Ketidaksantunan linguistik dan pragmatik dalam ranah keluarga petani di Kabupaten Bantul Yogyakarta.

Gratis

0
0
332
2 years ago
Preview
Full text

  

ABSTRAK

  Natalia, Clara Dhika Ninda. 2013. Ketidaksantunan Linguistik dan Pragmatik dalam Ranah Keluarga Petani di Kabupaten Bantul Yogyakarta.

  SKRIPSI. Yogyakarta: PBSI, JPBS, FKIP, USD.

  Penelitian ini membahas ketidaksantunan linguistik dan pragmatik dalam ranah keluarga petani di Kabupaten Bantul Yogyakarta. Tujuan penelitian ini adalah: (1) mendeskripsikan wujud-wujud ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, (2) mendeskripsikan penanda-penanda ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, serta (3) mendeskripsikan maksud yang mendasari orang menggunakan bentuk-bentuk kebahasaan yang tidak santun dalam ranah keluarga petani di Kabupaten Bantul, Yogyakarta.

  Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Data penelitian ini adalah berbagai macam cuplikan tuturan yang semuanya diambil secara natural dalam praktik-praktik perbincangan dalam ranah keluarga. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini meliputi, pertama metode simak dengan teknik rekam dan catat. Kedua, metode cakap dengan menggunakan teknik pancing. Kemudian, instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah pedoman wawancara (daftar pertanyaan, pancingan, dan daftar kasus) dan blangko pengamatan dengan bekal teori ketidaksantunan berbahasa. Dalam menganalisis data, peneliti menggunakan metode kontekstual, yakni dengan mendeskripsikan dimensi- dimensi konteks dalam menginterpretasi data yang telah berhasil diinventarisasi, diidentifikasi, dan diklasifikasi.

  Simpulan hasil penelitian ini adalah: (1) wujud ketidaksantunan linguistik yang ditemukan dalam interaksi antaranggota keluarga petani di Kabupaten Bantul, Yogyakarta berupa tuturan lisan tidak santun, yakni dalam kategori melanggar norma (subkategori menentang, menolak, kesal, marah), mengancam muka sepihak (subkategori menyindir, marah, memerintah, kecewa, menanyakan, mengancam, dan menegaskan), melecehkan muka (subkategori kesal, mengejek, menolak, menyindir, marah, menyarankan, dan menanyakan), menghilangkan muka (subkategori menyindir, mengejek, kesal, dan menegaskan), serta menimbulkan konflik (subkategori marah, kesal, menyepelekan, menyindir, dan menolak). Sementara itu, wujud ketidaksantunan pragmatik berkaitan dengan cara penutur ketika menyampaikan tuturan lisan tidak santun tersebut, (2) penanda ketidaksantunan linguistik dapat dilihat berdasarkan intonasi, tekanan, nada tutur, pilihan kata (diksi), dan penggunaan kata fatis. Adapun penanda ketidaksantunan pragmatik dilihat berdasarkan uraian konteks yang melingkupi tuturan, meliputi penutur dan lawan tutur, konteks tuturan, tujuan penutur, tuturan sebagai bentuk tindakan, dan tuturan sebagai produk tindak verbal, dan (3) maksud ketidaksantunan yang ditemukan antara lain maksud kesal, bercanda, memberi informasi, menolak, marah, protes, menyindir, menakut-nakuti, mengusir, menyimpulkan, menanyakan, memberi saran, merahasiakan, membela diri, memerintah, menagih, mengejek, dan meminta bantuan.

  

ABSTRACT

  Natalia, Clara Dhika Ninda. 2013. Impoliteness Language of Linguistics and

  Pragmatics in the domain of Farmer’s Family in Bantul Regency Yogyakarta. Thesis. Yogyakarta: PBSI, JPBS, FKIP, USD.

  This research discussed impoliteness language of linguistics and

  

pragmatics in farmer’s family in Bantul Regency Yogyakarta. This research

  aimed: (1) to describe the forms of impoliteness language of linguistics and pragmatics, (2) to describe the signs of impoliteness language of linguistics and pragmatics, and (3) to describe the intentions that provided the basis for the use of impoliteness’ forms in farmer’s family in Bantul Regency, Yogyakarta.

  Type of this reseach is descriptive qualitative. The data of this research is the various kinds of speech excerpts of which were taken naturally in conversation practices in family domain. The method is first, tapping method by record and note. Second, elicitation method by interview. Instruments that are used in this research are interview (question list, elicitation, and cases list) and observation form with impoliteness language theory. To analyze the data, this

  

research uses contextual method, by describing context’s dimensions in interpret

the data that are succesful being inventoryed, identified, and classified.

  Th

  e results in this research are: (1) the forms of linguistics’ impoliteness

  that are found in the interactions between

  members of family farmer’s in Bantul

  Regency, Yogyakarta are in the form of impolite oral speech, that in this category are break the norm (subcategory oppose, refuse, annoy, and angry), face-threaten (subcategory tease, angry, order, disappoint, ask, threaten, and insist), face- aggravate (subcategory annoy, mock, refuse, tease, angry, suggest, and ask), face- loss (subcategory tease, mock, annoying, and insist), as well as cause conflict

  

(subcategory angry, annoy, ignore, tease, and refuse). While, form of pragmatics’

  impoliteness related with the way the speakers speech impolite, (2) the signs of

  

linguistics’ impoliteness can be seen by intonations, stress, tone, diction, and

particles. While, the signs of pragmatics’ impoliteness can be seen by speech

  context covers speakers and receivers, context of situation, purpose of speech, verbal act, and perlocutionary act, as well as (3) impolitenes

  s’ intentions that is

  found such as annoying, just kidding, give informations, refuse, angry, protest, tease, frighten, expel, conclude, ask, give suggestion, keep secret, defend, order, demand fulfillment, mock, and asking for help.

  

KETIDAKSANTUNAN LINGUISTIK DAN PRAGMATIK

DALAM RANAH KELUARGA PETANI

DI KABUPATEN BANTUL YOGYAKARTA

SKRIPSI

  Diajukan untuk Memenuhi Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

  Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

  

Disusun oleh:

Clara Dhika Ninda Natalia

091224066

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA

  

JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

  

KETIDAKSANTUNAN LINGUISTIK DAN PRAGMATIK

DALAM RANAH KELUARGA PETANI

DI KABUPATEN BANTUL YOGYAKARTA

SKRIPSI

  Diajukan untuk Memenuhi Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

  Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

  

Disusun oleh:

Clara Dhika Ninda Natalia

091224066

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA

  

JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

  

SKRIPSI

KETIDAKSANTUNAN LINGUISTIK DAN PRAGMATIK DALAM RANAH KELUARGA PETANI DI KABUPATEN BANTUL YOGYAKARTA

  Disusun oleh: Clara Dhika Ninda Natalia

  091224066 Telah disetujui oleh:

  Dosen Pembimbing Dr. R. Kunjana Rahardi, M.Hum. Tanggal 3 Desember 2013

  SKRIPSI

KETIDAKSANTUNAN LINGUISTIK DAN PRAGMATIK

DALAM RANAH KELUARGA PETANI

DI KABUPATEN BANTUL YOGYAKARTA

  Dipersiapkan dan disusun oleh: Clara Dhika Ninda Natalia

  091224066 Telah dipertahankan di depan Panitia Penguji pada tanggal 17 Desember 2013 dan dinyatakan telah memenuhi syarat

  Susunan Panitia Penguji Nama Lengkap Tanda Tangan Ketua : Dr. Yuliana Setiyaningsih .................................

  Sekretaris : Rishe Purnama Dewi, S.Pd., M.Hum. ................................. Anggota 1 : Dr. R. Kunjana Rahardi, M.Hum. ................................. Anggota 2 : Prof. Dr. Pranowo, M.Pd. ................................. Anggota 3 : Rishe Purnama Dewi, S.Pd., M.Hum. .................................

  Yogyakarta, 17 Desember 2013 Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma Dekan,

  

“Karena masa depan sungguh ada dan harapanmu tidak akan hilang.”

(Amsal 23:18)

“Melangkah di bawah mentari yang sama. Mencari tempat kita di masa depan. Berjanji kita

tak akan putus asa, w alaupun semua tak kan mudah.” (Nidji

  

MOTTO

“Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. Terang itu bercahaya di dalam

kegelapan dan ke gelapan itu tidak menguasainya.”

(Yohanes 1:4-5)

  • – Di atas awan)

  

Persembahan

Kupersembahkan skripsi ini untuk: 1.

  Tuhan Yesus Kristus dan Bunda Maria yang selalu menjadi terang dan sumber ketenangan dalam setiap jengkal dan langkah hidupku.

  2. Kedua orang tuaku, Bapak Gregorius Sutamta dan Ibu Caecilia Dwi Ana Murtiningsih yang penuh cinta dan kasih sayang senantiasa membimbing, memberikan motivasi, arahan, nasihat, serta doa bagi penulis selama ini.

  3. Kekasihku, Yakobus Wijang Wijanarko yang dengan setia dan penuh cinta menemani juga memberi warna bagi perjalanan hidupku.

  4. Teman seperjuanganku, Valentina Tris Marwati, Katarina Yulita Simanulang, Catarina Erni Riyanti, dan Nuridang Fitra Nagara, terima kasih atas pengalaman dan kebersamaan kalian, lengkap dengan suka dan duka dalam penyusunan skripsi ini.

  5. Sahabat terbaik, Agnes Surianingtyas, Silvia Erawati, Dominika Restu Sekaringtyas, Kandi Antika Metasari, Indah Purnamasari, Wiwin Swandari, Roland Kadhafi, Cornelius Ardiyanto Wibowo, terima kasih atas persahabatan yang penuh cerita dan cinta selama ini.

  6. Teman dan sahabat PBSI, terima kasih telah memberi nuansa yang berbeda dalam perjalanan yang kutempuh.

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

  Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka sebagaimana layaknya karya ilmiah.

  Yogyakarta, 17 Desember 2013 Penulis Clara Dhika Ninda Natalia

  

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN

PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

  Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma: Nama : Clara Dhika Ninda Natalia Nomor Mahasiswa : 091224066

  Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul:

  

KETIDAKSANTUNAN LINGUISTIK DAN PRAGMATIK

DALAM RANAH KELUARGA PETANI

DI KABUPATEN BANTUL YOGYAKARTA

  beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di Internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis. Demikian pernyataan ini yang saya buat dengan sebenarnya. Dibuat di Yogyakarta Pada tanggal: 17 Desember 2013 Yang menyatakan (Clara Dhika Ninda Natalia)

  

ABSTRAK

  Natalia, Clara Dhika Ninda. 2013. Ketidaksantunan Linguistik dan Pragmatik dalam Ranah Keluarga Petani di Kabupaten Bantul Yogyakarta.

  SKRIPSI. Yogyakarta: PBSI, JPBS, FKIP, USD.

  Penelitian ini membahas ketidaksantunan linguistik dan pragmatik dalam ranah keluarga petani di Kabupaten Bantul Yogyakarta. Tujuan penelitian ini adalah: (1) mendeskripsikan wujud-wujud ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, (2) mendeskripsikan penanda-penanda ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, serta (3) mendeskripsikan maksud yang mendasari orang menggunakan bentuk-bentuk kebahasaan yang tidak santun dalam ranah keluarga petani di Kabupaten Bantul, Yogyakarta.

  Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Data penelitian ini adalah berbagai macam cuplikan tuturan yang semuanya diambil secara natural dalam praktik-praktik perbincangan dalam ranah keluarga. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini meliputi, pertama metode simak dengan teknik rekam dan catat. Kedua, metode cakap dengan menggunakan teknik pancing. Kemudian, instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah pedoman wawancara (daftar pertanyaan, pancingan, dan daftar kasus) dan blangko pengamatan dengan bekal teori ketidaksantunan berbahasa. Dalam menganalisis data, peneliti menggunakan metode kontekstual, yakni dengan mendeskripsikan dimensi- dimensi konteks dalam menginterpretasi data yang telah berhasil diinventarisasi, diidentifikasi, dan diklasifikasi.

  Simpulan hasil penelitian ini adalah: (1) wujud ketidaksantunan linguistik yang ditemukan dalam interaksi antaranggota keluarga petani di Kabupaten Bantul, Yogyakarta berupa tuturan lisan tidak santun, yakni dalam kategori melanggar norma (subkategori menentang, menolak, kesal, marah), mengancam muka sepihak (subkategori menyindir, marah, memerintah, kecewa, menanyakan, mengancam, dan menegaskan), melecehkan muka (subkategori kesal, mengejek, menolak, menyindir, marah, menyarankan, dan menanyakan), menghilangkan muka (subkategori menyindir, mengejek, kesal, dan menegaskan), serta menimbulkan konflik (subkategori marah, kesal, menyepelekan, menyindir, dan menolak). Sementara itu, wujud ketidaksantunan pragmatik berkaitan dengan cara penutur ketika menyampaikan tuturan lisan tidak santun tersebut, (2) penanda ketidaksantunan linguistik dapat dilihat berdasarkan intonasi, tekanan, nada tutur, pilihan kata (diksi), dan penggunaan kata fatis. Adapun penanda ketidaksantunan pragmatik dilihat berdasarkan uraian konteks yang melingkupi tuturan, meliputi penutur dan lawan tutur, konteks tuturan, tujuan penutur, tuturan sebagai bentuk tindakan, dan tuturan sebagai produk tindak verbal, dan (3) maksud ketidaksantunan yang ditemukan antara lain maksud kesal, bercanda, memberi informasi, menolak, marah, protes, menyindir, menakut-nakuti, mengusir, menyimpulkan, menanyakan, memberi saran, merahasiakan, membela diri, memerintah, menagih, mengejek, dan meminta bantuan.

  

ABSTRACT

  Natalia, Clara Dhika Ninda. 2013. Impoliteness of Linguistics and Pragmatics in the domain of Farmer’s Family in Bantul Regency Yogyakarta. Thesis.

  Yogyakarta: PBSI, JPBS, FKIP, USD. This research discussed impoliteness of linguistics and pragmatics in fa

  

rmer’s family in Bantul Regency Yogyakarta. This research aimed: (1) to

  describe the forms of impoliteness language of linguistics and pragmatics, (2) to describe the signs of impoliteness language of linguistics and pragmatics, and (3) to

  describe the intentions that provided the basis for the use of impoliteness’ forms in farmer’s family in Bantul Regency, Yogyakarta.

  Type of this reseach is descriptive qualitative. The data of this research is the various kinds of speech excerpts of which were taken naturally in conversation practices in family domain. The method is first, tapping method by record and note. Second, elicitation method by interview. Instruments that are used in this research are interview (question list, elicitation, and cases list) and observation form with impoliteness language theory. To analyze the data, this research uses conte xtual method, by describing context’s dimensions in interpret the data that are succesful being inventoryed, identified, and classified.

  The results in this research are: (1) the forms of linguistics’ impoliteness

  that are found in the interactions between

  members of family farmer’s in Bantul

  Regency, Yogyakarta are in the form of impolite oral speech, that in this category are break the norm (subcategory oppose, refuse, annoy, and angry), face-threaten (subcategory tease, angry, order, disappoint, ask, threaten, and insist), face- aggravate (subcategory annoy, mock, refuse, tease, angry, suggest, and ask), face- loss (subcategory tease, mock, annoying, and insist), as well as cause conflict (subcategory angry, annoy, ignore, tease, and refuse). While, form of

  pragmatics’

  impoliteness related with the way the speakers speech impolite, (2) the signs of

  

linguistics’ impoliteness can be seen by intonations, stress, tone, diction, and

particles. While, the signs of pragmatics’ impoliteness can be seen by speech

  context covers speakers and receivers, context of situation, purpose of speech,

  

verbal act, and perlocutionary act, as well as (3) impoliteness’ intentions that is

  found such as annoying, just kidding, give informations, refuse, angry, protest, tease, frighten, expel, conclude, ask, give suggestion, keep secret, defend, order, demand fulfillment, mock, and asking for help.

  

Kata Pengantar

  Puji dan syukur penulis sampaikan kepada Tuhan Yesus Kristus atas kasih dan karya-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul

  

Ketidaksantunan Linguistik dan Pragmatik dalam Ranah Keluarga Petani di

Kabupaten Bantul Yogyakarta dengan baik. Skripsi ini disusun sebagai salah satu

  syarat yang harus dipenuhi untuk menyelesaikan studi sesuai dengan kurikulum Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

  Penulis menyadari bahwa pelaksanaan dan penyusunan skripsi ini tidak lepas dari bantuan, bimbingan, dan doa dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada: 1.

  Rohandi, Ph.D., selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma.

  2. Caecilia Tutyandari, S.Pd., M.Pd., selaku Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

  3. Dr. Yuliana Setiyaningsih, selaku Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma.

  4. Rishe Purnama Dewi, S.Pd., M.Hum., selaku Wakil Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma.

  5. Dr. R. Kunjana Rahardi, M.Hum., selaku dosen pembimbing yang penuh pengertian dan kesabaran senantiasa memberi bimbingan, nasihat, motivasi, dan masukan yang sangat membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

  6. Seluruh dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia yang selalu mendukung, memberi pengalaman, dan pengarahan yang sangat berguna bagi perkembangan penulis selama proses perkuliahan.

  7. Sdr. Robertus Marsidiq, selaku staf sekretariat Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia yang selalu memberikan kemudahan bagi penulis dalam pelayanan administrasi selama penyusunan skripsi.

  8. Pemerintah Kabupaten Bantul yang telah memberikan izin penelitian kepada

  9. Bapak Gregorius Sutamta dan Ibu Caecilia Dwi Ana Murtiningsih, selaku orang tua penulis yang penuh kesetiaan, cinta, dan kasih sayangnya tulus memberikan motivasi, arahan, bimbingan, dan doa bagi penulis selama ini.

  10. Yakobus Wijang Wijanarko, yang dengan setia menemani dan memberi ketenangan hati bagi penulis selama ini.

  11. Teman seperjuangan, Valentina Tris Marwati, Katarina Yulita Simanulang, Catarina Erni Riyanti, dan Nuridang Fitra Nagara terima kasih atas kebersamaan, pengalaman, dan perjuangan yang penuh suka duka dalam penyusunan skripsi ini.

  12. Agatha Wahyu Wigati, Mikael Jati Kurniawan, Ambrosius Bambang Sumarwanto, Rosalina Anik Setyorini, Cicilia Verlit Warasinta, Yuli Astuti, Bernadetha Setya Febriyanti, Risa Ferina Setyorini, Ade Henta Hermawan, Yudha Hening Pinandhito, Ignatius Satrio Nugroho, dan semua sahabat PBSI angkatan 2009, terima kasih atas kebersamaan dan pengalaman yang penuh warna warni dalam berproses di Sanata Dharma.

  13. Warga Kabupaten Bantul yang bersedia menjadi sumber data dalam penelitian ini.

  14. Semua pihak yang telah membantu.

  Penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini masih jauh dari sempurna. Oleh sebab itu, penulis senantiasa mengharapkan kritik dan saran demi penyempurnaan di masa yang akan datang. Semoga skripsi ini dapat memberi manfaat bagi pembaca dan perkembangan ilmu pragmatik.

  Yogyakarta, 17 Desember 2013 Penulis

  Clara Dhika Ninda Natalia

  DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ........................................................................................................ i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ............................................................ ii HALAMAN PENGESAHAN ......................................................................................... iii HALAMAN MOTTO ..................................................................................................... iv HALAMAN PERSEMBAHAN ...................................................................................... v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA .......................................................................... vi

PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI .......................................................... vii

ABSTRAK ........................................................................................................................ viii

ABSTRACT ....................................................................................................................... ix KATA PENGANTAR ..................................................................................................... x

DAFTAR ISI ................................................................................................................... xii

DAFTAR BAGAN .......................................................................................................... xvii

DAFTAR TABEL ............................................................................................................ xviii

  BAB I PENDAHULUAN ................................................................................................ 1

  1.1 Latar Belakang Masalah ....................................................................................... 1

  1.2 Rumusan Masalah ................................................................................................ 5

  1.3 Tujuan Penelitian .................................................................................................. 6

  1.4 Manfaat Penelitian ................................................................................................ 7

  1.5 Batasan Istilah ..................................................................................................... 7

  1.6 Sistematika Penyajian ........................................................................................... 8

  

BAB II KAJIAN PUSTAKA .......................................................................................... 10

  2.1 Penelitian yang Relevan ....................................................................................... 10

  2.2 Pragmatik .............................................................................................................. 16

  2.3 Fenomena Pragmatik ............................................................................................ 17

  2.3.1 Praanggapan ............................................................................................... 18

  2.3.2 Tindak Tutur ............................................................................................... 18

  2.3.4 Deiksis ........................................................................................................ 21

  2.7.1 Intonasi ...................................................................................................... 52

  3.6 Sajian Hasil Analisis Data ..................................................................................... 64

  3.5 Metode dan Teknik Analisis Data ......................................................................... 62

  3.4 Instrumen Penelitian .............................................................................................. 61

  3.3 Metode dan Teknik Pengumpulan Data ................................................................ 60

  3.2 Data dan Sumber Data ........................................................................................... 59

  3.1 Jenis Penelitian ...................................................................................................... 58

  

BAB III METODE PENELITIAN ................................................................................. 58

  2.9 Kerangka Berpikir ................................................................................................. 56

  2.8 Teori Maksud ....................................................................................................... 54

  2.7.3 Nada .......................................................................................................... 53

  2.7.2 Tekanan ..................................................................................................... 53

  2.7 Unsur Suprasegmental ........................................................................................... 52

  2.3.5 Kesantunan Berbahasa ............................................................................... 22

  2.6.3 Kata Fatis .................................................................................................. 49

  2.6.2 Gaya Bahasa .............................................................................................. 49

  2.6.1 Diksi .......................................................................................................... 43

  2.6 Unsur Segmental .................................................................................................... 42

  2.5 Konteks .................................................................................................................. 33

  2.4.5 Teori Ketidaksantunan Berbahasa dalam Pandangan Bousfield ............... 31

  2.4.4 Teori Ketidaksantunan Berbahasa dalam Pandangan Culpeper ................ 30

  2.4.3 Teori Ketidaksantunan Berbahasa dalam Pandangan Locher ................... 28

  2.4.2 Teori Ketidaksantunan Berbahasa dalam Pandangan Terkourafi.............. 27

  2.4.1 Teori Ketidaksantunan Berbahasa dalam Pandangan Locher and Watts .......................................................................................................... 25

  2.4 Teori-teori Ketidaksantunan .................................................................................. 25

  2.3.6 Ketidaksantunan Berbahasa ....................................................................... 24

  3.7 Trianggulasi Data ................................................................................................. 64

  

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ............................................... 65

  4.2.2.3 Subkategori Memerintah .............................................................. 85

  4.2.3.7 Subkategori Menanyakan ............................................................. 108

  4.2.3.6 Subkategori Menyarankan ............................................................ 106

  4.2.3.5 Subkategori Marah ........................................................................ 103

  4.2.3.4 Subkategori Menyindir .................................................................. 101

  4.2.3.3 Subkategori Menolak ..................................................................... 98

  4.2.3.2 Subkategori Mengejek ................................................................... 96

  4.2.3.1 Subkategori Kesal .......................................................................... 93

  4.2.3 Kategori Ketidaksantunan Melecehkan Muka .......................................... 93

  4.2.2.7 Subkategori Menegaskan .............................................................. 92

  4.2.2.6 Subkategori Mengancam .............................................................. 90

  4.2.2.5 Subkategori Menanyakan ............................................................. 89

  4.2.2.4 Subkategori Kecewa ..................................................................... 88

  4.2.2.2 Subkategori Marah ........................................................................ 83

  4.1 Deskripsi Data ....................................................................................................... 65

  4.2.2.1 Subkategori Menyindir .................................................................. 81

  4.2.2 Kategori Ketidaksantunan Mengancam Muka Sepihak ............................ 81

  4.2.1.4 Subkategori Marah ....................................................................... 79

  4.2.1.3 Subkategori Kesal ......................................................................... 78

  4.2.1.2 Subkategori Menolak ..................................................................... 75

  4.2.1.1 Subkategori Menentang ................................................................. 73

  4.2.1 Kategori Ketidaksantunan Melanggar Norma ........................................... 73

  4.2 Analisis Data ....................................................................................................... 71

  4.1.5 Menimbulkan Konflik .................................................................................. 71

  4.1.4 Menghilangkan Muka ................................................................................... 70

  4.1.3 Melecehkan Muka ........................................................................................ 68

  4.1.2 Mengancam Muka Sepihak .......................................................................... 68

  4.1.1 Melanggar Norma ......................................................................................... 67

  4.2.4 Kategori Ketidaksantunan Menghilangkan Muka ..................................... 110

  4.2.4.2 Subkategori Mengejek .................................................................. 112

  4.3.2.1 Subkategori Menyindir .................................................................. 148

  4.3.3.5 Subkategori Marah ........................................................................ 185

  4.3.3.4 Subkategori Menyindir .................................................................. 182

  4.3.3.3 Subkategori Menolak ..................................................................... 178

  4.3.3.2 Subkategori Mengejek ................................................................... 174

  4.3.3.1 Subkategori Kesal .......................................................................... 170

  4.3.3 Kategori Ketidaksantunan Melecehkan Muka .......................................... 169

  4.3.2.7 Subkategori Menegaskan ............................................................... 166

  4.3.2.6 Subkategori Mengancam ............................................................... 164

  4.3.2.5 Subkategori Menanyakan .............................................................. 162

  4.3.2.4 Subkategori Kecewa ...................................................................... 160

  4.3.2.3 Subkategori Memerintah ............................................................... 157

  4.3.2.2 Subkategori Marah ........................................................................ 153

  4.3.2 Kategori Ketidaksantunan Mengancam Muka Sepihak ............................ 148

  4.2.4.3 Subkategori Kesal ......................................................................... 115

  4.3.1.4 Subkategori Marah ........................................................................ 145

  4.3.1.3 Subkatgeori Kesal .......................................................................... 142

  4.3.1.2 Subkategori Menolak ..................................................................... 137

  4.3.1.1 Subkategori Menentang ................................................................. 130

  4.3.1 Kategori Ketidaksantunan Melanggar Norma ........................................... 130

  4.3 Pembahasan ........................................................................................................ 129

  4.2.5.5 Subkategori Menolak .................................................................... 128

  4.2.5.4 Subkategori Menyindir ................................................................. 126

  4.2.5.3 Subkategori Menyepelekan ........................................................... 124

  4.2.5.2 Subkategori Kesal ......................................................................... 121

  4.2.5.1 Subkategori Marah ........................................................................ 119

  4.2.5 Kategori Ketidaksantunan Menimbulkan Konflik .................................... 119

  4.2.4.4 Subkategori Menegaskan .............................................................. 118

  4.3.3.6 Subkategori Menyarankan ............................................................. 189

  4.3.4 Kategori Ketidaksantunan Menghilangkan Muka ..................................... 194

  5.1.1 Wujud Ketidaksantunan ............................................................................ 227

  5.2.2 Bagi Penelitian Lanjutan ........................................................................... 233

  5.2.1 Bagi Keluarga ............................................................................................ 232

  5.2 Saran ................................................................................................................... 232

  5.1.3 Maksud Ketidaksantunan .......................................................................... 231

  5.1.2.5 Menimbulkan Konflik ................................................................... 230

  5.1.2.4 Menghilangkan Muka ................................................................... 229

  5.1.2.3 Melecehkan Muka ......................................................................... 229

  5.1.2.2 Mengancam Muka Sepihak ........................................................... 228

  5.1.2.1 Melanggar Norma ......................................................................... 228

  5.1.2 Penanda Ketidaksantunan .......................................................................... 227

  5.1 Simpulan ............................................................................................................. 227

  4.3.4.1 Subkategori Menyindir .................................................................. 195

  

BAB V PENUTUP ........................................................................................................... 227

  4.3.5.5 Subkategori Menolak ..................................................................... 223

  4.3.5.4 Subkategori Menyindir .................................................................. 220

  4.3.5.3 Subkategori Menyepelekan ........................................................... 217

  4.3.5.2 Subkategori Kesal ......................................................................... 213

  4.3.5.1 Subkategori Marah ........................................................................ 209

  4.3.5 Kategori Ketidaksantunan Menimbulkan Konflik .................................... 209

  4.3.4.4 Subkategori Menegaskan ............................................................... 206

  4.3.4.3 Subkategori Kesal .......................................................................... 203

  4.3.4.2 Subkategori Mengejek ................................................................... 199

  

DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................................... 234

LAMPIRAN ..................................................................................................................... 236

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

  

DAFTAR BAGAN

  Bagan Kerangka Berpikir ................................................................................................. 56

  

DAFTAR TABEL

  Tabel 1 Jumlah Data Tuturan berdasarkan Kategori Ketidaksantunan......................... 65 Tabel 2 Persentase Jumlah Data Tuturan berdasarkan Subkategori Ketidaksantunan.... 66 Tabel 3 Data Tuturan Melanggar Norma....................................................................... 67 Tabel 4 Data Tuturan Mengancam Muka Sepihak......................................................... 68 Tabel 5 Data Tuturan Melecehkan Muka....................................................................... 69 Tabel 6 Data Tuturan Menghilangkan Muka................................................................. 70 Tabel 7 Data Tuturan Menimbulkan Konflik................................................................. 71

BAB I PENDAHULUAN Bab ini berisi uraian tentang latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, batasan istilah, dan sistematika penyajian.

1.1 Latar Belakang Masalah

  Manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri tanpa orang lain. Sebagai makhluk sosial, manusia tentu saling berinteraksi satu sama lain. Manusia dapat berinteraksi dan berkomunikasi dengan menggunakan bahasa. Secara sederhana, bahasa dapat diartikan sebagai alat untuk menyampaikan sesuatu yang terlintas dalam hati. Namun, lebih jauh lagi bahasa merupakan alat untuk berinteraksi atau berkomunikasi, dalam arti alat untuk menyampaikan gagasan, pikiran, konsep atau perasaan. Chaer (2011:1) mendefinisikan bahasa sebagai suatu sistem lambang berupa bunyi, bersifat arbitrer, digunakan oleh suatu masyarakat tutur untuk bekerja sama, berkomunikasi, dan mengidentifikasi diri.

  Ilmu yang mengkaji dan menjelaskan tentang bahasa disebut linguistik. Perkembangan linguistik sangat pesat. Kajian tentang bahasa tidak hanya meliputi satu aspek saja. Pada dasarnya linguistik mempunyai dua bidang besar yaitu mikrolinguistik dan makrolinguistik (Nikelas, 1988:14). Mikrolinguistik adalah bidang yang mengkaji bahasa dari struktur dalam bahasa tersebut, sedangkan makrolinguistik mempelajari bahasa dalam hubungannya dengan faktor-faktor di luar bahasa. Ilmu linguistik tersebut menjadi dasar bagi ilmu-ilmu yang lain, seperti kesusastraan, filologi, pengajaran bahasa, penterjemahan, dan sebagainya.

  Linguistik ditinjau dari faktor-faktor di luar bahasa memiliki beberapa cabang. Salah satunya yaitu ilmu pragmatik. Pragmatik merupakan ilmu yang mempelajari penggunaan bahasa sesuai konteks situasi tuturan. Rahardi (2003:16) mengemukakan bahwa ilmu pragmatik sesungguhnya mengkaji maksud penutur di dalam konteks situasi dan lingkungan sosial-budaya tertentu. Pragmatik mengkaji satuan lingual tertentu secara eksternal. Makna yang dikaji dalam pragmatik bersifat terikat konteks dan bertujuan untuk memahami maksud penutur. Sejalan dengan pengertian tersebut, banyak hal menarik untuk dikaji lebih mendalam, khususnya berkaitan dengan bidang kajian pragmatik yaitu kesantunan dan ketidaksantunan berbahasa.

  Berbahasa itu sendiri terdiri dari dua bentuk, yaitu bahasa lisan dan bahasa tulis. Bahasa lisan atau yang sering diucapkan dianggap utama di dalam bahasa karena lambang yang digunakan berupa bunyi. Fungsi bahasa yang terutama adalah sebagai alat untuk bekerja sama atau berkomunikasi di dalam kehidupan bermasyarakat (Chaer, 2011:2). Oleh karena itu, dapat dipahami bahwa setiap individu menggunakan bahasa dengan tujuan tertentu. Salah satunya untuk menyampaikan maksud kepada orang lain.

  Masyarakat Indonesia yang terdiri dari berbagai suku, budaya, adat istiadat, agama, latar belakang sosial, dan profesi yang beragam, sudah tentu memiliki kemampuan dan karakteristik yang berbeda pula ketika berkomunikasi. Ada yang mampu bertutur kata secara halus dengan maksud yang jelas sehingga membuat orang lain berkenan. Namun, tidak sedikit yang kurang memperhatikan

  Menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar saja belum cukup ketika seseorang berkomunikasi. Masih ada satu kaidah lagi yang perlu diperhatikan yaitu kesantunan. Struktur bahasa yang santun adalah struktur bahasa yang disusun oleh penutur/penulis agar tidak menyinggung perasaan pendengar atau pembaca (Pranowo, 2009:4). Selain bahasa yang santun, dibutuhkan pula mimik, gerak-gerik tubuh, sikap atau perilaku untuk mendukung pengungkapan kepribadian seseorang. Kesantunan berbahasa adalah bidang kajian pragmatik yang sudah banyak diteliti dan dikaji secara mendalam oleh para peneliti.

  Kesantunan berbahasa berkaitan dengan penggunaan bahasa yang baik agar tidak menyinggung perasaan orang lain. Sementara itu, ketidaksantunan berbahasa merupakan kajian pragmatik baru yang dipahami sebagai penggunaan bahasa yang tidak baik dan seringkali menyinggung perasaan orang lain. Fenomena pragmatik yang tidak dikaji secara mendalam, tentu tidak akan bermanfaat banyak bagi perkembangan ilmu bahasa, khususnya pragmatik.

  Ketidaksantunan berbahasa dapat dikaji dalam berbagai ranah, yaitu pendidikan, keluarga, dan agama. Ranah keluarga merupakan salah satu bidang kajian yang menarik untuk diteliti, karena kemampuan berbahasa seseorang tentu berawal dari kebiasaan berbahasa di dalam keluarganya. Sebagaimana sudah dipaparkan sebelumnya bahwa setiap individu memiliki kemampuan dan karakteristik tersendiri ketika berkomunikasi. Oleh karena itu, kebahasaan yang mereka gunakan tentu akan berbeda.

  Strata sosial dalam masyarakat turut mempengaruhi kebahasaan ketika masyarakat (Bungin, 2006:49). Secara umum, strata sosial dalam masyarakat memunculkan kelas-kelas sosial yang terbagi menjadi tiga tingkatan, yaitu atas (upper class), menengah (middle class), dan bawah (lower class). Kelas atas mewakili kelompok elite di masyarakat yang jumlahnya sangat terbatas. Kelas menengah mewakili kelompok profesional, kelompok pekerja, wiraswastawan, pedagang, dan kelompok fungsional lainnya. Kelas bawah mewakili kelompok pekerja kasar, buruh harian, buruh lepas, dan semacamnya (Bungin, 2006:49-50). Keluarga yang memiliki status sosial lebih tinggi cenderung memiliki kemampuan berkomunikasi yang lebih baik daripada keluarga dengan status sosial rendah.

  Selain strata sosial yang ada dalam masyarakat, perkembangan zaman sudah tentu turut mempengaruhi kebahasaan seseorang ketika berkomunikasi.

  Terlebih ketika profesi tertentu mengakibatkan sifat individualis semakin menjamur di kalangan masyarakat. Harapan untuk dapat berbahasa secara santun nampaknya akan sulit terwujud jika bertegur sapa saja menjadi aktivitas yang langka dijumpai dalam masyarakat individualis. Fenomena kebahasaan yang terjadi dalam setiap keluarga tentu berbeda-beda. Fenomena kebahasaan dalam keluarga petani yang sebagian besar masih hidup dalam kesederhanaan dan tinggal di wilayah yang jauh dari keramaian kota tentu berbeda jika dibandingkan dengan kebahasaan dalam komunikasi keluarga di lingkungan kraton, keluarga pendidik, keluarga pedagang, dan lainnya.

  Petani merupakan salah satu mata pencaharian yang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk bercocok tanam di sawah atau ladang. Ketika antara petani yang satu dengan petani yang lain. Mereka akan saling bertegur sapa, membantu menggarap sawah, melakukan perbincangan, bahkan bergurau.

  Kebahasaan dalam komunikasi yang terjadi mungkin ditandai dengan suara yang keras, penggunaan bahasa daerah yang masih khas, dan percakapan yang akrab atau terdengar ramah. Oleh karena keakraban yang terjalin setiap kali beraktivitas, memungkinkan timbulnya bentuk-bentuk ketidaksantunan dalam berbahasa.

  Penggunaan bahasa demikian dengan sendirinya akan terbawa dalam komunikasi di dalam keluarga masing-masing.

  Kabupaten Bantul adalah salah satu kabupaten dari lima kabupaten di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Kabupaten Bantul merupakan kawasan yang identik dengan persawahan. Letak geografis yang demikian tentu menandakan bahwa sebagian besar masyarakatnya bermata pencaharian sebagai petani, baik sebagai pemilik sawah itu sendiri maupun petani sebagai penggarap sawah milik orang lain. Oleh karena itu, Kabupaten Bantul menjadi daya tarik tersendiri bagi peneliti untuk mengkaji lebih dalam bagaimana ketidaksantunan linguistik dan pragmatik dalam ranah keluarga petani. Bertolak dari latar belakang masalah di atas, peneliti tertarik untuk mengkaji ketidaksantunan linguistik dan pragmatik dalam ranah keluarga petani di Kabupaten Bantul, Yogyakarta.

1.2 Rumusan Masalah

  Berdasarkan latar belakang masalah di atas, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

  1)

  Wujud ketidaksantunan linguistik dan pragmatik apa sajakah yang

  terdapat dalam ranah keluarga petani di Kabupaten Bantul, Yogyakarta? 2)

  Penanda ketidaksantunan linguistik dan pragmatik apa sajakah yang

  digunakan dalam ranah keluarga petani di Kabupaten Bantul, Yogyakarta?

  3)

  Maksud apa sajakah yang mendasari orang menggunakan bentuk-bentuk

  kebahasaan yang tidak santun dalam ranah keluarga petani di Kabupaten Bantul, Yogyakarta?

1.3 Tujuan Penelitian

  Berdasarkan rumusan masalah di atas, yang menjadi tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut.

  1)

  Mendeskripsikan wujud-wujud ketidaksantunan linguistik dan pragmatik dalam ranah keluarga petani di Kabupaten Bantul, Yogyakarta.

  2)

  Mendeskripsikan penanda-penanda ketidaksantunan linguistik dan

  pragmatik dalam ranah keluarga petani di Kabupaten Bantul, Yogyakarta.

  3)

  Mendeskripsikan maksud yang mendasari orang menggunakan bentuk-

  bentuk kebahasaan yang tidak santun dalam ranah keluarga petani di Kabupaten Bantul, Yogyakarta.

  1.4 Manfaat Penelitian

  Penelitian ini dapat digunakan oleh para penutur dalam ranah

  2)

  Ketidaksantunan berbahasa Struktur bahasa penutur yang tidak berkenan di hati mitra tutur.

  1)

  1.5 Batasan Istilah

  dalam lingkup keluarga yang merupakan salah satu faktor penting yang berpengaruh bagi pembentukan karakter bangsa.

  Penelitian ini diharapkan dapat memperkuat pendidikan karakter

  b)

  keluarga untuk mempertimbangkan bentuk-bentuk ketidaksantunan berbahasa yang harus dihindari dalam berkomunikasi.

  a)

  Penelitian ini diharapkan dapat memberikan hasil dan manfaat bagi berbagai pihak. Manfaat-manfaat tersebut antara lain sebagai berikut.

  Manfaat praktis

  2)

  memperluas kajian dan memperkaya khasanah teoretis tentang ketidaksantunan dalam bahasa sebagai fenomena pragmatik baru.

  Berbagai kajian teori yang digunakan dalam penelitian ini dapat

  b)

  Penelitian ini dapat memberikan sumbangan bagi perkembangan ilmu bahasa, khususnya pragmatik di Prodi PBSI.

  a)

  Manfaat teoretis

  1)

  Linguistik Ilmu tentang bahasa; telaah bahasa secara ilmiah (Depdiknas, 2008:832).

  3)

  Pragmatik

  Ilmu pragmatik adalah ilmu yang mengkaji maksud penutur di dalam konteks situasi dan lingkungan sosial-budaya tertentu (Rahardi, 2003:16).

  4)

  Ketidaksantunan linguistik

  Ketidaksantunan berbahasa yang dikaji dari aspek linguistik suatu tuturan.

  5)

  Ketidaksantunan pragmatik

  Ketidaksantunan berbahasa yang dikaji dari konteks situasi yang menyertai suatu tuturan.

  6)

  Keluarga

  Ibu dan bapak beserta anak-anaknya; orang seisi rumah yang menjadi tanggungan; satuan kekerabatan yang sangat mendasar dalam masyarakat (Depdiknas, 2008:659). 7)

  Petani Orang yang pekerjaannya bercocok tanam (Depdiknas, 2008:1400).

  8)

  Keluarga Petani

  Satuan kekerabatan terkecil dalam masyarakat yang pekerjaannya bercocok tanam.

1.6 Sistematika Penyajian

  Penelitian yang mengkaji ketidaksantunan linguistik dan pragmatik ini terdiri dari lima bab. Bab I merupakan bab pendahuluan yang berisi latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, batasan istilah, dan sistematika penyajian.

  Bab II berisi kajian pustaka yang digunakan untuk menganalisis dan membahas masalah-masalah yang diteliti, yaitu tentang ketidaksantunan berbahasa. Teori-teori yang dikemukakan dalam Bab II ini adalah teori tentang (1) penelitian-penelitian yang relevan, (2) teori pragmatik, (3) fenomena pragmatik, (4) teori ketidaksantunan, (5) teori mengenai konteks, (6) unsur segmental, (7) unsur suprasegmental, (8) teori maksud, dan (9) kerangka berpikir.

  Bab III adalah metode penelitian yang memuat tentang cara dan prosedur yang digunakan oleh peneliti untuk memperoleh data. Dalam Bab III diuraikan (1) jenis penelitian, (2) data dan sumber data, (3) metode dan teknik pengumpulan data, (4) instrumen penelitian, (5) metode dan teknik analisis data, (6) sajian hasil analisis data, dan (7) trianggulasi data.

  Bab IV berisi uraian tentang (1) deskripsi data, (2) analisis data, dan (3) pembahasan hasil penelitian. Lebih lanjut lagi pada Bab V yang berisi kesimpulan penelitian dan saran untuk penelitian selanjutnya berkaitan dengan penelitian ketidaksantunan berbahasa.

BAB II KAJIAN PUSTAKA Bab ini berisi uraian tentang penelitian yang relevan, landasan teori, dan

  kerangka berpikir. Penelitian yang relevan berisi tinjauan terhadap topik-topik sejenis yang dilakukan oleh peneliti-peneliti lain. Landasan teori berisi teori-teori yang digunakan sebagai landasan analisis dari penelitian ini yang terdiri atas teori pragmatik, fenomena pragmatik, teori ketidaksantunan berbahasa, konteks, unsur segmental, unsur suprasegmental, dan teori maksud. Kerangka berpikir berisi tentang acuan teori yang digunakan dalam penelitian ini dengan berpijak pada penelitian terdahulu yang relevan dan digunakan untuk menjawab rumusan masalah.

2.1 Penelitian yang Relevan

  Penelitian mengenai ketidaksantunan berbahasa merupakan kajian pragmatik baru yang belum banyak diteliti dan dikaji oleh para peneliti bahasa.

  Oleh karena itu, penelitian pragmatik yang mengkaji ketidaksantunan berbahasa masih sangat terbatas. Sebaliknya, untuk penelitian pragmatik yang mengkaji tentang kesantunan berbahasa sudah banyak ditemukan oleh para peneliti. Pada penelitian ini, peneliti mencantumkan beberapa penelitian ketidaksantunan berbahasa sebagai penelitian yang relevan. Penelitian-penelitian tentang ketidaksantunan berbahasa tersebut antara lain penelitian yang dilakukan oleh Elizabeth Rita Yuliastuti (2013), Caecilia Petra Gading May Widyawari (2013), Olivia Melissa Puspitarini (2013), dan Agustina Galuh Eka Noviyanti (2013).

  Penelitian yang dilakukan oleh Elizabeth Rita Yuliastuti (2013) berjudul

  

Ketidaksantunan Linguistik dan Pragmatik Berbahasa antara Guru dan Siswa di

SMA Stella Duce 2 Yogyakarta Tahun Ajaran 2012/2013. Penelitian ini

  merupakan kajian yang membahas wujud ketidaksantunan linguistik dan pragmatik berbahasa antara guru dan siswa di SMA Stella Duce 2 Yogyakarta Tahun Ajaran 2012/2013. Selain itu, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan wujud ketidaksantunan linguistik dan pragmatik berbahasa, mendeskripsikan penanda ketidaksantunan linguistik dan pragmatik berbahasa, dan mendeskripsikan makna ketidaksantunan berbahasa yang digunakan oleh guru maupun siswa di SMA Stella Duce 2 Yogyakarta. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif kualitatif. Pengumpulan data diperoleh dengan menggunakan metode simak dan metode cakap. Data dalam penelitian ini adalah tuturan-tuturan lisan yang tidak santun antara guru dan siswa. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode analisis kontekstual. Adapun hasil dari penelitian ini adalah

  

pertama, wujud ketidaksantunan linguistik dapat dilihat berdasarkan tuturan lisan

  yang tidak santun antara guru dan siswa yang berupa tuturan melecehkan muka, memain-mainkan muka, kesembronoan, mengancam muka, dan menghilangkan muka, sedangkan wujud ketidaksantunan pragmatik dapat dilihat berdasarkan uraian konteks berupa penutur, mitra tutur, tujuan tutur, situasi, suasana, tindak verbal, dan tindak perlokusi yang menyertai tuturan tersebut. Kedua, penanda ketidaksantunan linguistik dapat dilihat berdasarkan nada, tekanan, intonasi, dan diksi, serta penanda ketidaksantunan pragmatik dapat dilihat berdasarkan konteks tindak verbal, dan tindak perlokusi. Ketiga, makna ketidaksantunan (1) melecehkan muka yakni hinaan dan ejekan dari penutur kepada mitra tutur hingga melukai hati mitra tutur, (2) memain-mainkan muka yakni tuturan yang membuat bingung mitra tutur sehingga mitra tutur menjadi jengkel karena sikap penutur yang tidak seperti biasanya, (3) kesembronoan yang disengaja yakni penutur bercanda kepada mitra tutur sehingga mitra tutur terhibur, tetapi candaan tersebut dapat menimbulkan konflik, (4) mengancam muka yakni penutur memberikan ancaman kepada mitra tutur sehingga mitra tutur merasa terpojokkan, dan (5) menghilangkan muka yakni penutur mempermalukan mitra tutur di depan banyak orang.

  Penelitian serupa juga dilakukan oleh Caecilia Petra Gading May Widyawari (2013) yang berjudul Ketidaksantunan Linguistik dan Pragmatik

  Berbahasa Antarmahasiswa Program Studi PBSID Angkatan 2009 —2011

  

Universitas Sanata Dharma. Penelitian ini membahas ketidaksantunan linguistik

  dan pragmatik berbahasa yang dituturkan antarmahasiswa Program Studi PBSID Angkatan 2009

  —2011 di Universitas Sanata Dharma. Sumber data penelitian ini adalah mahasiswa PBSID angkatan 2009 —2011 di Universitas Sanata Dharma.

  Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif kualitatif. Tujuan penelitian ini adalah: (1) mendeskripsikan wujud ketidaksantunan linguistik dan pragmatik berbahasa, (2) mendeskripsikan penanda ketidaksantunan linguistik dan pragmatik berbahasa, dan (3) mendeskripsikan makna ketidaksantunan berbahasa yang digunakan antarmahasiswa PBSID Angkatan 2009 —2011 di Universitas Sanata pertanyaan pancingan, dan pernyataan kasus. Metode pengumpulan data yakni,

  

pertama metode simak dengan teknik dasar berupa teknik sadap dan teknik

  lanjutan berupa teknik simak libat cakap dan teknik cakap, kedua metode cakap dengan teknik dasar berupa teknik pancing dan dua teknik lanjutan berupa teknik lanjutan cakap semuka dan tansemuka. Beberapa teknik tersebut diwujudkan dengan cara menginventarisasi, mengidentifikasi, dan mengklasifikasi. Simpulan hasil penelitian ini tidak jauh berbeda dengan simpulan hasil penelitian Elizabeth Rita Yuliastuti (2013), yakni (1) wujud ketidaksantunan linguistik dapat dilihat dari tuturan antarmahasiswa yang terdiri dari melecehkan muka, sembrono, mengancam muka, dan menghilangkan muka. Lalu wujud ketidaksantunan pragmatik dapat dilihat berdasarkan konteks (penutur, mitra tutur, situasi, suasana, tindak verbal, tindak perlokusi dan tujuan tutur), (2) penanda ketidaksantunan linguistik yang ditemukan berupa nada, tekanan, intonasi, dan diksi. Penanda ketidaksantunan pragmatik dapat dilihat berdasarkan konteks tuturan yang berupa penutur dan mitra tutur, situasi dan suasana, tindak verbal, tindak perlokusi, dan tujuan tutur, dan (3) makna ketidaksantunan berbahasa yaitu: a) melecehkan muka, ejekan penutur kepada mitra tutur dan dapat melukai hati, b) memain- mainkan muka, membingungkan mitra tutur dan itu menjengkelkan, c) kesembronoan, bercanda yang menyebabkan konflik, d) menghilangkan muka, mempermalukan mitra tutur di depan banyak orang, dan e) mengancam muka, menyebabkan ancaman pada mitra tutur.

  Peneliti berikutnya yang mengkaji tentang ketidaksantunan berbahasa

  

dan Pragmatik Berbahasa antara Dosen dan Mahasiswa Program Studi PBSID,

FKIP, USD, Angkatan 2009 —2011. Penelitian ini membahas ketidaksantunan

  linguistik dan pragmatik antara dosen dan mahasiswa Program Studi PBSID, USD, angkatan 2009

  —2011. Jenis penelitian yang dilakukan oleh Olivia Melissa

  Puspitarini (2013) ini serupa dengan penelitian sebelumnya, yaitu deskriptif kualitatif. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode simak dan metode cakap dengan instrumen berupa panduan wawancara, daftar pertanyaan pancingan, dan daftar kasus. Analisis data dilakukan dengan analisis kontekstual. Hasil dari penelitian ini juga serupa dengan penelitian sebelumnya, yakni pertama, wujud ketidaksantunan linguistik berdasarkan tuturan lisan dan wujud ketidaksantunan pragmatik berbahasa yaitu uraian konteks tuturan tersebut.

  

Kedua, penanda ketidaksantunan linguistik yaitu nada, intonasi, tekanan, dan

  diksi, serta penanda pragmatik yaitu konteks yang menyertai tuturan yakni penutur, mitra tutur, situasi, dan suasana. Ketiga, makna ketidaksantunan linguistik dan pragmatik berbahasa meliputi 1) melecehkan muka yakni penutur menyindir atau mengejek mitra tutur, 2) memainkan muka yakni penutur membuat jengkel dan bingung mitra tutur, 3) kesembronoan yang disengaja yakni penutur bercanda kepada mitra tutur dan mitra tutur terhibur namun candaan tersebut dapat menimbulkan konflik bila candaan tersebut ditanggapi secara berlebihan, 4) menghilangkan muka yakni penutur mempermalukan mitra tutur di depan banyak orang, dan 5) mengancam muka yakni penutur memberikan ancaman atau tekanan kepada mitra tutur yang menyebabkan mitra tutur terpojok.

  Agustina Galuh Eka Noviyanti (2013) juga melakukan penelitian tentang ketidaksantunan berbahasa dengan judul Ketidaksantunan Linguistik dan

  

Pragmatik Berbahasa Antarsiswa di SMA Stella Duce 2 Yogyakarta Tahun

Ajaran 2012/2013. Jenis penelitian yang dilakukan oleh Agustina Galuh Eka

  Noviyanti (2013) ini serupa dengan ketiga penelitian sebelumnya, yaitu penelitian deskriptif kualitatif. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode simak dan metode cakap dengan teknik sadap dan teknik pancing, dengan instrumen berupa pedoman atau panduan wawancara (daftar pertanyaan), pancingan, daftar kasus, dan peneliti sendiri. Data dalam penelitian ini dianalisis dengan menggunakan metode kontekstual. Penelitian ini menjawab tiga masalah tentang (a) wujud ketidaksantunan linguistik dan pragmatik berbahasa apa saja yang digunakan oleh antarsiswa di SMA Stella Duce 2 Yogyakarta, (b) penanda ketidaksantunan linguistik dan pragmatik berbahasa apa saja yang digunakan antarsiswa di SMA Stella Duce 2 Yogyakarta, dan (c) apakah makna penanda ketidaksantunan linguistik dan pragmatik berbahasa yang digunakan antarsiswa di SMA Stella Duce 2 Yogyakarta.

  Beberapa penelitian di atas merupakan penelitian yang mengkaji tentang ketidaksantunan berbahasa. Hasil dari penelitian tersebut mendeskripsikan wujud, penanda, dan makna ketidaksantunan linguistik dan pragmatik berbahasa. Keempat penelitian di atas dapat dijadikan acuan dan pijakan dalam mengkaji fenomena pragmatik baru, yaitu ketidaksantunan berbahasa yang memang belum banyak dikaji oleh para peneliti bahasa.

2.2 Pragmatik

  Pragmatik sebagai sebuah ilmu bahasa memiliki peranan yang besar dalam penggunaan bahasa pada masyarakat. Secara singkat telah dipaparkan pada bagian awal bahwa pragmatik merupakan ilmu yang mempelajari penggunaan bahasa sesuai konteks. Selain memahami maksud yang disampaikan oleh orang lain, seseorang juga harus melibatkan kepekaannya dalam memahami situasi dan kondisi lawan tutur. Hal tersebut perlu diperhatikan agar tidak terjadi kesalahpahaman dalam sebuah percakapan.

  Yule (1996) dalam bukunya Pragmatics yang diterjemahkan oleh Wahyuni (2006:3-4) dengan judul Pragmatik memaparkan empat ruang lingkup pragmatik sebagai berikut. Pertama, pragmatik adalah studi tentang maksud penutur. Kedua, pragmatik adalah studi tentang makna kontekstual. Ketiga, pragmatik adalah studi tentang bagaimana agar lebih banyak yang disampaikan daripada yang dituturkan. Terakhir, pragmatik adalah studi tentang ungkapan dari jarak hubungan.

  Definisi lain dipaparkan oleh Levinson (1983) via Nadar (2009:4) tentang pragmatik adalah kajian hubungan antara bahasa dan konteks yang tergramatikalisasi atau terkodifikasi dalam struktur bahasa. Jacob L. Mey (1983) via Rahardi (2003:15) juga mendefinisikan pragmatik sebagai berikut.

  

Pragmatics is the study of the conditions of human language uses as these are

determined by the context of society

  ’. Sesungguhnya, pragmatik adalah ilmu

  bahasa yang mempelajari pemakaian atau penggunaan bahasa yang pada dasarnya selalu ditentukan oleh konteks situasi tutur di dalam masyarakat dan kebudayaan yang melatarbelakanginya.

  Pemahaman tentang pragmatik lainnya juga dikemukakan oleh Huang (2007:2) sebagai berikut

  ‘Pragmatics is the systematic study of meaning by virtue

of, or dependent on, the use of language. The central topics of inquiry of

pragmatics include implicature, presupposition, speech acts, and deixis’. Jadi,

  pragmatik adalah studi sistematis makna berdasarkan atau yang tergantung pada penggunaan bahasa. Topik utama penyelidikan pragmatik meliputi implikatur, presuposisi, tindak tutur, dan deiksis. Selain itu, dijelaskan pula

  ‘Pragmatics is the

study of linguistic acts and the contexts in which they are performed’ (Huang,

  2007:2) yang dapat dipahami bahwa pragmatik adalah ilmu yang mempelajari tentang perilaku linguistik dan konteksnya ketika keduanya digunakan.

  Berdasarkan beberapa definisi di atas, dapat dipahami bahwa pragmatik adalah ilmu yang mengkaji pengguaan bahasa sesuai dengan konteks situasi yang melatarbelakangi bahasa tersebut. Pragmatik adalah studi tentang maksud dan makna yang disampaikan oleh penutur dengan melihat situasi dan kondisi terjadinya tuturan. Hal tersebut perlu diperhatikan agar tidak terjadi kesalahpahaman dalam sebuah komunikasi. Dapat dikatakan pula bahwa pragmatik bersifat terikat konteks.

2.3 Fenomena Pragmatik

  Pragmatik sebagai ilmu yang mempelajari penggunaan bahasa sesuai dengan konteks situasi, mengkaji enam fenomena pragmatik, yaitu praanggapan, tindak tutur, implikatur, deiksis, kesantunan, dan ketidaksantunan. Fenomena- fenomena pragmatik tersebut akan dipaparkan sebagai berikut.

  2.3.1 Praanggapan

  Penyampaian pesan dari seseorang kepada orang yang lain tentu dilakukan melalui komunikasi. Ketika terjadi sebuah komunikasi, seringkali seorang penutur menganggap informasi tertentu sudah diketahui oleh mitra tuturnya. Oleh karena informasi tertentu itu dianggap sudah diketahui, informasi yang demikian biasanya tidak akan dinyatakan dan akibatnya akan menjadi bagian dari apa yang disampaikan tetapi tidak dikatakan.

  Presupposisi adalah sesuatu yang diasumsikan oleh penutur sebagai kejadian sebelum menghasilkan suatu tuturan (Yule, 2006:43-52). Yule membagi presupposisi menjadi 6 jenis yaitu, presupposisi eksistensial, presupposisi faktif, presupposisi non-faktif, presupposisi leksikal, presupposisi struktural, dan presupposisi konterfaktual.

  2.3.2 Tindak Tutur

  Melalui sebuah tuturan, seseorang tidak hanya menghasilkan tuturan yang mengandung kata-kata saja, tetapi juga dapat memperlihatkan tindakan- tindakan melalui tuturan tersebut. Tindakan-tindakan yang ditampilkan lewat tuturan disebut tindak tutur (Yule, 2006:82). Pada suatu saat, tindakan yang ditampilkan dengan menghasilkan suatu tuturan akan mengandung tiga tindak yang saling berhubungan. Pertama adalah tindak lokusi yang berupa rentetan atau deretan bunyi yang membentuk struktur tuturan/kalimat.

  Tuturan-tuturan yang kita hasilkan tentu terbentuk untuk mencapai sebuah tujuan. Seseorang membentuk tuturan dengan beberapa fungsi di dalam pikiran. Inilah yang dimaksud dengan tindak ilokusi. Tindak ilokusi ditampilkan melalui penekanan komunikatif suatu tuturan. Tuturan-tuturan tersebut dapat berupa pernyataan, tawaran, penjelasan atau maksud-maksud komunikatif lainnya.

  Seorang penutur tidak secara sederhana menciptakan tuturan yang memiliki fungsi tanpa memaksudkan tuturan itu memiliki sebuah akibat. Inilah yang dipahami dengan tindak perlokusi. Dengan bergantung pada keadaan, penutur akan mengujarkan dengan asumsi bahwa mitra tutur akan memahami akibat yang penutur timbulkan.

  Yule (2006:92-94) mengklasifikasikan lima jenis fungsi umum yang ditunjukkan oleh tindak tutur dan akan dipaparkan sebagai berikut. Deklarasi merupakan jenis tindak tutur yang mengubah dunia melalui tuturan. Contoh: Saya

  

nyatakan terdakwa bersalah. Pada contoh tersebut, penutur harus memiliki peran

  institusional khusus, dalam konteks khusus, untuk menampilkan suatu deklarasi secara tepat. Saat menggunakan deklarasi, penutur mengubah dunia dengan kata- kata.

  Representatif ialah jenis tindak tutur yang menyatakan apa yang diyakini penutur kasus atau bukan. Contoh: Bumi itu bulat. Representatif memuat pernyataan suatu fakta, penegasan, kesimpulan, dan pendeskripsian. Saat menggunakan sebuah representatif, penutur mencocokan kata-kata dengan dunia (kepercayaannya).

  Jenis tindak tutur selanjutnya yaitu ekspresif, berupa pernyataan yang dirasakan oleh penutur. Tindak tutur itu mencerminkan pernyataan-pernyataan psikologis dan dapat berupa pernyataan kegembiraan, kesulitan, kesukaan, kebencian, kesenangan, atau kesengsaraan. Contoh: Sungguh, saya tidak suka dia

  datang. Penutur menyesuaikan kata-kata dengan dunia (perasaannya).

  Direktif merupakan jenis tindak tutur yang dipakai oleh penutur untuk menyuruh orang lain melakukan sesuatu. Jenis tindak tutur ini menyatakan apa yang menjadi keinginan penutur. Tindak tutur ini meliputi; perintah, pemesanan, permohonan, pemberian saran, dan bentuknya dapat berupa kalimat positif dan negatif. Contoh: Jangan memegang itu!

  Jenis tindak tutur yang terakhir adalah komisif, yang dipahami oleh penutur untuk mengikatkan dirinya terhadap tindakan-tindakan di masa yang akan datang. Tindak tutur ini menyatakan apa saja yang dimaksudkan oleh penutur. Tindak tutur ini dapat berupa; janji, ancaman, penolakan, ikrar, dan dapat ditampilkan sendiri oleh penutur atau penutur sebagai anggota kelompok. Contoh:

  Saya tidak akan melakukan itu.

2.3.3 Implikatur

  Yule (2006:61-62) memberikan penjelasan bahwa ketika seseorang mendengarkan sebuah ujaran, dia harus berasumsi bahwa penutur sedang melaksanakan kerja sama dan bermaksud menyampaikan informasi. Informasi tersebut tentunya memiliki makna lebih banyak dari kata-kata yang dituturkan.

  Makna ini merupakan makna tambahan yang dikenal dengan istilah implikatur. daripada yang dikatakan. Supaya implikatur-implikatur tersebut dapat ditafsirkan, maka beberapa prinsip kerja sama dasar harus lebih dini diasumsikan dalam pelaksanaannya.

  Konsep tentang adanya sejumlah informasi yang diharapkan terdapat dalam suatu percakapan hanya merupakan satu aspek gagasan yang lebih umum bahwa orang-orang yang terlibat dalam suatu percakapan akan bekerja sama satu sama lain. Asumsi kerja sama dapat dinyatakan sebagai suatu prinsip kerja sama percakapan dan dapat dirinci ke dalam empat sub-prinsip, yang disebut dengan maksim. Yule (2006:69-80) membedakan implikatur menjadi lima macam, yaitu implikatur percakapan, implikatur percakapan umum, implikatur berskala, implikatur percakapan khusus, dan implikatur konvensional.

2.3.4 Deiksis

  Yule (1996) dalam bukunya Pragmatics yang diterjemahkan oleh Wahyuni (2006:13) dengan judul Pragmatik berusaha memberi gambaran, ketika seseorang menunjuk objek asing dan bertanya,

  “Apa itu?”, maka orang tersebut

  menggunakan ungkapan deiksis “itu” untuk menunjuk sesuatu dalam suatu konteks secara tiba-tiba. Deiksis dapat dipahami sebagai istilah teknis untuk salah

  

satu hal mendasar yang dilakukan dengan tuturan. Deiksis berarti ‘penunjukan’

  melalui bahasa. Bentuk linguistik yang dipakai untuk menyelesaikan ‘penunjukan’ disebut ungkapan deiksis.

  Deiksis terbagi menjadi tiga jenis, yaitu deiksis persona, yang artinya ungkapan-ungkapan untuk menunjuk orang. Contoh: saya, kamu, dia. Deiksis di sana, di situ. Terakhir adalah deiksis temporal, yang artinya ungkapan- ungkapan untuk menunjuk waktu. Contoh: sekarang, kemudian, kemarin, besok, nanti malam. Keberhasilan sebuah interaksi antara penutur dan lawan tutur sedikit banyak tergantung pada pemahaman deiksis yang digunakan oleh penutur, karena ketika berkomunikasi seringkali lawan tutur menggunakan kata-kata yang menunjuk baik pada orang, waktu, maupun tempat.

  Berdasarkan paparan di atas, dapat dipahami bahwa penafsiran deiksis tergantung pada konteks, maksud penutur, dan ungkapan-ungkapan itu mengungkapkan jarak hubungan. Diberikannya ukuran kecil dan rentangan yang sangat luas dari kemungkinan pemakainya, ungkapan-ungkapan deiksis selalu menyampaikan lebih banyak hal daripada yang diucapkan (Yule, 2006:26).

2.3.5 Kesantunan Berbahasa

  Bahasa merupakan alat untuk menyampaikan maksud dari seseorang kepada orang yang lain. Penggunaan bahasa yang santun sudah sepantasnya diterapkan ketika seseorang melakukan komunikasi. Bahasa juga merupakan cermin kepribadian seseorang. Melalui bahasa yang diungkapkan, baik verbal maupun nonverbal akan terlihat bagaimana kepribadian seseorang yang sesungguhnya.

  Pranowo (2009:3) menjelaskan bahasa verbal adalah bahasa yang diungkapkan dengan kata-kata dalam bentuk ujaran atau tulisan, sedangkan bahasa nonverbal adalah bahasa yang diungkapkan dalam bentuk mimik, gerak gerik tubuh, sikap atau perilaku. Selain penggunaan bahasa yang berupa kata-kata atau ujaran, terdapat pula bahasa nonverbal berupa mimik, gerak gerik tubuh, sikap atau perilaku yang mendukung pengungkapan kepribadian seseorang.

  Ketika berkomunikasi, selain menggunakan bahasa yang baik dan benar, perlu diterapkan juga kesantunan dalam setiap tindak bahasa. Struktur bahasa yang santun adalah struktur bahasa yang disusun oleh penutur/penulis agar tidak menyinggung perasaan pendengar atau pembaca (Pranowo, 2009:4).

  Pada kenyataannya, penggunaan bahasa santun belum banyak diterapkan dalam komunikasi sehari-hari. Ada beberapa alasan yang mendasari hal tersebut, antara lain (a) tidak semua orang memahami kaidah kesantunan, (b) ada yang memahami kaidah tetapi tidak mahir menggunakan kaidah kesantunan, (c) ada yang mahir menggunakan kaidah kesantunan dalam berbahasa, tetapi tidak mengetahui bahwa yang digunakan adalah kaidah kesantunan, dan (d) tidak memahami kaidah kesantunan dan tidak mahir berbahasa secara santun (Pranowo, 2009:51).

  Pranowo (2009:76-79) juga menjelaskan adanya dua aspek penentu kesantunan, yaitu aspek kebahasaan dan aspek nonkebahasaan. Aspek kebahasaan meliputi aspek intonasi (keras lembutnya intonasi ketika seseorang berbicara), aspek nada bicara (berkaitan dengan suasana emosi penutur: nada resmi, nada bercanda atau bergurau, nada mengejek, nada menyindir), faktor pilihan kata, dan faktor struktur kalimat, sedangkan aspek nonkebahasaan berupa pranata sosial budaya masyarakat (misalnya aturan anak kecil yang harus selalu hormat kepada orang yang lebih tua), pranata adat (seperti jarak bicara antara penutur dengan

2.3.6 Ketidaksantunan Berbahasa

  Permasalahan kebahasaan yang terjadi dalam perkembangan kehidupan sosial masyarakat turut memunculkan fenomena baru dalam ilmu pragmatik.

  Fenomena baru tersebut adalah ketidaksantunan berbahasa. Ketidaksantunan berbahasa muncul melihat realita yang terjadi dalam masyarakat bahwa penggunaan bahasa santun belum banyak diterapkan dalam komunikasi sehari- hari. Fenomena ketidaksantunan ini merupakan fenomena baru yang belum banyak dikaji oleh para peneliti. Kesantunan berbahasa berkaitan dengan penggunaan bahasa yang baik agar tidak menyinggung perasaan orang lain, sedangkan ketidaksantunan berbahasa dipahami sebagai penggunaan bahasa yang tidak baik, melanggar tatakrama, dan seringkali menyinggung perasaan orang lain.

  Pranowo (2009:68-73) juga memaparkan fakta pemakaian bahasa yang tidak santun sebagai berikut. Pertama, penutur menyampaikan kritik secara langsung (menohok mitra tutur) dengan kata atau frasa kasar. Penggunaan kata atau frasa yang kasar dinilai tidak santun karena dapat menyinggung perasaan mitra tutur. Kedua, penutur didorong rasa emosi ketika bertutur. Penutur yang didorong rasa emosi berlebihan ketika bertutur akan mengakibatkan timbulnya kesan marah terhadap mitra tutur. Ketiga, penutur protektif terhadap pendapatnya. Kadang kala seorang penutur protektif terhadap pendapatnya dengan maksud agar tuturan mitra tutur tidak dipercaya oleh pihak lain. Cara yang demikian mengakibatkan tuturan menjadi tidak santun. Keempat, penutur sengaja ingin memojokkan mitra tutur dalam bertutur. Terakhir, penutur menyampaikan

2.4 Teori-teori Ketidaksantunan

  Dalam buku Impoliteness in Language: Studies on its Interplay with

  

Power in Teory and Practice yang disusun oleh Bousfield dan Locher (2008)

  seperti yang telah dibahasakan oleh Rahardi (2012) dalam presentasinya

  

“Penelitian Kompetensi: Ketidaksantunan Pragmatik dan Linguistik Berbahasa

  dalam Ranah Keluarga (Family Domain

  )”, nampak bahwa beberapa ahli telah

  menelaah fenomena baru ini. Berikut pemaparan beberapa ahli mengenai ketidaksantunan berbahasa.

2.4.1 Teori ketidaksantunan berbahasa dalam pandangan Locher and Watts

  Locher dan Watts berpandangan bahwa perilaku tidak santun adalah perilaku yang secara normatif dianggap negatif (negative marked behavior), karena melanggar norma-norma sosial yang berlaku dalam masyarakat. Locher dan Watts juga menjelaskan bahwa ketidaksantunan merupakan alat untuk menegosiasikan hubungan antarsesama (a means to negotiate meaning). Lebih lanjut lagi pandangan Locher dan Watts tentang ketidaksantunan tampak berikut ini,

  ‘...impolite behaviour and face-aggravating behaviour more generally is as

much as this negation as polite versions of behavior.’ (cf. Locher and Watts,

  2008:5). Pengertian teori ketidaksantunan berbahasa dalam pandangan Locher dan Watts dapat diilustrasikan dengan situasi berikut.

  Situasi:

  Petang hari di serambi rumah, ayah, ibu, dan kakak sedang menunggu adik pulang. Tidak lama kemudian, adik memasuki halaman rumah dan langsung disepakati bahwa tidak boleh terlambat saat kembali ke rumah. Jikalau terlambat, harus dengan alasan yang jelas. Kemudian terjadilah percakapan di dalam keluarga tersebut.

  Wujud tuturan:

  Adik

  

: “Mas, bapak sama ibu nunggu aku pulang udah dari tadi to?”

  Kakak 1

  : “Udah hampir satu jam. Coba kamu jelasin sana kenapa bisa pulang terlambat!”

  Adik

  : “Oooohh..”

  Kakak 2 : “Kamu nggak inget kesepakatan awal gimana? Kita harus pulang ke

  rumah tepat waktu. Jangan sampe deh bapak sama ibu marah- marah.”

  Adik

  : “Haduhh, lupa Mas. Emangnya, Mas juga patuh sama peraturan itu?”

  Kakak 1

  : “Iya dong, itu kan udah jadi kesepakatan bersama.”

  Dari percakapan tersebut dapat dilihat bahwa tuturan yang disampaikan oleh penutur (adik) saat terlambat pulang ke rumah terdengar datar tanpa rasa bersalah. Tuturan itu mengakibatkan mitra tutur 1 (kakak 1) dan mitra tutur 2 (kakak 2) meresponnya dengan sinis dan kesal. Percakapan di atas menunjukkan bahwa adik menghiraukan komitmen keluarga yang sudah disepakati bersama yaitu tidak boleh terlambat pulang ke rumah. Sebaliknya, penutur (adik) tanpa merasa bersalah menanggapi teguran mitra tutur dengan berkata Haduhh, lupa

  

mas. Emangnya mas juga patuh sama peraturan itu? Tuturan tersebut merupakan

  tuturan yang tidak santun karena telah mengacuhkan dan melanggar kesepakatan keluarga yang sudah menjadi peraturan dalam keluarga tersebut.

  Berdasarkan ilustrasi di atas, dapat dipahami bahwa teori ketidaksantunan berbahasa menurut pandangan Locher dan Watts (2008) menitikberatkan bentuk penggunaan ketidaksantunan tuturan oleh penutur yang secara normatif dianggap menyimpang, karena dianggap melanggar norma-norma sosial yang berlaku dalam masyarakat (tertentu).

2.4.2 Teori ketidaksantunan berbahasa dalam pandangan Terkourafi

  Terkourafi (2008:3-4) memandang ketidaksantunan sebagai,

  

‘impoliteness occurs when the expression used is not conventionalized relative to

the context of occurrence; it threatens the addressee’s face but no face-

threatening intention is attributed to the speaker by the hearer.’ Jadi, perilaku

  berbahasa dalam pandangan Terkourafi akan dikatakan tidak santun bilamana mitra tutur (addressee) merasakan ancaman terhadap kehilangan muka (face

  

threaten), dan penutur (speaker) tidak mendapatkan maksud ancaman muka itu

  dari mitra tuturnya. Konsep tentang ketidaksantunan berbahasa ini dapat dipahami dengan ilustrasi sebagai berikut.

  Situasi: Ibu sedang menyiapkan makan malam di dapur ketika hari mulai petang.

  Pada saat yang bersamaan, ayah datang menghampiri ibu dengan tergesa-gesa. Kemudian terjadi percakapan di antara ayah dan ibu.

  Wujud tuturan:

  Ayah

  : “Bu, baju yang kemarin ibu setrika di mana? Bapak mau arisan, sudah ditunggu itu.” (sambil menyentuh badan ibu yang sedang sibuk

  memasak) Ibu

  : “Bapak ni apa to nggak usah senggal senggol, kurang kerjaan aja.

  Percakapan tersebut menunjukkan bahwa penutur (ayah) berusaha meminta respon dari mitra tutur (ibu), akan tetapi penutur meminta respon dengan terganggu. Penutur sendiri tidak menyadari bahwa tuturannya mengancam mitra tutur. Akibatnya, mitra tutur (ibu) menjawab dengan nada sinis dan kurang bersahabat. Dari percakapan di atas dapat diketahui bahwa mitra tutur menanggapi perkataan penutur dengan rasa kesal. Hal tersebut dapat dilihat dari tuturan mitra tutur sebagai berikut. Bapak ni apa to nggak usah senggal senggol, kurang kerjaan aja.

  Berdasarkan ilustrasi yang telah dipaparkan, dapat disimpulkan bahwa teori ketidaksantunan berbahasa dalam pandangan Terkourafi (2008) menitikberatkan pada bentuk penggunaan tuturan yang tidak santun oleh penutur yang memiliki maksud untuk mengancam muka sepihak mitra tuturnya tetapi di sisi lain penutur tidak menyadari bahwa perkataannya menyinggung mitra tutur.

2.4.3 Teori ketidaksantunan berbahasa dalam pandangan Locher

  Menurut pandangan Miriam A Locher (2008:3), ketidaksantunan dalam berbahasa dapat dipahami sebagai berikut ‘impoliteness behaviour that is face-

  

aggravating in a particular context.’ Pandangan Locher dapat diartikan bahwa

  ketidaksantunan berbahasa adalah perilaku yang memperburuk ‘muka’ pada konteks tertentu. Ketidaksantunan itu

  menunjuk pada perilaku ‘melecehkan’ muka (face-aggravate).

  Pemahaman lain yang berkaitan dengan definisi Locher terhadap ketidaksantunan berbahasa ini adalah bahwa tindakan tersebut sesungguhnya bukanlah sekadar perilaku

  ‘melecehkan muka’, melainkan perilaku yang ‘memain- mainkan muka’. Berdasarkan beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa ketidaksantunan berbahasa dalam pandangan Miriam A. Locher adalah sebagai tindak berbahasa yang melecehkan dan memain-mainkan muka pada konteks

  

tertentu sebagaimana yang dilambangkan dengan kata ‘aggravate’ itu. Konsep

  tentang ketidaksantunan berbahasa tersebut dapat diilustrasikan dengan situasi seperti berikut.

  Situasi:

  Pada sore hari di sebuah keluarga terjadi percakapan antara adik dengan kakak. Adik mengomentari baju kakak sembari berkata demikian:

  Wujud tuturan:

  Adik

  : “Mbak, itu baju apa saringan tahu?”

  Kakak

  : “Pancen modele kayak gini.” Adik : “Model sih boleh ya, tapi nggak setipis saringan tahu juga kalik Mbak”.

  Berdasarkan percakapan tersebut dapat dilihat bahwa penutur (adik) bermaksud mengejek mitra tutur (kakak) dengan berkata bahwa baju yang dikenakan kakak terlalu tipis seperti saringan tahu. Tuturan adik menandakan bahwa terdapat tuturan tidak santun yang terjadi dalam komunikasi kebahasaan tersebut. Meskipun maksud penutur hanya mengajak mitra tutur bergurau, seharusnya tuturan tersebut tidak diucapkan karena dapat menyinggung perasaan mitra tutur.

  Ilustrasi di atas semakin menjelaskan teori ketidaksantunan berbahasa dalam pandangan Locher (2008) yang menitikberatkan pada bentuk-bentuk penggunaan tuturan tidak santun dengan maksud untuk melecehkan muka atau

2.4.4 Teori ketidaksantunan berbahasa dalam pandangan Culpeper

  Pemahaman Culpeper (2008:3) tentang ketidaksantunan berbahasa adalah,

  ‘Impoliteness, as I would define it, involves communicate behavior

intending to cause the “face loss” of a target or perceived by the target to be so.’

  Culpeper memberikan penekanan pada fakta

  ‘face loss’ atau ‘kehilangan muka’,

  jika dalam bahasa Jawa mungkin konsep itu sejalan dengan konsep

  ‘kelangan rai’

  (kehilangan muka). Sebuah tuturan akan dianggap sebagai tuturan yang tidak santun jika tuturan itu menjadikan muka seseorang hilang. Jadi, ketidaksantunan

  

(impoliteness) dalam berbahasa merupakan perilaku komunikatif yang

  diperantikan secara intensional untuk membuat orang benar-benar kehilangan muka (face loss), atau setidaknya orang tersebut

  ‘merasa’ kehilangan muka.

  Konsep tentang teori ketidaksantunan berbahasa menurut pandangan Culpeper dapat diilustrasikan dengan situasi berikut.

  Situasi:

  Siang ini dilaksanakan pembagian rapor di sekolah adik. Usai mengambil rapor, adik dan ibu kembali ke rumah. Sesampainya di rumah, seluruh anggota keluarga berkumpul dan berbincang-bincang di serambi depan. Terjadi percakapan di antara mereka.

  Wujud tuturan:

  Ayah : “Waahh, kamu hebat dik” (sambil membuka rapor) Renno

  : “Kenapa Yah?”

  Ayah

  : “Lihat nih, dari dulu selalu dapat nilai kurang dari 7.”(dengan nada mengejek)

  Renno : “Ahh, ayah tu mujinya kelewatan.” (tersenyum kesal) Raffa : “Makanya kalo sekolah tu belajar yang bener. Jangan cuma tidur di

  Berdasarkan ilustrasi di atas, dapat dipahami bahwa Renno merasa kehilangan muka akibat tuturan yang diucapkan oleh ayah dan kakaknya, yaitu Raffa. Tuturan yang disampaikan ayah adalah lihat nih, dari dulu selalu dapet

  

nilai kurang dari 7. Renno merasa semakin kehilangan muka ketika kakaknya,

  Raffa menyampaikan tuturan seperti berikut makanya kalo sekolah tu belajar

  

yang bener. Jangan cuma tidur di kelas doang dibanggain. Ayah dan Raffa

  menyampaikan tuturan tersebut dengan maksud mempermalukan Renno di depan anggota keluarga yang lain. Meskipun disampaikan dengan maksud mengajak bercanda, akan menjadi sangat fatal ketika tuturan tersebut disampaikan tidak pada konteks situasi yang tepat.

  Dari pengertian dan ilustrasi di atas, dapat disimpulkan bahwa teori ketidaksantunan berbahasa menurut pandangan Culpeper ini menekankan bentuk penggunaan tuturan yang disampaikan oleh penutur dengan maksud untuk mempermalukan mitra tutur.

2.4.5 Teori ketidaksantunan berbahasa dalam pandangan Bousfield

  Bousfield (2008:3) mengemukakan bahwa ketidaksantunan berbahasa dipahami sebagai,

  ‘...the issuing of intentionally gratuitous and conflictive face-

threatening acts (FTAs) that are purposefully perfomed.’ Bousfield memberikan

  penekanan pada dimensi ‘kesembronoan’ dan konfliktif (conflictive) dalam praktik berbahasa yang tidak santun. Jadi, apabila perilaku berbahasa seseorang itu mengancam muka, dan ancaman terhadap muka itu dilakukan secara sembrono (gratuitous), hingga akhirnya tindakan berkategori sembrono demikian itu dengan kesengajaan (purposeful), maka tindakan berbahasa itu merupakan realitas ketidaksantunan. Pengertian tentang teori ketidaksantunan berbahasa dalam pandangan Bousfield dapat diilustrasikan dengan situasi berikut.

  Situasi:

  Ruang tamu adalah bagian dari rumah yang biasanya dipakai sebagai tempat untuk menerima tamu. Pada suatu hari, ayah dan ibu sedang menerima tamu dan melakukan percakapan di ruang tamu, sedangkan adik terdengar gaduh ketika bermain play station di ruang keluarga. Ayah menghampiri adik dan bermaksud menegurnya.

  Wujud tuturan:

  Ayah

  : “Dik, main game-nya nggak usah teriak-teriak kayak gitu, berisik. Ayah nggak enak, lagi ada tamu.

  ”

  Adik : “Ah, biarin aja yah. Aku kan nggak kenal sama mereka. Terserah aku

   dong mau berisik apa enggak

.”

  Percakapan antara ayah dengan adik di atas menandakan adanya bentuk ketidaksantunan dalam berbahasa. Mitra tutur (ayah) bermaksud memperingatkan penutur (adik) agar tidak berisik dan tidak gaduh karena mitra tutur sedang menerima tamu. Akan tetapi, penutur justru menjawab teguran mitra tutur sekenanya bahkan terkesan sembrono dan tidak serius dalam menanggapi mitra tutur. Keadaan demikian akan menimbulkan konflik di antara keduanya apabila mitra tutur menanggapi tuturan penutur dengan serius.

  Berdasarkan ilustrasi di atas, dapat disimpulkan bahwa teori ketidaksantunan berbahasa menurut Bousfield (2008) menekankan bentuk penggunaan tuturan yang tidak santun dengan maksud selain melecehkan dan menghina mitra tutur dengan tanggapan sekenanya secara sengaja dapat menimbulkan konflik di antara penutur dan mitra tutur.

2.5 Konteks

  Ilmu pragmatik adalah ilmu yang mempelajari penggunaan bahasa sesuai konteks situasi tuturan. Rahardi (2003:20) mengatakan bahwa konteks tuturan dapat diartikan sebagai semua latar belakang pengetahuan (background

  

knowledge) yang diasumsikan sama-sama dimiliki dan dipahami bersama oleh

  penutur dan mitra tutur, serta yang mendukung interpretasi mitra tutur atas apa yang dimaksudkan oleh si penutur itu di dalam keseluruhan proses bertutur.

  Kemudian, Levinson (1983:22

  −23) via Nugroho (2009:119) memaparkan bahwa

  untuk mengetahui konteks, seseorang harus membedakan antara situasi aktual sebuah tuturan dalam semua keserberagaman ciri-ciri tuturan mereka, dan pemilihan ciri-ciri tuturan tersebut secara budaya dan linguistis yang berhubungan dengan produksi dan penafsiran tuturan.

  Malinowsky juga berbicara tentang konteks, khususnya konteks yang

  

berdimensi situasi atau ‘context of situation’. Secara khusus Malinowsky

  mengatakan, seperti yang dikutip di dalam Vershueren (1998:75),

  ‘Exactly as in

the reality of spoken or written languages, a word without linguistics context is a

mere figment and stands for nothing by itself, so in the reality of a spoken living

tongue, the utterance has no meaning except in the context of situation.’ bahwa

  kehadiran konteks situasi menjadi mutlak untuk menjadikan sebuah tuturan benar- benar bermakna. (Rahardi, 2012).

  Berbeda dengan Malinowsky yang menyebut

  ‘context of situation’,

  Leech (1983) via Rahardi (2012) memahami konteks dengan istilah

  ‘speech

situation’. Sehubungan dengan bermacam-macamnya maksud yang mungkin

  dikomunikasikan oleh penuturan sebuah tuturan, Leech (1983) dalam Wijana (1996:10-13) mengemukakan sejumlah aspek yang senantiasa harus dipertimbangkan dalam rangka studi pragmatik. Berikut pemaparan aspek-aspek tersebut. 1)

  Penutur dan lawan tutur

  Konsep penutur dan lawan tutur ini mencakup penulis dan pembaca bila tuturan bersangkutan dikomunikasikan dengan media tulisan. Aspek-aspek yang berkaitan dengan penutur dan lawan tutur ini adalah usia, latar belakang sosial ekonomi, jenis kelamin, tingkat keakraban, dan sebagainya.

  2)

  Konteks tuturan

  Konteks tuturan penelitian linguistik adalah konteks dalam semua aspek fisik atau setting sosial yang relevan dari tuturan bersangkutan. Konteks yang bersifat fisik lazim disebut koteks (cotext), sedangkan konteks setting sosial disebut konteks. Di dalam pragmatik, konteks itu pada hakikatnya adalah semua latar belakang pengetahuan (back ground knowledge) yang dipahami bersama oleh penutur dan lawan tutur.

  3)

  Tujuan tuturan

  Bentuk-bentuk tuturan yang diutarakan oleh penutur dilatarbelakangi oleh maksud dan tujuan tertentu. Dalam hubungan ini bentuk-bentuk tuturan atau sebaliknya, berbagai macam maksud dapat diutarakan dengan tuturan yang sama. Di dalam pragmatik, berbicara merupakan aktivitas yang berorientasi pada tujuan (goal oriented activities). Ada perbedaan yang mendasar antara pandangan pragmatik yang bersifat fungsional dengan pandangan gramatika yang bersifat formal. Dalam pandangan yang bersifat formal, setiap bentuk lingual yang berbeda tentu memiliki makna yang berbeda. 4)

  Tujuan sebagai bentuk tindakan atau aktivitas

  Gramatika menangani unsur-unsur kebahasaan sebagai entitas yang abstrak, seperti kalimat dalam studi sintaksis, proposisi dalam studi semantik, dan sebagainya, sedangkan pragmatik berhubungan dengan tindak verbal

  (verbal act) yang terjadi dalam situasi tertentu. Dalam hal ini, pragmatik

  menangani bahasa dalam tingkatannya yang lebih konkret dibanding dengan tata bahasa. Tuturan sebagai entitas yang konkret jelas penutur dan lawan tuturnya, serta waktu dan tempat pengutaraannya. 5)

  Tuturan sebagai produk tindak verbal

  Tuturan yang digunakan di dalam rangka pragmatik, seperti yang dikemukakan dalam kriteria keempat merupakan bentuk dari tindak tutur. Oleh karenanya, tuturan yang dihasilkan merupakan bentuk dari tindak verbal. Sebagai contoh, kalimat Apakah rambutmu tidak terlalu panjang? dapat ditafsirkan sebagai pertanyaan atau perintah. Dalam hubungan ini dapat ditegaskan ada perbedaan mendasar antara kalimat (sentence) dengan tuturan

  (utturance). Kalimat adalah entitas gramatikal sebagai hasil kebahasaan yang diidentifikasikan lewat penggunaannya dalam situasi tertentu.

  Verschueren (1998:76) via Rahardi (2012), menjelaskan lebih lanjut berkenaan dengan penutur dan lawan tutur, bahwa selain ditentukan oleh keberadaan konteks linguistiknya (linguistic context), bagi sebuah pesan (message)

  , untuk dapat sampai kepada ‘interpreter’ (I) dari seorang ‘utterer’ (U),

  juga ditentukan oleh konteks dalam pengertian yang sangat luas, yang mencakup latar belakang fisik tuturan (physical world of the utterance), latar belakang sosial dari tuturan (social world of the utterance), dan latar belakang mental penuturnya (mental world of the utterance). Jadi setidaknya, Verschueren menyebut empat dimensi konteks yang sangat mendasar dalam memahami makna sebuah tuturan.

  1)

  ‘The Utterer’ dan ‘The Interpteter’

  Pembicara dan lawan bicara, penutur dan mitra tutur, atau

  ‘the utterer’

  and

  ‘the interpreter’ adalah dimensi paling signifikan dalam pragmatik. Dapat

  dipahami bahwa

  ‘pembicara’ atau ‘penutur’ (utterer) itu memiliki banyak suara

  (many voices), sedangkan mitra tutur atau interpreter, lazimnya dikatakan memiliki banyak peran. Dalam praktik bertutur sesungguhnya, maksud tuturan yang disampaikan

  ‘utterer’ tidak selalu berdimensi satu, kadang-kadang justru

  berdimensi banyak, rumit, dan kompleks. Penutur atau yang lazim disebut

  ‘the utterer’, memang memiliki banyak kemungkinan kata. Bahkan ada kalanya

  pula, seorang penutur atau

  ‘utterer’ dapat berperan sebagai ‘interpreter’. Jadi,

  dia sebagai penutur, tetapi juga sekaligus dia sebagai pengintepretasi atas apa

  Hal lain yang juga mutlak harus diperhatikan dan diperhitungkan dalam kaitan dengan

  ‘utterer’ dan ‘interpreter’ atau ‘pembicara’ dan ‘mitra wicara’,

  adalah jenis kelamin, adat-kebiasaan, dan semacamnya. Saat penutur berbicara di depan publik yang jumlahnya tidak sedikit, dipastikan berbeda bentuk kebahasaannya jika dibandingkan dengan seorang mitra tutur saja. Sebaliknya, jika

  ‘interpreter’ hanya berjumlah satu, sedangkan ‘utterer’ jumlahnya jauh

  lebih banyak,

  ‘interpreter’ itu akan cenderung menginterpretasi dengan hasil

  yang berbeda daripada jika ‘utterer’ itu hanya satu orang saja jumlahnya.

  Berdasarkan pemaparan dimensi konteks yang pertama, ditegaskan bahwa kehadiran penutur yang banyak, cenderung akan memengaruhi proses interpretasi makna oleh

  ‘interpreter’. Demikian pula jika jumlah ‘utterer’ itu

  banyak, maka interpretasi kebahasaan yang akan dilakukan

  ‘interpreter’ pasti sedikit banyak terpengaruhi.

  2)

  Aspek-aspek Mental ‘Language Users’

  Konsep

  ‘language users’ sesungguhnya dapat menunjuk pada dua pihak,

  yakni

  ‘utterer’ atau ‘penutur’ dan ‘interpreter’ atau ‘mitra tutur’. Namun,

  kadangkala kehadiran di luar pihak ke-1 dan ke-2 masih ada kehadiran pihak lain yang perlu sekali dicermati peran dan pengaruhnya terhadap bentuk kebahasaan yang muncul. Orang akan dengan mudah membayangkan

  ‘mitra tutur’ atau ‘lawan tutur’. Pada kenyataannya interpretasi itu tidak semudah

  yang dibayangkan. Sebagai contoh,

  ‘interpreter’ saja masih dibedakan menjadi

  dua yakni

  ‘participant’ dan ‘non-participant’. Masih dalam kelompok yakni ‘addressee’ dan ‘side participant’ atau yang sering disebut sebagai saksi. Kehadiran semua itu dalam sebuah pertutursapaan akan berpengaruh besar pada dimensi

  ‘mental’ penutur atau ‘the utterer’.

  Dimensi-dimensi mental penutur dan mitra tutur

  ‘utterer’ dan

‘interpreter’ benar-benar sangat penting dalam kerangka perbincangan konteks

  pragmatik. Seperti aspek kepribadian penutur dan mitra tutur itu. Seseorang yang kepribadiannya tidak cukup matang, sehingga cenderung

  ‘menentang’

  dan

  ‘melawan’ terhadap segala sesuatu yang baru. Demikian pula seseorang

  yang sudah matang dan dewasa, akan berbicara sopan dan halus kepada setiap orang yang ditemuinya.

  Aspek lain yang harus diperhatikan dalam kaitan dengan komponen penutur dan mitra tutur adalah aspek warna emosi (emotions). Seseorang yang memiliki warna emosi dan temperamen tinggi, cenderung akan berbicara dengan nada dan nuansa makna yang tinggi pula. Sebaliknya, seseorang yang warna emosinya tidak terlampau dominan, cenderung lebih sabar ketika berbicara. Selain dimensi-dimensi yang telah disebutkan di atas, terdapat pula dimensi

  ‘desires’ atau ‘wishes’, dimensi ‘motivations’ atau ‘intentions’ serta

  dimensi kepercayaan atau

  ‘beliefs’ yang juga harus diperhatikan dalam perbincangan konteks pragmatik.

  Dimensi-dimensi mental ‘language users’ semuanya berpengaruh terhadap dimensi kognisi dan emosi penutur dan mitra tutur. Dengan demikian, dimensi mental penutur dan mitra tutur harus dilibatkan dalam analisis pragmatik karena semuanya berpengaruh terhadap warna dan nuansa interaksi dalam komunikasi.

  3)

  Aspek-aspek Sosial ‘Language Users’

  Penutur dan mitra tutur yang merupakan bagian dari sebuah masyarakat tentu tidak lepas dari dimensi-dimensi yang berkaitan dengan keberadaannya sebagai warga masyarakat dan kultur atau budaya tertentu. Kajian pragmatik tidak dapat memalingkan diri dari fakta-fakta sosio-kultural tersebut, karena penutur dan mitra tutur juga para pelibat tutur lainnya tidak sedikit jenis dan jumlahnya, masing-masing memiliki dimensi-dimensi yang berkaitan dengan

  ‘solidarity and power’ dalam masyarakat dan budaya.

  Bentuk kebahasaan yang dimiliki orang-orang yang berada dalam institusi-institusi berwibawa dan bermartabat tinggi tentu memiliki wujud- wujud kebahasaan yang berbeda dengan institusi lain. Bukan hanya wadahnya yang menjadi pembeda, melainkan juga orang-orang yang berada di dalamnya yang memiliki dimensi

  ‘authority’ atau ‘power’ yang tinggi akan membedakan

  dengan wadah-wadah yang menjadi tempat orang-orang di dalam institusi tersebut.

  Dimensi

  ‘power’ and ‘solidarity’ juga terlihat dalam keluarga-keluarga

  yang masih dalam lingkup Keraton Yogyakarta. Bahasa yang digunakan oleh keluarga di sana ternyata masih sangat kental memperlihatkan dimensi

  ‘dependence’ dan ‘authority’ ini. Berbeda lagi dengan para tukang becak yang

  cenderung menggunakan bentuk-bentuk kebahasaan berdimensi

  ‘solidarity’ kepada pedagang-pedagang besar padi cenderung menggunakan bahasa yang sangat bergantung alias

  ‘dependence’ kepada pedagang padi tersebut.

  Harus diperhatikan pula bahwa bukan hanya dimensi-dimensi sosial yang menjadi pembentuk konteks komunikatif dalam pragmatik, melainkan juga aspek kultur merupakan satu hal yang sangat penting sebagai penentu makna dalam pragmatik, khususnya yang berkaitan dengan aspek

  ‘norms and values of culture’ dari masyarakat bersangkutan.

  4)

  Aspek-aspek Fisik ‘Language Users’

  Dimensi fisik meliputi berbagai fenomena dieksis (deixis phenomenon), baik yang berciri persona (personal deixis), deiksis perilaku (attitudinal deixis), deiksis waktu (temporal deixis), dan deiksis tempat (spatial deixis).

  Deiksis persona, lazimnya menunjuk pada penggunaan kata ganti orang, misalnya saja dalam bahasa Indonesia kurang ada kejelasan kapan harus menggunakan kata

  ‘kita’ dan ‘kami’. Terdapat pula kejanggalan pemakaian

  antara

  ‘saya’ dan ‘kami’ yang hingga kini masih mengandung kesamaran dan

  ketidakjelasan. Adapun

  ‘attitudinal deixis’ berkaitan erat dengan bagaimana

  kita harus memperlakukan panggilan-panggilan persona seperti yang disampaikan di depan itu dengan tepat sesuai dengan referensi sosial dan sosietalnya. Deiksis-deiksis dalam jenis yang disampaikan di depan itu semuanya merupakan aspek fisik ‘language users’, yang secara sederhana

  dimaknai sebagai ‘penutur’ dan ‘mitra tutur’, sebagai ‘utterer’ dan ‘interpreter’.

  Selanjutnya masih berkaitan dengan persoalan deiksis pula, tetapi yang sifatnya temporal, harus diperhatikan misalnya saja, kapan harus digunakan ucapan

  ‘selamat pagi’ atau ‘pagi’ saja dalam bahasa Indonesia. Perhatian juga

  harus diberikan tidak saja pada dimensi waktu atau

  ‘temporal reference’,

  khususnya dalam kaitan dengan deiksis-deiksis waktu, tetapi juga pada dimensi tempat atau dimensi lokasi, atau yang oleh Verschueren (1998:98) disebut sebagai

  ‘spatial reference’. Referensi spasial di dalam linguistik ditunjukkan,

  misalnya dengan pemakaian preposisi yang menunjukkan tempat, juga kata kerja tertentu, kata keterangan, kata ganti, dan juga nama-nama tempat. Pendek kata, konsep

  ‘spatial reference’, semuanya menunjuk pada konsepsi gerakan

  atau

  ‘conception of motion’, yakni gerakan dari titik tempat tertentu ke dalam titik tempat yang lainnya.

  Setelah Verschueren memaparkan tentang empat dimensi konteks untuk memahami sebuah tuturan, lebih lanjut lagi Hymes menggunakan istilah

  

“komponen tutur” untuk menjelaskan konteks. Seperti yang dikutip oleh

  Sumarsono (2008:325

  −334), Hymes menyebutkan terdapat enam belas komponen

  tutur, yaitu (1) bentuk pesan (message form), (2) isi pesan (message content), (3) latar (setting), (4) suasana (scene), (5) penutur (speaker, sender), (6) pengirim (addressor), (7) pendengar (hearer, receiver, audience), (8) penerima (addressee), (9) maksud-hasil (purpose-outcome), (10) maksud-tujuan (purpose-goal), (11) kunci (key), (12) saluran (channel), (13) bentuk tutur (forms of speech), (14) norma interaksi (norm of interaction), (15) norma interpretasi (norm of tutur tersebut, Hymes (1974) via Nugroho (2009:119) menggunakan istilah

  

‘SPEAKING’ untuk menghubungkan konteks dengan situasi tutur. Dalam situasi

tutur tersebut, terdapat delapan komponen yang mempengaruhi tuturan seseorang.

  Kedelapan komponen tutur tersebut meliputi latar fisik dan latar psikologis (setting and scene), peserta tutur (participants), tujuan tutur (ends), urutan tindak (acts), nada tutur (keys), saluran tutur (instruments), norma tutur (norms), dan jenis tutur (genres).

  Yule (1996) via Mitfah (2009:120-121) membahas konteks dalam kaitannya dengan kemampuan seseorang untuk mengidentifikasi referen-referen yang bergantung pada satu atau lebih pemahaman orang itu terhadap ekspresi yang diacu. Yule mendefinisikan konteks sebagai lingkungan fisik di mana sebuah kata dipergunakan.

  Berdasarkan beberapa pengertian di atas, dapat dipahami bahwa konteks adalah segala hal yang berkaitan dengan situasi dan kondisi peserta tutur dengan latar belakang pengetahuan yang sama atas apa yang dituturkan dan dimaksudkan oleh penutur. Hadirnya konteks situasi menjadi mutlak agar sebuah tuturan semakin bermakna. Untuk memahami makna itu sendiri, dapat digunakan empat dimensi konteks yang sangat mendasar. Selain itu, konteks juga meliputi komponen-komponen tuturan yang dapat mempengaruhi tuturan seseorang.

2.6 Unsur Segmental

  Bahasa terbentuk dalam kalimat-kalimat. Setiap kalimat yang terujar sudah tentu memiliki unsur. Salah satunya adalah unsur segmental. Berikut adalah

2.6.1 Diksi

  Gorys Keraf (1987) memaparkan bahwa diksi atau pilihan kata adalah kemampuan membedakan secara tepat kata-kata yang dipakai untuk menyampaikan suatu gagasan, bagaimana mengelompokkan kata-kata yang tepat, dan gaya mana yang paling baik digunakan dalam suatu situasi. Keraf (1986) via Mitfah (2009:128) juga memberikan gambaran tentang kata dan pilihan kata. Seseorang yang luas kosakatanya akan memiliki kemampuan yang tinggi untuk memilih setepat-tepatnya kata yang paling harmonis untuk mewakili maksud dan gagasannya. Sebaliknya, mereka yang miskin kosakatanya akan sulit menemukan kata-kata yang tepat.

  Jelaslah bahwa seorang yang luas kosakatanya akan mengetahui secara tepat batasan pengertiannya dan mengungkapkan secara tepat pula. Pilihan kata tidak hanya mempermasalahkan ketepatan pemakaian kata, tetapi juga apakah kata yang dipilih dapat diterima dan tidak merusak suasana. Masyarakat yang diikat oleh norma-norma menghendaki pula agar setiap kata yang digunakan cocok dengan norma masyarakat, harus sesuai dengan situasi yang dihadapi (Mitfah, 2009:128).

  Erat kaitannya dengan diksi adalah makna kata dan macamnya. Kata sebagai satuan dari perbendaharaan kata sebuah bahasa mengandung dua aspek, yaitu aspek bentuk dan aspek isi. Bentuk adalah segi yang dapat diserap dengan panca indera, yaitu dengan mendengar atau melihat. Segi isi atau makna adalah segi yang menimbulkan reaksi dalam pikiran pendengar karena rangsangan aspek

  Pada umumnya makna kata dibedakan atas makna yang bersifat denotatif dan makna yang bersifat konotatif. Keraf (1984:25-31) menjelaskan denotatif sebagai kata yang tidak mengandung makna atau perasaan-perasaan tambahan, sedangkan konotatif merupakan makna kata yang mengandung arti tambahan, perasaan tertentu atau nilai rasa tertentu di samping makna dasar.

  Makna denotatif disebut juga dengan beberapa istilah seperti: makna

  

denotasional, makna kognitif, makna konseptual, makna ideasional, makna

referensial, atau makna proposisional. Disebut makna denotasional, referensial,

konseptual, atau ideasional karena makna itu menunju (denote) kepada suatu

referen, konsep, atau ide tertentu dari suatu referen. Disebut makna kognitif

  karena makna itu bertalian dengan kesadaran atau pengetahuan; stimulus (dari pihak pembicara) dan respons (dari pihak pendengar) menyangkut hal-hal yang dapat diserap pancaindria (kesadaran) dan rasio manusia, sedangkan disebut makna proposisional karena ia bertalian dengan informasi-informasi atau pernyataan-pernyataan yang bersifat faktual.

  Makna konotatif disebut juga makna konotasional, makna emotif, atau

  

makna evaluatif. Makna konotatif adalah suatu jenis makna di mana stimulus dan

  respons mengandung nilai-nilai emosional. Memilih konotasi adalah masalah yang jauh lebih berat bila dibandingkan dengan memilih denotasi. Oleh karena itu, pilihan kata atau diksi lebih banyak bertalian dengan pilihan kata yang bersifat konotatif. Konotasi pada dasarnya timbul karena masalah hubungan sosial atau hubungan interpersonal, yang mempertalikan kita dengan orang lain. Oleh sebab itu, bahasa manusia tidak hanya menyangkut masalah makna denotatif atau ideasional dan sebagainya.

  Untuk mencapai ketepatan pilihan kata, setiap orang hendaknya memperhatikan persyaratan berikut (Keraf, 1984:88-89).

  1)

  

Membedakan secara cermat denotasi dari konotasi. Seseorang harus dapat

  memilih kata dengan cermat sesuai dengan tujuan yang akan dicapai, yakni denotatif untuk pengertian dasar yang diinginkan, sedangkan konotatif untuk menghendaki reaksi emosional tertentu. 2)

  

Membedakan dengan cermat kata-kata yang hampir bersinonim. Kata-kata

  bersinonim tidak selalu memiliki distribusi yang saling melengkapi. Oleh sebab itu, seseorang harus berhati-hati memilih kata dari banyaknya sinonim, sehingga tidak menimbulkan interpretasi berlainan. 3)

  

Membedakan kata-kata yang mirip dalam ejaannya. Kesalahpahaman akan

  mungkin terjadi jika penulis atau pembicara tidak mampu membedakan kata- kata yang mirip ejaannya. Misalnya interferensiinferensi,

  preposisiproposisi.

  4)

  

Hindarilah kata-kata ciptaan sendiri. Bahasa selalu berkembang sesuai dengan

  perkembangan dalam masyarakat. Namun, bukan berarti setiap individu boleh menciptakan kata baru seenaknya. Kata baru hendaknya dapat diterima dan menjadi milik masyarakat. 5)

  

Waspadalah terhadap penggunaan akhiran asing, terutama kata-kata asing

  yang mengandung akhiran asing tersebut. Perhatikan penggunaan: idiom

  6)

  

Kata kerja yang menggunakan kata depan harus digunakan secara idiomatis:

ingat akan bukan ingat terhadap, mengharapkan bukan mengharap akan, dan sebagainya.

  7)

  

Untuk menjamin ketepatan diksi, penulis atau pembicara harus membedakan

  kata umum dan kata khusus. Kata khusus lebih tepat menggambarkan sesutau daripada kata umum.

8) Mempergunakan kata-kata indria yang menunjukkan persepsi yang khusus.

  

Memperhatikan perubahan makna yang terjadi pada kata-kata yang sudah

dikenal.

  10)

  9)

  Selain ketepatan diksi, seorang penulis atau pembicara juga harus menggunakan kata-kata yang sesuai agar tidak menimbulkan ketegangan antara penulis atau pembicara dengan para pembaca atau para hadirin. Keraf (1984:103- 110) akan memaparkan persyaratan sebagai berikut.

  1)

  

Hindarilah sejauh mungkin bahasa atau unsur substandar dalam suatu situasi

  yang formal. Pilihan kata seseorang harus sesuai dengan lapisan pemakaian bahasa. Penggunaan unsur-unsur nonstandar akan mencermikan bahwa latar sosial-ekonomi si pemakai bahasa masih terbelakang, itulah sebabnya mengapa pemakaian unsur substandar dalam situasi formal harus dihindari.

  2)

  

Gunakanlah kata-kata ilmiah dalam situasi yang khusus saja. Dalam situasi

  yang umum hendaknya penulis dan pembicara mempergunakan kata-kata populer. Kata-kata ilmiah adalah kata-kata yang dipakai dalam pertemuan

  Memperhatikan kelangsungan pilihan kata kata populer adalah kata-kata yang dikenal dan diketahui oleh seluruh lapisan masyarakat. Apabila penulis atau pembicara tidak memperhatikan penggunaan kata-kata tersebut, maka suasana yang dimasukinya akan terganggu.

  3)

  

Hindarilah jargon dalam tulisan untuk pembaca umum. Jargon diartikan

  sebagai kata-kata teknis atau rahasia dalam suatu bidang ilmu, seni, perdagangan, atau kelompok tertentu. Karena sifatnya yang khusus, penggunaan jargon untuk pembaca umum tidak akan banyak artinya. 4)

  

Penulis atau pembicara sejauh mungkin menghindari pemakaian kata-kata

slang. Kata-kata slang adalah semacam kata percakapan yang tinggi atau

  murni. Pada umumnya kata-kata slang mudah tumbuh secara populer, namun akan segera hilang dari pemakaian. Selain itu, kata-kata slang selalu menimbulkan ketidaksesuaian. Oleh sebab itu, pemakaian kata-kata slang hendaknya dihindari.

  5)

  

Dalam penulisan jangan mempergunakan kata percakapan. Kata percakapan

  adalah kata-kata yang biasa dipakai dalam percakapan atau pergaulan orang- orang yang terdidik, termasuk di dalamnya terdapat kata-kata ilmiah. Bahasa percakapan ini dapat ditulis, bila penulis bermaksud melukiskan bahasa percakapan itu sendiri, tetapi dalam bahasa umum unsur-unsur percakapan ini hendaknya dihindari. 6)

  

Hindarilah ungkapan-ungkapan usang (idiom yang mati). Idiom adalah pola- pola struktural yang menyimpang dari kaidah-kaidah bahasa yang umum. maksud seseorang. Oleh sebab itu, idiom-idiom yang sudah mati hendaknya dihindari.

  7)

  

Jauhkan kata-kata atau bahasa yang artifisial. Bahasa artifisial adalah bahasa

  yang disusun secara seni. Dalam bahasa umum atau bahasa ilmiah, bahasa artifisial harus dihindari agar penulis dapat menyampaikan maksudnya dengan tepat.

  Penggunaan bahasa standar dan bahasa nonstandar dalam pemilihan kata harus diperhatikan sungguh-sungguh oleh penulis maupun pembicara. Keraf (1984:104-105) menjelaskan bahasa standar adalah semacam dialek kelas dan dapat dibatasi sebagai tutur dari mereka yang mengenyam kehidupan ekonomis atau menduduki status sosial yang cukup dalam suatu masyarakat. Kelas-kelas ini ditempati oleh kaum terpelajar, yang meliputi pejabat-pejabat pemerintah, ahli- ahli bahasa, ahli-ahli hukum, dokter, pedagang, guru, penulis, penerbit, seniman, insinyur, serta semua ahli lainnya, bersama keluarganya.

  Bahasa nonstandar adalah bahasa dari mereka yang tidak memperoleh kedudukan atau pendidikan yang tinggi. Bahasa ini dipakai untuk pergaulan biasa, tidak dipakai dalam tulisan-tulisan. Kadang-kadang unsur nonstandar dipergunakan juga oleh kaum terpelajar dalam bersenda-gurau, berhumor, atau untuk menyatakan ciri-ciri kedaerahan. Penggunaan unsur-unsur nonstandar akan mencerminkan bahwa latar sosial-ekonomi si pemakai masih terbelakang atau masih rendah.

  2.6.2 Gaya Bahasa

  Gaya bahasa merupakan salah satu hal yang mempengaruhi santun tidaknya pemakaian bahasa seseorang. Pranowo (2009:18) menjelaskan bahwa gaya bahasa bukan sekadar mengefektifkan maksud pemakaian bahasa, melainkan juga memperlihatkan keindahan tuturan dan kehalusan budi bahasa penutur.

  Berikut adalah beberapa gaya bahasa yang digunakan untuk melihat santun tidaknya pemakaian bahasa dalam bertutur.

  Pertama, adalah majas hiperbola. Hiperbola merupakan salah satu jenis

  gaya bahasa perbandingan yang membandingkan sesuatu dengan sesuatu hal yang lain secara berlebihan. Kedua, majas perumpamaan yang dipahami sebagai salah satu jenis gaya bahasa perbandingan yang membandingkan dua hal yang berlainan, tetapi dianggap sama. Ketiga, majas metafora sebagai salah satu jenis gaya bahasa perbandingan mampu menambah daya bahasa tuturan. Metafora adalah suatu jenis gaya bahasa yang membuat perbandingan secara langsung antara dua hal atau benda untuk menciptakan suatu kesan mental yang hidup.

  

Terakhir, majas eufemisme yang merupakan salah satu jenis gaya bahasa

  perbandingan yang membandingkan dua hal dengan menggunakan pembanding yang lebih halus.

  2.6.3 Kata Fatis

  Kridalaksana (1986:111) menjelaskan kategori fatis sebagai kategori yang bertugas melulai, mempertahankan, atau mengkukuhkan pembicaraan antara pembicara dan kawan bicara. Sebagian besar kategori fatis merupakan ciri ragam kebanyakan kategori fatis terdapat dalam kalimat-kalimat non-standar yang banyak mengandung unsur-unsur daerah atau dialek regional. Berikut ini adalah bentuk-bentuk dari kata fatis (Kridalaksana, 1986:113 –116). 1) ah menekankan rasa penolakan atau acuh tak acuh. 2) ayo menekankan ajakan. 3)

  

deh menekankan pemksaan dengan membujuk, pemberian persetujuan,

pemberian garansi, sekedar penekanan.

  4)

  

dong digunakan untuk menghaluskan perintah, menekankan kesalahan kawan

bicara.

  5) ding menekankan pengakuan kesalahan pembicara. 6)

  

halo digunakan untuk memulai dan mengukuhkan pembicaraan di telepon,

serta menyalami kawan bicara yang dianggap akrab.

  7)

  

kan apabila terletak pada akhir kalimat atau awal kalimat, maka kan

  merupakan kependekan dari kata bukan atau bukanlah, dan tugasnya ialah menekankan pembuktian. Apabila kan terletak di tengah kalimat maka kan juga bersifat menekankan pembuktian atau bantahan. 8)

  

kek mempunyai tugas menekankan pemerincian, menekankan perintah, dan

menggantikan kata saja.

  9)

  

kok menekankan alasan dan pengingkaran. Kok dapat juga bertugas sebagai

pengganti kata tanya mengapa atau kenapa bila diletakkan di awal kalimat.

  10)

-lah menekankan kalimat imperatif dan penguat sebutan dalam kalimat.

  11)

   lho bila terletak di awal kalimat bersifat seperti interjeksi yang menyatakan

  kekagetan. Bila terletak di tengah atau di akhir kalimat, maka lho bertugas menekankan kepastian.

  12) mari menekankan ajakan. 13)

   nah selalu terletak pada awal kalimat dan bertugas untuk minta supaya kawan bicara mengalihkan perhatian ke hal lain.

  14)

   pun selalu terletak pada ujung konstituen pertama kalimat dan bertugas menonjolkan bagian tersebut.

  15)

   selamat diucapkan kepada kawan bicara yang mendapatkan atau mengalami sesuatu yang baik.

  16)

   sih memiliki tugas menggantikan tugas –tah dan –kah, sebagai makna ‘memang’ atau ‘sebenarnya’, dan menekankan alasan.

  17)

   toh bertugas menguatkan maksud; adakalanya memiliki arti yang sama dengan tetapi.

  18)

   ya bertugas mengukuhkan atau membenarkan apa yang ditanyakan kawan

  bicara, bila dipakai pada awal ujaran dan meminta persetujuan atau pendapat kawan bicara bila dipakai pada akhir ujaran.

  19)

   yah digunakan pada awal atau di tengah-tengah ujaran, tetapi tidak pernah

  pada akhir ujaran, untuk mengungkapkan keragu-raguan atau ketidakpastian terhadap apa yang diungkapkan oleh kawan bicara atau yang tersebut dalam kalimat sebelumnya, bila dipakai pada awal ujaran; atau keragu-raguan atau ketidakpastian atas isi konstituen ujaran yang mendahuluinya, bila di tengah

2.7 Unsur Suprasegmental

  Bunyi-bunyi bahasa ketika diucapkan ada yang bisa dipisahkan. Namun, ada pula yang tidak bisa dipisahkan karena kehadiran bunyi ini selalu mengiringi atau menemani bunyi segmental. Sifat yang demikian inilah yang disebut dengan bunyi suprasegmental. Unsur-unsur suprasegmental ini dikelompokkan menjadi beberapa jenis yaitu, intonasi, tekanan, dan nada.

2.7.1 Intonasi

  Muslich (2008:115-116) mengemukakan bahwa intonasi dalam bahasa Indonesia sangat berperan dalam pembedaan maksud kalimat. Bahkan, dengan dasar kajian pola-pola intonasi ini, kalimat bahasa Indonesia dibedakan menjadi kalimat berita (deklaratif), kalimat tanya (interogatif), dan kalimat perintah (imperatif).

  Kalimat berita (deklaratif) ditandai dengan pola intonasi datar-turun. Pola intonasi kalimat berita dilambangkan dilambangkan dengan tanda titik tunggal (.). Kalimat tanya (interogatif) ditandai dengan pola intonasi datar-naik.

  Dalam penulisan, pola intonasi kalimat tanya dilambangkan dengan tanda tanya (?), sedangkan kalimat perintah (imperatif) ditandai dengan pola intonasi datar- tinggi, dan dilambangkan dengan tanda seru (!).

  Lebih lanjut lagi yaitu kalimat seru. Keraf (1991:208) menambahkan kalimat seru ke dalam jenis kalimat dalam bahasa Indonesia. Kalimat seru adalah kalimat yang menyatakan perasaan hati atau kebenaran terhadap suatu hal. Kalimat seru ditandai dengan intonasi yang lebih tinggi dari kalimat inversi.

  2.7.2 Tekanan

  Tekanan dalam tuturan bahasa Indonesia berfungsi membedakan maksud dalam tataran kalimat (sintaksis), tetapi tidak berfungsi membedakan makna dalam tataran kata (leksis). Dalam tataran kalimat tidak semua kata mendapatkan tekanan yang sama. Hanya kata-kata yang dipentingkan atau dianggap penting saja yang mendapatkan tekanan (aksen) (Muslich, 2009:113).

  2.7.3 Nada

  Nada menyangkut tinggi rendahnya suatu bunyi. Suatu bunyi segmental yang diucapkan dengan frekuensi getaran yang tinggi, pastilah dibarengi dengan bunyi suprasegmental dengan ciri prosodi nada tinggi. Demikian pula sebaliknya, semakin rendah frekuensi getarannya nada yang menyertainya juga semakin rendah (Marsono, 2008:116). Variasi nada biasanya dibedakan menjadi 4: 1) Nada rendah ditandai dengan angka 1. 2) Nada sedang ditandai dengan angka 2. 3) Nada tinggi ditandai dengan angka 3. 4) Nada sangat tingggi ditandai dengan angka 4.

  Dalam penuturan bahasa Indonesia, tinggi rendahnya (nada) suara tidak fungsional atau tidak membedakan makna. Oleh karena itu, dalam kaitannya dengan pembedaan makna, nada dalam bahasa Indonesia tidak fonemis. Walaupun demikian, ketidakfonemisan ini tidak berarti nada tidak ada dalam bahasa Indonesia. Hal ini disebabkan oleh adanya faktor ketegangan pita suara, yang disebabkan oleh kenaikan arus udara dari paru-paru, makin tinggi pula nada bunyi tersebut. Begitu juga dengan posisi pita suara yang bergetar lebih cepat akan menentukan tinggi nada suara ketika berfonasi (Muslich, 2009:112).

2.8 Teori Maksud

  Rahardi (2003:16) memaparkan bahwa ilmu bahasa pragmatik sesungguhnya mengkaji maksud penutur di dalam konteks situasi dan lingkungan sosial-budaya tertentu. Karena yang dikaji di dalam pragmatik adalah maksud penutur dalam menyampaikan tuturannya, dapat pula dikatakan bahwa pragmatik dalam berbagai hal sejajar dengan semantik, yakni cabang ilmu bahasa yang mengkaji makna bahasa, tetapi makna bahasa itu dikaji secara internal. Jadi, sesungguhnya perbedaan yang sangat mendasar antarkeduanya adalah bahwa pragmatik mengkaji makna satuan lingual tertentu secara eksternal, sedangkan sosok semantik mengkaji makna satuan lingual tersebut secara internal.

  Makna yang dikaji dalam pragmatik bersifat terikat konteks (context

  

dependent), sedangkan makna yang dikaji di dalam semantik berciri bebas

  konteks (context independent). Pragmatik mengkaji bahasa untuk memahami maksud penutur, semantik mempelajarinya untuk memahami makna sebuah satuan linguan an sich, yang notabene tidak perlu disangkutpautkan dengan konteks situasi masyarakat dan kebudayaan tertentu yang menjadi wadahya (Rahardi, 2003:16 −17).

  Wijana & Muhammad (2008:10

  • –11) juga menjelaskan bahwa makna

  berbeda dengan maksud dan informasi karena maksud dan informasi bersifat di luar bahasa. Maksud ialah elemen luar bahasa yang bersumber dari pembicara,

  Maksud bersifat subjektif, sedangkan informasi bersifat objektif. Lebih jelasnya dapat dilihat pada kalimat (6), (7), (8), dan (9) berikut.

  (6) Anak itu memang pandai. Nilai bahasanya 9. (7) Anak itu memang pandai. Nilai bahasanya saja 4,5. (8) Ayah membeli buku. (9) Buku ini dibeli ayah.

  Kata “pandai” dalam kalimat (6) bermakna “pintar” karena secara

internal memang kata “pandai” bermakna demikian. Kata “pandai” dalam kalimat

(7) yang bermakna internal “pintar” dimaksudkan secara subjektif oleh

  penuturnya untuk mengungkapkan bahwa dia bodoh. Pengungkapannya yang

  

bersifat subjektif inilah yang disebut “maksud”. “Pandai” yang menyatakan

“pintar” pada kalimat (6) disebut makna linguistik (linguistic meaning),

sedangkan “pandai” yang menyatakan “bodoh” pada kalimat (7) disebut makna

  penutur (speaker meaning). Makna linguistik (makna) menjadi bahan kajian semantik, sedangkan makna penutur (maksud) menjadi bahan kajian pragmatik.

  Kalimat (8) jelas memiliki perbedaan makna (gramatikal) dengan kalimat (9). Kalimat (8) adalah kalimat aktif, sedangkan kalimat (9) adalah kalimat pasif. Akan tetapi, berdasarkan isi tuturan secara objektif kedua kalimat di atas menyatakan infor masi yang sama, yakni “ayah yang membeli buku” dan “buku

  yang dibeli ayah”.

2.9 Kerangka Berpikir

  FENOMENA KETIDAKSANTUNAN BERBAHASA DI RANAH KELUARGA TEORI KETIDAKSANTUNAN BERBAHASA LOCHER AND TERKOURAFI LOCHER CULPEPER BOUSFIELD WATTS (2008) (2008) (2008) (2008) (2008)

  

HASIL PENELITIAN

WUJUD LINGUISTIK PENANDA MAKSUD DAN PRAGMATIK KETIDAKSANTUNAN KETIDAKSANTUNAN

  Penggunaan bahasa yang santun belum banyak diterapkan oleh masyarakat pada umumnya. Tidak mengherankan lagi jika masih ditemukan penggunaan bahasa yang tidak santun, bahkan nilai rasa yang terkandung di dalamnya seringkali menyakiti orang lain. Berikut ini adalah penjelasan dari kerangka berpikir pada bagan di atas.

  Peneliti mengambil data yang berupa tuturan tidak santun dalam keluarga kemudian diklasifikasikan sesuai dengan teori-teori ketidaksantunan berbahasa. Seperti yang sudah dipaparkan, terdapat lima teori ketidaksantunan berbahasa yang digunakan dalam penelitian ini. Pertama, teori ketidaksantunan berbahasa menurut Locher and Watts, yang lebih menitikberatkan pada bentuk penggunaan ketidaksantunan tuturan oleh penutur yang secara normatif dianggap negatif, karena dianggap melanggar norma-norma sosial yang berlaku dalam masyarakat (tertentu). Kedua, teori ketidaksantunan berbahasa menurut Terkourafi (2008), yakni apabila ketidaksantunan tuturan penutur yang membuat mitra tutur merasa mendapat ancaman (addressee) terhadap kehilangan muka, tetapi penutur tidak menyadari bahwa tuturannnya telah memberikan ancaman muka mitra tuturnya.

  

Ketiga, teori ketidaksantunan menurut Miriam A Locher (2008), yaitu tindak

berbahasa yang melecehkan (face-aggravate) dan memain-mainkan muka.

  

Keempat, teori ketidaksantunan berbahasa menurut Culpeper (2008), dipahami

  sebagai perilaku komunikasi yang diperantikan secara intensional untuk membuat orang benar-benar kehilangan muka (face lose) atau setidaknya orang tersebut merasa kehilangan muka. Terakhir, teori ketidaksantunan berbahasa menurut Bousfield (2008), yakni apabila perilaku berbahasa seseorang itu mengancam muka, dan ancaman tersebut dilakukan secara sembrono (gratuitous), hingga akhirnya tindakan berkategori sembrono demikian mendatangkan konflik

  

(conflictive) atau bahkan pertengakaran, dan tindakan tersebut dilakukan dengan

kesengajaan (purposeful). Berdasarkan teori tersebut, hasil penelitian yang

  didapatkan berupa wujud, penanda, dan maksud ketidaksantunan pragmatik dan

BAB III METODE PENELITIAN Bab ini berisi uraian tentang jenis penelitian, data dan sumber data,

  metode dan teknik pengumpulan data, instrumen penelitian, metode dan teknik analisis data, sajian hasil analisis data serta trianggulasi data.

3.1 Jenis Penelitian

  Penelitian ketidaksantunan berbahasa dalam ranah keluarga ini merupakan penelitian deskriptif. Penelitian deskripif adalah penelitian yang berusaha untuk menuturkan pemecahan masalah yang ada sekarang berdasarkan data-data, jadi penelitian ini juga menyajikan data, menganalisis, dan menginterpretasi (Narbuko, 2009:44). Penelitian deskriptif juga diartikan sebagai penelitian yang mencoba untuk memberikan gambaran secara sistematis tentang situasi, permasalahan, fenomena, layanan atau program, ataupun menyediakan informasi tentang, misalnya, kondisi kehidupan suatu masyarakat pada suatu daerah (Widi, 2010:47). Tujuan utama dari penelitian ketidaksantunan ini adalah untuk mendeskripsikan secara konkret dan terperinci fenomena kebahasaan yang berkaitan dengan seluk beluk ketidaksantunan berbahasa dalam ranah keluarga.

  Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Penelitian dengan pendekatan kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian, misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dan lain sebagainya (Herdiansyah, 2010:9). Pemahaman tentang kualitatif juga dikemukakan oleh yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang- orang dan perilaku yang dapat diamati.

3.2 Data dan Sumber Data

  Data adalah hasil pencatatan peneliti, baik yang berupa fakta ataupun angka (Arikunto, 2010:161). Pemahaman tentang data juga dikemukakan oleh Sudaryanto (1993:3) via Mahsun (2007:18) sebagai bahan penelitian, yaitu bahan jadi (lawan dari bahan mentah) yang ada karena pemilihan aneka macam tuturan (bahan mentah).

  Wujud data dalam penelitian ini berupa tuturan yang diperoleh secara natural dalam ranah keluarga yang di dalamnya terdapat bentuk-bentuk kebahasaan yang secara linguistik maupun nonlinguistik mengandung maksud yang tidak santun.

  Bentuk-bentuk kebahasaan yang memiliki makna tidak santun baik secara linguistik maupun nonlinguistik menjadi objek sasaran dalam penelitian ini dan sisa bentuk kebahasaan yang ada merupakan konteksnya. Dengan demikian, bentuk-bentuk kebahasaan yang tidak santun bersama entitas kebahasaan yang mengikuti dan mengawalinya merupakan data yang diperoleh dari penelitian ini.

  Arikunto (2010:172) juga menjelaskan bahwa sumber data dalam penelitian adalah subjek darimana data diperoleh. Sumber data dalam penelitian ini adalah anggota keluarga petani yang tinggal di wilayah Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Sumber data tersebut berasal dari keluarga yang bermata pencaharian pokok sebagai petani, baik pemilik sawah itu sendiri maupun petani yang menggeluti profesi lain di samping mata pencaharian utamanya yaitu bercocok tanam.

  Sumber data penelitian ketidaksantunan berbahasa ini meliputi berbagai macam cuplikan tuturan yang diambil secara natural dalam praktik-praktik perbincangan dan rekaman hasil simakan tuturan para orang tua dan anggota keluarga yang diperoleh baik secara terbuka maupun tersembunyi, sehingga diharapkan data penelitian yang diperoleh bersifat natural, andal, dan terpercaya.

3.3 Metode dan Teknik Pengumpulan Data

  Penelitian ini menggunakan dua metode, yaitu metode simak dan metode cakap. Metode simak merupakan metode pengumpulan data yang dilakukan dengan cara menyimak penggunaan bahasa yang sesungguhnya (Rahardi, 2009:34). Metode ini dapat dilakukan dengan menyimak pertuturan langsung dalam ranah keluarga petani yang dipresumsikan di dalamnya terdapat bentuk- bentuk kebahasaan yang mengandung makna ketidaksantunan berbahasa baik secara linguistik maupun nonlinguistik. Selanjutnya, metode cakap merupakan metode penyediaan data yang dilakukan dengan cara mengadakan percakapan. Metode cakap dapat pula disejajarkan dengan metode wawancara (Rahardi, 2009:34). Pengertian tentang wawancara dikemukakan oleh Moleong (2005) via Herdiansyah (2010:118) sebagai percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan terwawancara (interviewee) yang memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut.

  Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam rangka melaksanakan metode simak adalah teknik rekam dan teknik catat. Perekaman dapat dilakukan dengan tape recorder atau alat rekam lainnya. Pelaksanaan perekaman sudah barang tentu harus dilakukan sedemikian sehingga tidak mengganggu kewajaran proses kegiatan pertuturan yang sedang terjadi; sehingga dalam praktiknya, kegiatan merekam itu

  • – atau setidak-tidaknya tujuan merekam itu – cenderung

  selalu dilakukan tanpa sepengetahuan penutur sumber data atau pembicara (Sudaryanto, 1993:135). Selain teknik rekam, dapat pula dilakukan pencatatan pada kartu data yang segera dilanjutkan dengan klasifikasi. Pencatatan itu dapat dilakukan langsung ketika teknik rekam sudah dilakukan dan dengan menggunakan alat tulis tertentu (Sudaryanto, 1993:135). Data dari rekaman pertuturan atau catatan itulah yang diperoleh sebagai bahan jadi penelitian ketidaksantunan berbahasa ini.

  Teknik pengumpulan data selanjutnya yang digunakan dalam melaksanakan metode cakap adalah teknik pancing. Untuk mendapatkan data, peneliti dapat memancing seseorang atau beberapa orang agar berbicara. Pancingan-pancingan tuturan tersebut memungkinkan hadirnya pertuturan yang menghasilkan bentuk-bentuk kebahasaan yang tidak santun.

3.4 Instrumen Penelitian

  Arikunto (2010:203) memaparkan bahwa instrumen penelitian adalah alat atau fasilitas yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data agar pekerjaannya menjadi lebih mudah dan hasilnya lebih baik, dalam arti lebih digunakan dalam penelitian ketidaksantunan ini ialah pedoman wawancara (daftar pertanyaan, pancingan, dan daftar kasus) dan blangko pengamatan dengan bekal teori ketidaksantunan berbahasa. Teori tersebut digunakan untuk menganalisis penggunaan bahasa antaranggota keluarga. Data-data yang diperoleh kemudian dicatat untuk dianalisis lebih lanjut.

3.5 Metode dan Teknik Analisis Data

  Analisis data merupakan tahap yang dilakukan untuk mengelompokan, menyamakan data yang sama dan membedakan data yang memang berbeda, serta menyisihkan pada kelompok lain data yang serupa, tetapi tidak sama (Mahsun, 2007:253). Analisis data dalam penelitian ketidaksantunan ini dilakukan secara kontekstual, yakni dengan mendeskripsikan dimensi-dimensi konteks dalam menginterpretasi data yang telah berhasil diidentifikasi, diklasifikasi, dan ditipifikasikan.

  Metode analisis kontekstual adalah cara analisis yang diterapkan pada data dengan mendasarkan dan mengaitkan konteks (cf. Rahardi, 2004; Rahardi, 2006 dalam Rahardi, 2009:36). Metode analisis kontekstual ini dapat disejajarkan dengan metode analisis padan. Metode padan itu dapat dibedakan menjadi dua, yakni metode padan yang sifatnya intralingual dan metode padan yang sifatnya ekstralingual.

3.5.1 Metode dan Teknik Analisis Data secara Linguistik

  Metode dalam analisis data secara linguistik menggunakan metode padan intralingual. Mahsun (2007:118) mendefinisikan metode padan unsur-unsur yang bersifat lingual, baik yang terdapat dalam satu bahasa maupun dalam beberapa bahasa yang berbeda.

3.5.2 Metode dan Teknik Analisis Data secara Pragmatik

  Metode dalam analisis data secara pragmatik menggunakan metode padan ekstralingual. Metode padan ekstralingual digunakan untuk menganalisis unsur yang bersifat ekstralingual, seperti menghubungkan masalah bahasa dengan hal yang berada di luar bahasa (Mahsun, 2007:120). Data yang telah diperoleh dalam penelitian ini kemudian dianalisis dengan langkah-langkah sebagai berikut.

  1)

  

Peneliti mentranskripsi data (tuturan ketidaksantunan) yang sudah diperoleh

melalui hasil rekaman atau pencatatan.

  2)

  

Peneliti mengelompokkan tuturan-tuturan berdasarkan teori ketidaksantunan

berbahasa yang sudah menjadi acuan dalam penelitian ini.

  3)

  

Peneliti membuat tabulasi kemudian memasukkan tuturan yang telah

  dikelompokkan ke dalam tabulasi yang berisi tuturan, penanda ketidaksantunan (lingual dan nonlingual), dan persepsi ketidaksantunan.

  4)

  

Peneliti menganalisis data yang telah dikelompokkan dengan mengacu pada

tabulasi.

  5)

  

Peneliti menyimpulkan dan mendeskripsikan data dalam bentuk sajian hasil

analisis.

  3.6 Sajian Hasil Analisis Data

  Hasil analisis data yang telah diinterpretasi dalam penelitian ketidaksantunan ini disajikan secara tidak formal. Dengan kata lain, hasil analisis data itu dirumuskan dengan kata-kata biasa, bukan dengan simbol-simbol tertentu karena memang hasil penelitian ini tidak menuntut model sajian demikian itu.

  3.7 Trianggulasi Data

  Moleong (2006:330) memaparkan bahwa trianggulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data dengan memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data untuk keperluan pengecekan atau pembanding terhadap data. Penelitian ketidaksantunan berbahasa ini menggunakan dua teknik dalam trianggulasi data.

  

Pertama, teknik trianggulasi teori yang berfungsi untuk membandingkan hasil

  temuan dengan teori ketidaksantunan berbahasa dari para ahli bahasa. Kedua, teknik trianggulasi penyidik, ialah dengan membandingkan hasil analisis data peneliti dengan hasil analisis peneliti lain dalam satu tim penelitian. Selain itu, peneliti juga melakukan bimbingan dengan dosen pembimbing yaitu Dr. R.

  Kunjana Rahardi, M.Hum.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Bab ini berisi tentang (1) deskripsi data, (2) analisis data, dan (3) pembahasan hasil penelitian. Ketiga hal tersebut diuraikan sebagai berikut.

4.1 Deskripsi Data

  Data yang dianalisis dalam penelitian ini berupa tuturan yang diperoleh secara natural dalam ranah keluarga, khususnya keluarga petani di wilayah Kabupaten Bantul, Yogyakarta pada bulan April sampai dengan Juni 2013. Data yang telah diperoleh untuk dianalisis sebanyak 70 tuturan dan mengandung maksud tidak santun. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, oleh karena itu ketujuh puluh tuturan tidak santun yang diperoleh sudah dapat menunjukkan fenomena ketidaksantunan yang ada dalam keluarga. Tuturan-tuturan tersebut terbagi dalam lima kategori ketidaksantunan yaitu, melanggar norma, mengancam muka sepihak, melecehkan muka, menghilangkan muka, dan menimbulkan konflik. Data-data tersebut dapat disimak pada halaman lampiran skripsi. Namun, di bawah ini akan disajikan beberapa tabel data tuturan yang telah diperoleh untuk dianalisis.

  Tabel 1. Jumlah Data Tuturan berdasarkan Kategori Ketidaksantunan

  No Jenis/Kategori Ketidaksantunan Jumlah Data

  1 Melanggar Norma

  6

  2 Mengancam Muka Sepihak

  11

  3 Melecehkan Muka

  25

  4 Menghilangkan Muka

  16

  5 Menimbulkan Konflik

  12 Persentase jumlah data terbanyak yang diperoleh dari masing-masing

  6

  2

  20

  4

  7 ,1

  6

  2 70 - Presentase Tuturan (%) 2 ,8

  2

  15

  1

  4 ,2

  2

  1

  

2

  12

  10

  14

  5

  2

  1

  9

  1

  3

  2 ,8

  6

  2 ,8

  3

  1 ,4

  2

  6

  2 ,8

  1 ,4

  1

  6

  2 ,8

  3

  1 ,4

  

6

  

2

,8

  4

  7 ,1

  2 12 17,14 JUMLAH

  5

  Berdasarkan tabel tersebut, dapat dipahami bahwa jumlah data yang terkumpul bervariasi untuk setiap kategori ketidaksantunan. Jumlah data terbanyak dari masing-masing kategori ketidaksantunan adalah 25 tuturan melecehkan muka, selanjutnya 16 tuturan menghilangkan muka, 12 tuturan menimbulkan konflik, 11 tuturan mengancam muka sepihak, dan 6 tuturan melanggar norma. Setiap kategori memiliki makna ketidaksantunan yang berbeda- beda. Makna tersebut menjadi subkategori dalam setiap kategori ketidaksantunan. Untuk persentase jumlah data tuturan berdasarkan subkategori ketidaksantunan tersaji pada tabel berikut.

  M en g ej ek M en y ar an k an

  2 Mengancam Muka Sepihak

  1 6 8,58

  1

  2

  2

  1 Melanggar Norma

  M en y ep el ek an

  M en eg as k an

  3

  M en g an ca m

  M en an y ak an

  K ec ew a

  

M

em

er

in

ta

h

  M en y in d ir

  M en o la k K esal M ar ah

  M en en ta n g

  

Tabel 2. Persentase Jumlah Data Tuturan berdasarkan Subkategori

Ketidaksantunan No . Kategori Ketidasantunan Subkategori Ketidaksantunan J u m la h % T u tu ra n

  2

  

2

  3

  8

  1

  5 Menimbulkan Konflik

  7 16 22,86

  1

  6

  2

  4 Menghilangkan Muka

  2 25 35,71

  1

  1

  2

  2

  8

  2

  3 Melecehkan Muka

  1 11 15,71

  1

  1

  • 1
menghilangkan muka, 17,14 % menimbulkan konflik, 15,71 % mengancam muka sepihak, dan 8,58 % melanggar norma. Data yang berupa tuturan tersebut selanjutnya diidentifikasi berdasarkan subkategori ketidaksantunan. Dari beberapa subkategori ketidaksantunan, yang terbanyak adalah subkategori mengejek dengan 15 tuturan (21,43%). Selanjutnya, subkategori kesal sebanyak 14 tuturan (20%), diikuti oleh subkategori menyindir 12 tuturan (17,14%), subkategori marah 10 tuturan (14,29%), subkategori menolak sebanyak 5 tuturan (7,14%), subkategori menentang, memerintah, menanyakan, menegaskan, menyarankan, dan menyepelekan dengan masing-masing 2 tuturan (2,86%), terakhir subkategori kecewa dan subkategori mengancam yang menduduki persentase terendah, yaitu 1,43 % dengan masing-masing sebanyak 1 tuturan. Berikut disajikan secara rinci data tuturan dari setiap kategori ketidaksantunan.

4.1.1 Melanggar Norma

  Jumlah tuturan yang termasuk dalam kategori ketidaksantunan melanggar norma sebanyak 6 tuturan. Berdasarkan tabel sebelumnya, terdapat 4 subkategori ketidaksantunan dalam kategori melanggar norma. Berikut tuturan yang termasuk ke dalam kategori ketidaksantunan melanggar norma.

  Tabel 3. Data Tuturan Melanggar Norma Subkategori

No Tuturan Kode

Ketidak-santunan

  1. Menentang Opo-opo kok koyo cah cilik to, (A1) mengko lak yo bali dewe!!

  2. Menolak Emoohh, Pak! (A2)

  3. Kesal Mau kan aku wis ngomong, kok (A3) mulih, meh kost wae!!

  5. Menentang Iyo pak, sekalian subuh. (A5)

  (B6)

  4.1.3 Melecehkan Muka

  (B11)

  11. Menegaskan Bu, sesok bayar uang kuliah. Telate dua hari lagi.

  10. Marah Mpun, kulo ajeng jagong! Mang tunggu sak jam!! (B10)

  9. Mengancam Tak jewer koe mengko nek ngeyel!! (B9)

  8. Menanyakan Ngopo mbah kok ra maem? (B8)

  7. Memerintah Mbak, garapke iki! (B7)

  6. Kecewa Sesok meneh ojo nyayur ngene iki, Mak!!

  6. Menolak Ahh..wong neng sekolah wis sinau kok! (A6)

  5. Memerintah Kene, aku meh ngomong! (B5)

  4. Menyindir Wis meh maghrib kok ono tamu!! (B4)

  3. Marah Neng ngomah ki ngopo wae?? (B3)

  2. Menyindir Ngopo Pak, panjenengan kok koyo sakit gigi ngaten? (B2)

  1. Menyindir Sudah hampir setahun, sudah mau punya anak belum? (B1)

  Tabel 4. Data Tuturan Mengancam Muka Sepihak No Subkategori Ketidak-santunan Tuturan Kode

  Jumlah tuturan yang termasuk dalam kategori ketidaksantunan mengancam muka sepihak sebanyak 11 tuturan dengan 7 subkategori ketidaksantunan di dalamnya. Berikut tuturan yang termasuk ke dalam kategori ketidaksantunan mengancam muka sepihak.

  4.1.2 Mengancam Muka Sepihak

  Berdasarkan tabel sebelumnya, jumlah tuturan yang termasuk dalam subkategori ketidaksantunan. Berikut tuturan yang termasuk ke dalam kategori ketidaksantunan melecehkan muka.

  Tabel 5. Data Tuturan Melecehkan Muka No Subkategori Ketidak-santunan Tuturan Kode

  12. Kesal Jaket aja sampai 15 lebih. Kayak artis aja! (C12)

  21. Menolak Ngapain dandan? Ih, Ibu juga ga dandan.

  20. Menyarankan Ya ampun kalian itu gadis, dandan dong! (C20)

  19. Kesal Ibu itu pelit, aku ngga dikasih uang. (C19)

  18. Menyindir Ki lho Mas, ngerti to Undang- undange? (C18)

  (C17)

  17. Mengejek Ini adik keponakan saya, tapi dia gembrotnya kayak gitu.

  (C16)

  16. Mengejek Itu adik saya yang kepala desa itu tapi itu yang paling bodoh itu.

  15. Menyarankan Hei kamu tu dikucir rambutnya, nanti nek kuliah budeg lho! (C15)

  14. Mengejek Cucunya kok cilik. (C14)

  13. Kesal Huu bodoh, raiso ngitung!! (C13)

  11. Kesal Wah opo, kono koe ki cah cilik! (C11)

  1. Kesal Wah ibuk ki ora modern. (C1)

  10. Mengejek Pikirane ki koyo wong tuwek. (C10)

  (C9)

  9. Mengejek Dek, kamu ngga bisa sekolah jadi ABRI seperti saya, soalnya kakimu tu bentuknya O, kaki kok kaya bola.

  8. Mengejek Kok nama saya Lembayung, bapak kasih nama jelek banget! (C8)

  (C7)

  7. Mengejek Sing mesak’ake yo iki mbak, kasian sekali ini. Wis disambi, ireng, kasian sekali yo le sayang ya.

  6. Marah Koe ki anak perawan kok keset!! (C6)

  5. Menyindir Maklum lah wong hukum. (C5)

  (C4)

  4. Mengejek Wah simbok ki kalah sekolah mbiyen karo saiki. Mbiyen ki kuno.

  3. Kesal Hayoo, punya mulut kok ga bisa ngomong to?besok lagi bilang! (C3)

  2. Menanyakan Kok nilai kamu tu jelek, ga pernah belajar ya? (C2)

  (C21)

  23. Menolak Dadi pegawai negeri bapak ra dadi (C23) opo-opo kok! Aku emoh pegawai negeri!

  24. Marah Woo nenek lampir! (C24)

  25. Kesal Mbayar larang-larang kon sinau (C25) ngeyel!!

4.1.4 Menghilangkan Muka

  Data tuturan dengan kategori ketidaksantunan menghilangkan muka yang telah ditemukan sebanyak 16 tuturan. Keenam belas tuturan tersebut terdiri dari 4 subkategori ketidaksantunan yang berbeda. Tuturan-tuturan tersebut dapat dilihat pada tabel berikut ini.

  Tabel 6. Data Tuturan Menghilangkan Muka Subkategori

No Tuturan Kode

Ketidak-santunan

  1. Menyindir Ngelih po doyan? (D1)

  2. Menyindir Lehmu kuliah ki arep mbok (D2) rampungke ora? Nek ora po rep ndue bojo wae?

  3. Mengejek Ah bapak kae wis tuwo yo roso kok! (D3)

  4. Mengejek (D4)

  Mak, satus ki nol’e piro?

  5. Kesal (D5)

  Salah’e raiso moco!!

  6. Menyindir Wong yang masih bujang aja banyak (D6) kok kamu tu milih yang udah beristri to nduk?

  7. Mengejek Tapi aku tanya Dik, koe ki seneng (D7) cewek tenan ora?

  8. Kesal Mbok nek ndue anak ki ora akeh-akeh. (D8) Mosok manak ping 6. Koyo pitik wae!!

  9. Mengejek Iya, itu yang masih belum laku mbak, (D9) soalnya pengangguran.

  10. Menyindir Arep mencari sendiri atau dicarikan? (D10)

  11. Mengejek Kalau bapak itu hanya es dua bakso (D11) satu.

  12. Menegaskan Nek sing niki gembeng. (D12)

  14. Mengejek Kui kek’ke juragane! (D14)

4.1.5 Menimbulkan Konflik

  (E6)

  Data tuturan dalam penelitian ini diidentifikasi dan diklasifikasi dengan memperhatikan beberapa aspek, yakni kategori ketidaksantunan tuturan, penanda

  12. Marah Koe ki raiso ndidik anak! (E12)

  11. Marah Koe ki isane mung njaluk’i duit wae!! (E11)

  10. Kesal Woo opo-opo aku. Opo-opo aku!! (E10)

  9. Marah Iso meneng ora? Aku wis dong! (E9)

  8. Marah Lambemu! (E8)

  7. Marah Woo monyet!! (E7)

  6. Menyepelekan Halah mangke bu, neng sawah terus koyo dibayar wae.

  15. Mengejek Kayak kucing lho itu mbak, malu- malu.

  5. Menolak Punya kaki sendiri kok!! (E5)

  4. Menyepelekan Biasa anak muda. (E4)

  3. Kesal Sak karepku to mak, wong sing nganggo aku kok!! (E3)

  2. Kesal Ah, ibuk ki mau tau wae. (E2)

  1. Menyindir Mbok dibanting sisan! Mbok dibaleni! (E1)

  Tabel 7. Data Tuturan Menimbulkan Konflik No Subkategori Ketidak-santunan Tuturan Kode

  Data yang telah dikumpulkan untuk kategori ketidaksantunan menimbulkan konflik terdiri dari 12 tuturan dengan 5 subkategori ketidaksantunan. Berikut merupakan tabel tuturan yang menimbulkan konflik.

  16. Menyindir Loro untu bapakmu. (D16)

  (D15)

4.2 Analisis Data

  secara rinci dalam tabulasi. Berdasarkan tabulasi tersebut, data dalam penelitian ini dianalisis lebih mendalam lagi kemudian disajikan dengan urutan sebagai berikut: (1) wujud ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, (2) penanda ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, dan (3) maksud ketidaksantunan penutur. Wujud ketidaksantunan linguistik berupa tuturan lisan tidak santun yang telah ditranskrip, sedangkan wujud ketidaksantunan pragmatik berkaitan dengan cara penutur ketika menyampaikan tuturan lisan tidak santun tersebut. Penanda ketidaksantunan linguistik dapat dilihat berdasarkan intonasi, tekanan, nada, diksi, dan kata fatis, sedangkan penanda ketidaksantunan pragmatiknya dapat dilihat berdasarkan konteks yang melingkupi setiap tuturan. Konteks tersebut meliputi penutur dan mitra tutur, situasi dan suasana, tujuan penutur, tindak verbal, dan tindak perlokusi. Dalam menganalisis maksud ketidaksantunan, dilakukan konfirmasi kepada penutur. Maksud dan makna tuturan yang menjadi subkategori sebenarnya dapat sama, tetapi pada kenyataannya ada pula yang berbeda. Hal ini terjadi karena makna atau subkategori ditemukan oleh peneliti sesuai dengan persepsi peneliti, sedangkan maksud dapat diketahui dari penutur langsung, karena maksud adalah milik penutur.

  Analisis data didasarkan pada tuturan-tuturan yang termasuk ke dalam lima kategori ketidaksantunan, yaitu melanggar norma, mengancam muka sepihak, melecehkan muka, menghilangkan muka, dan menimbulkan konflik. Berikut ini adalah analisis lebih lanjut mengenai ketidaksantunan linguistik dan pragmatik dalam keluarga petani.

4.2.1 Kategori Ketidaksantunan Melanggar Norma

  Keenam tuturan yang termasuk dalam kategori ketidaksantunan melanggar norma dipaparkan berdasarkan subkategori ketidaksantunan sebagai berikut.

4.2.1.1 Subkategori Menentang

  Cuplikan tuturan 1 MT

  : “Telat pulang tu mbok ngebel rumah, ben wong tuwa ra bingung!” P : “Opo-opo kok koyo cah cilik to, mengko lak yo bali dewe!!” (A1)

  (Konteks tuturan: tuturan terjadi ketika mitra tutur berusaha menegur

  penutur yang terlambat pulang. Sudah ada kesepakatan jika terlambat harus memberi kabar terlebih dahulu melalui telepon. Namun, penutur justru kesal dan berusaha menentang kesepakatan tersebut dengan memberikan jawaban sekenanya kepada mitra tutur)

  Cuplikan tuturan 5 MT : “Rasah wengi-wengi le bali!”

  P : “Iyo Pak, sekalian subuh.” (A5)

  (Konteks tuturan: penutur hendak bepergian bersama teman-temannya

  pada sore hari, mitra tutur berpesan kepada penutur agar tidak pulang larut malam, sesuai dengan kesepakatan yang sudah ditetapkan dalam keluarga. Namun, penutur justru menjawab sekenanya dan terkesan sembrono, sehingga memunculkan kekesalan mitra tutur)

  1) Wujud Ketidaksantunan Linguistik Tuturan A1 : “Opo-opo kok koyo cah cilik to, mengko lak yo bali dewe!!” (Apa-apa kok seperti anak kecil, nanti juga pulang sendiri!!) Tuturan A5

  : “Iyo pak, sekalian subuh.” 2) Wujud Ketidaksantunan Pragmatik

  Tuturan A1: penutur berbicara kepada orang yang lebih tua dengan ketus,

  penutur melanggar aturan yang telah disepakati, penutur tidak mengindahkan teguran dari mitra tutur.

  Tuturan A5: penutur berbicara kepada orang yang lebih tua dengan sembrono,

  penutur berbicara sembari tersenyum tanpa melihat ke arah mitra tutur, penutur tidak mengindahkan pesan dari mitra tutur.

  3) Penanda Ketidaksantunan Linguistik Tuturan A1: intonasi yang digunakan penutur adalah intonasi seru, tekanan

  keras pada frasa bali dewe, nada tinggi, pilihan kata yang digunakan adalah bahasa nonstandar dengan menggunakan bahasa Jawa, dan kata fatis yang terdapat dalam tuturan: kok dan to.

  Tuturan A5: intonasi yang digunakan penutur adalah intonasi berita, tekanan

  lunak pada frasa sekalian subuh, nada sedang, dan pilihan kata yang digunakan adalah bahasa nonstandar dengan menggunakan istilah bahasa Jawa, karena terdapat satu kata yang menggunakan bahasa Jawa, yaitu kata iyo.

  4) Penanda Ketidaksantunan Pragmatik Tuturan A1: Tuturan terjadi ketika mitra tutur berusaha menegur penutur yang

  terlambat pulang. Sudah ada kesepakatan jika terlambat harus memberi kabar melalui telepon. Namun, penutur justru kesal dan berusaha menentang kesepakatan tersebut dengan memberikan jawaban sekenanya. Penutur laki-laki berusia 24 tahun dan mitra tutur perempuan berusia 46 tahun. Penutur adalah anak dari mitra tutur. Tujuan penutur adalah mengungkapkan kekesalanya kepada mitra tutur. Tindak verbal yang terjadi adalah komisif. Tuturan tersebut mengakibatkan tindak perlokusi mitra tutur diam saja dan meninggalkan penutur.

  Tuturan A5: Penutur hendak bepergian bersama teman-temannya pada sore

  hari, mitra tutur berpesan kepada penutur agar tidak pulang larut malam, sesuai dengan kesepakatan yang sudah ditetapkan dalam keluarga. Namun, penutur justru menjawab sekenanya dan terkesan sembrono, sehingga memunculkan kekesalan mitra tutur. Penutur dan mitra tutur laki-laki. Penutur berusia 19 tahun, mahasiswa semester 4 dan mitra tutur berusia 47 tahun. Penutur adalah anak dari mitra tutur. Tujuan penutur adalah berusaha menentang pesan dari MT. Tindak verbal yang terjadi adalah komisif. Tuturan tersebut mengakibatkan tindak perlokusi MT kesal terhadap penutur karena merasa disepelekan.

5) Maksud Ketidaksantunan

  Tuturan A1 dan A5 memiliki maksud yang berbeda. Tuturan A1 disampaikan penutur dengan maksud kesal, karena mitra tutur menegurnya ketika terlambat pulang ke rumah. Berbeda dengan tuturan A5, meskipun termasuk dalam subkategori menentang, pada kenyataannya tuturan itu disampaikan dengan maksud mengajak bercanda mitra tuturnya.

4.2.1.2 Subkategori Menolak

  Cuplikan tuturan 2 MT : “Mbok yo nek mulih sekolah ki opo jam’e, dolan keno, tapi bali

  sik, ganti sik, pamitan sik!” P : “Emoohh, Pak!” (A2)

  (Konteks tuturan: penutur pulang dari bermain dan masih menggunakan

  seragam sekolah. Mitra tutur menegur penutur agar saat pulang sekolah terlebih dahulu berganti pakaian kemudian berpamitan sesuai dengan aturan yang disepakati dalam keluarga. Namun, penutur berusaha menolak teguran mitra tutur dengan jawaban sekenanya)

  Cuplikan tuturan 6 MT

  : “Le, mbok belajar! Sudah waktunya belajar ini.” P : “Ah, wong neng sekolah wis sinau kok!” (A6)

  (Konteks tuturan: mitra tutur berusaha memperingatkan penutur untuk

  belajar, karena sudah disepakati adanya jam belajar pada keluarga tersebut. Namun, penutur justru menjawab sekenanya dan terkesan acuh, bahkan kembali sibuk dengan laptopnya)

  1) Wujud Ketidaksantunan Linguistik Tuturan A2 : “Emoohh, Pak!” (Tidak mau, Pak). Tuturan A6 : “Ah, wong neng sekolah wis sinau kok!” (Ah, di sekolah sudah belajar kok!)

  2) Wujud Ketidaksantunan Pragmatik Tuturan A2: penutur berbicara kepada orang yang lebih tua dengan cara

  menyepelekan, penutur melanggar aturan yang telah disepakati, penutur berbicara dengan datar tanpa rasa bersalah.

  Tuturan A6: penutur berbicara kepada orang yang lebih tua dengan ketus

  tanpa melihat ke arah mitra tutur, penutur tidak mengindahkan peringatan dari mitra tutur.

  3) Penanda Ketidaksantunan Linguistik Tuturan A2: intonasi yang digunakan penutur adalah intonasi seru, tekanan

  lunak pada kata emoohh, nada sedang, dan pilihan kata yang digunakan adalah bahasa nonstandar dengan menggunakan bahasa Jawa.

  Tuturan A6: intonasi yang digunakan penutur adalah intonasi seru, tekanan

  keras pada kata fatis ah, nada sedang, pilihan kata yang digunakan adalah bahasa nonstandar dengan menggunakan bahasa Jawa, dan kata fatis yang terdapat dalam tuturan: ah, wong, dan kok.

  4) Penanda Ketidaksantunan Pragmatik Tuturan A2: Penutur pulang dari bermain dan masih menggunakan seragam

  sekolah pada sore hari. Mitra tutur menegur penutur agar saat pulang sekolah terlebih dahulu berganti pakaian kemudian berpamitan sesuai dengan aturan yang disepakati dalam keluarga tersebut. Namun, penutur berusaha menolak teguran mitra tutur dengan jawaban sekenanya. Penutur perempuan kelas VIII SMP, berusia 16 tahun dan mitra tutur laki-laki berusia 49 tahun. Penutur adalah anak dari mitra tutur. Tujuan penutur adalah menolak anjuran mitra tutur. Tindak verbal yang terjadi adalah komisif. Tuturan tersebut mengakibatkan tindak perlokusi mitra tutur adalah diam saja.

  Tuturan A6: Tuturan terjadi di ruang keluarga pada malam hari ketika suasana

  santai. Mitra tutur berusaha memperingatkan penutur untuk belajar, karena sudah disepakati adanya jam belajar pada keluarga tersebut. Namun, penutur justru menjawab sekenanya dan terkesan acuh, bahkan kembali sibuk dengan laptopnya. Penutur laki-laki kelas VII SMP, berusia 13 tahun dan mitra tutur perempuan berusia 50 tahun. Penutur adalah cucu dari mitra tutur. Tujuan penutur adalah menolak anjuran MT. Tindak verbal yang terjadi adalah komisif. Tuturan tersebut mengakibatkan tindak perlokusi MT adalah kesal kemudian meninggalkan penutur.

  5) Maksud Ketidaksantunan Pada subkategori menolak terdapat dua tuturan, yaitu tuturan A2 dan A6.

  Keduanya mengutarakan maksud yang sama, yaitu maksud menolak. Dalam

4.2.1.3 Subkategori Kesal

  Cuplikan tuturan 3 MT

  : “Hayoo, koe mau dolan ora pamit to??” P : “Mau kan aku wis ngomong, kok diarani dolan, kan wis ijin!!” (A3)

  (Konteks tuturan: penutur pulang dari bepergian pada sore hari, mitra

  tutur menghampiri dan bertanya kepada penutur dengan nada sedikit mencurigai tentang kepergian penutur tanpa seijin mitra tutur. Penutur kesal karena dicurigai, kemudian menjawab pertanyaan mitra tutur dengan ketus)

  1) Wujud Ketidaksantunan Linguistik Tuturan A3 : “Mau kan aku wis ngomong, kok diarani dolan, kan wis ijin!!”

  (Tadi aku sudah bilang, kok dikira bermain, kan sudah izin!!) 2) Wujud Ketidaksantunan Pragmatik

  Tuturan A3: penutur berbicara kepada orang yang lebih tua dengan keras,

  penutur berbicara sembari menatap mitra tutur dengan tatapan mata terbelalak, penutur berusaha melanggar aturan yang telah disepakati.

  3) Penanda Ketidaksantunan Linguistik Tuturan A3: intonasi yang digunakan penutur adalah intonasi seru, tekanan

  keras pada frasa wis ijin, nada tinggi, pilihan kata yang digunakan adalah bahasa nonstandar dengan menggunakan bahasa Jawa, dan kata fatis yang terdapat dalam tuturan: kok dan kan.

  4) Penanda Ketidaksantunan Pragmatik Tuturan A3: Ketika penutur pulang dari bepergian pada sore hari, mitra tutur

  bertanya kepada penutur dengan nada sedikit mencurigai perihal kepergian penutur tanpa seijin mitra tutur. Penutur kesal karena dicurigai, kemudian menjawab pertanyaan mitra tutur dengan ketus. Penutur perempuan kelas XII adalah anak dari mitra tutur. Tujuan penutur adalah berusaha membela diri dari tuduhan mitra tutur. Tindak verbal yang terjadi adalah ekspresif. Tuturan tersebut mengakibatkan tindak perlokusi mitra tutur adalah diam dan tidak mencurigai penutur lagi.

5) Maksud Ketidaksantunan

  Maksud penutur menyampaikan tuturannya adalah untuk membela diri dari tuduhan mitra tuturnya.

4.2.1.4 Subkategori Marah

  Cuplikan tuturan 4 MT : (mengingat peraturan yang telah disepakati bahwa tamu harus

  pulang sebelum pukul 21.00, maka mitra tutur mematikan lampu ruang tamu ketika penutur masih menerima tamunya melebihi jam tersebut).

  P : “Ahh, mamak ki terlalu! Aku ra meh mulih, meh kost wae!!” (A4).

  (Konteks tuturan: terjadi ketika penutur sedang menerima tamu. Tiba-

  tiba mitra tutur mematikan lampu ruang tamu, karena waktu sudah menunjukkan pukul 21.00 WIB. Penutur kesal dan marah dengan sikap

mitra tutur kemudian melontarkan kata-kata kepada mitra tutur)

  1) Wujud Ketidaksantunan Linguistik Tuturan A4 : “Ahh, mamak ki terlalu! Aku ra meh mulih, meh kost wae!!”

  (Ibu itu keterlaluan, aku tidak akan pulang, ingin kost saja!!) 2) Wujud Ketidaksantunan Pragmatik

  Tuturan A4: penutur berbicara kepada orang yang lebih tua dengan berteriak,

  penutur melanggar kesepakatan dalam keluarga, penutur berbicara sembari menunjuk ke arah mitra tutur.

  3) Penanda Ketidaksantunan Linguistik Tuturan A4: intonasi yang digunakan penutur adalah intonasi seru, tekanan

  keras pada kata terlalu, nada tinggi, pilihan kata yang digunakan adalah bahasa nonstandar dengan menggunakan bahasa Jawa, dan kata fatis yang terdapat dalam tuturan: ah.

  4) Penanda Ketidaksantunan Pragmatik Tuturan A4: Tuturan terjadi ketika penutur sedang menerima tamu. Tiba-tiba

  mitra tutur mematikan lampu ruang tamu, karena waktu sudah menunjukkan pukul 21.00 WIB. Mengingat kesepakatan dalam keluarga, bahwa tamu harus pulang sebelum pukul 21.00 WIB. Penutur kesal dan marah dengan sikap mitra tutur kemudian melontarkan kata-kata kepada mitra tutur. Tuturan terjadi dalam suasana serius. Penutur laki-laki berusia 24 tahun dan mitra tutur perempuan berusia 46 tahun. Penutur adalah anak dari mitra tutur. Tujuan penutur adalah menanggapi sikap MT yang kurang menyenangkan. Tindak verbal yang terjadi adalah ekspresif. Tuturan tersebut mengakibatkan tindak perlokusi MT adalah diam saja.

  5) Maksud Ketidaksantunan

  Tuturan A4 disampaikan dengan maksud mengungkapkan kekesalan penutur terhadap sikap mitra tuturnya.

4.2.2 Kategori Ketidaksantunan Mengancam Muka Sepihak

  Berikut ini adalah sepuluh tuturan yang termasuk dalam kategori ketidaksantunan mengancam muka sepihak dan dipaparkan berdasarkan subkategori ketidaksantunan.

4.2.2.1 Subkategori Menyindir

  Cuplikan tuturan 7

  P : “Sudah hampir setahun, sudah mau punya anak belum?” (B1)

  MT : “Belum, Pak.” (Konteks tuturan: penutur dan mitra tutur sedang berbincang-bincang di

  ruang keluarga pada suasana santai. Penutur merasa bahwa sudah waktunya bagi mitra tutur untuk memiliki keturunan. Oleh karena itu, penutur menanyakan hal tersebut kepada mitra tutur tanpa memahami perasaan MT)

  Cuplikan tuturan 10

  MT 1 : “Pak, ada yang mencari” (berjalan menghampiri penutur dan diikuti oleh MT2 yang berjalan pelan di belakang MT1).

  P : “Wis meh maghrib kok ono tamu!!” (B4)

  (Konteks tuturan: penutur sedang berada di teras rumah saat matahari

  mulai tenggelam. Tiba-tiba MT 1 datang memberitahu penutur bahwa MT 2 ingin bertemu dengan penutur. Suasana yang terjadi dalam tuturan adalah serius. Penutur merasa kesal dengan kedatangan MT 2 yang dianggap mengganggu aktivitas penutur, karena hari sudah petang. Penutur melontarkan kata-kata yang menyinggung MT2)

  1) Wujud Ketidaksantunan Linguistik Tuturan B1 : “Sudah hampir setahun, sudah mau punya anak belum?” Tuturan B4

  : “Wis meh maghrib kok ono tamu!!” (Sudah maghrib kok ada tamu!!)

  2) Wujud Ketidaksantunan Pragmatik Tuturan B1: penutur berbicara dengan lugas tanpa memahami perasaan mitra

  tutur, penutur menatap mitra tutur sinis, penutur sengaja bertanya kepada orang yang memang belum memiliki keturunan.

  Tuturan B4: penutur berbicara dengan ketus tanpa melihat ke arah mitra tutur, penutur berbicara sembari berjalan meninggalkan mitra tutur.

  3) Penanda Ketidaksantunan Linguistik Tuturan B1: intonasi yang digunakan penutur adalah intonasi tanya, tekanan

  lunak pada frasa hampir setahun, nada rendah, dan pilihan kata yang digunakan adalah bahasa nonstandar dengan menggunakan kata tidak baku, yaitu kata mau dan punya.

  Tuturan B4: intonasi yang digunakan penutur adalah intonasi seru, tekanan

  keras pada frasa meh maghrib, nada sedang, pilihan kata yang digunakan adalah bahasa nonstandar dengan menggunakan bahasa Jawa, dan kata fatis yang terdapat dalam tuturan: kok.

  4) Penanda Ketidaksantunan Pragmatik Tuturan B1: Penutur dan mitra tutur sedang berbincang-bincang di ruang

  keluarga pada suasana santai. Penutur merasa bahwa sudah waktunya bagi mitra tutur untuk memiliki keturunan. Oleh karena itu, penutur menanyakan hal tersebut kepada mitra tutur tanpa memahami perasaan MT. Penutur laki-laki berusia 65 tahun dan mitra tutur perempuan berusia 33 tahun. Penutur adalah bapak mertua dari mitra tutur. Tujuan penutur adalah mengungkapkan keinginannya untuk segera menimang cucu. Tindak verbal yang terjadi ekspresif. Tindak perlokusi dari tuturan tersebut adalah MT tersinggung dan hanya menjawab pertanyaan penutur dengan singkat.

  Tuturan B4: Penutur sedang berada di teras rumah saat matahari mulai bertemu dengan penutur. Suasana yang terjadi dalam tuturan adalah serius. Penutur merasa kesal dengan kedatangan MT2 yang dianggap mengganggu aktivitas penutur, karena hari sudah petang. Penutur melontarkan kata-kata yang menyinggung MT2. Penutur dan MT2 laki-laki, sedangkan MT1 perempuan. Penutur berusia 65 tahun, MT 1 ibu berusia 50 tahun, dan MT 2 berusia 40 tahun. Penutur adalah kerabat dekat MT2. Tujuan penutur yaitu mengungkapkan ketidaksenangnya terhadap kedatangan MT2. Tindak verbal yang terjadi ialah ekspresif. Tindak perlokusi dari tuturan tersebut yakni MT2 sedikit tersinggung namun tetap menunggu penutur.

5) Maksud Ketidaksantunan

  Tuturan B1 disampaikan penutur dengan maksud menyindir mitra tuturnya yang belum juga memiliki keturunan. Lain halnya dengan maksud mengusir yang disampaikan secara tidak langsung oleh penutur, seperti pada tuturan B4.

4.2.2.2 Subkategori Marah

  Cuplikan tuturan 9

  P : “Neng ngomah ki ngopo wae??” (B3)

  MT : “Gaweanku ki akeh. Ojo ming nyalahke aku terus!!” (Konteks tuturan: penutur pulang dari sawah dan menjumpai mitra tutur

  di dapur pada sore hari. Saat itu, penutur marah ketika pulang dari sawah belum ada air panas untuk mandi dan minum. Maka, penutur melontarkan kata-kata kepada mitra tutur tanpa menyadari tuturannya telah menyinggung mitra tutur)

  Cuplikan tuturan 16

  P : “Mpun, kulo ajeng jagong! Mang tunggu sak jam!!” (B10)

  (Konteks tuturan: tuturan terjadi di teras rumah ketika mitra tutur mengunjungi rumah penutur pada siang hari (Kamis, 13 Juni 2013).

  Setiap kali bertamu, mitra tutur selalu mengungkapkan maksud yang tidak jelas, sehingga mengakibatkan penutur enggan. Penutur

  1) Wujud Ketidaksantunan Linguistik Tuturan B3 : “Neng ngomah ki ngopo wae??” (Di rumah itu apa saja yang dikerjakan?)

  Tuturan B10 : “Mpun, kulo ajeng jagong! Mang tunggu sak jam!!” (Sudah, saya hendak menghadiri pesta pernikahan! Tunggu saja satu jam!!)

  2) Wujud Ketidaksantunan Pragmatik Tuturan B3: penutur berbicara dengan ketus sembari berdiri.

  Tuturan B10: penutur berbicara dengan keras dan ketus, penutur berbicara di

  hadapan tamu yang datang, penutur berbicara sembari berjalan masuk ke dalam rumah dan meninggalkan mitra tutur.

  3) Penanda Ketidaksantunan Linguistik Tuturan B3: intonasi yang digunakan penutur adalah intonasi tanya, tekanan

  keras pada frasa ngopo wae, nada tinggi, dan pilihan kata yang digunakan adalah bahasa nonstandar dengan menggunakan bahasa Jawa.

  Tuturan B10: intonasi yang digunakan penutur adalah intonasi perintah,

  tekanan keras pada frasa sak jam, nada tinggi, dan pilihan kata yang digunakan adalah bahasa nonstandar dengan menggunakan bahasa Jawa.

  4) Penanda Ketidaksantunan Pragmatik Tuturan B3: Penutur pulang dari sawah dan menjumpai mitra tutur di dapur

  pada sore hari. Saat itu penutur marah ketika pulang dari sawah belum ada air panas untuk mandi dan minum. Penutur melontarkan kata-kata kepada mitra tutur dengan nada tinggi tanpa menyadari tuturannya telah menyinggung mitra tutur. Penutur laki-laki berusia 59 tahun dan mitra tutur perempuan berusia 57 mengungkapkan amarahnya kepada MT yang dinilai kurang peduli terhadap keadaan rumah. Tindak verbal yang terjadi ekspresif. Tindak perlokusi dari tuturan tersebut adalah MT menjawab pertanyaan penutur dengan kesal kemudian pergi meninggalkan penutur.

  Tuturan B10: Tuturan terjadi di teras rumah ketika mitra tutur mengunjungi

  rumah penutur pada siang hari (Kamis, 13 Juni 2013). Setiap bertamu, mitra tutur selalu mengungkapkan maksud yang tidak jelas, sehingga mengakibatkan penutur enggan menjumpai mitra tutur. Penutur menanggapi kedatangan mitra tutur dengan melontarkan kata-kata ketus dan bernada tinggi. Penutur dan mitra tutur laki-laki. Penutur berusia 55 tahun dan mitra tutur berusia 49 tahun. Penutur adalah kerabat jauh MT. Tujuan dari penutur adalah mengungkapkan ketidaksenangannya terhadap kedatangan penutur. Tindak verbal yang terjadi adalah ekspresif. Tindak perlokusi dari tuturan tersebut yakni MT pergi.

5) Maksud Ketidaksantunan

  Tuturan B3 disampaikan dengan maksud kesal terhadap sikap mitra tuturnya, sedangkan tuturan B10 disampaikan dengan maksud mengusir mitra tuturnya.

4.2.2.3 Subkategori Memerintah

  Cuplikan tuturan 11

  P : “Kene, aku meh ngomong!” (B5)

  MT : “Yoo, hati-hati. Ngomong yo ngomong tapi kan ngga perlu mutus-

  

mutus sembarangan ngono kui.”

  (Konteks tuturan: mitra tutur sedang menerima telepon dari anggota

  keluarga lain yang berada di luar kota. Tiba-tiba penutur mengambil telepon genggam dari mitra tutur dengan cara yang kurang sopan, sehingga mengakibatkan mitra tutur kesal dan terganggu)

  MT

  : “Koe ngerti ora nek mbak ki repot?” (Konteks tuturan: mitra tutur sedang sibuk mengerjakan tugas kuliah.

  Penutur datang menghampiri dengan menyodorkan buku kepada mitra tutur. Penutur meminta bantuan kepada mitra tutur tanpa menyadari kesibukan yang dialami oleh mitra tutur)

  1) Wujud Ketidaksantunan Linguistik Tuturan B5 : “Kene, aku meh ngomong!” (Sini, aku ingin bicara!)

  Tuturan B7 : “Mbak, garapke iki!” (Mbak, kerjakan ini!)

  2) Wujud Ketidaksantunan Pragmatik Tuturan B5: penutur berbicara dengan ketus, penutur langsung merebut

  telepon genggam dari mitra tutur dengan tidak sopan, penutur berbicara dan melakukan tindakan sembari berdiri, penutur tidak menyadari bahwa tindakannya mengganggu mitra tutur.

  Tuturan B7: penutur berbicara kepada orang yang lebih tua tanpa sungkan

  sedikit pun, penutur kurang peduli dengan aktivitas yang sedang dikerjakan oleh mitra tutur.

  3) Penanda Ketidaksantunan Linguistik Tuturan B5: intonasi yang digunakan penutur adalah intonasi seru, tekanan

  keras pada kata kene, nada sedang, dan pilihan kata yang digunakan adalah bahasa nonstandar dengan menggunakan bahasa Jawa.

  Tuturan B7: intonasi yang digunakan penutur adalah intonasi perintah,

  tekanan lunak pada frasa garapke iki, nada sedang, dan pilihan kata yang digunakan adalah bahasa nonstandar dengan menggunakan bahasa Jawa.

  4) Penanda Ketidaksantunan Pragmatik Tuturan B5: Mitra tutur sedang menerima telepon dari anggota keluarga yang

  berada di luar kota. Tiba-tiba penutur mengambil telepon genggam dari mitra tutur dengan cara yang kurang sopan, sehingga mengakibatkan mitra tutur kesal dan terganggu. Penutur seorang ibu berusia 52 tahun dan mitra tutur seorang bapak berusia 52 tahun. Penutur adalah istri dari mitra tutur. Tujuan dari penutur ingin ikut berbicara dengan kerabat melalui telepon. Tindak verbal yang terjadi ekspresif. Tindak perlokusi dari tuturan tersebut adalah MT kesal dan menasihati penutur.

  Tuturan B7: Mitra tutur sedang sibuk mengerjakan tugas kuliah di ruang

  belajar pada malam hari. Penutur datang menghampiri dengan menyodorkan buku kepada mitra tutur. Penutur meminta tolong agar mitra tutur mau membantu mengerjakan PR. Penutur dan mitra tutur perempuan. Penutur berusia 16 tahun dan mitra tutur mahasiswa semester 8 berusia 22 tahun.

  Penutur adalah adik mitra tutur. Tujuan dari penutur adalah menyuruh mitra tutur mengerjakan PR. Tindak verbal yang terjadi yaitu ekspresif. Tindak perlokusi dari tuturan tersebut yakni MT merasa terganggu kemudian menanggapi permintaan penutur dengan singkat.

  5) Maksud Ketidaksantunan

  Tuturan B5 memiliki maksud memerintah mitra tuturnya, sedangkan pada tuturan B7 penutur bermaksud meminta bantuan dalam pengerjaan tugas.

4.2.2.4 Subkategori Kecewa

  Cuplikan tuturan 12

  P : “Sesok meneh ojo nyayur ngene iki, Mak!!” (B6)

  MT

  : “Koe ki mbok ngerti simbok ki ijen, maem sak anane wae!”

  (Konteks tuturan: penutur hendak mengambil makan sembari mencicipi

  masakan mitra tutur di ruang makan. Penutur kurang menyukai masakan mitra tutur, kemudian mengomentarinya dengan ketus) 1) Wujud Ketidaksantunan Linguistik Tuturan B6 : “Sesok meneh ojo nyayur ngene iki, Mak!!” (Besok lagi jangan masak sayur seperti ini, Mak!!)

  2) Wujud Ketidaksantunan Pragmatik Tuturan B6: penutur berbicara kepada orang yang lebih tua dengan ketus,

  penutur berbicara sembari berdiri tanpa rasa bersalah, penutur mengurungkan niatnya untuk mengambil makanan.

  3) Penanda Ketidaksantunan Linguistik Tuturan B6: intonasi yang digunakan penutur adalah intonasi perintah,

  tekanan keras pada frasa ojo nyayur, nada tinggi, dan pilihan kata yang digunakan adalah bahasa nonstandar dengan menggunakan bahasa Jawa.

  4) Penanda Ketidaksantunan Pragmatik Tuturan B6: Penutur hendak mengambil makan sembari mencicipi masakan

  mitra tutur di ruang makan. Penutur kurang menyukai masakan mitra tutur, kemudian mengomentarinya dengan ketus. Penutur tidak menyadari bahwa kata-katanya telah menyinggung mitra tutur. Penutur laki-laki berusia 21 tahun dan mitra tutur perempuan berusia 50 tahun. Penutur adalah anak dari mitra tutur. Tujuan dari penutur mengungkapkan kekecewaannya terhadap masakan tersebut adalah mitra tutur kesal lalu melontarkan kata-kata kepada penutur dan meninggalkannya.

5) Maksud Ketidaksantunan

  Tuturan B6 disampaikan dengan maksud memberi saran terhadap masakan mitra tutur, namun pemberian saran itu ternyata mengakibatkan mitra tuturnya kurang berkenan.

4.2.2.5 Subkategori Menanyakan

  Cuplikan tuturan 14

  P : “Ngopo mbah kok ra maem??” (B8)

  MT

  : “Lha yo wong seko sawah kesel-kesel kok ra ono wedang panas.”

  (Konteks tuturan: mitra tutur kesal ketika pulang dari sawah pada sore

  hari belum ada air panas untuk mandi. Kekesalan mitra tutur diperlihatkan dengan cara berdiam diri. Melihat tingkah laku mitra tutur yang tidak seperti biasanya, penutur kemudian bertanya kepada mitra tutur tanpa rasa bersalah sedikit pun)

  1) Wujud Ketidaksantunan Linguistik Tuturan B8 : “Ngopo mbah kok ra maem??” (Kenapa mbah kok tidak makan?)

  2) Wujud Ketidaksantunan Pragmatik Tuturan B8: penutur bertanya kepada mitra tutur dengan datar tanpa merasa

  bersalah, penutur tidak menyadari bahwa pertanyaannya membuat mitra tutur tidak berkenan, penutur bertanya di waktu yang kurang tepat.

  3) Penanda Ketidaksantunan Linguistik Tuturan B8: intonasi yang digunakan penutur adalah intonasi tanya, tekanan

  lemah pada frasa ra maem, nada rendah, pilihan kata yang digunakan adalah bahasa nonstandar dengan menggunakan bahasa Jawa, dan kata fatis yang

  4) Penanda Ketidaksantunan Pragmatik Tuturan B8: Mitra tutur kesal ketika pulang dari sawah pada sore hari belum

  ada air panas untuk mandi. Kekesalan mitra tutur diperlihatkan dengan cara berdiam diri. Melihat tingkah laku mitra tutur yang tidak seperti biasanya, penutur kemudian bertanya kepada mitra tutur tanpa rasa bersalah sedikit pun. Penutur perempuan berusia 59 tahun dan mitra tutur laki-laki berusia 61 tahun. Penutur adalah istri dari mitra tutur. Tujuan dari penutur yaitu menanggapi tingkah laku MT yang berbeda. Tindak verbal yang terjadi adalah ekspresif.

  Tindak perlokusi dari tuturan tersebut adalah mitra tutur menjawab sekenanya dan pergi meninggalkan penutur.

  5) Maksud Ketidaksantunan

  Penutur bermaksud menanyakan suatu hal kepada mitra tutur, karena melihat tingkah laku mitra tutur yang tidak seperti biasanya.

4.2.2.6 Subkategori Mengancam

  Cuplikan tuturan 15

  P : “Tak jewer koe mengko nek ngeyel!!” (B9)

  (Konteks tuturan: Senin, 10 Juni 2013, sekitar pukul 11.30

  • – 12.30 WIB

  di persawahan. Penutur sedang kerepotan mengangkat dedaunan untuk makanan sapi ke atas motor, sedangkan mitra tutur yang berada di dekatnya terlihat asik bermain karena mitra tutur merasa bahwa tugasnya telah usai. Penutur berusaha memperingatkan mitra tutur dengan melontarkan kata-kata yang sedikit mengancam)

1) Wujud Ketidaksantunan Linguistik Tuturan B9

  : “Tak jewer koe mengko nek ngeyel!!” (Saya jewer kamu nanti kalau sulit diatur!!)

  2) Wujud Ketidaksantunan Pragmatik Tuturan B9: penutur berbicara dengan ketus dan keras, penutur berbicara

  sembari menunjuk ke arah mitra tutur dengan tatapan mata terbelalak, penutur berbicara dengan melontarkan ancaman di hadapan banyak orang.

  3) Penanda Ketidaksantunan Linguistik Tuturan B9: intonasi yang digunakan penutur adalah intonasi seru, tekanan

  keras pada frasa tak jewer, nada tinggi, dan pilihan kata yang digunakan adalah bahasa nonstandar dengan menggunakan bahasa Jawa.

  4) Penanda Ketidaksantunan Pragmatik Tuturan B9: Senin, 10 Juni 2013, sekitar pukul 11.30

  • – 12.30 WIB di

  persawahan. Penutur sedang kerepotan mengangkat dedaunan untuk makanan sapi ke atas motor, sedangkan mitra tutur yang berada di dekatnya terlihat asik bermain dan merasa bahwa tugasnya telah usai. Penutur berusaha memperingatkan mitra tutur dengan melontarkan kata-kata ancaman. Penutur dan mitra tutur laki-laki. Penutur berusia 45 tahun dan mitra tutur berusia 4 tahun. Penutur adalah anak dari mitra tutur. Tujuan dari penutur yaitu mengungkapkan kekesalannya. Tindak verbal yang terjadi adalah ekspresif. Tindak perlokusi dari tuturan tersebut yakni MT menghentikan aktivitas bermainnya dengan mata yang memerah menahan tangis.

  5) Maksud Ketidaksantunan Terdapat satu tuturan dalam subkategori mengancam ini, yaitu tuturan B9.

  Meskipun termasuk dalam subkategori mengancam, pada kenyataannya tuturan ini disampaikan dengan maksud menakut-nakuti mitra tuturnya yang dianggap telah mengganggu aktivitas penutur.

4.2.2.7 Subkategori Menegaskan

  Cuplikan tuturan 17

  P : “Bu, sesok mbayar uang kuliah. Telate dua hari lagi.” (B11)

  MT

  : “Lha le ngomong kok ra sesok pas hari-H wae. Tuku iki, tuku kui

  kok mendadak. Nek mendadak ki duit yo nganggo golek, ora

  dadakan koyo ngono!”

  (Konteks tuturan: tuturan terjadi ketika penutur pulang dari kuliah siang

  hari dalam suasana santai. Penutur secara tiba-tiba memberi tahu mitra tutur bahwa 2 hari lagi batas akhir pembayaran uang kuliah. Penutur tidak menyadari bahwa perkataannya membuat mitra tutur terkejut dan kurang berkenan)

  1) Wujud Ketidaksantunan Linguistik Tuturan B11 : “Bu, sesok bayar uang kuliah. Telate dua hari lagi.” (Bu, besok membayar uang kuliah. Paling lambat dua hari lagi).

  2) Wujud Ketidaksantunan Pragmatik Tuturan B11: penutur berbicara kepada orang yang lebih tua dengan santai

  tanpa sungkan, penutur berusaha memberi penegasan perihal pembayaran uang kuliah.

  3) Penanda Ketidaksantunan Linguistik Tuturan B11: intonasi yang digunakan penutur adalah intonasi berita, tekanan

  lunak pada frasa sesok bayar, nada sedang, dan pilihan kata yang digunakan adalah bahasa nonstandar dengan menggunakan istilah bahasa Jawa, yaitu pada kata sesok dan telate. Selain itu, terdapat penggunaan kata tidak baku, yaitu bayar.

  4) Penanda Ketidaksantunan Pragmatik Tuturan B11: Tuturan terjadi ketika penutur pulang dari kuliah siang hari

  ketika suasana santai. Penutur secara tiba-tiba memberi tahu mitra tutur bahwa 2 hari lagi batas akhir pembayaran uang kuliah. Penutur tidak menyadari bahwa perkataannya membuat mitra tutur terkejut dan kurang berkenan. Penutur laki-laki, semester 4 berusia 20 tahun dan mitra perempuan berusia 45 tahun. Penutur adalah anak mitra tutur. Tujuan dari penutur adalah memberi tahu kepada MT. Tindak verbal yang terjadi adalah ekspresif. Tindak perlokusi dari tuturan tersebut yakni MT terkejut dan menanggapi pernyataan penutur dengan ketus.

  5) Maksud Ketidaksantunan

  Pada tuturan B11, penutur bermaksud memberi informasi kepada mitra tuturnya perihal pembayaran uang kuliah. Namun, pemberian informasi itu justru mengakibatkan mitra tuturnya kurang berkenan, karena dianggap terlalu mendadak.

4.2.3 Kategori Ketidaksantunan Melecehkan Muka

  Tuturan-tuturan di bawah ini adalah tuturan yang termasuk dalam kategori ketidaksantunan melecehkan muka yang dipaparkan berdasarkan subkategori ketidaksantunan.

4.2.3.1 Subkategori Kesal

  Cuplikan tuturan 20

  

P : “Hayoo, punya mulut kok ga bisa ngomong to?besok lagi

bilang!” (C3)

  berada di tempat tersebut buang air kecil di celana (Senin, 8 April 2013 pukul 13.50 WIB). Penutur berusaha menegur MT2)

  Cuplikan tuturan 30 MT

  : “Iki pie to ngitunge?” P : “Huu bodoh, raiso ngitung!!” (C13) MT : “Yo ben.”

  (Konteks tuturan: tuturan terjadi sepulangnya penutur dan mitra tutur

  dari membeli sesuatu di toko, mereka terdengar bercakap-cakap (Kamis,

  13 Juni 2013, pukul 13.10 WIB). Mitra tutur terlihat kebingungan menghitung uang kembalian dari warung, kemudian penutur berusaha menjelaskan kepada mitra tutur sambil melontarkan kata-kata ejekan)

  1) Wujud Ketidaksantunan linguistik Tuturan C3 : “Hayoo, punya mulut kok ga bisa ngomong to? Besok lagi bilang!”

  Tuturan C13 : “Huu bodoh, raiso ngitung!!” (Bodoh, tidak dapat menghitung).

  2) Wujud Ketidaksantunan Pragmatik Tuturan C3: penutur berbicara langsung di hadapan tamu yang sedang

  berkunjung, penutur berbicara sembari menunjuk ke arah mitra tutur, penutur juga berbicara keras dengan tatapan mata terbelalak.

  Tuturan C13: penutur berbicara dengan keras sembari memegang kepala mitra tutur, penutur juga berbicara di hadapan beberapa orang.

  3) Penanda Ketidaksantunan Linguistik Tuturan C3: intonasi yang digunakan penutur adalah intonasi seru, tekanan

  keras pada frasa besok lagi bilang, nada sedang, pilihan kata yang digunakan adalah bahasa nonstandar dengan menggunakan kata tidak baku, yaitu ga, bisa, dan ngomong, serta kata fatis yang terdapat dalam tuturan: hayoo, kok, dan to.

  Tuturan C13: intonasi yang digunakan penutur adalah intonasi seru, tekanan bahasa nonstandar dengan menggunakan istilah bahasa Jawa, yaitu pada frasa raiso ngitung.

4) Penanda Ketidaksantunan Pragmatik

  Tuturan C3: Tuturan terjadi ketika penutur sedang berbincang-bincang

  dengan MT1 di teras rumah penutur, tiba-tiba MT2 yang juga berada di tempat tersebut buang air kecil di celana (Senin, 8 April 2013 pukul 13.50 WIB).

  Penutur berusaha menegur MT2. Penutur perempuan, berusia 40 tahun, MT1 adalah seorang tamu, dan MT2 laki-laki berusia 2 tahun. Penutur adalah ibu dari MT2. Tujuan dari penutur mengungkapkan kekesalannya akibat tindakan MT. Tindak verbal yang terjadi ialah ekspresif. Tuturan tersebut mengakibatkan tindak perlokusi MT yaitu diam saja dan terlihat sangat menyesal.

  Tuturan C13: Tuturan terjadi sepulangnya penutur dan mitra tutur dari

  warung, keduanya terdengar bercakap-cakap (Kamis, 13 Juni 2013, pukul

  13.10 WIB). Mitra tutur terlihat kebingungan menghitung uang kembalian dari warung, kemudian penutur berusaha menjelaskan kepada mitra tutur sambil melontarkan kata-kata ejekan. Penutur dan mitra tutur perempuan, duduk di bangku SD. Penutur berusia 7 tahun dan mitra tutur berusia 5 tahun. Penutur adalah kakak dari mitra tutur. Tujuan dari penutur ialah mengungkapkan kekesalannya kepada MT. Tindak verbal yang terjadi yaitu ekspresif. Tuturan tersebut mengakibatkan tindak perlokusi MT adalah menjawab sekenanya.

5) Maksud Ketidaksantunan

  Pada tuturan C3, penutur bermaksud menakut-nakuti mitra tuturnya yang pipis di celana agar tidak mengulangi kesalahan itu lagi. Lebih lanjut lagi maksud kesal karena ketidakmampuan mitra tuturnya yang terdapat pada tuturan C13.

4.2.3.2 Subkategori Mengejek

  Cuplikan tuturan 24

  (Ketika penutur dan MT1 berbincang-bincang, datanglah MT2 menghampiri penutur. Kemudian penutur berkata) P : “Sing mesak’ake yo iki mbak, kasian sekali ini. Wis disambi, ireng, kasian sekali yo le sayang ya. ” (C7)

  (Konteks tuturan: tuturan terjadi saat penutur sedang berbincang-

  bincang dengan MT 1 di ruang tamu rumah penutur (Kamis, 25 April 2013, pukul 16.06 WIB). MT 2 datang dari luar rumah menghampiri penutur. Penutur ingin memperkenalkan MT2 kepada MT1 dengan melontarkan kata-kata ejekan sambil mencium MT2 penuh rasa sayang)

  Cuplikan tuturan 33

  (Ketika penutur dan MT sedang berbincang-bincang, tiba-tiba MT2 berjalan melewati keduanya. Penutur kemudian berkata) P : “Itu adik saya yang kepala desa itu tapi itu yang paling bodoh itu.” (C16)

  (Konteks tuturan: penutur sedang berbincang-bincang dengan MT 1 di

  pendhopo rumah dalam suasana santai (Senin, 10 Juni 2013 sekitar pukul 12.47

  • – 13.36 WIB). Tiba-tiba MT 2 selaku adik keponakan dari

  penutur lewat depan pendhopo dan tersenyum. Penutur secara spontan menceritakan kelemahan MT2 dengan nada mengejek)

1) Wujud Ketidaksantunan linguistik Tuturan C7

  : “Sing mesak’ake yo iki mbak, kasian sekali ini. Wis disambi, ireng, kasian sekali yo le sayang ya.” (..yang kasian ya ini mbak. Sudah ditinggal-tinggal, hitam, kasian sekali ya nak, sayang ya).

  Tuturan C16 : “Itu adik saya yang kepala desa itu tapi itu yang paling bodoh itu.”

  2) Wujud Ketidaksantunan Pragmatik Tuturan C7: penutur berbicara langsung di hadapan tamu yang sedang

  berkunjung, penutur berbicara sembari tertawa mengejek dan mencium pipi

  mitra tutur, penutur menggunakan kata ‘hitam’ untuk menguatkan maksud ejekannya terhadap mitra tutur.

  Tuturan C16: penutur berbicara dengan sinis sembari menunjuk ke arah MT2,

  penutur berbicara langsung di hadapan tamu yang berkunjung, penutur juga dengan sengaja menceritakan kelemahan MT2.

  3) Penanda Ketidaksantunan Linguistik Tuturan C7: intonasi yang digunakan penutur adalah intonasi berita, tekanan

  lunak pada frasa wis disambi, ireng, nada rendah, pilihan kata yang digunakan adalah bahasa nonstandar dengan menggunakan istilah bahasa Jawa, yaitu pada frasa

  sing mesak’ake yo iki, wis disambi, dan pada kata ireng dan yo, kemudian kata fatis yang terdapat dalam tuturan: ya dan yo.

  Tuturan C16: intonasi yang digunakan penutur adalah intonasi berita, tekanan

  keras pada frasa paling bodoh, nada sedang, dan pilihan kata yang digunakan adalah bahasa nonstandar dengan menggunakan kata tidak baku, yaitu tapi.

  4) Penanda Ketidaksantunan Pragmatik Tuturan C7: Tuturan terjadi saat penutur sedang berbincang-bincang santai

  dengan MT 1 di ruang tamu rumah penutur (Kamis, 25 April 2013, pukul 16.06 WIB). MT 2 datang menghampiri penutur. Penutur ingin memperkenalkan MT2 kepada MT1 dengan melontarkan kata-kata ejekan sambil mencium MT2. tamu. MT2 laki-laki berusia 5 tahun. Penutur adalah ibu dari MT2. Tujuan dari penutur ialah mengejek penampilan fisik MT2. Tindak verbal yang terjadi yakni ekspresif. Tuturan tersebut mengakibatkan tindak perlokusi MT yaitu diam saja.

  Tuturan C16: Penutur sedang berbincang-bincang dengan MT1 di pendhopo

  rumah dalam suasana santai (Senin, 10 Juni 2013 sekitar pukul 12.47

  • – 13.36

  WIB). Tiba-tiba MT2 selaku adik keponakan dari penutur lewat depan pendhopo dan tersenyum. Penutur secara spontan menceritakan kelemahan MT2 dengan nada mengejek. Penutur dan MT1 perempuan. Penutur berusia 63 tahun, MT1 adalah tamu, dan MT2 laki-laki berusia 40 tahun. Penutur adalah kakak keponakan dari MT2. Tujuan dari tuturan penutur ialah mengejek MT2. Tindak verbal yang terjadi yakni ekspresif. Tuturan tersebut mengakibatkan tindak perlokusi MT2 yaitu pergi meninggalkan penutur dan MT1.

5) Maksud Ketidaksantunan

  Tuturan C7 terdengar sebagai sebuah ejekan, namun maksud dari tuturan penutur hanyalah mengajak bercanda mitra tuturnya. Lain halnya dengan tuturan C16 yang disampaikan dengan maksud memberi sebuah informasi. Sayangnya, pemberian informasi pada tuturan tersebut berkaitan dengan kelemahan mitra tuturnya, sehingga dipersepsi sebagai maksud ketidaksantunan

4.2.3.3 Subkategori Menolak

  Cuplikan tuturan 38

  (Konteks tuturan: penutur berpamitan kepada mitra tutur hendak

  bepergian. Melihat penampilan penutur yang polos, mitra tutur meminta penutur untuk memperhatikan kecantikan, mengingat usianya yang sudah beranjak dewasa. Namun, penutur menolak permintaan mitra

tutur dengan jawaban sekenanya sebagai upaya membela diri)

  Cuplikan tuturan 40 MT : “Koe sesok dadi pegawai negeri wae, Nduk!”

  P : “Dadi pegawai negeri bapak ra dadi opo-opo kok! Aku emoh pegawai negeri! ” (C23)

  (Konteks tuturan: penutur dan mitra tutur berbincang-bincang di ruang

  keluarga dalam suasana serius. Mitra tutur memberi saran kepada penutur agar menjadi PNS yang memiliki kejelasan masa depan. Penutur kurang sependapat dengan mitra tutur, kemudian mengungkapkan alasannya)

  1) Wujud Ketidaksantunan linguistik Tuturan C21 : “Ngapain dandan? Ih, Ibu juga ga dandan.”

  Tuturan C23 : “Dadi pegawai negeri bapak ra dadi opo-opo kok! Aku emoh

  pegawai negeri! ” (Jadi pegawai negeri bapak tidak jadi apa-apa kok! Saya tidak ingin jadi pegawai negeri).

  2) Wujud Ketidaksantunan Pragmatik Tuturan C21: penutur berbicara kepada orang yang lebih tua dengan sinis,

  penutur tidak mengindahkan saran dari mitra tutur, penutur juga berbicara sembari berlalu meninggalkan mitra tutur.

  Tuturan C23: penutur berbicara kepada orang yang lebih tua dengan sinis,

  penutur tidak mengindahkan saran dari mitra tutur, perkataan penutur terdengar merendahkan profesi mitra tutur.

  3) Penanda Ketidaksantunan Linguistik Tuturan C21: intonasi yang digunakan penutur adalah intonasi tanya, tekanan

  lunak pada frasa ga dandan, nada sedang, pilihan kata yang digunakan adalah bahasa nonstandar dengan menggunakan kata tidak baku, yaitu ngapain, dandan, ga, dan kata fatis yang terdapat dalam tuturan: ih.

  Tuturan C23: intonasi yang digunakan penutur adalah intonasi seru, tekanan

  keras pada kata emoh, nada sedang, pilihan kata yang digunakan adalah bahasa nonstandar dengan menggunakan bahasa Jawa, dan kata fatis yang terdapat dalam tuturan: kok.

4) Penanda Ketidaksantunan Pragmatik Tuturan C21: Penutur dan mitra tutur berada di ruang keluarga pada sore hari.

  Penutur berpamitan kepada mitra tutur hendak bepergian. Melihat penampilan penutur yang polos, mitra tutur meminta penutur untuk memperhatikan kecantikan, mengingat usianya yang sudah beranjak dewasa. Namun, penutur menolak permintaan mitra tutur dengan jawaban sekenanya sebagai upaya membela diri. Penutur dan mitra tutur perempuan. Penutur berusia 28 tahun dan mitra tutur berusia 64 tahun. Penutur adalah anak dari mitra tutur. Tujuan dari tuturan penutur ialah membela diri. Tindak verbal yang terjadi adalah ekspresif. Tuturan tersebut mengakibatkan tindak perlokusi MT yaitu diam sembari menggelengkan kepala.

  Tuturan C23: Penutur dan mitra tutur berbincang-bincang di ruang keluarga

  dalam suasana serius. Mitra tutur memberi saran kepada penutur agar menjadi PNS yang memiliki kejelasan masa depan. Penutur kurang sependapat dengan mitra tutur, kemudian mengungkapkan alasannya. Penutur perempuan berusia 28 tahun dan mitra tutur laki-laki berusia 62 tahun. Penutur adalah anak dari MT. Tindak verbal yang terjadi yaitu komisif. Tuturan tersebut mengakibatkan tindak perlokusi mitra tutur yaitu diam saja.

5) Maksud Ketidaksantunan

  Tuturan C21 disampaikan dengan maksud protes. Penutur bermaksud memrotes mitra tuturnya yang tidak pernah memperhatikan penampilan. Lain halnya dengan tuturan C23 yang disampaikan dengan maksud menolak. Penutur menolak saran dari mitra tutur, karena menurut penutur menjadi PNS itu bukan pilihan yang tepat.

4.2.3.4 Subkategori Menyindir

  Cuplikan tuturan 22 MT : “Yo raiso, kabeh ki ono Undang-undang’e.”

  P : “Maklum lah wong hukum.” (C5)

  (Konteks tuturan: ketika membicarakan keadaan masyarakat sering

  terjadi pro kontra, terlebih dengan anak pertama yang notabene sudah terbiasa dengan ilmu hukum. Mitra tutur selalu keras kepala menyatakan opininya berkaitan tentang hukum. Tiba-tiba penutur melontarkan kata- kata kepada mitra tutur dengan maksud menyindir)

  Cuplikan tuturan 35

  P

: “Ki lho Mas, ngerti to Undang-undange?” (C18)

  MT : “Ngerti, saben dino weruh kok.” P

  : “Woo, yowis garapke yo!!”

  (Konteks tuturan: penutur meminta bantuan kepada mitra tutur untuk

  menyelesaikan PR. Penutur meminta bantuan dengan cara sedikit menyindir mitra tutur yang notabene mahasiswa fakultas hukum. Mitra tutur sedikit kesal dengan sikap penutur, sehingga hanya memberikan jawaban singkat)

1) Wujud Ketidaksantunan linguistik

  Tuturan C5 : “Maklum lah wong hukum.” (Maklum lah orang hukum)

  2) Wujud Ketidaksantunan Pragmatik Tuturan C5: penutur berbicara dengan sinis sembari tersenyum, penutur sengaja melontarkan kata ‘hukum’ untuk menyindir mitra tutur yang memang seorang sarjana hukum, sehingga memiliki watak keras.

  Tuturan C18: penutur berbicara kepada orang yang lebih tua sembari

  tersenyum menyindir mitra tutur yang notabene mahasiswa fakultas hukum, tuturan penutur seolah-olah meragukan kemampuan mitra tutur, penutur meminta bantuan dengan cara tidak sopan yakni melempar buku ke arah mitra tutur.

  3) Penanda Ketidaksantunan Linguistik Tuturan C5: intonasi yang digunakan penutur adalah intonasi berita, tekanan

  lunak pada kata hukum, nada sedang, pilihan kata yang digunakan adalah bahasa nonstandar dengan menggunakan bahasa Jawa, dan kata fatis yang terdapat dalam tuturan: lah.

  Tuturan C18: intonasi yang digunakan penutur adalah intonasi tanya, tekanan

  lunak pada frasa Undang-undange, nada sedang, pilihan kata yang digunakan adalah bahasa nonstandar dengan menggunakan bahasa Jawa, dan kata fatis yang terdapat dalam tuturan: lho dan to.

  4) Penanda Ketidaksantunan Pragmatik Tuturan C5: Ketika membicarakan keadaan masyarakat sering terjadi pro

  kontra, terlebih dengan anak pertama yang notabene sudah terbiasa dengan ilmu hukum. Mitra tutur selalu keras kepala menyatakan opininya berkaitan dengan maksud menyindir. Penutur dan mitra tutur laki-laki. Penutur berusia 65 tahun dan mitra tutur berusia 35 tahun. Penutur adalah bapak dari mitra tutur. Tujuan dari penutur yakni mengajak seluruh anggota keluarga untuk memaklumi watak MT yang keras kepala. Tindak verbal yang terjadi ialah ekspresif. Tuturan tersebut mengakibatkan tindak perlokusi MT yaitu tersenyum berusaha mencarikan suasana.

  Tuturan C18: Penutur meminta bantuan kepada mitra tutur untuk

  menyelesaikan PR. Penutur meminta bantuan dengan cara sedikit menyindir mitra tutur yang notabene mahasiswa fakultas hukum. Mitra tutur kesal dengan sikap penutur, sehingga hanya memberikan jawaban singkat. Penutur dan mitra tutur laki-laki. Penutur kelas 2 SMP, berusia 14 tahun dan mitra tutur mahasiswa semester 4, berusia 19 tahun. Penutur adalah adik dari mitra tutur. Tujuan dari tuturan penutur ialah menyindir mitra tutur. Tindak verbal yang terjadi adalah ekspresif. Tuturan tersebut mengakibatkan tindak perlokusi MT yakni kesal dan memberi jawaban singkat.

5) Maksud Ketidaksantunan

  Kedua tuturan di atas disampaikan dengan maksud yang sama yaitu menyindir mitra tuturnya. Sindiran dalam hal ini berupa sindiran terhadap kemampuan mitra tuturnya.

4.2.3.5 Subkategori Marah

  Cuplikan tuturan 23

  P : “Koe ki anak perawan kok keset!!” (C6)

  (Konteks tuturan: tuturan terjadi sepulang penutur dari bepergian sore

  kepada mitra tutur untuk menjaga kebersihan rumah. Namun, mitra tutur tidak mengindahkan perintah penutur, sehingga penutur menegur mitra tutur dengan ketus)

  Cuplikan tuturan 41 MT

  : “Kalau pulang sekolah itu bantu-bantu orang tua dulu! Jangan

  lupa Shalat! Ngga langsung main sampai kayak gitu. Sing ngerti

  kahanan!” P : “Wooo nenek lampir!!” (C24)

  (Konteks tuturan: mitra tutur berusaha menasihati penutur yang sering

  membangkang terhadap mitra tutur. Mendengar nasihat tersebut, penutur melontarkan kata-kata yang tidak santun, sehingga mitra tutur tersinggung)

  1) Wujud Ketidaksantunan linguistik Tuturan C6 : “Koe ki anak perawan kok keset!!” (Kamu itu anak gadis kok pemalas)

  Tuturan C24 : “Woo nenek lampir!!”

  2) Wujud Ketidaksantunan Pragmatik

Tuturan C6: penutur berbicara dengan ketus sembari menatap mitra tutur

  sinis, penutur melontarkan kata-kata dengan tujuan menyadarkan mitra tutur agar selayaknya ‘gadis’ yang rajin mengurus rumah.

  

Tuturan C24: penutur berbicara dengan keras dan ketus, penutur tidak

  mengindahkan nasihat mitra tutur, penutur berbicara kepada orang yang lebih tua dengan kata-kata umpatan, penutur juga berusaha menyamakan mitra tutur

  dengan sosok ‘nenek lampir’ yang dianggap galak.

  3) Penanda Ketidaksantunan Linguistik

Tuturan C6: intonasi yang digunakan penutur adalah intonasi seru, tekanan

  keras pada kata keset, nada tinggi, pilihan kata yang digunakan adalah bahasa nonstandar dengan menggunakan bahasa Jawa, dan kata fatis yang terdapat

  Tuturan C24: intonasi yang digunakan penutur adalah intonasi seru, tekanan

  keras pada frasa nenek lampir, nada tinggi, pilihan kata yang digunakan adalah bahasa populer, dan kata fatis yang terdapat dalam tuturan: woo.

4) Penanda Ketidaksantunan Pragmatik Tuturan C6: Tuturan terjadi sepulang penutur dari bepergian sore hari.

  Penutur terkejut melihat keadaan rumah yang berantakan paska ditinggal bepergian, padahal penutur sudah memberikan tugas kepada mitra tutur untuk menjaga kebersihan rumah. Namun, mitra tutur tidak mengindahkan perintah penutur. Akibatnya, penutur menegur mitra tutur dengan ketus. Penutur laki- laki berusia 47 tahun dan mitra tutur perempuan kelas XII SMK, berusia 19 tahun. Penutur adalah bapak dari mitra tutur. Tujuan dari penutur ialah menanggapi tingkah laku MT. Tindak verbal yang terjadi yaitu ekspresif. Tuturan tersebut mengakibatkan tindak perlokusi MT ialah diam saja dan masuk kamar.

  Tuturan C24: Mitra tutur berusaha menasihati penutur yang sering

  membangkang terhadap mitra tutur. Mendengar nasihat tersebut, penutur melontarkan kata-kata yang tidak santun, sehingga mitra tutur tersinggung.

  Penutur laki-laki kelas VII SMP, berusia 13 tahun dan mitra tutur perempuan berusia 40 tahun. Penutur adalah anak dari mitra tutur. Tujuan dari tuturan penutur ialah mengungkapkan amarahnya. Tindak verbal yang terjadi ialah ekspresif. Tuturan tersebut mengakibatkan tindak perlokusi MT yaitu pergi meninggalkan penutur.

5) Maksud Ketidaksantunan

  Penutur pada tuturan C6 bermaksud mengungkapkan amarahnya terhadap mitra tutur yang sulit diatur, sedangkan penutur pada tuturan C24 menyampaikan tuturannya dengan maksud mengungkapkan kekesalannya terhadap mitra tutur yang dianggap terlalu mengaturnya.

4.2.3.6 Subkategori Menyarankan

  Cuplikan tuturan 32

  P : “Hei kamu tu dikucir rambutnya, nanti nek kuliah budeg lho!” (C15)

  MT: (diam saja) (Konteks tuturan: tuturan terjadi siang hari dalam suasana santai ketika mitra tutur sedang bermain di teras rumah bersama teman-temannya.

  Penutur sedikit terganggu ketika melihat mitra tutur selalu mengurai rambut dan terkesan kurang rapi. Penutur berusaha memberikan saran kepada mitra tutur)

  Cuplikan tuturan 37

  P

: “Ya ampun kalian itu gadis, dandan dong!” (C20)

  MT

  : “Ngapain dandan? Iihh Ibu juga ga dandan.”

  (Konteks tuturan: penutur dan mitra tutur berada di ruang keluarga

  pada sore hari dalam keadaan santai. Mitra tutur terlihat sedang bersiap-siap hendak pergi. Penutur berusaha memperingatkan mitra tutur dengan sindiran agar mitra tutur mau memperhatikan penampilan, mengingat usianya yang sudah beranjak dewasa)

1) Wujud Ketidaksantunan linguistik Tuturan C15

  : “Hei kamu tu dikucir rambutnya, nanti nek kuliah budeg lho!” Tuturan C20 : “Ya ampun kalian itu gadis, dandan dong!” 2)

   Wujud Ketidaksantunan Pragmatik Tuturan C15: penutur berbicara dengan keras di hadapan teman-teman mitra

  tutur, penutur menggunakan kata ‘budeg’ untuk meyakinkan mitra tutur agar mau mengikat rambutnya, selain itu penutur juga berbicara sembari memegang kepala mitra tutur.

  Tuturan C20: penutur berbicara sembari tertawa mengejek dan menatap mitra tutur sinis, penutur juga menggunakan kata ‘gadis’ untuk menyadarkan mitra tutur agar mau berdandan.

  3) Penanda Ketidaksantunan Linguistik Tuturan C15: intonasi yang digunakan penutur adalah intonasi perintah,

  tekanan keras pada frasa budeg lho, nada sedang, pilihan kata yang digunakan adalah bahasa nonstandar dengan menggunakan istilah bahasa Jawa, yaitu nek, dan menggunakan kata tidak baku, yaitu tu, budeg, kemudian kata fatis yang terdapat dalam tuturan: heii dan lho.

  Tuturan C20: intonasi yang digunakan penutur adalah intonasi perintah,

  tekanan sedang pada frasa gadis, nada sedang, pilihan kata yang digunakan adalah bahasa nonstandar dengan menggunakan kata tidak baku, yaitu dandan, dan kata fatis yang terdapat dalam tuturan: dong.

  4) Penanda Ketidaksantunan Pragmatik Tuturan C15: Tuturan terjadi siang hari dalam suasana santai ketika mitra

  tutur sedang bermain di teras rumah bersama teman-temannya. Penutur sedikit terganggu ketika melihat mitra tutur selalu mengurai rambut dan terkesan kurang rapi. Penutur berusaha memberikan saran kepada mitra tutur. Penutur dan mitra tutur perempuan. Penutur berusia 57 tahun dan mitra tutur kelas 3 SD. Penutur adalah nenek dari mitra tutur. Tujuan dari penutur adalah yang terjadi ialah ekspresif. Tuturan tersebut mengakibatkan tindak perlokusi MT yakni tidak mengindahkan saran dari penutur.

  Tuturan C20: Penutur dan mitra tutur berada di ruang keluarga pada sore hari dalam keadaan santai. Mitra tutur terlihat sedang bersiap-siap hendak pergi.

  Penutur berusaha memperingatkan mitra tutur dengan sindiran agar mitra tutur mau memperhatikan penampilan, mengingat usianya yang sudah beranjak dewasa. Penutur dan mitra tutur perempuan. Penutur berusia 64 tahun dan mitra tutur berusia 28 tahun. Penutur adalah ibu dari mitra tutur. Tujuan dari tuturan penutur ialah memberi saran kepada MT. Tindak verbal yang terjadi adalah direktif. Tuturan tersebut mengakibatkan tindak perlokusi MT yaitu memberikan jawaban sekenanya.

5) Maksud Ketidaksantunan Dalam subkategori menyarankan, terdapat dua maksud ketidaksantunan.

  Maksud yang pertama adalah maksud menakut-nakuti yang terdapat pada tuturan C15. Penutur menakut-nakuti mitra tutur agar mau mengikat rambutnya. Lain halnya dengan tuturan C20 yang disampaikan dengan maksud memberikan saran kepada mitra tuturnya agar berkenan memperhatikan penampilan.

4.2.3.7 Subkategori Menanyakan

  Cuplikan tuturan 19

  P : “Kok nilai kamu tu jelek, ga pernah belajar ya?” (C2)

  MT : “Ah, nggak ngerti aku, Buk.” (Konteks tuturan: percakapan antara penutur dan mitra tutur bersama

  teman-temannya di rumah saat jam pulang sekolah. Penutur berusaha

  bertanya kepada mitra tutur. Namun, mitra tutur merasa enggan menjawab pertanyaan penutur) 1) Wujud Ketidaksantunan linguistik Tuturan C2

  

: “Kok nilai kamu tu jelek, ga pernah belajar ya?”

2) Wujud Ketidaksantunan Pragmatik

  Tuturan C2: penutur bertanya kepada mitra tutur dengan sinis, penutur bertanya langsung di hadapan teman-teman mitra tutur.

  3) Penanda Ketidaksantunan Linguistik Tuturan C2: intonasi yang digunakan penutur adalah intonasi tanya, tekanan

  lunak pada kata jelek, nada sedang, pilihan kata yang digunakan adalah bahasa nonstandar dengan menggunakan kata tidak baku, yaitu ga, dan kata fatis yang terdapat dalam tuturan: kok.

  4) Penanda Ketidaksantunan Pragmatik Tuturan C2: Percakapan antara penutur dan mitra tutur bersama teman-

  temannya di rumah saat jam pulang sekolah pada suasana santai. Penutur berusaha mencari tahu alasan perihal nilai jelek yang diperoleh di sekolah dengan bertanya kepada mitra tutur. Namun, mitra tutur merasa enggan menjawab pertanyaan penutur. Penutur dan mitra tutur perempuan. Penutur ibu berusia 36 tahun dan mitra tutur masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Penutur adalah ibu dari mitra tutur. Tujuan dari penutur ingin mencari tahu alasan MT yang selalu memperoleh nilai jelek. Tindak verbal yang terjadi ialah ekspresif. Tuturan tersebut mengakibatkan tindak perlokusi MT yaitu memberi jawaban sekenanya.

5) Maksud Ketidaksantunan

  Tuturan C2 termasuk dalam subkategori menanyakan, namun disampaikan dengan maksud menyimpulkan. Penutur menyimpulkan bahwa nilai jelek yang diperoleh mitra tuturnya akibat dari kemalasan mitra tutur untuk belajar.

4.2.4 Kategori Ketidaksantunan Menghilangkan Muka

  Berikut adalah tuturan yang termasuk dalam kategori ketidaksantunan menghilangkan muka dan dipaparkan berdasarkan subkategori ketidaksantunan.

4.2.4.1 Subkategori Menyindir

  Cuplikan tuturan 52

  P

: “Arep mencari sendiri atau dicarikan??” (D10)

  MT2 : (mitra tutur tersenyum malu) (Konteks tuturan: penutur sedang berbincang-bincang dengan MT 1 di

  • ruang tamu rumah penutur (Selasa, 4 Juni 2013, sekitar pukul 15.30 16.12 WIB). MT2 berjalan dari dalam membawakan minuman. Kemudian MT2 duduk di sebelah penutur. Tiba-tiba penutur melontarkan pertanyaan kepada MT2 dengan maksud menyindir karena MT2 belum juga memiliki teman dekat)

  Cuplikan tuturan 58

  MT 1 : “Pak’e... Paaaakkkk... Paaaakkkk!!” MT 2 : “Kulo.” (masih tetap sibuk dengan pekerjaannya) MT 1 : “Paaakkk... “

  (MT 2 hanya diam)

  P : “Loro untu bapakmu.” (D16)

  (Konteks tuturan: percakapan yang terjadi antara penutur, MT 1, dan

  MT 2 di sawah pada siang hari. (Senin, 10 Juni 2013, sekitar pukul 11.30 – 12.30 WIB). MT 1 memanggil MT 2, MT 2 hanya menjawab dengan singkat sambil terus melanjutkan pekerjaannya. MT 1 kembali memanggil MT 2, bahkan berulang-ulang. Namun, MT 2 hanya diam tanpa mempedulikan panggilan MT 1, tiba-tiba penutur melontarkan kata-kata kepada MT 1 dengan maksud menyindir MT2)

  1) Wujud Ketidaksantunan Linguistik Tuturan D10 : “Arep mencari sendiri atau dicarikan?” (Ingin mencari sendiri atau dicarikan?)

  Tuturan D16

: “Loro untu bapakmu.” (Sakit gigi bapakmu itu).

2) Wujud Ketidaksantunan Pragmatik Tuturan D10: penutur berbicara dengan lugas di hadapan tamu yang datang,

  penutur berbicara sembari melirik dan tersenyum ke arah mitra tutur, penutur sengaja menyindir mitra tutur yang sudah dewasa namun belum juga memiliki teman dekat.

  Tuturan D16: penutur berbicara sembari tersenyum dan menatap ke arah

  MT2, penutur berbicara di hadapan orang banyak, penutur berusaha menyindir MT2 yang diam saja dengan menggunakan frasa ‘sakit gigi’.

  3) Penanda Ketidaksantunan Linguistik Tuturan D10: intonasi yang digunakan penutur adalah intonasi tanya, tekanan

  lunak pada dicarikan, nada sedang, dan pilihan kata yang digunakan adalah bahasa nonstandar dengan menggunakan istilah bahasa Jawa, yaitu arep.

  Tuturan D16: intonasi yang digunakan penutur adalah intonasi berita, tekanan

  lunak pada frasa loro untu, nada sedang, dan pilihan kata yang digunakan adalah bahasa nonstandar dengan menggunakan bahasa Jawa.

  4) Penanda Ketidaksantunan Pragmatik Tuturan D10: Penutur sedang berbincang-bincang dengan MT1 di ruang tamu

  rumah penutur (Selasa, 4 Juni 2013, sekitar pukul 15.30

  • – 16.12 WIB). MT2

  berjalan dari dalam menuju ruang tamu membawakan minuman. Kemudian kepada MT2 dengan maksud menyindir, karena MT2 belum juga memiliki teman dekat. Penutur laki-laki berusia 48 tahun, MT1 adalah tamu, dan MT2 perempuan semester 8, berusia 22 tahun. Penutur adalah bapak dari MT2. Tujuan tuturan penutur adalah mengajak bercanda. Tindak verbal yang terjadi: ekspresif. Tindak perlokusi dari tuturan tersebut: MT2 diam.

  Tuturan D16: Percakapan yang terjadi antara penutur, MT1, dan MT2 di sawah pada siang hari. (Senin, 10 Juni 2013, sekitar pukul 11.30 – 12.30 WIB).

  MT1 memanggil MT2, MT 2 hanya menjawab dengan singkat sambil terus melanjutkan pekerjaannya. MT1 kembali memanggil MT2, bahkan berulang- ulang. Namun, MT2 hanya diam tanpa mempedulikan panggilan MT1, tiba- tiba penutur melontarkan kata-kata kepada MT1 dengan maksud menyindir MT2. Penutur, MT1, dan MT2 laki-laki. Penutur berusia 40 tahun, MT1 berusia 4 tahun, dan MT2 berusia 42 tahun. Penutur adalah kerabat dari MT2.

  Tujuan dari tuturan penutur adalah menyindir MT2 yang tidak mengindahkan panggilan MT1. Tindak verbal yang terjadi: ekspresif. Tindak perlokusi: MT2 tersenyum.

5) Maksud Ketidaksantunan

  Kedua tuturan di atas disampaikan dengan maksud mengajak bercanda mitra tuturnya.

4.2.4.2 Subkategori Mengejek

  Cuplikan tuturan 46

  P : “Mak, satus ki nol’e piro??” (D4)

  MT : “Piro yo? 10?”

  (Konteks tuturan: penutur dan mitra tutur sedang berdiskusi untuk

  menyelesaikan PR bersama beberapa anggota keluarga yang lain di ruang keluarga. Penutur sengaja bertanya kepada mitra tutur, padahal penutur sudah mengetahui keterbatasan mitra tutur, yakni tidak dapat membaca. Mendengar pertanyaan tersebut, mitra tutur memberikan jawaban sekenanya)

  Cuplikan tuturan 51 MT 1

  : “Kalau Mas ini putranya Bapak? P

  

: “Iya, itu yang masih belum laku mbak, soalnya

pengangguran.” (D9)

  (Konteks tuturan: penutur sedang berbincang bersama MT 1 di ruang

  

tamu rumah penutur (Senin, 13 Mei 2013, sekitar pukul 12.10

  • – 12.35

  WIB). MT2 berjalan dari dalam membawakan minuman untuk MT1. MT 1 bertanya kepada penutur perihal MT2. Tiba-tiba penutur melontarkan jawaban bahwa MT2 seorang pengangguran sembari menunjuk MT2)

  1) Wujud Ketidaksantunan Linguistik Tuturan D4 : “Mak, satus ki nol’e piro?” (Mak, seratus itu nol’nya berapa?)

  Tuturan D9 : “Iya, itu yang masih belum laku mbak, soalnya pengangguran.”

  2) Wujud Ketidaksantunan Pragmatik Tuturan D4: penutur berbicara dengan lugas di depan anggota keluarga yang

  lain, penutur sengaja melontarkan pertanyaan kepada orang yang memiliki kelemahan baca tulis agar kebingungan, penutur berbicara kepada orang yang lebih tua.

  Tuturan D9: penutur berbicara dengan ketus sembari menunjuk ke arah mitra

  tutur 2, penutur berbicara langsung di hadapan tamu yang datang, penutur juga berbicara sembari tertawa.

  3) Penanda Ketidaksantunan Linguistik Tuturan D4: intonasi yang digunakan penutur adalah intonasi tanya, tekanan

  lunak pada

  nol’e piro, nada sedang, dan pilihan kata yang digunakan adalah bahasa nonstandar dengan menggunakan bahasa Jawa.

  Tuturan D9: intonasi yang digunakan penutur adalah intonasi berita, tekanan

  lunak pada pengangguran, nada sedang, dan pilihan kata yang digunakan adalah bahasa nonstandar dengan menggunakan kata tidak baku, yaitu soalnya.

  4) Penanda Ketidaksantunan Pragmatik Tuturan D4: Penutur dan mitra tutur sedang berdiskusi untuk menyelesaikan

  PR bersama beberapa anggota keluarga yang lain di ruang keluarga. Penutur sengaja bertanya kepada mitra tutur, padahal penutur sudah mengetahui keterbatasan mitra tutur, yakni tidak dapat membaca. Mendengar pertanyaan tersebut, mitra tutur memberikan jawaban sekenanya, sehingga seluruh anggota keluarga tertawa. Penutur laki-laki kelas 4 SD, berusia 12 tahun dan mitra tutur perempuan berusia 42 tahun. Penutur adalah anak dari mitra tutur. Tujuan dari tuturan penutur adalah mengajak MT bergurau. Tindak verbal yang terjadi yakni ekspresif. Tuturan tersebut mengakibatkan tindak perlokusi MT yaitu diam saja karena malu tidak dapat membantu mengerjakan PR, kemudian pergi tidur.

  Tuturan D9: Penutur sedang berbincang bersama MT1 di ruang tamu rumah

  penutur (Senin, 13 Mei 2013, sekitar pukul 12.10

  • –12.35 WIB). MT2 berjalan

  dari dalam membawakan minuman untuk MT1. MT1 bertanya kepada penutur pengangguran sembari menunjuk MT2. Penutur laki-laki berusia 50 tahun, MT1 seorang tamu, dan MT2 laki-laki berusia 23 tahun. Penutur adalah bapak dari MT2. Tujuan tuturan penutur adalah menyuruh MT2 untuk segera mencari pekerjaan. Tindak verbal yang terjadi: ekspresif. Tindak perlokusi dari tuturan tersebut:MT2 hanya tersneyum malu kemudian kembali ke belakang.

5) Maksud Ketidaksantunan

  Pada tuturan D4 penutur bermaksud mengajak bercanda mitra tuturnya, sedangkan tuturan D9 disampaikan dengan maksud memberi informasi.

  Pemberian informasi tersebut terkait kelemahan mitra tuturnya. Oleh karena itu, tuturan penutur dipersepsi sebagai tuturan yang menghilangkan muka.

4.2.4.3 Subkategori Kesal

  Cuplikan tuturan 47 MT

  : “Huuu.. kui film’e ngomong opo to? Mbok ngomong wae malah jelas!” P : “Salah’e raiso moco!!” (D5)

  MT : “Ah yowis, turu wae.” (Konteks tuturan: tuturan terjadi ketika sedang menonton televisi

  bersama. Acara yang dilihat saat itu adalah film berbahasa asing yang tentu dilengkapi dengan terjemahan. Kondisi mitra tutur yang tidak dapat membaca mengakibatkan ia kesulitan untuk memahami acara televisi, mitra tutur bertanya kepada penutur namun penutur menjawab pertanyaan mitra tutur dengan nada kesal)

  Cuplikan tuturan 50

  P : “Mbok nek ndue anak ki ora akeh-akeh. Mosok manak ping

6. Koyo pitik wae!” (D8)

  MT : “Yo biar to, Pak. Banyak anak, banyak rejeki.” (Konteks tuturan: penutur dan mitra tutur berada di ruang keluarga

  pada sore hari. Penutur berusaha menegur mitra tutur dengan kesal, karena mitra tutur sudah mempunyai 6 anak. Jumlah yang terlalu banyak menurut penutur)

  1) Wujud Ketidaksantunan Linguistik

Tuturan D5 : “Salah’e raiso moco!!” (Salah sendiri tidak dapat membaca)

Tuturan D8

  : “Mbok nek ndue anak ki ora akeh-akeh. Mosok manak ping 6. Koyo pitik wae!” (Kalau punya anak itu jangan banyak-banyak. Punya anak kok 6 kali. Seperti ayam saja!)

  2) Wujud Ketidaksantunan Pragmatik Tuturan D5: penutur berbicara kepada orang yang lebih tua dengan ketus,

  penutur sengaja tidak menjawab pertanyaan mitra tutur padahal penutur sudah mengetahui bahwa mitra tutur kesulitan membaca, penutur juga berbicara di hadapan anggota keluarga lain.

  Tuturan D8: penutur berbicara kepada mitra tutur dengan ketus, penutur

  melontarkan kata-kata yang seolah-olah menyetarakan sifat manusia dengan binatang, penutur berbicara tanpa memahami suasana hati mitra tutur, penutur juga berbicara di hadapan anggota keluarga yang lain.

  3) Penanda Ketidaksantunan Linguistik Tuturan D5: intonasi yang digunakan penutur adalah intonasi seru, tekanan

  keras pada kata salahe, nada tinggi, dan pilihan kata yang digunakan adalah bahasa nonstandar dengan menggunakan bahasa Jawa.

  Tuturan D8: intonasi yang digunakan penutur adalah intonasi seru, tekanan

  keras pada frasa koyo pitik wae, nada tinggi, pilihan kata yang digunakan adalah bahasa nonstandar dengan menggunakan bahasa Jawa, dan kata fatis yang terdapat dalam tuturan: mbok.

  4) Penanda Ketidaksantunan Pragmatik Tuturan D5: Tuturan terjadi ketika sedang menonton televisi malam hari.

  Acara yang dilihat saat itu adalah film berbahasa asing yang tentu dilengkapi dengan terjemahan. Kondisi mitra tutur yang tidak dapat membaca mengakibatkan ia kesulitan memahami acara televisi, mitra tutur bertanya kepada penutur. Namun, penutur menjawab pertanyaan mitra tutur dengan nada kesal. Penutur dan mitra tutur perempuan. Penutur kelas XII SMK, berusia 19 tahun dan mitra tutur berusia 42 tahun. Penutur adalah anak dari mitra tutur. Tujuan tuturan penutur adalah mengungkapkan kekesalannya. Tindak verbal yang terjadi: ekspresif. Tindak perlokusi dari tuturan tersebut: MT kesal dan pergi tidur.

  Tuturan D8: Penutur dan mitra tutur berada di ruang keluarga pada sore hari.

  Penutur berusaha menegur mitra tutur dengan kesal, karena mitra tutur sudah mempunyai 6 anak. Jumlah yang terlalu banyak menurut penutur. Penutur laki- laki berusia 75 tahun dan mitra tutur perempuan berusia 45 tahun. Penutur adalah bapak dari mitra tutur. Tujuan dari tuturan penutur adalah menyadarkan MT untuk tidak menambah jumlah anak lagi. Tindak verbal yang terjadi: ekspresif. Tindak perlokusi dari tuturan tersebut: MT tersenyum malu kemudian memberikan jawaban untuk membela diri.

  5) Maksud Ketidaksantunan

  Kedua tuturan tersebut memiliki maksud yang berbeda. Tuturan D5 disampaikan dengan maksud mengungkapkan kekesalan penutur akibat disampaikan dengan maksud memrotes mitra tuturnya karena memiliki anak dengan jumlah banyak.

4.2.4.4 Subkategori Menegaskan

  Cuplikan tuturan 54

  P : “Nek sing niki gembeng.” (D12)

  MT1

  : “Wajar, Bu. Namanya juga anak-anak.”

  (Konteks tuturan: penutur sedang berbincang dengan MT1 di ruang tamu

  rumah penutur (Rabu, 1 Mei 2013, sekitar pukul 14.27 –15.06 WIB). Terdapat pula MT 2 di tempat tersebut. Penutur menceritakan kebiasaan MT 2 kepada MT 1. Penutur menggunakan kata ‘gembeng’ yang artinya orang yang mudah menangis)

  1) Wujud Ketidaksantunan Linguistik Tuturan D12: “Nek sing niki gembeng.”(Kalau yang ini mudah menangis). 2) Wujud Ketidaksantunan Pragmatik

  Tuturan D12: penutur berbicara dengan lugas tanpa memperhatikan perasaan

  mitra tutur, penutur berbicara di hadapan tamu yang datang, penutur berbicara sembari melirik ke arah mitra tutur, penutur juga dengan sengaja menceritakan kelemahan mitra tutur di hadapan orang lain.

  3) Penanda Ketidaksantunan Linguistik Tuturan D12: intonasi yang digunakan penutur adalah intonasi berita, tekanan

  lunak pada kata gembeng, nada rendah, dan pilihan kata yang digunakan adalah bahasa nonstandar dengan menggunakan bahasa Jawa.

  4) Penanda Ketidaksantunan Pragmatik Tuturan D12: Penutur sedang berbincang dengan MT1 di ruang tamu rumah

  penutur (Rabu, 1 Mei 2013, sekitar pukul 14.27 –15.06 WIB). Terdapat pula

  Penutur menggunakan kata ‘gembeng’ yang artinya orang yang mudah

  menangis. Penutur, MT1, dan MT2 perempuan. Penutur berusia 53 tahun, MT1 adalah tamu, dan MT2 berusia 4 tahun. Penutur adalah nenek dari MT2.

  Tujuan tuturan penutur ialah menceritakan sikap MT2. Tindak verbal yang terjadi: representatif. Tindak perlokusi dari tuturan tersebut: MT2 menunduk

  sambil terus ‘menggelendot’ manja di samping penutur.

5) Maksud Ketidaksantunan

  Tuturan D12 disampaikan dengan maksud menakut-nakuti mitra tuturnya yang mudah menangis, dengan harapan mitra tuturnya jera.

4.2.5 Kategori Ketidaksantunan Menimbulkan Konflik

  Berikut ini delapan tuturan yang termasuk dalam kategori ketidaksantunan menimbulkan konflik dan dipaparkan berdasarkan subkategori ketidaksantunan.

4.2.5.1 Subkategori Marah

  Cuplikan tuturan 65

  P : “Woo monyet!!” (E7)

  MT : “Lambemu!” (Konteks tuturan: penutur dan mitra tutur berada di teras rumah pada

  sore hari. Secara tidak sengaja, mitra tutur memakai sandal penutur tanpa ijin terlebih dahulu. Penutur sangat tidak berkenan mengetahui

hal tersebut, sehingga melontarkan umpatan kepada mitra tutur)

  Cuplikan tuturan 67 MT

  : “Udah Shalat belum?” P : “Iso meneng ora? Aku wis dong!” (E9)

  (Konteks tuturan: penutur berusaha memperingatkan mitra tutur untuk

  Shalat, namun penutur tidak mengindahkan peringatan dari mitra tutur, bahkan melontarkan jawaban dengan kata-kata tidak santun)

  1) Wujud Ketidaksantunan Linguistik Tuturan E7 : “Woo monyet!!” Tuturan E9:

  “Iso meneng ora? Aku wis dong!” (Dapat diam tidak? Aku sudah mengerti!)

  2) Wujud Ketidaksantunan Pragmatik Tuturan E7: penutur berbicara kepada orang yang lebih tua dengan keras dan

  berteriak sembari berdiri, penutur melontarkan umpatan sembari menatap mitra tutur dengan mata terbelalak.

  Tuturan E9: penutur berbicara kepada orang yang lebih tua dengan ketus

  sembari berdiri, perkataan penutur mengakibatkan mitra tutur marah dan membanting pintu.

  3) Penanda Ketidaksantunan Linguistik Tuturan E7: intonasi yang digunakan penutur adalah intonasi seru, tekanan

  keras pada kata monyet, nada tinggi, pilihan kata yang digunakan adalah bahasa populer, dan kata fatis yang terdapat dalam tuturan: woo.

  Tuturan E9: intonasi yang digunakan penutur adalah intonasi tanya, tekanan

  keras pada frasa wis dong, nada tinggi, dan pilihan kata yang digunakan adalah bahasa nonstandar dengan menggunakan bahasa Jawa.

  4) Penanda Ketidaksantunan Pragmatik Tuturan E7: Penutur dan mitra tutur berada di teras rumah pada sore hari.

  Secara tidak sengaja, mitra tutur memakai sandal penutur tanpa ijin terlebih dahulu. Penutur sangat tidak berkenan mengetahui hal tersebut. Penutur kemudian melontarkan umpatan kepada mitra tutur. Penutur laki-laki kelas 4 tahun. Penutur adalah adik dari mitra tutur. Tujuan dari tuturan tersebut adalah penutur mengungkapkan amarahnya. Tindak verbal yang terjadi ialah ekspresif. Tindak perlokusi dari tuturan tersebut: MT melontarkan kata-kata umpatan kepada penutur.

  Tuturan E9: Penutur berusaha memperingatkan mitra tutur untuk Shalat,

  namun penutur tidak mengindahkan peringatan dari mitra tutur, bahkan melontarkan jawaban dengan kata-kata tidak santun. Penutur laki-laki kelas VII SMP, berusia 13 tahun dan mitra tutur perempuan berusia 40 tahun. Penutur adalah anak dari mitra tutur. Tujuan dari tuturan tersebut ialah mengungkapkan amarahnya karena penutur tidak suka diatur-atur. Tindak verbal yang terjadi yakni ekspresif. Tindak perlokusi dari tuturan tersebut adalah MT marah dan membanting pintu kamar penutur.

5) Maksud Ketidaksantunan

  Tuturan E7 disampaikan dengan maksud marah karena tingkah laku mitra tutur yang mengakibatkan penutur tidak berkenan. Selanjutnya, tuturan E9 yang disampaikan dengan maksud kesal karena penutur merasa sering diatur oleh mitra tuturnya.

4.2.5.2 Subkategori Kesal

  Cuplikan tuturan 61 MT

  : “Pakai celana kok ngetat semua to?” P : “Sak karepku to mak, wong sing nganggo aku kok!!” (E3)

  MT : (meninggalkan penutur dengan raut wajah sinis) (Konteks tuturan: mitra tutur menghampiri penutur yang hendak

  bepergian dan bertanya kepadanya. Menurut mitra tutur, celana yang dikenakan terlalu ketat. Penutur kurang senang dengan pertanyaan mitra

  Cuplikan tuturan 68 MT 2

  : “Dik, bebek’e dipakani yoo!!”

  MT1 : (tidak menjawab, justru berbalik menyuruh penutur)

  P : “Wooo opo-opo aku. Opo-opo aku!!” (E10)

  MT 1

  : “Salahe dituku!”

  (Konteks tuturan: percakapan sore hari di teras rumah. MT 2 menyuruh

  MT 1 untuk memberi makan bebek peliharaan. Namun, MT 1 justru menyuruh penutur yang empunya bebek tersebut. Penutur kesal karena selalu disuruh untuk mengerjakan sesuatu. MT 1 yang juga merasa kesal kemudian menanggapi perkataan penutur)

  1) Wujud Ketidaksantunan Linguistik Tuturan E3 : “Sak karepku to mak, wong sing nganggo aku kok!!” (Terserah saya dong Mak, yang pakai kan saya!!)

Tuturan E10 : “Woo opo-opo aku. Opo-opo aku!!”(Apa-apa saya, apa-apa

saya!!) 2)

   Wujud Ketidaksantunan Pragmatik Tuturan E3: penutur berbicara kepada orang yang lebih tua dengan ketus dan keras, penutur juga berbicara sembari berjalan meninggalkan mitra tutur.

  Tuturan E10: penutur berbicara kepada orang yang lebih tua dengan keras

  tanpa melihat ke arah mitra tutur, penutur berbicara sembari berjalan hendak meninggalkan mitra tutur, penutur juga sengaja melontarkan kata-kata sekenanya.

  3) Penanda Ketidaksantunan Linguistik Tuturan E3: intonasi yang digunakan penutur adalah intonasi seru, tekanan

  keras pada sak karepku to Mak, nada tinggi, pilihan kata yang digunakan adalah bahasa nonstandar dengan menggunakan bahasa Jawa, dan kata fatis yang terdapat dalam tuturan: kok dan to.

  Tuturan E10: intonasi yang digunakan penutur adalah intonasi seru, tekanan bahasa nonstandar dengan menggunakan bahasa Jawa, dan kata fatis yang terdapat dalam tuturan: woo.

4) Penanda Ketidaksantunan Pragmatik

  Tuturan E3: Mitra tutur menghampiri penutur yang hendak bepergian dan bertanya kepadanya. Menurut mitra tutur, celana yang dikenakan terlalu ketat.

  Penutur kurang senang dengan pertanyaan mitra tutur yang dinilai terlalu mengatur cara berpakaian penutur, sehingga penutur memberikan jawaban dengan kesal. Tuturan terjadi dalam suasana serius. Penutur laki-laki berusia 24 tahun dan mitra tutur perempuan berusia 46 tahun. Penutur adalah anak dari mitra tutur. Tujuan dari tuturan penutur ialah mengungkapkan amarahnya. Tindak verbal yang terjadi: ekspresif. Tindak perlokusi dari tuturan tersebut: MT meninggalkan penutur sinis.

  Tuturan E10: Percakapan sore hari di teras rumah. MT2 menyuruh MT1

  untuk memberi makan bebek peliharaan. Namun, MT1 justru menyuruh penutur yang empunya bebek tersebut. Penutur kesal karena selalu disuruh untuk mengerjakan sesuatu. MT1 yang juga merasa kesal kemudian menanggapi perkataan penutur. Penutur laki-laki kelas 4 SD, berusia 12 tahun, MT1 perempuan kelas XII SMK ,berusia 19 tahun, dan MT2 perempuan berusia 42 tahun. Penutur adalah adik dari MT1, dan MT2 adalah ibu dari penutur juga MT1. Tujuan penutur adalah menolak perintah MT1. Tindak verbal yang terjadi yaitu ekspresif. Tindak perlokusi dari tuturan tersebut adalah MT1 menanggapi perkataan penutur dengan kesal.

5) Maksud Ketidaksantunan

  Pada tuturan E3 penutur bermaksud mengungkapkan kekesalanya karena mitra tutur terlalu banyak mengatur cara berpakaian penutur. Lain halnya dengan maksud protes yang terdapat pada tuturan E10. Penutur bermaksud memrotes mitra tuturnya yang terlalu sering memerintah dirinya

4.2.5.3 Subkategori Menyepelekan

  Cuplikan tuturan 62 MT

  : “Seko ngendi koe mau?” P : “Biasa anak muda.” (E4) MT : (pergi meninggalkan penutur dan membanting pintu).

  (Konteks tuturan: penutur tiba di rumah dari bepergian sore hari. Mitra

  tutur menyapa penutur di ruang tamu sembari melontarkan pertanyaan dari mana penutur pergi. Penutur merasa tidak nyaman ketika mitra tutur bertanya perihal kepergiannya, sehingga penutur hanya menjawab sekenanya dan terkesan menyepelekan)

  Cuplikan tuturan 64 MT

  : “Ayo ngewangi aku neng sawah!” P : “Halah mangke bu, neng sawah terus koyo dibayar wae.” (E6)

  MT : “Bocah ora ngerti kahanan. Koe iso urip tekan dino iki yo mergo

  seko hasil sawah kui.”

  (Konteks tuturan: mitra tutur sedang bersiap-siap di teras rumah hendak

  pergi ke sawah pada siang hari. Mitra tutur menyuruh penutur untuk membantu pekerjaan di sawah. Penutur enggan melaksanakan perintah dari mitra tutur dan hanya memberi jawaban sembrono)

1) Wujud Ketidaksantunan Linguistik

  Tuturan E4 : “Biasa anak muda.” Tuturan E6 : “Halah mangke Bu, neng sawah terus koyo dibayar wae.” (Halah nanti Bu, di sawah terus seperti dibayar saja).

  2) Wujud Ketidaksantunan Pragmatik Tuturan E4: penutur berbicara kepada orang yang lebih tua dengan sembrono,

  penutur tidak memberi tahu mitra tutur dari mana ia pergi, penutur menanggapi pertanyaan mitra tutur sembari berjalan.

  Tuturan E6: penutur menanggapi ajakan mitra tutur dengan datar tanpa ada

  rasa tanggung jawab, penutur berbicara kepada orang yang lebih tua, penutur tidak mengindahkan ajakan mitra tutur.

  3) Penanda Ketidaksantunan Linguistik Tuturan E4: intonasi yang digunakan penutur adalah intonasi berita, tekanan

  lunak pada frasa anak muda, nada sedang, dan pilihan kata yang digunakan adalah bahasa populer.

  Tuturan E6: intonasi yang digunakan penutur adalah intonasi berita, tekanan

  keras pada frasa halah, nada sedang, dan pilihan kata yang digunakan adalah bahasa nonstandar dengan menggunakan bahasa Jawa.

  4) Penanda Ketidaksantunan Pragmatik Tuturan E4: Penutur tiba di rumah dari bepergian sore hari. Mitra tutur

  menyapa penutur di ruang tamu sembari melontarkan pertanyaan dari mana penutur pergi. Penutur merasa tidak nyaman ketika mitra tutur bertanya perihal kepergiannya, sehingga penutur hanya menjawab sekenanya dan terkesan menyepelekan. Penutur perempuan, kelas XII SMK berusia 19 tahun dan mitra tutur perempuan berusia 42 tahun. Penutur adalah anak dari mitra tutur. Tujuan dari tuturan penutur ialah berusaha merahasiakan sesuatu. Tindak verbal yang terjadi: ekspresif. Tindak perlokusi dari tuturan tersebut adalah MT marah dan membanting pintu.

  Tuturan E6: Mitra tutur sedang bersiap-siap di teras rumah hendak pergi ke

  sawah pada siang hari. Mitra tutur menyuruh penutur untuk membantu pekerjaan di sawah. Penutur enggan melaksanakan perintah dari mitra tutur dan hanya memberi jawaban sembrono. Penutur laki-laki, berusia 28 tahun dan mitra tutur perempuan, berusia 53 tahun. Penutur adalah anak dari mitra tutur.

  Tujuan dari tuturan tersebut ialah penutur enggan melaksanakan tugas dari MT. Tindak verbal yang terjadi: ekspresif. Tindak perlokusi dari tuturan tersebut adalah MT menjawab perkataan penutur dengan kesal kemudian pergi meninggalkan penutur.

5) Maksud Ketidaksantunan Dalam subkategori menyepelekan terdapat dua maksud ketidaksantunan.

  Maksud yang pertama adalah maksud merahasiakan sesuatu dan terdapat pada tuturan E4. Penutur merasa tidak nyaman dengan pertanyaan mitra tutur, sehingga berusaha merahasiakan kepergian penutur. Berbeda dengan tuturan E6 yang disampaikan dengan maksud menolak. Penutur bermaksud menolak ajakan mitra tuturnya untuk pergi ke sawah.

4.2.5.4 Subkategori Menyindir

  Cuplikan tuturan 59 MT : (mitra tutur mengambil makanan, namun kurang berhati-hati sehingga mneimbulkan kegaduhan)

  P : “Mbok dibanting sisan! Mbok dibaleni!” (E1)

  MT : (mitra tutur kesal dan justru dengan sengaja membuat gaduh

  (Konteks tuturan: penutur dan mitra tutur sedang makan siang di ruang

  makan. Mitra tutur secara tidak sengaja mengambil piring dengan tidak hati-hati, sehingga menimbulkan suara gaduh. Penutur menanggapi

tingkah laku mitra tutur dengan melontarkan kata-kata sindiran)

  1) Wujud Ketidaksantunan Linguistik Tuturan E1 : “Mbok dibanting sisan! Mbok dibaleni!” (Dibanting sekalian, diulang lagi!) 2)

   Wujud Ketidaksantunan Pragmatik Tuturan E1: penutur berbicara dengan ketus dan sengaja melontarkan kata-

  kata sindiran kepada mitra tutur, penutur berbicara sembari melirik sinis ke arah mitra tutur, penutur sengaja menyindir mitra tutur dengan tujuan agar lebih berhati-hati ketika mengambil sesuatu.

  3) Penanda Ketidaksantunan Linguistik Tuturan E1: intonasi yang digunakan penutur adalah intonasi perintah,

  tekanan keras pada kata sisan, nada sedang, pilihan kata yang digunakan adalah bahasa nonstandar dengan menggunakan bahasa Jawa, dan kata fatis yang terdapat dalam tuturan: mbok.

  4) Penanda Ketidaksantunan Pragmatik Tuturan E1: Penutur dan mitra tutur sedang makan siang di ruang makan.

  Mitra tutur secara tidak sengaja mengambil piring dengan tidak hati-hati, sehingga menimbulkan suara gaduh. Penutur menanggapi tingkah laku mitra tutur dengan melontarkan kata-kata sindiran. Penutur dan mitra tutur laki-laki. Penutur mahasiswa semester 4, berusia 19 tahun dan mitra tutur kelas VIII SMP, berusia 14 tahun. Penutur adalah kakak dari mitra tutur. Tujuan dari yang terjadi yaitu ekspresif. Tindak perlokusi dari tuturan tersebut adalah MT kesal dan semakin membuat gaduh suasana.

5) Maksud Ketidaksantunan

  Tuturan E1 disampaikan dengan maksud menyindir mitra tuturnya yang tidak pernah berhati-hati dalam melakukan aktivitas, sehingga selalu menimbulkan suara gaduh.

4.2.5.5 Subkategori Menolak

  Cuplikan tuturan 63 MT

  : “Wisnu ambilkan kursi di depan itu!” P : “Punya kaki sendiri kok!!” (E5)

  MT : (mitra tutur menghampiri penutur kemudian menjewer telinga penutur) (Konteks tuturan: percakapan terjadi di ruang keluarga pada siang hari

  (Rabu, 24 April 2013. Pukul 13.15

  • – 13. 45 WIB). Mitra tutur sedang

  menerima tamu di ruang tamu, sedangkan penutur sedang menonton televisi di ruang keluarga. Mitra tutur meminta bantuan kepada penutur untuk mengambilkan kursi di depan rumah. Penutur enggan melaksanakan perintah dari mitra tutur, bahkan menanggapi permintaan mitra tutur dengan kata-kata yang tidak santun)

  1) Wujud Ketidaksantunan Linguistik Tuturan E5 : “Punya kaki sendiri kok!!”

  2) Wujud Ketidaksantunan Pragmatik Tuturan E5: penutur berbicara kepada orang tua dengan ketus, penutur

  dengan sengaja memberikan jawaban yang tidak sopan, penutur berbicara tanpa melihat ke arah mitra tutur, penutur tidak mengindahkan perintah mitra tutur.

  3) Penanda Ketidaksantunan Linguistik Tuturan E5: intonasi yang digunakan penutur adalah intonasi seru, tekanan

  keras pada kata sendiri kok, nada tinggi, pilihan kata yang digunakan adalah kata populer, dan kata fatis yang terdapat dalam tuturan: kok.

  4) Penanda Ketidaksantunan Pragmatik Tuturan E5: Percakapan terjadi di ruang keluarga pada siang hari (Rabu, 24

  April 2013. Pukul 13.15 –13.45 WIB). Mitra tutur sedang menerima tamu di ruang tamu, sedangkan penutur sedang menonton televisi di ruang keluarga.

  Mitra tutur meminta bantuan kepada penutur untuk mengambilkan kursi di depan rumah. Penutur enggan melaksanakan perintah dari mitra tutur, bahkan menanggapi permintaan mitra tutur dengan kata-kata yang tidak santun. Penutur laki-laki, siswa kelas 3 SD dan mitra tutur laki-laki berusia 43 tahun. Penutur adalah anak dari MT. Tujuan dari tuturan penutur ialah menolak perintah dari MT. Tindak verbal yang terjadi: komisif. Tindak perlokusi dari tuturan tersebut: MT menjewer telinga penutur.

  5) Maksud Ketidaksantunan Tuturan E5 disampaikan dengan maksud menolak perintah dari mitra tuturnya.

4.3 Pembahasan

  Data yang telah dianalisis kemudian dibahas lebih mendalam pada bagian pembahasan ini. Pembahasan lebih lanjut dari setiap kategori ketidaksantunan didasarkan pada tiga pokok rumusan masalah, yang meliputi wujud ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, penanda ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, serta maksud ketidaksantunan penutur. Berikut ini adalah pembahasan mengenai ketidaksantunan linguistik dan pragmatik dalam keluarga petani.

4.3.1 Kategori Ketidaksantunan Melanggar Norma

  Kategori ketidaksantunan yang pertama dikemukakan oleh Locher dan Watts (2008). Kedua ahli tersebut berpandangan bahwa perilaku tidak santun adalah perilaku yang secara normatif dianggap negatif (negative marked

  

behavior), karena melanggar norma-norma sosial yang berlaku dalam masyarakat.

  Locher dan Watts juga menjelaskan bahwa ketidaksantunan merupakan alat untuk menegosiasikan hubungan antarsesama (a means to negotiate meaning). Pada dasarnya, teori ketidaksantunan berbahasa menurut pandangan Locher dan Watts menitikberatkan pada bentuk penggunaan tuturan yang secara normatif dianggap menyimpang, karena dianggap melanggar norma yang berlaku pada masyarakat (tertentu) atau melanggar aturan-aturan yang telah disepakati dalam keluarga.

  Dalam kategori ketidaksantunan melanggar norma, terdapat empat subkategori ketidaksantunan. Berdasarkan keempat subkategori tersebut, berikut adalah pembahasan mengenai wujud dan penanda ketidaksantunan linguistik dan pragmatik serta maksud ketidaksantunan penutur.

4.3.1.1 Subkategori Menentang

  Menentang dapat dipahami sebagai ungkapan ketidaksetujuan penutur

  terhadap suatu hal. Wujud ketidaksantunan linguistik dalam subkategori menentang terdapat pada tuturan A1 dan A5. Kedua tuturan tersebut termasuk dalam subkategori menentang karena menyiratkan bentuk penentangan penutur

  Opo-opo kok koyo cah cilik to, mengko lak yo bali dewe!! (A1)

  (Konteks tuturan: tuturan terjadi ketika mitra tutur berusaha menegur

  penutur yang terlambat pulang. Sudah ada kesepakatan jika terlambat harus memberi kabar terlebih dahulu melalui telepon. Namun, penutur justru kesal dan berusaha menentang kesepakatan tersebut dengan memberikan jawaban sekenanya kepada mitra tutur) Iyo Pak, sekalian subuh. (A5)

  (Konteks tuturan: penutur hendak bepergian bersama teman-temannya pada

  sore hari, mitra tutur berpesan kepada penutur agar tidak pulang larut malam, sesuai dengan kesepakatan yang sudah ditetapkan dalam keluarga. Namun, penutur justru menjawab sekenanya dan terkesan sembrono, sehingga memunculkan kekesalan mitra tutur)

  Lebih lanjut lagi dalam wujud ketidaksantunan pragmatik yang berkaitan dengan cara penutur ketika menyampaikan tuturannya. Pada kedua tuturan di atas, penutur dengan sadar berusaha melanggar kesepakatan yang telah ditetapkan dalam keluarga. Salah satu pelanggaran tersebut diungkapkan dengan cara menentang. Kedua tuturan di atas menunjukkan bahwa penutur tidak mengindahkan teguran dan pesan dari mitra tutur, hal ini dapat dilihat dari cara penutur menanggapi mitra tutur, misalnya dengan berbicara ketus dan sembrono tanpa rasa bersalah. Hal-hal tersebut menunjukkan rendahnya kadar kesantunan dari tuturan penutur. Selain tuturannya yang tidak santun, penutur juga memperlihatkan tindakan yang kurang sopan, seperti berbicara sembari tersenyum atau justru sama sekali tidak melihat ke arah mitra tutur. Tuturan yang disampaikan oleh penutur ditujukan kepada orang yang lebih tua, sehingga mengakibatkan tuturan tersebut semakin tidak santun.

  Penanda ketidaksantunan linguistik dalam tuturan dapat dilihat tersebut sejalan dengan penjelasan Pranowo (2009:76) bahwa aspek penentu kesantunan dalam bahasa verbal lisan, antara lain aspek intonasi, aspek nada bicara, faktor pilihan kata, dan faktor struktur kalimat. Salah satu unsur suprasegmental yang dikaji adalah intonasi. Muslich (2008:115-116) mengemukakan bahwa intonasi dalam bahasa Indonesia sangat berperan dalam pembedaan maksud kalimat. Intonasi pada tuturan A1 berbeda dengan intonasi pada tuturan A5. Tuturan A1 disampaikan dengan intonasi seru ketika penutur berusaha menentang teguran dari mitra tutur. Meskipun sama-sama menentang, pada kenyataannya tuturan A5 disampaikan dengan intonasi berita yang memiliki pola intonasi datar-turun. Tuturan A5 menunjukkan adanya pemberitahuan kepada mitra tuturnya. Adanya perbedaan intonasi dalam kedua tuturan tersebut menunjukkan bahwa intonasi sangat berperan dalam pembedaan maksud kalimat.

  Aspek selanjutnya yang akan dibahas adalah tekanan. Tekanan dalam tuturan bahasa Indonesia berfungsi membedakan maksud dalam tataran kalimat (sintaksis), tetapi tidak berfungsi membedakan makna dalam tataran kata (leksis) (Muslich, 2009:113). Pada tuturan A1 penutur berbicara dengan tekanan keras.

  Berbeda dengan tuturan A5 yang disampaikan dengan tekanan lunak. Penutur hanya memberikan tekanan pada bagian yang dianggap penting saja. Hal tersebut sejalan dengan penjelasan Muslich (2009:113) bahwa dalam tataran kalimat tidak semua kata mendapat tekanan yang sama. Hanya kata-kata yang dipentingkan atau dianggap penting saja yang mendapat tekanan (aksen). Tuturan A1 mendapat tekanan pada pengucapan frasa bali dewe, sedangkan tuturan A5 ditekankan pada dapat sampai kepada mitra tuturnya. Namun, kenyataannya kedua bagian yang ditekankan dari tuturan-tuturan tersebut justru berpotensi menyinggung mitra tuturnya.

  Lebih lanjut lagi mengenai nada tutur. Nada menyangkut tinggi rendahnya bunyi. Tuturan A1 dituturkan oleh penutur dengan nada tinggi sebagai ungkapan kekesalannya terhadap teguran mitra tutur, sedangkan tuturan A5 disampaikan oleh penutur dengan nada sedang. Meskipun disampaikan dengan nada sedang, tuturan tersebut dipersepsi sebagai tuturan yang tidak santun karena terdengar menyepelekan mitra tuturnya. Terlebih ketika tuturan tersebut ditujukan kepada orang yang lebih tua. Dalam kebudayaan Jawa, orang yang lebih muda diharuskan menjaga sopan santun ketika berbicara dengan orang yang lebih tua.

  Sopan santun tersebut dapat ditunjukkan melalui tuturan yang halus dan sikap yang dianggap santun.

  Selain unsur suprasegmental, penanda ketidaksantunan linguistik dapat dilihat berdasarkan unsur segmentalnya, yaitu pilihan kata (diksi) dan kata fatis.

  Gorys Keraf (1987) memaparkan bahwa diksi atau pilihan kata adalah kemampuan membedakan secara tepat kata-kata yang dipakai untuk menyampaikan suatu gagasan, bagaimana mengelompokkan kata-kata yang tepat, dan gaya mana yang paling baik digunakan dalam suatu situasi. Penggunaan bahasa yang ditemukan pada kedua tuturan tidak santun tersebut adalah bahasa nonstandar dengan menggunakan bahasa Jawa dan istilah bahasa Jawa.

  Bahasa nonstandar adalah bahasa dari mereka yang tidak memperoleh dipergunakan juga oleh kaum terpelajar dalam bersenda-gurau, berhumor, atau untuk menyatakan ciri-ciri kedaerahan (Keraf, 1984:104-105). Tuturan A1 termasuk dalam bahasa nonstandar yang menggunakan bahasa Jawa karena semua kata-kata dalam tuturan tersebut menggunakan bahasa Jawa, sedangkan tuturan A5 merupakan bahasa nonstandar dengan menggunakan istilah bahasa Jawa karena terjadi pemakaian bahasa Indonesia yang disisipi kata dalam bahasa Jawa, yaitu iyo yang berarti iya. Penggunaan diksi pada kedua tuturan tersebut dipersepsi sebagai bentuk ketidaksantunan, karena penggunaan bahasa Jawa oleh penutur terdengar kurang halus, terlebih ketika disampaikan kepada orang yang lebih tua. Selain itu, penutur nampaknya kurang memperhatikan pilihan kata.

  Misalnya, penggunaan kata-kata mengko lak yo bali dewe dan sekalian subuh dapat menimbulkan ketidaknyamanan bagi mitra tutur. Kedua tuturan itu dapat saja disampaikan dengan lebih halus menggunakan pilihan kata yang sesuai.

  Berbicara mengenai kata fatis, Kridalaksana (1986:113) mengelompokkan partikel di dalam kategori fatis. Kategori fatis adalah kategori yang bertugas melulai, mempertahankan, atau mengkukuhkan pembicaraan antara pembicara dan kawan bicara. Sebagian besar kategori fatis merupakan ciri ragam lisan. Ragam lisan pada umumnya merupakan ragam nonstandar, maka kebanyakan kategori fatis terdapat dalam kalimat-kalimat nonstandar yang banyak mengandung unsur-unsur daerah. Sejalan dengan pengertian tersebut, ditemukan penggunaan kata fatis kok dalam tuturan A1. Penggunaan kata fatis kok dalam tuturan tersebut menekankan alasan dan pengingkaran dari penutur terhadap mitra pelanggaran terhadap aturan yang telah disepakati dalam keluarga. Selanjutnya adalah kata fatis yang mengandung unsur daerah yaitu to, yang juga terdapat pada tuturan A1.

  Selanjutnya, mengenai penanda ketidaksantunan pragmatik yang dilihat berdasarkan konteks yang melingkupi tuturan tersebut. Leech (1983) dalam Wijana (1996:10-13) mengemukakan lima aspek yang senantiasa harus dipertimbangkan dalam rangka studi pragmatik. Kelima aspek tersebut terdiri dari penutur dan lawan tutur, konteks tuturan, tujuan penutur, tuturan sebagai bentuk tindakan atau aktivitas, dan tuturan sebagai produk tindak verbal. Ditinjau dari aspek penutur dan lawan tutur, pada tuturan A1 penutur laki-laki berusia 24 tahun dan mitra tutur perempuan berusia 46 tahun. Penutur adalah anak dari mitra tutur.

  Lain halnya pada tuturan A5, penutur dan mitra tutur laki-laki. Penutur berusia 19 tahun, mahasiswa semester 4 dan mitra tutur berusia 47 tahun. Penutur adalah anak dari mitra tutur.

  Aspek berikutnya adalah konteks. Konteks dapat diartikan sebagai semua latar belakang pengetahuan (background knowledge) yang diasumsikan sama- sama dimiliki dan dipahami bersama oleh penutur dan mitra tutur, serta yang mendukung interpretasi mitra tutur atas apa yang dimaksudkan oleh si penutur itu di dalam keseluruhan proses bertutur (Rahardi, 2003:20). Konteks dalam tuturan A1 terjadi ketika mitra tutur berusaha menegur penutur yang terlambat pulang.

  Padahal sudah ada kesepakatan jika terlambat harus memberi kabar terlebih dahulu melalui telepon. Namun, ketika mitra tutur memberi teguran, penutur jawaban kepada mitra tutur. Begitu juga dengan tuturan A5 yang terjadi ketika penutur hendak bepergian bersama teman-temannya, mitra tutur berpesan kepada penutur agar tidak pulang larut malam, sesuai dengan kesepakatan yang sudah ditetapkan dalam keluarga. Namun, penutur justru menjawab sekenanya dan terkesan sembrono, sehingga memunculkan kekesalan mitra tutur.

  Tujuan penutur dalam tuturan A1 yaitu mengungkapkan kekesalannya terhadap teguran mitra tutur. Tuturan tersebut terjadi di ruang keluarga pada sore hari. Berbeda dengan tuturan A5, penutur bertujuan menentang pesan dari mitra tuturnya. Tuturan terjadi di ruang tamu pada sore hari. Tindak verbal pada kedua tuturan tersebut adalah tindak verbal komisif, yang dipahami sebagai jenis tindak tutur untuk mengikatkan diri penutur terhadap tindakan-tindakan di masa yang akan datang, berupa janji, ancaman, penolakan, dan ikrar. Lebih lanjut lagi dalam tindak perlokusi. Tindak perlokusi adalah tindak menumbuhkan pengaruh (effect) kepada diri sang mitra tutur (Rahardi, 2003:72). Pada tuturan A1 tindak perlokusi yang terjadi adalah mitra tutur diam saja kemudian meninggalkan penutur, sedangkan tuturan A5 mengakibatkan mitra tuturnya merasa disepelekan.

  Aspek penutur dan lawan tutur pada kedua tuturan di atas menunjukkan bahwa penutur cenderung berusia lebih muda daripada mitra tutur. Dalam kebudayaan Jawa, orang yang lebih muda seharusnya menjaga sopan santun, terlebih ketika berbicara dengan orang yang lebih tua. Namun, kenyataannya kedua penutur tadi cenderung tidak santun dalam bertutur kata. Penutur dan mitra tutur terikat dalam hubungan kekeluargaan yang cenderung mendorong adanya terkadang justru menimbulkan terciptanya komunikasi yang kurang santun di antara keduanya.

  Santun atau tidaknya sebuah tuturan juga dapat dilihat berdasarkan konteks. Kedua penutur dalam konteks tadi berusaha menentang peraturan yang telah disepakati dalam keluarga. Hal itu dibuktikan dengan tindak verbal yang terjadi yaitu tindak verbal komisif. Tuturan penutur dianggap tidak santun karena mengakibatkan mitra tuturnya merasa disepelekan sehingga pergi meninggalkan penutur begitu saja.

  Setiap tuturan tidak santun mengandung maksud tertentu yang ingin disampaikan kepada mitra tuturnya. Maksud dalam tuturan adalah milik penutur.

  Maksud ini berkenaan dengan tujuan dari penutur ketika mengutarakan tuturan tidak santunnya kepada mitra tutur. Hal inilah yang dapat dipahami sebagai maksud ketidaksantunan. Meskipun termasuk dalam subkategori menentang, pada kenyataannya tuturan A1 menyiratkan maksud kekesalan penutur terhadap mitra tutur yang telah menegurnya ketika terlambat pulang ke rumah. Begitu juga dengan tuturan A5, ketika mitra tutur memberi pesan agar tidak pulang karut malam, tanggapan dari penutur memang terkesan sembrono dan menyepelekan, namun maksud di balik tuturan penutur sebenarnya hanyalah mengajak bercanda mitra tuturnya.

4.3.1.2 Subkategori Menolak

  Menolak dapat dipahami sebagai ungkapan ketidaksetujuan penutur

  terhadap saran, nasihat, perintah, maupun pesan dari mitra tutur. Berikut adalah wujud ketidaksantunan linguistik dalam subkategori menolak, yang terdapat pada tuturan A2 dan A6.

  Emoohh, Pak! (A2)

  (Konteks tuturan: penutur pulang dari bermain dan masih menggunakan

  seragam sekolah. Mitra tutur menegur penutur agar saat pulang sekolah terlebih dahulu berganti pakaian kemudian berpamitan sesuai dengan aturan yang disepakati dalam keluarga. Namun, penutur berusaha menolak teguran mitra tutur dengan jawaban sekenanya) Ah, wong neng sekolah wis sinau kok! (A6)

  (Konteks tuturan: mitra tutur berusaha memperingatkan penutur untuk

  belajar, karena sudah disepakati adanya jam belajar pada keluarga tersebut. Namun, penutur justru menjawab sekenanya dan terkesan acuh, bahkan kembali sibuk dengan laptopnya)

  Setelah mencermati wujud ketidaksantunan linguistik pada kedua tuturan tersebut, lebih lanjut lagi pembahasan mengenai wujud ketidaksantunan pragmatik yang berkaitan dengan cara penutur ketika menyampaikan tuturan lisan tidak santun tersebut. Penutur pada kedua tuturan di atas dengan sadar berusaha melanggar kesepakatan yang telah disepakati dalam keluarga. Pelanggaran itu diperlihatkan dengan cara menolak teguran dan peringatan dari mitra tutur.

  Penolakan yang terjadi pada tuturan A2 berkaitan dengan aturan-aturan ketika pulang dari sekolah, sedangkan penolakan pada tuturan A6 berkaitan dengan adanya jam belajar pada malam hari. Penutur pada kedua tuturan tersebut berbicara kepada orang yang lebih tua tanpa melihat ke arah mitra tutur. Bahkan terkesan acuh tak acuh. Hal tersebut sudah tentu semakin menunjukkan rendahnya kadar kesantunan dari tuturan tersebut.

  Berbicara mengenai penanda ketidaksantunan, dapat dibedakan dari segi linguistik dan pragmatik. Penanda ketidaksantunan linguistik dilihat dari unsur suprasegmental dan unsur segmental dalam setiap tuturan. Salah satu unsur suprasegmental adalah intonasi. Tuturan A2 dan A6 memiliki intonasi yang sama, yaitu intonasi seru. Meskipun kedua tuturan tersebut sama-sama berintonasi seru, tuturan A2 terdengar lebih lunak daripada tuturan A6 yang cenderung terdengar keras. Tuturan yang disampaikan dengan intonasi seru dan cenderung terdengar keras dipersepsi sebagai bentuk ketidaksantunan, terlebih ketika mitra tutur yang diajak berbicara hanya berada pada jarak dekat.

  Unsur suprasegmental yang akan dibahas selanjutnya adalah tekanan. Penutur hanya memberikan tekanan pada bagian yang dianggap penting saja. Kata emoohh lebih ditekankan dengan lunak oleh penutur pada tuturan A2, sedangkan kata fatis ah mendapat tekanan keras pada tuturan A6. Beberapa bagian yang ditekankan pada kedua tuturan tersebut merupakan bagian tuturan yang dipentingkan penutur ketika mengungkapkan sebuah penolakan.

  Lebih lanjut lagi mengenai nada tutur. Nada adalah naik turunnya ujaran yang menggambarkan suasana hati penutur ketika sedang bertutur (Pranowo, 2009:77). Tuturan A2 dan A6 sebagai bentuk penolakan dituturkan dengan nada sedang. Meskipun disampaikan dengan nada sedang, kedua tuturan tersebut dipersepsi sebagai tuturan yang tidak santun karena terdengar menyepelekan mitra tuturnya.

  Selanjutnya, mengenai unsur segmental yaitu diksi (pilihan kata) dan nonstandar dengan menggunakan bahasa Jawa. Namun, penggunaan bahasa Jawa pada kedua tuturan tersebut kurang sesuai dengan situasi yang dihadapi, karena bahasa Jawa yang digunakan terdengar kurang halus jika disampaikan kepada orang yang lebih tua.

  Unsur segmental berikutnya yaitu kata fatis. Kategori fatis adalah kategori yang bertugas melulai, mempertahankan, atau mengkukuhkan pembicaraan antara pembicara dan kawan bicara (Kridalaksana, 1986:113). Tidak ditemukan penggunaan kata fatis pada tuturan A2, sebaliknya pada tuturan A6 terdapat penggunaan kata fatis yaitu ah, wong, dan kok. Kata fatis ah pada tuturan tersebut digunakan untuk menekankan sebuah penolakan atau sikap acuh tak acuh terhadap mitra tuturnya. Kemudian, kata fatis kok untuk menekankan alasan dan pengingkaran dari penutur terhadap mitra tutur. Pengingkaran dalam tuturan A6 berkaitan dengan adanya jam belajar pada malam hari. Lain halnya dengan kata fatis wong yang mengandung unsur daerah.

  Penanda ketidaksantunan pragmatik dapat dilihat berdasarkan konteks yang melingkupi tuturan tersebut. Pada tuturan A2, penutur adalah perempuan kelas VIII SMP, berusia 16 tahun dan mitra tutur laki-laki berusia 49 tahun. Penutur adalah anak dari mitra tutur. Tuturan terjadi ketika penutur pulang dari bermain dan masih menggunakan seragam sekolah pada sore hari. Mitra tutur menegur penutur agar saat pulang sekolah terlebih dahulu ganti pakaian kemudian berpamitan sesuai dengan aturan yang disepakati dalam keluarga tersebut.

  Namun, penutur berusaha menolak teguran mitra tutur dengan jawaban untuk berpamitan terlebih dahulu sebelum bepergian. Tindak verbal yang terjadi adalah tindak verbal komisif. Tuturan penutur mengakibatkan mitra tutur diam saja.

  Lain halnya dengan tuturan A6. Penutur laki-laki kelas VII SMP berusia 13 tahun dan mitra tutur perempuan berusia 50 tahun. Penutur adalah cucu dari mitra tutur. Tuturan terjadi ketika suasana santai. Mitra tutur berusaha memperingatkan penutur untuk belajar, karena sudah disepakati adanya jam belajar pada keluarga tersebut. Namun, penutur justru menjawab sekenanya dan terkesan acuh, bahkan kembali sibuk dengan laptopnya. Tuturan penutur menyiratkan tujuan berupa penolakan terhadap anjuran mitra tutur untuk belajar. Tuturan terjadi di ruang keluarga pada malam hari. Tindak verbal yang terdapat dalam tuturan adalah tindak verbal komisif, sedangkan tindak perlokusinya yaitu kesalnya mitra tutur karena sikap penutur yang acuh, kemudian meninggalkan penutur.

  Dalam kebudayaan Jawa, orang yang lebih muda seharusnya menjaga sopan santun, terlebih ketika berbicara dengan orang yang lebih tua. Namun, kenyataannya kedua penutur yang berusia lebih muda daripada mitra tuturnya cenderung tidak santun dalam bertutur kata. Santun atau tidaknya sebuah tuturan juga dapat dilihat berdasarkan konteks. Kedua penutur dalam konteks tadi berusaha menolak peraturan yang telah disepakati dalam keluarga. Hal itu dibuktikan dengan tindak verbal dalam tuturan yaitu tindak verbal komisif. Tuturan penutur dipersepsi sebagai tuturan yang tidak santun karena melanggar

  Lebih lanjut lagi pembahasan mengenai maksud ketidaksantunan penutur. Tuturan A2 dan A6 menyiratkan maksud yang sama, yaitu penolakan terhadap anjuran dari mitra tuturnya. Penolakan itu terkait aturan yang telah disepakati dalam keluarga.

4.3.1.3 Subkategori Kesal

  Kesal diartikan sebagai ungkapan ketidaksenangan, kekecewaan, atau

  kekesalan penutur terhadap suatu hal yang berkaitan dengan mitra tutur. Tuturan A3 merupakan wujud ketidaksantunan linguistik dalam subakategori ini.

  

Mau kan aku wis ngomong, kok diarani dolan, kan wis ijin!! (A3)

  (Konteks tuturan: penutur pulang dari bepergian pada sore hari, mitra tutur

  menghampiri dan bertanya kepada penutur dengan nada sedikit mencurigai tentang kepergian penutur tanpa seijin mitra tutur. Penutur kesal karena

dicurigai, kemudian menjawab pertanyaan mitra tutur dengan ketus)

  Wujud ketidaksantunan pragmatik pada tuturan tersebut dilihat dari cara penutur menyampaikan tuturannya. Pada tuturan A3, penutur berbicara dengan keras kepada orang yang lebih tua sebagai upaya pelanggaran terhadap aturan yang telah disepakai keluarga. Hal itu menunjukkan kadar kesantunan dari tuturan penutur masih sangat rendah. Terlebih, ketika penutur juga menunjukkan sikap yang kurang santun, seperti menatap mitra tutur dengan mata terbelalak.

  Pembahasan berikutnya mengenai penanda ketidaksantunan linguistik berdasarkan unsur suprasegmental yang meliputi intonasi, tekanan, nada. Tuturan A3 memiliki intonasi seru yang terdengar cenderung tinggi, padahal penutur berada pada jarak yang dekat dengan mitra tutur. Oleh karena itu, penggunaan bentuk ketidaksantunan. Jika ditinjau dari unsur tekanan, tuturan A3 disampaikan dengan tekanan keras. Bagian yang ditekankan yaitu pada frasa wis ijin. Tekanan dalam tuturan penutur berfungsi agar maksud yang diinginkan oleh penutur dapat dengan mudah sampai kepada mitra tuturnya, meskipun kenyataannya tekanan pada tuturan A3 memicu terjadinya komunikasi yang kurang baik antara penutur dengan mitra tutur. Selanjutnya, mengenai nada tutur. Aspek nada dalam bertutur lisan memengaruhi kesantunan berbahasa seseorang (Pranowo, 2009:77). Pada tuturan A3, penutur berbicara dengan nada tinggi karena suasana hati penutur sedang kesal akibat pertanyaan mitra tutur yang terdengar seperti tuduhan. Hal tersebut sejalan dengan penjelasan Pranowo, (2009:77) jika suasana hati sedang marah, emosi, nada bicara penutur menaik dengan keras dan kasar sehingga terasa menakutkan.

  Lebih lanjut lagi mengenai unsur segmental, yaitu diksi (pilihan kata) dan kata fatis. Tuturan A3 termasuk dalam bahasa nonstandar karena semua kata-kata di dalam tuturan tersebut menggunakan bahasa Jawa, sedangkan kata fatis yang ditemukan adalah kok dan kan. Penggunaan kata fatis kok dalam tuturan A3 menekankan alasan dari penutur terhadap tuduhan mitra tutur. Selanjutnya, penggunaan kata fatis kan yang ada di akhir atau awal kalimat merupakan kependekan dari kata bukan atau bukanlah. Dalam tuturan A3, kata fatis kan digunakan untuk menekankan pembuktian perihal sesuatu yang tidak dilakukan oleh penutur namun dituduhkan kepadanya.

  Pembahasan mengenai penanda ketidaksantunan pragmatik, salah penutur perempuan kelas XII SMK, berusia 18 tahun dan mitra tutur laki-laki berusia 50 tahun. Penutur adalah anak dari mitra tutur. Dari segi usia, terlihat bahwa penutur berusia jauh lebih muda daripada mitra tuturnya. Penutur dan mitra tutur memiliki hubungan darah dalam kekeluargaan. Kedekatan inilah yang terkadang justru memunculkan bentuk-bentuk ketidaksantunan yang terungkap dalam bentuk tuturan yang tidak santun. Aspek berikutnya yaitu konteks tuturan.

  Tuturan A3 terjadi ketika penutur pulang dari bepergian, mitra tutur menghampiri dan bertanya kepada penutur dengan nada sedikit mencurigai kepergian penutur yang tanpa izin mitra tutur. Mitra tutur curiga karena penutur sering pergi tanpa izin. Padahal, sudah ada kesepakatan jika bepergian harus izin terlebih dahulu.

  Penutur kesal karena dicurigai, kemudian menjawab pertanyaan mitra tutur dengan ketus. Berdasarkan konteks, dapat diketahui bahwa penutur seringkali melanggar kesepakatan dalam keluarga. Hal itulah yang mengakibatkan mitra tutur menegurnya. Tujuan dari tuturan penutur menjadi aspek yang dikaji berikutnya. Penutur menyampaikan tuturannya dengan tujuan berusaha membela diri dari tuduhan mitra tutur. Tuturan terjadi di teras rumah pada sore hari. Tindak verbal dalam tuturan adalah tindak verbal ekspresif, yang dipahami sebagai jenis tindak tutur untuk menyatakan sesuatu yang dirasakan oleh penutur. Dalam tuturan ini, penutur berusaha mengungkapkan kekesalannya. Tuturan penutur mengakibatkan mitra tuturnya memilih untuk diam saja.

  Lebih lanjut lagi pembahasan mengenai maksud ketidaksantunan. Maksud dari tuturan adalah milik penutur. Ketika dikonfirmasi kembali, penutur pada tuturan A3 menyampaikan tuturannya dengan maksud membela diri agar terhindar dari kesalahan.

4.3.1.4 Subkategori Marah

  Marah dapat diartikan sebagai ungkapan ketidaksenangan penutur terhadap suatu hal yang dapat mengakibatkan emosi penutur tidak terkendali.

  Wujud ketidaksantunan linguistik terdapat pada tuturan A4 berikut.

  Ahh, mamak ki terlalu! Aku ra meh mulih, meh kost wae!! (A4)

  (Konteks tuturan: terjadi ketika penutur sedang menerima tamu. Tiba-tiba

  mitra tutur mematikan lampu ruang tamu, karena waktu sudah menunjukkan pukul 21.00 WIB. Penutur kesal dan marah dengan sikap mitra tutur kemudian melontarkan kata-kata kepada mitra tutur)

  Ketika menyampaikan sebuah tuturan, sudah tentu setiap penutur memiliki cara tersendiri dalam mengungkapkannya. Berdasarkan cara penutur menyampaikan tuturan tersebut, dapat dilihat bagaimana wujud ketidaksantunan pragmatiknya. Seperti pada tuturan A4, penutur dengan sadar berusaha melanggar kesepakatan dalam keluarga. Pelanggaran tersebut disampaikan dengan berbicara keras sembari berteriak dan ditujukan kepada orang yang lebih tua. Hal itu menunjukkan kadar kesantunan dari tuturan penutur masih sangat rendah. Terlebih, ketika penutur juga menunjukkan sikap yang kurang santun, seperti menunjuk ke arah mitra tutur dan menatap mitra tutur dengan mata terbelalak.

  Selanjutnya, mengenai penanda ketidaksantunan linguistik. Tuturan A4 memiliki intonasi seru yang terdengar cenderung tinggi, padahal penutur berada seru yang terdengar cenderung tinggi pada tuturan A4 dipersepsi sebagai bentuk ketidaksantunan. Jika ditinjau dari unsur tekanan, tuturan A4 disampaikan dengan tekanan keras. Bagian yang ditekankan yaitu pada kata terlalu. Tekanan dalam tuturan penutur berfungsi agar maksud yang diinginkan oleh penutur dapat dengan mudah sampai kepada mitra tuturnya, meskipun kenyataannya tekanan pada tuturan A4 justru memicu terjadinya komunikasi yang kurang baik antara penutur dengan mitra tutur. Selanjutnya, mengenai nada tutur. Pada tuturan A4, penutur berbicara dengan nada tinggi karena suasana hati penutur sedang marah akibat tingkah mitra tutur yang dianggap keterlaluan. Hal tersebut sejalan dengan penjelasan Pranowo, (2009:77) jika suasana hati sedang marah, emosi, nada bicara penutur menaik dengan keras dan kasar sehingga terasa menakutkan.

  Lebih lanjut lagi mengenai diksi dan kata fatis. Tuturan A4 termasuk dalam bahasa nonstandar karena semua kata-kata di dalam tuturan tersebut menggunakan bahasa Jawa, sedangkan kata fatis yang ditemukan adalah ah. Kata fatis ah dalam tuturan A4 tersebut digunakan untuk menekankan sebuah penolakan atau sikap acuh terhadap mitra tuturnya. Penutur pada tuturan A4 berusaha menolak aturan yang telah disepakati dalam keluarga, yakni aturan untuk tidak menerima tamu melebihi pukul 21.00 malam.

  Pembahasan berikutnya perihal penanda ketidaksantunan pragmatik. Aspek yang dikaji pertama adalah penutur dan lawan tutur. Tuturan A4 terjadi antara penutur laki-laki berusia 24 tahun dan mitra tutur perempuan berusia 46 tahun. Penutur adalah anak dari mitra tutur. Ketidaksantunan kembali terlihat kepada mitra tutur yang berusia lebih tua. Tuturan terjadi ketika penutur sedang menerima tamu. Tiba-tiba mitra tutur mematikan lampu ruang tamu, karena jam sudah menunjukkan pukul 21.00WIB. Mengingat kesepakatan dalam keluarga, bahwa tamu harus pulang sebelum pukul 21.00WIB. Penutur berusaha mengungkapkan amarahnya terhadap tindakan mitra tutur yang dinilai keterlaluan. Mitra tutur sendiri bukan tanpa sebab ketika tiba-tiba mematikan lampu ruang tamu. Mitra tutur melakukan hal tersebut karena penutur tidak mematuhi peraturan yang telah disepakati dalam keluarga. Penutur menyampaikan tuturannya sembari berdiri dan menatap mitra tutur dengan mata terbelalak. Hal tersebut tentu menunjukkan rendahnya tingkat kesantunan seseorang. Seperti penjelasan Pranowo (2009:79) bahwa salah satu faktor penentu kesantunan dari aspek nonkebahasaan berupa pranata adat, seperti jarak bicara antara penutur dan mitra tutur, gaya bicara (perhatian kepada mitra tutur, tidak

  

memerhatikan wajah mitra tutur atau “melengos” dan sebagainya). Penutur

  menyampaikan tuturannya dengan tujuan menanggapi sikap mitra tutur yang kurang menyenangkan. Tuturan terjadi di ruang tamu pada malam hari. Tindak verbal dalam tuturan yaitu tindak verbal ekspresif. Akibat dari tuturan penutur yaitu mitra tutur diam saja.

  Tuturan A4 tentunya juga menyiratkan sebuah maksud tertentu. Meskipun termasuk dalam subkategori marah, kenyataannya penutur menyampaikan tuturannya dengan maksud mengungkapkan kekesalannya akibat tindakan dari mitra tutur.

4.3.2 Kategori Ketidaksantunan Mengancam Muka Sepihak

  Ahli selanjutnya adalah Terkourafi (2008:3-4) yang memandang ketidaksantunan sebagai,

  ‘impoliteness occurs when the expression used is not

conventionalized relative to the context of occurrence; it threatens the addressee’s

face but no face- threatening intention is attributed to the speaker by the hearer’.

  Perilaku berbahasa dalam pandangan Terkourafi dapat dipahami sebagai penggunaan tuturan tidak santun oleh penutur yang mengakibatkan timbulnya ancaman bagi mitra tutur (addressee), tetapi di sisi lain penutur (speaker) tidak menyadari bahwa perkataannya menyinggung dan mengancam mitra tutur. Dalam kategori ketidaksantunan mengancam muka sepihak, terdapat tujuh subkategori ketidaksantunan. Berikut pembahasan mengenai wujud dan penanda ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, serta maksud ketidaksantunan penutur yang dipaparkan berdasarkan masing-masing subkategori.

4.3.2.1 Subkategori Menyindir

  Menyindir berhubungan dengan cara penutur ketika mengkritik atau mencela mitra tuturnya baik secara langsung maupun secara tidak langsung.

  Wujud ketidaksantunan linguistik dalam subkategori menyindir terdapat pada tuturan B1 dan B4 berikut.

  Sudah hampir setahun, sudah mau punya anak belum? (B1)

  (Konteks tuturan: penutur dan mitra tutur sedang berbincang-bincang di

  ruang keluarga pada suasana santai. Penutur merasa bahwa sudah waktunya bagi mitra tutur untuk memiliki keturunan. Oleh karena itu, penutur menanyakan hal tersebut kepada mitra tutur tanpa memahami perasaan MT)

  Wis meh maghrib kok ono tamu!! (B4)

  (Konteks tuturan: penutur sedang berada di teras rumah saat matahari

  mulai tenggelam. Tiba-tiba MT1 datang memberitahu penutur bahwa MT 2 ingin bertemu dengan penutur. Suasana yang terjadi dalam tuturan adalah serius. Penutur merasa kesal dengan kedatangan MT2 yang dianggap mengganggu aktivitas penutur, karena hari sudah petang. Penutur melontarkan kata-kata yang menyinggung MT2)

  Wujud ketidaksantunan pragmatik dalam tuturan-tuturan tersebut dapat dilihat dari cara penutur menyampaikan tuturannya. Dalam kategori mengancam muka sepihak ini, penutur tidak menyadari bahwa tuturan dan tindakannya mengakibatkan mitra tutur tidak berkenan. Hal ini dapat dilihat dari cara penutur berkomunikasi dengan mitra tutur. Misalnya, penutur berbicara dengan lugas tanpa memahami perasaan mitra tutur atau penutur yang berbicara dengan ketus tanpa rasa bersalah. Selain tuturannya yang tidak santun, seringkali penutur memperlihatkan tindakan-tindakan yang tidak sepantasnya ditujukan kepada mitra tutur, misalnya menatap mitra tutur sinis, berbicara tanpa melihat mitra tutur, dan berbicara sembari berdiri bahkan berjalan.

  Setelah mencermati wujud ketidaksantunan, pembahasan berikutnya mengenai penanda ketidaksantunan linguistik dan pragmatik. Intonasi, tekanan, dan nada adalah tiga unsur suprasegmental dalam penanda ketidaksantunan linguistik, sedangkan diksi dan kata fatis merupakan bagian dari unsur segmentalnya.

  Intonasi yang digunakan pada kedua tuturan di atas berbeda. Tuturan B1 menggunakan intonasi tanya. Muslich (2008:115-116) menjelaskan bahwa tuturan B1, penutur berbicara dengan datar namun terdapat penekanan yang berpola datar-naik pada pertanyaan tersebut. Penekanan yang disampaikan oleh penutur merupakan bentuk sindirannya terhadap mitra tutur yang belum juga memiliki keturunan. Berbeda dengan tuturan B4 yang berintonasi seru dan terdengar cenderung ketus. Intonasi seru yang terdengar ketus itu semakin menunjukkan ketidaksantunan tuturan tersebut, terlebih ketika mitra tutur yang diajak bicara berada pada jarak yang dekat dengan penutur.

  Unsur suprasegmental berikutnya adalah tekanan. Pada tuturan B1, penutur berbicara dengan tekanan lunak. Bagian yang ditekankan yaitu pada frasa

  

hampir setahun, sedangkan tuturan B4 disampaikan dengan tekanan keras pada

  frasa meh maghrib. Tekanan yang berbeda tentu menunjukkan adanya maksud yang berbeda pula. Hal itu sejalan dengan penjelasan Muslich, (2009:113) bahwa tekanan dalam tuturan bahasa Indonesia berfungsi membedakan maksud dalam tataran kalimat (sintaksis), tetapi tidak berfungsi membedakan makna dalam tataran kata (leksis). Meskipun ditekankan dengan lunak, tuturan B1 dipersepsi sebagai tuturan yang tidak santun karena menimbulkan sebuah ancaman bagi mitra tuturnya. Terlebih, tekanan keras pada tuturan B4 yang mengakibatkan terjadinya komunikasi yang kurang baik antara penutur dan mitra tutur.

  Lebih lanjut lagi dalam nada tutur. Pada tuturan B1 penutur berbicara dengan nada rendah, sedangkan tuturan B4 disampaikan dengan nada sedang.

  Meskipun nada dalam kedua tuturan tersebut tidak menunjukkan adanya emosi penutur yang berlebih, kedua tuturan tersebut tidak santun karena menyiratkan

  Pembahasan berikutnya mengenai unsur segmental, yaitu diksi dan kata fatis. Tuturan B1 dan B4 menggunakan bahasa nonstandar yang ditandai dengan pemakaian kata tidak baku dan bahasa Jawa. Pada tuturan B1 tidak ditemukan penggunaan kata fatis. Lain halnya dengan tuturan B4 yang menggunakan kata fatis kok untuk menekankan alasan mitra tutur yang enggan menerima tamu.

  Lebih lanjut lagi dalam penanda ketidaksantunan pragmatik yang berkaitan dengan konteks tuturan tersebut. Tuturan B1 dituturkan oleh laki-laki berusia 65 tahun dan mitra tutur perempuan berusia 33 tahun. Penutur adalah bapak mertua dari mitra tutur. Penutur dan mitra tutur sedang berbincang-bincang di ruang keluarga dalam suasana santai. Penutur merasa bahwa sudah waktunya bagi mitra tutur untuk memiliki keturunan. Oleh karena itu, penutur menanyakan hal tersebut kepada mitra tutur dengan lugas tanpa memahami perasaan mitra tutur. Tujuan dari tuturan penutur sebagai ungkapan keinginannya untuk menimang cucu. Tindak verbal dalam tuturan tersebut adalah tindak verbal ekspresif. Tuturan penutur mengakibatkan mitra tuturnya tersinggung dan hanya memberikan jawaban singkat.

  Selanjutnya, tuturan B4 terjadi antara penutur dan MT2 laki-laki, sedangkan MT1 perempuan. Penutur berusia 65 tahun, MT1 ibu berusia 50 tahun, dan MT2 berusia 40 tahun. Penutur adalah kerabat dekat MT2. Penutur sedang berada di teras rumah saat matahari mulai tenggelam. Tiba-tiba MT1 datang memberitahu penutur bahwa MT2 ingin bertemu dengan penutur. Suasana yang terjadi dalam tuturan adalah serius. Penutur merasa kesal dengan kedatangan MT2 melontarkan kata-kata yang menyinggung MT2. Tujuan di balik tuturan penutur adalah mengungkapkan ketidaksenangannnya terhadap kedatangan MT2. Tindak verbal dalam tuturan adalah tindak verbal ekspresif, sebagai ungkapan sindirannya terhadap MT2. Tuturan penutur mengakibatkan MT2 tersinggung.

  Berdasarnya kedua konteks di atas, diketahui bahwa bukan hanya anggota keluarga dalam hubungan darah saja yang terlibat dalam penuturan sebuah tuturan, melainkan juga kerabat dekat bahkan kerabat jauh dari penutur. Pranowo (2009:117) menjelaskan bahwa dalam berkomunikasi, masyarakat Jawa tidak hanya mengandalkan pikiran. Meskipun yang ingin dikomunikasikan adalah buah pikiran, tetapi ketika akan menyampaikan maksud kepada mitra tutur, biasanya terlebih dahulu berusaha menjaga perasaan dengan menjajaki kondisi psikologis mitra tutur (njaga rasa). Namun, kenyataannya hal tersebut tidak nampak pada tuturan-tuturan penutur. Penutur yang cenderung berusia lebih tua dari mitra tuturnya ini kurang mampu menjaga perasaan mitra tutur, bahkan tidak menyadari bahwa tuturannya berpotensi menyakiti hati. Terbukti dengan tersinggungnya mitra tutur akibat tuturan penutur. Hal-hal tersebut semakin menunjukkan rendahnya kadar kesantunan pada tuturan di atas. Jadi, ditegaskan lagi bahwa santun tidaknya sebuah tuturan itu tidak dilihat berdasarkan subkategorinya, tetapi dari tuturan itu sendiri beserta konteks yang melingkupinya.

  Lebih lanjut lagi pembahasan mengenai maksud ketidaksantunan. Maksud dari tuturan adalah milik penutur. Ketika dikonfirmasi kembali, penutur tuturnya karena belum juga memiliki keturunan. Lain halnya dengan tuturan B4 yang secara tidak langsung menyiratkan maksud pengusiran terhadap kedatangan MT2.

4.3.2.2 Subkategori Marah

  Berikut adalah tuturan yang termasuk dalam subkategori marah dan menjadi wujud ketidaksantunan linguistik dalam penelitian ini.

  Neng ngomah ki ngopo wae?? (B3)

  (Konteks tuturan: penutur pulang dari sawah dan menjumpai mitra tutur di

  dapur pada sore hari. Saat itu, penutur marah ketika pulang dari sawah belum ada air panas untuk mandi dan minum. Maka, penutur melontarkan kata-kata kepada mitra tutur tanpa menyadari tuturannya telah menyinggung mitra tutur) Mpun, kulo ajeng jagong! Mang tunggu sak jam!! (B10)

  (Konteks tuturan: tuturan terjadi di teras rumah ketika mitra tutur

  mengunjungi rumah penutur pada siang hari (Kamis, 13 Juni 2013). Setiap kali bertamu, mitra tutur selalu mengungkapkan maksud yang tidak jelas, sehingga mengakibatkan penutur enggan. Penutur menanggapi kedatangan mitra tutur dengan melontarkan kata-kata ketus dan bernada tinggi)

  Pada kedua tuturan di atas, penutur berbicara dengan ketus dan keras. Cara berbicara yang demikian tentu menyiratkan bahwa tuturan yang disampaikan juga tidak santun, terlebih ketika penutur berbicara sembari berdiri, berjalan, dan menatap mitra tutur dengan mata terbelalak. Lebih menyakitkan lagi ketika penutur tidak menyadari bahwa tuturannya tersebut mengakibatkan mitra tutur tidak berkenan.

  Selanjutnya, mengenai penanda ketidaksantunan linguistik yang ditinjau dari unsur suprasegmental dan unsur segmental sebuah kalimat. Tuturan B3 dipersepsi sebagai tuturan yang tidak santun karena penutur didorong rasa emosi ketika menyampaikan tuturannya. Hal itu sejalan dengan penjelasan Pranowo (2009:75) bahwa salah satu gejala penutur yang bertutur secara tidak santun adalah didorong rasa emosi ketika bertutur. Jika ditinjau dari aspek tekanan, tuturan B3 disampaikan dengan tekanan keras pada frasa ngopo wae. Tekanan dalam tuturan penutur berfungsi agar maksud yang diinginkan oleh penutur dapat dengan mudah sampai kepada mitra tuturnya. Namun, kenyataannya tekanan keras pada tuturan B3 justru mengakibatkan mitra tutur kesal dan tidak berkenan.

  Pada tuturan B10, penutur berbicara dengan intonasi seru yang disampaikan dengan nada tinggi. Lebih lanjut lagi pada aspek tekanan. Penutur memberikan tekanan keras pada frasa sak jam. Intonasi seru yang disampaikan dengan nada tinggi dan adanya penekanan keras pada bagian yang dipentingkan dalam tuturan tersebut sudah tentu semakin memperjelas bahwa tuturan penutur tidak santun. Bagian-bagian yang ditekankan tuturan B10 menyiratkan maksud penutur untuk mengusir mitra tuturnya. Hal tersebut tentu sangat mengancam muka bahkan mengakibatkan mitra tuturnya tersinggung, meskipun penutur sendiri tidak menyadari bahwa penekanan yang dilakukan pada tuturannya dalam kategori mengancam muka ini mengakibatkan mitra tuturnya tidak berkenan.

  Lebih lanjut lagi mengenai unsur segmental, yaitu diksi dan kata fatis. Penggunaan bahasa yang ditemukan pada kedua tuturan tidak santun di atas adalah bahasa nonstandar yang ditandai dengan pemakaian bahasa Jawa.

  Penggunaan bahasa nonstandar ini dipengaruhi oleh identitas penutur yang tuturan tersebut terdengar kurang halus, sehingga tidak santun jika diutarakan kepada mitra tutur. Terlebih, pada tuturan B10 yang ditujukan langsung kepada tamu yang berkunjung. Tidak ditemukan penggunaan kata fatis pada kedua tuturan tersebut.

  Penanda pragmatik pada kedua tuturan di atas, ditandai berdasarkan konteks yang melingkupi tuturan tersebut. Partisipan dalam tuturan B3 adalah penutur laki-laki berusia 59 tahun dan mitra tutur perempuan berusia 57 tahun. Penutur merupakan suami dari mitra tutur. Tuturan terjadi ketika penutur pulang dari sawah dan menjumpai mitra tutur di dapur pada sore hari. Aktivitas mitra tutur setiap harinya adalah mengurus rumah. Saat itu, penutur marah ketika pulang dari sawah belum ada air panas untuk mandi dan minum, kemudian penutur melontarkan kata-kata kepada mitra tutur dengan nada tinggi tanpa menyadari tuturannya telah menyinggung mitra tutur. Tujuan penutur adalah mengungkapkan amarahnya kepada mitra tutur yang dinilai kurang peduli terhadap keadaan rumah. Dengan melihat tujuan penutur, tuturan B3 termasuk dalam subkategori marah. Tindak verbal yang terjadi ekspresif. Tindak perlokusi dari tuturan tersebut adalah mitra tutur menjawab pertanyaan penutur dengan kesal kemudian pergi meninggalkan penutur.

  Lain lagi dengan konteks pada tuturan B10, yang terjadi antara penutur berusia 55 tahun dan mitra tutur berusia 49 tahun. Penutur dan mitra tutur laki- laki. Penutur adalah kerabat jauh MT. Tuturan terjadi ketika mitra tutur mengunjungi rumah penutur. Setiap kali bertamu, mitra tutur selalu enggan menjumpai mitra tutur. Penutur menanggapi kedatangan mitra tutur dengan melontarkan kata-kata ketus dan bernada tinggi. Tujuan penutur adalah mengungkapkan ketidaksenangannya terhadap kedatangan mitra tutur. Tindak verbal dalam tuturan adalah tindak verbal ekspresif. Tuturan penutur mengakibatkan mitra tuturnya pergi meninggalkan rumah penutur.

  Pranowo (2009:117) menjelaskan bahwa dalam berkomunikasi, masyarakat Jawa tidak hanya mengandalkan pikiran. Meskipun yang ingin dikomunikasikan adalah buah pikiran, tetapi ketika akan menyampaikan maksud kepada mitra tutur, biasanya terlebih dahulu berusaha menjaga perasaan dengan menjajaki kondisi psikologis mitra tutur (njaga rasa). Namun, kenyataannya hal tersebut tidak nampak pada tuturan-tuturan penutur dalam kategori ini. Penutur lebih didorong oleh rasa emosi ketika bertutur. Hal itu dipersepsi sebagai bentuk ketidaksantunan. Seperti yang dijelaskan Pranowo, (2009:75) bahwa salah satu gejala penutur yang bertutur secara tidak santun adalah didorong rasa emosi ketika bertutur.

  Kedua tuturan tersebut disampaikan untuk menyiratkan maksud tertentu kepada mitra tuturnya. Meskipun kedua tuturan di atas termasuk dalam subkategori marah, maksud yang tersirat di dalamnya ternyata berbeda dengan subkategori atau makna tuturan itu. Seperti pada tuturan B3 yang memiliki maksud sebagai ungkapan kekesalan penutur terhadap mitra tutur. Lain halnya dengan tuturan B10 yang menyiratkan maksud pengusiran secara tidak langsung terhadap kedatangan mitra tutur. Hal-hal tersebut tentu semakin menunjukkan

4.3.2.3 Subkategori Memerintah

  Memerintah dapat dipahami sebagai tuturan dan tindakan yang dilakukan

  oleh penutur untuk memberi perintah atau menyuruh mitra tutur agar melakukan suatu perbuatan.

  Kene, aku meh ngomong! (B5)

  (Konteks tuturan: mitra tutur sedang menerima telepon dari anggota

  keluarga lain yang berada di luar kota. Tiba-tiba penutur mengambil telepon genggam dari mitra tutur dengan cara yang kurang sopan, sehingga mengakibatkan mitra tutur kesal dan terganggu) Mbak, garapke iki!! (B7) (Konteks tuturan: mitra tutur sedang sibuk mengerjakan tugas kuliah.

  Penutur datang menghampiri dengan menyodorkan buku kepada mitra tutur. Penutur meminta bantuan kepada mitra tutur tanpa menyadari kesibukan mitra tutur)

  Wujud ketidaksantunan pragmatik berkaitan dengan cara penutur ketika menyampaikan tuturan lisan tidak santun tersebut. Penutur pada tuturan B5 berbicara dengan sinis bahkan sembari berdiri, sedangkan pada tuturan B7 penutur berbicara kepada orang yang lebih tua tanpa sungkan sedikit pun, bahkan kurang peduli dengan aktivitas yang sedang dikerjakan oleh mitra tutur. Cara-cara yang disertakan penutur dalam menyampaikan tuturannya menyiratkan wujud ketidaksantunan pragmatik pada tuturan tersebut.

  Intonasi, tekanan, dan nada merupakan unsur suprasegmental dalam penanda ketidaksantunan linguistik sebuah tuturan. Intonasi pada tuturan B5 adalah intonasi seru yang disampaikan dengan nada sedang. Penutur memberikan penekanan keras pada kata kene. Meskipun disampaikan dengan nada sedang, pilihan kata kene yang ditekankan dengan keras menyebabkan tuturan tersebut menjadi tidak santun. Ketika penutur menyuruh mitra tutur untuk melakukan suatu perbuatan, hendaknya penutur menggunakan pilihan kata yang tepat agar terdengar santun. Hal itu sejalan dengan penjelasan Pranowo, (2009:104) bahwa pemakaian kata-kata tertentu dapat mencerminkan rasa santun, misalnya kata tolong yang digunakan untuk meminta bantuan kepada orang lain.

  Berbeda dengan tuturan B7 yang disampaikan dengan intonasi perintah. Muslich (2008:115-116) menjelaskan bahwa kalimat perintah (imperatif) ditandai dengan pola intonasi datar-tinggi. Begitu juga dengan tuturan tersebut yang terdengar meninggi meskipun disampaikan dengan nada sedang. Lebih lanjut lagi pada unsur tekanan. Tuturan B7 disampaikan dengan tekanan lunak pada frasa

  

garapke iki. Meskipun ditekankan dengan lunak, tuturan tersebut dipersepsi

  sebagai ketidaksantunan, karena penutur sendiri menggunakan pilihan kata yang kurang tepat untuk menyatakan suatu permintaan bantuan.

  Pilihan kata (diksi) dan kata fatis merupakan unsur segmental dalam sebuah kalimat. Kedua tuturan tersebut menggunakan bahasa nonstandar yang ditandai dengan pemakaian bahasa Jawa. Penggunaan bahasa Jawa hendaknya juga memperhatikan kehalusan bahasa yang digunakan. Namun, hal itu tidak nampak pada kedua tuturan di atas. Tuturan-tuturan di atas terdengar kurang halus. Dalam kedua tuturan di atas juga tidak ditemukan penggunaan kata fatis.

  Lebih lanjut lagi pembahasan mengenai penanda ketidaksantunan pragmatik yang dilihat berdasarkan konteks tuturan itu. Partisipan dalam tuturan berusia 52 tahun. Penutur adalah istri dari mitra tutur. Konteks yang terjadi yaitu saat mitra tutur sedang menerima telepon dari anggota keluarga lain yang berada di luar kota. Tiba-tiba penutur mengambil telepon genggam dari mitra tutur dengan cara yang kurang sopan, sehingga mengakibatkan mitra tutur kesal dan terganggu. Tujuan penutur sebenarnya hanya ingin ikut berbicara dengan anggota keluarga lain. Tuturan terjadi di ruang keluarga pada siang hari. Tindak verbal dalam tuturan adalah tindak verbal direktif, yang dipahami sebagai jenis tindak tutur yang dipakai oleh penutur untuk menyuruh orang lain melakukan sesuatu.

  Akibat tuturan penutur adalah mitra tutur kesal kemudian menasihati penutur.

  Lain halnya dengan tuturan B7 yang terjadi antara penutur dan mitra tutur perempuan. Penutur berusia 16 tahun dan mitra tutur mahasiswa semester 8 berusia 22 tahun. Penutur adalah adik mitra tutur. Tuturan terjadi ketika penutur datang menghampiri mitra tutur dengan menyodorkan buku kepada mitra tutur.

  Penutur meminta tolong agar mitra tutur mau membantu mengerjakan PR. Padahal, mitra tutur sendiri sedang sibuk mengerjakan tugas kuliah. Tujuan penutur adalah meminta bantuan kepada mitra tutur. Tindak verbal dalam tuturan adalah direktif. Tuturan penutur mengakibatkan mitra tutur merasa terganggu.

  Konteks pada kedua tuturan tersebut menunjukkan bahwa ketidaksantunan terjadi ketika penutur menyampaikan tuturannya dengan cara yang kurang tepat dan di waktu yang kurang tepat pula. Seandainya penutur menyampaikan keinginannnya melalui tuturan-tuturan itu dengan cara yang benar, sudah tentu mitra tutur akan berkenan. Berdasarkan tindak verbal dalam tuturan subkategori memerintah. Namun, ditegaskan kembali bahwa subkategori tidak menentukan tingkat kesantunan sebuah tuturan. Santun atau tidaknya tuturan dapat dilihat dari tuturan itu sendiri beserta konteks yang melingkupinya.

  Setelah dikonfirmasi kembali, tuturan B5 menyiratkan maksud adanya perintah untuk memberikan telepon genggam kepada penutur. Namun, perintah tersebut disampaikan dengan cara yang kurang tepat sehingga mengakibatkan mitra tutur merasa terganggu. Begitu juga dengan tuturan B7 yang menyiratkan maksud adanya permintaan bantuan kepada mitra tuturnya.

4.3.2.4 Subkategori Kecewa

  Kecewa merupakan sebuah ungkapan atas perasaan kecil hati, tidak puas,

  atau tidak senang yang dirasakan penutur terhadap sesuatu. Berikut adalah tuturan yang menjadi wujud ketidaksantunan linguistik dalam subkategori kecewa.

  Sesok meneh ojo nyayur ngene iki, Mak!! (B6)

  (Konteks tuturan: penutur hendak mengambil makan sembari mencicipi

  masakan mitra tutur di ruang makan. Penutur kurang menyukai masakan mitra tutur, kemudian mengomentarinya dengan ketus)

  Seorang penutur tentu memiliki cara tersendiri ketika menyampaikan tuturannya. Pada tuturan B6, penutur menyampaikan tuturannya kepada orang yang lebih tua dengan ketus, bahkan disampaikan sembari berdiri. Hal itu dilakukan karena penutur kecewa dengan masakan mitra tutur yang kurang sesuai dengan seleranya. Cara penutur yang demikian mengakibatkan tuturan menjadi tidak santun, karena penutur mengungkapkan kekecewaan dan kritiknya secara langsung sehingga mengakibatkan mitra tuturnya tersinggung.

  Pembahasan berikutnya mengenai penanda ketidaksantunan linguistik. Tuturan B6 disampaikan menggunakan intonasi perintah dengan nada tinggi yang disertai penekanan keras pada frasa ojo nyayur. Ketidaksantunan pada tuturan itu terlihat ketika penutur mengungkapkan kecewanya akibat masakan mitra tutur yang kurang sesuai dengan selera. Kekecewaan yang disampaikan terdengar sebagai bentuk perintah dengan nada tinggi. Penutur juga kurang memperhatikan pilihan kata yang digunakan dalam menyampaikan tuturan. Pranowo, (2009:104) menjelaskan bahwa pemakaian kata-kata tertentu sebagai pilihan kata dapat mencerminkan rasa santun, misalnya kata maaf untuk tuturan yang diperkirakan dapat menyinggung perasaan orang lain. Begitu juga dengan tuturan B6, seharusnya penutur menggunakan kata maaf ketika menyampaikan tuturannya, sehingga mitra tutur tidak merasa tersinggung. Lebih lanjut lagi mengenai unsur segmental dalam sebuah kalimat yang meliputi diksi dan kata fatis. Tuturan B6 menggunakan bahasa nonstandar yang ditandai dengan pemakaian bahasa Jawa. Namun, tidak ditemukan pemakaian kata fatis dalam tuturan tersebut.

  Lebih lanjut lagi dalam penanda ketidaksantunan pragmatik yang dilihat berdasarkan konteks yang melingkupi tuturan tersebut. Pada tuturan B6, penutur laki-laki berusia 21 tahun dan mitra tutur perempuan berusia 50 tahun. Penutur adalah anak dari mitra tutur. Konteks dalam tuturan tersebut terjadi ketika penutur hendak mengambil makan sembari mencicipi masakan mitra tutur di ruang makan. Penutur kurang menyukai masakan mitra tutur, kemudian mengomentarinya dengan ketus. Tujuan penutur adalah mengungkapkan penutur, tuturan B6 termasuk dalam subkategori kecewa. Tindak verbal dalam tuturan adalah tindak verbal ekspresif, sedangkan tindak perlokusi yang terjadi yaitu mitra tutur tersinggung kemudian menjawab perkataan penutur sembari meninggalkan penutur di ruang makan.

  Setiap tuturan tidak santun, mengandung maksud tertentu yang ingin disampaikan kepada mitra tuturnya. Maksud adalah milik penutur, sehingga terlebih dahulu dilakukan konfirmasi kembali kepada penutur. Tuturan B6 menyiratkan maksud penutur untuk memberi saran kepada mitra tuturnya.

  Namun, pemberian saran tersebut disampaikan dengan tuturan dan cara yang kurang santun, sehingga mengakibatkan mitra tutur tidak berkenan.

4.3.2.5 Subkategori Menanyakan

  Menanyakan dapat dipahami sebagai sebuah ungkapan dari penutur dengan tujuan untuk meminta keterangan tentang sesuatu kepada lawan tuturnya.

  Wujud ketidaksantunan linguistik terdapat pada tuturan B8 berikut.

  Ngopo mbah kok ra maem?? (B8)

  (Konteks tuturan: mitra tutur kesal ketika pulang dari sawah pada sore hari

  belum ada air panas untuk mandi. Kekesalan mitra tutur diperlihatkan dengan cara berdiam diri. Melihat tingkah laku mitra tutur yang tidak seperti biasanya, penutur kemudian bertanya kepada mitra tutur tanpa rasa bersalah sedikit pun)

  Wujud ketidaksantunan pragmatik berkaitan dengan cara penutur ketika menyampaikan tuturan tidak santunnya. Pada tuturan B8, penutur berbicara dengan datar tanpa rasa bersalah, padahal saat itu mitra tutur baru saja pulang dari sawah dengan keadaan lelah sehingga enggan berkomunikasi. Mitra tutur semakin tidak berkenan ketika penutur berbicara tanpa melihat ke arahnya. Hal tersebut menunjukkan rendahnya kadar kesantunan tuturan penutur.

  Intonasi, tekanan, dan nada adalah unsur suprasegmental yang menjadi penanda ketidaksantunan linguistik dalam tuturan. Pada tuturan B8, penutur berbicara dengan intonasi tanya yang bernada rendah dan memberikan tekanan lunak pada frasa ra maem. Bagian yang ditekankan inilah yang dipentingkan oleh penutur. Meskipun berbicara dengan nada rendah dan memberikan tekanan dengan lunak, tuturan penutur justru dianggap sangat mengganggu mitra tuturnya.

  Mitra tutur semakin tidak berkenan ketika penutur memberi penekanan pada kata

  

ra maem. Tekanan tersebut menimbulkan kesan bahwa penutur tidak menyadari

  apa yang sebenarnya terjadi, sedangkan pilihan kata (diksi) dan kata fatis adalah unsur segmental yang terdapat dalam tuturan. Penggunaan bahasa nonstandar yang ditandai dengan pemakaian bahasa Jawa kembali terlihat pada tuturan ini. Hal ini dipengaruhi oleh identitas penutur yang semuanya merupakan masyarakat Jawa. Dalam tuturan B8 terdapat penggunaan kata fatis kok. Kata fatis kok menekankan alasan yang ingin diketahui oleh penutur terkait tingkah laku mitra tutur yang tidak seperti biasanya.

  Selanjutnya, pembahasan dalam penanda ketidaksantunan pragmatik yang dilihat berdasarkan konteks yang melingkupi tuturan tersebut. Tuturan B8 terjadi antara penutur perempuan berusia 59 tahun dan mitra tutur laki-laki berusia 61 tahun. Penutur adalah istri dari mitra tutur. Konteks dalam tuturan tersebut yaitu ketika mitra tutur pulang dari sawah, belum ada air panas untuk mandi. laku mitra tutur yang tidak seperti biasanya, penutur bertanya kepada mitra tutur tanpa rasa bersalah sedikit pun. Tujuan dari penutur yaitu menanggapi tingkah laku MT yang berbeda. Tindak verbal yang terjadi adalah ekspresif. Tindak perlokusi dari tuturan tersebut adalah mitra tutur menjawab sekenanya dan pergi meninggalkan penutur. Berdasarkan konteks tersebut, terlihat bahwa penutur belum mampu memperhatikan perasaan mitra tutur, sehingga ketika bertutur justru mengakibatkan mitra tuturnya tidak berkenan.

  Berbicara mengenai maksud ketidaksantunan, tuturan B8 menyiratkan maksud bahwa penutur ingin menanyakan sesuatu dan meminta keterangan kepada lawan tuturnya. Namun, pertanyaan penutur disampaikan di waktu yang kurang tepat, sehingga mengakibatkan mitra tuturnya tidak berkenan.

4.3.2.6 Subkategori Mengancam

  Mengancam dipahami sebagai pernyataan untuk melakukan sesuatu yang

  merugikan, menyulitkan, menyusahkan, atau mencelakakan pihak lain atau mitra tutur. Berikut adalah wujud ketidaksantunan linguistik berupa tuturan lisan tidak santun yang terdapat dalam subkategori mengancam.

  Tak jewer koe mengko nek ngeyel!! (B9)

  (Konteks tuturan: Senin, 10 Juni 2013, sekitar pukul 11.30

  • – 12.30 WIB di

  persawahan. Penutur sedang kerepotan mengangkat dedaunan untuk makanan sapi ke atas motor, sedangkan mitra tutur yang berada di dekatnya terlihat asik bermain karena mitra tutur merasa bahwa tugasnya telah usai. Penutur berusaha memperingatkan mitra tutur dengan melontarkan kata-kata yang sedikit mengancam)

  Pada tuturan B9, penutur berbicara dengan ketus dan keras, padahal wujud ketidaksantunan pragmatik yang terdapat pada tuturan. Tuturan semakin tidak santun ketika penutur menyampaikannya sembari menunjuk ke arah mitra tutur, bahkan berbicara sembari menatap mitra tutur dengan tatapan mata terbelalak.

  Penanda ketidaksantunan linguistik dapat dilihat berdasarkan intonasi, tekanan, dan nada. Tuturan B9 disampaikan dengan intonasi seru yang bernada tinggi dan ditekankan dengan keras pada frasa tak jewer. Intonasi, nada, dan tekanan yang demikian menunjukkan bahwa penutur didorong oleh rasa emosi ketika bertutur. Hal itulah yang menjadi penanda bahwa penutur berbicara secara tidak santun. Terlebih, ketika penutur memberi penekanan pada frasa tak jewer.

  Bagian yang ditekankan tersebut menyiratkan sebuah ancaman bagi mitra tuturnya, sehingga mengakibatkan mitra tutur merasa terancam. Diksi dalam tuturan ini menggunakan bahasa nonstandar yang ditandai dengan pemakaian bahasa Jawa. Pada tuturan B9 tidak ditemukan adanya penggunaan kata fatis.

  Pembahasan lebih lanjut dalam penanda ketidaksantunan pragmatik yang dilihat berdasarkan konteks yang melingkupi tuturan tersebut. Pada tuturan B9, penutur dan mitra tutur laki-laki. Penutur berusia 45 tahun dan mitra tutur berusia 4 tahun. Penutur adalah anak dari mitra tutur. Tuturan terjadi ketika penutur sedang kerepotan mengangkat dedaunan untuk makanan sapi ke atas motor, sedangkan mitra tutur yang berada di dekatnya terlihat asik bermain karena merasa bahwa tugasnya telah usai. Penutur berusaha memperingatkan mitra tutur dengan melontarkan kata-kata yang terdengar sebagai suatu ancaman. Tujuan dari ekspresif. Tindak perlokusi dari tuturan tersebut yakni MT menghentikan aktivitas bermainnya dengan mata yang memerah menahan tangis.

  Berdasarkan tuturan penutur pada konteks di atas, terlihat bahwa penutur seolah mengancam mitra tuturnya. Namun, setelah dilakukan konfirmasi kembali dengan penutur, ternyata penutur menyampaikan tuturannya dengan maksud hanya untuk menakut-nakuti mitra tuturnya.

4.3.2.7 Subkategori Menegaskan

  Menegaskan adalah cara penutur ketika menerangkan, menjelaskan, atau

  mengatakan dengan tegas tentang suatu hal kepada mitra tuturnya. Wujud ketidaksantunan linguistik terdapat pada tuturan B11 berikut.

  Bu, sesok mbayar uang kuliah. Telate dua hari lagi. (B11)

  (Konteks tuturan: tuturan terjadi ketika penutur pulang dari kuliah siang

  hari dalam suasana santai. Penutur secara tiba-tiba memberi tahu mitra tutur bahwa 2 hari lagi batas akhir pembayaran uang kuliah. Penutur tidak menyadari bahwa perkataannya membuat mitra tutur terkejut dan kurang berkenan)

  Pada tuturan di atas, penutur berusaha memberi penegasan kepada mitra tuturnya perihal pembayaran uang kuliah. Penutur berbicara dengan santai tanpa rasa sungkan. Penutur menyampaikan tuturannya itu kepada orang yang lebih tua. Pemberitahuan itu dianggap terlalu mendadak, sehingga mitra tutur tidak berkenan. Namun, penutur sendiri tidak menyadari hal tersebut, bahkan berbicara dengan santainya. Hal inilah yang menunjukkan adanya ketidaksantunan dalam tuturan penutur. Cara penutur ketika menyampaikan tuturannya ini dipahami sebagai wujud ketidaksantunan pragmatik.

  Ditinjau dari unsur suprasegmental yang meliputi intonasi, tekanan, dan nada, tuturan B11 ini berintonasi berita. Kalimat berita (deklaratif) ditandai dengan pola intonasi datar-turun (Muslich, 2008:115-116). Begitu juga dengan tuturan B11 yang terdengar berpola datar-turun. Tuturan itu disampaikan dengan tekanan lunak, yaitu pada frasa sesok mbayar. Bagian itulah yang dipentingkan oleh penutur ketika menegaskan sesuatu. Penutur juga berbicara dengan nada sedang. Meskipun penutur berbicara dengan intonasi berita yang cenderung berpola intonasi datar-turun, disertai nada sedang, tuturan penutur dianggap tidak santun ketika tekanan sesok mbayar pada kenyataannya mengakibatkan mitra tutur merasa terancam, sehingga tidak berkenan.

  Unsur selanjutnya yaitu segmental yang meliputi diksi dan kata fatis. Dalam tuturan B11 ditemukan penggunaan bahasa nonstandar yang ditandai dengan adanya pemakaian istilah bahasa Jawa, yaitu kata sesok dan telate yang artinya besok dan terlambatnya. Dalam tuturan tersebut penutur menggunakan bahasa Indonesia yang disisipi pemakaian bahasa Jawa. Namun, tidak ditemukan penggunaan kata fatis dalam tuturan ini.

  Setelah penanda ketidaksantunan linguistik, berikut adalah pembahasan tentang penanda ketidaksantunan pragmatik yang dilihat berdasarkan konteks tuturan itu sendiri. Pada tuturan B11 yang menjadi penutur adalah laki-laki, semester 4 berusia 20 tahun dan mitra perempuan berusia 45 tahun. Penutur adalah anak mitra tutur. Penutur yang berusia lebih muda seharusnya mampu memahami kehendak orang tuanya, sebagai wujud penghormatan. Terlebih, ketika Namun, dalam tuturan tersebut penutur nampak kurang peka terhadap mitra tuturnya, sehingga mitra tutur tidak berkenan.

  Aspek berikutnya adalah konteks dalam tuturan itu sendiri. Tuturan terjadi dalam suasana santai ketika penutur pulang dari kuliah. Penutur secara tiba-tiba memberi tahu mitra tutur bahwa 2 hari lagi batas akhir pembayaran uang kuliah. Mitra tutur terkejut dengan pernyataan penutur karena perihal pembayaran seharusnya diberitahukan jauh-jauh hari dan tidak mendadak seperti itu. Dalam konteks ini, penutur dianggap tidak santun karena tidak menyadari bahwa perkataannya membuat mitra tutur terkejut dan kurang berkenan. Penutur nampaknya juga kurang mengindahkan pesan-pesan dari mitra tutur perihal pembayaran, bahkan dengan santainya mengutarakan hal tersebut kepada mitra tutur.

  Aspek ketiga adalah tujuan penutur. Penutur menyampaikan tuturannya dengan tujuan memberi tahu mitra tutur perihal pembayaran uang kuliah. Lebih lanjut lagi dalam aspek tuturan sebagai bentuk tindakan atau aktivitas. Tuturan B11 terjadi di ruang tamu pada siang hari. Tuturan seringkali terjadi di rumah karena penelitian ini memang meneliti ketidaksantunan dalam komunikasi sehari- hari dalam keluarga. Aspek terakhir adalah tuturan sebagai produk tindak verbal. Tindak verbal yang terjadi adalah tindak verbal representatif. Pada tuturan ini tindak verbal representatif menyatakan penegasan yang disampaikan penutur perihal pembayaran uang kuliah. Dengan melihat tindak verbalnya, tuturan B11 termasuk dalam subkategori menegaskan. Tuturan penutur menimbulkan tindak perlokusi mitra tutur yaitu, terkejut dan menanggapi pernyataan penutur dengan ketus.

  Pembahasan berikutnya mengenai maksud ketidaksantunan penutur. Untuk mengetahui maksud, dilakukan konfirmasi kepada penutur. Maksud dan makna tuturan yang menjadi subkategori sebenarnya dapat sama, tetapi pada kenyataannya ada pula yang berbeda. Seperti pada tuturan B11, meskipun termasuk dalam subkategori menegaskan, maksud dari tuturan penutur sebenarnya adalah ingin memberi informasi kepada mitra tuturnya.

4.3.3 Kategori Ketidaksantunan Melecehkan Muka

  Kategori ketidaksantunan berikutnya adalah melecehkan muka yang dikemukakan oleh Miriam A Locher (2008:3), ahli ini berpendapat bahwa ketidaksantunan dalam berbahasa dapat dipahami sebagai berikut

  ‘impoliteness behaviour that is face- aggravating in a particular context.’ Pandangan Locher

  dapat diartikan bahwa ketidaksantunan berbahasa adalah perilaku yang

  

memperburuk ‘muka’ pada konteks tertentu. Ketidaksantunan itu menunjuk pada

perilaku ‘melecehkan’ muka (face-aggravate). Jadi, teori ketidaksantunan

  berbahasa dalam pandangan Locher menitikberatkan pada bentuk-bentuk penggunaan tuturan tidak santun dengan maksud untuk melecehkan muka atau menghina mitra tutur. Dalam kategori ketidaksantunan melecehkan muka, terdapat tujuh subkategori ketidaksantunan. Berikut pembahasan mengenai wujud dan penanda ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, serta maksud ketidaksantunan penutur yang dipaparkan berdasarkan masing-masing

4.3.3.1 Subkategori Kesal Hayoo, punya mulut kok ga bisa ngomong to?besok lagi bilang! (C3)

  (Konteks tuturan: tuturan terjadi ketika penutur sedang berbincang-bincang

  dengan MT1 di teras rumah penutur, tiba-tiba MT2 yang juga berada di tempat tersebut buang air kecil di celana (Senin, 8 April 2013 pukul 13.50 WIB). Penutur berusaha menegur MT2) Huu bodoh, raiso ngitung!! (C13)

  (Konteks tuturan: tuturan terjadi sepulangnya penutur dan mitra tutur dari

  membeli sesuatu di toko, mereka terdengar bercakap-cakap (Kamis, 13 Juni 2013, pukul 13.10 WIB). Mitra tutur terlihat kebingungan menghitung uang kembalian dari warung, kemudian penutur berusaha menjelaskan kepada mitra tutur sambil melontarkan kata-kata ejekan)

  Wujud ketidaksantunan linguistik terdapat pada tuturan C3 dan C13, sedangkan wujud ketidaksantunan pragmatik pada tuturan tersebut dilihat dari cara penutur ketika menyampaikan tuturannya. Pada tuturan C3, penutur berbicara kepada mitra tutur 2 dengan keras, bahkan disampaikan langsung di hadapan tamu yang berkunjung. Hal itu menunjukkan kadar kesantunan dari tuturan penutur masih sangat rendah. Terlebih, ketika penutur juga menunjukkan sikap yang kurang santun, seperti menunjuk ke arah mitra tutur 2 dan menatap mitra tuturnya dengan mata terbelalak. Begitu juga dengan tuturan C13 yang disampaikan dengan keras di hadapan beberapa orang, bahkan penutur tidak segan untuk memegang kepala mitra tuturnya. Tuturan penutur juga terdengar sangat menyepelekan kemampuan mitra tutur. Cara inilah yang mengakibatkan tuturan menjadi tidak santun.

  Tuturan C3 dan C13 memiliki intonasi seru yang terdengar cenderung karena itu, penggunaan intonasi seru yang terdengar cenderung tinggi pada tuturan C3 dan C13 dipersepsi sebagai bentuk ketidaksantunan. Jika ditinjau dari unsur tekanan, tuturan C3 dan C13 disampaikan dengan tekanan keras. Bagian yang ditekankan yaitu pada frasa besok lagi bilang C3 dan bodoh C13. Tekanan dalam tuturan penutur berfungsi agar maksud yang diinginkan oleh penutur dapat dengan mudah sampai kepada mitra tuturnya, meskipun kenyataannya tekanan pada tuturan C3 dan C13 memicu terjadinya komunikasi yang kurang baik antara penutur dengan mitra tutur. Selanjutnya, mengenai nada tutur. Aspek nada dalam bertutur lisan memengaruhi kesantunan berbahasa seseorang (Pranowo, 2009:77). Pada tuturan C3, penutur berbicara dengan nada sedang. Meskipun berbicara dengan nada sedang, tuturan penutur dipersepsi tidak santun karena terdengar melecehkan mitra tuturnya. Begitu juga dengan tuturan C13 yang bernada tinggi karena suasana hati penutur sedang kesal akibat ketidakmampuan mitra tutur. Hal tersebut sejalan dengan penjelasan Pranowo, (2009:77) jika suasana hati sedang marah, emosi, nada bicara penutur menaik dengan keras dan kasar sehingga terasa menakutkan.

  Tuturan C3 termasuk dalam bahasa nonstandar dengan menggunakan kata tidak baku, yaitu punya, ga, bisa, ngomong, dan bilang, sedangkan tuturan C13 termasuk dalam bahasa nonstandar dengan menggunakan istilah bahasa Jawa, yaitu frasa raiso ngitung yang artinya tidak dapat menghitung. Jadi, pada tuturan C13 penutur menggunakan bahasa Indonesia yang disisipi dengan bahasa Jawa. Selanjutnya adalah kata fatis. Pada tuturan C3, kata fatis yang ditemukan adalah

  

hayoo, kok, dan to, sedangkan pada tuturan C13 ditemukan pemakaian kata fatis

huu yang menyiratkan kekesalan penutur terhadap mitra tuturnya.

  Pembahasan mengenai penanda ketidaksantunan pragmatik, salah satunya ditinjau dari aspek penutur dan lawan tutur. Tuturan C3 terjadi antara penutur perempuan, berusia 40 tahun, MT1 adalah seorang tamu, dan MT 2 laki- laki berusia 2 tahun. Penutur adalah ibu dari MT2. Begitu juga dengan tuturan C13 yang terjadi antara penutur dan mitra tutur perempuan yang duduk di bangku SD. Penutur berusia 7 tahun dan mitra tutur berusia 5 tahun. Penutur adalah kakak dari mitra tutur. Meskipun penutur berusia lebih tua dari mitra tuturnya, bukan berarti penutur dapat berbicara sekenanya. Terlebih di hadapan tamu yang berkunjung atau di hadapan beberapa orang lainnya, hendaknya tuturan dapat disampaikan dengan lebih halus.

  Aspek berikutnya yaitu tuturan sebagai bentuk tindakan atau aktivitas. Tuturan C3 terjadi ketika penutur sedang berbincang-bincang dengan MT1 di teras rumah penutur, tiba-tiba MT2 yang juga berada di tempat tersebut buang air kecil di celana (Senin, 8 April 2013 pukul 13.50 WIB). Lain halnya dengan tuturan C13 yang terjadi di teras rumah sepulangnya penutur dan mitra tutur dari warung (Kamis, 13 Juni 2013, pukul 13.10 WIB). Tempat dan waktu terjadinya tuturan juga mempengaruhi santun tidaknya tuturan tersebut. Ketika penutur berbicara di tempat tertutup yang tidak diketahui orang lain, mungkin tidak akan menjadi masalah. Berbeda dengan kedua tuturan di atas yang disampaikan di hadapan beberapa orang. Hal itu tentu mengakibatkan mitra tuturnya merasa

  Aspek berikutnya yaitu konteks tuturan. Tuturan C3 terjadi ketika penutur sedang berbincang-bincang dengan MT1 di teras rumah penutur, tiba-tiba MT2 yang juga berada di tempat tersebut buang air kecil di celana (Senin, 8 April 2013 pukul 13.50 WIB). Penutur berusaha menegur MT 2 sebagai bentuk kekesalannya. Selanjutnya, tuturan C13 terjadi sepulangnya penutur dan mitra tutur dari warung. Penutur dan mitra tutur terdengar bercakap-cakap. Mitra tutur terlihat kebingungan menghitung uang kembalian dari warung tadi, kemudian penutur berusaha menjelaskan kepada mitra tutur sembari melontarkan kata-kata yang terdengar sangat menyepelekan kemampuan mitra tutur. Berdasarkan kedua konteks di atas, dapat diketahui bahwa penutur mengungkapkan kekesalannya dengan menyampaikan tuturan secara sengaja untuk melecehkan muka mitra tuturnya di hadapan orang lain. Hal itu tentu dipersepsi sebagai ketidaksantunan.

  Lebih lanjut lagi pada aspek tujuan penutur. Penutur menyampaikan tuturannya pada tuturan C3 dengan tujuan mengungkapkan kekesalannya kepada MT2 yang buang air kecil di celana, sedangkan tuturan C13 dengan tujuan yang sama yaitu mengungkapkan kekesalan akibat ketidakmampuan dalam menghitung. Dengan melihat tujuan penutur, kedua tuturan tersebut termasuk dalam subkategori kesal. Aspek selanjutnya adalah tuturan sebagai produk tindak verbal. Tindak verbal dalam tuturan C3 dan C13 adalah tindak verbal ekspresif. Tindak perlokusi yang terjadi pada tuturan C3 yaitu mitra tutur diam saja dan terlihat sangat menyesal, sedangkan pada tuturan C13 penutur merasa dilecehkan sehingga memberikan jawaban sebagai upaya pembelaan diri.

  Pembahasan berikutnya mengenai maksud ketidaksantunan penutur. Meskipun tuturan C3 termasuk dalam subkategori kesal, maksud dari tuturan penutur sebenarnya hanya ingin menakut-nakuti mitra tuturnya agar tidak mengulangi kesalahan yang sama. Lain halnya dengan tuturan C13 yang menyiratkan maksud sama dengan subkategori ini yakni mengungkapkan kekesalan penutur terhadap mitra tuturnya.

4.3.3.2 Subkategori Mengejek

  Wujud ketidaksantunan linguistik terdapat pada tuturan C7 dan C16 berikut.

  Sing mesak’ake yo iki mbak, kasian sekali ini. Wis disambi, ireng, kasian sekali yo le sayang ya. (C7)

  (Konteks tuturan: tuturan terjadi saat penutur sedang berbincang-bincang

  dengan MT1 di ruang tamu rumah penutur (Kamis, 25 April 2013, pukul

  16.06 WIB). MT2 datang dari luar rumah menghampiri penutur. Penutur ingin memperkenalkan MT2 kepada MT1 dengan melontarkan kata-kata ejekan sambil mencium MT2 penuh rasa sayang) Itu adik saya yang kepala desa itu tapi itu yang paling bodoh itu. (C16)

  (Konteks tuturan: penutur sedang berbincang-bincang dengan MT1 di

  pendhopo rumah dalam suasana santai (Senin, 10 Juni 2013 sekitar pukul

  12.47

  • –13.36 WIB). Tiba-tiba MT2 selaku adik keponakan dari penutur

  lewat depan pendhopo dan tersenyum. Penutur secara spontan menceritakan kelemahan MT2 dengan nada mengejek)

  Pada tuturan C7, penutur dengan lugas tanpa mempedulikan mitra tuturnya, berbicara sembari tertawa, sembari mencium pipi mitra tutur, bahkan disampaikan langsung di hadapan tamu yang berkunjung. Begitu juga dengan tuturan C16 yang disampaikan dengan sinis sembari tertawa dan menunjuk ke menyampaikan tuturannya pada kedua tuturan di atas menunjukkan bahwa penutur sengaja ingin menghina mitra tuturnya. Hal itu dipersepsi sebagai wujud ketidaksantunan pragmatik.

  Penanda ketidaksantunan linguistik dalam tuturan-tuturan tidak santun tersebut dapat dilihat berdasarkan intonasi, tekanan, nada, pilihan kata (diksi), dan kata fatis. Intonasi pada tuturan C7 memiliki kesamaan dengan intonasi pada tuturan C16, yaitu intonasi berita dengan pola intonasi datar-turun. Meskipun memiliki intonasi berita, kenyataannya kedua tuturan di atas justru memberitakan hal yang memalukan bagi mitra tuturnya, sehingga ini dipersepsi sebagai sebuah ketidaksantuanan.

  Aspek selanjutnya yang akan dibahas adalah tekanan. Tekanan dalam tuturan penutur berfungsi agar maksud yang diinginkan oleh penutur dapat dengan mudah sampai kepada mitra tuturnya. Pada tuturan C7 penutur berbicara dengan tekanan lunak pada frasa wis disambi, ireng, sedangkan tuturan C16 disampaikan oleh penutur dengan tekanan keras pada frasa paling bodoh. Bagian yang ditekankan dari kedua tuturan tersebut dipersepsi sebagai ketidaksantunan karena menyiratkan suatu hinaan atau ejekan terhadap mitra tuturnya.

  Lebih lanjut lagi mengenai nada tutur. Nada menyangkut tinggi rendahnya bunyi. Tuturan C7 dituturkan oleh penutur dengan nada rendah, sedangkan tuturan C16 disampaikan oleh penutur dengan nada sedang. Meskipun disampaikan dengan nada rendah dan sedang, tuturan tersebut dipersepsi sebagai tuturan yang tidak santun karena terdengar sebagai ejekan dan hinaan terhadap

  Tuturan C7 menggunakan bahasa nonstandar yang ditandai dengan pemakaian bahasa Indonesia yang disisipi bahasa Jawa, sedangkan tuturan C16 menggunakan bahasa nonstandar yang ditandai dengan adanya pemakaian kata tidak baku, yaitu tapi. Pada tuturan C7 ditemukan pemakaian kata fatis, yaitu ya dan yo yang digunakan untuk menegaskan ejekan penutur terhadap mitra tuturnya. Berbeda dengan tuturan C16 yang tidak menggunakan kata fatis.

  Selanjutnya, mengenai penanda ketidaksantunan pragmatik yang dilihat berdasarkan konteks yang melingkupi tuturan tersebut. Tuturan C7 terjadi antara penutur ibu berusia 39 tahun dan MT1 adalah tamu. MT2 laki-laki berusia 5 tahun. Penutur adalah ibu dari MT2. Kemudian, tuturan C16 yang terjadi antara penutur dan MT1 perempuan. Penutur berusia 63 tahun, MT1 adalah tamu, dan MT2 laki-laki berusia 40 tahun. Penutur adalah kakak keponakan dari MT2.

  Berdasarkan aspek penutur dan mitra tutur dalam kedua tuturan tersebut, diketahui bahwa penutur dan mitra tutur memiliki hubungan kekeluargaan yang dekat. Kedekatan inilah yang terkadang justru memunculkan bentuk-bentuk ketidaksantunan ketika bertutur.

  Aspek berikutnya adalah konteks. Konteks dalam tuturan C7 terjadi ketika penutur sedang berbincang-bincang santai dengan MT1 di ruang tamu rumah penutur. Tiba-tiba, MT2 datang dari luar rumah menghampiri penutur. Penutur ingin memperkenalkan MT2 kepada MT1 dengan melontarkan kata-kata ejekan sambil mencium MT2 penuh rasa sayang. Begitu juga dengan tuturan C16 yang terjadi ketika penutur sedang berbincang-bincang dengan MT1 di pendhopo lewat depan pendhopo dan tersenyum menyapa. Penutur secara spontan menceritakan kelemahan MT2 dengan nada mengejek. Berdasarkan konteks tersebut, diketahui bahwa penutur sengaja ingin mengejek mitra tuturnya dengan menceritakan kelemahan mitra tutur di hadapan tamu yang berkunjung.

  Lebih lanjut lagi dalam aspek tujuan penutur. Tujuan penutur dalam tuturan C7 yaitu mengejek penampilan fisik MT2, sedangkan tuturan C16 disampaikan juga dengan tujuan serupa yaitu mengejek kelemahan MT2 di hadapan tamu yang berkunjung. Berdasarkan tujuan tuturan tersebut, kedua tuturan di atas termasuk dalam subkategori mengejek.

  Selanjutnya, dalam aspek tuturan sebagai bentuk tindakan atau aktivitas. Tuturan C7 terjadi di ruang tamu rumah penutur (Kamis, 25 April 2013, pukul

  16.06 WIB), sedangkan tuturan C16 terjadi di pendhopo rumah penutur dalam suasana santai (Senin, 10 Juni 2013 sekitar pukul 12.47

  • –13.36 WIB). Berdasarkan

  tempat dan waktu kejadian, tuturan tersebut dianggap tidak santun karena disampaikan di saat penutur sendiri sedang menerima tamu.

  Lebih lanjut lagi dalam aspek tuturan sebagai bentuk tindak verbal. Tindak verbal yang terjadi pada tuturan C7 dan C16 adalah tindak verbal ekspresif, yang mengekspresikan bentuk-bentuk ejekan penutur terhadap mitra tuturnya. Akibat tuturan penutur, tindak perlokusi yang terjadi adalah MT2 diam saja karena malu kemudian pergi meninggalkan penutur dan MT1.

  Setiap tuturan tidak santun mengandung maksud tertentu yang ingin disampaikan kepada mitra tuturnya. Meskipun termasuk dalam subkategori mengajak bercanda mitra tuturnya. Lain halnya dengan tuturan C16 yang disampaikan dengan maksud memberi informasi kepada mitra tuturnya.

  Sayangnya, kedua maksud tersebut disampaikan dengan cara yang kurang santun sehingga terdengar seperti sebuah ejekan dan hinaan terhadap mitra tuturnya.

4.3.3.3 Subkategori Menolak

  Tuturan C21 dan C23 temasuk dalam subkategori menolak karena menyiratkan ketidaksetujuan penutur terhadap saran, nasihat, perintah, maupun pesan dari mitra tutur. Berikut adalah wujud ketidaksantunan linguistik dalam subkategori menolak yang terdapat pada tuturan C21 dan C23.

  Ngapain dandan? Iihh Ibu juga ga dandan. (C21) (Konteks tuturan: penutur berpamitan kepada mitra tutur hendak bepergian.

  Melihat penampilan penutur yang polos, mitra tutur meminta penutur untuk memperhatikan kecantikan, mengingat usianya yang sudah beranjak dewasa. Namun, penutur menolak permintaan mitra tutur dengan jawaban sekenanya sebagai upaya membela diri) Dadi pegawai negeri bapak ra dadi opo-opo kok! Aku emoh pegawai negeri! (C23)

  (Konteks tuturan: penutur dan mitra tutur berbincang-bincang di ruang

  keluarga dalam suasana serius. Mitra tutur memberi saran kepada penutur agar menjadi PNS yang memiliki kejelasan masa depan. Penutur kurang

sependapat dengan mitra tutur, kemudian mengungkapkan alasannya)

  Setelah mencermati wujud ketidaksantunan linguistik pada kedua tuturan tersebut, lebih lanjut lagi pembahasan mengenai wujud ketidaksantunan pragmatiknya. Penutur pada kedua tuturan di atas dengan sadar berusaha menolak saran dan nasihat dari mitra tuturnya. Penolakan itu disampaikan dengan berbicara sinis, bahkan sembari berlalu meninggalkan penutur. Terlebih pada tuturan C23, tuturnya. Kedua penutur berbicara kepada orang yang lebih tua. Cara bicara penutur yang demikian, sudah tentu menunjukkan rendahnya kadar kesantunan dari tuturan tersebut.

  Berbicara mengenai penanda ketidaksantunan, dapat dibedakan dari segi linguistik dan pragmatik. Penanda ketidaksantunan linguistik dilihat dari unsur suprasegmental dan unsur segmental dalam setiap tuturan. Tuturan C21 disampaikan dengan intonasi tanya yang bernada sedang dan tekanan lunak.

  Meskipun disampaikan dengan nada sedang dan tekanan lunak, tuturan penutur dipersepsi sebagai tuturan yang tidak santun karena tekanan pada frasa ga dandan berpotensi melukai hati mitra tuturnya. Mitra tutur dapat saja merasa dilecehkan akibat tuturan penutur. Lain halnya pada tuturan C23 yang disampaikan dengan intonasi seru, bernada sedang, dan tekanan keras. Tuturan yang disampaikan dengan intonasi seru dan cenderung terdengar keras dipersepsi sebagai bentuk ketidaksantunan, terlebih ketika mitra tutur yang diajak berbicara hanya berada pada jarak dekat. Pada tuturan C23 ini, penutur juga memberi penekanan dengan keras pada kata emoh yang artinya tidak mau. Ketika mengungkapkan sebuah penolakan, hendaknya penutur memperhatikan pilihan kata yang digunakan.

  Misalnya, dengan menggunakan kata maaf, yang terdengar lebih halus sehingga tidak terkesan melecehkan mitra tuturnya.

  Unsur segmental meliputi pilihan kata (diksi) dan kata fatis. Tuturan C21 menggunakan bahasa nonstandar yang ditandai dengan pemakaian kata tidak baku, yaitu ngapain, dandan, ga. Pada tuturan ini ditemukan pengunaan kata fatis C23 juga termasuk bahasa nonstandar yang ditandai dengan pemakaian bahasa Jawa. Ditemukan partikel kok pada tuturan C23 yang berupa penekanan terhadap suatu hal yang diyakini oleh penutur.

  Penanda ketidaksantunan pragmatik dapat dilihat berdasarkan konteks yang melingkupi tuturan tersebut. Pada tuturan C21, penutur dan mitra tutur perempuan. Penutur berusia 28 tahun dan mitra tutur berusia 64 tahun. Penutur adalah anak dari mitra tutur. Dalam kebudayaan Jawa, penutur yang berusia lebih muda hendaknya dapat bertutur lebih santun kepada orang yang lebih tua. Namun, hal itu tidak tampak pada tuturan di atas. Konteks yang terjadi yaitu saat penutur dan mitra tutur berada di ruang keluarga pada sore hari. Penutur berpamitan kepada mitra tutur hendak bepergian. Melihat penampilan penutur yang polos, mitra tutur meminta penutur untuk memperhatikan kecantikan, mengingat usianya yang sudah beranjak dewasa. Namun, penutur menganggap mitra tutur sendiri tidak pernah memperhatikan penampilannya, kemudian penutur menolak permintaan mitra tutur dengan jawaban sekenanya sebagai upaya membela diri.

  Berdasarkan konteks tersebut, diketahui bahwa penutur menolak saran dari mitra tutur dengan cara yang kurang santun, sehingga berpotensi melukai hati mitra tuturnya. Tujuan dari tuturan penutur ialah membela diri. Tindak verbal yang terjadi adalah ekspresif. Tuturan tersebut mengakibatkan tindak perlokusi MT yaitu diam sembari menggelengkan kepala.

  Selanjutnya, tuturan C23 terjadi antara penutur perempuan berusia 28 tahun dan mitra tutur laki-laki berusia 62 tahun. Penutur adalah anak perempuan menimbulkan kebiasaan yang kurang santun dalam berkomunikasi. Begitu juga dengan tuturan C23 ini. Konteks yang terjadi yaitu ketika penutur dan mitra tutur berbincang-bincang di ruang keluarga dalam suasana serius. Mitra tutur memberi saran kepada penutur agar menjadi PNS yang memiliki kejelasan masa depan.

  Penutur kurang sependapat dengan mitra tutur, kemudian mengungkapkan alasannya yang terdengar meremehkan profesi mitra tuturnya. Berdasarkan konteks tersebut dapat dipahami bahwa tuturan penutur memang tidak santun, karena penutur menyampaikan penolakan sembari meremehkan profesi mitra tuturnya. Seharusnya hal tersebut tidak terjadi jika penutur mampu menjaga hati mitra tuturnya. Tujuan dari tuturan penutur ialah menolak saran dari mitra tuturnya. Tindak verbal yang terjadi yaitu komisif. Tuturan tersebut mengakibatkan tindak perlokusi mitra tutur yaitu kecewa dan diam saja.

  Lebih lanjut lagi pembahasan mengenai maksud ketidaksantunan. Meskipun termasuk dalam subkategori menolak, tuturan C21 menyiratkan maksud protes dari penutur kepada mitra tuturnya. Sayangnya, protes tersebut disampaikan secara langsung dan terdengar kurang santun, sehingga berpotensi melukai hati mitra tuturnya. Berbeda dengan tuturan C23 yang menyiratkan maksud sama dengan subkategori ini, yaitu sebuah penolakan terhadap nasihat dari mitra tuturnya. Penolakan itu disampaikan oleh penutur dengan kata-kata yang terdengar memojokkan mitra tuturnya, sehingga tuturan menjadi tidak santun. Hal ini sejalan dengan penjelasan Pranowo, (2009:68-73) bahwa salah satu fakta pemakaian bahasa yang tidak santun adalah dengan memojokkan mitra

4.3.3.4 Subkategori Menyindir

  Tuturan berikut termasuk dalam subaktegori menyindir karena menyiratkan bentuk-bentuk kritikan atau celaan terhadap mitra tuturnya baik secara langsung maupun secara tidak langsung. Wujud ketidaksantunan linguistik dalam subkategori menyindir terdapat pada tuturan C5 dan C18.

  Maklum lah wong hukum. (C5)

  (Konteks tuturan: ketika membicarakan keadaan masyarakat sering terjadi

  pro kontra, terlebih dengan anak pertama yang notabene sudah terbiasa dengan ilmu hukum. Mitra tutur selalu keras kepala menyatakan opininya berkaitan tentang hukum. Tiba-tiba penutur melontarkan kata-kata kepada mitra tutur dengan maksud menyindir) Ki lho Mas, ngerti to Undang-undange? (C18)

  (Konteks tuturan: penutur meminta bantuan kepada mitra tutur untuk

  menyelesaikan PR. Penutur meminta bantuan dengan cara sedikit menyindir mitra tutur yang notabene mahasiswa fakultas hukum. Mitra tutur sedikit kesal dengan sikap penutur, sehingga hanya memberikan jawaban singkat)

  Pada tuturan C5, penutur berbicara dengan sinis sembari tersenyum dan menatap mitra tutur sinis. Hal itu seharusnya tidak dilakukan untuk menjaga komunikasi yang baik antara penutur dan lawan tutur. Seperti penjelasan Pranowo (2009:79) bahwa salah satu faktor penentu kesantunan dari aspek nonkebahasaan berupa pranata adat, seperti jarak bicara antara penutur dan mitra tutur, gaya bicara (perhatian kepada mitra tutur, tidak memerhatikan wajah mitra tutur atau

  

“melengos” dan sebagainya). Begitu juga dengan tuturan C18, penutur berbicara

  kepada orang yang lebih tua sembari tersenyum mengejek. Bahkan, memperlihatkan tindakan yang kurang sopan, yakni melempar buku ke arah mitra tutur. Cara bertutur yang demikian tentu menunjukkan rendahnya kadar kesantunan tuturan penutur.

  Setelah mencermati wujud ketidaksantunan, pembahasan berikutnya mengenai penanda ketidaksantunan linguistik dan pragmatik. Intonasi yang digunakan pada kedua tuturan di atas berbeda. Tuturan C5 menggunakan intonasi berita yang berpola intonasi datar-turun. Meskipun terdengar cenderung datar dan menurun, tuturan penutur dipersepsi sebagai tuturan yang tidak santun karena menyiratkan sindirannya terhadap mitra tutur. Berbeda dengan tuturan C18 yang menggunakan intonasi tanya. Muslich (2008:115-116) menjelaskan bahwa kalimat tanya (interogatif) ditandai dengan pola intonasi datar-naik. Seperti pada tuturan C18, penutur berbicara dengan datar namun terdapat penekanan yang berpola datar-naik pada pertanyaan tersebut. Penekanan yang disampaikan oleh penutur merupakan bentuk sindirannya terhadap kemampuan mitra tutur dalam ilmu hukum.

  Pada tuturan C5, penutur berbicara dengan tekanan lunak. Bagian yang ditekankan yaitu pada kata hukum. Begitu juga dengan tuturan C18 yang disampaikan dengan tekanan lunak pada frasa undang-undange. Lebih lanjut lagi dalam nada tutur. Kedua tuturan tersebut disampaikan dengan nada sedang.

  Meskipun ditekankan dengan lunak dan bernada sedang, tuturan C5 dan C18 dipersepsi sebagai tuturan yang tidak santun karena terdengar sebagai bentuk sindiran terhadap mitra tuturnya.

  Pembahasan berikutnya mengenai diksi dan kata fatis. Tuturan C5 dan Jawa. Pada tuturan C5 ditemukan penggunaan kata fatis lah, sedangkan pada tuturan C18 ditemukan penggunaan kata fatis lho dan to. Kata fatis lho pada tuturan C18 digunakan di tengah kalimat dan bertugas menekankan kepastian dari penutur kepada mitra tuturnya. Penutur pada tuturan C18 berusaha memastikan mampu atau tidaknya mitra tutur dalam mengerjakan tugas dari penutur.

  Lebih lanjut lagi dalam penanda ketidaksantunan pragmatik. santun tidaknya sebuah tuturan dapat dilihat berdasarkan konteks yang melingkupi tuturan tersebut. Tuturan C5 disampaikan oleh bapak kepada anaknya. Lebih lanjut lagi dalam aspek konteks tuturan. Tuturan C5 terjadi ketika seluruh anggota keluarga terlibat dalam perbincangan santai. Ketika membicarakan keadaan masyarakat sering terjadi pro kontra, terlebih dengan anak pertama yang notabene sudah terbiasa dengan ilmu hukum. Mitra tutur selalu keras kepala menyatakan opininya berkaitan tentang hukum. Tiba-tiba penutur melontarkan kata-kata kepada mitra tutur dengan maksud menyindir. Aspek selanjutnya yaitu tujuan penutur. Pada tuturan ini, tujuan dari penutur yakni mengajak seluruh anggota keluarga untuk memaklumi watak mitra tutur yang keras kepala. Jika dilihat dari tujuannya, tuturan itu disampaikan demi kebaikan bersama. Namun, penutur kurang memperhatikan suasana hati mitra tuturnya, sehingga berpotensi melukai hati mitra tutur. Tindak verbal yang terjadi ialah ekspresif. Tuturan tersebut mengakibatkan tindak perlokusi mitra tutur yaitu tersenyum berusaha mencarikan suasana, meski sedikit tersinggung.

  Selanjutnya, tuturan C18 yang terjadi antara penutur dan mitra tutur laki- yang tidak terlalu jauh memungkinkan munculnya ketidaksantunan dalam berkomunikasi. Terlebih ketika penutur dan mitra tutur memiliki hubungan darah yang erat. Tuturan terjadi ketika penutur meminta bantuan kepada mitra tutur untuk menyelesaikan PR. Penutur meminta bantuan dengan cara sedikit menyindir mitra tutur yang notabene mahasiswa fakultas hukum. Mitra tutur sedikit kesal dengan sikap penutur sehingga hanya memberikan jawaban singkat. Dari konteks yang terjadi, diketahui bahwa penutur memang sengaja menyindir kemampuan mitra tuturnya dalam hal ilmu hukum. Ketika meminta sebuah bantuan, hendaknya penutur memperhatikan pilihan kata yang digunakan. Misalnya, menggunakan kata tolong, sehingga terdengar lebih halus. Namun, hal itu tidak terlihat pada tuturan ini. Tujuan dari tuturan penutur ialah menyindir mitra tuturnya. Dari tujuannya, sudah jelas terlihat bahwa penutur tidak santun karena sengaja ingin menyindir mitra tuturnya. Tindak verbal yang terjadi adalah ekspresif. Tuturan tersebut mengakibatkan tindak perlokusi mitra tutur yakni kesal dan memberi jawaban singkat.

  Lebih lanjut lagi pembahasan mengenai maksud ketidaksantunan. Maksud dari tuturan adalah milik penutur. Ketika dikonfirmasi kembali, penutur pada tuturan C5 dan C18 menyampaikan tuturannya dengan maksud menyindir mitra tuturnya.

4.3.3.5 Subkategori Marah

  Berikut adalah tuturan yang termasuk dalam subkategori marah. Wujud ketidaksantunan linguistik terdapat pada tuturan C6 dan C24.

  (Konteks tuturan: tuturan terjadi sepulang penutur dari bepergian sore

  hari. Penutur terkejut melihat keadaan rumah yang sangat berantakan paska ditinggal bepergian. Padahal, penutur sudah memberikan tugas kepada mitra tutur untuk menjaga kebersihan rumah. Namun, mitra tutur tidak mengindahkan perintah penutur, sehingga penutur menegur mitra tutur dengan ketus) Wooo nenek lampir!! (C24)

  (Konteks tuturan: mitra tutur berusaha menasihati penutur yang sering

  membangkang terhadap mitra tutur. Mendengar nasihat tersebut, penutur melontarkan kata-kata yang tidak santun, sehingga mitra tutur tersinggung)

  Penutur pada kedua tuturan di atas dengan sadar berusaha mengungkapkan ketidaksenangannya terhadap suatu hal yang berhubungan dengan mitra tutur. Ketidaksenangan itu ditunjukkan dengan berbicara ketus, keras, bahkan melontarkan sebuah umpatan ketika. Penutur tidak mengindahkan nasihat dari mitra tutur. Cara berbicara yang demikian tentu menyiratkan bahwa tuturan yang disampaikan juga tidak santun.

  Selanjutnya, mengenai penanda ketidaksantunan linguistik yang ditinjau dari unsur suprasegmental dan unsur segmental sebuah kalimat. Tuturan C6 dan C24 disampaikan dengan intonasi seru yang bernada tinggi. Tuturan tersebut dipersepsi sebagai tuturan yang tidak santun karena penutur didorong rasa emosi ketika menyampaikan tuturannya. Hal itu sejalan dengan penjelasan Pranowo (2009:75) bahwa salah satu gejala penutur yang bertutur secara tidak santun adalah didorong rasa emosi ketika bertutur. Jika ditinjau dari aspek tekanan, tuturan C6 dan C24 disampaikan dengan tekanan keras pada frasa keset (untuk tuturan C6 yang artinya malas) dan nenek lampir (untuk tuturan C24). Tekanan dengan mudah sampai kepada mitra tuturnya. Namun, kenyataannya tekanan keras pada kedua tuturan tersebut justru menciptakan komunikasi yang kurang baik antara penutur dengan mitra tutur.

  Lebih lanjut lagi mengenai unsur segmental, yaitu diksi dan kata fatis. Tuturan C6 menggunakan bahasa nonstandar yang ditandai dengan pemakaian bahasa Jawa. Kata fatis yang ditemukan adalah kata fatis kok yang digunakan untuk menegaskan kemarahan penutur. Berbeda dengan tuturan C24 yang menggunakan bahasa populer. Penggunaan bahasa populer ditandai dengan pemakaian frasa nenek lampir yang secara umum sudah diketahui oleh seluruh masyarakat.

  Penanda pragmatik pada kedua tuturan di atas ditandai berdasarkan konteks yang melingkupi tuturan tersebut. Partisipan dalam tuturan C6 adalah penutur laki-laki berusia 47 tahun dan mitra tutur perempuan kelas XII SMK, berusia 19 tahun. Penutur adalah bapak dari mitra tutur. Lain halnya dengan tuturan C24 yang terjadi antara penutur laki-laki kelas VII SMP, berusia 13 tahun dan mitra tutur perempuan berusia 40 tahun. Penutur adalah anak dari mitra tutur.

  Berdasarkan pemaparan aspek penutur dan mitra tutur tersebut, diketahui bahwa penutur berusia lebih tua dari mitra tuturnya, namun ada pula yang berusia lebih muda. Seorang penutur, baik yang berusia lebih tua maupun yang lebih muda dari mitra tuturnya hendaknya mampu menjaga tuturannya. Namun, hal itu tidak nampak pada kedua tuturan di atas. Kedekatan dalam keluargalah yang memungkinkan terjadinya komunikasi yang kurang santun.

  Melihat konteks tuturan itu sendiri, tuturan C6 terjadi sepulangnya penutur dari bepergian. Penutur terkejut melihat keadaan rumah yang sangat berantakan paska ditinggal bepergian. Padahal, penutur sudah memberikan tugas kepada mitra tutur untuk menjaga kebersihan rumah. Namun, mitra tutur tidak mengindahkan perintah penutur. Akibatnya, penutur menegur mitra tutur dengan ketus. Lain halnya dengan konteks pada tuturan C24 yang terjadi ketika mitra tutur menasihati penutur karena sulit diatur. Mitra tutur juga memperingatkan penutur untuk Shalat. Mendengar nasihat tersebut, penutur justru melontarkan kata-kata yang tidak santun, sehingga mitra tutur tersinggung. Berdasarkan kedua konteks tersebut, terlihat bahwa penutur didorong oleh emosi ketika berbicara, sehingga tuturan yang disampaikan menjadi tidak santun. Andai saja penutur mampu mengendalikan emosinya, komunikasi tentu akan berlangsung lebih baik.

  Lebih lanjut lagi dalam tujuan penutur. Tujuan dari tuturan C6 ialah menanggapi tingkah laku mitra tutur. Namun, kenyataannya tuturan penutur justru terdengar melecehkan mitra tuturnya. Tindak verbal yang terjadi yaitu ekspresif. Tuturan tersebut mengakibatkan tindak perlokusi MT ialah diam saja dan masuk kamar. Tuturan C24 disampaikan dengan tujuan mengungkapkan amarah penutur.

  Tindak verbal yang terjadi ialah ekspresif. Tuturan tersebut mengakibatkan tindak perlokusi MT yaitu pergi meninggalkan penutur.

  Kedua tuturan tersebut disampaikan kepada mitra tutur dengan maksud tertentu. Maksud adalah milik penutur. Setelah dilakukan konfirmasi kembali, tuturan C6 memiliki maksud yang sama dengan subkategori ini yaitu C24 yang termasuk dalam subkategori marah ternyata memiliki maksud sebagai ungkapan kekesalan penutur terhadap mitra tutur.

4.3.3.6 Subkategori Menyarankan

  Menyarankan berarti memberi saran atau menganjurkan sesuatu demi kebaikan lawan tuturnya.

  Hei kamu tu dikucir rambutnya, nanti nek kuliah budeg lho! (C15)

  (Konteks tuturan: tuturan terjadi siang hari dalam suasana santai ketika mitra tutur sedang bermain di teras rumah bersama teman-temannya.

  Penutur sedikit terganggu ketika melihat mitra tutur selalu mengurai rambut dan terkesan kurang rapi. Penutur berusaha memberikan saran kepada mitra tutur) Ya ampun kalian itu gadis, dandan dong! (C20)

  (Konteks tuturan: penutur dan mitra tutur berada di ruang keluarga pada

  sore hari dalam keadaan santai. Mitra tutur terlihat sedang bersiap-siap hendak pergi. Penutur berusaha memperingatkan mitra tutur dengan sindiran agar mitra tutur mau memperhatikan penampilan, mengingat usianya yang sudah beranjak dewasa)

  Wujud ketidaksantunan pragmatik tuturan C15 adalah penutur berbicara dengan keras sembari memegang kepala mitra tuturnya. Selain itu, penutur juga menyampaikan tuturannya di hadapan teman-teman mitra tutur. Begitu juga dengan tuturan C20 yang disampaikan sembari tertawa mengejek dan menatap mitra tutur dengan sinis. Penutur juga berbicara di hadapan anggota keluarga yang lain. Kedua tuturan itu termasuk dalam subkategori menyarankan, namun cara penutur menyampaikan tuturannya mengakibatkan tuturan menjadi tidak santun karena terdengar seperti ancaman bahkan sindiran terhadap mitra tuturnya.

  Kedua tuturan tersebut disampaikan dengan intonasi perintah yang bernada sedang dan tekanan keras. Intonasi perintah yang disampaikan kepada mitra tuturnya, harusnya diimbangi dengan penggunaan kata-kata yang santun. Namun, hal itu tidak nampak pada kedua tuturan tersebut. Penutur pada tuturan C15 memberi tekanan dengan keras pada frasa budeg lho. Pilihan kata pada tuturan tersebut dipersepsi sebagai bentuk ketidaksantunan karena terdengar sebagai sebuah ancaman bagi mitra tuturnya. Begitu juga dengan tuturan C20 yang ditekankan dengan keras pada kata gadis. Penekanan kata gadis di situ menyiratkan bentuk pelecehan muka terhadap mitra tutur.

  Selanjutnya, mengenai diksi dan kata fatis. Tuturan C15 menggunakan bahasa nonstandar dengan menggunakan istilah bahasa Jawa, yaitu nek yang artinya kalau, serta menggunakan kata tidak baku, yaitu dikucir, tu, budeg. Begitu juga dengan tuturan C20 yang menggunakan bahasa nonstandar dengan pemakaian kata tidak baku, yaitu dandan.

  Pembahasan selanjutnya mengenai penanda ketidaksantunan pragmatik. Partisipan dalam tuturan C15 adalah penutur dan mitra tutur perempuan. Penutur berusia 57 tahun dan mitra tutur kelas 3 SD. Penutur adalah nenek dari mitra tutur.

  Selanjutnya, tuturan C20 yang terjadi antara penutur dan mitra tutur perempuan. Penutur berusia 64 tahun dan mitra tutur berusia 28 tahun. Penutur adalah ibu dari mitra tutur. Kesamaan jenis kelamin dan kedekatan penutur dengan mitra tutur dalam keluarga tentu mempengaruhi terjadinya komunikasi yang tidak santun di antara keduanya.

  Aspek berikutnya tentang konteks dalam tuturan itu sendiri. Tuturan C15 terjadi siang hari di teras rumah penutur dalam suasana santai ketika mitra tutur sedang bermain di teras rumah bersama teman-temannya. Penutur sedikit terganggu ketika melihat mitra tutur selalu mengurai rambut dan terkesan kurang rapi. Penutur berusaha memberikan saran kepada mitra tutur. Namun, saran yang disampaikan justru terdengar melecehkan muka mitra tuturnya. Selanjutnya, tuturan C20 terjadi pada sore hari di ruang keluarga ketika mitra tutur sedang bersiap-siap hendak pergi. Penutur berusaha memperingatkan mitra tutur agar memperhatikan penampilan, mengingat usianya yang sudah beranjak dewasa. Sayangnya, saran dari penutur disampaikan dengan kata-kata yang terdengar melecehkan mitra tuturnya. Terlebih, ketika mitra tutur sendiri memang tidak terlalu peduli dengan penampilan. Oleh sebab itu, tuturan penutur justru terkesan menohok mitra tuturnya.

  Lebih lanjut lagi dalam aspek tujuan penutur. Tuturan C15 disampaikan dengan tujuan menanggapi sekaligus memberikan saran atas penampilan MT, sedangkan tuturan C20 disampaikan dengan tujuan memberi saran kepada mitra tuturnya. Tindak verbal yang terjadi pada tuturan C15 adalah tindak verbal ekspresif. Tuturan tersebut mengakibatkan tindak perlokusi mitra tutur yakni tidak mengindahkan saran dari penutur. Selanjutnya, tuturan C20 yang merupakan tindak verbal direktif, karena berupa pemberian saran terhadap mitra tuturnya. Tuturan tersebut mengakibatkan tindak perlokusi MT yaitu memberikan jawaban sekenanya.

  Kedua tuturan tersebut sudah tentu disampaikan dengan maksud tertentu. Tuturan C15 termasuk dalam subkategori menyarankan, namun kenyataannya tuturan tersebut disampaikan dengan maksud menakut-nakuti mitra tuturnya.

  Kemudian, tuturan C20 menyiratkan maksud yang sama dengan subkategori ini, yakni berupa pemberian saran kepada mitra tuturnya.

4.3.3.7 Subkategori Menanyakan Kok nilai kamu tu jelek, ga pernah belajar ya? (C2)

  (Konteks tuturan: percakapan antara penutur dan mitra tutur bersama

  teman-temannya di rumah saat jam pulang sekolah. Penutur berusaha mencari tahu alasan perihal nilai jelek yang diperoleh di sekolah dengan bertanya kepada mitra tutur. Namun, mitra tutur merasa enggan menjawab pertanyaan penutur)

  Wujud ketidaksantunan linguistik pada cuplikan tersebut terdapat pada tuturan C2, sedangkan wujud ketidaksantunan pragmatiknya berkaitan dengan cara penutur ketika menyampaikan tuturan tidak santunnya. Pada tuturan C2, penutur berbicara dengan sinis sembari menatap mitra tutur juga dengan tatapan sinis. Tuturan disampaikan langsung di hadapan teman-teman mitra tutur. Berdasarkan cara penutur menyampaikan tuturan, disimpulkan bahwa penutur secara sengaja menyampaikan tuturan untuk melecehkan mitra tuturnya. Hal itu terlihat ketika dengan lugasnya penutur bercerita di hadapan teman-teman mitra tutur perihal nilai buruk yang selalu diperoleh mitra tutur.

  Intonasi, tekanan, dan nada adalah unsur suprasegmental yang menjadi penanda ketidaksantunan linguistik dalam tuturan. Pada tuturan C2, penutur berbicara dengan intonasi tanya yang bernada sedang dan memberikan tekanan penutur. Meskipun berbicara dengan nada sedang dan memberikan tekanan dengan lunak, kenyataannya penekanan pada kata jelek menyiratkan bentuk pelecehan terhadap mitra tuturnya. Terlebih, ketika tuturan disampaikan di hadapan teman-teman mitra tutur. Pilihan kata yang kurang tepat dapat saja menimbulkan ketidaknyamanan bagi mitra tuturnya.

  Pilihan kata (diksi) dan kata fatis adalah unsur segmental yang terdapat dalam tuturan. Penggunaan bahasa nonstandar yang ditandai dengan pemakaian kata tidak baku pada tuturan ini. Kata tidak baku dalam tuturan ini adalah tu dan

  

ga. Dalam tuturan C2 terdapat penggunaan kata fatis kok. Kata fatis kok dapat

  tuturan ini menekankan alasan yang ingin diketahui oleh penutur terkait nilai mitra tutur yang tidak terlalu bagus.

  Selanjutnya, pembahasan dalam penanda ketidaksantunan pragmatik yang dilihat berdasarkan konteks yang melingkupi tuturan tersebut. Tuturan C2 terjadi antara penutur dan mitra tutur perempuan. Penutur ibu berusia 36 tahun dan mitra tutur masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Penutur adalah ibu dari mitra tutur. Kesamaan jenis kelamin cenderung mendorong adanya kedekatan tertentu antara penutur dan mitra tuturnya. Kedekatan inilah yang terkadang justru menimbulkan terciptanya komunikasi yang kurang santun di antara keduanya.

  Lebih lanjut lagi pada aspek konteks tuturan itu sendiri. Tuturan terjadi ketika penutur dan mitra tutur berbincang-bincang bersama teman-temannya dalam suasana santai. Perbincangan itu terjadi di rumah penutur saat jam pulang sekolah. Penutur berusaha mencari tahu alasan mitra tutur yang selalu tutur merasa enggan menjawab pertanyaan penutur karena pada saat yang bersamaan teman-teman mitra tutur juga berada di tempat tersebut.

  Setelah melihat konteks di atas, tuturan yang disampaikan penutur lebih mengarah ke perilaku yang melecehkan muka. Mitra tutur pada tuturan tersebut seperti dilecehkan oleh penutur yang tuturannya disampaikan secara langsung di depan orang lain. Ketidaksantunan yang melecehkan muka itu berpotensi melukai hati mitra tuturnya.

  Pembahasan berikutnya mengenai tujuan, tindak verbal, dan tindak perlokusi yang terdapat dalam tuturan. Tujuan penutur ketika menyampaikan tuturannya adalah ingin mencari tahu alasan mitra tutur yang selalu memperoleh nilai jelek. Tindak verbal dalam tuturan ialah ekspresif. Tuturan tersebut mengakibatkan tindak perlokusi mitra tutur yaitu memberi jawaban sekenanya.

  Berbicara mengenai maksud ketidaksantunan, tuturan C2 menyiratkan maksud bahwa penutur ingin menyimpulkan sesuatu berdasarkan fakta yang terjadi. Dalam konteks tadi, penutur ingin menyimpulkan bahwa nilai jelek yang selalu diperoleh mitra tutur itu adalah akibat dari mitra tutur sendiri yang tidak pernah belajar.

4.3.4 Kategori Ketidaksantunan Menghilangkan Muka

  Ahli berikutnya yang mengemukakan teori ketidaksantunan menghilangkan muka ialah Culpeper. Pemahaman Culpeper (2008:3) tentang ketidaksantunan berbahasa adalah,

  ‘Impoliteness, as I would define it, involves

communicate behavior intending to cause the “face loss” of a target or perceived atau

  ‘kehilangan muka’. Sebuah tuturan dianggap sebagai tuturan yang tidak

  santun jika tuturan itu mengakibatkan seseorang kehilangan muka. Pada intinya, teori ketidaksantunan berbahasa ini menekankan bentuk penggunaan tuturan yang disampaikan oleh penutur dengan maksud untuk mempermalukan mitra tutur sehingga mitra tutur kehilangan muka. Dalam kategori ketidaksantunan menghilangkan muka, terdapat empat subkategori ketidaksantunan. Berikut pembahasan mengenai wujud ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, penanda ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, serta maksud ketidaksantunan penutur yang dipaparkan berdasarkan masing-masing subkategori.

4.3.4.1 Subkategori Menyindir

  Tuturan D10 dan D16 termasuk dalam subkategori menyindir. Pada dasarnya, santun atau tidaknya sebuah tuturan dapat dilihat dari tuturan itu sendiri beserta konteks yang melingkupinya. Berikut pembahasan lebih mendalam mengenai tuturan yang termasuk dalam subkategori menyindir.

  Arep mencari sendiri atau dicarikan?? (D10)

  (Konteks tuturan: penutur sedang berbincang-bincang dengan MT1 di

  ruang tamu rumah penutur (Selasa, 4 Juni 2013, sekitar pukul 15.30

  • 16.12 WIB). MT2 berjalan dari dalam membawakan minuman. Kemudian MT2 duduk di sebelah penutur. Tiba-tiba penutur melontarkan pertanyaan kepada MT2 dengan maksud menyindir karena MT2 belum juga memiliki teman dekat)

  Loro untu bapakmu. (D16)

  (Konteks tuturan: percakapan yang terjadi antara penutur, MT1, dan MT2

  di sawah pada siang hari. (Senin, 10 Juni 2013, sekitar pukul 11.30

  • – 12.30

  WIB). MT1 memanggil MT2, MT2 hanya menjawab dengan singkat sambil terus melanjutkan pekerjaannya. MT1 kembali memanggil MT2, bahkan berulang-ulang. Namun, MT2 hanya diam tanpa mempedulikan panggilan

  Dalam kategori menghilangkan muka ini, sebagian besar penutur menyampaikan tuturannya dengan tujuan mempermalukan mitra tuturnya.

  Misalnya, pada tuturan D10 penutur berbicara dengan lugas sembari tersenyum menyindir. Tuturan itu juga disampaikan di hadapan tamu yang berkunjung.

  Penutur sengaja bertanya kepada orang yang sudah cukup dewasa namun belum juga memiliki teman dekat pacar. Begitu juga dengan tuturan D16, penutur berbicara dengan keras sembari tersenyum sinis dan melirik ke arah mitra tutur 2. Tuturan juga disampaikan di hadapan orang banyak. Berdasarkan cara penutur menyampaikan tuturannya, diketahui bahwa penutur ingin mempermalukan mitra tuturnya di hadapan orang lain. Hal ini membuktikan adanya wujud ketidaksantunan pragmatik dalam tuturan tersebut.

  Setelah mencermati wujud ketidaksantunan, pembahasan berikutnya mengenai penanda ketidaksantunan linguistik dan pragmatik. Intonasi yang digunakan pada kedua tuturan di atas berbeda. Tuturan D10 menggunakan intonasi tanya. Muslich (2008:115-116) menjelaskan bahwa kalimat tanya (interogatif) ditandai dengan pola intonasi datar-naik. Seperti pada tuturan D10, penutur berbicara dengan datar namun terdapat penekanan yang berpola datar-

  

naik pada pertanyaan tersebut. Penekanan yang disampaikan oleh penutur

  merupakan bentuk sindirannya terhadap mitra tutur yang belum juga memiliki teman dekat di usianya yang sudah beranjak dewasa. Berbeda dengan tuturan D16 yang berintonasi berita dan cenderung terdengar datar-turun. Meskipun terdengar menurun, tuturan yang disampaikan oleh penutur justru menimbulkan kerugian

  Selanjutnya, adalah tekanan. Pada tuturan D10, penutur berbicara dengan tekanan lunak. Bagian yang ditekankan yaitu pada kata dicarikan. Begitu juga dengan tuturan D16 yang ditekankan dengan lunak pada frasa loro untu. Meskipun kedua tuturan tersebut memiliki tekanan lunak, bagian yang ditekankan itu justru mengakibatkan mitra tuturnya merasa kehilangan muka.

  Lebih lanjut lagi dalam nada tutur. Nada menyangkut tinggi rendahnya suatu bunyi. Kedua tuturan tersebut disampaikan dengan nada sedang. Meskipun nada dalam kedua tuturan tersebut tidak menunjukkan adanya emosi penutur yang berlebih, kedua tuturan tersebut tidak santun karena menyiratkan sindiran yang disampaikan secara tidak langsung kepada mitra tuturnya.

  Pembahasan berikutnya mengenai unsur segmental, yaitu diksi dan kata fatis. Pada tuturan D10, penutur menggunakan bahasa Indonesia yang disisipi dengan bahasa Jawa, yaitu kata arep yang artinya ingin, sedangkan tuturan D16 merupakan bahasa nonstandar yang ditandai dengan pemakaian bahasa Jawa, yaitu loro untu bapakmu, yang artinya sakit gigi bapakmu. Pada kedua tuturan itu tidak ditemukan penggunaan kata fatis.

  Lebih lanjut lagi dalam penanda ketidaksantunan pragmatik. Tuturan D10 terjadi antara penutur laki-laki berusia 48 tahun, MT1 adalah tamu, dan MT2 perempuan semester 8, berusia 22 tahun. Penutur adalah bapak dari MT2.

  Selanjutnya, tuturan D16 yang dilakukan antara penutur, MT1, dan MT2 laki-laki. Penutur berusia 40 tahun, MT1 berusia 4 tahun, dan MT2 berusia 42 tahun. Penutur adalah kerabat dari MT2. Setelah mencermati partisipan yang terlibat dalam hubungan keluarga mempengaruhi bentuk kebahasaan yang muncul. Tidak hanya anggota keluarga yang memiliki hubungan darah saja yang terlibat dalam penuturan sebuah tuturan, tetapi juga kerabat dekat bahkan kerabat jauh dari penutur. Seperti pada tuturan D16, yang memperlihatkan bahwa penutur dan mitra tutur memiliki kedekatan, bahkan ketika melakukan sebuah aktivitas pertanian.

  Jika ditinjau dari konteks tuturan, tujuan penutur, dan tuturan sebagai bentuk aktivitas, tuturan D10 terjadi ketika penutur sedang berbincang-bincang dengan MT1 di ruang tamu rumah penutur (Selasa, 4 Juni 2013, sekitar pukul

  15.30

  • –16.12 WIB). MT2 berjalan dari dalam menuju ruang tamu membawakan

  minuman. Kemudian MT2 duduk di sebelah penutur. Tiba-tiba penutur melontarkan pertanyaan kepada MT2 dengan maksud menyindir karena MT2 belum juga memiliki teman dekat. Tujuan tuturan penutur adalah mengajak bercanda mitra tuturnya. Begitu juga dengan tuturan D16 yang terjadi ketika penutur, MT1, dan MT2 berada di sawah pada siang hari (Senin, 10 Juni 2013, sekitar pukul 11.30

  • –12.30 WIB). MT1 memanggil MT2, MT2 hanya menjawab

  dengan singkat sambil terus melanjutkan pekerjaannya. MT1 kembali memanggil MT2, bahkan berulang-ulang. Namun, MT2 hanya diam tanpa mempedulikan panggilan MT1, tiba-tiba penutur melontarkan kata-kata kepada MT1 dengan maksud menyindir MT2 agar segera menanggapi panggilan MT1. Tujuan dari tuturan penutur adalah menyindir MT2 yang tidak mengindahkan panggilan MT1.

  Aspek terakhir, ditinjau dari tuturan sebagai produk tindak verbal. Tindak verbal yang terjadi pada tuturan D10 adalah tindak verbal ekspresif, sedangkan menunduk. Kemudian, tindak verbal yang terjadi pada tuturan D16 adalah ekspresif dengan tindak perlokusi MT2 hanya tersenyum merasa tersindir, kemudian menanggapi panggilan MT1.

  Berdasarkan uraian di atas, kedua tuturan yang disampaikan penutur tersebut lebih mengarah ke perilaku berbahasa yang menghilangkan muka mitra tuturnya. Ketidaksantunan yang menghilangkan muka itu mengarah pada sebuah tuturan yang dapat mengakibatkan mitra tuturnya malu bahkan merasa kehilangan muka.

  Pembahasan terakhir, mengenai maksud ketidaksantunan penutur. Maksud adalah milik penutur, sehingga dilakukan konfirmasi kembali untuk mengetahui maksud penutur. Meskipun kedua tuturan di atas, termasuk dalam subkategori menyindir, maksud dari tuturan penutur sebenarnya hanya ingin mengajak bercanda mitra tuturnya.

4.3.4.2 Subkategori Mengejek Mak, satus ki nol’e piro?? (D4)

  (Konteks tuturan: penutur dan mitra tutur sedang berdiskusi untuk

  menyelesaikan PR bersama beberapa anggota keluarga yang lain di ruang keluarga. Penutur sengaja bertanya kepada mitra tutur, padahal penutur sudah mengetahui keterbatasan mitra tutur, yakni tidak dapat membaca. Mendengar pertanyaan tersebut, mitra tutur memberikan jawaban sekenanya)

Iya, itu yang masih belum laku mbak, soalnya pengangguran. (D9)

  (Konteks tuturan: penutur sedang berbincang bersama MT1 di ruang tamu

  rumah penutur (Senin, 13 Mei 2013, sekitar pukul 12.10

  • –12.35 WIB). MT2

  berjalan dari dalam membawakan minuman untuk MT1. MT1 bertanya

  Kedua tuturan di atas menunjukkan bahwa penutur dengan sengaja berusaha menghina atau mengejek mitra tuturnya dengan menceritakan kelemahan mitra tutur di hadapan orang lain. Hal ini dapat dilihat dari cara penutur berbicara, misalnya pada tuturan D4, penutur berbicara kepada orang yang lebih tua dengan lugas, penutur sengaja bertanya kepada orang yang memiliki kelemahan membaca dan menulis. Begitu juga dengan tuturan D9, penutur berbicara dengan ketus sembari tertawa dan menunjuk ke arah mitra tuturnya. Bahkan, disampaikan di hadapan tamu yang berkunjung.

  Penanda ketidaksantunan linguistik dalam tuturan-tuturan tidak santun dapat dilihat berdasarkan intonasi, tekanan, nada, pilihan kata (diksi), dan kata fatis. Intonasi pada kedua tuturan di atas berbeda. Tuturan D4 berintonasi tanya, sedangkan tuturan D9 berintonasi berita dengan pola intonasi datar-turun.

  Meskipun memiliki intonasi tanya dan intonasi berita yang cenderung terdengar menurun, kenyataannya kedua tuturan di atas justru mempermalukan mitra tuturnya. Pada tuturan D4 penutur berbicara dengan tekanan lunak pada frasa

  

nol’e piro, sedangkan tuturan D9 disampaikan oleh penutur juga dengan tekanan

  lunak pada kata pengangguran. Bagian yang ditekankan dari kedua tuturan tersebut dipersepsi sebagai ketidaksantunan karena menyiratkan suatu hinaan atau ejekan terhadap mitra tuturnya dan berpotensi mempermalukan mitra tutur. Lebih lanjut lagi mengenai nada tutur. Nada menyangkut tinggi rendahnya bunyi. Kedua tuturan di atas disampaikan dengan nada sedang. Meskipun dituturkan dengan nada sedang, tuturan tersebut dipersepsi sebagai tuturan yang tidak santun karena

  Tuturan D4 menggunakan bahasa nonstandar yang ditandai dengan pemakaian bahasa Jawa, sedangkan tuturan D9 menggunakan bahasa nonstandar yang ditandai dengan pemakaian kata tidak baku, yaitu soalnya. Pada tuturan D4 terdapat kata-kata

  nol’e piro yang artinya nol’nya berapa, sedangkan pada tuturan

  D9 terdapat kata pengangguran. Pilihan kata pengangguran tersebut dianggap tidak santun karena mempermalukan mitra tuturnya. Akan lebih santun jika diganti dengan kata belum bekerja. Pada kedua tuturan tersebut tidak ditemukan penggunaan kata fatis.

  Selanjutnya, mengenai penanda ketidaksantunan pragmatik yang dilihat berdasarkan konteks yang melingkupi tuturan tersebut. Aspek pertama ditinjau dari penutur dan lawan tutur, pada tuturan D4, penutur laki-laki kelas 4 SD, berusia 12 tahun dan mitra tutur perempuan berusia 42 tahun. Penutur adalah anak dari mitra tutur. Pada tuturan D9, penutur laki-laki berusia 50 tahun, MT1 seorang tamu, dan MT2 laki-laki berusia 23 tahun. Penutur adalah bapak dari MT2.

  Kedekatan hubungan dalam keluarga terkadang justru memunculkan bentuk- bentuk ketidaksantunan.

  Aspek berikutnya adalah konteks. Konteks dalam tuturan D4 terjadi ketika penutur dan mitra tutur sedang berdiskusi untuk menyelesaikan PR bersama beberapa anggota keluarga yang lain di ruang keluarga. Penutur sengaja bertanya kepada mitra tutur, padahal penutur sudah mengetahui keterbatasan mitra tutur, yakni tidak dapat membaca. Mendengar pertanyaan tersebut, mitra tutur memberikan jawaban sekenanya. Dari konteks itu, terlihat bahwa penutur sengaja ingin mempermalukan mitra tuturnya dengan melontarkan pertanyaan yang jelas tidak dapat dijawab oleh mitra tutur karena keterbatasannya.

  Begitu juga dengan tuturan D9 yang terjadi ketika penutur sedang berbincang bersama MT1 di ruang tamu rumah penutur (Senin, 13 Mei 2013, sekitar pukul 12.10

  • –12.35 WIB). MT2 berjalan dari dalam membawakan

  minuman untuk MT1. MT1 bertanya kepada penutur perihal MT2. Tiba-tiba penutur melontarkan jawaban bahwa MT2 seorang pengangguran sembari menunjuk MT2. Berdasarkan konteks tersebut juga terlihat bahwa penutur sengaja ingin mempermalukan mitra tuturnya dengan berkata bahwa mitra tutur seorang pengangguran. Seharusnya hal itu tidak perlu disampaikan oleh penutur di hadapan tamu yang datang.

  Lebih lanjut lagi dalam aspek tujuan penutur, tuturan sebagai tindakan, dan tuturan sebagai produk tindak verbal. Tujuan penutur dalam tuturan D4 yaitu mengajak mitra tuturnya bercanda. Tindak verbal yang terjadi yakni ekspresif. Tuturan tersebut mengakibatkan tindak perlokusi MT yaitu diam saja karena malu tidak dapat membantu mengerjakan PR kemudian pergi tidur. Begitu juga dengan tuturan D9 yang disampaikan dengan tujuan menyuruh MT2 untuk segera mencari pekerjaan. Tindak verbal yang terjadi yaitu ekspresif. Tindak perlokusi dari tuturan tersebut yakni MT2 hanya tersenyum malu kemudian kembali ke belakang. Berdasarkan tindak perlokusi yang terjadi pada mitra tutur diketahui bahwa tuturan penutur tidak santun karena mengarah pada tuturan yang menghilangkan muka mitra tuturnya.

  Setiap tuturan tidak santun mengandung maksud tertentu yang ingin disampaikan kepada mitra tuturnya. Meskipun termasuk dalam subkategori mengejek, pada kenyataannya tuturan D4 memiliki maksud untuk sekadar mengajak bercanda mitra tuturnya. Lain halnya dengan tuturan D9 yang disampaikan dengan maksud memberi informasi kepada mitra tuturnya. Sayangnya, kedua maksud tersebut disampaikan dengan cara yang kurang santun sehingga terdengar seperti sebuah ejekan terhadap mitra tuturnya.

4.3.4.3 Subkategori Kesal Salah’e raiso moco!! (D5) (Konteks tuturan: tuturan terjadi ketika sedang menonton televisi bersama.

  Acara yang dilihat saat itu adalah film berbahasa asing yang tentu dilengkapi dengan terjemahan. Kondisi mitra tutur yang tidak dapat membaca mengakibatkan ia kesulitan untuk memahami acara televisi, mitra tutur bertanya kepada penutur namun penutur menjawab pertanyaan mitra tutur dengan nada kesal) Mbok nek ndue anak ki ora akeh-akeh. Mosok manak ping 6. Koyo pitik wae! (D8)

  (Konteks tuturan: penutur dan mitra tutur berada di ruang keluarga pada

  sore hari. Penutur berusaha menegur mitra tutur dengan kesal, karena mitra tutur sudah mempunyai 6 anak. Jumlah yang terlalu banyak menurut penutur)

  Wujud ketidaksantunan linguistik pada cuplikan tersebut terdapat pada tuturan D5 dan D8. Pada tuturan D5 penutur berbicara dengan ketus kepada orang yang lebih tua dan di hadapan anggota keluarga lainnya, sedangkan tuturan D8 juga disampaikan dengan ketus di hadapan anggota keluarga lain, bahkan penutur juga menyetarakan sifat manusia dengan binatang. Cara bicara yang demikian sekaligus memperlihatkan rendahnya kesantunan tuturan penutur, terlebih ketika tuturan itu berpotensi membuat mitra tutur malu.

  Tuturan D5 dan D8 memiliki intonasi seru yang terdengar cenderung tinggi, padahal penutur berada pada jarak yang dekat dengan mitra tutur. Oleh karena itu, penggunaan intonasi seru yang terdengar cenderung tinggi pada kedua tuturan tersebut dipersepsi sebagai bentuk ketidaksantunan. Jika ditinjau dari unsur tekanan, tuturan D5 disampaikan dengan tekanan keras. Bagian yang ditekankan yaitu pada kata

  salah’e. Begitu juga dengan tuturan D8 yang

  ditekankan dengan keras pada frasa koyo pitik wae. Pilihan kata-kata yang mendapat tekanan tersebut terdengar tidak santun, karena menimbulkan ketidaknyamanan bagi mitra tuturnya yang cenderung mengakibatkan mitra tuturnya malu. Kedua tuturan itu dapat saja dikatakan dengan lebih halus menggunakan pilihan kata yang sesuai.

  Selanjutnya, mengenai nada tutur. Aspek nada dalam bertutur lisan memengaruhi kesantunan berbahasa seseorang (Pranowo, 2009:77). Pada kedua tuturan tersebut, penutur berbicara dengan nada tinggi karena suasana hati penutur sedang kesal akibat sikap dan ketidakmampuan mitra tuturnya. Hal tersebut sejalan dengan penjelasan Pranowo, (2009:77) jika suasana hati sedang marah, emosi, nada bicara penutur menaik dengan keras dan kasar sehingga terasa menakutkan.

  Lebih lanjut lagi mengenai unsur segmental, yaitu diksi (pilihan kata) dan kata fatis. Kedua tuturan tersebut dituturkan dengan menggunakan bahasa ditemukan adalah mbok yang terdapat pada tuturan D8. Penggunaan bahasa Jawa dalam kedua tuturan tersebut terdengar kurang halus, terlebih ketika disampaikan kepada orang yang lebih tua.

  Pembahasan mengenai penanda ketidaksantunan pragmatik, salah satunya ditinjau dari aspek penutur dan lawan tutur. Tuturan D5 dilakukan oleh penutur kelas XII SMK, berusia 19 tahun dan mitra tutur berusia 42 tahun. Penutur adalah anak dari mitra tutur. Selanjutnya, tuturan D8 yang terjadi antara penutur laki-laki berusia 75 tahun dan mitra tutur perempuan berusia 45 tahun.

  Penutur adalah bapak dari mitra tutur. Berdasarkan pemaparan di atas, diketahui bahwa penutur dan mitra tutur memiliki hubungan darah dalam kekeluargaan.

  Kedekatan inilah yang terkadang justru memunculkan bentuk-bentuk ketidaksantunan yang terungkap dalam bentuk tuturan yang tidak santun.

  Aspek berikutnya yaitu konteks tuturan. Tuturan D5 terjadi ketika sedang menonton televisi malam hari. Acara yang ditonton saat itu adalah film berbahasa asing yang tentu dilengkapi dengan terjemahan. Kondisi mitra tutur yang tidak dapat membaca mengakibatkan ia kesulitan untuk memahami acara televisi, mitra tutur bertanya kepada penutur namun penutur menjawab pertanyaan mitra tutur dengan nada kesal. Berbeda dengan tuturan D8 yang terjadi ketika penutur dan mitra tutur berada di ruang keluarga pada sore hari. Penutur berusaha menegur mitra tutur dengan kesal, karena mitra tutur sudah mempunyai 6 anak. Jumlah yang terlalu banyak menurut penutur. Setelah mencermati kedua konteks tuturan di atas, dipahami bahwa kekesalan penutur ditunjukkan dengan melontarkan kata-

  Tuturan D5 disampaikan dengan tujuan mengungkapkan kekesalannya karena mitra tutur tidak dapat membaca. Tindak verbal yang terjadi: ekspresif.

  Tindak perlokusi dari tuturan tersebut yaitu mitra tutur kesal dan malu kemudian pergi tidur. Berbeda dengan tuturan D8 yang dituturkan dengan tujuan menyadarkan mitra tutur agar tidak menambah jumlah anak lagi. Tindak verbal yang terjadi: ekspresif. Tindak perlokusi dari tuturan tersebut adalah mitra tutur tersenyum malu kemudian memberikan jawaban untuk membela diri.

  Lebih lanjut lagi pembahasan mengenai maksud ketidaksantunan. Maksud dari tuturan adalah milik penutur. Ketika dikonfirmasi kembali, penutur pada tuturan D5 menyampaikan tuturannya dengan maksud mengungkapkan kekesalannya terhadap ketidakmampuan mitra tutur, sedangkan tuturan D8 disampaikan dengan maksud memrotes mitra tutur yang telah memiliki anak dengan jumlah banyak. Namun, protes itu disampaikan secara langsung dan menohok sehingga menjadi tidak santun. Hal itu sejalan dengan penjelasan Pranowo (2009:68) bahwa komunikasi menjadi tidak santun ketika penutur menyampaikan kritiknya secara langsung kepada mitra tuturnya.

4.3.4.4 Subkategori Menegaskan

  Menegaskan adalah cara penutur dalam menerangkan, menjelaskan, atau

  mengatakan dengan tegas tentang suatu hal kepada mitra tuturnya. Tuturan D12 termasuk dalam subkategori menegaskan. Hal itu dapat dilihat pada pembahasan berikut.

  Nek sing niki gembeng. (D12)

  (Konteks tuturan: penutur sedang berbincang dengan MT1 di ruang tamu

  rumah penutur (Rabu, 1 Mei 2013, sekitar pukul 14.27 –15.06 WIB). Terdapat pula MT 2 di tempat tersebut. Penutur menceritakan kebiasaan MT 2 kepada MT 1. Penutur menggunakan kata ‘gembeng’ yang artinya orang yang mudah menangis)

  Pada tuturan tersebut, penutur berusaha memberi penegasan kepada MT1 (sebagai seorang tamu) perihal sifat pemalu yang dimiliki oleh MT2. Penutur berbicara dengan lugas langsung di hadapan tamu yang datang. Penutur juga berbicara sembari melirik ke arah mitra tuturnya. Cara penutur yang demikian mengarah pada perilaku berbahasa yang menghilangkan muka.

  Pembahasan lebih lanjut tentang penanda ketidaksantunan linguistik dan pragmatik. Tuturan D12 ini berintonasi berita. Kalimat berita (deklaratif) ditandai dengan pola intonasi datar-turun (Muslich, 2008:115-116). Selain itu, tuturan D12 terdengar berpola datar-turun. Tuturan itu disampaikan dengan tekanan lunak, yaitu pada kata gembeng yang artinya mudah menangis. Bagian itulah yang dipentingkan oleh penutur ketika menegaskan sesuatu. Penutur juga berbicara dengan nada sedang. Meskipun penutur berbicara dengan intonasi berita yang cenderung berpola intonasi datar-turun, disertai nada sedang, tuturan penutur dianggap tidak santun ketika tekanan gembeng pada kenyataannya mengakibatkan mitra tutur merasa kehilangan muka di hadapan tamu yang datang.

  Lebih lanjut lagi mengenai diksi dan kata fatis. Pada tuturan D12 ditemukan penggunaan bahasa nonstandar yang ditandai dengan adanya pemakaian bahasa Jawa. Namun, tidak ditemukan penggunaan kata fatis dalam tuturan ini.

  Setelah penanda ketidaksantunan linguistik, berikut adalah pembahasan tentang penanda ketidaksantunan pragmatik yang dilihat berdasarkan konteks tuturan itu sendiri. Partisipan pada tuturan D12 adalah penutur, MT1, dan MT2 perempuan. Penutur berusia 53 tahun, MT1 adalah tamu, dan MT2 berusia 4 tahun. Penutur adalah nenek dari MT2. Hubungan antara nenek dengan cucunya sangatlah dekat, karena sehari-hari si cucu memang tinggal bersama neneknya.

  Kedekatan inilah yang memunculkan bentuk-bentuk kebahasaan yang kurang santun.

  Aspek berikutnya adalah konteks dalam tuturan itu sendiri. Tuturan terjadi ketika penutur sedang berbincang dengan MT1 di ruang tamu rumah penutur (Rabu, 1 Mei 2013, sekitar pukul 14.27

  • –15.06 WIB). Terdapat pula MT2

  di tempat tersebut. Penutur menceritakan kebiasaan MT2 kepada MT1. Penutur

  

menggunakan kata ‘gembeng’ yang artinya orang yang mudah menangis. Dalam

  konteks ini, penutur dianggap tidak santun karena secara langsung menceritakan sifat pemalu mitra tutur di hadapan tamu yang datang. Hal itu dapat saja membuat mitra tutur tidak berkenan. Tujuan dari penutur adalah sekadar menceritakan sikap pemalu MT2. Tindak verbal dalam tuturan tersebut adalah representatif, yang berarti pernyataan yang diyakini penutur, kasus atau bukan berupa suatu fakta, penegasan, kesimpulan, dan pendeskripsian. Berdasarkan tindak verbal ini, tuturan D12 termasuk dalam subkategori menegaskan. Tuturan yang menghilangkan muka itu dapat dibuktikan dengan tindak perlokusi dalam tuturan yakni MT2 menunduk malu sambil terus ‘menggelendot’ manja di samping

  Untuk mengetahui maksud, dilakukan konfirmasi kepada penutur. Meskipun termasuk dalam subkategori menegaskan, maksud dari tuturan penutur sebenarnya adalah ingin menakut-nakuti mitra tuturnya agar dapat menrubah sifatnya yang pemalu.

4.3.5 Kategori Ketidaksantunan Menimbulkan Konflik

  Teori ketidaksantunan yang terakhir dikemukakan oleh Bousfield (2008:3). Ketidaksantunan berbahasa dipahami sebagai,

  ‘...the issuing of

intentionally gratuitous and conflictive face-threatening acts (FTAs) that are

purposefully perfomed.’ Bousfield memberikan penekanan pada dimensi

‘kesembronoan’ dan konfliktif (conflictive) dalam praktik berbahasa yang tidak

  santun. Jadi, teori ketidaksantunan berbahasa menurut Bousfield (2008) menekankan bentuk penggunaan tuturan tidak santun dengan maksud selain melecehkan dan menghina mitra tutur dengan tanggapan sekenanya secara sengaja dapat menimbulkan konflik bahkan pertengkaran di antara penutur dan mitra tutur. Dalam kategori ketidaksantunan menimbulkan konflik, terdapat lima subkategori ketidaksantunan. Berikut pembahasan mengenai wujud ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, penanda ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, serta maksud ketidaksantunan penutur yang dipaparkan berdasarkan masing-masing subkategori.

4.3.5.1 Subkategori Marah Woo monyet!! (E7)

  (Konteks tuturan: penutur dan mitra tutur berada di teras rumah pada sore

  terlebih dahulu. Penutur sangat tidak berkenan mengetahui hal tersebut, sehingga melontarkan umpatan kepada mitra tutur) Iso meneng ora? Aku wis dong! (E9)

  (Konteks tuturan: penutur berusaha memperingatkan mitra tutur untuk

  Shalat, namun penutur tidak mengindahkan peringatan dari mitra tutur, bahkan melontarkan jawaban dengan kata-kata tidak santun)

  Pada kedua tuturan di atas, penutur mengungkapkan amarahnya dengan berbicara ketus dan berteriak. Cara penuturan yang demikian sudah tentu menyiratkan bahwa tuturan yang disampaikan juga tidak santun, terlebih ketika penutur berbicara sembari berdiri dan menatap mitra tutur dengan mata terbelalak.

  Lebih tidak santun lagi ketika tuturan tersebut disampaikan kepada orang yang lebih tua.

  Selanjutnya, mengenai penanda ketidaksantunan linguistik dalam tuturan. Tuturan E7 dan E9 disampaikan dengan intonasi seru yang bernada tinggi. Tuturan tersebut dipersepsi sebagai tuturan yang tidak santun karena penutur didorong rasa emosi ketika menyampaikan tuturannya. Hal itu sejalan dengan penjelasan Pranowo (2009:75) bahwa salah satu gejala penutur yang bertutur secara tidak santun adalah didorong rasa emosi ketika bertutur. Jika ditinjau dari aspek tekanan, tuturan E7 dan E9 disampaikan dengan tekanan keras pada frasa berikut secara berturut-turut, yaitu monyet dan wis dong. Tekanan dalam tuturan penutur berfungsi agar maksud yang diinginkan oleh penutur dapat dengan mudah sampai kepada mitra tuturnya. Namun, kenyataannya tekanan keras pada kedua tuturan itu justru memicu terjadinya konflik antara penutur dan mitra tutur.

  Lebih lanjut lagi mengenai diksi dan kata fatis. Penggunaan bahasa yang ditemukan pada kedua tuturan tidak santun di atas adalah bahasa populer dan bahasa nonstandar yang ditandai dengan pemakaian bahasa Jawa. Pilihan kata

  

monyet pada tuturan di atas, termasuk dalam bahasa populer karena secara umum

  sudah dikenal dan diketahui oleh masyarakat. Namun, umpatan pada tuturan E7 itu sangatlah tidak santun, terlebih ketika dituturkan dengan nada tinggi dan tekanan keras, yang tentunya memancing emosi lawan tutur, sehingga memicu terjadinya konflik. Penggunaan bahasa Jawa pada tuturan E9 juga tidak santun karena terdengar kasar dan menimbulkan konflik antara penutur dan mitra tuturnya. Pada tuturan E7 terdapat penggunaan kata fatis, yaitu woo yang menegaskan amarah penutur.

  Penanda ketidaksantunan pragmatik pada kedua tuturan di atas, ditandai berdasarkan konteks yang melingkupi tuturan tersebut. Partisipan dalam tuturan E7 adalah penutur laki-laki kelas 4 SD, berusia 12 tahun dan mitra tutur perempuan kelas XII SMK, berusia 19 tahun. Penutur adalah adik dari mitra tutur.

  Perbedaan usia yang tidak terlampau jauh nampaknya cenderung memunculkan bentuk-bentuk tuturan yang tidak santun. Terlebih, ketika penutur dan mitra tutur menyandang status kakak beradik dalam sebuah keluarga. Lain lagi dengan tuturan E9 yang terjadi antara penutur laki-laki kelas VII SMP, berusia 13 tahun dan mitra tutur perempuan berusia 40 tahun. Penutur adalah anak dari mitra tutur. Pada tuturan ini nampak bahwa penutur yang berusia lebih muda sangatlah tidak santun ketika bertutur dengan mitra tuturnya.

  Lebih lanjut lagi dalam konteks tuturan itu sendiri. Tuturan E7 terjadi ketika penutur dan mitra tutur berada di teras rumah pada sore hari. Secara tidak sengaja, mitra tutur memakai sandal penutur tanpa ijin terlebih dahulu. Penutur sangat tidak berkenan mengetahui hal tersebut. Penutur kemudian melontarkan umpatan kepada mitra tutur. Berdasarkan konteks yang terjadi, diketahui bahwa penutur tidak mampu mengendalikan emosinya. Hanya karena masalah sepele, penutur bahkan melontarkan umpatan yang sangat tidak santun. Konteks tersebut menunjukkan adanya komunikasi yang tidak baik antara penutur dan mitra tutur.

  Seperti penjelasan Pranowo, (2009:75) bahwa salah satu gejala penutur yang bertutur secara tidak santun adalah didorong rasa emosi ketika bertutur.

  Begitu juga dengan tuturan E9 yang terjadi ketika penutur berusaha memperingatkan mitra tutur untuk Shalat, namun penutur tidak mengindahkan peringatan dari mitra tutur, bahkan melontarkan jawaban dengan kata-kata tidak santun. Berdasarkan konteks tuturan tersebut, nampak bahwa penutur berusaha membangkang ketika diingatkan oleh mitra tuturnya. Penutur juga dinilai tidak santun karena berani berbicara ketus dan kasar kepada orang yang lebih tua.

  Kedua konteks dalam tuturan-tuturan di atas menunjukkan bahwa tuturan yang disampaikan oleh penutur mengarah pada tuturan yang menimbulkan konflik antara penutur dan mitra tuturnya.

  Pembahasan berikutnya mengenai tujuan penutur, tuturan sebagai bentuk tindakan, dan tuturan sebagai produk tindak verbal. Tuturan E7 disampaikan dengan tujuan mengungkapkan amarah penutur akibat tingkah laku mitra kepada mitra tutur yang dinilai terlalu banyak mengatur. Tindak verbal yang terjadi pada kedua tuturan tersebut ialah ekspresif. Tindak perlokusi dari kedua tuturan tersebut adalah terpancingnya emosi mitra tutur, sehingga melontarkan umpatan bahkan membanting pintu.

  Kedua tuturan tersebut disampaikan untuk menyiratkan maksud tertentu kepada mitra tuturnya. Meskipun tuturan E9 termasuk dalam subkategori marah, maksud yang tersirat di dalamnya ternyata berbeda dengan subkategori atau makna tuturan itu. Pada tuturan E9 penutur menyampaikan tuturannya dengan maksud mengungkapkan kekesalan kepada mitra tuturnya. Berbeda dengan tuturan E7 yang dituturkan dengan maksud mengungkapkan amarah penutur terhadap mitra tutur.

4.3.5.2 Subkategori Kesal

  Tuturan E3 dan E10 termasuk dalam subaktegori kesal karena mengungkapkan ketidaksenangan, kekecewaan, atau kekesalan penutur terhadap suatu hal yang berkaitan dengan mitra tutur.

  Sak karepku to mak, wong sing nganggo aku kok!! (E3)

  (Konteks tuturan: mitra tutur menghampiri penutur yang hendak bepergian

  dan bertanya kepadanya. Menurut mitra tutur, celana yang dikenakan terlalu ketat. Penutur kurang senang dengan pertanyaan mitra tutur yang dinilai terlalu mengatur cara berpakaian penutur, sehingga penutur memberikan jawaban dengan kesal) Wooo opo-opo aku. Opo-opo aku!! (E10)

  (Konteks tuturan: percakapan sore hari di teras rumah. MT2 menyuruh

  MT1 untuk memberi makan bebek peliharaan. Namun, MT1 justru menyuruh penutur yang empunya bebek tersebut. Penutur kesal karena

  Wujud ketidaksantunan pragmatik pada tuturan tersebut dilihat dari cara penutur menyampaikan tuturannya. Kedua tuturan tersebut disampaikan dengan ketus dan keras kepada orang yang lebih tua. Tuturan menjadi semakin tidak santun ketika disampaikan sembari berjalan meninggalkan penutur. Hal itu sekaligus memperlihatkan rendahnya tingkat kesantunan tuturan penutur.

  Pembahasan berikutnya mengenai penanda ketidaksantunan linguistik. Tuturan E3 dan E10 memiliki intonasi seru yang terdengar cenderung tinggi, padahal penutur berada pada jarak yang dekat dengan mitra tutur. Oleh karena itu, penggunaan intonasi seru yang terdengar cenderung tinggi pada kedua tuturan tersebut dipersepsi sebagai bentuk ketidaksantunan. Jika ditinjau dari unsur tekanan, kedua tuturan itu disampaikan dengan tekanan keras. Berikut adalah bagian dalam tuturan yang ditekankan secara berturut-turut, sak karepku to Mak dan penekanan kata fatis woo. Pilihan kata-kata yang mendapat tekanan tersebut terdengar tidak santun, karena menimbulkan ketidaknyamanan bagi mitra tuturnya yang cenderung memicu terjadinya konflik. Kedua tuturan itu dapat saja dikatakan dengan lebih halus menggunakan pilihan kata yang sesuai. Tekanan dalam tuturan penutur berfungsi agar maksud yang diinginkan oleh penutur dapat dengan mudah sampai kepada mitra tuturnya, meskipun kenyataannya tekanan pada kedua tuturan tersebut memicu terjadinya komunikasi yang kurang baik antara penutur dengan mitra tutur.

  Selanjutnya, mengenai nada tutur. Aspek nada dalam bertutur lisan memengaruhi kesantunan berbahasa seseorang (Pranowo, 2009:77). Pada kedua sedang kesal akibat sikap mitra tuturnya. Hal tersebut sejalan dengan penjelasan Pranowo, (2009:77) jika suasana hati sedang marah, emosi, nada bicara penutur menaik dengan keras dan kasar sehingga terasa menakutkan.

  Lebih lanjut lagi mengenai diksi dan kata fatis. Kedua tuturan tersebut dituturkan dengan menggunakan bahasa nonstandar yang ditandai dengan pemakaian bahasa Jawa. Namun, penggunaan bahasa Jawa dalam kedua tuturan tersebut terdengar kurang halus, terlebih ketika disampaikan kepada orang yang lebih tua. Kata fatis yang ditemukan pada kedua tuturan tersebut adalah to, kok, dan woo.

  Pembahasan mengenai penanda ketidaksantunan pragmatik. Tuturan E3 dilakukan oleh penutur laki-laki berusia 24 tahun dan mitra tutur perempuan berusia 46 tahun. Penutur adalah anak dari mitra tutur. Partisipan dalam tuturan E10 adalah penutur laki-laki kelas 4 SD, berusia 12 tahun, MT1 perempuan kelas

  XII SMK ,berusia 19 tahun, dan MT2 perempuan berusia 42 tahun. Penutur adalah adik dari MT1, dan MT2 adalah ibu dari penutur juga MT1. Penutur yang berusia lebih muda hendaknya dapat menjaga tuturannya ketika berkomunikasi dengan orang yang lebih tua, sesuai dengan kebudayaan masyarakat Jawa yang menjunjung tinggi tata krama dan sopan santun. Namun, hal itu tidak nampak pada kedua tuturan di atas.

  Tuturan E3 terjadi ketika mitra tutur menghampiri penutur yang hendak bepergian dan bertanya kepadanya. Menurut mitra tutur, celana yang dikenakan terlalu ketat. Penutur kurang senang dengan pertanyaan mitra tutur yang dinilai dengan kesal. Tuturan terjadi dalam suasana serius. Melihat konteks yang terjadi, penutur adalah sosok yang sulit diatur. Bahkan, terhadap orang yang lebih tua sekali pun, penutur berani membangkan dan berbicara dengan ketus. Hal ini menunjukkan rendahnya kesantunan tuturan penutur.

  Begitu juga dengan tuturan E10 yang terjadi sore hari di teras rumah. MT2 menyuruh MT1 untuk memberi makan bebek peliharaan. Namun, MT1 justru berbalik menyuruh penutur yang empunya bebek tersebut. Penutur kesal karena selalu disuruh untuk mengerjakan sesuatu. MT1 yang juga merasa kesal kemudian menanggapi perkataan penutur. Berdasarkan konteks tersebut, diketahui bahwa penutur dan MT1 tidak dapat mengelola emosi dengan baik, sehingga komunikasi yang terjalin justru memicu terjadinya konflik.

  Tuturan E3 disampaikan dengan tujuan mengungkapkan amarah penutur kepada mitra tutur yang dianggap terlalu banyak mengaturnya. Tindak verbal yang terjadi: ekspresif. Tindak perlokusi dari tuturan tersebut yaitu mitra tutur pergi meninggalkan penutur dengan raut wajah sinis. Selanjutnya, tuturan E10 dilontarkan dengan tujuan menolak perintah dari MT1. Tindak verbal yang terjadi yaitu ekspresif. Tindak perlokusi dari tuturan tersebut adalah MT1 menanggapi perkataan penutur dengan kesal.

  Lebih lanjut lagi pembahasan mengenai maksud ketidaksantunan. Maksud dari tuturan adalah milik penutur. Ketika dikonfirmasi kembali, penutur pada tuturan E3 menyampaikan tuturannya dengan maksud mengungkapkan kekesalannya terhadap mitra tutur yang dianggap terlalu banyak mengatur, menerus memerintah penutur untuk mengurus bebek. Namun, protes itu disampaikan secara langsung dan ketus sehingga menjadi tidak santun. Hal itu sejalan dengan penjelasan Pranowo (2009:68) bahwa komunikasi menjadi tidak santun ketika penutur menyampaikan kritiknya secara langsung kepada mitra tuturnya.

4.3.5.3 Subkategori Menyepelekan

  Menyepelekan dapat dipahami sebagai ungkapan penutur ketika

  menganggap sepele suatu hal. Biasanya ditunjukkan dengan sikap yang acuh tak acuh. Tuturan E4 dan E6 termasuk dalam subkategori menyepelekan.

  Biasa anak muda. (E4)

  (Konteks tuturan: penutur tiba di rumah dari bepergian sore hari. Mitra

  tutur menyapa penutur di ruang tamu sembari melontarkan pertanyaan dari mana penutur pergi. Penutur merasa tidak nyaman ketika mitra tutur bertanya perihal kepergiannya, sehingga penutur hanya menjawab sekenanya dan terkesan menyepelekan) Halah mangke bu, neng sawah terus koyo dibayar wae. (E6)

  (Konteks tuturan: mitra tutur sedang bersiap-siap di teras rumah hendak

  pergi ke sawah pada siang hari. Mitra tutur menyuruh penutur untuk membantu pekerjaan di sawah. Penutur enggan melaksanakan perintah dari mitra tutur dan hanya memberi jawaban sembrono)

  Wujud ketidaksantunan linguistik pada cuplikan tersebut terdapat pada tuturan E4 dan E6. Penutur menyepelekan pertanyaan dan perintah dari mitra tuturnya. Hal itu dapat dilihat dari cara berbicara penutur yaitu berbicara kepada orang yang lebih tua dengan datar dan sembrono tanpa rasa bersalah, penutur juga tidak mengindahkan ajakan dari mitra tutur. Selain tuturannya yang tidak santun, berjalan. Cara penuturan yang demikian sudah tentu menyiratkan wujud ketidaksantunan pragmatik dalam tuturan-tuturan tersebut.

  Mengenai penanda ketidaksantunan linguistik, tuturan E4 dan E6 disampaikan dengan intonasi berita yang bernada sedang. Meskipun disampaikan dengan nada sedang, kedua tuturan tersebut dipersepsi sebagai tuturan yang tidak santun karena terdengar menyepelekan mitra tuturnya. Jika ditinjau dari aspek tekanan, kedua tuturan tersebut memiliki tekanan yang berbeda. Tekanan yang berbeda tentu menunjukkan adanya maksud yang berbeda pula. Tuturan E4 ditekankan dengan lunak pada frasa anak muda, sedangkan tuturan E6 ditekankan dengan keras pada kata halah. Tekanan dalam tuturan penutur berfungsi agar maksud yang diinginkan oleh penutur dapat dengan mudah sampai kepada mitra tuturnya. Namun, kenyataannya tekanan pada kedua tuturan itu justru memicu terjadinya konflik antara penutur dan mitra tutur.

  Penggunaan bahasa yang ditemukan pada kedua tuturan tidak santun di atas adalah bahasa populer dan bahasa nonstandar yang ditandai dengan pemakaian bahasa Jawa. Pilihan kata anak muda pada tuturan di atas, termasuk dalam bahasa populer karena secara umum sudah dikenal dan diketahui oleh masyarakat. Namun, kata halah pada tuturan E6 itu sangatlah tidak santun, karena terdengar sangat menyepelekan mitra tuturnya. Penggunaan bahasa Jawa pada tuturan E6 juga tidak santun karena terdengar kasar dan menimbulkan konflik antara penutur dan mitra tuturnya.

  Penanda ketidaksantunan pragmatik pada kedua tuturan di atas, ditandai E4 adalah penutur perempuan, kelas XII SMK berusia 19 tahun dan mitra tutur perempuan berusia 42 tahun. Penutur adalah anak dari mitra tutur. Partisipan pada tuturan E6 adalah penutur laki-laki, berusia 28 tahun dan mitra tutur perempuan, berusia 53 tahun. Penutur adalah anak dari mitra tutur. Pada kedua tuturan ini nampak bahwa penutur yang berusia lebih muda sangatlah tidak santun ketika bertutur dengan mitra tuturnya.

  Lebih lanjut lagi dalam konteks tuturan itu sendiri. Tuturan E4 terjadi ketika penutur tiba di rumah dari bepergian sore hari. Mitra tutur menyapa penutur di ruang tamu sembari melontarkan pertanyaan dari mana penutur pergi. Penutur merasa tidak nyaman ketika mitra tutur bertanya perihal kepergiannya, sehingga penutur hanya menjawab sekenanya dan terkesan menyepelekan.

  Berdasarkan konteks tersebut, diketahui bahwa penutur secara tidak langsung ingin menyembunyikan sesuatu dari mitra tuturnya, sehingga melontarkan kata- kata yang terdengar menyepelekan. Bahkan memicu terjadinya konflik antara penutur dan mitra tutur.

  Begitu juga dengan tuturan E6 yang terjadi ketika mitra tutur sedang bersiap-siap di teras rumah hendak pergi ke sawah pada siang hari. Mitra tutur menyuruh penutur untuk membantu pekerjaan di sawah. Penutur enggan melaksanakan perintah dari mitra tutur dan hanya memberi jawaban sembrono.

  Berdasarkan konteks tersebut, diketahui bahwa penutur berusaha menolak ajakan mitra tutur. Namun, penolakan itu dilakukan dengan melontarkan kata-kata yang terdengar tidak santun karena menyepelekan mitra tuturnya bahkan memicu

  Tuturan E4 disampaikan dengan tujuan merahasiakan sesuatu dari mitra tuturnya. Tindak verbal yang terjadi adalah tindak verbal ekspresif. Tindak perlokusi dari tuturan tersebut adalah mitra tutur marah dan membanting pintu. Selanjutnya, tuturan E6 yang disampaikan dengan tujuan penutur enggan melaksanakan tugas dari mitra tutur. Tindak verbal yang terjadi yaitu tindak verbal ekspresif. Tindak perlokusi dari tuturan tersebut adalah mitra tutur menjawab perkataan penutur dengan kesal kemudian pergi meninggalkan penutur.

  Berdasarkan uraian tersebut, dapat dilihat bahwa tindak perlokusi dalam kategori ini menandakan terjadinya tuturan yang menimbulkan konflik. Terbukti pada tindak perlokusi kedua mitra tutur di atas yakni terpancing emosinya sehingga mitra tutur kesal, marah, bahkan membantin pintu dan meninggalkan penutur.

  Pembahasan berikutnya mengenai maksud ketidaksantunan penutur. Untuk mengetahui maksud, dilakukan konfirmasi kepada penutur. Meskipun termasuk dalam subkategori menyepelekan, maksud dari tuturan E4 sebenarnya adalah ingin merahasiakan sesuatu dari mitra tuturnya. Begitu juga dengan tuturan E6 yang sebenarnya menyiratkan maksud penolakan penutur terhadap ajakan dari mitra tuturnya.

4.3.5.4 Subkategori Menyindir

  Santun atau tidaknya sebuah tuturan dapat dilihat berdasarkan tuturan itu sendiri beserta konteks yang melingkupinya. Berikut pembahasan lebih lanjut mengenai wujud, penanda, dan maksud ketidaksantunan dalam subkategori

  Mbok dibanting sisan! Mbok dibaleni! (E1)

  (Konteks tuturan: penutur dan mitra tutur sedang makan siang di ruang

  makan. Mitra tutur secara tidak sengaja mengambil piring dengan tidak hati-hati, sehingga menimbulkan suara gaduh. Penutur menanggapi tingkah laku mitra tutur dengan melontarkan kata-kata sindiran)

  Tuturan E1 merupakan wujud ketidaksantunan linguistik dalam cuplikan tuturan tersebut, sedangkan wujud ketidaksantunan pragmatiknya dapat dilihat dari cara penutur menyampaikan tuturannya. Dalam kategori menimbulkan konflik ini, disimpulkan bahwa sebagian besar penutur melecehkan mitra tuturnya dengan tanggapan sekenanya secara sengaja dapat menimbulkan konflik bahkan pertengkaran di antara keduanya. Seperti yang terjadi pada tuturan E1, penutur berbicara dengan ketus, penutur sengaja melontarkan kata-kata sindiran, bahkan dilakukan sembari melirik ke arah mitra tutur. Hal ini tentu mengakibatkan mitra tuturnya kurang berkenan. Terbukti dengan sikap mitra tutur yang secara sengaja justru membuat suasana semakin gaduh.

  Intonasi yang digunakan pada tuturan di atas adalah intonasi perintah. Muslich (2008:115-116) menjelaskan bahwa kalimat perintah (imperatif) ditandai dengan pola intonasi datar-tinggi. Seperti pada tuturan E1, penutur berbicara dengan datar namun terdapat penekanan yang berpola datar-tinggi pada tuturan tersebut. Penekanan yang disampaikan oleh penutur merupakan bentuk sindirannya terhadap mitra tutur yang tidak berhati-hati dalam melakukan sesuatu.

  Pada tuturan E1, penutur berbicara dengan tekanan keras. Bagian yang ditekankan yaitu pada kata sisan. Sindiran yang ditekankan dengan keras sudah tentu mengakibatkan terjadinya komunikasi yang kurang baik antara penutur dan dengan nada sedang. Meskipun nada dalam tuturan tersebut tidak menunjukkan adanya emosi penutur yang berlebih, tuturan itu tidak santun karena menyiratkan sindiran yang disampaikan secara tidak langsung kepada mitra tuturnya.

  Pembahasan berikutnya mengenai diksi dan kata fatis. Tuturan E1 menggunakan bahasa nonstandar yang ditandai dengan pemakaian bahasa Jawa.

  Pada tuturan tersebut terdapat kata banting sisan yang artinya dibanting sekalian dan ternyata menimbulkan ketidaknyamanan bagi mitra tuturnya dan cenderung memicu konflik antara keduanya. Selanjutnya, ditemukan penggunaan kata fatis yang mengandung unsur daerah, yaitu kata mbok.

  Lebih lanjut lagi dalam penanda ketidaksantunan pragmatik. Tuturan E1 dilakukan oleh penutur dan mitra tutur laki-laki. Penutur adalah kakak dari mitra tutur. Kesamaan jenis kelamin dan usia yang tidak terlampau jauh cenderung mendorong adanya kedekatan tertentu antara keduanya. Kedekatan inilah yang terkadang justru memunculkan bentuk-bentuk komunikasi yang kurang santun antara keduanya.

  Aspek berikutnya adalah konteks dalam tuturan itu sendiri. Tuturan E1 terjadi ketika penutur dan mitra tutur sedang makan siang di ruang makan. Mitra tutur secara tidak sengaja mengambil piring dengan tidak hati-hati, sehingga menimbulkan suara gaduh. Penutur menanggapi tingkah laku mitra tutur dengan melontarkan kata-kata sindiran. Berdasarkan konteks tersebut, terlihat bahwa penutur ingin memperingatkan mitra tuturnya agar lebih berhati-hati. Namun, cara penutur itu justru mengakibatkan mitra tuturnya kurang berkenan. Seharusnya, penutur tidak perlu berkata seperti itu. Peringatan dapat saja disampaikan dengan kata-kata biasa yang tidak mengandung unsur sindiran.

  Penutur menyampaikan tuturannya dengan tujuan meminta mitra tutur agar lebih berhati-hati ketika melakukan sebuah aktivitas. Tindak verbal dalam tuturan adalah tindak verbal ekspresif. Tuturan tersebut mengakibatkan tindak perlokusi mitra tuturnya yaitu kesal dan sengaja membuat gaduh ruang makan.

  Pembahasan yang terakhir mengenai maksud ketidaksantunan. Maksud dari tuturan adalah milik penutur. Penutur pada tuturan E1 menyampaikan tuturannya dengan maksud menyindir mitra tutrunya karena tidak dapat berhati- hati dalam melakukan suatu aktivitas.

4.3.5.5 Subkategori Menolak

  Berikut adalah wujud ketidaksantunan linguistik dalam subkategori menolak yang terdapat pada tuturan E5.

  Punya kaki sendiri kok!! (E5)

  (Konteks tuturan: percakapan terjadi di ruang keluarga pada siang hari

  (Rabu, 24 April 2013. Pukul 13.15

  • –13.45WIB). Mitra tutur sedang

  menerima tamu di ruang tamu, sedangkan penutur sedang menonton televisi di ruang keluarga. Mitra tutur meminta bantuan kepada penutur untuk mengambilkan kursi di depan rumah. Penutur enggan melaksanakan perintah dari mitra tutur, bahkan menanggapi permintaan mitra tutur dengan kata-kata yang tidak santun)

  Penutur pada tuturan E5, tidak mengindahkan perintah dari mitra tuturnya. Hal itu dapat dilihat dari tindakan penutur yang acuh tak acuh ketika mitra tutur memerintahkan sesuatu kepadanya. Bahkan, penutur berbicara dengan ditujukan kepada orang yang lebih tua. Cara bicara penutur yang demikian cukup menunjukkan wujud ketidaksantunan pragmatik dalam tuturan ini.

  Tuturan E5 berintonasi seru yang cenderung terdengar keras, sehingga dipersepsi sebagai bentuk ketidaksantunan, terlebih ketika mitra tutur yang diajak berbicara hanya berada pada jarak dekat. Frasa sendiri kok lebih ditekankan dengan keras oleh penutur pada tuturan itu. Beberapa bagian yang ditekankan pada tuturan tersebut merupakan bagian tuturan yang dipentingkan penutur ketika mengungkapkan sebuah penolakan. Lebih lanjut lagi mengenai nada tutur.

  Tuturan E5 sebagai bentuk penolakan dituturkan dengan nada tinggi karena suasana hati penutur sedang kesal. Hal itu sejalan dengan penjelasan Pranowo (2009:77) bahwa jika suasana hati sedang marah atau emosi, nada bicara penutur menaik dengan keras dan kasar, sehingga terasa menakutkan.

  Selanjutnya, mengenai diksi dan kata fatis. Pilihan kata yang digunakan pada tuturan E5 adalah kata populer, karena secara umum sudah diketahui dan dipahami oleh masyarakat luas. Pada tuturan tersebut, terdapat pemakaian kata- kata punya kaki sendiri kok. Pemilihan kata-kata itu menunjukkan kadar kesantunan tuturan penutur yang masih sangat rendah karena terbukti mengakibatkan ketidaknyamanan bagi mitra tuturnya. Unsur segmental berikutnya yaitu kata fatis. Pada tuturan E5 ditemukan penggunaan kata fatis kok yang menekankan alasan dan pengingkaran dari penutur terhadap mitra tutur.

  Pengingkaran dalam tuturan E5 berkaitan dengan penolakan yang dilakukan penutur terhadap perintah dari mitra tuturnya.

  Tuturan E5 terjadi antara penutur laki-laki, kelas 3 SD dan mitra tutur laki-laki, berusia 43 tahun. Penutur adalah anak dari MT. Tuturan terjadi di ruang keluarga pada siang hari (Rabu, 24 April 2013. Pukul 13.15

  • –13.45 WIB). Mitra

  tutur sedang menerima tamu di ruang tamu, sedangkan penutur sedang menonton televisi di ruang keluarga. Mitra tutur meminta bantuan kepada penutur untuk mengambilkan kursi di depan rumah. Penutur enggan melaksanakan perintah dari mitra tutur, bahkan menanggapi permintaan mitra tutur dengan kata-kata yang tidak santun. Tujuan dari tuturan penutur ialah menolak perintah dari mitra tutur. Dengan melihat tujuan penutur, tuturan E5 termasuk dalam subkategori menolak. Tindak verbal yang terjadi adalah tindak verbal komisif. Tindak perlokusi dari tuturan tersebut yaitu mitra tutur menghampiri penutur dan menjewer telinganya.

  Dalam kebudayaan Jawa, orang yang lebih muda seharusnya menjaga sopan santun, terlebih ketika berbicara dengan orang yang lebih tua. Namun, kenyataannya pada tuturan tersebut penutur yang berusia lebih muda cenderung tidak santun dalam bertutur kata. Santun atau tidaknya sebuah tuturan juga dapat dilihat berdasarkan konteks. Penutur dalam konteks tadi berusaha menolak perintah dari mitra tuturnya. Hal itu dibuktikan dengan tindak verbal dalam tuturan yaitu tindak verbal komisif. Tuturan penutur dipersepsi sebagai tuturan yang tidak santun karena memancing emosi mitra tutur yang kemudian menghampiri penutur dan menjewer telinganya. Lebih lanjut lagi pembahasan mengenai maksud ketidaksantunan. Maksud adalah milik penutur. Tuturan E5 menyiratkan maksud yang sama dengan subkategori ini, yaitu penolakan terhadap perintah dari mitra tuturnya. Namun, penolakan itu disampaikan dengan cara yang kurang tepat sehingga justru memicu konflik antara penutur dan mitra tutur.

BAB V PENUTUP Bab ini berisi uraian tentang dua hal, yaitu (1) simpulan dan (2) saran. Simpulan berisi rangkuman atas keseluruhan penelitian ini. Saran meliputi hal-hal

  relevan yang kiranya perlu diperhatikan, baik untuk keluarga maupun penelitian lanjutan.

5.1 Simpulan

  Berdasarkan hasil analisis data ditemukan tuturan yang tidak santun dalam interaksi sehari-hari antaranggota keluarga petani di Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Simpulan hasil analisis dan pembahasan dapat dikemukakan sebagai berikut.

  5.1.1 Wujud Ketidaksantunan Linguistik dan Pragmatik

  Wujud ketidaksantunan linguistik yang ditemukan dalam interaksi antaranggota keluarga petani di Kabupaten Bantul, Yogyakarta berupa tuturan lisan tidak santun yang telah ditranskrip, yakni tuturan yang melanggar norma, mengancam muka sepihak, melecehkan muka, menghilangkan muka, dan menimbulkan konflik. Sementara itu, wujud ketidaksantunan pragmatik berkaitan dengan cara penutur ketika menyampaikan tuturan lisan tidak santun tersebut.

  5.1.2 Penanda Ketidaksantunan Linguistik dan Pragmatik

  Penanda ketidaksantunan linguistik dapat dilihat berdasarkan intonasi, tuturan dalam masing-masing kategori ketidaksantunan. Sementara itu, penanda ketidaksantunan pragmatik dilihat berdasarkan konteks yang melingkupi tuturan, meliputi penutur dan lawan tutur, konteks tuturan, tujuan penutur, tuturan sebagai bentuk tindakan, dan tuturan sebagai produk tindak verbal.

  5.1.2.1 Melanggar Norma

  Pada kategori melanggar norma, secara umum penutur berbicara dengan intonasi seru; tekanan keras dan lunak; nada tutur tinggi dan sedang. Tuturan yang melanggar norma ditandai dengan diksi yaitu bahasa nonstandar dengan menggunakan bahasa Jawa dan istilah bahasa Jawa; kata fatis kok, to, kan, ah, dan wong.

  Tuturan lisan tidak santun yang melanggar norma cenderung dikatakan oleh seorang anak dalam keluarga petani; dalam suasana serius dan santai; tindak verbal komisif dan ekspresif; tindak perlokusi mitra tutur kesal, namun ada pula yang lebih memilih diam kemudian pergi meninggalkan penutur.

  5.1.2.2 Mengancam Muka Sepihak

  Tuturan yang mengancam muka sepihak ditandai dengan intonasi tanya, seru, dan perintah; tekanan keras dan lunak; nada tutur tinggi dan sedang. Tuturan yang mengancam muka sepihak ditandai dengan diksi, yaitu bahasa nonstandar dengan pemakaian bahasa Jawa, menggunakan kata tidak baku, penggabungan bahasa Indonesia dengan

  Tuturan yang mengancam muka sepihak dituturkan antaranggota keluarga bahkan kerabat jauh dari keluarga; dalam suasana serius dan santai; tindak verbal ekspresif; tindak perlokusi mitra tutur tersinggung dan kesal tetapi penutur tidak menyadari hal tersebut.

  5.1.2.3 Melecehkan Muka

  Tuturan tidak santun yang melecehkan muka ditandai dengan intonasi seru dan berita; tekanan keras dan lunak; nada tutur tinggi dan sedang. Pilihan kata (diksi) yaitu bahasa populer dan bahasa nonstandar dengan menggunakan bahasa Jawa, menggunakan kata tidak baku, penggabungan bahasa Indonesia dengan bahasa Jawa, dan penggunaan istilah bahasa Jawa; kata fatis wah, kok, hayoo, to, lah, ya, yo, huu, hei,

  lho, dong, ah, dan woo.

  Pada kategori ini yang terlibat dalam tuturan yaitu semua anggota keluarga; dalam suasana santai dan serius; tindak verbal ekspresif; tindak perlokusi mitra tutur tersenyum untuk mencairkan suasana, ada yang berlari meninggalkan penutur, tidak mengindahkan perintah penutur, ada pula yang berusaha mengklarifikasi kembali, bahkan ada yang memilih untuk diam.

  5.1.2.4 Menghilangkan Muka

  Pada kategori menghilangkan muka, secara umum penutur nada tutur sedang. Tuturan yang menghilangkan muka ditandai dengan diksi yaitu bahasa populer dan bahasa nonstandar dengan menggunakan bahasa Jawa, menggunakan kata tidak baku, dan penggunaan istilah bahasa Jawa; kata fatis ah, kok, to, mbok dan lho.

  Tuturan yang menghilangkan muka dituturkan oleh semua anggota keluarga dan kerabat dekat maupun kerabat jauh dari keluarga; dalam suasana santai dan serius; tindak verbal ekspresif; tindak perlokusi mitra tutur malu, tetapi hanya tersenyum atau tertawa dalam menyikapi penutur, ada pula yang memberikan jawaban sebagai upaya pembelaan diri.

5.1.2.5 Menimbulkan Konflik

  Tuturan yang menimbulkan konflik ditandai dengan intonasi seru; tekanan keras dan lunak; nada tutur tinggi; pilihan kata (diksi) yaitu bahasa populer dan bahasa nonstandar dengan menggunakan bahasa Jawa dan istilah bahasa Jawa; kata fatis mbok, ah, to, kok, dan

  woo.

  Penanda ketidaksantunan pragmatik dalam kategori ini dilihat dari partisipan dalam tuturan yakni semua anggota keluarga; dalam suasana serius; tindak verbal ekspresif dan komisif; tindak perlokusi mitra tutur kesal, marah, dan tersinggung. Amarah mitra tutur ditunjukkan dengan cara membanting pintu, membalas perkataan penutur dengan umpatan, melempar sandal, bahkan melontarkan sebuah

5.1.3 Maksud Ketidaksantunan

  Setiap tuturan yang disampaikan sudah tentu mengandung suatu maksud. Maksud adalah milik penutur. Dalam menganalisis maksud ketidaksantunan, dilakukan konfirmasi kepada penutur. Pada penelitian ini, ditemukan delapan belas maksud ketidaksantunan dan dipaparkan berdasarkan kategori ketidaksantunan sebagai berikut.

  Kategori ketidaksantunan yang pertama adalah melanggar norma. Pada kategori ini ditemukan empat maksud ketidaksantunan. Keempat maksud ketidaksantunan itu adalah maksud kesal, maksud mengajak bercanda, maksud menolak, dan maksud untuk membela diri. Selanjutnya, kategori ketidaksantunan mengancam muka sepihak dengan sembilan maksud ketidaksantunan dalam tuturan penutur. Maksud ketidaksantunan tersebut meliputi maksud menyindir, maksud menanyakan, maksud mengusir, maksud kesal, maksud memerintah, meminta bantuan, memberi saran, maksud menakut-nakuti, dan maksud memberi informasi.

  Kategori ketidaksantunan berikutnya adalah melecehkan muka. Dalam kategori ini ditemukan tiga belas maksud ketidaksantunan penutur. Maksud ketidaksantunan tersebut meliputi maksud kesal, maksud menakut-nakuti, maksud mengusir, protes, menagih janji, maksud menyimpulkan, maksud bercanda, maksud memberi informasi, mengejek, maksud menolak, maksud menyindir, maksud marah, dan maksud memberi saran.

  Lebih lanjut lagi dalam kategori ketidaksantunan menghilangkan ketidaksantunan, yaitu maksud menyindir, maksud bercanda, maksud kesal, memberi informasi, maksud protes, dan maksud menakut-nakuti. Terakhir, kategori ketidaksantunan menimbulkan konflik, meliputi maksud marah, merahasiakan sesuatu, maksud kesal, protes, menolak, dan maksud menyindir.

5.2 Saran

  Berdasarkan hasil temuan dalam penelitian ini, peneliti memberikan beberapa saran, yaitu (1) untuk keluarga dan (2) untuk penelitian lanjutan. Saran tersebut dipaparkan sebagai berikut.

  1)

  Bagi Keluarga

  Penelitian ini mengkaji ketidaksantunan berbahasa dalam ranah keluarga. Berdasarkan hasil penelitian yang telah diuraikan, sebagai anggota keluarga yang merupakan bagian dari masyarakat, khususnya yang hidup dalam budaya Jawa dan masih menjunjung tinggi nilai kesantunan, seharusnya dapat menghindari penggunaan bahasa yang tidak santun, baik di dalam maupun di luar keluarga. Salah satu hal yang dapat dilakukan, misalnya dengan menjaga perasaan orang lain ketika ingin mengutarakan suatu maksud tertentu. Hasil penelitian ini dapat dijadikan acuan untuk melihat fenomena ketidaksantunan yang terjadi dalam ranah keluarga. Dengan adanya acuan ketidaksantunan dalam berbahasa ini, anggota keluarga dapat mengurangi dan menghindari penggunaan bahasa yang tidak santun dalam berkomunikasi.

  2)

  Bagi Penelitian Lanjutan

  Penelitian ini hanya mengkaji ketidaksantunan linguistik dan pragmatik dalam lingkup keluarga saja. Bagi peneliti lain, penelitian ini dapat dikembangkan lebih lanjut dengan ranah yang berbeda seperti ranah agama atau bahkan lebih luas lagi dalam ketidaksantunan berbahasa elit politik, dan masih banyak lagi yang menarik untuk ditelaah lebih lanjut.

  Penelitian ini belum menelaah lebih lanjut mengenai maksud ketidaksantunan penutur. Oleh sebab itu, peneliti lain diharapkan untuk menggali maksud seseorang (penutur) lebih mendalam, sehingga dapat semakin memberi gambaran bagi pembaca mengenai maksud ketidaksantunan yang hanya dimiliki oleh penutur itu sendiri.

  

Daftar Pustaka

Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik.

  Jakarta: Rineka Cipta. Bousfield, Derek & Miriam A. Locher. 2008. Impoliteness in Language: Studies

  on its Interplay with Power in Theory and Practice. New York: Mouton de Gruyer.

  Bungin, Burhan. 2006. Sosiologi Komunikasi: Teori, Paradigma, dan Diskursus Teknologi Komunikasi di Masyarakat. Jakarta: Kencana. Chaer, Abdul. 2011. Tata Bahasa Praktis Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta. Depdiknas. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi Keempat. Jakarta: Gramedia. Herdiansyah, Haris. 2010. Metodologi Penelitian Kualitatif untuk Ilmu-ilmu Sosial. Jakarta: Salemba Humanika. Huang, Yan. 2007. Pragmatics. New York: Oxford University Press. Keraf, Gorys. 1987. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: Gramedia. ___________. 1991. Tata Bahasa Rujukan Bahasa Indonesia. Jakarta: Grasindo. Kridalaksana, Harimurti. 1986. Kelas Kata dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia. Leech, Geoffrey. 1983. Principles of Pragmatics. London: Longman. Mahsun. 2007. Metode Penelitian Bahasa: Tahapan Strategi, Metode, dan Tekniknya. Jakarta: Grafindo Persaja. Marsono. 2008. Fonetik. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press. Melissa Puspitarini, Olivia. 2013. Ketidaksantunan Linguistik dan Pragmatik

  Berbahasa antara Dosen dan Mahasiswa Program Studi PBSID, FKIP, USD, Angkatan 2009 —2011. Skripsi. Yogyakarta: PBSID, JPBS, FKIP, USD.

  Moleong, Lexy. J. 2006. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya. Mushlich, Masnur. 2009. Fonologi Bahasa Indonesia : Tinjauan Deskriptif Sistem Bunyi Bahasa Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara.

  Narbuko, Cholid dan Achmadi, Abu. 2009. Metodologi Penelitian. Jakarta: Bumi Aksara. Nikelas, Syahwin. 1988. Pengantar Linguistik untuk Guru Bahasa. Jakarta: Depdikbud. Noviyanti, Agustina Galuh Eka. 2013. Ketidaksantunan Linguistik dan Pragmatik

  Berbahasa Antarsiswa di SMA Stella Duce 2 Yogyakarta Tahun Ajaran 2012/2013. Skripsi. Yogyakarta: PBSID, JPBS, FKIP, USD.

  

Nugroho, Miftah. 2009. “Konteks dalam Kajian Pragmatik” dalam Peneroka

Hakikat Bahasa. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma.

  Pranowo. 2009. Berbahasa secara Santun. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Rahardi, Kunjana. 2003. Berkenalan dengan Ilmu Bahasa Pragmatik. Malang: Dioma.

  _______________. 2009. Sosiopragmatik. Jakarta: Erlangga. _______________.

  2012. “Penelitian Kompetensi: Ketidaksantunan Pragmatik

  dan Linguistik Berbahasa dalam Ranah Keluarga (Family Domain) ”. Presentasi. Yogyakarta: PBSID, JPBS, FKIP, USD.

  _______________. 2012 . “Re-interpretasi Konteks Pragmatik”. Jurnal. Sudaryanto. 1993. Metode dan Aneka Teknik Analisis Data: Pengantar Penelitian

  Wahana Kebudayaan secara Linguistis. Yogyakarta: Duta Wacana University Pers.

  Widi, Restu Kartiko. 2010. Asas Metodologi Penelitian: Sebuah Pengenalan dan Penuntun Langkah demi Langkah Pelaksanaan Penelitian.

  Yogyakarta: Graha Ilmu. Widyawari, Caecilia Petra Gading May. Ketidaksantunan Linguistik dan

  Pragmatik Berbahasa Antarmahasiswa Program Studi PBSID Angkatan 2009 —2011 Universitas Sanata Dharma. Skripsi.

  Yogyakarta: PBSID, JPBS, FKIP, USD. Wijana, I Dewa Putu. 1996. Dasar-dasar Pragmatik. Yogyakarta: Andi. Wijana, I Dewa Putu & Muhammad Rohmadi. 2008. Semantik: Teori dan Analisis. Surakarta: Yuma Pustaka.

  Yule, George. 2006. Pragmatik (terj). Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Yuliastuti, Elizabeth Rita. 2013. Ketidaksantunan Linguistik dan Pragmatik

  Berbahasa antara Guru dan Siswa di SMA Stella Duce 2 Yogyakarta

  236

LAMPIRAN

  

KORPUS DATA DAN TABULASI DATA

KETIDAKSANTUNAN BERBAHASA KATEGORI MELANGGAR NORMA

NO KODE TUTURAN PENANDA KETIDAKSANTUNAN PERSEPSI KETIDAK- SANTUNAN LINGUAL NONLINGUAL (Topik dan Situasi)

   Penutur kesal karena merasa terlalu dikekang pada usianya yang sudah cukup dewasa.

   Tuturan terjadi di ruang keluarga pada sore hari ketika penutur pulang dari bermain.

   Intonasi seru  Tekanan:

  Cuplikan Tuturan 2 MT : “Mbok yo nek

  2. (A2)

   Penutur menanggapi teguran mitra tutur dengan ketus.  Penutur melanggar kesepakatan yang telah ditetapkan.  Penutur tidak mengindahkan teguran mitra tutur.  Penutur berbicara kepada orang yang lebih tua.

  Kategori Ketidaksantunan: Melanggar norma Subkategori Ketidaksantunan: Menentang Wujud Ketidaksantunan:

   Tindak verbal: komisif.  Tindak perlokusi: mitra tutur diam saja kemudian meninggalkan penutur.

  kekesalannya ketika mitra tutur memberi teguran karena terlambat pulang.

   Tujuan: penutur mengungkapkan

  Penutur merupakan anak dari mitra tutur.

   Penutur laki-laki berusia 24 tahun dan mitra tutur perempuan, ibu berusia 46 tahun.

  Penutur berusaha menentang teguran mitra tutur dengan nada tinggi.

  tutur berusaha menegur penutur yang terlambat pulang. Padahal sudah ada kesepakatan jika terlambat harus memberi kabar. Tuturan terjadi di ruang keluarga pada sore hari (Rabu, 10 April 2013).

  1. (A1)

   Tuturan terjadi dalam keluarga ketika mitra

   Kata fatis: kok, to.

  nonstandar dengan menggunakan bahasa Jawa.

   Diksi: bahasa

  penutur berbicara dengan nada tinggi.

   Nada tutur:

  dewe.

  keras pada frasa bali

   Intonasi seru  Tekanan :

  wong tuwa ra bingung!” P : “Opo-opo kok koyo cah cilik to, mengko lak yo bali dewe!!”

  mbok ngebel rumah, ben

  Cuplikan Tuturan 1 MT : “Telat pulang tu

  Kategori Ketidaksantunan: Melanggar norma mulih sekolah ki opo

  jam’e, dolan keno, tapi

   Penutur melanggar aturan yang telah disepakati.  Penutur berbicara kepada orang yang lebih tua.  Penutur menjawab tanpa melihat ke arah mitra tutur.  Penutur menjawab dengan datar tanpa merasa bersalah.

  Kategori Ketidaksantunan: Melanggar norma Subkategori Ketidaksantunan : Kesal Wujud Ketidaksantunan:

  tanpa ijin. Padahal sudah disepakati agar berpamitan terlebih dahulu sebelum bepergian. Mendengar pertanyaan mitra tutur,

   Mitra tutur curiga karena penutur sering pergi

  nada sedikit mencurigai tentang kepergian penutur tanpa seijin mitra tutur.

   Mitra tutur bertanya kepada penutur dengan

  saat penutur pulang dari bepergian (Rabu, 10 April 2013).

   Diksi: bahasa  Tuturan terjadi di teras rumah, pada sore hari,

  penutur berbicara dengan nada tinggi.

   Nada tutur:

  keras pada wis ijin.

   Intonasi seru  Tekanan:

  MT : “Hayoo, koe mau dolan ora pamit to??” P : “Mau kan aku wis ngomong, kok diarani dolan, kan wis ijin!!”

  3. (A3) Cuplikan Tuturan 3

  mitra tutur dengan cara menyepelekan.

  bali sik, ganti sik, pamitan sik!

   Penutur menjawab perkataan

  Subkategori Ketidaksantunan: Menolak Wujud Ketidaksantunan:

   Tujuan: penutur menolak anjuran mitra tutur.  Tindak verbal: komisif.  Tindak perlokusi: mitra tutur diam saja.

  berusia 16 tahun dan mitra tutur seorang bapak berusia 49 tahun. Penutur merupakan anak dari mitra tutur.

   Penutur berusaha menolak teguran mitra tutur.  Penutur duduk di hadapan mitra tutur.  Penutur menanggapi teguran mitra tutur.  Penutur perempuan, siswa kelas VIII SMP

  saat pulang sekolah terlebih dahulu ganti pakaian dan berpamitan sesuai dengan aturan yang disepakati dalam keluarga.

   Saat itu penutur masih menggunakan seragam sekolah.  Mitra tutur berusaha menegur penutur agar

  (Kamis, 11 April 2013).

  nonstandar dengan menggunakan bahasa Jawa.

   Diksi: bahasa

  penutur berbicara dengan nada sedang.

   Nada tutur:

  lunak pada kata emoohh.

  ” P : “Emoohh, Pak!”

   Penutur menjawab pertanyaan mitra tutur dengan keras.  Penutur melanggar aturan yang nonstandar dengan menggunakan bahasa Jawa.

   Kata fatis: kok, kan.

   Diksi: bahasa

  Kategor Ketidaksantunan: Melanggar norma Subkategori Ketidaksantunan: Marah Wujud Ketidaksantunan:

  Penutur adalah anak dari mitra tutur.

   Penutur berdiri di hadapan mitra tutur.  Penutur laki-laki berusia 24 tahun dan mitra tutur perempuan, ibu berusia 46 tahun.

  dengan tergesa-gesa. Penutur kesal dan marah dengan sikap mitra tutur.

   Kejadian tersebut mengakibatkan tamu pulang

  21.00 WIB.

  mitra tutur mematikan lampu ruang tamu, karena jam sudah menunjukkan pukul 21.00 WIB. Mengingat kesepakatan dalam keluarga, bahwa tamu harus pulang sebelum pukul

   Penutur sedang menerima tamu. Tiba-tiba

  Suasana saat terjadi tuturan adalah serius (Rabu, 10 April 2013).

   Tuturan terjadi di ruang tamu, pada malam hari ketika penutur usai menerima tamu.

   Kata fatis: ah.

  nonstandar dengan menggunakan bahasa Jawa.

  penutur berbicara dengan nada tinggi.

  penutur menjadi kesal.

   Nada tutur:

  keras pada kata terlalu.

   Intonasi seru  Tekanan:

  peraturan yang telah disepakati bahwa tamu harus pulang sebelum pukul 21.00, maka mitra tutur mematikan lampu ruang tamu ketika penutur masih menerima tamunya pada jam tersebut) P : “Ah, mamak ki terlalu! Aku ra meh mulih, meh kost wae!! ”

  4. (A4) Cuplikan Tuturan 4 MT : (mengingat

  menatap mitra tutur dengan mata terbelalak.

   Penutur berbicara kepada orang yang lebih tua.  Penutur berbicara sembari

  telah disepakati.

   Tindak verbal: ekspresif.  Tindak perlokusi: mitra tutur diam dan tidak mencurigai penutur lagi.

  pertanyaan mitra tutur yang terkesan sangat mencurigai penutur. Padahal, sebelum bepergian penutur sudah merasa berpamitan.

   Tujuan: penutur berusaha membela diri dari

  berusia 18 tahun dan mitra tutur seorang bapak berusia 50 tahun. Penutur merupakan anak dari mitra tutur.

   Penutur perempuan, siswi SMK Kelas XII

   Penutur menanggapi sikap mitra tutur dengan berteriak.  Penutur melanggar kesepakatan dalam keluarga.  Penutur berbicara kepada orang yang lebih tua.  Penutur berbicara sembari menunjuk ke arah mitra tutur.

   Tujuan: penutur menanggapi sikap mitra tutur

   Tuturan terjadi di ruang tamu saat suasana

  sembrono tanpa memiliki rasa tanggung jawab.

   Penutur berbicara dengan

  Kategori Ketidaksantunan : Melanggar norma Subkategori Ketidaksantunan: Menentang Wujud Ketidaksantunan:

   Tindak verbal: komisif.  Tindak perlokusi: mitra tutur kesal karena merasa disepelekan.

  dari mitra tutur karena penutur merasa sudah cukup dewasa sehingga semua kegiatannya tidak perlu dipantau lagi oleh mitra tutur.

   Tujuan: penutur berusaha menentang pesan

  seorang mahasiswa semester 4 berusia 19 tahun dan mitra tutur seorang bapak berusia 47 tahun. Penutur merupakan anak dari mitra tutur.

   Penutur berdiri di hadapan mitra tutur.  Penutur menjawab perkataan mitra tutur.  Penutur dan mitra tutur laki-laki. Penutur

  tidak pulang larut malam, sesuai dengan kesepakatan yang sudah ditetapkan dalam keluarga. Namun, penutur justru menjawab sekenanya dan terkesan sembrono.

   Mitra tutur berpesan kepada penutur agar

  santai, sore hari ketika penutur hendak bepergian (Kamis, 4 April 2013).

  nonstandar dengan menggunakan istilah bahasa Jawa, yaitu pada kata iyo.

  yang kurang menyenangkan dan sedikit menyinggung penutur.

   Diksi: bahasa

  penutur berbicara dengan nada sedang.

   Nada tutur:

  sekalian subuh.

  lunak pada

   Tekanan:

  berita

   Intonasi

  MT : “Rasah wengi- wengi le bali!” P : “Iyo pak, sekalian subuh. ”

  5. (A5) Cuplikan Tuturan 5

   Tindak verbal: ekspresif  Tindak perlokusi: mitra tutur diam saja.

   Penutur berbicara sembari tersenyum.  Penutur berbicara kepada orang yang lebih tua.  Penutur berbicara tanpa melihat ke arah mitra tutur.  Penutur tidak mengindahkan pesan dari mitra tutur.

  6. (A6) Cuplikan Tuturan 6

   Kata fatis : ah, wong, kok.

  Kategori Ketidaksantunan : Melanggar norma Subkategori Ketidaksantunan : Menolak Wujud Ketidaksantunan:

  sikap penutur yang acuh, kemudian mitra tutur meninggalkan penutur.

   Tujuan: penutur menolak anjuran mitra tutur untuk belajar.  Tindak verbal: komisif.  Tindak perlokusi: mitra tutur kesal karena

  berusia 13 tahun dan mitra tutur perempuan, ibu berusia 50 tahun. Penutur adalah cucu dari mitra tutur.

   Penutur laki-laki, siswa kelas VII SMP

  untuk belajar, karena sudah disepakati adanya jam belajar pada keluarga tersebut. Namun, penutur justru menjawab sekenanya dan terkesan acuh, bahkan kembali terlihat sibuk dengan laptopnya.

   Tuturan terjadi di ruang keluarga, pada malam hari (Kamis, 15 April 2013).  Mitra tutur berusaha memperingatkan penutur

  nonstandar dengan menggunakan bahasa Jawa.

  MT : “Le, mbok

   Diksi: bahasa

  penutur berbicara dengan nada sedang.

   Nada tutur:

  keras pada kata fatis ah

   Intonasi seru  Tekanan:

  belajar ini.” P : “Ah..wong neng sekolah wis sinau kok!”

  belajar! Sudah waktunya

   Penutur menjawab peringatan mitra tutur dengan ketus.  Penutur tidak mengindahkan peringatan mitra tutur.  Penutur melanggar kesepakatan dalam keluarga.  Penutur berbicara kepada orang yang lebih tua.  Penutur berbicara tanpa melihat ke arah mitra tutur.

  

KORPUS DATA DAN TABULASI DATA

KETIDAKSANTUNAN BERBAHASA KATEGORI MENGANCAM MUKA SEPIHAK

NO KODE TUTURAN PENANDA KETIDAKSANTUNAN PERSEPSI KETIDAK- SANTUNAN LINGUAL NONLINGUAL (Topik dan Situasi)

   Mitra tutur yang tersinggung hanya

   Penutur tidak menyadari

  orang yang memang belum memiliki keturunan.

   Penutur bertanya sembari menatap mitra tutur sinis.  Penutur bertanya kepada

  mitra tutur dengan lugas tanpa memahami perasaan mitra tutur.

   Penutur bertanya kepada

  Kategori Ketidaksantunan : Mengancam muka sepihak Subkategori Ketidaksantunan: Menyindir Wujud Ketidaksantunan:

   Tindak verbal: ekspresif.

  penutur mengungkapkan keinginannya untuk segera menimang cucu.

   Tujuan:

  Penutur adalah bapak mertua dari mitra tutur.

   Penutur berada di dekat mitra tutur.  Penutur bertanya kepada mitra tutur.  Penutur laki-laki, bapak berusia 65 tahun dan mitra tutur perempuan berusia 33 tahun.

  menjawab pertanyaan penutur dengan singkat.

  mitra tutur untuk memiliki keturunan. Oleh karena itu, penutur menanyakan hal tersebut kepada mitra tutur tanpa menyadari bahwa pertanyaannya sedikit menyinggung mitra tutur.

  1. (B1)

   Penutur merasa bahwa sudah waktunya bagi

  penutur dan mitra tutur sedang berbincang- bincang (Sabtu, 20 April 2013).

   Tuturan terjadi di ruang keluarga ketika

  punya.

  nonstandar dengan menggunakan kata tidak baku, yaitu kata mau dan

   Diksi: bahasa

  penutur berbicara dengan nada rendah.

   Nada tutur:

  setahun.

  lunak pada frasa hampir

   Intonasi tanya  Tekanan :

  Cuplikan Tuturan 7 P : “Sudah hampir setahun, sudah mau punya anak belum?” MT : “Belum, Pak.”

  bahwa tuturannya menyinggung mitra tutur.

   Tindak perlokusi: mitra tutur sedikit

   Penutur tidak menyadari

   Tindak verbal: ekspresif.  Tindak perlokusi: mitra tutur memberikan jawaban singkat dan terdengar sinis.

  Kategori Ketidaksantunan : Mengancam muka sepihak Subkategori Ketidaksantunan: Menyindir Wujud Ketidaksantunan:

   Penutur bertanya kepada

  mitra tutur dengan kata-kata sindiran.

   Penutur bertanya pada waktu yang tidak tepat.  Penutur bertanya kepada

  orang yang sedang enggan berkomunikasi karena kelelahan mengurus sawah.

  bahwa pertanyaannya mengganggu mitra tutur.

   Tujuan: penutur menanggapi tingkah laku

   Penutur bertanya dengan datar tanpa rasa bersalah.

  3. (B3) Cuplikan Tuturan 9

  P : “Neng ngomah ki ngopo wae??”  Intonasi tanya  Tekanan: keras

  pada frasa ngopo wae.

   Nada tutur:  Tuturan terjadi di rumah, ketika penutur

  pulang dari sawah dan menjumpai mitra tutur di dapur (Kamis, 11 April 2013).

   Aktivitas mitra tutur setiap harinya adalah mengurus rumah.

  mitra tutur yang terlihat tidak seperti biasanya.

  dan mitra tutur laki-laki, bapak berusia 63 tahun. Penutur adalah istri dari mitra tutur.

  tersinggung dan hanya memberi jawaban dengan singkat. 2. (B2) Cuplikan Tuturan 8

  penutur berbicara dengan nada rendah.

  P : “Ngopo Pak, panjenengan kok koyo sakit gigi ngaten?” MT : “Ngopo, ora

  popo. ”

   Intonasi tanya  Tekanan :

  lunak pada frasa ngopo

  Pak.

   Nada tutur:

   Diksi: bahasa

   Penutur perempuan, ibu berusia 60 tahun

  nonstandar dengan penggabungan bahasa Jawa dan bahasa Indonesia.

   Kata fatis: kok.

   Tuturan terjadi di ruang keluarga, pada sore

  hari ketika mitra tutur pulang dari sawah (Senin, 8 April 2013).

   Tuturan terjadi dalam suasana santai  Penutur bertanya kepada mitra tutur yang terlihat lesu dan tidak seperti biasanya.

   Rasa lelah yang dirasakan setelah

  beraktivitas di sawah mengakibatkan mitra tutur enggan menjawab pertanyaan penutur. Bahkan, mitra tutur merasa bahwa pertanyaan penutur sedikit mengganggu.

  Kategori Ketidaksantunan : Mengancam muka sepihak Subkategori Ketidaksantunan: Marah MT : “Gaweanku ki penutur

  Wujud Ketidaksantunan:

   Saat itu, penutur marah ketika pulang dari

  akeh. Ojo ming berbicara sawah belum ada air panas untuk mandi dan

   Penutur berbicara kepada

  dengan nada nyalahke aku terus!!” minum. Maka, penutur melontarkan kata- mitra tutur dengan ketus. tinggi. kata kepada mitra tutur dengan nada tinggi

   Penutur tidak menyadari

  tanpa menyadari bahwa tuturannya telah bahwa tuturannya menyinggung mitra tutur. menyinggung mitra tutur.

   Diksi: bahasa

  nonstandar

   Mitra tutur tersinggung karena ia sendiri  Penutur berbicara sembari

  dengan merasa telah menyelesaikan semua berdiri. menggunakan pekerjaan rumah. bahasa Jawa.

   Penutur laki-laki seorang bapak berusia 59

  tahun dan mitra tutur perempuan seorang ibu berusia 57 tahun. Penutur adalah suami dari mitra tutur. penutur mengungkapkan

   Tujuan:

  kemarahannya dan menanggapi sikap mitra tutur yang dinilai kurang peduli terhadap keadaan rumah.

   Tindak verbal: ekspresif.  Tindak perlokusi: mitra tutur menjawab

  pertanyaan penutur dengan nada kesal dan kecewa kemudian pergi meninggalkan penutur. 4. (B4) Cuplikan Tuturan 10

  Kategori Ketidaksantunan :

   Intonasi seru  Percakapan antara penutur, MT 1, dan MT2

  di teras rumah pada petang hari (Sabtu, 20 Mengancam muka sepihak

   Tekanan : MT : “Pak, ada yang April 2013).

  keras pada Subkategori Ketidaksantunan:

  mencari.” (berjalan

  frasa meh

   Suasana yang terjadi dalam tuturan adalah menghampiri penutur

  Menyindir maghrib. serius.

  dan diikuti oleh MT2  Nada tutur:  Penutur sedang berada di teras rumah saat yang berjalan pelan di

  penutur matahari mulai tenggelam. Tiba-tiba MT 1

  belakang MT1). berbicara datang memberitahu penutur bahwa MT 2 Wujud Ketidaksantunan: dengan nada ingin bertemu dengan penutur.

   Penutur berbicara dengan sedang.

  P : “Wis meh ketus.

   MT 2 berjalan pelan mengikuti MT 1 dari maghrib kok ono arah samping rumah.

   Diksi: bahasa  Penutur berbicara tanpa tamu!!” nonstandar melihat ke arah mitra tutur.

   Penutur merasa kesal dengan kedatangan

  dengan MT 2 yang dianggap mengganggu aktivitas

   Penutur berbicara sambil

  menggunakan penutur, karena hari sudah petang. MT 2 berjalan meninggalkan mitra bahasa Jawa. sendiri kurang menyadari bahwa tutur. kedatangannya membuat penutur tidak  Kata fatis: kok.

   Penutur tidak menyadari berkenan.

  bahwa tuturannya  Penutur menanggapi kedatangan MT 2. menyinggung mitra tutur.

   Penutur dan MT 2 laki-laki, sedangkan MT 1 perempuan.

  Penutur seorang bapak berusia 65 tahun, MT 1 seorang ibu berusia 50 tahun, dan MT 2 bapak berusia 40 tahun.

  Penutur adalah kerabat dekat MT 2.

   Tujuan: penutur mengungkapkan rasa

  kurang senangnya terhadap kedatangan MT 2 ke rumahnya saat petang hari, karena dianggap mengganggu aktivitas penutur.

   Tindak verbal: ekspresif  Tindak perlokusi: MT 2 sedikit tersinggung

  namun tetap menunggu penutur yang meninggalkannya untuk shalat maghrib. 5. (B5) Cuplikan Tuturan 11

  Kategori Ketidaksantunan:

   Intonasi seru  Percakapan antara penutur dan mitra tutur di

  Mengancam muka sepihak ruang keluarga pada siang hari.

   Tekanan: keras P : “Kene, aku

  pada kata

   Mitra tutur sedang menerima telepon dari meh ngomong!” kene. anggota keluarga lain yang berada di luar MT : “Yoo, hati-hati.

  Ngomong yo ngomong tapi kan ngga perlu mutus- mutus sembarangan

  P : “Sesok meneh ojo nyayur ngene iki, Mak!!” MT : “Koe ki mbok

  Kategori Ketidaksantunan : Mengancam muka sepihak Subkategori Ketidaksantunan: Kecewa Wujud Ketidaksantunan:

  tidak pernah menghargai masakan mitra tutur.

   Mitra tutur kesal dengan sikap penutur yang

  tutur, kemudian mengomentari masakan mitra tutur dengan nada tinggi. Penutur tidak menyadari bahwa kata-katanya telah menyinggung mitra tutur.

   Penutur kurang menyukai masakan mitra

  penutur hendak mengambil makan sembari mencicipi masakan mitra tutur.

   Tuturan terjadi di ruang makan ketika

  penutur berbicara dengan nada tinggi.

   Nada tutur:

  nyayur.

  keras pada frasa ojo

   Tekanan :

  wae!”  Intonasi perintah.

  ngerti simbok ki ijen, maem sak anane

  melakukan tindakan sembari berdiri. 6. (B6) Cuplikan Tuturan 12

  ngono kui.”  Nada tutur:

   Penutur berbicara dan

  bahwa tuturan dan tindakannya mengganggu mitra tutur.

   Penutur tidak menyadari

  telepon genggam dari mitra tutur dengan tidak sopan.

   Penutur berbicara kepada mitra tutur dengan ketus.  Penutur langsung merebut

  Subkategori Ketidaksantunan: Memerintah Wujud Ketidaksantunan:

   Tujuan: penutur ingin ikut berbicara dengan anggota keluarga lain melalui telepon.  Tindak verbal : direktif.  Tindak perlokusi: mitra tutur merasa kesal kemudian menasihati penutur.

  Penutur adalah istri dari mitra tutur.

   Penutur berdiri di samping mitra tutur.  Penutur berkata kepada mitra tutur.  Penutur seorang ibu berusia 52 tahun dan mitra tutur seorang bapak berusia 52 tahun.

  dan tindakannya mengakibatkan mitra tutur terganggu.

   Penutur tidak menyadari bahwa perkataan

  nonstandar dengan menggunakan bahasa Jawa. kota. Tiba-tiba penutur mengambil telepon genggam dari mitra tutur dengan cara yang kurang sopan, sehingga mengakibatkan mitra tutur kesal dan terganggu.

   Diksi: bahasa

  penutur berbicara dengan nada sedang.

   Penutur berbicara kepada mitra tutur dengan ketus.  Penutur berbicara kepada orang yang lebih tua.

   Diksi: bahasa  Penutur berdiri di dekat mitra tutur.  Penutur tidak menyadari

  nonstandar bahwa perkataannya  Penutur berkata kepada mitra tutur. dengan menyinggung mitra tutur.

   Penutur laki-laki berusia 21 tahun dan mitra

  menggunakan tutur perempuan, ibu berusia 50 tahun.  Penutur berbicara sembari bahasa Jawa. berdiri. Penutur adalah anak dari mitra tutur.

   Penutur berbicara tanpa rasa  Tujuan: penutur mengungkapkan kecewanya bersalah.

  terhadap masakan mitra tutur.

   Penutur mengurungkan  Tindak verbal: ekspresif.

  niatnya untuk mengambil

   Tindak perlokusi: mitra tutur yang merasa makanan.

  tersinggung kemudian menjawab perkataan penutur sembari meninggalkan penutur di ruang makan. 7. (B7) Cuplikan Tuturan 13

  Kategori Ketidaksantunan:

   Intonasi  Percakapan yang terjadi antara penutur dan

  perintah. mitra tutur ketika berada di ruang belajar Mengancam muka sepihak P : “Mbak, garapke pada malam hari.

   Tekanan: iki

  Subkategori Ketidaksantunan:

  !”

  lunak pada

   Mitra tutur sedang sibuk mengerjakan tugas

  Memerintah

  garapke iki. kuliah. Penutur datang menghampiri mitra MT : “Koe ngerti ora

  tutur dengan menyodorkan buku kepada

   Nada tutur : nek mbak ki repot?”

  Wujud Ketidaksantunan: mitra tutur. penutur

   Penutur berbicara kepada

  berbicara

   Penutur bermaksud meminta tolong agar P : “Halah mbak

  mitra tutur tanpa sungkan dengan nada mitra tutur mau membantu mengerjakan

  wong aku raiso tenan, sedikit pun.

  sedang. PR. Penutur tidak menyadari bahwa

  padahal kudu ndang

  kedatangannya mengganggu mitra tutur

   Penutur kurang peduli  Diksi: bahasa dadi!”

  dengan aktivitas yang sedang yang sedang sibuk dengan tugas kuliahnya. nonstandar dikerjakan oleh mitra tutur. dengan  Mitra tutur kesal dengan sikap penutur. menggunakan

   Penutur berbicara dengan  Penutur dan mitra tutur perempuan. Penutur orang yang lebih tua.

  bahasa Jawa. berusia 16 tahun dan mitra tutur mahasiswa semester 8 berusia 22 tahun. Penutur adalah adik dari mitra tutur.

   Tujuan: penutur meminta bantuan kepada mitra tutur untuk menyelesaikan PR.  Tindak verbal: direktif.  Tindak perlokusi: mitra tutur merasa

  terganggu kemudian menanggapi permintaan penutur dengan singkat. 8. (B8) Cuplikan Tuturan 14

  Kategori Ketidaksantunan :

   Intonasi tanya  Tuturan terjadi di ruang keluarga saat mitra

  Mengancam muka sepihak tutur pulang dari sawah dan penutur baru

   Tekanan: P : “Ngopo mbah saja selesai mengurus rumah.

  lunak pada

  kok ra maem ?”

  Subkategori Ketidaksantunan: frasa ra maem.

   Mitra tutur merasa kesal ketika pulang dari

  Menanyakan sawah belum ada air panas untuk mandi.

   Nada tutur: MT : “Lha yo wong

  Kekesalan mitra tutur ia perlihatkan dengan penutur seko sawah kesel-

  Wujud Ketidaksantunan: cara berdiam diri. berbicara kesel kok ra ono dengan nada

   Penutur bertanya kepada  Melihat tingkah laku mitra tutur yang tidak wedang panas.”

  mitra tutur dengan datar rendah. seperti biasanya, penutur kemudian bertanya tanpa merasa bersalah. kepada mitra tutur tanpa rasa bersalah

   Diksi: bahasa

  sedikit pun.  Penutur tidak menyadari nonstandar bahwa pertanyaannya dengan

   Penutur perempuan, ibu berusia 59 tahun

  membuat mitra tutur tidak menggunakan dan mitra tutur laki-laki, bapak berusia 61 berkenan. bahasa Jawa. tahun. Penutur adalah istri dari mitra tutur.

   Penutur bertanya tanpa  Kata fatis: kok.  Tujuan: penutur menanggapi tingkah laku melihat ke arah mitra tutur.

  mitra tutur yang tidak seperti biasanya.

   Penutur bertanya di waktu  Tindak verbal: ekspresif.

  yang kurang tepat.

   Tindak perlokusi : mitra tutur menjawab

  sekenanya kemudian pergi meninggalkan penutur.

  9. (B9) Cuplikan Tuturan 15 Kategori Ketidaksantunan:

  

 Intonasi seru  Tuturan terjadi saat penutur dan mitra tutur

  Mengancam muka sepihak berada di sawah, pada hari Senin, 10 Juni

   Tekanan: keras P : “Tak jewer koe 2013, sekitar pukul 11.30 pada frasa tak – 12.30 WIB. mengko nek

  Subkategori Ketidaksantunan: jewer.

   Penutur sedang kerepotan mengangkat

  Mengancam

  ngeyel!!” dedaunan untuk makanan sapi ke atas motor,  Nada tutur:

  sedangkan mitra tutur yang berada di penutur Wujud Ketidaksantunan: dekatnya terlihat asik bermain karena mitra berbicara tutur merasa bahwa tugasnya telah usai.  Penutur berbicara kepada dengan nada mitra tutur dengan ketus. tinggi.

   Penutur berusaha memperingatkan mitra

  tutur dengan melontarkan kata-kata yang

   Penutur berbicara dengan  Diksi: bahasa keras.

  sedikit mengancam, tanpa menyadari bahwa nonstandar perkataannya menyinggung dan dengan

   Penutur berbicara sembari mengakibatkan mitra tutur enggan berada di menunjuk ke arah mitra tutur.

  menggunakan bahasa Jawa. situ.

   Penutur berbicara kepada

  mitra tutur dengan tatapan  Penutur berdiri di dekat mitra tutur. mata terbelalak.

   Penutur berkata kepada mitra tutur.

   Penutur berbicara dengan  Penutur dan mitra tutur laki-laki. Penutur

  melontarkan ancaman bahwa seorang bapak berusia 45 tahun dan mitra akan menjewer telinga mitra tutur seorang anak laki-laki berusia 4 tahun tutur. (PAUD). Penutur adalah bapak dari mitra tutur.

   Penutur berbicara di hadapan banyak orang.  Tujuan: penutur mengungkapkan rasa

  kesalnya dengan cara mengancam mitra tutur yang dianggap telah mengganggu penutur.

  

 Tindak verbal : komisif.

 Tindak perlokusi : mitra tutur menghentikan

  aktivitas bermainnya dengan mata yang sedikit memerah menahan tangis.

  • – 14.00 WIB.

  bahwa perkataannya menyinggung mitra tutur.

   Tindak verbal : ekspresif.  Tindak perlokusi : mitra tutur tidak dapat

  menunggu kemudian meninggalkan rumah penutur.

  Kategori Ketidaksantunan: Mengancam muka sepihak Subkategori Ketidaksantunan: Marah Wujud Ketidaksantunan:

   Penutur berbicara kepada mitra tutur dengan keras.  Penutur berbicara dengan ketus.  Penutur berbicara di hadapan tamu yang datang.  Penutur mengungkapkan rasa

  tidak senangnya dengan ketus tanpa memahami perasaan mitra tutur.

   Penutur tidak menyadari

   Penutur berbicara sembari

   Tujuan: penutur mengungkapkan rasa tidak

  berjalan masuk ke dalam rumah dan meninggalkan mitra tutur. 11. (B11) Cuplikan Tuturan 17

  P : “Bu, sesok bayar uang kuliah.

   Intonasi berita  Tekanan:

  lunak pada frasa sesok

   Percakapan terjadi ketika penutur dan mitra

  tutur berada di rumah, siang hari, dalam suasana santai.

  senangnya terhadap kedatangan mitra tutur yang tidak jelas.

  berusia 55 tahun dan mitra tutur berusia 49 tahun.

  10. (B10) Cuplikan Tuturan 16

   Diksi: bahasa

  P : “Mpun, kulo ajeng jagong! Mang tunggu sak jam!!”  Intonasi

  perintah

   Tekanan: keras

  pada frasa sak jam.

   Nada tutur:

  penutur berbicara dengan nada tinggi.

  nonstandar dengan menggunakan bahasa Jawa.

   Penutur berdiri di dekat mitra tutur.  Penutur berkata kepada mitra tutur.  Penutur dan mitra tutur laki-laki. Penutur

   Tuturan terjadi di teras rumah penutur pada

  siang hari. Kamis, 13 Juni 2013 sekitar pukul 13.30

   Mitra tutur mengunjungi rumah penutur untuk bertamu.  Setiap kali bertamu, mitra tutur selalu

  mengungkapkan maksud yang tidak jelas, sehingga mengakibatkan penutur enggan menjumpai mitra tutur.

   Penutur melontarkan kata-kata dengan nada

  tinggi tanpa menyadari bahwa tuturannya dapat menyinggung mitra tutur.

  Kategori Ketidaksantunan : Mengancam muka sepihak

  Telate dua hari lagi.” mbayar.

  Subkategori Ketidaksantunan:

   Penutur secara tiba-tiba memberi tahu mitra

  Menegaskan tutur bahwa 2 hari lagi batas akhir

   Nada tutur: MT : “Lha le penutur pembayaran uang kuliah. Penutur tidak

  ngomong kok ra sesok Wujud Ketidaksantunan: berbicara menyadari bahwa perkataannya membuat pas hari-H wae. Tuku dengan nada mitra tutur terkejut dan kurang berkenan.

   Penutur berbicara dengan iki tuku kui kok sedang.

  santai tanpa merasa sungkan.

   Mitra tutur berharap agar penutur memberi

  mendadak. Nek tahu jauh-jauh hari, sehingga mitra tutur

   Diksi: bahasa  Penutur berusaha

  mendadak ki duit yo nonstandar dapat menyiapkan uang yangdiperlukan. menegaskan sesuatu, yakni nganggo golek, ora dengan pembayaran uang kuliah.

   Mitra tutur menjawab perkataan penutur dadakan koyo ngono!”

  menggunakan dengan nada sinis.

   Penutur berbicara kepada

  istilah bahasa orang yang lebih tua.

  

 Penutur duduk di dekat mitra tutur.

  Jawa, yaitu

   Penutur tidak menyadari  Penutur laki-laki, semester 4 berusia 20

  kata sesok dan tahun dan mitra tutur permepuan, ibu bahwa perkataannya

  telate.

  mengakibatkan mitra tutur berusia 45 tahun. Penutur adalah anak dari kurang berkenan. mitra tutur. Menggunakan

   Tujuan: penutur memberi tahu mitra tutur

  kata tidak perihal pembayaran uang kuliah. baku, yaitu  Tindak verbal : representatif.

  bayar.

   Tindak perlokusi : mitra tutur terkejut dan menanggapi perkataan penutur dengan ketus.

KORPUS DATA DAN TABULASI DATA

  

KETIDAKSANTUNAN BERBAHASA KATEGORI MELECEHKAN MUKA

PENANDA KETIDAKSANTUNAN

PERSEPSI KETIDAK- NO KODE TUTURAN

  SANTUNAN (Topik dan Situasi)

  1. (C1) Cuplikan Tuturan 18 Kategori Ketidaksantunan :

   Intonasi berita  Percakapan di dalam keluarga pada siang hari saat

  Melecehkan muka mitra tutur berusaha meminta bantuan kepada

  MT : “Ini gimana penutur untuk menghidupkan laptop.

   Tekanan : keras

  Subkategori Ketidaksantunan:

  ngidupin ini?”

  pada frasa ora

   Penutur merasa kesal kepada mitra tutur, karena

  Kesal

  

modern. mitra tutur tidak dapat menghidupkan laptop,

P : “Wah ibuk ki

  padahal menghidupkan laptop adalah hal yang

  ora modern

  Wujud Ketidaksantunan:

  .” dianggap sangat mudah oleh penutur.

   Nada tutur: penutur

  berbicara dengan

   Penutur menanggapi  Penutur duduk di dekat mitra tutur.

  pertanyaan mitra tutur dengan nada sedang.

   Penutur menanggapi pertanyaan mitra tutur.

  sinis.

   Penutur dan mitra tutur perempuan. Penutur siswi  Penutur berbicara kepada

  kelas VII SMP berusia 13 tahun dan mitra tutur

   Diksi: bahasa orang yang lebih tua.

  nonstandar dengan seorang ibu berusia 39 tahun. Penutur adalah anak menggunakan dari mitra tutur.  Penutur berbicara tanpa melihat ke arah mitra tutur. bahasa Jawa.

   Tujuan: penutur mengungkapkan kekesalannya

  kepada mitra tutur karena tidak bisa menghidupkan  Penutur tidak segera membantu mitra tutur laptop.

   Kata fatis: wah.

  menghidupkan leptop, namun

   Tindak verbal: ekspresif justru menonton televisi.  Tindak perlokusi: mitra tutur tetap meminta

  bantuan kepada penutur untuk menghidupkan laptop. 2. (C2)

  Kategori Ketidaksantunan:

  Cuplikan Tuturan 19  Intonasi tanya  Percakapan antara penutur dan mitra tutur di rumah

  Melecehkan muka

  P : “Kok nilai kamu pada suasana santai. Saat jam pulang sekolah, tu jelek, ga pernah

  penutur menghampiri mitra tutur dan menanyakan

   Tekanan: lunak belajar ya?

  Subkategori Ketidaksantunan: pada kata jelek. aktivitas di sekolah. Menanyakan

   Selain penutur dan mitra tutur, terdapat juga MT : “Ah, nggak

  beberapa teman mitra tutur yang singgah ke

   Nada tutur: penutur

  Wujud Ketidaksantunan:

  ngerti aku, Buk.” rumahnya.

  berbicara dengan nada sedang.

   Penutur bertanya kepada mitra  Penutur bertanya perihal nilai jelek yang selalu

   Diksi: bahasa

  seorang tamu yang mengunjungi penutur, dan MT 2 seorang anak laki-laki yang masih berusia 2 tahun. Penutur adalah ibu dari MT 2.

   Kata fatis: hayoo, kok, to.

   Percakapan antara penutur, MT 1, dan MT 2 di teras

  rumah penutur pada hari Senin, 8 April 2013, pukul 13.50 WIB.

   Ketika penutur sedang berbincang-bincang dengan

  MT 1 di teras rumah penutur, tiba-tiba MT 2 buang air kecil di celana.

   Penutur berusaha menegur MT 2 dengan nada kesal.  Penutur duduk di samping MT 1 dan di depan MT 2.

  

 Penutur menegur MT 2.

 Penutur perempuan, ibu berusia 40 tahun, MT 1

   Tujuan: penutur mengungkapkan kekesalannya melihat MT 2 buang air kecil di celana.

 Tindak verbal: ekspresif.

 Tindak perlokusi: MT 2 diam saja dan terlihat sangat menyesal.

  nonstandar dengan menggunakan kata tidak baku, yaitu

  Kategori Ketidaksantunan: Melecehkan muka Subkategori Ketidaksantunan: Kesal Wujud Ketidaksantunan :

   Penutur berkata kepada MT 2 dengan keras.  Penutur berkata langsung

  kepada MT 2 di hadapan tamu yang berkunjung.

   Penutur berkata sembari menunjuk ke arah mitra tutur.  Penutur berkata sembari

  menatap MT 2 dengan mata yang terbelalak.

   Penutur melontarkan kata-kata

  yang terdengar seperti ancaman bagi MT 2. 4. (C4) Cuplikan Tuturan 21

  

 Intonasi berita  Percakapan antara penutur, MT 1, dan MT 2 di

  punya, ga, bisa, ngomong, dan bilang.

   Diksi: bahasa

  nonstandar dengan menggunakan kata tidak baku, yaitu tu dan ga.

   Penutur bertanya sembari

   Kata fatis: kok.

  diperoleh mitra tutur di sekolah.

   Mitra tutur merasa enggan menjawab pertanyaan penutur.  Penutur duduk di hadapan mitra tutur.  Penutur dan mitra tutur perempuan. Penutur ibu

  berusia 36 tahun dan mitra tutur seorang anak yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Penutur adalah ibu dari mitra tutur.

   Tujuan: penutur berusaha mencari tahu alasan dari

  mitra tutur perihal nilai jelek yang diperoleh di sekolah.

   Tindak verbal: representatif.  Tindak perlokusi: mitra tutur memberikan jawaban sekenanya.

  tutur dengan sinis.

  menatap mitra tutur dengan sinis.

  berbicara dengan nada sedang.

   Penutur bertanya langsung di

  hadapan teman-teman mitra tutur.

   Penutur berbusaha

  menyimpulkan sesuatu berdasarkan fakta yang dialami oleh mitra tutur.

  3. (C3) Cuplikan Tuturan 20

  P : “Hayoo, punya mulut kok ga bisa ngomong to?besok lagi bilang! ”  Intonasi seru  Tekanan : keras

  pada besok lagi bilang.

   Nada tutur: penutur

  teras rumah penutur pada siang hari. Kamis, 11 Kategori Ketidaksantunan : Melecehkan muka P : “Buk, ajari. Iki kepie carane??” MT : “Nek PR ngene iki aku raiso e, Le.” P : “Wah simbok ki kalah sekolah mbiyen karo saiki. Mbiyen ki kuno .”

   Tekanan: keras pada kata kuno.  Nada tutur: penutur

   Percakapan di dalam rumah ketika suasana santai,

   Intonasi berita  Tekanan: lunak pada kata hukum.

   Nada tutur: penutur

  berbicara dengan nada sedang.

   Diksi: bahasa

  nonstandar dengan menggunakan bahasa Jawa.

   Kata fatis: lah.

  yang dihadiri oleh bapak, ibu, tiga anak, dan menantu. Ketika membicarakan keadaan masyarakat sering terjadi pro kontra, terlebih dengan anak pertama yang notabene sudah terbiasa dengan ilmu hukum.

  kabeh ki ono Undang-

   Ketika berbincang-bincang, mitra tutur selalu keras

  kepala menyatakan opininya berkaitan tentang hukum. Tiba-tiba penutur melontarkan kata-kata kepada mitra tutur dengan maksud menyindir.

   Penutur duduk berdekatan dengan mitra tutur.  Penutur menanggapi pernyataan mitra tutur.  Penutur dan mitra tutur laki-laki. Penutur seorang

  bapak berusia 65 tahun dan mitra tutur seeorang anak laki-laki yang sudah berkeluarga, berusia 35 tahun. Penutur adalah bapak dari mitra tutur.

  Kategori Ketidaksantunan: Melecehkan muka Subkategori Ketidaksantunan: Menyindir Wujud Ketidaksantunan:

   Penutur berbicara kepada mitra tutur dengan sinis.  Penutur berbicara sambil

  menatap mitra tutur dan tersenyum sinis.

  undang’e.” P : “Maklum lah wong hukum .”

  Cuplikan Tuturan 22 MT : “Yo raiso,

  berbicara dengan nada sedang.

   Penutur kesal kemudian melontarkan kata-kata kepada MT 1 di hadapan MT 2.  Penutur berdiri di dekat MT 1.  Penutur menanggapi jawaban MT 1.  Penutur laki-laki, siswa kelas VIII SMP berusia 14

   Diksi: bahasa

  nonstandar dengan menggunakan bahasa Jawa.

   Kata fatis: wah.

  April 2013, sekitar pukul 14.27-14.55 WIB

   Ketika MT 1 dan MT 2 sedang berbincang-

  bincang, tiba-tiba penutur datang menghampiri MT 1 dan meminta bantuan kepada MT1 untuk menyelesaikan PR, namun MT 1 tidak dapat membantu penutur karena keterbatasan pengetahuan yang dimiliki.

  tahun, MT 1 seorang ibu berusia 57 tahun, dan MT 2 adalah seorang tamu yang mengunjungi rumah penutur. Penutur adalah anak dari MT 1.

  5. (C5)

   Tujuan: penutur mengungkapkan kekecewaannya

  dengan sebuah ejekan karena mitra tutur 1 tidak dapat membantu menyelesaikan PR.

  

 Tindak verbal: ekspresif.

 Tindak perlokusi: MT 1 diam saja dan melanjutkan perbincangannya dengan MT2.

  Subkategori Ketidaksantunan : Mengejek Wujud Ketidaksantunan:

   Penutur berbicara kepada MT 1 dengan sinis.  Penutur berusaha

  membandingkan zaman dahulu dengan sekarang yang tentu sangat berbeda.

   Penutur berbicara kepada orang yang lebih tua.  Penutur berbicara sembari berjalan meninggalkan MT 1.  Penutur berbicara langsung di hadapan tamu yang datang.

   Penutur berbicara di hadapan anggota keluarga lain.  Penutur sengaja melontarkan kata ‘hukum’ untuk menyindir

   Tujuan: penutur mengajak seluruh anggota keluarga untuk memaklumi watak mitra tutur.

 Tindak verbal: ekspresif.

 Tindak perlokusi: mitra tutur tersenyum dan

   Intonasi berita  Tekanan: lunak

  menatap mitra tutur dengan sinis.

   Penutur melontarkan kata-kata

  dengan tujuan menyadarkan mitra tutur agar selayaknya

  ‘gadis’ yang rajin mengurus rumah.

  7. (C7) Cuplikan Tuturan 24

  (Ketika penutur dan MT1 berbincang- bincang, datanglah MT2 menghampiri penutur. Kemudian penutur berkata: ) P : “Sing mesak’ake yo iki mbak, kasihan sekali ini. Wis

  pada wis disambi, ireng.

  Kategori Ketidaksantunan: Melecehkan muka Subkategori Ketidaksantunan: Marah Wujud Ketidaksantunan:

   Nada tutur: penutur

  berbicara dengan nada rendah.

   Percakapan yang terjadi di ruang tamu pada hari Kamis, 25 April 2013, pukul 16.06 WIB.  Saat itu, penutur sedang berbincang-bincang santai dengan MT 1 di ruang tamu.  MT 2 datang dari luar rumah menghampiri penutur.

  Penutur berkata kepada MT1 dengan melontarkan kata-kata untuk mengejek MT2 sambil mencium MT2.

   Penutur duduk di hadapan MT 1 dan MT 2.

  Kategori Ketidaksantunan : Melecehkan muka Subkategori Ketidaksantunan : Mengejek Wujud Ketidaksantunan:

   Penutur berbicara dengan

   Penutur berbicara kepada mitra tutur dengan ketus.  Penutur berbicara sembari

  

 Tindak verbal: ekspresif

 Tindak perlokusi: mitra tutur diam saja dan masuk ke kamar.

  berusaha mencairkan suasana, meskipun sedikit tersinggung. mitra tutur yang memang seorang sarjana hukum, sehingga wataknya keras.

   Kata fatis: kok.

  6. (C6) Cuplikan Tuturan 23

  P : “Koe ki anak perawan kok keset !!”  Intonasi seru  Tekanan: keras pada kata keset.

   Nada tutur: penutur

  berbicara dengan nada tinggi.

   Diksi: bahasa

  nonstandar dengan menggunakan bahasa Jawa.

   Tuturan terjadi sepulang penutur dari bepergian.

  kebiasaan mitra tutur yang bermalas-malasan meskipun mengetahui keadaan rumah yang berantakan.

  Penutur terkejut melihat keadaan rumah yang sangat berantakan paska ditinggal bepergian. Padahal, penutur sudah memberikan tugas kepada mitra tutur untuk menjaga kebersihan rumah.

   Namun, mitra tutur tidak melaksanakan tugas yang

  diberikan kepadanya. Kemudian, penutur berusaha menegur mitra tutur.

   Penutur berdiri di dekat mitra tutur.  Penutur menanggapi tingkah laku dan kebiasaan mitra tutur.

   Penutur laki-laki, bapak berusia 47 tahun dan mitra

  tutur perempuan, siswi SMK kelas XII berusia 19 tahun. Penutur adalah bapak dari mitra tutur.

   Tujuan: penutur menanggapi tingkah laku dan

  lugas tanpa mempedulikan suasana hati MT 2.

  disambi, ireng, kasihan sekali yo le sayang ya .”

  dianggap telah memberikan nama yang jelek kepada penutur.

   Kata fatis: kok.

   Percaapan yang terjadi saat penutur dan mitra tutur bercengkerama santai di teras rumah pada sore hari.  Penutur berusaha mengutarakan protesnya dengan

  bertanya kepada mitra tutur tentang pemberian nama yang dianggap jelek oleh penutur.

   Selain penutur dan mitra tutur, terdapat juga anggota keluarga lain di rumah tersebut.  Penutur duduk di samping mitra tutur.  Penutur bertanya kepada mitra tutur.  Penutur perempuan berusia 25 tahun dan mitra tutur

  laki-laki, bapak berusia 65 tahun. Penutur adalah anak dari mitra tutur.

   Tujuan: penutur memrotes mitra tutur yang

  

 Tindak verbal: ekspresif

 Tindak perlokusi: mitra tutur memberikan alasan

   Diksi: bahasa

  tentang pemberian nama tersebut sebagai upaya pembelaan diri.

  Kategori Ketidaksantunan : Melecehkan muka Subkategori Ketidaksantunan: Mengejek Wujud Ketidaksantunan:

   Penutur berbicara kepada mitra tutur dengan ketus.  Penutur berbicara dengan sinis.  Penutur bertanya sembari menatap mitra tutur sinis.  Penutur berusaha

  mengungkapkan ketidaksenangannya terhadap nama yang diberikan oleh mitra tutur.

   Penutur berbicara kepada orang yang lebih tua.  Penutur berbicara di hadapan anggota keluarga yang lain.

  9. (C9)

  Cuplikan Tuturan 26

 Intonasi berita  Percakapan yang terjadi saat berkumpul bersama

  nonstandar dengan menggunakan kata tidak baku, yaitu kasih dan banget.

  berbicara dengan nada sedang.

   Diksi : bahasa

   Tujuan: penutur mengejek penampilan fisik MT 2.

 Tindak verbal: ekspresif

 Tindak perlokusi: MT 2 diam saja.

  nonstandar dengan menggunakan istilah bahasa Jawa, yaitu pada frasa sing

  mesak’ake yo iki, wis disambi, dan

  pada kata ireng , yo.

   Kata fatis: ya, yo.

   Penutur mengejek penampilan MT 2 dengan maksud bercanda.  Penutur dan MT 1 perempuan. Penutur seorang ibu

  berusia 39 tahun dan MT 1 adalah tamu. MT 2 anak laki-laki yang duduk di Taman Kanak-Kanak berusia 5 tahun. Penutur adalah ibu dari MT 2.

   Penutur berbicara langsung di hadapan tamu yang datang.  Penutur berbicara sembari tertawa mengejek.  Penutur berbicara sembari mencium pipi mitra tutur.  Penutur menggunakan kata ‘hitam’ untuk semakin

   Nada tutur: penutur

  menggambarkan warna tubuh MT 2 yang dianggap gelap oleh penutur.

   Perkataan penutur

  mengakibatkan mitra tutur menunduk malu. 8. (C8) Cuplikan Tuturan 25

  P : “Kok nama saya Lembayung, bapak kasih nama jelek banget !” MT : “Wah itu nama bagus. Lembayung.

  Belum banyak yang pakai

  nama begitu.”  Intonasi seru  Tekanan: keras

  pada frasa jelek banget.

  Kategori Ketidaksantunan : MT : “Mas, kira-kira

  saya ini bisa masuk ABRI nggak to?

  tutur bercengkerama santai di rumah pada siang hari.

  pacar?” MT : “Ah, yang

  penting kerja dulu, Bu. Cewek ra bakalan kecewa. Pasti cewek pada mau. Nek saiki, mengko ndak mengganggu

  pelajaran.” P : “Pikirane ki koyo wong tuwek .”  Intonasi berita.

   Tekanan: lunak pada kata tuwek.  Nada tutur: penutur

  berbicara dengan nada sedang.

   Diksi: bahasa

  nonstandar dengan menggunakan bahasa Jawa.

   Percakapan yang terjaadi saat penutur dan mitra

   Penutur bertanya kepada mitra tutur perihal

  : “Le, apa kamu tu

  alasannya belum memiliki pacar. Mitra tutur menjawab pertanyaan penutur dengan nada yang terkesan sedikit menggurui penutur.

   Penutur kemudian menanggapi jawaban mitra tutur dengan nada menyindir.  Penutur duduk di sebelah mitra tutur.  Penutur menanggapi jawaban mitra tutur.  Penutur perempuan, ibu berusia 45 tahun dan mitra

  tutur seorang anak laki-laki yang duduk di bangku perguruan tinggi semester 4, berusia 20 tahun. Penutur adalah ibu dari mitra tutur.

   Tujuan: penutur mengungkapkan sindirannya

  kepada mitra tutur yang dianggap terlalu Kategori Ketidaksantunan: Melecehkan muka Subkategori Ketidaksantunan : Mengejek Wujud Ketidaksantunan:

   Penutur berbicara kepada mitra tutur dengan lugas.  Penutur berbicara dengan sinis.  Penutur berbicara kepada mitra

  tutur dengan nada yang terdengar menyepelekan.

   Penutur berusaha

  belum pengen punya

  10. (C10) Cuplikan Tuturan 27 P

  Syaratnya apa aja?” P : “Dek, kamu ngga bisa sekolah jadi ABRI seperti saya, soalnya kakimu tu bentuknya O, kaki kok kaya bola. ”

  keluarga di ruang tamu pada sore hari dalam suasana santai.

   Tekanan: keras

  pada kaki kok kaya bola.

   Nada tutur: penutur

  berbicara dengan nada sedang.

   Diksi : bahasa

  nonstandar dengan menggunakan kata tidak baku, yaitu

  ngga, bisa, jadi, soalnya, kaya.

   Kata fatis: kok.

   Penutur dan mitra tutur sedang berbincang-bincang membicarakan tes seleksi masuk angkatan (ABRI).  Mitra tutur bertanya kepada penutur perihal prasyarat masuk ABRI.  Penutur berusaha memberikan penjelasan kepada mitra tutur sembari mengejek.  Penutur duduk di dekat mitra tutur.  Penutur menjawab pertanyaan mitra tutur.  Penutur dan mitra tutur laki-laki. Penutur berusia

   Penutur berbicara di hadapan anggota keluarga yang lain.

  35 tahun dan mitra tutur berusia 30 tahun. Penutur adalah kakak dari mitra tutur.

   Tujuan: penutur menjelaskan kelemahan mitra tutur

  yang mengakibatkan mitra tutur tidak dapat menjadi angkatan.

   Tindak verbal: ekspresif  Tindak perlokusi: mitra tutur diam saja dan sedikit kecewa.

  Melecehkan muka Subkategori Ketidaksantunan: Mengejek Wujud Ketidaksantunan:

   Penutur menjawab dengan

  lugas tanpa mempedulikan suasana hati mitra tutur.

   Penutur menjawab sembari tersenyum mengejek.  Penutur berusaha

  membandingkan kaki mitra tutur dengan sebuah benda, yaitu bola.

  menyetarakan pemikiran mitra tutur dengan orang yang sudah tua. menggurui penutur yang jelas usianya lebih dewasa

   Penutur berbicara tanpa dari mitra tutur.

  melihat ke arah mitra tutur.

   Tindak verbal: ekspresif  Penutur berbicara sermbari tertawa mengejek.

   Tindak perlokusi: mitra tutur diam saja.

  11. (C11) Cuplikan Tuturan 28 Kategori Ketidaksantunan :

   Intonasi seru  Percakapan yang terjadi saat jam pulang sekolah

  Melecehkan muka dalam suasana santai.

  P : “Mah, kalau

 Tekanan: keras  Penutur, MT 1, dan MT2 sedang berkumpul di

  aku punya cewek pada frasa cah ruang keluarga. Mereka saling berbagi cerita. tipenya kayak gimana,

  Subkategori Ketidaksantunan :

  cilik. Terutama penutur yang lebih senang bercerita Mah?”

  Kesal kepada MT 1.

  

 Nada tutur: penutur  Saat penutur dan MT1 bercerita tentang teman

  Wujud Ketidaksantunan:

  MT 1 : “Lha yo nggak

  berbicara dengan dekat yang dikagumi oleh penutur, tiba-tiba MT2

  tau aku.”  Penutur berbicara kepada MT nada tinggi. memotong pembicaraan dengan maksud bercanda.

  2 dengan keras.

   Penutur yang merasa terganggu kemudian

  P : “Yaa sifatnya melontarkan kata-kata kepada MT 2.  Penutur berbicara sembari

   Diksi: bahasa tu kayak gimana?” menunjuk ke arah MT 2.

  nonstandar dengan  Penutur duduk berhadapan dengan MT 1 dan MT 2. menggunakan

   Penutur berbicara kepada MT  Penutur menanggapi perkataan MT2. MT 1 : “Yang penting bahasa Jawa.

  2 dengan tatapan mata

   Penutur seorang anak laki-laki, semester 4 berusia

  nek cewek ki terbelalak.

  20 tahun, MT 1 seorang ibu berusia 45 tahun, dan orangnya harus sama

   Penutur kurang berkenan  Kata fatis: wah.

  MT 2 seorang anak perempuan berusia 11 tahun. orang tua, sama laki- dengan keberadaan MT 2 di Penutur adalah kakak dari MT 2. laki jangan terlalu dekatnya sehingga

   Tujuan: menyuruh MT agar tidak mencampuri

  ketinggian, orangnya menyuruhnya pergi. urusannya. kudu ramah, dadi  Tindak verbal: ekspresif. orang ya harus

   Tindak perlokusi: MT 2 berlari meninggalkan

  sesrawungan sama penutur dan MT 1. warga, sama

  tetangga.” MT 2 : “Wooohh, opo

  kui koyo ng ono ki.”

  P : “Wah opo, kono koe ki cah cilik !”

  12. (C12) Cuplikan Tuturan 29 Kategori Ketidaksantunan :

   Intonasi seru  Saat penutur dan mitra tutur berada di pendhopo

  Melecehkan muka rumah. Menikmati suasana santai sore hari.

  MT : “Pak, minta  Tekanan: keras  Ketika sedang berbincang-bincang, mitra tutur uang untuk beli pada frasa kayak meminta uang kepada penutur untuk keperluan Subkategori Ketidaksantunan :

  artis aja. membeli pakaian. Kesal jaket!”

   Penutur yang terkejut kemudian menanggapi P : “Jaket aja permintaan mitra tutur dengan sedikit kesal, karena Wujud Ketidaksantunan:

   Nada tutur: penutur sampai 15 lebih. berbicara dengan mitra tutur selalu meminta uang untuk hal-hal yang

   Penutur berkata kepada mitra Kayak artis aja!” nada tinggi. kurang penting. tutur dengan ketus.  Penutur duduk di samping mitra tutur.  Penutur berusaha

  membandingkan mitra tutur  Diksi: bahasa  Penutur menjawab permintaan mitra tutur. nonstandar dengan dengan public figur di layar

   Penutur laki-laki, bapak berusia 50 tahun dan mitra

  menggunakan kata televisi. tutur anak perempuan yang duduk di bangku tidak baku, yaitu perguruan tinggi semester 4 berusia 20 tahun.

  aja, kayak.

  Penutur adalah bapak dari mitra tutur.

   Tujuan: penutur menolak permintaan mitra tutur dengan nada kesal.  Tindak verbal: ekspresif.  Tindak perlokusi: mitra tutur kesal kemudian meninggalkan penutur begitu saja.

  13. (C13) Cuplikan Tuturan 30 Kategori Ketidaksantunan:

   Intonasi seru  Percakapan yang terjadi di teras rumah penutur,

  Melecehkan muka pada hari Kamis, 13 Juni 2013, pukul 13.10 WIB.

  MT: “Iki pie to  Tekanan: keras  Ketika pulang dari membeli sesuatu di warung, ngitunge?”

  Subkategori Ketidaksantunan : pada kata bodoh. penutur dan mitra tutur terdengar bercakap-cakap. Kesal

   Mitra tutur terlihat kebingungan menghitung uang P : “Huu bodoh,

  kembalian dari warung tadi, kemudian penutur

   Nada tutur: penutur raiso ngitung

  Wujud Ketidaksantunan:

  !!”

  berbicara dengan berusaha menjelaskan kepada mitra tutur sambil nada tinggi. melontarkan kata-kata untuk mengungkapkan  Penutur berkata kepada mitra

  MT : “Yo ben.” tutur dengan keras.

  kekesalannya.

   Penutur berkata sembari  Diksi: bahasa  Penutur berdiri di samping mitra tutur.

  memegang kepala mitra tutur. nonstandar dengan

   Penutur menanggapi tingkah laku mitra tutur yang

  menggunakan terlihat kebingungan.  Penutur berkata di hadapan istilah bahasa beberapa orang.

   Penutur dan mitra tutur perempuan berusia 7 tahun

  Jawa, yaitu frasa

   Perkataan penutur terdengar dan 5 tahun. Penutur adalah kakak dari mitra tutur. raiso ngitung.

  sangat menyepelekan

   Tujuan: penutur mengungkapkan kekesalannya kemampuan mitra tutur.

  kepada mitra tutur karena mitra tutur masih  Kata fatis:huu kesulitan menghitung.

   Tindak verbal: ekspresif  Tindak perlokusi: mitra tutur menjawab sekenanya sebagai upaya untuk membela diri. 14. (C14)

  Kategori Ketidaksantunan :

  Cuplikan Tuturan 31  Intonasi berita  Percakapan yang terjadi saat penutur melewati

  Melecehkan muka depan rumah mitra tutur sepulang dari sawah,

  P : “Cucunya kok Kamis, 13 Juni 2013, pukul 15.15 WIB.

   Tekanan: lunak cili

  Subkategori Ketidaksantunan:

  k.” pada kok cilik.

   Mitra tutur merupakan cucu dari penutur. Selain

  Mengejek penutur dan mitra tutur, terdapat juga anak serta menantu dari penutur.

   Nada tutur: penutur

  Wujud Ketidaksantunan: berbicara dengan

   Mereka sedang bercengkerama di teras rumah.

   Penutur berbicara dengan

  nada rendah. Penutur secara spontan berkata kepada mitra tutur keras. dengan nada mengejek sambil tersenyum.

   Penutur berbicara kepada mitra  Diksi: bahasa  Penutur berdiri di dekat mitra tutur.

  tutur sembari tertawa nonstandar dengan

   Penutur mengomentari postur tubuh mitra tutur.

  mengejek. menggunakan

   Penutur perempuan, ibu berusia 55 tahun dan mitra

  istilah bahasa

   Penutur berbicara di hadapan

  tutur seorang anak laki-laki berusia 4 tahun. Penutur anggota keluarga yang lain. Jawa, yaitu cilik. adalah nenek dari penutur.

   Penutur berbicara sembari  Tujuan: penutur mengomentari postur tubuh mitra berjalan.

   Kata fatis: kok. tutur yang terlihat sangat kecil.

   Perkataan penutur

 Tindak verbal: ekspresif

  mengakibatkan mitra tutur  Tindak perlokusi: mitra tutur menangis. menangis. 15. (C15)

  Kategori Ketidaksantunan:

  Cuplikan Tuturan 32

 Intonasi perintah  Percakapan yang terjadi saat penutur dan mitra

  Melecehkan muka tutur berada di rumah pada siang hari dalam

   Tekanan: keras P : “Hei kamu tu suasana santai.

  pada budeg lho.

  dikucir rambutnya,

  Subkategori Ketidaksantunan:

   Mitra tutur sedang bermain di teras rumah bersama nanti nek kuliah

  Menyarankan teman-temannya.

   Nada tutur : budeg lho! ”

  penutur berbicara

   Penutur sedikit terganggu ketika melihat mitra

  Wujud Ketidaksantunan: dengan nada tutur selalu mengurai rambut dan terkesan kurang MT : (diam saja)

   Penutur berbicara kepada mitra

  sedang. rapi. Sedangkan mitra tutur sendiri merasa nyaman tutur dengan keras. dengan rambutnya.

   Penutur berbicara kepada mitra

 Diksi: bahasa  Penutur berusaha memperingatkan mitra tutur.

  tutur di hadapan teman- nonstandar dengan

   Penutur duduk di belakang mitra tutur.

  temannya. menggunakan  Penutur menanggapi penampilan mitra tutur. istilah bahasa

   Penutur berusaha memberi  Penutur dan mitra tutur perempuan. Penutur

  saran dengan menggunakan Jawa, yaitu nek. seorang ibu berusia 57 tahun dan mitra tutur

  Dan menggunakan

  kata ‘budeg’ untuk

  seorang anak perempuan kelas 3 SD. Penutur meyakinkan mitra tutur agar kata tidak baku, adalah nenek dari mitra tutur. mau mengikat rambutnya. yaitu dikucir, tu,

  budeg.

   Tujuan: penutur menanggapi sekaligus memberi  Penutur berbicara sembari saran atas penampilan mitra tutur yang terkesan memegang kepala mitra tutur.

  kurang rapi, karena rambutnya yang selalu terurai  Kata fatis: hei, lho. berantakan.

  

 Tindak verbal: direktif.

 Tindak perlokusi: mitra tutur tidak mengindahkan perintah penutur.

  16. (C16) Cuplikan Tuturan 33 Kategori Ketidaksantunan:

   Intonasi berita  Percakapan yang terjadi ketika penutur sedang

  berbincang-bincang dengan MT 1 di pendhopo Melecehkan muka

  rumah, Senin, 10 Juni 2013 sekitar pukul 12.47

  • (Ketika penutur dan

   Tekanan: keras MT sedang

  Subkategori Ketidaksantunan: 13.36 WIB. pada frasa paling

  berbincang-bincang,

  Mengejek bodoh.

  tiba-tiba MT2

  Wujud Ketidaksantunan:

   Tiba-tiba MT 2 selaku adik keponakan dari penutur  Nada tutur: penutur berjalan melewati lewat depan pendhopo dan tersenyum.

  berbicara dengan

   Penutur berbicara dengan keduanya. Penutur sinis.

  nada sedang.

   Penutur secara spontan melontarkan kata-kata kemudian berkata)

  kepada MT 1 dengan maksud mengejek sambil  Penutur berbicara sembari menunjuk ke arah MT 2. menunjuk ke arah MT 2 yang sedang berjalan.

   Diksi : bahasa P : “Itu adik saya

  nonstandar dengan

   Penutur duduk di depan MT1.  Penutur berbicara sembari yang kepala desa itu tersenyum sinis.

  menggunakan kata  Penutur menceritakan kelemahan MT 2.

  tapi itu yang paling

  tidak baku, yaitu

   Penutur berbicara langsung di  Penutur dan MT 1 perempuan. Penutur seorang ibu bodoh itu.” tapi.

  hadapan tamu yang berusia 63 tahun, MT 1 adalah tamu, dan MT 2 berkunjung. seorang laki-laki berusia 40 tahun. Penutur adalah

  MT2: “Adik kandung,

  dengan sengaja kakak keponakan dari MT 2.  Penutur

  Bu?”

  menceritakan kelemahan dari

   Tujuan: penutur mengejek MT 2 dengan MT 2.

  menceritakan kelemahan MT 2 di depan MT 1. P

  : “Ndak, anaknya

 Tindak verbal: ekspresif.

  tante. Itu kakaknya  Tindak perlokusi : MT 2 pergi begitu saja. dokter, ahli kimia di Jakarta.

  17. (C17) Cuplikan Tuturan 34 Kategori Ketidaksantunan:

  

 Intonasi berita  Percakapan yang terjadi ketika penutur sedang

  Melecehkan muka berbincang-bincang dengan MT 1 di pendhopo

  MT 1: “Kalau Mbak

  • – rumah, Senin, 10 Juni 2013 sekitar pukul 12.47

   Tekanan: keras

  Subkategori Ketidaksantunan:

  yang ini??” 13.36 WIB.

  pada kata Mengejek gembrotnya.

   Beberapa saat kemudian, MT 2 selaku adik P : “Ini adik

  keponakan ipar dari penutur datang membawakan keponakan saya, tapi Wujud Ketidaksantunan: minum untuk penutur dan MT 1.

   Nada tutur: penutur dia gembrotnya

  berbicara dengan

   Penutur berbicara dengan  Penutur melontarkan kata-kata untuk

  kayak gitu. nada sedang.

   Tujuan: penutur berusaha menyindir mitra tutur

   Diksi: bahasa

  nonstandar dengan menggunakan bahasa Jawa.

   Kata fatis : lho, to.

   Percakapan yang terjadi saat penutur berada di rumah bersama mitra tutur pada sore hari.  Penutur meminta bantuan kepada mitra tutur untuk menyelesaikan PR.  Penutur meminta bantuan dengan cara sedikit

  menyindir mitra tutur yang notabene mahasiswa fakultas hukum.

   Mitra tutur sedikit kesal dengan sikap penutur.  Penutur duduk di dekat mitra tutur.  Penutur bertanya kepada mitra tutur.  Penutur dan mitra tutur laki-laki. Penutur kelas 2

  SMP, berusia 14 tahun dan mitra tutur mahasiswa semester 4, berusia 19 tahun. Penutur adalah adik dari mitra tutur.

  yang sebenarnya sudah fasih mempelajari ilmu hukum.

   Nada tutur: penutur

  

 Tindak verbal : ekspresif.

 Tindak perlokusi : mitra tutur sedikit kesal dan

  memberi jawaban untuk membela diri Kategori Ketidaksantunan: Melecehkan muka Subkategori Ketidaksantunan: Menyindir Wujud Ketidaksantunan:

   Penutur berbicara sembari tersenyum mengejek.  Penutur berbicara kepada orang yang lebih tua.  Penutur meminta bantuan tanpa rasa sungkan sedikit pun.  Penutur meminta bantuan

  dengan cara yang kurang sopan, yakni melempar buku ke arah mitra tutur.

   Penutur sengaja melontarkan kata ‘Undang-undang’ kepada

  mitra tutur yang notabene adalah mahasiswa fakultas hukum. 19. (C19) Cuplikan Tuturan 36

  

 Intonasi berita  Percakapan yang terjadi saat penutur dan mitra

  berbicara dengan nada sedang.

  pada frasa Undang- undange.

   Diksi : bahasa

   Tujuan: penutur mengejek postur tubuh MT 2 yang terlihat kurang begitu baik.

 Tindak verbal: ekspresif.

 Tindak perlokusi : mitra tutur tersenyum dan pergi meninggalkan penutur juga MT 1.

  nonstandar dengan menggunakan kata tidak baku, yaitu

  tapi, gembrotnya, kayak, dan gitu.

  Menggunakan gaya bahasa yang terlihat pada penggunaan kata

  gembrot.

  mengomentari postur tubuh MT 2 dengan maksud bercanda.

   Penutur duduk di dekat MT 1 dan MT 2.  Penutur mengomentari postur tubuh MT 2.  Penutur, MT 1, dan MT 2 perempuan. Penutur

  seorang ibu berusia 63 tahun, MT 1 adalah tamu, dan MT 2 berusia 35 tahun. Penutur adalah kakak keponakan ipar dari MT 2.

  sinis.

   Intonasi tanya  Tekanan: lunak

   Penutur berbicara sembari menunjuk ke arah MT 2.  Penutur berbicara sembari tersenyum sinis.  Penutur berbicara langsung di

  hadapan tamu yang berkunjung.

   Penutur

  dengan sengaja mengejek postur tubuh MT 2 dengan menggunakan kata ‘gembrot’.

  18. (C18) Cuplikan Tuturan 35

  P : “Ki lho Mas, ngerti to Undang- undange?” MT : “Ngerti, saben

  dino

  weruh kok.” P : “Wooo, yowis garapke yo!!”

  Kategori Ketidaksantunan:

  P : “Ibu itu pelit, aku ngga dikasih uang.” MT : “Nggo ngopo

  dengan sindiran agar mitra tutur mau memperhatikan penampilan, mengingat usianya yang sudah beranjak dewasa.

   Nada tutur: penutur

  berbicara dengan nada sedang.

   Diksi : bahasa

  nonstandar dengan menggunakan kata tidak baku, yaitu dandan.

   Kata fatis: dong.

   Percakapan yang terjadi ketika penutur dan mitra

  tutur berada di ruang keluarga pada sore hari dalam keadaan santai.

   Mitra tutur terlihat sedang bersiap-siap hendak pergi keluar rumah.  Penutur berusaha memperingatkan mitra tutur

   Penutur duduk di dekat mitra tutur.  Penutur berkata kepada mitra tutur.  Penutur dan mitra tutur perempuan. Penutur seorang

  dandan? Ih, Ibu juga ga dandan

  ibu berusia 64 tahun dan mitra tutur berusia 28 tahun. Penutur adalah ibu dari mitra tutur.

   Tujuan: penutur berusaha memberi saran kepada

  mitra tutur agar mitra tutur mau memperhatikan penampilan, khususnya wajah.

  

 Tindak verbal:direktif.

  Kategori Ketidaksantunan: Melecehkan muka Subkategori Ketidaksantunan: Menyarankan Wujud Ketidaksantunan:

   Penutur berbicara kepada mitra

  tutur sembari tertawa mengejek.

   Penutur berbicara sembari menatap mitra tutur sinis.  Penutur berbicara di hadapan anggota keluarga lain.  Penutur menggunakan kata ‘gadis’ untuk menyadarkan

  .”  Intonasi perintah  Tekanan: keras pada kata gadis.

  P : “Ya ampun kalian itu gadis, dandan dong!” MT : “Ngapain

  to, Dik? Apa

  Hal tersebut mengakibatkan penutur menjadi sedikit kesal.

  gunanya?” P : “Yaa pokoknya

  buat macam-macam,

  Bu.”  Tekanan: lunak pada kata pelit.

   Nada tutur: penutur

  berbicara dengan nada sedang.

   Diksi : bahasa

  nonstandar dengan menggunakan kata tidak baku, yaitu ngga, dikasih. tutur berada di ruang tamu pada siang hari.

   Penutur berusaha meminta uang tambahan kepada mitra tutur, namun mitra tutur tidak memberinya.

   Penutur melontarkan kata-kata untuk mengungkapkan kekesalannya kepada mitra tutur.  Penutur duduk di dekat mitra tutur.  Penutur berkata kepada mitra tutur.  Penutur dan mitra tutur perempuan. Penutur seorang

  20. (C20) Cuplikan Tuturan 37

  siswi SMP kelas VII berusia 13 tahun dan mitra tutur seorang ibu berusia 39 tahun. Penutur adalah anak dari mitra tutur.

   Tujuan: penutur mengungkapkan kekesalannya ketika mitra tutur tidak memberinya uang.

 Tindak verbal: ekspresif.

 Tindak perlokusi: mitra tutur menanyakan kembali kepada penutur perihal kegunaan uang tersebut.

  Melecehkan muka Subkategori Ketidaksantunan: Kesal Wujud Ketidaksantunan:

   Penutur berbicara dengan ketus.  Penutur berbicara kepada orang yang lebih tua.  Penutur

  berbicara tanpa melihat ke arah mitra tutur.

   Penutur tidak henti-hentinya

  menggerutu karena mitra tutur tidak memberi uang.

   Penutur berbicara di hadapan anggota keluarga lain.

  mitra tutur agar memperhatikan penampilan.

   Tindak perlokusi: mitra tutur menanggapi saran dari

  berbicara dengan nada tinggi.

  berlalu meninggalkan mitra tutur.

  22. (C22)

  Cuplikan Tuturan 39 P : “Pak, aku

  kemarin minta sepatu

  baru lho.” MT : “Ya, besok ya, Dik.” P : “Ah, bapak ki tukang ngapusi!”

   Intonasi seru  Tekanan: keras pada kata ngapusi.

   Nada tutur: penutur

   Diksi: bahasa

   Penutur berbicara dengan sinis.  Penutur berbicara kepada orang yang lebih tua.  Penutur tidak mengindahkan saran dari mitra tutur.

  nonstandar dengan menggunakan bahasa Jawa.

   Kata fatis:ah.

   Percakapan yang terjadi ketika penutur dan mitra tutur berada di ruang keluarga.  Mitra tutur pernah berjanji kepada penutur bahwa akan membelikan sesuatu.  Melihat kenyataan bahwa mitra tutur tidak juga

  membelikan, penutur berusaha menagih janji kepada mitra tutur.

   Penutur duduk di samping mitra tutur.  Penutur berkata kepada mitra tutur.  Penutur laki-laki, duduk di bangku SMK kelas X

  berusia 16 tahun dan mitra tutur bapak berusia 45 tahun. Penutur adalah anak dari mitra tutur.

   Tujuan: penutur menagih janji yang pernah diucapkan oleh mitra tutur.

  Kategori Ketidaksantunan: Melecehkan muka Subkategori Ketidaksantunan: Kesal Wujud Ketidaksantunan:

   Penutur berbicara sembari

  Kategori Ketidaksantunan: Melecehkan muka Subkategori Ketidaksantunan : Menolak Wujud Ketidaksantunan:

  penutur dengan jawaban sekenanya 21. (C21) Cuplikan Tuturan 38

   Diksi : bahasa

  MT : “Ya ampun

  kalian itu gadis,

  dandan dong!” P : “Ngapain dandan? Ih, Ibu juga ga dandan .”

   Intonasi tanya  Tekanan: lunak

  pada frasa ga dandan.

   Nada tutur: penutur

  berbicara dengan nada sedang.

  nonstandar dengan menggunakan kata tidak baku, yaitu

  

 Tindak verbal: komisif

 Tindak perlokusi: mitra tutur memilih diam sembari menggelengkan kepala.

  ngapain, dandan, ga.

   Kata fatis :ih.

   Percakapan yang terjadi ketika penutur dan mitra tutur berada di ruang keluarga pada sore hari.  Penutur berpamitan kepada mitra tutur karena ingin menghadiri acara pernikahan teman.  Melihat penampilan penutur yang polos, mitra tutur

  meminta penutur untuk memperhatikan kecantikan, mengingat usianya yang sudah beranjak dewasa. Namun,penutur justru menolak permintaan mitra tutur.

   Penutur duduk dekat mitra tutur  Penutur menanggapi permintaan mitra tutur.  Penutur dan mitra tutur perempuan. Penutur berusia 28 tahun dan mitra tutur ibu berusia 64 tahun.

  Penutur adalah anak dari mitra tutur.

   Tujuan: penutur berusaha membela diri ketika

  disuruh berdandan, karena menurut penutur, mitra tutur sendiri tidak pernah memperhatikan wajah.

   Penutur berbicara kepada mitra tutur dengan lugas dan berani.  Penutur berbicara kepada orang yang lebih tua.  Penutur menggerutu secara terus menerus.  Penutur berbicara di hadapan

  

 Tindak verbal : ekspresif

 Tindak perlokusi : mitra tutur diam saja.

   Intonasi seru  Tekanan: keras

   Penutur berbicara kepada mitra tutur dengan sinis.  Penutur berbicara kepada orang yang lebih tua.  Penutur tidak mengindahkan

  saran yang diberikan oleh mitra tutur.

   Perkataan penutur terdengar

  merendahkan profesi mitra tutur. 24. (C24) Cuplikan Tuturan 41

  MT : “Kalau pulang

  sekolah tu bantu-bantu orang tua dulu! Jangan lupa shalat! Ngga langsung main sampai kayak gitu!! Sing

  ngerti kahanan!” P : “Woo nenek lampir!”

  pada frasa nenek lampir.

   Tujuan: penutur berusaha menolak saran dari mitra tutur.

 Tindak verbal: komisif.

 Tindak perlokusi: mitra tutur kecewa dan diam saja.

   Nada tutur: penutur

  berbicara dengan nada tinggi.

   Diksi:  Percakapan yang terjadi saat penutur dan mitra tutur berada di rumah.

   Mitra tutur berusaha menasihati penutur yang sering membangkang terhadap mitra tutur.  Mendengar nasihat mitra tutur, penutur menjadi

  sangat kesal dan melontarkan kata-kata yang tidak santun, sehingga mitra tutur tersinggung.

   Penutur seorang anak laki-laki kelas VII SMP

  berusia 13 tahun dan mitra tutur seorang ibu berusia 40 tahun. Penutur merupakan anak dari mitra tutur.

  Kategori Ketidaksantunan : Melecehkan muka Subkategori Ketidaksantunan : Marah Wujud Ketidaksantunan:

  Kategori Ketidaksantunan: Melecehkan muka Subkategori Ketidaksantunan: Menolak Wujud Ketidaksantunan:

  laki-laki berusia 62 tahun. Penutur adalah anak perempuan dari mitra tutur.

  anggota keluarga yang lain.

   Intonasi seru  Tekanan: keras pada kata emoh.

   Penutur berusaha

  menyimpulkan sesuatu berdasarkan fakta yang terjadi.

   Penutur menyamakan sifat

  mitra tutur dengan orang yang sering berbohong. 23. (C23) Cuplikan Tuturan 40

  MT : “Koe sesok

  dadi pegawai negeri

  wae, Nduk!” P : “Dadi pegawai negeri bapak ra dadi opo- opo kok! Aku emoh pegawai negeri!”

   Nada tutur: penutur

   Penutur duduk di samping mitra tutur.  Penutur menjawab saran dari mitra tutur.  Penutur perempuan berusia 28 tahun dan mitra tutur

  berbicara dengan nada sedang.

   Diksi: bahasa

  nonstandar dengan menggunakan bahasa Jawa.

   Kata fatis:kok.

   Percakapan yang terjadi ketika penutur dan mitra

  tutur berbincang-bincang di ruang keluarga dalam suasana serius.

   Mitra tutur memberi saran kepada penutur agar menjadi PNS yang memiliki kejelasan masa depan.  Penutur kurang sependapat dengan mitra tutur,

  kemudian penutur mengemukakan alasan ketidaksetujuannya kepada mitra tutur.

   Penutur berbicara kepada mitra tutur dengan keras dan ketus.  Penutur tidak mengindahkan nasihat dari mitra tutur. menggunakan bahasa populer.

   Kata fatis: woo  Tujuan: penutur mengungkapkan kemarahannya

   Tuturan terjadi di teras rumah pada sore hari. Rabu, 10 April 2013. Sekitar pukul 16.45 – 17.35 WIB.  Selain penutur dan mitra tutur, terdapat juga

   Penutur berbicara sembari memegang kepala mitra tutur.  Penutur berbicara sembari

  hadapan anggota keluarga lain dan tamu yang datang.

   Penutur berbicara dengan ketus.  Penutur berbicara dengan keras.  Penutur berbicara langsung di

  Kategori Ketidaksantunan: Melecehkan muka Subkategori Ketidaksantunan : Kesal Wujud Ketidaksantunan:

   Tujuan: penutur menyuruh MT agar rajin belajar.  Tindak verbal : ekspresif.  Tindak perlokusi: mitra tutur diam saja dan masuk ke dalam rumah.

  dan mitra tutur laki-laki seorang siswi SMP VIII berusia 14 tahun. Penutur merupakan ibu dari mitra tutur.

   Penutur perempuan, seorang ibu berusia 45 tahun

  memperingatkannya untuk belajar. Namun, mitra tutur tidak mengindahkan peringatan dari penutur.

   Penutur menghampiri mitra tutur dan berusaha

  anggota keluarga lain dan tamu yang sedang berkunjung.

  menyuci pakaian di halaman, sedangkan mitra tutur asik bermain di teras rumah.

  terhadap mitra tutur, karena merasa bahwa mitra tutur terlalu mengatur dirinya.

   Percakapan yang terjadi ketika penutur sedang

  nonstandar dengan menggunakan bahasa Jawa.

   Diksi: bahasa

  berbicara dengan nada tinggi.

   Nada tutur: penutur

  P : “Mbayar larang-larang kon sinau ngeyel!!”  Intonasi seru  Tekanan: keras pada kata ngeyel.

  25. (C25) Cuplikan Tuturan 42

  ‘nenek lampir’ yang dianggap galak dan banyak bicara.

  mitra tutur dengan sosok

   Penutur berbicara kepada orang yang lebih tua.  Penutur melontarkan kata-kata umpatan.  Penutur berusaha menyamakan

   Tindak verbal : ekspresif.  Tindak perlokusi : mitra tutur pergi meninggalkan penutur.

  menatap mitra tutur dengan tatapan mata terbelalak.

  

KORPUS DATA DAN TABULASI DATA

KETIDAKSANTUNAN BERBAHASA KATEGORI MENGHILANGKAN MUKA

PENANDA KETIDAKSANTUNAN

PERSEPSI KETIDAK- NO KODE TUTURAN

  NONLINGUAL SANTUNAN LINGUAL (Topik dan Situasi)

  1. (D1) Kategori Ketidaksantunan:

  Cuplikan Tuturan 43  Intonasi tanya  Percakapan antaranggota keluarga, ketika penutur

  MT : (terlihat Menghilangkan muka bersama mitra tutur berada di ruang makan pada

  menambah porsi siang hari dalam suasana santai.

   Tekanan: lunak makan berulang kali)

  Subkategori Ketidaksantunan: pada kata doyan.

   Penutur berusaha menyindir mitra tutur yang

  Menyindir terlihat menambah porsi makan berkali-kali.

  P : “Ngelih po

 Nada tutur:  Mitra tutur hanya tersenyum malu menanggapi

  Wujud Ketidaksantunan:

  doyan ?” penutur berbicara perkataan penutur.

   Penutur berbicara kepada mitra

  dengan nada  Penutur duduk di hadapan mitra tutur. MT : (tersenyum tutur dengan datar. rendah.

   Penutur berkata kepada mitra tutur. malu, namun tetap

   Penutur sudah mengetahui bahwa  Penutur dan mitra tutur laki-laki. Penutur seorang menghabiskan mitra tutur memiliki hobi makan.

   Diksi: bahasa

  mahasiswa semester 4 berusia 19 tahun dan mitra makanannya). nonstandar

   Penutur dengan sengaja ingin tutur siswa SMP kelas VIII berusia 14 tahun.

  membuat mitra tutur malu. dengan Penutur adalah kakak kandung dari mitra tutur. menggunakan

   Penutur berbicara kepada mitra  Tujuan: penutur menyindir mitra tutur yang bahasa Jawa.

  tutur dengan tersenyum sinis. terlihat menambah porsi makan berkali-kali.

  

 Tindak verbal: ekspresif.

 Tindak perlokusi: mitra tutur tersenyum karena malu dan tetap menghabiskan makanannya.

  2. (D2) Cuplikan Tuturan 44 Kategori Ketidaksantunan:

  

 Intonasi tanya  Percakapan yang terjadi ketika penutur sedang

  Menghilangkan muka bersama mitra tutur di ruang keluarga sore hari

  P : “Lehmu kuliah dalam suasana santai.

   Tekanan: keras

  ki arep mbok rampungke ora? Nek ora po rep ndue bojo wae?”

   Percakapan yang terjadi dalam keluarga, saat

   Intonasi seru  Tekanan: keras

  pada frasa roso kok.

   Nada tutur:

  penutur berbicara dengan nada sedang.

   Diksi: bahasa

  nonstandar dengan menggunakan bahasa Jawa.

  penutur sedang bersama MT 1 dan MT 2 di ruang keluarga.

  bapak durung tuwo, mbok ndang nikah,

   MT1 berkata kepada penutur agar penutur segera

  menikah. Namun, penutur justru menanggapi saran dari MT 1 dengan kata-kata yang membuat MT 2 merasa malu.

   Penutur duduk di dekat MT 1 dan MT 2.  Penutur menanggapi perkataan MT 1.  Penutur laki-laki berusia 24 tahun, MT 1

  perempuan, ibu berusia 46 tahun, dan MT 2 laki- laki, bapak berusia 62 tahun. Penutur adalah anak dari MT 1 dan MT2.

  Kategori Ketidaksantunan: Menghilangkan muka Subkategori Ketidaksantunan : Mengejek Wujud Ketidaksantunan:

   Penutur berbicara dengan lugas

  tanpa memahami suasana hati MT 2.

  Le!” P : “Ah bapak kae wis tuwo yo roso kok!”

  MT 1: “Mumpung

  pada ndue bojo wae.

   Penutur duduk di hadapan mitra tutur.  Penutur dan mitra tutur perempuan. Penutur

   Nada tutur:

  penutur berbicara dengan nada sedang.

   Diksi: bahasa

  nonstandar dengan menggunakan bahasa Jawa.

   Penutur bertanya kepada mitra tutur tentang studinya yang tak kunjung usai.  Penutur bertanya kepada mitra tutur dengan nada

  menyindir, sehingga mengakibatkan mitra tutur malu.

  berusia 60 tahun dan mitra tutur seorang gadis berusia 25 tahun. Penutur adalah ibu dari mitra tutur.

  3. (D3) Cuplikan Tuturan 45

   Tujuan penutur: mengingatkan MT agar segera menyelesaikan studinya.

 Tindak verbal: ekspresif.

 Tindak perlokusi: mitra tutur diam saja dan tersenyum malu.

  Subkategori Ketidaksantunan : Menyindir Wujud Ketidaksantunan:

   Penutur bertanya kepada mitra

  tutur dengan lugas tanpa mempedulikan perasaan mitra tutur.

   Penutur berbicara dengan sinis.  Penutur dengan sengaja

  melontarkan pertanyaan sindiran kepada mitra tutur yang studinya tak kunjung usai.

   Mitra tutur merasa malu dengan pertanyaan penutur.

   Penutur berbicara dengan keras.  Penutur berbicara kepada orang yang lebih tua.

   Kata fatis: ah,  Tujuan: penutur menolak anjuran MT 1 dengan  Penutur dengan sengaja kok. nada mengejek, sehingga membuat MT 2 merasa melontarkan kata-kata yang malu.

  mengakibatkan MT 2 malu.

   Tindak verbal: ekspresif.  Penutur berbicara di hadapan MT1 dan MT2.  Tindak perlokusi: MT 2 diam saja karena malu.

  4. (D4) Cuplikan Tuturan 46 Kategori Ketidaksantunan:

   Intonasi tanya  Percakapan antara anggota keluarga saat

  Menghilangkan muka mengerjakan pekerjaan rumah di ruang keluarga.

  P : “Mak, satus ki

 Tekanan: lunak  Penutur dan mitra tutur sedang berdiskusi untuk

  Subkategori Ketidaksantunan :

  nol’e piro?”

  pada menyelesaikan PR. Selain penutur dan mitra nol’e piro.

  Mengejek tutur, terdapat beberapa anggota keluarga yang

  MT : “Piro yo? lain di tempat tersebut.

   Nada tutur:

  Wujud Ketidaksantunan:

  10?”

  penutur berbicara

   Penutur sengaja bertanya kepada mitra tutur,  Penutur bertanya kepada mitra

  dengan nada padahal penutur sudah mengetahui keterbatasan

  (semua anggota tutur dengan lugas.

  sedang. mitra tutur, yakni tidak dapat membaca.

  keluarga tertawa).

  Mendengar pertanyaan tersebut, mitra tutur

   Penutur bertanya kepada mitra

  tutur di hadapan anggota memberikan jawaban sekenanya

   Diksi: bahasa keluarga yang lain.

  nonstandar  Penutur duduk di samping mitra tutur. dengan

   Penutur dengan sengaja  Penutur bertanya kepada mitra tutur.

  menggunakan melontarkan pertanyaan agar

   Penutur laki-laki, siswa SD kelas 4 berusia 12 mitra tutur kebingungan.

  bahasa Jawa. tahun dan mitra tutur perempuan, ibu berusia 42

   Penutur sengaja bertanya kepada tahun. Penutur adalah anak dari mitra tutur.

  orang yang memiliki kelemahan  Tujuan: mengajak mitra tutur bercanda. dalam baca tulis.

  

 Tindak verbal: ekspresif.

   Penutur berbicara kepada orang  Tindak perlokusi: mitra tutur diam saja karena yang lebih tua.

  malu tidak dapat membantu menyelesaikan PR, kemudian pergi tidur. 5. (D5) Cuplikan Tuturan 47

  Kategori Ketidaksantunan:

   Intonasi seru  Percakapan dalam keluarga ketika sedang

  Menghilangkan muka menonton televisi bersama pada malam hari. MT : “Huuu.. kui film’e ngomong opo

  to? Mbok ngomong

  Subkategori Ketidaksantunan: Kesal Wujud Ketidaksantunan :

  alasan mitra tutur menikahi laki-laki yang sudah beristri. Mendengar pertanyaan penutur, mitra tutur menjadi malu dan enggan menjawab pertanyaan tersebut. Mitra tutur hanya

   Percakapan yang terjadi saat penutur sedang bersama mitra tutur di ruang keluarga.  Penutur bertanya kepada mitra tutur tentang

  penutur berbicara dengan nada

   Nada tutur:

  pada kata beristri.

   Intonasi tanya  Tekanan: keras

  Nduk?” MT : “Yoo aku seneng kae kok, Buk.”

  dia tu karena apa to,

  P : “Alasanmu milih

  6. (D6) Cuplikan Tuturan 48

   Penutur berbicara di hadapan anggota keluarga yang lain.  Penutur dengan sengaja membuat mitra tutur malu.

  pertanyaan mitra tutur padahal penutur sudah mengetahui kalau mitra tutur kesulitan membaca.

   Penutur menanggapi pertanyaan mitra tutur dengan ketus.  Penutur berbicara kepada orang yang lebih tua.  Penutur sengaja tidak menjawab

  

 Tindak verbal: ekspresif.

 Tindak perlokusi: mitra tutur menjadi kesal karena merasa malu dan pergi tidur.

  wae malah jelas!” P : “Salah’e raiso moco!!” MT : “Ah yowis, turu wae.”

  kepada mitra tutur dengan cara mengejek karena mitra tutur tidak dapat membaca.

   Tujuan: penutur mengungkapkan kekesalannya

  seorang siswi kelas XII SMK, berusia 19 tahun dan mitra tutur seorang ibu rumah tangga berusia 42 tahun. Penutur adalah anak dari mitra tutur.

   Penutur justru menjawab pertanyaan mitra tutur dengan nada kesal.  Penutur duduk berdekatan dengan mitra tutur.  Penutur menjawab pertanyaan mitra tutur.  Penutur dan mitra tutur perempuan. Penutur

  mengakibatkan ia kesulitan untuk memahami acara televisi, kemudian mitra tutur bertanya kepada penutur tentang isi film tersebut.

   Kondisi mitra tutur yang tidak dapat membaca

  berbahasa asing yang tentu dilengkapi dengan terjemahan.

   Acara yang ditonton saat itu adalah film

  nonstandar dengan menggunakan bahasa Jawa.

   Diksi: bahasa

  penutur berbicara dengan nada tinggi.

  salah’e  Nada tutur:

  pada kata

   Tekanan: keras

  Kategori Ketidaksantunan : Menghilangkan muka Subkategori Ketidaksantunan : Menyindir

  P : “Wong yang sedang. memberikan jawaban sekenanya. Wujud Ketidaksantunan: masih bujang aja

   Diksi: bahasa  Penutur sedikit kesal dengan jawaban mitra tutur.  Penutur berbicara kepada mitra banyak kok kamu tu nonstandar Kemudian penutur melontarkan kata-kata dengan tutur dengan ketus. milih yang udah dengan maksud menyindir mitra tutur.

   Penutur sengaja melontarkan beristri to nduk?” menggunakan

  kata-kata dengan maksud  Penutur duduk di sebelah mitra tutur. istilah bahasa menyadarkan mitra tutur akan  Penutur berkata kepada mitra tutur. Jawa, yaitu pada pilihannya.

   Penutur dan mitra tutur perempuan. Penutur

  partikel wong, to, berusia 60 tahun dan mitra tutur berusia 30 tahun.  Perkataan penutur dan nduk.

  Penutur adalah ibu dari mitra tutur. mengakibatkan mitra tutur malu.

   Penggunaan kata  Tujuan: penutur mengungkapkan rasa kecewanya

  tidak baku, yaitu kepada mitra tutur, karena mitra tutur menikah

  aja, tu, milih,

  dengan laki-laki yang sudah beristri. Pertanyaan udah. penutur mengakibatkan mitra tutur merasa malu.

   Kata fatis: kok,

 Tindak verbal: ekspresif.

to.

   Tindak perlokusi: mitra tutur hanya tersenyum

  malu 7. (D7) Cuplikan Tuturan 49

  Kategori Ketidaksantunan:

  

 Intonasi tanya  Percakapan antara penutur dan mitra tutur pada

  Menghilangkan muka siang hari saat berada di rumah.

   Tekanan: lunak MT: “Aku sering kok

  pada frasa seneng

   Penutur dan mitra tutur sudah terbiasa berbagi

  Subkategori Ketidaksantunan :

  Ma, diejek temanku” cewek tenan ora. cerita ketika suasana santai.

  Mengejek

   Nada tutur:  Penutur mengejek dan menyindir mitra tutur P : “Terus lehmu penutur berbicara karena mitra tutur belum juga mempunyai pacar. jawab pie, Le?”

  Wujud Ketidaksantunan: dengan nada

   Penutur duduk di sebelah mitra tutur.

  sedang.

   Penutur bertanya kepada mitra  Penutur bertanya kepada mitra tutur. MT: “ Yo lehku jawab tutur dengan sinis.

   Diksi: bahasa  Penutur seorang ibu berusia 42 tahun dan mitra

  tak banyoli wae. Ora,

   Penutur bertanya kepada mitra

  nonstandar tutur seorang anak laki-laki, semester 4 berusia aku ra seneng cewek, tutur sembari tersenyum dengan

  20 tahun. Penutur adalah anak dari mitra tutur. aku seneng koe. ” mengejek. menggunakan

   Tujuan: menyadarkan MT agar segera memiliki

  P : “Tapi aku tanya Dik, koe ki seneng cewek tenan ora?” MT : “ Yo namanya manusia normal, Ma.

   Diksi : diksi:

   Penutur berbicara tanpa

  yang seolah-olah menyetarakan sifat manusia dengan binatang.

   Penutur berbicara kepada mitra tutur dengan ketus.  Penutur berbicara di hadapan anggota keluarga lain.  Penutur melontarkan kata-kata

  Kategori Ketidaksantunan: Menghilangkan muka Subkategori Ketidaksantunan : Kesal Wujud Ketidaksantunan:

  kemudian memberikan jawaban sebagai upaya pembelaan diri.

   Tujuan: menyadarkan MT agar tidak menambah jumlah anak lagi.

 Tindak verbal: ekspresif.

 Tindak perlokusi: mitra tutur merasa malu

  dan mitra tutur seorang perempuan berusia 45 tahun. Penutur adalah bapak dari mitra tutur.

   Penutur duduk di dekat mitra tutur.  Penutur laki-laki, seorang bapak berusia 75 tahun

  penutur, kemudian mitra tutur berusaha memberikan jawaban untuk membela diri.

   Mitra tutur tersenyum malu mendengar perkataan

  keluarga pada sore hari. Penutur berusaha menegur mitra tutur yang telah mempunyai 6 anak. Jumlah yang terlalu banyak menurut pandangan penutur.

   Saat penutur dan mitra tutur berada di ruang

   Kata fatis: mbok.

  bahasa nonstandar dengan menggunakan bahasa Jawa.

  penutur berbicara dengan nada tinggi.

  Yo suka tapi belum saatnya gitu.

  orang yang sudah cukup dewasa tetapi belum memiliki teman dekat (pacar).

  ”

  istilah bahasa Jawa, yaitu koe,

  ki, tenan, ora dan

  menggunakan kata tidak baku, yaitu tapi, seneng, cewek. pacar.

  

 Tindak verbal: ekspresif.

 Tindak perlokusi: mitra tutur menjawab pertanyaan penutur dengan santai.

   Penutur sengaja bertanya kepada

   Penutur tidak hanya bertanya di

   Nada tutur:

  hadapan mitra tutur, tetapi juga di hadapan anggota keluarga lain.

  8. (D8) Cuplikan Tuturan 50

  P : “Mbok nek ndue anak ki ora akeh-akeh. Mosok manak ping 6. Koyo pitik wae !” MT : “Yo biar to,

  Pak. Banyak anak,

  banyak rejeki.”  Intonasi seru  Tekanan: keras

  pada koyo pitik wae.

  memahami suasana hati mitra tutur.

  9. (D9) Cuplikan Tuturan 51

   Penutur duduk di hadapan MT 1 dan MT 2.  Penutur berkata kepada MT 1.  Penutur seorang bapak berusia 50 tahun, MT 1

   Tiba-tiba MT 2 berjalan dari dalam menuju ruang

  sekitar pukul 15.30 – 16.12 WIB.

   Tuturan terjadi pada hari Selasa, 4 Juni 2013,

  berbincang-bincang dengan MT 1 di ruang tamu rumah penutur.

   Percakapan yang terjadi saat penutur sedang

  Cuplikan Tuturan 52 P : “Arep mencari sendiri atau dicarikan?”  Intonasi tanya  Tekanan: lunak pada dicarikan.

  10. (D10)

   Penutur berbicara sembari menunjuk ke arah mitra tutur.  Penutur berbicara langsung di hadapan tamu yang datang.  Penutur berbicara sembari tertawa.

  Kategori Ketidaksantunan: Menghilangkan muka Subkategori Ketidaksantunan : Mengejek Wujud Ketidaksantunan :  Penutur berbicara dengan ketus.

   Tujuan: menyuruh MT untuk segera mencari pekerjaan.

 Tindak verbal: ekspresif.

 Tindak perlokusi: MT 2 terlihat sedikit malu, hanya tersenyum, kemudian pergi ke belakang.

  seorang tamu, dan MT 2 seorang anak laki-laki berusia 23 tahun. Penutur adalah bapak dari MT 2.

  Tiba-tiba penutur melontarkan jawaban bahwa MT2 pengangguran sembari menunjuk MT 2 dengan nada mengejek dan disertai tawa yang terbahak.

  MT 1 : “Kalau Mas ini putranya Bapak?” P : “Iya, itu yang masih belum laku mbak, soalnya pengangguran.”

   Tiba-tiba MT 2 berjalan dari dalam membawakan minuman untuk MT 1.  MT 1 bertanya kepada penutur perihal MT 2.

  sekitar pukul 12.10 – 12.35 WIB.

   Tuturan terjadi pada hari Senin, 13 Mei 2013,

  berbincang-bincang bersama MT 1 di ruang tamu rumah penutur.

   Percakapan yang terjadi saat penutur sedang

  nonstandar dengan menggunakan kata tidak baku, yaitu soalnya.

   Diksi: bahasa

  penutur berbicara dengan nada sedang.

   Nada tutur:

  pada kata pengangguran.

   Intonasi berita  Tekanan: lunak

  Kategori Ketidaksantunan: Menghilangkan muka Subkategori Ketidaksantunan : Menyindir

  (mitra tutur tersenyum malu)  Nada tutur:

   Penutur sengaja menyindir mitra

  tiba penutur memotong pembicaraan dengan spontan menceritakan pendidikan MT 2 dengan Kategori Ketidaksantunan: Menghilangkan muka Subkategori Ketidaksantunan: Mengejek Wujud Ketidaksantunan:

   MT 1 memberikan jawaban kepada MT 2. Tiba-

  yang ditempuh selama duduk di bangku perguruan tinggi.

   Tuturan terjadi di ruang tamu pada hari Senin, 10 Juni 2013, sekitar pukul 13.51- 14.03 WIB.  MT 2 bertanya kepada MT 1 perihal pendidikan

  berbincang-bincang dengan MT 1 dan MT 2 di ruang tamu dalam suasana santai.

   Percakapan yang terjadi saat penutur sedang

  penutur berbicara dengan nada sedang.

   Nada tutur:

  pada es dua bakso satu.

   Intonasi berita  Tekanan: lunak

  MT 2 : “Mbak’nya ambil S1 yaa?” MT 1 : “Iya, Pak.” P : “Kalau bapak itu hanya es dua bakso satu .”

  tutur yang sudah cukup dewasa tetapi belum juga memiliki teman dekat (pacar). 11. (D11) Cuplikan Tuturan 53

  ke arah mitra tutur dengan maksud mengejek.

  penutur berbicara dengan nada sedang.

   Penutur bertanya sembari tersenyum menyindir.  Penutur bertanya sembari melirik

  langsung di hadapan tamu yang datang.

   Penutur bertanya kepada MT 2

  tanpa mempedulikan suasana hati MT 2.

   Penutur bertanya dengan lugas

  Wujud Ketidaksantunan:

  

 Tindak verbal: ekspresif.

 Tindak perlokusi: MT 2 hanya diam dan tersenyum malu sembari menunduk.

  maksud mengajak bercanda. Pertanyaan penutur mengakibatkan MT 2 merasa malu.

   Tujuan: penutur bertanya kepada MT 2 dengan

  adalah tamu, dan MT 2 perempuan, mahasiswi semester 8, berusia 22 tahun. Penutur adalahbapak dari MT 2.

   Penutur duduk di hadapan MT 1 dan di sebelah MT 2.  Penutur bertanya kepada MT 2 .  Penutur laki-laki, bapak berusia 48 tahun, MT 1

  nonstandar dengan menggunakan istilah bahasa Jawa, yaitu arep. tamu membawakan minuman untuk MT 1. Kemudian MT 2 duduk di sebelah penutur. Tiba- tiba penutur melontarkan pertanyaan kepada MT 2 dengan maksud mengajak bercanda.

   Diksi: bahasa

   Penutur berbicara kepada mitra tutur dengan lugas.  Penutur berbicara sembari tertawa mengejek.  Penutur berbicara langsung di nada mengejek dan disertai tawa yang terbahak. hadapan tamu yang datang.

   Diksi: bahasa populer.

   Penutur berkata kepada MT 1.  Penutur berbicara kepada orang yang lebih tua.  Penutur duduk di sebelah MT 1 dan MT 2.

   Penutur melontarkan kata-kata  Penutur perempuan, ibu rumah tangga berusia 60

  dengan maksud membandingkan tahun, MT 1 adalah tamu, dan MT 2 laki-laki, bapak berusia 75 tahun. Penutur adalah istri dari ‘s’ dalam kata sarjana dengan ‘s’ (es) sebuah minuman. MT 2.

   Penutur dengan sengaja membuat  Tujuan: penutur menceritakan MT 2 yang berpendidikan rendah dengan maksud mengajak mitra tutur malu.

  bercanda.

   Tindak verbal: representatif.  Tindak perlokusi: MT 2 merasa malu namun ikut tertawa.

  12. (D12) Cuplikan Tuturan 54 Kategori Ketidaksantunan:

   Intonasi berita  Percakapan yang terjadi saat penutur sedang

  Menghilangkan muka berbincang-bincang dengan MT 1 di ruang tamu.

  P : “Nek sing niki Selain MT 1, ada pula MT 2 di tempat tersebut.

   Tekanan: lunak

  Subkategori Ketidaksantunan :

  gembeng.”

  pada kata

   Tuturan terjadi pada hari Rabu, 1 Mei 2013,

  Menegaskan gembeng. sekitar pukul 14.27 – 15.06 WIB.

  MT : “Wajar, Bu.

   Penutur menceritakan kebiasaan MT 2 yang

  Namanya juga anak- Wujud Ketidaksantunan: mudah menangis. MT 2 hanya menunduk malu

   Nada tutur: anak.”  Penutur berbicara dengan lugas

  penutur berbicara

  sambil terus ‘menggelendot’ manja di samping

  tanpa memperhatikan suasana dengan nada penutur. hati mitra tutur. rendah.

   Penutur duduk di hadapan MT 1 dan di sebelah MT 2.

   Penutur berbicara langsung di hadapan tamu yang datang.  Diksi: diksi:

   Penutur menegaskan sikap MT 2 yang mudah

  bahasa

   Penutur berbicara sembari menangis.

  melirik ke arah mitra tutur nonstandar

   Penutur, MT 1, dan MT 2 perempuan. Penutur dengan maksud mengejek.

  dengan berusia 53 tahun, MT 1 adalah tamu, dan MT 2 menggunakan bahasa Jawa. seorang anak kecil berusia 4 tahun. Penutur adalah nenek dari MT 2.

   Tujuan: penutur menceritakan sikap MT 2 yang mudah menangis.  Tindak verbal: representatif.  Tindak perlokusi: MT 2 menunduk malu.

   Penutur berkata kepada mitra tutur dengan nada

  menggambarkan porsi makan mitra tutur yang terlampau banyak dengan gunung yang menjulang tinggi. 14. (D14) Cuplikan Tuturan 56

 Intonasi perintah  Percakapan para petani saat bekerja di sawah.

   Penutur berbicara sembari tersenyum mengejek.  Penutur berusaha

  porsi makan mitra tutur banyak, namun sengaja melontarkan pertanyaan demikian

   Penutur berbicara kepada orang yang lebih tua dengan lugas.  Penutur berbicara di hadapan beberapa anggota keluarga lain.  Penutur sudah mengetahui bahwa

  Kategori Ketidaksantunan: Menghilangkan muka Subkategori Ketidaksantunan: Menyindir Wujud Ketidaksantunan:

   Tujuan penutur: agar MT berhenti menambah porsi makan.

 Tindak verbal: ekspresif.

 Tindak perlokusi: mitra tutur diam dan meneruskan makan.

  18 tahun dan mitra tutur laki-laki, bapak berusia 50 tahun. Penutur adalah anak perempuan dari mitra tutur.

   Penutur duduk di depan mitra tutur.  Penutur menanggapi perbuatan mitra tutur.  Penutur perempuan, siswi SMK Kelas XII berusia

  menyindir ketika mengetahui bahwa mitra tutur mengambil porsi makan terlalu banyak.

  tutur sedang makan bersama di ruang makan pada malam hari.

   Penutur dengan sengaja

   Percakapan yang terjadi saat penutur dan mitra

   Kata fatis: kok.

  nonstandar dengan menggunakan bahasa Jawa.

   Diksi: bahasa

  penutur berbicara dengan nada sedang.

   Nada tutur:

  pada kata gunung.

  Cuplikan Tuturan 55 P : “Kok koyo gunung’e , Pak?”  Intonasi tanya  Tekanan: lunak

  13. (D13)

  menceritakan keburukan mitra tutur di hadapan orang lain.

  Kategori Ketidaksantunan: Menghilangkan muka MT 1: “Iki digowo

  Subkategori Ketidaksantunan :

   Tekanan: keras  Tuturan terjadi di persawahan, daerah

  Mengejek

  neng ngendi?” pada kata Banguntapan, Bantul, pada hari Senin, 10 Juni juragane. 2013, sekitar pukul 11.11 – 12. 30 WIB.

  Wujud Ketidaksantunan:

  P : “Kui kek’ke  Penutur, MT 1, dan MT 2 terlihat begitu sibuk juragane! memanen hasil tanamnya.

   Penutur berbicara kepada mitra  Nada tutur: tutur dengan sinis.

  penutur berbicara

   MT 1 bertanya kepada penutur perihal tempat

  MT 2 : dengan nada meletakkan hasil panen. Penutur berkata kepada  Penutur berbicara sembari

  ( tersenyum malu dan sedang. tersenyum mengejek. MT 1 agar memberikan hasil panen kepada MT 2 melanjutkan yang empunya sawah.

   Penutur berbicara sembari pekerjaannya).

  menunjuk ke arah mitra tutur.

   Diksi: bahasa  Mendengar perkataan penutur, MT 2 hanya

  nonstandar tersenyum malu dan melanjutkan pekerjaannya.

   Penutur berbicara langsung di

  dengan MT 2 merasa malu karena disebut sebagai hadapan orang banyak. menggunakan ‘juragan’.

   Penutur dengan sengaja membuat bahasa Jawa.

  mitra tutur malu.

  

 Penutur berdiri di hadapan MT 1 dan MT 2.

 Penutur berkata kepada MT 2 dengan maksud  Penutur menyebut mitra tutur

  mengajak bercanda. sebagai ‘juragan’ karena mitra tutur yang memiliki sawah

   Penutur, MT 1, dan MT 2 seorang laki-laki tersebut.

  berusia sekitar 45 – 50 tahun.

   Tujuan: penutur menyindir MT 2 yang empunya

  sawah, karena MT 2 terlihat begitu rajin memindah hasil panen. Perkataan penutur mengakibatkan beberapa orang yang ada di sawah tertawa.

   Tindak verbal: ekspresif.  Tindak perlokusi: MT 2 hanya tersenyum malu dan melanjutkan pekerjaannya.

  15. (D15) Cuplikan Tuturan 57

  Paaaakkkk... Paaaakkkk!!!

  sifat MT 2 yang pemalu dengan sifat seekor binatang (kucing).

   Penutur berbicara langsung di hadapan tamu yang datang.  Penutur berbicara sembari

  menatap MT 2 dengan maksud mengejek.

   Penutur berbicara sembari mencubit lembut pipi MT 2.

  16. (D16)

  Cuplikan Tuturan 58 MT 1 : “Pak’e...

  MT 2 : “Kulo...”  Intonasi berita  Tekanan: lunak

  tanpa mempedulikan perasaan MT 2.

  pada frasa loro untu.

   Nada tutur:  Percakapan yang terjadi antara penutur, MT 1,

  dan MT 2 di sawah pada siang hari. (Senin, 10 Juni 2013, sekitar pukul 11.30 – 12.30 WIB.

   Selain penutur dan MT 1 terdapat pula MT 2 dan

  beberapa petani lain yang terlihat sibuk memanen padi.

   MT 1 memanggil MT 2, kemudian MT 2 hanya

   Penutur berusaha menyetarakan

   Penutur berbicara dengan lugas

  MT 1 : “Adik namanya siapa??”

  nonstandar dengan menggunakan kata tidak baku, yaitu kayak.

  (MT 2 diam saja)

  P : “Kayak kucing lho itu mbak, malu-malu .”  Intonasi berita  Tekanan: lunak

  pada frasa kayak kucing.

   Nada tutur:

  penutur berbicara dengan nada rendah.

   Diksi: bahasa

   Kata fatis: lho.

  Kategori Ketidaksantunan: Menghilangkan muka Subkategori Ketidaksantunan: Mengejek Wujud Ketidaksantunan:

   Percakapan yang terjadi pada hari Kamis, 13 Juni 2013, pukul 15.30 WIB.  Saat itu penutur berbincang-bincang dengan MT 1 di teras rumah penutur dalam suasana santai.  MT 2 tiba-tiba datang menghampiri penutur.

  Kemudian, MT 1 bertanya kepada MT 2. Namun,

  MT 2 hanya diam saja sambil ‘menggelendot’ manja kepada penutur.  Penutur kemudian menanggapi pertanyaan MT 1 dengan maksud membuat MT 2 jera.  Penutur duduk di damping MT 1 dan di depan MT2.  Penutur menanggapi tingkah laku MT 2.  Penutur seorang ibu berusia 35 tahun, MT 1

  adalah tamu, dan MT 2 seorang anak perempuan berusia 6 tahun. Penutur adalah ibu dari MT 2.

   Tujuan: penutur menjawab pertanyaan MT 1

  sambil menanggapi tingkah laku MT 2 yang pemalu.

  

 Tindak verbal: ekspresif

 Tindak perlokusi: MT 2 menunduk malu

  Kategori Ketidaksantunan: Menghilangkan muka Subkategori Ketidaksantunan : Menyindir MT 1 : “Paaakkk... “ penutur berbicara menjawab dengan singkat sambil terus Wujud Ketidaksantunan : dengan nada melanjutkan pekerjaannya.

   Penutur berbicara dengan ketus.

  (MT 2 hanya diam) sedang.

   MT 1 kembali memanggil MT 2, bahkan  Penutur berbicara sembari

  berulang-ulang. Namun, MT 2 hanya diam tanpa tersenyum sinis.

  P : “Loro untu mempedulikan panggilan MT 1.

   Diksi: bahasa  Penutur berbicara sembari bapakmu.” nonstandar  Melihat MT 1 yang terus memanggil-manggil menatap ke arah MT 2.

  dengan MT2 tanpa jawaban, tiba-tiba penutur

   Penutur berbicara di hadapan

  menggunakan melontarkan kata-kata kepada MT 1 dengan orang banyak. bahasa Jawa. maksud menyindir MT 2 yang tidak

   Penutur berusaha menyadarkan

  mempedulikannya. Mendengar perkataan penutur, MT 2 agar menanggapi panggilan beberapa orang di tempat tersebut tertawa.

  MT 1.

   Penutur berdiri di dekat mitra tutur.

   Penutur berusaha menyindir MT2  Penutur berkata kepada mitra tutur. dengan yang diam saja dengan  Penutur, MT 1, dan MT 2 laki-laki. Penutur menggunakan frasa ‘sakit gigi’.

  seorang bapak berusia 40 tahun, MT 1 seorang anak kecil berusia 4 tahun, dan MT 2 seorang bapak berusia 42 tahun.

   Tujuan: penutur menyindir MT 2 yang tidak

  menyahut ketika dipanggil berulang kali oleh MT 1.

   Tindak verbal : ekspresif.  Tindak perlokusi: MT 2 tersenyum kemudian menanggapi panggilan MT 1.

  

KORPUS DATA DAN TABULASI DATA

KETIDAKSANTUNAN BERBAHASA KATEGORI MENIMBULKAN KONFLIK

NO KODE TUTURAN PENANDA KETIDAKSANTUNAN PERSEPSI KETIDAK- SANTUNAN LINGUAL NONLINGUAL (Topik dan Situasi)

  piring dengan tidak hati-hati, sehingga menimbulkan suara gaduh.

   Perkaataan penutur

  melirik dengan sinis ke arah mitra tutur.

   Penutur berbicara sembari

  melontarkan kata-kata sindiran kepada mitra tutur.

   Penutur berbicara kepada mitra tutur dengan ketus.  Penutur dengan sengaja

  Kategori Ketidaksantunan: Menimbulkan konflik Subkategori Ketidaksantunan: Menyindir Wujud Ketidaksantunan:

  mitra tutur kesal dan dengan sengaja semakin membuat gaduh suasana.

   Tujuan: penutur meminta MT agar lebih berhati- hati ketika melakukan sebuah aktivitas.  Tindak verbal: ekspresif

 Tindak perlokusi:

  mahasiswa semester 4 berusia 19 tahun dan mitra tutur kelas VIII SMP berusia 14 tahun. Penutur adalah kakak dari mitra tutur.

   Penutur duduk di hadapan mitra tutur yang sedang berdiri.  Penutur menanggapi tingkah laku mitra tutur.  Penutur dan mitra tutur laki-laki. Penutur seorang

  tutur dengan melontarkan kata-kata sindiran agar mitra tutur sadar akan kecerobohannya.

   Penutur berusaha menanggapi tingkah laku mitra

   Mitra tutur secara tidak sengaja mengambil

  1. (E1)

  ketika penutur dan mitra tutur sedang makan siang.

   Kata fatis: mbok  Tuturan terjadi di ruang makan, pada siang hari

  nonstandar dengan menggunakan bahasa Jawa.

   Diksi: bahasa

  berbicara dengan nada sedang.

   Nada tutur: penutur

   Intonasi perintah  Tekanan: keras pada kata sisan.

  dan justru dengan sengaja membuat gaduh ruang makan)

  MT : (mitra tutur kesal

  mengambil makanan di ruang makan, namun kurang berhati-hati sehingga menimbulkan kegaduhan) P : “Mbok dibanting sisan! Mbok dibaleni! ”

  MT : (mitra tutur

  Cuplikan Tuturan 59

  mengakibatkan mitra tutur kesal.

  2. (E2) Cuplikan Tuturan 60 Kategori Ketidaksantunan:

   Intonasi berita  Percakapan antara penutur dan mitra tutur saat

  Menimbulkan konflik jam pulang sekolah di ruang keluarga.

  MT : “Ini sms dari

 Tekanan: lunak  Mitra tutur bertanya kepada penutur perihal

  Subkategori Ketidaksantunan:

  siapa?” pada ah. identitas pengirim sms yang baru saja masuk.

  Kesal

  P : “Ah, ibuk ki Penutur enggan menjawab pertanyaan mitra  Nada tutur: penutur mau tau wae.”

  tutur, maka penutur hanya memberikan jawaban berbicara dengan Wujud Ketidaksantunan: sekenanya dan terkesan sembrono. nada sedang.

  MT : “Kamu tu  Penutur menjawab pertanyaan  Penutur duduk di dekat mitra tutur.

  kalau ditanyain mitra tutur dengan ketus.

  

 Diksi: bahasa  Penutur menanggapi pertanyaan mitra tutur.

  senengane nonstandar dengan

   Penutur berbicara kepada orang  Penutur dan mitra tuur perempuan. Penutur

  menyepelekan! Mbok yang lebih tua. menggunakan siswa kelas VIII SMP berusia 14 tahun dan sekali-kali kalau istilah bahasa

   Penutur berbicara tanpa melihat

  mitra tutur seorang ibu berusia 39 tahun. Penutur ditanya tu jawab yang ke arah mitra tutur. Jawa, yaitu ki, adalah anak dari mitra tutur.

  bener!” (mitra tutur wae, dan

   Penutur dengan sengaja  Tujuan: penutur berusaha menutupi identitas

  pergi meninggalkan menggunakan kata memberikan jawaban yang pengirim sms, karena menurut penutur itu adalah penutur dan tidak baku, yaitu terkesan menyepelekan. rahasia yang tidak perlu diketahui oleh mitra membanting pintu)

  mau, tau.

  tutur.

   Penutur berbicara sembari terus memainkan ponselnya.  Tindak verbal: ekspresif.  Kata fatis: ah.

   Tindak perlokusi: mitra tutur menasihati penutur kemudian pergi sembari membanting pintu.

  3. (E3) Cuplikan Tuturan 61 Kategori Ketidaksantunan:

   Intonasi seru  Percakapan antara penutur dan mitra tutur ketika

  Menimbulkan konflik penutur sedang bersiap-siap, lengkap dengan

  MT : “Pakai celana pakaian yang akan dikenakannya untuk  Tekanan: keras

  Subkategori Ketidaksantunan: kok ngetat semua to?” bepergian pada sore hari. pada sak karepku

  Kesal to Mak.

   Tuturan terjadi dalam suasana serius.

  P : “Sak karepku  Mitra tutur menghampiri penutur dan bertanya to mak, wong sing

  Wujud Ketidaksantunan : perihal model celana yang dikenakan oleh

   Nada tutur: penutur nganggo aku kok !!”

  berbicara dengan penutur. Menurut mitra tutur, celana yang  Penutur menjawab pertanyaan mitra tutur dengan keras. MT : (meninggalkan

  penutur dengan raut wajah sinis)

   Mitra tutur menyapa penutur di ruang tamu

  pada frasa anak muda.

   Nada tutur: penutur

  berbicara dengan nada sedang.

   Diksi: bahasa populer.

   Percakapan yang terjadi di ruang tamu pada sore

  hari. Saat itu penutur tiba di rumah dari bepergian.

  sembari melontarkan pertanyaan dari mana penutur pergi. Namun, penutur hanya menjawab sekenanya dan terkesan menyepelekan.

  MT : (pergi meninggalkan penutur dan membanting pintu).

   Penutur sedang berjalan hendak masuk ke kamar.  Penutur menjawab pertanyaan mitra tutur.  Penutur perempuan, kelas XII SMK berusia 19

  tahun dan mitra tutur seorang ibu berusia 42 tahun. Penutur adalah anak dari mitra tutur.

   Tujuan: penutur berusaha merahasiakan sesuatu.

  Kategori Ketidaksantunan: Menimbulkan konflik Subkategori Ketidaksantunan: Menyepelekan Wujud Ketidaksantunan:

   Penutur menjawab pertanyaan

  mitra tutur dengan sembrono tanpa merasa bersalah.

   Intonasi berita  Tekanan: lunak

  MT : “Seko ngendi koe mau?” P : “Biasa anak muda .”

  nada tinggi.

   Penutur berdiri di hadapan mitra tutur.  Penutur menanggapi pertanyaan mitra tutur.  Penutur laki-laki berusia 24 tahun dan mitra

   Diksi: bahasa

  nonstandar dengan menggunakan bahasa Jawa.

   Kata fatis: to, kok.

  dikenakan terlalu ketat.

   Penutur kurang senang dengan pertanyaan mitra

  tutur yang dinilai terlalu mengatur cara berpakaian penutur.

  tutur seorang ibu berusia 46 tahun. Penutur adalah anak dari mitra tutur.

  4. (E4) Cuplikan Tuturan 62

   Tujuan: penutur mengungkapkan amarahnya

  kepada mitra tutur, karena mitra tutur dianggap terlalu mengatur cara berpakaian si penutur.

   Tindak verbal: ekspresif.  Tindak perlokusi: mitra tutur pergi meninggalkan penutur dengan raut wajah sinis.

   Penutur berbicara dengan ketus.  Penutur berbicara kepada orang yang lebih tua.

   Penutur berbicara sembari

  berjalan meninggalkan mitra tutur.

   Penutur berbicara kepada orang yang lebih tua.  Penutur dengan sengaja

   Tindak verbal: ekspresif.  Tindak perlokusi: mitra tutur sedikit marah dan membanting pintu.

  siang hari. Rabu, 24 April 2013. Sekitar pukul

  memberikan jawaban yang tidak sopan.

   Penutur menjawab permintaan mitra tutur dengan ketus.  Penutur berbicara kepada orang yang lebih tua.  Penutur dengan sengaja

  Kategori Ketidaksantunan: Menimbulkan konflik Subkategori Ketidaksantunan: Menolak Wujud Ketidaksantunan:

   Tindak verbal: komisif.  Tindak perlokusi: mitra tutur menghampiri penutur dan menjewer telinganya.

  tutur dengan nada ketus dan terkesan menyepelekan.

   Tujuan: penutur menolak perintah dari mitra

  tutur bapak berusia 43 tahun. Penutur adalah anak dari mitra tutur.

   Penutur laki-laki, siswa kelas 3 SD dan mitra

  tutur, bahkan menanggapi permintaan dari mitra tutur dengan kata-kata yang tidak santun.

   Mitra tutur meminta bantuan kepada penutur untuk mengambilkan kursi di depan rumah.  Penutur enggan melaksanakan perintah dari mitra

  tamu, sedangkan penutur sedang menonton televisi di ruang keluarga.

   Mitra tutur sedang menerima tamu di ruang

  13.15 – 13. 45 WIB.

   Percakapan yang terjadi di ruang keluarga pada

  memberikan jawaban yang terkesan menyepelekan mitra tutur.

   Kata fatis: kok.

  nonstandar dengan menggunakan kata populer.

   Diksi: bahasa

  berbicara dengan nada tinggi.

   Nada tutur: penutur

  pada frasa sendiri kok.

   Intonasi seru  Tekanan: keras

  MT : (mitra tutur menghampiri penutur kemudian menjewer telinga penutur)

  depan itu!” P : “Punya kaki sendiri kok!! ”

  ambilkan kursi di

  Cuplikan Tuturan 63 MT : “Wisnu

  5. (E5)

   Penutur tidak memberi tahu mitra tutur dari mana ia pergi.  Penutur menjawab pertanyaan mitra tutur sambil berjalan.

   Penutur berbicara tanpa melihat ke arah mitra tutur.  Penutur tidak mengindahkan perintah mitra tutur.  Penutur justru melanjutkan aktivitasnya menonton televisi.

  6. (E6) Cuplikan Tuturan 64 Kategori Ketidaksantunan:

   Intonasi berita  Percakapan antara penutur dan mitra tutur di

  Menimbulkan konflik teras rumah saat mitra tutur sedang bersiap-siap

  MT : “Ayo ngewangi hendak pergi ke sawah pada siang hari.

   Tekanan: keras

  Subkategori Ketidaksantunan:

  aku neng sawah!”

  pada halah

   Mitra tutur menyuruh penutur untuk membantu

  Menyepelekan pekerjaan di sawah, terlebih ketika sawah sedang panen.

  Wujud Ketidaksantunan :

  P : “Halah mangke

 Nada tutur: penutur  Penutur enggan melaksanakan perintah dari

bu, neng sawah terus

   Penutur menjawab ajakan mitra

  berbicara dengan mitra tutur. Penutur hanya menjawab dengan koyo dibayar wae.

  

  tutur dengan datar tanpa rasa nada sedang. melontarkan kata-kata yang terkesan sembrono. tanggung jawab.

   Penutur duduk di samping mitra tutur.

   Penutur tidak mengindahkan  Diksi: bahasa  Penutur menanggapi ajakan dari mitra tutur.

  MT : “Bocah ora ajakan mitra tutur.

  nonstandar dengan

   Penutur laki-laki, berusia 28 tahun dan mitra

  ngerti kahanan. Koe iso menggunakan

   Penutur berbicara kepada orang

  tutur perempuan, ibu berusia 53 tahun. Penutur urip tekan dino iki yo bahasa Jawa. yang lebih tua. adalah anak dari mitra tutur. mergo seko hasil sawah

   Tujuan: penutur enggan melaksanakan ajakan kui.”

  mitra tutur untuk membantu di sawah, karena menurut penutur percuma bekerja keras kalau tidak mendapat bayaran.

   Tindak verbal: ekspresif.  Tindak perlokusi: mitra tutur menjawab

  perkataan penutur dengan kesal kemudian pergi meninggalkan penutur. 7. (E7)

  Kategori Ketidaksantunan:

  Cuplikan Tuturan 65  Intonasi seru  Pertengkaran antara penutur dan mitra tutur saat

  Menimbulkan konflik berada di teras rumah pada sore hari.

  P : “Woo monyet!!”

 Tekanan: keras  Penutur berebut sandal dengan mitra tutur.

  Subkategori Ketidaksantunan: pada kata monyet.

   Secara tidak sengaja, mitra tutur memakai sandal MT : “Lambemu!”

  Marah penutur tanpa ijin terlebih dahulu. Penutur sangat tidak berkenan mengetahui hal tersebut.

   Nada tutur: penutur berbicara dengan nada tinggi.

   Diksi: bahasa populer.  Kata fatis: woo.

  !” P : “Lambemu!”

   Penutur berbicara kepada mitra tutur dengan berteriak.  Penutur berbicara dengan ketus.  Penutur berbicara sembari

  Kategori Ketidaksantunan: Menimbulkan konflik Subkategori Ketidaksantunan: Marah Wujud Ketidaksantunan:

   Penutur duduk di seberang mitra tutur yang

  kemudian turut melontarkan kata-kata umpatan kepada mitra tutur.

   Penutur yang juga emosinya sedang memuncak

  mitra tutur tanpa ijin terlebih dahulu, sehingga emosi mitra tutur tidak dapat dikendalikan, bahkan melontarkan umpatan kepada penutur.

   Penutur berebut sandal dengan mitra tutur.  Secara tidak sengaja, penutur memakai sandal

   Diksi: bahasa  Pertengkaran antara penutur dan mitra tutur di teras rumah pada sore hari.

  berbicara dengan nada tinggi.

   Nada tutur: penutur

  pada kata lambemu.

   Intonasi seru  Tekanan: keras

  monyet!

  Penutur kemudian mengumpat kepada mitra tutur.

  MT : “Woo

  memunculkan amarah dalam diri mitra tutur. 8. (E8) Cuplikan Tuturan 66

   Penutur berbicara kepada orang yang lebih tua.  Penutur melontarkan kata-kata yang sangat tidak sopan.  Perkataan penutur

  tutur dengan tatapan mata terbelalak.

   Penutur berbicara kepada mitra tutur dengan berteriak.  Penutur berbicara dengan ketus.  Penutur berbicara sembari berdiri.  Penutur berbicara kepada mitra

  Wujud Ketidaksantunan:

  dan marah. Mitra tutur melontarkan kata-kata (umpatan) yang tidak sopan kepada penutur.

   Tindak verbal: ekspresif.  Tindak perlokusi: mitra tutur merasa tersinggung

  kepada mitra tutur karena mitra tutur menggunakan sandal milik penutur tanpa seijin penutur.

   Tujuan: penutur mengungkapkan amarahnya

  berusia 12 tahun dan mitra tutur seorang anak perempuan kelas XII SMK berusia 19 tahun. Penutur adalah adik kandung dari mitra tutur.

   Penutur berdiri di seberang mitra tutur.  Penutur menanggapi tingkah laku mitra tutur.  Penutur seorang anak laki-laki kelas 4 SD

  menatap mitra tutur dengan nonstandar dengan sedang berdiri. mata terbelalak. menggunakan

   Penutur membalas perkataan mitra tutur dengan  Penutur sengaja melontarkan bahasa Jawa.

  kesal dan marah. kata-kata tidak sopan kepada mitra tutur.

   Penutur seorang anak perempuan kelas XII SMK

  berusia 19 tahun dan mitra tutur seorang anak

   Perkataan penutur

  laki-laki kelas 4 SD berusia 12 tahun. Penutur mengakibatkan mitra tutur merupakan kakak dari mitra tutur. marah dan melempar sandal ke arah penutur.

   Tujuan: membalas umpatan dari MT yang ditujukan kepada penutur.  Tindak verbal: ekspresif.

  perlokusi: mitra tutur berlari

   Tindak

  meninggalkan penutur sambil melempar sandal ke arah penutur. 9. (E9) Cuplikan Tuturan 67

  Kategori Ketidaksantunan:

   Intonasi tanya  Tuturan terjadi di kamar tidur ketika mitra tutur

  berusaha mengingatkan penutur untuk shalat. Menimbulkan konflik

  MT : “Udah Shalat  Tekanan: keras  Penutur kesal dengan mitra tutur, sehingga

  Subkategori Ketidaksantunan:

  belum?”

  pada frasa wis penutur menjawab pertanyaan mitra tutur dengan Marah dong. nada tinggi dan terkesan sangat tidak santun.

  P : “Iso meneng  Penutur berdiri di hadapan mitra tutur. ora? Aku wis dong! ”

  Wujud Ketidaksantunan:  Penutur menjawab pertanyaan mitra tutur.

   Penutur menjawab pertanyaan  Nada tutur: penutur

   Penutur seorang anak laki-laki kelas VII SMP mitra tutur dengan ketus.

  berbicara dengan berusia 13 tahun dan mitra tutur seorang ibu nada tinggi.

   Penutur berbicara kepada orang

  berusia 40 tahun. Penutur adalah anak dari mitra yang lebih tua. tutur.

   Penutur berbicara sembari  Diksi: bahasa

   Tujuan: penutur mengungkapkan amarahnya berdiri.

  nonstandar dengan kepada mitra tutur yang dianggap terlalu banyak menggunakan mengatur.

   Penutur dengan sengaja bahasa Jawa.

  melontarkan kata-kata tidak  Tindak verbal: ekspresif. sopan kepada mitra tutur.

   Tindak perlokusi: mitra tutur marah dan membanting pintu kamar penutur.

  bebek peliharaan di rumah. Namun, MT 1 justru menyuruh penutur yang empunya bebek tersebut.

   Perkataan penutur

  berjalan hendak meninggalkan MT 1.

   Penutur berbicara kepada MT 1 dengan keras.  Penutur berbicara kepada orang yang lebih tua.  Penutur berbicara tanpa melihat ke arah MT 1.  Penutur berbicara sembari

  Kategori Ketidaksantunan: Menimbulkan konflik Subkategori Ketidaksantunan: Kesal Wujud Ketidaksantunan:

  menanggapi perkataan penutur dengan kata-kata sekenanya.

   Tujuan: penutur berusaha menolak apa yang diperintahkan oleh MT 1.  Tindak verbal: ekspresif  Tindak perlokusi: MT 1 semakin kesal dan

  MT 1 perempuan kelas XII SMK berusia 19 tahun, dan MT 2 seorang ibu berusia 42 tahun. Penutur merupakan adik dari MT 1, sedangkan MT 2 merupakan ibu dari penutur dan MT1.

   Penutur berdiri di dekat MT 1.  Penutur menjawab perintah MT 1.  Penutur laki-laki kelas 4 SD berusia 12 tahun,

  untuk mengerjakan sesuatu. MT 1 yang juga merasa kesal kemudian menanggapi perkataan penutur dengan nada tinggi.

   Penutur merasa kesal karena selalu disuruh

   MT 2 menyuruh MT 1 untuk memberi makan

   Perkataan penutur

   Kata fatis : woo  Percakapan sore hari ketika penutur, MT 1, dan MT 2 berada di teras rumah.

  nonstandar dengan menggunakan bahasa Jawa.

   Diksi: bahasa

  berbicara dengan nada tinggi.

   Nada tutur: penutur

   Intonasi seru  Tekanan: keras pada partikel woo.

  P : “Woo opo- opo aku. Opo-opo aku!!” MT 1 : “Salahe dituku!”

  MT1 : (tidak menjawab, justru berbalik menyuruh penutur)

  MT 2 : “Dik, bebek’e dipakani yoo!!”

  mengakibatkan mitra tutur marah dan membanting pintu kamar. 10. (E10) Cuplikan Tuturan 68

  mengakibatkan MT 1 kesal dan melontarkan kata-kata sekenanya.

  11. (E11) Cuplikan Tuturan 69

   Penutur berdiri di dekat mitra tutur.  Penutur berkata kepada mitra tutur.  Penutur laki-laki, bapak berusia 59 tahun dan mitra tutur perempuan, ibu berusia 57 tahun.

  mitra tutur di ruang keluarga dalam suasana tegang.

  P : “Koe ki raiso  Intonasi seru  Pertengkaran yang terjadi antara penutur dan

  12. (E12) Cuplikan Tuturan 70

   Penutur berbicara sembari menunjuk ke arah mitra tutur.

  melontarkan kata-kata yang mengakibatkan mitra tutur marah.

   Penutur berbicara kepada mitra tutur dengan ketus.  Penutur dengan sengaja

  Kategori Ketidaksantunan: Menimbulkan konflik Subkategori Ketidaksantunan: Marah Wujud Ketidaksantunan:

  membalas perkataan penutur sebagai upaya pembelaan diri.

   Tindak verbal : ekspresif  Tindak perlokusi : mitra tutur marah kemudian

  yang dianggap terlalu sering meminta uang kepada penutur, tanpa mau berusaha.

   Tujuan: penutur menolak permintaan mitra tutur

  Penutur adalah suami dari mitra tutur.

  perkataan penutur. Mitra tutur kemudian membalas perkataan penutur.

  P : “Koe ki isane mung njaluk’i duit wae!!” MT : “Lha ora

   Mitra tutur juga kurang berkenan mendengar

  tutur hanya dapat meminta uang saja tanpa mau berusaha. Penutur melontarkan kata-kata kepada mitra tutur dengan nada penuh amarah.

   Mitra tutur bermaksud meminta uang kepada penutur.  Penutur merasa kesal karena menganggap mitra

  berada di belakang rumah pada sore hari dalam suasana serius. Penutur baru saja pulang dari sawah.

   Percakapan antara penutur dan mitra tutur saat

  nonstandar dengan menggunakan bahasa Jawa.

   Diksi: bahasa

  berbicara dengan nada tinggi.

   Nada tutur: penutur

  pada frasa njaluki duit.

   Intonasi seru  Tekanan: keras

  nyambut gawe yoo mesti njaluk duit wae!

  Kategori Ketidaksantunan: Menimbulkan konflik

  ndidik anak!” MT : “Aku tak lungo wae seko ngomah iki.”

   Tujuan: penutur mengungkapkan kecewanya

   Perkataan dan perbuatan penutur

  mengakibatkan mitra tutur melontarkan sebuah ancaman keras.

   Penutur berbicara kepada mitra tutur dengan keras.  Penutur berbicara dengan ketus.  Penutur berbicara sembari memukul pipi mitra tutur.  Perkataan dan perbuatan penutur

  Subkategori Ketidaksantunan: Marah Wujud Ketidaksantunan:

  penutur dengan mengatakan bahwa ia akan pergi dari rumah. Ancaman itu ditunjukkan mitra tutur dengan nada penuh emosi.

   Tindak verbal: ekspresif.  Tindak perlokusi: mitra tutur mengancam

  kepada mitra tutur yang dinilai telah gagal mendidik anak.

  Penutur adalah suami dari mitra tutur.

  (sambil terisak)

  

 Penutur berdiri di dekat mitra tutur.

 Penutur berkata kepada mitra tutur.

 Penutur laki-laki, bapak berusia 47 tahun dan mitra tutur perempuan, ibu berusia 42 tahun.

  penutur. Mitra tutur kemudian melontarkan kata- kata berupa ancaman kepada penutur.

   Penutur marah kepada mitra tutur ketika sedang membahas anak mereka yang sulit diatur.  Penutur menilai mitra tutur telah gagal mendidik anak.  Mitra tutur tidak terima mendengar perkataan

  nonstandar dengan menggunakan bahasa Jawa.

   Diksi: bahasa

  berbicara dengan nada tinggi.

   Nada tutur: penutur

  P : “Yowis, tak lungo aku.”  Tekanan: keras pada frasa ra iso.

  disaksikan juga oleh anggota keluarga lain yang berada di tempat tersebut

  

PARAMETER PENENTU KETIDAKSANTUNAN

No.

  terjadinya tuturan: kapan saja.

  pulang tu mbok ngebel rumah, ben wong tuwa ra

  : “Telat

  Cuplikan tuturan 1 MT

  perlokusi: mitra tutur kesal, namun ada pula yang lebih memilih diam kemudian pergi meninggal- kan penutur.

   Tindak

  verbal komisif dan ekspresif.

   Tindak

  terjadi di dalam rumah.

   Tuturan

   Waktu

  Kategori Ketidak- santunan Lingual Nonlingual Contoh Cuplikan Tuturan Nada Tekanan Intonasi Diksi Penutur dan Mitra Tutur Situasi Tutur Tujuan Tuturan Waktu dan tempat ketika bertutur Tindak verbal dan tindak perlokusi

  Menentang dan menolak kesepakatan yang telah ditetapkan dalam keluarga.

  Tuturan terjadi dalam suasana serius, namun ada juga yang cende- rung santai.

  Para anggota keluarga yang terdiri dari bapak, ibu, anak laki-laki, anak perempuan, dan nenek.

  Bahasa nonstan- dar

  Penutur bebricara dengan intonasi seru.

  Tuturan dikatakan dengan tekanan keras dan lunak.

  nada tinggi dan nada sedang.

  Tuturan dikatakan dengan

  1. Melanggar Norma

  bingung!” P: “Opo- opo kok koyo cah cilik to, mengko lak yo bali dewe!! ”

  2. Mengan- cam Muka Sepihak

  Secara umum penutur menyampai kan tuturannya

  3. Meleceh- kan Muka Tuturan dikatakan dengan nada tinggi dan

  Tuturan dikatakan dengan tekanan keras dan

  Penutur berbicara dengan intonasi seru dan

  Bahasa populer dan bahasa nonstandar

  Para anggota keluarga yang terdiri dari bapak, ibu, anak

  Tuturan terjadi dalam suasana yang cenderung

   Waktu

  Ngomong yo ngomong tapi kan ngga perlu mutus- mutus sembarangan

  terjadinya tuturan: kapan saja.

   Tindak

  verbal: ekspresif.

   Tindak

  perlokusi: Cuplikan tuturan 18: MT

  : “Ini

  ngono kui.”

  : “Yoo, hati-hati.

  Tuturan dikatakan dengan nada tinggi dan sedang.

  terjadinya tuturan: kapan saja.

  Tuturan dikatakan dengan tekanan keras dan lunak.

  Penutur berbicara dengan intonasi tanya, seru, dan perintah.

  Bahasa nonstandar Para anggota keluarga yang terdiri dari bapak, ibu, anak laki-laki, anak perempuan, menantu, bahkan kerabat jauh dari keluarga.

  Tuturan terjadi dalam suasana serius, namun ada pula yang cenderung santai.

  Secara umum tuturan disampai- kan dengan tujuan mengung- kapkan apa yang dirasakan oleh penutur.

   Waktu

   Tuturan

  MT

  terjadi di rumah dan di area persawahan.

   Tindak

  verbal: ekspresif.

   Tindak

  perlokusi: mitra tutur tersinggung dan kesal, sehingga memberi jawaban singkat. Ada pula yang menasihati penutur kemudian pergi meninggal- kan penutur.

  Cuplikan tuturan 11:

  P : “Kene, aku meh ngomong! ”

  gimana sedang. lunak. berita. laki-laki, anak perempuan, saudara ipar, keponakan, nenek. santai, namun ada pula yang serius. dengan tujuan sebagai ungkapan perasaan penutur terhadap mitra tuturnya.

   Tuturan

   Waktu

  ini putranya

  “Kalau Mas

  Cuplikan tuturan 51: MT 1:

  perlokusi: mitra tutur malu dan hanya tersenyum

   Tindak

  verbal:ekspre sif.

   Tindak

  terjadi di rumah dan di area persawahan.

   Tuturan

  terjadinya tuturan: kapan saja.

  Tuturan disampai- kan dengan tujuan mengung- kapkan apa yang dirasakan oleh

  terjadi di rumah. mitra tutur hanya tersenyum, namun ada pula yang berlari meninggal- kan penutur, tidak mengindah- kan perintah penutur, bahkan ada yang hanya memilih untuk diam. ngidupin

  Tuturan terjadi dalam suasana yang cenderung santai dan ada pula yang

  Para anggota keluarga yang terdiri dari bapak, ibu, anak laki-laki, anak perempuan,

  Bahasa populer dan bahasa nonstan- dar

  Penutur berbicara dengan intonasi tanya dan berita.

  Tuturan dikatakan dengan tekanan keras dan lunak.

  Tuturan dikatakan dengan nada sedang.

  4. Menghi- langkan Muka

  P : “Huuuuu bodoh, raiso ngitung!! ” MT : “Yo ben.”

  Cuplikan tuturan 30:

  .”

  ini?” P: “Wah ibuk ki ora modern

  Bapak?” P : “Iya, itu yang masih nenek, bahkan kerabat dekat maupun kerabat jauh mitra tutur. serius. penutur, berupa sindiran, ejekan, kekesalan, dan penegasan. atau tertawa. Ada pula yang memberikan jawaban sebagai upaya pembelaan diri, bahkan ada yang memilih untuk diam.

  belum laku mbak, soalnya penganggur an. ”

  terjadi di rumah.

  mau?” P : “Biasa anak muda .”

  ngendi koe

  “Seko

  Cuplikan Tuturan 62: MT:

  perlokusi: kekesalan, amarah, dan tersinggungn ya mitra tutur. Amarah mitra tutur

   Tindak

  verbal: ekspresif dan komisif.

   Tindak

   Tuturan

  5. Menimbul- kan Konflik

  terjadinya tuturan: kapan saja.

   Waktu

  Tuturan disampai- kan dengan tujuan mengung- kapkan apa yang dirasakan oleh penutur terhadap mitra tuturnya,

  Tuturan terjadi dalam suasana serius.

  Para anggota keluarga yang terdiri dari bapak, ibu, anak laki-laki, dan anak perempuan.

  Bahasa populer dan bahasa nonstan- dar.

  Penutur berbicara dengan intonasi seru.

  Tuturan dikatakan dengan tekanan keras dan lunak.

  Tuturan dikatakan dengan nada tinggi.

  MT: (pergi meninggal- kan penutur dan yang ditunjukkan membanting sebagian dengan cara pintu). besar membanting

  Cuplikan berupa pintu, dengan tuturan 65: ungkapan umpatan, kekesalan melempar

  P : “Woo

  dan amarah sandal,

  monyet! !”

  penutur. bahkan MT : melontarkan sebuah “Lambemu!” ancaman.

  

MAKSUD KETIDAKSANTUNAN PENUTUR

No. Kategori Subkategori Kode Tuturan Maksud Penutur

“Opo-opo kok koyo cah cilik to, mengko lak yo bali

  A1 Kesal

  Menentang dewe!!

  ”

  A5 Bercanda

  “Iyo pak, sekalian subuh.”

  A2 “Emoohh, Pak!” Menolak

  Melanggar Menolak

  1 A6 Menolak

  “Ahh..wong neng sekolah wis sinau kok!”

  Norma

  “Mau kan aku wis ngomong, kok diarani dolan, kan wis

  Kesal A3 Membela diri ijin!! ”

  “Ahh, mamak ki terlalu! Aku ra meh mulih, meh kost

  Marah A4 Kesal wae!! ”

  B1 “Sudah hampir setahun, sudah mau punya anak belum?” Menyindir Menyindir B2

  Menanyakan

  “Ngopo Pak, panjenengan kok koyo sakit gigi ngaten?”

  B4 Mengusir

  2 Mengancam

  “Wis meh maghrib kok ono tamu!!”

  Muka B3 Kesal

  “Neng ngomah ki ngopo wae??”

  Marah Sepihak

  B10 “Mpun, kulo ajeng jagong! Mang tunggu sak jam!!” Mengusir B5

  Memerintah

  “Kene, aku meh ngomong!”

  Memerintah B7

  Meminta bantuan

  “Mbak, garapke iki!” Kecewa B6 “Sesok meneh ojo nyayur ngene iki, Mak!!” Memberi saran Menanyakan B8

  Menanyakan

  “Ngopo mbah kok ra maem?”

  Mengancam B9 Menakut-nakuti

  “Tak jewer koe mengko nek ngeyel!!”

  Menegaskan B11 Memberi informasi

  “Bu, sesok mbayar uang kuliah. Telate dua hari lagi.”

  C1 Kesal

  “Wah ibuk ki ora modern. “Hayoo, punya mulut kok ga bisa ngomong to?besok lagi

  C3 Menakut-nakuti bilang!

  ”

  C11 “Wahh opo, kono koe ki cah cilik!” Mengusir Kesal C12 “Jaket aja sampai 15 lebih. Kayak artis aja!” Kesal

  C13 Kesal

  “Huuuuu bodoh, raiso ngitung!!”

  C19 Protes

  “Ibu itu pelit, aku ngga dikasih uang.”

  Melecehkan

  3 C22 Menagih janji

  “Ahh, bapak ki tukang ngapusi!”

  Muka C25 “Mbayar larang-larang kon sinau ngeyel!!” Kesal “Wah simbok ki kalah sekolah mbiyen karo saiki.

  C4 Menyimpulkan Mbiyen ki kuno.

  ” “Sing mesak’ake yo iki mbak, kasian sekali ini. Wis

  Mengejek C7 Bercanda disambi, ireng, kasian sekali yo le sayang ya.

  ” “Kok nama saya Lembayung, bapak kasih nama jelek

  C8 Protes banget!

  

  “Dek, kamu ngga bisa sekolah jadi ABRI seperti saya,

  C9 Memberi informasi soalnya kakimu tu bentuknya O, kaki kok kaya bola.

  ”

  C10 “Pikirane ki koyo wong tuwek.” Menyimpulkan C14 “Cucunya kok cilik.” Mengejek

  “Itu adik saya yang kepala desa itu tapi itu yang paling

  C16 Memberi informasi bodoh itu. ”

  “Ini adik keponakan saya, tapi dia gembrotnya kayak

  C17 Memberi informasi gitu. ”

  C21 Protes

  

“Ngapain dandan? Iihh Ibu juga ga dandan.”

  Menolak

  “Dadi pegawai negeri bapak ra dadi opo-opo kok! Aku

  C23 Menolak emoh pegawai negeri! ”

  C5 Menyindir

  “Maklum lah wong hukum.”

  Menyindir C18

  Menyindir

  “Ki lho Mas, ngerti to Undang-undange??”

  C6 Marah

  “Koe ki anak perawan kok keset!!”

  Marah C24 “Wooo nenek lampir!” Kesal

  “Heii kamu tu dikucir rambutnya, nanti nek kuliah

  C15 Menakut-nakuti budeg lho!

  Menyarankan ” C20 “Ya ampun kalian itu gadis, dandan dong!” Memberi saran

  Menanyakan C2 Menyimpulkan

  “Kok nilai kamu tu jelek, ga pernah belajar ya?” D1 “Ngelih po doyan??” Menyindir

  “Lehmu kuliah ki arep mbok rampungke ora? Nek ora po

  D2 Bercanda rep ndue bojo wae? ”

  “Wong yang masih bujang aja banyak kok kamu tu milih

  Menyindir D6 Kesal yang udah beristri to nduk?

  ”

  D10 “Arep mencari sendiri atau dicarikan??” Bercanda D13

  Bercanda

  “Kok koyo gunung’e , Pak?”

  D16 Bercanda

  

“Loro untu bapakmu.”

  D3 Bercanda

  “Ah bapak kae wis tuwo yo roso kok!”

  Menghilang-

  4 D4 Bercanda

  “Mak, satus ki nol’e piro??”

  kan Muka D7 “Tapi aku tanya Dik, koe ki seneng cewek tenan ora?” Bercanda

  “Iya, itu yang masih belum laku mbak, soalnya

  Mengejek D9 Memberi informasi pengangguran. ”

  D11 “Kalau bapak itu hanya es dua bakso satu.” Bercanda D14

  Bercanda

  

“Kui kek’ke juragane!”

  D15 Memberi informasi

  “Kayak kucing lho itu mbak, malu-malu.”

  D5 Kesal

  

“Salah’e raiso moco!!”

  Kesal

  “Mbok nek ndue anak ki ora akeh-akeh. Mosok manak

  D8 Protes ping 6. Koyo pitik wae!!

  ” Menegaskan D12 “Nek sing niki gembeng.” Menakut-nakuti

  5 Menimbul- kan Konflik Marah

  Kesal E2

  Menyepelekan E4 Biasa anak muda. Merahasiakan sesuatu E6 Halah mangke bu, neng sawah terus koyo dibayar wae. Menolak

  Wooo opo-opo aku. Opo-opo aku!! Protes

  Kesal E10

  “Sak karepku to mak, wong sing nganggo aku kok!!”

  Merahasiakan sesuatu E3

  “Ahh ibuk ki mau tau wae.”

  Marah E12 “Koe ki raiso ndidik anak!” Marah

  E7

  “Koe ki isane mung njaluk’i duit wae!!”

  Kesal E11

  “Iso meneng ora? Aku wis dong!”

  Marah E9

  “Lambemu!”

  Marah E8

  “Woo monyet!!”

  Menyindir E1 Mbok dibanting sisan! Mbok dibaleni! Menyindir Menolak E5 Punya kaki sendiri kok!! Menolak

  Kasus/Situasi

KUESIONER PENELITIAN KETIDAKSANTUNAN DALAM BERBAHASA

A.

  

Pertanyaan Kasus/Situasi untuk Orang Tua dalam Relasi dengan Anggota

Keluarga

  PETUNJUK: Tulislah bentuk kebahasaan yang akan Anda gunakan sebagai respons Anda terhadap situasi-situasi berikut dengan sejujurnya (pertanyaan disesuaikan dengan situasi dalam keluarga)!

  Situasi 1:

  Keluarga Anda memiliki jam belajar pukul 20.00 WIB. Ketika waktu menunjukkan pukul 20.00 WIB, anak Anda belum juga belajar, tetapi justru masih menonton televisi. Apa yang akan Anda katakan untuk memperingatkan anak Anda? Respons Anda:

  Situasi 2:

  Saat Anda menasihati anak Anda ketika terlibat perkelahian di sekolah, anak Anda justru memainkan handphone dan tidak memperdulikan nasihat Anda. Apa yang akan Anda katakan untuk memperingatkan anak Anda? Respons Anda:

  Situasi 3:

  Ketika Anda sedang menerima telepon dari teman, anak Anda menghidupkan musik dengan volume yang keras dan tidak menyadari bahwa hal itu mengganggu percakapan Anda. Apa yang akan Anda katakan untuk memperingatkan anak Anda? Respons Anda:

  Kasus/Situasi Situasi 4:

  Ketika sedang menonton sebuah acara televisi favorit Anda, tiba-tiba anak Anda mengganti saluran televisi tersebut tanpa meminta izin dari Anda. Apa yang akan Anda katakan untuk memperingatkan anak Anda? Respons Anda:

  Situasi 5:

  Keluarga Anda membuat kesepakatan jam malam untuk anak Anda sampai pukul 22.00 WIB. Suatu malam, anak Anda pulang melampaui jam yang telah disepakati. Apa yang akan Anda katakan untuk memperingatkan anak Anda? Respons Anda:

  Kasus/Situasi B.

  

Pertanyaan Kasus/Situasi untuk Anggota Keluarga dalam Relasi dengan

Orang Tua

  PETUNJUK: Tulislah bentuk kebahasaan yang akan Anda gunakan sebagai respons Anda terhadap situasi-situasi berikut dengan sejujurnya (pertanyaan disesuaikan dengan situasi dalam keluarga)!

  Situasi 1:

  Anda meminta supaya dibelikan handphone baru karena handphone lama Anda sudah ketinggalan zaman. Anda sudah meminta berulang kali, tetapi belum juga dibelikan. Apa yang akan Anda katakan kepada orang tua Anda? Respons Anda:

  Situasi 2:

  Anda dipaksa oleh ibu Anda untuk membeli sayur di pasar, padahal Anda tidak suka berbelanja di pasar. Apa yang akan Anda katakan dalam situasi seperti ini? Respons Anda:

  Situasi 3:

  Anda diajak teman-teman keluar rumah pada malam hari. Namun, orang tua tidak mengizikinkan Anda untuk pergi. Apa yang akan Anda katakan kepada orang tua Anda di depan teman-teman Anda? Respons Anda:

  Situasi 4:

  Ketika Anda pulang sekolah dan merasa lapar, tidak ada makanan di rumah. Apa yang akan Anda katakan kepada orang tua Anda? Respons Anda:

  Kasus/Situasi Situasi 5:

  Ketika Anda sedang dimarahi oleh orang tua karena Anda dianggap pergi tanpa seizin mereka, padahal Anda merasa sudah meminta izin kepada orang tua Anda. Apa yang akan Anda katakan dalam situasi seperti ini? Respons Anda:

  A. Daftar Pertanyaan untuk Orang Tua dalam Relasi dengan Anggota Keluarga

  PETUNJUK: Gunakan daftar pertanyaan berikut untuk mewawancarai informan, kemudian tulislah atau rekamlah bentuk kebahasaan yang disampaikan oleh informan (pertanyaan disesuaikan dengan situasi dalam keluarga)! 1.

  Wujud teguran apa yang akan Anda katakan kepada anak Anda jika anak

  perempuan Anda yang sudah cukup dewasa belum bisa memasak atau anak lelaki Anda yang sudah cukup dewasa hanya bermalas-malasan di rumah? (melecehkan muka) Penjelasan Informan:

  • 2.

  Wujud teguran apa yang akan Anda katakan kepada anak Anda ketika anak

  Anda menjawab sekenanya dan terkesan acuh saat Anda memberikan nasihat? (menimbulkan konflik) Penjelasan Informan:

  • 3.

  Wujud teguran apa yang akan Anda katakan kepada anak Anda jika anak

  Anda yang sudah kuliah semester 12 belum lulus atau anak Anda yang masih bersekolah tidak naik kelas jika situasinya sedang ada pertemuan keluarga? (menghilangkan muka) Penjelasan Informan:

  • 4.

  Wujud teguran apa yang akan Anda katakan kepada anak Anda jika anak

  Anda yang sedang membersikan rumah tanpa sengaja mengganggu aktivitas Anda (misalnya menulis, membaca, atau menonton televisi)? (mengancam muka sepihak) Penjelasan Informan:

5. Wujud teguran apa yang akan Anda katakan kepada anak Anda jika anak

  Anda terlambat pulang ke rumah tanpa alasan yang jelas, padahal sudah disepakati bersama dalam keluarga bahwa batasan jam pulang malam tidak boleh dilanggar? (melanggar aturan) Penjelasan Informan:

  B.

  

Daftar Pertanyaan untuk Anggota Keluarga dalam Relasi dengan Orang

Tua

  PETUNJUK: Gunakan daftar pertanyaan berikut untuk mewawancarai informan, kemudian tulislah atau rekamlah bentuk kebahasaan yang disampaikan oleh informan (pertanyaan disesuaikan dengan situasi dalam keluarga)! 1.

  Bagaimana respon Anda ketika mengetahui bahwa orang tua Anda tidak

  dapat mengoperasikan komputer? (melecehkan muka) Penjelasan Informan:

  • 2.

  Bagaimana respon Anda ketika orang tua Anda menegur Anda karena

  mendengarkan musik dengan volume yang keras? (menimbulkan konflik) Penjelasan Informan:

  • 3.

  Bagaimana respon Anda ketika orang tua Anda berusaha membanding-

  bandingkan nilai Anda dengan kakak/adik yang memiliki nilai lebih baik dari Anda? (menghilangkan muka) Penjelasan Informan:

  • 4.

  Bagimana respon Anda bila saat Anda belajar, orang tua Anda meminta

  bantuan Anda, tetapi hanya dengan meneriakkan nama Anda tanpa memberikan penjelasan mengenai bantuan apa yang diperlukan? (mengancam muka sepihak) Penjelasan Informan:

  • 5.

  Bagaimana respon Anda ketika orang tua Anda mengotak-atik handphone

  Anda dan membaca pesan singkat antara Anda dengan teman dekat Anda? (melanggar aturan)

  

Instrumen Penelitian Maksud Penutur

  Kode Tuturan : 1.

  :

  Lokasi 2.

  :

  Suasana 3.

  :

  Keadaan emosi 4.

  :

  Identitas penutur

  a. :

  Gender

  b. :

  Umur

  c. :

  Pekerjaan

  d. :

  Domisili

  e. :

  Daerah Asal

  f. :

  Bahasa yang dipakai sehari-hari 5.

  :

  Identitas lawan tutur

  a. :

  Gender

  b. :

  Umur

  c. :

  Pekerjaan

  d. :

  Domisili

  e. :

  Daerah Asal

  f. :

  Bahasa yang dipakai sehari-hari 6.

  :

  Tanggal percakapan 7.

  :

  Waktu percakapan

  Tuturan:--------------------------------------------------------------------------------------------

  Maksud: -------------------------------------------------------------------------------------------

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

  Clara Dhika Ninda Natalia lahir di Gunungkidul tanggal 18 Desember 1990. Pendidikan dasar ditempuh di SD Negeri

02 Pagi Susukan, Ciracas, Jakarta Timur tahun 1997 – 2002.

  Ia menamatkan pendidikan tingkat sekolah dasar di SD

  • – Negeri Tepus IV, Wonosari, Gunungkidul tahun 2002 2003. Pada tahun 2003 – 2006 melanjutkan sekolah di SMP

  Negeri 1 Wonosari, Gunungkidul. Sekolah menengah atas ditempuh di SMA Negeri 2 Wonosari, Gunungkidul tahun 2006

  • – 2009. Setelah menamatkan

  pendidikan di sekolah menengah atas, ia menempuh studi S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Masa berakhirnya studi adalah tahun 2013.

Dokumen baru

Dokumen yang terkait

Analisis usaha tani kopi dalam meningkatkan pendapatan petani di Kecamatan Bebesen Kabupaten Aceh Tengah
2
48
101
Keluarga Dan Pendidikan Perempuan Di Pesantren (Kasus di Kabupaten Sleman dan Bantul Yogyakarta)
0
25
1
Faktor sosial ekonomi yang mempengaruhi tingkat partisipasi kerja anggota keluarga petani di desa Bangorejo kecamatan Gumuk Mas kabupaten Jember
0
4
67
Etika dan kekuasaan: pemikiran niccolo machiavelli atas etika dan kekuaasaan dalam ranah politik
1
17
98
Motivasi petani dalam menerapkan metode SRI (System of Rice Intensification): studi kasus di Kecamatan Manonjaya Kabupaten Tasikmalaya
0
10
118
Peran dan kontribusi BP4 dalam membentuk keluarga sakinah di KUA Tanah Abang Jakarta Pusat
6
47
120
Kafaah dalam perkawinan sebagai pembentukan keluarga sakinah : Studi kasus di Desa Kemang Kecamatan Kemang Kabupaten Bogor
2
18
124
Peran pendidikan agama Islam di keluarga dalam membentuk kepribadian remaja
0
32
0
Praktik gadai sawah petani Desa Simpar Kecamatan Cipunagara Kabupaten Subang dalam perspektif fikih muamalah
0
13
0
Tingkat Kepatuhan Minum Tablet Zat Besi dengan Kejadian Prematur di Kabupaten Bantul
0
2
5
Faktor Yang Mempengaruhi Pemanfaatan Posyandu Lansia di Imogiri Kabupaten Bantul
1
1
6
Penguatan Kapasitas Usaha Perikanan dalam Pengembangan E-commerce di Kabupaten Bantul
1
1
7
NASKAH PUBLIKASI - Analisis ketahanan pangan rumah tangga miskin di Kecamatan Imogiri Kabupaten Bantul
0
1
6
Hasil Aman Penurapan Airtanah untuk Kebutuhan Non Pertanian di Kabupaten Bantul
0
0
12
Peranan wanita tani dalam sistem nafkah rumah tangga petani di Kecamatan Karanganyar
0
0
110
Show more