PENINGKATAN KEAKTIFAN DAN PRESTASI BELAJAR IPA SISWA KELAS III SD NEGERI PLAOSAN 1 MENGGUNAKAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL SKRIPSI

Gratis

0
0
251
9 months ago
Preview
Full text

   PENINGKATAN KEAKTIFAN DAN PRESTASI BELAJAR IPA SISWA KELAS III SD NEGERI PLAOSAN 1 MENGGUNAKAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL SKRIPSI

  Diajukan sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar

  Disusun Oleh: Restu Galih Agung Samekta 091134112 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

  PERSEMBAHAN Skripsi ini ku persembahkan untuk:

  • Allah SWT yang tidak henti-hentinya memberikan perlindungan

    dan anugerahNya selama hidupku.
  • Kedua orang tuaku Bpk. Totok Wasana dan Ibu Sunaryati

  senantiasa memberikan dukungan moral dan materiil kepadaku serta do’a yang tak pernah putus untuk kesuksesanku dan kelancaran hidupku.

  • Kedua adikku Rangga dan Rijal yang selalu mendukungku.
  • Sahabat terdekatku Ferawaty Sulistyaningrum selalu menemaniku, membantuku dan penyemangatiku.
  • Bapak ibu dosen yang membimbingku untuk menjadi calon pendidik yang baik.
  • Almamaterku Universitas Sanata Dharma yang telah menuntunku

    menjadi calon pendidik yang berkualitas.

  MOTTO

  • Kesalahan bukan untuk kita tutupi, tetapi perlu kita akui dan segera meminta maaf dan berusaha tidak menggulangi.
  • Jujurlah pada diri sendiri maka orang lain akan mempercayai kita.

  • Manusia boleh berencana Tuhan yang menentukan.

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

  Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa karya yang saya tulis tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan pada daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.

  Yogyakarta, 05 Juni 2013 Penulis

  Restu Galih Agung Samekta

  

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN

PUBLIKASI ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

  Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma: Nama : Restu Galih Agung Samekta NIM : 091134112

  Demi perkembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan karya ilmiah saya yang berjudul: PENINGKATAN KEAKTIFAN DAN PRESTASI BELAJAR IPA

  

SISWA KELAS III SD NEGERI PLAOSAN 1 MENGGUNAKAN

PENDEKATAN KONTEKSTUAL

  kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis.

  Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.

  Yogyakarta, 05 Juni 2013 Yang menyatakan

  Restu Galih Agung Samekta

  

ABSTRAK

PENINGKATAN KEAKTIFAN DAN PRESTASI BELAJAR IPA SISWA

KELAS III SD NEGERI PLAOSAN 1 MENGGUNAKAN PENDEKATAN

KONTEKSTUAL

Restu Galih Agung Samekta

Universitas Sanata Dharma

  

2013

  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan keaktifan dan prestasi belajar

  IPA siswa kelas III SD Negeri Plaosan 1 menggunakan pendekatan kontekstual tahun

  pelajaran 2012/2013. Peningkatan siswa dapat dilihat dari kenaikan rata-rata keaktifan dan nilai siswa dan juga persentase siswa yang mencapai KKM. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Subjek penelitian adalah siswa kelas III SD Negeri Plaosan 1 pada tahun pelajaran 2012/2013 yang berjumlah 20 siswa. Objek penelitian adalah peningkatan keaktifan dan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran IPA. Penelitian ini dilaksanakan dalam satu siklus yang terdiri atas perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini diperoleh dengan observasi selama proses pembelajaran berlangsung dan tes di akhir siklus. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi awal keaktifan siswa sebelum dilakukan tindakan menggunakan pendekatan kontekstual. Pada indikator siswa bertanya kepada guru atau bertanya dengan teman tentang materi pembelajaran IPA pada kegiatan belajar berlangsung, pada kondisi awal memiliki rata-rata kumulatif 1,2 dan menjadi 1,9 mengalami peningkatan 58% dari kondisi awal, indikator siswa yang mengemukakan pendapat saat proses pembelajaran memiliki rata-rata komulatif 1,7 dan menjadi 2,4 mengalami peningkatan 41 % dari kondisi awal, indikator siswa mengerjakan tugas yang diberikan guru dalam proses pembelajaran IPA memiliki rata-rata komulatif 1,8 dan menjadi 2,8 mengalami peningkatan 55% dari kondisi awal. Prestasi belajar siswa sebelum dilakukan tindakan menggunakan pendekatan kontekstual, nilai rata-rata siswa kelas III tahun pelajaran 2012/2013 adalah 64,7 dan persentase yang mencapai KKM yaitu 40%. Setelah dilakukan tindakan pada siklus I, rata-rata nilai siswa meningkat menjadi 80,4 dan persentase siswa yang mencapai KKM meningkat menjadi 85%. Peneliti tidak melanjutkan ke siklus berikutnya, karena sudah mencapai target yang di tentukan oleh peneliti bersama guru kelas. Berdasarkan hasil penelitian menggunakan pendekatan kontekstual dalam upaya meningkatkan keaktifan dan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran IPA di kelas

  III, guru diharapkan untuk selalu berinovasi dalam pembelajaran. Banyak metode, pendekatan dan model yang bisa digunakan salah satunya dengan pendekatan kontekstual.

  

ABSTRACT

  IMPROVING STUDENTS’ ACTIVENESS AND ACHIEVEMENT IN

LEARNING SCIENCE OF THIRD GRADER OF SD PLAOSAN I

USING THE CONTEXTUAL APPROACH

  

Restu Galih Agung Samekta

Sanata Dharma University

2013

  This study aims to determine the increasing activity and the science achievement for the third grade students of SD Negeri Plaosan 1 using the contextual approach year 2012/ 2013.

  The students’ improvment can be seen by students’ average improvment of their activeness and scores and also the persentage of the students who achievethe KKM. The research methodology used in this research is a classroom action research

  rd

  (CAR). The research subject is the of this research III students ’ of SD Negeri

  Plaosan 1 2012/ 2013 academic year in the total number of 20 students. The research objects is the increasing of the students’ activities and the achievement on the science field. This study was conducted in a single cycle consisting of planning, implementation, observation and the reflex. The Data collection techniques in this study are obtained by the obervation during the learning process and test at the end of the session. The Data obtained were analyzed by descriptive qualitative .

  The results showed that the preliminary data on average student activeness prior to the act of using contextual approach. On indicators the students ask the teacher or ask their friend about the science it has when the learning activities take place in the early conditions it has the average cumulation from 1,2 became 1,9 it increase 58 % from the early condition, The students indicator that express during the learning process have the average cumulation from 1,7 became 2,4 it increase 41% from the early condition.The student indicator which student did the task given by teacher during the science learning process have the average cumulation from 1,8 became 2,8 it increase 55% from the early condition. Before the researcher use contextual approach, the students’ achievement in 2012/2013 academic year is 64,7 for the

  rd

  average score af the III grade students and the persentage who reach the KKM is 40 %. After the action of the first cycle, the average grade increasing became 80,4 and the percentage that reach the KKM increasing 85%. The researchers did not continue to the next cycle, because it has reached the determanition by the researcher with the class teacher.

  Based on the result using the contextual approach in the effort of increasing students’ activeness and achievement in science subject for the III grader, teachers are expected to constantly innovate in learning. Many methods, approach and models that can be used with contextual approach.

  Keyword : activeness, achievement and contextual approach.

KATA PENGANTAR

  Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat, rahmat, dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Penelitian Tindakan Kelas ini. Skripsi ini disusun untuk memperoleh gelar sarjana pendidikan di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan khususnya Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

  Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini tidak mungkin selesai jika tanpa bantuan dari berbagai pihak. Maka pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

  1. Drs. Rohandi, Ph.D., selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma.

  2. Romo G. Ari Nugrahanta, SJ., SS., BST., M.A., selaku Ketua Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Sanata Dharma.

  3. E. Catur Rismiati, S. Pd., M.A. Ed. D., selaku dosen pembimbing I, yang telah memberikan arahan, dorongan, semangat, serta sumbangan pemikiran yang penulis butuhkan untuk menyelesaikan skripsi ini.

  4. Wahyu Wido Sari, S.Si., M. Biotech selaku dosen pembimbing II, yang telah memberikan bantuan ide, saran, masukan, kritik, serta bimbingannya yang sangat berguna selama penelitian ini.

  5. Sumarjoko, S.Ag., selaku Kepala Sekolah Dasar Negeri Plaosan 1, yang telah memberikan ijin kepada penulis untuk melakukan penelitian di kelas III SD Negeri Plaosan 1.

  6. Patrisia Betris Yan A, S. Pd., selaku guru kelas kelas III SD Negeri Plaosan 1, yang telah memberikan waktu, bantuan, dan masukan-masukan yang bermanfaat bagi peneliti.

  7. Siswa-siswi kelas III SD Negeri Plaosan 1, yang telah bersedia menjadi subjek dalam penelitian ini.

  8. Ayah tercinta dan Ibu terkasih atas dukungan moril dan materi serta kasih

  9. Teman-teman PPL Laily, Uswatun, Wahyu dan Arifin, yang telah memberikan bantuan, semangat, dan dorongan untuk menyelesaikan penelitian ini.

  10. Teman-teman angkatan 2009 kelas VIII C Dimas, Eko, Dwi, Endah, Risti, Vita, Dian, M. Tyas dll, terimakasih atas dukungan yang diberikan.

  11. Teman-teman bimbingan skripsi Novi, Eka, Endah, Puji, Handoko, Prima, Vivin, Dien dll, terima kasih atas dukungan yang diberikan.

  12. Teman terdekat saya Ferawaty Sulistyaningrum, Arifin Septyanto Nugroho, Rina Setyowati, terimakasih atas dukungannya.

  13. Teman-teman angkatan 2009 kelas VIII C, terima kasih atas dukungan yang diberikan.

  14. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu, yang telah memberikan dukungan dan bantuan selama penelitian ini.

  Penulis menyadari sepenuhnya bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu penulis dengan rendah hati bersedia menerima sumbangan baik pemikiran, kritik maupun saran yang membangun demi kesempurnaan skripsi ini.

  Semoga skripsi ini dapat berguna bagi pembaca dan peneliti lain.

  Yogyakarta, 05 Juni 2013 Penulis

  Restu Galih Agung Samekta

  DAFTAR ISI

  HALAMAN SAMPUL .................................................................................................. i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ............................................................ ii HALAMAN PENGESAHAN ....................................................................................... iii HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN ........................................................... iv PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ........................................................................ v LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS ....................................................................... vi ABSTRAK ..................................................................................................................... vii ABSTRACT ................................................................................................................... viii KATA PENGANTAR .................................................................................................... ix DAFTAR ISI .................................................................................................................. xi DAFTAR TABEL .......................................................................................................... xiii DAFTAR GAMBAR...................................................................................................... xiv DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................................. xv

  1. PENDAHULUAN

  1.1 Latar Belakang ..................................................................................................... 1

  1.2 Batasan Masalah .................................................................................................. 8

  1.3 Rumusan Masalah ................................................................................................ 9

  1.4 Tujuan Penelitian ................................................................................................. 9

  1.5 Definisi Operasional ............................................................................................ 9

  1.6 Manfaat Penelitian ............................................................................................... 10

  2. LANDASAN TEORI

  2.1 Kajian Pustaka ..................................................................................................... 12

  2.1.1 Keaktifan belajar ............................................................................................... 12

  2.1.2 Prestasi Belajar ................................................................................................. 16

  2.1.3 Pendekatan Kontekstual .................................................................................... 24

  2.1.4 Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) ......................................................................... 30

  2.1.5 Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ..................................................................... 32

  2.4 Hipotesis Tindakan .............................................................................................. 45

  3. METODE PENELITIAN

  3.1 Jenis Penelitian .................................................................................................... 47

  3.2 Setting Penelitian (berisi tempat, subjek, objek, dan waktu penelitian) .............. 49

  3.3 Rencana Tindakan ............................................................................................... 51

  3.3.1 Persiapan ........................................................................................................... 51

  3.3.2 Pelaksanaan ....................................................................................................... 52

  3.4 Teknik Pengumpulan Data .................................................................................. 54

  3.5 Instrumen Penelitian ............................................................................................ 56

  3.6 Uji Validitas dan Reabilitas Instrumen Penelitian ............................................... 61

  3.7 Teknik Analisis Data ........................................................................................... 73

  4. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

  4.1 Hasil Penelitian .................................................................................................... 77

  4.2 Pembahasan ......................................................................................................... 97

  5. KESIMPULAN SARAN DAN KETERBATASAN

  5.1 Kesimpulan .......................................................................................................... 106

  5.2 Saran .................................................................................................................... 107

  5.3 Keterbatasan ........................................................................................................ 108 DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................................... 109 LAMPIRAN ................................................................................................................... 113

  DAFTAR TABEL

  Tabel 1 Indikator Keaktifan ............................................................................................ 15 Tabel 2 Jenis Indikator dan Cara Evaluasi Prestasi ........................................................ 23 Tabel 3 Jadwal Penelitian ............................................................................................... 50 Tabel 4 Lembar Observasi Keaktifan ............................................................................. 58 Tabel 5 Kisi-kisi soal ...................................................................................................... 60 Tabel 6 Hasil validitas Silabus ...................................................................................... 64 Tabel 7 Hasil validitas Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) .............................. 66 Tabel 8 Perhitungan Validitas Soal ................................................................................ 68 Tabel 9 Kualifikasi IK .................................................................................................... 70 Tabel 10 Taraf Kesukaran Item Soal yang Valid ........................................................... 72 Tabel 11 Kriteria Reliabilitas ........................................................................................ 73 Tabel 12 Hasil penghitungan Reliabilitas....................................................................... 73 Tabel 13 Kriteria Keberhasilan Keaktifan Siswa ........................................................... 75 Tabel 14 Kriteria Keberhasilan Prestasi Belajar Siswa .................................................. 76 Tabel 15 Hasil Observasi pertemuan 1 ........................................................................... 88 Tabel 16 Hasil Observasi pertemuan 2 ........................................................................... 89 Tabel 17 Hasil Observasi pertemuan 3 ........................................................................... 90 Tabel 18 Hasil Observasi pertemuan 4 ........................................................................... 91 Tabel 19 Jumlah Hasil Observasi Siklus 1 ..................................................................... 93 Tabel 20 Hasil Evaluasi .................................................................................................. 95 Tabel 21 Peningkatan Keaktifan Siswa .......................................................................... 99 Tabel 22 Peningkatan Prestasi Belajar Siswa ................................................................. 101

  DAFTAR GAMBAR

  Gambar 1. Model penelitian Kurt Lewin ....................................................................... 35 Gambar 2. Model penelitian Kemmis dan Taggart jenis spiral ...................................... 36 Gambar 3. Model penelitian John Elliot ......................................................................... 37 Gambar 4. Model penelitian Hopkins ............................................................................ 38 Gambar 5. Model penelitian Dave Ebbutt ...................................................................... 38 Gambar 6. Model penelitian Dave Ebbutt ...................................................................... 43 Gambar 7. Model penelitian Dave Ebbutt ...................................................................... 44 Gambar 8. Model spiral menurut Kemmis dan Taggart................................................. 48 Gambar 9. Grafik keaktifan siswa ................................................................................ 94 Gambar 10. Persentase lulus KKM ................................................................................ 96 Gambar 11. Rata-rata kelas ............................................................................................ 96 Gambar 12. Hasil Evaluasi Siswa 1 ............................................................................... 102 Gambar 13. Lanjutan Evaluasi Siswa 1 .......................................................................... 103 Gambar 14. Hasil Evaluasi Siswa 2 ............................................................................... 104 Gambar 15. Lanjutan Evaluasi Siswa 2 .......................................................................... 105

  DAFTAR LAMPIRAN

  Lampiran 1. Surat ijin sebelum dan sesudah penelitian ................................................. 113 Lampiran 2. Perangkat pembelajaran sebelum divaliditas ............................................. 115 Lampiran 3. Validitas dan Reliabilitas Perangkat Pembelajaran .................................... 148 Lampiran 4. Perangkat pembelajaran setelah validitas ................................................... 160 Lampiran 5. Hasil Lembar Kerja Siswa (LKS) ............................................................... 193 Lampiran 6. Hasil lembar observasi ............................................................................... 213 Lampiran 7. Hasil Belajar Siswa ..................................................................................... 221 Lampiran 8. Foto kegiatan ............................................................................................... 233

BAB I PENDAHULUAN Bab pendahuluan ini memuat latar belakang, batasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, definisi operasional, dan manfaat penelitian.

1.1 Latar Belakang

  Pendidikan merupakan kebutuhan setiap manusia dan dirasakan penting bagi kehidupan manusia. Begitu pentingnya pendidikan, maka Indonesia mengatur secara khusus perihal pendidikan ini dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) No. 20 tahun 2003. Terdapat beberapa hal yang sangat penting untuk kita kritisi dari konsep pendidikan berdasarkan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) No. 20 tahun 2003. Pertama, pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana sehingga segala sesuatu yang dilakukan guru dan siswa diarahkan pada pencapaian tujuan. Kedua, proses pendidikan yang terencana diarahkan untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran.

  Ketiga, pendidikan adalah upaya pengembangan potensi anak didik, sehingga dalam proses pendidikan harus berorientasi pada siswa (student active learning).

  Keempat, akhir dari proses pendidikan agar siswa memiliki kemampuan spritual kecerdasan dan ketrampilan yang diperlukan untuk diri sendiri, masyarakat dan negara (Sanjaya, 2012: 3).

  Dewasa ini, masalah yang dihadapi dalam upaya memperbaiki dan meningkatkan mutu kehidupan banyak faktor yang harus dipertimbangkan dan kenyataannya tidak sesuai dari tujuan Undang-Undang Sistem Pendidikan pendidikan Indonesia adalah masalah lemahnya proses pembelajaran. Sanjaya (2012:1) menjelaskan bahwa dalam proses pembelajaran, anak kurang didorong untuk mengembangkan kemampuan berpikir. Proses pembelajaran di dalam kelas diarahkan kepada kemampuan anak untuk menghafal informasi, otak anak dipaksa untuk mengingat dan menimbun berbagai informasi tanpa dituntut untuk memahami informasi yang diingatnya untuk menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari. Daryanto & Raharjo (2012: 1) menjelasakan bahwa kenyataan di sekolah-sekolah sering kali guru yang aktif sehingga murid-murid tidak diberi kesempatan untuk aktif. Tidak jauh berbeda, Uno & Mohammad (2012: 75) juga menjelasakan kecenderungan pembelajaran saat ini masih berpusat pada guru yaitu bercerita dan berceramah. Siswa kurang terlibat aktif dalam proses pembelajaran. Akibatnya tingkat pemahaman siswa terhadap materi pelajaran rendah. Disamping itu, media jarang digunakan dalam pembelajaran sehingga pembelajaran menjadi kering dan kurang bermakna.

  Kita telah mengetahui bahwa sekolah merupakan institusi sosial yang berfungsi menciptakan lingkungan belajar bagi para siswa untuk mencapai tujuan pendidikan. Pemerintah telah mengupayakan dengan berbagai macam usaha untuk meningkatkan kualitas pendidikan agar mencapai tujuan tersebut misalnya dengan memberikan diklat, memperbarui kurikulum, memperbaiki sistem pembelajaran, menyediakan alat peraga atau media pembelajaran yang sesuai. Menurut Hamalik (2011: 105) sekolah perlu menyusun suatu program yang tepat dan serasi, sehingga memungkinkan para siswa melakukan kegiatan belajar efisien dan bahwa keberhasilan pencapaian kompetensi satu mata pelajaran bergantung pada beberapa aspek. Salah satu aspek yang mempengaruhi adalah bagaimana cara guru dalam melaksanakan pembelajaran. Hal serupa juga dikemukakan oleh Sanjaya (2012: 13) bahwa komponen yang sangat mempengaruhi pendidikan adalah guru, sebab guru adalah ujung tombak yang berhubungan langsung dengan siswa. Peranan seorang guru begitu penting untuk mengelola pembelajaran di kelas dalam menentukan keberhasilan pendidikan.

  Pendidikan sekolah dasar, menurut Mikarsa & Taufik dan Prianto (2007:1.13) merupakan bagian terpadu dari sistem pendidikan nasional. Tujuan pendidikan di Sekolah Dasar mencakup pembentukan dasar kepribadian siswa sebagai manusia Indonesia seutuhnya sesuai tingkat perkembangan siswa. Dahar (dalam Agustiana & Tika, 2013: 274) menjelaskan bahwa masa usia sekolah dasar merupakan tahap yang penting bagi kesuksesan perkembangan selanjutnya. Perkembangan kognitif siswa SD masih dalam tahapan operasi konkrit. Pada tahap operasi konkrit, siswa mampu berpikir logis melalui objek-objek konkrit, dan merupakan permulaan berpikir rasional. Kegiatan belajar dan berpikir anak pada tahap operasi konkrit sebagian besar melalui pengalaman nyata yang berawal dari proses interaksi dan bukan dengan lambang, gagasan atau abtraksi.

  Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan salah satu segi pendidikan yang digunakan sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan. Menurut Agustiana & Tika (2013: 259-266) pembelajaran IPA di SD berorientasi dari berbagai aktivitas yang mendukung terjadinya pemahaman atas konsep, prinsip, dan prosedur yang pembelajaran IPA menjadi bermakna dan pada akhirnya menjadi proses IPA menyenangkan. Kegiatan belajar mengajar merupakan kegiatan aktif yang dilakukan siswa untuk membangun pengetahuan dan aktif mencari pengetahuan kemudian mengkonstruksi pengetahuan tersebut dalam pikirannya. Pembelajaran konstruktivis terpusat pada siswa (student centre intruction), siswa sudah membawa pengetahuan dari awal dan tugas guru membantu agar siswa mengkonstruksi pengetahuan sesuai dengan kebutuhan dan situasi siswa. Sejalan dengan hal itu, Uno & Mohammad (2012: 75) menjelaskan bahwa selama proses kegiatan belajar mengajar di dalam kelas, semestinya menciptakan suasana siswa yang benar-benar berperan aktif dalam proses pembelajaran.

  Berdasarkan hasil observasi pertama pada tanggal 8 Januari 2013, selama proses belajar mengajar di kelas III SD Negeri Plaosan 1 pada mata pelajaran IPA guru belum sepenuhnya mengarahkan siswa agar mampu menghubungkan antara materi pelajaran dengan pengalaman siswa dalam kehidupan sehari-hari.

  Berdasarkan observasi kedua yang dilakukan pada tanggal 18 Januari 2013, terlihat keaktifan siswa dalam mata pelajaran IPA masih relatif rendah. Hal ini dibuktikan dengan hasil observasi yang dilakukan peneliti selama proses belajar mengajar pada mata pelajaran IPA dan hasil penghitugan keaktifan siswa berdasarkan indikator keaktifan. Pada indikator keaktifan yang pertama, bertanya kepada guru atau bertanya dengan teman tentang materi pembelajaran IPA memiliki rata-rata komulatif 1,2 dari 20 siswa. Indikator yang kedua, Siswa yang mengemukakan pendapat saat proses pembelajaran memiliki rata-rata komulatif

  1,7. Indikator yang ketiga, mengerjakan tugas yang diberikan guru dalam proses pembelajaran IPA memiliki rata-rata komulatif 1,8.

  Berdasarkan hasil wawancara dengan guru kelas III, yang dilakukan pada tanggal 8 Januari 2013. Diperoleh informasi kriteria ketuntasan minimal (KKM) pada mata pelajaran IPA tahun ajaran 2011/2012 dan 2012/2013 memiliki kriteria ketuntasan minimal 67. Siswa bisa dikatakan mencapai KKM, jika nilainya mencapai 67 atau lebih. Pada tahun pelajaran 2011/2012 siswa yang mencapai KKM ada 6 siswa (35, 2% ) dari 17 siswa, sedangkan 11 siswa (64,7 %) belum mencapai KKM dan nilai rata-rata kelas 66,5. Dari hasil ujian tengah semester pada mata pelajaran IPA kelas III, semester ganjil pada tahun 2012/2013 siswa yang mencapai KKM ada 8 siswa (40 %) dari 20 siswa, sedangkan 12 siswa (60 %) belum mencapai KKM dan nilai rata-rata kelas 64,7 dengan rentangan nilai tertinggi 90 dan nilai terendah 54. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan guru kelas, dapat disimpulkan keaktifan siswa kelas III pada mata

  pelajaran IPA relatif rendah dalam proses pembelajaran sehingga mempengaruhi prestasi belajar siswa. Menurut Zaini & Munthe dan Aryani (2008: xiv) ketika peserta didik pasif, atau hanya menerima dari pengajar, ada kecenderungan untuk cepat melupakan apa yang telah diberikan.

  Uno & Mohammad (2012: 311) menjelaskan bahwa, untuk mendapatkan hasil proses pendidikan yang maksimal, tentunya diperlukan pemikiran yang kreatif dan inovatif. Inovasi dalam pembelajaran sangat diperlukan untuk meningkatkan prestasi kearah yang maksimal dan menghasilkan siswa-siswa yang pendekatan pembelajaran, strategi pembelajaran, dan metode pembelajaran. Pendekatan pembelajaran yang inovatif antara lain pendekatan kontekstual dan pembelajaran kooperatif. Sejalan dengan penjelasan tersebut, Sanatowa (2010:2) menjelaskan bahwa untuk mencapai tujuan dan memenuhi pendidikan IPA, perlu pendekatan yang digunakan dalam proses belajar mengajar IPA antara lain: pendekatan lingkungan, pendekatan ketrampilan proses, pendekatan inquiry, dan pendekatan terpadu.

  Adapun pendekatan Paikem yang dapat dikembangkan di sekolah dasar yaitu pendekatan kontekstual. Menurut Johnson (2010:35) pendekatan kontekstual adalah pembelajaran yang melibatkan siswa dalam aktivitas penting yang membantu mengaitkan pelajaran dengan konteks kehidupan nyta yang siswa temui. Pendektan kontekstual terpusat pada siswa (student centre intruction), siswa sudah membawa pengetahuan dari awal dan tugas guru membantu agar siswa mengkonstruksi pengetahuan sesuai dengan kebutuhan dan situasi siswa. Nurhadi (dalam Rusman, 2012:189) menyebutkan pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan materi yang diajarkan dengan situasi nyata, serta mendorong siswa untuk menghubungan pengetahuan yang dimiliki dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari sebagai anggota keluarga dan masyarakat.

  Pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning) memiliki tujuh komponen dalam kelas yang membuat siswa aktif yakni konstruktivisme

  

(Contructivism), inkuiri (Inquiry), bertanya (Questioning), masyarakat belajar

  

(Learning Community ), pemodelan (Modelling), refleksi (Reflection), dan

penilaian sebenarnya (Autentic Assessment).

  Lebih lanjut lagi Rusman (2012: 193-198), menjelaskan bahwa penggunaan teknik bertanya dalam pendekatan kontekstual bertujuan untuk menggali informasi dari siswa atau sumber belajar yang ada kaitannya dengan kehidupan nyata. Selanjutnya pendekatan kontekstual pada komponen konstruktivisme dan inkuiri mendorong peserta didik untuk belajar menemukan dan mengkontruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan baru sehingga pembelajaran akan lebih bermakna. Pada komponen masyarakat belajar siswa dapat bekerja sama, berdiskusi danbertukar pendapat, dengan demikian, tujuh komponen yang ada dalam pendekatan kontekstual akan membantu siswa aktif menemukan sendiri konsep yang akan dipelajarinya, belajar untuk aktif bekerjasama dalam proses pembelajaran, terlebih lagi dapat mengaitkan konsep pengetahuannya dengan konteks kehidupan sehari-hari.

  Berdasarkan penjabaran dari tujuh komponen dalam pendekatan kontekstual tersebut, maka peneliti memilih pendekatan kontekstual untuk meningkatkan keaktifan dan prestasi belajar IPA siswa kelas III di SD Plaosan 1. Pendekatan kontekstual cukup efektif dalam upaya meningkatkan keaktifan dan prestasi belajar siswa, hal ini juga diperkuat oleh hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Nugroho (2011) kepada siswa kelas V SD Budya Wacana Semester Genap Tahun Ajaran 2010/2011, dengan menggunakan pendekatan kontekstual mampu meningkatkan prestasi belajar IPA. Penelitian lain, dilakukan Yogyakarta Semester Genap Tahun Ajaran 2011/2012, dengan menggunakan pendekatan kontekstual mampu meningkatkan keaktifan dan presatasi belajar

  IPA. Seperti yang dikemukakan Johnson (dalam Rusman, 2012: 187) pembelajaran kontekstual adalah sebuah sistem yang merangsang otak, untuk menyusun pola-pola yang mewujudkan makna. Pembelajaran kontekstual cocok dengan otak yang menghasilkan makna dengan menghubungkan muatan akademis, dengan konteks dari kehidupan sehari-hari siswa. Jadi, pendekatan kontekstual menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkan dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa dapat menerapkan dalam kehidupan mereka

  Berdasarkan kondisi pembelajaran di kelas III di SD Negeri Plaosan 1, maka dilakukan upaya dalam meningkatkan keaktifan dan prestasi belajar dengan menggunakan pendekatan kontekstual. Untuk itu, peneliti akan melakukan penelitian tindakan kelas dan mengambil judul

  “ Peningkatan Keaktifan dan

Prestasi belajar IPA Siswa Kelas III SD Negeri Plaosan 1 Menggunakan

Pendekatan

  Kontekstual”.

1.2 Batasan Masalah

  Berdasarkan latar belakang peneliti membatasi masalah keaktifan dan prestasi belajar siswa IPA di SD Plaosan 1 menggunakan pendekatan kontekstual. Subjek penelitian ini dibatasi pada siswa kelas III di SD Negeri Plaosan 1 tahun pelajaran 2012/2013 yang berjumlah 20 anak.

  1.3 Rumusan Masalah

  1.3.1 Bagaimana pendekatan kontekstual dilaksanakan dalam upaya meningkatkan keaktifan siswa dalam mata pelajaran IPA kelas III di SD Negeri Plaosan 1 tahun ajaran 2012/2013?

  1.3.2 Bagaimana pendekatan kontekstual dilaksanakan dalam upaya meningkatkan prestasi belajar siswa dalam mata pelajaran IPA kelas III di SD Negeri Plaosan 1 tahun ajaran 2012/2013?

  1.4 Tujuan Penelitian

  Sesuai dengan rumusan masalah di atas, tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1.4.1 Untuk mengetahui bagaimana pendekatan kontekstual dilaksanakan dalam upaya meningkatkan keaktifan siswa dalam mata pelajaran IPA kelas III di SD Negeri Plaosan 1 tahun ajaran 2012/2013.

  1.4.2 Untuk mengetahui bagaimana pendekatan kontekstual dilaksanakan dalam upaya meningkatkan prestasi belajar siswa dalam mata pelajaran IPA kelas

  III di SD Negeri Plaosan 1 tahun ajaran 2012/2013.

1.5 Definisi Operasional

  1.5.1 Keaktifan belajar adalah keterlibatan siswa dalam proses kegiatan belajar mengajar siswa mampu mengidentifikasi, merumuskan masalah, mencari dan menemukan fakta, menganalisis, menafsirkan, dan menarik kesimpulan.

  1.5.2 Prestasi belajar adalah bukti penguasaan pengetahuan seseorang dalam mata pelajaran tertentu yang ditunjukkan dengan nilai tes dari guru.

  1.5.3 Pembelajaran kontekstual adalah adalah konsep belajar yang dapat membantu guru mengaitkan materi yang diajarkan dengan situasi nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan penerapannya dalam kehidupan sebagai anggota keluarga dan masyarakat.

  1.5.4 Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara sistematik, dan dalam penggunaannya secara umum terbatas pada gejala alam.

  1.5.5 Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah suatu bentuk penelitian yang bersifat reflektif melalui tindakan-tinndakan tertentu agar dapat memperbaiki atau meningkatkan praktik-praktik pembelajaran di kelas profesional.

1.6 Manfaat penelitian

  Berdasarkan tujuan yang telah disampaikan adapun kegunaan atau manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1.6.1 Bagi Peneliti Peneliti memperoleh pengalaman dalam melakukan PTK khususnya menggunakan pendekatan kontekstual dalam upaya meningkatkan keaktifan dan prestasi belajar IPA pada siswa kelas III di SD Negeri Plaosan 1 tahun pelajaran 2012/2013.

  1.6.2 Bagi Pihak Sekolah Menambah bahan kajian terkait dengan PTK khususnya pendekatan mata pelajaran IPA pada siswa kelas III di SD Negeri Plaosan 1 tahun pelajaran 2012/2013.

  1.6.3 Bagi Guru Memberikan inspirasi bagi guru-guru SD untuk melakukan PTK khususnya menggunakan pendekatan kontekstual dalam upaya meningkatkan keaktifan dan prestasi belajar siswa.

  1.6.4 Bagi Siswa Bagi siswa, hasil penelitian menggunakan pendekatan kontektual ini diharapkan dapat meningkatkan keaktifan dan prestasi belajar siswa serta meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran. Siswa dapat belajar dengan benda yang dijumpai sehari-hari, sehingga dapat memberikan pengalaman yang bermakna.

  1.6.5 Bagi Program Studi Menambah bahan kajian terkait dengan penelitian tindakan kelas khususnya penggunaan pendekatan kontektual dalam upaya meningkatkan keaktifan dan prestasi belajar pada mata pelajaran IPA kelas III di SD Negeri Plaosan 1 tahun pelajaran 2012/2013.

BAB II LANDASAN TEORI Pada bagian ini landasan teori ini akan membahas beberapa landasan teori

  terkait dengan penelitian. landasan ini dibagi menjadi 4 bagian: kajian pustaka, penelitian yang relevan, kerangka berfikir dan hipotesis tindakan.

2.1 Kajian Pustaka

  Pada bagian kajian pustaka ini akan membahas tentang keaktifan, belajar, prestasi belajar, pembelajaran kontekstual, IPA, Penelitian Tindakan Kelas (PTK).

2.1.1 Keaktifan Belajar

2.1.1.1 Pengertian Keaktifan dalam Proses Pembelajaran

  Dimyati & Mujiono (2010:51) mengimplikasikan keaktifan bagi siswa berwujud perilaku-perilaku seperti mencari sumber informasi yang dibutuhkan, menganalisis percobaan, ingin tahu hasil dari suatu reaksi kimia, membuat kliping, dan perilaku sejenis lainnya. Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002:19) aktif dapat berarti giat (bekerja atau berusaha), sedangkan keaktifan diartikan sebagai keadaan siswa dapat aktif. Usman (2011:23) menjelaskan secara harfiah pembelajaran aktif diartikan sebagai sistem belajar mengajar yang menekankan keaktifan siswa secara fisik, mental, intelektual, dan emosional untuk memperoleh hasil belajar yang berupa perpaduan antara kognitif, afektif dan psikomotor.

  Siregar & Nara (2011: 97) menjelasakan bahwa belajar aktif merupakan perkembangan dari teori belajar yang menyatakan, bahwa belajar yang efektif itu adalah dengan mengerjakan, bukan menghafalkan. Aktif dimaksudkan dalam proses pembelajaran yakni, guru harus menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga siswa aktif bertanya, mempertanyakan dan mengemukakan pendapat. Sedangkan menurut Gora & Sunarto (2010:12) menjelaskan bahwa pembelajaran aktif adalah pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk berperan lebih aktif dalam proses pembelajaran (mencari informasi, mengolah informasi, dan menyimpulkannya kemudian diterapkan) dengan lingkungan belajar yang menyenangkan. Pembelajaran aktif menurut Zaini & Munthe dan Ariyani (2008: xiv) suatu pembelajaran yang mengajak peserta didik untuk belajar secara aktif.

  Berdasarkan pendapat para ahli tentang keaktifan, dapat disimpulkan bahwa keaktifan adalah suatu kegiatan yang berwujud perilaku-perilaku agar siswa aktif selama proses pembelajaran. Pembelajaran aktif, menekankan pada keaktifan siswa secara fisik, mental, intelektual, dan emosional untuk memperoleh hasil belajar yang berupa perpaduan antara kognitif, afektif dan psikomotor. Keaktifan siswa dapat dilihat dari keterlibatan siswa dalam proses kegiatan belajar mengajar siswa mampu mengidentifikasi, merumuskan masalah, mencari dan menemukan fakta, memganalisis, menafsirkan, dan menarik kesimpulan.

2.1.1.2 Indikator keaktifan

  Sudjana (2009: 61) menjelaskan keaktifan siswa dalam kegiatan belajar dapat pemecahan masalah; bertanya kepada siswa lain atau guru apabila tidak memahami persoalan yang dihadapinya; berusaha mencari berbagai informasi yang diperlukan untuk memecahkan masalah; melatih diri dalam memecahkan masalah atau soal; menilai kemampuan dirinya dan hasil-hasil yang diperoleh, melatih diri dalam memecahkan masalah, serta menggunakan kesempatan menggunakan atau menerapkan apa yang telah diperolahnya dalam menyelesaikan tugas atau persoalan yang dihadapinya.

  Menurut Kirschner & Sweller, dan Clark (dalam Gora dan Sunarto, 2010:12) siswa aktif tidak hanya sekedar hadir di kelas, menghafalkan dan akhirnya mengerjakan soal-soal di akhir pelajaran. Siswa harus terlihat aktif baik secara fisik maupun secara mental. Dimyati & Mudjiono (2010:45) menyebutkan bahwa proses kegiatan belajar mengajar siswa selalu menampakkan keaktifan mulai dari kegiatan fisik yang mudah diamati sampai kegiatan psikis yang susah diamati.

  Kegiatan fisik bisa berupa membaca, mendengar, menulis berlatih ketrampilan dan sebagainya. Kegiatan psikis contohnya menggunakan pengetahuan yang dimiliki dalam memecahkan masalah, membandingkan suatu konsep, menyimpulkan hasil percobaan dan kegiatan psikis lainnya. Uno & Mohammad (2012: 33) menyebutkan ciri-ciri atau kadar dari proses pembelajaran yang mengaktifkan siswa antara lain: siswa aktif atau memberikan informasi, bertanya bahkan membuat kesimpulan; ada interaksi aktif secara terstruktur dengan siswa; adanya kesempatan bagi siswa untuk menilai hasil karyanya sendiri; dan ada pemanfaatan sumber belajar secara optimal.

  Beberapa ciri dari pembelajaran aktif dalam panduan pembelajaran model ALIS (Active Learning in School) dalam Uno & Mohammad (2012: 75-76) antara lain: pembelajaran berpusat pada siswa; pembelajaran terkait dengan kehidupan nyata; pembelajaran mendorong anak berpikir tingkat tinggi; pembelajaran melayani gaya belajar anak yang berbeda-beda; pembelajaran mendorong anak untuk berinteraksi multiarah (siswa-guru); pembelajaran menggunakan lingkungan sebagai media atau sumber belajar; pembelajaran berpusat pada anak; penataan lingkungan belajar memudahkan siswa untuk melakukan kegiatan belajar; guru memantau proses belajar siswa; guru memberi umpan balik terhadap hasil kerja anak. Uno & Mohammad (2012: 77) menyebutkan ciri-ciri pembelajaran yang mengaktifkan siswa dalam proses pembelajaran adalah siswa terlibat dalam kegiatan pembelajaran untuk berpikir, berinteraksi, berbuat dan mencoba, menemukan konsep baru atau menghasilkan suatu karya.

  Berdasarkan pendapat para ahli tentang ciri-ciri keaktifan siswa, maka peneliti bersama kelompok studi berdiskusi tentang indikator keaktifan yang digunakan untuk mengukur keaktifan siswa dalam pembelajaran dan diperoleh hasil sebagai berikut:

  Tabel 1: Indikator Keaktifan Indikator 1 Indikator 2 Indikator 3

Bertanya kepada guru dan teman tentang Mengemukakan pendapat Mengerjakan tugas yang

materi pembelajaran IPA saat proses ketika berdiskusi kelompok diberikan oleh guru dalam pembelajaran proses pembelajaran IPA Bertanya Bertanya Menjawab Mengemuka Melaksanakan Turut serta Mencari

kepada guru kepada pertanyaan kan gagasan diskusi dalam berbagai

bila tidak siswa lain yang secara kelompok mengerjakan informasi memahami bila tidak diajukan spontan sesuai petunjuk tugas yang

persoalan memahami oleh guru guru diperlukan persoalan untuk Berdasarkan pada Tabel 1, indikator keaktifan yang pertama diuraikan menjadi tiga aspek yaitu bertanya kepada guru bila tidak memahami persoalan, bertanya kepada siswa lain bila tidak memahami persoalan, serta terlibat dalam proses tanya jawab yang diajukan guru tentang materi pelajaran berlangsung.

  Indikator yang kedua diuraikan menjadi dua aspek yaitu mengemukakan gagasan secara spontan, dan melaksanakan diskusi kelompok sesuai petunjuk guru.

  Indikator keaktifan yang ketiga diuraikan menjadi dua aspek yaitu turut serta dalam mengerjakan tugas dan mencari berbagai informasi yang diperlukan untuk pemecahan persoalan.

2.1.2 Prestasi Belajar

2.1.2.1 Pengertian Belajar

  Belajar menurut Siregar & Nara (2011: 1) sebuah proses yang kompleks terjadi pada semua orang dan berlangsung seumur hidup.salah satu pertanda telah belajar adanya perubahan tingkah laku dalam dirinya. Perubahan tingkah laku tersebut menyangkut perubahan yang bersifat pengetahuan (kognitif), ketrampilan (psikomotor) dan sikap maupun nilai (afektif). Suyono & Hariyanto (2011: 9) menjelaskan bahwa belajar adalah suatu aktivitas atau proses untuk memperoleh pengetahuan, meningkatkan ketampilan, memperbaiki perilaku,sikap, dan memperkokoh kepribadian. Sedangkan Daryanto & Rahardjo (2012:8) menjelaskan belajar adalah proses interaksi terhadap semua situasi yang ada di sekitar individu. Belajar dipandang sebagai proses yang diarahkan kepada tujuan dan proses berbuat melalui berbagai pengalaman.

  Pendapat lain tentang definsi belajar dikemukakan Hamalik (2011:154) belajar adalah perubahan tingkah laku yang relatif mantap berkat latihan dan pengalaman. Mulyasa (2006:189) menjelaskan belajar merupakan usaha sadar yang dilakukan individu untuk memenuhi kebutuhannya.

  Beberapa ahli pendidikan mengemukakan tentang belajar, seperti yang dinyatakan Skiner (dalam Syah, 2012: 64) belajar adalah suatu proses adaptasi (penyesuaian tingkah laku) yang berlangsung secara progersif. Chaplin (dalam Syah, 2012: 65) mengatakan bahwa belajar adalah proses perolehan perubahan tingkah laku yang relatif menetap sebagai akibat latihaan dan pengalaman. Wittig (dalam Syah, 2012: 65) menyatakan bahwa belajar adalah perubahan yang relatif menetap yang terjadi dalam segala macam atau keseluruhan tingkah laku suatu organisme sebagai hasil pengalaman. Menurut Slameto (2010:2) belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan sesorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.

  Berdasarkan pendapat beberapa ahli tentang definisi belajar, dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku yang relatif menetap diperoleh dari interaksi individu dengan lingkungan sekitar. Perubahan-perubahan yang terjadi sebagai akibat dari hasil belajar seseorang dapat berupa kebiasaan-kebiasaan, kecakapan atau dalam bentuk pengetahuan, sikap, dan ketrampilan.

  2.1.2.2 Ciri-ciri perilaku belajar

  Syah (2011:114) menyebutkan bahwa setiap perilaku belajar selalu ditandai oleh ciri-ciri perubahan yang spesifik. Di antara ciri-ciri perubahan khas yang menjadi karakteristik perilaku belajar yang terpenting adalah: perubahan intensional adalah perubahan yang terjadi dalam proses belajar berkat pengalaman atau praktik yang dilakukan dengan sengaja dan disadari atau dengan kata lain bukan kebetulan. Perubahan positif dan aktif adalah perubahan yang terjadi karena proses belajar bersifat positif dan aktif. Positif artinya baik, bermanfaat, serta sesuai dengan harapan. Adapun perubahan aktif artinya tidak terjadi dengan sendirinya seperti karena proses kematangan, tetapi karena usaha siswa sendiri. Perubahan efektif dan fungsional adalah perubahan yang timbul karena proses belajar secara efektif, sehingga membawa perubahan dan manfaat tertentu bagi siswa. Perubahan belajar bersifat fungsional adalah belajar yang relatif menetap dan siap bila dibutuhkan, perubahan tersebut dapat direproduksi dan dimanfaatkan.

  2.1.2.3 Pengertian Prestasi

  Kata “prestasi” berasal dari bahasa Belanda yaitu prestatie. Kemudian dalam bahasa Indonesia menjadi “prestasi” yang berarti “hasil usaha” (Arifin, 2009:12).

  Supardi dkk (2011: 167) menjelaskan bahwa prestasi merupakan suatu pencapaian atau hasil yang telah dicapai dan memerlukan suatu keahlian dalam bidang akademis maupun non akademis. Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002: 895) prestasi adalah hasil yang telah dicapai (dari yang telah

2.1.2.4 Pengertian Prestasi Belajar

  Mulyasa (2006:190) menyebutkan bahwa prestasi belajar merupakan hasil interaksi berbagai faktor, baik intenal maupun ekternal. Lanawati (dalam Akbar & Hawadi, 2006:168) prestasi belajar adalah hasil penilaian pendidik terhadap proses belajar dan belajar siswa sesuai dengan tujuan intruksional yang menyangkut isi pelajaran dan perilaku yang diharapkan dari siswa. Menurut Olivia (2011:75) prestasi belajar adalah puncak hasil belajar yang dapat mencerminkan hasil keberhasilan belajar siswa terhadap tujuan yang di tetapkan.

  Hasil belajar siswa dapat meliputi aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Salah satu tes dapat melihat pencapaian hasil belajar siswa adalah dengan melakukan tes prestasi belajar.

  Purwanto (dalam Hapsari, 2005:75) menyebutkan prestasi belajar adalah hasil-hasil belajar yang telah diberikan guru kepada murid-murid atau dosen kepada mahasiswanya dalam jangka tertentu. Tidak jauh berbeda, Ahmadi (dalam Hapsari, 2005:75) juga berpendapat bahwa prestasi belajar diartikan sebagai hasil yang dicapai dalam suatu usaha (belajar) untuk mengadakan perubahan atau mencapai tujuan. Menurut Arifin (2009: 12) prestasi belajar semakin peting dibahas, karena mempunyai beberapa fungsi utama antara lain: 1) Prestasi belajar sebagai indikator kualitas dan kuantitas pengetahuan yang telah dikuasai peserta didik. 2) Prestasi belajar sebagai lambang pemuasaan hasrat ingiin tahu. Para ahli psikologi biasa menyebut hal ini sebagai “tendensi keingintahuan (couriosity) dan merupakan kebutuhan umum manusia”. 3) Prestasi belajar sebagai bahan dorongan bagi peserta didik dalam meningkatkan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan berperan sebagai umpan balik dalam meningkatkan mutu pendidikan. 4) Prestasi belajar sebagia indikator intern dan ekstern dari suatu institusi pendidikan. Indikator intern dalam arti prestasi belajar dapat dijadikan tingkat produktivitas suatu institusi pendidikan. Asumsinya adalah kurikulum yang digunakan relevan dengan kebutuhan masyarakat dan anak didik. Indikator ekstern adalah tingkat rendahnya prestasi belajar dapat dijadikan indikator tingkat kesuksesan peserta didik di masyarakat. Asumsinya adalah kurikulum yang digunakan relevan pula dengan kebutuhan masyarakat. 5) Prestasi belajar dapat dijadikan indikator daya serap (kecerdasan) peserta didik. Dalam proses pembelajaran peserta didik menjadi fokus utama yang harus diperhatikan, karena perserta didiklah yang diharapkan dapat menyerap seluruh materi pelajaran.

  Berdasarkan pendapat beberapa ahli tentang definisi prestasi belajar, dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar merupakan puncak hasil belajar yang dapat mencerminkan hasil keberhasilan belajar siswa yang diperoleh dari interaksi internal maupun ekternal terhadap tujuan yang di tetapkan. Hasil belajar siswa dapat meliputi aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Untuk mengetahui tinggi atau rendahnya prestasi belajar siswa diperlukan evaluasi belajar.

2.1.2.5 Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar

  Mulyasa (2006: 190) menyebutkan prestasi belajar merupakan hasil interaksi berbagai faktor baik internal maupun eksternal bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri, tetapi merupakan hasil berbagai faktor yang melatarbelakanginya. terlibat dalam pembelajaran dan berpengaruh pada prestasi belajar, adalah masukan mentah (raw input), menunjukkan pada karakteristk individu yang mungkin dapat mempermudah atau justru menghambat proses pembelajaran. Masukan instrumental, menunjukkan pada kualifikasi serta kelengkapan sarana yang diperlukan seperti guru, metode, bahan atau sumber dan program dan masukan lingkungan masukan lingkungan, yang menunjuk pada situasi, keadaan fisik dan suasana sekolah, serta hubungan dengan pengajar dan teman.

  Mulyasa (2006: 191-194) menjelaskan bahwa faktor eksternal yang dapat mempengaruhi prestasi belajar dapat digolongkan ke dalam faktor sosial dan non sosial. Faktor sosial menyangkut hubungan antara manusia yang terjadi dalam berbagai situasi sosial seperti lingkungan keluarga, sekolah, teman dan masyarakat. Sedangkan faktor non sosial seperti keadaan rumah, ruangan belajar, buku sumber dan sebagainya. Faktor utama yang mempengaruhi proses dan prestasi belajar, hampir seluruhnya bergantung pada guru. Proses pembelajaran yang berlangsung di dalam kelas sebagian besar ditentukan oleh guru, peranan yang paling dominan yaitu : guru sebagai demonstrator; guru sebagai pengelola kelas; guru sebagai fasilitator; guru sebagai mediator; guru sebagai evaluator.

  Faktor internal merupakan faktor yang berasal dari dalam diri siswa. Keberhasilan belajar akan ditentukan oleh faktor diri (internal) beserta usaha yang dilakukannya. Faktor internal yang mempengaruhi prestasi belajar antara lain: intelegensi; minat; sikap, waktu dan kesempatan yang dimiliki setiap siswa berbeda sehingga akan mempengaruhi terhadap kemampuan peserta didik.

  Sependapat dengan Mulyasa, Slameto (2010: 54-72) juga menjelaskan faktor- faktor yang mempengaruhi prestasi belajar dapat digolongkan menjadi dua, yaitu: Faktor internal dan Faktor eksternal. Faktor internal yaitu faktor yang ada dalam diri individu yang sedang belajar, seperti jasmaniah (kesehatan dan cacat tubuh), psikologis (inteligensi, perhatian, minat, bakat, motif, kematangan dan kesiapan) dan faktor kelelahan. Sedangkan faktor eksternal yaitu faktor dari luar individ seperti faktor keluarga (cara orang tua mendidik, relasi antara anggota keluarga, suasana rumah, keadaan ekonomi keluarga, pengertian orang tua, dan latar belakang kebudayaan), faktor sekolah (metode mengajar guru, kurikulum, relasi guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa, disiplin sekolah, alat pelajaran, waktu sekolah, standar belajar diatas ukuran, keadaan gedung, metode belajar dan tugas rumah), dan faktor masyarakat (kegiatan siswa dalam masyarakat, mass media, teman bergaul, dan bentuk kehidupan masyarakat).

2.1.2.6 Indikator Prestasi Belajar

  Pengungkapan hasil belajar meliputi segenap ranah psikologis yang berubah sebagai akibat dari pengalaman dan proses belajar yang dilakukan siswa. Dalam hal ini guru hanya mengambil penilaian perubahan tingkah laku yang terjadi sebagai hasil belajar yang dianggap penting dan diharapkan mencerminkan perubahan yang terjadi hasil belajar siswa, baik berdimensi cipta dan rasa maupun karsa. Kunci pokok untuk memperoleh ukuran dan data hasil belajar siswa yaitu mengetahui garis-garis besar indikator dikaitkan dengan jenis prestasi belajar yang hendak diukur. Berikut ini indikator prestasi belajar yang dikemukakan oleh

  Tabel 2: Jenis Indikator dan Cara Evaluasi Prestasi Ranah/Jenis Prestasi Indikator Cara Evaluasi

B. Ranah Rasa (afektif)

  3. Apresiasi (sikap menghargai)

  3. Observasi

  2. Pemberian tugas

  1. Tes skala penilaian/sikap

  3. Mengagumi

  2. Menganggap indah dan harmonis

  1. Menganggap penting dan bermanfaat

  2. Pemberian tugas

  3. Observasi

  1. Mengakui dan menyakini

  1. Tes skala sikap

  2. Kesediaan memanfaatkan

  1. Kesediaan berpartisipasi/terlibat

  2. Sambutan

  3. Observasi

  2. Tes skala sikap

  4. Internalisasi (pendalaman)

  2. Mengikari

  A. Ranah Cipta (kognitif)

  1. Mengkoordinasikan gerak mata, tangan, kaki dan anggota tubuh lainnya

  2. Observasi Tes tindakan

  1. Tes lisan

  2. Membuat mimik dan gerakan jasmani

  2. Kecakapan ekspresi verbal dan non verbal

  2. Tes tindakan

  1. Observasi

  1. Keterampilan bergerak dan bertindak

  1. Tes skala sikap

  2. Observasi

  1. Pemberian tugas ekspresif dan proyektif

  2. Menjelmakan dalam pribadi dan perilaku sehari-hari

  1. Melembagakan atau meniadakan

  5. Karakteristik (penghayatan)

  3. Observasi

  2. Pemberian tugas ekspresif (yang menyatakan sikap) dan proyektif (yang menyatakan perkiraan/ramalan)

  1. Tes tertulis

  2. Menunjukkan sikap menolak

  1. Menunjukkan sikap menerima

  1. Dapat menyebutkan

  1. Dapat menjelaskan

  3. Pemahaman

  3. Observasi

  2. Tes tertulis

  1. Tes lisan

  2. Dapat menunjukkan kembali

  2. Ingatan

  1. Tes lisan

  3. Observasi

  2. Tes tertulis

  1. Tes lisan

  

3. Dapat menghubungkan

  

2. Dapat membandingkan

  1. Dapat menunjukkan

  1. Pengamatan

  2. Dapat mendefinisikan dengan lisan sendiri

  2. Tes tertulis

  1. Penerimaan

  4. Penerapan

  2. Pemberian tugas

  1. Tes tertulis

  3. Dapat menggeneralisasikan (membuat prinsip umum)

  

2. Dapat menyimpulkan

  

1. Dapat menghubungkan

  6. Sintesis (membuat paduan baru dan utuh)

  2. Pemberian tugas

  1. Tes tertulis

  2. Dapat mengklasifikasikan/ memilah-milah

  1. Dapat menguraikan

  5. Analisis (pemeriksaan dan pemilihan secara teliti)

  3. Observasi

  2. Pemberian tugas

  1. Tes tertulis

  2. Dapat menggunakan secara tepat

  1. Dapat memberikan contoh

C. Ranah Psikomotor

1. Mengucapkan

2.1.3 Pendekatan Kontekstual

2.1.3.1 Pengertian Pendekatan Kontekstual

  Sanjaya (2012:255) menjelaskan bahwa pembelajaran kontekstual adalah suatu strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkan dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Yudhawati & Haryanto (2011: 51), pendekatan kontekstual merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa, dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Sependapat dengan Yudhawati & Haryanto, menurut Komalasari (2011: 6) pembelajaran kontekstual adalah pendekatan pembelajaran yang mengaitkan antara materi yang dipelajari dengan kehidupan nyata siswa sehari- hari, baik dalam lingkungan keluarga, masyarakat maupun warga negara, dengan tujuan menemukan makna materi tersebut bagi kehidupannya.

  Nurhadi (dalam Rusman, 2012:189) pembelajaran kontektual merupakan konsep belajar yang dapat membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga. Selanjutnya Johnson (dalam Rusman, 2012: 189) mengatakan bahwa :

  “ Contextual teaching and learning enables student to connect the content of

  academic subject with the immediate context of their daily lives to discover meaning. It enlarge their personal context furthermore, by providing students with fresh experience that simulate the brain to make new connection and consecuently, to discover new meaning”.

  Sementara itu Howey R, Keneth (dalam Rusmawan, 2010:190) mendefinisikan CTL sebagai berikut.

  “ contekstual teaching is teaching that enables learing in wich student

  employ their academic understanding and abilities in a veriety of in-and out of school context to solve simulated or real world problem, both alone and with othes” .

  Berdasarkan definisi tentang kontekstual dari beberapa ahli, Suyono & Hariyanto (2011:18) menjelaskan bahwa jika ditarik dari awal sesuai dengan filosofinya ada kontinuitas yang dimulai dari pendekatan pembelajaran, strategi pembelajaran, metode pembelajaran (metode mengajar), teknik pembelajaran dan model pembelajaran. Namun perlu dipahami bahwa dalam berbagai sumber, istilah tersebut sering dipertukarkan bahkan dimaknai sama. Hal ini juga berlaku pada pembelajaarn kontekstual, Sanjaya menjelaskan bahwa kontekstual merupakan strategi, Nurhadi menjelaskan bahwa kontekstual merupakan strategi, Rusman menjelaskan bahwa kontekstual merupakan model pembelajaran dan Yudhawati & Haryanto menjelaskan bahwa kontekstual merupakan pendekatan.

  Berdasarkan pendapat para ahli, peneliti menyimpulkan bahwa pembelajaran antara materi yang diajarkan dengan situasi nyata serta menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkan pengetahuan yang dimiliki dengan situasi kehidupan nyata.

2.1.3.2 Prinsip Pembelajaran Kontekstual

  Pembelajaran kontekstual memilki beberapa karakteristik yang khas yang membedakan dengan pendekatan pembelajaran lainnya (Komalasari, 2011: 7).

  Setiap pendekatan pembelajaran, memiliki kesamaan juga ada perbedaa tertentu. Hal ini karena setiap pendekatan memiliki karakteristik khas tertentu, yang tentu saja berimplikasi pada perbedaan dalam membuat (skenario) yang disesuaikan dengan pendekatan yang akan diterapkan (Rusman, 2012:193). Ada tujuh prinsip pembelajaran kontekstual yang dikembangkan yaitu:

2.1.3.2.1 Konstruktivisme (Contructivism)

  Sanjaya (2012: 264) menjelaskan bahwa konstruktivisme adalah proses membangun atau menyusun pengetahuan baru dalam sruktur kognitif siswa berdasarkan pengalaman. Menurut konstruktivisme, pengetahuan itu berasal dari dari luar, akan tetapi dikonstruksi oleh dan dari dalam seseorang. Oleh sebab itu pengetahuan terbentuk dua faktor penting, yaitu objek yang menjadi bahan pengamatan dan kemampuan subjek untuk mengintepretasi objek tersebut.

  Trianto (2011:111) dan Rusman (2012:193) mendefinisikan bahwa CTL adalah teori pembelajaran kontruktivisme. Kontruktivisme merupakan landasan berpikir kontekstual, bahwa pengetahuan di bangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas. Pengetahuan Manusia perlu mengkontruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata. Pembelajaran kontekstual menekankan pentingnya siswa membangun diri sendiri pengetahuan mereka lewat keterlibatan aktif proses belajar mengajar. Proses belajar lebih diwarnai student centre daripada teacher

  centre.

2.1.3.2.2 Inkuiri (Inquiry)

  Sanjaya (2012:265) menjelaskan bahwa inkuiri merupakan proses pembelajaran yang didasarkan pada pencaharian dan penemuan melalui proses berpikir secara sistematis. Pengetahuan bukanlah sejumlah fakta hasil dari mengingat, akan tetapi hasil proses menemukan sendiri. Menurut Trianto (2011:114) inkuiri merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran berbasis kontektual. Pengetahuan dan ketrampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil menemukan sendiri. Dalam hal ini guru harus selalu merancang kegiatan yang merujuk pada kegiatan yang menemukan materi yang diajarkan dan siswa diharapkan memiliki sikap ilmiah, rasional dan logis yang kesemuanya itu diperlukan sebagai dasar pembentukan kreativitas. Menurut Rusman (2012: 194) menemukan, merupakan bagian inti dari CTL, melalui upaya menemukan akan memberikan penegasan bahwa pengetahuan dan ketrampilan serta kemampuan-kemampuan lain yang akan diperlukan bukan merupakan hasil dari mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi merupakan hasil menemukan sendiri.

  2.1.3.2.3 Bertanya ( Questioning)

  Belajar pada hakikatnya adalah bertanya dan menjawab pertanyaan. Bertanya dapat dipandang sebagai refleksi dari keingintahuan setiap individu; sedangkan menjawab pertanyaan mencerminkan kemampuan seseorang dalam berpikir. Dalam proses pembelajaran melalui CTL, guru tidak menyampaikan informasi begitu saja, akan tetapi memancing agar siswa dapat menemukan informasi sendiri. Peran bertanya sangat penting, sebab melalui pertanyaan-pertanyaan guru dapat mengarahkan siswa untuk menemukan setiap materi yang dipelajari (Sanjaya, 2012: 266).

  Trianto (2011: 115) berpendapat pengetahuan yang dimiliki sesorang, selalu bermula dari ‘bertanya’. Bertanya bagi siswa merupakan bagian penting dalam melaksanakan pembelajaran yang berbasisis inkuiri, yaitu menggali informasi, mengkonfirmasi apa yang sudah diketahui dan mengarahkan perhatian pada aspek yang belum diketaahuinya.

  2.1.3.2.4 Masyarakat Belajar ( Learning Community)

  Rusman (2012: 195) menjelaskan maksud dari masyarakat belajar adalah membiasakan siswa untuk melakukan kerjasama dan memanfaatkan sumber belajar dari teman-teman belajarnya. Seperti disarankan dalam learning comunity, bahwa hasil pembelajaran diperoleh dari kerjasama dengan orang lain melalui berbagai pengalaman (sharing). Melalui sharing ini anak dibiasakan untuk saling memberi da menerima, sifat ketergantungan yang positif dalam learning comunity dikembangkan. Sanjaya (2012:266) menyatakan konsep masyarakat (learning kerjasama dengan orang lain. Kerja sama itu dapat dilakukan dalam berbagai bentuk lain dalam kelompok belajar formal maupun dalam lingkungan yang terjadi secara alamiah. Inilah hakikat dari masyarakat belajar, masyarakat saling berbagi.

  Modelling)

  2.1.3.2.5 Pemodelan (

  Pemodelan artinya dalam proses pembelajaran dengan memperagakan sesuatu sebagai contoh yang dapat ditiru oleh siswa (Sanjaya, 2012: 267). Pemodelan merupakan asas yang penting didalam pembelajaran kontekstual sebab melalui pemodelan siswa akan terhindar dari pembelajaran yang teoritis-abstrak yang dapat memungkinkan terjadinya verbalisme. Dalam kegiatan pembelajaran kontekstual, guru bukan satu-satunya model. Pemodelan dapat dirancang dengan melibatkan siswa. Seseorang bisa ditunjuk untuk memodelkan sesuatu berdasarkan pengalaman yang diketahuinya.

  2.1.3.2.6 Refleksi ( Reflection)

  Trianto (2011:118) menyebutkan refleksi pembelajaran merupakan respon terhadap aktivitas atau pengetahuan dan ketrampilan yang baru diterima dari proses pembelajaran. Menurut Rusman (2012:197) refleksi adalah berpikir kebelakang tentang apa saja yang sudah dilakukan di masa lalu, siswa mengendapkan apa yang baru dipelajarinya sebagai struktur pengetahuan yang baru yang merupakan pengayaan atau revisi dari pengetahuan sebelumnya.

  2.1.3.2.7 Penilaian Autentik ( Authentic Assessment)

  Penilaian autentik merupakan tahap terakhir dari pembelajaran kontekstual gambaran perkembangan belajar siswa (Trianto, 2011:119). Penilaian nyata dilakukan guru untuk mengumpulkan informasi tentang perkembangan belajar yang dilakukan siswa. Penilaian dilakukan untuk mengetahui apakah siswa benar- benar belajar, pengaruh positif bagi perkembangan intelektual dan mental siswa (Sanjaya, 2012:269).

2.1.4 Ilmu Pengetahuan Alam (IPA)

2.1.4.1 Pengertian Ilmu Pengetahuan Alam

  Ilmu pengetahuan alam merupakan terjemahan kata-kat dalam bahasa Inggris yaitu natural science, artinya ilmu pengetahuan alam (IPA). Ilmu pengetahuan alam (IPA) atau science pengertiannya sebagai ilmu tentang alam dan mempelajari peristiwa-peristiwa yang terjadi di alam (Samatowa, 2010: 3).

  Sedangkan Fowler (dalam Trianto, 2010:136) menyatakan IPA adalah pengetahuan yang sistematis dan dirumuskan, yang berhubungan dengan gejala- gejala kebendaan dan didasarkan terutama atas pengamatan dan deduksi. Kardi & Nur (dalam Trianto, 2010:136) mendefinisikan IPA adalah ilmu tentang dunia zat, baik makhluk hidup maupun benda mati yang diamati. Pendapat lain dikemukakan Wahyana (dalam Trianto, 2010:136) IPA adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara sistematik, dan dalam penggunaannya secara umum terbatas pada gejala alam.

  Dari berbagai pendapat, peneliti menyimpulkan IPA adalah ilmu tentang alam yang mempelajari peristiwa-peristiwa di alam yang tersusun secara sistematik, dan dalam penggunaannya secara umum terbatas pada gejala alam di tandai

2.1.4.2 Hakikat Pendidikan IPA

  Donosepoetro (dalam Trianto, 2010:137) menyebutkan hakikat IPA dibangun atas dasar produk ilmiah, proses ilmiah, dan sikap ilmiah. Menurut Prihantoro (dalam Trianto, 2010:137) hakikat IPA merupakan suatu produk,proses, dan aplikasi. Cain dan Evans (dalam Agustiana, 2013:272) berpendapat bahwa IPA pada hakikatnya memiliki 2 komponen yaitu komponen produk dan proses. Sebagai sebuah produk, IPA terdiri dari sekumpulan pengetahuan yang berupa fakta, konsep dan hukum tentang gejala alam. Sebagai sebuah proses, IPA merupakan suatu rangkaian yang terstruktur dan sistematis yang dilakukan untuk menemukan konsep, prisnsip dan hukum tentang gejala alam.

  Dari pendapat beberapa ahli, dapat disimpulkan bahwa hakikat IPA terdiri atas proses, produk, sikap dan aplikasi. IPA sebagai proses, artinya proses dalam mendapatkan IPA yaitu memahami bagaimana mengumpulkan fakta-fakta dan memahami bagaimana menghubungkan fakta-fakta untuk mewujudkannya. IPA sebagai produk, artinya fakta-fakta, konsep, prinsip dan teori IPA. IPA sebagai sikap, artinya sikap rasa ingin tahu benda-benda, fenomena alam, makhluk hidup, serta hubungan sebab akibat yang menimbulkan masalah baru dapat dipecahkan dengan prosedur yang benar (sikap ilmiah). IPA sebagai aplikasi, adanya penerapan metode ilmiah dan konsep IPA dalam kehidupan sehari-hari.

2.1.5 Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

2.1.5.1 Pengertian Penelitian Tindakan Kelas

  Aqib dkk (2009: 3) menjelaskan penelitian tindakan kelas (PTK) adalah penelitian yang dilakukan oleh guru kelasnya sendiri melalui refleksi dengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sehingga hasil siswa meningkat. Menurut Kusumah & Dwitaga (2009:9) penelitian tindakan kelas adalah penelitian tindakan yang dilakukan oleh guru didalam kelas. Sanjaya (2011: 26) PTK diartikan sebagai prose pengkajian masalah pembelajaran di dalam kelas melalui refleksi diri dalam upaya memecahkan masalah dengan melakukan berbagai tindakan yang terencana dalam situasi nyata serta mengalisis setiap pengaruh dari perlakuan.

  Arikunto (dalam Suyadi, 2010:3) berpendapat bahwa penelitian tindakan kelas adalah pencermatan dalam bentuk tindakan terhadap tindakan belajar yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersamaan. Menurut Carr & Kemmis (dalam Wardani dkk, 2007:1.3) penelitian tindakan merupakan penelitian dalam bidang sosial, yang menggunakan refleksi diri sebagai metode utama, dilakukan oleh orang yang terlibat di dalamnya, serta bertujuan untuk melakukan perbaikan dalam berbagai aspek. Mills (dalam Wardani dkk, 2007:1.4) juga menjelaskan bahwa penelitian tindakan sebagai “sytematic inquiry” yang dilakukan oleh guru, kepala sekolah, atau konselor sekolah untuk mengumpulkan informasi tentang berbagai praktik yang dilakukannya. Informasi ini digunakan untuk meningkatkan persepsi serta mengembangkan “reflektive practice” yang berdampak positif dalam berbagai praktik persekolahan termasuk memperbaiki hasil belajar siswa Elliot (dalam Arifin, 2011: 96) menyebutkan bahwa penelitian tindakan merupakan kajian tentang situasi sosial dengan suatu tindakan agar dapat memperbaiki mutu situasi di dalamnya. Pendapat lain dikemukakan Ebbutt (dalam Arifin, 2011: 97) penelitian tindakan adalah suatu studi percobaan yang sistematis untuk memperbaiki praktik pendidikan dengan melibatkan kelompok partisipan (guru) melalui tindakan pembelajaran dan refleksi sebagai akibat dari tindakan tersebut. Sedangkan Hopkins (dalam Arifin, 2011: 97) penelitian tindakan kelas adalah penelitian untuk perubahan dan perbaikan yang dilakukan di ruang kelas.

  Natawijaya (dalam Muslich, 2009: 9) menjelaskan bahwa PTK adalah pengkajian terhadap permasalahan praktis yang bersifat situasional dan kontekstual, yang ditujukan untuk menentukan tindakan yang tepat dalam rangka pemecahan masalah yang dihadapi, atau memperbaiki sesuatu. Menurut Suyanto (dalam Muslich, 2009: 9) PTK adalah suatu bentuk penelitian yang bersifat reflektif dengan melalui tindakan-tinndakan tertentu agar dapat memperbaiki dan atau meningkatkan praktik-praktik pembelajaran di kelas profesional.

  Dari berbagai pendapat tentang penelitian tindakan kelas, dapat disimpulkan penelitian tindakan kelas adalah penelitian yang dilakukan secara sistematis yang dilakukan oleh guru melalui refleksi, dengan tujuan memperbaiki kinerjanya, sehingga hasil belajarnya menjadi meningkat.

  2.1.6.2 Karakteristik PTK

  Suyadi (2010: 4) menyebutkan karakteristik PTK terdiri dari: guru merasa ada permasalahan yang mendesak sehingga membutuhkan penyelesain; refleksi merupakan ciri khas dari PTK yang paling esensial; penelitian dilakukan di dalam “kelas” fokus penelitian adalah guru dan siswa; bertujuan untuk memperbaiki pembelajaran. Sukidin & Basrowi dan Suranto (2002:22-23) menguraikan tentang karakteristik PTK antara lain: problema yang diangkat untuk dipecahkan; perlu tindakan atau aksi tertentu untuk memperbaiki proses belajar mengajar. Menurut Arikunto & Suhardjono dan Supardi (2007:108-109) prisnsip dalam PTK antara lain: problema yang diangkat dari masalah guru; guru menyadari ada persoalan dalam proses pembelajaran; dapat dilakukan secara kolaboratif; perlu tindakan untuk memperbaiki proses belajar mengajar; ada perubahan ke arah perbaikan dan hal positif; dalam penelitian terjadi reflektif selama penelitian dan pengambilan tindakan; reflektif berkelanjutan dalam proses dan hasil penelitian.

  2.1.6.3 Model-model Penelitian Tindakan

  Ada beberapa model PTK yang sering digunakan dalam dunia pendidikan antara lain; model Kurt Lewin; model Kemmis & McTaggart; model Dave Ebbutt; model John Eliot; dan model Hopkins (Taniredja & Pujiati, dan Nyata, 2012: 23-27).

2.1.6.2.1 Model Kurt Lewin

  Model Kurt Lewin merupakan model pertama dalam PTK yang diperkenalkan pada tahun 1946, merupakan acuan pokok atau dasar dari berbagai empat langkah, yaitu 1)perencanaan (planning); 2) aksi atau tindakan (acting); 3) observasi (observing) dan refleksi (reflecting), model Kurt Lewin tampak pada gambar 1.

  Gambar 1. Model Dasar penelitian tindakan dari Kurt Lewin (Taniredja & Pujiati, dan Nyata, 2012: 23).

2.1.6.2.2 Model Kemmis dan Taggart

  Model Kemmis dan Taggart merupakan pengembangan dari model Kurt Lewin, pada hakikatnya berupa perangkat-perangkat dengan satu perangkat terdiri dari empat komponen dalam tahap satu putaran (siklus) yaitu : perencanaan, tindakan dan observasi-refleksi. Pengulangan tindakan dilakukan untuk menyakinkan peneliti bahwa tindakan pada pertama telah atau belum berhasil.

  Model Kemmis dan Taggart tampak pada gambar 2.

  Gambar 2. Model penelitian Kemmis dan Taggart jenis spiral (Mulyaningsih, 2011: 70)

2.1.6.2.3 Model John Elliot

  Model John Elliot dikembangkan berdasarkan model Kurt Lewin, tetapi tampak lebih detail dan rinci. Pada model John Elliot dalam satu tindakan (acting) terdiri dari beberapa step atau langkah tindakan, yaitu langkah tindakan 1, langkah tindakan 2 dan langkah tindakan 3. Model John Elliot tampak pada gambar 3.

  Gambar 3. Model penelitian John Elliot (Taniredja & Pujiati, dan Nyata, 2012: 25).

2.1.6.2.4. Model Hopkins

  Hopkin mengembangkan model PTK berdasarkan model-model yang sebelumnya sudah ada. Model Hopkin tampak pada gambar 4.

  Gambar 4. Model penelitian Hopkins (Taniredja & Pujiati, dan Nyata, 2012: 26).

2.1.6.2.5. Model Dave Ebbutt

  Ebbutt setuju dengan gagasan-gagasan Kemmis dan Elliot, tetapi tidak setuju mengenai beberapa interpretasi Elliot dari karya Kemmis. Model Dave Ebbutt tampak pada gambar 5.

  Gambar 5. Model penelitian Dave Ebbutt

2.2 Hasil penelitian yang relevan

  Pada bagian ini dijelaskan beberapa penelitian relevan yang pernah diteliti sebelumnya dan telah teruji hasilnya, penelitian tersebut dilakukan oleh Nugoroho, Lestari, Prastanto dan Suwandari tentang peningkatan keaktifan dan prestasi belajar dengan pendekatan kontekstual. Dengan penelitian yang relevan ini, sekiranya dapat mendukung penelitian yang akan dilakukan pada siswa kelas III di SD N Plaosan 1 tentang peningkatan keaktifan dan prestasi belajar.

  Sebuah Penelitian yang dilakukan oleh Nugroho (2011) diterbitkan oleh Universitas Sanata Dharma dengan judul “Peningkatan Prestasi Belajar Siswa dengan Pendekatan Kontekstual Melalui Metode Inkuiri Mata Pelajaran IPA Kelas V SD Budya Wacana Semester Genap T ahun Ajaran 2010/2011”. Hasil penelitiannya dengan kondisi awal nilai rata-rata siswa 81,71 dengan jumlah siswa yang mencapai KKM 83,3%. Setelah di laksanakan siklus 1 nilai rata-rata siswa menjadi 83,23 dengan jumlah siswa yang mencapai KKM 84,2%. Pada siklus II terjadi peningkatan nilai rata-rata siswa menjadi 86,00 dengan jumlah siswa yang mencapai KKM 94,74%. Penggunaan pendekatan kontekstual melalui metode inkuiri dapat meningkatkan keterlibatan siswa kelas V di SD Budya Wacana. Hal tersebut ditunjukkan dari kondisi awal keterlibatan siswa 43,75% mengalami peningkatan pada siklus I menjadi 75,99% dan pada siklus II menjadi 79,61%. Dari penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa pendekatan kontektual melalui metode inkuiri dapat digunakan sebagai alternatif pendekatan yang dapat meningkatkan prestasi belajar siswa pelajaran IPA siswa kelas V SD Budya

  Penelitian lain tentang pendekatan kontekstual dilakukan oleh Lestari (2011) di terbitkan oleh Universitas Sanata Dharma dengan judul “Peningkatan Prestasi Belajar Menggunakan Pendekatan Kontekstual Dalam Mata Pelajaran IPA Tentang Macam-Macam Gerak Benda Siswa Kelas III SD Kanisius Klepu Minggir Semester 2 Tahun Pelajaran 2010/2011

  ”. Hasil penelitiannya sangat memuaskan dengan melihat KKM yang sudah ditentukan oleh sekolah yaitu 64.

  Hasil analisis tes akhir kondisi awal nilai rata-rata kelas 59. Didapat 17 siswa (60%) dari 29 siswa belum mencapai KKM dan 12 siswa (40%) dari 29 siswa sudah mencapai nilai KKM. Hasil analisis terakhir siklus 1 nilai rata-rata kelas mencapai 68 dengan target penelitian 64. Didapat 7 siswa (25%) dari 29 siswa belum mencapai KKM dan 22 siswa (75%) dari 29 siswa sudah mencapai KKM hasil analisis tes terakhir siklus II nilai rata-rata kelas mencapai 79 dengan target penelitian 70. Didapat 4 siswa (14%) dari 29 siswa belum mencapai KKM dan 25 (86%) dari 29 siswa siswa sudah mencapai KKM. Dari penelitian tersebut dapat disimpulkan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) dapat meningkatkan prestasi belajar mata pelajaran IPA tentang macam-macam gerak benda siswa kelas III SD kanisius Klepu Minggir semester 2 tahun pelajaran 2010/2011.

  Penelitian lain tentang pendekatan kontekstual oleh Prastanto (2011) di terbitkan oleh Universitas Sanata Dharma dengan judul “Peningkatan Keaktifan dan Prestasi Belajar Menggunakan Pendekatan Kontekstual Untuk Melakukan Penjumlahan dan Pengurangan Bilangan Cacah Pada Siswa Kelas II SD N KKM yang sudah ditentukan oleh sekolah yaitu 7. Hasil penelitiannya dengan kondisi awal nilai rata-rata siswa yang mencapai KKM 45%. Setelah di laksanakan siklus 1 nilai rata-rata siswa yang mencapai KKM 61,29%. Pada siklus II terjadi peningkatan nilai rata-rata siswa yang mencapai KKM 77,41%.

  Penggunaan pendekatan kontekstual dapat meningkatkan keaktifan siswa kelas II SD N Cacangan Cangkringan Sleman. Hal tersebut ditunjukkan dari keaktifan siswa dengan kondisi awal 35 % mengalami peningkatan pada siklus I menjadi 64,5 % dan pada siklus II menjadi 80,64 %. Dari penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa pendekatan kontektual dapat digunakan sebagai alternatif pendekatan yang dapat meningkatan keaktifan dan prestasi belajar untuk melakukan penjumlahan dan pengurangan bilangan cacah pada siswa kelas II SD N Cacangan Cangkringan Sleman.

  Penelitian yang dilakukan oleh Suwandari (2012) diterbitkan oleh Universitas Sanata Dharma dengan judul “Peningkatan Keaktifan dan Prestasi Belajar Pada Pembelajaran Bunyi Melalui Pendekatan Kontekstual Pada Siswa Kelas IV SD Kristen Kalam Kudus Yogyakarta Semester Genap Tahun Ajaran 2011/2012”.

  Hasil penelitiannya dengan kondisi awal nilai rata-rata siswa 65 dengan jumlah siswa yang mencapai KKM 44,5%. Setelah di laksanakan siklus 1 nilai rata-rata siswa menjadi 76 dengan jumlah siswa yang mencapai KKM 82,4%. Pada siklus

  II terjadi peningkatan nilai rata-rata siswa menjadi 81 dengan jumlah siswa yang mencapai KKM 94,1%. Penggunaan pendekatan kontekstual dapat meningkatkan keaktifan siswa kelas IV di SD Kristen Kalam Kudus Yogyakarta. Hal tersebut peningkatan pada siklus I menjadi 64,7 % dan pada siklus II menjadi 75,3%. Kerjasama siswa dengan kondisi awal 60 % mengalami peningkatan pada siklus I menjadi 88,2 % dan pada siklus II menjadi 90,6%. Ketepatan waktu siswa dengan kondisi awal 50 % mengalami peningkatan pada siklus I menjadi 89,4 % dan pada siklus II menjadi 95,3%. Jawaban hasil pengamatan siswa dengan kondisi awal 65 % mengalami peningkatan pada siklus I menjadi 89,4 % dan pada siklus II menjadi 95,3%. Dari penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa pendekatan kontektual dapat digunakan sebagai alternatif pendekatan yang dapat meningkatkan keaktifan dan prestasi belajar siswa pada pembelajaran bunyi siswa kelas IV SD Kristen Kalam Kudus.

  Gambar 6: Bagan Penelitian Relevan Penelitian oleh Prastanto (2011)

  Penelitian oleh Nugroho (2011) Peningkatan Keaktifan dan Prestasi Belajar

  Peningkatan Prestasi Belajar Siswa dengan Menggunakan Pendekatan Kontekstual

  Pendekatan Kontekstual Melalui Metode Untuk Melakukan Penjumlahan dan

  Inkuiri Mata Pelajaran IPA Kelas V SD Pengurangan Bilangan Cacah Pada Siswa

  Budya Wacana Semester Genap Tahun Kelas II SD N Cacangan Cangkringan Ajaran 2010/2011. Sleman. Hasil Penelitian: dengan pendekatan

  Hasil Penelitian: menggunakan pendekatan kontekstual melalui metode inkuiri dapat kontekstual dapat meningkatan keaktifan meningkatan prestasi belajar dan prestasi belajar

  Kesimpulan Peneliti akan menggunakan pendekatan kontekstual untuk meningkatkan keaktifan dan

  Prestasi Prestasi belajar dan

  prestasi belajar . Hal ini telah pernah dilakukan

  keaktifan

  oleh penelitian sebelumnya dengan pendekatan kontektual dapat meningkatkan keaktifan dan prestasi belajar IPA

  Penelitian oleh Lestari (2011) Penelitian oleh Suwandari (2012) Peningkatan Prestasi Belajar Peningkatan Keaktifan dan Prestasi

  Belajar Pada Pembelajaran Bunyi Menggunakan Pendekatan Kontekstual

  Melalui Pendekatan Kontekstual Pada Dalam Mata Pelajaran IPA Tentang

  Siswa Kelas IV SD Kristen Kalam Macam-Macam Gerak Benda Siswa Kelas III SD Kanisius Klepu Minggir Kudus Yogyakarta Semester Genap Semester 2 Tahun Pelajaran 2010/2011 Tahun Ajaran 2011/2012.

  Hasil Penelitian: melalui pendekatan Hasil Penelitian: Menggunakan kontekstual dapat meningkatan keaktifan Pendekatan Kontekstual dapat dan prestasi belajar meningkatan prestasi belajar

2.3 Kerangka Berpikir

  Gambar 7: Mind Map kerangka berpikir Prestasi

  Keaktifan CTL Siswa SD

  IPA Berdasarkan gambar 7, Belajar merupakan suatu proses perubahan tingkah laku yang didapat dari orang lain atau lingkungan sekitar yang relatif menetap sebagai hasil latihan dan pengalaman yang berlangsung secara progersif serta melibatkan proses kognitif. IPA merupakan salah satu mata pelajaran yang penting khususnya sekolah dasar, karena materi IPA dapat dijumpai siswa baik secara sadar atau secara tidak sadar setiap hari. Mata pelajaran IPA disusun agar menarik bagi siswa dan memberikan kesempatan bagi siswa untuk berperan aktif dalam pelajaran sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar. Masa usia sekolah

  

dasar merupakan tahap yang penting bagi kesuksesan perkembangan selanjutnya.

Perkembangan kognitif siswa SD masih dalam tahapan operasional konkret. Pada tahap

operasi konkret siswa mampu berpikir logis melalui objek-objek konkret, dan merupakan

permulaan berpikir rasional . Pendekatan belajar mengajatr yang sesuai adalah pendekatan yang mencakup kesesuain dengan antara situasi dan belajar anak dengan situasi nyata.

  Sesuai penjelasan diatas, pendekatan kontekstual merupakan pendekatan belajar dimana guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi nyata serta menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkan pengetahuan yang dimiliki dengan situasi kehidupan nyata. Ada tujuh prinsip pembelajaran kontekstual yang dikembangkan guru yaitu konstruktivisme, inkuiri, bertanya, masyarakat belajar, pemodelan, refleksi dan penilaian nyata. Pendekatan kontekstual memberikan kesempatan siswa untuk beraktivitas dalam menemukan pengetahuan secara luas dan berdampak positif dalam proses pembelajaran melalui pengalaman yang diperoleh sehingga mejadi proses pembelajaran yang bermakna. Pendekatan kontekstual diharapkan dapat meningkatkan keaktifan dalam proses belajar mengajar berlangsung dan prestasi belajar siswa.

2.4 Hipotesis Tindakan

  Berdasarkan rumusan masalah, peneliti menentukan hipotesis tindakan pada penelitian ini. Hipotesis tindakan yang disusun oleh peneliti adalah: pendekatan kontekstual dilaksanakan dalam upaya meningkatkan keaktifan siswa dalam mata

  pelajaran IPA kelas III di SD Negeri Plaosan 1 dapat dilakukan melalui proses penemuan, bertanya pada guru atau teman, melibatkan siswa dalam pemodelan, melakukan kerjasama dan memanfaatkan sumber belajar melalui diskusi kelompok. Sedangkan pendekatan kontekstual dilaksanakan dalam upaya

  Negeri Plaosan 1 melalui penemuan sehingga mengkontruksi pemahaman siswa, kemudian di refleksikan dan diendapakan melalui tanya jawab serta dibuktikan dengan pemahaman yang diperoleh siswa selama proses belajar mengajar dengan tes evaluasi siswa.

BAB III METODE PENELITIAN Dalam bab ini akan diuraikan tentang jenis penelitian, setting penelitian,

  rencana tindakan, teknik pengumpulan data, instrumen penelitian, uji validitas dan reliabilitas instrumen, teknik pengumpulan data.

3.1 Jenis Penelitian

  Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK), menurut Hopkins (Arifin,2011:97) yaitu suatu penelitian untuk perubahan dan perbaikan yang dilakukan di ruang kelas. Penelitian tindakan kelas (PTK) merupakan penelitian yang menggabungkan prosedur penelitian dengan subtatif, yaitu tindakan yang dilakukan dalam disiplin inkuiri,atau usaha seseorang yang untuk memahami apa yang sedang terjadi dengan melibatkan diri dalam proses perbaikan.

  Penelitian tindakan kelas (PTK), ini dilakukan secara kolaboratif partisipatoris, yakni kerjasama peneliti dengan guru kelas sebagai pelaku tindakan. Dalam PTK ini menganut model Kemmis dan Mc Taggart yang menggunakan siklus sistem spiral masing-masing terdiri atas 4 komponen yaitu

  

plan (rencana tindakan), act (tindakan) dan observe serta reflection (pengamatan

  dan refleksi). Untuk lebih jelasnya, seperti tampak pada gambar 8 :

  Gambar 8: Model spiral menurut Kemmis dan Taggart (Mulyatiningsih, 2011:70)

  a. Perencanaan Rencana merupakan satu kebutuhan pokok dalam melaksanakan setiap kegiatan. Rencana perlu dituangkan dalam sebuah format, yang memungkinkan kita membuat perencanaan secara sistematis. Sehingga dengan adanya perencanaan yang sistematis akan memperbaiki, meningkatkan atau merubah tingkah perilaku dan sikap sebagai solusi suatu masalah yang dihadapi. Adapun rencana yang disusun secara umum meliputi menyusun rancangan meliputi keseluruhan aspek terkait penelitian, sedangkan secara khusus meliputi penyusunan rancangan dari siklus per- siklus. Hasil perencanaan biasanya dimasukkan dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).

  b. Tindakan Kegiatan yang dilakukan oleh guru atau peneliti secara sadar seperti yang telah disusun dan direncanakan sebelumnya. Kegiatan ini dilakukan sebagai upaya untuk memperbaiki, meningkatan atau perubahan dalam proses belajar mengajar.

  c. Observasi Observasi adalah proses pengamatan dan pencatatan perilaku subjek penelitian selama pelaksanaan tindakan. Antara pelaksanaan dengan pengamatan sebetulnya bukan merupakan urutan karena waktu atau saat terjadinya bersamaan. Alat yang digunakan untuk mengobservasi dapat berupa lembar pengamatan atau check list.

  d. Refleksi Refleksi merupakan kegiatan merenung, melihat dan mengkaji dari pelaksanaan dan hasil observasi yang dilakukan. Guru dan peneliti berdiskusi tentang masalah selama pelaksanaan siklus. Peneliti menentukan keputusan untuk menentukan siklus lanjutan ataukah berhenti karena permasalahan sudah terselesaikan.

3.2 Setting Penelitian

  3.2.1 Tempat Penelitian

  Tempat penelitian ini dilakukan di SD Negeri Plaosan 1 yang beralamat di dusun Plaosan, Tlogoadi, Mlati , Sleman. Letak bangunan sekolah berada di dekat pemukiman warga dan persawahan.

  3.2.2 Subjek Penelitian

  Subjek penelitian ini adalah siswa kelas III di SD Negeri Plaosan 1 tahun ajaran 2012/2013 dengan jumlah 22 siswa. Tetapi peneliti hanya menggunakan 20

  • – Juli tahun ajaran 2012/2013.

  Juli 2013

  8 Revisi √

  7 Ujian Skripsi √

  6 Penyusunan laporan √

  5 Pengolahan data √

  4 Pengumpulan data √ √

  3 Permohonan ijin penelitian √

  2 Penyusunan proposal √

  1 Observasi penelitian √

  Mei 2013 Juni 2013

  masukan Guru Kelas III, 2 siswa tidak bias dijadikan subjek penelitian karena tidak dapat mengikuti pelajaran dengan maksimal (ABK)

  Maret 2013 April 2013

  Januari 2013 Februari

2013

  

Tabel 3. Jadwal Penelitian

No Kegiatan Waktu (Bulan)

  Penelitian ini akan dilaksanakan pada semester 2 bulan Januari

  3.2.4 Waktu Penelitian

  III SD Negeri Plaosan 1 dengan menggunakan pendekatan kontekstual. Peneliti mengharapkan keaktifan siswa dan prestasi belajar siswa akan meningkat selama mempelajari materi ini dengan menggunakan pendekatan pembelajaran kontekstual.

  Objek penelitian ini adalah keaktifan dan prestasi belajar IPA siswa di kelas

  3.2.3 Objek penelitian

  9 Pembuatan artikel √

3.3 Rencana Tindakan

  Rencana tindakan dalam penelitian ini terdiri dari persiapan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Penjelasan tentang rencana tindakan tersebut terdapat di bawah ini.

3.3.1 Persiapan

  Kegiatan pertama yang dilakukan untuk merencanakan penelitian ini adalah peneliti meminta ijin untuk melakukan penelitian kepada kepala sekolah SD Negeri Plaosan 1. Setelah mendapatkan izin, peneliti akan menemui guru kelas III untuk mendapatkan informasi dan mengatur waktu untuk melakukan observasi.

  Adapun persiapan yang dilakukan peneliti sebelum melakukan observasi, mempersiapkan indikator keaktifan, dan alat untuk mendokumentasikan selama proses observasi. Jika persiapan observasi kelas sudah siap maka peneliti melakukan observasi pada siswa kelas III sebagai subjek penelitian untuk memperoleh gambaran mengenai kondisi awal kegiatan pembelajaran berlangsung dan karakteristik siswa.

  Persiapan selanjutnya adalah menganalisis masalah yang diperoleh dari observasi di kelas III. Setelah menganalisis masalah, peneliti menyusun rumusan masalah yang ditemukan di kelas III. Rumusan masalah disusun oleh peneliti dalam kalimat tanya dapat dilihat di Bab I. Peneliti akan menyusun instrumen pembelajaran yang berupa RPP dan LKS. RPP dan LKS dibuat setiap pertemuan dalam tiap siklus. Peneliti juga akan menyiapkan media dan alat peraga untuk mendukung pembelajaran IPA tersebut. Setelah peneliti menyusun instrumen pembelajaran, peneliti akan menyusun instrumen penelitian. Instrumen penelitian ini berupa, lembar observasi, kisi-kisi soal evaluasi dan soal evaluasi.

3.3.2 Pelaksanaan/ Tindakan

  Siklus I akan dilaksanakan dalam 4 kali pertemuan dimana setiap pertemuan beralokasikan 2 jam pelajaran (2 JP).

  3.3.2.1 Perencanaan

  Kegiatan yang dilakukan peneliti meliputi: Mendalami Silabus, RPP dan LKS dan menyiapkan bahan pelajaran serta alat peraga maupun media yang akan digunakan selama proses penelitian .Perangkat pembelajaran dapat dilihat pada lampiran 2 hal 115-147.

  3.3.2.2 Pelaksanaan tindakan

  3.3.2.2.1 Pertemuan 1

  Pada pertemuan 1 guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Kegiatan awal guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan materi yang akan diajarkan kepada siswa. Siswa dibagi dalam kelompok, setiap kelompok beranggotakan 4-5 siswa. Guru memberikan salah satu contoh gerak benda, kemudian setiap kelompok diberikan lembar kerja siswa untuk berdiskusi dan melakukan percobaan mengenai tiga jenis gerak benda. Siswa mempresentasikan hasil diskusi dari percobaan yang dilakukan.

  3.3.2.2.2 Pertemuan 2

  Pada pertemuan 2 guru melajutkan materi tentang jenis gerak benda yang lain. Kegiatan awal guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. beranggotakan 4-5 siswa. Guru memberikan salah satu contoh gerak benda, kemudian setiapkelompokdiberikan lembar kerja siswa untuk berdiskusi dan melakukan percobaan mengenai duajenis gerak benda. Siswa mempresentasikan hasil diskusi dari percobaan yang dilakukan.

  3.3.2.2.3. Pertemuan 3

  Pada pertemuan 3 guru membahas materi tentang faktor yang mempengaruhi gerak benda. Kegiatan awal guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Disetiap pertemuan siswa dibagi dalam kelompok, setiap kelompok beranggotakan 4-5 siswa. Kemudian siswa melakukan percobaan dan berdiskusi mengenai faktor yang mempengaruhi gerak benda yang lain.Untuk mencari tahu tentang faktor yang mempengaruhi gerak benda siswa diberikan kesempatan untuk melakukan percobaan terkait faktor yang mempengaruhi gerak.

  3.3.2.2.4. Pertemuan 4

  Pada pertemuan 4 guru membahas manfaat dari gerak benda. Kegiatan awal guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Setelah menyampaikan tujuan guru membagi siswa dalam kelompok, setiap kelompok beranggotakan 4-5 siswa. Guru menunjukkan salah satu gerak benda yang berguna bagi manusia dengan media gambar. Kemudian siswa membuat kincir angin dan berdiskusi mengenai manfaat dari gerak benda untuk mencari tahu tentang manfaat dari gerak benda siswa diberikan lembar kerja siswa sebagai panduan dan siswa mengelompokkan yang bermanfaat bagi manusia.

  3.3.2.3 Observasi Jenis penelitian ini kolaboratif, sehingga peneliti bisa menjadi observer.

  Peneliti mengamati subjek penelitian selama proses belajar mengajar dengan memberi turus pada lembar observasi yang telah dipersiapkan sebelumnya.

  Peneliti meminta bantuan teman untuk mendokumentasikan kegiatan melalui video rekaman. Peneliti menggunakan video rekaman ini jika ada kesalahan dalam observasi, peneliti dapat melihat dari video tersebut dan digunakan sebagai menguatkan dari hasil observasi yang dilakukan peneliti.

  3.3.2.4 Refleksi

  Dalam refleksi, peneliti mengidentifikasi kesulitan dan kejadian selama proses pembelajaran berlangsung di kelas. Refleksi ini akan dijadikan acuan untuk perbaikan perlu diadakan siklus berikutnya atau tidak.

3.4 Teknik Pengumpulan Data

  Teknik pengumpulan data dapat dilakukan dalam berbagai setting, sumber, dan cara. Dilihat dari segi cara atau teknik pengumpulan data, maka teknik pengumpulan data dapat dilakukan dengan interview (wawancara) merupakan pertemuan dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab.

  Kuisioner merupakan kontak langsung dengan subjek dengan memberi pertanyaan tertulis, observasi (pengamatan) mengamati kegiatan objek penelitian dan gabungan ketiganya. Peneliti memilih menggunakan teknik observasi karena observasi mempunyai ciri yang spesifik bila dibandingkan dengan wawancara dan kuisioner yang tidak terbatas berkomunikasi dengan orang, objek alam lainnya

  Faisal (dalam Sugiono, 2011:310) mengklasifikasikan observasi menjadi tiga yaitu observasi berpartisipasi (participant observation) peneliti terlibat dalam kegiatan yang dilakukan sumber data penelitian. Observasi yang secara terang- terangan dan tersamar ( overt observation and covert observation) peneliti menyatakan terus terang tentang penelitian, terkadang tidak terus terang karena bersifat rahasia. Observasi tak terstruktur (unstructured observation) observasi yang tidak direncanakan atau dipersiapkan secara sistematis tentang apa yang akan diobservasi. Peneliti memilih observasi berpartisipasi (participant

  

observation), karena peneliti terlibat dalam kegiatan yang dilakukan objek

  penelitian, sehingga data yang diperoleh akan lebih lengkap. Observer akan mengamati kegiatan siswa selama proses pembelajaran berlangsung untuk mengumpulkan data tentang keaktifan siswa dengan lembar observasi.

  Disetiap pertemuan peneliti dibantu teman sejawat untuk mendokumentasikan kegiatan selama proses pembelajaran berlangsung dengan menggunakan kamera video. Setelah pembelajaran selesai, peneliti akan melihat hasil rekaman video tersebut untuk lebih mendapatkan data yang akurat yang dicatat pada lembar observasi. Pengumpulan data tentang prestasi belajar peneliti menggunakan tes. Tes digunakan mengetahui sejauh mana pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkan, tes dapat dijadikan dasar untuk menetapkan skor angka (Furchan, 2011:268). Tes evaluasi diberikan kepada siswa di akhir pertemuan yaitu dipertemuan ke empat. Pembuatan soal tes mengacu pada kisi- kisi yang telah dibuat dengan berbagai petimbangan, baik dari dosen pembimbing,

3.5 Instrumen Penelitian

  Instrumen penelitian merupakan bagian penting dalam penelitian ini. Sesuai dengan judul penelitian, penelitian ini akan mengukur keaktifan dan prestasi belajar. Untuk itu peneliti mempersiapakan instrumen penelitian untuk mengetahui tingkat keaktifan peneliti menggunakan jenis non tes berupa lembar observasi yang akan digunakan di setiap pertemuan selama kegiatan pembelajaran. Sedangkan untuk mengetahui prestasi belajar siswa menggunakan tes berupa soal evaluasi yang digunakan di akhir pertemuan siklus.

3.5.1 Lembar Observasi

  Nasution (dalam Sugiono, 2011:310) menjelasakan bahwa observasi sebagai dasar dalam semua ilmu pengetahuan termasuk dalam penelitian. Faisal (dalam Sugiono, 2011:310) mengklasifikasikan observasi menjadi observasi berpartisipasi (participant observation), observasi yang secara terang-terangan dan tersamar (overt observation and covert observation), dan observasi tak tersetruktur (unstructured observation). Peneliti memilih observasi berpartisipasi

  

(participant observation), karena peneliti terlibat dalam kegiatan yang dilakukan

  sumber data penelitian. Observer mengamati Kelas III di SD N Plaosan 1 dengan jumlah 20 siswa yang terdiri atas 9 siswa perempuan dan 11 siswa laki-laki.

  Peneliti akan mengamati kegiatan siswa selama proses belajar mengajar, dan menghubungkan aktifitas siswa dalam indikator keaktifan dengan memberi turus pada lembar observasi keaktifan. Untuk lembar observasi keaktifan dapat dilihat di tabel 4. Adapun indikator yang telah disusun sebagai berikut: 1) bertanya pembelajaran; 2) mengemukakan pendapat ketika berdiskusi kelompok; 3) mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru dalam proses pembelajaran IPA

  58 Tabel 4. Lembar Observasi Keaktifan No Nama siswa

  Indikator 1 Indikator 2 Indikator 3 Bertanya kepada guru dan teman tentang materi pembelajaran IPA saat proses pembelajaran

  Mengemukakan pendapat ketika berdiskusi kelompok Mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru dalam proses pembelajaran IPA

  Bertanya kepada guru bila tidak memahami persoalan

  Bertanya kepada siswa lain bila tidak memahami persoalan

  Menjawab pertanyaan yang diajukan oleh guru

  Mengemukakan gagasan secara spontan

  Melaksanakan diskusi kelompok sesuai petunjuk guru

  Turut serta dalam mengerjakan tugas

  Mencari berbagai informasi yang diperlukan untuk pemecahan persoalan

3.5.2 Evaluasi atau Tes

  Tes adalah suatu alat pengukur yang berupa serangkaian pertanyaan yang harus dijawab secara sengaja dalam suatu situasi yang distandarisasikan, dan yang dimaksudkan untuk mengukur kemampuan hasil belajar individu atau kelompok untuk penggolongan jenis tes menurut bentuk atau ragam item dapat dikelompokkan menjadi tes karangan, tes objek dan tes semi objektif (Masidjo, 2010: 48). Soal evaluasi atau tes yang disusun oleh peneliti yaitu berupa tes obyektif. Di dalam tes objektif dapat dibagi menjadi bentuk benar salah, bentuk pilihan ganda, dan bentuk menjodohkan.

  Peneliti memilih soal evaluasi dalam bentuk pilihan ganda, karena tes pilihan ganda adalah suatu tes yang terdiri atas pernyataan atau pertanyaan dan sejumlah pilihan atau alternatif jawaban. Dibandingkan dengan bentuk tes objektif yang lainnya, bentuk pilihan ganda paling flexibel dan efektif untuk mengukur pengetahuan, pengertian, kosa kata, pengetrapan prinsip dan kemampuan menafsirkan data. Sebelum membuat soal pilihan ganda peneliti menyusun kisi- kisi soal dapat dilihat pada tabel 5. Peneliti menyusun kisi-kisi, terdapat 15 indikator dengan jumlah soal 30.

  

Tabel 5. Kisi-kisi soal

  4 soal

  15. Menjelaskan gerak benda yang berguna bagi kehidupan sehari-hari 28 1 soal

  14. Memberikan dua contoh gerak benda yang menghasilkan energi listrik 29,30 2 soal

  13. Memberikan dua contoh gerak benda yang digunakan sebagai sarana olahraga 26, 27 2 soal

  2 soal

  12. Memberikan dua contoh gerak benda yang digunakan sebagai sarana transportasi 23, 24

  2 soal

  11. Membuat satu benda yang digerakkan oleh angin 21, 22

  2 soal

  10. Menjelaskan faktor yang mempengaruhi gerak benda 13,15

  9. Menyebutkan tiga faktor yang mempengaruhi gerak benda 16, 19 2 soal

  8. Mengidentifikasi tiga faktor yang mempengaruhi gerak benda 14,17, 18, 20

  Satuan Pendidikan : SD N Plaosan 1 Mata Pelajaran : Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) Kelas/semester : III/2

  7. Menjelaskan satu jenis gerak dengan bahasa sendiri 5,12 2 soal

  6. Memberi minimal satu contoh gerak benda mengalir yang ada dilingkungan sekitar 11 1 soal

  5. Memberi minimal satu contoh gerak benda berputar yang ada dilingkungan sekitar 9,10 2 soal

  4. Memberi minimal satu contoh gerak benda menggeliding yang ada dilingkungan sekitar 8 1 soal

  3. Memberi minimal satu contoh gerak benda memantul yang ada dilingkungan sekitar 7,25 2 soal

  1 soal

  6

  2. Memberi minimal satu contoh gerak benda jatuh yang ada dilingkungan sekitar

  1. Mengidentifikasi lima jenis gerak benda 1,2,3, 4 4 soal

  Indikator No Soal Jumlah

  Jumlah 30 soal

3.6 Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen Penelitian

3.6.1 Validitas

  Validitas suatu tes adalah taraf sampai dimana suatu tes mampu mengukur apa yang seharusnya diukur Masidjo (2010: 242). Suatu tes dikatakan valid selain dilihat dari keadaan dirinya juga dapat dilihat setelah diperbandingkan dengan suatu tes lain yang telah valid. Instrumen yang valid berarti alat ukur yang digunakan untuk mendapatkan valid. Menurut Sugiono (2012 : 168) valid berarti instrumen tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur.

  Masidjo (2010:244) Validitas dibagi menjadi: validitas isi, validitas konstruk, validitas kriteria dan validitas empiris. Validitas isi menunjukkan sampai dimana isi suatu tes atau alat pengukur mencerminkan hal-hal yang mau diukur atau diteskan. Validitas konstruksi menunjukkan sampai dimana isi suatu tes atau alat pengukur sesuai isi tes tersebut yang mendasari disusunnya tes atau alat pengukur tersebut. Validitas kriteria memperhatikan hubungan antara tes dan alat pengukur yang lainnya atau bahan pembanding. Validitas empiris tidak dapat diperoleh dengan menyusun instrumen penelitian tetapi membutuhkan pengalaman. Untuk mengetahui valid dan tidaknya sebuah soal evaluasi, dapat diujikan kepada siswa yang telah memperoleh materi sebelumnya (Arikunto, 2009: 66). Validitas isi dan konstruk dapat diujikan dengan meminta pendapat pendapat ahli (expert judment), sehingga validitas tersebut dapat dipertanggung jawabkan. Para ahli memberi keputusan apakah intrumen dapat digunakan tanpa perbaikan, ada perbaikan, atau dirombak total.

  Peneliti memilih menggunakan jenis validitas isi, konstruk dan validitas empiris. Peneliti melakukan validitas isi dan validitas konstruk dengan meminta pertimbangan validator yang meliputi dosen, kepala sekolah, dan guru. Untuk mengetahui layak atau tidak desain pembelajaran yang telah disusun oleh peneliti, serta meminta pertimbangan perlu sedikit perbaikan atau dirombak total. Dalam penelitian ini instrumen yang akan divaliditas adalah desaian perangkat pembelajaran dan rencana pelaksanaan pembelajaran. Dalam instrumen validitas ini menggunakan perhitungan dengan skala linkert yang merupakan mengukur tanggapan positif dan negatif. Adapun rentangan 1 dapat dikatakan sangat tidak baik; 2 tidak baik; 3 cukup baik; 4 baik; dan 5 sangat baik. Peneliti akan memperbaiki desain perangkat pembelajaran dan rencana pelaksanaan pembelajaran jika berada di rentangan di bawah 3 (cukup baik). Peneliti meminta bantuan dosen ahli menjadi validator 1, kepala sekolah di salah satu sekolah negeri yang tidak jauh dari tempat tinggal peneliti mejadi validator 2, sedangkan validator 3 saya meminta bantuan salah satu guru kelas dimana akan diadakan penelitian. Setelah melakukan validitas isi dan kontruk, peneliti akan melakukan validitas empiris kepada siswa kelas III di SD Negeri Tlogoadi. Penelitian memilih siswa SD negeri Tlogoadi karena telah memperoleh materi tentang gerak benda dan terdapat 35 siswa dalam kelas.

3.6.2 Validitas Silabus dan RPP

  Berdasarkan hasil uji validitas isi dan konstruk pada silabus dan RPP diperoleh validator 1 untuk kelengkapan unsur-unsur silabus mendapat skor 5. komentar “pada indikator diminta menyebutkan berapa contohnya”. Untuk kesistematisan kegiatan pembelajaran mendapat skor 5, kesesuaian alokasi waktu dengan materi dan kegiatan pembelajaran mendapat skor 4. Untuk tingkat kecukupan sumber belajar yang digunakan mendapat 4, kesesuaian teknik penilaian yang digunakan dengan indikator mendapat 4. Untuk penggunaan bahasa indonesia dan tata tulis baku mendapat 4 dari hasil kesluruhan memiliki rata-rata komulatif 4

  ,33 dan memberi komentar umum “cek lagi penulisan sumber, lalu cara menuliskan kata/frasa yang menunjukkan tempat ”.

  Hasil dari yang di peroleh validator 2 untuk kelengkapan unsur-unsur silabus mendapat skor 5. Untuk kesesuaian antara SK, KD, dan indikator mendapat skor

  5. Untuk kesistematisan kegiatan pembelajaran mendapat skor 5, kesesuaian alokasi waktu dengan materi dan kegiatan pembelajaran mendapat skor 4. Untuk tingkat kecukupan sumber belajar yang digunakan mendapat 4, kesesuaian teknik penilaian yang digunakan dengan indikator mendapat 4. Untuk penggunaan bahasa indonesia dan tata tulis baku mendapat 4 dari hasil keseluruhan memiliki rata-rata komulatif 4,33.

  Hasil dari yang di peroleh validator 3 untuk kelengkapan unsur-unsur silabus mendapat skor 5. Untuk kesesuaian antara SK, KD, dan indikator mendapat skor

  5. Untuk kesistematisan kegiatan pembelajaran mendapat skor 4, kesesuaian alokasi waktu dengan materi dan kegiatan pembelajaran mendapat skor 4. Untuk tingkat kecukupan sumber belajar yang digunakan mendapat 4, kesesuaian teknik penilaian yang digunakan dengan indikator mendapat 4. Untuk penggunaan rata-rata komulatif 4,28 dan memberi komentar umum “setelah melalui revisi silabus yang disusun telah memenuhi syarat untuk menyusun RPP. Dari hasil ketiga validator memilki rerata di atas 3 sehingga peneliti tidak melalukan perbaikan. Untuk lebih jelas tentang hasil validitas silabus dan RPP dapat di lihat pada tabel 6 dan lampiran 3 hal 148-153.

  

Tabel 6. Hasil validitas Silabus

  No. KOMPONEN PENILAIAN Dosen Kepala Guru Rata- sekolah rata

  1. Kelengkapan unsur-unsur silabus

  5

  5

  5

  5

  2. Kesesuaian antara SK, KD, dan Indikator

  5

  5

  5

  5

  3. Kesistematisan kegiatan pembelajaran

  5

  5 4 4,67

  4. Kesesuaian alokasi waktu denga nmateri dan

  4

  4

  4

  4 kegiatan pembelajaran

  5. Tingkat kecukupan sumber belajar yang

  4

  4

  4

  4 digunakan

  6. Kesesuaian teknik penilaian yang digunakan

  4

  4

  4

  4 dengan indikator

  7. Penggunaan bahasa Indonesia dan tata tulis

  4

  4

  4

  4 baku Rerata

  4,43 4,43 4,28 4,38 Ada 14 komponen yang dinilai dalam lembar validitas intrumen rencana pelaksanaan pembelajaran meliputi : 1) kelengkapan unsur-unsur RPP ; 2) kesesuaian Standar Kompetensi (SK) dan Kompetesi Dasar (KD); 3) kesesuaian Indikator pencapaian kompetensi dengan SK dan KD; 4) kesesuaian rumusan tujuan pembelajaran dengan indikator; 5) kesesuaian materi ajar dengan SK dan KD; 6) ketepatan dalam memilih model/ metode pembelajaran; 7) tingkat kesesuaian kegiatan pembelajaran dengan indikator, tujuan, dan model/ metode; tingkat kecukupan sumber belajar yanng digunakan; 10) ketepatan pemilihan media pembelajaran; 11) kesesuaian Lembar Kerja Siswa dengan kegiatan pembelajaran; 12) kesesuaian Materi ajar dengan materi pokok; 13) kelengkapan instrument penilaian; 14) penggunaan bahasa Indonesia & tata tulis baku.

  Dari hasil keseluruhan validitas dari RPP, validator 1 memiliki rata-rata komulatif 3,71. Validator 1 memberi komentar tentang rencana pelaksanaan pembelajaran “materi tolong dilengkapi dengan sintasi pustaka, cek beberapa kata di LKS yang bukan bahasa baku. Terdapat 2 penilaian yang dibawah rentangan 3 yaitu pada komponen 9) tingkat sumber belajar yang digunakan dan 14) penggunaan bahasa Indonesia dan tata tulis baku mendapat skor 2. Peneliti akan memperbaiki yang dirasa masih kurang memenuhi standar. Untuk hasil keseluruhan validitas rpp dari validator 2 memiliki rerata 4,5 dan memberi komentar “RPP sudah cukup lengkap alangkah baiknya diberi daftar pustaka dalam materi”. Sedangkan hasil keseluruhan validitas RPP dari validator 3 memilki rerata 4,24 dan memberi komentar “setelah melalui revisi RPP yang disusun memenuhi syarat sebagai pedoman mengajar”. Rentangan nilai validitas RPP dapat di lihat dalam tabel 7.

  Berdasarkan rata-rata penilaian valiadasi RPP dari ketiga validator sebesar 4, 24 dan telah memenuhi standar yang dibuat peneliti. Sehingga dengan perbaikan sedikit tentang sintasi pustaka, penggunaan bahasa Indonesia dan tata tulis baku. Peneliti akan menggunakan untuk melanjutkan dalam penelitian ini.

  Serangakaian perbaikan pada perangkat pembelajaran dapat dilihat pada

  

Tabel 7: Hasil validitas rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP)

  4

  4 5 4,33

  9. Tingkat kecukupan sumber belajar yanng digunakan

  2

  4 4 3,33

  10. Ketepatan pemilihan media pembelajaran

  4

  4

  4

  4

  11. Kesesuaian Lembar Kerja Siswa dengan kegiatan pembelajaran

  5 5 4,67

  8. Penilaian yang dilakukan dapat mencerminkan indikator yang digunakan

  12. Kesesuaian Materi ajar dengan materi pokok

  4

  5 5 4,67

  13. Kelengkapan instrument penilaian

  4

  4

  4

  4

  14. Penggunaan bahasa Indonesia & tata tulis baku 2

  4 4 3,33 Rata-rata komulatif 3,71 4,5 4,24 4,24

  Sebuah intrumen dapat memiliki validitas empiris yang telah sudah diuji dari pengalan karena validitas empiris tidak dapat diperoleh hanya dengan menyusun instrumen tetapi perlu dibuktikan dengan pengalaman. Untuk menguji soal yang akan digunakan dalam penelitian, peneliti telah menyusun 30 soal pilihan ganda

  4

  4

  NO. KOMPONEN PENILAIAN Dosen Kepala sekolah Guru Rerata

  5 5 4,67

  1. Kelengkapan unsur-unsur RPP

  4

  4

  4

  4

  2. Kesesuaian Standar Kompetensi (SK) dan Kompetesi Dasar (KD)

  4

  5 5 4,67

  3. Kesesuaian Indikator pencapaian kompetensi dengan SK dan KD

  4

  4. Kesesuaian rumusan tujuan pembelajaran dengan indikator

  4

  4

  5 5 4,67

  5. Kesesuaian materi ajar dengan SK dan KD

  4

  5 5 4,67

  6. Ketepatan dalam memilih model/ metode pembelajaran

  4

  5 4 4,33

  7. Tingkat kesesuaian kegiatan pembelajaran dengan indikator, tujuan, dan model/ metode

  4

  4

3.6.3 Validitas dan Reliabilitas Soal Evaluasi

  empiris di salah satu sekolah dasar Negeri di dekat dilakukan penelitian. Peneliti memilih SD N Tlogoadi karena hampir meliki kesamaan karakter siswa, dan sudah mempelajari tentang materi gerak benda.

  Peneliti akan mengujikan pada siswa kelas IIIdi SD N Tlogoadi dengan jumlah 35 siswa. Setelah memperoleh data dari uji validitas empiris, peneliti menghitung menggunakan SPPS 16 untuk mengetahui soal yang tidak valid. Dari 30 soal diperoleh 19 soal yang valid, 11 soal yang tidak valid kemudian tidak dipergunakan karena dari19 soal yang valid telah memenuhi indikator pada kisi- kisi soal evaluasi. Soal yang valid pada nomor 1, 2, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 14, 15, 16, 18, 22, 23, 25, 27, 28, 30. Untuk mengetahui valid tidaknya peneliti membandingkan r hitung dengan r tabel untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 8. Soal dikatakan valid apabila r hitung lebih besar dari pada r tabel.

   Tabel 8. Perhitungan Validitas Soal

No soal r hitung r tabel Keterangan

  

1 0,575 0,361 Valid

2 0,541 0,361 Valid

3 0,303 0,361 Tidak Valid 4 0,218 0,361 Tidak Valid

5 0,514 0,361 Valid

6 0,397 0,361 Valid

7 0,541 0,361 Valid

8 0,380 0,361 Valid

9 0,619 0,361 Valid

10 0,634 0,361 Valid

  

11 0,420 0,361 Valid

12 -0,006 0,361 Tidak Valid 13 0,319 0,361 Tidak Valid

14 0,634 0,361 Valid

15 0,526 0,361 Valid

16 0,521 0,361 Valid

17 - 0,361 Tidak Valid

18 0,440 0,361 Valid

19 0,036 0,361 Tidak Valid 20 0,091 0,361 Tidak Valid 21 0,239 0,361 Tidak Valid

22 0,675 0,361 Valid

23 0,548 0,361 Valid

24 0,133 0,361 Tidak Valid

25 0,430 0,361 Valid

26 0,102 0,361 Tidak Valid

27 0,466 0,361 Valid

28 0,613 0,361 Valid

29 0,152 0,361 Tidak Valid

30 0,424 0,361 Valid

  Untuk lebih jelas penghitungan menggunakan SPSS dapat dilihat pada lampiran 3 hal 154-156. Dari output SPSS peneliti menggunakan kriteria tanda asterik untuk mengetahui item soal yang valid. Setelah memperoleh 19 soal yang valid peneliti menghitung taraf kesukaran.

3.6.4 Taraf Kesukaran Suatu Item

  Taraf kesukaran suatu item dinyatakan dalam suatu bilangan indeks yang disebut indeks kesukaran, yang sering disingkat IK. Besarnya indeks taraf kesukaran suatu item akan berkisar antara 0,00 sampai 1,00. Berdasarkan tabel 9 peneliti mengelompokkan tarafkesukaran item soal yang validpadatabel10. Untuk menghitung bilangan indeks kesukaran digunakan rumus sebagai berikut:

  B

  IK = N x Skor Maksimal

  Keterangan rumus:

  IK = Indeks kesukaran B = Jumlah jawaban yang diperoleh siswa dari suatu item N = Kelompok siswa Skor maksimal = Besarnya skor yang dituntut oleh suatu jawaban benar dari suatu item.

  N x Skor masimal = Jumlah jawabn benar yang seharusnya diperoleh siswa dari suatu item.

  Dengan diperolehnya indeks kesukaran dari setiap item dalam suatu tes diharapkan dapat diketahui bagaimanakah taraf kesukaran item-item yang bersangkutan. Untuk mengetahui suatu gambaran yang konkret tentang taraf kesukaran suatu item dapat digunakan ancar-ancar.

  Tabel 9 : Kualifikasi IK

  IK Kualifikasi 0,81 Mudah Sekali (Ms)

  • – 1,00 0,61 Mudah (Md)
  • – 0,80 0,41 Cukup (C)
  • – 0,60 0,21 Sukar (Sk)
  • – 0,40 0,00 Sukar Sekali (SS)
  • – 0,20 Berdasarkan rumus indeks kesukaran dapat diketahui taraf kesukaran item- item yang pada soal yang valid. Terdapat 4 soal yang dikelompokkan mudah sekali pada nomor 1, 6, 9, dan 18. Soal yang dikelompokkan mudah ada 8 pada nomor 5, 10, 14, 15, 16, 22, 23, dan 28. Soal yang dikelompokkaan cukup ada 4 pada nomor 8,11, 25, dan 30. Soal yang dikelompokkan sukar ada 3 soal pada nomor 2, 7 dan 27.

  Pada indikator 1 terdapat dua soal yang valid dengan taraf kesukaran mudah sekali pada soal nomor 1 dan sukar pada soal nomor 2. Pada indikator 2 terdapat satu soal yang valid dengan taraf kesukaran mudah sekali pada soal nomor 6. Pada indikator 3 terdapat dua soal yang valid dengan taraf kesukaran cukup pada soal nomor 25 dan sukar pada soal nomor 7. Pada indikator 4 terdapat satu soal yang valid dengan taraf kesukaran cukup pada soal nomor 8. Pada indikator 5 terdapat dua soal yang valid dengan taraf kesukaran mudah sekali pada soal nomor 9 dan mudah pada soal nomor 10. Pada indikator 6 terdapat satu soal yang valid dengan taraf kesukaran cukup pada soal nomor 11. Pada indikator 7 terdapat satu soal yang valid dengan taraf kesukaran mudah pada soal nomor sekali pada soal nomor 18 dan mudah pada soal nomor 14. Pada indikator 9 terdapat satu soal yang valid dengan taraf kesukaran mudah pada soal nomor 16.

  Pada indikator 11 terdapat satu soal yang valid dengan taraf kesukaran mudah pada soal nomor 22. Pada indikator 12 terdapat satu soal yang valid dengan taraf kesukaran mudah pada soal nomor 23. Pada indikator 13 terdapat satu soal yang valid dengan taraf kesukaran sukar pada soal nomor 27. Pada indikator 14 terdapat satu soal yang valid dengan taraf kesukaran cukup pada soal nomor 30.

  Pada indikator 15 terdapat satu soal yang valid dengan taraf kesukaran mudah pada soal nomor 28, untuk lebih jelas dapat melihat tabel 9 atau lampiran 3 hal 157-158.

  

Tabel 10. Penghitungan Taraf Kesukaran Item Soal

Indikator MS M C SK SS Jumlah

  1. Mengidentifikasi lima jenis gerak -

  1

  2

  2 soal

  benda

  2. Memberi minimal satu contoh 6 1 soal gerak benda jatuh yang ada di lingkungan sekitar

  3. Memberi minimal satu contoh - -

  25 7 -

  2 soal

  gerak benda memantul yang ada dilingkungan sekitar

  4. Memberi minimal satu contoh

  8

  1 soal

  gerak benda menggeliding yang ada dilingkungan sekitar

  5. Memberi minimal satu contoh

  9 10 2 soal gerak benda berputar yang ada dilingkungan sekitar

  6. Memberi minimal satu contoh 11 1 soal gerak benda mengalir yang ada dilingkungan sekitar

  7. Menjelaskan satu jenis gerak 5 1 soal dengan bahasa sendiri

  8. Mengidentifikasi tiga faktor yang

  18 14 2 soal mempengaruhi gerak benda

  9. Menyebutkan tiga faktor yang 16 1 soal mempengaruhi gerak benda

  10. Menjelaskan faktor yang

  15

  1 soal

  mempengaruhi gerak benda

  11. Membuat satu benda yang

  22

  1 soal

  digerakkan oleh angin

  12. Memberikan dua contoh gerak 23 1 soal benda yang digunakan sebagai sarana transportasi

  13. Memberikan dua contoh gerak 27 1 soal benda yang digunakan sebagai sarana olahraga

  14. Memberikan dua contoh gerak

  30

  1 soal

  benda yang menghasilkan energi listrik

  15. Menjelaskan gerak benda yang 28 1 soal berguna bagi kehidupan sehari-hari

  Jumlah

  4

  8

  4 3 19 soal soal soal soal soal

3.6.5 Reliabilitas Soal Evaluasi

  Menurut Masidjo (2010:209) reliabilitas tes adalah taraf di mana suatu tes mampu menunjukkan konsistensi hasil pengukurannya yang diperlihatkan dalam taraf ketepatan dan ketelitian hasil. Tidak jauh berbeda Arikunto (2009: 86) reliabilitas tes, berhubungan dengan masalah ketetapan hasil tes. Masidjo (2010: 243) taraf reliabilitas suatu tes dapat dinyatakan dalam suatu antara -1,00 sampai dengan 1,00. Koefisien tersebut dapat dilihat pada tabel 11.

  Tabel 11: Kriteria Reliabilitas Interval Koefisien Kualifikasi

  0,91- 1,00 Sangat tinggi 0,71- 0,90 Tinggi 0,41- 0,70 Cukup 0,21- 0,40 Rendah

  Negatif - 0,20 Sangat rendah Berdasarkan hasil perhitungan menggunakan SPSS dari 19 soal yang valid memperoleh reliabilitas sebesar 0, 867. Berdasarkan tabel 11 untuk reliabilitas sebesar 0,867 dapat dikatakan tinggi.

  

Tabel 12: Hasil penghitungan Reliabilitas

Reliability Statistics

  Cronbach's Alpha Based on Standardized

Cronbach's Alpha Items N of Items

  

.867 .868

  19

3.7 Teknik Analisis Data

  Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis kata-kata dari hasil observasi, dan tes yang dilakukan. Untuk mengetahui keaktifan siswa selama proses pembelajaran, peneliti menggunakan lembar observasi. Lembar observasi ini akan dianalisis menurut aspek keaktifan siswa dengan cara mengidentifikasi kegiatan yang dilakukan siswa kemudian dihubungkan dengan indikator keaktifan siswa.

  Sedangkan mengetahui prestasi belajar peneliti menggunakan soal pilihan ganda yang sudah diujikan kepada siswa kelas III di SD Negeri Tlogoadi.

  Keberhasilan penelitian dilakukan dengan membandingkan hasil sebelum diberi tindakan dengan hasil sesudah diberi tindakan. Untuk menyusun kriteria keberhasilan, peneliti berdiskusi dengan guru tentang angka yang ditargetkan berdasarkan kondisi siswa. Peneliti menentukan kriteria keberhasilan keaktifan siswa sebelum diadakan penelitian. Untuk indikator bertanya kepada guru dan teman tentang materi pembelajaran IPA saat proses pembelajaran pada kondisi awal mempunyai rata-rata komulatif 1,2 dari 20 siswa, peneliti mengtagetkan pada rata-rata komulatif 1,5. Pada indikator mengemukakan pendapat ketika berdiskusi kelompok pada kondisi awal mempunyai rata-rata komulatif 1,7 dan peneliti mengtagetkan pada rata-rata komulatif 2. Indikator mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru dalam proses pada kondisi awal mempunyai rata-rata komulatif 1,8 dan peneliti mengtagetkan pada rata-rata komulatif 2, untuk lebih jelas tentang kriteria keaktifan siswa dapat dilihat pada tabel 13. Peneliti menghitung keaktifan menggunakan rumus:

  Jumlah rata-rata komulatif keaktifan per siklus Keaktifan = Sedangkan untuk mengetahui persentase kenaikan peneliti menggunakan rumus (pencapaian target)- (kondisi awal)

  Persentase kenaikan = x 100% kondisi awal

  

Tabel 13. Kriteria Keberhasilan Keaktifan Belajar Siswa

No Indikator Deskriptor Kriteria Instrumen

Keberhasilan penilaian Kondisi Target awal Capaian

  1 Bertanya kepada Rata-rata 1,2 1,5 guru dan teman komulatif tentang materi bertanya kepada pembelajaran IPA guru atau teman saat proses pembelajaran

  2 Mengemukakan Rata-rata 1,7

  2 pendapat ketika komulatif berdiskusi mengemukakan

  Observasi kelompok pendapat ketika berdiskusi kelompok

  3 Mengerjakan tugas Rata-rata 1,8

  2 yang diberikan komulatif oleh guru dalam mengerjakan proses tugas yang diberikan oleh guru

  Sedangkan untuk mengetahui kriteria kebeberhasilan prestasi belajar siswa yang lulus KKM dan rata-rata hasil belajar dapat dilihat pada tabel 14. Untuk siswa yang lulus KKM pada kondisi awal mempunyai persentase 40 %, dapat dikatakan meningkat jika mencapai target 60,0%. Begitu juga untuk rata-rata hasil belajar pada kondisi awal 64, 7 dapat dikatakan meningkat jika rata-rata hasil belajar siswa mencapai 70. Untuk mengetahui persentase siswa yang lulus KKM dan prestasi belajar peneliti menggunkan rumus: Jumlah siswa yang lulus KKM

  Prestasi belajar = x 100% Jumlah seluruh siswa

  Jumlah skor seluruh siswa Rata-rata hasil belajar =

  Jumlah seluruh siswa

  Tabel 14. Kriteria Keberhasilan Prestasi Belajar Siswa

No Indikator Deskriptor Kriteria Instrumen

Keberhasilan penilaian

  Kondisi Target awal Capaian

  1 Siswa lulus Jumlah 40 % 60% Tes KKM siswa lulus

  KKM : jumlah seluruh siswa x 100 %

  Rata-rata hasil Jumlah 64,7

  70 belajar skor seluruh siswa : jumlah seluruh siswa

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian

4.1.1 Proses Penelitian Tindakan Kelas

4.1.1.1 Siklus 1

  Pada siklus 1 ini peneliti menyusun menjadi empat kali pertemuan dengan kesepakatan dengan guru kelas, penelitian dilaksanakan pada Senin 25 Maret 2013, Rabu 27 Maret 2013, Jum’at 05 April 2013, Selasa , 09 April 2013. Pada pertemuan pertama dan kedua siswa akan mempelajari materi tentang jenis- jenis gerak benda, pada pertemuan ketiga siswa akan mempelajari tentang faktor yang mempengaruhi gerak benda. Sedangkan pada pertemuan keempat siswa akan mempelajari manfaat gerak benda dengan bantuan media gambar, serta siswa akan mengerjakan soal evaluasi. Pada siklus ini siswa dibagi akan belajar dalam kelompok kecil, yang telah di tentukan oleh guru menjadi 4 kelompok dimana setiap kelompok terdiri dari 5 siswa.

  Pada kegiatan awal pembelajaran siswa mendengarkan tujuan pembelajaran yang disampaikan guru. Pada kegiatan inti, siswa melakukan percorbaan tentang jenis-jenis, faktor yang mempengaruhi, serta manfaat dari gerak benda. Siswa akan berdiskusi sesuai dengan kelompok serta mengisi lembar kerja siswa yang peneliti siapkan. Setiap kelompok akan mempresentasikan hasil diskusinya di depan kelas. Pada kegiatan akhir siswa dan guru merefleksikan apa saja yang telah dilakukanya ketika melaksanakan kegiatan pembelajaran. Siswa juga mengisi lembar refleksi meliputi kendala yang dihadapi selama proses pembelajaran dan perasaan selama proses pembelajaran.

4.1.1.1.1 Perencanaan

  Kegiatan pertama yang dilakukan penelitian ini adalah peneliti meminta ijin untuk melakukan penelitian kepada kepala sekolah SD Negeri Plaosan 1. Setelah memperoleh izin dari kepala sekolah, peneliti menemui guru kelas untuk menggali informasi kapan dilakukan observasi kondisi awal keaktifan siswa dan prestasi belajar. Setelah memperoleh data dari guru dan observasi peneliti menganalisis permasalahan yang dihadapi. Setelah mengetahui kondisi awal keaktifan dan prestasi belajar siswa, kemudian peneliti merencanakan tindakan yang dirasa dapat meningkatkan keaktifan dan prestasi belajar siswa.

  Peneliti perlu menyusun silabus, merancang kegiatan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual, materi pembelajaran, lembar kerja siswa menyiapkan alat peraga dan media yang digunakan siswa selama proses pembelajaran agar siswa memperoleh pembelajaran yang bermakna dan mengaktifkan siswa. Setelah semua perangkat pembelajaran telah dipersiapkan, peneliti menghubungi wali kelas agar mengetahui gambaran dalam pembelajaran yang disusun dalam RPP.

  Selain perangkat pembelajaran peneliti mempersiapkan lembar observasi yang digunakan selama proses penelitian berlangsung.

4.1.1.2 Pelaksanaan

  Sesuai kesepakatan dengan guru kelas, penelitian dilakukan pada semester genap tahun pelajaran 2012/2013 di kelas III SD Negeri Plaosan 1 dengan jumlah dilakukan selama delapan jam pelajaran atau empat kali pertemuan. Penelitian akan dimulai dari tanggal 25 Maret 2013 dalam pertemuan ini akan membahas tentang tiga jenis gerak benda. Pertemuan yang kedua dilakukan tanggal 27 Maret 2013 akan melanjutkan materi di pertemuan pertama, tentang dua jenis gerak benda. Pada pertemuan yang ketiga tanggal 05 April 2013 akan membahas mengenai faktor yang mempengaruhi gerak benda. Pada pertemuan yang keempat tanggal 09 April 2013akan membahas manfaat gerak benda dengan media gambar, siswa membuat kincir angin dan siswa akan mengerjakan soal evaluasi pada akhir pembelajaran.

4.1.1.2.1 Pertemuan 1

  Pertemuan pertama dilaksanakan pada hari Senin, 25 Maret 2013 jam pelajaran ke 2-3, pertemuan pertama difokuskan membahas tiga jenis gerak benda. Subjek penelitian adalah siswa kelas III SD Negeri Plaosan 1 yang berjumlah 20 siswa. Peneliti meminta ijin kepada guru kelas untuk mengatur posisi tempat duduk. Saat peneliti masuk dalam kelas kondisi sangat ramai sehingga, pada kegiatan awal guru mengkondisikan kelas agar siswa siap untuk belajar. Kemudian guru mengajak siswa untuk berdoa kembali, memberi salam dan mengabsensi siswa.

  Pada pertemuan pertama ini ada empat siswa tidak hadir, kemudian guru menanyakan salah satu siswa yang tidak hadir karena tidak ada keterangan. Guru menyampaikan dua peraturan; peraturan yang pertama untuk memilih ketua kelompok; peraturan kedua mengangkat tangan jika ingin bertanya atau menjawab jenis gerak benda, antara lain gerak jatuh, menggelinding, dan memantul. Kemudian guru membentuk siswa dibentuk menjadi 4 kelompok, setelah kelompok 1 hingga 4 terbentuk dan memilih ketua kelompok. Guru menjelaskan langkah-langkah selama proses pembelajaran berlangsung.

  Guru bertanya kepada seluruh siswa tentang yang dimaksud benda bergerak, ada 4 siswa menjawab tentang arti benda bergerak, akan tetapi belum terbiasa untuk mengangkat tangan. Guru memberikan apresiasi dari jawaban siswa dan mengingatkan tentang peraturan di kelas tentang mengangkat tangan. Untuk menggali kemampuan siswa guru bertanya contoh benda bergerak, serta meminta siswa untuk mengamati benda yang bergerak di sekitar siswa. Untuk menambah pemahaman siswa tentang benda bergerak guru mengambil bolpoint kemudian dilemparkan ke atas.

  Guru membagikan lembar kerja siswa, selain menjadi observer peneliti juga membantu membagikan alat dan bahan yang digunakan untuk melakukan percobaan tentang tiga jenis gerak benda. Guru meminta untuk memberi nama anggota kelompok dan siswa melakukan percobaan tentang tiga jenis gerak benda yang di dampingi guru dan peneliti. Media yang digunakan kelereng dan bola bekel ada beberapa siswa mencoba melakukan percobaan lain memantulkan kelereng di lantai. Kemudian siswa melanjutkan diskusi kelompok untuk mengisi alat dan bahan serta percobaan yang telah dilakukan di lembar kerja siswa yang telah dibagikan. Setelah siswa selesai diskusi dan mengisi lembar kerja siswa, setiap kelompok akan mempresentasikan hasil diskusi kelompok di depan kelas. dengan bertanya tentang contoh gerak jatuh, memantul dan menggelinding yang ada di lingkungan sekitar. Beberapa siswa menyebutkan contoh gerak benda jatuh, memantul dan menggelinding yang ada di lingkungan sekitar.

  Pada kegiatan akhir, siswa melakukan refleksi secara lisan maupun tertulis dengan mengisi lembar refleksi yang ada di dalam LKS, isi dari refleksi tersebut adalah mengenai bagaimana perasaan siswa selama proses pembelajaran tersebut, kesulitan-kesulitan yang masih dialami oleh siswa. Refleksi lisan guru bertanya tentang percobaan yang dilakukan dan mengulas materi yang di sampaikan, siswa diminta menjelaskan gerak benda dengan kalimat sendiri. Setelah itu guru memberi motivasi siswa untuk membaca tentang jenis gerak benda yang lain.

4.1.1.2.2 Pertemuan 2

  Pertemuan dua dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 27 Maret 2013 jam pelajaran ke 4-5. Pada pertemuan kedua seluruh siswa hadir dan tidak jauh berbeda dari pertemuan pertama pembahasan kembali materi tentang tiga jenis gerak benda secara singkat tentang percobaan di pertemuan pertama. Pada kegiatan awal guru menanyakan tiga jenis gerak dan contohnya. Guru menyampaiakan tujuan pembelajaran tentang dua jenis gerak benda. Siswa duduk sesuai dengan kelompok masing-masing.

  Guru memberikan gerak berputar dengan menggunakan kincir angin, kemudian guru membagikan lembar kerja siswa. Peneliti mendampingi siswa melakukan percobaan tentang gerak benda berputar yang dilakukan di luar kelas. Adapun media yang digunakan botol, pensil, dan tali. Pada percobaan gerak tentang gerak mengalir. Kemudian peneliti mengajak siswa untuk melanjutkan diskusi kelompok untuk mengisi alat dan bahan serta percobaan yang telah dilakukan di lembar kerja siswa yang telah dibagikan.

  Setelah siswa selesai berdiskusi dan mengisi lembar kerja siswa, setiap kelompok menunjuk salah satu siswa untuk mempresentasikan hasil diskusi kelompok di depan kelas. Setelah siswa menyampaikan hasil percobaan di depan, guru menindak lanjuti dengan bertanya tentang gerak benda berputar dan menggalir yang ada di lingkungan sekitar. Beberapa siswa menyebutkan contoh gerak benda berputar dan menggalir yang ada dilingkungan sekitar.

  Pada kegiatan akhir, siswa melakukan refleksi secara lisan dan tertulis dengan mengisi lembar refleksi yang ada di dalam LKS, isi dari refleksi tersebut adalah mengenai bagaimana perasaan siswa setelah mempelajari pembelajaran tersebut, kesulitan-kesulitan yang masih dialami oleh siswa. refleksi lisan guru bertanya tentang percobaan yang dilakukan dan materi yang di sampaikan selama proses pembelajaran. Setelah itu guru memberi motivasi siswa untuk membaca tentang faktor yang mempengaruhi gerak benda.

4.1.1.2.3 Pertemuan 3

  Pertemuan tiga dilaksanakan pada hari Jum’at 05 April 2013 jam pelajaran ke 2-3. Subjek penelitian yang digunakan yaitu siswa kelas III SD Negeri Plaosan 1 yang berjumlah 20 siswa, pada pertemuan ketiga seluruh siswa hadir. Pada pertemuan ketiga ini menindak lanjuti dari jenis-jenis gerak benda yaitu faktor yang mempengaruhi gerak benda. Pada kegiatan awal, guru bertanya tentang jenis-jenis gerak benda yang sudah dipelajari. Kemudian guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dipelajari dan guru langkah-langkah kegiatan.

  Guru membagi LKS serta membagikan alat dan bahan untuk melakukan percobaan tentang faktor yang mempengaruhi gerak benda. Sebelum dilakukan percobaan, peneliti meminta siswa duduk sesuai dengan kelompok yang dibentuk. Siswa melakukan percobaan tentang hal-hal yang mempengaruhi gerak benda di dampingi guru. Media yang digunakan kelereng, bola bekel, balok kayu, dan kertas, setiap kelompok melakukan percobaan yang berbeda dari media yang digunakan. Kemudian siswa melanjutkan diskusi kelompok untuk mengisi alat dan bahan serta percobaan yang telah dilakukan di lembar LKS tersebut. Setelah pekerjaan siswa selesai, setiap kelompok mempresentasikan hasil diskusi dan menyampaikan hasil percobaan di depan kelas. Siswa tanya jawab tentang faktor yang mempengaruhi gerak benda. Guru bertanya tentang percobaan yang dilakukan dan materi yang di sampaikan. Siswa menjelaskan mengenai faktor yang mempengaruhi gerak benda dengan kalimat sendiri.

  Pada kegiatan akhir, siswa melakukan refeleksi secara lisan dan tertulis dengan mengisi lembar refleksi yang ada di dalam LKS, isi dari refleksi tersebut adalah mengenai bagaimana perasaan siswa setelah mempelajari pembelajaran tersebut, kesulitan-kesulitan yang masih dialami oleh siswa dan menanyakan apa yang akan dilakukan oleh siswa setelah mempelajari materi tersebut, setelah itu guru memberi motivasi siswa untuk membaca manfaat gerak benda.

4.1.1.2.4 Pertemuan 4

  Pertemuan tiga dilaksanakan pada hari Selasa , 09 April 2013 jam pelajaran ke 2-3. Subyek penelitian yang digunakan yaitu siswa kelas III SD Negeri Plaosan 1 yang berjumlah 20 siswa, pertemuan keempat dua siswa tidak hadir tanpa keterangan. Pada pertemuan keempat ini menindak lanjuti dari faktor yang mempengaruhi gerak benda yaitu manfaat gerak benda. Pada kegiatan awal, guru bertanya tentang percobaan yang dilakukan sebelumnya. Guru menyampaikan tentang tujuan pembelajaran.Siswa diminta duduk sesuai dengan kelompok yang dibentuk dan guru menjelaskan langkah-langkah kegiatan.

  Guru bertanya pelajaran sebelumnya tentang faktor yang mempengaruhi gerak benda. Guru membagi LKS dan membagikan alat dan bahan untuk melakukan percobaan tentang manfaat gerak benda. Siswa di dampingi guru dan peneliti membuat kincir angin. Kemudian siswa melanjutkan diskusi kelompok untuk mengisi alat dan bahan serta percobaan yang telah dilakukan di LKS tersebut, di dalam LKS tersebut siswa diminta mengelompokkan gambar berdasarkan manfaatnya. setelah pekerjaan siswa selesai kemudian setiap kelompok menunjuk salah satu siswa untuk mempresentasikan hasil diskusi dan menyampaikan hasil percobaan di depan kelas. Setelah siswa selesai mempresentasikan hasil diskusi, guru menunjukkan berbagai gambar manfaat gerak benda. Berdasarkan contoh gambar, siswa diminta untuk memberikan contoh lain gerak benda yang berguna bagi kehidupan sehari-hari. Siswa menyimpulkan mengenai gerak benda yang berguna bagi kehidupan sehari-hari dengan kalimat sendiri.

  Pada kegiatan akhir, siswa melakukan refleksi secara lisan dan tertulis dengan mengisi lembar refleksi yang ada di dalam LKS, isi dari refleksi tersebut adalah mengenai bagaimana perasaan siswa setelah mempelajari pembelajaran tersebut, kesulitan-kesulitan yang masih dialami oleh siswa dan menanyakan apa yang akan dilakukan oleh siswa setelah mempelajari materi tersebut. Siswa mengerjakan soal evaluasi yang terdiri dari 19 soal pilihan ganda dan guru memberikan motivasi siswa untuk giat belajar.

4.1.1.3 Observasi

  Berdasarkan hasil observasi yang diperoleh peneliti, pada pertemuan pertama peneliti melihat beberapa siswa yang bersemangat dan senang mengikuti pelajaran. Siswa merasa takut untuk menjawab pertanyaan dari guru dan mempresentasikan hasil diskusinya di dalam kelas. Pada pertemuan pertama guru menyampaikan materi dengan baik, karena guru terlihat menguasi materi yang akan diajarkan. Pada pertemuan pertama masih banyak siswa yang mengobrol dengan teman pada awal pelajaran.

  Pada pertemuan kedua siswa merasa capek dan membutuhkan waktu untuk berganti pakaian serta istirahat karena selesai pelajaran olahraga. Namun kegiatan belajar tetap membaik, meskipun kegiatan percobaan dilakukan di luar kelas dan siswa mulai berperan aktif dalam pembelajaran. Hanya saja beberapa siswa membutuhkan bantuan untuk melakukan percobaan serta butuh pendampingan. Setelah selesai melakukan percobaan siswa diminta masuk ke dalam kelas dan mengerjakan LKS. Berhubung pelajaran makin siang ada siswa yang jalan-jalan

  Pada pertemuan ketiga seluruh siswa hadir semua. Kegiatan belajar mengajar semakin kearah baik dan siswa mulai berperan aktif dalam pembelajaran.Banyak media yang disediakan pada pertemuan ini, sehingga siswa bersemangat dan senang mengikuti pelajaran. Siswa sudah bisa berani mengeluarkan pendapat dan mempresentasikan hasil diskusi. Guru memberi apresiasi kepada kelompok yang presentasi kelas dan menguasai materi yang disampaikan.

  Pada pertemuan keempat peran siswa semakin banyak karena membuat kincir angin membutuhkan waktu yang cukup lama, peran serta dalam kelompok sangat terlihatketika diskusi, menggaris kertas, memotong dan mengisi LKS serta presentasi. Semua terlihat serius ketika membuat kincir angin. Pada saat berdiskusi dan presentasi siswa juga terlihat sangat antusias dan segera mempresentasikan kedepan, setiap siswa ingin membacakan hasil percobaan.

  Pada saat refleksi terlihat banyak siswa di lembar refleksi siswa menuliskan perasaan senangnya dalam kegiatan pembelajaran ini. Pada saat siswa mengerjakan soal suasana dapat terkontrol karena siswa fokus pada soal evaluasi.

4.1.1.4 Refleksi

  Berdasarkan pengamatan selama proses pembelajaran berlangsung, pada pertemuan 1, pembelajaran berjalan sesuai dengan alokasi yang telah ditentukan serta indikator sudah tercapai. Tetapi dalam pertemuan pertama ini dalam kelompok ada beberapa siswa yang masih kurang aktif dalam berdiskusi. Pada pertemuan 2, Pembelajaran berlangsung cukup baik, meskipun siswa merasa capek dan membutuhkan waktu untuk istirahat sehingga alokasi waktunya keadaan prima karena siswa selesai olahraga dan waktu cukup terbuang dalam pembelajaran, tetapi tujuan pembelajaran kedua dapat tercapai.

  Pada pertemuan 3, proses pembelajaran berjalan sesuai dengan alokasi yang telah ditentukan. Pada pertemuan ini media yang digunakan semakin banyak sehingga siswa lebuh aktif dan bersemangat. Siswa juga lebih terampil dalam menggunakan alat peraga dan terlihat aktif pada saat berdiskusi dan sudah bisa menggunakan alat peraga dengan tepat. Pada pertemuan 4 proses pembelajaran berlangsung dengan baik, alokasi waktu cukup sesuai dengan yang direncanakan, terdapat kendala di soal evaluasi ada satu jawaban yang tidak tercantum sehingga perlu menarik ulang soal dan peneliti menyetak ulang soal evaluasi dan kemudian memberikan soal evaluasi pada siswa.

  Berdasarkan pengamatan selama pembelajaran berlangsung, peneliti perlu mempertimbangkan beberapa hal demi lancarnya pembelajaran, peningkatan keaktifan dan peningkatan prestasi belajar siswa. Pengalaman dengan menggunakan benda nyata untuk percobaan dan diskusi mampu mengaktifkan siswa dan pembelajaran menjadi lebih bermakna. Sehingga peneliti menggunakan media yang lebih banyak serta bisa dijumpai siswa dalam kehidupan sehari-hari.

  Serta kendala waktu peneliti perlu mengatur sedemikian rupa agar berjalan sesuai dengan yang direncanakan dan mengecek kelengkapan sebelum penelitian.

4.1.2 Hasil Observasi Keaktifan

  Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan peneliti menggunakan lembar observasi yang telah disusun sesuai dengan indikator keaktifan. Indikator yang observasi peneliti sebagai observer partisipasi dimana peneliti juga membantu guru dan terlibat selama proses pembelajaran. Dari hasil observasi pada pertemuan pertama diperoleh hasil turus pada indikator bertanya kepada guru dan teman tentang materi pembelajaran IPA berjumlah 29 dengan rata-rata komulatif 1,45. Indikator mengemukakan pendapat ketika berdiskusi kelompok memiliki jumlah turus 43 dengan rata-rata komulatif 2,15. Indikator mengerjakan tugas yang diberikan guru dalam proses pembelajaran memiliki jumlah turus 43 dengan rata-rata komulatif 2,15 dapat dilihat pada tabel 15.

  

Tabel 15. Hasil Observasi pertemuan 1

  No Nama Indikator 1 Indikator 2 Indikator 3

  3

  3

  3

  1 Ps

  2

  2

  2

  2 Ch

  2

  3

  3

  3 Ti

  4 Az

  1

  3

  3

  5 Fr

  3

  3

  3

  6 Mk

  2

  2

  7 Dw

  1

  2

  2

  8 Pt

  2

  3

  3

  9 Id

  10 Bg

  3

  3

  3

  11 Ir

  2

  3

  3

  12 Dl

  1

  3

  2

  13 De

  1

  2

  3

  14 Cy

  15 Ik

  16 Rh

  3

  3

  3

  17 Dn

  1

  2

  2

  18 St

  2

  3

  3

  19 Ks

  2

  3

  3

  20 Sn

  29

  43

  43 Jumlah turus pertemuan 1 Dari hasil observasi pada pertemuan kedua diperoleh hasil turus pada indikator bertanya kepada guru dan teman tentang materi pembelajaran IPA berjumlah 39 dengan rata-rata komulatif 1,95. Indikator mengemukakan pendapat ketika berdiskusi kelompok memiliki jumlah turus 46 dengan rata-rata komulatif 2,3. Indikator mengerjakan tugas yang diberikan guru dalam proses pembelajaran memiliki jumlah turus 52 dengan rata-rata komulatif 2,6 dapat dilihat pada tabel

  16. Tabel 16. Hasil Observasi pertemuan 2 No Nama Indikator 1 Indikator 2 Indikator 3

  1

  16 Rh

  3

  2

  2

  15 Ik

  2

  1

  14 Cy

  4

  2

  1

  2

  13 De

  2

  2

  2

  12 Dl

  2

  3

  3

  2

  46

  39

  4 Jumlah turus pertemuan 2

  3

  2

  20 Sn

  3

  3

  17 Dn

  19 Ks

  2

  1

  2

  18 St

  3

  3

  3

  2

  2

  1 Ps

  4

  3

  5 Fr

  3

  2

  2

  4 Az

  4

  3

  2

  3 Ti

  3

  2

  2

  2 Ch

  4

  3

  2

  2

  6 Mk

  11 Ir

  2

  2

  1

  10 Bg

  3

  2

  2

  9 Id

  2

  2

  1

  8 Pt

  1

  2

  1

  7 Dw

  2

  4

  52 Rata-rata komulatif pertemuan 2 1,95 2,3 2,6 Dari hasil observasi pada pertemuan ketiga diperoleh hasil turus pada indikator bertanya kepada guru dan teman tentang materi pembelajaran IPA berjumlah 37 dengan rata-rata komulatif 1,65. Indikator mengemukakan pendapat ketika berdiskusi kelompok memiliki jumlah turus 54 dengan rata-rata komulatif 2,7. Indikator mengerjakan tugas yang diberikan guru dalam proses pembelajaran memiliki jumlah turus 64 dengan rata-rata komulatif 3,2 dapat dilihat pada tabel

  17. Tabel 17. Hasil Observasi pertemuan 3 No Nama Indikator 1 Indikator 2 Indikator 3

  1

  16 Rh

  3

  2

  1

  15 Ik

  2

  2

  14 Cy

  3

  2

  3

  1

  13 De

  3

  3

  2

  12 Dl

  2

  4

  4

  4

  54

  37

  3 Jumlah turus pertemuan 3

  3

  2

  20 Sn

  4

  2

  17 Dn

  19 Ks

  3

  2

  1

  18 St

  4

  3

  3

  4

  3

  1 Ps

  3

  1

  5 Fr

  3

  2

  2

  4 Az

  4

  3

  3

  3 Ti

  2

  1

  2

  2 Ch

  4

  4

  3

  2

  6 Mk

  11 Ir

  9 Id

  3

  1

  2

  10 Bg

  4

  3

  2

  3

  3

  2

  1

  8 Pt

  2

  3

  7 Dw

  4

  4

  64 Rata-rata komulatif pertemuan 3 1,85 2,7 3,2 Dari hasil observasi pada pertemuan keempat diperoleh hasil turus pada indikator bertanya kepada guru dan teman tentang materi pembelajaran IPA berjumlah 48 dengan rata-rata komulatif 2,4. Indikator mengemukakan pendapat ketika berdiskusi kelompok memiliki jumlah turus 51 dengan rata-rata komulatif 2,55. Indikator mengerjakan tugas yang diberikan guru dalam proses pembelajaran memiliki jumlah turus 62 dengan rata-rata komulatif 3,1dapat dilihat pada tabel 18.

  Tabel 18. Hasil Observasi pertemuan 4

  3

  3

  16 Rh

  15 Ik

  3

  1

  2

  14 Cy

  2

  4

  3

  13 De

  3

  3

  2

  12 Dl

  4

  4

  17 Dn

  3

  4

  51

  48

  3 Jumlah turus pertemuan 4

  3

  3

  20 Sn

  4

  3

  3

  19 Ks

  3

  2

  2

  18 St

  4

  3

  3

  11 Ir

  No Nama Indikator 1 Indikator 2 Indikator 3

  3 Ti

  3

  3

  3

  4 Az

  4

  5

  3

  3

  3

  2

  2

  2 Ch

  4

  4

  3

  1 Ps

  5 Fr

  2

  10 Bg

  8 Pt

  5

  3

  3

  9 Id

  3

  2

  2

  2

  3

  1

  3

  7 Dw

  4

  4

  2

  6 Mk

  62 Rata-rata komulatif pertemuan 4 2,4 2,55 3,1 Dari hasil observasi selama siklus 1 diperoleh jumlah turus pada indikator bertanya kepada guru dan teman tentang materi pembelajaran IPA berjumlah 153 dengan jumlah rata-rata komulatif 7,65 selama 4 kali pertemuan dan rata-rata komulatif setiap pertemuan adalah 1,9. Indikator mengemukakan pendapat ketika berdiskusi kelompok memiliki jumlah turus 194 dengan jumlah rata-rata komulatif 9,7 selama 4 kali pertemuan 1 dan rata-rata komulatif setiap pertemuan adalah 2,4. Indikator mengerjakan tugas yang diberikan guru dalam proses pembelajaran memiliki jumlah turus 221 dengan jumlah rata-rata komulatif 11,05 selama 4 kali pertemuan dan rata-rata komulatif setiap pertemuan 2,8 dapat dilihat pada tabel 19 dan lampiran 6 hal 213-220.

  Tabel 19. Jumlah turus observasi siklus 1

  No Nama Indikator 1 Indikator 2 Indikator 3

  1 Ps

  11

  15

  15

  2 Ch

  8

  10

  10

  3 Ti

  11

  15

  15

  4 Az

  7

  9

  9

  5 Fr

  8

  11

  11

  6 Mk

  10

  13

  13

  7 Dw

  4

  7

  7

  8 Pt

  5

  10

  10

  9 Id

  9

  15

  15

  10 Bg

  2

  5

  5

  11 Ir

  11

  13

  13

  12 Dl

  8

  11

  11

  13 De

  7

  9

  9

  14 Cy

  5

  10

  10

  15 Ik

  3

  6

  6

  16 Rh

  7

  11

  11

  17 Dn

  12

  14

  14

  18 St

  6

  10

  10

  19 Ks

  10

  14

  14

  20 Sn

  9

  13

  13 Jumlah turus siklus 1 153 194 221 Jumlah rata-rata siklus 1 7,65 9,7 11,05

  Rata-rata setiap pertemuan 1,9 2,4 2,8 Berdasarkan tabel 19 hasil observasi keaktifan pada siklus 1 mengalami peningkatan keaktifan untuk indikator 1 dengan kondisi awal memiliki rata-rata komulatif 1,2 menjadi 1,9 meningkat 58% dari kondisi awal; indikator 2 dengan kondisi awal memiliki rata-rata komulatif 1,7 menjadi 2,4 meningkat 41 % dari kondisi awal; sedangkan indikator 3 dengan kondisi awal memiliki rata-rata komulatif 1,8 menjadi 2,8 meningkat 55% dari kondisi awal. Dari hasil observasi dapat disajikan dalam sebuah gambar yang dapat dilihat pada gambar 9.

  Gambar 9 : Grafik keaktifan siswa

4.1.3 Hasil prestasi belajar

  Penggunaan pendekatan kontekstual meningkatkan prestasi belajar siswa kelas III di SD Plaosan 1. Terlihat pada tabel 20, bahwa prestasi belajar mengalami peningkatan. Siswa yang lulus KKM memiliki kondisi awal 40 % dengan rata-rata 64,7. Setelah menggunakan pendekatan kontektual siswa yang lulus KKM menjadi 85 % meningkat 45 % dari kondisi awal dan memiliki rata- rata 80,4 meningkat 15, 7 dari rata-rata awal. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada tabel 20 tentang hasil evaluasi.

  

Tabel 20. Hasil Evaluasi

  16 St

  79 Lulus KKM

  13 Ir

  89 Lulus KKM

  14 De

  79 Lulus KKM

  15 Az

  89 Lulus KKM

  74 Lulus KKM

  95 Lulus KKM

  17 Ks

  74 Lulus KKM

  18 Fr

  84 Lulus KKM

  19 Sn

  89 Lulus KKM

  20 Pt

  74 Lulus KKM Rata-rata Kelas 80,4 85 % Lulus Kkm

  12 Mk

  11 Ti

  No Nama Nilai Keterangan

  5 Id

  1 Bg

  52 Tdk Lulus KKM

  2 Ik

  79 Lulus KKM

  3 Ps 100 Lulus KKM

  4 Dw

  52 Tdk Lulus KKM

  89 Lulus KKM

  52 Tdk Lulus KKM

  6 Rh

  95 Lulus KKM

  7 Dl

  89 Lulus KKM

  8 Dn 100 Lulus KKM

  9 Cy

  74 Lulus KKM

  10 Ch

  Sebelum menggunakan pendekatan kontekstual siswa yang lulus KKM pada kondisi awal 8 siswa (40%) dari 20 siswa dan ditagertkan pada 60 % setelah menggunakan pendekatan kontekstual siswa yang lulus KKM 17 siswa (85 %) dari 20 siswa. Untuk melihat terjadinya peningkatan siswa yang lulus KKM dapat dilihat pada gambar 10.

  Gambar 10. Persentase lulus KKM

  Sebelum menggunakan pendekatan kontekstual siswa memiliki rata-rata komulatif hasil belajar 64,7 dan ditagertkan pada 70 setelah menggunakan pendekatan kontekstual rata-rata komulatif hasil siswa kelas III di SD Plaosan 1 meningkat mejadi 80,4 dapat dilihat pada gambar 11.

  

Gambar 11: Rata-rata kelas

4.2 Pembahasan

  Pelaksanaan penelitian tindakan kelas pada siklus I telah dilaksanakan secara maksimal. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui penggunaan pendekatan kontekstual dapat meningkatkan keaktifan dan prestasi belajar IPA siswa kelas III di SD Negeri Plaosan 1. Berikut ini hasil penelitian keaktifan dan prestasi belajar IPA siswa kelas III di SD Negeri Plaosan 1:

4.2.1 Hasil penelitian keaktifan siswa pada siklus I

  Untuk mengetahui keaktifan siswa terhadap mata pelajaran IPA, peneliti sebelum melakukan pengamatan selama proses belajar mengajar. Sebelum melakukan pengamatan, peneliti mengacu pada pendapat Dimyati dan Mujiono (2010:44) tentang keaktifan siswa yaitu anak mempunyai dorongan untuk berbuat sesuatu, mempunyai kemauan dan aspirasinya sendiri. Dalam proses kegiatan belajar mengajar anak mampu mengidentifikasi, merumuskan masalah, mencari dan menemukan fakta, memganalisis,menafsirkan, dan menarik kesimpulan. Uno & Mohammad (2012: 33) menyebutkan ciri-ciri atau kadar dari proses pembelajaran yang mengaktifkan siswa: Siswa aktif atau memberikan informasi, bertanya bahkan membuat kesimpulan; ada interaksi aktif secara terstruktur dengan siswa; adanya kesempatan bagi siswa untuk menilai hasil karyanya sendiri; ada pemanfaatan sumber belajar secara optimal.

  Berdasarkan pendapat ahli, peneliti dan kelompok studi menyimpulkan indikator untuk mengukur keaktifan antara lain bertanya kepada guru dan atau teman tentang materi pembelajaran saat proses pembelajaran; mengemukakan guru dalam proses pembelajaran. Observasi dilakukan selama 8 jam pelajaran atau 4 kali pertemuan dengan menggunakan lembar observasi yang disusun oleh peneliti. Observasi penelitian ini bersifat kolaboratif sehingga dalam penelitian ini guru yang mengajar dan peneliti membantu ketika pembelajaran berlangsung sekaligus menjadi observer.

  Peneliti menghitung keaktifan siswa dengan menjumlahkan turus pada setiap indikator yang telah disusun peneliti. Hasil observasi siswa yang terlihat bertanya kepada guru atau bertanya dengan teman tentang materi pembelajaran IPA pada kegiatan belajar berlangsung memiliki rata-rata komulatif 1,2 dari keseluruhan 20 siswa. Siswa yang mengemukakan pendapat saat proses pembelajaran memiliki rata-rata komulatif 1,7. Kemudian siswa yang mengerjakan tugas yang diberikan guru dalam proses pembelajaran IPA memiliki rata-rata komulatif 1,8.

  Berdasarkan data awal yang diperoleh peneliti untuk meningkatkan keaktifan, peneliti memilih pendekatan kontekstual. Menurut Sanjaya (2012:255) pembelajaran kontekstual suatu strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkan dalam kehidupan sehari-hari. Hasil observasi setelah menggunkan pendekatan kontektual keaktifan siswa pada siklus 1 mengalami peningkatan keaktifan untuk indikator 1 dengan kondisi awal memiliki rata-rata komulatif 1,2 menjadi 1,9 meningkat 58% dari kondisi awal. Peningkatan indikator 1 terlihat pada kegiatan guru memancing pertanyaan

  

(Questioning, Learning community) . Indikator 2 dengan kondisi awal memiliki

rata-rata komulatif 1,7 menjadi 2,4 meningkat 41 % dari kondisi awal.

  Peningkatan indikator 2 terlihat pada kegiatan berdiskusi kelompok setelah melakukan percobaan (Learning Community, Modeling). Indikator 3 dengan kondisi awal memiliki rata-rata komulatif 1,8 menjadi 2,8 meningkat 55% dari kondisi awal, peningkatan indikator 3 terlihat pada kegiatan siswa melakukan percobaan (Inkuiry, Learning Community) dapat dilihat pada diagram keaktifan pada gambar 7 dan tabel 21.

  Tabel 21: Peningkatan Keaktifan Belajar Siswa Kriteria Keberhasilan Instrumen No Indikator Deskriptor Deskriptor Kondisi Target Pencapaian Persentase penilaian awal Capaian Target kenaikan

  1 Bertanya Rata-rata kepada komulatif guru dan kegiatan teman bertanya kepada tentang guru atau teman materi pembelajar 1,2 1,5 1,9 58% an IPA saat proses pembelajar an

  Pencapaian target- kondisi Observasi

2 Mengemuk Rata-rata

  awal : kondisi akan komulatif awal x 100% pendapat kegiatan ketika mengemukakan 1,7 2 2,4 41% berdiskusi pendapat ketika kelompok berdiskusi kelompok

  3 Mengerjak Rata-rata an tugas komulatif yang kegiatan diberikan mengerjakan 1,8

  2 2,8 55% oleh guru tugas yang dalam diberikan oleh proses guru

4.2.2 Prestasi Belajar Siswa

  Berdasarkan hasil wawancara dengan guru kelas III, yang dilakukan pada tanggal 8 Januari 2013 diperoleh informasi kriteria ketuntasan minimal (KKM) pada mata pelajaran IPA tahun ajaran 2011/2012 dan 2012/2013 memiliki kriteria ketuntasan minimal 67. Siswa bisa dikatakan telah mencapai KKM jika nilainya mencapai 67 atau lebih. Pada tahun pelajaran 2011/2012 siswa yang mencapai KKM ada 6 siswa (35, 2% ) dari 17 siswa, sedangkan 11 siswa (64,7 %) nilainya belum mencapai KKM dan rata-rata hasil belajar siswa 66,5. Berdasarkan hasil ujian tengah semester pada mata pelajaran IPA kelas III semester ganjil pada tahun 2012/2013 siswa yang mencapai KKM ada 8 siswa (40 %) dari 20 siswa, sedangkan 12 siswa (60 %) nilainya belum mencapai KKM dan rata-rata hasil belajar siswa 64,7.

  Suryasubrata (dalam Uno dan Mohammad, 2012:138) mengatakan bahwa belajar suatu proses menghasilkan perubahan perilaku yang dilakukan dengan sengaja untuk memperoleh pengetahuan, kecakapan dan pengalaman baru ke arah yang lebih baik. Dengan memilih pendekatan kontekstual sangat membantu terciptanya kondisi belajar yang menyenangkan sehingga meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi pelajaran dan akhirnya meningkatkan prestasi belajar siswa. Setelah mengguakan pendekatan kontekstual siswa yang lulus KKM mencapai 85 % dan rata-rata meningkat menjadi 80,4 . Peningkatan presatasi belajar terlihat pada kegiatan (Inquiry, Kontrukstivism, Reflection, dan

  

Authentic Assessment). Hal ini dapat dilihat dari hasil prestasi belajar pada gambar

  Tabel 22: Peningkatan Prestasi Belajar Siswa Kriteria Keberhasilan No Instrumen Indikator Kondisi Target Pencapaian penilaian awal Capaian Target

  Siswa lulus KKM 40 % 60% 85%

  1 Tes Rata-rata hasil

  64,7 70 80,4 belajar Berdasarkan hasil observasi keaktifan siswa selama proses belajar mengajar dengan materi yag sama , terbukti keaktifan siswa mempengaruhi prestasi belajar. Siswa yang aktif selama proses pembelajaran akan memperoleh hasil yang maksimal, terbukti hasil observasi selama I siklus siswa yang terlihat bertanya kepada guru atau bertanya dengan teman tentang materi pembelajaran

  IPA pada kegiatan belajar berlangsung memiliki jumlah turus 11. Indikator siswa yang mengemukakan pendapat saat proses pembelajaran memiliki jumlah turus

  15. Kemudian indikator siswa yang mengerjakan tugas yang diberikan guru dalamproses pembelajaran IPA jumlah turus 15 hasil evaluasi dapat dilihat pada gambar 12-13.

  Hasil pekerjaan siswa yang kurang aktif dapat telihat darihasil observasi selama 1 siklus siswa yang terlihat bertanya kepada guru atau bertanya dengan teman tentang materi pembelajaran IPA pada kegiatan belajar berlangsung memiliki jumlah turus 4. Indikator siswa yang mengemukakan pendapat saat proses pembelajaran memiliki jumlah turus 7. Kemudian indikator siswa yang mengerjakan tugas yang diberikan guru dalamproses pembelajaran IPA jumlah turus7 hasil evaluasi dapat dilihat pada gambar 14-15.

  

BAB V

KESIMPULAN, SARAN dan KETERBATASAN 5. 1 Kesimpulan

  Proses penelitian tindakan kelas ini telah melalui beberapa tahap, dan akhirnya sampailah pada tahap kesimpulan. Dari pelaksanaan pembelajaran peneliti memperoleh data tentang keaktifan dan prestasi belajar siswa. Maka peneliti dapat menarik beberapa kesimpulan, yakni :

5.1.1 Pendekatan kontekstual menekankan kepada proses keterlibatan siswa

  secara penuh, dalam hal ini siswa harus aktif untuk menemukan materi yang dipelajari. Terlihat pada percobaan dan penemuan melalui proses berpikir (inquiry); guru tidak menyampaikan informasi begitu saja, akan tetapi memancing agar siswa dapat menemukan informasi sendiri. Peran bertanya sangat penting, sebab melalui pertanyaan-pertanyaan guru dapat mengarahkan siswa untuk menemukan setiap materi yang dipelajari (questioning); melibatkan siswa (modelling); melakukan kerjasama, berdiskusi dan memanfaatkan sumber belajar (learning community). Setelah menggunakan pendekatan kontekstual, siswa yang bertanya kepada guru atau bertanya dengan teman tentang materi pembelajaran IPA pada kegiatan belajar berlangsung mengalami peningkatan 58 % dari kondisi awal. Kemudian siswa yang mengemukakan pendapat saat proses pembelajaran mengalami peningkatan 41 %. Sedangkan siswa yang mengerjakan tugas yang diberikan guru dalamproses pembelajaran IPA mengalami peningkatan

5.1.2 Pendekatan kontekstual sangat membantu terciptanya kondisi belajar

  yang menyenangkan sehingga meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi pelajaran dan akhirnya meningkatkan prestasi belajar siswa. Terlihat dalam membangun atau menyusun pengetahuan berdasarkan pengalaman(konstruktivisme); siswa mengendapkan apa yang baru dipelajarinya (reflection); penilaian (authentic assessment). Setelah menggunakan pendekatan kontekstual jumlah siswa yang mencapai KKM (67) sebanyak 85% dari 20 siswa. Sedangkan untuk rata-rata kelas menjadi 80,4.

5.2 SARAN

  Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas yang dilakukan, berikut ini beberapa saran yang dapat disampaikan oleh peneliti:

  

5.2.1 Pengalaman yang diperoleh selama kegiatan pembelajaran menggunakan

  pendekatan kontekstual pada mata pelajaran IPA sangat dianjurkan. Karena pada masa usia sekolah khususnya kelas bawah, pola berpikir anak pada tahapan operasi konkrit. Dimana sebagian besar siswa belajar melalui objek-objek konkret, melalui pengalaman nyata yang berawal dari proses interaksi dengan objek dan bukan dengan lambang, gagasan atau abstraksi. Sehingga siswa memperoleh pembelajaran yang bermakna dari apa yang dipelajarinya dan pengetahuannya dapat diterapkan dalam kegiatan sehari- hari.

  

5.2.2 Berdasarkan penelitian yang dilakukan, dengan pendekatan kontekstual diharapkan untuk selalu berinovasi dalam pembelajaran, untuk meningkatkan keaktifan, mengurangi rasa bosan dan prestasi belajar siswa.

  Banyak metode, model dan pendekatan yang bisa digunakan salah satunya dengan pendekatan kontekstual.

5.3 KETERBATASAN

  Adapun keterbatasan yang dimiliki oleh peneliti antara lain: keterbatasan waktu dan pengetahuan yang dimiliki peneliti tentang validitas. Setelah membaca buku tentang statistik untuk penelitian, peneliti menemukan kekurangan yaitu tentang penghitungan validitas product moment dirasa kurang tepat untuk menghitung soal pilihan ganda tetapi menggunakan validitas point biserial untuk menghitung valid dan tidak valid pada soal pilihan ganda. Peneliti melakukan validasi istrument penelitian kepada dosen pembimbing dua. Serta penelitian ini berhenti pada siklus 1 karena keterbatasan waktu dan dana yang digunakan, meskipun penelitian ini hanya 1 siklus tetapi target pencapaian sudah tercapai.

  

DAFTAR PUSTAKA

Agustiana I.G.A.T dan Tika I. N. 2013. Konsep Dasar IPA. Yogyakarta: Ombak.

  Akbar, Reni dan Hawadi. 2004. AKSELERASI. Jakarta. Gramedia Widisarana Indonesia.

  Aqib, Zainal dkk. 2009. PENELITIAN TINDAKAN KELAS UNTUK GURU, SD, SLB, TK . Bandung: YRAMA WIDYA.

  Arifin, Zainal. 2009. Evaluasi Pembelajaran Prinsip Teknik, Dan Prosedur.

  Bandung: Rosda Karya Arifin, Zainal. 2011. Penelitian Pendidikam Metode dan Paradigma Baru.

  Bandung: Rosda Karya. Arikunto, Suharsimi. 2009. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

  Daryanto dan Raharjo. 2012. Model Pembelajaran Inovatif. Yogyakarta: Gava Media Dimyati dan Mudjiono. 2010. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

  Gora, Winastwan dan Sunarto. 2010. Pakematik Strategi Pembelajaran Inovatif berbasis TIK. Jakarta: PT Elex Media komputindo.

  Hamalik, Oemar. 2011. Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Jakarta: Bumi Aksara Sistem. Hapsari, Sri. 2005. Bimbingan dan Konseling SMA untuk Kelas XI. Jakarta: PT.

  Raja Grasindo Persada. Johnson, Elaine B. 2010. Contextual Teaching and learning : menjadikan

  kegiatan belajar-mengajar mengasyikaan dan bermakna . (penerjemah Ibnu Setiawan). Bandung : Mizan Learning Center (MLC).

  Komalasari, Kokom. 2011. Pembelajaran Kontekshtual Konsep Dan Aplikasi.

  Bandung: Refika Aditama Masidjo. 2010. Penilaian Pencapaian Hasil Belajar Siswa di Sekolah. Yogyakarta : Kanisius.

  Mikarsa, Taufik dan Prianto. 2007. Pendidikan anak di SD. Jakarta: Universitas terbuka Mulyasa. 2006. Menjadi Guru Profesional Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan . Bandung: Remaja Rosdakarya.

  Mulyatiningsih. 2011. Metode Penelitian Terapan Bidang Pendidikan. Bandung: Alfabeta.

  Muslich, Mansur. 2009. Melaksanakan PTK itu Mudah(Classroom Action Research) Pedoman Praktis Bagi Guru Profesional . Jakarta: Bumi Aksara.

  Muslich, Masnur. 2009. Melakukan PTK itu mudah (Clasroom action Research).

  Jakarta: Bumi Aksara Olivia, Femi. 2011. Teknik Ujian Efektif. Jakarta. Gramedia Widisarana Indonesia.

  Rusman.2012. Model-model Pembelajaran. Jakarta : Raja Grafindo Persada. Samatowa, Usman. 2010. PEMBELAJARAN IPA DI SEKOLAH DASAR. Jakarta: Indeks.

  Sanjaya,Wina.2011. PENELITIAN TINDAKAN KELAS. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

  Sanjaya,Wina.2012. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan . Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

  Siregar, Evelyn & Nara, Hartini. 2011. Teori Belajar dan Pembelajaran. Bogor : Ghalia Indonesia

  Slameto. 2010. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta : PT Rineka Cipta.

  Sudjana, Nana. 2009. Penilaian Hasil Belajar Mengajar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

  Sugiono. 2011. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R & D. Bandung: Alfabeta.

  Sugiono. 2012. Metode Penelitian Kombinasi (Mixed Methods). Bandung: Alfabeta.

  Suharsimi Arikunto, Suhardjono, dkk. 2007. Penelitian Tindakan Kelas. Jakara: Bumi Aksara.

  Sukidin, Basrowi dan Suranto.2002. Manajemen Penelitian Tindakan Kelas.

  Jakarta: Insan Cendekia. Suyadi. 2010. Buku Panduan Guru Profesional Penelitian Tindakan Kelas(PTK) Yogyakarta : Andi.

  dan Penelitian Tindakan Sekolah(PTS).

  Suyono & Hariyanto. 2011. Belajar dan Pembelajaran. Bandung : PT Remaja Rosdakarya

  Syah,Muhibin. 2012. Psikologi Pendidikan. Bandung : Remaja Rosdakarya. Taniredja, Pujiati dan Nyata. 2012. PENELITIAN TINDAKAN KELAS UNTUK

MENGEMBANGKAN PROFESI GURU Praktik, Praktis Dan Mudah.

  Bandung: Alfabeta Tim penyusun.2002. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi 2. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.

  Trianto. 2010. Model Pembelajaran Terpadu Konsep, Strategi dan Implementasinya dalam KTSP . Jakarta: Bumi Aksara.

  Trianto. 2011. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

  Uno H. B dan Mohammad N. 2012. BELAJAR DENGAN PENDEKATAN

PAILKEM: Pembelajaran aktif, inovatif, lingkungan, kreatif, menarik .

  Jakarta: Bumi Aksara. Usman, Muhammad User.2011. Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remaja

  Rosdakarya Usman. Moh Uzer. 2011.Menjadi Guru Profesional. Bandung: Rosda Karya Wardani, IGAK. 2007. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Universitas Terbuka.

  Yudhawati & Haryanto. 2011. Teori-teori Dasar Psikologi Pendidikan. Jakarta : Prestasi Pustaka

  Zaini, H.dkk. 2008. Strategi Pembelajaran Aktif. Yogyakarta : Pustaka Insan Madani

  

LAMPIRAN

  113 Lampiran 1

  114 Lampiran 1

  115 Lampiran 2

  116 Lampiran 2

  117 Lampiran 2

  118 Lampiran 2

  119 Lampiran 2

  120

  121

  122

  123

  124

  125

  126

  127

  128

  129

  130

  131

  132

  133

  134

  135

  136

  137

  138

  139

  140

  141

  142

  143

  144

  145

  146

  147

  148

  149

  150

  151

  152

  153 VAR00001

  VAR00002

  VAR00003

  VAR00004

  VAR00005

  VAR00006

  VAR00007

  VAR00008

  VAR00009

  VAR00010 total ** **

  VAR00001 Pearson Correlation 1 .287 .137 .012 .187 .196 .287 .310 .600 .165 .575 Sig. (2-tailed) .094 .433 .946 .283 .259 .094 .070 .000 .344 .000 N

  35

  35

  35

  35

  35

  35

  35

  35

  35

  35 ** ** **

  35 VAR00002 Pearson Correlation .287 1 .178 -.014 -.025 .211 1.000 .141 .169 .489 .541 Sig. (2-tailed) .094 .307 .934 .889 .224 .000 .419 .332 .003 .001 N

  35

  35

  35

  35

  35

  35

  • * 35

  35

  35

  35

  35 VAR00003 Pearson Correlation .137 .178 1 -.082 .302 -.123 .178 -.007 .215 .364 .303 Sig. (2-tailed) .433 .307 .642 .078 .481 .307 .968 .216 .032 .076 N

  35

  35

  • * 35

  35

  35

  35

  35

  35

  35

  35

  35 VAR00004 Pearson Correlation .012 -.014 -.082 1 .098 .361 -.014 -.100 .169 .100 .218 Sig. (2-tailed) .946 .934 .642 .574 .033 .934 .568 .332 .568 .209 N

  35

  35

  35

  35

  35

  35

  35

  35

  35

  35

  35 ** *

  VAR00005 Pearson Correlation .187 -.025 .302 .098 1 .029 -.025 -.140 .402 .201 .514 Sig. (2-tailed) .283 .889 .078 .574 .868 .889 .422 .017 .247 .002 N

  35

  35

  35

  35

  35

  35

  35 *

  • * 35

  35

  35

  35 VAR00006 Pearson Correlation .196 .211 -.123 .361 .029 1 .211 .057 .152 .277 .397 Sig. (2-tailed) .259 .224 .481 .033 .868 .224 .744 .385 .107 .018 N

  35

  35

  35

  35

  35

  35

  35

  35

  35

  35

  35 ** ** **

  VAR00007 Pearson Correlation .287 1.000 .178 -.014 -.025 .211 1 .141 .169 .489 .541 Sig. (2-tailed) .094 .000 .307 .934 .889 .224 .419 .332 .003 .001 N

  35

  35

  35

  35

  35

  35

  35

  35

  35 ** *

  35

  35 VAR00008 Pearson Correlation .310 .141 -.007 -.100 -.140 .057 .141 1 .442 .289 .380 Sig. (2-tailed) .070 .419 .968 .568 .422 .744 .419 .008 .093 .024 N

  35

  35

  35

  35

  35

  35

  35

  35 ** *

  35

  35

  35 ** * **

  VAR00009 Pearson Correlation .600 .169 .215 .169 .402 .152 .169 .442 1 .345 .619 Sig. (2-tailed) .000 .332 .216 .332 .017 .385 .332 .008 .042 .000 N

  35

  35

  • ** 35

  35

  35 *

  35

  35

  35

  35 * ** **

  35

  35 VAR00010 Pearson Correlation .165 .489 .364 .100 .201 .277 .489 .289 .345 1 .634 Sig. (2-tailed) .344 .003 .032 .568 .247 .107 .003 .093 .042 .000 N

  35

  35

  35

  35

  35

  35

  35

  35 * ** * ** **

  • ** 35

  35 ** ** 35 total Pearson Correlation .575 .541 .303 .218 .514 .397 .541 .380 .619 .634

  1 Sig. (2-tailed) .000 .001 .076 .209 .002 .018 .001 .024 .000 .000 N

  35

  35

  35

  35

  35

  35

  35

  35

  35

  35

  35

  154 Lampiran 3

  155 Lampiran 3

  35

  35

  35

  35 VAR00019 Pearson Correlation .141 -.329 .424 * .159 -.059 -.014 . a .076 1 -.119 .036 Sig. (2-tailed) .419 .054 .011 .361 .738 .934 . .664 .496 .836 N

  35

  35

  35

  35

  35

  35

  

35

  35

  35

  35 VAR00018 Pearson Correlation .145 .216 .258 .117 .308 .476 ** . a 1 .076 -.170 .440 ** Sig. (2-tailed) .407 .213 .134 .504 .072 .004 . .664 .328 .008 N

  

35

  35

  35

  35

  35

  35

  35

  

35

  35

  35

  35

  35 VAR00017 Pearson Correlation . a . a . a

.

a

. a . a . a . a . a . a . a Sig. (2-tailed) . . . . . . . . . . N

  35

  35

  35

  35

  35

  35

  35

  35

  35

  35

  35

  35

  

35

  35

  35

  35

  1 Sig. (2-tailed) .012 .972 .062 .000 .001 .001 . .008 .836 .603 N

  .526 ** .521 ** . a .440 ** .036 .091

  35 total Pearson Correlation .420

  • * -.006 .319 .634

    **

  35

  35

  35

  35

  35

  35

  

35

  35

  35

  35

  35 VAR00020 Pearson Correlation -.190 -.075 -.211 .050 -.031 .070 . a -.170 -.119 1 .091 Sig. (2-tailed) .274 .669 .224 .777 .860 .688 . .328 .496 .603 N

  35

  35

  35

  35

  35

  35

  VAR00011 Pearson Correlation 1 -.139 -.093 .450

**

.256 .021 . a .145 .141 -.190 .420 * Sig. (2-tailed) .427 .594 .007 .138 .906 . .407 .419 .274 .012 N

  

35

  35

  

35

  35

  35

  35

  35 VAR00013 Pearson Correlation -.093 -.139 1 .232 .334 .209 . a .258 .424 * -.211 .319 Sig. (2-tailed) .594 .425 .179 .050 .229 . .134 .011 .224 .062 N

  35

  35

  35

  35

  35

  35

  35

  35

  35

  35

  35 VAR00012 Pearson Correlation -.139 1 -.139 -.308 .039 -.009 . a .216 -.329 -.075 -.006 Sig. (2-tailed) .427 .425 .072 .823 .959 . .213 .054 .669 .972 N

  35

  35

  35

  35

  35

  35

  

35

  35

  35

  35

  35

  35

  35

  35

  

35

  35

  35

  35

  35 VAR00016 Pearson Correlation .021 -.009 .209 .289 .183 1 . a .476 ** -.014 .070 .521 ** Sig. (2-tailed) .906 .959 .229 .092 .293 . .004 .934 .688 .001 N

  35

  35

  35

  35

  35

  35

  

35

  35

  35

  35

  35 VAR00015 Pearson Correlation .256 .039 .334 .120 1 .183 . a .308 -.059 -.031 .526 ** Sig. (2-tailed) .138 .823 .050 .492 .293 . .072 .738 .860 .001 N

  35

  35

  35

  35

  35

  35

  

35

  35

  35

  35

  35 VAR00014 Pearson Correlation .450 ** -.308 .232 1 .120 .289 . a .117 .159 .050 .634 ** Sig. (2-tailed) .007 .072 .179 .492 .092 . .504 .361 .777 .000 N

  35

  35

  VAR00021 Pearson Correlation 1 .188 .354 .017 .149 .348 .000 -.104 -.068 -.033 .239 Sig. (2-tailed) .280 .037 .925 .394 .041 1.000 .551 .697 .851 .167 N

  35

  35

  35

  

35

  35

  35

  35 **

  35

  35

  35

  35 ** **

  VAR00022 Pearson Correlation .188 1 .821 -.125 .318 -.192 .089 .566 -.143 .155 .675 Sig. (2-tailed) .280 .000 .473 .063 .269 .612 .000 .411 .372 .000 N

  35

  35 *

  35

  

35

  • * 35

  35

  35

  35

  35

  35

  35 ** ** *

  VAR00023 Pearson Correlation .354 .821 1 -.187 .373 -.025 .117 .393 -.217 .093 .548 Sig. (2-tailed) .037 .000 .281 .027 .889 .505 .019 .210 .594 .001 N

  35

  35

  35

  

35

  35

  35

  35

  35

  35

  35

  35 VAR00024 Pearson Correlation .017 -.125 -.187 1 .089 .304 .258 -.183 .244 -.089 .133 Sig. (2-tailed) .925 .473 .281 .613 .076 .134 .293 .157 .613 .445 N

  35

  35

  35

  

35

  • ** 35

  35 * * *

  35

  35

  35

  35

  35 VAR00025 Pearson Correlation .149 .318 .373 .089 1 .341 .057 .382 .037 .144 .430 Sig. (2-tailed) .394 .063 .027 .613 .045 .744 .024 .832 .410 .010 N

  35

  35

  35

  

35

  35

  35

  35

  35

  35

  35 *

  • * 35

  VAR00026 Pearson Correlation .348 -.192 -.025 .304 .341 1 -.060 .014 .068 -.100 .102 Sig. (2-tailed) .041 .269 .889 .076 .045 .731 .934 .700 .568 .559 N

  35

  35

  35

  

35

  35

  35

  35

  35

  35

  35

  35 ** *

  VAR00027 Pearson Correlation .000 .089 .117 .258 .057 -.060 1 .211 .207 .372 .466 Sig. (2-tailed) 1.000 .612 .505 .134 .744 .731 .224 .233 .028 .005 N

  35 35 ** **

  35

  35

  

35

  35

* *

  35

  35

  35

  35

  35 *

  VAR00028 Pearson Correlation -.104 .566 .393 -.183 .382 .014 .211 1 .057 .341 .613 Sig. (2-tailed) .551 .000 .019 .293 .024 .934 .224 .745 .045 .000 N

  35

  35

  35

  

35

  35

  35

  35

  35

  35

  35

  35 VAR00029 Pearson Correlation -.068 -.143 -.217 .244 .037 .068 .207 .057 1 .081 .152 Sig. (2-tailed) .697 .411 .210 .157 .832 .700 .233 .745 .643 .383 N

  35

  35

  35

  

35

  35

  35

  35

  35 * * *

  35

  35

  35 VAR00030 Pearson Correlation -.033 .155 .093 -.089 .144 -.100 .372 .341 .081 1 .424 Sig. (2-tailed) .851 .372 .594 .613 .410 .568 .028 .045 .643 .011 N

  35

  35

  35

  

35

  35

  35

  35

  35 **

  35

  35 * ** ** ** ** 35 total Pearson Correlation .239 .675 .548 .133 .430 .102 .466 .613 .152 .424

  1 Sig. (2-tailed) .167 .000 .001 .445 .010 .559 .005 .000 .383 .011 N

  35

  35

  35

  

35

  35

  35

  35

  35

  35

  35

  35

  156 Lampiran 3

  157 Lampiran 3

  19 Ir

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  20 Kh

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  16 Hn

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  17 Fb

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  18 Ik

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  24 Rs

  1

  1

  1

  25 Lg

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  21 Km

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  22 Ml

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  23 Fs

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  15 Fr

  TARAF KESUKARAN NO RESPONDEN

  1

  1

  5 Ds

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  4 Ri

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  6 Af

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  11

  23

  22

  18

  16

  15

  14

  10

  27

  9

  8

  7

  6

  5

  2

  1

  25

  28

  1

  1

  3 Sj

  1

  1

  1

  1

  2 Dk

  1

  1

  30

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1 Fn

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  13 Di

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  14 Es

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  9 Ap

  1

  1

  8 Aa

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  7 Ad

  1

  1

  10 Ar

  1

  1

  12 Dv

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  11 Al

  1

  1

  1

  1

  1

  1 Sukar Sekali (SS)

  Sukar (Sk) 0,00

  1

  1

  1

  34 Yn

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  35 Ry

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  32 Tk

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  33 Wy

  1

  1

  1

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30

  30 IK 0,87 0,40 0,70 0,93 0,40 0,57 0,97 0,80 0,60 0,80 0,63 0,77 0,83 0,73 0,70 0,60 0,23 0,77 0,57 Kriteria soal

  ms s m ms s c ms m c m m m ms m m c s m c Kualifikasi IK :

  IK Kualifikasi 0,81

  Mudah Sekali (Ms) 0,61

  Mudah (Md) 0,41

  Cukup (C) 0,21

  30

  30

  1

  29

  1

  1

  1 Skor real

  26

  12

  21

  28

  12

  17

  24

  17 Seharunya

  18

  24

  19

  23

  25

  22

  21

  18

  7

  23

  1

  1

  158 Lampiran 3 Lampiran 3

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  27 Rk

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  11

  NO Responden

  1

  2

  5

  6

  7

  8

  9

  10

  14

  1

  15

  16

  18

  22

  23

  25

  27

  28

  30

  26 Pt

  28 St

  1

  31 Tf

  1

  1

  1

  1

  30 Sf

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  29 Sp

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  • – 1,00
  • – 0,80
  • – 0,60
  • – 0,40
  • – 0,20

  Reliability Statistics

  Cronbach's Alpha

  Cronbach's Alpha Based on

  Standardize d Items N of

  Items .867 .868

  19

  Jakarta. Yudistira

  4. Menyebutkan minimal satu contoh gerak benda menggeliding yang ada di lingkungan sekitar.

  Ilmu Pengetahu an Alam.

  IPA. 2010.

  Jakarta. Erlangga Tim Bina

  SAINS Untuk Sekolah Dasar Kelas III .

  2007.

  Sumber Belajar : Haryanto.

  Non Tes Lembar observasi 2 jp

  3. Menyebutkan minimal satu contoh gerak benda memantul yang ada di lingkungan sekitar.

  160 Lampiran 4

  2. Menyebutkan minimal satu contoh gerak benda jatuh yang ada di lingkungan sekitar.

  1. Mengidentifikasi lima jenis gerak benda (gerak jatuh, memantul dan menggelinding).

  Inkuiri Siswa melakukan percobaan tentang jenis gerak benda di dampingi guru Bertanya Siswa dan guru bertanya jawab tentang contoh jenis gerak yang ada di lingkungan sekitar Masyarakat belajar Siswa memberikan contoh contoh gerak benda yang ada dilingkungan sekitar

  Pertemuan 1 Pemodelan Siswa memperhatikan contoh gerak benda yang ditunjukkan guru.

  4.1 Menyimpulkan hasil pengamatan bahwa gerak benda dipengaruhi oleh bentuk dan ukuran Jenis gerak benda

  4.Memahami berbagai cara gerak benda, hubungannya dengan energi dan sumber energi

  IPA Energi dan Perubahannya

  

SILABUS PEMBELAJARAN IPA

SEKOLAH DASAR KELAS III SEMESTER II

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar Materi Kegiatan Belajar Indikator Pencapaian Kompetensi Penilaian Alokasi Waktu Sumber/ Bahan/ Alat Jenis Bentuk instrumen

  • Siswa Media Kelereng, Bola Kasti, Meja

  Konstruktruktivisme

  7. Menjelaskan satu Siswa menjelaskan jenis gerak dengan mengenai gerak benda bahasa sendiri. dengan kalimat sendiri Refleksi Siswa merefleksikan kegiatan tentang berbagai jenis gerak benda

  161 Lampiran 4

  162 Lampiran 4

  IPA Energi dan Perubahannya

  4.Memahami berbagai cara gerak benda, hubungannya dengan energi dan sumber energi

  4.1 Menyimpulkan hasil pengamatan bahwa gerak benda dipengaruhi oleh bentuk dan ukuran Jenis gerak benda

  Pertemuan 2 Inkuiri Siswa melakukan percobaan tentang jenis gerak benda di dampingi guru Bertanya Siswa dan guru bertanya jawab tentang jenis gerak Masyarakat belajar Siswa memberikan contoh contoh gerak benda yang ada dilingkungan sekitar Konstruktruktivisme Siswa menjelaskan mengenai gerak benda dengan kalimat sendiri Refleksi Siswa merefleksikan kegiatan tentang berbagai jenis gerak benda

  1. Mengidentifikasi lima jenis gerak benda (gerak berputar dan menggalir).

  5. Menyebutkan minimal satu contoh gerak benda berputar yang ada di lingkungan sekitar

  6. Menyebutkan minimal satu contoh gerak benda mengalir yang ada di lingkungan sekitar

  7. Menjelaskan satu jenis gerak dengan bahasa sendiri Non Tes Lembar observasi 2 jp Sumber

  Belajar : Haryanto.

  2007.

  SAINS untuk Sekolah Dasar Kelas III .

  Jakarta. Erlangga Tim Bina

  IPA. 2010.

  Ilmu Pengetahu an Alam.

  Jakarta. Yudistira Siswa Air, plastik, pensil dan tali

  163 Lampiran 4

  IPA Energi dan Perubahannya

  4.Memahami berbagai cara gerak benda, hubungannya dengan energi dan sumber energi

  4.1 Menyimpulkan hasil pengamatan bahwa gerak benda dipengaruhi oleh bentuk dan ukuran Faktor mempeng aruhi gerak benda

  Pertemuan 3 Inkuiri Siswa melakukan percobaan yang mempengaruhi gerak benda di dampingi guru Bertanya Siswa dan guru menjelaskan faktor yang mempengaruhi gerak benda Masyarakat belajar Siswa memberikan contoh kegiatan yang mempengaruhi gerak benda Refleksi Siswa merefleksikan kegiatan tentang faktor yang mempengaruhi gerak benda Konstruktruktivisme Siswa menjelaskan mengenai gerak benda dengan kalimat sendiri

  8. Mengidentifikasi tiga faktor yang mempengaruhi gerak benda

  9. Menyebutkan tiga faktor yang mempengaruhi gerak benda

  10. Menjelaskan faktor yang mempengaruhi gerak benda

  Non Tes Lembar observasi 2 jp Sumber

  Belajar : Haryanto.

  2007.

  SAINS Untuk Sekolah Dasar Kelas III .

  Jakarta. Erlangga Tim Bina

  IPA. 2010.

  Ilmu Pengetahu an Alam.

  Jakarta. Yudistira Siswa Kelereng, bola kasti, balok kayu, dan kertas IPA

4.1 Kegunaan Pertemuan 4

  2 jp Sumber Energi dan Menyimpulkan gerak Pemodelan

  Tes Tertulis Belajar : hasil pengamatan benda Siswa bersama-sama

  11. Membuat satu ( Pilihan Haryanto.

  Perubahannya 4.Memahami bahwa gerak membuat kincir angin. benda yang Ganda dan 2007. berbagai cara benda Bertanya digerakkan oleh esai) SAINS gerak benda, dipengaruhi oleh Siswa bertanya jawab angin

  Untuk hubungannya bentuk dan dengan guru tentang

  Sekolah dengan energi ukuran contoh gerak benda yang

  12. Memberikan dua Dasar

dan sumber berguna bagi kehidupan contoh gerak benda Non Tes Lembar Kelas III .

energi sehari-hari yang digunakan observasi Jakarta. sebagai sarana

  Erlangga Masyarakat belajar Siswa memberikan contoh transportasi gerak benda yang berguna

  Tim Bina bagi kehidupan sehari-hari

  13. Memberikan dua IPA. 2010.

  Bertanya contoh gerak benda Ilmu

  Siswa bertanya jawab yang digunakan Pengetahu dengan guru tentang sebagai sarana an Alam. kegunaan gerak benda dan olahraga Jakarta. manfaatnya

  Yudistira

  14. Memberikan dua contoh gerak benda Siswa yang menghasilkan energi listrik

  Media Gambar,

  15. Menjelaskan gerak kincir benda yang berguna angin, bagi kehidupan kertas, sehari-hari gunting, lem, kawat

  164 Lampiran 4

  Konstruktruktivisme  Siswa membuat kesimpulan mengenai faktor yang mempengaruhi gerak benda dengan kalimat sendiri

  Refleksi Siswa merefleksikan kegiatan tentang kegunaan gerak benda dan kegunaannya Penilaian Nyata Siswa mengerjakan soal Evaluasi

  165 Lampiran 4

  RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN 1 (RPP) Satuan Pendidikan : SD N Plaosan 1 Mata Pelajaran : IPA Kelas/semester : III (Tiga) / II (Dua) Hari/tanggal : Senin , 25 Maret 2013 Alokasi Waktu : 2 JP

I. Standar Kompetensi

4. Memahami berbagai cara gerak benda, hubungannya dengan energi dan sumber energi

  II. Kompetensi Dasar

  4.1 Menyimpulkan hasil pengamatan bahwa gerak benda dipengaruhi oleh bentuk dan ukuran

  III. Indikator

  1. Mengidentifikasi lima jenis gerak benda (gerak jatuh, memantul dan menggelinding).

  2. Menyebutkan minimal satu contoh gerak benda jatuh yang ada di lingkungan sekitar.

  3. Menyebutkan minimal satu contoh gerak benda memantul yang ada di lingkungan sekitar.

  4. Menyebutkan minimal satu contoh gerak benda menggeliding yang ada di lingkungan sekitar.

  5. Menjelaskan satu jenis gerak dengan bahasa sendiri.

  IV. Tujuan Pembelajaran

  1. Siswa mampu mengidentifikasi lima jenis gerak benda (gerak jatuh, memantul dan menggelinding).

  2. Siswa mampu menyebutkan minimal satu contoh gerak benda jatuh yang ada dilingkungan sekitar.

  3. Siswa mampu menyebutkan minimal satu contoh gerak benda memantul yang ada dilingkungan sekitar.

  4. Siswa mampu menyebutkan minimal satu contoh gerak benda menggeliding

  V. Materi Pelajaran

  memantul dan menggelinding di dampingi guru (Inkuiri)

   Siswa merefleksikan kegiatan tentang berbagai jenis gerak benda. (Refleksi)  Siswa dan guru menyimpulkan materi yang dipelajari  Guru memberi pekerjaan rumah

  50 Menit 3. Kegiatan akhir

  (Konstruktruktivisme)

   Siswa dan guru tanya jawab tentang percobaan yang dilakukan dan materi yang di sampaikan (Bertanya)  Siswa menjelaskan mengenai gerak benda dengan kalimat sendiri

  menggelinding yang ada dilingkungan sekitar ( Masyarakat Belajar)

   Siswa memyebutkan contoh gerak benda jatuh, memantul dan

  memantul dan menggelinding yang ada di lingkungan sekitar (Bertanya)

   Siswa menyampaikan hasil percobaan di depan kelas  Siswa dan guru tanya jawab tentang contoh jenis gerak jatuh,

   Siswa memperhatikan petunjuk tentang pembelajaran jenis gerak benda  Siswa mengamati contoh gerak benda yang diperagakan guru (Pemodelan)  Siswa menyiapkan alat dan bahan untuk percobaan  Siswa menulis alat dan bahan yang digunakan untuk percobaan  Siswa melakukan percobaan tentang jenis gerak benda jatuh,

  Gerak benda

  Elaborasi

   Siswa dan guru tanya jawab mengenai arti bergerak  Siswa menyebutkan contoh benda bergerak

  10 menit 2. Kegiatan inti Eksplorasi

   Siswa mendengarkan peraturan dikelas  Siswa mendengarkan tujuan pembelajaran tentang jenis gerak benda  Siswa dibagi kedalam kelompok, setiap kelompok terdiri dari 4- 5 siswa

   Kegiatan awal  Siswa dan guru melakukan salam, doa dan absensi.

  VII. Kegiatan Pembelajaran

No. Kegiatan Alokasi waktu

1.

  Model pembelajaran : Contextual Teaching and Learning Metode Pembelajaran : Tanya jawab, percobaan, diskusi dan demonstrasi

  VI. Metode Pembelajaran

  10 menit

VIII. Penilaian

  1. Prosedur : Proses

  2. Jenis : Non tes

  3. Teknik : Observasi

IX. Media dan Sumber Belajar

  a. Media  Kelereng, Bola bekel, Meja

  b. Buku Sumber Haryanto. 2007. SAINS untuk Sekolah Dasar kelas III. Jakarta. Erlangga Tim Bina IPA. 2010. Ilmu Pengetahuan Alam. Jakarta. Yudistira LKS cemara Ilmu Pengetahuan Alam untuk kelas 3 semester 2

  c. Siswa

  LEMBAR KERJA SISWA

  (SIKLUS I PERTEMUAN 1) Nama anggota kelompok : 1. ........................................

  2. ........................................ 3. ........................................ 4. ........................................ 5. ........................................

  Lembar Kerja Siswa

  Satuan Pendidikan : SD N Plaosan 1 Mata Pelajaran : Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) Kelas/semester : III (Tiga) / II (Dua) Hari/tanggal : Senin , 25 Maret 2013

  Tujuan Pembelajaran

  1. Siswa mampu mengidentifikasi lima jenis gerak benda (gerak jatuh, memantul dan menggelinding).

  2. Siswa mampu menyebutkan minimal satu contoh gerak benda jatuh yang ada dilingkungan sekitar.

  3. Siswa mampu menyebutkan minimal satu contoh gerak benda memantul yang ada dilingkungan sekitar.

  4. Siswa mampu menyebutkan minimal satu contoh gerak benda menggeliding yang ada dilingkungan sekitar

  5. Siswa mampu menjelaskan satu jenis gerak dengan bahasa sendiri dengan benar

  Kegiatan Belajar 1 Tuliskan alat dan bahan yang kamu perlukan 1. ....... 2. ....... 3. ....... Kegiatan Belajar 2 Langkah-langkah kegiatan 1. Bola kasti dilemparkan ke ke atas. Hal yang terjadi diamati.

  2. Bola kasti dijatuhkan ke lantai dan dilemparkan ke tembok. Hal yang terjadi diamati.

  3. Kelereng diletakkan di atas meja atau lantai.Selanjutnya, kelereng tersebut disentil. Hal yang terjadi diamati.

  Kerjakan soal di bawah ini setelah melakukan percobaan!

  1. Bagaimana gerakan bola yang di lemparkan ke atas? Jawab: ..................................................................

  2. Bagaimana gerakan bola kasti yang dijatuhkan ke lantai dan dilemparkan ke tembok? Jawab: ..................................................................

  3. Bagaimana gerakan kelereng yang disentil? Jawab: ..................................................................

  4. Beriah minimal satu contoh gerak benda jatuh yang ada dilingkungan sekitar Jawab: ..................................................................

  5. Beriah minimal satu contoh gerak benda memantul yang ada dilingkungan sekitar Jawab: ..................................................................

  6. Beriah minimal satu contoh gerak benda menggelinding yang ada dilingkungan sekitar Jawab: ..................................................................

  7. Buatlah kesimpulan apa yang kalian ketahui tentang gerak benda?

  

Ringkasan materi Pertemuan 1

Gerak benda

a. Gerak jatuh

  Gerak jatuh adalah gerak dari ketinggian tertentu ke bawah Gerak jatuh dialami oleh benda yang dilepaskan dari ketinggian tertentu. Gerak benda jatuh selalu dari tempat tinggi ke tempat yang lebih rendah. Beberapa contoh gerak jatuh : 1. pensil dijatuhkan dari atas meja.

  2. Gerakan melompat ketika kamu menceburkan tubuhmu ke kolam renang.

  3. Daun-daun yang berguguran dari atas pohon

  4. Bola yang dilemparkan ke atas akan jatuh ke bawah

b. Gerak memantul Gerak memantul adalah gerak balik akibat membentur suatu benda.

  Gerak memantul terjadi jika bola jatuh dan mengenai bidang yang keras. Setelah mengenai bidang keras tersebut, akan bergerak memantu Benda yang dapat memantul biasanya memiliki sifat lentur (elastis) dan berbentuk bulat. Beberapa contoh gerak memantul : 1. Bola basket yang dipantulkan di lantai.

2. Bola kasti yang dilemparkan di tembok

c. Gerak menggelinding Gerak menggelinding adalah gerakan berputar sambil berpindah tempat.

  Gerak menggelinding dapat dimanfaatkan manusia untuk memindahkan benda Bola berbentuk bundar jika ditendang atau dilempar, bola akan bergerak menggelinding. Selain berputar pada porosnya, bola juga bergerak berpindah.

  Gerakan seperti itu disebut gerakan menggelinding. Contoh lainnya adalah kelereng yang bergerak. Gerak kelereng termasuk gerak menggelinding.

  Haryanto. 2007. SAINS untuk Sekolah Dasar kelas III. Jakarta. Erlangga Tim Bina IPA. 2010. Ilmu Pengetahuan Alam. Jakarta. Yudistira LKS cemara Ilmu Pengetahuan Alam untuk kelas 3 semester 2

  RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN 2 (RPP) Satuan Pendidikan : SD N Plaosan 1 Mata Pelajaran : IPA Kelas/semester : III (Tiga) / II (Dua) Hari/tanggal : Rabu , 27 Maret 2013 Alokasi Waktu : 2 JP

I. Standar Kompetensi

4. Memahami berbagai cara gerak benda, hubungannya dengan energi dan sumber energi II.

   Kompetensi Dasar

  4.1 Menyimpulkan hasil pengamatan bahwa gerak benda dipengaruhi oleh bentuk dan ukuran

III. Indikator 1. Mengidentifikasi lima jenis gerak benda (gerak berputar dan menggalir).

  2. Menyebutkan minimal satu contoh gerak benda berputar yang ada di lingkungan sekitar

  3. Menyebutkan minimal satu contoh gerak benda mengalir yang ada di lingkungan sekitar

  4. Menjelaskan satu jenis gerak dengan bahasa sendiri IV.

   Tujuan Pembelajaran

  1. Siswa mampu mengidentifikasi lima jenis gerak benda (gerak berputar dan menggalir).

  2. Siswa mampu menyebutkan minimal satu contoh gerak benda berputar yang ada dilingkungan sekitar

  3. Siswa mampu menyebutkan minimal satu contoh gerak benda mengalir yang ada dilingkungan sekitar

  4. Siswa mampu menjelaskan satu jenis gerak dengan bahasa sendiri dengan benar

V. Materi Pelajaran

  Gerak benda

  VI. Metode Pembelajaran

  Model pemebelajaran : Contextual Teaching and Learning Metode Pembelajaran : Tanya jawab, percobaan, diskusi dan demonstrasi

  VII. Kegiatan Pembelajaran

No. Kegiatan Alokasi waktu

1. Kegiatan awal  Siswa dan guru melakukan salam, doa dan absensi.

   Siswa mendengarkan peraturan dikelas  Siswa mendengarkan tujuan pembelajaran tentang jenis gerak benda  Siswa dibagi kedalam kelompok, setiap kelompok terdiri dari 4- 5 siswa

  10 menit

2. Kegiatan inti

  jatuh, memantul dan menggelinding Elaborasi

   Siswa mendengarkan petunjuk tentang pembelajaran jenis gerak benda berputar dan menggalir.  Siswa menyiapkan peralatan yang akan digunakan untuk percobaan  Siswa menulis alat dan bahan yang digunakan untuk percobaan 

  Siswa melakukan percobaan tentang jenis gerak benda berputar

   Siswa dan guru tanya jawab tentang jenis gerak benda yang dipelajari pertemuan sebelumnya  Siswa memberi contoh gerak benda

  di dampingi guru

(Inkuiri)

   Siswa menyampaikan hasil percobaan di depan kelas  Siswa dan guru tanya jawab tentang contoh jenis gerak berputar dan menggalir yang ada di lingkungan sekitar (Bertanya)

  Siswa memberikan contoh gerak benda berputar dan menggalir yang ada dilingkungan sekitar (Masyarakat Belajar)

   Siswa dan guru tanya jawab tentang percobaan yang dilakukan dan materi yang di sampaikan (Bertanya)  Siswa menjelaskan mengenai gerak benda dengan kalimat sendiri

  (Konstruktruktivisme)

  50 Menit 3. Kegiatan akhir

   Siswa merefleksikan kegiatan tentang berbagai jenis gerak benda. (Refleksi)  Siswa dan guru menyimpulkan materi yang dipelajari  Guru memberi pekerjaan rumah  Guru memberikan motivasi siswa

  10 menit

  Eksplorasi

  dan menggalir

VIII. Penilaian

  1. Prosedur : Proses

  2. Jenis : Non tes

  3. Teknik : Observasi IX.

   Media dan Sumber Belajar

  a. Media  Air, botol,pensil dan tali

  b. Buku Sumber Haryanto. 2007. SAINS untuk Sekolah Dasar kelas III. Jakarta. Erlangga Tim Bina IPA. 2010. Ilmu Pengetahuan Alam. Jakarta. Yudistira LKS cemara Ilmu Pengetahuan Alam untuk kelas 3 semester 2

  c. Siswa

  LEMBAR KERJA SISWA

  (SIKLUS I PERTEMUAN 2) Nama anggota kelompok : 1. ........................................

  2. ........................................ 3. ........................................ 4. ........................................ 5. ........................................

  Lembar Kerja Siswa

  Satuan Pendidikan : SD N Plaosan 1 Mata Pelajaran : Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) Kelas/semester : III (Tiga) / II (Dua) Hari/tanggal : Rabu , 27 Maret 2013

  Tujuan Pembelajaran

  1. Siswa mampu mengidentifikasi lima jenis gerak benda (gerak berputar dan menggalir).

  2. Siswa mampu menyebutkan minimal satu contoh gerak benda berputar yang ada dilingkungan sekitar

  3. Siswa mampu menyebutkan minimal satu contoh gerak benda mengalir yang ada dilingkungan sekitar

  4. Siswa mampu menjelaskan satu jenis gerak dengan bahasa sendiri dengan benar

   Petunjuk :

   Tulislah nama anggota kelompokmu di pojok kanan atas!  Jika belum jelas silahkan bertanya kepada guru dengan

  Kegiatan Belajar 1 Tuliskan alat dan bahan yang kamu perlukan 1. ....... 2. ....... 3. ....... Kegiatan Belajar 2 Langkah-langkah kegiatan

  1. Ambilah sebuah pensil kemudian ikatlah dengan tali!

  2. Putarlah tali tersebut. Hal yang terjadi diamati

  3. Ambil botol yang tidak dipakai beri lubang pada bagian bawah kemudian diisi air . Hal yang terjadi diamati (lakukan di luar kelas)

  Kerjakan soal di bawah ini setelah melakukan percobaan!

  1. Bagaimana gerakan pensil yang diikat dengan tali tersebut? Jawab: ..................................................................

  2. Bagaimana gerakan botol yang diisi air dan diberikan lubang kecil? Jawab: ..................................................................

  3. Sebutkan lima jenis gerak benda yang kamu ketahui? Jawab: ..................................................................

  4. Berilah minimal satu contoh gerak benda berputar yang ada dilingkungan sekitar Jawab: ..................................................................

  5. Berilah minimal satu contoh gerak benda mengalir yang ada dilingkungan sekitar Jawab: ..................................................................

  6. Buatlah kesimpulan apa yang kalian ketahui tentang gerak benda? Jawab: ..................................................................

  

Ringkasan materi Pertemuan 2

Gerak benda

Gerak berputar

  Gerak berputar adalah gerak yang berbentuk melingkar dan berpusat pada titik tengah Pada gerak berputar, kedudukan suatu titik pada benda akan berubah Beberapa contoh gerak berputar :

  1. Ban sepeda yang sedang melaju bergerak berputar. Gerak berputar terjadi pada benda yang berbentuk lingkaran.

  2. Gerakan baling-baling yang berputar jika terkena angin.

  3. Kipas angin

  Gerak mengalir

  Gerak mengalir adalah gerak benda cair dari tempat yang tinggi ketempat yang rendah. Gerak mengalir hanya terjadi pada benda cair saja, seperti air, susu, minyak, dan madu. Gerak mengalir bisa kita lihat pada air sungai yang mengalir. Air yang mengalir bergerak dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah. Air hujan di atap rumah akan mengalir ke bawah menuju tempat yang lebih rendah.

  Haryanto. 2007. SAINS untuk Sekolah Dasar kelas III. Jakarta. Erlangga Tim Bina IPA. 2010.

  Ilmu Pengetahuan Alam. Jakarta. Yudistira LKS cemara Ilmu Pengetahuan Alam untuk kelas 3 semester 2

  RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN 3 (RPP) Satuan Pendidikan : SD N Plaosan 1 Mata Pelajaran : IPA Kelas/semester : III (Tiga) / II (Dua) Hari/tanggal : Jum’at, 05 April 2013 Alokasi Waktu : 2 JP

I. Standar Kompetensi

  4. Memahami berbagai cara gerak benda, hubungannya dengan energi dan sumber energi

II. Kompetensi Dasar

  4.1 Menyimpulkan hasil pengamatan bahwa gerak benda dipengaruhi oleh bentuk dan ukuran

III. Indikator

  IV. Tujuan Pembelajaran

  1. Siswa mampu mengidentifikasi tiga faktor yang mempengaruhi gerak benda melalui percobaan

  3. Menjelaskan faktor yang mempengaruhi gerak benda

  3. Siswa mampu menjelaskan faktor yang mempengaruhi gerak benda melalui percobaan

  V. Materi Pelajaran

  Faktor mempengaruhi gerak benda

  VI. Metode Pembelajaran

  Model pemebelajaran : Contextual Teaching and Learning Metode Pembelajaran : Tanya jawab, percobaan, diskusi dan demonstrasi

  2. Menyebutkan tiga faktor yang mempengaruhi gerak benda

  1. Mengidentifikasi tiga faktor yang mempengaruhi gerak benda

  2. Siswa mampu menyebutkan tiga faktor yang mempengaruhi gerak benda melalui percobaan

VII. Kegiatan Pembelajaran

  

No. Kegiatan Alokasi waktu

1.

   Kegiatan awal  Siswa dan guru melakukan salam, doa dan absensi.

   Siswa mendengarkan peraturan dikelas  Siswa mendengarkan tujuan pembelajaran tentang tentang

  10 menit

  hal-hal yang mempengaruhi gerak benda gerak benda  Siswa dibagi kedalam kelompok, setiap kelompok terdiri dari 4- 5 siswa

  2. Kegiatan inti Eksplorasi

   Siswa dan guru tanya jawab tentang pelajaran sebelumnya tentang jenis-jenis gerak benda

  Elaborasi

   Siswa mendengarkan petunjuk yang mempengaruhi gerak benda  Siswa mempersiapkan peralatan yang akan digunakan untuk percobaan  Siswa menulis alat dan bahan yang digunakan untuk percobaan

  50 Menit

   Siswa melakukan percobaan tentang hal-hal yang mempengaruhi gerak benda di dampingi guru (inkuiri)  Siswa menyapaikan hasil percobaan di depan kelas  Siswa tanya jawab tentang faktor yang mempengaruhi gerak benda (Bertanya)

  Konfirmasi

   Siswa dan guru tanya jawab dengan guru tentang percobaan yang dilakukan dan materi yang di sampaikan (Bertanya)  Siswa menjelaskan mengenai faktor yang mempengaruhi gerak benda dengan kalimat sendiri.(Konstruktruktivisme)

  3. Kegiatan akhir

   Siswa merefleksikan kegiatan tentang faktor yang mempengaruhi gerak benda. (Refleksi)

  10 menit

   Siswa dan guru menyimpulkan materi yang dipelajari  Guru memberikan pekerjaan rumah  Guru memberikan motivasi siswa VIII.

   Penilaian

  1. Prosedur : Proses

  2. Jenis : Non tes

IX. Media dan Sumber Belajar

  a. Media  Kelereng, bola bekel, balok kayu, dan kertas

  b. Buku Sumber Haryanto. 2007. SAINS untuk Sekolah Dasar kelas III. Jakarta. Erlangga Tim Bina IPA. 2010. Ilmu Pengetahuan Alam. Jakarta. Yudistira LKS cemara Ilmu Pengetahuan Alam untuk kelas 3 semester 2

  c. Siswa

  LEMBAR KERJA SISWA

  (SIKLUS I PERTEMUAN 3) Nama anggota kelompok : 1. ........................................

  2. ........................................ 3. ........................................ 4. ........................................ 5. ........................................

  Lembar Kerja Siswa

  Satuan Pendidikan : SD N Plaosan 1 Mata Pelajaran : Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) Kelas/semester : III (Tiga) / II (Dua) Hari/tanggal : Jum’at , 05 April 2013

  Tujuan Pembelajaran

  1. Siswa mampu mengidentifikasi tiga faktor yang mempengaruhi gerak benda melalui percobaan

  2. Siswa mampu menyebutkan tiga faktor yang mempengaruhi gerak benda melalui percobaan

  3. Siswa mampu menjelaskan faktor yang mempengaruhi gerak benda melalui percobaan

   Petunjuk :

   Tulislah nama anggota kelompokmu di pojok kanan atas!  Jika belum jelas silahkan bertanya kepada guru dengan mengangkat tangan !  Isilah setiap pertanyaan dengan tulisan yang rapi!  Kumpulkan LKS dalam keadaan bersih!

  Kegiatan Belajar 1 Langkah-langkah kegiatan 1. Bola bekel dan balok kayu disiapkan.

  2. Bola bekel dan balok kayu didigelindingkan bersamaan. Hal yang terjadi diamati

  3. Jarak akhir kedua benda dengan letak awal benda diukur. Kerjakan soal di bawah ini setelah melakukan percobaan!

  1. Manakah yang lebih jauh antara bola bekel dan balok kayu didigelindingkan secara bersamaan? Jawab: ..................................................................

  2. Manakah yang lebih berat antara bola bekel dan balok kayu? Jawab: ..................................................................

  3. Simpulkan apa yang kalian ketahui tentang percobaan tadi? Jawab: ..................................................................

  Kegiatan Belajar 2 Langkah-langkah kegiatan 1.

  Ambilah dua lembar kertas kemudian salah satu kertas diremas.

  2. Perhatikan kertas yang dijatuhkan bersama-sama. Amatilah percobaan

  tersebut Kerjakan soal di bawah ini setelah melakukan percobaan!

  1. Manakah yang lebih dulu menyentuh lantai kertas yang diremas atau ? Jawab: ..................................................................

  2. Simpulkan apa yang kalian ketahui tentang percobaan tadi? Jawab: ..................................................................

  Kegiatan Belajar 3 Langkah-langkah kegiatan

  1. Kelereng diletakkan di atas meja atau lantai.Selanjutnya, kelereng tersebut disentil. Hal yang terjadi diamati.

  2. Kelereng diletakkan di tanah. Selanjutnya, kelereng tersebut disentil. Hal yang terjadi diamati.

  Kerjakan soal di bawah ini setelah melakukan percobaan!

  1. Bagaimana gerakan kelereng yang disentil di meja atau di lantai? Jawab: ..................................................................

  2. Bandingkan kelereng manakah yang lebih mudah menggelinding dilantai atau ditanah? Jawab: ..................................................................

  3. Sebutkan tiga faktor yang mempengaruhi gerak benda melalui percobaan ! Jawab: ..................................................................

  4. Simpulkan apa yang kalian ketahui tentang percobaan tadi? Jawab: ..................................................................

  Ringkasan materi Pertemuan 3 Faktor yang Mempengaruhi Gerak Benda

  a. Bentuk benda Benda di sekelilingmu memiliki bentuk yang berbeda-beda. Ada yang berbentuk bundar dan ada yang berbentuk kotak. Perbedaan bentuk benda tersebut mempengaruhi gerak benda. Benda yang berbentuk bundar akan mudah bergerak dibandingkan benda yang kotak. Mengapa? Karena permukaan bola yang tidak datar menyebabkannya sangat mudah untuk bergerak. Sedangkan benda yang berbentuk kotak memiliki permukaan datar yang menyebabkannya cenderung untuk diam.

  b. Ukuran benda Coba kamu lempar sebuah kerikil ke kolam, perhatikan jaraknya! Sekarang bandingkan dengan kamu melempar sebuah batu besar ke kolam tersebut!

  

Bagaimana jarak tempuhnya? Ketika kamu melempar kerikil jaraknya lebih jauh

dibandingkan kamu melempar batu besar. Benda yang berukuran kecil dan ringan akan mudah bergerak dan jarak tempuhnya jauh. Sedangkan benda yang berukuran besar dan berat agak sulit untuk bergerak dan jarak tempuhnya tidak jauh.

  c. Permukaan benda

Permukaan benda yang kasar akan membuat benda sulit bergerak.

  

Kekasaran permukaan benda akan memperbesar gaya gesek sehingga gerakanya

menjadi terhambat. Jika permukaan benda halus atau licin maka akan lebih mudah bergerak karena hambatannya kecil.

  Haryanto. 2007. SAINS untuk Sekolah Dasar kelas III. Jakarta. Erlangga Tim Bina IPA. 2010. Ilmu Pengetahuan Alam. Jakarta. Yudistira

  RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN 4 (RPP) Satuan Pendidikan : SD N Plaosan 1 Mata Pelajaran : IPA Kelas/semester : III (Tiga) / II (Dua) Hari/tanggal : Selasa , 09 April 2013 Alokasi Waktu : 2 JP I. Standar Kompetensi

  4. Memahami berbagai cara gerak benda, hubungannya dengan energi dan sumber energi

  II. Kompetensi Dasar

  4.1 Menyimpulkan hasil pengamatan bahwa gerak benda dipengaruhi oleh bentuk dan ukuran

  III. Indikator

  1. Membuat satu benda yang digerakkan oleh angin

  2. Memberikan dua contoh gerak benda yang digunakan sebagai sarana transportasi

  3. Memberikan dua contoh gerak benda yang digunakan sebagai sarana olahraga

  4. Memberikan dua contoh gerak benda yang menghasilkan energi listrik

  5. Menjelaskan gerak benda yang berguna bagi kehidupan sehari-hari

  IV. Tujuan Pembelajaran

  1. Siswa mampu membuat satu benda yang digerakkan oleh angin

  2. Siswa mampu memberikan dua contoh benda yang digerakkan sebagai sarana transportasi

  3. Siswa mampu memberikan dua contoh benda yang digerakkan sebagai sarana olahraga

  4. Siswa mampu memberikan dua contoh benda yang digerakkan menghasilkan energi listrik

  5. Siswa mampu menjelaskan gerak benda yang berguna bagi kehidupan sehari-hari

VI. Metode Pembelajaran

  Model pemebelajaran : Contextual Teaching and Learning Metode Pembelajaran : Tanya jawab, percobaan, diskusi dan demonstrasi

VII. Kegiatan Pembelajaran

  

No. Kegiatan Alokasi waktu

1. Kegiatan awal  Siswa dan guru melakukan salam, doa dan absensi.

   Siswa mendengarkan peraturan dikelas  Siswa mendengarkan tujuan pembelajaran tentang gerak 5 menit benda dan kegunaannya  Siswa dibagi kedalam kelompok, setiap kelompok terdiri dari 4- 5 siswa

  2. Kegiatan inti Eksplorasi

   Siswa dan guru tanya jawab pelajaran sebelumnya tentang faktor yang mempengaruhi gerak benda

  Elaborasi

   Siswa dan guru bersama-sama mebuat kincir angin (Pemodelan)

   Siswa dan guru tanya jawab tentang contoh gerak benda yang berguna bagi kehidupan sehari-hari (Bertanya)  Siswa memperhatikan media gambar yang ditunjukkan oleh

  35 Menit

  guru  Siswa memberikan contoh gerak benda yang berguna bagi kehidupan sehari-hari (Masyarakat Belajar)

  Konfirmasi

   Siswa dan guru tanya jawab tentang kegunaan gerak benda dan manfaatnya (Bertanya)  Siswa menyimpulkan mengenai gerak benda yang berguna bagi kehidupan sehari-hari dengan kalimat sendiri

  (Konstruktruktivisme)

  3. Kegiatan akhir

   Siswa merefleksikan kegiatan tentang kegunaan gerak benda dan manfaatnya (Refleksi)

  40 menit

   Siswa dan guru menyimpulkan materi yang dipelajari  Siswa mengerjakan soal evaluasi (Penilaian Nyata)  Guru memberikan motivasi siswa

VIII. Penilaian

  1. Prosedur : Post Test

  4. Pedoman scoring : Skor : Jawaban benar 19 x 100 Nilai max : 100

X. Sumber Belajar

  a. Media Gambar , kertas, gunting, lem, kawat

  b. Buku Sumber Haryanto. 2007. SAINS untuk Sekolah Dasar kelas III. Jakarta. Erlangga Tim Bina IPA. 2010. Ilmu Pengetahuan Alam. Jakarta. Yudistira LKS cemara Ilmu Pengetahuan Alam untuk kelas 3 semester 2

  c. Siswa

  LEMBAR KERJA SISWA

  (SIKLUS I PERTEMUAN 4) Nama anggota kelompok : 1. ........................................

  2. ........................................ 3. ........................................ 4. ........................................ 5. ........................................

  Lembar Kerja Siswa

  Satuan Pendidikan : SD N Plaosan 1 Mata Pelajaran : Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) Kelas/semester : III (Tiga) / II (Dua) Hari/tanggal : Selasa , 09 April 2013

  Tujuan Pembelajaran

  1. Siswa mampu membuat satu benda yang digerakkan oleh angin

  2. Siswa mampu memberikan dua contoh benda yang digerakkan sebagai sarana transportasi

  3. Siswa mampu memberikan dua contoh benda yang digerakkan sebagai sarana olahraga

  4. Siswa mampu memberikan dua contoh benda yang digerakkan menghasilkan energi listrik

  5. Siswa mampu menjelaskan gerak benda yang berguna bagi kehidupan sehari-hari

   Petunjuk :

   Tulislah nama anggota kelompokmu di pojok kanan atas!  Jika belum jelas silahkan bertanya kepada guru dengan mengangkat tangan !  Isilah setiap pertanyaan dengan tulisan yang rapi!  Kumpulkan LKS dalam keadaan bersih!

  Kegiatan Belajar 1 Langkah-langkah kegiatan 1.

  Gambarlah pada kertas karton dua garis menyilang dengan pensil. Pada bagian tengah dari pertemuan kedua garis silang, buatlah lubang kecil.

  

2. Potonglah kertas menurut garis bersilang yang telah kamu buat dengan

gunting. Potonglah hingga setengahnya atau mendekati sumbu poros.

  3. Tekuklah bagian yang telah digunting ke arah poros dan tusukkan paku payung di bagian porosnya.

  

4. Tusukkan paku payung pada sebatang kayu. Kemudian, tiuplah kincir itu

dari arah depan.

  Kerjakan soal di bawah ini setelah melakukan percobaan!

  1. Ke manakah arah putarnya? Jawab: ..................................................................

  2. Dari arah manakah kincir berputar? Jawab: ..................................................................

  3. Tiuplah kincir dari arah samping. Apakah kincir bergerak?

  Jawab: ..................................................................

  4. Tiuplah kincir dari arah belakang. Apakah kincir bergerak?

  Jawab: ..................................................................

  5. Bawalah kincir berlari. Apa yang terjadi? Jawab: ..................................................................

  Kegiatan Belajar 2

  Kelompokkan contoh gambar gerak benda berikut ini berdasarkan fungsinya 1. sebagai sarana transportasi 2. sebagai sarana olahraga 3. menghasilkan listrik

  Ringkasan materi Pertemuan 4 Manfaat gerak benda Sarana transportasi Roda bergerak berputar. Benda yang memiliki roda lebih mudah

menggelinding. Alat-alat transportasi memiliki roda. Misalnya, sepeda, motor,

mobil, bus, kereta api, bahkan pesawat. Agar lebih ringan dan tetap kuat, pada roda dipasang ruji-ruji. Air di sungai dan selokan juga mengalir. Daun yang jatuh ke sungai akan digerakkan air. Mainan kapal-kapalan bergerak lebih cepat jika diletakkan di air beraliran deras Sarana olahraga Roda bergerak berputar. Benda yang memiliki roda lebih

mudah menggelinding. Dengan sepatu roda kita dapat bergerak cepat. Namun,

butuh latihan untuk menggunakannya. Jika tidak terbiasa menggunakannya, kita dapat jatuh. Selain sepatu roda ada juga skate board (papan luncur beroda). Keduanya menyebabkan kita dapat berpindah lebih cepat. Olahraga ini menggunakan perahu karet. Perahu karet digunakan untuk mengangkut orang. Olahraga ini memanfaatkan arus air yang deras. Arus air akan menggerakkan perahu karet. Olahraga ini tidak boleh dilakukan anak-anak karena cukup berbahaya. Ada juga olahraga selancar. Olahraga selancar dilakukan di laut. Olahraga selancar memanfaatkan gelombang air yang besar Sebagai penghasil listrik Gerakan air juga dapat menghasilkan listrik. Gerakan air digunakan untuk Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). Aliran air digunakan untuk

menggerakkan kincir air. Kincir akan menghasilkan energi listrik. Kincir dapat

berputar karena ada udara yang bergerak. Gerak berputar kincir dimanfaatkan untuk membantu pekerjaan

manusia. Di Inggris dan Belanda, banyak dibangun kincir angin raksasa. Kincir

tradisional itu dimanfaatkan untuk menggiling gandum atau memompa air. Airnya digunakan untuk mengairi perkebunan dan ladang

  Haryanto. 2007.

  SAINS untuk Sekolah Dasar kelas III. Jakarta. Erlangga

  193

  194

  195

  196

  197

  198

  199

  200

  201

  202

  203

  204

  205

  206

  207

  208

  209

  210

  211

  212

  213 Lampiran 6

  214 Lampiran 6

  215 Lampiran 6

  216 Lampiran 6

  217 Lampiran 6

  218 Lampiran 6

  219 Lampiran 6

  220 Lampiran 6

  233 Lampiran 8

  Foto Kegiatan

  Siswa melakukan percobaan gerak mengalir Siswa melakukan percobaan gerak mengalir Siswa melakukan percobaan diluar kelas

  234 Lampiran 8

  Siswa melakukan percobaan gerak berputar Siswa melakukan percobaan gerak jatuh Siswa melakukan percobaan menggelinding Siswa melakukan percobaan gerak memantul Siswa berdiskusi kelompok Peneliti menemani siswa berdiskusi

  Guru mengontrol percobaan siswa dan berdiskusi Peneliti mengamati kegiatan siswa Siswa mempresentasikan hasil diskusi

  235 Lampiran 8

  Siswa mempresentasikan hasil diskusi Siswa mempresentasikan hasil diskusi Guru melakukan tanya jawab dan refleksi

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN PRESTASI BELAJAR IPA MELALUI METODE DISCOVERY PADA SISWA KELAS V SD NEGERI 1 KEBAGUSAN GEDONGTATAAN PESAWARAN
0
6
54
PENINGKATAN AKTIVITAS DAN PRESTASI BELAJAR IPA MENGGUNAKAN METODE INKUIRI SISWA KELAS IV SD NEGERI 2 SUKAMENANTI KEDATON BANDAR LAMPUNG
0
7
27
PENINGKATAN AKTIVITAS DAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA MELALUI PENDEKATAN KONTEKSTUAL PADA SISWA KELAS VI SD NEGERI 1 SUSUNAN BARU BANDARLAMPUNG
0
6
44
PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR BENTUK PERMUKAAN BUMI MELALUI PENDEKATAN KONTEKSTUAL PADA SISWA KELAS III SEKOLAH DASAR NEGERI PAKUJATI 01 PAGUYANGAN BREBES
0
8
160
PENGARUH PENDEKATAN KONTEKSTUAL DAN KEAKTIFAN SISWA TERHADAP PRESTASI BELAJAR AKUNTANSI PADA SISWA KELAS XII PENGARUH PENDEKATAN KONTEKSTUAL DAN KEAKTIFAN SISWA TERHADAP PRESTASI BELAJAR AKUNTANSI PADA SISWA KELAS XII AKUNTANSI SMK MUHAMMADIYAH DELANGGU
0
0
16
PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR BENTUK PERMUKAAN BUMI MELALUI PENDEKATAN KONTEKSTUAL PADA SISWA KELAS III SEKOLAH DASAR NEGERI PAKUJATI 01 PAGUYANGAN BREBES.
0
0
1
PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR IPA MELALUI PENERAPAN METODE EKSPERIMEN PADA SISWA KELAS III SD NEGERI NUSAWUNGU 05 CILACAP.
0
1
138
PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR PADA MATERI PELAJARAN MENGGAMBAR BUSANA DENGAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL SISWA KELAS X DI SMK NEGERI 3 KLATEN.
0
0
179
PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA MENGGUNAKAN PENDEKATAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL) PADA SISWA KELAS III SD NEGERI PURWODADI PURWOREJO.
0
0
268
PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR IPA MENGGUNAKAN PENDEKATAN LINGKUNGAN ALAM SEKITAR PADA SISWA TUNAGRAHITA RINGAN KELAS III SDLB DI SLB NEGERI 1 SLEMAN YOGYAKARTA.
0
0
185
PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR IPA SISWA KELAS IV DENGAN MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TEKNIK JIGSAW SKRIPSI
0
1
121
PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR IPA UNTUK MATERI DAUR HIDUP HEWAN MELALUI PENDEKATAN KONTEKSTUAL SISWA KELAS IV SD MUHAMMADIYAH DEMANGREJO, KULON PROGO TAHUN PELAJARAN 2011 2012 SKRIPSI
0
0
129
PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR IPS MENGGUNAKAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL PADA SISWA KELAS V SDN BANYAKAN MERTOYUDAN MAGELANG
0
0
86
PENINGKATAN KEAKTIFAN DAN PRESTASI BELAJAR BAHASA INDONESIA DENGAN MEDIA AUDIO VISUAL KELAS V SD NEGERI GUNUNGPRING 3 MUNTILAN SKRIPSI
0
2
93
PENINGKATAN KEAKTIFAN DAN PRESTASI BELAJAR IPA SISWA KELAS V SD NEGERI PLAOSAN 1 MELALUI METODE INKUIRI TERBIMBING SKRIPSI
0
0
185
Show more