Pengaruh variasi jumlah CMC-Na sebagai gelling agent terhadap sifat fisik dan stabilitas fisik sediaan sabun cuci tangan antibakteri ekstrak etanol daun beluntas (pluchea indica (l.) less) - USD Repository

Gratis

0
0
134
9 months ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PENGARUH VARIASI JUMLAH CMC-Na SEBAGAI GELLING AGENT TERHADAP SIFAT FISIK DAN STABILITAS FISIK SEDIAAN SABUN CUCI TANGAN ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL DAUN BELUNTAS (Pluchea indica (L.) Less) SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S. Farm.) Program Studi Ilmu Farmasi Oleh : Marcelina Widani Amanda Rompas NIM : 108114163 FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014

(2) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PENGARUH VARIASI JUMLAH CMC-Na SEBAGAI GELLING AGENT TERHADAP SIFAT FISIK DAN STABILITAS FISIK SEDIAAN SABUN CUCI TANGAN ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL DAUN BELUNTAS (Pluchea indica (L.) Less) SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S. Farm.) Program Studi Ilmu Farmasi Oleh : Marcelina Widani Amanda Rompas NIM : 108114163 FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014 i

(3) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ii

(4) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI iii

(5) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI HALAMAN PERSEMBAHAN Don’t feel pressured to know what your life purpose is. Just chill out and enjoy the peace. The idea will come. – Josh Langley - Kupersembahkan karyaku ini untuk: Tuhan Yesus Kristus dan Bunda Maria Ibu dan Papa tercinta atas cinta dan kasih sayangnya Adikku Bernadette Sonya Anindita Rompas Martinus Rubiarso Sahabat-sahabatku Almamaterku iv

(6) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI v

(7) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI vi

(8) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PRAKATA Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat, rahmat dan karunia-Nya selama penelitian dan penyusunan skripsi ini sehingga dapat diselesaikan dengan baik. Skripsi berjudul PENGARUH VARIASI JUMLAH CMC-Na SEBAGAI GELLING AGENT TERHADAP SIFAT FISIK DAN STABILITAS FISIK SEDIAAN SABUN CUCI TANGAN EKSTRAK ETANOL DAUN BELUNTAS (Pluchea indica (L.) Less) ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Strata Satu Program Studi Ilmu Farmasi (S. Farm.). Penyusunan laporan ini tidak lepas dari bantuan dan dorongan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada: 1. Bapak Septimawanto Dwi Prasetyo, M.Si., Apt., selaku Dosen Pembimbing yang telah memberikan bimbingan dan pengarahan kepada penulis selama penelitian maupun penyusunan skripsi. 2. Bapak Prof. Dr. C. J. Soegihardjo, Apt., selaku Dosen Penguji yang telah memberikan masukan, kritik dan saran kepada penulis. 3. Bapak Enade Perdana Istyastono, Ph.D., Apt., selaku Dosen Penguji yang telah memberikan masukan, kritik dan saran kepada penulis. 4. Ibu Aris Widayati, M.Si., Ph.D., Apt., selaku Dekan Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. 5. Seluruh Dosen Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma atas ilmu yang diberikan dan kebersamaan selama kuliah berlangsung. vii

(9) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 6. Pak Musrifin, Pak Mukmin, Mas Agung serta laboran-laboran lainnya atas bantuan selama penulis menyelesaikan penelitian. 7. Kedua orang tua penulis, Abraham Sonny Rompas dan Cornelia Tri Widayati atas doa dan dukungan yang selalu diberikan kepada penulis selama penelitian dan penyusunan skripsi. 8. Bernadette Sonya Anindita Rompas dan Martinus Rubiarso yang selalu memberikan semangat dan dorongan kepada penulis. 9. Partner skripsiku Rosalia Suryaningtyas atas kesabaran, kerjasama, suka duka dan bantuannya selama mengerjakan penelitian dan penyusunan skripsi ini. 10. Romo Irsan Rimawal, SJ., atas dukungan dan doa yang diberikan kepada penulis. 11. Emmanuella Venni dan Yustina Retno Larasati yang banyak membantu dan mendukung penulis dalam penyelesaian skripsi ini. 12. Teman-teman satu laboratorium yang sering memberi masukan kepada penulis selama penelitian Yoestenia, Devina, Palma, dan Ita. 13. Teman-teman yang telah menghibur penulis dalam kepenatan selama penelitian dan penyusunan skripsi Emilia Jevina, Karonia “Inem”, dan Febrian Cahyadi. 14. Teman-teman Kos Muria: Mbak Hana, Mbak Astrid, Kak Sofi, Arvita, Kak Frada, Jessi dll. Terimakasih telah menemani penulis begadang dalam menyelesaikan skripsi. viii

(10) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 15. Terimakasih kepada teman-teman Farmasi: Rosa, Titi, Sita, Sisca, Epong, Apong, Nita, Widya dan teman-teman FST B. Atas kebersamaannya selama ini. 16. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini Penulis menyadari bahwa penyusunan dan penyelesaian skripsi ini masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, penulis membutuhkan saran dan kritik yang membangun dari berbagai pihak. Akhir kata, penulis mengharapkan semoga skripsi ini kiranya dapat memberikan inspirasi dan manfaat dan kegunaannya bagi pembaca dan dapat berguna bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Yogyakarta, 5 Agustus 2014 Penulis ix

(11) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL............................................................................................. i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING .................................................. ii HALAMAN PENGESAHAN .............................................................................. iii HALAMAN PERSEMBAHAN ........................................................................... iv PERNYATAAN KEASLIAN KARYA .............................................................. v LEMBAR PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ............................. vi PRAKATA ............................................................................................................ vii DAFTAR ISI ......................................................................................................... x DAFTAR TABEL ................................................................................................. xv DAFTAR GAMBAR ............................................................................................ xvii DAFTAR LAMPIRAN ......................................................................................... xix INTISARI.............................................................................................................. xxi ABSTRACT ............................................................................................................ xxii BAB I PENDAHULUAN ................................................................................... 1 A. Latar Belakang ......................................................................................... 1 1. Rumusan masalah ............................................................................... 4 2. Keaslian penelitian ............................................................................. 4 3. Manfaat penelitian .............................................................................. 5 B. Tujuan Penelitian ..................................................................................... 6 1. Tujuan umum ..................................................................................... 6 2. Tujuan khusus ..................................................................................... 6 x

(12) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB II PENELAAHAN PUSTAKA ................................................................ 7 A. Cuci Tangan ............................................................................................. 7 B. Bakteri ...................................................................................................... 7 C. Isolasi Mikroba ........................................................................................ 9 1. Metode taburan.................................................................................... 9 2. Metode sebaran ................................................................................... 10 3. Metode goresan ................................................................................... 10 D. Uji Potensi Senyawa Antibakteri ............................................................. 10 1. Metode difusi sumuran ........................................................................ 11 2. E-test ................................................................................................... 11 3. Metode disk plate ................................................................................ 11 4. Metode ditch-diffusion ........................................................................ 11 E. Pengukuran Diameter Zona Hambat ......................................................... 12 F. Daun Beluntas .......................................................................................... 12 1. Taksonomi tanaman ............................................................................ 12 2. Nama tanaman ..................................................................................... 13 3. Deskripsi tanaman ............................................................................... 13 4. Kandungan kimia ................................................................................ 14 5. Manfaat daun beluntas ........................................................................ 14 G. Ekstraksi ................................................................................................... 14 1. Maserasi .............................................................................................. 15 H. Sabun ........................................................................................................ 16 I. Gel ............................................................................................................ 16 J. Gelling agent ............................................................................................ 16 1. Sodium Carboxy Methyl Cellulose (CMC-Na) ................................... 17 K. Formulasi ................................................................................................. 18 1. Surfaktan (Sodium Lauryl Sulphate) .................................................. 18 2. Humektan ............................................................................................ 19 a. Gliserol .......................................................................................... 19 b. Propilen glikol ............................................................................... 20 xi

(13) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3. Pengawet (metil paraben) .................................................................... 20 4. Etanol .................................................................................................. 22 5. Aquadest (air murni) ........................................................................... 22 L. Sifat Fisik dan Stabilitas Fisik ................................................................. 22 1. Viskositas ........................................................................................... 23 2. Penetapan pH ...................................................................................... 23 3. Ketahanan busa ................................................................................... 24 M. Landasan Teori .......................................................................................... 24 N. Hipotesis.................................................................................................... 25 BAB III METODE PENELITIAN ................................................................... 26 A. Jenis dan Rancangan Penelitian ............................................................... 26 B. Variabel Penelitian ................................................................................... 26 C. Definisi Operasional ................................................................................. 27 D. Bahan dan Alat Penelitian ........................................................................ 29 1. Bahan penelitian ................................................................................. 29 2. Alat penelitian .................................................................................... 29 E. Tata Cara Penelitian ................................................................................. 30 1. Pembuatan serbuk daun beluntas ....................................................... 30 a. Pengumpulan bahan daun beluntas ............................................... 30 b. Pembuatan serbuk daun beluntas .................................................. 30 2. Pembuatan ekstrak etanol daun beluntas ............................................ 30 a. Ekstraksi serbuk daun beluntas ..................................................... 30 b. Penetapan kadar total fenolik ....................................................... 31 3. Uji potensi antibakteri ekstrak etanol daun beluntas ......................... 31 a. Pembuatan stok isolat bakteri tangan ............................................ 31 b. Pembuatan suspensi isolat bakteri uji ........................................... 31 c. Pembuatan konsentrasi ekstrak etanol daun beluntas ................... 32 d. Uji aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun beluntas................... 33 e. Penentuan konsentrasi ekstrak ...................................................... 34 xii

(14) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4. Pembuatan sediaan gel sabun cuci tangan antibakteri ekstrak etanol daun beluntas ....................................................................................... 34 a. Modifikasi formula gel sabun cuci tangan antibakteri ekstrak etanol daun beluntas ................................................................................. 34 b. Pembuatan gel sabun cuci tangan antibakteri ekstrak etanol daun beluntas ......................................................................................... 35 5. Evaluasi sediaan gel sabun cuci tangan antibakteri ekstrak etanol daun beluntas ............................................................................................... 35 a. Sifat fisik ....................................................................................... 35 b. Stabilitas fisik ................................................................................ 36 6. Uji aktivitas antibakteri sediaan gel sabun cuci tangan antibakteri ekstrak etanol daun beluntas terhadap isolat bakteri tangan ............... 37 a. Pembuatan suspensi bakteri uji ..................................................... 37 b. Uji aktivitas sediaan gel sabun cuci tangan antibakteri ekstrak etanol daun beluntas ...................................................................... 37 F. Analisis Data ............................................................................................ 38 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ........................................................... 39 A. Pengumpulan Bahan dan Determinasi Tanaman .................................... 39 B. Pembuatan Serbuk Daun Beluntas ........................................................... 40 C. Pembuatan Ekstrak Etanol Daun Beluntas ............................................... 41 D. Uji Potensi Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Beluntas ........................... 42 1. Isolasi bakteri tangan .......................................................................... 42 2. Uji aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun beluntas ........................ 43 E. Pembuatan Sediaan Sabun Cuci Tangan Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Beluntas .................................................................................................... 50 F. Uji Sifat Fisik Sediaan Gel Sabun Cuci Tangan Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Beluntas ............................................................................... 53 1. Uji organoleptis ................................................................................. 53 2. Uji pH ................................................................................................ 54 3. Viskositas ........................................................................................... 54 xiii

(15) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4. Ketahanan busa .................................................................................. 57 G. Uji Stabilitas Fisik Sediaan Gel Sabun Cuci Tangan Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Beluntas ............................................................................... 59 1. Organoleptis dan pH ........................................................................... 59 2. Viskositas ........................................................................................... 59 3. Ketahanan busa .................................................................................. 61 H. Uji Aktivitas Antibakteri Sediaan Gel Sabun Cuci Tangan Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Beluntas.................................................................. 62 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ............................................................. 65 A. Kesimpulan .............................................................................................. 65 B. Saran ......................................................................................................... 65 DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 67 LAMPIRAN ......................................................................................................... 71 BIOGRAFI PENULIS .......................................................................................... 111 xiv

(16) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR TABEL Halaman Tabel I. Struktur Sel Bakteri ................................................................................ Tabel II. Formula Sediaan Gel Sabun Cuci Tangan Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Beluntas ............................................................................. Tabel III. 49 Formula Sediaan Gel Sabun Cuci Tangan Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Beluntas ............................................................................. . Tabel IX. 48 Hasil Uji Wilcoxon Diameter Zona Hambat Ekstrak Etanol Daun Beluntas terhadap Isolat Bakteri Punggung Tangan............................. Tabel VIII. 47 Hasil Uji Kruskal-Wallis Diameter Zona Hambat Ekstrak Etanol Daun Beluntas terhadap Isolat Bakteri Tangan ...................................... Tabel VII. 45 Nilai Probabilitas uji Shapiro-Wilk Diameter Zona Hambat Ekstrak Etanol Daun Beluntas terhadap Isolat Bakteri Tangan .......................... Tabel VI. 35 Diameter Zona Hambat Ekstrak Etanol Daun Beluntas terhadap Isolat Bakteri Tangan ............................................................................. Tabel V. 34 Variasi Jumlah CMC-Na pada Formula Sediaan Gel Sabun Cuci Tangan Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Beluntas ............................... Tabel IV. 8 52 Data Uji Organoleptis Sediaan Gel Sabun Cuci Tangan Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Beluntas Selama 48 jam Penyimpanan ........................................................................................ Tabel X. Data Uji pH Sediaan Gel Sabun Gel Cuci Tangan Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Beluntas Selama 48 jam Penyimpanan ................ Tabel XI. 54 54 Data Viskositas Sediaan Gel Sabun Gel Cuci Tangan Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Beluntas Selama 48 jam Penyimpanan ................ xv 54

(17) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Tabel XII. Uji Shapiro-Wilk Viskositas Sediaan Gel Sabun Cuci Tangan Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Beluntas Selama 48 jam Penyimpanan ........................................................................................... Tabel XIII. 55 Nilai Probabilitas Uji Post Hoc Viskositas Sediaan Gel Sabun Cuci Tangan Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Beluntas Selama 48 jam Penyimpanan ........................................................................................... Tabel XIV. Data Ketahanan Busa Sediaan Gel Sabun Cuci Tangan Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Beluntas Selama 48 jam Penyimpanan ................. Tabel XV. 56 57 Nilai P-Value Ketahanan Busa Sediaan Gel Sabun Cuci Tangan Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Beluntas Selama 48 jam Penyimpanan ........................................................................................... Tabel XVI. 58 Data Viskositas Sediaan Gel Sabun Cuci Tangan Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Beluntas Selama Beberapa Hari Penyimpanan ..... 60 Tabel XVII. Data Uji Ketahanan Busa Sediaan Gel Sabun Cuci Tangan Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Beluntas Selama Beberapa Hari Penyimpanan ........................................................................................... 61 Tabel XVIII. Diameter Zona Hambat Sediaan Sabun Gel Cuci Tangan Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Beluntas terhadap Isolat Bakteri Tangan ..................................................................................................... xvi 63

(18) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar 1. Tanaman Beluntas .................................................................................. 13 Gambar 2. Struktur Sodium Carboxy Methyl Cellulose ............................................ 18 Gambar 3. Sodium Lauryl Sulphate .......................................................................... 18 Gambar 4. Struktur Gliserol ..................................................................................... 20 Gambar 5. Struktur Propilen Glikol ......................................................................... 20 Gambar 6. Struktur Metil Paraben ........................................................................... 22 Gambar 7. Kontrol Media Nutrient Agar dan Hasil Inokulasi Bakteri Tangan ....... 43 Gambar 8. Zona Hambat Ekstrak Etanol Daun Beluntas terhadap Pertumbuhan Isolat Bakteri Tangan ....................................................... 45 Gambar 9. Kontrol Pertumbuhan Isolat Bakteri Tangan ......................................... 45 Gambar 10. Kontrol Media Nutrient Agar ................................................................ 45 Gambar 11. Grafik Pengaruh Konsentrasi CMC-Na terhadap Viskositas Sediaan Gel Sabun Cuci Tangan Antibakteri Ekstrak Etanol Selama 48jam Penyimpanan ................................................................ Gambar 12. 57 Grafik Pengaruh Konsentrasi CMC-Na terhadap Ketahanan Busa Sediaan Gel Sabun Cuci Tangan Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Beluntas ................................................................................................ Gambar 13. Sediaan Gel Sabun Cuci Tangan Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Beluntas Selama 48 jam Penyimpanan ....................................... Gambar 14. 58 59 Sediaan Gel Sabun Gel Cuci Tangan Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Beluntas Setelah 28 hari Penyimpanan .............................. xvii 59

(19) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Gambar 15. Grafik Stabilitas Viskositas Sediaan Gel Sabun Cuci Tangan Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Beluntas Selama Beberapa Hari Penyimpanan .......................................................................................... Gambar 16. 60 Grafik Stabilitas Ketahanan Busa Sediaan Gel Sabun Cuci Tangan Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Beluntas Selama Beberapa Hari Penyimpanan .......................................................................................... 61 Gambar 17. Gambar Uji Ketahanan Busa ................................................................. 62 Gambar 18. Zona Hambat Sediaan Gel Sabun Cuci Tangan Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Beluntas terhadap Isolat Bakteri Tangan, Kontrol Pertumbuhan Isokat Bakteri Tangan, dan Kontrol Media Nutrient Agar .............................................................................................. xviii 64

(20) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR LAMPIRAN Halaman Lampiran 1. Surat Keterangan Identifikasi Daun Beluntas ........................................ 72 Lampiran 2. Certificate of Analysis (CoA) Ekstrak Etanol Daun Beluntas (Pluchea indica (L.) Less) dari LPPT UGM ........................................... 73 Lampiran 3. Langkah Kerja Ekstraksi Etanol Daun Beluntas (Pluchea indica (L.) Less) dari LPPT UGM ............................................................................ 74 Lampiran 4. Keterangan Ekstrak Etanol Daun Beluntas (Pluchea indica (L.) Less) dari LPPT UGM ........................................................................... 75 Lampiran 5. Penetapan Kadar Total Fenolik Ekstrak Etanol Daun Beluntas (Pluchea indica (L.) Less) dari LPPT UGM .......................................... 76 Lampiran 6. Sampel Ekstrak Etanol Daun Beluntas dan Foto Isolat Bakteri Tangan .................................................................................................... Lampiran 7. Foto Zona Hambat Ekstrak Etanol Daun Beluntas terhadap Isolat Bakteri Tangan ....................................................................................... Lampiran 8. 78 Uji Normalitas Shapiro-Wilk Diameter Zona Hambat Ekstrak Etanol Daun Beluntas terhadap Isolat Bakteri Tangan ......................... Lampiran 9. 77 79 Uji Kruskal-Wallis Diameter Zona Hambat Ekstrak Etanol Daun Beluntas terhadap Isolat Bakteri Tangan ............................................... 80 Lampiran 10. Uji Wilcoxon Diameter Zona Hambat Ekstrak Etanol Daun Beluntas terhadap Isolat Bakteri Tangan ............................................... 81 Lampiran 11. Perhitungan Ekstrak Daun Beluntas dan Foto Sediaan Gel Sabun Cuci Tangan Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Beluntas ...................... 84 Lampiran 12. Foto Sediaan Gel Sabun Cuci Tangan Ekstrak Etanol Daun Beluntas Setelah 28 hari Penyimpanan .................................................. 85 Lampiran 13. Data Uji Organoleptis dan pH Sediaan Gel Sabun Cuci Tangan Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Beluntas Selama Beberapa Hari Penyimpanan .......................................................................................... 86 Lampiran 14. Data Uji Viskositas Sediaan Gel Sabun Cuci Tangan Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Beluntas Selama Beberapa Hari Penyimpanan .... xix 87

(21) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 15. Hasil Uji Statistik Sifat Fisik Viskositas Sediaan Gel Sabun Cuci Tangan Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Beluntas ............................... 88 Lampiran 16. Hasil Uji Statistik Stabilitas Viskositas Sediaan Gel Sabun Cuci Tangan Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Beluntas ............................... 89 Lampiran 17. Data Uji Sifat Fisik dan Uji Statistik Ketahanan Busa Sediaan Gel Sabun Cuci Tangan Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Beluntas ............ 92 Lampiran 18. Hasil Uji Statistik Stabilitas Ketahanan Busa Sediaan Gel Sabun Cuci Tangan Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Beluntas ....................... 95 Lampiran 19. Foto Zona Hambat Sediaan Gel Sabun Cuci Tangan Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Beluntas terhadap Isolat Bakteri Tangan dan Basis Sediaan Gel Sabun Cuci Tangan .................................................. 99 Lampiran 20. Diameter Zona Hambat Sediaan Gel Sabun Cuci Tangan Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Beluntas terhadap Isolat Bakteri Tangan .................................................................................................... 100 Lampiran 21. Uji Normalitas Shapiro-Wilk Zona Hambat Sediaan Gel Sabun Cuci Tangan Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Beluntas terhadap Isolat Bakteri Tangan ....................................................................................... 101 Lampiran 22. Uji Kruskal Wallis Zona Hambat Sediaan Gel Sabun Cuci Tangan Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Beluntas ............................................ 104 Lampiran 23. Uji Wilcoxon Zona Hambat Sediaan Gel Sabun Cuci Tangan Ekstrak Etanol Daun Beluntas dibandingkan dengan Basis Sediaan Gel Sabun Cuci Tangan ......................................................................... 105 Lampiran 24. Nilai Probabilitas Uji Wilcoxon: Perbandingan Antara Sediaan Gel Sabun Cuci Tangan Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Beluntas dengan Basis Sediaan Gel Cuci Tangan ................................................ 107 Lampiran 25. Uji Wilcoxon Zona Hambat Sediaan Gel Sabun Cuci Tangan Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Beluntas dibandingkan dengan Kontrol Positif ........................................................................................ 108 Lampiran 26. Nilai probabilitas Uji Wilcoxon: Perbandingan Antara Sediaan Gel Sabun Cuci Tangan Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Beluntas Dengan Kontrol Positif .......................................................................... xx 110

(22) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI INTISARI Senyawa fenolik merupakan kandungan utama dalam ekstrak etanol daun beluntas (Pluchea Indica (L.) Less) yang memiliki potensi antibakteri. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui konsentrasi optimum ekstrak etanol daun beluntas yang dapat digunakan sebagai antibakteri terhadap isolat bakteri tangan dengan metode difusi dan untuk mengetahui pengaruh gelling agent terhadap sifat fisik dan stabilitas fisik yang meliputi pH, viskositas, pergeseran viskositas dan ketahanan busa. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental. Hasil pengukuran diameter zona hambat dianalisis dengan mengunakan uji Kruskal-Wallis kemudian dilanjutkan uji Wilcoxon, sementara hasil pengukuran data sifat fisik dan stabilitas fisik kemudian dianalisis menggunakan uji One Way ANOVA, untuk mengetahui signifikansi pengaruh gelling agent terhadap sifat fisik dan stabilitas fisik gel. Data yang diperoleh, dianalisis dengan menggunakan software R 3.1.0 Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi 6% ekstrak etanol daun beluntas, dapat memberikan daya hambat terhadap isolat bakteri tangan. Terdapat perbedaan viskositas yang signifikan pada penggunaan variasi jumlah gelling agent. Namun variasi jumlah gelling agent tidak menunjukkan adanya pengaruh terhadap respon ketahanan busa dan pergeseran viskositas. Kata kunci: Sabun cuci tangan, CMC-Na, ekstrak etanol daun beluntas, potensi antibakteri, sifat fisik, dan stabilitas fisik xxi

(23) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ABSTRACT Phenolic compounds are the major chemical compounds of beluntas leaves (Pluchea indica (L.) Less) ethanol extract that have potential as an antibacterial. This study aimed to determine the optimum concentration of beluntas leaves ethanol extract which can be used as antibacterial towards hand bacterial isolates with diffusion method, and to figure out the effect of gelling agent towards physical properties which consist of pH, viscosity, viscosity shift, and foam stability. This study is an experimental study. The data of measurement result of inhibiton zones statiscally analyzed with the Kruskal-Wallis test followed the Wilcoxon test, whereas the data of measurement result of physical properties and physical stability statically analyzed with the One Way ANOVA test; to find the significance of gelling agent effect towards physical characteristics and gel physical stability. Data was analyzed by using the R 3.1.0 software. Beluntas leaves (Pluchea indica (L.) Less) ethanol extract showed antibacterial activity towards bacterial isolate at a concentration of 6%. There was a significant viscosity difference at the usage on the amount variance of gelling agent, whereas the amount of variance of gelling agent did not show any significant differences towards foam stability response and viscosity shift. Keywords: hand soap, CMC-Na, Pluchea indica (L.) Less ethanol extract, antibacterial activity, physical properties, and physical stability. xxii

(24) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit infeksi masih merupakan jenis penyakit yang paling banyak diderita oleh penduduk di negara berkembang, termasuk Indonesia. Salah satu penyebab penyakit infeksi adalah bakteri. Menurut Radji (2009) bakteri merupakan mikroorganisme yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang, tetapi hanya dilihat dengan bantuan mikroskop. Penyakit infeksi dapat dikurangi dengan kebiasaan berperilaku hidup bersih dan sehat. Perilaku hidup bersih dan sehat merupakan semua perilaku kesehatan yang dilakukan atas dasar kesadaran diri. Salah satu contoh sederhana perilaku hidup bersih dan sehat adalah dengan menjaga kebersihan tubuh. Tangan merupakan bagian tubuh yang sering digunakan untuk menyentuh dan memegang benda, karena itu tangan disebut perantara yang paling sering menularkan bakteri penyakit. Berdasarkan data WHO, tangan mengandung bakteri sebanyak 39.000-460.000 CFU per sentimeter kubik, yang berpotensi tinggi menyebabkan penyakit infeksi menular (Rochimawati, 2013). Kebersihan tangan yang kurang, juga menyebabkan penyakit terkait makanan seperti infeksi Salmonella dan E. coli. Beberapa dapat mengalami gejala yang menganggu seperti mual, muntah, dan diare. Tangan yang terlihat bersih belum tentu terbebas dari bakteri penyakit, karena itu kebersihan tangan tetap harus dijaga dengan mencuci tangan menggunakan sabun. 1

(25) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2 Sabun berfungsi untuk melarutkan kotoran dan minyak ada permukaan kulit dengan menggunakan air sehingga dapat diangkat dengan mudah dari kulit. Sabun dapat membersihkan minyak, kotoran, dan keringat yang menempel di kulit (Izhar, 2009). Dewasa ini, telah banyak sabun cuci tangan yang beredar di pasaran dengan berbagai merk dan bentuk sediaan. Kebanyakan sabun cuci tangan yang beredar di pasaran berbahan dasar triclosan sebagai antibakteri. Triclosan diketahui dapat menyebabkan resistensi antibiotik sehingga dapat menghambat kerja obat-obatan yang sebelumnya memiliki potensi antibiotik. Selain itu, penggunaan triclosan yang terlalu sering dan berlebihan dapat membunuh flora normal kulit yang sebenarnya merupakan salah satu mikroba untuk perlindungan kulit (Gusviputri, 2013). Dilihat dari adanya dampak negatif yang dapat ditimbulkan oleh triclosan, maka perlu dipikirkan bahan alternatif lain yang dapat menggantikan triclosan sebagai antibakteri. Dalam hal ini, digunakan ekstrak etanol beluntas sebagai antibakteri untuk mengurangi pemakaian bahan sintetik dalam formulasi sabun cuci tangan. Bahan alami juga cenderung tidak memberikan dampak yang buruk bagi kulit dalam pemakaian jangka panjang. Daun beluntas (Pluchea indica (L.) Less.) biasa digunakan sebagai obat untuk menghilangkan bau badan, obat penurun panas, obat batuk dan obat antidiare. Selain itu daun beluntas yang telah direbus sering pula digunakan untuk mengobati penyakit kulit (Winarno dan Sundari, 1998). Setelah diteliti secara ilmiah, daun beluntas (Pluchea indica (L.) Less.) diketahui memiliki kandungan flavonoid dalam daun beluntas (Pluchea indica (L.) Less.) memiliki aktivitas

(26) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3 antimikroba terhadap Staphylococcus aureus, E. coli, Pseudomonas fluorecens dan Salmonela thypi (Ardiansyah et al., 2003). Hasil uji total kandungan fenolik menyatakan bahwa semakin muda daun, kadar total fenol semakin besar (Saffan dan El-Mousallamy, 2008). Pada penelitian ini akan dibuat sediaan sabun cuci tangan antibakteri ekstrak etanol daun beluntas dalam bentuk gel. Gel mengandung komposisi air dalam jumlah tinggi sehingga dapat meningkatkan disolusi obat dan juga memudahkan migrasi obat melalui basis utamanya (Jones, 2008). Bentuk sediaan ini tentu diharapkan dapat membuat ekstrak daun beluntas menjadi nyaman digunakan sebagai antibakteri. Viskositas sediaan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi stabilitas sediaan gel. Viskositas merupakan ukuran kekentalan fluida yang menyatakan besar kecilnya gesekan di dalam fluida. Viskositas di pengaruhi oleh gelling agent. Gelling agent yang digunakan dalam penelitiaan ini adalah CMCNa. Dalam hal ini digunakan CMC-Na karena CMC-Na memiliki gugus natrium yang dapat mengikat air (terhidrasi) tanpa perlu pemanasan selain itu CMC-Na stabil pada rentang pH 5-9 sehingga dalam formulasi tidak diperlukan penambahan agen pembasa. Pada penelitiaan ini dilakukan formulasi sediaan sabun cuci tangan antibakteri ekstrak etanol daun beluntas dengan menggunakan variasi jumlah CMC-Na sebagai gelling agent. Variasi jumlah CMC-Na dilakukan untuk mengetahui pengaruh CMC-Na sebagai gelling agent terhadap sifak fisik dan stabilitas fisik sediaan sabun cuci tangan antibakteri ekstrak etanol daun beluntas.

(27) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4 1. Rumusan Masalah Berdasarkan data di atas maka dapat disusun permasalahan : a. Apakah ekstrak etanol daun beluntas memiliki aktivitas antibakteri terhadap isolat bakteri di tangan? b. Apakah terdapat perbedaan sifat fisik dan stabilitas fisik dalam penggunaan variasi jumlah CMC-Na sebagai gelling agent pada sabun cuci tangan antibakteri ekstrak etanol daun beluntas? 2. Keaslian Penelitian Sejauh penelusuran yang dilakukan penulis, penelitian mengenai variasi jumlah CMC-Na sebagai gelling agent pada formulasi sabun cuci tangan antibakteri ekstrak etanol daun beluntas, belum pernah dilakukan. Beberapa penelitian yang terkait formulasi ekstrak etanol daun beluntas yang pernah dilakukan sebelumnya antara lain : 1. Perbedaan Sifat Fisik dan Stabilitas Fisik Deodoran Ekstrak Etanol Daun Beluntas (Pluchea indica (L.) Less) dengan Variasi Jumlah Sorbitan Monooleate sebagai Emulsifying agent (Hardita, 2012). 2. Perbedaan Sifat Fisik dan Stabilitas Fisik Deodoran Ekstrak Etanol Daun Beluntas (Pluchea indica (L.) Less) dengan Variasi Jumlah Sorbitan Monostearate sebagai Emulsifying agent (Lesmana, 2012). 3. Aktivitas Antimikroba Ekstrak Etanol Daun Beluntas (Pluchea indica L.) dan Stabilitas Aktivitasnya pada Berbagai Konsentrasi Garam dan Tingkat pH yang dilakukan oleh (Ardiansyah et al., 2003).

(28) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 5 3. Manfaat Penelitian a. Manfaat teoritis Menambah pengetahuan mengenai formulasi sabun cuci tangan antibakteri dari bahan alam daun beluntas (Pluchea indica (L.) Less) dengan menggunakan CMC-Na sebagai gelling agent. b. Manfaat praktis Memperoleh informasi sifat fisik dan stabilitas fisik sabun cuci tangan antibakteri ekstrak daun beluntas dengan menggunakan variasi jumlah CMC-Na sebagai gelling agent.

(29) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 6 B. Tujuan Penelitian 1. Tujuan umum Mengetahui perbedaan sifat fisik dan stabilitas fisik sabun cuci tangan antibakteri ekstrak etanol daun beluntas (Pluchea indica (L.) Less) dengan variasi jumlah CMC-Na sebagai gelling agent. 2. Tujuan khusus a. Mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun beluntas terhadap isolat bakteri di tangan. b. Untuk mengetahui perbedaan sifat fisik dan stabilitas fisik yang signifikan pada variasi jumlah CMC-Na dalam sabun cuci tangan antibakteri ekstrak etanol daun beluntas.

(30) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB II PENELAAHAN PUSTAKA A. Cuci Tangan Cuci tangan merupakan salah satu cara untuk menghindari penularan penyakit terutama penyakit yang ditularkan melalui makanan. Kebiasaan mencuci tangan secara teratur perlu dilatih. Jika sudah terbiasa mencuci tangan sehabis bermain atau ketika akan makan makan diharapkan kebiasaan tersebut akan terbawa sampai tua. Mencuci tangan yang baik dilakukan pada air yang mengalir (Djauzi, 2009). Cuci tangan sama dengan proses membuang kotoran dan debu secara mekanis dari kedua belah tangan dengan memakai sabun dan air, dengan tujuan untuk mencegah kontaminasi silang (manusia ke manusia atau benda terkontaminasi ke manusia) suatu penyakit atau perpindahan kuman. Pentingnya membudayakan cuci tangan memakai sabun secara baik dan benar didukung oleh data WHO yang menunjukkan, setiap tahun rata-rata 100.000 anak di Indonesia meninggal dunia karena diare (Apryani, 2012). B. Bakteri Bakteri merupakan mikroba prokariotik uniseluler, berkembang biak secara aseksual dengan pembelahan sel. Semua bakteri memiliki struktur sel yang relatif sederhana. Berdasarkan komposisi dan struktur dinding sel, maka bakteri dibagi ke dalam dua golongan yaitu bakteri gram positif dan bakteri gram negatif (Pratiwi, 2008). 7

(31) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 8 Berdasarkan bentuk bakteri digolongkan menjadi tiga golongan utama, yaitu bentuk coccus (bulat), bentuk basil (batang), dan bentuk spiral. Komponen utama struktur bakteri terdiri atas makromolekul, yaitu DNA, RNA, protein, polisakarida, dan fosfolipida. Makromolekul terdiri atas sub-unit primer, yaitu nukleotida, asam amino dan karbohidrat. Secara keseluruhan, struktur utama makromolekul sangat mempengaruhi sifat-sifat suatu sel dan menentukan perbedaan fungsi sel itu dalam sistem biologi (Radji, 2009). Tabel I. Struktur Sel Bakteri (Radji, 2009) Makromolekul Penyusun Materi Sel Bakteri Makromolekul Sub-unit primer Terdapat pada DNA: nukleus (kromosom), plasmid Nukleotida (DNA dan rRNA: ribosom, mRNA Asam nukleat RNA) tRNA: sitoplasma Flagel, pili, dinding sel, membran sitoplasma, Protein Asam amino ribosom, sitoplasma Polisakarida Karbohidrat Kapsul bakteri, badan inklusi, dinding sel Fosfolipida Asam lemak Membran Sel Bakteri dapat ditemukan sebagai flora normal dalam tubuh manusia yang sehat. Sebagai flora normal manusia, bakteri merupakan hal yang sangat penting dalam melindungi tubuh dari datangnya bakteri patogen. Namun pada beberapa kasus dapat menyebabkan infeksi jika manusia tersebut mempunyai toleransi yang rendah terhadap mikroorganisme. Contohnya E. coli paling banyak dijumpai sebagai penyebab infeksi saluran kemih (Ducel, 2002).

(32) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 9 Penyebaran bakteri pada manusia dapat terjadi melalui kulit, hidung atapun mulut. Kulit secara konstan berhubungan dengan bakteri dari udara atau dari benda-benda, tetapi kebanyakan bakteri ini tidak tumbuh pada kulit karena kulit tidak sesuai untuk pertumbuhannya. Pada umumnya bakteri pada kulit mampu bertahan lama karena kulit mengeluarkan substansi bakterisidal (Pelczar, 2005). Bakteri dapat menimbulkan penyakit pada mahkluk hidup lain karena memiliki kemampuan menginfeksi, mulai dari infeksi ringan sampai infeksi berat (Radji, 2009). Dalam penelitian berjudul “Identifikasi Mikroorganisme Pada Tangan Tenaga Medis dan Paramedis di Unit Perinatologi Rumah Sakit Abdul Moeloek Bandar Lampung” ditemukan berbagai macam bakteri di tangan paramedis seperti Staphylococcus epidermidis, Staphylococcus saprophyticus, Staphylococcus aureus, Serratia liquefacients, Pseudomonas aeruginosa, Enterobacter aerogenes, Citrobacter freundii, dan Salmonella sp (Pratami, Apriliana, dan Rukmono, 2014). C. Isolasi Mikroba Isolasi merupakan suatu tindakan pengambilan mikroorganisme yang terdapat di alam kemudian menumbuhkannya dalam suatu medium buatan (Sutedjo, Kartasapoetra, dan Sastroatmodjo, 1996). Untuk dapat mengisolasi mikroba dari suatu mikroba, dapat digunakan beberapa perangkat prosedur yaitu: 1. Metode taburan (pour plate) Dalam proses ini suspensi bakteri dalam cairan dicampur dengan agar yang sudah dileburkan pada suhu kira-kira 50oC. Kemudian agar dituangkan ke dalam

(33) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 10 cawan petri, dibiarkan mendingin supaya membeku dan diinkubasi. Bakteri akan tumbuh dibawah atau di atas permukaan agar (Tarigan, 1988). 2. Metode sebaran (spread plate) Dalam metode ini suspensi bakteri diencerkan dalam cairan tertentu dan disebarkan pada media nutrient agar, kemudian sebuah batang gelas yang dibengkokkan dapat digunakan untuk menyebarkan suspensi bakteri yang akan diisolasi. Cara ini dilakukan beberapa kali sehingga hanya diperoleh satu jenis mikroba (Tarigan, 1988). 3. Metode goresan (steak plate) Apabila ingin mengisolasi suatu mikroba yang terdapat di dalam tanah maka kita dapat membuat suspensi tanah tersebut dengan air yang steril. Lalu ambil nutrient agar dan dituangkan ke dalam cawan petri yang steril. Setelah dingin diinokulasi suspensi tersebut pada nutrient agar dengan menggunakan loop dan menggoreskannya pada permukaan media yang digunakan. Inkubasi dalam incubator dengan suhu 37oC dan setelah 3-4 hari dapat diamati pertumbuhan bakteri tersebut (Tarigan, 1988). D. Uji Potensi Senyawa Antibakteri Uji potensi senyawa antibakteri bertujuan untuk mengetahui kemampuan suatu senyawa uji dalam menghambat pertumbuhan bakteri dengan mengukur respon pertumbuhan populasi mikroorganisme terhadap agen antibakteri (Pratiwi, 2008). Metode uji potensi suatu senyawa antibakteri dapat dilakukan dengan cara difusi dan dilusi. Beberapa contoh metode difusi, antara lain:

(34) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 11 1. Metode difusi sumuran Metode difusi merupakan metode uji potensi antimikroba secara kualitatif untuk menentukan aktivitas antimikroba (Boyd, 1984). Metode difusi didasarkan pada kemampuan obat untuk berdifusi ke dalam media tempat bakteri uji berkembang biak secara optimal (Hugo dan Russel, 1987). 2. E-test Metode ini digunakan untuk mengestimasi KHM (Kadar Hambat Minimum), yaitu konsentrasi minimal suatu agen antibakteri untuk dapat menghambat pertumbuhan mikroorganisme. Metode ini menggunakan strip plastik yang mengandung agen antibakteri dari kadar terendah hingga kadar tertinggi dan diletakkan pada permukaan media agar yang telah diinokulasikan dengan bakteri uji (Pratiwi, 2008). 3. Metode ditch-plate Metode ini dilakukan dengan cara menghilangkan potongan agar dari cawan dan mengisi lubang yang terbentuk dengan agar yang telah berisi senyawa antibakteri. Medium dapat diatur sedemikian rupa hingga beberapa bakteri dapat diinokulasikan secara streakplate pada agar yang telah mengandung antibakteri tersebut. Metode ini cocok untuk pengujian senyawa terhadap sejumlah besar bakteri (Pratiwi, 2008). 4. Metode disc diffusion Metode ini digunakan untuk menggunakan papper disc yang berisikan agen antibakteri diletakkan pada media agar yang telah diinokulasikan dengan

(35) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 12 bakteri uji, kemudian area jernih yang terbentuk menunjukkan adanya hambatan pertumbuhan bakteri (Pratiwi, 2008). E. Pengukuran Diameter Zona Hambat Zona hambat merupakan zona terhambatnya pertumbuhan bakteri yang disebabkan oleh suatu senyawa antibakteri. Pengukuran diameter zona hambat dapat diukur dengan menggunakan jangka sorong (Pelczar, 1986). Selain menggunakan jangka sorong, dapat digunakan Sorcerer Image Analysis System untuk mengukur zona hambat. Prinsip pengukuran zona hambat dengan membandingkan perbedaan secara kontras antara zona jernih dan zona pertumbuhan bakteri. Zona hambat dapat dianalisis secara tunggal atau beberapa zona hambat dengan menggunakan program scanning measurement frames. Data dapat dikirim langsung ke Microsoft Excel atau database Oracle untuk diolah lebih lanjut (Reynolds, 2013). F. Daun Beluntas (Pluchea indica (L.) Less) 1. Taksonomi tanaman Divisi : Spermathophyta Subdivisi : Angiospermae Kelas : Dicotyledonae Bangsa : Asterales Suku : Asteraceae Marga : Pluchea Jenis : Pluchea indica (L.) Less (Syamsuhidayat dan Hutapea, 1991).

(36) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 13 2. Nama tanaman Nama daerah : Luntas (Jawa Tengah), Beluntas (Sunda), Baluntas (Madura) , Lamutasa (Makasar), dan Lenabou (Timor) Nama asing : : Marsh heabane dan Luan yi (Cina) (Hariana, 2002). 3. Deskripsi tanaman Gambar 1. Tanaman Beluntas (Dalimartha, 1999) Tanaman beluntas memiliki habitat perdu dengan tinggi 1-1,5 m. Batangnya berkayu, bulat, tegak, bercabang, bila masih mudah berwarna ungu setelah tua putih kotor. Daunnya tunggal, berbentuk bulat telur, tepi rata, ujung runcing, pangkal tumpul, berbulu halus, panjang 3,8-6,4 cm, lebar 2-4 cm, tulangnya menyirip, berwarna hijau. Bunganya majemuk, mahkota lepas, putik bentuk jarum, panjang kurang lebih 6 mm, berwarna hitam kecoklatan, kepala sari berwarna putih kekuningan. Akar beluntas merupakan akar tunggang dan bercabang (Syamsuhidayat dan Hutapea, 1991). Perbanyakan tumbuhan beluntas dilakukan dengan stek batang. Beluntas dirawat dengan disiram air cukup, dijaga kelembapan tanahnya, dan dipupuk dengan pupuk organik (Hariana, 2002). Beluntas umumnya tumbuh liar di daerah

(37) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 14 kering pada tanah yang keras dan berbatu atau ditanam sebagai tanaman pagar. Tumbuhan ini memerlukan cukup cahaya matahari atau sedikit naungan (Dalimartha, 1999). 4. Kandungan kimia Kandungan kimia yang terdapat pada daun beluntas (Pluchea indica (L.) Less) antara lain alkaloid, flavonoid, tanin, minyak atsiri, natrium, kalium, aluminium, kalsium, magnesium, dan fosfor. Sedangkan akarnya mengandung flavonoid dan tanin (Dalimartha, 1999). 5. Manfaat daun beluntas Daun beluntas berbau khas aromatis dan rasanya getir, berkhasiat untuk meningkatkan nafsu makan (stomatik), penurun demam (antipiretik), peluruh keringat (diaforetik), penyegar, TBC kelenjar, nyeri pada rematik dan keputihan (Dalimartha, 1999). Penelitian lain yang telah dilakukan dan menunjukkan bahwa daun beluntas (Pluchea indica (L.) Less) memiliki aktivitas antibakteri karena adanya senyawa flavonoid (Purnomo, 2001). Daun beluntas yang telah direbus juga dipercaya untuk mengobati penyakit kulit (Winarno dan Sundari, 1998). G. Ekstraksi Ekstraksi tanaman obat adalah pemisahan secara kimia atau fisika suatu/sejumlah bahan padat atau bahan cair dari suatu padatan, yaitu tanaman obat (Agoes, 2009). Pemilihan metode ekstraksi harus mempertimbangkan berbagai keadaan, diantaranya sifat jaringan tanaman, sifat kandungan zat aktif serta kelarutan zat yang akan diekstraksi. Berdasarkan fase yang diekstraksi, ekstraksi

(38) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 15 digolongkan ke dalam dua bagian besar, yaitu ekstraksi cair-cair dan ekstraksi cair padat (Harborne, 1996). Ekstrak adalah sediaan kering, kental, atau cair dibuat dengan menyari simplisia nabati atau hewani menurut cairan yang cocok. Cairan penyari yang digunakan dalam pembuatan ekstrak adalah air, eter atau campuran etanol dan air (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1995). 1. Maserasi Maserasi merupakan proses paling tepat dimana serbuk yang sudah halus dimungkinkan untuk direndam dalam penyari sampai meresap dan melunakkan susunan sel, sehingga zat-zat yang mudah larut akan melarut (Ansel, 1989). Maserasi digunakan untuk penyarian simplisia yang mengandung zat aktif yang mudah larut dalam cairan penyari, tidak mengandung zat yang mudah mengembang dalam cairan penyari (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1986). Proses pemilihan cairan penyari harus dipertimbangkan dan sesuai dengan zat aktif yang berkhasiat yang artinya dapat memisahkan zat aktif tersebut dari senyawa lainnya dalam bahan, sehingga ekstrak yang dihasilkan mengandung sebagian besar senyawa aktif berkhasiat tersebut (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2000). Kelebihan dari metode ini adalah cara pengerjaan dan peralatan yang digunakan relatif sederhana dan mudah. Kekurangan dari metode ini adalah pengerjaan lama dan penyarian kurang sempurna (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1986).

(39) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 16 H. Sabun Mekanisme pembersihan sabun: surfaktan pada sabun akan menurunkan tegangan antarmuka antara kotoran dan permukaan kulit. Bagian polar dari surfaktan akan berinteraksi dengan air, sedangkan bagian non-polar akan berinteraksi dengan kotoran yang biasanya berupa lemak. Surfaktan-surfaktan tersebut akan menyusun diri membentuk misel dengan kotoran yang terjebak di dalamnya. Bagian luar misel adalah gugus polar yang mudah dicuci dengan air (Rieger, 2000). I. Gel Gel adalah sediaan semi solid dimana terdapat interaksi antar partikel koloid dengan suatu pembawa berupa cairan. Berdasarkan sifat alami jaringan struktur tiga dimensi yang terbentuk, terdapat dua macam gel, yaitu: dispersi padatan dan polimer hidrofilik (Jones, 2008). Gel dapat digunakan secara topikal atau dimasukkan kedalam lubang tubuh (Dirjen POM, 1995). Gel merupakan sistem penghantaran obat yang sempurna untuk cara pemberian yang beragam dan kompatibel dengan banyak bahan obat yang berbeda (Allen dan Loyd, 2002). J. Gelling Agent Pada formulasi sediaan gel terdapat gelling agent. Komposisi gelling agent berpengaruh terhadap sifat fisik dan stabilitas fisik sediaan gel, karena gelling agent akan membentuk sistem jaringan tiga dimensi yang menjebak medium pendispersi. Sifat fisik yang dipengaruhi oleh gelling agent meliputi daya sebar dan viskositas. Gelling agent akan berpengaruh terhadap acceptability

(40) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 17 penghantaran zat aktif. Oleh karena itu diperlukan konsistensi formula yang optimum (Garg, Aggrawal. Garg, dan Singla, 2002) Menurut Pena (cit., Kurniawan, 2013), saat didispersikan dalam suatu pelarut yang sesuai gelling agent bergabung dan saling menjerat, kemudian membentuk struktur jarring koloid tiga dimensi. Jaring ini yang akan membatasi aliran cairan. Struktur ini juga menahan deformasi dan bertanggung jawab terhadap viskositas gel. 1. Sodium Carboxy Methyl Cellulose (CMC-Na) CMC-Na merupakan polimer sintetik dengan berat molekul besar yang terdiri atas rantai silang antara asam akrilat dengan alil sukrosa atau alil ester dari pentaerythritol. Pemeriannya adalah tidak berwarna, asam, halus, serbuk higroskopis dengan bau khas. CMC-Na mengandung 52-68% gugus asam karboksilat (COOH) dalam bentuk kering. CMC-Na berada pada range konsentrasi 3,0-6,0% yang berfungsi sebagai gelling agent (Rowe, Sheskey, dan Quinn, 2009). CMC-Na larut di dalam air di segala temperatur. Garam natrium yang terbentuk dapat didispersikan di dalam air dingin dengan cepat sebelum partikel terhidrasi dan mengembang menjadi gumpalan-gumpalan padatan membentuk sistem gel yang lengket. Viskositas produk dapat menurun jika pH yang dihasilkan berada pada kisaran pH di bawah 5 dan bila berada di kisaran pH di atas 10 (Allen dan Loyd, 2002).

(41) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 18 CMC-Na sering digunakan pada formulasi sediaan oral, topikal dan beberapa sediaan parenteral. CMC-Na juga dapat digunakan pada sediaan kosmetik, dan produk makanan (Rowe, Sheskey, dan Quinn, 2009). Gambar 2. Struktur CMC-Na (Sodium Carboxy Methyl Cellulose) (Rowe, Sheskey, dan Quinn 2009) K. Formulasi 1. Surfaktan Surfaktan adalah zat yang mempunyai gugus hidrofil dan lipofil sekaligus dalam molekulnya. Zat ini akan berada di permukaan cairan atau antar muka dua cairan dengan cara teradsorbsi (Moechtar, 1989). Surfaktan berdasarkan karakteristik muatannya, dikelompokkan menjadi golongan anionik (contoh: sodium lauryl sulphate), golongan kationik, golongan amfoterik dan golongan nonionik (Attwood, 2008). a. Sodium lauryl sulphate Gambar 3. Sodium Lauryl Sulphate (Rowe, Sheskey, dan Quinn, 2009)

(42) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 19 Sinonim dodecylalcohol, hydrogen sulphate, sodium salt, dodecyl sodium sulphate, dodecylsulphate sodium salt, lauryl sodium sulphate. Klasifikasi: alkyl sulphate salt. Sodium lauryl sulphate dignakan sebagai detergent, penurun tegangan permukaan, wetting agent, emulsifying, foaming agent. Untuk sediaan topikal digunakan pada konsentrasi 0,1 – 12,7% (Michael and Ash, 2004). Sodium lauryl sulphate memiliki panjang rantai 12 atom karbon dan merupakan satu dari sekian banyak surfaktan yang umum digunakan. Secara umum, alkyl sulphate merupakan pembusa yang baik, terlebih pada air sadah (Barel, 2009). Sodium lauryl sulphate banyak digunakan dalam kosmetik dan formulasi sediaan topikal. Sodium lauryl sulphate stabil pada kondisi penyimpanan normal. Namun dalam larutan di bawah kondisi ekstrim, yaitu pH 2,5 atau kurang dari itu, dapat mengalami hidrolisis terhadap alkohol, dan natrium lauril bisulfat. Materi bentuk serbuk harus disimpan dalam wadah tertutup baik di tempat yang sejuk dan kering (Rowe, Sheskey, dan Quinn, 2009). b. Humektan Humektan juga berfungsi menjaga kandungan lembab dan stabilitas dari sediaan kosmetik itu sendiri (Mitsui, 1997). a. Gliserol Gliserol merupakan cairan seperti sirup jernih dengan rasa manis. Dapat bercampur dengan air dan alkohol. Gliserol bersifat sebagai bahan pengawet dan

(43) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 20 sering digunakan sebagai stabilisator dan sebagai suatu pelarut pembantu dalam hubungannya dengan air dan alkohol (Ansel, 1989). Gliserol dapat bercampur dengan air dan dengan etanol, tidak larut dalam kloroform, dalam eter, dalam minyak lemak dan dalam minyak menguap. Bobot jenisnya tidak kurang dari 1,249 (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1995). Gliserol digunakan sebagai emollient dan humektan dalam sediaan topikal dengan rentang konsentrasi 0,2 – 65,7% (Smolinske, 1992). Gambar 4. Struktur Gliserol (Rowe, Sheskey, dan Quinn, 2009) b. Propilen glikol Propilen glikol, C3H8O2, memiliki BM 76,09. Pemerian: cairan kental, jernih, tidak berwarna, rasa khas, praktis tidak berbau, menyerap air pada udara lembab. Kelarutan: dapat bercampur dengan air, kloroform, aseton; larut dalam eter dan dalam beberapa minyak essensial; tidak dapat bercampur dengan minyak lemak (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1995). Gambar 5. Struktur Propilen Glikol (Rowe, Sheskey, dan Quinn., 2009) c. Pengawet Pengawet merupakan bahan untuk mencegah tumbuhnya, atau bereaksi dan menghancurkan, mikroorganisme yang bisa merusak produk atau tumbuh

(44) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 21 pada produk. Pengawet harus memiliki aktivitas berspektrum luas, stabil, tidak berbau dan berwarna, efektif dalam konsentrasi rendah dan aman (Tranggono dan Latifah, 2007). a. Metil paraben Metil paraben mengandung tidak kurang dari 99,0% dan tidak lebih dari 100,5% C9H9O3, dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan. Pemerian: hablur kecil, tidak berwarna atau serbuk hablur, putih, tidak berbau khas. Kelarutan: sukar larut dalam air, dalam benzen dan dalam karbon tetraklorida, mudah larut dalam etanol dan dalam eter. Jarak lebur antara 125o dan 128o (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1995). Dalam peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Republik Indonesia No: HK.00.05.42.1018 tentang Bahan Kosmetik menyantumkan bahwa penggunaan bahan 4-hydroxybenzoic acid, its salt and esters dengan nomor ACD 12, di jelaskan bahwa kadar maksiumum 0,4 persen (asam) untuk ester tunggal serta 0,8 persen (asam) untuk ester campuran yang ditambahkan ke dalam sediaan kosmetik. Di jelaskan bahwa ester adalah methyl, ethyl, propyl, isopropyl, butyl, isobutyl, dan phenyl (Badan POM RI, 2008). Metil paraben secara digunakan sebagai antimikroba pada kosmetik, produk makanan, dan sediaan farmasi. Konsentrasi penggunaan metil paraben sebagai antimikroba pada sediaan topikal adalah 0,02-0,3%. Metil paraben bersifat nonmutagenik, nonteratogenik, dan nonkarsinogenik (Rowe, Sheskey, dan Quinn, 2009).

(45) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 22 Gambar 6. Struktur Metil Paraben (DepKes RI,1979) d. Etanol Etanol adalah campuran etil alkohol dan air. Etanol mengandung tidak kurang dari 94,7% v/v atau 92,0% dan tidak lebih dari 95,2% v/v atau 92,7% C2H6O. Pemeriannya cairan tidak berwarna, jernih, mudah menguap dan mudah bergerak; berbau khas; rasa panas. Mudah terbakar dengan memberikan nyala biru yang tak berasap (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1979). e. Aquadest (Air Murni) Air murni adalah air yang dimurnikan yang diperoleh dengan destilasi, perlakuan menggunakan penukar ion, osmosis balik, atau proses lain yang sesuai. Dibuat dari air yang memenuhi persyaratan air minum. Tidak mengandung zat tambahan lain. Pemerian: cairan jernih, tidak berwarna; dan tidak berbau (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1995). L. Sifat Fisik dan Stabilitas Fisik Sediaan uji harus dievaluasi untuk menjamin bahwa sediaan memiliki karakteristik yang diinginkan. Karakteristik tersebut harus mencakup penampilan sediaan, warna, keseragaman bentuk, berat jenis, pH, dan viskositas. Parameter tersebut harus direkam untuk stabilitas pada kondisi penyimpanan dengan interval waktu tertentu (Lieberman, Rieger, dan Banker, 1996).

(46) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 23 1. Viskositas Rheology berasal dari bahasa Yunani, “Rheo” berarti “aliran” dan “Logos” yang berarti “ilmu”. Rheology didefinisikan sebagai aliran suatu cairan. Sifat alir berperan dalam aplikasi formulasi sediaan farmasi. Penggolongan bahan menurut tipe aliran dan deformasinya dibagi menjadi dua yaitu, sistem Newton dan sistem non-Newton (Martin, Swarbick, dan Cammarata, 1993). Sifat alir Newton menunjukkan adanya hubungan linier antara gaya geser (shear stress) dengan kecepatan geser (Lieberman, Rieger, dan Banker, 1996). Viskositas adalah suatu pernyataan tahanan dari suatu cairan untuk mengalir, makin tinggi viskositas maka makin besar tahanannya. Semakin tinggi viskositas maka tahanan suatu cairan untuk dapat mengalir semakin besar pula (Martin, Swarbick, dan Cammarata, 1993). Uji stabilitas merupakan proses evaluasi untuk menjamin bahwa sifat-sifat utama produk tidak berubah selama waktu yang dapat diterima oleh konsumen. Pergerseran viskositas adalah uji yang biasa dilakukan untuk melihat stabilitas viskositas selama penyimpanan. Adanya variasi pada ukuran atau jumlah droplet dapat dideteksi dengan pergeseran viskositas secara nyata (Aulton dan Diana, 1991). 2. Penetapan pH Harga pH merupakan harga yang dapat ditentukan dengan alat potensiometrik (pH meter atau indicator pH) yang sesuai dan telah dibakukan. Pengukuran dilakukan pada suhu ±250C, kecuali dinyatakan lain dalam masingmasing monografi (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1995).

(47) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 24 3. Ketahanan busa Stabilitas busa merupakan kemampuan busa untuk mempertahankan parameter utamanya dalam keadaan konstan selama waktu tertentu. Parameter tersebut meliputi ukuran gelembung, kandungan cairan, dan total volume busa. Foam lifetime (waktu hidup busa) merupakan ukuran paling sederhana untuk menunjukkan stabilitas busa (Exerowa, 1998). Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi ketahanan busa, antara lain adalah viskositas yang tinggi. Pada viskositas tinggi dapat memperlambat proses drainage, sehingga busa sulit terbentuk (Myers, 2006). M. Landasan teori Bakteri dapat ditemukan sebagai flora normal dalam tubuh manusia yang sehat, namun pada beberapa kasus dapat menyebabkan infeksi jika manusia tersebut mempunyai toleransi yang rendah terhadap mikroorganisme. Bakteri dapat ditularkan melalui tangan manusia. Ekstrak etanol daun beluntas telah diteliti memiliki kandungan senyawa fenolik yang terbukti memiliki aktivitas antimikroba terhadap Staphylococcus aureus, E. coli, Pseudomonas fluorecens dan Salmonela thypi. Dalam penelitian ini, dibuat sediaan sabun cuci tangan dengan ekstrak etanol daun beluntas. Sediaan sabun cuci tangan dibuat dalam bentuk sediaan gel. Gel merupakan sediaan semi solid dimana terdapat interaksi antar partikel koloid dengan suatu pembawa berupa cairan. Sifat fisik (viskositas, pH, organoleptis, ketahanan busa) dan stabilitas fisik (pergeseran viskositas, pergeseran ketahanan busa) suatu sediaan dapat

(48) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 25 dipengaruhi oleh jumlah gelling agent yang terdapat dalam suatu formula gel. Penambahan gelling agent perlu diperhatikan dalam formulasi sediaan gel sabun cuci tangan. Gelling agent yang digunakan dalam formulasi ini adalah CMC-Na. N. Hipotesis 1. Ekstrak etanol daun beluntas (Pluchea indica (L.) Less) memiliki potensi antibakteri terhadap isolat bakteri tangan. 2. Terdapat perbedaan sifat fisik dan stabilitas fisik pada variasi jumlah CMCNa sebagai gelling agent pada formulasi sediaan sabun cuci tangan ekstrak etanol daun beluntas (Pluchea indica (L.) Less).

(49) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Rancangan Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental murni. B. Variabel Penelitian Variabel dalam penelitian ini yaitu: 1. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah variasi jumlah CMC-Na dengan konsentrasi sebesar 3%, 4%, 5% , 6% dan variasi konsentrasi ekstrak etanol daun beluntas yaitu 2%, 4%, 6%, 8% dan 10%. 2. Variabel tergantung dalam penelitian ini adalah zona hambat aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun beluntas, sifat fisik dan stabilitas fisik sediaan sabun cuci tangan ekstrak etanol daun beluntas yang meliputi pH, organoleptis, viskositas, dan ketahanan busa. 3. Variabel pengacau terkendali dalam penelitian ini adalah alat percobaan, wadah penyimpanan, lama penyimpanan sabun cuci tangan, lama dan kecepatan pencampuran. 4. Variabel pengacau tak terkendali dalam penelitian ini adalah suhu dan kelembapan pada saat pembuatan. 26

(50) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 27 C. Definisi Operasional 1. Sabun cuci tangan antibakteri adalah molekul surfaktan yang memiliki kemampuan untuk membersihkan dan berfungsi menekan bertumbuhan kuman, yang diaplikasikan pada tangan. 2. Serbuk daun beluntas (Pluchea indica (L.) Less) merupakan serbuk daun beluntas yang diperoleh dari hasil budidaya tanaman beluntas yang ada di CV. Merapi Farma. 3. Ekstrak etanol daun beluntas adalah ekstrak hasil maserasi simplisia daun beluntas menggunakan pelarut etanol 70%. Penetapan kadar total fenolik dilakukan oleh LPPT Universitas Gadjah Mada. 4. Gel merupakan sediaan semi solid dimana terdapat interaksi antar partikel koloid dengan suatu pembawa berupa cairan. 5. CMC-Na merupakan senyawa yang pada rentang konsentrasi 3-6% dapat berfungsi sebagai gelling agent. 6. Isolat bakteri tangan merupakan hasil isolasi mikroba dari 3 bagian tangan yaitu telapak tangan, jari tangan dan punggung tangan. 7. Uji potensi antibakteri merupakan uji yang dilakukan untuk mengetahui kemampuan ekstrak etanol daun beluntas untuk menghambat pertumbuhan bakteri. 8. Zona hambat merupakan zona jernih disekitar sumuran, yang menghambat atau membunuh isolat bakteri tangan.

(51) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 28 9. Sifat fisik sediaan gel dipengaruhi oleh viskositas, homogenitas, dan distribusi ukuran partikel. Stabilitas fisik sediaan gel merupakan kemampuan gel sabun cuci tangan ekstrak daun beluntas untuk bertahan dalam batas spesifiasi yang diterangkan selama penyimpanan dan penggunaan. 10. Organoleptis merupakan pengamatan yang dilakukan secara visual terhadap warna, bentuk dan bau sediaan gel sabun cuci tangan ekstrak daun beluntas setelah penyimpanan 48 jam dan setelah penyimpanan 28 hari. 11. Viskositas adalah ketahanan alir sediaan sabun cuci tangan yang dikukur 48 jam, 7 hari, 14 hari, 21 hari, dan 28 hari. 12. Ketahanan busa adalah kemampuan sediaan untuk mempertahankan volume busa. Pergeseran ketahanan busa diamati tiap-tiap minggu dalam jangka waktu satu bulan. Hal ini bertujuan untuk mengetahui perubahan ketahanan busa yang terjadi selama penyimpanan. 13. Penetapan pH merupakan uji yang dilakukan untuk mengetahui harga pH sediaan gel sabun cuci tangan ekstrak etanol daun beluntas agar sesuai dengan pH kulit (5-6,5).

(52) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 29 D. Bahan dan Alat Penelitian 1. Bahan penelitian Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah aquadest steril, Texapon® (kualitas farmasetis dari PT. Brataco), gliserol (kualitas farmasetis dari PT. Brataco), propilen glikol (kualitas farmasetis dari PT Brataco), CMC-Na (kualitas farmasetis PT Brataco), metil paraben, etanol 70%, serbuk daun beluntas (CV. Merapi Farma), ekstrak etanol daun beluntas (LPPT Universitas Gadjah Mada Yogyakarta), kultur isolat bakteri tangan dari 3 probandus di Laboratorium Mikrobiologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. 2. Alat penelitian Alat penelitian yang digunakan dalam penelitian: cawan petri, glassware, paper disk, indikator pH, termometer, jarum ose, spreader, autoklaf (Model KT-40), bunsen, mikropipet, timbangan analitik (Precise 2000C-2000D1), Viscometer Rion seri VT 04 (RION-JAPAN), mixer (Philip), mikroskop, oven, dan sentrifuge.

(53) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 30 E. Tata Cara Penelitian 1.Pembuatan serbuk daun beluntas a. Pengumpulan bahan daun beluntas Bahan yang digunakan adalah daun beluntas yang diperoleh dari CV. Merapi Farma yang terletak di Jl. Kaliurang Km. 21, Sleman, Yogyakarta. Pengambilan daun beluntas dipilih berdasarkan warna daun yaitu berwarna hijau muda serta letak daun yang diambil pucuk 1-6 daun dari atas tanaman beluntas. Setidaknya daun berumur 50 hari. Identifikasi dilakukan oleh CV. Merapi Farma yang menyatakan bahwa daun yang digunakan adalah benar daun beluntas (Pluchea indica (L.) Less). b. Pembuatan serbuk daun beluntas Daun beluntas yang telah dipanen, dicuci dengan air mengalir, kemudian dikeringkan dibawah sinar matahari dengan ditutupi kain hitam. Setelah pengeringan, dilakukan penyerbukan dengan menggunakan mesin penyerbuk dengan pengayakan berdiameter 1 mm. Penyerbukan daun beluntas dilakukan oleh CV. Merapi Farma. 2. Pembuatan ekstrak etanol daun beluntas a. Ekstraksi serbuk daun beluntas Ekstraksi serbuk daun beluntas dilakukan dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 70% berdasarkan CoA (Ceritificate of Analysis) yang dilakukan Lembaga Penelitian dan Pengujian Terpadu Universitas Gadjah Mada (LPPT UGM)

(54) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 31 b. Penetapan kadar total fenolik Penetapan kadar total fenolik dilakukan dengan metode spektrofotometri berdasarkan CoA (Ceritificate of Analysis) yang dilakukan Lembaga Penelitian dan Pengujian Terpadu Universitas Gadjah Mada (LPPT UGM). 3. Uji potensi antibakteri ekstrak etanol daun beluntas a. Pembuatan stok isolat bakteri tangan Isolasi bakteri dari tangan dilakukan kepada tiga probandus dari bagian tangan yang berbeda, dengan ktiteria: Probandus telah melakukan kegiatan dan belum cuci tangan atau belum menggunakan produk antiseptik untuk tangan. Isolasi dilakukan dengan menempelkan bagian tangan pada cawan petri berisi media Nutrient Agar (NA) 15 mL secara aseptis. Tiga bagian tangan tersebut adalah bagian punggung tangan, jari tangan, dan bagian telapak tangan. Kemudian diinkubasi terbalik selama 24 jam pada suhu 37oC. Isolat bakteri tangan dari tiga probandus yang telah tumbuh pada media NA cawan petri diambil dengan menggunakan ose dan ditanam di media NA miring. Kemudian diinkubasi pada suhu 37oC selama 24 jam. Hasil isolasi akan digunakan untuk uji potensi antibakteri ekstrak etanol daun beluntas. Uji dilakukan dalam Microbiological Safety Cabinet (MSC). b. Pembuatan suspensi isolat bakteri uji Tabung reaksi berisi media Nutrient Broth (NB) disiapkan sebanyak 10 mL. Kemudian kultur bakteri yang telah tumbuh pada media NA miring

(55) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 32 diinokulasikan ke dalam media NB dengan jarum ose, dan diinkubasikan pada suhu 37oC selama 24 jam. Setelah diinkubasi, media NB di lihat kekeruhannya (setara dengan standar Mac Farland 1,5 x 108 CFU/mL). Jika kekeruhannya belum setara dengan standar Mac Farland 1,5 x 108 CFU/mL ditambahkan NB steril sampai kekeruhannya setara dengan standar Mac Farland 1,5 x 108 CFU/mL. c. Pembuatan konsentrasi ekstrak etanol daun beluntas 1.) Konsentrasi ekstrak etanol daun beluntas 2% Ditimbang 0,2 g ekstrak etanol daun beluntas, kemudian dilarutkan dengan sedikit aquadest steril. Ekstrak dimasukkan ke dalam labu ukur 10 mL, lalu ditambahkan dengan aquadest steril sampai tanda. 2.) Konsentrasi ekstrak etanol daun beluntas 4% Ditimbang 0,4 g ekstrak etanol daun beluntas, kemudian dilarutkan dengan sedikit aquadest steril. Ekstrak dimasukkan ke dalam labu ukur 10 mL, lalu ditambahkan dengan aquadest steril sampai tanda. 3.) Konsentrasi ekstrak etanol daun beluntas 6% Ditimbang 0,6 g ekstrak etanol daun beluntas, kemudian dilarutkan dengan sedikit aquadest steril. Ekstrak dimasukkan ke dalam labu ukur 10 mL, lalu ditambahkan dengan aquadest steril sampai tanda. 4.) Konsentrasi ekstrak etanol daun beluntas 8% Ditimbang 0,8 g ekstrak etanol daun beluntas, kemudian dilarutkan dengan sedikit aquadest steril. Ekstrak dimasukkan ke dalam labu ukur 10 mL, lalu ditambahkan dengan aquadest steril sampai tanda.

(56) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 33 5.) Konsentrasi ekstrak etanol daun beluntas 10% Ditimbang 1 g ekstrak etanol daun beluntas, kemudian dilarutkan dengan sedikit aquadest steril. Ekstrak dimasukkan ke dalam labu ukur 10 mL, lalu ditambahkan dengan aquadest steril sampai tanda. 6.) Konsentrasi ekstrak etanol daun beluntas 100% Konsentrasi ekstrak etanol daun beluntas 100% digunakan sebagai kontrol positif. Ditimbang 10 g ekstrak etanol daun beluntas, kemudian dilarutkan dengan sedikit aquadest steril. Ekstrak dimasukkan ke dalam labu ukur 10 mL, lalu ditambahkan dengan aquadest steril sampai tanda. d. Uji aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun beluntas Potensi antibakteri ekstrak etanol daun beluntas diuji terhadap isolat bakteri tangan dengan metode difusi sumuran. Seri konsentrasi ekstrak etanol daun beluntas adalah 2%, 4%, 6%, 8%, dan 10% dengan konsentrasi 100% sebagai kontrol positif. Media NA yang digunakan dibagi menjadi 2 bagian yaitu base layer (10 mL) dan seed layer (15 mL). Bagian base layer dituang ke cawan petri steril dan dibiarkan memadat terlebih dahulu. Untuk seed layer, diambil 1 mL dari stok suspensi bakteri uji yang sudah disetarakan kemudian diinokulasikan ke media NA secara pour plate. Media NA yang mengandung bakteri dibiarkan sampai memadat. Dibuat sumuran pada petri dengan pelubang gabus no. 4. Kemudian dengan menggunakan mikropipet, diinokulasikan 50 μL ekstrak etanol daun beluntas dengan berbagai seri konsentrasi. Kemudian diinkubasi selama 24 jam pada suhu kamar.

(57) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 34 e. Penentuan konsentrasi ekstrak yang akan diformulasikan ke dalam sediaan gel sabun cuci tangan antibakteri Diamati zona jernih pada bakteri. Konsentrasi ekstrak etanol daun beluntas ditentukan dengan melihat aktivitas antibakteri yang paling baik dengan mengamati zona hambat yang terbentuk dan membandingkannya dengan kontrol negatif. Dilakukan analisis statistik untuk melihat perbandingan diameter zona hambat antar konsentrasi secara signifikan. 4. Pembuatan sediaan gel sabun cuci tangan antibakteri ekstrak etanol daun beluntas a. Modifikasi formula gel sabun cuci tangan antibakteri ekstrak etanol daun beluntas Formula yang digunakan dalam pembuatan sediaan gel sabun cuci tangan antibakteri Tabel II. Formula Sediaan Gel Sabun Cuci Tangan Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Beluntas Bahan Jumlah (g) ® Sodium Lauryl Sulphate : Texapon 2,5 Gliserol 30 Propilen Glikol 15 Metil Paraben 0.10 CMC-Na 3-6 Ekstrak Etanol Daun Beluntas Aquadest 6 43,4

(58) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 35 Tabel III.Variasi Jumlah CMC-Na pada Formula Sediaan Gel Sabun Cuci Tangan Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Beluntas Bahan Formula 1 (g) Formula 2 (g) Formula 3 (g) Formula 4 (g) Sodium Lauryl Sulphate : Texapon® 2,5 2,5 2,5 2,5 Gliserol 30 30 30 30 Propilen Glikol 15 15 15 15 0.10 0.10 0.10 0.10 CMC-Na 3 4 5 6 Ekstrak Etanol Daun Beluntas 6 6 6 6 43,4 43,4 43,4 43,4 Metil Paraben Aquadest b. Pembuatan gel sabun cuci tangan antibakteri ekstrak etanol daun beluntas CMC-Na dikembangkan dalam aquadest 22 ml (setengah dari total aquadest pada formula) selama 24 jam (a). Metil paraben dilarutkan ke dalam propilen glikol (b). Texapon® dilarutkan dalam gliserol (c). Ekstrak etanol daun beluntas dilarutkan dalam aquadest sisa (d). Kemudian campuran a, b, c, dan d dicampurkan menggunakan mortir dan stamper selama 1 menit dengan kecepatan konstan hingga membentuk masa gel. 5. Evaluasi sediaan gel sabun cuci tangan antibakteri ekstrak etanol daun beluntas a. Sifat fisik 1. Pengamatan organoleptis Pengamatan dilihat secara langsung bentuk, warna, dan bau dari gel yang dibuat 48 jam setelah pembuatan sediaan gel sabun cuci tangan.

(59) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 36 2. Viskositas Gel sabun cuci tangan antibakteri ekstrak etanol daun beluntas dimasukkan ke dalam wadah dan dipasang pada viscostester VT 04. Nilai viskositas sediaan ditunjukkan oleh jarum penunjuk saat viscostester dinyalakan. Pengukuran dilakukan 48 jam setelah pembuatan sediaan gel sabun cuci tangan kemudian hasilnya dicatat. 3. Ketahanan busa Ditimbang gel sabun cuci tangan sebanyak 0,1 g dan larutkan dalam 10 mL air. Kemudian masukkan ke dalam tabung reaksi berskala ukuran 25 mL, vortex dengan kecepatan maksimal selama 2 menit. Catat tinggi busa pada menit ke 0 sampai menit 20. Hitung selisih tinggi busa pada menit ke 0 dan menit ke 20 sebagai nilai ketahanan busa. Pengukuran dilakukan 48 jam setelah pembuatan sediaan gel sabun cuci tangan. 4. Pengukuran pH Penentuan pH sediaan dilakukan dengan cara mencelupkan pH meter ke dalam setiap sediaan sabun cuci tangan gel. Pengukuran dilakukan 48 jam setelah pembuatan sediaan gel sabun cuci tangan kemudian hasilnya dicatat. b. Stabilitas fisik Stabilitas fisik dilihat dengan mengamati sifat fisik sediaan meliputi organoleptis, viskositas, ketahanan busa, dan pH selama masa

(60) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 37 penyimpanan, yaitu pada waktu 48 jam, 7 hari, 14 hari, 21 hari, dan 28 hari penyimpanan. 6. Uji aktivitas antibakteri sediaan gel sabun cuci tangan antibakteri terhadap isolat bakteri tangan a. Pembuatan suspensi bakteri uji Tabung reaksi berisi media NB disiapkan sebanyak 9 ml. Kemudian kultur bakteri yang telah tumbuh pada media NA miring diinokulasikan ke dalam media NB dengan jarum ose, dan diinkubasikan pada suhu 370C selama 24 jam. Setelah diinkubasi, media NB dilihat kekeruhannya (setara dengan standar Mac Farland 1,5 x 108 CFU/mL). Jika kekeruhannya belum setara dengan standar Mac Farland 1,5 x 108 CFU/mL ditambahkan NB steril sampai kekeruhannya setara dengan standar Mac Farland 1,5 x 108 CFU/mL. b. Uji aktivitas sediaan gel sabun cuci tangan antibakteri ekstrak etanol daun beluntas Gel sabun cuci tangan antibakteri ekstrak etanol daun beluntas dengan berbagai konsentrasi yang dibuat diletakkan pada masing-masing lubang sumuran yang tersedia pada media yang sebelumnya telah diinokulasikan bakteri uji secara pour plate. Kontrol positif yang digunakan adalah sabun cuci tangan Lifebuoy Color Changing® dan kontrol negatif yang digunakan adalah basis gel. Diinkubasi selama 24 jam pada suhu 37oC, kemudian diamati hasilnya. Diameter zona hambat yang dihasilkan sebagai dasar untuk mengamati daya antibakteri yang dibandingkan dengan kontrol positif dan kontrol negatif.

(61) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 38 F. Analisis Data Data yang dihasilkan berupa data diameter zona hambat, viskositas, ketahanan busa, pergeseran viskositas dan pergeseran ketahanan busa. Data yang diperoleh, dianalisis dengan menggunakan software R (www.r-project.org) dari program R 3.1.0. untuk melihat signifikansi dari variasi jumlah CMC-Na sebagai gelling agent terhadap sifat fisik dan stabilitas fisik sediaan sabun cuci tangan. Data yang memenuhi kriteria parametrik dianalisis menggunakan One Way ANOVA untuk mengetahui perbedaan data dilanjutkan dengan uji t-independent untuk mengetahui signifikansi pengaruh gelling agent terhadap sifat fisik. Untuk stabilitas fisik gel dilakukan uji t-berpasangan. Data yang memenuhi kriteria nonparametrik dianalisis menggunakan uji Kruskal-Wallis untuk mengetahui perbedaan data lebih dari dua kelompok, sedangkan uji Wilcoxon untuk melihat perbedaan yang signifikan dari dua kelompok data. Pada taraf kepercayaan 95% data berbeda signifikan jika nilai probabilitas lebih kecil dari 0,05 (p-value < 0,05).

(62) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Pengumpulan Bahan dan Determinasi Tanaman Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah daun beluntas (Pluchea indica (L.) Less). Daun beluntas yang digunakan dipanen dari tempat budidaya yang terletak di CV. Merapi Farma, Jl. Kaliurang, Daerah Istimewa Yogyakarta pada Oktober 2013. Daun beluntas yang digunakan harus dipanen dari satu tempat yang sama untuk menghindari variasi lingkungan yang berbeda. Daun yang dipanen setidaknya berumur 50 hari agar tidak menganggu produktivitas tanaman dan pilih berdasarkan warna daun dan pucuk daun. Daun yang digunakan diambil pada bagian pucuk 1-6 daun dari atas tanaman (Paini, 2011). Hasil uji total kandungan fenolik menyatakan bahwa semakin muda daun, kadar total fenol semakin besar (Saffan dan El-Mousallamy, 2008). Sebelum digunakan dilakukan determinasi tanaman terlebih dahulu. Determinasi dilakukan oleh CV. Merapi Farma dengan mencocokan morfologi tanaman dengan kunci determinasi (Van Steenis dan Bloembergen, 1987). Tujuan dilakukan determinasi tanaman ini adalah untuk mengetahui kebenaran indentitas suatu tanaman. Hasil determinasi daun beluntas (Pluchea indica (L.) Less) menyatakan bahwa tanaman tersebut benar merupakan simplisia daun beluntas (Pluchea indica (L.) Less) (Lampiran 1). 39

(63) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 40 B. Pembuatan Serbuk Daun Beluntas Daun beluntas yang telah dipanen kemudian dicuci dengan air mengalir untuk menghilangkan debu, tanah dan pengotor-pengotor yang menempel yang mungkin dapat mengganggu penelitian. Setelah itu, daun beluntas dikeringkan di bawah sinar matahari. Daun beluntas yang dikeringkan ditutupi dengan kain hitam, agar daun beluntas tidak terkena sinar matahari secara langsung. Hal ini bertujuan supaya tidak merusak kandungan zat aktif daun beluntas yang memiliki sifat tidak tahan terhadap sinar matahari. Pengeringan ini membutuhkan waktu lima hari untuk memastikan bahwa kandungan air pada daun beluntas telah sesuai dengan batas minimum kadar air dalam simplisia yaitu, kurang dari 10%. Pengeringan dilakukan untuk mengurangi kadar air dari simplisia karena kadar air yang tinggi dapat menyebabkan pertumbuhan mikroorganisme dan jamur sehingga dapat menurunkan kualitas dari simplisia. Selain itu pengeringan dapat mencegah terjadinya peristiwa enzimatis yang dapat menyebabkan perubahan secara kimiawi. Pembuatan serbuk daun beluntas bertujuan untuk meningkatkan luas permukaan simplisia. Semakin besar luas permukaan pembasahan serbuk oleh cairan penyari akan semakin optimal karena permukaan simplisia yang bersentuhan dengan penyari semakin luas. Penyerbukan daun beluntas dilakukan oleh CV. Merapi Farma. Penyerbukan dilakukan dengan menggunakan mesin penyerbuk dengan pengayakan berdiameter 1 mm. Ukuran lubang pengayak 1 mm menunjukkan nomor pengayak 18. Setelah dilakukan pengayakan, kemudian dilakukan ekstraksi serbuk simplisia daun beluntas.

(64) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 41 C. Pembuatan Ekstrak Etanol Daun Beluntas Pembuatan ekstrak etanol daun beluntas dilakukan dengan metode maserasi sesuai dengan prosedur Certificate of Analysis LPPT UGM (Lampiran 2). Prinsip metode maserasi adalah merendam serbuk simplisia dalam cairan penyari dengan bantuan penggojogan (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1986). Pada metode maserasi tidak memerlukan pemanasan sehingga stabilitas ekstrak dapat terjaga selama proses ekstraksi. Ekstraksi bertujuan untuk menyari zat aktif yang berupa senyawa fenolik. Pelarut yang digunakan dalam metode maserasi ini adalah etanol 70%. Etanol 70% merupakan pelarut yang universal, senyawa fenolik yang terdapat dalam daun beluntas dapat larut ke dalam cairan penyari tersebut. Selain itu etanol mampu mencegah tumbuhnya kapang dan tidak toksik. Ekstrak yang telah ditambahkan etanol 70% diaduk selama 30 menit dan didiamkan selama 24 jam agar senyawa fenolik yang diinginkan dapat terlarut sempurna dalam cairan penyari, kemudian di saring dan diambil filtratnya. Filtrat hasil penyaringan dievaporasi dengan menggunakan vacuum rotary evaporator untuk menguapkan sisa pelarut, sehingga akan diperoleh ekstrak kental. Ekstrak kental kemudian dipanaskan di atas waterbath untuk menguapkan sisa pelarut sampai diperoleh bobot tetap. Bobot ekstrak kental yang diperoleh adalah 81,63 g (Lampiran 4). Penetapan kadar total fenolik secara kualitatif dan kuantitatif dilakukan oleh LPPT UGM. Metode penetapan kadar yang digunakan adalah spektrofotometri UV-Vis. Berdasarkan laporan hasil uji yang dikeluarkan oleh pihak LPPT UGM, diperoleh kadar total fenolik sebesar 3,26 % (Lampiran 5).

(65) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 42 D. Uji Potensi Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Beluntas 1. Isolasi bakteri tangan Pada penelitian ini dilakukan uji pendahuluan untuk mengetahui potensi antibakteri ekstrak etanol daun beluntas terhadap bakteri uji. Bakteri uji yang digunakan diperoleh dari hasil isolasi bakteri yang terdapat pada tangan. Hal ini dilakukan untuk membuktikan bahwa ekstrak etanol daun beluntas benar-benar memiliki potensi antibakteri terhadap bakteri tangan, sehingga ekstrak etanol daun beluntas dapat dijadikan sebagai bahan yang mengandung senyawa aktif dalam sediaan sabun cuci tangan. Pada tangan manusia banyak terdapat bakteri, karena tangan merupakan bagian tubuh yang sering kontak langsung dengan beberapa benda. Dalam penelitian berjudul “Identifikasi Mikroorganisme Pada Tangan Tenaga Medis dan Paramedis di Unit Perinatologi Rumah Sakit Abdul Moeloek Bandar Lampung” ditemukan berbagai macam bakteri di tangan paramedis seperti Staphylococcus epidermidis, Staphylococcus saprophyticus, Staphylococcus aureus, Serratia liquefacients, Serratia marcescens, Pseudomonas aeruginosa, Enterobacter aerogenes, Citrobacter freundii, Salmonella sp, Basillus cereus, dan Neisserria mucosa. Isolasi bakteri tangan dilakukan pada tiga orang probandus dari tiga bagian tangan yang berbeda, yaitu: telapak tangan, jari tangan, dan punggung tangan. Bakteri diisolasi dari probandus yang telah melakukan aktivitas dan belum menggunakan produk sabun cuci tangan. Prinsip dari isolasi bakteri adalah

(66) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 43 memisahkan bakteri dari lingkungan asal ke media yang lebih spesifik (Sutedjo, 1996). Isolasi dilakukan dengan menempelkan bagian tangan ke dalam media NA (Nutrient Agar) secara aseptis dan diinkubasi terbalik selama 24 jam. Media NA memiliki nutrisi yang berguna untuk pertumbuhan bakteri. Nutrient Agar (NA) memiliki pH 7, sehingga diharapkan media NA dapat mendukung pertumbuhan bakteri. Menurut Pelczar (cit., Lesmana, 2012), pH optimum bakteri adalah 6,5-7. Bakteri yang tumbuh pada daerah inokulasi merupakan hasil isolat bakteri. Untuk mengetahui terjadi tidaknya kontaminasi, disertakan kontrol media. Kontrol media hanya berisi NA yang tidak diinokulasikan bakteri. Setelah diperoleh isolat bakteri dilakukan pembuatan stok isolat bakteri dengan metode streak plate pada media NA miring. Hal ini bertujuan untuk memperoleh koloni terpisah dari bakteri tangan. (i) (ii) Gambar 7. (i) Kontrol Media Nutrient Agar, (ii) Hasil Inokulasi Bakteri Tangan 2. Uji aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun beluntas Uji ini merupakan uji pendahuluan untuk memastikan adanya aktivitas antibakteri esktrak etanol daun beluntas terhadap bakteri tangan. Berdasarkan penelitian berjudul Aktivitas Antimikroba Ekstrak Daun Beluntas (Pluchea indica

(67) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 44 (L.) Less) dan Stabilitas Aktivitasnya Pada Berbagai Konsentrasi dan Tingkat pH diketahui beluntas memiliki aktivitas antibakteri terhadap terhadap beberapa bakteri seperti E. coli, S. aureus, B. cereus, B. subtilis, dan P. fluorescens pada rentang konsentrasi 2-3% (Ardiansyah, 2003). Uji aktivitas antibakteri dilakukan di Microbiological Safety Cabinet (MSC) untuk memperoleh kondisi yang lebih aseptis selama penelitian. Dalam penelitian ini ekstrak etanol daun beluntas dibuat dalam lima seri konsentrasi yaitu 2%, 4%, 6%, 8%, dan 10%. Dipilih lima seri konsentrasi untuk mengetahui konsentrasi optimum ekstrak etanol daun beluntas yang mampu menghambat pertumbuhan isolat bakteri tangan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode difusi sumuran. Prinsip dari metode difusi adalah senyawa antibakteri diletakkan pada media yang telah diinokulasikan bakteri, senyawa antibakteri kemudian akan berdifusi membentuk zona jernih. Zona jernih ini yang menandakan adanya penghambatan pertumbuhan bakteri. Difusi sumuran dipilih karena esktrak terdiri dari beberapa komponen aktif yang memiliki kepolaran yang berbeda sehingga diharapkan dengan menggunakan difusi sumuran semua komponen dapat terdifusi optimal. Kontrol negatif yang digunakan dalam penelitian ini adalah aquadest steril. Aquadest steril digunakan untuk melarutkan ekstrak etanol daun beluntas. Sementara, kontrol positif yang digunakan adalah ekstrak etanol daun beluntas konsentrasi 100%. Konsentrasi 100% digunakan sebagai kontrol positif karena diharapkan dapat memberikan zona hambat yang paling besar.

(68) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 45 Tabel IV. Diameter Zona Hambat Ekstrak Etanol Daun Beluntas terhadap Isolat Bakteri Tangan Zona hambat pada konsentrasi ekstrak (mm) 2% 4% Replikasi 1 Replikasi 2 Replikasi 3 11 16 9 11 13 17 Replikasi 1 Replikasi 2 Replikasi 3 7 18 7 7 20 11 Kontrol Positif (Ekstrak Kontrol Etanol Daun Beluntas 100%) negatif Bakteri Telapak Tangan 11 12 10 18 7 10 12 13 13 7 12 11 13 16 7 Bakteri Jari Tangan 14 13 15 17 7 22 20 20 19 7 14 13 16 16 7 Bakteri Punggung Tangan 18 18 19 20 7 19 20 22 23 7 19 19 20 20 7 6% Replikasi 1 16 17 Replikasi 2 16 17 Replikasi 3 13 14 Diameter lubang sumuran: 7mm 2% 8% 10% 4% K+ K10% 6% 8% Gambar 8. Zona Hambat Ekstrak Etanol Daun Beluntas Terhadap Pertumbuhan Isolat Bakteri Tangan Gambar 9. Kontrol Pertumbuhan Isolat Bakteri Tangan Gambar 10. Kontrol Media Nutrient Agar

(69) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 46 Tabel IV menunjukkan adanya zona hambat pada pertumbuhan bakteri tangan yang terbentuk dari berbagai konsentrasi ekstrak etanol daun beluntas. Diameter zona hambat pada penelitian ini diukur dengan menggunakan jangka sorong. Berdasarkan hasil pengukuran seperti yang tertera pada tabel IV, terdapat beberapa konsentrasi ekstrak etanol daun beluntas yang memiliki besaran diameter zona hambat yang sama. Pengukuran diameter zona hambat dengan menggunakan jangka sorong mempunyai kekurangan, karena pengkuran hanya dapat diamati dengan menggunakan mata, sehingga dapat dikatakan pengukuran diameter zona hambat dengan menggunakan jangka sorong merupakan pengukuran subjektif. Selain menggunakan jangka sorong, pengukuran diameter zona hambat dapat dilakukan dengan menggunakan alat dengan bantuan software, seperti Antibiotic Zone Reader atau Sorcerer Image Analysis System Sorcerer Image Analysis System. Pada ketiga isolat bakteri tangan, dihasilkan diameter yang zona hambat yang bervariasi. Hal ini bisa disebabkan karena banyaknya jumlah bakteri yang terdapat di tangan, baik itu berupa bakteri gram positif ataupun bakteri gram negatif. Bakteri-bakteri tersebut memiliki strain DNA yang berbeda dan memiliki resistensi yang berbeda terhadap suatu senyawa, sehingga hal tersebut memungkinkan terdapat variasi diameter zona hambat yang dihasilkan. Sementara itu, pada gambar 8 menunjukkan adanya koloni terpisah yang dikhawatirkan merupakan pertumbuhan jamur. Namun pada penelitian ini tidak dilakukan uji aktivitas ekstrak etanol daun beluntas terhadap pertumbuhan jamur yang dikhawatirkan terdapat pada tangan.

(70) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 47 Senyawa pada ekstrak daun beluntas yang memiliki aktivitas antibakteri adalah senyawa fenolik. Mekanisme penghambatan pertumbuhan bakteri senyawa fenolik dengan merusak dinding sel sehingga mengakibatkan lisis atau menghambat proses pembentukan dinding sel, mengubah permeabilitas membran sitoplasma yang menyebabkan kebocoran nutrien dari dalam sel, mendenaturasi protein sel dan merusak sistem metabolisme di dalam sel dengan cara menghambat kerja enzim intraseluler (Peoloengan, Chairul, Komala, Salmah, dan Susan, 2006). Data diameter zona hambat yang diperoleh kemudian diuji secara statistik untuk melihat normalitas data. Uji yang digunakan adalah uji Shapiro-Wilk. Dalam uji ini H0 adalah data terdistribusi normal, Hi data tidak terdistribusi normal. Pada taraf kepercayaan 95%, jika nilai probabilitas (p-value) kurang dari 0,05 maka H0 ditolak, Hi diterima (Istyastono, 2012). Pada penelitian ini data diolah menggunakan program R 3.1.0. Tabel V. Nilai probabilitas uji Shapiro-Wilk Diameter Zona Hambat Ekstrak Etanol Daun Beluntas terhadap Isolat Bakteri Tangan Nilai Probabilitas (p-value) Bakteri Bakteri Kelompok Bakteri jari telapak punggung tangan tangan tangan Kontrol negatif 2,47x10-7 0,6369 2,47x10-7 Kontrol positif 0,5367 2,47x10-7 2,47x10-7 Ekstrak Etanol Daun Beluntas 2% 0,6369 0,5827 2,47x10-7 Ekstrak Etanol Daun Beluntas 4% -7 1 2,47x10 2,47x10-7 Ekstrak Etanol Daun Beluntas 6% -7 -7 2,47x10 2,47x10 1 Ekstrak Etanol Daun Beluntas 8% 2,47x10-7 0,3631 0,6369 Ekstrak Etanol Daun Beluntas 10% Probabilitas pada kontrol negatif tidak dapat diketahui karena data yang diuji dari ketiga replikasi sama, sehingga disimpulkan bahwa data tidak terdistribusi normal. Ada beberapa data yang memiliki nilai probabilitas (p-value) lebih dari

(71) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 48 0,05, tetapi data tidak dapat diolah menggunakan uji One Way ANOVA untuk mengetahui perbedaan diameter zona hambat. Hal ini disebabkan oleh beberapa data yang tidak terdistribusi normal. Maka untuk mengetahui perbedaan diameter zona hambat dilakukan uji Kruskal-Wallis. Tabel VI. Hasil uji Kruskal-Wallis Diameter Zona Hambat Ekstrak Etanol Daun Beluntas terhadap Isolat Bakteri Tangan Isolat Bakteri Probabilitas (p-value) 0,0618 Telapak Tangan 0,1808 Jari Tangan 0,0060 Punggung Tangan Berdasarkan uji Kruskal-Wallis dengan taraf kepercayaan 95%, diketahui bahwa pada bakteri punggung tangan diperoleh nilai p-value kurang dari 0,05 maka disimpulkan data berbeda signifikan. Namun pada bakteri telapak tangan dan jari tangan diperoleh nilai p-value lebih besar dari 0,05 maka data tidak berbeda signifikan. Kemudian dilakukan uji Wilcoxon untuk mengetahui perbedaan antar kelompok dengan membandingkan dua kelompok data. Pada penelitian ini uji Wilcoxon dilakukan pada isolat bakteri punggung tangan. Pada isolat bakteri jari tangan dan telapak tangan tidak dilanjutkan uji Wilcoxon karena data tidak berbeda signifikan.

(72) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 49 Tabel VII. Hasil Uji Wilcoxon Ekstrak Etanol Daun Beluntas terhadap Isolat Bakteri Punggung Tangan Kontrol Positif Ekstrak Ekstrak Ekstrak Ekstrak (Ekstrak Etanol Etanol Etanol Etanol Kontrol Etanol Daun Daun Daun Daun Kelompok Negatif Daun Beluntas Beluntas Beluntas Beluntas Beluntas 2% 4% 6% 8% 100%) B B B B B Kontrol Negatif Kontrol Positif (Ekstrak Etanol B B B B TB Daun Beluntas 100%) Ekstrak Etanol B B TB TB B Daun Beluntas 2% Ekstrak Etanol B B TB B B Daun Beluntas 4% Ekstrak Etanol B B TB B TB Daun Beluntas 6% Ekstrak Etanol B TB B B TB Daun Beluntas 8% Ekstrak Etanol B TB B B TB TB Daun Beluntas 10% Ekstrak Etanol Daun Beluntas 10% Keterangan tabel : B = data berbeda signifikan, TB = data tidak berbeda signifikan Hasil uji Wilcoxon pada tabel menunjukkan ekstrak etanol daun beluntas pada konsentrasi 2%, 4%, 6%, 8% dan 10% memiliki daya antibakteri terhadap isolat bakteri punggung tangan karena secara statistik berbeda signifikan dari kontrol negatif. Dalam penelitian ini dipilih ekstrak etanol konsentrasi 6% untuk digunakan dalam formulasi sediaan gel sabun cuci tangan. Konsentrasi 6% dipilih karena pada isolat bakteri punggung tangan, konsentrasi 6% menunjukkan ketidakberbedaan secara statistik dengan konsentrasi 8% dan 10%. Sedangkan konsentrasi 2% dan 4% berbeda signifikan dengan konsentrasi 8% dan 10%. Maka konsentrasi 6% dianggap konsentrasi terendah yang dapat memberikan daya antibakteri optimum terhadap isolat bakteri tangan. B TB B B TB TB -

(73) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 50 E. Pembuatan Sediaan Gel Sabun Cuci Tangan Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Beluntas Bentuk sediaan yang dibuat dalam penelitian ini adalah gel. Gel mengandung komposisi air dalam jumlah tinggi sehingga dapat meningkatkan disolusi zat aktif dan juga memudahkan migrasi zat aktif melalui basis utamanya (Jones, 2008). Selain itu gel memiliki efek dingin (Voigt, 1994), sehingga sabun cuci tangan akan lebih nyaman untuk digunakan. Formula yang digunakan dalam penelitian ini merupakan formula hasil orientasi. Komposisi bahan dalam sediaan gel sabun cuci tangan ekstrak etanol daun beluntas ini disesuaikan dengan fungsi dari tiap-tiap bahan sesuai dengan Handbook of Pharmaceutical Excipients (Rowe, Sheskey, dan Quinn, 2009). Pada penelitian ini, sediaan gel sabun cuci tangan dibuat dalam empat formula dengan variasi jumlah gelling agent. Gelling agent yang digunakan dalam percobaan ini adalah CMC-Na. Rentang konsentrasi CMC-Na sebagai gelling agent adalah 3-6% (Rowe, Sheskey, dan Quinn, 2009), maka dalam penelitian ini dibuat variasi jumlah CMC-Na yaitu 3%, 4%, 5% dan 6%. Digunakan CMC-Na karena CMC-Na memiliki gugus natrium yang dapat mengikat air (terhidrasi) tanpa perlu pemanasan sehingga lebih mudah terdispersi dalam air. Selain itu CMC-Na stabil pada rentang pH 5-9 (Lieberman, Martin, dan Gilbert, 1996). Pada penelitian ini digunakan sodium lauryl sulphate sebagai surfaktan. Sodium lauryl sulphate merupakan surfaktan anionik dan merupakan penghasil busa dan pembersih yang baik. Sodium lauryl sulphate mudah dicuci dengan air.

(74) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 51 Sodium lauryl sulphate memiliki kelarutan tinggi dalam air (Nilai HLB:40) (Rowe, Sheskey, dan Quinn 2009). Gliserol dan propilen glikol digunakan sebagai humektan. Humektan digunakan untuk mempertahankan kadar air karena pada sediaan gel seringkali terjadi penguapan air yang berlebihan hal ini akan mempengaruhi sifat fisik dan stabilitas fisik sediaan gel. Humektan bekerja dengan menarik uap air di lingkungan. Kombinasi propilen glikol dan gliserol dilakukan untuk memperoleh viskositas gel yang optimum. Menurut Sagarin (cit., Wahyuningtyas, 2007), propilen glikol memiliki berat molekul yang lebih kecil dan kemampuan menguap yang tinggi dibandingkan dengan gliserol. Selain itu propilen glikol memiliki viskositas yang lebih rendah dibandingkan dengan gliserol, sedangkan gliserol memiliki kelemahan, yaitu menimbulkan heavy dan tacky. Kelemahan gliserol ini dapat ditutupi dengan kombinasi humektan lain seperti propilen glikol. Metil paraben merupakan bahan pengawet. Pada penelitian ini metil paraben digunakan dalam konsentrasi 0,1%. Metil paraben memiliki rentang pH yang luas dan memiliki spektrum aktivitas antimikroba yang luas (Rowe, Sheskey, dan Quinn 2009), sehingga diharapkan penggunaan metil paraben dalam sediaan gel sabun cuci tangan antibakteri ekstak etanol daun beluntas ini mampu menghambat pertumbuhan mikroorganisme.

(75) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 52 Tabel VIII. Formula Sedian Gel Sabun Cuci Tangan Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Beluntas Sodium Lauryl Sulphate CMC-Na Gliserol Propilen Glikol Metil Paraben Ekstrak Etanol Daun Beluntas Aquadest Formula 1 (g) 2,5 3 30 15 0,10 6 Formula 2 (g) 2,5 4 30 15 0,10 6 Formula 3 (g) 2,5 5 30 15 0,10 6 Formula 4 (g) 2,5 6 30 15 0,10 6 43,4 43,4 43,4 43,4 Langkah pertama yang dilakukan dalam pembuatan sediaan sabun cuci tangan adalah mendispersikan CMC-Na ke dalam aquadest pada wadah dengan permukaan luas dan didiamkan selama 24 jam. Tujuannya agar seluruh partikel dari CMC-Na terbasahi dengan sempurna. Setelah gelling agent mengembang, kemudian dilakukan pencampuran bahan. Pertama-tama, metil paraben ditambahkan dalam propilen glikol. Menurut Rowe (2005) dalam Handbook of Pharmaceutical Excipients 5th Edition, metil paraben memiliki kelarutan yang lebih tinggi di dalam propilen glikol dibandingkan dalam air. Kedua, sodium lauryl sulphate ditambahkan ke dalam gliserol. Sodium lauryl sulphate digunakan sebagai bahan pembentuk busa pada sediaan sabun cuci tangan. Sodium lauryl sulphate dilarutkan dalam gliserol untuk mengurangi busa yang terbentuk pada saat pengadukan. Jika sodium lauryl sulphate dilarutkan dengan aquadest busa yang terbentuk akan lebih banyak saat proses pencampuran. Ketiga, ekstrak kental etanol daun beluntas dilarutkan dalam aquadest agar lebih mudah larut ketika ditambahkan ke bahan yang lain. Campuran pertama (metil paraben dan propilen glikol), kedua (gliserol dan sodium lauryl sulphate) dan ketiga (ekstrak yang telah dilarutkan dalam aquadest) lalu ditambahkan ke dalam CMC-Na yang sudah

(76) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 53 mengembang. Kemudian diaduk menggunakan mortir dan stamper dengan kecepatan konstan sampai terbentuk masa gel. Pada proses pencampuran ini tidak digunakan mixer karena berdasarkan hasil orientasi busa yang terbentuk selama proses pencampuran cenderung lebih banyak jika dibandingkan dengan pengadukan menggunakan mortir dan selama penyimpanan selama 48 jam masih terbentuk busa dan dapat menganggu pengamatan. Hal ini dipengaruhi kecepatan pengadukan pada mixer akan lebih tinggi dibandingkan dengan mortir dan stamper. F. Uji Sifat Fisik Sediaan Gel Sabun Cuci Tangan Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Beluntas Uji sifat fisik bertujuan untuk melihat kualitas suatu sediaan dan untuk menjamin bahwa sediaan tersebut memiliki karakteristik sesuai dengan karakterittik yang telah ditentukan. Sifat fisik juga akan mempengaruhi acceptability bagi konsumen, karena itu perlu diperhatikan. Parameter sifat fisik yang diamati dalam penelitian ini meliputi uji organoleptis sediaan, pH, viskositas, dan uji ketahanan busa. Pengujian sifat fisik dilakukan 48 jam setelah pembuatan. Hal ini bertujuan untuk membebaskan sediaan dari pengaruh energi kinetik dan gaya geser yang diberikan selama proses pencampuran bahan, yang dapat mempengaruhi hasil uji sediaan. 1.Organoleptis Dalam uji organoleptis diamati warna, bau dan bentuk dari sediaan gel. Uji organoleptis sediaan gel diamati langsung tanpa menggunakan alat bantu.

(77) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 54 Berikut merupakan hasil uji organoleptis sediaan gel sabun cuci tangan esktrak etanol daun beluntas. Tabel IX. Data Uji Organoleptis Sediaan Gel Sabun Cuci Tangan Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Beluntas Selama 48 jam Penyimpanan Formula 1 Formula 2 Formula 3 Formula 4 Khas Khas Khas Khas Bau Cokelat jernih Cokelat jernih Cokelat jernih Cokelat jernih Warna Gel Gel Gel Gel Bentuk 2. pH Pengujian pH dilakukan untuk mengetahui harga pH pada sediaan gel yang dibentuk. pH harus disesuaikan dengan pH kulit agar tidak mengakibatkan iritasi serta dapat meningkatkan acceptability dari konsumen. Tabel X. Data Uji pH Sediaan Gel Sabun Cuci Tangan Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Beluntas Selama 48 jam Penyimpanan Formula pH 6 1 6 2 6 3 6 4 Hasil pengamatan menunjukkan pH dari setiap formula memenuhi rentang pH kulit yaitu 5-6,5, sehingga diharapkan sediaan ini tidak mengiritasi kulit. 3. Viskositas Viskositas merupakan suatu tahanan dari suatu cairan untuk mengalir. Semakin tinggi viskositas maka tahannya juga akan semakin besar (Martin, Swarbick, dan Cammarata, 1993). Pengukuran viskositas dilakukan dengan menggunakan viscotester Rion-Japan seri VT-04 dengan rotor nomor 1. Tabel XI. Data Viskositas Sediaan Gel Sabun Cuci Tangan Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Beluntas Selama 48 jam Penyimpanan Formula 1 2 3 4 Viskositas (d.Pa.s) 40 ± 5 60 ± 10 90 ± 10 130 ± 10

(78) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 55 Viskositas yang dikehendaki yaitu 40-60 d.Pa.s. Penentuan rentang viskositas ini diperoleh dari hasil orientasi dengan mengukur viskositas sediaan sabun cuci tangan yang terdapat di pasaran. Berdasarkan data viskositas yang tertera pada tabel XI hanya formula 1 dan formula 2 saja yang masuk dalam range viskositas yang dikehendaki. Viskositas suatu sediaan gel di pengaruhi oleh gelling agent. Pada penelitian ini dilihat pengaruh variasi konsentrasi CMC-Na pada sediaan gel terhadap viskositas suatu sediaan dengan uji statistik. Langkah pertama dilakukan uji normalitas untuk menggunakan uji Shapiro-Wilk. Pada taraf kepercayaan 95% data terdistrbusi normal jika nilai probabilitas lebih besar dari 0,05 (p-value < 0,05). Dari analisis statistik menggunakan program R 3.1.0 diperoleh data uji normalitas seperti pada tabel XII. Tabel XII. Uji Shapiro-Wilk Viskositas 48 jam Formula 1 2 3 4 Probabilitas (pvalue) 1 1 1 1 Nilai probabilitas keempat formula lebih besar dari 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa data terdistribusi normal. Kemudian dilanjutkan uji variansi, untuk mengetahui homogenitas data. Uji variansi dilakukan menggunakan Levene Test. Pada taraf kepercayaan 95% data terdistribusi homogen jika nilai probabilitas lebih besar dari 0,05. Nilai p-value yang diperoleh pada Levene Test adalah 0,8194. Maka dapat disimpulkan data terdistribusi normal dan homogen.

(79) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 56 Kemudian dilanjutkan uji One Way ANOVA untuk mengetahui perbedaan viskositas pada keempat formula. Pada uji One Way ANOVA, H0 adalah data tidak berbeda, sedangkan Hi adalah data berbeda secara signifikan. Dengan taraf kepercayaan 95%, jika nilai probabilitas kurang dari 0,05 maka H0 ditolak dan Hi diterima, sebaliknya jika nilai probabilitas lebih dari 0,05 maka H0 diterima dan Hi ditolak (Istyastono, 2012). Hasil uji One Way ANOVA menunjukkan nilai probabilitas 0,023, artinya p-value < 0,05. Maka data berbeda. Kemudian dilakukan uji Post Hoc untuk mengetahui perbedaan dua kelompok. Tabel XIII. Nilai probabilitas Uji Post Hoc Viskositas 48 jam Formula 1 Formula 2 Formula 3 Formula 4 Formula 1 0,0362 0,0014 0,0001 Formula 2 0,0362 0,0213 0,0010 Formula 3 0,0014 0,0213 0,0080 Formula 4 0,0001 0,0010 0,0080 - Nilai p-value yang diperoleh kurang dari 0,05, maka data berbeda signifikan. Dapat ditarik kesimpulan bahwa perbedaan konsentrasi gelling agent pada tiap formula berpengaruh signifikan terhadap viskositas sediaan gel sabun cuci tangan ekstrak etanol daun beluntas. Hal ini dipengaruhi oleh sifat CMC-Na yang dapat mengalami perpanjangan rantai polimer ketika didispersikan ke dalam air, rantai polimer CMC-Na akan saling berikatan dengan rantai polimer yang lain pada rantai utama, polimer-polimer tersebut akan membentuk jaringan tiga dimensi sehingga medium pendispersi akan terjebak dalam jaringan tiga dimensi yang terbentuk (Allen dan Loyd, 2002). Semakin banyak jumlah CMC-Na yang

(80) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 57 digunakan semakin banyak rantai polimer tidak beraturan yang terbentuk, sehingga viskositas sediaan akan semakin meningkat. Ketahanan busa (cm) Pengaruh Konsentrasi CMC-Na terhadap Viskositas 160 140 120 100 80 60 40 20 0 3 4 5 6 Konsentrasi (%) Gambar 11. Grafik Pengaruh Konsentrasi CMC-Na Terhadap Viskositas Sedian Gel Sabun Cuci Tangan Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Beluntas Setelah 48 jam Penyimpanan 4.Ketahanan busa Pengukuran ketahanan busa dilakukan untuk mengetahui kemampuan sediaan dalam menghasilkan busa. Ketahanan busa merupakan perubahan volume busa dalam rentang waktu tertentu, semakin kecil nilai perubahan yang didapat, semakin tinggi ketahanan busa suatu sediaan. Tabel XIV. Data Ketahanan Busa Sediaan Gel Sabun Cuci Tangan Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Beluntas Selama 48 jam Penyimpanan Formula 1 Formula 1 Formula 2 Nilai ketahanan busa (cm) 0,93 ± 0,30 0,73 ± 0,30 Formula 3 0,9 ± 0,1 Formula 4 0,83 ± 0,15 Dari hasil pengukuran ketahanan busa terendah ditunjukkan oleh formula 2. Ketahanan busa tergolong sulit untuk dikendalikan, karena mudah hilang akibat

(81) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 58 aliran cairan (drainage) dan pecahnya lapisan film (film rupture) pada busa itu sendiri. Tabel XV. Nilai P-Value Ketahanan Busa Sediaan Gel Sabun Cuci Tangan Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Beluntas Selama 48 jam Penyimpanan Formula 1 2 3 4 Probabilitas (p-value) 0,6369 0,6369 1 0,6369 Berdasarkan uji Shapiro-Wilk diperoleh nilai p-value lebih besar dari 0,05 maka data terdistribusi normal. Kemudian dilakukan Levene Test untuk mengetahui variansi data dan diperoleh nilai probabilitas 0,741, maka dinyatakan variansi data homogen. Kemudian dilakukan uji One Way ANOVA untuk mengetahui pengaruh variasi jumlah gelling agent terhadap ketahanan busa. Dari uji One Way ANOVA di peroleh nilai p-value 0,741. Nilai p-value > 0,05 menunjukkan bahwa data tidak berbeda signifikan. Dapat disimpulkan variansi jumlah CMC-Na tidak berpengaruh terhadap ketahanan busa sediaan gel sabun cuci tangan ekstrak etanol daun beluntas. Ketahanan busa (cm) Pengaruh Konsentrasi CMC-Na terhadap Ketahanan Busa 1 0.8 0.6 0.4 0.2 0 3 4 5 Konsentrasi (%) 6 Gambar 12. Pengaruh Konsentrasi CMC-Na terhadap Ketahanan Busa Sediaan Gel Sabun Cuci Tangan Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Beluntas Selama 48 jam penyimpanan

(82) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 59 G. Uji Stabilitas Fisik Sediaan Gel Sabun Cuci Tangan Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Beluntas Uji stabilitas fisik dilakukan untuk mengetahui kemampuan sediaan dalam menjaga sifat fisik yang sesuai dengan karakteristik selama masa penyimpanan. Parameter uji stabilitas fisik yang diamati dalam penelitian ini meliputi pengamatan organoleptis, pH, pergeseran viskositas dan pergeseran ketahanan busa. 1. Organoleptis dan pH Dalam masa penyimpanan selama 28 hari, sediaan gel sabun cuci tangan antibakteri ekstrak etanol daun beluntas tidak mengalami perubahan warna, bentuk, dan bau. Hal ini menunjukkan dari segi organoleptis dan perubahan pH bahwa sediaan gel sabun cuci tangan ekstrak etanol daun beluntas stabil dalam masa penyimpanan. Gambar 13. Sediaan Gel Sabun Cuci Tangan Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Beluntas setelah 48 jam Penyimpanan Gambar 14. Sediaan Gel Sabun Cuci Tangan Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Beluntas setelah 28 hari Penyimpanan 2.Viskositas Stabilitas viskositas diamati tiap-tiap minggu dalam jangka waktu 28 hari, yaitu pada saat 48 jam, 7 hari, 14 hari, 21 hari dan 28 hari. Hal ini bertujuan untuk mengetahui perubahan viskositas sediaan selama penyimpanan.

(83) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 60 Tabel XVI. Data Viskositas Sediaan Gel Sabun Cuci Tangan Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Beluntas pada Beberapa Waktu Penyimpanan Waktu penyimpanan 48 jam Formula 1 (d.Pa.s) 40 ± 5 7 hari 14 hari 21 hari 28 hari 38,33 ± 7,63 36,66 ± 7,63 35 ± 5 40 ± 5 Viskositas Formula 2 Formula 3 (d.Pa.s) (d.Pa.s) 60 ± 10 90 ± 10 60 ± 10 60 ± 10 66,66 ± 15,27 60 ± 10 96,66 ± 15,27 86,66 ± 15,27 90 ± 10 93,33 ± 15,27 Formula 4 (d.Pa.s) 130 ± 10 136,66 ± 15,27 126,66 ± 15,27 133,33 ± 15,27 136,66 ± 15,27 Berdasarkan uji normalitas menggunakan Uji Shapiro-Wilk diketahui bahwa data terdistribusi normal. Hal ini diketahui dari nilai probabilitas yang diperoleh (p-value > 0,05). Setelah itu dilanjutkan dengan uji t berpasangan untuk melihat perbedaan viskositas yang terjadi selama penyimpanan. Berdasarkan uji t berpasangan pada formula 1, formula 2, formula 3, dan formula 4 diperoleh nilai p-value > 0,05. Maka data tidak berbeda signifikan. Dapat disimpulkan sediaan gel sabun cuci tangan antibakteri ekstrak etanol daun beluntas stabil selama penyimpanan. Stabilitas viskositas sediaan gel dapat dipengaruhi oleh kombinasi formula yang baik. Menurut Allen dan Loyd (2002) ketika gliserol, propilen glikol, aquadest dan etanol dicampurkan, campuran tersebut akan stabil secara kimia. Viskositas (d.Pa.s) Stabilitas Viskositas Gel Selama Beberapa Waktu Penyimpanan 150 100 Formula 1 50 Formula 2 0 Formula 3 2 7 14 21 28 Formula 4 Waktu Penyimpanan (Hari) Gambar 15. Grafik Stabilitas Viskositas Gel Sabun Cuci Tangan Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Beluntas Selama Beberapa Waktu Penyimpanan

(84) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 61 3.Ketahanan busa Pergeseran ketahanan busa diamati tiap-tiap minggu dalam jangka waktu 28 hari. Hal ini bertujuan untuk mengetahui perubahan ketahanan busa yang terjadi selama penyimpanan. Tabel XVII. Data Uji Ketahanan Busa Sediaan Gel Sabun Cuci Tangan Ekstrak Etanol Daun Beluntas pada Beberapa Waktu Penyimpanan Nilai Ketahanan Busa (cm) Waktu Penyimpanan Formula 1 Formula 2 Formula 3 Formula 4 48 jam 7 hari 14 hari 21 hari 28 hari 0,93 ± 0,30 0,8 ± 0,2 0,73 ± 0,30 0,76 ± 0,25 0,8 ± 0,2 0,73 ± 0,30 0,6 ± 0,2 0,2 ± 0,2 0,8 ± 0,2 0,53 ± 0,50 0,9 ± 0,1 0,8 ± 0,2 0,8 ± 0,2 0,73 ± 0,64 0,2 ± 0,2 0,83 ± 0,15 0,7 ± 0,1 1 ± 0,2 0,86 ± 0,15 0,83 ± 0,20 Berdasarkan uji Shapiro-Wilk dengan taraf kepercayaan 95%, data terdistribusi normal dengan p-value > 0,05. Stabilitas ketahanan busa dilihat dari nilai perbedaan yang diketahui berdasarkan uji t berpasangan. Berdasarkan data uji t berpasangan diketahui bahwa nilai probabilitas pada formula 1, formula 2, formula 3 dan formula 4 lebih besar dari 0,05 maka data tidak berbeda signifikan. Ketahanan busa gel sabun cuci tangan selama penyimpanan dikatakan stabil secara statistik. Ketahanan busa (cm) Stabilitas Ketahanan Busa Gel Selama 28 Hari Penyimpanan 1.5 1 Formula1 0.5 Formula2 0 Formula3 2 7 14 21 Waktu Penyimpanan (Hari) 28 Formula 4 Gambar 16. Grafik Stabilitas Ketahanan Busa Gel Sabun Cuci Tangan Ekstrak Etanol Daun Beluntas Selama Beberapa Waktu Penyimpanan

(85) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 62 Tinggi busa (cm) Gambar 17. Gambar Uji Ketahanan Busa H. Uji Aktivitas Antibakteri Sediaan Gel Sabun Cuci Tangan Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Beluntas Uji aktivitas antibakteri pada sediaan gel sabun cuci tangan ini dilakukan untuk mengetahui potensi daya antibakteri sediaan. Dalam penelitian ini digunakan basis sediaan gel sebagai kontrol negatif. Basis yang digunakan adalah komposisi bahan sediaan gel sabun cuci tangan, tanpa zat aktif. Basis terdiri dari CMC-Na, gliserol, propilen glikol, metil paraben, sodium lauryl sulphate dan aquadest. Hal ini bertujuan untuk mengetahui bahwa basis yang digunakan tidak memiliki daya antibakteri. Sementara itu, digunakan Lifebuoy Color Changing ® sebagai kontrol positif. Pada uji aktivitas antibakteri sediaan gel sabun cuci tangan ini digunakan tiga isolat bakteri tangan seperti pada uji pendahuluan. Metode yang digunakan dalam uji aktivitas sediaan adalah difusi sumuran. Metode ini diharapkan mampu membuat sediaan gel sabun cuci tangan berdifusi secara optimal.

(86) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 63 Tabel XVIII. Diameter Zona Hambat Sediaan Sabun Cuci Tangan Ekstrak Etanol Daun Beluntas Kontrol Negatif Telapak Tangan Kontrol Positif 13, 33 ± 1,52 Jari Tangan 20 ± 5 7 18 ± 3,46 7 22,33 ± 0,57 Bakteri Punggung 17 ± 5,29 Tangan Diameter lubang sumuran : 7mm 7 Formula 1 (mm) 12,33 ± 1,52 Formula 2 (mm) 11 ± 1 21,66 ± 2,88 11,33 ± 3,78 Formula 3 (mm) 12,33 ± 1,52 13,66 ± 2,08 20,33 ± 2,51 Formula 4 (mm) 14 ± 1 16 ± 1,73 14,66 ± 3,51 Tabel XVIII menunjukkan bahwa sediaan sabun cuci tangan ekstrak daun beluntas memiliki daya antibakteri terhadap bakteri tangan. Afinitas zat aktif dengan basis suatu sediaan akan mempengaruhi pelepasan zat aktifnya. Suatu senyawa antibakteri yang memiliki afinitas yang tinggi dengan basis sediaannya akan memiliki koefisien difusi yang rendah, sehingga pelepasan bahan antibakteri dari basisnya akan berjalan lambat. Diameter zona hambat yang dihasilkan dari sediaan gel sabun cuci tangan antibakteri ekstrak etanol daun beluntas tidak jauh berbeda dengan diameter zona hambat yang dihasilkan oleh ekstrak etanol daun beluntas. Kemungkinan yang terjadi, CMC-Na sebagai basis gel tidak memiliki afinitas yang kuat dengan senyawa fenolik, sehingga pelepasan senyawa fenolik sebagai bahan antibakteri terjadi dengan baik. Berdasarkan analisis statistik menggunakan uji normalitas Shapiro-Wilk menunjukkan bahwa data tidak terdistribusi normal sehingga dilanjutkan dengan uji non-parametrik, Kruskal-Wallis. Berdasarkan uji Kruskal-Wallis diperoleh pvalue < 0,05, sehingga data berbeda signifikan. Kemudian dilanjutkan dengan uji Wilcoxon, untuk melihat perbedaan zona hambat tiap formula dengan basis (kontrol negatif). Berdasarkan uji statistik dengan Wilcoxon dapat diketahui pada

(87) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 64 semua formula memiliki nilai probabilitas kurang dari 0,05 yang berarti data berbeda signifikan, kecuali formula 2 pada bakteri punggung tangan memiliki nilai p-value lebih besar, maka formula 2 pada bakteri punggung tidak berbeda signifikan dengan basis (Lampiran 24). Data zona hambat sediaan gel sabun cuci tangan ekstrak etanol daun beluntas dibandingkan juga dengan kontrol positif untuk melihat perbedaannya secara statistik. Berdasarkan uji statistik dengan menggunakan Uji Wilcoxon diperoleh nilai p-value > 0,05 yang artinya data tidak berbeda signifikan (Lampiran 26). (i) (ii) (iii) Gambar 18. (i) Zona Hambat Sediaan Gel Sabun Cuci Tangan Ekstrak Etanol Daun Beluntas, (ii) Kontrol Pertumbuhan, (iii) Kontrol Media Nutrient Agar

(88) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan 1. Ekstrak etanol daun beluntas (Pluchea indica (L.) Less) memiliki aktivitas antibakteri terhadap pertumbuhan isolat bakteri tangan. Konsentrasi 6% ekstrak etanol daun beluntas digunakan sebagai senyawa aktif dalam formulasi sediaan sabun cuci tangan ekstrak etanol daun beluntas 2. Variasi jumlah CMC-Na dalam sediaan gel sabun cuci tangan ekstrak etanol daun beluntas (Pluchea indica (L.) Less) berpengaruh signifikan terhadap respon viskositas dan tidak berpengaruh terhadap respon ketahanan busa, pergeseran viskositas dan pergeseran ketahanan busa. B. Saran 1. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut terkait identifikasi terhadap isolat bakteri tangan untuk mengetahui macam-macam bakteri yang terdapat pada bakteri tangan dan aktivitas antibakteri daun beluntas terhadap berbagai macam bakteri tangan tersebut. 2. Perlu dilakukan uji ALT (Angka Lempeng Total) pada isolat bakteri tangan untuk mengetahui jumlah bakteri yang terdapat pada tangan. 3. Perlu dilakukan uji KHM dan KBM terhadap ekstrak etanol daun beluntas untuk melihat kadar hambat minimum dan kadar bunuh minimum ekstrak etanol daun beluntas terhadap isolat bakteri yang terdapat pada tangan. 65

(89) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 66 4. Perlu dilakukan penelitian sejenis dengan menggunakan gelling agent yang sama namun dengan variasi yang lebih banyak agar dapat ditentukan pengaruh gelling agent terhadap sifat fisik dan stabilitas fisik sediaan gel sabun cuci tangan ekstrak etanol daun beluntas (Pluchea indica (L.) Less).

(90) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR PUSTAKA Agoes, G., 2009, Teknologi Bahan Alam (Serial Farmasi Industri 2), Edisi revisi, Penerbit ITB, Bandung, pp. 31. Allen Jr. dan Loyd V., 2002, The Art, Science, and Technology of Pharmaceutical Compounding, 2nd Edition, American Pharmaceutical Assosiation, USA, pp. 305, 311. Ansel, H. C., 1989, Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, Edisi IV, Universitas Indonesia Press, Jakarta, Apriyani D., 2012, Perbedaan Perilaku Mencuci Tangan Sebelum Dan Sesudah Diberikan Pendidikan Kesehatan Pada Anak Usia 4-5 Tahun, Jurnal Keperawatan Soedirman, Volume 7, p. 70 Ardiansyah et al., 2003, Aktivitas Antimikroba Ekstrak Daun Beluntas (Pluchea Indica (L.) Less) dan Stabilitas Aktivitasnya pada Berbagai Konsentrasi Garam dan Tingkat pH, Jurnal Teknologi dan Industri Pangan, 16(2):90-97. Attwood, D., Alexander, T.F., 2008, Fast Track: Physical Pharmacy, Pharmaceutical Press, London, p. 43. Badan POM, 2008, Peraturan Kepala Badan POM Republik Indonesia HK.00.05.42.1018, Bahan Kosmetik, http://www.pom.go.id/index.php /home/search/kosmetik/ hukum_perundangan/3 , diakses tanggal 18 Juli 2014. Barel, A.O., Paye M., dan Maibach H.I., 2009, Handbook of Cosmetic Science and Technology, 3nd Edition, Informa Healthcare USA Inc., New York, p. 115, 771. Boyd R.F., 1984, General Microbiology, West Publishing Company, St. Paul, pp 167-168. Dalimartha, S., 1999, Tanaman Obat di Lingkungan Sekitar, Puspa Swara, Jakarta, p.5. Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1979, Farmakope Indonesia, Edisi III, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta. Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1986, Sediaan Galenik, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta. Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1995, Farmakope Indonesia, Edisi IV, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta. Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2000, Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat, Direktorat Jendral Pengawasan Obat dan Makanan, Direktorat Pengawasan Obat Tradisional, Jakarta 67

(91) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 68 Djauzi, S., 2009, Raih Kembali Kesehatan, PT Kompas Media Nusantara, Jakarta, p.8. Ducel, G., 2002, Prevention of hospital-acquired infections, A practical guide, 2nd Edition, Department of Communicable disease, Surveillance and Response, New York, p .107. Exerowa, D., dan Kruglyakov, P.M., 1998, Foam and Foam Films:Theory, Experiment, Application, Elsevier, Netherlands. Garg, A., Aggarwal, D., Garg, S., dan Sigla A.K., 2002, Spreading of Semisolid Formulation:An Update, www.pharmtech.com , diakses tanggal 17 Juli 2014. Gusviputri, 2013, Pembuatan Sabun Dengan Lidah Buaya (Aloe Vera) Sebagai http://www.academia.edu/3431586/pembuatan_ Antiseptik Alami, sabun_dengan_lidah_buaya aloe_vera_sebagai_antiseptik_alami , diakses tanggal 21 Oktober 2013. Harborne, J.B., 1996, Metode Fitokimia, diterjemahkan oleh Padmawinata K.dan Soediro I., Institut Teknologi Bandung, Bandung. Hariana, H. A., 2002,Tumbuhan Obat dan Khasiatnya, Puspa Swara, Jakarta, p. 38. Hugo dan Russel, 1987, Pharmaceutical Microbiology, 6th Edition, Blackwel Scientific Publication, London, pp. 20-21. Istyastono, E.P., 2012, Mengenal Peranti Lunak R-2.14.0. for Windows dan Open Source, Penerbit Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta Izhar, H., Sumiati, dan Moeljadi, P., 2010, Analisis Sikap Konsumen Terhadap Atribut Sabun Mandi, Wacana Vol. 13, Issn. 1411-0199. Jones, D., 2008, Pharmaceutics Dosage Form and Design, Pharmaceutical Press, London. Kurniawan, F. W., 2013, (Pena, L. E., 1990), Optimasi Natrium Alginat dan NaCMC sebagai Gelling Agent pada Sediaan Gel Antiinflamasi Ekstrak Daun Petai Cina (Leucaena leucocephala (lam.) de Wit) dengan Aplikasi Desain Faktorial, Skripsi, Universitas Sanata Dharma. Lesmana, A.S., 2012, (Pelczar, 1986), Perbedaan Sifat Fisik dan Stabilitas Fisik Deodoran Ekstrak Etanol Daun Beluntas (Pluchea indica (L.) Less) dengan Variasi Jumlah Sorbitan Monostearate sebagai Emulsifying agent, Skripsi, Universitas Sanata Dharma.

(92) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 69 Lieberman, H.A., Martin, M.R., Gilbert, S.B., 1996, Pharmaceutical Dosage Form : Disperse System, volume 2, 2nd Edition,, Marcel Dekker Inc., New York, p. 670. Martin, A., Swarbick, J., dan Cammarata, A., 1993, Physical Pharmacy, Physical Chemical Principles in the Pharmaceutical Science, diterjemahkan oleh Yoshita, Edisi ketiga, Universitas Indonesia Press, Jakarta, pp. 1022. Michael dan Ash, 2004, Handbook of Preservatives, Synapes Information Resources Inc., USA, p.535. Mitsui T., 1997, New Cosmetic Science, Elsevier Science B.V, Amsterdam, pp. 476-477. Moechtar, 1989, Farmasi Fisika, Bagian Larutan dan Sistem Dispersi, Universitas Gadjah Mada Press, Yogyakarta, p. 124. Myers, D., 2006, Surfactants Science and Technology, 3rd Edition, John Wiley & Sons, Inc., New Jersey. Paini, 2011, Seleksi Daun Beluntas (Pluchea indica (L.) Less) Sebagai Sumber Antioksidan Alami, Skripsi, Institut Pertanian Bogor. Pelczar, 1986, Dasar-Dasar Mikrobiologi, Edisi I, Universitas Indonesia Press, Jakarta. Peoloengan, Chairul, Komala I., Salmah S., dan Susan, 2006, Aktivitas Antimikroba Dan Fitokimia Dari Beberapa Tanaman Obat, Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2006, Insitut Pertanian Bogor. Pratami,H. A., Apriliana, E., dan Rukmono, P., 2014, Identifikasi Mikroorganisme Pada Tangan Tenaga Medis dan Paramedis di Unit Perinatologi Rumah Sakit Abdul Moeloek Bandar Lampung, http://juke.kedokteran.unila.ac.id/ index.php/majority/ article/view/44 , diakses tanggal 20 Oktober 2013 Pratiwi, S. T., 2008, Mikrobiologi Farmasi, Erlangga, Jakarta, pp. 188-191 Purnomo, M., 2001,Isolasi Flavonoid dari Daun Beluntas (Pluchea indica (L.) Less) yang Mempunyai Aktivitas Antimikroba Terhadap Penyebab Bau Keringat Secara Bioautografi, Tesis, Universitas Airlangga, Surabaya. Radji, M., 2009, Buku Ajar Mikrobiologi, Penerbit Buku Kedokteran, Jakarta, pp. 10, 11. Rieger, M.M., 2000, Harry’s Cosmetology, 8th Edition, Chemical Publishing Co. Inc.,New York

(93) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 70 Rochimawati, 2013, Haduh, Ribuan Bakteri Hidup di Tangan Manusia, http://www.solopos.com/2013/01/11/haduh-ribuan-bakteri-hidup-di-tanganmanusia-367132 , diakses tanggal 21 Oktober 2013. Rowe, R.C.,Sheskey, P.J., dan Quinn, M.E., 2009, Handbook of Pharmaceutical Excipients, 6th Edition, Pharmaceutical Press and American Pharmacists Association, United Kingdom, pp.118, 283, 441, 592, 651, 754. Saffan, S.E.S. dan El-Mousallamy, A.M.D., 2008, Allelopathic effect of Acacia raddiana leaf extract on the phytochemical contents of germinated Lupinustermis Seeds, Journal of Applied Sciences Research, 4(3): 270-277. Smolinske, 1992, Handbook of Food, Drug and Cosmetics Excipients, CRC Press, USA, pp.199-200. Sutedjo, M.M., Kartasapoetra, A.G., Sastroatmodjo, R.D.S., 1996, Mikrobiologi Tanah, PT. Rineka Cipta, Jakarta. Syamsuhidayat dan Hutapea, 1991, Inventaris Tanaman Obat Indonesia, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta, pp. 470-471. Tarigan, J., 1988, Pengantar Mikrobiologi, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Pendidikan Tinggi Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan, Jakarta. Tranggono dan Latifah, 2007, Buku Pegangan Ilmu Pengetahuan Kosmetik, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. Wahyuningtyas, F. K., 2007, (Sagarin, E., 1957,), Aplikasi Desain Faktorial 23 dalam Optimasi Formula Gel Sunscreen Ekstrak Kental Apel Merah (Pyrus malus L.) Basis Sodium Carboxymethylcellulose dengan Humektan Gliserol dan Propilen Glikol, Skripsi, Universitas Sanata Dharma. Widyawati, P. S., Wijaya, C.H., Harjosworo P.S.,dan Sajuthi, D., 2004, Pengaruh Ekstraksi Dan Fraksinasi Terhadap Kemampuan Menangkap Radikal Bebas Dpph (1,1-Difenil-2-Pikrilhidrazil) Ekstrak Dan Fraksi Daun Beluntas (Pluchea indica (L.) Less), Seminar Rekayasa Kimia Dan Proses 2010, ISSN: 1411-4216 . Winaro dan Sundari, 1998, Pemanfaatan Tumbuhan sebagai Obat Diare di Indonesia, Cermin Dunia Kedokteran, 109:25-32. Voight, R., 1994, Buku Belajar Teknologi Farmasi, UGM Press, Yogyakarta, pp. 399-443.

(94) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 71 LAMPIRAN

(95) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 72 Lampiran 1. Surat Keterangan Identifikasi Daun Beluntas (Pluchea indica (L.) Less)

(96) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 73 Lampiran 2. Certificate of Analysis Ekstrak Etanol Daun Beluntas (Pluchea indica (L.) Less) dari Laboratorium Penelitian Dan Pengujian Terpadu Universitas Gadjah Mada (LPPT UGM)

(97) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 74 Lampiran 3. Langkah Kerja Ekstraksi Etanol Daun Beluntas (Pluchea indica (L.) Less) dari Laboratorium Penelitian dan Pengujian Terpadu Universitas Gadjah Mada (LPPT UGM)

(98) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 75 Lampiran 4. Keterangan Ekstrak Etanol Daun Beluntas (Pluchea indica (L.) Less) dari Laboratorium Penelitian dan Pengujian Terpadu Universitas Gadjah Mada (LPPT UGM)

(99) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 76 Lampiran 5. Penetapan Kadar Total Fenolik Ekstrak Etanol Daun Beluntas (Pluchea indica (L.) Less) dari Laboratorium Penelitian dan Pengujian Terpadu Universitas Gadjah Mada (LPPT UGM)

(100) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 77 Lampiran 6. Sampel Ekstrak Etanol Daun Beluntas dan Foto Isolat Bakteri Tangan Sampel Ekstrak Etanol Daun Beluntas Isolat Bakteri Tangan

(101) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 78 Lampiran 7. Foto Zona Hambat Ekstrak Etanol Daun Beluntas terhadap Isolat Bakteri Tangan Zona Hambat Ekstrak Etanol Daun Beluntas Pada Bakteri Punggung Tangan Zona Hambat Ekstrak Etanol Daun Beluntas Pada Bakteri Telapak Tangan Zona Hambat Ekstrak Etanol Daun Beluntas Pada Bakteri Jari Tangan

(102) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 79 Lampiran 8. Uji Normalitas Shapiro-Wilk Diameter Zona Hambat Ekstrak Etanol Daun Beluntas terhadap Isolat Bakteri Tangan - Isolat bakteri punggung tangan  Konsentrasi 2%  Konsentrasi 4%  Konsentrasi 6%  Konsentrasi 8%  Konsentrasi 10%

(103) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 80 Lampiran 9. Uji Kruskal-Wallis Diameter Zona Hambat Ekstrak Etanol Daun Beluntas terhadap Isolat Bakteri Tangan a. Bakteri Punggung Tangan b. Bakteri Jari Tangan c. Bakteri Telapak Tangan

(104) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 81 Lampiran 10. Uji Wilcoxon Diameter Zona Hambat terhadap Isolat Bakteri Punggung Tangan a. Kontrol Positif dibandingkan dengan kontrol negatif b. Kontrol negatif dibandingkan dengan konsentrasi 2% c. Kontrol negatif dibandingkan dengan konsentrasi 4% d. Kontrol negatif dibandingkan dengan konsentrasi 6% e. Kontrol negatif dibandingkan dengan konsentrasi 8% f. Kontrol negatif dibandingkan dengan konsentrasi 10% g. Kontrol positif dibandingkan dengan konsentrasi 2%

(105) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 82 h. Kontrol positif dibandingkan dengan konsentrasi 4% i. Kontrol positif dibandingkan dengan konsentrasi 6% j. Kontrol positif dibandingkan dengan konsentrasi 8% k. Kontrol positif dibandingkan dengan konsentrasi 10% l. Konsentrasi 2% dibandingkan dengan konsentrasi 4% m. Konsentrasi 2% dibandingkan dengan konsentrasi 6% n. Konsentrasi 2% dibandingkan dengan konsentrasi 8%

(106) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 83 o. Konsentrasi 2% dibandingkan dengan konsentrasi 10% p. Konsentrasi 4% dibandingkan dengan konsentrasi 6% q. Konsentrasi 4% dibandingkan dengan konsentrasi 8% r. Konsentrasi 4% dibandingkan dengan konsentrasi 10% s. Konsentrasi 6% dibandingkan dengan konsentrasi 8% t. Konsentrasi 6% dibandingkan dengan konsentrasi 10% u. Konsentrasi 8% dibandingkan dengan konsentrasi 10%

(107) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 84 Lampiran 11. Perhitungan Ekstrak Daun Beluntas dan Foto Sediaan Gel Sabun Cuci Tangan Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Beluntas 48 jam penyimpanan Perhitungan Ekstrak Etanol Daun Beluntas Kadar ekstrak etanol daun belutas yang digunakan dalam penelitian ini adalah 6% artinya 6 gram dalam 100mL sehingga untuk membuat sediaan sabun cuci tangan ekstrak etanol daun beluntas, dibutuhkan ekstrak sebesar: 100 gram aquadest steril memiliki volume 100ml Ekstrak yang dibutuhkan : x 100mg = 6 gram Foto Sediaan Gel Sabun Cuci Tangan Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Beluntas 48 jam penyimpanan Formula 1 Formula 3 Formula 2 Formula 4

(108) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 85 Lampiran 12. Foto Sediaan Gel Sabun Cuci Tangan Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Beluntas Setelah 28 Hari Penyimpanan Formula 1 Formula 3 Formula 2 Formula 4

(109) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 86 Lampiran 13. Uji Organoleptis dan pH Sediaan Gel Sabun Cuci Tangan Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Beluntas Selama Beberapa Hari Penyimpanan a. 48 jam b. c. d. e. Bau Warna Bentuk Formula 1 Khas cokelat jernih Gel Formula 2 Khas cokelat jernih Gel Formula 3 Khas cokelat jernih Gel Formula 4 khas cokelat jernih gel Bau Warna Bentuk Formula 1 Khas cokelat jernih Gel Formula 2 Khas cokelat jernih Gel Formula 3 Khas cokelat jernih Gel Formula 4 khas cokelat jernih gel Bau Warna Bentuk Formula 1 Khas cokelat jernih Gel Formula 2 Khas cokelat jernih Gel Formula 3 Khas cokelat jernih Gel Formula 4 khas cokelat jernih gel Bau Warna Bentuk Formula 1 Khas cokelat jernih Gel Formula 2 Khas cokelat jernih Gel Formula 3 Khas cokelat jernih Gel Formula 4 khas cokelat jernih gel Bau Warna Bentuk Formula 1 Khas cokelat jernih Gel Formula 2 Khas cokelat jernih Gel Formula 3 Khas cokelat jernih Gel Formula 4 khas cokelat jernih gel 7 hari 14 hari 21 hari 28 hari

(110) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 87 Lampiran 14. Data Uji Viskositas Sediaan Gel Sabun Cuci Tangan Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Beluntas Selama Beberapa Hari Penyimpanan Waktu Penyimpanan 48 jam 7 Hari 14 Hari 21 Hari 28 Hari Formula 1 (d.Pa.s) 45 40 35 Formula 2 (d.Pa.s) 50 70 60 Formula 3 (d.Pa.s) 90 80 100 Formula 4 (d.Pa.s) 140 120 130 40 ± 5 60 ± 10 90 ± 10 130 ± 10 45 40 30 50 60 70 100 80 110 150 120 140 38,33 ± 7,63 60 ± 10 96,66 ± 15,27 136,66 ± 15,27 35 45 30 70 50 60 100 70 90 140 110 130 36,66 ± 7,63 60 ± 10 86,66 ± 15,27 126,66 ± 15,27 35 40 30 80 70 50 100 80 90 150 120 130 35 ± 5 66,66 ± 15,27 90 ± 10 133,33 ± 15,27 35 45 40 70 60 50 110 80 90 150 120 140 40 ± 5 60 ± 10 93,33 ± 15,27 136,66 ± 15,27

(111) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 88 Lampiran 15. Hasil Uji Sifat Fisik Viskositas Sediaan Gel Sabun Cuci Tangan Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Beluntas a. Uji Normalitas Formula1 Formula 2 Formula 3 Formula 4 a. Uji Levene b. Uji Anava c. Uji Post hoc (t-test tidak berpasangan)

(112) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 89 Lampiran 16. Hasil Uji Stabilitas Viskositas Sediaan Gel Sabun Cuci Tangan Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Beluntas a. Uji Normalitas a. Formula 1 48 jam 7 hari 14 hari 21 hari 28 hari b. Uji Post Hoc (t-test berpasangan) a. Formula 1 - 48 jam dibandingkan dengan 7 hari

(113) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 90 - 48 jam dibandingkan dengan 14 hari - 48 jam dibandingkan dengan 21 hari - 48 jam dibandingkan 28 hari - 7 hari dibandingkan 14 hari - 7 hari dibandingkan 21 hari - 7 hari dibandingkan 28 hari

(114) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 91 - 14 hari dibandingkan dengan 21 hari - 14 hari dibandingkan dengan 28 hari - 21 hari dibandingkan dengan 28 hari

(115) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 92 Lampiran 17. Hasil Uji Sifat Fisik Ketahanan Busa Sediaan Gel Sabun Cuci Tangan Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Beluntas a. Data Uji Ketahanan Busa Formula/ Minggu Formula 1 Formula 2 Formula 3 Formula 4 48 jam 1,2 0,6 1 0,93 ± 0,30 1 0,8 0,6 0,8 ± 0,2 0,8 1 0,4 0,73 ± 0,30 1 0,5 0,8 0,76 ± 0,25 0,8 1 0,6 0,8 ± 0,2 1 0,4 0,8 0,73 ± 0,30 0,4 0,8 0,6 0,6 ± 0,2 0 0,2 0,4 0,2 ± 0,2 1 0,8 0,6 0,8 ± 0,2 0 0,6 1 0,53 ± 0,50 1 0,9 0,8 0,9 ± 0,1 0,8 0,6 1 0,8 ± 0,2 0,8 1 0,6 0,8 ± 0,2 1,2 0 1 0,73 ± 0,64 0 0,2 0,4 0,2 ± 0,2 0,8 1 0,7 0,83 ± 0,15 0,6 0,8 0,7 0,7 ± 0,1 1 1,2 0,8 1 ± 0,2 0,7 1 0,9 0,86 ± 0,15 1 0,9 0,6 0,83 ± 0,20 7 hari 14 hari 21 hari 28 hari b. Uji Normalitas Formula 1 Formula 2

(116) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 93 Formula 3 Formula 4 c. Uji Levene d. Uji Anava e. Uji Post Hoc (t-test tidak berpasangan) Formula 1 dibanding Formula 2 Formula 1 dibanding Formula 3

(117) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 94 Formula 1 dibanding Formula 4 Formula 2 dibanding Formula 3 Formula 2 dibanding Formula 4 Formula 3 dibanding Formula 4

(118) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 95 Lampiran 18. Hasil Uji Stabilitas Ketahanan Busa Sediaan Gel Sabun Cuci Tangan Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Beluntas a. Uji Normalitas Formula 1 Formula 2

(119) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 96 Formula 3 Formula 4

(120) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 97 b. Uji Post Hoc (t-test berpasangan) a. formula 1 - 48 jam dibandingkan dengan hari 7 - 48 jam dibandingkan dengan hari 14 - 48 jam dibandingkan dengan hari 21 - 48 jam dibandingkan dengan hari 28

(121) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 98 - Hari 7 dibandingkan dengan hari 14 - Hari 7 dibandingkan dengan hari 21 - Hari 7 dibandingkan dengan hari 28 - Hari 14 dibandingkan dengan hari 21 - Hari 14 dibandingkan dengan hari 28 - Hari 21 dibandingkan dengan hari 28

(122) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 99 Lampiran 19. Foto Zona Hambat Sediaan Sabun Cuci Tangan Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Beluntas terhadap Isolat Bakteri Tangan Isolat Bakteri Telapak Tangan Isolat Bakteri Jari Tangan Isolat Bakteri Punggung Tangan

(123) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 100 Lampiran 20. Diameter Zona Hambat Sediaan Gel Sabun Cuci Tangan Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Beluntas terhadap Isolat Bakteri Tangan Bakteri telapak tangan Bakteri jari tangan Bakteri punggung tangan D Kontrol positif 6 8 5 Kontrol negatif 0 0 0 Formula 1 5 7 4 Formula 2 3 5 4 Formula 3 5 7 4 Formula 4 6 7 8 6, 33 ± 1,52 0 5,33 ± 1,52 4±1 5,33 ± 1,52 7±1 13 18 8 0 0 0 9 15 9 18 13 13 9 5 6 8 8 11 13 ± 5 0 11 ± 3,46 14,66 ± 2,88 6,66 ± 2,08 9 ± 1,73 8 6 16 0 0 0 5 6 5 6 0 7 11 13 16 4 8 11 10 ± 5,29 0 5,33 ± 0,57 4,33 ± 3,78 13,33 ± 2,51 7,66 ± 3,51

(124) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 101 Lampiran 21. Uji Normalitas Shapiro-Wilk Zona Hambat Sediaan Gel Sabun Cuci Tangan Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Beluntas terhadap Isolat Bakteri Tangan A. Bakteri telapak - Kontrol positif - Kontrol negatif - Formula 1 - Formula 2 - Formula 3 - Formula 4

(125) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 102 B. Bakteri Jari Tangan - Kontrol positif - Kontrol negatif - Formula 1 - Formula 2 - Formula 3 - Formula 4 C. Punggung Telapak - Kontrol positif -

(126) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 103 - Kontrol negatif - Formula 1 - Formula 2 - Formula 3 - Formula 4

(127) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 104 Lampiran 22. Uji Kruskal-Wallis Zona Hambat Sediaan Gel Sabun Cuci Tangan Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Beluntas a. Bakteri Telapak Tangan b. Bakteri Jari Tangan c. Bakteri Punggung Tangan

(128) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 105 Lampiran 23. Uji Wilcoxon Zona Hambat Sediaan Gel Sabun Cuci Tangan Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Beluntas dibandingkan dengan Basis Sediaan Gel Sabun Cuci Tangan A. Bakteri Telapak Tangan - Formula 1 dibandingkan dengan Basis - Formula 2 dibandingkan dengan Basis - Formula 3 dibandingkan dengan Basis - Formula 4 dibandingkan dengan Basis B. Bakteri Jari Tangan - Formula 1 dibandingkan dengan Basis - Formula 2 dibandingkan dengan Basis

(129) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 106 - Formula 3 dibandingkan dengan Basis - Formula 4 dibandingkan dengan Basis C. Bakteri Punggung Tangan - Formula 1 dibandingkan dengan Basis - Formula 2 dibandingkan dengan Basis - Formula 3 dibandingkan dengan Basis - Formula 4 dibandingkan dengan Basis

(130) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 107 Lampiran 24. Nilai Probabilitas Uji Wilcoxon: Perbandingan Antara Sediaan Gel Sabun Cuci Tangan Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Beluntas Dengan Basis Sediaan Gel Sabun Cuci Tangan Bakteri Telapak Tangan Nilai Formula probabilitas (p-value) 1 0,0369 2 0,0369 3 0,0369 4 0,0369 Bakteri Jari Tangan Formula 1 2 3 4 Nilai probabilita s (p-value) 0,0338 0,033 0,0369 0,0338 Bakteri Punggung Tangan Nilai Formula probabilita s (p-value) 1 0,0338 2 0,1213 3 0,0369 4 0,0369

(131) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 108 Lampiran 25. Uji Wilcoxon Zona Hambat Sediaan Gel Sabun Cuci Tangan Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Beluntas dibandingkan dengan Kontrol Positif 1. Bakteri Jari Tangan a. Formula 1 dibandingkan dengan kontrol positif b. Formula 2 dibandingkan dengan kontrol positif c. Formula 3 dibandingkan dengan kontrol positif d. Formula 4 dibandingkan dengan kontrol positif 2. Bakteri Telapak Tangan a. Formula 1 dibandingkan dengan kontrol positif b. Formula 2 dibandingkan dengan kontrol positif c. Formula 3 dibandingkan dengan kontrol positif d. Formula 4 dibandingkan dengan kontrol positif

(132) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 109 3. Bakteri Punggung Tangan a. Formula 1 dibandingkan dengan kontrol positif b. Formula 2 dibandingkan dengan kontrol positif c. Formula 3 dibandingkan dengan kontrol positif d. Formula 4 dibandingkan dengan kontrol positif

(133) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 110 Lampiran 26. Nilai Probabilitas Uji Wilcoxon: Perbandingan Antara Sediaan Gel Sabun Cuci Tangan Ekstrak Etanol Daun Beluntas Dengan Kontrol Positif Bakteri Telapak Tangan Nilai Formula probabilitas (p-value) 1 0.3758 2 0,07652 3 0,3758 4 0,5002 Bakteri Jari Tangan Formula 1 2 3 4 Nilai probabilita s (p-value) 0,8248 0,6374 0,8248 0,8248 Bakteri Punggung Tangan Nilai Formula probabilita s (p-value) 1 0,0722 2 0,184 3 0,3758 4 0,6579

(134) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BIOGRAFI PENULIS arcelina Widani Amanda Rompas M lahir pada tanggal 2 Juni 1992. Penulis merupakan putri pertama dari ayah bernama Sonny Abraham Rompas dan ibu bernama Cornelia Tri Widayati. Penulis telah menyelesaikan masa studinya di TK Strada Kampung Sawah (1996-1998), SD Strada Kampung Sawah pada tahun (1998-2004), SMP Strada Kampung Sawah pada tahun (2004-2007), SMA Pangudi Luhur II Servasius Bekasi pada tahun (2007-2010). Selesai studi di SMA penulis melanjutkan kuliah di Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta pada tahun 2010 sampai dengan tahun 2014. Penulis aktif dalam Organisasi dan kegiatan Kemahasiswaan di Universitas Sanata Dharma, antara lain koordinator Paduan Suara Komunitas Paingan Campus Ministry (20112013), Ketua Panitia Tim 1 Panitia Paskah Universitas Sanata Dharma (2012), Sekretaris Panitia Seminar Campus Ministry ‘Pernikahan Beda Agama’ (2012), Anggota konsumsi Paingan Festival (2012), Anggota akomodasi Panitia IPSF Student Exchange Programme (2012), dan Divisi Administrasi dan Logistik dalam Panitia Leadership Training Komunitas Campus Ministry (2013). 111

(135)

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Pengaruh konsentrasi hpmc dan propilen glikol terhadap sifat dan stabilitas fisik sediaan gel ekstrak pegagan (Centella asiatica (L.) Urban).
6
44
123
Pengaruh konsentrasi CMC-NA sebagai gelling agent dan propilen glikol sebagai humektan terhadap sifat fisik dan stabilitas fisik gel ekstrak pegagan (Centella asiatica (L.) Urban).
4
22
139
Formulasi dan evaluasi sifat fisik sediaan gel ekstrak pegagan (Centella Asiatica (L.) Urban) dengan gelling agent karpobol 940 dan humektan propilen glikol.
5
44
95
Pengaruh penambahan minyak peppermint sebagai penetration enhancer terhadap karakteristik dan sifat fisik sediaan gel ekstrak tempe.
2
0
105
Pengaruh span 80 sebagai emulsifying agent dan carbopol 940 sebagai gelling agent terhadap sifat fisik dan stabilitas fisik krim sunscreen fraksi etil asetat daun jambu biji (psidium guajava l.).
0
3
100
Perbedaan sifat fisik dan stabilitas fisik emulgel minyak cengkeh (oleum caryophylli) sebagai obat jerawat dengan variasi suhu dan lama pencampuran.
1
3
108
Daya antibakteri ekstrak etanol daun beluntas (Pluchea indica Less) dan daun kemangi (Ocimum basilicum L.) terhadap Staphylococcus epidermidis ATCC 12228.
7
25
129
Pengaruh tween 80 dan span 80 sebagai emulsifying agent terhadap sifat fisik dan stabilitas fisik emulgel antiacne minyak cengkeh (Oleum caryophill) aplikasi desain faktorial.
3
4
98
Pengaruh span 80 sebagai emulsifying agent dan carbopol 940 sebagai gelling agent terhadap sifat fisik dan stabilitas fisik krim sunscreen fraksi etil asetat daun jambu biji
0
2
98
Perbedaan sifat fisik dan stabilitas fisik emulgel minyak cengkeh (oleum caryophylli) sebagai obat jerawat dengan variasi suhu dan lama pencampuran
0
0
106
Perbedaan sifat fisik dan stabilitas fisik deodoran ekstrak etanol daun beluntas (Pluchea indica L.) dengan variasi jumlah sorbitan monostearate sebagai emulsifying agent - USD Repository
0
0
174
Perbedaan sifat fisik dan stabilitas fisik deodoran ekstrak etanol daun beluntas (Pluchea indica L.) dengan variasi jumlah sorbitan Monooleate sebagai emulsifying agent - USD Repository
0
0
133
Pengaruh penambahan konsentrasi CMC-Na pada sediaan sunscreen gel ekstrak temu giring (Curcuma heyneana Val.) terhadap sifat fisik dan stabilitas sediaan dengan sorbitol sebagai humectant - USD Repository
0
0
110
Pengaruh konsentrasi ekstrak kulit buah manggis (garcinia mangostana l.) terhadap sifat fisik dan stabilitas fisik sediaan emulgel - USD Repository
1
1
125
Pengaruh variasi jumlah carbopol® sebagai gelling agent terhadap sifat fisik dan stabilitas fisik sediaan sabun cuci tangan ekstrak etanol daun beluntas (pluchea indica (l.) less) dan uji aktivitas antibakteri - USD Repository
0
1
111
Show more