EFEKTIFITAS HUKUM UPAYA KELOLA LINGKUNGAN DAN UPAYA PEMANTAUAN LINGKUNGAN (UKL/UPL) PADA USAHA MIKRO KECIL MENENGAH TERHADAP PENCEMARAN LINGKUNGANDI KOTA YOGYAKARTA

RP. 20,000

0
8
207
1 month ago
Preview
Full text

  
EFEKTIFITAS HUKUM UPAYA KELOLA LINGKUNGAN
DAN UPAYA PEMANTAUAN LINGKUNGAN (UKL/UPL)
PADA USAHA MIKRO KECIL MENENGAH TERHADAP
PENCEMARAN LINGKUNGANDI KOTA YOGYAKARTA
TESIS
  
Diajukan Guna Memenuhi Sebagai Persyaratan
Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Strata 2
Program Studi Ilmu Hukum
  
Diajukan Oleh :
ALPAN SYAHRIZAL
20141070028
PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU HUKUM
  
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
2018
  
ABSTRAK
  Kota Yogyakarta merupakan salah satu Daerah adminsitratif tingkat II di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dukung berbagai sektor seperti, Sektor Pariwisata, Pendidikan, dan Kebudayaan terutama di sektor UMKM. Sampai saat ini kegiatan UMKM yang ada di kota Yogyakarta masih ada yang belum memiliki dokumen pengelolaan lingkungan hidup. Tingkat ketaatan Pelaku UMKM untuk melaksanakan pengelolaan lingkungan hidup masih rendah. Berdasarkan rumusan masalah yang diajukan oleh penulis dalam tesis ini. Pertama, Mengidentifikasi Penerapan Pelaksanaan UKL UPL pada UMKM yang diketahui berdampak pada lingkungan hidup.
  , Mengidentifikasi Efektitifitas UKL/UPL pada UMKM
  Kedua terhadap pencemaran lingkungan hidup di kota Yogyakarta.
Ketiga , Mengidentifikasi Solusi atau konsep ideal dalam
  pelaksanaan UKL UPL pada UMKM terhadap pencemaran lingkungan hidup di kota Yogyakarta Jenis Penelitian yang penulis gunakan adalah penelitian diskriptif kualitatif. Yaitu jenis penelitian dengan pendekatan kualitatif dengan penggunaan dan pengolahan data yang terdiri dari studi dokumen, baik berupa sumber data primer, sekunder maupun tersier dan jenis dokumen lain yang selaras tentang tema yang penulis angkat. Sementara jenis data primer penulis dapatkan melalui pendekatan deep interview dan wawancara terstruktur baik narasumber maupun responden.
  Hasil penelitian menunjukan bahwa Pertama, Penerapan Upaya Kelola Lingkungan Dan Pemantauan Lingkungan hidup merupakan salah satu problem yang harus menjadi perhatian serius Pemerintah Kota Yogyakarta. salah satu problem Pemerintah masih kurangnya kesadaran pemrakarsa akan pentingnya Izin lingkungan. Masalah yang dihadapi oleh Pemerintah Kota Yogyakarta, di lapangan ternyata pemrakarsa kadang kala tidak transparan terhadap Pemerintah Kota Yogyakarta, terkait modal usaha dan keabsahan tempat usahanya.
  
Kedua , Efektifitas Upaya Kelola Lingkungan Dan Pemantauan
  Lingkungan, perlu adanya upaya pembinaan dan edukasi secara kontinyu, pembinaan dan edukasi pentingnya menjaga lingkunga hidup yang mesti terus di lakukan Pemerintah Kota Yogyakarta. Gunanya adalah menciptakan dan meningkatkan moralitas dalam pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup, bahkan kerjasama baik pemerintah, masyarakat, dan pelaku usaha untuk menjaga lingkungan agar tetap terjaga kelestariaannya. Masalah lingkungan menjadi tanggung jawab mutlak supaya tercapai cita-cita pembangunan ekonomi berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup. Ketiga. Solusi ideal Dalam Upaya Kelola Lingkungan Dan Pemantauan Lingkungan. Pemerintah Kota Yogyakarta perlu melakukan berbagai macam tindakan hukum.
  Dalam perspektif hukum adiminstrasi lingkungan, instrumen pemerintah atau tindakan hukum publik adalah suatu sarana atau instrumen yang digunakan untuk mencegah munculnya pencemaran dan perusakan lingkungan, sehingga kelestariaan fungsi lingkungan hidup yang diperuntukkan untuk kepentingan generasi sekarang dan generasi mendatang dapat terjaga dengan baik.
  
Kata Kunci : Efektifitas Hukum, Penerapan UKL / UPL, UMKM dan Lingkungan Hidup BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM)
  merupakan entitas ekonomi yang tidak dapat diabaikan keberadaanya dalam proses pembangunan ekonomi di Indonesia. Pada umumnya merupakan usaha perorangan dan/atau kelompok yang tidak memiliki legalitas baik secara institusional maupun operasional. Secara struktural menempati posisi dan peranan penting serta merupakan potensi yang perlu digali dan dikembangkan dalam
  1 perekonomian nasional di era global .
  Usaha Mikro Kecil dan Menengah Selain memiliki daya lentur terhadap kondisi krisis, juga berpotensi sebagai penggerak ekonomi riil dalam pembangunan perekonomian berkelanjutan yang berwawasan lingkungan. Usaha Mikro 1 Ahmad Erani Yustika,2002, Pembangunan dan Krisis (Memetakan
  
Perekonomian Indonseia), Cetakan 1 (Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia (Grasindo), hlm. 63-65.
  Kecil dan Menengah, umumnya bergerak pada bidang usaha informal dan formal, serta dalam bidang pemanfaatan sumber daya alam dan padat karya seperti pertanian, perikanan, perkebunan, tanaman pangan, peternakan, perdagangan, kehutanan, home industry, pariwisata dan lain-lain.
  Usaha Mikro dan Kecil menengah jumlahnya cukup besar di Indonesia. Usaha Mikro dan Kecil menengah sangat berperan dalam pengurangan pengguran tidak bisa dipungkiri Usaha Mikro dan Kecil menengah merupakan usaha yang menyerap banyak tenaga kerja. Selain itu juga berpotensi dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan dalam dan luar negeri. Di sisi lain juga memiliki banyak kelemahan dan berpotensi menghasilkan limbah yang dapat menimbulkan pencemaran lingkungan. kota Yogyakarta, saat ini sedang gencar melakukan pembangunan di segala macam sektor guna menunjang pertumbuhan kota yang berbasih pendidikan dan budaya serta sektor pariwisatanya, dalam melakukan pembangunan tidak ketinggalan pula banyak pula tumbuh usaha-usaha masyarakat dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya, Di Kota Yogyakarta kondisi lingkungan sangat dipengaruhi oleh pertumbuhan pembangunan, pendidikan dan pariwisata. Beberapa dampak dari laju pertumbuhan tersebut antara lain semakin banyaknya pembangunan hotel yang mengurangi area lahan terbuka dan memanfaatkan air sumur dalam, bertambahnya usaha-usaha restoran, laundry, cucian motor, cucia mobil, rumah makan, penyedia makanan serta jenis kegiatan usaha lainya yang menambah volume limbah. Kondisi tersebut menyebabkan kondisi lingkungan di kota Yogyakarta membutuhkan kebijakan dan program penanganan lingkungan yang berbeda dari daerah lain.
  Banyaknya aktivitas pembangunan yang dilakukan dalam berbagai bentuk usaha dan/atau kegiatan di Kota Yogyakarta selain berdampak positif juga berdampak negatif. Dampak positif dari banyaknya aktivitas pembangunan dalam bentuk usaha dan/atau kegiatan yaitu dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi Kota Yogyakarta dan menyerap tenaga kerja sehingga dapat mengurangi pengangguran dan kemiskinan. Sedangkan dampak negatifnya yaitu. diakibatkan dari limbah cair industri yang dibuang langsung ke sungai tanpa melalui proses daur ulang, pencemaran tanah yang diakibatkan oleh sampah plastik yang tidak dapat diuraikan oleh tanah dan pencemaran suara yang diakibatkan dari suara mesin-mesin produksi, serta dapat menimbulkan perusakan terhadap lingkungan yang disebabkan dari usaha dan/atau kegiatan tersebut. Untuk itu perlu diterapkan prinsip pembangunan berkelanjutan dan berwawasan lingkungan dalam proses pelaksanaan
  2 lingkungan pembangunan.
  Dalam hal Pencemaran dan perusakan lingkungan hidup merupakan masalah yang sangat serius bagi lingkungan hidup. Dalam hal ini yang diketahui, di Kota Yogyakarta merupakan sangat kuat karakter budayanya juga sektor pendidikan serta sektor pariwisata. Sangat 2 Mutia Fadilla Hendri, dkk Jurnal, Implementasi Peraturan
  
Pemerintah Nomor 27 Tahun 2012 Tentang Izin Lingkungan Sebagai
Instrumen Dalam Mewujudkan Pembangunan berkelanjutan dikabupaten Kampar ,JOM Fakultas Hukum Volume, 3 Nomor, 1, Februari 2016 disayangkan apabila kondisi lingkungan hidup, di Kota Yogyakarta dinodai dengan adanya pencemaran serta perusakan lingkungan hidup, oleh karena itu salah satu upaya Pencegahan dan Pencemaran serta kerusakan lingkungan hidup dengan memberlakukan kebijakan sistem Perizinan dalam menjaga Lingkungan Hidup aga tidak tercemar.
  Kegiatan usaha Mikro kecil menengah yang sangat menonjol adalah bahwa keberlanjutan atau keberhasilan usaha tersebut sangat bergantung pada kondisi lingkungan, khususnya air. Keadaan ini mempunyai implikasi sangat mendasar bagi kondisi kehidupan sosial ekonomi masyarakat. Kehidupan ekonomi masyarakat merupakan hal yang sangat bergantung pada kondisi lingkungan sekitara lokasi kegiaatan usahanya, hal itu berpengaruh pada kerusakan lingkungan, khususnya pencemaran, karena sisa limbah produski dari kegiatan usahanya, sangat mempengaruhi sendi-sendi kehidupan sosial ekonomi
  3 masyarakat.
  Persoalan yang penting terkait dengan kegiatan usaha adalah dengan memberlakukan sistem perizinannya, penyalahgunaan dan pelanggaran perizinan, merupakan bentuk tidak ketatnya persyaratan perizinan lingkungan, akibat tidak singkronnya kebijakan perizinan membuka peluang bagi kegiatan usaha untuk melakukan pelanggaran perizinan lingkugan, oleh karena itu dengan munculnya permasalahan lingkungan hidup di daerah. Maka apabila sistem perizinan ditetapkan berdasarkan peraturan (hukum positif) ditambah lagi dengan kebijakan Pemerintah yang pro terhadap lingkungan hidup (proekosistem) melalui sistem perizinannya, masalah perusakan kerusakan dan pencemaran lingkungan hidup diharapkan tidak akan terjadi atau bahkan berkurang kerusakan lingkungan hidup di lingkungan suatu kegiatan usaha dengan di perketatnya sistem perizinan lingkungan hidup dalam suatu kegiatan atau kegiatan usaha. 3 Yudi Wahyudi, www. researchgate.net/publication,Sistem Sosial Ekonomi dan Budaya Masyarakat Pesisir .4 Kegiatan Usaha Mikro dan Kecil menengah
  merupakan suatu bentuk usaha masyarakat yang pendiriannya berdasarkan inisiatif sesorang atau individu, sebagian besar masyakarat beranggapan bahwa Usaha Mikro dan Kecil menengah hanya menguntungkan pihak-pihak yang terlibat dalam kegiatan usaha tersebut, padahal Usaha Mikro dan Kecil menengah sangat berperan dalam pengurangan pengguran yang ada di Indonesia pada umumnya dan kota Yogyakarta khususnya, Usaha Mikro dan Kecil menengah banyak menyerap tenaga kerja yang masih menganggur, selain itu Usaha Mikro dan Kecil menengah telah berkontribusi terhadap pendapatan daerah maupun pendapatan Negara.
  Dalam Undang-Undang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (UUPPLH), Upaya Kelola Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UKL- UPL) merupakan upaya pengelolaan dan pemantauan lingkungan terhadap suatu kegiatan usaha yang tidak 4 Makalah kegiatan usha kecil menegah . https/
  mahrezarezq2103.wordpress.com. senin, 01.42 berdampak penting terhadap lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan, tentang penyelenggaraan usaha atau kegiatan. Yang dimaksud tidak berdampak penting merupakan berada di luar kreteria Analisis Mengenail Dampak Lingkungan (AMDAL), sedangkan UKL-UPL, berfungsi sebagai pedoman penyusunan dalam acuan teknis Upaya Kelola Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan UKL-UPL bagi lembaga pemerintah atau lembaga non depertemen, acuan teknis Upaya Kelola Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan UKL-UPL bagi pemrakarsa apabila pedoman teknis Upaya Kelola Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan UKL-UPL dari sektoral belum diterbitkan, dan instrument pengikat bagi pihak pemrakarsa untuk melaksanakan pengelolaan dan pemantauan lingkungan. Dalam hal pelaksanaannya diuraikan mengenai rencana kegiatan yang akan dilaksanakan, secara singkat diuraikan mengenai sumber daya alam dan dampak yang muncul terhadap lingkungan yang akan terkena dampak, penjelasan secara rinci mengenai, sifat, jenis, tolak ukur dan sumber dampak yang akan terjadi, uraia mengenai upaya pemantauan lingkungan terkait sifat kegiatan, dijelaskan pula mengenai dampak yang akan dikelola serta dipantau, lokasi pemantauan, waktu pemantauan, beserta bagaimana cara pemantauan diuraian terperinci dan juga mengenai cara pelaporan dari pelaksanaan UKL-UPL dan bagaimana rencana usaha saat akan dilaksanakan, dan bagaimana persyataan pemrakarsa dalam melaksanakan rencana
  5 pengelolaan lingkungan yang akan dibuat.
  6 Siti Sundari Rangkuti berpendapat. bahwa Hukum
  Lingkungan menyangkut penetapan nilai-nilai yang sedang berlaku dan nilai-nilai yang diharapkan diberlakukan di masa mendatang serta dapat disebut “hukum yang mengatur tatanan lingkungan hidup.” Hukum Lingkungan adalah hukum yang mengatur hubungan timbal balik antara manusia 5 Tri Fitri Puspita, Efektifitas Implementasi UKL-UPL dalam
  
Mengurangi Kerusakan Lingkungan Hidup Kabupaten Malang Dan Jurnal
  Masyarakat Sekitar PT Tri Surya Plastik Kecamatan Lawang, Adiministrasi Publik Vol 2 Nomor 2. hlm 161-168. 6 Siti Sundari rangkuti, Hukum Lingkungan dan Kebijaksanaan
Lingkungan Nasional , edisi kedua, Airlangga University Press, Surabaya, 2000, hlm.2
  dengan makhluk hidup lainnya yang apabila dilanggar dapat dikenakan sanksi. Oleh sebab itu upaya pemantauan dan pengelolaan lingkungan hidup akan berhasil menopang pembangunan berwawasan lingkungan kalau pemerintah
  7 secara terpadu mengendalikan sistem perizinan.
  Kewajiban Upaya Kelola Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lungkungan (UKL-UPL) tentang sistem perizinan dilakukan untuk mengendalikan agar tidak merusak lingkungan. Oleh sebab itu Pemerintah berkwajiban mengontrol serta meminta kepatuhan penaggung jawab usaha sebab perizinan bersifat yuridis. Sesuai apa yang disampaikan Sony Keraf yang dikutip8 Harjiyatni, apabila setiap kegiatan usaha yang tidak
  memiliki izin lingkungan, serta perencanaan kegiatan usaha sebagaimana pertambangan, kegiatan perindustrian, bahkan usaha mikro kecil menegah yang akan di jalankan oleh setiap pelaku usaha yang akan berdampak buruk bagi 7 Harjiyatni, F.R. (2009) Izin Lingkungan sebagai Pencegahan
  
Pencemaran dan/atau Kerusakan Lingkungan Hidup Berdasarkan UU Nomor32 Tahun 2009. Socia [Internet], 11(1) September, pp.85-94. Diunduh dari: http://jurnal.pdii.lipi.go.id Acessed 23 November 2018.
  8 ibid lingkungan maka kegiatan usaha tersebut tidak bisa yang tidak bisa di jalankan karena akan mengancam lingkungan hidup.
  9 Tidak dipungkiri Usaha Mikro dan Kecil menengah,
  merupakan tulang punggung perekonomian di kota Yogyakarta saat ini. Merujuk data Dinas Koperasi dan Usaha Mikro dan Kecil menengah kota Yogyakarta, 95 persen perekonomian kota Yogyakarta, disumbang oleh Usaha Mikro dan Kecil menengah, hal ini merupakan angka yang besar. "Mikro mendominasi 55 persen, kecil 25 persen, menengah 15 sedangkan yang besar lima persen. Jadi total Usaha Mikro dan Kecil menengah 95 persen," untuk tahun 2015 jumlah Usaha Mikro dan Kecil menengah di kota Yogyakarta mencapai angka 230.047. tidak menutup kemungkinan ditahun ini akan ini naik dibanding tahun 2015 tahun lalu yang tercatat ada 220.703 Usaha Mikro Kecil Menengah atau naik hampir 10.000.
  9 senin 01.50
  Pertumbuhan Usaha Mikro Kecil Menengah memanfaatkan berbagai sumber daya alam yang berpotensi disuatu daerah yang belum diolah secara komersial, Usaha Mikro Kecil Menengah dapat membantu sumber daya alam di setiap daerah, hal ini berpotensi besar terhadap pendapatan daerah maupun pendapatan Negara. Sudah barang tentu hal ini memberikan dampak positif, bagi perkembangan perekonomian kota Yogyakarta, akan tetapi dampak negatif yang juga bakal ditimbulkan dari kegiatan ekonomi tersebut berupa meningkatnya tekanan terhadap lingkungan hidup. Kerusakan serta pencemaran lingkungan hidup juga masalah serius. bagi masyarakat yang hidup pada daerah yang pesat perkembangannya dituntut untuk menggali dan memanfaatkan potensi dan peluang usaha demi
  10 keberlangsungan hidupnya.
  10 ibid
  Menurut Richartd L Morril “pada dasarnya organisasi spatial merupakan upaya manusia untuk menata wilayahnya
  11
  secara efisien”, untuk itu terdapat 3 macam prinsip; 1. memaksimalkan kenyamanan dan
  Pertama produktifititas dengan biaya yang sedikit mungkin,
  2. Kedua memaksimumkan interaski spasial dengan upaya dan biaya yang sekecil-kecilnya,3. Ketiga mendekatkan kegiatan ekonomi sedekat mungkin sehingga dapat tercapai efisiensi yang maksimum.
  Berkembangnya kegiatan usaha penyedia jasa seperti kos-kosan, laundry, cucian motor, mobil, serta penyedia makanan di kota Yogyakarta, prinsip yang pertama dalam hal itu menunjukkan keingin tahuan manusia dalam mencoba untuk menggunankan lahan seefisien mungkin guna mendapatkan keuntungan yang maksimum, dengan biaya dan upaya yang serendah-rendahnya, kedua manusia cendrung memaksimumkan perdagangan dan komunikasi antar manusia dengan biaya sekecil mungkin sehingga 11 Eko Budihardjo, Sudanti Hardjohubojo, Kota Berwawasan
  Lingkungan , Bandung, alumni, 1993 hlm. 19 memperoleh keuntungan dari kedua prinsip sebelumnya, yaitu manusia cendrung meletakkan segala kegiatan usahanya sedekat mungkin sehingga tercapai efisiensi yang maksimum.
  Arah peningkatan dan Kebijakan pemberdayaan Usaha Mikro Kecil Menengah diarahkan untuk mendukung upaya-upaya penanggulangan kemiskinan dan kesenjangan sosial ekonomi, penciptaan kesempatan kerja, serta revitalisasi pertanian dan perdesaan, yang menjadi prioritas pembangunan nasional. Dalam kerangka pengembangan usaha kecil dan menengah Usaha Mikro Kecil Menengah, diarahkan agar memberikan kontribusi yang signifikan terhadap penciptaan kesempatan kerja, peningkatan ekspor dan peningkatan daya saing, sementara itu pengembangan usaha skala mikro diarahkan untuk memberikan kontribusi dalam peningkatan pendapatan masyarakat berpendapatan
  12 rendah, khususnya di sektor pertanian dan perdesaan.
  12 https://mahrezarezqy2013.wordpress.com/2013/04/16/usaha-kecil- dan-menengah-ukm.
  Pertumbuhan penduduk dan ekonomi memberikan kontribusi besar pada berkurangnya ketersediaan air.
  Tingginya kebutuhan akan air mengakibatkan adanya eksploitasi berlebihan yang berujung pada menurunnya ketersediaan air tanah. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi menyebabkan menjamurnya usaha kos-kosan restoran, cucian mobil, motor, usaha warung makan dan laundry yang tidak hanya mengambil air tetapi juga membuang limbah cair dan padat yang secara langsung menimbulkan polusi dan mencemari air di lingkungannya sehingga berpengaruh pada menurunnya kualitas air. Peningkatan pembangunan yang tinggi juga berimbas pada menurunnya debit air tanah dan
  13 luas lahan resapan air.
  Pembangunan gedung tinggi seperti mall dan hotel memerlukan pondasi yang dalam dan dapat merusak struktur tanah atas tempat cadangan air tanah berada. Selain itu, air juga digunakan dalam operasional hotel termasuk juga kolam renang hotel. Semakin kompleksnya permasalahan 13 Yudi wahyudi, Op.cit lingkungan hidup yang terjadi menuntut kerja keras DLH dalam penyusunan program dan langkah pengendalian yang relevan. Efektifitas dari solusi dan kebijakan yang dibentuk dituntut untuk mampu memperbaiki kualitas lingkungan hidup yang semakin memburuk.
  Perkembangan suatu daerah tidak terlepas dari pembangunan daerah tersebut sehingga perilaku konsumtif masyarakat pada daerah yang pesat perkembangannya semakin tidak terbendung dan sulit terelakkan, diharapkan merubah sifat manusia sebagai perusak lingkungan menjadi Pembina lingkungan sehingga mampu melestarikan lingkungan yang serasi dan seimbang. fenomena pembangunan yang semakin pesat di kota Yogyakarta termasuk pembangunan hotel, perumahan, bisnis retail, gedung-gedung, restaurant ataupun pembangunan lainnya yang semakin membuat kota Yogyakarta semakin padat dan susah untuk bergerak. Hal ini terbukti dari kemacetan yang sering terjadi di wilayah perkotaan kota Yogyakarta ataupun di wilayah pedesaan yang merupakan pusat pariwisata.
  Maka dari itu, penelitian yang dilakukan memiliki perbedaan dari peneliti sebelumnya, uraian diatas memberikan pemahaman mengenai paradigma pembangunan nasional yang semata-mata diorientasikan mengejar pertimbuhan ekonomi dan implikasinya terhadap pembangunan hukum di bidang pengelolaan sumber daya alam dan dampak lingkungan hidup. Meskipun Undang-
  14
  undang Dasar 1945 menurut Jimly Asshidiqi. merupakan konstitusi bernuansa hijau (qreen constitution) namun dalam pelaksanaanya tidak sehijau tampilanya.
  Persoalan lingkungan tidak akan selesai dalam tataran Undang-undang dan peraturan saja pemanfaatan sumber daya alam erat kaitannya dengan Lingkungan hidup, dalam konteks Indonesia pemanfaatan sumber daya alam mempunyai hubungan erat dengan ekonomi banyak faktor yang yang menimbulkan ketidaksinkronan dalam hal pelaksanaan pengelolaan lingkungan ketidak harmonisan 14 Asshiddiqie, Jimly, 2009, Kini Saatnya ,Membumikan Konstitusi
  
Hijau, Kuliah Umum dan diskusi publik yang bertajuk ”Konstitusi Hijau dan
Hak Asasi Manusia”, sebagai bagian dari hak konstitusional warga negara
dalam pengelolaan lingkungan hidup dan kekayaan alam di Indonesia., Sarekat Hijau Indonesia (SHI). pembentukan peraturan dalam pengelolaan lingkungan, merupakan permasalahan yang akan merusak lingkungan, ketidakharmonisan dan ketidaksinkronan dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan.
  Mengingat Lingkungan hidup sebagai common
  heritage of mankind dan menjadi tanggung jawab negara
  Sehingga tidak ada salahnya bahwa sebuah konstitusi mengatur hak mengenai Lingkungan hidup di dalamnya. sehingga mempunyai perhatian yang lebih, mengingat Lingkungan sebagai common heritage of mankind dan menjadi tanggung jawab negara dalam rangka menjaga serta melestarikan lingkungan hidup agar supaya tercapai kepentingan menjaga lingkungan hidup masa kini dan masa
  15 yang akan datang.
  Dalam konteks Indonesia, kedaulatan tertinggi berada ditangan rakyat Indonesia sebagaimana tercermin dalam konsep hak asasi manusia atas lingkungan hidup yang baik 15 Maret Priyatna, Jurnal , Penerapan konsep Konstitusi Hijau, (green
  
Constitution) di Indonesia sebagai tanggungjawab Negara dalam Pelindungan dan Pengelolaan Lingkungan. dan sehat. Adapun tuntutan reformasi pada tahun 1998 dengan salah satu agendanya yaitu amendemen sampai kepada perubahan ke 4 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945, sebagaimana dimaksud oleh
  Pasal 28 H ayat (1) UUD 1945 yang menegaskan “ setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak mendapat pelayanan kesehatan”.
  Hal ini jelas memberikan dampak positif yang secara tidak langsung Negara berkewajiban untuk benar- benar melestarikan lingkungan hidup yang baik dan sehat untuk memenuhi hak warga negaranya untuk mendapatkan
  16 hidup layak dan sehat.
  Ditegaskan pula dalam Pasal 33 ayat (4) UUD 1945 yang menyatakan “Perekonomian Nasional diselenggarakan berdasarkan atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efesien berkeadilan, berkelanjutan,16 Otong Rusadi, Pengelolaan Sumber Daya Alam, Politik Hukum dan Realita Jurnal Mahkama, Tahun 2008: Pekanbaru, hlm 1.
  berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional.
  Instrumen tersebut digunakan untuk menjaga lingkungan hidup tetap dalam kondisi sehat dan baik untuk aktivitas kehidupan manusia dan memastikan segala kegiatan perekonomian (pertanian, perkebunan, perikanan, industri, pariwisata, pertambangan dan lain-lain) dilakukan secara berkelanjutan dan berwawasan lingkungan hidup. Yang merupakan cerminan demokrasi yang terkait dengan prinsip- prinsip pembangunan berkelanjutan (Sustainable
  
development ) dan berwawasan lingkungan (ecodevelopment),
  Izin lingkungan harus dapat menjadi filter atau penyaring usaha dan/atau kegiatan yang dapat memenuhi tiga persyaratan pembangunan berkelanjutan berwawasan lingkungan; yaitu mengutungkan secara ekonomi, diterima secara sosial serta ramah bagi lingkungan hidup. Proses Izin lingkungan harus memenuhi standar pelayanan publik, dan memenuhi Norma Standar Prosedur Kriteria (NSPK) terkait penilaian dan pemeriksaan.
  Dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan hidup termuat dalam butir 3 UUPLH dimaksudkan s ebagai” upaya sadar dan terencana, yang memadukan lingkungan hidup, termasuk sumber daya untuk menjamin kemampuan, kesejahtraan dan mutu hidup generasi masa kini dan generasi masa mendatang” istilah lain yang mestinya di perhatikan adalah pengertian orang dalam Pasal 1 butir 24 dalam UUPLH yaitu “ orang perorangan dan/ atau badan hukum.
  Dalam UUPPLH penyebutan orang lebih tepat digunakan dalam Pasal-pasal UUPPLH dan penjelasannya.
  Dokumen Lingkungan Hidup dan penerbitan Izin Lingkungan sesuai peraturan perundangan terkait. Izin lingkungan menjadi instumen yang mengikat komitmen pemrakarsa secara hukum, dan dapat secara mudah dan jelas diterapkan secara operasional oleh pemegang izin lingkungan dan diawasi oleh Pejabat Pengawas Lingkungan Hidup.
  Salah satu tujuan utama pengelolaan lingkungan hidup, adalah demi mencapai terlaksananya pembangunan ekonomi berwawasan lingkungan hidup dan terkendalinya pemanfaatan sumber daya alam secara bijaksana. Untuk itu sejak awal perencana kegiatan sudah harus memperkirakan perubahan lingkungan hidup akibat pembentukan suatu kondisi yang merugikan akibat diselenggarakannya pembangunan.
  Kebijakan dalam menjaga lingkungan, dalam ketentuan Kajian Lingkungan Hidup Strategis atau lazim disebut KHLS kewajiban Pemerintah Daerah untuk lebih hati-hati serta lebih cermat dalam menerbitkan kebijakan
  17 perizinan lingkungan terhadap setiap kegiatan usaha.
  Setiap kegiatan usaha, dimanapun dan kapanpun, pasti akan menimbulkan dampak bagi lingkungan hidup.
  Dampak itu merupakan suatu perubahan yang terjadi sebagai akibat suatu kegiatan atau aktivitas eyang dapat bersifat alamiah, baik kimia, fisik maupun biologi (Otto Soemarwoto, 17 H. Rhiti dan Y. Sri Putyatmoko, Jurnal Mimbar Hukum, Vol, 28
  No, 2 Juni 2016
  18 Dampak tersebut dapat bernilai positif . yang berarti
  memberi manfaat bagi kehidupan manusia, dan dapat berarti negatif yaitu timbulnya resiko yang dapat merugikan masyarakat. Dampak positif pembangunan sangatlah banyak, diantaranya adalah dengan meningkatnya kemakmuran dan kesejahteraan rakyat secara merata; meningkatnya pertumbuhan ekonomi secara bertahap, meningkatnya kemampuan dan penguasaan teknologi, juga memperluas dan akan memeratakan kesempatan kerja dan kesempatan berusaha dan akan menunjang serta memperkuat stabilitas nasional yang sehat dan dinamis dalam rangka memperkokoh ketahanan nasional.
  Pembangunan dan permasalah lingkungan di negara yang sedang berkembang seperti Indonesia, berbeda dengan permasalah lingkungan dengan negara maju atau industri. Permasalah lingkungan hidup di negara maju akan disebabkan oleh pencemaran lingkungan yang disebabkan pemanfaatan sumber daya alam dalam suatu proses kegiatan 18 Otto Soemarwoto,1994, Analisis Dampak Lingkungan, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta, hlm. 43. industri yang akan menggunakan banyak energi, serta kegiatan ekonomi lainya seperti kegiatan transportasi dan komunikasi dan banyak lagi kegiatan ekonomi yang akan
  19 mempengaruhi lingkungan hidup.
  Permasalahan lingkungan hidup di Negara Indonesia berakar pada keterbelakangan pembangunan. Oleh karena itu apabila negara maju berpandangan kedepan lebih efisien dalam mengatasi permasalah lingkungan hidup dengan tidak meningkatkan pembangunan, lazimnya dikenal dengan pertumbuhan nol (zero growth) akan tetapi bangsa Indonesia justru lebih mengutamakan peningkatan pertumbuhan ekonomi dengan berupaya meningkatkan pembangunan nasional.
  Keterbelakangan pembangunan di Negara Indonesia telah menyebabkan rendahnya baku mutu lingkungan hidup di negara Indonesia, sementara pemanfaatan sumber daya alam dalam rangka pembangunan harus digunakan secara rasional, dengan tidak merugikan generasi yang akan datang, 19 Helmi, 2012, Hukum Perizinan Lingkungan Hidup, Jakarta, Sinar
  Grafika, hlm 26-27 lingkungan bisnis yang semakin tidak menentu dan situasi bisnis yang semakin kompetitif menimbulkan pesaingan yang semakin tajam diantara pelaku pegiat ekonomi.
  Ditandai dengan semakin banyaknya bermunculan perusahaan swasta yang didirikan baik itu perusahaan berskala besar, perusahaan berskala menengah, maupun perusahaan berskala kecil, bahkan kegiatan usaha mikro dalam masyarakat pun mulai banyak dijumpai, hal ini berarti dalam pembangunan ditetapkan asas kelestarian bagi sumber daya alam dan selanjutnya memanfaatkan sumber daya alam tersebut dengan tidak merusak tata lingkungan hidup manusia, karena permasalah pengelolaan lingkungan hidup yang sangat mendesak Negara Indonesia dalam menentukan arah pembangunan nasional Negara.
  Dikarenakan konsep pembangunan ekonomi berkelanjutan berwawaasan lingkungan yang tidak dilaksanakan sekarang ini tidak cukup yang hanya mempertimbangkan biaya atau keuntungan saja. Juga tdak memperhitungkan ongkos-ongkos social, yang akan timbul
  (social cost) misal suatu perusahaan menganggap lingkungan hidup sebagai suatu benda bebas yang dapat digunakan sepenuhnya, sehingga dalam usaha untuk memperoleh laba yang sebesar-besarnya dalam waktu yang relative singkat, akan tetapi masyarakat akan melihat lingkungan hidup sebagai bagaian dari kekayaan yang nyata, sebagai benda yang bebas (rex nullius) oleh karena itu, menurut Mochtar Kusumaatmadja: oleh karena pemerintah sebagai mandataris pengemban amanat dan penjaga kepentingan umum masyarakat, maka melalui pemerintahannya masyarakat harus menuntut agar ongkos-ongkos sosial ini diperhitungkan dengan seksama dan ditentukan pula siapa-siapa saja yang harus membayar ongkos- ongkos social.”
  Dari uaraian diatas memberikan pemahaman mengenai paradigma pembanguan nasional yang semata- mata diorientasikan mengejar pertumbuhan ekonomi dan implikasinya terhadap pembangunan hukum di bidang pengelolaan lingkungan hidup dan dampak lingkungan hidup jelas tercermin bahwa tujuan dari kegiatan Usaha Mikro Kecil Menengah, adalah untuk tumbuh dan menghasilkan keuntungan, sehinga yang perlu diperhatikan pula bahwa dalam semua kegiatan usaha dan kegiatan mereka serta perilaku kegiatan Usaha Mikro Kecil Menengah agar berkontribusi pada kesuksesan kegiatan ushanya, hal itu dapat dipengaruhi oleh faktor eksternal di luar Usaha Mikro Kecil Menengah, pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah perlu memperhatikan dan menyadari faktor-faktor dan untuk melihat perubahan lingkungan dalam kegiatan usahanya.1.2. Rumusan Masalah
  Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti mencoba mengidentifikasi Efektitifitas UKL/UPL pada usaha mikro kecil menengah terhadap pencemaran lingkungan di kota Yogyakarta, beberapa pertanyaan yang perlu dijawab pada pembahasan tulisan ini adalah sebagai berikut : 1.
  Bagaimanakah penerapan UKL/UPL terhadap usaha mikro kecil menengah di kota Yogyakarta?
  2. Bagaimana Efektitifitas UKL/UPL pada usaha mikro kecil menengah terhadap pencemaran lingkungan di kota Yogyakarta? 3. Bagaimana Konsep Ideal dalam mengefektifkan pelaksanaan Upaya Kelola Lingkungan dan Upaya
  Pemantauan Lingkungan UKL-UPL pada Usaha Mikro Kecil Menengah terhadap Pengelolaan Lingkungan di Kota Yogyakarta ? 1.3.
   Tujuan Penelitian
  Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1.
  Mengidentifikasi penerapan pelaksanaan UKL UPL pada kegiatan usaha kecil menengah di kota Yogyakarta yang diketahui berdampak pada lingkungan hidup 2. Mengidentifikasi Efektitifitas UKL/UPL pada usaha kecil menengah terhadap pencemaran lingkungan hidup di kota Yogyakarta? 3. Mengidentifikasi Konsep Ideal dalam mengefektifkan pelaksanaan Upaya Kelola Lingkungan dan Upaya
  Pemantauan Lingkungan UKL-UPL pada Usaha Mikro
  Kecil Menengah terhadap Pengelolaan Lingkungan di Kota Yogyakarta? 1.4.
   Manfaat Penelitian 1.
  Manfaat Akademis Manfaat akademis yang diharapkan adalah bahwa hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangsih ilmiah terhadap ilmu hukum, khususnya pemahaman teoritis tentang Efektitifitas Hukum Upaya Kelola Lingkungan dan Upaya Pemantauan lingkungan UKL-UPL pada Usaha Mikro Kecil Menengah terhadap pencemaran lingkungan. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan rekomendasi dalam rangka pembaharuan baik dalam kelayakan lingkungan baik berupa Upaya Kelola Lingkungan dan Upaya Pemantauan lingkungan UKL-UPL dan pelaksanaanya, serta bagaimana peraturan dibidang lingkungan hidup dilaksanakan oleh Usaha Mikro Kecil Menengah.2. Manfaat Praktis
  Manfaat Praktis yang diharapkan adalah bahwa hasil Penelitian ini diharapkan dapat menyumbangkan pemikiran-pemikiran terhadap pemecahan permasalahan yang berkaitan dengan Efektitifitas Hukum Upaya Kelola Lingkungan dan Upaya Pemantauan lingkungan UKL-UPL pada Usaha Mikro Kecil Menengah terhadap pencemaran lingkungan. Selanjutnya hasil penelitian ini diharapkan menjadi acuan dalam mekanisme Upaya Kelola Lingkungan dan Upaya Pemantauan lingkungan UKL-UPL pada Usaha Mikro Kecil Menengah terhadap pencemaran lingkungan.1.5. Keaslian Penelitian
  Beberapa penelitan yang pernah dilakukan diantaranya sebagai berikut :
  201. Efektifitas Pelaksanaan Wahyuno, Sutoro, Sutarto.
  20 Dokumen Lingkungan dalam pengelolaan lingkungan
  Jurnal.pasca.uns.ac.id › Beranda › Vol 4, No 2 (2012) › Wahyono, Suntoro, Sutarno, diakses pada tanggal, 04 agustus 2018 hidup di Kabupaten Pacitan, tujuan dari penelitiannya bertujuan mengidentiikasi dan mengevaluasi pelaksanaan AMDAL dan UKL-UPL pada perusahaan yang memiliki dokumen lingkungan, keterlibatan masyarakat dalam pelaksanaan AMDAL dan UKL-UPL, pengawasan oleh instansi pemerintah daerah dan mengetahui efektivitas pelaksanaannya, Hasil Penelitiannya (1) Pelaksanaan AMDAL dan UKL- UPL oleh perusahaan belum dilihat secara utuh dan belum merupakan kesadaran tetapi karena adanya pengawasan dan pengaduan masyarakat serta menjadi beban dari segi biaya (2) Keterlibatan masyarakat terhadap pelaksanaan AMDAL dan UKL-UPL relatif masih rendah karena kurangnya pengetahuan dan akses (3) Pengawasan oleh instansi lingkungan hidup masih bersifat pasif dan reaktif serta belum optimalnya peran PPLHD, sedangkan pengawasan bersama instansi belum ada mekanisme yang jelas dan belum adanya Perda yang mengatur terkait AMDAL dan UKL-UPL.(4) Hasil penelitian efektiitas pelaksanaan AMDAL dan UKLUPL pada perusahaan terpilih berada pada kelompok menengah dengan nilai 34
– 66 %. Yang berarti pelaksanaan AMDAL dan UKL-UPL masuk katagori cukup efektif.
  2. Tri Fitri Puspita Sari, Mochamad Makmur, Mochamad
  21 Rozikin.
  “Efektivitas Implementasi UKL-UPL dalam Mengurangi Kerusakan Lingkungan (Studi pada Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Malang dan Masyarakat Sekitar PT. Tri Surya Plastik Kecamatan Lawang) tujuan dari penelitiannya tujuan, Mengurangi kerusakan lingkungan akibat pembangunan industri di Indonesia pemerintah memberlakukan pembangunan perkelanjutan, dengan mewajibkan pelaku usaha memenuhi UKL-UPL di dalam pengurusan izin lingkungan dan izin usaha. Namun, masih terdapat pencemaran yang terjadi, salah satunya yang dilakukan 21 PT Tri Surya Plastik Kecamatan Lawang. Walaupun
  diakses pada tanggal 04 agustus 2018 sudah memiliki UKL-UPL namun masih melanggar ketentuan yang sudah disepakati. Selain bau menyengat, pabrik juga membuang limbah ke Kali Suko menyebabkan kerugian dan gangguan kesehatan masyarakat sekitar sehingga mempertanyakan bagaimana efektivitas implementasi UKL-UPL.
  Adapun hasil penelitian ini menunjukkan bahwa implementasi yang dilakukan belum efektif walaupun peraturan sudah jelas dan sesuai dengan isu publik yang berkembang, tetapi hasil yang diharapkan dalam mengurangi pencemaran air belum efektif. Dikarenakan kurangnya kesadaran pelaku usaha dalam memenuhi UKL-UPL, belum optimalnya implementasi dan penindakan pelanggaran oleh BLH, dan terdapatnya unsur-unsur yang menghambat efektivitas. Perbandingan Fokus Kajian Tesis dengan Fokus studi- studi sebelumnya
  Tabel 1. Keaslian Penelitian
  No
  1
  2
  3 Nama Wahyuno, Alpan Syahrizal “Tri Fitri Puspita Sutoro, Sutarto Sari, Mochamad Makmur, Mochamad
  Rozikin” Judul Efektifitas Efektivitas Efektifitas Pelaksanaan Implementasi UKL- Hukum Upaya
Dokumen UPL Kelola Lingkungan dalamMengurangi Lingkungan dalam Kerusakan Dan Upaya pengelolaan Lingkungan (Studi Pemantauan lingkungan pada Badan Lingkungan hidup Lingkungan Hidup UKL-UPL Pada Kabupaten Malang Usaha Mikro dan Masyarakat Kecil Menengah Sekitar PT Tri Surya terhadap Plastik Kecamatan pencemaran Lawang) lingkungan di kota Yogyakarta.
Tema Pelaksanaan Efektivitas Izin lingkungan
Kajian Dokumen implementasi UKL- sebagai upaya
  Lingkungan UPL sebagai pengendalian dalam instrumen lingkungan pengelolaan pencegahan lingkungan terjadinya kerusakan hidup lingkungan di Kecamatan Lawang
berdasarkan hubungan output dan tujuannya yang dilihat dari ketepatan kebijakan, dukungan internal dan eksternal dalam pencapaian efektivitas, serta kepatuhan dan daya tanggap aktor yang terlibat dalam implementasi. dan Faktor pendorong dan penghambat yang berpengaruh dalam pencapaian efektivitas implementasi UKL- UPL sebagai upaya pengurangan kerusakan lingkungan fokus dan
  Arah Peneliti an Mengetahui gambaran efektivitas pelaksanaan AMDAL dan UKL-UPL pada beberapa usaha/kegiatan di Kabupaten Pacitan menganalisis efektivitas implementasi UKL- UPL di Kecamatan Lawang dalam mengurangi kerusakan lingkungan
  Upaya kelola lingkunga dan pemantauan lingkungan dengan konsep kedepannya sesuai dengan asas pembangunan berkenjutan berwawasan lingkungan1.6. Kerangka Teori
  Teori-teori yang dipergunakan dalam penulisan permasalahan ini adaalah :1. Teori Sistem Perizinan Lingkungan Hidup
  Konsep ini pada dasarnya menyatakan bahwa sebuah Negara hukum kesejahteraan yang dianut, maka tugas utama pemerintah untuk mewujudkan tujuan Negara salah satunya melalui pelayanan publik dan turut sertanya pemerintah dalam kehidupan sosial masyarakat. Dalam era pembangunan dewasa ini semakin meningkat pesat, sejalan dengan semakin meningkat dan meluasnya pembangunan ke berbagai sektor atau bidang kehidupan maka ikut campunya pemerintah pun semakin aktif dan intensif ke dalam berbagai segi kehidupan masyarakat.
  Salah satu otoritas pemerintah dalam rangka perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup adalah menerapkan izin lingkungan (environmental licence). Perizinan di istilahkan dengan lincence, permit (Inggris)
  verqunning (Belanda). Izin hanya merupakan otoritas
  dan monopoli pemerintah. Tidak ada lembaga lain di luar pemerintah yang memberrikan izin pengelolaan lingkungan, dan ini berkaitan dengan prinsip kekuasaan Negara atas semua sumber daya alam demi kepentingan
  22 hajat hidup orang banyak.
  Pemikiran N.M. Spelt dan J.B.J. M. Ten Berge, 22 dalam perizinan untuk arti luas, dibedakan dengan
  Helmi, 2012, Hukum Perizinan Lingkungan Hidup, Jakarta, Sinar Grafika, hlm 26-27 bentuk-bentuk perizinan lainya seperti despensasi, konsesi, rekomendasi, tanda daftar, surat persetujuan, dan pendaftaran. Sejalan dengan itu, Tatiek Sri Djatmiati mengemukakan perizinan dapat berbentuk pendaftaran, rekomendasi, sertifikasi penentuan dan kuota, dan izin melakukan suatu usaha.
  Pemikiran teori N.M. Spelt dan J.B.J. M. Ten Berge yang intinya izin diartikan dengan perbuatan pemerintah yang memperkenankan suatu perbuatan yang tidak dilarang oleh peraturan yang bersifat umum. Inzin merupakan perbuatan Hukum Adiministrasi pemerintah bersegi satu yang mengaplikasikan peraturan dalam konkrit berdasarkan persyaratan dan prosedur yang ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku. Izin merupakan alat pemerintah yang bersifat yuridis preventif, dan digunakan sebagai instrument adiministrasi untuk mengendalikan perilaku masyarakat dan pengusaha. Oleh karena itu, sifat suatu izin adalah preventif, karena dalam instrument izin, tidak bisa dilepaskan dengan perintah dan kewajiban yang harus ditaati oleh pemegang izin. Selain itu fungsi izin, adalah represif. Izin dapat berfungsi sebagai instrument untuk menanggulangi masalah lingkungan yang disebabkan aktivitas kegiatan usaha yang melekat dengan dasar perizinan. Artinya, suatu usaha yang memperoleh izin atas pengelolaan lingkungan, dibebani kewajiban untuk melakukan penanggulangan potensi pencemaran atau perusakan lingkungan yang timbul dari aktivitas
  23 kegiatan usahanya.
  Keputuasan izin diberikan untuk melakukan suatu usaha atau kegiatan termasuk bidang usaha atau bidang usaha lingkungan hidup. Drupsteen mengatakan, perizinan merupakan instrument kebijaksanaan lingkungan yang paling penting. Berdasarkan beberapa teori tentang perizinan, lingkungan hidup adalah perizinan dalam rangka perlindungan dan pengelolaan 23 lingkungan hidup yang didasarkan pada Undang-Undang
  Ibid, tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. sebagaimana dikemukakan di atas, bahwa perizinan merupakan upaya pencegahan atau berkarakter sebagai preventif instrument terhadap tindakan pemerintah dalam rangka pelaksanaan pembangunan berkelanjutan.
  Dalam pengelolaan lingkungan hidup, perizinan ditujukan untuk memelihara kelestarian fungsi lingkungan hidup serta mencegah dan menanggulangi perusakan lingkungan.2. Teori Bekerjanya Hukum
  Teori ini adalah bekerjanya hukum sangat ditentukan organ pembuat, penerap dan masyarakat serta ketentuan-ketentuan sosial dan personal. Dalam penelitian ini, teori bekerjanya hukum oleh Mochtar Kusuma Atmadja digunakan untuk mengkaji proses pembuatan kebijakan lingkungan dalam pengelolaan
  24 lingkungan hidup di Kota Yogyakarta.24 Romli Atmasamita, Tiga Paradigma Hukum Dalam Pembangunan Nasional , Jurnal Hukum, Vol 3. No. 1. Tahun 2012.
  Pemikiran teori Mochtar Kusuma Atmadja dalam hukum nasional (Indonesia) sebagai suatu sistem hukum yang belum terbentuk secara holistik, belum komprehensif dan belum diperkaya nilai-nilai kehidupan masyarakat, untuk beradaptasi dengan kehidupan masyarakat maju. Unsaha untuk menyatakan bahwa telah terdapat suatu sistem hukum nasional terbukti hanya merupakan perwarisan sistem hukum warisan Hindia Belanda yang menganut sistem hukum Civil Law
  
system semata-mata dipaksakan berlakunya ditengah-
  tengah masyarakat hukum. Di sisi lain, pembaharuan hukum melalui yurisprudensi belum melembaga dikalangan aparatur hukum termasuk penasehat hukum sekalipun secara akademik telah diakui dalam beberapa forum diskusi.
  Pemikiran teori Mochtar Kusuma Atmadja yang intinya menyatakan bahwa hukum suatu bangsa tidak dapat dialihkan begitu saja kepada bangsa lain, yang salah satunya berasal sistem pendidikan hukum warisan hukum pendidikan Belanda, yaitu hanya mendidik ’’ Tukang” (croftmanship) saja bukan lulusan pendidikan hukum yang mampu menganalisis perubahan-perubahan dalam masyarakat dan mampu menemukan solusi dari masalah penerapan hukum di dalam masyarakat. Untuk mencapai kemampuan analisis tersebut diperlukan metode pengajaran ke arah metode yang telah berhasil dalam pendidikan hukum berbasis sistem hukum “Common Law”. Sejak berabad tahun yang lampau.
  Perubahan dalam metode pendidikan hukum di Indonesia diharapkan dapat menghasilkan lulusan yang mampu menjadi agen pembaharuan hukum dalam pembangunan nasional.
  Pembangunan hukum nasional Indonesia harus melahirkan lulusan pendidikan hukum yang kemampuan (ability) dan kredibilitas (credibility) dalam menganalisis masalah hukum dalam masyarakat yang mencakup
  25 25 aspek-aspek ekonomi, sosiologi, dan politik.
  Ibid,
  Terkait bekerjanya hukum, Mochtar Kusuma Atmadja memandang bahwa fungsi dan peranan hukum dalam pembangunan nasional, sebagai berikut: a.
  Semua masyarakat yang sedang membangun dicirikan oleh perubahan dan hukum berfungsi agar dapat menjamin bahwa perubahan itu terjadi dengan cara yang teratur.
  b.
  Baik perubahan maupun ketertiban (keteraturan) merupakan tujuan awal dari masyarakat yang sedang membangun maka hukum menjadi suatu sarana (bukan alat) yang tak dapat diabaikan dalam proses pembangunan.
  c.
  Fungsi hukum dalam masyarakat adalah mempertahankan kepastian hukum dan juga hukum (sebagai kaidah sosial) harus dapat mengatur (membantu) proses perubahan dalam masyarakat.
  d.
  Hukum yang baik adalah hukum yang sesuai dengan hukum yang hidup (the living law) dalam masyarakat, yang tentunya sesuai pula atau merupakan pencerminan nilai-nilai daripada yang berlaku dari masyarakat itu.
  e.
  Implementasi fungsi hukum tersebut di atas hanya dapat diwujudkan jika hukum dijalankan oleh suatu kekuasaan akan tetapi kekuasaan itu sendiri harus berjalan dalam batas rambu-rambu yang ditentukan di dalam hukum itu.3. Teori Pembangunan Berkelanjutan
  Konsep pembangunan berkelanjutan, pada hakekatnya merupakan pembangunan yang dapat memenuhi kebutuhan masa kini tanpa mengorbankan pemenuhan hak generasi yang akan datang. Menurut Otto Soemarwoto, pembangunan ini tidak bersifat serahka untuk kepentingan diri sendiri, melainkan memperhatikan juga anak cucu dengan berusaha meninggalkan sumber daya yang cukup dan lingkungan hidup yang sehat serta dapat mendukung kehidupan mereka dengan sejahtera.
  Dalam pembangunan berkelanjutan menurut
  
World Commission on Envi-ronment and Development
  (WCED), terkandung dua makna, yakni: a.
  “the concept of need, in farticular the esencial
  needs of the word poor, to which over- riding priority should be given ” ( gagasan kebutuhan “
  khususnya kebutuhan esensial bagi masyarakat miskin yang harus diberikan prioritas utama).
  b.
  “the idea of limitation imposed by the state of
  technology and social organization on the environment is ability to meet present and future needs ” (gagasan keterbatasan yang bersumber pada
  kondisi teknologi dan organisasi sosial terhadap kemampuan lingkungan untuk memenuhi kebutuhan
  26 kini dan hari depan).
  Menurut M. Daud Silalahi, saat ini pembentukan hukum dalam arti pembangunan berkelanjutan seharunya 26 mengintegrasikan tiga aspek yakni aspek ekonomi, sosial Helmi, Op. cit, hlm 32. dan lingkungan. Dalam hal ini pembentukan hukum tersebut belum secara utuh mengintegrasikan ketiga kepentingan tersebut. Paradigm pembangunan berkelanjutan adalah sebuah kritik pembangunan di satu pihak, tetapi di pihak lain adalah sebuah teori normatif yang menyodorkan praksis pembangunan yang baru sebagai jalan keluar dari kegagalan depelovementalisme selama ini. Dalam arti itu, paradigma pembangunan berkelanjutan bukan sekedar sebuah kritik pembangunan, melainkan juga sebuah kritik ideologi pembangunan, yaitu ideologi lovmentalisme.
  Sebagai teori normatif, paradigma pembangunan berkelanjutan mendesak kita untuk meninggalkan sikap yang menjadikan pembangunan ekonomi sebagai satu- satunya tujuan pembangunan nasional. Pembangunan berkelanjutan mendesak kita segera untuk memberi perhatian yang sama besarnya bagi pembangunan sosial, budaya dan lingkungan hidup, kalau kita tidak mau lagi mengulangi krisis sosial budaya dan lingkungan hidup yang kita alami sekarang.
  Pembangunan berkelanjutan harus dipahami sebagai etika politik pembangunan, yaitu sebuah komitmen moral tentang bagaimana seharusnya pembangunan itu diorganisir dan dilaksanakan untuk mencapai tujuan. Dalam kaitan dengan itu, paradigama pembangunan berkelanjutan bukan sebuah konsep tentang pentingnya lingkungan hidup. Pembangunan berkelanjutan juga bukan tentang pembangunan ekonomi.
  Ini sebuah etika politik pembangunan mengenai pembangunan secara keseluruhan dan bagaimana pembangunan itu seharusnya dijalankan. Dalam arti ini, selama pembangunan berkelanjutan tersebut tidak dipahami, atau dipahami secara bias, cita-cita moral yang terkandung di dalamnya tidak akan terwujud.
  Cita-cita dan agenda utama pembangunan berkelanjutan tidak lain adalah upaya untuk mensinkronkan, mengintegrasikan, dan memberi bobot yang sama bagi tiga aspek utama pembangunan, yaitu aspek ekonomi, aspek sosial budaya dan aspek lingkungan hidup. Gagasan ini di balik itu adalah, pembangunan ekonomi, sosial, budaya dan lingkungan hidup harus dipandang sebagai terkait erat satu sama lain, sehingga unsur-unsur dari kesatuan yang saling terkait ini tidak boleh dipisahkan atau dipertentangkan satu dengan yang lainnya. Yang mau dicapai dengan pembangunan berkelanjutan adalah menggeser titik berat pembangunan dari hanya pembangunan ekonomi menjadi juga mencakup pembangunan sosial budaya dan lingkungan
  27 hidup.
  Ada tiga prinsip utama pembangunan berkelanjutan, ketiga prinsip tersebut menjamin agar ketiga aspek pembangunan di atas dipenuhi, dan dalam arti itu ketiga aspek pembangunan hanya mungkin dicapai27 Sonny Keraf, 2010, Etika Lingkungan Hidup, Jakarta, Buku
  Kompas, hlm 191-206 kalau ketiga prinsip dasar ini dioprasionalkan sebagai
  28
  sebuah politik pembangunan: a.
  Prinsip demokrasi. Prinsip ini menjamin agar pembangunan dilaksanakan sebagai perwujudan kehendak bersama seluruh rakyat demi kepentingan bersama rakyat. Dengan kata lain, pembangunan bukan dilaksanakan berdasarkan kehendap pemerintah atau partai politik demi kepentingan rezim atau partai yang sedang berkuasa. Ini sebuah prinsip moral yang paling mendasar, khususnya untuk menjamin bahwa apa yang diidealkan sebagai paradigm pembangunan yang berkelanjutan bisa mempunyai peluang untuk direalisasikan.
  b.
  Prinsip keadilan. Prinsip ini pada dasarnya mau menjamin bahwa semua orang dan kelompok masyarakat memperoleh peluang yang sama untuk ikut dalam proses pembangunan dan kegiatan-28 Ibid,
  kegiatan produktif serta ikut dalam menikmati hasil- hasil pembangunan.
  c.
  Prinsip keberlanjutan. Prinsip ini mengharuskan kita untuk merancang agenda pembangunan dalam dimensi visioner jangka panjang, untuk melihat dampak pembangunan baik positif maupun negatif dalam segala aspeknya tidak hanya dalam dimensi jangka pendek. Prinsip ini sejalan dengan kenyataan bahwa sumber daya ekonomi terbatas, aspek sosial- budaya dan lingkungan adalah aspek yang berdimensi jangka panjan, dan bahwa pembangunan berlangsung dalam ruang ekosistem yang mempunyai interaksi rumit.
  Dalam konteks ini, paradigma pembangunan menegaskan kembali bahwa sebagai sebuah proses membangun manusia seutuhnya dan seluruhnya. Pembangunan bukan saja bertujuan meningkatkan derajat fisik manuasia tertentu, melainkan memungkinkan setiap orang dan kelompok masyarakat untuk meningkatkan kualitas hidup, baik fisik-material maupun derajat kualitas kehidupan secara luas, mental, budaya, sosial, politik, spiritual, dan ideologis.1.7. Sistematika Penulisan
  Penulisan tesis ini dilakukan dengan membagi menjadi 5 bab, dengan sistematika sebagai berikut:
  Bab I Pendahuluan, yang terdiri dari Latar Belakang, Rumusan Masalah, Tujuan penelitian, Manfaat Penelitian, Keaslian Penelitian, Kerangka Teori, dan Sistematika Penulisan. Bab II TinjauanPustaka, terdiri dari, Upaya Kelola Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan UKL-UPL, Pengertian UKL-UPL, Proses Upaya Kelola Lingkunga dan Upaya Pemantauan Lingkungan, Usaha Mikro Kecil dan Menengah UMKM, Keriteria Kegiatan Usaha yang wajib UKL-UPL, Pencemaran Lingkungan oleh UMKM, Pencemaran Lingkungan menurut UU No. 32 Tahun 2009, Ambang Batas baku Mutu Lingkungan, Asas berwawasan lingkungan oleh UMKM.
  Bab III Metode Penelitian terdiri dari, Jenis Penelitian, Metode Pendekatan, Lokasi penelitian, Sumber data, Teknik pengumpulan data, Analisis data Bab IV Hasil penelitian dan Pembahasan, yang terdiri dari Gambaran Umum kota Yogyakarta, Penerapan
  UKL/UPL terhadap Usaha Mikro, Kecil dan Menengah di kota Yogyakarta, Efektitifitas UKL/UPL pada Usaha Mikro, Kecil dan Menengah terhadap pencemaran lingkungan di kota Yogyakarta, Konsep ideal dalam mengefektifkan pelaksanaan UKL UPL terhadap Usaha Mikro, Kecil dan Menengah Keterlibatan dan Peran Serta UMKM terhadap Pengelolaan Lingkungan di kota Yogyakarta,
  Bab V Penutup yang terdiri dari Kesimpulan dan saranBAB II TINJAUN PUSTAKA
  
2.1. Upaya Kelola Lingkungan Dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UKL-UPL)
2.1.1 Pengertian Upaya Kelola Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UKL-UPL)
   suatu perangkat pengelola lingkungan hidup dalam pengambilan keputusan dan dasar untuk menertibkan izin untuk melakukan kegiatan dan/ atau usaha.
  Kegiatan atau usaha yang tidak diwajibkan untuk menyusun AMDAL tetap harus melakukan Upaya Kelola Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan. Kewajiban UKL-UPL diberlakukan bagi kegiatan usaha yang tidak diwajibkan menyusun AMDAL dan dampak yang ditimbulkan
  Tergolong mudah untuk dikelola dengan memanfaatkan teknologi yang tersedia.
  Upaya Pemantauan Lingkungan. Kewajiban UKL- UPL diberlakukan bagi kegiatan/ usaha yang tidak diwajibkan menyusun AMDAL dan dampak kegiatan tergolong mudah untuk dikelola dengan memanfaatkan teknologi yang tersedia
  UKL-UPL Pada dasarnya sama seperti AMDAL, berfungsi sebagai panduan pengelolaan lingkungan bagi seluruh penyelenggara suatu kegiatan. Namun, skala kegiatan yang diwajibkan UKL-UPL relatif cukup kecil dan dianggap memiliki dampak terhadap lingkungan yang tidak terlalu besar dan penting. Hal ini menyebabkan kegiatan tersebut tidak tercantum dalam daftar wajib AMDAL.
  Namun demikian, dampak lingkungan yang dapat terjadi tetap perlu dikelola untuk menjamin terlaksananya pengelolaan lingkungan yang baik dan berkelanjutan berwawasan lingkungan, kewajiban penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan untuk melakukan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup atas dampak lingkungan hidup dari usaha dan/atau kegiatannya, oleh karenanya kebijakan Pengelolaan Lingkungan Hidup diatur dalam Undang- Undang Nomor 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, secara ekplisit memisahkan antara AMDAL termuat pasal Pasal 22 (1) merupakan Kajian atas dampak besar dan penting untuk pengambilan keputusan suatu usaha dan atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha atau kegiatan. Sedangkan UKL/UPL termuat dalam pasal 34 (1) adalah pengelolaan dan pemantauan terhadap Usaha dan/atau Kegiatan yang tidak berdampak penting terhadap lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan Usaha dan/atau kegiatan.
  Oleh karena itu sebelum melakukan kegiatan usaha, setiap usaha dan atau kegiatan usaha diwajibkan menyusun dokumen lingkungan supaya dalam melakukan kegiatan usaha hendaknya memperhatikan lingkungan hidup sekitar tempat kegiatan usahanya, guna memacu pertumbuhan ekonomi dalam kehidupan masyarakat serta perekonomian negara, sebagai salah satu jaminan pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Oleh sebab itu meningkatkan pendapatan negara serta mampu memecahkan permasalah pengangguran, oleh sebab itu banyak bermunculan Usaha Mikro Kecil Menengah baik perdagangan dan jasa dikalangan masyarakat kalangan bawah, demi memenuhi kebutuhan hidup masyarakat dan pelaku usaha.
  
2.1.2 Proses Upaya Kelola Lingkungan Dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UKL-UPL)
  Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup yang selanjutnya disebut UKL-UPL adalah pengelolaan dan pemantauan terhadap Usaha dan/atau Kegiatan yang tidak berdampak penting terhadap lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan Usaha dan/atau Kegiatan.
  Prosedur UKL-UPL disusun pemrakarsa dalam tahap perencanaan suatu kegiatan usaha dengan menentukan lokasi rencana kegiatan usaha/kegiatan usaha sesuai dengan rencna tata ruang, setelah permohonan di UKL-UPL di diajukan dan diperiksa pasal 34 (1) adalah pengelolaan dan pemantauan terhadap Usaha dan/atau Kegiatan yang tidak berdampak penting terhadap lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan29 Usaha dan/atau kegiatan
  Oleh karenanya sebelum melakukan penyusunan UKL/UPL hendaknya memperhatikan beberapa uraian sebagai berikut diantranya:
  2.2.2.1. Prosedur Penyusunan UKL-UPL: UKL-UPL disusun oleh Pemrakarsa pada tahap
perencanaan suatu Usaha dan/atau Kegiatan. dengan Lokasi rencana Usaha dan/atau Kegiatan wajib sesuai dengan rencana tata ruang. 29 Undang-Undang No. 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan
  Pengelolaan Lingkungan Hidup,
Kegiatan tidak sesuai dengan rencana tata ruang, UKL-UPL tidak dapat diperiksa dan wajib dikembalikan kepada Pemrakarsa. (Pasal 14 PP No. 27 Tahun 2012 tentang Izin Lingkungan)
  Dalam hal lokasi rencana Usaha dan/atau
pengisian formulir UKL-UPL dengan format yang ditentukan dalam Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup RI No. 16 Tahun 2012 Tentang Pedoman Penyusunan Dokumen Lingkungan Hidup 2.1.2.1.
  Penyusunan UKL-UPL dilakukan melalui
  Pemeriksaan UKL-UPL Formulir UKL-UPL yang telah diisi oleh
Pemrakarsa disampaikan kepada Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenanganRekomendasi UKL-UPL dapat dilakukan oleh: pejabat yang ditunjuk oleh Menteri; kepala
  UKL-UPL dan penerbitan Pemeriksaan instansi lingkungan hidup provinsi; atau. kepala instansi lingkungan hidup kabupaten/kota. gubernur, atau bupati/walikota
melakukan pemeriksaan kelengkapan administrasi formulir UKL-UPL. hasil pemeriksaan kelengkapan
  Menteri,
  Apabila administrasiformulirUKL-UPL dinyatakan tidak lengkap, Menteri, gubernur, atau bupati/walikota mengembalikan UKLUPL kepada Pemrakarsa untuk dilengkapi hasil pemeriksaan kelengkapan
administrasi formulir UKL-UPL dinyatakan lengkap, Menteri, gubernur, atau bupati/walikota melakukan pemeriksaan UKL-UPL.
  Apabila
(empat belas) hari sejak formulir UKL-UPL dinyatakan lengkap secara administrasi.
  Pemeriksaan dilakukan dalam jangka waktu 14
atau bupati/walikota menerbitkan Rekomendasi
  Berdasarkan pemeriksaan Menteri, gubernur,
  UKL-UPL. berupa: persetujuan UKL-UPL atau penolakan UKL UPL.
  Rekomendasi UKL-UPL adalah surat persetujuan terhadap suatu Usaha dan/atau Kegiatan yang wajib UKL-UPL
UPL disampaikanlah Permohonan Izin Lingkungan dilengkapi dengan melampirkan dokumen pendirian Usaha dan/atau Kegiatan; dan profil Usaha dan/atau Kegiatan yang akan mengajukan permohonan izin lingkungan, setelah di lakukan pemriksaaan oleh Menteri, Gubernur, atau Bupati/Walikota dalam hal ini yang melakukan pemeriksaan ditujakan kepada kepala instansi lingkungan hidup provinsi atau Kabupaten/Kota apabila dinyatakan lengkap maka izin lingkungan akan diterbitkan Rekomendasi UKL-UPL. berupa: persetujuan UKL-UPL atau penolakan izin lingkungan
  Bersamaan dengan pengajuan pemeriksaan UKL- sehingga permohonan rekomendasi UKL UPL akan dikembalikan kepada Pemrakasa sesuai dengan ketentun (Pasal 14 PP No. 27 Tahun 2012 tentang Izin Lingkungan)
2.1.2.2. Alur pemeriksaan UKL-UPL
  Jangka waktu pemeriksaan UKL-UPL dilakukan paling lama 14 (empat belas) hari kerja sejak, formulir UKL-UPL dinyatakan lengkap secara administrasi, Waktu pemeriksaan tidak termasuk waktu perbaikan formulir UKL-UPL oleh Pemrakarsa
  30 Berikut Alur Pemeriksaan UKL-UPL Pengisian Formulir UKL-UPL oleh Pemrakarsa PengajuanPemeriksaan Formulir
  UKL-UPL dan Permohonan Izin Lingkungan PengajuanPemeriksaan Formulir UKL-UPL dan Permohonan Izin Lingkungan Uji Administrasi Formulir UKL-UPL Uji Administrasi Formulir UKL-UPL danPermohonan Izin Lingkungan danPermohonan Izin Lingkungan Rapat Koordinasi Pemeriksaan Subtansi
  Perbaikan Formulir oleh Pemrakarsa (bila diperlukan) Formulir UKL-UPL
Penerbitan Rekomendasi Persetujuan Penerbitan Rekomendasi Penolakan
  UKL-UPL dan Izin Lingkungan UKL-UPL
  Dalam setiap akan melakukan kegiatan usaha
  31
  diperlukan Perizinan lingkungan yang berfungsi, pertama Direktif, yaitu sebagai pengarah dalam pembangunan; kedua Integratif, yaitu sebagai pembina kesatuan komunitas, masyarakat, bangsa dan negara; ketiga Stabilitas, yaitu 30 Badan Lingkungan Hidup DIY amdaldiy.net/blh-
  baru/public/statistis-89 31 Jurnal Jurisprudence, Vol. 7 No. 2 Desember 2017
  sebagai pemelihara, termasuk memelihara hasil-hasil pembangunan, keempat Perspektif, yaitu penyempurna langkah ke depan, berupa tindakan administrasi negara atau tindak warga masyarakat; kelima Korektif, yaitu memperbaiki terhadap tindakan administrasi negara dan warga masyarakat. Perizinan lingkungan sering dikenal
  32
  dengan izin Hinder Ordonantie (HO). Macam-macam perizinan yang berkaiatan dengan lingkungan.1. Izin gangguan dilakukan dengan menggunakan Hinder Ordonantie (HO).
  2. Perizinan suatu proyek yang berdampak besar dan penting terhadap lingkungan diperlukan adanya analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal), 3. Perizinan untuk melakukan pembuangan limbah ke media lingkungan.
  Dalam Pasal 1 angka 35 UU No. 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup Izin lingkungan adalah izin yang diberikan kepada setiap 32
  ibid orang yang melakukan usaha dan/atau kegiatan yang wajib amdal atau UKL-UP dalam rangka perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup sebagai prasyarat untuk memperoleh izin usaha dan/atau kegiatan. Pasal 36 UU No.
  32 Tahun 2009 yakni : (1). Setiap usaha dan/atau kegiatan yang wajib memiliki amdal atau UKL-UPL wajib memiliki izin lingkungan. (2) Izin lingkungan diterbitkan berdasarkan keputusan kelayakan lingkungan hidup atau rekomendasi UKL-UPL. (3) Izin lingkungan wajib mencantumkan persyaratan yang dimuat dalam keputusan kelayakan lingkungan hidup atau rekomendasi UKL-UPL. (4) Izin lingkungan diterbitkan oleh Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya.
2.1.3. Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM)
  Perkembangan Usaha Kecil Menengah yang sangat pesat dewasa ini ternyata membawa dampak bagi kehidupan manusia, baik dampak yang bersifat positif maupun dampak yang bersifat negatif. Dampak positif memang diharapkan oleh manusia untuk meningkatkan kualitas dan kenyamana hidup manusia, namun dampak yang bersifat negatif memang tidak diharapkan karena dapat menurunkan kualitas dan kenyamanan hidup manusia.
  Semua orang yang ingin memperoleh kenyamanan dan kualitas harus terlibat dalam usaha mengatasi dampak yang bersifat negatif, baik dari kalangan Usaha Kecil Menengah, Pemerintah maupun masyarakat. Dalam kegiatan usaha untuk meningkatkan kualitas hidup, manusia berupaya dengan segala daya untuk dapat mengolah dan memanfaatkan kekayaan alam yang ada demi tercapainya kualitas hidup yang diinginkan. Dalam pemanfaatan sumber daya alam harus memperhatikan daya dukung dan daya tampung lingkugan. Daya dukung alam diartikan sebagai kemampuan alam untuk mendukung kehidupan manusia.
  Berkurangnya daya dukung alam akan menyebabkan kemampuan alam untuk mendukung kehidupan manusia menjadi berkurang.
  Kegiatan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah perlu diselenggarakan secara menyeluruh, optimal, serta berkesinambungan melalui pengembangan iklim yang kondusif, pemberian kesempatan berusaha, dukungan, perlindungan, dan pengembangan usaha seluas-luasnya, sehingga mampu meningkatkan kedudukan, peran, dan potensi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah dalam mewujudkan pertumbuhan ekonomi, pemerataan dan peningkatan pendapatan rakyat, penciptaan lapangan kerja,
  33 dan pengentasan kemiskinan.
  Kegiatan Usaha Mikro Kecil Menengah telah menyebabkan banyak perubahan dalam sendi kehidupan masyarakat, yang sebelumnya di dominasi masyarakat pertanian menjadi masyarakat yang terkadang hanya mementingkan keuntungan pribadi dengan mengabaikan lingkungan hidup.
  Usaha Mikro Kecil Menengah di harapkan akan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat dengan meningkatnya pendapatan sehingga peluang mendapatkan kesempatan yang lebih besar terhadap 33 Edwar James Sinaga, Jurnal Rechtsvinding, Media Pembinaan
  Hukum Nasio nal, Vol, 6 No, 3, Desember 2017 pendidikan dan peningkatan standar kehidupan yang lebih baik. Namun demikian ada harga yang perlu dibayar yaitu menurunnya kualitas lingkungan dan meningkatnya
  34 kebutuhan akan sumber daya.
  Di Indonesia sering kita mendengar dengungan pertumbuhan ekonomi melalui pengalaman pada krisis ekonomi pada tahun 1997
– 1998, kegiatan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah sudah terbukti mampu mempertahankan perekonomian Indonesia dalam mempertahankan ekonomi para pelaku UMKM bahkan mampu melakukan penyelamatan di berbagai sektor kebutuhan pokok rakyat melalui melalui normalisasi distribusi hal tersebut menjadi bukti serta motivasi sebagian orang untuk memanfaatkan kemampuannya untuk menjadi motor penggerak bagi pertumbuhan ekonominya.
  Disebutkan didalam Undang-undang No. 20 Tahun 2008 Tentang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah tidak hanya mengklasifkasikan jenis-jenis usaha yang ada di tanah 34 Makalah kegiatan usha kecil menegah .
  ttps/mahrezarezq2103.wordpress.com. senin, 01.42 air, akan tetapi juga mengatur tentang aspek penumbuhan iklim usaha yang ada di Indonesia berupa pendanaan, sarana dan prasarana, informasi usaha, kemitraan, perizinan usaha, kesempatan berusaha, promosi dagang dan dukungan
  35 kelembagaan.
  Dalam kaitannya dengan kegiatan usaha Mikro kecil menengah, sebagaimana disebutkan dalam Hal tersebut ditujukan untuk memudahkan para pelaku usaha yang bergerak pada sektor Mikro, Kecil dan Menengah dalam hal perizinan yaitu: sebagaimana pasal 12 pada bab 5 Undang- undang 20 Tahun 2008 Tentang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah
  Dengan harapan membaiknya dunia usaha di Indonesia, memiliki keterkaitan terhadap kesejahteraan masyarakat melalui lapangan kerja dan meningkatnya pengangguran menunjukkan masih jauh dari harapan semua pihak. Memburuknya perekonomian nasional yang disebabkan masalah keuangan yang dihadapi oleh pengusaha 35 Edwar James Sinaga, Op. Cit sebagai akibat devaluasi rupiah terhadap dolar Amerika dengan ditandai tingkat lonjakan krisis yang sangat besar dalam waktu yang sangat singkat. Kejadian tersebut mengakibatkan perekonomian Indonesia secara makro mengalami keterpuruk dan banyak perusahaan yang terancam mengalami kebangkrutan.
  Kegiatan usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) tetap bertahan dan mampu berperan untuk melaksanakan fungsinya baik dalam memproduksi barang dan jasa di tengah kondisi usaha besar tidak mampu mempertahankan eksistensinya Ketika perekonomian Indonesia dihadapkan kepada krisis yang multi dimensi, hal ini cukup beralasan karena usaha Mikro Kecil dan Menengah bergerak dari segala lini kehidupan masyarakat untuk mempertahankan hidup, pelaku kegiatan usaha Mikro Kecil dan Menengah dari gempuran krisis ekonomi global.
  Melalui misi tersebut tujuan yang ingin dicapai hingga akhir 2014 adalah: “Terwujudnya pembangunan
  Indonesia berdasarkan pembangunan ekonomi berkelanjutan berwawasan lingkungan dengan penekanan pada ekonomi hijau (green economy) untuk menahan laju kemerosotan daya tampung, daya dukung, dan kelangkaan sumber daya
  36
  alam, serta mengatasi bencana lingkungan”.
  Perkembangan usaha Mikro Kecil dan Menengah yang sangat pesat dewasa ini ternyata membawa dampak bagi kehidupan manusia, baik dampak yang bersifat positif maupun dampak yang bersifat negatif. Dampak positif memang diharapkan oleh manusia untuk meningkatkan kualitas dan kenyamanan hidup manusia, namun dampak yang bersifat negatif memang tidak diharapkan karena dapat menurunkan kualitas dan kenyamanan hidup manusia.
  Semua orang yang ingin memperoleh kenyamanan dan kualitas harus terlibat dalam usaha mengatasi dampak yang bersifat negatif, baik dari kalangan pelaku UMKM, pemerintah maupun masyarakat biasa.
  Kriteria kegiatan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) sebagaimana termuat dalam Undang-undang No 36 Laporan “Kajian Kesiapan UMKM Ramah Lingkungan Dalam
  Mendapatkan Akses Pembiayaan”
  20 tahun 2008 Tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah sebagaimana termuat dalam pasal 6 menyebutkan :
  37
  (1) Kriteria Usaha Mikro adalah sebagai berikut: a.
  Memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp50.000.000,00 (lima puluhjuta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau b.
  Memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah).
  (2) Kriteria Usaha Kecil adalah sebagai berikut:
  a. kekayaan bersih lebih dari Memiliki
  Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau b.
  Memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp2.500.000.000,00 (dua 37 milyar lima ratus juta rupiah).
  . Undang-undang No 20 tahun 2008 Tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah
  (3) Kriteria Usaha Menengah adalah sebagai berikut: a.
  Memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp10.000.000.000,00 (sepuluh milyar rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau b.
  Memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp2.500.000.000,00 (dua milyar lima ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp50.000.000.000,00 (lima puluh milyar rupiah). (4)
  Kriteria sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, huruf b, dan ayat (2) huruf a, huruf b, serta ayat (3) huruf a, huruf b nilai nominalnya dapat diubah sesuai dengan perkembangan perekonomian yang diatur dengan Peraturan Presiden.
  Apabila melihat ketentuan keriteria Usaha Mikro, Kecil dan Menengah yang sesuai dengan
  38 Peraturan 38 Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. 05 tahun 2012 Tentang
Jenis Rencana dan atau kegiatan yang wajib memiliki analisis mengenai dampak lingkungan hidup Menteri Lingkungan Hidup No. 05 tahun 2012 bahwa apabila Mengacu pada Undang-undang No 20 tahun 2008 Tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah merujuk kriteria UMKM bahwa setiap UKMM ditentukan dengan nilai kekayaan bersih paling sedikit yang Rp. 50.000.000,- tidak termasuk nilai tanah dan bangunan
  Dalam usaha meningkatkan kualitas hidup, manusia berupaya dengan segala daya untuk dapat mengolah dan memanfaatkan kekayaan alam yang ada demi tercapainya kualitas hidup yang diinginkan. Dalam pemanfaatan sumber daya alam harus memperhatikan daya dukung dan daya tampung lingkugan. Daya dukung alam diartikan sebagai kemampuan alam untuk mendukung kehidupan manusia. Berkurangnya daya dukung alam akan menyebabkan kemampuan alam untuk mendukung kehidupan manusia menjadi berkurang.
  Asas berwawasan lingkungan terhadap UMKM sebagaimana disebutkan dalam penjelasan Undang-ungan No. 20 Tahun 2008 Tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah yang dimaksud dengan "asas berwawasan lingkungan" adalah asas pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah yang dilakukan dengan tetap memperhatikan dan mengutamakan perlindungan dan pemeliharaan lingkungan hidup.
  Secara umum, sasaran pembangunan ekonomi berwawasan lingkungan yang ingin dicapai adalah mewujudkan perbaikan fungsi lingkungan hidup dan pengelolaan sumber daya alam yang mengarah pada prinsip pembangunan ekonomi berkelanjutan berwawasan lingkungan. Sementara itu sasaran khusus yang hendak
  39
  dicapai Kegiatan Usaha mikro kecil menengah telah menyebabkan banyak perubahan dalam sendi kehidupan masyarakat, yang sebelumnya didominasi masyarakat pertanian menjadi masyarakat yang terkadang hanya mementingkan keuntungan pribadi dengan mengabaikan lingkungan. Kegiatan Usaha mikro kecil menengah telah 39 Laporan “Kajian Kesiapan UMKM Ramah Lingkungan Dalam
  Mendapatkan Akses Pembiayaan” hlm. 17 banyak mendorong pertumbuhan ekonomi bagi sebagian masyarakat dengan meningkatnya pendapatan sehingga mendapatkan kesempatan yang lebih besar terhadap pendidikan dan peningkata standar kehidupan yang lebih baik. Namun demikian ada harga yang perlu dibayar yaitu menurunnya kualitas lingkungan dan meningkatnya kebutuhan akan sumber daya.
  Oleh sebab itu karena itu semakin berkembangnya kegiatan usaha Usaha mikro kecil menengah, berarti juga mendorong perekonomian bagi masyarakat dengan meningkatnya pendapatan sehingga kesempatan untuk meningkatkan taraf hidup juga semakin terbuka pulalah, kesempatan untuk mendapatkan pendidikan, sehingga sangat diperlukan dan ditingkatkan guna meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan untuk menjaga serta mengelola lingkungan hidup disekitar lingkungannnya.
2.1.4. Kriteria kegiatan usaha yang wajib Upaya Kelola Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UKL-UPL)
  Undang-undang No. 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (UUPPLH) menjelaskan bahwa Upaya Kelola Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UKL-UPL) merupakan pengelolaan dan pemantauan terhadap Usaha dan/ atau Kegiatan yang tidak berdampak penting terhadap lingkungan hidup, termuat dalam ketentuan Pasal, 34 Ayat (1) UUPPLH bahwa Setiap usaha dan atau kegiatan usaha yang tidak termasuk dalam kriteria wajib Analisis Menengani Dampak Lingkungan (AMDAL) sebagaimana dimaksud dalam Pasal, 23 ayat (1) wajib memiliki Upaya Kelola Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UKL-UPL)
  Seiring dengan menguatnya kesadaran dan komitmen pemerintah Indonesia terhadap berbagai macam persoalan di bidang lingkungan hidup khusunya setelah dilaksanakan konferensi internasional di bidang lingkungan, mulai dari konferensi stockholm 1972, konferensi Rio 1992, dan konferensi Johannesburg 2002 dengan diundangkannya Undang-undang No. 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (UUPPLH) sebagai penyempurna undang-undang sebelumnya selain sebagai payung hukum erat kaitannya dengan pembangunan nasional yang secara nyata dapat mengancam bahkan merusak fungsi lingkungan hidup, UUPPLH menjelaskan bahwa UKL-UPL merupakan pengelolaan dan pemantauan terhadap Usaha dan/ atau Kegiatan yang tidak berdampak penting terhadap lingkungan hidup, termuat dalam ketentuan Pasal 34 Ayat (1) UUPPLH Setiap usaha dan/atau kegiatan yang tidak termasuk dalam kriteria wajib AMDAL sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat (1) wajib memiliki UKL-UPL.
  Keriteria kegitan usaha yang wajib UKL/UPL diatur dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. 05 tahun 2012 bahwa dalam pasal 5 (4) Jenis rencana usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib memiliki pernyataan kesanggupan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup sesuai dengan perundang- undangan mengenai jenis rencana usaha dan/atau kegiatan yang wajib memiliki UKL-UPL atau surat pernyataan kesanggupan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup
  Kegiatan usaha yang wajib memiliki izin lingkungan juga diatur dalam Peraturan Wali Kota Yogyakarta No. 6 Tahun 2016 Tentang Pedoman Tata cara Pengajuan Dokumen Lingkungan Hidup dan Izin Lingkungan, Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup yang selanjutnya disebut UKL-UPL adalah pengelolaan dan pemantauan terhadap Usaha dan/atau Kegiatan yang tidak berdampak penting terhadap lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan Usaha dan/atau Kegiatan.
  Bahwa dalam Peraturan Walikota Yogyakarta sangat jelas dan lugas keriteria usaha yang wajb menyusun UKL/UPL ialah setiap usaha yang dalam melakukan kegiatannya tertera bahwa dalam jenis usaha dan/atau kegiatan yang wajib dilengkapi dengan UKL/UPL diatur memiliki paling tidak kurang lebih 600m2 luas tanah dengan investasi paling rendah 300 juta rupiah dalam sebagian dan kegiatan usaha
  Dalam menentukan kriteria kegiatan usaha yang wajib menyusun dokumen UKL-UPL bagi dinas Lingkungan hidup sebagai instansi yang mewakili Pemerintah sangat mudah untuk menentukan jenis izin yang akan diterapkan kepada setiap kegiatan usaha sangat jelas di atur baik itu dalam UU 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (UUPPLH) Pasal, 23 ayat (1) merupakan pengelolaan dan pemantauan terhadap Usaha dan/ atau Kegiatan yang tidak berdampak penting terhadap lingkungan hidup memiliki UKL-UPL. Begitu juga diatur dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. 05 tahun 2012 juga mengatur tentang kriteria kegiatan usaha yang wajib memiliki UKL-UPL juga ditegaskan dalam Peraturan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta No. 7 Tahun 2013 Tentang Usaha dan/atau Kegiatan Wajib Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Pemantauan Lingkungan Hidup dan Peratura Wali Kota Yogyakarta No. 6 Tahun 2016 Tentang Pedoman Tata cara Pengajuan Dokumen Lingkungan Hidup dan Izin Lingkungan sangatlah terperinci dimulai dari luas lahan dan nilai investasi dalam kegiatan usaha yang wajib UKL-UPL
  Beberapa kegiatan usaha yang lazim kita temui di hampir setiap sudut kota Yogyakarta banyak di temui seperti kos penginapan, laundy, ruko, café, catering, restoran / penyedia makanan. diatur dalam perwal No. 06 tahun 2016 Tentang Pedoman Tata cara Pengajuan Dokumen Lingkungan Hidup dan Izin Lingkungan, menentukan bahwa kriteria usaha yang wajib UKL/UPL ditentukan dengan luas bangunan dan besaran nilai investasi dalam setiap usaha seperti table berikut ini : Tabel 2. Kegiatan Usaha Yang Wajib UKL-UPL
  No Jenis usaha Skala usaha
  1 Tempat cuci mobil/motor Luas lahan minimal 1500 m2 ; dan/atau  Luas bangunan lebih dari atau sama dengan 300 m2 s/d kurang dari 10.000 m2
  
2 Laundry/Jasa Binatu, Luas bangunan lebih dari atau sama dengan 300 m2 s/d kurang dari 10.000 m2
  3 Bengkel sepeda Motor (KBLI 50403)  Investasi lebih dari atau sama dengan Rp 200 juta, tidak termasuk lahan dan bangunan; dan/atau  luas bangunan minimal 300 m2
  5 Rumah Toko (Ruko) :  Luas lahan lebih dari atau sama dengan 0,5 s/d kurang dari 5 ha  Luas bangunan lebih dari atau sama dengan 600 m2 s/d kurang dari 10.000 m2
  6 Cafe Semua Besaran
  7 Jasa boga/Catering  Kapasitas lebih dari atau sama dengan 1.000 Porsi/Hari  Luas lantai bangunan Lebih dari atau sama dengan 500 m2
  8 Restoran, Rumah makan  Jumlah kursi (tempat duduk) Lebih dari atau sama dengan 80 buah ; dan/atau  Luas lantai bangunan
lebih
  Pasal 1 butir (3) Undang-undang Pengelolaan dan Perlindungan Hidup (UUPPLH) Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup, yang selanjutnya disebut UKL-UPL, adalah pengelolaan dan pemantauan terhadap Usaha dan/ atau Kegiatan yang tidak berdampak penting terhadap lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan Usaha dan-atau Kegiatan usaha.
  Penyusunan formulir UKL-UPL adalah kegiatan pengisian formulir Upaya Kelola Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UKL-UPL yang dilakukan oleh Pemrakarsa.
  Dalam Pasal 3 Peraturan Wali Kota Yogyakarta menyebutkan bahwa tata cara pengajuan dokumen lingkungan hidup, diajukan oleh pemrakarsa, setelah itu dinas Pemrakarsa melakukan Penapisan untuk menentukan dokumen lingkungan hidup yang wajib dimiliki oleh Pemrakarsa sebagaimana tersebut dalam Pasal 2 setelah itu dinas Pemrakarsa melakukan penapisan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dengan mengisi ringkasan informasi awal atas rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan dilakukan, sebagaimana tercantum dalam Lampiran I yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Walikota SKPD menelaah penapisan sebagaimana dimaksud pada ayat
  (2) dan menentukan dokumen lingkungan hidup berpedoman pada: a.
  J

Dokumen baru

Aktifitas terkini

Download (207 Halaman)
RP. 20,000

Tags

Dokumen yang terkait

PENGARUH INVESTASI DAN JUMLAH UNIT USAHA TERHADAP PENYERAPAN TENAGA KERJA USAHA MIKRO KECIL DAN MENENGAH DI KOTA BATU
2
11
21
IMPLEMENTASI HORIZONTALISASI PEMASARAN PADA USAHA MIKRO KECIL MENENGAH (UMKM) BERBASIS ONLINE DAN OFFLINE DI KOTA BLITAR
0
2
18
ANALISIS FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENDAPATAN USAHA PADA USAHA MIKRO KECIL MENENGAH MAKANAN KECAMATAN TEMBALANG DI KOTA SEMARANG
2
36
10
KAJIAN STRATEGI PENGEMBANGAN USAHA MIKRO KECIL DAN MENENGAH (UMKM) DI KOTA TARAKAN
0
0
20
PELUANG USAHA KECIL MENENGAH DALAM MELAKUKAN INOVASI PRODUK RAMAH LINGKUNGAN
0
0
9
6 UPAYA PENCEGAHAN ATAS PENCEMARAN LINGKUNGAN
0
0
12
JENIS USAHA DANATAU KEGIATAN YANG WAJIB MEMILIKI UPAYA PENGELOLAAN LINGKUNGAN (UKL) DAN UPAYA PEMANTAUAN LINGKUNGAN (UPL) ATAU SURAT PERNYATAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN (SPPL) NO JENIS KEGIATAN SATUAN JENIS
0
0
12
UPAYA PENGELOLAAN LINGKUNGAN USAHA PETERNAKAN AYAM
0
0
8
PERAN PEMERINTAH DAERAH DAN PARTISIPASI PELAKU USAHA MIKRO KECIL MENENGAH (UMKM) DALAM UPAYA PENGEMBANGAN KERAJINAN KULIT DI KABUPATEN MAGETAN SKRIPSI
0
0
215
PERAN PEMERINTAH DAERAH DAN PARTISIPASI PELAKU USAHA MIKRO KECIL MENENGAH (UMKM) DALAM UPAYA PENGEMBANGAN KERAJINAN KULIT DI KABUPATEN MAGETAN
0
0
12
PEMBERDAYAAN USAHA KECIL MENENGAH (UKM) BINAAN DINAS PERDAGANGAN KOTA SURABAYA DALAM UPAYA MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN
0
0
8
PENGARUH KOMPETENSI SDM, LINGKUNGAN MAKRO DAN JEJARING USAHA TERHADAP KINERJA USAHA MIKRO KECIL DAN MENENGAH (UMKM) MAKANAN DI KECAMATAN KALINYAMATAN KABUPATEN JEPARA - STAIN Kudus Repository
0
0
9
PENGARUH KOMPETENSI SDM, LINGKUNGAN MAKRO DAN JEJARING USAHA TERHADAP KINERJA USAHA MIKRO KECIL DAN MENENGAH (UMKM) MAKANAN DI KECAMATAN KALINYAMATAN KABUPATEN JEPARA - STAIN Kudus Repository
0
0
47
PENGARUH KOMPETENSI SDM, LINGKUNGAN MAKRO DAN JEJARING USAHA TERHADAP KINERJA USAHA MIKRO KECIL DAN MENENGAH (UMKM) MAKANAN DI KECAMATAN KALINYAMATAN KABUPATEN JEPARA - STAIN Kudus Repository
0
0
13
PENGARUH KOMPETENSI SDM, LINGKUNGAN MAKRO DAN JEJARING USAHA TERHADAP KINERJA USAHA MIKRO KECIL DAN MENENGAH (UMKM) MAKANAN DI KECAMATAN KALINYAMATAN KABUPATEN JEPARA - STAIN Kudus Repository
0
0
30
Show more