UJI DAYA HASIL LANJUTAN GALUR HARAPAN PADI SAWAH BERAS MERAH (Oryza sativa L.) PADA DATARAN TINGGI - Repository UNRAM

Gratis

0
1
9
1 month ago
Preview
Full text

  

UJI DAYA HASIL LANJUTAN GALUR HARAPAN PADI SAWAH BERAS MERAH

(Oryza sativa L.) PADA DATARAN TINGGI

ADVANCED YIELD TRIALS OF PROMISING LINES LOWLAND RICE RED RICE

  1

(Oryza sativa L.) IN PLANTEAU

2 3 Deny Martayudi , I Gusti Putu Muliarta Aryana , Anak Agung Ketut Sudharmawan 1 2 3 Mahasiswa , Dosen Pembimbing Utama , Dosen Pembimbing Pendamping

ABSTRAK

  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya hasil dan parameter kuantitatif lainnya dari ke 14 genotipe padi beras merah pada dataran tinggi. Penelitian ini dilakukan di Desa Sembalun Bumbung, Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur, Provinsi NTB, pada bulan Februari sampai dengan Juli 2013. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok yang terdiri atas 14 perlakuan, yaitu 10 galur harapan beras merah, 3 tetua, yaitu G11 (AKBC52), G12 (AKBC86), dan G13 (KALA ISI TOLO), serta 1 (satu) varietas unggul Aek Sibondang (G14), sebagai pembanding. Setiap perlakuan diulang tiga kali, sehingga terdapat 42 unit percobaan. Data hasil penelitian dianalisa menggunakan analisis keragaman dan diuji lanjut dengan Duncan Multiple Range Test (DMRT) pada taraf nyata 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat galur yang memiliki daya hasil yang lebih tinggi dibandingkan dengan tetua dan varietas pembanding, yaitu G4, G5 dan G6 dengan hasil tertinggi yaitu pada galur Kala Isi Tolo yakni 6,02 ton/ha. Terdapat galur yang menunjukkan kenampakan agronomi yang lebih baik pada masing-masing parameter pengamatan antara lain G8 pada parameter pengamatan umur berbunga, G3 dan G6 pada parameter tinggi tanaman, G8 pada parameter jumlah anakan produktif, G7 pada parameter jumlah anakan non produktif, G8 pada parameter panjang malai, G2 pada parameter jumlah gabah berisi, G3 pada parameter jumlah gabah hampa, G5 pada parameter berat 100 butir dan G2 pada parameter berat gabah per rumpun dan parameter hasil.

  Kata kunci : dataran tinggi, padi beras merah, padi sawah, uji daya hasil lanjutan

ABSTRACT

This risech aims to determine the yield and other quantitative parameters of 14 genotypes of

red rice in highland. This research was conducted in the village of Sembalun Bumbung, Subdistrict

  

Sembalun, East Lombok, NTB, in February until July 2013. The experimental design used was a

randomized block design which consists of 14 treatments, namely 10 promising lines of red rice, three

elders, namely the G11 (AKBC52), G12 (AKBC86), and G13 (KALA ISI TOLO), as well as a high-

yielding varieties Aek Sibondang (G14), for comparison. Each treatment was repeated three times, so

there are 42 experimental units. The data were analyzed using analysis of variance and tested further

by Duncan's Multiple Range Test (DMRT) at 5% significance level. The results showed that there is a

strain that has a higher yield than the parent and varieties comparison, namely G4, G5 and G6 with

the highest results in strain Kala Isi Tolo which is 6.02 tons / ha. Contained strains which showed the

agronomic appearance better in each of the observation parameters, among others, the G8 on

observation parameters flowering date, G3 and G6 on plant height parameters, G8 on the parameter

number of productive tillers, G7 on the parameter number of non-productive tillers, panicle length

parameter G8, G2 on parameters number of grain contains, G3 on parameters number of empty

grains, the parameters of the G5 weighs 100 grains and G2 on grain weight per clump parameters

and parameter results.

  Key words : planteau, red rice, lowland rice, advanced yield trials

  PENDAHULUAN

  untuk mengetahuai daya hasil dan parameter kuantitatif lainnya dari ke 14 genotipe padi beras merah yang ditanam pada dataran tinggi.

  G1 = F2BC4 52 (G2) G2 = F2BC4 52 (44) G3 = F2BC4 86 (1)

  Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK). Perlakuan terdiri atas 10 galur padi sawah beras merah, tiga tetua dan satu varietas pembanding. Adapun Nama dari ke 14 genotipe tersebut, yaitu :

  Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah cangkul, sabit, tali nilon, caplak, penggaris, timbangan manual, timbangan analitik, karung, alat panen, paku, kantong plastik, bambu, ember, sparayer dan alat tulis-menulis.

  Bahan-bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah 14 perlakuan yang terdiri dari 10 galur harapan, tiga tetua dan satu varietas pembanding, pupuk NPK (Ponska), pupuk Urea, Insektisida Cruicer 35 FS 1 cc/ liter + atonik 2 cc/liter air, Furadan 35 gr.

  Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari sampai dengan bulan Juli 2013 di Desa Sembalun Bumbung, Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur, Provinsi NTB.

  Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimental dengan percobaan di lapangan.

  Daya Hasil Lanjutan Galur Harapan Padi Sawah Beras Merah ( Oryza sativa L. ) pada Dataran Tinggi”.

  Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk dengan tingkat pertumbuhan yang tinggi. Penduduk Indonesia pada tahun 2011 diperkirakan 241 juta jiwa. Pada tahun 2011, tingkat konsumsi beras di Indonesia mencapai 139 kg/kapita lebih tinggi dibanding dengan Negara Asia Tenggara lainnya seperti Malaysia dan Thailand yang berkisar antara 65 kg-70 kg perkapita pertahun (BPS, 2011).

  Berdasarkan uraian masalah di atas, maka dilakukanlah penelitian tentang “Uji

  Selain itu, galur-galur yang bisa menjadi sumber genetik pada setiap parameter antara lain F2BC4 86 (48) dengan hasil per hektarnya 3,14 ton dan memiliki kelebihan seperti (umur berbunga, jumlah anakan produktif per rumpun, panjang malai, jumlah gabah berisi per malai, jumlah gabah hampa per malai, bobot 100 butir gabah dan berat gabah per rumpun).

  Dari hasil penelitian Rika Andriati Sukma Dewi (2012) menunjukkan bahwa galur-galur yang mempunyai daya hasil tinggi antara lain F2BC4 52 (44), F2BC4 86 (3), F2BC4 86 (32), F2BC4 86 (5), F2BC4 86 (33), dan F2BC4 86 (38) berturut-turut dalam ton/ha 4,94; 4,43; 4,24; 3,93; 3,78; dan 3,72.

  Di Indonesia lahan dataran tinggi dengan kemiringan <15% diperkirakan 25,5 juta (Las et al, 1993) dan 0,50 juta ha diantaranya sudah di manfaatkan untuk lahan sawah, dengan rata-rata hasil padi berkirar 2,5- 5,0 ton/ha (Harahap et al, 1993). Lebarnya kisaran hasil gabah pertahun luas di ekosistem padi tersebut disebabkan oleh paket teknologi yang tersedia belum sepenuhnya mampu diterapkan oleh petani karena adanya faktor lingkungan tumbuh seperti suhu dan kelembaban udara (Zen dan Azwar, 1996).

  Varietas padi beras merah belum mendapatkan perhatian yang memadai, terbukti Balai Besar Penelitian Tanaman Padi pada tahun 2006 baru melepas varietas unggul beras merah yang diberi nama Aek Sibundang sebagai padi sawah (Muliarta 2009). Selain itu salah satu contoh varietas padi beras merah yang merupakan hasil dari penelitian pemulia tanaman adalah Inpago UNRAM 1. Varietas ini merupakan hasil penelitian I Nyoman Kantun, dosen Fakultas Pertanian UNRAM. Keluarnya varietas baru ini menambah deretan varietas padi beras merah di Indonesia.

  Padi merupakan bahan makanan yang menghasilkan beras. Bahan makanan ini merupakan makanan pokok bagi sebagian besar penduduk Indonesia. Meskipun padi dapat digantikan oleh makanan lainnya, namun padi memiliki nilai tersendiri bagi orang yang biasa makan nasi dan tidak dapat dengan mudah digantikan oleh bahan makanan yang lain (AAK, 1990).

METODE PENELITIAN

  G4 = F2BC4 86 (3) G5 = F2BC4 86 (32) G6 = F2BC4 52 (36) G7 = F2BC4 86 (36) G8 = F2BC4 52 (37) G9 = F2BC4 86 (GS1)

  G10 = F2BC4 52(42) G11 = AKBC52 G12 = AKBC86 G13 = Kala Isi Tolo

  G14 = Aek SIbondang Setiap perlakuan diulang sebanyak 3

  (tiga) kali sehingga dalam penelitian ini terdapat 42 unit percobaan. Pelaksanaan penelitian meliputi:

  1. Persiapan Persemaian Kegiatan ini dilakukan dengan menggunakan pengolahan tanah pada petak persemaiaan dengan menggunakan traktor, petak persemaian dibuat ukuran 1 m2 untuk setiap perlakuaan antara petak persemaian tiap perlakuan dibuat saluran dengan lebar 30 cm dengan kedalaman 20-25 cm.

  2. Pemeraman Benih Pemeraman benih tiap perlakuan (3000 biji) dengan menggunakan gelas plastik, perendaman dilakukan menggunakan larutan insektisida cruicer 35 FS 1 cc/liter + atonik 2cc/liter, perendaman dilakukan selama 24 jam, setelah itu ditiriskan kemudian benih diperam selama 24 jam.

  3. Penyemaian Penyemaian dilakukan setelah lahan persemaian dikondisikan dalam suasana macak-macak. Tiap perlakuan genotype disebar merata pada petak persemaian perlakuan. Sebelum benih ditaburkan petak persemaian diberikan furadan 35 gr dengan dosis 5 gr/ m 2 kemudian baru benih hasil pengamatan disebar merata, setelah itu ditutup dengan sekam.

  4. Pemupukan Bibit Setelah bibit berumur 10 hari dilakukan pemupukan dengan menggunakan pupuk urea dengan dosis 150 kg/ha, pemupuksn dilakukan dengan cara disebar merata pada petak persemaian pada saat pemupukan kondisi lahan dibiarkan dalam suasana macak-macak dimana pintu pengeluaran dan pemasukan air ditutup

  5. Pengolaan Tanah untuk Tanaman Bibit

  Pengolahan tanah dilakukan dengan membajak, kemudian pembuatan unit-unit percobaan dengan ukuran 2 m x 5 m, jarak antar blok 1 m dan jarak antar unit percobaan 0.5 m.

  6. Penanaman Bibit hasil persemaian dipindah

  (transplanting) setelah berumur 20 hari yang ditanam sebanyak 1 bibit/ lubang. Jarak tanam yang digunakan adalah 20 cm x 20 cm. Jumlah unit percobaan sebanyak 42 satuan percobaan x 5 m sehingga terdapat populasi tanaman sebanyak 250 rumpun tanaman per unit Pemeliharaan

  a) Pengairan. Pengairan diberikan dengan secara macak-macak selama tiga hari.

  Setelah itu secara berturut-turut dilakukan pengairan secara digenangi selama 26 hari, dikeringkan selama empat hari, digenangi kembali selama 14 hari, dikeringkan lagi selama empat hari, dan 10 hari hingga menjelang panen.

  b) Penyulaman. Dilakukan pada waktu tanaman berumur 6-10 hari setelah tanam dengan menggunakan tanaman cadangan diluar petak unit percobaan atau mengambil anakan dari tanaman yg lainny sesuai perlakuan.

  c) Penyiangan. Penyiangan dilakukan ketika terdapat gulma. Penyiangan dilakukan dengan cara mencabut gulma yang berada di sekitar tanaman d) Pemupukan. Dalam percobaan ini pupuk yang digunakan ada dua macam, yaitu pupuk NPK (ponska) dan urea. Pemupukan dilakukan dengan cara disebar. Pemberian pupuk sesuai dengan dosis anjuran yang telah ditentukan. Pemberian pupuk NPK pada saat tanaman berumur 7 hari setelah tanam dengan dosis 200 kg/ha. Kemudian pupuk urea diberikan sebanyak dua kali yaitu pada saat tanaman berumur 30 hari setelah tanam (fase anakan maksimum) dengan dosis 150 kg/ha dan pada saat tanaman berumur 55 hari setelah tanam (fase primordial bunga) dengan dosis 100 kg/ha. e) Pengendalian Hama dan Penyakit.

  Pengendalian hama dan penyakit dilakukan sesuai dengan kondisi dilapangan.

  Berat 100 biji (gram). Berat 100 biji diperoleh dengan menimbang 100 butir gabah dari tiap perlakuan, dilakukan setelah pengambilan sampel.

  Genotipe (g-1) JK G KT G KT G /KT E F tabel (db G ,db E ) Galat (g-1) (r-1) JK E KT E Total gr-1 JK T

  Blok (r-1) JK B KT B KT B /KT E F tabel (db B ,db E )

  F hitung F tabel

  Sumber Keragaman Derajat bebas (db) Jumlah Kuadrat

Kuadrat

Tengah (KT)

Tabel 3.1. Analisis Keragaman untuk Rancangan Acak Kelompok

  Data hasil pengamatan dianalisa dengan menggunakan analisis keragaman dan diuji lanjut dengan menggunakan Duncan Multiple Range Test (DMRT) pada taraf nyata 5%.

  Analisis Data

  Hasil (ton/ha). Produksi tiap perlakuan dihitung dengan mengkonversikan berat gabah per meter persegi menjadi satuan ton/ha, dilakukan setelah panen.

  Berat per rumpun (gram). Berat per rumpun diperoleh dengan menimbang gabah dari tiap tanaman sampel per perlakuan, dilakukan setelah pengambilan sampel.

  f) Pemanenan. Panen dilakukan pada saat bulir padi 80 % telah menguning, tangkai padi merunduk karena bulir padi keras dan daun berwarna kuning.

  Jumlah gabah berisi dan gabah hampa (butir). Penghitungan jumlah gabah berisi dan hampa dilakukan dengan menghitung butir padi yang berisi dan hampa dari tiap batang malai sampel tiap rumpun tanaman. Sampel yang dihitung sama dengan sampel yang diambil untuk menghitung panjang malai. Hal ini dilakukan setelah pengambilan sampel.

  Panjang malai (cm). Panjang malai diukur dari buku pertama pada pangkal malai sampai ujung malai. Malai yang diukur sebanyak dua malai yang diambil dari tiap rumpun tanaman sampel, dilakukan setelah pengambilam sampel.

  Berat gabah per meter persegi (gram). Berat gabah per meter persegi dihitung dengan cara menimbang gabah dari tanaman (25 tanaman) yang diambil dari setiap petak perlakuan seluas satu meter persegi.

  Jumlah anakan produktif dan non produktif (batang). Penghitungan jumlah anakan produktif dan non produktif dilakukan dengan menghitung seluruh jumlah anakan produktif dan non produktif per rumpun padi tanaman sampel, dilakukan setelah pengambilan sampel.

  Tinggi tanaman (cm). Tinggi tanaman diukur dari pangkal batang sampai ujung malai terpanjang. Pengukuran dilakukan bersamaan dengan pengambilan sampel.

  Parameter yang diamati dalam penelitian ini terdiri atas: Umur berbunga (hari). Umur berbunga dihitung jika 50% malai (bunga) dari populasi per unit percobaan telah keluar.

  Pengamatan dilakukan secara sampling, penentuan tanaman sampel dilakukan dengan cara sistematika random sampling dengan mengambil 3 rumpun tanaman sebagai sampel tiap unit percobaan. Dalam penentuan pengambilan tanaman sampel dilakukan tanaman pinggir yaitu 2 sampel pada ujung diagonal dan 1 sample ditengahnya.

  Cara Menentukan Tanaman Sempel

HASIL DAN PEMBAHASAN

  Hasil

  Berdasarkan hasil analisis ragam terhadap parameter kuantitatif padi sawah beras merah pada dataran tinggi yang diamati menunjukkan bahwa parameter yang berbeda nyata, yaitu umur berbunga, tinggi tanaman, panjang malai, jumlah anakn produktif, jumlah gabah berisi, jumlah gabah hampa, berat 100 butir dan hasil, sedangkan parameter yang tidak berbeda nyata adalah jumlah anakan non produktif dan berat gabah per rumpun, sebagaimana tercantum pada Tabel 4.1.

Tabel 4.1. Hasil analisis ragam paramete kuantitatifr

  No. Parameter Fhit Probabilitas Notasi

  1 Umur Berbunga 4,29 0,0008 S

  3 Panjang Malai 5,26 0,0002 S

  4 Jumlah Anakan Produktif 2,95 0,0042 S

  5 Jumlah Anakan Non Produktif 1,33 0,2561 NS

  6 Jumlah Gabah Berisi 2,23 0,0398 S

  7 Jumlah Gabah Hampa 2,17 0,0446 S

  8 Berat 100 Butir 3,95 0,0014 S

  9 Berat Gabah Per Rumpun 1,68 0,1249 NS

  10 Hasil 3.44 0,0035 S s = signifikan; ns = non signifika

  Pembahasan

Tabel 4.2 menampilkan hasil uji lanjut parameter-parameter yang diamati.

  Hasil uji lanjut pada parameter umur berbunga menunjukkan bahwa varietas pembanding G14 tidak terdapat perbedaan dengan semua galur lainnya kecuali G8. Pada tetua G13 berbeda dengan G5 dan tidak berbeda nyata dengan galur lainnya. Sedangkan pada tetua G11 dan G12 terdapat perbedaan dengan galur G1, G2, G3, G8 dan tidak berbeda dengan galur lainnya . Selain itu, dapat dilihat pula genotipe yang memiliki umur berbunga tergenjah ditunjukkan oleh G8 (99,67 hst) yang berbeda dengan kesemua galur kecuali G13, sedangkan nilai terdalam ditunjukkan oleh tetua G11 dan G12 (106 hst).

  Dari tabel 4.2. Menunjukkan bahwa umur berbunga berkisar antara 96,67-106 hari setelah tanam. Menurut Siregar (1981) bahwa umur berbunga tanaman padi dapat dikelompokkan menjadi empat kelompok antara lain : umur sangat genjah (<110 hari), genjah (110-115 hari), sedang (115 -125 hari) dan dalam (125-150 hari). Dari kreteria tersebut menunjukkan bahwa semua genotipe tergolong umur berbunga berkriteria sangat genjah.

  Hasil uji lanjut pada parameter tinggi tanaman menunjukkan bahwa varietas pembanding G14 terdapat perbedaan dengan G3, G5 dan G6 dan tidak berbeda dengan galur lainnya. Pada tetua G13 berbeda dengan galur G1, G2, G7 dan G9, tetapi tidak berbeda dengan galur lainnya. Dan pada tetua G11 berbeda dengan G3 dan G6 dan tidak berbeda dengan galur lainnya. Sedangkan pada tetua G12 tidak berbeda dengan G1 dan tidak berbeda dengan galur lainnya. Nilai parameter tinggi tanaman tertinggi yang ditunjukkan oleh G1 (93,67 cm) dan yang terpendek yaitu tetua G13 (84,11 cm).

  Tinggi tananaman pada genotipe yang diuji ini berkriteria pendek (>110 cm). Hal ini ditunjukkan dari kelompok kriteria tinggi tanaman, antara lain : Pendek (<110 cm), sedang (101 -130 cm) dan tinggi (>130 cm) (Departemen Pertanian, 1983).

  Pada hasil uji lanjut parameter jumlah anakan produktif menunjukkan bahwa varietas pembanding G14 tidak memiliki perbedaan dengan G8 dan berbeda dengan galur lainnya. Pada tetua G11 dan G13 tidak terdapat perbedaan dengan kesemua galur yang diuji.

  Pada tetua G12 memiliki perbedaan dengan G8 dan tidak berbeda dengan galur lainnya. Selain itu dapat terlihat jumlah anakan produktif terbanyak ditunjukkan oleh varietas pembanding G14 yakni 36,22 batang dan yang tersedikit ditunjukan oleh G6 yakni 19,00 batang

  Menurut Sunihardi dan Hermanto (2004) bahwa kriteria jumlah anakan produktif per rumpun dibagi menjadi empat kelompok, yaitu: Sedikit (9-10 batang), sedang (12-14 batang), banyak (15-20 batang) dan sangat banyak (>20 batang)

  Untuk hasil uji lanjut pada parameter jumlah anakan non produktif menunjukkan perbedaan dengan G7 dan tidak berbeda dengan galur lainnya. Sedangkan pada tetua G11, G12 dan G13 tidak berbeda dengan semua galur yang diuji. Pada G7 merupakan genotipe dengan jumlah anakan non produktif tersedikit dengan jumlah 4,44 dan pada G14 merupakan genotipe dengan jumlah anakan non produktif terbanyak dengan jumlah 17,88.

  Semakin banyak anakan non produktif akan menyebabkan lingkungan mikro yang semakin lembab sehingga sangat baik untuk perkembangan hama dan penyakit (Thamrin et

  al. 2010).

  Hasil uji lanjut parameter panjang malai menunjukkan bahwa varietas pembanding G14 dan tetua G11 berbeda dengan G3, G8 dan G9 dan tidak berbeda dengan galur lainnya. Pada tetua G13 tidak berbeda dengan kesemua galur lainnya (kecuali G8). Sedangkan pada tetua G12 berbeda dengan G3, G4, G8 dan G9 dan tidak berbeda dengan galur lainnya. Pada genotipe G8 terdapat perbedaan dengan semua galur yang diuji (kecuali genotipe G9) dan memiliki panjang malai terpanjang (20,59 cm), sedangkan yang terpendek adalah yakni G5 (18,36 cm).adalah yaitu tetua G13 (20,12cm).

  Menurut AAK (1990) bahwa kriteria panjang malai dibagi menjadi tiga kelompok, antara lain Pendek (<20 cm), sedang ( 20-30 cm) dan panjang (>30 cm). Panjang malai pada penelitian ini menunjukkan bahwa semua genotipe yang diuji memiliki kriteria pendek (<20 cm) dan sedang (20-30 cm), sebab pada panjang malai berkisar 18,36 cm hingga 20,59 cm (tabel 4.2.).

  Hasil uji lanjut parameter jumlah gabah berisi menunjukkan bahwa varietas pembanding G14 dan tetua G11 berbeda dengan G2 dan tidak berbeda dengan galur lainnya. Untuk tetua G12 terdapat perbedaan dengan G2 dan G4 dan tidak berbeda dengan galur lainnya. Sedangkan tetua G13 tidak memiliki perbedaan dengan kesemua galur yang diuji. Selain itu juga terlihat jumlah gabah dengan jumlah tersedikit ditunjukkan oleh G5 (72,78 butir) sedangkan yang memiliki jumlah gabah berisi terbanyak ditunjukkan oleh G2 (100,61 butir).

  Hasil uji lanjut parameter jumlah gabah hampa menunjukkan bahwa G14 sebagai varietas pembanding dan tetua G13 tidak terdapat perbedaan dengan galur-galur yang diuji. Sedangkan pada tetua G11 dan G12 berbedada dengan G2, G3 dan G10 dan tidak berbeda dengan kesemua galur lainnya. Genotipe dengan jumlah gabah hampa terbanyak ditunjukkan oleh tetua G11 (40,55 butir), sedangkan yang tersedikit ditunjukkan oleh G3 (22,56 butir).

  Meningkatnya jumlah gabah berisi menunjukkan bahwa banyak faktor yang mempengaruhi. Faktor lingkungan yang menyebabkan gabah berisi sedikit salah satunya adalah ketersediaan air. Ketersediaan air yang minim pada saat pengisian bulir mengakibatkan gabah hampa, karena fungsi air tidak hanya untuk penyegaran jaringan tanaman tapi menjadi sarana tranlokasi atau transportasi berbagai mineral dan unsur hara dalam seluruh jaringan tanaman terutama dalam menunjang proses pengisian bulir yang terbentuk disetiap malainya (Muliarta, 2012

  Hasil uji lanjut parameter berat 100 butir menunjukkan bahwa varietas pembanding G14 berbeda dengan kesemua galur yang diuji. Pada tetua G13 terdapat perbedaan dengan G3 dan G5 dan pada tetua G12 berbeda dengan G1 dan G4. Sedangkan pada tetua G11 tidak terdapat perbedaan dengan kesemua galur yang diuji. Selain itu juga terlihat berat 100 butir yang terberat ditunjukkan oleh G5 (2,87 gr) dan yang teringan yaitu G14 (2,29 gr).

  Menurut FAO dalam IRII (1965), bobot 1000 butir dikelompokkan menjadi tiga bagian antara lain : Sangat berat (>28g), berat (22- 28g) dan ringan (<22g). Apabila dirubah atau disetarakan menjadi 100 butir maka akan menjadi : sangat berat (>2,8g), berat (2,2-2,8g) dan ringan (<2,2g). Sehingga dapat terlihat bahwa hasil dari parameter berat 100 butir memiliki dua kriteria yaitu berat dan sangat berat. Hal ini dapat ditunjukkan oleh tabel 4.2. yang memperlihatkan bahwa berat 100 butir memiliki kisaran antara 2,2-,8 g

  Untuk hasil uji lanjut pada parameter hasil menunjukkan bahwa G14 sebagai varietas pembanding berbeda dengan G4 dan G6 tetapi tidak berbeda dengan galur lainnya. Untuk tetua G13 berbeda dengan G1, G2, G3, G7, G8, G9 dan G10 dan tidak berbeda dengan galur lainnya. Sedangkan untuk tetua G12 tidak terdapat perbedaan dengan kesemua galur yang diuji dan untuk tetua G11 memiliki perbedaan dengan G3, G4, G5, G6, G7, G9 dan G10 dan tidak berbeda dengan galur lainnya. Genotipe yang menunjukkan hasil terberat adalah tetua G13 (6,02 ton/ha), sedangkan yang teringan adalah tetua G11 (2,31 ton/ha).

  . Menurut Yoshida (1981) salah satu metode untuk menguji penampilan hasil yaitu dengan memecah hasil kedalam komponennnya. Dimana dalam persamaan rumusnya dinyatakan Grain yield (ton/ha) berbanding lurus dengan jumlah malai/m

  2

  , % gabah berisi serta berat 1000 butir. Selanjutnya Menurut Siregar (1983) untuk mendapatkan daya hasil tinggi atau jumlah gabah berisi yang tinggi diperlukan sifat-sifat yang memberikan dukungan terhadap hasil antara lain batang pendek, jumlah anakan banyak dengan butir gabah yang gemuk dan panjang, sehingga dapat digunakan untuk mendapatkan tanaman padi yang sesuai dengan sasaran pemulia.

  KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan

  Berdasarkan hasil dan analisis hasil serta pembahasan dalam penelitian ini, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:

  1. Genotipe yang memiliki daya hasil tinggi sama dengan tetua (Kala Isi Tolo) dan hasil tinggi dengan varietas pembanding, yaitu galur G4 (5,05 ton/ha), G5 (4,64 ton/ ha), G6 (4,77 ton/ha.

  2. Terdapat genotipe yang tergolong memiliki sifat unggul ditiap parameter apabila dibandingkan dengan ke semua genotipe yang diuji pada parameter umur berbunga adalah G8 = (F2BC4 52 37) pada parameter tinggi tanaman adalah G3 = (F2BC4 86 1) dan G6 = (F2BC4 52 36), pada parameter jumlah anakan produktif adalah G8 = (F2BC4 52 37), pada and Efficient Use On Insecticidies parameter jumlah anakan non produktif On Rice, IRRI. adalah G7 = (F2BC4 86 36), pada Muliarta. 2009. Adaptasi dan Stabilitas Hasil parameter panjang malai adalah G8 = Galur-Galur Padi Beras Merah (F2BC4 52 37), pada parameter jumlah pada Tiga Lingkungan Tumbuh. gabah berisi adalah G2 = (F2BC4 52 44), J. Agron. Indonesia 37 (2) : 95 – pada parameter jumlah gabah hampa 100 (2009) (dipublikasikan). adalah G3 = (F2BC4 86 1), pada Siregar H. 1981. Budidaya Tanaman Padi di parameter berat 100 butir adalah G5 = Indonesia. Sastra Budaya. Bogor. (F2BC4 86 32), pada parameter berat Hal. 319. gabah per rumpun adalah G2 = (F2BC 52

  Sunihardi dan Hermanto. 2004. Laporan 44).

  tahunan penelitian dan pengem- bangan tanaman pangan. Pusat Saran

  Penelitian dan Pengebangan Galur-galur yang menunjukkan daya

  Tanaman Pangan. Badan hasil tinggi seperti G4 dan G6 dapat diajukan Penelitian dan Pengembangan untuk diuji pada uji multilokasi sebelum Pertanian dilepas menjadi varietas unggul baru. Hal ini berdasarkan sifat yang lebih unggul Thamrin T., Imelda S. M., Syahri. 2010. dibandingkan dengan varietas pembandingnya

  Produktivitas dan Ketahanan Galur Harapan Padi terhadap

DAFTAR PUSTAKA

  Penyakit Tungro di Sumatera Selatan. Balai Pengkajian

  Teknologi Pertanian Sumatera AAK. 2006. Budidaya Tanaman Padi. Selatan. Palembang Penerbit Kanisius. Yogyakarta.

  Yoshida S. 1981. Dasar-Dasar Pengetahuan BPS. 2011. Statistik Indonesia 2012. Badan

  Tanaman Padi (Terjemahan Dari Statistik Nasional. Jakarta. Fundamental Of Rice Crop Science). Penerbit Lembaga

  Depertamen Pertanian. 1983 . Pedoman Penelitian Padi Internasional.

  Bercocok Tanam Padi, Palawija,

  Philippines

  dan Sayur-sayuran. Satuan Pengendali Bimas. Jakarta.

  Zen dan R. Azwar. 1996. Penampilan Hasil

  Galur-Galur Baru Padi Sawah Harahap Z., T. S. Silitonga dan Suwarno. Dataran Tinggi. Pemberitaan

  1993. Pemuliaan Padi Dalam Penelitian Suka Rani.

  PJPT II. Makalah pada

  Pertemuan Pemuliaan Tanaman Puslitbangtan. Bogor 7-8 Juni 1993.

  Las I., P. Wahid, Y.S. Baharsyah dan Darwis S.N. 1993. Tinjauan Iklim Dataran Tinggi Indonesia.

  Potensi kendala dan peluang dalam mendukung pembangunan pertanian pada PJPT II. Seminar sehari tentang iklim. Padang, 6 Februari 1993. Lim G. S. 1965. The Role Of Insecticidies In

  Rice Integrated Pest Pest Management. Proc. Of the FAO/

  IRRI Workshop On Judicious Use

Dokumen baru

Aktifitas terkini

Download (9 Halaman)
Gratis

Tags

Dokumen yang terkait

PENGUJIAN TOLERANSI BEBERAPA KULTIVAR PADI BERAS MERAH (Oryza sativa L.) TERHADAP CEKAMAN KEKERINGAN.
0
0
6
PENGUJIAN AFTER RIPENING PADA BEBERAPA GENOTIPE PADI LOKAL (Oryza sativa L.) DATARAN SEDANG SUMATERA BARAT.
1
3
18
UJI DAYA HASIL DAN MUTU 5 KULTIVAR PADI BERAS MERAH LOKAL (oryza sativa L) DI DATARAN RENDAH.
0
4
7
UJI DAYA HASIL DAN MUTU 5 GENOTIPE PADI BERAS MERAH (Oryza sativa L.) DI DATARAN SEDANG.
0
0
7
PENGUJIAN AFTER RIPENING PADA BEBERAPA GENOTIPE PADI LOKAL (Oryza sativa L.) DATARAN TINGGI KABUPATEN AGAM SUMATERA BARAT.
0
0
9
UJI TOLERANSI BEBERAPA GENOTIPE PADI BERAS MERAH LOKAL (Oryza sativa L.) TERHADAP KEKERINGAN SELAMA FASE SEMAI.
0
3
6
UJI DAYA HASIL MUTAN PADI BERAS MERAH PADA MUSIM HUJAN DI KABUPATEN BANGKA BARAT SKRIPSI
0
0
15
DAYA HASIL DAN PENAMPILAN FENOTIFIK KARAKTER KUANTITATIF GALUR-GALUR F2BC4 PADI GOGO BERAS MERAH - Repository UNRAM
0
0
27
INTERAKSI GENOTPE DAN LOKASI TERHADAP HASIL BEBERAPA GALUR PADI GOGO BERAS MERAH DI PULAU LOMBOK - Repository UNRAM
0
0
10
PENGUJIAN TINGKAT SEGREGASI PADA EMPAT GENERASI ZURIAT PADI BERAS MERAH (Oryza sativa L.) HASIL SELEKSI PEDIGREE - Repository UNRAM
0
0
14
TAMPILAN SIFAT KUANTITATIF BEBERAPA GALUR F7 PADI BERAS MERAH (Oryza sativa L.) HASIL SILANG GANDA INDICA DENGAN JAVANICA - Repository UNRAM
0
0
12
UJI SIFAT KUANTITATIF DAN HUBUNGANNYA DENGAN HASIL GALUR HARAPAN PADI BERAS MERAH (Oryza sativa L.) DI DATARAN TINGGI - Repository UNRAM
0
0
72
UJI DAYA HASIL GENERASI F3 GALUR PADI BERAS MERAH (Oryza sativa L.) JURNAL
0
0
16
TUMPANGSARI DENGAN KEDELAI DAN INOKULASI DENGAN MIKORIZA ARBUSKULAR UNTUK MENINGKATKAN PRODUKSI MALAI PADA BERBAGAI GALUR HARAPAN PADI GOGO DAN AMPIBI BERAS MERAH PADA SISTEM AEROBIK - Repository UNRAM
0
0
19
PENDUGAAN KERAGAMAN GENOTIPE PADA GALUR F3 PADI BERAS MERAH (Oryza sativa L.) DENGAN SISTEM TANAM YANG BERBEDA JURNAL
0
0
12
Show more