Analisis Penganggaran Berbasis Kinerja Bab 4 Skripsi

RP. 20,000

0
6
74
2 weeks ago
Preview
Full text
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil dari penelitian dan pembahasan ini terdiri dari profil Pemerintah Kabupaten Gresik, gambaran perencanaan dan
  penganggaran pada Pemerintah Kabupaten Gresik, dan pembahasan & hasil penerapan sistem Penganggaran Berbasis Kinerja serta kendalanya pada Pemerintah Kabupaten Gresik.
  A. Gambaran Umum 1. Profil Pemerintah Daerah Kabupaten Gresik
  Kabupaten Gresik dikenal sebagai salah satu kawasan industri utama di Provinsi Jawa Timur. Beberapa industri di Gresik antara lain Semen Gresik, petrokimia Gresik, Nippon Paint, BHS-Tex, industri Perkayuan Plywood dan Maspion. Gresik juga merupakan penghasil perikanan yang cukup signifikan, baik perikanan laut, tambak,maupun perikanan darat. Di Kabupaten Gresik juga terdapat sebuah Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap berkapasitas 2.200 MW. Antara Gresik dan Surabaya dihubungkan oleh sebuah jalan Tol Surabaya-Manyar, yang juga terhubung dengan jalan Tol Surabaya – Gempol. Selain itu perekonomian masyarakat Gresik juga banyak ditopang dari sektor wiraswasta. Salah satunya yaitu industri Songkok, Pengrajin Tas, Pengrajin perhiasan Emas dan Perak, dan industri Garmen (konveksi). Di utara kota Gresik tepatnya kota Sidayu, merupakan penghasil sarang burung walet terbesar di Indonesia.
  Kondisi perekonomian Kabupaten Gresik pada tahun 2012 dilihat dari Jumlah Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga Konstan sebesar Rp19.409.867.960.000,- sedangkan Jumlah Produk Domestik Regional Bruto Atas Harga Berlaku sebesar Rp50.976.371.490 ribu rupiah.
  Adapun Struktur Ekonomi Kabupaten Gresik tahun 2012 berdasarkan Produk Domestik Regional Bruto atas Harga Konstan tahun 2000 didominasi oleh Sektor Industri Pengolahan dengan kontribusi sebesar 49,52%, Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran sebesar 22,82%, dan Sektor Pertanian sebesar 7,83%. Demikian pula berdasarkan Produk Domestik Regional Bruto atas Harga Berlaku juga didominasi oleh Sektor Industri Pengolahan dengan kontribusi sebesar 49,31%, Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran sebesar 24,44%, dan Sektor Pertanian sebesar 8,61%. Dengan demikian gambaran ekonomi Kabupaten Gresik adalah Daerah Industri dan Perdagangan dengan didukung Pertanian yang mantap.
  Tahun 2012 ditargetkan pendapatan daerah sebesar Rp1.556.273.473.722,33 dan terealisasi sebesar Rp1.650.603.336.995,55 atau 106,06 %. Pencapaian pendapatan daerah tersebut telah melebihi proyeksi pendapatan daerah dalam RPJMD 2011-2015 pada tahun 2012 yaitu sebesar Rp1.331.991.080.000,- bahkan telah melampaui proyeksi pendapatan daerah dalam RPJMD 2011-2015. pada tahun 2014 yaitu sebesar Rp1.574.186.023.000,-.
  RPJMD merupakan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah. Untuk menjalankan pemerintahan melalui RPJMD, Kabupaten Gresik memiliki 34 SKPD.
  SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah) ini membawahi wilayah Kabupaten Gresik dengan administrasi pemerintahan, yang terdiri dari 18 kecamatan, 330 Desa dan 26 Kelurahan. Untuk menjalankan Pemerintahannya, Kabupaten Gresik memiliki Motto : “Gresik Bisa Lebih Baik”. Hal ini juga digambarkan Kabupaten Gresik dalam Lambang Daerah berdasarkan Peraturan daerah Kabupaten gresik No. 03 Tahun 1975. Lambang Daerah Kabupaten Gresik dapat dilihat pada gambar dibawah ini:Gambar 4.1 Lambang Daerah Kabupaten Gresik
  Sumber: Website Kabupaten Gresik, 2015 Lambang Daerah Kabupaten Gresik diatas, berdasarkan peraturan Daerah Kabupaten Gresik memiliki makna yang dalam bagi Kabupaten Gresik, yaitu sebagai berikut: a. Daerah merupakan cermin yang
  Lambang memberikan suatu gambaran tentang keadaan daerah.
  b.
  Segilima, melambangkan Pancasila yang mendasari sosio cultural, histories, dan aktivitas ekonomi. c.
  Warna Kuning, melambangkan keluhuran budi dan kebijaksanaan, sedangkan warna tepi hitam melambangkan sikap tetap teguh dan abadi.
  d.
  Kubah Masjid, melambangkan agama yang dianut mayoritas yakni Islam.
  e.
  Rantai yang tiada ujung pangkal, melambangkan persatuan dan kesatuan.
  f.
  Segitiga sama kaki sebagai puncak kubah masjid, melambangkan bahwa tidak ada kekuasaan yang tertinggi selain Tuhan Yang Maha Kuasa.
  g.
  Gapura berwarna abu-abu muda, melambangkan suatu pintu gerbang pertama masuk dalam suatu daerah sebagaimana penghubung anatara keadaan diluar dan dalam daerah.
  h.
  Tujuh belas lapisan batu, melambangkan tanggal 17 yang merupakan pencetus revolusi Indonesia dalam membebaskan diri dari belenggu penjajah. i.
  Ombak laut yang berjumlah delapan, melambangkan bahwa pada bulan Agustus merupakan awal tercetusnya revolusi Indonesia. j.
  Mata rantai 45 (empat puluh lima) melambangkan bahwa pada tahun 1954 merupakan tonggak sejarah dan tahun peralihan dari jaman penjajahan menuju jaman kemerdekaan Indonesia yang jaya kekal abadi. k.
  Cerobong asap, melambangkan bahwa Kabupaten Gresik adalah daerah pengembangan industri yang letaknya amat strategis bila ditinjau dari persilangan komunikasi baik darat, laut maupun udara. l.
  Perahu Layar, garam, ikan laut dan tanah melambangkan bahwa mata pencaharian rakyat Kabupaten Gresik adalah nelayan dan petani.
  Dengan Motto dan Lambang Daerah diatas, Kabupaten Gresik digambarkan berdasarkan keadaan daerahnya dan dimaksudkan agar Kabupaten Gresik akan tetap mampu bersaing dan menjadi Kabupaten yang Lebih dan Lebih baik. Untuk menjadikan Suatu Kabupaten Menjadi lebih baik, tentunya diperlukan Tujuan utama dalam membangun Sebuah Kabupaten tersebut. Tujuan inilah yang akan dijabarkan dalam bentuk Visi, dan Misi Pemerintahan Daerah Kabupaten Gresik periode 2011 - 2015, yaitu sebagai berikut: a.
  Visi Kabupaten Gresik “Gresik Yang Agamis, Adil, Makmur Dan Berkehidupan Yang Berkualitas” Secara filosofi visi tersebut dapat dijelaskan melalui makna yang terkandung di dalamnya, yaitu : 1)
  GRESIK : adalah satu kesatuan masyarakat dengan segala potensi dan sumber dayanya dalam sistem Pemerintahan Kabupaten Gresik. 2)
  AGAMIS adalah suatu kondisi masyarakat yang hidup dalam sistem tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Maha Esa serta tata kaidah hubungan antar manusia dan lingkungannya. 3) ADIL adalah perwujudan kesamaan hak dan kewajiban secara proporsional dalam segala aspek kehidupan tanpa membedakan latar belakang suku, agama, ras dan golongan. 4)
  MAKMUR adalah kondisi kehidupan individu dan masyarakat yang terpenuhi kebutuhannya. 5) BERKEHIDUPAN YANG BERKUALITAS adalah hidup yang sehat dengan berlatarbelakang pendidikan yang sesuai jaman serta pemenuhan pendapatan yang memadai.
  b. Misi Kabupaten Gresik 1)
  Misi ke-1 : Mendorong tumbuhnya perilaku masyarakat yang sejuk, santun dan saling menghormati dilandasi oleh nilai-nilai agama sesuai dengan simbol Gresik sebagai Kota Wali dan Kota Santri. 2)
  Misi ke-2 : Meningkatkan pelayanan yang adil dan merata kepada masyarakat melalui tata kelola kepemerintahan yang baik. 3)
  Misi ke-3 : Mendorong pertumbuhan ekonomi untuk meningkatkan pendapatan masyarakat secara merata melalui pengembangan ekonomi lokal, konsep ekonomi kerakyatan dan pembangunan yang berwawasan lingkungan. 4) Misi ke-4 : Meningkatkan kualitas hidup masyarakat.2. Struktur Organisasi Pemerintah Kabupaten Gresik
  Struktur organisasi merupakan kerangka pola pada hubungan - hubungan antara fungsi - fungsi, bagian- bagian, atau posisi maupun orang-orang yang menunjukkan kedudukan, tugas, wewenang, dan tanggung jawab yang berbeda dalam suatu organisasi.
  Untuk melaksanakan Tujuan, Sasaran, Visidan Misi sebuah pemerintahan Daerah maka diperlukan Struktur organisasi. Dengan Struktur Organisasi, akan memudahkan Suatu Daerah untuk mengatur dan mengelola Pemerintahannya berdasarkan Visi dan Misi Pemerintahan tersebut.
  Dalam sebuah pemerintahan Daerah, Visi dan Misi akan diperbaharui setiap 5 Tahun Sekali dan tercantum dalam RPJMD. Sehingga akan menjadikan Struktur Organisasi Pemerintah Daerah ikut diperbaharui. Hal tersebut terjadi karena setiap periode 5 tahun, akan ada pemilihan Bupati. Bupati dengan kepemimpinan yang baru, tentu memiliki visi, dan misi pemerintah daerah yang baru, sehingga akan dibentuk pula anggota dan bagian-bagian baru dalam struktur organisasi untuk melaksanakan Visi dan Misi Bupati tersebut. Dalam periode 2011 hingga 2015 ini, Kabupaten Gresik memiliki struktur Organisasi sebagai berikut:Gambar 4.2 Struktur Organisasi Pemerintah Kabupaten Gresik
  ( dijelaskan pada gambar dibawah, pada halaman berikutnya, yakni halaman 60)3. Anggaran dan Pembiayaan Daerah Kabupaten Gresik
  Untuk menjelaskan Anggaran Daerah Kabupaten Gresik, maka peneliti akan memaparkan aktivitas keuangan di Kabupaten Gresik. Dengan memahami aktivitas keuangan yang ada di Kabupaten Gresik, maka dapat diketahui alokasi anggaran daerah yang dipergunakan serta dimanfaatkan secara lebih efektif dan efisien oleh Pemerinmtah Kabupaten Gresik. Untuk itu berikut gambaran penggunaan dan pemasukan anggaran yang peneliti sajikan dalam tabel 4.1 dibawah ini;Tabel 4.1 Data Realisasi Pendapatan Daerah Tahun 2012 – 2014 No. Komponen Pendapatan daerah 2012 2013 2014
  1 .
  Pendapatan Asli Daerah 325.314.635.445,00 423.216.536.500,00 563.188.035.129,00 Pajak Daerah 182.414.412.912,00 238.965.204.000,00 304.569.135.129,00 Retribusi Daerah 52.181.459.500,00 66.531.232.500,00 102.395.800.000,00
  Hasil Pengelolaan Daerah yang di pisahkan 7.830.000.000,00 19.230.000.000,00 20.530.000.000,00
  
Lain-lain PAD yang sah 82.888.763.033,00 98.490.100.000,00 135.693.100.000,00
  2 .
  Dana Perimbangan 884.821.381.000,00 981.763.116.084,00 1.063.619.257.322,00 Dana Bagi Hasil pajak/Bukan Pajak
  90.448.000.000,00 127.753.425.084,00 169.364.390.772,00 Dana Alokasi Umum 711.868.321.000,00 804.903.511.000,00 845.148.686.550,00
Dana Alokasi Khusus 82.505.060.000,00 49.106.180.000,00 49.106.180.000,00
  3 .
  Lain-lain Pendapatan yang sah 244.010.035.320,00 310.194.639.000,00 292.580.144.000,00 Jumlah Pendapatan 1.454.146.051.765,00 1.715.174.291.584,00 1.919.387.436.451,00
  Dengan melihat tabel 4.1 diatas, pendapatan daerah masih didominasi oleh Dana Perimbangan Daerah khususnya Dana Alokasi Umum (DAU). Sedangkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang merupakan sumber pendapatanyang dipungut dari daerah masih memiliki kontribusi yang rendah, yakni berkisar 22,3% – 29,3% dari seluruh pendapatan. Namun dari perkembangan selama tiga tahun terakhir Pendapatan Asli Daerah mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Hal tersebut menunjukkan adanya kemampuan dan kemauan masyarakat dalam memenuhi kewajiban mereka untuk pembayaran. Sehingga Pemerintah Daerah harus mengelola keuangan daerah dengan baik agar masyarakat percaya kepada Pemerintah dan akan selalu memenuhi kewajibannya dalam pembayaran wajib yang berdampak pada Kenaikan Pendapatan Asli Daerah.
  Sedangkan untuk penggunaan anggaran atau realisasi belanja Anggaran Pemerintah Kabupaten Gresik pada tahun 2012 dan tahun 2013 juga peneliti sajikan dengan tabel dibawah ini, untuk melihat besarnya pengelolaan keuangan daerah di Kabupaten Gresik pada tahun 2012 dan 2013, yakni:Tabel 4.2 Data Realisasi Belanja Daerah Tahun 2012 dan 2013 Uraian Realisasi 2012 Realisasi 2013 Belanja Tidak Langsung 930.693.475.316,00 999.827.475.790,00
  Belanja Pegawai 667.688.627.840,00 720.211.471.000,00 Belanja Bunga 955.367.476,00 113.844.576.000,00 Belanja Hibah 121.562.810.000,00
Belanja Bantuan Sosial 38.087.500.000,00 17.906.385.000,00 Belanja bagi hasil kepada
propinsi/ kabupaten/ Kota 278.500.000,00 dan pemerintahan Desa Belanja Bantuaan Keuangan 99.120.670.000,00 Kepada Pemerintahan Desa 144.865.043.790,00 Belanja Tidak Terduga 3.000.000.000,00 3.000.000.000,00
  Belanja Langsung 544.014.657.824,00 810.598.271.552,00 Belanja Pegawai 71.280.886.612,00 115.495.835.936,00
  Belanja Barang dan Jasa 262.204.339.834,00 333.497.985.744,00 Belanja Modal 210.529.431.378,00 361.604.449.872,00
  Jumlah Belanja = 1.474.708.133.140,00 1.810.425.747.342,00
  Dari tabel 4.2 di atas, dapat kita ketahui bahwa Belanja Daerah pada tahun 2012 sebesar Rp 1.474.708.133.140,00 dan pada tahun 2013 sebesar Rp 1.810.425.747.342,00. Sehingga Belanja Daerah Kabupaten Gresik dari tahun 2012 ke tahun 2013 mengalami Peningkatan Belanja Daerah. Peningkatan Belanja Anggaran Daerah tentu harus berkontribusi terhadap program dan kegiatan yang dibuat pemerintah untuk mensejahterakan masyarakat. Sehingga dibutuhkan pengelolaan keuangan yang baik dan tepat agar Dana yang masuk sesuai dengan yang dikeluarkan dan menghasilkan manfaat bagi masyarakat. Hal ini sesuai dengan Prinsip Penganggaran Berbasis Kinerja yang tentunya harus diterapkan untuk melaksanakan pengelolaan keuangan daerah yakni, penganggaran berbasis kinerja merupakan penganggaran yang tidak melihat besarnya anggaran yang dikeluarkan namun melihat kesesuaian antara input, output dan outcome nya.B. Hasil Penelitian
  Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah, kajian teori dan metodologi penelitian yang telah diuraikan di bab terdahulu, maka pada bab ini akan peneliti sajikan hasil penelitian melalui wawancara langsung dengan informan yang dipilih. Informan tersebut adalah Aparat Sipil Negara (ASN), DPRD Kabupaten Gresik dan LSM yang terkait langsung dengan pengelolaan keuangan daerah di Pemerintah Kabupaten Gresik. Hal ini untuk menjamin validasi informasi yang disampaikan oleh peneliti.
  Dari data wawancara dan data dokumentasi yang diperoleh dan dikumpulkan peneliti, dilakukan proses analisis data dengan mereduksi data sesuai tema dalam teori penelitian yang digunakan. kemudian data disajikan dalam 5 tema pembahasan, untuk menjawab pertanyaan penelitian pertama, yakni: “bagaimana penerapan penganggaran berbasis kinerja dalam pengelolaan keuangan daerah pada Pemerintah Daerah Kabupaten Gresik”. Maka 5 tema yang digunakan peneliti dalam penyajian data ini, merupakan 2 elemen dan 3 komponen yang dibutuhkan dalam penerapan penganggaran berbasis kinerja. Hasil analisis data, disajikan peneliti dalam tabel 4.3 dibawah, berikut ini:
  Tabel 4.3Analisis Data terkait Penerapan Penganggaran Berbasis Kinerja Triangulasi Tema Penyajian Informasi yang Informan Data lain Data disampaikan (hasil dalam yang wawancara) Wawancara digunakan
Sudah baik, namun belum TAPD RPJMD Rencana Stratejik sempurna, karena indikator Banggar kinerja didalamnya belum SKPD tepat, terukur dan akurat. LSM Banyak SKPD yang belum TAPD Dokumen Rencana kerja mencantumkan indikator Banggar RKPD yang jelas dalam renjanya. SKPD terdapat renja yang LSM pembuatannya dari copy- paste renja sebelumnya bukan hasil update usulan masyarakat.
Indikator Kinerja yang TAPD Dokumen Indikator Kinerja digunakan kurang lengkap Banggar LAKIP dan kurang jelas SKPD capaiannya dan LSM benchmarkingnya. Sehingga pelaksanaanya pun belum terkait dan terlaksana maksimal. Standar Biaya sudah ada TAPD Dokumen Standart Biaya dan sudah terdapat dalam Banggar LAKIP Perbub, namun SKPD LKPJ Bupati pelaksanaanya masih LSM 2014 kurang baik.
Sudah terdapat evaluasi, TAPD Dokumen Evaluasi Kinerja namun sebatas formalitas Banggar LAKIP dan tidak maksimal SKPD LKPJ Bupati pelaksanaannya kaena LSM 2014 evaluasi untuk keseluruhan bukan tiap programnya.
  Sedangkan untuk menjawab pertanyaan penelitian yang kedua yaitu “ apa yang menjadi kendala dalam penerapan penganggaran berbasis kinerja dalam pengelolaan keuangan daerah pada pemerintah daerah kabupaten Gresik”, digunakan 5 hal tema pembahasan, yaitu: kepemimpinan dan komitmen dari komponen organisasi, fokus penyempurnaan administrasi secara terus menerus, sumber daya yang cukup (uang, waktu, SDM), Penghargaan dan sanksi yang jelas, dan keinginan yang kuat untuk berhasil. Hasil analisis data terkait kendala yang mungkin muncul dilihat dari faktor penyebab keberhasilan dalam penerapan penganggaran berbasis kinerja, ditunjukkan dalam tabel 4.4 dibawah, berikut ini:Tabel 4.4 Analisis Data terkait kendala yang muncul dalam penerapan penganggaran berbasis kinerja Triangulasi Tema yang disajikan Informasi yang disampaikan (hasil wawancara) Informan Wawancara Data data lain
  Peran pemimpin di Kabupaten Gresik sudah cukup baik, Ada berbagai Peraturan yang dikeluarkan pemimpin dalam menunjang penerapan PBK.
  
TAPD
Banggar
SKPD LSM
  Observasi Dokumen SK Bupati Dokumen Perda/ Perbup Kepemimpinan dan Komitmen Sudah terdapat upaya penyempurnaan administrasi dari tahun 2009 hingga sekarang.
  
TAPD
Banggar
SKPD LSM
  Observasi Penyempurnaan administrasi Sumber Daya manusia masih kurang, namun Sumber Daya yang lain sudah sangat cukup.
  
TAPD
Banggar
SKPD LSM
  Tidak ada Sumber Daya Sudah terdapat Reward dan Punishment, namun pelaksanaanya masih minim dan jarang diterapkan sehingga terlihat tidak ada
  
TAPD
Banggar
SKPD LSM
  Observasi Penghargaan dan Sanksi Keinginan yang kuat masih kurang, hanya orang-orang yang memahami dan menganggap PBK ini perlu saja yang berkeinginan kuat untuk kesuksesan pelaksanaan PBK.
  
TAPD
Banggar
SKPD LSM
  Observasi Dokumen Keinginan yang kuat untuk berhasil Selanjutnya, peneliti melakukan interpretasi atas temuan yang ada dengan teori maupun konsep yang mendukung dalam hasil penelitian yang dilakukan di Pemerintah Daerah Kabupaten Gresik ini. Hasil penelitian tersebut, dapat diuraikan oleh peneliti sebagai berikut:1. Pemahaman Makna Penganggaran Berbasis Kinerja menurut Informan
  Penganggaran Berbasis Kinerja merupakan anggaran yang disusun dengan memperhatikan input (masukan), output (keluaran) dan outcomes (hasil yang diharapkan), sehingga dapat menghasilkan kegiatan yang efektif dan efisien. Secara umum pegawai yang terlibat langsung dengan Pengelolaan Keuangan Daerah pada Kabupaten Gresik, sudah mengerti dan memahami makna Penganggaran Berbasis Kinerja. Hal ini terbukti dari hasil wawancara dengan beberapa Pejabat maupun Staff yang terkait dalam Pengelolaan Keuangan Daerah, diantaranya dengan Ibu Yuni selaku Ketua Bidang Data, Statistik, Evaluasi dan Pelaporan pada BAPPEDA dan merupakan Sekretaris
  II dalam Tim Anggaran Pemerintah Daerah Kabupaten Gresik yang mengatakan:
  “Penganggaran Berbasis Kinerja itu, penganggaran yang sudah jelas outputnya dan ada ukuran kinerjanya.(wawancara pada tanggal 02 Maret 2015, BAPPEDA Kabupaten Gresik).” Pendapat yang tidak jauh berbeda juga diungkapkan oleh Pak Yazid Selaku Kepala Seksi Anggaran Belanja
  Langsung di SKPD Dinas Pendapatan, Pengelolaan
  Keuangan, dan Aset Daerah (DPPKAD) Kabupaten Gresik dan sangat memahami Pengelolaan Keuangan Daerah pada Pemerintah Kabupaten Gresik, berikut petikan wawancaranya:
  “Pengangaran yang sudah ada indikator kinerjanya, output dan hasilnya juga jelas dan setiap kegiatan atau program harus diukur capaian keberhasilannya.(wawancara pada tanggal 06 Maret 2015, SKPD DPPKAD Kabupaten Gresik).” Sedangkan pendapat yang lainnyajuga diungkapkan oleh pihak Badan Anggaran, yang disini diwakili oleh
  Bapak Nur Qolib selaku Wakil Banggar dan juga sebagai Wakil Ketua DPRD Kabupaten Gresik, yakni sebagai berikut:
  “Penganggaran yang diukur kinerjanya atau hasilnya sesuai anggaran yang dikeluarkan. (wawancara pada 30 April 2015, Kantor DPRD Kabupaten Gresik).” Berdasarkan hasil beberapa wawancara sebelumnya, sudah membuktikan bahwa beberapa informan yang berperan penting dalam Pengelolaan Keuangan Daerah di Pemerintah Kabupaten Gresik sudah sangat memahami Makna Penganggaran Berbasis Kinerja sesuai konsep penganggaran berbasis kinerja yang benar.
  Pendapat lain mengenai pemahaman anggaran berbasis kinerja juga diungkapkan oleh lembaga pengawas pemerintah (LSM). LSM sebagai pengawas pemerintah sudah seharusnya memahami kebijakan pemrintah pusat terkait penganggaran berbasis kinerja. Hal ini dibuktikan oleh pernyataan ketua LSM Prakarsa Jawa Timur bernama Pak Madekhan, berikut wawancaranya:
  “Ya, saya memahami penganggaran berbasis kinerja. Yakni proses penganggaran yang berorientasi pada keluaran, hasil dan dampak yang terukur. (wawancara pada tanggal 1 Mei 2015, Kantor Prakarsa Jawa Timur).” Berdasarkan hasil wawancara trsebut telah membuktikan bahwa terkait pemahaman penganggaran berbasis kinerja yang dimiliki oleh orang-orang yang terlibat dalam penerapan penganggaran berbasis kinerja dalam pengelolaan keuangan daearah di Kabupaten Gresik sudah cukup baik, karena dari Pemerintah Daerah (TAPD dan SKPD), DPRD, LSM sudah memahami makna penganggaran berbasis kinerja.2. Penerapan penganggaran Berbasis Kinerja dalam Pengelolaan Keuangan Daerah di Pemerintah Daerah Kabupaten Gresik
  Sesuai pada pemaparan sebelumnya bahwa Penganggaran Berbasis Kinerja merupakan penganggaran yang berorientasi pada hasil dan wajib diterapkan dalam penyusunan anggaran daerah, maka Penganggaran Berbasis Kinerja dalam pemerintahan daerah harus dinilai keberhasilan penerapannya agar Penerapan penganggaran Berbasis Kinerja dalam Pemeintahan Daerah dapat diperbaiki secara terus menerus dan menjadi maksimal dalam penerapannya.
  Untuk melihat Penerapan Penganggaran Berbasis Kinerja dalam pengelolaan keuangan Daerah, peneliti menggunakan Elemen penerapan Anggaran Berbasis Kinerja berdasarkan Pedoman reformasi Perencanaan dan Penganggaran (2009) dan Komponen Program dan Kegiatan dalam penyusunan Anggaran Berbasis Kinerja berdasarkan PP No 21 Tahun 2004 tentang Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Kementrian Negara/ Lembaga. Sehingga untuk mengetahui sejauh mana penerapan penganggaran berbasis kinerja dalam pengelolaan keuangan daerah pada Pemerintah Daerah Kabupaten Gresik, maka terdapat 5 hal teori yang digunakan peneliti untuk melihat penerapan penganggaran berbasis kinerja dalam pengelolaan keuangan daerah pada Pemerintah Daerah Kabupaten Gresik( Rencana Stratejik, Rencana Kerja, Indikator Kinerja, Standart Biaya, dan Evaluasi Kinerja), yakni sebagai berikut:a. Rencana Stratejik (Renstra)
  Perencanaan dalam arti luas adalah suatu proses mempersiapkan secara sistematis kegiatan yang akan dilakukan untuk mencapai suatu tujuan. Sedangkan Renstra merupakan analisis dan pengambilan keputusan stratejik tentang masa depan organisasi untuk menempatkan dirinya pada masa yang akan datang, dalam jangka waktu lima tahun.Renstra yang dimaksud dalam tingkat Pemerintah Daerah adalah dokumen Renstrada atau RPJMD (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah). Sedangkan Renstra di tingkat SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah) adalah Rencana Stratejik SKPD.
  Terkait adanya Renstrada tersebut, Pemerintah Daerah Kabupaten Gresik sudah membuat Peraturan Daerah Kabupaten Gresik Nomor 3 Tahun 2011 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah, berikut gambar dokumennya:Gambar 4.3 RPJMD dalam Peraturan Daerah Kabupaten Gresik
  Dari gambar RPJMD diatas, dibuktikan bahwa Pemerintah Daerah Kabupaten Gresik sudah memiliki Rensta (Rencana Stratejik) dalam bentuk RPJMD yang didasarkan pada Perda Kabupaten Gresik Nomor 3 tahun 2011. Konsep Renstra yang baik adalah renstra yang terdiri dari Visi, Misi, Tujuan dan Sasaran. Visi mengacu kepada hal yang ingin dicapai dalam jangka panjang sedangkan misi adalah kerangka yang menggambarkan bagaimana visi akan dicapai. Tujuan merupakan penjabaran lebih lanjut dari visi dan misi. Tujuan tergambar dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah yang menunjukkan tahapan –tahapan yang harus dilalui dalam rangka mencapai visi dan misi yang telah ditetapkan. Sedangkan Sasaran menggambarkan langkah-langkah yang spesifik dan terukur untuk mencapai tujuan tersebut. (Pedoman PBK: 2008: 8).
  Berdasarkan hasil analisis dan studi literatur pada RPJMD Kabupaten Gresik tahun 2011-2015, Visi Pemda Kabupaten Gresik adalah “Gresik yang agamis, adil, makmur dan berkehidupan yang berkualitas”. Visi Pemda Kabupaten Gresik tersebut dalam setiap katanya, telah dijelaskan dalam setiap bagian kalimat pada Misinya. Misi Pemda Kabupaten Gresik adalah(1)Mendorong tumbuhnya perilaku masyarakat yang sejuk, santun dan saling menghormati dilandasi oleh nilai-nilai agama sesuai dengan simbol Gresik sebagai Kota Wali dan Kota Santri; (2)Meningkatkan pelayanan yang adil dan merata kepada masyarakat melalui tata kelola kepemerintahan yang baik; (3)Mendorong pertumbuhan ekonomi untuk meningkatkan pendapatan masyarakat secara merata melalui pengembangan ekonomi lokal, konsep ekonomi kerakyatan dan pembangunan yang berwawasan lingkungan dan (4)Meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
  Sedangkan untuk tujuan dan sasaran yang terdapat dalam RPJMD Pemda Kabupaten Gresik, juga sudah sangat terkait pada Visi dan Misinya. Karena tujuan yang dibuat merupakan penjabaran Visi dan Misi tersebut dan diwujudkan dalam tahapan –tahapan yang harus dilalui untuk mencapai visi dan misi yang telah ditetapkan. Sedangkan Sasarannya juga telah menggambarkan langkah-langkah yang spesifik dan terukur untuk mencapai tujuan yang telah dibuat tersebut.
  Berdasarkan hasil analisis RPJMD dan studi literatur, rencana stratejik di pemerintah Daerah Kabupaten Gresik sudah cukup baik. Karena Renstrada Kabupaten Gresik sudah memenuhi konsep bahwasanya RPJMD terdiri dari Visi, Misi, Tujuan, dan Sasaran organisasi dan keempat hal tersebut sudah saling terkait. Kemudian, rencana stratejik juga sudah terkait dengan rencana kerja (Renja) yang dibuat per tahunnya.
  Terdapat juga beberapa pendapat terkait pelaksanaan Renstrada di Pemda Kabupaten Gresik. Pelaksanaan Renstra Kabupaten Gresik sudah sesuai dan cukup baik. Hal ini diungkapkan dalam hasil wawancara dengan TAPD (Tim Anggaran Pemerintah Daerah), dan SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah), berikut ini:
  “Tentu sudah mbak, keseluruhan sudah sangat terkait antara visi, misi, tujuan dan sasaran dalam rpjmd itu kan juga merupakan rencana awal untuk menjalankan rencana kerjanya tiap tahun. (wawancara pada tanggal 02 Maret 2015, TAPD-BAPPEDA Ka bupaten Gresik).” “Sudah, visi, misi, tujuan dan sasaran dalam RPJMD Kabupaten Gresik itu sudah baik dan sesuai. Elemen tersebut saling terkait untuk keberhasilan organisasi. (wawancara pada tanggal 06 Maret 2015, SKPD-DPPKAD Kabupaten Gresik).” Sedangkan pendapat lain terkait pelaksanaan renstrada di Pemda Kabupaten Gresik menurut Banggar
  (Badan Anggaran) dan dan LSM Prakarsa Jatim, masih belum sempurna karena sasaran belum memiliki indikator yang tepat, hal ini diungkapkan dalam wawancara berikut:
  “Disetiap dinas sudah punya renstra, renja, lakip sudah ada semuanya, tapi untuk indikator kinerjanya saya rasa masih belum sempurnah, kan juga masih baru pelaksanaanya jadi masih ada perbaikan secara terus menerus. (wawancara pada tanggal 30 April 2015, Banggar- DPRD Kabupaten Gresik)” “Renstrada yang disusun masih kurang sempurna, karena indikator kinerja pada sasaran tidak disusun dan ditentukan secara akurat, tidak sesuai kondisi tahun awal RPJMD, dan tidak berorientasi pada capaian yang terukur ke depan (forward estimate).(wawancara pada tanggal 04 Mei 2015, LSM Prakarsa Jawa Timur).” Dari hasil wawancara diatas, membuktikan bahwa pelaksanaan renstra di Pemerintah Daerah Kabupaten
  Gresik sudah baik, namun masih belum sempurna, karena indikator kinerja yang seharusnya ada di setiap sasarannya masih belum tepat, terukur dan akurat. Sehingga masih memerlukan kontrol dan perbaikan secara terus-menerus agar terlaksana penganggaran berbasis kinerja yang diinginkan.b. Rencana Kerja (Renja)
  Perencanaan kerja merupakan komponen kunci untuk lebih mengefektifkan dan mengefisienkan pemerintah daerah. karena perencanaan kerja membantu pemerintah untuk mencapai tujuan yang sudah diidentifikasikan dalam rencana straenejik. Rencana kerja diaplikasikan pada program dan kegiatan yang disusun tiap satu tahun anggaran. Bentuk dokumen Renja pada tingkat Pemerintah Daerah adalah RKPD ( Rencana Kerja Pemerintah Daerah).
  Penyusunan Rencana Kerja di Pemerintah Daerah Kabupaten Gresik sudah baik dalam pemenuhan administrasi penerapan penganggaran berbasis kinerja.
  Hal ini dapat dibuktikan oleh pernyataan beberapa Staff SKPD Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah yang memahami Pengelolaan Keuangan Daerah Pemerintah Kabupaten Gresik, berikut hasil wawancaranya:
  “ya sudah tentu dalam menyusun rencana kerja tahunan dan rencana strategis sudah terdapat indikator kinerja dan capaian yang harus dicantumkandalam dokumen renstra dan renja. (wawancara pada tanggal 06 Maret 2015, DPPKAD Kabupaten Gresik).” Dari hasil wawancara diatas, membuktikan bahwa dalam hal administratif pelaksanaan Penganggaran
  Berbasis Kinerja pada Pemerintah Kabupaten Gresik sudah cukup baik, karena di dalam Penyusunan Rencana Kerja (Renja) di setiap SKPD di Kabupaten Gresik, sudah menggunakan indikator kinerja untuk mengukur kinerja kegiatan terhadap pencapaian hasil penggunaan dana dari beberapa aspek bidang penganggaran dalam kurun waktu tertentu. Hal ini juga diperjelas dengan ungkapan Ibu Yuni selaku Ketua Bidang Data, Statistik, Evaluasi dan Pelaporan pada BAPPEDA dan merupakan Sekretaris II Tim Anggaran Pemerintah Daerah Kabupaten Gresik, yaitu sebagai berikut:
  “Kabupaten Gresik Sudah menggunakan Sistem Penganggaran Berbasis Kinerja, hal ini tentu saja diikuti oleh semua SKPD di Kabupaten Gresik dan Sifatnya Wajib. Sehingga Semua SKPD di Kabupaten Gresik saat ini semuanya sudah menggunakan Sistem Penganggaran Berbasis Kinerja.(wawancara pada tanggal 02 Maret 2015, BAPPEDA Kabupaten Gresik).”
  Hasil wawancara diatas membuktikan bahwa Pemerintah Daerah Kabupaten Gresik sudah menyusun Rencanakinerja yang Berbasis Kinerja, dan diikuti oleh Seluruh SKPD di Kabupaten Gresik. Namun pada kenyataannya penggunaan indikator kinerja pada setiap renja SKPD ini belum merata, karena masih terdapat SKPD yang belum mencantumkan indikator kinerja dalam dokumen renja daerah atau RKPD. Hal ini juga peneliti perjelas dengan tiga Format Renja yang peneliti kelompokkan dan terdapat di beberapa SKPD di Pemerintah Kabupaten Gresik dalam Rencana Kinerja Pemerintah Daerah (RKPD), pada Gambar berikut ini:Gambar 4.4 Format Rencana Kerja pada SKPD Pemkab Gresik A ( indikator kinerjanya belum jelas dan belum dijabarkan)
  Sumber: RKPD Kabupaten Gresik 2014 Dari gambar 4.4 di atas, membuktikan bahwasannya masih terdapat SKPD yang indikator kinerjanya belum dijabarkan secara jelas. Karena pada kolom indikator kinerja/ program tidak diuraikan, mana yang merupakan input, output maupun outcomes dari programnya. Dimana, penjelasan terhadap indikator kinerja yang tepat harus terdiri dari tiga indikator, yakni input, output dan outcomes.Gambar 4.5 Format Rencana Kerja pada SKPD Pemkab Gresik B
  
(sudah jelas indikator kinerjanya, ada input, output dan outcome)
  Sumber: RKPD Kabupaten Gresik 2014 Dari gambar 4.5 di atas, membuktikan bahwasannya juga terdapat SKPD yang indikator kinerjanya sudah dijabarkan secara jelas. Karena pada kolom indikator kinerja/ program sudah diuraikan, sehingga sudah jelas mana yang merupakan input, output maupun outcomes dari programnya. Dimana, penjelasan terhadap indikator kinerja yang tepat sudah terdiri dari tiga indikator, yakni input, output dan outcomes.Gambar 4.6 Format Rencana Kerja pada SKPD Pemkab Gresik C (indikator kinerjanya sudah jelas tapi belum lengkap)
  Sumber: RKPD Kabupaten Gresik 2014 Sedangkan dari gambar 4.6 di atas, juga membuktikan bahwasannya juga terdapat SKPD yang indikator kinerjanya sudah dijabarkan namun belum lengkap dan jelas. Karena pada kolom indikator kinerja/ program yang sudah diuraikan, hanya ada sebagian saja. sehingga sudah jelas mana yang merupakan input, output maupun outcomes namun masih ada yang kurang dari ketiga indikator itu yang dijabarkan dari programnya. Dimana, penjelasan terhadap indikator kinerja yang tepat harus sudah terdiri dari tiga indikator, yakni input, output dan outcomesnya. Tidak kurang satupun antara ketiga indikator tersebut.
  Dari data Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) untuk tahun 2014 yang ditemukan di lapangan, dan disajikan pada 3 gambar diatas, hal ini membuktikan bahwa secara administratif dalam Penerapan Penganggaran Berbasis Kinerja di Pemerintah Kabupaten Gresik masih kurang. Meskipun semua SKPD di Kabupaten Gresik sudah mengunakan indikator kinerja dalam penyusunan renja, Namun Indikator yang dicantumkan pada Renja di beberapa SKPD Kabupaten Gresik masih belum jelas indikator Input, Output dan Outcomenya. Dimana penerapan Penganggaran Berbasis Kinerja Seharusnya mencantumkan Indikator yang jelas dalam Renja, yang terdiri dari Input, Output dan Outcome (Pedoman PBK; 2009: 28).
  Hal yang tidak jauh berbeda juga terkait penerapan indikator dalam renja diungkapkan oleh salah satu Kepala Badan Anggaran DPRD Kabupaten Gresik, yakni Bapak Nur Qolib selaku Wakil Ketua DPRD, bahwa:
  “Penganggaran berbasis kinerja di kabupaten gresik itu mulai diterapkan tahun 2009, ya memang samapai saat ini belum maksimal penerapannya karena indikator yang ditulis SKPD di renja nya itupun masih abstrak, tidak jelas. Seharusnya ada ukuran kualitatifnya bukan hanya kuantitatif saja. (wawancara pada tanggal 30 April 2015, DPRD Kabupaten Gresik).” Berdasarkan hasil wawancara dari badan anggaran yang mengawasi kinerja pemerintah daerah diatas, tentu membuktikan bahwa Renja berbasis kinerja belum disusun secara baik dan benar, terbukti pada keadaan renja yang belum jelas indikatornya.Pendapat sedikit berbeda, namun yang dapat menggambarkan masih belum baiknya Renja di Pemerintah Daerah Kabupaten Gresik ini diperjelas oleh hasil wawancara dengan Bapak Madekhan, Kepala LSM Prakarsa Jawa Timur yang sangat memahami keadaan penganggaran di Kabupaten Gresik, berikut hasil wawancaranya:
  “SKPD kebanyakan dalam membuat renja, masih copy paste dari renja-renja sebelumnya, sehingga belum berbasis update usulan masyarakat. (wawancara pada tanggal 04 Mei 2015, LSM Prakarsa Jawa Timur).” Dari hasil wawancara diatas membuktikan bahwa
  Renja daerah (RKPD) yang terdiri dari renja-renja SKPD masih belum baik dalam pelaksanaan penganggaran berbasis kinerja, karena belum semua SKPD di Kabupaten Gresik mencantumkan indikator kinerja yang jelas, indikatornya juga banyak yang abstrak sehingga sulit terukur dan masih terdapat renja yang pembuatannya dari copy-paste renja sebelumnya bukan hasil update usulan masyarakat.c. Indikator Kinerja
  Pengukuran kinerja adalah fungsi utama yang harus ada dalam Penganggaran Berbasis Kinerja. Karena Penganggaran berbasis kinerja bertujuan untuk mengukur kinerja anggaran. Dalam pengelolaan Keuangan Daerah yang berbasis kinerja tentu ada tahap pengukuran kinerja, karena pada tahap inilah dapat diketahui penganggaran sudah benar-benar berbasis kinerja atau hanya format penganggarannnya saja yang berbasis kinerja.
  Didalam pengukuran kinerja terdapat indikator kinerja yang dipergunakan untuk mengukur kinerja dalam setiap program dan kegiatan. Sehingga indikator kinerja dapat diartikan sebagai alat ukur untuk menilai keberhasilan suatu program atau kegiatan. Indikator kinerja yang digunakan terdiri dari Key Performance Indicator (KPI) diterjemahkan sebagai Indikator Kinerja Utama Program (IKU Program) untuk menilai kinerja program, Indikator Kinerja Kegiatan (IK Kegiatan) untuk menilai kinerja kegiatan, dan Indikator Keluaran untuk menilai kinerja subkegiatan (tingkatan dibawah kegiatan).
  Dalam pengukuran kinerja di Pemerintah Daerah Kabupaten Gresik,indikator kinerja masih perlu banyak penyempurnaan dalam penerapannya, hal tersebut diungkapkan dalam wawancara berikut:
  “Pengukuran kinerja sudah ada, namun masih disempurnakan terus menerus, kan penganggaran berbasis kinerja juga baru, merubah sistem juga sulit, butuh waktu. (wawancara pada tanggal 02 Maret 2015, BAPPEDA

Dokumen baru