Kohesi antarkalimat dalam rubrik ``Nama dan Peristiwa`` Surat Kabar Harian Kompas edisi Maret 2005 - USD Repository

Gratis

0
0
93
1 year ago
Preview
Full text

  KOHESI ANTARKALIMAT DALAM RUBRIK ”NAMA DAN PERISTIWA” SURAT KABAR HARIAN KOMPAS EDISI MARET 2005 Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Strata 1 (S-1) Sastra Indonesia Program Studi Sastra Indonesia Disusun oleh: Karsanto Setio Adi 014114005 Program Studi Sastra Indonesia Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma Yogyakarta 2007

HALAMAN PERSEMBAHAN

  P encobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-

pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah

setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai

melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan

mamberikan kepadamu jalan keluar, sehingga kamu dapat

menanggungnya.

  ~1 Korintus 10:13~ J anganlah pernah merasa cukup, belajar tanpa pengorbanan,

menilik tanpa kekaguman, taat tanpa sukacita, bertindak tanpa

semangat ilahi, mengenal tanpa kasih, mengerti tanpa rahmat ilahi.

  ~Santo Bonaventura~ J ika kondisi mengharuskan kita bicara jujur apa adanya, lakukanlah dengan elegan

  ~Khalil Gibran~ K upersembahkan untuk K edua Orang Tuaku dan Adikku

  Y ang senantiasa memberikan semangat dan doa

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

  Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka sebagaimana layaknya karya ilmiah.

  Yogyakarta, 20 Desember 2006 Penulis

  Karsanto Setio Adi

KATA PENGANTAR

  Ungkapan syukur penulis haturkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala kemurahan berkat dan anugerah-Nya yang dilimpahkan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada :

  1. Bapak Drs. Hery Antono, M.Hum selaku dosen pembimbing I yang dengan penuh kesabaran dan perhatian telah memberikan bimbingan dan pengarahan kepada penulis hingga skripsi ini dapat diselesaikan.

  2. Bapak Dr. I. Praptomo Baryadi, M.Hum selaku dosen pembimbing II yang telah membantu penulis dalam proses penyusunan skripsi ini dengan memberikan motivasi dan petunjuk kepada penulis.

  3. Bapak Drs. FX. Santosa, M.S., Bapak Drs. B. Rahmanto, M. Hum., Bapak Drs. P. Ari Subagyo, M.Hum., Ibu Dra. Tjandrasih Adji, M.Hum., Ibu S.E. Peni Adji, M.Hum., atas bimbingannya selama penulis menjalani studi di Universitas Sanata Dharma.

  4. Staf Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma atas pelayanannya dalam bidang administrasi.

  5. Staf Perpustakaan Universitas Sanata Dharma yang telah memberikan peminjaman buku yang diperlukan penulis baik selama menjalani perkuliahan maupun dalam proses penyusunan skripsi.

  6. Orang tuaku tercinta, Bapak dan Ibu Yusuf Sutardjo, serta adikku, Susantya Kurniawan, terima kasih atas perhatian, dukungan, doa dan berusaha untuk memenuhi semua kebutuhan penulis selama studi di Universitas Sanata Dharma.

  7. Keluarga Besar Kemloko Kranggan, Pak De dan Bu De, Om dan Bulik, Mas dan Mbak, Dik Nana sekeluarga, Agus, Itak, Desi, Yogi yang telah membantu memberikan semangat dan doa selama penulis menempuh studi di Universitas Sanata Dharma.

  8. Semua teman-teman angkatan 2001, terima kasih atas dukungan dan semangat kepada penulis selama belajar di Universitas Sanata Dharma.

  9. Keluarga besar Brojomusti 03, terima kasih atas dukungannya selama ini.

  10. Komunitas Pemuda GKJ Kranggan Pepanthan Ploso, jangan lelah bekerja di ladang Tuhan.

  11. Sahabatku Maria Megayatri, yang telah memberikan dukungan untuk menyelesaikan skripsi ini.

  Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca demi perbaikan skripsi ini

  Yogyakarta, 20 Desember 2006 Penulis

  

ABSTRAK

  Setio Adi, Karsanto, 2007. “Kohesi Antarkalimat dalam Rubrik “Nama dan Peristiwa” Surat Kabar Harian KOMPAS Edisi Maret 2005.” Skripsi Strata 1 (S1). Program Studi Sastra Indonesia. Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma.

  Dalam skripsi ini dibahas tentang kohesi antarkalimat dalam rubrik “Nama dan Peristiwa” Surat Kabar Harian KOMPAS edisi Maret 2005. Masalah yang akan dibahas dalam penelitiaan ini adalah, kohesi apa saja yang terdapat dalam wacana rubrik “Nama dan Peristiwa”. Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan jenis-jenis kohesi yang terdapat dalam wacana rubrik “Nama dan Peristiwa” Surat Kabar Harian KOMPAS edisi bulan Maret 2005.

  Untuk metode penyediaan data digunakan metode simak. Metode simak adalah metode pengumpulan data yang dilakukan dengan menyimak, yaitu menyimak penggunaan bahasa yang ada. Untuk melaksanakan metode simak tersebut, selanjutnya digunakan teknik catat, yaitu pencatatan pada kartu data yang segera dilanjutkan dengan klasifikasi.

  Dalam analisis data digunakan metode agih, yaitu metode yang alat penentunya merupakan bagian dari bahasa itu sendiri. Teknik dasar yang digunakan adalah, teknik bagi unsur langsung (BUL) dengan membagi satuan lingual datanya menjadi beberapa unsur. Untuk teknik lanjutan digunakan teknik ganti. Teknik ganti dilaksanakan dengan menggantikan unsur tertentu satuan lingual yang bersangkutan dengan unsur tertentu yang lain di luar satuan lingual yang bersangkutan..

  Dalam penyajian hasil analisis data digunakan metode informal, yaitu perumusan hasil analisis data yang dirumuskan dengan kata-kata biasa dalam bentuk bahasa tertulis.

  Dalam rubrik “Nama dan Peristiwa” terdapat kohesi gramatikal, yang dapat dirinci lebih lanjut menjadi penunjukan, penggantian, pelesapan dan perangkaian. Pertama, kohesi penunjukan dibagi menjadi, penunjukan anaforis, yang ditunjukkan dengan kata ini, kata itu, dan kata tersebut. Kedua, kohesi penggantian yang terdiri dari, (i) penggantian persona ketiga dia, (ii) penggantian persona ketiga ia, (iii) penggantian persona ketiga tunggal –nya, (iv) penggantian persona ketiga jamak

  

mereka, Ketiga, kohesi pelesapan, yang ditandai dengan zero atau Ø. Keempat,

  kohesi perangkaian yang dibagi menjadi tujuh kategori, yaitu (i) perangkaian-urutan waktu yang ditunjukkan dengan frase setelah itu, dan konjungsi lalu, kemudian, (ii) perangkaian-ketidakserasian yang ditunjukkan dengan konjungsi padahal , (iii), perangkaian-tambahan (Aditif) yang ditunjukkan dengan frase selain itu, (iv), perangkaian-ringkasan (simpulan) yang ditunjukkan dengan konjungsi jadi, (v), perangkaian-lebih/ tegasan yang ditunjukkan dengan konjungsi bahkan, (vi), perangkaian pertentangan (kontras) yang ditunjukkan dengan konjungsi namun, konjungsi tetapi, konjungsi sedangkan, (vii), perangkaian-sebab akibat yang ditunjukkan dengan konjungsi akibatnya.

  Dalam rubrik “Nama dan Peristiwa” Surat Kabar KOMPAS, ditemukan beberapa kohesi leksikal antara lain, pertama, kohesi pengulangan, kedua kohesi sinonimi, dan ketiga kohesi kolokasi.

  

ABSTRACT

  Setio Adi, Karsanto, 2007. “Cohession among sentence in “Nama dan Peristiwa” column in Kompas Daily Newspaper March 2005 Edition. A Thesis of Undergraduate. Indonesian Letters Study Program. Indonesian Letters Department, Faculty of Letters, Sanata Dharma University.

  This thesis discusses sentence cohesion found in “Nama dan Peristiwa” column in Kompas Daily Newspaper March 2005 edition. The problem that will be discussed in this thesis is what kind of cohesion exist in “Nama dan Peristiwa” column in Kompas Daily Newspaper March 2005 edition. The objective of this research is to describe types of cohesion found in “Nama dan Peristiwa” column in Kompas March 2005 edition.

  To provide the data, observation method is used. In this method, the writer observes the usage of the language in the texts. The technigue used to obtain the data is not technigue; which is done by taking notes on data card, and followed by classification.

  To analyze the data, the writer uses distributional method. In this method, the instrument used to measure the data is part of the language itself. The writer divides the data lingual units into several elements; the writer directly divides the data lingual units into several elements. The following techniques are substitution and extension techniques. Substitution technique is done by substituting related data lingual units with other elements outside the related lingual units.

  In data presentation, the writer uses informal method. In this method the formulation of data analyzes result is written in common language. The cohession found in “Nama dan Peristiwa” column is grammatical cohesion, which can be explained further as: reference, substitution, elliptical, and conjunction. Reference cohesion is divided, anaphoric reference, which indicated by

  

ini, itu and tersebut. Second substitution cohesion consists of (i) third person

  substitution dia; (ii) third person substitution ia, (iii) singular third person substitution

  • –nya, plural third person substitution mereka. elimination cohesion which indicated

  by zero or Ø. Fourth, conjunction cohesion which divided into seven categories, those categories are : (i) time-order conjunction cohesion, which indicated by phrase

  

setelah itu, and conjunction lalu, kemudian, (ii) inharmonious conjunction cohesion,

  that is shown by conjunction padahal, (iii) additive- conjunction which indicated by phrase selain itu, (iv) conclusive – conjunction which shown by conjunction jadi, (v) determinative – conjunction which shown by conjunction bahkan, (vi) contrastive – conjunction that is shown by conjunction namun, tetapi, and sedangkan, (vii) cause

  • – effect – conjunction that is indicated by conjunction akibatnya.

  In “Nama dan Peristiwa” column in Kompas Daily Newspaper March 2005 edition, the writer also finds several lexical cohesion, reiteration cohesion, synonymy cohesion, and collocation cohesion.

  DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ...................................................................................... i

HALAMAN PENGESAHAN PEMBIMBING ........................................... ii

HALAMAN PENGESAHAN PENGUJI ..................................................... iii

HAL PERSEMBAHAN ................................................................................. iv

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ........................................................ v

KATA PENGANTAR ................................................................................... vi

ABSTRAK ...................................................................................................... viii

ABSTRACT ..................................................................................................... x

DAFTAR ISI .................................................................................................. xii

  BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah .............................................................

  1 1.2 Rumusan Masalah .......................................................................

  6 1.3 Tujuan Penelitian ........................................................................

  6 1.4 Manfaat Hasil Penelitian .............................................................

  6

  1.5 Tinjauan Pustaka ......................................................................... 7 1.6 Landasan Teori ...........................................................................

  8 1.6.1 Pengertian Wacana ............................................................

  8

  1.6.3 Kata ....................................................................................

  12 1.6.4 Kalimat ..............................................................................

  12 1.6.5 Frase ...................................................................................

  12 1.6.6 Konjungsi ...........................................................................

  12 1.6.7 Konstituen ..........................................................................

  12 1.6.8 Proposisi ............................................................................

  12 1.7 Metode dan Teknik Penelitian ....................................................

  13 1.7.1 Metode dan Teknik Pengumpulan Data ............................

  13 1.7.2 Metode dan Teknik Analisis Data .....................................

  13 1.7.3 Metode Pemaparan Hasil Analisis Data ............................

  16 1.8 Sistematika Penyajian .................................................................

  16 BAB II KOHESI DALAM RUBRIK “NAMA DAN PERISTIWA”

   SURAT KABAR HARIAN KOMPAS EDISI MARET 2005 2.1 Pengantar ....................................................................................

  18 2.2 Kohesi Gramatikal ......................................................................

  18 2.2.1 Kohesi Penggantian ...........................................................

  18 2.2.1.1 Penggantian Persona Ketiga Dia ...........................

  18 2.2.1.2 Penggantian Persona Ketiga ia ..............................

  20 2.2.1.3 Penggantian Persona Ketiga Tunggal –nya............

  21

  2.2.1.4 Penggantian Persona Ketiga Jamak mereka........... 23

  2.2.2.1 Kohesi Penunjukan Anaforis ..........................................

  2.2.4.1.3 Perangkaian Urutan Waktu dengan Konjungsi kemudian .............................. 33

  2.2.4.6.1 Perangkaian Pertentangan dengan Konjungsi namun ................................... 39

  2.2.4.6 Perangkaian-Pertentangan (kontras) ...................... 39

  2.2.4.5 Perangkaian-Lebih/ Tegasan ................................. 38

  2.2.4.4 Perangkaian-Ringkasan (simpulan) ....................... 36

  2.2.4.3 Perangkaian-Tambahan (Aditif) ............................ 35

  2.2.4.2 Perangkaian-Ketidakserasian ................................. 34

  2.2.4.1.2 Perangkaian Urutan Waktu dengan Konjungsi lalu........................................ 32

  25

  2.2.4.1.1 Perangkaian Urutan Waktu dengan Frase setelah itu...................................... 31

  31

  30 2.2.4.1 Perangkaian-Urutan Waktu ...................................

  29 2.2.4 Kohesi Perangkaian ...........................................................

  2.2.2.1.3 Penunjukan dengan Kata itu ................... 27 2.2.3 Kohesi Pelesapan ...............................................................

  2.2.2.1.2 Penunjukan dengan Kata ini.................... 26

  2.2.2.1.1 Penunjukan dengan Kata tersebut........... 25

  2.2.4.6.2 Perangkaian Pertentangan dengan

  2.2.4.6.3 Perangkaian Pertentangan dengan Konjungsi sedangkan .............................. 41

  2.2.4.7 Perangkaian sebab-akibat ...................................... 42

  2.3 Kohesi Leksikal .......................................................................... 43

  2.3.1 Kohesi Pengulangan .......................................................... 43

  2.3.1.1 Pengulangan dengan Kata shooting ....................... 43

  2.3.1.2 Pengulangan dengan Kata berdansa ...................... 44

  2.3.2 Kohesi Sinonimi ................................................................ 45

  2.3.2.1 Sinonimi antara Kata kado dan Kata hadiah.......... 45

  2.3.2.2 Sinonimi antara Kata pas dan Kata cocok ............. 46

  2.3.3 Kohesi Kolokasi ................................................................. 46

  2.3.3.1 Kolokasi antara Kata pengadilan dengan Kata jaksa .............................................................. 47

  2.3.3.2 Kolokasi antara Kata menikah dengan Kata melamar ......................................................... 47

  BAB III PENUTUP

  3.1 Kesimpulan ................................................................................. 49

  3.2 Saran ........................................................................................... 51

  

DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 52

LAMPIRAN ................................................................................................... 54

BIOGRAFI PENULIS

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

  Dalam kehidupan sehari-hari, manusia tidak dapat terlepas dari kebutuhan berinteraksi. Oleh karena itu diperlukan sarana pendukung, salah satu wujudnya bahasa. Dengan bahasa seseorang dapat menyampaikan sesuatu kepada orang lain. Oleh karena itu, bahasa memiliki fungsi yang penting yaitu sebagai alat komunikasi (Tarigan, 1987:144). Dalam komunikasi dikenal tiga aspek komunikasi yang penting pihak yang berkomunikasi, informasi yang dikomunikasikan, dan alat komunikasi (Alwasilah, 1989:9). Sebagai alat komunikasi bahasa digunakan secara lisan maupun tertulis. Secara lisan, bahasa diwujudkan dalam percakapan, sedangkan secara tertulis bahasa diwujudkan dalam bentuk tulisan misalnya rubrik dalam media cetak.

  Dalam media massa cetak terdapat beberapa wacana, salah satunya adalah wacana rubrik “Nama dan Peristiwa” dalam Surat Kabar Harian Kompas bulan Maret 2005. Menurut Keraf (1982:141-142), wacana insiden (peristiwa) adalah bagian dari wacana narasi nonfiktif yang lebih panjang seperti sejarah, biografi, dan autobiografi.

  Wacana narasi nonfiktif yang berbentuk biografi adalah kisah menarik mengenai suka duka kehidupan dan pengalaman-pengalaman yang merupakan bagian dari kisah dan pengalaman-pengalaman menarik yang telah dialami seseorang (Keraf,1982: 141- 142). Menurut Welseley via Assegaff (1983:56), ada enam jenis karangan khas, yaitu

  (1) karangan khas yang bersifat insani (human interest feature), (2) karangan khas yang bersifat sejarah, (3) karangan khas biografi/ tokoh, (4) karangan khas perjalanan/ traveling, (5) karangan yang bersifat mengajar keahlian “how to do it”, (6) karangan khas yang bersifat ilmiah. Viko (1992:18), menyebut karangan khas biografi/ tokoh dengan istilah biographical and personality feature merupakan karangan khas yang menyangkut riwayat hidup atau kepribadian seseorang atau tokoh terkemuka.

  Untuk menciptakan keutuhan, bagian-bagian wacana harus saling berhubungan. Sejalan dengan pandangan bahwa bahasa itu terdiri dari bentuk (form) dan makna (meaning), hubungan antarbagian wacana dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu hubungan bentuk yang disebut kohesi (cohesion) dan hubungan makna atau hubungan semantis yang disebut koherensi (coherence) (Baryadi, 2002:17). Dalam rubrik “Nama dan Peristiwa” Surat Kabar Harian Kompas Maret 2005, terdapat kalimat-kalimat yang mempunyai hubungan bentuk, misalnya contoh-contoh berikut :

  (1). A. Rudjito, Direktur Utama Bank Rakyat Indonesia, merupakan orang yang sangat rasional B. Meski demikian, bukan berarti ia tidak menyukai hal-hal yang berbau keberuntungan

  (Kompas, 23 Maret 2005)

  (2). A. Sejak pukul 08.00 sampai 19.00 malam, Rabu (2/3) kemarin, bintang sinetron, Diana Pungky (31), masih berada di wilayah Cakung,

  Jakarta Utara

  B. Ia berada di tempat itu untuk pengambilan gambar sinetron Untung Ada Jinny episode ke-88

  (Kompas, 3 Maret 2005) (3). A. Menurut dia, sebenarnya setelah yang kedua itu, sinetron Jinny akan dihentikan

  B. Tetapi, karena peminatnya masih banyak, dilanjutkan lagi dengan munculnya Untung Ada Jinny (Kompas, 3 Maret 2005)

  (4). A. Nanti tempat kos itu akan saya beri nama Lenny kos

  B. Tempat kos itu perlu dirancang dengan baik agar laku dan menyenangkan yang tinggal di situ,” ujarnya (Kompas, 1 Maret 2005)

  (5). A. Saya tidak cukup kenal dunia senirupa Indonesia

  B. Sewaktu di Jerman, ya tentu saya menikmati karya-karya seniman Eropa, seperti misalnya Van Gogh

  Pada contoh (1) di atas, kalimat (1A) dan kalimat (1B) mempunyai hubungan bentuk, antara Rudjito dan ia. Pada contoh (2) di atas, kalimat (2A) dan kalimat (2B)

  

tempat itu. Pada contoh (3) di atas, kalimat (3A) dan kalimat (3B) mempunyai

  hubungan bentuk, yang ditunjukkan dengan kata tetapi. Pada contoh (4) di atas, kalimat (4A) dan kalimat (4B) mempunyai hubungan bentuk, antara tempat kos dengan tempat kos. Pada contoh (5) di atas, kalimat (5A) dan kalimat (5B) mempunyai hubungan bentuk, antara seni rupa dengan seniman.

  Dalam rubrik “Nama dan Peristiwa” Surat Kabar Harian Kompas, juga terdapat koherensi antarkalimat. Koherensi adalah keterkaitan semantis antara bagian- bagian wacana (Baryadi, 2002:29). Di bawah ini merupakan contoh koherensi yang terdapat pada rubrik “Nama dan Peristiwa” Surat Kabar Harian Kompas edisi Maret 2005 :

  (6). A. Walau sibuk shooting, wanita berdarah Sumatera Utara ini masih sempat pula merasa prihatin atas kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM)” Saya pasrah atas kebijakan itu.

  B. Akan tetapi, jangan lagi dong, berat (Kompas, 9 Maret 2005)

  Contoh (6) di atas merupakan koherensi, yang terdiri dari dua kalimat, kalimat (6A) dan (6B). Pada contoh (6) tampak bahwa kalimat kedua dan kalimat pertama memiliki koherensi kontras dan koherensi tersebut ditandai oleh konjungsi akan

  tetapi.

  Adapun dalam penelitian ini, peneliti hanya membahas kohesi antarkalimat yang terdapat dalam rubrik “Nama dan Peristiwa” Surat Kabar Harian Kompas edisi

  Dari pengamatan penulis, wacana “Nama dan Peristiwa” ini merupakan wacana tulis, yang dapat ditemukan atau dijumpai dalam surat kabar harian Kompas.

  Rubrik tersebut berisi peristiwa-peristiwa menarik dan pengalaman-pengalaman pribadi yang dialami tokoh-tokoh terkenal, artis, pejabat negara, dan selebritis luar negeri maupun dalam negeri. Wacana “Nama dan Peristiwa” bertujuan memberikan informasi dan hiburan yang dapat dimanfaatkan oleh pembaca untuk menambah pengetahuan.

  Berdasarkan uraian di atas, peneliti memilih wacana Nama dan Peristiwa sebagai data penelitian dengan alasan, ingin menegetahui beberapa jenis kohesi yang terdapat pada wacana Nama dan Peristiwa.

  1.2 Rumusan Masalah

  Sehubungan dengan latar belakang tersebut, maka satu masalah pokok akan dibahas dalam penelitian ini. Masalah itu adalah Kohesi apa saja yang terdapat dalam wacana rubrik “Nama dan Peristiwa” surat kabar harian Kompas edisi Maret 2005

  1.3 Tujuan Penelitian

  Mendiskripsikan jenis-jenis kohesi yang terdapat dalam wacana rubrik “Nama dan Peristiwa” surat kabar harian Kompas edisi Maret 2005

  1.4 Manfaat Hasil Penelitian

  Memberikan penjelasan tentang jenis-jenis kohesi yang terdapat dalam Rubrik “Nama dan Peristiwa” surat kabar harian Kompas edisi Maret 2005

  1.5 Tinjauan Pustaka

  Halliday dan Hasan (1979:6; via Baryadi, 2002: 17-18) mengemukakan bahwa berdasarkan perwujudan lingualnya kohesi dibedakan menjadi dua jenis, yaitu (i) kohesi gramatikal (grammatical cohesion) dan (ii) kohesi leksikal (lexical

  

cohession). Kohesi gramatikal adalah keterikatan gramatikal antara bagian-bagian

wacana. Kohesi Leksikal adalah keterikatan leksikal antara bagian-bagian wacana.

  Kohesi gramatikal kemudian dapat dirinci lebih lanjut menjadi kohesi penunjukan (reference), kohesi penggantian (substitution), kohesi pelesapan (ellypsis), dan kohesi perangkaian (cunjunction). Berdasarkan arah penunjukannya, kohesi penunjukan dapat dibedakan menjadi dua jenis, (i) penunjukan anaforis (anaphoric reference) dan penunjukan kataforis (cataphoric reference). Kohesi Leksikal dapat dirinci lebih lanjut menjadi kohesi pengulangan (reiteration), kohesi hiponimi (hyponimi), kohesi sinonim (synonimi), kohesi antonimi (antonymi), dan kohesi kolokasi (collocation).

  Dalam skripsi Kusumanthara (2000) yang memuat topik tentang ”Wacana Advertorial dalam Surat Kabar Harian Kompas edisi Januari s.d juni 2004” dijelaskan mengenai struktur, jenis tuturan, kohesi, dan koherensi dalam wacana advertorial. Struktur wacana advertorial terdiri dari lima bagian, yaitu bagian rubrik, bagian judul, bagian awal, bagian tubuh/isi, dan bagian penutup. Ada empat jenis tuturan yang digunakan dalam wacana advertorial, yaitu jenis tuturan deskripsi, eksposisi, argumentasi, dan narasi. Beberapa jenis kohesi ditemukan dalam wacana advertorial yang kemudian dibagi menjadi kelompok kohesi gramatikal dan kohesi leksikal. Sedangkan jenis koherensi yang ditemukan dalam wacana advertorial dikelompokkan menjadi koherensi berpenanda dan koherensi tidak berpenanda.

  Dalam Skripsi Kristanto (2000) yang mengangkat topik tentang ”Kekohesifan dalam Kalimat Majemuk Setara dalam Bahasa Indonesia”. Penelitian tersebut menitik beratkan pada hubungan antara dua konstituen dari dua klausa yang berbeda. Ia menyimpulkan bahwa dalam kalimat majemuk setara unsur pembentuk kekohesifan yang utama adalah perangkaian. Sementara itu, dalam hal penunjukan, konstituen penunjuk selalu menunjuk konstituen tertunjuk yang ada didepannya. Hal tersebut juga terjadi pada hubungan penggantian. Dalam kohesi leksikal, penanda kohesi yang utama adalah pengulangan.

  Dalam Skripsi Fitri (2003) yang mengangkat topik “Kohesi dan Koherensi sentilan untuk membentuk wacana yang kohesif dan koheren. Hal ini dikarenakan upaya itu hanya dilakukan oleh satu pihak saja, yaitu pihak yang mengemukakan pernyataan bagian sentilan atau redaksi. Upaya yang dilakukan oleh bagian sentilan untuk menciptakan wacana yang kohesif adalah dengan referensi, substisusi, elipsis, konjungsi dan leksikal. Pada hubungan referensi, kata penunjuk terdapat pada bagian sentilan, sedangkan konstituen tertunjuk terdapat pada bagian Kutipan Berita.

  Hubungan substitusi melibatkan dua unsur, yaitu unsur pengganti yang terdapat pada bagian sentilan dan unsur terganti yang terdapat pada bagian Kutipan berita.

  Hubungan elipsis terjadi apabila ada dua unsur yang sama sehingga salah satu unsurnya dilesapkan. Unsur yang dilesapkan disebut konstituen nol. Pada hubungan konjungsi, penanda konjungsi terdapat pada bagian sentilan. Sementara itu, hubungan leksikal dalam wacana “Pojok KR” dapat dibedakan menjadi repetisi, sinonim, antonim, hiponim dan kolokasi.Koherensi antara bagian sentilan dapat dibedakan menjadi hubungan sebab-akibat, hubungan perbandingan, hubungan Aditif dan hubungan generik-spesifik. Hubungan antarbagian dalam wacana “Pojok KR” dapat longgar dan rapat.

1.6 Landasan Teori

1.6.1 Pengertian Wacana

  Kata wacana berasal dari kata vacana ‘bacaan’ dalam bahasa Sanskerta. Kata

  

vacana itu kemudian masuk dalam bahasa Jawa Kuna dan bahasa Jawa Baru wacana

  atau wacana atau ‘bicara, kata, ucapan’. Kata wacana dalam bahasa Jawa Baru itu kemudian diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi wacana ’ucapan, percakapan, kuliah’ (Poerwadarminta via Baryadi 2002:1).

  Kata wacana dalam bahasa Indonesia dipakai dalam sebagai pedoman (atau terjemahan) kata discourse dalam bahasa Inggris. Secara etimologis kata discourse itu berasal dari bahasa latin discursus ‘lari kian kemari’. Kata discurrere itu merupakan gabungan dari dis dan currere ‘lari, berjalan kencang(Webster via Baryadi 2002:1).

  Menurut Kridalaksana (1984:208) wacana (discourse) adalah satuan bahasa terlengkap, dalam hierarki gramatikal merupakan satuan gramatikal tertinggi atau terbesar. Hal ini berarti bahwa apa yang disebut wacana mencakup kalimat, gugus kalimat, alinea atau paragraf, penggalan wacana (pasal, subbab, bab atau episode) dan wacana utuh. Hal ini berarti juga bahwa kalimat merupakan satuan gramatikal terkecil dalam wacana, dan dengan demikian kalimat juga merupakan basis pokok pembentukan wacana (Baryadi, 2002:2). Dalam pengertian luas, wacana adalah rentangan ujaran yang berkesinambungan (urutan kalimat-kalimat individu) (Tarigan, 1987:23).

  Wacana adalah organisasi bahasa di atas kalimat atau di atas klausa, dengan perkataan lain unit-unit linguistik yang lebih besar daripada kalimat atau klausa, seperti pertukaran-pertukaran percakapan atau teks-teks tertulis. Secara singkat apa yang disebut teks bagi wacana adalah kalimat bagi ujaran (utterence) (Stubbs via Tarigan, 1987:25).

1.6.2 Kohesi

  Kohesi adalah hubungan antar kalimat di dalam sebuah wacana, baik dalam strata gramatikal maupun dalam strata leksikal tertentu (Gutwinsky, 1976:26, via Tarigan, 1987:96). Berdasarkan perwujudan lingualnya, Halliday dan Hasan (1979:6,

  

via Baryadi, 2002:18) membedakan dua jenis kohesi yaitu, (i) kohesi gramatikal

  (grammatical cohesion) dan (ii) kohesi leksikal (lexical cohesion). Kohesi gramatikal adalah keterikatan gramatikal antara bagian-bagian wacana, sedangkan kohesi leksikal adalah keterikatan leksikal antara bagian-bagian wacana. Dalam kohesi gramatikal dapat dirinci menjadi, kohesi penunjukan (reference), kohesi penggantian (substitution), kohesi pelesapan (ellypsis), dan kohesi perangkaian (conjunction) (Halliday dan Hasan 1979:6, Baryadi 1990:39-50, Ramlan 1993).

  Kohesi penunjukan adalah salah satu jenis kohesi gramatikal yang berupa satuan lingual tertentu yang menunjuk satuan lingual yang mendahului atau mengikutinya (Baryadi, 2002:18). Berdasarkan arah penunjukannya, kohesi penunjukan dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu (i) penunjukan anaforis yang ditandai oleh adanya konstituen yang menunjuk konstituen di sebelah kiri dan (ii) penunjukan kataforis yang ditandai oleh adanya konstituen yang mengacu konstituen di sebelah kanan.

  Kohesi penggantian (Ramlan 1993) atau penyulihan (Kridalaksana, 1978:36- 45) adalah kohesi gramatikal yang berupa penggantian konstituen tertentu dengan konstituen lain. Dalam kohesi ini terlibat dua unsur, yaitu unsur terganti dan unsur pengganti. Bila unsur terganti berupa unsur yang menyatakan orang (persona), unsur pengganti berupa pronomina persona.

  Pelesapan atau “penghilangan” (Ramlan 1993) adalah kohesi gramatikal yang berupa pelesapan (zero) konstituen yang telah disebut.

  Perangkaian adalah kohesi gramatikal yang berwujud konjungsi. Dikatakan oleh Halliday dan Hasan (1979:226-273) dan Ramlan (1993) bahwa perangkaian berbeda dengan jenis kohesi gramatikal yang lain. Perangkaian yang berupa konjungsi menyatakan relasi makna tertentu.

  Sedangkan kohesi leksikal dapat dirinci menjadi kohesi pengulangan (reiteration), sinonim (synonimi), antonimi (antonymi), dan kolokasi (collocation) (Baryadi, 1990:46). Bagian-bagian tersebut akan dirinci sebagai berikut.

  Kohesi pengulangan adalah kohesi leksikal yang berupa pengulangan konstituen yang telah disebut (Baryadi, 2002:25).

  Kohesi sinonimi adalah kohesi leksikal yang berupa relasi makna leksikal yang mirip antara konstituen yang satu dengan konstituen yang lain. Sinonimi ini disebut pula ekuivalensi leksikal (Baryadi, 2002:27).

  Kohesi Antonimi adalah kohesi leksikal yang berupa relasi makna leksikal yang bersifat kontras atau berlawanan antara konstituen yang satu dengan konstituen yang lain (Baryadi, 2002:28).

  Kohesi kolokasi adalah kohesi leksikal yang berupa relasi makna yang berdekatan antara konstituen yang satu dengan konstituen yang lain (Baryadi,

  1.6.3 Kata

  Kata adalah Morfem atau kombinasi morfem yang oleh bahasawan dianggap sebagai satuan terkecil yang dapat diujarkan sebagai bentuk yang bebas (Kridalaksana, 1982: 76).

  1.6.4 Kalimat

  Kalimat adalah Konstruksi gramatikal yang terdiri atas satu atau lebih klausa yang ditata menurut pola yang tertentu, dan dapat berdiri sendiri sebagai satu satuan (Kridalaksana, 1982: 71).

  1.6.5 Frase

  Frase adalah bentuknya merupakan sebuah kelompok kata dan seringkali berfungsi sebagai keterangan predikat untuk keperluan-keperluan tertentu. Misalnya, untuk menyatakan keterangan waktu, keterangan, keterangan sebab, keterangan tempat, dan lain sebagainya (Razak, 1985: 14).

  1.6.6 Konjungsi

  Konjungsi adalah kategori yang berfungsi untuk meluaskan satuan yang lain dalam konstruksi hipotaksis, dan selalu menghubungkan dua satuan lain atau lebih dalam konstruksi (Kridalaksana, 1986:99).

  1.6.7 Preposisi

  Preposisi adalah kategori yang terletak di depan kategori lain (terutama nomina) sehingga terbentuk frase eksosentris direktif (Kridalaksana, 1986: 99).

1.7 Metode dan Teknik Penelitian

  Penelitian ini dilakukan melalui tiga tahap, yakni (i) pengumpulan data, (ii) analisis data, dan (iii) pemaparan hasil analisis data. Berikut akan diuraikan masing- masing tahap dalam penelitian ini.

  1.7.1 Metode dan teknik Pengumpulan Data

  Objek penelitian ini adalah kohesi dan data penelitiannya adalah satuan antarkalimat. Data yang berupa wacana “Nama dan Peristiwa” diambil dari harian

  Kompas bulan Maret tahun 2005.

  Cara yang digunakan untuk menyediakan data penelitian ini adalah metode simak. Menurut Sudaryanto (1993:133), metode simak itu dilakukan dengan menyimak, yaitu menyimak penggunaan bahasa. Untuk melaksanakan metode simak digunakan teknik catat. Teknik ini dapat dilakukan dengan cara pencatatan pada kartu data yang segera dilanjutkan dengan klasifikasi. Sementara itu, kartu data yang digunakan dapat berupa kertas dengan ukuran dan kualitas apapun (Sudaryanto, 1986:5). Selanjutnya, data yang diperoleh dalam penelitian ini diamati, dicatat, dan dianalisis sesuai dengan jenis-jenis kohesi yang ada.

  1.7.2 Metode dan Teknik Analisis Data

  Metode yang digunakan untuk menganalisis data dalam penelitian ini adalah metode agih. Metode agih adalah metode analisis data yang alat penentunya justru bagian dari bahasa yang bersangkutan sendiri (Sudaryanto, 1993:15). Metode dilaksanakan dengan teknik dasar yaitu teknik bagi unsur langsung (BUL) dan teknik

  Teknik ganti dilaksanakan dengan menggantikan unsur tertentu satuan lingual yang bersangkutan dengan ”unsur” tertentu yang lain diluar satuan lingual yang bersangkutan (Sudaryanto, 1993:37). Teknik ini dipakai untuk menganalisis kohesi penggantian, kohesi penunjukan, kohesi pelesapan, dan kohesi sinonimi, dapat dilihat pada contoh data sebagai berikut :

  (7). A. Berliana Febriyanti (31) kebagian peran yang cukup unik dalam film Banyu Biru

  B. Ia hadir sebagai sosok yang mengundang misteri (Kompas, 7 Maret 2005)

  Pada data (7) di atas, merupakan contoh kohesi penggantian. Teknik ganti digunakan untuk menggantikan konstituen ia pada kalimat (7B) dengan konstituen

  

Berliana Febriyanti pada kalimat (7A). Konstituen ia pada kalimat (7B) menunjuk

  konstituen Berliana Febriyanti pada kalimat (7A). Hal tersebut dapat dilihat pada pembuktian sebagai berikut : (7a). A. Berliana Febriyanti (31) kebagian peran yang cukup unik dalam film

  Banyu Biru

  B. Berliana Febriyanti hadir sebagai sosok yang mengundang misteri (8). A. Dari penjualan tiket untuk menonton pertandinagn itu, mereka berhasil mengumpulkan uang sebesar 50.000 dollar Amerika Serikat atau Rp

  460 juta B. Uang sebesar itu seluruhnya bakal mereka sumbangkan untuk korban bencana tsunami (Kompas, 18 Maret 2005)

  Pada contoh (8) di atas, merupakan contoh kohesi penunjukan. Teknik ganti digunakan untuk menggantikan kata itu pada kalimat (8B) dengan kelompok kata

  

50.000 dollar Amerika Serikat atau sekitar Rp 460 juta pada kalimat (8A). Kata itu

  pada kalimat (8B) menunjuk kelompok kata 50.000 dollar Amerika Serikat atau sekitar Rp 460 pada kalimat (8A). Hal tersebut dapat dilihat pada pembuktian sebagai berikut :

  (8a). A. Dari penjualan tiket untuk menonton pertandinagn itu, mereka berhasil mengumpulkan uang sebesar 50.000 dollar Amerika

  Serikat atau sekitar Rp 460 juta

  B. Uang sebesar 50.000 dollar Amerika Serikat atau Rp 460 juta seluruhnya bakal mereka sumbangkan untuk korban bencana tsunami

  (9). A. Diberitakan oleh majalah People, Jennifer Aniston menerima banyak sekali kado ulang tahun B. Bahkan katanya, hadiah sudah mengalir sejak seminggu sebelum acara ulang tahun

  (Kompas, 4 Maret 2005) Pada contoh (9) di atas, merupakan contoh kohesi sinonimi. Teknik ganti pada kalimat (9A). Dengan kata lain kata hadiah pada kalimat (9B) dapat diganti kata

  

kado pada kalimat (9A). Kata hadiah pada kalimat (9B) memiliki makna yang sama

  dengan kata kado pada kalimat (9A). Hal tersebut dapat dilihat pada pembuktian sebagai berikut : (9a). A. Diberitakan oleh majalah People, Jennifer Aniston menerima banyak sekali kado ulang tahun

  B. Bahkan katanya, kado sudah mengalir sejak seminggu sebelum acara ulang tahun

1.7.3 Metode Pemaparan Hasil Analisis Data

  Dalam penelitian bahasa ini, metode pemaparan hasil analisis data yang digunakan bersifat informal. Sudaryanto (1986:62), berpendapat bahwa metode pemaparan hasil analisis data bersifat informal berupa penyajian data yang dirumuskan dengan kata-kata biasa dalam bentuk bahasa tertulis.

1.8 Sistematika Penyajian

  Skripsi ini terdiri dari tiga bab. Bab I berupa pendahuluan. Pendahuluan berisi latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, tinjauan pustaka, landasan teori, metode penelitian, dan sistematika penyajian.

  Latar belakang dalam penelitian ini menguraikan alasan penulis memilih dan melakukan penelitian terhadap kohesi antarkalimat dalam wacana rubrik nama dan peristiwa. Rumusan masalah menjelaskan beberapa jenis kohesi yang terdapat dalam wacana rubrik nama dan peristiwa. Tujuan penelitian mendeskripsikan tujuan dapat diambil dari penelitian ini. Landasan teori berisi teori yang digunakan sebagai landasan penelitian. Metode penelitian memberi penjelasan mengenai pengumpulan data, analisis data, dan pemaparan hasil analisis data yang digunakan penulis dalam penelitian ini. Sistematika penyajian menguraikan urutan hasil penelitian dalam skripsi ini. Bab II berisi uraian pembahasan tentang jenis-jenis kohesi yang mencakup kohesi gramatikal dan kohesi leksikal dalam wacana rubrik “Nama dan Peristiwa”.

  Bab III merupakan bab penutup yang berisi kesimpulan dan saran.

BAB II KOHESI DALAM RUBRIK “NAMA DAN PERISTIWA” SURAT KABAR HARIAN KOMPAS EDISI MARET 2005

  2.1 Pengantar

  Dalam bab ini akan dibahas kohesi yang terdapat dalam rubrik “Nama dan Peristiwa” Surat Kabar Harian Kompas Edisi Maret 2005. Berdasarkan perwujudan lingualnya, kohesi dibedakan menjadi, (i) kohesi gramatikal dan (ii) kohesi leksikal.

  2.2 Kohesi Gramatikal

  Kohesi gramatikal yang terdapat dalam rubrik “Nama dan Peristiwa” dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu: kohesi penggantian, penunjukan, pelesapan, dan kohesi perangkaian.

2.2.1 Kohesi Penggantian

  Di bawah ini merupakan contoh kohesi penggantian yang ditunjukkan dengan, penggantian persona ketiga dia, penggantian persona ketiga ia, penggantian persona ketiga tunggal-nya, dan penggantian persona ketiga jamak mereka.

2.2.1.1 Penggantian Persona Ketiga dia

  Di bawah ini beberapa contoh data yang diambil dari rubrik “Nama dan Peristiwa” Surat Kabar Harian KOMPAS edisi Maret 2005 yang merupakan penggantian persona ketiga dia. Kata ganti dia untuk menyatakan diri orang ketiga atau orang yang dibicarakan (Chaer, 1998: 97).

  (10). A. Nama Christine sebetulnya tidak asing lagi di dunia perfilman Perancis

  B. Tahun ini 2002, dia menjadi salah satu juri dalam Festival Film Perancis

  (Kompas, 15 Maret 2005) Pada data (10) di atas terdapat kohesi, yang ditunjukkan oleh persona ketiga

dia pada kalimat (10B) yang manggantikan konstituen Christine pada kalimat (10A).

  Hal tersebut dapat dibuktikan dengan menggantikan konstituen dia pada kalimat (10B) dengan konstituen Christine pada kalimat (5A). Konstituen dia merupakan unsur pengganti, sedangkan konstituen Christine merupakan unsur terganti. Oleh karena itu, dapat dilihat pada pembuktian sebagai berikut :

  (10a). A. Nama Christine sebetulnya tidak asing lagi di dunia perfilman Perancis

  B. Tahun ini 2002, Christine menjadi salah satu juri dalam Festival Film Perancis.

  Contoh lain kohesi penggantian persona ketiga dia, dapat dilihat pada data (11):

  (11) A. Pada pagi hari, Smith menghadiri pemutaran Film di Manchester yang terletak di Inggris bagian utara.

  B. Lalu di siang hari dia muncul di Birmingham yang terletak di bagian tengah Inggris, dan pada malam harinya di Leicester Square di kota London.

  (Kompas, 4 Maret 2005)

2.2.1.2 Penggantian Persona Ketiga ia

  Di bawah ini beberapa contoh data yang diambil dari rubrik “Nama dan Peristiwa” Surat Kabar Harian KOMPAS edisi Maret 2005 yang merupakan kohesi penggantian persona ketiga ia. Kata ganti ia untuk menyatakan diri orang ketiga atau orang yang dibicarakan digunakan terhadap orang yang sebaya, yang lebih muda, yang lebih rendah statis atau kedudukan sosialnya, atau yang tidak perlu secara eksplisit dihormati (Chaer, 1998: 96).

  (12). A. Sejak pukul 08.00 sampai 19.00 malam, Rabu (2/3) kemarin, bintang sinetron, Diana Pungky (31), masih berada di wilayah Cakung, Jakarta Utara.

  B. Ia berada di tempat itu untuk pengambilan gambar sinetron Untung Ada Jinny episode ke-88.

  (Kompas, 3 Maret 2005) Pada data (12) di atas terdapat kohesi, yang ditunjukkan oleh persona ketiga

  

ia pada kalimat (12B) yang mengantikan konstituen Diana Pungky pada kalimat

  (12A). Hal tersebut dapat dibuktikan dengan menggantikan konstituen ia pada kalimat (12B) dengan konstituen Diana Pungky pada kalimat (12A). Konstituen ia merupakan unsur pengganti, sedangkan konstituen Diana Pungky merupakan unsur terganti. Hal itu, dapat dilihat pada pembuktian sebagai berikut : (12a). A. Sejak pukul 08.00 sampai 19.00 malam, Rabu (2/3) kemarin, binrang sinetron, Diana Pungky (31), masih berada di wilayah

  Cakung, Jakarta Utara

  B. Diana Pungky berada di tempat itu untuk pengambilan gambar sinetron Untung Ada Jinny episode ke-88 Contoh lain kohesi penggantian kata ganti orang ketiga ia dapat dilihat pada contoh (13) : (13) A. Artis senior Ully Artha (53) menghabiskan waktunya, selasa (8/3), di sebuah rumah yang tidak dikenal siapa pemiliknya di kawasan

  Cilandak, Jakarta selatan.

  B. Di sana ia nongkrong-nongkrong menunggu giliran diambil gambarnya (shooting) (Kompas, 9 Maret 2005)

2.2.1.3 Penggantian Persona Ketiga tunggal –nya

  Di bawah ini beberapa contoh data yang diambil dari rubrik “Nama dan Peristiwa” Surat Kabar Harian KOMPAS edisi Maret 2005 yang merupakan kohesi penggantian dengan kata ganti orang ketiga tunggal –nya. Kata ganti –nya untuk menyatakan diri orang ketiga atau orang yang dibicarakan (Chaer, 1998 : 97)

  (14) A. Tahun ini bintang film Lenny Marlina (51) punya jadwal ketat belajar bahasa Inggris, komputer, dan baca-baca berbagai macam buku tentang desain interior

  B. Katanya usaha rumah kos-kosan itu untuk menghadapi masa tuanya (Kompas, 3 Maret 2005)

  Pada data (14) di atas terdapat kohesi, yang ditunjukkan oleh persona ketiga tunggal –nya pada kalimat (14B) yang menggantikan konstituen Lenny Marlina pada kalimat (14A). Hal tersebut dapat dibuktikan dengan menggantikan konstituen –nya pada kalimat (14B) dengan konstituen Lenny Marlina. Konstituen –nya merupakan unsur pengganti, konstituen Lenny Marlina merupakan unsur terganti. Hal itu dapat dilihat pada pembuktian sebagai berikut :

  (14a). A. Tahun ini bintang film Lenny Marlina (51) punya jadwal ketat belajar bahasa Inggris, komputer, dan baca-baca berbagai macam buku tentang desain interior

  B. Kata Lenny Marlina usaha rumah kos-kosan itu untuk menghadapi masa tuanya Contoh lain kohesi penggantian kata ganti orang ketiga tunggal –nya dapat dilihat pada contoh (15): (15). A. Diberitakan oleh majalah People, Jennifer Aniston menerima banyak sekali kado ulang tahun B. Bahkan, katanya, hadiah sudah mengalir sejak seminggu sebelum acara ulang tahun (Kompas, 4 Maret 2005)

2.2.1.4 Penggantian Persona Ketiga jamak mereka

  Di bawah ini beberapa contoh data yang diambil dari rubrik “Nama dan Peristiwa” Surat Kabar Harian KOMPAS edisi Maret 2005 yang merupakan kohesi penggantian dengan kata ganti orang ketiga jamak mereka. Kata ganti mereka unutk menyatakan diri orang ketiga, atau orang yang dibicarakan, yang jumlahnya lebih dari seorang, dapat digunakan terhadap siapa saja dan oleh siapa saja (Chaer, 1998: 98).

  (16). A. Aniston dan Brad Pitt mengumumkan perpisahan mereka awal Januari lalu.

  B. Toh, pada pesta ulang tahun Aniston malam itu, mereka berdua stampak tetap akrab (Kompas, 4 Maret 2005)

  Pada data (16) di atas terdapat kohesi, yang ditunjukkan oleh persona ketiga jamak mereka pada kalimat (16B) dan konstituen Aniston dan Brad Pitt. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan menggantikan konstituen mereka pada kalimat (16B) dengan konstituen Aniston dan Brad Pitt. Konstituen mereka merupakan unsur pengganti, sedangkan konstituen Aniston dan Brad Pitt merupakan unsur terganti. Hal itu dapat dilihat pada pembuktian sebagai berikut :

  (16a). A. Aniston dan Brad Pitt mengumumkan perpisahan mereka awal

  B. Toh, pada pesta ulang tahun Aniston malam itu, Aniston dan Brad Pitt tampak tetap akrab.

  Contoh lain kohesi penggantian dengan kata ganti orang ketiga jamak mereka dapat dilihat pada contoh (12) : (17). A. Pertunjukan itu, kata Bulantrisna, sangat berkesan sebab diikuti dengan tanya jawab dari para murid SD

  B. Mereka menanyakan hal-hal lucu, seperti apakah orang Indonesia memakai sepatu, apa yang mereka makan, mengapa pakaian tari bernuansa emas, dan seterusnya.

  (Kompas, 8 maret 2005)

2.2.2 Kohesi Penunjukan

  Berdasarkan arah penunjukannya, kohesi penunjukan dapat dibedakan menjadi dua jenis, penunjukan anaforis dan penunjukan kataforis. Penunjukan anaforis ditandai oleh adanya konstituen yang menunjuk konstituen di sebelah kiri, sedangkan penunjukan kataforis ditandai oleh adanya konstituen yang mengacu konstituen di sebelah kanan (Baryadi, 2002:18-19). Dalam penelitian ini hanya ditemukan beberapa contoh data penunjukan anaforis. Penunjukan anaforis ditunjukkan dengan, kata tersebut, kata ini, dan kata itu

2.2.2.1 Kohesi Penunjukan Anaforis

2.2.2.1.1 Penunjukan dengan Kata tersebut

  Di bawah ini beberapa contoh data yang diambil dari rubrik “Nama dan Peristiwa” Surat Kabar Harian KOMPAS edisi Maret 2005 yang merupakan bentuk kohesi penunjukan anaforis, yang ditunjukkan dengan kata tersebut.

  (18). A. Will Smith baru-baru ini juga berhasil mencetak rekor yang dicatat dalam Guinnes Book of records ketika mempromosikan Film terbarunya, Hitch

  B. Smith tercatat berhasil menghadiri tiga acara pemutaran perdana Film

  tersebut ditiga kota yang berbeda di Inggris dalam satu hari

  (Kompas, 4 Maret 2005) Pada data (18) terdapat kohesi, yang ditunjukkan oleh kata tersebut pada

  (18B) dan kata Hitch pada (18A). Hal tersebut dapat dibuktikan bahwa kata tersebut pada (18B) menunjuk pada kata Hitch pada (18A). Kata Hitch pada (18A) dapat menggantikan kata tersebut pada (18B). Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa antara kalimat (18A) dan (18B) terdapat kohesi penunjukan anaforis. Hal itu dapat dilihat pada pembuktian sebagai berikut :

  (18a). A. Will Smith baru-baru ini juga berhasil mencetak rekor yang dicatat dalam Guinnes Book of Records ketika mempromosikan Film terbarunya, Hitch

  B. Smith tercatat berhasil menghadiri tiga acara pemutaran perdana Contoh lain kohesi penunjukan anaforis yang ditunjukkan dengan kata

  tersebut dapat dilihat pada contoh (19) :

  (19). A. Artis kelahiran Israel itu, bersama kru filmnya, harus menghadapi kelompok Ultra-ortodok Yahudi yang marah gara-gara dalam pembuatan Film Free Zone, Portman melakukan adegan ciuman dengan aktor Israel, Aki Avni, di Tembok Barat

  B. Di tembok tersebut dibangun semacam pemisah untuk peziarah lelaki dan perempuan.

  (Kompas, 2 Maret 2005)

2.2.2.1.2 Penunjukan dengan Kata ini

  Di bawah ini beberapa contoh data yang diambil dari rubrik “Nama dan Peristiwa” Surat Kabar Harian KOMPAS edisi Maret 2005 yang merupakan bentuk kohesi penunjukan anaforis, yang ditunjukkan dengan kata ini. Kata ini mengacu ke acuan yang dekat dengan pembicara/ penulis, ke masa yan g akan datang, atau ke informasi yang akan disampaikan (Depdikbud, 1997: 181).

  (20). A. Sebelumnya, Joko sukses menulis skenario untuk Film Arisan! Nia Dinata

  B. Film ini menjadi Film terbaik FFI 2004 (Kompas, 15 Maret 2005)

  Pada data (20) di atas terdapat kohesi, yang ditunjukkan oleh kelompok kata

  

Film ini pada (20B) dan kata Arisan pada (20A). Hal tersebut dapat dibuktikan

  Kata ini pada (20B) menunjuk konstituen disebelah kiri, pada kata Arisan pada (20A). Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa antara kalimat (20A) dan (20B) terdapat kohesi penunjukan anaforis. Hal tersebut dapat dilihat pada pembuktian sebagai berikut :

  (20a). A. Sebelumnya, Joko sukses menulis skenario untuk Film Arisan!

  B. Film Arisan menjadi Film terbaik FFI 2004 Contoh lain kohesi penunjukan anaforis yang ditunjukkan dengan kata ini dapat dilihat pada contoh (21) : (21). A. Namun, ternyata tidak banyak Film yang berkisah tentang Shanghai masa kini, ” tutur Joan Chen, yang mulai menjadi sutradara lewat

  Film Xiu-xiu : The Sent Down Girl (1999)

  B. Film ini masuk nominasi penghargaan Golden bear pada Festival Film Berlin

  (Kompas, 1 Maret 2005)

2.2.2.1.3 Penunjukan dengan Kata itu

  Di bawah ini beberapa contoh data yang diambil dari rubrik “Nama dan Peristiwa” Surat Kabar Harian KOMPAS edisi Maret 2005 yang merupakan bentuk kohesi penunjukan anaforis, yang ditunjukkan dengan kata itu. Kata itu mengacu ke acuan yang agak jauh dari pembicara/ penulis, kemasa yang lampau, atau ke informasi yang sudah disampaikan (Depdikbud, 1997: 181).

  (22). A. Penyanyi dan aktris Cher menuntut Warner/ Chappel Music Inc

  B. Menurut artis yang suka berpenampilan eksentrik ini, perusahaan

  rekaman itu tidak memenuhi kewajiban membayar royalti yang

  besarnya (...) (Kompas, 8 Maret 2005)

  Pada data (22) di atas terdapat kohesi, yang ditunjukkan oleh kata itu pada (22B) dan kata Warner/ Chappel Music Inc pada (22A). Hal tersebut dapat dibuktikan bahwa kata itu pada (22B) dapat digantikan kata Warner/ Chappel Music

  

Inc pada (22A). Kata itu pada (22B) menunjuk konstituen disebelah kiri, pada kata

Warner/ Chappel Music Inc pada (22A). Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa

  antara kalimat (22A) dan (22B) terdapat kohesi penunjukan anaforis. Hal tersebut dapat dilihat pada pembuktian sebagai berikut : (22a). A. Penyanyi dan aktris Cher menuntut Warner/Chappel Music Inc karena dianggap menyalahi kontrak

  B. Menurut artis yang suka berpenampilan eksentrik ini, perusahaan rekaman Warner/ Chappel music Inc tidak memnuhi kewajiban membayar royalti yang besarnya (...)

  Contoh lain kohesi penunjukan anaforis yang ditunjukkan dengan kata itu dapat dilihat pada contoh (23) : (23). A. Walau sibuk shooting, wanita berdarah Sumatera Utara ini masih sempat pula merasa prihatin atas kenaikan harga bahan bakar

  minyak (BBM) B. Saya pasrah atas kebijakan itu (Kompas, 9 Maret 2005)

2.2.3 Kohesi Pelesapan

  Di bawah ini merupakan contoh data kohesi pelesapan yang ditunjukkan dengan, kelompok kata penari pria dari Sekolah Tinggi Seni Indonesia dan kata film.

  (24). A. Selain kesibukannya mengajar, selama dua tahun terakhir Retno juga membina kelompok penari pria dari Sekolah Tinggi Seni

  Indonesia

  B. Kelompok penari Ø yang beranggotakan 15 orang ini secara rutin berlatih setiap hari jumat di taman Budaya Surakarta (Kompas, 30 Maret 2005)

  Pada data (24) diatas terdapat kohesi, yang ditunjukkan oleh kelompok kata

  

penari pria dari Sekolah Tinggi Seni Indonesia pada (24A) dan pelesapan kelompok

  kata penari pria dari Sekolah Tinggi Seni Indonesia pada kalimat (24B). Hal tersebut dapat dibuktikan bahwa konstituen Ø pada kalimat (24B) memiliki referensi yang sama dengan kelompok kata penari pria dari Sekolah Tinggi Seni Indonesia yang telah disebut pada kalimat (24A). Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa antara kalimat (24A) dan (24B) terdapat kohesi pelesapan. Hal tersebut dapat dilihat pada pada pembuktian sebagai berikut :

  (25a). A. Selain kesibukannya mengajar, selama dua tahun terakhir Retno juga membina kelompok penari pria dari Sekolah

  Tinggi Seni Indonesia

  B. Kelompok penari pria dari Sekolah Tinggi Seni Indonesia yang beranggotakan 15 orang ini secara rutin berlatih setiap hari jumat di Taman Budaya Surakarta

  Contoh lain kohesi pelesapan yang ditunjukkan dengan kata Film dapat dilihat pada contoh (26) : (26). A. Meskipun dalam Film Memoirs of a Geisha para pemain utamanya adalah aktris dari China, salah seorang pemerannya, Michelle Yeoh

  (42), yakin bahwa Film tersebut bakal diterima oleh publik Jepang.

  B. Ø Memoirs of a Geisha rencananya beredar tahun ini, dan dua perempuan pemain utamanya adalah aktris asal China, Gongli dan Zhang Ziyi.

  (Kompas, 2 Maret 2005)

2.2.4 Kohesi Perangkaian

  Di bawah ini merupakan contoh data kohesi perangkaian yang dibagi dalam beberapa kelompok, yakni : (i) Perangkaian-urutan waktu, yang ditunjukkan dengan frase setelah itu, dan konjungsi lalu, kemudian, (ii)Perangkaian-ketidakserasian, yang ditunjukkan dengan konjungsi padahal, (iii) Perangkaian-tambahan (Aditif), yang ditunjukkan dengan frase selain itu,(iv) Perangkaian-ringkasan (simpulan), ditunjukkan dengan konjungsi bahkan, (vi) Perangkaian-pertentangan (kontras) yang ditunjukkan dengan konjungsi namun, tetapi, sedangkan (vii) Perangkaian-sebab akibat yang ditunjukkan dengan konjungsi akibatnya.

2.2.4.1 Perangkaian-Urutan Waktu

  Proposisi-proposisi yang menunjukkan tahapan-tahapan seperti awal, pelaksanaan, dan penyelesaian dapat disusun dengan menggunakan urutan waktu.

  Urutan waktu dapat dimulai dari proposisi yang menunjukkan tahap awal dan dilanjutkan oleh tahap berikutnya. Penyusunan proposisi yang demikian itu disebut susunan berdasarkan urutan waktu. Proposisi-proposisi yang menunjukkan suatu rangkaian kesejarahan atau urutan waktu dapat menggunakan piranti kohesi yang menunjukkan adanya urutan waktu (Rani, 2004: 110). Di bawah ini contoh data kohesi perangkaian yang menunjukkan urutan waktu sebagai berikut:

2.2.4.1.1 Perangkaian Urutan waktu dengan Frase setelah itu

  (27). A. “Saya mau menulis skenarionya,

  B. Setelah itu saya juga ingin menyutradarai sendiri Film tersebut, ”kata perempuan kelahiran Shanghai, China, 26 April 1961, ini seperti dikutip koran South China Morning Post

  (Kompas, 1 Maret 2005) Pada contoh (27), konjungsi yang digunakan untuk menunjukkan urutan waktu menggunakan frase setelah itu . Kata setelah biasanya menunjukkan bahwa proposisi yang mengikuti kata itu sebagai proposisi lanjutan. Kata itu pada frase tergolong anafora yang dapat menggantikan suatu proposisi atau bagian dari proposisi yang telah disebutkan. Frase setelah itu pada kalimat (27B) menandai hubungan waktu yang bersangkutan antara kalimat (27A) dengan kalimat (27B). Tanpa frase

  

setelah itu, contoh diatas telah dapat dipahami adanya kohesi perangkaian urutan

  waktu. Hal tersebut dapat dilihat pada pembuktian sebagai berikut: (27a). A. “Saya mau menulis skenarionya,

  B. Saya juga ingin menyutradarai sendiri Film tersebut, ”kata perempuan kelahiran Shanghai, China, 26 April 1961, ini seperti dikutip koran South China Morning Post

2.2.4.1.2 Perangkaian Urutan waktu dengan Konjungsi lalu

  (28). A. Pada pagi hari, Smith menghadiri pemutaran film di Manchester yang terletak di Inggris bagian utara B. Lalu di siang hari dia muncul di Birmingham yang terletak di bagian tengah Inggris, dan pada malam harinya di Leicester Square di kota

  London (Kompas, 4 Maret 2005)

  Pada data (28) di atas terdapat kohesi, yang ditunjukkan oleh kalimat (28A) dan kalimat (28B). Konjungsi lalu pada kalimat (28B) menandai hubungan waktu yang berurutan antara berlangsungnya peristiwa yang dinyatakan oleh kalimat pada

  

pagi hari, Smith menghadiri pemutaran Film di Manchester yang terletak di Inggris

  

Birmingham yang terletak di bagian tengah Inggris. Penggunaan konjungsi lalu pada

  (28) menjelaskan bahwa konjungsi tersebut menyatakan peristiwa, keadaan, atau perbuatan berturut-turut yang terjadi atau dilakukan. Tanpa konjungsi lalu, contoh (24) diatas telah dapat dipahami adanya kohesi perangkaian urutan waktu. Hal tersebut dapat dilihat pada pembuktian sebagai berikut:

  (28a). A. Pada pagi hari, Smith menghadiri pemutaran Film di Manchester yang terletak di Inggris bagian utara B. di siang hari dia muncul di Birmingham yang terletak di bagian tengah Inggris, dan pada malam harinya di Leicester Square di kota London

2.2.4.1.3 Perangkaian Urutan Waktu dengan Konjungsi kemudian

  (29). A. Lho, memang ada apa dengan angka 17? ”coba saja, saya ketika diangkat menjadi Dirut BRI itu tanggal 17 Juli B. Kemudian ketika diminta tinggal di rumah dinas, saya katakan minta tinggal di rumah yang dekat kantor saja

  (Kompas, 23 Maret 2005) Pada data (29) di atas terdapat kohesi, yang ditunjukkan oleh kalimat (29A) dan kalimat (29B). Kalimat Lho, memang ada apa dengan angka 17?” coba saja,

  

saya ketika diangkat menjadi Dirut BRI itu tanggal 17 Juli terlebih dahulu hadir

  sebelum kalimat ketika diminta tinggal di rumah dinas, saya katakan minta tinggal di

  

rumah yang dekat kantor saja. Penggunaan konjungsi kemudian pada (29B) menjelaskan bahwa konjungsi tersebut menyatakan peristiwa, keadaan atau perbuatan berturut-turut yang terjadi atau dilakukan.

2.2.4.2 Perangkaian-ketidakserasian

  Dalam pemakaian bahasa sehari-hari, proposisi yang diurutkan tidak selalu menunjukkan keserasian. Proposisi yang diurutkan itu kadang-kadang menunjukkan ketidakserasian. Ketidakserasian itu pada umumnya ditandai dengan perbedaan proposisi yang terkandung didalamnya, bahkan sampai pada pertentangan. Dua proposisi yang tidak serasi biasanya diurutkan dengan menggunakan piranti tidak serasian (Rani, 2004: 116). Di bawah ini contoh data kohesi perangkaian yang menunjukkan ketidakserasian, sebagai berikut:

  (30). A. Rating-nya anjlok karena jalan ceritanya melompat-lompat akibat diedit B. Padahal, aku sudah berakting sebaik-baiknya

  (Kompas, 14 Maret 2005) Pada data (30) diatas terdapat kohesi, yang ditunjukkan oleh kalimat (30A) dan Kalimat (30B). Konjungsi padahal merupakan piranti kohesi yang menunjukkan adanya ketidakserasian antara proposisi yang pertama dan proposisi yang mengikuti. Tanpa kehadiran konjungsi padahal, contoh (30) tidak dapat dipahami adanya kohesi perangkaian ketidakserasian. Dapat dilihat pada pembuktian sebagai berikut:

  (30a). A. Rating-nya anjlok karena jalan ceritanya melompat-lompat akibat diedit

  Contoh lain kohesi perangkaian ketidakserasian yang ditunjukkan dengan konjungsi padahal dapat dilihat pada contoh (31) : (31). A. Artis kelahiran Israel itu, bersama kru filmnya, harus menghadapi kelompok ultra-ortodoks Yahudi yang marah gara-gara dalam pembuatan film FreeZone, Portman melakukan adegan ciuman dengan aktor Israel, Aki Avni, di Tembok Barat.

  B. Padahal, tempat itu begitu dianggap suci, sampai bersentuhan badan antarseks berbeda saja dilarang terjadi di situ (Kompas, 2 Maret 2005)

2.2.4.3 Perangkaian-Tambahan (Aditif)

  Pada waktu memberikan informasi, penutur kadang-kadang tidak menyampaikan seluruh informasi dengan menggunakan satu kalimat. Hal itu mungkin disebabkan keterbatasan bahasa si penutur dan pertimbangannya atas kemampuan penerima informasi. Dalam hal ini, penutur menyampaikan informasi secara bertahap. Informasi yang disampaikan dengan menggunakan suatu kalimat perlu ditambah lagi. Informasi tambahan itu kadang-kadang tampak lepas dari isi informasi sebelumnya. Oleh karena itu, agar kalimat itu tampak berkaitan secara maknawi, perlu digunakan piranti kohesi tambahan (Rani, 2004: 118). Di bawah ini contoh data yang menunjukkan kohesi perangkaian tambahan, sebagai berikut:

  (32). A. “Dalam janji perkawinan yang kami buat, kami sepakat bahwa kami

  B. Selain itu, kami memegang teguh prinsip “Apakah kamu seseoarng seperti perkataanku atau tidak,”kata aktor yang membintangi I, Robot ini

  (Kompas, 4 Maret 2005) Pada data (32) di atas terdapat kohesi, yang ditunjukkan oleh kalimat (32A) dan kalimat (32B). Frase selain itu pada kalimat (32B) merupakan piranti kohesi tambahan. Proposisi yang mengikuti penjelasan itu memberikan keterangan tambahan proposisi sebelumnya. Proposisi-proposisi yang dihubungkan dengan perangkaian tambahan tersebut pada umumnya bersifat setara, bahkan proposisi itu dapat saling menggantikan. Kalimat (32A) terlebih dahulu hadir sebelum kehadiran kalimat (32B).

  Tanpa kehadiran frase selain itu, contoh data (32) tidak dapat dipahami adanya kohesi perangkaian tambahan. Dapat dilihat pada pembuktian sebagai berikut: (32a). A. “Dalam janji perkawinan yang kami buat, kami sepakat bahwa kami tidak akan mendengar apa yang saya lakukan setelah kejadian B. kami memegang teguh prinsip “Apakah kamu seseorang seperti perkataanmu atau tidak, ”kata aktor yang membintangi I, Robot ini

  S

2.2.4.4 Perangkaian-Ringkasan (Simpulan)

  Piranti tersebut berguna untuk mengantarkan ringkasan dari bagian yang berisi uraian. Biasanya, ringkasan berupa simpulan yang ditarik dari sejumlah data yang telah diungkapkannya (Rani, 2004: 123). Dibawah ini contoh data kohesi

  (33). A. “Untuk mengikuti kegiatan dua sinetron yang ditayangkan di dua televisi ini, waktunya hanya tersisa satu hari dalam satu pekan, yakni kamis, ”ujar wanita yang jarang memakai parfum itu

  B. Jadi, hanya kamis dia istirahat atau bebas dari kegiatan shooting (Kompas, 9 Maret 2005)

  Pada data (33) di atas terdapat kohesi, yang ditunjukkan oleh kalimat (33A) dan kalimat (33B). Konjungsi jadi pada kalimat (33B) menunjukkan suatu ringkasan beberapa proposisi yang telah disebutkan sebelumnya. Kalimat (33B) merupakan hasil ringkasan atau simpulan dari kalimat (33A). Tanpa kehadiran konjungsi jadi, contoh data (33) tidak dapat dipahami adanya kohesi perangkaian ringkasan (simpulan). Dapat dilihat pada pembuktian sebagai berikut:

  (33a). A. “Selain janji perkawinan yang kami buat, kami sepakat bahwa kami tidak akan mendengar apa yang saya lakukan setelah kejadian B. hanya kamis dia istirahat atau bebas dari kegiatan shooting

  Contoh lain kohesi perangkaian ringkasan yang ditunjukkan dengan konjungsi jadi dapat dilihat pada contoh (34): (34). A. “Film saya belum selesai prosesnya, dan tim dari Cannes mengatakan ingin melihat film itu dengan subtitle berbahasa Inggris.

  B. Jadi, tiga hari saya mesti nungguin proses itu, sampai malam-malam (Kompas, 12 Maret 2005)

2.2.4.5 Perangkaian-lebih/ tegasan

  Dalam usaha menyampaikan proposisi kepada penerima, pengirim pesan sering menggunakan pelbagai macam cara agar proposisi yang di sampaikan itu dapat segera dipahaminya. Salah satu cara yang dilakukan pengirim pesan adalah dengan menggunakan cara penegasan. Proposisi yang telah disebutkan perlu ditegaskan lagi agar dapat segera dipahami dan diresapi. Proposisi yang ditegaskan itu pada dasarnya sama dengan proposisi sebelumnya (Rani, 2004: 127). Di bawah ini contoh data kohesi perangkaian-lebih/tegasan, sebagai berikut:

  (35). A. Diberitakan oleh majalah People, Jennifer Aniston menerima banyak sekali kado ulang tahun B. Bahkan, katanya, hadiah sudah mengalir sejak seminggu sebelum acara ulang tahun

  (Kompas, 4 Maret 2005) Pada data (35) di atas terdapat kohesi, yang ditunjukkan oleh kalimat (35A) dan kalimat (35B). Konjungsi bahkan pada kalimat (35B) digunakan sebagai piranti yang menyatakan penegasan yang menyangatkan. Tanpa konjungsi bahkan, contoh diatas telah dapat dipahami adanya kohesi perangkaian-lebih/ tegasan. Hal tersebut dapat dilihat pada pembuktian sebagai berikut:

  (35a). A. Di beritakan oleh majalah People, Jennifer Aniston menerima banyak sekali kado ulang tahun B. katanya, hadiah sudah mengalir sejak seminggu sebelum acara

2.2.4.6 Perangkaian-Pertentangan (kontras)

  Hubungan pertentangan terjadi apabila ada dua ide/ proposisi yang menunjukkan kebalikan atau kekontrasan. Untuk menyatakan adanya hubungan pertentangan dapat digunakan piranti kohesi pertentangan. Piranti tersebut digunakan untuk menghubungkan proposisi yang bertentangan atau kontras dengan bagian lain (Rani, 2004:120). Di bawah ini contoh data kohesi perangkaian yang menunjukkan pertentangan (kontras), sebagai berikut:

2.2.4.6.1 Perangkaian Pertentangan dengan Konjungsi namun

  (36). A. Dia mengaku ingin menjadi pemain yang serius dan profesional

  B. Namun, lingkungan kerja sepertinya tidak mendukung (Kompas, 14 Maret 2005)

  Pada data (36) di atas terdapat kohesi, yang ditunjukkan oleh kalimat (36A) dan kalimat (36B). Penggunaan konjungsi namun pada (36B) untuk mengontraskan konsep bahwa Dia mengaku ingin menjadi pemain serius dan profesional dengan

lingkungan kerja yang tidak mendukung. Hubungan kedua konsep itu terasa kontras.

  Sebenarnya tanpa konjungsi namun dimunculkan, kalimat diatas telah dapat dipahami adanya pertentangan kondisi yang dipaparkan tersebut. Pembuktian tersebut sebagai berikut:

  (36a). A. Dia mengaku ingin menjadi pemain yang serius dan profesional

  B. Lingkungan kerja sepertinya tidak mendukung Namun, konjungsi namun memperjelas hubungan kalimat (36A) dengan Contoh lain kohesi perangkaian yang ditunjukkan dengan konjungsi namun dapat dilihat pada contoh (37): (37). A. Demi mempertahankan peran Jinny itulah, wanita berbobot 42 kilogram dengan tinggi 163 sentimeter ini tidak mau melanjutkan keinginannya yang pernah muncul, yaitu rekaman lagu

  B. Namun karena saking ngebetnya shooting Jinny ini, Diana Pungky sampai sering tidak tahu di mana dirinya sendiri berada (Kompas, 3 Maret 2005)

2.2.4.6.2 Perangkaian Pertentangan dengan Konjungsi tetapi

  (38). A. Menurut dia, sebenarnya setelah yang kedua itu, sinetron Jinny akan dihentikan B. tetapi, karena peminatnya masih banyak, dilanjutkan lagi dengan munculnya Untung Ada Jinny

  (Kompas, 3 Maret 2005) Pada data (38) di atas terdapat kohesi, yang ditunjukkan oleh kalimat (38A) dan kalimat (38B). Penggunaan konjungsi tetapi pada (38B) untuk mengontraskan konsep bahwa Menurut dia, sebenarnya setelah yang kedua itu, sinetron Jinny akan

  

dihentikan dengan karena peminatnya masih banyak, dilanjutkan lagi dengan

munculnya Untung Ada Jinny. Hubungan kedua konsep itu terasa kontras. Tanpa

  konjungsi tetapi, contoh (38) di atas telah dapat dipahami adanya pertentangan. Pembuktian tersebut sebagai berikut:

  (38a). A. Menurut dia, sebenarnya setelah yang kedua itu, sinetron Jinny akan dihentikan B. karena peminatnya masih banyak, dilanjutkan lagi dengan munculnya

  Untung Ada Jinny Contoh lain kohesi perangkaian yang ditunjukkan dengan konjungsi tetapi dapat dilihat pada contoh ( 39): (39). A. “Skenario Janji Joni sebenarnya sudah kutulis sejak masih kuliah di

  ITB tahun 1998 lalu

  B. tetapi baru sempat bikin filmnya sekarang,” ujar pria kelahiran Medan, 3 Januari 1975 ini

  (Kompas, 15 Maret 2005)

2.2.4.6.3 Perangkaian Pertentangan dengan Konjungsi sedangkan

  (40). A. Gong Li terkenal antara lain lewat Film Raise the Red Lantern

  B. Sedangkan Zhang Ziyi muncul bersama Yeoh dalam film Crouching Tiger, Hidden Dragon

  (Kompas, 2 Maret 2005) Pada data (40) di atas terdapat kohesi, yang ditunjukkan oleh kalimat (40A) dan kalimat (40B). Penggunaan konjungsi sedangkan pada (40B) untuk mengontraskan konsep Gong Li terkenal antara lain lewat Raise the Red Lantern dengan Zhang Ziyi muncul bersama yeoh dalam film Crouching Tiger, Hidden

  

Dragon. Hubungan kedua konsep itu terasa kontras. Tanpa konjungsi sedangkan, contoh (40) di atas telah dapat dipahami adanya pertentangan. Pembuktian tersebut sebagai berikut: (40a). A. Gong Li terkenal antara lain lewat Film Raise the Red Lantern

  B. Zhang Ziyi muncul bersama Yeoh dalam film Crouching Tiger, Hidden Dragon

  Namun, konjungsi sedangkan memperjelas hubungan kalimat (40A) dengan kalimat (40B).

2.2.4.7 Perangkaian sebab-akibat

  Sebab dan akibat merupakan dua kondisi yang berhubungan. Hubungan sebab-akibat terjadi apabila salah satu proposisi menunjukkan penyebab terjadinya suatu kondisi tertentu yang merupakan akibat atau sebaliknya (Rani, 2004: 122). Di bawah ini contoh data kohesi perangkaian yang menunjukkan sebab akibat, sebagai berikut :

  (41). A. “Hukuman ringan seperti ini tidak memberi pelajaran bagi masyarakat kalau begini terus, enggak bikin jera B. Akibatnya, kejahatan yang sama berulang lagi berulang lagi dan makin banyak,” kata wanita yang lebih terkenal sebagai Mpok

  Oneng ini (Kompas, 17 Maret 2005)

  Pada data (41) di atas terdapat kohesi, yang ditunjukkan oleh kalimat (41A) dan kalimat (41B). Kalimat (41A) merupakan penyebab terjadinya suatu kondisi yang Untuk memperjelas kohesi perangkaian yang menunjukkan sebab akibat, dihadirkan konjungsi akibatnya untuk memperjelas kohesi tersebut. Tanpa kehadiran konjungsi

  

akibatnya, contoh data (41) dapat terpahami adanya kohesi perangkaian sebab akibat.

  Hal tersebut dapat dilihat pada pembuktian sebagai berikut : (41a). A. “Hukuman ringan seperti ini tidak memberi pelajaran bagi masyarakat kalau begini terus, enggak bikin jera

  B. kejahatan yang sama berulang lagi dan makin banyak,” kata wanita yang lebih terkenal sebagai Mpok Oneng ini

2.3 Kohesi Leksikal

  Kohesi leksikal yang terdapat dam rubrik “Nama dan Peristiwa” dibagi beberapa jenis, yaitu: kohesi pengulangan, sinonimi, dan kolokasi

2.3.1 Kohesi Pengulangan

  Di bawah ini contoh data kohesi pengulangan yang ditunjukkan dengan, kata

  shooting dan kata berdansa

2.3.1.1 Pengulangan dengan Kata shooting (42). A. Jadi, hanya kamis dia istirahat atau bebas dari kegiatan shooting.

  B. Walau sibuk shooting, wanita berdarah Sumatera Utara ini masih sempat pula merasa prihatin (...) (Kompas, 9 Maret 2005)

  Pada data (42) di atas terdapat kohesi, yang ditunjukkan oleh kata shooting kalimat (42A) memiliki arti atau makna yang sama dengan kata shooting pada kalimat (42B) yaitu pengambilan gambar. Buktinya bahwa kata shooting dapat diubah menjadi kelompok kata pengambilan gambar. Oleh karena itu, dapat dilihat pada pembuktian sebagai berikut :

  (42a). A. Jadi, hanya kamis dia istirahat atau bebas dari kegiatan

  pengambilan gambar

  B. Walau sibuk pengambilan gambar, wanita berdarah Suamtera Utara ini masih sempat pula merasa prihatin (...)

2.3.1.2 Pengulangan dengan Kata berdansa

  (43). A. Pernah nonton Berliana Febriyanti (31) berdansa ?

  B. Ia berdansa dengan aktor kawakan Slamet Rahardjo (Kompas, 16 Maret 2005)

  Pada Data (43) di atas terdapat kohesi, yang ditunjukkan oleh kata berdansa pada kalimat (43A) dan kata berdansa pada kalimat (43B). Kata berdansa pada kalimat (43A) memiliki arti atau makna yang sama dengan kata berdansa pada kalimat (43B) yaitu menari cara barat. Buktinya bahwa kata berdansa dapat diubah menjadi kelompok kata menari cara barat. Oleh karena itu, dapat dilihat pad pembuktian sebagai berikut :

  (43a). A. Pernah nonton Berliana Febriyanti (31) menari cara barat ?

  B. Ia menari cara barat dengan aktor kawakan Slamet Rahardjo

2.3.2 Kohesi Sinonimi

  Di bawah ini merupakan contoh data kohesi sinonimi yang ditunjukkan dengan, kata kado bersinonim dengan kata hadiah dan kata pas bersinonim dengan kata cocok :

2.3.2.1 Kohesi sinonimi antara kata kado dan kata hadiah

  (44). A. Diberitakan oleh majalah People, Jennifer Aniston menerima banyak sekali kado ulang tahun B. Bahkan katanya, hadiah sudah mengalir sejak seminggu sebelum acara ulang tahun

  (Kompas, 4 Maret 2005) Pada data (44) di atas terdapat kohesi, yang ditunjukkan oleh kata hadiah pada kalimat (44B) dan kata kado pada kalimat (44A). Hal tersebut dapat dibuktikan bahwa kata hadiah pada kalimat (44B) dapat diganti kata kado pada kalimat (44A). Kata hadiah pada kalimat (44B) memiliki makna yang sama dengan kata kado pada kalimat (44A). Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa antara kalimat (44A) dan (44B) terdapat kohesi sinonimi.Hal tersebut dapat dilihat pada pembuktian sebagai berikut :

  (44). A. Diberitakan oleh majalah People, Jennifer Aniston menerima banyak sekali kado ulang tahun B. Bahkan katanya, kado sudah mengalir sejak seminggu sebelum acara ulang tahun

2.3.2.2 Kohesi sinonimi antara kata pas dan kata cocok

  (45). A. Untuk berakting dalam Film bioskop, Anya belum menemukan peran yang pas B. “Sudah beberapa skenario ditawarkan, tetapi belum cocok,” ujar artis kelahiran Jakarta, 10 November 1982 ini.

  Pada data (45) di atas terdapat kohesi, yang ditunjukkan oleh kata cocok pada kalimat (45B) dan kata pas pada kalimat (45A). Hal tersebut dapat dibuktikan bahwa kata cocok pada kalimat (45B) dapat diganti dengan kata pas pada kalimat (45A).

  Kata cocok pada kalimat (45B) memiliki makna yang sama dengan kata pas pada kalimat (45A). Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa antara kalimat (45A) dan (45B) terdapat kohesi sinonimi. Hal tersebut dapat dilihat pada pembuktian sebagai berikut :

  (46a). A. Untuk berakting dalam Film bioskop, Anya belum menemukan peran yang pas B. “Sudah beberapa skenario ditawarkan, tetapi belum pas,” ujar artis kelahiran Jakarta, 10 November 1982 ini.

2.3.3 Kohesi Kolokasi

  Di bawah ini merupakan contoh data kohesi kolokasi yang ditunjukkan dengan; kata pengadilan berkolokasi dengan kata jaksa dan kata menikah berkolokasi dengan kata melamar.

  2.3.3.1 Kohesi kolokasi antara kata pengadilan dengan kata jaksa

  (47). A. Aktor Mel Gibson berhadapan langsung dengan lelaki yang diajukan ke pengadilan karena menyatroni tempat tinggalnya, di ruang sidang California hari kamis (3/3) lalu.

  B. Jaksa dalam tuntutannya menguraikan, sinclair selalu berusaha mendekati Gibson karena merasa membawa “misi” (...) (Kompas, 5 Maret 2005)

  Dari pembuktian (47a) kata pengadilan dan jaksa sama-sama berada dalam bidang hukum.Hal tersebut dapat menunjukkan bahwa kata pengadilan pada kalimat (47A) memiliki makna yang saling berdekatan dengan kata jaksa pada kalimat (47B). Kata Pengadilan dekat hubungannya dengan konstituen jaksa. Oleh karena itu dapat dilihat pada pembuktian sebagai berikut :

  (47a). A. Aktor Mel Gibson berhadapan langsung dengan lelaki yang diajukan ke pengadilan (secara hukum) karena menyatroni tempat tinggalnya, di ruang sidang California hari kamis (3/3) lalu.

  B. Jaksa (petugas hukum) dalam tuntutannya menguraikan, sinclair selalu berusaha mendekati Gibson karena membawa “misi” (...)

  2.3.3.2 Kohesi kolokasi antara kata menikah dengan kata melamar

  (48). A. Penyanyi rock asal Inggris, Rod Stewart (60), tahun depan berencana

  

menikah dengan Penny Lancaster (33), seorang model B. Secara resmi Stewart telah melamar Penny di sebuah restoran di lantai Dua Menara Eiffel, Paris, Perancis, Rabu (9/3) (Kompas, 16 Maret 2005)

  Pada data (48) di atas terdapat kohesi, yang ditunjukkan kata menikah pada kalimat (48A) dan kata melamar pada kalimat (48B). Hal tersebut dapat dibuktikan bahwa kata menikah pada kalimat (48A) memiliki makna yang saling berdekatan dengan kata melamar pada kalimat (48B). Kata menikah mempunyai makna

  

melakukan nikah (KBBI : 782), sedangkan kata melamar mempunyai makna

meminta wanita untuk dijadikan istri (bagi diri sendiri atau orang lain) meminang

anak perawan (KBBI : 629)Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa antara kalimat

(48A) dan (48B) terdapat kohesi kolokasi.

BAB III PENUTUP Dalam bab ini akan diuraikan mengenai kesimpulan dari hasil penelitian dan saran.

3.1 Kesimpulan

  Keutuhan Wacana dibentuk oleh beberapa aspek, aspek itu di antaranya adalah kohesi. Kohesi dapat membentuk keutuhan wacana dalam kaitannya dengan perpaduan bentuk antarkalimat yang membangun wacana. Wacana tersebut dapat dikatakan kohesif jika antara kalimat yang satu dengan yang lainnya memiliki hubungan yang serasi.

  Kohesi dalam wacana rubrik “Nama dan Peristiwa” dibedakan menjadi dua jenis, yaitu (i) kohesi gramatikal (grammatical cohesion) dan (ii) kohesi leksikal (lexical cohesion). Kohesi gramatikal adalah keterikatan gramatikal antara bagian– bagian wacana. Kohesi leksikal adalah keterikatan leksikal antara bagian-bagian wacana. Kohesi gramatikal kemudian dapat dirinci lebih lanjut menjadi kohesi penunjukan, kohesi penggantian, kohesi pelesapan, dan kohesi perangkaian. Pertama, kohesi penunjukan, penunjukan anaforis ditandai adanya konstituen yang menunjuk konstituen disebelah kiri, seperti kata tersebut, kata ini, dan kata itu.. Kedua, kohesi penggantian yang terdiri dari, kohesi penggantian kata ganti orang ketiga dia, kohesi penggantian dengan kata ganti orang ketiga ia, kohesi penggantian dengan kata ganti orang ketiga tunggal –nya, kohesi penggantian dengan kata ganti orang ketiga jamak

mereka. Ketiga, kohesi pelesapan yang ditandai dengan konstituen zero (Ø). Keempat, kohesi perangkaian dibagi menjadi tujuh kategori yaitu, (i), perangkaian- urutan waktu yang ditunjukkan dengan frase setelah itu dan konjungsi lalu,

  

kemudian, (ii), perangkaian-ketidakserasian yang ditunjukkan dengan konjungsi

padahal, (iii), perangkaian-tambahan (Aditif) yang ditunjukkan dengan frase selain

itu, (iv), perangkaian-ringkasan (simpulan) yang ditunjukkan dengan konjungsi jadi,

  (v), perangkaian-lebih/ tegasan yang ditunjukkan dengan konjungsi bahkan, (vi), perangkaian-pertentangan (kontras) yang ditunjukkan dengan konjungsi namun, tetapi, sedangkan, (vii), Perangkaian-sebab Akibat yang ditunjukkan dengan konjungsi akibatnya. Kohesi leksikal kemudian dapat dirinci lebih lanjut menjadi kohesi pengulangan, kohesi sinonimi, dan kohesi kolokasi. Kohesi pengulangan seperti pengulangan pada kata shooting dan pengulangan pada kata berdansa. Kohesi sinonimi yang ditunjukkan kata kado yang bersinonim dengan kata hadiah, kata pas yang bersinonim dengan kata cocok. Kohesi kolokasi yang ditunjukkan kata

  

pengadilan yang berkolokasi dengan kata jaksa, dan kata menikah yang berkolokasi

dengan kata melamar.

3.2 Saran

  Dalam kaitannya dengan bidang linguistik, kohesi pada wacana rubrik nama dan peristiwa belum merupakan analisis secara lengkap dan menyeluruh, karena hanya dibahas tentang beberapa macam kohesi saja. Oleh karena itu penelitian lebih lanjut masih perlu dilakukan, misalnya dengan meninjau hubungan koherensi dan unsur pembentuk wacana pada rubrik “Nama dan Peristiwa”.

  

DAFTAR PUSTAKA

Alwasilah, A Chaedar. 1989. Sosiologi Bahasa. Bandung : Angkasa.

  Assegaff, Dja’far H. 1991. Jurnalistik Masa Kini. Jakarta : Ghalia Indonesia. Baryadi, I . Praptomo. 1990. “ Teori Kohesi M . A . K Halliday dan Ruqaiya Hasan dan

  Penerapannya untuk Analisis Wacana Bahasa Indonesia “. Dalam GATRA Ke Arah Pengajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Nomor 10/11/12. ___________. 2002. Dasar-dasar Analisis Wacana dalam Ilmu Bahasa. Yogyakarta: Pustaka Gondho Suli. Chaer, Abdul. 1990. Penggunaan Preposisi dan Konjungsi Bahasa Indonesia. Flores: Nusa Indah. ___________. 1998. Tata Bahasa Praktis Bahasa Indonesia. Jakarta: Penerbit Rineka Cipta. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1997. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia.

  Jakarta: Balai Pustaka. Fitri. 2003. “ Kohesi dan Koherensi dalam Wacana “ Pojok KR”. Skripsi. Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

  Keraf, Gorys. 1982. Argumentasi dan Narasi. Jakarta: Gramedia. . 1993. Komposisi. Ende: Nusa Indah. Kridalaksana, Harimurti. 1978. “Keutuhan Wacana “. Dalam Majalah Bahasa dan Sastra.

  Tahun IV. Nomor I. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. ___________. 1984. Kamus Linguistik. Jakarta: Gramedia. Kristanto. 2000. “ Kekohesifan dalam kalimat Majemuk Setara dalam Bahasa Indonesia “ Skripsi. Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

  Kusumanthara. 2000. Wacana Advertorial dalam Surat Kabar Harian Kompas edisi Januari s.d Juni 2004. Skripsi. Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

  Moeliono, Anton. 1988. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

  __________. 1993.Paragraf: Alur Pikiran dan Kepaduannya dalam Bahasa Indonesia.

  Yogyakarta: Andi Offset. Rani, Abdul. 2004. Analisis Wacana Sebuah Kajian Bahasa dalam Pemakaian. Malang: Bayumedia Publishing.

  Razak, Abdul. 1985. Kalimat Efektif Struktur, Gaya, dan Variasi. Jakarta: Gramedia. Sudaryanto. 1986. Metode Linguistik ke Arah Memahami Metode Linguistik Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

  . 1993. Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa. Yogyakarta: Duta Wacana University Press. Tarigan, Henry Guntur. 1997. Pengajaran Wacana. Bandung : Angkasa. Wahyuningsih, Maria Estri. 1993. Analisis Wacana “Nama dan Peristiwa” Surat Kabar

  Kompas: Sebuah tinjauan stuktural. Skripsi. Fakultas Keguruan dan IlmuPendidikan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Viko, Ronnie S. 1992. “Feature”. Dalam Buku Pintar Kursus Jurnalistik. Yogyakarta: Balai Pengembangan Profesi.

  L A M P I R A N

  

BIOGRAFI PENULIS

Penulis dilahirkan di Temanggung pada tanggal 28 Juli 1982.

  Menyelesaikan pendidikan taman kanak-kanak di Taman Kanak-kanak (TK) Masehi Temanggung pada tahun 1987- 1995. Menyelesaikan pendidikan sekolah dasar di sekolah Dasar (SD) Masehi Temanggung pada tahun 1989-1995.

  Menyelesaikan pendidikan sekolah lanjutan tingkat pertama di Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) Masehi Temanggung pada tahun 1995-1998.

  Menyelesaikan pendidikan sekolah lanjutan tingkat atas di Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) Kristen 2 Magelang pada tahun 1998-2001. Penulis kemudian menyelesaikan pendidikan perguruan tinggi (Strata 1) di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta pada Program Studi Sastra Indonesia, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, pada tahun 2001-2007.

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Kompetisi Antar Industri Surat Kabar (Studi Analisis Isi dan Aplikasi Teori Niche pada Kompetisi Antar Industri Surat Kabar Harian ANALISA dan Harian GLOBAL)
5
44
126
Studi Analisis Isi Tentang Pemberitaan Agresi Israel ke Jalur Gaza di Surat Kabar Harian Kompas dan Waspada
1
32
127
Analisis Penggunaan Kohesi Dalam Tajuk Rencana Harian Kompas
0
24
3
Â’Kohesi Gramatikal dan Leksikal dalam Wacana Tulis Rubrik Opini Surat Kabar Kompas Edisi September 2013.
0
10
27
Pemberitaan Bencana Lumpur Lapindo dalam Foto (Analisis isi foto Bencana Lumpur Lapindo dalam Surat Kabar Harian KOMPAS edisi 1 Desember 2006 – 31 Mei 2007)
0
9
2
Studi tentang Stress Pada Wartawan Surat Kabar Harian
0
10
2
Gejala Bahasa Pleonasme dalam Wacana Berita di Surat Kabar Kompas dan Media Indonesia
0
13
8
Analisis isi pesan dakwah pada rubrik kisah sejati Majalah Annida edisi Januari - Maret 2008
3
41
57
Penggunaan Diksi dalam Surat Pembaca Surat Kabar Harian Kompas dan Implikasinya pada Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia Kelas IX SMP
0
3
141
Nilai Budaya dalam Foto Jurnalistik (Analisis Semiotik Foto Headline di Surat Kabar Harian Kompas Edisi Ramadan 1434 H./2013 M.)
4
21
147
Kohesi Tekstual dan Kontekstual Rubrik “Suarapublika” di Surat Kabar Republika
0
2
127
Analisis Fungsi Tekstual dalam Surat Kabar Harian Haluan - Universitas Negeri Padang Repository
0
0
126
PEMBINGKAIAN BERITA TERPILIHNYA DARMIN SEBAGAI GUBERNUR BANK INDONESIA PERIODE 2010-2014 (Studi Analisis Framing Tentang Berita Terpilihnya Darmin sebagai Gubernur Bank Indonesia periode 2010- 2014 pada Surat Kabar Harian Kompas dan Jawa Pos edisi 22 s.d
0
0
22
PEMBINGKAIAN BERITA PENYITAAN HARTA IRJEN DJOKO SUSILO OLEH KPK (Analisis Framing tentang Penyitaan Harta Irjen Djoko Susilo oleh KPK di Surat Kabar JawaPos dan Kompas Periode 12 Maret sampai 19 Maret 2013)
0
0
16
Surat Kabar dan Pemilukada DKI Jakarta 2017 (Studi Kecenderungan Penulisan Tajuk Rencana Pada Surat Kabar Harian Kompas dan Media Indonesia Terkait dengan Pemilihan Umum Kepala Daerah DKI Jakarta 2017) - UNS Institutional Repository
0
0
15
Show more