LAPORAN KOSMETIK

RP. 50,000

0
11
23
2 weeks ago
Preview
Full text
BAB I PENDAHULUAN
  1.1. Latar Belakang
  Praktik Kerja Lapangan (PKL) adalah salah suatu kewajiban dalam kurikulum pendidikan Program Studi Analisa Farmasi dan Makanan di Universitas Sari Mutiara Indonesia, yang dilaksanakan oleh mahasiswa pada semester VI sebelum menyusun Tugas Akhir sebagai syarat untuk menyelesaikan program D-III Analisa Farmasi dan Makanan di Fakultas Farmasi dan Ilmu Kesehatan Universitas Sari Mutiara Indonesia,
  Mahasiswa diharapkan dapat menerapkan bekal yang diperolehnya selama perkuliahan berupa ilmu pengetahuan yang dapat dimanfaatkan dalam penerapan seacra langsung ke lapangan. Sehingga mahasiswa dapat memiliki pengalaman untuk bekerja pada bidangnya sesuai dengan latar belakang pendidikan yang telah dijalani serta ilmu pengetahuan yang telah diperoleh selama masa perkuliahan.
  Oleh karena tujuan tersebut, maka kami melakukan Praktik Kerja lapangan (PKL) di Balai Besar POM di Medan. Dengan melakukan praktik kerja lapangan ini diharapkan dapat menambah pengetahuan serta pengalaman kerja di bidang ilmu dan teknologi farmasi khususnya pada pengujian kosmetik serta dapat menerapkan ilmu yang telah dipeorleh selama masa perkuliahan.
  1.2. Tujuan Pelaksanaan PKL
  Tujuan dilaksanakannya Praktik Kerja Lapangan di Balai Besar POM di Medan adalah :
  1. Mahasiswa dapat mengetahui metode pengujian yang secara teoritis dipelajari di bangku kuliah dan diaplikasikan di tempat PKL.
  2. Mahasiswa dapat mengenal suasana kerja yang akan dihadapi kelak.
  3. Mahasiswa mampu membandingkan dan menerapkan ilmu pengetahuan yang diperoleh secara teoritis di perguruan tinggi dengan keadaan di lapangan kerja.
  4. Sebagai persyaratan akademis untuk pendidikan Analisa Farmasi dan Makanan Universitas Sari Mutiara Indonesia, sebagai salah satu syarat untuk memperoleh derajat Ahli Madya (Diploma III).1.3. Manfaat Pelaksanaa PKL
  Manfaat dilaksanakannya Praktik Kerja Lapangan di Balai Besar POM di Medan adalah:
  1. Dapat menambah pengetahuan bagi mahasiswa untuk menerapkan langsung pekerjaan yang dilakukannya.
  2. Mengubah sikap mahasiswa untuk bersikap disiplin dan bertanggung jawab dalam pekerjaan.
  3. Terpenuhinya syarat menyelesaikan program studi Diploma III Analis Farmasi dan Makanan di Universitas Sari Mutiara.
  4. Dapat mengetahui perbandingan kerja dibidang farmasi yang diperoleh di Perguruan Tinggi dengan dunia kerja khususnya di Balai Besar POM di Medan.1.4. Waktu dan Lokasi Praktik Kerja Lapangan
  Kegiatan Praktik Kerja Lapangan (PKL) dilaksanakan di Laboratorium Mikrobiologi Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) di Medan pada tanggal 07 Maret s/d 06 April 2018.BAB II TINJAUAN UMUM BALAI BESAR POM2.1. Latar Belakang Balai Besar POM
  Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) adalah sebuah Lembaga Pemerintah Non Kementerian (LPNK) yang bertugas mengawasi peredaran obat, obat tradisional, suplemen kesehatan, kosmetik dan makanan di wilayah Indonesia. Tugas, fungsi dan kewenangan BPOM diatur dalam Keputusan Presiden Nomor 103 Tahun 2001 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Kewenangan, Susunan Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Pemerintah non Departemen yang telah diubah terakhir kali dengan Peraturan Presiden Nomor 3 Tahun 2013 tentang Perubahan Ketujuh atas Keputusan Presiden Nomor 103 Tahun 2001.
  Pengawasan Obat dan Makanan merupakan bagian integral dari upaya pembangunan kesehatan di Indonesia. Misi Badan POM dalam melindungi masyarakat dari produk Obat dan Makanan yang membahayakan kesehatan dituangkan dalam sistem pengawasan full spectrum mulai dari per-market hingga post-market control yang disertai dengan upaya penegakan hukum dan pemberdayaan masyarakat (community empowerment).Kemajuan teknologi telah membawa perubahan-perubahan yang cepat dan signifikan pada industri farmasi, obat asli Indonesia, makanan, kosmetika dan alat kesehatan. Dengan menggunakan teknologi modern, industri-industri tersebut kini mampu memproduksi dalam skala yang sangat besar mencakup berbagai produk dengan “range” yang sangat luas.
  Konsumsi masyarakat terhadap produk-produk termaksud cenderung terus meningkat, seiring dengan perubahan gaya hidup masyarakat termasuk pola konsumsinya. Sementara itu pengetahuan masyarakat masih belum memadai untuk dapat memilih dan menggunakan produk secara tepat, benar dan aman. Di lain pihak iklan dan promosi secara gencar mendorong konsumen untuk mengkonsumsi secara berlebihan dan sesringkali tidak rasional.
  Perubahan teknologi produksi, sistem perdagangan internasional dan gaya hidup konsumen tersebut pada realitasnya meningkatkan resiko dan implikasi yang luas pada kesehatan dan keselamatan konsumen. Apabila terjadi produk sub standar, rusak atau terkontaminasi oleh bahan berbahaya maka resiko yang terjadi akan berskala besardan luas serta berlangsung secara amat cepat.
  Untuk itu Indonesia harus memiliki Sistem Pengawasan Obat dan Makanan (SisPOM) yang efektif dan efisien yang mampu mendeteksi, mencegah dan mengawasi produk-produk termaksud untuk melindungi keamanan, keselamatan dan kesehatan konsumenya baik di dalam maupun di luar negeri. Untuk itu telah dibentuk Badan POM yang memiliki jaringan nasional dan internasional serta kewenangan penegakan hukum dan memiliki kredibilitas profesional yang tinggi (BPOM, 2008).
  Fungsi dan tugas Badan POM 2.2.
  Berdasarkan pasal 67 keputusan Presiden Nomor 103 Tahun 2001, BPOM melaksanakan tugas pemerintah di bidang pengawasan Obat dan Makanan sesuai dengan ketentuan peraturan per Undang-Undangan yang berlaku.
  Berdasarkan pasal 2 Peraturan Kepala BPOM mempunyai tugas melaksanakan kebijakan di bidang pengawasan obat dan makanan, yang meliputi pengawasan atas produk teraupetik, narkotika, psikotropika, zat adiktif, obat tradisional, kosmetik, produk komplemen serta pengawasan atas keamanan pangan dan bahan berbahaya.
  Pasal 68 Keputusan Presiden Nomor 103 Tahun 2001, BPOM mempunyai fungsi : 1. Pengkajian dan penyusunan kebijakan nasional di bidang pengawasan obat dan Makanan
  2. Pelaksanaan kebijakan tertentu di bidang pengawasan obat dan makanan.
  3. Koordinasi kegiatan fungsional dalam pelaksanaan tugas badan POM.
  4. Pemantauan, pemberian bimbingan dan pembinaan terhadap kegiatan instansi pemerintah di bidang pengawasan obat dan makanan.
  5. Penyelenggaraan pembina dan pelayanan administrasi umum di bidang perencanaan umum, ketatausahaan, organisasi, dan tata laksana, kepegawaian, keuangan,kearsipan, persandian, perlengkapan, dan rumah tangga.
  Pasal 3 Peraturan Kepala BPOM Nomor 14 Tahun 2014, Unit Pelaksanaan Teknis dilingkungan BPOM mempunyai fungsi:
  1 Penyusunan rencana dan program pengawasan obat dan makanan
  2 Pelaksanaanpemeriksaan secara laboratorium, pengujian dan penilaian mutu produk teraupetik, narkotika, psikotropika zat adiktif, obat tradisional, kosmetik, produk komplemen, pangan dan bahan berbahaya. Pelaksanaan pemeriksaan setempat, pengambilan contoh dan pemeriksaan sarana produksi dan distribusi (BPOM RI. 2011).2.3. Visi dan Misi Balai Besar POM
  a. Visi
Obat dan Makanan Aman Meningkatkan Kesehatan Masyarakat dan Daya Saling Bangsa
b. Misi
  1 Meningkatkan sistem pengawasan Obat dan Makanan berbasis risiko untuk melindungi masyarakat
  2 Mendorong kemandirian pelaku usaha dalam memberikan jaminan keamanan Obat dan Makanan serta memperkuat kemitraan dengan pemangku kepentingan. 3 Meningkatkan kapasitas kelembagaan BPOM.
  Budaya Organisasi 2.4.
  Budaya Organisasi Badan POM 1.
  Profesional Menegakkan profesionalisme dengan integrasi, objektivitas, ketekunan, dan komitmen yang tinggi.
  2. Kredibel Dapat dipercayai dan diakui oleh masyarakat luas, nasional, dan internasional.
  3. Cepat Tanggap Antisipatif dan resposif dalam mengatasi masalah.
  4. Kerjasama Tim Mengutamakan keterbukaan, saling percaya dan komunikasi yang baik.
  5. Inovatif Mampu melakukan pembaruan sesuai ilmu pengetahuan dan teknologi terkini.
  6. Integritas Konsistensi dan keteguhan yang tak tergoyahkan dalam menjunjung tinggi nilai-nilai luhur dan keyakinan.2.5. Fungsi dan Tugas Pokok Balai Besar POM
  Berdasarkan Pasar 67 Keputusan Presiden Nomor 103 Tahun 2001, BPOM melaksanakan tugas pemerintahan di bidang pengawasan Obat dan Makanan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. (http://www.pom.go.id/new/view/direct/jobdiakses pada tanggal 24 Maret 2018)
  Berdasarkan Pasal 68 Keputusan Presiden Nomor 103 Tahun 2001, BPOM mempunyai fungsi: a.
  Pengkajian dan penyusunan kebijakan nasional di bidang pengawasan obat dan makanan.
  b.
  Pelaksanaan kebijakan tertentu di bidang pengawasan obat dan makanan c. Koordinasi kegiatan fungsional dalam pelaksanaan tugas Badan POM d. Pemantauan, pemberian bimbingan dan pembinaan terhadap kegiatan instansi pemerintah di bidang pengawasan Obat dan Makanan e.
  Penyelenggaraan pembinaan dan pelayanan adiministrasi umum di bidang perencanaan umum, ketatausahaan, orgabisasi dan tata laksana, kepegawaian, keuangan, kearsipan, persandian, perlengkapan, dan rumah tangga.
  (http://www.pom.go.id/new/view/direct/function# diakses pada tanggal 24 Maret 2018).2.6. Prinsip Dasar Balai POM
  Balai POM mempunyai prinsip dasar sebagai berikut: 1.
  Tindakan pengamanan cepat, tepat, akurat, dan profesional 2. Tindakan dilakukan berdasarkan tingkat resiko dan berbasis bukti-bukti ilmiah
  3. Lingkup pengawasan bersifat menyeluruh, mencakup seluruh siklus proses 4.
  Berskala nasional/lintas provinsi dengan jaringan kerja internasional 5. Otoritas yang menunjuang penegakan supermasi hukum 6. Memiliki jaringan laboratorium nasional yang kohesip dan kuat yang berkolaborasi dengan jaringan global.
  7. Memiliki jaringan sistem informasi keamanan dan mutu produk.2.7. Struktur Balai Besar POM Medan
  KEPALA BALAI BESAR PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN
  SUB BAGIAN TATA USAHA BIDANG PENGUJIAN BIDANG BIDANG BIDANG BIDANG TERAPETIK, PENGUJIAN PENGUJIAN PEMERIKSA- SERTIFIKAT NARKOTIKA,OBAT PANGAN & MIKROBIOLOGI AN & & LAYANAN TRADISIONAL, BAHAN PENYIDIKAN
  INFORMASI KOSMETIK & BERBAHAYA
  KONSUMEN PRODUK KOMPLEMEN SEKSI SEKSI PEMERIKSAAN SERTIFIKASI
  KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL
  SEKSI SEKSI PENYIDIKAN LAYANAN
  INFORMASIBAB III MATERI PRAKTEK3.1 Pengertian Kosmetik
  Istilah kosmetik, yang dalam bahasa Inggris “cosmetics”, berasal dari kata “kosmein” (Yunani) yang berarti “berhias”. Bahan yang dipakai dalam usaha untuk mempercantik diri ini, dahulu diramu dari bahan-bahan alami yang terdapat di lingkungan sekitar. Sekarang kosmetik dibuat tidak hanya dari bahan alami tetapi juga bahan buatan dengan maksud untuk meningkatkan kecantikan (Wasitaatmadja, 1997).
  Definisi kosmetik dalam Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 445/Menkes/Permenkes/1998 adalah sebagai berikut : “Kosmetik adalah sediaan atau paduan bahan yang siap untuk digunakan pada bagian luar badan (epidermis, rambut, kuku, bibir, dan organ kelamin bagian luar), gigi, dan rongga mulut, untuk membersihkan, menambah daya tarik, mengubah penampakan, melindungi supaya tetap dalam keadaan baik, memperbaiki bau badan tetapi tidak dimaksudkan untuk mengobati atau menyembuhkan suatu penyakit”.
  Kosemtik adalah bahan atau sediaan yang dimaksudkan untuk digunakan pada bagian luar tubuh manusia(epidermis, rambut, bbir dan organ genital bagian luar) atau gigi dan membrane mukosa mulut terutama untuk membersihkan, mewangikan, mengubah penampilan dan atau memerbaiki bau badan atau melindungi atau memeihara tubuh pada kondisi baik (BPOM, 2013).
3.1.1. Penggologan Kosmetik
  Menurut Tranggono dan Latifah (2007), Penggolongan kosmetik terbagi atas beberapa golongan, yaitu :
  a.
   Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 045/C/SK/1977 tanggal 22 Januari 1977, menurut kegunaannya kosmetika dikelompokkan dalam 13 golongan yaitu : 1.
  Preparat untuk bayi, misalnya minyak bayi, bedak bayi, dan lain- lain.
  2. Preparat untuk mandi, misalnya sabun mandi, bath capsule, dan lain-lain.
  3. Preparat untuk mata, misalnya maskara, eye-shadow, dan lain- lain.
  4. Preparat wangi-wangian, misalnya parfum, toilet water, dan lain- lain.
  5. Preparat rambut, misalnya cat rambut, hair spray, dan lain-lain.
  6. Preparat pewarna rambut, misalnya cat rambut, dan lain-lain.
  7. Preparat make up (kecuali mata), misalnya bedak, lipstik, dan lain- lain.
  Hanya nama tradisional saja, tanpa komponen yang benar- benar tradisional, dan diberi zat warna yang menyerupai bahan tradisional.
  5. Kosmetik untuk menipiskan atau mengamplas kulit (peeling), misalnya scrub cream yang berisi butiran-butiran halus yang berfungsi sebagai pengamplas.
  4. Kosmetik pelindung kulit, misalnya sunscreen cream dan sunscreen foundation, sun block cream / lotion.
  3. Kosmetik untuk melembabkan kulit (moisturizer), misalnya moisturizer cream, night cream, anti wrinkle cream.
  2. Kosmetik untuk membersihkan kulit (cleanser) : sabun, cleansing cream, cleansing milk, dan penyegar kulit (freshener).
  Kosmetik perawatan kulit (skin care cosmetics) Jenis ini perlu untuk merawat kebersihan dan kesehatan kulit. Termasuk di dalamnya.
   Penggolongan menurut kegunaannya bagi kulit: 1.
  c.
  2. Kosmetik tradisional : Betul-betul tradisional, misalnya mangir lulur, yang dibuat dari bahan alam dan diolah menurut resep dan cara yang turun temurun. Semi tradisional, diolah secara modern dan diberi bahan pengawet agar tahan lama.
  8. Preparat untuk kebersihan mulut, misalnya pasta gigi, mouth washes, dan lain-lain.
  Kosmetik modern, diramu dari bahan kimia dan diolah secara modern.
   Penggolongan menurut sifat dan cara pembuatan sebagai berikut: 1.
  b.
  13. Preparat untuk suntan dan sunscreen, misalnya sunsreen foundation, dan lain-lain.
  12. Preparat cukur, misalnya sabun cukur, dan lain-lain.
  11. Preparat perawatan kulit, misalnya pembersih, pelembab, pelindung, dan lain-lain.
  10. Preparat kuku, misalnya cat kuku, lotion kuku, dan lain-lain.
  9. Preparat untuk kebersihan badan, misalnya deodorant, dan lain- lain.
  6. Kosmetik riasan (dekoratif atau make up). Jenis ini diperlukan untuk merias dan menutup cacat pada kulit sehingga menghasilkan penampilan yang lebih menarik serta menimbulkan efek psikologis yang baik, seperti percaya diri. Dalam kosmetik riasan, peran zat warna dan pewangi sangat besar. Kosmetik dekoratif terbagi menjadi 2 (dua) golongan, yaitu :
  Kosmetik dekoratif yang hanya menimbulkan efek pada permukaan dan pemakaian sebentar, misalnya lipstik, bedak, pemerah pipi, eye-shadow, dan lain-lain. Kosmetik dekoratif yang efeknya mendalam dan biasanya dalam waktu lama baru luntur, misalnya kosmetik pemutih kulit, cat rambut, pengeriting rambut, dan lain-lain. Kosmetika rias bibir selain untuk merias bibir ternyata disertai juga dengan bahan untuk meminyaki dan melindungi bibir dari lingkungan yang merusak, misalnya sinar ultraviolet.
  Tujuan utama penggunaan kosmetik pada masyarakat modern adalah untuk kebersihan pribadi, meningkatkan daya tarik melalui make up, meningkatkan rasa percaya diri dan perasaan tenang, melindungi kulit dan rambut dari kerusakan sinar ultraviolet, polusi dan factor lingkungan yang lain, mencegah penuaan, dan secara umum membantu seseorang lebih menikmati dan menghargai hidup (Djajadisastra, 2005).
3.1.2 Manfaat Kosmetik
  Secara umum orang menggunakan kosmetik bertujuan untuk m

Dokumen baru

Aktifitas terkini

Download (23 Halaman)
RP. 50,000

Tags

Bijak Dalam Mengambil Langkah

Dokumen yang terkait

ANALISIS DIKSI BAHASA IKLAN PRODUK KOSMETIK DALAM MEDIA CETAK (Majalah Femina Edisi Januari-Februari 2011)
2
16
21
ANALISIS KINERJA KEUANGAN PERUSAHAAN KOSMETIK YANG TERCATAT DI BURSA EFEK INDONESIA
2
7
48
ANALISIS DU PONT SYSTEM UNTUK PENILAIAN KINERJA PERUSAHAAN KOSMETIK YANG TERDAFTAR DI BEI
2
14
21
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEPUTUSAN PEMBELIAN KOSMETIK SARI AYU DI KECAMATAN PUNGGING KABUPATEN MOJOKERTO
0
3
1
EVALUASI MODAL KERJA OPTIMAL PADA PERUSAHAAN KOSMETIK YANG TERCATAT DI BURSA EFEK INDONESIA
1
4
31
HUBUNGAN ANTARA KONSEP DIRI DENGAN LOYALITAS MEREK PADA KONSUMEN PRODUK KOSMETIK
2
37
25
HUBUNGAN KEPERCAYAAN DIRI DENGAN INTENSI MEMBELI KOSMETIK PADA MAHASISWA
23
120
22
DAMPAK PENERAPAN SKEMA HARMONISASI REGULASI KOSMETIK DI ASEAN TERHADAP INDUSTRI DAN PERDAGANGAN KOSMETIK DI INDONESIA
3
48
111
PERLINDUNGAN KONSUMEN TERHADAP PENYALAHGUNAAN RHODAMIN B SEBAGAI BAHAN PEWARNA PADA KOSMETIK
4
51
53
PENGARUH KOMUNIKASI SOSIAL MEDIA TERHADAP PERSEPSI KONSUMEN PADA PRODUK KOSMETIK HALAL
0
0
16
MASKULINITAS BARU DALAM IKLAN KOSMETIK KOREA: ETUDE HOUSE DAN TONYMOLY
0
0
16
SPA DITINJAU DARI SEGI DERMATOLOGI KOSMETIK
0
0
9
PENGARUH CELEBRITY ENDORSEMENT, KEPERCAYAAN DAN CITRA MEREK TERHADAP NIAT BELI KOSMETIK MAYBELLINE DI SURABAYA
0
0
19
LAKI-LAKI PENGGUNA PRODUK KOSMETIK (SEBUAH STUDI INTERPRETATIF- KONSTRUKTIVIS TENTANG IDENTITAS DIRI) SKRIPSI
0
0
176
TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP PERLINDUNGAN KONSUMEN PRODUK KOSMETIK YANG TIDAK TERDAFTAR BPOM
0
0
103
Show more