Evaluasi pemilihan dan penggunaan obat antidiabetes pada kasus diabetes mellitus instalansi rawat inap Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta periode Januari-Desember 2005 - USD Repository

Gratis

0
0
106
9 months ago
Preview
Full text

  

EVALUASI PEMILIHAN DAN PENGGUNAAN OBAT

ANTIDIABETES PADA KASUS DIABETES MELLITUS

  

INSTALASI RAWAT INAP RUMAH SAKIT PANTI RAPIH YOGYAKARTA

PERIODE JANUARI-DESEMBER 2005

SKRIPSI

  

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm.)

Program Studi Ilmu Farmasi

  Oleh : Cecilia Lenny Pravita Pertiwi

  NIM: 028114012

  

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  

INTISARI

  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kecenderungan (trend) terapi dan mengevaluasi pemilihan dan penggunaan antidiabetes pada kasus Diabetes mellitus (DM) instalasi rawat inap Rumah sakit Panti rapih yogyakarta Periode Januari- Desember 2005

  Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan rancangan deskriptif non-analitik. Bahan penelitian yang digunakan adalah kartu rekam medik pasien Diabetes mellitus instalasi rawat inap Rumah Sakit panti Rapih yogyakarta periode januari-Desember 2005. Data yang terkumpul dikelompokkan berdasarkan profil pasien, profil peresepan, dan pemilihan serta penggunaan antidiabetes.

  Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kasus Diabetes mellitus di instalasi rawat inap Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta, pasien dengan jenis kelamin perempuan lebih banyak daripada laki-laki (51 %), pasien terbanyak pada kelompok usia lebih dari 60 tahun (46,1 %). Tipe DM yang paling banyak diderita adalah DM tipe 2 (98,4 %). Pasien paling banyak menderita DM, disertai penyakit penyerta (46 %), dan komplikasi yang paling banyak diderita adalah ulkus (17,5%) . Kelas terapi obat yang paling banyak diresepkan adalah antidiabetes (84,1 %), dan golongan antidiabetes yang paling banyak diresepkan adalah metformin (47,6 %) sehingga dapat disimpulkan pula bahwa trend terapi DM periode Januari-Desember 2005 berpusat pada metformin. Penggunaan antidiabetes oral secara tunggal tercatat paling banyak dibanding penggunaan secara kombinasi (23,0 %). Dari perbandingan hasil terapi pasien diperoleh kesimpulan bahwa kombinasi insulin dengan non sulfonilurea adalah jenis terapi yang paling baik karena paling mampu menurunkan kadar gula darah pasien menjadi mendekati normal sesuai dengan tujuan terapi DM yang utama. Kasus DRP yang terjadi adalah adverse drug reaction (ADR) 4 kasus (6,3%) dan butuh terapi obat tambahan sebanyak 11 kasus (17,5%).

  Kata kunci: Diabetes mellitus, Antidiabetes, Drug Related Problem.

  .

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  

ABSTRACT

  The purpose of this research was to know the trend of therapy and to evaluate the antidiabetics selection and usage in diabetes mellitus cases during hospitalization in Panti Rapih hospital in Yogyakarta during January-December 2005.

  This research was an observational experimental and done with descriptive non-analytic research design. The material used in this research was medical record of 51 diabetes mellitus patients. The result data was grouped based on patient profile, prescribing profile, and antidiabetics selectipn and utilization.

  The result showed that most patient are woman (51%), and 46.1 % in persons age 60 or older. Type 2 DM accounts for as much as 98.4 % of all cases of DM. Most patient have DM with the other disease (46%), and complication disease that often happen are ulcus DM (17.5 %). Antidiabetics are the most prescribing class of therapy (84.1%), Biguanide (metformin) are the most prescribing antidiabetics (47.6%) and from that result we can figure that trend of therapy has change from sulfonilurea to biguanide which is metformin. The utilization of single oral antidiabetics are the most found case (23.0%). The result data of outcome therapy show that utilization combination of insulin and non-sulfonilurea drug therapy are the best way to decrease the level of blood sugar concentration. The DRP cases that happened during therapy are 4 cases of adverse drug reaction (6.3%) and 11 cases of needs additional drug therapy (17.5%). Key words: Diabetes mellitus, Antidiabetics, Drug related problems.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  

PRAKATA

  Skripsi ini berjudul “EVALUASI PEMILIHAN DAN PENGGUNAAN

  

ANTIDIABETES PADA KASUS DIABETES MELLITUS INSTALASI

RAWAT INAP RUMAH SAKIT PANTI RAPIH YOGYAKARTA PERIODE

JANUARI-DESEMBER 2005” disusun untuk memenuhi salah satu syarat

  memperoleh gelar sarjana (S.Farm) di Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

  Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Yesus Kristus, Tuhan dan Sahabat sejati, yang telah melimpahkan kasih karunia dan kemurahan sehingga penulisan skripsi ini dapat terselesaikan.

  Skripsi ini dapat terselesaikan berkat bantuan dan dukungan baik moril maupun materiil dari banyak pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:

  1. Ibu Rita Suhadi, M.Si, Apt. selaku Dekan Fakultas Farmasi dan dosen pembimbing yang telah banyak memberikan pengarahan, motivasi dan masukan selama penulis menyelesaikan skripsi ini.

  2. Ibu dr. Luciana Kuswibawati, M.Kes. selaku dosen penguji atas bantuan, bimbingan dan saran yang diberikan selama penyusunan skripsi ini.

  3. Bapak Drs. Mulyono, Apt. selaku dosen penguji atas bantuan, bimbingan, dan saran yang diberikan selama penyusunan skripsi ini.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  4. Bapak JB. S. Amir Marwata selaku wakil direktur SDM dan informasi rumah sakit Panti Rapih Yogyakarta atas kesempatan dan bantuan yang diberikan kepada penulis selama pelaksanaan penelitian di rumah sakit.

  5. Seluruh staf rekam medik rumah sakit Panti Rapih Yogyakarta atas semua bantuan dan perhatian yang diberikan kepada penulis selama pelaksanaan penelitian di rumah sakit.

  6. Ayah dan Bundaku tercinta, “ Terimakasih untuk setiap doa, kasih yang tanpa pamrih, kesabaran yang tak berbatas, dan dukungan yang tanpa akhir”.

  7. Adikku tersayang Angga, terimakasih untuk kebersamaan , doa, dukungan, dan semangat yang diberikan.

  8. Rikky, terimakasih untruk setiap senyum, doa, dukungan, semangat dan hari-hari yang penuh makna. “Thanks God I found you”

  9. Saudara-saudaraku terkasih, Ninik, Us, dan Senggi. Terima kasih untuk setiap sapaan, canda tawa dan kebersamaan saat hari-hari burukku.

  10. Sahabat-sahabat tercinta Mili dan Kai, terimakasih untuk persahabatan semangat, bantuan dan loyalitas.

  11. Roma dan Orry terimakasih untuk persaudaraan dan semangat dari kalian.

  12. Wenny, Astu, Astri, terimakasih atas bantuan dan dukungannya.

  13. Om Yanto dan tante Mirna, terima kasih untuk semua dukungan dan bantuan.

  14. Doggy Robertio dan Corel Draw terimakasih untuk hiburan dan perhatian setiap harinya.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  16. Teman-teman Fakultas Farmasi angkatan 2002.

  17. Semua pihak yang telah banyak membantu dan tidak dapat disebutkan satu per satu.

  Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam pengerjaan dan penyelesaian skripsi ini, sehingga segala saran dan kritik yang bersifat membangun sangat penulis harapkan. Semoga skripsi ini dapat membantu dan bermanfaat bagi pembaca pada khususnya, dan ilmu pengetahuan pada umumnya.

  Yogyakarta, 12 Desember 2006 Penulis Cecilia Lenny Pravita Pertiwi

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  halaman HALAMAN JUDUL ……………………………………………………………… i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ………………………………….. ii HALAMAN PENGESAHAN ……………………………………………………. iii HALAMAN PERSEMBAHAN ………………………………………………….. iv PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ………………………………………….. v

  INTISARI …………………………………………………………………………. vi

  

ABSTRACT ………………………………………………………………………. vii

  PRAKATA ………………………………………………………………………...viii DAFTAR ISI ……………………………………………………………………… xi DAFTAR GAMBAR ……………………………………………………………... xv DAFTAR TABEL ……………………………………………………………….... xvi DAFTAR LAMPIRAN ………………………………………………………….. xviii

BAB I. PENGANTAR ……………………………………………………………. 1 A. Latar Belakang ……………………………………………………………. 1

  1. Permasalahan …………………………………………………………... 4

  2. Keaslian Penelitian …………………………………………………….. 5

  3. Manfaat Penelitian …………………………………………………….. 7

  B. Tujuan Penelitian ………………………………………………………… 8

  1. Tujuan Umum …………………………………………………………. 8

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  2. Tujuan Khusus ………………………………………………………… 8

  

BAB II. PENELAAHAN PUSTAKA ………………………………………….. 10

A. Diabetes Mellitus ………………………………………………………… 10

  1. Definisi ………………………………………………………………… 10

  2. Klasifikasi dan Penyebab ……………………………………………… 10

  3. Gejala ………………………………………………………………….. 11

  4. Mekanisme Metabolisme ……………………………………………… 12

  5. Diagnosis ……………………………………………………………… 13

  6. Penatalaksanaan ………………………………………………………. 14

  7. Komplikasi …………………………………………………………….. 15

  B. Antidiabetes Oral ………………………………………………………….. 16

  1. Golongan Sulfonilurea …………………………………………………. 18 2. golongan Biguanid ……………………………………………………... 18

  3. Golongan Thiazolidin ………………………………………………….. 19

  4. Golongan Penghambat

  α-Glukosidase …………………………………. 19

  5. Golongan Meglitinid …………………………………………………… 19

  C. Insulin ……………………………………………………………………... 19

  D. Drug Related Problem .................................................................................. 21

  E. Keterangan Empiris ……………………………………………………….. 23

  

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN ……………………………………… 24

A. Jenis dan Rancangan Penelitian …………………………………………… 24

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  B. Definisi Operasional ………………………………………………………. 24

  C. Subyek dan tempat Penelitian ……………………………………………... 26

  D. Jalannya Penelitian ………………………………………………………… 26

  E. Tata Cara Pengolahan Hasil ……………………………………………… 27

  F. Kesulitan Penelitian ………………………………………………………. 28

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ……………………………………….. 30 A. Profil Pasien ………………………………………………………………. 30

  1. Karakteristik Pasien ……………………………………………………. 30

  2. Jenis Penyakit …………………………………………………………... 32

  B. Profil Peresepan ………………………………………………………….. 36

  1. Kelas Terapi Obat ……………………………………………………… 36

  2. Golongan Antidiabetes …………………………………………………. 38

  C. Pemilihan dan Penggunaan Antidiabetes …………………………………. 38

  1. Kombinasi Golongan Antidiabetes …………………………………….. 38

  2. Hasil Terapi Pasien DM ……………………………………………….. 40

  a. Terapi Insulin ……………………………………………………… 41

  b. Terapi Antidiabetes Oral Tunggal …………………………………. 42

  c. Terapi Insulin Kombinasi Sulfonilurea ……………………………. 44

  d. Terapi Insulin kombinasi Non-Sulfonilurea ……………………….. 45

  e. Kombinasi Antidiabetes Oral ……………………………………… 46

  f. Tidak Menggunakan Antidiabetes …………………………………. 47

  D. Kecenderungan dan Kerasionalan Pemilihan Antidiabetes ………………. 48

  E. Rangkuman Pembahasan …………………………………………………. 53

  

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN ……………………………………….... 56

A. Kesimpulan ……………………………………………………………….. 56 B. Saran ……………………………………………………………………… 57

DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………………. 58

LAMPIRAN ……………………………………………………………………... 61

BIOGRAFI PENULIS…………………………………………………………… 88

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  

DAFTAR GAMBAR

  Gambar 1. Mekanisme dan Tempat Kerja Antidiabetes Oral ............................... 17 Gambar 2. Persentase Distribusi Jenis Kelamin Pasien DM Rawat Inap di RumahSakit Panti Rapih Yogyakarta Periode januari-Desember

  2005 .................................................................................................... 31 Gambar 3. Distribusi Peresepan Antidiabetes Oral tunggal pada Pasien DM

  Rawat Inap Rumah Sakit panti rapih Yogyakarta Periode Januari-Desember 2005 ....................................................................... 43

  PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

DAFTAR TABEL

  Tabel I Farmakokinetika Insulin yang Digunakan Secara Subkutan ……… 20 Tabel II. Distribusi Umur Pasien DM Rawat Inap di Rumah Sakit Panti Rapih

  Yogyakarta Periode januari-Desember 2005 ..................................... 31 Tabel III. Distribusi Kasus DM pada Pasien Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rapih

  Periode Januari-Desember 2005 ......................................................... 32 Tabel IV. Distribusi Jenis Kasus Penyakit DM pada Pasien yang Menjalani Rawat

  Inap di Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta Periode Januari-Desember 2005 ................................................................................................... 33 Tabel V. Distribusi Komplikasi kasus DM Pasien Rawat Inap Rumah sakit Panti rapih Yogyakarta Periode januari-Desember 2005 ............................ 33 Tabel VI. Distribusi Jenis Penyakit Penyerta Kasus DM Rawat Inap Rumah Sakit

  Panti Rapih Yogyakarta Periode Januari-Desember 2005 ................. 35 Tabel VII. Distribusi Kelas Terapi Obat yang Diresepkan pada Kasus DM Rawat

  Inap Rumah Sakit panti rapih Yogyakarta Periode Januari-Desember 2005 .................................................................................................... 37 Tabel VIII. Distribusi Golongan Antidiabetes yang Diresepkan pada Kasus DM

  Rawat Inap Rumah Sakit panti rapih Yogyakarta Periode Januari- Desember 2005 ................................................................................... 38

  PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Tabel IX. Distribusi Penggunaan Golongan Antidiabetes yang Diresepkan pada Kasus DM rawat inap Rumah Sakit panti Rapih Yogyakarta Periode 2005 .................................................................................................... 39

  Tabel

  X. Hasil Terapi Pasien DM Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta Periode Januari-Desember 2005 ..................................... 40

  Tabel XI. Distribusi Sediaan Insulin yang Diresepkan Pada Pasien DM dengan Terapi Insulin di Instalasi rawat Inap Rumah Sakit panti rapih yogyakarta Periode Januari-Desember 2005 ..................................... 41

  Tabel XII. Distribusi Penggunaan Insulin Kombinasi ADO Non-Sulfonilurea Pada Pasien DM Rawat Inap Rumah Sakit panti rapih Yogyakarta Periode Januari-Desember 2005 ..................................................................... 46

  Tabel XIII. Distribusi Penggunaan Kombinasi ADO pada Pasien DM Rawat Inap Rumah Sakit panti rapih Yogyakarta Periode Januari-Desember 2005 ................................................................................................... 47

  Tabel XIV. Perbandingan Beberapa Hasil Penelitian Peresepan Antidiabetes Oral Terhadap Pasien DM .......................................................................... 51

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Lampiran 1. Data rekam Medik pasien Diabetes Mellitus Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta Periode Januari-Desember 2005 ……. 61

  Lampiran 2. Daftar Singkatan dan Istilah ………………………………………… 86 Lampiran 3. Ijin Penelitian ……………………………………………………….. 87

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

BAB I PENGANTAR A. Latar Belakang Diabetes mellitus (DM) adalah suatu kelompok penyimpangan metabolisme

  yang ditandai oleh naiknya kadar gula dalam darah, dan diasosiasikan dengan abnormalitas metabolisme karbohidrat, protein, dan lemak. Selain itu DM juga dapat meningkatkan risiko komplikasi antara lain mikrovaskuler, makrovaskuler dan neuropati (Triplitt, Reasner, & Isley,2005).

  Prevalensi DM terus meningkat, dan dari semua kasus yang ada 90% diantaranya adalah DM tipe 2. Prevalensi DM tipe 2 di Amerika Serikat kira-kira 8,7% dari semua orang yang berumur 20 tahun ke atas. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap terjadinya risiko DM diantaranya adalah riwayat keluarga (orang tua atau saudara kandung yang mengidap DM), kegemukan (

  ≥20% dari berat badan ideal, atau body mass index (BMI) ≥ 25 kg/m2), kegiatan fisik rutin yang tidak sehat, ras atau etnis, hipertensi (

  ≥140/90 mm Hg pada dewasa), nilai high density

  lipoprotein (HDL)

  ≤ 35 mg/dL, angka trigliserida ≥ 250 mg/dL, riwayat DM gestational atau melahirkan bayi dengan berat >4,5 kg, dan riwayat penyakit vaskuler (Triplitt, et al, 2005).

  Berbagai penelitian epidemiologi di Indonesia melaporkan bahwa prevalensi DM sebesar 1,5-2,3% pada penduduk dengan usia lebih dari 15 tahun bahkan di

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Manado didapatkan prevalensi DM 6,1%. Prevalensi DM pada daerah urban di Jakarta meningkat dari 1,7% pada tahun 1982 menjadi 5,7% pada tahun 1993.

  Demikian pula prevalensi DM di Ujung Pandang pada daerah urban meningkat dari 1,5% pada tahun 1981 menjadi 2,9% pada tahun 1998 (Anonim, 1998).

  Semua fakta diatas menunjukkan bahwa DM merupakan masalah yang serius dalam masyarakat. Sampai saat ini belum ada obat yang dapat menyembuhkan DM. Obat-obat antidiabetes yang ada lebih berfungsi sebagai pengendali DM. Obat antidiabetes yang tersedia di pasaran meliputi antidiabetes oral dan insulin.

  Saat ini banyak sekali golongan antidiabetes oral yang dikenal dan banyak diresepkan sebagai terapi terhadap pasien DM yaitu: sulfonilurea meliputi glipizid, glikazid, glikuidon, glibenklamid, glimepirid; biguanida meliputi metformin; penghambat glukosidase-

  α meliputi akarbosa; thiazolidin meliputi pioglitazon, rosiglitazon; dan meglitinid meliputi repaglinid dan nateglinid.

  Berbagai penelitian seperti yang dilakukan oleh Nadeak (2000) menyebutkan bahwa antidiabetes oral yang paling banyak digunakan adalah sulfonilurea dan yang paling sedikit digunakan adalah insulin. Ule (2000) menyebutkan bahwa golongan sulfonilurea penggunaannya paling tinggi diantara antidiabetes oral yang lain. Golongan sulfonilurea yang biasa digunakan meliputi glibenklamida, glikuidon, glikazid, dan klorpropamida.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Banyaknya penelitian yang menyebutkan bahwa sulfonilurea adalah golongan antidiabetes yang paling banyak diresepkan mendorong penulis untuk membandingkan penggunaan sulfonilurea baik yang digunakan secara kombinasi maupun tunggal dengan antidiabetes lain terhadap hasil terapi pasien DM. Oleh karena alasan tersebut maka penulis berniat menyusun skripsi dengan judul “Perbandingan Penggunaan Sulfonilurea Banding Non-Sulfonilurea Banding Kombinasi Terhadap Hasil Terapi Pasien Diabetes Mellitus Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta Periode Januari-Desember 2005”.

  Namun setelah dilakukan penelitian terhadap pasien DM instalasi rawat inap rumah sakit Panti Rapih Yogyakarta (RSPR) periode Januari- Desember banyak muncul antidiabetes selain sulfonilurea sebagai pilihan terapi.

  Oleh karena itu, untuk melihat seperti apakah pemilihan dan penggunaan antidiabetes yang sedang terjadi di Rumah Sakit Panti Rapih (RSPR) Yogyakarta pada periode Januari–Desember 2005 penulis memilih judul “Evaluasi Pemilihan dan Penggunaan Antidiabetes pada Kasus Diabetes Mellitus Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta Periode Januri-Desember 2005”. Penelitian juga mencakup perbandingan hasil terapi pasien DM yang mendapatkan terapi insulin, antidiabetes oral (ADO) tunggal, insulin kombinasi sulfonilurea, insulin kombinasi non sulfonilurea, kombinasi ADO, dan pasien yang tidak menerima antidiabetes, sehubungan dengan pergeseran kecenderungan (trend) pemilihan dan penggunan antidiabetes yang terjadi.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Penelitian dilakukan terhadap pasien rawat inap karena data rekam medik pasien rawat inap diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih mempresentasikan kulitas terapi yang sebenarnya. Penelitian ini bertempat di RSPR Yogyakarta yang mempunyai visi sebagai rumah sakit rujukan yang memandang pasien sebagai sumber inspirasi dan motivasi kerja dengan memberikan pelayanan kepada siapa saja secara professional dan penuh kasih dalam suasana syukur pada Tuhan. Misi RSPR adalah menyelenggarakan pelayanan kesehatan menyeluruh secara ramah, adil, profesional, ikhlas dan hormat dalam semangat iman Katolik.

  Penelitian ini bertempat di RSPR yogyakarta karena rumah sakit ini menjadi tempat rujukan bagi banyak rumah sakit lain, sehingga kasus yang terjadi merupakan kasus-kasus yang kompleks dan menjadikan RSPR sebagai rumah sakit yang layak untuk penelitian.

1. Permasalahan

  Permasalahan-permasalah yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah: a. seperti apakah profil meliputi jenis kelamin, umur, tipe DM, jenis kasus DM, penyakit komplikasi, dan penyakit penyerta pasien DM yang ada di RSPR? b. seperti apakah profil peresepan meliputi kelas terapi obat, golongan antidiabetes, dan distribusi penggunaan golongan antidiabetes pada pasien DM di RSPR? c. seperti apakah hasil terapi terhadap keadaan akhir pasien mencakup kadar gula akhir, rata-rata durasi kadar gula mencapai normal, durasi tinggal, dibandingkan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  dengan kondisi awal pasien mencakup, jumlah penyakit komplikasi, jumlah penyakit penyerta, kadar gula awal pasien beserta perbandingan hasil terapi antara pasien DM dengan terapi insulin, ADO tunggal, insulin kombinasi sulfonilurea, insulin kombinasi non sulfonilurea, kombinasi ADO, dan pasien yang tidak menerima antidiabetes serta drug related problem (DRP) yang terjadi selama terapi? d. seperti apakah pergeseran kecenderungan pemilihan dan kerasionalan penggunaan antidiabetes pada kasus diabetes mellitus instalasi rawat inap Rumah

  Sakit Panti Rapih Yogyakarta periode Januari-Desember 2005? 2.

   Keaslian Penelitian

  Banyak penelitian yang sudah pernah dilakukan menyangkut terapi terhadap pasien DM diantaranya tercantum di bawah ini: a.

  “Gambaran Penggunaan Obat Pada Penderita Diabetes Mellitus di Instalasi rawat inap RS. Panti Rapih Yogyakarta. Periode Agustus-September 1998” oleh Damayanti (2000) yang meneliti tentang jenis DM, komplikasi penyakit DM, rata-rata jumlah obat, golongan obat, dan cara pemberian obat.

  b. “Pola Penggunaan Obat Antidiabetika Oral untuk Penderita Diabetes Mellitus Usia Lanjut di Instalasi Rawat Jalan RS Panti Rapih Yogyakarta Periode Januari- Juni 1997” oleh Ule (2000) yang meneliti tentang jumlah penggunaan obat

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  antidiabetika oaral (ADO), golongan ADO, dosis pemakaian ADO, dan rata-rata biaya obat.

  c. “Pola Penggunaan Antidiabetika Oral Bagi Pasien Diabetes Mellitus Rawat Jalan di RS Bethesda Yogyakarta Periode Januari-Desember 1998” oleh Nadeak (2000) yang meneliti tentang jenis ADO, cara pemberian, rata-rata jumlah ADO, jenis ADO, golongan ADO, dan dosis pemakaian ADO.

  d.

  “Gambaran Peresepan Obat pada Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2 di Instalasi rawat inap RS Dr. Sardjito Yogyakarta Periode 2001-2002” oleh Triastuti (2004) yang meneliti tentang kelas terapi DM tipe 2, jenis obet tipe DM 2, jumlah obat yang diberikan pada pasien DM tipe 2, cara pemberian, bentuk sediaan, dosis obat, dan lama perawatan pasien DM tipe 2.

  e. “Kajian Pemilihan Obat Hipoglikemik Oral pada Terapi Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2 Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta Periode November-Desember 2002” oleh Wijoyo (2004).

  f. “Pola Peresepan Obat Hipoglikemi dan Studi Literature Interaksi Obat pada Pasien Diabetes Mellitus Rawat Inap di Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta Periode Januari-Maret 2002” oleh Suryawanti (2004).

  g. “Pola Peresepan Obat Hipoglikemik Oral untuk Penderita Diabetes Mellitus Usia Lanjut di Instalasi Rawat Inap Rumah sakit St. Antonio Baturaja Sumatra Selatan Periode Tahun 2002” oleh Sumiyem (2003).

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  h.

  “Gambaran Penatalaksanaan Diabetes Mellitus pada Pasien Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rapih Juli-Desember 2003” oleh Utomo ( 2005).

  Perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya adalah penelitian ini lebih terfokus pada kecenderungan (trend) terapi yang diberikan dan yang sedang terjadi serta melihat hasil terapi pada pasien DM RSPR periode Januari-Desember 2005.

3. Manfaat Penelitian

  a. Manfaat Teoritis

  Manfaat teoritis penelitian adalah memberikan informasi mengenai trend terapi DM yang sedang terjadi serta hasil berbagai macam bentuk terapi baik dengan menggunakan antidiabetes oral tunggal, insulin ataupun kombinasi antidiabetes oral dan insulin.

  b. Manfaat Praktis

  Disamping manfaat teoritis penelitian diharapkan dapat memberikan masukan bagi tenaga-tenaga kesehatan yaitu dokter, farmasis dan perawat dalam pengembangan pelayanan farmasi di rumah sakit sehingga dapat meningkatkan kualitas pelayanan pada umumnya.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

B. Tujuan Penelitian

  1. Tujuan umum

  Tujuan umum dari penelitian adalah mengetahui pemilihan dan penggunaan terapi yang diberikan pada pasien DM dan hasil terapi terhadap pasien DM RSPR Yogyakarta periode 2005.

  2. Tujuan khusus

  Tujuan khusus dari penelitian ini adalah:

  a. mengetahui profil pasien DM meliputi jenis kelamin, umur, tipe DM, jenis kasus DM, penyakit komplikasi, dan penyakit penyerta pasien DM yang ada di RSPR.

  b. mengetahui profil peresepan meliputi kelas terapi obat, golongan antidiabetes, dan distribusi penggunaan golongan antidiabetes pada pasien DM di RSPR.

  c. mengetahui hasil terapi terhadap keadaan akhir pasien mencakup kadar gula akhir, rata-rata durasi kadar gula mencapai normal, durasi tinggal, dibandingkan dengan kondisi awal pasien mencakup, jumlah penyakit komplikasi, jumlah penyakit penyerta, kadar gula awal pasien beserta perbandingan hasil terapi antara pasien DM dengan terapi insulin, ADO tunggal, insulin kombinasi sulfonilurea, insulin kombinasi non sulfonilurea,

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  kombinasi ADO, dan pasien yang tidak menerima antidiabetes serta drug related problem (DRP) yang terjadi selama terapi.

  d. mengetahui ada tidaknya pergeseran kecenderungan (trend) terapi terhadap pasien DM di instalasi rawat inap pada periode penelitian ini dibandingkan dengan penelitian-penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

BAB II PENELAAHAN PUSTAKA A. Diabetes Melittus

  1. Definisi

  Diabetes adalah penyakit kronik yang membutuhkan pengobatan yang berkelanjutan dan penanganan oleh pasien sendiri untuk mengatasi komplikasi akut dan untuk mengurangi risiko terjadinya komplikasi jangka panjang (American

  

Diabetes Association (ADA), 2005). Menurut Triplitt, et al. (2005) Diabetes mellitus

  (DM) adalah suatu kelompok gejala penyimpangan metabolisme lemak, karbohidrat, dan protein, karena kurangnya sekresi insulin, sensitivitas tubuh terhadap insulin atau keduanya dan ditandai dengan naiknya kadar gula dalam darah.

  2. Klasifikasi dan Penyebab

  Diabetes mellitus (DM) dibagi menjadi 4 tipe yaitu DM tipe 1 adalah DM yang disebabkan karena destruksi sel

  β dan akhirnya yang akan menyebabkan

  defisiensi insulin yang absolut. Pasien DM tipe 1 biasanya adalah anak-anak sampai remaja dan tidak mengalami kegemukan saat pertama kali muncul gejala (Rang, Dale, Ritter & Moore ,2003). Diabetes mellitus tipe 2 adalah DM yang terjadi karena meningkatnya resistensi tubuh terhadap insulin yang disertai berkurangnya sekresi insulin secara progresif , tipe DM spesifik lainnya yang dintaranya disebabkan oleh kerusakan genetik pada fungsi sel

  β, kerusakan genetik dari kerja insulin, penyakit

  pada pankreas eksokrin, serta kerusakan yang disebabkan oleh obat-obatan dan bahan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  kimia lainnya. Tipe DM yang keempat adalah DM gestational yaitu DM yang terdiagnosis selama masa kehamilan (Anonim, 2005a).

3. Gejala

  Tanda-tanda gejala DM tipe 1 adalah dahaga yang sangat, penurunan berat badan, mudah jengkel, kurang tenaga, lemah dan lesu, dan semut merubungi air kencing. Gejala DM tipe 2 sebagian besar sama dengan gejala DM tipe 1 tetapi terdapat gejala yang lebih spesifik yaitu luka atau goresan lambat sembuh, rasa pegal, nyeri dan rasa ditusuk pada tungkai, dan penglihatan kabur (Johnson, 1998).

  Handoko dan Suharto ( 1995) menyebutkan bahwa hiperglikemia yang hebat sekali dapat membuat darah menjadi hiperosmotik terhadap cairan intrasel. yang nyata berbahaya adalah gejala glikosuria yang timbul, karena glukosa bersifat diuretik osmosis, sehingga diuresis sangat meningkat disertai hilangnya berbagai elektrolit. Hal inilah yng menyebabkan terjadinya dehidrasi, maka badan berusaha mengatasinya dengan banyak minum (polidipsia). Harris and Greene (2000) menyebutkan bahwa terjadinya hiperosmolaritas yang parah dapat menurunkan tekanan intraokuler yang dapat menyebabkan bola mata dan lensa mata mengalami perubahan bentuk yang kemudian berakibat pada penurunan penglihatan menjadi buram (blurred vision).

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Badan kehilangan 4 kalori untuk setiap gram glukosa yang diekskresi. Polifagia timbul karena perangsangan pusat nafsu makan di hipotalamus oleh kurangnya pemakaian glukosa di kelenjar itu.

4. Mekanisme Metabolisme

  Manusia memerlukan bahan bakar yang berasal dari makanan yang dimakan sehari-hari yang terdiri dari karbohidrat termasuk gula dan tepung-tepungan, protein, atau asam amino, dan atau asam lemak (Suyono,2002).

  Di dalam saluran pencernaan makanan dipecah menjadi bahan dasar makanan tersebut. Karbohidrat menjadi glukosa, protein menjadi asam amino, dan lemak menjadi asam lemak. Ketiga zat tersebut akan diserap oleh usus dan kemudian akan masuk pembuluh darah dan diedarkan ke seluruh tubuh untuk digunakan oleh organ-organ di dalam tubuh sebagai bahan bakar. Agar dapat berfungsi sebagai bahan bakar, zat harus masuk dulu dalam sel supaya dapat diolah. Di dalam tubuh zat makanan terutama glukosa di metabolisme dan menghasilkan energi. Dalam proses metabolisme tersebut insulin memegang peranan yang sangat penting yaitu memasukkan glukosa ke dalam sel dimana selanjutnya glukosa digunakan sebagai bahan bakar (suyono, 2002).

  Handoko dan Suharto (1999) menyebutkan, dalam keadaan normal, kira- kira 50% glukosa yang dikonsumsi mengalami metabolisme sempurna menjadi CO

  2 dan air, 5% diubah menjadi glikogen dan kira-kira 30-40% diubah menjadi lemak.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Pada DM semua proses tersebut terganggu, glukosa tidak dapat masuk ke dalam sel sehingga energi utama diperoleh dari metabolisme protein dan lemak.

  Lebih lanjut Handoko dan Suharto (1999) juga menyebutkan bahwa selain berpengaruh pada metabolisme karbohidrat, insulin juga berpengaruh pada transpor beberapa zat melalui membran sel. Dari beberapa penelitian telah dibuktikan bahwa insulin memudahkan penyerapan beberapa jenis zat melalui membran. Dalam hal ini termasuk glukosa.

  Efek insulin pada metabolisme protein adalah insulin merangsang penggabungan asam amino menjadi protein sehingga dalam keadaan defisisensi insulin terjadi katabolisme protein.

5. Diagnosis

  Kriteria untuk diagnosis DM menurut Triplitt, et al. (2005) adalah seperti yang tercantum di bawah ini.

  a. Gejala diabetes disertai kadar glukosa dalam plasma darah pada keadaan biasa ≥ 200 mg/dL (11,1 mmol/L).

  b. Keadaan biasa disini maksudnya adalah setiap waktu sepanjang hari tanpa memperhatikan makan terakhir. Gejala klasik diabetes adalah polidipsi, poliuria, dan penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas.

c. Kadar glukosa plasma puasa ≥ 126 mg/dL (7,0 mmol/L).

  d. Puasa disini maksudnya adalah tidak ada masukan kalori selama minimal 8 jam.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  e. Kadar glukosa dalam plasma selam 2 jam setelah pemberian glukosa ≥ 200 mg/dl ditetapkan dengan OGTT (oral glucose tolerance test).

  oral glucose tolerance test harus dilakukan dengan proses seperti yang telah

  diberikan WHO. Menggunakan cairan glukosa yang setara dengan 75 g glukosa yang dilarutkan dalam air.

6. Penatalaksanaan

  Tujuan utama penatalaksanaan jangka panjang adalah memperlambat timbulnya komplikasi, baik makroangiopati maupun mikroangiopati, dan neuropati. hal demikian akan dicapai dengan mengendalikan kadar glukosa, lipid dan insulin dalam darah (Anonim, 1998).

  Mengontrol kadar glukosa darah adalah tujuan dasar penatalaksanaan DM.

  

United Kingdom Prospective Diabetes study (UKPDS) juga menyatakan bahwa

  pengontrolan kadar gula darah dapat mengurangi resiko terjadinya komplikasi seperti retinopati, nefropati, dan neuropati. Selain itu, diet rendah karbohidrat juga dianjurkan untuk penatalaksanaan DM karena walaupun karbohidrat adalah kontributor terbesar kenaikan glukosa darah setelah makan, karbohidrat merupakan sumber energi, vitamin larut air, mineral dan serat yang sangat penting. Konsumsi karbohidrat yang dianjurkan oleh National Academy of Science-Food and Nutrition

  Board adalah 45-65 % dari total kalori (ADA, 2005).

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Jika penderita telah melaksanakan aturan makan dan olah raga dengan baik selama 1-6 bulan, tetapi diabetesnya belum terkontrol baik, maka pada penderita ditambahkan obat antidiabetes oral atau insulin.

  Golongan sulfonilurea diberikan terutama untuk penderita dengan berat badan normal, hati-hati dengan penderita yang gemuk. untuk usia lanjut dianjurkan untuk menggunakan preparat yang waktu paruhnya singkat yaitu tolbutamid dan glikuidon.

  Golongan biguanid yang dianjurkan adalah metformin, dianjurkan untuk penderita dengan Indeks Massa Tubuh (IMT) >30, atau pada penderita dengan IMT 27-30 dikombinasikan dengan sulfonilurea (Anonim, 1998).

  Sementara menurut Triplitt et al. (2005) pasien dengan obesitas (>120% Berat badan Ideal) tanpa kontraindikasi dapat memulai terapi dengan menggunakan metformin, sedangkan pasien dengan berat badan mendekati normal dapat menggunakan terapi insulin. Dikatakan juga bahwa dengan pertimbangan ekonomi dan efikasi maka metformin dan insulin cenderung menjadi pilihan primer dan sekunder dalam terapi pasien diabetes mellitus.

7. Komplikasi

  Beberapa jenis komplikasi dapat timbul akibat diabetes. Komplikasi paling sering muncul setelah beberapa tahun diagnosis. Beberapa komplikasi diantaranya disebabkan oleh kelainan pada gangguan pada pembuluh darah, baik itu pembuluh

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  darah makro (komplikasi makrovaskuler) maupun pembuluh darah mikro (komplikasi mikrovaskuler). Adanya disfungsi endotelium vaskuler merupakan inisiasi terjadinya komplikasi vaskuler.

  Yang termasuk dalam komplikasi makrovaskuler adalah peningkatan kecepatan aliran darah yang sangat umum dijumpai pada pasien DM. Komplikasi mikrovaskuler lebih jarang dijumpai dan biasanya mempengaruhi retina, ginjal dan sistem saraf tepi. Diabetes mellitus merupakan penyebab utama terjadinya gagal ginjal. Adanya gejala hipertensi juga semakin mempercepat kerusakan ginjal. Terapi pada hipertensi dapat memperlambat terjadinya nefropati dan juga mengurangi resiko infark miokard.

  Diabetes neuropati disebabkan oleh adanya akumulasi tekanan osmotik yang disebabkan oleh metabolit aktif glukosa (Rang, et al. 2003).

B. Antidiabetes Oral

  Perubahan pola makan dan latihan fisik untuk pasien dengan DM tipe 2 kadang tidak cukup menjaga kadar gula darah tetap terkontrol. Antiadiabetika oral dapat membantu mengontrol diabetes dengan meningkatkan sensitivitas terhadap insulin, mengurangi output glukosa, meningkatkan absorpsi karbohidrat, atau menstimulasi penkreas untuk memproduksi lebih banyak insulin (Anonim, 2003).

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  (Anonim, 2005.b)

  Gambar 1. Mekanisme dan Tempat Kerja Antidiabetes Oral Ada 6 kelas antidiabetika oral untuk menangani DM seperti berikut ini.

  a.. Golongan sulfonilurea Menstimulasi pankreas untuk memproduksi lebih banyak insulin. Biasanya digunakan bersamaan dengan injeksi insulin.

  b. Golongan biguanid (metformin) Menurunkan produksi gula oleh hati.

  c. Golongan penghambat

  α-glukosidase

  Memperlambat absorpsi karbohidrat

  d. Golongan thiazolidin Meningkatkan sensitivitas terhadap insulin.

  e. Golongan meglitinid

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Menstimulasi pankreas untuk memproduksi lebih banyak insulin (Anonim, 2003.).

  1. Golongan sulfonilurea Mekanisme primer sulfonilurea adalah meningkatkan sekresi insulin.

  Sulfonilurea diklasifikasikan menjadi dua kelas yaitu agen generasi pertama dan agen generasi kedua. Pengolongan tersebut didasarkan pada perbedaan potensi relatif untuk efek samping selektif dan perbedaan ikatan terhadap protein serum. Agen generasi pertama terdiri dari asetoheksamid, klorpropamid, tolazomid, dan tolbutamid. Sulfonilurea agen generasi pertama mempunyai potensi dibawah sulfonilurea agen generasi kedua. Agen generasi kedua terdiri dari glimepirid, glipizida, dan gliburid atau glibenklamida (Triplitt et al., 2005).

  Sulfonilurea diabsorpsi dengan baik setelah administrasi oral dan kadar gula dalam darah tertinggi tercapai dalam kurang lebih 2-4 jam.

  2. Golongan biguanid

  Mekanisme kerjanya adalah meningkatkan sensitivitas baik jaringan otot ataupun hati terhadap insulin. Hal ini memungkinkan terjadinya peningkatan

  uptake atau ambilan glukosa baik oleh hati maupun jaringan otot (Triplitt et al.

  2005). Biguanida juga mengurangi baik terjadinya glukoneogenesis di hati maupun pelepasan glukosa dari hati ke sirkulasi darah (Harris & Greene, 2000).

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  3. Golongan thiazolidin

  Mekanisme kerja thiazolidin adalah dengan mengikat peroxisome

  proliferators activator receptor- γ (PPAR- γ) yang ada di sel lemak dan sel

  vaskuler. Thiazolidin meningkatkan sensitivitas jaringan otot, hati, serta jaringan lemak terhadap insulin secara tidak langsung (triplitt et al. 2005).

  4. Golongan penghambat α-glukosidase

  Mekanisme kerjanya adalah dengan menghambat enzim-enzim yang ada di usus halus seperti maltase, isomaltase, sukrosa, dan glukoamilase. Penghambatan enzim-enzim tesebut akan mencegah terjadinya pemecahan sukrosa dan karbohidrat kompleks (Triplitt et al. 2005).

  5. Golongan meglitinid

  Merupakan turunan asam benzoat yang bekerja dengan cara menstimulasi pelepasan insulin (Harris & Greene, 2000).

C. Insulin

  Insulin biasanya diindikasikan pada semua pasien DM tipe 1 dan pada beberapa pasien DM tipe 2. insulin biasanya diberikan dengan cara injeksi subkutan.

  Tersedia banyak sediaan insulin yang dapat dibedakan dari farmakokinetika absorpsi dan durasi kerjanya (Ritter, Lewis, & Mant, 1999).

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Tabel I. Farmakokinetika Insulin yang Digunakan Secara Subkutan Durasi Onset Puncak Durasi

Tipe insulin maksimum Kenampakan

(jam) (jam) (jam)

  (jam) Aksi Cepat

  Aspart 15-30 1-2 3-5 5-6 jernih Lispro 15-30 1-2 3-4 5-6 jernih Glulisin 15-30 1-2 3-4 5-6 jernih

  Aksi Pendek

  Reguler 0,5-1,0 2-3 3-6 6-8 jernih

  Aksi Sedang

  NPH 2-4 4-6 8-12 14-18 keruh Lente 3-4 6-12 12-18 20 keruh

  Aksi Panjang

  Ultralente 6-10 10-16 18-20 24 keruh Glargin 4-5 22-24 - 24 jernih

  Triplitt, et al. (2005) menyebutkan sebelum tahun 2003 produksi insulin berasal dari insulin sapi atau babi namun sekarang insulin diproduksi dengan menggunakan teknologi rekombinan DNA manusia.

  Keuntungan utama dari insulin manusia adalah produksi dengan menggunakan kultur bakteri dapat distandardisasi. Selain itu dengan menggunakan insulin manusia maka antibodi penghalang akan berkurang jika dibandingkan jika digunakan insulin yang berasal dari hewan. Konsekuensinya beberapa pasien akan mengalami hipoglikemia jika penggunaan insulin hewan diganti dengan insulin manusia dengan jumlah unit yang sama (Ritter, et al. 1999).

  Insulin terlarut adalah satu-satunya sediaan insulin yang dapat digunakan untuk pemberian melalui intravena. Jenis insulin intravena digunakan pada keadaan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  DM darurat dan juga dapat diberikan secara subkutan sebelum makan pada kasus DM kronis.

  Pasien diabetes dengan defisiensi insulin absolut harus menerima insulin dari luar atau disebut juga insulin eksogen. Insulin juga digunakan untuk terapi pada pasien DM gestational yang dengan diet dan antidiabetes oral tetap tidak dapat dikontrol kadar gula darahnya (Ritter, et al. 1999).

  Insulin didegradasi di hati, otot dan ginjal. Deaktivasi insulin oleh hati adalah 20% sampai dengan 50%. Kira-kira 15% sampai dengan 20% hasil metabolisme insulin ditemukan di ginjal. Maka dari itu insulin dosis rendah sangat disarankan untuk pasien dengan sakit ginjal stadium akhir (Triplitt, et al. 2005).

D. Drug Related Problem

  Drug Related Problem (DRP) adalah kejadian yang dialami atau efek yang

  tidak diharapkan yang dialami pasien dalama proses terapi dengan obat dan secara aktual atau potensial bersamaan dengan hasil terapi yang diharapkan pada saat mendapat perawatan akibat dari suatu penyakit tertentu (Cipolle,1998).

  Masalah-masalah yang tercakup dalam Drug Related Problem (DRP) antara lain:

  1. Obat tanpa indikasi (unnecessary drug therapy), meliputi: tidak ada indikasi pada saat itu, kondisi akibat penyalahgunaan obat (drug abuse), lebih baik disembuhkan dengan terapi tanpa obat (non drug therapy), menelan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  obat dengan jumlah yang toksik, pemakaian dosis ganda yang seharusnya cukup dengan pemakaian dosis tunggal, minum obat untuk mencegah efek samping obat lain yang seharusnya dapat dihindarkan.

  2. Salah Obat (wrong drug), meliputi: kondisi menyebabkan obat tidak efektif, alergi obat tertentu, efektif tetapi bukan yang paling aman, efektif tetapi bukan yang paling murah, antibiotika resisten terhadap infeksi pasien, kombinasi yang tidak perlu, obat yang bukan paling efektif untuk indikasi dan faktor resiko yang kontraindikasi dengan obat.

  3. Dosis obat terlalu rendah (dosage too low), mencakup: terlalu rendah untuk memberikan respon, pemberian terlalu awal, konsentrasi obat di bawah daerah terapetik, serta obat, dosis, rute, atau konversi formulasi obat tidak cukup.

  4. Adverse Drug reaction (ADR), mencakup: diberikan terlalu tinggi kecepatannya, alergi, faktor resiko, interaksi obat dengan makanan, dan obat dapat berpengaruh atau merubah hasil laboratorium.

  5. Dosis obat terlalu tinggi (dosage too high), meliputi: dosis obat yang diberikan terlalu tinggi, kadar obat dalam serum terlalu tinggi, dosis obat terlalu cepat dinaikkan, dosis dan interval tidak cukup, adanya kemungkinan akumulasi obat akibat penyakit kronis, dan obat, dosis, rute serta konversi formula tidak sesuai bagi pasien.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  6. Ketidaktaatan pasien dalam menggunakan obat (inappropriate compliance), karena: Tidak menerima obat sesuai jumlah yang telah ditentukan karena medication

  error, tidak taat instruksi, harga obat terlalu mahal, dan pasien tidak memahami aturan penggunaan obat.

  7. Butuh terapi obat tambahan (needs additional drug therapy), mencakup: kondisi medis yang membutuhkan terapi obat baru, keadaan kronis yang membutuhkan kelanjutan terapi, kondisi yang membutuhkan kombinasi obat untuk mendapatkan efek sinergis atau potensial, kondisi dengan resiko dan butuh obat untuk mencegahnya (Cipolle,1998).

E. Keterangan Empiris

  Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui dan mengevaluasi pemilihan dan penggunaan antidiabetes pada kasus Diabetes mellitus instalasi rawat inap di RSPR Yogyakarta periode 2005.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis dan Rancangan Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan rancangan

  deskriptif evaluatif karena berusaha mendeskripsikan atau menjabarkan fenomena yang ada tanpa melakukan intervensi atau memberikan perlakuan pada subyek uji.

  Pengambilan datanya dilakukan secara retrospektif karena dilakukan penelusuran terhadap data terdahulu yaitu lembar rekam medik pasien DM periode Januari- Desember 2005.

B. Definisi Operasional

  1. Diabetes Mellitus (DM) adalah penyakit dengan gangguan pada metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein yang ditandai dengan adanya peningkatan glukosa darah.

2. Kadar gula normal adalah kadar gula plasma sewaktu ≤ 200 mg/dL.

  3. Terapi non sulfonilurea adalah terapi dengan menggunakan obat antidiabetika oral selain dari golongan sulfonilurea misalnya: golongan biguanid, penghambat α-glukosidase, thiazolidin, dan meglitinid.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  4. Terapi kombinasi antidiabetes oral adalah terapi dengan menggunakan lebih dari satu macam golongan antidiabetes oral pada satu periode peresepan.

  5. Profil peresepan adalah tata cara pelayanan kesehatan meliputi kelas terapi obat dan golongan obat antidiabetes yang diberikan.

  6. Lembar rekam medik (medical record) adalah lembar catatan dokter, apotek/farmasis, dan perawat yang berisi data klinis pasien DM Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta seperti nomor register, nomor rekam medis, diagnosis masuk, diagnosis keluar, umur, jenis kelamin, catatan keperawatan, catatan perkembangan penyakit, jenis obat, dosis, dan aturan pakai obat yang didapatkan selama terapi.

  7. Keadaan pasien saat keluar adalah keadaan pasien saat keluar dari rumah sakit yaitu kedaan sembuh, pulang dengan terpaksa, atau meninggal.

  8. Keadaan sembuh adalah keadaan pasien yang membaik dan penurunan kadar gulanya relatif baik.

  9. Hasil terapi adalah keadaan akhir pasien setelah menerima terapi dan menjalani perawatan di rumah sakit.

  10. Kadar gula awal adalah kadar gula pasien saat pasien akan menjalani perawatan di rumah sakit.

  11. Kadar gula akhir adalah hasil kadar gula pasien saat terakhir kali menjalani tes di rumah sakit.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

C. Subyek dan Tempat Penelitian 1. Subyek penelitian adalah pasien DM rawat inap RSPR Yogyakarta periode 2005.

  Unit rekam medik RSPR mencatat terdapat 568 pasien terdiagnosis menderita DM selama tahun 2005. dari 568 pasien kemudian diambil sampel sebanyak 10% populasi secara acak yang dilakukan dengan pengundian. Penelitian ini dilakukan tanpa wawancara dengan dokter.

  2. Tempat penelitian adalah unit rekam medik RSPR yogyakarta.

D. Jalannya Penelitian

  Penelitian mengenai evaluasi pemilihan dan kerasionalan penggunaan antidiabetes pada kasus diabetes mellitus pasien rawat inap RSPR Yogyakarta periode 2005 dilakukan dalam beberapa tahap:

  1. Penelusuran situasi Tahap penelusuran dimulai dengan penelusuran banyaknya kasus DM yang terjadi di RSPR selama tahun 2005 yang dilihat berdasarkan banyaknya pasien.

  Pasien yang tercatat terdiagnosis menderita DM selama periode Januari- Desember 2005 sebanyak 568 pasien.

  2. Pengambilan data Tahap pengambilan data dimulai dengan pengambilan 10% sampel terhadap populasi pasien DM RSPR selama periode Januari-Desember 2005 (568 pasien) yaitu sebanyak 57 pasien. Pengambilan data dilakukan dengan cara pengundian.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Dari 57 pasien yang akan diteliti hanya diperoleh 51 lembar rekam medik pasien, 6 lembar rekam medik pasien lainnya tidak dapat diperoleh karena ada pasien yang sedang menjalani terapi di rumah sakit, dan tidak dapat ditemukannya lembar rekam medik pasien. Setelah itu dilakukan pencatatan terhadap lembar rekam medik pasien sampel. Pencatatan data pasien dilakukan per kasus. Dari 51 pasien didapatkan 63 kasus. Variabel yang dicatat dari lembar rekam medik antara lain: nomor rekam medik pasien rawat inap, nama pasien, jenis kelamin, umur, diagnosis keluar, nama dagang obat-obat yang digunakan baik obat antidiabetes maupun obat lainnya, cara penggunaan, frekuensi, aturan pakai, penyakit penyerta dan atau penyakit komplikasi yang diderita oleh pasien, dan kedaan pasien saat keluar rumah sakit.

E. Tata Cara Pengolahan Hasil

  Data yang diperoleh disajikan dalam bentuk tabel dan diagram. Tabel dan diagram yang disajikan adalah karakteristik pasien yang mencakup diagram jenis kelamin dan umur, tabel jenis penyakit termasuk di dalamnya penyakit komplikasi dan penyakit penyerta yang diderita pasien DM, tabel distribusi peresepan mencakup tabel jumlah distribusi obat total, distribusi kelas terapi dan golongan obat, dan distribusi golongan obat anti diabetes, tabel distribusi kombinasi golongan obat antidiabetes, dan yang terakhir adalah tabel hasil terapi pasien DM. Pada masing-

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  masing tabel dan diagram akan terdapat angka presentase distribusi yang didapat berdasarkan atas persentase kasus yang terjadi yaitu sebanyak 63 kasus.

  Dari data hasil terapi pasien dari masing-masing jenis terapi (terapi insulin, terapi antidiabetes oral tunggal, terapi insulin dan sulfonilurea, terapi insulin dan non- sulfonilurea, terapi kombinasi antidiabetes oral, dan tanpa terapi antidiabetes) dilakukan perbandingan terhadap jumlah pasien, umur, jenis kelamin, jumlah pasien sembuh, kadar gula awal, kadar gula akhir, durasi kadar gula mencapai normal, jumlah komplikasi, jumlah penyakit penyerta dan durasi tinggal di rumah sakit.

  Perbandingan dilakukan dengan memperhitungkan nilai simpang baku (standard of

  

deviation (SD)) dari masing-masing kelompok perbandingan untuk mengetahui

  ukuran sebaran dan gambaran variasi angka yang ada dalam data. Setelah itu akan dilakukan pembahasan yang lebih dalam terhadap masing-masing jenis terapi.

  Selain hasil terapi akan dibahas pula trend pemilihan antidiabetik berdasarkan banyaknya jenis antidiabetika yang digunakan sebagai terapi pada pasien DM dan akan dibandingkan dengan trend terapi DM tahun-tahun sebelumnya.

F. Kesulitan Penelitian

  Banyaknya penelitian yang menyebutkan bahwa sulfonilurea adalah golongan obat antidiabetes yang paling banyak diresepkan mendorong penulis untuk membandingkan penggunaan sulfonilurea baik yang digunakan secara kombinasi maupun tunggal dengan antidiabetika lain terhadap hasil terapi pasien DM. Oleh

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  karena alasan tersebut maka penulis berniat menyusun skripsi dengan judul “Perbandingan Penggunaan Sulfonilurea Banding Non Sulfonilurea Banding Kombinasi Terhadap Hasil Terapi Pasien Diabetes Mellitus Rumah Sakit panti Rapih Yogyakarta Periode Januari-Desember 2005”.

  Namun setelah dilakukan penelitian terhadap pasien DM instalasi rawat inap Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta (RSPR) Periode Januari-Desember 2005 ditemukan fakta bahwa sulfonilurea sudah tidak menjadi obat antidiabetes yang paling banyak dipilih pada pemberian terapi terhadap pasien DM RSPR Yogyakarta periode Januari-Desember 2005. Oleh karena alasan tersebut maka penulis mengadakan perubahan pada judul menjadi “Evaluasi Pemilihan dan Penggunaan Antidiabetes pada Kasus Diabetes Mellitus Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta Periode Januri-Desember 2005”.

  Selain hal tersebut diatas kesulitan-kesulitan lain yang ditemui selama jalannya penelitian adalah adanya data rekam medik pasien yang tidak dapat diketemukan, atau tidak dapat dicatat dikarenakan pasien yang bersangkutan menjalani rawat inap di rumah sakit. Kesulitan lain yang muncul adalah ketidaklengkapan data rekam medik pasien berkaitan dengan kadar gula pasien awal dan kadar gula akhir pasien DM sehingga suit untuk diketahui secara kualitatif hasil terapi terhadap pasien.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian “Evaluasi Pemilihan dan Kerasionalan Antidibetes pada Kasus Diabetes Mellitus Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta Periode Januari–Desember 2005” disajikan dalam 4 bagian yaitu profil pasien DM

  secara umum, profil peresepan obat secara umum, pemilihan dan penggunaan antidiabetes, dan rangkuman pembahasan. Persentase dihitung berdasarkan banyaknya kasus DM yang terjadi.

A. Profil Pasien

1. Karakteristik pasien

  Penelitian dilakukan berdasarkan atas rekam medik (Medical Record) pasien DM yang menjalani rawat inap di Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta periode Januari-Desember 2005. Dari pengamatan dan pengumpulan data diperoleh hasil karakteristik pasien yang terdapat pada tabel II dan gambar 2.

  Pada gambar 2 nampak bahwa jumlah pasien pasien laki-laki dan perempuan dengan kasus DM hampir sama. Hal ini membuktikan bahwa jenis kelamin bukan merupakan salah satu faktor resiko terjadinya DM. Baik laki-laki maupun perempuan memiliki faktor resiko yang sama terhadap terjadinya DM.

  Namun pada wanita timbulnya DM juga dapat disebabkan karena kehamilan yang

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  sering disebut dengan DM gestational. Dari tabel II dapat dilihat bahwa dari 63 kasus DM yang diteliti, persentase umur pasien yang paling banyak adalah kelompok umur lebih dari 60 tahun. Hal ini disebabkan karena berkurangnya fungsi faal tubuh dan menurunnya keadaan fisiologi. Selain itu semakin bertambahnya umur, intoleransi terhadap glukosa juga meningkat sehingga risiko DM juga meningkat.

  49% 51% laki-laki perempuan

  

Gambar 2. Persentase Distribusi Jenis Kelamin Pasien DM Rawat Inap di

Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta Periode januari-Desember 2005.

Tabel II. Distribusi Umur Pasien DM Rawat Inap di Rumah Sakit Panti Rapih

Yogyakarta Periode januari-Desember 2005

  

Umur Σ Kasus Persentase (%)

  10-20 1 1,5 21-30 31-40 5 7,9 41-50 16 25,4 51-60 12 19,1

  >60 29 46,1

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

2. Jenis penyakit

  Jumlah kasus DM yang terjadi yaitu sebanyak 63 kasus dikelompokkan lagi menjadi 4 golongan jenis penyakit yang diderita oleh pasien DM yang bersangkutan yaitu kasus DM tanpa komplikasi tanpa penyakit penyerta, kasus DM dengan penyakit penyerta, kasus DM dengan komplikasi, dan kasus DM dengan komplikasi dan penyakit penyerta. Jenis kasus DM yang diderita oleh pasien rawat inap Rumah sakit Panti Rapih Yogyakarta disajikan pada tabel III, IV, V dan VI.

  

Tabel III. Distribusi Kasus DM pada Pasien Rawat Inap Rumah Sakit Panti

Rapih Periode Januari-Desember 2005

  No. Jenis DM Persentase (%) Σ kasus

1 DM Tipe 2 62 98,4

  2 DM Tipe 1 1 1,5 Total 63 100,0

  Pasien DM tanpa komplikasi dibagi menjadi 2 golongan yaitu pasien DM tipe 2 dan pasien DM tipe 1. Pada tabel III dapat dilihat bahwa jumlah pasien DM tipe 2 lebih banyak daripada pasien DM tipe 1 . Kasus DM tipe 2 lebih banyak dijumpai daripada DM tipe 1 karena DM tipe 2 disebabkan oleh peningkatan kemakmuran hidup masyarakat, sehingga pola makan dan rutinitas hidup masyarakat juga berubah. Menurut Suyono (1996) DM tipe 2 paling sering ditimbulkan oleh kegemukan pada penderita. Kegemukan yang terjadi menyebabkan sel

  β pulau

  langerhans yang memproduksi insulin menjadi kurang peka terhadap rangsang yang berupa kenaikan kadar glukosa dalam darah.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  1 DM tanpa komplikasi tanpa penyakit penyerta 10 15,8

  Penyakit lain atau penyakit penyerta yang timbul dikarenakan penderita DM sangat

  Dapat dilihat dari tabel IV, kasus DM dengan penyakit penyerta adalah kasus DM yang paling banyak terjadi pada pasien rawat inap RSPR Yogyakarta.

  8 DM + Chronic Renal Failure (CRF) 2 3,2

  7 DM + Neuropati 1 1,6

  6 DM + Perdarahan Otak 1 1,6

  5 DM + Hipoglikemi 3 4,8

  

Tabel IV. Distribusi Jenis Kasus Penyakit DM pada Pasien yang Menjalani

Rawat Inap di Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta Periode Januari-Desember 2005 No. Jenis Penyakit Σ kasus Persentase (%)

  3 DM + Ulkus 11 17,5

  2 DM + Stroke 3 4,8

  1 DM + Infarc Heart Disease (IHD) 3 4,8

  

Tabel V. Distribusi Komplikasi kasus DM Pasien Rawat Inap Rumah sakit

Panti rapih Yogyakarta Periode januari-Desember 2005 No. Komplikasi DM Σ kasus (n=63) Persentase (%)

  Total kasus 63 100

  4 DM dengan komplikasi dengan penyakit penyerta 1 1,5

  2 DM dengan komplikasi 23 36,5

3 DM dengan penyakit penyerta 29 46,0

  4 DM + Hipertensi 6 9,5

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  adalah DM dengan penyakit komplikasi hal ini disebabkan pasien DM yang dirawat di rumah sakit adalah pasien yang cenderung sudah mencapai kondisi yang tidak terkendali karena terjadinya kenaikan glukosa darah.

  Dari tabel V dapat dilihat kasus komplikasi DM yang paling banyak diderita oleh pasien rawat inap Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta adalah DM yang disertai dengan ulkus. American Diabetes Association (2005) menyebutkan bahwa amputasi dan ulkus terutama pada kaki merupakan komplikasi utama yang paling sering terjadi pada penderita diabetes. Hal ini dapat terjadi karena penderita DM sangat rentan terhadap terjadinya infeksi. Ulkus yang terjadi disebabkan karena berkurangnya aliran darah yang menuju ke bagian bawah tubuh sehingga resiko terjadinya kerusakan jaringan akibat infeksi juga meningkat. Tjokroprawiro (1996) juga menyebutkan bahwa pasien DM 50 kali lebih cenderung menderita ulkus sehingga pasien DM harus sedapat mungkin menghindari terjadinya ulkus dengan menjaga kadar glukosa darah. Komplikasi kedua yang paling banyak terjadi adalah stroke. Hal ini sangat mungkin terjadi karena DM berhubungan erat dengan hipertensi, dan hipertensi merupakan faktor resiko terjadinya stroke.

  Dari tabel VI dapat dilihat, infeksi merupakan penyakit penyerta paling umum yang diderita oleh pasien. Diantaranya adalah DM dengan infeksi virus, gastro

  

enteritis (GE) amoeba, urinary track infection (UTI), dan infeksi pada clavus yang

semuanya berjumlah 6 kasus.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  15 DM + Pulamonal metastase 1 1,6

  25 DM + Clavus terinfeksi 1 1,6

  24 DM + Gout 1 1,6

  2 3,2

  Infection) Jamur

  23 DM + UTI ( Urinary Track

  22 DM + hematuri persisten 1 1,6

  21 DM + GE Amoeba 2 3,2

  20 DM + Pleuropneumonia 1 1,6

  19 DM + Polinemopati 1 1,6

  18 DM + Ochitis 1 1,6

  17 DM + Urolithiasis 1 1,6

  16 DM + Hypertensive Heart Disease (HHD) 1 1,6

  

Tabel VI. Distribusi Jenis Penyakit Penyerta Kasus DM Rawat Inap Rumah

Sakit Panti Rapih Yogyakarta Periode Januari-Desember 2005 No. Penyakit Penyerta Σ kasus (n=63) Persentase (%)

  1 DM + Faringitis 1 1,6

  13 DM + Hepatopati 1 1,6

  12 DM + Hipoelektrolit 2 3,2

  11 DM + Bronkoneumonia 1 1,6

  10 DM + PSN 1 1,6

  9 DM + Fraktur 1 1,6

  8 DM + Vertigo 2 3,2

  7 DM + Penurunan visus 1 1,6

  6 DM + Febris 1 1,6

  5 DM + Infeksi virus 1 1,6

  4 DM + Transcient Ischemic Attack (TIA) 2 3,2

  3 DM + Spondialisis 2 3,2

  2 DM + Hiperkolesterol 1 1,6

  14 DM + kanker payudara 3 4,8

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

B. Profil Peresepan

1. Kelas terapi obat

  Seperti tampak pada tabel VII, obat dengan kelas terapi antidiabetes paling banyak diresepkan kepada pasien DM hal ini jelas dikarenakan semua pasien terdiagnosis menderita diabetes. Antidiabetes yang dimaksudkan disini adalah insulin dan antidiabetes oral termasuk di dalamnya sulfonilurea, biguanid, meglitinid, penghambat α-glukosidase, serta thiazolidin.

  Kelas terapi obat kedua yang paling banyak diresepkan adalah antiinfeksi. Seperti yang telah disampaikan sebelumnya pasien DM sangat rentan terkena infeksi sehingga pemberian terapi antiinfeksi memang sangat penting. antiinfeksi yang paling banyak digunakan adalah dari golongan antibakteri yaitu sefalosporin. Golongan antibakteri lain yang diresepkan adalah kuinolon, sulfonamid dan trimetorpin, penisilin, klindamisin, aminoglikosida, makrolid serta tetrasiklin. Selain antibakteri juga diresepkan antijamur dan antiprotozoa.

  Kelas terapi lain yang diresepkan mencakup obat-obat seperti ginkobiloba dan ekstrak phylantii. Tanaman ginkobiloba mengandung senyawa flavonoid (ginkgoflavon glikosida) dan atau terpenoid (ginkgolida dan bilobalida) yang dapat bertindak sebagai antioksidan. Konsumsi ginkobiloba diyakini dapat meningkatkan sirkulasi darah mikrovaskuler, sedangkan ekstrak phylantii yang berasal dari tanaman

  

Phyllanthus niruri bermanfaat bagi terapi peluruhan batu ginjal, agen antibakteri, dan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  

Tabel VII. Distribusi Kelas Terapi Obat yang Diresepkan pada Kasus DM

Rawat Inap Rumah Sakit panti rapih Yogyakarta Periode Januari- Desember 2005 No. Kelas Terapi Persentase (%) Σ kasus (n=63)

1 Antidiabetes 53 84,1

  2 Antiinfeksi 45 71,4

  3 Analgesik 19 30,2

  4 Ekspektoran 2 3,2

  5 Diuretika 10 15,9

  6 Antiangina 10 15,9

  7 Antireumatik 7 11,1

  8 Antihipertensi 26 41,3

  9 Antiepilepsi 16 25,4

  10 Aritmia Jantung 8 12,7

  11 Antihistamin 2 3,2 Sedatif dan analgesik

  12 1 1,6 periopertif

  13 Sirkulasi darah 9 14,3

  14 Antiinflamasi 15 23,8

  15 Penurun kadar lipid 13 20,6

  16 Antiemetikum 10 15,9

  17 Antivertigo 1 1,6

  18 Sistem saraf pusat 7 11,1

  19 Saluran cerna 21 33,3

  20 Antistroke 5 7,9

  21 Antiplatelet 3 4,8

  22 Sistem kardiovaskuler 1 1,6

  23 Antifibrinolitik 3 4,8

  24 Neutropenia 1 1,6

  25 Gizi dan darah 10 15,9

  26 Neuromuskuler 1 1,6

  27 Infark miokard 1 1,6

  28 Neuropati perifer 5 7,9

  29 Lain-lain 1 1,6

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

2. Golongan antidiabetes

  Distribusi golongan obat yang diresepkan kepada pasien DM yang menjalani rawat inap di rumah sakit Panti Rapih Yogyakarta periode Januari- Desember 2005 akan disajikan pada tabel VIII.

  

Tabel VIII. Distribusi Golongan Antidiabetes yang Diresepkan pada Kasus DM

Rawat Inap Rumah Sakit panti rapih Yogyakarta Periode Januari- Desember 2005 No. Golongan Obat Persentase (%)

  Σ Kasus (n=63)

  1 Sulfonilurea 22 34,9

2 Biguanid 30 47,6

  3 Penghambat Glukosidase alfa 5 7,9

  4 Insulin 28 44,4

  5 Meglitinid 3 4,8 Seperti yang disajikan pada tabel VIII, golongan obat antidiabetes yang paling banyak diresepkan pada pasien DM yang menjalani rawat inap di rumah sakit

  Panti rapih Yogyakarta periode 2005 adalah biguanid yaitu metformin. Dari sini nampak bahwa kecenderungan pengobatan pasien DM rumah sakit Panti Rapih mengalami pergeseran bila dibandingkan dengan hasil penelitian yang didapat dari penelitian tahun 1998-2002 yang menyebutkan bahwa golongan obat antidiabetes yang paling banyak digunakan adalah sulfonilurea.

C. Pemilihan dan Penggunaan Antidiabetes

1. Kombinasi golongan antidiabetes

  Kombinasi golongan obat antidiabetes yang diresepkan pada pasien DM rawat inap rumah sakit Panti Rapih Yogyakarta disajikan pada tabel IX.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  

Tabel IX. Distribusi Penggunaan Golongan Antidiabetes yang Diresepkan pada

Kasus DM rawat inap Rumah Sakit panti Rapih Yogyakarta Periode 2005 No. Golongan Obat Persentase (%) Σ kasus

  1 Insulin 10 15,9

2 Antidiabetes oral tunggal 15 23,8

  3 Insulin + Sulfonilurea 10 15,9

  4 Insulin + Non-sulfonilurea 7 11,1

  5 Kombinasi antidiabetes oral 11 17,5 Tidak menggunakan

  6 10 15,9

  Antidiabetes Total 63 100,0

  Seperti yang tersaji pada tabel IX, penggunaan antidiabetes oral secara tunggal mempunyai persentase penggunaan paling besar. Pada Anonim (1997) disebutkan bahwa penggunaan satu macam antidiabetes oral dimungkinkan pada pasien yang kriteria pengendalian kadar glukosa dalam darahnya masih tergolong baik dan diberikan dalam dosis rendah pemeliharaan sedangkan penggunaan lebih dari satu macam antidiabetes oral dilakukan jika penggunaan satu macam antidiabetika oral belum mencapai sasaran. Sementara itu penggunaan dua atau lebih antidiabetes oral jenis yang sama dalam satu kali pakai tidak dibenarkan karena akan meningkatkan resiko timbulnya hipoglikemia yang parah.

  Dari pernyataan dan fakta yang ada, dapat ditarik kesimpulan bahwa sebagian besar pasien DM rawat inap RSPR periode Januari-Desember 2005 adalah pasien DM yang kriteria pengendalian kadar glukosa dalam darahnya masih tergolong baik karena penggunaan antidiabetes oral secara tunggal adalah yang paling

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

2. Hasil terapi pasien DM

  8

  Durasi tinggal (hari) 12,3±7,1 7,4±3,7 12±4,8 10±4,2 7,3±2,9 6,4±3,1

  Keadaan ak hir Kasus pasien sembuh

  10

  14

  9

  7 Keterangan: KG : kadar gula A: Insulin

  11

  153± 4,24

  B: Anti Diabetes Oral Tunggal

  C: Insulin + Sulfonilurea

  D: Insulin + Non sulfonilurea

  E: Kombinasi anti diabetes oral (ADO)

  F: Tidak menggunakan antidiabetes

  Rata-rata durasi KG normal (hari) 5±4,2 2,2±1,6 5±4,3 3,8±2,2 6±1,4 2,5±1,4

  229,7± 124,2 217,3± 71,4

  banyak digunakan dibandingkan penggunaan secara kombinasi baik dengan insulin ataupun dengan antidiabetes oral lainnya.

  11

  Pada tabel X akan disajikan hasil terapi pasien DM instalasi rawat inap RSPR yogyakarta periode Januari-Desember 2005.

  

Tabel X. Hasil Terapi Kasus DM Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rapih

Yogyakarta Periode Januari-Desember 2005 A B C D E F Kasus

  10

  15

  10

  7

  10 Umur (thn) 55±13 56±14 67±15 52±23 57±16 69±14 Pria (%)

  KG akhir 146,6± 26,9

  60 66,7 20 37,5 54,5 45,5 Profil pasien Wanita (%)

  40 33,3 80 62,5 45,5 54,5 Komplikasi 1 s/d 2 0 s/d 1 0 s/d 1 0 s/d 1 0 s/d 2 Penyakit Penyerta

  0 s/d 1 0 s/d 2 1 s/d 2 0 s/d 2 0 s/d 2 1 s/d 3 Keadaan awal KG Awal

  281,6± 128,7 275,1± 194,5

  468± 235,8 484,9± 150,5

  242,4± 112,1 204,9± 206,5

  • 245, ±3 131,5

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

a. Terapi insulin

  Pasien DM rawat inap dengan terapi insulin di Rumah Sakit Panti rapih tercatat ada 10 kasus. Insulin yang diresepkan di instalasi rawat inap rumah sakit Panti Rapih Yogyakarta untuk pasien DM periode Januari-Desember 2005 mencakup insulin reguler, mixtard, dan insulatard yang takaran unitnya disesuaikan dengan keadaan kadar gula darah masing-masing pasien (tabel XI). Insulin reguler (short-acting insulin) paling banyak digunakan karena mempunyai durasi kerja yang singkat sehingga relatif aman untuk pasien yang sebagian besar berusia lanjut.

  Menurut standar pelayanan medik Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta tahun 1998 insulin ditambahkan jika kadar glukosa darah belum juga terkontrol baik walau telah mendapat antidiabetes oral dosis maksimal, tetapi pada kasus pasien dengan terapi insulin saja banyak kasus pasien DM tipe 2 yang langsung diberikan terapi insulin tanpa pemberian terapi antidiabetes oral (ADO) terlebih dahulu.

  Tabel XI. Distribusi Sediaan Insulin yang Diresepkan Pada Pasien DM dengan Terapi Insulin di Instalasi rawat Inap Rumah Sakit panti rapih yogyakarta Periode Januari-Desember 2005 Sediaan Insulin Persen (%) Σ Kasus

  Reguler

  6

  60 Mixtard

  2

  20 Lantus (Glargine)

  1

  10 Mixtard + Insulatard

  1

  10 Total 10 100

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Pasien yang keluar dalam keadaan membaik atau sembuh sebanyak 100% kasus. Hal ini menandakan insulin mampu mempertahankan kadar gula darah pasien sehingga pasien dapat pulang dengan keadaan yang membaik.

  Durasi kadar gula mencapai normal pasien yang menggunakan terapi dengan insulin masih relatif lama jika dibandingkan dengan pasien yang menggunakan terapi lain.

  Insulin biasanya diresepkan selain pada pasien DM tipe 1 juga kepada pasien DM tipe 2 yang mengalami berbagai komplikasi karena pada keadaan pasien dengan komplikasi kadang obat dengan jalur oral tidak dapat dipergunakan. Hal ini bersangkutan dengan kerja hormon tubuh yang tidak normal atau tidak dapat diperkirakan lagi (Unpredictable). Dari data hasil terapi pasien DM yang menerima insulin paling banyak menderita komplikasi dibanding pasien yang menerima terapi antidiabetes lain.

b. Terapi antidiabetes oral (ADO) tunggal

  Pasien dengan terapi ADO tunggal tercatat ada 15 kasus, dan menurut gambar 3 antidiabetes oral yang paling banyak dipilih adalah dari golongan biguanid yaitu metformin. Antidiabetes oral tunggal lain yang digunakan adalah sulfonilurea dan meglitinid.

  Jumlah pasien yang pulang dalam keadaan sembuh adalah 14 dari 15 pasien. Satu pasien pulang atas permintaan sendiri karena akan pindah rumah sakit.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Dari tabel XII rata-rata kadar gula darah darah mencapai normal terapi dengan antidiabetes oral tunggal tercatat paling pandek dibandingkan dengan terapi lainnya. Dari hal itu dapat ditarik kesimpulan terapi dengan menggunakan antidiabetes oral tunggal paling cepat dalam mengkontrol kadar gula darah pasien dibandingkan terapi dengan menggunakan kombinasi antidiabetik ataupun dengan insulin.

  Rata-rata kadar gula akhir pasien saat keluar rumah sakit adalah 229,7±124,2, masih lebih tinggi jika dibandingkan dengan stadar normal dari

  American Diabetes Association (ADA) tahun 2005 yaitu 200 mg/dl (11,1

  mmol/L). Hal ini dapat disebabkan sulitnya mengontrol kadar gula darah pasien yang terhitung usia lanjut yang mengalami penurunan metabolisme.

  1

  2

  3

  4

  5

  6

  7

  8

  9

  10 sulfonilurea biguanid meglitinid

Gambar 3. Distribusi Peresepan Antidiabetes Oral tunggal pada Pasien DM

Rawat Inap Rumah Sakit panti rapih Yogyakarta Periode Januari-

  Desember 2005

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Pada gambar 3 nampak bahwa antidiabetes oral yang paling banyak digunakan atau diresepkan secara tunggal adalah dari golongan biguanid yaitu metformin. Hal ini sangat berbeda dengan hasil-hasil penelitian sebelumnya yang menyebutkan bahwa sulfonilurea lebih banyak dipilih dibandingkan antidiabetes oral lainnya.

  Metformin digunakan untuk mengontrol kadar gula darah pasien DM obese karena tidak berpotensi meningkatkan berat badan seperti sulonilurea. Peningkatan penggunaan metformin dapat pula disebabkan karena terjadinya peningkatan jumlah pasien yang mengalami kegemukan. Dari 6 pasien dengan terapi metformin yang mempunyai data berat badan/ tinggi badan lengkap, 4 diantaranya memiliki berat badan diatas normal.

c. Terapi insulin kombinasi dengan sulfonilurea

  Tercatat 9 dari 10 kasus pasien pulang dalam keadaan sembuh ataupun membaik. satu pasien tercatat pulang atas permintaan sendiri (APS).

  Nilai rata-rata durasi kadar gula darah pasien mencapai normal hampir sama dengan nilai rata-rata durasi kadar gula darah mencapai normal pasien dengan terapi insulin. hal ini mungkin disebabkan karena kedua golongan terapi menggunakan insulin.

  Selisih rata-rata kadar gula awal dan akhir pasien adalah 312,5 mg/dl, cukup besar jika dibandingkan selisih kadar gula awal dan akhir pasien yang

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  menggunakan terapi lain, berarti kemampuan terapi kombinasi insulin dengan sulfonilurea dalam menurunkan kadar gula darah pasien cukup besar .

  Terdapat 2 orang pasien yang menerima kombinasi sulfonilurea, metformin, dan insulin. Kedua pasien tersebut termasuk pasien dengan usia lanjut yang telah mengalami penurunan metabolisme dan fungsi organ sehingga pemberian 3 antidiabetes akan memperberat kerja organ dalam memetabolisme obat tersebut.

  Hal tersebut dapat digolongkan sebagai kasus DRP adverse drug reaction karena adanya kemungkinan peningkatan risiko kerusakan organ pada pasien usia lanjut.

d. Terapi insulin kombinasi dengan ADO non-sufonilurea

  Jumlah pasien yang menerima terapi kombinasi insulin dengan sulfonilurea paling sedikit dibandingkan pasien dengan terapi lainnya. Obat non sulfonilurea yang digunakan diantaranya dari golongan biguanid yaitu metformin, dan meglitinid. Metformin tercatat yang paling banyak dikombinasikan dengan insulin (tabel XII).

  Pasien yang menerima terapi kombinasi insulin dan non sulfonilurea tercatat ada 8 kasus dan semua pasien pulang dalam keadaan sembuh atau membaik.

  Rata-rata selisih kadar gula awal dan akhir pasien yang menerima terapi dengan insulin kombinasi dengan sulfonilurea adalah yang paling besar dibandingkan dengan pasien yang menerima terapi lainnya.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  

Tabel XII. Distribusi Penggunaan Insulin Kombinasi ADO Non-Sulfonilurea

Pada Pasien DM Rawat Inap Rumah Sakit panti rapih Yogyakarta Periode Januari-Desember 2005 Kombinasi obat Persentase (%) Σ Kasus Insulin + biguanid 6 87,5

  Insulin + Meglitinid 1 12,5 Total 7 100

e. Kombinasi antidiabetes oral (ADO)

  Penggunaan terapi kombinasi antidiabetes oral tecatat sebanyak 11 kasus dan seluruh pasien pulang dengan keadaan membaik atau sembuh.

  Kombinasi antidiabetes oral (ADO) yang digunakan anatara lain: biguanid dan penghambat glukosidase-

  α; sulfonilurea dengan biguanid; dan sulfonilurea

  dengan penghambat glukosidase-

  α. Terapi kombinasi yang paling banyak

  digunakan adalah sulfonilurea dengan biguanid. Menurut Waspadji (1996) pemberian kombinasi biguanid dan sulfonilurea merupakan kombinasi yang rasional karena cara kerja yang berbeda dan saling aditif.

  Ditemukan 2 kasus yang menggunakan kombinasi 3 antidiabetes yaitu sulfonilurea, biguanid dan penghambat glukosidase-

  α. Kedua pasien yang

  menerima terapi kombinasi tersebut telah menerima kombinasi 3 golongan antidiabetes sekaligus dan penggunaannya dalam waktu yang bersamaan.

  Penggunaan 3 antidiabetes sekaligus kurang efektif karena sebelum dilakukan kombinasi 3 antidiabetes, pasien tercatat telah mencapai kadar gula normal.

  Selain itu penggunaan 3 antidiabetes dapat memperbesar risiko hipoglikemi. Hal

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  tersebut dapat digolongan kasus DRP adverse drug reaction karena adanya kemungkinan peningkatan risiko terjadinya hipoglikemi.

  Rata-rata kadar gula akhir pasien tidak dapat dihitung karena data kadar gula akhir pasien pada kartu rekam medik tidak lengkap. Rata-rata durasi pasien tinggal tercatat paling pendek dibanding kasus yang menggunakan terapi lain.

  

Tabel XIII. Distribusi Penggunaan Kombinasi ADO pada Pasien DM Rawat

Inap Rumah Sakit panti rapih Yogyakarta Periode Januari- Desember 2005 Kombinasi Obat Persentase (%) Σ Kasus biguanid + sulfonilurea 6 54,5

  penghambat glukosidase-

  α +

  sulfonilurea 1 9,1 biguanid + penghambat glukosidase- 2 18,2

  α

  Sulfonilurea + biguanid + penghambat glukosidase- 2 18,2

  α

  Total 11 100

f. Tidak menggunakan antidiabetes

  Tercatat ada 11 kasus pasien yang tidak menggunakan terapi antidiabetes sama sekali walaupun telah didiagnosis menderita DM. Dari 11 kasus tercatat hanya 7 pasien pulang dalam keadaan mambaik atau sembuh. Satu pasien tercatat meninggal, dan 2 lainnya pulang APS.

  Rata-rata kadar gula akhir pasien tercatat lebih tinggi daripada kadar gula awal. hal tersebut menunjukkan belum tercapainya tujuan terapi terhadap pasien

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  yang paling pendek dibanding pasien dengan terapi lain karena beberapa diantaranya tercatat meninggal dan pulang APS sebelum diinyatakan sembuh oleh dokter.

  Pasien tanpa terapi antidiabetes termasuk dalam salah satu kasus DRP butuh terapi obat tambahan karena adanya gejala DM tidak mendapat penanganan yang seharusnya. Hal tersebut tentu saja dapat memperparah DM dan berpotensi meningkatkan risiko kematian pasien.

  Dari pengamatan terhadap hasil terapi dengan menggunakan sampel yang terbatas dapat disimpulkan bahwa terapi dengan menggunakan kombinasi insulin dengan non-sulfonilurea adalah jenis terapi yang paling baik karena paling mampu menurukan kadar gula darah pasien menjadi mendekati normal. Telah diketahui sebelumnya tujuan terapi terhadap pasien DM yang paling utama adalah menurunkan kadar gula pasien menjadi mendekati normal karena hal tersebut mampu memperlambat dam mengurangi resiko tejadinya komplikasi.

D. Kecenderungan dan Kerasionalan Pemilihan Antidiabetes

  Penelitian-penelitian sebelumya menyebutkan bahwa antidiabetes yang paling banyak digunakan dalam terapi pasien diabetes mellitus adalah sulfonilurea.

  Diantaranya Ule (2000) menyatakan bahwa antidiabetika oral yang digunakan untuk terapi pasien DM di instalasi Rawat Jalan Rumah Sakit Panti Rapih pada tahun 1997 terdiri dari 6 jenis yaitu golongan sulfonilurea meliputi glibenklamida, glikuidon,

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  glikazida, klorpropamida, golongan biguanida digunakan metformin dan golongan glukosidase inhibitor digunakan akarbosa. Glibenklamid paling banyak digunakan diikuti akarbosa dan metformin.

  Nadeak (2000) dalam skripsinya yang berjudul “Pola Penggunaan Antidiabetika Oral bagi Pasien Diabetes Mellitus Rawat Jalan di Rumah sakit Bethesda Yogyakarta (Periode Januari-Desember 1998)” juga menyebutkan bahwa jenis antidiabetes oral yang paling banyak digunakan adalah sulfonilurea sedangkan yang paling sedikit digunakan adalah insulin.

  Sumiyem (2003) dalam skripsinya yang berjudul “Pola Peresepan Obat- Obat Hipoglikemik Oral untuk Penderita Diabetes Mellitus Usia Lanjut di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit St. Antonio Sumatra Selatan Periode Tahun 2002” menyebutkan bahwa sulfonilurea merupakan antidiabetes oral yang paling banyak diresepkan pada pasien DM terutama glikazid.

  Suryawanti (2004) dalam skripsinya yang berjudul “Pola Peresepan Obat Hipoglikemi dan Studi Literatur Obat Pada Pasien Diabetes Mellitus Rawat Inap di Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta Periode Januari-Maret 2002” juga menyebutkan golongan obat hipoglikemi yang paling banyak digunakan adalah sulfonilurea, diikuti oleh golongan biguanid, kemudian golongan glinid dan penghambat

  α-glukosidase, dan yang paling sedikit digunakan adalah insulin.

  Utomo (2005) dalam skripsinya yang berjudul “Gambaran Penatalaksanaan Diabetes Mellitus pada Pasien Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Periode Juli-Desember 2003” menyebutkan bahwa golongan sulfonilurea paling banyak dipakai terutama glibenklamid.

  Sebagai bahan perbandingan maka pada tabel XIV akan disajikan 9 hasil penelitian peresepan antidiabetes terhadap pasien DM di berbagai rumah sakit dari tahun 1997 sampai dengan tahun 2003 kemudian dibandingkan dengan hasil penelitian penulis.

  Dari tabel XIV dapat diketahui bahwa pada penelitian-penelitian sebelumnya sulfonilurea cenderung selalu menjadi pilihan dalam pemberian terapi terhadap pasien DM dibandingkan obat antidiabetika oral lainnya. Dapat dilihat juga bahwa dari tahun ke tahun penggunaan antidiabetes semakin mengalami perkembangan. Tahun 1997 antidiabetes yang digunakan hanya meliputi golongan sulfonilurea, biguanid, dan penghambat

  α-glukosidase namun pada tahun 2002 sampai 2003 mulai digunakan meglitinid dan thiazolidin.

  Dari tabel VIII, XII, XIII dan gambar 3 dapat diketahui bahwa golongan biguanid yaitu metformin mempunyai persentase paling besar sebagai obat pilihan pada terapi pasien DM baik yang diresepkan dan digunakan secara tunggal maupun secara kombinasi dengan antidiabetes lain. Hal tersebut berarti kecenderungan (trend) pemilihan dan penggunaan antidiabetes yang menurut penelitian-penelitian sebelumnya berpusat pada sulfonilurea telah mengalami pergeseran dan menjadi berpusat pada biguanid. Namun begitu mulai dari tahun 1997 sampai dengan 2005 sulfonilurea tetap relatif tinggi penggunaannya.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  

Tabel XIV. Perbandingan Beberapa Hasil Penelitian Peresepan Antidiabetes

Oral Terhadap Pasien DM.

  Persentase (%) Golongan Obat

  1

  2

  3

  4

  5

  6

  7

  8

  9 Sulfonilurea 54,9 84,3 70,5 42,1 78,6 80,5 65,8 43,7 41,3

  Biguanid 21,9 15,7 29,4 42,1 14,3 54,1 18,0 40,8 46,5

  Penghambat α-

  • 23,2 15,7 3,6 6,9 10,8 - 8,6 Glukosidase - - Meglitinid 3,6 42,5 5,4 9,9 5,2 - - 5,6
  • Thiazolidin Keterangan: 1 : Januari-Juni 1997 (Ule, 2000) 2 : Januari-Desember 1998 (Nadeak,2000) 3 : Agustus-Desember 1998 (Damayanti,2000) 4 : Tahun 2001-2002 (Triastuti, 2004) 5 : Januari-Maret 2002 (Suryawanti, 2004) 6 : Nobember-Desember 2002 (Wijoyo,2004) 7 : Tahun 2002 (Sumiyem,2003) 8 : Juli-Desember 2003 (Utomo,2005) 9 : Januari-Desember 2005

  Pergeseran trend terapi dari sulfonilurea menjadi metformin dapat disebabkan karena adanya pertimbangan terhadap kemungkinan terjadinya toleransi akibat perangsangan insulin yang terus menerus oleh sulfonilurea, sehingga terapi terhadap pasien pasien DM mulai diarahkan pada biguanid yang mekanismenya adalah menurunkan produksi glukosa. Pergeseran juga dapat terjadi karena adanya perubahan profil pasien misalnya terjadi peningkatan jumlah pasien DM yang mengalami kegemukan (obesitas) sehingga penggunaan metformin sebagai antidiabetes untuk pasien DM obese juga meningkat. Selain itu golongan biguanid memiliki beberapa kelebihan antara lain mampu mereduksi gula darah puasa hingga 60-80% sementara sulfonilurea hanya mampu mereduksi gula darah puasa sampai 70%. Metformin mampu mengurangi kadar gula puasa ketika kadarnya dalam darah

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  sangat tinggi yaitu >30 mg/dL sedangkan kemampuan sulfonilurea untuk menstimulasi pelepasan insulin dari sel

  β pada kadar gula yang sangat tinggi kadangkala justru menyebabkan terjadinya keracunan glukosa (glucose toxicity).

  Metformin juga mempunyai efek positif terhadap beberapa komponen sindrom resistensi insulin diantaranya: metformin mampu mengurangi kadar trigliserida plasma dan kadar low density lipoprotein cholesterol (LDL-C) sampai kira-kira 8% sampai 15%, juga meningkatkan high desity lipoprotein cholesterol (HDL-C) sampai 2 %. Selain itu, metformin juga mampu mengurangi resiko komplikasi makrovaskular pada pasien obesitas, secara signifikan mampu mereduksi semua penyebab kematian dan resiko stroke jika dibandingkan dengan sulfonilurea dan insulin (Triplitt et al. 2005). Alasan-alasan tersebut menjadikan pergeseran kecenderungan terapi dari sulfonilurea ke metformin menjadi cukup masuk akal

  Pemusatan kecenderungan terapi antidiabetes pada metformin sangat sesuai dengan perkembangan pengobatan diabetes menurut Triplitt et al. (2005) yang menyebutkan bahwa pasien dengan obesitas (>120% Berat badan Ideal) tanpa kontraindikasi dapat memulai terapi dengan menggunakan metformin, sedangkan pasien dengan berat badan mendekati normal dapat menggunakan terapi insulin. Dikatakan juga bahwa dengan pertimbangan ekonomi dan efikasi maka metformin dan insulin cenderung menjadi pilihan primer dan sekunder dalam terapi pasien diabetes mellitus.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

E. Rangkuman Pembahasan

  Dari penelitian terhadap profil pasien DM RSPR periode Januari-Desember 2005 diketahui bahwa jumlah pasien laki-laki sebanding dengan jumlah pasien perempuan sehingga faktor jenis kelamin dapat dikatakan bukan merupakan faktor resiko terjadinya DM. Pasien DM tercatat paling banyak berumur diatas 60 tahun karena terjadinya penurunan fungsi organ pada usia lanjut.

  Kasus DM tipe 2 lebih banyak dijumpai daripada DM tipe 1. Kasus DM tipe 2 paling sering ditimbulkan oleh kegemukan pada penderita. Kegemukan yang terjadi menyebabkan sel

  β pulau langerhans yang memproduksi insulin menjadi kurang peka terhadap rangsang yang berupa kenaikan kadar glukosa dalam darah.

  Jenis penyakit yang paling banyak diderita oleh pasien adalah DM dengan penyakit penyerta. Infeksi merupakan penyakit penyerta paling umum yang diderita oleh pasien. Diantaranya adalah DM dengan infeksi virus, gastro enteritis (GE) amoeba, urinary track infection (UTI), dan infeksi pada clavus. Sedangkan komplikasi yang paling banyak terjadi adalah ulkus. Ulkus yang terjadi disebabkan karena berkurangnya aliran darah yang menuju ke bagian bawah tubuh sehingga resiko terjadinya kerusakan jaringan akibat infeksi juga meningkat.

  Kelas terapi antidiabetes paling banyak diresepkan kepada pasien hal ini jelas karena semua pasien terdiagnosis menderita diabetes. Penggunaan antidiabetes oral secara tunggal mempunyai persentase penggunaan paling besar. dari fakta tersebut dapat disimpulkan bahwa sebagian besar pasien DM rawat inap RSPR

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  periode Januari-Desember 2005 adalah pasien DM yang kriteria pengendalian kadar glukosa dalam darahnya masih tergolong baik karena penggunaan antidiabetes oral secara tunggal adalah yang paling banyak digunakan dibandingkan penggunaan secara kombinasi baik dengan insulin ataupun dengan antidiabetes oral lainnya.

  Dari tabel penelitian hasil terapi pasien dengan jumlah sampel yang terbatas dapat disimpulkan bahwa jenis terapi yang paling baik adalah bahwa terapi dengan menggunakan insulin kombinasi dengan non sulfonilurea adalah jenis terapi yang paling baik karena paling mampu menurukan kadar gula darah pasien menjadi mendekati normal sehingga secara tidak langsung mampu memperlambat dan mengurangi terjadinya risiko komplikasi. DRP yang terjadi selama terapi meliputi

  

adverse drug reaction (ADR) sebanyak 4 kasus dan butuh terapi obat tambahan

sebanyak 11 kasus.

  Golongan obat antidiabetes yang paling banyak diresepkan pada pasien DM RSPR periode Januari-Desember 2005 baik secara kombinasi maupun tunggal adalah biguanid yaitu metformin. Hasil ini berbeda dari penelitian-penelitian sebelumnya yang menyebutkan bahwa sulfonilurea yang paling banyak digunakan sebagai terapi pada pasien DM pada tahun 1997 sampai dengan 2003. Hal ini menunjukkan bahwa terjadi pergeseran trend terapi dari sulfonilurea menjadi biguanid yaitu metformin.

  Pergeseran trend terapi dari sulfonilurea menjadi metformin dapat disebabkan karena adanya pertimbangan terhadap kemungkinan terjadinya toleransi akibat perangsangan insulin yang terus-menerus oleh sulfonilurea, sehingga terapi

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  terhadap pasien pasien DM mulai diarahkan pada biguanid yang mekanismenya adalah menurunkan produksi glukosa. Hal lainnya adalah adanya peningkatan jumlah pasien yang mengalami obesitas sehingga biguanid yang tidak berpotensi meningkatkan berat badan mulai banyak digunakan terutama sebagai pilihan terapi terhadap pasien DM obese.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Dari hasil penelitian dapat ditarik beberapa kesimpulan, antara lain:

  1. Profil pasien diabetes mellitus di instalasi rawat inap rumah sakit Panti Rapih Yogyakarta periode Januari-Desember 2005 adalah sebagai berikut ini.

  a. Pasien perempuan lebih banyak yaitu 32 kasus (51 %)

  b. Pasien terbanyak pada kelompok umur lebih dari 60 tahun yaitu 29 kasus (46,1 %)

  c. Tipe diabetes mellitus (DM) yang paling banyak diderita adalah DM tipe 2 yaitu 62 kasus ( 98,4 % ) d. Jenis kasus penyakit DM yang paling banyak terjadi adalah DM dengan penyakit penyerta sebanyak 29 kasus ( 46 % ) e. Penyakit komplikasi yang paling banyak terjadi adalah DM dengan ulkus sebanyak 11 kasus ( 17,5%) f. Penyakit penyerta yang paling banyak terjadi adalah kasus infeksi sebanyak 6 kasus (9,5% )

  2. Profil peresepan pasien DM di instalasi rawat inap rumah sakit Panti Rapih Yogyakarta periode Januari-Desember 2005 adalah sebagai berikut ini.

  a. Kelas terapi antidiabetes paling banyak diresepkan yaitu 53 kasus ( 84,1 % )

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  b. Golongan antidiabetes yang paling banyak diresepkan adalah biguanid yaitu metformin sebanyak 30 kasus ( 47,6 % ) c. Antidiabetes paling banyak digunakan secara tunggal sebanyak 15 kasus

  (23,8%)

  3. Dari hasil terapi pasien DM RSPR periode Januari-Desember 2005 penggunaan kombinasi insulin dengan sulfonilurea memberikan hasil penurunan kadar gula darah yang paling baik. DRP yang terjadi selama terapi meliputi adverse drug

  reaction (ADR) 4 kasus (6,3%) dan butuh terapi obat tambahan sebanyak 11 kasus (17,5%).

  4. Terjadi pergeseran kecenderungan terapi dari golongan sulfonilurea ke golongan biguanid pada periode Januari-Desember 2005

B. Saran

  Dari hasil penelitian disarankan :

  1. Dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui apakah trend terapi terhadap pasien DM memang telah bergeser menjadi metformin ataukah pergeseran tersebut hanya terjadi pada periode Januari-Desember 2005 saja.

  2. Dilakukan penelitian lebih lanjut terhadap jenis terapi antidiabetes baik yang diberikan secara tunggal maupun yang diberikan secara kombinasi yang memberikan hasil terapi paling baik terhadap pasien DM.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Alatas, H., karyomanggolo, W.T., Musa, D.A., Boediarso, A., dan Ismet, N.O., 1995, Desain Penelitian: Pandangan Umum dalam Sastroasmoro, S., dan Ismael, S.,

  Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Klinis , Binarupa Aksara, Jakarta. 52-56

  Anonim, 1998(a), Standar Pelayanan Medik Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta, Laporan Intern , Tidak Dipublikasikan. Anonim, 1998(b), Visi,Misi, dan Tujuan Rumah sakit Panti Rapih Yogyakarta, Laporan Intern , Tidak Dipublikasikan. Anonim, 2000(a), Diabetes Care, Clinical Diabetes vol.18 no.3 summer. Available from URL: http//care.diabetesjournal.org/cgi/content/full/suppl-1/515.Diakses pada 31 agustus 2005

  Anonim, 2000(b), Informatorium Obat Nasional Indonesia 2000, Departemen Kesehatan RI. Direktorat Jenderal Pengawas Obat dan Makanan, Jakarta

  Anonim, 2002, Informasi Spesialite Obat Indonesia, Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia, Jakarta. 14-22, 38-94, 199-254, 263-269, 319-338. Anonim, 2004, Oral Medication for type 2 Diabetes, NIH publication. Available fromURL:http//www.dlife.com/dLife/type2/treatment/_oral_medication/?adId

  =9383. Diakses pada 21 September 2005. Anonim, 2005(a), Standards of Medical Care in Diabetes, Diabetes care, ADA,

  Vol.28 Suppl 1. 4-36 Anonim, 2005(b), Type 2 Diabetes Mellitus Case Study for University of Utah

  School of Medicine first year curriculum , Available from URL:

  http://casestudies.med.utah.edu/med1/diabetes2.html. Diakses pada 5 Oktober 2006. Cipolle, R.J., Strand, L.M., and Marley, P.C., 1998, Pharmaceutical Care practice,

  McGraw-Hill, New York. 75-83 Damayanti, D., 2000, Gambaran Penggunaan Obat pada Penderita Diabetes Mellitus di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit panti rapih Yogyakarta Periode

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Donatus, I.A., 2002, Buku Panduan Skripsi, Edisi III, Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta

  Handoko, T. dan Suharto, B., 1995, Insulin, Glukagon, dan Antidiabetka Oral dalam Ganiswama, S.G.,Setiabudy, R., Suyatna, D.F., Purwantyastuti, dan Nafrialdi (Editor) Farmakologi dan Terapi, Edisi IV, Percetakan Gaya Baru, Jakarta.

  467-481 Harris, N.D., and Greene, R.J., 2000, Pathology and Therapeutics for Pharmacist,

  Second Edition, Pharmaceutical Press, London. 554-559 Johnson, M., 1998, Diabetes, Terapi, dan Pencegahannya, Penerbit Indonesia

  Publishing house, IKAPI, Bandung. 49-53 Nadeak, I., 2000, Pola Penggunaan antidiabetika Oral bagi Pasien Diabetes Mellitus

  Rawat jalan di rumah sakit Bethesda Yogyakarta (periode januari-Desember 1998), Skripsi, Fakultas Farmasi Universitas sanata Dharma, Yogyakarta. Pratiknya, 2001, Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Kedokteran dan Kesehatan,

  Edisi I, Raja Grafindo Persada, Jakarta

  th

  Rang, H.P., Dale, M.M., Ritter, J.M., and Moore,P.K., 2003, Pharmacology, 5 Edition, Churchill Livingstone, London

  Ritter, J.M., Lewis, L.D., and Mant, T.G.K., 1999, A Textbook of Clinical

  th Pharmacology , 4 Edition, Arnold Publisher, London

  Sumiyem, 2003, Pola Peresepan Obat hipoglikemik Oral untuk penderita Diabetes mellitus Usia lanjut di Instalasi Rawat Inap Rumah sakit St. Antonio Baturaja, Sumatera Selatan Periode 2002, Skripsi, Fakultas Farmasi Universitas sanata Dharma, Yogyakarta.

  Suryawanti, M.R., 2004, Pola Peresepan Obat Hipoglikemi dan Studi Literatur Interaksi Obat pada Pasien Diabetes mellitus rawat Inap Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta Periode Januari-Maret 2002, Skripsi, Fakultas Farmasi Universitas sanata Dharma, Yogyakarta.

  Tjokroprawiro,A., 1999, Diabetes mellitus, klasifikasi, Diagnosis, dan Terapi, Edisi

  III, Penerbit gramedia Pustaka Utama, Jakarta. 30-46

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Triastuti, F.E., 2004, Gambaran peresepan Obat pada Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2 di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Dr. Sardjito Yogyakarta periode 2001- 2002, Skripsi, fakultas Farmasi universitas sanata Dharma, Yogyakarta. 13-20

  Triplitt, C.L.,Reasner, C.A., dan Isley, W.L., 2005, Diabetes Mellitus, in DiPiro,J.T, Talbert, R.L., Yee, G.C., Matzke, G.R., Wells, B.G., Posey,L.M., (Eds.),

  Pharmacotherapy: A Pathophysiologic Approach , Sixth edition, The

  McGraw-Hills Companies, Inc. New York. 1333-1352 Ule, Y., 2000, Pola Penggunaan Obat Antidiabetika Oral untuk Penderita Diabetes

  Mellitus Usia Lanjut di Instalasi Rawat Jalan Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta Periode Januari-Juni 1997, Skripsi, Fakultas Farmasi Universitas sanata Dharma, Yogyakarta. 14-16

  Utomo, H., 2005, Gambaran Penatalaksanaan Diabetes Mellitus pada Pasien Rawat Inap Rumah Sakit panti Rapih Yogyakarta Periode Juli-Desember 2003, Skripsi, Fakultas Farmasi Universitas sanata Dharma, Yogyakarta.

  Waspadji, S., 1996, Pengelolaan Farmakologi Diabetes mellitus yang Rasional dan Gambaran Klinis Diabetes mellitus dalam Noer, S., (Ed), Buku Ajar Ilmu

  Penyakit dalam , Edisi III, Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas

  Indonesia, Jakarta. 588,648-654 Wijoyo, F.H., 2004, Kajian Pemilihan Obat Hipoglikemik Oral pada Terapi Pasien

  Diabetes mellitus Tipe 2 Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti rapih Yogyakarta Periode November-Desember 2002, Skripsi, Fakultas Farmasi Universitas sanata Dharma, Yogyakarta.

  Yulianto, W.A.,2003, Kiat Mencegah Kepikunan Demensia Alzeimer, Sinar Harapan, URL: http://www.sinarharapan.co.id/iptek/kesehatan/2003/0822/kes2.html.

  Diakses pada 1 November 2006.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  

Data Rekam Medik Pasien Diabetes Mellitus

Instalasi rawat Inap Rumah Sakit Panti Rapih yogyakarta

Periode Januari-Desember 2005

  Tgl Kadar Gula Darah Obat Cara Tgl Hasil No. RM Data Diri Diagnosa Keluhan Rawat Msk Klr Ttg Trndh pberian Pberian Lab 1 20918 Jl. 45, 03/9/2005 DM, Panas, mual 138 Plantacid 10 ml

  3 178cm, s/d penyakit sesak, perut k/p Sanmol 1 tb 3 90 kg, 08/9/2005 penyerta ; sakit, bintik Primperan 2x1 amp 4 s/d 6

  TD : 130/80 membaik infeksi merah, ulu Analsik 1 tablet 4 s/d 5 Riwayat dm virus hati sakit Glukotika 2x1 tb 4 s/d 8 sejak 1987 glucobay 3x5 mg 4 s/d 5 Rysen 1x1 4 s/d 7 Zilorik 300 1x1 5 s/d 7 Celebrex 100mg 2x1 6 s/d 78 Inf. Asering 3 s/d 5 Kaki

  2 0 ' 37241 YT, 41, klas 25/4/2004 DM, kom- bengkak, GN: GN: 297 170 Neurotin 300 2x1 25 s/d 16 25/4/2005 3, 158 cm, s/d plikasi tidak bisa 298 217 Myonal 3x1 25 s/d 16 kolest : Methicobal 1 amp 60 kg, DM 16/5/2005 abces jalan 2x/mgg 12 s/d 12 190 u sejak 2000 membaik

  Insulin RI 3x7 25 s/d 26 Trigliser : Celebrex 200 1x1 25 s/d 13 142 u Insulin 3x10 27 s/d 28 LDL : u Insulin 3x12 28 s/d 29 118 ATP 3x1 30 s/d 16 HDL : u Insulin 3x15 30 s/d 4

  52 Ciprofloxacin 500 2x1 2 s/d 16 Ceftriaxon 2x1 gr 2 s/d 11 u Insulin RI 3x20 5 s/d 12 Glucovance 2,51-0-0 13 s/d 16 Martos

  25 NaCl standby 27 s/d 11

  61

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Tgl Kadar Gula Darah Obat Cara Tgl Hasil No No. RM Data Diri Diagnosa Keluhan

Rawat Msk Klr Ttg Trndh pberian Pberian Lab

  DM, 3 0 ' 5625 RH, 59, DM 31/3/2005 penyakit Lemas 138 N : 478 139 Sulferazon 2x1 gr 4 s/d 6 31/3/2005 sejak 1986, s/d penyerta :

  79 Kalnex 3x1 amp 4 s/d 6 Ureum operasi 09/4/2005 kanker Toradol 2x3 mg

  5

  24 pengangkatan membaik payudara Velosef 2x500 6 s/d 10 kreatinin benjolan di

  Mefinal 3x500 6 s/d 9

  0.7 payudara Kalnex 3x500 6 s/d 13 Riwayat DM Daonil 1-0, 5-0 5 s/d 13 dari ayah glucophage 3x1 5 s/d 13 Glucobay 3x50 mg 10 s/d 13 Narfoz 4 mg

  10 Velosef 2x200 10 s/d 12 Martos 4 s/d 6 DM,

  ' 5625 RH, 59, DM 21/3/2005 penyakit Tidak ada 111 375 375

  72 Tarivid 22 s/d 29 21/3/2005 Makan sejak 1986, s/d penyerta : mual, 2x400 mg

  22 Ureum : chemo 1x 29/3/2005 kanker sore lemas, k/p Sanmol 2x1

  22

  20

membaik payudara keringat Neupogen 1 amp 26 s/d 27 kreatinin :

dingin Glucatrol 5mg 1x1 26 s/d 29

  0.8 Alinamin F 3x1 27 s/d 29 kolest : Cursil 3x1 tb 28 s/d 29 159 Glucatrol 10 mg 1x1 21 s/d 22 Trigliserid D 5% 108

  DM, ' 5625 RH, 59, DM 3/2/2005 penyakit Lemas 138 N : 478 139 Sulferazon 2x1 gr 4 s/d 6 3/2/2005 sejak 1986, s/d penyerta :

  79 Kalnex 3x1 amp 4 s/d 6 Ureum operasi 13/2/2005 kanker Toradol 2x30 mg

  5

  24 pengangkatan membaik payudara Velosef 2x500 6 s/d 10 kreatinin benjolan di

  Mefinal 3x500 6 s/d 9

  0.7 payudara Kalnex 3x500 6 s/d 13 Riwayat DM Daonil 1-0, 5-0 5 s/d 13 dari ayah Glucophage 3x1 5 s/d 13 Glucobay 3x50 mg 10 s/d 13 Narfoz 4 mg

  10 Velosef 2x200 10 s/d 12 Martos 4 s/d 6

  62

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Tgl Kadar Gula Darah Obat Cara Tgl Hasil No No. RM Data Diri Diagnosa Keluhan Rawat Msk Klr Ttg Trndh pberian Pberian Lab 4 0 ' 68227 PH, 56 17/10/2005 DM, Mual dan 212 173 212 173 Triatec 100 mg 1x1 tb 17 s/d 24 17/10/2005 Kelas : UTM s/d komplikasi muntah, Aprovel 300 mg 17 s/d 25 Kreatinin:

  Riwayat : 25/10/2005 neuropati pusing 1x1 tb 17 s/d 25 4,96 Ayah : DM, membaik Lasix 1-0-0

  17 hipertensi. Primperan 1amp

  17 Ibu : Lantus 24u

  17 Hipertensi. k/p Mefinal 500 17 s/d 24 Riwayat : Trileptal 1x300mg 17 s/d 21 stroke dan DM Unolium 5mg 2x1 tb 17 s/d 25 sejak 1991 Exelon 3mg 2x1 cap 17 s/d 25 Semox 4x2 tts 18 s/d 20 u Lantus 20 20 s/d 23

  Renxamin inf. 20 s/d 23 u Lantus 20 19, 22 u Lantus 16 23 k/p narfos 4mg u

  24 Lantos 14 17s/d 25 Aspar-K 2x1 17 s/d 25 Cyproxin 2x500 NaCl standy 17 s/d 21

  5 505231 SM, 65 27/12/2005 DM BAB 429 312 429 312 Amaryl 1x1 mg 27 s/d 28 27/12/2005 riwayat DM s/d lembek, Arcalion 1x1 27s/d 30 Ureum : pusing, dari ibu. 30/12/2005 lemas Amary 2mg 1x1 29 s/d 30

  39 Riwayat DM membaik Diabex 5002x1 29 s/d 30 Creatinin : Prexum 1x1

  30

  1.3 NaCl standy 27 s/d 29

  63

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Tgl Kadar Gula Darah Obat Cara Tgl Hasil No No. RM Data Diri Diagnosa Keluhan Rawat Msk Klr Ttg Trndh pberian Pberian Lab 6 0 ' 77164 NJ, 74, klas : 2 11/11/2005 DM, kompli- Kaki dan 292 159 292 159 Triatec 2,5 0-0-1 12 s/d 20 11/11/2005 Riwayat s/d kasi : PAD tangan kiri Insulin RI 3x6u 12 s/d 15 Ureum : jantung, DM, 22/11/2005 penyakit lemas Ezetrol 1x1 12 s/d 22

  58 hipertensi membaik penyerta : Ciproxin 2x500mg 12 s/d 22 kreatinin :

  • " " 1 th Obs.

  Lipira 0.0.1 12 s/d 21

  1.2 Monoparese Ascardia 1x160mg 13 s/d 22 kolest : kaki Trental 1x400mg 13 s/d 22 267 u sinistra Insulin RI 3x8 u

  16 Trigliser Insulin 3x10 16 s/d 22 266 Daonil 0,5.0.0 20 s/d 22 Unalium 5mg 1x1 20 s/d 22 Triatec 5mg 0.0.1 20 s/d 21 Asering inf. 11 s/d 19

  7 151251 SS, 68, Kls : 2 8/3/2005 DM, Kompli- Kaki dan

  78

  78

  67 Nicolin 2x250 mg 8 s/d 13 9/3/2005 Riwayat s/d kasi : stroke tangan kiri Plavi X 1x1 tb 8 s/d 16 GD 2jPP : stroke th 2000 16/3/2005 lemas Hyderginfas 1x1 8 s/d 16

  51 Lipantyl 2000M membaik 0.0.1 8 s/d 15 Xyloric 2x100 mg 9 s/d 16 Exelon 3mg 2x1 cap 10 s/d 16 Diabex 2x0,5 13 s/d 16 Vometa 3x1 15 s/d 16 Martos standby

  8 RD standby 9 s/d 10 8 505231 SM, P, 65, 27/12/2005 DM 3 hari 429 BS 429 312 Amaryl 1x1mg p.o 27 s/d 28 27/12/2005 Riwayat DM s/d BAB lembek, PP Arcalion 1x1 p.o 27 s/d 30 Ureum:39

dari ibu 30/12/2005 pusing, 288 Amaryl 1x2mg p.o 29 s/d 30 Kreatinin:1,3

membaik lemas Diabex 2x500 p.o 29 s/d 30 Trigliser:495 Prexum 1x1 p.o

  30 LDL: 138 Infus NaCl 27 s/d 29 HDL: 54

  64

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Tgl Kadar Gula Darah Obat Cara Tgl Hasil No No. RM Data Diri Diagnosa Keluhan Rawat Msk Klr Ttg Trndh pberian Pberian Lab 8 255790 SW, 70, 12/9/2005 DM, penyakit Kaki kanan 830 214 830 149 Ceftriaxon 1x1 gr inj 12 s/d 15 12/9/2005 Ureum: kls : 2B, DM s/d penyerta : sakit, pusing Insulin RI 12u inj

  12

  36

3 tn yll, 1/10/2005 Fr, Cruris mual, badan Pronalges 3x100mg p.o 12 s/d 16 Kreatinin:

150 cm, 40 kg membaik dx, caput sakit, pusing Insulin 10u 1x1 inj 12 s/d 13 1,0 humeri

  Cedocard 2x5mg p.o 12 s/d 14 RI 3x12u inj

  14 Analsik 3x12u p.o 14 s/d 20 RI 4u 1x1 inj

  15 Ceftriaxon 2x1 gr inj. 15 s/d 17 Dolana 3x10+NaCl 10ml inj. 15 Narfos 1x4mg i.v

  15 Ossosal 1x800mg p.o 17 s/d 1 Bone One 1x1 p.o 17 s/d 1 Primperan 2x1 amp inj. 17, 18 s/d 24 Glucatrol 10mg 1.1.0 p.o 18 s/d 21 Vometa 3x1 p.o 19 s/d 1 Glucovance 2,5 3x1 p.o 22 s/d 28 Esilgan 1mg 0.0.1 p.o 22 s/d 30 Ciprofloxacin 2x500 p.o 23 s/d 29 Plantacid 1x1 inj.

  23 Novalgin 3x0,5 26 s/d 1 Cravit 1x500mg 29 s/d 1 NaCl infus 12, 14, 15 Martos 15 s/d 17 Asering infus 17 s/d 19 9 255790 SW, P 70 + 11/3/2005 DM " " 4 hr 702 BS 702 169 Mertigo 2x1 tb p.o 12 s/d 20 11/3/2005 kls : 2B, DM s/d gemetar GN : Herbusser 2x30 p.o 12 s/d 20 Ureum : 3 tn yll, 20/3/2005 kepala 210 Neurantin 300 0.01 p.o 13 s/d 19

  58

150 cm, 40kg APS berputar RI 3x8u inj 14 s/d 15 kreatinin :

Methylcobalt 500 3x1 lemas, p.o 16

  1.3 perut tidak RI 3x10u inj 16 s/d 20 kolest : enak glucatrol XL 1x1 p.o 17 s/d 20 316 Trigliserid

  NaCl 9% 500cc + 11 s/d 13 : Insulin 40u 20tts/fls infus 378 RD + Insulin RI 10u 20tts 11 s/d 15 Infus NaCl

  65

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  89 Stimuno 3x1 p.o 19 s/d 29 19/1/2005 kls : 3, tanggal s/d foot, kompli nanah, Longcet 3x500 p.o 19 s/d 20 Ureum :

  25 Infus Martos 25 s/d 27

  29 Infus Asering 19 s/d 28 Infus tutorusin

  6.3 Neurotam 2x800 p.o

  29

  29 Asam urat Flagly 2x800 p.o

  1.4 Clobazam 3x10 mg p.o 22 s/d 28 kolesterol : Reskuin 1x500 mg p.o 24 s/d 29 156 Toradol 2x30 mg inj 25 s/d 26 Trigliserid : Gentamisin 2x80 p.o 25 s/d 27 118 Augmentin 3x500 p.o

  Reskuin 1x1 fls inj 20 s/d 22 kreatinin : debriment Cedocard 3x5 mg p.o 20 s/d 29

  24 Jan operasi 29/1/2005 kasi: infeksi memerah k/p esilgan 1 ml p.o 19 s/d 20 45 excisi membaik

  66 Tgl Kadar Gula Darah Obat Cara Tgl Hasil

  No No. RM Data Diri Rawat Diagnosa Keluhan Msk Klr Ttg Trndh pberian Pberian Lab 10 0 ' 84383 M, L, 82, 12/10/2005 DM Muntah terus- 298 251 420 251 Primperan 2x1 amp p.o 12 s/d 13 12/10/2005 kelas : VIP s/d penyakit menerus, kaki Peflacin 3x200 mg p.o 12 s/d 13 ureum :

  0.9 perianal Ezetrol 1x1 p.o 8 s/d 11 kolesterol : Diamicron MR 1.0.0 p.o 8 s/d 11 237 Bactrim F 2x1 tab p.o 9 s/d 11 Trigliserid : Celebrex caps 1x200 p.o 9 s/d 11 427 Insulin RI 3x5 u inj 9 s/d 11 Infus RL

  

2B, tanggal 6 membaik perianal tertahankan proferrid supp 1 tube p.a 7 s/d 8 kreatinin :

operasi abses Lypantyl 0.0.1 p.o 8 s/d 10

  40

  155 11 0 ' 96701 BZ, L, 34 6/5/2005 DM Nyeri di 101 206 305 101 Gentamisin 2x80 mg 6 s/d 9 8/5/2005 170 cm, s/d penyakit dubur yang dalam NaCl inj Ureum : 85 kg, kelas 11/5/2005 penyerta : tidak k/p Toradol 30 mg inj 6 s/d 78

  Trigliserid : sejak 15 thn yll

  13 kolesterol : muda, minum sendiri pelan 235 keras berhenti

  23

15 thn, APS Pleuropne bengkak Cedocard 3x5 mg p.o 12 s/d 13 kreatinin 10

merokok sejak umonia tetapi sembuh Methicobalt 1x1 i.v pelan-

  13

  Riwayat DM 13/10/2005 penyerta : kiri kadang Capoten 12,5 2x1 tb p.o

  6 Infus Tutofusan 6 s/d 78 12 134625 SS, P, 93 19/1/2005 Diabetic Kaki keluar 104 123 159

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  67 Tgl Kadar Gula Darah Obat Cara Tgl Hasil

  No No. RM Data Diri Rawat Diagnosa Keluhan Msk Klr Ttg Trndh pberian Pberian Lab 13 144658 W, P, 48, 68 5/4/2005 DM, hiper Bicara sulit, 356 356 Neurotam 12 gr inj 5 5/4/2005 kg, kls : 3, s/d tensi peny. tangan kiri Neurotam 4x3 gr 5 s/d 9 Ureum: 30

  TD : 220/160, 13/4/2005 penyerta : seperti Sermion 5mg (1/2tb) p.o 5 s/d 13 Kreatinin:

riwayat DM membaik TIA, PSN melayang Pletaal 2x50mg p.o 5 s/d 12 0,7

dan hipertensi

  Insulin RI 3x8 u inj 5 s/d 6 Kolesterol: obat rutin : Analsik 3x1 p.o 5 s/d 13 186 Captopril Captopril 3x12,5 p.o 6 s/d 13 Trigliserid: dan Clonidin Cloniidin 3x75 ( 1 / 2 tb) p.o 6 s/d 8 194 riwayat DM

  Diamicron 1x1 p.o 7 s/d 13 keluarga : Clonidin 3x159 p.o 8 s/d 13 ibu menderita Adalat Oros 1x1 tb p.o 9 s/d 13 hipertensi Piracetam 3x1200 mg p.o 11 s/d 13 Ciprofloxacin p.o

  13 Infus NaCl 5 s/d 7 Infus Asering 8 s/d 10 14 164945 S, P, 55, kls : 23/8/2005 DM, Mual, muntah 38 137 381 38 Ceftriaxone 2x1 gr inj 23 s/d 8 23/8/2005

  2A, DM sejak s/d komplikasi sesak nafas, Primperan 2x1 amp inj 23 s/d 8 Ureum :

1992. Bebe- 13/9/2005 hipoglikemi makan sulit Dex 40% inj 23 s/d 24 108

rapa kali membaik

  Lasix 2 amp inj 23 kreatinin : opname Lasix 2x amp inj

  24

  5.9 karena DM Lasix 1amp/6 jam inj 24 s/d 27 kolesterol : Insulin RI inj 26 s/d 2 LDL : Lasix + NaCl 50cc inj 28 s/d 5 105 Esilgan 1mg 0.0.1 p.o 27 s/d 3 HDL : Insulin RI 3x8 u inj 2 s/d 6 216 Prexum 1x1 p.o 5 s/d 13 Trigliserid : Insulin RI 3x10 u 7 s/d 11

  68 Norvask 1x5 mg/ml p.o 8 s/d 13 As.Urat Lasix 2x1 inj 9 s/d 13

  9.6 Vometa 3x1tb p.o 9 s/d 13 Infus Dex 5% 23 s/d 27 Infus NaCl 26 s/d 29 Infus Ns 0,9% 30 s/d 31

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Tgl Kadar Gula Darah Obat Cara Tgl Hasil No No. RM Data Diri Diagnosa Keluhan Rawat Msk Klr Ttg Trndh pberian Pberian Lab 15 188078 J, P, 80, kls : 15/7/2005 DM, peny. 1 mgg tidak 478 478 425 Flagly 3x500mg p.o 15 s/d 21 15/7/2005 u

3, thn 2003 s/d penyerta GE BAB, mual Mixtrad P : 24 15 s/d 20 Ureum :

u opname 21/7/2005 amoeba badan nyeri M : 12

  31 hipoglikemik membaik Lodia 1x1 p.o 16 s/d 21 kreatinin : Neurontin 300 0.0.1 p.o 18 s/d 20 u

  1 Insulatard P : 24 sendiri u M : 12 Infus Martos 10% Infus Asering

  16 202701 M, L, 67 17/5/2005 DM, Luka di kaki 112 150 270 112 Insulin 3x8u inj 17 s/d 21 17/5/2005

Kls : 3, 1991 s/d komplikasi kanan Liprothoxacin 2x500 p.o 17 s/d 21 Ureum :

opname DM, 29/5/2005 Ulkus bengkak, k/p Profenol supp p.a 17 s/d 18

  1.0

obat rutin Pulang ada pus, Cetazol 2x1 gr inj 21 s/d 22 kreatinin :

Glibenclami Dengan luka nyeri Zantac1x1 amp inj 21 s/d 22

  5.2 de 2x1 tb membaik Vit C 2x400 mg inj 21 s/d 22 Trigliserid merokok sjk RI 3x7u inj 22 s/d 24 181 usia 30 thn, 1 Ceftriaxon 2x1 gr inj. 23 s/d 28 LDL har 1 bgks Insulin RI 3x10u inj 24 s/d 26

  91 Glucovance 2,5 mg 1.1.0 p.o 26 s/d 27 Glucovance 2,5 mg 1.0.1 p.o 27 s/d 29 Tequin 1x1 p.o 28 s/d 29 Infus tutofusin OD5

  21 Martos 10

  21 Infus Asering

  21 17 237835 M, L, 51, 5/3/2005 DM peny. sakit perut, 243 243 Ceftriaxone 2x1 gr inj 5 s/d 10 DM sejak s/d penyerta : muntah Insulin Mixtard inj 5 s/d 9

1989 10/3/2005 Hematuri lendir Esilgan 1xx1 mg p.o 7 s/d 9

membaik persisten

  Exz 20 g p.o

  9 Infus Asering standar 5 s/d 6

  68

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  69 Tgl Kadar Gula Darah Obat Cara Tgl Hasil

  No No. RM Data Diri Rawat Diagnosa Keluhan Msk Klr Ttg Trndh pberian Pberian Lab 10/11/2005 18 265188 PEM, P, 48 10/11/2005 DM selama 10 hr BS BS Neurotam 3x1200 mg p.o 10 s/d 17 Ureum :

  Riwayat s/d pasien mera- GN GN Pletaal 2x50 mg p.o 10 s/d 17

  18 stroke thn 17/11/2005 sa lemah dan 166 166 Sermion 3x1 tb p.o 10 s/d 17 kreatinin :

2005 Pulang dalam berat Captopril 3x12,5 p.o 10 s/d 17

  0.4 Keadaan Trombo aspilet 2x1 p.o 10 s/d 17 Masih lemah

  Amoxycilin 3x500 mg p.o 11 s/d 17 Metformin 5 mg 1.0.1 p.o 11 s/d 17 blopres 1x8 mg p.o 12 s/d 17 Frisium 3x10 mg p.o 12 s/d 17 Laxoberon 1x10 tts p.o

  17 Infus Asering 10 s/d 15 265188 PEM, P, 48 16/9/2005 DM, Bagian kiri 298 BS 301 189 Captopril 2x12,5 mg p.o 16 s/d 24 16/9/2005 Kls : 3 s/d komplikasi lemas, perut GN Citaz 2x50 mg p.o 17 s/d 24 Ureum : 24/9/2005 stroke perih, pegal 266 Tanakan 2x1 tb p.o 16 s/d 24

  21 membaik Brain act 2x25 mg i.v 16 s/d 20 kreatinin : Insulin 6 u inj

  16

  0.6 Nicholin 1 amp 16 kolesterol : Insulin Aetrapid 3x8u inj 18 s/d 21 222 Ceftriaxone 1x1 gr inj 18 s/d 24 LDL Ekstra inj dipo provera I

  20 158 flk inj HDL : Prothyra 2x10 mg p.o 20 s/d 24

  28 Detrusitol 2x1 p.o 21 s/d 24 Trigliserid Blopres 1x16 mg p.o 22 s/d 24 171 RI 3x10 u s.c 21 s/d 24 Diabex 3x1 p.o

  24 Infus NaCl 16 s/d 18

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Tgl Kadar Gula Darah Obat Cara Tgl Hasil No No. RM Data Diri Diagnosa Keluhan Rawat Msk Klr Ttg Trndh pberian Pberian Lab u 19 279730 SS, P, 64 4/10/2005 DM Diare 3 hari 308 153 308 153 Insulin RI 3x8 inj 4 s/d 9 4/10/2005 Kls : 3 s/d peny. > 5 kali/hr Ledia 1 tab p.o

  4 Ureum : 107 9/10/2005 penyerta : BAB encer Lodia 2x1 p.o 5 s/d 9 kreatinin : membaik GE k/p Sanmol p.o

  5

  1.7 amoeba Flagyl 3x500 mg p.o 5 s/d 9 kolest : 179 Yeflacinb 2x400 p.o 6 s/d 9 Trigliserid Primperan 2x1 amp inj 7 s/d 8 158 LDL 88

  HDL 44 20 304764 MS, P, 72 28/1/2005 DM Tidak

45 BS 223

  45 Norvask 5 mg 1/2 tb p.o 29 28/1/2005 Kls : 2B s/d hipertensi, tercantum GN Vometa 2x1 p.o 1 s/d 4 Ureum : 43 Riwayat 4/2/2005 komplikasi 179 Norvask 5 mg 1x1 p.o 1 s/d 4 kreatinin : keluarga : membaik hipoglikemi D 10% 20-30 tts infus 28 s/d 31

  1.1 jantung dan Infus NaCl 31 s/d 3 kolesterol : DM : orang

  127 tua Trigliserid Obat rutin : 106 Glucophage LDL 76 3x1, HDL 41 Captopril

  3x25 21 315961 S, L, 60, 24/6/2005 DM, Badan sakit, 665 275 665 172 Amoxycillin 2x1 gr inj 25 s/d 28 24/6/2005 Kls : 2B s/d komplikasi mual, perut Zantac 2x1 amp inj 25 s/d 28 Ureum :

riwayat 28/6/2005 CRF perih, sesak inpepsa 4x10 p.o 26 s/d 28 297

stroke APS nafas Kalsex 2x1 amp inj 27 s/d 28 kreatinin : Infus NaCl 0,96 500 + RI 20tts

  24

  9.1 Infus NaCl kosongan 24 s/d 27 27/6/2005 u Infus Dex 5% + RI 12 20tts 25 s/d 27 Ureum : 136 kreatinin :

  2.9

  70

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  71 Tgl Kadar Gula Darah Obat Cara Tgl Hasil

  No No. RM Data Diri Rawat Diagnosa Keluhan Msk Klr Ttg Trndh pberian Pberian Lab 22 329947 HP, L, 43, 29/7/2005 DM Tidak 391 212 391 212 Insulin RI 3x8 u inj 29 s/d 31 29/7/2005 156 cm, 74 kg s/d komplikasi tercantum Bactrim F 2x1 p.o 29 s/d 31 Ureum : kls : 2B 3/8/2005 hipertensi

  Triatec 2,5 mg 1x1 p.o 29 s/d 2

  37 Riwayat membaik Insulin RI 3x10 u inj 31 s/d 2 kreatinin : jantung dari

  Glucovance 2,5/500 p.o 2 s/d 3

  0.9 ayah, hiper- Insulin RI 3x5 u inj

  3 Trigliserid tensi dari Infus Asering 29 s/d 31

  89 ibu kolest : LDL : 80 HDL : 43 Hb 1 AC :

  13.6 23 345932 GS, L, 54, 6/5/2005 DM Tidak 485 189 485 165 Siclidon 100 mg 2x1 p.o 6 6/5/2005 160 cm, 50 kg s/d Peny. tercantum Neurotin 300 mg 1x1 p.o 6 s/d 12 Ureum :

  Riwayat DM 12/5/2005 penyerta Glucophage 3x500 mg p.o 6 s/d 12

  22 dari ayah, membaik Onhitis Gefliaxon 2x1 i.v 6 s/d 9 kreatinin : pernah , Polinemo Stimuno 3x1 p.o 9 s/d 12

  0.92 konsumsi pati Zinnat 2x500 mg p.o 9 s/d 12 kolesterol : glucophage, Sagestan salp 2x1 11 s/d 12 177 glibenklamid Diabex 50mg 1x1

  12 Trigliserid sdh tidak Infus asering 20 tts 6 s/d 8

  87 konsumsi lagi

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Tgl Kadar Gula Darah Obat Cara Tgl Hasil No No. RM Data Diri Diagnosa Keluhan Rawat Msk Klr Ttg Trndh pberian Pberian Lab 24 368671 NK, P, 82, 11/8/2005 DM Lemas 366 156 370 113 Amoxycilin 1 g/12 j inj 11 s/d 20 26/8/2005 Kls : 2B s/d komplikasi Metronindazole 1fl/12j inj 11 s/d 29 Ureum : pernah 29/8/2005 ulkus

  Insulin 3x18u inj 13 s/d 15

  7 opname krn membaik k/p Profenid p.o u 13 kreatinin : DM Insulin 3x20 15 s/d 17 u

  0.5 Insulin 3x22 18 s/d 19 u Insulin RI 3x25 19 s/d 22 Diflucan 1x100 mg 2tb p.o 19 s/d 29 Netromycin 2x150 g inj 21 s/d 28 Novonorm 3x1 mg p.o 21 s/d 22 u Insulin 3x15 23 s/d 24 u Infus NaCl 0,9% + RI 40

  11 Infus RD + RI 10u 20tts/mnt 11 s/d 17 u Infus NaCl 0,9% + RI 40 18 s/d 28 Infus D 10% 22 s/d 23 Plastbumin 25% 100cc

  25 368671 NK, P, 82, 9/5/2005 DM peny. 1 hari panas 477 BS 477 166 Ceftum 2x2 gr inj 9 s/d 15 9/5/2005 u Kls : 2B s/d penyerta pusing, BAB GN Insulin 10 inj u

  13 Ureum : pernah 21/5/2005 Broncho dan BAK 116 Insulin 12 inj 11 s/d 12 u

  26 opname krn membaik Pneumonia tdk terasa Insulin 20 inj u 12 kreatinin : DM thn 2003 Insulin 3x15 s.c u

  13

  0.8 Insulin RI 3x10 RI inj 14 s/d 15 kolest : u Insulin 3x12 RI inj 16 s/d 20 179 Ceftum 2x1 gr inj

  16 Trigliserid Diamicron MR 1.0.0 p.o 17 s/d 21 104 Velosef 2x500 mg p.o 17 s/d 21 u Insulin RI 3x8 inj 20 s/d 21 u Insulin RI 3x4 inj

  21 Infus NaCl 0,9% 16 tts/mnt 9 s/d 15 Infus NaCl 20tts/mnt 16 s/d 18

  72

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Tgl Kadar Gula Darah Obat Cara Tgl Hasil No No. RM Data Diri Diagnosa Keluhan Rawat Msk Klr Ttg Trndh pberian Pberian Lab 25 381643 BH, L, 19 3/4/2005 DM Perut perih, 532 200 532 174 Tarivid 2x400 mg p.o 3 s/d 10 3/4/2005 174 cm/58 kg s/d muntah terus- Glucovance 2,5 2x1 p.o 4 s/d 7 Ureum : u Riwayat DM 10/4/2005 menerus Humulun NPH 24 s.c 4 s/d 5

  61 dari ayah, membaik Ceftriaxon 2x1 gr inj 4 s/d 5 kreatinin : u u opname 2x Insulin Mixtard 20 .o.10 u u

  8

  1.5 krn DM Insulin Mixtard 20 .0.14 u u

  9 Insulin Mixtard 25 .0.14

  10 Infus NaCl 500 dnp 20 tts/mnt 3 s/d 5 Infus NaCl kosongan 3 s/d 4 26 418326 S, L, 70 6/6/2005 DM, Tangan kaki 279 BS 289 164 Triatec 1x2 mg p.o 6 s/d 24 6/6/2005 Kls : 3 s/d komplikasi lemas, GN : Kalnex 3x2 amp inj 7 s/d 12 Trigliserid

  Riwayat DM 24/6/2005 stroke pusing 109 Insulin RI 8u inj u

  7

  89 sejak 1995 membaik Insulin RI 3x5 inj 8 s/d 9 kolesterol : Norvask 0.0.1 p.o 8 s/d 24 LDL : 84 Toradol 2x30 mg inj 9 s/d 12 Phenytoin 3x1 amp inj 9 s/d 12 Rocephin 1x1 gr inj 9 s/d 11 u Insulin RI Dipo 6 inj Jan-00 Narfos 1 amp inj 7,9 s/d 10 u RI 3x5 inj 11 s/d 14 Medikonsef 2x500 p.o 12 s/d 24 Voltaren R 1x1 p.o 12 s/d 24 Clast 3x1 tb p.o 12 s/d 24 Gingkan 3x1 tb p.o 12 s/d 24 Phenytoin 3x100 p.o 12 s/d 24 primperan 2x1 amp inj 11 s/d 14 u RI 3x8 inj 15 s/d 16 u RI 3x10 inj 16 s/d 20

  Diamicron MR 1.0.0 p.o 21 s/d 24 Novonotam 3x0,5 mg p.o 23 s/d 24

  73

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Tgl Kadar Gula Darah Obat Cara Tgl Hasil No No. RM Data Diri Diagnosa Keluhan Rawat Msk Klr Ttg Trndh pberian Pberian Lab 1 27 436887 S, P, 46, 22/12/2005 DM Pusing, BS BS BS BS Captopril 2x12,5 / j sblm 22 s/d 25 2 Kls : 3 s/d komplikasi kesemutan GN : GN GN GN makan p.o 25/12/2005 hipertensi lemas

  86

  

71

  86

  71 Diamicron MB 1x1 mkn 22 s/d 25 membaik pagi p.o Adalat 10 1x1 p.o 22 s/d 25 Clonidin 2x75 p.o 23 s/d 25 Infus asering 20 tts

  23 28 445904 PS, L, 90 17/2/2005 DM, peny. Lemas, BB 125 124 200

  32 Ceftriaxon 1x1 gr inj 17 s/d 25 17/2/2005 s/d penyerta : turun, tiduran Tarivid 2x200 mg p.o 18 s/d 25 Ureum : 25/2/2005 Pneumonia terus Extra Lasix 1 amp i.v u 18 239 membaik

  Olium Olivarum 3x10 p.o 20 s/d 25 kreatinin : u Seven seas 1x45 p.o 20 s/d 25

  3.8 R/racikan 2x11 p.o 20 s/d 25 Trigliserid Aspar K 2x1 tb p.o 20 s/d 25 170 Infus Dex 40% 20 kolest Infus RL 17 s/d 20 LDL : 197 u Infus RD + 7 RI 200 17 s/d 19

  Infus RL + KCl 50 meq

  17 Infus RD kosongan 21 s/d 24 1 29 459456 Sw, P, 70 9/1/2005 CRF Keringat 183 119 258

  81 Cordarone 3x / tb p.o 9 s/d 14 2 Kls : 3 s/d dekomp. banyak keluar Cedocard 3x5 mg p.o 9 s/d 15 Riwayat 10/1/2005 Komplikasi Lasix 2x1 amp inj 9 hipertensi + meninggal DM

  Primperan 2x1amp inj 9 s/d 15 DM, rawat Ceftriaxon 1gr/12j 2x1 inj 9 s/d 15 jalan dan DM Lasix 1amp/6j inj 10 s/d 15 1 hipertensi

  Captopril 3x6,25 / tab p.o 11 s/d 14 2 Sanadryl 4x5cc p.o 11 s/d 15 1 Cordarone 2x / tb p.o 14 s/d 15 2 Captopril 2x12,5 mg p.o 14 s/d 15 u Infus Dex 5% + RI 12 20tts 9 s/d 14 Infus NaCl 0,9% standby

  11

  74

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Tgl Kadar Gula Darah Obat Cara Tgl Hasil No No. RM Data Diri Diagnosa Keluhan Rawat Msk Klr Ttg Trndh pberian Pberian Lab 30 460400 Sg, L, 54 29/8/2005 DM Ada benjolan Diamicron MR 110 p.o 29 s/d 30 29/8/2005 Kls : Utama s/d Peny. di sblh kiri, Lipitor 0.0.1 p.o 29 s/d 30 Ureum :

  180cm/80kg 31/8/2005 Penyerta : timbul nyeri, k/p Profenid supp p.o

  29

  19 APS Pulmonal tidak bisa kreatinin : metastase flatus, lam- 1.0 bung sakit kolest : 180 Trigliserid u

  77 460400 Sg, L, 54 15/1/2005 DM Badan lemas, 313 133 313 133 Insulin 3x8 RI inj 16 s/d 18 15/1/2005 Kls : 2A s/d kepala Lipitor 1x1 mlm inj

  17 Ureum : 18/1/2005 pusing Reskuin 250 mg 2x1 tb p.o

  18

  17 membaik Infus Asering 15 kreatinin

  0.6 kolesterol : 201 Trigliserid 133 LDL : 144 HDL : 41 31 463600 SD, P, 72 8/2/2005 DM Pusing, Nootrophyl 12 g inj

  8 8/2/2005 Kls : 2A s/d Peny. kepala Nootrophyl 4x3gr inj 9 s/d 11 ureum : riwayat DM + 10/2/2005 Penyerta : berputar, Unalium 2x1 tb p.o 8 s/d 16

  17 Hipertensi membaik Vertigo mual, muntah Norvask 1x5 mg p.o 9 s/d 16 kreatinin : Maintate 1x5 mg p.o 9 s/d 16 1

  0.6 Glucophage 3x / tb p.o 9 s/d 16 kolesterol : 2 Glucobay 3x5 mg p.o 9 s/d 16 197 Lesichol 2x50 mg p.o 9 s/d 16 LDL : 121 Persantin 2x50 mg p.o 9 s/d 16 HDL : 58 Neurontin 300 2x1 p.o 10 s/d 16 Trigliserid Nootrophyl 2x1200 mg p.o 11 s/d 16 194 Infus asering 8 s/d 11

  75

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  76 Tgl Kadar Gula Darah Obat Cara Tgl Hasil

  No No. RM Data Diri Rawat Diagnosa Keluhan Msk Klr Ttg Trndh pberian Pberian Lab 32 465728 Sg, L, 55 25/8/2005 DM Pusing BS BS Catapres 1 / 2 amp inj 25 26/8/2005 Kls : 2B s/d Peny. PP : GN Tensivask 1x5 mg p.o 25 s/d 6 Ureum : riwayat 6/3/2005 Penyerta : 257 119 Catapres 3x75 mg p.o

  26

  56 hipertensi membaik Vertigo Mertigo 3x1 p.o 26 s/d 6 kreatinin : tidak berobat Unalium 2x5 mg p.o 26 s/d 6

  1.4 rutin Lasix 2x1 amp inj 26 s/d 4 kolesterol : Catapres 3x0,50 mg p.o 26 s/d 5 181 Consikla 3x500 mg p.o 26 s/d 4 Trigliserid Methylcobalt 2amp/2hr inj 28, 2,4 237 Methylcobalt 2x250mg p.o 5 s/d 6 Resquin 2x250mg p.o 5 s/d 6 Infus RL 25 s/d 26 Infus Asering 20tts/mnt 26 s/d 5 Infus NaCl

  2 33 468822 Sk, P, 42, 11/5/2005 DM Kaki 382 152 382 120 Cyprofloxacin 2x500 p.o 11 s/d 20 11/5/2005 160cm/58kg, s/d kemerahan, Mixtard P : 20 u inj 11 s/d 12 Ureum : Kls : 3 19/5/2005 bengkak, M : 10 u inj

  15 riwayat DM membaik nyeri Mixtard P : 25 u inj 13 kreatinin : dari ibu M : 15 u inj

  0.16 Methylcobalt 3x500 mg p.o 13 s/d 20 Trigliserid : Mixtard P : 30 u inj 14 202 M : 15 u inj Mixtard P : 30 u inj 14 s/d 16 M : 20 u inj Mixtard P : 35 u inj

  17 M : 20 u inj Mixtard P : 40 u inj 18 s/d 20 M : 25 u inj 34 470355 JD, L, 58 2/4/2005 DM Kesulitan 187 BS 187 Neurotam 2x1200 p.o 2 s/d 6 2/4/2005 2 thn yll s/d bicara GN Neuramin 3x1 p.o 2 s/d 6 Ureum 34 minum 6/4/2005 117 Glucophage 3x500 mg p.o 2 s/d 6 Kretinin:1,2 glibenclamide membaik

  Ubiq 2x2 p.o 2 s/d 6 koles 149 Trig 194

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  77 Tgl Kadar Gula Darah Obat Cara Tgl Hasil

  No No. RM Data Diri Rawat Diagnosa Keluhan Msk Klr Ttg Trndh pberian Pberian Lab 35 471615 AS, L, 56, 20/4/2005 DM Kaki kena BS BS Glucovance 2,5 1.0.1 p.o 20 s/d 25 20/4/2005 Kls : 2B s/d komplikasi knalpot, kaki GN GN Ciprofloxacin 2x500 p.o 20 s/d 23 kreatinin :

  Riwayat 26/4/2005 ulkus sakit, nyeri 171 98 k/p Sanmol p.o 21 s/d 22

  0.95 darah tinggi membaik Ceftriaxone 2x1 gr inj 21 s/d 25 kolesterol : dari ayah Dioplos NS 0,9 % 3x1 inj 24 s/d 26 120 DM dari ibu, Infus Asering 20tts/mnt 20 s/d 25 Trigliserid merokok

  123 sejak SMP LDL 71 36 472391 RS, L, 35 17/4/2005 DM Badan lemas, 505 335 505 335 Vomera 3x1 p.o 17 s/d 20

  170cm/70kg s/d peny. nafsu makan Kalium diclovenak 3x50 p.o 17 s/d 20 Riwayat DM 20/4/2005 Penyerta turun, Sistenol 3x1 p.o 17 s/d 20 dari ibu, membaik farigiis tenggorokan Spiramycin 3x500 p.o 17 s/d 20 merokok 1 akut sakit Xanax 1x0,5 mg p.o 17 s/d 19 bungkus/hari

  Diabex 3x500 mg p.o 18 s/d 20 Infus Asering 17 s/d 19 Infus Pan aming 17 s/d 18 37 473071 SS, P, 60 23/4/2005 DM Badan pegal, 358 422 Pletaal 2x50 mg p.o 23 s/d 26 23/4/2005

  Kls : 3 s/d hiperglikemi diare, pusing Pharmaton F 1x1 p.o 23 s/d 27 Ureum 33 Riwayat DM 27/4/2005 lemas Amaryl 1x2 mg p.o 23 s/d 24 kreatinin : dari ibu, membaik

  Capoten 1x12,5 mg p.o 23 s/d 27

  1.2 pasien sering k/p Mefinal 500 p.o 23 4/26/2005 minum k/p Sanmol p.o 23 kolesterol Glibenklamid Broadced 1x1 g inj 23 s/d 25 174 Amaryl 2x2 mg p.o

  24 Trigliserid Amaryl 1x4 mg p.o 26 s/d 27 190 Chespan 2x100 mg p.o

  27 LDL 117 Glucophage 1.1.0 2x500 p.o 26 s/d 27 HDL 27 Infus NaCl 23 s/d 25 Infus Martos 23 s/d 25

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  78 Tgl Kadar Gula Darah Obat Cara Tgl Hasil

  No No. RM Data Diri Rawat Diagnosa Keluhan Msk Klr Ttg Trndh pberian Pberian Lab 38 476449 HP, L, 39 19/5/2005 DM Nyeri ulu hati, 538 BS 538 267 Dometa 3x1 tb p.o 29 s/d 27 19/5/2005 Kls : 2 s/d muntah, lidah GN Flagyl Supp 3x1 p.a 19 s/d 24 Ureum 54 riwayat minum 27/5/2005 hiperemi/ 217 Rocephin 1x1 gr inj 19 s/d 20 kreatinin 1,6 alkohol, rokok membaik merah Rantin 2x1 amp inj 19 s/d 23 kolest 332 1 bks/hr,

  Plantacid 100cc p.o

  19 Trigliserid riwayat DM Ceftriaxone 2x1 gr p.o 21 s/d 23 707 dan hiperten- Insulin RI 3x12 u inj tegak 22 s/d 27 LDL 233 si dari ibu lurus di perut HDL 48 Velosef 3x500 p.o 24 s/d 27 As. Urat Glucovance 2,5 1.0.0 p.o 25 s/d 27

  15.6 Insuiln RI 3x8 u inj tegak lurus

  25 di perut Insulin 3x4 u inj

  26 Infus NaCl 0,45 19 s/d 20 Infus NaCl 0,09 + RI

  19 Infus IRD + 12 u + RI 19 s/d 23 Infus NaCl 0,9% 21 s/d 23 20 tts/mnt 39 475128 BN, L, 42 14/9/2005 DM Pinggang 185 BS Plavix 1x1 p.o 14 s/d 19 14/9/2005

  Kls : VIP s/d sakit GN Ascardia 1x80 p.o 14 s/d 20 Ureum 31 Riwayat DM 20/9/2005 144 Blopres 1x8 mg p.o 14 s/d 20 kreatinin dari nenek membaik

  Diamicron 1.0.0 p.o 14 s/d 20

  0.9 Diabex 2x500 mg p.o 14 s/d 20 k/p Mefinal 2x500 p.o 14 s/d 19 Glucobay 2x50 p.o 14 s/d 20 Zyloric 1x300 p.o 14 s/d 20 Infus NaCl 14 s/d 20

  79 Tgl Kadar Gula Darah Obat Cara Tgl Hasil

  No No. RM Data Diri Rawat Diagnosa Keluhan Msk Klr Ttg Trndh pberian Pberian Lab 475128 BN, L, 42 13/5/2005 DM Lemas, mau 214 BS Blopres 1x8 mg p.o 13 s/d 20 13/5/2005 Kls : UTM s/d pingsan GN Diamicron 1.0.0 p.o 13 s/d 20 Ureum

  Riwayat DM 20/5/2005 169 Diabex 1x500 mg p.o 17 s/d 20

  32 dari nenek membaik Zyloric 1x300 p.o 13 s/d 20 kreatinin Zanfac 2x1 p.o 13 s/d 20

  1.0 Tarivid 2x200 p.o 13 s/d 16 As Urat Lipitor 1x10 mg/mlm p.o 13 s/d 20

  6.2 Trental 2x400 mg p.o 13 s/d 20 Methylcobalt 2x500 mg p.o 13 s/d 20 Neurntin 2x300 p.o 13 s/d 20 Plantacid 3x10 cc p.o 14 s/d 20 Alinamin F 1x1 amp inj 16 s/d 20 Asering 14 s/d 17

  475128 BN, L, 42 8/5/2005 DM Pusing, Catapres 150 mg p.o 8 8/5/2005 Kls : UTM, s/d komplikasi nyeri Blopres 1x8 mg p.o 9 s/d 11 Ureum 27 Riwayat DM 11/5/2005 Hipertensi bagian Zyloric 1x300 mg p.o 9 s/d 11 kreatinin : dari nenek membaik kepala Tarivid 2x200 p.o 9 s/d 11

  1.1 obat rutin kiri, wajah Lipitor 1x10 mg/ml p.o 9 s/d 11 kolest 226 Glumeo terasa Diamicron MR 1x1 tb p.o 9 s/d 11 Trigliserid

1x1 tb tebal Infus Asering 5-8 tts/mlm 8 s/d 9 209

  LDL 180 HDL 29 40 480231 Ks, P, 61 23/6/2005 DM Kaki kanan

25 148 148

  25 Clindamycin 3x300 p.o 24 s/d 30 23/6/2005 150 cm/42 kg s/d hipoglikemi, bengkak, Infus Dex 40%

  23 Ureum 33 Kls : 3 1/7/2005 komplikasi ngili, nyeri Infus D 5% 23 s/d 24 kreatinin membaik ulkus

  0.9 PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  80 Tgl Kadar Gula Darah Obat Cara Tgl Hasil

  No No. RM Data Diri Rawat Diagnosa Keluhan Msk Klr Ttg Trndh pberian Pberian Lab 41 479299 Bj, L, 40 10/6/2005 DM Pusing, badan BS BS BS BS Ceftriaxon 1x1 p.o 10 s/d 22 10/6/2005 70 kg, s/d komplikasi lemas, lemah, GN GN GN GN Lasix 2x1 amp inj 10 s/d 20 Ureum :99

  Riwayat DM 27/6/2005 CRF perut sakit, 131 146 195 131 Profenid supp 1x1 p.a 10 s/d 12 Kreatinin: dari ayah, 10 membaik BAB 15 s/d 22 5,0 th menderita sulit 25 s/d 26 Trigliserid: DM rawat

  Adalet 5 mg p.o 11 s/d 15 285 jalan Triatec 1x2,5 mg p.o 11 s/d 13, LDL: 335 15 s/d 22

  Catapres 2x75 p.o 11 s/d 13, 20/6/2005 Plantacid 3x1 cc p.o 11 s/d 27 Ureum: 92 Amoxycilin 3x500 p.o 11 s/d 27 Kreatinin: Catapres 4x75 mg p.o 13 s/d 27 4,9 Lipitor 0.0.1 p.o 13 s/d 26 Prosogan 1x1 p.o 13 s/d 27 25/6/2005 Insulin 3x5 u inj 15 s/d 23 Ureum: 100 Norvask 5 mg p.o

  15 Kreatinin: Profenid inj 16 s/d 17, 26 5,2 Aprovel 1x350 p.o 20 s/d 26 Primperan 2x1 amp inj 20 s/d 27 Lasix 3x1 amp inj 20 s/d 27 Infus NaCl 0,5 10 s/d 23 Sesden 1 amp inj

  25 Lasix

  26 42 483436 SBA, P, 85 17/12/2005 DM Lemas, 838 357 838 114 RI 10 u inj 18 17/12/2005 Kls : 2 s/d penyakit kesemutan Amaryl 2 mg 1.0.0 p.o 19 s/d 23 Ureum 54 Riwayat DM 25/12/2005 penyerta :

  Diabex 3x1 p.o 18 s/d 22 Creatinin : 10 th membaik UTI jamur Cefrtiaxone 2x1 gr inj 18 s/d 21

  1.3 Insulin RI inj 18 s/d 20 As. Urat : Ketokenazol 1x1 tb p.o 19 s/d 25

  7.2 Bolus Extra Dex 4% inj

  23 Amaryl 1mg 1.0.0 p.o 24 s/d 25 Infus NS + 50 u RI

  17 Infus NaCl 0,9% 18 s/d 21 Infus Dex 10%

  23 Infus NaCl

  23 PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  81 Tgl Kadar Gula Darah Obat Cara Tgl Hasil

  16 tingggi dari Spondilosis Infus D 10% 15 ayah

  Reskuin 1x500 mg p.o 31 s/d 4 226 tinggi dari Cervical Celebex 1x200 mg p.o

  0.6 jantung dari Peny. Pe- lendir Rantin 2x1 amp p.o 30 s/d 2 kolest : ibu, darah nyerta :

  IHD, Ulu hati sakit, 22 BS 222 202 Glucophage 3x500 mg p.o 30 s/d 4 29/7/2005 155 cm/60 kg, s/d komplikasi mual, BAB 2x GN Cedocard 3x5 mg p.o 30 s/d 4 Ureum 27 Post opname 4/8/2005 DM, Hiper- cair ampas, 186 Lescol 1x40 mg p.o 30 s/d 3 kreatinin : Riwayat membaik kolesterol tidak ada Dometa 3x1 tab inj 30 s/d 4

  16 485464 TSM, P, 50 29/7/2005

  16 Infus Asering

  Infus D 5%

  16 jantung dari Peny. dingin, Cedocard 3x5 mg p.o 16 s/d 17 ibu, darah Penyerta : kesemutan Narfoz 4 mg inj

  No No. RM Data Diri Rawat Diagnosa Keluhan Msk Klr Ttg Trndh pberian Pberian Lab 483436 SBA, P, 85 16/7/2005 DM Lemas, perut 325 133 370 133 Recephin 1x1 gr inj 16 s/d 20 16/7/2005 Kls : 2, s/d peny. kembung Alinamin F 2x1 amp inj 16 s/d 20 Ureum 37

  

IHD keringat Simvastatin 1x1 p.o

  17 Riwayat membaik

  16 Post opname 17/8/2005 Hipoglikemi, epigastrum Voltaren R 1x1 p.o

  63 Motilium 3x1 p.o 16 s/d 17, 26 155 cm/60 kg, s/d Komplikasi : sakit Dex 40% inj

  16 HDL : 60 43 485464 TSM, P, 50 15/8/2005 DM Lemas, mual 63 189 189

  1.2 Obat : clavus, Zyloric 1x100 mg p.o 17 s/d 21 kolesterol : Glucophage UTI, Gout Glucophage 3x500 p.o 19 201 3x1 tb Gluvance 2,5x500 p.o 20 s/d 21 Trigliserid Riwayat Baquinor 2x500 p.o 20 s/d 22 127 DM, UTI gout Infus Asering 20tts/mnt 16 s/d 21 LDL : 139 Infus NaCl

  Riawyat DM 22/7/2005 Penyerta : Cedocard 3x5 mg p.o 16 s/d 21 kreatinin : 10 th yll. membaik Infected Insulin actapid inj 16 s/d 19

  4 Trigliserid

ayah Riwayat spondiolisis Infus Asering 29 s/d 27 134

DM

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  82 Tgl Kadar Gula Darah Obat Cara Tgl Hasil

  No No. RM Data Diri Rawat Diagnosa Keluhan Msk Klr Ttg Trndh pberian Pberian Lab 44 486229 HS, L, 70 5/8/2005 DM, Hiper- Lemas, 466 BS 491 214 Provachol 0.0.1 p.o 5 s/d 18 5/8/2005 Kls : IA s/d Peny. pusing GN Forium 1gr/hr inj 5 s/d 13 Ureum 168

  25/8/2005 Penyerta 176 Nicholin 2x250 inj 5 s/d 8 kreatinin : membaik TIA Sanmol p.o

  5

  2.3 Pletaal 1x100 (pagi) p.o 7 s/d 26 kolest : Exelon 2x3 mg p.o 7 s/d 26 344 Insulin RI 3x10 u inj 9 s/d 11 Trigliserid Diamicron MR 1.0.0 p.o 10 s/d 15 261 Insulin RI 3x5 u inj 12 s/d 13 LDL 289 Novonorm 0,5 mg p.o 14 s/d 19 HDL :40 Diamicron MR 1.0.0 p.o 16 s/d 24 Hb I AC Novonorm 3x0,5 mg p.o 19 s/d 26

  13.7 Diamicron MR 2.0.0 p.o 25 s/d 26 As. Urat : Infus NaCl 0,9% 5 s/d 7

  16.6 Infus RD + RI 2 u inj 5 s/d 7 8/13/2005 Ureum 35 kreatinin

  1.1 45 499805 HR, L, 68, 28/11/2005 DM Perut sakit, Metformin 3x500 p.o 29 s/d 12 28/11/2005 Riwayat s/d Peny. pinggang Norvask 1x10 mg p.o 29 s/d 12 Ureum 34 hipertensi 12/12/2005 Penyerta kiri kadang Celebrek 1x200 mg p.o 29 s/d 12 kreatinin : sejak 1977 membaik HHD, Urol- nyeri Frisium 1x10 mg p.o 29 s/d 11

  1.4 dan DM sejak thiasis kepala nyeri, Zolaff 1x50 mg p.o 29 s/d 11 2001 pusing Lasix 3 mg p.o

  28 Starcef 2x100 p.o 30 s/d 3 Cordaron 2x1 tb p.o 5 s/d 12 Rhinos SR 2x1 tb p.o 10 s/d 12 Infus Asering 28 s/d 2

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Tgl Kadar Gula Darah Obat Cara Tgl Hasil No No. RM Data Diri Diagnosa Keluhan Rawat Msk Klr Ttg Trndh pberian Pberian Lab 46 487877 SS, L, 80, 25/8/2005 DM Kaki kanan

42 153 189

  32 Pletaal 2x50 mg p.o 26 s/d 1 26/8/2005 160 cm/55 kg, s/d hipoglikemi gatal Pharmaton F p.o 27 s/d 31 Ureum 65 Riwayat 1/9/2005 komplikasi melepuh Ceftriaxone 3x1 gr inj 28 s/d 31 kreatinin : darah tinggi membaik ulkus bernanah, Furosemide 3x1 p.o 30 s/d 31

  1.5 dari kakek pasien tidak Folic acid 3x2 tb p.o 30 s/d 31 sadar, GD Kalk 3x1 p.o 30 s/d 31 drop Enziplek 3x1 30 s/d 31 k/p Sesden 1amp inj

  31 Flagyl 3x500 p.o 31 s/d 1 Ranitidin 2x150 p.o 31 s/d 1 Cefspan 2x150 p.o 31 s/d 1 47 493031 JPP, L, 41 26/9/2005 Ulkus DM Kaki kanan 377 178 409 154 Ciprofloxacin 2x500 m p.o 26 s/d 27 riwayat DM s/d bengkak, Longcet 3x500 p.o

  27 dari ibu, 8/10/2005 luka Mefinal 3x500 2 tb p.o 27 s/d 8 menderita DM membaik sakit, k/p Sanmol p.o

  27 sejak 1994, demam vit K 2x1 amp inj 27 s/d 4 obat : gliben- pusing Flagyl supp 2x500 p.a 27 s/d 29 klamid 2x1

  Extra Rimperan 1 amp inj 28 s/d 4 Metformin 3x500 p.o 30 s/d 6 Baquinon 2x500 p.o 1 s/d 7 Vit K 2x1 tb p.o 5 s/d 8 k/p Profenid sup p.a

  5 Stimuno 3x1 p.o 5 s/d 8 Glucophage 3x500 mg p.o 6 s/d 8 Bacsecym 3x375 inj 7 s/d 8 Infus Asering 26 s/d 7

  48 499793 WI, P, 87 15/11/2005 DM Gelisah, Ceftrisxone 1 gr/12j inj 16 s/d 23 15/11/2005 s/d Komplikasi panas, k/p Sanmol p.o 1

  16 Ureum 82 26/11/2005 ulkus kesadaran Ciprofloxacin 500 3x / tb 21 s/d 26 kreat : 2,2 2 membaik turun, BAB Clindamisin 2x300 mg 21 s/d 26 kolst : 200 dan BAK Novonorm 3x0,5 mg p.o 21 s/d 26 Trigl : 137 tidak terasa Infus NaCl 250

  16 11/25/2005 Infus NaCl 0,45 % 16 s/d 17 Ureum 32 Infus D 5% + RI 16 s/d 22 kreat : 0,9

  83

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Tgl Kadar Gula Darah Obat Cara Tgl Hasil No No. RM Data Diri Diagnosa Keluhan Rawat Msk Klr Ttg Trndh pberian Pberian Lab 49 493561 NHW, L, 48, 29/9/2005 DM Pusing, kaki 281 144 288 144 Sanmol 3x1 tb p.o 30 s/d 3 29/9/2005 Klas : 3 s/d panas, tangan Glibenclamid 1.0.0 p.o 30 s/d 6 Ureum: 37

  Riwayat DM 6/10/2005 kesemutan Theragram 1x1 tb p.o 29 s/d 6 Kreatin:1,2 dari ayah membaik Pronalges 2x1 amp inj 29 s/d 30 Kolest: 196 Ceftriaxone 1x1 gr inj 29 s/d 27 Trigliser:132 Pronalges 3x50 p.o 1 s/d 6 30/9/2005 Lesichol 3x1 tb p.o 1 s/d 6 Kolest: 188 Diabex 2x500 p.o 1 s/d 6 Trigliser:43 Amoxycilin 3x500 p.o 3 s/d 6 LDL:116 Diabex 3x500 p.o 3 s/d 6 HDL: 33 Infus Asering 20 tts 29 s/d 1

  50 495044 MN, P, 55, 10/10/2005 DM Pasien tidak 424 486 559 222 Manitol 200 c inj 10 10/10/2005 Kls : 2 s/d komplikasi sadar Manitol 4x125 cc inj 10 s/d 13 Ureum 88 Riwayat 13/10/2005 stroke

  Phenitoin 3x1 amp inj 10 s/d 13 kreatinin : hipertensi 10, meninggal Dexamethasone 4x2 amp 10 s/d 13

  1.2 th riwayat inj hipertensi dan Ceftriaxone 3x1 gr inj 10 s/d 13 kolesterol : DM dari ibu Pronalges 3x1 amp inj 10 s/d 13 341 Primperan 2x1 amp inj 10 s/d 13 Trigliserid Zantac 3x1 amp inj 10 s/d 13 165 Sanmol 3x1 p.o 10 s/d 13 Blopres 1x8 gr p.o

  11 Blopres 2x8 mg p.o 12 s/d 13 Infus NaCl 10 s/d 13 Infus manitol 125 10 s/d 13 Infus NaCl + RI 254

  10 Infus RD + RI 124 tts 10 s/d 12 Infus RD + RI 164 mikro 13 60x/mnt

  84

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Tgl Kadar Gula Darah Obat Cara Tgl Hasil No No. RM Data Diri Diagnosa Keluhan Rawat Msk Klr Ttg Trndh pberian Pberian Lab 1 51 496529 NMK, P, 78 8/112005 DM Nyeri dada, BS BS BS BS Diabex 2x / tb p.o 8 s/d 11 8/11/2005 2 170 cm/50 kg s/d Peny. mual GN GN GN GN CaCO3 3x1 p.o 8 s/d 11 Ureum:

  Riwayat DM, 11/11/2005 Penyerta 202 137 202 137 Renapar 3x1 p.o 8 s/d 11 1

  30 hipertensi dan membaik hipoelek HCT 25 mg 2x / p.o 8 s/d 11 Kreatinin: 2 1 gangguan trolit

  Clonidin 75 4x1 ( / tb) p.o 8 s/d 11 0,8 2 elektrolit Captopril 4x25 p.o 8 s/d 11 Primperan 2x1 amp inj 8 s/d 10

  Garam dapur 3x2 g p.o 10 s/d 11 Infus asering 8 s/d 9 Infus NaCl 0,9%

  9 496529 NMK, P 78 22/10/2005 DM Lemas, mual 277 196 276

  69 Rantin 1 amp/12 jam inj 23 s/d 31 22/10/2005 170 cm/50 kg s/d hipertensi pusing Captopril 2x12,5 mg p.o 1

  22 Ureum 25 Riwayat DM, 2/9/2005 peny. Clonidin 2x / p.o 22 s/d 27 kreatinin : 2 hipertensi dan membaik penyerta

  HCT 1x1 p.o 22 s/d 23

  0.7 gangguan hipoelek Na Diclofenac 2x25 mg p.o 23 s/d 2 elektrolit trolit Glibenklamid 1.0.0 p.o

  23 Captopril 2x25 mg p.o 23 s/d 1 1 HCT 25 mg 2x / tb p.o 25 s/d 2 2 Ceftriaxone 2x1 gr inj 23 s/d 31 Primperan 23x1 amp inj 23 s/d 1 Renapar 3x1 cap p.o 25 s/d 2 CaCO3 3x1 p.o 28 s/d 2 Insulin RI inj

  30 Captopril 4x25 mg p.o 1 s/d 2 u Infus RL + 25 KCL 29 s/d 30 16 tt/mnt Infus NaCl 3% 29 s/d 30 Infus NaCl 0,9% 30 s/d 31 Infus RL + imp

  22 Infus RL kosongan 30tts/mnt 23 s/d 25 Infus NaCl 3% 16tts/mnt 25 s/d 28

  85

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  ADA : American Diabetes Association ADR : adverse drug reaction ADO : antidiabetes oral APS : Atas Permintaan Sendiri BSGOT : gula darah sewaktu (Blood Sugar On Time) BSGN : gula darah puasa BSPP : gula darah setelah makan (Blood Sugar Post Prandial) CRF : chronic renal failure D : Dextrosa DM : diabetes mellitus DRP : Drug Related Problem GE : gastro enteritis HDL : high density lipoprotein HHD : hypertensive heart disease

  IMT : Indeks Massa Tubuh KG : kadar gula

  k

  kalau perlu

  / p :

  LDL : low density lipoprotein M : malam OGTT : oral glucose tolerance test P : pagi p.o : per oral PPAR- peroxisome proliferators activator receptor-

  γ : γ RI : regular insulin RSPR : Rumah Sakit Panti Rapih TIA : transcient ischemic attack UKPDS : United Kingdom Prospective Diabetes Study Urolithiasis : pembentukan batu pada saluran kemih UTI : urinary tract infection

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Profil penggunaan dan potensi interaksi obat analgetika pada pasien rawat jalan poli penyakit dalam di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan periode Mei 2014 - Juli 2014
2
111
87
Hubungan Caring Process dengan Kepuasan Kerja Perawat dan Kepuasan Pasien rawat inap di Rumah Sakit Grand Medistra Lubuk Pakam
5
88
131
Tingkat pengetahuan pasien diabetes mellitus tentang risiko terjadinya ulkus kaki diabetes di Poli klinik Penyakit Dalam Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik medan
1
47
79
Faktor-faktor yang memperngaruhi Motivasi kerja perawat ruang rawat inap di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Aceh Tamiang.
6
49
93
Evaluasi interaksi obat pada pasien pediatrik demam tifoid di Rumah Sakit Umum Sari Mutiara Medan periode Januari 2014 - Desember 2014
3
66
100
Evaluasi penggunaan obat anti muntah pada pasien Retinoblastoma anak yang menjalani kemoterapi di Rumah Sakit Kanker Dharmais
2
13
80
Analisis potensi interaksi obat diabetes melitus pada resep obat pasien rawat jalan di RSAL Dr. Mintohardjo
2
32
84
Evaluasi drug related problems obat antidiabetes pada pasien geriatri dengan diabetes melitus tipe 2 di ruang rawat inap rumah sakit umum pelabuhan periode januari-juni 2014
4
24
164
Analisis sistem registrasi rawat inap di Rumah Sakit ST.Borromeus Bandung : laporan kerja praktek
0
6
56
Peranan akuntansi pendapatan rawat inap umum dalam meningkatkan efisiensi penerimaan fungsional di Rumah Sakit Mata Cicendo Bandung
0
5
56
Pengaruh piutang pasien umum rawat inap terhadap pendapatan Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Hasan Sadikin Bandung
3
12
59
Profil penggunaan dan potensi interaksi obat analgetika pada pasien rawat jalan poli penyakit dalam di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan periode Mei 2014 - Juli 2014
0
0
23
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Interaksi Obat - Profil penggunaan dan potensi interaksi obat analgetika pada pasien rawat jalan poli penyakit dalam di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan periode Mei 2014 - Juli 2014
0
0
16
Profil penggunaan dan potensi interaksi obat analgetika pada pasien rawat jalan poli penyakit dalam di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan periode Mei 2014 - Juli 2014
0
0
14
Hubungan Caring Process dengan Kepuasan Kerja Perawat dan Kepuasan Pasien rawat inap di Rumah Sakit Grand Medistra Lubuk Pakam
0
0
23
Show more