Pembelajaran fisika menggunakan model inteligensi ganda yang konstruktivis dalam pokok bahasan pemantulan dan pembiasan cahaya pada siswa kelas X6 SMA N 2 Yogyakarta - USD Repository

Gratis

0
0
212
3 months ago
Preview
Full text

  

PEMBELAJARAN FISIKA

MENGGUNAKAN MODEL INTELIGENSI GANDA

YANG KONSTRUKTIVIS DALAM POKOK BAHASAN

PEMANTULAN DAN PEMBIASAN CAHAYA

PADA SISWA KELAS X

6 SMA NEGERI 2 YOGYAKARTA

  

SKRIPSI

  Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

  Program Studi Pendidikan Fisika Oleh:

  Scholastica Sri Endah Dewi Pujiastuti NIM: 031424030

  

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA

JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

  ….

  Kesengsaraan Itu Menimbulkan Ketekunan, Dan Ketekunan Menimbulkan Tahan Uji Dan Tahan Uji Menimbulkan Pengharapan Dan Pengharapan

  ….

  Selalu Tidak Mengecewakan ( Ro m a 5 : 3 - 5 ) Kupersembahkan dengan hati untuk: Tuhan Yesus Kristus dan Bunda Maria, Bapak dan Ibu, Segenap cinta Serta Almamaterku

  

ABSTRAK

  Scholastica Sri Endah Dewi Pujiastuti, Pembelajaran Fisika Menggunakan

  

Model Inteligensi Ganda yang Konstruktivis dalam Pokok Bahasan Pemantulan dan

Pembiasan Cahaya pada Siswa Kelas X SMA Negeri 2 Yogyakarta . Program Studi

  6 Pendidikan Fisika, Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

  Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman konsep siswa, kreativitas dan menunjukkan adanya keterlibatan siswa dengan respon sikap positif selama proses pembelajaran berlangsung menggunakan model inteligensi ganda yang konstruktivis dalam pokok bahasan pemantulan dan pembiasan cahaya.

  Instrumen yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah pre test, modul kegiatan siswa, simulasi komputer, kuesioner, lembar pengamatan kegiatan siswa dan

  post test .

  Penelitian ini diawali dengan mengerjakan pre test. Pelaksanaan kegiatan pembelajaran terbagi menjadi tiga tahap yaitu kegiatan praktikum, presentasi-diskusi dan simulasi komputer. Setelah pembelajaran berakhir siswa mengerjakan post test dan diakhiri dengan pengisian kuesioner oleh siswa. Secara keseluruhan penelitian dengan menggunakan model inteligensi ganda yang konstruktivis ini membutuhkan waktu tiga bulan dari bulan Maret sampai Mei 2007.

  Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran fisika menggunakan model inteligensi ganda yang konstruktivis meningkatkan: (1) pemahaman konsep siswa pada pokok bahasan pemantulan dan pembiasan cahaya, (2) keterlibatan siswa selama proses pembelajaran yang ditunjukkan dengan respon sikap positif siswa, (3) kreativitas siswa dalam pembelajaran.

  ABSTRACT

  Scholastica Sri Endah Dewi Pujiastuti, Physics teaching Using Constructivist

  Model of Multiple Intelligences in Reflection and Refraction of Light to student X

  6 Class in SMA 2 Yogyakarta . Physics Education Study Program, Department of

  Mathematics and Science Education, Faculty of Teacher Training and Education, Sanata Dharma University, Yogyakarta.

  The aim of this research was to increase the student understanding concept, creativity and shown student involvement with positive respond during the teaching process using constructivist model of multiple intelligences in reflection and refraction of light.

  Instruments in this research are pre test, practicum modul, computer simulation, questionare, student observation sheet and post test. The research was started by doing the pre test. The teaching activity was divided into three phases that were practicum activity, presentation-discussion and computer simulation. After teaching activity students did the post test and filled questionare. This research had been done during three months, from March until May 2007.

  This research shows that the teaching process used constructivist model of multiple intelligences in reflection and refraction of light can increase: (1) students concept understanding, (2) students involvement with positive respond during the teaching process, (3) students creativity.

KATA PENGANTAR

  Puji dan syukur kepada Tuhan berkat limpahan karunia-Nya, penulis mampu menyelesaikan skripsi ini dengan judul “Pembelajaran Fisika Menggunakan Model

  

Inteligensi Ganda yang Konstruktivis Dalam Pokok Bahasan Pemantulan dan

Pembiasan Cahaya Pada Siswa Kelas X

  6 SMA Negeri 2 Yogyakarta

  Skripsi ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar sarjana strata satu program studi Pendidikan Fisika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

  Banyak kendala yang dihadapi dalam menyelesaikan skripsi ini, namun berkat adanya bantuan, bimbingan dan dukungan dari berbagai pihak skripsi ini dapat terselesaikan. Oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih kepada:

  1. Romo Dr. Paulus Suparno, S.J, MST, selaku dosen pembimbing yang telah banyak memberikan senyum, waktu, kesabaran dan bimbingan selama proses diskusi dan revisi.

  2. Bapak Drs. Domi Saverius, M.Si selaku kaprodi.

  3. Bapak Drs. Timbul Mulyono, M.Pd, selaku kepala sekolah SMA Negeri 2 Yogyakarta yang telah berkenan memberikan ijin untuk pelaksanaan penelitian.

  4. Bapak Hadi Siswoyo, S.Pd, selaku guru Fisika SMA Negeri 2 Yogyakarta

  5. Keluarga besar SMA Negeri 2 Yogyakarta, terimakasih untuk kerjasamanya.

  6. Bapak Drs. R. Rohandi M.Ed., Terimakasih untuk segala kepedulian dan bantuannya dalam pemahaman materi pemantulan dan pembiasan cahaya serta dosen-dosen Pendidikan Fisika, terimakasih untuk ilmu yang diberikan kepada penulis.

  7. Bapak dan Ibu di rumah, Stev. Marsono dan Maria Kristina Srimulyani untuk segala cinta, kasih sayang, doa, dukungan, kesabaran, kepercayaan dan pengorbanannya sehingga penulis bisa menyelesaikan kuliah ini. Kupersembahkan semua ini untuk bapak dan ibu tercinta.

  8. Mas Andy, terimakasih atas pinjaman handicamnya.

  9. Sahabatku, Nana (karenamu aku belajar untuk menjadi kuat dalam menjalani semuanya), Lilis & Ica (makasih tawa manisnya, semangat, dukungan, dan kebersamaannya), Jose (banyak pengalaman yang kudapat darimu), Dias (makasih ditemani mengurus ijin penelitian), Eko & Boni

  (banyak keceriaan yang kalian berikan), Jujur banyak kata yang ingin kuungkapkan tapi selalu berujung pada ucapan terimakasih yang tulus.

  10. Teman-temanku, P.Fis 2003 (Rosa terimakasih ya mau jadi guru private ku, Lusy, Ely, Siwi terima kasih pinjaman Laptopnya), Mas Grace (P.Fis 00), mas Aka (P.Fis 02), dan Jajax (P.Mat 03) terimakasih bantuan

  11. Tina (Far.03), terimakasih atas kebersamaannya, keceriaannya, dan kasih sayangnya. Terimakasih mau menjadi teman berbagi selama ini dan atas hari-hari indah yang pernah kita lewati bersama.

  12. Teman-teman “Wisma Rosari”, Suci, Agnes, Ade’ku Esti (kutunggu hadiahnya), Jean, Dela, Vivi, Dewi, Nice, Mba Nine, Mba Esti, Mba Dinta, Eya. Terimakasih untuk diskusinya, semangat dan keceriaannya.

  13. Paulus Hernadi, Terimakasih untuk semuanya. Terimakasih atas doa dan Firman yang kau beri setiap jam 12 malam. Terimakasih atas bahu disaat aku ingin menangis, telinga disaat aku ingin bercerita dan teriakan di saat aku sudah menyerah. Terimakasih atas alunan lagu yang diciptakan untuk menghiburku, bantuan selama penelitian di sekolah, dukungan, kesabaran, cinta, kasih sayang dan kepercayaannya. Aku bersyukur mendapatkan semuanya, dan akhirnya senyum ini untuk mu.

  14. Dan semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu disini.

  Semoga hasil penelitian ini dapat memberikan manfaat bagi perkembangan Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan. Penulis menyadari skripsi ini masih jauh dari sempurna maka saran dan kritik dari pembaca yang sifatnya membangun sangat diharapkan demi kesempurnaan skripsi ini.

  Yogyakarta,

  9 Juli 2007

  

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ...................................................................................... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING .......................................... ii

HALAMAN PENGESAHAN........................................................................ iii

HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN........................................... iv

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ........................................................ v

ABSTRAK ...................................................................................................... vi

ABSTRACT .................................................................................................... vii

KATA PENGANTAR.................................................................................... viii

DAFTAR ISI................................................................................................... xi

DAFTAR TABEL .......................................................................................... xv

DAFTAR GAMBAR...................................................................................... xvi DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................. xviii DAFTAR BAGAN.......................................................................................... xix

  

BAB I. PENDAHULUAN.............................................................................. 1

A. Latar Belakang ...............................................................................

  1 B. Perumusan Masalah .......................................................................

  4 C. Tujuan Penelitian ...........................................................................

  4 D. Manfaat Penelitian .........................................................................

  5

  BAB II. DASAR TEORI................................................................................ 6 A. Model Pembelajaran......................................................................

  6 1. Pembelajaran Inteligensi Ganda..............................................

  6 2. Pembelajaran Konstruktivis ....................................................

  15 3. Pembelajaran Inteligensi Ganda yang Konstruktivis ..............

  17 B. Pemahaman Konsep ......................................................................

  19 C. Sikap .............................................................................................

  20 D. Kreativitas .................................................................................... 21 E. Konsep Pemantulan dan Pembiasan Cahaya.................................

  24 1. Pemantulan Cahaya .................................................................

  24 a. Hukum Pemantulan Cahaya..............................................

  24 b. Pemantulan Cermin Datar.................................................

  24 c. Pemantulan Cermin Cekung .............................................

  25 d. Pemantulan Cermin Cembung ..........................................

  28 2. Pembiasan Cahaya ..................................................................

  31 a. Hukum Pembiasan Cahaya ...............................................

  31 b. Indeks Bias Relatif............................................................

  32 c. Pembiasan Lensa Cembung ..............................................

  33 d. Pembiasan Lensa Cekung .................................................

  34

  

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN ................................................... 35

A. Jenis Penelitian...............................................................................

  35 B. Populasi dan Sample Penelitian .....................................................

  35 C. Tempat dan Waktu Penelitian .......................................................

  35 D. Treatment Penelitian ......................................................................

  36 E. Instrumen Penelitian ......................................................................

  37 F. Metode Analisis Data.....................................................................

  40 G. Keterbatasan Peneliti......................................................................

  45 BAB IV. DATA DAN ANALISIS DATA..................................................... 46 A. Pelaksanaan Penelitian ...................................................................

  46 B. Data dan Analisis Data...................................................................

  50 1. Ada tidaknya peningkatan pemahaman konsep siswa .............

  50 2. Ada tidaknya ketertarikan sikap siswa.....................................

  53 3. Ada tidaknya kreatifitasan siswa..............................................

  56 a. Saat praktikum ..................................................................

  56 b. Saat presentasi-diskusi ......................................................

  59 c. Saat simulasi komputer .....................................................

  61 C. Pembahasan.................................................................................... 62 1. Peningkatan pemahaman konsep siswa ...................................

  62

  D. Kesimpulan Umum ........................................................................

  77 BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN ........................................................ 79

  A. Kesimpulan .................................................................................... 79

  B. Saran............................................................................................... 80

  

DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 82

LAMPIRAN.................................................................................................... 84

  DAFTAR TABEL Halaman Tabel 1. Pengelompokkan Inteligensi menurut Gardner ...................

  13 Tabel 2. Pembelajaran konstruktivis .................................................

  19 Tabel 3. Contoh lembar pengamatan kegiatan siswa ........................

  45 Tabel 4. Hasil perhitungan pre test dan post test............................... 50 Tabel 5. Klasifikasi sikap siswa selama proses pembelajaran...........

  54 Tabel 6. Jumlah presentase siswa dalam klasifikasi sikap ................

  55 Tabel 7. Teknik presentasi yang digunakan dalam kelompok...........

  60 Tabel 8. Analisis jumlah presentase siswa .......................................

  64 Tabel 9. Inteligensi yang tampak saat menggunakan metode Praktikum ............................................................................

  74 Tabel 10. Inteligensi yang tampak saat menggunakan metode Presentasi.............................................................................

  74 Tabel 11. Inteligensi yang tampak saat menggunakan metode Simulasi komputer...............................................................

  75 Tabel 12. Kesimpulan umum hasil penelitian .....................................

  77

  DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar 1. Pemantulan cahaya .....................................................

  24 Gambar 2. Pembentukan bayangan pada cermin datar.................

  25 Gambar 3. Pemantulan pada cermin cekung ................................

  26 Gambar 4. Sinar istimewa pada cermin cekung ...........................

  26 Gambar 5. Pembentukan bayangan pada cermin cekung .............

  27 Gambar 6. Pemantulan pada cermin cembung .............................

  29 Gambar 7. Sinar istimewa pada cermin cembung ........................

  29 Gambar 8. Pembentukan bayangan pada cermin cembung ..........

  30 Gambar 9. Pembiasan cahaya .......................................................

  32 Gambar 10. Pembiasan pada lensa cembung..................................

  33 Gambar 11. Sinar istimewa pada lensa cembung ...........................

  33 Gambar 12. Pembiasan lensa cekung .............................................

  34 Gambar 13. Sinar istimewa pada lensa cekung ..............................

  34 Gambar 14. Siswa mengerjakan pre test ........................................ 63 Gambar 15. Siswa mengerjakan post test ....................................... 64 Gambar 16. Diskusi pada saat praktikum .......................................

  69 Gambar 17. Siswa sedang mencari pembentukan bayangan pada saat praktikum.............................................................

  69

  Gambar 19. Siswa sedang mempresentasikan materi pemantulan Cahaya ........................................................................

  71 Gambar 20. Peneliti sedang mempresentasikan materi dengan Menggunakan simulasi komputer...............................

  73

  

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

  Lampiran 1. Soal pre test ................................................................ 84 Lampiran 2. Soal post test ............................................................... 86 Lampiran 3. Lembar jawaban soal ..................................................

  88 Lampiran 4. Modul kegiatan siswa .................................................

  90 Lampiran 5. Modul panduan peneliti .............................................. 107 Lampiran 6. Kuesioner .................................................................... 128 Lampiran 7. Lembar pengamatan praktikum .................................. 131 Lampiran 8. Lembar pengamatan presentasi................................... 136 Lampiran 9. Lembar partisipan presentasi kelompok ..................... 140 Lampiran 10. Fisika ceria.................................................................. 142 Lampiran 11. Simulasi komputer pemantulan cahaya ...................... 143 Lampiran 12. Simulasi komputer pembiasan cahaya........................ 157 Lampiran 13. Data skor pre test dan post test ................................... 166 Lampiran 14. Nilai pre test dan post test .......................................... 168 Lampiran 15. Data hasil kuesioner sikap siswa ................................ 170 Lampiran 16. Rancangan pembelajaran penelitian ........................... 172 Lampiran 17. Puisi Bila Hidup Itu Cermin ....................................... 177 Lampiran 18. Foto kegiatan penelitian.............................................. 179

  

DAFTAR BAGAN

Halaman

  Bagan 1. Penerapan model pembelajaran Inteligensi Ganda.....

  14

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dunia pendidikan saat ini telah banyak menunjukkan perkembangan pesat

  dan identik dengan unsur kebhinekaan yang ada yakni “walaupun berbeda pemikiran tetapi tetap pada satu tujuan pendidikan mencerdaskan kehidupan bangsa”. Beragamnya pemikiran dapat dilihat dari keadaan siswa saat ini yang memiliki daya tangkap, daya serap, daya pikir, dan daya kecerdasan yang berbeda antara siswa yang satu dengan yang lainnya. Dengan perbedaan itulah diharapkan dapat menumbuhkan motivasi tersendiri bagi pada pendidik dan peserta didik untuk dapat saling beradaptasi mencapai suatu proses dan hasil belajar yang optimal.

  Tidak jarang keberagaman pola pikir banyak ditemukan dalam pembelajaran sains terutama pada mata pelajaran fisika. Fisika merupakan suatu proses untuk menguraikan dan menganalisis peristiwa yang terjadi berdasarkan hukum-hukum fisika terkait sehingga dapat diterangkan secara logis dan rasional. Sebagai mana diketahui dalam pembelajaran fisika kemampuan pemahaman konsep merupakan modal utama dalam pencapaian keberhasilan belajar fisika. Dengan penguasaan konsep itulah persoalan-persoalan fisika seperti permasalahan yang ada dalam fisika bukan hanya pelajaran hafalan tetapi lebih menuntut pemahaman konsep bahkan pada aplikasi konsep tersebut.

  Umumnya para pendidik untuk mencapai taraf pemahaman konsep siswa cenderung hanya menggunakan satu model pembelajaran saja tanpa memperhatikan adanya keberagaman dalam kecerdasan siswa. Akibatnya mata pelajaran fisika sering ditakuti dan tidak digemari oleh siswa. Kecenderungan untuk tidak menyukai fisika dimungkinkan karena pengalaman awal belajar siswa, yang menemukan bahwa mata pelajaran fisika adalah pelajaran yang berat dan serius yang tidak jauh dari penyelesaian soal-soal yang rumit dengan pendekatan matematis. Mata pelajaran fisika terkadang juga menjadi momok bagi para siswa karena berhubungan erat dengan matematika. Kemampuan matematis siswa yang lemah terkadang menyebabkan siswa mengalami kesulitan dalam memecahkan persoalan. Artinya siswa yang memiliki kecerdasan dalam bidang angka atau logika saja yang dapat menikmati fisika, padahal tidak semua siswa memiliki kemampuan yang cukup dalam bidang matematis.

  Tuntutan keberagaman pembelajaran yang sebenarnya tampak pada teori inteligensi ganda dari Gardner. Teori tersebut menyatakan bahwa kecerdasan individu terdiri dari sembilan komponen semiotonom yang harus mendapatkan pembelajaran yang berbeda pula. Model pembelajaran tersebut diambil dari kerangka acuan konstruktivis yang mengatakan bahwa pengetahuan itu ada dalam sendirilah yang harus mengartikan apa yang telah diajarkan dengan menyesuaikan terhadap pengalaman-pengalaman mereka (Lorsbach & Tobin,1992 dalam Suparno,1997:19). Konstruktivis disini merupakan suatu proses untuk menjadi tahu berdasarkan pengalaman sendiri sedangkan inteligensi ganda merupakan salah satu model pembelajaran yang diharapkan dapat membantu siswa mencari tahu pengalaman belajarnya dengan memperhatikan keberagaman kecerdasan yang dimilikinya.

  Dari uraian tersebut tampak jelas bahwa pengetahuan tidak datang begitu saja tetapi harus melalui suatu proses belajar berdasarkan suatu pengalaman- pengalaman tersendiri. Sehingga diharapkan siswa dapat menciptakan suatu pemahaman yang menuntut adanya aktifitas kreatif yang produktif dalam sebuah konteks nyata sehingga mampu mendorong mereka untuk berpikir dan terus berpikir ulang. Kreativitas siswa untuk mencari tahu sendiri dan membangun konsep pemahaman secara konstruktivis tidak akan bisa dikembangkan bila pendidik hanya menggunakan satu model pembelajaran saja, tetapi dengan menyediakan beberapa model pembelajaran yang mengarah kepada keanekaragaman pemikiran.

  Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan tersebut maka penulis memilih topik “Pembelajaran Fisika Menggunakan Model Inteligensi Ganda

  

yang Konstruktivis dalam Pokok Bahasan Pemantulan dan Pembiasan Cahaya

  B. Perumusan Masalah

  Penulis membatasi diri pada tiga masalah utama khususnya pada pokok bahasan pemantulan dan pembiasan cahaya yaitu:

  1. Apakah pembelajaran yang dikembangkan dengan model inteligensi ganda yang konstruktivis dapat meningkatkan pemahaman konsep siswa dalam mempelajari pemantulan dan pembiasan cahaya pada cermin dan lensa?

  2. Apakah pembelajaran yang dikembangkan dengan model inteligensi ganda yang konstruktivis dapat membantu menunjukkan keterlibatan sikap siswa dalam mempelajari pemantulan dan pembiasan cahaya pada cermin dan lensa?

  3. Apakah pembelajaran yang dikembangkan dengan model inteligensi ganda yang konstruktivis dapat meningkatkan kreativitas siswa dalam mempelajari pemantulan dan pembiasan cahaya pada cermin dan lensa?

  C. Tujuan Penelitian

  Penelitian ini bertujuan untuk:

  1. Mengetahui apakah pembelajaran yang dikembangkan dengan model inteligensi ganda yang konstruktivis dapat meningkatkan pemahaman konsep siswa dalam mempelajari pemantulan dan pembiasan cahaya pada cermin dan lensa

  2. Mengetahui apakah pembelajaran yang dikembangkan dengan model keterlibatan sikap siswa dalam mempelajari pemantulan dan pembiasan cahaya pada cermin dan lensa

  3. Mengetahui apakah pembelajaran yang dikembangkan dengan model inteligensi ganda yang konstruktivis dapat meningkatkan kreativitas siswa dalam mempelajari pemantulan dan pembiasan cahaya pada cermin dan lensa

D. Manfaat Penelitian

  Manfaat penelitian yang diharapkan adalah sebagai berikut :

  1. Bagi siswa

  a. Dapat menambah pengalaman belajar dengan pembelajaran yang bervariasi b. Dapat membantu meningkatkan kreativitas belajar fisika

  c. Dapat meningkatkan gairah belajar agar lebih termotivasi dalam mempelajari suatu materi fisika

  2. Bagi guru dan calon guru

  a. Dapat meningkatkan variasi dalam pengajaran di kelas

  b. Dapat termotivasi agar lebih kreatif dalam proses pengajarannya

  3. Bagi peneliti Dapat digunakan sebagai dasar penelitian lebih lanjut

BAB II DASAR TEORI A. Model Pembelajaran

1. Pembelajaran Inteligensi Ganda

  Teori Inteligensi Ganda (Multiple Intelligence) ditemukan dan dikembangkan oleh Howard Gardner, seorang ahli psikologi perkembangan dan profesor pendidikan dari Graduate School of Education, Harvard University, Amerika Serikat. Gardner (dalam Nancy Faris) mengemukakan bahwa “Intelligences as the ability to solve problems or to fashion products that are

  valued in one or more cultural settings ”. Definisi tersebut menunjukkan

  inteligensi sebagai kemampuan untuk memecahkan persoalan dan menghasilkan produk dalam suatu seting yang bermacam-macam dan dalam situasi yang nyata (1983;1993 dalam Suparno, 2004 : 17).

  Menurut Gardner ada 9 inteligensi pada diri setiap orang yaitu inteligensi linguistik, inteligensi matematis logis, inteligensi ruang visual, inteligensi kinestetik badani, inteligensi musikal, inteligensi interpersonal, inteligensi intrapersonal, inteligensi lingkungan dan inteligensi eksistensial. Masing-masing inteligensi diuraikan sebagai berikut:

  a. Inteligensi Lingusitik

  Menurut Thomas Armstrong (dalam Piping Sugiharti, 2005 : 32) anak dengan kecerdasan linguistik biasanya senang membaca, pandai bercerita, senang menulis, mempunyai perbendaharaan kata yang baik, pandai mengeja, senang membicarakan ide-ide dengan teman-temannya, memiliki kemampuan kuat dalam mengingat nama atau fakta, menikmati permainan kata. Kecerdasan ini menuntut kemampuan anak untuk meyimpan berbagai informasi berarti yang berkaitan dengan proses pemikirannya.

  Model belajar dengan cara linguistik menutut Thomas Armstrong (2003 : 77) dengan cara menyediakan banyak buku, rekaman dan kaset kata-kata yang diucapkan serta peluang untuk menulis. Lengkapi anak dengan peralatan untuk membuat kata, tape recorder, mesin tulis, komputer dan pembuat tabel. Membawa mereka ke tempat dimana kata sangat dibutuhkan seperti perpustakaan, toko buku, biro surat kabar dan penerbitan dirasa membantu dalam proses pembelajaran.

  b. Inteligensi Matematis-Logis

  Menurut Thomas Armstrong (dalam Piping Sugiharti, 2005 : 32) seseorang dengan logical-mathematical Intellegence yang tinggi biasanya memiliki ketertarikan terhadap angka-angka, menikmati ilmu pengetahuan, angka atau skor, menikmati permainan yang memiliki strategi, memperhatikan antara perbuatan dan akibatnya.

  Anak-anak yang memiliki kecerdasan seperti ini menurut Thomas Armstrong (2003 : 77) belajar dengan membentuk konsep. Beri mereka permainan catur, teka-teki logika, perangkat ilmu pengetahuan yang disertai hitungan dan permainan komputer yang melibatkan daya penalaran logis.

c. Inteligensi Ruang Visual

  Thomas Armstrong (dalam Piping Sugiharti, 2005 : 33) menjelaskan seorang anak yang memiliki kecerdasan ini biasanya suka menggambarkan ide- idenya atau membuat sketsa untuk membantunya menyelesaikan masalah, berpikir dalam bentuk gambar serta mudah melihat berbagai objek dalam benaknya, senang membangun atau mendirikan sesuatu, senang membongkar pasang, senang bekerja dengan bahan-bahan seni, senang menonton film/video, mengingat hal-hal yang pernah dipelajarinya dalam bentuk gambar-gambar, senang memecahkan teka-teki visual/gambar serta ilusi optik dan suka membangun model-model atau segala hal dalam 3 dimensi. Anak dengan kecerdasan ini biasanya kaya dengan khayalan sehingga cenderung kreatif dan imaginatif.

  Thomas Armstrong (2003 : 78) cara terbaik untuk memotivasi mereka Kunjungilah arsitektur, planetarium, museum tari, dan tempat lain yang menekankan kemampuan ruang visual.

d. Inteligensi Kinestetik Badani

  Anak yang memiliki kecerdasan ini suka bergerak dan aktif. Tipe anaknya mudah dan cepat mempelajari keterampilan-keterampilan fisik serta suka bergerak sambil berpikir, suka berakting, senang meniru gerak-gerik atau ekspresi teman-temannya, senang berolahraga atau berprestasi dalam bidang olahraga tertentu, terampil membuat kerajinan atau membangun model-model, senang menggunakan gerakan-gerakan untuk membantunya mengingat berbagai hal, dan mempunyai koordinasi serta kesadaran yang baik terhadap suatu tempo. Anak- anak dengan kecerdasan tubuh biasanya lebih mengandalkan kekuatan otot- ototnya (Thomas Armstrong dalam Piping Sugiharti, 2005 : 33).

  Anak yang berbakat seperti ini belajar dengan menyentuh, memanipulasi, dan bergerak. Mereka memerlukan kegiatan belajar yang bersifat kinestetik, dinamik dan viseral. Cara terbaik memotivasi melalui seni peran, improvisasi drama, gerakan kreatif, dan semua kegiatan yang melibatkan kegiatan fisik. Beri mereka akses lapangan bermain, lapangan rintangan, dan ruang olah raga (Thomas Armstrong 2003 : 78).

  e. Inteligensi Musikal

  Gardner (dalam Suparno, 2004 : 36) menjelaskan inteligensi musikal sebagai kemampuan untuk mengembangkan, mengekspresikan dan menikmati bentuk-bentuk musik dan suara. Di dalamnya termasuk kepekaan akan ritme, melodi, dan intonasi, kemampuan memainkan alat musik, kemampuan menyanyi, kemampuan menciptakan lagu, kemampuan untuk menikmati lagu, musik dan nyanyian. Orang yang menonjol dalam inteligensi musikalnya sangat peka terhadap suara dan musik.

  Thomas Armstrong (2000 : 31) mengungkapkan anak-anak yang mempunyai kecerdasan musik sering bernyanyi, bersenandung, atau bersiul seorang diri. Memainkan sebuah lagu sambil menggerak-gerakkan anggota tubuh mengikuti irama dan ikut bernyanyi. Mereka mempunyai opini yang kuat mengenai musik dan peka terhadap suara-suara nonverbal di lingkungan mereka.

  Gunakan metronom, instrumen perkusi, atau software musik sebagai cara membantu mempelajari materi baru. Beri akses CD dan kaset, instrumen musik dan pelajaran musik jika mereka memintanya (Thomas Armstrong 2003 : 78).

  f. Inteligensi Interpersonal

  Inteligensi Interpersonal merupakan kemampuan untuk mengerti dan menjadi peka terhadap perasaan, intensi, motivasi, watak, temperamen orang lain. seseorang untuk menjalin relasi dan komunikasi dengan orang lain (Gardner dalam Suparno, 2004 : 39).

  Cara belajar untuk anak yang seperti ini dengan cara berhubungan dan kerja sama. Mereka perlu belajar interaksi dinamis dengan orang lain. Biarkan mereka terlibat dalam diskusi kelompok, kegiatan kelompok, ekstrakulikuler, kepanitiaan, dan organisasi-organisasi lainnya (Thomas Armstrong 2003 : 79).

g. Inteligensi Intrapersonal

  Gardner (dalam Suparno, 2004 : 41) mengungkapkan Inteligensi Intrapersonal sebagai kemampuan yang berkaitan dengan pengetahuan akan diri sendiri dan kemampuan untuk bertindak secara adaptif berdasar pengenalan diri.

  Termasuk dalam inteligensi ini adalah kemampuan berefleksi dan keseimbangan diri. Mempunyai kesadaran tinggi akan gagasan-gagasannya, dan mempunyai kemampuan untuk mengambil keputusan pribadi. Sadar akan tujuan hidupnya, dapat mengatur perasaan dan emosinya sehingga kelihatan sangat tenang. Orang yang menonjol dalam inteligensi ini biasanya mudah berkonsentrasi dengan baik. Mempunyai kesadaran diri dan dapat mengekspresikan perasaan-perasaan mereka yang berbeda dengan tenang. Pengenalan akan dirinya sendiri sungguh mendalam dan seimbang.

  Anak dengan kecenderungan seperti ini efektif belajar ketika diberi belajar sendiri dengan kecepatan yang mereka tentukan sendiri. Sangat penting bagi mereka mempunyai ruang pribadi dimana mereka bisa mengerjakan hobi dan minat tanpa gangguan dan bisa berintropeksi dengan tenang (Thomas Armstrong 2003 : 80).

h. Inteligensi Lingkungan

  Gardner (dalam Suparno, 2004 : 42) menjelaskan inteligensi lingkungan sebagai kemampuan seseorang untuk dapat mengerti flora dan fauna dengan baik.

  Kemampuan untuk memahami dan menikmati alam, dan menggunakan kemampuan itu secara produktif mengembangkan pengetahuan akan alam.

  Seseorang yang memiliki kecerdasan ini senang memperhatikan alam dimanapun berada, mudah beradaptasi dengan tempat dan acara yang berbeda- beda. Sangat memperhatikan lingkungan di sekitarnya (Thomas Armstrong dalam Piping Sugiharti, 2005 : 35).

i. Inteligensi Eksistensial

  Gardner (dalam Suparno, 2004 : 44) menambahkan satu inteligensi lagi, yaitu inteligensi eksistensial. Inteligensi ini lebih menyangkut kepekaan dan kemampuan seseorang untuk menjawab persoalan-persoalan terdalam eksistensi atau keberadaan manusia. Anak yang menonjol dalam inteligensi ini akan sekolah, di tengah teman-teman, untuk apa ini semua? Anak yang menonjol dalam hal ini sering kali mengajukan pertanyaan yang jarang dipikirkan orang, termasuk gurunya.

  Bruce Campbell ( , 27 september 2006) dalam artikelnya yang berjudul “Multiplying Intellegence in

  

the Classroom ” membuat rangkuman daftar dari pusat-pusat inteligensi sebagai

  mana telah diatur pada waktu artikel tersebut dibuat yakni

  Tabel 1. Pengelompokkan inteligensi menurut Gardner Gardner’s Identified Intelligence Center Name

  Kinesthetic Intelligence Building Center Visual-Spatial Intelligence Art Center Mathematical-Logical Intelligence Math Center Musical Intelligence Music Center Linguistic Intelligence Reading Center Interpersonal Intelligence Working Together Center Intrapersonal Intelligence Personal Work Center Naturalist Intelligence Naturalist center Existential Intelligence Existential Center

  Maksud dari daftar tersebut, Gardner mengidentifikasi (mengelompokkan)

  9 Inteligensi dengan berpusat pada suatu kegiatan dominan dari setiap inteligensi yang ada. Inteligensi kinestetik dominan pada gerakan tubuh, inteligensi ruang dominan pada ruang seni, inteligensi matematis-logis dominan pada perhitungan dominan pada aktivitas membaca, inteligensi interpersonal dominan pada kegiatan kerja sama, inteligensi intrapersonal dominan pada kerja sendiri, inteligensi naturalis dominan pada aktivitas alam, dan inteligensi eksistensial yang dominan pada keberadaan dirinya.

  Secara garis besar model pembelajaran inteligensi ganda digambarkan sebagai bertikut

2. Pembelajaran Konstruktivis

  Konstruktivisme merupakan filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan adalah konstruksi (bentukan) kita sendiri (Von Glasersfeld dalam Bettencourt,1989 dan Matthews,1994, dalam Suparno, 1997 : 18).

  Pembelajaran yang menekankan proses pembentukan pengetahuan oleh siswa sendiri dinamakan pembelajaran yang konstruktivis. Dalam konteks belajar seperti ini, aktivitas siswa menjadi syarat mutlak agar siswa mampu, bukan untuk mengumpulkan banyak fakta melainkan dapat menemukan sesuatu (pengetahuan) dan mengalami perkembangan pemikiran (Suparno, Rohandi dkk, 2000 : 44).

  Model pembelajaran konstruktivis yang dikembangkan berpijak pada teori konstruktivis. Adapun tahapan-tahapan penerapan model pembelajaran konstruktivis menurut Harlen & Sadia, 1996 dalam Anonim

  

ber 2006 adalah:

1. Identifikasi awal terhadap prior knowledge dan konsep.

  2. Penyusunan program pembelajaran dan strategi pengubahan miskonsepsi.

  3. Orientasi dan Elicitasi. Situasi pembelajaran yang kondusif dan mengasyikkan sangatlah perlu diciptakan pada awal-awal pembelajaran untuk membangkitkan minat mereka terhadap topik yang akan dibahas.

  4. Refleksi. Dalam tahap ini, berbagai macam gagasan-gagasan yang bersifat miskonsepsi yang muncul pada tahap orientasi dan elcitasi direfleksikan. a. Tantangan. Siswa diberi pertanyaan-pertanyaan tentang gejala-gejala yang kemudian dapat diperagakan atau diselidiki dalam percobaan.

  b. Konflik kognitif dan diskusi kelas. Mereka didorong untuk menguji keyakinan dengan melakukan berbagai percobaan. Usaha untuk mencari penjelasan dilakukan dengan proses konfrontasi melalui diskusi dengan teman atau guru pada kapasitasnya sebagai fasilitator dan mediator.

  c. Membangun ulang kerangka konseptual. Siswa dituntun untuk menemukan sendiri bahwa konsep-konsep yang baru itu memiliki konsestensi internal.

  6. Aplikasi. Meyakinkan siswa akan manfaat untuk beralih konsepsi dari miskonsepsi menuju konsepsi ilmiah.

  7. Review. Review dilakukan untuk meninjau keberhasilan strategi pembelajaran yang telah berlangsung dalam upaya mereduksi miskonsepsi yang muncul pada awal pembelajaran.

  Pendekatan pembelajaran secara konstruktivisme juga dapat dikelompokkan menjadi: a.Penglibatan : Simulasi perasaan ingin tahu pelajar melalui pemberian suatu tugasan, topik atau konsep, memupuk minat dan membangkitkan persoalan. b.Penjelajahan : Adalah bertujuan untuk memuaskan perasaan ingin tahu c.Penerangan: Pendekatan yang melibatkan definisi konsep dan penyataan. atau topik dalam sudut kandungan yang lain dan membuat perkiraan dengan konsep/ topik ke dalam situasi dunianya. e.Penilaian: Menilai pemahaman pelajar melalui demontrasi pemahaman dan kemahiran atau konsep pengetahuan. (Pusat Perkembangan Kurikulum,

  1997 : 45) Yang terpenting dalam teori konsruktivisme adalah bahwa dalam proses belajar siswalah yang harus mendapatkan penekanan. Merekalah yang harus aktif mengembangkan pengetahuan mereka, bukannya guru ataupun orang lain. Mereka yang harus bertanggung jawab terhadap hasil belajarnya. Penekanan belajar siswa aktif ini perlu dikembangkan. Kreativitas dan keaktifan siswa akan membantu mereka untuk berdiri sendiri dalam kehidupan kognitif siswa (Suparno, 2000 : 81).

  Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan berkaitan dengan pembelajaran konstruktivis, yaitu (1) mengutamakan pembelajaran yang bersifat nyata dalam konteks yang relevan, (2) mengutamakan proses, (3) menanamkan pembelajaran dalam konteks pengalaman sosial, (4) pembelajaran dilakukan dalam upaya mengkonstruksi pengalaman (Honebein, 1996 : 5 dalam Anonim ber 2006).

3. Pembelajaran Model Inteligensi Ganda yang Konstruktivis

  paradigma berpikir untuk pencapaian siswa aktif dan kreatif dalam proses mengkonstruksi pengetahuan. Perubahan paradigma tersebut dapat berupa pola pembelajaran yang bervariasi.

  Salah satu pola pembelajaran yang bervariasi dengan menggunakan model Inteligensi ganda. Penekanan di sini bukan hanya pada variasi inteligensi gandanya, melainkan sampai sejauh mana pembelajaran inteligensi ganda tersusun secara konstruktivis untuk membantu proses pemahaman konsep siswa.

  Model inteligensi ganda digunakan untuk membantu siswa dalam proses belajar. Diharapkan dengan menggunakan model ini, siswa merasa senang dan tidak jenuh selama proses belajar. Dengan perasaan senang itulah diharapkan pula siswa lebih banyak mencari pengetahuan bersama dengan teman-temannya ataupun sendiri, yang kemudian bersama-sama membentuk pengetahuan tersebut menjadi pengetahuan baru di dalam dirinya. Kemampuan untuk mencari pengetahuan baru itu merupakan pembelajaran yang konstruktivis, yang pada akhirnya akan terlihat melalui hasil belajar siswa.

  Dengan model pembelajaran ini diharapkan pula dapat meningkatkan kreativitas siswa. Selama proses pembelajaran siswa diberi kebebasan untuk mencari dan membentuk pengetahuan baru sesuai dengan inteligensi masing- masing yang ada dalam diri siswa, sehingga siswa bebas berekspresi dalam kegiatan belajar. pembentukan pengetahuan, pandangan yang beragam, pembelajaran yang relevan, pengalaman sosial, penggunaan media pengajaran, dan refleksi akan pengajaran.

  Tabel 2. Pembelajaran konstruktivis

  Constructivist Learning

  Knowledge construction: Provide experience with knowledge

  construction process

  Multiple perspectives: Provide experience in and appreciation for

  multiple perspectives

  Authentic: Embed learning in realistic and relevant context Voice: Encourage ownership and voice in learning process Social: Embed learning in social experience Multimedia: Encourage use of multiple modes of representation Reflection: Encourage self-awareness of knowledge construction process

B. Pemahaman Konsep

  Konsep merupakan abstraksi dari ciri-ciri sesuatu yang mempermudah komunikasi antara manusia dan yang memungkinkan manusia berpikir (bahasa dan alat berpikir) (Ed Van Den Berg Dkk, 1991 : 16).

  Setiap konsep tidak berdiri sendiri, melainkan berhubungan dengan konsep lain maka setiap konsep dapat dihubungkan dengan banyak konsep lain dan hanya mempunyai arti dalam hubungan dengan konsep-konsep lain. Semua konsep bersama membentuk jaringan pengetahuan makin lengkap, terpadu, dan kuat hubungan antara konsep-konsep dalam kepala seseorang makin pandai orang konsep yang dimilikinya. Makin dalam memasuki bidang studi makin kompleks dan terpadu (integrated) jaringan konsep (Ed Van Den Berg Dkk, 1991:17).

  Kartika Budi (1992 : 113) menyebutkan beberapa indikator yang menunjukkan pemahaman konsep siswa, yaitu (1) dapat menyatakan definisi konsep dengan kalimat sendiri, (2) dapat menjelaskan makna konsep pada orang lain, (3) dapat menganalisis hubungan konsep dalam suatu hukum, (4) dapat menerapkan konsep untuk (a) menganalisis dan menjelaskan gejala-gejala alam khusus, (b) untuk memecahkan masalah fisika baik secara teoritis maupun praktis, (c) memprediksi kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi pada suatu sistem pada kondisi tertentu (5) dapat mempelajari konsep lain yang berkaitan lebih cepat, (6) dapat membedakan konsep satu dengan konsep lain yang berkaitan, (7) dapat membedakan konsepsi yang benar dan yang salah.

C. Sikap Salah satu faktor yang mempengaruhi hasil pembelajaran adalah sikap.

  Definisi sikap adalah derajat efek positif atau efek negatif yang dikaitkan dengan suatu objek psikologis. Sikap adalah keadaan mental dari kesiapan, yang diatur melalui pengalaman yang memberikan pengaruh dinamik atau terarah terhadap respon individu pada semua objek dan situasi yang berkaitan dengannya (David Sears 1992 : 137). Dari sini sikap dapat digambarkan sebagai kecenderungan

  Walgito (2001 : 114-115) mengemukakan tentang sikap dan ciri-ciri sikap sebagai berikut: Sikap adalah faktor yang ada dalam diri manusia yang dapat mendorong atau menimbulkan perilaku tertentu. Adapun ciri-ciri sikap tidak dibawa sejak lahir, selalu berhubungan dengan objek sikap, dapat tertuju pada satu objek saja maupun tertuju pada sekumpulan objek-objek, dapat berlangsung lama atau sebentar, dan mengandung faktor perasaan dan motivasi.

  Berkaitan dengan komponen sikap, walgito (2001 : 111) mengemukakan bahwa sikap mengandung komponen kognitif (pengetahuan), komponen afektif (emosional) dan komponen konatif (perilaku). Perilaku yang nampak terhadap suatu objek tertentu setidaknya bisa diramalkan melalui sikap yang diungkapkan oleh seseorang. Dalam arti bahwa sikap seseorang bisa menentukan tindakan dan perilakunya. Sikap kadang-kadang bisa diungkapkan secara terbuka melalui berbagai wacana atau percakapan, namun sering sikap ditunjukkan secara tidak langsung. Sikap bisa saja muncul sebelum perilaku namun bisa juga merupakan akibat dari perilaku sebelumnya.

  Ada banyak definisi sikap yang ditemukan oleh banyak ahli, dari banyak definisi tersebut pada umumnya sikap mempunyai persamaan unsur yaitu bersedia berespon terhadap suatu situasi.

D. Kreativitas

  inovatif, penuh ide, pemecah masalah, ketelitian dan keingintahuan. Setiap orang memiliki potensi kreatif yang berbeda-beda. Tidak ada orang yang sama sekali tidak memiliki kreativitas dan yang diperlukan adalah bagaimana mengembangkan potensi kreatif tersebut.

  Supriadi (2001 : 7) menyimpulkan bahwa pada intinya kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk melahirkan sesuatu yang baru, baik berupa sebuah gagasan maupun karya nyata, yang relatif berbeda dengan apa yang telah ada sebelumnya.

  Ciri-ciri kreativitas dapat ditinjau dari dua aspek yaitu aspek kognitif dan aspek afektif. Pada aspek kognitif, ciri-ciri kreativitas yang berhubungan dengan kemampuan berpikir kreatif yaitu: (1) keterampilan berpikir lancar (fluency), (2) keterampilan berpikir luwes atau fleksibel (flexibility), (3) keterampilan berpikir orisinil (originality), (4) keterampilan memperinci (elaboration), dan (5) keterampilan menilai (evaluation).

  Ciri-ciri kreativitas yang lebih berkaitan dengan sikap dan perasaan seseorang (aspek afektif) yaitu: (1) rasa ingin tahu, (2) bersifat imajinatif, (3) merasa tertantang oleh kemajemukan, (4) memiliki sifat berani mengambil resiko, (5) mempunyai sikap saling menghargai, (6) percaya diri, (7) keterbukaan terhadap suatu pengalaman baru, dan (8) biasanya menonjol dalam salah satu bidang seni. Torrance dalam Supriadi (Adhipura, 2001: 47) mengemukakan tentang lima bentuk interaksi guru dan siswa di kelas yang dianggap mampu mengembangkan kecakapan kreatif siswa, yaitu: (1) menghormati pertanyaan yang tidak biasa; (2) menghormati gagasan yang tidak biasa serta imajinatif dari siswa; (3) memberi kesempatan kepada siswa untuk belajar atas prakarsa sendiri; (4) memberi penghargaan kepada siswa; dan (5) meluangkan waktu bagi siswa untuk belajar dan bersibuk diri tanpa suasana penilaian.

  Beberapa faktor pendorong yang dapat meningkatkan kreativitas, yaitu: (1) waktu, (2) kesempatan menyendiri, (3) dorongan, (4) sarana, (5) lingkungan yang merangsang, (6) hubungan anak-orangtua yang tidak posesif, (7) cara mendidik anak, (8) kesempatan untuk memperoleh pengetahuan.

  Torrance (Adhipura, 2001 : 46) mengemukakan cara yang dapat mematikan kreativitas yaitu (1) usaha yang terlalu dini untuk mengeliminasi fantasi, (2) pembatasan terhadap rasa ingin tahu anak, (3) terlalu menekankan peran berdasarkan perbedaan seksual, (4) terlalu banyak melarang, (5) perasaan takut dan malu, (6) penekanan yang salah terhadap keterampilan verbal tertentu dan (7) memberikan kritik yang bersifat destruktif.

  Oleh karena itu dapat ditarik kesimpulan bahwa kreativitas merupakan untuk menciptakan sesuatu yang baru, bisa berupa suatu ide ataupun metode untuk dapat memecahkan suatu permasalahan, serta bisa pula berupa penciptaan

E. Konsep Pemantulan dan Pembiasan Cahaya

1. Pemantulan Cahaya

  a. Hukum pemantulan cahaya

  1. Sinar datang, garis normal dan sinar pantul berada pada satu titik dan terletak pada satu bidang datar

  2. Besarnya sudut datang sama dengan sudut pantul

  θ 1 θ 2 Gambar 1. Pemantulan Cahaya

  Keterangan gambar: (1) : berkas sinar datang (2) : berkas sinar pantul N : garis normal θ

  1 : besar sudut yang mengapit (1) dan N (besar sudut datang)

  θ

  2 : besar sudut yang mengapit N dan (2) (besar sudut pantul)

  b. Pemantulan cermin datar

  Cermin datar adalah cermin yang mempunyai permukaan pantul melukis minimal dua sinar yang datang dari benda menuju ke cermin dan melukis sinar pantulnya sesuai dengan hukum pemantulan yaitu sudut datang = sudut pantul; (2) perpanjang sinar pantul pertama dan kedua hingga berpotongan di belakang cermin. Titik perpotongan tersebut menunjukkan letak pembentukan bayangan yang dihasilkan. Pembentukan bayangan dilihat pada gambar di bawah:

  

Gambar 2. Pembentukan Bayangan pada Cermin Datar

  Dari pembentukan bayangan di atas dapat diketahui sifat bayangan dari cermin datar adalah (1) bayangan maya atau tidak dapat ditangkap oleh layar, (2) bayangan tegak seperti benda aslinya, (3) simetris artinya bentuk dan tinggi bayangan sama dengan benda, (4) berkebalikan sisi artinya sisi kanan benda terlihat menjadi sisi kiri benda, (5) jarak benda ke cermin sama dengan jarak bayangan ke cermin.

c. Pemantulan cermin cekung

  Cermin cekung bersifat mengumpulkan berkas sinar (konvergen). Berkas

  Gambar 3. Pemantulan pada Cermin Cekung

  Keterangan gambar: Gambar a : berkas sinar datang sejajar sumbu utama dipantulkan mengumpul di F Gambar b : berkas sinar datang melalui titik F dipantulkan sejajar sumbu utama

  Pemantulan sinar-sinar istimewa pada cermin cekung yaitu (1) sinar datang yang sejajar sumbu utama dipantulkan melalui titik fokus; (2) sinar datang yang melalui titik fokus dipantulkan sejajar dengan sumbu utama; (3) sinar datang yang melalui titik pusat kelengkungan cermin dipantulkan melalui titik tersebut. Pemantulan sinar-sinar istimewa pada cermin cekung digambarkan sebagai berikut:

  Gambar 4. Sinar Istimewa pada Cermin Cekung Keterangan gambar: Titik O : titik tengah cermin Titik F : titik fokus cermin Tititk M : titik pusat kelengkungan cermin Gambar (1) : menunjukkan sinar istimewa (1) cermin cekung Gambar (2) : menunjukkan sinar istimewa (2) cermin cekung Gambar (3) : menunjukkan sinar istimewa (3) cermin cekung

  Cermin cekung memiliki 4 ruang. Ruang I benda terletak antara titik O dan titik F, ruang II benda terletak antara titik F dan M, ruang III benda terletak dibelakang M (daerah sebelah kiri M) dan ruang IV benda terletak di belakang cermin. Setiap ruang pada cermin cekung menunjukkan sifat bayangan yang berbeda. Berikut beberapa contoh gambar pembentukan bayangan pada cermin cekung:

  Gambar 5. Pembentukan Bayangan pada Cermin Cekung

  1. Gambar (1) menunjukkan bila benda diletakkan di belakang titik M maka

  2. Gambar (2) menunjukkan bila benda diletakkan antara titik F dan M maka bayangan yang dihasilkan nyata, terbalik dan diperbesar

  3. Gambar (3) menunjukkan bila benda terletak antara titik O dan F maka bayangan yang dihasilkan maya, tegak dan diperbesar

  4. Sifat yang lain, bila benda diletakkan tepat di titik M maka bayangan yang dihasilkan nyata, terbalik dan ukurannya sama besar dengan bendanya

  5. Bila benda diletakkan tepat di titik F maka bayangan yang dihasilkan adalah tak terhingga sebab sinar-sinar pantulnya tidak berpotongan Persamaan yang digunakan untuk menghitung jarak benda dan bayangan

  1

  1

  1

  • cermin cekung sebagai berikut: = dan R = 2f dengan s merupakan jarak

  '

  s s f

  benda ke cermin, s’ menunjukkan jarak bayangan ke cermin, f adalah fokus cermin dan R adalah jari-jari kelengkungan cermin. Perbesaran bayangannya ' '

  s h

  dirumuskan sebagai M = = dengan h = tinggi benda dan h’ menunjukkan

  s h tinggi bayangan yang dihasilkan.

d. Pemantulan cermin cembung

  Cermin cembung bersifat menyebarkan berkas sinar (divergen). Berkas sinar yang datang sejajar sumbu utama dipantulkan menyebar seolah-olah berasal

  Gambar 6. Pemantulan pada Cermin Cembung

  Keterangan gambar: Gambar (a): sinar datang sejajar sumbu utama dipantulkan seolah-olah dari titik F Gambar (b) : sinar datang menuju titik F dipantulkan sejajar sumbu utama

  Pantulan sinar istimewa cermin cembung sebagai berikut: (1) sinar datang yang sejajar sumbu utama dipantulkan seolah-olah berasal dari titik fokus; (2) sinar datang yang menuju titik fokus dipantulkan sejajar sumbu utama; (3) sinar datang menuju ke titik pusat kelengkungan M dipantulkan kembali seakan-akan datang dari titik pusat lengkung tersebut. Berikut gambar pantulan sinar istimewanya:

  Untuk melukis pembentukan bayangan pada cermin cembung, diperlukan langkah-langkah sebagai berikut: (1) melukis minimal menggunakan dua sinar istimewa yang ada; (2) sinar selalu datang dari depan cermin dan dipantulkan kembali ke depan, perpanjangan sinar-sinar di belakang cermin dilukis dengan garis putus-putus; (3) perpotongan kedua sinar pantul menunjukkan letak bayangan yang dihasilkan. Perpotongan yang diperoleh dari perpanjangan sinar pantul menunjukkan bahwa bayangan yang dihasilkan adalah maya atau semu, seperti yang ditunjukkan di bawah ini:

  Gambar 8. Pembentukan Bayangan pada Cermin Cembung

  Gambar di atas menunjukkan bahwa bila benda diletakkan di depan cermin cembung, maka bayangan yang dihasilkan selalu maya, tegak dan diperkecil dari ukuran benda aslinya.

  Persamaan yang digunakan pada cermin cekung berlaku juga pada cermin

  1

  1

  1

  1

  • cembung yaitu untuk mencari fokus f R dan = , sedangkan untuk

  

=

2 f s s '

  ' ' s h

  mencari perbesaran bayangannya M = = . Pada cermin cembung titik fokus

  s h

  (F) dan titik pusat kelengkungan cermin (M) terletak di belakang cermin, oleh sebab itu dalam menggunakan persamaan di atas jarak fokus (f) dan jari-jari lengkung cermin (R) bertanda negatif. Untuk benda nyata di depan cermin maka jarak benda ke cermin (s) bertanda positif, jarak bayangan (s’) yang diperoleh dari perhitungan haruslah bertanda negatif yang berarti pula bayangan yang dihasilkan terletak di belakang cermin cembung atau bersifat maya.

2. Pembiasan Cahaya

a. Hukum pembiasan cahaya

  Pembiasan terjadi ketika cahaya melewati dua medium yang berbeda kerapatannya. Hukum snelilius mengemukakan:

  1. Sinar datang, sinar bias dan garis normal berpotongan pada satu titik dan terletak pada satu bidang datar.

  2. Sinar datang dari medium yang kurang rapat ke medium yang lebih rapat dibiaskan mendekati garis normal.

  3. Sinar datang dari medium yang lebih rapat ke medium yang kurang rapat dibiaskan menjauhi garis normal.

  4. Sinar datang secara tegak lurus terhadap bidang batas dua medium tidak dibiaskan melainkan diteruskan.

  1 θ 2 θ 1 θ 2 θ 1

  θ 2 θ

Gambar 9. Pembiasan Cahaya

  Keterangan gambar: Gambar a : sinar datang dari medium kurang rapat (udara) ke medium lebih rapat (air) dibiaskan mendekati garis normal.

  Gambar b : sinar datang dari medium lebih rapat (air) ke medium kurang rapat (udara) dibiaskan menjauhi garis normal.

b. Indeks Bias Relatif

  Indeks bias relatif adalah konstanta indeks bias jika cahaya datang dari medium satu ke medium yang lain. Secara matematis dapat dituliskan dituliskan 21 1 2 sin sin

  n r i n n

  = = dengan n

  1 = indeks bias mutlak medium 1 ; n 2 = indeks bias mutlak medium 2 ; i = sudut datang di medium 1 ; r = sudut bias di medium 2.

  Jika n

  1 < n 2 maka i > r jika n 1 > n

2 maka i < r.

c. Pembiasan lensa cembung (lensa konvergen)

  Lensa cembung memiliki bagian tengah lebih tebal dari pada bagian tepinya. Sinar-sinar bias pada lensa ini bersifat mengumpul seperti gambar di bawah ini:

  

Gambar 10. Pembiasan pada Lensa Cembung

  Tiga sinar istimewanya: (1) Sinar datang sejajar sumbu utama lensa dibiaskan melalui titik fokus aktif (F

  1 ). (2) Sinar datang melalui titik fokus pasif

  (F

  2 ) dibiaskan sejajar sumbu utama. (3) Sinar datang melalui titik pusat optik

  diteruskan tanpa pembiasan. Sinar-sinar istimewanya di gambarkan di bawah ini:

  

Gambar 11. Sinar Istimewa pada Lensa Cembung

d. Pembiasan lensa cekung Lensa cekung memiliki bagian tengah lebih tipis dari pada bagian tepinya.

  Sinar-sinar bias pada lensa ini bersifat memencar seperti gambar di bawah ini:

  Gambar 12. Pembiasan Lensa Cekung

  Tiga sinar istimewa pada lensa cekung: (1) Sinar datang sejajar sumbu utama lensa dibiaskan seakan-akan berasal dari titik fokus aktif (F

  1 ). (2) Sinar datang

  seakan-akan menuju ke titik fokus pasif (F ) dibiaskan sejajar sumbu utama. (3)

  2 Sinar datang melalui titik pusat optik diteruskan tanpa mengalami pembiasan.

  

Gambar 13. Sinar Istimewa Lensa Cekung

BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dan kualitatif. Penelitian kuantitatif adalah penelitian dengan menggunakan perhitungan statistik. Penelitian kualitatif yaitu penelitian yang dimaksudkan untuk memperoleh

  pemahaman terhadap suatu peristiwa secara mendalam tanpa menggunakan analisa statistik.

  B. Populasi dan Sample Penelitian

  Populasi dari penelitian ini adalah SMA Negeri 2 Yogyakarta. Sampel penelitian ini adalah siswa-siswa kelas X SMA Negeri 2 Yogyakarta, yang

  6 berjumlah 34 siswa.

  C. Tempat dan Waktu Penelitian

  Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret 2007 di SMA Negeri 2 Yogyakarta.

D. Treatment Penelitian

  Treatment dari penelitian ini dimaksudkan untuk memberikan perlakuan- perlakuan kepada siswa yang akan diteliti, agar nantinya dapat memperoleh data yang diharapkan. Treatment yang digunakan adalah pembelajaran dengan menerapkan model inteligensi ganda yang konstruktivis pada pokok bahasan pemantulan dan pembiasan cahaya. Adapun beberapa treatment yang akan dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung sebagai berikut:

  1. Praktikum Praktikum dilaksanakan menggunakan modul kegiatan siswa yang berdasarkan pada inteligensi ganda yang konstruktivis. Praktikum ini terbagi menjadi dua tahap yaitu praktikum untuk melihat peristiwa pemantulan cahaya menggunakan alat optik cermin dan tahap berikutnya melihat peristiwa pembiasan cahaya menggunakan alat optik lensa. Modul kegiatan praktikum siswa selengkapnya dapat dilihat di lampiran 4.

  2. Presentasi dan Diskusi Presentasi dan diskusi ini sebagai media pembentukan kreativitasan siswa dalam pemahaman konsep yang terkait. Presentasi dilakukan secara berkelompok. Masing-masing kelompok bebas mengekspresikan hasil presentasi dari tugas yang telah diberikan sebelumnya. Diskusi dilakukan kelompok lain yang tidak sedang presentasi. Adapun lembar pengamatan pada tahap ini dapat dilihat di lampiran 8.

  3. Simulasi Komputer Simulasi komputer ini bersifat pembelajaran yang didalamnya terdapat unsur- unsur inteligensi ganda yang dikemas secara konstruktivis. Simulasi dikemas menjadi dua tahap, tahap pertama simulasi komputer dipandu dan dilakukan sendiri oleh peneliti. Pada tahap ini selain memberikan penjelasan mengenai topik pemantulan dan pembiasan cahaya pada cermin dan lensa juga merangkum hasil presentasi dan praktikum yang telah dilakukan oleh para siswa sebelumnya. Tahap kedua, siswa mengakses sendiri materi simulasi yang telah disiapkan oleh peneliti. Adapun contoh simulasi peneliti terlampir pada lampiran 11.

E. Instrumen Penelitian

  Dalam penelitian ini terdapat dua macam instrumen yang digunakan yaitu instrumen untuk kegiatan pembelajaran dan instrumen untuk pengumpulan data.

  Instrumen yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran meliputi Modul kegiatan siswa dan simulasi komputer. Sedangkan instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data penelitian berupa tes hasil belajar pre test dan post test, presentasi-diskusi dan kuesioner untuk melihat sikap siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Masing-masing istrumen dijelaskan sebagai berikut:

  1. Modul Kegiatan Siswa Modul kegiatan ini digunakan sebagai panduan bagi siswa dalam pelaksaan praktikum menggunakan model inteligensi ganda yang konstruktivis. (Lampiran 4)

  2. Simulasi komputer Simulasi komputer digunakan sebagai media untuk membantu pembelajaran menggunakan model inteligensi ganda yang konstruktivis.

  Simulasi komputer dibuat oleh peneliti yang berisi konsep-konsep pemantulan dan pembiasan cahaya. Simulasi ini dibuat dalam bentuk presentasi power point.

  3. Soal Pre test dan Post test Instrumen ini bertujuan untuk mengetahui sampai sejauh mana pemahaman konsep siswa sebelum dan setelah mengikuti pembelajaran dengan menggunakan model inteligensi ganda yang konstruktivis. Sebelum pembelajaran siswa diberi pre test mengenai materi pemantulan dan pembiasan cahaya. Setelah pembelajaran selesai siswa diberi post test mengenai materi yang sama. Hasil yang diperoleh dari pre test dan pos test kemudian dibandingkan, untuk melihat hasil yang diperoleh tersebut dapat

  4. Kuesioner Kuesioner disini merupakan kumpulan dari sejumlah pertanyaan tertulis yang bertujuan untuk memperoleh informasi yang diperlukan dari siswa. Isi kuesioner ini untuk melihat sikap siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Sikap yang ditunjukkan dikelompokkan menjadi: sikap sangat positif, positif, negatif dan sangat negatif terhadap proses pembelajaran fisika yang berlangsung. Setiap sikap yang dihasilkan menunjukkan sampai sejauh mana ketertarikan siswa dalam pembelajaran fisika menggunakan model inteligensi ganda yang konstruktivis pada pokok bahasan pemantulan dan pembiasan cahaya.

  5. Lembar pengamatan kegiatan siswa Lembar pengamatan kegiatan ini terdiri dari pengamatan kegiatan siswa selama proses praktikum, presentasi dan diskusi berlangsung.

  Pengamatan difokuskan pada keterlibatan siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Keterlibatan siswa yang diamati meliputi: keaktifan yang ditunjukkan siswa selama proses pembelajaran berlangsung, kreativitasan yang ditunjukkan siswa selama proses pembelajaran berlangsung, inteligensi yang menonjol pada saat melakukan kegiatan pembelajaran dan proses konstruksi yang terjadi selama proses pembelajaran berlangsung.

F. Metode Analisis Data

  Data hasil penelitian akan dianalisis dengan langkah-langkah sebagai berikut:

  1. Peningkatan pemahaman konsep siswa (untuk hasil test) Test hasil belajar dalam penelitian ini digunakan untuk mengetahui ada tidaknya peningkatan pemahaman konsep siswa selama proses pembelajaran fisika berlangsung menggunakan model inteligensi ganda yang konstruktivis. Test hasil belajar diperoleh dari penilaian pre test dan post test. Soal pre test dan post test diberikan dalam bentuk soal uraian, yang bertujuan untuk melihat sampai sejauh mana jawaban siswa dapat menunjukkan adanya perbedaan peningkatan pemahaman konsep siswa yang terjadi saat pre test (sebelum dilakukan pembelajaran) dan pada saat post test (setelah dilakukan pembelajaran). Jumlah skor dari setiap soal berbeda, tergantung dari bobot soal yang disajikan. Nilai maksimal yang diperoleh dalam hasil belajar siswa ditunjukkan dalam bentuk puluhan, artinya nilai maksimal (angka tertinggi) yang dicapai bila setiap soal terjawab dengan benar adalah sepuluh (10). Soal

  pre test dan post test dapat dilihat di lampiran 1 dan lampiran 2 . Peningkatan

  pemahaman konsep siswa dianalisis dengan menggunakan T-Test untuk kelompok dependen, yang dirumuskan sebagai berikut:

  X −

  X

  ( ) 2 1 T = re al 2

  ⎡ ⎤ 2 ( ) ∑ D ∑ D −

  ⎢ ⎥ N

  ⎣ ⎦ N ( N − 1 )

  Keterangan:

  X

  1 = skor pre test

  X

  2 = Skor post test

  D = Perbedaan antara skor tiap subjek = X

  2 – X

  1 N = Jumlah pasangan skor

  D f = N – 1 T Critical di peroleh dari tabel dengan level signifikan α = 0.05.

  Jika |T real | > |T critical | maka signifikan, berarti terjadi peningkatan pemahaman konsep siswa. Jika < |T real | |T critical | maka tidak signifikan, berarti tidak terjadi peningkatan pemahaman konsep siswa.

  2. Kuesioner Kuesioner diberikan dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan tertulis yang terdiri dari 20 pertanyaan. Setiap pertanyaan, didalamnya terdapat empat pilihan pernyataan yang mengungkapkan sikap sangat setuju, setuju, tidak setuju dan sangat tidak setuju. Penskoran diberikan untuk ke empat pilihan pernyataan tersebut. Adapun penskoran dilakukan sebagai berikut: a. SS (Sangat Setuju) diberi skor 3

  b. S (Setuju) diberi skor 2

  c. TS (Tidak Setuju) diberi skor 1

  d. STS (Sangat Tidak Setuju) diberi skor 0 Dari total skor dan presentase yang diperoleh oleh masing-masing siswa dalam pengisian kuesioner, selanjutnya peneliti mengklasifikasikan sikap siswa terhadap pembelajaran menjadi empat kriteria sebagai berikut: sikap sangat positif, positif, negatif dan sangat negatif. Pengklasifikasian kriteria sikap tersebut di dasarkan pada perhitungan interval sebagai berikut:

  Klasifikasi Interval Sangat Positif 48-60

  Positif 35-47 Negatif 22-34

  Sangat Negatif < 22 Catatan perhitungan interval :

  Total Skor Pernyataan Jumlah Soal Skor

  Jumlah Soal x Skor Sangat Setuju

  20

  3

  60 Setuju 20

  2

  40 Tidak Setuju

  20

  1

  20 Sangat Tidak Setuju

  20 Dengan mengambil total skor 30 diantara pernyataan Setuju dan Tidak Setuju, maka interval dibuat dengan pengandaian perhitungan sebagai berikut: Pengandaian nilai terkecil

  Pilihan Jumlah Skor yang Pernyataan

  Pernyataan diperoleh (*)

  S 5 10 TS 15 15

  Total skor dari ke dua pernyataan

  25 (*) Skor yang diperoleh = Pilihan jumlah pernyataan dikali dengan skor masing-masing pernyataan (S skor 2 dan TS skor 1).

  Pengandaian nilai terkecil ini sebagai ketentuan dari pernyataan Tidak Setuju untuk kriteria sikap Negatif. Pengandaian nilai terbesar

  Pilihan Jumlah Skor yang Pernyataan

  Pernyataan diperoleh

  S 15 30 TS 5 5

  Total skor dari kedua pernyataan

  35 Pengandaian nilai terbesar ini sebagai ketentuan dari pernyataan Setuju untuk sikap Positif.

  Jadi secara keseluruhan:

  35 Sikap Positif Pernyataan S 40

  30 TS 20 Sikap Negatif

  34 Dengan batas 34 sebagai sikap negatif dan 35 sebagai sikap positif maka Sikap Positif 35 – 47 Sikap Negatif 22 – 34 Demikian pula saat menentukan sikap Sangat Positif dan Sangat Negatif, dengan masing-masing interval 13.

  Presentase ketertarikan sikap dari keseluruhan siswa selama mengikuti proses pembelajaran menggunakan model inteligensi ganda yang konstruktivis dihitung dengan cara membagi jumlah skor yang dicapai dengan skor total kemudian dikalikan dengan 100 %.

  Jumlah skor yang dicapai × 100% Jumlah skor total

  3. Lembar pengamatan kegiatan siswa Lembar pengamatan kegiatan siswa ini dilihat dari segi kualitatif, artinya peneliti menggunakan inderanya untuk mengamati kegiatan siswa selama proses pembelajaran berlangsung menggunakan model inteligensi ganda yang konstruktivis. Lembar pengamatan digunakan oleh peneliti untuk membantu mengamati dan mencatat peristiwa-peristiwa (informasi-informasi) yang dibutuhkan dalam proses pengambilan data. Hal-hal yang diamati berupa aktifitas siswa selama proses pembelajaran berlangsung yang didalamnya terdapat kreativitas siswa dan inteligensi siswa yang menonjol pada saat melakukan kegiatan pembelajaran. Berikut contoh lembar pengamatan

  Tabel 3. Contoh lembar pengamatan kegiatan siswa pada saat praktikum

  Keterlibatan Kegiatan yang Pengalaman Inteligensi Kelompok selama mendukung proses yang

  Praktikum kreativitas siswa konstruksinya ditekankan Kelompok 1 Kelompok 2 Kelompok 3 .........

  Lembar pengamatan untuk presentasi dan diskusi selengkapnya dapat dilihat di lampiran.

G. Keterbatasan Peneliti

  Keterbatasan penelitian ini tidak lain adalah penelitian ini tidak menggunakan kelas pembanding dengan sampel yang berbeda.

  Peneliti tidak meneliti apakah ada perbedaan antara kelas yang diberi perlakukan dengan pembelajaran menggunakan metode Inteligensi ganda yang konstruktivis dengan kelas yang tidak diberi perlakukan dengan menggunakan metode tersebut. Adanya keterbatasan penelitian ini dikarenakan waktu penelitian sangat singkat.

BAB IV DATA DAN ANALISIS DATA A. Pelaksanaan Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 2 Yogyakarta, Bener Tegalrejo Yogyakarta pada tanggal 2 Maret 2007 sampai

  dengan tanggal 4 Mei 2007. Sampel dari penelitian ini adalah siswa kelas X

  6 yang berjumlah 34 siswa.

  Penelitian ini bersifat langsung artinya peneliti memberikan treatment yang berupa perlakuan-perlakuan dalam hal pengajaran langsung kepada siswa- siswa yang terkait. Pembelajaran yang bervariasi diambil sebagai contoh dalam penelitian ini yakni menerapkan pembelajaran menggunakan model inteligensi ganda yang konstruktivis pada pokok bahasan pemantulan dan pembiasan cahaya. Pembelajaran yang dimaksud bervariasi disini berupa pembelajaran menggunakan metode praktikum, presentasi-diskusi, dan simulasi komputer.

  Masing-masing pembelajaran dilaksanakan pada saat jam pelajaran berlangsung yaitu pada setiap hari rabu dan jumat.

  Sebelum pelaksanaan penelitian, peneliti melakukan observasi pembelajaran pada subjek kelas yang akan diteliti. Observasi dilaksanakan sebanyak 4 kali pertemuan (2 minggu) pada saat pembelajaran fisika berlangsung. dengan pengerjaan soal-soal latihan. Secara keseluruhan siswa tampak kurang bersemangat dalam mengikuti pelajaran dikarenakan siswa hanya duduk, mendengarkan penjelasan materi oleh guru, mencatat materi yang dituliskan guru di papan tulis dan pengerjaan soal-soal latihan. Suasana kelas dalam keadaan tenang dan sepi hanya terdengar suara guru pada saat menjelaskan.

  Penelitian 2 Maret 2007 diawali dengan pemberian tanda pengenal siswa (callcard) berupa nama panggilan dari siswa sendiri, yang bertujuan untuk memudahkan peneliti untuk mengamati proses perkembangan dari setiap siswa secara menyeluruh. Tahap selanjutnya adalah pengerjaan soal pre test, setelah 45 menit berakhir peneliti membagi siswa ke dalam 9 kelompok kecil untuk persiapan pertemuan presentasi dan diskusi selanjutnya. Adapun tujuan dari pembagian kelompok ini diharapkan agar siswa dapat saling belajar bersama dengan cara berdiskusi, berinteraksi dan saling membantu satu sama lain.

  Pada 7 Maret 2007 pembelajaran yang hanya 45 menit diawali dengan pengenalan alat praktikum dan penjelasan modul praktikum. Pengenalan alat dan penjelasan modul praktikum ini dimaksudkan agar siswa mendapatkan gambaran mengenai alat praktikum itu sendiri, cara kerja alat dan langkah-langkah kegiatan selama praktikum.

  Pembelajaran menggunakan metode praktikum dilaksanakan di laboratorium Fisika selama 90 menit. Selama praktikum siswa mencoba-coba alat smenjawab soal latihan yang ada di dalam modul kegiatan siswa, jawaban dari soal tersebut beserta data dan analisis data kemudian di bahas dan didiskusikan bersama ke dalam kelompok besar.

  Pembelajaran selanjutnya adalah presentasi dan diskusi bersama. Presentasi terbagi menjadi 9 kelompok, masing-masing kelompok mempresentasikan materi yang terpilih dengan kreativitas dari masing-masing kelompok. Beberapa kelompok mempresentasikan materi pemantulan dan pembiasan cahaya dengan menggunakan media powerpoint, poster, puisi, drama dan pembuatan alat peraga sederhana. Presentasi dan diskusi ini dimaksudkan agar dapat menumbuhkan kreativitas siswa dalam hal berpikir dan menindak lanjuti konsep materi yang telah diperoleh (ringkasan dari presentasi siswa dapat dilihat di lampiran).

  Pembelajaran diakhiri dengan metode simulasi komputer. Isi dari pembelajaran ini berupa penjelasan berupa penegasan kembali materi pemantulan dan pembiasan cahaya dengan menggunakan bantuan media komputer. Ada dua tahap yang dilakukan dalam metode ini yaitu materi dijelaskan oleh peneliti dengan cara mempresentasikan materi menggunakan program powerpoint dan beberapa simulasi gambar yang berkaitan dengan pokok bahasan pemantulan dan pembiasan cahaya di ruangan Multimedia. Tahap ke dua adalah siswa diajak ke laboratorium komputer untuk mengakses sendiri materi yang telah dipersiapkan

  Setelah siswa selesai melakukan proses pembelajaran menggunakan model inteligensi ganda yang konstruktivis, siswa mengerjakan soal post test. Tahap paling akhir dari penelitian ini siswa diberi kuesioner yang berisi pertanyaan- pertanyaan yang digunakan untuk mendapatkan informasi yang terkait pada diri siswa.

  Secara keseluruhan dapat dilihat siswa mengikuti proses pembelajaran dengan penuh antusias. Hal ini dapat dilihat pada saat peneliti kekurangan waktu untuk mengajar, para siswa menyetujui untuk diadakan tambahan jam pelajaran sore hari. Hal ini tentu saja sangat membantu bagi peneliti untuk bisa tetap menyelesaikan materi sesuai jadwal yang diberikan oleh pihak sekolah.

  Ada beberapa kendala yang dialami selama penelitian (proses belajar mengajar) berlangsung antara lain dari segi teknis tanggal 20 sampai tanggal 27 Maret 2007 para siswa menempuh Ujian Sisipan Sekolah. Tanggal 6 April 2007 libur wafat Isa Almasih, tanggal 16 sampai tanggal 18 April 2007 para siswa kelas X dan XI libur Ujian Nasional kelas XII. Kendala juga dirasakan dari segi fasilitas ruangan yang digunakan, mengingat ruang utama kelas X-6 sedang direnovasi maka para siswa melakukan aktifitas pembelajaran di laboratorium

  IPS yang letaknya di sebelah kantor TU yang berada diluar halaman gedung utama sekolah sehingga jarak kelas sementara dengan kantin cukup jauh mengakibatkan pembelajaran setelah jam istirahat selalu tertunda kurang lebih

B. Data dan Analisis Data

1. Ada tidaknya peningkatan pemahaman konsep siswa dalam pembelajaran

  8 Nn

  81

  6 Nn

  

6 35 77 -42

  1 764

  7 Nn

  

7 38 70 -32

  1 024

  8

  5

  68 85 -17 289

  9 Nn

  9

  73 108 -35 1 225

  10 Nn

  10

  35 95 -60 3 600

  78 87 -9

  

fisika menggunakan model inteligensi ganda yang konstruktivis pada pokok

bahasan pemantulan dan pembiasan cahaya

  Untuk mengetahui ada tidaknya peningkatan pemahaman konsep siswa, peneliti menggunakan data satu kelompok yang ditest dua kali yaitu pre test dan

  

1 63 100 -37

  

post test . Dari keseluruhan jumlah siswa (34 siswa) data yang diambil hanya 33

siswa, hal ini dikarenakan pada saat awal penelitian satu siswa absen saat pre test.

  Data yang diperoleh secara lengkap ada pada lampiran 13, sedangkan rangkuman data ditunjukkan pada tabel berikut dan kemudian dianalisis menggunakan T-test.

  Tabel 4. Hasil Perhitungan Pre test dan Post test No urut Kode siswa Skor Pre test (X 1 ) Skor Post test (X 2 ) D = (X

  1 -X

  2 ) D

  2

  1 Nn

  1 369

  3 025

  2 Nn

  

2 58 96 -38

  1 444

  3 Nn

  

3 70 115 -45

  2 025

  4 Nn

  

4 30 85 -55

  5 Nn

  12 Nn

  29 45 88 -43

  1 024

  25 Nn

  25

  47 78 -31 961

  26 Nn

  26

  50 90 -40 1 600

  27 Nn

  27 53 110 -57

  3 249

  28 Nn

  28 58 100 -42

  1 764

  29 Nn

  1 849

  24 Nn

  2 500

  33 1864 1 = =

  56

  Jumlah = 1 864 = 3 137 = -1 273 = 55 775 48 ,

  3 136

  33 59 115 -56

  33 Nn

  32 50 100 -50

  30 Nn

  32 Nn

  72 100 -28 784

  31

  31 Nn

  4 356

  30 49 115 -66

  24 73 105 -32

  1 089

  12

  15 Nn

  17 Nn

  48 92 -44 1 936

  16

  16 Nn

  58 93 -35 1 225

  15

  1 024

  93 115 -22 484

  14 73 105 -32

  14 Nn

  2 116

  13 27 73 -46

  13 Nn

  66 82 -16 256

  17

  18 Nn

  23 55 88 -33

  21 Nn

  23 Nn

  1 521

  22 68 107 -39

  22 Nn

  41 110 -69 4 761

  21

  2 025

  18

  20 53 98 -45

  20 Nn

  58 70 -12 144

  19

  19 Nn

  55 85 -30 900

  X

  06 ,

  38 ⎥⎦ ⎤

  ⎣ ⎡ − −

  − = real T

  ( )

  32

  33

  33 . 620 529 .

  1 775 .

  55 58 ,

  ⎢⎣ ⎡

  55 48 , 56 06 ,

  − = real

  T [ ] 056 .

  1 . 106 93 ,

  . 49 775

  55 58 ,

  38 −

  = real

  T

  58 ,

  95 2 − ⎥ ⎦ ⎤ ⎢

  33 1273 775 .

  95

  Keterangan:

  33 3137 2 = =

  X ( )

  ( ) ( )

  1 2 2 1 2 − ⎥ ⎦ ⎤

  ⎢ ⎣ ⎡ ∑

  − ∑ − =

  N N N D D

  X X T real

  X

  33

  1 = skor pre test

  X

  2

  = skor post test D = perbedaan antara skor tiap subjek (X

  1 – X 2 )

  N = jumlah pasangan skor D f = N – 1

  ( ) ( ) ( )

  1

  33

  38

  38 ,

  58 T = real 6 , 314 38 ,

  58 T = real 2 , 512

  T = real 15 ,

  53 D f = N -1 = 33 – 1 = 32 T = 2,042 dengan level signifikan

  critical α = 0,05

  Karena |T real | lebih besar dari pada |T critical | maka dapat dikatakan perbedaan pre

  test dan post test signifikan, hal ini berarti siswa mengalami peningkatan

  pemahaman konsep selama proses pembelajaran fisika berlangsung dengan menggunakan model inteligensi ganda yang konstruktivis pada pokok bahasan pemantulan dan pembiasan cahaya.

  

2. Ada tidaknya ketertarikan sikap siswa dalam pembelajaran fisika

menggunakan model inteligensi ganda yang konstruktivis pada pokok bahasan pemantulan dan pembiasan cahaya

  Selama proses pembelajaran berlangsung peneliti mengamati sikap siswa dengan menggunakan lembar kuesioner (lampiran hal...). Data hasil kuesioner sikap siswa ditunjukkan secara lengkap pada lampiran.

  Peneliti kemudian menganalisis apakah pembelajaran fisika pada pokok bahasan pemantulan dan pembiasan cahaya menggunakan model inteligensi ganda yang konstruktivis dapat menumbuhkan ketertarikan sikap siswa selama proses pembelajaran berlangsung.

  Berikut tabel klasifikasi sikap siswa selama pembelajaran berlangsung

  Tabel 5. Klasifikasi Sikap Siswa Selama Proses Pembelajaran No Kode Presentase Total Skor Klasifikasi Urut Siswa (%)

  1 Nn 42 70,00 Positif

  1

  2 Nn

  2 49 81,67 Sangat positif

  3 Nn

  3 37 61,67 Positif

  4 Nn

  4 39 65,00 Positif

  5 Nn 42 70,00 Positif

  5

  6 Nn 40 66,67 Positif

  6

  7 Nn

  7 40 66,67 Positif

  8 Nn

  8 45 75,00 Positif

  9 Nn

  9 48 80,00 Sangat positif

  10 Nn

  10 37 61,67 Positif

  11 Nn 34 56,67 Negatif

  11

  12 Nn

  12 40 66,67 Positif

  13 Nn

  13 39 65,00 Positif

  14 Nn

  14 48 80,00 Sangat positif

  15 Nn 37 61,67 Positif

  15

  16 Nn 37 61,67 Positif

  16

  17 Nn

  17 40 66,67 Positif

  18 Nn

  18 39 65,00 Positif

  19 Nn

  19 36 60,00 Positif

  21 Nn

  32 46 76,67 Positif

  30 Nn

  30

  48 80,00 Sangat positif

  31 Nn

  31 40 66,67 Positif

  32 Nn

  33 Nn

  29 Nn

  33 40 66,67 Positif

  Total skor yang dicapai 1 386

  Secara keseluruhan dari tabel klasifikasi sikap siswa di atas dapat dirangkum dalam tabel di bawah yakni banyaknya jumlah siswa yang masuk dalam klasifikasi sikap tertentu.

  

Tabel 6. Jumlah Presentase Siswa Dalam Klasifikasi Sikap Tertentu

  Klasifikasi Interval Jumlah Siswa Jumlah Siswa dalam Presentase

  Sangat Positif 48-60 6 18,18 Positif 35-47 26 78,78

  29 39 65,00 Positif

  28 41 68,33 Positif

  21 49 81,67 Sangat positif

  42 70,00 Positif

  22 Nn

  22 44 73,33 Positif

  23 Nn

  23 46 76,67 Positif

  24 Nn

  24

  25 Nn

  28 Nn

  25

  42 70,00 Positif

  26 Nn

  26 46 76,67 Positif

  27 Nn

  27 48 80,00 Sangat positif

  Negatif 22-34 1 3,03

  Presentase ketertarikan sikap untuk keseluruhan siswa selama proses pembelajaran berlangsung adalah sebagai berikut: 1386

  × 100 % = 1386 × 100 % = 70 %

  (

  60 × 33 ) 1980 Jumlah presentase yang dihasilkan di atas menunjukkan bahwa 70% siswa merasa tertarik mengikuti proses pembelajaran fisika menggunakan model inteligensi ganda yang konstruktivis. Ketertarikan para siswa ditunjukkan pula pada tabel di atas yakni 6 siswa mempunyai respon sikap sangat positif terhadap pembelajaran fisika, 26 siswa menunjukkan respon positif terhadap pembelajaran fisika dan hanya 1 siswa menunjukkan respon negatif terhadap pembelajaran fisika menggunakan model inteligensi ganda yang kontruktivis.

  

3. Ada tidaknya kreativitas siswa dalam pembelajaran fisika pada pokok

bahasan pemantulan dan pembiasan cahaya

  Kreativitas siswa selama mengikuti pembelajaran fisika pada pokok bahasan pemantulan dan pembiasan cahaya dapat terlihat dari gambaran berikut: a. Pada saat praktikum cermin dan lensa

  Antusiasme siswa dalam mengikuti pelajaran mulai terlihat pada saat demonstrasi pengenalan alat yang dilakukan oleh peneliti sehari sebelum pelaksanaan kegiatan praktikum dimulai. Saat peneliti mengenalkan alat tampak para siswa serius mendengarkan dan menyimak dengan baik, mengenai alat yang akan dipraktikumkan dan bertanya mengenai hal yang berhubungan dengan kegiatan praktikum yang akan dilaksanakan.

  Pada saat awal siswa memasuki dan berada di laboratorium fisika situasi laboratorium saat itu dalam keadaan bising (ramai). Ramainya suasana di laboratorium antara lain dikarenakan setelah siswa berada dalam kelompok kecil dan dihadapkan pada rakitan alat-alat, beberapa siswa menjadi bingung sehingga kecenderungan siswa untuk bertanya kepada kelompok lain, selain itu situasi pembelajaran di luar kelas membuat kecenderungan siswa untuk tidak tenang (berjalan-jalan melihat alat kelompok lain dan lain sebagainya). Keadaan mulai dapat dikendalikan setelah peneliti memberikan pengarahan dan petunjuk berupa review mengenai kegiatan praktikum, setelah itu keadaan siswa di dalam laboratorium berangsur angsur tenang saat mereka mulai asyik (senang) melakukan kegiatan praktikum dan berdiskusi dengan kelompok masing-masing.

  Selama kegiatan praktikum kreativitasan siswa ditunjukkan melalui kreatif dalam hal berpikir dan kreatif dalam hal bertindak. Kreatif dalam hal berpikir ditunjukkan lewat proses berpikir siswa untuk mencari ide dalam memecahkan persoalan yang dihadapi selama kegiatan praktikum berlangsung. Kreatif dalam hal bertindak ditunjukkan lewat tindakan nyata para siswa dalam kegiatan praktikum. menganalisis “bila siswa melakukan ini maka apa yang akan terjadi (sebab-

  akibat) ”. Saat diamati oleh peneliti nampak siswa saling membantu untuk

  menjelaskan kepada teman-temannya sehingga terbentuk diskusi kecil dalam kelompok masing-masing (saat praktikum pertama ada satu kelompok yang awalnya diskusi justru menimbulkan perdebatan tetapi masalah dapat terselesaikan dengan baik). Kerjasama yang baik pun terlihat selama kegiatan praktikum berlangsung.

  Pengalaman proses konstruksi pada saat praktikum terjadi melalui proses bertanya dan diskusi baik kepada teman maupun kepada peneliti. Siswa juga mencari literatur lainnya untuk membantu pelaksanaan praktikum. Tampak para siswa berusaha memahami praktikum dengan cara berani mencoba-coba alat untuk mendapatkan hasil yang baik, kemudian dibandingkan dengan kebenaran teori yang telah diketahui.

  Setelah siswa berhasil melakukan kegiatan praktikum (praktikum cermin) dan sebelum melanjutkan ke kegiatan praktikum berikutnya (praktikum lensa) kegiatan selalu diselingi dengan diskusi besar. Diskusi besar ini dilaksanakan di ruang kelas tapi juga dilaksanakan di laboratorium tempat dilaksanakannya praktikum. Diskusi ini dipimpin oleh peneliti sendiri dengan memberikan pertanyaan arahan yang ditujukan kepada satu kelompok kecil. Jawaban dari pertanyaan itu kemudian didiskusikan bersama dengan cara memperbolehkan pertanyaan yang berkaitan dengan pokok bahasan yang sedang dipraktikumkan, data dan analisis data yang diperoleh selama kegiatan praktikum dan tugas-tugas yang diberikan atau tugas yang ada dalam modul praktikum.

  b. Pada saat presentasi kelompok Presentasi terbagi menjadi sembilan kelompok kecil yang dibagi secara random (acak) yang kemudian diundi untuk mengurutkan kelompok mana yang akan memulai presentasi terlebih dahulu. Materi yang dipresentasikan adalah materi pemantulan dan pembiasan cahaya, mulai dari pemahaman akan pemantulan cahaya sampai pada aplikatif dari pemantulan dan pembiasan cahaya. Peneliti memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyiapkan presentasi ini selama tiga minggu.

  Yang menarik pada saat presentasi dimulai adalah masing-masing kelompok mempresentasikan materi yang akan disampaikan menurut gaya kreativitas siswa sendiri. Ada kelompok yang mempresentasikan materi dengan power point, ada pula yang berhasil mengekspresikan materi pemantulan dengan drama, pembacaan puisi, pembuatan poster, sampai membuat alat peraga sederhana. Berikut ditunjukkan kelompok dan materi presentasi yang dipresentasikan

  

Tabel 7. Teknik Presentasi yang Digunakan dalam Kelompok

Kelompok

Materi yang

dipresentasikan

  Teknik presentasi yang digunakan

  Kelompok 1 Pemantulan cahaya Power point

  Kelompok 2 Cermin datar Power point dan Puisi

  Kelompok 3 Cermin cekung Power point dan tanya jawab berhadiah

  Kelompok 4 Cermin cembung Poster bergambar

  Kelompok 5 Pembiasan cahaya Drama

  Kolompok 6 Lensa cembung Power point

  Kelompok 7 Lensa cekung Power point

  Kelompok 8 Aplikatif pemantulan cahaya

  Drama dan pembuatan Periskop

  Kelompok 9 Aplikatif pembiasan cahaya

  Power point bergambar Selama presentasi berlangsung tampak bahwa masing-masing kelompok berlomba untuk menampilkan sesuatu yang menarik untuk bisa dipresentasikan kepada teman kelompok lain. Kerjasama dari setiap yang diberikan. Proses diskusi dalam forum tanya jawab juga terjadi setelah presentasi kelompok berakhir. Interaksi baik secara interpersonal maupun intrapersonal juga terlihat selama presentasi ini.

  c. Pada saat pembelajaran menggunakan simulasi komputer Simulasi komputer ini sebagai sebuah sarana yang memberikan bantuan dalam media pembelajaran. Tujuan dari simulasi komputer ini untuk memberikan penjelasan kepada siswa berupa meteri penguatan (penegasan materi) pada pokok bahasan pemantulan dan pembiasan cahaya.

  Pembelajaran dengan menggunakan simulasi komputer ini terbagi menjadi dua tahap. Pada tahap pertama materi dijelaskan oleh peneliti sendiri dengan cara mempresentasikan materi di ruangan multimedia menggunakan program power point dan beberapa simulasi dari program java yang berkaitan pada pokok bahasan pemantulan dan pembiasan cahaya. Tahap kedua siswa diajak ke laboratorium komputer untuk mengakses sendiri materi yang telah dipersiapkan oleh peneliti, disini para siswa bebas untuk membaca, mencari ataupun melatih kemampuan sendiri dengan mengerjakan evaluasi yang disediakan oleh peneliti.

C. Pembahasan

  Pembelajaran menggunakan model inteligensi ganda yang konstruktivis dapat mengandung pemahaman sebagai berikut: Inteligensi ganda diibaratkan sama dengan pembelajaran yang bervariasi. Dalam pembelajaran yang bervariasi ini peneliti menggunakan tiga buah metode yaitu metode praktikum, presentasi- diskusi dan simulasi komputer. Tujuan dari pembelajaran yang bervariasi ini tidak lain dimaksudkan agar siswa merasa senang selama proses pembelajaran.

  Dengan perasaan yang senang diharapkan siswa mempunyai sikap positif selama proses belajar ataupun setelah proses pembelajaran berlangsung. Dengan sikap positif itu diharapkan pula menjadikan siswa untuk lebih tertarik dalam mempelajari pokok bahasan pemantulan dan pembiasan cahaya, sehingga dengan sikap yang terbentuk siswa dapat mengkonstruksi kembali pengetahuan yang telah diperoleh atau mungkin pengetahuan yang belum diperoleh siswa tersebut.

  Selama penelitian berlangsung proses konstruksi juga dapat dilihat saat siswa mampu menyelesaikan praktikum dengan baik, dengan berpedoman modul praktikum tanpa sebelumnya diberikan penjelasan materi. Pembahasan secara keseluruhan di bahas sebagai berikut:

1. Peningkatan pemahaman siswa dalam pembelajaran fisika menggunakan model inteligensi ganda yang konstruktivis pada pokok bahasan pemantulan dan pembiasan cahaya

  pemantulan dan pembiasan cahaya. Peningkatan pemahaman siswa dapat terlihat dari meningkatnya skor hasil test yang diperoleh siswa. Berdasarkan perhitungan analisis data (tabel 4) diperoleh |T

  real | sebesar 15,53 dan dari tabel

  nilai-nilai distribusi T-test diketahui |T critical | sebesar 2,042. Dengan demikian |T real | lebih besar daripada |T critical | sehingga dapat dikatakan dari skor hasil pre test dan post test siswa mengalami peningkatan pemahaman belajar.

  Dengan kata lain pembelajaran fisika pada pokok bahasan pemantulan dan pembiasan cahaya dengan menggunakan model inteligensi ganda yang konstruktivis meningkatkan pemahaman siswa.

  Berikut adalah gambar siswa mengerjakan soal pre test dan post test dengan sungguh-sungguh

  Gambar 14. Siswa mengerjakan Pre test dengan sungguh-sungguh

  

Gambar 15. Siswa mengerjakan Post test dengan sungguh-sungguh

2. Ketertarikan sikap siswa dalam pembelajaran fisika pada pokok bahasan pemantulan dan pembiasan cahaya

  Berdasarkan perhitungan analisis data pada tabel 5, diperoleh bahwa siswa mempunyai sikap positif selama proses pembelajaran berlangsung sebagai berikut:

  Tabel 8. Analisis Jumlah Presentase Siswa

  Klasifikasi Interval Jumlah Siswa Jumlah Siswa dalam Presentase

  Sangat Positif 48-60 6 18,18 Positif 35-47 26 78,78

  Negatif 22-34 1 3,03 Sangat Negatif < 22 0 0

  Dari keseluruhan siswa yang berjumlah 33 siswa, ada yang 6 siswa (18,18%) mempunyai sikap sangat positif, 26 siswa (78,78%) mempunyai sikap positif, 1 siswa (3,03%) mempunyai sikap negatif dan tidak ada siswa mempunyai sikap negatif (0 siswa atau 0%).

  Walaupun ada satu (3,03%) siswa yang mempunyai sikap negatif selama proses pembelajaran berlangsung apabila pembelajaran dengan menggunakan model inteligensi ganda yang konstruktivis dipersiapkan, dilaksanakan dengan baik dan waktu yang digunakan cukup lama akan memungkinkan model pembelajaran ini mempunyai peranan yang cukup besar dalam meningkatkan sikap positif siswa dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah.

  Dapat pula dikatakan bahwa pembelajaran fisika dengan menggunakan model inteligensi ganda yang konstruktivis ini dapat menumbuhkan sikap positif siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Hal ini dapat dilihat dari presentase ketertarikan sikap siswa terhadap pembelajaran fisika dengan model ini mencapai 70% skor maksimum yang ditunjukkan melalui sikap positif dalam menerima pembelajaran pemantulan dan pembiasan cahaya.

  Sikap positif menunjukkan sampai seberapa jauh siswa terlibat dalam proses belajar mengajar yang sedang berlangsung. Siswa yang menunjukkan sikap positif tampak lebih senang mengikuti pelajaran sehingga siswa lebih proses pembelajaran siswa merasa senang maka keantusiasan para siswa terlihat dari proses bentukan atau konstruksi yang terjadi dalam diri siswa.

  Ketertarikan sikap siswa dalam mengikuti pembelajaran juga tampak pada saat siswa mencoba belajar mandiri maupun belajar bersama di dalam kelas. Para siswa terlihat antusias saat bertanya aplikatif dari pemantulan dan pembiasan cahaya. Siswa mencoba untuk mengkaitkan pokok bahasan yang disampaikan dengan apa yang ada disekitar kehidupan para siswa sehari-hari.

  

3. Kreativitas siswa dalam pembelajaran fisika pada pokok bahasan

pemantulan dan pembiasan cahaya

  Pembelajaran dengan menggunakan model inteligensi ganda yang berarti pula sebagai pembelajaran yang bervariasi ternyata bila dilihat dari segi kualitatif dapat menumbuhkan kreativitas siswa selama proses pembelajaran fisika berlangsung pada pokok bahasan pemantulan dan pembiasan cahaya. Kreativitas siswa dapat dilihat sebagai berikut:

  Selama proses pembelajaran, peneliti tidak mengamati keseluruhan aspek yang terdapat pada 9 jenis inteligensi ganda yang ada pada diri anak.

  Dari sembilan inteligensi yang ada, peneliti hanya mengambil tiga buah metode (metode praktikum, metode presentasi-diskusi dan metode simulasi komputer) yang diharapkan dapat sebagai contoh pembelajaran yang

  Kreativitas dalam pola berpikir dan bertindak awalnya dapat terlihat dari metode praktikum yang dilaksanakan. Selama praktikum berlangsung siswa kreatif untuk memunculkan sebuah ide dalam mengatasi permasalahan yang ditemukan selama kegiatan praktikum berlangsung. Sebagai contoh beberapa kelompok merasa kurang puas dengan hasil bayangan yang diperoleh pada saat kegiatan praktikum cermin dan lensa, kelompok siswa tersebut tidak menggunakan layar yang disediakan oleh peneliti di laboratorium fisika, tetapi menggunakan sleyer (kain hitam) untuk melihat bayangan yang dihasilkan. Ada pula kelompok lain yang tiba-tiba meminta senter kepada peneliti dengan maksud kelompok tersebut ingin membedakan hasil bayangan yang diperoleh apabila menggunakan sumber cahaya yang berbeda, yang satu sumber cahaya berasal dari lampu pijar yang dihubungkan PLN dan sumber cahaya lain berasal dari lampu senter dengan sumber tegangannya berupa baterai.

  Kreativitasan yang muncul pada saat praktikum juga terlihat ketika beberapa kelompok berusaha untuk menggambar proses pembentukan bayangan pada cermin dan lensa dengan menggunakan beberapa sinar istimewa. Menurut siswa ide untuk menggambar pembentukan bayangan dimaksudkan untuk membantu pelaksanaan praktikum selama siswa mencari letak bayangan yang dihasilkan. Ternyata menggambar merupakan salah satu mengkomunikasikan permasalahan yang muncul dan mengatasi permasalahan tersebut bersama dengan beberapa temannya dalam kelompok.

  Disini dapat terlihat bahwa kreativitas menimbulkan proses konstruksi. Siswa yang awalnya memikirkan sebuah gagasan dalam praktikum kemudian gagasan tersebut digunakan untuk menggali suatu pengetahuan dalam bentuk merencanakan, mengumpulkan, mengolah, mengkomunikasikan hasil dari setiap kegiatan praktikum yang dijalani. Siswa yang sedang praktikum, ternyata tidak hanya melakukan kegiatan praktikum tersebut sesuai dengan modul praktikum tetapi mereka mempunyai inisiatif untuk mencoba sesuatu yang baru yang akhirnya akan memberikan tambahan pengetahuan selama proses pembelajaran berlangsung.

  Pada saat siswa melaksanakan praktikum proses bentukan atau konstruksi salah satunya juga terlihat pada saat siswa belajar untuk mengambil data, mengolah data dan menganalisis data praktikum. Siswa bersama dengan temannya dalam kelompok mencoba untuk menemukan dan berusaha mengkaji kebenaran dari suatu teori pada pokok bahasan pemantulan dan pembiasan cahaya dengan data yang diperolah pada saat praktikum. Tentu saja selama praktikum berlangsung siswa bebas untuk mencari sumber mengenai pokok bahasan pemantulan dan pembiasan cahaya.

  Pada saat inilah proses konstruksi siswa terbentuk dari pengetahuan awal

  Berikut contoh gambar suasana saat kegiatan praktikum berlangsung

  Gambar 16. Diskusi pada saat praktikum Gambar 17. Siswa mencari pembentukan bayangan saat praktikum

  Selain itu tumbuhnya kreativitas dapat pula dilihat pada saat proses pembelajaran menggunakan metode presentasi-diskusi. Kreativitasan siswa jelas terlihat saat mereka mempresentasikan materi pemantulan dan pembiasan cahaya. Seperti dilihat pada tabel 7 ada beberapa cara yang digunakan untuk mempresentasikan materi yang diperoleh. Presentasi terasa power point. Tampak para siswa berusaha mempresentasikan konsep dengan baik. Siswa juga menampilkan gambar-gambar yang dirasa mendukung dan membantu kelompok dalam presentasi. Kreativitasan seorang siswa dalam mempresentasikan konsep materi terlihat pada saat salah seorang siswa mengekspresikan konsep materi ke dalam bentuk puisi yang berjudul “Bila

  Hidup Itu Cermin”. Presentasi makin menarik ketika ada beberapa siswa

  yang mempresentasikan materi dengan drama yang berjudul “Pembiasan di

  Kantin Sekolah” dan “Kenapa Diriku Ada Dua di Sana”. Kreativitas juga

  terlihat saat beberapa siswa mempresentasikan materi dengan membuat dan mendemonstrasikan sebuah alat peraga sederhana yaitu periskop dengan dua buah cermin datar di dalamnya. Berikut contoh gambar siswa mempresentasikan cara pembuatan periskop

  Gambar 18 Siswa mempresentasikan pembuatan periskop Materi yang dipresentasikan oleh masing-masing kelompok sangat membantu dalam pembentukan pengetahuan siswa. Acuan materi yang digunakan pada saat presentasi diperoleh dari buku-buku fisika, artikel dan berbagai materi fisika yang diperoleh dari internet. Materi yang disampaikan memuat konsep-konsep yang terkait pada pokok bahasan pemantulan dan pembiasan cahaya. Dibawah ini contoh gambar siswa sedang mempresentasikan konsep pemantulan teratur.

  Gambar 19 Siswa mempresentasikan materi pemantulan cahaya

  Proses konstruksi juga jelas terlihat pada saat pembelajaran menggunakan metode presentasi-diskusi. Siswa yang merasa tertarik dan senang terhadap pembelajaran mencoba memunculkan ide untuk melaksanakan presentasi dengan metode yang berbeda dengan kelompok lainnya. Para siswa terlihat sangat kreatif untuk mempresentasikan materi yang disampaikan. Proses konstruksi terlihat saat siswa berusaha untuk kelompok lain yang tidak presentasi menjadi tertarik untuk bertanya materi yang sedang dipresentasikan. Selain itu beberapa kelompok terlihat mencari dan merumuskan permasalahan (kasus) yang berhubungan dengan materi pemantulan dan pembiasan cahaya dalam kehidupan sehari-hari. Ada yang mencoba bertanya lebih jauh “ Mengapa pada saat kita bercermin tangan kanan menjadi tangan kiri tetapi mengapa kepala tidak menjadi kaki”. Ada pula dari kelompok yang berusaha untuk membuat alat sederhana, hal tersebut dimaksudkan untuk memberikan aplikasi pembelajaran terhadap materi yang disampaikan.

  Metode simulasi komputer yang dilaksanakan oleh peneliti juga cukup menunjukkan sampai sejauh mana menumbuhkan kreativitas siswa selama belajar. Kreativitas pada saat simulasi komputer terlihat saat siswa mengakses atau belajar sendiri dengan menggunakan presentasi power point yang dibuat oleh peneliti. Simulasi-simulasi yang ada cukup membuat siswa tertarik untuk mempelajari lebih lanjut, sehingga para siswa meminta untuk diajari cara membuat presentasi dengan menggunakan power point. Dibawah ini menunjukkan gambar peneliti sedang mempresentasikan simulasi konsep pemantulan dan pembiasan cahaya

  Gambar 20. Peneliti mempresentasikan materi dengan simulasi komputer

  Proses konstruksi terlihat saat siswa mencoba untuk mencari simulasi- simulasi fisika lewat internet dan kemudian dikomunikasikan bersama dengan teman dan peneliti.

  Dari ketiga contoh model pembelajaran yang dilakukan dapat dilihat secara keseluruhan siswa terlibat dalam inteligensi kinestetik badani, interpersonal, intrapersonal, linguistik, ruang visual dan matematis logis. Atau dapat pula dikatakan pembelajaran dengan menggunakan model inteligensi ganda yang konstruktivis menumbuhkan kreativitas siswa selama proses belajar mengajar berlangsung. Proses konstruksi yang terjadi lebih ditekankan pada cara belajar siswa untuk memecahkan masalah serta belajar untuk membuat suatu keputusan menggunakan metode-metode ilmiah.

  Tabel-tabel di bawah menunjukkan inteligensi yang tampak selama proses pembelajaran berlangsung sebagai berikut:

  Tabel 9. Inteligensi yang Tampak saat Menggunakan Metode Praktikum Metode yang Materi yang dipelajari Inteligensi yang ditekankan digunakan

  Kinestetik badani, Ruang Cermin cekung dan

  Praktikum cermin visual, Interpersonal, Cermin cembung

  Intrapersonal, Matematis logis Cermin cekung dan Linguistik, Interpersonal,

  Diskusi cermin cermin cembung Intrapersonal Kinestetik badani, Ruang

  Lensa cembung dan Praktikum Lensa visual, Interpersonal,

  Lensa cekung Intrapersonal, Matematis logis

  Lensa cembung dan Linguistik, Interpersonal, Diskusi lensa

  Lensa cekung Intrapersonal

  Tabel 10. Inteligensi yang Tampak saat Menggunakan Metode Presentasi Materi yang Teknik presentasi Inteligensi yang Kelompok dipresentasikan yang digunakan ditekankan

  Kelompok 1 Pemantulan cahaya Power point Linguistik interpersonal Kelompok 2 Cermin datar Power point dan Linguistik puisi Interpersonal Kelompok 3 Cermin cekung Power point dan Linguistik tanya jawab Interpersonal

  Kelompok 4 Cermin cembung Poster bergambar Linguistik Interpersonal Ruang visual

  Kelompok 5 Pembiasan cahaya Drama Linguistik Interpersonal

  Kolompok 6 Lensa cembung Power point Linguistik Interpersonal

  Kelompok 7 Lensa cekung Power point Linguistik Interpersonal

  Kelompok 8 Aplikatif Drama dan Linguistik pemantulan cahaya pembuatan Interpersonal Periskop Kinestetik badani

  Kelompok 9 Aplikatif pembiasan Power point Linguistik cahaya bergambar dan Interpersonal demonstrasi alat Ruang Visual peraga

  Tabel 11. Inteligensi yang Tampak saat Menggunakan Metode Simulasi Komputer Materi yang Inteligensi yang Metode yang digunakan disampaikan ditekankan pada siswa

  Presentasi Peneliti Interpersonal, Pemantulan dan menggunakan simulasi Intrapersonal, Ruang pembiasan cahaya komputer visual, Matematis logis

  Siswa mengakses (belajar Intrapersonal, Pemantulan dan sendiri) menggunakan simulasi Interpersonal, Ruang

  Secara keseluruhan pembelajaran fisika menggunakan model inteligensi ganda yang konstruktivis membantu siswa dalam meningkatkan pemahaman konsep pengetahuan, meningkatkan dan mengasah kreativitasan serta model pembelajaran ini dapat menunjukkan keterlibaatan sikap siswa selama proses pembelajaran berlangsung.

  Pembelajaran fisika menggunakan model ini lebih dominan menunjukkan inteligensi kinestetik badani, linguistik, ruang visual, interpersonal, intrapersonal dan matematis logis. Diharapkan inteligensi tersebut bisa berkembang seiring pengajaran dan latihan terus menerus disertai dengan keterlibatan sikap positif terhadap pembelajaran.

D. Kesimpulan Umum

  Tabel 12. Kesimpulan Umum Hasil penelitian Tujuan Hasil penelitian

  Berdasarkan hasil yang diperoleh, peneliti menyimpulkan hasil yang diperoleh sebagai berikut:

  • Mengetahui apakah pembelajaran yang dikembangkan dengan model inteligensi ganda yang konstruktivis dapat membantu meningkatkan pemahaman konsep siswa dalam mempelajari pemantulan dan pembiasan cahaya pada cermin dan lensa
  • Hasil penelitian analisis data menunjukkan bahwa setelah dilakukan proses pembelajaran dengan menggunakan model inteligensi ganda yang konstruktivis, terjadi peningkatan pemahaman konsep siswa pada pokok bahasan pemantulan dan pembiasan ca>Mengetahui apakah pembelajaran yang dikembangkan dengan model inteligensi ganda yang konstruktivis dapat menunjukkan keterlibatan siswa selama proses pembelajaran pada pokok bahasan pemantulan dan
  • Hasil penelitian menunjukkan bahwa 70 % siswa terlibat dalam proses pembelajaran menggunakan model inteligensi ganda yang konstruktivis. 18,18 % ditunjukkan dengan respon sangat positif,

  Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan model inteligensi ganda yang konstruktivis dapat membantu meningkatkan pemahaman siswa terhadap pokok bahasan pemantulan dan pembiasan cahaya.

  positif dan 3,03 % menunjukkan respon negatif terhadap pembelajaran.

  • Mengetahui apakah pembelajaran yang dikembangkan dengan model inteligensi ganda yang konstruktivis membantu meningkatkan kreativitas siswa dalam mempelajari pemantulan dan pembiasan cahaya
  • Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa kreatif selama mengikuti proses pembelajaran. Terbukti dari kegiatan praktikum, presentasi-diskusi dan simulasi komputer.

  Penelitian ini menekankan pada pembelajaran bervarisi yang membantu siswa dalam proses pembelajaran. Diharapkan dengan pembelajaran ini siswa tidak merasa jenuh melainkan senang sehingga dengan antusias dan tertantang mencoba belajar sampai akhirnya mampu untuk menggali pengetahuannya sendiri, lewat pengalaman yang ada di lingkungan sekitar atau berdasarkan pengalaman yang di sampaikan selama pembelajaran. Dengan demikian pembelajaran bervarisi dapat membantu siswa kearah proses bentukan

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian terhadap siswa SMA Negeri 2 Yogyakarta yang

  telah mengikuti pembelajaran fisika menggunakan model inteligensi ganda yang konstruktivis, maka dapat disimpulkan bahwa: a. Pembelajaran dengan menggunakan model inteligensi ganda yang konstruktivis pada pokok bahasan pemantulan dan pembiasan cahaya dapat membantu siswa meningkatkan pemahaman konsep khususnya pada pokok bahasan pemantulan dan pembiasan cahaya.

  b. Pembelajaran dengan menggunakan model inteligensi ganda yang konstruktivis pada pokok bahasan pemantulan dan pembiasan cahaya dapat membantu menunjukkan keterlibatan sikap siswa dalam pembelajaran. Keterlibatan siswa ditunjukkan melalui sikap positif siswa selama mengikuti proses pembelajaran.

  c. Pembelajaran dengan menggunakan model inteligensi ganda yang konstruktivis pada pokok bahasan pemantulan dan pembiasan cahaya dapat membantu meningkatkan kreativitas siswa selama proses pembelajaran berlangsung.

B. Saran

  1. Untuk bidang pembelajaran fisika mendatang

  a. Kegiatan pembelajaran menggunakan model inteligensi ganda yang konstruktivis perlu dikembangkan untuk berbagai materi pelajaran fisika yang lain.

  b. Kegiatan pembelajaran fisika menggunakan model inteligensi ganda yang konstruktivis sebaiknya mencakup keseluruhan aspek dari ke 9 jenis inteligensi yang ada.

  c. Kegiatan pembelajaran menggunakan model inteligensi ganda yang konstruktivis tidak hanya sebatas pada praktikum, presentasi dan simulasi komputer melainkan dapat menggunakan berbagai macam variasi pembelajaran yang lain, sehingga tidak menimbulkan kebosanan dalam diri siswa.

  2. Untuk bidang penelitian mendatang

  1. Sebaiknya pembelajaran dilakukan untuk beberapa kelas yang berbeda sehingga hasilnya bisa dibandingkan.

  2. Sebaiknya pembelajaran dapat pula dilakukan di sekolahan-sekolahan yang berbeda dengan kemampuan siswa yang berbeda pula.

  3. Sebaiknya seorang peneliti, sedapat mungkin mendampingi siswa selama dalam kelompok), sehingga proses kontruksi yang terbentuk pada diri siswa tetap terarah sesuai dengan materi yang terkait.

  4. Sebaiknya seorang peneliti, sedapat mungkin memberikan umpan balik (feet-back) terhadap pemikiran-pemikiran siswa selama proses pembelajaran berlangsung, sehingga diharapkan siswa tertantang dalam mengkonstruksi pengetahuannya.

  5. Peneliti berhak untuk menukar anggota kelompok selama proses pembelajaran berlangsung. Hal ini dimaksudkan agar suasana diskusi menjadi lebih hidup dan membantu siswa dalam mengkonstruksi pengetahuannya.

  6. Sebaiknya siswa diberi kebebasan untuk mengekspresikan hasil pemikiran dari proses konstruksi yang diperolehnya.

  7. Sebaiknya peneliti menerima konsultasi dari siswa, artinya tugas peneliti bukan hanya sebagai seorang guru yang mengajar melainkan juga menerima konsultasi dari siswa yang merasa kesulitan selama mengkonstruksi pengetahuannya.

  

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. Tahapan-tahapan penerapan model pembelajaran konstruktivis . ber 2006.

  Anonim. Teori Pembelajaran Konstruktivism .

  http://www.planet.time.my/KLCC/azm01/teori/Teori_Pembelajaran_Konstruk tivism.htm. Diakses 21 November 2006.

  Armstrong, Thomas. 2003. Setiap Anak Cerdas. Jakarta. Gramedia Pustaka Utama. Armstrong, 1994. Multiple Intellegences : Seven Ways to Approach Curiculum.

  

  Berg, Euwe Van Den. 1991. Buku Sumber Fisika Eksperimental Untuk Sekolah Menengah . Salatiga. Universitas Kristen Satya Wacana.

  Bruce Campbell. “Multiplying Intellegence in the Classroom

  kses 27 September

  2006 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1979. Pengantar ke Proses Belajar Mengajar .

  Giancoli, Douglas. 2001. Fisika. Jakarta. Erlangga.

  Iverson, M Kathleen. 2005. E-Learning Games Interactive Learning Strategies For Digital Delivery . New-Jersey.

  Kanginan, Marthen. 2002. Fisika Untuk SMA Kelas X. Jakarta. Erlangga. Kartika Budi. 1992. Pemahaman Konsep Gaya Dan Beberapa Salah Konsepsi Yang Terjadi , dalam Majalah Widya Dharma, edisi Th. III, No.1, Sanata Dharma.

  R. Rohandi. Modul Kuliah OPTIKA. Sears, O David. 1992. Psikologi Sosial. Jakarta. Erlangga. Sugiharto, Piping. 2005. Penerapan Teori Multiplle Intellegence dalam Pembelajaran Fisika . Jurnal Pendidikan Penabur No,05/Th.IV.

  Suparno, Paul. 1997. Filsafat Konstruktivisme dalam Pendidikan. Yogyakarta.

  Kanisius. Suparno, Paul. 2004. Teori Inteligensi Ganda dan Aplikasinya di Sekolah.

  Yogyakarta. Kanisius Suparno, Paul, Rohandi dkk. 2002. Revormasi Pendidikan Sebuah Rekomendasi.

  Yogyakarta. Kanisius. Supiyanto. 2004. Fisika SMA. Jakarta. Erlangga. Walgito. 1991. Psikologi Sosial. Yogyakarta. Andi Offset.

  Lampiran 1

PRE-TEST

PEMANTULAN DAN PEMBIASAN CAHAYA

  

Jumat, 2 Maret 2007

Waktu 45 menit

  Kerjakan soal-soal di bawah ini dengan baik dan benar !

  1. Lukislah bayangan yang dibentuk oleh cermin datar untuk benda-benda di bawah ini (jika dapat gambarkanlah dan buktikanlah hal itu dengan menggambarkan beberapa sinar yang perlu) Jelaskan pula sifat-sifat bayangan yang dihasilkan oleh cermin datar!

  2. Pada kebanyakan swalayan di sudut-sudut ruangannya di pasang cermin cembung untuk dapat menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Mengapa bukan cermin datar/cermin cekung?

  3. Andaikan kamu menggunakan sebuah cermin. Bayangan (gambar) yang terlihat tampak besar dengan posisi yang benar. Namun bila cermin tersebut diletakkan lebih jauh kurang lebih 1-2 meter dari jarak semula gambar yang terlihat lebih kecil dan terbalik a. Kira-kira cermin apakah yang dimaksud?

  b. Kemukakan alasan pemilihan cermin dan mengapa hal tersebut bisa terjadi?

  4. Pada saat kita memasukkan pensil ke dalam gelas yang berisi air, pensil menjadi patah. Benarkah peristiwa tersebut, jelaskan!

  5. Coba jelaskan yang kamu ketahui tentang

  a. Pemantulan cahaya

  b. Pembiasan cahaya

  Lampiran 2

POST-TEST

PEMANTULAN DAN PEMBIASAN CAHAYA

  

Jumat, 4 Mei 2007

Waktu 45 menit

  Kerjakan soal-soal di bawah ini dengan baik dan benar !

  1. Lukislah bayangan yang dibentuk oleh cermin datar untuk benda-benda di bawah ini (jika dapat gambarkanlah dan buktikanlah hal itu dengan menggambarkan beberapa sinar yang perlu) Jelaskan pula sifat-sifat bayangan yang dihasilkan oleh cermin datar!

  2. Pada kebanyakan swalayan di sudut-sudut ruangannya di pasang cermin cembung untuk dapat menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Mengapa bukan cermin

  3. Andaikan kamu menggunakan sebuah cermin. Bayangan (gambar) yang terlihat tampak besar dengan posisi yang benar. Namun bila cermin tersebut diletakkan lebih jauh kurang lebih 1-2 meter dari jarak semula gambar yang terlihat lebih kecil dan terbalik a. Kira-kira cermin apakah yang dimaksud?

  b. Kemukakan alasan pemilihan cermin dan mengapa hal tersebut bisa terjadi?

  4. Pada saat kita memasukkan pensil ke dalam gelas yang berisi air, pensil menjadi patah. Benarkah peristiwa tersebut, jelaskan!

  5. Coba jelaskan yang kamu ketahui tentang

  a. Pemantulan cahaya

  b. Pembiasan cahaya

  Lampiran 3 LEMBAR JAWABAN SOAL PRE TEST dan POST TEST PEMANTULAN DAN PEMBIASAN CAHAYA

  Nama : Tanda Tangan Nomor : .........................................................................................................................................

  ......................................................................................................................................... ......................................................................................................................................... ......................................................................................................................................... ......................................................................................................................................... ......................................................................................................................................... ......................................................................................................................................... ......................................................................................................................................... ......................................................................................................................................... ......................................................................................................................................... ......................................................................................................................................... ......................................................................................................................................... ......................................................................................................................................... ......................................................................................................................................... ......................................................................................................................................... ......................................................................................................................................... ......................................................................................................................................... ......................................................................................................................................... ......................................................................................................................................... .........................................................................................................................................

  ......................................................................................................................................... ......................................................................................................................................... ......................................................................................................................................... ......................................................................................................................................... ......................................................................................................................................... ......................................................................................................................................... ......................................................................................................................................... ......................................................................................................................................... ......................................................................................................................................... ......................................................................................................................................... ......................................................................................................................................... ......................................................................................................................................... ......................................................................................................................................... ......................................................................................................................................... ......................................................................................................................................... ......................................................................................................................................... ......................................................................................................................................... ......................................................................................................................................... ......................................................................................................................................... ......................................................................................................................................... ......................................................................................................................................... ......................................................................................................................................... ......................................................................................................................................... ......................................................................................................................................... ......................................................................................................................................... ......................................................................................................................................... .........................................................................................................................................

  Lampiran 4

MOD U L KEGIATAN S IS W A

PEM BELAJARAN FI SI KA M EN GGU N AKAN M OD EL

  

I N TELI GEN SI GAN D A YAN G KON STRU KTI V I S

D ALAM POKOK BAH ASAN PEM AN TU LAN D AN PEM BI ASAN CAH AY A

Nama : ................................................

  No. Absen : ................................................

  

Disusun oleh:

Scholastica Sri Endah Dewi Pujiastuti

Program Studi Pendidikan Fisika

Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

  

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Universitas Sanata Dharma

PEMANTULAN DAN PEMBIASAN CAHAYA

1. Pemantulan Cahaya Pada Cermin

a. Cermin Cekung Kegiatan 1 : Pemantulan Cahaya pada Cermin Cekung

  Tujuan : 1. Menentukan jarak titik api cermin

  2. Mengenal sifat-sifat pembentukan bayangan oleh cermin cekung Uraian Materi: Penjalaran cahaya melalui suatu medium sering digambarkan dengan garis sinar. Dalam hukum pemantulan cahaya berlaku:

  1. Sinar datang, garis normal dan sinar pantul berada pada satu titik dan terletak pada satu bidang datar

  2. Besarnya sudut datang sama dengan sudut pantul

  1

θ

2

θ

  Gambar Pemantulan Cahaya

  Keterangan gambar: (1) : berkas sinar datang (2) : berkas sinar pantul N : garis normal θ

  1 : besar sudut yang mengapit (1) dan N (besar sudut datang) Cermin cekung bersifat mengumpulkan berkas sinar (konvergen). Berkas sinar yang datang sejajar sumbu utama akan dipantulkan dan mengumpul pada satu titik yang disebut sebagai titik fokus (F).

  Pemantulan sinar-sinar istimewa pada cermin cekung yaitu: 1. sinar datang yang sejajar sumbu utama dipantulkan melalui titik fokus 2. sinar datang yang melalui titik fokus dipantulkan sejajar dengan sumbu utama 3. sinar datang yang melalui titik pusat kelengkungan cermin dipantulkan melalui titik tersebut.

  Pemantulan sinar-sinar istimewa pada cermin cekung digambarkan sebagai berikut:

  

Gambar Sinar Istimewa pada Cermin Cekung

  Keterangan gambar: Titik O : titik tengah cermin Titik F : titik fokus cermin Tititk M : titik pusat kelengkungan cermin Gambar (1): menunjukkan sinar istimewa (1) cermin cekung Gambar (2): menunjukkan sinar istimewa (2) cermin cekung Gambar (3): menunjukkan sinar istimewa (3) cermin cekung

  Cermin cekung memiliki 4 ruang. Ruang I benda terletak antara titik O dan titik

  F, ruang II benda terletak antara titik F dan M, ruang III benda terletak dibelakang M (daerah sebelah kiri M) dan ruang IV benda terletak di belakang cermin. Setiap ruang pada cermin cekung menunjukkan sifat bayangan yang berbeda.

  Persamaan yang digunakan untuk menghitung jarak benda dan bayangan cermin

  1

  1

  1

  • cekung sebagai berikut: = dan R = 2f dengan s merupakan jarak benda ke

  s s ' f

  cermin, s’ menunjukkan jarak bayangan ke cermin, f adalah fokus cermin dan R adalah jari-jari kelengkungan cermin. Perbesaran bayangannya dirumuskan sebagai ' '

  s h

M = = dengan h = tinggi benda dan h’ menunjukkan tinggi bayangan yang

s h dihasilkan.

  Perjanjian Tanda Untuk Menggunakan Persamaan In gat

  

Umum Cermin Lengkung

  s bertanda + bila benda terletak di depan cermin (benda nyata) s bertanda – bila benda terletak di belakang cermin (benda maya) s’ bertanda + bila bayangan terletak di depan cermin (bayangan nyata) s’ bertanda – bila bayangan terletak di belakang cermin (bayangan maya)

  f dan R bertanda + bila pusat lengkung cermin terletak di depan cermin

  (Cermin cekung) Alat percobaan yang diperlukan:

  Cermin cekung, bangku optik, lampu, benda, layar, penggaris (meteran) Langkah percobaan:

A. Menentukan R

  1. Susunlah alat dengan urutan lampu-benda-cermin cekung seperti gambar di bawah: Cermin

  Layar + benda Lampu

  Bangku Optika PLN

  2. Geser-geser cermin, agar bayangan jatuh di layar sebelah benda. Carilah posisi yang tepat agar terbentuk besar bayangan sama dengan besar benda dan terbalik.

  3. Ukur jarak benda-cermin sebagai s.

  4. Masukkan data pengamatan dalam tabel (dengan mengingat tanda) dan beri nama tabel itu dengan tabel 1 seperti contoh tabel di bawah ini:

  Tabel 1.

  Percobaan : .........................................

  ’

  No s = s f 5. Ulangi langkah 2, 3 dan 4 sebanyak lima kali. B. Menentukan sifat-sifat bayangan cermin cekung

  1. Berdasarkan perkiraan jari-jari kelengkungan cermin atau jarak titik api yang telah diperoleh di atas (pada saat menentukan R), letakkan benda di ruang II.

  2. Carilah bayangan yang dihasilkan bila benda diletakkan di ruang II.

  3. Ukurlah jarak benda ke cermin dan jarak bayangan ke cermin.

  4. Ukurlah tinggi benda dan tinggi bayangannya.

  5. Carilah berapa nilai fokus yang dihasilkan menggunakan persamaan umum yang ada, kemudian bandingkanlah hasil fokus yang diperoleh dari data sebelumnya (Kegiatan A).

  6. Carilah perbesaran bayangan (M) yang dihasilkan dengan persamaan yang ada dengan memperhatikan tanda.

  7. Sebutkan sifat bayangan yang dihasilkan

  8. Masukkan data dalam tabel dan namai tabel itu dengan tabel 2 Tabel 2.

  Percobaan : ......................................... Nilai f pada percobaan A: ................... No s s’ f h h’ M Sifat bayangan 9. Hitunglah rata-rata nilai f yang diperoleh dari kegiatan B.

  10. Ulangi langkah 1 sampai dengan 4 sebanyak lima kali.

  Latihan:

  1. Lengkapilah data dan tabel kegiatan di atas!

  2. Tunjukkan dengan gambar jalannya sinar untuk kegiatan A, sehingga bisa terbentuk bayangan yang sama seperti yang dihasilkan selama proses kegiatan.

  3. Tunjukkan dengan gambar jalannya sinar untuk kegiatan B, sehingga bisa terbentuk bayangan yang sama seperti yang dihasilkan selama proses kegiatan.

  Sertakan pula sifat bayangan yang dihasilkan.

  4. Berapakah nilai f yang dihasilkan pada kegiatan A ................................................

  5. Berapakah nilai f yang dihasilkan pada kegiatan B ................................................

  ª Bila masing-masing nilai f menunjukkan nilai yang sama, kemukakanlah alasan mengapa hal tersebut bisa terjadi.

  ............................................................................................................................. ............................................................................................................................. ............................................................................................................................. ª Bila masing-masing nilai f menunjukkan nilai berbeda, kemukakanlah alasan mengapa hal tersebut bisa terjadi.

  ............................................................................................................................. ............................................................................................................................. .............................................................................................................................

  6. Dari percobaan di atas, jelaskan ciri-ciri dari cermin cekung dan berilah contoh manfaat dari penggunaan cermin cekung dalam kehidupan sehari-hari ............................................................................................................................. ............................................................................................................................. .............................................................................................................................

  7. Apa kesimpulan dari semua kegiatan yang telah dilakukan di atas .............................................................................................................................

  .............................................................................................................................

  8. Nyatakan sendiri definisi pemantulan cahaya oleh cermin cekung .............................................................................................................................

  ............................................................................................................................. .............................................................................................................................

b. Cermin Cembung Kegiatan 2 : Pemantulan Cahaya pada Cermin Cembung Tujuan: : Mengenal sifat-sifat pembentukan bayangan oleh cermin cekung.

  Uraian Materi: Cermin cembung bersifat menyebarkan berkas sinar (divergen). Berkas sinar yang datang sejajar sumbu utama dipantulkan menyebar seolah-olah berasal dari satu titik fokus.

  Pantulan sinar istimewa cermin cembung sebagai berikut: (1) sinar datang yang sejajar sumbu utama dipantulkan seolah-olah berasal dari titik fokus; (2) sinar datang yang menuju titik fokus dipantulkan sejajar sumbu utama; (3) sinar datang menuju ke titik pusat kelengkungan M dipantulkan kembali seakan-akan datang dari titik pusat lengkung tersebut. Berikut gambar pantulan sinar istimewanya:

  Gambar sinar istimewa cermin cembung Sinar datang yang menuju pusat kelengkungan cermin cembung akan dipantulkan melewati lintasan yang sama. Dikarenakan Bayangan yang dihasilkan oleh cermin cembung adalah bayangan maya (bayangan yang tidak tampak oleh layar) maka untuk mendapatkan bayangan yang nyata diperlukan bantuan sebuah lensa cembung. Dengan sebuah lensa cembung dan cermin cembung dapat diperoleh susunan dengan kondisi gambar seperti di bawah ini

  Lensa cembung Cermin cembung benda

  Bayangan A (Benda maya)

  Bayangan akhir Bayangan A yang dihasilkan oleh lensa cembung akan menjadi benda maya oleh cermin cembung dan menghasilkan bayangan nyata yang akan ditangkap oleh layar. Fokus pada cermin cembung dapat diperoleh dengan kondisi gambar seperti dibawah ini:

  d benda Bayangan I ’ s s

  Oleh lensa cembung akan dibentuk bayangan I

  Akibatnya akan terbentuk bayangan akhir di tempat benda. Jari-jari kelengkungan cermin cembung dapat dihitung dari persamaan :

  ’

  R = s – d Dan jarak apinya F = ½ r

  Persamaan yang digunakan sama dengan cermin cekung, untuk menghitung jarak

  1

  1

  1

  • benda dan bayangan cermin cembung = dan R = 2f. Perbesaran
  • ' '

    s s ' f

    s h

    bayangannya dirumuskan sebagai .

      M = =

    s h

    Perjanjian Tanda Cermin Cembung

      In gat

      s bertanda + bila benda terletak di depan cermin (benda nyata) s bertanda – bila benda terletak di belakang cermin (benda maya) s’ bertanda + bila bayangan terletak di depan cermin (bayangan nyata) s’ bertanda – bila bayangan terletak di belakang cermin (bayangan maya)

      f dan R bertanda - bila pusat lengkung cermin terletak di belakang cermin

      (Cermin cembung) Alat percobaan yang diperlukan:

      Cermin cembung, bangku optik, lampu, benda, layar, penggaris (meteran) Langkah percobaan:

      Menentukan Sifat-Sifat Bayangan Cermin Cembung

      1. Letakkan benda di depan lensa cembung, ukur jarak benda ke lensa sebagai s

      ’

      2. Carilah bayangannya. Ukurlah jarak bayangan ke lensa sebagai s

      3. Letakkan cermin cembung diantara lensa dan bayangan

      5. Ukurlah tinggi benda dan tinggi bayangannya

      6. Carilah berapa nilai fokus yang dihasilkan

      7. Carilah perbesaran bayangan yang dihasilkan 8. Masukkan data dalam tabel dan beri nama tabel tersebut tabel 3.

      9. Mengulangi langkah 1-5 untuk berbagai nilai s. Latihan:

      1. Lengkapilah data dan tabel kegiatan di atas!

      2. Tunjukkan dengan gambar jalannya sinar yang dihasilkan, sehingga bisa terbentuk bayangan yang sama seperti yang dihasilkan selama proses kegiatan.

      3. Bagaimanakah pembentukan bayangan yang dihasilkan untuk berbagai nilai s, jelaskan mengapa hal tersebut bisa terjadi ............................................................................................................................. ............................................................................................................................. .............................................................................................................................

      4. Dari percobaan di atas, jelaskan ciri-ciri dari cermin cembung dan berilah contoh manfaat dari penggunaan cermin cembung dalam kehidupan sehari-hari ............................................................................................................................. ............................................................................................................................. .............................................................................................................................

      5. Apa kesimpulan dari kegiatan cermincembung yang telah dilakukan di atas .............................................................................................................................

      ............................................................................................................................. .............................................................................................................................

      6. Nyatakan sendiri definisi pemantulan cahaya oleh cermin cembung .............................................................................................................................

      .............................................................................................................................

    2. Pembiasan Cahaya Pada Lensa

    a. Lensa Cembung Kegiatan 1 : Pembiasan Cahaya pada Lensa Cembung (Lensa Positif)

      Tujuan : 1. Menentukan jarak titik api lensa

      2. Mengenal sifat-sifat pembentukan bayangan oleh lensa Uraian Materi:

      Pembiasan terjadi ketika cahaya melewati dua medium yang berbeda kerapatannya. Hukum snelilius mengemukakan:

      1. Sinar datang, sinar bias dan garis normal berpotongan pada satu titik dan terletak pada satu bidang datar.

      2. Sinar datang dari medium yang kurang rapat ke medium yang lebih rapat dibiaskan mendekati garis normal.

      3. Sinar datang dari medium yang lebih rapat ke medium yang kurang rapat dibiaskan menjauhi garis normal.

      4. Sinar datang secara tegak lurus terhadap bidang batas dua medium tidak dibiaskan melainkan diteruskan.

      Tiga sinar istimewanya: (1) Sinar datang sejajar sumbu utama lensa dibiaskan melalui titik fokus aktif (F ). (2) Sinar datang melalui titik fokus pasif (F ) dibiaskan

      1

      2

      sejajar sumbu utama. (3) Sinar datang melalui titik pusat optik diteruskan tanpa pembiasan. Sinar-sinar istimewanya di gambarkan di bawah ini:

      Persamaan lensa tipis sama persis dengan persamaan pada cermin yaitu ' '

      1

      1

      1

      s h + = . Perbesaran bayangannya dirumuskan sebagai M = = . s s ' f s h

      Alat percobaan yang diperlukan: Lensa cembung, bangku optik, lampu, benda, layar, penggaris (meteran)

      Langkah percobaan:

    A. Menentukan jarak titik api

      1. Susunlah alat dengan urutan lampu-benda-lensa-layar seperti pada gambar di bawah ini.

      Cermin benda layar Lampu

      Bangku Optika PLN 2. Geser-geser layar sampai menghasilkan bayangan yang tajam.

      3. Ukur jarak benda ke lensa dan jarak bayangan ke lensa.

      4. Ukurlah tinggi benda dan bayangannya.

      5. Carilah nilai fokus yang dihasilkan 6. Masukkan data tersebut dalam tabel dan namakan tabel tersebut tabel 4.

      7. Ulangi langkah 1-5 sebanyak lima kali untuk berbagai nilai jarak benda.

      Tabel 4.

      Percobaan : ......................................... No s s’ f h h’ M Sifat bayangan

    B. Menentukan sifat-sifat bayangan

      1. Berdasarkan perkiraan jarak titik api (fokus) lensa yang telah diperoleh di atas letakkan benda di ruang II.

      2. Carilah bayangan oleh lensa.

      3. Ukurlah jarak benda-lensa dan jarak lensa-bayangan.

      4. Ukurlah tinggi benda dan bayangannya.

      5. Carilah nilai fokus yang dihasilkan

      6. Carilah perbesaran bayangan yang dihasilkan 7. Masukkan data dalam tabel dan namakan tabel tersebut dengan tabel 5.

      8. Ulangi langkah 1-5 sebanyak lima kali. Latihan:

      1. Lengkapilah data dan tabel kegiatan di atas!

      2. Tunjukkan dengan gambar jalannya sinar untuk kegiatan A, sehingga bisa terbentuk bayangan yang sama seperti yang dihasilkan selama proses kegiatan.

      3. Tunjukkan dengan gambar jalannya sinar untuk kegiatan B, sehingga bisa terbentuk bayangan yang sama seperti yang dihasilkan selama proses kegiatan.

      Sertakan pula sifat bayangan yang dihasilkan.

      4. Dari percobaan di atas, jelaskan ciri-ciri dari lensa cembung dan berilah contoh

      ............................................................................................................................. ............................................................................................................................. .............................................................................................................................

      5. Apa kesimpulan dari semua kegiatan yang telah dilakukan di atas .............................................................................................................................

      ............................................................................................................................. .............................................................................................................................

      6. Nyatakan sendiri definisi pembiasan cahaya oleh lensa cembung .............................................................................................................................

      ............................................................................................................................. .............................................................................................................................

      b. Lensa Cekung Kegiatan 2 : Pembiasan Cahaya pada Lensa Cekung (Lensa Negatif)

      Tujuan : Menentukan jarak titik api lensa Uraian materi:

      Tiga sinar istimewa pada lensa cekung: (1) Sinar datang sejajar sumbu utama lensa dibiaskan seakan-akan berasal dari titik fokus aktif (F

      1 ). (2) Sinar datang

      seakan-akan menuju ke titik fokus pasif (F

      2 ) dibiaskan sejajar sumbu utama. (3) Sinar datang melalui titik pusat optik diteruskan tanpa mengalami pembiasan.

      Tanda Untuk Menggunakan Rumus Lensa Tipis Perjan jian

      s bertanda + bila benda terletak di depan lensa (benda nyata) s bertanda – bila benda terletak di belakang lensa (benda maya) s’ bertanda + bila bayangan terletak di belakang lensa (bayangan nyata) s’ bertanda – bila bayangan terletak di depan lensa (bayangan maya)

      f bertanda + untuk lensa cembung f bertanda – untuk lensa cekung

      Alat percobaan yang diperlukan: Lensa cekung, bangku optik, lampu, benda, layar, penggaris (meteran)

      Langkah percobaan:

      Menentukan jarak titik api

      1. Letakkan benda di ruang III lensa positif. Bayangan lensa positif ini digunakan sebagai benda oleh lensa negatif. Catat tinggi bayangan yang dihasilkan sebagai h

      2. Tempatkan lensa negatif diantara lensa positif dan layar.

      3. Ukur jarak lensa negatif-layar. Jarak ini sebagai s.

      4. Geser layar tersebut hingga terlihat bayangan nyata.

      ’ 5. Ukur jarak lensa negatif-bayangan. Jarak ini sebagai s . ’

      6. Ukur tinggi bayangan akhir yang diperoleh sebagai h

      7. Carilah nilai fokus yang dihasilkan

      8. Carilah perbesaran bayangan yang dihasilkan 9. Masukkan data dalam tabel dan namakan tabel tersebut tabel 6.

      10. Ulangi langkah 1-8 sebanyak lima kali dengan s yang berbeda.

      Latihan:

      1. Lengkapilah data dan tabel kegiatan di atas!

      2. Tunjukkan dengan gambar jalannya sinar untuk kegiatan di atas, sehingga bisa terbentuk bayangan yang sama seperti yang dihasilkan selama proses kegiatan.

      3. Dari percobaan di atas, jelaskan ciri-ciri dari lensa cekung dan berilah contoh manfaat dari penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari ............................................................................................................................. ............................................................................................................................. .............................................................................................................................

      4. Apa kesimpulan dari kegiatan lensa cekung yang telah dilakukan di atas .............................................................................................................................

      ............................................................................................................................. .............................................................................................................................

      5. Nyatakan sendiri definisi pembiasan cahaya oleh lensa cekung .............................................................................................................................

      ............................................................................................................................. .............................................................................................................................

      Lampiran 5

    MOD U L P AN D U AN P EN ELITI

    PEM BELAJARAN FI SI KA M EN GGU N AKAN M OD EL

      

    I N TELI GEN SI GAN D A YAN G KON STRU KTI V I S

    D ALAM POKOK BAH ASAN PEM AN TU LAN D AN PEM BI ASAN CAH AY A

    Disusun oleh:

    Scholastica Sri Endah Dewi Pujiastuti

      

    Program Studi Pendidikan Fisika

    Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

    Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

    Universitas Sanata Dharma

    PEMANTULAN DAN PEMBIASAN CAHAYA

    1. Pemantulan Cahaya Pada Cermin

    a. Cermin Cekung Kegiatan 1 : Pemantulan Cahaya pada Cermin Cekung

      Tujuan : 1. Menentukan jarak titik api cermin

      2. Mengenal sifat-sifat pembentukan bayangan oleh cermin cekung Uraian Materi: Penjalaran cahaya melalui suatu medium sering digambarkan dengan garis sinar. Dalam hukum pemantulan cahaya berlaku:

      1. Sinar datang, garis normal dan sinar pantul berada pada satu titik dan terletak pada satu bidang datar

      2. Besarnya sudut datang sama dengan sudut pantul

      1

    θ

    2

    θ

      Gambar Pemantulan Cahaya

      Keterangan gambar: (1) : berkas sinar datang (2) : berkas sinar pantul N : garis normal θ

      1 : besar sudut yang mengapit (1) dan N (besar sudut datang) Cermin cekung bersifat mengumpulkan berkas sinar (konvergen). Berkas sinar yang datang sejajar sumbu utama akan dipantulkan dan mengumpul pada satu titik yang disebut sebagai titik fokus (F).

      Pemantulan sinar-sinar istimewa pada cermin cekung yaitu: 1. sinar datang yang sejajar sumbu utama dipantulkan melalui titik fokus 2. sinar datang yang melalui titik fokus dipantulkan sejajar dengan sumbu utama 3. sinar datang yang melalui titik pusat kelengkungan cermin dipantulkan melalui titik tersebut.

      Pemantulan sinar-sinar istimewa pada cermin cekung digambarkan sebagai berikut:

      

    Gambar Sinar Istimewa pada Cermin Cekung

      Keterangan gambar: Titik O : titik tengah cermin Titik F : titik fokus cermin Tititk M : titik pusat kelengkungan cermin Gambar (1): menunjukkan sinar istimewa (1) cermin cekung Gambar (2): menunjukkan sinar istimewa (2) cermin cekung Gambar (3): menunjukkan sinar istimewa (3) cermin cekung

      Cermin cekung memiliki 4 ruang. Ruang I benda terletak antara titik O dan titik

      F, ruang II benda terletak antara titik F dan M, ruang III benda terletak dibelakang M (daerah sebelah kiri M) dan ruang IV benda terletak di belakang cermin. Setiap ruang pada cermin cekung menunjukkan sifat bayangan yang berbeda.

      Persamaan yang digunakan untuk menghitung jarak benda dan bayangan cermin

      1

      1

      1

    • cekung sebagai berikut: = dan R = 2f dengan s merupakan jarak benda ke

      s s ' f

      cermin, s’ menunjukkan jarak bayangan ke cermin, f adalah fokus cermin dan R adalah jari-jari kelengkungan cermin. Perbesaran bayangannya dirumuskan sebagai ' '

      s h

    M = = dengan h = tinggi benda dan h’ menunjukkan tinggi bayangan yang

    s h dihasilkan.

      Perjanjian Tanda Untuk Menggunakan Persamaan In gat

      

    Umum Cermin Lengkung

      s bertanda + bila benda terletak di depan cermin (benda nyata) s bertanda – bila benda terletak di belakang cermin (benda maya) s’ bertanda + bila bayangan terletak di depan cermin (bayangan nyata) s’ bertanda – bila bayangan terletak di belakang cermin (bayangan maya)

      f dan R bertanda + bila pusat lengkung cermin terletak di depan cermin

      (Cermin cekung) Alat percobaan yang diperlukan:

      Cermin cekung, bangku optik, lampu, benda, layar, penggaris (meteran) Pelaksanaan kegiatan: Selama percobaan, siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok kecil, masing- masing kelompok mengerjakan percobaan sebagai berikut.

    A. Menentukan R

      1. Menyusun alat dengan urutan lampu-benda-cermin cekung seperti gambar di bawah: ( Inteligensi yang ditekankan : Ruang visual, Kinestetik badani, Interpersonal)

      Lampu Layar + benda

      Cermin Bangku Optika

      PLN

      2. Menggeser-geser cermin, agar bayangan jatuh di layar sebelah benda. Carilah posisi yang tepat agar terbentuk besar bayangan sama dengan besar benda dan terbalik. ( Inteligensi yang ditekankan : Ruang visual, Kinestetik badani)

      3. Mengukur jarak benda-cermin sebagai s. ( Inteligensi yang ditekankan : Matematis logis, Kinestetik badani)

      4. Memasukkan data pengamatan dalam tabel (dengan mengingat tanda) dan beri nama tabel itu dengan tabel 1 seperti contoh tabel di bawah ini: ( Inteligensi yang

      ditekankan : Matematis logis, Interpersonal, Intrapersonal) Tabel 1.

      Percobaan : ......................................... No s = s

      ’

      f

      5. Mengulangi langkah 2, 3 dan 4 sebanyak lima kali.

      B. Menentukan sifat-sifat bayangan cermin cekung

      1. Berdasarkan perkiraan jari-jari kelengkungan cermin atau jarak titik api yang telah diperoleh di atas (pada saat menentukan R), letakkan benda di ruang II.

      ( Inteligensi yang ditekankan : Ruang visual, Kinestetik badani)

      2. Mencari bayangan yang dihasilkan bila benda diletakkan di ruang II. ( Inteligensi

      yang ditekankan : Ruang visual)

      3. Mengukur jarak benda ke cermin dan jarak bayangan ke cermin.( Inteligensi yang

      ditekankan

      : Matematis logis, Kinestetik badani)

      4. Mengukur tinggi benda dan tinggi bayangannya. ( Inteligensi yang ditekankan : Matematis logis, Kinestetik badani)

      5. Mencari berapa nilai fokus yang dihasilkan menggunakan persamaan umum yang ada, kemudian bandingkanlah hasil fokus yang diperoleh dari data sebelumnya (Kegiatan A). ( Inteligensi yang ditekankan : Matematis logis)

      6. Mencari berapa perbesaran bayangan (M) yang dihasilkan dengan persamaan yang ada dengan memperhatikan tanda. ( Inteligensi yang ditekankan : Matematis logis)

      7. Memasukkan data dalam tabel dan namai tabel itu dengan tabel 2 ( Inteligensi

      yang ditekankan : Matematis logis, Interpersonal, Intrapersonal) Tabel 2.

      Percobaan : ......................................... Nilai f pada percobaan A: ................... No s s’ f h h’ M Sifat bayangan

      8. Menghitung rata-rata nilai f yang diperoleh dari kegiatan B. ( Inteligensi yang

      ditekankan : Matematis logis) 9. Mengulangi langkah 1 sampai dengan 4 sebanyak lima kali.

      Latihan:

      1. Lengkapilah data dan tabel kegiatan di atas!

      2. Tunjukkan dengan gambar jalannya sinar untuk kegiatan A, sehingga bisa terbentuk bayangan yang sama seperti yang dihasilkan selama proses kegiatan.

      3. Tunjukkan dengan gambar jalannya sinar untuk kegiatan B, sehingga bisa terbentuk bayangan yang sama seperti yang dihasilkan selama proses kegiatan.

      Sertakan pula sifat bayangan yang dihasilkan.

      4. Berapakah nilai f yang dihasilkan pada kegiatan A ................................................

      5. Berapakah nilai f yang dihasilkan pada kegiatan B ................................................

      ª Bila masing-masing nilai f menunjukkan nilai yang sama, kemukakanlah alasan mengapa hal tersebut bisa terjadi. ª Bila masing-masing nilai f menunjukkan nilai berbeda, kemukakanlah alasan mengapa hal tersebut bisa terjadi.

      6. Dari percobaan di atas, jelaskan ciri-ciri dari cermin cekung dan berilah contoh manfaat dari penggunaan cermin cekung dalam kehidupan sehari-hari

      7. Apa kesimpulan dari semua kegiatan yang telah dilakukan di atas

      8. Nyatakan sendiri definisi pemantulan cahaya oleh cermin cekung

    b. Cermin Cembung Kegiatan 2 : Pemantulan Cahaya pada Cermin Cembung Tujuan: : Mengenal sifat-sifat pembentukan bayangan oleh cermin cekung.

      Uraian Materi: Cermin cembung bersifat menyebarkan berkas sinar (divergen). Berkas sinar yang datang sejajar sumbu utama dipantulkan menyebar seolah-olah berasal dari satu titik fokus.

      Pantulan sinar istimewa cermin cembung sebagai berikut: (1) sinar datang yang sejajar sumbu utama dipantulkan seolah-olah berasal dari titik fokus; (2) sinar datang yang menuju titik fokus dipantulkan sejajar sumbu utama; (3) sinar datang menuju ke titik pusat kelengkungan M dipantulkan kembali seakan-akan datang dari titik pusat lengkung tersebut. Berikut gambar pantulan sinar istimewanya:

      Gambar sinar istimewa cermin cembung

      Sinar datang yang menuju pusat kelengkungan cermin cembung akan dipantulkan melewati lintasan yang sama. Dikarenakan Bayangan yang dihasilkan oleh cermin cembung adalah bayangan maya (bayangan yang tidak tampak oleh layar) maka untuk mendapatkan bayangan yang nyata diperlukan bantuan sebuah lensa cembung. Dengan sebuah lensa cembung dan cermin cembung dapat diperoleh susunan dengan kondisi gambar seperti di bawah ini

      Lensa cembung Cermin cembung benda

      Bayangan A (Benda maya)

      Bayangan akhir Bayangan A yang dihasilkan oleh lensa cembung akan menjadi benda maya oleh cermin cembung dan menghasilkan bayangan nyata yang akan ditangkap oleh layar. Fokus pada cermin cembung dapat diperoleh dengan kondisi gambar seperti dibawah ini:

      d

    benda Bayangan I

    ’ s s

      Oleh lensa cembung akan dibentuk bayangan I Bila bayangan 1 ini berada di pusat kelengkungan cermin cembung maka sinar akan dipantulkan melewati lintasan yang sama dengan sinar datang.

      Akibatnya akan terbentuk bayangan akhir di tempat benda. Jari-jari kelengkungan cermin cembung dapat dihitung dari persamaan :

      ’

      R = s – d Dan jarak apinya F = ½ r Persamaan yang digunakan sama dengan cermin cekung, untuk menghitung jarak

      1

      1

      1

    • benda dan bayangan cermin cembung = dan R = 2f. Perbesaran
    • ' '

      s s ' f

      s h

      bayangannya dirumuskan sebagai M = = .

        

      s h

      Perjanjian Tanda Cermin Cembung

        In gat

        s bertanda + bila benda terletak di depan cermin (benda nyata) s bertanda – bila benda terletak di belakang cermin (benda maya) s’ bertanda + bila bayangan terletak di depan cermin (bayangan nyata) s’ bertanda – bila bayangan terletak di belakang cermin (bayangan maya)

        f dan R bertanda - bila pusat lengkung cermin terletak di belakang cermin

        (Cermin cembung) Alat percobaan yang diperlukan:

        Cermin cembung, bangku optik, lampu, benda, layar, penggaris (meteran) Pelaksanaan kegiatan:

        Menentukan Sifat-Sifat Bayangan Cermin Cembung

        1. Meletakkan benda di depan lensa cembung, ukur jarak benda ke lensa sebagai s ( Inteligensi yang ditekankan : Ruang visual, Kinestetik badani)

        ’

        2. Mencari bayangannya. Ukurlah jarak bayangan ke lensa sebagai s ( Inteligensi

        yang ditekankan : Ruang visual, Kinestetik badani)

        3. Meletakkan cermin cembung diantara lensa dan bayangan ( Inteligensi yang

        ditekankan : Ruang visual, kinestetik badani)

        4. Menggeser cermin cembung sehingga tampak bayangan di tempat benda di depan

        5. Mengukur tinggi benda dan tinggi bayangannya ( Inteligensi yang ditekankan : Matematis logis, Kinestetik badani)

        6. Mencari berapa nilai fokus yang dihasilkan ( Inteligensi yang ditekankan : Matematis logis)

        7. Mencari berapa perbesaran bayangan yang dihasilkan ( Inteligensi yang

        ditekankan : Matematis logis)

        8. Memasukkan data dalam tabel dan beri nama tabel tersebut tabel 3. ( Inteligensi

        yang ditekankan : Matematis logis, Interpersonal, Intrapersonal) 9. Mengulangi langkah 1-5 untuk berbagai nilai s.

        Latihan:

        1. Lengkapilah data dan tabel kegiatan di atas!

        2. Tunjukkan dengan gambar jalannya sinar yang dihasilkan, sehingga bisa terbentuk bayangan yang sama seperti yang dihasilkan selama proses kegiatan.

        3. Bagaimanakah pembentukan bayangan yang dihasilkan untuk berbagai nilai s, jelaskan mengapa hal tersebut bisa terjadi

        4. Dari percobaan di atas, jelaskan ciri-ciri dari cermin cembung dan berilah contoh manfaat dari penggunaan cermin cembung dalam kehidupan sehari-hari

        5. Apa kesimpulan dari kegiatan cermincembung yang telah dilakukan di atas

        6. Nyatakan sendiri definisi pemantulan cahaya oleh cermin cembung

        Pemahasan Pertanyaan Pemantulan Cahaya

        1. Tabel 1 mengenai data pengamatan saat menentukan R (jari-jari kelengkungan cermin) pada cermin cekung.

        S = R (cm) h (cm) h’(cm) f (cm) Tabel 2 mengenai data pengamatan saat menentukan sifat-sifat bayangan cermin cekung ' '

        Sifat

        − hs

        No s s’ f h h’ m m

        = =

        h s bayangan

        1

        2

        3

        4

        5 Tabel 3 mengenai data pengamatan saat menentukan jarak titik api pada cermin cembung ' '

        Sifat

        − hs

        No s s’ f h h’ m = m = h s bayangan

        1

        2

        3

        4

        5

        2. Rata-rata jarak titik api untuk cermin cekung (data dilihat dari tabel 2) adalah 1 2 3 + + + + f f f f f 4 5

        f = cekung

        5 Rata-rata jarak titik api untuk cermin cembung (data dilihat dari tabel 3) adalah 1 2 + + + + f f f f f 3 4 5

        f = cembung

        5

        3. Ciri-ciri dari cermin cekung adalah: ¾ Melengkung ke dalam ¾ Bagian pinggirnya tebal, sedangkan bagian tengahnya tipis ¾ Dapat mengumpulkan berkas sinar (konvergen) ¾ Titik kumpulnya disebut titik fokus yang bernilai positif ¾ Memiliki sinar-sinar istimewa Ciri-ciri dari cermin cembung adalah: ¾ Melengkung ke luar ¾ Bagian pinggirnya tipis, sedangkan bagian tengahnya tebal ¾ Dapat menyebarkan berkas sinar (divergen) ¾ Titik penyebarannya disebut titik fokus yang nilainya negatif ¾ Memiliki sinar istimewa

        4. Manfaat dari cermin cekung adalah: ª Cermin cekung dapat memperbesar bayangan sehingga dapat digunakan untuk berbagai keperluan (misal untuk mencukur).

        ª Cermin cekung digunakan sebagai pemantul pada lampu sorot mobil, motor, dan lampu senter. ª Sebagai penerang kaca objek pada mikroskop.

        Manfaat dari cermin cembung adalah: ª Dapat dijumpai pada kaca spion sepeda motor atau mobil

      2. Pembiasan Cahaya Pada Lensa

      a. Lensa Cembung Kegiatan 1 : Pembiasan Cahaya pada Lensa Cembung (Lensa Positif)

        Tujuan : 1. Menentukan jarak titik api lensa

        2. Mengenal sifat-sifat pembentukan bayangan oleh lensa Uraian Materi:

        Pembiasan terjadi ketika cahaya melewati dua medium yang berbeda kerapatannya. Hukum snelilius mengemukakan:

        1. Sinar datang, sinar bias dan garis normal berpotongan pada satu titik dan terletak pada satu bidang datar.

        2. Sinar datang dari medium yang kurang rapat ke medium yang lebih rapat dibiaskan mendekati garis normal.

        3. Sinar datang dari medium yang lebih rapat ke medium yang kurang rapat dibiaskan menjauhi garis normal.

        4. Sinar datang secara tegak lurus terhadap bidang batas dua medium tidak dibiaskan melainkan diteruskan.

        Tiga sinar istimewanya: (1) Sinar datang sejajar sumbu utama lensa dibiaskan melalui titik fokus aktif (F ). (2) Sinar datang melalui titik fokus pasif (F ) dibiaskan

        1

        2

        sejajar sumbu utama. (3) Sinar datang melalui titik pusat optik diteruskan tanpa pembiasan. Sinar-sinar istimewanya di gambarkan di bawah ini:

        Persamaan lensa tipis sama persis dengan persamaan pada cermin yaitu

        f s s

        1 '

        1

        1 = + . Perbesaran bayangannya dirumuskan sebagai

        h h s s

        M ' ' = = .

        Alat percobaan yang diperlukan: Lensa cembung, bangku optik, lampu, benda, layar, penggaris (meteran)

        Pelaksanaan kegiatan:

      A. Menentukan jarak titik api

        Lampu benda Cermin

        Bangku Optika PLN layar

        2. Menggeser-geser layar sampai menghasilkan bayangan yang tajam.( Inteligensi

        yang ditekankan : Ruang visual, Kinestetik badani)

        3. Mengukur jarak benda ke lensa dan jarak bayangan ke lensa. ( Inteligensi yang

        ditekankan

        : Matematis logis, Kinestetik badani)

        4. Mengukur tinggi benda dan bayangannya. ( Inteligensi yang ditekankan : Matematis logis, Kinestetik badani)

        1. Menyusun alat dengan urutan lampu-benda-lensa-layar seperti pada gambar di bawah ini. ( Inteligensi yang ditekankan : Ruang visual, Kinestetik badani, interpersonal)

        5. Mencari berapa nilai fokus yang dihasilkan ( Inteligensi yang ditekankan : Matematis logis) 6. Memasukkan data tersebut dalam tabel dan namakan tabel tersebut tabel 4.

        ( Inteligensi yang ditekankan : Matematis logis, Interpersonal, Intrapersonal) 7. Mengulangi langkah 1-5 sebanyak lima kali untuk berbagai nilai jarak benda.

        Tabel 4.

        Percobaan : ......................................... No s s’ f h h’ M Sifat bayangan

      B. Menentukan sifat-sifat bayangan

        1. Berdasarkan perkiraan jarak titik api (fokus) lensa yang telah diperoleh di atas, letakkan benda di ruang II. ( Inteligensi yang ditekankan : Ruang visual, Kinestetik badani)

        2. Mencari bayangan oleh lensa. ( Inteligensi yang ditekankan : Ruang visual, Kinestetik badani)

        3. Mengukur jarak benda-lensa dan jarak lensa-bayangan. ( Inteligensi yang

        ditekankan : Matematis logis, Kinestetik badani)

        4. Mengukur tinggi benda dan bayangannya. ( Inteligensi yang ditekankan : Matematis logis, Kinestetik badani)

        5. Mencari berapa nilai fokus yang dihasilkan ( Inteligensi yang ditekankan : Matematis logis, Kinestetik badani)

        6. Mencari berapa perbesaran bayangan yang dihasilkan ( Inteligensi yang

        ditekankan : Matematis logis, Kinestetik badani)

        7. Memasukkan data dalam tabel dan namakan tabel tersebut dengan tabel 5.

        ( Inteligensi yang ditekankan : Matematis logis, Interpersonal, Intrapersonal) 8. Mengulangi langkah 1-5 sebanyak lima kali.

        Latihan:

        1. Lengkapilah data dan tabel kegiatan di atas!

        2. Tunjukkan dengan gambar jalannya sinar untuk kegiatan A, sehingga bisa terbentuk bayangan yang sama seperti yang dihasilkan selama proses kegiatan.

        3. Tunjukkan dengan gambar jalannya sinar untuk kegiatan B, sehingga bisa terbentuk bayangan yang sama seperti yang dihasilkan selama proses kegiatan.

        Sertakan pula sifat bayangan yang dihasilkan.

        4. Dari percobaan di atas, jelaskan ciri-ciri dari lensa cembung dan berilah contoh manfaat dari penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari

        5. Apa kesimpulan dari semua kegiatan yang telah dilakukan di atas

        6. Nyatakan sendiri definisi pembiasan cahaya oleh lensa cembung

      b. Lensa Cekung Kegiatan 2 : Pembiasan Cahaya pada Lensa Cekung (Lensa Negatif)

        Tujuan : Menentukan jarak titik api lensa Uraian materi:

        Tiga sinar istimewa pada lensa cekung: (1) Sinar datang sejajar sumbu utama lensa dibiaskan seakan-akan berasal dari titik fokus aktif (F

        1 ). (2) Sinar datang

        seakan-akan menuju ke titik fokus pasif (F

        2 ) dibiaskan sejajar sumbu utama. (3) Sinar datang melalui titik pusat optik diteruskan tanpa mengalami pembiasan. Perjan jian Tanda Untuk Menggunakan Rumus Lensa Tipis

        s bertanda + bila benda terletak di depan lensa (benda nyata) s bertanda – bila benda terletak di belakang lensa (benda maya) s’ bertanda + bila bayangan terletak di belakang lensa (bayangan nyata) s’ bertanda – bila bayangan terletak di depan lensa (bayangan maya)

        f bertanda + untuk lensa cembung f bertanda – untuk lensa cekung

        Alat percobaan yang diperlukan: Lensa cekung, bangku optik, lampu, benda, layar, penggaris (meteran)

        Pelaksanaan kegiatan:

        Menentukan jarak titik api

        1. Meletakkan benda di ruang III lensa positif. Bayangan lensa positif ini digunakan sebagai benda oleh lensa negatif. Catat tinggi bayangan yang dihasilkan sebagai h ( Inteligensi yang ditekankan : Ruang visual, Kinestetik badani)

        2. Menempatkan lensa negatif diantara lensa positif dan layar. (

        Inteligensi yang ditekankan : Ruang visual, Kinestetik badani)

        3. Mengukur jarak lensa negatif-layar. Jarak ini sebagai s. ( Inteligensi yang

        ditekankan : Matematis logis, Kinestetik badani)

        4. Menggeser layar tersebut hingga terlihat bayangan nyata. ( Inteligensi yang

        5. Mengukur jarak lensa negatif-bayangan. Jarak ini sebagai s

        : Matematis logis, Interpersonal, Intrapersonal) 10. Mengulangi langkah 1-8 sebanyak lima kali dengan s yang berbeda.

        1. Tabel 1 mengenai data pengamatan saat menentukan R (jari-jari kelengkungan lensa) pada lensa cembung.

        Pembahasan

        5. Nyatakan sendiri definisi pembiasan cahaya oleh lensa cekung

        4. Apa kesimpulan dari kegiatan lensa cekung yang telah dilakukan di atas

        3. Dari percobaan di atas, jelaskan ciri-ciri dari lensa cekung dan berilah contoh manfaat dari penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari

        2. Tunjukkan dengan gambar jalannya sinar untuk kegiatan di atas, sehingga bisa terbentuk bayangan yang sama seperti yang dihasilkan selama proses kegiatan.

        1. Lengkapilah data dan tabel kegiatan di atas!

        Latihan:

        yang ditekankan

        ’

        9. Memasukkan data dalam tabel dan namakan tabel tersebut tabel 6. ( Inteligensi

        8. Mencari perbesaran bayangan yang dihasilkan ( Inteligensi yang ditekankan : Matematis logis, Kinestetik badani)

        7. Mencari berapa nilai fokus yang dihasilkan ( Inteligensi yang ditekankan : Matematis logis, Kinestetik badani)

        ditekankan : Matematis logis, Kinestetik badani)

        . ( Inteligensi yang

        ’

        6. Mengukur tinggi bayangan akhir yang diperoleh sebagai h

        ditekankan : Matematis logis, Kinestetik badani)

        . ( Inteligensi yang

        S = R (cm) h (cm) h’(cm) f (cm) Tabel 2 mengenai data pengamatan saat menentukan sifat-sifat bayangan lensa cembung ' '

        Sifat

        − hs

        No s s’ h h’ f m m

        = =

        h s bayangan

        1

        2

        3

        4

        5 Tabel 3 mengenai data pengamatan saat menentukan jarak titik api pada lensa cekung ' '

        Sifat

        − hs

        No s s’ h h’ f m = m = h s bayangan

        1

        2

        3

        4

        5

        2. Rata-rata jarak titik api untuk lensa cembung adalah 1 2 3 + + + + f f f f f 4 5

        f = cembung

        5 Rata-rata jarak titik api untuk lensa cekung adalah 1 2 3 + + + + f f f f f 4 5

        f = ceekung

        5

        o

        3. Ciri-ciri lensa cembung adalah: o Mengumpulkan cahaya (konvergen) o Fokusnya bernilai positif Memiliki sinar istimewa yakni:

        1. Sinar datang sejajar sumbu utama dibiaskan melalui titik fokus yang terdapat di belakang lensa

        2. Sinar datang melalui fokus yang terdapat di depan lensa di biaskan sejajar sumbu utama

        3. Sinar datang melalui titik pusat optik diteruskan tanpa dibiaskan.

        4. Ciri-ciri lensa cekung adalah: ¾ Dapat menyebarkan berkas sinar (divergen) ¾ Bagian-bagiannya sama dengan lensa cembung ¾ Fokusnya bernilai negatif ¾ Disebut juga lensa negatif atau min

        5. Manfaat lensa cembung adalah: Digunakan sebagai kaca pembesar (lup), kaca mata, mikroskop dan kamera serta digunakan dalam teropong.

        6. Manfaat lensa cekung adalah: Berdasarkan sifat bayangan yang terjadi pada lensa cekung, maka lensa cekung dapat digunakan untuk memfokuskan bayangan hingga tepat jatuh pada retina mata, sehingga penderita rabun jauh dapat ditolong dengan kaca mata yang memiliki lensa cekung/lensa negatif.

        Lampiran 6 KUESIONER PENGUKUR SIKAP SISWA SELAMA PROSES PEMBELAJARAN FISIKA PADA POKOK BAHASAN PEMANTULAN DAN PEMBIASAN CAHAYA MENGGUNAKAN MODEL INTELIGENSI GANDA YANG KONSTRUKTIVIS Nama siswa : ...............................................................................................................

        

      No.siswa : ...............................................................................................................

      Petujuk Pengisian Kuesioner

        Setelah mengikuti pembelajaran Fisika pada pokok bahasan pemantulan dan pembiasan cahaya, anda diminta untuk memberikan pendapat dengan menjawab pertanyaan yang ada dalam kuesioner ini.

        Cara menjawab kuesioner ini adalah: Anda diminta untuk memilih salah satu dari keempat pilihan yang sesuai dengan keadaan yang pernah anda alami dengan memberikan tanda silang ( X ) pada jawaban yang Anda pilih :

        Bila memilih SS artinya anda Sangat Setuju Bila memilih S artinya anda Setuju Bila memilih TS artinya anda Tidak Setuju la memilih STS artinya anda Sangat Tidak Setuju Terima kasih atas kesediaan anda mengisi kuesioner ini. Jawaban dari setiap pertanyaan yang ada dalam kuesioner ini tidak akan berpengaruh terhadap nilai

        Fisika. Selamat mengerjakan

        Berikan tanggapan-tanggapan anda dari pertanyaan-pertanyaan yang ada pada lembar kerja berikut: No Pertanyaan SS S TS STS

        1 Pembelajaran dengan model Inteligensi Ganda yang Konstruktif menolong saya untuk lebih aktif dalam

        mempelajari bahan pemantulan dan pembiasan

        cahaya

        2 Menurut saya pembelajaran dengan model Inteligensi Ganda yang Konstruktif ini sangat menyenangkan

        3 Pembelajaran dengan model ini menjadikan saya dapat belajar dari teman-teman dengan lebih santai dan mendalam

        4 Model pembelajaran ini menarik dan menjadikan saya untuk lebih termotifasi dalam belajar

        5 Pembelajaran dengan model ini membuat saya mau

        bertanya mengenai sesuatu yang dirasa belum jelas

        baik kepada guru maupun teman

        6 Selama kegiatan berlangsung saya diberi kebebasan untuk menyanggah, mengemukakan ide dan menurut saya hal itu sangat menyenangkan

        7 Model pembelajaran yang berlangsung selama ini membantu saya mengerti bahan teori pemantulan dan pembiasan cahaya

        8 Model pembelajaran ini membantu saya menemukan dan memahami konsep pokok dari pemantulan dan pembiasan cahaya

        9 Selama pembelajaran berlangsung saya pernah

        10 Selama pembelajaran berlangsung saya menjawab

        pertanyaan pertanyaan yang dilontarkan baik oleh

        guru maupun teman

        11 Selama pembelajaran berlangsung saya berinisiatif

        membaca buku/mencari sumber-sumber acuan yang

        terkait

        12 Selama pembelajaran berlangsung saya berinisiatif

        menciptakan sesuatu yang baru sehingga

        memudahkan teman untuk memahami pelajaran

        13 Rasa keingin tahuan saya tinggi selama pembelajaran berlangsung

        14 Saya selalu mencari pengalaman-pengalaman baru selama proses pembelajaran berlangsung

        15 Saya selalu percaya pada diri sendiri selama proses pembelajaran berlangsung

        16 Saya selalu berani dalam mengambil resiko (tidak takut salah) untuk mencoba sesuatu yang baru

        17 Model pembelajaran ini membuat saya lebih kreatif secara pikiran maupun tindakan

        18 Saya selalu mengikuti pelajaran secara antusias

        19 Saya merasa tidak puas hanya menerima pemikiran dari orang lain

        20 Saya merasa sangat dilibatkan dalam proses belajar mengajar selama kegiatan ini berlangsung

        Lampiran 7

      LEMBAR PENGAMATAN KETERLIBATAN SISWA

      PADA SAAT PRAKTIKUM

        Keterlibatan selama Kegiatan yang mendukung Pengalaman proses Inteligensi yang Kelompok praktikum kreativitas siswa konstruksinya ditekankan

        Kelompok 1 1. membaca modul kegiatan

        1. Mencari letak bayangan 1. siswa belajar memahami 1. kinestetik badani siswa dengan menggunakan praktikum melalui diskusi 2. ruang visual 2. mengkomunikasikan modul kertas putih yang dengan teman 3. matematis logis bersama dalam kelompok ukurannya lebih lebar dari 2. siswa mencari sumber 4. interpersonal 3. menyusun alat praktikum pada layar dari litaratur lain untuk 5. linguistik 4. mengumpulkan data 2. menentukan letak bayangan memahami materi 6. intrapersonal 5. menganalisis data melalui penomoran ruang

        Kelompok 2 1. membaca modul kegiatan

        1. Mencari letak bayangan 1. siswa belajar memahami 1. kinestetik badani siswa menggunakan kertas putih praktikum melalui diskusi 2. ruang visual 2. membagi tugas dalam yang ukurannya lebih lebar dengan teman 3. matematis logis kelompok untuk dari pada layar 2. siswa memahami 4. interpersonal pengambilan data 2. tidak menggunakan bangku praktikum melalui 5. linguistik

        131 praktikum 3. bersama-sama dalam kelompok menyusun alat praktikum

        4. mengumpulkan data 5. menganalisis data bersama dalam kelompok optik dalam penyusunan alat praktikum, melainkan alat-alat praktikum yang digunakan di pegang oleh masing-masing siswa dalam kelompok bertanya kepada peneliti

        3. siswa mencari sumber lain untuk melengkapi pengetahuannya dalam hal materi praktikum

        6. intrapersonal Kelompok 3 1. membaca modul kegiatan siswa

        2. menyusun alat praktikum 3. mengambil data 4. menganalisis data praktikum yang diperoleh

        Mencari letak bayangan menggunakan cover buku yang berwarna putih mengkilat sebagai pengganti layar

        1. siswa belajar memahami praktikum melalui diskusi dengan temannya

        2. siswa memahami materi malalui bertanya kepada peneliti atau kepada orang yang lebih tahu

        1. kinestetik badani 2. ruang visual 3. metematis logis 4. interpersonal 5. linguistik 6. intrapersonal

        Kelompok 4 1. membagi tugas dalam kelompok 2. mengkomunikasikan langkah kegiatan selama praktikum

        Mencari letak bayangan menggunakan kertas berwarna polos yang ukurannya lebar sebagai pengganti layar

        1. siswa belajar memahami praktikum melalui diskusi dengan temannya

        2. siswa bertanya kepada guru mengenai materi 1. kinestetik badani 2. ruang visual 3. metematis logis 4. interpersonal 5. linguistik

        132

        3. mengkomunikasikan modul yang dipraktikumkan atau 6. intrapersonal secara bersama mengenai hal lain dalam

        4. mengambil data kehidupan sehari-hari

        5. menganalisis hasil data yang berkaitan dengan dalam kelompok praktikum

        Kelompok 5 1. mengenalkan alat optik 1. memprediksi letak 1. siswa belajar memahami 1. kinestetik badani yang digunakan pada bayangan yang dihasilkan praktikum melalui diskusi 2. ruang visual masing-masing anggota dengan cara melukis dan belajar bersama 3. metematis logis kelompok pembentukan bayangan dalam kelompok 4. interpersonal

        2. mendiskusikan langkah 2. mencari letak bayangan 2. siswa mencoba 5. linguistik kegiatan selama praktikum menggunakan kertas putih mengganti sumber cahaya 6. intrapersonal 3. mengambil data

        PLN dengan baterai 4. diskusi untuk mencari data 3. siswa belajar memahami terbaik dan mengulang materi praktikum dengan pengambilan data bertanya kepada peneliti

        5. menganalisis data Kelompok 6 1. mengkomunikasikan dan Mencari letak bayangan 1. siswa belajar memahami 1.kinestetik badani mendiskusikan langkah menggunakan kain hitam praktikum melalui diskusi 2.ruang visual pengambilan data saat dalam kelompok 3.matematis logis

        133 praktikum 2. menyimak dan mendiskusikan modul kegiatan siswa

        3. menyusun alat praktikum 4. mengambil data 5. diskusi dan menganalisis data

        2. siswa bertanya kepada peneliti atau orang lain yang lebih tahu

        3. membaca dari sumber- sumber lain 4.interpersonal 5.linguistik 6.intrapersonal

        Kelompok 7 1. menyusun alat praktikum 2. membuat tabel data untuk hasil yang akan diperoleh 3. mendiskusikan pengambilan data 4. mendiskusikan modul kegiatan siswa 5. mengambil data 6. menganalisis data menggunakan buku sebagai penyangga alat-alat optik yang digunakan untuk menghasilkan bayangan dengan posisi yang lebih tinggi sehingga memudahkan pengamatan dalam kelompok

        1. pemahaman diperoleh dari literatur lain sebagai pedoman dalam praktikum

        2. bertanya dan berdiskusi 1. kinestetik badani 2. ruang visual 3. metematis logis 4. interpersonal 5. linguistik 6. intrapersonal

        Kelompok 8 1. membaca modul kegiatan siswa bersama-sama dalam 1. mengganti benda asli dengan benda yang dibuat

        1. pemahaman siswa diperoleh dengan cara 1. kinestetik badani 2. ruang visual

        134 kelompok 2. menyusun alat praktikum 3. mengambil data 4. diskusi kecil dan menganalisis data dalam kelompok sendiri dengan ukuran yang lebih besar

        2. menggunakan layar yang disambung dengan kertas untuk mengamati letak bayangan yang dihasilkan berdiskusi dalam kelompok kecil dan besar

        2. pemahaman diperoleh dari proses mencoba-coba alat dan membuat suatu kesimpulan

        3. metematis logis 4. interpersonal 5. linguistik 6. intrapersonal

        Kelompok 9 1. membaca modul kegiatan siswa bersama 2. menyusun alat 3. membuat tabel untuk data yang akan dihasilkan 4. mengambil data 5. menganalisis data bersama dalam kelompok

        1. memprediksi letak bayangan yang dihasilkan dengan cara melukis pembentukan bayangannya

        2. menggunakan kertas putih sebagai pengganti layar 1. siswa memahami materi melalui diskusi dan bertanya kepada peneliti

        2. pengetahuan diperoleh dari proses mencoba 3. pengetahuan diperoleh dari sumber literatur lain

        1. kinestetik badani 2. ruang visual 3. metematis logis 4. interpersonal 5. linguistik 6. intrapersonal

        135

        Lampiran 8 LEMBAR PENGAMATAN PRESENTASI Teknik Inteligensi Suasana dan Materi yang presentasi Kelompok Pengalaman proses kontruksinya yang situasi saat dipresentasikan yang ditekankan presentasi digunakan

        Kelompok 1 Pemantulan Power point 1. siswa belajar mencari bahan presentasi Linguistik Siswa lainnya cahaya dari buku-buku fisika dan internet interpersonal (tidak sedang 2. siswa bertanya kepada guru teknik presentasi) terlihat informatika mengenai penggunaan antusias power point mendengarkan dan menyimak. Kelompok 2 Cermin datar Power point 1. siswa mencari bahan presentasi dari Linguistik Siswa lainnya dan puisi buku acuan fisika, internet dan literatur Interpersonal terlihat antusias lain mendengarkan

        2. siswa bertanya kepada peneliti dan presentasi dan kepada orang lain yang dianggap lebih memberikan respon tahu di luar jam pelajaran. positif dari puisi yang dibacakan

        136 Kelompok 3 Cermin cekung Power point 1. siswa belajar mencari bahan presentasi Linguistik Siswa antusias dan tanya dari buku-buku fisika dan literatur Interpersonal mendengarkan jawab lainnya di perpustakaan presentasi dan berhadiah 2. siswa berdiskusi dalam kelompok berlomba bertanya serta menjawab pertanyaan untuk mendapatkan hadiah

        Kelompok 4 Cermin Poster 1. siswa belajar mencari bahan presentasi Linguistik Siswa terlihat cembung bergambar dari internet Interpersonal tertarik menyimak 2. siswa belajar dan berdiskusi dalam Ruang visual presentasi yang kelompok disajikan melalui poster

        Kelompok 5 Pembiasan Drama 1. siswa belajar mencari bahan presentasi Linguistik Siswa lainnya cahaya dari buku acuan fisika interpersonal terlihat 2. siswa bertanya dan berkonsultasi bersemangat ketika kepada peneliti teman-temannya

        3. siswa berlatih dan belajar bersama berkespresei dalam satu kelompok di laboratorium, melalui drama 137 untuk mencoba alat praktikum untuk membuktikan teori pembiasan cahaya (pensil terlihat patah saat dicelupkan ke dalam air)

        (ketika drama suasana menjadi lebih tenang)

        Kelompok 6 Lensa cembung Power point 1. siswa belajar mencari bahan presentasi dari buku acuan fisika 2. siswa mencoba alat (lensa cembung yang bisa membakar kertas) untuk membuktikan titik fokus pada lensa cembung

        3. siswa bertanya kepada orang lain yang lebih mengetahui 4. siswa belajar bersama dalam satu kelompok

        Linguistik Interpersonal

        Siswa terlihat mendengarkan penjelasan yang disampaikan oleh temannya yang sedang presentasi

        Kelompok 7 Lensa cekung Power point 1. siswa belajar mencari bahan presentasi dari buku acuan fisika dan beberapa literatur di perpustakaan

        Linguistik Interpersonal

        Siswa terlihat antusias mendengarkan

        138

        2. siswa belajar bersama dalam satu penjelasan selama kelompok praktikum

        Kelompok 8 Aplikatif Drama dan 1. siswa belajar mencari bahan presentasi Linguistik Suasana terlihat pemantulan pembuatan dari internet dan buku-buku percobaan Interpersonal tenang saat drama cahaya Periskop fisika Kinestetik dan menyenangkan

        2. siswa mencoba alat dalam kelompok badani ketika kelompok 3. siswa bertanya kepada orang lain yang presentasi ahli dalam pembuatan periskop mendemonstrasikan pembuatan periskop sederhana

        Kelompok 9 Aplikatif Power point 1. siswa belajar mencari bahan presentasi Linguistik Siswa terlihat pembiasan bergambar dari buku-buku acuan fisika Interpersonal antusias cahaya dan 2. siswa mencoba alat di laboratorium Ruang mendengarkan demonstrasi fisika untuk membuktikan teori Visual presentasi dan alat peraga pembiasan cahaya (air susu, air putih, menyimak air berwarna yang disinari laser) demonstrasi alat

        3. siswa bertanya dan berkonsultasi peraga kepada peneliti 4. siswa belajar dalam kelompok

        Pengalaman proses kontruksi diperoleh melalui keterangan siswa sebelum memulai presentasi di depan kelas

        139

        Lampiran 9

      LEMBAR PARTISIPAN SELAMA

      PRESENTASI KELOMPOK

        No Kode siswa Jenis pertanyaan

        1 Nn Apa saja manfaat dari cermin cekung

        17

        2 Nn

        29 Mengapa pada rumus perbesaran cermin, ada nilai jarak

        yang bernilai negatif (-)

        3 Nn

        10

        1

        1

        1

      • Apa dasar dari penarikan rumus '

        =

        s s f

        4 Nn

        18 Mengapa indeks bias mempengaruhi kecepatan cahaya

        5 Nn

        26 Maksud dari cahaya merambat lurus melalui medium

        homogen yang berkeseimbangan termal

        6 Nn

        31 Mengapa pada cermin datar bayangan bisa terbentuk

        terbalik simetri vertikal bukan horisontal

        7 Nn

        

      16 Titik fokus cermin cembung positif atau negatif

        8 Nn

        24 Mengapa tinggi cermin datar minimal hanya setengah

        tinggi badan kita

        9 Nn

        19 Bagaimana hasil bayangan sebuah benda jika diletakkan

        di antara dua cermin cembung yang saling berhadapan

        10 Nn

        13 Mengapa titik fokus dan pusat kelengkungan cermin

        cembung bernilai negatif

        11 Nn

        

      25 Bagaimanakah cara mencari rumus indeks bias

        12 Nn

        20 Bagaimanakah proses pembiasan pada prisma

        13 Nn

        

      8 Apakah manfaat dari pembiasan dan aplikasinya

        14 Nn Apakah kegunaan dari lensa cembung dalam kehidupan

        1

        15 Nn

        

      2 Diaplikasikan pada alat atau benda apa saja lensa

        bikonveks, plan konveks dan konkaf konveks dan apa perbedaannya

        16 Nn Apakah persamaan pembentukan bayangan dari lensa

        11

        cekung dan lensa cembung

        17 Nn

        9 Apakah fungsi dari lensa okuler

        18 Nn Apakah ketebalan lensa mempengaruhi pembentukan

        5

        bayangan

        Lampiran 10 Mendatar

        1. Persamaan konveks

        4. Bersifat memencar

        7. Zat bening dengan dua permukaan

        9. Sifat pemantulan cahaya oleh tanah

        11. Satuan kuat lensa

        12. Sifat bayangan yang dibentuk cermin cembung

        13. Sifat bayangan yang dibentuk lensa positif

        14. Ilmuan yang merumuskan hukum pemantulan

        Menurun

        1. Yang dapat memantulkan sinar dengan baik

        2. Yang membelah sinar datang dan sinar pantul

        3. Sifat bayangan pada cermin datar

        5. Tempat berkumpulnya berkas sinar sejajar pada cermin cekung

        8. Menentukan jumlah bayangan pada dua buah cermin datar yang dipasang saling berhadapan

        Lampiran 11

      SIMULASI KOMPUTER PEMANTULAN CAHAYA

        Slide ini merupakan modul yang membahas B B B B elajar P P P P emantulan C C C C ahaya mengenai pemantulan cahaya sesuai dengan

        M M M M enggunakan S S S S imulasi K K K K omputer kompetensi dasar kurikulum 2006 yakni menganalisis sifat-sifat dari suatu cahaya.

        Slide ini juga menyediakan simulasi yang diharapkan akan lebih membantu pemahaman konsep siswa dalam materi pemantulan cahaya.

        Semoga slide pembelajaran ini dapat bermanfaat bagi pembelajaran fisika, khususnya dalam materi gubuk_tica_luxta@yahoo.com gubuk_tica_luxta@yahoo.com gubuk_tica_luxta@yahoo.com gubuk_tica_luxta@yahoo.com pemantulan cahaya.

        Selamat Belajar ….

        Pemantulan Cahaya Berkas cahaya merupakan

        Cahaya merupakan salah satu bentuk kelompok dari sinar-sinar cahaya energi berupa gelombang yang dikelompokkan menjadi elektromagnetik, dengan salah satu

        Berkas cahaya menyebar sifatnya: Dapat ditangkap mata dan

        (divergen) dapat dipantulkan bila menyentuh dinding penghalang

        Berkas cahaya sejajar Berkas cahaya mengumpul (konvergen)

        143

        144 Berkas cahaya menyebar (divergen) yaitu berkas cahaya yang berasal dari suatu titik kemudian menyebar ke beberapa arah. contoh: berkas cahaya yang berasal dari lilin yang menyala.

        Berkas cahaya sejajar Yaitu berkas cahaya yang arahnya sejajar satu sama lain. contohya berkas cahaya yang keluar dari lampu senter yang telah disejajarkan oleh cermin cekung

        Berkas cahaya mengumpul (konvergen) Yaitu berkas cahaya yang menuju ke satu titik tertentu Contohnya berkas cahaya yang melewati lensa cembung

        Jenis Pemantulan Cahaya

        a. Pemantulan Baur (difus) Pemantulan ini terjadi jika suatu berkas cahaya jatuh pada benda yang permukaannya kasar (tidak rata) sehingga cahaya akan dipantulkan ke berbagai arah yang tidak tertentu. Klik disini

        Sinar datang 145 Permukaan kasar Sinar pantul kembali

        b. Pemantulan Teratur Pemantulan ini terjadi jika suatu berkas cahaya jatuh pada benda yang permukaannya licin dan mengkilap, sehingga arah pantulan cahaya menuju ke suatu arah tertentu. Klik disini

      CERMIN DATAR

        Sinar datang Sinar pantul Permukaan rata kembali

        Merupakan cermin dimana bagian yang memantulkan cahaya, permukaannya adalah datar Garis normalnya adalah garis yang melalui titik jatuh sinar dan tegak lurus bidang cermin

        Penjalaran cahaya pada bidang datar Hukum Snellius Sinar datang menuju cermin

        1. Sinar datang, Garis Normal, dan dengan sudut datang θ 1 Sinar Pantul berada pada satu Sinar pantul dari cermin bidang datar. θ θ 1 2 dengan sudut pantul θ 2 1. Sinar datang, sinar pantul dan garis normal terletak

        2. Besarnya Sudut Datang sama pada satu bidang datar dengan Sudut Pantul (θ =θ ) 2. Dalam pemantulan berlaku θ θ θ θ = θ θ θ θ 1 2

        1

        2 Hukum Snellius Hukum Snellius Hukum Pemantulan Cahaya Hukum Pemantulan Cahaya

        Untuk menjawab pertanyaan tersebut mari kita melihat simulasi di bawah ini Bagaimana dapat dibuktikan Lihat Simulasi bahwa dalam pemantulan berlaku Sudut Datang = Sudut Pantul ? Lanjutkan

        146

        147 Gambar simulasi oleh R. Rohandi Ini adalah posisi muka gelombang saat sampai pada bidang batas medium Gambar simulasi oleh R. Rohandi Ini adalah posisi muka gelombang saat meninggalkan bidang batas medium Medium n 1 Medium n α α 2 α α α α α α β β β β B A’ A B’ θ θ θ θ 1 11 1 θ θ θ θ 2 22 AB merupakan muka gelombang saat cahaya sampai di bidang batas (B); 2 β β β β θ A’B’ merupakan muka gelombang saat cahaya meninggalkan di bidang 1 =sudut datang batas (A’); θ 2 = sudut pantul Jarak tempuh gelombang cahaya dari A -->A’ sama panjang dengan dari B -->B’ , karena cahaya merambat pada medium yang sama Segitiga ABA’ dan BB’A’ sama dan sebangun dan sudut: α+β α+β α+β α+β= = = =90 o Sudut Sudut θ θ θ θ θ θ θ θ 1 11 1 1 11 1 =θ =θ =θ =θ =θ =θ =θ =θ 2 22 2 2 22 2 ;;;; ;;;; sudut sudut datang datang = = sudut sudut pantul pantul

        1. Sinar 1 yang datang menuju cermin dipantulkan berimpit dengan sinar datang (sudut datang = sudut pantul)

        2. Sinar 2 yang datang menuju cermin dengan membentuk sudut α α α α akan dipantulkan dengan membentuk sudut α α α α pula

        3. Perpanjangan sinar pantul 1 dan 2 (dilukis dengan garis putus-putus) akan berpotongan. Pada perpotongan itulah terletak bayangan benda Benda Bayangan Cermin Datar 1 2 α 3 α

        CERMIN CEKUNG Sifat Bayangan Dari Cermin Datar Merupakan cermin dimana bagian yang memantulkan cahaya, permukaannya

        Maya berupa cekungan dan merupakan bagian Tegak seperti benda aslinya dalam dari sebuah bola.

        Simetris (bentuk dan tinggi bayangan Ciri-Ciri Cermin Cekung sama dengan benda)

        1. Melengkung ke dalam Berkebalikan sisi

        2. Bagian pinggirnya tebal, sedangkan bagian tengahnya tipis Jarak benda ke cermin sama dengan

        3. Dapat mengumpulkan berkas sinar jarak bayangan ke cermin

        (konvergen)

        4. Titik kumpulnya disebut titik fokus yang bernilai positif

        5. Memiliki sinar-sinar istimewa Bagian-Bagian Cermin Cekung Penjalaran cahaya pada cermin cekung Titik pusat M F cermin cermin Depan Belakang Titik fokus f = ½ R F F Ruang I = benda antara O dan f Sumbu utama R Ruang III Ruang II Ruang I Ruang IV Ruang III = benda dibelakang M f

        Ruang II = benda antara F dan M Ruang IV = benda dibelakang cermin 148

        149 Perjanjian tanda pembentukan bayangan oleh cermin cekung Jarak Benda Jarak Bayangan

      • + + Daerah Daerah di di depan depan cermin cermin Jarak Fokus + Jarak Benda Jarak Bayangan - - Jarak Fokus - Daerah Daerah di di belakang belakang cermin cermin ( nyata) (nyata) (maya) (maya)

        Penjalaran cahaya cermin cekung R (pusat kelengkungan) Sinar pantul θ 1 θ 2

        θ 1 = θ Norm 2 Garis al Sinar datang Sinar Istimewa Pada Cermin Cekung

        1) Sinar datang sejajar sumbu utama dipantulkan melalui fokus 2) Sinar datang yang melalui fokus dipantulkan sejajar sumbu utama

        3) Sinar datang yang melalui titik pusat (M) dipantulkan kembali melalui titik pusat (M) tersebut F M F M F M O O O Benda di ruang III (Benda didepan M ) Benda di ruang II (antara F dan M ) Benda di ruang I (Benda antara O dan F) O F M O F M Benda Bayangan Benda Bayangan O F M Benda Bayangan Bayangan: Di Ruang II, Terbalik, Diperkecil dan Nyata Bayangan: Di ruang III, Terbalik, Diperbesar dan Nyata Bayangan: Di Ruang IV, Tegak, Diperbesar dan Maya

        Menentukan hubungan jarak benda, jarak Hubungan jarak benda, jarak bayangan dan jari-jari kelengkungan al θ θ i A β= θ β β β θ θ θ α α α α α α α α = β+θ β β β θ θ θ + i α α α α α α α α β β β β 1 1 + = 2 2 2 i bayangan dan fokus α α α α β β β β Ga α α α α ris No rm 2 i h Dari penjelasan sebelumnya diperoleh 1 persamaan

        1

        1

        2 P Q B O R ( α dan α kecil) maka; s s' r Bila sinar datang adalah paraxial tg α α α α ≈ ≈ ≈ ≈ α α α dan BP ≈ α ≈ ≈ ≈ OP 1 2 =

      • s’

        Bila sinar berasal dari jauh tak terhingga r α α α α ≈ tg α ≈ ≈ ≈ α α α = AB/BP ≈ ≈ h/s ≈ ≈ 1 1 (benda berada pada jauh tak hingga) maka s α α α α ≈ tg α ≈ ≈ ≈ α α α = AB/BQ ≈ ≈ h/s’ ≈ ≈ 2 2 dari persamaan diperoleh

        1

        2 ≈ ≈ ≈ tg= AB/BR h/r ≈ ≈ ≈ = β β β β β β β β r s' dan sinar pantul akan jatuh pada satu titik

        1

        1

        2 = + s r s'

        Manfaat Cermin Cekung Posisi bayangan terletak pada titik

        ’ tersebut dengan jarak s =r/2

        1. Cermin cekung digunakan sebagai selanjutnya titik tersebut di sebut pemantul titik fokus cermin

        (reflector) pada lampu sorot mobil, motor, Maka jarak fokus cermin f = r/2 dan lampu senter

        Dengan demikian persamaanya

        2. Cermin cekung digunakan sebagai

        1

        1

        1 = + penerang s s' f kaca objek pada mikroskop

        150

      CERMIN CEMBUNG

        151

        Merupakan cermin dimana bagian yang memantulkan cahaya, permukaannya berupa cembungan dan merupakan bagian luar dari sebuah bola.

        Ciri-Ciri Cermin Cembung

        1. Melengkung ke luar

        2. Bagian pinggirnya tipis, sedangkan bagian tengahnya tebal

        3. Dapat menyebarkan berkas sinar (divergen)

        4. Titik fokusnya bernilai negatif Penjalaran Cahaya Pada Cermin Cembung F F Bagian-Bagian Cermin Cembung Depan cermin Belakang cermin

        F M Sumbu utama Titik pusat Titik fokus f = ½ R f R Cermin cembung

        Penjalaran cahaya cermin cembung Perjanjian tanda pembentukan bayangan Daerah Daerah di di depan depan cermin cermin Daerah Daerah di di belakang belakang pada cermin cembung cermin cermin Sinar pantul

        Garis N - Jarak Benda + Jarak Bayangan Jarak Fokus (nyata) Jarak Benda (maya) (nyata) Jarak Bayangan Jarak Fokus - +

      (maya) Sinar datang

      ormal θ θ θ θ θ θ θ θ 1 = 2 θ θ 1
      • + 2 -
      • (pusat kelengkungan) R Sinar Istimewa Pada Cermin Cembung Pembentukan Bayangan

          1) Sinar datang sejajar sumbu utama dipantulkan seolah-olah dari titik F O F M Benda Bayangan 2) Sinar datang yang menuju F M titik F dipantulkan sejajar sumbu utama O F M 3) Sinar datang yang Sifat bayangan yang dibentuk cermin cembung menuju titik pusat (M) Maya dipantulkan melalui O F M Tegak lintasan yang sama diperkecil

          152

          Hubungan jarak benda, bayangan dan fokus Manfaat cermin cembung Dari penjelasan sebelumnya diperoleh persamaan 1 1 2 s s' r

          Cermin cembung sering digunakan + = pada mobil sebagai kaca spion.

          Bila sinar berasal dari jauh tak hingga maka 1 2 persamaan menjadi dan sinar pantul jatuh pada = s' r Dengan cermin ini pengemudi dapat satu titik melihat kendaraan di belakangnya

          Posisi bayangan terletak pada titik tersebut dengan dengan medan pengelihatan yang lebih jarak s = r/2. selanjutnya titik itu disebut titik fokus Maka jarak fokus cermin f = r/2 luas

          Dengan demikian persamaannya menjadi

          1

          1

          1

        • = s Untuk menerapkan persamaan ini ingat perjanjian tanda Rumus di atas berlaku juga bagi cermin cembung Pada cermin cembung

          s' f

          1. Pembentukan bayangan yang dihasilkan Uji Kompetensi cermin

          1. Lukis pembentukan bayangannya cermin benda benda bayangan

          Jawaban 153

          2. Lukis jalannya sinar yang menuju mata

          2. Jalannya sinar yang menuju mata dalam pembentukan bayangan adalah sebagai dalam pembentukan bayangan pada gambar di bawah mata cermin berikut mata cermin benda benda bayangan

          Jawaban

          3. Lintasan cahaya laser saat cermin datar

          3. Sebuah laser lintasan cahayanya seperti diletakkan pada posisi masing-masing. pada gambar. Tempatkanlah cermin datar agar saat laser dinyalakan lintasannya seperti demikian laser laser

          Jawaban 154

          4. Dimanakah Letak bendanya Cermin

          4. Letak bendanya Cermin Bayangan Benda Bayangan

          Jawaban

        5. Letak cermin datarnya bila kedua mata

          5. Letak cermin datarnya bila kedua mata dapat melihat bayangan benda dengan dapat melihat bayangan benda dengan arah pengelihatan seperti pada gambar arah pengelihatan seperti pada gambar adalah Benda Mata A Benda Mata A Cermin Mata B Jawaban Mata B Bayangan

          155

        6. Lukislah pembentukan bayanganya

          6. Letak bayangannya seperti pada gambar Cermin Benda berikut Bayangan 1 Cermin Benda Jawaban Bayangan 2 Bayangan 3

          7. Berikut daerah penempatan laser di sebelah

          7. Tentukan daerah penempatan laser di kanan dinding penghalang agar bila sinar sebelah kanan dinding penghalang agar laser diarahkan ke cermin dapat tepat pada bila sinar laser diarahkan ke cermin dapat sasaran A tepat pada sasaran A Cermin Cermin Posisi A A penghalang Jawaban Dinding A penghalang Dinding Posisi B Daerah penempatan laser

          156

          157 Lampiran 12

          

        Simulasi Pembiasan Cahaya

        B B B B elajar P

          P P P emantulan C C C C ahaya

          M M M M enggunakan S S S S imulasi K K K K omputer Pembiasan cahaya (Refraksi Refraksi Refraksi Refraksi) Merupakan pembelokan arah rambat cahaya ketika memasuki medium lain yang berbeda kerapatan optiknya. Artinya Ketika berkas cahaya melintas dari suatu medium ke medium lainnya, sebagian cahaya datang dipantulkan pada perbatasan. Sisanya lewat ke medium yang baru. Jika seberkas cahaya datang dan membentuk sudut terhadap permukaan (bukan hanya ) berkas tersebut dibelokkan saat memasuki medium yang baru. Pembiasan cahaya terjadi bila berkas cahaya merambat dari suatu medium (zat perantara) menuju ke medium lainnya dengan perubahan cepat rambat dan arahnya membuat sudut terhadap bidang batas

        2. Cahaya berasal dari optik kurang rapat menuju ke optik lebih rapat Cahaya akan dibiaskan menjauhi garis normal jika:

          158 Cahaya akan dibiaskan mendekati garis normal jika: 1. Cahaya berasal dari kecepatan tinggi menuju ke kecepatan rendah

          1. Cahaya berasal dari kecepatan rendah menuju ke kecepatan tinggi

          2. Cahaya berasal dari optik lebih rapat menuju ke optik kurang rapat Hukum Pembiasan oleh Snellius Snellius Snellius

          Snellius

          1. Sinar datang, garis normal, dan sinar bias terletak pada satu bidang dan berpotongan di satu titik

          2. Sinar datang dari medium kurang rapat ke medium lebih rapat dibiaskan mendekati garis normal. Sebaliknya sinar datang dari medium lebih rapat ke medium kurang rapat dibiaskan menjauhi garis normal Indeks Bias Medium

          Merupakan nilai perbandingan antara proyeksi sinar datang dan proyeksi sinar bias pada bidang pembatas

          c n = v

          Dengan: n = indeks bias zat 8 c = kecepatan cahaya dalam ruang hampa = 3x10 m/s v = kecepatan cahaya dalam zat (m/s) Gambar simulasi oleh R.Rohandi

          Lensa adalah benda bening yang dibatasi oleh dua bidang lengkung. Lensa Tipis adalah lensa yang tebalnya dapat diabaikan terhadap diameter lengkung lensa sehingga sinar-sinar sejajar sumbu utama hampir tepat Gambar simulasi oleh R.Rohandi difokuskan ke suatu titik yaitu titik fokus 159

          Ciri-Ciri lensa cembung Bentuk-bentuk lensa cembung berbentuk tebal di bagian tengah dan tipis di bagian tepinya

          1. Bikonveks atau cembung-cembung Sinar-sinar bias pada lensa ini bersifat (cembung rangkap) mengumpulkan cahaya (konvergen)

          2. Plan-konveks atau cembung datar Fokusnya bernilai positif (+)

          3. Konkaf- konveks (cembung-cekung) Penjalaran cahaya pada lensa cembung 1) Sinar datang sejajar Sinar-Sinar Istimewa lensa cembung melalui titik fokus yang ter- F sumbu utama dibiaskan dapat dibelakang lensa 2 F 1 F F yang terdapat di depan 3) Sinar datang melalui titik 2) Sinar datang melalui fokus sumbu utama lensa dibiaskan sejajar F 2 F 1 tanpa dibiaskan pusat optik diteruskan F 2 F 1 160

          Pembentukan Bayangan Pembentukan bayangan

          1. Lukis dua buah sinar utama

          2. Sinar selalu datang dari depan lensa dan dibiaskan ke belakang lensa

          3. Perpotongan kedua sinar bias yang dilukis pada poin 1. merupakan letak bayangannya. 2F 2 F F 2F 1 Jika perpotongan di dapat dari perpanjangan 2 1 sinar bias maka bayangan yang dihasilkan adalah maya dan dilukis dengan garis putus- putus

          Ciri-Ciri Lensa Cekung Manfaat:

          Berbentuk tipis di bagian tengahnya dan tebal Kaca pembesar (lup) pada bagian tepinya

          Kaca mata Dapat menyebarkan berkas sinar (divergen)

          Mikroskop dan kamera Fokusnya bernilai negatif (-) teropong

          Disebut pula lensa negatif atau min 161

          Bentuk-Bentuk Lensa Cekung Penjalaran cahaya pada lensa cekung

          1. Bikonkaf atau cekung-cekung (cekung rangkap)

          2. Plan-konkaf atau cekung datar

          3. Konveks-konkaf atau cekung cembung F F Pembentukan Bayangan Sinar-sinar Istimewa Lensa Cekung

          1) Sinar datang sejajar

          1. Gunakan dua sinar istimewa lensa cekung sumbu utama dibias F F 1 2

          2. Benda yang diletakkan di depan lensa cekung kan seakan-akan dari

          (benda nyata) selalu dihasilkan bayangan titik fokus yang memiliki sifat maya, tegak, diperkecil

          2) Sinar datang seakan- dan terletak di depan lensa di antara ) dan F 1 akan menuju fokus di-

          (fokus aktif) biaskan sejajar sumbu F F 1 2 utama

          3) Sinar datang melalui titik pusat optik diteruskan tanpa F F 1 2 pembiasan

          162

          Pembentukan Bayangan Benda 2F 1 F 1 F 2 2F 2 F 2F Benda 1 F 1 2 2F 2 n n 1 θ θ θ θ i θ θ θ θ r A h θ θ θ θ r 2 Bila sinar datang adalah paraxial Hukum Snellius: n sin θ θ θ θ = n sin θ θ θ θ 1 i i 1 r 2 r + β= θ β β β θ θ θ α α α α β= θ β β θ + β θ θ α α α α 2 diperkecil diperkecil Bayangan maya, tegak, Bayangan maya, tegak, 2F 1 F Benda 1 F 2 2F 2 P Q R (Pusat B O α α ≈ ≈ α α θ θ ≈ ≈ θ θ ≈ ≈ α α α α α α α α β β β β 1 2 s Kelengkungan) s r tg α ≈ α ≈ α α, sin θ θ ≈ ≈ θ, θ BP OP ( α , α , θ dan θ kecil) maka; n ( β - α β β β α α α ) = n ( β β β β - α α α α ) n α α α α - n α α α α = (n - n ) β β β β Hukum Snellius menjadi: 1 1 1 1 2 i r 2 1 2 2 1 2 2 n Bayangan maya, tegak, 1 2 1 - n n n 2 diperkecil

          − = s r s'

          Manfaat Lensa Cekung Lensa cekung digunakan untuk memfokuskan n n 1 2 bayangan hingga tepat jatuh pada retina mata, n dengan kaca mata yang memiliki lensa cekung 1 sehingga penderita rabun jauh dapat ditolong R R (Pusat f o r F o Kelengkungan) r = n n atau lensa negatif - 1 2 f

          163

          1. Gambarkanlah bayangannya Benda Sumbu utama F F Benda F 2 F 1 Bayangan

          2. Di depan sebuah lensa cembung ditempatkan sebuah lilin yang berikut menyala dan terbentuk pada layar dibelakang lensa seperti gambar utama F Sumbu Benda F yang tampak pada layar jika separuh lensa ditutup Prediksikanlah apa yang akan terjadi pada bayangan nyala lilin Bayangan 164

          Benda 165 Bayangan F F Sumbu utama Bayangan Benda F F Sumbu utama Bagaimana bila separo bagian lensa ditutup? Bayangan tetap, hanya lebih redup

          Lampiran 13 DATA SKOR PRE TEST DAN POST TEST

          Pertanyaan Pre test Pertanyaan Post test No Kode

          Total Total urut siswa 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 skor skor

          1 Nn

          1 13 15 10 10 15 63 15 20 15 10 40 100

          2 Nn 13 5 20 5 15 58 15 18 15 15 35 96

          2

          3 Nn 10 10 10 20 20 70 15 20 25 15 40 115

          3

          4 Nn

          4 8 5 2 5 10 30 13 15 12 15 30 85

          5 Nn

          5 13 10 20 15 20 78 15 15 25 12 20 87

          6 Nn

          6 7 3 10 5 10 35 15 15 2 15 30 77

          7 Nn 13 5 10 5 5 38 15 10 15 10 20 70

          7

          8 Nn 8 8 2 20 30 68 15 15 10 15 30 85

          8

          9 Nn

          9 8 15 20 10 20 73 13 20 20 20 35 108

          10 Nn

          10 8 2 5 10 10 35 15 15 10 20 35 95

          11 Nn

          11 13 2 15 15 20 65 15 20 15 20 30 100

          12 Nn

          12 13 10 13 10 20 66 15 17 15 15 20 82

          13 Nn 8 2 2 5 10 27 8 15 20 5 25 73

          13

          14 Nn

          14 13 5 15 20 20 73 15 15 20 15 40 105

          15 Nn

          15 8 15 10 10 15 58 15 10 8 25 35 93

          16 Nn

          16 13 5 10 5 15 48 15 20 12 15 30 92

          17 Nn 13 15 20 15 30 93 15 20 20 20 40 115

          17

          18 Nn 13 2 10 10 20 55 15 10 15 15 30 85

          18

          19 Nn

          19 5 8 15 10 20 58 8 20 10 12 20 70

          21 Nn

          27 13 5 5 10 20 53 15 15 20 20 40 110

          33 Nn

          32 8 10 2 10 20 50 15 20 20 10 25 100

          32 Nn

          31 12 20 10 10 20 72 15 20 15 10 40 100

          31 Nn

          12 10 2 5 20 49 15 20 20 20 40 115

          30

          30 Nn

          29 8 2 10 5 20 45 13 10 15 20 30 88

          29 Nn

          28 13 5 10 10 20 58 15 15 10 20 40 100

          28 Nn

          27 Nn

          21 13 2 2 20 4 41 15 20 15 25 35 110

          26 13 2 5 10 20 50 15 15 15 20 25 90

          26 Nn

          7 5 10 5 20 47 8 20 20 10 20 78

          25

          25 Nn

          13 20 10 10 20 73 15 20 20 15 35 105

          24

          24 Nn

          23 13 2 10 10 20 55 15 5 13 20 35 88

          23 Nn

          22 13 10 10 15 20 68 15 17 20 20 35 107

          22 Nn

          33 12 2 10 5 30 59 15 20 20 20 40 115

          Lampiran 14

        Nilai Pre Test dan Post Test Siswa Kelas X

          6 Pada Pokok Bahasan Pemantulan dan Pembiasan Cahaya No Kode Siswa Nilai Pre test Nilai Post test siswa

          1 Nn

          1 5,47 8,69

          2 Nn

          2 5,04 8,34

          3 Nn 6,08 10

          3

          4 Nn 2,60 7,39

          4

          5 Nn

          5 6,78 7,56

          6 Nn

          6 3,04 6,69

          7 Nn

          7 3,30 6,08

          8 Nn 5,91 7,39

          8

          9 Nn 6,34 9,39

          9

          10 Nn

          10 3,04 8,26

          11 Nn

          11 5,65 8,69

          12 Nn

          12 5,73 7,13

          13 Nn

          13 2,34 6,34

          14 Nn 6,34 9,13

          14

          15 Nn

          15 5,04 8,08

          16 Nn

          16 4,17 8,00

          17 Nn

          17 8,08 10

          18 Nn 4,78 7,39

          18

          19 Nn 5,04 6,08

          19

          20 Nn

          20 4,60 8,52

          22 Nn

          28 Nn

          33 Nn

          4,34 8,69

          32

          32 Nn

          31 6,26 8,69

          31 Nn

          30 4,26 10

          30 Nn

          29 3,91 7,65

          29 Nn

          28 5,04 8,69

          4,60 9,56

          22

          27

          27 Nn

          26 4,34 7,82

          26 Nn

          25 4,08 6,78

          25 Nn

          24 6,34 9,13

          24 Nn

          23 4,78 7,65

          23 Nn

          5,91 9,30

          33 5,13 10

          Lampiran 15

        Data Hasil Kuesioner Sikap Siswa

        No

          37

          34

          12 Nn

          12

          40

          13 Nn

          13

          39

          14 Nn

          14

          48

          15 Nn

          15

          16 Nn

          11 Nn

          16

          37

          17 Nn

          17

          40

          18 Nn

          18

          39

          19 Nn

          19

          36

          20 Nn

          20

          11

          37

          Urut Kode Siswa Total Skor

          5

          1 Nn

          1

          42

          2 Nn

          2

          49

          3 Nn

          3

          37

          4 Nn

          4

          39

          5 Nn

          42

          10

          6 Nn

          6

          40

          7 Nn

          7

          40

          8 Nn

          8

          45

          9 Nn

          9

          48

          10 Nn

          46

          22 Nn

          31 Nn

          29 Nn

          29

          39

          30 Nn

          30

          48

          31

          28

          40

          32 Nn

          32

          46

          33 Nn

          33

          41

          28 Nn

          22

          42

          44

          23 Nn

          23

          46

          24 Nn

          24

          25 Nn

          48

          25

          42

          26 Nn

          26

          46

          27 Nn

          27

          40 Total skor yang dicapai 1 386

          Lampiran 16 SMA NEGERI 2 YOGYAKARTA

          Wilayah : Yogyakarta Alamat : Bener, Tegalrejo Yogyakarta (0274) 563647 RENCANA PEMBELAJARAN Mata Pelajaran : Fisika Kelas : X Semester : II Tahun : 2007/2008

        A. PROGRAM SEMESTER

          Standar Kompetensi : Menerapkan konsep dan prinsip gejala gelombang OPTIKA dalam menyelesaikan masalah

          

        KOMPETENSI MATERI JABARAN ALAT & ALOKASI

          INDIKATOR

        METODE DASAR POKOK MATERI SUMBER WAKTU

          Menganalisis

          1. Mengenal alat-alat Optika

          1. Definisi

          1. Praktikum Alat 2 x 45’

          Praktikum :

          sifat-sifat OPTIKA yang digunakan Geometri pemantulan

          2. Presentasi 1. alat optik cahaya dalam kehidupan sehari- (pemantulan dan pembiasan

          3. Simulasi cermin hari dan cahaya komputer

          (datar, pembiasan

          2. Cara melukis cekung cahaya) pembentukan cembung)

          2. Menggunakan alat-alat bayangan yang dan lensa OPTIKA untuk dihasilkan dari

          (cembung, 172 menganalisis sifat-sifat cahaya

          3. Menunjukan percobaan- percobaan yang mendukung atau melemahkan teori mengenai pemantulan dan pembiasan cahaya

          4. Menggunakan persamaan- persamaan OPTIKA Geometrik untuk menyelesaikan masalah peralatan OPTIK

          5. Mencari dan menelusuri literatur tentang pemantulan dan pembiasan cahaya

          6. Menjelaskan karakteristik cahaya berdasarkan teori penggunaan alat-alat OPTIK

          3. Pemanfaatan pemantulan dan pembiasan cahaya dalam kehidupan sehari-hari cekung)

          2. Alat ukur: penggaris

          3. Bangku optik

          4. Lampu

          5. Benda

          6. Layar

          Alat Presentasi :

          1. OHP

          2. Alat lain yang digunakan oleh siswa

          Alat simulasi komputer:

          1. Komputer

          2. LCD 173

        B. LANGKAH-LANGKAH KEGIATAN PEMBELAJARAN

          c. Menyampaikan tujuan pembelajaran

          174

          INTI Saat Praktikum

          2 KEGIATAN

          f. Rambu-rambu: siswa dapat menerapkan alat-alat optik dalam kehidupan sehari-hari 2 x 45’

          e. Pengetahuan prasyarat: siswa mengerti tentang cahaya dan berkas cahaya

          d. Motivasi: siswa mendefinisikan pemantulan dan pembiasan cahaya

          b. Memberikan pre test kepada siswa mengenai materi pemantulan dan pembiasan cahaya

          pemantulan dan pembiasan cahaya

          a. Salam pembukaan dan pemberian tanda pengenal (call card) siswa

          1 PENDAHULUAN

          

        No KEGIATAN SISWA WAKTU

          2. Buku acuan

          1. Modul kegiatan siswa

          Sumber Lain :

          7. Menjelaskan contoh dan penerapan alat-alat OPTIKA berdasarkan teori pemantulan dan pembiasan cahaya

        • 2 x 45’ untuk masing- masing kegiatan
        a. Siswa memahami Modul Kegiatan Siswa praktikum cermin dan

          b. Siswa melakukan percobaan praktikum sesuai tuntunan dalam Modul Kegiatan Siswa lensa

          c. Siswa belajar menyusun tabel data untuk hasil yang diperoleh pada saat praktikum

        • 2 x 45’ untuk masing-

          d. Siswa belajar mencari pembentukan bayangan yang dihasilkan selama proses praktikum masing kegiatan e. Siswa belajar untuk mendefinisikan sifat bayangan yang dihasilkan presentasi 9 kelompok f. Siswa belajar melakukan pengukuran, dan menggunakan persamaan-persamaan yang

        • 2 x 45’ untuk masing- ada untuk melengkapi data yang diperoleh

          masing kegiatan

          g. Siswa belajar untuk berdiskusi dalam kelompok selama proses praktikum berlangsung simulasi komputer h. Siswa belajar untuk menyelesaikan permasalahan (soal latihan) yang ada dalam Modul

          Kegiatan Siswa i. Siswa belajar untuk mengungkapkan hasil yang diperoleh dalam diskusi kelompok besar setelah proses praktikum berlangsung Saat Presentasi dan diskusi

          a. Siswa belajar untuk berkomunikasi dalam kelompok

          b. Siswa belajar untuk mengungkapkan ide berdasarkan pilihan materi yang dipresentasikan c. Siswa belajar untuk mencari pemahaman materi dengan cara siswa sendiri

          d. Siswa belajar untuk berkreasi dan berkespresi melalui materi yang dipresentasikan 175 e. Siswa belajar untuk menghargai orang lain

          f. Siswa belajar untuk menerapkan alat optik dalam mempresentasikan materi Saat Simulasi komputer

          a. Siswa belajar untuk lebih memahami materi dari awal sampai akhir

          b. Siswa belajar untuk menggali pemahaman yang belum diperoleh atau pemahaman yang keliru selama proses pencarian pemahaman materi sendiri oleh siswa c. Siswa belajar untuk memahami gambar dan simulasi-simulasi yang ada mengenai materi pemantulan dan pembiasan cahaya

          3 PENUTUP 2 x 45’

          a. Resume: memberikan kesimpulan mengenai pemantulan dan pembiasan cahaya

          b. Refleksi: siswa mengungkapkan perasaan selama pembelajaran berlangsung dan mengungkapkan mengenai apa yang telah dipelajari selama ini serta manfaat apa yang telah diperoleh selama proses pembelajaran berlangsung

          c. Memberikan post test kepada siswa mengenai materi pemantulan dan pembiasan cahaya

          d. Memberikan kuesioner kepada siswa untuk melihat sikap mereka selama proses pembelajaran berlangsung Yogyakarta, 28 Februari 2007

          Peneliti Scholatica Sri Endah Dewi P.

          176

          177

          Lampiran 17

          PUISI BILA HIDUP ITU CERMIN

          Bila hidup itu cermin… Maka isyarat apa yang mampu menyiratkan hidup Bahwa kehidupan itu adalah sosok kita Atau... Sesosok kehidupan adalah penampakan dari wujud terpantulkan melalui lembar lembar perjalanan Maka, Bila hidup itu cermin Seharusnya kita lebih mengerti memahami hidup Bila hidup itu cermin Seharusnya kita dapat bersentuhan lebih dekat padanya agar kita mengetahui dengan jelas segala kekurangan yang terpantul dari cermin itu Namun, sayang…. kita sering menganggap hidup itu cermin cembung yang selalu melebih-lebihkan kekurangan dan mengurangkan segala kelebihan yang kita miliki atau kita sering menganggap bahwa hidup itu laksana cermin cekung yang selalu memberikan kekecewaan pada apa yang dipantulkannya

          ….. bila saja kita mampu merenungkan peristiwa yang telah kita alami, baik yang memalukan, menyenangkan, memilukan dan menggilakan ahh.. cobalah kita cermati yang tak sempat kita cermati bahkan luput dari pandangan mata...

          Cobalah mengerti, andai kita mampu melihat hidup bak cermin datar yang tiap saat kita berkaca padanya.. melihat noda hitam di wajah.. dan secara perlahan mulai menutupinya dengan sepuhan bedak atau bahkan sekedar lotion..: huffff…. Bukankah itu lebih mudah….??? ….. Berapa kali bercermin untuk memperindah jasad ? Namun, ketika itu, sudahkah kita bercermin dengan kehidupan, menutupi kesalahan dengan amal yang diperbuat dan menjadikan kelebihan sebagai jalan untuk dekat padaNYa ya….seperti setiap hari yang kita lakukan...

          Sudahkah ? Atau memang kita malu untuk melihat segala kekurangan kita, melalui cermin kehidupan yang ada di depan mata ?

          Lampiran 18

        Foto Penelitian Pembelajaran Fisika

        Menggunakan Model Inteligensi Ganda yang Konstruktivis

          Peneliti membagikan callcard kepada siswa mengerjakan soal pre test siswa peneliti sedang menerangkan prosedur Antusias siswa saat pembagian kegiatan praktikum kelompok presentasi

          

        siswa sedang mengukur tinggi bayangan siswa mengatur alat optik untuk mencari letak bayangannya siswa bekerja sama mencari letak siswa mencari letak bayangan bayangan siswa sedang mencoba alat optik siswa terlihat serius mencari bayangan

        siswa mencari letak bayangan kerjasama dalam satu kelompok praktikum

        siswa berdiskusi menentukan bayangan siswa sedang menjelaskan kepada teman

          

        siswa berdiskusi dalam satu kelompok suasana diskusi dalam satu kelompok

        praktikum praktikum suasana saat mengolah dan menganalisis keseriusan saat mengerjakan latihan pada data praktikum modul kegiatan siswa

          

        siswa sedang mempresentasikan materi siswa sedang mempresentasikan sifat-sifat pemantulaan teratur cahaya

        siswa mempresentasikan materi siswa sedang menjelaskan perhitungan melalui tanya jawab berhadiah secara matematis siswa mempresentasikan materi di depan suasana pembelajaran di ruangan kelas multimedia

        antusias siswa saat mengikuti diskusi antusias siswa untuk bertanya mengenai

        dalam kelompok besar materi yang diajarkan

        peneliti mempresentasikan materi melalui peneliti mempresentasikan materi media simulasi komputer yang dihubungkan melalui media TV siswa menjawab pertanyaan yang diajukan suasana pembelajaran di dalam kelas oleh peneliti

          

        suasana saat siswa mengerjakan post test peneliti mendampingi siswa saat mengisi

        kuesioner Suasana keakraban antara peneliti dengan para siswa

        BIOGRAFI PENULIS

          Skripsi ini disusun oleh Scholastica Sri Endah Dewi Pujiastuti. Anak tunggal dari Stev.Marsono dan Maria Kristina Sri Mulyani lahir di Sorong, 28 Januari 1985. Penulis mulai mengenyam pendidikan di TK Cenderawasih (1989-1991) dan selama 3 tahun sekolah di SD Inpres Wosi Dalam Papua. Penulis melanjutkan pendidikan di SD Pangudi Utami Temanggung (1994-1997) dan SMP N 2 Temanggung (1997-2000). Tahun 2003 penulis lulus dari SMA N 3 Temanggung, kemudian melanjutkan kuliah di Pendidikan Fisika Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

Dokumen baru

Download (212 Halaman)
Gratis

Tags

Dokumen yang terkait

Analisis kesalahan siswa dalam menyelesaikan soal fisika pokok bahasan alat optik berdasarkan taksonomi Solo :|bpada siswa kelas II Cawu 3 SLTP 9 Jember tahun pelajaran 2001/2002
0
37
67
Analisis kesalahan siswa dalam menyelesaikan soal fisika pokok bahasan alat optik berdasarkan taksonomi Solo: Pada siswa kelas II Cawu 3 SLTP 9 Jember tahun pelajaran 2001/2002
0
5
67
Efektifitas model simulasi bertingkat pada pembelajaran matematika sub pokok bahasan menghitung nilai fungsi siswa kelas VIII semester ganjil SMP Negeri 10 Jember tahun ajran 2006/2007 (Studi pada mahasiswa ppl Program studi pendidikan fisika FKIP Unej ta
1
6
107
Efektifitas penggunaan metode resitasi dan kartu kerja terhadap hasil belajar fisika siswa kelas II cawu III pokok bahasan struktur inti dan radioaktifitas di MAN 2 Jember tahun pelajaran 2000/2001
0
4
105
Efektivitas remediasi dengan metode tugas yang direpresentasikan dalam meningkatkan hasil belajar fisika: Studi Eksperimen pada siswa kelas II cawu II pokok bahasan cahaya di SLTP Negeri 1 tahun pelajaran 2000/2001
0
2
87
Hubungan antara persepsi dan motivasi belajar fisika dengan hasil belajar fisika pokok bahasan energi siswa kelas 1 cawu III SLTP Negeri 3 Jember tahun ajaran 2001/2002
0
4
69
Peningkatan aktivitas siswa dalam pembelajaran matematika pada pokok bahasan pecahan malalui pendekatan palkam pada siswa SD
1
8
200
Pengaruh model pembelajaran inkuiri terhadap hasil belajar fisika siswa pada pokok bahasan gerak: penelitian kuasi eksperimen di SMK Bakti Idhata Cilandak Jakarta Selatanso
0
70
166
Perbandingan peningkatan hasil belajar fisika antara siswa yang menggunakan model pembelajaran problem based learning dengan cooperative learning
1
12
190
Meningkatkan hasil belajar matematika melalui pendekatan pemecahan masalah pada siswa kelas V SD Negeri 2 Bone-Bone Kota Baubau pada pokok bahasan FPB dan KPK
0
0
12
Perbedaan hasil belajar siswa yang diajarkan dengan model pembelajaran project based learning (pjbl) dan konvensional pada pokok bahasan lingkaran kelas viii smp n 3 Tanjung Morawa tahun ajaran 2017-2018 - Repository UIN Sumatera Utara
0
0
162
Penerapan model pembelajaran berbasis masalah terhadap keterampilan komunikasi sains dan hasil belajar siswa kelas X SMA Muhammadiyah 1 Palangkaraya pada pokok bahasan gerak lurus semester 1 tahun ajaran 2016/2017 - Digital Library IAIN Palangka Raya
0
0
10
Penerapan model pembelajaran berbasis masalah terhadap keterampilan komunikasi sains dan hasil belajar siswa kelas X SMA Muhammadiyah 1 Palangkaraya pada pokok bahasan gerak lurus semester 1 tahun ajaran 2016/2017 - Digital Library IAIN Palangka Raya
0
0
28
Penerapan model pembelajaran berbasis masalah terhadap keterampilan komunikasi sains dan hasil belajar siswa kelas X SMA Muhammadiyah 1 Palangkaraya pada pokok bahasan gerak lurus semester 1 tahun ajaran 2016/2017 - Digital Library IAIN Palangka Raya
0
0
25
2 rpp pemantulan cahaya pada cermin
0
2
8
Show more