MODIFIKASI PERENCANAAN GEDUNG SEKOLAH SMP-SMA MUHAMMADIYAH 2 SURABAYA MENGGUNAKAN STRUKTUR KOMPOSIT BAJA BETON.

Gratis

2
8
152
2 years ago
Preview
Full text

  

MODIFIKASI PERENCANAAN GEDUNG SEKOLAH SMP-SMA

MUHAMMADIYAH 2 SURABAYA MENGGUNAKAN

STRUKTUR KOMPOSIT BAJ A BETON

PROPOSAL TUGAS AKHIR

  Diker jakan Oleh : AMBARINI NPM. 0853010081

  

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL

FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL ”VETERAN ”

J AWA TIMUR

  

2012 Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : LEMBAR PENGESAHAN LAPORAN KERJ A PRAKTEK I & II METODE PELAKSANAAN PELAT LANTAI PADA PROYEK PEMBANGUNAN PABRIK PT. SOFTEX

  INDONESIA DI LINGKAR TIMUR

SIDOARJ O

  Ker ja Praktek ini telah diter ima sebagai salah satu persyar atan untuk memper oleh gelar Sar jana Teknik ( S1 ) Pembimbing Utama Pembimbing Lapangan Novie Handajani, ST., MT.

  Yovie, ST. NPT. 3 6711 95 0037 1

  Ketua Pr ogram Studi Kontr aktor Pelaksana Teknik Sipil PT. OMETRACO ARYA

  SAMANTA Ibnu Sholichin, ST., MT. Sugeng S.

  NPT. 3 6711 95 0037 1 Mengetahui

  Dekan Fakultas Teknik Sipil Dan Perencanaan Ir. NANIEK RATNI J AR., M.Kes

  NIP. 19590729 198603 2 00 1

  Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

  LEMBAR PENGESAHAN LAPORAN KERJ A PRAKTEK I & II METODE PELAKSANAAN PELAT LANTAI PADA PROYEK PEMBANGUNAN PABRIK PT. SOFTEX

  INDONESIA DI LINGKAR TIMUR

SIDOARJ O

  Ker ja Praktek ini telah diter ima sebagai salah satu persyar atan untuk memper oleh gelar Sar jana Teknik ( S1 ) Mengetahui

  Dekan Fakultas Teknik Sipil Dan Perencanaan Ir. NANIEK RATNI J AR., M.Kes

  NIP. 19590729 198603 2 00 1 Pembimbing Lapangan Yovie, ST. Pembimbing Utama Ir . Wahyu Kar tini, MT.

  NPT. 3 6711 95 0037 1 Ketua Pr ogram Studi

  Teknik Sipil Ibnu Sholichin, ST., MT.

  NPT. 3 6711 95 0037 1 Kontr aktor Pelaksana

  PT. OMETRACO ARYA SAMANTA Sugeng S.

  Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

  

MODIFIKASI PERENCANAAN GEDUNG SEKOLAH SMP-SMA

MUHAMMADIYAH 2 SURABAYA MENGGUNAKAN

STRUKTUR KOMPOSIT BAJ A BETON

  Diker jakan Oleh : AMBARINI NPM. 0853010081

  Abstr ak Sekolah Muhammadiyah 2, Surabaya terletak di Pucang Anom Timur pada kawasan pemukiman padat penduduk, maka dengan keterbatasan lahan yang ada gedung sekolah tersebut dibangun secara bertingkat. Sebagai bahan studi perencanaan, gedung sekolah Muhammadiyah 2 Surabaya yang semula terdiri dari 5 lantai, pada strukturnya menggunakan struktur beton bertulang akan direncanakan kembali menjadi 8 lantai dengan menggunakan struktur komposit baja-beton, dimana balok induk eksterior menggunakan profil WF 500.200.9.14 dan balok interior profil WF 600.200.12.20 serta balok anak menggunakan profil WF 350.175.6.9 dengan lantai dari beton. Kolom menggunakan profil baja K 500.200.10.16. Dengan tinggi bangunan mencapai 32 m < 40 m yang berbentuk simetris, maka gedung tersebut termasuk beban gempa statis, dan direncanakan terletak diwilayah gempa kuat, dengan menggunakan Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus (SRPMK). Desain ini memperhitungkan kekuatan serta daktilitas pada hubungan balok-kolom yang akan diaplikasikan pada Gedung Sekolah SMP- SMA Muhammadiyah 2, Surabaya. Serta menggunakan peraturan SNI 03-1726-2002 tentang “Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Bangunan Gedung” serta SNI 03-1726-2002 tentang “Tata Cara Perencanaan Struktur Baja”.

  Kata kunci : komposit baja-beton, SRPMK, kingkross

  KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala ridho, karunia, serta hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Tugas Akhir ini dengan judul “Modifikasi Perencanaan Gedung Sekolah Smp-Sma Muhammadiyah 2 Surabaya Menggunakan Struktur Komposit Baja Beton”.

  Penulis menyadari bahwa keberhasilan dalam menyelesaikan Tugas Akhir ini tidak lepas dari bantuan, bimbingan dan dorongan dari berbagai pihak baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu, penulis mengucapkan banyak terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada :

  1. Ibu Ir. Naniek Ratni JAR., Mkes. selaku Dekan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan UPN “Veteran” Jawa Timur.

  2. Bapak Ibnu Solichin, ST., MT. Selaku Ketua Program Studi Teknik Sipil FTSP UPN “Veteran” Jawa Timur.

  3. Ibu Ir. Wahyu Kartini, MT. Selaku Dosen Pembimbing Utama yang telah banyak memberikan bimbingan dan arahan dalam penyusunan Tugas Akhir ini sampai selesai.

  4. Bapak Ir. Made D Astawa, MT. Selaku Dosen Pendamping yang telah berkenan memberikan bimbingan dan dorongan selama pengerjaan Tugas Akhir sampai selesai.

  5. Bapak Nugroho Utomo, ST. Selaku Dosen Wali yang telah banyak memberikan nasehat dan dorongan.

  6. Seluruh Dosen - dosen Pengajar di Program Studi Teknik Sipil FTSP UPN “Veteran” Jawa Timur, terima kasih atas ilmu yang telah diberikan.

  Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

  7. Seluruh staff dan karyawan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan UPN “Veteran” Jawa Timur.

  8. Mas Zainul Arifien yang telah memberikan dan membantu dalam pengumpulan data - data yang diperlukan Tugas Akhir ini.

  9. Sekolah Muhammadiyah 2 Surabaya terima kasih banyak telah memberikan petunjuk dan data - data yang dibutuhkan Tugas Akhir ini.

  10. Almarhumah ibu terchayank dan bapak terchayank terima kasih atas semua jasa - jasanya yang telah diberikan curahan kasih sayang tanpa memandang lelah dan letih, penyemangat terbesar, yang memberikan dukungan lahir dan batin, materil, spiritual, dan moral sehingga penulis dapat menyelesaikan Tugas Akhir ini.

  11. Mbak Atik, maz Heru dan mbak Jily terima kasih banyak telah meluangkan waktunya mengajari, membimbing, mengarahkan, memberi semangat, dukungan, materi,moril, kesabaran dan doa - doanya sehingga penulis dapat menyelesaikan Tugas Akhir tepat empat tahun.

  12. Tri Wijatmiko (Ayahtyuw) terima kasih buuuuuanyaaaaak telah membantu (waktunya yang selalu ada menemani kemanapun berada, tenaga yang terkuras demi terselesainya Tugas Akhir ini tepat waktu, semangat yang selalu diberikan, doa - doanya serta kesabarannya menemani mengerjakan Tugas Akhir ini hingga terselesaikanya.

  13. Yang telah membantu dalam kuliah : Rani, Bayu Tri (Abah), Rudi (Kasino), Joko, Metha, Mbak Bonn, Arum, Maria, Hendra, Peryadi (Perong), Mbak Weni, Hilman, Mz Wahyu, Mz Dedik, terima kasih atas bantuannya yang telah diberikan dan diajarkan sehingga terselesaikannya Tugas Akhir ini.

  14. Teman - teman seperjuangan dalam Ujian Lisan terima kasih bantuannya dan dukungannya.

  Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

  15. Teman- teman terdekat yang tidak bisa disebutkan satu persatu khususnya angkatan 2008 dan 2007, terima kasih atas bantuannya dan saran-saran yang telah diberikan selama proses pengerjaan Tugas Akhir ini. Penulis menyadari bahwa Tugas Akhir ini masih jauh dari kesempurnaan. Penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan Tugas Akhir ini. Akhir kata semoga Tugas Akhir ini bermanfaat.

  Surabaya, Mei 2012

  Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

  

DAFTAR ISI

.................................. Er r or ! Bookmark not defined.

  HALAMAN JUDUL

LEMBAR PENGESAHAN ........................................................................ ii

.................................................. Er r or ! Bookmark not defined.

  ABSTRAK .................................................................................v

  KATA PENGANTAR ............................................................................................ viii

  DAFTAR ISI ............................................................................... xix

  DAFTAR GAMBAR ......................................................................................21

  DAFTAR TABEL ............................................................................1

  BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar belakang........................................................................... 2 I.2 Permasalahan ............................................................................ 3 I.3 Tujuan ...................................................................................... 3 I.4 Batasan masalah ........................................................................ 3

I.5 Manfaat..................................................................................... 3

I.6 Peta Lokasi ............................................................................... 3

................................................................ BAB II TINJAUAN PUSTAKA

  5

  2.1 Umum ...................................................................................... 5

  2.2 Struktur komposit ..................................................................... 6

  2.3 Aksi Komposit.......................................................................... 9

  2.4 Sistem Struktur ....................................................................... 12

  

2.5 Ketentuan Khusus Untuk Perencanaan Gedung di Surabaya .... 13

  

2.6 Rumusan Hubungan Balok – Kolom (HBK) ............................ 18

  2.6.1 Hubungan Balok - Kolom (SNI-03-2847-2002 23.5) ...... 19

  2.6.2 Hubungan Balok SRPMK (SNI 03-1729-2002).............. 19

  

2.7 Sambungan ............................................................................. 19

  2.7.1 Klasifikasi Sambungan........................................ .......... 19

  2.7.1.1 Sambungan Baut............................... ................ 21

  2.7.1.2 Sambungan Las.................................................. 22 ..........................................................................23

  BAB III METODOLOGI

  3.1 Bagan Alir Tugas Akhir .......................................................... 23

  

3.2 Langkah-langkah Penyusunan Tugas Akhir ............................. 24

  3.2.1 Pengumpulan Data.........................................................24

  3.3 Studi literatur .......................................................................... 25 Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

  

3.4 Preliminary Design dan Pembebanan ...................................... 25

Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber.

viii

  3.4.1 Preliminary Design Balok..............................................25

  3.4.2 Preliminary Design Kolom.............................................26

  3.5 Pembebanan ........................................................................... 26

  

3.6 Pemodelan dan Analisa Struktur ............................................. 29

  3.6.1 Struktur Primer...............................................................29

  3.6.1.1 Balok Komposit....................................................29

  3.6.1.2 Kolom Komposit..................................................35

  3.6.2 Struktur Sekunder...........................................................38

  3.7 Pelat Lantai ............................................................................ 38

  

3.8 Kontrol Desain ....................................................................... 38

  

3.9 Penggambaran Hasil Perhitungan...............................................39

  

BAB IV PERENCANAAN STRUKTUR SEKUNDER ...................... 40

  

4.1 Perencanaan Tangga ............................................................... 40

  4.1.1 Data-data Perencanaan Tangga...........................................40

  4.1.2 Perecanaan Pelat Anak Tangga...........................................40

  4.1.3 Perencanaan Pelat Bordes...................................................43

  4.1.4 Perencanaan Balok Tangga.................................................49

  4.1.5 Perencanaan Balok Tumpuan Tangga.................................59

  

4.2 Perencanaan Struktur Lantai ................................................... 61

  4.2.1 Pelat Lantai Atap.................................................................61

  4.2.2 Pelat Lantai 1 sampai lantai 7.............................................65

  

4.3 Perencanaan Balok Anak ........................................................ 70

  

BAB V PERENCANAAN STRUKTUR UTAMA ............................. 80

  

5.1 Pembebanan dan Analisa Struktur ........................................... 80

  5.1.1 Pembebanan...................................................................... 80

  5.1.1.1 Data Gedung......................................................... 80

  5.1.1.2 Perhitungan Berat Struktur................................... 81

  5.2 Analisa Beban Gempa ............................................................ 83

  5.2.1 Waktu Getar alami (T) ......................................................83

  5.2.1.1 Perhitungan Beban Geser Dasar Nominal (V)..... 84

  5.2.1.2 Daktilitas Struktur Bangunan............ .................. 84

  5.2.1.3 Distribusi Beban Gempa Nominal............. ...........84

  5.2.1.4 Pembebanan Gempa Dinamis................... ........... 85

  

5.3 Perencanaan Kolom Komposit ................................................. 88

  5.3.1 Kondisi Balok Utama Sebelum Komposit........................ 89

  5.3.2 Kondisi Balok Utama Setelah Komposit.......................... 80

  

5.4 Perencanaan Kolom Komposit ................................................ 99

Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

ix

  5.5 Sambungan .......................................................................... 106

  5.5.1 Sambungan Antara Balok dengan Kolom ...................... 106

  

5.6 Cek Persyaratan “Strong Column Weak Beam” .................... 109

  

5.7 Sambungan Kolom-kolom .................................................... 110

  

5.8 Sambungan Balok Anak dengan Balok Induk Eksterior ........ 113

  5.9 Sambungan Balok Anak dengan Balok Induk Interior ........... 116

  

BAB VI Kesimpulan .................................................................................. 171

  8.1 Kesimpulan ........................................................................... 171

  

8.2 Saran ..................................................................................... 172

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN LEMBAR KEGIATAN ASISTENSI Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

x

  DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Tipe-tipe Balok Kompoit ..................................... 7Gambar 2.2 Penampang Kolom Komposit .............................. 8Gambar 2.3 Perbandingan antara Balok yang Mengalami Defleksi dengan dan Tanpa Aksi Komposit ............................. 10Gambar 2.4 Variasi Tegangan pada Balok-Balok Komposit . 11 Gambar 2.5a Sambungan Balok-Kolom .................................. 20

  

Gambar 2.5b Sambungan Kolom-Kolom ................................ 21

Gambar 3.1 Distribusi Tegangan Plastis ............................... 31Gambar 3.2 Metode Transformasi Luasan ............................ 32Gambar 3.3 Sambungan pada Baja ....................................... 33Gambar 4.1 Denah Tangga ................................................... 43Gambar 4.2 Potongan A-A Tangga ....................................... 43Gambar 4.3 Pembalokan Balok Tangga ................................ 49Gambar 4.4 Sketsa Pembebanan untuk Beban Mati............... 50Gambar 4.5 Sketsa Pembebanan untuk Beban Hidup ............ 51Gambar 4.6 Sketsa bidang momen pada balok tangga ........... 53Gambar 4.7 Penampang Balok Komposit.............................. 56Gambar 4.8 Pembebanan pada Balok Tumpuan Tangga ........ 59Gambar 4.9 Potongan Pelat Lantai Atap ............................... 62Gambar 4.10 Pembebanan Pelat Atap Type 1 ......................... 63Gambar 4.11 Pembebanan Pelat Atap Type 2 ......................... 64Gambar 4.12 Potongan Pelat Lantai 1-7 .................................. 67Gambar 4.13 Pembebanan Pelat Lantai Type 1 ....................... 67Gambar 4.14 Pembebanan Pelat Lantai Type 2 ....................... 69Gambar 4.15 Denah Pembalokan Balok Anak ........................ 70Gambar 4.16 Bidang D dan M pada Balok Sebelum Komposit 72Gambar 4.17 Penampang Balok Komposit.............................. 77Gambar 5.1 Pemodelan Struktur ............................................ 87Gambar 5.2 Pemodelan Stuktur 3D........................................ 87Gambar 5.3 Denah Pembalokan Lantai .................................. 88Gambar 5.4 Potongan haunch (Voute) ................................... 90 Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

  xix

Gambar 5.5 Pemasangan Haunch .......................................... 90Gambar 5.6 Potongan Balok Induk ......................................... 94Gambar 5.7 Distribusi Tegangan Negatif ............................... 95Gambar 5.8 Penampang Kolom Komposit ............................. 99Gambar 5.9 Portal Bangunan ................................................ 102Gambar 5.10 Sambungan Balok Kolom yang direncanakan . 106Gambar 5.11 Tegangan Tarik Baut ...................................... 107Gambar 5.12 Sambungan Kolom-Kolom ............................. 110Gambar 5.13 Sambungan Balok Anak dengan Balok Induk Eksterior ............................................................................... 114Gambar 5.14 Profil Siku Penyambung .................................. 116Gambar 5.15 Sambungan Balok Anak dengan Balok Induk Interior ................................................................................. 117

  Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim : xx

  DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Klasifikasi Kelas Situs ..............................................14Tabel 2.2 Koefisien Situs Fa dan Fv .........................................14Tabel 2.3 Kategori Desain Seismik untuk Tanah Keras (SC) S Ds = 0,494 g ....................................................15Tabel 2.4 Kategori Desain Seismik untuk Tanah Keras (SC) S D1 = 0,23 g ......................................................15Tabel 2.5 Kategori Desain Seismik untuk Tanah Sedang (SC) S Ds = 0,555 g ....................................................16Tabel 2.6 Kategori Desain Seismik untuk Tanah Lunak = 0,607 g.....................................................16

  (SE) S Ds

Tabel 2.7 Kategori Desain Seismik untuk Tanah Lunak (SE) S Ds = 0,607 g.....................................................17Tabel 2.8 Koefisien Situs Fa dan Fv, Koefisien nilai SDS dan SD1 Kota Surabaya...................................................17Tabel 2.9 Ukuran Minimum Las Sudut .....................................22Tabel 4.1 Pembebanan Amplop pada Atap (beban Mati) ...........65Tabel 4.2 Pembebanan Amplop pada Atap (beban Hidup).........65Tabel 4.3 Pembebanan Amplop pada Lantai (beban Mati).........69Tabel 4.4 Pembebanan Amplop pada Lantai (beban Hidup) ......70Tabel 5.1 Berat Bangunan Tiap Lantai......................................83Table 5.2 Gaya Gempa TiapLantai dengan T=0,8dt ..................85 Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber. Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

  21

  BAB I PENDAHULUAN

  1.1. Latar Belakang Gedung Sekolah Muhammadiyah 2, Surabaya yang terletak di Pucang Anom

  Timur pada kawasan pemukiman padat penduduk, maka dengan keterbatasan lahan yang ada gedung sekolah tersebut dibangun secara bertingkat, serta didukung dengan sarana dan prasarana yang baik guna menunjang dan menselaraskan kebutuhan akan pendidikan.

  Sebagai bahan studi perencanaan, Gedung Sekolah Muhammadiyah 2 Surabaya merupakan gedung pendidikan yang semula terdiri dari 5 lantai, pada strukturnya menggunakan struktur beton bertulang akan direncanakan kembali menjadi 8 lantai dengan menggunakan struktur komposit baja-beton, dimana balok menggunakan profil baja WF dengan lantai dari beton dan kolom menggunakan profil baja Kingcross. Profil baja kingcross merupakan 2 badan profil WF yang disambung saling tegak lurus dengan menggunakan sistem las yang kemudian diselubungi oleh beton.

  Struktur komposit semakin banyak dipakai dalam rekayasa struktur. Dari beberapa penelitian, struktur komposit mampu memberikan kinerja struktur yang baik dan lebih efektif dalam meningkatkan kapasitas pembebanan, kekakuan dan

  1

  keunggulan ekonomis. ( Vebriano Rinaldy & Muhammad Rustailang, 2005 ) Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

  1 Penampang komposit mempunyai kekakuan yang lebih besar dibandingkan dengan penampang lempeng beton dan gelagar baja yang bekerja sendiri-sendiri dan dengan demikian dapat menahan beban yang lebih besar atau beban yang sama dengan lenturan yang lebih kecil pada bentang yang lebih panjang. Apabila untuk mendapatkan aksi komposit bagian atas gelagar dibungkus dengan lempeng beton, maka akan didapat pengurangan pada tebal seluruh lantai, dan untuk bangunan- bangunan pencakar langit, keadaan ini memberikan penghematan yang cukup besar dalam volume, pekerjaan pemasangan kabel-kabel, pekerjaan saluran pendingin ruangan, dinding-dinding, pekerjaan saluran air, dan lain-lainnya. (Amon, Knobloch

  2 & Mazumder,1999)

  Peraturan yang digunakan pada perencanaan ini menggunakan peraturan, yaitu SNI-03-2847-2002 tentang Tata Cara Perhitungan Beton Untuk Bangunan Gedung, SNI-03-1726-2002 tentang Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk Bangunan Gedung, SNI 03-1729-2002 tentang Tata Cara Perencanaan Struktur Baja, dan Peraturan Pembebanan Indonesia Untuk Gedung 1983, serta mengharapkan dapat merencanakan suatu struktur komposit yang efisien tanpa mengabaikan faktor keselamatan dan fungsi bangunan tersebut.

  1.2. Per masalahan Permasalahan yang ditinjau dalam modifikasi perencanaan Gedung Sekolah

  Muhammadiyah 2 Surabaya dengan struktur komposit, antara lain : 1) Bagaimana merencanakan struktur sekunder yang meliputi pelat lantai, balok anak, tangga.

  Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

  2) Bagaimana merencanakan struktur utama yang meliputi balok dan kolom dengan metode daktilitas penuh akibat gempa lateral.

  3) Bagaimana merencanakan sambungan yang memenuhi kriteria perancangan struktur, yaitu kekuatan (strength), kekakuan dan stabilitas (stability).

  4) Bagaimana mendesain hasil perencanaan dan perhitungan dalam bentuk gambar teknik.

  1.3. Tujuan Adapun tujuan dari modifikasi perencanaan Gedung Sekolah Muhammadiyah

  2, Surabaya dengan struktur komposit baja beton, yaitu : 1) Mengetahui struktur sekunder yang meliputi pelat lantai, balok anak, tangga.

  2) Mengetahui struktur utama yang meliputi balok dan kolom dengan metode daktilitas penuh akibat gempa lateral.

  3) Mengetahui sistem sambungan yang memenuhi kriteria perancangan struktur, yaitu kekuatan (strength), kekakuan dan stabilitas (stability).

  4) Mengetahui detail hasil perencanaan dan perhitungan dalam bentuk gambar teknik.

  1.4. Batasan Masalah 1) Perencanaan struktur utama, meliputi balok induk dan kolom dan struktur sekunder, meliputi pelat lantai, balok anak, tangga.

  2) Perhitungan sambungan meliputi balok-kolom serta kolom-kolom dengan metode daktilitas penuh akibat gempa lateral.

  Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

  3) Menggunakan peraturan beton SNI 03-2847-2002 dan SNI 03-1729-2002 tentang hubungan balok-kolom.

  4) Struktur direncanakan terletak di zona 5-6 SNI2002. 5) Tidak meninjau dari segi metode pelaksanaan, analisa biaya, arsitektural, dan manajemen konstruksi.

  1.5. Manfaat Manfaat yang bisa didapatkan dari modifikasi perencanaan ini adalah :

  1) Dapat merencanakan struktur komposit yang memenuhi persyaratan keamanan struktur.

  2) Dari perencanaan ini bisa diketahui hal-hal yang harus diperhatikan pada saat perencanaan sehingga kegagalan struktur bisa diminimalisasi.

  Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

  1.6. Peta Lokasi Gedung Sekolah Smp- Sma Muhammadiyah, 2 Surabaya

  Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

  BAB II TINJ AUAN PUSTAKA

  2.1.Umum Sejak akhir abad ke-19 metode pengolahan baja yang murah dikembangkan secara luas. Kerangka baja yang menyanggah konstruksi pelat beton bertulang yang dicor ditempat, sebelumnya didesain berdasarkan asumsi bahwa pelat beton dan baja dalam menahan beban bekerja secara terpisah. Pengaruh komposit dari pelat beton dan baja yang bekerja bersama-sama tidak diperhitungkan. Pengabaian ini berdasarkan asumsi bahwa ikatan antara pelat beton dengan bagian atas balok baja tidak dapat diandalkan. Namun dengan berkembangnya teknik pengelasan, pemakaian alat penyambung geser (shear connector) mekanis menjadi praktis untuk menahan gaya geser horizontal yang timbul ketika batang terlentur.(Salmon &

3 Johnson 1991)

  Sistem struktur komposit sendiri terbentuk akibat interaksi antara komponen struktur baja dan beton yang karakteristik dasar masing-masing bahan dimanfaatkan secara optimal. Karakteristik penting yang dimiliki oleh struktur baja adalah kekuatan tarik, modulus elastilitas tinggi, serta daktilitas tinggi. Sedangkan karakteristik penting yang dimiliki oleh struktur beton adalah kekuatan tekannya, ketahanan yang baik terhadap api, mudah dibentuk,dan murah.(Mochamad

4 Rochman,2005)

  6 Dalamperhitunganperencanaanmenggunakanmetodeperhitungan yaitumetode LRFD (Load and Resistance Factor Design).

  a) Metode LRFD Metode ini berdasarkan pada konsep keadaan batas (limit state), yaitu suatu keadaan dimana struktur atau elemen struktur didesain sampai menunjukkan perilaku tidak dapat berfungsi lagi. Ada dua kategori yang menyatakan keadaan batas (limit state) :

  • Strength limit state: kemampuan struktur memikul beban
  • Serviceability limit state: kelakuan struktur memikul beban

  Secara umum perumusan untuk pendekatan desain metode LRFD ini dapat dituliskan sebagai berikut :

  Q R ∑ λ ii ≤ φ n

  ………….……………........................................................….(2.1) Dimana : λ : faktor beban

  i

  ø : faktor tahanan R : tahanan nominal

  n

  Q : ( pengaruh ) beban

  i

  øR n : tahanan rencana ∑λ i . Q i : ( pengaruh ) beban terfaktor

  2.2. Str uktur Komposit Struktur komposit adalah suatu metode konstruksi yang memanfaatkan sifat dan material bangunan yang berbeda menjadi satu sistem yang kekuatannya merupakan gabungan dari dua material yang berbeda yaitu baja dan beton, dengan system bekerja bersama-sama dalam memikul beban, dan joint-joint yang kaku (rigid) merupakan salah satu penyambung kekuatan sesuatu srtuktur gedung oleh sebab itu dipasang system pengaku.

  Di era modern saat ini banyak gedung-gedung dengan struktur komposit baja- beton untuk elemen baloknya menggunakan balok komposit penuh. Balok komposit penuh ini sendiri mempunyai beberapa tipe, diantaranya balok komposit dengan pelat beton yang dicorditempat (solid in situ)(gambar 2.1 a), balok komposit yang menggunakan precast reinforced concrete planks yang bagian atasnya kemudian dicor ditempat (gambar 2.1 b), balok komposit yang penghubung gesernya diberi perkuatan (gambar 2.1 c). Gedung Sekolah Muhammadiyah 2, Surabaya yang akan direncanakan menggunakan balok komposit yang diberi bondek(gambar 2.1 d).

Gambar 2.1 Tipe-tipe Balok Komposit (B. Uy,2007)

  Keuntungan yang didapatkan dengan menggunakan balok komposit yaitu penghematan berat baja, penampang balok baja dapat lebih rendah, kekakuan lantai meningkat, panjang bentang untuk batang tertentu dapat lebih besar, kapasitas pemikul beban meningkat. Penghematan berat baja sebesar 20 % sampai 30 % seringkali dapat diperoleh dengan memanfaatkan semua keuntungan dari sistem komposit. Pengurangan berat pada balok baja ini biasanya memungkinkan pemakaian penampang yang lebih rendah dan juga lebih ringan. Keuntungan ini bisa banyak mengurangi tinggi bangunan bertingkat banyak sehingga diperoleh penghematan bahan bangunan yang lain seperti dinding luar dan tangga. (Salmon &

3 Johnson, 1991)

  Kolom komposit tumbuh menjadi bagian penting dalam pengaplikasian konstruksi komposit yang telah secara luas digunakan dalam beberapa tahun terakhir ini, terutama pada bangunan bertingkat. Awal mula pengembangan elemen kolom komposit yaitu dari profil baja berpenampang I yang dibungkus oleh beton yang tujuan utamanya sebagai pelindung dari api.

  Ada beberapa tipe dari kolom komposit yang sebagian besar digolongkan ke dalam encased steel sections ( profil baja yang dibungkus beton)dan concrete-filled

  

steel sections (kolom baja berintikan beton). Untuk tipe encased steel, profil baja

berpenampang I yang dibungkus oleh beton (gambar 2.2) paling sering dijumpai.

  700

  7

  profil baja kingcross \

Gambar 2.2 Penampang Kolom Komposit

  Pada kolom baja berselubung beton (gambar 2.2 a dan b) penambahan beton dapat menunda terjadinya kegagalan lokal buckling pada profil baja serta berfungsi sebagai material penahan api, sementara itu material baja disini berfungsi sebagai penahan beban yang terjadi setelah beton gagal. Sedangkan untuk kolom baja berintikan beton (gambar 2.2 c dan d) kehadiran material baja dapat meningkatkan kekuatan dari beton serta beton dapat menghalangi terjadinya lokal buckling pada baja.

  Kolom komposit merupakan suatu solusi hemat untuk kasus dimana kapasitas beban tambahan yang diinginkan lebih besar dibandingkan dengan penggunaan kolom baja sendiri. Kolom komposit juga menjadi solusi yang efektif untuk berbagai permasalahan yang di ada pada desain praktis. Salah satunya, yaitu jika beban yang terjadi pada struktur kolom sangatlah besar, maka penambahan material beton pada struktur kolom dapat memikul beban yang terjadi, sehingga ukuran profil baja tidak

  5

  perlu diperbesar lagi. (Roberto Leon, Larry Griffis,2008)

  2.3. Aksi Komposit Aksi komposit terjadi apabila dua batang struktural pemikul bebanseperti pada pelat beton dan balok baja sebagai penyangganya (gambar 2.3.a) dihubungkan secara menyeluruh dan mengalami defleksi sebagai satu kesatuan seperti dalam gambar (2.3.b).

  Pada balok non komposit (gambar 2.3.a) pelat beton dan balok baja tidak bekerja bersama-sama sebagai satu kesatuan karena tidak terpasang alat penghubung geser, sehingga masing-masing memikul beban secara terpisah. Apabila balok non komposit mengalami defleksi pada saat dibebani, maka permukaan bawah pelat beton akan tertarik dan mengalami perpanjangan sedangkan permukaan atas dari balok baja akan tertekan dan mengalami perpendekan. Karena penghubung geser tidak terpasang pada bidang pertemuan antara pelat beton dan balok baja maka pada bidang kontak tersebut tidak ada gaya yang menahan perpanjangan serat bawah pelat dan perpendekan serat atas balok baja. Dalam hal ini, pada bidang kontak tersebut hanya bekerja gaya geser vertikal.

Gambar 2.3 Perbandingan antara Balok yang Mengalami Defleksi dengan dan Tanpa Aksi Komposit.(Sumber Salmon & Johnson 1991).

  Sedangkan pada balok komposit, pada bidang pertemuan antara pelat beton dan balok baja dipasang alat penghubung geser sehingga pelat beton dan balok baja bekerja sebagai satu kesatuan. Pada bidang kontak tersebut bekerja gaya geser vertikal dan horisontal, dimana gaya geser horisontal tersebut akan menahan perpanjangan serat bawah pelat dan perpendekan serat atas balok baja.

  Pada dasarnya aksi komposit pada balok komposit dapat tercapai atau tidaknya tergantung dari penghubung gesernya. Biasanya penghubung geser diletakkan disayap atas profil baja. Hal ini bertujuan untuk mengurangi terjadinya

  6

  slip pada pelat beton dengan balok baja.(Qing Quan Liang,2004)

Gambar 2.4 Variasi Tegangan pada Balok-balok Komposit (Sumber Salmon & Johnson 1996).

  Dengan menyelidiki distribusi regangan yang terjadi bila tidak ada interaksi antara slab beton dan balok bajanya (gambar 2.4.a). Terlihat bahwa untuk kasus ini terdapat dua sumbu netral yaitu satu pada pusat gravitasi slab dan lainnya pada pusat gravitasi balok. Gelincir horizontal yang terjadi karena bagian bawah slab dalam tarik dan bagian atas balok dalam tekan juga terlihat.

  Selanjutnya pada kasus dimana hanya terjadi interaksi parsial saja, pada gambar 2.4.b.sumbu netral slab lebih dekat ke balok, dan sumbu netral balok lebih dekat ke slab. Karena interaksi parsial, gelincir horizontal telah berkurang. Akibat dari interaksi parsial adalah terjadinya sebagian gaya tekan dan gaya tarik maksimum

  

C’ dan T’, masing-masing pada slab beton dan balok baja. Kemudian momen

ketahanan penampang tersebut akan mengalami pertambahan sebesar T’e’ atau C’e’.

  Bila terjadi interaksi lengkap (dikenal sebagai aksi komposit penuh) di antara slab dan balok, tidak akan terjadi gelincir dan diagram regangan yang dihasilkan dapat dilihat dalam gambar 2.4.c. Dalam kondisi demikian, terjadilah sumbu netral tunggal yang terletak di bawah sumbu netral slab dan di atas sumbu netral balok.

  Selain itu, gaya-gaya tekan dan tarik C” dan T” lebih besar daripada C’ dan T’ yang ada pada interaksi parsial.

  2.4. Sistem Str uktur Sistem struktur yang digunakan pada perencanaan gedung merupakan hal yang perlu diperhatikan. Faktor daya tahan terhadap gempa mengharuskan suatu bangunan gedung memiliki sistem struktur yang sesuai berdasar SNI-03-1726-2002. Pembagian sistem struktur menurut wilayah gempanya dibagi sebagai berikut: 1.

  Wilayah Gempa 1 dan 2 (Resiko Gempa Rendah) Desain menggunakan Sistem Rangka Pemikul Momen Biasa (SRPMB) dan dinding struktur dengan beton biasa.

  

2. Wilayah Gempa 3 dan 4 (Resiko Gempa Menengah) Desain menggunakan

  Sistem Rangka Pemikul Momen Menengah (SRPMM) dan Sistem Dinding Struktur Biasa (SDSB) dengan beton tanpa detailing khusus.

  3. Wilayah Gempa 5 dan 6 (Resiko Gempa Tinggi) Desain menggunakan Sitem

  Rangka Pemikul Momen Khusus (SRPMK) dan Sistem Dinding Struktur Khusus dengan beton khusus.

  Gedung Sekolah Muhammadiyah 2 Surabaya yang akan direncanakan terletak pada zona gempa kuat, sehingga digunakan sistem struktur berupa Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus (SRPMK). Ketentuan umum yang terdapat pada SNI 03-2847-2002 untuk daerah WG 5 dan 6 berlaku harus memenuhi persyaratan pendetailan.

  2.5. Ketentuan Khusus Untuk Per encangaan Gedung di Surabaya (Wilayah Gempa5-6)

  Menurut RSNI-1729-2002 pasal 4.7, Wilayah gempa dan spectrum respons Indonesia ditetapkan terbagi dalam 6 Wilayah Gempa di mana Wilayah Gempa 1 adalah wilayah dengan kegempaan paling rendah dan Wilayah Gempa 6 dengan kegempaan paling tinggi. Pembagian Wilayah Gempa ini, didasarkan atas percepatan puncak batuan dasar akibat pengaruh Gempa Rencana dengan perioda ulang 500 tahun, yang nilai rata-ratanya untuk setiap Wilayah Gempa ditetapkan dalam Tabel Apabila percepatan puncak muka tanah Ao tidak didapat dari hasil analisis perambatan gelombang, percepatan puncak muka tanah tersebut untuk masing- masing Wilayah Gempa dan untuk masing-masing jenis tanah ditetapkan dalam Tabel.Menurut SNI 03-1729-2010 :

Tabel 2.1 Klasifikasi Kelas SitusTabel 2.2 Kofisien Situs Fa dan FvTabel 2.3 Kategori Disain Seismik untuk Tanah Keras (SC) S = 0.494 g

  DS

Tabel 2.4 Kategori Disain Seismik untuk Tanah Keras (SC) S

  D1 = 0.23 g

Tabel 2.5 Kategori Disain Seismik untuk Tanah Sedang (SD) S

  Ds = 0.555 g

Tabel 2.6 Kategori Disain Seismik untuk Tanah Lunak (SE) S

  Ds = 0.607 g

Tabel 2.7 Kategori Disain Seismik untuk Tanah Lunak (SE) S

  Ds = 0.607 g

Tabel 2.8 Koefisien Situs Fa dan Fv, Koefisien nilai SDS dan SD1 Kota Surabaya

  2.6. Rumusan Hubungan Balok -Kolom (HBK)

  2.6.1. Hubungan Balok-Kolom (SNI-03-2847-2002 pasal 23.5) Ketentuan umum -

  1. Gaya-gaya pada tulangan longitudinal balok di muka hubungan balok-kolom harus ditentukan dengan menganggap bahwa tegangan pada tulangan tarik lentur adalah 1,25fy.

  2. Kuat hubungan balok-kolom harus direncanakan menggunakan factor reduksi kekuatan.

  3. Tulangan longitudinal balok yang berhenti pada suatu kolom harus diteruskan hingga mencapai sisi jauh dari inti kolom terkekang dan diangkur sesuai dengan pasal 23.5 (4) untuk tulangan tarik dan pasal 14 untuk tulangan tekan.

  4. Bila tulangan longitudinal balok diteruskan hingga melewati hubungan balok- kolom, dimensi kolom dalam arah parallel terhadap tulangan longitudinal balok tidak boleh kurang daripada 20 kali diameter tulangan longitudinal terbesar balok untuk beton berat normal. Bila digunakan beton ringan maka dimensi tersebut tidak boleh kurang daripada 26 kali diameter tulangan longitudinal terbesar balok.

  Kuat geser -

  1. Kuat geser nominal hubungan balok-kolom tidak boleh diambil lebih besar daripada ketentuan berikut ini untuk beton berat normal. Untuk hubungan balok- kolom yang terkekang pada keempat sisinya. 1,7 ′ A . Untuk hubungan yang

  j

  terkekang pada ketiga atau kedua sisi yang berlawanan 1,25 ′ A j. Untuk hubungan lainnya 1,0 ′ A . Komponen struktur yang menerima kombinasi lentur dan beban

  j

  aksial pada SRPMK (SNI-03-2847-2002)_ pasal 23.4.2.2) Kuat lentur kolom harus memenuhi persamaan :

  6 M M e g ≥ ∑ ∑

  5

  …………………………………………………………………..( 2.2 ) ΣM e adalah jumlah momen pada pusat hubungan balok-kolom, sehubungan dengan kuat lentur nominal kolom yang merangkai pada hubungan balok-kolom tersebut.

  Kuat lentur kolom harus dihitung untuk gaya aksial terfaktor, yang sesuai dengan arah gaya-gaya lateral yang ditinjau, yang menghasilkan nilai kuat lentur yang terkecil. ΣM g adalah jumlah momen pada pusat hubungan balok kolom, sehubungan dengan kuat lentur nominal kolom yang merangkai pada hubungan balok kolom tersebut.

  2.6.2. Hubungan Balok Kolom SRPMK (SNI 03-1729-2002 pasal 15.7.2.3) Gaya geser terfaktor, Vu, sambungan balok ke kolom harus ditentukan menggunakan kombinasi beban 1,2 D + 1,5 L ditambah dengan gaya geser yang dihasilkan dari bekerjanya momen lentur sebesar 1,1 R y f y Z pada arah yang berlawanan pada masing-masing ujung balok. Sebagai alternatif, nilai Vu yang lebih kecil dapat digunakan selama dapat dibuktikan menggunakan analisis yang rasional. Gaya geser terfaktor tidak perlu lebih besar daripada gaya geser yang dihasilkan oleh kombinasi pembebanan.

  2.7. Sambungan Kuat rencana setiap komponen tidak boleh kurang dari beban terfaktor yang dihitung. Perencanaan sambungan harus memenuhi persyaratan (SNI 03-1729-2002

  Ps. 13.1.3) :

  1. Gaya dalam yang disalurkan berada dalam keseimbangan dengan gaya- gaya yang bekerja pada sambungan.

  2. Deformasi pada sambungan masih berada dalam batas kemampuan deformasi sambungan.

  3. Sambungan dan komponen yang berdekatan harus mampu memikul gaya- gaya yang bekerja padanya.

  2.7.1 Klasifikasi Sambungan

  Sambungan semi kaku / Semi rigid connection adalah sambungan yang tidak

  memiliki kekakuan yang cukup mempertahankan sudut-sudut diantara komponen- komponen struktur yang disambung, namun harus dianggap memiliki kapasitas

  K 500 .2 00.10 .16 W F 500 .2 00.9.14 T 400 .40 0.16.24 L 7 0.70.7 B au t φ 2 0 B au t φ 2 0

K 50 0.200.10 .1 6

W F 5 00.200 .9 .14 T 400.40 0.16.24 L 70.70.7 90 49 6 3 04 50 0 80 80 80 2 40 2 4 0 8 0 8 0 8 0

  yangcukup untuk memberikan kekangan yang dapat diukur terhadap perubahan sudut-sudut tersebut.

  Gambar 2.5a Sambungan Balok – Kolom Gambar 2.5b Sambungan Kolom – kolom K 500.200.10.16 P ela t t = 16 m m K olom 700 x 70 0

  D E T A I L SA M B U N G A N K O L O M D E N G A N K O L O M P elat t = 16 m m Bau t φ 24 B aut φ 30 A A

  2.7.1.1. Sambungan Baut b Kuat geser = V d = . = f . r . f . Ab

  ϕ f Vn ϕ 1 u

  …...…………….….( 2.3 )

  diambil yangterkecil . 2 , 4 . f . d . t . fu

  Kuat tumpu = R d = f Rn = ϕ b p

  ϕ

  ………………………………....( 2.4 )

  Vu

  Jumlah baut, n

  = φRn

  ………………………………………………………...( 2.5 ) Dimana :

  f = Faktor reduksi kekuatan fraktur (0,85) φ

  r

  1 = 0,5 untuk baut tanpa ulir pada bidang geser

  0,4 untuk baut dengan ulir pada bidang geser

  b

  f u = Tegangan tarik putus baut A b = Luas bruto penampang baut pada daerah tak berulir f u = Tegangan tarik putus yang terendah dari baut atau pelat tp = Tebal plat Kontrol jarak baut : Jarak tepi minimum : 1.5db(LRFD 13.4.2) Jarak tepi maksimum : (4tp + 100 mm) atau 200 mm (LRFD 13.4.3) Jarak minimum antar baut : 3db (LRFD 13.4.1) Jarak maksimum antar baut : 15tp atau 200 mm (LRFD 13.4.3) Kontrol Kekuatan Pelat :

  Pn fu Anv = . 75 × . 6 × × φ

  ………………………….……..….( 2.6 )

  Pn Vu < φ

  2.7.1.2. Sambungan Las

  Ru Rnw ≤ ϕ

  75 ( . 6 ) = × e × × f . Rnw .

  dengan, f Rnw t fuw (las)………………………………( 2.7 ) φ . .

  75 t ( . 6 fu ) (bahan dasar)……………………...( 2.8 )

  = × × × φ e

  keterangan : f : tegangan tarik putus logam las

  uw f : tegangan tarik putus bahandasar u

  t e : tebal efektif las (mm)

Tabel 2.9 Ukuran Minimum Las Sudut

  Tebalbagian paling tebal, t (mm) Tebal minimum las sudut, a (mm) t ≤ 7

  3

  4 7 < t

  10

  ≤

  10 < t < 15

  5 15 < t

  6 BAB III METODOLOGI

  3.1. Bagan Diagram alir Mulai

  Pengumpulan Data Studi Literatur

  Perencanaan Struktur Sekunder Preliminary Desain dan Pembebanan

  Pemodelan dan Analisa Struktur tidak Kontrol Desain Profil kolom dan balok HBK ya

  Penggambaran Hasil Perencanaan Selesai

  25

  3.2. Langkah-Langkah Penyususunan pr oposal Adapun langkah-langkah yang diambil dalam penyusunan Proposal ini, adalah sebagai berikut :

  3.2.1. Pengumpulan Data

  • Data Umum Bangunan

  1. Nama Gedung : Gedung Sekolah Muhammadiyah 2, Surabaya

  2. Fungsi : Sekolah

  3. Zone Gempa : 2

  4. Jumlah Lantai : 5 Lantai

  5. Tinggi Gedung : 20 m

  6. Struktur Utama : Struktur Beton Bertulang

  • Data Modifikasi

  1. Nama Gedung : Gedung Sekolah Muhammadiyah 2, Surabaya

  2. Fungsi : Sekolah

  3. Zone Gempa : 2

  4. Jumlah Lantai : 8 Lantai

  5. Tinggi Gedung : 32 m

  6. Struktur Utama : Komposit Baja-Beton

  7. Dimensi Bangunan : 48 m x 48 m

  • Data Bahan : - kekuatan tekan beton

  (f’ ) = 25Mpa

  c

  • Data Tanah Data tanah yang digunakan berasal dari data tanah Gedung Sekolah Muhammadiyah 2, Surabaya.

  3.3. Studi literatur Melakukan studi referensi yang menjadi acuan dalam pengerjaan proposal dengan menggunakan struktur komposit baja-beton. Adapun beberapa literatur serta peraturan gedung tersebut antara lain adalah sebagai berikut : a. Peraturan Pembebanan Indonesia Untuk Gedung (PPIUG).1983.

  b. SNI 03-1726-2002 tentang Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk Bangunan Gedung

  c. SNI 03-1729-2002 tentang Tata Cara Perencanaan Perhitungan Struktur Baja Untuk Bangunan Gedung

  d. SNI 03-2847-2002 tentang Tata Cara Perencanaan Perhitungan Struktur Beton Untuk Bangunan Gedung

  e. Perencanaan Struktur Baja untuk Bangunan Gedung Menggunakan Metode LRFD dan AISC-LRFD.

  f.

  G. Salmon, Charles & E.Johnson, John.1991. Struktur Baja Desain Dan

  Perilaku Jilid 1 Edisi Kedua. Diterjemahkan oleh: Ir. Wira M.S.CE. Jakarta: Erlangga.

  3.4. Pr eliminary Design dan Pembebanan

  3.4.1. Pr eliminary Design Balok

  Mu Mn = φ

  …………………………………………………………….…..( 3.1 ) Mn = Zp x fy asumsi tegangan baja mencapai tegangan plastis...............( 3.2 )

  Mn Zp

  dari nilai Zp didapat rencana awal dimensi balok....................( 3.3 )

  = fy

  Dimana : Mu : momen ultimate beban ø : faktor reduksi lentur Mn : momen nominal Zp : momen tahan plastis

  fy : tegangan leleh baja

  3.4.2. Pr eliminar y design kolom

  pu Pn =

  φ

  ………………………………………………………………………..…( 3.4 )

  pn

fy asumsi tegangan baja mencapai tegangan plastis....................................( 3.5 )

=

  A Pn A dari nilai A didapat rencana awal dimensi kolom.................................. ( 3.6 )

  = fy

  Dimana : Pu : gaya aksial ultimate beban ø : faktor reduksi gaya aksial tekan Pn : momen nominal

  A

  : luas penampang

  3.5. Pembebanan Perencanaan pembebanan pada struktur ini berdasarkan Peraturan Pembebanan Indonesia Untuk Gedung (PPIUG) 1983 dan SNI 03-1726-2002.

  Pembebanan tersebut antara lain :

  a. Beban Mati (PPIUG 1983 Bab1 pasal 1.1) Beban mati adalah berat dari semua bagian dari suatu gedung yang bersifat tetap termasuk segala unsur tambahan, penyelesaian-penyelesaian, mesin-mesin serta peralatan tetap yang merupakan bagian yang tak terpisahkan dari gedung itu. Yang nilainya sebagai berikut :

  3

  • Berat volume beton : 2400 kg/m (tabel 2.1)

  3

  • Berat volume aspal : 1400 kg/m (tabel 2.1)

  3

  • Berat volume spesi : 2100 kg/m (tabel 2.1)

  3

  • Berat volume tegel : 2400 kg/m (tabel 2.1)

  2

  • Berat volume pasangan bata merah : 250 kg/m (tabel 2.1)

  2

  • Berat volume plafond : 11 kg/m (tabel 2.1)

  2

  • Berat volume penggantung : 7 kg/m (tabel 2.1)

  2

  • Berat volume AC dan perpipaan : 10 kg/m (tabel 2.1)

  2

  • Berat dinding partisi : 40 kg/m (tabel 2.1)

  b. Beban Hidup (PPIUG 1983 Bab 1 pasal 1. 2) Beban hidup adalah semua beban yang terjadi akibat penghunian atau penggunaan suatu gedung, dan ke dalamnya termasuk beban-beban pada lantai yang berasal dari barang -barang yang dapat berpindah, mesin-mesin serta peralatan yang tidak merupakan bagian yang tak terpisahkan dari gedung dan dapat diganti selama masa hidup dari gedung itu, sehingga mengakibatkan perubahan dalam pembebanan lantai dan atap tersebut.

  2

  • Beban hidup pada lantai atap diambil sebesar 100 kg/m (pasal 3.2.1)

  2

  • Beban hidup pada lantai diambil sebesar 250 kg/m (pasal 3.1.1)

  2

  • Beban hidup pada tangga diambil sebesar 300 kg/m (tabel 3.1)

  c. Beban Angin (PPIUG 1983 Bab 1pasal 1. 3) Beban angin adalah semua beban yang bekerja pada gedung atau bagian gedung yang disebabkan oleh selisih dalam tekanan udara.

  Beban angin ditentukan dengan menganggap adanya tekanan positif dan tekanan negatif (isapan), yang bekerja tegak lurus pada bidang-bidang yang ditinjau.

  2 Besarnya tekanan positif dan tekanan negatif ini dinyatakan dalam kg/m , ditentukan

  dengan mengalikan tekanan tiup yang ditentukan dalam pasal 4.2 (PPIUG 1983) dengan kefisien-koefisien angin yang ditentukan dalam pasal 4.3 (PPIUG 1983).

  d. Beban Gempa (PPIUG 1983 Bab 1 pasal 1.4) Beban gempa adalah semua beban statik ekivalen yang bekerja pada gedung atau bagian gedung yang menirukan pengaruh dari gerakan tanah akibat gempa itu.

  Dalam hal pengaruh gempa pada struktur gedung ditentukan berdasarkan suatu analisa dinamik, maka yang diartikan dengan beban gempa disini adalah gaya-gaya di dalam struktur tersebut yang terjadi oleh gerakan tanah akibat gempa itu.

  Gaya geser dasar rencana total, V, ditetapkan sebagai berikut:

  C 1 × 3/4

  I V Wt ; T 1 = 0.085 (hn) ……………………………..( 3.7 ) = ×

  R

  1,6 W + 0,5 (A atau R )

  ς

  ±

  1. 1,4 D 2. 1,2 D + 1,6 L + 0,5 (A atau R ) 3. 1,2 D + 1,0 L

  ............................ (pasal 8.2) Kombinasi Pembebanan Kombinasi pembebanan didasarkan pada SNI 03-2847-2002 tentang Tata Cara Perencanaan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung pada Bab 11.2 antara lain :

  ξ

  S *

  ∆

  M =

  ∆

  S = 30 mm Dimana : R = R SRPMK Baja = 4.5 ............. (pasal 4.3.6)

  ∆

  S = 0.03 / R Ambil terkecil (pasal 8.1)

  ∆

  = Koefisien untuk wilayah gempa tempat struktur gedung berada (Tabel 8). n = Jumlah tingkatnya Simpangan antar lantai (SNI 03 – 1726 – 2002)

  n………………….…………………………………………………….( 3. 8 ) dimana :

  dimana :

  ς

  <

  1

  Pembatasan waktu getar alami fundamental (Pasal 5.6 SNI 03 – 1726 – 2002): T

  C 1 = Faktor respons gempa

  Tinggi total gedung

  Hn =

  = Faktor kepentingan struktur

  I

  Wt = Berat total gedung

  = Waktu getar alami fundamental

  1

  V = Gaya geser dasar Nominalstatik ekuivalen R = Faktor reduksi gempa T

  • Kinerja batas layan :
  • Kinerja batas ultimit :

  φ = 0,85....................................................( 3.9 )

  1. Balok Induk : menggunakan balok komposit penuh dengan penghubung geser dan profil baja yang digunakan adalah profil WF.

  dengan b

  ≤

  fy 1680 tw h

  a. Kekuatan Lentur Positif (LRFD Pasal 12.4.2.1) :

  pasal 12.4.2)

  3.6.1.1. Balok Komposit Kekuatan Balok Komposit Dengan Penghubung Geser ( SNI 03-1729-2002

  2. Kolom : menggunakan tipe kolom komposit profil baja yang dibungkus beton dan profil baja yang digunakan adalah profil Kingcross.

  3.6.1. Str uktur Pr imer Perhitungan struktur primer meliputi :

  4. 0,9 D

  3.6. Pemodelan dan Analisa Str uktur

  A : Beban Atap E : Beban Gempa

  1,0 E Dimana : D : Beban mati R : Beban Hujan L : Beban hidup W : Beban Angin

  ±

  1,0 E 6. 0,9 D

  ±

  1,6 W 5. 1,2 D + 0,3 L

  ±

  • Untuk penampang berbadan kompak;

  Kekuatan lentur positif (Mn) dapat dihitung dengan menggunakan distribusi tegangan plastis pada penampang komposit.

  • Untuk penampang berbadan tidak kompak;

  h 1680

  dengan = 0,9....................................................( 3.10 )

  φ > b tw fy

  Kekuatan lentur positif dihitung dengan menggunakan distribusi tegangan elastis. Pada kondisi ini, kekuatan lentur batas penampang ditentukan oleh terjadinya leleh pertama.

  b. Kuat Lentur negatif rencana .M n yang dihitung untuk penampang baja saja,

  φ b

  dengan mengikuti ketentuan-ketentuan pada butir 8 (LRFD Pasal 12.4.2.2) Lebar efektif plat lantai :

  • Untuk gelagar interior (balok tengah) :

  L

  b ≤

  EFF

  4

  b EFF ≤ bo (untuk jarak balok yang sama)

  • Untuk gelagar eksterior (balok tepi) :

  L

  b EFF ≤

  8

  b EFF ≤ bo/2 + (jarak dari pusat balok ke pinggir slab) dimana : L = bentang balok bo = bentang antar balok

  Menghitung momen nominal ( Mn ) :

  • Perhitungan Mn berdasar distribusi tegangan plastis :

Gambar 3.1. Distribusi Tegangan Plastis (Sumber :Charles G. Salmon, 1996)

  a. Menghitung momen nominal ( Mn ) positif

  1. Menentukan gaya tekan ( C ) pada beton :

   C = 0,85.f’ .t .b .........................................................................( 3.11 ) c p eff

  Menentukan gaya tarik ( T) pada baja :

  T

  = As.fy......................................................................................( 3.12 ) Dipilih nilai yang terkecil dari kedua nilai di atas

  2. Menentukan tinggi blok tekan effektif :

  As fy . a .......................................................................( 3.13 )

  =

  , 85 . f ' c . b eff

  3. Kekuatan momen nomimal :

  Mn C .d

  atau T.d

  1 .........................................................................( 3.14 ) = 1 Bila kekuatan nominal dinyatakan dalam bentuk gaya baja akan diperoleh : d a

   

  = −  

  • Mn As . fy ts

  2

  2  

  ............................................................( 3.15 ) b. Menghitung momen nominal ( Mn ) negatif.

  1. Menentukan lokasi gaya tarik pada balok baja

  T = n.A .f ...................................................................................( 3.16 ) r yr

  Pyc = As.fy ..................................................................................( 3.17 )

  Gaya pada sayap ; Pf bf tf fy = . .

  ........................................................( 3.18 )

  Pyc T

  Gaya pada badan ;

  Pw Pf = −

  2

  ....................................................( 3.19 )

  Pw aw = tw . fy

  ................................................................................( 3.20 )

  2. Menghitung jarak ke centroid d

  1 = hr + tb – c ............................................................................( 3.21 ) ( Pf . , 5 . tf ) ( Pw ( tf , 5 . a )

  • web

  d

  2 =

  • Pf Pw

  ..................................( 3.22 )

  d

  d =

  3

  2 .........................................................................................( 3.23 )

  3. Menghitung momen ultimate : Mn = T(d + d ) + Pyc(d - d )....................................................( 3.24 )

  1

  2

  3

  2 Perhitungan Mn berdasar distribusi tegangan elastis :

b efektif

btr

ts hr GN baja GNE komposit GNE d yt

Gambar 3.2. Metode Transformasi Luasan

  1. Menghitung nilai transformasi beton ke baja Ec = 4700 . Mpa (untuk beton normal)

  fc'

  Es = 200000 Mpa Es n = Ec

  ...........................................................................................( 3.25 )

  b eff

  b tr =

  n

  ....................................................................................( 3.26 ) Atr = btr . ts ...................................................................................( 3.27 )

  2. Menentukan letak garis netral penampang transformasi (dimomen ke ambang atas) ts   d  

  A . A . ts

 

  s tr

  2

  2

  GNE = A A

  

 

 

  • tr s

  ( )

  ...............................................( 3.28 )

  3. Menghitung momen inersia penampang transformasi 3 2 2

  b . ( ts )   d tr ts   

  It =

    NE r NE

  

A G Ix A ts h G

tr s −  +   − + + +

  •  

  12

  2

  2      

  .................( 3.29 )

  4. Menghitung modulus penampang transformasi yc = GNE yt = d + ts + hr - GNE

  I tr

  

I

tr

  S tr.c = dan S tr.t =

  yc yt

  ...................................................( 3.30 )

  5. Menghitung momen ultimate Kapasitas momen positif penampang balok komposit penuh digunakan dari nilai yang terkecil dari :

  Mn = 0,85 . fc’ . n . S .........................................................( 3.31 )

  1 tr.c

  Mn

  2 = fy . S tr.t .........................................................................( 3.32 )

  Jadi : Mu . Mn....................................................................( 3.33 )

  ≤ ∅

  Kuat Geser Rencana Balok Komposit : Kuat geser rencana (Øs Vn) ditentukan berdasarkan kuat geser badan penampang baja saja. (Øs = 0,9)

  h k E n

  1 ,

  10 ≤ →

  a. bila : V = 0,6 F . A .......................................( 3.34 )

  n y w t f w y

  Pelat badan leleh Plastis

  → k E h k E n n

  b. bila : 1,10 < < 1,37

  f t f y w y k E n

  1 ,

  10

  f y V ,

  6 f A n y w = ×

  h t w

  ……………………………………….( 3.35 ) Pelat badan menekuk inelastic “Inelastic Buckling”

  → k E k E h n n

  V A

  c. bila : >

  1 , 37 → = , n w

  9

2

t f w y

   h    t w

   

  .........................................( 3.36 ) dimana : h = tinggi bersih pelat badan t w = tebal pelat badan a = jarak pengaku vertical plat badan

  • =
    • 1 * 85 .

  = tinggi stud

  ≤   

     −

     

    = hr Hs hr wr rs

  Nr

  = jumlah stud setiap gelombang

  Hs

  Hr

  rs untuk balok sejajar balok :

  = tinggi bondek

  Wr

  = lebar effektif bondek

  Asc

  = Luas penampang shear connector

  fu = Tegangan putus penghubung paku/stud Qn = Kuat nominal geser untuk penghubung geser

  Jumlah penghubung geser (shear connector) yang dibutuhkan, yaitu : n =

  Qn C

  1

  Nr rs

  .............................................................................................( 3.39 )

  = modulus Elastis (MPa)

  2

  5

  5

      

  h a k n

  …………………………….....……………………….( 3.37 )

  E

  fy

    = hr Hs hr wr

  = Tegangan Leleh (MPa) A w =luas penampang pelat badan penuh (A w = d tw) Penghubung Geser

  Kekuatan penghubung geser jenis paku (LRFD Pasal 12.6.3)

  ( ) . fu Asc rs . Ec . fc' . Asc . 0,5 Qn ≤ =

  .......................................................( 3.38 ) Dimana : rs untuk balok tegak lurus balok :

  1

  ≤   

     −

     

  • 1 * 6 .

  3.6.1.2. Kolom Komposit Kolom Komposit yang dimaksud adalah kolom yang terbuat dari baja yang diberi selubung beton disekelilingnya (kolom baja berselubung beton).

  Adapun batasan digolongkannya sebagai kolom komposit menurut SNI- 1729-03-2002 Pasal 12.3.1 adalah sebagai berikut: a. Luas penampang baja ≥ 4 % luas penampang komposit total.

  b. Kolom baja berselubung beton harus diberi tulangan longitudinal dan tulangan

  2 lateral minimum sebesar 0,18 mm /mm spasi tulangan.

  c. Beton : 21 MPa ≤ fc’ ≤ 55 Mpa.

  d. Baja dan baja tulangan : fy ≤ 380 Mpa (untuk perhitungan) e. Tebal minimum dinding penampang baja berongga.

  fy

  • penampang persegi : t min = b

  3 E Kuat Rencana Kolom Komposit

  N

  adalah = c n

  φ c = 0,85

  φ N = A f n s cr f my

  di mana f = ; = faktor tekuk...........................................................( 3.40 )

  cr ω

  ω

  Untuk : < 0,25 maka = 1

  c λ ω

  1 ,

  43

  0,25 < < 1,2 maka =

  c λ ω

  1 , 6 ,

  67 − λ c

  • C 2 .fc’.

   

  Ec = Modulus ealstisitas beton, Mpa fcr = Tegangan tekan kritis, Mpa fc’ = Kuat tekan karakteristik beton, Mpa

  

2

E = Modulus elastisitas baja, Mpa

  

2

Ac = Luas penampang beton, mm

  fc' ...................................................................................( 3.44 ) dimana : rm = Jari – jari girasi kolom komposit, mm fmy = Tegangan leleh kolom komposit, Mpa fyr = Tegangan leleh tulangan, Mpa Em = Modulus elastisitas kolom komposit, Mpa w = Berat jenis beton Ar = Luas tulangan longitudinal, mm

  1,5 .

  .................................................................................( 3.43 ) Ec = 0,041.w

  As Ac

   

     

  ........................................................( 3.42 ) Em = E + C 3 .Ec.

  As Ac

   

     

  As Ar

     

  λ c > 1,2 maka

  1 .fyr.

  L . kc ............................................................................( 3.41 ) fmy = fy + C

  c = Em my f π . m r

  λ

  0,3b Dimana :

  ≥

  r m = r

  π λ =

  E f r L K

  λ m my m c c

  1 c

  2 25 ,

  =

  ω

2 As = Luas penampang profil baja, mm

  • Untuk pipa baja yang diisi beton :
  • Untuk profil baja yang diberi selubung beton :

  Nn . c Nu

  Mux .

  9

  8 Nn . Nu

  ≤ + +    

    ϕ ϕ ϕ

  ……………………( 3.47 ) b. 0,2

  < ϕ

  1,0 Mny . b

  1,0 Mny . b

Mny

Mnx . b

  Mux Nn . .

  ≤ + +      

       

  ϕ ϕ ϕ

  ………………….……….( 3.48 )

  Mny Mnx . b

  ≥ ϕ

  kc = Faktor panjang efektif kolom L = Panjang unsur struktur, mm Nn = Kuat aksial nominal, N

  1 c ,

  λ

  c = Parameter kelangsingan

  ∅

  c = Faktor reduksi beban aksial tekan

  ω

  = Faktor tekuk Pada persamaan di atas,

  2 c ,dan 3 c adalah koefisien yang besarnya.

  0,2 Nn . c Nu

  , 85 ,

  1 2 1 = = c c

  ,dan 3

  c =0,4.....................................................................( 3.45 )

  ; 6 , 7 , 2 1 = = c c ,dan 3 c

  =0,2 ...................................................................( 3.46 ) Kekuatan rencana kolom komposit yang menahan beban kombinasi aksial dan lentur (LRFD Pasal 7.4.3.3).

  a.

2 Nu

  dimana : Nu = Gaya aksial (tarik atau tekan) terfaktor, N Nn = Kuat nominal penampang, N

  = Faktor reduksi kekuatan

  ∅

  c = 0,85 (struktur tekan)

  ∅

  b = 0,90 (struktur lentur)

  ∅

  Mnx , Mny = Momen lentur nominal penampang komponen struktur masing – masing terhadap sumbu x dan sumbu y, N.mm Mux , Muy = Momen lentur terfaktor masing – masing terhadap sumbu x dan sumbu y, N.mm

  3.6.2. Str uktur Sekunder Perhitungan struktur sekunder meliputi :

  1. Perencanaan Tangga

  2. Perencanaan Pelat Lantai

  3. Perencanaan Pelat Atap

  4. Perencanaan Balok Anak

  3.7. Pelat Lantai Pelat lantai yang digunakan adalah sistem dek baja bergelombang (bondek).

  3.8 Kontr ol Desain Melakukan analisa struktur bangunan, dimana harus memenuhi syarat keamanan dan rasional sesuai batas-batas tertentu menurut peraturan SNI-03-2847-

  2002 tentang Tata Cara Perhitungan Beton Untuk Bangunan Gedung, SNI-03-1726- 2002 tentang Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk Bangunan Gedung, SNI 03-1729-2002 tentang Tata Cara Perencanaan Struktur Baja, dan Peraturan Pembebanan Indonesia Untuk Gedung 1983. Dilakukan pengambilan kesimpulan, apakah desain telah sesuai dengan syarat-syarat perencanaan dan peraturan angka keamanan, serta efisiensi. Bila telah memenuhi persyaratan, maka dapat diteruskan ke tahap pendetailan dan apabila tidak memenuhi persyaratan, maka dilakukan pendesainan ulang.

  3.9 Penggambar an Hasil Per hitungan Penggambaran hasil Perencanaan dan perhitungan dalam gambar teknik ini dengan menggunakan program analisa struktur ( SAP 2000 ) dan AutoCAD.

  BAB IV PERENCANAAN STRUKTUR SEKUNDER

  4.1. Per encanaan Tangga

  4.1.1. Data - data per encanaan tangga Tinggi antar lantai = 400 cm Tinggi bordes = 200 cm Lebar injakan (i) = 26 cm Panjang tangga = 390 cm Lebar bordes = 150 cm

  Tebal pelat miring = 9cm Tebal pelat bordes = 9cm

  2 Mutu beton ( fc’) = 25 Mpa = 250 kg/cm

  2 Mutu Baja (fy) = 250 Mpa = 2500 kg/cm

  4.1.2. Per ecanaan Pelat Anak Tangga

  • Persyaratan – persyaratan jumlah injakan tangga 60 cm< ( 2t + i ) <65 cm 25º < a < 40º Dimana : t = tinggi injakan (cm) i = lebar injakan (cm) a = kemiringan tangga

  44

  • Perhitungan jumlah injakan tangga

  60

  26

  −

  Tinggi injakan ( t ) = = 17 cm

  2 200

  Jumlah tanjakan = = 12 buah

  17 Jumlah injakan ( n ) =12-1 = 11 buah Lebar bordes = 150 cm

  Lebar tangga = 320 cm Panjang Tangga = 390 cm Panjang Bordes = 340 cm

  200  

  a = arc tg = 34,96 º ..................Ok

   

  26

  10 x

   

  Tebal pelat rata-rata :

  1   ×

  26 ×

  17  

  x =

  2  

  8 , 5 cm =

  26    

  Jadi, tebal pelat total rata – rata : = tebal pelat tangga + x = 9 cm + 8,5 cm = 17,5 cm

  4.1.2.1.Pembebanan Pelat Anak Tangga Dipakai pelat komposit bondek dengan tebal pelat = 0,75mm.

  Pembebanan

  a. Beban Berguna (Superimposed) Beban finishing :

  • spesi lantai t = 1cm

  26 ,

  17

  2  

  • 2 ,

  = 1.21 kg /m . = 34,73kg/m

   

  ,

  26

   

  • lantai keramik t = 1 cm

  26 ,

  17

  2  

  • ,

  2

  = 1.24 kg /m . = 39,69 kg/m

   

  ,

  26

   

  • pelat anak tangga t = 8,5 cm

  3

  2

  = 0,085m .2400kg/m = 204kg/m

  2

  • sandaran baja = 20 kgm

  2 Total beban finishing = 298,42 kgm

  2 Beban hidup = 300 kg/m

  Beban berguna = beban hidup + beban finishing

  2

  2

  2

  = 300 kg/m + 298,42 kg/m = 598,42 kg/m Berdasarkan tabel perencanaan praktis untuk bentang menerus tanpa tulangan negatif tanpa penyangga didapatkan data-data sebagai berkut :

  • bentang (span) = 1,5 m
  • tebal pelat beton = 9 cm

  b. Beban Mati

  

2

  • Pelat lantai bondek = 10,1 kg/m

  1

  2

  2

  = 10,1 kg/m . = 12,32 kg/m cos 34 ,

  96

  • Pelat beton t = 9 cm

  1

  3

  2

  • = 0,09 m .2400 kg/m . = 263,55 kg/m cos

  34 ,

  96

  2

  q D1 = 275,87 kg/m

  W F 2 5 0 .1 2 5 .5 .8 P e la t C o m b id e c k 1 2.20 0. 0. 1 2. .2 2 T a n g g a 60 B a lo k U ta m a WF 600.2 W F 2 5 0 .1 2 5 .5 .8 W F

Gambar 4.1. Denah Tangga

  Ancho r B olt 2D1 9 m m

Gambar 4.2. Potongan A – A Tangga

  4.1.3. Per encanaan Pelat Bor des Data-data bondek Pelat bordes menggunakan pelat bondek. Data-data perencanaan berdasarkan brosur Lysaght tabel 2 :

  Dipakai pelat komposit bondek dengan tebal pelat = 0,75mm.

  a. Bentang = 1,5 m, tanpa penyangga

  b. Bentang menerus tanpa tulangan negatif, tebal pelat beton = 9 cm, tulangan negatif = 0,93 cm²/m c. Beban berguna = 300 kg/m² Pembebanan

  a. Beban Berguna (Superimposed) Beban finishing :

  • spesi lantai t = 1cm

  2

  2

  = 1.21 kg /m = 21 kg/m

  • lantai keramik t = 1cm

  2

  2

  = 1.24 kg /m = 24 kg/m

  2

  • sandaran baja = 20 kg/m

  2 Total beban finishing = 65 kg/m

  b. Beban Mati

  2

  • Pelat lantai bondek = 10,1 kg/m

  2

  • Beban finishing = 65 kg/m
  • Pelat beton t = 9 cm

  3

  2

  = 0,09 m .2400 kg/m + = 216 kg/m

  2

  q D2 = 291,1 kg/m

2 Beban hidup = 300 kg/m

  4.1.3.1.Pembebanan Balok Bor des Direncanakan menggunakan profil WF 150.100.6.9 dengan data sebagai berikut:

  2

  4

  3 A = 26,84 cm Ix = 1020 cm Sx = 138 cm

  4

  3 W = 21,1 kg/m Iy = 151 cm Sy = 30,1 cm

  3

  bf = 100 mm ix = 6,17 cm Zx = 150 cm

  3

  d = 148 mm iy = 2,37 cm Zy = 46 cm tf = 9 mm r = 11 mm tw = 6 mm h = 148 – 2 x (11+9) = 108 mm Pembebanan

  a. Beban Mati (1/2 lebar anak tangga)

  2

  • Berat pelat bordes = 291,1 kg/m .0,75m = 218,33 kg/m
  • Berat profil = 21,1 kg/m+

  = 239,43 kg/m

  • Berat penyambung ( 10 % ) = 23,94 kg/m+ q = 263,37 kg/m

  D2

  Beban mati terpusat = 21,1 kg/m .0,75m = 15,825 kg/m

  b. Beban Hidup (1/2 lebar anak tangga)

  2

  q L2 = 300 kg/m .0,75 m = 225 kg/m

  c. Beban Ultimate qult

  2 = 1,2 x q D + 1,6 x q L

  = 1,2 . (263,37)+1,6 . (225) = 676,04 kg/m

  L 150 beff ≤ = = 37,50 cm (menentukan)

  4

  4 beff

  ≤ 150 cm Momen yang terjadi :

  1

  1

  2

  

2

Mu = x qu x L = . 676,04 .1,5 = 190,14 kgm

  8

  8

  = 19014 kgcm Geser yang terjadi :

  1

1 Vu = x qu x L = . 676,04 .1,5 = 507,03 kg

  2

  2

  • Kontrol Kekuatan Penampang (Local Buckling)

  Untuk badan

  h 1680 ≤ tw fy

  108 1680

  ≤

  6 250 18 < 106,25.......ok

  Profil penampang kompak dianalisa dengan distribusi tegangan plastis.

  • Menghitung momen nominal

  a. Menentukan gaya yang terjadi : C = 0,85 x fc’ x t x b

  plat eff

  = 0,85 .250 . 9 .37,5 = 71718,75 kg

   T = As x fy

  = 26,84 .2500 = 67100 kg (menentukan) b. Menentukan jarak-jarak dari centroid gaya-gaya yang bekerja:

  Asxfy

  26 , 84 . 2500

  a

  = 8,42 cm

  = =

  , 85 xfc ' xbeff , 85 . 250 . 37 ,

  5

  c. Menghitung kekuatan nominal penampang komposit :

  d a  

  = −  

  • Mn Asxfy ts

  2

  2

   

  14 ,

  8 8 ,

  42

   

  84 . 2500

  9

  = −  

  • 26 ,

  2

  2

   

  = 426974,49 kgcm Syarat : Mu .

  ≤ Mn

  φ

  19014 kgcm≤ , 85 . 426974 , 49 kgcm 19014 kgcm≤ 362928,32 kgcm Kekuatan nominal penampang komposit lebih besar daripada momen akibat beban berfaktor, sehingga penampang mampu menahan beban yang terjadi.

  • Kontrol lendutan

  a. Menghitung luasan transformasi beton ke baja :

   Atr = btr x t plat beton 1 , 5 1,5

  25 E = , 041 xw x fc ' = 0,041 . 2400 . c c = 24102,98 Mpa

5 Es 2x

  10 Mpa

  = b = 37,5 cm (balok interior) eff 5

b

Es

  2 x

  10 eff 37 ,

  5

  n

  = = = 8,3 btr = = = 4,5 cm

  Ec n

  24102 ,

  98 8 ,

  3

   Atr = btr x t = 4,5. 9 = 40,5 cm plat beton

  b. Menentukan letak garis netral pada serat atas :

  A t tr platbeton . d

   

 

A t splatbeton + +

  2

  2

 

 

  Yna =

  • A A tr s )

  (

  40 ,

  5 14 ,

  8

    

  26 ,

  84

  9

   + +    

  2

  2

      =

  5 26 ,

  84

  ( )

  • 40 ,

  = 6,83 cm

  c. Menentukan nilai momen inersia penampang transformasi : 3 2 2

  b ( t ) t

tr pb pb  

  d

 

  I A Yna Ix A t Yna tr tr spb = − − + + + +

  12

  2

  2   3     2 2

  4 , 5 ( 9 )

  9 14 ,

  8      

  40 ,

  5 6 , 83 1020 26 ,

  84

  9 6 ,

  83 I = − − tr    

+ + + +

 

  12

  2

  2      

  4

  = 3652,11 cm

  d. Lendutan ijin :

  L

  150 '

  f = = = 0,375 cm

  400 400 Menghitung lendutan pada balok bordes akibat beban merata :

  4 5 .( q q ). l DL LL

  • +

  5 .( 2 ,

  63 2 , 25 ). 150 4

  f = = 6 384 . E . Ix 384 .

  2 . 10 . 3652 ,

  11 = 0,032 cm< '

  

f = 0,375 cm ...............ok

  Perencanaan penghubung geser Untuk penghubung geser yang dipakai adalah tipe stud dengan

  Diameter stud, ds = 13 mm

  2 Luasan stud, Asc = 132,665 mm

  2

  fu = 410 Mpa = 41 kg/mm 1 , 5 1 , 5 Ec = w x , 041 x fc ' = 2400 . , 041

  25

  = 24102,97Mpa

  fc Ec

  25 . 24102 ,

  97 Qn = 0,5xAscx '. = 0,5x132,665 = 51491,05 N = 5149,105 kg/stud

  Syarat : Qn ≤ Asc.fu

  5149,105kg/stud ≤ 132,665x41 5149,105kg/stud ≤ 5439,27 kg/stud .............ok Jumlah stud untuk setengah bentang :

  C

  71718 ,

  75 N 13 ,

  93

  = = = Qn 5149 , 105 T 67100

  N

  13 , 08 = 14 buah (menentukan)

  = = = Qn

  5149 , 105 Jadi, dibutuhkan 28 buah stud untuk seluruh bentang.

  Jarak seragam (S) dengan dua stud pada masing-masing lokasi :

  L 150 S

  5 ,

  36 cm = 6 cm.

  = = = N

  28 Jarak maksimum (Pmaks)= 8.t ..................LRFD-15.6

  

platbeton

  = 8 x 9 cm = 72 cm Jarak minimum = 6 . (diameter stud).........................LRFD-15.6

  = 6 x 1,3 cm = 7,8 cm Jadi, shear connector dipasang sejarak 6 cm sebanyak 28 buah untuk masing- masing bentang.

  • Kontrol lateral buckling

  Profil dengan pengaku disepanjang bentang (shear connector) Lb = 0 6 E 2 x

  10 Lp 1 , 76 xiyx 1 , 76 . 2 , 37 117 , 98 cm

  = = = fy 2500

  Lb < Lp → bentang pendek Mn = Mpx Mp = Zx.fy = 150.2500 = 230296,87 kgcm

  Syarat : Mu ≤ ΦMp 19014 kgcm ≤ 0,9. 230296,87kgcm

  19014 kgcm ≤ 195752,34 kgcm..............ok

  4.1.4. Per encanaan Balok Tangga Balok tangga dianalisa dengan asumsi terletak di atas dua tumpuan sederhana yang menerima beban merata dari berat sendiri dan beban dari pelat anak tangga.

  Direncanakan menggunakan profil WF 150.100.6.9 dengan data sebagai berikut:

  2

  

4

  3 A = 26,84 cm Ix = 1020 cm Sx = 138 cm

  

4

  3 W = 21,1 kg/m Iy = 151 cm Sy = 30,1 cm

  3

  bf = 100 mm ix = 6,17 cm Zx = 150 cm

  3

  d = 148 mm iy = 2,37 cm Zy = 46 cm tf = 9 mm r = 11 mm tw = 6 mm h = 148 – 2(11+9) = 108 mm

  P e la t b e to n t = 1 7 ,5 c m W F 1 5 0 .1 0 0 .6 .9

Gambar 4.3 Pembalokan Balok Tangga

  4.1.4.1. Pembebanan Balok Tangga Kondisi Balok Tangga Setelah Komposit

  a. Beban Mati

  2

  • berat pelat bondek = 10,1kg/m .0,75m = 7,58 kg/m
  • berat sendiri pelat beton

  3

  = 0,175 m.2400 kg/m .0,75m = 315 kg/m

  • berat sendiri profil WF = 21,1 kg/m

  

2

  • berat spesi = 1.21 kg/m .0,75 m = 15,75 kg/m

  

2

  • berat keramik = 1.24 kg/m .0,75m = 18 kg/m+

  = 369,85 kg/m

  • berat ikatan : 10 %.369,85 = 36,985 kg/m+ q D = 406,84 kg/m

  2

  b. Beban Hidup : q L = 300 kg/m .0,75 = 225 kg/m Kombinasi Beban : q u = 1,2 q D + 1,6 q L

  = 1,2. 406,84+ 1,6.225 = 848,208 kg/m 3 ,

  9 L

  1 = = 4,75 m = 475 cm

  cos 34 ,

  96 L 475

  beff ≤ = = 59,375 cm (menentukan)

  8

  8

  • = +
    • Perhitungan Gaya – Gaya pada Tangga

  3 . 9 , 3 . 275 84 ,

  • + +

  • + +

  = 771,921 kg (

  ↑

  ) ∑ Ma = 0

  V DC =

  ( ) ( ) ( ) 4 ,

  5 9 , 3 .

95 ,

1 .

9 , 3 . 65 , 4 . 5 , 1 . 1 2 P q q D D

  =

  ( ) ( ) ( )

  4 ,

  5 9 , , 825 3 .

  15 95 , 1 . 9 , 3 . 275 84 , 65 ,

  4 . 5 , 1 . 291 1 ,

  = 755,908 kg (

  ↑

  1 . 291 1 , 45 ,

  5 5 , , 825 1 .

  15 . 75 , 5 ,

  a. Beban mati

  beff

  35

  2 150

  2

  St S

  = 110 cm

Gambar 4.4 Sketsa Pembebanan untuk Beban Mati

  4 ,

  ∑ Mc = 0

  V DA =

  ( ) ( ) ( ) 4 ,

  5 5 , 1 .

. 75 ,

5 ,

  1 . 45 , 3 . 9 , 3 . 2 1 P q q D D

  =

  ( ) ( ) ( )

  ) V u A V u C A C q d 1 q d 2

b. Beban hidup

Gambar 4.5 Sketsa Pembebanan untuk Beban Hidup

  ∑Mc = 0

  Kontrol : Σ V = 0 771,921 + 755,908 = (qd

  1 .3,9) + (qd 2 .1,5) + P

  1527,829 kg = 1527,829 kg .............Ok

  • =

  V LA =

  ( ) ( ) 4 ,

  5

. 75 ,

5 , 1 . 45 , 3 . 9 , 3 . 2 L 1 L q q

  5

. 75 ,

5 , 300 1 . 45 , 3 . 9 , 300 3 . +

  = 810 kg (

  ↑ )

  ∑Ma = 0

  • =

  V LC =

  ( ) ( ) 4 ,

  5

95 ,

1 .

9 , 3 . 65 , 4 . 5 , 1 . 1 2 L L q q

  • = 810 kg (
Kontrol : Σ V = 0 810 +810 = (ql

  ( ) ( ) 4 ,

  5

95 ,

1 .

9 , 225 3 . 65 , 4 . 5 , 300 1 .

  ↑ ) V u A V u C A C q l 1 q l 2

  ( ) ( ) 4 ,

  1 .3,9) + (ql

2 .1,5)

  1620 kg = 1620 kg..........Ok

  c. Gaya – Gaya Dalam Ultimate qu

  1 =1,2.qd 1 + 1,6.ql

  1

  = (1,2. 275,84 + 1,6.300) = 811,008 kg/m qu

  2 = 1,2.qd 2 + 1,6.ql

  2

  = (1,2. 291,1 + 1,6. 300) = 829,32 kg/m

  V UA = 1,2 V DA + 1,6.V LA = 1,2. 771,921+ 1,6. 810 = 2222,31 kg ( )

  ↑

  V UC = 1,2 V DC + 1,6.V LC = 1,2. 755,908+ 1,6. 810 = 2203,08 kg ( )

  ↑

  Batang C-B M U BC = - (V UC . 1,5) + (qu

  2 .1,5.0,75)

  = - (2203,08.1,5) + (829,32.1,5.0,75) = - 2371,63 kgm = -237163 kgcm

  M U BA = (V UA .3,9) – (qu

  1 .3,9.1,95)

  = (2222,31.3,9) – (811,008.3,9.1,95) = 2371,63 kgm = 237163 kgcm

  Kontrol : M U BA = M U BC 237163 kgcm = 237163 kgcm............Ok Batang A-B

  2 Mx 1 = (V UA .x 1 ) – (1/2.qu 1 .x 1 ) dMx 1 V q . x

  = ⇒ − UA U 1 1 = dx 1 V UA 2222,31

  x

  1 = = 2 , 74 m <3,9m................Ok = q 811 , 008 U

  1

  2 M Umax = (V UA .x) - (1/2. qu 1 .x )

  2

  = (2222,31.2,74) – (0,5. 811,008.2,74 ) = 3044,76 kgm = 304476 kgcm

  B C 2371,63

  A 3044,76

  2,74

Gambar 4.6 Sketsa Bidang Momen Pada Balok Tangga

  Gaya Lintang Batang A-B x = 0

  Da = Vua cos 34,96 = 2222,31. Cos 34,96 = 1821,30 kg x = 3,9 Db kiri = Da – (qu .Lab. cos 34,96)

  1

  1821,30 – (811,008.3,9.cos 34,96) = - 770,88 kg

  • 1273,39 +( 811,008.3,9.sin 34,96) = 538,98 kg Nb kanan – c = 0
  • Kontrol Kekuatan Penampang (Local Buckling) Untuk Badan

  ≤ 250 1680

  = 0,85.250.9. 59,37 = 113545,13 kg

  .b eff

  C = 0,85.fc’.t p

  a. Menentukan gaya yang terjadi

  18 < 106,25.......ok Profil penampang kompak dianalisa dengan distribusi tegangan plastis

  6 108 ≤

  fy tw h 1680

  1 .Lab. sin 27,11)

  Na = - Vua sin 34,96 = - 2222,31 . sin 34,96 = - 1273,39 kg Nb kiri = Na + (qu

  Gaya Normal Batang A-B

  2203,08 – (829,32.1,5) = 959,10 kg x = 5,4 Dc = 2203,08kg

  2 .Lcb)

  Batang C-B Db kanan = Vuc – (qu

  • Menghitung momen nominal

  T = As.fy

  = 26,84.2500 = 67100 kg (menentukan)

  b. Menentukan jarak-jarak dari centroid gaya-gaya yang bekerja:

  As fy .

  26 , 84 . 2500

  a

  = 5,32 cm

  = = fc beff

  , 85 . '. , 85 . 250 . 59 ,

  37

  c. Menghitung kekuatan nominal penampang komposit

  d a  

  = −  

  • Mn As . fy ts

  2

  2  

  14 ,

  8 5 ,

  32

   

  84 . 2500

  9

  =  − 

  • 26 ,

  2

  2

   

  = 666111,76 kgcm Syarat : MuMn .

  φ

  304476 kgcm≤ , 85 . 666111 , 76 kgcm 304476kgcm≤ 566195 kgcm

  Kekuatan nominal penampang komposit lebih besar daripada momen akibat beban berfaktor, sehingga penampang mampu menahan beban yang terjadi.

  • Kontrol Lendutan

  a. Menghitung luasan transformasi beton ke baja 1 , 5

  1,5 E w fc = 0,041.2400 .

  25 c c = , 041 . . '

  = 2412,97 Mpa 5 Es

  = 2 .

10 Mpa

  b = 59,37 cm (balok eksterior) eff 5 2 .

  10 Es

  n

  = = = 8,3

  Ec

  24102 ,

  97

  b eff 59 ,

  37

   btr

  = = = 6,59 cm

  n

  8 ,

  3 Atr = btr.t = 6,59.17,5 = 115,325 cm

  plat beton

  b. Menentukan letak garis netral

  A t tr platbeton d .

   

 

A t splatbeton + +

  2

  2

  = A A tr s

  

 

  Yna

  • 115 , 325 .

  ( )

  17 ,

  5 14 ,

  8

     

  26 ,

  84 17 ,

  5

  •  

  2

  2

      =

  26 ,

  84

  ( ) = 11,78 cm

  • 115 , 325

  GN baja

Gambar 4.7 Penampang Balok Komposit

  c. Menentukan nilai momen inersia penampang transformasi 3 2 2

  b ( t ) t tr pb pb     d  

  I A btr Ix A t Yna tr tr spb = − − + + + +

  12

  2

  2   3    

2

2

  6 , 59 ( 17 , 5 ) 17 , 5  14 , 8 

      I = 115 , 325 tr     6 , 59 − 1020 26 ,

  84 17 , + 5 − + + + 11 ,

  78

  12

  2

  2      

  4

  = 18848,15 cm

  N = 14 buah (menentukan)

  5 6 4

  = = = Qn T

  67100

  Jumlah stud untuk setengah bentang : 08 , 13 5149 105 ,

  5149,105 kg/stud ≤ 132,665x41 5149,105 kg/stud ≤ 5439,265 kg/stud .............ok

  Syarat : Qn ≤ Asc.fu

  25 = 51491,05 N = 5149,105 kg/stud

  = 24102,97Mpa Qn = 0,5xAscx Ec fc '. = 0,5x132,665 . 2412 97 ,

  

2

Ec = , 25 041 . 2400 ' 041 , 5 , 1 5 , 1 = fc x x w

  fu = 410 Mpa = 41 kg/mm

  2

  2 96 , 3 .(

  438 ). 25 ,

  • = 0,09cm < ' f = 1,095cm..................ok

  = . 18848 15 , 10 . 384 2 .

  5 4

  . . 384 ). .(

  Ix E l q q f LL DL

  = 1,095 cm Menghitung lendutan pada balok tangga akibat beban merata

  = 400 438

  L

  400

  f =

  d. Lendutan ijin : '

  • =
    • Perencanaan Penghubung Geser Untuk penghubung geser yang dipakai adalah tipe stud dengan : Diameter stud, ds = 13 mm Luasan stud, Asc = 132,665 mm

  Jadi, dibutuhkan 28 buah stud untuk seluruh bentang. Jarak seragam (S) dengan dua stud pada masing-masing lokasi :

  L

  150

  S

  5 , 36 cm = 6 cm.

  = = = N

  28 Jarak maksimum (Smaks)= 8.t platbeton .................................. LRFD-15.6 = 8 x 9 cm = 72 cm

  Jarak minimum = 6 . (diameter stud) .........................LRFD-15.6 = 6 x 1,3 cm = 7,8 cm

  Jadi, shear connector dipasang sejarak 6 cm sebanyak 28 buah untuk masing- masing bentang.

  • Kontrol lateral buckling

  Profil dengan pengaku disepanjang bentang (shear connector) Lb = 0 6 E 2 x

  10 Lp xiyx cm 1 , 76 1 , 76 . 2 , 37 117 ,

  98

  = = = fy 2500

  Lb < Lp → bentang pendek Mn = Mpx Mp = Zx.fy = 150.2500 = 230296,87 kgcm

  Syarat : Mu ≤ ΦMp 19014 kgcm ≤ 0,9. 230296,87 kgcm

  19014 kgcm ≤ 195752,34 kgcm ……...ok

  • Kontrol Geser Kuat geser balok tergantung pada perbandingan antara tinggi bersih pelat badan (h) dengan tebal pelat badan (tw)

  h kn . E 1 ,

  1 ≤ tw fy

  • h a

  Syarat : ΦVn ≥ Vu

  tf = 8 mm r = 12 mm tw = 5 mm

  3

  d = 248 mm iy = 2,79 cm Zy = 63 cm

  3

  bf = 124 mm ix = 10,4 cm Zx = 305 cm

  3

  4 Sy = 47 cm

  3 W = 25,7 kg/m Iy = 255 cm

  4 Sx = 324 cm

  A = 32,68 cm

  4.1.5. Per encanaan Balok Tumpuan Tangga Direncanakan menggunakan profil WF 250.125.5.8 dengan data sebagai berikut :

  0,9. 13320 kg ≥ 2222,31kg 11988 kg ≥ 2222,31kg…....ok

  = 0,6.2500 (14,8.0,6) = 13320 kg

  Dimana: kn = 2

  1 6 8 < 69,57........................ok Vn = 0,6.fy.Aw

  5 1 ,

  ) 10 . 2 .(

  < 2500

  6 108

  1 ≤

  1 ,

  fy E kn tw h .

  ; untuk balok dengan pengaku vertikal pelat badan kn = 5 ; untuk balok tanpa pengaku vertikal pelat badan sehingga :

   

  5    

  5

2 Ix = 3540 cm

  h = 250 – 2(9+12) = 208 mm Pembebanan

  a. Beban Mati

  • Berat Profil = 25,7 kg/m
  • Berat sandaran besi = 20 kg/m +

  = 45,7

  • Berat alat penyambung (10%) = 4,57 kg/m + q D = 50,27 kg/m qu = 1,2.50,27 kg/m =60,32 kg/m P = V UC = 2203,08kg

Gambar 4.8 Pembebanan Pada Balok Tumpuan Tangga

  ΣMB = 0

  2 V A .4 - P.(0,35 + 1,85 + 2,15 + 3,65)- ½ q u .4 = 0

  2203,08 .(0,35 + 1,85 + 2,15 + 3,65)- ½.60,32) / 4

  V A = 4285,52 Kg ΣV = 0 V + V = 4.P + (qu.4)

  A B

  4.2203,08 + ( 60,32.4 ) V = 4501,14 Kg

  B

  2 Mmax = V .2 - P (2-0,35)- (P. 0,15) - ½ q.2 A

  = 4526,8 kgm

  • Kontrol Penampang Profil :

  h 208

  Pelat Badan : λ

  41 ,

  

6

= = = tw

  5

  1680 1680 106 ,

  25

  λ = = = P fy 250

  λ < λp , maka penampang kompak Mn = Mp

  • Kontrol Momen Lentur φMn = φ x fy x Zx

  2

  3

  = 0,9 x 2500 kg/cm x 305cm = 960750 kgcm = 6862,5 kgm

  Syarat : φMn > Mu

  6862,5 kgm >4526,8kgm...............Ok

  • Kontrol Kuat Rencana Geser

  h 208 41 ,

  60 = = tw

  5

  1100 1100 69 ,

  57

  = = fy 250 h

  1100 < → plastis tw fy

  Vn = 0,6 x fy x Aw Aw = tw.d

  2

  = 5.248 = 1240 mm Vn = 0,6 x 2500 x 12,4 = 16740 kg

  φVn = 0,9 x 16740 = 14229 kg

  V U = 2203,08kg Syarat :

  Vu ≤ φVn 2203,08Kg <14229kg ....................Ok

  • Kontrol Lendutan

  L 400 = =

  400 400

  f

  = 1

  f

  = 0,64 cm < f ‘ = 1 cm……..ok Jadiprofil WF 250.125.5.8 dapat dipakai

  4.2. Per encanaan Str uktur Lantai Pada perencanaan struktur lantai direncanakan pelat lantai menggunakan bondek, dimana dalam perencanaan ini bondek yang digunakan merupakan produk dari PT. Gunung Garuda.

  4.2.1. Pelat Lantai Atap Dipakai pelat komposit bondek dengan tebal pelat = 0,75 mm

  Pembebanan

  a. Beban Superimposed (Berguna) Beban finishing :

  2

  2

  • aspal t = 2 cm = 2.14 kg/m = 28 kg/m

  2

  2

  • rangka + plafond = (11+7)kg/m = 18 kg/m

  2

  • ducting AC + pipa = 10 kg/m

  2 Total beban finishing = 56 kg/m

  Beban Hidup

  2 Lantai atap (Tabel 3.1 PPIUG 1983) = 100 kg/m

  Beban superimposed/berguna = beban hidup + finishing

  2

  2

  2

  = 100 kg/m + 56 kg/m = 156 kg/m Berdasarkan tabel perencanaan praktis untuk bentang menerus dengan tulangan negatif tanpa penyangga didapatkan data-data sebagai berkut :

  • bentang (span) = 2 m
  • tebal pelat beton = 9 cm

  

2

  • tulangan negatif = 1,07 cm /m
  • direncanakan memakai tulangan dengan Ø = 8 mm

  2

  2

  (As = 50,24 mm = 0,5024 cm )

  • banyaknya tulangan yang diperlukan tiap 1 m

  A 1 ,

  07

  = = = 2,13 buah = 4 buah

  As , 5024

  Jarak antar tulangan tarik per-meter = 1000mm/4 = 250 mm Jadi, dipasang tulangan tarik Ø 8-250

  • Pelat lantai bondek = 10,1 kg/m
  • Beban Finishing = 56 kg/m
  • Pelat beton t = 9 cm = 0,09m.2400 kg/m
    • = 282,1kg/m

  6 282 10 .

  6.00

  6.00

  8.00

  2.00

  3.00

  1 1 .

  3

  ⋅ ⋅ =

  ⋅ ⋅ = D Ekui q = 564,2 Kgm X L L Ekui L q q

  1 1 .

  3

  1 1 .

  Balok Plat Bondex t = 0,75 mm 90 mm Tulangan Ø 8 – 250mm

  3

  L q q ⋅ ⋅ =

  Segitiga : X D D Ekui

Gambar 4.10 Pembebanan Pelat Atap Tipe 1

  2 Gambar 4.9 Potongan Pelat Lantai Atap

  2

  = 216 kg/m

  3

  2

  2

  b. Beban Mati

  8.00

  100 6 .

  q = 243.75 Kgm

  L L L q q

     

     

     

    ⋅ − ⋅ ⋅ ⋅ = 2 2 .

  8

  6

  3

  1

  1 6 100

  2

  1 L Ekui

Gambar 4.11 Pembebanan Pelat Atap Tipe 2

  2

  Segitiga :

  8 282 10 .

  3

  1 D 1 . ⋅ ⋅ = Ekui

  q = 752.27 Kgm X L L Ekui L q q ⋅ ⋅ =

  3

  1 1 .

  

4.00

  4.00

  8.00

  L q q ⋅ ⋅ =

  3

  1 1 .

  1 Y X X L L Ekui

  1

  3

     

  L Ekui 1 1 . ⋅ =

  q = 200 Kgm

  Trapesium :

     

     

     

  ⋅ − ⋅ ⋅ ⋅ = 2 2 .

  3

  1

  1

  2

  1 Y X X D D Ekui

  L L L q q

     

  1

     

    ⋅ − ⋅ = 2 2 .

  8

  6

  3

  1 1 . 6 . 282 10 .

  2

  1 D Ekui

  q = 687,61 Kgm    

     

     

  ⋅ − ⋅ ⋅ ⋅ = 2 2 .

  3

8.00 X D D Ekui

  1

  q 100 Ekui L . 1 = ⋅ ⋅ 8 = 266,67 Kgm

  3 Tabel 4.1 Pembebanan Amplop pada Atap (Beban Mati) Beban Mati Bentuk Amplop

  Pelat Atap Ukuran (m) (kgm) Segitiga (kgm) Trapesium (kgm)

  Tipe 1 282.10 6 x 8 564,2 687,61 Tipe 2 282.10 8 x 8 752,27

Tabel 4.2 Pembebanan Amplop pada Atap (Beban hidup)

  Beban Hidup Bentuk Amplop Pelat Atap Ukuran (m)

  (kgm) Segitiga (kgm) Trapesium (kgm) Tipe 1 100 6 x 8 200 243,75 Tipe 2 100 8 x 8 266,67

  4.2.2. Pelat lantai 1 sampai lantai 8 Dipakai pelat komposit bondek dengan tebal pelat = 0,75mm.

  Pembebanan

  a. Beban Superimposed Berat finishing :

  

2

  2

  • spesi lantai t = 2 cm = 2.21kg /m = 42 kg/m

  2

  2

  • lantai keramik t = 1cm = 1.24 kg /m = 24 kg/m

  2

  2

  • rangka + plafond = (11+7)kg/m = 18 kg/m

  2

  • ducting AC+pipa = 10 kg/m

  2 Total beban finishing = 94 kg/m

  b. Beban Hidup

  2 Lantai sekolah (Tabel 3.1 PPIUG 1983) = 250 kg/m

  Beban berguna = beban hidup + finishing

  2

  2

  2

  = 250 kg/m +94 kg/m = 344 kg/m Berdasarkan tabel perencanaan praktis untuk bentang menerus dengan tulangan negatif tanpa penyangga didapatkan data-data sebagai berkut :

  • bentang (span) = 2 m
  • tebal pelat beton = 9 cm

  2

  • tulangan negatif = 1,55 cm /m
  • direncanakan memakai tulangan dengan Ø = 8 mm

  2

  2

  (As = 50,24 mm = 0,5024 cm )

  • banyaknya tulangan yang diperlukan tiap 1 m

  A 1 ,

  55

  = = = 3,09 buah = 4 buah

  As , 5024

  Jarak antar tulangan tarik per-meter = 1000mm/4 = 250 mm Jadi, dipasang tulangan tarik Ø 8-250 Beban Mati

  2

  • Pelat lantai bondex = 10,1kg/m

  2

  • Beban Finishing = 94 kg/m

  3

  2

  • Pelat beton t = 9 cm = 0,09 m.2400 kg/m = 216 kg/m

  2

  = 320,1kg/m

Gambar 4.12 Potongan Pelat Lantai 1 – 7

  . 250 6 .

  6.00

  

6.00

  8.00

  2.00

  3.00

  90 mm Tulangan Ø 8 – 250mm

  q = 500 Kgm Balok Plat Bondex t = 0,75 mm

  1 L 1 . ⋅ = Ekui

  3

  1 1 .

Gambar 4.13 Pembebanan Pelat Lantai Tipe 1

  3

  q = 640,2 Kgm X L L Ekui L q q ⋅ ⋅ =

  D Ekui 1 1 . ⋅ ⋅ =

  3

  6 320 10 ,

  .

  1 1 .

  3

  L q q ⋅ ⋅ =

  Segitiga : X D D Ekui

  8.00 Trapesium :

     

  3

    ⋅ − ⋅ ⋅ ⋅ = 2 2 .

  8

  6

  3

  1

  1 6 250

  2

  1 L Ekui

  q = 609,37 Kgm

Gambar 4.14 Pembebanan Pelat Lantai Tipe 2

  Segitiga : X D D Ekui

  L q q ⋅ ⋅ =

  1 1 .

     

  8 320 10 ,

  3

  D Ekui 1 1 . ⋅ ⋅ =

  q = 853,6 Kgm X L L Ekui L q q ⋅ ⋅ =

  3

  1 1 .

  8 250

  3

  L Ekui 1 1 . ⋅ ⋅ =

  q = 666,67 Kgm

  4.00

  4.00

  8.00

     

     

     

  8

     

  ⋅ − ⋅ ⋅ ⋅ = 2 2 .

  3

  1

  1

  2

  1 Y X X D D Ekui

  L L L q q

     

     

     

    ⋅ − ⋅ = 2 2 .

  6

  L L L q q

  3

  1 1 . 6 . 320 10 ,

  2

  1 D Ekui

  q = 780,24 Kgm    

     

     

  ⋅ − ⋅ ⋅ ⋅ = 2 2 .

  3

  1

  1

  2

  1 Y X X L L Ekui

  8.00

Tabel 4.3 Pembebanan Amplop pada Lantai (Beban Mati)

  Beban Mati Bentuk Amplop Pelat Lantai Ukuran (m)

  (kgm) Segitiga (kgm) Trapesium (kgm) Tipe 1 24080 6 x 8 640,2 780,24 Tipe 2 24080 8 x 8 853,6

Tabel 4.4 Pembebanan Amplop pada Lantai (Beban hidup)

  Beban Hidup Bentuk Amplop Pelat Lantai Ukuran (m)

  (kgm) Segitiga (kgm) Trapesium (kgm) Tipe 1 250 6 x 8 500 609,37 Tipe 2 250 8 x 8 666,67

  4.3. Per encanaan Balok Anak

Gambar 4.15 Denah Pembalokan Balok Anak

  Balok anak berfungsi membagi luasan lantai agar tidak terlalu lebar sehingga masih mempunyai kekakuan yang cukup. Balok anak menumpu di atas dua tumpuan sederhana. Balok anak interior lantai dua direncanakan menggunakan profil WF 350.175.6.9 dengan data sebagai berikut :

2 A = 52,68 cm ix = 14,5 cm bf = 174 mm

  w = 41,4 kg/m iy = 3,88 cm d = 346 mm

  4

  

3

Ix = 11100 cm Zx = 641 cm r = 14 mm

  4

  

3

Iy = 792 cm Zy = 91 cm

  tf = 9 mm tw = 6 mm h = d – 2(tf + r) = 346 – 2(9 + 14) = 300 mm

2 BJ-41 : fy = 2500 kg/cm

  2

  fu = 4100 kg/cm

2 Beton : fc’ = 25 Mpa = 250 kg/cm

  Panjang balok (span) L = 8000 mm = 8 m

  4.3.1. Kondisi Balok Anak Sebelum Komposit

  1. Beban Mati

  2

  • berat pelat bondek = 10,1 kg/m .2,0 m = 20,2 kg/m
  • berat sendiri pelat beton

  3

  = 0,09 m.2400kg/m .2,0 m = 432,00 kg/m

  • berat sendiri profil WF = 41,4 kg/m+

  = 493,60 kg/m

  • berat ikatan : 10 %.493,60 kg/m = 49,36 kg/m+ q D = 542,96 kg/m

  Kombinasi Beban : q u = 1,4 q D = 1,4. 542,96 = 760,14 kg/m

  Momen yang terjadi:

  1

  1

  2

2 Mu = .qu.L = .760,14. 8 = 6081,15 kgm

  8

  8

  = 608115 kgcm Geser yang terjadi :

  B A 8,0 m 3040,58 kg

  • 3040,58 kg
  • 608115 kgcm

   Gambar.4.16 Bidang D dan M pada Balok Sebelum Komposit

  1

  1 .

  Vu = qu.L = .760,14.8 = 3040,58 kg

  2

  2

  a. Kontrol Lendutan Lendutan ijin :

  L

  800

  f = = = 2 cm

  ' 400 400 Menghitung lendutan pada balok anak sebelum komposit akibat beban merata : 4

  4

  5 .( q ). l DL 5 .( 5 ,

43 ). 800

  f = =

  

6

384 . 2 .

10 . 11100

  384 . E . Ix = 1,30 cm < ' f ..................ok

  = 1,30 cm < 2 cm

  b. Kontrol Kekuatan Penampang (Local Buckling) Untuk Badan

  h 1680 ≤ tw fy

  300 1680

  ≤

  6 250 50 < 106,25 .............ok

  Profil penampang kompak, maka Mn-x = Mp-p

  c. Kontrol Lateral Buckling Jarak Penahan Lateral Lb = 60 cm Berdasarkan tabel profil untuk BJ 41 profil WF 350.175.6.9 didapatkan : Mn = Mp = Z x . f y = 641 . 2500

  = 1362125kgcm

  Mu max Mn ≤ φ

  608115 kgcm ≤ 0,9. 1362125 kgcm 608115 kgcm ≤ 1157806,25 kgcm ...............ok Penampang profil baja mampu menahan beban yang terjadi

  d. Kontrol Geser

  h 1100 ≤ Vn ,

  6 . fy . Aw

  = tw fy

  300 1100 = 0,6.2500.(34,6.0,6)

  ≤

  6 250 50 < 69,57……ok = 20248,7 kg Syarat : ΦVn ≥ Vu

  0,9. 20248,7 kg ≥ 3040,58 kg 17211,39 kg ≥ 3040,58 kg……….......ok

  4.3.2. Kondisi Balok Anak Setelah Komposit Jenis : Balok Interior

  Lebar efektif :

   =

  b ¼ .L = ¼.8m = 2 m = 200 cm

  eff

  b eff = bo = 2,00 m = 200 cm Pembebanan

  1. Beban Mati

  2

  • berat pelat bondex = 10,1kg/m .2,0 m = 20,2 kg/m
  • berat sendiri pelat beton

  3

  = 0,09 m.2400kg/m . 2,0 m = 432,00 kg/m

  • berat sendiri profil WF = 41,4 kg/m

  2

  • berat spesi = 2.21 kg/m .2,0 m = 84,00 kg/m

  2

  • berat keramik = 1.24 kg/m .2,0 m = 48,00 kg/m

  2

  • berat rangka + plafond = (11+7)kg/m .2,0 m = 36,00 kg/m

  

2

  • berat ducting AC+pipa = 10 kg/m .2,0 m = 20,0 kg/m+

  = 681,6 kg/m

  • berat ikatan : 10 %.681,6 = 68,16 kg/m+ q D = 749,76 kg/m

  2

  2. Beban Hidup : q L = 250 kg/m .2,0m = 500 kg/m

  = 52,68.2500 = 131700 kg (menentukan)

  1 .1699,712.8 = 6798,85 kg

  T = As.fy

  = 0,85.250.(9-5,3).200 = 157250 kg

  C = 0,85.fc’.t s’ .b eff

  b. Menghitung Momen Nominal

  50 < 106,25.......ok Profil penampang kompak, sehingga kapasitas momen penampang dianalisa dengan distribusi tegangan plastis.

  ≤

  6 300

  250 1680

  ≤

  fy tw h 1680

  a. Kontrol Kekuatan Penampang (Local Buckling) Untuk Badan

  2

  Kombinasi Beban : q u = 1,2 q D + 1,6 q L = 1,2. 749,76 + 1,6. 500 = 1699,712 kg/m

  1 qu.L =

  2

  Geser yang terjadi : Vu = .

  = 13597,696 kgm = 1359769,6 kgcm

  2

  1 .1699,712.8

  8

  =

  2

  1 .qu.L

  8

  Momen yang terjadi: Mu =

  • Menentukan gaya yang terjadi
  • Menentukan jarak-jarak dari centroid gaya-gaya yang bekerja:

  As fy .

  52 , 68 . 2500

  a

  = 3,09 cm

  = =

  , 85 . fc '. beff , 85 . 250 . 200

  • Menghitung kekuatan nominal penampang komposit

  d a  

  = −  

  • Mn As . fy ts

  2

  2  

  34 ,

  6 3 ,

  09

   

  68 . 2500

  9

  = −  

  • 52 ,

  2

  2

   

  = 2355518,71 kgcm Syarat : MuMn .

  φ

  1359769,6 kgcm ≤ , 85 . 2355518 , 71 kgcm 1359769,6 kgcm ≤ 2002190,898 kgcm

  Kekuatan nominal penampang komposit lebih besar daripada momen akibat beban berfaktor, sehingga penampang mampu menahan beban yang terjadi.

  c. Kontrol Lendutan Menghitung luasan transformasi beton ke baja 1 , 5

  1,5 E w fc = 0,041.2400 .

  25 c c = , 041 . . '

  = 24102,97 Mpa 5 Es = 2 .

10 Mpa

  b = 200 cm (balok interior) eff 5 Es 2 .

  10

  n

  = = = 8,3

  Ec

  24102 ,

  97

  b eff 200 btr = = = 24,1 cm n 8 ,

  3

  • =
  •     
  •     

  2 6 , 34 68 ,

  12 ) (  

    − 

       + + + 

     − + =

  Yna t d A Ix t

  Yna A t b

  I pb s pb tr pb tr tr 2 2 3

  76 ,

  8

  9

  

52 11100

  2

  2

  9 76 , 8 216 92 ,

  12 ) 9 ( 1 ,

  24  

    − 

      

   − + = tr

  I

  = 32708,043 cm

  4 Py c 0,85 fc' btr GN komposit

  2

  3

  GN baja tb d b eff

  68 ,

  Atr = btr.t plat beton

  = 24,1.9 = 216,92 cm Menentukan letak garis netral

  ( ) s tr platbeton s platbeton tr

  A A d A t A t

  Yna

     

    

  2

  2 .

  ( )

  52 216 92 , 2 6 ,

  2

  34

  9 68 ,

  52

  2 9 .

  216 92 ,

       + + =

  = 8,76 cm

Gambar 4.17 Penampang Balok Komposit

  Menentukan nilai momen inersia penampang transformasi

  2

  •     
d. Kontrol Lendutan Lendutan ijin :

  L

  800

  f = = = 2 cm

  ' 400 400 Menghitung lendutan pada balok anak sesudah komposit akibat beban merata :

  q q l 5 .( ). DL LL 5 .( 7 ,

  49 5 ). 800 4 4 f =

  = 6 384 . E . Ix 384 . 2 . 10 . 32708 , 043

  = 1,01 cm < ' f ..................ok = 1,01 cm < 2 cm Kontrol Geser Kuat geser balok tergantung pada perbandingan antara tinggi bersih pelat badan (h) dengan tebal pelat badan (tw)

  h kn . E 1 ,

  1 ≤ tw fy

  5 5 ; untuk balok dengan pengaku vertikal pelat badan

  • Dimana: kn =
  • 2 a

          h

       

      kn = 5 ; untuk balok tanpa pengaku vertikal pelat badan sehingga :

      h kn . E 1 ,

      1 ≤ tw fy 6

      300

      5 .( 2 . 10 ) < 1 ,

      1

      6

      2500 50 < 69,57........................ok Vn = 0,6.fy.Aw = 0,6.2500 (34,6.0,6) = 20248,7 kg

      Syarat : ΦVn ≥ Vu

      0,9. 20248,7 kg ≥ 6798,85 kg 17211,3 kg ≥ 6798,85 kg …………......ok

      e. Perencanaan Penghubung Geser Untuk penghubung geser yang dipakai adalah tipe stud dengan: Diameter stud, ds = 16 mm

    2 Luasan stud, Asc = 201,062 mm

      2

      fu = 410 Mpa = 41 kg/mm 1 , 5 1 , 5 Ec = w . , 041 . fc ' 2400 . , 041

      25 =

      = 24102,97 Mpa Qn = 0,5.Asc. = 0,5.201,062

      fc '. Ec 25 . 24102 , 979

      = 78037,863 N = 7803,7863 kg/stud

      Syarat : Qn ≤ Asc.fu 7803,7863 kg/stud ≤ 201,062.41 kg/stud 7803,7863 kg/stud ≤ 8243,54 kg/stud ................ok

      Jumlah stud untuk setengah bentang :

      Tmaks 131700

      N 16 , 87 = 17 buah = = =

      Qn 7803 , 7863 Jadi, dibutuhkan 34 buah stud untuk seluruh bentang. Jarak seragam (S) dengan stud pada masing-masing lokasi :

      L

      800 cm = 24 cm

      S

      23 ,

      71

      = = = N

      34 Jarak maksimum (S maks) = 8.t platbeton .........................................LRFD-15.6 = 8 x 9 cm = 72 cm

      Jarak minimum = 6.(diameter stud) ............................LRFD-15.6 = 6 x 1,6 cm = 9,6 cm

      Jadi, shear connector dipasang sejarak 24 cm sebanyak 34 buah untuk masing-masing bentang.

      BAB V PERENCANAAN STRUKTUR UTAMA

      5.1. Pembebanan dan Analisa Str uktur Merencanakan beban gempa adalah bertujuan untuk mendapatkan beban gempa yang sesuai dengan peraturan untuk dibebankan kedalam struktur gedung.

      Beban gempa rencana dicek terhadap kontrol – kontrol sesuai peraturan gempa yaitu

      

    SNI 03-1726-2002 , dimana kontrol – kontrol tersebut terdiri dari kontrol nilai gaya

    geser dasar (base shear), waktu getar alami fundamental (T), dan simpangan (drift).

      5.1.1. Pembebanan Untuk mendapatkan beban gempa yang sesuai dengan SNI 03-1726-2002, maka terlebih dahulu dicek besarnya V dinamis yang telah didapatkan dengan bantuan program SAP 2000 V.7 dan membandingkan besaran V dinamis tersebut dengan V statis yang akan diperhitungkan di bawah ini sesuai dengan SNI 03-1726-2002 Ps.6.1.

      5.1.1.1.Data Gedung Data – data gedung yang akan dibutuhkan dalam penghitungan V statis adalah sebagai berikut :

    • Mutu baja : Bj 41
    • Mutu beton (f ) :

      25 MPa

      c’

    • Tinggi tipikal lantai : 4 m
    • Tebal pelat beton lantai 1-7 : 9 cm

      87

    • Tebal pelat beton lantai atap : 9 cm
    • Profil balok induk eksterior : WF500x200x9x14
    • Profil balok induk interior

      : WF600x200x12x20

    • Profil balok anak : WF 350x175x6x9
    • Profil kolom : K 500x200x10x16
    • Wilayah Gempa : WG 5-6
    • Kategori tanah : Tanah lunak
    • I : 1,5

      5.1.1.2.Per hitungan Ber at Str uktur

      Beban gravitasi berupa beban mati dan beban hidup yang yang bekerja di tiap lantai/atap.

    a) Lantai 1-7

      ×

      48

      Kolom (Profil baja) : 4 × 179,2 × 56 = 40140,8 Kg (beton) : 4 × 0,4672 × 2400 × 56 = 251145,2 Kg Balok induk exterior : 192 × 79,5 = 15264 Kg Balok induk interior : 528 × 120 = 63360 Kg Balok anak : 838 × 41,4 = 34693,2 Kg Balok tangga : 658,32 = 658,32 Kg Pelat bondek : 48

      10,1 = 23270,4 Kg Pelat beton : 48

      ×

      48 x 0,09 x 2400 = 497664 Kg Dinding : 532 × 4 × 250 = 532000 Kg Penggantung : 48

      ×

      48

      

    ×

      7 = 16128 Kg Plafond : 48 × 48 × 11 = 25344 Kg

      

    × Tegel t = 1 cm : 48 × 48 × 24 = 55296 Kg Spesi t = 2 cm : 48 × 48 × 21 × 2 = 48384 Kg

      Plumbing : 48 ×

      48 × 10 = 23040 Kg Pipa + ducting : 48 × 48 × 20 = 46080 Kg

      W d1 = 1672467,9 Kg Dan beban hidup yang bekerja pada lantai tersebut adalah,

      Beban hidup : 48 × 48 × 250 = 576000 Kg W L1 = 576000 Kg

      Menurut PPIUG Ps.3.5 bahwa beban hidup dapat direduksi untuk komponen struktur yang menumpu beberapa lantai tingkat, maka beban hidup diatas dapat direduksi dikalikan dengan koefisien reduksi untuk beban hidup sebesar 0,9 untuk gedung yang berfungsi sebagai persekolahan menurut PPIUG

      Ps.3.5Tabel3.3 . Sehingga setelah dikalikan faktor reduksi tersebut, maka total

      beban hidup (W L1 ) menjadi, W L1 = 0,9 x W L1

      = 0,9 576000

      ×

      = 518400 Kg Sehingga berat total lantai W t1 = W d1 + W L1

      = 1672467,9 + 518400 = 2190867,9 Kg

    b) Lantai 8 (Atap)

      ×

      Menurut PPIUG Ps.3.5 bahwa beban hidup dapat direduksi untuk komponen struktur yang menumpu beberapa lantai tingkat, maka beban hidup diatas dapat direduksi dikalikan dengan koefisien reduksi untuk beban hidup sebesar 0,9untuk gedung yang berfungsi sebagai persekolahan menurut PPIUG Ps.3.5Tabel3.3.

      Beban hidup : 48 × 48 × 100 = 230400Kg W L8 = 230400Kg

      W d8 = 1455197 Kg Dan beban hidup yang bekerja pada lantai tersebut adalah,

      48 × 10 = 23040 Kg Pipa + ducting : 48 × 48 × 20 = 46080 Kg

      Plumbing : 48 ×

      7 = 16128 Kg Plafond : 48 × 48 × 11 = 25344 Kg Aspal t = 1 cm : 48 × 28 × 24 = 32256 Kg

      ×

      48

      Kolom (Profil baja) : 2 × 179,2 × 56 = 20070,4 Kg (beton) : 2 × 0,4672 × 2400 × 56 = 125572,6 Kg Balok induk exterior : 192 × 79,5 = 15264 Kg Balok induk interior : 528

      ×

      ×

      4

      ×

      48 x 0,09 x 2400 = 497664 Kg Dinding : 532

      ×

      41,4 = 34693,2 Kg Pelat bondek : 48 × 48 × 10,1 = 23270,4 Kg Pelat beton : 48

      ×

      120 = 63360 Kg Balok anak : 838

      250 = 532000 Kg Penggantung : 48 Sehingga setelah dikalikan faktor reduksi tersebut, maka total beban hidup (W

      L8

      ) menjadi, W L8 = 0,9 W L8

      = 0,9 × 230400 = 207360 Kg

      Sehingga berat total lantai 8 menjadi, W t8 = W d8 + W L8

      = 1455197 + 207360 = 1662557 Kg

    Tabel 5.1 Berat bangunan tiap lantai

      Lantai Beban mati Beban hidup Jumlah beban

      (kgm) (kgm) (kgm) Atap 14551,97 2304 16855,97 7 16724,68 5760 22484,68

      6 16724,68 5760 22484,68 5 16724,68 5760 22484,68 4 16724,68 5760 22484,68 3 16724,68 5760 22484,68 2 16724,68 5760 22484,68 1 16724,68 5760 22484,68 jumlah berat bangunan 174248,73

      5.2. Analisa Beban Gempa

      5.2.1. Waktu Getar Alami (T) Tinggi gedung h n = 32 m C t = 0,0488

      ( ) 4 3 n t C h Ty Tx

      ⋅ = = ( ) 4 3

      , 32 0488

      ⋅ = = t Ty Tx

      Tx Ty 5detik.

      ,

      6

      = =

      Kontrol batasan waktu getar T, menurut SNI 03-1726-2010 pasal 6 Untuk struktur dengan ketinggian tidak melebihi 12 tingkat di mana sistem penahangaya seismik terdiri dari rangka penahanmomen beton atau baja secara keseluruhandan tinggi tingkat paling sedikit 3 m, T = 0,10 . N , dimana N adalah

      a jumlah tingkat.

      T a = 0,1 x 8 = 0,8 detik.

      Menurut SNI 03-1726-2002 pasal 5.6, T < T a , dimana 0,6 < 0,8 .......................... (ok)

      5.2.1.1.Per hitungan Beban Geser Dasar Nominal (V) Wilayah surabaya terletak pada ketegori desain seismik D maka :

      Menurut SNI 03-1726-2010 pasal 5, grafik 2 C

      1 = 0,6

      SNI 03-1726-2010 pasal 8, tabel C

      mk

      R = 8 SNI 03-1726-2010 pasal 3 tabel 2 berada pada kategori resiko IV I = 1,5

      C 1 ⋅

      I Vx = Vy = W1 R

      ,

      65 1 ,

      5

      ⋅

      = 174248,75 kg

      8 = 212580,32kg

      5.2.1.2.Daktilitas Str uktur Bangunan μ = 5,2

      7 28 22484,68 629571,04 43769,99 6252,85 7294,99

      Muhammadiyah 2 terlebih dahulu, struktur gedung tersebut dimodelkan sebagai berikut :

      Pembebanan gempa secara dinamis menggunakan bantuan program SAP 2000

      5.2.1.4.Pembebanan Gempa Dinamis

      1 4 22484,68 89938,72 6252,85 893,26 1042,14 Jumlah 174248,73 3057675,2 437580,29 30368,59 35430,01

      2 8 22484,68 179877,44 12505,71 1786,53 2084,28

      3 12 22484,68 269816,16 18758,56 2679,79 3126,42

      4 16 22484,68 359754,88 25011,43 3573,06 4168,57

      5 20 22484,68 449693,6 31264,27 4466,32 5210,71

      6 24 22484,68 539632,32 37517,13 5359,59 6252,85

      32 16855,97 539391,04 37500,35 5357,19 6250,05

      Syarat : 1,6 ≤ R = μ .f

      (m) (kg) (kgm) (kg) 1/7 fi x-y 1/6 fi x-y (kg) (kg) atap

      Lantai Zi Wi Wi x zi Fi x-y Untuk tiap portal

      t

    Tabel 5.2 gaya gempa tiap lantai daengan T = 0,8 detik

      ∑ = 1 T = 0,8 detik

      ⋅ ⋅ =

      V W z W z F n i i i i i i

      5.2.1.3.Distr ibusi Beban Gempa Nominal

      1,6 ≤ R = 5,2x1,6 ≤ 8,5 1,6 ≤ R = 8,32 ≤ 8,5 ...............................OK

      1 ≤ Rm

    V.14. Sebelumnya dilakukan permodelan 3D struktur dari gedung Sekolah

      

    Denah Lantai

      Arah x

      Arah y

    Gambar 5.1 Pemodelan StrukturGambar 5.2 Permodelan stuktur 3D

      5.3. Per encanaan Balok Induk

    Gambar 5.3 Denah Pembalokan lantai

      Pada perencanaan ini, ditunjukkan contoh perhitungan balok Induk pada comb 3. Pada perhitungan berikut Balok Induk direncanakan dengan profil WF 400.200.8.13. Panjang balok (L) = 800 cm. Adapun data – data profil adalah sebagai berikut : 2 A = 84,12 cm ix = 16,8 cm r = 16 mm 3 W = 66,0 kg/m tw = 8 mm Sx = 1190 cm 3 d = 400 mm tf = 13 mm Sy = 174 cm 4 b = 200 mm Ix = 23700 cm 4 iy = 4,54 cm Iy = 1740 cm

      h = 342 mm

    • Kontrol Kekuatan Penampang (Local Buckling)

      Pelat badan :

      )/4 + (200-8) x (400 – 13) x 13 = 819 cm

      2

      )/ 4) + (b f – t w ) x (h t – t f ) x t f = (8 x 400

      2

      Z x = ((t w x h t

      f x Z x

      Mn = Mp = y

      Jadi, termasuk penampang kompak, maka Mnx = Mpx

      λ

      = = = fy p

      < λp..............OK 106 25 , 250 1680 1680

      8 342 = = tw h tw h

      42

      75 ,

      λ

      = = = fy p

      10 250 170 170

      75 ,

      < λp ...............OK

      2

      .

      2 = = tf bf tf bf

      2 200 .

      7 13 .

      69 ,

      Pelat Sayap :

      Vu (-) = 39321,6 Kg ( frame 2984 comb 3 ) L = 800 cm

      Mmax (-) Tump = 1882975,29 Kgcm ( frame 1802 comb 3 ) (-) Lap = 630008.53 Kgcm ( frame 2164 comb 3 )

      5.3.1. Kondisi Balok Utama Sebelum Komposit Dari hasil output SAP 2000 V.14 didapatkan :

    • Kontrol Lateral Buckling Jarak Penahan Lateral Lb = 200 cm

      Berdasarkan tabel untuk BJ 41 profil WF 400.200.8.13 didapatkan :

      3 Mn = Mp = Zx.fy = 819 . 2500 = 1257420,93 kgcm

      Persyaratan : Mu ≤ φMn

      630008.53 Kgcm ≤ 0,9. 1257420,93 kgcm 630008.53 Kgcm < 1131678,84 kgcm ……...............OK

      Pada ujung balok menerima momen sebesar 1882975,29 Kgcm sehingga profil balok tidak memenuhi syarat Φ.Mn Mu.

      ≥

      630008.53 kgcm < 1882975,29 Kgcm. Oleh karena itu dibutuhkan penambahan hauch (voute) pada ujung balok untuk menahan momen yang terjadi Φ.Mn Mu

      ≥

      Φ.Zx . f y Mu

      ≥ Mu

      Dibutuhkan Zx = untuk menahan momen tumpuan. Di coba menggunakan . f

      Φ y

      voute dengan profil baja WF 400.200.8.13, sehingga 2 x Φ.Mn Mu

      ≥ Voute (Haunch) Garis Potong

      WF 400.200.8.13 30°

    Gambar 5.4 Potongan Haunch ( Voute )

      W F 5 0 0 .2 0 0 . 1 0 .1 6 B a u t 8 M - 2 4 W F 4 0 0 . 2 0 0 .8 . 1 3 a = 6 9 3 m m H a u n c h

    Gambar 5.5 Pemasangan Haunch

      Cek persyaratan haunch (voute) Sayap :

      b f 137

      2 t f f y 200

      137

      ≤ 2 .

      13 250

      7,69 < 8,66 .....………………OK Badan :

      a

      sin

      θ

      683

      ≤ t hw 250

      693 . sin 30 683

      ≤

      8 250

      34,65 < 43,19 ………….. ....OK Dengan adanya tambahan haunch (voute) pada daerah tumpuan menyebabkan kekuatan balok menjadi Φ (2 x.Z x . f y ) = 2 x 1131678,84kgcm = 2263357,68 Kgcm Tegangan yang dijinkan akibat adanya pengelasan, 0,8 x Φ (2 x.Z x . f y ) 0,8 x 2263357,68 Kgcm = 1923854,02 Kgcm 1923854,02 Kgcm > 1882975,29 Kgcm ................ OK Balok dan haunch (voute) mampu menahan tumpuan Mu akibat beban terfaktor. a. Kontrol Lendutan pada haunch ( Voute ) Lendutan ijin :

      L

      800

      f = = = 2 cm

      ' 400 400 4

      4

      5 .( 5 , 7 ). 800 5 .( q ). l DL

      f = =

      

    6

    384 . E . Ix 384 .

      2 . 10 . 23700 = 0,89cm < ' f ..................ok = 0,89 cm < 2 cm

      Kontrol Geser - Kontrol geser balok tergantung pada perbandingan antara tinggi bersih pelat badan (h) dengan tebal pelat badan (tw). k E h . n

      1 ,

      1

      ≤ tw fy

      5

    • Dimana : k n = 5 , untuk balok dengan pengaku vertikal pelat badan.
    • 2 a

        ( ) h

      k n =5, untuk balok tanpa pengaku vertikal pelat badan.

        Sehingga, 6 342 5 ( 2 . 10 ) 1 ,

        1 ≤

        8 2500 42,8 ≤ 69,57.............................. OK Vn = 0,6.fy.Aw 2 = 0,6.2500 kg/cm (42,8.1) cm

        = 64200 kg Persyaratan : Vu ≤ φVn

        39321,6 Kg ≤ 0,9. 64200 Kg

        39321,6 Kg < 57780 kg .........................OK

        5.3.2. Kondisi Balok Utama Setelah Komposit Zona momen Positif

        Dari hasil output SAP 2000 V.14 didapatkan momen positif adalah Mmaks = 1882975,29 Kgcm ( frame 1802 comb 3 ) V maks = 39609,14 kg ( frame 2858 comb 3 )

        Menghitung Momen Nominal

      • Kontrol kriteria penampang Untuk Badan

        h 1680 ≤ tw fy 342 1680

        ≤

        8 250

        42.8 < 106,25...............................ok Profil penampang kompak, sehingga kapasitas momen penampang dianalisa dengan distribusi tegangan plastis.

        L = 800 cm b ¼ .L = ¼.800 cm = 200 cm

        eff

        jadi b = 200 cm

        eff

      • Menentukan gaya tekan yang terjadi pada pelat

        Karena letak balok induk sejajar dengan penampang bondek, maka : (T = V h )= As.fy =114,5.2500 = 381250 kg (menentukan)

        .b

        C = 0,85.fc’.t

        plat eff

        = 0,85.250.9.200

        = 382500 kg

      • Menentukan jarak-jarak dari centroid gaya-gaya yang bekerja:

        C 382500 a

        = 8,97 cm

        = = , 85 . fc '. beff , 85 . 250 . 200

        54 mm d

      Gambar 5.6 Potongan Balok Induk

      • Menghitung kekuatan nominal penampang komposit

        d a  

        = −  

      • Mn As . fy ts

        2

        2  

        50 8 ,

        97  

        = + 114 , 2 . 2500 9 −  

        2

        2  

        = 4398702,631 kgcm Syarat :

        MuMn .

        φ , 85 . 4398702 , 631

        1882975,29 kgcm ≤ kgcm 1882975,29 kgcm ≤ 3738897,24 kgcm

        Kekuatan nominal penampang komposit lebih besar daripada momen akibat beban berfaktor, sehingga penampang mampu menahan beban yang terjadi.

      • Menentukan Lokasi Gaya Tarik pada Balok Baja Batang tulangan menambah kekuatan tarik nominal pada pelat beton. Tc = n.Asr . fyr = 10. ¼ . л . 1

        c aw PNA

        (Pyc-T) T Fy Fy

        Pyc D Tb beff d1 hr d3 d2

        Zona momen negatif Dari hasil output program SAP 2000 V.7 didapatkan momen negatif Mmaks = 1257175,82 Kgcm ( frame 1802 comb 3 ) L = 800 cm b

        eff ¼ .L = ¼.800 cm = 200 cm

        t bondex = 0,75 mm fyr = 240 Mpa ts = 90 mm

        Dipasang tulangan pada pelat beton 10 D 10 disepanjang b

        eff .

        Batang tulangan menambah kekuatan tarik nominal pada pelat beton

        2

        . 2400 = 18849,56 Kg Gaya tekan nominal maksimum dalam penampang baja Pyc = As . fy = 114,2. 2500 = 285500 Kg

      Gambar 5.7 Distribusi Tegangan Negatif Karena Pyc > Tc, maka PNA pada web, berlaku persamaan.

        2 8849 56 , 1 285500

        2 − =

        − = Tc Pyc Ts

        = 133325,22 Kg Gaya pada sayap, Tf = bf . tf . fy

        = 20 . 1,6 . 2500 = 80000 Kg

        Gaya pada badan, Tw = Tf

        Tc Pyc

        2 = 133325,22 – 80000 = 53325,22 Kg

        Jarak garis netral dari tepi bawah sayap : , 2500 1 . 53325 22 , .

        = = tw fy Tw aw

        = 21,33 cm

      • Menenentukan Jarak Gaya yang Bekerja dari Centroid d

        2 = Tw Tf Tw aw tf tf Tf

        )) ( 5 , ( ) . 5 , (

        ( 80000 . , 5 . 1 , 6 ) ( 53325 , 22 .(

      1 ,

      6 , 5 . 21 , 33 ))

        =

        

      22

      • 80000 53325 ,

        = 5,385 cm = 53,85 mm d

        3 = D/2 =50/2

        = 25 cm d

        1 = ts – c

        = 9-2,5 = 6,5 cm

      • Perhitungan Momen Nominal Negatif Mn = Tc (d

        1 + d 2 ) + Pyc(d 3 – d 2 )

        = 18849,56 (6,5 + 5,385) + 285500 (25– 5,385) = 4207919,2 Kgcm

        Persayaratan : Mu ≤ φMn 1257175,82 Kgcm ≤ 0,85 .4207919,2 Kgcm 1257175,82 Kgcm ≤ 3576731,26 Kgcm.......OK

      • Perencanaan Penghubung Geser Untuk penghubung geser yang dipakai adalah tipe stud: ds = 16 mm

      2 Asc = 200,96 mm

        2

        fu = 410 Mpa = 41 kg/mm 1 , 5 1 , 5

        w fc

        Ec = . , 041 . ' 2400 . , 041

        25

        =

        = 24102,979 Mpa Qn = 0,5.Asc. fc '. Ec = 0,5.200,96 25 . 24102 , 979

        = 77998,274 N = 7799,827 kg/stud

        Syarat : Qn ≤ Asc.fu

        7799,827 kg/stud ≤ 200,96.41 7799,827 kg/stud ≤ 8239,36 kg/stud...................ok Jumlah stud untuk setengah bentang :

        T 381250 48 ,

      87 N

        = = = = 50 buah 7799 , 827

        Qn Jadi, dibutuhkan 100 buah stud untuk seluruh bentang.

        Jarak seragam (S) dengan 2 stud pada masing-masing lokasi :

        L 800 S

        8 cm

        = = = N 100

        Jarak maksimum (Smaks) = 8.t ...............LRFD-15.6

        

      platbeton

        = 8 x 9 cm = 72 cm Jarak minimum = 6.(diameter) ......................LRFD-15.6

        = 6 x 1,6 cm = 9,6 cm Jadi, shear connector dipasang sejarak 8 cm sebanyak 100 buah untuk masing-masing bentang

      • Kontrol Lendutan Lendutan ijin (f’) adalah

        L 800 f ' 2 cm

        = = = 400 400

        Lendutan yang terjadi SAP 2000 V.14

        f 0,3cm = f < f ' ...........OK

      • Kontrol Geser Kontrol geser balok tergantung pada perbandingan antara tinggi bersih pelat badan (h) dengan tebal pelat badan (tw).

        h k . E n ≤ 1 ,

        1 tw fy

        5

      • 5 Dimana, k n = , untuk balok dengan pengaku vertikal pelat badan.

        2 a

        ( ) h k n =5, untuk balok tanpa pengaku vertikal pelat badan.

        Sehingga,

        6 428 5 ( 2 . 10 ) 1 ,

        1 ≤

        10 2500

        42,8 ≤ 69,57.............................. OK Vn = 0,6.fy.Aw

        2

        = 0,6.2500 kg/cm (50.1) cm = 75000 kg

        Persyaratan : Vu ≤ φVn

        39609,14 Kg ≤ 0,9. 75000 Kg 39609,14 Kg < 63750 kg .........................OK

        5.4. Per encanaan Kolom Komposit Dari hasil output SAP 2000 V.14 diperoleh gaya – gaya yang bekerja pada kolom adalah : Pu = 251464,48 Kg ( frame 1524 com b 3 ) Mu x = 1262752,71 Kgcm ( frame 2010 comb 3 ) Mu y = 1257175,82 Kgcm ( frame 1802 comb 3 ) Vu x = 39705,12 Kg ( frame 3414 comb 3 ) Vu y = 20044,32 Kg ( frame 2983 comb 3 ) Kolom komposit direncanakan dengan menggunakan profil K 500.200.10.16 dengan spesifikasi material sebagai berikut :

        2

        3 A = 228,4 cm tw = 10 mm Sx = 1997,6 cm

        3

        w = 179,2 kg/m tf = 16 mm Sy = 2046,6 cm

        4 H = 500 mm Ix = 49940 cm ix = 14,79 cm

        4 B = 200 mm Iy = 52189 cm iy = 15,17 cm

        r = 20 mm f’c = 25 Mpa

        700 12 - 200

        φ

        7

        4

        22 φ

      Gambar 5.8 Penampang Kolom Komposit Zx = (( .

        2

        2

        2

        .

        1 1.

        2

        

      .

        1 20).2 + (50-2.1,6).

        .

        1)+ (

        1 1,6.20.

        2

        (d+tw) + (b-tw).tf.(d+tw-tf)) = (( .

        1

        2

        1 (d+tw).tw.

        2

        1

        2

        1

        Jarak spesi tulangan = 700-(2.40)-(2.12)-(22) = 574 mm Luas tulangan longitudinal (Ar) = 4. 2

      . 22 .

        < 1519,76/4= 379,9mm

        2

        2 Ar minimum = 0,18.574 = 103,32 mm

        = 1519,76 mm

        1

      π

        4

        = 4,7 > 4% Tulangan Longitudinal 4D22

        1 (50+1).1.

        70 70 ( 228 4 , x

        )

        Ac As % 100 .

        3 Kontrol luas penampang minimum profil baja : =

        (50+1) + (20-1).1,6.(50+1-1,6)) = 2483,71 cm

        1

        2

        tw) + (

        2

        1 d.tw. .

        2

        1 50.1. .

        2

        tw)) = (( .

        1

        2

        1 tw).( .

        b).2 + (d-2tf).( .

        1 50)+(201)(1,6)(501,6))+(( .

        1

        2

        .

        1 b.tf.

        2

        1 d) + (b-tw)(tf)(d-tf)) + (( .

        2

        2

        2

        1 tw. .

        1)) = 2428,06 cm

        2

        1 b).2 + (d-2tf). .

        2

        1 tf.b. .

        2

        3 Zy = (( .

        1

        1 20.1,6. .

        2

        1).( .

        1

        2

        20).2+ (502.1,6).( .

        1

        2

        2 Tulangan Lateral ( sengkang dipasang Ø 12 – 200 mm)

        1 2 Luas tulangan sengkang = . .

      12 = 113,04 mm

      π

        4

        2

        2 Luas sengkang minimum = 0,18.200 = 36 mm < 113,04 mm

        Luas penampang bersih (Acn)

        

      2

        = (70.70) - (228,4+15,19) = 4656,41 cm Untuk baja yang diberi selimut beton :

        c ,

        7 c c

        = = , 2 6 = , 3

        2

      1 Kuat nominal aksial kolom komposit

        A A r c f f c . f c . f ' my = y yr c

        1

        2 A A s s 15 , 19 4656 ,

        41 my 7 . 240 , + + f = 250 , 6 . 25 . 228 , 4 228 ,

        4

        = 566,98 Mpa Modulus Elastisitas (E) diubah menjadi modulus elastisitas modifikasi (Em) 1 , 5

        1 ,

      5 Ec , 041 . w . f ' = , 041 . 2400 .

        25 = c

        = 24102,979 Mpa

        Es 200000 Mpa =

        A cn E E c . E . m = + c

        3 5 4656 , A s

        41 2 . 10 , + = 2 . 24102 , 979 . 228 ,

        4

        = 298277,89 Mpa Jari-jari girasi penampang (r) diubah menjadi jari-jari girasi modifikasi (r )

        m

        r = 0,3.b = 0,3.70 = 21 cm > iy (dipakai r )

        m m Kolom 1 (K1) = Kolom 2 (K2) : K 500.200.10.16

        4

        4 Ix = 49940 cm Iy = 52189 cm

        4

        4

        ix = 14,79 cm iy = 15,17 cm

        2

        4 A = 226,4 cm Ix = 90400 cm

        4 Balok 1 (B1) = Balok 2 (B2) : WF 600.200.12.20 Ix = 90400 cm

        Tekuk terhadap sumbu x : Ic = Ix kolom

        Ix 49940

            2 .

            ∑

        L kolom 400    

        G A = = 0,947

        = Ix 90400 90400

                    ∑

      • L 600 800 balok

              Ix

        49940      

        2 .

          ∑

        L 400

          kolom  

        G B = = = 0,947

        Ix 90400 90400

             

      •      

        ∑ L 600 800

          balok    

        Jenis rangka bergoyang sehingga dari nomogram didapatkan nilai : Kcx = 1,33 Lkx = kcy.L = 1,33 .400 = 532 cm

        Lkx 532 x

        25 , 33 cm (menentukan)

        λ = = = r m

        21 Tekuk terhadap sumbu y : Ic = Iy kolom

        Iy   52189     2 .

          ∑

        L 400

          kolom  

        G = = 1,15

        A = Ix 90400

            2 .    

        ∑ L

        800     balok G B =

           

        A f P

        1 − =

        − = c

        λ ω

        = 1,048

        ω my cr f f

        = = 048 ,

        1 566 98 ,

        = 540,95 Mpa = 5409,5 kg/cm

        2 . 5409 5 , . 228 4 , = = cr s n

        kg/cm

        1 43 , 1 .

        2

        = 1235529,8kg

        . 1235529 8 , 1050200 33 , . 85 ,

        = = Φ Pn

        kg > Pu Semua beban desain kolom ditopang oleh kolom komposit (terdiri dari profil baja dan beton) Persyaratan luas minimal penampang beton yang menahan beban desain kolom adalah : Kemampuan profil baja menahan beban : 2500 .

        . 228 4 , . 85 , . . 85 ,

        = = Φ y s ns A f P = 485350 kg

        Kemampuan penampang beton menahan beban :

        485350 . 1050200 33 , − = Φ − Φ = Φ ns n nc

        67 , 6 , 1 43 ,

        . 352 , 67 , 6 ,

             

        05 ,

          = 

             

            

        ∑ ∑ 800 90400

        .

        2 400 52189 .

        2 balok kolom L Ix

        L Iy

        = 1,15 Jenis rangka tidak bergoyang sehingga dari nomogram didapatkan nilai : Kcy = 0,79 Lk = kcy.L = 0,79.400 = 316 cm

        15

        < 1,2) termasuk dalam kategori kolom menengah, dimana:

        21 316 = = = m r Lky y

        λ cm m my

        E f c

        π λ λ =

        =

        298277 89 , 566 98 , 33 ,

        25 π

        = 0,352 (0,25 < c

        λ

        P P P

        = 564850,33 kg Syarat yang harus dipenuhi untuk luas penampang beton :

        Φ . Pnc c b 1 , 7 . Φ . f . A ' .

        P 564850 ,

        33 ϕ nc

        1563 ,

        59 A b ≥ = = cm 1 , 7 . . 1 , 7 . , 85 . 250 f

        ϕ c '

        Luas penampang beton yang ada (Acn)

        2

        2

        = 4656,41 cm > 1563,59 cm ....................................ok Kuat Nominal Momen Kolom Komposit menurut formula Smith :

        2 .d=

        Luasan badan profil (A w ) = t w ( 1.50) = 50 cm

      22 Cr

        40 12 = 63 mm = + +

        2

        h

        1 = h 2 = 700 mm Pu 251464 ,

        48 , 239 > 0,2

        = =

        . Pn 1050200 ,

        33

        ϕ h Aw fy

        1  .  2 Mnx = Zx.fy + (h -2Cr).Ar.f + . Aw . fy 2 yr

        

      3 fc h

        2

      1 ,

      7 . '. 1  

        1 

        70 50 . 2500  . 50 . 2500

        Mnx = 2428,06.2500+ (70-2.6,3).15,19.240 + −

        3

        2 1 , 7 . 250 .

        70  

        = 10617464,72 kgcm

        h Aw . fy

        2 − Aw . fy

        Mny = Zy.fy + 1/3.(h

        

      2 – 2Cr)Ar.fyr + ( )

      fc h

        2 1 , 7 . '.

        1

        1

        70 50 . 2500   Mny = 2483,7.2500+ (70-2.6,3).15,19.2400+ . 50 . 2500 −

        3

        2 1 , 7 . 250 .

        70  

        = 10756564,72 kgcm

        Pu

        Untuk > 0,2...............rumus 2 SNI 03-1729 ps.12.5-2

        Pn ϕ . Pu Mux Muy

        8   1 ,

        . Pn 9 . Mnx . Mny ϕ ϕ ϕ  

        8 1262752 , 71 1257175 ,

        82

         

        , 239 1 ,

      •   ≤

        9 , 9 . 10617464 , 72 , 9 . 10756564 ,

        72

         

        = 0,368 < 1............................OK Jadi kolom komposit digunakan profil K 500.200.10.16 dengan beton 70 cm x 70 cm

        5.5. Sambungan

        5.5.1. Sambungan Antara Balok dengan Kolom

      Gambar 5.9 Sambungan Balok – Kolom yang direncanakan

      • Data Sambungan Dari hasil perhitungan program SAP 2000 V.14 didapatkan : Vu = 39705,12 Kg Mu = 1882975,29 Kgcm - Baut

        Jenis baut yang digunakan, baut mutu tinggi = tipe baut A-325,mutu 120 ksi

        2

        (1 ksi = 70,3 Kg/cm )

        b

        Tegangan tarik putus baut f u = 8436 Kg/cm2 Diameter baut D = 24 mm Pada bidang geser baut tidak ada ulir r

        1 = 0,5

        2 Mutu profil Bj 52 fu = 5200 Kg/cm

        Jarak antar baut a = 100 mm Jumlah baut dalam 1 baris n x = 4 buah Jumlah baris baut n y = 8 baris Faktor reduksi kekuatan tarik Φt = 0,75 Faktor reduksi kekuatan geser Φf = 0,75 Kuat tarik nominal satu baut SNI 03-1727-2002 pasal 13.2.2.2

        b

        Td = 0,75 x f u x A b

        1

        2

        = 0,75 x 8436 x ( D )

        π

        4 = 0,75 x 8436 x 452,16 = 2860816,32 Kg = 2860,816 Kg t1 h h h t h h h 5 4 3 2 t4 t3 t2 t6 t5 b p h h 7 6 t8 t7

      Gambar 5.10 Tegangan Tarik Baut Mu . h

        t

        Tu = 2

        h

        2

        ∑

        H t = 0,7, h

        2 = 0,6, h 3 = 0,5, h 4 = 0,4 h 5 = 0,3, h 6 = 0,2, h 7 = 0,1

        2

        2

        2

        2

        2

        2

        2

        2

        Σh = h + h + h + h + h + h + h

        t

        2

        3

        4

        5

        6

        7

        = 0,49 + 0,36 + 0,25 + 0,16 + 0,09 + 0,04 + 0,01

        2

        = 1,4 m 1882975 , 29 x ,

        7 Tu =

        max

        2 x 1 ,

        4 = 4907,43 Kg

        

      T

      u max

        Gaya tarik yang di tahan 1 baut Tn =

        

      n

      x

        4907 ,

        43 Tn =

        4 = 1226,85 Kg

        Syarat Tn Td

        ≤

        1226,85 < 2860,816.......... OK Kuat geser nominal satu baut SNI 03-1727-2002 pasal 13.2.2.1

        b

        V d = 0,75 x r

        1 x f u x A b

        1

        2

        = 0,75 x 0,5 x 8436 x ( D )

        π

        4 = 0,75 x 0,5 x 8436 x 452,16 = 1430408,16 Kg

        

      V

      u

        Gaya geser yang di tahan satu baut, V s1 =

        n

        39705 ,

        12 V s1 =

        16 = 202,17 Kg Syarat V s1 V d ,

        ≤

        202,17 Kg < 1430408,16 Kg .......... OK Kuat tumpu yang ditahan satu baut SNI 03-1727-2002 pasal 13.2.2.4

        p

        R n = 2,4 x 0,75 x D x t p x f u = 2,4 x 0,75 x 24 x 9 x 520 = 248,57 Kg Syarat V s1 R n

        ≤

        202,17 Kg < 248,57 Kg............. OK

        5.6. Cek Per syaratan “Strong Column Weak Beam” Sesuai filosofi “capacity design”, maka SNI 03-2847-2002 pasal 23.4

        6 mensyaratkan M M

        Σ e > Σ g

        5 M e = jumlah kuat momen nominal kolom diatas dan dibawah muka HBK yang dihasilkan oleh diagram interaksi oleh beban aksial berfaktor terkecil konsisten dengan arah beban lateral. M g = jumlah kuat momen nominal dari balok-balok di muka HBK M g = Mn = Z x x Fy = 250 x 1018000 = 254500000 mm M gtot = 254500 x 2

        = 509000000 m = 509 Kgm M g = ΣM g / Φ = 509 / 0,8 = 636,25 Kgm (6/5)ΣM g = 1,2 x 636,25 = 763,5 Kgm Nilai Me didapatkan dari hasil program bantu SAP 2000 V.14 antara lain sebagai berikut : ΣM e = 986,51 +838,05 = 1824,56 Kgm M e = ΣM e / Φ = 1824/0,65 = 2806,15 kNm

        6 M M

        Σ > Σ e g

        5 2806,15 kgm > 763,5 Kgm

        5.7. Sambungan Kolom – Kolom Sambungan kolom - kolom direncanakan pada lantai 2. Berdasarkan SNI 1729 pasal 15.5.2 gaya – gaya yang bekerja pada kolom C 11 adalah sebagai berikut

        Pu = 423955 Kg Mu x = 1,5.fy.Zx = 1,5.2500.2428,06

        = 9105225 Kgcm Kolom : KingCross500 x 200 x 10 x 16

      2 BJ-52 : fy = 2500 kg/cm

        2

        fu = 4100 kg/cm A A Ba u t φ 2 4 Ba ut φ 3 0 P ela t t = 16 m m K 500.200.10.16 P ela t t = 16 m m K o lo m 7 00 x 70 0

        D E T A I L SA M B U N G A N K O L O M D E N G A N K O L O M

      Gambar 5.11 Sambungan Kolom – kolom

        Pembagian Beban Momen 3

        1 . 1 .

        50 I badan

      12 Mu badan =

        

      Mu = 9105225 = 1899200 ,

        92 Kgcm 49940 I profil

        Mu sayap = Mu – Mu badan = 9105225 – 1899200,92 = 7206024,08 Kgcm

        Pembagian Beban Aksial

        A badan 2 . 1 .

        50 Pu badan = Pu Kg . = 423955 = 185619 ,

        53 A 228 , profil

      4 Pu sayap = Pu – Pu badan

        = 423955 – 185619,53 = 238335,47 Kg

        Kontrol Geser pada Sayap Kolom Dipakai tebal pelat penyambung 16 mm

      • Pada bidang geser baut tidak ada ulir (r

        1 = 0,5)

        2

      • Mutu profil BJ52 (fu = 5200 Kg/cm )

        2

      • Baut tipe A325, mutu 120 ksi (1 ksi = 70,3 kg/cm )

        = 24 mm

        ∅ b

        

      2

        fu = 8436 kg/cm

      2 Ag = 4,52 cm

        Kuat Geser ( Rn) = 0,75. r . fu. A . m

        φ 1 baut

        = 0,75 x 0,5 x 8436 x 4,52 x 2 = 28598,04 kg

        Kuat Tumpu ( Rn) = 0,75. 2,4. db. tp. fu (tebal plat dipakai tebal plat sayap

        φ

        kolom tp = 16 mm) = 0,75 x 2,4 x 2,4 x 1,6 x 4100 = 28339,2 Kg (menentukan)

        Gaya kopel pada sayap

        Mu sayap 7206024 ,

      08 Tu Kg

        = = = 144120 ,

        48 d

        50 Pu sayap

      • +

        Jumlah gaya total pada sayap = T

        4

      • Pada bidang geser baut tidak ada ulir (r

        )

        1 . fu. A baut . m

        = 0,75. r

        φ Rn)

        2 Kuat Geser (

        

      2

      Ag = 7,07 cm

        = 8436 kg/cm

        b

        = 30 mm fu

        ∅

        )

        2

        2

        1 = 0,5)

        Kontrol Geser pada Badan Kolom

        Jarak tepi minimum = 1,75 db = 1,75.2.4 = 4.2 cm Jarak tepi maksimum = 12.tp = 12.1 = 12 cm Jarak tepi maks = 20 cm Dipasang jarak tepi baut = 5 cm Jarak antar baut minimum = 3.db = 3.2,4 = 7.2 cm Jarak antar baut maksimum = 15.tp = 15.1 = 15 cm Jarak tepi maksimum = 20 cm Dipasang jarak antarbaut = 8 cm

        Dipasang 8 buah agar simetris Kontrol jarak baut :

        ϕ

        203704 35 , ≈ = = =

        8 19 , 7 28339 2 ,

        

      buah buah

      Rn Vu n

        = 203704,35 Kg

        4 238335,47 144120 48 , +

        =

      • Mutu profil BJ52 (fu = 5200 Kg/cm
      • Baut tipe A325, mutu 120 ksi (1 ksi = 70,3 kg/cm

        = 0,75 x 0,5 x 8436 x 7,07 x 2

        = 44731,89 kg Kuat Tumpu ( Rn) = 0,75. 2,4. db. tp. fu (tebal plat dipakai tebal plat badan kolom

        φ

        tp = 10 mm) = 0,75 x 2,4 x 3 x 1 x 4100 = 22140 Kg (menentukan)

        Momen yang bekerja pada titik berat sambungan badan Mu total = (Mu badan + Pu.e)/2

        = (1899200,92 + 185619,53.10)/2 = 1877698,11 Kgcm

        Dicoba dengan baut sebanyak 12 buah

        Pu 185619 , badan

        53 7734 ,

        15 Akibat Pu → KuV1 = Kg

      = =

      2 .

      2 .

        12 n

        Vu 30038,3

        Akibat Vu → KuH1 = Kg

        

      = = 2503 ,

        19 n

        12

        2

        2

        2

        2

        2

        2

        2

        Σ(x + y ) = 12(5) + 4(4 + 14 + 24 ) = 3452 cm

        Mu . x x total 2081475 ,

        96

        

      5

      KuV2 = 3014 ,

        88 = =

        Σ ( ) 2 2 Mu . y x total 2081475 ,

      • x y 3452

        96

      24 KuH2 = 14471 ,

        44 = =

        Σ ( ) 2 2 2 2

      • x y 3452

        Ku total = ( Σ ) ( Σ ) 2 2 = ( 7734 ,

      • KuV KuH

        15 3014 ,

      88 ) ( 2503 ,

      19 14471 , + + + 44 )

        = 20091,78 Kg Ku l <φVn

        tota

        20091,78 Kg < 22140 Kg …..……………..…ok Kontrol jarak baut : Jarak tepi minimum = 1,75 db = 1,75.3 = 5,25 cm Jarak tepi maksimum = 12.tp = 12.1 = 12 cm Jarak tepi mak = 20 cm Dipasang jarak tepi baut = 8 cm Jarak antar baut minimum = 3.db = 3.3 = 9 cm Jarak antar baut maksimum = 15.tp = 15.1 = 15 cm Jarak tepi maksimum = 20 cm Dipasang jarak antarbaut = 10 cm

        5.8. Sambungan Balok Anak dengan Balok Induk Ekster ior Sambungan antara balok anak dengan balok induk direncanakan dengan sambungan baut yang tidak dapat memikul momen, karena disesuaikan dengan anggapan sendi. Profil Balok Anak : WF 350.175.6.9 Profil Balok Induk : WF 500.200.9.14 Pelat penyambung siku 70.70.7 qu = 1699,712 kg/m Vu = Ra. balok anak

        = qu.(L/2) = 1699,712.(6/2) = 5099,14 kg

      • Pada bidang geser baut tidak ada ulir (r

      • Mutu profil BJ52 (fu = 5200 Kg/cm
      • Baut
      • Kebutuhan baut A :

        = 0,75. r

        Rn)

        ( φ

        Kekuatan 1 baut : Kuat Geser

        Direncanakan memakai : pelat siku 70 x 70 x 7

        2 Kontrol Sambungan pada Badan Balok :

        2 Ag = 1,54 cm

        = 5000 kg/cm

        b

        = 14 mm fu

        )

        ∅

        2

        1 = 0,5)

        Penentuan Jumlah Baut Direncanakan :

        40 Gambar 5.12 Sambungan Balok Anak dengan Balok Induk Eksterior

        80

        40

        Balok In du k W F 500.200.9.14

        14 L 70.70.7 Balok An ak W F 350.175.6.9

        90 Baut φ

        496

        1 . fu. A baut . m

        = 0,75 x 0,5 x 5000 x 1,54 x 2 = 5775 kg (menentukan)

        Kuat Tumpu ( Rn) = 0,75. 2,4. db. tp. fu

        φ

        = 0,75 x 2,4 x 1,4 x 0,6 x 4100 = 6199,2 kg

        Jumlah baut yang diperlukan :

        Vu 5099,14

        n = = = 0,88 ≈ 2 buah baut

        Rnt φ 5775

        Kontrol jarak baut Jarak ke tepi = 1,5 db s.d (4tp+100 mm) atau 200 mm

        = 2,1 cm s.d. 12,8 cm Terpasang = 4 cm Jarak antar baut = 3 db s.d 15 tp atau 200 mm

        = 4,2 cm s.d 10,5cm Terpasang = 8 cm

      • Kebutuhan baut B :

        Kekuatan 1 baut : Kuat Geser ( Rn) = 0,75. r

        1 . fu. A baut . m φ

        = 0,75 x 0,5 x 5000 x 1,54 x 1 = 2887,5 kg (menentukan)

        ( Rn)

        Kuat Tumpu = 0,75. 2,4. db. tp. fu

        φ

        = 0,75 x 2,4 x 1,4 x 0,7 x 4100 = 7232,4 kg

        Jumlah baut yang diperlukan :

        Vu 5099,14

        n = = = 1,76 ≈ 4 buah baut

        Rnt 2887,5

        φ Kontrol jarak baut Jarak ke tepi = 1,5 db s.d (4tp+100 mm) atau 200 mm

        = 2,1 cm s.d. 12,8 cm Terpasang = 4 cm Jarak antar baut = 3 db s.d 15 tp atau 200 mm

        = 4,2 cm s.d 10,5cm Terpasang = 8 cm Kontrol Kekuatan Pelat Siku Penyambung Misal : - dipakai penyambung profil siku 70.70.7 - dipakai baut dengan d b = 14 mm.

      Gambar 5.13 Profil Siku Penyambung Luas perlemahan baut = d b + 0,15 = 1,4 + 0,15 = 1,55 cm.

        Anv Lnv L n t Luas geser = .t . .

        = − φ l 1 1 ubang

        ( )

        = = (16 – 2.1,55).0,7

        

      2

        = 9,03 cm Pn = (0,6.fu.Anv) = 0,75(0,6.4100.9,03)

        φ

        = 16660,35 kg 2Pn = 33320,7 kg > Vu = 5099,14 kg. ....... Ok.

        5.9. Sambungan Balok Anak dengan Balok Induk Inter ior

      • Pada bidang geser baut tidak ada ulir (r
      • Mutu profil BJ52 (fu = 5200 Kg/cm
      • Baut

        2 Ag = 2,01 cm

        80

        40

        90

        WF 500.200.9.14 346

        16 Balok Anak WF 350.175.6.9 Balok Induk

        φ

        L 70.70.7

      Baut

        Direncanakan memakai : pelat siku 70 x 70 x 7

        2 Kontrol Sambungan pada Badan Balok :

        = 5000 kg/cm

        b

        = 16 mm fu

        ∅

        )

        2

        = 0,5)

        1

        Penentuan Jumlah Baut Direncanakan :

      Gambar 5.14 Sambungan Balok Anak dengan Balok Induk Interior

        Sambungan antara balok anak dengan balok induk intrior direncanakan dengan sambungan baut karena balok anak terletak pada 2 tumpuan sederhana Profil Balok Anak : WF 350.175.6.9 Profil Balok Induk : WF 600.200.12.20 Pelat penyambung siku 70.70.7 ΣVu = 2Vu = 11897,98 kg ; Vu = 5948,99 kg

        40

      • Kebutuhan baut A :

        Jumlah baut yang diperlukan :

        = 0,84 ≈ 2 buah baut Kontrol jarak baut Jarak ke tepi = 1,5 db s.d (4tp+100 mm) atau 200 mm

        = 0,75 x 2,4 x 1,6 x 1,2 x 4100 = 14169,6 kg

        φ Rn) = 0,75. 2,4. db. tp. fu

        Kuat Tumpu (

        = 0,75 x 0,5 x 5000 x 2,01 x 2 = 7537,5 kg (menentukan)

        φ Rn) = 0,75. r 1 . fu. A baut . m

        Kekuatan 1 baut : Kuat Geser (

        = 4,8 cm s.d 10,5cm Terpasang = 8 cm

        = 2,4 cm s.d. 12,8 cm Terpasang = 4 cm Jarak antar baut = 3 db s.d 15 tp atau 200 mm

        7084,8 5948,99

        Kekuatan 1 baut : Kuat Geser (

        =

        Rnt Vu φ

        Jumlah baut yang diperlukan : n =

        = 0,75 x 2,4 x 1,6 x 0,6 x 4100 = 7084,8 kg (menentukan)

        φ Rn) = 0,75. 2,4. db. tp. fu

        Kuat Tumpu (

        = 0,75 x 0,5 x 5000 x 2,01 x 2 = 7537,5 kg

        φ Rn) = 0,75. r 1 . fu. A baut . m

      • Kebutuhan baut B :

        Vu 5948,99

        n = = = 0,78 ≈ 4 buah baut

        Rnt φ 7537,5

        Kontrol jarak baut Jarak ke tepi = 1,5 db s.d (4tp+100 mm) atau 200 mm

        = 2,4 cm s.d. 12,8 cm Terpasang = 4 cm Jarak antar baut = 3 db s.d 15 tp atau 200 mm

        = 4,8 cm s.d 10,5cm Terpasang = 8 cm Kontrol Kekuatan Pelat Siku Penyambung Misal : - dipakai penyambung profil siku 70.70.7 - dipakai baut dengan d = 16 mm.

        b Luas perlemahan baut = d + 0,15 = 1,6 + 0,15 = 1,75 cm. b

        Luas geser = Anv Lnv .t L n . . t

        = − 1 φ l ubang 1 ( )

        = = (16 – 2.1,75).0,7

        

      2

        = 8,75 cm Pn = (0,6.fu.Anv) = 0,75(0,6.4100.8,75)

        φ

        = 16143,75 kg

        2Pn = 32287.5 kg > Vu = 5948,99 kg. ....... Ok

        BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

        5

        ≤

        Mn Mu φ

        c. Kontrol Lateral Buckling

        50 < 89,79 .............ok

        ≤

        6 300

        350 1680

        ≤

        fy tw h 1680

        b. Kontrol Kekuatan Penampang (Local Buckling) :

        = 1,30 cm < ' f ..................ok = 1,30 cm < 2,222 cm

        4

        

      6

        

      800 ).

      43 , 5 .(

        6.1. Kesimpulan Dari hasil perhitungan dan analisa yang telah dilakukan, maka dapat diambil kesimpulan antara lain :

        10 . 384 2 .

        =

      11100 .

        =

        5 4

        . . 384 ). .(

        Ix E l q f DL

        = 2,222 cm

        360 800

        =

        L

        f = 360

        '

        a. kontrol lendutan : Lendutan ijin :

        1. Analisa balok anak dihitung terhadap :

        max 608115 kgcm ≤ 0,9. 2411500 kgcm 608115 kgcm ≤ 2170350 kgcm ...............ok d. Kontrol Geser ΦVn ≥ Vu 0,9. 43596 kg ≥ 3040,58 kg 39236,4 kg ≥ 3040,58 kg ……….......ok

        2. Dilakukan kontrol terhadap balok utama dengan anggapan balok adalah balok baja dianggap sebagai struktur komposit dengan pelat pada saat komposit. Dimana balok menerima beban dari struktur sekunder yang harus dilakukan kontrol meliputi : Mmax = 2122387,4 Kgcm Vu = 11558,45 Kg

        Kontrol Kekuatan Penampang (Local Buckling)

        a. kontrol lendutan

        08 ,

        43

        12 517 = = tw h tw h

        < λp .....................OK

        106 25 , 250 1680 1680

        = = = fy p

        λ

        b. Kontrol Lateral Buckling Mn = Mp = Zx.fy

        = 3317 . 3500 = 8292500 kgcm

        Mu ≤ φMn 2122387,4 Kgcm ≤ 0,9. 8292500 kgcm

        2122387,4 Kgcm < 7463250 kgcm ……...............OK

        8 .

          

        8 403 , ≤ 

        9

        . 10617464 72 , 9 , 2183810

        1

      . 10756564 72 ,

      9 ,

      2962254

        ,

        Pn Pu ϕ ϕ ϕ

        Mny Muy Mnx Mux

        

        ≤   

        9

        1 . .

        ,

        > 0,2...............rumus 2 SNI 03-1729 ps.12.5-2

        Pn Pu . ϕ

        Pu = 423955 Kg Mux = 2183810 Kgcm Muy = 2962254 Kgcm

        3. Kolom komposit direncanakan dengan menggunakan profil K 500.200.10.16

        11558,45 Kg < 98172 kg ...........................................OK

        = 109080 kg Vu ≤ φVn 11558,45 Kg ≤ 0,9. 109080 Kg

        2

        Vn = 0,6.fy.Aw = 0,6.2500 kg/cm (60,6.1,2) cm

        c. kontrol geser.

        = 0,878 < 1............................ok Jadi kolom komposit digunakan profil K 500.200.10.16 dengan beton 70 cm x 70 cm

        K 5 0 0.2 00.1 0.1 6 W F 5 00.2 0 0.9 .1 4 T 4 0 0.4 00.1 6.2 4 L 7 0.7 0.7 B a ut φ 2 0 B a ut φ 2 0 K 5 00.2 00 .1 0.1 6 W F 500.2 0 0.9 .1 4 T 4 0 0.4 00.1 6.2 4 L 70.7 0.7 9 0 496 3 04

      5 00

      8 0 8 0 8 0 24 0 240 80 80 80

        4. Rigid connection adalah tipe sambungan yang cocok untuk jenis bangunan baja seperti ini. Selain memiliki kekakuan yang lebih stabil juga lebih mudah dalam pelaksanaan di lapangan.

        Gambar Sambungan Balok – Kolom

        

      Gambar Sam bungan Kolom – kolom

        5. Dari hasil pehitungan didapatkan data-data perencanaan sebagai berikut : Tebal Pelat Atap : 9 cm Tebal Pelat Lantai : 9 cm Dimensi Kolom : 70 x 70 cm Profil kolom : K 500.200.10.16 Profil Balok Induk Eks. : WF 500.200.9.14 K 5 0 0 .2 0 0 .1 0 . 1 6 P ela t t = 1 6 m m K o lom 7 00 x 7 00 D E T A I L S A M B U N G A N K O L O M D E N G A N K O L O M P e la t t = 1 6 m m B a ut φ 2 4 B a ut φ 3 0 A A Profil Balok Induk Int. : WF 600.200.12.20 Profil Balok Anak : WF 350.175.6.9

        6.2. Saran Perlu dilakukan studi yang lebih mendalam untuk menghasilkan perencanaan struktur dengan mempertimbangkan aspek teknis, ekonomi, dan estetika. Sehingga diharapkan perencanaan dapat dilaksanakan mendekati kondisi sesungguhnya di lapangan dan hasil yang diperoleh sesuai dengan tujuan perencanaan yaitu kuat, ekonomi, dan tepat waktu dalam pelaksanaannya.

        BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

        6.1. Kesimpulan Dari hasil perhitungan dan analisa yang telah dilakukan, maka dapat diambil kesimpulan antara lain :

        6. Dilakukan perhitungan struktur sekunder terlebih dahulu seperti perhitungan tangga, pelat lantai, dan balok anak terhadap beban-beban yang bekerja baik beban mati, beban hidup maupun beban terpusat.

        7. Analisa balok dihitung terhadap kontrol lendutan, kontrol penampang (local buckling), kontrol lateral buckling dan kontrol geser.

        8. Prinsip dasar bahwa struktur sekunder menjadi beban pada struktur utama, dan setelah itu dilakukan analisa struktur utama dengan bantuan program yaitu SAP versi 14

        9. Dilakukan kontrol terhadap balok utama dengan anggapan balok adalah balok baja dianggap sebagai struktur komposit dengan pelat pada saat komposit.

        Dimana balok menerima beban dari struktur sekunder yang harus dilakukan kontrol meliputi : kontrol lendutan, kontrol penampang (local buckling), kontrol lateral buckling dan kontrol geser.

        10. Dilakukan kontrol kekuatan struktur kolom komposit yang meliputi kontrol luas minimum beton pada kolom komposit, perhitungan kuat tekan aksial kolom, perhitungan kuat lentur kolom, dan kontrol kombinasi aksial dan lentur.

        11. Rigid connection adalah tipe sambungan yang cocok untuk jenis bangunan baja seperti ini. Selain memiliki kekakuan yang lebih stabil juga lebih mudah dalam pelaksanaan di lapangan.

        12. Dari hasil pehitungan didapatkan data-data perencanaan sebagai berikut : Tebal Pelat Atap : 9 cm Tebal Pelat Lantai : 9 cm Dimensi Kolom : 70 x 70 cm Profil kolom : K 500.200.10.16 Profil Balok Induk Eks. : WF 500.200.9.14 Profil Balok Induk Int. : WF 500.200.10.16 Profil Balok Anak : WF 350.175.6.9 Profil Haunch (voute) : WF 500.200.10.16 Mutu Baut Tinggi : A – 325 D24

        6.2. Saran Perlu dilakukan studi yang lebih mendalam untuk menghasilkan perencanaan struktur dengan mempertimbangkan aspek teknis, ekonomi, dan estetika. Sehingga diharapkan perencanaan dapat dilaksanakan mendekati kondisi sesungguhnya di lapangan dan hasil yang diperoleh sesuai dengan tujuan perencanaan yaitu kuat, ekonomi, dan tepat waktu dalam pelaksanaannya.

        DAFTAR PUSTAKA Rinaldy, Vebriano dan Muhammad Rustailang. “Analis Daktilitas Kurvatur 1.

        Pada Elemen Beton Bertulang”.

        2005.

      2. Knobloch, Amon dan Mazumder. “Perencanaan Konstruksi Baja Untuk

        Insinyur Dan Arsitek ”. Edisi Kedua. PT. Pradinya Paramita. Bandung.

        1999.

      G. Salmon, Charles dan E.Johnson, John. ”Struktur Baja Desain Dan 3.

        Perilaku”. Jilid 1 Edisi Kedua. Diterjemahkan oleh : Wira. Erlangga.

        Jakarta. 1991.

        4. Rochman, Mochamad. ”Studi Kasus Kolom Komposit Dengan Kolom Beton Bertulang ( SRPMK ) Diwilayah Resiko Gempa Tinggi ”. 2005.

        Leon, R.T., Kim, D.K., and Hajjar, J.F. “Limit State Response of Composite 5.

        Columns and Beam – Columns”. 2008.

        Liang, Quan Liang. ”Local Buckling of Steel Plate in Double Skin Composite 6.

        Panels Under Biaxial Compression and Shear. 2004.

        Badan Standardisasi Nasional. ”Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa 7.

        Untuk Bangunan Gedung”.

        BSN : Bandung. (SNI 03-1726-2002).

        8. Badan Standardisasi Nasional. ”Tata Cara Perencanaan Perhitungan Struktur Baja Untuk Bangunan Gedung

        ”. BSN Bandung. (SNI 03-1729- 2002). Badan Standardisasi Nasional. ”Tata Cara Perencanaan Perhitungan 9.

        Struktur Beton Untuk Bangunan Gedung ”. (SNI 03-2847-2002).

        Departemen Pekerjaan Umum. ”Peraturan Pembebanan Indonesia Untuk 10.

        Gedung (PPIUG) 1983.

        Smith, J,C,. “Structural Steel Desain LRFD Approach Second Edition”. John 11.

        Wiley and Sons, Inc : United States of Amerika. 1996. Zainul Arifin. ”Modifikasi Perencanaan Struktur Komposit Baja Dan Beton 12.

        Pada Gedung RSUD-Kepanjen Malang” . ITS. Surabaya. 2005.

        x Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :

      Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber.

Dokumen baru

Dokumen yang terkait

Modifikasi Perencanaan Gedung RSUD Koja Jakarta Menggunakan Struktur Komposit Baja- Beton dengan Base Isolator : High Damping Rubber Bearing
1
8
6
Modifikasi Perencanaan Struktur Gedung Tower C Apartemen Aspen Admiralty Jakarta Selatan Dengan Menggunakan Baja–Beton Komposit
0
0
6
Modifikasi Perencanaan Struktur Gedung Apartemen Brooklyn Alam Sutera Menggunakan Struktur Komposit Baja-Beton dengan Sistem Rangka Berpengaku Eksentris
1
9
6
MODIFIKASI PERENCANAAN GEDUNG SEKOLAH SMP-SMA MUHAMMADIYAH 2 SURABAYA MENGGUNAKAN STRUKTUR KOMPOSIT BAJA BETON PROPOSAL TUGAS AKHIR - MODIFIKASI PERENCANAAN GEDUNG SEKOLAH SMP-SMA MUHAMMADIYAH 2 SURABAYA MENGGUNAKAN STRUKTUR KOMPOSIT BAJA BETON
0
1
18
REDESAIN BALOK DAN KOLOM GEDUNG J UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO MENGGUNAKAN STRUKTUR KOMPOSIT BAJA-BETON - repository perpustakaan
0
0
15
Modifikasi Perencanaan Struktur Gedung Rumah Susun Sewa Sumur Welut Kota Surabaya Menggunakan Struktur Baja – Beton Komposit - ITS Repository
1
2
257
MODIFIKASI PERANCANGAN RSUD-KOJA JAKARTA MENGGUNAKAN STRUKTUR KOMPOSIT BAJA BETON
0
1
260
Modifikasi Dan Perencanaan Struktur Gedung Wisma Stiesia- Surabaya Dengan Konstruksi Komposit Baja - Beton - ITS Repository
1
0
280
Desain Modifikasi Struktur Gedung Apartemen Ragom Gawi Bandar Lampung Menggunakan Sistem Komposit Baja Beton - ITS Repository
1
3
221
MODIFIKASI PERENCANAAN APARTEMEN DE PAPILIO TAMANSARI SURABAYA MENGGUNAKAN STRUKTUR KOMPOSIT BAJA- BETON
0
2
240
Modifikasi Perencanaan Struktur Gedung Tower C Apartemen Aspen Admiralty Jakarta Selatan Dengan Menggunakan Baja – Beton Komposit - ITS Repository
0
17
259
MODIFIKASI PERENCANAAN GEDUNG RUMAH SAKIT UMUM DAERAH (RSUD) KOJA JAKARTA MENGGUNAKAN STRUKTUR KOMPOSIT BAJA- BETON DENGAN BASE ISOLATOR : HIGH DAMPING RUBBER BEARING (HDRB)
0
3
280
Modifikasi Perencanaan Gedung Midtown Point Office Tower Menggunakan Baja-Beton Komposit Dengan Sistem Rangka Bresing Eksentris - ITS Repository
3
8
329
Modifikasi Apartemen Pavilion Permata Menggunakan Struktur Komposit Baja Beton - ITS Repository
0
1
300
MODIFIKASI PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG HOTEL STAR YOGYAKARTA MENGGUNAKAN STRUKTUR BAJA-BETON KOMPOSIT
1
7
351
Show more