Studi deskriptif gambaran pengalaman aborsi pada remaja dalam kasus kehamilan pranikah - USD Repository

Gratis

0
1
140
10 months ago
Preview
Full text

  

STUDI DESKRIPTIF:

GAMBARAN PENGALAMAN ABORSI PADA REMAJA

DALAM KASUS KEHAMILAN PRANIKAH

Skripsi

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi

  

Program Studi Psikologi

Oleh

Antonia Wahyuningsih

  

NIM : 029114059

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

  

2007 Mei 2007

  

Motto

“Buat hidup lebih hidup sehingga aku dapat hidup

Dan

  

Mampu menghidupi sesamaku”

Lord....

  

Give me serenity to accept the things that i can not change....

  

Give me courage to change the things that i can change.....

  

And

Wisdom to know the difference.. amen

“Sakit dalam perjuangan itu hanya sementara, bisa jadi

dirasakan dalam semenit, sejam, sehari, setahun.

  

Namun menyerah dalam perjuangan,

rasa sakit itu akan terasa selamanya.”

(Lance Armstrong,, mantan atlit balap sepeda AS)

  

PERSEMBAHAN

Karya tulis ini kupersembahkan

bagi orang-orang yang hadir dalam hidupku,

yang dengan tulus mencintaiku

dan tetap membuat adaku menjadi berarti.

  

Terima kasih, kalian telah mengisi hidupku

dengan cara kalian masing-masing...

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

  Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka sebagaimana layaknya karya ilmiah.

  Yogyakarta, 5 mei 2007 Penulis

  Antonia Wahyuningsih

  ABSTRAK

  Gambaran Pengalaman Aborsi Pada Remaja dalam Kasus Kehamilan Pranikah Antonia Wahyuningsih

  Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

  Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan pengalaman abosi pada remaja dalam kasus kehamilan pranikah. Aborsi yang dimaksud adalah abortus

  

provokatus kriminalis atau tindakan pengeluaran kehamilan secara sengaja karena

  alasan-alasan lain selain alasan indikasi medis. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif dan metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara mendalam untuk mengungkap latar belakang remaja melakukan aborsi, dampak dari aborsi dan upaya mengatasi Post Abortion Syndrome. Peneliti juga melakukan observasi terhadap perilaku nonverbal sebagai data pelengkap. Subjek dalam penelitian ini terdiri dari tiga remaja yang berada dalam rentang usia antara 18-21 tahun dan pernah melakukan aborsi dalam kasus kehamilan pranikah.

  Berdasarkan data yang dianalisis, dapat ditarik kesimpulan bahwa remaja yang melakukan aborsi adalah remaja yang cenderung terlibat aktivitas seksual yang tinggi dengan pasangannya. Alasan pengambilan keputusan aborsi pada remaja adalah karena ketidaksiapan dalam menjalani kehidupan selanjutnya baik dari secara ekonomi maupun secara sosial. Konsekuensi nyata dari tindak aborsi tersebut diantaranya, secara fisik mengandung resiko kesehatan dan secara psikis menyebabkan remaja mengalami Post Abortion Syndrome (PAS) atau Post

  

Traumatic Stress Syndrome . Upaya yang dilakukan untuk mengatasi PAS,

  diantaranya, remaja cenderung rajin berdoa minta ampun pada Tuhan, mendoakan janin yang telah diaborsi dan menyibukkan diri atau mulai menfokuskan diri pada masa depan.

  

ABSTRACT

The Depiction of Adolescent’s Experience of Abortion

in the Case of Premarital Pregnancy

  Antonia Wahyuningsih Faculty of Psychology

  Sanata Dharma University Yogyakarta

  This research aimed at depicting the adolescent’s experience of abortion in the case of premarital pregnancy. The abortion that was meant in this research was the criminality abortus provocatus or the intentional harsh act of stopping pregnancy due to some reasons other than the medical indication ones. This study was a qualitative research and qualitative descriptive was employed as the research method. The data gathering method was depth-interview which purpose was to reveal the motives of abortion by the adolescent, the impacts of abortion and the attempts to overcome the Post Abortion Syndrome. The researcher also carried out an observation on the nonverbal behavior as the complementary data.

  Based on the analyzed data, the author could draw a conclusion that the adolescent who committed abortion was the one who tended to involve most frequently in sexual activities with his/her couple. The reason of abortion decision making among adolescents was their being unready to go well through their further life both economically and socially. The real consequence of the abortion was, physically, bearing the risk of unhealthiness, and psychologically causing the adolescent to experience Post Abortion Syndrome (the PAS) or Post Traumatic Stress Syndrome. In order to overcome the PAS, the adolescent tended to try some efforts, e.g. praying obediently for God’s forgiving upon him/her and for the aborted embryo, making himself/herself busy with some meaningful activities, or starting to focus on his/her future.

KATA PENGANTAR

  Puji dan syukur ke hadirat Tuhan yang Maha Kuasa karena atas berkat dan rahmat-Nya penulis mampu menyelesaikan karya tulis ini untuk memenuhi salah satu syarat mendapatkan gelar Sarjana Psikologi.

  Terima kasih atas bantuan semua pihak yang telah mendukung penulis selama ini dengan kritik ataupun saran, semangat, kehadiran, perhatian, gurauan, bantuan baik mental, spritual dan materi. Oleh karena itu, penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih yang tak terhingga kepada:

  1. Tuhan Yesus pemberi segalanya dan Bunda Maria yang selalu mendampingi.

  2. Ibu dan bapak yang telah menjadikanku tetap mampu berdiri dan merasakan kasih sayang. Terimakasih atas doa dan keringat yang terus mengalir untukku.

  Bu...selamanya, asih ada untuk ibu. Aku sayang bapak dan ibu....

  3. Buat Romo Woto, terima kasih atas spirit dan perhatiannya baik secara moril ataupun materiil dalam mendampingi kehidupanku hingga aku mampu sampai pada tujuanku. Romo Bas dan Romo Ratno, terimakasih atas perhatian dan bantuannya.

  4. Bapak P. Eddy Suhartanto, S.Psi., M.Si. selaku Dekan Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

  5. Ibu Sylvia Carolina, M.Si. selaku dosen pembimbing skripsi, terima kasih telah membimbingku hingga sampai kelulusan.

  6. Ibu Agnes Indar E., S.Psi., Psi., M.Si. selaku dosen penguji dan Bapak Wijoyo Adi Nugroho selaku dosen penguji dan pembimbing akademik.

  7. Ibu Titik Kristiyani, S.Psi. yang pernah mendampingi dalam studi.

  8. Seluruh dosen Psikologi, staf Fakultas Psikologi (Mbak Nani, Mas Gandung, Mas Muji dan Pak Gie) dan civitas akademika Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, terima kasih telah membantu kelancaran studi penulis.

  9. Seluruh staf dan karyawan perpustakaan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, terima kasih atas bantuan dalam peminjaman buku-bukunya.

  10. Mamak, Bapak, Mbah, Pakde, Bude, Bulek, Paklek, Mbak-Mbak, Mas-Mas, Mas Medi, Ika, Emi, Eni, Mbak Asih, Mbak Lina, Dek Novi dan keluarga

  lainnya. Makasih ya....telah melengkapi hidupku dengan berbagai kasih dan doa hingga jadi asih.

  11. Bulek Marta, Om WT (Om Muji) dan keluarga. Terimaksih ya....atas doa dan dukungannya.

  12. Mas Nano: si Ndut yang ngaku ganteng, “My Candy”. Terima kasih buat semua kasih, waktu, dan perhatian yang ada sehingga aku tidak sendiri. Tetap semangat ya....”Satu Tiket” menanti untuk diraih sehingga kau bisa mewujudkan citamu. Semoga segala sesuatunya indah pada waktunya.

  13. Keluarga besar Mama dan Papa, terimakasih atas kasih, doa, dan dukungannya selama ini.

  14. Sahabat-sahabatku yang imutz: Tika, Heny, Eka, Wi2en, Pita, Prima, Aning, Ri2s, Mas Di2k Terima kasih atas persahabatan dan persaudaraan selama ini, berkat kalian aku menemukan saudara baru. Don’t give up ya...I Love U All.... dan temen-temen mumet: Ria, mbak Diah, Sari, Dewi, Meme, Jean, Marto, Uni, Evi, Kuncup, Sigit, Perik, Beny, Oskar : aku kangen sama kalian.

  15. Fr. Dadang, terima kasih atas kasih dalam untaian doamu dan persahabatan yang membuatku tidak sendiri. Semoga terang jalanmu memenuhi Panggilan- Nya. Om Giono, makasih ya...dah jadi om yang baik, semoga juga jadi bruder yang baik. Hendar, makasih juga ya...atas dukungan dan pengalamannya

  16. Fr. Dwi, terima kasih telah membantuku membuka pengalaman mengarang.

  Bruder Trie, Makasih juga ya...kapan makan baksonya? 17. Tio, Encis, Yudi, Indro, Mas Becak, Mas Kuntul, Mas Osak, Mas Rusman,

  Wiwib, Mbak Oki, Mbak Eni, Mbak Ika, Bambang: makasih ya....atas kebersamaan selama ini dan dukungannya.

  18. Buat temen-temen kost (Shinta, Sinta, Amel, Wenny, Patmi), terima kasih atas dukungan dan kebersamaannya, aku pasti akan merindukan saat-saat jadul bersama kalian. Buat Dodon dan Dek Beni, terimakasih atas bantuan Transletnya.

  19. Buat saudara-saudara di pegunungan Menoreh, terima kasih atas perhatian dan dukungan selama tinggal di Yogyakarta.

  20. Bulek Wiwin, Valya, Ocha, Lala dan Om, Mbak Tiwi, terima kasih atas doa dan dukungannya.

  21. Mbak Elen, mbak Tiwuk , Mbak Putri: aku senang bisa mengenal dan mendapat kakak yang baik seperti kalian, dan keluarga Tantra, semoga semakin tetap eksis menciptakan mahakarya seni hidup.

  22. NN, SS, CC, dan MM, terimakasih atas kerelaannya berbagi kisah hidup yang telah tertuang dalam pikiran, hati dan kertasku.

  23. Komunitas tari Genta Rakyat, terimaksih pernah memberiku kesempatan untuk menarikan tarianku.

  24. Teman-teman Fakultas Psikologi Angkatan 2000-2004: Roni, Ajeng, Desta, Hera, Astria, Ina, Tita, Iput, Weda, Lia, Nopek, Dani, Ana, Dias, Diana, ratih dan lain-lain yang belum tersebutkan, terimakasih atas dukungan dan kebersamaannya 25.

   Mbak Santi, Mas Tomi, dan Bapak-Bapak di PPM, terimakasih atas

  pengalaman berkaryanya, ilmu, kasih, perhatian, dan bimbingannya. I learned how to work and care to others.

  26. Tini “Hp 3744”, My com-com : makasih ya...berkat adamu, aku bisa menulis sepuasku. Galon “Motor” berkat adamu, aku bisa sampai kemana-mana & bertemu dengannya.

  27. Buat warga Paingan, terima kasih atas perhatiannya telah diterima dengan baik sebagai warga kost.

  28. Buat adik-adik: Diky, Tresa, Dek Nova, Dek Dina, Boby, Bagas dan yang lainnya, makasih atas keceriaannya.

  Penulis menyadari bahwa penelitian dan penulisan skripsi ini masih banyak kekurangan dan masih jauh dari sempurna. Maka dari itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun. Semoga dengan selesainya skripsi ini, dapat bermanfaat bagi pembaca pada umumnya.

  Yogyakarta, 5 mei 2007 Penulis

  Antonia Wahyuningsih

  DAFTAR ISI

  HALAMAN JUDUL..................................................................................... i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ........................................... ii HALAMAN PENGESAHAN....................................................................... iii HALAMAN MOTTO ................................................................................... iv HALAMAN PERSEMBAHAN ................................................................... v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ....................................................... vi ABSTRAK .................................................................................................... vii

  

ABSTRACT .................................................................................................... viii

  KATA PENGANTAR .................................................................................. ix DAFTAR ISI................................................................................................. xii DAFTAR TABEL......................................................................................... xv DAFTAR BAGAN ....................................................................................... xvi BAB I. PENDAHULUAN ............................................................................

  1 A. LATAR BELAKANG.................................................................

  1 B. RUMUSAN MASALAH ............................................................

  6 C. TUJUAN PENELITIAN .............................................................

  7 D. MANFAAT PENELITIAN.........................................................

  7 BAB II. DASAR TEORI ..............................................................................

  9 A. REMAJA..................................................................................... 9 1.

  Pengertian Remaja ................................................................ 9 2. Karakteristik Umum Perkembangan Remaja........................ 10

  3. Moralitas Remaja ................................................................. . 15 4.

  Seksualitas Remaja ............................................................... 16 B. KEHAMILAN PRANIKAH PADA REMAJA.......................... 18 1.

  Pengertian Kehamilan ........................................................... 18 2. Kehamilan Pranikah Pada Remaja........................................ 19 C. ABORSI ...................................................................................... 20 1.

  Pengertian Aborsi.................................................................. 20 2. Macam-macam Aborsi.......................................................... 21 3. Faktor-faktor yang Mendorong Aborsi ................................. 24 4. Pengambilan Keputusan Aborsi............................................ 25 5. Dampak Aborsi ..................................................................... 26 6. Upaya-upaya Mengatasi Post Abortion Syndrome ............... 27 D. GAMBARAN REMAJA YANG MELAKUKAN ABORSI DALAM KASUS KEHAMILAN PRANIKAH .........................

  28 BAB III. METODOLOGI PENELITIAN ....................................................

  31 A. JENIS PENELITIAN.................................................................. 31 B. SUBJEK PENELITIAN.............................................................. 32 C. METODE PENGUMPULAN DATA......................................... 32 1.

  Wawancara............................................................................ 33 2. Observasi............................................................................... 36 D. ANALISIS DATA ...................................................................... 37 E. KEABSAHAN DATA................................................................ 39

  BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN .............................

  42 A. PELAKSANAAN PENELITIAN............................................... 42 B. HASIL PENELITIAN................................................................. 44 1.

  Deskripsi Subjek Penelitian .................................................. 44 2. Penyajian Data ...................................................................... 44 C. PEMBAHASAN ......................................................................... 111

  BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN....................................................... 119 A. KESIMPULAN .......................................................................... 119 B. SARAN ....................................................................................... 120 DAFTAR PUSTAKA ................................................................................... 122

  

DAFTAR TABEL

TABEL I. Pedoman Umum Wawancara.......................................................

  33 TABEL II. Ringkasan Gambaran Pengalaman Aborsi Pada Remaja dalam Kasus Kehamilan Pranikah ...............................................................

  99

  DAFTAR BAGAN Bagan 1 : Bagan Hasil Penelitian Subjek I (SS) .....................................

  63 Bagan 2 : Bagan Hasil Penelitian Subjek II (CC) ...................................

  82 Bagan 3 : Bagan Hasil Penelitian Subjek III (MM)................................

  98

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Setiap masyarakat, cepat atau lambat akan mengalami perubahan

  sosial. Salah satu perubahan ini adalah perilaku seksual yang menyimpang di kalangan remaja. Penyimpangan perilaku seksual yang dimaksud dalam konteks ini adalah hubungan seks bebas yang dilakukan oleh pasangan yang belum menikah (pranikah) (Hidayana, 2004). Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Dr. Boyke, seorang ginekolog dan konsultan seks, di beberapa kota besar di Indonesia, seperti Jakarta, Surabaya, Palu, dan Banjarmasin diperkirakan ada 30 % murid SLTA dan mahasiswa berumur antara 17-21 tahun pernah melakukan hubungan seks pranikah (Kusmaryanto, 2002).

  Salah satu dampak nyata dari hubungan seks bebas pranikah adalah kemungkinan terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan (unwanted

  pregnancy) dan kemudian diikuti pertimbangan usaha aborsi (Kristinawati,

  2002). Menurut Vinita (dalam Hidayana, 2004) bahwa suatu kehamilan yang tidak diinginkan karena tidak sesuai dengan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat dapat mengakibatkan terjadinya aborsi sebagai salah satu pemecahan masalahnya. Aborsi merupakan tindakan penghentian dan pengeluaran hasil kehamilan dari rahim, sebelum janin bisa hidup di luar kandungan (viability), artinya dari trimester pertama kehamilan (pada usia janin 7-12 minggu) sampai awal trimester ke tiga yaitu pada usia janin kira- kira 24 minggu (Bertens, 2002).

  Data WHO di seluruh dunia memperkirakan bahwa setiap tahun dilakukan 20 juta aborsi tidak aman (abortus provocatus criminalis) dan 70.000 wanita meninggal akibat aborsi tidak aman. Abortus provocatus

  criminalis adalah penghentian kehamilan secara sengaja sebelum janin mampu

  hidup di luar kandungan dengan alasan-alasan lain, selain alasan indikasi medis (Therapeutik). Secara medis maupun secara hukum Abortus provocatus

  

criminalis ini dilarang karena dari segi cara dan dampaknya, tindakan ini

  menyebabkan kematian yang disengaja dan termasuk tindak pembunuhan (Kusmaryanto, 2002).

  Masalah aborsi ini sangat memprihatinkan karena adanya kecenderungan peningkatan aborsi dari tahun ke tahun. Misalnya data dari sebuah klinik di Jakarta menunjukkan pelaku aborsi di atas usia 20 tahun (48%), 16-19 tahun (46,9%), dan usia 12-15 tahun (5,5%). Berdasarkan data tersebut, dapat kita ketahui bahwa kecenderungan aborsi lebih tinggi dilakukan oleh perempuan berusia di bawah 20 tahun dibandingkan dengan yang berusia di atas 20 tahun (Hidayana, 2004). Hal ini juga menunjukkan bahwa tindak aborsi lebih banyak dilakukan oleh remaja. Setiap tahunnya diperkirakan sekitar dua juta bayi diaborsi dan 750.000 di antaranya dilakukan oleh remaja putri yang belum menikah (Media Indonesia, Februari 2000). Departemen Kesehatan juga mencatat bahwa di kalangan remaja kita setiap tahunnya terjadi 700 ribu kasus aborsi, atau 30% dari keseluruhan kasus aborsi (sekitar 2 juta kasus) (BKKBN, 2005). Berdasarkan kasus di atas menunjukkan bahwa tindak aborsi telah menjadi salah satu pilihan bagi seorang perempuan khususnya remaja untuk mengatasi kehamilan yang tidak diinginkan. Pilihan melakukan aborsi adalah suatu keputusan serius yang dapat memiliki dampak penting terhadap masa depan seseorang khususnya remaja (Alison &Catherine, 1991).

  Menurut Harjaningrum (2005), ada beberapa faktor yang mendorong seorang remaja melakukan aborsi yaitu faktor ekonomi dan sosial.

  Berdasarkan faktor ekonomi, aborsi dilakukan karena alasan ekonomi seperti kondisi ekonomi remaja yang belum mapan sehingga masih tergantung pada orang tua, dan alasan belum bekerja kerap menjadi faktor pendorong. Menurut faktor sosial, alasan remaja melakukan aborsi diantaranya karena adanya khawatir akan dampak sosial seperti putus sekolah/kuliah, malu pada lingkungan sekitar, takut mendapat ejekan dari masyarakat, sang pacar yang tidak mau bertanggung jawab, bingung siapa yang akan mengasuh bayi, atau karena takut terganggu karir masa depannya.

  Tindakan aborsi sendiri dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu aborsi yang dilakukan sendiri dan aborsi yang dilakukan oleh orang lain.

  Tindakan aborsi yang dilakukan sendiri misalnya dengan cara meminum obat- obatan yang dapat membahayakan janin seperti jamu yang dapat menggugurkan janin atau minum pil aborsi (mifepristone) (Bertens, 2002). Adapun cara lainnya yaitu dengan sengaja melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat menggugurkan janin seperti melakukan olah raga lari atau lompat- lompat. Tindakan aborsi yang dilakukan oleh orang lain misalnya dengan bantuan dokter, bidan, atau dukun beranak.

  Salah satu contoh kasus, Mary Tan menjalani aborsi 13 tahun yang

lalu tetapi sampai sekarang ia masih mengenang anaknya yang

berkemungkinan lahir tanpa tempurung kepala. Pada saat-saat tertentu Ny.

Tan membicarakan hal itu dengan airmata mengalir. "Saya kira tidak ada

perempuan yang bisa sembuh dari trauma aborsi. Saya tidak bisa lupa pada

saat-saat ketika obat disuntikkan ke perut saya dan bagaimana bayi itu

berusaha melawan untuk tetap hidup," kata Ny. Tan dengan terisak-isak. Dia

menggugurkan kandungannya ketika hamil empat bulan. Ny. Tan yang kini

memiliki empat anak, menyimpan rapat emosinya hingga mengakibatkan

lahirnya tekanan di bawah sadar berupa keinginan bunuh diri pada momen- momen tertentu (Suara Pembaharuan, 2003).

  Berdasarkan kasus di atas, diketahui bahwa peristiwa aborsi dapat menyebabkan tekanan psikologis pada pelakunya. Seseorang perempuan yang secara diam-diam melakukan aborsi, setelah proses aborsi biasanya akan mengalami Post Abortion Syndrome (PAS) (Harjaningrum, 2005). Gejala yang sering muncul adalah depresi, kehilangan kepercayaan diri, merusak diri sendiri, mengalami gangguan fungsi seksual, bermasalah dalam berhubungan dengan kawan, perubahan kepribadian yang mencolok, serangan kecemasan, perasaan bersalah dan penyesalan yang teramat dalam. Mereka juga sering menangis berkepanjangan, sulit tidur, sering bermimpi buruk, sulit konsentrasi, selalu teringat masa lalu, kehilangan ketertarikan untuk beraktivitas, dan sulit merasa dekat dengan anak-anak yang lahir kemudian (Harjaningrum, 2005). Secara medis aborsi dapat menyebabkan gangguan kesehatan seperti infeksi pada rahim, perdarahan hebat, embolisme (tersumbatnya pembuluh darah oleh bekuan darah), rahim yang terkoyak atau berlubang, komplikasi anastesi, kejang, dan luka leher rahim. Apabila kondisinya parah, rahim terpaksa diangkat, bahkan tak jarang nyawa pun

  Contoh kasus tindak aborsi lainnya, seperti yang dilakukan oleh Ika

gadis berusia 20 tahun, bukan nama sebenarnya, seorang mahasiswi sebuah

perguruan tinggi swasta di Jakarta. Saat itu janin Ika sudah berusia lebih 12

minggu. Semula keluarga Ika berusaha mencari sang pacar, tetapi jejaknya

pun tidak ada. Lelaki itu raib bagaikan ditelan bumi. Kemudian keluarga Ika

memutuskan bahwa Ika harus aborsi. ”Saya tidak berani menentang kehendak

keluarga, takut kalo jantung Babe kumat lagi,” kata Ika. Ika pun dibawa dari

satu klinik ke klinik lain, dari satu dokter ke dokter lain tetapi tetapi semua

menolak melakukan aborsi karena usia janin sudah lebih tiga bulan. Bahkan,

“Setelah perut saya diraba-raba dokter menasihati agar kandungan

dipelihara saja, sayang kalo diaborsi,” ujar Ika mengenang pengalamannya.

Namun, saran dokter tidak digubris oleh ibunya. “Kalo tak ada dokter yang

berani biar ku bawa ke dukun tulang, yang penting janin itu harus keluar dari

rahim kamu,”ujar Ika menirukan hardikan ibunya. Ika pun dibawa ke

kawasan Tangerang , Banten. Ika seakan tidak percaya ketika ia membaca

papan nama dengan tulisan “Dukun Tulang” di depan pondok yang mereka

datangi itu. Di sana sudah menunggu sepasang suami istri setengah baya. Ika

disuruh berbaring dan diberi minuman, “ Beberapa menit kemudian mataku

terasa berat sekali, ingin tidur saja,” kata Ika mengenang peristiwa yang

tidak akan pernah dilupakannya itu. Tiba-tiba ia merasakan perutnya seperti

dipelintir dengan keras sehingga menimbulkan bunyi gemeretak dari dalam

perutnya. Ika mengaku tidak merasakan sakit. Namun, dia merasa seakan-

akan tubuhnya putus menjadi dua bagian. Malam hari Ika mengalami

pendarahan hebat. Seluruh lantai kamar mandi penuh darah. Ika dilarikan ke

rumah sakit. “Untung segera dibawa, kalo beberapa menit saja terlambat

anak ini sudah tewas karena kehabisan darah, “ kata dokter di rumah sakit

itu. Setelah melalui perawatan yang intersif selama 30 hari secara medis Ika

dinyatakan sembuh. Namun, dokter dirumah sakit meminta kepada keluarga

agar Ika berkonsultasi dengan psikolog karena Ika juga mengalami persoalan

psikologis karena aborsi yang dialami Ika membuat jiwanya rapuh. Agar

tidak berkembang menjadi trauma yang permanen maka Ika harus ditangani

psikolog (InfoKESPRO, 2001)

  Bersadarkan kasus di atas, dampak aborsi baik secara fisik maupun psikis (post abortion syndrome) merupakan konsekwensi dari sebuah pilihan.

  Konsekwensi tersebut dapat menyebabkan timbulnya kecemasan dan persoalan psikologis yang berkepanjangan pada diri remaja. Adapun upaya yang dilakukan untuk mengatasi dampak aborsi tersebut diantaranya, melakukan pemeriksaan kondisi kesehatan pasca aborsi ke dokter, meminta bantuan konselor untuk mengatasi masalah dan perasaan negatif akibat aborsi, terbuka pada orang terdekat atau keluarga atas apa yang telah dialaminya, berdoa minta ampun pada Tuhan dan rajin mendoakan janin yang telah diaborsi, mencegah terjadinya kontak seksual dengan pasangan dan berusaha menyibukkan diri dengan aktivitas baru. Masalah-masalah akibat aborsi yang tidak segera diatasi maka dapat mengganggu perkembangan remaja baik secara fisik maupun psikis (Alison &Catherine, 1991).

  Dalam kasus aborsi remaja tidak hanya sebagai pelaku semata tetapi juga sebagai korban, namun hingga saat ini masih ada remaja yang tetap melakukan aborsi untuk mengatasi kehamilan yang tidak diinginkan. Padahal tindak aborsi memiliki dampak negatif baik secara fisik maupun psikis.

  Adanya kenyataan tersebut, peneliti tertarik untuk memahami secara lebih mendalam tentang gambaran pengalaman aborsi yang masih dilakukan hingga saat ini khususnya pada remaja dalam kasus kehamilan pranikah. Pemahaman atas masalah ini dipandang perlu untuk dilakukan sebelum lebih banyak korban akibat tindak aborsi.

B. RUMUSAN MASALAH

  Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana pengalaman remaja yang melakukan aborsi dalam kasus kehamilan pranikah? Untuk memperoleh pembahasan yang lebih mendetail dari penelitian ini, maka peneliti membaginya dalam beberapa rincian pertanyaan, yaitu :

  1. Apakah yang menjadi dasar atau latar belakang seorang remaja memutuskan untuk melakukan aborsi?

  2. Apakah dampak dari keputusan melakukan tindak aborsi baik secara fisik maupun psikis pada remaja yang melakukan aborsi?

  3. Upaya apakah yang dilakukan oleh remaja yang melakukan aborsi untuk mengatasi Post Abortion Syndrome (PAS)?

  C. TUJUAN PENELITIAN

  Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan dan memahami secara lebih mendalam tentang pengalaman aborsi pada remaja dalam kasus kehamilan pranikah yang terkait dengan latar belakang melakukan aborsi, dampak aborsi baik secara fisik maupun psikis, dan upaya mengatasi Post

  Abortion Syndrome (PAS).

  D. MANFAAT PENELITIAN 1.

  Manfaat Teoritis Bagi peneliti selanjutnya, hasil penelitian ini dapat memberi sumbangan informasi bagi penelitian-penelitian dalam bidang Psikologi Sosial terutama dengan topik penelitian tentang aborsi.

2. Manfaat Praktis a.

  Bagi perkembangan psikologi konseling, hasil penelitian ini dapat menjadi bahan acuan atau sumber informasi bagi konselor dalam mendampingi para remaja yang melakukan aborsi. b.

  Bagi remaja yang melakukan aborsi pada kasus kehamilan pranikah, hasil penelitian ini dapat menjadi sumber informasi dalam memahami dirinya.

  c.

  Bagi keluarga, hasil penelitian ini dapat menjadi sumber informasi untuk orang tua dan anggota keluarga lainnya dalam memahami dan memberi dukungan kepada remaja yang melakukan aborsi pada kasus kehamilan pranikah dalam menentukan pilihan hidupnya.

  d.

  Bagi masyarakat, hasil penelitian ini dapat menambah wawasan masyarakat untuk memahami keadaan remaja yang melakukan aborsi pada kasus kehamilan pranikah sehingga masyarakat dapat berperan serta dalam memberikan pengawasan terhadap remaja guna mencegah terjadinya hubungan seks pranikah yang dapat berakhir pada tindakan aborsi.

BAB II DASAR TEORI A. REMAJA 1. Pengertian Remaja Istilah remaja atau adolescence, berasal dari kata Latin

  “adolescere” , yang berarti tumbuh ke arah kematangan. Kematangan di

  sini mempunyai arti yang lebih luas yaitu mencakup kematangan mental, emosional, sosial dan fisik (Hurlock, 1996).

  Menurut Santrock (2003), masa remaja diartikan sebagai masa perkembangan transisi antara masa anak dan masa dewasa yang mencakup perubahan bilogis, kognitif, dan sosial-emosional. Beberapa ahli perkembangan menggambarkan remaja sebagai masa remaja awal dan akhir. Masa remaja awal (early adolescence) kira-kira sama dengan masa sekolah menengah pertama dan mencakup kebanyakan perubahan pubertas. Masa remaja akhir (late adolescence) menunjuk kira-kira setelah usia 15 tahun. Masa remaja akhir lebih memiliki minat pada karir, pacaran, dan eksplorasi identitas yang seringkali lebih nyata dalam masa remaja akhir ketimbang dalam masa remaja awal (Santrock, 2003).

  Monks (1989) mengemukakan bahwa masa remaja secara global berlangsung antara umur 12 sampai 21 tahun dengan pembagian sebagai berikut: 12-15 tahun termasuk sebagai remaja awal, 15-18 tahun termasuk sebagai remaja pertengahan, dan 18-21 tahun sebagai remaja akhir.

  Menurut Kartini-Kartono (1982), batasan usia remaja adalah 12 – 21 tahun. Masa remaja dibagi menjadi tiga periode, yaitu pra-pubertas dengan batasan usia 12-14 tahun, masa pubertas awal dengan batasan usia 14-17 tahun, dan pubertas akhir atau adolesensi dengan batasan usia 17-21 tahun.

  Berdasarkan berbagai pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa masa remaja adalah masa peralihan dari masa anak-anak ke masa dewasa dengan segala perubahan-perubahan yang dialami meliputi perubahan fisik, sosial, dan mental termasuk perubahan minat dan tujuan hidup dengan batasan usia 12-21 tahun. Penulis membatasi subjek penelitian pada remaja akhir yang memiliki rentang usia antara 18-21 tahun dengan pertimbangan bahwa mereka lebih mampu memahami arah dan tujuan hidupnya dengan konsekuen, mampu bertanggung jawab dan berusaha hidup sesuai dengan nilai-nilai yang dianutnya (Kartini-Kartono, 1982).

2. Karakteristik Umum Perkembangan Remaja Remaja berada pada batas peralihan kehidupan anak dan dewasa.

  Beberapa karakteristik perkembangan remaja (Santrock, 2002) adalah sebagai berikut: a.

  Perkembangan Fisik Perkembangan fisik pada remaja ditandai dengan perubahan pubertas. Pubertas (puberty) ialah suatu periode di mana kematangan kerangka dan seksual terjadi secara pesat terutama pada awal masa remaja. Pubertas adalah bagian dari suatu proses yang terjadi berangsur-angsur (gradual) yang ditandai dengan perubahan hormonal dan perubahan tubuh pada remaja.

  Ada empat perubahan tubuh yang paling menonjol pada perempuan yaitu pertambahan tinggi badan yang cepat, menarche atau haid pertama, pertumbuhan buah dada, dan pertumbuhan rambut kemaluan. Perubahan fisik pada laki-laki yaitu pertambahan tinggi badan yang cepat, pertumbuhan penis, pertumbuhan testis dan rambut kemaluan (Malina; Tanne dalam Santrock, 2002).

  b.

  Perkembangan Kognitif 1) Remaja berada pada tahap pemikiran operasional formal.

  Piaget yakin bahwa pemikiran operasional formal berlangsung antara usia 11-15 tahun dan sifatnya lebih abstrak.

  Remaja tidak lagi terbatas pada pengalaman konkret aktual sebagai dasar pemikiran. Mereka dapat membangkitkan situasi-situasi khayalan, mampu menggunakan pemikiran deduktif hipotesis dan penalaran yang abstrak. Pada tahap ini, remaja mampu memberi jawaban-jawaban terhadap masalah-masalah hidup yang selalu berkembang, termasuk masalah iman kepercayaan, apa artinya Tuhan dan nilai-nilai yang dipegang secara pribadi. 2) Pemikiran remaja bersifat egosentris.

  Piaget menamakan keterpikatan remaja pada pemikiran mereka sendiri sebagai “egosentrisme”, yaitu perasaan remaja yang mendalam atas kemampuan refleksi diri mereka sendiri. Egosentrisme remaja (adolescent egocentrism) meliputi dua bagian yaitu penonton khayalan dan dongeng pribadi. Penonton khayalan

  (imaginary audience) adalah keyakinan remaja bahwa orang lain memperhatikan dirinya sebagaimana halnya dengan dirinya sendiri.

  Hal ini sering berkaitan erat dengan dengan kebutuhan akan tingkah laku yang bersifat mengundang perhatian orang lain (Charles, 1987).

  Dongeng pribadi (the personal fabel) ialah bagian dari egosentrisme remaja yang meliputi perasaan unik seorang anak

  remaja, dimana mereka merasa bahwa tidak seorang pun dapat mengerti perasaan mereka sebenarnya. Dalam sebuah penelitian menyebutkan bahwa remaja yang tingkat egosentrisnya tinggi menyakini bahwa mereka memiliki kemungkinan yang kecil untuk hamil bila terlibat dalam hubungan seks tanpa alat kontrasepsi. 3)

  Remaja mulai berpikir tentang kepribadian sama seperti cara yang dilakukan oleh para ahli teori kepribadian.

  Pertama, remaja mulai mempertimbangkan informasi yang diperoleh sebelumnya dan informasi yang diperoleh saat ini, serta tidak semata-mata bersandar pada informasi konkret yang ada. Kedua, remaja cenderung mendeteksi perubahan-perubahan kontektual atau situasional pada perilaku mereka sendiri dan orang lain. Ketiga, remaja mulai mencari lebih dalam, lebih kompleks tentang diri mereka sendiri atau orang lain (Santrock, 2002). c.

  Perkembangan Sosial – Emosi 1)

  Dalam Keluarga

  a) Otonomi dan attachment

  Otonomi dan tanggung jawab merupakan tuntutan remaja kepada orang tuanya. Ada kemungkinan orang tua menerapkan pola pengasuhan otoriter pada remaja sehingga cenderung memutuskan segala sesuatu yang berkenaan dengan remaja tanpa memperdulikan pendapat dari remaja (Yulia&Novita dalam Gunarsa, 2004). Pada orang tua yang bijaksana, cenderung melepaskan kendali namun tetap memberikan bimbingan pada remaja untuk mengambil keputusan yang masuk akal. Selain itu, adanya kelekatan (secure attachment) dengan orang tua mampu meningkatkan kompetensi sosial pada remaja dan kemampuan menjelajahi dunia sosial yang lebih luas dengan cara-cara yang sehat.

  b) Konflik orang tua-remaja

  Konflik dengan orang tua seringkali meningkat pada awal masa remaja. Peningkatan ini dapat disebabkan oleh sejumlah faktor: perubahan biologis pubertas, perubahan kognitif yang meliputi peningkatan idealisme dan penalaran logis, perubahan sosial yang berfokus pada kemandirian, identitas, dan perubahan kebijaksanaan pada orang tua.

  2) Dalam Hubungan dengan Teman-teman Sebaya

  a) Tekanan teman sebaya dan tuntutan konformitas

  Tekanan teman sebaya sangat berpengaruh dalam kehidupan remaja. Konformitas dengan tekanan teman-teman sebaya pada masa remaja bersifat positif maupun negatif. Umumnya remaja terlibat dalam semua bentuk perilaku konformitas yang negatif, seperti mabuk-mabukan, seks bebas, dan lain sebagainya. Remaja cenderung memiliki keinginan untuk meluangkan waktu dengan anggota-anggota suatu klik.

  b) Klik dan kelompok

  Kelompok (crowd) adalah kelompok-kelompok remaja

  yang terbesar dan kurang bersifat pribadi. Terbentuknya kelompok karena adanya kepentingan atau minat yang sama dalam berbagai kegiatan, bukan karena mereka saling tertarik.

  Klik (cliques) adalah kelompok-kelompok yang lebih kecil,

  memiliki kedekatan yang lebih besar di antara anggotanya, dan lebih kohesif daripada kelompok.

  c) Berkencan

  Berkencan dapat merupakan suatu bentuk seleksi pasangan, rekreasi, sumber status dan prestasi, serta suatu lingkungan untuk belajar tentang relasi yang akrab. Dalam berkencan dikenal istilah skenario berkencan (dating scrips) yaitu model-model kognitif yang digunakan untuk memandu dan mengevaluasi interaksi berkencan. Skenario berkencan laki-laki bersifat proaktif sedangkan perempuan bersifat reaktif.

  Berkencan berbeda-beda secara lintas budaya.

3. Moralitas Remaja

  Moralitas adalah kualitas dalam perbuatan manusia yang mampu menunjukkan bahwa suatu perbuatan itu benar atau salah (Poespoprodjo, 1986). Menurut psikolog Ervin Staub, moralitas adalah serangkaian aturan, kebiasaan atau prinsip yang mengatur perilaku manusia dalam hubungannya dengan sesama (Shelton, 1988). Secara mendasar, moralitas dapat dicapai dengan cara menyesuaikan diri dengan hukum eksternal atau aturan-aturan kelompok dan menginternalisasi nilai-nilai atau norma- norma masyarakat melalui interaksi memberi dan menerima.

  Remaja juga menerima moralitas kelompok atau moralitas eksternal sebagai norma untuk pembentukan keputusan moral yang tepat (Poespoprodjo, 1988). Keputusan moral adalah keputusan yang mampu mencerminkan mana hal yang baik untuk dijalani dan mana hal yang buruk yang harus dihindari. Dalam pengambilan keputusan moral, agama menekankan pentingnya peranan suara hati dalam menentukan kebenaran atau kekeliruan (Shelton, 1988).

  Suara hati merupakan inti terdalam dari diri manusia yang menuntun, mengarahkan dan menggerakkan manusia untuk melakukan yang baik dan menolak yang buruk sehingga manusia semakin berusaha menyesuaikan diri dengan azas-azas kesusilaan yang benar (Ensiklopedi,

  1992). Suara hati berperan dalam mengarahkan manusia untuk menentukan suatu kebenaran atau kesalahan dalam membuat suatu keputusan moral yang tepat. Suara hati muncul dari kesadaran moral terdalam dari dasar hati kita sebagai manusia. Suara hati merupakan perintah, larangan, penilaian, teguran yang dimunculkan oleh hati nurani (Poespoprodjo, 1988).

  Hati nurani pada dasarnya adalah kesadaran moral yang dimiliki oleh individu, yakni kesadaran untuk membedakan mana hal yang baik untuk dilakukan dan hal yang buruk untuk dihindarkan (Poespoprodjo, 1988). Sebagai contoh, ketika seorang remaja putri diajak pacarnya berhubungan seks, dalam batinnya akan muncul kesadaran bahwa yang baik untuk dilakukan adalah menolak ajakan pacarnya, sedangkan yang tidak baik untuk dihindari adalah menuruti ajakan berhubungan seks.

  Kesadaran seperti itu muncul bagaikan suara dari dasar hati kita sehingga biasa disebut “suara hati”. Suara tersebut mendesak seseorang untuk mengikutinya, namun bukan tanpa alasan yang disadarinya melainkan karena ia sadar bahwa hal tersebut baik dan mencerminkan tanggung jawabnya sebagai manusia.

4. Seksualitas Remaja a.

  Sikap dan Tingkah Laku Seksual Remaja 1)

  Peningkatan tingkah laku seksual remaja Tingkah laku seksual remaja biasanya bersifat meningkat atau progresif. Biasanya diawali dengan necking (berciuman sampai ke daerah dada), kemudian diikuti oleh petting (saling menempelkan alat kelamin, atau pada beberapa kasus, seks oral, yang secara besar meningkat pada masa remaja selama beberapa tahun belakangan ini.

  2) Aturan seksual bagi remaja perempuan dan laki-laki

  Aturan seksual adalah pola yang khas berupa gambaran

  peran seseorang mengenai bagaimana individu harus bertingkah laku secara seksual. Perempuan dan laki-laki disosialisasikan agar mengikuti aturan seksual yang berbeda. Remaja perempuan belajar untuk mengaitkan hubungan seks dengan cinta (Michael dalam Santrock, 2001). Mereka sering merasionalisasikan tingkah laku seksual mereka dengan mengaitkan pada diri mereka sendiri bahwa mereka terhanyut cinta.

  Alasan lain untuk melakukan hubungan seks adalah karena didorong oleh kekasih, mencoba-coba sebagai cara untuk memperoleh kekasih, keingintahuan, dan keinginan seksual yang tidak berhubungan dengan mencintai dan menyayangi. Pada remaja laki-laki merasakan adanya tekanan yang berarti dari teman-teman sebayanya untuk melakukan hubungan seks dan untuk menjadi aktif secara seksual. 3)

  Remaja yang rawan dan seksualitas Remaja yang rawan cenderung menunjukkan tingkah laku seksual yang tidak bertanggung jawab. Remaja rawan yang dimaksud adalah remaja yang merasa tidak berarti, tidak memiliki kesempatan yang memadai untuk belajar dan bekerja, dan merasa memiliki kebutuhan untuk membuktikan sesuatu pada dirinya sendiri dengan seks. Tingkah laku mereka yang tidak bertanggung jawab dan tiadanya dukungan sosial dapat menyebabkan terjadinya kehamilan, munculnya penyakit menular seksual, dan stres psikologi (Scott-Jone & White dalam Santrock, 2001).

B. KEHAMILAN PRANIKAH PADA REMAJA 1. Pengertian Kehamilan

  Kehamilan terjadi karena adanya pembuahan pada sel telur oleh sperma yang nantinya dapat berkembang menjadi janin. Hubungan seks atau kontak intim antara alat kelamin perempuan dengan alat kelamin pria dalam masa-masa suburnya, sangat memungkinkan terjadinya kehamilan.

  Tanda-tanda terjadinya kehamilan menurut Gilarso (2003), diantaranya: a.

  Tanda-tanda awal terjadinya kehamilan, yaitu: tidak mengalami siklus haid; payudara membengkak dan terasa kencang; ibu sering merasa mual pada pagi hari sampai ingin muntah; lebih sering buang air kecil; sembelit; lebih sulit tidur; sering sakit kepala. Banyak ibu mulai menyukai makan yang masam-masam.

  b.

  Pada usia kehamilan selanjutnya (3 bulan ke atas), rahim mulai membesar dan mulai ada hiperpigmentasi pada wajah yang disebut “Topeng kehamilan, pada perut mulai tampak garis-garis yang disebut

  strie , dan lingkaran disekitar puting payudara tampak lebih hitam disebut ariola mamae.

  c.

  Pada kehamilan lima bulan, denyut jantung anak sudah bisa didengar oleh pemeriksa, ibu mulai merasa adanya gerakan anak di dalam kandungannya.

  Secara emosional, perempuan hamil akan lebih mudah mengalami stres karena emosinya yang tidak stabil. Tekanan emosi yang kuat akan menyebabkan ketegangan pada otot sehingga dapat mengubah susunan kimia dalam darah dan mempengaruhi kehamilan ibu (Snow, 1989).

  Selama masa kehamilan “ Si ibu” akan merasakan terjadinya perubahan tidak hanya dalam tubuhnya tetapi juga pada perasaannya (Gilarso, 2003).

2. Kehamilan Pranikah Pada Remaja

  Adanya fenomena pergaulan seks bebas sebelum menikah di kalangan remaja yang kita jumpai dewasa ini, masih dianggap sebagai peristiwa tabu dan melanggar norma pribadi dan masyarakat (Kristinawati, 2002). Salah satu penyebab terjadinya seks pranikah adalah karena ketidakmampuan remaja dalam mengendalikan nafsu atau dorongan seksual yang semakin meningkat pada masa remaja.

  Salah satu akibat yang nyata dari pergaulan seks bebas pranikah adalah kemungkinan terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan

  (unwanted pregnancy) dan diikuti pertimbangan usaha aborsi

  (Kristinawati, 2002). Menurut Vinita (dalam Hidayana, 2004), bahwa kehamilan yang tidak diinginkan disebabkan karena kehamilan tersebut dianggap tidak sesuai dengan tuntutan dan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat.

  Adapun dampak lainnya dari kehamilan pada remaja yaitu dapat meningkatkan resiko kesehatan baik bagi ibu maupun bayinya. Bayi yang dilahirkan oleh remaja cenderung memiliki berat badan yang lebih rendah atau mengalami masalah neurologis dan penyakit anak. Ibu remaja sering berhenti dan keluar dari sekolah, dan tidak dapat memperoleh pekerjaan.

  Berbagai konsekuensi negatif yang dialami remaja hamil pranikah baik yang melakukan aborsi maupun tidak adalah mengalami masalah psikologis yang cukup berat, seperti rasa malu, depresi, cemas dan perasaan rendah diri karena merasa bersalah telah melakukan tindakan yang dipandang sebagai aib atau dosa oleh norma agama dan masyarakat (Sampoerno, 1982).

C. ABORSI 1. Pengertian Aborsi

  Secara medis, aborsi ialah penghentian dan pengeluaran hasil kehamilan dari rahim sebelum janin bisa hidup di luar kandungan atau

  viabiliti (Kusmaryanto, 2002). Dalam peristilahan moral dan hukum,

  aborsi adalah pengeluaran janin sejak saat pembuahan sampai dengan kelahiran yang mengakibatkan kematian. Menurut Bertens (2002), aborsi merupakan tindakan penghentian dan pengeluaran hasil kehamilan dari rahim, sebelum janin bisa hidup di luar kandungan (viability). Artinya dari

  trimester pertama kehamilan (pada usia janin 7-12 minggu) sampai awal trimester ke tiga yaitu pada usia janin kira-kira 24 minggu.

  Metode aborsi yang banyak digunakan pada usia kehamilan 7-12 minggu adalah kuret isap (suction curettage), yaitu cara membersihkan janin dalam rahim dengan menggunakan alat kuretase (sendok kerokan). Metode aborsi yang digunakan pada usia 12-20 minggu adalah metode dilatasi (dilation and evacuation) yang disertai pembiusan total. Metode aborsi lainnya yang digunakan sesudah minggu ke-20 adalah instillation

  abortion dengan cara menyuntikkan cairan yang dapat mematikan si janin ke dalam rongga amnion, kemudian isi rahim dikeluarkan secara alami.

  Metode aborsi lainnya yang dapat digunakan yaitu dengan meminum pil aborsi yang memiliki nama kimia mifepristine (Bertens, 2002).

  Berdasarkan pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa aborsi adalah tindakan penghentian dan pengeluaran hasil kehamilan dari rahim, sebelum janin bisa hidup di luar kandungan pada usia kehamilan antara 7 sampai 24 minggu.

2. Macam-macam Aborsi

  Masyarakat pada umumnya menggunakan istilah “abortus” atau “aborsi”, tetapi yang dimaksudkan adalah abortus provocatus dan abortus

  Spontaneus sekaligus (Bertens, 2002). Aborsi yang dimaksud dapat

  dibedakan menjadi dua, yaitu: a) Abortus Spontaneus atau aborsi spontan, yaitu di mana kandungan seorang yang hamil dengan spontan gugur. Istilah ini lebih dikenal dengan “keguguran”.

  b) Abortus Provocatus atau aborsi yang disengaja adalah tindakan dengan sengaja mengakhiri kehidupan kandungan dalam rahim seorang wanita hamil.

  Menurut Kusmaryanto (2002), ada beberapa macam aborsi yang termasuk dalam Abortus Provocatus, yaitu: a)

  Aborsi Therapeutik/Medicinalis adalah penghentian kehamilan dengan indikasi medis untuk menyelamatkan nyawa ibu si janin. Aborsi ini dilakukan oleh tenaga kesehatan yang terlatih sehingga relatif aman.

  b) Aborsi Kriminalis adalah penghentian kehamilan sebelum janin mampu hidup di luar kandungan dengan alasan-alasan lain, selain alasan indikasi medis (Therapeutik) dan dilarang oleh hukum. Aborsi ini dapat menjurus pada aborsi yang tidak aman (unsafe abortin), biasanya dilakukan oleh dukun atau orang yang memiliki kemampuan atau pengetahuan yang rendah dengan peralatan yang kurang lengkap dan tidak steril atau dengan meminum obat-obatan yang berkhasiat untuk menggugurkan kandungan.

  c) Aborsi Eugenetik adalah penghentian kehamilan untuk menghindari kelahiran bayi yang cacat atau yang mempunyai penyakit genetis.

  Eugenisme adalah ideologi yang diterapkan untuk mendapatkan keturunan hanya yang unggul/baik saja. d) Aborsi Langsung-Tak Langsung

  Aborsi langsung adalah tindakan (intervensi medis) yang tujuannya secara langsung ingin membunuh janin yang ada di dalam rahim sang ibu. Sedangkan aborsi tak langsung adalah suatu tindakan (intervensi medis) yang mengakibatkan aborsi, meskipun aborsinya sendiri bukan menjadi tujuan yang utama. Misalnya: seorang ibu penderita kanker yang harus diangkat rahimnya agar kanker tidak menjalar ke bagian tubuh lainnya.

  e) Selective Abortion adalah penghentian kehamilan karena janin yang dikandung tidak memenuhi kriteria yang diinginkan. Misalnya: ada orang tua yang ingin anak laki-laki, maka begitu ketahuan janin yang ada di dalam kandungan perempuan lalu digugurkan.

  f) Embryo Reduction (Pengurangan Embrio)

  Pengurangan embrio ini biasanya dilakukan oleh orang yang melakukan pembuahan artifisial (buatan) karena mengalami kelebihan janin sehingga harus digugurkan agar tidak menghambat perkembangan janin yang ada menjadi tidak sehat.

  g) Partial Birth Abortion adalah istilah politis/ hukum yang ada dalam istilah medis dimana aborsi dilakukan pertama-tama dengan cara memberikan obat-obatan kepada wanita hamil, tujuannya agar cervix (leher rahim) terbuka secara premature. Tindakan selanjutnya memasukkan alat untuk menarik keluar kaki bayi tetapi kepala bayi tetap ada di dalam tubuh untuk dihancurkan.

  Berdasarkan pemaparan di atas tentang beberapa macam aborsi maka peneliti akan menggunakan kasus aborsi kriminalis, yaitu penghentian kehamilan sebelum janin mampu hidup di luar kandungan dengan alasan-alasan lain, selain alasan indikasi medis (Therapeutik) dan dilarang oleh hukum. Adapun alasan yang menyertai pemilihan kasus tersebut adalah karena banyaknya kasus aborsi kriminalis yang dilarang oleh hukuman namun banyak dilakukan oleh remaja.

3. Faktor-Faktor yang Mendorong Aborsi

  Tindak aborsi akibat kehamilan yang tidak inginkan mencerminkan ketidaktahuan remaja tentang masalah seksualitas yang menyangkut banyak hal. Ketidaktahuan membuat remaja orang berpikir bahwa janin itu hanyalah segumpal darah tanpa arti sehingga bisa dibuang sama seperti darah menstruasi. Ketidaktahuan ini membuat remaja perempuan yang terlambat mengalami siklus menstruasi lalu mengambil pil atau obat pelancar datang bulan yang sebenarnya pil atau obat aborsi (Kusmaryanto, 2002).

  Adapun faktor-faktor yang mendorong para remaja melakukan aborsi dengan sengaja (Harjaningrum, 2005), antara lain : a.

  Faktor ekonomi Aborsi dilakukan karena alasan ekonomi, misalnya kondisi ekonomi yang belum mapan sehingga masih tergantung pada orang tua, dan alasan belum bekerja kerap menjadi faktor pendorong. b.

  Faktor sosial Mereka yang hamil di luar nikah, umumnya melakukan aborsi karena khawatir akan dampak sosial seperti putus sekolah/ kuliah, malu pada lingkungan sekitar, takut mendapat ejekan dari masyarakat, sang pacar yang tidak mau bertanggung jawab, bingung siapa yang akan mengasuh bayi, atau karena takut terganggu karir masa depannya.

4. Pengambilan Keputusan Aborsi

  Setiap hari orang terlibat di dalam tindakan membuat keputusan atau decision making, bahkan mungkin harus dilakukan beberapa kali.

  Mulai dari masalah-masalah yang sederhana sampai dengan masalah yang kompleks dan menuntut banyak pertimbangan yang mendalam, seperti halnya keputusan untuk aborsi pada remaja. Pembuatan atau pengambilan keputusan ialah proses memilih atau menentukan berbagai kemungkinan di antara situasi-situasi yang tidak pasti (Suharnan, 2005). Medin (1996) mendefinisikan pengambilan keputusan sebagai sebuah proses untuk menghasilkan, mengevaluasi, dan memilih sebuah pilihan keputusan di antara berbagai pilihan yang relevan. Dalam pilihan tersebut juga terkandung suatu konsekwensi atau resiko.

  Pilihan aborsi merupakan salah satu keputusan yang diambil oleh remaja putri untuk mengatasi kehamilan akibat hubungan seks pranikah.

  Kehamilan pranikah dianggap sebagai aib bagi keluarga (Bertens, 2002). Seorang remaja yang hamil merasa seakan-akan dunia runtuh dan tidak ada jalan keluar kecuali menggugurkan kandungannya (Kusmaryanto,

  2002). Pada diri remaja yang bersangkutan juga muncul perasaan bersalah, malu, takut terhadap orang tua dan sangsi sosial dari masyarakat. Kondisi ini menjadikan seseorang remaja cenderung mengambil jalan pintas yaitu aborsi sebagai keputusan akhir.

  Pengambilan keputusan yang dilakukan dalam kondisi fisik dan mental yang tidak didukung oleh emosi yang stabil maka dapat menghasilkan keputusan yang tidak tepat yang kemudian hari dapat disesali (Bertens, 2002). Pilihan aborsi pun pada akhirnya dapat menjadi suatu keputusan yang disesali.

5. Dampak Aborsi

  Kehamilan pranikah yang dialami perempuan yang belum menikah secara kejiwaan menimbulkan stres yang tidak saja bagi diri sendiri tetapi juga bagi keluarga dan orang tuanya. Para perempuan yang mengalami kehamilan pranikah cenderung mengambil jalan pintas, yaitu dengan menggugurkan kandungannya. Seseorang yang melakukan aborsi diyakini akan mengalami resiko kesehatan dan gangguan psikologis.

  Resiko kesehatan yang mungkin terjadi akibat aborsi adalah infeksi pada rahim, perdarahan hebat, embolisme(tersumbatnya pembuluh darah oleh bekuan darah), rahim yang terkoyak atau bolong, komplikasi anastesi, kejang, dan luka leher rahim. Rahim terpaksa harus diangkat bila kondisinya parah, bahkan tak jarang nyawa pun harus dikorbankan (Harjaningrum, 2005).

  Perempuan yang secara diam-diam melakukan aborsi, setelah proses aborsi biasanya akan mengalami Post Abortion Syndrome (PAS) atau sering juga disebut Post Traumatic Stress Syndrome. Gejala yang sering muncul adalah depresi, kehilangan kepercayaan diri, merusak diri sendiri, mengalami gangguan fungsi seksual, bermasalah dalam berhubungan dengan kawan, perubahan kepribadian yang mencolok, serangan kecemasan, perasaan bersalah dan penyesalan yang teramat dalam.

  Selain itu, mereka juga sering menangis berkepanjangan, sulit tidur, sering bermimpi buruk, sulit konsentrasi, selalu teringat masa lalu, kehilangan ketertarikan untuk beraktivitas, dan sulit merasa dekat dengan anak-anak yang lahir kemudian (Harjaningrum, 2005). Pengalaman banyak orang menunjukkan bahwa pengalaman buruk berkenaan dengan aborsi akan dikenang terus menerus dan menjadi beban psikologis yang tidak mudah untuk diatasi dalam perjalanan hidup selanjutnya (Kusmaryanto, 2002).

6. Upaya-Upaya Mengatasi Post Abortion Syndrome

  Adapun upaya-upaya yang dilakukan untuk mengatasi Post

  Abortion Syndrome (PAS) tersebut diantaranya (Alison &Catherine,

  1991): a.

  Melakukan pemeriksaan kondisi kesehatan pasca aborsi ke dokter untuk memastikan bahwa kondisi rahim dan servik sudah sehat kembali. b.

  Bila merasa depresi akibat perasaan bersalah sebaiknya meminta bantuan konselor untuk mengatasi masalah dan membicarakan perasaannya untuk membantu mengenali dan memahami kondisi diri.

  c.

  Berusaha terbuka pada orang terdekat atau keluarga atas apa yang telah dialaminya agar tidak merasa sendiri.

  d.

  Mendekatkan diri pada Tuhan, biasanya dengan lebih rajin berdoa minta ampun pada Tuhan karena telah berbuat dosa dan rajin mendoakan janin yang telah diaborsi.

  e.

  Berusaha mencegah terjadinya kontak seksual dengan pasangan dan berusaha menyibukkan diri dengan aktivitas baru yang lebih berguna.

  f.

  Berusaha untuk jujur dan berani memaafkan diri sendiri serat belajar menerima konsekwensi dari keputusan yang telah diambil.

  D.

  

GAMBARAN PENGALAMAN ABORSI PADA REMAJA DALAM

KASUS KEHAMILAN PRANIKAH

  Hubungan seksual pranikah merupakan salah satu bentuk penyimpangan seksual yang dilakukan sebelum menikah dan tidak dibenarkan oleh agama manapun. Berdasarkan data penelitian yang ada, sebagian besar remaja SLTA dan mahasiswa pada usia 12-17 telah melakukan hubungan seks pranikah. Salah satu akibat yang nyata dari hubungan seks bebas pranikah adalah kemungkinan terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan dan kemudian diikuti pertimbangan usaha aborsi (Kristinawati, 2002).

  Keputusan untuk aborsi yang diambil oleh remaja dilandasi karena adanya perasaan khawatir akan dampak sosial seperti putus sekolah/ kuliah, malu pada lingkungan sekitar, takut mendapat ejekan dari masyarakat, sang pacar yang tidak mau bertanggung jawab, bingung siapa yang akan mengasuh bayi, atau takut terganggu karir masa depannya. Selain itu, adanya kekhwatiran karena kondisi ekonomi yang belum mapan juga menjadi salah satu alasan dilakukannya tindak aborsi. Dalam kondisi demikian, terkadang seorang remaja putri kurang mampu mengikuti suara hatinya yang menuntunnya untuk melakukan hal yang benar dan menolak yang hal yang buruk.

  Aborsi kini telah menjadi salah satu pilihan di antara alternatif lain bagi remaja untuk mengatasi kehamilan yang tidak diinginkan. Ada kecenderungan remaja melakukan tindak aborsi yang tidak aman, misalnya dengan pergi ke dukun beranak, meminum obat-obatan yang dapat membahayakan janin seperti jamu penggugur janin atau minum pil aborsi

(mifepristone) , melakukan olah raga lari atau lompat-lompat (Bertens, 2002).

  Tindak aborsi dengan bantuan medis atau dokter baru akan dilakukan bila terjadi kegagalan dengan usaha aborsi yang dilakukan sendiri sebelumnya.

  Usaha aborsi yang dilakukan tentunya memiliki konsekwensi atau dampak tersendiri bagi diri remaja. Seseorang yang melakukan aborsi diyakini akan mengalami resiko kesehatan dan gangguan psikologis. Resiko kesehatan yang mungkin terjadi akibat aborsi adalah infeksi, perdarahan hebat, embolisme (tersumbatnya pembuluh darah oleh bekuan darah), rahim yang terkoyak atau bolong, komplikasi anastesi, kejang, luka dan leher rahim. Dalam kondisi yang parah, rahim terpaksa diangkat dan bahkan harus mengorbankan nyawa.

  Secara psikologis, remaja yang secara diam-diam melakukan aborsi biasanya akan mengalami Post Abortion Syndrome (PAS) setelah aborsi.

  Gejala yang sering muncul adalah depresi, kehilangan kepercayaan diri, perubahan kepribadian yang mencolok, serangan kecemasan, perasaan bersalah dan penyesalan yang teramat dalam. Selain itu, mereka juga sering menangis berkepanjangan, sulit tidur, sering bermimpi buruk, sulit konsentrasi, selalu teringat masa lalu, kehilangan ketertarikan untuk beraktivitas, dan sulit merasa dekat dengan anak-anak yang lahir kemudian.

  Adapun upaya yang dilakukan oleh remaja yang melakukan aborsi untuk mengatasi Post Abortion Syndrome (PAS), diantaranya: melakukan pemeriksaan kondisi kesehatan pasca aborsi ke dokter, meminta bantuan konselor atau terbuka pada orang terdekat atau keluarga untuk mengatasi masalah dan perasaan negatif akibat aborsi, berdoa minta ampun pada Tuhan dan rajin mendoakan janin yang telah diaborsi, mencegah terjadinya kontak seksual dengan pasangan dan berusaha menyibukkan diri dengan aktivitas baru. (Alison &Catherine, 1991). Dampak-dampak yang muncul akibat aborsi yang tidak segera diatasi dapat mengganggu perkembangan remaja baik secara fisik maupun psikis sehingga dapat menghambat proses kedewasaannya.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. JENIS PENELITIAN Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian deskriptif dengan

  pendekatan kualitatif. Poerwandari (2005) menjelaskan bahwa metode penelitian kualitatif ini merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan dan mengolah data yang sifatnya deskriptif, seperti transkrip wawancara, catatan lapangan, gambar, foto, rekaman video dan lain sebagainya”. Menurut Cresswel (1998), pendekatan kualitatif adalah sebuah proses pemahaman penyelidikan yang didasarkan pada tradisi metodologi penyelidikan berbeda yang mengeksplorasi masalah manusia atau sosial. Peneliti kualitatif membangun sebuah kekomplekkan, gambaran yang holistik, analisis kata- kata, laporan yang mendetail, dan menyusun studi dalam suasana yang natural.

  Penelitian deskriptif ini merupakan penelitian dengan tujuan penelitian untuk membuat pecandraan (deskriptif) secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta dan sifat-sifat populasi atau daerah tertentu (Suryabrata, 2002). Penelitian ini bermaksud untuk menggambarkan serta memahami secara mendalam tentang pengalaman aborsi pada remaja dalam kasus kehamilan pranikah.

  B. SUBJEK PENELITIAN

  Pemilihan subjek penelitian dalam penelitian kualitatif ini tidak diarahkan pada keterwakilan, dalam arti jum lah atau peristiwa acak, melainkan pada kecocokan konteks teoritis tentang gambaran remaja yang melakukan aborsi dalam kasus kehamilan pranikah (Poerwandari, 2005).

  Subjek penelitian diperoleh dengan cara mencari informasi tentang remaja yang pernah melakukan aborsi dalam kasus kehamilan pranikah dengan bertanya kepada beberapa teman kuliah. Subjek dalam penelitian ini adalah remaja perempuan yang pernah melakukan aborsi dalam kasus kehamilan pranikah dan belum melakukan pernikahan setelah terjadinya aborsi. Usia subjek berada pada rentang usia 18-21 tahun yang tergolong dalam adolesensi atau remaja akhir dengan pertimbangan bahwa remaja akhir lebih mampu memberikan jawaban-jawaban terhadap masalah-masalah hidupnya termasuk masalah iman kepercayaan dan nilai-nilai yang dianutnya.

  Beberapa identitas subjek seperti nama, tempat tinggal, alamat asal, pekerjaan, nama orang tua, dan sebagian besar nama tokoh-tokoh yang banyak terkait dalam kehidupan subjek akan disamarkan untuk menjaga kerahasiaan subjek.

  C. METODE PENGUMPULAN DATA

  Penelitian ini menggunakan metode wawancara sebagai alat utama untuk mengumpulkan data dan observasi sebagai metode pendukung.

1. Wawancara

  Wawancara adalah percakapan dan tanya jawab yang diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu. Wawancara kualitatif ini dilakukan guna memperoleh pengetahuan tentang makna-makna subjektif yang dipahami individu berkenaan dengan topik yang diteliti, dan bermaksud melakukan eksplorasi terhadap isu-isu atau suatu hal yang tidak dapat dilakukan melalui pendekatan lain (Poerwandari, 2005)

  Penelitian ini menggunakan teknik wawancara dengan pedoman umum. Pedoman wawancara umum berisi tentang hal-hal atau isu-isu yang harus diliput dan terungkap tanpa menentukan urutan pertanyaan, bahkan mungkin tanpa pertanyaan eksplisit. Pedoman wawancara digunakan untuk mengingatkan peneliti mengenai aspek-aspek yang harus dibahas dan sekaligus menjadi daftar pengecek (checklist) apakah aspek- aspek relevan tersebut telah dibahas atau ditanyakan. Bentuk wawancara dalam penelitian ini adalah mendalam (in-deph-interview), dimana peneliti mengajukan pertanyaan mengenai berbagai segi kehidupan subjek secara utuh dan mendalam (Poerwandari, 2005).

  Tabel I.

Pedoman Umum Wawancara

  Topik Utama Topik Pertanyaan Latar Belakang Keluarga a.

  Bagaimana suasana keluarga dalam kehidupan sehari-hari? (SK) b.

  Bagaimana pola asuh orang tua ? (PAO) c. Permasalahan apa saja yang sering muncul dalam keluarga? (MK) d.

  Bagaimana relasi dalam keluarga? (RK) Relasi dengan teman a.

  Bagaimana relasi dengan teman-teman? pergaulan. (RT) b.

  Apa saja bentuk relasi yang terjalin? (RT/RP) c. Aktivitas apa saja yang sering dilakukan bersama teman-teman? (AT)

  Relasi dengan teman a.

  Bagaimana intensitas pertemuannya? (IP) pacar b.

  Aktivitas apa saja yang dilakukan dengan dengan pacar? (AT/AP) Pengalaman seks a.

  Kapan anda mulai melakukan hubungan pranikah seks pertama kali? (ML) b.

  Betuk perilaku seksual apa yang sering dilakukan? (PS) c.

  Bagaimana intensitas melakukan hubungan seks? (IHS) d.

  Bagaimana perasaan anda setelah melakukan hubungan seksual? (DHS) Pengalaman tentang a.

  Bagaimana anda mengetahui kehamilan kehamilan yang terjadi? (MH) b.

  Bagaimana Perasaan anda setelah mengetahui terjadi kehamilan? (PK) c.

  Reaksi diri apa saja yang muncul setelah mengetahui kehamilan? (RE) d.

  Tindakan apa yang dilakukan setelah mengetahui terjadinya kehamilan? (TD) Pengalaman memutuskan aborsi a.

  Apa yang diketahui tentang aborsi? (PAB) b. Bagaimana cara mendapat Informasi tentang aborsi? (IA) c.

  Apa alasan anda memilih atau memutuskan untuk aborsi? (AL) d.

  Siapa saja yang berperan dalam proses pengambilan keputusan untuk melakukan aborsi? (OP) e. Bagaimana mendapatkan biaya untuk aborsi? (BA) f.

  Apakah metode aborsi yang dipilih? (MA)

  Dampak aborsi a.

  Apakah dampak yang terjadi secara fisik? (DFA) b. Apakah dampak yang dirasakan secara psikis? (DPA) Upaya mengatasi Post a.

  Apakah cara yang dilakukan untuk

  Abortion Syndrome mengatasi PAS? (US)

  (PAS) b.

  Apakah keinginan atau harapan pribadi anda? (KP) Pemahaman tentang a.

  Bagaimana pemahaman anda tentang moral agama? agama? (PAG) b.

  Bagimana pendapat anda tentang moral agama terkait masalah aborsi dan seks bebas? (PP) 2.

   Observasi

  Observasi adalah suatu metode pengumpulan data yang dilakukan dalam proses mengamati suatu hal atau fenomena yang akan diteliti.

  Obserasi dalam penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan pemahaman lebih baik tentang konteks dari hal-hal yang diteliti. Dalam penelitian ini, peneliti melibatkan diri dalam penelitian untuk mengamati perilaku

  nonverbal dan fenomena-fenomena yang belum terungkap dalam

  wawancara. Ada dua manfaat dari metode ini, yaitu sebagai cross check dengan hasil wawancara dan sebagai alat yang memungkinkan peneliti memperoleh data-data yang belum terungkap oleh subjek penelitian secara terbuka dalam wawancara.

D. ANALISIS DATA

  Analisis data merupakan proses mengatur urutan data, mengorganisasikannya ke dalam suatu pola, kategori, dan kesatuan uraian dasar. Dalam menganalisis data yang diperoleh dari hasil wawancara, maka peneliti melakukan langkah-langkah sebagai berikut (Poerwandari, 2005):

  1. Organisasi data Data yang sudah diperoleh akan diorganisasikan secara rapi dan sistematis. Organisasi data yang rapi dan sistematis akan memungkinkan peneliti untuk memperoleh kualitas data yang baik, mendokumentasikan analisis yang dilakukan, serta menyimpan data dan analisis yang berkaitan dalam penyelesaian penelitian (Highlen dan Finley dalam Poerwandari, 2001).

  Data-data tersebut meliputi: a.

  Data mentah berupa tulisan (dari hasil wawancara) disesuaikan dengan hasil wawancara.

  b.

  Data yang sudah ditandai dengan kode-kode.

  c.

  Penjabaran kode-kode dan kategori-kategori.

  2. Koding Penelitian kualitatif menganggap tahap koding sebagai tahap yang penting. Koding dilakukan untuk dapat mengorganisasi dan mensistematisasi data secara lengkap dan mendetail, sehingga data dapat memunculkan gambaran tentang topik yang dipelajari. Kode yang diberikan berupa singkatan atau simbol yang digunakan pada sekelompok kata-kata. Teknik koding dalam penelitian ini digunakan untuk mengidentifikasi hal-hal yang terkait dengan tindak aborsi pada remaja dalam kasus kehamilan pranikah yang diperoleh dari hasil wawancara. Langkah-langkah koding dalam penelitian ini meliputi : a.

  Menyusun transkripsi verbatim (kata demi kata) wawancara sedemikian rupa sehingga ada kolom kosong yang cukup besar di sebelah kiri dan kanan transkrip. Hal ini akan memudahkan dalam membubuhkan kode-kode atau catatan-catatan tertentu .

  b.

  Peneliti secara urut dan kontinyu melakukan penomoran pada baris transkrip.

  c.

  Peneliti secara urut melakukan pengkodean pada baris transkrip.

  Memberi nama untuk masing-masing berkas dengan kode-kode tertentu. Kode yang digunakan adalah singkatan atau simbol yang mudah diingat dan mewakili berkas tersebut.

3. Analisis

  a) Penelitian ini menggunakan analisis tematik yang memungkinkan peneliti menemukan pola-pola yang tidak terlihat jelas oleh pihak lain.

  Analisi tematik merupakan proses mengkode informasi yang dapat menghasilkan daftar tema, model tema atau indikator yang kompleks.

  Analisis tematik adalah suatu proses yang dapat digunakan dalam mengolah informasi kualitatif dan memungkinkan penerjemahan gejala/informasi kualitatif menjadi data kualitatif sesuai kebutuhan peneliti (Boyatzis dalam Poerwandari, 2005).

E. KEABSAHAN DATA 1.

  Kredibilitas Dalam penelitian kualitatif, konsep validitas diganti dengan istilah kredibilitas yang dimaksudkan untuk merangkum bahasan menyangkut kualitas penelitian kualitatif. Kredibilitas studi kualitatif terletak pada keberhasilannya mendeskripsikan setting, proses, kelompok sosial atau pola interaksi yang kompleks. Salah satu ukuran kredibilitas penelitian kualitatif adalah deskripsi mendalam yang menjelaskan kemajemukan atau kompleksitas aspek-aspek yang terkait dan interaksi dari berbagai aspek (Poerwandari, 2005). Pencapaian validitas atau kredibilitas dilakukan melalui orientasi dan upayanya mendalami dunia empiris dengan menggunakan metode yang paling cocok untuk pengambilan dan analisis data.

  Adapun konsep yang digunakan antara lain: validitas komunikatif yang dilakukan melalui dikonfirmasikannya kembali data dan analisisnya pada responden atau subjek penelitian, validitas argumentatif yang tercapai bila presentasi alur temuan dan kesimpulan dapat diikuti dengan baik serta dapat dibuktikan dengan melihat kembali ke data mentah,

  validitas ekologis yang menunjuk pada sejauh mana studi dilakukan pada

  kondisi alamiah dari subjek penelitian sehingga kondisi ‘apa adanya’ dan kehidupan sehari-hari menjadi konteks penting penelitian.

  2. Transferability

   Transferability dalam penelitian kualitatif menggantikan konsep

  generalisasi untuk menjelaskan sejauh mana temuan suatu penelitian yang dilakukan pada suatu kelompok tertentu dapat diaplikasikan pada kelompok lain. Setting atau konteks yang menjadi tempat penerapan atau pen-transfer-an hasil penelitian harus relevan atau memiliki banyak kesamaan dengan setting di mana penelitian dilakukan (Poerwandari, 2005). Upaya untuk menerapkan hasil penelitian pada kelompok berbeda lebih menjadi tanggung jawab peneliti lain yang ingin mencoba membuktikan.

  3. Dependability

  Dependability sama artinya dengan istilah reliabilitas dalam

  penelitian kuantitatif. Untuk meningkatkan reliabilitas ada beberapa hal yang dianggap penting dalam penelitian kualitatif (Poerwandari, 2005), antara lain: a.

  Koherensi, yakin bahwa metode yang dipilih memang mencapai tujuan yang diinginkan.

  b.

  Keterbukaan, artinya sejauh mana peneliti membuka diri dengan memanfaatkan metode-metode yang berbeda untuk mencapai tujuan.

  c.

  Diskursus, artinya sejauh mana dan seintensif apa peneliti mendiskusikan temuan dan analisisnya dengan orang-orang lain.

4. Confirmability

  Confirmability (konfirmabilitas) digunakan untuk mengganti istilah

  objektivitas dengan menekankan bahwa temuan penelitian dapat dikonfirmasikan. Penelitian kualitatif mengembangkan pemahaman berbeda tentang objektivitas. Objektivitas dapat diartikan sebagai sesuatu yang muncul (emergent) dari hubungan subjek-subjek yang berinterelasi.

  Peneliti kualitatif lebih mementingkan objektivitas dalam pengertian transparansi, yakni kesediaan peneliti mengungkapkan secara terbuka proses dan elemen-elemen penelitiannya sehingga memungkinkan pihak lain melakukan penilaian (Poerwandari, 2005). Di sisi lain, objektivitas juga dilihat sebagai kerangka ‘kesamaan pandangan atau analisis’ terhadap objek atau topik yang diteliti. Dalam hal ini objektivitas dilihat melalui sejauh mana diperoleh kesetujuan di antara peneliti-peneliti mengenai aspek yang dibahas.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. PELAKSANAAN PENELITIAN Dalam penelitian ini, pelaksanaan penelitian dilakukan dalam dua

  tahap yaitu, tahap persiapan dan tahap pelaksanaan. Langkah-langkah yang ditempuh adalah sebagai berikut:

1. Tahap Persiapan a.

  Peneliti mencari informasi tentang remaja yang pernah melakukan aborsi dengan bertanya pada teman-teman kuliah, dan kerabat.

  b.

  Setelah mendapatkan informasi, peneliti melakukan perkenalan sekaligus rapport dengan bantuan teman atau penghubung yang kenal dengan remaja pelaku aborsi. Dalam perkenalan, peneliti juga meminta ijin kepada remaja yang melakukan aborsi untuk menjadi responden penelitian.

  c.

  Setelah perkenalan, peneliti melakukan pendekatan secara pribadi untuk membangun kedekatan dan kepercayaan dengan berkunjung informal ke kost subjek sebanyak 2 kali, menjaga komunikasi melalui handphone dan SMS, serta pergi dan makan bersama.

  d.

  Peneliti mempersiapkan pokok-pokok pertanyaan sebagai pedoman wawancara. Pokok-pokok pertanyaan tersebut meliputi pertanyaan yang ditujukan kepada remaja pelaku aborsi untuk mendapakan informasi yang dibutuhkan. e.

  Membuat kesepakatan dengan subjek penelitian untuk melaksanakan wawancara dan observasi.

  f.

  Peneliti melaksanakan try out wawancara terlebih dulu terhadap salah seorang pelaku aborsi yang tidak termasuk dalam subjek penelitian.

2. Tahap Pelaksanaan a.

  b.

  Melaksanakan pengambilan data sesuai dengan waktu yang ditentukan.

  c.

  Wawancara dengan subjek dilaksanakan berdasarkan janji yang telah disepakati bersama antara subjek dan peneliti.

  d.

  Melaksanakan pengambilan data dengan merekam hasil wawancara dan melakukan observasi terhadap perilaku nonverbal subjek penelitian.

  Peneliti melaksanakan pengambilan data sesuai dengan metode yang telah ditentukan.

  Memindahkan data-data hasil rekaman wawancara dalam bentuk verbatim, dan data-data observasi dalam sebuah deskripsi.

  f.

  Memasukkan data-data wawancara dan observasi yang telah didapatkan ke dalam pengkodingan.

  g.

  Memasukkan data-data wawancara dan observasi yang telah dikoding ke dalam tema-tema yang muncul.

  h.

  Menganalisis tema-tema yang muncul dari hasil wawancara dan observasi. i.

  Membuat suatu kesimpulan berdasarkan hasil analisis yang dibuat.

  e.

B. HASIL PENELITIAN 1.

  Deskripsi Subjek Penelitian

  Keterangan Subjek 1 Subjek 2 Subjek 3

Inisial SS CC MM

Usia 20 tahun 21 tahun 21 tahun Pekerjaan Mahasiswa Mahasiswa Mahasiswa

Asal Kupang Riau Yogyakarta

Status Belum menikah Belum menikah Belum Menikah Aborsi

  1 kali 1 kali 1 kali 2.

  Penyajian data Pada bagian ini disajikan data-data yang diperoleh dari wawancara.

  Untuk mempermudah dalam menganalisis data, maka data yang disajikan ini sesuai dengan materi atau pokok permasalahan yang hendak dibahas.

  Subjek 1 (SS)

  Wawancara pokok terhadap subjek dilakukan satu kali dan bertempat di Kost subjek. Wawancara dilaksanakan pada hari kamis, tanggal 30 november 2006, pukul 15.40-17.30 Wib. Selama proses wawancara berlangsung, peneliti juga melakukan obervasi terhadap subjek untuk melihat perilaku-perilaku subjek yang tidak teramati dalam wawancara dan mendengarkan cerita subjek yang berkaitan dengan hal akan diungkap. Berikut hasil wawancara berdasarkan pedoman wawancara umum :

  Profil Subjek 1 (SS)

  Subjek merupakan anak kedua dari tiga bersaudara yang hidup dalam suasana keluarga yang memiliki hubungan baik. Subjek juga memiliki orang tua yang perhatian terhadap dirinya dan saudara- (W1.S1.SK5, SK7). saudaranya Selain itu, orang tua subjek juga mampu bersikap adil dalam memberikan perhatian maupun materi sehingga anak-

  (W1.S1.PAO9).

  anaknya mendapat perlakuan yang sama Terkadang subjek juga merasa bahwa orang tua tidak adil dalam pembagian kebutuhan baik terhadap dirinya maupun kedua saudaranya sehingga dapat menimbulkan pertengkaran dengan saudara kandungnya.

  Dalam keluarga subjek lebih memiliki kedekatan dengan ibu daripada ayahnya sehingga ia cenderung bercerita ke ibunya jika ada

  (W1.S1.RK15)

  masalah yang tidak mampu subjek selesaikan sendiri . Subjek jarang bercerita tentang masalahnya ke ayah karena ayah terlalu sibuk

  (W1.S1.MK17).

  dengan urusan kantor, gereja dan kepentingan lainnya Pola asuh orang tua pada subjek 1 cenderung otoriter. Hal ini ditunjukkan dari sikap orang tua yang menerapkan kedisiplinan sehingga membuat subjek merasa kurang memiliki kebebasan dan merasa terbatasi. Orang tua cenderung mengatur waktu bermain anak-anaknya sehingga subjek merasa tidak bebas dalam bermain dan beraktivitas dengan teman- temannya. Subjek juga tidak berani membawa teman pria bermain ke rumah subjek ( HO.S1.PAO.Pf5.30nov06). Subjek pun cenderung patuh pada orang tuanya. Ketika subjek kuliah dan berada jauh dari orang tuanya, ia merasa bebas tinggal di kost (W1.S1.PAO13).

  Dalam pergaulan sehari-hari, subjek memiliki relasi yang baik dengan teman-temannya, baik dengan teman di kampus, di kost, maupun teman dugem (dunia gemerlap) (W1.S1.RT19). Aktivitas yang sering dilakukan bersama teman-temannya diantaranya, olah raga sore bersama, berkunjung ke kos teman, pergi ke warnet (warung internet) atau

  

clubbbing . Subjek sendiri cenderung lebih menyukai kegiatan yang

  sifatnya bersenang-senang seperti pergi clubbing bersama teman-teman yang memiliki kebiasaan pergi ke klub malam (W1.S1.AT21). Aktivitas yang dilakukan bersama teman-teman cenderung mengarah kepada aktivitas yang bertujuan untuk mendapat kesenangan pribadi.

  Selain memiliki relasi pertemanan, subjek juga menjalin hubungan (W1.S1.RP33). intim dengan seorang teman pria yang menjadi pacar subjek. Adapun aktivitas yang sering dilakukan subjek ketika bersama dengan pacarnya di antaranya, nonton TV, mendengarkan tape, mencuci baju, tidur, jalan-jalan, atau olah raga (W1.S1.AP35) . Selain itu, aktivitas lain yang dilakukan adalah makan bersama, istirahat atau tidur bersama di kost

  (W1.S1. AP39) subjek atau kost pacarnya yang dilakukan secara bergantian .

  Pertemuan dengan pacar sering terjadi di kost subjek maupun di kost pacarnya. Kondisi kost subjek termasuk kost yang bebas karena tidak ada pemilik kost yang mengawasi sehingga anak-anak kost cenderung bebas dalam beraktivitas dan keluar masuk kost (W1.S1. SL37). Intensitas pertemuan dengan pacar dapat dikatakan tinggi karena setiap hari subjek bisa bertemu dengan pacarnya (W1.S1. IP43) . Tetapi pertemuan dapat terjadi

  (W1.S1. IP45) setiap hari bila sedang tidak bertengkar dengan pacarnya .

a. Pengalaman Seks Pranikah

  Pengalaman pertama hubungan seks pranikah pada subjek 1 terjadi ketika masa kuliah. Sesuai dengan teori aturan seksual (Michael dalam Santrock, 2001), pada awalnya subjek cenderung mengkaitkan hubungan seks dengan cinta, dimana alasan subjek melakukan hubungan seks adalah karena adanya perasaan saling menyayangi dan menyukai satu sama lain serta adanya keyakinan bahwa sang pacar adalah jodoh bagi subjek. Hal ini ditunjukkan dari ungkapkannya,

  “Aku pertama kali mulainya semester berapa ya..3. Kalo gak salah 3 atau 4

kemarin sih..apa ya..udah melakukan aja sama pacarku.” (W1.S1.ML49)

  Pernyataan lainnya,

  Pertamanya ya...suka sama suka kan. Pertama gini kalo pacaran kita udah yakin suka maksudnya cowoknya, kalo pacaran betul-betul jodoh kita ya..ngapai lagikan mesti cari-cari gitu kan. Kalo dia sayang, aku sayang kalo sama-sama sayang ya udah lakukan aja kan ....” (W1.S1.ML51)

  Subjek juga cenderung merasionalisasikan hubungan seks yang terjadi karena alasan bahwa dirinya terhanyut cinta dan rayuan sehingga mereka yang pada awalnya menolak menjadi tidak mampu menolak (Santrock, 2001). Subjek mengemukakan bahwa dirinya

  mampu menolak ajakan pacarnya untuk berhubungan seks. Hal ini dilihat dari ungkapannya,

  

“Pertama sih gak mau, tapi dibujuk-bujuk kan, ya...taulah setan ada di mana-

mana. Jadi kalo kita udah berdua mau ngapain lagi kan... jadi wah.. pertama sayang... pokoknya dibujuk-bujuk, pertama gak mau. Bujuk, bujuk, bujuk udahlah kata-kata manis, kata-kata sayang dari mulutnya ya udah...ya udahlah aku kasih. Sayang masih perawan ya.... ya..iyalah, aku bilang gitu. Ya udah Ngomong-ngomong....mulai mulut manis, aku sayang kamu, aku gini-gini. Langsung hatiku dubrak (tersanjung) langsung ya...aku nunduk langsung.

Ya...sampai sekarang jadi juga sama dia. Aku juga bingung.” (W1.S1.ML63)

  Pada diri subjek sebenarnya telah memiliki kontrol internal berupa sangsi moral dan suara hati. Sangsi moral dalam diri subjek ditunjukkan dengan adanya ketakutan bila terjadi kehamilan dan perasaan malu. Suara hati yang berkembang dalam diri subjek berupa larangan dari orang tua untuk tidak melakukan hubungan sek dan ancaman akan mengeluarkan subjek dari keluarga jika mendapati subjek sampai hamil. Hal ini dapat dilihat dari ungkapannya,

  “Grogi, aku kan gak tau...kan dulu-dulu kalo pacaran biasa, pacaran-pacaran kita gak pa-apa. Tapi kalo sudah sampai seks kan aku takut, langsung ingat pesan orang tua, pesan mama. Apa ya... “Kalo sampai kamu hamil kamu dikeluarin dari keluarga.” Aduh..tapi aku udah melanggarkan kan, “Matilah aku,” aku bilang gitu. Pokoknya pas melakukan ih... takut juga sih ntar kalo hamil, aku dah kepikiran dah kedepan, “Aduh ini kalo hamil gimana?...” (W1.S1. DHS65)

  Kontrol intermal dalam diri subjek ternyata tidak cukup mampu menjadi pegangan untuk tidak melakukan hubungan seks. Subjek cenderung terlibat dalam aktivitas seksual dengan pacarnya. Intesitas subjek melakukan hubungan seks termasuk tinggi karena dalam satu minggu hubungan seks dapat terjadi setiap hari dan dalam satu hari

  pada subjek merupakan salah satu bentuk tingkah laku seksual pada masa remaja yang biasanya bersifat meningkat atau progresif (Santrock, 2001). Peningkatan perilaku seksual biasanya diawali dengan berciuman atau bercumbu yang kemudian dapat membangkitkan dorongan seks untuk melakukan hubungan seks. Hal ini dapat ditunjukkan dari ungkapannya,

  

“Kadang aku bilang, aduh capek...malaslah..., ya..udah cium-ciuman aja, cumbu-

cumbu gitu-gitu aja udah. Tapi tetap nanti,”Sayang, lakukan yuk,” nah

  ya

  

katanya gitu kan.. (W1.S1. PS57). Dalam satu kadang minggu gak full,

maksudnya satu hari bisa dua kali, eh... satu hari satu kali lah. Kalo dia datang

ke kost ya...ayo kalo gak di kostnya gitu.” (W1.S1. IHS57)

  Subjek dan pacarnya lebih sering melakukan hubungan seks di kost. Lingkungan kost subjek cenderung cenderung bebas dan tidak ada pemilik kost yang mengawasi. Lingkungan kost yang tidak memiliki aturan yang tegas merupakan salah satu pengaruh eksternal yang memberikan peluang terjadinya hubungan seks pranikah pada remaja. Hal ini dapat ditunjukkan dari pernyataannya,

  

“Kalo tiap hari ada sih, kadang kemari-kemarin di kost. Ya..memang kemarin

tuh ada tiap hari kalo udah ketemu satu kali macam hari senin ketemu selasa

ketemu, rabu ketemu, melakukan. Jadi senin, selasa, rabu kalo terus-terus

ketemu melakukan teruslah. Kalo gak (ketemu), kadang sekarang ya..jarang.”

(W1.S1.IHS59)

  Hubungan seks yang telah dilakukan oleh subjek termasuk dalam hubungan seks yang tidak aman karena tidak menggunakan pengaman. Hubungan seks atau kontak intim antara alat kelamin memungkinkan terjadinya kehamilan. Hal ini ditunjukkan dari ungkapannya,

  “Sperma tumpahnya dalam, pokoknya kalo udah tumpah dalam, hamillah sudah.” (W1.S1.MH73)

  Akibat hubungan seks tersebut menyebabkan terjadinya kehamilan pada diri subjek. Tanda awal kehamilan yang tampak salah satunya yaitu tidak terjadinya siklus haid (Gilarso, 2003). Pengalaman kehamilan subjek ditandai dengan tidak mengalami siklus menstruasi pada waktunya. Hal ini membuat subjek menjadi panik sehingga ia segera melakukan uji tes kehamilan untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya.

  Reaksi yang muncul akibat kehamilan juga berbeda-beda, dimana bagi mereka yang menginginkan anak merupakan sesuatu yang membahagiakan, namun bagi mereka yang tidak mengingikan kehamilan merupakan suatu pengalaman buruk. Subjek sendiri sangat terkejut ketika mengetahui dirinya hamil. Reaksi lain yang muncul terhadap kehamilan diantaranya subjek merasa bingung dan menangis sendiri di kamar. Dalam kebingungan tersebut, subjek belum sempat berpikir untuk bertindak. Hal ini ditunjukkan oleh pernyataannya,

  

“...., aku gak dapat mens kan. Pertama aku bilang, “Aduh..aku gak dapat mens,”

aku juga kepikiran, “Jangan-jangan aku hamil ya..” terus aku langsung pergi beli

alat tes kehamilan di apotek. Aku tes, aku lihat cara pemakaiannya gimana-

gimana. Air kencing pagi-pagi kan, bangun pagi pakai air kencing pertama. Pipis

langsung kita taruh di itu (testpack) ditinggal beberapa menit, kalo satu negatif,

kalo garis dua positif. Aku ninggallin, ninggalin aku ke kampus. Pulang kampus

aku langsung kaget kok garis dua kan. Wah..gimana aku, aku dah nangis-nangis,

  Pacar subjek pun sempat tidak mempercayai bahwa subjek hamil setelah diberi kabar tentang kehamilan subjek. Pacar subjek segera menanggapi kehamilan subjek dengan mengajak subjek untuk melanjutkan hubungan ke tahap yang lebih serius, namun subjek sendiri tidak siap atas kehamilannya. Kesepakatan yang tidak tercapai membuat seseorang berusaha mencari alternatif lainnya untuk mendapatkan solusi yang tepat. Hal ini dilihat dari diungkapkannya,

  “...Langsung aku telpon dia, “Datang ke kost.” Kenapa? “Aku hamil.” Dia juga gak percaya kan masa sih hamil. Aku hamil, aku bilang gitu. Ya..udah, mau gimana?(cowok) Ya..udah tadi aku ceritain. “Ya...udah kalo kamu mau serius, serius kalo gak, ya udah mau gimana?” (W1.S1.OP53)

b. Pengalaman Aborsi

  Ketidaksiapan subjek atas kehamilannya mendorong subjek untuk mengambil keputusan aborsi. Pengambilan keputusan aborsi salah satu dipengaruhi oleh pengalaman tentang aborsi berupa pengetahuan tentang aborsi. Subjek mengartikan aborsi sama halnya dengan tindakan membunuh darah daging sendiri dan memiliki dampak yang buruk secara psikis. Pengetahuan yang ada diperoleh dari beberapa sumber informasi seperti dari melihat film-film yang bertema aborsi dan cerita dari teman-temannya terutama informasi tentang obat-obatan yang bisa menggugurkan kandungan. Hal ini ditunjukkan oleh pernyataannya,

  “Tau dikit sih...aborsi itu ini kan... ini kayak, sama aja kita bunuh darah daging kita kan. Aku tau-taunya kayak gitu, aku lihat-lihat di film, pokoknya kalo aborsi itu sebenernya takut juga sih aborsi itu. Nanti terbayang terus, nanti aku terbayang, terbayang-terbayang terus kalo ingat terbayang lagi aborsi aku waktu dulu, pas saat-saat aborsi, jadi takutlah.” (W1.S1.PAB77)

  Pernyataan lainnya,

  “Tanya diteman-teman itu pertama cari obat, obat apa yang bisa ngegugurin, terus cari obat, cari obat...” (W1.S1.IA51)

  Pada subjek 1, alasan memilih aborsi disebabkan karena ketidaksiapan baik secara ekonomi maupun sosial, dimana secara ekonomi subjek merasa belum mapan atau belum mampu memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri. Secara sosial, subjek masih ingin kuliah dan masa depan masih panjang sehingga tidak siap jika harus mengurus anak serta mengingat orang tua yang nantinya akan merasa kecewa. Aborsi dianggap sebagai satu-satunya jalan keluar untuk mengatasi ketidaksiapan memiliki anak dan menjalani hubungan yang lebih serius. Hal ini dilihat dari ungkapannya,

  “Sebenernya gak sampai gugur gitu gak jadi tapi dari aku, aku kan masih kuliah, aku masih ingat orang tua. Tapi kalo dari pihak si cowokku nih dia tanya aku, “Kau gimana, kamu mau gak kalo tunangan, nikah gitu?” Aduh..., aku bilang “Aduh aku gak bisa soalnya aku sama kamu belum apa-apakan masih kamu baru mau semester gini aku semesternya mau selesai. Kamu baru tiga empat, mau gimana, anak ini nanti siapa yang jaga gitu-gitu kan....” (W1.S1.AL51)

  Pernyataan lainnya,

  “...Aduh mau gimana kan, jadi jalan satu-satunya, ya udah aku sama dia, udahlah mendingan kita ini aja. Belum siap, Istilahnya aku sama bojoku belum siap, jadi belum siap masih main-main. Lihat aja kayak sekarang berantem terus belum serius, serius ya..ada serius tapi gitu-gitu aja, belum siap kalo udah ada anak, aku belum siap sama dia.” (W1.S1.AL81)

  Pada awalnya tindak aborsi yang dilakukan oleh subjek

  dilakukan dengan cara mengkonsumsi makanan dan minuman yang dipercaya dapat mengugurkan janin, seperti minum sprite, makan buah nanas muda, dan makan rujak. Usaha sendiri subjek untuk menghentikan kehamilannya ternyata tidak berhasil sehingga sehingga memutuskan pergi ke dokter untuk mengugurkan kandungannya. Dokter hanya memeriksa subjek kemudian memberinya obat untuk diminum di rumah. Hal ini sesuai dengan pernyataannya,

  “...Terus aku kan pernah dengar, orang hamil pakai spite, apa...sprite ya...minum-minum sprite, tapi gak bisa lagi. Udah sprite, udah ini apa nanas

muda pokoknya semuanya udah aku cari gini, aku makan rujak, cari nanas muda

gak bisa. Langsungkan hubungi pacarku, langsung pacarku bawa aku ke dokter

kan sama temannya dia....” (W1.S1.MA53)

  Pernyataan lainnya,

  

“...Ya..udah aku sama pacarku oke, langsung masuk di ruang itu, periksa-

periksa, kasih obat-kasih obat terus pulang aku minum... Kayaknya obat aborsi

gitu.” (W1.S1.MA53)

  Akibat meminum obat dari dokter perut subjek merasakan dampak secara fisik diantaranya: mulas pada bagian perut. seperti seorang yang ingin buang air besar tetapi tidak bisa keluar dan bahkan sampai mengalami pendarahan sehingga ia segera dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan yang lebih baik. Metode aborsi yang digunakan oleh subjek adalah metode kuret, yaitu membersihkan janin dalam rahim dengan menggunakan alat kuretase (sendok kerokan). Hal ini dilihat dari ungkapannya,

  “...Langsung reaksi kan malamnya, reaksi-reaksi perutku udah sakit kan, sakit

sekali (penekanan intonasi) sakit, sakit, pengen boker tapi gak keluar bokernya

(buang tinja). Keluar masuk, keluar masuk kamar mandi.... Aku gak tahan, aku

  pendarahan dibawa ke rumak sakit, masuk di ruangan ibu bersalin. Terus masuk di ruangan ibu bersalin, periksa-periksa, itukan aku minum obat jadi janin itu ditekan-ditekan udah sampai malam sampai subuh langsung janinnya keluar.” (W1.S1.MA51)

  Pernyataan lainnya,

  “Tanya-tanya, iya ini sakit ini, mau di kuret mau di ini, dokter bilang mau di ini.” (W1.S1.MA99)

  Tindak aborsi yang dilakukan oleh subjek ternyata membutuhkan banyak biaya. Biaya aborsi ditanggung oleh subjek dan pacarnya. Subjek sendiri tidak berani berkata jujur pada keluarganya tentang kehamilan dan tindak aborsinya sehingga subjek berbohong pada orang tuanya untuk mendapatkan biaya aborsi. Hal ini dilihat dari pengakuannya,

  “Oh... kalo biaya, aku yang tanggung semua. Ya..kan biayanya aku yang tanggung jadi dari keluarga pacar hanya biaya tanggungnya eh... gini keluarga pacarku tahu aku hamil jadi keluarganya dia, “Gimana,SS mau gimana?” Ya...kata si R, “SS mau digugurin aja,” Jadi, minta uang jadi keluarganya dia kasih 1juta untuk mau digugurin, yang masuk rumah sakit, aku semua yang tanggung. Jadi udah itu aku terpaksa tipu sama orang tuaku. Jadi, ya..iya kemarin itu sempat ini lho...kakakku sama si R sempat mau berantemkan gara- gara biaya, kok...aku aja yang tanggung kan , keluarganya dia gak nanggungkan. Ya..udah K kakakku langsung marah aku lagi. Kakakku udah, marah deh, “Kamu udah bikin malu malu keluarga....” (W1.S1.BA97) c. Dampak dari Tindak Aborsi

  Seseorang yang melakukan aborsi diyakini akan mengalami dampak fisik berupa resiko kesehatan dan dampak psikis berupa gangguan psikis yang terwujud dalam aneka macam bentuk atau disebut Post Abortion Syndrome (PAS). Tindak aborsi yang dilakukan oleh subjek 1 memiliki dampak baik secara fisik maupun psikis.

  setelah meminum obat aborsi dari dokter. Selain itu subjek bahkan mengalami pendarahan karena tindak aborsi yang dilakukannya.

  Subjek pun masih harus merasakan sakit ketika proses pengeluaran janin meskipun sempat diberi obat bius. Hal ini ditunjukkan oleh ungkapannya,

  “...Langsung reaksi kan malamnya, reaksi-reaksi perutku udah sakit kan, sakit sekali (penekana intonasi) sakit, sakit, pengen boker tapi gak keluar bokernya (buang tinja).... Aku gak tahan, aku gak tahan besok subuhnya aku masuk rumah sakit tuh udah pendarahan, udah pendarahan dibawa ke rumak sakit, masuk di ruangan ibu bersalin....” (W1.S1.DFA51)

  Gejala- gejala Post Abortion Syndrome (PAS) yang dialami oleh subjek diantaranya: subjek diliputi ketakutan untuk bertemu dan berterus terang kepada ayahnya, takut jika berita tentang aborsinya sampai diketahui oleh tetangga atau teman satu daerah asal. Ketakutan untuk jujur telah mendorong seseorang untuk berbohong. Hal ini seperti yang dilakukan oleh subjek dan kakaknya yang berbohong pada orang tua tentang kehamilan dan aborsi pada subjek. Subjek sendiri baru akan mengungkapkan kehamilan dan tindak aborsi yang telah dilakukan kepada orang tua setelah ia lulus kuliah.. Hal ini dilihat dari pernyataannya,

  “...Kan...kakakku suruh pulang kan. Aduh... aku langsung, udahlah aku nanti ngomong bapak sama mama. Kapan baru kamu ngomong. Habis ini aja habis kuliah aku, aku akan ngomong. Janjikan, aku janjiin dia selama kakakku habis kuliah aku harus ngomong. Makanya kalo habis kuliah ini aku harus ngomong, karna dia udah pulang duluankan kan udah di sana, udah wisuda.... Ini aku hamil bapak, mamaku gak tau, semua dirumah gak ada yang tau tapi orang-orang kupang yang ada di sini semua tau. Aku takutnya, orang KUP teman aku sama teman orang KUP ini, bapak mamanya kenal bapak mama kita kan. Kan di sana dekat-dekat aja.... Aku dirumah sakit 3 hari 4 malam, atau eh..3 hari kayaknya

  gak lama-lama. Aku takut soalnya bapakku ada tugasnya di yogya sini. Takut lagi aku kan, mendingan aku keluar cepat...” (W1.S1.DPA51)

  Gejala- gejala Post Abortion Syndrome (PAS) lainnya yang dialami oleh subjek di antaranya, subjek kerap terbayang-bayang anaknya yang diaborsi ketika mendengar cerita atau melihat acara di televisi yang mengisahkan tentang aborsi. Dalam diri subjek muncul perasaan kasihan pada anak yang telah diaborsinya dan perasaan bersalah karena telah membunuh anaknya sendiri. Subjek menjadi mudah tersentuh hatinya setiap mendengar cerita tentang aborsi dan cenderung diam bila melihat film tentang aborsi. Hal ini ditunjukkan oleh pernyataan subjek,

  “Aku ya...terbayang-terbayang aja kaya diceritain, atau dengar di TV langsung aku kayak aduh...kasihan, aku kayak merasa bersalah kan aku udah salah. Kok bisa bunuh anakku gitu ya...aduh kasihan juga ya....pokoknya aku gitu ya...” (W1.S1.DPA83)

  Pernyataan lainnya, “Tapi kalo aku udah dengar cerita-cerita langsung aku sentuh langsung dihati.

  Aduh..aku diam-diam aja, pokoknya kalo lihat film tentang aborsi itu aku udah.. ya..muka udah lain kasihan ya...aku merasakan kayak mereka tapi ya udahlah.” (W1.S1.DPA85) d. Upaya mengatasi PAS (Post Abortion Syndrome)

  Pada subjek 1, upaya-upaya untuk mengatasi Post Abortion

  Syndrome (PAS), dilakukan dalam beberapa cara dengan lebih

  mengembangkan religiusitas seperti rajin berdoa untuk mengatasi perasaan bersalahnya, memohon ampun kepada Tuhan dan berdoa juga untuk anak yang telah diaborsinya. Subjek dan pacarnya juga

  memberikan nama pada anak yang telah diaborsinya. Hal ini seperti yang diceritakannya,

  “Ya.aku berdoa minta ampun, udah melakukan salahkan aku berdoa aja, minta ampun tapi tiap kali tanggal pas kan aku kan kemarin aku berdoa ini aja anak yang itu kan. Itu aku sama pacarku udah beri nama, pacarku udah beri nama dia kan.” (W1.S1.US87)

  Keputusan yang telah diambil oleh subjek meninggalkan perasaan bersalah dan penyesalan pada diri subjek sehingga subjek tidak berkeinginan untuk melakukan tindak aborsi untuk kedua kalinya. Pengalaman aborsi merupakan pelajaran hidup yang telah sempat membuat subjek merasa jera sehingga ia berkeinginan untuk berpacaran sewajarnya agar tidak menambah dosa dalam dirinya. Hal ditunjukkan oleh pernyataannya, “Jangan melakukan lagi kayaknya. Keinginan ya..harapannya apa ya...” (WP.

S1.KP93)

  Pernyataan lainnya,

  “Ya...iya sih...aku sih enggak lagi, gak akan. Pokoknya sebatas wajar ya... kita pacaranya. Jadi aku harus kemarin udah melakukan, lihat yang kemarin, aku gak mungkin berbuat lagi. Pas-pasan aja deh gak mungkin yang kedua lagi kan. Kalo yang kedua gila aja dosanya tambah banyak (sambil tertawa). Udahlah pokoknya kemarin aja deh aku belajarnya dari kemarin aja jangan sampai akan terjadi itu lagi.” (W1. S1.KP95)

  Keinginan untuk tidak mengulang terjadinya aborsi bukan berarti juga tidak ingin mengulang terjadinya hubungan seks. Pada kenyataannya subjek tetap melakukan hubungan seks, namun dengan lebih hati-hati agar tidak terjadi kehamilan. Subjek sebenarnya memiliki kontrol agama berupa pemahaman bahwa hubungan seks

  pranikah dan aborsi itu dilarang oleh agama dan tidak dibenarkan dalam aturan mana pun, namun pemahaman yang ada tidak mampu menyadarkan subjek untuk berhenti melakukan hubungan seks. Agama kerap hanya dipandang sebagai status yang melekat pada diri seseorang. Hal ini sesuai dengan pernyataannya,

  “Ya...agama aku gimana ya... baik agama itu. Aku memang menghormati tapi gimana ya...kayaknya kayaknya cenderung status aja...karena satus agamaku katolik kan dulu ikut agama karena ikut orang tua. Aku juga tau kalo aborsi, hubungan seks juga dilarang tapi gimana ya...susah kalo mau nolaknya kalo lagi berdua” (W1. S1. PAG103)

  Penyataan lainnya

  “Dulu kan tumpahnya, tumpah dalam sekarang kalo udah melakukan biasa- biasa. Jadi kita udah tau yang kemarin ya...berhati-hatilah jangan sampai terjadi yang kedua kan, aku sama pacarku bilang. Dia tumpahnya, tumpah luar aja.” (W1. S1.US71)

  

Gambaran Keseluruhan Pengalaman Aborsi Pada Remaja dalam Kasus

Kehamilan Pranikah Subjek 1.

  Pengalaman aborsi pada subjek 1 terjadi ketika subjek berada pada masa kuliah. Subjek melakukan aborsi karena ia tidak siap menjalani kehamilannya yang terjadi akibat hubungan seks pranikah. Pengalaman pertama hubungan seks pranikah pada subjek 1 terjadi ketika masa kuliah. Subjek cenderung mengkaitkan hubungan seks dengan cinta, dimana alasan subjek melakukan hubungan seks adalah karena adanya perasaan saling menyayangi dan menyukai satu sama lain serta adanya keyakinan bahwa sang pacar adalah jodoh bagi subjek. Selain itu, subjek cenderung merasionalisasikan hubungan seks yang terjadi karena alasan bahwa dirinya terhanyut cinta dan rayuan sehingga mereka yang pada awalnya

  Terjadinya hubungan seks pranikah pada subjek disebabkan oleh pengaruh eksternal dan internal. Pengaruh eksternal yang dimaksud adalah lingkungan yang dapat mempengaruhi perilaku subjek seperti, latar belakang keluarga, komunitas di mana remaja berada dan lingkungan di mana remaja tinggal. Selama subjek tinggal bersama keluarga, ia mendapatkan pola suh otoriter sehingga ia kurang memiliki kebebasan, merasa terbatasi dan cenderung patuh pada orang tua terutama pada ayah. Orang tua juga terlalu sibuk dengan pekerjaannya sehingga hanya memperhatikan anak dengan memberi serangkaian aturan atau batasan perilaku yang mungkin dapat membuat subjek merasa terkekang dan tidak memiliki kebebasan. Hal tersebut cenderung membuat subjek memanfaatkan kebebasannya untuk melakukan hal-hal baru dengan berbagai aktivitas ketika berada jauh dari orang tuanya.

  Selain itu, lingkungan kost yang tidak memiliki aturan yang tegas dan tanpa adanya pengawasan dari pemilik kost merupakan salah satu pengaruh eksternal yang memberikan peluang terjadinya hubungan seks pranikah pada pada subjek. Subjek juga tinggal dalam kelompok (crowd) remaja yang memiliki kepentingan atau minat yang sama dalam melakukan aktivitas untuk kesenangan seperti clubbing, nonton film, belanja, jalan-jalan, tidur bersama pacar, tanpa adanya aktivitas yang berguna. Hal lainnya yang dapat mendukung terjadinya hubungan seks pranikah yaitu, adanya intensitas pertemuan yang tinggi dengan pasangannya yang terjadi setiap hari sehingga subjek kurang mempunyai kesempatan untuk berinteraksi dengan teman-temannya dan terlibat dalam aktivitas yang konstruktif.

  Pengaruh internal yang dapat mempengaruhi terjadinya hubungan seks pranikah pada subjek adalah kurang terinternalisasinya norma atau ajaran-ajaran baik dari keluarga maupun agama dan ketidakmampuan subjek dalam mengendalikan dorongan seksual yang semakin meningkat pada masa remaja.

  Peningkatan perilaku seksual biasanya diawali dengan berciuman atau bercumbu yang kemudian dapat membangkitkan dorongan seks untuk melakukan hubungan seks. Peningkatan ini ditunjukkan oleh intesitas hubungan seks yang tinggi, dimana setiap kali bertemu subjek selalu melakukan hubungan seks dengan pacarnya dan dalam satu hari dapat terjadi satu sampai dua kali.

  Hubungan seks yang telah dilakukan oleh subjek termasuk dalam hubungan seks yang tidak aman karena tidak menggunakan pengaman sehingga terjadi kontak intim secara langsung antar alat kelamin. Akibat hubungan seks tersebut menyebabkan terjadinya kehamilan pada diri subjek. Tanda awal kehamilan yang tampak salah satunya yaitu tidak terjadinya siklus haid. Hal ini membuat subjek menjadi panik sehingga ia segera melakukan uji tes kehamilan untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya.

  Reaksi yang muncul pada subjek akibat kehamilan diantaranya terkejut, subjek merasa bingung dan terus menangis sendiri di kamar. Kehamilan yang terjadi menjadi sesuatu yang disesali dan menimbulkan kesedihan dan ketakutan karena tidak adanya kesiapan dalam menjalani kehamilannya sehingga mendorong remaja memutuskan aborsi untuk menghentikan kehamilannya.

  Keputusan subjek memilih aborsi didorong oleh faktor ekonomi dan faktor sosial, maksudnya alasan aborsi didasari oleh ketidaksiapan subjek baik secara ekonomi maupun secara sosial. Secara ekonomi, subjek merasa belum mapan atau belum mampu memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri. Secara sosial, subjek masih ingin kuliah dan masa depan masih panjang sehingga tidak siap jika harus mengurus anak, takut terhadap sangsi dari orang tua dan membuat orang tua merasa kecewa.

  Pada awalnya tindak aborsi yang dilakukan oleh subjek merupakan tindak aborsi yang tidak aman (unsafe abortion) karena dilakukan dengan cara mengkonsumsi makanan dan minuman yang dipercaya dapat mengugurkan janin, seperti minum sprite, makan buah nanas muda, dan makan rujak. Usaha sendiri subjek untuk menghentikan kehamilannya ternyata tidak berhasil sehingga sehingga memutuskan pergi ke dokter untuk mengugurkan kandungannya.

  Metode aborsi yang digunakan oleh subjek adalah metode kuret, yaitu membersihkan janin dalam rahim dengan menggunakan alat kuretase (sendok kerokan). Metode kuret dilakukan karena subjek telah mengalami pendarahan sebelumnya. Biaya aborsi subjek ditanggung oleh pihak subjek dan pacarnya.

  Subjek pun terpaksa harus berbohong pada orang tua untuk mendapatkan biaya aborsi.

  Tindak aborsi yang dilakukan oleh subjek memliki dampak fisik berupa resiko kesehatan dan dampak psikis berupa gangguan psikis yang terwujud dalam aneka macam bentuk atau disebut Post Abortion Syndrome (PAS). Secara fisik, subjek mengalami resiko kesehatan seperti kesakitan pada bagian dalam perutnya dan mengalami pendarahan karena tindak aborsi yang dilakukannya.

  Secara psikis subjek mengalami beberapa gejala Post Abortion Syndrome diantaranya, subjek kerap terbayang-bayang anaknya yang diaborsi ketika mendengar cerita atau melihat acara di televisi yang mengisahkan tentang aborsi. Dalam diri subjek muncul perasaan kasihan pada anak yang telah diaborsinya dan perasaan bersalah karena telah membunuh anaknya sendiri. Subjek menjadi mudah tersentuh hatinya setiap mendengar cerita tentang aborsi dan cenderung diam bila melihat film bertema aborsi.

  Pada subjek 1, upaya-upaya yang dilakukan untuk mengatasi Post

  

Abortion Syndrome (PAS) dengan lebih mengembangkan religiusitas seperti rajin

  berdoa untuk mengatasi perasaan bersalahnya, memohon ampun kepada Tuhan dan berdoa juga untuk anak yang telah diaborsinya. Subjek dan pacarnya juga memberikan nama pada anak yang telah diaborsinya. Selain itu subjek juga berniat untuk tidak melakukan aborsi kembali.

  Keinginan untuk tidak mengulang terjadinya aborsi bukan berarti juga tidak ingin mengulang terjadinya hubungan seks. Pada kenyataannya subjek tetap melakukan hubungan seks. Subjek sebenarnya memiliki kontrol agama berupa pemahaman bahwa hubungan seks pranikah dan aborsi itu dilarang oleh agama dan tidak dibenarkan dalam aturan mana pun, namun ternyata pemahaman yang ada tidak mampu menyadarkan subjek untuk berhenti melakukan hubungan seks.

  Agama pun hanya dipandang sebagai status yang melekat pada diri seseorang tanpa menjadikanya sebagai norma pribadi.

  

Bagan 1 :

Bagan Hasil Penelitian Subjek I (SS)

REMAJA ABORSI LATAR BELAKANG KELUARGA

  • Adanya hubungan baik antar anggota keluarganya • Orang tua mendidik dengan disiplin terutama ayah sehingga cenderung patuh.
  • Orang tua kurang memberi kebebasan untuk bergaul.
  • Orang tua terlalu sibuk dengan pekerjaannya sehingga kurang ada waktu untuk anak.
  • Orang tua membatasi aktivitas ketika di rumah.

  SETELAH TINGGAL DI KOST PENGARUH INTERNAL PENGARUH EKSTERNAL

  • • Kurang terinternalisasinya norma • Suasana kost yang bebas tanpa aturan yang tegas dan

    pada diri pengawasan dari pemilik kost serta orang tua.
  • • Kebutuhan seks yang meningkat • Tinggal&cenderung bersama dengan teman-teman

    yang suka pergi clubbing, suka mabuk, merokok.
  • Ketidakmampuan mengendalikan dorongan seksual pada
  • Intensitas pertemuan yang tinggi dengan pacar dan kurang memiliki aktivitas di masyarakat.

  

SEKS BEBAS

KEHAMILAN PRANIKAH

TIDAK SIAP MENJALANI KEHAMILAN

FAKTOR EKONOMI FAKTOR SOSIAL

Subjek merasa belum mapan atau belum

  • Subjek masih ingin kuliah dan masa mampu memenuhi kebutuhan hidupnya depan masih panjang sendiri.
  • Tidak siap jika harus mengurus anak • takut membuat orang tua kecewa.

  USAHA SENDIRI MENGHENTIKAN KEHAMILAN • Minum sprite, makan nanas muda, makan rujak yang dipercaya dapat menggagalkan kehamilan.

  MENGALAMI KEGAGALAN

ABORSI DENGAN BANTUAN MEDIS DENGAN METODE KURET

DAMPAK PSIKOLOGIS DAMPAK FISIK

  • Adanya perasaan bersalah dan kasihan pada janin • Sakit pada bagian perut seperti ingin yang diaborsi buang air besar
  • Terbayang-bayang janin yang diaborsi bila • Mengalami pendarahan setelah minum pil melihat acara tentang aborsi. aborsi
  • Menjadi mudah tersentuh perasaanya bila • Sakit pada bagian perut selama kuret mendengar cerita aborsi

UPAYA MENGATASI POST ABORTION SYNDROME

  Subjek 2 (CC)

  Wawancara pokok terhadap subjek dilakukan satu kali dan bertempat di kost subjek. Wawancara dilaksanakan pada hari selasa, tanggal 12 desember 2006, pukul 18.05-19.00 Wib. Selama proses wawancara berlangsung, peneliti juga melakukan obervasi terhadap subjek untuk melihat perilaku-perilaku subjek yang tidak teramati dalam wawancara dan mendengarkan cerita subjek yang berkaitan dengan hal akan diungkap. Berikut hasil wawancara berdasarkan pedoman wawancara umum :

  Profil Subjek 2 (CC)

  Subjek merupakan anak ketiga dari tiga bersaudara yang hidup dalam suasana keluarga yang rukun dan cukup harmonis sehingga antar anggota keluarganya tetap mampu menjaga hubungan baik setelah (W2.S2.SK6). mengalami masalah Dalam kesehariannya, orang tua subjek termasuk orang yang sibuk dengan urusan pekerjaan dan kegiatan lainnya sehingga jarang meluangkan waktu untuk berkumpul dengan anak- anaknya. Akibat kesibukan orang tua maka subjek merasa kurang mendapat perhatian dari orang tua (W2.S2.MK8).

  Orang tua subjek cukup terbuka dalam memberikan kebebasan untuk bergaul dengan teman-temannya, namun orang tua tetap memberi batasan agar tidak terjerumus dalam pergaulan bebas. Dalam keluarga, peran ayah cenderung dominan daripada ibu sehingga ayah cenderung lekas marah jika ada yang membantah. Subjek pun cenderung patuh dan menuruti keinginan ayah untuk menghindari konflik dalam keluarga (W2.S2.PAO12).

  Dalam pergaulan sehari-hari, subjek memiliki relasi yang baik dengan teman-temannya. Subjek cenderung memiliki relasi yang akrab

  (W2.S2.RT14).

  dengan teman dekatnya atau sahabat Aktivitas yang sering dilakukan bersama teman-temannya diantaranya, berkumpul bersama untuk mengerjakan tugas, berbagi cerita, berbelanja, nonton film atau pergi main. Sedangkan dengan teman-teman lainnya, subjek juga memiliki relasi yang baik (W2.S2.AT14).

  Subjek juga memiliki kedekatan dengan beberapa teman pria dan

  (W2.S2.RT18),

  relasi intim dengan pacar namun subjek cenderung memiliki kedekatan dengan pacar. Kedekatan subjek dengan pacar salah satunya dipengaruhi juga oleh intensitas pertemuan yang tinggi. Intensitas pertemuan yang tinggi ini ditunjukkan dengan adanya kebersamaan yang terjadi setiap hari yaitu pada malam hari, siang hari ataupun sore hari (W2.S2.IP18).

  Subjek dan pacarnya cenderung terlibat dalam aktivitas pribadi sehingga kurang memiliki kesempatan untuk terlibat dalam kegiatan di kampus atau masyarakat. Aktivitas yang kerap dilakukan subjek bersama pacar diantaranya, menonton acara televisi, pergi jalan-jalan, pergi ke toko buku atau ke gereja. Ketika berada di kost-kost-an aktivitas yang dilakukan adalah tidur, menonton acara televisi, belajar bersama, makan bersama atau mengobrol. Aktivitas-aktivitas yang dilakukan subjek

a. Pengalaman Seks Pranikah.

  Pengalaman seksual subjek 2 menunjukkan adanya peningkatan tingkah laku sesual yang bersifat progesif pada masa remaja. Peningkatan perilaku seksual yang semula diawali dengan

  

kissing (berciuman) kemudian meningkat ke tahap selanjutnya hingga

  mendorong terjadinya hubungan seks. Pengalaman seks pada subjek 2 telah dimulai dimulai sejak berada di bangku sekolah yang kemudian dan akhirnya meningkat ke tahap yang lebih intim saat masa kuliah. Pada masa kuliah subjek menjadi lebih bebas berpacaran karena tidak ada yang mengawasi. Hal ini dilihat dari ungkapannya,

  “Awalnya pas di SMP aku dah deket sama cowokku dan dan dah berani kiss. Terus SMU tuh...aku dah berani sering kiss dan main bareng sama pacarku, tapi gak sampai berhubungan jauh. Terus semenjak kuliah ini kan jadi lebih bebas mau ngapa-ngapain sama pacarku, jadi ya..gak cuma sekedar kiss aja...tapi lebih. Kan gak ada yang ngawasin, jauh dari bapak ibu.... “Aku mulai berani sampai ke yang gituan, ML (making love), kalo gak salah mulai kuliah semester ketiga aku mulai berani berhubungan seks sama pacarku.” (W2.S2.ML24)

  Pengalaman hubungan seks pada subjek 2 juga menunjukkan adanya kecenderungan remaja yang kerap merasionalisasikan hubungan seks yang terjadi karena alasan bahwa dirinya terhanyut cinta dan rayuan sehingga mereka yang pada awalnya menolak menjadi tidak mampu menolak (Santrock, 2001). Subjek mengemukakan bahwa dirinya terhayut oleh rayuan pacarnya sehingga ia tidak mampu menolak ajakan pacarnya untuk berhubungan seks. Pada diri subjek sebenarnya telah memiliki kontrol internal berupa

  sangsi moral, yang terwujud dalam perasaan takut bila sampai terjadi kehamilan. Hal ini dapat dilihat dari ungkapannya,

  

“Pertama kali sih takut...kalo-kalo nanti sampai hamil. Awalnya aku menolak

terus tapi cowokku selalu bujuk-bujuk aku, biasa bilang gini “kita kan udah

gede sama-sama punya kebutuhan seks, kenapa gak”. Pokoknya dia yang

yakinin aku sampai ngomongin masa depan lah...ngomong cinta-cinta gitu. terus

cerita kalo temennya juga ada yang nglakuin hubungan tapi aman-aman aja. “

emang kamu gak pengen coba, tau rasanya?” lama-lama aku juga luluh, dalam

arti mau berhubungan. Waktu pertama kali itu aku bingung harus kayak apa, aku

kan gak tau caranya, inikan baru pertama...” (W2.S2.ML28)

  Subjek dan pacarnya lebih sering melakukan hubungan seks di kost. Lingkungan kost subjek cenderung cenderung bebas dan tidak ada pemilik kost yang mengawasi. Lingkungan kost yang tidak memiliki aturan yang tegas merupakan salah satu pengaruh eksternal yang memberikan peluang terjadinya hubungan seks pranikah pada remaja. Selain itu, adanya rangsangan-rangsangan seksual merupakan salah satu pemicu terjadinya hubungan seks. Hal ini ditunjukkan oleh ungkapannya,

  

“Waktu itu ya...gitu aja...Kan...kos cowokku tuh cewek boleh masuk dan gak da

ibu kosnya jadi lebih memberi kesempatan untuk gituan. Awalnya sih kalo

ketemuan cuma ciuman pipi, terus bibir..tapi gak tau lama-lama sering bareng

jadi keterusan sampai gitu....ngalir gitu aja dari mulai pegang-pegang, saling

merangsang. Entah..gimana saat itu bisa sampai nglakuin hubungan. Apa lagi

kalo sepi, sama aja memberi kesempatan kan.” (W2.S2.SL26)

  Lingkungan eksternal lainnya yang dapat mendukung terjadinya hubungan seks adalah suasana rumah yang sepi tanpa adanya pengawasan dari orang tua. kondisi tersebut juga dimanfaatkan subjek untuk melakukan hubungan seks di rumah saat masa liburan.

  

“....Tapi kalo sampai rumah, pas liburan, ada bapak ibu aku gak berani macem-

macem sama cowokku. Tapi kalo bapak ibu lagi kerja terus kita cuma berdua

jadi lebih bebas ya...pacaran gitu, kiss-kissan aja, sayang-sayangan, kadang-

kadang kalo gak bisa nahan diri pernah sampai ML. Padahal dulu aku gak berani

sampai ML di rumah tapi semejak kuliah aku jadi berani (W2.S2.SL24)

  ....” Pada subjek 2, memiliki intensitas yang tinggi dalam melakukan hubungan seks, dimana dalam satu minggu bisa 3 kali sampai 6 kali melakukan hubungan seks. Subjek cenderung memiliki mekanisme pertahanan diri dengan berusaha menyakinkan dirinya bahwa pacarnya kelak akan menjadi jodohnya. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk menenangkan dirinya, meskipun ada sangsi moral yang terinternalisasi dalam dirinya seperti ketakutan jika sampai terjadi kehamilan dan penyesalan karena merasa tidak perawan lagi. Hal ini ditunjukkan oleh ceritanya,

  “.... Tapi kan...kita punya naluri itu jadi kadang-kadang tergoda untuk melakukan lagi. Lama-kelamaan biasa ja... seminggu tuh gak mesti bisa 3 sampai 6 kali. Aku takutnya kalo sampai hamil aja.... pas pertam sih ada nyeselnya karena sama aja aku dah gak perawan lagi kan. Tapi aku yakin aja kalo pacarku ini nanti jodohku jadi gak terlalu aku pikirin banget. Toh...nanti bakalan juga sama dia...” (W2.S2.IHS28)

  Hubungan seks yang telah dilakukan oleh subjek termasuk dalam hubungan seks yang tidak aman karena tidak menggunakan pengaman sehingga menyebabkan terjadinya kehamilan. Tanda awal kehamilan yang tampak, yaitu tidak terjadinya siklus haid kondisi tubuhnya yang sering merasa kurang sehat dan sering pusing (Gilarso, 2003). Hal ini membuat subjek menjadi curiga akan terjadinya

  “Jadi, gak biasanya aku telat sampai 1 bulan terus aku tunggu aja. Lama-lama aku mikir “jangan-jangan aku hamil”. Aku juga sering gak enak badan, sering pusing....” (W2.S2.MH30)

  Kecurigaan pada diri subjek telah mendorong subjek untuk mencari tahu tentang apa yang dialami diri. Subjek mulai membaca buku tentang kehamilan untuk dan mencari bukti yang lebih akurat dengan melakukan tes kehamilan untuk mendapat kebenaran yang pasti. Ternyata alat tes tersebut menunjukkan tanda positif hamil. Hal ini dapat dilihat dari pernyataannya,

  “Terus, aku lihat di buku tanda-tanda kehamilan, kok ada yang sama. Terus aku beli alat tes kehamilan dan aku tes ternyata positif.” (W2.S2.MH30)

  Kebenaran tentang kehamilan yang ditunjukkan oleh alat tes kehamilan membuat subjek terkejut. Subjek mengalami ketakutan dan merasa malu jika sampai kehamilannya diketahui oleh orang tua dan teman-temannya. Seseorang yang tidak menginginkan kehamilannya cenderung menganggap kehamilannya sebagai sebuah aib atau keburukan karena tidak sesuai dengan norma masyarakat yang ada.

  Adanya kehamilan menjadi pengalaman buruk yang kemudian ditangisi karena merasa tidak siap dan bingung harus berbuat apa. Hal ini dapat dilihat dari pernyataannya,

  “Waduh...aku takut banget, belum-belum dah malu duluan.... aku bingung harus kayak mana, pokoknya aku takut banget kalo sampai ada yang tau. Jangan sampai bapak-ibu&temen-temenku tau. Aku gak mau jadi aib. Aku gak siap banget saat itu, takut banget kalo ada yang tau.” (W2.S2.PK30)

  “Pokoknya, waktu itu aku bingung banget sampai nangis di depan pacarku.... Aku bilang sama pacarku, aku gak pengen sampai hamil dan punya anak dulu karna kuliahku belum selesai. “ (W2.S2.PK32)

b. Pengalaman Aborsi

  Ketidaksiapan subjek atas kehamilannya mendorong subjek untuk mengambil keputusan aborsi. Pengambilan keputusan aborsi salah satu dipengaruhi oleh pengalaman tentang aborsi berupa pengetahuan tentang aborsi. Subjek mengartikan aborsi sama halnya dengan tindakan menggugurkan kandungan dengan sengaja karena tidak ingin memiliki anak. Subjek juga mengetahui bagaimana cara melakukan aborsi dan dampak dari tindak aborsi. Pengetahuan tentang aborsi ini ketika di SMU dalam acara pembekalan tentang seksualitas kaum muda dan cerita dari teman-temannya serta berita yang membahas tindak aborsi. Hal dapat dilihat dari pernyataannya,

  “Aborsi tuh megugurkan kandungan dengan sengaja karna gak pengen punya anak. Bisa dengan minum pil, ke dukun atau dokter. Aku kan pernah lihat film aborsi juga pas di SMA, pas acara pembekalan kaum muda, terus denger dari temen pas cerita-cerita dan berita. Dah...itu aja...” (W2.S2.PAB35)

  Pernyataan lainnya,

  “Tau tapi cuma dikit. Yang aku tau...si ibu bisa nyesel banget nantinya, terus kalo gak hati-hati, gak dilakukan sama orang yang ahli bisa jadi infeksi, pendarahan.” (W2.S2.PAB37)

  Keputusan aborsi cenderung dilakukan secara diam-diam tanpa sepengetahuan orang lain karena aborsi merupakan tindakan yang dilarang oleh hukum dan norma-norma yang ada. Pada subjek 2, ia terpaksa harus merahasiakan keputusan untuk aborsi dari orang tuanya

  dan teman dekatnya agar tidak diketahui oleh berbagai pihak. Hal ini dapat dilihat dari pernyataannya,

  “.....Pas aku bilang ma pacarku, aku pengen aborsi, pacarku langsung setuju karna dia juga dah buntu, mau apa lagi....” (W2.S2.OP32)

  Pernyataan lainnya,

  “Hanya aku dan pacarku. Bapak ibu, mbakku, temenku gak ada yang aku kasih tau.... aku takut banget kalo mereka kecewa nantinya. Yang tau tuh cuma temen cowok aku yang pacarnya pernah aborsi juga...tapi kita dah saling rahasia karna gak mau sampai keduanya tersebar pernah aborsi.” (W2.S2.OP39)

  Keputusan subjek memilih aborsi didorong oleh faktor ekonomi dan faktor sosial. Subjek memilih untuk aborsi karena subjek merasa tidak siap untuk menjalani kehamilannya baik secara ekonomi maupun sosial. Secara ekonomi, subjek memiliki kondisi ekonomi yang belum mapan karena masih tergantung pada orang tua. Secara sosial, pertimbangan untuk melakukan aborsi diantaranya, keinginan untuk tidak memiliki anak terlebih dahulu karena masih ingin melanjutkan kuliah, serta ketakutan terhadap orang tua karena subjek merasa belum siap menerima konsekwensi dari orang tua. Hal ini ditunjukkan dari ungkapkannya,

  “....Aku bilang sama pacarku, aku gak pengen sampai hamil dan punya anak dulu karna kuliahku belum selesai. Lagian dua-duanya belum mapan, masih tergantung ma ortu. Aku takut ma ortuku, malu sama temen-temen. Kalo bapak ibu tau pasti marah, dan aku gak siap dengan apa yang terjadi nanti kalo bapak ibu tau. Bisa-bisa mati bediri mereka. Mereka kan udah sering nasihatin aku berulang kali “yang ati-ati ya...jangan sampai buat malu keluarga” terus bapak ibu juga dah pernah bilang, kalo sampai hamil gak usah sekolah lagi, nikah aja. Aku enggak mau nikah muda, aku kan masih pengen bebas. Inget kata-kata bapak ibu, aku kayak gak punya pilihan lain selain aborsi.” (W2.S2.AL32)

  Pada awalnya tindak aborsi yang dilakukan oleh subjek merupakan tindak aborsi yang tidak aman (unsafe abortion) karena dilakukan dengan cara mengkonsumsi makanan dan melakukan olah raga lompat-lompat, makan nangka, nanas muda, dan jamu yang dipercaya dapat menggugurkan janin, tetapi tidak berhasil. Subjek pun memutuskan pergi ke dokter untuk mengugurkan kandungannya. Hal ini dapat dilihat dari ungkapannya,

  

“Terus aku ya...berusaha gimana biar gak jadi hamil, aku berusaha untuk mens

lagi. Aku lompat-lompat, makan nangka, nanas muda, jamu biar gak jadi. Tapi

kok gak ngefek....” (W2.S2.MA32)

  Metode aborsi yang digunakan oleh subjek adalah metode kuret, yaitu membersihkan janin dalam rahim dengan menggunakan alat kuretase (sendok kerokan). Subjek memilih metode kuret dengan bantuan dokter karena dirasa lebih aman dan mampu membersihkan rahim. Subjek cenderung memikirkan keselamatan untuk dirinya meskipun biaya untuk kuret tergolong lebih mahal. Seperti yang diungkapkannya,

  

“Kuret...biar, biar bersih rahimnya dan terus kan..lebih aman. Lebih mahal sih

tapi kan cepet dan aman. Kan aku pengennya cepet selesai biar gak ada yang tau...kalo aborsi.” (W2.S2.MA43)

  Biaya aborsi merupakan sesutau hal yang harus dipikirkan kembali. Biaya auntuk aborsi diperoleh subjek dengan upaya sendiri dan dari orang tua. Subjek dan pacarnya mendapatkan biaya aborsi

  dengan meminta uang tambahan untuk keperluan kuliah. Hal ini dapat dilihat dari ungkapannya,

  “Ya....pinjam ma temen. Aku bilangnya pinjam uang karna ortuku belum bisa kirim. Terus minta uang tambahan dari ortu. Alasannya mau beli buku, benerin komputer, pokoknya ada aja deh....Cowokku juga gitu, sampai akhirnya terkumpul....” (W2.S2.BA45) c. Dampak dari Tindak Aborsi

  Seseorang yang melakukan aborsi diyakini akan mengalami dampak fisik berupa resiko kesehatan dan dampak psikis berupa gangguan psikis yang terwujud dalam aneka macam bentuk atau disebut Post Abortion Syndrome (PAS). Pada subjek 2, ia lebih banyak mengalami dampak secara psikis dari pada secara fisik. Secara fisik, subjek tidak mengalami gangguan pada rahimnya. Subjek hanya sempat merasakan sakit pada bagian dalam perutnya setelah dikuret. Hal ini dapat dilihat dari ungkapannya,

  “Dampaknya...ya..itu cuma agak sakit aja perutnya tapi kan di kasih obat sama dokter. Itu kan sama aja ada luka di di dalam dan butuh waktu untuk pulih....” (W2.S2.DFA47)

  Secara psikis, gejala-gejala Post Abortion Syndrome (PAS) yang dirasakan oleh subjek, diantaranya terdapat penyesalan yang begitu dalam, kesedihan dan perasaan berdosa. Kesedihan subjek tampak juga dari ekspresi wajahnya ketika diwawancarai dan gerakan tangan yang menyentuh dada sebagai simbol penyesalan. Subjek menjadi lebih sensitif atau peka, menjadi tidak nyaman dan merasa

  membahas tentang aborsi. Subjek bahkan sempat mengalami gangguan tidur, kerap menangis, selalu teringat janin yang diaborsi bila melihat anak kecil dan takut jika kelak tidak memiliki anak. Hal ini dapat dilihat dari ungkapannya,

  “Tapi kayaknya aku jadi lebih sensitif deh...kalo lihat film-film berbau aborsi jadi kasihan sama anak yang aku aborsi. Terus kalo ada orang yang ngomongin tentang aborsi, aku ngrasa gak nyaman aja...seolah-olah kayak lagi ngomongin aku. Aku sih...cuma diem aja tapi di dalamnya (tangan sambil menunjuk dada (HO2. S2.DPA)) aku sedih banget, jadi nyesel banget. Terus sempet kalo tidur belum bisa nyenyak. Aku terus mikir...kalo aku dah bedosa banget, nget...nget....., kasihan sama janinku. Aku sempet nangis minta maap sama janinku....Tapi kalo lihat anak kecil atau bayi, aku jadi inget lagi.... Apalagi kalo lihat anak kecil nangis, aku ngrasa bersalah dan gak tega. Aku dah buat dosa. Mungkin ini dosa yang paling besar dalam hidupku. Sempet juga kepikiran, nanti bisa punya anak gak ya...? tapi aku berharap aja ma Tuhan...biar jadi wanita normal.” (W2.S2.DPA47) d.

   Upaya mengatasi PAS (Post Abortion Syndrome)

  Pada subjek 2, upaya-upaya untuk mengatasi Post Abortion

  Syndrome (PAS), dilakukan dalam beberapa cara seperti

  mengembangkan religiusitas dengan lebih rajin berdoa dan minta ampun pada Tuhan serta mendoakan janin yang diaborsi setiap hari.

  Selain itu subjek juga melakukan coping emosi dengan mulai memfokuskan diri pada tugas-tugas kuliah, meluangkan waktu pergi bersama pacarnya atau berkumpul bersama teman-temannya dan bekerja agar tidak terpikir kembali oleh peristiwa aborsi. Hal ini dapat dilihat dari pernyataannya,

  “Tapi lama kelamaan berkurang, aku fokusin aja ke kuliah biar gak kepikiran terus. Apalagi masih ada tugas kuliah yang harus diselesaikan, aku pengen cepet selesai aja, cuma itu yang bisa buat nebus salah ku sama ortuku. Biar mereka gak mikir yang macam-macam tentang aku.” (W2.S2.US47)

  Pernyataan lainnya,

  

“Aku jadi lebih rajin doa aja minta ampun ma Tuhan dan doain anakku. Aku gak

nyangka, bakal dingingatkan tentang janin yang aku aborsi lewat anak-anak

kecil. Setiap hari sebelum aku tidur, aku doa buat anakku. Biar aku gak sedih,

aku sering diajak jalan-jalan ma pacarku, kumpul bareng temen-temen. Aku jadi

jarang sekali membiarkan diriku sendiri tanpa aktivitas. Aku mulai konsen di

kuliahku dan coba cari kerja partime untuk bayar utang. Jadi kan...kalo capek

bisa enak tidurnya.” (W2.S2.US49)

  Pengalaman tentang aborsi telah meninggalkan kenangan buruk dalam diri subjek sehingga subjek berniat untuk memulai suatu relasi pacaran yang sehat. Relasi pacaran yang sehat ditunjukkan dengan adanya kesepakatan untuk tidak melakukan hubungan seksual kembali sebelum menikah. Perubahan yang terjadi didukung juga oleh keinginan untuk menjalani hidup normal tanpa diliputi perasaan bersalah akibat tindak aborsi dan keinginan unutk mempunyai anak jika sudah menikah. Subjek mengalihkan perhatiannya pada kuliah agar segera lulus dan mendapat pekerjaan sehingga bisa membahagiakan orang tua. Hal ini ditunjukkan oleh ceritanya,

  

“....Aku bener-bener udah gak melakukan hubungan seks sama pacarku tapi kalo

perilaku seks yang biasa sebatas kiss dan perhatian masih...aku gak memungkiri

itu. Tapi kalo hubungan seks, aku udah tobat...udah cukup kejadian yang

kemarin, jangan sampai terulang lagi. Pacarku juga udah gak mau lagi terulang

kejadian yang sama. Nanti deh...kalo udah nikah kan aman. Yang jelas kami

sepakat gak pengen mengulangi kesalahan untuk kedua kali. Dosaku udah

banyak, sama anakku, ortuku, mereka yang sayang sama aku.” (W2.S2.US53)

  Pernyataan lainnya,

  

“Aku pengen hidup normal tanpa diliputi rasa takut dan bersalah tapi gak bisa

hilang. Walaupun sudah tidak terlalu besar, rasa bersalah itu tetap ada. Untuk

masa depanku, aku pengen segera lulus kuliah, kerja dan bisa buat ortu bahagia.

Mereka cukup menderita karna aku. Aku pengen bisa punya anak kalo sudah

menikah..” (W2.S2.KP51)

  Selama ini hubungan seks yang pernah dilakukan oleh subjek hanya bertujuan untuk having funs atau kesenangan. Subjek sendiri kontrol diri berupa memiliki pemahaman bahwa aborsi dan hubungan seks pranikah dilarang oleh agama, namun subjek kurang mampu mengendalikan kebutuhan atau dorongan seks yang ada dalam dirinya. Hal ini dapat dilihat dari hasil wawancara,

  “Kalo agama, hukum manapun gak bolehin aborsi dan hubungan seks pranikah bisa dikatakan hal yang yang baik. Aku juga tahu kalo itu dilarang, tapi kan aku pas gak bisa kendaliin diri, gak tau ya...terjadi gitu aja....” (W2.S2.PP59)

  Pernyataan lainnya,

  “Ya...kalo masih muda kayak gini ya...cuma untuk having fun aja...dia seneng, pacarku, aku juga seneng. Aku gak ada niat untuk sampai punya anak dulu, tapi ya...itu tadi mungkin karna gak hati-hati jadi kebobolan.” (W2.S2.PP57)

  Agama dipandang sebagai penuntun hidup, namun subjek sendiri kurang mendalami ajaran-ajaran agama sehingga kurang memiliki pemahaman agama yang baik. Selama ini subjek hanya memandang kegiatan beribadah sebagai sebuah rutinitas tanpa berusaha memahami ajaran-ajarannya. Hal ini dapat ditunjukkan dari ungkapannya,

  

“Ya...agama itu kayak penuntun hidupku. Dulu aku ke gereja cuma ke geraja aja.

Jadi, beribadah itu suatu kebiasaan. Mungkin aku juga kurang taat ma agamaku. Yang penting tiap minggu ke gereja. Tapi kadang-kadang juga males, he..he....” (W2.S2.PAG55)

  

Gambaran Keseluruhan Pengalaman Aborsi pada Remaja dalam Kasus

Kehamilan Pranikah Subjek 2.

  Pengalaman aborsi pada subjek 2 terjadi ketika subjek berada pada masa kuliah. Subjek melakukan aborsi karena ia tidak siap menjalani kehamilannya yang terjadi akibat hubungan seks pranikah. Pengalaman seksual subjek dimulai sejak berada di bangku sekolah kemudian meningkat ke tahap yang lebih intim saat masa kuliah. Peningkatan perilaku seksual yang semula diawali dengan

  

kissing (berciuman) kemudian meningkat ke tahap selanjutnya hingga mendorong

  terjadinya hubungan seks. Subjek cenderung merasionalisasikan hubungan seks yang terjadi karena alasan bahwa dirinya terhanyut cinta dan rayuan sehingga mereka yang pada awalnya menolak menjadi tidak mampu menolak (Santrock, 2001).

  Terjadinya hubungan seks pranikah pada subjek disebabkan oleh pengaruh eksternal dan internal. Pengaruh eksternal yang dimaksud adalah lingkungan yang dapat mempengaruhi perilaku subjek seperti, latar belakang keluarga, komunitas di mana remaja berada dan lingkungan tempat tinggal.

  Selama subjek tinggal bersama keluarga, ia cenderung menjadi anak yang patuh pada keinginan ayah. Peran ayah dalam keluarga cenderung dominan daripada ibu sehingga ayah cenderung lekas marah jika ada yang membantah. Orang tua cenderung memberi kebebasan dalam bergaul, namun tetap memberi batasan agar tidak terjerumus dalam pergaulan bebas. Batasan-batasan dari orang tua berupa serangkaian aturan yang mungkin dapat membuat subjek merasa terkekang dan tidak memiliki kebebasan. Hal tersebut cenderung membuat subjek memanfaatkan kebebasannya untuk melakukan hal-hal baru dengan berbagai aktivitas ketika berada jauh dari orang tuanya.

  Selain itu, lingkungan kost yang tidak memiliki aturan yang tegas dan tanpa adanya pengawasan dari pemilik kost merupakan salah satu pengaruh eksternal yang memberikan peluang terjadinya hubungan seks pranikah pada subjek. Subjek cenderung terlibat dalam klik (cliques) remaja yang memiliki kedekatan lebih besar, dimana subjek lebih banyak meluangkan waktu bersama pacarnya dari pada bersama teman-temannya. Dalam kebersamaan dengan pacarnya, subjek cenderung melakukan kegiatan rutinitas harian, seperti makan, istirahat, nonton, termasuk aktivitas seksual dan tidak memiliki kegiatan lain di kampus atau masyarakat. Aktivitas yang sama juga dilakukannya ketika bersama teman-temannya, dimana aktivitas yang dilakukan cenderung untuk kesenangan tanpa adanya aktivitas yang berguna.

  Pengaruh internal yang dapat mempengaruhi terjadinya hubungan seks pranikah pada subjek adalah adanya pengamalan seks yang dialami sewaktu berada di bangku sekolah. Hubungan seks yang selama ini pernah dilakukan oleh subjek hanya bertujuan untuk having funs atau kesenangan. Sebenarnya subjek memiliki kontrol internal, diantaranya sangsi moral berupa ketakutan terjadinya kehamilan, penyesalan kehilangan keperawanan; dan pemahaman agama yang melarang borsi dan hubungan seks pranikah, namun hal tersebut kurang terinternalisasinya dengan baik sehingga ia tidak mampu mengendalikan kebutuhan atau dorongan seks yang semain meningkat pada masa remaja.

  Peningkatan aktivitas seksual pada subjek 2 ditunjukkan oleh intensitas yang tinggi dalam melakukan hubungan seks, dimana dalam satu minggu bisa 3 kali sampai 6 kali melakukan hubungan seks. Subjek cenderung memiliki mekanisme pertahanan diri dengan berusaha menyakinkan dirinya bahwa pacarnya kelak akan menjadi jodohnya. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk menenangkan dirinya, meskipun suara hatinya menyuarakan ketakutan jika sampai terjadi kehamilan dan penyesalan karena merasa tidak perawan lagi.

  Hubungan seks yang telah dilakukan oleh subjek termasuk dalam hubungan seks yang tidak aman karena tidak menggunakan pengaman sehingga menyebabkan terjadinya kehamilan. Tanda awal kehamilan yang tampak, yaitu tidak terjadinya siklus haid kondisi tubuhnya yang sering merasa kurang sehat dan sering pusing., (Gilarso, 2003). Hal ini membuat subjek menjadi curiga akan terjadinya kehamilan sehingga ia segera melakukan uji tes kehamilan untuk mencari kebenaran.

  Kebenaran tentang kehamilan yang ditunjukkan oleh alat tes kehamilan membuat subjek terkejut. Subjek mengalami ketakutan dan merasa malu jika sampai kehamilannya diketahui oleh orang tua dan teman-temannya. Seseorang yang tidak menginginkan kehamilannya cenderung menganggap kehamilannya sebagai sebuah aib atau keburukan karena tidak sesuai dengan norma masyarakat yang ada. Kehamilan yang terjadi menjadi sesuatu yang disesali dan menimbulkan kesedihan dan ketakutan karena tidak adanya kesiapan dalam menjalani kehamilan. Hal ini telah mendorong remaja memutuskan aborsi untuk menghentikan kehamilannya.

  Keputusan subjek memilih aborsi didorong oleh faktor ekonomi dan faktor sosial. Subjek memilih untuk aborsi karena subjek merasa tidak siap untuk menjalani kehamilannya baik secara ekonomi maupun sosial. Secara ekonomi, subjek memiliki kondisi ekonomi yang belum mapan karena masih tergantung pada orang tua. Secara sosial, pertimbangan untuk melakukan aborsi diantaranya, keinginan untuk tidak memiliki anak terlebih dahulu karena masih ingin melanjutkan kuliah, serta ketakutan terhadap orang tua karena subjek merasa belum siap menerima konsekwensi dari orang tua.

  Pada awalnya tindak aborsi yang dilakukan oleh subjek merupakan tindak aborsi yang tidak aman (unsafe abortion) karena dilakukan dengan cara mengkonsumsi makanan dan melakukan olah raga lompat-lompat, makan nangka, nanas muda, dan jamu yang dipercaya dapat menggugurkan janin, tetapi tidak berhasil. Subjek pun memutuskan pergi ke dokter untuk mengugurkan kandungannya. Metode aborsi yang digunakan oleh subjek adalah metode kuret, yaitu membersihkan janin dalam rahim dengan menggunakan alat kuretase (sendok kerokan). Biaya aborsi subjek ditanggung oleh subjek dan pacarnya.

  Sehingga ia terpaksa berbohong pada orang tua untuk mendapatkan biaya aborsi.

  Tindak aborsi yang dilakukan oleh subjek 2 lebih memiliki dampak psikis berupa gangguan psikologis yang disebut Post Abortion Syndrome (PAS) daripada secara fisik. Secara fisik, subjek tidak mengalami gangguan pada rahimnya. Subjek hanya sempat merasakan sakit pada bagian dalam perutnya setelah dikuret. Secara psikis, subjek mengalami penyesalan yang begitu dalam, kesedihan dan perasaan berdosa. Subjek menjadi seorang yang lebih sensitif atau peka, menjadi tidak nyaman dan merasa sebagai bahan pembicaraan ketika ada film atau orang lain yang membahas tentang aborsi. Subjek bahkan sempat mengalami gangguan tidur, kerap menangis, dan selalu teringat janin yang diaborsi bila melihat anak kecil dan takut jika kelak tidak memiliki anak.

  Pada subjek 2, upaya-upaya untuk mengatasi Post Abortion Syndrome (PAS) dilakukan dalam beberapa cara, seperti mengembangkan religiusitas dengan lebih rajin berdoa dan minta ampun pada Tuhan serta mendoakan janin yang diaborsi setiap hari. Selain itu subjek juga melakukan coping emosi dengan mulai memfokuskan diri pada tugas-tugas kuliah, meluangkan waktu pergi bersama pacarnya atau berkumpul bersama teman-temannya dan bekerja agar tidak terpikir kembali oleh peristiwa aborsi Pengalaman tentang aborsi telah meninggalkan kenangan buruk dan penyesalan dalam diri subjek sehingga subjek berniat untuk memulai suatu relasi pacaran yang sehat. Relasi pacaran yang sehat ditunjukkan dengan adanya kesepakatan untuk tidak melakukan hubungan seksual kembali sebelum menikah.

  Bagan 2 :

Bagan Hasil Penelitian Subjek II (CC)

  REMAJA ABORSI LATAR BELAKANG KELUARGA

  • Adanya hubungan baik dan akrab antar anggota keluarga sehingga mampu atasi konflik

    • Orang tua terlalu sibuk dengan pekerjaannya sehingga kurang memperhatikan anak.

  • Orang tua memberi kepercayaan namun tetap memberi batasan dalam bergaul.
  • Sifat ayah cenderung dominan sehingga mudah marah jika ada yang membantah
  • Cenderung menuruti keinginan dan perintah ayah untuk menghindari konflik

  SETELAH TINGGAL DI KOST PENGARUH INTERNAL PENGARUH EKSTERNAL

  • • Kurang terinternalisasinya norma • Suasana kost yang bebas tanpa aturan yang tegas dan

    dalam diri pengawasan dari pemilik kost, orang tua
  • Kebutuhan seks yang meningkat • Intensitas pertemuan yang tinggi dengan pacar
  • • Kurangnya kontrol seksual pada diri • Aktivitas yang dilakukan hanya untuk kesenangan

    pribadi seperti pergi belanja, main, bareng pacar, dll,
  • Pengalaman seks yang dimulai sejak tanpa ada kegiatan di kampus dan di masyarakat.

  SMP SEKS BEBAS

KEHAMILAN PRANIKAH

TIDAK SIAP MENJALANI KEHAMILAN

FAKTOR EKONOMI FAKTOR SOSIAL Subjek memiliki kondisi ekonomi yang

  • Tidak ingin memiliki anak terlebih dahulu belum mapan karena masih tergantung
  • Masih ingin melanjutkan kuliah pada orang tua.
  • Ketakutan menerima sangsi dari orang tua.

  

USAHA SENDIRI MENGHENTIKAN KEHAMILAN

  • • Makan nangka, makan nanas muda, minum jamu, olah raga lompat-

    lompat dipercaya dapat menggagalkan kehamilan.

  MENGALAMI KEGAGALAN ABORSI DENGAN BANTUAN MEDIS DENGAN METODE KURET DAMPAK PSIKOLOGIS DAMPAK FISIK

  • Adanya perasaan bersalah dan penyesalan • Sakit pada bagian perut setelah proses aborsi
  • Menjadi mudah tersentuh perasaanya bila mendengar cerita aborsi atau melihat anak kecil
  • Kasihan pada janin yang diaborsi
  • Muncul ketakutan tidak mempunyai anak

UPAYA MENGATASI POST ABORTION SYNDROME

  • Rajin berdoa dan minta ampun pada Tuhan dan janin yang diaborsi

  Subjek 3 (MM)

  Wawancara pokok terhadap subjek dilakukan satu kali dan bertempat di kost peneliti. Wawancara dilaksanakan pada hari jumat, tanggal 19 Januari 2007 pukul 21.00-01.00 Wib. Selama proses wawancara berlangsung, peneliti juga melakukan obervasi terhadap subjek untuk melihat perilaku-perilaku subjek yang tidak teramati dalam wawancara dan mendengarkan cerita subjek yang berkaitan dengan hal akan diungkap. Berikut hasil wawancara berdasarkan pedoman wawancara umum :

  Profil Subjek 3 (MM)

  Subjek merupakan anak pertama dari dua bersaudara yang hidup dalam suasana keluarga yang kurang harmonis karena sering terjadi pertengkaran antar anggotanya. Adanya masalah kecil pun bisa (W3.S3.SK6). menyebabkan pertengkaran dalam keluarga Pertengkaran tersebut terjadi karena sikap ibu yang cenderung dominan dalam keluarga, dimana ibu lebih banyak mengatur dan cenderung memaksakan keinginan pribadi (W3.S3.PAO6).

  Dalam keluarga, subjek cenderung memiliki relasi yang baik dengan ayah dan adiknya daripada dengan ibunya. Subjek lebih sering mendengarkan dan tidak berani menetang kata-kata ayahnya serta berusaha membuat ayahnya senang. Hal ini dilakukannya untuk menghindari terjadinya konflik dengan ayahnya (W3.S3.RK8). Relasi subjek dengan ibunya kurang baik karena subjek lebih sering bertengkar dengan ibu. Subjek pun menjadi merasa tidak nyaman tinggal di rumah jika sedang bertengkar dengan ibunya (W3.S3.MK8).

  Dalam pergaulan sehari-hari, subjek memiliki banyak kenalan mulai dari teman kost, kuliah, teman bermain dan tetangga namun hanya memiliki relasi yang dekat dengan beberapa temen (W3.S3.RT12). Aktivitas yang dilakukan subjek bersama teman-temanya diantaranya, jalan-jalan, berbelanja, makan bersama, nonton film, menyelesaikan tugas kuliah, tidur bareng atau berbagi cerita. Kebiasaan berkumpul bersama teman- temannya kini telah jarang terjadi karena subjek dan teman-temannya cenderung bersama pacarnya masing-masing (W3.S3.AT16).

  Subjek juga memiliki kebiasaan suka berganti-ganti pacar dan menjalin kedekatan dengan pria lain tanpa status yang jelas. Kedekatan yang pernah terjalin dengan pria lain kerap menjadi penyebab terjadinya pertengkaran antara subjek dan pacarnya yang kemudian berujung pada

  (W3.S3.RT18).

  berakhirnya hubungan Subjek memiliki pacar semenjak ia masih berada di SMP. Ketika itu subjek memiliki pacar yang terkenal sebagai anak nakal, sering mabuk-mabukan, dan berani melakukan aktivitas seksual, namun hubungan subjek dengan pacar pertamanya putus

  (W3.S3.RP26).

  ketika masih di SMU Aktivitas yang dilakukan subjek bersama teman-teman atau pacarnya merupakan aktivitas yang bertujuan untuk mencari kesenangan atau hanya sebatas kepentingan kuliah (W3.S3.AT20). Aktivitas yang kerap dilakukan bersama pacarnya diantaranya pergi jalan-jalan, menonton film, berbelanja, tidur bersama atau pergi ke gereja dan termasuk aktivitas seksual. Aktivitas-aktivitas yang dilakukan subjek dengan pacarnya telah (W3.S3.AP22). menjadi rutinitas sehari-hari

  Kebersamaan subjek dan pacarnya kerap terjadi di kost subjek sendiri ataupun di kost pacarnya. Setiap hari subjek selalu bertemu dengan pacarnya. Suasana kost subjek yang cukup bebas memberikan peluang untuk selalu bersama dengan pacarnya (W3.S3.IP24). Subjek tinggal di sebuah kost yang tidak memiliki ruang tamu sehingga tamu pria diperbolehkan masuk kamar. Kebebasan di kost subjek tampak dari tidak adanya peraturan yang tegas dan kurangnya kontrol dari pemilik kost (W3.S3.SL24). meskipun rumahnya bersandingan a.

   Pengalaman Seks Pranikah

  Pengalaman pertama seks pranikah pada subjek 3 terjadi ketika subjek masih duduk di bangku sekolah, kemudian berlanjut pada masa kuliah. Subjek melakukan hubungan seks pertama kali dengan pacarnya di sebuah kamar penginapan yang tidak memiliki peraturan yang tegas bagi remaja. Pengalaman hubungan seks pada subjek sesuai dengan kecenderungan remaja yang kerap merasionalisasikan hubungan seks yang terjadi karena alasan bahwa dirinya terhanyut cinta dan rayuan sehingga mereka yang pada awalnya menolak menjadi tidak mampu menolak (Santrock, 2001). Subjek

  menyampaikan alasannya melakukan hubungan seks karena diajak dan dirayu dengan kata-kata indah oleh pacarnya sehingga subjek pun menuruti keinginan pacarnya. Pertama kali melakukan hubungan seks, subjek cenderung pasif karena belum berpengalaman. Hal ini ditunjukkan oleh hasil wawancara,

  “Pertama kali mulai berani hubungan seks pas aku masih SMU sama pacarku yang buat aku hamil.... Gak tau kenapa. Aku melakukan hubungan seks pertama kali pas hari ulang tahunku. Pas kita lagi ada acara di pantai. Kita menyewa

kamar terus pacarku langsung aja ngajak, pertama aku nolak tapi dia dia maksa-

maksa-maksa sama ngrayu-ngrayu dengan kata-kata manis, pokoknya menyakinkan kalo gak bakal apa-apa. Pertama kali pas melakukan aku cuma

diem aja, dia megang-megang, aku cuma diem aja...dia yang lebih aktif. Aku gak

tau harus buat gimana. Kan baru permata toh.” (W3.S3.ML26)

  Pada diri subjek sebenarnya telah memiliki kontrol internal yaitu berupa sangsi moral, dimana dalam diri subjek terdapat ketakutan bila sampai terjadi kehamilan dan ketakutan jika sampai diketahui oleh orang lain. Ketakutan akan terjadinya kehamilan disebabkan oleh hubungan seks yang tidak aman, dimana subjek dan pacarnya tidak memakai pengaman atau alat kontrasepsi saat melakukan hubungan seks. Hal ini dapat dilihat dari pernyataannya,

  “Dampaknya ya....aku takut lah, takut kalo pacarku cerita-cerita sama orang terus ada yang tau. Takut lagi kalo sampai hamil. Aku mikir...bisa hamil gak ya...nanti, kan waktu itu gak pakai pengaman.”(W3.S3.DHS32)

  Pengalaman seksual pada subjek 3 cenderung bersifat progesif, maksudnya mengalami peningkatan pada masa remaja. Peningkatan perilaku seksual biasanya diawali dengan berciuman (kissing) yang kemudian meningkat samapi ke tahap hubungan seks. Pengalaman

  berhubungan seks pertama kali telah membawa dampak negatif pada subjek sehingga setiap kali subjek berpacaran dengan pria lain maka ia cenderung terlibat dalam hubungan seksual. Hal ini ditunjukkan oleh pernyataannya,

  “Kalo dulu pacaran aku cuma sebatas ciuman saja tapi semenjak melakukan hubungan seks itu, udah gak cuma sebatas kissing aja...tapi udah sampai ke tahap hubungan seks, mulai dari sentuhan, terus sampai melakukan. Sekarang setiap kali aku punya pacar, pasti melakukan hubungan seks. Gimana ya...sudah seperti kebutuhan.” (W3.S3.PS28)

  Hubungan seks yang tidak aman atara subjek dan pacarnya sewaktu di bangku sekolah telah mengakibatkan terjadinya kehamilan pada diri subjek. Kehamilan sendiri dapat terjadi karena disebabkan oleh kontak intim antara alat kelamin perempuan dengan alat kelamin pria. Pengalaman kehamilan subjek ditandai dengan tidak mengalami siklus menstruasi pada waktunya dan adanya gangguan pencernaan seperti sembelit, dimana subjek merasakan mulas pada perutnya. Hal ini ditunjukkan oleh hasil wawancara,

  “....Terus kok....setelah melakukan itu aku gak dapet mens. Udah telat 3 minggu lebih... aku panik lagi, aku takut kalo sampai hamil....” (W3.S3.MH32)

  Ungkapan lainnya,

  “Ya...telat mens, terus aku aku ngrasa perutku mulas-mulas kayak pengen buang air besar tapi kalo pas mau dikeluarin gak bisa. Cuma itu aku gak ngrasain banget-banget. Waktu itu aku juga aku kan gak tau banyak kalo ada ngrasa gak enak ma badanku, aku anggap aku sakit.” (W3.S3.MH34)

  Keadaan ini membuat subjek mengalami kepanikan dan kecurigaan akan terjadinya kehamilan sehingga ia segera melakukan

  pun segera melakukan tes kehamilan dan alat tes kehamilan tersebut menunjukkan tanda positif yang mengindikasikan bahwa subjek hamil.

  Hal ini dapat dilihat dari pernyataanya,

  “....Terus aku bilang sama cowokku kalo aku telat mens. Terus dia beliin aku alat tes kehamilan, dia minta aku untuk tes apakah hamil atau tidak. Waktu itu gak juga gak ada pengetahuan, aku baca aja petunjuk yang ada di alat tes. Terus aku tes kan ternyata garis dua, kalo garis dua berarti positif hamil....” (W3.S3.MH32)

  Kehamilan yang telah diketahui dari alat tes kehamilan menyebabkan beberapa gangguan psikologi seperti perasaan takut dan bingung karena ia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Kesedihan subjek semakin bertambah ketika sang pacar tidak mau bertanggungjawab. Subjek sendiri merasa tidak siap dengan kehamilan yang terjadi pada dirinya sehingga ia berusaha mencari orang terdekat untuk dimintai tolong. Hal ini dapat dilihat dari ungkapannya, “Aduh...aku takut banget...aku bingung harus gimana, aku cuma bisa nangis...

  terus cowokku aku kasih tau tapi dia cuma diem aja. Gak bantu aku, gak ada tanggung jawabnya sama sekali, semua diserahin sama aku. Pertamanya aku diem, gak kasih tau siapa-siapa tapi aku gak tau harus kayak mana. Aku gak mau sampai orang tuaku tahu, suster juga tahu. Aku gak siap hamil, terus aku

akhirnya cerita sama temen asramaku, temenku juga kaget.” (W3.S3.PK32)

b.

   Pengalaman Aborsi

  Ketidaksiapan subjek dalam menjalani kehamilannya telah mendorong subjek untuk mengambil keputusan untuk aborsi.

  Pengambilan keputusan aborsi salah satu dikuatkan pengetahuan subjek tentang aborsi yang diperoleh dari pendidikan seks ketika di sekolah. Subjek mengartikan aborsi sama halnya dengan tindakan

  menggugurkan kandungan secara sengaja karena tidak mengiginkan kehamilan. Subjek juga mengetahui bahwa tindak aborsi dapat dilakukan oleh dokter, seorang dukun atau dengan meminum pil aborsi. Hal ini ditunjukkan dari ungkapannya,

  “Aborsi itu sama aja kalo kita mau gugurin kandungan karna gak pengeng hamil dulu. Kebelutan aku pernah dapat di...waktu itu kayak seks education dari sekolah.” (W3.S3.PAB36)

  Ungkapan lainnya,

  ‘Aku dikasih lihat film aborsi sama cara-caranya. Ada yang lewat dokter, dukun atau minum pil aborsi. Dari situ aku jadi tau.” (W3.S3.IA36)

  Keputusan aborsi pada subjek 3 dilakukan secara diam-diam tanpa sepengetahuan orang lain karena aborsi merupakan tindakan yang dilarang oleh hukum dan norma-norma yang ada. Subjek mengambil keputusan untuk aborsi tanpa meminta pertimbangan banyak orang. Subjek hanya dibantu seorang temannya dalam mencari informasi tentang orang dan tempat yang mau melakukan aborsi. Hal ini dapat dilihat dari hasil wawancara,

  “Gak ada yang bantu...itu keputusanku sendiri. Pacarku juga gak. Dia cuma diem aja. Aku cuma ditemani ma temenku dari cari tempat aborsi sampai aborsi selesai....” (W3.S3.OP38)

  Keputusan subjek memilih aborsi lebih didorong oleh faktor sosial, dimana alasan subjek memilih aborsi lebih disebabkan karena ketidaksiapan dalam menerima dampak sosial seperti ketakutan putus sekolah karena subjek masih ingin sekolah dan adanya ketakutan mendapat ejekan dari teman-temanya akibat kehamilannya. Hal ini ditunjukkan dari ungkapannya,

  “....Terus temenku tanya aku mau gimana? Aku bilang aku mau gugurin aja, soale aku belum siap, aku masih pengen sekolah, aku takut kena marah sama ortuku, suster. Jadi ejekan orang. Temenku juga bingung mau kasih saran apa, dia cuma bisa bantu aku..... “ (W3.S3.AL32)

  Selain itu, sebagian remaja menganggap bahwa tindakan aborsi merupakan keputusan yang tepat karena dengan melakukan aborsi maka martabat diri dan keluarganya akan selamat. Hal tersebutlah yang juga menjadi alasan subjek untuk lebih memilih aborsi. Subjek merasa kehamilannya adalah aib bagi keluarganya terutama ayahnya karena ayahnya merupakan salah seorang tokoh masyarakat di daerahnya. Hal ini sesuai dengan pegakuannya,

  “Aku rasa keputusanku untuk aborsi adalah hal yang tepat dari pada orang-orang tau aku hamil terus nama baik keluarga jadi buruk. Aku lebih memikirkan martabat dan harga diri aku dan keluarga, terutama sih keluarga soalnya papa panutan masyarakat. Papa kan bisa dibilang salah satu tokoh masyarakat.” (W3.S3.AL46)

  Metode aborsi yang dipilih oleh subjek adalah metode tradisional dengan bantuan dukun yang biasa melakukan aborsi.

  Pilihan aborsi dengan bantuan dukun lebih biasanya didasari oleh keadaan ekonomi, dimana tidak adanya biaya yang cukup besar untuk tindak aborsi dengan metode lain. Subjek memilih aborsi dengan bantuan dukun dengan alasan biayanya lebih murah daripada dokter.

  Biaya aborsi ditanggung sendiri oleh subjek dengan menggunakan

  “....Aku gak mau ke dokter karena biayanya banyak, aku gak punya uang. Tabunganku gak cukup kalo untuk biaya ke dokter. Aku kan aborsi pakai tabunganku sendiri. Akhirnya aku pergi ke dukun itu ditemenin sama temenku....” (W3.S3.MA32)

  Aborsi yang dilakukan oleh subjek menjurus pada aborsi yang tidak aman (unsafe abortin) karena dilakukan oleh dukun atau orang yang memiliki kemampuan atau pengetahuan yang rendah dengan peralatan yang kurang lengkap dan tidak steril atau dengan meminum obat-obatan yang berkhasiat untuk menggugurkan kandungan. Pengalaman aborsi pada subjek menunjukkan bahwa subjek cukup meminum ramuan dan melakukan pemijatan pada bagian perutnya.

  Akibat pemijatan tersebut, subjek merasakan sakit seperti akibat luka memar pada perutnya dan mengalami kembali siklus menstruasi.

  Darah menstruasi yang keluar berupa gumpalan-gumpalan darah. Hal ini dapat dilihat dari hasil wawancara,

  “Akhirnya aku pergi ke dukun itu ditemenin sama temenku. Sama dukunnya itu aku disuruh minum minuman kayak teh gitu tapi bukan teh. Terus aku disuruh tiduran, perutku diplurut, diurut sambil ditekan, ya...dipijat sambil kaya dibacain mantra, soale mulutnya kayak orang ngomong. Sakit sih...kayak kalo memar- memar itu. Setelah selesai dipijat, aku disuruh pulang, kata dukunnya gak usah kuatir, aku gak bakal hamil, nanti aku bakal mens lagi...” Sampai rumah pas aku mandi ternyata aku mens tapi deres... Terus keluarnya tuh kayak gumpalan- gumpalan besar darahnya....” (W3.S3.DFA.32) c. Dampak dari Tindak Aborsi

  Setiap perempuan yang melakukan aborsi diyakini akan mengalami dampak aborsi baik secara fisik maupun psikis, namun pada subjek lebih merasakan dampak aborsi secara psikis. Secara

  (PAS) diantaranya, adanya perasaan bersalah karena telah berbuat

  dosa dan ketakutan jika perbuatannya sampai diketahui oleh orang tuanya. Hal ini ditunjukkan dari ungkapannya,

  “Yang jelas aku takut kalo sampai ortuku tau terus Aku ngrasa bersalah....sama aja aku dah buat dosa.” (W3.S3.DPA46)

  d.

  Upaya mengatasi PAS (Post Abortion Syndrome) Pada subjek 3, upaya-upaya yang dilakukan untuk mengatasi

  Post Abortion Syndrome (PAS) adalah dengan mengembangkan

  religiusitas, dimana subjek mengatasi perasaan bersalahnya dengan berdoa dan minta ampun kepada Tuhan. Selain itu, subjek juga mendoakan janin yang telah diaborsinya agar arwahnya tenang. Subjek pun tidak larut dalam perasaan bersalahnya karena masih banyak hal lainnya yang harus dipikirkan. Hal ini dapat dilihat dari hasil wawancara,

  “Aku cuma doa aja minta maap sama Tuhan. Tapi aku gak begitu larut dalam perasaan bersalah, ngapain juga diingat-ingat, masih banyak hal lain yang harus dipikirkan. Terus aku doain aja anakku itu, agar arwahnya tenang.” (W3.S3.US46)

  Pada kenyataannya pengalaman aborsi yang meninggalkan perasaan bersalah tidak membuat subjek berubah. Subjek pun kembali melakukan hubungan seks dengan pacarnya. Subjek sebenarnya memiliki kontrol agama berupa pemahaman bahwa hubungan seks pranikah dan aborsi itu dilarang oleh agama, namun pemahaman yang ada tidak mampu menyadarkan subjek untuk berhenti melakukan

  “Ajaran ajaran agama yang melarang seks pranikah dan aborsi juga aku tau tapi kalo udah gak bisa ngendaliin, lingkungan juga mendukung kayaknya ajaran agama dah gak dipikirin lagi. Gimana ya...mungkin aku bukan umat yang baik.” (W3.S3.PP48)

  Subjek sendiri hanya memandang agama sebagai status yang melekat pada dirinya karena diperoleh dari orang tuanya sejak kecil tanpa berusaha mendalami ajaran-ajaran agama sehingga ia kurang memiliki batasan norma yang tegas untuk dirinya. Selain itu, subjek juga menganggap rutinitas beribadah ke gereja hanya sebagai tradisi. Hal ini dapat dilihat dari ungkapannya,

  “Peran agama ya...apa ya... agama itu bagi aku sebagai ajaran yang kita anut tapikan agama juga menunjukkan status orang beragama apa. Aku memang rajin ke gereja tapi itu udah kayak tradisi yang diajarkan orang tua. Aku punya agama juga karena ikut orang tua dari aku kecil. Jujur aku gak begitu mendalami agamaku....” (W3.S3.PAG48)

  Hubungan seks yang masih dilakukan oleh subjek kini telah menjadi sebuah kebutuhan yang menuntut pemuasan. Terjadinya kembali hubungan seks memungkinkan terjadinya kembali kehamilan yang tidak diinginkan dan berakhir pada keputusan aborsi. Subjek sendiri tetap berniat melakukan aborsi kembali seandainya terjadi kehamilan. Hal ini dapat dilihat dari hasil wawancara,

  “Sekarang setiap kali aku punya pacar, pasti melakukan hubungan seks. Gimana ya...sudah seperti kebutuhan. Sejauh ini juga masih aman-aman aja meskipun gak pakai pengaman atau keluar dalam.” (W3.S3.ML28)

  Ungkapan lainnya,

  “.... Moga-moga aja gak sampai hamil, bisa-bisa aku aborsi lagi.” (W3.S3.AL30)

  

Gambaran Keseluruhan Pengalaman Aborsi pada Remaja dalam Kasus

Kehamilan Pranikah Subjek 3

  Pengalaman pertama seks pranikah pada subjek 3 terjadi ketika subjek masih duduk di bangku sekolah yang kemudian berlanjut pada masa kuliah.

  Subjek melakukan hubungan seks pertama kali dengan pacarnya di sebuah kamar penginapan yang tidak memiliki peraturan yang tegas bagi remaja. Pengalaman hubungan seks pada subjek sesuai dengan kecenderungan remaja yang kerap merasionalisasikan hubungan seks yang terjadi karena alasan bahwa dirinya terhanyut cinta dan rayuan sehingga mereka yang pada awalnya menolak menjadi tidak mampu menolak (Santrock, 2001).

  Terjadinya hubungan seks pranikah pada subjek disebabkan oleh pengaruh eksternal dan internal. Pengaruh eksternal yang dimaksud adalah lingkungan yang dapat mempengaruhi perilaku subjek seperti, latar belakang keluarga, komunitas di mana remaja berada dan lingkungan di mana remaja tinggal. Subjek tinggal dalam keluarga yang kurang harmonis karena hampir setiap hari terjadi pertengakaran antara anggota keluarga dengan ibunya. Pertengkaran tersebut terjadi karena sikap ibu yang cenderung dominan dalam keluarga, dimana ibu lebih banyak mengatur dan cenderung memaksakan keinginan pribadi. Subjek pun menjadi merasa tidak nyaman tinggal di rumah dan cenderung mencari kenyamanan dengan kebebasannya ketika ia tinggal terpisah dari keluarga.

  Selain itu, lingkungan kost yang tidak memiliki aturan yang tegas dan tanpa adanya pengawasan dari pemilik kost merupakan salah satu pengaruh eksternal yang memberikan peluang terjadinya hubungan seks pranikah pada subjek. Dalam kesehariannya, subjek cenderung terlibat dalam klik (cliques) remaja yang memiliki kedekatan lebih besar, dimana subjek lebih banyak keterlibatan bersama pacarnya dari pada bersama teman-temannya. Aktivitas yang dilakukannya ketika bersama dengan pacar maupun teman-temannya, cenderung bertujuan untuk kesenangan tanpa adanya aktivitas yang berguna.

  Pengaruh internal yang dapat mempengaruhi terjadinya hubungan seks pranikah pada subjek adalah salah satunya adanya pengamalan seks yang dialami sejak berada di bangku sekolah. Sebenarnya telah subjek memiliki kontrol internal yaitu berupa sangsi moral, dimana dalam diri subjek terdapat ketakutan bila sampai terjadi kehamilan dan ketakutan jika sampai diketahui oleh orang lain. Selain itu, disebabkan oleh kurang terinternalisasinya norma atau ajaran-ajaran baik dari keluarga maupun agama dan ketidakmampuan subjek dalam mengendalikan dorongan seksual yang semakin meningkat pada masa remaja.

  Pengalaman seksual pada subjek 3 cenderung bersifat progesif, maksudnya mengalami peningkatan pada masa remaja. Peningkatan perilaku seksual biasanya diawali dengan berciuman (kissing) yang kemudian meningkat samapi ke tahap hubungan seks. Pengalaman berhubungan seks pertama kali telah membawa dampak negatif pada subjek sehingga setiap kali subjek berpacaran dengan pria lain maka ia cenderung terlibat dalam hubungan seksual.

  Hubungan seks yang telah dilakukan oleh subjek termasuk dalam hubungan seks yang tidak aman karena tidak menggunakan pengaman sehingga menyebabkan terjadinya kehamilan. Pengalaman kehamilan subjek ditandai dengan tidak mengalami siklus menstruasi pada waktunya dan adanya gangguan pencernaan seperti sembelit, dimana subjek merasakan mulas pada perutnya. Tanda-tanda terjadinya kehamilan dikuatkan subjek dengan melakukan uji tes kehamilan.

  Kehamilan yang telah diketahui dari alat tes kehamilan menyebabkan beberapa gangguan psikologi seperti perasaan takut dan bingung karena ia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Kesedihan subjek semakin bertambah ketika sang pacar tidak mau bertanggungjawab. Subjek sendiri merasa tidak siap dengan kehamilan yang terjadi pada dirinya sehingga ia memutuskan melakukan aborsi untuk menghentikan kehamilannya.

  Keputusan subjek memilih aborsi lebih didorong oleh faktor sosial, dimana alasan subjek memilih aborsi lebih disebabkan karena ketidaksiapan dalam menerima dampak sosial seperti ketakutan putus sekolah karena subjek masih ingin sekolah dan adanya ketakutan dalam diri subjek jika bila dimarah oleh kepala asramanya, dan mendapat ejekan dari teman-temanya akibat kehamilannya. Keputusan aborsi dianggap sebagai keputusan yang tepat karena dengan melakukan aborsi maka martabat diri dan keluarganya akan selamat. Subjek merasa kehamilannya adalah aib bagi keluarganya terutama ayahnya karena ayahnya merupakan salah seorang tokoh masyarakat di daerahnya.

  Metode aborsi yang dipilih oleh subjek adalah metode tradisional dengan bantuan dukun aborsi. Pilihan aborsi dengan bantuan dukun lebih didasari oleh keadaan ekonomi, dimana tidak adanya biaya yang cukup besar untuk tindak aborsi dengan metode lain. Subjek memilih aborsi dengan bantuan dukun dengan alasan biayanya lebih murah daripada dokter. Biaya aborsi ditanggung sendiri oleh subjek dengan menggunakan tabungan pribadinya. Aborsi yang dilakukan oleh subjek menjurus pada aborsi yang tidak aman (unsafe abortin) karena dilakukan oleh dukun atau orang yang memiliki kemampuan atau pengetahuan yang rendah dengan peralatan yang kurang lengkap dan tidak steril atau dengan meminum obat-obatan yang berkhasiat untuk menggugurkan kandungan.

  Setiap perempuan yang melakukan aborsi diyakini akan mengalami dampak aborsi baik secara fisik maupun psikis, namun pada subjek lebih merasakan dampak aborsi secara psikis. Secara psikis, subjek mengalami beberapa gejala Post Abortion Syndrome (PAS) diantaranya, adanya perasaan bersalah karena telah berbuat dosa dan ketakutan jika perbuatannya sampai diketahui oleh orang tuanya.

  Upaya-upaya yang dilakukan subjek 3 untuk mengatasi Post Abortion

  

Syndrome (PAS) adalah dengan mengembangkan religiusitas, dimana subjek

mengatasi perasaan bersalahnya dengan berdoa dan minta ampun kepada Tuhan.

  Selain itu, subjek juga mendoakan janin yang telah diaborsinya agar arwahnya tenang. Subjek pun tidak larut dalam perasaan bersalahnya karena masih banyak hal lainnya yang harus dipikirkan. Pada kenyataannya pengalaman aborsi yang meninggalkan perasaan bersalah tidak membuat subjek berubah. Subjek pun kembali melakukan hubungan seks dengan pacarnya. Subjek sebenarnya memiliki kontrol agama berupa pemahaman bahwa hubungan seks pranikah dan aborsi itu dilarang oleh agama, namun pemahaman yang ada tidak mampu menyadarkan subjek untuk berhenti melakukan hubungan seks.

  

Bagan 3 :

Bagan Hasil Penelitian Subjek III (MM)

REMAJA ABORSI

  • Adanya hubungan antar anggota keluarga yang kurang harmonis
  • Sering terjadi pertengkaran anat anggota keluarganya
  • Sifat ibu cenderung domina dari pada ayah sehingga suka memaksakan keinginan dan suka mengatur
  • Cenderung menuruti keinginan dan perintah ayah untuk menghindari konflik

  SETELAH TINGGAL DI KOST PENGARUH INTERNAL PENGARUH EKSTERNAL

  • • Kurang terinternalisasinya norma pada • Kurangnya pengawasan dari kepala

    diri asrama&orang tua
  • Kebutuhan seks yang meningkat • Pergaulan dengan pacar yang suka mabuk, dan melakukan aktivitas seksual
  • Kurangnya kontrol seksual pada >Suasana penginapan yang sepi & tanpa peraturan
  • Pengalaman seks yang dimulai sejak
  • Aktivitas yang dilakukan hanya untuk kesenangan seperti pergi main, nonton, belanja, bersama pacar, tidak terlibat dalam kegiatan yang berguna.

  

SEKS BEBAS

KEHAMILAN PRANIKAH

TIDAK SIAP MENJALANI KEHAMILAN

FAKTOR SOSIAL

  • Subjek masih ingin kuliah dan masa depan masih panjang
  • Tidak siap menjalani kehamilan dan mengurus anak
  • Takut dimarah orang tua atau kepala asrama
  • Takut dan malu mendapat ejekan dari teman dan orang lain
  • Menyelamatkan martabat keluarga dan harga diri

  

ABORSI DENGAN BANTUAN DUKUN

DAMPAK PSIKOLOGIS DAMPAK FISIK

  • • Adanya perasaan bersalah dan berdosa • Mengalami menstruasi kembali

  • Muncul ketakutan jika orang tua dan orang lain mengetahui kehamilan dan tindak aborsi.

UPAYA MENGATASI POST ABORTION SYNDROME

  Tabel II RINGKASAN GAMBARAN PENGALAMAN ABORSI PADA REMAJA DALAM KASUS KEHAMILAN PRANIKAH

  Subjek 1 (SS) Subjek 2 (CC) Subjek 3 (MM) Persamaan Perbedaan Latar Suasana Adanya hubungan Adanya hubungan Kurang adanya

  • Pola asuh : • Suasana keluarga keluarga baik antar anggota baik antar anggota hubungan yang adanya SS&CC: Adanya Belakang keluarga. keluarga. harmonis antar dominansi peran hubungan baik

  Keluarga anggota keluarga. dari salah satu antar anggota pihak orang tua. keluarga.

  Pola Asuh Ibu cenderung

  Pada MM: Kurang

  • Mendidik dengan • Ayah cenderung dominan dan disiplin sehingga dominan sehingga

  adanya hubungan sering anak cenderung lekas marah jika yang harmonis

  • Relasi Keluarga: memaksakan patuh. ada yang antar anggota cenderung membantah. kehendak. keluarga.

  mematuhi

  • Orang tua terutama ayah

  perintah atau

  • Orang tua kurang memberi memberi kehendak orang
  • Pola asuh kebebasan bergaul kepercayaan tua. SS: ayah dalam bergaul

  menerapkan

  • Orang tua (ayah) namun tetap

  disiplin, kurang membatasi memberi batasan. memberi aktivitas anak. kebebasan bergaul

  Masalah Terjadi

  Orang tua sibuk dan membatasi

  • Orang tua terlalu Keluarga

  pertengkaran antar dengan aktivitas anak. sibuk dengan anggota keluarga. pekerjaannya

  CC: Ayah pekerjaannya sehingga kurang cenderung sehingga kurang memperhatikan dominan sehingga ada waktu untuk anak. lekas marah jika anak. ada yang

  • Kurang

  membantah, SS,CC: Teman kuliah, teman main.

  Relasi Keluarga diperlakukan adil

  Cenderung menuruti dan patuh pada perintah ayah untuk menghindari konflik.

  Memiliki relasi yang baik dengan ayah dan cenderung patuh ayah. memberi kepercayaan dalam bergaul dengan memberi batasan. MM: Ibu dominan dan memaksakan kehendak.

  • Cenderung memiliki kedekatan dengan ibu
  • Cenderung patuh pada orang tua.
  • Masalah keluarga pada MM: kerap terjadi pertengkaran antar anggota keluarga.
  • Teman kuliah, teman kost, teman bermain.
  • Memiliki relasi yang baik.
  • Teman dekat, teman kuliah.
  • Memiliki relasi yang baik dengan teman dekat maupun teman kuliah
  • Teman dekat, teman kuliah.
  • Memiliki relasi yang baik dengan teman dekat maupun teman kuliah
  • Pada SS, CC,
  • Bentuk relasi
  • Cenderung melakukan aktivitas untuk kesenangan.
  • Bentuk relasi
  • Misalnya, pergi main, nonton, sharing, belanja.
  • Pada SS: aktivitas yang kerap dilakukan yaitu pergi Clubbing Relasi dengan teman pria

  SS, CC: Orang tua terlalu sibuk bekerja

  Relasi dengan Teman

  Relasi dengan teman bermain Aktivitas yang dilakukan

  Olah raga, clubbing, pergi main.

  Nonton film di kost, mengerjakan tugas, berbagi cerita, berbelanja, pergi main.

  Makan bersama, tidur, berbagi cerita, menyelesaikan tugas.

  MM: memiliki relasi yang baik dengan teman dekat maupun teman kuliah

  SS,CC: Teman dekat, teman kuliah.

  Relasi dengan teman pria Aktivitas yang dilakukan Intensitas pertemuan

  • Teman kuliah, teman main.
  • Sebagai pacar
  • Relasi dengan pacar kurang harmonis
  • Bersama teman kuliah: mengerjakan tugas, pergi olah raga, clubbing.
  • Bersama pacar: nonton, jalan- jalan, mendengarkan musik, istirahat, ke gereja, makan.
  • Hampir setiap hari bertemu di kost.
  • Teman dekat pria
  • Sebagai pacar
  • Bersama teman pria: sharing , pergi jalan-jalan, komunikasi jarak jauh.
  • Bersama pacar: nonton, pergi jalan-jalan, belanja, pergi ke gereja, istirahat, makan.
  • Hampir setiap hari bertemu di kost.
  • Teman kuliah, teman sekolah, teman main.
  • Sebagai pacar
  • Bersama teman pria: mengobrol, pergi main, menyelesaikan tugas kuliah.
  • Bersama pacar, pergi jalan-jalan, nonton, belanja, istirahat, pergi ke gereja.
  • Hampir setiap hari bertemu di kost.
  • Bersama teman pria, cenderung melakukan aktivitas belajar dan aktivitas untuk kesenangan.
  • Cenderung melakukan rutinas harian bersama pacar.
  • Intensitas pertemuan dengan pacar tinggi.
  • Pada SS, MM: membangun relasi pertemanan dengan teman pria lain & kedekatan dengan pacar.
  • Pada CC, memiliki kedekatan dengan teman pria lain tanpa status.
Pengalaman Hubungan

  • Terjadi pada masa • Terjadi pada • Terjadi saat • Suasana saat • Hub. seks pertama seks seks kuliah yang masa kuliah yang SMU, dilakukan melakukan pada SS, CC: prankah pertama dilakukan dengan dilakukan dengan dengan pacar di hubungan seks : terjadi pada masa pacar di kost. pacar di kost. penginapan. sepi, tidak kuliah yang adanya dilakukan dengan pengawasan dan pacar di kost
  • Suasana kost • Suasana kost • Suasana kamar kontol dari bebas tanpa bebas tanpa sepi, tidak ada masyarakat. Pada MM: Terjadi aturan, tanpa aturan, tidak ada aturan.

  saat SMU, pemilik kost, sepi. pemilik kost. dilakukan dengan

  • Aktivitas seksual
  • Perilaku yang sering pacar di cenderung p
  • Bingung tidak • Bingung tidak penginapan.

  dilakukan adalah tahu caranya tahu caranya ciuman (kissing),

  Bentuk hubungan seks.

  Ciuman (kissing), Ciuman (kissing), Ciuman (kissing), • Pada subjek CC: perilaku hubungan seks. hubungan seks, menyentuh organ muncul penyesalan seksual karena merasa saling menyentuh tubuh, hubungan

  • Intensitas tidak perawan lagi.

  organ tubuh. seks. melakukan hubungan seks Intensitas

  Terjadi setiap hari, Dalam 1 minggu Hampir setiap hari tinggi, hampir

  • Pada subjek hub. seks dalam 1 hari bisa 1- bisa 3-6 kali melakukan setiap hari CC&MM: 2 kali melakukan melakukan hubungan seks terlibat dalam Menyebabkan hubungan seks. hubungan seks. dengan pacar. aktivitas seksual. terjadinya kembali hubungan seks.

  Perasaan Adanya ketakutan Adanya ketakutan

  • Adanya • Akibat secara setelah hub.

  terjadi kehamilan. terjadi kehamilan ketakutan terjadi psikis: adanya sek dan diketahui kehamilan dan perasaan takut orang lain. diketahui orang terjadi lain. kehamilan. Akibat

  • Menyebabkan • Adanya • Menyebabkan • Secara fisik secara fisik terjadinya penyesalan terjadinya menyebabkan kembali karena tidak kembali terjadi hubungan seks. perawan lagi. hubungan seks. kehamilan.
  • Terjadi • Terjadi • Terjadi kehamilan. kehamilan. kehamilan.

  Pengalaman Mengetahui

  • Mengalami • Mengalami • Keterlambatan • Tanda • Tanda kehamilan: kehamilan kehamilan keterlambatan terlambat siklus siklus haid. kehamilan: CC: kondisi badan siklus haid. haid. mengalami sering kurang
  • Perut sering keterlambatan sehat, kerap terasa m
  • Uji tes • Kondisi badan kehamilan sering kurang (sembelit) siklus haid. pusing.

  MM: perut sering sehat.

  • Uji tes terasa mulas kehamilan • Mengetahui • Kerap merasa

  (sembelit) kehamilan: pusing dengan

  • Membaca buku melakukan tes tentang
  • Pada CC: kehamilan Mengetahui kehamilan

  kehamilan: juga

  • Uji tes

  dengan baca buku kehamilan • Perasaan:

  • Takut dan malu tentang kehamilan. Perasaan

  jika diketahui

  • Bingung tidak
  • Takut dan
  • Takut dan malu yang tahu harus berbuat

  orang tua atau jika diketahui • Pada MM: juga jika diketahui muncul apa orang lain menceritakan orang tua atau orang tua atau

  • Bingung karna kehamilan pada orang lain
    • Sedih karena orang lain tidak tahu harus salah satu teman belum siap hamil
    • Bingung k
    • Bingung karna berbuat apa. asrama tidak tahu harus
    • Takut jika sampai tidak tahu harus

  • Sedih karena diketahui orang berbuat apa.

  berbuat apa. tua atau orang belum siap

  • Sedih karena • Sedih karena lain

  menerima belum siap belum siap kehamilan. menerima menerima kehamilan. kehamilan.

  • Reaksi: Reaksi Menangis Menangis Menangis menangis.

  emosi

  • Tindakan: Tindakan Menghubungi pacar

  Memberi tahu Memberi tahu

  • Memberi tahu yang untuk memberi tahu tentang kehamilan tentang tentang dilakukan tentang kehamilan kepada pacar kehamilan kehamilan kepada pacar kepada pacar.
  • Menceritakan kehamilan pada salah satu teman asrama

  Pengalaman Pengetahuan

  • Tindakan • Tindakan • Tindakan • Alasan aborsi: • Pengetahuan aborsi Aborsi aborsi membunuh darah menggugurkan menggugurkan belum siap untuk CC, MM: daging sendiri kandungan secara kandungan jalani kehamilan, Tindakan sengaja karena secara sengaja masih ingin menggugurkan
  • Aborsi dapat menyebabkan tidak ingin karena tidak melanjutkan kandungan secara memiliki anak menginginkan studi, ketakutan sengaja karena ketakutan karena kehamilan terhadap sanksi alasan tertentu, meninggalkan

  dari orang tua. dapat dilakukan kenangan buruk oleh dukun, dokter

  • Aborsi dapat • Aborsi dapat dilakukan oleh dilakukan oleh atau meminum pil
  • Orang lain yang aborsi.

  dukun, dokter dukun, dokter berperan: teman SS: aborsi sama atau meminum atau meminum membantu pil aborsi pil aborsi. mencari dengan tindakan informasi tempat membunuh darah

  • Dampak aborsi: aborsi. daging infensi rahim sendiri/kriminal.

  atau pendarahan jika tidak dilakukan oleh

  • Dampak aborsi: seorang yang

  CC, SS: ahli. meyebabkan gangguan psikis

  • Secara psikis

  seperti ketakutan, Menimbulkan penyesalan. penyesalan.

  CC: menyebakkan Informasi

  Pendidikan gangguan fisik

  • Melihat film
  • Pendidikan aborsi

  seksualitas di tentang aborsi seperti infeksi seksualitas di sekolah. rahim atau sekolah.

  • Cerita dari teman pendarahan.

  tentang obat

  • Cerita dari teman aborsi
  • Berita ten
  • Informasi aborsi aborsi

  CC, MM: Alasan

  • Belum siap Pendidikan • Kondisi ekonomi
  • Belum siap untuk aborsi

  untuk jalani seksualitas di yang belum jalani kehamilan kehamilan sekolah. mapan dan masih

  • Masih ingin

  SS, CC: cerita dari tergantung pada • Masih ingin kuliah sekolah teman orang tua

  SS, CC: melihat

  • Takut dimarahi
  • Masih i
  • Kondisi ekonomi

  acara tentang jika sampai kuliah yang belum aborsi, misalnya ketahuan orang

  • Belum siap untuk mapan dan masih fim, berita.

  tua atau kepala mengurus anak tergantung pada orang tua asrama

  • Takut
  • Alasan aborsi: mengecewakan

  SS, CC: Faktor

  • Takut dimarahi • Takut mendapat orang tua jika sampai ejekan dari ekonomi yang ketahuan orang teman-teman belum mapan dan tua.

  masih tergantung

  • Menyelamatkan martabat pada orang tua.

  MM: faktor sosial keluarga dan Menyelamatkan harga diri martabat keluarga

  Orang lain dan harga diri

  Teman membantu

  • Pacar membantu • Pacar menyetujui yang membuat keputusan aborsi mencari informasi berperan keputusan tempat aborsi
  • Orang lain
  • Teman

  berperan: membantu

  • Teman membantu

  SS, CC: Pacar mencari informasi mencari klinik klinik aborsi aborsi membantu membuat keputusan

  • Kakak membantu

  SS: kakak sebagai berbohong pada pihak keluarga orang tau tentang membantu kehamilan&aborsi berbohong pada

  Biaya aborsi Tabungan pribadi. orang tua.

  • Meminjam uang
  • Mendapat teman bantuan dana
  • Biaya aborsi orang tua pacar
  • Berbohong pada

  SS, CC: biaya orang tua dengan

  • Berbohong pada

  berasal dari orang meminta uang orang tua dengan tua tambahan meminta uang

  CC: meminjam tambahan karena uang teman sakit. Metode Secara tradisional MM: tabungan

  • Usaha sendiri • Usaha sendiri aborsi

  dengan bantuan pribadi dengan makan dengan olah raga, dukun rujak, nanas lompat-lompat,

  • Metode aborsi muda, minum makan nangka,

  SS, CC: usaha sprite nanas muda, sendiri dengan jamu mengkonsumsi

  • Kuret dengan

  makanan atau bantuan dokter

  • Kuret dengan

  minuman yang bantuan dokter dipercaya dapat menggurkan janin, menggunakan bantuan medis dengan metode kuret.

  MM: Secara tradisional dengan bantuan dukun

  Dampak Dampak

  • Merasakan sakit • Merasakan sakit • Merasakan sakit • Dampak Fisik • Dampak fisik aborsi secara fisik pada bagian perut pada bagian perut pada bagian mengalami SS: mengalami perut. kontraksi rahim pendarahan.
  • Mengalami

  sehingga bagian MM: mengalami pendarahan

  • Mengalami perut terasa sakit. menstruasi menstruasi kembali kembali
  • Dampak Psikis Dampak

  Muncul perasaan

  • Mudah tersentuh
  • Dampak ps
  • Ketakutan • Muncul perasaan psikis terhadap orang hatinya atau bersalah dan iba bersalah dan SS : terbayang- sensitif setiap berdosa terhadap bayang anak yang tua

  terhadap janin diaborsi ketika melihat atau mendengar cerita tentang aborsi. SS, MM: muncul ketakutan terhadap orang tua. CC : muncul penyesalan yang begitu dalam, mengalami gangguan tidur, ketakutan tidak akan memiliki anak.

  • Muncul perasaan bersalah terhadap janin yang diaborsi
  • Terbayang- bayang anak yang diaborsi ketika melihat atau mendengar cerita tentang aborsi
  • Mudah tersentuh hatinya atau sensitif setiap mendengar atau melihat cerita tentang aborsi mendengar atau melihat cerita tentang ab
  • Ketakutan terhadap orang tua
  • Merasa berdosa karena telah membunuh janinnya janin yang diaborsi, perasaannya menjadi lebih peka atau sensitif setiap mendengar atau melihat cerita tentang aborsi.
  • >Muncul perasaan bersalah dan iba terhadap janin yang diaborsi
  • Muncul penyesalan yang begitu dalam
  • Merasa berdosa karena telah membunuh janinnya
  • Mengalami gangguan tidur
  • Ketakutan tidak akan memiliki anak yang diaborsi
  •   Upaya mengatasi PAS

      Cara mengatasi perasaan

    • Berdoa dan minta ampun kepada Tuhan • Berdoa dan minta ampun kepada Tuhan • Berdoa dan minta ampun kepada Tuhan • Upaya atasi PAS:
    • Aktivitas pasca aborsi

      Berdoa dan minta ampun

      SS, MM: berusaha bersalah kepada Tuhan, melakukan

    • Mendoakan janin • Mendoakan janin • Mendoakan mendoakan janin hubungan seks yang diaborsi yang diaborsi janin yang yang diaborsi. dengan lebih hati- diaborsi hati agar tidak

      Aktivitas terjadi kehamilan.

      Berusaha

    • Menfokuskan diri • Menceritakan yang

      MM: menceritakan melakukan pada kuliah agar pengalaman dilakukan pengalaman hubungan seks segera lulus aborsinya aborsinya kepada dengan lebih hati- kepada teman

    • Meluangkan

      teman baru hati agar tidak baru waktu untuk

      CC: menfokuskan terjadi kehamilan. refresing atau

    • Berusaha diri pada studi, berkumpul melakukan meluangkan waktu bersama teman- hubungan seks untuk refresing teman dengan lebih atau berkumpul hati-hati agar bersama teman- tidak terjadi teman.

      kehamilan. Keinginan

    • Berusaha untuk
    • Sepakat untuk • Berusaha untuk pribadi tidak mengul
    • Keinginan pribadi tidak lagi tidak

      SS, MM: berusaha tindak aborsi melakukan mengulangi tidak mengulangi hubungan seks terjadinya terjadinya

    • Jujur pada orang kehamilan
    • Keinginan untuk

      kehamilan tua tentang hidup norma

    • Melakukan SS: jujur pada kehamilan dan tanpa diliputi aborsi kembali orang tua aborsi.

      perasaan bersalah jika terjadi MM: ada rencana kehamilan aborsi kemabi jika

    • Lulus kuliah dan terjadi kehamilan.

      bekerja untuk membahagiakan CC: tidak lagi orang tua melakukan hubungan seks, hidup norma tanpa diliputi perasaan

    • Bisa memiliki

      bersalah, anak jika sudah menyelesaikan berkeluarga studi&suskes di masa depan, memiliki keturunan.

      Pemahaman Pemahaman

    • Agama sebagai • Menganggap • Agama sebagai • Kesadaran moral: • Kesadaran moral Moral tentang status karena bahwa beribadah status karena adanya SS, MM: agama Agama agama diperoleh dari sebagai rutinitas diperoleh dari pemahaman sebagai status orang tuanya orang tuanya bahwa agama karena diperoleh melarang dari orang tuanya.
    • Menganggap bahwa beribadah terjadinya hubungan seks MM: menganggap sebagai tradisi pranikah dan bahwa beribadah

      Pandangan aborsi. sebagai tradisi.

    • Mengetahui • Mengetahui • Mengetahui agama bahwa agama bahwa agama bahwa agama tentang melarang melarang melarang aborsi dan terjadinya terjadinya terjadinya seks hubungan seks hubungan seks hubungan seks pranikah pranikah dan pranikah dan pranikah&aborsi aborsi aborsi

    C. PEMBAHASAN

      Berdasarkan hasil penelitian ini dapat digambarkan pengalaman aborsi pada remaja dalam kasus kehamilan pranikah. Remaja yang melakukan tindak aborsi adalah remaja yang memiliki keterlibatan secara intens dalam hubungan seks pranikah yang tidak aman dengan pacarnya. Dalam penelitian ini, ditemukan bahwa terjadinya hubungan seks pranikah yang terjadi pada remaja dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu pengaruh eksternal dan pengaruh internal.

      Pengaruh eksternal yang dimaksud adalah lingkungan yang dapat mempengaruhi perilaku remaja diantaranya, latar belakang keluarga, komunitas di mana remaja berada dan lingkungan di mana remaja tinggal. Orang tua dengan pola asuh otoriter kerap memutuskan segala sesuatu yang berkenaan dengan remaja tanpa memberi kesempatan remaja untuk mengambil keputusan sendiri. Orang tua cenderung membatasi kebebasan remaja dan memberi hukuman ketika remaja tidak mematuhi kehendaknya. Remaja pun cederung patuh pada orang tua untuk menghindari hukuman. Hal ini dialami oleh subjek SS, dimana ia mendapatkan pola asuh disiplin sehingga kurang memiliki kebebasan untuk bergaul dan beraktivitas di luar.

      Remaja yang berusaha memenuhi tuntutan otonominya kerap mengalami konflik dengan orang tua karena keinginan remaja yang tidak selaras dengan kehendak orang tua. Hal ini dialami oleh subjek MM, dimana ia kerap terlibat pertengkaran dengan ibunya akibat perbedaan keinginan sehingga ia merasa tidak nyaman tinggal dirumah dan cenderung memiliki kedekatan dengan pacarnya. Selain itu, kesibukan orang tua juga menyebabkan remaja kurang mendapat perhatian yang cukup. Orang tua hanya memperhatikan anak dengan memberi serangkaian aturan atau batasan perilaku yang mungkin dapat membuat remaja merasa terkekang dan tidak memiliki kebebasan

      Sikap orang tua yang otoriter sebenarnya bertentangan dengan tuntutan pada masa perkembangan remaja, yaitu tuntutan otonomi dan tanggung jawab.

      Otonomi remaja terkait dengan keinginan untuk mandiri dan dapat dipercaya dalam mengambil keputusan ataupun dalam bertindak sehingga membutuhkan kesempatan bereksplorasi (Santrock, 2003). Lingkungan keluarga yang kurang memberi kesempatan pada remaja untuk berkembang, bereksplorasi dapat membuat remaja menjadi tidak nyaman berada di rumah sehingga remaja cenderung meninggalkan keluarga dan lebih memiliki kedekatan dengan teman sebayanya atau pacarnya. Hal ini sesuai dengan pendapat Santrock (2002) yang menyatakan bahwa remaja yang tidak banyak terlibat dengan keluarganya cenderung memiliki keterlibatan seksual

      Selain itu, lingkungan kost yang tidak memiliki aturan yang tegas dan tanpa adanya pengawasan dari pemilik kost merupakan salah satu pengaruh eksternal yang memberikan peluang terjadinya hubungan seks pranikah pada subjek. Selain itu, remaja juga cenderung cenderung terlibat dalam klik (cliques) remaja yang memiliki kedekatan lebih besar, dimana mereka lebih banyak meluangkan waktu bersama pacarnya dari pada bersama teman-temannya. Hal ini seperti yang terjadi pada subjek CC dan MM, dimana mereka cenderung melakukan kegiatan rutinitas harian bersama pacarnya. Para remaja tidak cenderung terlibat dalam aktivitas yang bertujuan untuk mencapai kesenangan tanpa memiliki aktivitas yang bersifat konstruktif Pengaruh internal yang dapat mempengaruhi terjadinya hubungan seks pranikah pada subjek adalah adanya pengamalan seks yang dialami sewaktu berada di bangku sekolah yang kemudian meningkat ke tahap hubungan seks. Hal ini didukung oleh pendapat Santrock (2002) yang mengatakan bahwa tingkah laku seksual remaja biasanya bersifat meningkat atau progresif. Perilaku seksual pada awalnya dimulai dengan aktivitas bercumbu (kissing), kemudian meningkat ke tahap selanjutnya sampai berujung pada terjadinya hubungan seks. Hal ini seperti yang dialami oleh subjek CC dan MM, dimana mereka mulai memiliki keterlibatan aktivitas seksual dengan pacarnya sejak berada di sekolah. Sedangkan pada subjek SS, ia memulai pengalaman seksualnya ketika masa kuliah.

      Sebenarnya subjek memiliki kontrol internal berupa pemahaman bahwa aborsi dan hubungan seks pranikah dilarang oleh agama, namun hal tersebut kurang terinternalisasinya dengan baik sehingga ia tidak mampu mengendalikan kebutuhan atau dorongan seks yang semakin meningkat pada masa remaja.

      Remaja yang terlibat dalam hubungan seks pranikah kerap mengemukakan alasan bahwa hubungan seks adalah sebagai bukti tanda cinta atau adanya keyakinan bahwa pacar adalah jodoh atau pasangan hidup. Keyakinan tersebut juga dimiliki oleh subjek SS, dimana ia merasa yakin bahwa pacarnya yang sekarang adalah seseorang yang kelak akan menjadi pasangan hidupnya dalam berkeluarga. Hal ini seperti yang dikemukan oleh Michael (dalam Santrock, 2001), bahwa remaja perempuan belajar untuk mengaitkan hubungan seks yang terjadi dengan cinta.

      Mereka sering merasionalisasikan tingkah laku seksual mereka dengan mengaitkan pada diri mereka sendiri bahwa mereka terhanyut cinta sehingga mereka yang pada awalnya menolak menjadi tidak mampu menolak

      Salah satu akibat yang nyata dari hubungan seks pranikah adalah kemungkinan terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan (unwanted pregnancy) dan diikuti pertimbangan usaha aborsi (Kristinawati, 2002). Ketika seorang remaja mendapati dirinya hamil, reaksi pertama yang muncul adalah terkejut, takut dan malu jika sampai keadaannya diketahui oleh orang tua dan orang lain. Remaja juga mengalami kebingungan karena mereka tidak tahu harus berbuat apa. Mereka merasa tidak siap atas kehamilannya. Ketidaksiapan remaja untuk menjalani kehamilannya telah mendorong remaja mengambil keputusan aborsi.

      Dalam proses pengambilan keputusan untuk aborsi, seorang remaja menyadari bahwa suatu keputusan perlu dibuat atau diambil berkaitan dengan permasalah yang tengah dihadapi (Suharnan, 2005). Adapun permasalahan yang dihadapi adalah ketidaksiapan remaja menjalani kehamilannya akibat hubungan seks pranikah. Keputusan aborsi didorong oleh faktor ekonomi dan faktor sosial, maksudnya alasan aborsi didasari oleh ketidaksiapan subjek baik secara ekonomi maupun secara sosial (Harjaningrum, 2005).

      Secara ekonomi, remaja merasa belum memiliki kondisi ekonomi yang mapan dan masih tergantung pada orang tua. Secara sosial, remaja tidak memiliki kesiapan lahir dan batin untuk menerima konsekwensi dan sangsi dari keluarga maupun masyrakat. Hal ini sesuai dengan subjek SS dan CC yang mengemukakan alasan aborsi adalah faktor ekonomi dan sosial sebagai pertimbangan memilih aborsi, sedangkan pada subjek MM, alasannya melakukan aborsi lebih didasari faktor sosial. Subjek MM menganggap bahwa aborsi adalah keputusan yang tepat untuk meyelamatkan martabat keluarga dan harga dirinya karena mengingat status orang tuanya sebagai salah satu pemuka masyarakat.

      Pada awalnya ada remaja yang melakukan unsafe abortion (aborsi yang tidak aman) dengan usaha sendiri dengan mengkonsumsi makanan atau minuman dan melakukan olah raga yang dipercaya dapat menggugurkan janin. Hal ini dilakukan oleh subjek SS dan CC, dimana mereka berusaha agar mengalami siklus menstruasi dengan melakukan olah raga lompat-lompat, makan nangka, nanas muda, obat, atau jamu, namun usaha mereka tidak berhasil. Mereka pun mencari alternatif lain untuk aborsi dengan pergi ke dokter .

      Metode aborsi yang dipilih adalah kuret yang dikenal dengan istilah

      

    Suction curettage atau kuret isap, yaitu membersihkan janin dalam rahim dengan

      menggunakan alat kuretase (sendok kerokan). Metode kuret isap merupakan teknik aborsi yang paling banyak dilakukan pada trimester pertama kehamilan yaitu pada usia janin 7-12 minggu (Bertens,2001). Hal ini seperti yang dilakukan oleh subjek SS dan CC, dimana mereka menggunakan metode kuret dengan bantuan dokter. Metode aborsi lain dapat digunakan adalah secara tradisonal dengan bantuan dukun. Hal ini sesuai dengan pengalaman subjek MM, dimana ia langsung memilih aborsi dengan bantuan dukun. Aborsi dengan bantuan dukun merupakan tindak aborsi yang tidak aman (unsafe abortin) karena dilakukan oleh orang yang memiliki kemampuan atau pengetahuan yang rendah dengan peralatan yang kurang lengkap dan tidak steri (Kusmaryanto, 2002)

      Tindak aborsi yang dilakukan oleh remaja termasuk dalam jenis Abortus

      

    Provocatus atau aborsi yang disengaja dilakukan untuk mengakhiri kehidupan

      kandungan dalam rahim seorang wanita hamil (Bertens, 2002). Secara spesifik Kusmaryanto (2002) mengkategorikan tindak aborsi yang terjadi pada remaja sebagai aborsi Kriminalis, yaitu penghentian kehamilan sebelum janin mampu hidup di luar kandungan dengan alasan-alasan lain, selain alasan indikasi medis

      (Therapeutik) dan dilarang oleh hukum

      Tindak aborsi yang telah dilakukan ternyata memiliki dampak tersendiri pada diri remaja baik secara fisik maupun psikis. Menurut dokter Boyke, seseorang yang melakukan aborsi diyakini akan mengalami beberapa resiko kesehatan sebagai dampak fisik dan gangguan psikologis sebagai dampak psikis (Harjaningrum, 2005). Salah satunya resiko kesehatan sempat dialami oleh subjek SS, dimana ia sempat mengalami pendarahan dan kesakitan yang hebat akibat aborsi. Dampak fisik lainnya yang terjadi yaitu pelaku aborsi mengalami rasa sakit pada bagian perutnya pasca aborsi yang mungkin disebabkan karena luka pada rahim.

      Secara psikis mereka mengalami gangguan psikis yang terwujud dalam aneka macam bentuk yang disebut Post Abortion Syndrome (PAS) atau Post

      

    Traumatic Stress Syndrome (Bertens, 2001). Gejala PAS yang sering muncul

      adalah perubahan kepribadian yang mencolok seperti menjadi lebih sensitif atau peka ketika mendengar atau melihat kejadian tentang aborsi, serangan kecemasan tidak memiliki anak, perasaan bersalah dan penyesalan yang teramat dalam, ketakutan terhadap sanksi sosial, terbayang-bayang anak yang diaborsi, mengalami gangguan tidur dan merasa berdosa karena telah membunuh janinnya. Akibat-akibat negatif tindak aborsi yang telah dilakukan merupakan konsekwensi nyata dari sebuah pilihan, yaitu aborsi.

      Menurut Kusmaryanto (2002), pengalaman banyak orang menunjukkan bahwa pengalaman buruk berkenaan dengan aborsi akan dikenang terus menerus dan menjadi beban psikologis yang tidak mudah untuk diatasi dalam perjalanan hidup selanjutnya. Pada remaja yang melakukan aborsi, mereka berusaha mengatasi kenangan buruk akibat aborsi atau gejala post abortion syndrome (PAS) diantaranya: dengan mengembangkan religiusitas seperti lebih rajin berdoa memohon ampun pada Tuhan untuk mengatasi perasaan bersalah dan perasaan berdosa, rajin mendoakan janin yang telah diaborsi; melakukan coping emosi dengan menyibukkan diri atau melakukan berbagai aktivitas untuk membantu menghilangkan kenangan aborsi, ada juga yang mulai menfokuskan diri pada studi atau dengan memikirkan masa depan. Hal ini seperti yang dilakukan oleh subjek CC dan MM, dimana mereka cenderung melupakan kenangan aborsi dengan mulai menfokuskan diri pada kuliah dan memikirkan masa depan.

      Adapun upaya lainnya yang dilakukan untuk tidak mengulangi aborsi adalah dengan tidak mengulangi terjadinya hubungan seks pranikah. Upaya ini seperti yang dilakukan oleh subjek CC, dimana ia membuat kesepakatan untuk tidak mengulangi terjadinya hubungan seks pranikah. Hal ini berbeda dengan subjek SS dan MM, dimana pengalaman aborsi tidak juga membuat mereka bertobat sehingga mereka cenderung kembali melakukan hubungan seks dengan lebih hati-hati, bahkan ada juga remaja yang berniat melakukan tindakan aborsi kembali bila sampai terjadi kehamilan seperti yang direncanakan oleh subjek MM.

      Menurut Kusmaryanto (2002), seseorang yang hati nuraninya berkembang baik, cenderung merasa berdosa apabila dia melakukan sesuatu yang bertentangan dengan kode moral yang dimilikinya karena telah melakukan aborsi yang sebenarnya dilarang oleh agama dan pemerintah. Hati nurani yang berkembang baik dapat menyuarakan suara hati yang mampu mengarahkan seseorang untuk menentukan suatu kebenaran atau kesalahan sehingga seseorang dapat membuat suatu keputusan moral yang tepat. (Poespoprodjo, 1988).

    BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian tentang gambaran remaja yang melakukan

      aborsi dalam kasus kehamilan pranikah, dapat ditarik kesimpulan bahwa remaja yang melakukan aborsi adalah remaja yang cenderung terlibat aktivitas seksual yang tinggi dengan pasangannya sehingga mendorong terjadinya hubungan seks pranikah. Data yang telah dianalisis, menunjukkan bahwa Keputusan aborsi didorong oleh faktor ekonomi dan faktor sosial, maksudnya alasan aborsi didasari oleh ketidaksiapan subjek baik secara ekonomi maupun secara sosial. Secara ekonomi, kondisi ekonomi remaja yang belum mapan karena pemenuhan kebutuhan remaja masih tergantung pada orang tua.

      Sedangkan secara sosial, remaja belum memiliki kesiapan lahir dan batin untuk menghadapi berbagai sangsi akibat dari tindakannya. Remaja mengalami kekhawatiran akan dampak sosial seperti putus sekolah/kuliah, malu pada lingkungan sekitar, takut mendapat ejekan dari masyarakat, sang pacar yang tidak mau bertanggung jawab, bingung siapa yang akan mengasuh bayi, atau karena takut terganggu karir masa depannya.

      Dampak dari keputusan aborsi baik secara fisik maupun psikis diantaranya, secara fisik aborsi mengandung resiko kesehatan seperti terjadi pendarahan atau keluhan lainnya. Secara psikis, aborsi menyebabkan remaja mengalami Post Abortion Syndrome (PAS) atau Post Traumatic Stress

      Syndrome . Gejala PAS yang sering muncul adalah perubahan kepribadian

      yang mencolok seperti menjadi lebih sensitif atau peka ketika mendengar atau melihat kejadian tentang aborsi, serangan kecemasan tidak memiliki anak, perasaan bersalah dan penyesalan yang teramat dalam, ketakutan terhadap sangsi sosial, terbayang-bayang anak yang diaborsi, mengalami gangguan tidur dan merasa berdosa karena telah membunuh janinnya.

      Pada remaja yang melakukan aborsi, mereka berusaha mengatasi kenangan buruk akibat aborsi atau gejala post abortion syndrome (PAS) diantaranya: dengan mengembangkan religiusitas seperti lebih rajin berdoa memohon ampun pada Tuhan untuk mengatasi perasaan bersalah dan perasaan berdosa, rajin mendoakan janin yang telah diaborsi; melakukan coping emosi dengan melakukan berbagai aktivitas untuk menyibukkan diri, atau mulai menfokuskan diri pada studi atau dengan memikirkan masa depan dan membuat kesepakatan untuk tidak melakukan hubungan seks pranikah. Hal lain ditemukan bahwa ada kecenderung remaja yang pernah melakukan aborsi tetap terlibat dalam hubungan seks, namun hubungan seks tersebut dilakuakn lebih hati-hati agar tidak terjadi kehamilan B.

       SARAN

      Berdasarkan kesimpulan diatas, maka saran yang dapat diberikan diantaranya: 1.

      Bagi Subjek Penelitian a.

      Hasil penelitian dari sampel subjek yang terlibat dalam hubungan seks pranikah ditemukan bahwa mereka tidak memiliki kegiatan yang konstruktif, sebaiknya mereka mengarahkan perhatian mereka pada kegiatan-kegiatan baik di kampus, di sekolah maupun dimasyarakat dan bukan pada relasi seksual.

      b.

      Hendaknya sebagai remaja, kita berlatih mengendalikan hubungan seks dengan menghindari stimulus-stimulus yang memungkinkan timbulnya dorongan seks.

    2. Bagi Masyarakat a.

      Pengaruh eksternal seperti lingkungan kost dan tempat penginapan yang bebas tanpa adanya pengawasan dari pemiliknya atau masyarakat merupakan salah satu penyebab terjadinya hubungan seks bebas pada remaja, maka hendaknya masyarakat ikut memberikan kontrol eksternal berupa peraturan yang tegas dan melakukan pendampingan di kost dan menertibkan hotel-hotel atau penginapan yang tidak tertib dalam mencatat pengunjung.

    DAFTAR PUSTAKA

      Astri Anggraini. 2003. Pembuatan Modul Pelatihan Peningkatan Kemampuan dalam Pengambilan Keputusan pada Penghuni Asrama Putri ST.

      Elisabeth Pringsewu . Yogyakarta : Fakultas Psikologi Sanata Dharma. Skripsi

      Alison, & Wright Catherine. 1991. Dilema Abortus (alih bahasa oleh Lilian Yuwono) . Jakarta : Penerbit Arcan.

      Bertens, K. 2002. Aborsi Sebagai Masalah Etika. Jakarta :Penerbit Grasindo. Charles, M.S. SJ. 1987. Spiritualitas Kaum Muda. Yogyakarta : Penerbit Kanisius Creswell, J.W. 1998. Qualitative Inquiry and Research Design Choosing Among

      Five Traditions. Thousand Oaks, London, New Delhi : Sage Publications

    • , Ensiklopedia Indonesia Edisi Khusus Jilid 3 HAN-KOL. Jakarta: PT Intermasa Gilarso SJ, T. Drs. 1996. Membangun keluarga Kristiani: Pembinaan Persiapan

      Berkeluarga . Yogyakarta: Penerbit Kanisius

      Gunarsa, S.D. 2004. Dari Anak Sampai Usia Lanjut : Bunga Rampai Psikologi

      Perkembangan . Jakarta: Gunung Mulia

      Harjaningrum Agnes Tri. 2005. Artikel “Mau Aborsi? Pikir Dulu Seribu Kali.” Pic Bandung. March 23, 2005.

      Chilman, C. S. 1980. Adolescent Pregnancy and Childbearing : Finding From Research . Washington, D. C. Departement of Health and Human Service.

      Hidayana, Sulistiawati, Ruwainda, Imelda, & Setyawati. 2004. Seksualitas: Teori

      dan Realitas . Penerbit: Program Gender dan Seksualitas FISIP UII dengan Ford Foundation. Info KESPRO (Kesehatan Reproduksi. 2001. Masalah Seputar Aborsi. Jakarta.

      Editor dan Penerbit : Syaiful W. Harahap. Hurlock, E.B. 1996. Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan . Jakarta: Penerbit Erlangga.

      Kartini Kartono, Dra. 1982. Psikologi Anak. Bandung : Penerbit Alumni. Kristinawati. 2002. Hubungan Seks Sebelum Menikah Di Kalangan Mahasiswa.

      Psiko Wacana. Vol I No. 1 Kusmaryanto, CB, SCJ. 2002. Kontroversi Aborsi. Jakarta: Penerbit Grasindo.

      Medin, D. L. And Brian N. Ross. 1996. Cognitive Psychology, 2nd Edition. USA : Harcourt Brace. College Publisher.

      Monks, Knoers, Hadinoto Rahayu siti. 1989. Psikologi Perkembangan: Pengantar

    Dalam Berbagai Bagiannya . Jogjakarta: Gajah Mada University Press.

      Moloeng, L.J. 1998. Metode Penelitian Kualitatif. Yogyakarta: Rake Sarasih Poerwandari, Kristi. 2001. Pendekatan Kualitatif Untuk Penelitian Perilaku

      Manusia, Edisi Revisi . Jakarta: Lembaga Pengembangan Sarana

      Pengukuran dan Pendidikan Psikologi (LPSP3) Fakultas Psikologi Indonesia.

      Poerwandari, Kristi. 2005. Pendekatan Kualitatif Untuk Penelitian Perilaku

      Manusia, Edisi Ketiga . Jakarta: Lembaga Pengembangan Sarana

      Pengukuran dan Pendidikan Psikologi (LPSP3) Fakultas Psikologi Indonesia.

      Poespoprodjo, W, Dr. 1986. Filsafat Moral dalam Teori dan Praktek. Bandung: Remajda Karya CV. Santrock , J.W. 2003. Adolescence Perkembangan Remaja, Edisi Keenam.

      Santrock , J.W. 2002. Adolescence Perkembangan Remaja, Edisi Keenam.

      Jakarta: Penerbit Erlangga. Santrock , J.W. 2001. Adolescence, Eight Edition. United State: University of Texas.At Dallas.

      Sampoerno, Does, dan Azwar, Azrul (e.d). 1982. Pengaruh Perkawinan dan

      Kehamilan pada Wanita Muda Usia . Naskah Lengkap Seminar – Lokakarya. Jakarta : IAKMI.

      Shelton, M. C. 1988. Moralitas Kaum Muda: Bagaimana Menanamkan Tanggung Jawab Kristiani. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

      Snow, C. W. 1989. Infant Development. New Jersey : Prentice Hall. Inc. Suharnan, Devita Hilda. 2005. Psikologi Kognitif. Surabaya: Penerbit Srikandi. Suryabrata, Sumardi. 2002. Metodologi Penelitian. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

    • . 2005. Aborsi Beresiko Kesehatan dan Gangguan Psikologis. BKKBN (Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional, 12.10.2005). Media Indonesia, 14 Februari 2000. Majalah Tempo, 4 februari 2002 Suara Pembaharuan, Minggu 06 April 2003.

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Peranan remaja masjid (IRMASH) dalam meningkatkan pengamalan agama pada remaja di Masjid Safinatul Husna Bambu Larangan Cengkareng Jakarta Barat
1
20
81
Tanggung jawab guru agama dalam menanamkan akhlak terhadap remaja : studi kasus di SMP Islam Parung Bogor
0
4
115
Pengaruh ponografi media internet terhadap perilaku seksual remaja : studi kasus remaja desa cisetu kecamatan rajagaluh kabupaten majalengka
2
8
69
Peranan majelis taklim persatuan remaja islam prista dalam pembinaan keagamaan remaja
0
9
120
Analisis pengaruh pengalaman motivasi dan pengharapan wajib pajak badan terhadap pelaksanaan selt assessment system dalam memenuhi kewajiban pajak : studi kasus pada KPP pratama jakarta pasar minggu
6
46
83
Peranan remaja pengajian Majlis Taklim Darussaadah dalam upaya menanggulangi kenakalan remaja
3
11
98
Kenakalan remaja dalam komunitas geng motor (studi kasus pada remaja geng motor P-Dox Duren Sawit Jakarta Timur)
3
46
113
Korelasi antara konformitas kelompok sebaya dengan hubungan interpersonal dalam keluarga pada remaja
0
5
81
Aspek sosiologis aborsi provokatus Criminalis dalam perspektif hukum Islam
1
15
97
Pendekatan sosial dan psikologi untuk menanamkan nilai-nilai moral pada remaja dalam keluarga
0
11
0
Hubungan interaksi dalam keluarga dengan tingkat kecendrungan pelanggaran disiplin sekolah pada remaja
0
15
175
USD IDR – YE (IDR)
0
0
5
Judul : Perbandingan omeprazol dan ranitidin dalam pengobatan dispepsia fungsional pada remaja
0
0
15
PEMANFAATAN INFORMASI DALAM WEBSITE E - COMMERCE ( Studi deskriptif penggunaan olx dalam jual beli online di kalangan mahasiswa Universitas Airlangga ) Repository - UNAIR REPOSITORY
0
0
8
Konformitas gaya hidup remaja Sungaiselan pada malam hari - Repository Universitas Bangka Belitung
0
0
19
Show more