PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STUDENT TEAM ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) TERHADAP KEMAMPUAN MENGEKSPLANASI DAN MEREGULASI DIRI SISWA KELAS V SD

Gratis

0
0
243
2 weeks ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STUDENT TEAM ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) TERHADAP KEMAMPUAN MENGEKSPLANASI DAN MEREGULASI DIRI SISWA KELAS V SD SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Oleh: Felisitas Laurina Christi NIM: 151134097 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2019

(2) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PERSETUJUAN PEMBIMBING ii

(3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PENGESAHAN iii

(4) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PERSEMBAHAN Karya ilmiah ini peneliti persembahan kepada: 1. Tuhan Yesus Kristus yang senantiasa memberi berkat dan kasih-Nya. 2. Orang tuaku yang selalu mendoakan dan memberi dukungan. 3. Almamater kebanggaanku Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. iv

(5) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI MOTTO “Jika sebuah jendela kesempatan muncul, jangan turunkan tirainya.” (Tom Peters) “Janganlah hendaknya kamu kawatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” (Filipi 4: 6) v

(6) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PERNYATAAN KEASLIAN KARYA Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah. Yogyakarta, 04 Februari 2019 Peneliti Felisitas Laurina Christi vi

(7) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma: Nama : Felisitas Laurina Christi Nomor Mahasiswa : 151134097 Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul: “PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STUDENT TEAM ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) TERHADAP KEMAMPUAN MENGEKSPLANASI DAN MEREGULASI DIRI SISWA KELAS V SD”, beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian saya memberikan kepada Perputakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di Internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai peneliti. Demikian pernyataan ini yang saya buat dengan sebenarnya. Dibuat di Yogyakarta Pada tanggal: 04 Februari 2019 Yang menyatakan Felisitas Laurina Christi vii

(8) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ABSTRAK PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STUDENT TEAM ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) TERHADAP KEMAMPUAN MENGEKSPLANASI DAN MEREGULASI DIRI SISWA KELAS V SD Felisitas Laurina Christi Universitas Sanata Dharma 2019 Latar belakang penelitian ini adalah adanya keprihatinan terhadap rendahnya kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa Indonesia pada mata pelajaran IPA berdasarkan pada survei yang dilakukan oleh PISA tahun 2012 dan 2015. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Division (STAD) terhadap kemampuan mengeksplanasi dan meregulasi diri siswa kelas V SD. Penelitian ini merupakan penelitian quasi experimental tipe pretest-posttest non-equivalent group design. Penelitian ini dilakukan di salah satu SD swasta di Yogyakarta pada tanggal 19 September 2018 sampai dengan 04 Oktober 2018. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas V yang berjumlah 46 siswa. Sampel penelitian terdiri dari dua kelompok yaitu kelas VA sebanyak 24 siswa sebagai kelas eksperimen dan kelas VB sebanyak 22 siswa sebagai kelas kontrol. Perlakuan khusus yang diterapkan di kelompok eksperimen adalah model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Model pembelajaran kooperatif tipe STAD memiliki enam langkah yaitu penyampaian tujuan dan motivasi, pembagian kelompok, presentasi dari guru, kegiatan belajar dalam tim, kuis, dan penghargaan prestasi tim. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) Model pembelajaran kooperatif tipe STAD berpengaruh terhadap kemampuan mengeksplanasi. Rerata selisih skor yang dicapai pada kelompok eksperimen (M = 0,69, SE = 0,16) lebih tinggi daripada rerata selisih skor yang dicapai pada kelompok kontrol (M = -0,12, SE = 0,19). Perbedaan skor tersebut signifikan dengan t (44) = -3,248 p = 0,002 (p < 0,05). Besar pengaruh sebesar r = 0,43 atau setara dengan 18,49% yang masuk kategori menengah. 2) Model pembelajaran kooperatif tipe STAD berpengaruh terhadap kemampuan meregulasi diri. Rerata selisih skor yang dicapai pada kelompok eksperimen (M = 0,33 SE = 0,16) lebih tinggi daripada rerata selisih skor yang dicapai pada kelompok kontrol (M = -0,33, SE = 0,18). Perbedaan skor tersebut signifikan dengan t (44) = -2,735 p = 0,009 (p < 0,05). Besar pengaruh sebesar r = 0,38 atau setara dengan 14,44% yang masuk kategori menengah. Kata kunci: pembelajaran kooperatif, Student Team Achievement Division (STAD), kemampuan berpikir kritis, kemampuan mengeksplanasi, kemampuan meregulasi diri. viii

(9) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ABSTRACT THE EFFECT OF THE IMPLEMENTATION OF COOPERATIVE LEARNING MODEL WITH STUDENT TEAM ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) TYPE ON THE ABILITY TO EXPLAIN AND SELF-REGULATE OF THE FIFTH GRADE ELEMENTARY SCHOOL Felisitas Laurina Christi Sanata Dharma University 2019 The background of this research was concern for the low level of thinking ability of high-level Indonesian students in science subjects based on surveys conducted by PISA in 2012 and 2015. This study aims to determine the effect of the implementation of cooperative learning model with Student Team Achievement Division (STAD) type on the ability to explain and self-regulate of the fifth grade elementary school. This research is quasi-experimental research with pretest-posttest nonequivalent group design type. This research conducted at one of the elementary schools in Yogyakarta on September 19, 2018 until October 04, 2018. The population in this study was all 46 students of class V. The sample of this research consists of two groups from VA, which is 24 students as the experimental group, and VB, which is 22 students as the control group. The special treatment applied to the experimental group is cooperative learning with STAD type. Cooperative learning model with STAD type has six steps, such as delivering goals and motivation, group division, teacher presentations, team learning activities, quizzes, and team achievement awards. The result of this study shows that 1) Cooperative learning model with STAD type effects on the ability to explain. The mean score obtained in the experimental group (M = 0,69, SE = 0,16) was higher than the control group (M = -0,12, SE = 0,19). The difference was significant with t (44) = -3,248 p = 0,002 (p < 0,05). The magnitude of effect of r = 0,43 including medium securities category or equivalent to 18,49%. 2) Cooperative learning model with STAD type effects on the ability to self-regulate. The mean score obtained in the experimental group (M = 0,33, SE = 0,16) was higher than the control group (M = -0,33, SE = 0,18). The difference was significant with t (44) = -2,735 p = 0,009 (p < 0,05). The magnitude of effect of r = 0,38 including medium securities category or equivalent to 14,44%. Keywords: cooperative learning, Student Team Achievement Division (STAD), critical thinking skills, ability to explain, ability to self-regulate. ix

(10) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI KATA PENGANTAR Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas limpahan berkat dan kasih-Nya sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi ini dengan lancar dan tepat waktu. Skripsi yang berjudul “PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN ACHIEVEMENT KOOPERATIF DIVISION (STAD) TIPE STUDENT TERHADAP TEAM KEMAMPUAN MENGEKSPLANASI DAN MEREGULASI DIRI SISWA KELAS V SD”, disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Peneliti menyadari bahwa skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik berkat bantuan dan dukungan dari berbagai pihak. Maka dari itu, peneliti mengucapkan terimakasih kepada: 1. Dr. Yohanes Harsoyo, S.Pd., M.Si. selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. 2. Christiyanti Aprinastuti, S.Si., M.Pd. selaku Ketua Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. 3. Kintan Limiansih, S.Pd., M.Pd. selaku Wakil Ketua Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. 4. Gregorius Ari Nugrahanta, S.J., S.S., BST., M.A. selaku Dosen Pembimbing I yang telah membimbing, mendukung, dan memberi perhatian dengan sabar dan bijaksana. 5. Agnes Herlina Dwi H., S.Si., M.T., M.Sc. selaku Dosen Pembimbing II yang telah membimbing dan mendukung dengan penuh kesabaran. 6. Dra. Ignatia Esti Sumarah, M.Hum. selaku Dosen Penguji 3 yang telah memberikan masukan pada penelitian ini. 7. Anna Maria Wahyuni, S.Pd. selaku Kepala Sekolah Dasar yang telah memberi ijin melakukan penelitian. 8. Rosalia Septi Wulansari, S.Pd. selaku guru mitra yang telah membantu pelaksanaan penelitian. 9. G. Tri Teguh Rahayu, S.Pd. selaku wali kelas VB yang telah memberi ijin melakukan penelitian di kelas tersebut. x

(11) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 10. Siswa kelas VA dan VB Sekolah Dasar tahun ajaran 2018/2019 yang telah bersedia terlibat dalam penelitian. 11. Sekretariat PGSD Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang telah membantu proses perijinan penelitian skripsi. 12. Kedua orangtua saya, Tarsisius Kristiarso dan Catharina Haruni yang selalu menyertai dengan doa, kasih sayang, dan semangat. 13. Benidictus Surya Nugraha yang selalu memberi semangat, perhatian dan motivasi. 14. Adik saya, Maria Regina Krisma Gabriella yang menjadi penghibur. 15. Sahabat saya, Eriene Denis Karina dan Melsaria Permatasari yang sama-sama berjuang menyelesaikan skripsi. 16. Teman-teman PPL, Sekar, Antonia, Sindhi, Wulan, Rossa, dan Elza yang memberi dukungan. 17. Semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan skripsi ini yang tidak dapat disebutkan satu per satu. Peneliti menyadari bahwa skripsi ini belum sempurna, karena keterbatasan kemampuan peneliti. Segala kritik dan saran yang membangun untuk skripsi ini, akan peneliti terima dengan senang hati. Peneliti berharap, semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan dunia pendidikan. Peneliti xi

(12) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL ................................................................................................. i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING .................................................... ii HALAMAN PENGESAHAN ................................................................................ iii HALAMAN PERSEMBAHAN ............................................................................. iv HALAMAN MOTTO .............................................................................................. v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA................................................................. vi LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS ............................................................. vii ABSTRAK ............................................................................................................. viii ABSTRACT.............................................................................................................. ix KATA PENGANTAR ............................................................................................. x DAFTAR ISI .......................................................................................................... xii DAFTAR TABEL .................................................................................................. xv DAFTAR GAMBAR ............................................................................................ xvi DAFTAR GRAFIK ............................................................................................. xvii DAFTAR LAMPIRAN ...................................................................................... xviii BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................ 1 1.1 Latar Belakang Masalah ...................................................................................... 1 1.2 Rumusan Masalah ............................................................................................... 6 1.3 Tujuan Penelitian ................................................................................................. 7 1.4 Manfaat Penelitian ............................................................................................... 7 1.5 Definisi Operasional ............................................................................................ 7 BAB II LANDASAN TEORI.................................................................................. 9 2.1 Kajian Pustaka ..................................................................................................... 9 2.1.1 Teori yang Mendukung .................................................................................... 9 2.1.1.1 Teori Perkembangan Anak ............................................................................ 9 2.1.1.2 Teori Perkembangan Kognitif Menurut Piaget ........................................... 10 2.1.1.3 Teori Sosiokultural Menurut Vygotsky ....................................................... 13 2.1.1.4 Model Pembelajaran Kooperatif.................................................................. 15 2.1.1.5 Model Pembelajaran STAD ....................................................................... 18 2.1.1.6 Kemampuan Berpikir Kritis ........................................................................ 20 2.1.1.7 Kemampuan Mengeksplanasi ...................................................................... 22 xii

(13) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2.1.1.8 Kemampuan Meregulasi Diri ...................................................................... 23 2.1.1.9 Materi Pembelajaran .................................................................................... 24 2.1.2 Hasil Penelitian yang Relevan ........................................................................ 25 2.1.2.1 Penelitian-penelitian Mengenai STAD........................................................ 25 2.1.2.2 Penelitian-penelitian Mengenai Berpikir Kritis........................................... 27 2.1.2.3 Literature map ............................................................................................. 30 2.2 Kerangka Berpikir ............................................................................................. 31 2.3 Hipotesis Penelitian ........................................................................................... 33 BAB III METODE PENELITIAN ...................................................................... 34 3.1 Jenis Penelitian .................................................................................................. 34 3.2 Setting Penelitian ............................................................................................... 36 3.2.1 Lokasi Penelitian ............................................................................................ 36 3.2.2 Waktu Penelitian ............................................................................................ 37 3.3 Populasi dan Sampel.......................................................................................... 37 3.3.1 Populasi .......................................................................................................... 37 3.3.2 Sampel ............................................................................................................ 38 3.4 Variabel Penelitian ............................................................................................ 38 3.4.1 Variabel Independen ....................................................................................... 39 3.4.2 Variabel Dependen ......................................................................................... 39 3.5 Teknik Pengumpulan Data ................................................................................ 40 3.6 Instrumen Penelitian .......................................................................................... 41 3.7 Teknik Pengujian Instrumen.............................................................................. 42 3.7.1 Uji Validitas.................................................................................................... 42 3.7.1.1 Validitas Muka ............................................................................................ 42 3.7.1.2 Validitas Isi .................................................................................................. 43 3.7.1.3 Validitas Konstruk ....................................................................................... 43 3.7.2 Uji Reliabilitas ................................................................................................ 44 3.8 Teknik Analisis Data ......................................................................................... 45 3.8.1 Uji Pengaruh Perlakuan .................................................................................. 46 3.8.1.1 Uji Asumsi ................................................................................................... 46 3.8.1.2 Uji Perbedaan Kemampuan Awal ............................................................... 47 3.8.1.3 Uji Signifikansi Pengaruh Perlakuan........................................................... 48 3.8.1.4 Uji Besar Pengaruh Perlakuan ..................................................................... 49 3.8.2 Analisis Lebih Lanjut ..................................................................................... 51 3.8.2.1 Uji Persentase Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I ............................. 51 3.8.2.2 Uji Besar Efek Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I ............................ 52 xiii

(14) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3.8.2.3 Uji Korelasi Rerata Pretest dan Posttest I.................................................... 53 3.8.2.4 Uji Retensi Pengaruh Perlakuan .................................................................. 54 3.9 Ancaman Validitas Internal ............................................................................... 55 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ..................................... 61 4.1 Hasil Penelitian .................................................................................................. 61 4.1.1 Hasil Implementasi ......................................................................................... 61 4.1.1.1 Deskripsi Sampel Penelitian ........................................................................ 61 4.1.1.2 Deskripsi Implementasi Pembelajaran ........................................................ 62 4.1.2 Deskripsi Sebaran Data .................................................................................. 70 4.1.2.1 Kemampuan Mengeksplanasi ...................................................................... 70 4.1.2.2 Kemampuan Meregulasi Diri ...................................................................... 72 4.1.3 Uji Hipotesis Penelitian I................................................................................ 73 4.1.3.1 Uji Perbedaan Kemampuan Awal ............................................................... 74 4.1.3.2 Uji Signifikansi Pengaruh Perlakuan........................................................... 76 4.1.3.3 Uji Besar Pengaruh Perlakuan ..................................................................... 79 4.1.3.4 Analisis Lebih Lanjut .................................................................................. 80 4.1.4 Uji Hipotesis Penelitian II .............................................................................. 87 4.1.4.1 Uji Perbedaan Kemampuan Awal ............................................................... 88 4.1.4.2 Uji Signifikansi Pengaruh Perlakuan........................................................... 90 4.1.4.3 Uji Besar Pengaruh Perlakuan ..................................................................... 94 4.1.4.4 Analisis Lebih Lanjut .................................................................................. 94 4.2 Pembahasan ..................................................................................................... 102 4.2.1 Analisis terhadap Ancaman Validitas Internal ............................................. 102 4.2.2 Analisis Pengaruh Kemampuan Mengeksplanasi ........................................ 106 4.2.3 Analisis Pengaruh Kemampuan Meregulasi Diri ......................................... 109 4.2.4 Analisis Hasil Penelitian Terhadap Teori ..................................................... 112 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN .............................................................. 116 5.1 Kesimpulan ...................................................................................................... 116 5.2 Keterbatasan Penelitian ................................................................................... 117 5.3 Saran.. .............................................................................................................. 117 DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 118 LAMPIRAN ......................................................................................................... 123 CURRICULUM VITAE ....................................................................................... 224 xiv

(15) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR TABEL Tabel 2.1 Kemampuan Berpikir Kritis Facione ..................................................22 Tabel 3.1 Jadwal Pengambilan Data ...................................................................37 Tabel 3.2 Pemetaan Instrumen Penelitian ...........................................................41 Tabel 3.3 Matriks Pengembangan Instrumen......................................................42 Tabel 3.4 Hasil Uji Validitas Instrumen .............................................................44 Tabel 3.5 Hasil Uji Reliabilitas Instrumen ..........................................................45 Tabel 3.6 Kriteria Besar Pengaruh Perlakuan .....................................................49 Tabel 3.7 Kriteria Besar Pengaruh Perlakuan .....................................................50 Tabel 4.1 Sebaran Data Kelompok Kontrol Kemampuan Mengeksplanasi .......70 Tabel 4.2 Sebaran Data Kelompok Eksperimen Kemampuan Mengeksplanasi .71 Tabel 4.3 Sebaran Data Kelompok Kontrol Kemampuan Meregulasi Diri ........72 Tabel 4.4 Sebaran Data Kelompok Eksperimen Kemampuan Meregulasi Diri .72 Tabel 4.5 Hasil Uji Normalitas Distribusi Data ..................................................74 Tabel 4.6 Hasil Uji Homogenitas Varian ............................................................75 Tabel 4.7 Hasil Uji Perbedaan Kemampuan Awal .............................................75 Tabel 4.8 Hasil Uji Normalitas Distribusi Data Selisih Skor Pretest-Posttest I .77 Tabel 4.9 Hasil Uji Homogenitas Varian Selisih Skor Pretest-Posttest I ...........77 Tabel 4.10 Hasil Uji Signifikansi Pengaruh Perlakuan .......................................78 Tabel 4.11 Hasil Uji Besar Pengaruh Perlakuan .................................................79 Tabel 4.12 Hasil Ui Normalitas Distribusi Data Skor Pretest-Posttest I ............80 Tabel 4.13 Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I ..........................................81 Tabel 4.14 Hasil Uji Besar Pengaruh Peningkatan Pretest ke Posttest I ............83 Tabel 4.15 Hasil Uji Korelasi Rerata skor Pretest-Posttest I..............................84 Tabel 4.16 Hasil Uji Normalitas Distribusi Data Selisih Skor Posttest I dan Posttest II..........................................................................................85 Tabel 4.17 Hasil Uji Retensi Pengaruh Perlakuan Posttest I ke Posttest II ........86 Tabel 4.18 Hasil Uji Retensi Pengaruh Perlakuan Pretest ke Posttest II............87 Tabel 4.19 Hasil Uji Normalitas Distribusi Data ................................................89 Tabel 4.20 Hasil Uji Homogenitas Varian ..........................................................89 Tabel 4.21 Hasil Uji Perbedaan Kemampuan Awal ...........................................90 Tabel 4.22 Hasil Uji Normalitas Distribusi Data Selisih Skor Pretest-Posttest I91 Tabel 4.23 Hasil Uji Homogenitas Varian Selisih Skor Pretest-Posttest I .........92 Tabel 4.24 Hasil Uji Signifikansi Pengaruh Perlakuan .......................................92 Tabel 4.25 Hasil Uji Besar Pengaruh Perlakuan .................................................94 Tabel 4.26 Hasil Ui Normalitas Distribusi Data Skor Pretest-Posttest I ............95 Tabel 4.27 Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I ..........................................95 Tabel 4.28 Hasil Uji Besar Pengaruh Peningkatan Pretest ke Posttest I ............98 Tabel 4.29 Hasil Uji Korelasi Rerata skor Pretest-Posttest I..............................99 Tabel 4.30 Hasil Uji Normalitas Distribusi Data Selisih Skor Posttest I dan Posttest II..........................................................................................100 Tabel 4.31 Hasil Uji Retensi Pengaruh Perlakuan Posttest I ke Posttest II ........100 Tabel 4.32 Hasil Uji Retensi Pengaruh Perlakuan Pretest ke Posttest II............101 Tabel 4.33 Ancaman dalam Penelitian................................................................102 xv

(16) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR GAMBAR Gambar 2.1 Desain Proses Perkembangan Kognitif Anak..................................11 Gambar 2.2 Desain Zona Perkembangan Proksimal ...........................................14 Gambar 2.3 Literature Map ................................................................................30 Gambar 3.1 Perhitungan Pengaruh Perlakuan ....................................................35 Gambar 3.2 Desain Penelitian .............................................................................35 Gambar 3.3 Desain Variabel Penelitian ..............................................................39 Gambar 3.4 Rumus Besar Pengaruh Perlakuan Distribusi Data Normal ............50 Gambar 3.5 Rumus Besar Pengaruh Perlakuan Distribusi Data Tidak Normal .50 Gambar 3.6 Rumus Persentase Pengaruh............................................................51 Gambar 3.7 Rumus Persentase Peningkatan Pretest ke Posttest I ......................51 Gambar 3.8 Rumus Gain Score ..........................................................................52 Gambar 3.9 Rumus Besar Efek Peningkatan Distribusi Data Normal................52 Gambar 3.10 Rumus Besar Efek Peningkatan Distribusi Data Tidak Normal ...53 Gambar 3.11 Rumus Persentase Besar Pengaruh ...............................................53 Gambar 3.12 Rumus Persentase Uji Retensi ......................................................55 xvi

(17) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR GRAFIK Grafik 4.1 Signifikansi Pengaruh Perlakuan .......................................................78 Grafik 4.2 Perbandingan Rerata Selisih Skor Pretest-Posttest I .........................79 Grafik 4.3 Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I ...........................................81 Grafik 4.4 Gain Score .........................................................................................82 Grafik 4.5 Perbandingan Skor Pretest, Posttest I, dan Posttest II ......................86 Grafik 4.6 Signifikansi Pengaruh Perlakuan .......................................................93 Grafik 4.7 Perbandingan Rerata Selisih Skor Pretest-Posttest I .........................93 Grafik 4.8 Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I ...........................................96 Grafik 4.9 Gain Score .........................................................................................97 Grafik 4.10 Perbandingan Skor Pretest, Posttest I, dan Posttest II ....................101 xvii

(18) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1.1 Surat Izin Penelitian......................................................................124 Lampiran 1.2 Surat Izin Validitas Soal ...............................................................125 Lampiran 2.1 Silabus Kelompok Eksperimen ....................................................126 Lampiran 2.2 Silabus Kelompok Kontrol ...........................................................129 Lampiran 2.3 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Kelompok Eksperimen .......132 Lampiran 2.4 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Kelompok Kontrol..............145 Lampiran 2.5 Lembar Kerja Siswa .....................................................................155 Lampiran 3.1 Soal Uraian ...................................................................................161 Lampiran 3.2 Kunci Jawaban ..............................................................................166 Lampiran 3.3 Rubrik Penilaian ...........................................................................171 Lampiran 3.4 Hasil Pekerjaan Siswa ..................................................................175 Lampiran 3.5 Hasil Rekap Expert Judgement.....................................................180 Lampiran 3.6 Hasil Uji Validasi oleh Expert Judgement ...................................181 3.6.1 Hasil Uji Validasi oleh Dosen ....................................................................181 3.6.2 Hasil Uji Validasi oleh Guru ......................................................................184 Lampiran 3.7 Tabulasi Data Uji Validitas dan Reliabilitas ................................190 Lampiran 3.8 Hasil SPSS Uji Validitas ..............................................................191 3.8.1 Hasil Uji Validitas Setiap Item Soal ..........................................................191 Lampiran 3.9 Hasil SPSS Uji Reliabilitas...........................................................193 Lampiran 4.1 Tabulasi Nilai Kemampuan Mengeksplanasi Kelompok Kontrol dan Kelompok Eksperimen .......................................................................................194 Lampiran 4.2 Tabulasi Nilai Kemampuan Meregulasi Diri Kelompok Kontrol dan Kelompok Eksperimen ..................................................................195 Lampiran 4.3 Hasil SPSS Uji Normalitas Distribusi Data .................................196 4.3.1 Kemampuan Mengeksplanasi ....................................................................196 4.3.2 Kemampuan Meregulasi Diri .....................................................................197 Lampiran 4.4 Hasil SPSS Uji Homogenitas Varian Kemampuan Awal ............197 4.4.1 Kemampuan Mengeksplanasi ....................................................................197 4.4.2 Kemampuan Meregulasi Diri .....................................................................197 Lampiran 4.5 Hasil SPSS Uji Perbedaan Kemampuan Awal .............................198 4.5.1 Kemampuan Mengeksplanasi ....................................................................198 4.5.2 Kemampuan Meregulasi Diri .....................................................................199 Lampiran 4.6 Hasil SPSS Uji Homogenitas Varian Selisih Pretest-Posttest I…200 4.6.1 Kemampuan Mengeksplanasi ....................................................................200 4.6.2 Kemampuan Meregulasi Diri .....................................................................200 Lampiran 4.7 Hasil Uji Signifikansi Pengaruh Perlakuan ..................................201 4.7.1 Kemampuan Mengeksplanasi ....................................................................201 4.7.2 Kemampuan Meregulasi Diri .....................................................................202 Lampiran 4.8 Perhitungan Manual Besar Pengaruh Perlakuan ..........................203 Lampiran 4.9 Perhitungan Persentase Peningkatan Rerata Pretest-Posttest I ....204 4.9.1 Perhitungan Persentase Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I .............204 4.9.2 Hasil SPSS Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I ................................204 4.9.2.1 Kemampuan Mengeksplanasi .................................................................204 4.9.2.2 Kemampuan Meregulasi Diri ..................................................................206 4.9.3 Perhitungan Persentase Gain Score ...........................................................208 xviii

(19) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.9.3.1 Tabulasi Gain Score Kemampuan Mengeksplanasi ...............................208 4.9.3.2 Perhitungan Persentase Gain Score ≥ 0,33 Mengeksplanasi ..................208 4.9.3.3 Tabulasi Gain Score Kemampuan Meregulasi Diri ................................209 4.9.3.4 Perhitungan Persentase Gain Score ≥ 0,00 Meregulasi Diri ...................209 Lampiran 4.10 Perhitungan Manual Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I...210 4.10.1 Kemampuan Mengeksplanasi ..................................................................210 4.10.1.1 Perhitungan Manual Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I .............210 4.10.2 Kemampuan Meregulasi Diri ...................................................................211 4.10.2.1 Perhitungan Manual Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I .............211 Lampiran 4.11 Hasil SPSS Uji Korelasi Antara Rerata Pretest ke Posttest I .....212 4.11.1 Kemampuan Mengeksplanasi ..................................................................212 4.11.1.1 Uji Korelasi Kelompok Kontrol ............................................................212 4.11.1.2 Uji Korelasi Kelompok Eksperimen .....................................................212 4.11.2 Kemampuan Meregulasi Diri ...................................................................213 4.11.2.1 Uji Korelasi Kelompok Kontrol ............................................................213 4.11.2.2 Uji Korelasi Kelompok Eksperimen .....................................................213 Lampiran 4.12 Hasil Uji Retensi Perlakuan ........................................................214 4.12.1 Kemampuan Mengeksplanasi ..................................................................214 4.12.1.1 Hasil SPSS Uji Retensi Perlakuan Posttest I dan Possttest II...............214 4.12.1.2 Perhitungan Persentase Peningkatan Skor Posttest I dan Posttest II ....215 4.12.1.3 Hasil SPSS Uji Retensi Perlakuan Pretest ke Posttest II ......................216 4.12.2 Kemampuan Meregulasi Diri ...................................................................218 4.12.2.1 Hasil SPSS Uji Retensi Perlakuan Posttest I dan Posttest II ................218 4.12.2.2 Perhitungan Persentase Peningkatan Skor Posttest I dan Posttest II ....219 4.12.2.3 Hasil SPSS Uji Retensi Perlakuan Pretest ke Posttest II ......................220 Lampiran 5.1 Foto-foto Kegiatan Pembelajaran .................................................222 Lampiran 5.2 Surat Keterangan Melaksanakan Penelitian .................................223 xix

(20) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB I PENDAHULUAN Bab I ini akan membahas mengenai latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan definisi operasional. Latar belakang berisi alasan-alasan melakukan penelitian. Rumusan masalah berisi pertanyaan-pertanyaan yang mengacu pada latar belakang masalah. Manfaat penelitian berisi tentang manfaat dari penelitian ini bagi sekolah, guru, siswa, dan peneliti. Definisi operasional berisi pengertian kata-kata kunci dalam penelitian. 1.1 Latar Belakang Masalah Sekolah Dasar merupakan jenjang pendidikan formal dasar yang ditempuh dalam waktu 6 tahun, dimulai dari kelas 1 sampai dengan kelas 6. Sesuai dengan teori perkembangan kognitif anak menurut Piaget, siswa pada jenjang pendidikan sekolah dasar dengan kisaran usia 7 sampai 11 tahun masuk pada tahap operasional konkret. Hal ini ditunjukkan dengan sudah berkembangnya kemampuan berpikir logis yang diterapkan dalam memecahkan persoalan-persoalan konkret yang dihadapi (Suparno, 2001: 70). Siswa pada tahap perkembangan ini, belum mampu menyelesaikan persoalan-persoalan yang berbentuk abstrak. Siswa akan lebih mudah memahami konsep yang nyata atau konkret berkaitan dengan mata pelajaran yang dipelajari di sekolah. Maka dari itu, siswa akan menyelesaikan persoalanpersoalan dengan bantuan orang dewasa atau berkolaborasi dengan teman sebaya yang lebih kompeten yang disebut dengan Zone of Proximal Development (ZDP). Bantuan ini diberikan pada tahap awal pembelajaran dan akan mengurangi serta memberikan tanggung jawab lebih besar kepada siswa atau disebut dengan perancah (scaffolding). Di sekolah dasar terdapat berbagai mata pelajaran yang dipelajari oleh siswa. Salah satu mata pelajaran yang dipelajari adalah Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) adalah pengetahuan yang rasional dan objektif tentang alam semesta dengan segala isinya (Darmojo dalam Samatowa, 2011: 2). Pembelajaran IPA di sekolah dasar memberi kesempatan kepada siswa untuk memupuk rasa ingin tahu secara alamiah. Hal ini akan membantu siswa 1

(21) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI mengembangkan kemampuan bertanya dan mencari jawaban berdasarkan bukti serta mengembangkan cara berpikir ilmiah. Pembelajaran IPA tidak hanya berisi kumpulan pengetahuan dan teori saja, tetapi juga menyangkut tentang cara berpikir dan cara memecahkan masalah. Para psikolog dan pendidikan belakangan ini semakin menyadari bahwa para siswa di sekolah tidak hanya harus mengingat atau menyerap secara pasif berbagai informasi baru, melainkan mereka perlu berbuat lebih banyak dan belajar bagaimana berpikir secara kritis. Siswa harus memiliki kesadaran akan diri dan lingkungannya. Karena itu, pendidikan di sekolah haruslah mampu membangun kesadaran kritis anak didik (Desmita, 2007: 161-162). Facione (2010) menjelaskan bahwa kemampuan berpikir kritis adalah kemampuan membuat penilaian untuk tujuan tertentu yang menghasilkan interpretasi, analisis, evaluasi, dan kesimpulan atas dasar bukti, konsep, model, kriteria, atau konteks tertentu yang digunakan untuk menilai. Ciri-ciri ideal dari orang yang memiliki kecakapan berpikir kritis tampak dalam disposisi afektif. Kemampuan berpikir kritis ini terdiri dari enam keterampilan yaitu menginterpretasi, menganalisis, mengevaluasi, menarik kesimpulan, mengeksplanasi dan meregulasi diri. Menurut Facione (2010), kemampuan mengeksplanasi ini muncul apabila siswa sudah mencapai tiga unsur, yaitu pertama menjelaskan hasil penalaran, misalnya seperti menjelaskan alasan mengapa memegang keyakinan tertentu dan menyampaikan penerapan suatu gagasan di masa yang akan datang; kedua membenarkan prosedur yang digunakan, misalnya seperti menguraikan langkahlangkah yang teliti dalam menyelesaikan suatu permasalahan dan menjelaskan pilihan penggunaan alat ukur tertentu untuk analisis data; ketiga memaparkan argumen-argumen yang digunakan, misalnya seperti menuliskan alasan-alasan mengapa mengambil posisi atau kebijakan tertentu dan memaparkan argumenargumen yang pro maupun kontra terhadap pemikiran sendiri sebagai cara berpikir dialektis. Kemampuan meregulasi diri muncul apabila siswa sudah mencapai dua unsur, yaitu pertama refleksi diri, misalnya seperti membuat penilaian diri yang objektif terhadap gagasan sendiri, menilai kembali data-data yang digunakan, menilai apakah ada kekeliruan dalam cara berpikir sendiri. Kedua, koreksi diri, misalnya seperti berani mengoreksi kelemahan-kelemahan metodologi yang 2

(22) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI digunakan, merencanakan prosedur yang masuk akal untuk mengoreksi kesalahankesalahan, memastikan apakah koreksi-koreksi tersebut dapat mengubah posisi yang dipegang sebelumnya. Sebuah organisasi bernama Organization Economic Cooperation and Development (OECD) telah mengadakan sebuah survei mengenai sistem pendidikan dan kemampuan siswa yang diadakan tiap 3 tahun sekali yang disebut dengan Program for International Student Assessment (PISA). Survei dilakukan dengan tujuan untuk mengukur apa yang diketahui siswa dan apa yang dapat dilakukan atau diaplikasikan dengan pengetahuannya dalam bidang matematika, membaca, sains, dan pemecahan masalah. Pada hasil PISA tahun 2012, Indonesia berada pada peringkat 64 dari 65 negara dengan hasil skor literasi IPA sebesar 382 (OECD, 2013: 5). Pada hasil PISA tahun 2015, Indonesia berada pada peringkat 62 dari 70 negara dengan hasil skor literasi IPA sebesar 403 (OECD, 2016: 5). Data tersebut menunjukkan adanya peningkatan hasil skor literasi IPA dari 382 menjadi 403, namun peringkat Indonesia masih berada di 10 besar terbawah dari 70 negara peserta PISA tahun 2015. Berdasarkan hasil PISA tersebut, menunjukkan bahwa para siswa di Indonesia mengalami kesulitan pada kemampuan berpikir tingkat tinggi yang melibatkan aspek kognitif karena soal-soal yang digunakan pada PISA memerlukan penalaran dan pemecahan masalah. Kesulitan tersebut dapat dipengaruhi oleh adanya proses pembelajaran yang kurang sesuai untuk mengembangkan kemampuan berpikir siswa. Proses pembelajaran yang berpusat pada guru, di mana guru sebagai sumber belajar saat ini masih biasa digunakan. Guru memaparkan materi, sedangkan siswa mendengarkan dan mencatat materi yang disampaikan oleh guru atau disebut sebagai metode ceramah. Sanjaya (2006: 147) menjelaskan bahwa metode ceramah dapat diartikan sebagai cara menyajikan pelajaran melalui penuturan secara lisan atau penjelasan langsung kepada sekelompok siswa oleh guru. Guru berperan aktif dalam pembelajaran, sehingga sulit untuk mengetahui apakah seluruh siswa sudah paham mengenai penjelasan yang disampaikan oleh guru. Hal ini menyebabkan siswa tidak memiliki banyak kesempatan untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis mereka. Padahal IPA identik dengan kegiatan mencari tahu tentang suatu peristiwa seperti obervasi dan eksperimen yang 3

(23) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI menuntut keaktifan siswa. Siswa akan mengalami kesulitan dalam memahami materi, terutama siswa hanya mampu mengingat dalam jangka pendek tentang materi yang disampaikan guru. Sebenarnya metode ceramah memang diperlukan dalam sebuah pembelajaran, akan tetapi porsinya harus diperhatikan dan diimbangi dengan mengajak siswa untuk menguraikan suatu gagasan yang bersumber dari hasil penalaran. Maka untuk membantu siswa meningkatkan kemampuannya, dapat dilakukan dengan cara mengembangkan proses kognitifnya. Salah satu cara meningkatkan kemampuan pada IPA yaitu meningkatkan kemampuan mengeksplanasi dan meregulasi diri dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif. Model pembelajaran kooperatif akan memudahkan siswa menemukan dan memahami konsep yang sulit dengan berdiskusi (Trianto, 2007: 41). Model pembelajaran kooperatif memiliki banyak tipe, salah satunya adalah tipe Student Team Achievement Division (STAD). Model pembelajaran koooperatif tipe STAD merupakan salah satu pembelajaran kooperatif yang diterapkan untuk menghadapi kemampuan siswa yang heterogen. Model ini dipandang sebagai model yang paling sederhana dan langsung dari pendekatan pembelajaran kooperatif. Model pembelajaran ini mengacu pada belajar kelompok siswa, di mana siswa dalam suatu kelas tertentu dipecah menjadi kelompok dengan anggota 4-5 orang, di mana setiap kelompok haruslah heterogen (Shoimin, 2014: 185). Rusman (2010: 215) mengemukakan enam langkah model pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Division (STAD) yaitu, (1) penyampaian tujuan dan motivasi, (2) pembagian kelompok, (3) presentasi dari guru, (4) kegiatan belajar dalam tim, (5) kuis, (6) penghargaan prestasi tim. Adapun manfaat dari STAD ini yaitu, siswa bekerja sama dalam mencapai tujuan dengan menjunjung tinggi norma-norma kelompok, siswa aktif membantu dan memotivasi semangat untuk berhasil bersama, aktif berperan sebagai tutor sebaya untuk lebih meningkatkan keberhasilan kelompok, interaksi antarsiswa seiring dengan peningkatan kemampuan mereka dalam berpendapat, meningkatkan kecakapan individu, meningkatkan kecakapan kelompok, dan tidak bersifat kompetitif (Shoimin, 2014: 189). Penelitian-penelitian terdahulu yang relevan dengan model pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Division (STAD). Penelitian yang 4

(24) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI dilakukan oleh Wahyuni, Wiyasa, dan Putra (2014) menunjukkan bahwa terdapat pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Division (STAD) berbasis interaksi sosial terhadap hasil belajar IPS siswa kelas V Gugus 4 Widyasmara Klungkung tahun ajaran 2013/2014. Model pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Division (STAD) juga berpengaruh secara signifikan terhadap prestasi akademik pelajar bahasa Inggris sebagai bahasa asing (Narzoles, 2015). Penelitian lain yang dilakukan oleh Astrawan, Wayan, Marhaeni, dan Arnyana (2013) menunjukkan bahwa terdapat perbedaan motivasi belajar dan hasil belajar IPA yang signifikan antara siswa yang mengikuti model pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Division (STAD) dan siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional yang dilakukan pada siswa kelas V SD Gugus I Kecamatan Buleleng dalam mata pelajaran IPA. Berbagai jurnal diterbitkan untuk meningkatkan kemampuan proses kognitif. Rodiyana (2015) melakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh strategi pembelajaran inkuiri terhadap kemampuan berpikir kritis dan kreatif siswa dalam pembelajaran IPS di kelas IV SD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara nilai tes akhir (posttest) kemampuan berpikir kritis dengan pembelajaran konvensional pada kelas kontrol dan pada kelas eksperimen dengan menggunakan strategi pembelajaran inkuiri. Kitot, Ahmada, dan Seman (2010) melakukan penelitian yang menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol dalam hal memperbaiki pemikiran kritis siswa sebelum dan sesudah model pembelajaran inkuiri dilaksanakan berdasarkan beberapa karakteristik pemikiran kritis dalam pembelajaran sejarah. Penelitian lain yang dilakukan oleh Juano dan Pardjono (2016) menunjukkan bahwa 1) terdapat pengaruh antara pembelajaran problem posing dan direct instruction terhadap kemampuan berpikir kritis dan kemampuan komunikasi matematis, 2) tidak terdapat interaksi antara strategi pembelajaran dan tingkat kemampuan belajar matematika siswa terhadap kemampuan berpikir kritis dan komunikasi matematis. Pembelajaran problem posing lebih baik dari direct instruction, baik untuk kemampuan tinggi maupun untuk kemampuan rendah terhadap kemampuan berpikir kritis dan komunikasi matematis siswa. 5

(25) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Hasil dari beberapa penelitian tersebut mengemukakan bahwa, model pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Division (STAD) berpengaruh positif terhadap kemampuan kognitif siswa. Penting untuk mengembangkan kemampuan kognitif siswa seperti kemampuan berpikir tingkat tinggi untuk membantu memecahkan permasalahan yang berkaitan dengan materi pembelajaran. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk meneliti pengaruh penerapan model pembelajaran Student Team Achievement Division (STAD) terhadap kemampuan mengeksplanasi dan meregulasi diri. Peneliti belum banyak menemukan penelitian mengenai pengaruh penerapan model pembelajaran Student Team Achievement Division (STAD) terhadap kemampuan mengeksplanasi dan meregulasi diri menurut Facione. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian quasi experimental tipe pretest-posttest non-equivalent group design. Penelitian ini dilakukan di salah satu SD swasta di Yogyakarta. Kelas yang digunakan untuk penelitian yaitu kelas V. Sampel penelitian terdiri dari dua kelompok yaitu kelas VA sebanyak 24 siswa sebagai kelas eksperimen dan kelas VB sebanyak 22 siswa sebagai kelas kontrol. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik tes. Variabel independen dalam penelitian ini yaitu model pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Division (STAD) dan variabel dependen pada penelitian ini yaitu kemampuan mengeksplanasi dan kemampuan meregulasi diri. Penelitian ini dibatasi hanya pada pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Division (STAD) terhadap kemampuan berpikir kritis menurut Facione yaitu kemampuan mengeksplanasi dan kemampuan meregulasi diri siswa kelas V SD. Penelitian ini dikhususkan pada mata pelajaran IPA dengan kompetensi dasar 3.2 menjelaskan organ pernapasan dan fungsinya pada hewan dan manusia, serta cara memelihara kesehatan organ pernapasan manusia. 1.2 Rumusan Masalah 1.2.1 Apakah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD berpengaruh terhadap kemampuan mengeksplanasi siswa kelas V SD? 1.2.2 Apakah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD berpengaruh terhadap kemampuan meregulasi diri siswa kelas V SD? 6

(26) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Mengetahui pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe STAD terhadap kemampuan mengeksplanasi siswa kelas V SD. 1.3.2 Mengetahui pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe STAD terhadap kemampuan meregulasi diri siswa kelas V SD. 1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Bagi siswa Mendapatkan pengalaman baru dalam belajar dan dapat mengembangkan kemampuan mengeksplanasi dan meregulasi diri dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD. 1.4.2 Bagi guru Menambah pengetahuan mengenai model pembelajaran kooperatif tipe STAD yang mempengaruhi kemampuan mengeksplanasi dan meregulasi diri siswa yang dapat diterapkan dalam pembelajaran di kelas. 1.4.3 Bagi sekolah Menambah wawasan dan mengetahui bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat berpengaruh terhadap kemampuan mengeksplanasi dan meregulasi diri siswa, sehingga dapat menjadi bahan referensi bagi sekolah dan guru untuk meningkatkan mutu sekolah. 1.4.4 Bagi peneliti Menjadi bekal saat mengajar nantinya, karena melalui penelitian ini, peneliti memperoleh pengalaman langsung mengenai penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe STAD yang dapat mempengaruhi kemampuan mengeksplanasi dan meregulasi diri siswa. 1.5 Definisi Operasional 1.5.1 Model pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang berisi strategi untuk mengajar secara kelompok-kelompok kecil, siswa belajar dan bekerja sama untuk sampai pada pengalaman belajar yang optimal, baik pengalaman individu maupun kelompok. 7

(27) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 1.5.2 Model pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Division (STAD) adalah model pembelajaran kooperatif yang diterapkan untuk menghadapi kemampuan siswa yang heterogen dengan memiliki enam langkah pembelajaran, yaitu penyampaian tujuan dan motivasi, pembagian kelompok, presentasi dari guru, kegiatan belajar dalam tim, kuis, dan penghargaan prestasi tim. 1.5.3 Kemampuan berpikir kritis adalah kemampuan untuk berpikir secara reflektif dan produktif yang bertujuan untuk menghasilkan kesimpulan atau keputusan atas dasar tertentu. 1.5.4 Kemampuan mengeksplanasi adalah kemampuan dalam menguraikan dasar-dasar suatu penalaran dengan pertimbangan-pertimbangan konseptual, metodologis, dan kontekstual, dengan tiga indikator yaitu menjelaskan hasil penalaran, membenarkan prosedur yang digunakan, dan memaparkan argumen-argumen yang digunakan. 1.5.5 Kemampuan meregulasi diri adalah kemampuan yang secara sadar memonitor aktivitas kognitifnya sendiri, dengan indikator membuat penilaian terhadap gagasan sendiri, menilai kembali data-data yang digunakan, dan menguji pandangan sendiri terhadap suatu permasalahan. 8

(28) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB II LANDASAN TEORI Bab II ini berisi kajian pustaka, penelitian yang mendukung, kerangka berpikir, dan hipotesis penelitian. Kajian pustaka membahas teori-teori yang mendukung dalam pelaksanaan penelitian. Penelitian terdahulu berisi hasil penelitian yang pernah ada yang dirumuskan dalam kerangka berpikir dan hipotesis yang berisi dugaan sementara dari rumusan masalah penelitian. 2.1 Kajian Pustaka 2.1.1 Teori yang Mendukung 2.1.1.1 Teori Perkembangan Anak Perkembangan tidak terbatas pada pengertian perubahan secara fisik, melainkan di dalamnya juga terkandung serangkaian perubahan secara terus menerus dari fungsi-fungsi jasmaniah dan rohaniah yang dimiliki individu menuju tahap kematangan, melalui pertumbuhan dan belajar (Desmita, 2007: 4). Dalam psikologi istilah “perkembangan” merupakan konsep yang rumit dan kompleks, karena merupakan produk dari beberapa proses biologi, kognitif, dan sosioemosional. Perkembangan manusia berjalan secara bertahap melalui berbagai fase perkembangan. Setiap fase perkembangan ditandai dengan bentuk kehidupan tertentu yang berbeda dengan fase sebelumnya. Sekalipun perkembangan itu dibagi-bagi ke dalam masa-masa perkembangan, hal ini dapat dipahami dalam hubungan keseluruhannya. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori perkembangan kognitif Jean Piaget dan teori sosisokultural Lev Semyonovich Vygotsky. Teori ini dipilih karena sesuai dengan variabel penelitian yang membahas tentang perkembangan anak Sekolah Dasar. Teori perkembangan kognitif Jean Piaget dan teori sosiokultural Lev Vygotsky merupakan teori konstruktivisme. Geary (dalam Schunk 2012: 323) menjelaskan bahwa asumsi utama dari konstruktivisme adalah, manusia merupakan siswa aktif yang mengembangkan pengetahuan bagi diri mereka sendiri. Teori Piaget bersifat konstruktivis karena teori ini berasumsi bahwa anak- anak menerapkan konsep-konsep mereka terhadap dunia dalam upaya 9

(29) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI memahaminya. Tudge dan Scrimsher (dalam Schunk, 2012: 335-337) menjelaskan bahwa teori Vygotsky juga sebuah teori konstruktivisme, tetapi Vygotsky, menempatkan lebih banyak penekanan pada lingkungan sosial sebagai fasilitator perkembangan dan pembelajaran. 2.1.1.2 Teori Perkembangan Kognitif Menurut Piaget Jean Piaget lahir pada tanggal 9 Agustus 1989 di Neuchatel, Swiss. Sewaktu mudanya, ia tertarik pada alam dan senang mengamati burung-burung, ikan, dan binatang lainnya di alam bebas, sehingga akhirnya tertarik pada pelajaran biologi di sekolah. Sejak umur 10 tahun ia telah menerbitkan karangan pertamanya tentang burung “Pipit Albino” pada majalah ilmu pengetahuan alam (Suparno, 2001: 11). Pada 1920 Piaget bekerja bersama Dr. Theophile Simon di Laboratorium Binet, Paris. Tugas Piaget di sana adalah untuk mengkonstruksi tes kepandaian anak-anak. Ia tertarik kepada respon-respon anak kecil, khususnya tentang jawaban- jawaban mereka yang keliru. Kesalahan mereka, memiliki pola konsisten yang menyatakan bahwa pikiran mereka memiliki sifatnya sendiri yang unik. Ia juga menghabiskan waktu berjam-jam mengamati aktivitas-aktivitas spontan anakanak, dengan tujuan untuk menunda pra-konsepsinya sendiri sebagai orang dewasa tentang pikiran anak-anak dan belajar langsung dari tingkah laku mereka sendiri (Crain, 2007: 168-169). Piaget mengawali serangkaian studi penting mengenai tingkah laku kognitif bayi kepada ketiga anaknya (Crain, 2007: 169). Risetnya memberikan kontribusi yang jelas menuju sebuah teori pentahapan yang tunggal dan terintegrasikan (Crain, 2007: 170). Piaget menyatakan bahwa anak-anak harus berinteraksi dengan lingkungannya untuk berkembang dan membangun strukturstruktur kognitif baru dalam dirinya. Perkembangan merupakan proses konstruktif yang aktif, di mana anak- anak membangun struktur-struktur kognitif yang semakin berbeda dan komprehensif melalui aktivitas-aktivitas mereka sendiri (Crain, 2007: 173). Piaget menyatakan bahwa proses perkembangan kognitif berkenaan dengan skema, asimilasi, akomodasi, organisasi, dan kesetimbangan (Santrock, 2014: 43). Berikut desain proses perkembangan kognitif anak menurut Piaget. 10

(30) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI (Sumber: http://m-edukasi.blogspot.co.id/2014/09/teori-konstruktivisme-jean-piaget.html) Gambar 2.1 Desain Proses Perkembangan Kognitif Anak Menurut Piaget ketika anak berusaha membangun pemahaman mengenai dunia, otak berkembang membentuk skema. Skema adalah suatu struktur mental seseorang di mana ia secara intelektual beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya. Skema akan beradaptasi dan berubah selama perkembangan kognitif seseorang. Ini merupakan tindakan atau representasi mental yang mengatur pengetahuan. Piaget memberikan konsep asimilasi dan akomodasi untuk menjelaskan bagaimana anak menggunakan dan menyesuaikan skema mereka. Asimilasi terjadi ketika anak memasukkan informasi baru ke dalam skema mereka yang sudah ada sebelumnya. Asimilasi adalah proses kognitif di mana seseorang mengintegrasikan persepsi, konsep, atau pengalaman baru ke dalam skema atau pola yang sudah ada di dalam pikirannya (Suparno, 2001: 22). Akomodasi terjadi ketika anak menyesuaikan skema mereka agar sesuai dengan informasi dan pengalaman baru yang mereka dapatkan (Santrock, 2014: 44). Akomodasi adalah mengubah struktur-struktur internal untuk memberikan konsistensi dengan realita eksternal (Schunk, 2012: 331). Selanjutnya anak mengatur pengalaman mereka secara kognitif untuk mengartikan dunia mereka. Organisasi adalah pengelompokan perilaku dan pikiran yang terisolasi ke dalam susunan sistem yang lebih tinggi. Ekuilibrasi adalah mekanisme yang diajukan Piaget untuk menjelaskan bagaimana anak beralih dari satu tahap pemikiran ke tahap berikutnya. Peralihan ini terjadi 11

(31) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ketika anak mengalami konflik kognitif atau mengalami disekuilibrium dalam memahami dunia. Akhirnya, mereka menyelesaikan konflik tersebut dan mencapai kesetimbangan atau ekuilibrium pemikiran (Santrock, 2014: 44). Piaget berpendapat bahwa hasil dari proses asimilasi, akomodasi, organisasi, dan ekuilibrium anak melalui empat tahap perkembangan. Setiap tahapan perkembangan ini berkaitan dengan usia dan terdiri atas cara pemikiran yang berbeda-beda (Santrock, 2014: 45). Berikut empat tahapan perkembangan kognitif menurut Piaget (Schunk, 2012: 332-333). a. Tahap Sensori-motor (Usia 0 – 2 tahun) Tahap sensori-motor menempati dua tahun pertama dalam kehidupan. Selama periode ini anak mengaturalamnya dengan indera-inderanya (sensori) dan tindakan-tindakannya (motor). Selama periode ini anak tidak mempunyai konsepsi “object permanence”. Bila suatu benda disembunyikan, ia gagal untuk menemukannya. Sambil pengalamannya bertambah, sampai mendekati akhir periode ini, anak itu menyadari bahwa benda yang disembunyikan itu masih ada, dan ia mulai mencarinya sesudah dilihatnya benda itu disembunyikan. Konsepkonsep yang tidak ada waktu lahir, seperti konsep-konsep ruang, waktu, kausalitas, berkembang dan terinkorporasi ke dalam pola-pola perilaku anak. b. Tahap Pra-operasional (Usia 2 – 7 tahun) Periode ini disebut pra-operasional, karena pada usia ini anak belum mampu melaksanakan operasi-operasi mental, yaitu menambah, mengurangi, dan lainlain. Tahap ini terdiri atas dua sub-tahap yaitu sub-tahap pra-logis dan sub- tahap pemikiran intuitif. Pada sub-tahap pra-logis (2 - 4 tahun), anak mendapatkan kemampuan untuk merepresentasikan orang maupun benda-benda di lingkungan sekitar. Hal ini menjadi tanda bahwa dunia mental mereka semakin luas yang kemudian ditandai dengan perluasan penggunaan bahasa dan munculnya permainan pura-pura. Pada sub-tahap pemikiran intuitif (4 - 7 tahun), anak-anak mulai menggunakan penalaran primitif dan ingin tahu jawaban atas segala macam pertanyaan yang muncul. Anak-anak merasa yakin dengan pengetahuan dan pemahaman mereka, namun belum menyadari bagaimana mereka tahu apa yang mereka ketahui. Ada hal lain yang perlu 12

(32) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI diketahui tentang anak pra-operasional, yaitu sifat egosentris. Menurut Piaget anak pra-operasional bersifat egosentris, berarti anak itu mempunyai kesulitan untuk menerima pendapat orang lain. c. Tahap Operasional Konkret (Usia 7 – 11 tahun) Tahap ini merupakan permulaan berpikir rasional. Ini berarti, anak memiliki operasi-operasi logis yang dapat diterapkannya pada masalah-masalah konkret. Bila menghadapi suatu pertentangan antara pikiran dan persepsi, anak dalam periode operasional konkret memilih pengambilan keputusan logis, dan bukan keputusan perseptual seperti anak pra-operasional. Operasi-operasi dalam periode ini terikat pada pengalaman perorangan dan operasi-operasi itu konkret, bukan formal. Anak belum dapat berurusan dengan materi abstrak, seperti hipotesis dan proposisi-proposisi verbal. Selama periode ini, bahasa juga berubah. Anak-anak menjadi kurang egosentris dan lebih sosiosentris dalam berkomunikasi. d. Tahap Operasional Formal (Usia 11 tahun - dewasa) Pada periode ini anak dapat menggunakan operasi-operasi konkretnya untuk membentuk operasi-operasi yang lebih kompleks. Kemajuan utama pada anak selama periode ini ialah bahwa ia tidak perlu berpikir dengan pertolongan benda-benda atau peristiwa-peristiwa konkret, karena ia mempunyai kemampuan untuk berpikir abstrak. Kualitas abstrak dari pemikiran operasioanal formal nyata dalam menyelesaikan masalah verbal. Berdasarkan tahapan perkembangan kognitif anak menurut Piaget, anak usia Sekolah Dasar masuk dalam tahap operasional konkret. Hal ini ditunjukkan dengan sudah berkembangnya kemampuan berpikir logis yang diterapkan dalam memecahkan persoalan-persoalan konkret yang dihadapi (Suparno, 2001: 70). Tahap operasional konkret ini ditandai dengan adanya inteligensi yang sudah sangat maju, namun cara berpikirnya masih terbatas, sehingga diperlukan model pembelajaran yang sesuai dengan tahap perkembangannya. 2.1.1.3 Teori Sosiokultural Menurut Vygotsky Lev Semyonovich Vygotsky yang lahir di Rusia pada tahun 1896 mempelajari berbagai bidang studi di sekolah, termasuk psikologi, filsafat, dan 13

(33) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI sastra. Ia menerima gelar hukum dari Moscow Imperial University tahun 1917 dan mengajar untuk kuliah bidang psikologi dan sastra, menulis kritik sastra, dan mengedit sebuah jurnal. Ia juga bekerja di institusi pelatihan guru di mana ia mendirikan laboratorium psikologi dan menulis sebuah buku psikologi pendidikan (Schunk, 2012: 337). Salah satu kontribusi Vygotsky yang paling penting terhadap pemikiran psikologi adalah fokus perhatiannya pada aktivitas yang bermakna sosial sebagai pengaruh penting terhadap pikiran sadar manusia. Teori Vygotsky menitikberatkan interaksi dari faktor-faktor interpersonal (Schunk, 2012: 339). Selain itu, Vygotsky sebagai tokoh pencetus teori konstruktivisme mengemukakan bahwa setiap individu berkembang dalam konteks sosial. Semua perkembangan intelektual yang mencakup makna, ingatan, pikiran, persepsi, dan kesadaran bergerak dari wilayah interpersonal ke wilayah intrapersonal. Berkaitan dengan hal ini, Vygotsky berpendapat bahwa individu memiliki dua tingkat perkembangan yang berbeda yaitu tingkat perkembangan aktual dan tingkat perkembangan potensial. Tingkat perkembangan aktual yaitu tingkat keterampilan yang dicapai oleh anak yang bekerja secara independen. Tingkat perkembangan potensial yaitu tingkat yang dapat dicapai oleh anak dengan bantuan orang lain. Zona yang terletak di antara kedua tingkat tersebut dinamakan zona perkembangan proksimal (Zone of Proximal Development) (Santrock, 2014: 57). Berikut desain zona perkembangan proksimal menurut Vygotsky. (Sumber: http://novehasanah.blogspot.co.id/2015/12/zpd-zone-of-proximal- development.html) Gambar 2.2 Desain Zona Perkembangan Proksimal 14

(34) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Zona perkembangan proksimal (Zone of Proximal Development) meliputi kemampuan awal yang belum matang dan sedang dalam proses matang. Kemampuan awal akan menjadi matang melalui interaksi dengan orang dewasa atau kolaborasi dengan teman sebaya yang lebih berkompenten (Supratiknya, 2002: 31). Anak yang sedang mengoptimalkan perkembangan ini masuk pada zona perkembangan proksimal. Proses belajar terjadi apabila anak mengerjakan tugas yang belum dipelajari sebelumnya namun tugas tersebut masih dalam jangkauan kemampuannya (Trianto, 2010: 76). Pendukung zona perkembangan proksimal (Zone of Proximal Development) ini adalah perancah (scaffolding). Pembelajaran terjadi secara optimal jika didukung dengan suatu perancah (scaffolding). Perancah (scaffolding) berarti memberikan kepada individu sejumlah besar bantuan selama bertahap-tahap awal pembelajaran dan kemudian mengurangi bantuan tersebut dan memberikan kesempatan kepada anak didik tersebut untuk mengambil alih tanggung jawab yang semakin besar, segera setelah mampu mengerjakan sendiri (Ratnawati, 2008: 57). Scaffolding ini dapat dilakukan dengan melibatkan aktivitas sosial atau kelompok sehingga mampu memberikan rangsangan sosial bagi anak. Berdasarkan teori yang telah dikemukakan di atas, siswa khususnya kelas V SD masih membutuhkan suatu perancah (scaffolding) untuk mendukung mereka dalam pembelajaran yang sarat akan makna. Pemilihan model pembelajaran yang tepat perlu dipertimbangkan guna memberikan dorongan belajar pada siswa. Model pembelajaran kooperatif merupakan salah satu solusi yang dapat diterapkan oleh guru untuk memberikan scaffolding terbaik pada siswa, karena dalam penerapan model pembelajaran ini siswa tidak hanya mendapatkan bantuan dari guru tetapi juga dapat belajar dari siswa lainnya. Mengingat bahwa dimensi sosial itu penting dalam pembelajaran. 2.1.1.4 Model Pembelajaran Kooperatif Model pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran dengan menggunakan sistem pengelompokan atau tim kecil, yaitu antara empat sampai enam orang yang mempunyai latar belakang kemampuan akademik, jenis kelamin, ras, atau suku yang berbeda atau heterogen (Sanjaya, 2006: 242). Dalam 15

(35) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI penyelesaian tugas kelompoknya, setiap siswa harus saling bekerja sama, saling membantu untuk memahami materi pelajaran. Dalam belajar dikatakan belum selesai jika salah satu anggota belum menguasai bahan pelajaran (Isjoni, 2011: 14). Slavin (dalam Suparmi, 2012: 113) menjelaskan bahwa Model Student Team Learning (MSTL) adalah teknik yang dikembangkan dan diteliti oleh John Hopkins University. Model ini menekankan penggunaan tujuan tim dan sukses tim. Oleh karena itu, tugas-tugas yang diberikan pada siswa bukan melakukan sesuatu sebagai sebuah tim tetapi belajar sesuatu sebagai sebuah tim. Slavin mengemukakan tiga konsep yang menjadi karakter dalam pembelajaran kooperatif, yaitu: (a) penghargaan kelompok, di mana keberhasilan kelompok didasarkan pada penampilan individu dalam menciptakan hubungan antar personal, saling mendukung, membantu dan saling peduli; (b) pertanggungjawaban individu, tergantung pada pembelajaran individu dari semua anggota; dan (c) kesempatan yang sama untuk berhasil, model skoring yang digunakan mencakup nilai perkembangan peningkatan prestasi yang diperoleh siswa terdahulu. Dengan demikian siswa dengan prestasi rendah, sedang dan tinggi sama-sama memperoleh kesempatan untuk berhasil (Suparmi, 2012: 113). Menurut Roger dan Johnson (dalam Rofiq, 2010: 5), tidak semua kerja kelompok bisa dianggap sebagai pembelajaran kooperatif. Untuk memperoleh manfaat yang diharapkan dari implementasi pembelajaran kooperatif, Roger dan Johnson menganjurkan lima unsur penting yang harus dibangun dalam aktivitas instruksional, yaitu: 1. Saling Ketergantungan Positif (Positive Interdependence) Keberhasilan kelompok sangat tergantung pada usaha setiap anggotanya. Untuk menciptakan kelompok kerja yang efektif, pengajar perlu menyusun tugas sedemikian rupa, sehingga setiap anggota kelompok harus menyelesaikan tugasnya sendiri agar yang lain bisa mencapai tujuan mereka. 2. Interaksi Tatap Muka (Face to Face Interaction) Setiap kelompok harus diberikan kesempatan untuk bertemu muka dan berdiskusi. Kegiatan interaksi ini akan memberikan para pembelajar untuk membentuk sinergi yang menguntungkan semua anggota. 16

(36) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3. Tanggung Jawab Individual (Individual Accountability) Unsur ini merupakan akibat langsung dari unsur yang pertama. Jika tugas dan pola penilaian dibuat menurut prosedur model pembelajaran kooperatif, setiap siswa akan merasa bertanggung jawab untuk melakukan yang terbaik. 4. Keterampilan Sosial (Social Skill) Keterampilan sosial yang dimaksud di sini adalah keterampilan dalam berkomunikasi dalam kelompok. Sebelum menugaskan siswa ke dalam kelompok, pengajar perlu mengajarkan cara-cara berkomunikasi. 5. Evaluasi Proses Kelompok (Group Debrieving) Pengajar perlu menjadwalkan waktu khusus bagi kelompok untuk mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerja sama mereka agar selanjutnya bisa bekerja sama dengan lebih efektif. Pembelajaran kooperatif dapat berjalan dengan efektif pada diri siswa bila ditanamkan unsur-unsur dasar belajar kooperatif. Dilaksanakannya pembelajaran kooperatif secara berkesinambungan dapat dijadikan sarana bagi guru untuk melatih dan mengembangkan aspek kognitif, afektif dan psikomotorik siswa, khususnya keterampilan sosial untuk bekal hidup di masyarakat. Keberhasilan siswa pada pembelajaran ini juga berdampak pada keberhasilan guru dalam mengelola kelasnya (Isjoni, 2011: 102). Jadi pada pembelajaran kooperatif ini siswa diajarkan bagaimana bekerja sama dalam kelompok, saling memimpin, saling bertanggung jawab dalam kesetaraan pembelajaran yang senasib dan sepenanggungan, menciptakan hubungan antar personal, saling mendukung, membantu dan saling peduli dalam mencapai tujuan yaitu keberhasilan dalam menguasai materi belajar. Adapun tipe-tipe model pembelajaran kooperatif antara lain, yaitu Student Teams-Achievement Division (STAD), Team Game Tournament (TGT), Jigsaw II, Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC), Team Assisted Individualization (TAI), Group Investigation, Learning Together, Complex Instruction, dan Structure Dyadic Methods (Slavin, 2009: 11-26). Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan salah satu tipe yaitu Student TeamsAchievement Division (STAD). 17

(37) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2.1.1.5 Model Pembelajaran Student Team Achievement Division (STAD) 1. Hakikat Model Pembelajaran STAD Menurut Slavin (dalam Rusman, 2010: 213) model STAD (Student Team Achievement Division) merupakan variasi pembelajaran kooperatif yang paling banyak diteliti. Model ini juga sangat mudah diadaptasi, telah digunakan dalam matematika, IPA, IPS, bahasa Inggris, teknik dan banyak subjek lainnya, pada tingkah sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Model pembelajaran koooperatif tipe STAD merupakan salah satu pembelajaran kooperatif yang diterapkan untuk menghadapi kemampuan siswa yang heterogen. Model ini dipandang sebagai model yang paling sederhana dan langsung dari pendekatan pembelajaran kooperatif. Model ini paling awal ditemukan dan dikembangkan oleh para peneliti pendidikan di Johns Hopkins University Amerika Serikat dengan menyediakan suatu bentuk belajar kooperatif. Di dalamnya, siswa diberi kesempatan untuk melakukan kolaborasi dan elaborasi dengan teman sebaya dalam bentuk diskusi kelompok untuk memecahkan suatu permasalahan. Dalam model pembelajaran ini, masing-masing kelompok beranggotakan 4 - 5 orang yang dibentuk dari anggota yang heterogen terdiri dari laki-laki dan perempuan yang berasal dari berbagai suku, yang memiliki kemampuan tinggi, sedang, dan rendah (Shoimin, 2014: 185). Jadi, model pembelajaran kooperatif tipe STAD adalah salah satu model pembelajaran yang berguna untuk menumbuhkan kemampuan kerja sama, kreatif, berpikir kritis dan ada kemampuan untuk membantu teman serta merupakan pembelajaran kooperatif yang sangat sederhana. 2. Langkah - langkah Model Pembelajaran STAD Rusman (2010: 215) mengemukakan enam langkah model pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Division (STAD) yaitu, sebagai berikut: a. Penyampaian Tujuan dan Motivasi Menyampaikan tujuan yang ingin dicapai pada pembelajaran tersebut dan memotivasi siswa untuk belajar. 18

(38) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI b. Pembagian Kelompok Siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok, di mana setiap kelompoknya terdiri dari 4 - 5 siswa yang memprioritaskan heterogenitas (keragaman) kelas dalam prestasi akademik, gender/jenis kelamin, rasa atau etnik. c. Presentasi dari guru Guru menyampaikan materi pelajaran dengan terlebih dahulu menjelaskan tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pertemuan tersebut serta pentingnya pokok bahasan tersebut dipelajari. Guru memberi motivasi siswa agar dapat belajar dengan aktif dan kreatif. Di dalam proses pembelajaran, guru dibantu oleh media, demonstrasi, pertanyaan atau masalah nyata yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Dijelaskan juga tentang keterampilan dan kemampuan yang diharapkan dikuasai siswa, tugas dan pekerjaan yang harus dilakukan serta cara-cara mengerjakannya. d. Kegiatan Belajar dalam Tim (Kerja Tim) Siswa belajar dalam kelompok yang telah dibentuk. Guru menyiapkan lembaran kerja sebagai pedoman bagi kerja kelompok, sehingga semua anggota menguasai dan masing-masing memberikan kontribusi. Selama tim bekerja, guru melakukan pengamatan, memberikan bimbingan, dorongan dan bantuan bila diperlukan. Kerja tim ini merupakan ciri terpenting dari STAD. e. Kuis (Evaluasi) Guru mengevaluasi hasil belajar melalui pemberian kuis tentang materi yang dipelajari dan juga melakukan penilaian terhadap presentasi hasil kerja masingmasing kelompok. Siswa diberikan kursi secara individual dan tidak dibenarkan bekerja sama. Ini dilakukan untuk menjamin agar siswa secara individu bertanggung jawab kepada diri sendiri dalam memahami bahan ajar tersebut. Guru menetapkan skor batas penguasaan untuk setiap soal, misalnya 60, 75, 84, dan seterusnya sesuai dengan tingkat kesulitan siswa. f. Penghargaan Prestasi Tim Setelah pelaksanaan kuis, guru memeriksa hasil kerja siswa dan diberikan angka dengan rentang 0 – 100. Selanjutnya pemberian penghargaan atas keberhasilan kelompok dapat dilakukan oleh guru dengan melakukan tahapan-tahapan, antara 19

(39) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI lain: (1) menghitung skor individu (2) menghitung skor kelompok (3) pemberian hadiah dan pengakuan skor kelompok. 3. Manfaat Model Pembelajaran STAD Model Pembelajaran Student Team Achievement Division (STAD) dipandang sebagai sebuah model pembelajaran yang memiliki banyak manfaat. Shoimin (2014: 189) memaparkan manfaat STAD sebagai berikut: (1) siswa bekerja sama dalam mencapai tujuan dengan menjunjung tinggi norma-norma kelompok; (2) siswa aktif membantu dan memotivasi semangat untuk berhasil bersama; (3) aktif berperan sebagai tutor sebaya untuk lebih meningkatkan keberhasilan kelompok; (4) interaksi antar siswa seiring dengan peningkatan kemampuan mereka dalam berpendapat; (5) meningkatkan kemampuan individu; (6) meningkatkan kemampuan kelompok; (7) tidak bersifat kompetitif. 2.1.1.6 Kemampuan Berpikir Kritis Baru-baru ini, sejumlah psikolog dan pendidik mulai mempelajari keterampilan-keterampilan anak dalam berpikir secara kritis. Memang, dalam psikologi dan pendidikan, pemikiran kritis bukan tergolong ide yang sama sekali baru. John Dewey, seorang pendidik terkenal, misalnya telah mengusulkan ide yang sama ketika ia berbicara tentang pentingnya melatih siswa untuk berpikir secara reflektif. Demikian juga psikolog ternama Max Wertheimer, telah membicarakan arti penting dari berpikir produktif. Belakangan ini sejumlah ahli psikologi dan pendidikan mulai memfokuskan perhatian terhadap pemikiran kritis dan menempatkannya sebagai satu aspek perkembangan kognitif yang penting dalam kajian psikologi perkembangan kontemporer (Desmita, 2009: 152). Kemampuan berpikir kritis telah didefinisikan secara beragam oleh para ahli. Menurut Santrock (dalam Desmita, 2009: 153), berpikir kritis adalah, “critical thinking involves grasping the deeper meaning of problems, keeping an open mind about different approaches and perspectives, not accepting on faith what other people and books tell you, and thinking reflectively rather than accepting the first idea that comes to mind. Pada bagian lain, Santrock (2008) menjelaskan bahwa berpikir kritis adalah berpikir reflektif dan produktif serta 20

(40) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI melibatkan evaluasi bukti. Desmita (2009: 153) mendefinisikan kemampuan berpikir kritis adalah kemampuan untuk berpikir secara logis, reflektif, dan produktif yang diaplikasikan dalam menilai situasi untuk membuat pertimbangan dan keputusan yang baik. Facione (1990) mengemukakan bahwa kemampuan berpikir kritis adalah kemampuan membuat penilaian untuk tujuan tertentu yang menghasilkan interpretasi, analisis, evaluasi, dan kesimpulan atas dasar bukti, konsep, model, kriteria, atau konteks tertentu yang digunakan untuk menilai. Berdasarkan pada beberapa definisi di atas dapat dipahami bahwa yang dimaksud dengan kemampuan berpikir kritis adalah kemampuan untuk berpikir secara reflektif dan produktif yang bertujuan untuk menghasilkan kesimpulan atau keputusan atas dasar tertentu. Facione (2010: 5) mengemukakan bahwa kemampuan berpikir kritis mencakup dua dimensi, yaitu dimensi kognitif dan disposisi afektif. Dimensi kognitif terdiri dari enam kemampuan yaitu menginterpretasi, menganalisis, mengevaluasi, menarik kesimpulan, mengeksplanasi dan meregulasi diri. Kemampuan menginterpretasi adalah kemampuan mencoba mengerti dan mengungkapkan kesepakatan, arti dari kepercayaan, pengalaman, aturan, situasi, data kejadian, penilaian, prosedur, atau kriteria. Kemampuan menganalisis adalah mengidentifikasi relasi-relasi logis dari berbagai pernyataan, pertanyaan, atau konsep yang mengungkapkan keyakinan, penilaian, pengalaman, alasan, informasi, atau opini. Kemampuan mengevaluasi adalah kemampuan menilai kredibilitas suatu pernyataan atau argumen dan menilai bobot logika suatu kesimpulan. Kemampuan menarik kesimpulan adalah kemampuan mengidentifikasi dan memastikan elemen-elemen yang dibutuhkan untuk menarik kesimpulan yang masuk akal, merumuskan dugaan dan hipotesis, mempertimbangkan informasi yang relevan dan memperkirakan konsekuensi-konsekuensi yang timbul dari data, pernyataan, bukti, prinsip, penilaian, kepercayaan, pertanyaan, serta konsep. Kemampuan mengeksplanasi adalah kemampuan menguraikan dasar-dasar suatu penalaran dengan pertimbangan-pertimbangan konseptual, metodologis, dan kontekstual. Kemampuan meregulasi diri adalah kemampuan secara sadar memonitor aktivitas kognitifnya sendiri, unsur-unsur yang digunakan dalam 21

(41) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI aktivitas tersebut, dan hasil-hasilnya dengan menganalisis dan mengevaluasi proses kognitif yang terjadi sehingga dapat mempertanyakan, menegaskan, atau mengoreksi cara berpikirnya sendiri (Facione, 2010: 5-8). Berikut tabel yang berisikan tentang dimensi kognitif dari kemampuan berpikir kritis. Tabel 2.1 Kemampuan Berpikir Kritis Facione No Kemampuan 1 Menginterpretasi 2 Menganalisis 3 Mengevaluasi 4 Menarik kesimpulan 5 Mengeksplanasi 6 Meregulasi diri Sub-kemampuan Membuat kategori Memahami arti Menjelaskan makna Menguji gagasan-gagasan Mengidentifikasi argumen-argumen Menganalisis argumen-argumen Menilai sah tidaknya klaim-klaim Menilai sah tidaknya argumen-argumen Menguji bukti-bukti Menerka alternatif-alternatif Menarik kesimpulan Menjelaskan hasil penalaran Memaparkan argumen-argumen yang digunakan Membenarkan prosedur yang digunakan Refleksi diri Koreksi diri Sedangkan dimensi disposisi afektif dari kemampuan berpikir kritis yaitu rasa ingin tahu yang tinggi terhadap berbagai permasalahan, berusaha untuk selalu mendapatkan informasi yang baik, sadar untuk menggunakan daya pikir kritis, mengedepankan proses penelitian yang masuk akal, percaya akan kemampuan diri sendiri untuk bernalar, dan pikiran terbuka terhadap kenyataan pandangan yang berbeda-beda. Selanjutnya, fleksibilitas untuk mempertimbangkan alternatif, memahami opini orang lain, menghargai penalaran, jujur dalam menghadapi prasangka, bias, stereotip, dan kecenderungan egosentris atau sosiosentris, hati-hati dalam menangguhkan, membuat, atau mengubah penilaian, kesediaan untuk meninjau ulang pandangan sendiri jika refleksi yang jujur menyarankan demikian. 2.1.1.7 Kemampuan Mengeksplanasi Dalam penelitian ini, variabel yang digunakan hanya mencakup dua kemampuan berpikir kritis pada dimensi kognitif saja yaitu mengeksplanasi dan meregulasi diri. Kemampuan mengeksplanasi adalah kemampuan dalam menguraikan dasar-dasar suatu penalaran dengan pertimbangan-pertimbangan 22

(42) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI konseptual, metodologis, dan kontekstual. Facione membagi kemampuan mengeksplanasi menjadi tiga sub-kemampuan yaitu menjelaskan hasil penalaran, membenarkan prosedur yang digunakan, dan memaparkan argumen-argumen yang digunakan. Sub-kemampuan yang pertama yaitu menjelaskan hasil penalaran. Misalnya menjelaskan alasan mengapa memegang keyakinan tertentu, menyampaikan penerapan suatu gagasan di masa yang akan datang, menjelaskan temuan-temuan dari hasil penelitian, menjelaskan analisis dan penilaian terhadap suatu permasalahan, merumuskan pernyataan atau deskripsi yang tepat dari hasil analisis, evaluasi, kesimpulan. Sub-kemampuan yang kedua yaitu memaparkan argumen-argumen yang digunakan. Misalnya menuliskan alasan-alasan mengapa mengambil posisi atau kebijakan tertentu, mengantisipasi dan menjawab kemungkinan-kemungkinan kritik yang akan muncul dan akan dilontarkan, memaparkan argumen-argumen yang pro maupun kontra terhadap pemikiran sendiri sebagai cara berpikir dialektis, memberikan alasan-alasan mengapa menerima klaim tertentu, menjawab keberatan-keberatan terhadap model, konsep, kriteria atau bukti yang digunakan dalam menganalisis, menyimpulkan dan mengevaluasi suatu argumen. Sub- kemampuan yang ketiga yaitu membenarkan prosedur yang digunakan. Misalnya menguraikan langkah-langkah yang teliti dalam menyelesaikan suatu permasalahan, menjelaskan pilihan penggunaan alat ukur tertentu untuk analisis data, menjelaskan standar yang digunakan untuk menilai sumber informasi, menjelaskan konsep kunci yang berguna untuk penelitian lebih lanjut, menunjukkan bahwa syarat-syarat metodologis tertentu sudah terpenuhi, memaparkan strategi yang digunakan untuk mengambil keputusan secara rasional, memaparkan grafik yang menunjukkan penggunaan bukti kuantitatif (Facione, 1990: 10). 2.1.1.8 Kemampuan Meregulasi Diri Kemampuan meregulasi diri adalah kemampuan yang secara sadar memonitor aktivitas kognitifnya sendiri. Facione membagi kemampuan meregulasi diri menjadi dua sub-kemampuan yaitu refleksi diri dan koreksi diri. Subkemampuan yang pertama yaitu refleksi diri misalnya menguji pandangan sendiri 23

(43) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI terhadap masalah-masalah yang kontroversial untuk mengetahui apakah posisi yang dipegangnya itu mengandung bias pribadi atau interest pribadi. Selanjutnya, menilai apakah ada kekeliruan dalam cara berpikir sendiri, menilai kembali data-data yang digunakan apakah ada yang terlalu ditonjolkan sehingga berat sebelah dan tidak imbang, menguji kembali apakah fakta, opini, atau asumsi yang digunakan untuk mendukung sudut pandang tertentu sungguh dapat diterima. Menilai kembali proses penalaran yang digunakan untuk mengambil kesimpulan, merefleksikan cara berpikirnya sendiri, memverfikasi hasil, aplikasi, dan pelaksanaan kegiatan berpikir, membuat penilaian diri yang objektif terhadap gagasan sendiri. Melihat apakah ada ketimpangan-ketimpangan berpikir yang berasal dari prasangka, stereotip, atau emosi yang tidak rasional, menilai motivasi, nilai, sikap, atau minat apakah objektif, hormat pada kebenaran, dan rasional. Sub-kemampuan yang kedua yaitu koreksi diri misalnya berani mengoreksi kelemahan-kelemahan metodologi atau data-data yang digunakan, merencanakan prosedur yang masuk akal untuk mengoreksi kesalahan-kesalahan, memastikan apakah koreksi-koreksi tersebut dapat mengubah posisi yang dipegang sebelumnya (Facione, 1990: 10-11). 2.1.1.9 Materi Pembelajaran Materi pembelajaran pada penelitian ini diambil dari tema 2 yaitu “Udara Bersih bagi Kesehatan” dengan subtema 1 “Cara Tubuh Mengolah Udara Bersih” pada kelas V SD. Penelitian ini berdasarkan kompetensi dasar dalam subtema 1 pada kelas V, yaitu 3.2 menjelaskan organ pernapasan dan fungsinya pada hewan dan manusia, serta cara memelihara kesehatan organ pernapasan manusia. Salah satu ciri makhluk hidup adalah bernapas. Bernapas merupakan proses pengambilan oksigen dari udara bebas dan pengeluaran karbondioksida serta uap air. Oksigen merupakan zat yang diperlukan oleh tubuh dalam proses pembakaran zat makanan. Pada proses ini dihasilkan sejumlah energi yang nantinya digunakan untuk melakukan aktivitas kehidupan. Udara dapat masuk dan keluar tubuh karena kerja alat pernapasan (Sulistyanto, 2008: 3). 24

(44) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Pernapasan adalah pertukaran gas antara makhluk hidup dengan lingkungannya. Selain manusia, hewan juga melakukan proses pernapasan. Hewan memiliki alat-alat pernapasan yang berbeda-beda, karena hal ini disesuaikan dengan tempat hidup hewan tersebut. Penjelasan mengenai alat dan sistem pernapasan hewan adalah sebagai berikut: (1) mamalia, sistem pernapasan mamalia darat terdiri atas hidung, pangkal tenggorok, batang tenggorok, dan paru-paru, sedangkan untuk mamalia air hidungnya dilengkapi katup; (2) burung, sistem pernapasannya terdiri dari lubang hidung, tenggorok, paru-paru, serta pundi- pundi udara (kantong udara); (3) reptil, sistem pernapasannya mulai dari udara masuk melalui hidung, lalu ke batang tenggorokan, dan menuju ke paru-paru; (4) amphibi, seperti katak dewasa memiliki alat pernapasan berupa paru-paru dan permukaan kulit; (5) ikan, hewan ini mengambil oksigen yang berada di lingkungannya (air) dengan menggunakan sistem insang; (6) cacing, hewan ini bernapas menggunakan seluruh permukaan kulitnya yang kemudian masuk ke dalam tubuh dan menyatu dengan darah; (7) serangga, seperti belalang, lebah, capung, dan jangkrik bernapas menggunakan trakea (Maryanto & Purwanto, 2009: 7-10). 2.1.2 Hasil Penelitian yang Relevan 2.1.2.1 Penelitian-penelitian Mengenai STAD Wahyuni, Wiyasa, dan Putra (2014) melakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui perbedaan hasil belajar IPS antara siswa yang mengikuti model pembelajaran kooperatif tipe STAD berbasis interaksi sosial dengan siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional pada siswa kelas V SD Gugus 4 Widyasmara Klungkung tahun ajaran 2013/2014. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu yang dilaksanakan dengan pemberian pretest, treatment, dan posttest. Rancangan penelitian yang digunakan adalah nonequivalent control group design, dengan populasi seluruh siswa kelas V SD di Gugus 4 Widyasmara Klungkung yang berjumlah sebanyak 216 orang siswa. Sampel penelitian dipilih dengan menggunakan teknik purposive sampling. Data yang dikumpulkan adalah hasil belajar IPS meliputi aspek kognitif saja. Pengumpulan data dilakukan dengan memberikan tes yaitu tes kognitif pilihan ganda biasa. Data yang sudah dikumpulkan dianalisis dengan menggunakan uji-t. 25

(45) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Berdasarkan hasil analisis uji-t diperoleh thitung = 2,54 > ttabel = 1,98 dengan dk = 63 dan taraf signifikan 5%. Nilai rata-rata kelas eksperimen yang dibelajarkan melalui model pembelajaran kooperatif tipe STAD berbasis interaksi sosial lebih dari kelas kontrol yang dibelajarkan melalui pembelajaran konvensional yaitu 80,09 > 68,69. Dari hasil uji-t menunjukkan bahwa thitung > ttabel maka H0 ditolak dan Hi diterima. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh model pembelajaran model pembelajaran kooperatif tipe STAD berbasis interaksi sosial terhadap hasil belajar IPS siswa kelas V Gugus 4 Widyasmara Klungkung tahun ajaran 2013/2014. Astrawan, Wayan, Marhaeni, dan Arnyana (2013) melakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui perbedaan motivasi belajar dan hasil belajar siswa kelas V SD Gugus I kecamatan Buleleng dalam mata pelajaran IPA antara siswa yang mengikuti model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan siswa yang mengikuti model pembelajaran konvensional. Penelitian ini adalah eksperimen semu dengan rancangan posttest only control group design dan jumlah sampel sebanyak 60 siswa. Data motivasi belajar dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner dan data hasil belajar dikumpulkan menggunakan tes objektif tipe pilihan ganda. Analisis data menggunakan manova. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, pertama, terdapat perbedaan motivasi belajar yang signifikan antara siswa yang mengikuti model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional (F=16,857, sig=0,000; p<0,05). Kedua, terdapat perbedaan hasil belajar IPA yang signifikan antara siswa yang mengikuti model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional (F= 3,850, sig=0,027; p<0,05). Ketiga, secara simultan terdapat perbedaan motivasi belajar dan hasil belajar IPA yang signifikan antara siswa yang mengikuti model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional (F=7,757, sig=0,000; p<0,05). Narzoles (2015) melakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui model pembelajaran STAD sebagai sebuah pendekatan pembelajaran kooperatif dalam meningkatkan prestasi akademik pelajar bahasa Inggris sebagai bahasa asing (EFL). 54 siswa yang terdaftar dalam kursus keterampilan komunikasi Inggris 2 digunakan sebagai subyek penelitian. STAD digunakan dalam kelompok 26

(46) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI eksperimen sedangkan metode pengajaran tradisional digunakan untuk kelompok kontrol. Penelitian ini menggunakan quasi-experimental design. Nilai rata-rata pretest adalah dasar dalam menentukan skema pengetahuan awal peserta. Setelah melakukan topik yang dipilih menggunakan STAD, siswa diberi posttest. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa dengan model pembelajaran STAD telah memperkaya prestasi akademik dalam kursus keterampilan komunikasi Inggris 2. Hasil pada nilai rata-rata posttest menunjukkan bahwa ada pengaruh yang signifikan terhadap kinerja akademis kelompok eksperimen di mana STAD telah diperkenalkan. Nilai mean posttest menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara kinerja akademis eksperimental dan kelompok kontrol dengan nilai p-.000 pada tingkat signifikansi 0,05. Dengan demikian, siswa yang menggunakan model pembelajaran STAD lebih baik daripada siswa yang diajar dengan metode pengajaran tradisional. 2.1.2.2 Penelitian-penelitian Mengenai Berpikir Kritis Rodiyana (2015) melakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh strategi pembelajaran inkuiri terhadap kemampuan berpikir kritis dan kreatif siswa dalam pembelajaran IPS di kelas IV Sekolah Dasar. Penelitian ini merupakan kuasi eksperimen dengan menggunakan rancangan pretest-posttest non-equivalent group design. Kelas eksperimen diberi perlakuan pembelajaran menggunakan strategi pembelajaran inkuiri, sedangkan kelas kontrol menggunakan pembelajaran konvensional. Penelitian ini menggunakan sampel siswa kelas IVA dan siswa kelas IVB SDN Cijati Kecamatan Majalengka Kabupaten Majalengka tahun ajaran 2012/2013. Pemilihan kelas eksperimen yaitu di kelas IVA sebanyak 31 siswa dan kelas kontrol yaitu di kelas IVB sebanyak 31 siswa. Instrumen penelitian meliputi lembar observasi pelaksanaan proses pembelajaran, tes tulis, serta dokumentasi. Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh nilai thitung sebesar 3,96 dan ttabel = 2,66 pada taraf signifikan 1%. Ini berarti nilai thitung berada diluar ketentuan ttabel < thitung, maka hal ini menunjukan terdapat perbedaan yang signifikan antara nilai tes akhir (posttest) kemampuan berpikir kritis dengan pembelajaran konvensional pada kelas kontrol dan pada kelas eksperimen dengan menggunakan strategi pembelajarn inkuiri atau dengan kata lain hipotesis diterima. 27

(47) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Juano dan Pardjono (2016) melakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh pembelajaran problem posing dan direct instruction, interaksi antara strategi pembelajaran dan tingkat kemampuan belajar matematika siswa terhadap kemampuan berpikir kritis dan komunikasi matematis. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu, dengan menggunakan pretest posttest non-equivalent control group design. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas V SD Negeri Pujokusuman I Yogyakarta yang terdiri atas empat kelas. Sampel penelitian sebanyak dua kelas yang dipilih secara acak, kemudian masing-masing kelas yang terpilih dikelompokkan dalam kategori tingkat kemampuan tinggi dan tingkat kemampuan rendah terhadap kemampuan belajar matematika. Data hasil penelitian dianalisis dengan uji Manova 2 jalur dan uji- t dengan kriteria Bonferroni. Hasil uji statistik terlihat bahwa ada pengaruh pembelajaran terhadap kemampuan berpikir kritis, dengan taraf signifikansi 0,00 < α = 0,05. Dilihat dari tingkat kelompok pembelajaran, terlihat bahwa ada pengaruh pembelajaran (problem posing dan direct instruction) terhadap kemampuan komunikasi matematis, dengan taraf signifikansi 0,00 < α = 0,05. Sedangkan dilihat dari pengaruh gabungan (interaksi) antara kemampuan pembelajaran tidak terjadi interaksi, baik terhadap kemampuan berpikir kritis maupun terhadap kemampuan komunikasi matematis, dimana taraf signifikansi 0,119 ˃ α = 0,05. Berdasarkan hasil uji lanjut dengan menggunakan independent sample t-test kriteria Bonferroni, nilai signifikansi dari masing-masing variabel terikatnya adalah lebih kecil 0,05. Maka dari itu, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) terdapat pengaruh antara pembelajaran problem posing dan direct instruction terhadap kemampuan berpikir kritis dan kemampuan komunikasi matematis, (2) tidak terdapat interaksi antara strategi pembelajaran dan tingkat kemampuan belajar matematika siswa terhadap kemampuan berpikir kritis dan komunikasi matematis. Pembelajaran problem posing lebih baik dari direct instruction baik untuk kemampuan tinggi maupun untuk kemampuan rendah terhadap kemampuan berpikir kritis dan komunikasi matematis siswa. Kitot, Ahmada, dan Seman (2010) melakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui keefektifan pembelajaran inkuiri untuk meningkatkan pemikiran kritis siswa dalam pembelajaran sejarah. Penelitian ini merupakan penelitian 28

(48) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI eksperimen semu, dengan menggunakan pretest posttest non-equivalent control group design. Penelitian ini dilakukan di Sekolah Menengah Matang Jaya, Kuching, Sarawak dengan sampel 41 siswa dari kelas sains 4 dipilih sebagai kelas eksperimen, sementara kelas kontrol terdiri dari 42 siswa kelas sains lainnya. Percobaan yang berkaitan dengan pembelajaran inkuiri dilakukan selama delapan minggu. Pretest dan posttest dilakukan pada kedua kelompok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model inkuiri pada kelompok eksperimen efektif. Ini berarti dengan menggunakan model pembelajaran inkuiri telah efektif dalam meningkatkan pemikiran kritis siswa dalam kelompok eksperimen dibandingkan dengan siswa dalam kelompok kontrol. Perbedaan pemikiran kritis siswa yang meningkat ini (mean difference = 5392, t = - 7347 dan 0,000 sig = p <0,05) dapat dilihat sebelum dan sesudah pembelajaran inkuiri dilakukan pada kelompok eksperimen. Nilai rata-rata pemikiran kritis siswa pada kelompok kontrol lebih tinggi setelah model pembelajaran inkuiri dilaksanakan di kelas daripada sebelum diimplementasikan. Ada perbedaan yang signifikan antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol dalam hal memperbaiki pemikiran kritis siswa sebelum dan sesudah model pembelajaran inkuiri dilaksanakan berdasarkan beberapa karakteristik pemikiran kritis dalam pembelajaran sejarah. Penelitian-penelitian yang relevan di atas menggunakan populasi siswa sekolah dasar dan siswa sekolah menengah. Beberapa penelitian yang relevan tersebut sudah menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Model pembelajaran kooperatif tipe STAD sebagai variabel independen berpengaruh terhadap variabel dependen yang diteliti. Peneliti dalam penelitian ini akan menggunakan variabel independen model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan variabel dependen kemampuan mengeksplanasi dan kemampuan meregulasi diri menurut Facione. Maka dari itu, peneliti akan melakukan penelitian yang berbeda dari penelitian yang sudah dilakukan yaitu suatu penelitian eksperimen untuk melihat pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe STAD terhadap kemampuan mengeksplanasi dan meregulasi diri pada siswa kelas V SD. 29

(49) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2.1.2.3 Literature map Hasil penelitian sebelumnya dibuat bagan berikut. Model pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Division (STAD) Kemampuan Berpikir Kritis Rodiyana (2015) Wahyuni, Wiyasa, & Putra (2014) Strategi pembelajaran inkuiri Kemampuan berpikir kritis dan kreatif siswa Student Team Achievement Division (STAD) - Hasil belajar IPS Astrawan, Wayan, Marhaeni, & Arnyana (2013) Student Team Achievement Division (STAD) - Motivasi belajar dan hasil belajar Juano & Pardjono (2016) Pembelajaran problem posing Kemampuan berpikir kritis dan komunikasi matematis Narzoles (2015) Student Team Achievement Division (STAD) – Academic performance Kitot, Ahmada, & Seman (2010) Inquiry Teaching – Critical thinking Yang akan diteliti: Model pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Division (STAD) – Kemampuan mengeksplanasi dan meregulasi diri Gambar 2.3 Literature Map 30

(50) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2.2 Kerangka Berpikir Piaget membagi perkembangan kognitif anak menjadi 4 tahap yaitu tahap sensori-motor (0 – 2 tahun), pra-operasional (2 – 7 tahun), operasional konkret (7 – 11 tahun), dan tahap operasi formal (11 tahun – ke atas). Berdasarkan tahapan perkembangan kognitif anak menurut Piaget ini, anak usia Sekolah Dasar masuk dalam tahap operasional konkret. Hal ini ditunjukkan dengan sudah berkembangnya kemampuan berpikir logis yang diterapkan dalam memecahkan persoalan-persoalan konkret yang dihadapi. Teori perkembangan anak juga datang dari Vygotsky. Vygotsky mengemukakan bahwa individu memiliki dua tingkat perkembangan yang berbeda yaitu tingkat perkembangan aktual dan tingkat perkembangan potensial. Tingkat perkembangan aktual yaitu tingkat keterampilan yang dicapai oleh anak yang bekerja secara independen. Tingkat perkembangan potensial yaitu tingkat yang dapat dicapai oleh anak dengan bantuan orang lain. Zona yang terletak di antara kedua tingkat tersebut dinamakan zona perkembangan proksimal (Zone of Proximal Development) (Santrock, 2014: 57). Pendukung zona perkembangan proksimal (Zone of Proximal Development) ini adalah perancah (scaffolding). Perancah (scaffolding) berarti memberikan kepada individu sejumlah besar bantuan selama bertahap-tahap awal pembelajaran dan kemudian mengurangi bantuan tersebut dan memberikan kesempatan kepada anak didik tersebut untuk mengambil alih tanggung jawab yang semakin besar, segera setelah mampu mengerjakan sendiri (Ratnawati, 2008: 57). Selaras dengan ini, dibutuhkan model pembelajaran yang tepat yakni sesuai dengan tahap perkembangan siswa. Model yang dikira tepat untuk pembelajaran yang sesuai dengan tahap perkembangan siswa yaitu model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Model pembelajaran ini memiliki ciri khas bekerja di dalam tim, sehingga model pembelajaran STAD sangat membantu siswa dalam bekerja dengan tim. Model pembelajaran STAD ini merupakan tipe pembelajaran kooperatif yang paling sederhana dimana siswa ditempatkan dalam tim belajar yang diacak berdasarkan jenis kelamin, tingkat kinerja dan suku (Shoimin, 2014: 185). Model pembelajaran kooperatif tipe STAD menggunakan enam langkah, yaitu penyampaian tujuan dan motivasi, pembagian kelompok, presentasi dari guru, 31

(51) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI kegiatan belajar dalam tim, kuis, dan penghargaan prestasi tim. Adapun manfaat yang dimiliki model pembelajaran STAD, yaitu: (a) siswa bekerja sama dalam mencapai tujuan dengan menjunjung tinggi norma-norma kelompok; (b) siswa aktif membantu dan memotivasi semangat untuk berhasil bersama; (c) siswa aktif berperan sebagai tutor sebaya untuk lebih meningkatkan keberhasilan kelompok; (d) interaksi antarsiswa seiring dengan peningkatan kemampuan mereka dalam berpendapat; (e) meningkatkan kecakapan individu dan kelompok; dan (f) tidak bersifat kompetitif. Dewasa ini, kemampuan berpikir kritis memiliki peranan yang cukup penting dalam kehidupan sehari-hari. Facione membagi kemampuan berpikir kritis pada dimensi kognitif menjadi enam kecakapan yaitu menginterpretasi, menganalisis, mengevaluasi, menarik kesimpulan, mengeksplanasi dan meregulasi diri. Penelitian ini hanya fokus pada dua kemampuan saja yaitu kemampuan mengeksplanasi dan kemampuan meregulasi diri. Kemampuan mengeksplanasi adalah kemampuan dalam menguraikan dasar-dasar suatu penalaran dengan pertimbangan-pertimbangan konseptual, metodologis, dan kontekstual. Indikator kemampuan mengeksplanasi yaitu menjelaskan hasil penalaran, membenarkan prosedur yang digunakan, dan memaparkan argumen-argumen yang digunakan. Kemampuan meregulasi diri adalah kemampuan yang secara sadar memonitor aktivitas kognitifnya sendiri, unsur-unsur yang digunakan dalam aktivitas tersebut, dan hasil-hasilnya dengan menganalisis dan mengevaluasi proses kognitif yang terjadi sehingga dapat mempertanyakan, menegaskan, atau mengoreksi cara berpikirnya sendiri. Indikator kemampuan meregulasi diri yaitu membuat penilaian terhadap gagasan sendiri, menilai kembali data- data yang digunakan, dan menguji pandangan sendiri terhadap suatu permasalahan. Penelitian ini difokuskan pada mata pelajaran IPA dengan materi sistem pernapasan pada hewan yang ada pada tema 2 yaitu “Udara Bersih bagi Kesehatan” dengan subtema 1 “Cara Tubuh Mengolah Udara Bersih” pada kelas V SD. Penelitian ini berdasarkan kompetensi dasar dalam subtema 1 pada kelas V, yaitu 3.2 menjelaskan organ pernapasan dan fungsinya pada hewan dan manusia, serta cara memelihara kesehatan organ pernapasan manusia. 32

(52) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Suatu kegiatan pembelajaran perlu didukung dengan model pembelajaran yang dapat membawa siswa mengembangkan kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotor pada level yang lebih tinggi secara maksimal. Penggunaan model pembelajaran ini disesuaikan dengan tahap perkembangan siswa itu sendiri. Siswa kelas V SD masuk ke dalam tahap perkembangan operasional konkret. Tahap operasional konkret ini ditandai dengan adanya inteligensi yang sudah sangat maju, namun cara berpikirnya masih terbatas, sehingga diperlukan model pembelajaran yang sesuai dengan tahap perkembangannya. Selain itu, dalam penerapan model pembelajaran, siswa dapat saling bekerja sama dalam satu kelompok, saling berinteraksi, dan membantu dalam memahami materi pembelajaran. Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD menjadi solusi yang tepat untuk memfasilitasi siswa dalam mengembangkan kemampuan kognitif yang lebih tinggi yaitu kemampuan mengeksplanasi dan meregulasi diri. Jika model pembelajaran STAD diterapkan dalam pembelajaran IPA dengan materi sistem pernapasan hewan, model pembelajaran tersebut akan mempengaruhi kemampuan mengeksplanasi dan kemampuan meregulasi diri siswa kelas V SD. 2.3 Hipotesis Penelitian 2.3.1 Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD berpengaruh terhadap kemampuan mengeksplanasi siswa kelas V SD. 2.3.2 Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD berpengaruh terhadap kemampuan meregulasi diri siswa kelas V SD. 33

(53) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB III METODE PENELITIAN Bab ini membahas metode penelitian yang digunakan peneliti. Metode penelitian memuat jenis penelitian, setting penelitian, populasi dan sampel penelitian, variabel penelitian, teknik pengumpulan data, teknik pengujian instrumen, teknik analisis data, dan ancaman validitas internal. 3.1 Jenis Penelitian Penelitian ini menggunakan metode penelitian quasi experimental design dengan tipe pretest-posttest non-equivalent group design (Cohen, Manion, & Morrison, 2007: 283). Penelitian eksperimental merupakan satu-satunya metode penelitian yang dapat menguji secara benar hipotesis menyangkut hubungan kausal atau sebab akibat (Gay dalam Emzir, 2009: 63-64). Metode eksperimen adalah metode yang paling banyak dipilih dan paling produktif dalam penelitian. Penelitian eksperimental memiliki tiga karakteristik, yaitu manipulasi, pengendalian, dan pengamatan (Emzir, 2009: 65). Dalam penelitian eksperimental, dilihat pengaruhpengaruh dari setidaknya satu variabel independen pada satu atau lebih variabel dependen (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 265). Sebuah eksperimen melibatkan perbandingan pengaruh dari perlakuan (treatment) tertentu dengan perlakuan yang berbeda atau tanpa perlakuan (Best & Kahn, 2006: 166). Metode penelitian quasi experimental adalah metode penelitian eksperimental yang tidak memberikan kontrol penuh terhadap variabel luar yang mempengaruhi pelaksanaan ekperimen (Johnson & Christensen, 2008: 319). Disebut sebagai quasi experimental karena subjek penelitian tidak dipilih secara acak untuk dilibatkan dalam kelompok kontrol dan kelompok eksperimen (Campbell & Stanley, 1963, dalam Borg & Gall, 2014: 416). Tipe penelitian quasi experimental ini dipilih karena keterbatasan penelitian yang tidak memungkinkan untuk memilih subjek penelitiannya secara random. Metode penelitian quasi experimental tipe pretest-posttest non-equivalent group design terdiri dari dua kelompok yakni kelompok kontrol atau kelompok pembanding dan kelompok eksperimen. Kelompok kontrol adalah kelompok yang tidak menerima perlakuan 34

(54) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI atau hanya sebagai kelompok pembanding dari kelompok yang menerima perlakuan yang berbeda. Kelompok eksperimen adalah kelompok yang menerima perlakuan atau treatment (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 266). Penentuan kelompok ini tidak dilakukan secara acak, tetapi menggunakan kelas yang sudah ada (Cohen, Manion, & Morrison, 2007: 283). Kedua kelompok tersebut diberi pretest dan posttest. Pretest diberikan dengan tujuan untuk mengetahui keadaan awal dari masing-masing kelompok atau untuk memeriksa apakah ada perbedaan kemampuan pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Posttest diberikan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh perlakuan yang sudah dilakukan pada kelompok eksperimen (Lodico, Spaulding, & Voegtle, 2006: 185-186). Campbell dan Stanley (dalam Cohen, Manion, & Morrison, 2007: 276-277) menjelaskan bahwa pengaruh kausal perlakuan dihitung dengan menggunakan tiga langkah berikut: 1) pada kelompok eksperimen, skor posttest dikurangi skor pretest; 2) pada kelompok kontrol, skor posttest dikurangi skor pretest; 3) hasil hitungan dari langkah 1 dikurangi hasil hitungan dari langkah 2. Berikut perhitungan pengaruh perlakuan. (O2 – O1) – (O4 – O3) Gambar 3.1 Perhitungan Pengaruh Perlakuan Jika hasilnya lebih besar dari nol, maka ada perbedaan. Jika perbedaannya signifikan, maka ada pengaruh perlakuan. Desain penelitian yang digunakan adalah sebagai berikut (Cohen, Manion, & Morrison, 2007: 283). Gambar 3.2 Desain Penelitian Keterangan: O1 = Rerata skor pretest pada kelompok eksperimen O2 = Rerata skor postest pada kelompok eksperimen O3 = Rerata skor pretest pada kelompok kontrol 35

(55) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI O4 = Rerata skor postest pada kelompok kontrol X = Perlakuan (treatment) Garis putus-putus pada gambar desain penelitian menunjukkan bahwa cara penentuan kelompok kontrol dan kelompok eksperimen tidak menggunakan cara random, tetapi dengan mengambil kelas klasik yang sudah ada (Cohen, Manion, & Morrison, 2007: 283). Selain itu, garis putus-putus berfungsi sebagai pemisah antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen yang disebut dengan pretestposttest non-equivalent group design (Cohen, Manion, & Morrison, 2007: 283). 3.2 Setting Penelitian 3.2.1 Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan di salah satu SD swasta yang terdapat di Yogyakarta. Status sekolah tersebut adalah terakreditasi A. Kurikulum yang diterapkan adalah Kurikulum 2013. Jumlah siswa di SD tersebut pada tahun ajaran 2018/2019 adalah 320 siswa. SD tersebut memiliki guru sebanyak 20 orang. SD ini terdiri dari 12 kelas, ruang guru, ruang kepala sekolah, ruang komputer, ruang UKS, ruang perpustakaan, dan pendopo. Sekolah juga menyediakan fasilitas wifi untuk kepentingan para guru mengakses berbagai keperluan terkait dengan kegiatan sekolah. Salah satu SD swasta yang terdapat di Yogyakarta ini dipilih sebagai tempat penelitian, karena memiliki keberagaman di kelas V. Di mana penelitian ini menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD yang memiliki ciri khas berkelompok yang heterogen. Anggota kelompoknya terdiri dari siswa yang beragam mulai dari suku, jenis kelamin dan kemampuan akademiknya. Sekolah Dasar ini merupakan Sekolah Dasar yang memiliki kelas paralel sehingga sangat tepat jika digunakan untuk penelitian eksperimen. Lingkungan dan kondisi ruang kelas antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen kurang lebih sama. Hal ini diperlukan untuk mengendalikan ancaman terhadap validitas internal berupa lokasi. 36

(56) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3.2.2 Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan pada semester gasal tahun ajaran 2018/2019. Pengambilan data dilaksanakan sesuai dengan kalender pendidikan SD. Lama waktu yang pengambilan data pretest ke posttest kurang lebih dalam rentang dua minggu. Penelitian dilakukan dalam waktu yang singkat untuk mengendalikan ancaman terhadap validitas internal penelitian berupa sejarah, maturasi, dan mortalitas. Penelitian dilaksanakan pada 19 September 2018 – 04 Oktober 2018. Berikut jadwal kegiatan pengambilan data. Tabel 3.1 Jadwal Pengambilan Data Kelompok Kontrol Eksperimen Alokasi Waktu 2 x 35 menit 2 x 35 menit Hari, tanggal Rabu, 19 September 2018 Jumat, 21 September 2018 2 x 35 menit Sabtu, 22 September 2018 2 x 35 menit Senin, 24 September 2018 2 x 35 menit Selasa, 25 September 2018 2 x 35 menit 2 x 35 menit 2 x 35 menit 2 x 35 menit Jumat, 28 September 2018 Kamis, 04 Oktober 2018 Rabu, 19 September 2018 Jumat, 21 September 2018 2 x 35 menit Sabtu, 22 September 2018 2 x 35 menit Senin, 24 September 2018 2 x 35 menit Selasa, 25 September 2018 2 x 35 menit 2 x 35 menit Jumat, 28 September 2018 Kamis, 04 Oktober 2018 Kegiatan Mengerjakan pretest Pertemuan I (Sistem pernapasan pada hewan mamalia) Pertemuan II (Sistem pernapasan pada hewan pisces) Pertemuan III (Sistem pernapasan pada hewan insecta) Pertemuan IV (Amphibi, reptil, dan cacing) Mengerjakan Posttest I Mengerjakan Posttest II Mengerjakan pretest Pertemuan I (Sistem pernapasan pada hewan mamalia) Pertemuan II (Sistem pernapasan pada hewan pisces) Pertemuan III (Sistem pernapasan pada hewan insecta) Pertemuan IV (Amphibi, reptil, dan cacing) Mengerjakan Posttest I Mengerjakan Posttest II 3.3 Populasi dan Sampel 3.3.1 Populasi Populasi merupakan keseluruhan subjek penelitian (Arikunto, dalam Taniredja & Mustafidah, 2011: 33). Populasi bisa ditetapkan sebagai kelas, sekolah, 37

(57) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI atau fakultas (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 91). Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas V salah satu SD swasta yang terdapat di Yogyakarta dengan jumlah siswa sebanyak 46 siswa. 3.3.2 Sampel Sampel adalah kelompok yang lebih kecil atau bagian dari suatu kelompok (Cohen, Manion, & Morrison, 2007:100). Sampel merupakan subkelompok dari populasi yang direncanakan oleh peneliti untuk menggeneralisasikan tentang populasi (Creswell, 2015: 288). Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan desain non-probability sampling tipe convenience sampling. Convenience sampling adalah penggunaan sampel yang sudah tersedia bagi penelitian. Teknik pengambilan sampel dengan tipe ini dipilih karena keterbatasan peneliti untuk memilih sampel secara acak (random). Peneliti tidak memilih sampel secara acak, namun menggunakan kelas yang sudah ada (Creswell, 2015: 294-295). Kelompok kontrol dan kelompok eksperimen ditentukan dengan cara penarikan undian berupa pelemparan koin yang disaksikan oleh guru mitra. Guru mitra dalam penelitian ini adalah guru kelas VA. Berdasarkan pengundian yang telah dilakukan, maka didapatkan hasil bahwa kelas VB sebagai kelompok kontrol dengan jumlah 22 siswa, sedangkan kelas VA sebagai kelompok eksperimen dengan jumlah 24 siswa. Pembelajaran pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dilakukan oleh guru yang sama. Penggunaan guru yang sama ini bertujuan untuk mengendalikan ancaman validitas internal berupa implementasi. 3.4 Variabel Penelitian Variabel adalah suatu konsep atau gagasan yang difokuskan oleh peneliti menjadi sebuah objek penelitian yang ingin diteliti (Cohen, Manion, & Morrison, 2007: 504). Variabel adalah suatu kondisi atau ciri-ciri yang mana peneliti memanipulasi, mengontrol, dan mengamati objek (Best & Kahn, 2006: 167). Penelitian ini menggunakan dua jenis variabel, yaitu variabel independen dan variabel dependen. 38

(58) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3.4.1 Variabel Independen Variabel independen adalah variabel input yang dapat mempengaruhi sebagian atau keseluruhan hasil (Cohen, Manion, & Morrison, 2007: 504). Variabel independen juga disebut sebagai variabel bebas karena tidak tergantung dengan ada tidaknya variabel lain. Variabel independen atau variabel bebas ini digunakan untuk menentukan pengaruh terjadinya perubahan terhadap variabel lain atau variabel dependen. Variabel independen dalam penelitian ini adalah model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Model pembelajaran kooperatif tipe STAD ini terdiri dari enam langkah yaitu penyampaian tujuan dan motivasi, pembagian kelompok, presentasi dari guru, kegiatan belajar dalam tim, kuis (evaluasi), dan penghargaan prestasi tim. 3.4.2 Variabel Dependen Variabel dependen adalah variabel hasil yang disebabkan oleh variabel independen (Cohen, Manion, & Morrison, 2007: 504). Variabel dependen adalah kondisi atau karakteristik yang muncul, hilang, atau perubahan yang dipengaruhi oleh penerapan, penghilangan, dan perubahan variabel independen (Best & Kahn, 2006: 168). Variabel dependen juga disebut sebagai variabel terikat atau tergantung karena variabel ini diamati dan diukur untuk menentukan pengaruh yang disebabkan oleh variabel bebas atau variabel independen. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah kemampuan mengeksplanasi dan meregulasi diri. Variabel penelitian dapat dilihat pada bagan berikut ini. Gambar 3.3 Desain Variabel Penelitian 39

(59) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3.5 Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah teknik tes. Tes adalah sejumlah pertanyaan yang harus diberi tanggapan yang bertujuan untuk mengukur tingkat kemampuan seseorang atau mengungkap aspek tertentu dari orang yang dikenai tes (Widoyoko, 2015: 57). Bentuk tes yang digunakan dalam penelitian adalah tes uraian. Tes uraian adalah salah satu bentuk tes tertulis, yang susunannya terdiri atas item-item pertanyaan yang masing-masing mengandung permasalahan dan menuntut jawaban siswa melalui uraian-uraian kata yang merefleksikan kemampuan berpikir siswa (Sukardi, 2009: 94). Sebagai alat pengukur hasil belajar siswa bentuk tes uraian mempunyai beberapa kelebihan dan kekurangan. Kelebihan tes uraian antara lain: 1) tes uraian adalah tes yang tepat untuk menilai proses berpikir yang melibatkan aktivitas kognitif tingkat tinggi dan tidak semata-mata hanya mengingat dan memahami fakta atau konsep saja, 2) tes uraian memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengemukakan jawabannya ke dalam bahasa yang runtut dengan gayanya sendiri, 3) tes uraian memberikan kesempatan kepada siswa untuk mempergunakan pikirannya sendiri, dan 4) tes uraian mudah disusun. Kekurangan dari bentuk tes uraian ini, antara lain: 1) kadar validitas dan reliabilitas rendah, 2) jawaban yang diberikan bervariasi sehingga berpotensi dinilai secara subjektif, 3) penilaian yang dilakukan terhadap jawaban siswa tidak mudah ditentukan standarnya, dan 4) waktu yang dibutuhkan untuk memeriksa jawaban siswa relatif lama (Nurgiyantoro, 2010: 118-119). Tes diberikan dalam bentuk pretest dan posttest kepada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Pretest dilakukan untuk mengetahui pengetahuan atau mengukur kemampuan awal siswa. Setelah diberi pretest, kelompok kontrol dan kelompok eksperimen diberikan perlakuan yang berbeda. Pembelajaran pada kelompok eksperimen menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD, sedangkan pembelajaran kelompok eksperimen menggunakan metode pembelajaran konvensional. Setelah diberi perlakuan yang berbeda, kedua kelompok diberi posttest. Posttest dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh pada kelompok eksperimen yang telah diberi perlakuan dan pada kelompok kontrol yang tidak beri perlakuan. Berikut pemetaan datanya. 40

(60) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Tabel 3.2 Pemetaan Instrumen Penelitian No 1 Kelompok Eksperimen Variabel Mengeksplanasi Meregulasi Diri 2 Kontrol Mengeksplanasi Meregulasi Diri Data Skor pretest Skor posttest I Skor posttest II Skor pretest Skor posttest I Skor posttest II Skor pretest Skor posttest I Skor posttest II Skor pretest Skor posttest I Skor posttest II Instrumen Soal uraian untuk nomor 5a, 5b, dan 5c Soal uraian untuk nomor 6a, 6b, dan 6c Soal uraian untuk nomor 5a, 5b, dan 5c Soal uraian untuk nomor 6a, 6b, dan 6c 3.6 Instrumen Penelitian Instrumen penelitian digunakan sebagai alat pengumpul data. Instrumen penelitian adalah alat bantu yang dipilih dan digunakan peneliti untuk mengumpulkan data-data hasil penelitian (Trianto, 2010: 148). Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah instrumen tes berupa tes uraian. Pembuatan instrumen penelitian ini menggunakan enam soal uraian untuk mengukur kemampuan menginterpretasi, menganalisis, mengevaluasi, membuat kesimpulan, mengeksplanasi, dan meregulasi diri. Soal uraian ini memuat daftar pertanyaan untuk materi IPA kelas V tema 2 yaitu “Udara Bersih bagi Kesehatan” dengan subtema 1 “Cara Tubuh Mengolah Udara Bersih” yang dibatasi kompetensi dasar 3.2 menjelaskan organ pernapasan dan fungsinya pada hewan dan manusia, serta cara memelihara kesehatan organ pernapasan manusia. Instrumen ini digunakan oleh tiga peneliti yang masing-masing meneliti dua kemampuan. Pembagian instrumen soal di antaranya adalah nomor 1a, 1b, 1c, 2a, 2b, dan 2c untuk kemampuan menginterpretasi dan menganalisis, pada nomor 3a, 3b, 4a, 4b, dan 4c untuk kemampuan mengevaluasi dan menarik kesimpulan, pada nomor 5a, 5b, 5c, 6a, 6b, dan 6c untuk kemampuan mengeksplanasi dan meregulasi diri. Berikut matriks pengembangan instrumen yang digunakan untuk mengukur kemampuan mengeksplanasi dan meregulasi diri. 41

(61) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Tabel 3.3 Matriks Pengembangan Instrumen No 1 Variabel Mengeksplanasi 2 Meregulasi Diri Indikator Menjelaskan hasil penalaran Memaparkan argumen-argumen yang digunakan Membenarkan prosedur yang digunakan Refleksi diri Koreksi diri Nomor Item Soal 5a 5b 5c 6a 6b 6c 3.7 Teknik Pengujian Instrumen Pengujian instrumen ini dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan instrumen yang valid dan reliabel. Pengujian instrumen yang dilakukan oleh peneliti meliputi uji validitas dan uji reliabilitas. 3.7.1 Uji Validitas Uji validitas digunakan untuk mengukur sah atau valid tidaknya suatu kuesioner maupun pertanyaan. Validitas merupakan suatu ukuran yang menunjukkan kevalidan atau kesahihan suatu instrumen. Jadi pengujian validitas itu mengacu pada sejauh mana suatu instrumen dalam menjalankan fungsi. Instrumen dikatakan valid jika instrumen tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang hendak diukur (Sugiyono, 2008: 363). Uji validitas instrumen meliputi: 3.7.1.1 Validitas Muka Validitas muka adalah validitas yang menunjukkan apakah alat pengukuran atau instrumen penelitian dari segi rupanya tampak mengukur yang ingin diukur atau tidak. Validitas ini lebih mengacu pada bentuk dan penampilan instrumen (Siregar, 2011: 46). Uji validitas muka dilakukan oleh expert judgement di bidangnya, yaitu 1 dosen Biologi Universitas Negeri Yogyakarta dan 1 guru SD kelas V serta 1 guru bidang biologi yang mengampu kelas III dari salah satu SD swasta lain yang terdapat di Yogyakarta. Validator memberi skor dengan memberi tanda centang pada setiap item soal. Uji validitas ini dilakukan pada 30 Mei 2018. Pada instrumen penelitian nomor 5a, 5b, 5c, 6a, 6b, dan 6c tidak ada kalimat pertanyaan yang harus diperbaiki (lihat Lampiran 3.5). 42

(62) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3.7.1.2 Validitas Isi Validitas isi adalah uji untuk melihat instrumen yang diujikan mencakup materi yang dituju (Cohen, Manion, & Morrison, 2007: 162). Validasi isi dilakukan oleh expert judgement untuk menilai kesesuaian isi materi dalam instrumen. Sebuah tes dikatakan memiliki validitas isi (content validity) apabila mengukur tujuan khusus tertentu yang sejajar dengan materi atau isi pelajaran yang diberikan (Arikunto, 2005: 67). Validitas isi dalam penelitian ini diperoleh dari pendapat tiga ahli materi yaitu dosen Biologi Universitas Negeri Yogyakarta, 1 guru SD kelas V, dan 1 guru bidang biologi yang mengampu kelas III dari salah satu SD swasta lain yang terdapat di Yogyakarta. Ketiga ahli materi ini menilai kesesuaian materi dengan soal pertanyaan. Validator memberi skor dengan memberi tanda centang pada setiap item soal. Perolehan skor penilaian instrumen dari tiga validator yaitu 60, 71 dan 72 untuk semua soal yang digunakan dalam penelitian payung. Rerata skor adalah 67,67 dengan skala 58,50 – 72,00 masuk kategori sangat layak. Dengan kata lain, instrumen layak diimplementasikan. Peneliti telah memperbaiki instrumen sesuai dengan masukkan dari validator sebelum diimplementasikan (lihat Lampiran 3.5 ). 3.7.1.3 Validitas Konstruk Validitas konstruk berkenaan dengan konstruk atau struktur dan karakteristik psikologis aspek yang akan diukur dengan instrumen. Apakah konstruk tersebut dapat menjelaskan perbedaan kegiatan atau perilaku individu berkenaan dengan aspek yang diukur (Sukmadinata, 2011: 229). Uji empiris dilakukan pada minimal 30 responden agar mendapatkan distribusi data normal (Field, 2009: 42). Validitas konstruk dilakukan melalui uji empiris kepada 45 siswa kelas V salah satu SD Negeri yang terdapat di Yogyakarta. Uji instrumen ini dilakukan pada Rabu, 6 Juni 2018 selama 2 x 35 menit. Uji instrumen dilakukan di SD tersebut karena tidak digunakan untuk subjek penelitian, status sekolah terakreditasi A, dan memiliki kelas paralel. Penelitian ini adalah penelitian payung di mana soal dibuat bersama dengan dua peneliti lain. Jumlah soal sebanyak 18 butir soal. Peneliti hanya mengambil soal nomor 5a, 5b, 5c, 6a, 6b, dan 6c sesuai variabel yang diteliti. 43

(63) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Setelah dilakukan uji empiris, soal dihitung untuk mengetahui validitasnya menggunakan rumus korelasi Pearson. Uji validitas konstruk menggunakan program komputer IBM SPSS Statistics 22 for Windows. Tingkat kepercayaan yang digunakan yaitu 95% dengan uji dua ekor (2-tailed). Kriteria yang digunakan yaitu jika harga p < 0,05, maka item termasuk valid, sedangkan jika harga p > 0,05, maka item termasuk tidak valid atau jika r hitung ≥ r tabel (Field, 2009: 177-178). Besar r tabel dilihat berdasarkan jumlah responden, sedangkan r hitung diketahui dari Pearson correlation dalam output SPSS. Berikut hasil uji validitas instrumen dari variabel mengeksplanasi dan meregulasi diri (lihat Lampiran 3.8). Tabel 3.4 Hasil Uji Validitas Instrumen Item Soal 5a Variabel Mengeksplanasi 5b 5c 6a 6b 6c Meregulasi diri Aspek Menjelaskan hasil penalaran Memaparkan argumenargumen yang digunakan Membenarkan prosedur yang digunakan Refleksi diri Koreksi diri Koreksi diri r tabel 0,2940 r hitung 0,571** p 0,000 Keterangan Valid 0,2940 0,743** 0,000 Valid 0,2940 0,549** 0,000 Valid 0,2940 0,2940 0,2940 0,569** 0,743** 0,549** 0,000 0,000 0,000 Valid Valid Valid Keterangan: * artinya tingkat signifikansi 0,05 ** artinya tingkat signifikansi 0,01 Berdasarkan hasil uji validitas, penelitian ini menggunakan dua variabel yaitu variabel mengekplanasi dan meregulasi diri dengan harga p < 0,05, maka semua item dari kedua variabel dinyatakan valid dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil uji validitas menunjukkan bahwa semua item dapat digunakan untuk mengukur kemampuan mengeksplanasi dan meregulasi diri. 3.7.2 Uji Reliabilitas Reliabilitas berhubungan dengan masalah kepercayaan. Suatu tes dapat dikatakan mempunyai taraf kepercayaan yang tinggi jika tes tersebut dapat memberikan hasil yang tetap. Maka pengertian reliabilitas tes, berhubungan dengan masalah ketetapan hasil tes. Instrumen tes yang baik adalah instrumen yang dapat 44

(64) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI dengan ajeg memberikan data yang sesuai dengan kenyataan (Arikunto, 2005: 86). Penelitian ini menggunakan instrumen soal tes berbentuk uraian dalam pengumpulan data. Uji reliabilitas instrumen dilakukan dengan menggunakan program komputer IBM SPSS Statistics 22 for Windows. Nunnally (dalam Ghozali, 2009: 46) menyatakan bahwa suatu konstruk termasuk reliabel jika harga Alpha Cronbach > 0,60. Pendapat ahli lain mengatakan bahwa suatu tes yang reliabel akan menunjukan ketepatan dan ketelitian hasil dalam satu atau berbagai pengukuran, dengan kata lain skor-skor tersebut dari berbagai pengukuran tidak menunjukan penyimpangan atau perbedaan yang berarti. Koefisien reliabilitas suatu tes dinyatakan dalam suatu bilangan koefisien antara -1,00 sampai dengan 1,00. Pada taraf reliabilitas tes, untuk memberi arti terhadap koefisien reliabilitas dipakai besar koefisien korelasi dalam tabel statistik atas dasar taraf signifikansi 1% dan 5%. Berikut ini merupakan hasil dari uji reliabilitas instrumen penelitian (lihat Lampiran 3.9). Tabel 3.5 Hasil Uji Reliabilitas n siswa 45 n of items 18 Alpha Cronbach 0,931 Berdasarkan perhitungan menggunakan rumus Alpha Cronbach, keenam butir soal yang dinyatakan valid dengan nilai Alpha Cronbach sebesar 0,931. Nilai Alpha Cronbach 0,931 > 0,60 sehingga instrumen tersebut dapat dikatakan reliabel atau konsisten dan layak digunakan dalam penelitian ini. 3.8 Teknik Analisis Data Analisis data adalah kegiatan menghitung data secara sistematis dan mendapatkan interpretasi data (Priyatno, 2012: 1). Teknik analisis data pada penelitian ini dilakukan menggunakan program komputer IBM SPSS Statistics 22 for Windows dengan tingkat kepercayaan yang digunakan yaitu 95%. 45

(65) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3.8.1 Uji Pengaruh Perlakuan 3.8.1.1 Uji Asumsi 1. Uji Normalitas Distribusi Data Uji normalitas distribusi data dilakukan untuk mengetahui apakah distribusi data normal atau tidak dan untuk menentukan jenis statistik yang akan digunakan dalam menganalisis data pada tahap selanjutnya (Field, 2009: 144). Uji normalitas dihitung menggunakan program komputer IBM SPSS Statistics 22 for Windows dengan tingkat kepercayaan yang digunakan yaitu 95% dan menggunakan One Sample Kolmogorov Smirnov Test. Berikut hipotesis statistik uji normalitas distribusi data. Hnull : tidak ada deviasi (penyimpangan) dari normalitas. Hi : ada deviasi (penyimpangan) dari normalitas. Kriteria untuk mengambil keputusan (Field, 2009: 144) sebagai berikut: a. Jika hasil uji Kolmogorov Smirnov menunjukkan harga p > 0,05, maka Hnull diterima dan Hi ditolak, artinya distribusi data normal. Teknik analisis selanjutnya menggunakan statistik parametrik Independent Samples t-test (Field, 2009: 362). b. Jika hasil uji Kolmogorov Smirnov menunjukkan harga p < 0,05, maka Hnull ditolak dan Hi diterima, artinya distribusi data tidak normal. Teknik analisis selanjutnya menggunakan statistik non-parametrik Mann-Whitney U test (Field, 2009: 345). Untuk uji normalitas distribusi data, data diambil dari seluruh skor pretest, posttest I, posttest II, dan selisih pretest - posttest I dari kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. 2. Uji Homogenitas Varian Uji homogenitas varian dilakukan untuk memastikan apakah varian dari kedua kelompok yang berbeda tersebut homogen. Teknik pengujian homogenitas varian menggunakan Levene’s test pada program komputer IBM SPSS Statistics 22 for Windows. Jika varian homogen, maka data yang digunakan adalah data pada baris pertama dalam analisis output SPSS pada Independent samples t-test yang sebaris dengan keterangan equal variances assumed dan jika varian tidak homogen, 46

(66) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI maka data yang digunakan adalah data pada baris kedua dengan keterangan equal variances non assumed. Hipotesis statistiknya adalah sebagai berikut. Hnull : tidak ada perbedaan varian yang signifikan antara rerata (skor pretest dan selisih skor prestest-posttest I) kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Hi : ada perbedaan varian yang signifikan antara rerata (skor pretest dan selisih skor prestest-posttest I) kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Kriteria yang digunakan untuk mengetahui homegenitas varian adalah sebagai berikut. a. Jika harga p > 0,05, maka Hnull diterima dan Hi ditolak, artinya ada homogenitas varian pada kedua data yang dibandingkan. b. Jika harga p < 0,05, maka Hnull ditolak dan Hi diterima, artinya tidak ada homogenitas varian pada kedua data yang dibandingkan. Uji homogenitas varian menggunakan data skor pretest dan selisih skor prestest dengan posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. 3.8.1.2 Uji Perbedaan Kemampuan Awal Uji perbedaan kemampuan awal dilakukan untuk mengetahui kemampuan awal terutama pada kemampuan mengeksplanasi dan meregulasi diri kelompok kontrol dan kelompok eksperimen agar dapat dibandingkan. Uji perbedaan kemampuan awal ini juga diperlukan untuk mengendalikan ancaman validitas penelitian berupa karakteristik subjek, di mana karakteristik subjek mungkin berbeda karena pengambilan sampel tidak dilakukan secara random (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 282). Uji perbedaan kemampuan awal dilakukan dengan cara menguji rerata skor pretest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Jika data pretest dari kedua kelompok yang telah duji menunjukkan distribusi data normal, maka uji perbedaan kemampuan awal yang digunakan adalah statistik parametrik independent samples t-test (Field, 2009: 326). Apabila distribusi data tidak normal, maka uji perbedaan kemampuan awal yang digunakan adalah statistik non-parametrik Mann-Whitney U-test (Field, 2009: 345). Berikut hipotesis statistik uji perbedaan kemampuan awal. 47

(67) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Hnull : tidak ada perbedaan yang signifikan antara skor pretest pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Hi : ada perbedaan yang signifikan antara skor pretest pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Kriteria pengambilan keputusan untuk uji perbandingan (Priyatno, 2012: 24) adalah sebagai berikut. a. Jika harga p > 0,05, maka Hnull diterima dan Hi ditolak. Hal ini berarti tidak ada perbedaan yang signifikan pada hasil pretest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen, sehingga kedua kelompok memiliki kemampuan awal yang sama. b. Jika harga p < 0,05, maka Hnull ditolak dan Hi diterima. Hal ini berarti ada perbedaan yang signifikan pada hasil pretest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen, sehingga kedua kelompok memiliki kemampuan awal yang berbeda. Kondisi dapat dikatakan ideal apabila kelompok kontrol dan kelompok eksperimen memiliki kemampuan awal yang sama, sehingga keduanya dapat dibandingkan. 3.8.1.3 Uji Signifikansi Pengaruh Perlakuan Uji signifikansi pengaruh perlakuan untuk mengetahui apakah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD berpengaruh terhadap kemampuan mengeksplanasi dan meregulasi diri siswa. Uji signifikansi pengaruh perlakuan dapat diketahui dengan membandingkan selisih rerata pretest – posttest I kelompok kontrol dengan selisih rerata pretest – posttest I kelompok eksperimen. Uji signifikansi pengaruh perlakuan ini dapat dihitung dengan rumus (O2 – O1) – (O4 – O3) (Cohen, Manion, & Morrison, 2007: 276-277). Apabila hasilnya lebih dari nol, maka ada perbedaan. Jika perbedaannya signifikan, maka ada pengaruh perlakuan. Uji signifikansi pengaruh perlakuan menggunakan statistik parametrik independent samples t-test untuk data distribusi normal, sedangkan statistik non-parametrik Mann-Whitney U-test untuk data distribusi tidak normal (Field, 2009: 345). Berikut hipotesis statistik uji signifikansi pengaruh perlakuan. Hnull : tidak ada perbedaan yang signifikan antara selisih skor pretest – posttest I pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. 48

(68) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Hi : ada perbedaan yang signifikan antara selisih skor pretest – posttest II pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Kriteria yang digunakan untuk mengetahui pengaruh perlakuan adalah sebagai berikut. a. Jika harga p > 0,05, maka Hnull diterima dan Hi ditolak. Hal ini berarti tidak ada perbedaan yang signifikan antara selisih skor pretest – posttest I kelompok kontrol dan kelompok eksperimen eksperimen. Dengan kata lain, penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD tidak berpengaruh terhadap kemampuan mengeksplanasi dan meregulasi diri. b. Jika harga p < 0,05, maka Hnull ditolak dan Hi diterima. Hal ini berarti ada perbedaan yang signifikan antara selisih skor pretest – posttest I kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Dengan kata lain, penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD berpengaruh terhadap kemampuan mengeksplanasi dan meregulasi diri. 3.8.1.4 Uji Besar Pengaruh Perlakuan Uji besar pengaruh perlakuan (effect size) dilakukan untuk mengetahui apakah pengaruh suatu perlakuan secara statistik signifikan tidak dengan sendirinya menunjukkan apakah pengaruh tersebut penting (Field, 2009: 56). Dengan kata lain, uji besar pengaruh perlakuan ini dilakukan untuk mengetahui besar pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD terhadap kemampuan mengeksplanasi dan meregulasi diri. Effect size adalah suatu ukuran objektif dan terstandarisasi untuk mengetahui seberapa besar efek yang dihasilkan (Field, 2009: 56-57). Teknik yang banyak digunakan adalah teknik koefisien korelasi Pearson (r) yang menggunakan skala 0 (tidak ada efek) dan skala 1 (efek sempurna). Berikut merupakan kriteria yang digunakan untuk mengetahui besar pengaruh perlakuan (Cohen dalam Field, 2009: 57). Tabel 3.6 Kriteria Besar Pengaruh Perlakuan r (effect size) 0,10 0,30 0,50 Kategori Efek kecil Efek menengah Efek besar Persentase Setara dengan 1% pengaruh perlakuan Setara dengan 9% pengaruh perlakuan Setara dengan 25% pengaruh perlakuan 49

(69) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Berikut merupakan penjelasan lebih lanjut mengenai kriteria besar pengaruh perlakuan (Fraenkel, Wallen, dan Hyun, 2012: 253). Tabel 3.7 Kriteria Besar Pengaruh Perlakuan r (effect size) 0,00 – 0,40 0,41 – 0,60 0,61 – 0,80 0,81 – 1,00 Interpretasi Efek tidak penting secara praktis, bisa jadi masih penting secara teoretis untuk membuat prediksi Efek cukup besar secara praktis dan teoretis Efek sangat penting tetapi jarang diperoleh dalam penelitian pendidikan Kemungkinan terjadi kesalahan perhitungan, jika tidak, efeknya sangat besar Terdapat dua cara untuk mengetahui besar pengaruh perlakuan. Jika distribusi data normal, digunakan rumus korelasi Pearson berikut (Field, 2009: 332). Gambar 3.4 Rumus Besar Pengaruh Perlakuan Distribusi Data Normal Keterangan: r : korelasi Pearson yang digunakan untuk mengukur besar pengaruh (effect size) t : harga uji t (dari output SPSS Independent Samples t-test) df : harga derajat kebebasan (degree of freedom) Jika distribusi data tidak normal, digunakan rumus korelasi Pearson berikut (Field, 2009: 550). Gambar 3.5 Rumus Besar Pengaruh Perlakuan Distribusi Data Tidak Normal Keterangan: r : korelasi Pearson yang digunakan untuk mengukur besar pengaruh (effect size) Z : skor Z (dari output SPSS Mann-Whitney U test) N : jumlah seluruh responden dari kelompok kontrol dan kelompok eksperimen 50

(70) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Untuk mengubah harga r menjadi persen, digunakan koefisien determinasi (R2) dikalikan 100% (Field, 2009: 179). Persentase pengaruh = R2 x 100% Gambar 3.6 Rumus Persentase Pengaruh 3.8.2 Analisis Lebih Lanjut 3.8.2.1 Uji Persentase Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I 1. Persentase Peningkatan Uji persentase peningkatan rerata pretest ke posttest I dilakukan untuk mengetahui apakah ada peningkatan yang signifikan dari pretest ke posttest I pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Berikut merupakan rumus yang digunakan. Persentase peningkatan = (𝑝𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑠𝑡 𝐼 – 𝑝𝑟𝑒𝑡𝑒𝑠𝑡) 𝑝𝑟𝑒𝑡𝑒𝑠𝑡 𝑥 100% Gambar 3.7 Rumus Persentase Peningkatan Pretest ke Posttest I Pengujian untuk mengetahui apakah peningkatan tersebut signifikan, digunakan statistik parametrik Paired Samples t-test jika data terdistribusi dengan normal atau statistik non-parametrik Wilcoxon signed rank test jika data terdistribusi dengan tidak normal. Analisis statistik menggunakan SPSS 22 for Windows dengan tingkat kepercayaan 95% untuk uji dua ekor atau Sig. (2-tailed). Hipotesis statistiknya adalah sebagai berikut. Hnull : tidak ada perbedaan yang signifikan antara rerata skor pretest – posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Hi : ada perbedaan yang signifikan antara rerata skor pretest – posttest II pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Kriteria yang digunakan untuk mengetahui peningkatan adalah sebagai berikut. a. Jika harga p < 0,05, maka Hnull ditolak dan Hi diterima, artinya jika rerata posttest I > pretest, terdapat peningkatan skor yang signifikan dari pretest ke posttest I. 51

(71) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI b. Jika harga p > 0,05, maka Hnull diterima dan Hi ditolak, artinya jika rerata posttest I > pretest, terdapat peningkatan skor yang tidak signifikan dari pretest ke posttest I. Perhitungan persentase peningkatan rerata pretest ke posttest I menggunakan data skor pretest dan posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Persentase selisih rerata skor pretest ke posttest I (gain score) dihitung dengan rumus sebagai berikut. Gain score = 𝑓𝑟𝑒𝑘𝑢𝑒𝑛𝑠𝑖 𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑖𝑠𝑤𝑎 x 100% Gambar 3.8 Rumus Gain Score Frekuensi gain score yang diambil kurang dari 50% dari skor tertinggi selisih pretest - posttest I kedua kelompok. Grafik poligon pada gain score menunjukkan perbandingan yang tepat pada rerata antara kelompok kontrol dan kelompok ekperimen (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 250-251). 3.8.2.2 Uji Besar Efek Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I Uji statistik ini dilakukan untuk mengetahui berapa besar efek peningkatan dari pretest ke posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok ekperimen. Rumus yang digunakan kurang lebih sama dengan rumus korelasi Pearson pada bagian sebelumnya dengan sedikit modifikasi. Jika distribusi data normal, maka digunakan rumus korelasi Pearson berikut ini (Field, 2009: 332). Gambar 3.9 Rumus Besar Efek Peningkatan untuk Data Normal Keterangan: r : korelasi Pearson yang digunakan untuk mengukur besar pengaruh (effect size) t : harga uji t (dari output SPSS Paired Samples t test) df : harga derajat kebebasan (degree of freedom) yaitu (n-1). 52

(72) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Jika distribusi data tidak normal, maka digunakan rumus korelasi Pearson berikut ini (Field, 2009: 550). Gambar 3.10 Rumus Besar Efek Peningkatan untuk Data Tidak Normal Keterangan: r : korelasi Pearson yang digunakan untuk mengukur besar pengaruh (effect size) Z : skor Z (dari output SPSS Wilcoxon signed rank test) N : 2 x jumlah responden dalam 1 kelompok yang sama. Untuk mengubah harga r menjadi persen, digunakan koefisien determinasi (R2) dikalikan 100% (Field, 2009: 179). Persentase pengaruh = R2 x 100% Gambar 3.11 Rumus Persentase Besar Pengaruh 3.8.2.3 Uji Korelasi Rerata Pretest dan Posttest I Uji korelasi rerata pretest dan posttest I dilakukan untuk mengetahui apakah ada bias regresi statistik yang dapat mengancam validitas internal penelitian (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 283). Ancaman terhadap validitas internal penelitian berupa bias regresi statistik yaitu kecenderungan umum bahwa siswa dengan hasil skor pretest yang sangat tinggi (mencapai skor tertinggi dalam skala pengukuran) biasanya memperoleh skor posttest lebih rendah dan sebaliknya hasil pretest yang sangat rendah (mencapai skor terendah dalam skala pengukuran) biasanya memperoleh skor posttest lebih tinggi. Skor yang rendah pada pretest akan cenderung naik mendekati mean pada posttest dan skor yang tinggi pada pretest akan cenderung turun mendekati mean. Jika perubahan yang terjadi pada posttest diklaim melulu sebagai hasil treatment penelitian, kesimpulan tersebut bisa diragukan karena hasil pretest dan posttest belum tentu memiliki korelasi yang sempurna (Johnson & Christensen, 2008: 263). 53

(73) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Uji korelasi rerata pretest dan posttest I menggunakan rumus bivariate correlations. Jika data berdistribusi normal, maka digunakan rumus bivariate correlations yaitu Pearson’s correlation coefficients, sedangkan jika data berdistribusi tidak normal, maka digunakan rumus bivariate correlations yaitu Spearman’s correlation coefficients (Field, 2009: 177-179). Korelasi positif, artinya semakin tinggi skor pretest maka semakin tinggi pula skor posttest I. Korelasi negatif, artinya semakin tinggi skor pretest maka semakin rendah skor posttest I. Korelasi negatif merupakan ancaman terhadap validitas internal penelitian berupa regresi statistik. Kondisi dapat dikatakan ideal jika korelasinya positif. Signifikan berarti hasil korelasi tersebut dapat digeneralisasikan pada populasi. Berikut hipotesis statistik uji korelasi rerata pretest dan posttest I. Hnull : tidak ada perbedaan hasil korelasi pretest – posttest I dengan harga p < 0,05 dan r bernilai negatif. Hi : ada perbedaan hasil korelasi pretest – posttest I dengan harga p < 0,05 dan r bernilai negatif. Kriteria yang digunakan untuk mengetahui bentuk korelasinya adalah sebagai berikut. a. Jika hasilnya p < 0,05 dan r bernilai negatif maka, Hnull diterima. Artinya ancaman terhadap validitas internal penelitian berupa regresi statistik tidak dapat dikendalikan dengan baik. b. Jika hasilnya bukan p < 0,05 dan r bernilai negatif maka, Hnull ditolak. Artinya ancaman terhadap validitas internal penelitian berupa regresi statistik dapat dikendalikan dengan baik. Uji korelasi rerata pretest dan posttest I menggunakan data skor pretest dan posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. 3.8.2.4 Uji Retensi Pengaruh Perlakuan Uji retensi pengaruh perlakuan posttest I ke posttest II dilakukan untuk melihat apakah masih ada pengaruh perlakuan beberapa waktu setelah posttest I dengan dilakukan posttest II. Posttest II yang dilakukan beberapa waktu sesudah posttest I bisa digunakan untuk memastikan dengan lebih akurat kekuatan pengaruh perlakuan (Krathwohl, 2004: 546). Teknik statistik menggunakan SPSS 22 for 54

(74) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Windows dengan tingkat kepercayaan 95% untuk uji dua ekor atau Sig. (2-tailed) untuk kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol. Uji menggunakan statistik parametrik Paired Samples t-test untuk data berdistribusi normal, sedangkan statistik non-parametrik Wilcoxon Signed-rank test untuk data berdistribusi tidak normal (Field, 2009: 345). Hipotesis statistiknya sebagai berikut. Hnull : tidak ada perbedaan yang signifikan dari posttest I ke posttest II pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Hi : ada perbedaan yang signifikan dari posttest I ke posttest II pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Kriteria untuk mengambil keputusan adalah sebagai berikut. a. Jika harga p < 0,05 maka Hnull ditolak dan Hi diterima, artinya ada penurunan skor yang signifikan dari posttest I ke posttest II pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. b. Jika harga p > 0,05 maka Hnull diterima dan Hi ditolak, artinya tidak ada penurunan skor yang signifikan dari posttest I ke posttest II pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Berikut rumus perhitungan persentase penurunan skor posttest I ke posttest II. Gambar 3.12 Rumus Persentase Uji Retensi Uji retensi pengaruh perlakuan dan persentase penurunan skor, menggunakan data skor posttest I dan posttest II pada kedua kelompok. 3.9 Ancaman Validitas Internal Setelah data dianalisis menggunakan teknik pengujian statistik, maka akan diperoleh kesimpulan-kesimpulannya. Penarikan kesimpulan dalam sebuah penelitian eksperimental membutuhkan kehati-hatian. Bertolak dari hal tersebut, maka perlu diperiksa terlebih dahulu untuk memastikan bahwa perubahan yang terjadi pada variabel dependen hanya disebabkan oleh variabel independen yang digunakan sebagai treatment penelitian atau ada faktor-faktor di luar variabel independen yang turut mempengaruhi variabel dependen. 55

(75) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Dalam penelitian kuantitatif validitas internal sendiri mengacu pada pengertian apakah sebuah efek yang muncul pada variabel dependen itu sungguh disebabkan oleh variabel independen, dan bukan oleh faktor-faktor lain di luar variabel independen. Validitas internal penelitian dapat ditingkatkan dengan mengontrol faktor-faktor di luar variabel independen yang potensial ikut mempengaruhi variabel dependen. Faktor-faktor ini yang sering disebut sebagai ancaman terhadap validitas internal penelitian. Ancaman ini terjadi lebih besar pada penelitian quasi experimental dibandingkan dengan eksperimental murni. Hal ini dikarenakan, pada eksperimental murni pemilihan sampel dilakukan secara random dan lebih terkontrol. Berikut 11 ancaman validitas internal penelitian dan cara pengendaliannya. 1. Sejarah (history) Pada setiap kejadian atau perlakuan terhadap kelompok yang sedang diteliti terjadi di antara pretest dan posttest di luar treatment penelitian yang bisa mempengaruhi hasil posttest pada variabel dependen (Johnson & Christensen, 2008: 260, Cohen, Manion, & Morrison, 2007: 155). Pengaruh sejarah bisa terjadi terhadap salah satu kelompok yang diteliti terutama jika penelitian dilakukan dalam jangka waktu lama (beberapa bulan atau tahun). Kejadian tersebut misalnya workshop, ekstrakurikuler, kursus, acara TV dengan perlakuan atau materi yang sama dengan yang digunakan sebagai treatment penelitian. Jika kelompok kontrol dan kelompok eksperimen juga sama-sama mengikuti acara tersebut, pengaruhnya terhadap hasil posttest akan seimbang sehingga tingkat ancaman terhadap validitas internal penelitiannya rendah (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 283). 2. Difusi treatment atau kontaminasi (diffusion of treatment or contamination) Ancaman ini terjadi ketika kelompok kontrol dan kelompok eksperimen diam-diam saling berkomunikasi dan mempelajari perlakuan yang diberikan pada kelompok eksperimen. Solusinya kedua kelompok betul-betul dipisahkan dan berjanji untuk tidak saling mempelajari treatment yang diberikan pada kelompok eksperimen (Neuman, 2013: 130). Jika diabaikan, ancaman terhadap validitas internal penelitian rendah sampai menengah. 56

(76) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3. Maturasi (maturation) Setiap perubahan biologis atau psikologis yang terjadi sepanjang waktu penelitian dapat berpengaruh terhadap posttest pada variabel dependen (Johnson & Christensen, 2008: 261). Misalnya perubahan yang terjadi karena penuaan, kebosanan, rasa lapar, rasa haus, kelelahan, atau tambahan pengalaman belajar di luar penelitian. Melakukan penelitian eksperimental dalam waktu yang singkat untuk menghindari ancaman terhadap validitas internal penelitian akibat history, mortality, selection, and maturation (Krathwohl, 2004: 547). Jika diabaikan, tingkat ancaman terhadap validitas internal penelitian rendah (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 283). Solusi untuk ancaman ini adalah menggunakan kelompok kontrol dengan waktu pretest dan posttest yang sama dengan kelompok eksperimen. 4. Perilaku Kompensatoris Ancaman ini terjadi ketika perlakuan yang diberikan di kelompok eksperimen diketahui oleh kelompok kontrol. Keuntungan yang diperoleh oleh kelompok eksperimen dirasa jauh lebih banyak dibandingkan kelompok kontrol. Dampaknya, kelompok kontrol bisa jadi berusaha menandingi kelompok eksperimen dengan belajar ekstra keras atau mengalami demoralisasi sehingga marah dan tidak kooperatif (Neuman, 2013: 330). Maka untuk mengendalikan ancaman ini, kelompok kontrol diberi pengertian bahwa sesudah penelitian mereka juga akan mendapatkan treatment yang sama. Jika diabaikan, tingkat ancaman terhadap validitas internal penelitian rendah sampai menengah (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 283). 5. Regresi Statistik (statistical regression) Kecenderungan umum bahwa partisipan dengan hasil skor pretest yang sangat tinggi (mencapai skor tertinggi dalam skala pengukuran) biasanya memperoleh skor posttest yang lebih rendah dan sebaliknya hasil pretest yang sangat rendah (mencapai skor terendah dalam skala pengukuran) biasanya memperoleh skor posttest yang lebih tinggi merupakan ancaman regresi statistik. Skor yang rendah pada pretest akan cenderung naik mendekati mean pada posttest dan skor yang tinggi pada pretest akan cenderung turun mendekati mean. Ancaman ini akan lebih besar terjadi pada penelitian terhadap kelompok yang di dalamnya ada yang berkebutuhan khusus slow learner dan talented. Pada pretest, kelompok 57

(77) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI slow learner akan mendapat skor yang sangat rendah. Sesudah treatment, mereka akan mendapatkan skor yang lebih tinggi. Sementara yang talented biasanya akan langsung mendapatkan skor yang sangat tinggi pada waktu pretest, tetapi akan mengalami penurunan pada posttest. Jika perubahan yang terjadi pada posttest diklaim melulu sebagai hasil treatment penelitian, kesimpulan tersebut bisa diragukan karena efek regresi statistik ini. Hasil pretest atau posttest belum tentu 100% mencerminkan kemampuan objektif. Bisa jadi faktor-faktor lain ikut berpengaruh saat menjalani pretest atau posttest, misalnya stress saat mengerjakan test, kurang konsentrasi, kurang istirahat, salah menginterpretasikan pertanyaan, dan sebagainya. Maka solusi untuk mengendalikan ancaman ini adalah kecermatan dalam melihat partisipan dengan skor pretest yang sangat tinggi atau sangat rendah dan membandingkannya dengan hasil posttest mereka. Penggunaan kelompok kontrol akan mengurangi ancaman ini karena keduanya kurang lebih memiliki partisipan khusus yang kurang lebih sama. Jika diabaikan, ancaman terhadap validitas internal penelitian rendah (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 283). 6. Mortalitas (mortality) Perbedaan jumlah partisipan pada waktu pretest dan posttest akibat mengundurkan diri dalam penelitian sehingga tidak ikut posttest dapat berpengaruh terhadap validitas penelitian. Ancaman ini akan lebih besar untuk penelitian yang dilakukan dalam jangka waktu yang lama. Hasil posttest dari partisipan yang tersisa bisa jadi berbeda dengan jika dikerjakan oleh seluruh partisipan yang sama pada saat pretest. Maka solusi untuk mengendalikannya yaitu mengisi skor siswa yang tidak hadir dengan rerata skor kelompok. Jika diabaikan, tingkat ancaman terhadap validitas internal penelitian menengah (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 282). 7. Pengujian (testing) Pretest pada awal penelitian bisa mempengaruhi hasil posttest sehingga hasil posttest menjadi lebih tinggi jika tanpa ada pretest (Cohen, Manion, & Morrison, 2007: 156). Jika penelitian hanya dilakukan terhadap satu kelompok eksperimen saja, ancaman terhadap validitas internal akan lebih tinggi (Johnson & Christensen, 2008: 262). Maka solusi untuk mengurangi ancaman validitas internal tersebut adalah menggunakan kelompok kontrol yang sama-sama mengerjakan 58

(78) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI pretest. Jika diabaikan, tingkat ancaman terhadap validitas internal penelitian rendah (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 283) 8. Instrumentasi (instrumentation) Setiap perubahan atau perbedaan instrumen pretest dan posttest yang digunakan untuk mengukur variabel dependen akan meningkatkan ancaman terhadap validitas internal penelitian (Johnson & Christensen, 2008: 262). Instrumen yang tidak valid dan tidak reliabel menjadi ancaman serius terhadap hasil penelitian. Berikut kategori ancaman validitas internal berupa instrumentasi (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 283). a. Instrumen yang digunakan mengalami kerusakan. Solusinya yaitu dilakukan pemeriksaan, sehingga kondisi instrumen saat posttest sama dengan saat pretest. Jika diabaikan, tingkat ancaman terhadap validitas internal penelitian tergolong rendah. b. Karakteristik alat pengumpul data yang digunakan berbeda antar kelompok kontrol dan kelompok eksperimen atau untuk pretest dan posttest. Solusinya karakteristik alat pengumpul data yang digunakan harus sama untuk kedua kelompok dan untuk pretest dan posttest. Jika diabaikan, tingkat ancaman terhadap validitas internal penelitian menengah. c. Bias alat pengumpul data dapat terjadi, terutama jika menggunakan teknik observasi. Observer dapat memiliki pandangan yang berbeda atau bias ketika mengamati kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Solusinya yaitu melakukan pelatihan terhadap observer atau observer sama sekali tidak diberi tahu mana kelompok kontrol dan mana kelompok eksperimen sehingga lebih objektif. Jika diabaikan, tingkat ancaman terhadap validitas internal penelitian tinggi. 9. Lokasi (location) Jika lokasi yang digunakan untuk pretest, posttest, maupun untuk perlakuan pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen terlalu berbeda, maka ancaman validasi internal berupa lokasi tidak dapat terkendali. Misalnya ukuran ruang, kenyamanan ruang, kebisingan ruang, dan sebagainya. Solusinya menggunakan lokasi yang sama, hanya saja kelas yang digunakan antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen berbeda ruangan. Jika diabaikan, tingkat ancaman terhadap 59

(79) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI validitas internal penelitian menengah sampai tinggi (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 282). 10. Karakteristik Subjek (subject characteristics) Karakteristik subjek yang berbeda antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen menjadi ancaman besar bagi validitas internal penelitian (Frankel, Wallen, & Hyun, 2012: 282). Kemampuan awal yang berbeda pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen akan mempengaruhi hasil posttest. Solusinya yaitu dites dengan pretest, kedua kelompok tersebut memiliki kemampuan awal yang tidak berbeda, bias yang mungkin terjadi dianggap tidak ada (Neuman, 2013: 238). Jika diabaikan, ancaman terhadap validitas internal penelitian tinggi. 11. Implementasi (implementation) Perbedaan guru yang mengajar pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen bisa berpengaruh pada skor posttest. Guru yang berbeda juga akan memiliki cara mengajar yang berbeda. Maka solusi untuk mengendalikan ancaman validitas internal tersebut adalah guru yang mengimplementasikan pembelajaran di kedua kelompok tersebut sama. Perlu kontrol implementasi pembelajaran yang lebih cermat. Jika diabaikan, tingkat ancaman terhadap validitas internal penelitian tinggi (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 284). 60

(80) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Bab ini memaparkan hasil penelitian dan pembahasan. Hasil penelitian berisi hasil implementasi penelitian berupa deskripsi populasi dan deskripsi implementasi pembelajaran. Pembahasan berisi penjelasan tentang pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD terhadap kemampuan mengeksplanasi dan meregulasi diri pada materi sistem pernapasan hewan. 4.1 Hasil Penelitian 4.1.1 Hasil Implementasi Penelitian ini menggunakan dua kelas yaitu kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Teknik pengambilan sampel menggunakan desain non probability sampling tipe convenience sampling. Teknik tersebut biasa digunakan untuk penelitian di bidang pendidikan yaitu menggunakan kelas yang sudah tersedia, karena keterbatasan administrasi untuk memilih secara acak (Best & Kahn, 2006: 18 - 19). Penentuan kelompok dilakukan dengam cara diundi yang disaksikan oleh guru mitra dan wali kelas VB. Berdasarkan hasil pengundian, kelas VA sebagai kelompok eksperimen dan kelas VB sebagai kelompok kontrol. Berikut akan dideskripsikan populasi penelitian dan pembelajaran pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. 4.1.1.1 Deskripsi Sampel Penelitian Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas V salah satu SD swasta di Yogyakarta tahun ajaran 2018/2019. Populasi terdiri dari 46 siswa. Sampel penelitian ini adalah kelas VA dan VB. Kelas VA sebagai kelompok eksperimen, sedangkan kelas VB sebagai kelompok kontrol. Sampel pertama adalah kelas VB sebagai kelompok kontrol. Jumlah siswa kelas VB adalah 22 siswa yang terdiri dari 13 laki-laki dan 9 perempuan. Siswa kelompok kontrol berasal dari berbagai latar belakang, sebagian besar berasal dari ekonomi menengah hingga menengah atas. Data menunjukkan pekerjaan orang tua 61

(81) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI siswa antara lain , pedagang, satpam, karyawan swasta, dan PNS. Ketika dilakukan pretest, treatment, dan posttest semua siswa hadir di kelas. Sampel kedua adalah kelas VA sebagai kelompok eksperimen. Jumlah siswa kelas VA adalah 24 siswa yang terdiri dari 12 laki-laki dan 12 perempuan. Siswa kelompok eksperimen berasal dari berbagai latar belakang, sebagian besar berasal dari ekonomi menengah hingga menengah atas. Data menunjukkan pekerjaan orang tua siswa antara lain, perawat, pedagang, karyawan swasta, dan PNS. Ketika pretest, perlakuan (treatment) dan posttest semua siswa hadir di kelas. 4.1.1.2 Deskripsi Implementasi Pembelajaran Pelaksanaan penelitian dimulai dengan pretest pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Pretest dilaksanakan untuk mengetahui kemampuan awal siswa. Pretest pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dilaksanakan pada hari Rabu, 19 September 2018. Siswa mengerjakan soal uraian yang berjumlah 18 butir soal dengan waktu 2 x 35 menit. Sebelum mengerjakan soal siswa mendapat pengarahan dari guru tentang langkah-langkah pengerjaan soal maupun maksud dari butir soal tersebut. Pembelajaran di kelompok kontrol menggunakan metode ceramah, sedangkan di kelompok eksperimen menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Lama waktu kegiatan pembelajaran di kedua kelompok adalah 2 x 35 menit. Pembelajaran dilakukan sebanyak 4 kali pertemuan di setiap kelompok. Guru yang mendampingi siswa selama pretest, treatment, posttest I, dan posttest II adalah guru yang sama. Penggunaan guru yang sama bertujuan untuk mengendalikan ancaman validitas internal yaitu implementasi. Perbedaan guru yang mengajar pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dapat berpengaruh terhadap skor posttest (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 283). Dalam penelitian ini, peneliti berperan sebagai pengamat, menyiapkan alat dan bahan sebelum perlakuan, dan mendokumentasikan kegiatan. Berikut deskripsi implementasi kegiatan pembelajaran pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. 62

(82) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 1. Deskripsi Implementasi Pembelajaran Kelompok Kontrol Pembelajaran pada kelompok kontrol menggunakan metode ceramah. Metode ceramah terdiri dari kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan penutup. Kegiatan awal meliputi apersepsi, motivasi, dan orientasi. Kegiatan inti dilakukan dengan cara guru menjelaskan materi secara lisan, sedangkan siswa menyimak penjelasan guru. Kegiatan penutup berisi penyimpulan materi, pengerjaan soal evaluasi, dan refleksi. Pembelajaran membutuhkan waktu 2 x 35 menit untuk setiap pertemuan. Materi pokok yang dipelajari adalah sistem pernapasan hewan dengan sub materi yang berbeda di setiap pertemuannya. Pertemuan pertama dilaksanakan pada Jumat, 21 Oktober 2018 pukul 08.50 – 10.20 WIB. Materi yang dibahas pada pertemuan ini adalah sistem pernapasan pada hewan mamalia. Kegiatan diawali dengan mengajak siswa untuk melakukan tepuk semangat (motivasi) dan melakukan tanya jawab mengenai hewan mamalia (apersepsi). Langkah selanjutnya, guru menyampaikan tujuan dan kegiatan yang akan dilakukan (orientasi). Pada kegiatan inti, guru menyampaikan materi mengenai sistem pernapasan hewan mamalia, sedangkan siswa menyimak penjelasan dari guru. Kegiatan penutup dilakukan dengan menyimpulkan materi yang telah dipelajari, siswa mengerjakan soal evaluasi, dan melakukan refleksi bersama. Pertemuan kedua dilaksanakan pada Sabtu, 22 Oktober 2018 pukul 08.50 – 10.20 WIB. Materi yang dibahas pada pertemuan ini adalah sistem pernapasan pada hewan pisces. Kegiatan diawali dengan mengajak siswa untuk bernyanyi lagu berjudul “Kalau Kau Suka Hati” (motivasi) dan melakukan tanya jawab mengenai hewan pisces (apersepsi). Langkah selanjutnya, guru menyampaikan tujuan dan kegiatan yang akan dilakukan (orientasi). Pada kegiatan inti, guru menyampaikan materi mengenai sistem pernapasan hewan pisces, sedangkan siswa menyimak penjelasan dari guru. Kegiatan penutup dilakukan dengan menyimpulkan materi yang telah dipelajari, siswa mengerjakan soal evaluasi, dan melakukan refleksi bersama. Pertemuan ketiga dilaksanakan pada Senin, 24 Oktober 2018 pukul 11.50 – 13.00 WIB. Materi yang dibahas pada pertemuan ini adalah sistem pernapasan pada hewan insecta. Kegiatan diawali dengan mengajak siswa untuk melakukan tepuk 63

(83) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI semangat (motivasi) dan melakukan tanya jawab mengenai hewan insecta (apersepsi). Langkah selanjutnya, guru menyampaikan tujuan dan kegiatan yang akan dilakukan (orientasi). Pada kegiatan inti, guru menyampaikan materi mengenai sistem pernapasan hewan insecta, sedangkan siswa menyimak penjelasan dari guru. Kegiatan penutup dilakukan dengan menyimpulkan materi yang telah dipelajari, siswa mengerjakan soal evaluasi, dan melakukan refleksi bersama. Pertemuan keempat dilaksanakan pada Selasa, 25 Oktober 2018 pukul 10.20 – 11.30 WIB. Materi yang dibahas pada pertemuan ini adalah sistem pernapasan pada hewan amphibi, reptil, dan cacing. Kegiatan diawali dengan mengajak siswa untuk bernyanyi lagu berjudul “Kalau Kau Suka Hati” (motivasi) dan melakukan tanya jawab mengenai hewan amphibi, reptil, dan cacing (apersepsi). Langkah selanjutnya, guru menyampaikan tujuan dan kegiatan yang akan dilakukan (orientasi). Pada kegiatan inti, guru menyampaikan materi mengenai sistem pernapasan hewan amphibi, reptil, dan cacing, sedangkan siswa menyimak penjelasan dari guru. Kegiatan penutup dilakukan dengan menyimpulkan materi yang telah dipelajari, siswa mengerjakan soal evaluasi, dan melakukan refleksi bersama. Pada Jumat, 28 September 2018 pukul 08.50 – 09.50 WIB, kelompok kontrol mengerjakan soal posttest I. Posttest I bertujuan untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa setelah menerima pembelajaran dengan metode ceramah. Enam hari setelah posttest I, siswa mengerjakan soal posttest II tepatnya pada Kamis, 04 Oktober 2018. Posttest II bertujuan untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa, seminggu setelah menerima pembelajaran dengan metode ceramah. Soal yang dikerjakan pada posttest I dan posttest II adalah soal yang sama seperti pretest dan dikerjakan selama 2 x 35 menit. Penggunaan soal yang sama bertujuan untuk mengendalikan ancaman validitas internal yaitu instrumen. Peneliti hanya menggunakan soal nomor 5 untuk meneliti variabel mengeksplanasi dan soal nomor 6 untuk meneliti variabel meregulasi diri. 2. Deskripsi Implementasi Pembelajaran Kelompok Eksperimen Pembelajaran pada kelompok eksperimen menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Pembelajaran ini meliputi kegiatan awal, 64

(84) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI kegiatan inti, dan kegiatan penutup. Pada kegiatan awal terdapat satu langkah model pembelajaran kooperatif tipe STAD yaitu motivasi, kegiatan selanjutnya apersepsi dan orientasi. Pada kegiatan inti terdapat 5 langkah pembelajaran kooperatif tipe STAD yang selanjutnya yaitu, pembagian kelompok, presentasi dari guru, kegiatan belajar dalam tim, kuis, dan penghargaan prestasi tim. Kegiatan penutup dilakukan dengan penyimpulan dan refleksi. Pembelajaran membutuhkan waktu 2 x 35 menit untuk setiap pertemuan. Materi pokok yang dipelajari adalah sistem pernapasan hewan dengan sub materi yang berbeda di setiap pertemuannya. Sebelum pembelajaran, guru membagi kelas menjadi 4 kelompok yang beranggotakan 6 siswa. Pertemuan pertama dilaksanakan pada Jumat, 21 Oktober 2018 pukul 07.40 – 08.50 WIB. Materi yang dibahas pada pertemuan ini adalah sistem pernapasan pada hewan mamalia. Kegiatan diawali dengan mengajak siswa untuk bermain “Berhitung VS Bernapas” (motivasi) dan melakukan tanya jawab berkaitan dengan permainan tersebut (apersepsi). Langkah selanjutnya, guru menyampaikan tujuan dan kegiatan yang akan dilakukan (orientasi). Pada kegiatan inti langkah pertama, guru menyampaikan daftar nama kelompok yang telah ditentukan sebelumnya. Siswa masuk ke dalam kelompok masing-masing (pembagian kelompok). Langkah kedua yaitu presentasi dari guru. Pada kegiatan ini guru mempresentasikan materi dalam bentuk powerpoint. Siswa memperhatikan penjelasan sistem pernapasan hewan mamalia yang sedang disampaikan oleh guru. Guru menampilkan video singkat mengenai sistem pernapasan hewan mamalia, sedangkan siswa memperhatikan video yang sedang ditayangkan. Guru menunjukkan media pembelajaran yaitu memasangkan nama organ pernasapan hewan mamalia sesuai dengan gambar organnya. Guru meminta beberapa siswa untuk memasangkan nama organ pernapasan hewan mamalia tersebut sesuai dengan gambar organnya. Langkah ketiga yaitu, kegiatan belajar dalam tim. Pada langkah ini, guru memberikan instruksi pengerjaan lembar kerja siswa (LKS) dan membagikan LKS tersebut kepada setiap kelompok. Setiap kelompok melakukan diskusi untuk menyelesaikan LKS. Guru bersama siswa membahas LKS yang telah dikerjakan oleh setiap kelompok. Langkah keempat yaitu kuis, guru membagikan lembar soal dan lembar jawab kepada setiap siswa. Siswa mengerjakan soal kuis tersebut. Guru 65

(85) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI membagikan lembar kunci jawaban kepada setiap kelompok setelah semua siswa selesai mengerjakan. Setiap kelompok mengoreksi jawaban dengan cara menukarkan lembar jawab dengan teman satu kelompok. Setiap kelompok mendiskusikan setiap jawaban. Setiap siswa dalam kelompok memberikan skor pada lembar yang telah dikoreksi dan kemudian mengumpulkan lembar soal, lembar jawab, dan lembar kunci jawaban. Guru kemudian kembali membagikan lembar soal dan lembar jawab kepada setiap siswa. Setiap siswa mengerjakan soal kuis secara individu dan menukarkan lembar jawab kepada teman yang berbeda kelompok. Setiap siswa memberikan skor pada lembar jawab yang telah dikoreksi. Siswa mengumpulkan lembar jawaban setelah waktu kuis yang diberikan sudah habis. Langkah kelima yaitu, penghargaan prestasi tim. Guru membagikan hasil kuis kepada setiap siswa dan menghitung skor setiap kelompok secara bersama-sama. Kelompok yang mendapatkan skor tertinggi mendapatkan penghargaan dari guru berupa stiker yang ditempel di papan penghargaan. Kegiatan penutup dilakukan dengan cara guru merangkum materi dan melakukan refleksi bersama siswa. Pertemuan kedua dilaksanakan pada Sabtu, 22 Oktober 2018 pukul 07.40 – 08.50 WIB. Materi yang dibahas pada pertemuan ini adalah sistem pernapasan pada hewan pisces. Kegiatan diawali dengan mengajak siswa untuk bermain “Tebak Kata” (motivasi) dan melakukan tanya jawab berkaitan dengan permainan tersebut (apersepsi). Langkah selanjutnya, guru menyampaikan tujuan dan kegiatan yang akan dilakukan (orientasi). Pada kegiatan inti langkah pertama, guru kembali menyampaikan daftar nama kelompok dan meminta siswa untuk masuk ke dalam kelompok masing-masing. Langkah kedua yaitu presentasi dari guru. Pada kegiatan ini guru mempresentasikan materi dalam bentuk powerpoint. Siswa memperhatikan penjelasan sistem pernapasan hewan pisces yang sedang disampaikan oleh guru. Guru menampilkan video singkat mengenai sistem pernapasan hewan pisces, sedangkan siswa memperhatikan video yang sedang ditayangkan. Guru menunjukkan media pembelajaran yaitu memasangkan nama organ pernasapan hewan pisces sesuai dengan gambar organnya. Guru meminta beberapa siswa untuk memasangkan nama organ pernapasan hewan pisces tersebut sesuai dengan gambar organnya. 66

(86) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Langkah ketiga yaitu, kegiatan belajar dalam tim. Pada langkah ini, guru memberikan instruksi pengerjaan lembar kerja siswa (LKS) dan membagikan LKS tersebut kepada setiap kelompok. Setiap kelompok melakukan diskusi untuk menyelesaikan LKS. Guru bersama siswa membahas LKS yang telah dikerjakan oleh setiap kelompok. Langkah keempat yaitu kuis, guru membagikan lembar soal dan lembar jawab kepada setiap siswa. Siswa mengerjakan soal kuis tersebut. Guru membagikan lembar kunci jawaban kepada setiap kelompok setelah semua siswa selesai mengerjakan. Setiap kelompok mengoreksi jawaban dengan cara menukarkan lembar jawab dengan teman satu kelompok. Setiap kelompok mendiskusikan setiap jawaban. Setiap siswa dalam kelompok memberikan skor pada lembar yang telah dikoreksi dan kemudian mengumpulkan lembar soal, lembar jawab, dan lembar kunci jawaban. Guru kemudian kembali membagikan lembar soal dan lembar jawab kepada setiap siswa. Setiap siswa mengerjakan soal kuis secara individu dan menukarkan lembar jawab kepada teman yang berbeda kelompok. Setiap untuk memberikan skor pada lembar jawab yang telah dikoreksi. Siswa mengumpulkan lembar jawaban setelah waktu kuis yang diberikan sudah habis. Langkah kelima yaitu, penghargaan prestasi tim. Guru membagikan hasil kuis kepada setiap siswa dan menghitung skor setiap kelompok secara bersama-sama. Kelompok yang mendapatkan skor tertinggi mendapatkan penghargaan dari guru berupa stiker yang ditempel di papan penghargaan. Kegiatan penutup dilakukan dengan cara guru merangkum materi dan melakukan refleksi bersama siswa. Pertemuan ketiga dilaksanakan pada Senin, 24 Oktober 2018 pukul 09.50 – 10.55 WIB. Materi yang dibahas pada pertemuan ini adalah sistem pernapasan pada hewan insecta. Kegiatan diawali dengan mengajak siswa untuk bermain “Tebak Kata” (motivasi) dan melakukan tanya jawab berkaitan dengan permainan tersebut (apersepsi). Langkah selanjutnya, guru menyampaikan tujuan dan kegiatan yang akan dilakukan (orientasi). Pada kegiatan inti langkah pertama, guru kembali menyampaikan daftar nama kelompok dan meminta siswa untuk masuk ke dalam kelompok masing-masing. Langkah kedua yaitu presentasi dari guru. Pada kegiatan ini guru mempresentasikan materi dalam bentuk powerpoint. Siswa memperhatikan penjelasan sistem pernapasan hewan insecta yang sedang disampaikan oleh guru. 67

(87) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Guru menampilkan video singkat mengenai sistem pernapasan hewan insecta, sedangkan siswa memperhatikan video yang sedang ditayangkan. Guru menunjukkan media pembelajaran yaitu memasangkan nama organ pernasapan hewan insecta sesuai dengan gambar organnya. Guru meminta beberapa siswa untuk memasangkan nama organ pernapasan hewan insecta tersebut sesuai dengan gambar organnya. Langkah ketiga yaitu, kegiatan belajar dalam tim. Pada langkah ini, guru memberikan instruksi pengerjaan lembar kerja siswa (LKS) dan membagikan LKS tersebut kepada setiap kelompok. Setiap kelompok melakukan diskusi untuk menyelesaikan LKS. Guru bersama siswa membahas LKS yang telah dikerjakan oleh setiap kelompok. Langkah keempat yaitu kuis, guru membagikan lembar soal dan lembar jawab kepada setiap siswa. Siswa mengerjakan soal kuis tersebut. Guru membagikan lembar kunci jawaban kepada setiap kelompok setelah semua siswa selesai mengerjakan. Setiap kelompok mengoreksi jawaban dengan cara menukarkan lembar jawab dengan teman satu kelompok. Setiap kelompok mendiskusikan setiap jawaban. Setiap siswa dalam kelompok memberikan skor pada lembar yang telah dikoreksi dan kemudian mengumpulkan lembar soal, lembar jawab, dan lembar kunci jawaban. Guru kemudian kembali membagikan lembar soal dan lembar jawab kepada setiap siswa. Setiap siswa mengerjakan soal kuis secara individu dan menukarkan lembar jawab kepada teman yang berbeda kelompok. Setiap siswa memberikan skor pada lembar jawab yang telah dikoreksi. Siswa mengumpulkan lembar jawaban setelah waktu kuis yang diberikan sudah habis. Langkah kelima yaitu, penghargaan prestasi tim. Guru membagikan hasil kuis kepada setiap siswa dan menghitung skor setiap kelompok secara bersama-sama. Kelompok yang mendapatkan skor tertinggi mendapatkan penghargaan dari guru berupa stiker yang ditempel di papan penghargaan. Kegiatan penutup dilakukan dengan cara guru merangkum materi dan melakukan refleksi bersama siswa. Pertemuan keempat dilaksanakan pada Selasa, 25 Oktober 2018 pukul 07.40 – 08.50 WIB. Materi yang dibahas pada pertemuan ini adalah sistem pernapasan pada hewan amphibi, reptil, dan cacing. Kegiatan diawali dengan mengajak siswa untuk bermain “Rangkai Kata” (motivasi) dan melakukan tanya jawab berkaitan 68

(88) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI dengan permainan tersebut (apersepsi). Langkah selanjutnya, guru menyampaikan tujuan dan kegiatan yang akan dilakukan (orientasi). Pada kegiatan inti langkah pertama, guru kembali menyampaikan daftar nama kelompok dan meminta siswa untuk masuk ke dalam kelompok masing-masing. Langkah kedua yaitu presentasi dari guru. Pada kegiatan ini guru mempresentasikan materi dalam bentuk powerpoint. Siswa memperhatikan penjelasan sistem pernapasan hewan amphibi, reptil, dan cacing yang sedang disampaikan oleh guru. Guru menampilkan video singkat mengenai sistem pernapasan hewan amphibi, reptil, dan cacing, sedangkan siswa memperhatikan video yang sedang ditayangkan. Guru menunjukkan media pembelajaran yaitu memasangkan nama organ pernasapan hewan amphibi, reptil, dan cacing sesuai dengan gambar organnya. Guru meminta beberapa siswa untuk memasangkan nama organ pernapasan hewan amphibi, reptil, dan cacing tersebut sesuai dengan gambar organnya. Langkah ketiga yaitu, kegiatan belajar dalam tim. Pada langkah ini, guru memberikan instruksi pengerjaan lembar kerja siswa (LKS) dan membagikan LKS tersebut kepada setiap kelompok. Setiap kelompok melakukan diskusi untuk menyelesaikan LKS. Guru bersama siswa membahas LKS yang telah dikerjakan oleh setiap kelompok. Langkah keempat yaitu kuis, guru membagikan lembar soal dan lembar jawab kepada setiap siswa. Siswa mengerjakan soal kuis tersebut. Guru membagikan lembar kunci jawaban kepada setiap kelompok setelah semua siswa selesai mengerjakan. Setiap kelompok mengoreksi jawaban dengan cara menukarkan lembar jawab dengan teman satu kelompok. Setiap kelompok mendiskusikan setiap jawaban. Setiap siswa dalam kelompok memberikan skor pada lembar yang telah dikoreksi dan kemudian mengumpulkan lembar soal, lembar jawab, dan lembar kunci jawaban. Guru kemudian kembali membagikan lembar soal dan lembar jawab kepada setiap siswa. Setiap siswa mengerjakan soal kuis secara individu dan menukarkan lembar jawab kepada teman yang berbeda kelompok. Setiap siswa memberikan skor pada lembar jawab yang telah dikoreksi. Siswa mengumpulkan lembar jawaban setelah waktu kuis yang diberikan sudah habis. Langkah kelima yaitu, penghargaan prestasi tim. Guru membagikan hasil kuis kepada setiap siswa dan menghitung skor setiap kelompok secara bersama-sama. Kelompok yang 69

(89) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI mendapatkan skor tertinggi mendapatkan penghargaan dari guru berupa stiker yang ditempel di papan penghargaan. Kegiatan penutup dilakukan dengan cara guru merangkum materi dan melakukan refleksi bersama siswa. Pada Jumat, 28 September 2018 pukul 07.40 – 08.50 WIB, kelompok eksperimen mengerjakan soal posttest I. Posttest I bertujuan untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa setelah menerima pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Enam hari setelah posttest I, siswa mengerjakan soal posttest II tepatnya pada Kamis, 04 Oktober 2018. Posttest II bertujuan untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa, seminggu setelah menerima pembelajaran dengan model pembelajaran STAD. Soal yang dikerjakan pada posttest I dan posttest II adalah soal yang sama seperti pretest dan dikerjakan selama 2 x 35 menit. Peneliti hanya menggunakan soal nomor 5 untuk meneliti variabel mengeksplanasi dan soal nomor 6 untuk meneliti variabel meregulasi diri. 4.1.2 Deskripsi Sebaran Data Pada deskripsi sebaran data, peneliti memperlihatkan perbedaan data yang diperoleh pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen untuk setiap indikator. 4.1.2.1 Kemampuan Mengeksplanasi Hasil dari sebaran data dapat dilihat pada tabel berikut. 1. Kelompok Kontrol Tabel 4.1 Sebaran Data Kelompok Kontrol Kemampuan Mengeksplanasi No 1 2 3 Indikator Soal Menjelaskan perlakuan manusia terhadap hewan Memaparkan argumen mengenai perilaku hewan saat bernapas Menjelaskan proses pernapasan pada hewan serangga Jumlah Frekuensi Skor Pretest 3 4 6 2 Total 22 1 7 Skor Posttest I 2 3 4 5 8 2 1 22 8 8 3 3 22 3 2 22 14 5 2 1 22 16 5 66 29 18 13 6 66 1 5 2 9 7 7 7 10 7 22 23 Total 22 70

(90) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Tabel 4.1 menunjukkan bahwa hasil pretest kelompok kontrol pada ketiga indikator diketahui skor yang paling banyak jumlahnya adalah skor 2 sebanyak 23 siswa, sedangkan skor 4 adalah skor yang paling sedikit jumlahnya yaitu 5 siswa. Hasil posttest I diketahui skor 1 adalah skor yang paling banyak jumlahnya yaitu 29 siswa. Perolehan skor 4 mengalami peningkatan dari 5 menjadi 6 siswa. Skor 2 adalah skor yang sering muncul pada pretest sebanyak 23 siswa, sedangkan pada posttest I adalah skor 1 sebanyak 29 siswa. Skor yang mengalami peningkatan jumlah siswanya adalah skor 1 dan 4, sedangkan skor 2 dan 3 mengalami penurunan jumlah siswa. 2. Kelompok Eksperimen Tabel 4.2 Sebaran Data Kelompok Eksperimen Kemampuan Mengeksplanasi No 1 2 3 Indikator Soal Menjelaskan perlakuan manusia terhadap hewan Memaparkan argumen mengenai perilaku hewan saat bernapas Menjelaskan proses pernapasan pada hewan serangga Jumlah Frekuensi Skor Pretest 3 4 5 2 Total 24 1 1 Skor Posttest I 2 3 4 4 12 7 2 24 1 6 9 8 24 5 3 24 5 6 7 6 24 18 7 72 7 16 28 21 72 1 8 2 9 5 9 8 6 10 19 28 Total 24 Tabel 4.2 menunjukkan bahwa hasil pengerjaan pretest kelompok eksperimen pada ketiga indikator diketahui skor yang paling banyak jumlahnya adalah skor 2 sebanyak 28 siswa, sedangkan skor 4 adalah skor yang paling sedikit jumlahnya yaitu 7 siswa. Hasil posttest I diketahui skor 3 yang paling banyak jumlahnya yaitu 28 siswa, sedangkan skor 1 yang paling sedikit jumlahnya yaitu 7 siswa. Skor 2 adalah skor yang sering muncul pada pretest sebanyak 28 siswa, sedangkan skor 3 pada posttest I sebanyak 28 siswa. Data menunjukkan terjadi peningkatan skor dari pretest ke posttest I karena meningkatnya jumlah siswa yang mendapat skor 3 dan 4, sedangkan siswa yang mendapat skor 1 dan 2 menurun. 71

(91) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.1.2.2 Kemampuan Meregulasi Diri 1. Kelompok Kontrol Tabel 4.3 Sebaran Data Kelompok Kontrol Kemampuan Meregulasi Diri No 1 Indikator Soal Menjelaskan perlakuan manusia terhadap hewan Memaparkan argumen mengenai perilaku hewan saat bernapas Menjelaskan proses pernapasan pada hewan serangga Jumlah Frekuensi 2 3 Skor Pretest 3 4 10 3 Total 22 1 5 Skor Posttest I 2 3 4 8 7 2 2 22 5 3 10 4 22 9 6 22 5 11 4 2 22 29 11 66 15 22 21 8 66 1 3 2 6 1 9 10 3 4 7 19 Total 22 Tabel 4.3 menunjukkan bahwa hasil pengerjaan pretest kelompok kontrol pada ketiga indikator diketahui skor yang paling banyak jumlahnya adalah skor 3 sebanyak 29 siswa, sedangkan skor 1 adalah skor yang paling sedikit jumlahnya yaitu 7 siswa. Hasil posttest I diketahui skor 2 adalah skor yang paling banyak jumlahnya yaitu sebanyak 22 siswa, sedangkan skor 4 adalah skor yang paling sedikit jumlahnya yaitu 8 siswa. Skor 3 adalah skor yang sering muncul pada pretest yaitu sebanyak 29 siswa, sedangkan skor 2 adalah skor yang sering muncul pada posttest I yaitu sebanyak 22 siswa. Skor yang mengalami peningkatan jumlah siswanya adalah skor 1 dan skor 2, sedangkan skor 3 dan skor 4 mengalami penurunan jumlah siswa. 2. Kelompok Eksperimen Tabel 4.4 Sebaran Data Kelompok Eksperimen Kemampuan Meregulasi Diri No 1 2 3 Indikator Soal Menjelaskan perlakuan manusia terhadap hewan Memaparkan argumen mengenai perilaku hewan saat bernapas Menjelaskan proses pernapasan pada hewan serangga Jumlah Frekuensi Skor Pretest 3 4 13 3 Total 24 1 1 Skor Posttest I 2 3 4 Total 4 10 9 24 3 24 1 2 13 8 24 14 4 24 0 12 2 10 24 39 10 72 2 18 25 27 72 1 2 2 6 2 7 12 2 4 6 17 72

(92) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Tabel 4.4 menunjukkan bahwa hasil pengerjaan pretest kelompok eksperimen pada ketiga indikator diketahui skor yang paling banyak jumlahnya adalah skor 3 sebanyak 39 siswa, sedangkan skor 1 adalah skor yang paling sedikit jumlahnya yaitu sebanyak 6 siswa. Hasil posttest I diketahui skor 4 adalah skor yang paling banyak jumlahnya yaitu 27 siswa, sedangkan skor 1 yang paling sedikit jumlahnya yaitu 2 siswa. Skor 3 adalah skor yang sering muncul pada pretest sebanyak 39 siswa, sedangkan skor 4 pada posttest I sebanyak 27 siswa. Data menunjukkan terjadi peningkatan skor 2 dan skor 4 dari pretest ke posttest I, sedangkan siswa yang mendapat skor 1 dan 3 menurun. 4.1.3 Uji Hipotesis Penelitian I Hipotesis penelitian I adalah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD berpengaruh terhadap kemampuan mengeksplanasi siswa kelas V SD. Variabel dependen pada hipotesis tersebut yaitu kemampuan mengeksplanasi, sedangkan variabel independennya yaitu penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Instrumen yang digunakan untuk mengukur variabel dependen yaitu 1 soal uraian nomor soal 5. Satu soal mengandung 3 indikator, menjelaskan perlakuan manusia terhadap hewan, memaparkan argumen mengenai perilaku hewan saat bernapas, dan menjelaskan proses pernapasan pada hewan serangga. Analisis statistik secara keseluruhan dihitung menggunakan program komputer IBM SPSS Statistics 22 for Windows dengan tingkat kepercayaan 95%. Tahap analisis data yang dilakukan adalah 1) uji normalitas distribusi data untuk mengetahui normal tidaknya distribusi data dan menentukan analisis statistik parametrik atau nonparametrik tahap selanjutnya, 2) uji perbedaan kemampuan awal untuk mengetahui kemampuan awal terhadap kemampuan mengeksplanasi pada kedua kelompok, 3) uji signifikansi pengaruh perlakuan, dan 4) uji besar pengaruh perlakuan. Selanjutnya dilakukan analisis lebih lanjut yang terdiri dari a) uji persentase peningkatan rerata pretest ke posttest I, b) uji besar efek peningkatan rerata pretest ke posttest I, c) uji korelasi antara rerata pretest dan posttest I, dan d) uji retensi pengaruh perlakuan. 73

(93) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.1.3.1 Uji Perbedaan Kemampuan Awal Uji perbedaan kemampuan awal dilakukan untuk mengetahui apakah kelompok kontrol dan kelompok eksperimen memiliki kemampuan awal yang sama terhadap kemampuan mengeksplanasi. Data yang digunakan adalah rerata skor pretest pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. 1. Uji Asumsi a. Uji Asumsi Normalitas Distribusi Data Uji normalitas distribusi data dilakukan untuk mengetahui normal atau tidaknya distribusi data, sehingga dapat ditentukan jenis statistik yang digunakan untuk menganalisis data tersebut (Field, 2009: 144). Data diuji menggunakan One Sample Kolmogorov Smirnov test. Data yang digunakan yaitu skor pretest. Kriteria yang digunakan untuk kesimpulan uji normalitas data yaitu sebagai berikut. Jika harga p > 0,05 maka distribusi data normal, sehingga uji statistik berikutnya menggunakan statistik parametrik misalnya dengan Independent samples t-test atau Paired samples t-test (Field, 2009: 326). Jika harga p < 0,05 maka distribusi data tidak normal, sehingga uji statistik berikutnya menggunakan statistik nonparametrik misalnya dengan Mann-Whitney atau Wilcoxon signed rank test (Field, 2009: 345). Berdasarkan kriteria tersebut, berikut hasil uji normalitas distribusi data kemampuan mengeksplanasi (lihat Lampiran 4.3.1). Tabel 4.5 Hasil Uji Normalitas Distribusi Data Kelompok Kontrol Eksperimen p 0,096 0,108 Keputusan Normal Normal Tabel 4.5 menunjukkan harga p > 0,05 pada aspek pretest untuk kelompok kontrol dan eksperimen. Aspek tersebut menunjukkan distribusi data normal, sehingga analisis data selanjutnya menggunakan statistik parametrik. Statistik parametrik yang digunakan yaitu Independent samples t-test, untuk menganalisis data dari dua kelompok yang berbeda, misalnya kelompok kontrol dan kelompok eksperimen (Field, 2009: 326). 74

(94) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI b. Uji Homogenitas Varian Sebelum dilakukan uji perbedaan kemampuan awal, dilakukan uji asumsi untuk memeriksa homogenitas varian dengan Levene’s test. Jika harga p > 0,05 maka ada homogenitas varian pada kedua data yang dibandingkan. Jika harga p < 0,05 maka tidak ada homogenitas varian pada kedua data yang dibandingkan (Field, 2009: 150). Berikut ini adalah hasil uji asumsi homogenitas varian (lihat Lampiran 4.4.1). Tabel 4.6 Hasil Uji Homogenitas Varian Uji Statistik Levene’s Test for Equality of Variances F 0,920 df1 1 df2 44 p 0,343 Keputusan Homogen Levene’s test dengan tingkat kepercayaan 95% menunjukkan harga F = 0,920 dan harga p = 0,343. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat homogenitas varian pada kedua data yang dibandingkan. c. Uji Statistik Hasil uji asumsi menunjukkan bahwa terdapat homogenitas varian pada kedua data, maka data uji statistik Independent samples t-test yang diambil adalah data baris pertama pada output SPSS (Field, 2009: 340). Tingkat kepercayaan untuk melakukan uji perbedaan kemampuan awal adalah 95%. Kriteria yang digunakan untuk menolak Hnull adalah jika p < 0,05, maka ada perbedaan kemampuan awal yang signifikan antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen (Priyatno, 2012: 24). Berikut adalah hasil perbedaan kemampuan awal dari kelompok kontrol dan kelompok eksperimen (lihat Lampiran 4.5.1). Tabel 4.7 Hasil Uji Perbedan Kemampuan Awal Uji Statistik Independent samples t-test p 0,550 Keterangan Tidak ada perbedaan Rerata skor yang dicapai pada kelompok eksperimen (M = 2,18, SE = 0,13) lebih tinggi daripada rerata skor yang dicapai pada kelompok kontrol (M = 2,06, SE = 0,14). Perbedaan skor tersebut signifikan dengan t (44) = - 0,602, p = 0,550 (p > 0,05), maka Hnull diterima dan Hi ditolak. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan kemampuan awal pada kedua kelompok. Ancaman terhadap validitas internal berupa karakteristik subjek dapat dikendalikan dengan baik. 75

(95) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.1.3.2 Uji Signifikansi Pengaruh Perlakuan Uji signifikansi pengaruh perlakuan dilakukan untuk mengetahui pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD terhadap kemampuan mengeksplanasi. Uji signifikansi dapat dilakukan dengan menggunakan rumus (O2 – O1) – (O4 – O3) yaitu dengan mengurangkan rerata selisih skor posttest I – pretest pada kelompok eksperimen dengan rerata selisih skor posttest I – pretest pada kelompok kontrol (Cohen, Manion, & Morrison, 2007: 277). Jika hasilnya lebih besar dari 0, maka ada perbedaan. Jika hasilnya signifikan maka terdapat pengaruh perlakuan. Berikut perhitungannya (2,87 – 2,18) – (1,93 – 2,06) = 0,69 – (-0,13) = 0,69 + 0,13 = 0,82. Dari perhitungan menggunakan rumus tersebut didapatkan hasil yaitu 0,82 yang menunjukkan bahwa hasil tersebut lebih dari 0, sehingga terdapat perbedaan. Untuk mengetahui apakah pengaruhnya signifikan atau tidak maka dilakukan uji statistik yaitu dengan cara menghitung selisih antara skor posttest I dan pretest dalam kemampuan mengeksplanasi pada kedua kelompok. Selisih tersebut kemudian diuji normalitasnya menggunakan One Sample KolmogorovSmirnov test. 1. Uji Asumsi a. Uji Asumsi Normalitas Distribusi Data Uji normalitas distribusi data dilakukan untuk mengetahui normal atau tidaknya distribusi data, sehingga dapat ditentukan jenis statistik yang digunakan untuk menganalisis data tersebut (Field, 2009: 144). Data diuji menggunakan One Sample Kolmogorov Smirnov test. Data yang digunakan yaitu skor posttest I dan selisih pretest-posttest I. Kriteria yang digunakan untuk kesimpulan uji normalitas data yaitu sebagai berikut. Jika harga p > 0,05 maka distribusi data normal, sehingga uji statistik berikutnya menggunakan statistik parametrik misalnya dengan Independent samples t-test atau Paired samples t-test (Field, 2009: 326). Jika harga p < 0,05 maka distribusi data tidak normal, sehingga uji statistik berikutnya menggunakan statistik nonparametrik misalnya dengan Mann-Whitney atau Wilcoxon signed rank test (Field, 2009: 345). Berdasarkan kriteria tersebut, berikut hasil uji normalitas distribusi data selisih skor pretest – posttest I kemampuan mengeksplanasi (lihat Lampiran 4.3.1). 76

(96) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Tabel 4.8 Hasil Uji Normalitas Distribusi Data Selisih Skor Pretest – Posttest I Kelompok Kontrol Eksperimen p 0,200 0,200 Keputusan Normal Normal Tabel 4.8 menunjukkan harga p > 0,05 pada aspek selisih skor pretest – posttest I untuk kelompok kontrol dan eksperimen. Aspek tersebut menunjukkan distribusi data normal, maka dilakukan uji asumsi selanjutnya dengan Levene’s test untuk mengetahui homogenitas varian. b. Uji Homogenitas Varian Berdasarkan uji asumsi normalitas distribusi data, selisih skor pretest – posttest I untuk kelompok kontrol dan eksperimen menunjukkan berdistribusi data normal. Langkah selanjutnya dilakukan uji asumsi untuk memeriksa homogenitas varian dengan Levene’s test. Jika harga p > 0,05 maka ada homogenitas varian pada kedua data yang dibandingkan. Jika harga p < 0,05 maka tidak ada homogenitas varian pada kedua data yang dibandingkan (Field, 2009: 150). Berikut ini adalah hasil uji asumsi homogenitas varian selisih pretest-posttest I (lihat Lampiran 4.6.1). Tabel 4.9 Hasil Uji Homogenitas Varian Selisih Skor Pretest-Posttest I Uji Statistik Levene’s Test for Equality of Variances F 0,553 df1 1 df2 44 p 0,461 Keputusan Homogen Levene’s test dengan tingkat kepercayaan 95% menunjukkan harga F = 0,553 dan harga p = 0,461. Data tersebut menunjukkan bahwa terdapat homogenitas varian data, karena harga Sig. Levene’s test > 0,05. c. Uji Statistik Hasil uji asumsi menunjukkan bahwa terdapat homogenitas varian pada kedua data, maka data uji statistik Independent samples t-test yang diambil adalah data baris pertama pada output SPSS (Field, 2009: 340). Tingkat kepercayaan untuk melakukan uji perbedaan kemampuan awal adalah 95%. Kriteria yang digunakan untuk menolak Hnull adalah jika p < 0,05 (Priyatno, 2012: 24). Berikut adalah hasil uji signifikansi pengaruh perlakuan (lihat Lampiran 4.7.1 ). 77

(97) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Tabel 4.10 Hasil Uji Signifikansi Pengaruh Perlakuan p 0,002 Uji Statistik Independent samples t-test Keputusan Signifikan Rerata skor yang dicapai pada kelompok eksperimen (M = 0,69, SE = 0,16) lebih tinggi daripada rerata skor yang dicapai pada kelompok kontrol (M = -0,12, SE = 0,19). Perbedaan skor tersebut signifikan dengan t (44) = -3,248 p = 0,002 (p < 0,05), maka Hnull ditolak dan Hi diterima. Hal ini menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara rerata selisih skor pretest – posttest I pada kelompok kontrol dan eksperimen. Dengan kata lain, penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD berpengaruh terhadap kemampuan mengeksplanasi. Berikut adalah grafik hasil perbandingan rerata selisih skor pretest ke posttest I kemampuan mengeksplanasi pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. 3,5 2,8746 3 Mean 2,5 2,1808 1,9382 2 2,0614 1,5 1 0,5 0 Pretest Kontrol Posttest Eksperimen Grafik 4.1 Signifikansi Pengaruh Perlakuan Grafik tersebut menunjukkan bahwa terdapat perbedaan peningkatan skor pada kedua kelompok. Skor pretest kelompok eksperimen lebih tinggi daripada kelompok kontrol. Setelah kedua kelompok menerima pembelajaran diketahui kelompok eksperimen memperoleh skor posttest I sebesar 2,87 sedangkan pada kelompok kontrol sebesar 1,93. Mean pada kelompok eksperimen sebesar 0,6942 lebih tinggi daripada kelompok sebesar -0,1218. Berikut grafik hasil perbandingan rerata selisih skor pretest – posttest I antara kedua kelompok. 78

(98) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Grafik 4.2 Perbandingan Rerata Selisih Skor Pretest-Posttest I 4.1.3.3 Uji Besar Pengaruh Perlakuan Uji besar pengaruh perlakuan (effect size) dilakukan untuk mengetahui besar pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD terhadap kemampuan mengeksplanasi. Data terdistribusi dengan normal, sehingga menggunakan rumus koefisien Pearson (Field, 2009: 57). Independent samples ttest digunakan untuk mengambil r dalam melakukan uji besar pengaruh perlakuan. Persentase pengaruh perlakuan diperoleh dengan menghitung koefisien determinasi (R2). Menghitung koefisien determinasi dilakukan dengan cara mengkuadratkan harga r (harga koefisien korelasi Pearson yang didapat) kemudian dikalikan 100% (Field, 2009: 179). Berikut hasil perhitungan besar pengaruh perlakuan pada kemampuan mengeksplanasi (lihat Lampiran 4.8). Tabel 4.11 Hasil Uji Besar Pengaruh Perlakuan Variabel Mengeksplanasi t -3,248 t2 10,54 df 44 r (effect size) 0,43 R2 0,1849 % 18,49 Kategori Efek Menengah Tabel hasil uji effect size menunjukkan persentase pada kemampuan mengeksplanasi. Besar pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD terhadap kemampuan mengeksplanasi adalah r = 0,43 atau 18,49% atau menengah. 79

(99) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.1.3.4 Analisis Lebih Lanjut 1. Persentase Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I a. Persentase Peningkatan Perhitungan persentase peningkatan rerata pretest - posttest I dilakukan untuk mengetahui peningkatan rerata pretest - posttest I kelompok kontrol dan kelompok eksperimen terhadap kemampuan mengeksplanasi. Selanjutnya, dilakukan uji signifikansi peningkatan skor pretest - posttest I. Sebelum dilakukan uji signifikansi, maka dilakukan uji normalitas data pada skor pretest dan posttest I untuk mengetahui data terdistribusi normal atau tidak menggunakan One Sample Kolmogorov-Smirnov test. Data yang digunakan yaitu skor pretest dan posttest I. Kriteria yang digunakan untuk kesimpulan uji normalitas data yaitu sebagai berikut. Jika harga p > 0,05 maka distribusi data berdistribusi normal. Berikut hasil uji normalitas data skor pretest dan posttest I pada kemampuan mengeksplanasi kelompok kontrol dan kelompok eksperimen (lihat Lampiran 4.3.1). Tabel 4.12 Hasil Uji Normalitas Distribusi Data Skor Pretest dan Posttest I Kelompok Kontrol Eksperimen Aspek Pretest Posttest I Pretest Posttest I p 0,096 0,079 0,108 0,152 Keputusan Normal Normal Normal Normal Tabel 4.12 menunjukkan bahwa harga p > 0,05 pada aspek pretest dan posttest I untuk kelompok kontrol dan eksperimen. Aspek tersebut menunjukkan distribusi data normal, maka uji peningkatan skor pretest ke posttest I dilakukan dengan Paired Samples t-test untuk kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Kriteria untuk menolak Hnull adalah jika harga p < 0,05, maka ada perbedaan skor yang signifikan dari pretest ke posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen (Field, 2009: 53). Untuk mengetahui persentase peningkatan rerata pretest ke posttest I dihitung dengan cara membagi selisih pretest – posttest I dengan pretest, kemudian dikalikan 100%. Berikut hasil perhitungan persentase peningkatan rerata pretest ke posttest I (lihat Lampiran 4.9.1 ). 80

(100) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Tabel 4.13 Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I No Kelompok 1 Kontrol 2 Eksperimen Rerata Pretest Posttest I 2,06 1,93 2,18 Peningkatan % Uji Statistik p Keputusan -6,31% Paired Samples t-test Paired Samples t-test 0,536 Tidak Signifikan 0,000 Signifikan 2,87 31,65% Hasil analisis menunjukkan rerata pretest dan posttest I pada kelompok kontrol sebesar 2,06 dan 1,93. Persentase peningkatannya sebesar -6,31%. Rerata pretest dan posttest I pada kelompok eksperimen sebesar 2,18 dan 2,87. Persentase peningkatannya sebesar 31,65%. Persentase peningkatan pada kelompok eksperimen lebih tinggi daripada kelompok kontrol. Dengan demikian, penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD meningkatkan kemampuan mengeksplanasi lebih besar daripada metode ceramah. Berikut diagram peningkatan pretest ke posttest I pada kedua kelompok terhadap kemampuan mengeksplanasi. 3,5 2,87 3 2,5 Mean 2,06 2 2,18 1,93 1,5 1 0,5 0 Kontrol Pretest Eksperimen Posttest I Grafik 4.3 Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I Tabel 4.13 dan grafik 4.3 menunjukkan bahwa pada kelompok kontrol mengalami penurunan rerata skor antara pretest ke posttest I dengan M = -0,12; SD = 0,91; SE = 0,19; df = 21 dan harga p = 0,536 (p > 0,05), maka Hnull diterima dan Hi ditolak. Dengan demikian, tidak ada perbedaan yang signifikan dari pretest ke posttest I pada kelompok kontrol. Nilai rerata pretest pada kelompok kontrol 81

(101) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI sebesar 2,06 dan nilai rerata posttest I sebesar 1,93. Persentase peningkatan pretest ke posttest I kelompok kontrol yaitu -6,31%. Pada kelompok eksperimen mengalami peningkatan skor antara pretest ke posttest I dengan M = 0,66; SD = 0,78; SE = 0,16; df = 23 dan harga p = 0,000 (p < 0,05), maka Hnull ditolak dan Hi diterima. Dengan demikian ada perbedaan yang signifikan antara pretest dan posttest I pada kelompok eksperimen. Hal ini dapat dilihat dari nilai rerata pretest sebesar 2,18 dan nilai rerata posttest I sebesar 2,87. Persentase peningkatan pretest ke posttest I kelompok eksperimen yaitu 31,65%. Persentase peningkatan skor pretest ke posttest I dapat dilihat lebih jelas melaui gambar 4.2 menggunakan grafik poligon untuk melihat perbedaan selisih skor pretest – posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Berikut grafik yang menunjukkan frekuensi selisih skor pretest – posttest I (gain score) pada kedua kelompok (lihat Lampiran 4.9.3.1). Grafik 4.4 Gain Score Berdasarkan grafik di atas, gain terendah pada kelompok kontrol sebesar 1,67, sedangkan pada kelompok eksperimen sebesar -0,67. Gain tertinggi pada kelompok kontrol sebesar 1,67, sedangkan pada kelompok eksperimen sebesar 2,33. Nilai tengah dari gain score diperoleh dari 50% skor selisih tertinggi dikurangkan skor selisih terendah. Gain score diperoleh 0,33. Frekuensi siswa yang 82

(102) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI memperoleh nilai ≥ 0,33 pada kelompok kontrol ada 8 siswa, sedangkan pada kelompok eksperimen ada 17 siswa. Besar persentase gain score ≥ 0,33 pada kelompok kontrol 36%, sedangkan 70% pada kelompok eksperimen. Hal tersebut menunjukkan bahwa 70% siswa kelompok eksperimen diuntungkan dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD, sedangkan 36% siswa kelompok kontrol diuntungkan dengan penerapan metode ceramah. Maka, penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD memiliki persentase lebih besar daripada penerapan metode ceramah. b. Uji Besar Efek Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I Uji besar efek peningkatan rerata pretest ke posttest I dilakukan untuk mengetahui peningkatan skor yang signifikan dari pretest ke posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Uji statistik pada kedua kelompok menggunakan Paired Samples t-test karena data berdistribusi normal (Field, 2009: 325). Kriteria untuk menolak Hnull adalah jika harga p < 0,05, maka ada perbedaan skor yang signifikan dari pretest ke posttest I (Field, 2009: 53). Berikut hasil perhitungan persentase peningkatan rerata pretest ke posttest I terhadap kemampuan mengeksplanasi (lihat Lampiran 4.10.1.1). Tabel 4.14 Hasil Uji Besar Pengaruh Peningkatan Pretest ke Posttest I Kelompok Kontrol Eksperimen t -0,630 4,316 t2 0,39 18,62 df 21 23 r (effect size) 0,13 0,66 R2 0,0169 0,4356 % 1,69 43,56 Kategori Efek Kecil Besar Hasil analisis menunjukkan bahwa setelah posttest I, kemampuan kelompok kontrol berbeda secara signifikan dengan kelompok eksperimen. Hasil uji statistik pada kelompok kontrol M = -0,12 ; SD = 0,91 ; SE = 0,19; df = 21 dan p = 0,53 (p > 0,05), maka Hnull diterima, artinya tidak ada perbedaan skor yang signifikan dari pretest ke posttest I. Dengan kata lain, pada kelompok kontrol tidak terjadi peningkatan skor dari pretest ke posttest I. Hasil uji kelompok eksperimen M = 0,69; SD = 0,78 ; SE = 0,16 ; df = 23 dan p = 0,00 (p < 0,05), maka Hnull ditolak, artinya ada perbedaan skor yang signifikan dari pretest ke posttest I. Dengan demikian, pada kelompok eksperimen terjadi peningkatan skor dari pretest ke posttest I. Persentase besar pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe 83

(103) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI STAD lebih besar daripada metode ceramah. Besar pengaruh model pembelajaran pada kelompok kontrol r = 0,13 setara dengan 1,69% yang termasuk kategori efek kecil dan pada kelompok eksperimen r = 0,66 setara dengan 43,56% yang termasuk kategori efek besar. 2. Uji Korelasi antara Rerata Pretest dan Posttest I Uji korelasi dilakukan untuk mengetahui korelasi antara rerata pretest dan posttest I positif atau negatif. Jika hasil menunjukkan positif berarti semakin tinggi skor pretest, maka semakin tinggi pula skor pretest I. Signifikan berarti hasil skor korelasi tersebut dapat digeneralisasikan pada populasi. Selain itu, uji korelasi untuk memastikan kontrol terhadap ancaman validitas internal penelitian regresi statistik. Regresi statistik terjadi jika korelasinya negatif dan signifikan, artinya siswa mendapat skor pretest tinggi dan juga mendapat skor posttest yang lebih rendah. Sedangkan siswa yang mendapat skor pretest rendah akan mendapat skor posttest lebih tinggi. Data yang digunakan adalah skor rerata pretest dan skor rerata posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Dalam uji korelasi, data yang digunakan terdistribusi normal, sehingga menggunakan rumus Pearson Correlation dengan tingkat kepercayaan yang digunakan adalah 95% (Field, 2009: 179). Kriteria yang digunakan untuk menolak Hnull adalah jika harga p < 0,05 (Priyatno, 2012: 45). Berikut hasil uji korelasi rerata pretest dan posttest I terhadap kemampuan mengeksplanasi (lihat Lampiran 4.11.1.1 dan 4.11.1.2). Tabel 4.15 Hasil Uji Korelasi Rerata Skor Pretest ke Posttest I Kelompok Kontrol Eksperimen Pearson Correlation 0,067 0,338 p 0,766 0,106 Keterangan Positif dan tidak signifikan Positif dan tidak signifikan Tabel 4.15 menunjukkan bahwa pada kelompok kontrol harga r sebesar 0,067, sedangkan pada kelompok eksperimen harga r sebesar 0,338, artinya kedua kelompok memiliki korelasi yang positif antara pretest dan posttest I. Korelasi positif artinya semakin tinggi skor pretest maka semakin tinggi pula skor posttest I. Hasil uji korelasi rerata pretest dan posttest I pada kelompok kontrol harga p = 0,766 (p > 0,05), sedangkan pada kelompok eksperimen harga p = 0,106 (p > 0,05), artinya pada kedua kelompok Hnull diterima dan Hi ditolak, maka pada kedua kelompok memiliki korelasi yang tidak signifikan antara hasil pretest dan posttest 84

(104) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI I. Dengan demikian, ancaman validitas internal yaitu regresi statistik dapat dikendalikan dalam penelitian ini. Ancaman validitas ini tidak terkendali jika hasil menunjukkan korelasi negatif dan signifikan. 3. Uji Retensi Pengaruh Perlakuan Uji retensi pengaruh perlakuan dilakukan untuk mengetahui efek perlakuan yang diberikan setelah beberapa waktu. Uji retensi pengaruh perlakuan dilakukan dengan menggunakan posttest II di mana soal yang dikerjakan sama dengan pretest dan posttest I. Sebelum dilakukan uji retensi pengaruh perlakuan pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen, maka perlu diketahui terlebih dahulu distribusi data skor posttest I dan posttest II menggunakan One Sample Kolmogorov-Smirnov test. Kriteria yang digunakan untuk kesimpulan uji normalitas data yaitu sebagai berikut. Jika harga p > 0,05 maka distribusi data normal. Berikut hasil uji normalitas data selisih skor posttest I dan posttest II kelompok kontrol dan kelompok eksperimen (lihat Lampiran 4.3.1). Tabel 4.16 Hasil Uji Normalitas Distribusi Data Selisih Skor Posttest I dan Posttest II Kelompok Kontrol Eksperimen Aspek Posttest I Posttest II Posttest I Posttest II p 0,079 0,200 0,152 0,200 Keputusan Normal Normal Normal Normal Tabel 4.16 menunjukkan bahawa harga p > 0,05 pada skor posttest I dan posttest II kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Artinya, keempat data tersebut memiliki distribusi data normal, sehingga uji retensi pengaruh perlakuan dilakukan dengan menggunakan Paired Samples t-test. Data yang digunakan yaitu skor posttest II. Posttest II dilakukan kurang lebih satu minggu setelah dilakukan posttest I, di mana soal yang dikerjakan sama dengan pretest dan posttest I. Kriteria untuk menolak Hnull adalah jika harga p < 0,05, maka ada perbedaan skor yang signifikan dari posttest I ke posttest II (Field, 2009: 53). Berikut hasil uji retensi pengaruh perlakuan terhadap kemampuan mengeksplanasi (lihat Lampiran 4.12.1.1 dan 4.12.1.2). 85

(105) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Tabel 4.17 Hasil Uji Retensi Pengaruh Perlakuan Posttest I ke Posttest II No Kelompok 1 Kontrol 1,93 2 Eksperimen 2,87 Peningkatan (%) Uji statistik p 1,69 -12,43% 0,086 2,68 -6,62% Paired Samples t-test Paired Samples t-test Rerata Posttest I Posttest II 0,162 Keterangan Penurunan tidak signifikan Penurunan tidak signifikan Hasil analisis menunjukkan bahwa pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen tidak mengalami penurunan skor yang signifikan. Hal tersebut dapat dilihat M = -0,24; SD = 0,62; SE = 0,13; df = 21 dan p = 0,086 (p > 0,05), maka Hnull diterima artinya tidak ada perbedaan skor yang signifikan dari posttest I ke posttest II. Dengan kata lain, pada kelompok kontrol tidak terjadi penurunan skor dari posttest I dan posttest II. Pada kelompok eksperimen diperoleh M = -0,19; SD = 0,65; SE = 0,13; df = 23 dan p = 0,162 (p > 0,05), maka Hnull diterima artinya tidak ada perbedaan skor yang signifikan dari posttest I ke posttest II. Dengan kata lain, pada kelompok eksperimen tidak terjadi penurunan skor dari posttest I dan posttest II. Persentase peningkatan pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen tidak menunjukkan terjadinya peningkatan skor dari posttest I ke posttest II. Hal tersebut dapat dilihat pada hasil perhitungan bahwa peningkatan skor pada kelompok kontrol sebesar -12,43% dan -6,62% pada kelompok eksperimen. Berikut grafik perbandingan skor pada kedua kelompok terhadap kemampuan mengeksplanasi. Grafik 4.5 Perbandingan Skor Pretest, Posttest I, dan Posttest II 86

(106) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Untuk memastikan pencapaian skor pada posttest II berbeda dengan pretest, maka dilakukan analisis terhadap perbedaan skor posttest II dan pretest. Uji statistik pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen menggunakan Paired Samples ttest karena data skor pretest dan posttest II berdistribusi normal. Tingkat kepercayaan yang digunakan adalah 95%. Jika harga p < 0,05, maka Hnull ditolak dan Hi diterima atau dapat dikatakan ada perbedaan skor yang signifikan. Berikut tabel hasil uji perbandingan skor pretest dan posttest II (lihat Lampiran 4.12.1.3). Tabel 4.18 Hasil Uji Retensi Pengaruh Perlakuan Pretest ke Posttest II No Kelompok 1 Kontrol 2,06 2 Eksperimen 2,18 Uji statistik p 1,69 Paired Samples t-test 0,017 2,68 Paired Samples t-test 0,005 Rerata Pretest Posttest II Keterangan Penurunan signifikan Penurunan signifikan Hasil analisis menunjukkan bahwa pada kelompok kontrol M = -0,36; SD = 0,65; SE = 0,14; df = 21 dan p = 0,017 (p < 0,05), maka Hnull ditolak artinya ada perbedaan skor yang signifikan dari pretest ke posttest II. Dengan kata lain, pada kelompok kontrol mengalami perubahan skor dari pretest ke posttest II. Pada kelompok eksperimen M = 0,49; SD = 0,79; SE = 0,16; df = 23 dan p = 0,005 (p < 0,05), maka Hnull ditolak artinya ada perbedaan skor yang signifikan dari pretest ke posttest II. Dengan kata lain, pada kelompok eksperimen mengalami perubahan skor dari pretest ke posttest II. 4.1.4 Uji Hipotesis Penelitian II Hipotesis penelitian II adalah adalah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD berpengaruh terhadap kemampuan meregulasi diri pada materi sistem pernapasan hewan siswa kelas V SD. Variabel dependen pada hipotesis tersebut yaitu kemampuan meregulasi diri, sedangkan variabel independennya yaitu penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Instrumen yang digunakan untuk mengukur variabel dependen yaitu 1 soal uraian nomor soal 6. Satu soal mengandung 3 indikator, menilai suatu perlakuan manusia terhadap hewan, mengkoreksi tindakan yang seharusnya dilakukan terhadap hewan, 87

(107) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI mengemukakan pendapat mengenai tindakan untuk memelihara hewan dengan benar. Analisis statistik secara keseluruhan dihitung menggunakan program komputer IBM SPSS Statistics 22 for Windows dengan tingkat kepercayaan 95%. Tahap analisis data yang dilakukan adalah 1) uji normalitas distribusi data untuk mengetahui normal tidaknya distribusi data dan menentukan analisis statistik parametrik atau nonparametrik tahap selanjutnya, 2) uji perbedaan kemampuan awal untuk mengetahui kemampuan awal terhadap kemampuan meregulasi diri pada kedua kelompok, 3) uji signifikansi pengaruh perlakuan, dan 4) uji besar pengaruh perlakuan. Selanjutnya dilakukan analisis lebih lanjut yang terdiri dari a) uji persentase peningkatan rerata pretest ke posttest I, b) uji besar efek peningkatan rerata pretest ke posttest I, c) uji korelasi antara rerata pretest dan posttest I, dan d) uji retensi pengaruh perlakuan. 4.1.4.1 Uji Perbedaan Kemampuan Awal Uji perbedaan kemampuan awal dilakukan untuk mengetahui apakah kelompok kontrol dan kelompok eksperimen memiliki kemampuan awal yang sama terhadap kemampuan meregulasi diri. Data yang digunakan adalah rerata skor pretest pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. 1. Uji Asumsi a. Uji Asumsi Normalitas Distribusi Data Uji normalitas distribusi data dilakukan untuk mengetahui normal atau tidaknya distribusi data, sehingga dapat ditentukan jenis statistik yang digunakan untuk menganalisis data tersebut (Field, 2009: 144). Data diuji menggunakan One Sample Kolmogorov Smirnov test. Data yang digunakan yaitu skor pretest. Kriteria yang digunakan untuk kesimpulan uji normalitas data yaitu sebagai berikut. Jika harga p > 0,05 maka distribusi data normal, sehingga uji statistik berikutnya menggunakan statistik parametrik misalnya dengan Independent samples t-test atau Paired samples t-test (Field, 2009: 326). Jika harga p < 0,05 maka distribusi data tidak normal, sehingga uji statistik berikutnya menggunakan statistik nonparametrik misalnya dengan Mann-Whitney atau Wilcoxon signed rank test 88

(108) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI (Field, 2009: 345). Berdasarkan kriteria tersebut, berikut hasil uji normalitas distribusi data kemampuan meregulasi diri (lihat Lampiran 4.3.2). Tabel 4.19 Hasil Uji Normalitas Distribusi Data p 0,200 0,200 Kelompok Kontrol Eksperimen Keputusan Normal Normal Tabel 4.17 menunjukkan harga p > 0,05 pada aspek pretest untuk kelompok kontrol dan eksperimen. Aspek tersebut menunjukkan distribusi data normal, sehingga analisis data selanjutnya menggunakan statistik parametrik. Statistik parametrik yang digunakan yaitu Independent samples t-test, untuk menganalisis data dari dua kelompok yang berbeda, misalnya kelompok kontrol dan kelompok eksperimen (Field, 2009: 326). b. Uji Homogenitas Varian Sebelum dilakukan uji perbedaan kemampuan awal, dilakukan uji asumsi untuk memeriksa homogenitas varian dengan Levene’s test. Jika harga p > 0,05 maka ada homogenitas varian pada kedua data yang dibandingkan. Jika harga p < 0,05 maka tidak ada homogenitas varian pada kedua data yang dibandingkan (Field, 2009: 150). Berikut ini adalah hasil uji asumsi homogenitas varian (lihat Lampiran 4.4.2). Tabel 4.20 Hasil Uji Homogenitas Varian Uji Statistik Levene’s Test for Equality of Variances F 1,308 df1 1 df2 44 p 0,259 Keputusan Homogen Levene’s test dengan tingkat kepercayaan 95% menunjukkan harga F = 1,308 dan harga p = 0,259. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat homogenitas varian pada kedua data yang dibandingkan. c. Uji Statistik Hasil uji asumsi menunjukkan bahwa terdapat homogenitas varian pada kedua data, maka data uji statistik Independent samples t-test yang diambil adalah data baris pertama pada output SPSS (Field, 2009: 340). Tingkat kepercayaan untuk melakukan uji perbedaan kemampuan awal adalah 95%. Kriteria yang digunakan untuk menolak Hnull adalah jika p < 0,05, maka ada perbedaan kemampuan awal 89

(109) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI yang signifikan antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen (Priyatno, 2012: 24). Berikut adalah hasil perbedaan kemampuan awal dari kelompok kontrol dan kelompok eksperimen (lihat Lampiran 4.5.2). Tabel 4.21 Hasil Uji Perbedan Kemampuan Awal Uji Statistik Independent samples t-test p 0,732 Keterangan Tidak ada perbedaan Rerata skor yang dicapai pada kelompok eksperimen (M = 2,73, SE = 0,12) lebih tinggi daripada rerata skor yang dicapai pada kelompok kontrol (M = 2,66, SE = 0,16). Perbedaan skor tersebut signifikan dengan t (44) = - 0,345, p = 0,732 (p > 0,05), maka Hnull diterima dan Hi ditolak. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan kemampuan awal pada kedua kelompok. Ancaman terhadap validitas internal berupa karakteristik subjek dapat dikendalikan dengan baik. 4.1.4.2 Uji Signifikansi Pengaruh Perlakuan Uji signifikansi pengaruh perlakuan dilakukan untuk mengetahui pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD terhadap kemampuan meregulasi diri. Uji signifikansi dapat dilakukan dengan menggunakan rumus (O2 – O1) – (O4 – O3) yaitu dengan mengurangkan rerata selisih skor posttest I – pretest pada kelompok eksperimen dengan rerata selisih skor posttest I – pretest pada kelompok kontrol (Cohen, Manion, & Morrison, 2007: 277). Jika hasilnya lebih besar dari 0, maka ada perbedaan. Jika hasilnya signifikan maka terdapat pengaruh perlakuan. Berikut perhitungannya (3,07 – 2,73) – (2,33 – 2,66) = 0,34 – (-0,33) = 0,34 + 0,33 = 0,67. Dari perhitungan menggunakan rumus tersebut didapatkan hasil yaitu 0,67 yang menunjukkan bahwa hasil tersebut lebih dari 0, sehingga terdapat perbedaan. Untuk mengetahui apakah pengaruhnya signifikan atau tidak maka dilakukan uji statistik yaitu dengan cara menghitung selisih antara skor posttest I dan pretest dalam kemampuan meregulasi diri pada kedua kelompok. Selisih tersebut kemudian diuji normalitasnya menggunakan One Sample KolmogorovSmirnov test. 90

(110) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 1. Uji Asumsi a. Uji Asumsi Normalitas Distribusi Data Uji normalitas distribusi data dilakukan untuk mengetahui normal atau tidaknya distribusi data, sehingga dapat ditentukan jenis statistik yang digunakan untuk menganalisis data tersebut (Field, 2009: 144). Data diuji menggunakan One Sample Kolmogorov Smirnov test. Data yang digunakan yaitu skor posttest I dan selisih pretest-posttest I. Kriteria yang digunakan untuk kesimpulan uji normalitas data yaitu sebagai berikut. Jika harga p > 0,05 maka distribusi data normal, sehingga uji statistik berikutnya menggunakan statistik parametrik misalnya dengan Independent samples t-test atau Paired samples t-test (Field, 2009: 326). Jika harga p < 0,05 maka distribusi data tidak normal, sehingga uji statistik berikutnya menggunakan statistik nonparametrik misalnya dengan Mann-Whitney atau Wilcoxon signed rank test (Field, 2009: 345). Berdasarkan kriteria tersebut, berikut hasil uji normalitas distribusi data selisih skor pretest – posttest I kemampuan meregulasi diri (lihat Lampiran 4.3.2). Tabel 4.22 Hasil Uji Normalitas Distribusi Data Selisih Skor Pretest – Posttest I Kelompok Kontrol Eksperimen p 0,116 0,200 Keputusan Normal Normal Tabel 4.20 menunjukkan harga p > 0,05 pada aspek selisih skor pretest – posttest I untuk kelompok kontrol dan eksperimen. Aspek tersebut menunjukkan distribusi data normal, maka dilakukan uji asumsi selanjutnya dengan Levene’s test untuk mengetahui homogenitas varian. b. Uji Homogenitas Varian Berdasarkan uji asumsi normalitas distribusi data, selisih skor pretest – posttest I untuk kelompok kontrol dan eksperimen menunjukkan berdistribusi data normal. Langkah selanjutnya dilakukan uji asumsi untuk memeriksa homogenitas varian dengan Levene’s test. Jika harga p > 0,05 maka ada homogenitas varian pada kedua data yang dibandingkan. Jika harga p < 0,05 maka tidak ada homogenitas varian pada kedua data yang dibandingkan (Field, 2009: 150). Berikut ini adalah hasil uji asumsi homogenitas varian selisih pretest-posttest I (lihat Lampiran 4.6.2). 91

(111) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Tabel 4.23 Hasil Uji Homogenitas Varian Selisih Pretest-Posttest I Uji Statistik Levene’s Test for Equality of Variances F 0,044 df1 1 df2 44 p 0,835 Keputusan Homogen Levene’s test dengan tingkat kepercayaan 95% menunjukkan harga F = 0,044 dan harga p = 0,835. Data tersebut menunjukkan bahwa terdapat homogenitas varian data, karena harga Sig. Levene’s test > 0,05. c. Uji Statistik Hasil uji asumsi menunjukkan bahwa terdapat homogenitas varian pada kedua data, maka data uji statistik Independent samples t-test yang diambil adalah data baris pertama pada output SPSS (Field, 2009: 340). Tingkat kepercayaan untuk melakukan uji perbedaan kemampuan awal adalah 95%. Kriteria yang digunakan untuk menolak Hnull adalah jika p < 0,05 (Priyatno, 2012: 24). Berikut adalah hasil uji signifikansi pengaruh perlakuan (lihat Lampiran 4.7.2). Tabel 4.24 Hasil Uji Signifikansi Pengaruh Perlakuan Uji Statistik Independent samples t-test p 0,009 Keterangan Signifikan Rerata skor yang dicapai pada kelompok eksperimen (M = 0,33 SE = 0,16) lebih tinggi daripada rerata skor yang dicapai pada kelompok kontrol (M = -0,33, SE = 0,18). Perbedaan skor tersebut signifikan dengan t (44) = -2,735 p = 0,009 (p < 0,05), maka Hnull ditolak dan Hi diterima. Hal ini menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara rerata selisih skor pretest – posttest I pada kelompok kontrol dan eksperimen. Dengan kata lain, penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD berpengaruh terhadap kemampuan meregulasi diri. Berikut adalah grafik hasil perbandingan rerata selisih skor pretest ke posttest I kemampuan meregulasi diri pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. 92

(112) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3,5 3 Mean 2,5 3,07 2,7367 2,3327 2,6668 2 1,5 1 0,5 0 Pretest Kontrol Posttest I Eksperimen Grafik 4.6 Signifikansi Pengaruh Perlakuan Grafik tersebut menunjukkan bahwa terdapat perbedaan peningkatan skor pada kedua kelompok. Skor pretest kelompok eksperimen lebih tinggi daripada kelompok kontrol. Setelah kedua kelompok menerima pembelajaran diketahui kelompok eksperimen memperoleh skor posttest I sebesar 3,07 sedangkan pada kelompok kontrol sebesar 2,33. Mean pada kelompok eksperimen sebesar 0,3333 lebih tinggi daripada kelompok sebesar -0,3332. Berikut grafik hasil perbandingan selisih skor pretest – posttest I antara kedua kelompok. Grafik 4.7 Perbandingan Rerata Selisih Skor Pretest – Posttest I 93

(113) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.1.4.3 Uji Besar Pengaruh Perlakuan Uji besar pengaruh perlakuan (effect size) dilakukan untuk mengetahui besar pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD terhadap kemampuan meregulasi diri. Data terdistribusi dengan normal, sehingga menggunakan rumus koefisien Pearson (Field, 2009: 57). Independent samples ttest digunakan untuk mengambil r dalam melakukan uji besar pengaruh perlakuan. Persentase pengaruh perlakuan diperoleh dengan menghitung koefisien determinasi (R2). Menghitung koefisien determinasi dilakukan dengan cara mengkuadratkan harga r (harga koefisien korelasi Pearson yang didapat) kemudian dikalikan 100% (Field, 2009: 179). Berikut hasil perhitungan besar pengaruh perlakuan pada kemampuan meregulasi diri (lihat Lampiran 4.8 ). Tabel 4.25 Hasil Uji Besar Pengaruh Perlakuan Variabel Meregulasi diri t -2,735 t2 7,48 df 44 r (effect size) 0,38 R2 0,1444 % 14,44% Kategori Efek Menengah Tabel hasil uji effect size menunjukkan persentase pada kemampuan meregulasi diri. Besar pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD terhadap kemampuan meregulasi diri adalah r = 0,38 atau 14,44% atau menengah. 4.1.4.4 Analisis Lebih Lanjut 1. Persentase Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I a. Persentase Peningkatan Perhitungan persentase peningkatan rerata pretest - posttest I dilakukan untuk mengetahui peningkatan rerata pretest - posttest I kelompok kontrol dan kelompok eksperimen terhadap kemampuan meregulasi diri. Selanjutnya, dilakukan uji signifikansi peningkatan skor pretest - posttest I. Sebelum dilakukan uji signifikansi, maka dilakukan uji normalitas data pada skor pretest dan posttest I untuk mengetahui data terdistribusi normal atau tidak menggunakan One Sample Kolmogorov-Smirnov test. Data yang digunakan yaitu skor pretest dan posttest I. Kriteria yang digunakan untuk kesimpulan uji normalitas data yaitu sebagai berikut. Jika harga p > 0,05 maka distribusi data berdistribusi normal. Berikut hasil uji 94

(114) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI normalitas data skor pretest dan posttest I pada kemampuan meregulasi diri kelompok kontrol dan kelompok eksperimen (lihat Lampiran 4.3.2). Tabel 4.26 Hasil Uji Normalitas Distribusi Data Skor Pretest dan Posttest I Kelompok Kontrol p 0,200 0,061 0,200 0,059 Aspek Pretest Posttest I Pretest Posttest I Eksperimen Keputusan Normal Normal Normal Normal Tabel 4.26 menunjukkan bahwa harga p > 0,05 pada aspek pretest dan posttest I untuk kelompok kontrol dan eksperimen. Aspek tersebut menunjukkan distribusi data normal, maka uji peningkatan skor pretest ke posttest I dilakukan dengan Paired Samples t-test untuk kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Kriteria untuk menolak Hnull adalah jika harga p < 0,05, maka ada perbedaan skor yang signifikan dari pretest ke posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen (Field, 2009: 53). Untuk mengetahui persentase peningkatan rerata pretest ke posttest I dihitung dengan cara membagi selisih pretest – posttest I dengan pretest, kemudian dikalikan 100%. Berikut hasil perhitungan persentase peningkatan rerata pretest ke posttest I (lihat Lampiran 4.91 dan 4.9.2.2). Tabel 4.27 Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I No Kelompok 1 Kontrol 2 Eksperimen Rerata Pretest Posttest I 2,66 2,33 2,73 3,07 Peningkatan % Uji Statistik p Keputusan -12,40 Paired Samples t-test Paired Samples t-test 0,081 Tidak signifikan 0,052 Tidak signifikan 12,45 Hasil analisis menunjukkan rerata pretest dan posttest I pada kelompok kontrol sebesar 2,66 dan 2,33. Persentase peningkatannya sebesar -12,40%. Rerata pretest dan posttest I pada kelompok eksperimen sebesar 2,73 dan 3,07. Persentase peningkatannya sebesar 12,45%. Persentase peningkatan pada kelompok eksperimen lebih tinggi daripada kelompok kontrol. Dengan demikian, penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD meningkatkan kemampuan meregulasi diri lebih besar daripada metode ceramah. Berikut grafik peningkatan pretest ke posttest I pada kedua kelompok terhadap kemampuan meregulasi diri. 95

(115) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3,5 3 Mean 2,5 3,07 2,73 2,66 2,33 2 1,5 1 0,5 0 Kontrol Pretest Eksperimen Posttest I Grafik 4.8 Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I Tabel 4.27 dan grafik 4.8 menunjukkan bahwa pada kelompok kontrol mengalami penurunan rerata skor antara pretest ke posttest I dengan M = -0,33; SD = 0,85; SE = 0,18; df = 21 dan harga p = 0,081 (p > 0,05), maka Hnull diterima dan Hi ditolak. Dengan demikian, tidak ada perbedaan yang signifikan dari pretest ke posttest I pada kelompok kontrol. Nilai rerata pretest pada kelompok kontrol sebesar 2,66 dan nilai rerata posttest I sebesar 2,33. Persentase peningkatan pretest ke posttest I kelompok kontrol yaitu -12,40%. Pada kelompok eksperimen mengalami peningkatan skor antara pretest ke posttest I dengan M = 0,33; SD = 0,79; SE = 0,16; df = 23 dan harga p = 0,052 (p > 0,05), maka Hnull diterima dan Hi ditolak. Dengan demikian, tidak ada perbedaan yang signifikan dari pretest ke posttest I pada kelompok eksperimen . Hal ini dapat dilihat dari nilai rerata pretest sebesar 2,73 dan nilai rerata posttest I sebesar 3,07. Persentase peningkatan pretest ke posttest I kelompok eksperimen yaitu 12,45%. Persentase peningkatan skor pretest ke posttest I dapat dilihat lebih jelas melaui gambar 4.2 menggunakan grafik poligon untuk melihat perbedaan selisih skor pretest – posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Berikut grafik yang menunjukkan frekuensi selisih skor pretest – posttest I (gain score) pada kedua kelompok (lihat Lampiran 4.9.3.3). 96

(116) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Grafik 4.9 Gain Score Berdasarkan grafik di atas, gain terendah pada kelompok kontrol sebesar 2,33, sedangkan pada kelompok eksperimen sebesar -1,00. Gain tertinggi pada kelompok kontrol sebesar 1,33, sedangkan pada kelompok eksperimen sebesar 1,67. Nilai tengah dari gain score diperoleh dari 50% skor selisih tertinggi dikurangkan skor selisih terendah. Gain score diperoleh 0,00. Frekuensi siswa yang memperoleh nilai ≥ 0,00 pada kelompok kontrol 9 siswa, sedangkan pada kelompok eksperimen ada 16 siswa. Besar persentase gain score ≥ 0,00 pada kelompok kontrol 40%, sedangkan 67% pada kelompok eksperimen. Hal tersebut menunjukkan bahawa 67% siswa kelompok eksperimen diuntungkan dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD, sedangkan 40% siswa kelompok kontrol diuntungkan dengan penerapan metode ceramah. Maka penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD memiliki persentase peningkatan lebih besar daripada penerapan metode ceramah. b. Uji Besar Efek Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I Uji besar efek peningkatan rerata pretest ke posttest I dilakukan untuk mengetahui peningkatan skor yang signifikan dari pretest ke posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Uji statistik pada kedua kelompok menggunakan Paired Samples t-test karena data berdistribusi normal (Field, 2009: 97

(117) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 325). Kriteria untuk menolak Hnull adalah jika harga p < 0,05, maka ada perbedaan skor yang signifikan dari pretest ke posttest I (Field, 2009: 53). Berikut hasil perhitungan persentase peningkatan rerata pretest ke posttest I terhadap kemampuan meregulasi diri (lihat Lampiran 4.10.2.1). Tabel 4.28 Hasil Uji Besar Pengaruh Peningkatan Kelompok Kontrol Eksperimen t t2 df r (effect size) R2 % -1,834 2,048 3,36 4,19 21 23 0,37 0,39 0,1369 0,1521 13,69 15,21 Kategori Efek Menengah Menengah Hasil analisis menunjukkan bahwa setelah posttest I, kemampuan kelompok kontrol berbeda secara signifikan dengan kelompok eksperimen. Hasil uji statistik pada kelompok kontrol M = -0,33 ; SD = 0,85 ; SE = 0,18; df = 21 dan p = 0,81 (p > 0,05), maka Hnull diterima, artinya tidak ada perbedaan skor yang signifikan dari pretest ke posttest I. Dengan kata lain, pada kelompok kontrol tidak terjadi peningkatan skor dari pretest ke posttest I. Hasil uji kelompok eksperimen M = 0,33; SD = 0,79 ; SE = 0,16 ; df = 23 dan p = 0,52 (p < 0,05), maka Hnull diterima, artinya tidak ada perbedaan skor yang signifikan dari pretest ke posttest I. Dengan demikian, pada kelompok eksperimen tidak terjadi peningkatan skor dari pretest ke posttest I secara signifikan. Meski demikian, persentase besar pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD lebih besar daripada metode ceramah. Besar pengaruh model pembelajaran pada kelompok kontrol r = 0,37 setara dengan 13,69% yang termasuk kategori efek menengah dan pada kelompok eksperimen r = 0,39 setara dengan 15,21% yang termasuk kategori efek menengah. 2. Uji Korelasi antara Rerata Pretest dan Posttest I Uji korelasi dilakukan untuk mengetahui korelasi antara rerata pretest dan posttest I positif atau negatif. Jika hasil menunjukkan positif berarti semakin tinggi skor pretest, maka semakin tinggi pula skor pretest I. Signifikan berarti hasil skor korelasi tersebut dapat digeneralisasikan pada populasi. Selain itu, uji korelasi untuk memastikan kontrol terhadap ancaman validitas internal penelitian regresi statistik. Regresi statistik terjadi jika korelasinya negatif dan signifikan, artinya siswa mendapat skor pretest tinggi dan juga mendapat skor posttest yang lebih rendah. Sedangkan siswa yang mendapat skor pretest rendah akan mendapat skor 98

(118) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI posttest lebih tinggi. Data yang digunakan adalah skor rerata pretest dan skor rerata posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Dalam uji korelasi, data yang digunakan terdistribusi normal, sehingga menggunakan rumus Pearson Correlation dengan tingkat kepercayaan yang digunakan adalah 95% (Field, 2009: 179). Kriteria yang digunakan untuk menolak Hnull adalah jika harga p < 0,05 (Priyatno, 2012: 45). Berikut hasil uji korelasi rerata pretest dan posttest I terhadap kemampuan meregulasi diri (lihat Lampiran 4.11.2.1). Tabel 4.29 Hasil Uji Korelasi Rerata Skor Pretest ke Posttest I Kelompok Kontrol Eksperimen Pearson Correlation 0,332 0,072 p 0,131 0,739 Keterangan Positif dan tidak signifikan Positif dan tidak signifikan Tabel 4.29 menunjukkan bahwa pada kelompok kontrol harga r sebesar 0,332, sedangkan pada kelompok eksperimen harga r sebesar 0,072, artinya kedua kelompok memiliki korelasi yang positif antara pretest dan posttest I. Korelasi positif artinya semakin tinggi skor pretest maka semakin tinggi pula skor posttest I. Hasil uji korelasi rerata pretest dan posttest I pada kelompok kontrol harga p = 0,131 (p > 0,05), sedangkan pada kelompok eksperimen harga p = 0,739 (p > 0,05), artinya pada kedua kelompok Hnull diterima dan Hi ditolak, maka pada kedua kelompok memiliki korelasi yang tidak signifikan antara hasil pretest dan posttest I. Dengan demikian, ancaman validitas internal yaitu regresi statistik dapat dikendalikan dalam penelitian ini. Ancaman validitas ini tidak terkendali jika hasil menunjukkan korelasi negatif dan signifikan. 3. Uji Retensi Pengaruh Perlakuan Uji retensi pengaruh perlakuan dilakukan untuk mengetahui efek perlakuan yang diberikan setelah beberapa waktu. Uji retensi pengaruh perlakuan dilakukan dengan menggunakan posttest II di mana soal yang dikerjakan sama dengan pretest dan posttest I. Sebelum dilakukan uji retensi pengaruh perlakuan pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen, maka perlu diketahui terlebih dahulu distribusi data skor posttest I dan posttest II menggunakan One Sample Kolmogorov-Smirnov test. Kriteria yang digunakan untuk kesimpulan uji normalitas data yaitu sebagai berikut. Jika harga p > 0,05 maka distribusi data normal. Berikut hasil uji normalitas 99

(119) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI data selisih skor posttest I dan posttest II kelompok kontrol dan kelompok eksperimen (lihat Lampiran 4.3.2). Tabel 4.30 Hasil Uji Normalitas Distribusi Data Selisih Skor Posttest I dan Posttest II Kelompok Kontrol Eksperimen p 0,061 0,200 0,059 0,062 Aspek Posttest I Posttest II Posttest I Posttest II Keputusan Normal Normal Normal Normal Tabel 4.30 menunjukkan bahawa harga p > 0,05 pada skor posttest I dan posttest II kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Artinya, keempat data tersebut memiliki distribusi data normal, sehingga uji retensi pengaruh perlakuan dilakukan dengan menggunakan Paired Samples t-test. Data yang digunakan yaitu skor posttest II. Posttest II dilakukan kurang lebih satu minggu setelah dilakukan posttest I, di mana soal yang dikerjakan sama dengan pretest dan posttest I. Kriteria untuk menolak Hnull adalah jika harga p < 0,05, maka ada perbedaan skor yang signifikan dari posttest I ke posttest II (Field, 2009: 53). Berikut hasil uji retensi pengaruh perlakuan terhadap kemampuan meregulasi diri (lihat Lampiran 4.12.2.1 dan 4.12.2.2). Tabel 4.31 Hasil Uji Retensi Pengaruh Perlakuan Posttest I ke Posttest II No Kelompok 1 Kontrol 2 Eksperimen Rerata Posttest I Posttest II 2,33 2,30 3,07 2,80 Peningkatan (%) -1,28 -8,79 Uji statistik Paired Samples t-test Paired Samples t-test p 0,794 0,058 Keterangan Penurunan tidak signifikan Penurunan tidak signifikan Hasil analisis menunjukkan bahwa pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen tidak mengalami penurunan skor yang signifikan. Hal tersebut dapat dilihat pada kelompok kontrol dengan M = -0,03; SD = 0,53; SE = 0,11; df = 21 dan p = 0,794 (p > 0,05), maka Hnull diterima artinya tidak ada perbedaan skor yang signifikan dari posttest I ke posttest II. Dengan kata lain, pada kelompok kontrol tidak terjadi penurunan skor dari posttest I dan posttest II. Pada kelompok eksperimen M = -0,26; SD = 0,65; SE = 0,13; df = 23 dan p = 0,058 (p > 0,05), maka Hnull diterima artinya tidak ada perbedaan skor yang signifikan dari posttest I 100

(120) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ke posttest II. Dengan kata lain, pada kelompok eksperimen tidak terjadi penurunan skor dari posttest I dan posttest II. Persentase peningkatan pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen tidak menunjukkan terjadinya peningkatan skor dari posttest I ke posttest II. Hal tersebut dapat dilihat pada hasil perhitungan bahwa peningkatan skor pada kelompok kontrol sebesar -1,28% dan -8,79% pada kelompok eksperimen. Berikut grafik perbandingan skor pada kedua kelompok terhadap kemampuan meregulasi diri. Grafik 4.10 Perbandingan Skor Pretest, Posttest I, dan Posttest II Untuk memastikan pencapaian skor pada posttest II berbeda dengan pretest, maka dilakukan analisis terhadap perbedaan skor posttest II dan pretest. Uji statistik pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen menggunakan Paired Samples ttest karena data skor pretest dan posttest II berdistribusi normal. Tingkat kepercayaan yang digunakan adalah 95%. Jika harga p < 0,05, maka Hnull ditolak dan Hi diterima atau dapat dikatakan ada perbedaan skor yang signifikan. Berikut tabel hasil uji perbandingan skor pretest dan posttest II (lihat Lampiran 4.12.2.3). Tabel 4.32 Hasil Uji Retensi Pengaruh Perlakuan Pretest ke Posttest II No Kelompok 1 Kontrol 2,66 2 Eksperimen 2,73 Uji statistik p 2,30 Paired Samples t-test 0,039 2,80 Paired Samples t-test 0,552 Rerata Pretest Posttest II Keterangan Penurunan signifikan Penurunan tidak signifikan 101

(121) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Hasil analisis menunjukkan bahwa pada kelompok kontrol M = - 0,36; SD = 0,77; SE = 0,16; df = 21 dan p = 0,039 (p < 0,05), maka Hnull ditolak artinya ada perbedaan skor yang signifikan dari pretest ke posttest II. Dengan kata lain, pada kelompok kontrol mengalami perubahan skor dari pretest ke posttest II. Pada kelompok eksperimen M = 0,06; SD = 0,55; SE = 0,11; df = 23 dan p = 0,552 (p > 0,05), maka Hnull diterima artinya tidak ada perbedaan skor yang signifikan dari pretest ke posttest II. Dengan kata lain, pada kelompok eksperimen tidak mengalami perubahan skor dari pretest ke posttest II. 4.2 Pembahasan 4.2.1 Analisis terhadap Ancaman Validitas Internal Dalam penelitian kuantitatif validitas internal mengacu pada pengertian apakah sebuah efek yang muncul pada variabel dependen itu sungguh disebabkan oleh variabel independen, dan bukan disebabkan oleh faktor-faktor lain di luar variabel independen. Validitas internal penelitian dapat ditingkatkan dengan mengontrol faktor-faktor di luar variabel independen yang potensial ikut mempengaruhi variabel dependen. Tujuan mengontrol variabel tersebut adalah untuk menghilangkan bias yang kemungkinan muncul karena pengaruh variabel di luar yang diteliti. Faktor-faktor ini yang sering disebut sebagai ancaman terhadap validitas internal penelitian. Ancaman ini terjadi lebih besar pada penelitian quasi experimental dibandingkan dengan eksperimental murni. Hal ini dikarenakan, pada eksperimental murni pemilihan sampel dilakukan secara random dan lebih terkontrol. Berikut 11 ancaman validitas internal pada penelitian ini. Tabel 4.33 Ancaman dalam Penelitian No 1 Ancaman Validitas Sejarah Tingkat Ancaman Rendah Terkendali Ya/Tidak Ya 2 Difusi treatment Rendahmenengah Ya 3 Perilaku kompensatoris Rendahmenengah Tidak Keterangan - Penelitian dilakukan dalam waktu yang singkat (dua minggu). - Tidak ada komunikasi tentang STAD ke kelompok kontrol secara sistematis. - Kelompok kontrol tidak diberi treatment STAD sesudah penelitian selesai. 102

(122) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI No 4 Ancaman Validitas Maturasi Tingkat Ancaman Rendah Terkendali Ya/Tidak Ya 5 Regresi statistik Rendah Ya 6 Mortalitas Rendah Ya 7 Pengujian Rendah Ya 8 Instrumentasi Rendahmenengah-tinggi Ya 9 Lokasi Menengah-tinggi Ya 10 Karakteristik subjek Menengah-tinggi Ya 11 Implementasi Tinggi Ya Keterangan - Penelitian dilaksanakan dalam waktu singkat atau selama 2 minggu. - Penggunaan pretest dan posttest yang sama untuk kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. - Hasil uji korelasi pretest dan posttest I positif, tetapi tidak signifikan. - Penelitian dilaksanakan dalam waktu singkat atau selama 2 minggu. - Semua siswa hadir saat pretest dan posttest pada kelompok kontrol dan eksperimen. - Kelompok kontrol dan kelompok eksperimen samasama diberi pretest. - Memeriksa kelayakan instrumen - Menggunakan instrumen yang sama saat pretest dan posttest. - Lingkungan dan kondisi ruang kelas kelompok kontrol dan kelompok eksperimen kurang lebih sama. - Kedua kelompok memiliki kemampuan awal yang sama. - Pembelajaran diimplementasikan oleh guru yang sama untuk kelompok kontrol dan eksperimen. Berdasarkan tabel 4.33 menunjukkan ancaman yang dapat dikendalikan pada penelitian ini adalah sejarah, difusi treatment, maturasi, regresi statistik, mortalitas, pengujian, instrumentasi, lokasi, karakteristik subjek, dan implementasi. Ancaman validitas internal yang tidak dapat dikendalikan yaitu perilaku kompensatoris dengan tingkat ancaman rendah-menengah. Perilaku kompensatoris tidak dapat dikendalikan, karena kelompok kontrol tidak diberi treatment STAD sesudah penelitian selesai. Ancaman tersebut tidak berdampak secara praktis terhadap kredibilitas kesimpulan yang diambil. Dengan demikian, 10 dari 11 ancaman validitas internal dapat dikendalikan dengan baik dan tidak ada temuan 103

(123) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI data yang menunjukkan ancaman yang berdampak sistemik. Maka, kredibilitas penelitian terjamin. Berikut penjelasan ancaman terhadap validitas internal penelitian dan cara pengendaliannya. Penelitian ini dilaksanakan di lokasi yang sama yaitu di salah satu SD swasta yang terdapat di Yogyakarta. Selama penelitian baik kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol menggunakan kelas seperti biasa. Kelompok eksperimen menempati kelas VA, sedangkan kelompok kontrol menempati kelas VB. Meskipun ruangan kelas yang digunakan berbeda, tetapi untuk ukuran kelas, kondisi, sarana dan prasarana kedua kelas sama. Dengan demikian, ancaman validitas internal berupa lokasi dapat dikendalikan dalam penelitian ini. Penentuan kelompok kontrol dan kelompok eksperimen ditentukan dengan cara penarikan undian berupa pelemparan koin yang disaksikan oleh guru mitra. Guru mitra dalam penelitian ini adalah guru kelas V A. Berdasarkan pengundian yang telah dilakukan, maka didapatkan hasil bahwa kelas V B sebagai kelompok kontrol dengan jumlah 22 siswa, sedangkan kelas V A sebagai kelompok eksperimen dengan jumlah 24 siswa. Pembelajaran pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dilakukan oleh guru yang sama. Penggunaan guru yang sama ini bertujuan untuk mengendalikan ancaman validitas internal berupa implementasi. Perbedaan guru akan memiliki gaya mengajar yang berbeda pula, sehingga dapat berpengaruh terhadap hasil posttest. Alat pengumpulan data atau instrumen yang digunakan pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol pun sama dari pretest hingga posttest II. Instrumen ini diperiksa kelayakannya terlebih dahulu sebelum digunakan. Hal ini bertujuan untuk menghindari adanya ancaman validitas internal berupa instrumentasi. Penggunaan soal yang sama dari pretest hingga posttest II ternyata juga mengakibatkan siswa merasa bosan saat mengerjakan soal. Meskipun begitu, ancaman validitas internal berupa instrumentasi dapat dikendalikan dalam penelitian ini. Pretest hingga posttest II dilaksanakan pada hari yang sama, tetapi pada jam yang berbeda. Semua siswa pada kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen hadir mulai dari pretest hingga posttest II. Dengan demikian, ancaman validitas internal berupa mortalitas dapat dikendalikan dalam penelitian ini. 104

(124) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Pretest dilakukan untuk mengetahui kemampuan awal dimiliki oleh kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa ternyata kelompok kontrol dan kelompok eksperimen memiliki kemampuan awal yang sama. Dengan demikian, ancaman validitas internal berupa karakteristik subjek dapat dikendalikan dalam penelitian ini. Ancaman validitas internal berupa pengujian pun dapat dikendalikan pada penelitian ini, karena kelompok ekperimen dan kelompok kontrol sama-sama diberi pretest. Penelitian ini dilakukan dalam waktu yang singkat atau kurang lebih selama dua minggu untuk mengendalikan ancaman validitas internal berupa sejarah, maturasi, dan mortalitas. Hal ini dimaksudkan agar siswa tidak mengalami kebosanan dalam belajar dan untuk menghindari terjadi kegiatan yang menggunakan materi sama dengan treatment. Hasil uji korelasi pretest dan posttest I pada penelitian ini menunjukkan harga yang positif, tetapi tidak signifikan. Meskipun tidak signifikan, tetapi ancaman validitas internal berupa regresi statistik dapat dikendalikan. Ancaman validitas ini tidak terkendali jika hasil menunjukkan korelasi negatif dan signifikan. Ancaman validitas internal yang berhasil dikendalikan selanjutnya adalah difusi treatment. Komunikasi berkaitan dengan treatment penelitian mungkin saja dapat terjadi pada siswa di dalam maupun di luar sekolah tanpa sepengetahuan peneliti. Komunikasi ini dapat berupa saling mempelajari model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Meskipun demikian, peneliti memberikan pengertian usai pembelajaran kepada kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen agar tidak saling mempelajari treatment setiap kelompok. Ancaman validitas internal yang tidak dapat dikendalikan pada penelitian ini adalah berupa perilaku kompensatoris. Peneliti tidak mengetahui kondisi siswa khususnya kelompok kontrol yang mengalami demoralisasi seperti rasa iri. Kondisi ini dapat mempengaruhi jalannya penelitian. Secara etika solusi dari hal ini adalah dengan memberikan pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD kepada kelompok kontrol setelah penelitian selesai. Akan tetapi, karena keterbatasan waktu maka tidak memungkinkan lagi untuk melakukan pembelajaran tersebut. 105

(125) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.2.2 Analisis Pengaruh Kemampuan Mengeksplanasi Hipotesis I pada penelitian ini adalah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD berpengaruh terhadap kemampuan mengeksplanasi pada materi sistem pernapasan hewan siswa kelas V salah satu SD swasta di Yogyakarta. Sebaran data posttest pada kemampuan mengeksplanasi menunjukkan bahwa siswa pada kelompok eksperimen mendapat skor yang lebih tinggi daripada kelompok kontrol. Indikator pertama, menjelaskan perlakuan manusia terhadap hewan, pada kelompok kontrol perolehan skor 1 dan skor 3 meningkat sebanyak 2 siswa. Pada kelompok eksperimen perolehan skor 3 meningkat sebanyak 7 siswa dan skor 4 sebanyak 5 siswa. Indikator kedua, memaparkan argumen mengenai perilaku hewan saat bernapas. Pada kelompok kontrol perolehan skor 1 dan skor 2 meningkat sebanyak 1 siswa, sedangkan perolehan skor 4 meningkat sebanyak 2 siswa. Pada kelompok eksperimen perolehan skor 3 meningkat sebanyak 1 siswa dan skor 4 sebanyak 6 siswa. Indikator ketiga, menjelaskan proses pernapasan pada hewan serangga. Pada kelompok kontrol peningkatan perolehan skor hanya pada skor 1 sebanyak 4 siswa. Pada kelompok eksperimen perolehan skor 3 meningkat sebanyak 2 siswa dan skor 4 meningkat sebanyak 3 siswa. Hasil analisis data menunjukkan bahwa kedua kelompok memiliki kemampuan awal yang sama dengan harga p = 0,550 (p > 0,05) artinya tidak ada perbedaan yang signifikan antara skor pretest pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Dengan demikian, kedua kelompok dapat dibandingkan dan ancaman validitas internal berupa karakteristik subjek dapat dapat dikendalikan dalam penelitian ini. Jika dalam pretest kedua kelompok memiliki kemampuan awal yang sama, bias yang mungkin terjadi dianggap tidak ada (Neuman, 2013: 238). Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD berpengaruh terhadap kemampuan mengeksplanasi dengan harga p = 0,002 (p < 0,05). Artinya ada perbedaan yang signifikan antara selisih skor pretest dan posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Maka model pembelajaran kooperatif tipe STAD berpengaruh terhadap kemampuan mengeksplanasi. 106

(126) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Besar pengaruh (effect size) yang diberi oleh model pembelajaran kooperatif tipe STAD terhadap kemampuan mengeksplanasi sebesar 18,49% atau dalam kategori menengah. Hal ini dibuktikan dengan hasil uji besar pengaruh perlakuan dengan r = 0,43 setara dengan 18,49%. Maka model pembelajaran kooperatif tipe STAD memberi pengaruh sebesar 18,49%, sedangkan 81,51% merupakan pengaruh dari variabel lain di luar variabel yang diteliti (Kasmadi & Sunariah, 2013: 151). Variabel lain dapat berasal dari yang mempengaruhi yaitu motivasi, konsentrasi, inteligensi, minat, dan kondisi tubuh. Perhitungan persentase peningkatan rerata selisih skor pretest ke posttest I pada kemampuan mengeksplanasi pada kelompok kontrol menunjukkan adanya perbedaan yang tidak signifikan. Sedangkan pada kelompok eksperimen menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan. Pada kelompok eksperimen terjadi peningkatan yang lebih besar daripada kelompok kontrol. Hal tersebut terlihat dari persentase peningkatan skor rerata pretest ke posttest I kelompok eksperimen sebesar 31,65%. Sedangkan peningkatan rerata pretest ke posttest I kelompok kontrol sebesar -6,31%. Persentase peningkatan rerata pretest ke posttest I kelompok kontrol tersebut negatif. Hal ini dikarenakan, rerata pretest lebih tinggi daripada rerata posttest I. Faktor yang menyebabkan rerata pretest lebih tinggi daripada rerata posttest I adalah kondisi siswa yang kurang baik, karena posttest I dilakukan setelah senam rutin hari Jumat. Hal ini tidak sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Piaget bahwa kegiatan siswa yang aktif dalam membangun pengetahuan, sehingga siswa akan menguasai materi lebih baik seperti mengungkapkan pemikirannya baik tulis maupun lisan (Suparno, 2001: 134-144). Selain hal tersebut, siswa di kelompok kontrol juga merasa bosan dengan soal yang dikerjakan, karena soal yang digunakan sama dengan pretest. Uji besar efek peningkatan rerata pretest ke posttest I menunjukkan bahwa peningkatan pada kelompok eksperimen lebih besar daripada kelompok kontrol. Persentase peningkatan skor pretest ke posttest I pada kelompok eksperimen memiliki harga r sebesar 0,66 atau setara dengan 43,56% (kategori besar). Sedangkan pada kelompok kontrol memiliki harga r sebesar 0,13 atau setara dengan 1,69% (kategori kecil). 107

(127) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Uji korelasi rerata pretest ke posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen memiliki korelasi positif dan tidak signifikan terhadap kemampuan mengeksplanasi. Pada kelompok eksperimen harga p = 0,106 (p > 0,05) berarti mengalami peningkatan yang tidak signifikan. Pada kelompok kontrol harga p = 0,766 (p > 0,05) berarti juga mengalami peningkatan yang tidak signifikan. Hasil Pearson Correlation pada kelompok eksperimen sebesar 0,338 dan kelompok kontrol sebesar 0,067. Hasil Pearson Correlation menunjukkan nilai positif pada kedua kelompok. Hal ini menunjukkan bahwa siswa yang mendapat rerata skor pretest rendah, pada posttest I mendapat rerata skor rendah. Sedangkan siswa yang mendapat rerata skor pretest tinggi, pada posttest I juga mendapat rerata skor tinggi. Setelah enam hari dari posttest I, kedua kelompok mengerjakan soal posttest II dengan soal yang sama. Tujuannya untuk mengetahui efek perlakuan yang diberikan setelah beberapa waktu. Hasil posttest I ke posttest II kemudian diuji statistik. Pada kelompok kontrol hasil uji retensi menunjukkan harga p = 0,086 (p > 0,05), artinya tidak ada perbedaan signifikan antara skor posttest I ke posttest II. Pada kelompok eksperimen harga p = 0,162 (p > 0,05), artinya tidak ada perbedaan signifikan antara skor posttest I ke posttest II. Dengan demikian, kedua kelompok tidak mengalami penurunan skor yang signifikan terhadap kemampuan mengeksplanasi. Persentase penurunan skor kelompok kontrol lebih besar yaitu 12,43% dan kelompok eksperimen yaitu -6,62%. Hasil uji retensi pengaruh perlakuan kedua kelompok menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara skor pretest dan posttest II. Hal ini ditunjukkan harga p pada kelompok kontrol sebesar 0,017 (p < 0,05) dan pada kelompok eksperimen sebesar 0,005 (p < 0,05). Hasil perhitungan gain score pada kemampuan mengekspalanasi diperoleh skor ≥ 0,33. Frekuensi siswa yang memperoleh skor ≥ 0,33, pada kelompok kontrol ada 8 siswa, sedangkan pada kelompok eksperimen ada 17 siswa. Besar persentase gain score ≥ 0,33 pada kelompok kontrol 36%, sedangkan 70% pada kelompok eksperimen. Hal tersebut menunjukkan bahwa 70% siswa kelompok eksperimen diuntungkan dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD, sedangkan 36% siswa kelompok kontrol diuntungkan dengan penerapan metode 108

(128) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ceramah. Dengan demikian, penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD memiliki persentase lebih besar daripada penerapan metode ceramah. 4.2.3 Analisis Pengaruh Kemampuan Meregulasi Diri Hipotesis II pada penelitian ini adalah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD berpengaruh terhadap kemampuan meregulasi diri pada materi sistem pernapasan hewan siswa kelas V salah satu SD swasta di Yogyakarta. Sebaran data posttest pada kemampuan meregulasi diri menunjukkan bahwa siswa pada kelompok eksperimen mendapat skor yang lebih tinggi daripada kelompok kontrol. Indikator pertama, menjelaskan perlakuan manusia terhadap hewan, pada kelompok kontrol perolehan skor 1 dan skor 2 meningkat sebanyak 2 siswa. Pada kelompok eksperimen perolehan skor 4 meningkat sebanyak 6 siswa. Indikator kedua, memaparkan argumen mengenai perilaku hewan saat bernapas. Pada kelompok kontrol perolehan skor 1 meningkat sebanyak 4 siswa, sedangkan perolehan skor 4 meningkat sebanyak 2 siswa. Pada kelompok eksperimen perolehan skor 3 meningkat sebanyak 1 siswa dan skor 4 sebanyak 5 siswa. Indikator ketiga, menjelaskan proses pernapasan pada hewan serangga. Pada kelompok kontrol peningkatan perolehan skor hanya pada skor 1 sebanyak 2 siswa dan skor 2 meningkat sebanyak 7 siswa. Pada kelompok eksperimen perolehan skor 2 meningkat sebanyak 8 siswa dan skor 4 meningkat sebanyak 6 siswa. Hasil analisis data menunjukkan bahwa kedua kelompok memiliki kemampuan awal yang sama dengan harga p = 0,732 (p > 0,05) artinya tidak ada perbedaan yang signifikan antara skor pretest pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Dengan demikian, kedua kelompok dapat dibandingkan dan ancaman validitas internal berupa karakteristik subjek dapat dapat dikendalikan dalam penelitian ini. Jika dalam pretest kedua kelompok memiliki kemampuan awal yang sama, bias yang mungkin terjadi dianggap tidak ada (Neuman, 2013: 238). Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD berpengaruh terhadap kemampuan meregulasi diri dengan harga p = 0,009 (p < 0,05). Artinya ada 109

(129) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI perbedaan yang signifikan antara selisih skor pretest dan posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Maka model pembelajaran kooperatif tipe STAD berpengaruh terhadap kemampuan meregulasi diri. Besar pengaruh (effect size) yang diberi oleh model pembelajaran kooperatif tipe STAD terhadap kemampuan meregulasi diri sebesar 14,44% atau dalam kategori menengah. Hal ini dibuktikan dengan hasil uji besar pengaruh perlakuan dengan r = 0,38 setara dengan 14,44%. Maka model pembelajaran kooperatif tipe STAD memberi pengaruh sebesar 14,44%, sedangkan 85,56% merupakan pengaruh dari variabel lain di luar variabel yang diteliti (Kasmadi & Sunariah, 2013: 151). Variabel lain dapat berasal dari yang mempengaruhi yaitu motivasi, konsentrasi, inteligensi, minat, dan kondisi tubuh. Perhitungan persentase peningkatan rerata selisih skor pretest ke posttest I pada kemampuan meregulasi diri pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen menunjukkan adanya perbedaan yang tidak signifikan. Pada kelompok eksperimen terjadi peningkatan yang lebih besar daripada kelompok kontrol. Hal tersebut terlihat dari persentase peningkatan skor rerata pretest ke posttest I kelompok eksperimen sebesar 12,45%. Sedangkan peningkatan rerata pretest ke posttest I kelompok kontrol sebesar -12,40%. Persentase peningkatan rerata pretest ke posttest I kelompok kontrol tersebut negatif. Hal ini dikarenakan, rerata pretest lebih tinggi daripada rerata posttest I. Faktor yang menyebabkan rerata pretest lebih tinggi daripada rerata posttest I adalah kondisi siswa yang kurang baik, karena posttest I dilakukan setelah senam rutin hari Jumat. Hal ini tidak sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Piaget bahwa kegiatan siswa yang aktif dalam membangun pengetahuan, sehingga siswa akan menguasai materi lebih baik seperti mengungkapkan pemikirannya baik tulis maupun lisan (Suparno, 2001: 134-144). Selain hal tersebut, siswa di kelompok kontrol juga merasa bosan dengan soal yang dikerjakan, karena soal yang digunakan sama dengan pretest. Uji besar efek peningkatan rerata pretest ke posttest I menunjukkan bahwa peningkatan pada kelompok eksperimen lebih besar daripada kelompok kontrol. Persentase peningkatan skor pretest ke posttest I pada kelompok eksperimen memiliki harga r sebesar 0,39 atau setara dengan 15,21% (kategori menengah). 110

(130) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Sedangkan pada kelompok kontrol memiliki harga r sebesar 0,37 atau setara dengan 13,69% (kategori menengah). Uji korelasi rerata pretest ke posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen memiliki korelasi positif dan tidak signifikan terhadap kemampuan meregulasi diri. Pada kelompok eksperimen harga p = 0,739 (p > 0,05) berarti mengalami peningkatan yang tidak signifikan. Pada kelompok kontrol harga p = 0,131 (p > 0,05) berarti juga mengalami peningkatan yang tidak signifikan. Hasil Pearson Correlation pada kelompok eksperimen sebesar 0,072 dan kelompok kontrol sebesar 0,332. Hasil Pearson Correlation menunjukkan nilai positif pada kedua kelompok. Hal ini menunjukkan bahwa siswa yang mendapat rerata skor pretest rendah, pada posttest I mendapat rerata skor rendah. Sedangkan siswa yang mendapat rerata skor pretest tinggi, pada posttest I juga mendapat rerata skor tinggi. Setelah enam hari dari posttest I, kedua kelompok mengerjakan soal posttest II dengan soal yang sama. Tujuannya untuk mengetahui efek perlakuan yang diberikan setelah beberapa waktu. Hasil posttest I ke posttest II kemudian diuji statistik. Pada kelompok kontrol hasil uji retensi menunjukkan harga p = 0,794 (p > 0,05), artinya tidak ada perbedaan signifikan antara skor posttest I ke posttest II. Pada kelompok eksperimen harga p = 0,058 (p > 0,05), artinya tidak ada perbedaan signifikan antara skor posttest I ke posttest II. Dengan demikian, kedua kelompok tidak mengalami penurunan skor yang signifikan terhadap kemampuan meregulasi diri. Persentase penurunan skor kelompok eksperimen lebih besar yaitu -8,79% dan kelompok kontrol yaitu -1,28%. Hasil uji retensi pengaruh perlakuan pada kelompok kontrol menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara skor pretest dan posttest II. Hal ini ditunjukkan harga p pada kelompok kontrol sebesar 0,039 (p < 0,05). Sedangkan pada kelompok eksperimen menunjukkan tidak ada perbedaan skor yang signifikan dari pretest dan posttest II. Hal ini ditunjukkan harga p pada kelompok eksperimen sebesar 0,552 (p > 0,05). Hasil perhitungan gain score pada kemampuan meregulasi diri diperoleh skor ≥ 0,00. Frekuensi siswa yang memperoleh skor ≥ 0,00, pada kelompok kontrol ada 9 siswa, sedangkan pada kelompok eksperimen ada 16 siswa. Besar persentase gain score ≥ 0,00 pada kelompok kontrol 40%, sedangkan 67% pada kelompok 111

(131) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI eksperimen. Hal tersebut menunjukkan bahwa 67% siswa kelompok eksperimen diuntungkan dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD, sedangkan 40% siswa kelompok kontrol diuntungkan dengan penerapan metode ceramah. Dengan demikian, penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD memiliki persentase lebih besar daripada penerapan metode ceramah. 4.2.4 Analisis Hasil Penelitian Terhadap Teori Penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD berpengaruh terhadap kemampuan mengeksplanasi dan kemampuan meregulasi diri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, selisih skor kelompok eksperimen yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD lebih tinggi daripada kelompok kontrol yang menggunakan metode ceramah. Maka, hal ini sesuai dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD yang merupakan salah satu model pembelajaran yang berguna untuk menumbuhkan kemampuan kerjasama, kreatif, dan berpikir kritis. Kemampuan berpikir kritis adalah kemampuan untuk berpikir secara reflektif dan produktif yang bertujuan untuk menghasilkan kesimpulan atau keputusan atas dasar tertentu. Menurut Facione (2010: 5), kemampuan berpikir kritis mencakup dua dimensi, yaitu dimensi kognitif dan disposisi afektif. Di mana, kemampuan mengeksplanasi dan kemampuan meregulasi diri merupakan dua dari enam kemampuan yang terdapat dalam dimensi kognitif. Hal tersebut juga sesuai dengan teori yang sudah ada yang mengatakan bahwa pengetahuan datang dari pengalaman dan interaksi anak (Piaget dalam Trianto, 2009: 29). Menurut tahapan perkembangan kognitif anak oleh Piaget, anak usia Sekolah Dasar masuk dalam tahap operasional konkret. Hal ini ditunjukkan dengan sudah berkembangnya kemampuan berpikir logis yang diterapkan dalam memecahkan persoalan-persoalan konkret yang dihadapi (Suparno, 2001: 70). Siswa mampu memecahkan persoalan berdasarkan yang dilihat, dirasakan, dialami, atau yang nyata. Tahap operasional konkret ini ditandai dengan adanya inteligensi yang sudah sangat maju, namun cara berpikirnya masih terbatas, sehingga diperlukan model pembelajaran yang sesuai dengan tahap perkembangannya. 112

(132) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Vygotsky sebagai tokoh pencetus teori konstruktivisme juga mengemukakan bahwa setiap individu berkembang dalam konteks sosial. Vygotsky berpendapat bahwa individu memiliki dua tingkat perkembangan yang berbeda yaitu tingkat perkembangan aktual dan tingkat perkembangan potensial. Tingkat perkembangan aktual yaitu tingkat keterampilan yang dicapai oleh anak yang bekerja secara independen. Tingkat perkembangan potensial yaitu tingkat yang dapat dicapai oleh anak dengan bantuan orang lain. Zona yang terletak di antara kedua tingkat tersebut dinamakan zona perkembangan proksimal (Zone of Proximal Development) (Santrock, 2014: 57). Pendukung zona perkembangan proksimal (Zone of Proximal Development) disebut perancah (scaffolding). Perancah (scaffolding) berarti memberikan kepada individu sejumlah besar bantuan selama bertahap-tahap awal pembelajaran dan kemudian mengurangi bantuan tersebut dan memberikan kesempatan kepada anak didik tersebut untuk mengambil alih tanggung jawab yang semakin besar, segera setelah mampu mengerjakan sendiri (Ratnawati, 2008: 57). Bantuan dapat berasal dari guru atau teman sebaya yang berupa dorongan, petunjuk, dan memberi contoh, sehingga memungkinkan siswa untuk tumbuh secara mandiri. Scaffolding ini dapat dilakukan dengan melibatkan aktivitas sosial atau kelompok sehingga mampu memberikan rangsangan sosial bagi anak. Berdasarkan teori yang telah dikemukakan di bab sebelumnya, siswa khususnya kelas V masih membutuhkan suatu perancah (scaffolding) untuk mendukung mereka dalam pembelajaran yang sarat akan makna. Pemilihan model pembelajaran yang tepat perlu dipertimbangkan guna memberikan dorongan belajar pada siswa. Model pembelajaran kooperatif merupakan salah satu solusi yang dapat diterapkan oleh guru untuk memberikan scaffolding terbaik pada siswa, karena dalam penerapan model pembelajaran ini siswa tidak hanya mendapatkan bantuan dari guru tetapi juga dapat belajar dari siswa lainnya. Dukungan teori Vygotsky terhadap model pembelajaran kooperatif adalah penekanan belajar sebagai proses dialog interaktif atau interaksi sosial (Suprijono, 2009: 56). Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran berbasis sosial. Pembelajaran kooperatif bukan sekedar belajar dalam kelompok. Terdapat unsurunsur dasar pembelajaran kooperatif yang membedakannya dengan pembagian 113

(133) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI kelompok biasa. Adapun unsur-unsur yang terdapat pada pembelajaran kooperatif yaitu, 1) saling ketergantungan positif, 2) tanggungjawab perseorangan, 3) interaksi promotif, 4) komunikasi antaranggota, 5) pemrosesan kelompok. Pelaksanaan model pembelajaran kooperatif secara tepat akan memungkinkan guru mengelola kelas lebih efektif (Suprijono, 2009: 58). Penelitian ini sejalan dengan penelitian-penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe STAD berbasis interaksi sosial berpengaruh terhadap hasil belajar IPS siswa kelas V Gugus 4 Widyasmara Klungkung tahun ajaran 2013/2014 (Wahyuni, Wiyasa, dan Putra, 2014). Pada penelitian yang dilakukan oleh Narzoles (2015) juga menunjukkan bahwa STAD, sebuah pendekatan pembelajaran kooperatif berpengaruh secara signifikan dalam meningkatkan prestasi akademik pelajar bahasa Inggris sebagai bahasa asing. Penelitian lain juga menunjukkan bahwa terdapat perbedaan motivasi belajar dan hasil belajar IPA yang signifikan antara siswa yang mengikuti model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional (Astrawan, Wayan, Marhaeni, dan Arnyana, 2013). Penelitian ini memiliki titik kesamaan dengan ketiga penelitian yang relevan tersebut. Kesamaan terletak pada model pembelajaran kooperatif tipe STAD yang mempengaruhi variabel dependen. Adapun hal yang membedakan terletak pada populasi penelitian yaitu seluruh siswa kelas V salah satu SD swasta di Yogyakarta dan materi pembelajaran mengenai sistem pernapasan hewan pada mata pelajaran IPA. Hasil survei yang dilakukan oleh PISA dalam bidang sains, membaca, pemecahan masalah dan matematika tahun 2012, menunjukkan bahwa Indonesia berada pada peringkat 64 dari 65 negara dengan hasil skor literasi IPA sebesar 382 (OECD, 2013: 5). Pada hasil PISA tahun 2015, Indonesia berada pada peringkat 62 dari 70 negara dengan hasil skor literasi IPA sebesar 403 (OECD, 2016: 5). Data tersebut menunjukkan adanya peningkatan hasil skor literasi IPA dari 382 menjadi 403, namun peringkat Indonesia masih berada di 10 besar terbawah dari 70 negara peserta PISA tahun 2015. Berdasarkan hasil PISA tersebut, menunjukkan bahwa para siswa di Indonesia mengalami kesulitan pada kemampuan berpikir tingkat tinggi yang melibatkan aspek kognitif karena soal-soal yang digunakan pada PISA memerlukan penalaran dan pemecahan masalah. Kesulitan tersebut dapat 114

(134) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI dipengaruhi oleh adanya proses pembelajaran yang kurang sesuai untuk mengembangkan kemampuan berpikir siswa. Oleh karena itu, diperlukan model pembelajaran yang dapat mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi. Salah satu model yang dapat menjadi solusi dari persoalan ini yaitu model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Model pembelajaran kooperatif tipe STAD ini menekankan pada adanya aktvitas dan interaksi di antara siswa untuk saling memotivasi dan saling membantu dalam menguasai materi pembelajaran guna mencapai prestasi yang maksimal (Slavin, dalam Isjoni, 2013: 74). 115

(135) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB V KESIMPULAN DAN SARAN Bab V merupakan bab penutup yang akan membahas mengenai kesimpulan, keterbatasan, dan saran. Kesimpulan menunjukkan hasil penelitian dan menjawab hipotesis penelitian. Keterbatasan penelitian berisi kekurangan yang ada selama pelaksaan penelitian dilaksanakan. Saran berisi masukkan dari peneliti untuk penelitian selanjutnya. 5.1 Kesimpulan 5.1.1 Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD pada mata pelajaran IPA berpengaruh terhadap kemampuan mengeksplanasi siswa kelas V SD. Hasil analisis terhadap data penelitian mengafirmasi hipotesis penelitian. Hasil uji signifikansi pengaruh perlakuan menggunakan statistik parametrik dengan Independent samples t-test menunjukkan skor rerata selisih kelompok eksperimen sebesar (M = 0,69, SE = 0,16) lebih tinggi daripada rerata skor yang dicapai pada kelompok kontrol (M = -0,12, SE = 0,19). Perbedaan skor tersebut signifikan dengan t (44) = -3,248 p = 0,002 (p < 0,05), maka Hnull ditolak dan Hi diterima. Hal ini menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara rerata selisih skor pretest – posttest I terhadap kemampuan mengeksplanasi. Besar pengaruh r = = 0,43 atau setara dengan 18,49% yang masuk kategori menengah. 5.1.2 Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD pada mata pelajaran IPA berpengaruh terhadap kemampuan meregulasi diri siswa kelas V SD. Hasil analisis terhadap data penelitian mengafirmasi hipotesis penelitian. Hasil uji signifikansi pengaruh perlakuan menggunakan statistik parametrik dengan Independent samples t-test menunjukkan skor rerata selisih kelompok eksperimen sebesar (M = 0,33 SE = 0,16) lebih tinggi daripada rerata skor yang dicapai pada kelompok kontrol (M = -0,33, SE = 0,18). Perbedaan skor tersebut signifikan dengan t (44) = -2,735 p = 0,009 (p < 0,05), maka Hnull ditolak dan Hi diterima. Hal ini menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara rerata selisih skor pretest – posttest I 116

(136) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI terhadap kemampuan meregulasi diri. Besar pengaruh r = = 0,38 atau setara dengan 14,44% yang masuk kategori menengah. 5.2 Keterbatasan Penelitian 5.2.1 Hasil penelitian tidak dapat digeneralisasikan ke semua sekolah, karena penelitian ini hanya terbatas pada siswa kelas V salah satu SD swasta di Yogyakarta. 5.2.2 Pengerjaan soal posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dilakukan setelah senam rutin hari Jumat, sehingga kondisi siswa kurang baik. 5.2.3 Pengerjaan soal posttest II pada kedua kelompok dilaksanakan pukul 11.50 WIB dengan kondisi siswa yang tidak kondusif dan siswa merasa bosan mengerjakan soal yang sama dari pretest, posttest I, dan posttest II. 5.3 Saran 5.3.1 Penelitian di salah satu SD swasta di Yogyakarta ini, dapat diujicobakan di Sekolah Dasar lain. 5.3.2 Peneliti sebaiknya melaksanakan posttest I tanpa ada kegiatan yang menguras konsentrasi dan energi siswa sebelumnya. 5.3.3 Peneliti sebaiknya melaksanakan posttest II saat pagi hari karena kondisi tubuh siswa masih segar dan konsentrasinya masih baik. 117

(137) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR PUSTAKA Ahmadi, R. (2014). Pengantar pendidikan. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media. Arikunto, S. (2005). Dasar-dasar evaluasi pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara. Astrawan, Wayan, Marhaeni, & Arnyana. (2013). Pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Division terhadap motivasi belajar dan hasil belajar IPA. e-Journal Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha Jurusan Pendidikan Dasar. Volume 3 Tahun 2013. Diakses pada tanggal 12 Maret 2018, dari https://media.neliti.com/media/publications/119561-ID-none.pdf Best, J. W. & Kahn, J. V. (2006). Research in education (tenth edition). Boston: Pearson Education Inc. Borg, W. R. & Gall, J. P. (2014). Educational research: An introduction (8th.ed). New York: Allyn and Bacon. Cohen, L., Manion, L., & Morrison, K. (2007). Research methods in education (6th ed.). London and New York: Routledge. Crain, W. (2007). Teori perkembangan konsep dan aplikasi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Creswell, J. (2015). Riset pendidikan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi riset kualitatif & kuantitatif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Desmita. (2007). Psikologi perkembangan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Desmita. (2009). Psikologi perkembangan peserta didik. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Dwiharini. (2014). Peningkatan keaktifan, kreativitas dan prestasi belajar melaui pembelajaran tematik dengan media bervariasi pada siswa SD. Jurnal Pendidikan Humaniora. Volume 2 Nomor 3 Pp 196-204. Emzir. (2009). Metodologi penelitian pendidikan: Kuantitatif dan kualitatif. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Facione, P. A. (1990). Critical thinking: A statement of expert consensus for purposes of educational assessment and instruction, the delphi report. Diakses tanggal 7 Maret 2018, dari www.insightassessment.com/pdf_files/DEXadobe.PDF Facione, P. A. (2010). Critical thinking: What it is and why it counts. San Francisco: Insight Assessment. Diakses tanggal 7 Maret 2018, dari www.insightassessment.com/pdf_files/what&why2006.pdf 118

(138) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Field, A. (2009). Discovering statistics using SPSS, third edition. Los Angeles: Sage. Fraenkel, J. R., Wallen, N. E., & Hyun, H. H. (2012). How to design and evaluate research in education (8th ed.). New York: McGraw Hill. Ghozali, I. (2009). Aplikasi analisis multivariate dengan program SPSS. Semarang: UNDIP. Isjoni. (2011). Pembelajaran kooperatif: Meningkatkan kecerdasan komunikasi antar peserta didik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Isjoni. (2013). Pembelajaran kooperatif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Johnson, B. & Christensen, L. (2008). Educational research: Quantitative, qualitative, and mixed approaches (3rd. ed.). California: Sage Publications. Juano & Pardjono. (2016). Pengaruh pembelajaran problem posing terhadap kemampuan berpikir kritis dan komunikasi matematis siswa kelas V SD. Jurnal Prima Edukasia. Volume 4 Nomor 1 Tahun 2016. Diakses pada tanggal 12 Maret 2018, dari https://www.researchgate.net Kasmadi & Sunariah, N. S. (2013). Panduan modern penelitian kuantitatif. Bandung: Alfabeta. Kemendikbud. (2017). Buku guru tema 2 kelas V: Udara bersih bagi kesehatan. Jakarta: Kemendikbud. Kemendikbud. (2017). Buku siswa tema 2 kelas V: Udara bersih bagi kesehatan. Jakarta: Kemendikbud. Kitot, Ahmada, & Seman. (2010). The effectiveness of inquiry teaching in enhancing students’ critical thinking. Procedia Social and Behavioral Sciences 7(C) (2010) 264–273. Diakses pada tanggal 12 Maret 2018, dari https://doi.org/10.1016/j.sbspro.2010.10.037 Krathwohl, D. R. (2004). Methods of educational and social science research: An integrated approach, second edition. Illinois: Waveland Press. Lodico, M. G., Spaulding, D. T. & Voegtle, K. H. (2006). Methods in educational research: From theory to practice. San Francisco: Jossey-Bass. Majid, A. (2014). Pembelajaran tematik terpadu. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Maryanto & Purwanto. (2009). Ilmu Pengetahuan Alam 5 untuk SD/MI kelas. Jakarta: PT. Galaxy Puspa Mega. 119

(139) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Narzoles. (2015). Student Team Achievement Division (STAD): Its effect on the academic performance of EFL learners. American Research Journal of English and Literature. Volume 1, Issue 4, Aug-2015. Diakses pada tanggal 12 Maret 2018, dari https://www.arjonline.org/papers/arjel/v1-i4/1.pdf Neuman, W. Lawrence. (2013). Metodologi penelitian social: Pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Eds. 7. Penerjemah: Edina T. Sofia. Jakarta: PT Indeks. Nurgiyantoro, B. (2010). Penelitian pembelajaran bahasa. Yogyakarta: UNY. OECD. (2013). PISA 2012 result in Focus: What 15-year-olds know and what they can do with what they know. Diakses pada tanggal 17 September 2018, dari https://www.oecd.org/pisa/keyfindings/pisa-2012-results-overview.pdf OECD. (2016). PISA 2015 result in Focus: What 15-year-olds know and what they can do with what they know. Diakses pada tanggal 17 September 2018, dari https://www.oecd.org/pisa/pisa-2015-results-in-focus.pdf Priyatno, D. (2012). Belajar praktis analisis parametrik dan nonparametrik dengan SPSS dan prediksi pertanyaan pendadaran skripsi dan tesis: simpel praktis dan mudah dipahami untuk tingkat pemula dan menengah. Yogyakarta: Gava Media. Ratnawati. (2008). Penerapan metode pembelajaran scaffolding pada pokok bahasan sistem periodik unsur. Jurnal Chemica. Volume 10 Nomor 2 Desember 2008. Diakses pada tanggal 16 Oktober 2017, dari eprints.ums.ac.id/21128/17/NASKAH_PUBLIKASI.pdf Rodiyana. (2015). Pengaruh penerapan strategi pembelajaran inkuiri terhadap kemampuan berpikir kritis dan kreatif siswa SD. Jurnal Cakrawala Pendas. Volume I Nomor 1 Januari 2015. Diakses pada tanggal 12 Maret 2018, dari jurnal.unma.ac.id/index.php/CP/article/download/343/326 Rofiq, M. (2010). Pembelajaran kooperatif (cooperative learning) dalam pengajaran Pendidikan Agama Islam. Jurnal Falasifa. Volume 1 Nomor 1. Diakses pada tanggal 16 Oktober 2017 dari https://jurnalfalasifa.files.wordpress.com/2012/11/m-nafiur-rofiqpembelajaran-kooperatif-cooperative-learning-dalam-pengajaranpendidikan-agama-islam.pdf Rusman. (2010). Model-model pembelajaran mengembangkan profesionalisme guru. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada. Rusman. (2012). Pembelajaran tematik terpadu. Jakarta: Rajawali Pers. Samatowa, U. (2011). Pembelajaran IPA di Sekolah Dasar. Jakarta: PT Indeks. 120

(140) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Sanjaya, W. (2006). Strategi pembelajaran berorientasi standar proses pendidikan. Jakarta: Kencana. Santrock, J. W. (2014). Psikologi pendidikan. Jakarta Selatan: Salemba. Schunk, D. H. (2012). Teori-teori pembelajaran: Perspektif pendidikan. Edisi Keenam. Diterjemahkan oleh: Hamdiah dan Fajar. Yogyakarta:Pustaka Pelajar. Shoimin, A. (2014). 68 model pembelajaran inovatif dalam kurikulum 2013. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media. Siregar, S. (2011). Statistika deskriptif untuk penelitian. Jakarta: Rajawali Press. Slavin, R. E. (2005). Cooperative learning: Teori, riset, dan praktek. Bandung: Nusa Media. Sugiyono. (2008). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta. Sukardi. (2009). Evaluasi pendidikan: Prinsip dan operasionalnya. Jakarta: Bumi Aksara. Sukmadinata, N. S. (2011). Media penelitian pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Sulistyanto, H. (2008). Ilmu Pengetahuan Alam untuk SD/MI Kelas 5. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. Suparmi. (2012). Pembelajaran kooperatif dalam pendidikan multikultural. Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi dan Aplikasi. Volume 1 Nomor 1 Tahun 2012. Diakses pada tanggal 16 Oktober 2017, dari download.portalgaruda.org Suparno, P. (2001). Teori perkembangan kognitif Jean Piaget. Yogyakarta: PT Kanisius. Supratiknya, A. (2002). Service learning, belajar dari konteks kehidupan masyarakat: Paradigma pembelajaran berbasis problem, mempertemukan Jean Piaget dan Lev Vygotsky. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma. Suprijono, A. (2009). Cooperative learning: Teori dan aplikasi PAIKEM. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Taniredja, T. & Mustafidah, H. (2011). Penelitian kuantitatif (sebuah pengantar). Bandung: Alfabeta. Trianto. (2007). Model-model pembelajaran inovatif berorientasi konstruktivisme. Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher. 121

(141) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Trianto. (2009). Mendesain model pembelajaran inovatif-progresif. Jakarta: Kencana Prenada Group. Trianto. (2010). Pengantar penelitian pendidikan bagi pengembangan profesi pendidikan dan tenaga kependidikan. Jakarta: Kencana. Wahyuni, Wiyasa, & Putra. (2014). Pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD berbasis interaksi sosial terhadap hasil belajar IPS siswa kelas V SD. Jurnal Mimbar PGSD Universitas Pendidikan Ganesha Jurusan PGSD. Volume 2 Nomor 1 Tahun 2014. Diakses pada tanggal 12 Maret 2018, dari http://download.portalgaruda.org/article.php Widoyoko, P. E. (2015). Teknik penyusunan instrumen penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 122

(142) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI LAMPIRAN 123

(143) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 1.1 Surat Ijin Penelitian 124

(144) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 1.2 Surat Ijin Validitas Soal 125

(145) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 2.1 Silabus Kelompok Eksperimen 126

(146) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 127

(147) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 128

(148) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 2.2 Silabus Kelompok Kontrol 129

(149) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 130

(150) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 131

(151) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 2.3 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Kelompok Eksperimen 132

(152) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 133

(153) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 134

(154) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 135

(155) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 136

(156) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 137

(157) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 138

(158) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 139

(159) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 140

(160) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 141

(161) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 142

(162) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 143

(163) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 144

(164) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 2.4 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Kelompok Kontrol 145

(165) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 146

(166) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 147

(167) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 148

(168) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 149

(169) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 150

(170) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 151

(171) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 152

(172) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 153

(173) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 154

(174) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 2.5 Lembar Kerja Siswa 155

(175) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 156

(176) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 157

(177) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 158

(178) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 159

(179) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 160

(180) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 3.1 Soal Uraian 161

(181) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 162

(182) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 163

(183) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 164

(184) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 165

(185) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 3.2 Kunci Jawaban 1. a. 3 contoh hewan dengan organ pernapasan yang serupa: - Belalang bernapas dengan trakea Contoh lain: jangkrik, kupu-kupu, lebah - Anjing bernapas dengan paru-paru Contoh lain: kucing, macan, kambing - Ikan bernapas dengan insang - Contoh lain: kecebong, kuda laut, udang b. 2 alasan anjing harus memunculkan kepalanya saat berenang: - Anjing memiliki organ pernapasan berupa paru-paru - Menghindari masuknya air ke dalam hidung - Untuk menghirup udara - Supaya tetap dapat bernapas c. Perbedaan cara bernapas antara anjing dan ikan: - Anjing: melalui rongga hidung, faring, trakea, bronkus, hingga paruparu. Pada waktu anjing menarik nafas, maka secara otomatis otot diagrafma akan berkontraksi. Dengan begitu, tulang rusuk juga akan berkontraksi sehingga rongga dada mengembang. Mengembangnya rongga dada akan membuat tekanan dalam rongga dada akan menjadi berkurang, sehingga udara yang dihirup melalui hidung akan masuk ke dalam paru-paru dan membuat paru-paru mengembang. Selanjutnya terjadi suatu proses yang dinamakan fase ekspirasi pernapasan yang ditantai dengan pelepasan udara melalui hidung. Proses ini disebabkan oleh melemasnya otot diafragma dan otot tulang rusuk dan juga dibantu oleh kontraksi otot perut. Melemasnya otot diafragma membuat otot diafragma ini akan melengkung ke atas, sedangkan tulang rusuk akan menurun yang mengakibatkan rongga dada mengecil dan tekanannya naik. Meningkatnya tekanan rongga dada ini akan membuat udara akan keluar dari paru-paru melalui sistem pernapasan. - Ikan: tahap I (pemasukan) mulut ikan membuka dan tutup insang menutup sehingga air masuk rongga mulut, kemudian menuju lembaran insang, di sinilah oksigen yang larut dalam air diambil oleh darah, selain 166

(186) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI itu darah juga melepaskan karbondioksida dan uap air dan tahap II (pengeluaran) mulut menutup dan tutup insang membuka sehingga air dari rongga mulut mengalir keluar melalui insang. Air yang dikeluarkan ini telah bercmpur dengan CO2 dan uap air yang dilepaskan darah untuk ikan. 2. a. Alasan dari fungsi organ pernapasan hewan itu sama: Sama. Fungsi organ pernapasan hewan itu sama yaitu untuk bernapas, hanya saja yang membedakan adalah tempat penggunaannya (sesuai habitat). Misalnya: - Fungsi trakea pada belalang adalah untuk bernapas (darat). - Fungsi paru-paru pada anjing adalah untuk bernapas (darat). - Fungsi insang pada ikan adalah untuk bernapas (air). b. 2 alasan hewan memiliki organ pernapasan yang berbeda-beda: - Hewan memiliki tempat hidup yang berbeda-beda. - Hewan memiliki jenis yang berbeda-beda c. Hewan yang memiliki organ pernapasan seperti anjing ada yang dapat hidup di air meskipun memiliki organ pernapasanan berupa paru-paru, contohnya paus. Akan tetapi, hewan yang memiliki organ pernapasan seperti ikan tidak dapat hidup di darat karena organ pernapasannya adalah insang sehingga hewan seperti ikan hanya bisa hidup di air, contohnya ikan mas. 3. a. Benar. Alasan: - Anjing memiliki organ pernapasan yang berbeda dengan ikan, anjing bernapas menggunakan paru-paru sedangkan ikan bernapas menggunakan insang. - Tempat hidup anjing berbeda dengan ikan, anjing hidup di darat sedangkan ikan hidup di air. 167

(187) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI b. Benar. Alasan: - Hewan hanya akan mendapatkan suplai oksigen sesuai dengan tempat hidupnya. - Hewan tersebut akan mati, apabila organ pernapasan yang dimiliki hewan tidak sesuai dengan tempat hidupnya. c. Benar. Alasan: - Belalang tidak mendapat suplai oksigen untuk bernapas karena Rina menutup botol dengan rapat. - Tidak ada sirkulasi udara di dalam botol plastik karena Rina tidak membuat lubang pada botol. 4. a. 2 tindakan yang seharusnya dilakukan oleh Rina: - Apabila Rina ingin membawa belalang tersebut, Rina harus menempatkan belalang tersebut di wadah yang memiliki sirkulasi udara yang cukup - Rina harus membuat lubang pada botol plastik atau menempatkan belalang tersebut pada wadah yang berjaring. b. Serangga akan mengalami hal serupa dengan belalang, yaitu serangga dapat terkulai lemas karena kekurangan oksigen dan bahkan serangga dapat mati. c. Apabila terlalau lama di daratan, ikan akan mati, karena ikan hanya dapat mendapatkan suplai oksigen melalui air. 5. a. 2 alasan saat belalang dimasukkan ke dalam botol plastik dapat terkulai lemas: - Rina menutup botol plastik dengan rapat, sehingga tidak ada proses pertukaran udara di dalam botol plastik dan mengakibatkan belalang tidak mendapat suplai oksigen. - Rina tidak membuat lubang udara. 168

(188) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI b. Gerakan mulut dan tutup insang menunjukkan bahwa ikan sedang bernafas. - Saat oksigen yang ada di dalam air akan berdifusi ke dalam pembuluh kapiler darah yang terdapat pada lembaran insang, maka mulut terbuka, air masuk ke dalam mulut dan tutup insang menutup. - Demikian juga karbondioksida dari pembuluh darah akan berdifusi ke dalam air, maka mulut tertutup, tutup insang terbuka, dan air keluar melalui insang. c. 4 tahap pernapasan pada serangga khususnya belalang: Proses pernapasan pada serangga (belalang) terjadi sebagai berikut: - Saat serangga melakukan pernapasan, udara masuk trakea melalui bagian yang terletak pada permukaan tubuh. Bagian tersebut dinamakan spirakel. Spirakel dilindungi oleh bulu halus dengan fungsi sebagai penyaring debu dan benda asing yang masuk menuju trakea. - Setelah itu, udara tersebut akan melewati pipa kecil yang disebut trakeola. Trakeola juga ini akan terhubung dengan membran sel. Trakeola memiliki ujung kecil tertutup dan mengandung cairan dengan warna biru gelap. - Oksigen akan berdifusi masuk ke dalam sel tubuh melalui trakeola, sedangkan karbondioksida akan berdifusi keluar. - Setelah melewati trakeola, karbondioksida akan dikeluarkan ke seluruh tubuh melewati trakea. 6. a. Tidak setuju. - Belalang tidak mendapat suplai oksigen yang cukup untuk bernapas - Tidak ada sirkulasi udara - Belalang dapat terkulai lemas bahkan mati b. 2 tindakan yang dilakukan agar belalang tidak terkulai lemas setelah dimasukkan ke dalam botol plastik seperti pada cerita: - Tidak menangkap belalang, agar belalang dapat hidup bebas - Apabila ingin menangkap belalang dan memasukkan ke dalam botol plastik, maka harus dilubangi agar ada sirkulasi udara yang masuk. 169

(189) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI c. Tindakan yang dapat dilakukan untuk memelihara ikan dengan benar: - Membersihkan akuarium atau kolam maksimal dua minggu sekali. - Mengganti air akuarium atau kolam maksimal dua minggu sekali. - Akuarium atau kolam diberi airator untuk menghasilkan gelembung udara agar ikan dapat bernapas dengan baik - Memberi makan ikan sehari dua kali. - Gunakan tanaman air di dalam akuarium atau kolam agar ikan merasa hidu di habitat aslinya. 170

(190) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 3.3 Rubrik Penilaian Variabel Aspek Menginterpretasi Membuat kategori Memahami arti Menjelaskan makna Menganalisis Menguji gagasangagasan No. Soal 1a 1b 1c 2a Kriteria Skor Jika menyebutkan organ pernapasan dan menuliskan 3 contoh hewan yang memiliki organ pernapasan yang serupa Jika menyebutkan organ pernapasan dan menuliskan 1 contoh hewan yang memiliki organ pernapasan yang serupa Jika tidak menyebutkan organ pernapasan dan menuliskan 3 contoh hewan yang memiliki organ pernapasan yang serupa Jika tidak menjawab sama sekali atau jawaban salah Jika menuliskan 2 alasan mengapa anjing harus memunculkan kepalanya saat berenang Jika menuliskan 2 alasan mengapa anjing harus memunculkan kepalanya saat berenang tetapi 1 alasan salah Jika menuliskan 1 alasan mengapa anjing harus memunculkan kepalanya saat berenang dengan benar Jika tidak menjawab sama sekali atau jawaban salah Jika menuliskan cara bernapas anjing dengan menyebut 5 organ dan ikan dengan menyebut 2 tahap Jika menuliskan cara bernapas anjing dengan menyebut 4organ dan ikan dengan menyebut 1 tahap Jika menuliskan salah satu cara bernapas anjing dengan menyebut 5 organ atau ikan dengan menyebut 2 tahap Jika tidak menjawab sama sekali atau jawaban salah Jika menjawab sama dan memberikan alasan dengan disertai 3 contoh hewan yang memiliki organ pernapasan sesuai dengan habitatnya Jika menjawab sama dan memberikan alasan dengan disertai 1 contoh hewan yang memiliki organ pernapasan sesuai dengan habitatnya Jika menjawab sama dan tidak memberikan alasan dengan disertai 3 contoh hewan yang memiliki 4 3 2 1 4 3 2 1 4 3 2 1 4 3 2 171

(191) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Variabel Aspek No. Soal Kriteria organ pernapasan sesuai dengan habitatnya Jika tidak menjawab sama sekali atau jawaban salah Mengidentifikasi argumen-argumen Menganalisis argumen-argumen Mengevaluasi Menilai tidaknya klaim sah klaim- Menilai sah tidaknya argumen-argumen 2b 2c 3a 3b Jika menyebutkan 2 alasan mengapa hewan memiliki organ pernapasan yang berbeda-beda Jika menyebutkan 2 alasan mengapa hewan memiliki organ pernapasan yang berbeda-beda tetapi 1 alasan salah Jika menyebutkan 1 alasan mengapa hewan memiliki organ pernapasan yang berbeda-beda Jika tidak menjawab sama sekali atau jawaban salah Jika menjelaskan 2 poin dengan tepat Jika menjelaskan 2 poin tetapi 1 poin salah Jika menjelaskan 1 poin dengan tepat Jika tidak menjawab sama sekali atau jawaban salah Jika menjawab pertanyaan dengan benar dan menuliskan alasan bahwa anjing tidak mampu berenang bebas di dalam air seperti ikan dengan tepat Jika menjawab pertanyaan dengan salah dan menuliskan alasan bahwa anjing tidak mampu berenang bebas di dalam air seperti ikan dengan tepat Jika menjawab pertanyaan dengan benar namun alasan bahwa anjing tidak mampu berenang bebas di dalam air seperti ikan salah Jika tidak menjawab sama sekali atau jawaban salah Jika menjawab pertanyaan dengan benar dan menuliskan alasan bahwa organ pernapasan hewan harus sesuai dengan tempat hidupnya Jika menjawab pertanyaan dengan salah dan menuliskan alasan bahwa organ pernapasan hewan harus sesuai dengan tempat hidupnya dengan tepat Jika menjawab pertanyaan dengan benar namun alasan bahwa organ pernapasan hewan harus sesuai dengan tempat hidupnya salah Skor 1 4 3 2 1 4 3 2 1 4 3 2 1 4 3 2 172

(192) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Variabel Aspek Menilai sah tidaknya argumen-argumen Menarik Kesimpulan Menguji bukti bukti- Menerka alternatifalternatif Menarik kesimpulan Mengeksplanasi Menjelaskan hasil penalaran No. Soal 3c 4a 4b 4c 5a Kriteria Skor Jika tidak menjawab sama sekali atau jawaban salah Jika menjawab pertanyaan dengan benar dan menuliskan alasan bahwa organ pernapasan hewan harus sesuai dengan tempat hidupnya dengan tepat Jika menjawab pertanyaan dengan salah dan menuliskan alasan bahwa organ pernapasan hewan harus sesuai dengan tempat hidupnya dengan tepat Jika menjawab pertanyaan dengan benar namun alasan bahwa organ pernapasan hewan harus sesuai dengan tempat hidupnya salah Jika tidak menjawab sama sekali atau jawaban salah Jika menjawab 2 tindakan yang seharusnya dilakukan oleh Rina Jika menjawab 2 tindakan yang seharusnya dilakukan oleh Rina tetapi 1 tindakan salah Jika menjawab 1 tindakan yang seharusnya dilakukan oleh Rina Jika tidak menjawab sama sekali atau jawaban salah Jika menjawab pertanyaan dengan tepat dan memberikan alasan dengan tepat Jika menjawab pertanyaan dengan salah namun alasan benar Jika menjawab pertanyaan dengan tepat namun alasan salah Jika tidak menjawab sama sekali atau jawaban salah Jika menjawab pertanyaan dengan tepat dan memberikan alasan dengan tepat Jika menjawab pertanyaan dengan salah namun alasan benar Jika menjawab pertanyaan dengan tepat namun alasan salah Jika tidak menjawab sama sekali atau jawaban salah Jika menjawab 2 alasan bahwa saat belalang dimasukkan ke dalam botol plastik dapat terkulai lemas Jika menjawab 2 alasan bahwa saat belalang dimasukkan ke dalam botol plastik dapat terkulai lemas, tetapi 1 alasan salah Jika menjawab 1 alasan bahwa saat belalang dimasukkan ke dalam botol plastik dapat terkulai lemas 1 4 3 2 1 4 3 2 1 4 3 2 1 4 3 2 1 4 3 2 173

(193) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Variabel Aspek Membenarkan prosedur yang digunakan Memaparkan argumen-argumen yang digunakan Meregulasi Diri Refleksi diri Koreksi diri Koreksi diri No. Soal 5b 5c 6a 6b 6c Kriteria Skor Jika tidak menjawab sama sekali atau jawaban salah Jika menjawab 2 alasan bahwa saat ikan berenang di dalam air mulut dan insangnya selalu membuka dan menutup. Jika menjawab 2 alasan bahwa saat ikan berenang di dalam air mulut dan insangnya selalu membuka dan menutup, tetapi 1 alasan salah Jika menjawab 1 alasan bahwa saat ikan berenang di dalam air mulut dan insangnya selalu membuka dan menutup. Jika tidak menjawab sama sekali atau jawaban salah Jika menjawab 4 tahap pernapasan pada serangga khususnya belalang Jika menjawab 3 tahap pernapasan pada serangga khususnya belalang Jika menjawab 2 tahap pernapasan pada serangga khususnya belalang Jika menjawab 1 tahap pernapasan pada serangga khususnya belalang atau jawaban salah Jika menjawab pertanyaan dengan benar dan menuliskan 2 alasan terhadap pernyataan dengan benar Jika menjawab pertanyaan dengan salah dan menuliskan 2 alasan terhadap pernyataan dengan benar Jika menjawab pertanyaan dengan benar namun menuliskan 2 alasan terhadap pernyataan yang salah Jika tidak menjawab sama sekali atau jawaban salah Jika menjawab 2 tindakan agar belalang tidak terkulai lemas Jika menjawab 2 tindakan agar belalang tidak terkulai lemas tetapi 1 tindakan salah Jika menjawab 1 tindakan agar belalang tidak terkulai lemas Jika tidak menjawab sama sekali atau jawaban salah Jika menjawab 2 tindakan untuk memelihara ikan dengan benar Jika menjawab 2 tindakan untuk memelihara ikan dengan benar tetapi 1 tindakan salah Jika menjawab 1 tindakan untuk memelihara ikan dengan benar Jika tidak menjawab sama sekali atau jawaban salah 1 4 3 2 1 4 3 2 1 4 3 2 1 4 3 2 1 4 3 2 1 174

(194) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 3.4 Hasil Pekerjaan Siswa 175

(195) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 176

(196) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 177

(197) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 178

(198) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 179

(199) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 3.5 Hasil Rekap Expert Judgement Variabel Menginterpretasi No. Soal 1a 1 4 Validator 2 3 4 3 1b 4 4 4 1c 2a 2b 4 4 3 4 4 4 4 3 3 Rerata 3,67 Menganalisis Mengevaluasi Menarik Kesimpulan Mengeksplanasi Meregulasi Diri 2c 3a 3b 3c 4a 4b 4c 5a 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 3 4 3 2 4 3 5b 5c 4 4 4 4 4 3 6a 6b 6c 4 4 4 71 3,94 4 4 4 72 4 3 3 4 60 3,33 Total Skor Rerata 4,00 4,00 3,67 3,33 4,00 3,67 3,67 4,00 3,67 3,33 4,00 3,67 4,00 3,67 3,67 3,67 4,00 Komentar (Saran Perbaikan) Validator 3: Kata tanya yang digunakan kurang sinkron Validator 3: Apakah gambar yang diberikan representatif? Validator 1: Beri keterangan jika harus 2 alasan! Validator 3: Menganalisis dan menilai tidak sama Validator 1: subskill item soal 5c ditukar dengan subskill item soal 5b Validator 1 Instrumen penelitian sangat layak diimplementasikan. Validator 2 Instrumen penelitian sangat layak diimplementasikan. Validator 3 Instrumen sangat diimplementasikan. layak Keterangan: 4 : sangat sesuai 3 : sesuai 2 : tidak sesuai 1 : sangat tidak sesuai Kategori Kelayakan: No 1 2 3 4 Skor 58,50 – 72,00 45,00 – 58,49 31,50 – 44,99 18,00 – 31,49 Kelayakan Sangat layak Layak dengan revisi kecil Layak dengan revisi besar Tidak layak 180

(200) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 3.6 Hasil Uji Validasi Oleh Expert Judgement 3.6.1 Hasil Uji Validasi Oleh Dosen 181

(201) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 182

(202) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 183

(203) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3.6.2 Hasil Uji Validasi Oleh Guru 184

(204) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 185

(205) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 186

(206) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 187

(207) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 188

(208) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 189

(209) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 3.7 Tabulasi Data Uji Validitas dan Reliabilitas 190

(210) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 3.8 Hasil SPSS Uji Validitas 3.8.1 Hasil Uji Validitas Setiap Item Soal Total Aspek Total Pearson Correlation 1 Sig. (2-tailed) Menginterpretasi Item1a N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) Item1b N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) Item1c N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) Menganalisis Item2a N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) Item2b N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) Item2c N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) Mengevaluasi Item3a N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) 45 .571** ,000 45 .564** ,000 45 .571** ,000 45 .564** ,000 45 .564** ,000 45 .549** ,000 45 .564** ,000 191

(211) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Item3b N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) Item3c N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) Menarik Kesimpulan Item4a N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) Item4b N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) Item4c N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) Mengeksplanasi Item5a N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) Item5b N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) Item5c N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Total 45 .549** ,000 45 .543** ,000 45 .571** ,000 45 .549** ,000 45 .543** ,000 45 .571** ,000 45 .743** ,000 45 .549** ,000 45 192

(212) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Total Meregulasi Diri Item6a Pearson Correlation Sig. (2-tailed) Item6b N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) Item6c N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N .569** ,000 45 .743** ,000 45 .549** ,000 45 **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). *. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed). Lampiran 3.9 Hasil SPSS Uji Reliabilitas Case Processing Summary N Valid Excludeda % 45 100,0 0 0,0 Total 45 100,0 a. Listwise deletion based on all variables in the procedure. Cases Reliability Statistics N of Items Cronbach's Alpha ,931 18 193

(213) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4.1 Tabulasi Nilai Kemampuan Mengeksplanasi Kelompok Kontrol dan Kelompok Eksperimen 194

(214) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4.2 Tabulasi Nilai Kemampuan Meregulasi Diri Kelompok Kontrol dan Kelompok Eksperimen 195

(215) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4.3 Hasil SPSS Uji Normalitas Distribusi Data 4.3.1 Kemampuan Mengeksplanasi One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test N Nor Mean mal Std. Para Deviati mete on rsa,b Most Absolu Extre te me Positiv Diffe e rence Negati s ve Test Statistic EksKon Pre 22 EksKon Post1 22 EksKon Sel 22 EksKon Post2 22 EksEks Pre 24 EksEks Post1 24 EksEks Sel 24 EksEks Post2 24 2,0614 1,9382 -,1218 1,6973 2,1808 2,8746 ,6942 2,6800 ,70281 ,63930 ,91739 ,56360 ,64388 ,72099 ,78568 ,52522 ,170 ,175 ,135 ,152 ,161 ,153 ,137 ,145 ,166 ,147 ,135 ,152 ,161 ,150 ,137 ,122 -,170 -,175 -,093 -,114 -,130 -,153 -,082 -,145 ,175 ,135 ,152 ,161 ,153 ,137 ,145 ,079c ,200c,d ,200c,d ,108c ,152c ,200c,d ,200c,d ,170 Asymp. Sig. (2,096c tailed) a. Test distribution is Normal. b. Calculated from data. c. Lilliefors Significance Correction. d. This is a lower bound of the true significance. 196

(216) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.3.2 Kemampuan Meregulasi Diri One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test N Norm al Para meter sa,b Me an Std. Dev iati on Most Abs Extre olut me e Differ Posi ences tive Neg ativ e Test Statistic RegKon Pre 22 RegKon Post1 22 RegKon Sel 22 RegKon Post2 22 RegEks Pre 24 RegEks Post1 24 RegEks Sel 24 RegEks Post2 24 2,6668 2,3327 -,3332 2,3027 2,7367 3,0700 ,3333 2,8050 ,76994 ,70539 ,85394 ,60760 ,59783 ,57215 ,79874 ,40366 ,138 ,180 ,166 ,147 ,128 ,174 ,130 ,173 ,096 ,104 ,166 ,145 ,128 ,174 ,130 ,173 -,138 -,180 -,127 -,147 -,122 -,160 -,102 -,153 ,138 ,180 ,166 ,147 ,128 ,174 ,130 ,173 ,061c ,116c ,200c,d ,200c,d ,059c ,200c,d ,062c Asymp. Sig. ,200c,d (2-tailed) a. Test distribution is Normal. b. Calculated from data. c. Lilliefors Significance Correction. d. This is a lower bound of the true significance. Lampiran 4.4 Hasil SPSS Uji Homogenitas Varian Kemampuan Awal 4.4.1 Kemampuan Mengeksplanasi Test of Homogeneity of Variances EksKonEksPre Levene Statistic df1 df2 Sig. ,920 1 44 ,343 4.4.2 Kemampuan Meregulasi Diri Test of Homogeneity of Variances RegKonEksPre Levene Statistic 1,308 df1 1 df2 44 Sig. ,259 197

(217) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4.5 Hasil SPSS Uji Perbedaan Kemampuan Awal 4.5.1 Kemampuan Mengeksplanasi Group Statistics Kelompok EksKonEkspPre Eksplanasi Kontrol Pretest Eksplanasi Eksperimen Pretest N Mean Std. Deviation Std. Error Mean 22 2,0614 ,70281 ,14984 24 2,1808 ,64388 ,13143 Independent Samples Test Levene's Test for Equality of Variances F Sig. Eks Kon Eks pPr e Equal varia nces assu med Equal varia nces not assu med ,920 ,343 t-test for Equality of Means t df Sig. (2tailed) Mean Differe nce Std. Error Differe nce 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper -,602 44 ,550 -,11947 ,19854 -,51960 ,28067 -,599 42,678 ,552 -,11947 ,19931 -,52151 ,28257 198

(218) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.5.2 Kemampuan Meregulasi Diri Group Statistics Kelompok RegKonEksPre Regulasi Diri Kontrol Pretest Regulasi Diri Eksperimen Pretest N Mean Std. Deviation Std. Error Mean 22 2,6668 ,76994 ,16415 24 2,7367 ,59783 ,12203 Independent Samples Test Levene's Test for Equality of Variances F Sig. Reg Kon Eks Pre Equal varia nces assu med Equal varia nces not assu med 1,308 ,259 t-test for Equality of Means t df Sig. (2tailed) Mean Differe nce Std. Error Differe nce 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper -,345 44 ,732 -,06985 ,20230 -,47756 ,33786 -,341 39,586 ,735 -,06985 ,20454 -,48338 ,34368 199

(219) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4.6 Hasil SPSS Uji Homogenitas Varian Selisih Pretest ke Posttest I 4.6.1 Kemampuan Mengeksplanasi Test of Homogeneity of Variances EksKonEksSel Levene Statistic ,553 df1 1 df2 44 Sig. ,461 4.6.2 Kemampuan Meregulasi Diri Test of Homogeneity of Variances RegKonEksSel Levene Statistic ,044 df1 1 df2 44 Sig. ,835 200

(220) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4.7 Hasil Uji Signifikansi Pengaruh Perlakuan 4.7.1 Kemampuan Mengeksplanasi Group Statistics Kelompok EksKonEkspSel N Mean Std. Deviation Std. Error Mean Eksplanasi Kontrol Selisih 22 -,1218 ,91739 ,19559 Eksplanasi Eksperimen Selisih 24 ,6942 ,78568 ,16038 Independent Samples Test Levene's Test for Equality of Variances F Sig. EksK onEk spSel Equal varia nces assu med Equal varia nces not assu med ,553 ,461 t-test for Equality of Means t df Sig. (2tailed ) Mean Differe nce Std. Error Differe nce 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper -3,248 44 ,002 -,81598 ,25121 -1,32226 -,30971 -3,226 41,573 ,002 -,81598 ,25293 -1,32658 -,30539 201

(221) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.7.2 Kemampuan Meregulasi Diri Group Statistics Kelompok RegKonEkspSel N Regulasi Diri Kontrol Selisih Regulasi Diri Eksperimen Selisih Levene's Test for Equality of Variances F Sig. Reg Kon Eksp Sel Equal varia nces assu med Equal varia nces not assu med ,044 ,835 Std. Deviation Mean Std. Error Mean 22 -,3332 ,85394 ,18206 24 ,3333 ,79874 ,16304 Independent Samples Test t-test for Equality of Means t df Sig. (2tailed) Mean Differe nce Std. Error Differe nce 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper -2,735 44 ,009 -,66652 ,24367 -1,15760 -,17543 -2,727 42,961 ,009 -,66652 ,24439 -1,15940 -,17363 202

(222) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4.8 Perhitungan Manual Besar Pengaruh Perlakuan Effect size kemampuan mengeksplanasi r=√ 𝑡2 r=√ 𝑡 2 +𝑑𝑓 r=√ r=√ Effect size kemampuan meregulasi diri 10,549504 𝑡 2 +𝑑𝑓 r=√ 10,549504+44 10,549504 r=√ 54,549504 r = √0,1933932158 𝑡2 7,480225 7,480225+44 7,480225 51,480225 r = 0,4397649552 r = √0,1453028809 r = 0,43 r = 0,38 Persentase pengaruh pembelajaran r = 0,3811861499 penerapan kooperatif tipe model Persentase pengaruh penerapan model STAD pembelajaran kooperatif tipe STAD terhadap kemampuan mengeksplanasi: terhadap kemampuan meregulasi diri: R2 = r2 R2 = r2 = (0,43)2 = (0,38)2 = 0,1849 = 0,1444 Persentase Pengaruh = R2 x 100% Persentase Pengaruh = R2 x 100% = 0,1849 x 100% = 0,1444 x 100% = 18,49% = 14,44% 203

(223) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4.9 Perhitungan Persentase Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I 4.9.1 Perhitungan Persentase Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I Persentase Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I Kemampuan Mengeksplanasi Kelompok Kontrol Kelompok Eksperimen Peningkatan = = = Peningkatan 𝑃𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑠𝑡 𝐼−𝑃𝑟𝑒𝑡𝑒𝑠𝑡 𝑃𝑟𝑒𝑡𝑒𝑠𝑡 1,93−2,06 x 2,06 −0,13 2,06 x 100% = = 100% = x 100% 𝑃𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑠𝑡 𝐼−𝑃𝑟𝑒𝑡𝑒𝑠𝑡 𝑃𝑟𝑒𝑡𝑒𝑠𝑡 2,87−2,18 2,18 0,69 x 2,18 x 100% x 100% 100% = -0,0631067961 x 100% = 0,3165137615 x 100% = -6,31% = 31,65% Persentase Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I Kemampuan Meregulasi Diri Kelompok Kontrol Kelompok Eksperimen Peningkatan = = = Peningkatan 𝑃𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑠𝑡 𝐼−𝑃𝑟𝑒𝑡𝑒𝑠𝑡 𝑃𝑟𝑒𝑡𝑒𝑠𝑡 2,33−2,66 x 2,66 −0,33 2,66 x 100% = 100% = x 100% = 𝑃𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑠𝑡 𝐼−𝑃𝑟𝑒𝑡𝑒𝑠𝑡 𝑃𝑟𝑒𝑡𝑒𝑠𝑡 3,07−2,73 x 2,73 0,34 x 2,73 x 100% 100% 100% = -0,1240601504 x 100% = 0,1245421245 x 100% = -12,40% = 12,24% 4.9.2 Hasil SPSS Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I 4.9.2.1 Kemampuan Mengeksplanasi Kelompok Kontrol Paired Samples Statistics Mean Pair 1 EksKonPost1 EksKonPre Std. Deviation N Std. Error Mean 1,9382 22 ,63930 ,13630 2,0614 22 ,70281 ,14984 Paired Samples Correlations N Pair 1 EksKonPost1 & EksKonPre 22 Correlation ,067 Sig. ,766 204

(224) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Paired Samples Test Paired Differences Mean Pair 1 EksKo nPost1 EksKo nPre Std. Deviation -,12318 Std. Error Mean ,91772 ,19566 t df Sig. (2tailed) -,630 21 ,536 t df Sig. (2tailed) 4,316 23 ,000 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper -,53008 ,28371 Kelompok Eksperimen Paired Samples Statistics Pair 1 Mean N Std. Deviation Std. Error Mean EkspEksPost1 2,8746 24 ,72099 ,14717 EkspEksPre 2,1808 24 ,64388 ,13143 Paired Samples Correlations N Pair 1 EkspEksPost1 & EkspEksPre 24 Correlation ,338 Sig. ,106 Paired Samples Test Paired Differences Mean Pair 1 Eksp EksP ost1 Eksp EksP re ,69375 Std. Deviation ,78754 Std. Error Mean ,16076 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper ,36120 1,0263 0 205

(225) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.9.2.2 Kemampuan Meregulasi Diri Kelompok Kontrol Paired Samples Statistics Mean Pair 1 Std. Deviation N Std. Error Mean RegKonPost1 RegKonPre 2,3327 22 ,70539 ,15039 2,6668 22 ,76994 ,16415 Paired Samples Correlations N Pair 1 RegKonPost1 & RegKonPre Correlation 22 Sig. ,332 ,131 Paired Samples Test Paired Differences Mean Pair 1 RegKo nPost1 RegKo nPre -,33409 Std. Deviation ,85431 Std. Error Mean ,18214 t df Sig. (2taile d) 21 ,081 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper -,71287 ,04469 -1,834 206

(226) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Kelompok Eksperimen Paired Samples Statistics Mean Pair 1 Std. Deviation N Std. Error Mean RegEksPost1 RegEksPre 3,0700 24 ,57215 ,11679 2,7367 24 ,59783 ,12203 Paired Samples Correlations N Pair 1 RegEksPost1 & RegEksPre Correlation 24 Sig. ,072 ,739 Paired Samples Test Paired Differences Mean Pair 1 RegEk sPost1 RegEk sPre ,33333 Std. Deviation ,79729 Std. Error Mean ,16275 t df Sig. (2tailed) 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper -,00333 ,67000 2,048 23 ,052 207

(227) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.9.3 Perhitungan Persentase Gain Score 4.9.3.1 Tabulasi Gain Score Kemampuan Mengeksplanasi Gain score -1,67 -1,33 -1,00 -0,67 -0,33 0,00 0,33 0,67 1,00 1,33 1,67 2,00 2,33 Kelompok Kontrol F 1 2 1 5 3 2 3 1 1 2 1 0 0 Kelompok Eksperimen F 0 0 0 1 2 4 4 3 3 3 2 1 1 4.9.3.2 Perhitungan Persentase Gain Score ≥0,33 Kemampuan Mengeksplanasi Kelompok Kontrol Kelompok Eksperimen Frekuensi gain score ≥ 0,33 adalah 8 Frekuensi gain score ≥ 0,33 adalah 17 anak anak Persentase Persentase = = Frekuensi 𝑔𝑎𝑖𝑛 𝑠𝑐𝑜𝑟𝑒 8 22 Jumlah siswa x 100% x 100% = = Frekuensi 𝑔𝑎𝑖𝑛 𝑠𝑐𝑜𝑟𝑒 17 24 Jumlah siswa x 100% x 100% = 0,36 x 100% = 0,70 x 100% = 36% = 70% 208

(228) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.9.3.3 Tabulasi Gain Score Kemampuan Meregulasi Diri Gain Score -2,33 -1,33 -1,00 -0,67 -0,33 0,00 0,33 0,67 1,00 1,33 1,67 Kelompok Kontrol F 1 1 4 4 3 5 0 2 0 2 0 Kelompok Eksperimen F 0 0 1 3 4 3 3 3 2 3 2 4.9.3.4 Perhitungan Persentase Gain Score ≥ 0,00 Kemampuan Meregulasi Diri Kelompok Kontrol Kelompok Eksperimen Frekuensi gain score ≥ 0,00 adalah 9 Frekuensi gain score ≥ 0,00 adalah 16 siswa. siswa. Persentase Persentase = = Frekuensi 𝑔𝑎𝑖𝑛 𝑠𝑐𝑜𝑟𝑒 9 22 Jumlah siswa x 100% x 100% = = Frekuensi 𝑔𝑎𝑖𝑛 𝑠𝑐𝑜𝑟𝑒 16 24 Jumlah siswa x 100% x 100% = 0,40 x 100% = 0,67 x 100% = 40% = 67% 209

(229) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4.10 Hasil Perhitungan Manual Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I 4.10.1 Kemampuan Mengeksplanasi 4.10.1.1 Perhitungan Manual Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I Kelompok Kontrol 𝑡2 𝑡2 r = √𝑡 2 +𝑑𝑓 r = √𝑡 2 +𝑑𝑓 0,3969 r=√ r=√ 0,3969+21 r=√ Kelompok Eksperimen 0,3969 18,627856 18,627856+23 18,627856 r=√ 21,3969 r = √0,018549416 41,627856 r = 0,1361962408 r = √0,4474853569 r = 0,13 r = 0,66 R2 = r2 R2 = r 2 r = 0,6689434632 = (0,13)2 = (0,66)2 = 0,0169 = 0,4356 Persentase Pengaruh = R2 x 100% Persentase Pengaruh = R2 x 100% = 0,0169 x 100% = 0,4356 x 100% = 1,69% = 43,56% 210

(230) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.10.2 Kemampuan Meregulasi Diri 4.10.2.1 Perhitungan Manual Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I Kelompok Kontrol r=√ 𝑡2 𝑡 2 +𝑑𝑓 r=√ r=√ 3,363556 3,363556+21 3,363556 24,363556 r = √0,1380568584 Kelompok Eksperimen r=√ 𝑡2 𝑡 2 +𝑑𝑓 r=√ r=√ 4,194304 4,194304+23 4,194304 27,194304 r = 0,3715600334 r = √0,1542346515 r = 0,37 r = 0,39 R2 = r2 R2 = r 2 = (0,37)2 r = 0,3927271973 = (0,39)2 = 0,1369 = 0,1521 2 Persentase = R x 100% Persentase = R2 x 100% = 0,1369 x 100% = 0,1521 x 100% = 13,69% = 15,21% 211

(231) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4.11 Hasil SPSS Uji Korelasi Antara Rerata Pretest ke Posttest I 4.11.1 Kemampuan Mengeksplanasi 4.11.1.1 Uji Korelasi Kelompok Kontrol Correlations EksKonPre EksKonPre EksKonPost1 1 ,067 Pearson Correlation Sig. (2-tailed) ,766 N EksKonPost1 22 22 ,067 1 Pearson Correlation Sig. (2-tailed) ,766 N 22 22 4.11.1.2 Uji Korelasi Kelompok Eksperimen Correlations EkspEksPre Pearson Correlation EkspEksPre EkspEksPost1 1 ,338 Sig. (2-tailed) EkspEksPost1 ,106 N 24 24 Pearson Correlation ,338 1 Sig. (2-tailed) ,106 N 24 24 212

(232) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.11.2 Kemampuan Meregulasi Diri 4.11.2.1 Uji Korelasi Kelompok Kontrol Correlations RegKonPre RegKonPre RegKonPost1 1 ,332 Pearson Correlation Sig. (2-tailed) ,131 N RegKonPost1 22 22 ,332 1 Pearson Correlation Sig. (2-tailed) ,131 N 22 22 4.11.2.2 Uji Korelasi Kelompok Eksperimen Correlations RegEksPre RegEksPre RegEksPost1 1 ,072 Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N RegEksPost1 ,739 24 24 ,072 1 Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N ,739 24 24 213

(233) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4.12 Hasil Uji Retensi Perlakuan 4.12.1 Kemampuan Mengeksplanasi 4.12.1.1 Hasil SPSS Uji Retensi Perlakuan Posttest I dan Posttest II Kelompok Kontrol Paired Samples Statistics Mean Pair 1 N Std. Deviation Std. Error Mean EksKonPost2 EksKonPost1 1,6973 22 ,56360 ,12016 1,9382 22 ,63930 ,13630 Paired Samples Correlations N Pair 1 EksKonPost2 & EksKonPost1 Correlation 22 Sig. ,463 ,030 Paired Samples Test Paired Differences Mean Pair 1 EksKo nPost2 EksKo nPost1 -,24091 Std. Deviation ,62645 Std. Error Mean ,13356 t df Sig. (2tailed) 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper -,51866 ,03684 -1,804 21 214 ,086

(234) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Kelompok Eksperimen Paired Samples Statistics Mean Pair 1 Std. Deviation N Std. Error Mean EksEkspPost2 EksEkspPost1 2,6800 24 ,52522 ,10721 2,8746 24 ,72099 ,14717 Paired Samples Correlations N Pair 1 EksEkspPost2 & EksEkspPost1 Correlation 24 Sig. ,477 ,018 Paired Samples Test Paired Differences Mean Pair 1 EksEksp Post2 EksEksp Post1 -,19458 Std. Deviation ,65903 Std. Error Mean ,13452 t df Sig. (2tailed) 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper -,47287 ,08370 -1,446 23 ,162 4.12.1.2 Perhitungan Persentase Peningkatan Skor Posttest I dan Posttest II Kelompok Kontrol = = = 𝑃𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑠𝑡 𝐼𝐼−𝑃𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑠𝑡 𝐼 𝑃𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑠𝑡 𝐼 1,69−1,93 1,93 −0,24 1,93 x 100% x 100% x 100% Kelompok Eksperimen = = = 𝑃𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑠𝑡 𝐼𝐼−𝑃𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑠𝑡 𝐼 𝑃𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑠𝑡 𝐼 2,68−2,87 2,87 −0,19 2,87 x 100% x 100% x 100% = -0,1243523316 x 100% = -0,0662020906 x 100% = -12,43% = -6,62% 215

(235) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.12.1.3 Hasil SPSS Uji Retensi Perlakuan Pretest ke Posttest II Kelompok Kontrol Paired Samples Statistics Mean Pair 1 Std. Deviation N Std. Error Mean EksKonPost2 EksKonPre 1,6973 22 ,56360 ,12016 2,0614 22 ,70281 ,14984 Paired Samples Correlations N Pair 1 EksKonPost2 & EksKonPre Correlation 22 Sig. ,476 ,025 Paired Samples Test Paired Differences Mean Pair 1 EksKonPo st2 EksKonPre -,36409 Std. Deviation ,65915 Std. Error Mean ,14053 t df Sig. (2tailed) -2,591 21 ,017 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper -,65634 -,07184 216

(236) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Kelompok Eksperimen Paired Samples Statistics Mean Pair 1 Std. Deviation N Std. Error Mean EksEkspPost2 EksEkspPre 2,6800 24 ,52522 ,10721 2,1808 24 ,64388 ,13143 Paired Samples Correlations N Pair 1 EksEkspPost2 & EksEkspPre Correlation 24 Sig. ,090 ,675 Paired Samples Test Paired Differences Mean Pair 1 EksEksp Post2 EksEksp Pre ,49917 Std. Deviation ,79334 Std. Error Mean ,16194 t df Sig. (2tailed) 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper ,16417 ,83417 3,082 23 ,005 217

(237) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.12.2 Kemampuan Meregulasi Diri 4.12.2.1 Hasil SPSS Uji Retensi Perlakuan Posttest I dan Posttest II Kelompok Kontrol Paired Samples Statistics Mean Pair 1 Std. Deviation N Std. Error Mean RegKonPost2 RegKonPost1 2,3027 22 ,60760 ,12954 2,3327 22 ,70539 ,15039 Paired Samples Correlations N Pair 1 RegKonPost2 & RegKonPost1 Correlation 22 Sig. ,679 ,001 Paired Samples Test Paired Differences Mean Pair 1 RegKon Post2 RegKon Post1 -,03000 Std. Deviation ,53335 Std. Error Mean ,11371 t df Sig. (2tailed) 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper -,26648 ,20648 -,264 21 ,794 218

(238) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Kelompok Eksperimen Paired Samples Statistics Mean Pair 1 Std. Deviation N Std. Error Mean RegEksPost2 RegEksPost1 2,8050 24 ,40366 ,08240 3,0700 24 ,57215 ,11679 Paired Samples Correlations N Pair 1 RegEksPost2 & RegEksPost1 Correlation 24 Sig. ,143 ,505 Paired Samples Test Paired Differences Mean Pair 1 RegEksPost2 RegEksPost1 -,26500 Std. Deviation ,65133 Std. Error Mean t df 95% Confidence Interval of the Difference ,13295 Lower Upper -,54003 ,01003 -1,993 23 4.12.2.2 Perhitungan Persentase Peningkatan Skor Posttest I dan Posttest II Kelompok Kontrol = = = 𝑃𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑠𝑡 𝐼𝐼−𝑃𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑠𝑡 𝐼 𝑃𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑠𝑡 𝐼 2,30−2,33 2,33 −0,03 2,33 x 100% x 100% x 100% Kelompok Eksperimen = = = 𝑃𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑠𝑡 𝐼𝐼−𝑃𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑠𝑡 𝐼 𝑃𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑠𝑡 𝐼 2,80−3,07 3,07 −0,27 3,07 Sig. (2tailed) x 100% x 100% x 100% = -0,0128755365 x 100% = -0,0879478827 x 100% = -1,28% = -8,79% 219 ,058

(239) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.12.2.3 Hasil SPSS Uji Retensi Perlakuan Pretest ke Posttest II Kelompok Kontrol Paired Samples Statistics Mean Pair 1 Std. Deviation N Std. Error Mean RegKonPost2 RegKonPre 2,3027 22 ,60760 ,12954 2,6668 22 ,76994 ,16415 Paired Samples Correlations N Pair 1 RegKonPost2 & RegKonPre Correlation 22 Sig. ,385 ,076 Paired Samples Test Paired Differences Mean Pair 1 RegKon Post2 RegKon Pre -,36409 Std. Deviation ,77547 Std. Error Mean ,16533 t df Sig. (2tailed) -2,202 21 ,039 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper -,70792 -,02027 220

(240) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Kelompok Eksperimen Paired Samples Statistics Mean Pair 1 Std. Deviation N Std. Error Mean RegEksPost2 RegEksPre 2,8050 24 ,40366 ,08240 2,7367 24 ,59783 ,12203 Paired Samples Correlations N Pair 1 RegEksPost2 & RegEksPre Correlation 24 Sig. ,440 ,032 Paired Samples Test Paired Differences Mean Pair 1 RegEksPost2 - RegEksPre ,06833 Std. Deviation ,55506 Std. Error Mean ,11330 t df Sig. (2tailed) ,603 23 ,552 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper -,16605 ,30272 221

(241) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 5.1 Foto-foto Kegiatan Pembelajaran Kelompok Kontrol Kelompok Eksperimen 222

(242) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 5.2 Surat Keterangan Melaksanakan Penelitian 223

(243) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI CURRICULUM VITAE Felisitas Laurina Christi merupakan anak pertama dari pasangan Tarsisius Kristiarso dan Catharina Haruni. Lahir di Kulonprogo pada tanggal 26 Maret 1997. Pendidikan dimulai dari Sekolah Dasar Kanisius Kokap pada tahun 2003-2009. Pada tahun 2009, peneliti melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Kokap dan lulus pada tahun 2012. Peneliti kemudian melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Pengasih pada tahun 2012 dan lulus pada tahun 2015. Peneliti melanjutkan pendidikan di Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Sanata Dharma pada tahun 2015. Berikut ini daftar kegiatan yang pernah diikuti peneliti selama menjadi mahasiswa Universitas Sanata Dharma. No 1 2 3 4 Kegiatan Inisiasi Universitas Sanata Dharma (Insadha) Inisiasi Fakultas (Infisa) Imisiasi Program Studi (Insipro) Pelatihan Pengembangan Kepribadian Mahasiswa I (PPKM I) Tahun 2015 2015 2015 2015 Peran Peserta Peserta Peserta Peserta 5 6 7 8 2015 2016 2016 2016 Peserta Peserta Peserta Peserta 2016 Peserta 10 Seminar “Reinventing Childhood Education” Kursus Mahir Dasar (KMD) Week-end Moral Pelatihan Pengembangan Kepribadian Mahasiswa II (PPKM II) Kuliah Umum PGSD “Masa Depan Toleransi di Tangan Guru” Parade Gamelan Anak ke IX 2016 11 12 English Club Program Pekan Kreativitas Mahasiswa 12 Pelatihan Model-model Pembelajaran Kooperatif untuk Meningkatkan Kerja Sama dan Prestasi Belajar di SDK Bantul Yogyakarta Koordinator Divisi Usaha Dana Peserta Koordinator Divisi Medis Pembicara 9 2015-2017 2017 2018 224

(244)

Dokumen baru

Download (243 Halaman)
Gratis

Tags

Dokumen yang terkait

PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NUMBERED HEADS TOGETHER (NHT) DAN STUDENT TEAM ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) DITINJAU DARI TINGKAT KEAKTIFAN SISWA TERHADAP KEMAMPUAN KOGNITIF SISWA PADA SUB
0
5
110
PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NUMBERED HEADS TOGETHER (NHT) DAN STUDENT TEAM ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) TERHADAP HASIL BELAJAR PENGAWETAN MAKANAN SISWA KELAS VII SMP AL-ITTIHADIYAH MEDAN.
0
3
23
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA SISWA DI KELAS IV SD NEGERI 106836 TANJUNG MORAWA.
0
2
22
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STUDENT TEAM ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA PELAJARAN MATEMATIKA DI KELAS V SDN 101783 SAENTIS T.A. 2011/2012.
0
1
12
PENERAPAN MODEL KOOPERATIF TIPE STUDENT TEAM ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN MATEMATIKA.
0
2
10
PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TYPE STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) TERHADAP MINAT BELAJAR SISWA.
0
2
53
PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIVE LEARNING TIPE STUDENT TEAM ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) TERHADAP HASIL BELAJAR BAHASA ARAB SISWA.
0
0
56
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STUDENT TEAM ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) BERBANTUAN ANIMASI DAN SIMULASI UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR SISWA.
0
0
33
PENINGKATKAN AKTIVITAS BELAJAR KOMPUTER DAN JARINGAN DENGAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STUDENT TEAM ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) SISWA KELAS X SMK MUHAMMADIYAH RONGKOP GUNUNGKIDUL.
0
0
75
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) TERHADAP HASIL BELAJAR IPA DITINJAU DARI KEAKTIFAN SISWA
0
0
7
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STUDENT TEAM ACHEIVEMENT DIVISION (STAD) TERHADAP PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA Marwan Hamid
0
0
8
PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STUDENT TEAM ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) TERHADAP KEMAMPUAN MENGINTERPRETASI DAN MENGANALISIS SISWA KELAS V SD SKRIPSI
0
0
240
PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE MAKE A MATCH TERHADAP KEMAMPUAN MENGEKSPLANASI DAN MEREGULASI DIRI SISWA KELAS V SD SKRIPSI
0
0
248
PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAMS GAMES TOURNAMENT (TGT) TERHADAP KEMAMPUAN MENGEKSPLANASI DAN MEREGULASI DIRI SISWA KELAS V SD SKRIPSI
0
0
254
PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STUDENT TEAM ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) TERHADAP KEMAMPUAN MENGEVALUASI DAN MENARIK KESIMPULAN SISWA KELAS V SD
0
1
233
Show more