Pengaruh campuran media tanam pasir (regosol) terhadap pertumbuhan serta hasil produksi pada tanaman cabai rawit (Capsicum frutenscens Linn.) dalam polybag.

Gratis

1
17
151
2 years ago
Preview
Full text
PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PENGARUH CAMPURAN MEDIA TANAM PASIR (REGOSOL) TERHADAP PERTUMBUHAN SERTA HASIL PRODUKSI PADA TANAMAN CABAI RAWIT (Capsicum frutenscens Linn.) DALAM POLYBAG Reni Astri Universitas Sanata Dharma ABSTRAK Tidak semua wilayah Indonesia memiliki jenis tanah yang subur. Salah satu contoh jenis tanah yang kurang subur untuk ditanami oleh tanaman adalah pasir (regosol). Ketidaksuburan tanah pada suatu wilayah menjadikan penghambat bagi masyarakat, khusunya yang berprofesi sebagai petani sayur – sayuran dalam memenuhi kebutuhan pangan. Cabai rawit merupakan jenis sayur – sayuran yang diminati oleh hampir seluruh masyarakat Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan bahwa media pasir dapat memberikan pengaruh yang baik sebagai campuran media tanam terhadap pertumbuhan tanaman cabai rawit, yang dipadukan dengan pemberian pupuk cair organik. Penelitian dilaksanakan di kebun percobaan Program Studi Pendidikan Biologi Universitas Sanata Dharma. Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari tiga perlakuan dan 10 kali pengulangan yaitu P1 merupakan perbandingan antara tanah : pasir adalah 25 : 75 , P2 merupakan perbandingan antara tanah : pasir adalah 50 : 50, P3 merupakan perbandingan antara tanah : pasir adalah 75 : 25, serta kontrol dengan media tanah 100 %. Parameter yang diamati adalah tinggi (cm), jumlah daun, jumlah buah, serta berat buah (gr) pada tanaman cabai rawit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian campuran pasir pada media tanam memberikan pengaruh yang signifikan terhadap tinggi tanaman; jumlah daun; serta jumlah buah, namun tidak berpengaruh terhadap berat buah cabai rawit. Komposisi perbandingan tanah dan pasir yang baik pada perbandingan 75 : 25 . Kata kunci : Pasir (Regosol), Pertumbuhan, Produksi Cabai Rawit, Pupuk Cair Organik PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI THE EFFECT OF MIXTURE THE PLANTING MEDIUM SAND (REGOSOL) ABOUT THE GROWTH AND PRODUCTION OF CAYENNE PEPPER (Capsicum Frutescens Linn.) IN POLYBAG Reni Astri Sanata Dharma University ABSTRACT Not all regions of Indonesia have fertile soil type. One example of the less fertile soil type for planting by plant is sand (regosol). Soil infertility on a region making inhibitors of society, especially those living as vegetables farmers in meeting the food needs. Cayenne pepper is a vegetable demanded by almost all Indonesian people. This research provided a proof that sand media can give a good effect as planting mix media towards growth of cayenne pepper plant, combined with organik liquid fertilizer application. The research was implemented in experiment station Biology Education Sanata Dharma University. A Complete Random Design was conducted by undertaking three treathments and ten repetitions namely P1 a comparison between soil : sand is 25 : 75, P2 a comparison between soil : sand is 50 : 50, P3 comparison between soil : sand is 75 : 25, and control with 100 % soil media. The observed parameters were plant high, number of leaves, fruit number and fruit weight of cayenne pepper plant. In conclusion, planting mixed media consisting of sand and soil indicated significant influence on plant high; number of leaves; and fruit number, but there was no effect on fruit weight. The best mixture soil and sand is 75 : 25. Keywords : Sand (Regosol),Growth, Production, Cayenne pepper, Organic Liquid Fertilizer PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PENGARUH CAMPURAN MEDIA TANAM PASIR (REGOSOL) TERHADAP PERTUMBUHAN SERTA HASIL PRODUKSI PADA TANAMAN CABAI RAWIT (Capsicum frutenscens Linn.) DALAM POLYBAG SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Biologi Disusun oleh : Reni Astri 111434022 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2015 PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PENGARUH CAMPURAN MEDIA TANAM PASIR (REGOSOL) TERHADAP PERTUMBUHAN SERTA HASIL PRODUKSI PADA TANAMAN CABAI RAWIT (Capsicum frutenscens Linn.) DALAM POLYBAG SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Biologi Disusun oleh : Reni Astri 111434022 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2015 i PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ii PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI iii PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PERSEMBAHAN Keberhasilan adalah kemampuan untuk melewati dan mengatasi dari satu kegagalan ke kegagalan berikutnya tanpa kehilangan semangat -Winston Churchill- Karya ini kupersembahkan untuk : Kedua orang tuaku Semua pihak yang menyayangiku dan Almamaterku iv PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI v PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI vi PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PENGARUH CAMPURAN MEDIA TANAM PASIR (REGOSOL) TERHADAP PERTUMBUHAN SERTA HASIL PRODUKSI PADA TANAMAN CABAI RAWIT (Capsicum frutenscens Linn.) DALAM POLYBAG Reni Astri Universitas Sanata Dharma ABSTRAK Tidak semua wilayah Indonesia memiliki jenis tanah yang subur. Salah satu contoh jenis tanah yang kurang subur untuk ditanami oleh tanaman adalah pasir (regosol). Ketidaksuburan tanah pada suatu wilayah menjadikan penghambat bagi masyarakat, khusunya yang berprofesi sebagai petani sayur – sayuran dalam memenuhi kebutuhan pangan. Cabai rawit merupakan jenis sayur – sayuran yang diminati oleh hampir seluruh masyarakat Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan bahwa media pasir dapat memberikan pengaruh yang baik sebagai campuran media tanam terhadap pertumbuhan tanaman cabai rawit, yang dipadukan dengan pemberian pupuk cair organik. Penelitian dilaksanakan di kebun percobaan Program Studi Pendidikan Biologi Universitas Sanata Dharma. Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari tiga perlakuan dan 10 kali pengulangan yaitu P1 merupakan perbandingan antara tanah : pasir adalah 25 : 75 , P2 merupakan perbandingan antara tanah : pasir adalah 50 : 50, P3 merupakan perbandingan antara tanah : pasir adalah 75 : 25, serta kontrol dengan media tanah 100 %. Parameter yang diamati adalah tinggi (cm), jumlah daun, jumlah buah, serta berat buah (gr) pada tanaman cabai rawit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian campuran pasir pada media tanam memberikan pengaruh yang signifikan terhadap tinggi tanaman; jumlah daun; serta jumlah buah, namun tidak berpengaruh terhadap berat buah cabai rawit. Komposisi perbandingan tanah dan pasir yang baik pada perbandingan 75 : 25 . Kata kunci : Pasir (Regosol), Pertumbuhan, Produksi Cabai Rawit, Pupuk Cair Organik vii PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI THE EFFECT OF MIXTURE THE PLANTING MEDIUM SAND (REGOSOL) ABOUT THE GROWTH AND PRODUCTION OF CAYENNE PEPPER (Capsicum Frutescens Linn.) IN POLYBAG Reni Astri Sanata Dharma University ABSTRACT Not all regions of Indonesia have fertile soil type. One example of the less fertile soil type for planting by plant is sand (regosol). Soil infertility on a region making inhibitors of society, especially those living as vegetables farmers in meeting the food needs. Cayenne pepper is a vegetable demanded by almost all Indonesian people. This research provided a proof that sand media can give a good effect as planting mix media towards growth of cayenne pepper plant, combined with organik liquid fertilizer application. The research was implemented in experiment station Biology Education Sanata Dharma University. A Complete Random Design was conducted by undertaking three treathments and ten repetitions namely P1 a comparison between soil : sand is 25 : 75, P2 a comparison between soil : sand is 50 : 50, P3 comparison between soil : sand is 75 : 25, and control with 100 % soil media. The observed parameters were plant high, number of leaves, fruit number and fruit weight of cayenne pepper plant. In conclusion, planting mixed media consisting of sand and soil indicated significant influence on plant high; number of leaves; and fruit number, but there was no effect on fruit weight. The best mixture soil and sand is 75 : 25. Keywords : Sand (Regosol),Growth, Production, Cayenne pepper, Organic Liquid Fertilizer viii PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI KATA PENGANTAR Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkat dan rahmatnya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik tentu tidak lepas dari peran serta berbagai pihak yang telah memberikan bantuan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu secara khusus penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada: 1. Drs. Johanes Eka Priyatma, M.Sc., Ph.D., selaku rektor Universitas Sanata Dharma 2. Rohandi, Ph.D., selaku dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan 3. Dr. Marcellinus Andy Rudhito, S.Pd., selaku Kepala Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam 4. Drs. Antonius Tri Priantoro, M.For. Sc., selaku Ketua Program Studi Pendidikan Biologi 5. Dr. Ir. P. Wiryono Priyotamtama, S.J ., selaku dosen pembimbing skripsi yang telah memberikan masukan dan dukungan sehingga penyusunan skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik 6. Seluruh dosen beserta staff karyawan Pendidikan Biologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta 7. Kedua orangtua yang selalu mendoakan dan meberikan dukungan penuh kepada penulis sehingga skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik ix PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 8. Saudara – saudaraku (Yasmine, Reki, Winda, dan Nobi) yang selalu memberikan semangat yang begitu luar biasa 9. Drs. Darmono, Ninda, Luky, Echi, Pasca, Natia, Metta, Vina, Erica, Niken, Ririn, Anis, Rena, dan Putri yang selalu memberikan motivasi sehingga skripsi ini terselesaikan 10. Teman – temanku seperjuangan Galuh, Ricca, Chika, Ela, beserta teman VIRION 2011 yang selalu memberikan bantuan dan menyumbangkan semangat sehingga skripsi ini terselesaikan, terima kasih atas kebersamaan yang telah diberikan dan sukses selalu untuk kita semua. 11. Semua pihak yang tidak dapat dituliskan satu per satu Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih terdapat kekurangan, oleh karena itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun demi kesempurnaan skripsi ini. Penulis x PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL.i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING.ii HALAMAN PENGESAHAN.iii HALAMAN PERSEMBAHAN.iv PERNYATAAN KEASLIAN KARYA.v PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI.vi ABSTRAK.vii ABSTRACT.viii KATA PENGANTAR.ix DAFTAR ISI.xi DAFTAR TABEL.xiv DAFTAR GAMBAR.xv DAFTAR GRAFIK.xvi DAFTAR LAMPIRAN.xvii BAB I PENDAHULUAN.1 A. Latar Belakang.1 B. Rumusan Masalah.5 C. Batasan Masalah.5 D. Tujuan Penelitian.6 E. Manfaat Penelitian.6 F. Hipotesis.7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA.9 A. Media Tanam.9 1. Tanah Sebagai Media Tanam.9 xi PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2. Jenis Tanah dan Karakteristiknya.10 B. Pupuk Organik.13 C. Tanaman Cabai Rawit.17 1. Taksonomi Tanaman Cabai Rawit.17 2. Morfologi Tanaman Cabai Rawit.18 3. Jenis dan Varietas Tanaman Cabai Rawit.22 4. Syarat Tumbuh Tanaman Cabai Rawit.26 5. Perawatan Tanaman Cabai Rawit.28 6. Hama dan Penyakit Tanaman Cabai Rawit.31 7. Masa Panen.38 D. Polybag.39 BAB III METODOLOGI.41 A. Jenis Penelitian.41 B. Tempat dan Waktu Penelitian.41 C. Desain Penelitian.42 D. Pelaksanaan Penelitian.42 1. Penyiapan Lahan.42 2. Penyiapan Media Tanam dalam Polybag.42 3. Penyampuran Medium Tanam.43 4. Penyiapan bibit Cabai Rawit.44 5. Penanaman Tanaman Cabai Rawit.44 6. Perawatan dan Pemeliharaan.45 7. Pengambilan Data.45 E. Cara Analisis Data.49 F. Instrumen Penelitian.51 xii PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN.52 A. Hasil.52 1. Pertumbuhan Tinggi.52 2. Jumlah Daun.54 3. Jumlah Buah.57 4. Berat Buah.59 B. Pembahasan.60 1. Pertumbuhan Fase Vegetatif.60 2. Produksi Buah Cabai.65 3. Serangan Hama dan Penyakit.67 BAB V IMPLEMENTASI HASIL PENELITIAN.71 BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN.72 1. Kesimpulan.72 2. Saran.72 DAFTAR PUSTAKA.73 LAMPIRAN.76 xiii PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR TABEL Tabel 1. Persentase Unsur pada Pupuk.15 Tabel 2. Pengambilan Data Pertumbuhan Vegetatif.46 Tabel 3. Pengambilan Data Pertumbuhan Generatif.48 Tabel 4. Alat yang Digunakan.51 Tabel 5. Bahan yang Digunakan.51 xiv PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR GAMBAR Gambar 1. Cabai Varietas Nirmalai.23 Gambar 2. Cabai Varietas Santika.24 Gambar 3. Cabai Varietas Sonar.25 Gambar 4. Tanaman Kekurangan Unsur N.64 Gambar 5. Busuk pada Buah Cabai.67 Gambar 6.Akar.70 xv PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR GRAFIK Grafik 1. Pertumbuhan Tinggi Tanaman.52 Grafik 2. Tinggi Tanaman Setiap Minggu.54 Grafik 3. Jumlah Daun.55 Grafik 4. Jumlah Daun setiap Minggu.57 Grafik 5. Jumlah Buah Cabai Rawit.57 Grafik 6. Berat Buah Cabai Rawit.59 xvi PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1. Uji Statistik Pertumbuhan Tinggi.77 Lampiran 2. Uji Statistik Jumlah Daun.79 Lampiran 3. Uji Statistik Jumlah Buah.81 Lampiran 4. Uji Statistik Berat Buah.83 Lampiran 5. Data Mentah Pertumbuhan Tinggi.84 Lampiran 6.Data Mentah Jumlah Daun.86 Lampiran 7. Data Mentah Jumlah & Berat Buah.88 Lampiran 8. Silabus.89 Lampiran 9. RPP.95 Lampiran 10. Lembar Penilaian Sikap.106 Lampiran 11. Lembar Penilaian Diskusi.109 Lampiran 12. Lembar Penilaian Praktikum.111 Lampiran 13. Lembar Penilaian Presentasi.113 Lampiran 14. Kisi- Kisi Soal.116 Lampiran 15. Soal Posttest.117 Lampiran 16. LKS.120 Lampiran 17. Gambar Tanaman Cabai Rawit.126 Lampiran 18. Gambar Proses Penimbangan Buah.128 Lampiran 19. Gambar Hama dan Penyakit.129 xvii PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Permasalahan Kepadatan penduduk di Indonesia saat ini menjadi salah satu permasalahan yang cukup menjadi perhatian. Hal tersebut dikarenakan meningkatnya jumlah penduduk dari tahun ke tahun. Oleh karena itu, dampak yang terjadi adalah meningkatnya area pemukiman penduduk sehingga tak jarang lahan-lahan kosong bahkan daerah persawahan maupun lahan pertanian kini dijadikan sebagai tempat pemukiman penduduk. Semakin banyak area pemukiman penduduk maka akan semakin berkurang lahan bagi pertanian di Indonesia. Oleh karena itu, masyarakat perlu melakukan sesuatu atau tindakan agar ketersediaan bahan pangan yang dibutuhkan tetap terpenuhi. Dengan adanya permasalahan diatas, akhir - akhir ini masyarakat sudah memulai memutar otak untuk mencari jalan keluar agar ketersediaan bahan pangan di daerahnya tetap tersedia sehingga kebutuhan pangan dapat terpenuhi. Ketersediaan lahan persawahan maupun lahan pertanian yang semakin berkurang, menjadikan masyarakat memunculkan ide – ide atau gagasan baru yang bertujuan untuk mengatasi permasalahan tersebut. Saat ini, pengembangan wilayah pesisir pantai mulai dilirik oleh masyarakat sebagai lahan pertanian. Kita tahu bahwa tanaman yang sering dijumpai di wilayah pesisir pantai antara lain ialah kelapa, bakau (mangrove), dan jenis 1 PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2 tanaman ketelarambat. Jenis tanaman tersebut dapat tumbuh, karena mampu beradaptasi dengan lingkungan pantai. Saat ini di Yogyakarta, tepatnya daerah Bantul dan Kulon Progo masyarakat sudah mencoba menjadikan lahan pesisir pantainya menjadi tempat lahan pertanian. Jenis tanaman yang dibudidayakan oleh masyarakat di sana adalah jenis tanaman sayur-sayuran. Masyarakat setempat membudidayakan tanaman sayur-sayuran dengan membuka lahan layaknya seperti para petani lainnya yang berada di daerah dataran rendah maupun dataran tinggi. Jenis sayuran yang telah dibudidayakan oleh masyarakat di daerah Bantul adalah cabai merah atau biasa yang kita sebut dengan cabai keriting. Cabai adalah jenis tanaman sayur-mayur yang sanga digemari oleh masyarakat, sehingga banyak tersedia di pasaran baik di pasar tradisional maupun di swalayan atau supermarket. Cabai dapat hidup dengan baik di Indonesia dikarenakan cabai mampu tumbuh dan berkembang baik di dataran rendah maupun dataran tinggi dengan ketinggian kira - kira 300 – 400 dpl ( Prajnanta, 2012 ). Cabai merupakan salah satu jenis sayuran yang sangat dibutuhkan masyarakat yang biasanya di konsumsi sebagai bahan pelengkap agar memberikan sensasi pedas pada sebuah masakan, biasanya disajikan dalam bentuk sambal. Dibalik rasa pedasnya, cabai memiliki kandungan yang bermanfaat bagi tubuh manusia. Perlu diketahui bahwa cabai mengandung capsaicin yang berfungsi untuk menstimulir detektor panas PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3 dalam kelenjar hypothalmus sehingga mengakibatkan persaan tetap sejuk walaupun berada di udara yang panas. Penelitian lain menunjukkan bahwa capsaicin dapat menghalangi bahaya pada sel trachea, bronchial, dan bronchoconstriction yang disebabkan oleh asap rokok dan polutan lainnya. Hal ini berarti, cabai sangat baik bagi penderita asma atau hipersensistif udara. Capsician juga digunakan dalam pembuatan krim obat gosok antirematik (Prajnanta,2012). Cabai yang memiliki nilai gizi yang tinggi, tak lain didasari dengan buah yang dihasilkan oleh para petani budidaya tanaman cabai. Para petani melakukan budidaya tanaman cabai dengan berbagai cara agar dapat menghasilkan panen cabai yang memilik kualitas yang baik sehingga layak dipasarkan. Dunia pertanian tentu tidak lepas dari metode – metode penanaman agar dapat menghasilkan kualitas tanaman yang baik. Metode – metode penanaman yang dilakukan secara umum diantaranya meliputi : pemilihan lahan yang tepat untuk diadakan penanaman, penyiraman, pemupukan yang tepat, serta penggunaan pestisida untuk membasmi hama atau penyakit pada suatu tanaman tersebut. Mengingat bahwa di Indonesia tidak semua daerahnya memiliki keadaan tanah yang subur, maka hal tersebut menjadi masalah bagi masyarakat khususnya para petani yang tinggal di daerah yang memilik kontur tanah yang tidak subur. Salah satu contoh jenis tanah yang kurang memadai untuk dijadikan sebagai lahan pertanian adalah jenis tanah pasir. Jenis tanah tersebut memiliki struktur kasar dan berfraksi pasir 60 %. PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4 Bertajuk pada kegiatan petani di daerah Bantul, Yogyakarta yang menanam sayur – sayuran dengan memanfaatkan lahan pesisir pantai serta berdasarkan permasalahan diatas, peneliti ingin melakukan eksperimen dengan menerapkan sistem budidaya tanaman cabai tanpa harus menyulitkan masyarakat yang tinggal di daerah yang memiliki kontur tanah dengan jenis tanah pasir (regosol). Penelitian penggunaan campuran media tanam pasir tentu perlu, karena kita dapat memanfaatkan jenis tanah pasir sebagai tanah yang kurang subur. Tanah pasir ini memiliki kandungan P (fosfor) dan K (Kalsium) yang tinggi dalam bentuk batuan belum mengalami pelapukan sehingga belum siap diserap oleh akar tanaman. Jenis tanah ini memang masih rendahnya unsur N (Nitrogen), yang merupakan salah satu unsur hara makro yang dibutuhkan tanaman. Ketersediaan unsur P dan K dalam jenis tanah tersebut, memungkinkan diubah menjadi tanah subur yang dapat ditanami oleh tumbuh-tumbuhan. Oleh karena itu, penambahan media tanam pasir ke dalam media tanam baik dilakukan agar tanaman mendapatkan ketersediaan unsur hara yang cukup dibutuhkan untuk kelangsungan metabolismenya, dan tak kalah penting perlunya penambahan pupuk sebagai pembantu dalam penyedia baik unsur makro maupun mikro yang belum terkandung atau masih terbatas, agar menjadi tanah yang subur kaya dengan unsur haranya. Pada penelitian ini menggunakan polybag sebagai tempat penanaman. Penggunaan polybag berguna untuk memudahkan masyarakat yang tidak memiliki lahan yang luas, sehingga menjadikan kegiatan bertani lebih PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 5 praktis bagi masyarakat. Polybag sangat mudah didapat, bernilai ekonomis, serta tahan lama apabila dibandingkan dengan menggunakan pot. Oleh karena itu, peneliti mengangkat permasalahan menguji coba menanam tanaman cabai di dalam polybag dengan menambahkan media tanah pasir sebagai campuran media tanam. Jenis cabai yang digunakana adalah jenis cabai rawit (Capsicum frutenscens). B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : 1. Bagaimana pengaruh campuran media tanam pasir (regosol) terhadap pertumbuhan vegetatif serta hasil produksi tanaman cabai rawit ( Capsicum frutencens ) ? 2. Perbandingan manakah yang paling baik antara campuran media tanam pasir dan tanah dalam pertumbuhan dan produksi tanaman cabai rawit ( Capsicum frutencens ) ? C. Batasan Masalah Dalam penulisan ini, penulis memberikan batasan masalah, agar penjelasannya terarah serta sesuai dengan yang diharapkan. Penulis hanya membatasi pada masalah : PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 6 1. Pertumbuhan vegetatif yang meliputi : tinggi batang serta jumlah daun. Hasil produksi meliputi jumlah buah dan berat buah cabai rawit (Capsicum frutencens). Berat buah diukur berdasarkan perhitungan berat basah. 2. Media tanam yang digunakan dalam penelitian ini berupa campuran antara tanah dan pasir. Tanah yang digunakan adalah tanah yang berasal dari dari Desa Paingan, Maguwoharjo. Pasir yang digunakan dibeli di TB. Laris Wijaya, Desa Paingan, Maguwoharjo. D. Tujuan Penelitian Adapun tujuan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Mengetahui pengaruh media tanam pasir (regosol) terhadap pertumbuhan vegetatif serta hasil produksi tanaman cabai rawit (Capsicum frutencens). 2. Mengetahui perbandingan komposisi tanah pasir (regosol) terhadap pertumbuhan vegetatif serta hasil produksi tanaman cabai rawit (Capsicum frutencens). E. Manfaat Penelitian - Bagi Peneliti Manfaat penelitian ini bagi peneliti adalah untuk menambah ilmu serta wawasan dalam bidang pertanian khususnya dalam PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 7 mengembangkan pengetahuan mengenai pengolahan media tanam terhadap jenis tanah pasir (regosol) - Bagi Dunia Pendidikan Dapat membantu guru dalam memberikan pembelajaran terhadap siswa khususnya pada materi pertumbuhan dan perkembangan melalui pemanfaatan media tanah pasir (regosol). Diharapkan siswa nantinya mampu mengetahui pertumbuhan dan hasil buah tanaman cabai (Capsicum frutenscens) serta dapat membandingkan hasilnya dengan pertumbuhan serta hasil buah yang ditanaman dengan media tanah (aluvial) yang pada umumnya. - Bagi Petani dan Masyarakat Umum Baik petani dan masyarakat umum yang khususnya yang tinggal di daerah yang sebagian besar memiliki kontur tanah pasir (regosol) nantinya dapat mengembangkan tanah pasir menjadi tanah subur yang dapat ditanami tumbuh-tumbuhan, selain itu juga dapat memberikan pengetahuan mengenai penggunaan polybag sebagai solusi dari kurangnya ketersediaan lahan dan kepraktisannya. F. Hipotesis 1. Penambahan tanah pasir (regosol) dalam media tanam dapat memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan vegetatif serta hasil produksi terhadap tanaman cabai rawit (Capsicum frutenscens). PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 8 2. Komposisi media tanam yang paling baik untuk pertumbuhan vegetatif serta hasil produksi tanaman cabai rawit adalah perbandingan tanah : pasir = 50 : 50. PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Media Tanam Media tanam adalah tempat tumbuhnya tanaman yang terdiri dari bahan padat, cair, dan udara serta jasad – jasad yang berbeda kandungannya untuk setiap jenis tanah (Foth, 1994). Banyak bahan yang dapat digunakan sebagai media tumbuh tanaman, dengan atau tanpa tanah. Media tanam terdiri dari dua tipe yaitu campuran tanah (soil-mixes) yang mengandung tanah alami dan campuran tanpa tanah (soilles-mixes) yang tidak mengandung tanah alami. Pada prinsipnya suatu media tumbuh harus memiliki empat fungsi pokok untuk memberikan pertumbuhan yang baik bagi tanaman, yaitu harus menunjang tanaman, mempunyai aerasi yang baik, menahan air yang tersedia, dan menyimpan hara bagi tanaman. Jenis tanah dengan sifat ideal tersebut sangatlah terbatas , oleh karena itu percampuran tanah dengan bahan-bahan lain seperti kompos, pasir, dan pupuk ditujukan agar keempat fungsi pokok di atas dapat dicapai (Soepardi dalam Cahyati, 2006). 1. Tanah Sebagai Media Tanam Tanah adalah suatu benda alam yang terdapat di permukaan kulit bumi, yang tersusun dari bahan-bahan mineral sebagai hasil pelapukan batuan, dan bahan-bahan organik sebagai hasil pelapukan sisa-sisa tumbuhan dan hewan, yang merupakan medium atau tempat tumbuhnya tanaman dengan sifat-sifat tertentu, yang terjadi akibat dari pengaruh 9 PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 10 kombinasi faktor-faktor iklim, bahan induk, jasad hidup, bentuk wilayah dan lamanya waktu pembentukan (Yulipriyanto, 2010). Tanah yang subur yaitu tanah yang mempunyai profit yang dalam (kedalaman yang sangat dalam) melebihi 150 cm, strukturnya gembur remah, pH sekitar 6 - 6,5 , mempunyai aktifitas jasad renik yang tinggi (maksimum). Kandungan unsur haranya yang tersedia bagi tanaman adalah cukup dan tidak terdapat pembatas – pembatas tanah untuk pertumbuhan tanaman (Sutedjo, 2010). Kesuburan tanah ditandai juga dengan adanya ketersediaan unsur hara yang cukup untuk memenuhi siklus hidupnya. Unsur hara yang diperlukan tanaman adalah : Karbon (C), Hidrogen (H), Oksigen (O), Nitrogen (N), Fosfor (P), Kalium (K), Sulfur (S), Kalsium (Ca), Magnesium (Mg), Seng (Zn), Besi (Fe), Mangan (Mn), Tembaga (Cu), Molibden (Mo), Boron (B), Klor (Cl), Natrium (Na), Kobal (Co), dan Silikon (Si). Apabila unsur hara tersebut tidak terdapat dalam tanaman, maka kegiatan metabolisme akan terganggu atau berhenti sama sekali (Rosmarkan dan Yuwono, 2002). Unsur hara di dalam tanah terdapat dalam bentuk senyawa mineral, senyawa organik, unsur yang terjerap, dan unsur dalam larutan tanah (Sutanto, 2005) 2. Jenis Tanah dan Karakteristiknya a. Tanah pasir (Regosol) Tanah regosol adalah nama lain dari tanah muda karena profil tanahnya belum mengalami diferensiasi horizon (Sumardi, dkk, PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 11 2009) dalam (Harini, 2014). Tanah regosol merupakan salah satu jenis tanah yang termasuk kedalam ordo entisol („ent‟= recent, baru). Ordo ini kemungkinan mempunyai epipedon okrik atau horizon albik tanpa menunjukkan perkembangan horizon; terjadi pada alluvium yang muda (Sutanto, 2005). Karakteristik tanaman regosol adalah berbutir kasar, berwarna kelabu sampai kuning, dan bahan organik rendah. Karakteristik yang demikian menjadikan tanah tersebut tidak dapat menanpung air dan mineral yang dibutuhkan tanaman dengan baik. Menurut Brady (1982) dalam Martono (2004) ciri umum perkembangan profil kurang nyata dan perkembangannya ditentukan oleh iklim setempat. Jenis tahan ini mempunyai kandungan bahan organik 1,4% dan nitrogen 0,06% (sangat rendah). Menurut Darmawidjaja (1990) dalam Nugrohotomo (2009) menyatakan bahwa tanah regosol memiliki sifat kimia yang bervariasi sesuai dengan iklim terutama curah hujan dan sifat dasar dari abu vulkanik. Tanah ini memiliki pH sekitar 6 – 7, tanah ini umumnya banyak mengandung unsur hara P (fosfor) dan K (kalium) yang masih dalam bentuk batuan belum mengalami pelapukan sehingga belum siap diserap oleh akar tanaman, tanah ini juga kekurangan unsur N (nitrogen). Jenis tanah regosol banyak tersebar di Jawa, Sumatera, dan Nusa Tenggara yang kesemuanya memiliki gunung berapi. (Nurhalimah, dkk, 2014) walaupun jenis PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 12 tanah regosol merupakan salah satu jenis tanah yang memiliki tekstur kasar dan berfraksi pasir 60 % serta mempunyai produktifitas dan kesuburan rendah. Perbaikan regosol perlu dilakukan untuk memperkecil faktor pembatas yang ada pada tanah tersebut sehingga mempunyai tingkat kesesuain yang lebih baik untuk lahan pertanian. Untuk menghindari kerusakan tanah lebih lanjut dan meluas diperlukan usaha konservasi tanah yang lebih baik. Salah satu upaya pengelolaan untuk peningkatan produktifitas sumber daya lahan, perlu diberikan energi kepada lahan – lahan pertanian, antara lain dengan penambahan bahan organik dan pemupukan (Widjaya-Adhi dan Sudjadi, 1987 dalam Helmi (2010). Penambahan bahan organik ke tanah akan berpengaruh terhadap sifat fisik, kimia, dan biologi tanah secara simultan pengaruhnya adalah memperbaiki aerase tanah, menambah kemampuan tanah menahan unsur hara, meningkatkan kapasitas menahan air, meningkatkan daya sanggah tanah, sebagai sumber unsur hara dan sumber energi bagi mikroorganisme tanah (Hardjowigeno, 2003). b. Tanah Alluvial Tanah alluvial seperti halnya dengan tanah regosol yang merupakan salah satu jenis tanah yang termasuk kedalam ordo entisol („ent‟= recent, baru). Salah satu jenis tanah yang termasuk kedalam tanah alluvial adalah tanah lempung vulkanik yang PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 13 terdapat di Desa Paingan. Pada jenis tanah ini dapat diusahakan dengan baik pertanaman padi sawah, palawija, nanas dan tanaman – tanaman lainnya. Pada jenis tanah ini memiliki pH yang rendah dapat dikendalikan dengan mengusahakan tanah agar selalu penuh air (Harini, 2014). 3. Komposisi Media Tanam Komposisi dalam media tanam perlu diperhatikan. Menurut Haryoto (2009) komposisi campuran media tanam antara pasir dan tanah yaitu dengan perbandingan 1 : 1. Perbandingan tersebut dapat dikatakan memiliki komposisi yang sama besar antara ketersediaan tanah dengan pasir. Pada suatu penelitian Mulyati (2009) yang juga meneliti pengaruh kandungan campuran pasir terhadap persemaian tanaman cabai rawit terhadap penyakit rebah kecambah ( Sclerotium rolfsii Sacc), bahwa pada komposisi antara pasir dan tanah yang memiliki perbandingan 1 : 1 menunjukkan pengaruh yang baik terhadap infeksi patogen rebah kecambah. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa komposisi yang baik terhadap pertumbuhan dan produksi cabai rawit yaitu pada perbandingan 50 : 50 yang memiliki komposisi seimbang antara pasir dan tanah. B. Pupuk Organik Pupuk ialah bahan yang diberikan ke dalam tanah baik yang organik maupun yang anorganik dengan maksud untuk mengganti kehilangan PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 14 unsur hara dari dalam tanah dan bertujuan untuk meningkatkan produksi tanaman dalam keadaan faktor keliling atau lingkungan yang baik (Sutedjo, 2010). Pupuk organik adalah pupuk yang diproses dari limbah organik seperti kotoran hewan, sampah, sisa tanaman, serbuk gergaji kayu, lumpur aktif, yang kualitasnya tergantung dari proses (tindakan) yang diberikan (Yulipriyanto, 2010). Sedangkan dalam Permentan No. 2 / Pert / Hk . 060 / 2 / 2006, tentang pupuk organik dan pembenahan tanah, dikemukakan bahwa pupuk organik adalah pupuk yang sebagian besar atau seluruhnya terdiri atas bahan organik yang berasal dari tanaman dan atau hewan yang telah melalui proses rekayasa, dapat berbentuk padat atau cair yang digunakan untuk memperbaiki sifat fisik, kimia, dan, biologi tanah. Oleh karena itu, dapat dikatakan pupuk organik merupakan pupuk yang ramah lingkungan karena dengan memanfaatkan limbah yang berasal hewani maupun nabati guna untuk meperbaiki sifat fisik, kimia, maupun biologi terhadap tanah, khususnya pada tanah yang kurang subur. Pupuk organik memiliki banyak jenis, namun secara umum dapat dibedakan menjadi 3 yaitu : 1. Pupuk Kandang Pupuk kandang merupakan pupuk yang berasal dari kotoran beserta dengan urinnya baik dari hewan mamalia (contohnya : sapi, kerbau, dan kambing), maupun unggas (contohnya : ayam dan burung puyuh). Pupuk kandang dapat memperbaiki struktur tanah, menambah N- PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 15 organik tanah dan merangsang bakteri atau fungi tanah. Adapun kandungan unsur hara yang terdapat pada pupuk kandang yang terdiri dari unsur – unsur makro ( Nitrogen, Fosfor, Kalium, dsb.) dan unsur – unsur mikro (kalsium, magnesium, tembaga, serta sejumlah kecil mangan, tembaga, borium, dll) yang kesemuanya membentuk pupuk, menyediakan unsur – unsur atau zat – zat makanan bagi kepentingan pertumbuhan dan perkembangan tanaman (Yulipriyanto, 2011). Sutedjo (2010) menyatakan bahwa pupuk kandang dapat berupa bahan padat maupun cair. Pada hewan sapi perah bahan cair mengandung zat N dan K yang lebih besar presentasenya apabila dibandingkan dengan bahan padat. Sebaliknya bahan padat presentase zat P lebih banyak apabila dbandingkan pada bahan cair. Hal tersebut dapat dikemukakan suatu kenyataan yang terdapat pada sapi perah : Tabel 1. Persentase Kandungan Unsur pada Hewan Sapi Persentase Kandungan Unsur – Unsur Macam Bahan N (%) P (%) K (%) Pada susunya 25 28 10 Pada pupuk cair 58 3 75 Pada pupuk padat 14 72 15 PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 16 2. Pupuk Hijau Pupuk hijau adalah tanaman atau bagian – bagian tanaman yang masih muda terutama yang termasuk famili Leguminosa, yang dibenamkan ke dalam tanah dengan maksud agar dapat meningkatkan tersedianya bahan – bahan organik dan unsur - unsur hara bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman yang diusahakan. Pupuk hijau dapat digunakan sebagai mulsa. Tanaman – tanaman legum yang telah dicabut atau bagian – bagian hasil pangkasnya sangat baik dijadikan sebagai bahan pemulsa tanah permukaan. Hal tersebut telah terbukti pupuk hijau dapat menguntungkan khususnya dalam usaha mempertahankan tingkat produktifitas tanah (Sutedjo, 2010). 3. Pupuk Kompos Kompos adalah suatu produk yang stabil dan sehat yang diperoleh dari pengomposan limbahorganik padat yang mudah didegradasi secara biologis, bebas dari logam berat, kaca, plastik, kadang-kadang bahan – bahan seluloitik dengan pH sekitar 8 dan merupakan proses mikrobiologis (Yulipriyanto, 2010). Pembuatan kompos pada hakikatnya ialah memupukkan bahan – bahan organik dan membiarkannya terurai menjadi bahan – bahan yang mempunyai perbandingan C/N yang rendah sebelum digunakan (Sutedjo, 2010). Selain ketiga macam pupuk organik yang telah dikembangkan di dunia pertanian, kini telah dikembangkan pula pupuk organik cair yang berasal PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 17 dari misalnya : limbah dapur. Salah satu jenis limbah dapur organik yang sering dihasilkan oleh para ibu rumah tangga adalah sisa – sisa sayur – sayuran ataupun sisa – sisa buah-buahan. Limbah organik tersebut tentunya akan menjadi bermanfaat apabila dijadikan sebagai pupuk organik cair yang diberikan pada tanaman. Menurut Alida (2013) limbah dapur yang dijadikan sebagai pupuk organik cair dapat meningkatkan pertumbuhan suatu tanaman. Hal tersebut dikarenakan pemberian pupuk organik cair dapat meningkatkan kandungan unsur N sehingga akan menyebabkan terjadinya perombakan bahan organik tanah menjadi protein yang diperlukan untuk pertumbuhan tanaman. Sutedjo (2010), menyatakan bahwa nitrogen (N) berasal dari organik (sisa-sia tanaman / sampah tanaman) yang melapuk. Oleh karena itu dapat dikatakan selain urin sapi yang memiliki kandungan unsur N yang tinggi, sampah / limbah tanaman yang melapuk juga memiliki kandungan unsur N yang dapat menyuburkan tanaman sehingga tanah tersebut mampu untuk pertumbuhan tanaman dan dapat memberikan hasil dalam bentuk berupa pupuk organik cair. C. Tanaman Cabai Rawit (Capsicum frutenscens) 1. Taksonomi Tanaman Cabai rawit Tanaman cabai rawit adalah salah satu tanaman yang merupakan tumbuhan yang berasal dari genus Capsicum. Tanaman cabai ini tumbuh subur di Indonesia khususnya pada daerah tropis maupun PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 18 subtropis. Menurut Rukmana (2002) adapun klasifikasi dari tanaman cabai rawit (Capsicum frutenscens) adalah sebagai berikut : Kingdom : Plantae (tumbuh-tumbuhan) Divisi : Spermatophyta (tumbuhan berbiji) Subdivisi : Angiosperma (berbiji tertutup) Kelas : Dicotyledoneae (biji berkeping dua) Sub Kelas : Metachlamidae Ordo : Tubiflorae Famili : Solanaceae Genus : Capsicum Spesies : Capsicum frutenscens Linn. 2. Morfologi Tanaman Cabai Rawit Tanaman cabai merupakan tanaman yang berbentu perdu atau setengah perdu. Jenis tanaman cabai yang banyak dikenal dan dibudidayakan di Indonesia selain cabai rawit diantaranya adalah cabai merah, cabai keriting, paprika, dan cabai hias. Menurut Haryoto (2009) menyatakan bahwa diantara jenis cabai lainnya, tanaman cabai rawit termasuk yang berumur paling panjang, bisa mencapai tahunan, sehingga dapat dikategorikan sebagai tanaman tahunan. Ciri-ciri atau morfologi pada tanaman cabai pada umumnya dapat dilihat sebagai berikut : PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 19 a. Akar (Radix) Sistem perakarannya agak menyebar, diawali dengan akar tunggang yang sangat kuat, kemudian cabang-cabang akar, dan secara terus menerus tumbuh akar-akar rambut. Karakteristik tipe perakaran cabai rawit dapat dapat diamati pada stadium bibit dan stadium tanaman muda di lapangan (kebun). Perakaran stadium bibit yang akan dipindahkan ke kebun, dapat mengalami kerusakan,tetapi akar-akar samping akan berkembang dari akar utama. Akar-akar baru akan terus dibentuk dari akar utama pada stadium tanaman muda sampai dewasa. Kedua arah pertumbuhan akar tersebut dinamai “diarchous root system”, artinya dua arah sistem perakaran yang berlawanan (Rukmana, 2002). b. Batang (Caulis) Batang tanaman cabai rawit memiliki struktur tegak dan berkayu. Kulit batangnya tipis sampai agak tebal. Pada stadium tanaman muda kulit berwarna hijau, kemudian berubah menjadi hijau kecokelat-cokelatan setelah memasuki stadium tua (dewasa).Batang tanaman ini berbentuk bulat, halus dan bercabang banyak. Batang ini berfungsi sebagai tempat keluarnya cabang, tunas, daun, bunga, dan buah (Rukmana, 2002) . c. Cabang (Ramus) Tipe percabangan tanaman cabai rawit umumnya tegak atau menyebar dengan krakter yang berbeda – beda, tergantung PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 20 spesiesnya. Cabang terdiri atas cabang biasa, ranting (ramulus), dan cabang wiwilan atau tunas liar. Percabangan terbentuk setelah batang tanaman mencapai ketinggian bekisar antara 30-45 cm (Rukmana, 2002). d. Daun (Folium) Daun cabai memiliki bentuk yang amat bervariasi, mulai dari lancip sampai bulat bulat telur dengan ujung runcing dan tepi daun rata (tidak bergerigi / berlekuk). Daun berwarna hijau atau hijau tua, mengilap, tumbuh pada tunas – tunas samping berurutan atau tersusun secara spiral pada batang utama. Ukuran daun lebih kecil dibandingkan dengan daun tanaman cabai besar. Daun merupakan daun tunggal dengan kedudukan agak mendatar, memiliki tulang daun menyirip dan tangkai tunggal yang melekat pada batang atau cabang. Jumlah daun cukup banyak sehingga tanaman tampak rimbun (Rukmana, 2002). e. Bunga (Flos) Bunga tanaman cabai rawit merupakan bunga tunggal yang berbentuk bintang. Bunga tumbuh menunduk pada ketiak daun dengan mahkota bunga berwarna putih. Struktur bunga mempunyai 5 – 6 helai mahkota, 5 helai daun bunga, 1 putik (stigma) dengan kepala putik berbentuk bulat, 5 – 8 helai benang sari dengan kepala sari berbentuk lonjong dan berwarna biru keungu – unguan. Tepung sari berbentuk lonjong, terdiri atas tiga segman, berwarna PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 21 kuning mengilap. Dalam satu kotak sari berkembang 11.000 – 18.000 butir tepung sari. Penyerbukan bunganya termasuk penyerbukan sendiri (selfpollinated crop), namun dapat juga terjadi secara silang. Penyerbukan silang di lapangan dilakukan oleh serangga dan angin (Rukmana, 2002). Bakal buah (ovarium) berbentuk hampir bulat, tetapi kadangkadang berubah mengikuti proses pembentukan buah. Dari proses penyerbukan akan dihasilkan buah (Rukmana, 2002). f. Buah (Fructus) Buah cabai rawit akan terbentuk setelah terjadi penyerbukan. Buah memiliki keanekaragaman dalam hal ukuran, bentuk, warna dan rasa buah. Buah cabai rawit dapat berbentuk bulat pendek dengan ujung runcing / berbentuk kerucut. Ukuran buah bervariasi, menurut jenisnya cabai rawit yang kecil-kecil memiliki ukuran panjang antara 2-2,5 cm dan lebar 5 mm. Sedangkan cabai rawit yang agak besar memiliki ukuran 3,5 cm dan lebar mencapai 12 mm. Warna buah cabai rawit bervariasi, buah muda berwarna hijau atau putih sedangkan buah yang telah masak berwarna merah menyala atau warna merah jingga (merah agak kuning). Pada saat masih muda,rasa buah cabai rawit kurang pedas, tetapi setelah masak menjadi pedas (Rukmana, 2002). PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 22 g. Biji (Semen) Biji cabai rawit berwarna kuning padi, melekat didalam buah pada papan biji (placenta). Biji terdiri atas kulit biji (spermodermis), tali pusat (funiculus) dan inti biji (nucleus seminis) (Rukmana, 2002). 3. Jenis dan Varietas Tanaman Cabai Rawit Menurut Rukmana (2002) berdasarkan tampilan buahnya, cabai rawit dibedakan menjadi tiga jenis sebagai berikut : a. Cabai Rawit Jemprit Ciri – ciri buah cabai rawit jemprit adalah kecil dan pendek, berdiri tegak pada ketiak – ketiak daun. Buah memiliki panjang 1 – 2 cm dan lebar atau diameter 0,5 cm – 1 cm. Buah yang masih muda berwarna hijau dan setelah tua (masak) berubah enjadi merah tua. Rasa sangat pedas, hingga dapat merangsang selaput gendang telinga. b. Cabai Rawit Cengek Ciri – ciri buah cabai rawit cengek adalah panjang dan langsing, lebih besar daripada cabai rawit jemprit, berdiri tegak pada ketiak- ketiak daun. Buah memilki panjang 4 cm – 6 cm dan lebar (diamater) 1 cm – 1,5 cm. Buah muda berwarna putih, tetapi setelah tua (matang) berubah menjadi merah kekuning – kuningan. Rasanya pedas, tetapi tidak sepedas cabai jemprit. PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 23 c. Cabai Rawit Ceplik Ciri – ciri buah cabai rawit ceplik adalah agak besar dan gemuk. Berukuran panjang 3 cm – 4 cm, lebar 1,0 cm – 1,5 cm, lebih besar daripada cabai jemprit. Buah muda berwarna hijau, tetapi setelah tua berubah menjadi merah tua. Rasanya cukup pedas, tetapi tidak sepedas cabai jemprit. Menurut Prajnanta (2012), di Indonesia ada beberapa varietas cabai rawit yang lebih banyak beredar dipasaran. Berikut beberapa varietas cabai rawit yang sangat cocok ditanami di kawasan Indonesia : a. Nirmala Varietas ini merupakan cabai rawit hibrida dengan warna dasar kuning dan menjadi merah pada saat tua. Cabai ini mempunyai pertumbuhan tanaman yang sangat seragam, berbuah banyak, dan sangat bagus untuk disambal. Gb.1. Gambar Cabai Varietas Nirmala PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 24 b. Santika Varietas ini merupakan cabai rawit hibrida dengan warna dasar hijau dan menjadi merah pada saat tua. Cabai ini mempunyai ukuran kecil dan cocok sebagai teman makan gorengan Gb.2. Gambar Cabai Varietas Santika c. Sonar Cabai rawit hibrida ini beradaptasi luas di dataran rendah sampai tinggi dan mudah dalam perawatannya. Tanaman tegak dengan ruas pendek dan berbuah sangat lebat. Buah berwarna hijau gelap saat muda dan berubah menjadi merah mengilap setelah masak. Buah berukuran panjang ± 5,5 cm, diameter ± 0,6 cm, dan rasanya sangat pedas. Umur panen ± 73 HST dengan potensi hasil ± 20 ton / ha. PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 25 Gb.3. Gambar Cabai Varietas Sonar d. Cakra putih Cabai ini termasuk cabai rawit bukan hibrida. Buah berwarna putih kekuningan yang berubah merah cerah saat masak. Pertumbuhan tanaman sangat kuat dengan membentuk banyak percabangan. Posisi buah tegak ke atas dengan bentuk agak pipih dan rasanya sangat pedas. Varietas ini dapat dipanen pada umur ± 105 HST dengan potensi hasil ± 12 ton per ha. Cakra putih tahan serangan penyakit antraknosa. Buah ini memiliki panjang ± 3cm,diameter ± 0,75 cm, dan rasanya pedas. e. Cakra hijau Varietas cabai rawit bukan hibrida ini mampu beradaptasi baik di dataran rendah maupun tinggi. Saat masih muda buahnya berwarna hijau dan setelah masak berubah menjadi merah. Potensi hasilnya 600 g/tanaman atau 12 ton/ha. Rasa buahnya pedas dan tahan terhadap serangan hama serta penyakit ang biasa menyerang PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 26 cabai. Buah memiliki ukuran panjang ± 3 cm, diameter ± 0,75 cm, dan rasanya sangat pedas. Umur panen ± 85-90 HST. 4. Syarat Tumbuh Tanaman Cabai Tanaman cabai rawit (Capsicum frutescens) merupakan salah satu tanaman yang tumbuh dan dikembangkan di daerah tropis terutama sekitar khatulistiwa. Cabai rawit sangat cocok ditanam di dataran rendah dengan ketinggian 200 - 500 meter di atas permukaan laut (dpl) (Haryanto, 2009). Namun, menurut Rukmana (2002) berdasarkan ketinggian tempatnya, tanaman cabai rawit dapat dibudidayakan di Indonesia atas tiga daerah sentrum sayuran, yaitu daerah rendah (0 m – 200 m dpl.), dataran menengah (201 m – 700 m dpl.) dan dataran tinggi (lebih dari 700 m dpl.). Di Pulau Jawa, lahan penanaman cabai meliputi 56 % dataran rendah, 18 % dataran menengah (medium), dan 26 % di dataran tinggi. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa di dataran tinggi, tanaman cabai rawit masih dapat tumbuh, hanya saja periode panennya lebih sedikit dibandingkan dataran rendah. Oleh karena itu tidak menutup kemungkinang tanaman cabai yang dibudidayakan di daerah dataran tinggi memiliki produksi biji pada buah cabai rawit lebih sedikit dibandingkan tanaman cabai yang ditanam di daerah dataran rendah. PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 27 Selain memperhatikan lokasi atau tempat yang cocok untuk dilakukan budidaya tanaman cabai rawit, adapun hal – hal lain yang perlu diperhatikan yaitu : a. Keadaan Iklim Menurut Rukmana (2002) faktor iklim yang mempengaruhi pertumbuhan dan produksi cabai rawit adalah suhu udara, sinar matahari, kelembapan, curah hujan dn tipe iklim. Tanaman cabai rawit dapat tumbuh optimal pada daerah yang mempunyai kisaran suhu udara antara 18°C - 27°C. Pertumbuhan dan pembungaan cabai rawit membutuhkan suhu udara antara 21°C - 27°C dan suhu untuk pembuahan antara 15,5°C – 21°C. Daerah yang mempunyai suhu udara 16°C pada malam hari dan minimal 23°C pada siang hari sangat cocok bagi pertumbuhan cabai rawit. Bila suhu udara malam hari di bawah 16°C dan siang hari di atas 32°C, proses pembungaan dan pembuahan tanaman cabai rawit akan mengalami kegagalan. Curah hujan dan kelembapan yang terlalu tinggi, serta iklim yang basah sangat tidakdi kehendaki oleh tanaman cabai rawit. Hal ini dikarenakan apabila pada keadaan tersebut tanaman akan mudah terserang penyakit, terutama oleh cendawan (fungi). Oleh karena itu, menurut Rukmana (2002) mengatakan bahwa kelembaban udara yang baik bagi pertumbuhan tanaman cabai rawit adalah berkisar antara 50% - 80% dengan curah hujan 600 PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 28 mm – 1.250 mm mm per tahun. Curah hujan yang terlalu tinggi, dapat menyebabkan gagalnya pembentukan bunga dan buah sedangkan kelembapan yang terlalu rendah dengan suhu udara yang tinggi dapat menghambat pertumbuhan tunas, bunga, dan buah. b. Keadaan Tanah Tanah yang perlu diperhatikan dalam penanaman tanaman cabai rawit diantaranya adalah jenis tanah serta reaksi tanah (pH). Tanaman cabai rawit biasanya cepat berbuah (menghasilkan) pada tanah lempung berpasir. Sedangkan kisaran pH yang baik agar tanaman dapat tumbuh dengan subur ialah 5,5 – 6,5. 5. Perawatan Tanaman Cabai Rawit Setiap tanaman membutuhkan perawatan agar dapat tumbuh dengan baik. Untuk itu ada beberapa yang perlu dilakukan dalam perawatan tanaman cabai, ialah : a. Penyiraman Setiap tanaman tentu membutuhkan air dalam masa pertumbuhan dan produksi. Sehingga diusahakan tanaman dijaga jangan sampai terjadi kekeringan. Menurut Haryoto (2009) penyiraman yang baik dilakukan 1-2 kali penyiraman yaitu apabila dilakukan sehari dan waktu pagi hari sebelum pukul PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 29 09.00 dan sore sesudah pukul 15.00. Penyiraman tanaman dengan air sebaiknya dilakukan hingga media tanaman basah merata. Air merupakan salah satu unsur yang sangat penting bagi setiap tanaman, untuk itu dapat dipaparkan mengenai peranan air khususnya dalam membantu perkembangan lapisan tanah yaitu : 1) Air sangat penting untuk kehidupan tumbuhan dan untuk bagia terbesar reaksi kimia dimana terjadi pemecahan mineral. 2) Air dapat mempengaruhi watak horizon tanah. Jika air mudah berpindah dari tempat yang satu ke tempat yang lain meninggalkan daerah penghancuran yang mengandung mineral dan unsur hara yang dioksidasikan, maka air tidak akan menjadi penghalang bagi akar – akar yang sedang menembus tanah ( Yulipriyanto, 2010) 3) Untuk pembentukan glukosa dalam rangka fotosintesis, penegak setiap bagian tanaman, pengatur tekanan turgor dan penyusunan rotoplasma (Daniel, 1979 dan Rismunandar, 1990) dalam Siahaya (2007). b. Pemupukan Kegiatan pemupukan dilakukan bertujuan untuk menyediakan unsur hara yang cukup sesuai kebutuhan tanaman. Apabila, peninjauan pada fase pertumbuhan, seperti tanaman pada umumnya tanaman cabai pun memerlukan suplai unsur nitrogen (N). Apabila telah berkembang dewasa dan menjelang masa PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 30 produktif – berbungan dan berbuah diperlukan tambahan unsur fosfor (P) dan kalium (K) (Haryoto, 2009). c. Pemasangan Turus (Ajir) Pemasangan turus (ajir) dilakukan agar memperkokoh batang tanaman cabai untuk menyangga percabangan, daun, serta buah yang lebat. Ajir dapat menggunakan bilah bambu setinggi 100 cm dengan lebar 3-4 cm. Pemasangan ajir dpiasang ketika tanaman sudah besar dan dirasa tidak cukup kuat berdiri tegak. Hal perlu diperhatkan dalam pemasangan ajir adalah dalam melakukan penancapan ajir harus hati – hati karena dapat merusak akar tanaman (Haryoto

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Pengaruh Sistem Pengelolaan Usahatani Cabai Merah (Capsicum Annum L.) terhadap Jumlah Produksi dan Tingkat Pendapatan (Studi Kasus: Desa Ajijulu, Kecamatan Tigapanah, Kabupaten Karo)
7
79
91
Respon Pertumbuhan Tiga Varietas Cabai Rawit (Capsicum frutescens L. ) Pada Beberapa Tingkat Salinitas
8
72
64
Prospek Pengembangan Cabai Rawit Ditobasa
0
19
95
Pengaruh Media Tanam dan Pupuk Organik NPK Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Cabai Rawit (Capsicum frutescens L.)
1
32
78
Respons Ketahanan Lima Varietas Cabai merah (Capsicum Annum l.) Terhadap Berbagai Konsentrasi Garam NaCl Melalui Uji Perkecambahan
5
96
40
Penghambatan Layu Fusarium Pada Benih Cabai Merah (Capsicum annuum L.) Yang Dienkapsulasi Alginat-Kitosan Dan Tapioka Dengan Bakteri Kitinolitik
2
54
54
Efektifitas Ekstrak Cabai Rawit (Capsicum Frutescens L) Terhadap Kematian Larva Nyamuk Aedes Spp.Pada Ovitrap
10
100
96
Respon Pertumbuhan Beberapa Varietas Cabai Merah (Capsicum annum L.) Terhadap Beberapa Aplikasi Pupuk Dengan Sistem Hidroponik Vertikultur
3
45
96
Pengaruh Waktu Aplikasi Pupuk Kandang Ayam Dan Konsentrasi Pupuk Organik Cair Terhadap Pertumbuhan Dan Produksi Tanaman Cabai Rawit (Capsicum Frutescens Linn.)
7
49
67
Pengaruh Jenis Bahan Pengemas Terhadap Kualitas Produk Cabai Merah (Capsicum Annuum L.) Segar Kemasan Selama Penyimpanan Dingin
0
43
144
Analisis Perbandingan Kelayakan Usahatani Cabai Merah (Capsiccum Annum L.) dengan Cabai Rawit (Capsiccum Frutescens L.) (Studi Kasus : Desa Hinalang, Kecamatan Purba, Kabupaten Simalungun)
17
142
134
Analisis Efisiensi Penggunaan Faktor Produksi Usahatani Cabai Merah (Capsicum Annum l.) ( Studi Kasus : Desa Sukanalu, Kecamatan Barusjahe, Kabupaten Karo)
10
71
134
PENGARUH BEBERAPA JARAK TANAM CABAI RAWIT (Capsicum frutescens L.) TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN CABAI RAWIT DAN JAGUNG MANIS (Zea mays saccharata Sturt.) DALAM SISTEM TUMPANG SARI.
0
0
6
Pengaruh Dry Heat Treatment dengan Penundaan Waktu Tanam terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Cabai Rawit ( Capsicum frutescens L. ).
0
0
17
Pengaruh Perlakuan Mikrogravitasi Pada Biji Cabai Rawit Terhadap Laju Pertumbuhan Tanaman Cabai Rawit (Capsicum frutescens L.).
0
1
14
Show more