulkan kekerasan, yang tidak pernah dan tidak akan mampu dipecahkan oleh perlombaan senjata. Perlombaan senjata hanya memberikan harapan palsu kepada mereka yang menuntut peningkatan keamanan, meskipun sekarang ini kita tahu bahwa persenjataan dan kekerasan, alih-alih memberikan solusi, justru menciptakan konflik-konflik baru yang lebih serius. (EG, art. 60). Dalam artikel di atas jelas dikatakan bahwa konsumerisme yang berlebihan dapat merusak struktur sosial yang memunculkan kesenjangan sosial. Kesenjangan sosial dapat membuat hubungan antar sesama manusia semakin jauh. Kesenjangan sosial juga dapat menimbulkan kekerasan, sehingga terjadi ketidakseimbangan, maka timbullah sikap kurang perhatian dan kasih kepada sesama. Hal seperti ini membuat manusia tidak lagi menghargai hidup yang lebih berharga dari pada barang-barang duniawi yang hanya bersifat sementara. Dengan egoisme masing-masing, manusia

(32) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 13 semakin bersaing dalam berbagai hal, maka tidak jarang timbul konflik yang berlebihan dan orang bermusuhan satu sama lain. 2. Globalisasi Ketidakpedulian Kata “Globalisasi” berasal bahasa Inggris globalizatio yang berarti suatu proses pelebaran pada elemen-elemen baru baik gaya hidup, pemikiran teknologi maupun informasi tanpa ada batasan negara atau mendunia. Globalisasi bisa diartikan sebagai suatu proses di mana batas-batas di dalam suatu negara akan bertambah sempit karena terdapat kemudahan di dalam melakukan interaksi antar negara di bidang perdagangan, informasi, gaya hidup dan dalam bentuk interaksi yang lainnya. Globalisasi juga bisa diartikan menjadi suatu proses di mana di dalam kehidupan sehari-hari, ide-ide dan informasi akan menjadi tolak ukur standar pada seluruh dunia. Proses tersebut itu diakibatkan karena berkembang pesatnya teknologi komunikasi, informasi dan transportasi dan aktivitas ekonomi yang telah memasuki pasar dunia, (http://pengertian.website/pengertian-globalisasi-pengaruh-dan- dampaknya/ diunggah pada 21 Juni 2018). Paus Fransiskus dalam artikel EG berikut ini mengatakan: Dalam budaya yang dominan dewasa ini, prioritas diberikan kepada hal yang lahiriah, langsung, terlihat, cepat, dangkal, dan sementara. Yang nyata memberi tempat kepada yang kelihatan. Di banyak negara globalisasi berarti kemerosotan yang berlangsung begitu cepat dari akar budaya mereka sendiri dan invasi cara berpikir dan bertindak yang dimiliki budaya lain secara maju, tetapi secara etis lemah (EG, art. 62). Individualisme zaman pasca-modern dan globalisasi menyukai cara hidup yang melemahkan pengembangan dan

(33) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 14 stabilitas hubungan antar-pribadi dan merintangi ikatan-ikatan keluarga (EG, art. 67). Dalam artikel di atas, Paus Fransiskus menegaskan bahwa globalisasi tidak selalu membawa dampak yang baik bagi perkembangan pribadi manusia. Globalisasi dapat membawa dampak kemerosotan. Oleh karena itu, orang lebih menyukai hal-hal yang lahiriah semata, langsung, terlihat, dan cepat, sehingga timbul kedangkalan hidup dan hanya bersifat sementara. Hal tersebutlah yang membuat globalisasi berdampak tidak baik. Selain itu, globalisasi juga membuat hubungan antar pribadi melemah, ikatan-ikatan keluarga pun tidak lagi dipandang sebagai hal yang sangat berharga dan dibangun terus-menerus. Globalisasi cenderung dapat mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat. Orang tidak lagi saling bertukar pikiran atau pendapat karena orang sibuk dengan dunianya masing-masing. Gaya hidup seperti ini membuat orang tidak lagi menganggap relasi dan komunikasi yang sudah lama terjalin sebagai hal yang berharga yang perlu dipertahankan. Karena sibuk dengan dunianya masing-masing mereka tidak lagi peka terhadap kebutuhan sesama di sekitar. Paus Fransiskus dalam EG mengutarakan bahwa “untuk mempertahankan antusiasme demi cita-cita egois itu, telah mengembangkan globalisasi ketidakpedulian” (EG, art. 54). Dari artikel tersebut mau menjelaskan bahwa tanpa disadari pada akhirnya kita tidak mampu merasakan belas kasihan kepada sesama yang miskin dan tidak merasa perlu membantu mereka. Budaya seperti ini telah

(34) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 15 mematikan perasaan kita dan kita bergairah ketika pasar menawarkan sesuatu untuk dibeli. Budaya ketidakpedulian seperti inilah yang membuat manusia semakin egois, kasih kepada sesama yang membutuhkan diabaikan sehingga hanya mementingkan kesenangannya belaka. 3. Klerikalisme Pada hakikatnya, klerikalisme merupakan sikap yang memisahkan klerus (para pelayan tertahbis) dari umat, memandang umat sebagai bawahan yang harus siap mendengar keputusan yang telah diambil, serta cenderung otoriter. Dari sudut kaum awam, klerikalisme adalah “sikap menempatkan para pelayan tertahbis sebagai tuan yang selalu harus diikuti kehendak dan keinginannya” (http://daiwithin16.blogspot.com/2015/10/klerikalisme.html, diunggah pada 21 Juni 2018). Dalam tulisan berikut Prakosa Heru (2015: 33) mengatakan bahwa: klerikalisme tidak lebih daripada keyakinan dan prilaku yang dominan di antara kaum klerus sedemikian rupa sehingga mereka melihat diri sebagai pihak yang berbeda, terpisah dan tak tersentuh oleh norma-norma, aturanaturan dan konsekuensi-konsekuensi yang berlaku bagi setiap orang di dalam masyarakat Gerejani. Dalam kalimat di atas jelas dikatakan klerikalisme merupakan sikap melihat bahwa diri mereka itu berbeda dari yang lain, mereka juga terpisah dari aturan-aturan yang berlaku dalam Gereja. Dari hal tersebut dapat dikatakan adanya pengkotakan dalam diri klerus dengan umat. Suharyo Ignatius (2017: 4) dalam tulisannya

(35) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 16 mengatakan bahwa klerikalisme dapat menimbulkan “sikap merasa diri lebih daripada yang lain dan paling paham tentang sabda dan kehendak Allah”. Paus Fransiskus dalam artikel EG mengatakan hal sebagai berikut: Kesadaran kaum awam akan tugas dan tanggung jawab mereka sebagai anggota Gereja yang telah menerima rahmat baptis dan penguatan membuat mereka siap untuk terlibat dalam melayani sesama umat dalam dunia pewarta. Namun dalam beberapa kasus, kaum awam tidak diberi pembinaan yang perlu untuk mengemban tanggung jawab-tanggung jawab yang penting, hal ini terjadi karena dalam Gereja partikular mereka tidak mendapatkan ruang untuk berbicara dan bertindak karena klerikalisme berlebihan yang menjauhkan mereka dari pengambilan keputusan (EG, art. 102). Dalam artikel di atas dijelaskan bahwa kaum awam tidak diberikan pembinaan yang memadai sesuai dengan peran mereka. Tidak hanya itu, dijelaskan juga bahwa kaum awam tidak mendapatkan ruang dalam pengambilan keputusan karena masih ada anggapan bahwa kaum tertahbislah yang memegang peranan penting dalam Gereja sehingga kaum awam (termasuk para katekis) tidak diberi ruang untuk mendapatkan pembinaan yang layak dan pengambilan keputusan yang bebas, sehingga pengetahuan mereka pun tidak berkembang dengan begitu baik. Hal seperti ini dapat menyebabkan orang tidak mau terlibat aktif dalam membangun Gereja. Dalam Konsili Vatikan II, kaum awam dibicarakan terkait dengan martabat Kristiani berkat sakramen pembaptisan, peristiwa iman secara personal ketika setiap orang yang dibaptis bersatu dengan Kristus. Martabat demikian menunjukkan panggilan ke hidup suci sebagai kesempurnaan hidup Kristiani. Kedudukan dan

(36) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 17 martabat paling luas dan mendasar disebut dalam Lumen Gentium art 30 “Segala sesuatu yang telah dikatakan tentang Umat Allah sama-sama dimaksudkan bagi kaum awam pria maupun wanita, mengingat kedudukan dan perutusan mereka”. Dalam penjelasan tersebut dikatakan bahwa kaum awam juga memiliki kedudukan dan perutusan yang juga sama melayani sebagai umat Allah. Kaum awam juga memberi sumbangan untuk kesejahteraan seluruh Gereja. Konsekuensi bagi peran kaum awam merupakan tugas kerasulan yang sungguh amat dibutuhkan Gereja demi tugas perutusan Gereja dunia. Di banyak daerah jumlah imamnya sedikit sehingga tanpa para awam, Gereja tidak bisa hadir dan aktif. 4. Relativisme Relativisme secara umum dapat didefinisikan sebagai penolakan terhadap bentuk kebenaran universal tertentu. Kesamaan yang dimiliki oleh semua bentuk dan sub bentuk. Relativisme adalah keyakinan bahwa sesuatu bersifat relatif terhadap prinsip tertentu dan penolakan bahwa prinsip itu mutlak benar atau paling salah (Shomali, Mohammad, 2005: 31). Dalam Evangelii Gaudium Paus Fransiskus menjelaskan bahwa “sikap hidup relativisme melakukan tindakan seakan-akan Allah tidak ada, membuat keputusan seolah-olah kaum papa tidak ada, menentukan tujuan hidup seolah-olah orang lain tidak ada, dan bekerja seakan-akan orang belum menerima Injil (EG, art. 80). Manusia memikirkan pandangannya sendiri tanpa melihat dari sudut padang orang lain.

(37) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 18 Pengaruh relativisme saat ini sedang melanda umat manusia seluruh dunia, bahkan telah menyusup ke dalam Gereja. Paham relativisme yang telah menyusup ke dalam Gereja tanpa disadari adalah orang Kristiani zaman sekarang semakin malas membaca Kitab Suci. Orang Kristiani sekarang lebih suka mendengarkan khotbah dari pada membaca Kitab Suci sendiri. Dampak tersebut membuat orang Kristiani tidak dapat membedakan manakah ajaran dari sinkritisme (mencampur aduk ajaran Kristiani dengan ajaran lainnya, misalnya ilmu kebatinan, perdukunan, dan lain sebagainya). Orang Kristiani malas menelaah Kitab Suci secara langsung, maka hanya menelan secara langsung setiap ajaran, tanpa peduli apakah suatu ajaran berdasarkan ajaran Kitab Suci atau perkataan manusia. Dari contoh ini dapat dilihat bahwa adanya relativisme: para pemimpin Kristiani menyerukan bahwa membawa Kitab Suci penting, sedangkan orang Kristiani sendiri menganggap tidak penting. Paus Fransiskus dalam EG mengatakan: Kadangkala tantangan berbentuk serangan-serangan nyata terhadap kebebasan beragama atau penganiayaan baru yang ditujukan pada umat Kristiani; di beberapa negara serangan-serangan tersebut sudah mencapai tingkat kebencian dan kekerasan yang mengkhawatirkan. Di banyak tempat, masalahnya terutama adalah meluasnya ketidakpedulian dan relativisme, yang terkait dengan kekecewaan dan krisis ideologi yang telah muncul sebagai reaksi atas segala sesuatu yang terlihat totaliter. Hal ini tidak hanya membahayakan Gereja, tetapi juga struktur masyarakat secara keseluruhan (EG, art. 61). Relativisme juga terus-menerus berkembang sehingga menyuburkan disorientasi hidup baik secara umum maupun secara khusus di kalangan remaja dan kalangan dewasa muda, yang sangat rentan terhadap berbagai perubahan (EG, art. 64).

(38) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 19 Kemajuan zaman yang terus berubah membuat kehidupan manusia juga berubah. Setiap pribadi manusia ingin membangun kebenarannya sendiri-sendiri tanpa bekerjasama dengan orang lain, sehingga apa yang dicita-citakan secara bersama-sama tidak tercapai. Dalam artikel di atas dijelaskan bahwa kehidupan orang Kristiani terancam mengarah pada kekhawatiran-kekhawatiran yang berlebihan. Orang tidak bebas dalam beragama sehingga timbul rasa benci bahkan juga tindakkan kekerasan. Ancaman ini mengarah pada kaum muda yang menjadi masa depan Gereja. B. Tantangan Zaman dalam Direktorum Formatio Iman Menimbang zaman adalah melihat secara kritis segala keadaan dan perkembangan zaman yang menjadi konteks hidup umat dan masyarakat dalam menghayati dan menghidupi imannya. Direktorium Formatio Iman secara khusus membahas tantangan arus zaman yang tidak mudah untuk disikapi. Pada bagian ini penulis akan memaparkan beberapa tantangan arus zaman menurut Direktorium Formatio Iman. 1. Sekularisasi dan Sekularisme Sekularisasi adalah arus zaman yang secara mendasar mempengaruhi kehidupan manusia dari berbagai bidang, baik secara rohani maupun duniawi (Direktorium Formatio Iman, 2014: 11). Sekularisasi adalah proses penemuan jati diri dunia yang otonom. Otonom berarti manusia memiliki hukum dan nilainya sendiri yang sedikit demi sedikit harus dikenal, dimanfaatkan dan makin diatur oleh

(39) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 20 manusia yang selaras dengan kehendak Sang Pencipta. Sekularisasi tidak selalu berdampak baik bagi kehidupan rohani manusia. Pada akhirnya sekularisasi melahirkan suatu pandangan dan prilaku bahwa karena otonom segala ciptaan tidak tergantung dari Allah dan manusia bisa menggunakan sedemikian rupa tanpa relasi dengan Allah. Paham ini merupakan suatu ideologi tertutup yang memutlakkan otonomi duniawi tanpa keterbukaan dengan yang Ilahi (Direktorium Formatio Iman, 2014: 11). Inilah yang disebut dengan sekularisme yang berarti manusia bertindak sekehendak dirinya sendiri tanpa menghiraukan Allah. Ia hidup dan bertindak sesuai keinginan dan kepentingannya sendiri. Manusia berperilaku seolah-olah Allah tidak ada. Dari hal tersebut manusia melihat bahwa semua bisa dilakukan oleh dirinya sendiri tanpa campur tangan Allah, hal ini bersifat negatif. Manusia hidup dan bertindak sesuai keinginan dan kepentingan sendiri. Allah Sang Pencipta tidak diperhitungkan dalam menentukan keputusan-keputusan hidupnya. 2. Pendangkalan Hidup dan Budaya Instan Dampak negatif sekularisme diperparah lagi dengan munculnya budaya instan. Budaya instan adalah budaya hidup manusia yang tidak lagi menghargai proses. Hidup berorientasi hanya pada hasil dengan menghalalkan segala cara. Manusia dipadang dan dihargai sebatas sebagai sumber daya dan bukan sebagai citra Allah (Direktorium Formatio Iman, 2014: 12). Akibatnya manusia tidak berdaya. Hal itulah yang membuat hidup manusia menjadi dangkal, tidak berakar. Sekularisme berdampak secara mendalam dan meluas pada segala dimensi hidup manusia zaman

(40) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 21 ini. Akibatnya manusia tidak menghargai hidup sebagai anugerah; hidup mudah sekali dikurbankan demi kepentingan-kepentingan duniawi. Kedangkalan yang dimunculkan oleh budaya instan melahirkan pula manusia atau masyarakat tanpa nilai dan akar sehingga muncullah budaya kematian. Dengan munculnya budaya kematian, kultur dan sistem tidak menghargai nilai sehingga solidaritas dan penghargaan kepentingan umum diabaikan dan orang yang lemah cenderung disingkirkan dan bahkan diabaikan (Direktorium Formatio Iman, 2014: 12). Budaya seperti ini cenderung mementingkan kepentingan sendiri dan kepentingan bersama diabaikan. Dengan sikap egosentris seperti ini yang mengandalkan kekuatan sendiri maka Allah tidak mendapat tempat dalam segi kehidupan. Budaya instan melahirkan budaya konsumerisme di mana setiap individu memiliki kebutuhan atau keinginannya sendiri. Konsumerisme adalah paham atau ideologi yang menjadikan seseorang atau kelompok yang menjalankan proses konsumsi atau pemakaian barang-barang hasil produksi secara berlebih atau tidak sepantasnya secara sadar dan berkelanjutan (Direktorium Formatio Iman Edisi Revisi, 2018: 15).. Cara hidup seperti ini melihat bahwa apa yang sediakan oleh dunia dibeli untuk dimiliki. Dasar pembelian tersebut tidak berdasarkan kebutuhan semata-mata akan tetapi karena gaya hidup dan trend. Apa yang dibeli dan dimiliki menggambarkan jati dirinya. Maka tepatlah ‘Emo ergo sum’. Saya belanja maka saya ada (Direktorium Formatio Iman Edisi Revisi, 2018: 15). Hal ini membuat manusia

(41) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 22 tidak lagi peduli terhadap sesamanya, semua hanya demi kepentingannya sendiri demi egonya semata. Tidak lagi ada tempat bagi orang lain, apalagi bagi kaum kecil, lemah, miskin dan tersingkir. Masalah ini menimbulkan krisis iman dan moral. 3. Krisis Iman dan Moral: Ateisme dan Relativisme Modernitas dan sekularisme yang mengagungkan otonomi manusia dan dunia melahirkan ateisme yang berarti pengabaian atau penolakan akan Allah (Direktorium Formatio Iman, 2014: 12). Istilah “ateisme” menunjuk kepada gejala-gejala yang sangat berbeda satu dengan yang lainnya. Sebab ada kelompk orang yang jelas-jelas mengingkari Allah. Ada juga yang menggambarkan Allah sedemikian rupa sehingga hasil khayalan yang mereka tolak itu memang sama sekali bukan Allah menurut Injil (GS. Art. 19). Dalam hal pengabaian akan Allah dapat berwujud ritualisme, yakni pelaksanaan agama yang tidak seimbang karena mengutamakan upacara-upacara keagamaan atau ritual saja, tanpa memperhatikan penghayatan dan perwujudan iman dalam hidup sehari-hari. Manusia kehilangan hidup mistiknya, yaitu suatu relasi pribadi yang akrab dengan Allah (Direktorium Formatio Iman Edisi Revisi, 2018: 19). Hilangnya keakraban itu mengakibatkan tumpulnya hati nurani, yakni runtuhnya getar religiositas batin manusia sehingga menimbulkan sikap relativisme yakni sikap merelatifkan segala cara (Direktorium Formatio Iman Edisi Revisi, 2018: 19). Moralitas disingkirkan, sehingga tidak ada lagi yang absolut, tiada kebenaran yang pasti dan hakiki. Orang bertindak semaunya sendiri karena setiap orang berpegang pada kebenarannya masing-masing. Dari sinilah manusia menghadapi krisis iman dan

(42) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 23 moral di mana manusia bertindak semaunya sendiri tanpa mempertimbangkan berbagai hal. 4. Merebaknya Kemiskinan Persoalan kemiskinan bukan hanya sekedar persoalan jumlah angka dan prosentasenya. Lebih dari itu, persoalan kemiskinan menyangkut tingkat kedalaman dan keparahan kemiskinan itu sendiri (Direktorium Formatio Iman, 2014: 17). Tingkat kemiskinan semakin dalam karena akses pendidikan semakin sulit. Banyak sistem dan struktur dinilai tidak adil karena meningkatkan dan malah memperparah kemiskinan itu sendiri. Begitu juga dengan tingkat ketidakadilan sosial semakin tinggi. Yang berkuasa semakin berkuasa dan yang lemah semakin disingkirkan. Materialisme dan konsumerisme semakin memperparah kemiskinan dan meminggirkan rakyat kecil (Direktorium Formatio Iman, 2014: 17). Budaya ini membuat semakin merebaknya ketidakadilan sosial yang mengakibatkan rakyat kecil semakin disingkirkan. Kecenderungan konsumerisme dan materialisme turut masuk dalam kehidupan rakyat kecil sehingga mempengaruhi kehidupan mereka. Dari sebab itu konsumsi mereka pun meningkat, sementara situasi ekonomi tidak mendukung sehingga mereka melakukan berbagai cara agar dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan mereka. Hal tersebut mengakibatkan orang kecil, lemah dan miskin semakin dipermiskin dan disingkirkan.

(43) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 24 C. Sosok Katekis di Zaman Sekarang Katekis memiliki tugas dan peranan penting dalam kemajuan Gereja. Katekis adalah seorang yang diutus dengan cara khusus untuk melaksanakan/memberikan pelayanan kepada umat. Oleh karena itu pada bagian ini penulis akan memaparkan sosok katekis, kepribadian seorang katekis, dan spiritualitas katekis. Dengan demikian diharapkan bahwa para katekis dapat menyadari dan menghayati tugas dan panggilan mereka sebagai pelayan umat. 1. Sosok Katekis Berbicara mengenai sosok berarti menjelaskan identitas seseorang. Seseorang dapat dikenal dari identitas dirinya. Pemaparan berikut mau menjelaskan sosok (pribadi) seorang katekis dan spiritualitas katekis. Tulisan berikut berhubungan dengan usaha menggambarkan sosok katekis yang diharapkan oleh umat beriman pada zaman sekarang. Gambaran ini dimaksudkan untuk menyemangati pelayanan para katekis dan sekaligus meningkatkan keyakinan mereka sebagai orang-orang yang dipanggil untuk mencintai dan melayani umat beriman. Berikut akan dijelaskan dua bagian pokok mengenai sosok katekis: a. Siapa Katekis Tidak bisa dipungkiri bahwa pemahaman tentang siapakah katekis masih sangat kurang digali. Di desa-desa terpencil, banyak orang tidak mengetahui siapa itu katekis. Jangankan orang lain, ketika para katekis itu sendiri ditanya tentang peran

(44) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 25 dan tugasnya, banyak di antara mereka yang merasa kebingungan. Ada yang memahami secara umum bahwa katekis itu guru Agama Katolik yang mengajar di sekolah. Pada dasarnya katekis bukan hanya sekedar mengajar di sekolah, tetapi lebih dari itu. Dalam dokumen Konsili Vatikan II, Ad Gentes 17 memaparkan bahwa katekis adalah orang-orang yang berani memberikan sumbangan istimewa bagi perkembangan Gereja. Hal tersebut ditegaskan sebagai berikut: Demikian pula pantas dipuji barisan, yang berjasa begitu besar dalam karya misioner di antara para bangsa, yakni barisan para katekis baik pria maupun wanita, yang dijiwai semangat merasul, dengan banyak jerih payah memberi bantuan yang istimewa dan sungguh-sungguh perlu demi penyebarluasan iman dan Gereja (Ad, art. 17) Pernyataan di atas jelas mengatakan bahwa katekis adalah pria dan wanita yang sungguh-sungguh memiliki semangat misioner demi pelayanan iman. Para katekis dengan memberikan bantuan istimewa berupaya dengan sungguh menyebarluaskan iman dan Gereja. Pada zaman sekarang, tugas para katekis sangatlah penting mengingat jumlah imam yang sedikit sedangkan penyebarluasan Injil begitu besar. Oleh karena itu, pendidikan bagi katekis juga dilaksanakan dan disesuaikan dengan kemajuan yang sedemikian rupa, sehingga para katekis mampu menjadi rekan kerja yang tangguh bagi para imam dan mampu menunaikan sebaik mungkin tugas dan tanggung jawab yang semakin sulit karena beban-beban baru yang lebih berat. Maka dianjurkan bahwa katekis dipersiapkan dengan sebaik mungkin dan dibina secara terus-menerus (KHK, Kan 780).

(45) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 26 Berbicara mengenai katekis “di tanah-tanah misi”, Magisterium Gereja menganggapnya sebagai hal yang penting dan memberinya tempat khusus. Ensiklik Redemptoris Missio, misalnya, melukiskan para katekis sebagai “pekerja-pekerja khusus, saksi-saksi langsung, para pewarta yang mewakili kekuatan utama komunitas-komunitas Kristiani, khususnya dalam Gereja-gereja muda” (RM, 73). Jelas dikatakan bahwa katekis adalah mereka yang memiliki pekerjaan khusus, pelayan, menjadi saksi secara langsung, menjadi sumber kekuatan kolompokkelompok tertentu, menjadi penginjil dan tulang punggung komunitas Kristiani terutama bagi Gereja-gereja yang masih muda. Dalam Kitab Hukum Kanonik, (KHK, Kan 785) katekis disebutkan sebagai “kaum awam pengikut Kristus yang mendapat pendidikan khusus dan menonjol dalam menjalani kehidupan Kristianinya.” Di bawah bimbingan para misionaris, mereka harus menghadirkan ajaran Injil dan terlibat dalam pelayanan liturgis dan dalam karya karitatif atau karya amal kasih (CEP, 1997: 16). Berdasarkan kutipan tersebut, katekis adalah pengikut Kristus yang secara khusus mendapat pendidikan dan berkarya secara aktif dalam berbagai bidang, baik itu dalam bidang pelayanan liturgi maupun dalam kegiatan amal kasih lainnya. Dalam karya pelayanan tersebut, katekis membangun kerjasama yang baik dengan para pewarta lainnya sehingga mereka dapat sungguh-sungguh menghadirkan kabar gembira di tengah-tengah masyarakat.

(46) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 27 CEP (1997: 17) menjelaskan bahwa katekis adalah “seorang awam yang ditunjuk secara khusus oleh Gereja, sesuai dengan kebutuhan setempat, untuk memperkenalkan Kristus, dicintai dan diikuti oleh mereka yang belum mengenal-Nya dan oleh kaum beriman itu sendiri”. Dari kutipan tersebut dapat dijelaskan bahwa katekis adalah mereka yang memperkenalkan Kristus, dengan ditunjuk secara khusus oleh Gereja sesuai dengan kebutuhan. Mereka inilah yang memperkenal Kristus kepada mereka yang belum mengenal sampai orang tersebut sungguh-sungguh mencintai sampai pada mengimani-Nya. Suhardo (1972: 10) dalam bukunya mengatakan bahwa katekis adalah “orang beriman yang secara khusus mendapat tugas untuk memberikan kesaksiannya atas imannya sendiri dalam masyarakat ke arah apa yang diimaninya, yaitu Kristus yang telah menderita sengsara, wafat dan bangkit”. Dalam penjelasan tersebut jelas dikatakan bahwa katekis adalah mereka yang mendapatkan tugas untuk memberikan kesaksian iman mereka di tengah-tengah masyarakat. Kesaksian iman tersebut mengenai keseluruhan hidup dan karya pelayanan Kristus sampai wafat-Nya di kayu salib. Dengan memberi kesaksian iman, seorang katekis diharapkan dengan sungguhsungguh mengimani Dia yang telah menderita sengsara dan wafat di kayu salib demi manusia. St. Yohanes Paulus II dalam Anjuran Apostolik Catechesi Tradendae (CT, 66) menyatakan bahwa: Katekis adalah mereka yang lahir dalam keluarga yang sudah Kristen, atau suatu ketika masuk agama Kristen, menerima pendidikan dari para misionaris atau dari seorang katekis, kemudian membaktikan hidup mereka tahun demi

(47) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 28 tahun kepada katekese bagi anak-anak dan orang-orang dewasa di negeri mereka sendiri (CT, 66). Artikel di atas menjelaskan bahwa katekis adalah mereka yang beragama Kristen atau dalam perjalanan waktu masuk agama Kristen. Para ketekis mendapatkan pendidikan yang memadai yang menjadi bekal mereka. Pewartaan para katekis ditujukan kepada anak-anak maupun orang dewasa. Pendidikan yang katekis dapatkan bisa langsung dari para misionaris maupun langsung dari katekis itu sendiri. Mereka diberi tugas sesuai dengan peran mereka dan mereka bertanggungjawab atas tugas yang dipercayakan kepada mereka. Dengan kata lain katekis adalah seorang pendidik yang memberikan atau melaksanakan “pendidikan keagamaan dan latihan bagi kehidupan seturut Injil” (CT 62). Dengan panggilan yang khas, seorang katekis wajib mencari kerajaan Allah, menjalankan segala macam tugas dan pekerjaan duniawi, dan berada di tengah kenyataan hidup keluarga dan sosial. Di situ katekis dipanggil oleh Allah untuk menunaikan tugas mereka sendiri dengan dijiwai semangat Injil. Begitu katekis memancarkan iman, harapan, dan cintakasih terutama dengan kesaksian hidup mereka yang istimewa yakni menyinari dan mengatur semua hal-hal yang fana, yang erat melibatkan mereka sedemikian rupa, sehingga itu semua selalu terlaksana dan berkembang menurut kehendak Kristus, demi kemuliaan Sang Pencipta dan Penebus. Dengan kata lain, katekis memiliki kepekaan khusus untuk mengutamakan Injil dalam kehidupan konkret mereka.

(48) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 29 b. Syarat Menjadi Katekis Syarat menjadi seorang katekis pada dasarnya adalah memiliki orientasi menjadi seorang pewarta iman apa pun latar belakang keahliannya. (Prasetya, 2007: 40-42) memaparkan bahwa keberadaan dan jati diri katekis tidak dapat dilepaskan dari kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, sudah sepantasnya para katekis berupaya untuk mengembangkan aneka keutamaan yang mendukung tugasnya sebagai katekis, khususnya dalam sikap dan semangat keteladananan. Keberadaan katekis dalam umat Katolik memiliki tujuan untuk menjamin kualitas hidup dan memerankan tugas perutusan dengan baik dan penuh tanggung jawab. Dalam artian, katekis yang bermutu baik dalam hidup rohani maupun kepribadiannya akan membawa umat beriman membangun intimitas dengan Kristus sendiri. Prasetya (2007: 41) dalam bukunya memaparkan beberapa kriteria atau syarat demi menjamin kualitas hidup dan tugas perutusan sebagai katekis. Syarat-syarat tersebut dapat dilihat sebagai berikut: pertama, memiliki hidup rohani yang mendalam, maksud di sini ialah seorang katekis harus memiliki hidup rohani yang dalam dan terbuka akan Sabda Allah, baik melalui doa, membaca dan merenungkan Kitab Suci, menghidupi devosi-devosi maupun dengan cara-cara yang lain. Kedua, memiliki nama baik sebagai pribadi dan keluarganya, maksudnya seorang katekis harus memiliki nama baik, entah berkaitan dengan perilakunya, hidup imannya, dan hidup moralnya. Nama baik di sini bukan hanya pribadinya sendiri melainkan setiap anggota keluarganya. Ketiga, diterima oleh umat, maksudnya seorang katekis

(49) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 30 diharapkan menjadi pribadi yang sungguh diterima oleh umat, baik di lingkungan tempat ia tinggal dan di manapun ia berada. Keempat, mempunyai pengetahuan yang memadai, maksudnya ialah seorang katekis dalam mewartakan tidak hanya sekedar mau melainkan harus sungguh-sungguh memiliki pengetahuan yang memadai, misalnya mengetahui tentang Kitab Suci, teologi moral, liturgi, dan sebagainya. Kelima, mempunyai ketrampilan yang cukup, maksudnya ialah dalam mewartakan seorang katekis diharapkan memiliki berbagai ketrampilan dalam menggunakan sarana-sarana yang diperlukan yang dapat mendukung tugas perutusannya. CEP (1997: 45) menjelaskan bahwa seorang katekis dituntut untuk memenuhi tuntutan tugasnya, bertanggung jawab dan dinamis, bekerja dengan penuh semangat dan sukacita di dalam tugas dan pelayanan yang diberikan kepadanya. Dengan demikian untuk menjamin kualitas hidup sosok seorang katekis dan perannya sebagai pewarta, CEP juga mengolongkan ke dalam beberapa kemampuan yang hendak dimiliki oleh seorang katekis adalah sebagai berikut: 1) Memiliki Kedewasaan Manusiawi Seorang katekis diharapkan memiliki kemampuan dasar sebagai manusia yang dapat dikembangkan. Yang diharapkan adalah seorang pribadi dengan kematangan sebagai manusia yang sesuai dengan perannya yang penuh tanggung jawab dalam komunitas Gerejawi. 2) Memiliki Kehidupan Rohani yang Mendalam

(50) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 31 Para katekis harus memiliki hidup rohani yang mendalam agar bisa mendidik orang lain dalam iman. Aspek ini merupakan hal yang sangat penting dari sosok katekis. Kehidupan rohani mereka didasarkan pada persekutuan dalam iman dan cinta dengan pribadi Yesus yang memanggil dan mengutus mereka dalam tugas perutusannya. Cara terbaik untuk memiliki kedewasaan rohani adalah melalui kehidupan sakramen dan kehidupan doa yang tekun. 3) Memiliki Semangat Pastoral Dalam semangat tanggung jawab pastoral yang unggul, para katekis dituntut untuk mampu mewartakan pesan Kristiani dan mengajarkannya, memimpin orang lain dalam komunitas dan doa liturgis, dan menjalani berbagai pelayanan pastoral lainnya. Kualitas yang perlu dikembangkan dalam tugas ini adalah semangat tanggung jawab pastoral dan kepemimpinan; sikap murah hati, dinamis dan kreatif (CEP, 1997: 52). Dengan demikian para katekis dapat menyadari tugas dan perannya sebagai pewarta sehingga dapat menjalankan penuh dengan kesadaran dan kesungguhan. 4) Memiliki Semangat Misioner Dimensi misioner merupakan bagian hakiki dari identitas dan karya seorang katekis. Oleh karena itu, para katekis perlu mendapat pembinaan yang cukup. Para katekis harus diberi pengajaran secara teoritis dan praktis, bagaimana mencurahkan seluruh hidupnya bagi karya kerasulan misi yang diembannya.

(51) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 32 5) Sikap terhadap Gereja Pada hakikatnya Gereja bersifat misoner dan diutus untuk mewartakan Injil ke seluruh dunia. Dalam arti, kegiatan kerasulan bukan sesuatu yang bersifat pribadi atau terpisah, melainkan selalu dilaksanakan dalam persekutuan dengan Gereja lokal dan universal. Karya para katekis merupakan bagian dari Gereja dan mengambil bagian dalam rahmat-Nya. 2. Kepribadian Seorang Katekis Lalu Yosep (2009: 19) mengatakan “kepribadian (identity) berarti keseluruhan sikap, sifat, dan watak, meliputi seluruh pembawaan dan mutu diri seseorang, termasuk keseluruhan kekuatan dan kelemahan, kecenderungan dan cita-cita serta cara bagaimana semua unsur itu diintegrasikan dan diselaraskan dalam diri seseorang.” Kepribadian yang dimaksud tersebut terus berkembang ke arah yang seimbang (kepribadian yang baik) atau merosot ke arah yang buruk. Manusia berpribadi matang (dewasa) kalau ia mampu berdiri sendiri sesuai dengan sikap yang dapat dipertanggungjawabkan bukan hanya terhadap hati nuraninya, tetapi juga terhadap masyarakat. Bertolak dari arti dan makna kepribadian di atas, maka seorang katekis secara konkret diharapkan dapat menghayati sikap, sifat, watak serta pembawaan yang disebut itu. Secara konkret dan sederhana, hal terebut dapat diwujudkan dalam relasirelasinya baik dengan dirinya sendiri, sesama/masyarakat sekitar dan relasinya

(52) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 33 dengan Tuhan. Penjelasan berikut ini dapat memberi pengertian lebih jelas mengenai kepribadian seorang katekis: a. Terhadap dirinya sendiri, seorang katekis hendaknya: bersikap jujur, menerima diri apa adanya, tidak angkuh, tetapi juga tidak rendah diri. Ia perlu tahu menahan diri, misalnya tidak terlalu banyak bicara, dan sabar mendengarkan. Katekis berusaha juga menjadi seorang yang kreatif, inovatif dan mandiri. b. Terbuka terhadap sesama dan masyarakat. Terbuka dalam hal ini yakni terbuka terhadap sesama, jujur dan rendah hati, memiliki kepekaan dan komitmen, suka mendengarkan dan penuh pengertian, ramah, serta komunikatif. c. Terhadap situasi, konteks dan lingkungan hidup. Dalam hal ini katekis harus bersikap kritis, tidak terbawa arus, tetapi terbuka, bisa menyesuaikan diri, cekatan membaca tanda zaman serta mencintai lingkungan hidup. d. Terhadap tugas, seorang katekis hendaknya: mencintai ethos kerja dan tugas serta terpanggil untuk itu. Seorang katekis juga berusaha untuk menjadi profesional dalam menjalankan tugas. e. Terhadap Tuhan, seorang katekis hendaknya: percaya pada Tuhan dalam situasi apa saja, senantiasa bersyukur pada Tuhan dalam untung dan malang, senantiasa berharap pada Tuhan dan penuh semangat optimis. Suhardo (1972: 11) mengungkapkan kepribadian yang paling penting untuk dimiliki oleh seorang katekis adalah “mempunyai penghayatan iman yang nyata dan hidup, terlebih dahulu menjadi manusia yang beriman, yang masak dan dewasa.”

(53) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 34 Dengan kata lain, hidup katekis harus mendekati hidup Kristus. Hal tersebut harus sungguh-sungguh dipahami oleh setiap katekis, karena walaupun ia pandai mengajar tetapi hidupnya sendiri belum beres, tidak menyerupai hidup Kristus, maka ia tidak akan sukses dalam membina masyarakat ke arah kemajuan seperti yang dikehendaki oleh Kristus. 3. Spiritualitas Katekis Heuken (2002: 11) mengatakan bahwa spiritualitas adalah “istilah yang menandakan ‘kerohanian’ atau ‘hidup rohani’. Kata ini menekankan segi kebersamaan, bila dibandingkan dengan kata yang lebih tua, yaitu ‘kesalehan’, yang menandakan hubungan perorangan dengan Allah.” Spiritualitas dapat disebut cara mengamalkan seluruh kehidupan sebagai seorang beriman yang berusaha merancang dan menjalankan hidup ini semata-mata seperti Tuhan menghendakinya. Dalam hal ini Lalu Yosep (2009: 21) mendefinisikan spiritualitas sebagai berikut: Spiritualitas dapat diartikan sebagai hubungan pribadi seorang beriman dengan Allahnya dan aneka perwujudan dalam sikap dan perbuatan, hidup berdasarkan kekuatan Roh Kudus dengan mengembangkan iman, harapan dan cinta kasih, usaha mengintegrasikan segala segi kehidupan ke dalam cara hidup yang secara sadar bertumpu pada iman akan Yesus Kristus. Dan spritualitas juga diartikan sebagai pengalaman iman Kristiani secara konkret (Lalu Yosep, 2009: 21). Definisi spiritualitas di atas mau menekankan bahwa sumber dan ukuran spiritualitas manapun adalah kehidupan Kristus itu sendiri. Kalimat pertama di atas jelas mengatakan bahwa spiritualitas adalah hubungan antara orang beriman dengan

(54) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 35 Allah. Seorang yang memiliki spirit melakukan segala sesuatu berdasarkan kekuatan Roh Kudus. Dalam dirinya ia menyadari bahwa satu-satunya yang ia imani ialah Yesus Kristus. Ia mengungkapkan imannya lewat sikap dan pebuatannya dalam hidup sehari-hari. Katekis adalah misionaris. Paus Yohanes Paulus II berkata, “Misionaris sejati adalah santo” (RM, art. 90). Sama seperti para kudus yang mewartakan hidup Yesus Kristus di dalam hidup mereka, katekis juga mewartakan hidup Yesus Kristus di dalam hidupnya. Itu berarti bahwa pewartaan katekis bukan hanya ucapan kata saja, melainkan juga melalui seluruh aspek kehidupannya. Spiritualitas katekis tidak jauh berbeda dari setiap orang Kristen lainnya. Sebagai kelompok fungsionaris Gereja, katekis mempunyai perilaku khusus yang menandai martabat dan fungsinya. Spiritualitasnya menyangkut hubungan pribadi antara katekis itu sendiri dengan Allah yang nampak dalam kehidupan sehari-hari. Berikut akan dijelaskan beberapa bagian spiritualitas katekis dalam majalah Rohani tahun XXIX No 2 Februari. h.33 (Sarjumanarsa, 1982: 33): a. Sedia Diutus Sebagai fungsionaris Gereja, katekis memiliki spiritualitas sedia diutus oleh Gereja. Pengutusan katekis oleh Gereja bukan hanya dibentuk oleh konsekuensi baptis yang menjadi wajib bagi setiap orang Kristen. Pengutusan katekis sejati ditumbuhkan oleh Tuhan sendiri yang memanggil dia secara khusus. Menjadi katekis adalah suatu panggilan (Sarjumunarsa, 1982: 33). Sikap sedia diutus oleh Gereja yang hidup dalam diri para katekis pada dasarnya mengalir dari panggilan yang

(55) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 36 dikehendaki oleh Tuhan Yesus sendiri. Semua orang yang dipertemukan dengan Tuhan Yesus disatukan dengan diri-Nya. Maka apa yang ada dalam diri Tuhan Yesus juga akan melimpah kepadanya. Yesus adalah Allah yang menjadi manusia. Oleh karenanya, seorang katekis yang dipersatukan dengan-Nya digerakkan untuk menjadi manusia yang layak seperti Yesus. Tidak hanya dalam cita-cita saja melainkan menjadi nyata dalam kepribadiannya, keluarganya maupun dalam sepak terjangnya. Demikian pula seorang katekis sebagai fungsionaris Gereja dipanggil untuk berkembang dalam kehidupan rohani yang khusus. Katekis akan mengusahakan diri membawa dan menampilkan hal-hal kerohanian dalam hidupnya yang terbatas dan duniawi. Khususnya kehidupan doa, latihan rohani, membaca Kitab Suci dan devosi nampak menonjol. Katekis sedia diutus oleh Gereja karena ia merasa terpanggil untuk mengikuti cara hidup Tuhan Yesus yang juga sedia diutus oleh Bapa-Nya yang ada di surga. Seorang katekis yang mengaku dirinya sebagai utusan Gereja tentu saja menghayati pesan dan perintah Yesus ini dengan seksama. Sebagaimana Allah nampak dalam diri Yesus, Yoh 14:9 demikian Tuhan Yesus nampak dalam Gereja yang berkumpul. Mat 18:20. Oleh karena itu, keterlibatan katekis dengan pesan dan perintah Yesus yang mengutusnya terungkap dalam keterlibatannya yang formal dengan pengutusan Gereja. b. Semangat Menggereja Sarjumunarsa (1982: 34) dalam tulisannya mengata bahwa “katekis yang baik mempunyai semangat menggereja yang dalam. Gereja di sini dimaksudkan sebagai

(56) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 37 persekutuan hidup masyarakat yang percaya akan Yesus Kristus.” Gereja sebagai persekutuan hanya mungkin tumbuh dan berkembang dalam kegiatan komunitas antar sesama anggota Jemaat. Dilatarbelakangi oleh pandangan tentang Gereja sebagai persekutuan dan komunikasi inilah spiritualitas katekis mendapatkan identitasnya. Selain itu, spiritualitas katekis tidak dapat dipisahkan dari tugasnya sehari-hari sebagai aktivis dalam kegiatan katekese. Katekis sebagai fungsionaris yang bergerak dalam peristiwa komunikasi iman tentu saja memiliki dalam dirinya sendiri sikap dan sifat komunikatif. Sikap dan sifat ini dimulai dalam dirinya yang bersifat terbuka, khususnya kesediaan untuk mendengar. Kesediaan mendengar Sabda Tuhan merupakan ciri khusus dari seluruh Gereja yang berhadapan dengan Tuhan yang selalu menyapa manusia. Kekhususan tugas katekis dalam rangka menggereja yaitu bergerak dalam komunikasi iman umat. Karena semua orang membutuhkan katekese atau komunikasi iman sebagai tindakan melihat, mengimani dan mengikuti Yesus Kristus sebagai jalan kebenaran dan hidup, agar hidup umat mencontohi dan meneladani hidup Yesus yang diwujudkan dalam keseharian hidup umat. Tugas katekis dalam komunikasi iman yakni memberikan katekese sesuai dengan kebutuhan umat, baik dari segi bahasa maupun latar belakang kehidupan umat sehingga katekese yang diberikan sungguh dapat dirasakan oleh umat sampai pada mendewasakan iman umat akan Yesus Kristus, dimana pembinaan tersebut berlaku seumur hidup/sampai akhir hayat. Katekese begitu pentingnya dalam kehidupan umat maupun Gereja dan katekis salah satu yang memegang peranan penting dalam komunikasi iman umat

(57) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 38 tersebut. Maka dari itu katekis memiliki dalam dirinya suatu semangat dan cita-cita untuk menggerakkan seluruh kegiatan Gereja dalam mengkomunikasikan imannya. c. Menjadi Murid Berkaitan dengan spiritualitas katekis, pesan dan tugas dari Yesus ada dua pokok yang penting yaitu menjadi murid dan mengajar. “Menjadi murid dan mengajar adalah dua kegiatan yang berlawanan tetapi saling melengkapi. Tidak pernah ada murid tanpa pengajaran dan tidak ada pengajaran tanpa murid” (Sarjumunarsa, 1982: 35). Berkaitan dengan tugas sehari-hari, katekis lebih banyak dikaitkan dengan kegiatan mengajar. Jadi ia lebih menyatakan dirinya sebagai guru yang harus mengajar banyak orang yang ikut dalam kegiatan katekese. Semua orang Kristen pada dasarnya adalah murid di depan Tuhan Yesus. Maka dari itu seorang katekis betapapun dalam dan luas pengetahuannya, betapapun lama ia telah mengajar, namun sebagai murid Yesus ia turut belajar pada-Nya. Semangat belajar dan menjadi murid bukan disebabkan oleh karena kebodohan atau kurang pengalamannya melainkan karena panggilannya. Setiap katekis sepantasnya mendengar baik-baik akan segala Sabda Tuhan: “Belajarlah pada-Ku karena Aku lemah lembut dan rendah hati” (Mat 11:29). Dalam rangka menjadi seorang pelayan umat, setiap katekis harus belajar banyak. Oleh karena itu, katekis sepantasnya sedia dikritik, terbuka pada berbagai pengalaman dan pendapat serta tidak malu bertanya. Sekalipun katekis menghadapi keterbatasan dan kekurangan, ia tetap mengemban amanat dan pesan yang diterimanya dari Tuhan

(58) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 39 Yesus melalui Gereja. Maka dari itu sebagai fungsionaris yang diutus oleh Gereja ia mengambil bagian dalam kegembalaan dan magisterium Gereja. “Kewibaaan katekis tidak datang dari kuasa dan kemampuannya sendiri melainkan dari Tuhan Yesus sendiri” (Sarjumunarsa, 1982: 36). d. Berakar dan Berbuah Dalam hal ini, Tuhan Yesus memberikan patokan yang sederhana, “Dari buahnya kamu akan mengenal mereka” (Mat 7:16). Patokan menekankan hasil terakhir dari seluruh spiritualitas dalam bentuk karya yang nyata. “Katekis akan berhasil mengembangkan spiritualitasnya dalam dua segi kehidupan Gereja, yaitu semakin berakarnya dan semakin berkembangnya Gereja” (Sarjumunarsa, 1982: 36). Bagi katekis sendiri berakarnya iman umat diwujudkannya dalam hidup sehari-hari. Oleh karena itu, katekis yang tinggal bersama-sama dengan umat setempat merupakan ukuran apakah spiritualitasnya sudah dalam. Hanya mereka yang sanggup menyatakan hidup yang layak dapat menjadi katekis yang baik. Katekis semacam itu sanggup menjalankan spiritualitas yang ditulis oleh Paulus “bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis” (Rm 12:15). Semangat ini diwujudkannya dengan hidup bersama umat dalam suka dan dukanya. Kehidupan Gereja yang makin berakar umumnya juga makin berkembang.

(59) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 40 D. Rangkuman Dari berbagai tantangan zaman yang telah penulis uraikan di atas, diharapkan katekis dapat mengambil sikap yang benar dan tepat terhadap pelayanan mereka di zaman sekarang ini. Tantangan-tantangan zaman yang ada tidak membuat para katekis mundur dari pelayanannya, melainkan tetap maju dan semangat dalam pelayanan yang mereka berikan. Tantangan-tantangan tersebut harus disikapi secara bijaksana dan kritis oleh katekis agar dalam pelayanan yang mereka lakukan kasih Allah dapat tersalurkan kepada banyak orang. Selain itu, di atas juga sudah dipaparkan siapa itu katekis, kepribadian seorang katekis dan spiritualitas katekis. Spiritualitas di sini dijelaskan dalam empat bagian. Pertama sedia diutus. Kedua semangat menggereja. Ketiga menjadi murid. Keempat berakar dan berbuah. Dalam uraian di atas diharapkan para katekis semakin menyadari dan menghayati siapa itu diri mereka, spiritualitas yang mereka miliki, sehingga mereka selalu siap melayani, memiliki spiritualitas mendalam, teguh pendiriannya, selalu bersemangat dalam melayani, tangguh serta tanggap terhadap situasi zaman. Oleh karena itu perlu adanya pembinaan dan pendampingan yang rutin terhadap para katekis, agar para katekis memiliki cukup bekal dalam melaksanakan tugas dan pelayanan mereka di tengah dunia yang penuh dengan tantangan zaman ini. Dengan bekal yang cukup para katekis pun semakin mantap dalam melaksanakan tugas mereka. Maka pembahasan bab selanjutnya merupakan upaya memberi

(60) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 41 inspirasi kepada para katekis melalui tokoh Rasul Paulus dalam melaksanakan tugas dan pelayanannya supaya para katekis dapat menghayati dan semangat dalam melaksanakan tugas dan panggilan mereka sebagai pelayan umat meskipun banyak tantangan dan kesulitan yang harus mereka hadapi.

(61) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 42 BAB III KEUTAMAAN HIDUP DAN KARYA KERASULAN RASUL PAULUS Paulus merupakan sosok yang sangat menginspirasi bagi pewarta. Keseluruhan hidup dan karyanya merupakan cerminan pelayanan katekis di zaman sekarang. Paulus banyak melakukan pengorbanan diri, antara lain: ia yang dahulu merupakan seorang penganiaya sekarang menjadi pelayan (pewarta). Dulu dia seorang yang keras dan sekarang lemah lembut. Dia yang dulu mapan dan orang yang terkemuka di Tarsus tapi sekarang dia mau menjadi orang terkecil. Dengan terbuka ketika menuju jalan Damsyik dan tersungkur di tanah, dia terbuka akan Kristus yang pernah ia aniaya. Keseluruhan hidup dan karya Paulus ini menarik untuk dipelajari dan didalami oleh para katekis agar katekis dapat melihat bagaimana Paulus dapat menjadi sumber inspirasi bagi karya dan pewartaan mereka di zaman sekarang. Dalam bab III ini, penulis akan menjelaskan kehidupan Paulus sebagai landasan untuk menggali keutamaan-keutamaan rasuli dan pokok-pokok pewartaannya. Bab ini akan dibagi dalam empat bagian besar. Bagian pertama menjelaskan identitas Paulus. Bagian kedua mengenai karya kerasulan Paulus. Bagian ketiga tafsir atas 2 Korintus 9:6-15 yang terdiri dari tiga topik utama yakni konteks, struktur teks, dan penjelasan teks. Dan yang keempat yakni menggali keutamaankeutamaan kerasulan Paulus dalam surat kedua kepada jemaat di Korintus.

(62) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 43 A. Identitas Paulus 1. Paulus dari Tarsus Kisah Para Rasul mengatakan bahwa Paulus berasal dari Tarsus, “Aku adalah orang Yahudi, dari Tarsus, warga dari kota yang terkenal di Kilikia…” (Kis 21:39; 22:3). Paulus lahir di Tarsus, provinsi Kilikia, di luar wilayah Palestina, wilayah Asia Kecil sebelah selatan yang sekarang termasuk negara Turki. Tarsus bukanlah suatu wilayah pedesaan, melainkan suatu kota, bahkan kota besar dan maju dalam perdagangan dan kebudayaan Yunani (Seto Marsunu, 2008: 14). Purwa Hadiwardaya mengatakan bahwa Tarsus merupakan sebuah kota perdagangan yang ramai dan kota tempat studi filsafat dan budaya (Purwa Hadiwardoyo, 2008: 12). Selain itu, Tarsus juga terkenal sebagai kota yang amat memajukan pendidikan dan budaya Yunani (Hari Kustono, 2008: 10). Dari beberapa sumber di atas, jelas dikatakan bahwa Paulus berasal dari Tarsus. Tarsus bukanlah sembarang kota, melainkan kota yang besar pengaruhnya bagi perkembangan Paulus terutama dalam bidang pendidikan. Ayah Paulus berasal dari suku Benyamin. Karena itu, ia memberikan kepada anaknya nama Saulus, sama dengan nama raja pertama Israel yaitu Saul, yang juga berasal dari suku Benyamin. Paulus diperkirakan lahir sekitar tahun 5-15 Masehi. Sejak kecil Paulus sudah disunat, sebagai tanda bahwa ia masuk ke dalam lingkungan iman Abraham (Purwa Hardiwardoyo, 2008: 12). Kisah Para Rasul juga mengatakan bahwa nama Paulus dulunya adalah Saulus. Ia muncul pertama kali sebagai seorang Yahudi fanatik yang mengejar-ngejar jemaat Kristen untuk menangkap dan

(63) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 44 menyerahkan mereka kepada pengadilan Mahkamah Agama Yahudi (Kis 8:3) (Hari Kustono, 2008: 9). Orang tua Paulus adalah seorang Yahudi perantau. Dari orang tuanya Paulus mewarisi kewarganegaraan Roma. Kewarganegaraan ini memainkan peran penting dalam konflik yang dialaminya dengan para penguasa lokal tempat ia mewartakan Injil (Kis. 16:37; 22:28; 25:10). Karena statusnya itu, Paulus mempunyai kemudahan untuk memasuki kota dan wilayah kekaisaran Romawi yang mengitari Laut Tengah ketika dia menjalani karya misinya. Di kota Yunani itu memang banyak orang-orang Yahudi perantau. Sekalipun perantau dan tinggal di kota berkebudayaan Yunani, mereka tetap taat pada iman leluhur mereka tanpa harus tinggal sebagai kelompok tertutup. Dalam keluarganya, tentu saja ia dididik dalam agama Yahudi sehingga ia menjadi seorang Yahudi yang taat. Dalam hal ini Hari Kustono (2008: 12) mengatakan: Pada masa kecilnya, Paulus dididik di lingkungan budaya Yunani (helenis), apalagi Tarsus terkenal sebagai kota yang amat memajukan pendidikan dan budaya Yunani. Meskipun begitu Paulus tetap berpegang kuat pada imannya sebagai orang Yahudi. Jelas bahwa pendidikan Paulus cukup memadai sebagai pewarta Kristus, apalagi dia menguasai bahasa Aram, bahasa Ibrani, dan bahasa Yunani dengan baik. Dalam tulisan di atas jelas dikatakan bahwa Paulus dididik dalam budaya Yunani. Karena kota Tarsus merupakan kota yang sangat maju dalam hal pendidikan, tidak mengherankan jika Paulus menguasai banyak bahasa dari banyak hal yang telah dia pelajari tersebut sehingga ketika ia mewartakan Kristus, bahasa tidak menjadi

(64) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 45 persoalan baginya karena bahasa yang ia kuasai cukup memadai. Paulus juga merupakan seorang Yahudi yang taat pada imannya. 2. Orang Farisi Paulus dikirim untuk belajar ke Yerusalem oleh orang tuanya. Ia belajar pada Gamaliel (Kis 22:30) yang merupakan ahli waris pemikiran Rabi Hillel dan menjadi wakil utama dari aliran kaum Farisi yang lebih lunak dan manusiawi dalam menerapkan Hukum Taurat. Bea (1975: 10) mengatakan bahwa dalam Kisah Para Rasul, Rabi Gamaliel dikenal sebagai seorang tokoh yang bijaksana, saleh, dan sangat dihormati oleh rakyat (Kis 5:34). Bagi orang Yahudi, hukum Taurat adalah hukum yang dianugerahkan oleh Allah kepada umat pilihan-Nya (Seto Marsunu, 2008: 15). Hukum inilah yang menjadi dasar hidup bagi orang Yahudi. Orang-orang Farisi berusaha untuk sepenuhnya menaati Hukum Taurat. Dalam tulisan berikut Eko Riyadi (2017: 11) mengatakan bahwa: Paulus bukanlah orang Yahudi sembarangan. Ia adalah seorang Yahudi muda yang berwibawa. Hal ini didukung oleh pengakuan Paulus tentang siapa dirinya. Ia adalah orang Yahudi yang lahir di Tarsus, tetapi dibesarkan di Yerusalem dan dididik di bawah pimpinan Gamaliel dalam hukum nenek moyang sehingga ia menjadi orang yang giat bekerja bagi Allah (Kis 22:3), bahkan ia hidup sebagai seorang Farisi menurut aliran yang paling keras dalam agama Yahudi (Kis 26:5). Seperti halnya orang-orang Farisi yang lain, Paulus berpengang pada hukum Taurat dan hukum nenek moyang. Dalam tulisan di atas sangat jelas dikatakan bahwa Paulus seorang Yahudi muda yang mendapatkan pendidikan sangat memadai di bawah pimimpinan gurunya

(65) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 46 yang bernama Gamaliel. Berkat pendidikan yang diperolehnya, Paulus menjadi jauh lebih maju, sebagai orang yang sangat rajin memelihara adat istiadat. Bahkan ia berani menyatakan bahwa “tentang kebenaran dalam menaati hukum Taurat aku tidak bercacat” (Flp 3:6). Karena itu, Paulus yang telah menjadi pengikut Kristus dengan tegas menyatakan diri sebagai orang Farisi menurut mazhab yang paling keras dalam agama Yahudi (Kis. 26:5; Flp. 3:4-6). Sebagai seorang Farisi, Paulus dengan tegas dan keras mempertahankan nilai-nilai keagamaan Yahudi (Seto Marsunu, 2016: 14). Ia dididik untuk menerapkan hukum keagamaan Yahudi dalam situasi konkret dan untuk setia pada hukum itu. Kepada Jemaat Galatia, ia menyatakan diri sebagai orang fanatik dalam agama Yahudi (Gal. 1:14). 3. Penganiaya Orang Kristen Sebagai orang yang berlatar belakang seorang Farisi, Paulus beraksi sangat keras terhadap para pengikut Kristus yang dianggapnya sebagai orang Yahudi yang sesat. Paulus tidak dapat menerima ajaran bahwa mereka yang mengimani Kristus menyatakan Dia yang telah dijatuhi hukuman mati dan disalib telah dibangkitkan oleh Allah. Bagi Paulus tidak mungkin Yesus itu Mesias, Anak Allah karena Ia mati di kayu salib. Kematian Yesus di kayu salib merupakan bukti bahwa Dia adalah orang dikutuk oleh Allah (bdk. Ul 21:23). Dengan amarah dan penuh keyakinan, Paulus dengan sekuat tenaga mau menghentikan ajaran tersebut. Dengan izin para pemimpin Yahudi, Paulus mengejar-ngejar para pengikut Kristus dan memasukkan

(66) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 47 mereka ke dalam penjara. Paulus sendiri menggambarkan tindakannya itu dengan berkata: Hal itu kulakukan juga di Yerusalem. Aku bukan saja telah memasukkan banyak orang kudus ke dalam penjara, setelah aku memperoleh kuasa dari imam-imam kepala, tetapi aku juga setuju, jika mereka dihukum mati. Dalam rumah-rumah ibadat aku sering menyiksa mereka dan memaksanya untuk menyangkal imannya dan dalam amarah yang meluap-luap aku mengejar mereka, bahkan sampai ke kota-kota asing (Kis 26:10-11). Dari ayat Kitab Suci yang diambil dari Kisah Para Rasul di atas jelas dikatakan bahwa Paulus mengatakan kejahatan-kejahatannya terhadap para pengikut Kristus. Begitu berkobar-kobar kebencian Paulus terhadap pengikut Kristus, sampaisampai ia ingin memusnahkan mereka, dengan penuh semangat ia menyiksa mereka bahkan dia juga setuju kalau para pengikut Kristus itu dihukum mati. Paulus adalah seorang yang taat pada agama Yahudi dan ia merasa apa yang dilakukannya itu benar, walaupun kemudian hal ini membuatnya paling hina di antara semua rasul dan tidak pantas disebut rasul (1Kor 15:9). 4. Paulus Menuju Damsyik Paulus yang telah memiliki kuasa penuh dan membawa surat izin untuk memasuki kota dan menangkap semua orang Kristen di kota itu, dengan penuh semangat bersama teman-temannya berjalan menuju ke Damsyik. Ia memutuskan untuk pergi ke sana guna melanjutkan penganiayaannya terhadap para pengikut Kristus yang percaya (Kis 26:12), akan tetapi dalam perjalanan menuju Damsyik

(67) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 48 sebelum ia bisa menangkap dan memenjarakan para pengikut Kristus, Yesus terlebih dahulu menampakkan diri kepadanya. Dalam Kisah Para Rasul berikut dapat dilihat bagaimana perjumpaannya dengan Yesus yang bangkit: Dalam perjalannya ke Damsyik, ketika ia sudah dekat kota itu, tiba-tiba cahaya memancar dari langit dan mengelilingi dia. Ia rebah ke tanah dan kedengaranlah olehnya suatu suara yang berkata kepadanya: Saulus, Saulus, mengapa engkau menganiaya Aku? Jawab Saulus: “Siapakah Engkau, Tuhan?” Katanya: Akulah Yesus yang kauaniaya itu. Tetapi bangunlah dan pergilah ke dalam kota, di sana akan dikatakan kepadamu, apa yang harus kauperbuat” (Kis 9:3-6). Dalam peristiwa tersebut di atas jelaslah bahwa Yesus menampakkan diri secara langsung kepada Saulus. Saulus seketika itu juga rebah karena pancaran cahaya yang menyinarinya. Cahaya yang memancar itu sangat menyilaukan (Kis 22:6). Cahaya tersebut menyebabkan Saulus rebah ke tanah dan kemudian ia mendengar satu suara. Tampaknya ada dua unsur peristiwa di sini: cahaya dan suara. “Cahaya yang memancar dari langit barangkali memang dimengerti sebagai tanda kehadiran yang Ilahi. Orang menyebutnya sebagai kemuliaan Allah yang terpancar dan dikenali oleh manusia” (Eko Riyadi, 2012: 46). Bea (1975: 16) mengatakan “berkat kejadian di Damsyik itulah Paulus menjadi pelayan Kristus yang tak kenal lelah.” “Aku lebih banyak berjerih lelah; lebih sering di dalam penjara; didera di luar batas; kerap kali dalam bahaya maut”… (2 Kor 11:23, 26-27). Semuanya itu dilakukan oleh Saulus sebab cinta Kristus terus mendorongnya (2 Kor 5:14). Pengalaman Damsyik menjadikan Paulus berbalik dari

(68) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 49 pemahaman dan anggapannya tentang Yesus. Hari Kustono (2008: 19) menambahkan bahwa perubahan dari Paulus sebagai penganiaya umat Kristen menjadi pengikut Kristus tidak dapat disamakan dengan perubahan dari orang kafir menjadi orang beriman, atau dari tak bermoral menjadi bermoral, atau dari agama tertentu ke agama lain. Paulus menggambarkannya sebagai karya Allah yang tanpa dapat dijelaskan persisnya, yang ternyata telah masuk ke dalam dirinya dan mengubah hidupnya dari dalam sebagai bagian dari anak-anak Allah yang merdeka. 5. Pemberitaan Injil Paulus Setelah peristiwa Damsyik Paulus mengalami perubahan total. Dari perjumpaan dengan Tuhan dalam peristiwa Damsyik tersebut ia menjadi pribadi yang amat berbeda. Sebelumnya ia ingin menangkap pengikut Yesus, sekarang ia sendiri yang ditangkap oleh Yesus (Suharyo, 2003: 65). Pengenalan Tuhan dalam peristiwa Damsyik mendorong Paulus untuk menjadi saksi dan pembawa kabar gembira keselamatan. Dengan penuh keberanian Paulus mulai memberitakan Injil, mulai dari bangsanya sendiri di rumah-rumah ibadat orang Yahudi (Kis 9:20; 13:5) hingga bangsa bukan Yahudi. Baik kepada orang terpelajar maupun tidak terpelajar (Rm 1:14). Baik kepada perorangan (Kis 16:14-15, 30-32) maupun orang banyak (Kis 17:22-34). Kepada narapidana di penjara hingga penghuni istana (Flp 1:12-13). Bahkan Paulus dengan penuh keberanian memberitakan Injil dan meyakinkan Raja Herodes Agripa II (Kis 26). Dalam diri Paulus, dia sadar bahwa memberitakan Injil adalah tugas yang ditanggungkan kepadanya (1 Kor 9:17), bahkan dia sendiri terus-

(69) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 50 menerus merasa “berhutang Injil” kepada berbagai lapisan manusia (Rm 1:14). Dalam surat pertama Paulus kepada jemaat di Korintus dicatat: “Karena jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil” (1 Kor 9:16). Dalam memberitakan Injil Paulus tidak sendirian. Suharyo (2003: 59) mencatat bahwa ada teman sejawat dan kawan seperjuangan bersama-sama dengan Paulus memberitakan Injil. Dalam perjalanan penginjilannya Paulus berkenalan dengan begitu banyak pribadi yang berperan besar dalam hidup dan karyanya. Suharyo (2003: 59) menerangkan bahwa masing-masing kelompok mempunyai corak dan kadar hubungan yang berbeda. Ada yang disebut dengan teman sejawat atau rekan, misalnya Barnabas (Kis 11:25), Silas (Kis 15:40), Apolos (Kis 18:24). Ada juga yang disebut dengan orang-orang kepercayaan yang tidak hanya menemani dalam perjalanan dan karya-karyanya. Mereka ini diberi tugas khusus oleh Paulus bahkan diutus menjadi wakil dirinya, kalau ia sendiri tidak sempat hadir. Kelompok tersebut antara lain Timotius (Ki 17:14-15; 18:5; Flp 2:19), Titus (2 Kor 2:13; 12:18), Tikhikus (Kis 20:4), Epafras (Kol 1:7; Flm 23). Ada juga kelompok yang disebut kalangan sahabat. Mereka ini tidak berperan sebagai pembantu atau utusan, melainkan memberikan dukungan rohani maupun jasmani kepada Paulus dalam menunaikan tugas kerasulannya (Suharyo, 2003: 60). Kelompok ini antara lain

(70) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 51 Akwila dan Priska yang disebut tukang kemah (Kis 18:2; Rm 16:4), Aristarkhus (Kis 19:29), dan Trofimus (Kis 20:4). Eko Riyadi (2017: 15) menuliskan pola pemberitaan Injil yang dilakukan oleh Paulus yang dicermati dalam Kisah Para Rasul, yakni setiap memasuki sebuah kota, Paulus masuk ke dalam rumah ibadat orang Yahudi (Sinagoga) dan memberitakan kabar sukacita tentang Yesus yang wafat di salib dan bangkit dari kematian. Dalam pemberitaan Injil tersebut tidak semua orang mau menerimanya, banyak orang menolak bahkan menyerang Paulus. Paulus mencatat peristiwa berat yang dialaminya yakni: dipenjara, didera, disesah, dilempari batu, mengalami kapal karam, terkantungkantung di tengah laut (2 Kor 11:24-25). Meskipun mengalami berbagai rintangan dan hambatan dalam pewartaan, Paulus banyak menumbahkan benih-benih iman dalam diri orang-orang yang takut akan Allah. Purwa Hardiwadoyo (2012: 20) menuliskan buah pewartaan Paulus dalam surat-suratnya yang disebut warisan Paulus. Paulus menulis surat untuk para jemaatnya di berbagai kota, masing-masing surat memiliki kekhasannya sendiri. Beberapa surat tersebut adalah surat kepada jemaat di Tesalonika 1dan 2, surat kepada jemaat di Galatia, surat kepada jemaat di Korintus 1 dan 2, surat kepada jemaat di Filipi, surat kepada jemaat di Roma, surat kepada jemaat di Efesus, surat kepada jemaat di Kolese. Di dalam surat-surat tersebut terdapat ajaran iman, nasehatnasehat pastoral dan nasehat-nasehat moral bagi jemaat yang dituju. Ketika Paulus dipenjara selama dua tahun di Romo, ia meluangkan waktu untuk menulis surat untuk

(71) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 52 menyapa jemaatnya. Surat-surat tersebut antara lain: surat kepada jemaat di Filipi, surat kepada jemaat di Efesus, surat kepada jemaat di Kolese, dan surat kepada jemaat di Filemon. Masing-masing isi pokok dari surat tersebut berbeda-beda menyesuaikan dengan kondisi dan situasi jemaat yang dituju. B. Karya Kerasulan Paulus Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), karya diartikan sebagai suatu pekerjaan atau hasil perbuatan. Sedangkan kerasulan sendiri diambil dari kata rasul yang artinya orang yang menerima wahyu Tuhan untuk disampaikan kepada manusia. Dari pengertian tersebut karya kerasulan yang dilakukan oleh Paulus berarti segala pekerjaan dan perbuatan Paulus sebagai bentuk perutusan yang disampaikan kepada manusia. “Bagi Paulus mewartakan berarti membawa orang ke hadapan peristiwa keselamatan Allah sendiri” (Jacobs Tom, 1985: 38). Dalam suratnya kepada jemaat di Korintus, Paulus mengatakan “Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil” (1 Kor 9:16). Dari pernyataannya tersebut jelaslah bahwa memberitakan Injil merupakan sebuah keharusan bagi Paulus. Oleh karena itu pada bagian ini penulis akan memaparkan beberapa karya kerasulan yang dilakukan oleh Paulus. Karya kerasulan Paulus pasti berkaitan dengan karya misinya. Pada masa karyanya, Paulus dihadapkan dengan berbagai tantangan dan kesulitan. Dia sendiri juga mengatakan demi pemberitaan Injil Kristus ia “banyak berjerih lelah; sering di

(72) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 53 dalam penjara; didera di luar batas; kerap kali dalam bahaya maut, dilempari dengan batu, tiga kali mengalami karam kapal,” … (2 Kor 11:23-28). Akan tetapi Paulus tidak pernah menyerah dalam keadaan sesulit apapun. Paulus menyadari tugas perutusan yang diberikan oleh Yesus untuk memberitakan Injil. Bahkan Paulus sendiri tahu sejak awal bahwa banyak penderitaan yang akan ia alami oleh karena nama Yesus. Dalam tulisannya, Bea (1975: 13) mengajak untuk melihat karya missioner Paulus dari dekat, misalnya: kegiatan yang total demi kebenaran, kejujuran radikal untuk membela keyakinannya, daya kerja yang tidak kenal letih dalam usaha melaksanakan rencana-rencananya serta pandangan luas yang mendorong dia melintasi batas-batas kota atau wilayah. Sifat-sifat manusiawi dari Paulus tersebut memang sudah ada dalam kepribadiannya. Allah sendiri yang telah memberikan sifat dan bakat tersebut sejak Paulus diciptakan (Bea, 1975: 13). Dalam Kisah Para Rasul, karya Paulus dijabarkan dengan sangat lengkap, dapat dilihat pada Kis 13-21:26. Dalam pembahasan perjalanan misi Paulus ini, penulis menggunakan buku Mgr. Suharyo sebagai sumber utama, tetapi juga menggunakan sumber-sumber yang lain. Pada perjalanan misi yang pertama, Paulus berkeliling bersama Barnabas untuk memulai memberitakan Injil di sekitar Asia Kecil (Eko Riyadi, 2017: 14). Perjalanan misi yang pertama ini dimulai dengan kotbah Paulus di Antiokhia dan di Pisidia (Kis 13:16-41). Suharyo (2003: 25) dalam tulisannya mengatakan bahwa kotbah pertama Paulus mendapatkan kesan bagus, bahkan dapat menarik perhatian. Kotbah Paulus menarik dapat dilihat bahwa Paulus

(73) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 54 diminta lagi untuk berkotbah pada hari Sabat berikutnya. Ketika berkotbah pada hari Sabat berikutnya, banyak orang datang bahkan hampir seluruh kota berkumpul untuk mendengarkan firman Allah (Kis 13:42-44). Melihat orang banyak tersebut timbullah rasa iri hati dalam diri orang Yahudi. Mereka membantah ajaran Paulus dan menghasut perempuan-perempuan terkemuka di tempat itu, sehingga Paulus dan Barnabas diusir dari tempat tersebut (Kis 13:45.50). Setelah itu Paulus dan Barnabas melanjutkan perjalanan ke Ikonium. Akan tetapi di tempat tersebut lagi-lagi orang Yahudi menolak mereka. Bukan hanya menolak, mereka juga membuat suatu gerakan bersama dengan para pemimpin untuk menyiksa mereka dan melempari mereka dengan batu (Kis 14:2.5). Peristiwa tersebut membawa mereka ke Listra dan Derbe (Kis 14:6), tetapi musuh-musuh yang membenci mereka dari Antiokhia dan Ikonium terus mengejar mereka (Suharyo, 2003: 26). Setelah beberapa lama tinggal di Antiokhia, Paulus mengajak Barnabas mengunjungi jemaat-jemaat yang telah mereka dirikan untuk melihat keadaan mereka (Kis 15:36). Barnabas menerima ajakan Paulus tetapi kemudian terjadi konflik di antara keduanya (Kis 15:37-40) yang berujung pada perpisahan. Pada perjalanan misi yang kedua ini, terjadi perbedaan di antara Paulus dan Barnabas (Eko Riyadi, 2017: 15). Mereka berseberangan jalan. Barnabas memilih pergi melalui laut ke Siprus bersama Yohanes Markus, sedangkan Paulus memilih jalur darat ke Asia kecil bersama teman perjalanan yang lain yakni Silas. Dalam perjalanan di Derbe, ia menemukan seorang murid dan pengikut setia yakni Timotius. Pada perjalanan misi

(74) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 55 yang kedua ini, Paulus dan Silas ditangkap. Mereka diseret ke pasar untuk menghadap penguasa dan mereka didera serta dilemparkan ke dalam penjara (Kis 16:19-23). Suharyo (2003: 27) mengatakan bahwa setelah dibebaskan dari penjara, Paulus dan Silas tiba di Tesalonika. Di kota itu pun Paulus dan Silas dicari untuk dihadapkan kepada sidang rakyat (Kis 17:5-9), sehingga mereka terpaksa lari ke Berea. Di kota itu Paulus terus diganggu (Kis 17:13). Setelah itu ia berangkat ke Atena (Kis 17:15), di kota itu Paulus diejek (Kis 17:32). Kemudian ia melanjutkan perjalanan ke Korintus dan di Korintus pun ia dimusuhi dan dihujat (Kis 18:1-6). Setelah itu ia kembali ke Antiokhia (Kis 18:22). Perjalanan misi selanjutnya tidak berbeda jauh. Dalam tulisannya, Suharyo (2003: 28) menuliskan bahwa perjalanan misi ketiga ini dimulai tidak lama setelah Paulus sampai di Antiokhia. “Setelah beberapa hari ia tinggal di situ, ia berangkat pula lalu menjelajahi seluruh tanah Galatia dan Frigia untuk meneguhkan hati semua murid” (Kis 18:23). Tidak semua orang mau mendengarkan Paulus, bahkan banyak orang yang mengumpat dia (Kis 19:9). Di Makedonia “orang Yahudi bermaksud membunuh dia. Oleh karena itu, ia memutuskan untuk kembali melalui Makedonia” (Kis 20:3-4). Dari Makedonia ia melanjutkan perjalanan ke Troas (Kis 20:6), kemudian ke Miletus (Kis 20:15), ke Tirus (Kis 21:3), dan akhirnya tiba di Kaisarea (Kis 21:8), kemudian bersama dengan kawan seperjalanan ke Yerusalem. Perjalanan misi ketiga ini berakhir dengan penangkapan Paulus (Suharyo, 2003: 28).

(75) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 56 C. Tafsir Atas 2 Korintus 9:6-15 1. Konteks Dalam perikop 2 Kor 9:6-15 ini, Paulus berbicara tentang pengumpulan uang untuk orang-orang kudus yang miskin di Yerusalem yang belum selesai. Perlu diketahui bahwa orang-orang yang percaya di Yerusalem sangat miskin pada waktu itu. Mereka sangat dibenci oleh orang Yahudi yang tidak percaya. Kebanyakan mereka telah kehilangan mata pencaharian atau usaha mereka. Setahun sebelumnya, orang-orang Korintus sudah mulai mengumpulkan uang dan hal dilakukan dengan sungguh-sungguh, akan tetapi pengumpulan uang tersebut belum selesai. Oleh karena itu, Paulus mengajak mereka untuk menyelesaikannya. Pengumpulan uang dari orang Korintus itu sudah ditunjukkan di 2 Kor 8:10. Dalam suratnya yang pertama, Paulus juga sudah mengajak jemaat bahwa “Pada hari pertama dari tiap-tiap minggu hendaklah kamu masing-masing sesuai dengan apa yang kamu peroleh” … (1 Kor 16:2). Paulus juga berjanji bahwa ia akan mengirimkan pengumpulan uang itu untuk Yerusalem melalui delegasi yang sudah dipilih (bdk 2 Kor 8:19). Pengumpulan uang disini bukan hanya untuk menolong orang miskin saja, tetapi juga untuk membiayai gembala sidang dan segala keperluan jemaat dalam pemberitaan Injil Yesus Kristus, (Brill Wesley t.thn: 135).

(76) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 57 2. Struktur Teks Dalam perikop 2 Korintus 9:6-15 ini penulis membagi ke dalam beberapa bagian, yakni sebagai berikut: Bagian I: (Ayat 6-7) a. Menabur banyak b. Memberi dengan Kerelaan Hati Bagian II: (Ayat 8-9) a. Berkecukupan dan berkelebihan dalam kebajikan b. Membagi-bagikan Bagian III: (Ayat 10-11) a. Penyedia dan pengganda benih b. Diperkaya dalam segala hal, dan murah hati Bagian IV: (Ayat 12-15) a. Pelayanan kasih dan ucapan syukur b. Tahan uji dalam pelayanan c. Bersyukur atas kasih karunia Allah yang melimpah Pembagian struktur dari perikop 2 Kor 9:6-15 yang telah penulis sebutkan di atas berdasarkan pada struktur yang telah dijelaskan oleh Brill Wesley (t.thn: 129),

(77) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 58 namun penulis memiliki alasan sendiri dalam pembagian struktur tersebut yaitu sebagai berikut: Bagian I (ayat 6-7) Paulus mengawali ajarannya kepada jemaat di Korintus dengan menekankan pada prinsip “menabur banyak” yang berarti umat Korintus sebagai jemaat yang percaya kepada Kristus hendaknya menyadari panggilan dan tugas mereka untuk bersikap “murah hati” (dengan kerelaan hati) dengan memberi apa yang telah diterima dari Tuhan. Karena apa yang diberikan tidak akan hilang melainkan bagaikan benih yang ditabur akan bertambah banyak. Dengan kata lain, orang yang menabur banyak (memberi banyak) akan menuai banyak juga dan begitu juga sebaliknya. Bagian II (ayat 8-9) Dalam ayat ini, Paulus ingin menegaskan bahwa orang yang menabur banyak dengan kerelaan dan murah hati adalah gambaran dari umat yang sudah “berkecukupan dan berkelebihan dalam kebajikan rohani” dan sadar bahwa dengan memberi maka akan malah berkecukupan dan berkelebihan, seperti ditegaskan juga dalam Ams 11:24 “Ada yang menyebar harta tetapi bertambah kaya” dan sebaliknya. Hal ini akan hanya dimengerti oleh orang-orang yang beriman dan menghidupi ajaran Kristus. Bagian III (ayat 10-11)

(78) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 59 Dalam ayat ini, lebih lanjut Paulus menegaskan kepada jemaat Korintus bahwa umat beriman kepada Kristus dalam menjalankan panggilan kerasulan harus selalu berpusat kepada sang “penyedia dan pengganda benih” dan yang selalu memperkaya setiap umat-Nya dengan segala macam kemurahan hati. Karena apabila seseorang memberi tidak akan membuatnya menjadi miskin malahan akan terberkati dan tercukupi dalam segala keperluannya, sebab nilai dari memberi memiliki banyak makna. Bagian IV (ayat 12-15) Di ayat selanjutnya, Paulus menegaskan bahwa di tengah-tengah umat beriman kepada Kristus “pelayanan kasih” perlu diwujudnyatakan kepada semua saudara-saudara seiman (dan bukan hanya diantara mereka saja) supaya pelayanan kasih itu dinikmati oleh semua umat dan menumbuhkan sikap syukur kepada Allah dan menjadi tahan uji dalam pelayanan berkat kasih karunia yang melimpah dari Allah. 3. Penjelasan Teks a. Ayat 6-7 9:6 Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga. 9:7 Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.

(79) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 60 Di ayat 6, makna “menabur banyak” dalam ayat ini bisa dipahami sebagai praktek melakukan suatu pekerjaan yang telah Allah tugaskan kepada kita dengan sepenuh hati, baik dalam bentuk materi maupun juga dalam bentuk dukungan moral. Kedua pekerjaan ini adalah panggilan mulia sebagai umat Kristen yang harus memberitakan kabar baik. Memberitakan kabar baik sama dengan menabur benih. Selain tokoh Rasul Paulus, dalam Injil Yohanes bisa dilihat bahwa Yohanes Pembaptis juga bekerja sebagai penabur. Yesus sendiri menyamakan pekerjaan pengabaran Injil dengan pekerjaan penabur. Maka tidak bisa dipungkiri bahwa kita pun harus menjadikan pekerjaan ini menjadi hal penting dalam hidup, yaitu menaburkan sebanyak-banyaknya kebaikan kapan dan dimana saja, sebab untuk dapat menuai banyak buah yang baik dalam hidup, perlu orang menaburkan benihbenih kebaikan sebanyak-banyaknya pula. Di ayat 7, arti dari “memberi dengan kerelaan hati” dalam ayat ini yaitu orangorang yang memberi dengan kondisi hati yang damai, bukan memberi dengan paksaan. Orang memberi dengan kerelaan hati tanpa pilih-pilih, sekalipun mungkin bantuan yang diberi sebagian akan jatuh di tempat (orang) dimana bantuan yang diberi tidak akan tumbuh atau memberi hasil seperti yang diinginkan si pemberi. Biarlah hal itu menjadi urusan orang yang diberi bantuan dengan Allah. Biar Allah saja yang mengatur dimana benih (bantuan) yang diberi akan jatuh, tumbuh dan menghasilkan. Yang penting adalah kita tidak memberi karena terpaksa, tidak dengan sedih hati dan tidak memberi benih/bantuan yang membinasakan orang lain, tetapi

(80) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 61 kita memberi dengan kerelaan hati. Sehingga apa yang diberikan dengan kerelaan hati akan menghasilkan buah kebenaran. Memberikan yang mau diajarkan Paulus di sini bukan hanya soal harta tetapi bagaimana memberi dengan sukacita dan ikhlas demi iman akan Kristus. Maka bentuk pengorbanan di sini bukan hanya mengorbankan harta yang dimiliki semata melainkan pemberian diri yang penuh, sebagaimana Paulus berkorban demi iman, sehingga ia mampu mengalami segala penderitaan semata-mata karena karunia Allah menyertainya. Tokoh lain dalam Injil yaitu kisah seorang janda miskin yang mempersembahkan dua peser ke dalam peti persembahan. Di mana jumlah dua peser tersebut merupakan segala yang dia miliki pada saat itu, namun ia rela memberikan semuanya (Mrk 12:43). b. Ayat 8-9 9:8 Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan. 9:9 Seperti ada tertulis: "Ia membagi-bagikan, Ia memberikan kepada orang miskin, kebenaran-Nya tetap untuk selamanya." Di ayat 8, “berkecukupan” berarti tidak kekurangan dalam hal apapun, segala yang diperlukan cukup. Dan “berkelebihan” berarti teramat banyak, melampaui atau melebihi apa yang diperlukan. Dalam hal ini orang yang bijaksana akan selalu merasa berkecukupan dalam segala hal meskipun sebenarnya dia tidak memiliki kekayaan atau materi yang berlebih. Iman yang dimiliki membuat orang-orang percaya merasa

(81) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 62 cukup akan harta duniawi. Dalam LBI (1991: 139) dijelaskan bahwa “Allah akan memberi kepada yang bermurah hati bukan hanya apa yang dibutuhkan orang itu sendiri, melainkan juga supaya mereka dapat memberi atau berbagi pada yang lain. Perbuatan baik tersebut Allah akan selalu mengingatnya.” Lebih lanjut orang-orang percaya yang murah hatinya akan selalu mengalami kebenaran janji Allah bahwa “Ia akan memenuhi segala keperluannya menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Yesus Kristus” (Flp 4:19). “Ia membagi-bagikan” di ayat 9 berarti Allah melimpahkan berkat karunia bagi orang-orang percaya terpisah dari tindakan atau jasa orang (manusia) itu sendiri. Dengan kata lain, Allah memberi berkat karunia-Nya bagi setiap orang percaya dengan cuma-cuma. Brill Wesley (t.thn: 132) dalam tulisannya mengatakan bahwa “orang yang percaya kepada Yesus Kristus telah menerima kasih karunia Allah yang menyelamatkan dan karena itu ia wajib menyatakan kemurahan hatinya.” Hal tersebut ditegaskan lagi dalam Matius 10:8 “Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.” c. Ayat 10-11 9:10 Ia yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan, Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu; 9:11 kamu akan diperkaya dalam segala macam kemurahan membangkitkan syukur kepada Allah oleh karena kami. hati, yang

(82) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 63 Di ayat 10, “penyedia dan pengganda benih” di sini menjelaskan kepemilikan dan penyediaan dari Tuhan atas segala sesuatu yang dibutuhkan oleh manusia. Dalam bahasa Yunani kepemilikan Allah berarti “penyediaan” (yaitu, chorēgeō atau chorus). Istilah lain dalam bahasa Yunani “Koine” yaitu dermawan yang secara melimpah memasok suatu kebutuhan. Orang percaya modern menghubungkannya dengan kemakmuran mereka akan kreativitas, etos kerja, akumulasi pengetahuan, atau usaha diri mereka sendiri. Namun, dalam pandangan Alkitabiah makna “penyedia” berhubungan dengan semua sumber daya dari Allah. Kepemilikan dan penyediaan Tuhan atas segala sesuatu tersebut memampukan orang percaya dalam melakukan pelayanan yang dipercayakan oleh Allah. Ayat 11, makna dari “diperkaya dalam segala hal” ini menerangkan bahwa orang tidak diperkaya dalam hal materi saja, namun juga dalam hal kebutuhan rohani yang membuat orang yang diperkaya dalam hal materi dan rohani tersebut menjadi orang yang murah hati (tulus, murni) otentik (asli) dalam berbagi. Perbuatan kemurahatian itu akan dilihat orang dan memuliakan Allah. Tujuan Allah memperkaya orang percaya adalah supaya suasana kasih dan penghargaan di tengah umat-Nya tumbuh berkembang (Utley, 2011: 283). d. Ayat 12-15 9:12 Sebab pelayanan kasih yang berisi pemberian ini bukan hanya mencukupkan keperluan-keperluan orang-orang kudus, tetapi juga melimpahkan ucapan syukur kepada Allah.

(83) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 64 9:13 Dan oleh sebab kamu telah tahan uji dalam pelayanan itu, mereka memuliakan Allah karena ketaatan kamu dalam pengakuan akan Injil Kristus dan karena kemurahan hatimu dalam membagikan segala sesuatu dengan mereka dan dengan semua orang, 9:14 sedangkan di dalam doa mereka, mereka juga merindukan kamu oleh karena kasih karunia Allah yang melimpah di atas kamu. 9:15 Syukur kepada Allah karena karunia-Nya yang tak terkatakan itu! Ayat 12, dalam bahasa Yunani “pelayanan kasih” merupakan kata lain dari leitourgia (liturgi) yang dipakai untuk menyebut kebaktian-kebaktian umum. Pelayanan kasih dapat diwujudnyatakan dalam tindakan pelayanan, atau pelayanan yang didasari oleh kasih. Pelayanan kasih juga dapat disebut dengan pelayanan kasih karena tidak ada imbalan atau gaji, itu dilakukan berkat ketulusan dari hati yang memberi. Pelayanan kasih yang diberikan oleh jemaat Korintus dalam pemberian tersebut membawa hasil yang memuaskan bahkan membawa hasil dua kali lipat. Hasil tersebut “mencukupkan keperluan orang kudus dan melipatgandakan ucapan syukur kepada Allah” (Brill Wesley, t.thn: 133). Dalam hal ini, Paulus memberi pengertian kepada jemaat Korintus bahwa pelayanan kasih atau kemurahan hati yang telah mereka berikan tidak membuat mereka miskin, melainkan suatu kemurahan yang membuat jiwa mereka kaya sehingga memuji Allah. Dalam ayat 13 dikatakan “tahan uji dalam pelayanan” dalam arti bahwa jemaat di Korintus sudah terbukti kebaikannya terhadapan pemberian yang mereka berikan untuk orang-orang yang ada di Yerusalem. Berkat kesabaran dan ketekunan jemaat Korintus dalam mengumpulkan dana untuk orang Yerusalem maka dana tersebut pun terkumpul sesuai dengan apa yang diharapkan. Begitu juga dengan Paulus, dia telah tahan uji

(84) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 65 dalam pelayanan, dia ingin menunjukkan bahwa pelayanan yang diberikan tidaklah mudah selalu menghadapi rintangan dan kesulitan, tidak jarang apa yang terjadi tidak sesuai dengan apa yang diinginkan. Berkat kemurahan hati jemaat Korintus dalam memberikan bantuan kepada orang-orang miskin yang ada di Yerusalem, orang-orang Yahudi merindukan mereka. Orang Kristen yang tinggal di Yerusalem mendoakan orang-orang Korintus (ayat 14). Di sini Paulus menyadari bahwa pemberian orang Korintus tersebut mendatangkan berkat sehingga orang Yahudi dan Yunani yang dahulu tidak saling bergaul, sekarang dipersatukan berkat kemurahan hati orang Korintus tersebut. “Orang Kristen di Yerusalem menyadari bahwa kasih Allah melimpah atas orang Kristen yang ada di Korintus” (Brill Wesley, t.thn: 133). LBI (1991: 140) dalam tulisannya mengatakan bahwa “demikian hal itu mempersatukan dua kelompok dalam suatu kesatuan yang erat dengan kemurahan hati dan doa.” Hal tersebut ditegaskan lagi dalam Ef 2:14 “Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan.” Di ayat 15, arti dari “karunia” adalah Yesus Kristus sendiri. Ialah karunia terbesar bagi umat manusia. “Allah telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal kepada manusia, dan sebenarnya karunia itu adalah dasar dari segala pemberian manusia” (Brill Wesley, t.thn: 134). “Suatu karunia yang demikian luhur sehingga tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata, tetapi harus selalu menjadi ungkapan syukur” (LBI, 1991: 141). Oleh karena itu, Paulus pada akhir suratnya

(85) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 66 menyampaikan rasa syukurnya yang tidak dapat diekspresikan lagi. Karena Allah telah memberikan Putra-Nya yang tunggal bagi manusia merupakan wujud pemberian tertinggi tak terbatas atas manusia. Menurut Paulus pemberian Allah ini adalah hal yang tidak dapat dikatakan dengan bahasa manusia dan sama sekali tidak cukup diekspresikan atau dijelaskan. D. Keutamaan Kerasulan Paulus Setelah menganalisa ayat-ayat Kitab Suci di atas, penulis melihat banyak keutamaan yang dapat dipelajari dari rasul Paulus. Di sini penulis hanya mengambil beberapa keutamaan dari pelayanan Paulus yang bisa menjadi inspirasi bagi para katekis. Keutamaan-keutamaan tersebut antara lain sebagai berikut: 1. Menabur Banyak Seperti yang yang telah dijelaskan di atas bahwa menabur berarti sama dengan memberitakan kabar baik. Di sini penulis melihat bahwa memberitakan kabar baik kepada semua orang dengan sebanyak-banyaknya sama juga dengan kita menabur banyak maka akan menghasilkan banyak juga. Dalam ayat tersebut dikatakan “Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga” (2 Kor 9: 6), maksudnya di sini ialah kita memberitakan kabar baik sebanyak kita mampu. Bagaikan benih yang ditabur, maka akan bertambah juga kabar baik yang kita wartakan. Sebab untuk dapat menuai banyak buah yang

(86) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 67 baik dalam hidup, perlu menaburkan benih-benih kebaikan sebanyak-banyaknya pula. Seperti halnya seorang pewarta, ia harus mampu menabur banyak kebaikan kepada semua orang sehingga apa yang ia wartakan sungguh menjadi kabar baik bagi banyak orang. 2. Memberi dengan Kerelaan Hati Penulis mengambil keutamaan memberi dengan kerelaan hati, karena penulis merasa bahwa setiap pelayanan yang dilakukan harus didasari oleh kerelaan hati dari si pemberi. Maksudnya ialah bahwa memberi itu harus dengan rela, tidak dengan terpaksa dan tidak dengan sedih hati. Pemberian yang hendak diberikan pun harus pemberian yang dengan sukacita, bukan karena paksaan, bukan karena sebuah keharusan atau karena peraturan belaka. Setiap orang harus memberikan dengan senang hati dan sebanyak ia mampu, bukan semata-mata karena diharuskan. Sumber pemberian bukanlah kantong, melainkan hati. Memberi dengan kerelaan hati di sini, sama juga dengan seorang pewarta. Seorang pewarta dalam mewartakan harus juga dengan sepenuh hati tidak dengan setengah-setengah atau karena terpaksa dan tidak menuntut imbalan (gaji) melainkan ia harus mewartakan secara sukarela. Maka bentuk pengorbanan dari si pewarta itu di sini adalah pewartaan yang ia berikan tanpa menuntut balas. Seorang pewarta harus berani berkorban. Baik itu berkorban dari segi waktu, keuangan, bahkan mengorbankan dirinya sendiri apabila perlu.

(87) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 68 3. Tahan Uji Tahan uji dalam hal ini penulis melihat bahwa sebenarnya Paulus ingin memperlihatkan pengorbanan yang telah ia lakukan dalam pelayanannya; bukan hanya sekedar ungkapan untuk jemaat Korintus yang telah berhasil dalam memberi bantuan tersebut, melainkan lebih pada pelayanan yang Paulus sendiri telah lakukan. Dalam suratnya kepada jemaat Korintus, Paulus mengatakan “Aku lebih banyak berjerih lelah; lebih sering dalam penjara; didera di luar batas; kerap kali dalam bahaya maut”… (2 Kor 11:23-29). Dalam ayat Kitab Suci tersebut, Paulus menunjukkan bahwa kesulitan dan tantangan dalam pelayanan telah Paulus alami akan tetapi Paulus telah tahan uji dalam berbagai situasi tersebut. Paulus telah mengorbankan banyak masanya dan tenaganya dalam melayani Tuhan. Dalam hal ini, penulis melihat bahwa sebagai seorang pewarta Paulus merupakan tokoh yang dapat menjadi panutan dalam melakukan pelayanan. Ketaatan dalam pelayanan yang telah Paulus lakukan membuat ia tahan uji dari berbagai macam kesulitan yang ia alami. Oleh karena itu seperti yang dilakukan oleh Paulus, pengorbanan seorang pewarta di sini dengan maksud sesuatu yang kita serahkan untuk suatu perkara tanpa mengharapkan kembali apa yang telah kita serahkan. Pelayanan kita kepada Tuhan menuntut pengorbanan. Tanpa pengorbanan mustahil untuk seseorang membuktikan pegangan dan kepercayaannya. Karena setiap pelayanan menuntut adanya pengorbanan.

(88) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 69 BAB IV INSPIRASI RASUL PAULUS BAGI PELAYANAN KATEKIS ZAMAN SEKARANG Katekis merupakan seorang pelayan yang memiliki panggilan dan tanggung jawab mulia untuk melayani dengan sepenuh hati. Supaya panggilan dan tanggung jawab yang luhur tersebut bisa dihayati, seorang katekis membutuhkan komitmen. Panggilan dan tanggungjawab tersebut tidak dilaksanakan karena keterpaksaan, melainkan karena komitmen diri, yakni pilihan pribadi untuk memberikan yang terbaik. Mengingat betapa besar peranan katekis dalam karya dan pelayanan Gereja, katekis perlu memperoleh perhatian yang mendukung dan menginspirasi agar katekis tetap setia pada tugas dan panggilan mereka sebagai pelayan. Oleh karena itu, pada bab IV ini penulis memaparkan inspirasi bagi katekis untuk lebih menghayati dan mencintai tugas dan panggilan sebagai pewarta (pelayan) Kristus. Secara khusus dalam bab IV ini penulis akan menyampaikan inspirasiinspirasi dari Rasul Paulus berdasarkan suratnya yang kedua kepada jemaat Korintus. Pembahasan bab IV ini dibagi dalam tiga bagian utama, yakni bagian pertama membahas tentang inspirasi dari Rasul Paulus berdasarkan 2 Korintus 9:6-15, bagian kedua tentang refleksi kateketis, bagian ketiga usulan program.

(89) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 70 A. Menggali Inspirasi dari Rasul Paulus Berdasarkan 2 Kor 9:6-15 Seorang katekis di zaman sekarang perlu menilik kembali nilai-nilai hidup Rasul Paulus dalam menjalankan tugas pelayanannya di Korintus karena ia adalah pemberita Injil dan penggema iman (katekis) pionir dalam tradisi Kristen. Nilai-nilai itu perlu dihidupkan kembali dalam diri para katekis di zaman sekarang. Jika seorang katekis menginginkan agar mereka yang dilayani mengalami perubahan dan perkembangan yang lebih baik, maka dia sendiri harus bekerja lebih keras untuk itu. Keutamaan-keutamaan kerasulan Paulus seperti pengorbanan diri dalam melayani umat di Korintus bisa menjadi salah satu inspirasi. Penulis akan memaparkan lima inspirasi dari Rasul Paulus berdasarkan 2 Korintus 9:6-15 yang membantu katekis dalam menghayati tugas dan panggilan mereka sebagai perwarta (pelayan) Kristus. 1. Memberi dengan Rela Tindakan memberi merupakan sebuah pelajaran hidup yang paling penting. Banyak orang mengatakan bahwa ia bisa memberi ketika ia memiliki. Pada prinsipnya hal tersebut benar adanya. Nemo dat quod non habet, tidak seorang pun bisa memberikan apa yang tidak ia miliki. Seseorang tidak bisa memberikan kasih jika ia sendiri tidak memiliki kasih. Seorang tidak bisa memberikan semangat jika ia sendiri tidak memiliki semangat. Memberi berarti melepaskan apa yang dimiliki. Syarat utama bisa memberi adalah jika memiliki. Maka dibutuhkan terlebih dahulu memiliki sesuatu hal jika seseorang ingin memberikan sesuatu kepada orang lain.

(90) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 71 Apabila dengan penuh kasih seseorang memberikan sesuatu kepada orang lain, ia menunjukkan kasihnya yang besar kepada Allah. “Memberi menurut kehendak Allah berarti memberi kepada Allah itu sendiri. Memberi secara benar merupakan suatu pembaktian diri” (Lembaga Pendidikan Kader, 1971: 17). Rasul Paulus dalam ajarannya kepada umat di Korintus menegaskan bahwa jika ingin menuai banyak, maka menaburlah yang banyak, karena orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga (2 Kor 9:6). Melayani berarti memberi, memberi berarti berkorban. Nilai pengorbanan yang diajarkan oleh Paulus diteladani dari Yesus dan para katekis perlu kembali menghidupkan nilai itu dalam dirinya dalam melayani orang-orang yang dipercayakan padanya. Paulus menjelaskan hendaklah masing-masing (katekis) memberikan dengan rela, tidak dengan sedih hati atau karena paksaan, karena Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita dan sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu. “Ia membagi-bagikan, Ia memberikan kepada orang miskin, Ia menyediakan benih bagi penabur dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu (2 Kor 9:7-10). Perikop di atas menegaskan bahwa nilai pengorbanan diri dalam melayani tidak akan pernah sia-sia. Sebaliknya, pelayanan yang dilakukan dengan terpaksa, tidak sepenuh hati dan tidak dengan hati yang gembira akan sia-sia dan dengan sendirinya akan menghambat kasih karunia yang hendak dilimpahkan Allah. Hal memberi juga dijelaskan dalam Injil, yakni dalam kisah persembahan janda miskin (bdk Mrk 12:43). Dalam persembahan janda miskin tersebut Yesus tidak melihat

(91) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 72 berapa banyak yang janda miskin berikan, tetapi apa yang ia berikan. Janda miskin tersebut memberikan seluruh hidupnya, bukan uangnya. Ia memberikan segalagalanya. Dengan cara memberi tersebut, janda miskin itu menunjukkan bagaimana seharusnya mengasihi Tuhan melebihi apapun. Katekis sebagai pelayan Tuhan diharapkan mampu meneladani sikap-sikap dalam hal memberi tersebut. Dalam konteks katekis memberi bisa saja memberikan diri, tenaga, waktu, pengalaman melalui setiap bentuk pelayanan yang diberikan. Misalnya memberikan pendampingan katekumen, mendampingi komuni pertama, memberikan materi untuk pertemuan lingkungan, memberikan pendalaman iman lingkungan dan masih banyak yang lain. Dengan memberikan berbagai pelayanan tersebut, sebenarnya para katekis sudah menunjukkan pengorbanan demi pelayanan tersebut. Memberi bukan hanya berbicara soal berapa banyak yang diberikan, melainkan lebih kepada apa yang diberikan. Seorang katekis tidak mampu melakukan apapun jika pemberian diri hanya dilakukan setengah-setengah. Oleh karena itu, seorang katekis membutuhkan suatu pengorbanan diri yang utuh. Pemberian terbesar katekis adalah pemberian diri yang penuh demi karya dan pelayanannya. 2. Melayani dengan Tulus Melayani dengan tulus berarti melayani tidak hanya setengah-setengah. Pelayanan yang hanya dituntut oleh tugas dan kewajiban tidak mempunyai makna. Semuanya menjadi bermakna dengan menjadikan pelayanan tersebut sebagai bagian hidup yang membahagiakan sesama. Melayani dengan tulus berarti melayani tanpa

(92) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 73 memandang kepada siapa pelayanan tersebut ditujukan. Melayani dengan tulus berarti tidak menuntut balas atas pelayanan yang diberikan. Seorang katekis adalah seorang saksi. Dia terutama adalah saksi kabar gembira keselamatan Allah. Karena kesaksian tersebut adalah tentang pribadi Yesus Kristus, maka hubungan pribadi dengan-Nya adalah kunci utama dari pembentukan diri sebagai seorang saksi Kristus. Yang hendak dibangun dengan itu semua tidak lain merupakan pelayanan yang lebih didasarkan pada sikap melayani secara tulus. Melayani dengan hati yang tulus nampak dalam kegembiraan kasih serta kesediaan untuk menyediakan diri dan waktu, keberanian untuk mengakui kerapuhan serta keterbatasan dirinya. Pengakuan ini tidak membuat katekis patah semangat dan putus harapan, tetapi senantiasa mau belajar dan mendengarkan, tidak berhenti pada dirinya sendiri, apalagi pada pemenuhan rasa cukup diri. Dalam surat 2 Korintus 9:6-15 nampak jelas adanya pelayanan yang tulus dalam diri jemaat Korintus. Tanpa ketulusan hati mereka, mustahil jemaat Korintus dapat mengumpulkan dana sesuai dengan jumlah yang diharapkan sehingga jemaat Korintus dapat membantu orang miskin yang ada di Yerusalem. Selain itu, ketulusan Rasul Paulus sendiri dalam pelayanan yang dapat dilihat dalam suratnya yang pertama kepada jemaat di Tesalonika 2:1-6 juga dapat dijadikan contoh ketulusan Rasul Paulus dalam melayani jemaat. Ketulusan pewartaan Rasul Paulus dilihat dari pewartaannya itu tidak menjadi sia-sia, tidak dengan tipu daya, tidak mencari

(93) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 74 keuntungan dan kekayaan sendiri, bukan untuk menyukakan hati manusia melainkan semata-mata untuk kemuliaan Allah. Di sinilah letak pengorbanan diri dari Rasul Paulus dalam pelayanannya yang dapat dijadikan sebagai inspirasi bagi para katekis zaman ini dalam pelayanannya, yaitu melayani dengan tulus, sungguh-sungguh, dalam segala situasi. Dalam segala situasi maksudnya, baik saat senang, sedih, saat mempunyai dan tidak mempunyai, baik saat digaji rendah maupun digaji tinggi, dan sebagainya. Dengan kata lain, seorang katekis zaman sekarang diharapkan mau melayani bukan karena saat butuh imbalan. Pelayanan yang dilakukan bukanlah untuk berlomba-lomba mengejar keuntungan pribadi, melainkan demi kemuliaan Tuhan dan kebutuhan mereka yang dilayani. Atas segala macam pelayanan yang dilakukan oleh katekis secara tulus hati, Allah sendiri yang akan mencukupkan segala sesuatu yang diperlukannya, seperti dikatakan dalam 2 Korintus 9:8, “Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu...” Oleh karena itu, katekis melakukan pelayanan tidak dengan sedih hati melainkan dengan hati yang gembira, tulus, ikhlas, dan Allah akan melimpahkan kepadanya apa yang menjadi keperluannya. Jika ia mengandalkan dan berserah diri kepada Tuhan dalam setiap pelayanan, katekis akan selalu dicukupkan bahkan berkelimpahan.

(94) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 75 3. Hidup dalam Doa Doa berarti “mengarahkan hati kepada Allah. Ketika seseorang berdoa, ia masuk dalam hubungan yang hidup dengan Allah.” Darminta (1997: 7) menuliskan bahwa doa merupakan “kontak dan perjumpaan dengan Allah. Perjumpaan yang benar sering diwujudkan dengan kata-kata dan saling berbicara.” Doa sebagai perjumpaan memiliki daya untuk mengubah hidup manusia. Berdoa berarti orang berbicara dengan Allah. Oleh karena itu, doa sebagai peristiwa berjumpa dan berdialog dengan Allah merupakan saat membangun diri dalam relasi yang semakin penuh dengan Allah. Lewat perjalanan pengolahan hidup, yang berarti membuka diri kepada Allah, maka manusia akan semakin menjadi sempurna, yakni hidup dalam kesederhanaan (Darminta, 1997: 8). Seorang katekis (pewarta/pelayan) Kristus idealnya ialah orang yang dewasa, baik dalam sikap maupun dalam tingkat kerohaniannya. Pewarta/pelayan Tuhan yang sejati memiliki semangat melayani yang ditunjang dengan doa, iman, dan kasih karena tanpa ketiga hal tersebut pelayanan yang dilakukan seakan-akan tidak memiliki jiwa. Tanpa jiwa pelayanan, seorang pelayan akan mudah lelah dan tidak memiliki sukacita ketika melakukan pekerjaan pelayanan. Oleh karena itu, penting bagi seorang pelayan yakni katekis untuk memiliki saat teduh, waktu hening, dan doa. Dalam suratnya yang kedua kepada jemaat Korintus (2 Kor 9:13-14), Paulus melihat bahwa berkat pengumpulan dana yang dilakukan jemaat Korintus, banyak

(95) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 76 orang mengucap syukur kepada Allah dan mendoakan jemaat Korintus atas kebaikan hati yang telah mereka lakukan. Paulus menyadari bahwa bantuan tersebut mendatangkan berkat yang melimpah sehingga orang tidak lupa mengucap syukur kepada Allah. Dalam hal ini dapat dilihat bahwa dalam melakukan setiap pekerjaan ataupun di saat mendapatkan sesuatu, orang tidak lupa untuk mengucap syukur dan berdoa kepada Allah. Paulus dalam pelayanannya selalu berserah diri kepada kehendak Allah. Layaknya juga seorang katekis dalam melakukan pelayanan, hidup doa merupakan pegangan yang harus selalu katekis hidupi karena tanpa doa, apapun yang dilakukan terasa hampa dan tidak bermakna. Dalam melakukan tugas dan pelayanan, katekis harus selalu melibatkan Roh Kudus karena mustahil seorang katekis mampu melaksanakan tugas dan pelayanan mereka tanpa melibatkan karya Allah di dalamnya. Dalam situasi zaman yang penuh tantangan, katekis perlu selalu berpegang teguh dalam iman dan serah diri, serta selalu melibatkan Tuhan dalam setiap karya dan pelayanan sehingga apa yang ia lakukan menghadirkan secara nyata Allah yang berkarya di dalam dirinya. 4. Berani Berkorban Sikap rela berkorban merupakan suatu sikap yang mencerminkan adanya kesediaan dan keikhlasan dalam memberikan sesuatu yang dimiliki untuk orang lain. Atau lebih sederhananya, rela berkorban bisa diartikan sebagai suatu sikap dan perilaku yang tindakannya dilakukan dengan ikhlas serta mendahulukan kepentingan orang lain daripada kepentingan diri sendiri. Rela berkorban berarti bersedia

(96) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 77 bertindak dengan ikhlas dan tidak mengharapkan imbalan dari orang lain. Oleh karena itu, seorang yang berani berkorban berarti berani mengorbankan apapun yang dimilikinya demi kepentingan orang lain ketimbang kepentingannya sendiri. Melayani Tuhan berarti merelakan diri untuk siap berkorban. Berkorban di sini dapat berwujud mengorbankan waktu, pikiran, tenaga, perasaan, uang, dan tidak jarang seluruh hidup dapat juga menjadi sebuah pengorbanan. Yesus sendiri sudah menunjukkan pengorbanan-Nya demi cinta-Nya kepada manusia sampai ia rela wafat di kayu salib. Sebagai seorang pewarta (pelayan) Kristus, katekis diharapkan mampu berkorban demi pelayananya, meskipun hal tersebut tidak mudah dilakukan. Seperti halnya Paulus, dia banyak berkorban untuk melayani Tuhan dalam kehidupannya, tetapi semua itu dia lakukan hanya untuk kemuliaan Tuhan. Salah satu contoh pengorbanan Rasul Paulus dalam mewartakan Kristus ialah ia rela dipenjara dan dianiya, rela melakukan perjalanan yang berbahaya, demi mewartakan Kristus kepada segala bangsa. Semangat Rasul Paulus dalam mewartakan tak pernah padam bahkan beberapa kali ia didera dan diterpa bahaya maut (lih. 2 Kor 11:23-25). Semangat Rasul Paulus dalam mewartakan ini sangat tepat untuk dihidupi oleh para katekis dalam melaksanakan tugas pewartaan yang telah Kristus percayakan. Pengorbanan yang diwujudkan oleh katekis dapat berupa mengorbankan waktu, tenaga, uang, pikiran, perasaan, bahkan bisa mengorbankan dirinya sendiri demi tugas dan pelayanannya. Itulah bentuk pengorbanan yang paling nyata dalam

(97) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 78 pelayanan katekis. Tanpa adanya pengorbanan yang tulus dari katekis, pelayanan tersebut tidak memiliki makna apapun juga. Setiap pelayanan menuntut pengorbanan. Dalam 2 Korintus 9:6-15, nampak pengorbanan yang dilakukan oleh jemaat Korintus dari pengumpulan dana untuk orang Yerusalem tersebut. Jemaat Korintus dapat memberikan dana tersebut berkat usaha jerih payah mereka. Itu semua berkat adanya pengorbanan dalam diri jemaat Korintus sehingga mereka dapat membantu orang Yerusalem sesuai dengan apa yang diharapkan. Pelayanan yang tidak mengorbankan apapun tidak akan mencapai apapun juga. Pengorbanan dalam sebuah pelayanan adalah sebuah hal yang sangat istimewa. Dalam zaman yang banyak menghadapi tantangan ini, perlu adanya pewarta yang berani berkorban demi melaksanakan tugas dan pelayanannya. 5. Bersyukur dalam Segala Hal Ungkapan syukur merupakan hal yang dasariah bagi setiap orang. Orang akan mengucap syukur karena bisa sekolah di tempat yang diinginkan, lulus tepat waktu, mendapatkan pekerjaan, dan masih banyak lagi hal yang lainnya. Mengapa orang mengucap syukur atas apa yang diinginkan terwujud? Karena tanpa campur tangan Allah di dalamnya manusia tidak bisa melakukannya sendirian. Namun hal tersebut tidak bisa disalahartikan bahwa orang mengucap syukur karena hal yang diinginkan terwujud, melainkan orang harus selalu mengucap syukur dalam setiap peristiwa hidup yang dialami sehari-hari, entah itu menyenangkan atau juga menyakitkan. Orang dituntut untuk selalu mampu bersyukur dalam setiap keadaan. Dengan

(98) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 79 mengucap syukur manusia sadar bahwa apa yang ada dalam dirinya merupakan pemberian Allah. Dan selalu memohon pertolongan rahmat-Nya agar mampu mengucap syukur dalam segala hal. Dalam 2 Korintus 9:12 dikatakan bahwa “mencukupkan keperluan-keperluan orang-orang kudus, tetapi juga melimpahkan ucapan syukur kepada Allah.” Hal ini dapat dilihat bahwa selain mencukupkan kebutuhan orang kudus, pengorbanan jemaat tersebut juga melimpahkan ungkapan syukur atas keberhasilan jemaat Korintus dalam pelayanan kasih yang mereka berikan, terutama untuk keberhasilan jemaat Korintus dalam mengumpulkan dana untuk membantu orang Yerusalem dan orang-orang kudus di sana, sehingga ucapan syukur tersebut berlipatganda. Ketika seseorang mendapatkan sesuatu, hendaknya ia selalu bersyukur dan menyadari bahwa semua itu karena Allah campur tangan di dalamnya. Hal tersebut dapat diteladani oleh katekis dalam melaksanakan tugas dan pelayanan di zaman sekarang. Pekerjaan seberat-berat apapun jika katekis mampu bersyukur maka akan terasa lebih ringan. Selalu mengucap syukur dan memohon rahmat penyertaan Tuhan dalam setiap pelayanan adalah hal yang patut katekis lakukan. Karena tanpa-Nya katekis tidak mampu melaksanakan tugas itu sendirian. Katekis akan merasa cepat kelelahan, cemas, cepat bosan, dan bahkan jenuh dengan pelayanan tersebut, jika kaketis itu tidak mampu bersyukur dalam segala hal, maka pelayanan tersebut akan terasa sulit dilakukan. Akan tetapi sebaliknya, jika katekis mampu bersyukur dalam setiap tugas dan pelayanan yang dilakukan maka semuanya terasa menyenangkan.

(99) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 80 Seberat-berat apapun pelayanyannya akan terasa ringan. Pelayanan yang dilakukan dengan sukacita maka akan mendatangkan sukacita juga bagi mereka yang dilayani. B. Refleksi Kateketis Setelah menemukan inspirasi-inspirasi dari pengorbanan pelayanan Paulus berdasarkan suratnya yang kedua kepada jemaat Korintus 9:6-15, penulis menyadari bahwa banyak inspirasi yang dapat digali sebagai sumber inspirasi bagi pelayanan katekis di zaman sekarang. Penulis memiliki alasan tersendiri untuk memaparkan lima inspirasi tersebut di atas. Dengan kelima inspirasi tersebut, penulis berharap dapat sungguh membantu katekis dalam melaksanakan tugas dan pelayanan katekis di zaman sekarang. Setelah menganalisa teks perikop 2 Korintus 9:6-15, dan menemukan inspirasi-inspirasi bagi katekis, penulis memiliki refleksi tersendiri. Penulis melihat bahwa perikop 2 Korintus 9:6-15 ini sangat cocok untuk dijadikan acuan dalam pelayanan terutama untuk pelayanan katekis di zaman sekarang. Di zaman yang banyak tantangan ini, hal memberi sangat memprihatinkan. Ada orang yang mau memberi berharap akan dibalas atas pemberiannya tersebut. Orang memberi masih memperhitungkan untung dan ruginya. Jika memberi itu menguntungkan dan akan mendapat balas, maka orang memberi dengan secepat mungkin. Sebaliknya, jika memberi tidak menguntungkan, orang masih berpikir panjang jika ingin memberi. Rasul Paulus dalam suratnya yang kedua kepada jemaat

(100) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 81 Korintus ini mengajak jemaat Korintus untuk dapat memberi dengan sukarela, tidak dengan sedih hati atau karena terpaksa, melainkan pemberian tersebut harus dengan sukacita. “Allah megasihi orang yang memberi dengan sukacita” (2 Kor 9:7). Hal ini merupakan tuntutan yang tegas. Rasul Paulus menegaskan bahwa Allah berkenan kepada orang-orang yang memberi dengan sukacita, aktif, dan gembira. Pemberian yang dimaksud adalah pemberian yang sungguh-sungguh dan bebas. Rasul Paulus mengingatkan jemaat Korintus bahwa hendaklah memberi dengan sukacita. Prinsip yang harus dikembangkan katekis sebagai pewarta adalah sikap murah hati karena semua kekayaan, bakat, kemampuan, kepandaian, dan seluruh hidup katekis merupakan pemberian cuma-cuma dari Allah. Oleh karena itu, selayaknya katekis juga memberikan secara cuma-cuma kepada orang yang dilayani. Dalam Injil Matius dikatakan “Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma”… (Mat 10;8). Hal tersebut ingin menunjukkan kemurahan hati Allah. Prinsip kemurahan hati tersebut tentu merupakan prinsip yang diinginkan Rasul Paulus terhadap jemaat Korintus dalam pemberian mereka. Rasul Paulus dalam pelayanannya selalu mengutamakan kepentingan jemaat yang ia layani. Dia ingin bahwa orang yang dia layani semakin diperkaya dalam segala hal oleh karena pewartaan yang ia berikan. Katekis zaman sekarang perlu memiliki prinsip seperti yang dimiliki oleh Paulus, yakni melayani dengan tujuan untuk memperkaya orang lain dan bukan memperkaya diri sendiri. Dalam hal ini, para katekis diharapkan tidak mementingkan

(101) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 82 dirinya sendiri, melainkan selalu melihat kebutuhan umat yang ia layani sehingga pelayanan yang diberikan sungguh-sungguh sesuai dengan apa yang diinginkan dan sesuai dengan kebutuhan umat. Pelayanan ini juga dilakukan agar umat semakin diperkaya oleh karena apa yang diwartakan. Sehingga dari pelayanan yang katekis berikan tersebut umat dapat menyadari bahwa wajah Kristus sendirilah yang katekis tampakkan dalam setiap karya dan pelayanannya. Dalam melaksanakan karya dan pelayanan tersebut, katekis tidak melaksanakan hanya dengan kata-kata belaka, melainkan harus dengan tindakkan nyata. Apa yang katekis katakan itu yang katekis lakukan. “Iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati” (Yak 2:26). Hal tersebut mau menegaskan bahwa iman yang dimiliki oleh seorang katekis harus sungguh dilaksanakan, baik dalam kata maupun dalam tindakkan. Dalam menghadapi berbagai tantangan zaman seperti yang telah penulis uraikan dalam bab II, misalnya konsumerisme, globalisasi ketidakpedulian, klerikalisme dan relativisme, katekis dituntut untuk lebih bijaksana dalam menghadapi situasi zaman tersebut. Oleh karena itu, hal yang diperlukan oleh seorang katekis adalah menjadi pribadi yang utuh. Utuh berarti bahwa pelayanan yang dilakukan secara penuh. Seluruh hidupnya diarahkan kepada pelayanan atau bisa dikatakan melayani dengan sepenuh hati, tanpa memperhitungkan untung ruginya. Dalam pelayanan yang katekis lakukan juga memerlukan adanya kasih di dalamnya. Karena pelayanan tanpa kasih ibaratkan makan tanpa garam. Jika tanpa kasih dalam melaksanakan tugas dan pelayanan maka orang mudah sekali untuk marah, mudah

(102) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 83 terpengaruh, pilih kasih, bahkan mengharapkan imbalan. Kasih yang mau ditunjukkan di sini ialah kasih kepada Allah dan kasih kepada mereka yang katekis layani. C. Usulan Program Retret untuk Meningkatkan Semangat Pelayanan Katekis di Paroki St. Alfonsus Nandan Yogyakarta 1. Latar Belakang Program Desawa ini, semangat pelayanan diberbagai tempat mulai menurun. Banyak pewarta hanya melakukan tugas mereka sebatas kewajiban bukan melaksanakan sebagai panggilan yang mulia yang dilaksanakan dengan hati yang tulus. Terutama lagi dihadapkan dengan berbagai arus zaman yang semakin hari semakin mengerogoti setiap aspek kehidupan. Tantangan arus zaman tersebut perlu disikapi secara kritis dan bijaksana oleh pewarta. Oleh karena itu, perlu diadakan pendampingan khusus yang dapat meningkatkan semangat pelayanan terutama bisa semakin menghayati tugas dan panggilan mereka sebagai pewarta. Dalam hal ini, fokus pendampingan penulis kepada para katekis. Katekis yang hendak diberikan pendampingan oleh penulis adalah para katekis Paroki St. Alfonsus Nandan Yogyakarta. Mereka merupakan para pewarta paroki yang sangat perlu diberikan penyegaran kembali akan tugas dan tanggungjawab mereka, agar mereka semakin menyadari sampai pada menghayati tugas dan panggilan mereka sebagai

(103) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 84 pewarta (pelayan) Tuhan. Oleh karena itu, penulis mengadakan program retret untuk para katekis demi pengembangan dan peningkatan semangat pelayanan sebagai pewarta.

(104) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 85 2. Matriks Usulan Program Retret USULAN PROGRAM RETRET Tema : Rasul Paulus sumber inspirasi pelayanan katekis di zaman sekarang Tujuan : Membantu katekis agar semakin menghayati panggilannya sebagai pelayan dengan menimba inspirasi dari Rasul Paulus berdasarkan 2 Korintus 9:6-15 sehingga semakin semangat dalam melaksanakan tugas dan pelayanan sebagai pewarta No Waktu (Menit) Judul Pertemuan Tujuan Uraian Materi Pertemuan Metode Sarana Sumber Bahan HARI PERTAMA 1 60 SESI I  Agar peserta  Perkenalan  Dialog  Laptop Materi persiapan  Informasi  LCD retret Pengantar dan mengenal antar peserta perkenalan pendamping dan dan  Mic singkat antara para peserta pendamping  Sound pendamping dan retret lainnya.  Tujuan retret system peserta  Membantu peserta  Aturan selama retret memahami tujuan diadakan 85

(105) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 86 retret dan aturan selama mengikuti retret. 2 90  Tantangan  Membaca SESI II Membantu Tantangan katekis zaman dalam katekis zaman memahami dan Evangelii sekarang menyadari Gaudium  Dialog tantangan  Tantangan  Tanya  LCD  Pengayaan  Laptop informasi  Sound system  PPT  Fransiskus. (2015). Evangelii Gaudium, Seri Dokumen Gerejawi No. 94 (F.X. Adisusanto & pelayanan zaman zaman dalam jawab Bernadeta Harini Tri sekarang. Direktorium  Refleksi Pasasti, Penerjemah). Formatio Iman Jakarta: Departemen Dokumentasi dan Penerangan Waligereja Indonesia. (Dokumen asli diterbitkan tahun 2013).  Nur Widipranoto, Markus, Fransiscus Xaverius Sugiyana, 86

(106) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 87 dan Thomas Aquino Purwono. (2018). Diroktorium Formatio Keuskupan Iman Agung Semarang. Yogyakarta: Kanisius. HARI KEDUA 3 60 SESI III Mengenal sosok Identitas Paulus Rasul Paulus  Paulus dari Tarsus  Membaca  Refleksi sebagai sumber  Orang Farisi  Sharing inspirasi dan  Penganiaya  Informasi teladan katekis dalam melayani orang Kristen  Paulus agar semakin tertangkap oleh menyadari Kristus (Paulus identitas dan menuju tugasnya sebagai Damsyik) seorang pewarta.  Tanya jawab  Meditasi  LCD  Bea, Agustinus.  Laptop (1975). Paulus yang  Sound Tertangkap Oleh system Kristus. Flores: Nusa  PPT Indah.  Lembara  Hari Kustono, n materi Antonius. (2012).  Buku Paulus dari Tarsus. tulis Yogyakarta: Kanisius.  Jakobs, Tom. (1983). Paulus: Hidup, Karya, dan Teologinya. Yogyakarta: 87

(107) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 88 Kanisius. 4 90  Perjalanan misi SESI IV Membantu Karya kerasulan peserta semakin Paulus memahami karya  Perjalanan misi pewartaan yang dilakukan oleh Paulus dalam pertama kedua  Perjalanan misi ketiga  Membaca  Refleksi  Tanya jawab Informasi  Sharing melaksanakan tugas dan  LCD  Suharyo, Ignatius. (2003). Menjadi  Laptop Manusia Dewasa.  Sound Yogyakarta: system Kanisius.  PPT   Lembara Purwa n materi Hadirwardoyo, Al. (2012). Warisan  Buku Paulus bagi Umat. tulis Yogyakarta: Kanisius. panggilan sebagai pewarta. 5 120 SESI V Membantu Inspirasi Rasul peserta menggali Paulus dan menemukan berdasarkan 2 inspirasi yang Korintus 9:6-15 dapat diperoleh dari Rasul Paulus berdasarkan 2 Korintus 9:6-15  Memberi dengan rela  Melayani dengan tulus  Hidup dalam doa  Berani  Membaca  Refleksi  Sharing  Informasi  Tanya jawab  LCD  Brill, J. Wesley. (t.thn). Tafsiran  Laptop Surat Korintus  Sound Kedua. Bandung: system Kalam Hidup.  PPT   Lembara Darminta, J. (1997). n materi Doa dan Pengolahan Hidup. Yogyakarta:  Buku Kanisius tulis berkorban 88

(108) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 89 sebagai teladan 6 90  Bersyukur dalam pelayanan dalam segala katekis. hal SESI VI Membantu  Sosok katekis  Membaca Sosok dan katekis semakin  Pengertian  Diskusi spiritualitas menyadari dan katekis memahami siapa diri mereka, apa tugas dan spiritualitas  Tanya  Spritualitas jawab katekis  Refleksi bersama tanggung jawab  Sharing mereka, sehingga  Informasi semakin meningkatnya semangat pelayanan katekis di zaman sekarang.  LCD  Laptop  PPT  Sound system  Buku tulis  Kongregasi Evangelisasi untuk Bangsa-bangsa. CEP. (2001). Pedoman untuk Katekis (Komisi Kateketik KWI, Penerjemah). Yogyakarta: Kanisius.  Heuken, A. (2002). Spiritualitas Kristiani-Pemekaran Hidup Rohani Selama Dua Puluh Abad. Jakarta: Cipta Loka Caraka.  Sarjumunarsa, Th. (1982). “Spiritualitas Katekis” Rohani, Tahun XXIX, Februari. h.33. 89

(109) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 90 3. Contoh Persiapan Program Retret RETTRET KATEKIS Rumah Retret: Rumah Retret Sangkalputung Klaten Tanggal/Bulan/Tahun: 25-17/1/2019 a. Konsep Dasar Tema : Rasul Paulus sumber inspirasi pelayanan katekis di zaman sekarang Tujuan : Membantu katekis agar semakin menghayati panggilannya sebagai pelayan dengan menimba inspirasi dari Rasul Paulus berdasarkan 2 Korintus 9:6-15 sehingga semakin semangat dalam melaksanakan tugas dan pelayanan sebagai pewarta b. Dinamika (Jadwal kegiatan) Hari Pertama (25 Januari 2019) 14.00-14.15 : Peserta tiba di rumah retret 14.15-15.00 : Pembagian kamar oleh petugas retret 15.00-16.00 : Persiapan pribadi 16.00-16.30 : Snack 16.30-17.30 : Sesi I: Pengantar dan perkenalan 17.30-18.30 : Ibadat pembukaan retret 18.30-19.30 : Makan malam

(110) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 91 19.30-21.00 : Sesi II : Tantangan katekis zaman sekarang 21.00-21.30 : Refleksi pribadi 21.30-22.00 : Ibadat malam 22.00 : Istirahat Hari Kedua (26 Januari 2019) 06.00-06.30 : Ibadat pagi 06.30-07.00 : Persiapan pribadi 07.00-08.00 : Makan pagi 08.00-09.00 : Sesi III : Identitas Paulus 09.00-10.00 : Meditasi pribadi 10.00-10.30 : Snack 10.30-12.00 : Sesi IV : Karya kerasulan Paulus 12.00-13.00 : Makan siang 13.00-15.30 : Istirahat siang 15.30-16.00 : Snack 16.00-18.00 : Sesi V : Inspirasi Rasul Paulus berdasarkan 2 Korintus 9:6-15 18.00-19.00 : Refleksi pribadi

(111) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 92 19.00-20.00 : Makan malam 20.00-21.00 : Sharing 21.00-22.00 : Ibadat malam 22.00 : Istirahat malam Hari Ketiga (27 Januari 2019) 06.00-07.00 : Meditasi alam dan doa pagi 07.00-08.00 : Makan pagi 08.00-09.30 : Sesi VI : Sosok dan spiritualitas katekis 09.30-10.00 : Snack 10.00-11.00 : Evaluasi dan refleksi bersama 11.00-11.15 : Persiapan misa penutupan retret 11.15-13.00 : Misa penutup 13.00-13.30 : Makan siang 13.30-14.00 : Sayonara c. Langkah-langkah dinamika retret  Hari pertama (25 Januari 2019) 14.00-14.15 : Peserta tiba di rumah retret  Pendamping menyambut kedatangan peserta retret 14.15-15.00 : Pembagian kamar oleh petugas retret

(112) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 93  Petugas rumah retret mengarahkan peserta menuju kamar masingmasing 15.00-16.00 : Persiapan pribadi  Peserta mempersiapkan diri 16.00-16.30 : Snack  Peserta dan pendamping menuju ruang makan dan bersama-sama menikmati snack yang sudah disediakan  Salah satu peserta memimpin doa snack 16.30-17.30 : Sesi I: Pengantar dan perkenalan 1. Tujuan:  Peserta mengerti tema, maksud, tujuan dan tata tertib retret  Peserta menjadi akrab satu sama lain  Peserta membentuk kelompok terdiri dari 4 orang untuk diskusi dan sharing  Peserta mampu membuka diri terhadap diri sendiri, sesama dan Tuhan 2. Langkah I:  Pendamping menyapa peserta dan memperkenalkan diri kemudian peserta masing-masing memperkenalkan diri 3. Langkah II:

(113) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 94  Pendamping dan peserta membuat kesepakatan bersama untuk beberapa hal praktis sesuai dengan situasi dan kebutuhan peserta 4. Langkah III:  Pendamping mengarahkan peserta untuk membuat kelompok kecil untuk diskusi, refleksi dan sharing, dan kelompok ini akan dipakai selama kegiatan retret berlangsung  Pendamping dan petugas ibadat yang sudah dipilih menyiapkan ibadat pembuka retret 17.30-18.30 : Ibadat pembukaan retret  Semua peserta dan pendamping mengikuti ibadat pembuka 18.30-19.30 : Makan malam  Peserta diarahkan untuk menuju ke ruang makan sesuai aturan dan kesepakatan dalam suasana hening  Salah satu dari peserta memimpin doa makan 19.30-21.00 : Sesi II : Tantangan katekis zaman sekarang 1. Tujuan: Peserta semakin mengenal dan mengetahui situasi zaman sebagai tantangan pelayanan katekis zaman sekarang 2. Langkah I:

(114) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 95  Pendamping memberikan pegantar singkat mengenai materi yang akan di dalami  Pendamping membagikan lembar fotokopy materi mengenai tantangan zaman dan memberikan waktu singkat untuk peserta membaca masing-masing secara pribadi 3. Langkah II:  Pendamping mempersilahkan kepada peserta yang mau bertanya  Pendamping menanggapi pertanyaan peserta dan memberikan penjelasan secara rinci 4. Langkah III:  Pendamping membagikan lembar refleksi kepada peserta dan peserta diberi waktu untuk berefleksi secara pribadi 21.00-21.30 : Refleksi pribadi  Dalam suasana hening peserta melakukan refleksi pribadi secara bebas memilih tempat yang nyaman  Setelah dirasa cukup pendamping meminta kepada peserta untuk sharing dari hasil refleksi tersebut 21.30-22.00 : Ibadat malam  Pendamping dan semua peserta mengikuti ibadat malam sesuai dengan apa yang sudah dipersiapkan 22.0 : Istirahat

(115) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 96  Semua peserta beristirahat dalam suasana hening  Hari Kedua (26 Januari 2019) 06.00-06.30 : Ibadat pagi  Pendamping dan semua peserta mengikuti ibadat pagi sesuai dengan apa yang sudah disiapkan 06.30-07.00 : Persiapan pribadi  Pendamping dan peserta masing-masing mempersiapkan diri 07.00-08.00 : Makan pagi  Peserta dan pendamping menikmati makan pagi bersama  Salah satu peserta memimpin doa makan 08.00-09.00 : Sesi III : Identitas Paulus 1. Tujuan: Membantu peserta mengenal sosok Rasul Paulus sebagai sumber inspirasi dan teladan katekis dalam melayani agar semakin menyadari identitas dan tugasnya sebagai seorang pewarta 2. Langkah I:  Pendamping membagikan lembar materi kepada peserta untuk dibaca secara pribadi 3. Langkah II:

(116) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 97  Pendamping meminta beberapa peserta untuk sharing dari apa yang didapatkan selama membaca secara pribadi tersebut 4. Langkah III:  Pendamping menjelaskan secara rinci baik dari hasil sharing beberapa peserta maupun dari keseluruhan materi yang dibahas 09.00-10.00 : Meditasi pribadi  Peserta melakukan meditasi secara pribadi untuk melihat kembali dan memperdalam arti dan makna panggilannya sebagai pewarta 10.00-10.30 : Snack  Peserta dan pendamping bersama-sama menikmati snack yang sudah disediakan dalam suasana hening  Salah satu peserta memimpin doa snack 10.30-12.00 : Sesi IV : Karya kerasulan Paulus 1. Tujuan: Membantu peserta semakin memahami karya pewartaan yang dilakukan oleh Paulus dalam melaksanakan tugas dan panggilan sebagai pewarta 2. Langkah I:  Pendamping membagikan lembaran perenungan kepada peserta  Pendamping memberikan pengantar singkat berkaitan dengan bahan perenungan yang sudah ada pada peserta

(117) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 98 3. Langkah II:  Berdasarkan bahan perenugan yang sudah dibagikan peserta masingmasing membaca, merenungkan dan merefleksikan pengalaman berdasarkan pertanyaan yang sudah disiapkan 4. Langkah III:  Setelah merenungkan dan merefleksikan pengalaman tersebut peserta diminta berkumpul dalam kelompok kecil untuk mensharingkan hasil refleksinya tersebut  Salah satu perserta dalam masing-masing kelompok mencatat buah-buah hasil refleksi 5. Langkah IV:  Setelah dirasa cukup pendamping meminta setiap kelompok menyiapkan satu peserta untuk perwakilan kelompok membacakan hasil sharing dalam kelompok besar  Pendamping mempersilahkan kepada perwakilan dari setiap kelompok untuk membacakan buah-buah yang didapatkan dalam sharing untuk saling memperkaya satu sama lain  Pendamping merangkum dari keseluruhan hasil sharing dan memberikan peneguhan 12.00-13.00 : Makan siang  Pendamping dan peserta menikmati makan siang bersama

(118) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 99  Salah satu dari peserta memimpin doa makan 13.00-15.30 : Istirahat siang  Peserta diberi waktu istirahat siang dalam suasana hening 15.30-16.00 : Snack  Pendamping dan peserta menikmati snack bersama-sama  Salah satu peserta memimpin doa snack 16.00-18.00 : Sesi V : Inspirasi Rasul Paulus berdasarkan 2 Korintus 9:6-15 1. Tujuan: Membantu peserta menggali dan menemukan inspirasi yang dapat diperoleh dari Rasul Paulus berdasarkan 2 Korintus 9:6-15 sebagai teladan dalam pelayanan katekis 2. Langkah I:  Pendamping memberikan lembaran materi kepada peserta untuk peserta membaca secara pribadi 3. Langkah II:  Pendamping meminta beberapa dari peserta untuk membagikan hasil dari membaca tersebut  Peserta yang lain mendengarkan dan mencatat buah-buah yang berharga 4. Langkah III:

(119) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 100  Pendamping merangkum dari hasil sharing secara keseluruhan dan memberikan peneguhan berkaitan dengan materi yang bersangkutan 18.00-19.00 : Refleksi pribadi  Pendamping memberikan beberapa pertanyaan sebagai bahan refleksi  Peserta secara pribadi merefleksikan sesuai dengan pertanyaan yang sudah pendamping berikan 19.00-20.00 : Makan malam  Pendamping dan peserta menikmati makan malam bersama  Salah satu dari peserta memimpin doa makan 20.00-21.00 : Sharing  Pendamping meminta peserta berkumpul dalam kelompok kecil untuk mensharingkan hasil refleksinya  Masing-masing kelompok mencatat buah-buah penting yang ditemukan dalam sharing  Setelah dirasa cukup pendamping meminta peserta memplenokan dalam kelompok besar  Pendamping merangkum hasil sharing secara keseluruhan dan memberikan peneguhan 21.00-22.00 : Ibadat malam  Pendamping dan semua peserta mengikuti ibadat malam sesuai dengan apa yang sudah disiapkan

(120) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 101 22.00 : Istirahat malam  Pendamping dan peserta istirahat malam tetap menciptakan suasana hening  Hari Ketiga (27 Januari 2019) 06.00-07.00 : Meditasi alam dan doa pagi  Pendamping dan peserta melakukan meditasi alam dan doa pagi sesuai dengan apa yang sudah dipersiapkan 07.00-08.00 : Makan pagi  Pendamping dan peserta bersama-sama menikmati makan pagi  Salah satu dari peserta memimpin doa makan 08.00-09.30 : Sesi VI : Sosok dan spiritualitas katekis 1. Tujuan: Membantu katekis semakin menyadari dan memahami siapa diri mereka, apa tugas dan tanggung jawab mereka, sehingga semakin meningkatnya semangat pelayanan katekis di zaman sekarang 2. Langkah I:  Pendamping meminta peserta berkumpul dalam kelompok kecil untuk berdiskusi dan berrefleksi secara bersama sambil membagikan lembaran diskusi kepada peserta

(121) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 102  Pendamping meminta peserta dalam setiap kelompok mendiskusikan dan merefleksikan sesuai dengan pertanyaan yang sudah dibagikan 3. Langkah II:  Pendamping meminta salah satu perwakilan dari peserta untuk membagikan hasil diskusi dalam kelompok besar dan peserta yang lain diminta untuk menanggapi  Setiap kelompok secara bergantian membagikan hasil diskusi dan refleksi bersama tersebut dalam kelompok besar 4. Langkah III:  Pendamping merangkum keseluruhan sharing peserta dan memberikan peneguhan dari hasil sharing dan juga materi yang bersangkutan 09.30-10.00 : Snack  Pendamping dan peserta menikmati snack bersama  Salah satu memimpin doa snack 10.00-11.00 : Evaluasi dan refleksi bersama  Pendamping memberikan pengantar singkat untuk evaluasi dan refleksi bersama tentang keseluruhan kegiatan retret selama 3 hari berlangsung  Pendamping meminta peserta untuk terbuka hati memberikan hal-hal yang menarik dan kurang menarik selama proses retret berlangsung  Pendamping meminta peserta untuk memberikan masukan dan saran untuk perbaikan retret yang akan datang

(122) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 103 11.00-11.15 : Persiapan misa penutupan retret  Pendamping dan peserta mempersiapkan misa penutup  Pendamping memilih dari peserta yang bertugas dalam perayaan Ekaristi  Pendamping memastikan semua peserta siap mengikuti perayaan Ekaristi 11.15-13.00 : Misa penutup  Pendamping dan peserta bersama-sama mengikuti Misa penutupan retret 13.00-13.30 : Makan siang  Pendamping dan peserta bersama-sama menikmati makan siang yang sudah disediakan  Salah satu peserta memimpin doa makan 13.30-14.00 : Sayonara  Perwakilan dari salah satu dari peserta memberikan sepatah dua patah kata ungkapan terima kasih kepada pendamping  Pendamping juga memberikan ucapan terima ksih kepada semua peserta karena semua dapat mengikuti retret dengan baik sehingga semua dapat berjalan dengan lancar  Peserta dan pendamping bersiap-siap untuk pulang

(123) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 104 BAB V PENUTUP Bab-bab dalam skripsi ini telah memaparkan tantangan pelayanan katekis, siapa katekis, dan karya pewartaan Rasul Paulus. Inspirasi-insirasi tentang pengorbanan diri yang diambil dalam 2 Korintus 9:6-15 yang meliputi memberi dengan rela, melayani dengan tulus, hidup dalam doa, berani berkorban dan bersyukur dalam segala hal sudah penulis paparkan dengan sederhana, agar lebih mudah dimengerti dan dipahami oleh katekis. Maka pada bab V ini penulis menarik kesimpulan atas pembahasan dalam bab-bab sebelumnya. Bagian ini juga memaparkan beberapa saran yang dapat membantu katekis dalam meningkatkan semangat dalam melaksanakan tugas dan pelayanan sebagai pewarta di zaman sekarang. A. Kesimpulan Perubahan zaman yang terus-menerus memunculkan pelbagai tantangan zaman yang semakin kompleks. Katekis zaman sekarang menghadapi banyak tantangan dalam pelayanan mereka. Tantangan-tantangan tersebut dapat mempengaruhi karya pewartaan katekis di mana umat yang mereka layani merupakan umat yang hidup di zaman ini. Katekis memiliki peran dan tanggung jawab yang sangat besar dalam sebuah kemajuan Gereja. Secara khusus Gereja Indonesia tidak mungkin hidup dan berkembang tanpa kehadiran dan peran para katekis.

(124) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 105 Katekis adalah seorang yang telah diutus oleh Gereja untuk membantu menyebarkan kasih Allah kepada semua orang. Katekis juga dapat diartikan sebagai kaum awam yang mendapatkan pendidikan khusus dan menonjol dalam menjalankan tugas misioner Gereja. Katekis disebut juga sebagai pelayan, saksi, penginjil, dan tulang punggung komunitas Kristiani terutama bagi Gereja yang masih muda. Tugas katekis pertama-tama adalah memperkenalkan Kristus kepada semua orang sehingga semakin dicintai dan diikuti oleh mereka yang belum mengenal-Nya dan oleh kaum beriman itu sendiri. Dalam melaksanakan tugas dan pelayanan, katekis banyak dihadapkan dengan berbagai tantangan zaman. Tantangan-tantangan tersebut dalam Evangelii Gaudium meliputi: konsumerisme, globalisasi ketikpedulian, klerikalisme dan relativime. Selain itu dalam Direktorium Formatio Iman juga disebutkan beberapa tantangan arus zaman yakni: sekularisasi dan sekularisme, pendangkalan hidup dan budaya instan, krisis iman dan moral: ateisme dan relativisme dan merebaknya kemiskinan. Dalam menghadapi tantangan zaman tersebut katekis diharapkan dapat menyikapi berbagai tantangan zaman tersebut secara kritis dan bijaksana. Rasul Paulus merupakan tokoh yang dapat menjadi panutan katekis dalam melaksanakan tugas pewartaan dan pelayanan di zaman sekarang. Rasul Paulus dapat menjadi cotoh pewarta atau pelayan yang setia. Keseluruhan hidup dan karyanya diserahkan hanya untuk melayani Kristus. Paulus dalam suratnya yang pertama kepada jemaat Korintus mengatakan bahwa “Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil” (1 Kor 9:16). Hal tersebut menunjukkan bahwa memberitakan Injil merupakan suatu keharusan bagi Paulus. Dalam suratnya

(125) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 106 kepada jemaat Filipi Rasul Paulus juga berkata “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan” (Flp 1:21). Hal ini mau menunjukkan bahwa hidup Rasul Paulus sepenuhnya hanya untuk pewartaan. Baginya hidup adalah Kristus berarti sepenuhnya hidup Rasul Paulus diserahkan untuk karya dan pewartaannya dan bukti cintanya kepada Allah. Paulus merupakan seorang Yahudi termasuk golongan Farisi. Ia memelihara hukum nenek moyong dan taat pada hukum Taurat, bahkan dalam memelihara hukum Taurat ia tidak bercacat. Ayah Paulus berasal dari suku Benyamin. Dari ayahnya ia mewarisi kewarganegaraan Romawi dan dididik dalam budaya Yunani. Paulus pertama kali muncul sebagai orang Yahudi fanatik yang mengejar-ngejar jemaat Kristen. Pada saat Paulus begitu semangat ingin memusnahkan jemaat Kristen disitulah ia tertangkap oleh Kristus. Pada perjalanan menuju Damsyik ada cahaya menyinarinya. Paulus rebah ke tanah kemudian ia mendengar ada satu suara. Berkat kejadian di Damsyik itulah Paulus menjadi pelayan Kristus yang tak kenal lelah. Paulus melakukan perjalanan sebanyak tiga kali dalam pelayanannya. Dalam mewartakan Kristus banyak pengorbanan yang dilakukan oleh Paulus. Tidak jarang Paulus dan rekannya ditolak bahkan diusir oleh karena nama Kristus. Aniaya dan penjara merupakan hal yang seringkali Paulus dan rekannya lalui. Paulus meski mengalami berbagai macam tantangan dan kesulitan dalam karya dan pewartaannya pada saat itu, tidak membuat dia goyah dalam melaksanakan tugasnya sebagai pewarta Kristus. Rintangan dan hambatan tersebut tidak

(126) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 107 membuat Paulus menyerah. Semangatnya tak pernah padam dalam mewartakan Kristus. Inspirasi yang dapat dipelajari oleh katekis dari Rasul Paulus terutama dalam 2 Korintus 9:6-15 adalah memberi dengan rela, melayani dengan tulus, hidup dalam doa, berani berkorban, dan bersyukur dalam segala hal. Sebagai pewarta kelima inspirasi tersebut merupakan hal yang perlu katekis dalami. Karena tanpa memberikan diri dengan rela katekis tidak bisa melayani dengan tulus, tanpa doa katekis tidak bisa berjalan sendiri, tanpa berkorban pelayanan katekis tidak memiliki makna, dan tanpa bersyukur dalam segala hal tugas pewartaan yang dilakukan oleh katekis terasa berat dan melelahkan. Oleh karena itu, kelima inspirasi tersebut diharapkan dapat memberi manfaat bagi katekis dalam meningkatkan semangat pelayanan katekis di zaman sekarang. B. Saran Karya tulis ini tentu bukan merupakan hasil yang sudah sempurna, masih memiliki banyak kekurangan dan keterbatasan dalam penulisan. Akan tetapi meskipun begitu berikut penulis menyampaikan beberapa saran yang kiranya dapat berguna bagi pelayanan katekis. Saran tersebut disampaikan kepada: 1. Para katekis terutama bagi katekis yang sedang berkarya dapat menggali inspirasi dari Rasul Paulus antara lain memberi dengan rela, melayani dengan tulus, hidup dalam doa, berani berkorban dan bersyukur dalam segala hal. Akan tetapi tidak terbatas pada pemaparan penulis saja masih banyak inspirasi

(127) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 108 yang dapat digali dari sumber-sumber yang lain sesuai dengan yang dibutuhkan. 2. Untuk meningkatkan semangat pelayanan katekis, paroki-paroki perlu mengadakan program retret atau rekoleksi khusus bagi katekis, yang dapat memberi motivasi dan inspirasi bagi katekis dalam melaksanakan tugas pelayanan mereka. Retret dan rekoleksi perlu diadakan agar dalam melaksanakan tugas pelayanan para katekis selalu sadar akan tugas dan tanggung jawab mereka sebagai pewarta sehingga selalu semangat dalam melayani.

(128) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 109 DAFTAR PUSTAKA Bea, Agustinus. (1975). Paulus yang Tertangkap Oleh Kristus. Flores: Nusa Indah. Bright, Laurence. (1971). Paul II. London: Beccles and Colchester. Brill, J. Wesley. (t.thn). Tafsiran Surat Korintus Kedua. Bandung: Kalam Hidup. Darminta, J. (1997). Doa dan Pengolahan Hidup. Yogyakarta: Kanisius. Dewan Karya Pastoral KAS. (2014). Direktorium Formatio Iman, Menjadi Katolik Cerdas Tangguh dan Misioner Sejak Dini Sampai Mati. Semarang: Keuskupan Agung Semarang. Eko Riyadi, St. (2012). Hidup dalam Kristus. Yogyakarta: Kanisius. ____________. (2017). Surat-surat Proto Paulino. Yogyakarta. Fransiskus. (2015). Evangelii Gaudium, Seri Dokumen Gerejawi No. 94 (F.X. Adisusanto & Bernadeta Harini Tri Pasasti, Penerjemah). Jakarta: Departemen Dokumentasi dan Penerangan Waligereja Indonesia. (Dokumen asli diterbitkan tahun 2013). Hari Kustanto, Antonius. (2008). Paulus dari Tarsus: 21 tanya jawab. Yogyakarta: Kanisius. Haryanto Soedjatmiko. (2008). Saya Berbelanja, Maka Saya Ada. Yogyakarta dan Bandung: Jalasutra. Heru Prakosa, J. B. (2015). “Tantangan Zaman dan Ancaman Klerikalisme” Rohani, Tahun ke-62, Agustus. h.33 Heuken, A. (2002). Spiritualitas Kristiani-Pemekaran Hidup Rohani Selama Dua Puluh Abad. Jakarta: Cipta Loka Caraka. http://daiwithin16.blogspot.com/2015/10/klerikalisme.html, diunggah pada 21 Juni 2018 http://pengertian.website/pengertian-globalisasi-pengaruh-dan-dampaknya/ diunggah pada 21 Juni 2018 Jakobs, Tom. (1983). Paulus: Hidup, Karya, dan Teologinya. Yogyakarta: Kanisius. ____________. (1985). Paulus Rasul. Yogyakarta: Kanisius. Kitab Hukum Kanonik. (2016). Edisi Resmi Bahasa Indonesia (Revisi II). Bogor: Konferensi Waligereja Indonesia. (Dokumen asli diterbitkan tahun 1983). Kongregasi Evangelisasi untuk Bangsa-bangsa. CEP. (2001). Pedoman untuk Katekis (Komisi Kateketik KWI, Penerjemah). Yogyakarta: Kanisius. Konsili Vatikan II. (1993). Dokumen Konsili Vatikan II. (R. Hardawiryana, Penerjemah). Jakarta: Obor. (Dokumen asli diterbitkan tahun 1966). Lalu, Yosep. (2009). “Kepribadian dan Spiritualitas Katekis dalam Tantangan Zaman” dalam Predicamus, Vol VIII, Edisi Januari-Maret. h.l2 Lembaga Alkitab Indonesia. (2012). Alkitab Deuterokanonika. Jakarta: LAI.

(129) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 110 Lembaga Biblika Indonesia. (1991). Tafsir Perjanjian Baru 7 Surat-surat Paulus 2. Yogyakarta: Kanisius. Lembaga Pendidikan Kader. (1971). Memberi Berarti Melimpahkan. Yogyakarta. Kanisius. Nur Widipranoto, Markus, Fransiscus Xaverius Sugiyana, dan Thomas Aquino Purwono. (2018). Direktorium Formatio Iman Keuskupan Agung Semarang. Yogyakarta: Kanisius. Prasetya, L. (2007). Menjadi Katekis, Siapa Takut?. Yogyakarta: Kanisius. Purwa Hadirwardoyo, Al. (2008). Warisan Paulus bagi Umat. Yogyakarta: Kanisius. Sarjumunarsa, Th. (1982). “Spiritualitas Katekis” Rohani, Tahun XXIX, Februari. h.33. Seto Marsunu, Y. M. (2008). Paulus Sukacita Rasul Kristus. Yogyakarta: Kanisius ____________. (2016). Pengantar Surat-surat Paulus. Yogyakarta: Kanisius Shomai, Mohammad A. (2005). Relativisme Etika, Analisis Prinsip-prinsip Moralitas. Jakarta: Serambi. Suhardo, E. (1972). Sukses Katekis dalam Kepemimpinan. Yogyakrat: Bagian Publikasi Puskat. Suharyo, Ignatius. (2003). Menjadi Manusia Dewasa. Yogyakarta: Kanisius. Yohanes Paulus II. (1992). Catechesi Tradendae, Seri Dokumen Gerejawi No 28, Jakarta: Departemen Dokumentasi dan Penerangan Konferensi Waligereja Indonesia. (Dokumen asli diterbitkan tahun 1979). ____________. (2015). Redemptoris Missio, Seri Dokumen Gerejawi No 14, Jakarta: Departemen Dokumentasi dan Penerangan Konferensi Waligereja Indonesia. (Dokumen asli diterbitkan tahun 1990).

(130)

Dokumen baru

Download (129 Halaman)
Gratis

Tags

Dokumen yang terkait

Menggali spiritualitas Santo Yohanes Paulus II sebagai sumber inspirasi bagi pelayanan katekis di zaman sekarang.
0
14
217
Usaha memahami pewartaan Santo Paulus Rasul untuk meningkatkan pelayanan para katekis zaman sekarang.
0
6
150
Spiritualitas pelayanan ibu Teresa dari Kalkuta sebagai teladan bagi katekis dalam mewujudkan semangat pelayanan bagi kaum miskin.
1
29
137
Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Peranan Persembahan bagi Gereja dan Masyarakat: suatu studi hermeneutik berdasarkan 2 Korintus 9:6-15 T1 712008602 BAB I
0
0
4
Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Peranan Persembahan bagi Gereja dan Masyarakat: suatu studi hermeneutik berdasarkan 2 Korintus 9:6-15 T1 712008602 BAB II
0
0
6
Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Peranan Persembahan bagi Gereja dan Masyarakat: suatu studi hermeneutik berdasarkan 2 Korintus 9:6-15 T1 712008602 BAB IV
0
0
7
Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Peranan Persembahan bagi Gereja dan Masyarakat: suatu studi hermeneutik berdasarkan 2 Korintus 9:6-15 T1 712008602 BAB V
0
0
1
Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Peranan Persembahan bagi Gereja dan Masyarakat: suatu studi hermeneutik berdasarkan 2 Korintus 9:6-15
0
0
11
Model kepemimpinan pelayanan Yesus dalam Injil Yohanes 13:1-20 sebagai teladan kepemimpinan para suster congregation religious of the virgin mary di zaman sekarang - USD Repository
0
0
154
Kehidupan doa mahasiswa-mahasiswi awam prodi IPPAK sebagai calon katekis - USD Repository
0
0
148
Sartono Kartodirdjo, sebuah inspirasi - USD Repository
0
0
30
Semangat pelayanan Pastor Damian SS.CC memberi inspirasi bagi pelayanan para anggota SS.CC di Molokai, India, dan kaum awam di Alor dalam memperhatikan kaum penderita kusta - USD Repository
0
0
167
Spiritualitas Hati Kudus Yesus dan Maria sebagai sumber pelayanan suster-suster FCIM di Indonesia - USD Repository
0
0
182
Menggali spiritualitas Santo Vinsensius De Paul sebagai upaya meningkatkan pelayanan para suster SCMM kepada kaum miskin - USD Repository
0
0
167
Evangelisasi dan tantangannya di zaman sekarang bagi para suster PRR yang berdomisili di Paroki St. Thomas Kelapa Dua Depok - USD Repository
0
0
173
Show more