Tanggapan Kritis dari Buku Prof. Dr. Jim

Gratis

0
0
8
1 year ago
Preview
Full text

  Nama : Nabila Farahdila Putri NBI: 1311700094 Fakultas / Jurusan : Fakultas Hukum Kelas / Mata Kuliah : Kelas B / Hukum Tata Negara Dosen Pembimbing : Tomy Michael, S.H., M.H

  

“PERKEMBANGAN-PERKEMBANGAN BARU TENTANG KONSTITUSI DAN

KONSTITUSIONALISME DALAM TEORI DAN PRAKTIK.” Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, SH.

A. Terminologi dan Pengertian

  Konstitusi memuat nilai-nilai dan norma dasar yang mengatur untuk mencapai tujuan bersama dalam organisasi. Brian Thompson menyederhanakan pengertian konstitusi dapat dipakai berbagai macam organisasi negara yang berdaulat, organisasi internasional,organisasi-organisasi perusahaan, serta asosiasi-asosiasi berbadan hukum ataupun organisasi –organisasi profesi, organisasi social dan kemasyarakatan. Di lingkungan organisasi-organisasi kemasyarakatan & partai politik di Indonesia dikenal Anggaran Dasar.

  Tetapi pada umumnya Konstitusi menggambarkan keseluruhan system suatu negara yang membentuk kumpulan peraturan baik tertulis maupun tidak tertulis yang mengatur secara mengikat dan memerintah dalam pemerintahan suatu negara.

  Bentuk perumusannya, dapat (i) terdokumentasi secara tertulis dalam suatu naskah hukum berupa Undang Undang Dasar (ii) tertulis secara tidak terdokumentasi dalam satu kesatuan naskah tetapi tercatat dalam banyak naskah sejarah, ataupun (iii) tidak tertulis sama sekali melainkan hanya tumbuh dan ditaati dalam praktik penyelenggaraan kekuasaan negara.

  Penyelenggaran Kekuasaan dapat berupa berbagai macam organisasi. Organisasi dapat dibedakan dalam 3 kelompok besar, yaitu Organisasi Negara (ORNEG), Organisasi Masyarakat (ORMAS), dan Organisasi Bisnis (ORBIS).

  Dalam praktik yang lazim, istilah konstitusi itu adalah dalam pengertian konstitusi organisasi negara. Jika susunan negara itu berbentuk Negara Kesatuan, maka konstitusinya hanya ada satu sebagai cermin adanya kesatuan badan hukum negara kesatuan itu. Jadi Negara Kesatuan yaitu Negara yang bersusun tunggal artinya bahwa dalam suatu negara terdapat pemerintah yang berdaulat yaitu pemerintah pusat. Dan hanya memiliki satu konstitusi saja yaitu konstitusi pemerintah pusat.

  Akan tetapi, jika susunan negara itu berbentuk federal yang terdiri atas beberapa negara bagian, maka setiap egara bagian itu merupakan badan hukum secara sendiri-sendiri disamping konstitusi federal yang berlaku menyeluruh. Jadi Konstitusi federal yang mengatur batas-batas kewenangan pusat (federal) sedangkan sisanya dianggap sebagai milik daerah (negara bagian).

  Dalam konstitusi berkenaan dengan adanya kesepakatan bersama, J.J Rousseau menyebutkan sebagai kontrak social atau perjanjian bersama, consensus untuk dan dalam kehidupan bersama ataupun consensus kebangsaan yang menjadi dasar dan daya ikat konstitusi itu kepada warga negara dan subjek hukum dalam lalu lintas di negara yang bersangkutan. Jadi warga negara atau subjek hukum harus mematuhi konstitusi sesuai kesepakatan untuk mencapai tujuan dan ketertiban bersama di negara yang bersangkutan.

  Konstitusi tertulis selalu memuat kandungan nilai dan norma yang mengatur perikehidupan politik bernegara, dinamika kehidupan bermasyarakat dan bahkan mekanisme perekonomian.

  Dalam konstitusi bernegara biasanya berisi keinginan dan tujuan bersama suatu bangsa dan juga memuat system serta struktur lembaga negara dan hubungan antar organ- organ negara satu dengan yang lain. Dan juga hubungan organ-organ negara dengan warga negara.

  Terdapat perkembangan pada zaman sekarang yaitu Hak Asasi Manusia menjadi materi muatan konstitusi modern yang menyebabkan norma-norma konstitusi meluas ke banyak bidang dalam kehidupan bermasyarakat untuk mewadahi kebutuhan-kebutuhan dan ide-ide atau kesepakatan mendasar yang mengenai kebijakan-kebijakan utama dalam pembangunan, muatan konstitusi modern pun berkembang tidak hanya pada soal-soal politik, tetapi juga soal-soal ekonomi, lingkungan hidup,dll.

  Karena perkembangan itu Jimly menulis dan menerbitkan buku dengan judul “Greer, Constitution: Nuansa Hijau UUD 1945” (2009) yang menggambarkan perkembangan gagasan konstitusionalisme kebijakan lingkungan hidup, buku “Konstitusi Ekonomi” (2010) membahas haluan negara di bidang perekonomian, serta aspek-aspek mengenai prinsip pengarah bagi kebijakan ekonomi yang hendak dkembangkan secara konstitusional.

  Konstitusi Sosial dalam bukunya Jimly menggambarkan konstitusi masyarakat madani dan konstitusi yang memuat haluan-haluan kebijakan social yang bertujuan untuk mengembangkan kesejahteraan yang adil dan merata atau berkeadilan social.

  Cita-cita social UUD 1945 tercermin dalam Pembukaan UUD dan dalam batang tubuhnya. “Kesejahteraan Sosial” menjadi judul bab tersendiri yaitu Bab XIV UUD 1945. Setelah Perubahan ke-IV tahun 2002, judul Bab XIV tentang Perekonomian Nasional dan Kesejahteraan Sosial.

  Kita semua pasti menghendaki bahwa agar UUD 1945 merupakan konstitusi yang cita-cita bersama. Konstitusi mengikat lembaga negara dan warga negara. Maka lembaga negara dan warga negara harus menjadi pelaksana konstitusi sesuai dengan hak dan kewajiban yang sebagaimana diatur dalam UUD 1945.

B. Perkembangan Dari Konstitusi Politik Ke Ekonomi Dan Sosial

  Semula, ide konstitusi memang berawal dari kebutuhan untuk mengatur hal-hal yang berkeaan dengan kegiatan bernegara saja, sehingga wajar jika pada awalnya konstitusi hanya dipahami sebagai persoalan politik saja.

  Pertama kali, konstitusi Amerika Serikat ditulis, istilah yang dipakai adalah “Articles

  

of Confederation ”, bukan “Constitution”. Konstitusi ini hanya berkenaan dengan organisasi

  negara dan prinsip-prinsip hubungan antara negara dan warga negara. Didalamnya tidak termuat artikel tentang perekonomian.

  Perbedaan agama dan kebudayaan di AS dapat diatasi dengan penyatuan kepentingan dan ekonomi bersama daripada oleh kesamaan agama. Jadi kepentingan politik yang berbasis pada kepentingan ekonomi merupakan kecenderungan yang dominan dalam keanekaragaman politik AS.

  Dalam proses politik masyarakat Amerika sejak awal sudah terbelah menjadi dua kelompok kepentingan, yaitu kaum buruh dan kaum produsen an pengusaha, terlepas dari keyakinan agama mereka. Wajar jika berkembang pengertian bahwa yang perlu diurus dan diatur oleh negara bukanlah persoalan ekonomi melainkan persoalan politik.

  Amerika Serikat memiliki berbagai julukan dan klaim yang melekat dalam dirinya. Bukan saja diklaim sebagai negara kampium demokrasi dan HAM, negeri Paman Sam ini juga dianggap menjadi basis inspirasi atas konsepsi atau prototipe HAM dan demokrasi di dunia. Demikian juga terhadap konstitusi yang dimilikinya, konstitusi Amerika Serikat dianggap menjadi bagian dari konstitusi tertulis yang cukup tua, keberadaannya telah menjadi model bagi konstitusi negara-negara lain di dunia.

  Istilah konstitusi terus dipakai dalam pengertian konstitusi politik (political

  

constitusion ). Konstitusi dalam pengertian politik ini banyak dijadikan model berbagai

  negara di dunia dalam menyelenggarakan system kekuasaan negara dalam satu dokumen yaitu undang undang sebagai naskah tertulis.

  Semenjak berkembangnya kebutuhan, pemikiran-pemikiran tentang ekonomi konstitusi juga terus berkembang dalam praktik. Semenjak itu di Amerika Serikat sndiri mulai muncul pandangan-pandangan baru yang mencerminkan kebutuhan untuk menjadikan konstitusi sebagai sumber rujukan dalam perumusan-perumuan kebijakan perekonomian.

  Dalam berbagai putusan Mahkamah Agung Amerika Serikat mulai muncul upaya untuk menafsirkan pasal- pasal konstitusi dari segi perkonomian atau “economic interpretation

  of the constitusion

  ” . Dan para ekonom semakin banyak mengembangkan pandangan yang Banyak sarjana ekonomi yang membahas tentang ekonomi konstitusi “constitutional

  economy

  ” dan “constitutional economics” tanpa menyebut istilah konstitusi ekonomi. Dan Russel Hardin dalam tulisannya menggunakan istilah “Constitutional Political Economy”. Sehingga kenyataan ini mendorong Jimly untuk menulis buku tentang ini yang berjudul “Konstitusi Ekonomi” yang terbit pertama kali pada tahun 2009.

  Mulai muncul kesadaran baru mengenai pentingnya memahami aspek-aspek perekonomian dari system norma yang terkandung dalam rumusan-rumusan konstitusi. Menurut saya, tujuan konstitusi ekonomi untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi dan keselamatan ekonomi warga negara. Jaminan peningkatan kesejahteraan ekonomi itu dilakukan dengan memastikan pengakuan dan jaminan hak ekonomi dalam konstitusi. Pemuatan ketentuan ekonomi dalam hukum dasar tersebut memberikan jaminan atas kebebasan individu, dan sekaligus menentukan pembatasan atas kebebasan itu dalam bidang ekonomi, sehingga dapat dikatakan mempunyai sumbangan penting bagi terbentuknya sistem perekonomian secara keseluruhan

  Dan teori-teori konstitusi di masa mendatang harus lebih luas, mencakup tidak hanya hukum positif tetapi juga berbagai ilmu pengetahuan universal, mencakup tidak hanya “constitutional law” tetapi juga “constitutional ethics”. Dan mencakup tidak saja berkenaan dengan studi ilmu hukum tetapi studi politik dan ekonomi.

  Sekarang, di samping berbagai istilah dan konsepsi-konsepsi tentang konstitusi politik, konstitusi ekonomi, dan konstitusi hukum, mucul pula pengembangan dimensi- dimensi social dari konstitusi.

  Sekarang ini, konsep konstitusi social justru sangat penting dan dibutuhkan oleh zaman. Karena untuk menjawab berbagai tantangan perkembangan masa kini. Pertama, hubungan –hubungan antar pelaku dalam perspektif relasi antar kekuasan (power relational

  

perspectives ) yang ada selama ini hanya terpusat pada hubungan-hubungan yang bersifat

  vertical, yaitu dalam hubungan antara penguasa negara (the ruler) dengan rakyat yang dikuasai (the ruled)

C. Perkembangan Dari Hukum Konstitusi Ke Etika Konstitusi

1. Konstitusi Sebagai Hukum Tertinggi

  Selama ini, Undang-Undang Dasar dalam pengertian konstitusi tertulis biasa dipahami dalam konstruksi hukum dan politik. Konstitusi dikonstruksikan sebagai kontrak social atau kesepakatan tertinggi yang memuat system norma hukum tertinggi.

  Konstitusi sebagai sumber hukum tertinggi memiliki sifat, fungsi dan kedudukan yang sangat kuat. Produk hukum yang lain tidak boleh bertentangan dengan konstitusi dan jika bertentangan dengan.konstitusi harus dibatalkan (lex superior derogate legi inferior) melalui proses uji material (judicial review). Artinya seluruh peraturan yang berkedudukan

  Mulai dari awal munculnya gagasan nomokrasi dan demokrasi. Nomokrasi berasal dari “nomos” (norma) dan “kratien” atau “kratos” (kekuasaan) yang berarti kekuasaan oleh nilai atau norma versus demokrasi dari berasal dari kata “demos” dan “kratien” atau “kratos” yang berarti kekuasaan oleh rakyat.

  Di dalam konsepsi tentang kekuasaan tertinggi, kita mengenal konsep Kedaulatan Tuhan (Teokrasi), Kedaulatan Rakyat (Demokrasi), Kedaulatan Raja/Ratu (Monarki), dan Kedaulatan Hukum (Nomokrasi), dan juga Kedaulatan Lingkungan Hidup (Ekokrasi).

  Prinsip “the rule of law, not of man” atau kekuasaan oleh nilai atau norma aturan ini pula yang disebut dengan prinsip supremasi hukum yang menjadi prasyarat utama suatu negara yang hendak dinilai sebagai negara hukum. Yang tertinggi bukanlah tokoh pemimpin tetapi system aturan hukum. Supremasi hukum memiliki gambaran suatu upaya untuk memberikan jaminan terciptanya keadilan. Keadilan yang dimaksud adalah keadilan yang netral, yang artinya setiap orang memiliki kedudukan dan perlakuan yang sama tanpa terkecuali.

  Dalam Islam juga ada prinsip Al- Quran yang menyatakan “La tho’ata li makhluqin fi

  

ma’syiati al-khaliq”, tidak ada ketaatan di antara sesame makhluk dalam maksyiat kepada

Allah.

  Konstitusi tidak hanya terbatas pada pengertian hukum konstitusi (constitutional law), tetapi juga etika konstitusi (constitutional ethics).

2. Tentang Etika Konstitusi (Constitutional Ethics)

  “Nomoi” dalam pandangan Plato masih tercampur baur antara pengertian - pengertian tentang norma hukum, norma etika, dan norma agama seperti yang dipahami di zaman sekarang.

  Dengan semakin meluasnya pengaruh paham sekularisme dan kemudia paham positivism, pengertian norma hukum itu menjadi semakin sempit kandungan maknanya, menjadi sekedar hukum positif yang dalam tradisi “civil law” tercermin rumusan peraturan perundang-undangan tertulis. Tatkala, system norma etika dan agama diperbincangkan, para ahli hukum menjelaskan bahwa etika dan agama tidak boleh bertentangan dengan hukum, karena hukum adalah diatas segala-galanya.

  Tetapi menurut pandangan saya, hukum tidak boleh bertentangan dengan agama. Mengapa? Karena Norma agama lah yang paling tinggi lalu norma etika dan norma agama adalah sekumpulan kaidah atau peraturan hidup manusia yang sumbernya dari Tuhan Yang Maha Esa. Maka norma hukum lah yang mempunyai posisi yang lebih rendah dan tidak boleh bertentangan dengan Norma Agama dan Norma Etika.

  Namun, dalam perkembangan di zaman sekarang hubungan antara hukum dan etika serta agama dalam kebutuhan praktik saling bergantung dan membutuhkan hubungan komplementer yang bersifat sinergis antara satu dengan yang lain.

  Earl Warren, Ketua Mahkamah Agung Amerika Serikat (1953-1969) pernah berkata, “Law floats in a sea of ethics”, hukum mengapung diatas samudera etika. Jika kehidupan social tidak beretika, mana mungkin kita menegakkan hukum yang berkeadilan. Karena itu, sesuatu yang nelanggar hukum, meskipun sesuatu yang melanggar hukum dapat dikatakan juga melanggar etika.

  Agama adalah sumber etika, etika adalah hukum. Jika hukum adalah jasad, maka etika adalah rohnya yang betintikan nilai-nilai agama. Maka etika dan agama adalah dua hal yang tidak harus dipertentangkan, Karena

  Agama membutuhkan etika untuk secara kritis melihat tindakan moral yang mungkin tidak rasional. Sedangkan etika membutuhkan agama agar manusia tidak mengabaikan kepekaan rasa dalam dirinya.

  Karena itu, studi konstitusi harus dikembangkan tidak hanya mempelajari soal-soal yang berkenaan dengan hukum, tetapi juga etika konstitusi yang berkaitan erat dengan pemahaman mengenai roh atau “the spirit of the constitution”. Hal ini sama dapat kita bandingkan dengan hubungan antara Pancasila dan UUD 1945. Pancasila adalah roh yang terkandung dalam teks UUD sebagai konstitusi tertulis. Dan karena itu dalam memahami UUD 1945 sebagai jasadnya, roh atau jiwa itu tidak dapat diabaikan. Karena terdapat nilai- nilai yang hidup dalam UUD 1945 adalah roh atau jiwa kebangsaan kita.

  Sekarang, dengan adanya kebutuhan baru lagi yaitu penting menampung juga pengertian tentang etika konstitusi. Maka yang terkandung dalam teks-teks hukum dan konstitusi juga harus dipandang telah memuat system nilai yang mendasari pengertian- pengertian tentang norma hukum dan etika.

D. Pancasila Dan Etika Kehidupan Berbangsa

  Indonesia merupakan negara majemuk yang terdiri atas berbagai suku, agama, dan budaya sehingga dalam memperkembangkan praktik demokrasi modern kerapkali harus menghadap fenomena pertentangan-pertentangan politik dan ketidaksamaan pemahaman mengenai landasan filosofi bangsa yaitu Pancasila dan UUD 1945 dan tujuan utama dalam berbangsa dan bernegara.

  Sila-sila Pancasila adalah merupakan suatu sistem nilai, artinya setiap sila memang mempunyai nilai akan tetapi sila saling berhubungan, saling ketergantungan secara sistematik dan diantara nilai satu sila dengan sila lainnya memiliki tingkatan. Oleh karena itu dalam kaitannya dengan nilai-nilai etika yang terkandung dalam pancasila merupakan sekumpulan nilai yang diangkat dari prinsip nilai yang hidup dan berkembang dalam masyarakat. Nilai-nilai tersebut berupa nilai religious, nilai adat istiadat, kebudayaan dan setelah disahkan menjadi dasar Negara terkandung di dalamnya nilai kenegaraan.

  Artinya esensi nilai-nilai pancasila adalah universal yaitu ketuhanan, kemanusiaan,

persatuan, kerakyatan, dan keadilan. Sehingga memungkinkan dapat diterapkan pada

Negara.

  Nilai-nilai pancasila itu bagi bangsa Indonesia menjadi landasan, dasar serta motivasi atas segala perbuatan baik dalam kehidupan sehari-hari, maupun dalam kehidupan kenegaraan. Dengan kata lain bahwa nilai-nilai pancasila merupakan das sollen atau cita-cita tentang kebaikan yang harus diwujudkan menjadi suatu kenyataan atau das sein.

  Di era sekarang sekarang ini, tampaknya kebutuhan akan norma etika untuk kehidupan berbangsa dan bernegara masih perlu bahkan amat penting untuk ditetapkan. Hal ini terwujud dengan keluarnya ketetapan MPR No. VI/MPR/2001 tentang etika kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat yang merupakan penjabaran nilai-nilai Pancasila sebagai pedoman dalam berpikir, bersikap dan bertingkah laku yang merupakan cerminan dari nilai-nilai keagamaan dan kebudayaan yang sudah mengakar dalam kehidupan bermasyarakat.

  Di masa Orde Baru, sebelum berlakunya Ketetapan MPR No. VI/MPR/2001 pernah disusun Pedoman Penghayatan dan Pengalaman Pancasila yang biasa disingkat P4 yang dikukuhkan dengan Ketetapan MPR No.II/MPR/1978. Ketetapan ini biasa disebut juga dengan istilah Eka Prasetya Panca Karsa yaitu merupakan panduan tentang Pancasila dalam kehidupan bernegara semasa Orde Baru.

  Pada tahun 1998, Ketetapan MPR No.II/MPR/1978 ini dicabut karena materi muatan dan pelaksanaannya tidak sesuai dengan perkembangan kehidupan bernegara. Karena itu dengan menetapkan penegasan Pancasila seagai dasar negara.

  Nilai-nilai Pancasila bersifat universal yang memperlihatkan nafas humanism. Oleh

karena itu, Pancasila dapat dengan mudah diterima oleh siapa saja. Meskipun Pancasila

mempunyai nilai universal tetapi tidak begitu sajadengan mudah diterimaoleh semua

bangsa. Perbedaannya terletak pada fakta sejarah bahwa nilai Pancasila secara sadar

dirangkai dan disahkan menjadi satu kesatuan yang berfungsi sebagaibasis perilaku politik

dan sikap moral bangsa.

  Adapun Pembukaan UUD 1945 yang didalamnya memuat nilai-nilai Pancasila

mengandung empat pokok pikiran yang merupakan derivasi atau penjabaran darinilai-nilai

Pancasila itu sendiri. Pokok pikiran pertama menyatakan bahwa Negara Indonesia adalah

negara persatuan, yaitu negara yang melindungi segenap bangsadan seluruh tumpah darah

Indonesia, mengatasi segala paham golongan maupun perseorangan.

  Ketentuan dalam pembukaan UUD 1945 yai tu, “maka disusunlah kemerdekaan

kebangsaan Indonesia dalam suatu Undang-Undang Dasar Negara Indonesia”

menunjukkan sebagai sumber hukum. Nilai dasar yang fundamental dalam hukum

mempunyai hakikat dan kedudukan yang kuat dan tidak dapat berubah mengingat

pembukaan UUD 1945 sebagai cita-cita Negara (staatsidee). para pediri bangsa sekaligus

perumus konstitusi (the framers of the constitution). Di samping itu, nilai-nilai Pancasila juga

merupakan suatu landasan moral etik dalam kehidupan kenegaraan yang ditegaskan dalam

alinea keempat Pembukaan UUD 1945 bahwanegara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha

  

penyelenggaraan kenegaraan antara lain operasional pemerintahan negara, pembangunan

negara, pertahanan-keamanannegara, politik negara serta pelaksanaan demokrasi negara

harus senantiasaberdasarkan pada moral ketuhanan dan kemanusiaan.Pancasila sebagai

dasar filsafat bangsa dan Negara Republik Indonesia merupakan nilai yang tidak dapat

dipisah-pisahkan dengan masing-masing silanya.

  Praktik kehidupan bernegara pada prinsip-prinsip fundamental dalam nilai-nilai

Pancasila tercermin dari adanya suatu pemahaman dan penalaran intelektual setiap pejabat

negara untuk menerapkannya. Prinsip-prinsip Pancasila tercermin dalam lima dasar Sila

Pancasila itu sendiri yang kemudian dikembangkan secara nalar intelektual pada tataran

praktik.

Dokumen baru

Dokumen yang terkait

Analisis komparatif rasio finansial ditinjau dari aturan depkop dengan standar akuntansi Indonesia pada laporan keuanagn tahun 1999 pusat koperasi pegawai
14
346
84
ANALISA BIAYA OPERASIONAL KENDARAAN PENGANGKUT SAMPAH KOTA MALANG (Studi Kasus : Pengangkutan Sampah dari TPS Kec. Blimbing ke TPA Supiturang, Malang)
24
190
2
STUDI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK GOLONGAN AMINOGLIKOSIDA PADA PASIEN BPH (BENIGN PROSTATIC HYPERPLASIA) (Penelitian Di Rumah Sakit Umum Dr. Saiful Anwar Malang)
4
81
27
STUDI PENGGUNAAN ANTIBIOTIKA EMPIRIS PADA PASIEN RAWAT INAP PATAH TULANG TERTUTUP (Closed Fracture) (Penelitian di Rumah Sakit Umum Dr. Saiful Anwar Malang)
11
135
24
STUDI PENGGUNAAN SPIRONOLAKTON PADA PASIEN SIROSIS DENGAN ASITES (Penelitian Di Rumah Sakit Umum Dr. Saiful Anwar Malang)
13
137
24
STUDI PENGGUNAAN ANTITOKSOPLASMOSIS PADA PASIEN HIV/AIDS DENGAN TOKSOPLASMOSIS SEREBRAL (Penelitian dilakukan di RSUD Dr. Saiful Anwar Malang)
13
158
25
KEPEKAAN ESCHERICHIA COLI UROPATOGENIK TERHADAP ANTIBIOTIK PADA PASIEN INFEKSI SALURAN KEMIH DI RSU Dr. SAIFUL ANWAR MALANG (PERIODE JANUARI-DESEMBER 2008)
2
98
1
Representasi Nasionalisme Melalui Karya Fotografi (Analisis Semiotik pada Buku "Ketika Indonesia Dipertanyakan")
53
309
50
HUBUNGAN ANTARA KUALITAS PELAYANAN KESEHATAN DENGAN PEMBENTUKAN CITRA POSITIF RUMAH SAKIT Studi pada Keluarga Pasien Rawat Jalan RSUD Dr. Saiful Anwar Malang tentang Pelayanan Poliklinik
2
54
65
Identifikasi Jenis Kayu Yang Dimanfaatkan Untuk Pembuatan Perahu Tradisional Nelayan Muncar Kabupaten Banyuwangi dan Pemanfaatanya Sebagai Buku Nonteks.
26
298
121
Isolasi Senyawa Aktif Antioksidan dari Fraksi Etil Asetat Tumbuhan Paku Nephrolepis falcata (Cav.) C. Chr.
2
92
93
Aplikasi penentu hukum halal haram makanan dari jenis hewan berbasis WEB
47
285
143
Kajian administrasi, farmasetik dan klinis resep pasien rawat jalan di Rumkital Dr. Mintohardjo pada bulan Januari 2015
19
163
0
Sistem Informasi Penjualan Buku Secara Online Pada Toko Buku Bungsu Bandung
4
95
1
Model Stokastik Curah Hujan Harian dari beberapa Stasiun Curah Hujan di Way Jepara
6
35
58
Show more