PENGARUH FREKUENSI PEMBERIAN PUPUK SILIKAT TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL BEBERAPA POPULASI JAGUNG (Zea mays L) JURNAL

Gratis

0
1
18
3 months ago
Preview
Full text
(1)PENGARUH FREKUENSI PEMBERIAN PUPUK SILIKAT TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL BEBERAPA POPULASI JAGUNG (Zea mays L) JURNAL Oleh Garnisma Widia Puspita C1M014061 FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS MATARAM 2018

(2) i ARTIKEL UNTUK JURNAL PENGARUH FREKUENSI PEMBERIAN PUPUK SILIKAT TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL BEBERAPA POPULASI JAGUNG (Zea mays L) The Effect of Frequency of Application Silicate Fertilizer on Growth and Yield of Some Corn (Zea mays L) Population Garnisma Widia Puspita1), I Wayan Sudika2), Joko Priyono3) Alumni Program StudiAgroekoteknologi Fakultas Pertanian UNRAM 2) Staf Pengajar Fakultas Pertanian Unram 1)

(3) HALAMAN PENGESAHAN Skripsi yang diajukan oleh : Nama : Garnisma Widia Puspita NIM : C1M014061 Program studi : Agroekoteknologi Jurusan : BudidayaPertanian JudulSkripsi : Pengaruh Frekuensi Pemberian Pupuk Silikat Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Beberapa Populasi Tanaman Jagung (Zea mays L) Jurnal ini telah diperiksa dan disetujui oleh dosen pembimbing Skripsi untuk diterbitkan pada jurnal Crop Agro. Menyetujui, Pembimbing Utama Pembimbing Pendamping Dr. Ir. I Wayan Sudika, MS. NIP. 196012311986021005 Ir. Joko Priyono, M.Sc., Ph. D. NIP. 195810081986031003

(4) PENGARUH FREKUENSI PEMBERIAN PUPUK SILIKAT TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL BEBERAPA POPULASI JAGUNG (Zea mays L) The Effect of Frequency of Application Silicate Fertilizer on Growth and Yield of Some Corn (Zea mays L) Population Garnisma Widia Puspita1), I Wayan Sudika2), Joko Priyono3) 1) Alumni Program StudiAgroekoteknologi Fakultas Pertanian UNRAM 2) Staf Pengajar Fakultas Pertanian Unram Korespondensi: garnisgarnis526@gmail.com ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian frekuensi pupuk silikat cair (NutriSil) terhadap pertumbuhan dan hasil populasi tanaman jagung pada bulan September- Desember 2017. Percobaan lapangan menggunakan rancangan petak terbagi. Petak utama adalah frekuensi pemberian pupuk silikat (0,2, 3, 4 kali) dan sebagai anak petak yaitu BIMA 20, NK 212 dan P4IS yang diterapkan dalam 3 blok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa frekuensi pemberian pupuk silikat (NutriSil) tidak mempengaruhi pertumbuhan dan komponen hasil, yang menyebabkan aplikasi tidak efektif bisa karena hujan turun yang terjadi tepat setelah aplikasi. Satu-satunya yang berpengaruh dari populasi jagung adalah jumlah daun yaitu BIMA 20= NK 212> P4IS, tinggi tanaman yaitu BIMA 20P4IS= BIMA 20, tanaman jagung yang paling cepat mengeluarkan bunga jantan dan bunga betina adalah populasi P4IS. Kesimpulan, frekuensi pemberian pupuk silikat (NutriSil) tidak mempengaruhi pertumbuhan dan hasil jika diterapkan pada musim hujan dan perlu dilakukan penelitian pada tanah yang miskin hara/- kondisi cuaca yang baik. Kata kunci : populasi tanaman jagung, pertumbuhan dan hasil, frekuensi pemberian pupuk silikat ABSTRACT The research aimed to find the effect of the frekuency of Si liquid fertilizer (NutriSil) application on the growth and yield of corn population was done in September- Desember 2017. The field exsperiment employed a split plot design. The main plot was applicatiom frequency of Si fertilizer (0,2,3,4 times) and the sub plot was corn population ,i.e; BIMA 20, NK 212 and P4IS, applied in 3 blocks. Result show that the frequency of application of fertilizer (NutriSil) did not affect the growth and yield components, of caused it seems that the ineffective fertilizer application. Could be due to the rain fall accuring just after the application .The only significant effects of corn population were on the number leaf of BIMA 20= NK 212> P4IS the height of BIMA 20P4IS= BIMA 20. Corn plants that are the fastest to release male flower and famale flower of P4IS population. Conclusion, the frequency of application of silicate fertilizer (NutriSil) did not affect the growth and yield, if it is applied in the rainy season and research needs to be carried out on nutrient poor soil/- good weather conditions. Keywords: the corn plants population, growth and yield, the frekuency of silicate fertilizer PENDAHULUAN Jagung (Zea mays L) merupakan salah satu sumber karbohidrat kedua setelah beras. Saat ini jagung menjadi komoditas nasional yang cukup strategis dan banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku pakan ternak. Kebutuhan jagung sebagai bahan baku pakan ternak dipenuhi dari produksi nasional dan impor jagung. Kebutuhan jagung nasional belum sepenuhnya dipenuhi dari

(5) produksi nasional, karena pola panen jagung mencapai puncaknya hanya pada bulan Februari, Maret dan April (Chapid, 2016) Petani di Indonesia sebagian besar menanam varietas unggul baik varietas hibrida maupun bersari bebas (Purwono dan Hartono, 2007). Pada tahun 2002 petani menanam 28 % hibrida, 47 % komposit unggul dan 25 % komposit lokal (Damardjati et al., 2005). Beberapa varietas jagung hibrida yang banyak dikenal antara lain ; BISI II, Semar 10, C7, Bima 1, Jaya 1 dan NK 33; sedangkan beberapa varietas jagung bersari bebas antara lain Arjuna, Bisma, Gumarang, Lamuru dan Legaligo (Erawati dan Hipi, 2010). Produktivitas jagung nasional pada tahun 2016 sebesar 52,82 ku/ha atau meningkat 1,07 ku/ha, dibandingkan tahun 2015. Kendati begitu kebutuhan jagung nasional belum sepenuhnya dipenuhi dari produksi nasional, sehingga pemerintah harus impor dari negara tetangga, untuk memenuhi permintaan jagung khususnya sebagai bahan baku pakan ternak. Usaha peningkatan produksi jagung dapat dilakukan melalui program intensifikasi dengan pemupukanyang efektif dan efisien. Pemupukan merupakan salah satu cara yang dilakukan oleh petani untuk memberikan unsur hara berimbang baik makro (NPK) maupun mikro yang dibutuhkan tanaman, dengan dosis dan cara pemberian yang tepat. Praktiknya di lapang para petani cenderung menggunakan pupuk, dengan komposisi unsur hara makro lebih banyak dibanding unsur hara mikro. Hal tersebut menyebabkan terjadinya degradasi tanah, air dan udara, tanaman yang dihasilkan juga kurang sehat dan jika terus dikonsumsi dalam jangka panjang, dapat menimbulkan gangguan kesehatan bagi konsumen. Pengaruh negatif lainnya dari pemberian pupuk N yang terlalu tinggi adalah jaringan tanaman menjadi lemah, lebih peka terhadap serangan hama dan penyakit yang berdampak pada penurunan produktivitas, pendapatan, dan ketidak pastian produksi (Makarim, 2007). Untuk mengatasi masalah tersebut penggunaan pupuk alami menjadi alternatif yang tepat. Salah satu jenis pupuk alami tersebut adalah pupuk silikat (NutriSil). Pupuk silikat cair (NutriSil) merupakan pupuk alami yang dibuat dari batuan vulkanik yang mengandung semua unsur hara esensial (mikro dan makro) kecuali N serta unsur fungsional silikat (Si) 0,5-0,8%, pupuk tersebut terbukti efektif untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas produksi, mengurangi penggunaan pupuk makro (N, P, K) 30-50 % dari rekomendasi setempat. Selain itu tanaman lebih tahan terhadap serangan HPT, kondisi tanah yang jelek, cekaman kekeringan serta ramah lingkungan dan berkelanjutan (Priyono, 2005).

(6) Berkaitan dengan upaya peningkatan produktivitas jagung nasional, maka perlu dikaji tentang pengaruh pupuk silikat terhadap beberapa varietas tanaman jagung yang kemungkinan ketiga varietas tersebut memiliki respon yang berbeda. Penelitian ini,bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian frekuensi pupuk silikat cair terhadap pertumbuhan dan hasil beberapa varietas tanaman jagung (BIMA 20, NK 212 dan P4IS) pada berbagai frekuensi pemberian pupuk silikat cair (NutiriSil) yang paling tepat. METODE PENELITIAN Rancangan Percobaan Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan petak terbagi. Sebagai petak utama adalah frekuensi pemberian pupuk silikat (NutriSil) yang teridiri dari 4 aras, yaitu 0, 2, 3,4 kali pemberian pupuk silikat (NutriSil) sebagai anak petak adalah varietas tanaman jagung yang terdiri dari 3 taraf, yaitu; varietas BIMA 20, NK 212, P4IS. Kombinasi dari kedua faktor menghasilkan 12 kombinasi perlakuan yang diulang sebanyak 3 kali (blok) menghasilkan 36 satuan percobaan. Percobaan ini telah dilaksanakan di lahan percobaan milik Fakultas Pertanian Universitas Mataram di Desa Nyurlembang Narmada Kabupaten Lombok Barat pada bulan September-Desember 2017. Alat dan Bahan Penelitian Pelaksanaan Percobaan Persiapan lahan, Persiapan Benih, Penanaman Benih, Penjarangan, Penyiangan, Pemupukan, Pengairan, Pembunbunan, Pengendalian Hama dan Penyakit, Pemanenan. Parameter yang Dikaji Jumlah Daun (helai), Tinggi Tanaman (cm), Umur Keluar Bunga Jantan (Hari), Umur Keluar Malai Betina (Hari), Diameter Batang (cm), Panjang Tongkol (cm), Diameter Tongkol (cm), Bobot Tongkol Kering Panen per tanaman (g), Bobot Biji Kering Per tongkol (g/tanaman), Bobot 1000 Butir Biji (g/tanaman), Rendemen(%). Analisis Data Data hasil pengamatan dianalisis menggunakan analisis sidik ragam pada taraf nyata 5% dan apabila terdapat beda nyata, maka dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf 5%. HASIL DAN PEMBAHASAN

(7) 4.1 Hasil Analisis Keragaman Tabel 1, menunjukkan bahwa faktor varietas berpengaruh nyata terhadap parameter tinggi tanaman maksimum, jumlah daun maksimum, umur keluar bunga jantan, umur keluar bunga betina dan rendemen; sedangkan parameter lain tidak terpengaruh oleh varietas jagung. Faktor frekuensi berpengaruh nyata terhadap umur keluar bunga jantan, umur keluar bunga betina dan rendemen. Tetapi tidak berpengaruh terhadap jumlah daun maksimum, tinggi tanaman maksimum, diameter batang maksimum, panjang tongkol, diameter tongkol, bobot tongkol kering panen per tanaman, bobot biji kering per tongkol dan bobot 1000 butir biji. Kombinasi antar kedua faktor perlakuan menimbulkan interaksi terhadap parameter umur keluar bunga jantan dan umur keluar bunga betina dan tidak ada interaksi pada parameter lainnya. Tabel 1. Hasil Analisis Keragaman Seluruh Parameter yang Dikaji. No Parameter yang dikaji*) Varietas (V) Frekuensi (S) V×S 1 Jumlah Daun Maksimum (Helai) s ns ns 2 Tinggi Tanaman Maksimum (cm) s ns ns 3 Diameter Batang Maksimum (cm) ns ns ns 4 Umur Keluar Bunga Jantan (Hari) s s s 5 Umur Keluar Bunga Betina (Hari) s s s 6 Panjang Tongkol ( cm) ns ns ns 7 Diameter Tongkol (cm) ns ns ns 8 Bobot Tongkol Kering Panen Per Tanaman (g) ns ns ns 9 Bobot Biji Kering Per Tongkol (g) ns ns ns 10 Bobot 1000 Biji Kering (g) ns ns ns 11 Rendemen (%) s s ns Keterangan : s = signifikan (berbeda nyata) pada taraf nyata 5%, ns = non signifikan pada taraf nyata 5%. Berdasarkan Tabel 1, pemberian pupuk silikat (NutriSil) tidak berpengaruh nyata terhadap komponen pertumbuhan vegetatif dan komponen hasil tanaman jagung. Hal ini diduga akibat pemberian pupuk silikat (NutriSil) dilakukan saat keadaan cuaca yang kurang baik, dimana setelah beberapa menit setelah proses pemupukan dilakukan, terjadi hujan yang menyebabkan pupuk silikat (NutriSil) tercuci oleh air hujan. Hal ini didukung oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika- NTB (2017) dimana jumlah curah hujan di kawasan Narmada, Lombok Barat pada bulan September (44 mm), Oktober (163 mm), November (549 mm), kemudian pada bulan Desember sebanyak 308 mm. 4.2 Pertumbuhan dan Perkembangan

(8) Pertumbuhan tanaman diawali dengan fase vegetatif, kemudian dilanjutkan dengan fase generatif yang diikuti oleh pembentukan bunga kemudian pengisian buah, polong serta pembentukan biji dan diakhiri dengan fase pemasakan (Sitompul dan Guritno, 1995). Dalam penelitian ini pertumbuhan ditunjukkan oleh jumlah daun, tinggi tanaman dan diameter batang. Hal ini sesuai dengan pendapat Leiwakaseby (1998) yang menyatakan bahwa pertumbuhan ditentukan dengan peningkatan berat kering, tinggi tanaman dan diameter batang. Lebih lanjut lagi Harjadi (1983) menyatakan bahwa pada masa pertumbuhan vegetatif tanaman, terdapat tiga proses penting yang berlangsung yaitu pembelahan sel, perpanjangan sel, dan tahap awal dari diferensiasi sel. Jumlah Daun Tabel 2. Rerata dan Hasil Uji Lanjut (BNJ 5%) Jumlah Daun Varietas BIMA 20 NK 212 P4IS BNJ 5% Frekuensi Silikat 0 kali 2 kali 3 kali 4 kali Jumlah daun maksimum 15 b 14 b 11 a 2,17 13,78 13,47 13,80 12,91 Tabel 2 , menunjukkan bahwa varietas BIMA 20 memiliki jumlah daun terbanyak (15 helai) dibandingkan dengan varietas NK 212 (14 helai) dan populasi P4IS (11 helai). Hal ini berkaitan dengan sifat genetik dari masing-masing varietas dan proses pembagian hasil fotosintesis yang kemungkinan lebih banyak di salurkan untuk pembentukan daun. Secara umum, daun dipandang sebagai organ produsen fotosintat utama karena fungsinya sebagai penerima sinar matahari dan alat fotosintesis (Sitompul dan Guritno, 1995). Tumbuhan dengan laju fotosintesis yang tinggi juga menunjukkan laju translokasi fotosintat yang tinggi (Lakitan,1996). Fotosintat yang dihasilkan kemudian akan digunakan untuk pembentukan organ vegetatif ( batang, daun dan akar) serta organ generatif (pembentukan biji). Tinggi Tanaman Tabel 3. Rerata dan Hasil Uji Lanjut (BNJ 5%) Tinggi Tanaman Maksimum Varietas BIMA 20 NK 212 P4IS Tinggi tanaman maksimum 134,48 a 141,28 ab 147,41 ab

(9) BNJ 5% 23,68 Frekuensi Silikat 0 kali 148,80 2 kali 130,27 3 kali 138,00 4 kali 147,17 Keterangan*): Angka-angka pada kolom sama yang diikuti oleh huruf sama tidak berbeda nyata menurut uji BNJ 5%. Hasil analisis keragaman tinggi tanaman menunjukkan bahwa pemberian pupuk silikat (NutriSil) tidak berpengaruh terhadap tinggi tanaman, sedangkan varietas berpengaruh pada tinggi tanaman. Tabel 3, menunjukkan bahwa ketiga varietas/populasi jagung memiliki respon yang berbeda-beda. Parameter pertumbuhan yang paling mudah diamati yaitu tinggi tanaman, yang berhubungan erat dengan hasil tanaman. Hasil penelitian (Tabel 3) menunjukkan bahwa, populasi P4IS memiliki tinggi tanaman lebih tinggi (147,41 cm) dibanding varietas BIMA 20 ( 134,48 cm) dan NK 212 (141,28 cm) namun memiliki jumlah daun paling sedikit (11,68 helai) serta diameter batang terkecil (0,92 cm). Hal tersebut diduga karena pada populasi P4IS hasil fotosintesis banyak disalurkan untuk perpanjangan batang tanaman khusunya perpanjangan batang tanaman. Selain itu Lingga dan Marsono (2001), menyatakan bahwa tinggi tanaman dipengaruhi oleh sifat genetik dan kondisi lingkungan tumbuh tanaman. Umur Keluar Bunga Betina Umur Keluar Bunga Betina 70 68 66 64 62 60 58 56 NK 212 BIMA 20 P4IS 0 1 2 3 4 5 Frekuensi Pemberian Pupuk Silikat Gambar 1. Grafik hubungan antara frekuensi pemberian pupuk silikat dengan umur keluar bunga betina populasi tanaman jagung Hasil penelitian (Gambar 1) menunjukkan bahwa pemberian 2 kali, 3 kali, 4 kali dan tanpa pemberian pupuk silikat tidak menyebabkan perbedaan keluarnya bunga betina pada populasi P4IS (58-60 hari) dan varietas BIMA 20 (64-65 hari); sedangkan pada varietas NK 212

(10) pemberian pupuk silikat sebanyak 3 dan 4 kali meyebabkan lebih cepatnya keluar bunga betina (63-64 hari), dibandingkan dengan pemberian pupuk silikat sebanyak 1 dan 2 kali (68 hari). Perbedaan waktu berbunga pada masing-masing varietas/populasi tanaman jagung merupakan akibat dari perbedaan genetik. Salah satu sifat genetik yang dimaksud adalah kemampuan dari varietas/populasi tanaman untuk mempercepat pola pertumbuhan vegetatif dan generatif, sehingga waktu panen juga semakin cepat. Berdasarkan deskripsi masing-masing varietas/populasi diketahui bahwa populasi P4IS memiliki umur panen 78 hari (Sudika et al, 2014), BIMA 20 + 102 hari dan NK 212 105-110 hari (Sygenta, 2015). Selain itu, lahan di kawasan Narmada tergolong lahan subur dimana kandungan unsur hara di lahan tersebut sudah tercukupi. Hal ini didasarkan atas hasil penelitian (Afriani, 2018) oleh karenaya saat diberikan pupuk silikat, tanaman sudah tidak bisa menyerap unsur hara tersebut karena sudah berlebih. Menurut Takahashi (1995), pemberian silikat dapat memperbaiki fungsi fisiologi tanaman. Umur Keluar Bunga Jantan Umur Keluar Bunga Jantan 70 65 NK 212 60 BIMA 20 55 P4IS 50 0 1 2 3 Frekuensi Pemberian Pupuk Silikat 4 5 Gambar 2. Grafik hubungan antara frekuensi pemberian pupuk silikat dengan umur keluar bunga jantan populasi tanaman jagung Gambar 2, menunjukkan bahwa pemberian pupuk silikat (NutriSil) pada berbagai frekuensi tidak berpengaruh nyata terhadap keluarnya bunga jantan varietas NK 212 (62-64 hari) dan populasi P4IS (52-54 hari). Pada varietas BIMA 20, pemberian pupuk silikat (NutriSil) sebanyak 3 kali dan tanpa pemberian menyebabkan lebih cepatnya keluar bunga jantan yakni pada saat tanaman berumur 58 hari; sedangkan pemberian pupuk silikat (NutriSil) sebanyak 2 dan 4 kali menyebabkan lambatnya tanaman mengeluarkan bunga jantan yakni saat tanaman berumur 62-63 hari. Kombinasi perlakuan antara populasi P4IS dengan semua frekuensi pemberian pupuk silikat (NutriSil) memiliki umur keluar bunga jantan tergenjah (52-54 hari), sedangkan umur

(11) keluar bunga jantan terdalam diperoleh pada varietas NK 212 tanpa pemberian pupuk silikat (NutriSil) yakni saat tanaman berumur 64 hari. Terjadinya perbedaan ini disebabkan oleh karakterisitik/genetik dari masing-masing varietas. Selain itu, tanah yang digunakan untuk penelitian merupakan salah satu tanah yang subur (Afriani, 2018), dimana tanah tersebut kaya akan unsur hara yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Oleh karena itu tanaman tidak mampu menyerap unsur yang diberikan karena sudah berlebih. Secara umum, pemberian silikat dapat memperbaiki fungsi fisiologi tanaman (Takahashi, 1995). 4.3 Hasil dan Komponen Hasil 100% Hasil t/ha 80% 60% 40% 20% 0% BIMA 20 NK 212 P4IS Macam Varietas Jagung Gambar 3. Grafik Hubungan antara Hasil dengan Varietas Tanaman Jagung Berdasarkan Gambar 3, faktor varietas tidak berpengaruh terhadap hasil. Hasil ketiga varietas/populasi berkisar dari 2,187- 2,591 t/ha. Pada penelitian ini hasil ketiga varietas/populasi sama. Hal ini kemungkinan diakibatkan oleh, tidak keluarnya potensi pada masing-masing varietas/populasi pada kondisi lingkungan tersebut. Hal ini sesuai dengan pendapat Sadjad (1993) di mana pertumbuhan tanaman ditentukan oleh faktor genetiknya. Selain itu juga, berdasarkan deskripsi masing-masing varietas, diketahui bahwa varietas NK 212 rata-rata dapat menghasilkan lebih dari 13 t/ha (Syngenta, 2015), BIMA 20 rata-rata 11 t/ha dan populasi P4IS rata-rata sekitar 5,5 t/ha (Sudika, et al. 2014). Semakin baiknya proses fisiologis (fotosintesis) tanaman, menyebabkan meningkatnya bahan kering yang dihasilkan tanaman dan secara langsung berhubungan dengan bahan kering yang dapat ditranslokasikan ke biji (Aribawa et al, 2006).

(12) 3.00 Hasil t/ha 2.50 2.00 1.50 1.00 0.50 0.00 0 kali 2 kali 3 kali 4 kali Frekuensi Pemupukan Silikat Gambar 4. Grafik Hubungan antara Hasil dengan Frekuensi Pemberian Pupuk Silikat Frekuensi pemberian pupuk silikat (NutriSil) tidak berpengaruh terhadap hasil. Hasil pada keempat frekuensi pemberian pupuk silikat berkisar dari 2,62-2,67 t/ha. Hal ini diduga akibat keadaan lingkungan atau cuaca yang kurang baik, yang membuat tercucinya unsur hara yang diberikan pada tanaman. Menurut Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (2017) curah hujan di Narmada pada bulan Oktober sebanyak 163 mm, bulan November sebanyak 549 mm kemudian pada bulan Desember sebanyak 308 mm. Panjang Tongkol, Diameter Tongkol Tabel 4. Rerata dan Hasil Uji Lanjut (BNJ5%) Panjang Tongkol dan Diameter Tongkol Varietas BIMA 20 NK 212 P4IS BNJ 5% Panjang Tongkol 12,49 12,47 10,9 9 Diameter Tongkol 3,59 3,53 3,46 Panjang tongkol dan diameter tongkol jagung secara umum berhubungan erat dengan hasil biji kering jagung. Panjang tongkol jagung berkisar dari 10,99-12,49 cm, diameter tongkol jagung berkisar dari 3,46-3,59 cm; Menurut Handayani (1991) setiap varietas tanaman memiliki perbedaan respon genetik pada berbagai lingkungan tempat tumbuhnya. Diduga hal inilah yang menyebabkan terjadinya perbedaan pada masing-masing varietas, disamping itu dua dari tiga varietas merupakan jenis hibrida, yang mana varietas hibrida tersebut membutuhkan kondisi lingkungan yang mendukung serta unsur hara yang cukup agar dapat berproduksi maksimal. Saat melakukan penelitian kondisi cuaca tidak begitu mendukung. Tingginya curah hujan

(13) menyebabkan banyak tercucinya unsur hara di dalam tanah, sehingga potensi varietas tidak muncul pada lingkungan tersebut. Bobot Tongkol Kering Panen Per Tanaman, Bobot Bij Kering Per Tongkol dan Bobot 1000 Butir Biji Tabel 5. Rerata dan Hasil Uji Lanjut (BNJ 5%) Bobot Tongkol Per Tanaman, Bobot Kering Per Tongkol dan Bobot 1000 Butir Biji Varietas BIMA 20 NK 212 P4IS BNJ 5% Bobot Tongkol Kering Panen Per Tanaman 83,32 73,67 80,55 Bobot Biji Kering Per Tongkol 35,48 39,40 36,07 Bobot 1000 Butir Biji 204,08 228,00 167,66 Berdasarkan Tabel 8, bobot tongkol kering panen per tanaman, bobot biji kering per tongkol dan bobot 1000 butir biji tidak berbeda nyata. Berat tongkol jagung berkisar dari 73,6783,32 g, bobot biji kering per tongkol berkisar dari 35,48-39,40 g. dan bobot 1000 butir biji berkisar dari 167,66-228,00 g. Perbedaan bobot pada masing-ma msing varietas/populasi, disebabkan oleh faktor genotip (genetik). Diduga hal inilah yang menyebabkan terjadinya perbedaan pada masing-masing varietas, disamping itu dua dari tiga varietas merupakan jenis hibrida, yang mana varietas hibrida tersebut membutuhkan kondisi lingkungan yang mendukung serta unsur hara yang cukup agar dapat berproduksi maksimal. Saat melakukan penelitian kondisi cuaca tidak begitu mendukung. Tingginya curah hujan menyebabkan banyak tercucinya unsur hara di dalam tanah, sehingga potensi varietas tidak muncul pada lingkungan tersebut. Rendemen Tabel 6. Rerata dan Hasil Uji Lanjut (BNJ 5%) Rendemen Varietas Rendemen BIMA 20 42, 08 a NK 212 53,82 ab P4IS 45,29 a BNJ 5% 17,03 Frekuensi silikat 0 kali 44,17 a 2 kali 49,26 ab 3 kali 48,08 ab 4 kali 46,76 a BNJ 5% 8,28 Keterangan*): Angka-angka pada kolom sama yang diikuti oleh huruf sama tidak berbeda nyata menurut uji BNJ 5%.

(14) Rendemen merupakan persentase penyusutan yang diperoleh dari perbandingan bobot biji kering per tongkol dengan bobot tongkol kering panen per tanaman, kemudian dikali 100%. Persentase rendemen yang tinggi menunjukkan hasil biji jagung yang tinggi begitupun sebaliknya. Berdasarkan Tabel 6, persentase rendemen tertinggi diperoleh pada varietas NK 212 (53, 82%), kemudian populasi P4IS (45,29%), dan terendah yaitu varietas BIMA 20 (42,08%); sedangkan untuk faktor pemberian pupuk silikat (NutriSil) rendemen dengan persentase tertinggi didapatkan pada perlakuan 2 kali pemberian (49,26%), lalu 3 kali pemberian (48,08%), kemudian 4 kali pemberian dan tanpa pemberian (44,17%) pupuk silikat (NutriSil). Perbedaan persentase rendemen diduga terjadi akibat perbedaan laju penguapan yang terjadi pada tongkol dan biji jagung pada masing-masing varietas. Selain itu, Toharisman et al. (2005) melaporkan aplikasi 250 kg ha-1 pupuk Si memberikan pengaruh peningkatan rendemen yang nyata. 4.4 Hasil Analisis Korelasi Tabel 7. Nilai Korelasi Fenotifik Antar Sifat yang Dikaji denga Hasil (Bobot Biji Kering Per Tongkol) No Parameter Diamati Nilai Koefisien Korelasi dengan Hasil 1 Jumlah Daun Maksimum 0,14 ns 2 Tinggi Tanaman Maksimum 0,43* 3 Diameter Batang Maksimum 0,04 ns 4 Umur Keluar Bunga Betina 0,09 ns 5 Umur Keluar Bunga Jantan 0,04 ns 6 Panjang Tongkol 0,51* 7 Diameter Tongkol 0,80* 8 Bobot Tongkol Kering Panen Per Tanaman 0,91* Keterangan*): *= Berkolerasi nyata pada α 5% dan ns= berkorelasi tidak nyata Korelasi merupakan angka yang menunjukkan arah dan kuatnya hubungan antar dua variabel (atau lebih). Tabel 7, menunjukkan bahwa korelasi tidak nyata terdapat pada parameter jumlah daun, umur keluar bunga betina dan umur keluar bunga jantan. Parameter tinggi tanaman, panjang tongkol, diameter tongkol dan bobot tongkol kering panen per tanaman berkorelasi nyata dengan hasil. Hal ini berarti jika semakin tinggi tanaman, semakin panjang tongkol, semakin besar diameter tongkol dan semakin tinggi bobot tongkol kering panen per tanaman, maka hasil meningkat. Temuan serupa dilaporkan oleh penelitian Kang et al. (1983), bahwa korelasi positif antara hasil jagung dengan tinggi tanaman (r= 0,67) dan berat tongkol. Tinggi tanaman berkorelasi positif dengan hasil biji Salami et al. (2007). Hasil berkorelasi erat dengan panjang tongkol (r= 0,72) Susanto et al. (2001). Perbedaan nilai tinggi tanaman antar varietas tidak

(15) menyebabkan perbedaan daya hasil. Pada perlakuan varietas, diameter tongkol dan bobot tongkol kering panen per tanaman tidak berbeda antar varietas sehingga daya hasilnya tidak berbeda. Korelasi antar sifat pada tanaman disebabkan oleh faktor genetik dan faktor lingkungan. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : a. Frekuensi pemberian pupuk silikat (NutriSil) tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan vegetatif dan komponen hasil. Hal tersebut disebabkan oleh musim yang tidak sesuai (curah hujan tinggi) sehingga pemberian pupuk silikat (NutriSil) menjadi tidak efektif. b. Berdasarkan jumlah daun, varietas BIMA 20 memiliki jumlah daun terbanyak yakni (15 helai); populasi P4IS memiliki tinggi tanaman tertinggi (147,41 cm); kemudian tanaman jagung yang paling cepat mengeluarkan bunga jantan dan bunga betina adalah populasi P4IS masing-masing (52 dan 58 hari); persentase rendemen tertinggi diperoleh pada varietas NK 212 yakni (53, 82 %) ; sedangkan untuk parameter diameter batang, panjang tongkol, diameter tongkol, bobot tongkol kering panen per tanaman, bobot biji kering per tongkol dan 1000 butir menunjukkan hasil yang sama antar ketiga varietas/populasi. Saran Berdasarkan hasil penelitian tersebut maka disarankan: 1. Dalam pengaplikasian pupuk silikat (NutriSil) perlu diperhatikan kondisi iklim (curah hujan) agar pupuk yang disemprotkan tidak tercuci air hujan. 2. Populasi P4IS memiliki hasil serta pertumbuhan yang setara dengan varietas hibrida (BIMA 20, NK 212), sehingga populasi P4IS cocok ditanam oleh petani tanpa harus membeli benih ulang pada musim tanam selanjutnya. 3. Tanaman jagung ditanam di lahan kering pada saat musim kemarau untuk menghindari kondisi cuaca yang tidak dapat diprediksi. DAFTAR PUSTAKA Achmat, S. 2008. Evaluasi Efektifitas Bubuk Batuan Silikat sebagai Bahan Pengapuran Tanah Masam. Skripsi Fakultas Pertanian. Universitas Mataram. Mataram Afandi dan Yuwono. 2002. Ilmu Kesuburan Tanah. Kanisius. Yogyakarta Afriani, D. 2018. Pengaruh Frekuensi Pemberian Pupuk Silikat Terhadap Produksi Tanaman Sa wi dan Selada. (Skripsi). Fakultas Pertanian Universitas Mataram. Mataram

(16) Anonim. 2010. Pertumbuhan dan Perkembangan. (Online). Https://zaifbioword press.com/2010/ 02/12/pertumbuhan-dan perkembangan.[06 Juni 2018] Ashman, M. R. dan Puri, G., 2005. Essenctial Soil Science: a Clear and Concise Introduction to Soil Science. Blackwell Publishing. UK Aribawa, I. B., I.K. Kariada, & M. Nazam. 2006. Uji Adaptasi Beberapa Varietas Jagung di Lah an Sawah. Peneliti Balai Penelitian Teknologi Pertanian Bali dan NTB. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika. 2017. Data Curah Hujan di Stasiun Narmada. Kediri. Lombok Barat [ 5 Juli 2018] Chapid, M . 2016. Outlook Komoditas Pertanian Tanaman Pangan Jagung . Perpustakaan. bappenas.go.id/lontar/file?file=digital/166967[_konten_].p df [06 September 2017] Epstein, E. 1994. The Anomaly of Silikon In Plant Biology. Proceeding of The National Academy of Sciences USA. Hipi, A., B. T. R. Erawati, dan A.M. Takdir. 2006. Potensi Hasil Galur Harapan Jagung Hibrida pada Agroekosistem Lahan Kering di Lombok Timur. Ghulmahdi. 2002. Budidaya jagung manis. Http://shukendar.blogspot.com/2011/12/budidayajagung-manis.html Hadisuwito, S. 2008. Membuat Pupuk Kompos Cair. AgroMedia Pustaka. Jakarta Hanafiah, K. A. 2005. Dasar Dasar Ilmu Tanah. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta Handayani, S. 1991. Membuat Bawang Goreng Kualitas Ekspor. Trubus. Jakarta Hardjowigeno,S. 2006. Ilmu Tanah. Akademi Pessindo. Jakarta Harjadi, S.S. 2009. Zat Pengatur Tumbuh. Penebar Swadya. Jakarta Husby,C. 1998. The Role of Silicon in Plant Susceptibility To Desease. Paper for “Plant Disease Management” Corse Jianjun, Chen., Russell, D., Caldwell., Cynthia, A., Robinson., and Steinkamp, R., 2000. Silicon: Estraged Medium Element. Food of Agricultural Sciences. Universit of Florida. Institute. BUL 341 Kang, M.S., Zuber, M.S., dan Krause, G.F. 1983. Path Coefficient Analysis of Grain Yield and Harvest G rain Moisture in Maize. Tropics Agriculture (Trinidad) Lakitan, Benyamin. 1996. Dasar-Dasar Fisiologi Tumbuhan. Jakarta: PT. Radja Grafindo Persada. Leiwakabessy, F,M. 1998. Diktat Kuliah Kesuburan Tanah. Departemen Tanah. Fakultas PertanianIPB. Bogor Lingga dan Marsono. 2001. Petunjuk Penggunaan Pupuk. Penebar Swadya. Jakarta Makarim., A,K., Suhartatik, E.,Kartohardjono, A. 2007. Silikon : Hara Penting Pada Sistem Produksi Padi. Iptek Tanaman Pangan Vol.2 N0. 2 Ma’shum, M., 2005. Kesuburan Tanah dan Pemupukan. Mataram University Press, Mataram Ma’shum, M. dan Sukartono. 2012. Pengelolaan Tanah. Arga Puji Press. Mataram

(17) Marschner H. 1995. Mineral Nutrition of Higher Plant. Second Edition.Academic Press. Harcourt Brace & Company, Publisher. London. Morgan D. 2000. What Is Plant Nutrition. The Orchid House. Http:retirees.uwaterloo.ca/~jerry/ orchids/nutri.html Mulyani, M.S. 2002. Pupuk dan Cara Pemupukan. Rineka Cipta. Jakarta. Mulyati dan Lolita, E. S. 2006. Pupuk dan Pemupukan. Mataram University Press. Mataram Priyono, J. 2005. Kesuburan Tanah dan Pemupukan. Mataram University Press. Mataram Priyono, J., Sutrisno., dan Zaenal, A., 2006. Penggunaan SROF (Silicate Rock Organic Fertilizer) sebagai Sumber Hara Tanaman dalam Rangka Pengambangan Pertanian Ramah Lingkungan dan Berkelanjutan. Fakultas Pertanian Universitas Mataram. Mataram Priyono, J,. 2004. Penggunaan Pupuk Batuan Silikat sebagai Pupuk Ramah Fakultas Pertanian Universitas Mataram. Mataram Lingkungan. Priyono, J., Salim, P.,dan Zaenal, A., 2007. Uji Respon Tanaman Pangan terhadap Aplikasi Pu puk Batuan Silikat yang Dikombinasikan dengan Pupuk Organik dan Hayati pada Berbagai Jenis Tanah. Fakultas Pertanian Universitas Mataram. Mataram Purwono dan Hartono, R., 2011. Bertanam Jagung Unggul. Penebar Swadaya. Jakarta Purwono dan Hartono, R., 2007. Bertanam Jagung Unggul. Penebar Swadaya. Jakarta Rochani, S. 2007. Bercocok Tanam Jagung. Azka Press. Bogor Rosmarkam dan N. W. Yuwono. 2003. Ilmu Kesuburan Tanah.Kanisius,Yogyakarta. Sadjad, S.1993. Dari Benih Kepada Benih. Gramedia Widiasarana Indonesia. Jakarta Syarief, S. 1989. Kesuburan dan Pemupukan Tanah Pertanian. Pustaka Buana.2008 Salami, A. E., Adegoke, S. A. O., dan Adegbite, O. A. 2007. Genetic variability among cultivars grown in Ekiti-State, Nigeria. Middle-East J. Sci.Res, 2(1), 09-13. maize Straten, P. Van. 2002. Rock for Crop: Part 1. University Of Guleph. Ontario. Canada Sudika, Idris., dan Soemeinaboedhy. 2014. Pengembangan Varietas Unggul Jagung untuk Lahan Kering Dengan Umur Genjah (< 80 hari), Hasil Tinggi (> 6,00 t/ha) dan Berat Brangkasan Segar Tinggi (> 300 g/tanaman). (Laporan Hasil Penelitian Insinas Ristek Tahun II).Universitas Mataram, Mataram. Susanto, A.N. & M.P. Sirappa. 2001. Prospek dan Strategi Pengembangan Jagung untuk mendukung Ketahanan Pangan di Maluku. Jurnal Litbang Pertanian. Syngenta. 2015. Awali dengan Benar (Buku Panduan). PT Syngenta, Jakarta. Takahashi, E. 1995. Uptake Model and Physiological Functions of Silica. P. 420- 433. In: Thomson, L, M. and F, R. Troeh. 1978. Soil and Soil Fertilitiy. 2nd ed. McGraw- Hill Book Co. New York. Tisdale , S.L., Nelson, W,L., Beaton, J, D. 1993. Soil Fertility and Fertilizers Fourth Edition. The ,Macmilland And Publishing Company. New York.

(18) Tjitrosoepomo, G. 2001. Taksonomi Tumbuhan. Gajah Mada Press. Yogyakarta Toharisman, A. dan M. Mulyadi. 2005. Peran Silikat Bagi Tanaman Tebu. Gula Indonesia. Warisno. 2005. Budidaya Jagung Hibrida. Kanisius. Yogyakarta Yukamgo, E dan Yuwono, N,W. 2007. Peranan Silikon sebagai Unsur Bermanfaat pada Tanaman Tebu. Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan. Yogyakarta. Vol. 7 No 2 P:10031116

(19)

Dokumen baru

Download (18 Halaman)
Gratis

Tags

Dokumen yang terkait

PENGARUH BEBERAPA JARAK TANAM TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TIGA VARIETAS JAGUNG MANIS (Zea mays saccharata Sturt) SISTEM ORGANIK
0
4
1
EFEK PEMBERIAN HORMON ALAMI TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI JAGUNG (Zea mays L.) PADA BERBAGAI TINGKAT KEPADATAN POPULASI
0
12
44
PENERAPAN PUPUK UREA PADA TUMPANGSARI JAGUNG “DOUBLE ROW” DAN KACANG TANAH TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL JAGUNG (Zea mays L.)
0
4
52
PENGARUH DOSIS PUPUK KANDANG KAMBING DAN PUPUK HAYATI TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL JAGUNG (Zea mays L.)
1
8
61
PENGARUH PEMBERIAN KOMBINASI PUPUK ANORGANIK TUNGGAL DAN PUPUK HAYATI TERHADA PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN JAGUNG (Zea mays Sacharata Sturt) MANIS SERTA POPULASI MIKROBA TANAH
0
14
58
PENGARUH DOSIS PUPUK ORGANIK DAN POPULASI TANAMAN TERHADAP PERTUMBUHAN SERTA HASIL TUMPANGSARI KEDELAI (Glycine max L ) DAN JAGUNG (Zea mays L )
1
5
77
PENGARUH PEMBERIAN PUPUK ORGANIK GUANO DAN PUPUK HIJAU TITHONIA (Tithonia diversifolia ) TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN JAGUNG MANIS (Zea mays saccharata Sturt).
2
3
6
PENGARUH BEBERAPA DOSIS KOMPOS JERAMI PADI DAN PUPUK NITROGEN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL JAGUNG MANIS (Zea mays saccharata Sturt.).
0
0
7
PENGARUH BEBERAPA DOSIS PUPUK NPK MUTIARA 16:16:16 TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN JAGUNG MANIS (Zea mays saccharata Sturt).
0
4
10
PENGARUH BEBERAPA TAKARAN KOMPOS TITHONIA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN JAGUNG MANIS (Zea mays saccharata).
0
1
1
PENGARUH BENTUK DAN DOSIS PUPUK KOTORAN KAMBING TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN JAGUNG (Zea mays L.) LOKAL MADURA.
0
1
14
PENGARUH CENDAWAN MIKORIZA ARBUSKULA DAN PUPUK FOSFOR TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN JAGUNG SEMI (Zea mays L.) KULTIVAR BISI-816
0
0
19
PENGARUH KONSENTRASI PUPUK ORGANIK CAIR TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN JAGUNG MANIS (Zea mays var.saccharata Sturt.) KULTIVAR BONANZA F1
0
0
20
PENGARUH DOSIS PUPUK KANDANG KAMBING DAN PUPUK HAYATI TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL JAGUNG (Zea mays L.)
0
1
5
PENGARUH PEMBERIAN BERBAGAI DOSIS PUPUK NITROGEN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMANJAGUNG MANIS (Zea mays saccharata)
0
0
7
Show more