Wacana gombal dalam bahasa Indonesia : kajian struktural, pragmatis, dan kultural - USD Repository

Gratis

0
0
100
3 months ago
Preview
Full text

  

WACANA GOMBAL DALAM BAHASA INDONESIA:

KAJIAN STRUKTURAL, PRAGMATIS, DAN KULTURAL

  Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

  Memperoleh Gelar Sarjana Sastra Indonesia Program Studi Sastra Indonesia

  Oleh Sony Christian Sudarsono

  NIM: 094114002

  

PROGRAM STUDI SASTRA INDONESIA

JURUSAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS SASTRA

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

2013

  Be(e) not afraid (Bee Community)

  Saat engkau menginginkan sesuatu, seluruh jagat raya bersatu padu untuk membantumu meraihnya. (The Alchemist

  • – Paulo Coelho)

  Karya sederhana ini aku persembahkan kepada: Tuhan Yang Maha Esa,

  Bapak Darsono dan Ibu Siti serta Nduk Christin di Klaten, Cempluk dari Bandung

  Prodi Sastra Indonesia USD, Sege nap pembaca karya sederhana ini….

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

  Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa tugas akhir yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka sebagaimana layaknya karya ilmiah.

  Yogyakarta, 28 Februari 2013 Penulis Sony Christian Sudarsono

  

Pernyataan Persetujuan Publikasi Karya Ilmiah

untuk Kepentingan Akademis

  Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma: Nama : Sony Christian Sudarsono NIM : 094114002 Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul ―Wacana Gombal dalam Bahasa Indonesia: Kajian Struktural, Pragmatis, dan Kultural‖.

  Dengan demikian, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak menyimpan, mengalihkan dalam bentuk lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas dan mempublikasikan di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta izin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis. Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya. Dibuat di Yogyakarta Pada tanggal 28 Februari 2013 Yang menyatakan, Sony Christian Sudarsono

KATA PENGANTAR

  Puji dan syukur penulis haturkan kepada Allah Yang Mahakasih atas berkat dan rahmat yang melimpah selama penulis menyusun tugas akhir ini dari awal mencari topik hingga akhir penyelesaiannya.

  Skripsi ber judul ―Wacana Gombal dalam Bahasa Indonesia: Kajian Struktural, Pragmatis, dan Kultural‖ ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat mencapai gelar Sarjana S1 pada Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Setelah melalui proses yang panjang, skripsi ini akhirnya terselesaikan. Oleh karena itu, penulis ingin mengucapkan terima kasih teriring doa tulus kepada pihak-pihak yang telah menjadi perpanjangan Tangan Tuhan berikut.

  1. Dr. Paulus Ari Subagyo, M.Hum. yang berkenan menjadi pembimbing I penulis dalam menyusun skripsi ini. Beliau memberikan banyak inspirasi, masukan, pinjaman buku referensi, dan pesan-pesan yang berguna baik untuk penyusunan skripsi ini maupun untuk kehidupan sehari-hari penulis.

  2. Drs. Hery Antono, M.Hum. yang berkenan menjadi pembimbing II penulis dalam menyusun skripsi ini. Beliau juga memberikan banyak inspirasi, masukan, pinjaman buku referensi, dan pesan-pesan yang berguna baik untuk penyusunan skripsi ini maupun untuk kehidupan sehari-hari penulis.

  3. Para dosen Program Studi Sastra Indonesia USD yang belum disebut: Drs. B.

  Rahmanto, M.Hum., Prof. Dr. I. Praptomo Baryadi, M.Hum., Dra. F. Tjandrasih Adji, M.Hum. (dosen pembimbing akademik penulis), S.E. Peni Adji, S.S, M.Hum., Dr. Y. Yapi Taum, M.Hum., dan Drs. F.X. Santosa, M.S., serta dosen-dosen pengampu mata kuliah tertentu yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu. Pengabdian mereka untuk dunia pendidikan sangat berharga dan patut dihormati.

  4. Bapak Anthonius Sudarsono dan Ibu Maria Magdalena Siti Satsini serta Adik Christina Susi Rahayu, keluarga tercinta yang telah membiayai dan selalu mendoakan penulis selama hampir 24 tahun penulis hidup di dunia ini. Semoga karya ini dapat menjadi kado pesta perak pernikahan Bapak dan Ibu yang sangat penulis cintai.

  5. Benedikta Haryanti yang menjadi inspirator khusus penulis dari awal menemukan topik hingga akhir penyusunan skripsi ini.

  6. Staf karyawan sekretariat Program Studi Sastra Indonesia dan Fakultas Sastra yang selama ini mengurus keperluan akademik penulis.

  7. Pengelola dan segenap staf Perpustakaan Universitas Sanata Dharma yang membantu penulis menyediakan buku-buku yang penulis butuhkan untuk penelitian ini pada khususnya dan untuk keperluan kuliah penulis pada umumnya.

  8. Teman-teman lain di Prodi Sastra Indonesia angkatan 2009. Tanpa disadari, mereka semua bukan sekadar teman seperjalanan, melainkan juga inspirasi dan penyemangat penulis.

  9. Teman-teman PSM Cantus Firmus USD dan sang pelatih yang setiap berjumpa tak henti-hentinya menanyakan apakah skripsi ini sudah selesai atau belum. Terima kasih juga untuk pengalaman-pengalaman bersama di Palangkaraya, Malang, TBY, dan terakhir Bali yang sungguh tak ternilai harganya. Pengalaman-pengalaman tersebut secara tidak langsung membuat penulis lebih kuat menghadapi kesulitan-kesulitan dalam menyusun skripsi ini. Semoga tahun depan sukses di Latvia.

10. Semua pihak yang ikut membantu dan mendukung penyusunan skripsi ini yang tidak dapat disebutkan satu per satu. Terima kasih atas semuanya.

  Penulis menyadari, karya sederhana ini masih memiliki banyak kekurangan karena keterbatasan penulis sebagai seorang manusia. Oleh karena itu, saran dan kritik yang membangun demi lebih baiknya karya ini dari berbagai pihak sangat penulis harapkan. Akhir kata, semoga karya sederhana ini memberikan manfaat yang berguna bagi pembacanya. Tuhan memberkati.

  Yogyakarta, 28 Februari 2013 Sony Christian Sudarsono

  

ABSTRAK

  Sudarsono, Sony Christian. 2013. ―Wacana Gombal dalam Bahasa Indonesia: Kajian Struktural, Pragmatis, dan Kult ural‖. Skripsi Strata Satu (S1). Program Studi Sastra Indonesia, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma.

  Skripsi ini membahas wacana gombal (WG). Gombal adalah kata dalam bahasa Indonesia yang mengekspresikan sesuatu yang tidak berguna dan tidak berarti. WG digunakan oleh seseorang (biasanya pria) untuk merayu, menggoda, dan atau mencari perhatian orang lain terutama lawan jenis. Sekarang, WG banyak digunakan untuk hiburan sebagai bagian dari wacana humor. Kajian atas WG ini bertujuan untuk mendeskripsikan struktur WG, kesesuaian WG dengan prinsip kerja sama, penyebab muncul dan berkembangnya WG, dan fenomena- fenomena lingual dalam WG.

  Teori yang digunakan untuk mengkaji WG meliputi (a) pengertian dan struktur wacana, (b) wacana dialog, (c) wacana gombal, wacana humor, dan budaya populer, (d) prinsip kerja sama, serta (e) humor dan penciptaan humor. Landasan teori poin (a) dan (b) digunakan sebagai dasar analisis kajian struktural terhadap WG. Sementara itu, landasan teori butir (c) s.d. (e) menjadi dasar dalam mengkaji kesesuaian tuturan dalam WG dengan prinsip kerja sama, penyebab muncul dan berkembangnya WG, dan jenis-jenis fenomena lingual yang terdapat dalam WG.

  Langkah-langkah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. Pertama, mengumpulkan data dari buku-buku kumpulan WG dan dari video-video acara televisi yang memuat WG. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode simak, yaitu menyimak penggunaan bahasa dalam sumber-sumber data tersebut dan mencatatnya dalam kartu data. Kedua, data dianalisis dengan metode agih dan metode padan. Teknik yang digunakan dalam metode agih adalah teknik bagi unsur langsung. Metode padan yang digunakan adalah metode padan pragmatis. Terakhir, hasil analisis data disajikan dengan teknik informal dan formal. Dengan teknik informal, hasil analisis data disajikan dengan kata-kata biasa yang bersifat denotatif, bukan konotatif. Dengan teknik formal, hasil analisis data disajikan dengan tabel ataupun rumus tertentu (Sudaryanto, 1993: 145).

  Hasil dari penelitian ini meliputi empat hal yaitu struktur WG, kesesuaian tuturan dalam WG dengan prinsip kerja sama, penyebab muncul dan berkembangnya WG, dan fenomena lingual dalam WG. Struktur WG terdiri dari dua unsur, yaitu pengantar dan ketidakterdugaan. Pengantar merupakan bagian WG yang berfungsi sebagai pembangun persepsi tentang sesuatu. Sementara itu, ketidakterdugaan merupakan bagian WG yang berfungsi membelokkan persepsi yang telah dibangun di bagian pengantar untuk menghasilan ―nilai rasa gombal‖ dan efek jenaka.

  Berdasarkan letak unsur pengantar dan ketidakterdugaannya, WG dibagi menjadi dua tipe, yaitu tipe wacana dialog sederhana dan tipe wacana dialog kompleks. WG yang bertipe wacana dialog sederhana memiliki fungsi I dan F. Unsur pengatar dan ketidakterdugaan dalam WG terletak pada fungsi I. WG yang bertipe wacana dialog kompleks sekurang-kurangnya memiliki fungsi I, R/I, R, dan kadang-kadang F. Unsur ketidakterdugaan terletak di fungsi R yang terakhir, sedangkan fungsi-fungsi sebelumnya merupakan unsur pengantar yang membangun sebuah persepsi.

  Tuturan dalam WG membelok dari prinsip kerja sama untuk menghasilkan ―nilai rasa gombal‖. WG memuat sumbangan informasi yang bersifat berlebihan, kurang logis, keluar dari konteks, dan ambigu. Penyebab terjadinya fenomena

  

nggombal dimulai dari media massa, terutama televisi. Media massa melalui

  acara-acara televisi mempublikasikan WG sehingga populer di kalangan masyarakat. WG pun menjadi trend center dalam dunia humor dan trend setter dalam pergaulan sehari-hari.

  Fenomena-fenomena lingual dalam WG meliputi pemanfaatan aspek- aspek kebahasaan, yaitu (a) aspek fonologis yang meliputi (i) subtitusi fonem, (ii) permainan fonem, dan (ii) penambahan suku kata; (b) aspek ketaksaan yang meliputi (i) ketaksaan leksikal: polisemi dan homonimi, dan (ii) ketaksaan gramatikal: idiom dan peribahasa; (c) gaya bahasa yang meliputi (i) hiperbola, (ii) elipsis, (iii) metafora, dan (iv) personifikasi; (d) pantun; (e) nama; (f) pertalian kata dalam frasa, (g) pertalian antarklausa yang meliputi (i) hubungan perlawanan, (ii) hubungan sebab, (iii) hubungan pengandaian, (iv) hubungan syarat, (v) hubungan tujuan, dan (vi) hubungan kegunaan; serta (i) pertalian antarproposisi yang meliputi (i) silogisme dan (ii) entailmen.

  

ABSTRACT

  Sudarsono, Sony Christian. 2013. ―Wacana Gombal in Indonesian Language: Structural, Pragmatics, and Cultural Study‖. Undergraduate Thesis.

  Study Program of Indonesian Literary, Indonesia Literature Course, Sanata Dharma University.

  This thesis discusses wacana gombal (―gombal discourse‖, abbreviated as

  WG). Gombal is a word in Indonesian language that describes something that is useless and invaluable. Someone (usually a man) use WG to attempt to persuade someone else, especially a woman. Now, WG is used as an entertainment so WG is a part of humor discourse. This study on WG aims to describe the structure of WG, the expediency of WG with cooperative principles, the reason WG can be popular, and the lingual phenomenon in the WG.

  The teories that be used in this studying are (a) the definition and structure of discoures, (b) the dialogue discourse, (c) the WG, humor discoures and popular culture, (d) the cooperative principles, and (e) the humor and the humor creating. Teories in point (a) and (b) are used to analyse the structure of WG. Point (c) to (e) become the basis to analyse the expediency of WG with the cooperative principle, the reason WG can be popular, and the lingual phenomenons in the WG.

  The steps of the study are as follows. First, collect the data from the books that and videos TV programs that contain WG with simak methods or observe attentively the using of its langue and wrote it in the data card. Second, the data is analyzed with the method of agih and padan. The agih method is applied through the bagi unsur langsung technique (direct dividing element). The padan method (equal method) that is used is pragmatics padan. Finally, the analytical result from the data is served with informal and formal method. By informal method means that the analytical data are presented by way of ordinary words that is words that has its denotative character not it‘s connotative. Using formal method means that the analytical data are presented by table or a certain formula (Sudaryanto, 1993: 145).

  The result of this research are the structure of WG, the expediency of WG with cooperative principles, the reason WG can be popular, and the lingual phenomenon in the WG. The structure of WG is composed of the introduction and unexpectedness. The function of introduction is to make a perception about something. In the mean time, the unexpectedness functions to split the perception that be made in the introduction to produce ―gombal effect‖ and humor.

  WG can be divided to two types, which are simple conversation and complicated conversation. Simple conversation has I and F. The introduction and unexpectedness are in I. Complicated conversation has I, R/I, R, and sometimes F. The unexpectedness is in the last R. the introduction is the part before the latest R.

  The speech in WG is not appropriate with cooperative principles to produce ―gombal effect‖. WG give the contribution as uninformative as is required or more informative than is required, not logic, out of context, and ambiguous. The reason WG can be popular is started from the mass-media. It through the TV programs publishes WG so that be popular in the public. WG become trend center in entertainment world and trend setter in the daily life.

  The lingual phenomenon in WG cover the utilization of lingual aspects, that are (a) phonological aspects: (i) phonemic play and (ii) syllabic adding; (b) equivocal aspects: (i) lexically equivocal and (ii) grammatically equivocal; (c) figure of a speech: (i) hyperbola, (ii) ellipsis, (iii) metaphor, and (iv) personification; (d) limerick; (e) name; (f) the relation of words in the phrase; (g) the relation inter clauses: (i) paradox relations, (ii) reason relations, (iii) assumption relations, (iv) conditional relations, (v) aim relations, and (vi) useless relations; and (i) inter proposition relations: (i) syllogism and (ii) entailment.

DAFTAR SINGKATAN

  F : feed back I : inisiasi Ir : reinisiasi KBBI : Kamus Besar Bahasa Indonesia OVJ : Opera Van Java O1 : orang pertama O2 : orang kedua R : respons R/I : respons/inisiasi WG : wacana gombal

DAFTAR TANDA

   : memprediksi elemen berikutnya

   : terprediksi oleh elemen sebelumnya  : terprediksi elemen sebelumnya dan memprediksi elemen berikutnya [ ] : batas pertukaran ( ) : unsur yang diapit bersifat opsional / / : transkripsi fonemik

  

DAFTAR ISI

  Halaman HALAMAN JUDUL ........................................................................................................... i HALAMAN PENGESAHAN PEMBIMBING .................................................................... ii HALAMAN PENGESAHAN PENGUJI ............................................................................. iii HALAMAN PERSEMBAHAN .......................................................................................... iv PERNYATAAN KEASLIAN KARYA............................................................................... v KATA PENGANTAR......................................................................................................... vii ABSTRAK.......................................................................................................................... ix

  ........................................................................................................................ xi

  ABSTRACT

  DAFTAR SINGKATAN DAN LAMBANG ....................................................................... xiii DAFTAR ISI ...................................................................................................................... xiv BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................................

  1

  1.1 Latar Belakang Masalah .......................................................................................... 1

  1.2 Rumusan Masalah.................................................................................................... 6

  1.3 Tujuan Penelitian ..................................................................................................... 6

  1.4 Manfaat Penelitian ................................................................................................... 6

  1.5 Tinjauan Pustaka ..................................................................................................... 7

  1.6 Landasan Teori ........................................................................................................ 10 1.6.1 Pengertian dan Struktur Wacana......................................................................

  10 1.6.2 Wacana Dialog ................................................................................................

  12 1.6.3 Wacana Gombal, Wacana Humor, dan Budaya Populer ..................................

  14 1.6.4 Prinsip Kerja Sama..........................................................................................

  17 1.6.4.1 Maksim Kuantitas ...............................................................................

  17 1.6.4.2 Maksim Kualitas .................................................................................

  18 1.6.4.3 Maksim Relevansi ...............................................................................

  19 1.6.4.4 Maksim Pelaksanaan ...........................................................................

  20 1.6.5 Humor dan Penciptaan Humor ........................................................................

  21

  1.7 Metode dan Teknik Penelitian .................................................................................. 22 1.7.1 Metode dan Teknik Pengumpulan Data ...........................................................

  22 1.7.2 Metode dan Teknik Analisis Data....................................................................

  23 1.7.3 Metode dan Teknik Penyajian Hasil Analisis Data ..........................................

  25

  1.8 Sistematika Penyajian .............................................................................................. 25 BAB II STRUKTUR WACANA GOMBAL .......................................................................

  26

  2.1 Pengantar ................................................................................................................. 26

  2.2 Struktur Wacana Gombal ......................................................................................... 26

  2.3 Tipe Wacana Gombal .............................................................................................. 28 2.2.1 Tipe WG Dialog Sederhana .............................................................................

  28 2.2.2 Tipe WG Dialog Kompleks .............................................................................

  31

  2.4 Rangkuman ............................................................................................................. 32 BAB III WACANA GOMBAL DAN PRINSIP KERJA SAMA ..........................................

  34

  3.1 Pengantar ................................................................................................................. 34

  3.2 Kesesuaian Tuturan dalam Wacana Gombal dengan Prinsip Kerja Sama ................. 34

  3.2.1 Tuturan dalam WG yang Membelok dari Maksim Kuantitas......................... 35

  3.2.2 Tuturan dalam WG yang Membelok dari Maksim Kualitas .......................... 36

  3.2.3 Tuturan dalam WG yang Membelok dari Maksim Relevansi ........................ 37

  3.2.4 Tuturan dalam WG yang Membelok dari Maksim Pelaksanaan .................... 38

  3.3 Rangkuman ............................................................................................................. 40 BAB IV WACANA GOMBAL DAN BUDAYA POPULER ...............................................

  41 4.1 Pengantar .................................................................................................................

  41 4.2 Penyebab Terjadinya Fenomena Nggombal..............................................................

  41 4.3 Rangkuman .............................................................................................................

  43 BAB V FENOMENA LINGUAL DALAM WACANA GOMBAL......................................

  45 5.1 Pengantar .................................................................................................................

  45 5.2 Pemanfaatan Fenomena Lingual dalam WG .............................................................

  46 5.2.1 Aspek Fonologis .............................................................................................

  46 5.2.1.1 Permainan Fonem ...............................................................................

  47 5.2.1.2 Penambahan Suku Kata .......................................................................

  49 5.2.2 Aspek Ketaksaan ............................................................................................

  50 5.2.2.1 Ketaksaan Leksikal .............................................................................

  50 5.2.2.1.1 Polisemi ................................................................................

  50 5.2.2.1.2 Homonimi ............................................................................

  52 5.2.2.2 Ketaksaan Gramatikal .........................................................................

  53 5.2.2.2.1 Idiom ....................................................................................

  54 5.2.2.2.2 Peribahasa ............................................................................

  55

  5.2.3 Gaya Bahasa ...................................................................................................

  56 5.2.3.1 Hiperbola ............................................................................................

  57 5.2.3.2 Elipsis .................................................................................................

  57 5.2.3.3 Metafora .............................................................................................

  58 5.2.3.4 Personifikasi .......................................................................................

  60 5.2.4 Pantun .............................................................................................................

  61 5.2.5 Nama ..............................................................................................................

  62 5.2.6 Pertalian Kata dalam Frasa ..............................................................................

  63 5.2.6.1 Frasa Endosentrik Koordinatif ............................................................

  64 5.2.6.2 Frasa Endosentrik Atributif .................................................................

  65 5.2.7 Pertalian Antarklausa ......................................................................................

  66 5.2.7.1 Pertalian Perlawanan ...........................................................................

  66 5.2.7.2 Pertalian Sebab ...................................................................................

  68 5.2.7.3 Pertalian Pengandaian .........................................................................

  69 5.2.7.4 Pertalian Syarat ...................................................................................

  70 5.2.7.5 Pertalian Tujuan ..................................................................................

  71 5.2.7.6 Pertalian Kegunaan .............................................................................

  71 5.2.8 Pertalian Antarproposisi ..................................................................................

  72 5.2.8.1 Silogisme ............................................................................................

  72 5.2.8.2 Entailmen ............................................................................................

  74 5.3 Rangkuman .............................................................................................................

  76 BAB VI PENUTUP ............................................................................................................

  78 6.1 Kesimpulan .............................................................................................................

  78 6.2 Saran .......................................................................................................................

  80 DAFTAR PUSTAKA .........................................................................................................

  81 SUMBER DATA ................................................................................................................

  84

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

  Skripsi ini membahas wacana gombal (selanjutnya WG) baik secara struktural, pragmatis, maupun kultural. Akhir-akhir ini, WG mudah dijumpai dalam komunikasi sehari-hari, terutama di kalangan kaum muda. Banyak website dan webblog yang mempublikasikan tulisan-tulisan berupa WG. Bahkan, ada program televisi yang menyediakan ruang tersendiri untuk nggombal.

  Dilihat dari arti katanya dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI),

  gombal

  berarti ‗kain yang sudah tua (sobek-sobek)‘ (Tim Penyusun Kamus, 2008: benar, tidak sesuai dengan kenyataan, atau berbohong. Bahkan, WG disebut juga wacana yang tidak berguna atau tidak berarti. Berangkat dari pengertian tersebut, WG dapat diartikan sebagai wacana yang kurang serius dan menjurus pada kebohongan atau berlebih-lebihan. Namun, makna WG mengalami pergeseran.

  WG banyak dipakai untuk merayu, khususnya merayu seorang wanita. Dalam hubungan pacaran atau usaha untuk merebut hati wanita yang diinginkan, seorang pria biasa menggunakan WG untuk merayu wanita pujaannya. Berikut dua contoh WG yang dalam konteksnya diucapkan oleh seorang pria kepada pacarnya.

  (1) Kamu cantik sekali sich, bagaikan rembulan yang sedang purnama. (2) Wajahmu lebih manis daripada gula sekalipun.

  2 Baik contoh (1) maupun (2) memuat tuturan berupa pujian yang berlebihan bagi mitra tuturnya. Wacana seperti itulah yang disebut sebagai wacana

  ―bernilai gombal ‖. Kegiatan yang menggunakan WG sering disebut nggombal.

  Pada perkembangannya, para pengguna WG pun kreatif dalam menciptakan WG. WG tidak melulu berlebihan, namun juga memiliki nilai rasa yang berbeda seperti pada contoh berikut.

  (3) O1 : Aku udah pernah jatuh dari jembatan. Aku udah pernah jatuh dari tangga. Semuanya gak enak.

  O2 : Emangnya ada jatuh yang enak? O1 : Ada satu jatuh yang paling enak, yaitu jatuh cinta sama kamu.

  (Rayuan Gombal Ala Denny Cagur, hal. 19) (4) O1 : Kamu suka tanaman ya?

  O2 : Kok tau sich? O1 : Karena pohon cintamu telah tumbuh rimbun di hatiku.

  (Si Raja Gombal: Rayuan Gombal Ala Andre OVJ, hal. 37) Contoh tuturan (3) dan (4) termasuk WG yang sebenarnya juga hendak merayu mitra tutur dengan pujian gombal. Perbedaannya, pujian pada tuturan (3) dan (4) lebih kreatif dibandingkan tuturan (1) dan (2). Kreativitas tersebut terletak pada permainan bahasa yang digunakan. Tuturan (3) memanfaatkan idiom jatuh

  

cinta yang diperlawankan dengan kata jatuh dalam arti yang denotatif. Tuturan (4)

memanfaatkan entailmen antara tanaman dengan tumbuh rimbun.

  Seperti telah dikatakan di atas, WG awalnya digunakan penutur untuk merayu, memuji, menggoda, dan mencari perhatian dari mitra tutur. Biasanya penuturnya adalah seorang pria yang hendak merayu seorang wanita sebagai mitra tuturnya. Dalam perkembangannya, kini WG pun dapat dijadikan humor yang menghibur . Hal

  3 tersebut dapat dibuktikan dengan adanya program-program televisi yang memuat WG dan dijadikan humor seperti

  ―Comedy Project‖ di Trans TV serta ―Raja Gombal

  ‖ dan ―Opera van Java‖ di Trans7. Ketika WG hanya dipakai oleh penutur pria kepada mitra tutur wanita, wacana tersebut sedang dipakai untuk merayu dan menggoda mitra tutur. Namun, ketika WG dipakai di atas panggung hiburan dan disaksikan penonton, wacana tersebut sedang dipakai untuk melucu seperti yang telah lazim ada dalam acara-acara televisi di atas. Dengan demikian, WG telah menjadi gejala bahasa yang berkembang dan mempublik sehingga menarik untuk diteliti. Di samping itu, WG merupakan bagian dari budaya pop yang bersifat sementara sehingga kajian tentang WG menjadi perlu untuk mendokumentasikan salah satu fenomena bahasa yang pernah berkembang ini. penelitian ini adalah mengkaji WG secara struktural, pragmatis, dan kultural. WG sebagai sebuah satuan kebahasaan berupa wacana tentu memiliki struktur yang membangunnya. Oleh karena itu, kajian terhadap stuktur WG menjadi perlu untuk menentukan tipe-tipenya dan mendasari kajian pragmatis. Perhatikan dua contoh WG di bawah ini

  (5) O1 : Aku nggak pernah dengar tentang belahan jiwa. Aku nggak pernah percaya sampai aku ketemu dirimu.

  O2 : Makasi sayank.

  (Rayuan Gombal Ala Denny Cagur, hal. 42) (6) O1 : Aku didiagnosa sakit jantung. O2 : Hah, kok bisa? O1 : Iya, jantungku selalu berdegup kencang saat dekat denganmu.

  (Rayuan Gombal Ala Denny Cagur, hal. 43)

  4 Wacana (5) dan (6) sama-sama memiliki bagian awal, isi, dan akhir. Namun, wacana (5) lebih sederhana daripada wacana (6) karena hanya memiliki dua tuturan dari O1 dan O2. Adapun wacana (6) bersifat lebih kompleks karena baik O1 maupun O2 mengemukakan lebih dari satu tuturan.

  WG dalam praktiknya digunakan untuk berkomunikasi dan memiliki maksud tertentu sehingga dapat dikaji secara pragmatis. Sebagai alat berkomunikasi, WG tidak dapat lepas dari prinsip kerja sama. Hal kedua yang akan dibahas adalah kesesuaian tuturan dalam WG dengan prinsip kerja sama yang dikemukakan oleh Grice. WG memiliki ciri-ciri pragmatik yang membedakannya dari bentuk wacana-wacana yang lain. WG memiliki sebuah efek rasa yang sulit didefinisikan yang membuat mitra bicara merasa tersanjung memiliki ―nilai rasa gombal‖. Untuk menciptakan ―nilai rasa gombal‖ tersebut penutur WG menciptakan tuturan yang tidak sesuai dengan prinsip kerja sama Grice. Perhatikan contoh berikut.

  (7) O1 : Neng, punya dua ribu nggak? O2 : Nggak Bang, emang untuk apa? O1 : Parkir di hatimu.

  (Si Raja Gombal, hal. 15) Tuturan O1 di atas kurang sesuai dengan maksim kualitas. Uang dua ribu rupiah memang sesuai jika digunakan untuk membayar tarif parkir. Yang diparkir adalah kendaraan dan tempat parkir yang tepat adalah area parkir. Namun, ternyata O1 menyimpangkan tuturannya dengan mengatakan bahwa yang diparkir justru O1 itu sendiri, dan tempatnya di hati O2.

  5 Berkembangnya WG bukan tanpa sebab. Terkait dengan sebab terjadinya fenomena nggombal, penelitian ini akan mengaitkan WG dengan budaya populer.

  WG dipopulerkan oleh media-media massa sehingga WG dapat dikatakan merupakan bagian dari budaya populer. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya mencakup kajian bahasa baik secara struktural maupun pragmatis, tetapi juga kajian budaya.

  Dalam berbagai acara televisi seperti ―Comedy Project‖, ―Opera van

  Java ‖, dan ―Raja Gombal‖, wacana ―bernilai gombal‖ tersebut dapat menjadi humor bagi penontonnya karena wacana tersebut mengandung permainan bahasa.

  Permainan bahasa dalam WG mencakup penggunaan tuturan yang kurang sesuai dengan aspek-aspek pragmatik dan gaya bahasa. Hal tersebut membuat permainan meliputi prinsip kerja sama, prinsip kesopanan, dan parameter pragmatik. Namun, dalam penelitian ini yang akan dibahas adalah tuturan-tuturan dalam WG yang tidak sesuai dengan prinsip kerja sama. Dengan demikian akan dilihat bagaimana kesesuaian tuturan-tuturan dalam WG dengan prinsip kerja sama. Hal tersebut tersebut tentunya tidak bisa lepas dari penerapan implikatur dan entailmen dalam WG. Permainan bahasa juga mencakup pemanfaatan aspek-aspek kebahasaan, seperti ketaksaan, gaya bahasa, pertalian antarklausa, dan sebagainya.

  Pemanfaatan aspek-aspek kebahasaan tersebut menciptakan fenomena-fenomena lingual yang dapat dijadikan prinsip menciptakan tuturan yang bersifat gombal.

  6

1.2 Rumusan Masalah

  Berdasarkan latar belakang di atas, penelitian ini akan membahas masalah- masalah sebagai berikut.

1. Bagaimana strukur WG? 2.

  Bagaimana kesesuaian tuturan dalam WG dengan prinsip kerja sama Grice? 3. Mengapa WG muncul serta berkembang? 4. Fenomena lingual apa saja yang terdapat dalam WG?

1.3 Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut.

  Mendeskripsikan stuktur WG.

  2. Mendeskripsikan kesesuaian tuturan dalam WG dengan prinsip kerja sama Grice.

  3. Mendeskripsikan kemunculan dan perkembangan WG.

  4. Mendeskripsikan fenomena lingual yang terdapat dalam WG.

1.4 Manfaat Penelitian

  Hasil dari penelitian ini adalah deskripsi struktur dan tipe-tipe WG, deskripsi kesesuaian tuturan dalam WG dengan prinsip kerja sama, penyebab terjadinya fenomena nggombal, dan fenomena lingual dalam WG. Secara teoretis, hasil penelitian ini bermanfaat untuk mengembangkan wawasan dalam khazanah linguistik —khususnya kajian wacana dan pragmatik—dan kajian budaya populer.

  7 Penelitian ini menghasilkan deskripsi prinsip-prinsip pembentukan tuturan yang menurut Grice tidak logic atau tidak konvensional. Penelitian ini juga bermanfaat sebagai dokumentasi WG sebagai salah satu gejala bahasa yang sempat populer dan hanya bersifat sementara.

  Sementara itu, secara praktis, hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan pembaca untuk mengetahui jenis-jenis WG serta cara menilai dan membuat WG yang menarik sebagai sebuah hiburan dan humor. Hasil penelitian ini memaparkan bagaimana penciptaan humor terjadi dalam WG dan apa saja tipe- tipe WG. Dengan mengetahui tipe-tipe WG, seseorang dapat membuat WG yang bervariasi sehingga tidak membosankan. Sementara itu, dengan mengetahui kriteria WG yang bernilai gombal, seseorang dapat membuat WG yang menarik retorika yang mengembangkan sisi kreativitas orang dalam bertutur.

1.5 Tinjauan Pustaka Sejauh ini belum ada pustaka yang membahas WG dari segi kebahasaan.

  Buku-buku tentang WG yang ada hanya memuat kumpulan-kumpulan WG, seperti dalam Antakutsuka (2012), Hape Hang (2011), Deny Ale-Ale (2012), dan Irvan Bachsim (2012). Setiap buku tersebut hanya memuat kumpulan WG dari berbagai sumber tanpa ada analisis terhadapnya. Meskipun demikian, Bachsim dalam Rayuan Gombal Ala Denny Cagur pada bagian Kata Pengantar mengatakan bahwa rayuan gombal yang romantis bahkan menyentuh hati selalu bisa membuat orang merasa ―melayang‖, atau bahkan terharu, tetapi juga bisa membuat orang

  8 tertawa jika rayuan gombal tersebut lucu dan jenaka (Bachsim, 2012: 3). Oleh karena itu, perlu ditinjau pustaka yang membahasa humor dari segi kebahasaan.

  Kajian tentang humor yang berkaitan dengan bahasa pernah dibahas dalam Rahardi (2011). Dalam buku Humor Ada Teorinya: Bahasa dan Gaya Melawak (Rahardi, 2011: 49-92) humor diklasifikasikan menjadi (a) humor plesetan, (b) humor malapropis, (c) humor silap lidah, (d) humor jargon, (e) humor estetis, dan (f) humor konatif.

  Humor plesetan merupakan jenis humor yang paling umum ditemui. Kejenakaan dalam humor plesetan muncul karena ketidakjelasan dan keambiguan dengan sengaja direkayasa sedemikian rupa dengan cara kata-katanya diplesetkan (Ibid., hlm. 49). Humor malapropis biasanya dibuat dengan cara menyelipkan bahasa yang sudah mapan keberadaannya. Dengan menyelipkan kata-kata tertentu yang dijenakakan itu, formula atau struktur yang sudah ada dapat menjadi cukup membingungkan dan membuat orang-orang menjadi terpana. Keterpanaan inilah letak dari sasaran lawakan itu. Begitu kebingunan dan ketidaktahuan itu mencair, meledaklah tawakan didalam lawakan jenaka itu (Rahardi, 2011: 60).

  Bentuk humor yang disusun dengan mempermainkan urutan kata-kata disebut silap lidah. Fenomena kebahasaan yang demikian ini mempermainkan urutan kata-kata yang lazimnya melibatkan bentuk kebahasaan yang mirip-mirip sekali bunyinya (Ibid., hlm. 67). Humor juga banyak dilakukan warga masyarakat Indonesia melalui pemanfaatan jargon-jargon bahasa. Dapat juga hal ini dilakukan lewat bahasa yang khas digunakan di dalam kelompok sosial tertentu. Humor

  9 model ini juga banyak digunakan dengan cara memanfaatkan kata-kata dari bahasa daerah tertentu (Ibid., hlm. 71).

  Wacana humor estetis dapat disusun dengan memakai bentuk-bentuk yang khusus yang memiliki persamaan bunyi atau mungkin memiliki persajakan akhir tertentu yang memang indah didengar lantaran bunyinya yang memang ritmis (Ibid., hlm. 77). Humor konatif berkenaan dengan salah satu fungsi bahasa yaitu fungsi memerintah dan menyuruh orang lain untuk melakukan sesuatu atau untuk berbuat sesuatu. Kreativitas berbahasa dengan memanfaatkan piranti-piranti wacana konatif juga muncul dalam aneka bentuk ketidaklangsungan pemyampaian maksud imperatif (Ibid., hlm. 87).

  Kajian permainan bahasa dilihat dari sudut pandang pragmatik juga pernah disertasi S3-nya yang kemudian diterbitkan menjadi buku berjudul Kartun: Studi

  

tentang Permainan Bahasa melihat proses terjadinya humor melalui pematuhan

  dan pelanggaran prinsip-prinsip pragmatik, yaitu prinsip kerja sama, prinsip kesopanan, dan paremeter pragmatik.

  Sementara itu, Wijana dan Rohmadi (2009: 143-144) dalam makalah berjudul ―Teori Kesantunan dan Humor‖ yang kemudian dimasukkan sebagai contoh analisis dalam buku Analisis Wacana Pragmatik: Kajian Teori dan

  

Analisis , mengatakan bahwa berhumor adalah salah satu bentuk aktivitas yang

  sering kali dicapai dengan penyimpangan prinsip-prinsip kesopanan. Kelucuan sebuah wacana sering kali terbentuk karena adanya pelanggaran terhadap prinsip- prinsip kesopanan. Dengan demikian, pemahaman dan penguasaan terhadap teori

  10 kesopanan merupakan syarat mutlak yang harus dikuasai di dalam upaya memahami wacana humor.

  Dibahas pula kaitan permainan bahasa dengan budaya melalui makalah berjudul ―Wacana Dagadu: Kreativitas yang Berakar dari Kearifan Lokal‖ (Ibid., hlm. 77

  —94). Dalam makalah tersebut disebutkan bahwa permainan bahasa berupa plesetan merupakan kearifan lokal masyarakat Yogyakarta yang keberadaan dan peranannya di tengah masyarakat sangat sentral. Salah satu peranan itu menjadi alat pemaksa dan pengawas agar norma-norma masyarakat selalu dipatuhi oleh anggota kolektifnya.

  Masalah media massa, khususnya televisi, juga pernah dibahas Baudrillard (1983) dalam bukunya Simulations. Baudrillard menyebut kehidupan di zaman simulasi mengarah kepada penciptaan simulakra. Perbedaan antara tanda dan kenyataan semakin menipis. Yang ada hanyalah simulasi dan simulakra.

1.6 Landasan Teori

  Pada landasan teori ini akan dipaparkan (a) pengertian dan struktur wacana, (b) wacana dialog, (c) wacana gombal, wacana humor, dan budaya populer, (d) prinsip kerja sama, serta (e) humor dan penciptaan humor. Landasan teori poin (a) dan (b) digunakan sebagai dasar analisis kajian struktural terhadap WG. Sementara itu, landasan teori butir (c) s.d. (e) menjadi dasar dalam mengkaji kesesuaian tuturan dalam WG dengan prinsip kerja sama Grice, penyebab

  11 terjadinya fenomena nggombal, dan jenis-jenis fenomena lingual yang terdapat dalam WG.

1.6.1 Pengertian dan Struktur Wacana

  Baryadi dalam Dasar-Dasar Analisis Wacana dalam Ilmu Bahasa (2002) menjelaskan hakikat wacana secara etimologis. Wacana berasal dari kata dalam bahasa Sansekerta vacana yang berarti ‗bacaan‘ yang kemudian masuk ke dalam kosakata bahasa Jawa Kuna dan bahasa Jawa Baru wacana yang memiliki makna ‗bicara, kata, ucapan‘. Kata wacana dalam bahasa Jawa Baru tersebut kemudian diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi wacana yang bermakna ‗ucapan, percakapan, tutur yang merupakan suatu kesatuan (Tim Penyusun Kamus, 2008:

  

discourse dalam bahasa Inggris (Baryadi, 2002: 1). Menurut Kamus Linguistik,

  wacana merupakan satuan gramatikal tertinggi atau terbesar (Kridalaksana, 2008: 231).

  Wacana dihasilkan oleh proses komunikasi verbal yang berkesinambungan, yaitu dari titik mula, tengah berlangsung, sampai titik akhir.

  Tahap-tahap komunikasi itu menentukan struktur wacana yang dihasilkannya. Sesuai dengan tahap-tahap komunikasi itu, wacana memiliki bagian-bagian, yaitu bagian awal wacana, bagian tubuh wacana, dan bagian penutup (Luxemburg 1984: 100). Sebagai sebuah struktur, setiap bagian wacana memiliki fungsi tersendiri. Bagian awal wacana berfungsi sebagai pembuka wacana, bagian tubuh wacana berfungsi sebagai pemapar isi wacana, dan bagian penutup berfungsi

  12 sebagai penanda akhir wacana. Dari ketiga bagian itu, bagian yang wajib ada adalah tubuh wacana. Dua bagian yang lain tidak selalu ada dalam setiap wacana (Baryadi, 2002: 14).

1.6.2 Wacana Dialog

  Berdasarkan keaktifan partisipan komunikasi, wacana dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu (i) wacana monolog, (ii) wacana dialog, dan (iii) wacana polilog. Wacana monolog adalah wacana yang pemproduksiannya hanya melibatkan pihak pembicara. Wacana dialog adalah wacana yang pemproduksiannya melibatkan dua pihak yang bergantian peran sebagai pembicara dan pendengar. Contoh wacana dialog adalah sapa-menyapa, tanya yang diproduksi melalui pertukaran tiga jalur yang lebih. Pemproduksian wacana polilog pada dasarnya sama dengan wacana dialog karena keduanya melibatkan pihak-pihak yang bergantian peran sebagai pembicara dan pendengar. Contoh wacana polilog adalah percakapan, diskusi, rapat, dan musyawarah (Baryadi, 2002: 11 —12).

  WG termasuk dalam jenis wacana dialog. Menurut Wijana (2003:278), berdasarkan elemen-elemen pembentuknya, wacana dialog dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu (i) wacana dialog sederhana dan (ii) wacana dialog kompleks. Wacana dialog sederhana adalah wacana dialog yang memiliki struktur elemen minimal, yaitu terdiri dari unsur inisiasi (I) dan responss (R). Inisiasi adalah elemen dialog yang dipergunakan oleh seorang penutur untuk memberikan

  13 informasi, perintah atau memancing reaksi dari lawan tuturnya. Sementara itu responss adalah reaksi verbal mitra tutur terhadap inisiasi itu. Bila batas transaksi dilambangkan dengan [ ], dan elemen wacana yang memprediksikan dilambangkan dengan , serta elemen yang diprediksi dengan , maka struktur minimal dialog sederhana dapat diformulasikan sebagai berikut.

  [I R] 

  Contoh: (8) : Nama kamu siapa? (I)

  O1 O2 : Sony. (R)

  Sementara itu, wacana kompleks adalah wacana yang sekurang-kurangnya terdiri dari elemen inisiasi dan responss ditambah satu atau lebih unsur-unsur yang lain, seperti responss inisiasi (R/I), dan feed back (F). Responss inisiasi adalah elemen wacana yang diutarakan oleh partisipan dialog sebagai responss/inisiasi awal terhadap elemen inisiasi. Responss/inisiasi terprediksi oleh inisiasi dan memprediksi responss secara langsung mengikutinya. Bila sebuah dialog memiliki elemen inisiasi, respons inisiasi, dan respons maka formulasi elemennya adalah sebagai berikut ini:

   [I R/I R]

  Contoh: (9) : Son, masih ada saldo deposit nggak?

  I O1 O2 : Ada, mau beli berapa? R/I O1 : Lima ribu aja ke nomor biasa. R

  14 Wacana dialog kompleks yang terdiri dari tiga elemen dapat juga memiliki struktur elemen inisiasi, respons, dan feed back. Elemen yang terakhir ini bersifat opsional. Kehadirannya hanya sebagai kelanjutan dari respons yang diberikan oleh lawan tutur. Karena kehadirannya yang bersifat terprediksi, atau memprediksi ujaran sebelum dan sesudahnya, formulasi wacana yang berelemen inisiasi, respons, dan feed back dapat digambarkan sebagai berikut ini (Wijana, 2003: 283

  —285): 

  [I R (F) ] Contoh:

  (10) : Apa yang akan kamu lakukan setelah lulus kuliah? I O1

  O2 : Bekerja, Bu. R O1 : Okelah kalo begitu. F

  Tuturan terakhir dari O1 disebut F karena apabila tuturan tersebut dihilangkan, wacana dialog (11) tidak mempengarui keutuhan wacana. Perhatikan contoh berikut.

  (11) : Apa yang akan kamu lakukan setelah lulus kuliah? I O1

  O2 : Bekerja, Bu. R

1.6.3 Wacana Gombal, Wacana Humor, dan Budaya Populer

  Sebelum memahami apa itu WG, perlu diketahui terlebih dahulu pengertian dari gombal. Gombal dalam KBBI (Tim Penyusun Kamus, 2008: 458) menjadi dua lema yang berbeda. Lema pertama memaknai gombal sebagai ‗kain tua yang sudah sobek- sobek‘, sementara lema kedua memaknai gombal sebagai ‗bohong, omong kosong, rayuan‘. Kata gombal pada lema kedua dapat diturunkan

  15 menjadi bentuk yang lebih kompleks menjadi gombalan yang berarti ‗ucapan yang tidak benar, tidak sesuai dengan kenyataan, dan omongan bohong. Kata benda gombal bila mendapatkan imbuhan me(N)- menjadi menggombal dapat diartikan sebagai ‗melakukan aktivitas menggunakan gombal yang berarti bohong, omong kosong, dan rayuan‘.

  Berbagai artikel online mendefinisikan pengertian gombal dan nggombal. adalah kata dari bahasa Indonesia yang mengekspresikan sesuatu yang

  Gombal

  tidak berguna atau tidak berarti. Dalam bahasa Inggris, artinya hampir sama dengan arti kata Kata-kata gombal digunakan oleh seseorang (biasanya pria) untuk merayu, menggoda, dan atau mencari perhatian orang lain terutama lawan jenis. Namun, saat sekarang ini juga banyak digunakan hanya

  WG termasuk bagian dari wacana humor. Berbicara tentang humor sebagai wacana, Raskin (dalam Wijana dan Rohmadi, 2009: 139) membedakan wacana biasa dengan wacana humor. Wacana biasa terbentuk dari proses komunikasi yang bonafid (bonafide process of communication), sedangkan wacana humor terbentuk dari proses komunikasi yang tidak bonafid (non-

  

bonafide process of communication). Oleh karena itu, wacana humor sering kali

  menyimpang dari aturan-aturan berkomunikasi yang digariskan oleh prinsip- prinsip pragmatik, baik yang bersifat tekstual maupun interpersonal (Nelson dikutip Wijana dan Rohmadi, 2009: 139)

  WG akhirnya menjadi suatu hiburan ringan yang mempublik. Bergesernya fungsi WG tersebut tak lepas dari peran media massa, khususnya televisi dan

  16 media online yang memberikan banyak ruang bagi WG sebagai hiburan. Seiring berkembangnya WG sebagai hiburan, WG pun menjadi apa yang disebut trend

  center dan menjadikannya bagian dari budaya populer.

  Frasa budaya populer terdiri dari dua kata yaitu budaya dan populer. Dalam KBBI, budaya diartikan sebagai ‗pikiran‘ atau ‗akal budi‘ (Tim Penyusun Kamus, 2008: 226). Sementara itu kata populer memiliki makna (i

  ) ‗dikenal dan disukai orang banyak (um um)‘; (ii) ‗sesuai dengan kebutuhan masyarakat pada umumnya; mudah dipahami orang banyak‘; (iii) disukai dan dikagumi orang banyak (Ibid., hlm. 1120). Adapun budaya populer adalah

  ‗budaya yang diproduksi secara komersial, massal, dan menjadi ikon budaya massa ‘ (Ibid., hlm.

  226).

  

of Culture and Society , budaya populer memiliki ciri-ciri (i) disukai banyak orang;

  (ii) jenis kerja rendahan; (iii) karya yang dilakukan untuk menyenangkan orang; (iv) budaya yang memang dibuat oleh orang untuk dirinya sendiri.

  Meminjam dikotomi dalam dunia sastra, dikenal pembedaan sastra serius dan sastra populer seperti yang dibahas oleh Nurgiyantoro (2007). Ciri-ciri sastra populer memiliki kemiripan dengan ciri-ciri budaya populer yang diutarakan oleh Williams di atas. Mengutip pendapat Umar Kayam, Nurgiyantoro menyatakan beberapa ciri- ciri sastra populer, antara lain (i) mengikuti ―selera populer‖ atau selera orang banyak, (ii) diproduksi untuk dijadikan ―barang dagangan populer‖ atau bersifat komersial, (iii) menampilkan masalah yang aktual namun hanya

  17 sebatas pada tingkat permukaan, (iv) bersifat sementara, (v) memberikan hiburan semata.

1.6.4 Prinsip Kerja Sama

  Tuturan digunakan dalam komunikasi dengan bahasa. Berkomunikasi merupakan proses pertukaran informasi antara penutur dan mitra tutur. Proses komunikasi antara penutur dan mitra tutur dapat berjalan dengan baik jika terjalin kerja sama. Kerja sama dalam komunikasi akan berjalan baik jika setiap penutur memberikan kontribusi yang cukup, logis, sesuai dengan konteks, serta runtut dan tidak taksa. Oleh karena itu, komunikasi dengan bahasa perlu mematuhi prinsip kerja sama. Prinsip kerja sama merupakan kaidah penggunaan bahasa dalam komunikasi supaya pertukaran informasi antara penutur dan mitra tutur bersifat kooperatif. Menurut Grice (1975: 45), untuk melaksanakan prinsip kerja sama, seseorang harus mematuhi empat maksim percakapan, yaitu maksim kuantitas, maksim kualitas, maksim relevansi, dan maksim pelaksanaan.

1.6.4.1 Maksim Kuantitas

  Maksim kuantitas menuntut setiap peserta tutur memberikan pernyataan yang sesuai dengan kebutuhan. Yang dimaksud sesuai dengan kebutuhan adalah kontribusi yang diberikan sebanyak yang dibutuhkan mitra tuturnya, tidak kurang dan tidak lebih.

  Grice (1975: 45-46) menyatakan bahwa ada dua aturan khusus dalam maksim kuantitas yaitu pertama, buatlah sumbangan seinformatif yang diperlukan dan kedua, jangan membuat sumbangan yang lebih informatif daripada yang

  18 diperlukan. Informasi yang berlebih membuang atau rugi waktu. Kelebihan informasi mungkin akan dianggap disengaja untuk menciptakan efek tertentu sehingga dapat menimbulkan salah pengertian. Misalnya penutur yang berbicara secara wajar tentu akan memilih (12) daripada (13) (Wijana, 1996: 46).

  (12) Tetangga saya hamil. (13) Tetangga saya yang perempuan hamil.

  Ujaran (14) di samping lebih ringkas, juga tidak menyimpangkan nilai kebenaran (truth value). Setiap orang tentu tahu bahwa hanya wanitalah yang hamil. Dengan demikian elemen yang perempuan dalam tuturan (13) sudah menyarankan tuturan itu. Kehadiran yang perempuan dalam (13) justru menerangkan hal-hal yang sudah jelas. Hal ini bertentangan dengan maksim kuantitas.

1.6.4.2 Maksim Kualitas

  Maksim kualitas mewajibkan setiap peserta tutur memberikan pernyataan yang benar, dapat dipercaya, dan didasarkan pada bukti-bukti yang memadai.

  Misalnya seseorang harus mengatakan bahwa ibu kota Indonesia adalah Jakarta, bukan kota-kota lain kecuali kalau benar-benar tidak tahu. Akan tetapi, bila terjadi hal yang sebaliknya, tentu ada alasan-alasan mengapa hal demikian bisa terjadi.

  Grice (1975: 46) juga menyatakan dua aturan khusus dalam maksim kualitas yaitu (a) jangan mengatakan apa yang dianggap salah, dan (b) jangan mengatakan sesuatu yang tidak didukung dengan bukti yang cukup.

  Misalnya seorang harus mengatakan bahwa ibukota Indonesia adalah Jakarta dan bukan kota-kota lain kecuali kalau benar-benar tidak tahu. Akan

  19 tetapi, bila terjadi hal yang sebaliknya tentu ada alasan mengapa hal demikian bisa terjadi. Untuk ini dapat diperhatikan wacana (14) berikut ini (Wijana, 1996: 48).

  (14) Guru : Coba kamu Andi, apa ibukota Bali? Andi : Surabaya, Pak Guru.

  Guru : Bagus, kalau begitu ibukota Jawa Timur Denpasar ya? Dari wacana (14) di atas tampak Guru memberikan kontribusi yang melanggar maksim kualitas. Guru mengatakan ibu kota Jawa Timur Denpasar bukannya Surabaya. Jawaban yang tidak mengindahkan maksim ini diutarakan sebagai reaksi terhadap jawaban Andi yang salah/dengan jawaban ini sang murid (Andi) sebagai individu yang memiliki kompetensi komunikatif (communicative

  

competence ) kemudian secara serta-merta mencari jawaban mengapa gurunya

  membuat pernyataan yang salah. Mengapa kalimat Bapak Guru diutarakan dengan bahwa jawabannya terhadap pertanyaan gurunya salah. Kata bagus yang diucapkan gurunya tidak konvensional karena tidak digunakan seperti biasanya untuk memuji, tetapi sebaliknya untuk mengejek. Jadi, ada alasan-alasan pragmatis mengapa Guru dalam (14) memberikan kontribusi yang melanggar maksim kualitas.

1.6.4.3 Maksim Relevansi

  Maksim relevansi mengharuskan setiap peserta percakapan memberikan kontribusi yang relevan dengan masalah pembicaraan yang sedang dipertuturkan.

  Maksim relevansi menuntut kesesuaian tuturan dengan yang dibicarakan yang

  20 terwujud dalam suatu implikatur (Wijana, 1996: 49). Perhatikan contoh berikut (Wijana, 1996: 50).

  (15) : Ani, ada telepon untuk kamu.

  Ibu Ani : Saya lagi di belakang, Bu. Jawaban Ani pada wacana (15) di atas sepintas tidak berhubungan, tetapi bila dicermati, hubungan implikasionalnya dapat diterangkan. Jawaban Ani pada

  (15) mengimplikasikan bahwa saat itu ia tidak dapat menerima telepon itu secara langsung. Ia secara tidak langsung meminta tolong Ibu menerima telepon itu.

1.6.4.4 Maksim Pelaksanaan

  Maksim pelaksanaan menuntut setiap pesrta percakapan berbicara secara langsung, tidak kabur, tidak taksa, dan tidak berlebih-lebihan, serta runtut (Wijana, 1996: 50). Grice (1975: 46) mengatakan bahwa maksim pelaksanaan berkenaan dengan bukan apa yang dikatakan tetapi bagaimana tuturan itu diungkapkan. Perhatikan contoh berikut (Wijana, 1996: 51).

  (16) Ayah : Mari kita berhenti dan membeli makanan.

  Ibu : Oke, tapi tidak M-C-D-O-N-A-L-D.

  Dalam (16) Ibu menjawab ajakan Ayah secara tidak langsung, yakni dengan mengeja satu per satu kata Mc Donald. Penyimpangan ini dilakukan karna ia tidak menginginkan anaknya yang sangat menggemari makanan itu mengetahui maksudnya. Anak-anak kecil dalam batas-batas umur tertentu memang akan kesulitan atau tidak mampu mengangkap makna kata yang dieja hurufnya satu per satu.

  21

1.6.5 Humor dan Penciptaan Humor

  Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008: 533) humor berarti (a) ‗kemampuan merasai sesuatu yang lucu atau yang menyenangkan‘, dan (b) ‗keadaan yang menggelikan hati; kejenakaan; kelucuan. Menurut Arwah Setiawan (dikutip Suhadi, 1989: 28), humor merupakan rasa atau gejala yang merangsang orang secara mental untuk tertawa atau cenderung tertawa. Jadi, humor bisa berupa rasa atau kesadaran di dalam diri dan bisa berupa suatu gejala atau hasil cipta dari dalam maupun luar diri manusia. Ketika dihadapkan pada humor, orang bisa langsung tertawa lepas atau cenderung tertawa saja, misalnya tersenyum atau merasa tergelitik di dalam batin saja. Rangsangan yang ditimbulkan haruslah rangsangan mental untuk tertawa, bukan rangsangan fisik seperti misalnya dikili- tertawa.

  Permainan bahasa dalam wacana humor memuat ketidakterdugaan. Unsur ketidakterdugaan merupakan hal yang tidak dapat diabaikan di dalam penciptaan humor (Wijana, 2004: 280). Penciptaan ketidakterdugaan dalam wacana humor terbentuk lewat pemanfaatan berbagai aspek kebahasaan yang digunakan secara tidak semestinya. Sehubungan dengan ini, ragam bahasa informal cenderung lebih banyak digunakan sebagai sarana berhumor sehubungan dengan sifat-sifatnya yang tidak terikat pada kaidah kebakuan sehingga ketaksaan yang merupakan aspek penting dalam humor mudah dimunculkan (Ibid., hlm. 33-34).

  22

1.7 Metode dan Teknik Penelitian

  Penelitian ini dilakukan melalui tiga tahap yaitu (i) pengumpulan data, (ii) analisis data, (iii) penyajian hasil analisis data. Berikut akan dijelaskan masing- masing tahap dalam penelitian ini.

1.7.1 Metode dan Teknik Pengumpulan Data

  Objek penelitian ini adalah WG. Wacana ini berada dalam data yang berupa wacana berbentuk dialog atau percakapan. Data diperoleh dari sumber- sumber tertulis dari buku-buku kumpulan kata-kata gombal maupun lisan dari percakapan dalam program-program televisi yang memuat acara WG maupun hasil percakapan sehari-hari yang memuat WG. Sumber buku kumpulan kata-kata Antakutsuka (2012), Si Raja Gombal: Rayuan Gombal Ala Andre OVJ karya Hape Hang (2011), Makhluk Tuhan Paling Gombal: Kata Gombal Rayuan Maut

  

dan Lucu Ala Deny Cagur Comedy Project karya Deny Ale-Ale (2012), dan

Rayuan Gombal Ala Denny Cagur karya Irvan Bachsim (201

  2). Acara ―Comedy Project‖ di Trans TV menjadi sumber data berwujud audio visual.

  Data yang dikumpulkan berupa tuturan yang mengandung nilai rasa

gombal . Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode simak.

  Metode simak adalah metode pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengamati dan menyimak langsung penggunaan bahasa (Sudaryanto, 1993: 133).

  Adapun teknik yang digunakan dalam metode simak ada dua tahapan, yaitu teknik dasar dan teknik lanjutan (Ibid., hlm. 133-135). Teknik dasar pada

  23 metode simak adalah teknik sadap. Teknik sadap dilakukan dengan cara menyadap pembicaraan (baca: menyadap penggunaan bahasa) seseorang atau beberapa orang (Ibid., hlm. 133).

  Teknik lanjutan dari metode simak yang digunakan pada penelitian ini adalah teknik catat. Teknik catat dilakukan dengan cara mencatat pembicaraan atau penggunaan bahasa seseorang atau beberapa orang secara lisan baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam acara televisi yang memuat WG. Teknik catat juga digunakan untuk mencatat kembali WG yang telah diterbitkan dalam buku-buku populer maupun yang diunggah ke media online.

1.7.2 Metode dan Teknik Analisis Data Metode yang digunakan pada tahap ini antara lain metode padan dan metode agih.

  Metode agih adalah metode analisis data yang alat penentunya merupakan bagian dari bahasa yang bersangkutan (Sudaryanto: 1993: 15). Teknik yang digunakan dalam metode ini adalah teknik bagi unsur langsung. Cara kerja teknik bagi unsur langsung adalah membagi satuan lingual data menjadi beberapa bagian atau unsur dan unsur-unsur yang bersangkutan dipandang sebagai bagian yang langsung membentuk satuan lingual yang dimaksud (Sudaryanto, 1993: 31). Metode dan teknik ini digunakan untuk mengkaji permasalahan tentang struktur dan tipe WG dengan menggunakan teori strukur wacana dialog.

  Berikut merupakan contoh penerapan metode agih dengan teknik bagi unsur langsung.

  24 (17) : Eh, kamu suka makan permen ya? I

  O1 O2 : Lho kok tau? R/I O1 : Habis senyum kamu manis sich. R

  (Rayuan Gombal Ala Deni Cagur, hlm. 51) WG di atas berstruktur I-R/I-R. Dialog O1 yang pertama memiliki fungsi I karena memiliki sifat memprediksi dialog selanjutnya yang dituturkan oleh O2.

  Tuturan O2 sendiri memiliki fungsi R/I karena menjadi antisipasi awal atas I dari O1 dan memprediksi sebuah R dari O1.

  Metode padan adalah metode analisis data yang alat penentunya berada di luar, terlepas, dan tidak menjadi bagian dari bahasa yang bersangkutan (Sudaryanto, 1993: 13). Metode padan yang digunakan adalah metode padan pragmatis. Metode padan pragmatis adalah metode analisis data yang alat penentunya adalah mitra tutur (Sudaryanto, 1993: 15). Metode ini digunakan untuk mengidentifikasi, misalnya, satuan kebahasaan menurut reaksi atau akibat yang terjadi atau timbul pada mitra tutur ketika satuan kebahasaan itu dituturkan oleh pembicara. Oleh karena itu, dalam penelitian ini, metode ini digunakan untuk mengkaji permasalahan kesesuaian tuturan dalam WG dengan prinsip kerja sama dan fenomena lingual dalam WG dengan teori prinsip kerja sama dan penciptaan humor.

  (18) : Kamu tau ga apa bedanya Gery Chocolatos sama hati aku? O1 O2

  : Hmhmhm…. Ga tau, emang apa sich? O1 : Gery Chocolatos ada coklat di dalamnya, tapi kalo hati aku ada kamu di dalamnya.

  (Rayuan Gombal Andre Vs Jessica, hlm. 19) Penciptaan humor dalam wacana (18) terletak pada dialog kedua O1.

  Tuturan tersebut memiliki hubungan perlawanan. Klausa pertama berlawanan dengan klausa kedua. Keduanya dipisahkan dengan kata hubung tapi. Efek jenaka

  25 muncul ketika klausa pertama dilawankan dengan klausa kedua yang mana klausa kedua tidak memiliki hubungan langsung dan logis dengan klausa pertama.

1.7.3 Metode Penyajian Hasil Analisis Data

  Setelah data dianalisis, tahap selanjutnya adalah tahap penyajian hasil analisis data. Hasil analisis data pada penelitian ini disajikan dengan menggunakan metode formal dan informal. Penyajian dengan metode formal adalah perumusan dengan tanda dan lambang-lambang. Pada metode informal hasil penelitian disajikan menggunakan kata-kata biasa yang dapat langsung dipahami secara mudah oleh pembacanya (Sudaryanto, 1993: 145).

   Sistematika Penyajian

  Laporan hasil penelitian ini disusun dalam enam bab. Bab pertama adalah pendahuluan. Bab Pendahuluan berisi latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, tinjauan pustaka, landasan teori, metode dan teknik penelitian, dan sistematika penelitian.

  Bab II memuat kajian struktural WG yang mencakup unsur-unsur pembangun WG dan fungsinya serta tipe-tipe WG. Bab III membahas kesesuaian tuturan dalam WG dengan prinsip kerja sama. Bab IV berisikan penyebab terjadinya fenomena nggombal. Bab V berisikan fenomena-fenomena lingual dalam WG. Bab VI memuat kesimpulan dan saran.

BAB II STRUKTUR WACANA GOMBAL

  2.1 Pengantar

  WG sebagai sebuah satuan kebahasaan tingkat wacana memiliki struktur pembangunnya. Dari analisis struktural, bentuk-bentuk WG dapat diklasifikasikan menurut ciri-cirinya menjadi beberapa tipe. Setiap tipe memiliki keunikannya sendiri. Mengkaji WG secara struktural menjadi dasar penelitian sebelum mengkajinya secara pragmatis. Berikut dipaparkan deskripsi struktur dan tipe-tipe WG.

  2.2 Struktur WG

  WG merupakan wacana berbentuk dialog. Wacana dialog adalah wacana yang pemproduksiannya melibatkan dua pihak yang bergantian peran sebagai pembicara dan pendengar (Baryadi, 2002: 11). Dalam wacana dialog, terdapat dua elemen utama, yaitu inisiasi (I) dan respons (R). Inisiasi adalah elemen dialog yang dipergunakan oleh seorang penutur untuk memberikan informasi, perintah atau memancing reaksi dari lawan tuturnya. Sementara itu, respons adalah reaksi verbal mitra tutur terhadap inisiasi itu. Selain I dan R, masih ada dua elemen tambahan lain yaitu respons/inisiasi (R/I) dan feed back (F). Respons/inisiasi adalah elemen wacana yang diutarakan oleh partisipan dialog sebagai respons/inisiasi awal terhadap elemen inisiasi. Respons/inisiasi terprediksi oleh inisiasi dan memprediksi respons secara langsung mengikutinya. Feed back

  27 bersifat opsional. Kehadirannya hanya sebagai kelanjutan dari respons yang diberikan oleh lawan tutur.

  Sebagai wacana yang berbentuk dialog, WG memiliki bagian-bagian utama tersebut. Struktur WG yang paling umum terdiri dari bagian dialog yang berfungsi sebagai I, R/I, R, dan kadang-kadang disertai F seperti pada contoh berikut.

  (19) O1

  : Sayang, tau ga di mana tempat beli piala?

  I O2 : Tau, emang buat apa Yank? R/I O1 : Buat beliin kamu piala sebab kamu juara di hati aku R O2 : Wooo, gombal!!! F

  (Rayuan Gombal Ala Denny Cagur, hlm. 13) (20)

  O1 :

  Yang, coba deh balik badan kamu…

  I O2 : Buat apaan sih beb? R/I O1 : Subhanallah, kok ada ya bidadari yang ga punya sayap. R

  (Makhluk Tuhan Paling Gombal, hlm. 20) Unsur I memiliki fungsi sebagai pembuka wacana (19) yang membuat O2 merasa penasaran dan kemudian ditanggapi dengan R/I berupa pertanyaan tentang

  I. Kemudian, O1 pun menyampaikan R berupa jawaban yang bersifat tidak terduga oleh O2. Respons yang bersifat tidak terduga oleh O2 ini menjadi ciri khas WG yang memiliki

  ―nilai rasa gombal‖. Sering kali O2 masih akan memberikan F walaupun hal tersebut tak wajib ada seperti pada contoh berikut.

  (21) O1

  : Bapak kamu tukang ketoprak ya?

  I O2 : Kok tau? R/I O1 : Habis kamu telah mengulek-ulek hatiku. R

  (Rayuan Gobal Andre Vs Jessica, hlm. 40)

  28 (22) : Dek, bisa tunjukin kakak jalan ga?

  I O1 O2 : Jalan kemana Kak? R/I O1 : Ke hati Adek. R

  (Makhluk Tuhan Paling Gombal, hlm. 20) Dari analisis di atas dapat dilihat bahwa struktur WG terdiri dari dua elemen pokok, yaitu pengantar dan ketidakterdugaan. Pengantar merupakan bagian WG yang berfungsi sebagai pembangun persepsi tentang sesuatu. Ketika masuk ke WG, bagian pengantar membuat mitra tutur merasa penasaran; rasa keingintahuannya terpancing. Sementara itu, ketidakterdugaan merupakan bagian WG yang berfungsi membelokkan persepsi yang telah dibangun di bagian pengantar untuk menghasilan ―nilai rasa gombal‖ dan efek jenaka.

2.3 Tipe-Tipe WG

  WG dapat dibedakan menjadi dua tipe berdasarkan kelengkapan dan jumlah elemen-elemen sebuah wacana dialog. Ada dua jenis wacana dialog, yaitu wacana dialog sederhana dan wacana dialog kompleks. Wacana dialog sederhana hanya memiliki unsur I dan R, sedangkan wacana dialog kompleks memiliki elemen I, R/I, R, dan kadang F. Berikut dipaparkan tipe-tipe WG.

2.3.1 Tipe WG Dialog Sederhana

  Menurut Wijana (2004: 278), wacana dialog sederhana hanya memiliki elemen I dan R. Namun, sepertinya hal tersebut tidak sepenuhnya tepat bagi WG tipe ini. WG berupa wacana dialog sederhana memiliki elemen I dan dan F karena

  29 respons dari mitra tutur hanya berupa ungkapan ekspresi perasaan semata. Perhatikan contoh berikut.

  (23) : Butuh tiga detik untuk bilang aku cinta kamu.

  O1 Tiga jam untuk ngejelasin.

  Dan tiga abad untuk ngebuktiinnya..

  I O2 : Gitu ya F ? Makasi Sayank…. (Rayuan Gombal Ala Denny Cagur, hlm. 21)

  (24) : Kalau aku harus memilih, O1 antara bernafas dan mencintaimu, aku akan menggunakan nafas terakhirku untuk bilang

  I ―Aku cinta kamu‖

  O2 F

  : Oya? So sweet… Jadi terharu… (Rayuan Gombal Ala Denny Cagur, hlm. 22)

  (25) : Jatuh cinta denganmu bikin aku semangat kerja di kantor, O1 bikin aku menari tiap kali mendengar suara mesin fotokopi, Dan bikin hari Sabtu jadi hari yang paling kutunggu- tunggu..

  I O2 F

  : Makasii… (Rayuan Gombal Ala Denny Cagur, hlm. 15)

  Respons dari O2 pada ketiga wacana di atas lebih bersifat F daripada R karena I yang diutarakan O1 memang tidak wajib menuntut adanya R. Inisiasi pada ketiga wacana di atas berupa pujian yang bersifat berlebihan kepada O2 sehingga O2 merasa tersanjung dan kemudian memberikan tanggapan berupa ungkapan ekspresif atas perasaannya.

  Selain itu, terdapat pula WG bertipe wacana dialog sederhana yang O2- nya tidak sekadar memberikan tanggapan berupa ungkapan ekspresif, tetapi juga memberikan F berupa pertanyaan retoris seperti pada contoh berikut.

  30 (26) : Cintaku untuk kamu seperti angin.

  O1 Kamu ga akan pernah bisa lihat, tapi kamu bisa selalu merasakannya

  I O2 : Tapi bukan kentut kan? F (Rayuan Gombal Ala Denny Cagur, hlm. 27)

  (27) : Hari di mana aku jatuh cinta sama O1 kamu adalah hari di mana aku mulai hidup.

  I O2 : Kemaren ngapain? F (Rayuan Gombal Ala Denny Cagur, hlm. 27)

  (28) : Kamu adalah hal pertama yang ada di O1 pikiranku saat aku bangun, dan hal terakhir di hatiku saat aku tidur

  I O2 : Bantal apa guling ya? F (Rayuan Gombal Ala Denny Cagur, hlm. 27)

  Tanggapan O2 pada ketiga wacana di atas tetap disebut F karena Ketidakterdugaan dalam WG yang berupa dialog sederhana terletak pada dialog yang memiliki fungsi I. Jadi, baik pengantar maupun ketidakterdugaannya berada di dialog pertama. Dalam wacana (21) misalnya, dialog yang memiliki fungsi I terdiri dari tiga bagian, yaitu (a) Butuh tiga detik untuk bilang aku cinta

  kamu, (b) Tiga jam untuk ngejelasin, (c) Dan tiga abad untuk ngebuktiinnya.

  Dua kalimat pertama berfungsi sebagai pengantar, sedangkan kalimat ketiga memiliki fungsi memunculkan ketidakterdugaan. Ketiga kalimat ini memiliki unsur kata tiga dengan satuan yang berbeda: tiga detik, tiga jam, dan

  

tiga abad ; serta kata kerja yang berbeda: cinta, ngejelasin, ngebuktiin. Selisih tiga

  detik dan tiga jam pada kalimat pertama dan kedua tidak terlalu jauh, tetapi selisih kalimat ketiga sangat jauh dibandingkan dua kalimat sebelumnnya, yaitu

  31 tiga abad. Hal inilah yang menciptakan ketidakterdugaan. Ternyata, ngebuktiin membutuhkan waktu yang lebih lama daripada cinta dan ngejelasin.

  Ketidakterdugaan muncul ketika O2 mengetahui perbedaan waktu yang dibutuhkan sangat jauh.

2.3.2 Tipe WG Dialog Kompleks

  WG yang bertipe wacana dialog kompleks sekurang-kurangnya memiliki elemen I, R/I, dan R, serta kadang diikuti F seperti yang telah dicontohkan pada bagian sturktur WG di atas. Namun, tidak jarang para peserta tutur memiliki kemungkinan besar untuk mengutarakan elemen-elemen wacana (I, R/I, R, dan [F]) lebih dari sekali. Sehubungan dengan ini, perulangan R/I dan F dimarkahi

  n

     

  n n

  [I R/I R (F ) ] Inisiasi juga dapat diulang kembali dalam sebuah wacana dialog dan ditandai dengan Ir (Reinisiasi). Dengan demikian tipe wacana dialog kempleks menjadi lebih beragam. Perhatikan contoh berikut.

  (29) : Neng, boleh liat tangannya ga?

  I O1 O2 R

  : Boleh Bang… O1 : Kok tangan Neng kasar banget sich? Ir O2 : Ah masa sich? R/I O1 : Pasti Neng sering nyuci hati aku ya? R

  (Makhluk Tuhan Paling Gombal, hlm. 22) (30) : Say, 1 + 1 berapa?

  I O1 O2 : 2 Say. R O1 : Salah, mustinya itu 1 Ir O2 : Kok bisa? R/I

  32 O1 : Karena nanti cintamu dan cintaku akan melebur jadi satu. R O2 : Ah Say bisa aja dech.. F

  (Makhluk Tuhan Paling Gombal, hlm. 24) (31)

  O1 : Halo, bisa bicara dengan Dita?

  I O2 : Ya, saya sendiri, dari mana ya? R/I O1 : Oh, kebetulan, ini dari kepolisian mbak. Mbak ditangkap atas tuduhan pencurian Ir

  O2 : Hah! Pencurian? Pencuri apa? Saya ga ngerasa mencuri R/I

  2 O1 : Pencuri hatiku….

  R (Makhluk Tuhan Paling Gombal, hlm. 25)

  Berbeda dengan tipe wacana dialog sederhana, ketidakterdugaan dalam tipe wacana dialog kompleks terletak pada fungsi R yang terakhir. Semua fungsi sebelum R yang terakhir pada contoh-contoh di atas memiliki fungsi sebagai O1 di bagian R terakhir. Dalam wacana (29) misalnya, O1 berhasil membangun persepsi O2 tentang pencurian dalam arti denotatifnya. Ketidakterdugaan tercipta ketika O1 membelokkan persepsi tersebut dengan R terakhir: Pencuri hatiku yang memiliki makna kiasan.

2.4 Rangkuman Struktur WG terdiri dari dua unsur, yaitu pengantar dan ketidakterdugaan.

  Pengantar merupakan bagian WG yang berfungsi sebagai pembangun persepsi tentang sesuatu. Sementara itu, ketidakterdugaan merupakan bagian WG yang berfungsi membelokkan persepsi yang telah dibangun di bagian pengantar untuk menghasilan ―nilai rasa gombal‖ dan efek jenaka.

  33 Berdasarkan letak unsur pengantar dan ketidakterdugaannya, WG dibagi menjadi dua tipe, yaitu tipe wacana dialog sederhana dan tipe wacana dialog kompleks. WG yang bertipe wacana dialog sederhana memiliki fungsi I dan F. Unsur pengatar dan ketidakterdugaan dalam WG terletak pada fungsi I. WG yang bertipe wacana dialog kompleks sekurang-kurangnya memiliki fungsi I, R/I, R, dan kadang-kadang F. Unsur ketidakterdugaan terletak di fungsi R yang terakhir, sedangkan fungsi-fungsi sebelumnya merupakan unsur pengantar yang membangun sebuah persepsi.

BAB III WACANA GOMBAL DAN PRINSIP KERJA SAMA

  3.1 Pengantar

  Dalam sebuah komunikasi verbal yang wajar menurut kacamata pragmatik, baik penutur maupun mitra tutur selalu memberikan sumbangan informasi yang patuh terhadap prinsip kerja sama supaya komunikasi dapat berjalan lancar. Yang dimaksud dengan patuh terhadap prinsip kerja sama adalah ketika para partisipan berbicara seinformatif mungkin, mengatakan sesuatu dengan bukti-bukti yang memadai, mempertimbangkan secara seksama konteks pembicaraan, senantiasa berusaha agar tuturan yang dihasilkan ringkas, dan tidak demikian disebut komunikasi yang bonafid (Wijana, 2004: 78). WG berbeda dengan wacana komunikasi yang bonafid. Keduanya sama-sama memiliki tujuan untuk berkomunikasi, tetapi jenis tujuan yang diinginkan berbeda. Kesesuaian tuturan dalam WG dengan prinsip kerja sama akan dibahas di bab ini.

  3.2 Kesesuaian Tuturan dalam WG dengan Prinsip Kerja Sama

  Komunikasi yang bonafid digunakan untuk saling bertukar informasi secara wajar tanpa ada nilai rasa tambahan. Komunikasi yang bonafid bersifat denotatif. Sementara itu, WG memiliki nilai rasa tambahan yang pada penelitian ini disebut ―nilai rasa gombal‖. Untuk menimbulkan nilai rasa tersebut, penutur WG menciptakan tuturan yang membelok dari prinsip kerja sama. Berikut

  35 merupakan paparan tuturan-tuturan dalam WG yang mengalami pembelokan prinsip kerja sama.

3.2.1 Tuturan dalam WG yang Membelok dari Maksim Kuantitas

  Maksim kuantitas menuntut setiap partisipan tutur memberikan sumbangan yang memadai dan sebanyak yang dibutuhkan. Namun, dalam WG, seorang penutur justru memberikan sumbangan yang kurang memadai dari apa yang dibutuhkan. Perhatikan wacana di bawah ini.

  (32) : Hei, punya korek ga? O1

  O2 : Ga punya O1 : Kalo nama punya kan?

  (Makhluk Tuhan Paling Gombal, hlm 51) (33) : Kamu tau kan, makanan itu ada tanda kadaluarsanya. O1

  O1 : Sama kaya cinta aku ke kamu ada tanda kadaluarsanya juga. O2 : Loh, kok bisa? Emang di mana? O1 : Ya bisalah, tanda kadaluarsanya ada di batu nisanku karena aku akan mencintaimu sampai mati....

  (Makhluk Tuhan Paling Gombal, hlm 48) Orang pertama pada wacana (30) memiliki maksud hendak mengajak berkenalan dengan O2. Cara yang dilakukan O1 ternyata menggunakan sumbangan komunikasi yang kurang memadai. Untuk mengajak berkenalan saja O1 justru bertanya apakah O2 memiliki korek atau tidak. Dialog kedua dari O1 juga bersifat berlebihan. Secara wajar, O2 pasti memiliki nama. Untuk apa O1 harus bertanya apakah O2 memiliki nama atau tidak. Namun, bila O1 hanya menggunakan wacana komunikasi yang bonafid dengan maksud yang sama, yaitu berkenalan, nilai rasa gombal tidak akan terasa dalam wacana (30). Dengan

  36 demikian dapat disimpulkan O1 dalam wacana (30) membelokkan maksim kuantitas. Sebagai pembanding perhatikan wacana (a) berikut.

  (30a) O1 : Namamu siapa? O2 : Dita

  Tidak jauh berbeda dengan wacana (30), O1 dalam (31) juga memberikan sumbangan tuturan yang bersifat berlebihan. Untuk mengungkapkan janji mencintai O2 seumur hidup, O1 justru berputar-putar dengan mengungkapkan tanggal kadaluarsa cintanya berada di batu nisannya nanti.

3.2.2 Tuturan dalam WG yang Membelok dari Maksim Kualitas

  Ciri-ciri sebuah wacana yang sesuai dengan maksim kuantitas antara lain mengatakan sesuatu yang sebenarnya dan logis. Hal tersebut tidak sepenuhnya berlaku untuk WG. Dilihat dari pengertian awalnya saja, WG merupakan wacana yang bersifat bohong atau omong kosong. Perhatikan contoh WG berikut.

  O1 O2 : Kenapa? Kamu liver?? O1 : Bukan, ada yang mengukir nama kamu di hati aku….

  (34) : Aduh, hati aku sakit banget nich…. Aduh….

  (Makhluk Tuhan Paling Gombal, hlm. 33) (35) : Hai cewek, lagi di mana nich?

  O1 O2 : Lagi di rumah. Mau di mana lagi? O1 : Lho, kok bisa? O2 : Ya bisalah, emang kenapa? O1 : Kamu bohong, kamu kan ada di hatiku.

  (Makhluk Tuhan Paling Gombal, hlm. 24) (36) : Tiap malem, aku jalan-jalan. O1

  O2 : Malem-malem? Jalan-jalan ke mana kamu malem-malem gitu? O1 : D i hatimu….

  (Makhluk Tuhan Paling Gombal, hlm. 26)

  37 Wacana (32), (33), dan (34) mengandung tuturan-tuturan yang tidak logis. Tuturan-tuturan yang tidak logis tersebut dikatakan oleh O1. O1 dalam (32) mengatakan bahwa hatinya sedang diukir dengan nama O2, O1 dalam (33) menyatakan bahwa O2 sedang berada di dalam hatinya, dan O1 dalam (34) mengatakan bahwa ia berjalan-jalan di hati O2. Semua itu tidak logis dan tidak dapat dibuktikan kebenarannya. Seperti pada maksim kuantitas, pembelokan maksim kualitas juga berfungsi menimbulkan ―nilai rasa gombal‖. Ketiga wacana di atas memiliki maksud yang sama, yaitu memuji O2 dengan ungkapan- ungkapan bernilai rasa positif yang sebenarnya tidak logis namun justru dapat diterima oleh O2.

  Maksim relevansi menuntut para peserta tutur untuk memberikan sumbangan informasi yang harus berkaitan dengan topik-topik yang sedang diperbincangkan. Tuturan yang disampaikan hendaknya memiliki satu tafsiran yang relevan dengan konteks pembicaraan. Yang dimaksud dengan konteks adalah asumsi-asumsi yang dimiliki oleh pendenga r mengenai ―dunia‖ (Wijana, 2004: 85).

  WG justru banyak mempermainkan maksim ini. Sebenarnya maksim relevansi tak sepenuhnya dilanggar dalam WG. Justru sumbangan informasi yang diberikan terlihat tetap berkaitan dengan topik yang sedang dibicarakan, namun sumbangan tersebut dibelokkan sedemikian rupa sehingga memiliki ―nilai rasa gombal‖. Perhatikan contoh berikut.

  38 (37) : Neng, Bapak Neng pasti asli Jakarta kan?

  O1 O2 : Ih kok Abang bisa tau sich? O1 : Soalnya Eneng telah memonaskan hati Abang

  (Si Raja Gombal, hlm. 11) (38) : Kamu pasti suka gaya Briptu Norman ya?

  O1 O2 : Kok tau? O1 : Soalnya kamu udah men-chaiyya-chaiyyakan hatiku.

  (Si Raja Gombal, hlm. 10) (39) : Neng, Bapakmu orang Garut ya

  O1 O2 : Emang kenape Bang? O1 : Karena kamu telah mendodolkan hatiku.

  (Si Raja Gombal, hlm. 10) Di ketiga wacana di atas, O1 membangun sebuah konteks pada dialog yang pertama. Dalam (35), (36), (37) secara berurutan O1 membentuk persepsi tentang Jakarta, Briptu Norman, dan Garut. Pada dialog yang kedua, O1 tetap tetap berkaitan dengan Jakarta, Briptu Norman, dan Garut dengan kata kunci monas, chaiyya-chaiyya, dan dodol. Namun informasi pada dialog yang kedua dipermainkan dengan menambahkan konteks yang berbeda, yaitu tentang hati O1 terhadap O2. Di situlah letak pembelokan maksim relevansi. Tentu tidak ada hubungan yang relevan antara Jakarta, Briptu Norman, dan Garut dengan hati O1, namun oleh O1 hal tersebut dijadikan alat pembuat ―nilai rasa gombal‖.

3.2.4 Tuturan dalam WG yang Membelok dari Maksim Pelaksanaan

  Selain bersifat logis dan relevan, sumbangan informasi para peserta tutur dalam wacana komunikasi yang bonafid juga harus bersifat mudah dipahami dengan menghindari kekaburan dan ketaksaan, bersifat padat, langsung, serta

  39 runtut (Wijana, 2004: 89). Sementara itu, WG justru membelokkan maksim pelaksanaan dengan sumbangan-sumbangan yang taksa seperti dalam contoh berikut.

  (40) O1

  : Kalo deket kamu kok aku jadi males ya Yank? O2 : Kok gitu sich? Udah bosen ya? O1 : Males untuk jauh lagi darimu.

  (Rayuan Gombal Ala Denny Cagur, hlm. 32) (41)

  O1 : Aku udah pernah jatuh dari jembatan, aku udah pernah jatuh dari tangga. Semuanya ga enak.

  O2 : Emangnya ada jatuh yang enak? O1 : Ada satu jatuh yang paling enak, yaitu jatuh cinta sama kamu.

  (Rayuan Gombal Ala Denny Cagur, hlm. 19) (42)

  O1 : Kalo IPS apa artinya? O2 : Ilmu Pengetahuan Sosial.

  O1 : Kalo IPA? O2 : Ilmu Pengetahuan Alam. O1 : Kalo KPK? O2 : Komisi Pemeberantasan Korupsi O1 : Salah, tapi artinya Kamu Punya Ku

  (Rayuan Gombal Ala Denny Cagur, hlm.81) Dalam wacana (38) O1 tidak langsung mengatakan malas berjauhan dengan O2 sehingga sempat menimbulkan penafsiran yang berbeda pada O2.

  Dalam wacana (39) O1 memanfaatkan kepolisemian kata jatuh dengan mengatakan ada jatuh yang enak, yaitu jatuh cinta pada O2. Dalam (40) O1 menyimpangkan kepanjangan dari KPK pada umumnya yang dikenal sebagai

  

Komisi Pemberantasan Korupsi menjadi Kamu Punya Ku. Ketiga WG di atas

  tidak sepenuhnya mematuhi maksim pelaksanaan karena membuat sebuah pernyataan yang ambigu. Namun justru pembelokan maksim pelaksanaan tersebut menciptakan ―nilai rasa gombal‖ bagi O2 karena merasa dipuji.

  40

3.3. Rangkuman

  WG berbeda dengan wacana komunikasi yang bonafid yang hanya sekadar bertukar informasi secara wajar. WG memiliki tujuan merayu untuk mendapatkan hati mitra tutur. Penutur dalam WG berusaha membesarkan hati mitra tuturnya dengan menciptakan tuturan-tuturan yang membelok dari prinsip kerja sama dengan keempat maksimnya, yaitu maksim kuantitas, maksim kualitas, maksim relevansi, dan maksim pelaksanaan. Tutran WG memberikan sumbangan informasi yang berlebihan, tidak logis, menyimpang dari konteks, dan ambigu.

BAB IV WACANA GOMBAL DAN BUDAYA POPULER

4.1 Pengantar

   Seperti yang telah dijelaskan di bagian latar belakang, WG pada mulanya

  hanya digunakan untuk menggoda, memuji, dan merayu mitra tutur. Biasanya penuturnya adalah seorang pria dan mitra tuturnya adalah seorang wanita. Hal tersebut wajar terjadi dalam kehidupan sehari-hari sebagai sebuah interaksi sosial antara pria dengan wanita. Pada awalnya nggombal bersifat privat, namun kini perlahan bergeser ke ruang publik.

  Media massa membawa WG sebagai hiburan. Trans TV dan Trans7, dua stasiun televisi milik Trans Corporation, menjadi pelopor pembawa WG masuk ke panggung hiburan Indonesia. Kedua stasiun televisi tersebut memang mengakui diri sebagai stasiun televisi hiburan. Hampir semua program yang dibawakan dikemas sedemikian rupa menjadi hiburan bagi pemirsanya. Karena berorientasi sebagai televisi hiburan, Trans TV dan Trans7 harus kreatif saat menyuguhkan sebuah tontonan yang menghibur. Tontonan menghibur yang paling umum adalah humor. Kedua stasiun televisi tersebut banyak memuat program-program bergenre humor. Salah satu tontonan humor yang ditawarkan kepada pemirsa adalah WG.

  42 Akhirnya, WG menjadi populer dan sempat menjadi trend center humor di

  Indonesia. WG pun menjadi bagian dari budaya pop yang dibawa lewat media massa. Dari situ, muncullah fenomena baru dalam kehidupan sosial antara pria dan wanita sehingga WG menjadi trend setter dalam kehidupan sehari-hari. Fenomena itu adalah fenomena nggombal.

  Dari stasiun televisi, WG mulai dikenal banyak orang dan berkembang di dunia maya. Banyak website dan webblog yang memuat WG. Dilihat dari komentar-komentar pembacanya, WG yang ada di internet tersebut juga digunakan dalam kehidupan nyata sehari-hari untuk merayu pasangannya.

  Dengan demikian, televisi memegang peran penting atas berkembangnya WG ke publik. Di era postmodern ini, media massa terutama televisi memiliki (Putranto, 2005: 232). Menurut Baudrillard, kehidupan postmodern ditandai oleh simulasi (1983: 4). Proses simulasi mengarah pada penciptaan simulacra. Di era ini perbedaan antara tanda dan realitas menjadi semakin kabur sehingga yang tulen dari barang tiruan sukar dikenali (Ritzer dan Goodman, 2004: 641).

  Baudrillard juga berbicara tentang televisi. Menurutnya, televisi telah larut ke dalam kehidupan dan kehidupan ke dalam televisi (1983: 55). Kehidupan postmodern bagi Baudrillard adalah hiper-realitas. Media berhenti menjadi cerminan realitas, tetapi justru menjadi realitas itu sendiri, atau bahkan lebih nyata daripada realitas itu (Ritzer dan Goodman, 2004: 642).

  Dari fenomena di media massa tersebut, khususnya televisi, muncullah budaya pop. WG sebagai produk yang dipublikkan lewat televisi dapat dikatakan

  43 termasuk dalam budaya pop karena memiliki ciri-ciri budaya pop di dalamnya. Menurut Williams (1983: 237), ciri-ciri budaya pop antara lain (i) banyak disukai orang; (ii) jenis kerja rendahan; (iii) karya yang dilakukan untuk menyenangkan orang; (iv) budaya yang memang dibuat oleh orang untuk dirinya sendiri. Keempat ciri-ciri tersebut sesuai dengan WG. WG banyak disukai orang sebagai sebuah tontonan yang lucu dan akhirnya menyenangkan bagi banyak orang.

  Selain itu WG juga sesuai dengan ciri-ciri karya sastra populer yang dijelaskan oleh Nurgiyantoro (2007: 16-22 ) yang bersifat (i) mengikuti ―selera populer‖ atau selera orang banyak, (ii) diproduksi untuk dijadikan ―barang dagangan populer‖ atau bersifat komersial, (iii) menampilkan masalah yang aktual namun hanya sebatas pada tingkat permukaan, (iv) bersifat sementara, (v)

  Sebagai sebuah tontonan dalam televisi, WG menjadi hiburan yang menuruti selera populer dan diproduksi untuk dikomersialkan. WG juga hanya membahas masalah yang ringan dan hanya di tingkat permukaan. Terakhir, pupular itas WG tidak bertahan lama, ―Comedy Project‖ TransTV tidak lagi memuat segmen ―Gombal Gembel‖. Andre OVJ hanya sekali waktu menggombal.

  WG hanya tenar sebentar dan siap untuk tenggelam dengan hadirnya budaya- budaya pop yang baru.

4.3 Rangkuman

  Penyebab terjadinya fenomena nggombal dimulai dari media massa, terutama televisi. Media massa melalui acara-acara televisi mempublikasikan WG

  44 sehingga populer di kalangan masyarakat. WG pun menjadi trend center dalam dunia humor dan trend setter dalam pergaulan sehari-hari.

BAB V FENOMENA LINGUAL DALAM WACANA GOMBAL SEBAGAI PENDUKUNG PENCIPTAAN HUMOR

5.1 Pengantar

  Seperti yang telah dijelaskan WG awalnya tidak digunakan untuk berhumor. Media massalah yang telah membuat WG masuk ke dunia hiburan sebagai bahan berhumor. Lagi pula, tidak semua WG bersifat lucu. Kelucuan dalam WG yang dibawakan di atas panggung ―Comedy Project‖, ―Raja Gombal‖, maupun ―Opera Van Java‖ lebih bersifat situasional. Situasi acara tersebut memang didesain sedemikian rupa menjadi bersuasana humor. Situasi ketika ada WG yang kreatif, ternyata bagi penonton dianggap tidak wajar dan lucu sehingga menghasilkan tawa. Walaupun demikian, perlu digarisbawahi bahwa situasi tersebut tetap harus didukung dengan permainan bahasa yang menarik dalam setiap WG yang dibawakan.

  Permainan bahasa dalam WG memuat ketidakterdugaan. Unsur ketidakterdugaan merupakan hal yang tidak dapat diabaikan di dalam penciptaan humor (Wijana, 2004: 280). Biasanya ketidakterdugaan dalam WG terletak pada dialog bagian terakhir dari I pada tipe WG dialog sederhana dan R yang terakhir pada tipe WG dialog kompleks. Ketidakterdugaan terjadi ketika mitra tutur memiliki sebuah persepsi sendiri terhadap konteks pembicaraan, sementara di sisi

  46 lain penutur ternyata memilki sesuatu yang berbeda dan tidak terpikirkan oleh mitra tutur.

  Ketidakterdugaan itu diciptakan melalui pembelokan prinsip kerja sama dan pemanfaatan aspek-aspek kebahasaan mulai dari tataran fonologis hingga konstruksi proposisional. Adapun pembelokan prinsip kerja sama telah dibahas pada bagian sebelumnya. Sementara itu, pemanfaatan aspek-aspek kebahasaan menciptakan fenomena-fenomena lingual yang akan diuraikan di bawah ini.

5.2 Pemanfaatan Fenomena Lingual yang Terdapat dalam WG

  Fenomena lingual dalam WG mencakup aspek-aspek kebahasaan mulai dari tataran yang paling rendah hingga tataran tertinggi. Satuan kebahasaan yang wacana. Selain melalui satuan kebahasaan, fenomena lingual juga mencakup gaya bahasa dan peribahasa. Berikut dipaparkan fenomena-fenomena lingual yang terdapat dalam WG dengan memanfaatkan aspek-aspek kebahasaan.

5.2.1 Aspek Fonologis

  Aspek fonologis berkaitan dengan satuan kebahasaan yang paling kecil, yaitu bunyi bahasa. Ada tiga satuan kebahasaan yang berada di tingkat satuan fonologis, yaitu fona, fonem, dan suku kata. Fona berbeda dengan fonem. Perbedaannya terletak pada kemampuan untuk membedakan makna. Fonem merupakan satuan kebahasaan berupa bunyi yang memiliki potensi untuk membedakan makna (Wijana, 2009: 22); sedangkan fona tidak memiliki potensi

  47 tersebut. Sementara itu, suku kata adalah satuan ritmis terkecil yang memiliki puncak kenyaringan (Wijana, 2009: 28).

  Oleh pencipta WG, fonem dan suku kata dapat ―dipermainkan‖ sehingga menimbulkan ketidakterdugaan dalam WG. Berikut merupakan penjabaran pemanfaatan permainan fonem dan suku kata dalam WG.

5.2.1.1 Permainan Fonem

  Salah satu cara mempermainkan fonem untuk menciptakan ketidakterdugaan adalah dengan mengganti sebuah fonem dalam sebuah kata dengan fonem lain sehingga mitra tutur menjadi salah kira. Perhatikan contoh WG berikut.

  O1 O2 : Apa tu Bang? O1 : Tinta apa yang melekat dan ga bisa dihilangin? O2 : Hmhmhm, ga tau, emang apa Bang? O1

  : Tintaku padamu… (Rayuan Gombal Andre Vs Jessica, hlm. 33)

  Fonem /t/ di awal pada kata tinta sebenarnya merupakan fonem /c/ sehingga menjadi kata cinta. Namun, O1 sengaja mengganti fonem /c/ dengan /t/ untuk menciptakan ketidakterdugaan. Orang kedua mengira jawaban atas pertanyaan O1 pasti seputar tinta, entah itu tinta pena, spidol, atau jenis tinta yang lain. Ternyata, O1 ―memplesetkan‖ kata cinta menjadi tinta. Hal tersebut membuat O2 terkejut dan menimbulkan efek lucu.

  48 Selain mengganti fonem dalam sebuah kata, permainan fonem dalam WG juga bisa melalui cara menukar fonem dalam sebuah kata. Perhatikan contoh berikut ini.

  (44) : Neng, goda-goda 1 porsi.

  O1 O2 : Di sini adanya gado-gado Bang.

  O1 : Oh, maaf Neng. Karena liat Eneng, abang jadi tergoda sich… (Rayuan Gombal Andre Vs Jessica, hlm. 27)

  Letak fonem /a/ dan /o/ dalam kata gado-gado ditukar oleh O1 menjadi

  

goda-goda . Orang kedua pun bingung karena ia merasa menjual gado-gado dan

  tidak ada makanan bernama goda-goda. Ternyata goda-goda hanyalah akal- akalan O1 untuk memuji O2 karena yang dimaksud goda-goda adalah O1 tergoda dengan O2. Hal tersebut tentu membuat O2 terkejut dan terciptalah humor. juga meliputi penambahan fonem. Perhatikan contoh berikut.

  (45) : Yang, tau nggak perbedaan antara kamu dengan lukisan? O1

  O2 : Nggak tau…. O1 : Perbedaannya kalo lukisan semakin lama dipandang semakin antik, kalo kamu semakin lama dipandang semakin cantik.

  (Raja Gombal ala Denny Cagur, hlm. 40) Pernyataan kedua dari O1 mengandung dua kata yang mirip, yaitu antik dan cantik. Secara kreatif, O1 menambahkan fonem /c/ pada kata antik sehingga menjadi cantik dan menciptakan ketidakterdugaan bagi O2.

  49

5.2.1.2 Penambahan Suku Kata

  Sebuah kata yang terdiri dari dua suku kata atau lebih bisa berubah makna jika salah satu suku katanya dihilangkan seperti pada contoh berikut ini.

  (46) : Bang, katanya lagi sakit ya? O1 O2 : Ga kok, cuma geli aja..

  O1 : Geli kenapa Bang? O2 : Gelisah memikirkan kamu

  (Makhluk Tuhan Paling Gombal, hlm. 110) (47) : Kamu tau nggak KERA apa yang harus dimusnahkan dari

  O1 bumi ini? O2 : Hmmm, apa yah… nggak tau…. O1 : KERAguanku untuk meminangmu….

  (Si Raja Gombal, hlm. 48) Kata geli terdiri dari dua suku kata yaitu ge- dan li-. Orang kedua dalam

  WG (44) sengaja membuat O1 menjadi penasaran dengan mengaku geli. Orang pertama mengira fisik O2 merasa geli. Ternyata fisik O2 tidak merasakan geli tetapi hati O2 yang merasa gelisah karena memikirkan O1. Penambahan suku kata

  • sah pada kata geli menjadi gelisah tersebut menciptakan ketidakterdugaan sehingga mendukung munculnya efek lucu.

  Demikian juga dengan kata keraguanku yang mengandung unsur suku kata ke- dan ra- yang jika digabungkan menjadi kera memiliki makna tersendiri karena juga memiliki referen yang berbeda dengan keraguanku. Pengacauan persepsi tentang kera yang diciptakan oleh O1 menimbulkan ketidakterdugaan bagi O2.

  50

5.2.2 Aspek Ketaksaan

  Menurut Wijana (2004: 140), satuan gramatikal seperti kata, frasa, dan kalimat bila dilucuti dari konteks pemakaiannya, ternyata ada sejumlah di antaranya memiliki potensi secara aksidental bersifat taksa dengan satuan gramatikal lain. Ketaksaan dalam humor memiliki kedudukan yang sentral sehubungan dengan potensinya untuk mengacaukan penutur dan mitra tuturnya. Kekacaauan tersebut akhirnya menciptakan ketidakterdugaan yang melahirkan humor. Secara sederhana, ketaksaan yang dimanfaatkan di dalam WG dapat dibedakan menjadi ketaksaan leksikal dan ketaksaan gramatikal.

5.2.2.1 Ketaksaan Leksikal

  yang memiliki dua makna atau lebih. Perbedaan makna itu memungkinkan satu sama lain masih bertalian dan memungkinkan tidak berkaitan sama sekali. Sifat hubungan makna yang pertama disebut polisemi, sedangkan sifat hubungan makna yang kedua disebut homonimi (Wijana, 2004: 141)

5.2.2.1.1 Polisemi Secara sederhana, polisemi dapat diartikan sebagai satu kata banyak arti.

  Walaupun demikian, hanya terdapat satu makna primer dalam sebuah kata yang berpolisemi. Makna selain makna primer dalam sebuah kata berpolisemi disebut makna sekunder. Makna primer dari sebuah kata dapat diketahui tanpa melibatkan konteks pemakaian, sebaliknya diperlukan konteks pemakaian untuk mengetahui

  51 makna sekunder dari sebuah kata (Wujana, 2004: 142). Untuk lebih jelasnya perhatikan contoh berikut.

  (48) : Neng, kok waktu Eneng lewat kopi abang jadi ga ada O1 rasanya ya?

  O2 : Emang kenapa Bang? O1 : Karena manisnya ada di muka Eneng semua… hehehe….

  (Si Raja Gombal, hlm. 14) Orang pertama dalam WG di atas memanfaatkan kepolisemian kata manis.

  Makna primer dari manis adalah ‗rasa seperti rasa gula‘ (Tim Penyusun Kamus, 2008: 914). Rasa tersebut dapat dikecap oleh lidah. Sementara itu, makna kata

  

manis yang digunakan O1 dalam (45) ternyata merupakan makna sekundernya

  padahal konteks pemakaiannya lebih menjurus ke makna primernya. Makna sekunder dari manis yang dimaksud oleh O1 adalah ‗elok‘ atau ‗sangat menarik hati‘ (Ibid., 914).

  Dalam WG, pemanfaatan kepolisemian kata manis sangat sering terjadi seperti dalam ketiga contoh berikut.

  (49) : Kamu suka coklat nggak? O1 O2

  : Suka… O1 : Kalo susu? O2 :

  Suka juga… O1 :

  Hmhmhm…. Kalo madu??? O2 : Suka juga sich. Emang kenapa tanya gitu??? O1 : Hmhm… Pantes…. O2 : Pantes kenapa?? O1 : Pantes kamu manis… soalnya suka yang manis-manis….

  (Rayuan Gombal ala Denny Cagur, hlm. 73) (50) : Kamu tau gak kenapa cabe rasanya pedes?

  O1 O2 : Gak tau, emang kenapa? O1 : karena yang manis itu kamu….

  (Rayuan Gombal Andre Vs Jessica, hlm. 18)

  52 (51) : Kamu kayak donat topping coklat dech. Habis kamu

  O1 manis banget sih… (Rayuan Gombal Andre Vs Jessica, hlm. 53)

  Penggunaan makna sekunder yang kurang sesuai dengan konteks tersebut menciptakan ketidakterdugaan bagi O2. Ia mengira yang membuat rasa minuman dan makanan yang dipunyai O1 menjadi manis bukanlah wajahnya yang berparas elok atau cantik.

5.2.2.1.2 Homonimi

  Berbeda dengan polisemi, homonimi secara sederhana dapat diartikan dua kata yang memiliki bentuk sama tetapi maknanya berbeda. Penggunaan dua makna yang berbeda tersebut dapat menimbulkan kekacauan persepsi yang juga berakhir pada ketidakterdugaan. Jenis homonimi dalam WG sering ditemui dengan cara menyimpangkan kepanjangan dari sebuah singkatan atau akronim seperti pada contoh berikut.

  (52) : Kalo IPS apa artinya? O1 O2 : Ilmu Pengetahuan Sosial.

  O1 : Kalo IPA? O2 : Ilmu Pengetahuan Alam. O1 : Kalo KPK? O2 : Komisi Pemberantasan Korupsi O1 : Salah, tapi artinya Kamu Punya Ku

  (Rayuan Gombal Ala Denny Cagur, hlm. 81) (53) : Aku boleh nggak bikin KTP?

  O1 O2 : Lho kok tanya ke aku? O1 : Iya dong, O2 : Kenapa? O1 : KTP yang aku maksud adalah Kartu Tanda Pasanganmu

  (―Comedy Project‖, 27 April 2012)

  53 (54) : Aku mau buat STNK di rumah kamu.

  O1 O2 : Bikinnya bukan di rumah aku, Kak.

  O1 : Di rumah kamu kali, kan Surat Tanda Nikahin Kamu.

  (―Comedy Project‖, 27 April 2012) Dari ketiga contoh di atas terdapat tiga singkatan yang oleh O1 diartikan dengan kepanjangan yang baru. Perhatikan tabel di bawah ini.

  No Singkatan Kepanjangan Umum Kepanjangan Baru

  1 KPK Komisi Pemberantasan Korupsi Kamu Punya Ku

  2 KTP Kartu Tanda Penduduk Kartu Tanda Pasanganmu

  3 STNK Surat Tanda Nomor Kendaraan Surat Tanda Nikahin Kamu Singkatan KPK secara umum dimengerti sebagai Komisi Pemberantasan

  Korupsi. Namun, O1 justru mengganti kepanjangan tersebut dengan Kamu Punya Ku sehingga menimbulkan ketidakterdugaan bagi O2 yang memiliki persepsi umum tentang KPK.

  Demikian juga dengan singkatan KTP dan STNK yang pada umumnya dimengerti sebagai Kartu Tanda Penduduk dan Surat Tanda Nomor Kendaraan dikacaukan dengan kepanjangan Kartu Tanda Pasanganmu dan Surat Tanda Nikahin Kamu.

5.2.2.2 Ketaksaan Gramatikal

  Menurut Wijana (2004: 181), ketaksaan tidak semata-mata terbentuk karena leksem yang memiliki dua arti atau lebih sehubungan dengan luas pemakaiannya, atau secara aksidental identik bentuk dan ejaannya, tetapi dapat

  54 pula dibentuk karena penggabungannya dengan leksem atau leksem-leksem lain. Ketaksaan yang terbentuk karena gabungan dua atau beberapa leksem disebut dengan ketaksaan gramatikal. Ada dua bentuk ketaksaan gramatikal dalam WG yaitu idiom dan peribahasa.

5.2.2.2.1 Idiom

  Idiom adalah satuan-satuan bahasa (bisa berupa kata, frasa, maupun kalimat) ya ng maknanya tidak dapat ―diramalkan‖ dari makna leksikal unsur- unsurnya maupun makna gramatikal satuan-satuan tersebut (Chaer, 1990: 76).

  Dengan kata lain, makna sebuah idiom tidak tidak dapat diterangkan secara logis atau secara gramatikal dengan bertumpu pada makna kata-kata yang dimanfaatkan oleh pencipta WG untuk mengacaukan persepsi mitra tutur seperti dalam contoh berikut.

  (55) : Neng, aku dan kamu kan sama-sama calon arsitek. Jika O1 nanti sudah besar, mari kita bangun rumah yang paling indah di muka bumi ini.

  O2 : Rumah apa itu Bang? O1 : Rumah tangga kita Neng. O2 : Asik- asik…

  (Makhluk Tuhan Paling Gombal, hlm. 41) (56) : Aku udah pernah jatuh dari jembatan, aku udah pernah

  O1 jatuh dari tangga. Semuanya ga enak.

  O2 : Emangnya ada jatuh yang enak? O1 : Ada satu jatuh yang paling enak, yaitu jatuh cinta sama kamu.

  (Rayuan Gombal Ala Denny Cagur, hlm. 19) Idiom rumah tangga tidak bisa diuraikan berdasarkan dua leksem yang membentuknya, yaitu rumah dan tangga. Oleh karena itu, ketika O1 mengatakan

  55 bahwa ia akan membangun rumah yang paling indah, persepsi O2 akan menuju ke suatu bangunan fisik berupa rumah. Ternyata, maksud O1 tidak menunjuk pada bangunan rumah melainkan idiom rumah tangga y ang berarti ‗segala sesuatu yang berhubungan dengan rumah‘. Kesalahan persepsi itu pun menciptakan sebuah ketidakterdugaan.

  Demikian juga dengan idiom jatuh cinta. Jatuh cinta bukan juga berarti ‗terlepas dan turun ke bawah dengan cepat‘. Jatuh cinta memiliki arti ‗menaruh cinta kepada‘ (Tim Penyusun Kamus, 2008: 582). Jatuh dalam arti yang pertama memiliki akibat sakit, sedangkan jatuh cinta tentu sangat disukai banyak orang.

5.2.2.2.2 Peribahasa

  Peribahasa adalah ungkapan atau kalimat ringkas, padat, dan berisi perbandingan, perumpamaan, nasihat, prinsip hidup, atau aturan tingkah laku (Tim Penyusun Kamus, 2008: 1085). Penciptaan ketidakterdugaan dalam peribahasa dapat dilakukan dengan mengganti objek-objek dalam peribahasa tersebut dengan penutur dan mitra tutur. Perhatikan contoh berikut.

  (57) : Ada peribahasa ada udang di balik batu.

  O1 O2 : Iya Bang, emang kenapa? O1 : Aku rela jadi batu dech asalkan di balik aku ada kamu O2

  : So Sweet… (Makhluk Tuhan Paling Gombal, hlm. 123)

  Penutur dalam WG di atas mengganti objek udang dan batu dalam peribahasa ada udang di balik batu dengan aku (O1) dan kamu (O2) sehingga menimbulkan efek jenaka.

  56 Peribahasa juga mencakup pepatah. Pepatah adalah peribahasa yang mengandung nasihat (Tim Penyusun Kamus, 2008: 1080). Pepatah juga bisa menjadi sumber kreativitas dalam WG. Perhatikan contoh berikut.

  (58) : Kamu pernah denger nggak kata pepatah bilang tak kenal O1 maka tak sayang?

  O2 : Iya Bang, emang kenapa? O1 : Buat aku itu nggak berlaku. O2 : Nggak berlaku kenapa? O1 : Karena sebelum aku kenal kamu, aku udah sayang kamu. O2

  : So Sweet… (Rayuan Gombal ala Denny Cagur, hlm. 36)

  Orang pertama dengan cerdik membantah pepatah ―Tak kenal maka tak sayang‖ dengan menyatakan bahwa ia telah menyayangi O2 sebelum mengenalnya terlebih dahulu sehingga menimbulkan ketidakterdugaan bagi O2.

5.2.3 Gaya Bahasa

  Gaya bahasa adalah cara yang khas dalam menyatakan sesuatu dengan bahasa (Tim Penyusun Kamus, 2008: 443). Gaya bahasa berdasarkan makna diukur dari langsung tidaknya makna, yaitu apakah acuan yang dipakai masih mempertahankan makna denotatifnya atau sudah ada penyimpangan. Bila acuan yang digunakan itu masih mempertahankan makna dasar, bahasa itu masih bersifat polos. Namun, bila sudah ada perubahan makna, entah berupa makna konotatif atau sudah menyimpang jauh dari makna denotatifnya, acuan tersebut dianggap sudah memiliki gaya bahasa.

  Gaya bahasa berdasarkan langsung tidaknya makna dibagi atas dua kelompok yaitu gaya bahasa retoris dan gaya bahasa kiasan. Gaya bahasa retoris

  57 semata-mata merupakan penyimpangan dari konstruksi biasa untuk mencapai efek tertentu, sedangkan gaya bahasa kiasan merupakan penyimpangan yang lebih jauh (Keraf, 1984: 129). Dalam WG, gaya bahasa retoris yang digunakan adalah hiperbola dan elipsis, sedangkan gaya bahasa kiasan meliputi metafora dan personifikasi.

  5.2.3.1 Hiperbola

  Hiperbola adalah gaya bahasa yang mengandung suatu pernyataan yang berlebihan dengan membesar-besarkan sesuatu hal (Keraf, 1984: 135). Esensi WG adalah memuji mitra tutur. Sering kali, penutur akan melebih-lebihkan pujiannya untuk mendapatkan simpati dari mitra tutur seperti contoh berikut.

  O1 bikin aku menari tiap kali mendengar suara mesin fotokopi, bikin aku tersenyum saat dimarahin si bos. Dan bikin hari Sabtu menjadi hari yang paling kutunggu- tunggu. O2 : Makasii sayank….

  (Rayuan Gombal Ala Denny Cagur, hlm. 15) (60) : Adek mau tau nggak seberapa banyak cinta mas buat

  O1 Adek?

  O2 : Emang berapa banyak Mas? O1 : Hitung aja tiap tetes air hujan yang jatuh. Sebanyak itu cinta mas buat Ade.

  (Si Raja Gombal, hlm. 26)

  5.2.3.2 Elipsis

  Elipsis adalah suatu gaya yang berwujud menghilangkan suatu unsur kalimat yang dengan mudah dapat diisi atau ditafsirkan sendiri oleh mitra tutur sehingga struktur gramatikal atau kalimatnya memenuhi pola yang berlaku (Keraf,

  58 1984: 132). Dalam WG kalimat yang unsurnya dihilangkan berada di fungsi I dan unsur yang dihilangkan tersebut akhirnya dikembalikan menjadi sebuah ketidakterdugaan dalam fungsi R di akhir wacana. Perhatikan contoh berikut.

  (61) O1 : Sayang kamu harus belajar terima kenyataan...

  O2 : Kenyataan apa sich Bang maksudmu? O1 : Kenyataan kalau kita memang jodoh….

  (Si Raja Gombal, hlm. 71) (62)

  O1 : Halo, kamu di mana?

  O2 : Aku lagi sibuk nich…

  O1 : Sibuk ngapain sich? O2 : Sibuk mikirin kamu….

  (Rayuan Gombal Andre Vs Jessica, hlm. 26) (63)

  O1 : Jangan GR dech. Aku kangen kamu sedikit aja kok

  O2 : Kok cuma sedikit? O1 : Sedikit berlebihan maksudnya….

  (Rayuan Gombal Andre Vs Jessica, hlm. 50) Pada WG (59), O1 menghilangkan bagian kalimat setelah kata kenyataan pada dialog pertamanya. Orang kedua pun merasa bingung kenyataan apa yang dimaksud. Barulah O1 menjawab dengan sebuah ketidakterdugaan di dialog keduanya dengan melengkapi unsur yang dihilangkan sehingga kata kenyataan menjadi kenyataan kalau kita memang jodoh.

  Demikian juga dengan wacana (60) dan (61), orang yang ingin menggombal menyembunyikan unsur-unsur setelah kata sibuk dan sedikit sehingga menimbulkan kejengkelan bagi mitra tuturnya. Namun, setelah dilengkapi menjadi sibuk mikirin kamu dan sedikit berlebihan, ketidakterdugaan pun terjadi.

  59

5.2.3.3 Metafora

  Metafora adalah semacam analogi yang membandingkan dua hal secara langsung, tetapi dalam bentuk yang singkat. Metafora sebagai perbandingan langsung tidak mempergunakan kata: seperti, bak, bagai, bagaikan, dan sebagainya sehingga pokok pertama langsung dihubungkan dengan pokok kedua (Keraf 1984 139). Metafora merupakan perubahan makna karena persamaan sifat antara dua objek (Ibid., hlm. 98). Bekher (dikutip Pradopo, 2005: 66) mengatakan metafora itu melihat sesuatu dengan perantaraan benda yang lain. Pradopo juga menyatakan metafora terdiri dari dua term atau dua bagian, yaitu term pokok dan term kedua. Term pokok disebut tenor dan term kedua disebut vehicle. Tenor menyebutkan hal yang dibandingkan, sedangkan vehicle adalah hal yang untuk

  Ketika memuji mitra tutur, penutur WG sering kali menggunakan metafora untuk menyamakan mitra tutur dengan objek lain yang memiliki persamaan sifat seperti pada contoh berikut.

  (64) : Kenapa malem ini gelap banget ya Neng? O1 O2 : Mendung kali Bang.

  O1 : Kayaknya nggak dech. O2 : Emang kenapa dong Bang? O1 : Soalnya bulannya sedang menerangi dan menemaniku di sini.

  (Rayuan Gombal Ala Denny Cagur, hlm. 8) (65) : Yang, tau nggak?

  O1 O2 : Tau apaan? O1 : Waktu kamu lewat tadi, aku ngerasa mendadak silau..

  O2 : Ah, masak sih? O1 : Soalnya ada bidadari lewat di depan aku.

  (Rayuan Gombal Ala Denny Cagur, hlm. 12)

  60 (66) : Kayaknya aku salah jatuh cinta dech.

  O1 O2 : Lho kok gitu?.

  O1 : Aku jatuh cinta dengan seorang malaikat karena di bumi ini nggak ada seseorang kayak kamu.

  (Rayuan Gombal Ala Denny Cagur, hlm. 35) Pada WG (64) O1 menyamakan O2 dengan bulan. Jadi, bagi O1, O2 adalah tenor atau hal yang dibandingkan. Orang kedua dibandingkan dengan

  

vehicle berupa bulan. Terdapat kesamaan sifat antara O2 dengan bulan bagi O1,

  yaitu keduanya memiliki sifat menerangi sesuatu. Ketidakterdugaan dalam WG di atas terletak ketika O2 tidak mengira bahwa ia akan dimetaforakan dengan bulan yang identik dengan sifat indah dan cantik.

  Demikian pula dengan WG (65) dan (66). Orang kedua dimetaforakan dengan bidadari dan malaikat karena menjadi sosok yang istimewa bagi O1.

  Orang kedua yang tidak mengira hal tersebut akhirnya merasa dipuji.

5.2.3.4 Personifikasi

  Personifikasi adalah semacam gaya bahasa kiasan yang menggambarkan benda-benda mati atau barang-barang yang tidak bernyawa atau makhluk selain manusia seolah-olah memiliki sifat kemanusiaan (Keraf 1984: 140). Sifat kemanusiaan tersebut meliputi berbuat, berpikir, merasa, dan sebagainya (Pradopo 75).

  Personifikasi biasanya digunakan dalam WG untuk memuji mitra tutur seperti pada contoh berikut.

  (67) : Eh, jangan duduk deket-deket bunga? O1

  O2 : Emang kenapa Bang? O1 : Nanti bunga-bunganya layu Neng..

  61 O2 : Kok bisa? O1 : Mereka layu karena malu kalah cantik sama kamu..

  (Rayuan Gombal Ala Denny Cagur, hlm. 10) (68) : Waktu kamu lahir pasti lagi hujan ya?

  O1 O2 : Lho kok tau? O1 : Abis langit nangis ditinggalin bidadari secantik kamu.

  (Rayuan Gombal Ala Denny Cagur, hlm. 39) (69) : Andai sebuah bintang akan jatuh setiap kali aku

  O1 mengingatmu, bulan pasti protes.

  O2 : Emang kenapa Bang? O1 : Soalnya dia bakal sendirian di angkasa..

  (Rayuan Gombal Ala Denny Cagur, hlm. 51) Bunga-bunga bukan manusia. Namun, oleh O1 bunga-bunga dipersonifikasikan sehingga memiliki sifat kemanusiaan yang dalam contoh WG di atas merasa malu karena kalah cantik dengan O2. Hal tersebut menimbulkan apa hubungan antara dirinya (O2) dengan bunga.

  Langit dan bulan dalam (68) dan (69) juga dipersonifikasikan sehingga dapat menangis dan protes. Hal tersebut seperti halnya pada (67) dapat menciptakan ketidakterdugaan.

5.2.4 Pantun

  Pantun merupakan salah satu jenis puisi Melayu Lama yang mengandalkan persamaan rima di akhir baris untuk menciptakan suatu estetika.

  Ada dua bagian dalam pantun yaitu sampiran dan isi. Sampiran menjadi tumpuan atau pengantar dalam sebuah pantun, sedangkan isi berisi pesan utama dalam sebuah pantun. Tidak ada hubungan yang logis antara sampiran dan isi sehingga

  62 permainan antara sampiran dan isi menciptakan sebuah ketidakterdugaan dalam membuat WG seperti pada contoh berikut.

  (70) : Ay, aku punya pantun nich buat kamu..

  O1 O2 : mana Bang? O1 : Ikan hiu bergoyang..

  O2 : Artinya? O1

  : I love you sayank… (Makhluk Tuhan Paling Gombal, hlm. 116)

  (71) : Ke Cimanggis membeli kopiah, kopiah indah kan kau O1 dapati.

  O2 : Artinya Bang? O1 : Begitu banyak gadis yang singgah, hanya Dinda yang memikat hati.

  (Rayuan Gombal Andre Vs Jessica, hlm. 112) (72) : Di ruang tamu ada Sari, si Sari bawa duit

  O1 O2 : Artinya Bang? O1 : Wajahmu kayak bidadari, bidadari yang turun dari langit.

  (Makhluk Tuhan Paling Gombal, hlm. 91) Pernyataan O1 di sampiran tidak memiliki hubungan yang logis dengan isinya. Namun, justru hal itulah yang membuat WG di atas ―bernilai rasa gombal‖ dan menarik.

5.2.5 Nama

  Kata-kata nama, baik yang berkaitan dengan nama individu, atau perluasannya, seperti nama jalan, tempat, tari-tarian, dsb., tidak memiliki makna.

  Namun, kata-kata nama di dalam penciptaan humor merupakan sumber yang cukup penting mengingat potensinya untuk diperlakukan sebagai kata-kata biasa yang memiliki makna. Berikut merupakan contoh pemakaian nama dalam WG.

  (73) : Neng, kemaren abang ke Sukabumi lho.

  O1 O2 : Asik dong Bang?

  63 O1 : Tapi ada yang aneh. O2 : Aneh kenapa Bang? O1 : Gara-gara mikirin kamu, rambu-rambu jalan di Sukabumi berubah menjadi Sukakamu..

  (Si Raja Gombal, hlm. 60) (74) : Kamu asalnya dari Jepang ya?

  O1 O2 : Kok tau Bang? O1 : Nama kamu Takada kan? Pasti nama panjangnya Takada yang bisa gantiin kamu di hatiku.

  (Si Raja Gombal, hlm. 72) Nama Sukabumi sebenarnya tidak memiliki makna leksikal apa-apa.

  Nama tersebut hanya menandai sebuah kota di Jawa Barat. Namun, Sukabumi memiliki keunikan karena terdiri dari dua kata yang sebenarnya bermakna yaitu suka dan bumi. Kata suka memiliki arti ‗menaruh kasih‘ (Tim Penyusun Kamus, 2008: 1383). Oleh O1, makna tersebut dimanfaatkan untuk menciptakan ketidakterdugaan bagi O2 dengan cara mengubah unsur kata bumi menjadi kamu sehingga O2 merasa digombali oleh O1.

  Nama Takada juga tidak memiliki makna leksikal. Namun, Takada secara ortografis dapat diuraikan menjadi dua kata, yaitu tak dan ada sehingga dapat dilanjutkan menjadi kalimat tak ada yang bisa gantiin kamu di hatiku.

5.2.6 Pertalian Kata dalam Frasa

  Menurut Ramlan (1982: 121), frasa adalah satuan gramatikal yang terdiri dari dua kata atau lebih yang tidak melampaui batas fungsi. Frasa dapat dibedakan menjadi dua, yaitu frasa endosentrik dan frasa eksosentrik. Frasa yang mempunyai distribusi yang sama dengan unsurnya, baik semua unsurnya maupun salah satu dari unsurnya disebut frasa endosentrik, seperti rumah baru, mobil merah, dsb;

  64 sedangkan frasa yang tidak demikian, maksudnya tidak mempunyai distribusi yang sama dengan semua unsurnya disebut frasa eksosentrik, seperti di kelas, dalam kamar, dsb.

  Frasa endosentrik dapat dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu frasa endosentrik koordinatif, atributif, dan apositif. Frasa endosentrik koordinatif terdiri dari unsur-unsur yang setara, seperti aku dan kamu, belajar atau bekerja, suami istri, dsb. Frasa endosentrik atributif terdiri dari unsur-unsur yang tidak setara, seperti buku baru, sedang bekerja, wanita itu, dsb. Frasa endosentrik apositif memiliki unsur-unsur yang tidak dapat dihubungkan dengan kata penghubung dan atau atau, dan secara semantik unsur yang satu sama dengan unsur yang lain, seperti Sule, pelawak asal Jawa Barat. endosentrik koordinatif dan frasa endosentrik atributif seperti halnya wacana humor menurut Wijana (2003: 236). Berikut dipaparkan penciptaan ketidakterdugaan dalam WG dengan frasa.

5.2.6.1 Frasa Endosentrik Koordinatif

  Menurut Ramlan (1882: 126), kesetaraan dalam frasa endosentrik koordinatif dapat dibuktikan oleh kemungkinan unsur-unsur itu dihubungkan dengan akta penghubung dan atau atau.

  (75) : Eh, eh, kamu punya kunci apa aja? O1

  O2 : Ada kunci rumah, kunci motor, kunci inggris, kunci pas, kunci L. Emang kenapa? Kamu mau pinjem? O1 : Tapi ada nggak yang bisa buka kunci hatimu?

  (Rayuan Gombal Andre Vs Jessica, hlm. 34)

  65 (76) : Neng pilih utara apa selatan?

  O1 O2 :

  Hmhm…. Utara deh. Emang kenapa Bang? O1 : Kalo gitu aku pilih selatan biar cinta kita nempel terus kayak kutub magnet utara dan selatan….

  (Makhluk Tuhan Paling Gombal, hlm. 19) Dalam WG (75), O2 mengira O1 akan meminjam salah satu kunci yang ia punya dan kunci tersebut tidak bermakna kias. Namun, O1 tidak menghendaki kunci-kunci yang disebutkan oleh O2. O1 justru meminta kunci hati O2 supaya O1 dapat masuk ke dalamnya. Hal ini menimbulkan ketidakterdugaan bagi O2.

  Demikian pula dengan WG (76). Orang kedua tidak mengira maksud dari pilihan utara maupun selatan yang diajukan oleh O1. Ternyata, pilihan tersebut untuk menggambarkan kutub magnet yang selalu menempel ketika bertemu kutub yang berlawanan.

5.1.6.2 Frasa Endosentrik Atributif

  Menurut Wijana (2003: 236), atributif dalam frasa endosentrik pada hakikatnya adalah elemen pembatas yang memodifikasi makna generik unsur pusatnya sehingga makna unsur pusat itu lebih spesifik. Sifat atributif yang demikian ini dapat dimanfaatkan sebagai alat untuk mengacaukan persepsi pembaca dari sesuatu yang besar kepada sesuatu yang remeh atau sesuatu yang menyimpang dari konteksnya semula. Perhatikan contoh berikut.

  (77) : Kamu punya peta nggak? O1

  O2 : Peta apa? O1 : Peta hatimu, karena aku tersesat dan nggak bisa keluar dari hatimu.

  (Rayuan Gombal Andre Vs Jessica, hlm. 28)

  66 (78) : Aku udah punya dan baca banyak buku. Sayangnya ada

  O1 satu buku yang belum aku punya.

  O2 : Buku apa? O1 : Buku nikah kita berdua..

  (Rayuan Gombal Andre Vs Jessica, hlm. 28) Munculnya frasa peta hatimu dan buku nikah kita berdua dalam kedua wacana di atas tidak diduga oleh O2. Peta yang mungkin dikira oleh O2 bisa jadi adalah peta sebuah kota, negara, atau dunia; dan buku yang dikira oleh O2 bisa jadi berupa novel atau buku bacaan lainnya. Namun, O1 dengan cerdik mengejutkan O2 dengan menambahkan kata hatimu dan nikah kita berdua untuk memperjelas peta dan buku apa yang dimaksud.

5.2.7 Pertalian Antarklausa

  Menurut Wijana (2004: 249), sejauh yang berhubungan dengan pemanfaatan pertalian antarklausa untuk kreativitas humor, pengacauan konsepsi dilakukan dengan pembatasan ruang lingkup makna klausa pertama dengan klausa kedua. Kehadiran klausa kedua di dalam dialog secara tiba-tiba mengubah presuposisi mitra tutur. Dalam WG ada beberapa jenis pertalian antarklausa yang berpotensi untuk dikreasikan, antara lain pertalian perlawanan, sebab, pengandaian, dan syarat.

5.2.7.1 Pertalian Perlawanan

  Hubungan perlawanan dinyatakan ketika klausa yang satu berlawanan atau tidak sama dengan apa yang dinyatakan dalam klausa lainnya (Ramlan, 1982: 38).

  67 Hubungan perlawanan dalam WG biasanya mengontraskan sifat mitra tutur dengan suatu pembanding yang lain seperti dalam contoh berikut.

  (79) O1

  : Kamu tau gak bedanya kamu sama rumus fisika? O2 : Ga tau, emang apa? O1 : Kalo rumus fisika itu susah dihafal, kalo kamu susah dilupain.

  (Rayuan Gombal Andre Vs Jessica, hlm. 29) (80)

  O1 : Lukisan emang bisa ngejelasin ribuan kata. Tapi, saat aku ngeliat kamu, nggak ada satu kata pun di dunia ini yang mampu ngejelasinnya.

  O2 : So sweet….

  (Rayuan Gombal Andre Vs Jessica, hlm. 62) (81)

  O1 : Kamu tau gak bedanya kamu sama bunga anggrek?

  O2 : Ga tau, emang apa? O1 : Kalo bunga anggrek menempel di batang pohon, kamu menempel di hatiku.

  (Rayuan Gombal ala Denny Cagur, hlm. 88) O1

  O2 : Ga tau, emang apa? O1 : Kalo srkripsi itu tugas terakhir aku, kalo kamu cinta terakhir aku.

  (Rayuan Gombal ala Denny Cagur, hlm. 106) Orang kedua dalam WG (78) dibandingkan dengan rumus fisika. Ternyata bagi O1, rumus fisika memiliki sifat yang bertentangan dengan O2. Pertentangan tersebut ternyata memberikan kesan tak terduga karena O2 tidak mengira akan dibandingkan dengan rumus fisika dan ternyata sifat keduanya saling bertentangan.

  Demikian juga dengan WG (79) dan (80) yang mengandung dua hal yang saling bertentangan. Salah satu hal tersebut adalah diri O2 yang tidak menduga akan dibandingkan dengan sesuatu yang bagi O1 memiliki peran dan ciri yang berlawanan.

  68

5.2.7.2.Pertalian Sebab

  Dalam pertalian sebab, klausa bukan inti menyatakan sebab atau alasan terjadinya peristiwa atau dilakukannya tindakan yang tersebut dalam klausa inti (Ibid., hlm. 48). Ketidakterdugaan WG dalam pertalian sebab terletak pada klausa bukan inti atau yang menyatakan sebab atau alasan terjadinya peristiwa atau dilakukannya tindakan tersebut. Alasan yang dikemukakan penutur tidak memiliki hubungan yang logis atau tidak dapat ditebak dengan pernyataan di klausa inti sehingga menimbulkan ketidakterdugaan. Perhatikan contoh berikut.

  (83) : Kamu tau gak kenapa cabe rasanya pedes? O1

  O2 : Gak tau, emang kenapa? O1 : Karena yang manis itu kamu….

  (Rayuan Gombal Andre Vs Jessica, hlm. 18) (84) : Kamu tau nggak kenapa pelangi hanya setengah

  O1 O2 : Gak tau, emang kenapa? O1 : Karena setengahnya lagi ada di mata kamu….

  (Rayuan Gombal ala Denny Cagur, hlm. 99) (85) : Sayang, kamu tau gak kenapa aku ga pernah bisa bangun

  O1 pagi? O2 : Kamu males sich.. O1 : Karena aku tu nggak mau pisah sama kamu biarpun di dalam mimpi….

  (Si Raja Gombal, hlm. 78) Dalam WG (81), tidak ada hubungan logis antara pedasnya cabai dengan manisnya wajah O2. Namun, hal tersebut justru disengaja oleh O1 untuk menciptakan ketidakterdugaan. Awalnya O2 tidak menyadari bahwa O1 akan memujinya. Pertanyaan mengapa rasa cabai itu pedas oleh O2 hanya dianggap sebagai pertanyaan biasa. Orang kedua mengira alasan yang akan dikemukakan O1 masih berhubungan dengan cabai. Setelah O1 memberikan alasan, barulah O2

  69 menyadari bahwa pertanyaan O1 hanyalah pengantar yang tidak memiliki hubungan langsung dan logis dengan alasan yang diberikan.

  Demikian juga dengan alasan yang dikemukakan O1 pada WG (81) dan (82). Alasan-alasan O1 tersebut tidak masuk akal dan tidak logis. Namun, justru ketidaklogisan tersebut yang membuat O2 merasa terkejut dan tidak menduganya.

5.2.7.3 Pertalian Pengandaian

  Dalam pertalian pengandaian, klausa bukan inti menyatakan suatu andaian, suatu syarat yang tak mungkin terlaksana bagi klausa inti sehingga apa yang dinyatakan dalam klausa inti juga tidak mungkin terlaksana (Ramlan, 1982: 54). WG yang memiliki hubungan pengandaian memiliki ketidakterdugaan pada

  (86) : Neng, tau gak astronot yang pertama kali menginjak O1 bulan?

  O2 : Neil Amstrong kan Bang.. O1 : Yups, betul banget. Tau juga kan di sana nancepin apa? O2 : Pasti nancepin bendera USA kan Bang? O1 : Ih, eneng betul lagi, tapi asal kamu tahu Neng, kalo astronot itu aku, akau ga bakal nancepin bendera USA ataupun Indonesia. O2 : Trus nancepi apa Bang? O1 :

  Di sana aku bakal nancepin bendera bertuliskan ―Neng, Aku Sayank Kamu‖

  (Makhluk Tuhan Paling Gombal, hlm. 122) Dialog ketiga dan keempat O1 memiliki hubungan pengandaian. Kedua dialog tersebut jika dikonsutruksi ulang dapat dinyatakan menjadi: (85a) O1 : Seandainya astronot itu aku, aku bakal nancepin bendera bertuliskan ―Neng, Aku Sayank Kamu‖.

  70 Klausa seandainya astronot itu aku merupakan klausa bukan inti sedangkan klausa

  aku bakal nancepin bendera bertuliskan “Neng, Aku Sayank

Kamu” merupakan klausa inti. Letak ketidakterdugaannya berada di dialog

  terakhir yang memuat klausa inti karena di luar perkiraan O2.

  Contoh lain yang lebih jelas terdapat pada wacana di bawah ini. (87)

  O1 : Seandainya aku hanya memiliki kesempatan untuk meminta satu hal, boleh nggak aku minta satu hal dari kamu?

  O2 : Apa itu? O1 : Aku minta jadikan aku halal u ntukmu….

  (―Comedy Project‖ 7 Desember 2011) (88)

  O1 : Seandainya aku cuma punya kesempatan terakhir untuk berbicara, aku akan menggunakan kesempatan itu buat bilang ―Aku sayang kamu‖.

  O2 : So sweet….

  (―Comedy Project‖ 7 Desember 2011)

5.2.7.4 Pertalian Syarat

  Dalam pertalian syarat, klausa inti menyatakan syarat bagi terlaksananya apa yang tersebut dalam klausa inti (Ramlan, 1982: 50). Syarat tersebut dalam WG dimanfaatkan untuk menciptakan ketidakterdugaan karena di luar perkiraan O2. Perhatikan contoh berikut.

  (89) O1 : Ada peribahasa ada udang di balik batu.

  O2 : Iya Bang, emang kenapa? O1 : Aku rela jadi batu dech asalkan di balik aku ada kamu O2

  : So Sweet… (Makhluk Tuhan Paling Gombal, hlm. 123)

  Ketidakterdugaan WG di atas terletak pada syarat yang diajukan O1. Pada dialog terakhirnya, O1 mengajukan syarat yang tidak terduga oleh O2 dengan meminta O2 berada di balik O1 bagaikan peribahasa ada udang di balik batu.

  71

  5.2.7.7 Pertalian Tujuan

  Pertalian tujuan terdapat dalam kalimat yang klausa bukan intinya menyatakan suatu tujuan atau harapan dari apa yang disebut dalam klausa utama (Alwi dkk., 2003: 407). Ketidakterdugaan dalam WG jenis ini terdapat dalam klausa bukan inti. Ketidakterdugaan itu muncul karena harapan atau tujuan yang disampaikan bersifat tidak logis dan bersifat berlebihan. Perhatikan contoh berikut.

  (90) : Yang, sejak dulu aku pengen kepalaku dironsen.

  O1 O2 : Buat apa Bang? O1 : Biar kamu tau isi kepalaku cuma ada kamu.

  O2 : So Sweet…

  (Rayuan Gombal Andre Vs Jessica, hlm. 19) (91) : Yang, temenin aku ke toko senjata yuk. Aku mau beli

  O1 pistol buat nembak kepalaku..

  O1 : Biar aku nggak mikirin kamu terus..

  (―Comedy Project‖, 4 April 2012) Tujuan-tujuan yang terdapat dalam WG (90) dan (91) di atas terkesan tidak logis dan berlebihan. Namun, justru hal tersebut yang membuat O2 tidak menyangka dan terkejut sehingga menimbulkan ketidakterdugaan.

  5.2.7.8 Pertalian Kegunaan

  Dalam pertalian kegunaan, klausa bukan inti menyatakan kegunaan dan menjawab pertanyaan untuk apa (Ramlan, 1982: 60). Kegunaan dalam klausa tersebut ketika dimanfaatkan dalam WG bersifat tidak logis dan berlebihan. Di situlah letak ketidakterdugaannya. Perhatikan contoh berikut.

  (92) : Neng, punya USB nggak? O1

  O2 : Buat apa Bang?

  72 O1 : Buat transfer hatiku ke hatimu….

  (Rayuan Gombal Andre Vs Jessica, hlm. 22) (93) : Yang, aku mau ke apotek dulu yah beli formalin. O1

  O2 : Buat apa? O1 : Buat ngawetin cinta kita

  (Rayuan Gombal ala Denny Cagur, hlm. 13) Kabel USB memang berfungsi untuk mentransfer data dari komputer ke media penyimpanan yang lain; dan formalin memang berfungsi untuk mengawetkan. Namun, kedua kegunaan tersebut direka sedemikian rupa oleh O1 untuk menciptakan ketidaterdugaan bagi O2 karena yang ditransfer dan yang diawetkan bersifat tidak lazim.

5.2.8 Pertalian Antarproposisi

  proposisi yang nalar. Dalam hal ini ada keterkaitan yang bersifat logis antara pernyataan yang satu denga pernyataan yang lain. Dalam wacana humor sering terjadi hal yang sebaliknya. Pernyataan yang satu sering disimpulkan atau dianalogikan dengan pernyataan yang lain di luar kerangka berpikir yang dapat diterima oleh akal (Wijana, 2004: 255). Ada dua cara yang ditempuh oleh pencipta WG untuk mengacaukan hubungan antarproposisi ini, yaitu silogisme dan entailmen.

5.2.8.1 Silogisme

  Menurut Sumaryono (1999: 90), silogisme dapat didefinisikan sebagai sebuah argumentasi yang sebuah proposisinya disimpulkan dari dua proposisi

  73 lainnya yang sudah diketahui dan memuat gagasan-gagasan yang sudah diketahui pula. Sekurang-kurangnya salah satu dari kedua proposisi tersebut universal sehingga walaupun proposisi yang disimpulkan itu berbeda dari dua proposisi lainnya, proposisi tersebut harus tetap mengikuti alur gagasan yang terdapat di dalam dua prorosisi lainnya itu ada dua jenis silogisme yaitu silogisme kategoris dan hipotetis.

  Silogisme kategoris ialah silogisme yang terdiri dari proposisi-proposisi kategoris. Misalnya: Premis mayor : Semua mahasiswa bercita-cita tinggi. Premis minor : Beberapa di antaranya kuliah dengan rajin. Kesimpulan : Jadi, beberapa yang rajin kuliah bercita-cita tinggi. mayor merupakan sebuah proposisi hipotetis, sementara premis minor dan kesimpulannya berupa proposisi kategoris.

  Contoh: Premis mayor : Jika rusak, maka harus diperbaiki.

  Premis minor : mesin ketik saya rusak. Kesimpulan : Jadi, mesin ketik saya harus diperbaiki.

  Pencipta WG memanfaatkan silogisme untuk menciptakan ketidakterdugaan. Letak ketidakterdugaan dalam WG yang memakai silogisme berada di kesimpulannya seperti pada contoh berikut.

  (94) : Kamu tau gak apa penyebab orang kesurupan? O1 O2

  : Karena pikirannya kosong… O1 : Oh gitu. Berarti aku yakin kalo seumur hidupku aku gak akan pernah kesurupan.

  74 O2 : Kok bisa gitu? O1 : Karena selalu ada kamu dalam pikiran aku.

  (Rayuan Gombal Andre Vs Jessica, hlm. 13) Secara sederhana, dialog di atas dapat diuraikan menjadi tiga proposisi berikut.

  Premis mayor : Orang kesurupan karena pikirannya kosong. Premis minor : Aku tidak akan pernah kesurupan. Kesimpulan : Karena pikiranku selalu ada kamu Perhatikan pula contoh berikut.

  (95) : Kamu tau nggak kerjaan polisi itu memberi tilang pada O1 orang yang melanggar lalu lintas. Apabila aku polisi, aku pasti akan menilang kamu.

  O2 : Lho, kok gitu? O1 : Soalnya kamu telah parkir sembarangan di hati aku.

  (Rayuan Gombal ala Denny Cagur, hlm 98) Jika WG (95) diuraikan dalam bentuk logika silogisme, akan menjadi seperti berikut.

  Premis mayor : Polisi menilang pelanggar lalu lintas. Premis minor : Aku adalah polisi dan aku menilang kamu. Kesimpulan : Kamu melakukan pelanggaran: parkir sembarangan di hati aku.

  Permainan silogisme kedua WG di atas menimbulkan ketidakterdugaan bagi O2 karena O2 tidak menduga bahwa ia akan dilibatkan dalam kesimpulan di atas sebagai pengisi pikiran O1 dan orang yang melakukan pelanggaran.

5.2.8.2 Entailmen

  Entailmen merupakan pertalian makna. Entailmen adalah tuturan yang dihasilkan karena konsekuensi mutlak atas tuturan sebelumnya. Sehubungan

  75 dengan ini pernyataan pertama membawa konsekuensi mutlak bagi pernyataan yang kedua (Wijana, 2004: 261).

  Meminjam teori alur dalam ilmu sastra, dikenal istilah suspense,

  

foreshadowing , dan surprise. Alur sebuah cerita dikatakan menarik jika memiliki

suspense atau rasa ingin tahu. Dengan kata lain, pembaca dibuat penasaran dengan

  cerita selanjutnya. Salah satu cara untuk membangkitkan suspense sebuah cerita adalah dengan menampilkan apa yang disebut foreshadowing.

  Foreshadowing merupakan penampilan peristiwa(-peristiwa) tertentu yang

  bersifat mendahului —namun biasanya ditampilkan secara tidak langsung— terhadap peristiwa(-peristiwa) penting yang akan dikemukakan kemudian.

  

Foreshadowing , dengan demikian dapat dipandang sebagai semacam pertanda

Surprise merupakan akhir cerita yang bersifat mengejutkan. Alur sebuah

  cerita dikatakan memberikan kejutan jika sesuatu yang dikisahkan atau kejadian- kejadian yang ditampilkan menyimpang atau bahkan bertentangan dengan harapan pembaca (Nurgiyantoro, 134-136).

  Hubungan entailmen yang memanfaatkan suspense, foreshadowing, dan

  

surprise merupakan bagian yang tak dapat dipisahkan dalam penciptaan

ketidakterdugaan dalam WG. Hampir semua WG memanfaatkan hal tesebut.

  Contoh yang paling sering ditemui adalah gombalan ala bapak kamu yang sering dipakai oleh Andre OVJ seperti pada contoh berikut.

  (96) : Neng, bapak kamu ketua RT ya? O1

  O2 : Kok tau? O1 : Karena kamu telah menyetempel hatiku.

  (Si Raja Gombal, hlm. 17)

  76 (97)

  O1 : Yang, bagaimana kalo hari ini kita ke notaris?

  O2 : Mau ngapain? O1

  : Buat balik nama kepemilikan hatiku untukmu… (Rayuan Gombal ala Denny Cagur, hlm. 40)

  (98) O1

  : Neng, dulu pas hamil kamu, nyokapmu ngidam kopi ya? O2 : Kok tau, Bang? O1 : Soalnya tiap inget kamu aku jadi susah tidur.

  (Makhluk Tuhan Paling Gombal, hlm. 16) (99)

  O1 : Neng, bapak kamu pemain piano ya?

  O2 : Kok tau? O1 : Karena kamu telah memainkan simponi yang indah di hati abang.

  (Makhluk Tuhan Paling Gombal, hlm. 13) Inisiasi yang diberikan oleh O1 mengandung suspense dengan

  

foreshadowing ketua RT, notaris, kopi, dan pemain piano. Untuk menciptakan

  mutlak dengan ketua RT, notaris, kopi, dan pemain piano. Surprise yang dipilih adalah menyetempel karena ketua RT identik dengan kegiatan menstempel suatu surat keterangan, balik nama karena notaris identik dengan balik nama, susah tidur karena kopi membuat susah tidur, dan simponi karena pemain piano memainkan simponi yang indah. Tidak cukup sampai di situ, surprise

  menyetempel harus diikuti bagian dari O1 sehingga memiliki ―nilai rasa gombal‖.

  Bagian yang biasa digunakan adalah hatiku (hati O1).

5.3 Rangkuman

  Berdasarkan uraian di atas, fenomena-fenomena lingual dalam WG mencakup aspek kebahasaan yang paling kecil, yaitu fonem hingga yang paling

  77 besar, yaitu wacana. Fenomena-fenomena lingual dalam WG meliputi pemanfaatan aspek-aspek kebahasaan tersebut, yaitu (a) aspek fonologis yang meliputi (i) subtitusi fonem, (ii) permainan fonem, dan (ii) penambahan suku kata; (b) aspek ketaksaan yang meliputi (i) ketaksaan leksikal: polisemi dan homonimi, dan (ii) ketaksaan gramatikal: idiom dan peribahasa; (c) gaya bahasa yang meliputi (i) hiperbola, (ii) elipsis, (iii) metafora, dan (iv) personifikasi; (d) pantun; (e) nama; (f) pertalian kata dalam frasa, (g) pertalian antarklausa yang meliputi (i) hubungan perlawanan, (ii) hubungan sebab, (iii) hubungan pengandaian, (iv) hubungan syarat, (v) hubungan tujuan, dan (vi) hubungan kegunaan; serta (i) pertalian antarproposisi yang meliputi (i) silogisme dan (ii) entailmen. Fenomena- fenomena lingual tersebut dapat menjadi prinsip-prinsip penciptaan tuturan yang

BAB VI PENUTUP

6.1 Kesimpulan

  Masalah pada penelitian ini adalah (a) struktur WG, (b) kesesuaian tuturan dalam WG dengan prinsip kerja sama, (c) penyebab terjadinya fenomena , dan (d) fenomena lingual dalam WG. Semua permasalahan tersebut

  nggombal telah dibahas dalam Bab II, III, dan IV.

  Dari pembahasan tersebut dapat disimpulkan bahwa struktur WG terdiri dari dua unsur, yaitu pengantar dan ketidakterdugaan. Pengantar merupakan bagian WG yang berfungsi sebagai pembangun persepsi tentang sesuatu. Ketika keingintahuannya terpancing. Sementara itu, ketidakterdugaan merupakan bagian WG yang berfungsi membelokkan persepsi yang telah dibangun di bagian pengantar untuk menghasilan ―nilai rasa gombal‖ dan efek jenaka.

  Berdasarkan letak unsur pengantar dan ketidakterdugaannya, WG dibagi menjadi dua tipe, yaitu tipe WG dialog sederhana dan tipe WG dialog kompleks.

  WG yang bertipe wacana dialog sederhana memiliki fungsi I dan F. Unsur pengatar dan ketidakterdugaan dalam WG terletak pada fungsi I.

  WG yang bertipe wacana dialog kompleks sekurang-kurangnya memiliki fungsi I, R/I, R, dan kadang-kadang F. Unsur ketidakterdugaan terletak di fungsi R yang terakhir, sedangkan fungsi-fungsi sebelumnya merupakan unsur pengantar yang membangun sebuah persepsi.

  79 Tuturan dalam WG membelok dari prinsip kerja sama untuk menghasilkan

  ―nilai rasa gombal‖. WG memuat sumbangan informasi yang bersifat berlebihan, kurang logis, keluar dari konteks, dan ambigu. Penyebab terjadinya fenomena

  

nggombal dimulai dari media massa. Media massa melalui acara-acara televisi

  mempublikasikan WG sehingga populer di kalangan masyarakat. WG pun menjadi trend center dalam dunia humor dan trend setter dalam pergaulan sehari- hari.

  Dalam WG terdapat fenomena-fenomena lingual berupa pemanfaatan aspek-aspek kebahasaan yang tidak semestinya untuk menciptakan sebuah ketidakterdugaan. Ketidakterdugaan tersebut berfungsi mendukung permainan bahasa dalam WG sehingga menarik dan mungkin menciptakan humor. prinsip kerja sama dan memanfaatkan aspek-aspek kebahasaan dalam WG. Fenomena-fenomena lingual dalam WG meliputi pemanfaatan aspek-aspek kebahasaan, yaitu (a) aspek fonologis yang meliputi (i) permainan fonem, dan (ii) penambahan suku kata; (b) aspek ketaksaan yang meliputi (i) ketaksaan leksikal: polisemi dan homonimi, dan (ii) ketaksaan gramatikal: idiom dan peribahasa; (c) gaya bahasa yang meliputi (i) hiperbola, (ii) elipsis, (iii) metafora, dan (iv) personifikasi; (d) pantun; (e) nama; (f) pertalian kata dalam frasa, (g) pertalian antarklausa yang meliputi (i) hubungan perlawanan, (ii) hubungan sebab, (iii) hubungan pengandaian, (iv) hubungan syarat, (v) hubungan tujuan, dan (vi) hubungan kegunaan; serta (i) pertalian antarproposisi yang meliputi (i) silogisme dan (ii) entailmen.

  80

6.2 Saran

  Setelah semua permasalahan dijawab, ada beberapa saran yang bisa diajukan. Dari saran-saran ini dimungkinkan dilanjutkannya penelitian tentang WG secara lebih mendalam. Misalnya, dari segi struktural penelitian ini dapat dilanjutkan dengan meneliti kohesi dan koherensi dalam WG antara pengantar dengan ketidakterdugaannya. Dari segi pragmatis, tuturan-tuturan dalam WG dapat dikaji lebih lanjut untuk menemukan tindak lokusi, ilokusi, dan perlokusinya. Kajian kultural dalam WG juga dapat dilanjutkan dengan metode culture studies yang sedang berkembang dewasa ini.

  

DAFTAR PUSTAKA

Alwi, Hasan dkk. 2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (Edisi Ketiga).

  Jakarta: Balai Pustaka. Bachsim, Irvan. 2012. Rayuan Gombal Ala Denny Cagur. Yogyakarta: Akmal Publishing.

  Baryadi, I. Praptomo. 2002. Dasar-Dasar Analisis Wacana dalam Ilmu Bahasa.

  Yogyakarta: Pustaka Gondho Suli. Baudrillard, Jean. 1983. Simulation. Diterjemahkan oleh Paul Foss, Paul Patton dan Phillip Beitchman, Semiotex(e).

  Chaer, Abdul. 1990. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta. ―Gombal,‖ Stable URL: 21.00.

  Grice, H.P. 1975. ―Logic and Corversation‖, Dalam P. Cole dan J. Morgan (Peny). Syntax and Semantics, 3 Speech Act, New York: Academic Press, hlm. 41

  —58. Keraf, Gorys. 1985. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: Penerbit PT Gramedia. Kridalaksana, Harimurti. 1993. Kamus Linguistik. Edisi Ketiga. Jakarta: Penerbit PT Gramedia.

  Nababan, P.W.J. 1987. Ilmu Pragmatik:Teori dan Penerapannya. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Nadar, F.X. 2009. Pragmatik dan Penelitian Pragmatik. Yogyakarta: Graha Ilmu. Nurgiyantoro, Burhan. 2007. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. ―Pengertian Gombal,‖ Stable URL: Diunduh:

  12/05/2012, 10.00. Pradopo, Rakhmat Djoko. 2005. Pengkajian Puisi: Analisis Strata Norma dan

  Analisis Struktural dan Semiotik. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

  82 Putranto, Hendar. 2005. ―Analisis Budaya dari Pascamodernisme dan Pascamodernitas‖, Dalam Mudji Sutrisno dan Hendar Putranto (Peny.).

  Teori-Teori Kebudayaan . Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

  Rahardi, Kunjana. 2003. Berkenalan dengan Ilmu Bahasa Pragmatik. Malang: Dioma. _______________. 2005. Pragmatik: Kesantunan Imperatif Bahasa Indonesia.

  Jakarta: Penerbit Erlangga. _______________. 2011. Humor Ada Teorinya: Bahasa dan Gaya Melawak.

  Yogyakarta: Pinus Book Publisher. Ramlan, M. 1982. Ilmu Bahasa Indonesia: Sintaksis. Yogyakarta: CV Karyono. Ritzer, George dan Douglas J. Goodman. 2004. Teori Sosiologi Modern (Edisi

  Keenam). Diterjemahkan oleh Alimandan dari judul asli Modern Sociological Theory.

  Jakarta: Prenada Media. Sudaryanto. 1993. Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa: Pengantar

  Penelitian Wahana Kebudayaan secara Linguistis. Yogyakarta: Duta Wacana University Press.

  Suhadi, Agus. 1989.

  Humor itu Serius: Pengantar “Ilmu Humor”. Jakarta: Pustaka Grafikatama.

  Sumaryono, E. 2005. Dasar-Dasar Logika. Yogyakarta: Penerbit Kanisius. Tim Penyusun Kamus. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

  Wijana, I Dewa Putu. 1996. Dasar-Dasar Pragmatik. Yogyakarta: Penerbit Andi. _________________. 2004. Kartun: Studi tentang Permainan Bahasa.

  Yogyakarta: Ombak. _________________. 2009. Berkenalan dengan Linguistik. Yogyakarta: Pustaka Araska.

  Wijana, I Dewa Putu dan Muhammad Rohmadi. 2009. Analisis Wacana

Pragmatik: Kajian Teori dan Analisis .Surakarta: Yuma Pustaka.

Williams, Raymonds. 1983. Keywords: A Vocabulary of Culture and Society.

  New York: Oxford University Press.

  83 van Luxemburg, Jan dkk. 1984. Pengantar Ilmu Sastra. Diterjemahkan oleh Dick Hartoko. Jakarta: PT Gramedia. Yule, George. 2006. Pragmatik. Diterjemahkan oleh Indah Fajar Wahyuni dari judul asli Pragmatics. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

SUMBER DATA

  Ale-ale, Deny. 2012. Makhluk Tuhan Paling Gombal: Kata Gombal Rayuan Mau

  dan Lucu Ala Deny Cagur Comedy Project . Yogyakarta: Maher Publishing.

  Antakutsuka, Tauwa. 2012. Rayuan Gombal Andre vs Jessica. Yogyakarta: Syura Media Utama. Bachsim, Irvan. 2012. Rayuan Gombal Ala Denny Cagur. Yogyakarta: Akmal Publishing. Hang, Hape. 2011. Si Raja Gombal: Rayuan Gombal Ala Andre OVJ. Klaten: Galmas Publisher.

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Kalimat kondisional dalam bahasa arab dan bahasa Indonesia : analisis kontrstif terhadap al-jumlah as-syathiyyah dan kalimat kondisional
7
44
81
bahasa arab dalam bahasa Indonesia
0
4
6
Ekokritisisme dalam pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia : sebuah usulan.
0
13
16
Wacana gombal dalam bahasa Indonesia : kajian struktural, pragmatis, dan kultural.
0
15
104
Tradisi ngayau dalam masyarakat dayak : kajian sastra dan folklor - USD Repository
0
1
114
Mantra bahasa Dayak Desa : studi tentang gaya bahasa, tujuan, proses ritual, dan fungsi - USD Repository
0
0
238
Aplikasi mobile kamus bahasa Indonesia-Jawa - USD Repository
0
1
91
Putri pewarta perdamaian : kajian atas putri cina karya Sindhunata - USD Repository
0
0
14
Penguasaan kalimat Bahasa Indonesia sebagai bahasa pertama : kasus Kinan anak usia dua tahun - USD Repository
0
0
81
Gagasan Semaoen tentang Partai Komunis Indonesia dalam novel Hikayat Kadiroen karya Semaoen : kajian sosiologi sastra - USD Repository
0
0
101
Pemerolehan kalimat majemuk bahasa Indonesia sebagai bahasa pertama : kasus Arsya anak usia empat tahun - USD Repository
0
0
139
Wacana komparasi peradaban barat dan timur di Indonesia - USD Repository
0
0
22
Swamedikasi cacingan pada ibu-ibu PKK di Kecamatan Pakem Kabupaten Sleman : kajian pengetahuan dan sikap - USD Repository
0
0
84
Swamedikasi batuk-pilek pada ibu-ibu PKK di Kecamatan Mlati Kabupaten Sleman : kajian pengetahuan dan sikap - USD Repository
0
0
92
Swamedikasi cacingan pada ibu-ibu PKK di Kecamatan Tepus Kabupaten Gunungkidul : kajian pengetahuan dan sikap - USD Repository
0
1
82
Show more