Pengaruh rasio polivinil pirolidon K30 Kitosan dalam sistem dispersi padat ekstrak temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) terhadap disolusi kurkumin

Gratis

1
2
58
2 years ago
Preview
Full text

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING

HALAMAN PERSEMBAHAN

HALAMAN PENGESAHAN Karya ini dipersembahkan untuk: Tuhan Yesus Kristus yang selalu memberikan kekuatan untukkuPapa Alm. Benedictus Syaiful Agung Mama Caecilia Sri Haryanti, Papa Andreas Dharsono Kakak Fransiskus Xaverius Denny PradanaSahabat-sahabat Dan Alamamater tercinta Universitas Sanata Dharma

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI

  PRAKATA Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkat, rahmat, kasih karunia dan penyertaan-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikanpenelitian dan skripsi yang berjudul “PENGARUH RASIO POLIVINILPIROLIDON K30 / KITOSAN DALAM SISTEM DISPERSI PADAT EKSTRAK TEMULAWAK ( Curcuma xanthorrhiza Roxb.) TERHADAPDISOLUSI KURKUMIN ” dengan baik. selaku dosen penguji skripsi yang telah memberikan saran dan masukan yang membangun untuk penelitian ini.

9. Mama Caecilia Sri Haryanti, Papa Alm. Benedictus Syaiful Agung

  Formula dispersi padat dan campuran fisik ⁄ ) Formula ( Bahan A B C D E Ekstrak Temulawak 5 5 5 5 5 Kitosan 50 43,75 37,5 32,25 25 25 32,25 37,5 43,75 50 PVP K30 Rasio kitosan:PVP K30 2:1 1,3:1 1:1 0,7:1 0,5:1 Pembuatan Dispersi Padat Ekstrak Temulawak-PVP K30-Kitosan Ekstrak temulawak dilarutkan dengan etanol menggunakan magnetic stirrer kemudian dicampur dengan PVP K30 yang telah dilarutkan dalam etanol. Hasil yang didapat disaring dengan kertas Uji Drug Load Dispersi padat dan campuran fisik ditimbang seksama dan dilarutkan dengan metanol p.a hingga diperoleh konsentrasi 1 mg/mL dan dilakukan 3 kalireplikasi.

HASIL DAN PEMBAHASAN

  Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh rasio PVP K30 dan kitosan dalam sistem dispersi padat (DP) terhadap disolusi kurkumin pada ekstraktemulawak. Kurva hubungan antara konsentrasi dengan absorbansi (n=3) Akurasi pada metode analisis menunjukkan kedekatan antara nilai yang didapat dari metode tersebut dengan nilai sebenarnya (ICH, 2014).

DP CF

  Perbandingan hasil kelarutan dispersi padat dan campuran fisik (n=3), Kelarutan yang dihasilkan pada formula DP A meningkat 9,8 kali dibandingkan dengan kelarutan CF A, kelarutan DP B meningkat 10 kali dibandingkan denganCF B, kelarutan DP C meningkat 7 kali dibandingkan dengan CF C, kelarutan DPD meningkat 5,9 kali dibandingkan dengan CF D, dan kelarutan DP E meningkat 5,1 kali dibandingkan dengan CF E (Tabel III). Pembuatan DP memiliki nilai DE 180 yang lebih tinggi bila dibandingkan CF karena DP dapat mengecilkan ukuran partikel,meningkatkan pembasahan dan kemampuan dispersi, mempertahankan bentuk Hasil DE antar formula DP juga mengalami perbedaan, di mana DP A 180 memiliki DE 180 yang terendah sedangkan DP E memiliki DE 180 yang tertinggi.

DAFTAR PUSTAKA

  Summary output regression statistics untuk kurva baku buffer fosfaty = 0.1307x + 0.0015 R² = 0.9963 R = 0.9981 0.2 0.4 0.6 0.8 1 2 4 6 8 Absorbansi Konsentrasi (µg/mL) Kurva Baku Kurkumin dalam Medium Disolusi Lampiran 8. Uji normalitas hasil kelarutan DP dengan CF (shapiro-wilk) Data yang didapat tidak terdistribusi normal, maka dilanjutkan dengan uji mann-whitney b.

f. Signifikansi hasil uji kelarutan DP E dengan CF E (mann-whitney) g. Uji normalitas hasil uji kelarutan antar formula DP (shapiro-wilk)

  Signifikansi hasil uji kelarutan antar formula DP (Kruskal-Wallis)Levene Test menunjukkan p value 0,027, artinya data tidak homogen karena p value < 0,05. Contoh hasil uji disolusi DP dan CF a.

a. DP dibandingkan dengan CF (shapiro-wilk) 180 Normalitas hasil DE

b. Signifikansi hasil DE 180 DP A dengan CF A (mann-whitney) c. Signifikansi hasil DE 180 DP B dengan CF B (mann-whitney)

d. Signifikansi hasil DE 180 DP C dengan CF C (mann-whitney) e. Signifikansi hasil DE 180 DP D dengan CF D (mann-whitney)

f. Signifikansi hasil DE 180 DP E dengan CF E (mann-whitney) g. Uji normalitas hasil DE 180 antar DP (shapiro-wilk)

Data yang didapat tidak terdistribusi normal, maka dilanjutkan dengan uji mann-whitney Data yang didapat tidak terdistribusi normal, maka dilanjutkan dengan uji kruskal-wallis

h. Signifikansi hasil DE 180 antar DP (kruskal-wallis) Lampiran 18. Hasil pembuatan DP dan CF 1. Hasil dispersi padat 2. Hasil campuran fisik

  Dokumentasi uji drug loadLampiran 21. Dokumentasi uji disolusi Lampiran 22.

BIOGRAFI PENULIS

  Selama masa studi, penulis cukup aktif dalam mengikuti berbagai kepanitiaan antara lain menjadi anggota divisipublikasi, dekorasi dan dokumentasi pada Panitia Pelepasan Wisuda (2013) danPanitia 3 on 3 Fakultas Farmasi (2016), serta koordinator pada divisi yang sama dalam Pantia Pelepasan Wisuda (2014) dan Panitia Cara Belajar Ibu Aktif (2014). Penulis pernah mendapatkan dana hibah dari RISTEKDIKTI dalam pengabdian masyarakat dengan judul “KALI CODE (Edukasiμ Kenali, Cegah, dan ObatiPenyakit Degeneratif pada Lansia di Pedukuhan Semagung, Kalibawang, Kulon Progo, D.

Dokumen baru

Dokumen yang terkait

Pengaruh rasio ekstrak temulawak / polietilen glikol (PEG) 4000 dalam sistem dispersi padat dengan metode pelelehan-pelarutan terhadap disolusi kurkumin.
0
2
51
Pengaruh rasio polivinil pirolidon K30 / Kitosan dalam sistem dispersi padat ekstrak temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) terhadap disolusi kurkumin.
2
7
60
Pengaruh rasio poloxamer 407/Kitosan dalam sistem dispersi padat ekstrak temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb) terhadap disolusi kurkumin.
0
2
64
Pengaruh formulasi ekstrak kunyit dalam sistem dispersi padat manitol terhadap disolusi kurkumin.
0
3
46
Pengaruh rasio ekstrak temulawak/Polietilen Glikol (PEG) 6000 dalam sistem dispersi padat dengan metode pelelehan-pelarutan terhadap disolusi kurkumin.
2
3
57
Pengaruh rasio ekstrak temulawak polietilen glikol (PEG) 4000 dalam sistem dispersi padat dengan metode pelelehan pelarutan terhadap disolusi kurkumin
0
0
49
Pengaruh proporsi Drug Load terhadap profil disolusi dispersi padat kurkumin ekstrak temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) dalam Polyvinyl Pyrrolidone (PVP) dengan spray drying.
2
6
96
Pengaruh proporsi Drug Load terhadap profil disolusi dispersi padat kurkumin ekstrak temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) dalam Hydroxypropyl Methycellulose (HPMC) dengan spray drying.
0
2
87
Pengaruh rasio poloxamer 407 Kitosan dalam sistem dispersi padat ekstrak temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb) terhadap disolusi kurkumin
2
2
62
Pengaruh proporsi Drug Load terhadap profil disolusi dispersi padat kurkumin ekstrak temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) dalam polivinil pirolidon dengan vaccum rotary evaporator.
1
3
90
Pengaruh proporsi Drug Load terhadap profil disolusi dispersi padat kurkumin ekstrak temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) dalam Hydroxypropyl Methycellulose (HPMC) dengan spray drying
1
3
85
Pengaruh proporsi Drug Load terhadap profil disolusi dispersi padat kurkumin ekstrak temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) dalam Polyvinyl Pyrrolidone (PVP) dengan spray drying
0
2
94
Pengaruh rasio ekstrak temulawak Polietilen Glikol (PEG) 6000 dalam sistem dispersi padat dengan metode pelelehan pelarutan terhadap disolusi kurkumin
0
0
55
PENGARUH POLIVINIL PIROLIDON TERHADAP LAJU DISOLUSI FUROSEMID DALAM SISTEM DISPERSI PADAT
0
0
13
Pengaruh proporsi Drug Load terhadap profil disolusi dispersi padat kurkumin ekstrak temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) dalam polivinil pirolidon dengan vaccum rotary evaporator - USD Repository
0
0
88
Show more