Efektivitas penerapan model pembelajaran tipe Jigsaw II terhadap motivasi dan prestasi belajar siswa pada pokok bahasan sistem persamaan linear dua variabel di kelas VIII SMP Kanisius Sleman tahun ajaran 2015/2016.

Gratis

0
0
357
2 years ago
Preview
Full text

ABSTRAK Dionisia Retno Irnawati (101414079). Efektivitas Penerapan Model Pembelajaran

  Efektivitas Penerapan Model PembelajaranKooperatif Tipe Jigsaw II terhadap Motivasi dan Prestasi Belajar Siswa pada Pokok Bahasan Sistem Persamaan Linear Dua Variabel di SMP Kanisius Sleman Tahun pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran Jigsaw II dan mengetahui efektivitas model pembelajaran Jigsaw II ditinjau dari motivasi dan hasil belajar matematikasiswa kelas VIII SMP Kanisius Sleman pada materi sistem persamaan linear dua variabel. Padahasil belajar siswa setelah dilakukan treatment, persentase siswa kelas eksperimen yang 57,14%, tuntas KKM adalah 90,47% sementara pada kelas kontrol hanya sehingga dapat dikatakan hasil belajar siswa dengan model pembelajaran Jigsaw II lebih baik dari kelasdengan model pembelajaran Konvensional.

Pelajaran 20 15/2016. Skripsi, Pendidikan Matematika, Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetauan Alam, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Untiversitas Sanata Dharma, Yogyakarta, 2016. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui keterlaksanaan proses

  pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran Jigsaw II dan mengetahui efektivitas model pembelajaran Jigsaw II ditinjau dari motivasi dan hasil belajar matematikasiswa kelas VIII SMP Kanisius Sleman pada materi sistem persamaan linear dua variabel. Padahasil belajar siswa setelah dilakukan treatment, persentase siswa kelas eksperimen yang 57,14%, tuntas KKM adalah 90,47% sementara pada kelas kontrol hanya sehingga dapat dikatakan hasil belajar siswa dengan model pembelajaran Jigsaw II lebih baik dari kelasdengan model pembelajaran Konvensional.

SMP KANISIUS SLEMAN TAHUN AJARAN 2015/2016

  Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui keterlaksanaan proses pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran Jigsaw II danmengetahui efektivitas model pembelajaran Jigsaw II ditinjau dari motivasi dan hasil belajar matematika siswa kelas VIII SMP Kanisius Sleman pada materisistem persamaan linear dua variabel. Pada hasil belajar siswa setelah dilakukan treatment, persentase siswa kelas eksperimen yang tuntas KKM adalah 90,47% sementara pada kelaskontrol hanya 57,14%, sehingga dapat dikatakan hasil belajar siswa dengan model pembelajaran Jigsaw II lebih baik dari kelas dengan model pembelajaranKonvensional.

KATA PENGANTAR

  Bapak ibu dosen dan staf sekretariat Jurusan Pendidikan Matematika danIlmu Pengetahuan Alam, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta yang senantiasa membimbing dan memberi masukan kepada penulis sejak awalmenjadi mahasiswa di USD. Bapak Yacobus Agus Iriyanto dan Ibu Marceliana Sukarti selaku orang tua yang selalu memberi dorongan, fasilitas, semangat, kasih sayang dan doasehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan merupakan hal yang penting dalam kehidupan manusia

  Salah satu karakteristik matematika yang membuat tidak Pelajaran Matematika merupakan mata pelajaran yang sudah sering dijumpai oleh siswa, mulai dari tingkat Sekolah Dasar sampai kePerguruan Tinggi terutama jika mengambil bidang studi yang berkaitan dengan matematika, namun tidak sedikit siswa yang masih berpendapatbahwa matematika adalah pelajaran yang menakutkan. Model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II merupakan suatu model pembelajaran yang mengedepankan pada aktivitas dan interaksisiswa dalam memahami, mengolah dan menyampaikan informasi yang akhirnya dipresentasikan di depan kelas.

B. Identifikasi Masalah

  Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka dapat dikemukakan masalah yang spesifik sebagai berikut: 1. Dari observasi kelas yang dilaksanakan pada bulan April 2015, didapati bahwa keaktifan siswa di dalam kelas masih belumoptimal.

2. Dari hasil wawancara dengan beberapa siswa di SMP Kanisius

  Sleman, banyak siswa beranggapan bahwa matematika itu sulit dan rumit untuk dipelajari karena karakteristik matematikayang abstrak. Guru kurangmemberikan inovasi terhadap model pembelajaran yang digunakan di dalam kelas, sehingga siswa kurang termotivasidalam belajar.

C. Pembatasan Masalah

  Kelas kontrol yang dimaksud adalah kelas yang proses pembelajarannya menggunakan model konvensionalsedangkan kelas eksperimen adalah kelas yang model pembelajarannya menggunakan model pembelajaran Jigsaw II. Pre-test dan post-test yang diberikan berdasarkan kompetensi dasar dari pokok bahasan sistem persamaan linear dua variabelyakni menyelesaikan sistem persamaan linear dua variabel dan membuat dan menyelesaukan model matematika dari masalahyang berkaitan dengan sistem persamaan linear dua variabel.

7. Hasil penelitian sebatas untuk kelas VIII SMP Kanisius Sleman

  Bagaimanakan efektivitas model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II ditinjau dari motivasi dan prestasi belajar siswa pada pokok bahasan sistem persamaan linear dua variabel di kelas VIII SMP Kanisius Sleman? Mengetahui efektivitas penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II ditinjau dari motivasi dan prestasibelajar siswa pada pokok bahasan sistem persamaan linear dua variabel di kelas VIII SMP Kanisius Sleman.

F. Batasan Istilah

  Efektivitas PembelajaranEfektivitas dalam pembelajaran dapat diartikan sebagai keberhasilan atau ketepatan penggunaan model pembelajarandalam pencapaian tujuan pembelajaran, yang dilihat dengan adanya perilaku belajar siswa yang termotivasi dan keberhasilanbelajar siswa dalam belajar. Jigsaw IIModel pembelajaran Jigsaw II merupakan model pembelajaran dengan siswa yang berperan aktif dalam kegiatanpembelajaran di kelas.

G. Manfaat Penelitian

  Bagi GuruHasil dari penelitian ini dapat digunakan sebagai tambahan wawasan dalam mengelola pembelajaran matematika denganmodel pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II. Bagi PenelitiPenelitian ini diharapkan dapat menjadi pengalaman dan bekal bagi peneliti dalam mengelola pembelajaran matematika denganmenggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II saat peneliti memasuki dunia kerja sebagai guru.

G. Sistematika Penulisan

  Metode Penelitian Pada Bab III, berisi tentang jenis penelitian, populasi dan sampel penelitian, variabel penelitian, waktu dan tempat penelitian,bentuk data penelitian, metode pengumpulan data, instrumen penelitian, metode analisis data dan rencana tahap-tahap penelitian. Penutup Pada BAB V, peneliti akan menguraikan kesimpulan yang diperoleh selama penyusunan skripsi ini dan memberikan beberapasaran yang terkait dengan skripsi ini.

BAB II LANDASAN TEORI A. Kajian Teori 1. Pengertian Belajar Belajar merupakan suatu proses untuk mengalami perubahan-perubahan, mulai dari lahir sampai mencapai umur tua. Meskipun demikian tidak semua perubahan yang dialami

  seseorang berasal dari proses belajar, misalnya perubahan bentuk tubuh dan kematangan alat kelamin, ini lebih disebabkan karenahormon dan jenis makanan yang dikonsumsi (Winkel, 1987:201). Aktivitas tersebut meliputi aktivitasmental atau psikis, yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalampengetahuan, pemahaman, ketrampilan, nilai dan sikap(Winkel,1992:242).

2. Pembelajaran

  Pembelajaran ialah suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh suatu perubahan perilaku yang barusecara keseluruhan sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya (Mohamad Surya,2004:7). Sedangkan menurut Darsono (2002:24-25) pembelajaran adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru sedemikian rupasehingga tingkah laku siswa berubah ke arah yang lebih baik.

3. Pembelajaran Matematika

  Menurut Benny Susetyo (2005), pembelajaran matematika adalah proses interaksi antara guru dan siswa yang melibatkanpengembangan pola berfikir dan mengolah logika pada suatu lingkungan belajar yang sengaja diciptakan oleh guru denganberbagai metode agar program belajar matematika tumbuh dan berkembang secara optimal dan siswa dapat melakukan kegiatanbelajar secara efektif dan efisien. Ilmu PengetahuanKita sebagai guru harus mampu menunjukkan betapa matematika selalu mencari kebenaran, dan selalubersedia meralat kebenaran yang sementara diterima, bila ditemukan kesempatan untuk mencoba mengembangkanpenemuan-penemuan sepanjang mengikuti pola pikir yang sah.

4. Model Pembelajaran Kooperatif

a) Pengertian Pembelajaran Kooperatif

  Menurut Arends (2008:4), model pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang berupayamembantu siswa untuk mempelajari isi akademis dan berbagai keterampilan untuk mencapai berbagai sasaran dantujuan sosial dan hubungan antar manusia yang penting. Ini berarti bahwa cooperative learning atau pembelajaran kooperatif adalah suatu model pembelajaran dimana sistem belajar dan bekerja kelompok-kelompokkecil berjumlah 4-6 orang secara kolaboratif sehingga dapat merangsang peserta didik lebih bergairah dalam belajar.

b) Karakteristik Pembelajaran Kooperatif

  Siswa di masing-masing kelompok dengan nomor yang dipilih guru harus menyiapkan jawaban daripertanyaan guru yang sebelumnya telah didiskusikan untuk memaparkannya di dalamkelas.5) Guru bersama-sama dengan siswa menyimpulkan jawaban akhir dari semua pertanyaan yang berhubungan dengan materi yang disajikan. Dengan struktur pembelajaran sebagai berikut:1) Thinking: Guru mengajukan sebuah pertanyaan yang terkait dengan pelajaran dan meminta siswa untuk menggunakan alokasi waktu danmemikirkan sendi jawabannya.2) Pairing: Guru meminta siswa untuk berpasangan dan mendiskusikan segala sesuatu yang siswa pikirkan atas pertanyaan dari guru .

5. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw II a. Pengertian

  Pembelajaran Jigsaw II merupakan pembelajaran yang dimulai dengan pembelajaran bab atau pokok bahasan,sehingga setiap anggota kelompok memegang materi dengan topik yang berbeda-beda. Denganmemahami garis besar materi pembelajaran akan mempermudah siswa dalam memahami dan menyampaikansub bab bagian materi yang diterimanya, serta lebih mudah dalam menangkap sub bagian materi yang disampaikan olehsiswa lain.

b. Langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw II

  3) Anggota dari kelompok lain yang akan mempelajari sub bab yang sama, bertemu dalam kelompok-kelompok yang disebut kelompok ahli. Pada pertemuan dan diskusi kelompok asal, kelompok akan dikenai tagihan berupa presentasi di depan kelas Langkah-langkah pembelajaran kooperatif yang digunakan dalam penelitian ini adalah langkah-langkah modelpembelajaran Jigsaw II menurut Sugiyanto (2010).

c. Kelebihan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw II

  3) Siswa lebih aktif dalam berbicara dan berpendapat karena Menurut Ibrahim (2000), kelebihan ModelPembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw II antara lain:1) 4) Siswa lebih memahami materi yang diberikan karena dipelajari lebih dalam dan sederhana dengan anggota kelompoknya. Kekurangan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw II Menurut Ratumanan (2002), kekurangan ModelPembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw II antara lain: 1) Siswa yang tidak memiliki rasa percaya diri dalam berdiskusi maka akan sulit dalam menyampaikan materi pada teman.

6. Motivasi Belajar Siswa

a. Pengertian Motivasi Belajar

  Dalam proses belajar mengajar siswa yang termotivasi secara intrinsik dapat dilihat dari kegiatanyang tekun dalam mengerjakan tugas-tugas belajar karena merasa butuh dan ingin mencapai tujuanbelajar yang sebenarnya. Motivasi belajar seorang siswa sangat dibutuhkan dalam prosespembelajaran di kelas, karena motivasi dapat menumbuhkan semangat dan arahan dalam mencapai tujuan yangdikehendaki siswa.

b. Fungsi Motivasi dalam Belajar

  Dengan kata lain dengan adanya usaha yang tekun dandidasari adanya motivasi, maka seseorang yang belajar akan mendapatkan prestasi yang baik. Sedangkan menurut Nanang dan Cucu (2009: 26), fungsi motivasi adalah alat pendorong terjadinya perilakubelajar peserta didik, mempengaruhi prestasi belajar belajar peserta didik, memberikan direksi terhadap pencapaian tujuanpembelajaran, dan alat untuk membangun sistem pembelajaran lebih bermakna.

c. Aspek-aspek Motivasi Belajar

  Konsentrasi Konsentrasi belajar adalah pemusatan daya pikiran dan perbuatan pada suatu obyek yang dipelajari denganmenghalau atau menyisihkan segala hal yang tidak ada hubungannya dengan obyek yang dipelajari. Keantusiasan Keantusiasan siswa dalam belajar dapat dilihat dari semangat siswa dalam mengikuti pembelajaran,memberikan tanggapan pada setiap pertanyaan maupun penjelasan dari guru dan teman dengan semangat yangtinggi (KBBI, 1988:44).

7. Prestasi Belajar

  Hasil proses belajar yang khas yang dilakukan secara sengaja sebagai hasil suatu pengukuran yang khas yangdilakukan secara sengaja sebagai hasil suatu pengukuran akan disebut prestasi belajarapabila hasil proses belajar tersebutmerupakan kemampuan yang sungguh-sungguh actual yang diperoleh sewaktu mempelajari suatu bahan pelajaran (Marsidjo,1995). Faktor yang berasal dariguru meliputi kemampuan membangun hubungan dengan siswa, kemampuan menggerakkan minat belajar,kemampuan memberikan penjelasan, kemampuan menyebutkan pokok-pokok masalah yang diajarkan,kemampuan mengarahkan perhatian pada pelajaran yang Dari paparan diatas, dapat disimpulkan prestasi belajar merupakan hasil usaha yang diperoleh siswa setelahmelalui beberapa proses belajar untuk mengetahui sesuatu yang belum diketahuinya.

8. Prestasi Belajar Matematika

  Berdasarkan dari definisi prestasi belajar menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, maka prestasi belajar Matematika dapat diartikan penguasaan pengetahuan atau ketrampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaranMatematika, hasilnya dapat ditunujukkan dengan nilai tes yang diberikan oleh guru maupun tes yang telah distandardisasikan(UN). Menurut Arikunto (2001), agar diperoleh prestasi belajar matematika yang memuaskan diperlukan sejumlahprasyarat antara lain : 1.

4. Kemampuan menarik kesimpulan dari beberapa pernyataan 5

  Kemampuan mengadakan generalisasi Apabila proses belajar Matematika itu baik, maka siswa akan mudah mempelajari dan memahaminya, kemudiandiharapkan prestasi prestasi belajar siswa akan baik pula. Dengan demikian siswa akan lebih mudah untuk menerapkan ilmu yang diperolehnya dalam menyelesaikan soal-soalMatematika maupun persoalan lain dalam kehidupan sehari-hari yang berhubungan dengan matematika.

9. Efektivitas Pembelajaran

  Dari beberapa pendapat dan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa efektivitas adalah suatu kondisi atau keadaandimana dalam memilih tujuan yang hendak dicapai dan sarana atau peralatan yang digunakan, disertai dengan kemampuan yangdimiliki adalah tepat, sehingga tujuan yang diinginkan dapat dicapai dengan hasil yang memuaskan. Efektivitas dalampembelajaran dapat diartikan sebagai keberhasilan atau ketepatan penggunaan model pembelajaran dalam pencapaian tujuanpembelajaran, yang dilihat dengan adanya perilaku belajar siswa yang termotivasi dan keberhasilan belajar siswa dalam belajar.

10. Materi Pembelajaran

  Berdasarkan buku pegangan guru karya (M.Cholik, 2006), materi mata pelajaran matematika yang diberikan pada siswakelas VIII SMP Kanisius Sleman terdiri dari beberapa bab, meliputi :i. Sistem Persamaan Linear Dua Varibel v.

11. Sistem Persamaan Linear Dua Variabel

  Persaman adalah suatu kalimat terbuka yang menyatakan bahwa dua hal adalah kesamaan. Sedangkan yangdimaksud dengan kesamaan adalah suatu kalimat tertutup yang memiliki nilai kebenaran yaitu selalu bernilai benar.

a) Persamaan Linear Satu Variabel (PLSV)

  Persamaan linear satu variabel yang kemudian biasa disebut PLSV merupakan suatu persamaan yang variabelatau peubahnya berpangkat paling tinggi 1 dan hanya mempunyai satu variabel. Operasi persamaan linear satu variabel adalah kedua ruas dalam satu persamaan dapat ditambah (+), dikurang (-), dikali (x), dibagi (:) dengan bilangan yang sama kecuali nol (Buku Matematika VIIIA, M.

b) Persamaan Linear Dua Variabel (PLDV)

  Persamaan linear dua variabel dapat dinyatakan dalam bentuk dengan , dan suatu variabel. Persamaan yang demikian disebut sebagai sebuah persamaan linear dengan variabel x dan y.

c) Sistem Persamaan Linear Dua Variabel (SPLDV)

  Sistem persamaan linear dua variabel (SPLDV) adalah suatu hubungan persamaan linear yang pada setiappersamaan terdapat minimum satu variabel yang sama. 3x + 2y = 7 dan x = 3y + 4 7 x 4 y 2 x y 10 dan 3   2 3 4 2).

1. Metode Grafik

  Pada prinsipnya, mencari himpunan penyelesaian suatu sistem persamaan linear dua variabeldengan menggunakan metode grafik adalah mencari absis dan ordinat yang merupakan koordinat titik perpotongan antara dua garis yang mewakili kedua persamaan linear dua variabel. Langkah pertama adalah menentukan titik potong garis terhadap subu dan sumbu pada masing- masing persamaan linear dua variabel.

2. Langkah kedua, menggambarkannya ke dalam koordinat cartesius

Pada diagam cartesius dapat kita lihat titik potong dari garis dan

2. Metode Substitusi

  Mknanya, salah satu variabel diganti dengan variabel yang lain untuk mendapatkan persamaan linear satu variabel. { Langkah-langkah menyelesaikan SPLDV tersebut dengan menggunakan metode substitusi adalah sebagai berikut.

3. Selesaikan PLSV tersebut untuk mendapatkan nilai x

  Substitusikan nilai x yang kamu peroleh pada persamaan untuk mendapatkan nilai y. Contoh : Tentukan penyelesaian dari SPLDV { x + y = 4 x = 4 x = 4 x  (4 – y ) – 2y = - 2  4 – 3y = - 2 - 3y = - 6 = 2  y = selanjutnya untuk y =2 disubstitusikan pada salah satu persamaan, misalnya ke persamaan x + y = 4, makadiperoleh: x + y = 4 x + 2 = 4  x = 4 – 2 = 2 Jadi, penyelesaianya adalah x = 2 dan y = 2 atau HP {(2,2)}.

3. Metode Eliminasi

  Jawab:Misalkan, banyak sandal yang terjual = x pasangBanyak sepatu yang terjual = y pasangPersamaan pertama : x + y =12Persamaan kedua : 20.000x + 40.000 = 300.000 2x + 4y = 30 (kedua ruas dibagi 10.000) Jadi model matematika adalah x + y = 12 dan 2x + 4y = 30 Contoh soal : 1) Dua tahun yang lalu seorang laki-laki umurnya 6 kali umur anaknya. Keliling = 2( panjang + lebar) 48 = 2(x + y) atau x + y = 24 .............(1) x = y + 6 atau x dari persamaan (1) dan (2) dapat diperoleh x + y = 24 x 2x = 30 x = 15 subtitusikan x = 15 ke dalam persamaan x + y = 24, sehingga diperoleh 15+y = 24 y = 24 y = 9 Jadi, dapat diperoleh ukuran tanah dengan panjang (x) 15 meter dan lebar (y) 9 meter.

B. Kerangka Berpikir

  Model Pembelajaran Jigsaw II Motivasi Belajar SiswaPrestasi Belajar Siswa Gambar 2.1Berangkat dari latar belakang dan landasan teori yang menyatakan bahwa prestasi belajar siswa sebagaimana yang diharapkan, maka perludiperhatikan beberapa faktor yang mempengaruhi prestasi belajar antara lain faktor yang terdapat dalam diri siswa atau faktor internal, dan faktoryang terdiri dari luar siswa atau faktor eksternal (Dimyati Mahmud, 1989). Adaberbagai model pembelajaran yang ditawarkan bagi guru pengampu mata pelajaran salah satunya adalah model pembelajaran Jigsaw II, yangmerupakan salah satu model pembelajaran kooperatif yang ditekankan pada keaktifan siswa dalam proses pembelajaran tersebut.

C. Hipotesis

Berdasarkan rumusan masalah, landasan teori, dan kerangka berpikir yang telah diuraikan sebelumnya, maka dapat diajukan hipotesisuntuk penelitian ini sebagai berikut: “Motivasi dan hasil belajar siswa kelas VIII SMP Kanisius Sleman pada pokok bahasan sistem persamaan linear dua variabel dengan model pembelajaran Jigsaw II lebih baikdaripada motivasi dan hasil belajar siswa kelas VIII SMP Kanisius Sleman dengan model pembelajaran konvensional.

BAB II I METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Berdasarkan tujuan yang hendak dicapai, maka jenis penelitian

  Penelitianeksperimental semu digunakan untuk mengungkap hubungan antara dua variabel atau lebih untuk mencari pengaruh suatu variabelterhadap variabel lainnya, dimana peneliti dengan sengaja dan secara sistematis mengadakan perlakuan (manipulasi) terhadap suatuvariabel, kemudian mengamati konsekuensi perlakuan pada variabel lain (Nana Sudjana, 1989:19). Dalam penelitian ini, peneliti akan menginterprestasikan hasil data yang diperoleh dari penerapan model pembelajaran tipe Jigsaw IIdi Kelas VIII A dibandingkan dengan penerapan pembelajaran dengan model konvensional di Kelas VIII B SMP Kanisius Sleman.

B. Populasi dan Sampel 1. Populasi

  Menurut Sukardi (2008:53) populasi pada prinsipnya adalah semua anggota kelompok manusia, binatang, peristiwa, atau benda yangtinggal bersama-sama dan secara terencana menjadi target kesimpulan dari hasil akhir suatu penelitian. Jumlah populasi dalam penelitian ini ada 2 kelas dengan jumlah siswa masing-masing kelas 21 orang.

2. Sampel

  Menurut Sukardi, (2008:54) syarat yang paling penting untuk diperhatikan dalam mengambil sampel adadua macam, yaitu jumlah sampel yang mencukupi dan profil sampel yang dipilih harus mewakili. Siswa kelas VIII A sebagai kelas eksperimen, yang akan diterapkan model pembelajaran Jigsaw II pada prosespembelajarannnya, sedangkan siswa kelas VIII B sebagai kelas kontrol dengan menggunakan model pembelajaran konvensional.

C. Waktu dan Tempat Penelitian 1. Waktu

  Tempat Penelitian ini di laksanakan di kelas VIII A dan kelas VIIIB SMP Kanisius Sleman tahun ajaran 2015/2016 D. Variabel bebasdalam penelitian ini adalah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II pada pokok bahasan sistem persamaanlinear dua variabel.

E. Bentuk Data Penelitian 1. Data Keterlaksaan Proses Pembelajaran Menggunakan Model Pembelajaran Jigsaw II

  Data tersebut diperoleh dari kelaseksperimen, karena kelas tersebut adalah kelas yang menggunakan model pembelajaran Jigsaw II dalam kegiatan pembelajarannya. Prestasi belajar pada penelitian ini hanya diukur pada ranah kognitif,sehingga hasil belajar siswa yang dilihat pada penelitian ini berupa nilai dari masing-masing kelas eksperimen maupun kelaskontrol.

F. Metode Pengumpulan Data

  Metode pengumpulan data motivasi belajar siswa yang digunakan pada penelitian ini terdiri dari pengamatan motivasi belajar 1. Peneliti memberikan kuesioner kepada siswa dan diminta untuk mengisi sejumlah pernyataanyang paling menggambarkan motivasi belajar matematika siswa dengan memberikan tanda check-list (√) pada kolom yang telah disediakan.

G. Instrumen

  Instrumen adalah alat atau fasilitas yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data agar lebih mudah, cermat, lengkap dansistematis sehingga lebih mudah dalam mengolah data. Pada penelitian ini ada dua macam instrumen yang digunakan yaitu intrumen pembelajaran dan instrumen penelitian.

a. Lembar Pengamatan Keterlaksanaan Proses Pembelajaran

b. Lembar Observasi Motivasi Belajar Siswa

  Instrumen keterlaksanaan proses pembelajaran menggunakan model pembelajaran Jigsaw II berupalembar keterlaksanaan yang akan diisi oleh observer Lembar observasi adalah instrumen penelitian yang lebih banyak menggunakan salah satu dari pancainderanya yaitu penglihatan untuk mengambil data yang berupa kondisi atau fakta alami, tingkah laku dan hasilkerja responden dalam situasi alami pada saat penelitian berlangsung (Sukardi,2003:78-79). Observasi dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung menggunakan lembar observasi denganmelakukan pengamatan dan pencatatan mengenai pelaksanaan pembelajaran di kelas dengan menggunakanmodel pembelajaran Jigsaw II, serta perilaku dan aktivitas yang ditunjukkan selama proses pembelajaran berlangsungtanpa mengganggu proses pembelajaran.

c. Kuesioner Motivasi Belajar

  Dalam kuesioner terdapat pertanyaan yang berhubungan erat dengan masalah penelitian yang hendakdipecahkan, disusun, dan disebarkan kepada respinden untuk memperoleh data (Sukardi, 2003). Kuesioner yang disusunmengacu pada aspek motivasi belajar siswa yang terdiri dari minat, perhatian, konsentrasi, ketekunan,keantusiasan, keterlibatan, rasa ingin tahu, berusaha mencoba dan aktif mengatasi tantangan.

d. Instrumen Tes Prestasi Belajar Siswa

  Untuk mengetahui peningkatan prestasi belajar siswa pada penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II, maka peneliti mengadakan tes prestasi belajar siswa yaitu pre-test dan post-test. Penyusunan instrumen prestasi belajar siswa mengacu pada indikator pembelajaran dan kisi-kisi yang telah ditentukan peneliti.

1. Kisi-kisi soal pre-test KISI-KISI SOAL PRE TEST

  Siswa mampu menyatakan suatupersamaan linear dua variabel dalam variabeltertentu Diketahui suatu persamaan 2 Siswa memahami konsep awalpersamaan linear dua variable 1 b. Siswa mampu menentukan nilai suatuvariabel dari persamaan linear satu variable 1 Siswa memahami tentang bentuk aljabardan konsep persamaan linear satu variabel.

2. Kisi-kisi soal post-test KISI-KISI SOAL POST TEST

  Pada sebuah toko alat tulis , Litta dan Dewi membelibuku tulis dan buku berpetak dengan merk yang sama. Litta membeli 6 buku tulis 2 3 menyelesaikan menyelesaian model Bangsa terdapat 42 siswa.permasalahan matematika dari masalah Diketahui banyak siswa laki- nyata yang terkait nyata yang berkaitan dengan laki empat kurangnyadengan sistem persamaan linear dua daripada siswa perempuan.persamaan linear variabel.

1. Validitas Tes Prestasi Belajar

  Dalam penelitian ini, penelitian menggunakan validitas pakar dan validitas butiruntuk mengetahui kesanggupan alat penilaian dalam mengukur isi dari domain yang akan diukur. Tenik validitas pakar (expert judgment) dilakukan peneliti dengan meminta bantuan gurumata pelajaran dan dosen pembimbing untuk menelaah konsep materi instrumen tes prestasibelajar siswa, sehingga layak untuk digunakan dalam penelitian sesuai dengan keadaan siswa disekolah yang bersangkutan.

2. Reliabilitas Tes Prestasi Belajar

  Reliabilitas tes adalah taraf dimana suatu tes mampu menunjukkan konsistensi hasilpengukurannya yang diperlihatkan dalam taraf ketepatan dan ketelitian hasil (Masidjo,1995:209). Reliabilitas menunjukkan bahwa instrumen cukup ajeg, dapat dipercaya (reliable) dan dapatdiandalkan (dependable) untuk digunakan sebagai alat pengumpulan data.

H. Metode Analisis Data

  Hipotesis yang diajukan adalah keefektifan modelpembelajaran Jigsaw II pada pokok bahasan sistem persamaan linear dua variabel siswa kelas VIII A SMP Kanisius Sleman tahun ajaran2015/2016. Mengambil sampel dan dibagi dalam kelompok kontrol dan kelompok eksperimen.

10. Membuat kesimpulan

  Model pembelajaran dikatakan efektif apabila secara statistik hasil belajar siswa menunjukan perbedaan yang signifikanantara hasil belajar kelas kontrol dan kelas eksperimen, dimana hasil belajar pada tes kemampuan akhir kelaseksperimen lebih tinggi dibandingkan hasil belajar pada tes kemampuan akhir kelas kontrol. Model pembelajaran dikatakan efektif apabila dapat mengungkapkan motivasi belajar siswa kelas eksperimenlebih baik dari motivasi belajar kelas kontrol.

a. Keterlaksanaan Proses Pembelajaran menggunakan Model Pembelajaran Jigsaw II pada Setiap Pertemuan

  Dalam proses analisis keterlaksanaan proses pembelajaran menggunakan model pembelajaran Jigsaw II,maka akan diberikan skor 1 untuk pernyataan yang diberikan tanda cek (√) pada kolom “ya” dan skor 0 pada kolom “tidak”. Setelah itu, dihitung jumlah skor keterlaksanaan model pembelajaran sehingga dapat dihitung persentasenya.

b. Keterlaksanaan Proses Pembelajaran menggunakan Model Pembelajaran Jigsaw II secara Keseluruhan

Keterlaksanaan proses pembelajaran menggunakan model pembelajaran Jigsaw II secara Keseluruhan dapatdiperoleh dari rerata persentase keterlaksanaan proses pembelajaran menggunakan model pembelajaran AIR ketigapertemuan atau dapat ditulis sebagai berikut : Keterlaksanaan keseluruhan = Setelah memperoleh hasil persentase keterlaksanaan proses pembelajaran menggunakan model pembelajaran Jigsaw II, baik pada setiap pertemuan maupun secara keseluruhan, maka akan dibandingkan dengan kriteria keterlaksanaan model pembelajaran seperti tabel berikut : Tabel 3.5 Kriteria Keterlaksanaan Model Pembelajaran (Arikunto, 2009 : 245) Interval (%) Kriteria Sangat Tinggi 81 100 61 Tinggi 80 Sedang 41 60 21 Rendah 40 Sangat Rendah 20 K= Keterlaksanaan keseluruhan.

3. Analisis Data Prestasi Belajar Siswa

  Nilai pre-test dan post-test akan menunjukkan hasil belajar siswa sebelum dilakukan pembelajaran dengan model Jigsaw IIdan setelah dilakukan pembelajaran dengan model pembelajaran Jigsaw II. Sedangkan untuk menentukan nilai rata-rata post-test semua siswa adalah sebagai berikut : ∑ Keterangan : NAi = nilai akhir individu JSi = jumlah skor individuJM = jumlah skor maksimum NAs = jumlah rata-rata untuk semua siswans = banyaknya siswa Selanjutnya, nilai hasil belajar siswa dibandingkan dengan nilai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) kemudian dihitungpersentase skor yang diperoleh setiap siswa.

a. Uji Normalitas Kolmogorov-Smirnov

  Merumuskan H dan H 1 H : Data berdistribusi normal H 1 : Data berdistribusi tidak normal2) Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah data yang dianalisis berdistribusi normal. Langkah-langkah uji normalitas menurut Husaini danPurnomo (2008:315) yaitu:1) Taraf signifikasi yang digunakan adalah3) Menentukan daerah kritis Sig (2-tailed)4) Membuat kesimpulan Jika Sig (2-tailed) maka H gagal ditolak.

b. Uji Variansi

  Langkah-langkah melakukanuji-T, yakni :1) dan H Merumuskan H 1 H : tidak ada perbedaan rata-rata nilai pre-test kelas 1 Uji Perbedaan Nilai Rata-rata (Uji-T) Data Post-test 1 atau sama dengan kelas kontrol ( )H 1 H : rata-rata nilai post-test kelas eksperimen lebih rendah dan H Merumuskan H 17.0. : ada perbedaan rata-rata nilai pre-test kelas kontrol dan kelas eksperimen ( = )5) maka H Jika Sig (2-tailed) Membuat kesimpulan Sig (2-tailed)7) Menentukan daerah kritis Taraf signifikasi yang digunakan adalah6) Menentukan taraf signifikan : rata-rata nilai post-test kelas eksperimen lebih tinggi dari kelas kontrol ( ) 2) Menentukan taraf signifikan Taraf signifikasi yang digunakan adalah3) Menentukan daerah kritis Sig (2-tailed)4) Membuat kesimpulan Jika Sig (2-tailed) ditolak.

4. Analisis Data Instrumen Kuesioner Motivasi Siswa

a. Motivasi Belajar Siswa secara Individu

  Setelah itu dilakukan perhitungan jumlahskor total yang diperoleh masing-masing siswa, kemudian dihitung presentase motivasi belajar siswa dengan cara :Keterangan : : Hasil presentase motivasi belajar siswa : Jumlah skor yang diperoleh masing-masing siswa : Jumlah skor maksimum 100 Siswa yang memiliki presentase motivasi belajar 3) 21% sampai dengan 40%, berarti motivasi belajar siswa dalam proses pembelajaran rendah. 4) Apabila presentase jumlah siswa yang memiliki kriteria sangat tinggi ditambah kriteria tinggi dan kriteria cukup kurang dari 65% (ST + T + C < 65%)dan jumlah siswa yang memiliki kriteria sangat tinggi ditambah dengan jumlah siswa denga kriteriatinggi dan kriteria cukup serta kriteria rendah mencapai lebih dari satu atau sama dengan 65% (ST 65%) maka dapat dikatakan motivasi belajar siswa secara keseluruhan rendah.

c. Uji Inferensial Data Motivasi Belajar Siswa Dari Kuesioner

  Setelah data kuesioner di analisis secara deskriptif(dengan memperhatikan kriteria-kriteria motivasi) maka data motivasi belajar dianalisis secara inferensial denganmenggunakan uji rata-rata (uji T). Langkah-langkah melakukan uji T pada data motivasi belajar sama denganlangkah-langkah yang dilakukan untuk menentukan rata- rata hasil belajar siswa kelas VIII SMP Kanisius Sleman.

2. Menentukan taraf signifikan

  Merumuskan H dan H 1 H : tidak ada perbedaan nilai rata-rata kuesioner motivasi kelas kontrol dan kelas eksperimen( = )H 1 : ada perbedaan nilai rata-rata kuesioner motivasi kelas kontrol dan kelas eksperimen( = ) 2. Langkah-langkah melakukan uji Mann-Whitney yakni :1) dan H Merumuskan H 1 H : data pengamatan motivasi belajar oleh observer kelas eksperimen rendah atau sama dengan kelas kontrol ( )H : data pengamatan motivasi belajar oleh 1 observer kelas eksperimen lebih tinggi dari kelas kontrol ( )2) Menentukan taraf signifikan Taraf signifikasi yang digunakan adalah3) Menentukan daerah kritis Sig (2-tailed)4) Membuat kesimpulan Jika Sig (2-tailed) ditolak.

I. Rencana Tahap-Tahap penelitian

  Penelitian ini meneliti tentang efektivitas penerapan model pembelajaran tipe Jigsaw II terhadap motivasi dan prestasi belajarsiswa pada pokok bahasan sistem persamaan linear dua variabel. Agar penelitian dapat berjalan dengan lancar, maka dibuat suatu rencanakegiatan penelitian yang natinya dapat digunakan sebagai acuan kegiatan yang akan dilaksanakan.

1. Tahap Perencanaan

  Melaksanakan observasi di kelas VIII SMP Kanisius Sleman, untuk mengetahui karakteristik siswa dan metode yang digunakan guru mengajar. Menentukan materi yang akan diajarkan sesuai dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar matematika untuk SMP yang tentunya berdasarkan persetujuan guru c.

II. Pada penyusunan RPP peneliti

  Kuesioner yang akan diberikan kepada siswa sebelumnya dikonsultasikankepada dosen pembimbing agar setiap pertanyaan yang terdapat pada kuesioner valid dan sesuai dengan tujuanpenelitian. Peneliti mengadakan uji coba soal pre-test dan post-test di kelas uji coba dan mengolah data yang didapat untuk menentukan validitas dan reliabilitas soal.

2. Tahap Pelaksanaan dan Pengamatan

  Observer melakukan pengamatan dan pengambilan data motivasi belajar siswa dalam proses pembelajaran dengan mengisi instrumen pengamatan yang telah dibuat. Peneliti membagikan kuesioner kepada siswa untuk mengetahui motivasi belajar siswa setelah belajar dengan menggunakan model pembelajaran yang diberikan.i.

BAB IV DESKRIPSI PEMBELAJARAN, HASIL PENELITIAN, ANALISIS DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Persiapan dan Pelaksanaan Penelitian

1. Persiapan Penelitian

  Dalam penelitian ini, peneliti melakukan penelitian pembelajaran dengan model pembelajaran tipe Jigsaw II pada pokokbahasan sistem persamaan linear dua variabel di kelas VIII SMPKanisius Sleman. Pada persiapan penelitian, peneliti menguji instrumen-instrumen, agar instrumen yang digunakan valid danreliabel, sehingga hasil yang diharapkan juga valid dan reliabel.

a. Validitas Instrumen Tes Prestasi

Pada validitas instrumen soal, peneliti menggunakan validitas isi oleh pakar dan validitas butir soal.

1) Uji Coba Instrumen

  Kelas yang dipakai untuk uji coba pre test adalah kelas IX yang terdiri dari27 siswa. Jumlah soal yang diujikan sebanyak 5 soal dan merupakan soal-soal mengenai kemampuanprasyarat, sebelum masuk pada materi sistem persamaan linear dua variabel.

2) Hasil Uji Coba Instrumen

  5 S6 5 20 10 18 S5 15 5 20 10 20 15 S4 10 20 18 18 S7 20 10 10 10 18 20 Setelah peneliti melakukan uji coba soal pre test dan post-test, maka peneliti mengoreksi hasil pekerjaan siswa 10 sehingga memperoleh data hasil belajar siswa. Berikut akan dipaparkan data hasil uji coba instrumen soal pre-test dan post test : a) Hasil Uji Coba Pre-Test Tabel 4.1 Data Uji Coba Pre-Test KODE Skor Soal Ke- SISWA 1 2 3 4 5 S1 20 10 20 5 10 S2 15 10 8 5 10 S3 20 10 10 S8 20 20 10 S23 5 15 5 15 15 S22 10 20 5 15 S21 10 5 15 8 10 10 S20 10 15 5 12 20 S19 10 10 20 20 moment dengan taraf signifikan = 5% dan N = 27 Hasil dari uji validitas soal pre-test tersebut dikonsultasikan dengan harga product a.1.

5 Hasil perhitungan uji validitas pre-test dapat dilihat

  Uji Reliabilitas Pre-test Nilai yang diperoleh dari hasil perhitungan uji validitas tersebut, kemudiandikonsultasikan dengan harga r pada tabel product moment dengan taraf signifikan 5% dengan N = 27 ( = 0,381). Menurut Arikunto (2006) uji reliabilitas ini berada pada interpretasi cukup, karena beradadiantara 0,40 dan 0,60 (0.40 < 15 5 5 20 S19 20 18 20 5 S18 10 10 10 S21 5 S17 8 5 20 20 S15 8 10 15 20 S14 8 20 15 5 8 10 20 10 S26 10 10 20 10 S25 5 10 S24 10 5 10 20 7 S23 5 5 5 10 S22 20 8 10 ≤ 0.60).

2. Pelaksanaan Penelitian a. Pelaksanaan Model Pembelajaran Tipe Jigsaw II

  Kegiatan pembelajaran akan diamati oleh observer II, serta mengamati motivasi belajar siswa dengan mengikuti kegiatan dengan model pembelajaran Jigsaw II. Pada penelitian ini, peneliti juga menyampaikan garis besar materi sistempersamaan linear dua variabel yang memuat definisi dan bentuk-bentuk persamaan linear dua variabel dan sistempersamaan linear dua variabel, penyelesaian sistem persamaan linear dua variabel, dan sistem persamaan lineardua variabel dalam kehidupan sehari-hari.

3. Pembagian Kelompok Ahli

  Pada kelompok asal, peneliti meminta siswa dalam masing-masing kelompok untuk menentukan sub bab yangakan mereka pelajari lebih dalam. a) Kelompok ahli 1: Membahas pengertian persamaan linear dua variabel dan pengertian sistem persaman linear dua variabel.

4. Diskusi dalam kelompok Ahli

  Peneliti memberikan waktu kepada siswa 1 jam pelajaran (1x45 menit) untuk mendiskusikan subbab materiyang didapatkan oleh masing-masing kelompok ahli. Peneliti menjawab dan menjelaskan ketika ada kelompok yang bertanya, ketikamereka merasa kesulitan memahami subbab materi tersebut.

3) Pertemuan Kedua (1x45 menit)

  Pada kelompok asal, siswa menjelaskan tentangmateri yang mereka pelajari pada kelompok ahli. Presentasi Kelompok Asal Peneliti memberi kesempatan kepada 2 kelompok asal yang bersedia mempresentasikan materi yang sudahdipelajari pada pertemuan sebelumnya.

2. Latihan Soal LKS

  Selanjutnya, di akhir pembelajaran guru juga menyampaikan kepada siswa untuk belajar tentangsemua materi yang telah disampaikan, karena pada pertemuan selanjutnya akan diadakan post-test mengenaimateri yang telah disampaikan. Setelah melaksanakan pembelajaran matematika dengan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II selama 3 kalipertemuan (5x45 menit) , peneliti mengadakan post-test untuk melihat pemahaman siswa tentang materi sistem persamaanlinear dua variabel yang telah dipelajari.

b. Pelaksanaan Model Pembelajaran Konvensional

  Pada pelaksanaan pembelajaran konvensional, peneliti mempersiapkan kelengkapan mengajar seperti RPP (RencanaPelaksanaan Pembelajaran), soal-soal dalam bentuk LKS (LembarKerja Siswa), lembar penilaian dan absen. Kelengkapanpembelajaran dibuat untuk satu bab materi sistem persamaan linear dua variabel yang dilakukan dalam tiga pertemuan (5x45 menit).

1) Sebelum Pembelajaran

  Selanjutnyapada kegiatan inti pertemuan ini adalah guru menjelaskan Pembelajaran dalam pertemuan ketiga dibagi menjadi tiga bagian yaitu pendahuluan dimana guru memberikan salam,memimpin doa, mengabsen siswa, dan menjelaskan agenda pembelajaran yang akan dilaksanakan hari ini. Guru juga memfasilitasisiswa melalui pemberian tugas, latihan-latihan soal yang berkaitan dengan masalah SPLDV dalam kehidupan sehari-hari, untuk memunculkan gagasan baru baik secara lisan Setelah melaksanakan pembelajaran matematika dengan model pembelajaran konvensional, selama 3 kali pertemuan(5x45 menit), peneliti mengadakan post-test untuk melihat pemahaman siswa tentang materi sistem persamaan linear duavariabel yang telah dipelajari.

B. Hasil dan Pembahasan Penelitian

Setelah melakukan penelitian maka peneliti memperoleh beberapa data yakni data keterlaksanaan model pembelajaran Jigsaw II, data hasilbelajar siswa, data kuesioner motivasi belajar siswa, dan data hasil

1. Data Keterlaksanaan Model Pembelajaran Jigsaw II

  Untuk melihat keterlaksanaan model pembelajaran Jigsaw II yang digunakan pada kelas eksperimen, maka peneliti meminta bantuankepada dua observer untuk mengamati keterlaksanaan model pembelajaran selama proses pembelajaran berlangsung. Dalam ketiga tabel dibawah ini akan diperlihatkan hasil pengamatan setiap observer pada setiap pertemuanpembelajaran.

a. Pertemuan Pertama

  Nomor Soal Absen Siswa 3 5 15 15 18 20 20 4 20 10 15 20 20 3 5 10 20 10 2 20 15 20 15 15 1 5 4 3 2 1 15 15 15 20 10 10 15 10 10 20 5 10 20 15 9 15 10 10 18 10 8 15 15 20 20 20 7 15 10 10 20 15 6 10 11 10 10 15 20 15 16 18 15 15 10 10 15 10 15 18 18 17 5 15 15 12 10 15 15 5 14 13 15 10 18 15 18 18 15 10 10 Perhatikan tabel berikut: post-test kepada siswa kelas kontrol (VIII B) dan kelas eksperimen (VIII A) untuk mengetahui hasil belajar setelah diberikan treatmen. 10 5 5 10 10 15 10 4 10 10 20 18 20 3 10 5 15 1 Nomor Soal AbsenSiswa 1 2 3 4 5 20 10 10 20 20 10 2 10 15 10 11 15 18 15 18 10 15 10 10 15 10 10 15 9 18 15 15 15 5 18 6 10 20 10 20 7 15 10 15 20 10 20 8 15 18 16 20 10 15 10 10 5 14 10 15 5 13 12 12 10 12 15 15 10 10 11 15 10 15 10 21 20 20 10 20 10 17 10 19 15 15 8 18 15 10 5 10 Berikut akan dipaparkan data hasil post-test kelas kontrol : Tabel 4.10 Data Post-test Kelas Kontrol No.

3. Data Kuesioner Motivasi Belajar Siswa a. Sebelum Pembelajaran

  Kuesioner motivasi belajar di kelas kontrol maupun eksperimen diberikan bersamaan dengan soal pre-test. Dengan demikian diperoleh data kuesioner motivasi belajar siswa kelas kontrol dan kelas eksperimen seperti terlihat pada tabel berikut: 132 1.

b. Setelah pembelajaran

  Hal ini dilakukan bersamaan dengan pemberian soal post-test untuk mengetahui motivasi belajar siswa kelas kontrol dan kelas eksperimen setelah diberikan treatment. 5 4 4 4 3 3 3 4 3 3 3 3 4 4 4 4 4 4 4 4 2 4 4 4 4 4 3 1 11 21 3 4 3 5 4 4 4 5 4 3 5 4 3 4 5 4 4 3 4 2 2.

4. Data Hasil Pengamatan Motivasi Belajar oleh Observer

  Dengan memberikan kuesioner, siswa diminta untuk menilai motivasi belajarnya sendiri,sedangkan melalui pengamatan motivasi belajar oleh observer siswa dapat mengetahui penilaian motivasi belajarnya dari orang lain. Observer pertama menilai 10 siswa danobserver kedua menilai 11 siswa untuk kelas kontrol dan kelas ekperimen.

a. Pertemuan Pertama 1. Kelas Kontrol

Berikut akan dipaparkan data hasil pengamatan motivasi belajar siswa oleh observer pada pertemuan pertama di kelas kontrol : Tabel 4.16 Data Hasil Pengamatan Motivasi Belajar Oleh Observer Item Observasi 4 4 3 3 3 4 3 5 4 3 3 3 4 3 3 3 3 4 3 4 4 3 4 3 3 3 9 3 3 3 4 2 3 3 3 4 4 3 5 3 3 7 2 3 3 2 3 3 4 3 3 3 4 3 3 8 3 4 3 4 3 3 3 5 3 3 5 3 2 4 3 5 3 3 3 12 4 3 3 3 3 3 4 4 3 2 5 2 3 3 4 4 3 2 2 2 3 3 3 2 4 3 4 3 3 4 3 4 3 3 3 3 5 3 3 3 4 3 3 10 4 3 3 5 3 3 11 3 3 3 4 3 3 3 3 4 3 5 3 3 3 3 3 Siswa 2 2 2 3 3 2 4 4 3 5 2 4 4 3 3 4 3 3 2 2 4 3 3 4 3 3 3 3 3 3 3 3 4 3 3 4 8 14 13 12 11 10 9 7 16 6 5 4 3 2 1 15 17 4 3 3 2 3 4 4 3 5 18 3 3 1 21 20 19 3 4 3 3 4 3 3 3 3 3 3 4 3 3 3 3 5 3 4 4 2 3 3 4 3 3 4 3 4 4 6 3 4 2 2 4 4 2 1 4 4 2 2 2 3 3 3 4 3 3 4 4 3 3 4 4 3 1 4 3 4 3 4 4 4 3 4 4 1 4 4 4 2 4 4 3 3 3 4 3 3 3 3 3 3 4 3 3 3 3 4 3 4 4 3 4 3 3 3 9 3 3 3 4 2 3 3 3 4 2 3 5 3 3 7 2 3 3 2 3 3 4 3 3 3 4 4 3 8 3 2 3 4 3 3 3 5 3 3 3 3 2 4 3 3 3 2 3 5 12 4 3 3 3 3 3 3 4 3 2 3 3 4 3 4 4 3 5 3 3 4 5 3 2 4 2 4 3 5 3 4 3 3 3 3 5 3 3 3 4 3 4 10 4 3 3 5 3 3 5 3 3 3 3 4 3 11 3 3 3 3 5 3 3 3 4 Berikut akan dipaparkan data hasil pengamatan motivasi belajar siswa oleh observer pada pertemuan pertama di kelas eksperimen : 3 4 3 3 3 5 2 4 4 2 4 4 3 3 3 3 3 2 3 4 3 3 3 3 4 4 3 3 3 3 3 4 3 3 3 4 6 12 11 10 9 8 7 5 14 4 3 2 1 Siswa Tabel 4.17 Data Hasil Pengamatan Motivasi Belajar Oleh Observer Item Observasi 13 15 3 2 4 2 4 4 3 3 3 16 4 1 21 20 19 18 17 3 3 2 4 4 4 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 5 3 4 4 4 3 3 2 3 3 4 3 4 4 6 3 4 4 4 4 4 3 3 3 4 3 3 3 3 4 4 4 3 2 2 2 3 3 2 4 3 1 4 4 4 3 4 2 4 4 4 1 1 4 4 4 3 2

b. Pertemuan Kedua 1. Kelas Kontrol

4 4 3 3 3 4 3 5 4 3 3 4 5 3 3 3 3 4 3 4 4 3 4 3 3 4 9 3 3 3 3 2 3 3 3 4 4 3 4 3 2 7 3 3 3 2 3 3 4 3 3 3 5 3 3 8 3 4 3 4 3 3 3 5 3 3 5 3 3 4 3 5 3 3 3 4 12 4 3 3 3 3 3 4 4 3 2 3 3 4 3 3 4 3 2 2 2 4 2 3 3 4 3 3 4 5 3 4 4 3 3 3 4 3 3 5 4 3 3 10 4 3 3 5 3 3 3 5 3 3 3 5 3 11 3 3 4 3 5 3 3 3 3 Berikut akan dipaparkan data hasil pengamatan motivasi belajar siswa oleh observer pada pertemuan kedua di kelas kontrol : Tabel 4.18Data Hasil Pengamatan Motivasi Belajar Oleh Observer 4 2 3 4 2 3 2 5 3 2 4 4 3 3 3 2 3 3 3 4 3 3 4 3 2 3 3 3 3 3 4 4 3 3 4 3 7 13 12 11 10 9 8 6 15 5 4 3 2 1 Item ObservasiSiswa 14 16 2 4 3 3 5 2 3 3 3 17 2 1 21 20 19 18 2 4 4 3 4 3 3 3 3 3 3 4 3 3 3 3 5 3 4 4 2 3 3 3 3 3 4 4 3 4 6 3 4 3 3 4 4 3 4 3 2 2 2 3 3 4 3 4 3 4 4 3 3 1 4 4 3 1 4 3 4 3 4 4 4 4 4 4 1 4 4 4 3 3 4 4 3 3 3 4 3 5 3 3 3 4 5 3 3 3 3 4 3 4 4 3 4 3 3 4 9 3 3 3 3 2 3 3 3 4 3 3 4 3 2 7 3 3 3 2 3 3 4 3 3 3 5 3 3 8 3 2 3 4 3 3 3 5 3 3 5 3 3 4 3 5 3 3 3 4 12 4 3 3 3 3 3 3 4 3 2 3 3 4 3 4 4 3 5 3 4 4 5 3 3 4 3 3 4 5 3 4 4 3 3 3 4 3 3 5 3 3 4 10 4 3 3 5 3 3 3 5 3 3 3 5 3 11 3 3 4 3 4 3 4 3 4 Berikut akan dipaparkan data hasil pengamatan motivasi belajar siswa oleh observer pada pertemuan kedua di kelas eksperimen : 3 2 3 4 3 3 2 4 3 2 4 4 3 3 3 2 3 3 3 4 3 3 3 3 4 4 3 3 3 3 3 4 3 3 4 3 6 12 11 10 9 8 7 5 14 4 3 2 1 Siswa Tabel 4.19 Data Hasil Pengamatan Motivasi Belajar Oleh Observer Item Observasi 13 15 2 4 3 3 3 2 3 3 3 16 4 1 21 20 19 18 17 2 4 4 4 4 4 2 4 4 4 4 4 4 4 4 4 5 3 4 4 4 3 3 4 3 3 4 4 3 4 6 3 4 4 4 4 2 3 4 3 4 3 3 3 3 4 4 4 3 4 4 3 3 1 2 4 3 1 4 4 4 3 3 4 4 4 4 1 2 4 4 4 3 3

c. Pertemuan Ketiga 1. Kelas Kontrol

4 4 3 3 3 4 3 5 4 3 3 4 5 3 3 3 3 4 3 4 4 3 4 3 3 4 9 3 3 3 3 2 3 3 3 4 4 3 4 3 2 7 2 3 3 2 3 3 4 3 3 4 5 3 4 8 3 4 3 4 3 3 3 5 3 3 5 3 3 4 3 5 3 3 3 4 12 4 3 3 3 3 3 4 4 3 3 3 3 4 4 3 5 3 3 3 3 4 3 3 3 4 3 3 4 5 3 4 4 3 3 3 4 3 4 5 4 3 3 10 4 3 3 5 3 3 3 5 3 3 3 5 3 11 3 3 4 3 5 3 3 3 3 Berikut akan dipaparkan data hasil pengamatan motivasi belajar siswa oleh observer pada pertemuan ketiga di kelas kontrol : Tabel 4.20 Data Hasil Pengamatan Motivasi Belajar Oleh Observer Item Observasi 4 2 3 4 3 3 2 5 3 2 4 4 3 3 3 2 3 3 3 4 3 3 4 3 3 3 3 3 3 3 3 4 3 3 4 3 7 13 12 11 10 9 8 6 15 5 4 3 2 1 Siswa 14 16 2 4 3 3 5 2 3 3 3 17 3 1 21 20 19 18 2 4 4 3 4 4 3 3 3 3 3 4 3 3 3 3 5 3 4 4 3 3 4 3 3 3 4 4 3 4 6 3 4 2 3 4 4 3 4 3 2 2 2 3 4 4 3 4 3 4 4 3 3 2 5 4 3 1 4 3 4 3 4 4 4 4 4 4 2 4 4 4 3 3 4 4 3 3 3 4 3 5 3 3 3 4 5 3 3 3 3 4 3 4 4 3 4 3 3 4 9 3 3 3 3 2 3 3 3 4 3 3 4 3 5 7 3 3 3 3 3 3 4 3 3 3 5 3 3 8 3 3 3 4 3 3 3 5 3 3 5 3 3 4 3 5 3 3 3 4 12 4 3 3 3 3 3 3 4 3 3 3 3 4 3 4 4 3 5 3 4 4 5 3 3 4 3 3 4 5 3 4 4 3 3 3 4 3 3 5 3 3 4 10 4 3 3 5 3 3 3 5 3 3 3 5 3 11 4 3 4 3 4 3 4 3 4 Berikut akan dipaparkan data hasil pengamatan motivasi belajar siswa oleh observer pada pertemuan ketiga di kelas eksperimen : 3 2 3 4 3 3 2 4 3 3 4 4 3 4 3 2 3 4 3 4 3 3 3 3 4 4 3 3 3 3 3 4 3 3 4 3 6 12 11 10 9 8 7 5 14 4 3 2 1 Siswa Tabel 4.21 Data Hasil Pengamatan Motivasi Belajar Oleh Observer Item Observasi 13 15 3 4 3 3 3 2 3 3 3 16 4 1 21 20 19 18 17 2 4 4 4 4 4 2 4 4 4 4 4 4 3 4 4 5 3 4 4 4 3 3 4 3 3 4 4 3 4 6 4 4 4 4 4 2 3 4 3 4 3 3 3 3 4 4 4 3 4 4 3 3 3 3 4 3 3 4 4 4 3 3 4 4 4 4 3 2 4 4 4 3 3

C. Analisis Hasil Penelitian

  Keterlaksanaan Model Pembelajaran Setiap Pertemuan Berdasarkan data pada tabel 4.5, tabel 4.6, dan tabel 4.7 maka peneliti menggunakan Microsoft Office Exel 2007 untukmenghitung persentase kerterlaksanaan model pembelajaran Jigsaw II setiap pertemuan dari hasil pengamatan dua observer selama proses pembelajaran pada kelas eksperimen. Setelah itu, dihitung skor keseluruhannya sehingga diperoleh data sebagai berikut: Tabel 4.22 Data Hasil Pengamatan Keterlaksanaan Model Pembelajaran Jigsaw IISkor Keterlaksanaan Persentasi Model Pembelajaran Pertemuan Kriteria Seluruhnya Observer I Observer II (%) Sangat 11 12 95,83 I tinggiSangat II 6 6 85,71 tinggiSangat III 7 7 100 tinggiBerdasarkan tabel diatas, dapat dilihat keterlaksanaan model pembelajaran Jigsaw II pada setiap pertemuan di kelas eksperimen.

b. Keterlaksanaan Model pembelajaran Secara Keseluruhan

Setelah melihat keterlaksanaan model pembelajaran Jigsaw II pada setiap pertemuan, maka dapat diketahui keterlaksanaan modelpembelajaran Jigsaw II pada kelas ekperimen secara keseluruhan yakni :Keterlaksanaan keseluruhan Jadi, keterlaksanaan model pembelajaran Jigsaw II yang dilakukan oleh peneliti adalah dan tergolong sangat tinggi (berdasarkan kriteria keterlaksanaan model pembelajaran pada BAB III).

2. Analisis Hasil Belajar

Setelah instrumen tes (pre-test dan post-test) dinyatakan valid dan reliabel maka peneliti menggunakan instrumen tersebut untukmengetahui hasil belajar siswa kelas kontrol dan kelas eksperimen.

a. Analisis Hasil Belajar berdasarkan Nilai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM)

Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) kelas VIII yang digunakan di SMP Kanisius Sleman adalah 65.

1. Nilai Pre-test

  1 5 Tabel 4.23 Analisis Nilai Pre-test Kelas Kontrol dan Kelas Eksperimen Kelas Kontrol Kelas Eksperimen Nomor Nilai Kriteria Nomor Nilai Kriteria Absen Absen 75 Tuntas 7 90 Tuntas 7 65 Tuntas 6 70 Tuntas 6 73 Tuntas 5 60 Tidak tuntas 50 Tidak tuntas 85 Tuntas 4 Sebelum dilakukan kegiatan pembelajaran, maka peneliti memberikan soal pre-test untuk mengetahuikemampuan awal siswa kelas VIII A maupun VIII B SMPKanisius Sleman. 68 Tidak tuntas 75 Tuntas 73 Tuntas 11 8 78 Tuntas 9 70 Tuntas 9 60 Tidak tuntas 10 60 Tidak tuntas 10 76 Tuntas 11 58 Tidak tuntas 75 Tuntas 15 12 73 Tuntas 12 50 Tidak tuntas 13 90 Tuntas 13 76 Tuntas 14 60 Tidak tuntas 14 71 Tuntas Rata-rata nilai yang diperoleh secara keseluruhan pada masing kelas adalah 69,29 untuk kelas kontrol sedangkan69,05 untuk kelas eksperimen.

2. Nilai Post-test

  76 Tuntas 6 60 Tidak tuntas 6 70 Tuntas 7 50 Tidak tuntas 7 8 5 50 Tidak tuntas 8 70 Tuntas 9 64 Tidak tuntas 9 100 Tuntas 74 Tuntas Setelah selesai melakukan kegiatan pembelajaran selama tiga pertemuan dengan menggunakan modelpembelajaran konvensional untuk kelas kontrol dan model pembelajaran Jigsaw II untuk kelas eksperimen makapeneliti memberikan soal post-test untuk mengetahui hasil belajar siswa kelas VIII SMP Kanisius Sleman. Jika dibandingkan dengan hasil pre-test maka dapat dilihat bahwa setelah diberikan treatment, persentasi ketuntasanpada kelas kontrol mengalami penurunan sebesar 4,76% dan sedangkan persentasi ketuntasan pada kelas eksperimenmengalami peningkatan sebesar 14,29%.

b. Uji Perbedaan Nilai Rata-rata Kelas Kontrol dan Kelas Eksperimen 1. Uji Normalitas

  Hipotesis yang akan digunakan adalahsebagai berikut :Misalkan : : rata-rata nilai pre-test kelas kontrol: rata-rata nilai pre-test kelas eksperimen : tidak ada perbedaan rata-rata nilai pre-test kelas kontrol dan kelas eksperimen: ada perbedaan rata-rata nilai pre-test kelas kontrol dan kelas eksperimen Output spss : Sig (2-tailed) = 0,686 > (0,05) maka test siswa siswa kelas kontrol dan kelas eksperimen. Hipotesis yang akan digunakan adalah sebagai berikut :Misalkan : : rata-rata nilai post-test kelas kontrol: rata-rata nilai post-test kelas eksperimen : rata-rata nilai post-test kelas eksperimen lebih rendah atau sama dengan kelas kontrol: rata-rata nilai post-test kelas eksperimen lebih tinggi dari kelas kontrol Output spss : Sig (2-tailed) = 0,046 < 0,10 maka ditolak.

3. Analisis Data Kuesioner Motivasi Belajar

  6 4 70 Tinggi 5 61 Tinggi 5 73 Tinggi 64 Tinggi 4 6 74 Tinggi 7 65 Tinggi 7 69 Tinggi 68 Tinggi Agar dapat mengetahui motivasi belajar matematika kelas VIII SMP Kanisius Sleman secara individu maupun keseluruhan sebelum dan setelah diberlakukan model pembelajan konvensionaluntuk kelas kontrol dan model pembelajarn Jigsaw II untuk kelas eksperimen, maka perlu dianalisis data kuesioner motivasi belajarsiswa. Peneliti akan menjumlahkan persentasi siswa yang mempunyai motivasi Pada kelas kontrol persentase siswa yang tergolong kriteria tinggi adalah 80,95% sedangkan yang tergolongcukup adalah 19,05%, sehingga hasil penjumlahannya menjadi 100%, itu berarti lebih dari 65%.

2. Setelah Pembelajaran a

  Pada kelas kontrol terdapat 2 siswa (9,52%) yang mempunyai motivasi belajarmatematika sangat tinggi, 14 siswa (66,67%) yang mempunyai motivasi belajar matematika yang tinggi,dan 5 siswa (23,81%) yang mempunyai motivasi belajar matematika cukup. Apabila jumlah siswa yang memiliki kriteria sangat tinggi ditambah dengan jumlah siswa dengan kriteria tinggimencapai 75% (ST + T 75%) maka dapat dikatakan motivasi belajar siswa secara keseluruhan tinggi, tetapi apabila penjumlahan kriteria sangat tinggi dan tinggikurang dari atau sama dengan 75%, maka dilakukan penjumlahan siswa yang memiliki kriteria yang sangattinggi ditambahkan dengan jumlah siswa dengan kriteria tinggi dan kriteria cukup.

2. Uji Perbedaan Rata-rata

  Sebelum Pembelajaran Misalkan := variansi data kuesioner motivasi belajar sebelum pembelajaran kelas kontrol= variansi data kuesioner motivasi belajar sebelum pembelajaran kelas eksperimen = tidak ada perbedaan variansi data kuesioner motivasi belajar sebelum pembelajaran kelaskontrol dan kelas eksperimen ( ) = ada perbedaan variansi data kuesioner motivasi > α (0,05), maka ditolak. Jadi tidak ada perbedaan variansi data kuesioner motivasi belajar sebelum pembelajaran kelaskontrol dan kelas eksperimen atau variansi dari kedua kelas sama.

4. Analisis Data Hasil Pengamatan Motivasi Belajar oleh Observer

  Adanya pengamatan motivasi belajar oleh observer karena terkadang penilaian diri sendiri dengan penilaian orang lainberbeda. Berikut akan dijelaskan hasil pengamatan motivasi belajar siswa oleh observer pada setiap pertemuan secaradeskriptif dan secara inferensial.

a. Analisis Data Hasil Pengamatan Motivasi Belajar oleh Observer Secara Deskriptif 1. Pertemuan Pertama

Perhatikan tabel berikut : Tabel 4.29 Persentase dan Kriteria Hasil Pengamatan Motivasi Belajar oleh Observer Pertemuan Pertama Kelas Kontrol Kelas Eksperimen Nomor P(%) Kriteria Nomor P(%) Kriteria Absen Absen 8 66,67 Tinggi 16 63,33 Tinggi 16 11 85,00 Sangat Tinggi 11 71,67 Tinggi 12 63,33 Tinggi12 65,00 Tinggi 13 63,33 Tinggi13 63,33 Tinggi 14 75,00 Tinggi14 75,00 Tinggi 15 66,67 Tinggi15 66,67 Tinggi 53,33 Cukup 10 60,00 Cukup 10 9 61,67 Tinggi 9 61,67 Tinggi 60,00 Cukup 61,67 Tinggi 1 66,67 Tinggi 1 81,67 Sangat Tinggi 8 5 61,67 Tinggi 5 65,00 Tinggi 6 53,33 Cukup6 60,00 Cukup 7 73,33 Tinggi7 70,00 Tinggi 65,00 Tinggi 4 65,00 Tinggi 4 3 71,67 Tinggi 3 70,00 Tinggi 60,00 Cukup 2 55,00 Cukup 2 17 60,00 Cukup 17 63,33 Tinggi 18 60,00 Cukup18 75,00 Tinggi 19 53,33 Cukup19 63,33 Tinggi 20 78,33 Tinggi20 61,67 Tinggi 21 63,33 Tinggi21 65,00 Tinggi Tabel 4.29 merupakan persentase dari data pengamatan motivasi belajar setiap siswa pada kelas kontrol dan kelas eksperimen selama proses pembelajaran pada pertemuan pertama, yang kemudian dikelompokkanmenjadi beberapa kriteria sesuai dengan kriteria motivasi belajar pada BAB III. Berdasarkan tabel 4.29maka dapat dihitung jumlah siswa yang tergolong pada setiap kriteria seperti pada tabel berikut : Tabel 4.30 Jumlah dan Persentase Data Pengamatan Motivasi Siswa Per Kriteria oleh Observer Kelas Kontrol Kelas EksperimenKriteria Jumlah Persentasi Jumlah Persentasi(%) (%) Siswa SiswaSangat 1 4,76 1 4,76TinggiTinggi 14 66,66 16 76,19Cukup 6 28,58 4 19,04 Berdasarkan kriteria motivasi siswa secara keseluruhan pada BAB III, maka motivasi belajar siswa berdasarkanpengamatan oleh observer pada pertemuan pertama dapat digolongkan sebagai berikut : pada kelas kontroltergolong cukup karena jumlah siswa yang memiliki kriteria sangat tinggi ditambah dengan jumlah siswayang memiliki kriteria tinggi dan kriteria cukup = 100% dan lebih dari 65% (ST+T+C ≥ 65%). Sedangkan pada kelas eksperimen tergolong tinggi, karena jumlah siswa yang memiliki kriteria sangat tinggi ditambahdengan jumlah siswa yang memiliki kriteria tinggi =80,95 % dan lebih dari 75% (ST+T ≥ 75%).

2. Pertemuan Kedua

  Berdasarkan tabel 4.31maka dapat dihitung jumlah siswa yang tergolong pada setiap kriteria seperti pada tabel berikut : Tabel 4.32 Jumlah dan Persentase Data Pengamatan Motivasi Siswa Per Kriteria oleh Observer Kelas Kontrol Kelas EksperimenKriteria Jumlah Persentasi Jumlah Persentasi(%) (%) Siswa SiswaSangat 1 4,76 1 4,76TinggiTinggi 15 71,43 17 80,95Cukup 5 23,81 3 14,29 75% (ST+T ≥ 75%). Berdasarkan tabel 4.33maka dapat dihitung jumlah siswa yang tergolong pada setiap kriteria seperti pada tabel berikut : Tabel 4.34 Jumlah dan Persentase Data Pengamatan Motivasi Siswa Per Kriteria oleh Observer Kelas Kontrol Kelas EksperimenKriteria Jumlah Persentasi Jumlah Persentasi(%) (%) Siswa SiswaSangat 2 9,52 1 4,76TinggiTinggi 15 71,43 18 85,71Cukup 4 19,05 2 9,52 75% (ST+T ≥ 75%).

b. Analisis Data Hasil Pengamatan Motivasi Belajar oleh Observer Secara Inferensial

  Setelah dianalisis secara deskriptif, maka data pengamatan motivasi belajar oleh observer dianalisis secarainferensial dengan menggunakan uji Mann-Whitney. = data pengamatan motivasi belajar oleh observer kelas eksperimen lebih rendah atau sama dengan kelas kontrol ( )= data pengamatan motivasi belajar oleh observer kelas eksperimen lebih tinggi dari kelas kontrol ( ) Output spss : Sig (2-tailed) = 0,442 > gagal 2α (0,10) maka ditolak.

D. Pembahasan 1. Keterlaksanaan Proses Pembelajaran menggunakan Model Pembelajaran Jigsaw II

  Aspek yang tidak terlaksana sama dengan aspek pada pertemuan pertama, yaituguru tidak memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya apabila ada yang tidak dimengerti. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa keterlaksanaan model pembelajaran Jigsaw II dalam proses pembelajaran matematikakelas VIII SMP Kanisius Sleman pada materi sistem persamaan linear dua variabel tergolong sangat tinggi.

2. Efektivitas Model Pembelajaran Jigsaw II a. Efektivitas ditinjau dari Hasil Belajar

  Persentase siswa kelas eksperimen yang tuntas KKM adalah90,47% sementara pada kelas kontrol hanya 57,14%, sehingga dapat dikatakan hasil belajar siswa kelas dengan modelpembelajaran Jigsaw II lebih baik dari kelas dengan model pembelajaran Konvensional. Dengan demikian dapat (0,10) sehingga disimpulkan bahwa hasil belajar kelas eksperimen lebih tinggi dibanding kelas kontrol, atau dapat dikatakan bahwa modelpembelajaran Jigsaw II efektif jika ditinjau dari hasil belajar.

b. Efektivitas ditinjau dari Motivasi Belajar Siswa

  Dengan melihat hasil kuesioner yang diisi oleh siswa, diketahui bahwa motivasi keseluruhan yang dimiliki sebelum diterapkan tailed) = 0,040 < 2α (0,1) maka rata-rata motivasi belajar siswa setelah pembelajaran kelas eksperimen lebih tinggi dari kelas kontrol. Melihat hasil analisis kedua data motivasi siswa diatas, maka dapat dikatakan bahwa model pembelajaran Jigsaw II efektif jika ditinjau dari motivasi belajarsiswa bila datanya diperoleh dari kuesioner yang diisi oleh siswa.

E. Keterbatasan Penelitian

  Hal ini menjadikanpeneliti belum terlalu memahami karakter siswa kelas VIII SMPKanisius Sleman yang mengakibatkan interaksi peneliti sebagai guru dalam kegiatan pembelajaran kurang maksimal. Waktu pelaksanaan proses pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran hanya terbatas 3 pertemuan, sehinggakegiatan pembelajaran seperti terburu-buru, menyebabkan kurang maksimalnya proses keterlaksanaan pembelajaran.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan pembahasan yang telah dilakukan peneliti maka penelitian

  ini dapat disimpulkan: 1. Keterlaksanaan proses pembelajaran matematika pada materi sistem persamaan linear dua variabel dengan menggunakan model pembelajaran Jigsaw II pada siswa kelas VIII SMP Kanisius Sleman tergolong sangat tinggi.

BAB IV dan diperoleh persentase keterlaksanaan sebesar %

  Model pembelajaran Jigsaw II efektif ditinjau dari hasil belajar, namun tidak cukup bukti untuk menyimpulkan bahwa model pembelajaranefektif jika ditinjau dari motivasi belajar siswa kelas VIII SMP KanisiusSleman pada materi sistem persamaan linear dua variabel. Dengan demikian dapat disimpulkan secara keseluruhan bahwa model pembelajaran Jigsaw II efektif ditinjau dari hasil belajarnamun tidak cukup bukti untuk menyimpulkan bahwa model pembelajaran efektif jika ditinjau dari motivasi belajar siswa.

B. Saran

  Bagi guru Menggunakan model pembelajaran Jigsaw II dalam proses pembelajaran matematika, harus memperhatikan alokasi waktu pembelajaran agar semuaaspek pembelajaran dapat terlaksana dengan baik. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Kelas Kontrol RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)Nama Sekolah : SMP Kanisius Sleman Mata Pelajaran : MatematikaKelas : VIII B Semester : 1 (Satu)Pokok Bahasan : Sistem Persamaan Linear Dua Variabel Alokasi Waktu : 1 x 45 menitPertemuan ke : 1 sampai 3 A.

D. Tujuan Pembelajaran 1. Siswa dapat berpikir kritis dalam memecahkan masalah yang diberikan

  Siswa mampu menyebutkan perbedaan persamaan linear dua variabel (PLDV) dan sistem persamaan linear dua variabel (SPLDV). Siswa dapat membuat model matematika dari permasalahan sehari-hari yang berkaitan dengan SPLDV.

F. Metode Pembelajaran Ceramah, tanya jawab, diskusi, dan pemberian tugas

G. Langkah-langkah Kegiatan

L-3

1. Pertemuan Pertama (1x45 menit) Kegiatan Guru Kegiatan Siswa Alokasi Waktu Pendahuluan

  5 menitKegiatan Inti 35 menit Eksplorasi Peserta didik diberikan stimulus berupa pemberian materi oleh guru mengenai perbedaan persamaan linear dua variabel (PLDV) dan sistem persamaan linear dua variabel (SPLDV) Elaborasi Guru memfasilitasi peserta didik melalui pemberian tugas, diskusi, untuk memunculkan gagasan baru baik secara lisan maupun tertulis.  Siswa menyimak penjelasan guru Siswa mengkomunikasikan secara lisan mengenai perbedaan persamaan linear dua variabel (PLDV) dan sistem persamaan linear dua variabel (SPLDV)  Siswa mengerjakan latihan- latihan soal yang diberikan oleh guru.

2. Pertemuan Kedua (2x45 menit) Alokasi Kegiatan Guru Kegiatan Siswa Waktu Pendahuluan

  Elaborasi25 menit  Siswa mengerjakan latihan- Guru memfasilitasi siswa latihan soal yang diberikan melalui pemberian tugas, oleh guru.diskusi sebagai pemahaman materi tentang menentukanhimpunan penyelesaian dari SPLDV dengan metodegrafik, metode substitusi, dan metode eliminasi. Evaluasi15 menit  Siswa bertanya kepada guru Guru memberikan apabila ada materi yang kesempatan kepada siswa belum jelas.untuk bertanya apabila ada yang tidak dimengerti.

3. Pertemuan Ketiga (2x45 menit) Alokasi Kegiatan Guru Kegiatan Siswa Waktu Pendahuluan

  Kegiatan Inti80 menit Eksplorasi 30 menit Siswa mengkomunikasikan  Guru memberikan stimulus secara lisan mengenai cara berupa pemberian materi membuat model mengenai cara membuat matematika dari masalah model matematika dari sehari-hari yang berkaitan masalah sehari-hari yang dengan SPLDV.berkaitan dengan SPLDV. Elaborasi Guru memfasilitasi siswa 35 menit  Siswa mengerjakan latihan- melalui pemberian tugas, latihan soal yang diberikan latihan-latihan soal yang oleh guru.berkaitan dengan masalah SPLDV dalam kehidupansehari-hari, untuk memunculkan gagasan barubaik secara lisan maupun tertulis.

A. Tatag Handaya Kurniawan, S.Pd

  Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Kelas Eksperimen RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)Nama Sekolah : SMP Kanisius Sleman Mata Pelajaran : MatematikaKelas : VIII A Semester : 1 (Satu)Materi Pokok : Sistem Persamaan Linear Dua Variabel Alokasi Waktu : 5x45 menitPertemuan ke : 1 sampai 3 A. Membuat model matematika dari masalah yang berkaitan dengan sistem persamaan linear dua variabel (SPLDV)C.

D. Tujuan Pembelajaran :

  Siswa mampu menyebutkan perbedaan persamaan linear dua variabel (PLDV) dan sistem persamaan linear dua variabel (SPLDV). Siswa dapat membuat model matematika dari permasalahan sehari-hari yang berkaitan dengan SPLDV.

F. Metode Pembelajaran 1. Model : Kooperatif tipe Jigsaw II

G. Kegiatan Pembelajaran

L-9

1. Pertemuan Pertama (2x45 menit) Alokasi Kegiatan Siswa Kegiatan Guru

  Waktu Pendahuluan10 menit Mempersiapkan siswa  Guru mengucapkan salam,  Siswa menjawab salam, 2 menit melihat kesiapan siswa untuk menyiapkan diri untuk belajar, dan memeriksa belajar, dan memberitahu kehadiran siswa. 5 menit Guru membagi siswa menjadi  Siswa membentuk kelompok 4 kelompok asal yang terdiri asal sesuai arahan guru atas 5 siswa Guru menjelaskan materi  Siswa menyimak penjelasan 25 menit pembelajaran secara umum.

2. Pertemuan Kedua (1x45 menit) Alokasi Kegiatan Siswa Kegiatan Guru

  Waktu Pendahuluan7 menit Mempersiapkan siswa  Guru mengucapkan salam,  Siswa menjawab salam, 2 menit melihat kesiapan siswa untuk menyiapkan diri untuk belajar, dan memeriksa belajar, dan memberitahu kehadiran siswa.  Guru menyampaikan agenda pembelajaran pada pertemuan Siswa menjawab salam, menyiapkan diri untuk belajar, dan memberitahu teman yang tidak hadir.

3. Pertemuan Ketiga (2x45 menit) Kegiatan Guru Kegiatan Siswa Alokasi Waktu Pendahuluan

  Penutup8 menit 75 menit Mengorganisasikan siswa dalam kelompok Guru mengarahkan siswa untuk berkumpul dalam kelompok asal.  Guru memberikan latihan soal dalam LKS (Lembar Kerja Siswa) dan memberikan kesempatan bagi siswa untuk berdiskusi dalam kelompok asal untuk menyelesaikan soal-soal pada LKS.

A. Tatag Handaya Kurniawan, S.Pd. Dionisia Retno Irnawati

  Lembar Keterlaksanaan Model Pembelajaran Jigsaw II LEMBAR PENGAMATANKeterlaksanaan Model Pembelajaran Jigsaw II Sekolah/Kelas : Hari/Tanggal :Nama Guru : Nama Observer :Pertemuan : I (Pertama) Waktu : 1 × 45 menit Petunjuk :Beri tanda check list (√) yang tepat pada kolom keterlaksanaan untuk menunjukkan keterlaksanaan Model Pembelajaran Jigsaw II dalam proses pembelajaran matematika. Kegiatan Inti Guru mengarahkan siswa untuk berkumpul dalam kelompok Mengorganisasikan asal.siswa dalam Guru memberikan kesempatan kepada kelompok asal untuk Guru memberikan latihan soal dalam LKS (Lembar Kerja Siswa) dan memberikan kesempatan bagi siswa untukberdiskusi dalam kelompok asal untuk menyelesaikan soal-soal pada LKS.

1. Tentukan nilai x dari persamaan linear satu variabel berikut ini:

  Gambarkan persamaan garis pada diagram cartesius dari persamaan berikut!3 + = 6 a. Anna membeli 5 buku dan 3 pensil seharga Rp.

1. Mendeskripsikan konsep persamaan linear dua variabel dan sistem persamaan linier dua variabel

  2 Siswa memahami Siswa mampu menentukan Pada sebuah toko alat tulis , 2 bentuk aljabar dan nilai himpunan penyelesaian Litta dan Dewi membelipenalaran dalam dari sistem persamaan linear buku tulis dan buku berpetak kehidupan sehari- dua variabel. Pada waktu yang sama Sinta juga inginmembeli 2 buku tulis dan 2 3 menyelesaikan menyelesaian model Bangsa terdapat 42 siswa.permasalahan matematika dari masalah Diketahui banyak siswa laki- nyata yang terkait nyata yang berkaitan dengan laki empat kurangnyadengan sistem persamaan linear dua daripada siswa perempuan.persamaan linear variabel.

1. Tentukan himpunan penyelesaian dari persamaan !

  Pada sebuah toko alat tulis , Litta dan Dewi membeli buku tulis dan buku berpetak dengan merk yang sama. Litta membeli 6 buku tulis dan 10 buku berpetak dengan.84.000,00harga , sedangkan Dewi membeli 10 buku tulis dan 5 buku berpetak .70.000,00dengan harga .

Dokumen baru

Download (357 Halaman)
Gratis

Tags

Dokumen yang terkait

Analisa pengaruh hasil belajar matematika terhadap kemampuan menyelesaikan soal-soal fisika: Studi pengaruh hasil belajar pokok bahasan getaran pada siswa kelas 2 semester III di SLTP Negeri 3 Jember tahun ajaran 2002/200
0
13
80
Hubungan antara persepsi dan motivasi belajar fisika dengan hasil belajar fisika pokok bahasan energi siswa kelas 1 cawu III SLTP Negeri 3 Jember tahun ajaran 2001/2002
0
4
69
Hubungan motivasi belajar dengan prestasi belajar siswa di SMK dua Mei Ciputat
0
15
86
Perbedaan hasil belajar siswa yang diajarkan dengan model pembelajaran project based learning (pjbl) dan konvensional pada pokok bahasan lingkaran kelas viii smp n 3 Tanjung Morawa tahun ajaran 2017-2018 - Repository UIN Sumatera Utara
0
0
162
BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Belajar dan Pembelajaran - Perbandingan hasil belajar dengan model pembelajaran kooperatif tipe make a match dan model pembelajaran kooperatif pada materi gaya kelas VIII semester I di MTs Negeri 1 Model Palangka Raya tahun ajaran
0
0
23
Penerapan model pembelajaran berbasis masalah terhadap keterampilan komunikasi sains dan hasil belajar siswa kelas X SMA Muhammadiyah 1 Palangkaraya pada pokok bahasan gerak lurus semester 1 tahun ajaran 2016/2017 - Digital Library IAIN Palangka Raya
0
0
10
Penerapan model pembelajaran berbasis masalah terhadap keterampilan komunikasi sains dan hasil belajar siswa kelas X SMA Muhammadiyah 1 Palangkaraya pada pokok bahasan gerak lurus semester 1 tahun ajaran 2016/2017 - Digital Library IAIN Palangka Raya
0
0
28
Penerapan model pembelajaran berbasis masalah terhadap keterampilan komunikasi sains dan hasil belajar siswa kelas X SMA Muhammadiyah 1 Palangkaraya pada pokok bahasan gerak lurus semester 1 tahun ajaran 2016/2017 - Digital Library IAIN Palangka Raya
0
0
25
Penerapan model pembelajaran berbasis masalah terhadap keterampilan komunikasi sains dan hasil belajar siswa kelas X SMA Muhammadiyah 1 Palangkaraya pada pokok bahasan gerak lurus semester 1 tahun ajaran 2016/2017 - Digital Library IAIN Palangka Raya
0
0
29
Meningkatkan kemampuan memecahkan masalah dan hasil belajar siswa melalui pokok bahasan pesawat sederhana di SMP Negeri-4 kelas VIII semester II Palangka Raya tahun ajaran 2015/2016 - Digital Library IAIN Palangka Raya
1
1
185
Penerapan model pembelajaran berbasis masalah dan model pembelajaran inkuiri terbimbing pada materi pokok tekanan kelas VIII semester II MTsN 2 Palangka Raya tahun ajaran 2014/2015 - Digital Library IAIN Palangka Raya
0
0
12
Penerapan model pembelajaran berbasis masalah dan model pembelajaran inkuiri terbimbing pada materi pokok tekanan kelas VIII semester II MTsN 2 Palangka Raya tahun ajaran 2014/2015 - Digital Library IAIN Palangka Raya
0
0
29
Penerapan model pembelajaran berbasis masalah dan model pembelajaran inkuiri terbimbing pada materi pokok tekanan kelas VIII semester II MTsN 2 Palangka Raya tahun ajaran 2014/2015 - Digital Library IAIN Palangka Raya
1
1
21
Penerapan model pembelajaran berbasis masalah dan model pembelajaran inkuiri terbimbing pada materi pokok tekanan kelas VIII semester II MTsN 2 Palangka Raya tahun ajaran 2014/2015 - Digital Library IAIN Palangka Raya
0
1
48
Perbandingan aktivitas dan hasil belajar siswa antara model kooperatif tipe Jigsaw dan tipe Stad pada pokok bahasan usaha dan energi di SMP Muhammadiyah Palangka Raya - Digital Library IAIN Palangka Raya
0
0
89
Show more