Hubungan antara Self Regulated Learning dengan prestasi akademis mahasiswa - USD Repository

Gratis

0
0
120
3 months ago
Preview
Full text

  HUBUNGAN ANTARA SELF REGULATED LEARNING DENGAN PRESTASI AKADEMIS MAHASISWA

  SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

  Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi

  Oleh : Elisabeth Yuditha Putriansari

  049114015

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

  

HUBUNGAN ANTARA SELF REGULATED LEARNING

DENGAN PRESTASI AKADEMIS MAHASISWA

  SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

  Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi

  Oleh : Elisabeth Yuditha Putriansari

  049114015

  

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

  Karya ini aku persembahkan untuk :

   yang selalu membimbingku dan memberi jalan

  Tuhan Yesus dan Bunda Maria yang terbaik untukku

  

  yang selalu Bapak Ignatius Winardi & Ibu Theresia Muji Rahayu mendoakanku dan mendukung setiap langkahku

   Maria Mediatrik Indira Putria yang mejadi inspirasikuMy Love, Antonius Eko Widayantyo yang selalu memberi nasihat dan memberi semangat setiap saat.

   Sahabat-sahabatku yang selalu mendukungku dan memberikan masukan

  padaku

  

MOTTO

Bermimpilah tentang apa yang kamu impikan,

pergilah kemana kamu ingin pergi,

jadilah seperti yang kamu kehendaki,

karena kamu hanya memiliki satu kesempatan untuk melakukan

hal-hal yang ingin kamu lakukan

  

ABSTRAK

HUBUNGAN ANTARA SELF REGULATED LEARNING DENGAN

PRESTASI AKADEMIS MAHASISWA

Elisabeth Yuditha Putriansari

Universitas Sanata Dharma

  

Yogyakarta

2009

  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara self regulated

  

learning dengan prestasi akademis mahasiswa. Hipotesis yang diajukan dalam

  penelitian ini adalah ada hubungan positif antara self regulated learning dengan prestasi akademis mahasiswa. Subjek penelitian ini adalah 85 mahasiswa/mahasiswi Fakultas Psikologi, Universitas Sanata Dharma,

  Yogyakarta yang telah menempuh minimal 6 semester, sedang aktif berkuliah, dan tidak pernah cuti. Pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala self regulated learning dan metode dokumentasi yang berupa IPK. Reliabilitas skala self regulated learning diuji dengan menggunakan metode koefisien reliabilitas Alpha Cronbach dan diperoleh hasil sebesar 0,925 dari 83 aitem. Data dianalisis dengan menggunakan teknik korelasi Spearman. Hasil analisis data menunjukkan nilai koefisien korelasi (r) sebesar 0,725 dan taraf signifikansi sebesar 0,000 (p<0,01). Berdasarkan hasil tersebut, maka hipotesis yang menyatakan ada hubungan positif antara self regulated learning dengan prestasi akademis mahasiswa diterima.

  Kata kunci: self regulated learning, prestasi akademis mahasiswa

  

ABSTRACT

THE RELATION BETWEEN SELF REGULATED LEARNING AND

STUDENT’S ACADEMIC ACHIEVEMENT

Elisabeth Yuditha Putriansari

  

Sanata Dharma University

Yogyakarta

2009

  This study aimed to determine the relation between self-regulated learning and student’s academic achievement. The hypothesis proposed in this research was that there was a positive relation between self-regulated learning and student’s academic achievement. The subject of this research were 85 students of psychology faculty, Sanata Dharma university, Yogyakarta which have passed a minimum of 6 semesters, is on active lecture, and never leave before. Collection of data used in this research was self-regulated learning scales and documentation methods in IPK. Reliability of self-regulated learning scales tested using reliability coefficient alpha cronbach and obtained results for 0,925 of 83 items. The research data were analyzed using Spearman correlation techniques. The results showed the value of the correlation coefficient (r) of 0,725 and 0,000 level of significance (p <0,01). According to these results, the hypothesis that there was a positive relation between self-regulated learning and academic achievement of students is accepted.

  Key words: self-regulated learning, student’s academic achievement

KATA PENGANTAR

  Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yesus Kristus yang selalu membimbing penulis dalam menyelesaikan tulisan ini. Penulis juga menyadari bahwa dalam proses pengerjaan skripsi ini penulis didukung oleh berbagai pihak yang dengan tulus dan senang hati membantu penulis. Oleh karena itu, penulis dengan tulus ingin mengucapkan terima kasih kepada orang-orang yang sangat berperan dalam proses pengerjaan skripsi ini dan juga dalam kehidupan penulis :

  1. Tuhan Yesus dan Bunda Maria yang selalu memberi kesehatan, kekuatan, dan karunianya sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik.

  2. Bapak P. Eddy Suhartanto, S.Psi., M.Si. selaku Dekan Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma yang telah memberikan fasilitas-fasilitas dan berbagai kemudahan dalam menyelesaikan skripsi dan kegiatan akademik.

  3. Bapak Y. Titik Kristiyani., S.Psi., M.Psi selaku Dosen Pembimbing Skripsi yang dengan sabar memberikan arahan, masukan dan waktu untuk memperbaiki skripsi ini, serta dorongan untuk menyelesaikan skripsi ini.

  4. Ibu Lusia Pratidarmanastiti, M. Sc selaku Dosen Pembimbing Akademik yang selalu memberi arahan, semangat dan dukungan baik dalam kegiatan akademik maupun pada saat menyelesaikan skripsi.

  5. Semua Bapak / Ibu Dosen Fakultas Psikologi yang telah mengajari banyak hal tentang psikologi dan semua karyawan Fakultas Psikologi yang selalu membantu kelancaran kegiatan akademik.

  6. Ibu dan Bapak penulis yang telah memberikan cintanya, doa, semangat, perhatiannya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas akhir ini.

  7. Kakaku tercinta yang menjadi inspirasi untuk kemajuan studiku.

  8. Kekasihku tersayang terimakasih atas perhatian dan dukungan serta semangatnya.

  9. Sahabatku-sahabatku yang selalu mengingatkan, membantu dan memberi semangat untuk segera menyelesaikan skripsi, terima kasih buat semuanya.

  10. Teman-teman Psikologi 2005 & 2006 yang menjadi subjek dalam penelitian penulis, terima kasih atas kerjasama dan dukungannya.

  11. Segenap pihak yang selalu mendukung dan memberi semangat penulis yang tidak bisa penulis ungkap satu per satu, terima kasih semuanya.

  Dengan segala kerendahan hati penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna, mengingat terbatasnya pengetahuan dan pengalaman yang penulis miliki. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik, koreksi dan saran yang membangun dalam penyempurnaan skripsi ini.

  Akhirnya, penulis mengharapkan semoga skripsi ini berguna bagi semua pihak dan dapat dijadikan bahan kajian lebih lanjut.

  Yogyakarta, 3 Desember 2009 Penulis

  

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL...............................................................................................i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING..................................................ii

HALAMAN PENGESAHAN...............................................................................iii

HALAMAN PERSEMBAHAN...........................................................................iv

HALAMAN MOTTO............................................................................................v

HALAMAN KEASLIAN KARYA......................................................................vi

ABSTRAK............................................................................................................vii

ABSTRACT.........................................................................................................viii

PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI................................................ix

KATA PENGANTAR............................................................................................x

DAFTAR ISI.........................................................................................................xii

DAFTAR TABEL.................................................................................................xv

DAFTAR GAMBAR...........................................................................................xvi

DAFTAR LAMPIRAN......................................................................................xvii

  

BAB I. PENDAHULUAN......................................................................................1

A. Latar Belakang Masalah...............................................................................1 B. Rumusan Masalah........................................................................................7 C. Tujuan Penelitian.........................................................................................7 D. Manfaat Penelitian.......................................................................................7

BAB II. LANDASAN TEORI...............................................................................8

  1. Definisi Prestasi Akademis....................................................................8

  2. Faktor – faktor yang Mempengaruhi Prestasi Akademis.......................8

  3. Pengukuran dan Penilaian Prestasi Akademis.....................................15

  B. Self Regulated Learning.............................................................................17

  1. Definisi Self Regulated Learning.........................................................17

  2. Aspek Self Regulated Learning............................................................17

  3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Self Regulated Learning..............21

  4. Karakteristik Self Regulated Learning.................................................26

  5. Strategi dalam Self Regulated Learning...............................................28

  C. Hubungan Antara Self Regulated Learning Dengan Prestasi Akademis...29

  D. Hipotesis.....................................................................................................32

  

BAB III. METODE PENELITIAN....................................................................33

A. Jenis Penelitian...........................................................................................33 B. Identifikasi Variabel Penelitian..................................................................33 C. Definisi Operasional...................................................................................33 D. Subjek Penelitian........................................................................................35 E. Teknik Pengumpulan Data.........................................................................36 F. Uji Coba Alat Ukur....................................................................................41 G. Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur..........................................................42 H. Teknik Analisis Data..................................................................................46

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN...................................48

A. PelaksanaanPenelitian................................................................................48

  C. Deskripsi Data Penelitian...........................................................................50

  1. Data SRL Total dan Aspek SRL..........................................................50

  2. Data IPK...............................................................................................53

  D. Analisis Data Penelitian.............................................................................53

  1. Uji Asumsi...........................................................................................53

  a. Uji Normalitas................................................................................54

  b. Uji Linearitas..................................................................................54

  2. Uji Hipotesis.........................................................................................55

  E. Pembahasan................................................................................................58

  

BAB V. PENUTUP...............................................................................................64

A. Kesimpulan................................................................................................64 B. Saran...........................................................................................................65

DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................67

LAMPIRAN..........................................................................................................70

  

DAFTAR TABEL

  Tabel 1. Penilaian Hasil Belajar Mahasiswa..........................................................16 Tabel 2. Blue Print Skala Self Regulated Learning Sebelum Uji Coba.................39 Tabel 3. Skor Jawaban untuk Skala Self Regulated Learning...............................40 Tabel 4. Distribusi aitem sahih dan gugur Skala Self Regulated Learning............44

  

Tabel 5. Blue Print Skala Self Regulated Learning Setelah Uji Coba...............................45

  Tabel 6. Data Subjek Penelitian.............................................................................49 Tabel 7. Data Empirik dan Data Teoritik SRL Total dan Aspek SRL..................51 Tabel 8. Data IPK...................................................................................................53 Tabel 9. Hasil Uji Normalitas Sebaran..................................................................54 Tabel 10.Hasil Uji Linearitas Hubungan...............................................................54 Tabel 11. Hasil Uji Korelasi SRL dengan Prestasi Akademis...............................55 Tabel 12. Hasil Uji Korelasi Aspek SRL dengan Prestasi Akademis....................57

  

DAFTAR GAMBAR

  Gambar 1. A Triadic Analysis of Self Regulated Learning....................................24

  DAFTAR LAMPIRAN Lampiran A (Uji Coba)

  1. Skala SRL

  2. Uji Validitas dan Reliabilitas

  Lampiran B (Penelitian)

  1. Skala SRL

  2. Uji Validitas dan Reliabilitas

  3. Uji Asumsi Normalitas dan Linearitas

  4. Uji Korelasi SRL dengan Prestasi Akademis Mahasiswa

  5. Uji Korelasi Aspek SRL dengan Prestasi Akademis Mahasiswa

  6. Mean Empirik SRL Total dan Aspek SRL

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Mahasiswa adalah orang muda yang berumur 18-28 tahun yang sedang

  menempuh pendidikan di perguruan tinggi dimana dalam usia tersebut mahasiswa mengalami suatu peralihan dari tahap remaja ke tahap dewasa.

  Sosok mahasiswa kental dengan nuansa kedinamisan dan sikap keilmuwan yang dalam melihat sesuatu berdasarkan kenyataan objektif, sistematis dan rasional (Susantoro dalam Rahmawati, 2006). Dalam tugas perkembangannya, mahasiswa diharapkan dapat membangun pribadi yang mandiri, mampu mengarahkan diri sendiri, mau bertanggung jawab, dan mampu mengambil keputusan (Pannen, Paulina, & Ida dalam Supratiknya, 2006). Masa mahasiswa ini merupakan masa yang penuh tantangan, kesukaran, menuntut mahasiswa menentukan sikap dan pilihan, serta kemampuan untuk menyesuaikan diri di perguruan tinggi (Ajisuksmo, 1996). Menurut Supratiknya (2006) perguruan tinggi berbeda dengan SMU, terutama proses pembelajarannya yang menuntut keterlibatan mahasiswa untuk memahami isi dan proses belajar secara aktif dan mandiri. Dengan demikian, aneka bentuk pembelajaran yang dapat dilakukan, meliputi pembacaan, ceramah, diskusi, studi kasus, role playing (permainan peran), dan experiential learning (pengalaman terstruktur).

  Di perguruan tinggi mahasiswa diharapkan bukan saja mampu menerima materi kuliah melainkan mampu mengembangkan apa yang diterima secara kreatif. Mahasiswa juga diharapkan memiliki rasa optimis yang besar dan motif sukses yang tinggi sehingga diharapkan dapat sukses menjalani kehidupan di perguruan tinggi dan mempunyai prestasi belajar yang optimal (Suryabrata, 1983). Kenyataan yang dihadapi mahasiswa tidak seperti yang diharapkan. Hasil survei pada mahasiswa semester 6 dan 8 di Fakultas Psikologi sebuah perguruan tinggi di Yogyakarta, pada tanggal 16 Mei 2009, menunjukkan bahwa banyak masalah yang dihadapi mahasiswa diantaranya adalah mahasiswa yang mengalami kesulitan membagi waktu dalam mengerjakan tugas-tugas kuliah baik individu atau kelompok sebanyak 6 orang (30%), mahasiswa yang mengalami kesulitan berkonsentrasi dalam menyerap mata kuliah karena jumlah mahasiswa yang banyak untuk kelas tertentu sebanyak 4 orang (20%), dan mahasiswa yang mengalami kurangnya persiapan belajar untuk ujian karena harus mengerjakan tugas-tugas akhir sebanyak 10 orang (50%). Kondisi tersebut menyebabkan mahasiswa tertekan, kehilangan motivasi dan menunjukkan bahwa mahasiswa belum mampu mengelola belajarnya sehingga tidak dapat mencapai prestasi akademis yang diharapkan.

  Prestasi akademis yang dimaksudkan disini adalah ukuran yang dapat menilai seberapa baik seseorang dalam bidang yang ditekuninya. Di Indonesia, ukuran keberhasilan dalam pendidikan tinggi lebih ditekankan pada prestasi kumulatif (IPK). IPK juga digunakan sebagai dasar penentuan predikat kelulusan yang apabila mencapai angka 2,00 - 2,75 berarti memuaskan; 2,76 - 3,50 berarti sangat memuaskan; IPK 3,51 - 4,00 berarti dengan pujian. Predikat kelulusan dengan pujian ditentukan juga dengan memperhatikan masa studi maksimum yaitu n tahun (masa studi minimum) ditambah 1 tahun (Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 232/U/2000 tentang Pedoman Penyusunan Kurikulum Pendidikan Tinggi dan Penilaian Hasil Belajar Mahasiswa, 18 Mei 2009).

  Menurut Syah (2008) prestasi akademis dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu a) faktor internal siswa, yakni aspek fisiologis dan aspek psikologis yang meliputi inteligensi, bakat, minat, sikap, dan motivasi berprestasi; b) faktor eksternal siswa, yakni lingkungan sosial yang meliputi keluarga, sekolah, masyarakat dan lingkungan nonsosial, misalnya gedung sekolah, tempat tinggal siswa, dan waktu belajar; c) faktor pendekatan belajar, yakni pendekatan surface (permukaan), pendekatan deep (mendalam), dan pendekatan achieving (pencapaian prestasi tinggi). Faktor-faktor tersebut berpengaruh terhadap taraf keberhasilan proses pembelajaran siswa, seperti yang dikemukakan oleh Purwanto (2007) bahwa banyak anak-anak yang tidak dapat belajar dengan hasil yang baik dan tidak dapat mempertinggi belajarnya, akibat kurangnya waktu belajar yang disebabkan oleh sibuknya pekerjaan setiap hari.

  Salah satu faktor internal yang mempengaruhi prestasi akademis yaitu Rosidah, 2003) seseorang akan berusaha kuat apabila dia memiliki motivasi yang besar untuk mencapai tujuan belajar. Motif inilah yang mendorong seseorang untuk mencapai prestasi dengan suatu standar tertentu. Dengan adanya standar ini seseorang dapat diklasifikasikan sebagai orang yang memiliki prestasi akademis tinggi atau rendah. Ketika seorang mahasiswa mendapat penilaian terhadap hasil belajarnya, maka ia akan terdorong untuk selalu meningkatkannya.

  Biggs (1984) mengatakan bahwa individu yang memiliki dorongan, inisiatif, dan mengarahkan usahanya untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan adalah individu yang memiliki self regulated learning (SRL). Menurut Corno dan Mandinach (1983) SRL adalah usaha individu dalam melaksanakan kegiatan belajar dan melibatkan proses-proses metakognisi beserta afeksi yang dimilikinya. Ciri-ciri individu yang memiliki SRL yaitu berorientasi pada tujuan belajar, memiliki strategi dan tekun belajar, mampu mengatur waktu dan aktivitas belajar secara efisien sehingga aktivitas belajar yang mereka lakukan optimal, mampu memotivasi diri agar tetap terfokus pada tugas ketika menghadapi rintangan akademis, dan mampu melakukan pemonitoran serta pengevaluasian dalam proses belajarnya. Ini menjadikan mahasiswa lebih mandiri dan bertanggung jawab atas kegiatan belajarnya (Purdie, Hottie & Douglas, 1996).

  Upaya untuk menjadikan mahasiswa mandiri dan bertanggung jawab atas kegiatan belajarnya dapat dilakukan dengan menerapkan cara belajar yang akademik menjadi lebih baik. Cara belajar adalah kombinasi dari bagaimana individu menyerap, lalu mengatur dan mengelola informasi (Purwanto, 2007).

  Beberapa penelitian menunjukkan bahwa siswa yang aktif mengelola dirinya dalam belajar cenderung memiliki prestasi belajar di bidang akademik yang lebih baik dan cenderung meningkat (Ames, 1984; Borkowski & Kurtz, 1987; Corno, 1986,1989; Covington, 1986; Dweck, 1986; Paris & Oka, 1986; Wang & Peverly, 1986; Weiner, 1986; Zimmerman, 1989 dalam Ablard dan Lipschultz, 1998).

  Di dalam menghadapi tugas-tugas akademik, individu yang mengelola perilaku belajarnya (self regulated learner) memulai dengan menganalisis tugas yang diberikan dan menafsirkan persyaratan-persyaratan tugas sesuai dengan pengetahuan dan keyakinannya. Lalu ia menetapkan tujuan-tujuan yang spesifik dengan tugas yang akan digunakannya sebagai dasar untuk menyeleksi, mengadaptasi, atau bahkan menciptakan strategi-strategi yang tepat untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut. Setelah menerapkan strategi tersebut, ia memantau kemajuan yang telah dicapainya ke arah tujuan, sehingga menghasilkan umpan balik internal tentang keberhasilan usahanya, lalu menyesuaikan pendekatan belajarnya atas dasar persepsi terhadap kemajuan yang sedang berlangsung. Ia juga menggunakan motivasi dan strategi kontrol kemauan secara adaptif agar tetap fokus pada tugas manakala menghadapi suatu hambatan (Butler, 1998).

  Sejumlah penelitian telah mengeksplorasi SRL dengan berbagai variabel dilakukan oleh Zimmerman dan Martinez-Pons (1988) menemukan bahwa siswa-siswa yang memiliki pretasi belajar yang tinggi melaporkan penggunaan 13 dari 14 strategi SRL yang disusunnya. Dalam penelitian Ablard dan Lipschultz (1998), terdapat 222 siswa yang dijadikan subjek penelitian, 156 siswa yang memiliki prestasi tinggi dalam tes prestasi belajar menggunakan upaya SRL yang mencakup regulasi diri (personal), fungsi perilaku, dan lingkungan terdekat. Pada dasarnya penelitian ini mengacu pada penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Zimmerman dan Schunk (dalam Ablard dan Lipschultz, 1998) dari hasil penelitiannya ditemukan bahwa siswa yang melakukan SRL cenderung lebih baik perfomansi akademiknya, dibandingkan siswa yang tidak melakukannya. Penelitian tersebut dilakukan di negara Amerika dengan subjek penelitian dari pelajar beberapa sekolah menengah atas. Dalam penelitian tersebut disarankan untuk memperhatikan determinan- determinan situasional. Misalnya, dengan meneliti variabel karakteristik pembelajaran. Penelitian berikutnya dapat melakukan studi perbandingan.

  Misalnya, membandingkan perilaku SRL menurut jenis kelamin. Berdasarkan uraian di atas, penulis merasa tertarik untuk melakukan penelitian ulang tentang hubungan antara self regulated learning dengan prestasi akademis di Indonesia dengan subjek penelitian yang berbeda tingkatan pendidikannya yaitu mahasiswa.

  B. Rumusan Masalah

  Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan maka peneliti merumuskan sebuah masalah yaitu “apakah ada hubungan antara self

  regulated learning dengan prestasi akademis mahasiswa”.

  C. Tujuan Penelitian

  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui secara empirik hubungan antara self regulated learning dengan prestasi akademis mahasiswa.

  D. Manfaat Penelitian

  Manfaat yang dapat diperoleh dari penelitian ini adalah :

  1. Manfaat Teoritis Penelitian ini diharapkan akan menambah atau menguatkan hasil-hasil penelitian sebelumnya dan memberikan pengetahuan di bidang psikologi, khususnya psikologi pendidikan mengenai hubungan antara self regulated learning dengan prestasi akademis mahasiswa.

  2. Manfaat Praktis Pada penelitian ini apabila dapat dibuktikan adanya hubungan antara

  self regulated learning dengan prestasi akademis mahasiswa diharapkan

  dapat memberikan masukan bagi mahasiswa supaya melakukan self

  regulated learning dalam usaha meningkatkan dan mengoptimalkan prestasi akademis.

BAB II LANDASAN TEORI A. Prestasi Akademis

  1. Definisi Prestasi Akademis Prestasi akademis didefinisikan sebagai nilai yang diperoleh dari kegiatan persekolahan yang bersifat kognitif dan ditentukan melalui penilaian (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1991).

  Mengukur keberhasilan siswa yang berdimensi kognitif dapat dilakukan dengan cara tes tertulis maupun tes lisan dan perbuatan (Syah, 2008). Setelah didapatkan nilai dari evaluasi prestasi, seorang pengajar akan menetapkan batas minimum keberhasilan siswa. Mahmud (1990) menambahkan bahwa prestasi akademis biasanya diukur dari nilai-nilai sehari-hari hasil tes dan hasil belajar.

  Dari beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa prestasi akademis adalah nilai sehari-hari yang diukur dari hasil tes, hasil belajar, dan kegiatan persekolahan yang bersifat kognitif serta dilakukan dengan cara tes tertulis atau tes lisan, dan perbuatan.

  2. Faktor – faktor yang Mempengaruhi Prestasi Akademis Menurut Syah (2008) terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi prestasi akademis, yaitu: a. Faktor Internal Siswa Faktor internal (faktor dari dalam siswa), adalah keadaan/kondisi jasmani dan rohani siswa. Faktor yang berasal dari dalam siswa meliputi dua aspek, yaitu : 1) Aspek fisiologis

  Kondisi umum jasmani yang menandai organ-organ tubuh dan sendi-sendinya dapat mempengaruhi semangat dan intensitas siswa dalam mengikuti pelajaran. Kondisi tubuh yang lemah dapat menurunkan kualitas kognitif sehingga materi yang dipelajarinya kurang atau tidak berbekas. Kondisi organ indera juga sangat berpengaruh dalam proses timbal balik informasi, sehingga semakin baik kondisi jasmani seorang siswa maka semakin besar peluang siswa untuk mencapai prestasi akademis yang diharapkan.

  2) Aspek psikologis

  a) Inteligensi siswa Inteligensi dapat diartikan sebagai kemampuan psiko-fisik untuk mereaksi rangsangan atau menyesuaikan diri dengan lingkungan dengan cara yang tepat (Reber dalam Syah, 2008). Semakin tinggi kemampuan inteligensi seorang siswa maka semakin besar peluangnya untuk meraih sukses atau meraih prestasi akademis yang diharapkan. b) Bakat siswa Bakat adalah kemampuan potensial yang dimiliki seseorang untuk mencapai keberhasilan pada masa yang akan datang (Chaplin dalam Syah, 2008). Dengan demikian, sebetulnya setiap orang memiliki bakat untuk mencapai prestasi sampai tingkat tertentu sesuai dengan kapasitas masing-masing. Semakin siswa tersebut memiliki kemampuan potensial yang tinggi maka semakin besar peluangnya untuk mencapai prestasi sesuai dengan bakatnya.

  c) Minat siswa Minat berarti kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu (Reber dalam Syah, 2008). Minat dapat mempengaruhi kualitas pencapaian hasil belajar siswa dalam bidang-bidang studi tertentu. Semakin seorang siswa memusatkan perhatian yang intensif terhadap materi maka semakin besar kemungkinannya bagi siswa untuk belajar giat dan akhirnya mencapai prestasi yang diinginkan.

  d) Sikap siswa Sikap adalah gejala internal yang berdimensi afektif berupa kecenderungan untuk mereaksi atau merespon dengan cara yang relatif tetap terhadap objek orang, barang, secara positif maupun negatif. Sikap positif terhadap mata pelajaran dan belajar siswa tersebut sehingga prestasi siswa akan memuaskan. Sikap negatif siswa terhadap mata pelajaran dan pengajar dapat menimbulkan kesulitan belajar siswa tersebut sehingga prestasi yang dicapai siswa akan kurang memuaskan.

  e) Motivasi berprestasi Motivasi muncul ketika adanya kebutuhan yang ingin dipenuhi, demikian juga motivasi untuk berprestasi muncul karena ada suatu kebutuhan berprestasi yang ingin dipenuhi. Menurut Murray (dalam Hall & Lindzey, 1993) kebutuhan untuk berprestasi didefinisikan sebagai kebutuhan untuk menyelesaikan sesuatu yang sulit, menguasai, mengatur benda- benda fisik, manusia atau ide-ide, melakukan hal-hal tersebut diatas secepatnya dan semandiri mungkin, mengatasi rintangan-rintangan dan mencapai standar yang tinggi, mengunggulkan diri dan mengungguli orang lain, meningkatkan harga diri dengan menyalurkan bakat secara berhasil. Murray juga menambahkan bahwa keinginan ini diikuti oleh beberapa tindakan seperti menjadi bersemangat, memperpanjang usaha atau berusaha kembali untuk menyelesaikan sesuatu yang dirasa sulit, berjuang sendiri untuk mencapai tujuan atau cita-cita yang tinggi, tekad untuk menang, mencoba untuk melakukan segala sesuatunya dengan menjadi yang paling unggul dari yang lainnya, menikmati adanya kompetisi, menggunakan kemauan yang kuat untuk mengatasi rasa bosan dan kepenatan.

  b. Faktor Eksternal Siswa Faktor eksternal (faktor dari luar siswa), adalah kondisi lingkungan di sekitar siswa. Faktor eksternal siswa terdiri atas dua macam, yaitu :

  1) Lingkungan Sosial

  a) Keluarga Suasana, keadaan keluarga, sifat-sifat orang tua dan status sosio ekonomi orang tua semuanya dapat memberi dampak yang baik ataupun buruk terhadap kegiatan belajar dan hasil yang dicapai siswa. Contoh: Semakin tinggi status sosio ekonomi orang tua seorang siswa maka semakin tinggi kemungkinannya untuk mendapatkan fasilitas yang mendukung proses belajar sehingga siswa dapat mengoptimalkan prestasi akademisnya.

  b) Sekolah Lingkungan sosial sekolah seperti guru/dosen, para staf administrasi, dan teman-teman sekelas dapat mempengaruhi semangat belajar siswa. Para guru/dosen yang selalu memperlihatkan sikap dan perilaku simpatik serta menunjukkan teladan yang baik khususnya dalam hal belajar, misalnya rajin membaca dan berdiskusi dapat menjadi daya nantinya siswa juga terdorong untuk meningkatkan prestasi akademisnya.

  c) Masyarakat Lingkungan sosial masyarakat seperti tetangga dan teman- teman sepermainan di sekitar perkampungan siswa tersebut.

  Kondisi masyarakat di lingkungan kumuh dan banyak pengangguran memungkinkan siswa tersebut akan menemukan kesulitan ketika memerlukan teman belajar atau berdiskusi. Hal ini akan mempengaruhi aktivitas belajarnya sehingga prestasi yang dicapai siswa akan kurang optimal. 2) Lingkungan Nonsosial

  Faktor-faktor yang termasuk lingkungan nonsosial ialah gedung sekolah dan letaknya, tempat tinggal siswa dan letaknya, alat-alat belajar, keadaan cuaca dan waktu belajar yang digunakan siswa. Faktor-faktor ini dipandang turut menentukan tingkat keberhasilan belajar siswa. Contoh: sekolah yang cukup memiliki alat-alat dan perlengkapan yang diperlukan untuk belajar seperti fasilitas laboratorium dan perpustakaan, semua itu akan mempermudah dan mempercepat belajar siswa sehingga siswa dapat mengoptimalkan prestasi akademisnya.

  c. Faktor Pendekatan Belajar Faktor pendekatan belajar adalah jenis upaya belajar siswa yang efektivitas dan efisiensi proses pembelajaran materi tertentu (Lawson dalam Syah, 2008). Menurut Biggs (dalam Syah, 2008) pendekatan belajar siswa dapat dikelompokkan menjadi tiga bentuk dasar, yaitu : 1) Pendekatan surface (permukaan/bersifat lahiriah)

  Siswa yang menggunakan pendekatan surface misalnya, mau belajar karena dorongan dari luar, gaya belajarnya santai, asal hafal, dan tidak mementingkan pemahaman yang mendalam. Dalam pendekatan ini siswa berpeluang kecil untuk mencapai prestasi yang diharapkan.

  2) Pendekatan deep (mendalam) Siswa yang menggunakan pendekatan deep biasanya mempelajari materi karena memang dia tertarik dan merasa membutuhkannya.

  Gaya belajarnya serius dan berusaha memahami materi secara mendalam serta memikirkan cara mengaplikasikannya. Melalui pendekatan ini, siswa dimungkinkan untuk mencapai prestasi yang memuaskan.

  3) Pendekatan achieving (pencapaian prestasi tinggi) Siswa yang menggunakan pendekatan achieving pada umumnya dilandasi oleh ambisi pribadi yang besar dalam meningkatkan prestasi keakuan dirinya dengan cara meraih indeks prestasi setinggi-tingginya. Gaya belajar siswa ini lebih serius daripada siswa-siswa yang memakai pendekatan-pendekatan lainnya

  Dari beberapa faktor yang mempengaruhi prestasi akademis, faktor motivasi berprestasi seorang siswa untuk mencapai prestasi akademis yang diharapkan, juga merupakan salah satu aspek yang terdapat dalam SRL dan terdapat dalam karakteristik orang yang memiliki SRL.

  3. Pengukuran dan Penilaian Prestasi Akademis Pengukuran prestasi akademis yakni suatu deskripsi kuantitatif tentang keadaan suatu hal sebagaimana adanya, atau tentang perilaku yang nampak pada seseorang, atau tentang prestasi yang diberikan oleh seorang siswa (Winkel, 2004). Derajat prestasi kuantitatif seorang siswa dapat diukur dengan mengambil ukuran berupa skor. Namun hasil pengukuran itu masih perlu ditafsirkan atau ditentukan dengan penilaian.

  Penilaian sendiri memiliki arti yaitu penetuan taraf mutu prestasi siswa berdasarkan norma, patokan atau kriterium tertentu (Winkel, 2004).

  Penilaian hasil belajar mahasiswa dilakukan melalui ujian-ujian dan tugas- tugas yang relevan. Jenis ujian dibedakan menjadi dua, yaitu ujian matakuliah dan ujian skripsi, ujian matakuliah dibedakan atas ujian sisipan dan ujian akhir semester. Bentuk ujian dapat tertulis, lisan, dan praktikum.

  Menurut Suryabrata (2006), penilaian dinyatakan dalam suatu pendapat yang perumusannya bermacam-macam. Ada yang menggolong- golongkan dengan menggunakan lambang A, B, C, D, E, F, dan ada yang yang mempergunakan skala sampai 11 tingkat yaitu mulai dari 0 sampai 10, dan ada yang memakai penilaian dari 0 sampai 100. Selanjutnya pada semester), pihak universitas mengeluarkan

  IPK yang merupakan perumusan terakhir yang diberikan oleh dosen mengenai hasil belajar mahasiswa selama masa tertentu.

  Nilai keberhasilan belajar mahasiswa dinyatakan dalam bentuk huruf seperti ditunjukkan dalam Tabel 1.

  Tabel 1 Penilaian Hasil Belajar Mahasiswa

  Huruf Arti Nilai Mutu

  A Amat baik

  4 B Baik

  3 C Cukup

  2 D Kurang

  1 E Jelek F Kosong -

  Indeks prestasi kumulatif (IPK) adalah jumlah total dari hasil perkalian nilai dengan jumlah kredit tiap mata kuliah yang telah ditempuh, hasil perkalian tersebut kemudian dibagi dengan total kredit yang telah ditempuh, tingkat keberhasilan mahasiswa yang dinyatakan dalam bilangan dan dihitung dengan rumus :

  Keterangan : K = besar kredit N = nilai

  IPK= ( ΣKN) / (ΣK)

B. Self Regulated Learning

  1. Definisi Self Regulated Learning Zimmerman (dalam Howard-Rose dan Winne, 1993) menyatakan bahwa dalam SRL siswa dituntut untuk aktif berpartisipasi dalam aktivitas belajarnya, memiliki tujuan belajar serta upaya yang terstruktur didasarkan tujuan yang dimilikinya. Zimmerman dan Schunk (dalam Ablard dan Lipschultz, 1998), menegaskan bahwa SRL adalah upaya mengatur diri dalam belajar, dengan mengikutsertakan kemampuan metakognisi, motivasi dan perilaku aktif dalam belajar. Zimmerman dan Schunk juga menambahkan bahwa SRL bukan merupakan kemampuan mental seperti inteligensi atau keterampilan akademik misalnya keterampilan membaca, melainkan merupakan proses pengarahan atau penginstruksian diri dimana individu mengubah kemampuan mental yang dimilikinya menjadi keterampilan dalam belajar.

  Berdasarkan beberapa definisi SRL yang dikemukakan di atas, dapat disimpulkan bahwa SRL adalah upaya aktif individu untuk meraih tujuan dan mengatur diri dalam aktivitas belajar dengan menggunakan strategi yang melibatkan kemampuan metakognisi, motivasi dan perilaku aktif.

  2. Aspek Self Regulated Learning Zimmerman (1989) menyatakan bahwa SRL mencakup tiga aspek yaitu metakognisi, motivasi, dan perilaku. Indikator dari masing-masing aspek diambil dari skala yang disusun oleh Wolters, Pintrich, dan a. Metakognisi Metakognisi adalah kemampuan individu dalam merencanakan, mengorganisasi atau mengatur, menginstruksikan diri, memonitor dan melakukan evaluasi dalam aktivitas belajar. Indikator metakognisi, yaitu : 1) Rehearsal strategies adalah strategi untuk menghafal materi kuliah agar lebih mudah dipahami.

  2) Elaboration strategies adalah strategi untuk merinci kembali materi kuliah agar lebih mudah dipahami.

  3) Organization strategies adalah strategi untuk mengorganisasi kembali materi kuliah agar lebih mudah dipahami.

  4) Metacognitive self-regulation adalah pengaturan kognisi seperti pemeriksaan, perencanaan, pemantauan, revisi, dan evaluasi.

  b. Motivasi Motivasi dalam SRL ini merupakan pendorong yang ada pada diri individu yang mencakup persepsi terhadap efikasi diri, kompetensi dan otonomi yang dimiliki dalam aktivitas belajar. Indikator motivasi, yaitu : 1) Mastery self-talk adalah mengatakan pada diri sendiri suatu kata- kata motivasi guna meningkatkan perfomansi belajar.

  2) Relevance enhancement adalah usaha yang dilakukan untuk menghubungkan materi kuliah dengan segala sesuatu yang berkaitan dengan dirinya. 3) Situational interest enhancement adalah usaha yang dilakukan untuk membuat situasi belajar menjadi suatu hal yang menarik.

  4) Perfomance/relative ability self-talk adalah mengatakan pada diri sendiri suatu kata-kata untuk meningkatkan perfomansi belajar dengan cara membandingkan apa yang sudah dilakukan diri sendiri dengan apa yang sudah dilakukan mahasiswa lain.

  5) Perfomance/extrinsic self-talk adalah mengatakan pada diri sendiri suatu kata-kata supaya mendapatkan umpan balik yang positif guna meningkatkan perfomansi belajar. 6) Self-consequating adalah memikirkan imbalan-imbalan atau hukuman-hukuman bagi kesuksesan atau kegagalan yang dicapai.

  7) Enviromental structuring adalah memilih atau mengatur lingkungan fisik agar lebih mudah untuk belajar.

  c. Perilaku Perilaku merupakan kegiatan individu untuk mengatur diri, menyeleksi dan memanfaatkan lingkungan maupun menciptakan lingkungan yang mendukung aktivitas belajarnya. Indikator perilaku, yaitu : 1) Effort regulation adalah usaha untuk mempertahankan semangat

  2) Regulating time and study environment adalah pengaturan waktu dan lingkungan belajar.

  3) General intention to seek needed help adalah keinginan untuk mencari bantuan sendiri.

  4) General intention to avoid needed help adalah keinginan berusaha keras terlebih dahulu dibandingkan mencari bantuan.

  5) Perceived costs of help-seeking (threat) adalah mempersepsi bahwa mendapat bantuan sebagai sebuah ancaman.

  6) Perceived benefits of help-seeking adalah mempersepsi bahwa mendapat bantuan sebagai sebuah keuntungan.

  7) Instrumental (autonomous) help-seeking goal adalah meminta bantuan sebagai sarana untuk memahami materi kuliah dan mengerjakan tugas kuliah dengan bekerja sendiri. 8) Expedient (executive) help-seeking goal adalah meminta bantuan sebagai sarana untuk memahami materi kuliah dan mengerjakan tugas kuliah tanpa bekerja sendiri. 9) Seeking help from formal sourced (teachers) adalah mencari bantuan dari sumber resmi (dosen).

  10) Seeking help from informal source (other student) adalah mencari bantuan dari sumber tidak resmi (mahasiswa lain).

  Kemampuan adaptasi SRL yang mencakup metakognisi, motivasi, dan perilaku diperlukan hingga tercapainya hasil belajar optimal. Adaptasi secara kognitif dalam merencanakan, memprogram dan mengatur kegiatan belajar beserta strategi yang akan dilakukannya, dan memanajemen motivasi dan perilaku yang diperlukannya untuk melakukan kegiatan belajar yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi pada saat aktivitas belajar berlangsung.

  3. Faktor – faktor yang Mempengaruhi Self Regulated Learning Menurut teori sosial-kognitif dari Zimmerman (1989) ada tiga hal yang mempengaruhi SRL yaitu : a. Individu (diri)

  Faktor individu ini meliputi : 1) Pengetahuan yang dimiliki individu. Semakin banyak dan beragam pengetahuan yang dimiliki individu akan semakin membantu individu dalam melakukan SRL. 2) Tingkat kemampuan metakognisi yang dimiliki. Semakin tinggi tingkat metakognisi (kemampuan individu dalam merencanakan, mengorganisasikan, menginstruksikan diri, memantau, dan mengevaluasi dalam kegiatan belajar) yang dimiliki individu akan membantu pelaksanaan SRL dalam diri individu. 3) Tujuan yang ingin dicapai. Semakin banyak dan kompleks tujuan yang ingin diraih dalam aktivitas belajar, semakin besar kemungkinan individu melakukan SRL. b. Perilaku Perilaku disini mengacu kepada kegiatan individu menggunakan kemampuan yang dimiliki. Semakin besar dan optimal upaya yang dikerahkan individu dalam mengatur dan mengorganisasi proses belajar akan meningkatkan SRL pada individu. Bandura (dalam Zimmerman, 1989) menyatakan dalam perilaku ini, ada tiga tahap yang berkaitan dengan SRL yaitu : 1) Self observation

  Self observation merupakan tahap dimana individu melihat ke

  dalam dirinya dan perilaku yang terkait dengan kemajuan yang telah dicapai ke arah belajar.

  2) Self judgement

  Self judgement merupakan tahap dimana individu

  memperbandingkan perfomansi belajar yang telah dilakukannya dengan standar atau tujuan yang sudah dibuat dan ditetapkan individu. Melalui upaya memperbandingkan perfomansi belajarnya dengan standar atau tujuan yang telah dibuat atau ditetapkan, individu dapat melakukan evaluasi atas perfomansi belajar yang telah dilakukannya dan mengetahui letak kelemahan perfomansi belajarnya. 3) Self reaction

  Self reaction merupakan tahap yang mencakup proses individu mencapai tujuan atau standar yang telah dibuat dan ditetapkan. Self

  reaction ini, dikaitkan dengan SRL dapat dibedakan menjadi tiga

  yaitu: 1) Behavioral self-reactions, dimana siswa berusaha mengoptimalkan usahanya dalam belajar, 2) Personal self-

  reactions , yaitu siswa berusaha untuk peningkatan proses yang ada

  dalam dirinya pada saat belajar seoptimal mungkin, 3)

  Enviromental self-reactions , yaitu siswa berupaya mengubah dan

  menyesuaikan lingkungan tempat ia belajar sesuai dengan kebutuhannya.

  c. Lingkungan Menurut Bandura (dalam Zimmerman,1989) lingkungan memiliki peran terhadap pengelolaan diri dalam belajar, yaitu sebagai tempat individu melakukan aktivitas belajar dan memberikan fasilitas kepada aktivitas belajar yang dilakukan, apakah fasilitas tersebut cenderung mendukung atau menghambat aktivitas belajar khususnya SRL. Contoh lingkungan yang mendukung antara lain kemudahan mencari bahan referensi, mempunyai tempat bertanya terhadap masalah yang dihadapi dalam belajar, dan tempat belajar yang nyaman. Sedangkan contoh yang bisa diambil untuk lingkungan yang kurang mendukung adalah suasana atau tempat belajar yang ramai dan bising sehingga mengganggu konsentrasi, sulitnya mencari acuan baik pustaka maupun narasumber dalam memperoleh informasi ataupun pengetahuan

  Bandura menjelaskan mengenai hubungan ketiga hal yang mempengaruhi SRL seperti ditunjukkan dalam Gambar 1:

  Gambar 1. A Triadic Analysis of Self Regulated Learning

  Dari Zimmerman, B.J. (1989). A social cognitive view of self regulated academic learning . Journal of Educational Psychology, 3, h.330.

  Proses regulasi diri, sebagaimana tampak dalam Gambar 1, merupakan proses internal yang tidak tampak (covert) yang terjadi dalam diri (person atau self). Hasil dari proses regulasi diri selanjutnya diwujudkan dalam bentuk strategi untuk mengarahkan perilaku (behavioral self-regulation).

  

Behavioral self-regulation merupakan proses dimana siswa proaktif

  menggunakan strategi mengevaluasi diri sehingga siswa akan memperoleh info tentang keberhasilan kegiatan yang dilakukan. Selanjutnya, perilaku dimunculkan dalam setting lingkungan yang paling memungkinkan

  (enviromental self-regulation). Enviromental self-regulation sendiri adalah proses dimana siswa proaktif menggunakan strategi memanipulasi lingkungan. Misalnya seperti mengatur supaya lingkungan nyaman sebagai tempat belajar. Sedangkan, covert self-regulation merupakan keadaan dimana proses yang ada di dalam diri siswa saling mempengaruhi satu sama lain. Disamping mengembangkan strategi, individu juga menerima balikan (feedback) baik dari perilaku yang dimunculkan maupun dari lingkungan tempat perilaku itu diwujudkan.

  Siswa melakukan strategi belajar selain mendasarkan pada pengetahuan yang telah mereka miliki, juga mendasarkan pada kemampuan metakognisi yang dimilikinya. Perencanaan strategi tersebut akan membimbing usaha siswa untuk mengontrol belajarnya, dan pelaksanaan strategi ini akan dipengaruhi secara timbal balik oleh enactive feedback (balikan berupa aksi) melalui hasil kegiatan belajar tersebut.

  Menurut teori sosial kognitif, self regulated learning tidak hanya ditentukan oleh individual tetapi juga dipengaruhi oleh lingkungan dan perilaku. Ketiganya berinteraksi secara timbal balik. SRL terjadi dimana siswa dapat menggunakan dirinya untuk mengatur perilaku dan lingkungan belajar sekitar.

  Thoresen dan Mahoney (dalam Zimmerman, 1989) menyatakan SRL bukanlah merupakan suatu fungsi keadaan yang tetap, melainkan memiliki variasi tingkatan yang tergantung pada konteks lingkungan sosial dan individu menggunakan strategi yang menggabungkan pengaruh ketiga komponen (triadic), dalam mencapai tujuan akademik. Siswa dikatakan sebagai individu yang melakukan regulasi diri, apabila ia dapat menggunakan kontrol strategi terhadap ketiga komponen pengaruh tersebut.

  4. Karakteristik Self Regulated Learners Siswa yang melakukan SRL disebut sebagai self regulated learners.

  Menurut Purdie, Hottie dan Douglas (1996) karakteristik self regulated

  learners , yakni :

  a. Berorientasi pada tujuan belajar

  b. Memiliki strategi dan tekun belajar

  c. Mampu mengatur waktu dan aktivitas belajar secara efisien sehingga aktivitas belajar yang mereka lakukan optimal d. Mampu memotivasi diri agar tetap terfokus pada tugas ketika menghadapi rintangan akademis e. Mampu melakukan pemonitoran serta pengevaluasian dalam proses belajarnya.

  Schunk dan Zimmerman (dalam Wolters, 1998) menambahkan bahwa karakteristik self regulated learners yaitu : a. Memiliki kemandirian dalam melaksanakan tugas yang diberikan kepada mereka dan membuat perencanaan untuk mengatur penggunaan waktu serta sumber-sumber yang dimiliki baik sumber di dalam b. Memiliki need for challenge (kebutuhan akan tantangan). Karakteristik yang dimaksudkan disini siswa memiliki kecenderungan untuk menyesuaikan kesulitan yang dihadapinya pada saat mengerjakan tugas dan mengubahnya menjadi sebuah tantangan dan suatu hasil yang menyenangkan atau menarik.

  c. Mengetahui bagaimana cara menggunakan sumber-sumber yang ada, baik sumber dari dalam dirinya maupun dari luar serta melakukan pengontrolan terhadap proses belajarnya. Disamping itu, mereka juga melakukan pengevaluasian terhadap perfomansinya dalam belajar.

  d. Memiliki kegigihan dalam bekerja dan mempunyai strategi tertentu yang membantunya dalam belajar.

  e. Siswa yang melakukan SRL pada saat melakukan aktivitas membaca, menulis maupun berdiskusi dengan orang lain, mempunyai kecenderungan untuk membuat suatu pengertian atau makna dari apa yang dibaca, ditulis maupun didiskusikannya.

  f. Menyadari bahwa kemampuan yang mereka miliki bukan satu-satunya karakter yang mendukung kesuksesan dalam meraih prestasi dalam belajar melainkan juga dibutuhkan strategi dan upaya yang gigih dalam belajar.

  Dari beberapa pendapat di atas, karakteristik self regulated learners dapat digabung menjadi sebagai berikut : a. Berorientasi pada tujuan belajar

  b. Memiliki kemandirian dalam membuat perencanaan untuk mengatur dirinya c. Memiliki need for challange (kebutuhan akan tantangan)

  d. Memiliki strategi dan tekun belajar

  e. Melakukan pengontrolan dan evaluasi belajar

  5. Strategi dalam Self Regulated Learning Strategi dalam self regulated learning menurut Zimmerman &

  Martinez-Ponz (dalam Chang, 2004) mencakup kemampuan-kemampuan siswa untuk : a. Self-evaluation, yaitu inisiatif siswa untuk mengevaluasi mutu atau kemajuan tentang apa yang dikerjakan mereka.

  b. Organizing and transforming , yaitu inisiatif siswa untuk mengorganisasi kembali materi pelajaran agar lebih mudah dan jelas memahaminya untuk meningkatkan belajar mereka.

  c. Goal-setting and planning, yaitu siswa telah menentukan sasaran, perencanaan yang bertahap, pemilihan waktu, menyusun semua kegiatan yang berhubungan dengan sasaran pendidikan mereka.

  d. Seeking information, yaitu usaha awal siswa untuk berusaha sungguh- sungguh mendapatkan semua informasi yang berkaitan dengan tugas e. Keeping records and monitoring, yaitu usaha awal siswa untuk mengingat beberapa peristiwa atau hasil dari pekerjaan mereka.

  f. Environmental structuring , yaitu usaha awal siswa untuk memilih atau menyusun tempat yang membuat belajar lebih mudah.

  g. Self-consequences, yaitu memikirkan imbalan-imbalan atau hukuman- hukuman bagi kesuksesan atau kegagalan yang dicapai.

  h. Rehearsing and memorizing, yaitu inisiatif siswa untuk menghafal materi pelajaran melalui praktek secara jelas. i-j. Seeking social assistance, yaitu usaha awal siswa untuk meminta bantuan kepada (i) teman-teman, (j) para guru, dan (k) orang yang lebih tua. l-n. Reviewing records, yaitu usaha awal siswa untuk membaca kembali soal, (l) soal ujian, (m) catatan, atau (n) buku teks dalam menghadapi ulangan atau ujian kenaikan kelas. o. Perilaku belajar atas inisiatif orang lain seperti guru atau orang tua, dan semua respon-respon verbal yang tidak jelas.

C. Hubungan antara Self Regulated Learning dengan Prestasi Akademis

  SRL yang dilakukan mahasiswa akan melibatkan proses dalam diri mahasiswa untuk pengaktifan proses metakognisi, secara konsisten menjaga kestabilan motivasinya dalam belajar, dan mengoptimalkan perilaku dalam belajar sehingga nantinya membuat perfomansi akademis yaitu prestasi Groot (1990) yang menyatakan bahwa ada perbedaan yang mencolok antara siswa yang berprestasi dan tidak berprestasi dalam hal pengelolaan diri dalam belajar. Perbedaanya yaitu pada siswa yang sukses dalam belajarnya mempunyai konsep dan kesadaran mengenai belajar dan menunjukkan pemahaman bagaimana menggunakan strategi dan ketrampilan metakognisi. Penggunaan strategi metakognisi dapat dilakukan dengan membuat ringkasan yang berisi pikiran pokok dan konsep-konsep dari mata kuliah tersebut. Selain itu, mahasiswa dapat membuat pertanyaan-pertanyaan yang dapat membantu fokus pada materi kuliah. Strategi metakognisi tersebut akan membantu mahasiswa dalam merencanakan, mengorganisasi, memonitor dan melakuan evaluasi dalam aktivitas belajar. Apabila mahasiswa mampu menerapkan strategi dan ketrampilan metakognisi dari setiap mata kuliah tentu saja ini akan membantu proses belajar mahasiswa sehingga nantinya mahasiswa dapat mengoptimalkan prestasi akademisnya.

  Hal lain yang berperan membangun SRL adalah motivasi. Motivasi dalam SRL ini merupakan pendorong yang ada pada diri mahasiswa yang mencakup persepsi terhadap efikasi diri, kompetensi dan otonomi yang dimiliki dalam aktivitas belajar. Cara memotivasi diri yang dapat dilakukan, yaitu mahasiswa meyakinkan dirinya untuk berusaha memikirkan bagaimana cara mendapat nilai bagus. Cara lainnya dengan memberikan hadiah pada diri sendiri apabila targetnya dipenuhi. Motivasi tersebut akan membuat mahasiswa merasa optimis dan mempersepsi terhadap kemampuan, potensi dan kecenderungan yang tinggi akan melihat permasalahan sebagai sesuatu yang harus dihadapinya, termasuk dalam hal belajar untuk meraih prestasi akademis yang memuaskan. Sebaliknya, motivasi belajar yang rendah akan menurunkan semangat mahasiswa untuk belajar dan tidak sungguh-sungguh mengikuti perkuliahan. Hal ini tentunya juga akan menurunkan prestasi belajarnya.

  Kedua komponen tersebut, yaitu metakognisi dan motivasi juga didukung oleh perilaku aktif mahasiswa dalam aktivitas belajar. Perilaku aktif ini dapat diwujudkan dengan tetap bekerja keras melakukan yang terbaik dalam mata kuliah meskipun tidak menyukainya. Selain itu, mahasiswa dapat memanfaatkan waktu belajarnya dengan baik dan dapat mencari tempat dimana mahasiswa dapat berkonsentrasi. Dalam hal ini mahasiswa juga memiliki inisiatif dan mengarahkan usahanya pada guru, orang tua atau pihak lain. Mereka tetap berinteraksi dengan pihak lain untuk meminta bantuan, tetapi tidak sepenuhnya tergantung dan mereka tetap memiliki inisiatif serta kehendak untuk mengambil suatu keputusan. Semua kegiatan tersebut bertujuan agar mahasiswa dapat mengatur diri sendiri, meyeleksi, dan memanfaatkan lingkungan yang mendukung aktivitas belajarnya. Diharapkan dengan kegiatan tersebut dapat membantu dan mempermudah mahasiswa dalam memahami materi kuliah sehingga nantinya dapat meningkatkan prestasi akademisnya.

D. Hipotesis

  Sesuai dengan paparan teoritik dan hasil penelitian terdahulu, ditarik hipotesis yang akan diuji dalam penelitian ini. Hipotesis tersebut adalah ada hubungan positif antara self regulated learning (SRL) dengan prestasi akademis mahasiswa. Semakin tinggi kecenderungan subjek untuk melakukan SRL semakin tinggi pula prestasi akademis yang dicapai oleh mahasiswa. Sebaliknya semakin rendah kecenderungan subjek untuk melakukan SRL semakin rendah pula prestasi akademis yang dicapai oleh mahasiswa.

BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Penelitian ini termasuk penelitian korelasional. Jenis penelitian

  korelasional merupakan jenis penelitian yang berbentuk hubungan antara dua variabel. Penelitian korelasional bertujuan untuk menyelidiki variasi pada suatu variabel lain, berdasarkan koefisien korelasi (Azwar, 2009). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dua variabel yaitu hubungan antara self regulated learning dengan prestasi akademis mahasiswa.

  B. Identifikasi Variabel Penelitian

  Variabel menurut Azwar (2009) adalah simbol yang nilainya dapat bervariasi, yaitu angkanya dapat berbeda-beda dari satu subjek ke subjek yang lain atau dari objek ke objek yang lainnya. Variasi angka termasuk tidak hanya dalam arti variasi kuantitatif akan tetapi juga dapat mengandung arti variasi kualitatif. Variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah :

  1. Variabel Bebas : Self regulated learning

  2. Variabel Tergantung : Prestasi akademis

  C. Definisi Operasional

  Variabel-variabel dalam penelitian perlu dirumuskan ke dalam suatu operasional ialah suatu definisi mengenai variabel yang dirumuskan sesuai karakteristik variabel yang diamati (Azwar, 2009).

  1. Self regulated learning (SRL) adalah perilaku individu untuk meraih tujuan dan mengatur diri dalam aktivitas belajar dengan menggunakan strategi yang melibatkan kemampuan sebagai berikut :

  a. Metakognisi yaitu kemampuan individu dalam melakukan perencanaan, pengorganisasian, menginstruksikan dirinya, memonitor dan melakukan evaluasi dalam aktivitas belajar.

  b. Motivasi yaitu sebagai kemampuan mendorong pada diri individu yang mencakup persepsi terhadap efikasi diri, kompetensi dan otonomi dalam aktivitas belajar.

  c. Perilaku aktif yaitu upaya individu untuk mengatur diri, menyeleksi dan memanfaatkan lingkungan maupun menciptakan lingkungan yang mendukung aktivitas belajar. SRL ini akan diukur dengan menggunakan skala self regulated

  learning (SRL). Semakin tinggi skor yang didapat dalam skala ini,

  semakin besar pula tendensi subjek melakukan SRL. Begitu pula sebaliknya.

  2. Prestasi akademis adalah nilai sehari-hari yang diukur dari hasil tes, hasil belajar, dan kegiatan persekolahan yang bersifat kognitif serta dilakukan dengan cara tes tertulis atau tes lisan, dan perbuatan. Pada umumnya, prestasi akademis mahasiswa dinyatakan dalam bentuk Indeks Prestasi menguasai, memahami sebuah pelajaran yang telah diajarkan di perguruan tinggi. IPK adalah jumlah total dari hasil perkalian nilai dengan jumlah kredit tiap mata kuliah yang telah ditempuh, hasil perkalian tersebut kemudian dibagi dengan total kredit yang telah ditempuh. Dalam penelitian ini, prestasi akademis akan diketahui dengan menggunakan metode dokumentasi untuk memperoleh data IPK mahasiswa.

D. Subjek Penelitian

  Subjek penelitian ini adalah :

  1. Mahasiswa yang sekurang-kurangnya telah menempuh perkuliahan 6 semester. Pemilihan subjek mahasiswa dengan kriteria telah menjalani perkuliahan minimal 6 semester dengan pertimbangan bahwa pola belajar mahasiswa sudah menetap dan IPK yang diperoleh sudah cukup untuk menggambarkan baik tidaknya prestasi akademis mahasiswa tersebut.

  2. Sedang aktif berkuliah dan tidak pernah cuti. Pemilihan subjek mahasiswa dengan kriteria sedang aktif berkuliah dengan pertimbangan bahwa peneliti ingin mengukur mahasiswa yang sedang melakukan kegiatan pembelajaran dan kriteria tidak pernah cuti dengan pertimbangan bahwa

  IPK yang dibutuhkan hanyalah mahasiswa yang sekurang-kurangnya telah menempuh perkuliahan 6 semester.

E. Teknik Pengumpulan Data

  Pengumpulan data penelitian ini menggunakan dua metode, yaitu metode skala dan metode dokumentasi. Skala yang digunakan adalah skala SRL, sedangkan metode dokumentasi digunakan untuk memperoleh data IPK mahasiswa.

  Data yang diperoleh setiap aitem pada skala SRL akan diukur dengan skala yang menggunakan metode rating yang dijumlahkan (method of

  summated ratings) dimana tiap respon dari subjek akan diberi skor sesuai

  dengan nilai jawaban setiap aitem tersebut kemudian akan dijumlahkan sehingga merupakan skor subjek pada skala tersebut (Azwar, 2003).

  1. Self regulated learning Skala mempunyai karakteristik sebagai alat ukur psikologi yaitu stimulusnya berupa pertanyaan atau pernyataan yang menggungkap indikator perilaku dari atribut yang akan diukur, skala selalu berisikan banyak aitem dan semua jawaban dalam skala dapat diterima sejauh diberikan secara jujur dan bersungguh-sungguh (Azwar, 2003). Alasan pemilihan skala dalam penelitian ini adalah karena metode skala sangat populer dalam penelitian, praktis dan jika dirancang dengan baik, umumnya memiliki reliabilitas yang memuaskan. Penelitian ini menggunakan satu skala, yaitu skala SRL. Skala ini disusun oleh Wolters, Pintrich, dan Karabenick (2003). Dalam penelitian ini, peneliti menerjemahkan dan mengurangi sesuai dangan karakteristik subjek a. Metakognisi Dengan indikator : 1) Rehearsal strategies 2) Elaboration strategies 3) Organization strategies 4) Metacognitive self-regulation

  b. Motivasi Dengan indikator : 1) Mastery self-talk 2) Relevance enhancement 3) Situational interest enhancement 4) Perfomance/relative ability self-talk 5) Perfomance/extrinsic self-talk 6) Self-consequating 7) Enviromental structuring

  c. Perilaku Dengan indikator : 1) Effort regulation 2) Regulating time and study environment 3) General intention to seek needed help 4) General intention to avoid needed help 5) Perceived costs of help-seeking

  7) Instrumental help-seeking goal 8) Expedient help-seeking goal 9) Seeking help from formal source 10) Seeking help from informal source

  Tabel 2 Blue Print Skala Self Regulated Learning Sebelum Uji Coba

e. Perfomance/extrinsic self-talk 46,67,72,77,88

  3

  b. Regulating time and study environment

   47,53,63,68,82 1, 73,75

  8

  c. General intention to seek needed help

  

52,76,78

  3

  d. General intention to avoid needed help

  

13,59,65

  3

  e. Perceived benefits of help- seeking

  

64,66,84

  f. Perceived costs of help-seeking6,10,74,81

  a. Effort regulation 71,79 50,85

  4

  g. Instrumental help-seeking goal

  

17,44,69

  3

  h. Expedient help-seeking goal

2,37,86

3 i. Seeking help from formal source

  89

  1 j. Seeking help from informal source

  

  9

  1 Total

  95

  4

  5

  Aitem Aspek No Aitem

  2. Motivasi

  Favorable No Aitem

  Unfavorable Total

  1. Metakognisi

  a. Rehearsal strategies 5,11,25,80

  4

  b. Elaboration strategies 7,51,56,83,91,95

  6

  c. Organization strategies 30,36,45,92

  4

  d. Metacognitive self- regulation 4,16,20,23,42,48,54,

61,87,94

29,32

  12

  a. Mastery self-talk 3,12,15,27,34,41

  g. Enviromental structuring 8,18,43,60,70

  6

  b. Relevance enhancement 14,22,28,35,38,39

  6

  c. Situational interest enhancement

   26,31,33,40,57

  5

  d. Perfomance/relative ability self-talk

   21,62,90,93

  4

  5

  f. Self-consequating 19,24,49,55,58

  5

3. Perilaku

  Setiap pernyataan dalam skala diberikan 6 kategori jawaban, yaitu sangat tidak sesuai (STS), tidak sesuai (TS), agak tidak sesuai (ATS) artinya jawaban cenderung pada tidak sesuai, agak sesuai (AS) artinya jawaban cenderung pada sesuai, sesuai (S), dan sangat sesuai (SS).

  Pembobotan skala dilakukan dengan melihat sifat aitem. Butir aitem dalam skala SRL bersifat favorabel dan unfavorabel. Rentang skor setiap butir aitem berkisar dari 0 sampai dengan 5 seperti ditunjukkan dalam Tabel 3.

  Tabel 3 Skor Jawaban untuk Skala Self Regulated Learning

  Pernyataan Jawaban Favorabel Unfavorabel Sangat tidak sesuai (STS)

  5 Agak tidak sesuai (ATS)

  1

  4 Tidak sesuai (TS)

  2

  3 Agak sesuai (AS)

  3

  2 Sesuai (S)

  4

  1 Sangat sesuai (SS)

  5 Pada skala SRL ini dikatakan bahwa semakin tinggi skor yang

  diperoleh subjek berarti semakin tinggi kecenderungan subjek melakukan SRL dan sebaliknya semakin rendah skor yang diperoleh subjek berarti semakin rendah kecenderungan subjek melakukan SRL.

  2. Prestasi Akademis Dalam metode dokumentasi data-data yang didapat merupakan kumpulan data yang berbentuk catatan, transkip dan keterangan secara tertulis yang pernah dilakukan pihak Fakultas Psikologi di waktu yang lalu. Dokumentasi Fakultas Psikologi yang digunakan berupa IPK jumlah kredit tiap mata kuliah yang telah ditempuh, hasil perkalian tersebut kemudian dibagi dengan total kredit yang telah ditempuh. Alasan penggunaan IPK adalah karena IPK menjadi ukuran pencapaian prestasi akedemis mahasiswa.

F. Uji Coba Alat Ukur

  Peneliti melakukan pengambilan data dalam rangka uji coba skala yang sudah disusun pada sampel mahasiswa/mahasiswi yang terkait. Tujuan dari uji coba adalah untuk melihat melihat kualitas aitem-aitem dalam skala yang akan digunakan dalam penelitian. Uji coba alat penelitian dilakukan pada tanggal

  14 Mei 2009 di Fakultas Psikologi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Alat ukur ini diujicobakan pada kelompok subjek yang memiliki karakteristik sama dengan kelompok subjek penelitian yang sesungguhnya. Subjek dalam uji coba alat ukur ini sebanyak 50 orang dari mahasiswa yang telah menempuh minimal 6 semester dan tidak pernah cuti.

  Uji coba dilakukan pada subjek di dalam kelas. Adapun prosedurnya, peneliti membagikan skala kepada para subjek dan selanjutnya meminta mereka untuk membaca petunjuk pengisian skala yang tertera dan menulis identitas mereka. Subjek lalu diminta untuk mengisi skala tersebut dengan sejujurnya sesuai dengan petunjuk pengisian. Tidak ada batasan waktu dalam pengisian skala. Peneliti menyebar 50 eksemplar pada uji coba ini, 50 eksemplar kembali dan semua memenuhi syarat untuk dianalisis.

G. Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur

  1. Validitas Validitas adalah tingkat ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya. Alat ukur dikatakan valid jika dapat memberikan hasil ukur yang sesuai dengan maksud dilakukan pengukuran (Azwar, 2000). Validitas dalam penelitian ini dilakukan melalui dua cara yaitu : a. Validitas Isi

  Validitas isi dilakukan melalui pengujian terhadap isi alat ukur dengan analisis rasional yaitu dengan menganalisis sejauh mana alat ukur merefleksikan keseluruhan isi kawasan ukur dengan ciri atribut yang hendak diukur (Azwar, 2000). Validitas isi dari skala ini diselidiki melalui analisis rasional terhadap isi tes atau melalui

  professional judgement (dosen pembimbing), yaitu dengan cara

  melihat apakah aitem-aitem yang telah disusun menurut batasan domain ukur yang telah ditetapkan semula (blue print), dan memeriksa apakah masing-masing aitem telah sesuai dengan indikator perilaku yang hendak diungkapkan.

  b. Validitas Tampang Validitas tampang adalah validitas yang didasarkan pada penilaian terhadap format penampilan (Azwar, 2000). Validitas tampang diselidiki dengan teknik professional judgement, yaitu dengan cara menyimpulkan apakah tes tersebut memberi kesan mengukur sifat yang akan diukur.

  2. Seleksi Aitem Seleksi aitem yaitu sejauh mana aitem mampu membedakan kelompok yang tidak dan yang memiliki atribut yang diukur. Kriteria aitem terpilih dilakukan dengan cara membuang aitem dengan alpha yang lebih besar daripada alpha aitem total sehingga diperoleh korelasi aitem total tertinggi.

  Bila korelasi aitem total yang diperoleh tinggi maka dapat dikatakan bahwa aitem tersebut memiliki indeks daya beda aitem yang dianggap memuaskan (Azwar, 2003).

  Peneliti melakukan analisis aitem terhadap skala-skala yang akan dianalisis tersebut berdasarkan koefisien alpha yang digunakan untuk menetapkan konsistensi internal skala secara keseluruhan. Prosesnya dengan melakukan analisis reliabilitas dengan program SPSS versi 12 for

  windows. Aitem-aitem dipilih dengan melihat kolom output ”alpha if item deleted ”, jika koefisien aitem pada kolom ini lebih besar daripada

  koefisien alpha secara keseluruhan, maka aitem tersebut harus dibuang. Proses ini dilakukan berkali-kali sehingga taraf koefisien alpha yang maksimal, artinya koefisien dalam kolom ”alpha if item deleted” tidak ada yang lebih besar daripada koefisien alpha skala secara keseluruhan. Berdasarkan analisis aitem pada skala SRL didapat 83 aitem yang sahih dengan koefisien konsistensi internal alpha = 0,931. Distribusi aitem-

1. Metakognisi

  6

  42

  5 b.Relevance enhancement - 14,22,28,35,38,39

  41 1 3,12,15,27,34

  a. Mastery self-talk

  9

  3 4,16,20,23,48,54,61, 87,94

  d. Metacognitive self- regulation

  29,32,

  c. Situational interest enhancement

  4

  4 b.Elaboration strategies - 7,51,56,83,91,95 6 c.Organization strategies - 30,36,45,92

  a. Rehearsal strategies - 5,11,25,80

  Nomer Aitem Nomer Aitem Aspek Gugur Jumlah Sahih Jumlah

  Tabel 4 Distribusi Aitem Sahih dan Gugur Skala Self Regulated Learning

2. Motivasi

  • 26,31,33,40,57
  • 21,62,90,93

  5 d.Perfomance/relative ability self-talk

  • 46,67,72,77,88
  • 52,76,78

  3

  83

  12

  1 TOTAL

  1 j. Seeking help from informal source

  2 i. Seeking help from formal source

  86 1 2,37

  3 h.Expedient help-seeking goal

  2 g.Instrumental help-seeking goal

  10,74 2 6,81

  f. Perceived costs of help- seeking

  2 e.Perceived benefits of help- seeking

  4

  13 1 59,65

  3 d.General intention to avoid needed help

  6 c.General intention to seek needed help

  1, 73 2 47,53,63,68,75,82

  3 b.Regulating time and study environment

  3. Perilaku a.Effort regulation 85 1 50,71,79

  4

  5 g.Enviromental structuring 18 1 8,43,60,70

  5

  e. Perfomance/extrinsic self-talk

  f. Self-consequating - 19,24,49,55,58

  • 64,66,84
  • 17,44,69
  • 89
  • 9

  Tabel 5 Blue Print Skala Self Regulated Learning Setelah Uji Coba

  2 g.Instrumental help-seeking goal

  3 d.General intention to avoid needed help

  59(51),65(57)

  2 e.Perceived benefits of help- seeking

  

64(56),66(58),84(74)

  3 f.Perceived costs of help- seeking

  6(5),81(71)

  

17(14),44(36),69(61)

  6 c.General intention to seek needed help

  3 h.Expedient help-seeking goal 2(1),37(31) 2 i. Seeking help from formal source

  89(77)

  1 j. Seeking help from informal source

  9(8)

  1 Total

  83 Catatan. Nomer aitem yang tidak di dalam kurung ( ) adalah nomer aitem sebelum uji coba

  dan

  

52(44),76(66),78(68)

  

47(39),53(45),63(55),

68(60),82(72) 75(65)

  Aitem Aspek No Aitem

  2. Motivasi a.Mastery self-talk 3(2),12(10),15(12),27(23), 34(28)

  Favorable No Aitem

  Unfavorable Total

  1. Metakognisi a.Rehearsal strategies 5(4),11(9),25(21),80(70) 4 b.Elaboration strategies 7(6),51(43),56(48),83(73),

  91(79), 95(83)

  6 c.Organization strategies 30(25),36(30),45(37), 92(80) 4 d.Metacognitive self- regulation 4(3),16(13),20(16),23(19),48(

  

40),54(46),61(53),87

(75),94(82)

  9

  5 b.Relevance enhancement 14(11),22(18),28(24), 35(29), 38(32),39(33)

  3. Perilaku a.Effort regulation 71(63),79(69) 50(42) 3 b.Regulating time and study environment

  6 c.Situational interest enhancement

  

26(22),31(26),33(27),

40(34),57(49) 5 d.Perfomance/relative ability self-talk

  21(17),62(54),90(78), 93(81)

  4 e.Perfomance/extrinsic self-talk 46(38),67(59),72(64), 77(67),88(76)

  5

  f. Self-consequating 19(15),24(20),49(41), 55(47),58(50) 5 g.Enviromental structuring 8(7),43(35),60(52),70(62)

  4

  nomer aitem yang ada di dalam kurung ( ) adalah nomer aitem setelah uji coba

  3. Reliabilitas Reliabilitas adalah sejauh mana hasil suatu pengukuran dapat dipercaya. Tinggi rendahnya reliabilitas secara empiris ditunjukan oleh koefisien reliabilitas. Penghitungan koefisien reliabilitas dilakukan dengan menggunakan teknik Alpha Cronbach. Estimasi reliabilitas diperoleh melalui pendekatan konsistensi internal yaitu dengan melihat konsistensi antar aitem dalam tes itu sendiri. Dalam pendekatan ini, subjek hanya dikenai satu kali pengukuran (single trial administration) kepada sekelompok individu sebagai subjek penelitian (Azwar, 2000).

  Estimasi reliabilitas skala SRL menggunakan teknik Alpha Cronbach dengan menggunakan program SPSS 12 for Windows, diperoleh koefisien reliabilitas sebesar 0,925 dari 83 aitem, yang berarti skala ini reliabel.

H. Teknik Analisis Data

  1. Uji Asumsi Data Penelitian

  a. Uji Normalitas Uji normalitas data digunakan untuk mengetahui apakah data yang akan dianalisis dalam penelitian ini berdistribusi normal atau tidak

  (Sugiyono, 2008). Uji normalitas dengan metode Kolmogorov-Smirnov dalam program SPSS versi 12.00 for windows dapat dilakukan dengan melihat sig. Apabila nilai sig > 0,05 maka distribusinya adalah normal (Trihendradi, 2005). b. Uji Linearitas Uji linearitas dilakukan untuk mengetahui apakah hubungan antara variabel bebas dengan variabel tergantung membentuk garis lurus atau tidak (Sugiyono, 2008). Pengujian ini dilakukan dengan menggunakan

  test for linearity dalam program SPSS versi 12.00 for windows Kriteria .

  pengujiannya nilai p untuk test for linearity < 0,05 maka terdapat hubungan linear antara variabel bebas dengan variabel tergantung (Trihendradi, 2005).

  2. Uji Hipotesis Penelitian Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini diuji dengan menggunakan teknik korelasi product moment dari Pearson dengan menggunakan program SPSS versi 12.00 for windows. Alasan penggunaan teknik analisis statistik ini adalah karena penelitian ini mencoba menguji hubungan antara variabel bebas dengan variabel tergantung tanpa variabel sertaan lain. Teknik korelasi product moment dapat dilakukan bila hubungan antara variabel bebas dan variabel tergantung adalah linear dan data dari variabel bebas dan variabel tergantung mempunyai distribusi normal (Hadi, 1996).

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Pelaksanaan Penelitian Penelitian ini dilakukan pada tanggal 22 Mei 2009, dilanjutkan tanggal 26-

  29 Mei 2009 dengan menyebar skala pada subjek penelitian secara langsung dan mengambil hasilnya pada saat itu juga. Dalam penelitian ini, peneliti memakai subjek dari kalangan mahasiswa/mahasiswi Fakultas Psikologi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta yang telah menempuh minimal 6 semester, sedang aktif berkuliah, dan tidak pernah cuti.

  Prosedur pengumpulan data ini juga tidak berbeda dengan proses pengumpulan data pada tahap uji coba. Peneliti memohon kesediaan subjek untuk berpartisipasi dalam penelitian ini. Kemudian, peneliti membagikan skala pada subjek. Peneliti meminta subjek terlebih dulu untuk membaca petunjuk pengisian dan mengisi identitasnya pada bagian yang tersedia. Setelah itu, subjek dapat langsung mengisi skala tersebut secara jujur dan tidak dibatasi oleh waktu. Subjek diminta mengembalikan skala kepada peneliti segera setelah skala selesai diisi. Peneliti tak lupa menghaturkan terima kasih kepada subjek atas partisipasinya. Agar tidak menggangu proses ujian, pengumpulan data dilakukan di luar kelas setelah subjek selesai ujian. Jumlah skala yang disebarkan berjumlah 90 eksemplar. Dari jumlah tersebut, setelah melalui verifikasi terpilih 85 skala untuk dianalisis. Sisanya

B. Deskripsi Subjek Penelitian

  Subjek penelitian ini adalah mahasiswa/mahasiswi Fakultas Psikologi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta yang telah menempuh minimal 6 semester, sedang aktif berkuliah, dan tidak pernah cuti. Berdasarkan hasil penyebaran skala didapatkan data-data mengenai identitas subjek penelitian sebagai berikut:

  Tabel 6 Data Subjek Penelitian

  Jenis Kelamin Tempat Tinggal Jumlah

  Pria Wanita Rumah

  8

  18

  26 Asrama

  3

  3 Kos

  23

  33

  56 Jumlah

  31

  54

  85 Pada tabel 6 dapat diketahui bahwa subjek penelitian berjumlah 85 mahasiswa, dengan pembagian mahasiswa yang bertempat tinggal di rumah dan berjenis kelamin pria sebanyak 8 orang, sedangkan yang berjenis kelamin wanita sebanyak 18 orang. Selanjutnya, mahasiswa yang tinggal di asrama dan berjenis kelamin pria berjumlah 0 (tidak ada), sedangkan yang berjenis kelamin wanita berjumlah 3 orang. Mahasiswa yang tinggal di kos dan berjenis kelamin pria sebanyak 23 orang, sedangkan yang berjenis kelamin wanita sebanyak 33 orang, sehingga dapat disimpulkan bahwa mahasiswa yang bertempat tinggal di kos paling banyak dibanding yang lain.

C. Deskripsi Data Penelitian

  Deskripsi data digunakan untuk mengetahui informasi yang berkaitan dengan data penelitian. Deskripsi data yang disajikan adalah pengambilan data penelitian, perbandingan antara mean empirik dan mean teoritik SRL total dan perbandingan mean aspek SRL. Mean teoritik adalah rata-rata skor alat penelitian dan diperoleh dari angka yang menjadi titik tengah alat ukur. Sedangkan mean empirik adalah rata-rata skor data penelitian yang hasilnya diperoleh dari angka yang merupakan rata-rata hasil penelitian. Berikut akan dijabarkan beberapa deskripsi data penelitian :

1. Data SRL Total dan Aspek SRL

  Penghitungan mean teoritik untuk SRL total, yakni jumlah aitem skala SRL adalah 83 aitem dengan skor bergerak dari 0 sampai 5. Jarak sebaran adalah 0 (83x0) sampai dengan 415 (83x5), sehingga luar jarak sebarannya adalah 415-0 = 415. Mean teoritik sebesar 207,5 (M=0+415/2).

  Penghitungan mean teoritik untuk masing-masing aspek SRL akan dijabarkan sebagai berikut: a. Metakognisi

  Jumlah aitem aspek metakognisi adalah 23 aitem dengan skor bergerak dari 0 sampai 5. Jarak sebaran adalah 0 (23x0) sampai dengan 115 (23x5), sehingga luar jarak sebarannya adalah 115-0 = 115. Mean teoritik sebesar 57,5 (M=0+115/2). b. Motivasi Jumlah aitem aspek motivasi adalah 34 aitem dengan skor bergerak dari 0 sampai 5. Jarak sebaran adalah 0 (34x0) sampai dengan 175

  (34x5), sehingga luar jarak sebarannya adalah 175-0 = 175. Mean teoritik sebesar 87,5 (M=0+175/2).

  c. Perilaku Jumlah aitem aspek perilaku adalah 26 aitem dengan skor bergerak dari 0 sampai 5. Jarak sebaran adalah 0 (26x0) sampai dengan 130

  (26x5), sehingga luar jarak sebarannya adalah 130-0 = 130. Mean teoritik sebesar 65 (M=0+130/2).

  Berdasarkan penjelasan tersebut dan setelah melalui proses penghitungan maka didapatkan deskripsi statistik data penelitian seperti yang digambarkan pada tabel 7 di bawah ini:

  Tabel 7 Data Empirik dan Data Teoritik SRL Total dan Aspek SRL

  Teoritik Empirik Skor

  Min Skor Max

  Mean Skor

  Min Skor Max

  Mean SRL Total 415 207,5 200 349 299,75 Metakognisi 115 57,5

  53 98 84,07 Motivasi 175 87,5 76 153 129,12 Perilaku 130

  65

  68 99 87,48 Data pada tabel 7 menunjukkan bahwa jumlah mean keseluruhan dari

  SRL total sebesar 299,75. Nilai tertinggi yang diperoleh pada SRL total sebesar 349 sedangkan untuk nilai terendah didapat sebesar 200. Apabila melihat perbandingan antara mean teoritik dengan mean empirik terlihat bahwa mean empirik lebih besar dari mean teoritik (299,75>207,5), sehingga terdapat perbedaan yang signifikan dengan jarak perbedaan mean sebesar 92,25. Maka dari data di atas dapat disimpulkan bahwa rata-rata SRL pada subjek penelitian relatif tinggi.

  Tabel tersebut juga menunjukkan bahwa nilai tertinggi dari aspek metakognisi adalah 98 dan nilai terendahnya adalah 53, sedangkan mean empiriknya sebesar 84,07. Selanjutnya, aspek motivasi memiliki nilai tertinggi sebesar 153, nilai terendah sebesar 76 dan mean empirik sebesar 129,12. Aspek terakhir yakni perilaku yang memiliki mean empirik sebesar 87,48 dan nilai tertinggi sebesar 99 sedangkan nilai terendah sebesar 68.

  Berdasarkan data pada tabel 7, peneliti merasa perlu melakukan penghitungan persamaan untuk tiap aspek SRL guna membandingkan mean masing-masing aspek karena jumlah aitem tiap aspek berbeda. Rumus untuk menghitung persamaan adalah mean aspek = (jumlah aitem/jumlah aitem SRL total) x mean empirik, sehingga akan diperoleh hasil sebagai berikut:

  Metakognisi = 23/83 x 84,07 = 23,54 Motivasi =34/83 x 129,12 = 52,94 Perilaku = 26/83 x 87,48 = 27,12 Setelah dilakukan persamaan dari setiap aspek terlihat bahwa aspek metakognisi memiliki mean sebesar 23,54, selanjutnya aspek motivasi dengan mean sebesar 27,12. Maka dapat disimpulkan bahwa aspek motivasi memiliki mean tertinggi apabila dibandingkan dengan aspek perilaku dan aspek metakognisi.

  2. Data IPK Tabel 8 Data IPK

  Rentang IPK Jumlah Subjek Persentase 2,00 - 2,75 25 29,41% 2,76 - 3,50 55 64,71% 3,51 - 4,00 5 5,88%

  TOTAL 85 100% Pada tabel 8 dapat diketahui bahwa subjek penelitian berjumlah 85 mahasiswa, dengan pembagian rentang IPK 2,00 - 2,75 sebanyak 25 mahasiswa (29,41%); 2,76 - 3,50 sebanyak 55 mahasiswa (64,71%); dan 3,51 - 4,00 sebanyak 5 mahasiswa (5,88%) sehingga persentase terbesar pada rentang IPK 2,76 - 3,50.

D. Analisis Data Penelitian

1. Uji Asumsi

  Sebelum melakukan uji hipotesis, terlebih dahulu dilakukan uji asumsi untuk melihat apakah data yang diperoleh memenuhi syarat untuk dianalisis. Uji asumsi meliputi : a. Uji Normalitas Uji normalitas ini dilakukan dengan menggunakan teknik

  Kolmogorov-Smirnov Test dalam program SPSS for Windows versi 12,

  hasilnya dapat dilihat dalam tabel 9 berikut :

  Tabel 9 Hasil Uji Normalitas Sebaran

  Prestasi akademis Uji Normalitas Skor SRL

  (IPK) Kolmogorov-Smirnov Z 1,390 0,719

  Asymp.Significant 0,042 0,679 Berdasarkan hasil uji normalitas, didapatkan bahwa distribusi sebaran variabel self regulated learning (SRL) bersifat tidak normal karena signifikansi variabel SRL lebih kecil daripada 0,05 (p<0,05). Sedangkan variabel prestasi akademis bersifat normal karena signifikansi variabel prestasi akademis lebih besar daripada 0,05 (p>0,05).

  b. Uji Linearitas Pengujian ini dilakukan dengan menggunakan test for linearity dari program SPSS for Windows versi 12, hasilnya dapat dilihat pada tabel

  10 berikut ini :

  Tabel 10 Hasil Uji Linearitas Hubungan

  Uji Linearitas F Sig Skor SRL * (combined) 1,708 0,050 Berdasarkan hasil uji linearitas, didapatkan bahwa taraf signifikansi untuk linearitas lebih kecil dari pada 0,05 (p<0,05), dengan kata lain hubungan antara skor variabel SRL dan variabel prestasi akademis mengikuti fungsi linear.

2. Uji Hipotesis

  Penggunaan statistik parametris bekerja dengan asumsi bahwa data setiap variabel penelitian membentuk distribusi normal. Bila tidak normal, maka teknik statistik parametris tidak dapat digunakan untuk alat analisis. Sebagai gantinya digunakan analisis statistik lain yang tidak harus berasumsi bahwa data berdistribusi normal. Teknik statistik itu adalah statistik nonparametris (Sugiyono, 2008). Hasil uji normalitas menunjukkan bahwa variabel SRL tidak berdistribusi normal, maka digunakan teknik korelasi tata jenjang dari Charles Spearman dalam program SPSS for Windows versi 12. Teknik ini mendasarkan pada urutan rangking dan tidak memerlukan prasyarat data terdistribusi normal (Hadi, 1996). Hasilnya dapat dilihat pada tabel 11 berikut ini :

  Tabel 11 Hasil Uji Korelasi SRL dengan Prestasi Akademis

  Korelasi

  IPK SRL Correlation Coefficient 1,000 ,725(**)

  IPK Sig. (1-tailed) . ,000 Spearman's N

  85

  85 rho Correlation Coefficient ,725(**) 1,000 SRL Sig. (1-tailed) ,000 .

  N

  85

  85 Hasil analisis menunjukkan koefisien korelasi untuk variabel SRL dan variabel prestasi akademis adalah 0,725 dengan taraf signifikansi 0,00 (p<0,01). Analisis data ini membuktikan bahwa ada hubungan signifikan dan positif antara SRL dengan prestasi akademis mahasiswa.

  Untuk dapat memberikan penafsiran terhadap koefisien korelasi yang ditemukan tersebut besar atau kecil, maka dapat dilihat dalam analisis korelasi dimana terdapat suatu angka yang disebut dengan koefisien

  2

  determinasi yang besarnya adalah kuadrat dari koefisien korelasi (r ) Sumbangan SRL terhadap prestasi akademis mahasiswa dapat dilihat dari 2 koefisien determinasinya (r ), yaitu sebesar 0,396. Hal ini menunjukkan adanya sumbangan efektif variabel SRL sebesar 39,6% terhadap prestasi akademis mahasiswa. Ini berarti masih ada sumbangan sebesar 60,4% yang berasal dari variabel lain.

  Sebagai data tambahan, peneliti melakukan analisis data terhadap masing-masing aspek SRL yang dikorelasikan dengan IPK. Teknik korelasi yang digunakan adalah teknik korelasi tata jenjang dari Charles

  

Spearman dalam program SPSS for Windows versi 12. Hasilnya dapat

  dilihat pada tabel 12 berikut ini :

  Tabel 12 Hasil Uji Korelasi Aspek SRL dengan Prestasi Akademis

  Korelasi Metakognisi

  IPK Correlation 1,000 ,671(**) Coefficient

  Metakognisi Sig. (1-tailed) . ,000 Spearman's N

  85

  85 rho Correlation ,671(**) 1,000 Coefficient

  IPK Sig. (1-tailed) ,000 .

  N

  85

  85 Korelasi Motivasi

  IPK Correlation 1,000 ,697(**) Coefficient

  Motivasi Sig. (1-tailed) . ,000 Spearman's N

  85

  85 rho Correlation ,697(**) 1,000 Coefficient

  IPK Sig. (1-tailed) ,000 .

  N

  85

  85 Korelasi Perilaku

  IPK Correlation 1,000 ,454(**) Coefficient

  Perilaku Sig. (1-tailed) . ,000 Spearman's N

  85

  85 rho Correlation ,454(**) 1,000 Coefficient

  IPK Sig. (1-tailed) ,000 .

  N

  85

  85 Hasil analisis menunjukkan bahwa koefisien korelasi untuk aspek

  metakognisi dan variabel prestasi akademis adalah 0,671 dengan taraf signifikansi 0,00 (p<0,01). Analisis data ini membuktikan bahwa ada hubungan signifikan dan positif antara aspek metakognisi dengan prestasi akademis mahasiswa. Selanjutnya, koefisien korelasi untuk aspek motivasi dan variabel prestasi akademis adalah 0,697 dengan taraf signifikansi 0,00 (p<0,01). Analisis data ini membuktikan bahwa ada hubungan signifikan

  Aspek berikutnya adalah aspek perilaku dengan koefisien korelasi sebesar 0,454 dengan taraf signifikansi 0,00 (p<0,01). Analisis data ini membuktikan bahwa ada hubungan signifikan dan positif antara aspek motivasi dengan prestasi akademis mahasiswa. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa aspek motivasi memiliki koefisien korelasi paling tinggi dibanding aspek yang lain.

E. Pembahasan

  Hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara self regulated learning (SRL) dengan prestasi akademis mahasiswa. Dengan demikian hipotesis penelitian yang mengatakan adanya hubungan antara SRL dengan prestasi akademis mahasiswa teruji kebenarannya. Semakin tinggi kecenderungan subjek untuk melakukan SRL semakin tinggi pula prestasi akademis yang dicapai oleh mahasiswa.

  Sebaliknya semakin rendah kecenderungan subjek untuk melakukan SRL semakin rendah pula prestasi akademis yang dicapai oleh mahasiswa.

  Berdasarkan hasil analisis menggunakan teknik korelasi tata jenjang dalam program SPSS for Windows versi 12, diperoleh koefisien korelasi sebesar 0,725. korelasi tersebut signifikan dengan taraf signifikansi 0,00 (p<0,01). Hal tersebut menunjukkan bahwa ada hubungan yang positif dan signifikan antara SRL dengan prestasi akademis mahasiswa.

  Hasil pengolahan statistik untuk masing-masing aspek SRL dengan yang signifikan antara aspek metakognisi dengan prestasi akademis. Hal ini ditunjukkan dengan koefisien korelasi sebesar 0,671 yang menunjukkan adanya hubungan positif antara kedua variabel dengan taraf signifikansi sebesar 0,00 (p<0,01) yang berarti hubungan antara kedua variabel signifikan.

  Selanjutnya untuk aspek motivasi diperoleh koefisien korelasi sebesar 0,697. Korelasi tersebut signifikan pada level 0,01. Hal tersebut menunjukkan bahwa ada hubungan yang positif dan signifikan antara aspek motivasi dengan prestasi akademis mahasiswa. Sedangkan untuk aspek perilaku diperoleh r = 0,454 dengan p = 0,00 (p<0,01). Maka dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang positif dan signifikan antara aspek perilaku dengan prestasi akademis mahaisiswa.

  Temuan penelitian ini membuktikan bahwa ada hubungan antara SRL dengan prestasi akademis mahasiswa. Hal ini berarti mengukuhkan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Zimmerman dan Schunk (dalam Ablard dan Lipschultz, 1998) yang menemukan bahwa sisiwa yang melakukan SRL cenderung lebih baik perfomansi akademiknya, dibandingkan siswa yang tidak melakukannya. Berdasarkan penelitian tersebut dapat dikatakan bahwa SRL mempunyai peranan penting dalam mengoptimalkan prestasi akademis mahasiswa.

  SRL sendiri merupakan upaya untuk meraih tujuan dan mengatur diri dalam aktivitas belajar dengan menggunakan strategi yang melibatkan kemampuan metakognisi, motivasi dan perilaku. Hal ini sejalan dengan teori mengatakan bahwa adanya proses pengarahan atau penginstruksian diri dimana individu mengubah kemampuan mental yang dimilikinya menjadi keterampilan dalam belajar. Kondisi tersebut sesuai dengan situasi akademik di perguruan tinggi, dimana tingkat otonomi belajar lebih tinggi dan kesuksesan dalam belajar lebih banyak ditentukan oleh kemampuan individu itu sendiri untuk mendayagunakan segenap potensi dan kapasitas kognitif dan segenap potensi lain yang dimilikinya atas dasar inisiatif sendiri. Hal tersebut membuat mahasiswa lebih aktif dalam kegiatan belajarnya sehingga mampu mencapai tujuan belajar dan kesuksesan akademiknya sehingga dapat mencapai prestasi akademis yang memuaskan.

  Telah dikatakan diatas bahwa SRL memiliki tiga aspek yaitu metakognisi, motivasi, dan perilaku. Berdasarkan hasil analisis data menunjukkan bahwa ada hubungan antara aspek metakognisi dengan prestasi akademis. Hal ini berarti mahasiswa menggunakan kemampuan metakognisnya untuk mencari informasi tentang materi kuliah dari berbagai sumber dan mencoba memahaminya dengan cara menghafalkan materi secara berulang-ulang, atau menghubungkan dengan materi kuliah yang lain. Mahasiswa juga membuat perencanaan dalam belajar atas dasar informasi yang diperolehnya dan menggunakan informasi dari lingkungannya untuk memonitor pencapaiannya dalam belajar. Hal ini memungkinkan untuk menentukan langkah-langkah evaluatif manakala informasi yang diperoleh dari lingkungannya mengenai pencapaian tujuan belajarnya belum tercapai sehingga mahasiswa akan terus berusaha untuk mengorganisasikan kegiatan belajarnya sehingga dapat mengoptimalkan prestasi akademisnya.

  Berdasarkan hasil analisis data, aspek motivasi memiliki koefisien korelasi paling tinggi dibandingkan dengan aspek lain. Hal ini berarti bahwa mahasiswa mampu meyakinkan dirinya untuk mencapai tujuan belajarnya. Dalam hal ini, pada diri mahasiswa terbentuk suatu rasa keyakinan akan kemampuan sendiri (efikasi diri) yang kemudian akan mendorong dirinya untuk lebih aktif dalam mengelola belajarnya. Kemampuan mahasiswa ini sejalan dengan teori Zimmerman dan Martinez-Pons (1990) yang mengatakan bahwa mahasiswa yang sukses dalam belajar yaitu mahasiswa yang didukung oleh efikasi diri terhadap kemampuan yang dimilikinya untuk meraih tujan belajar. Hasil korelasi aspek motivasi juga menemukan bahwa mahasiswa mampu mengatur kegiatan belajarnya menjadi suatu yang menyenangkan atau menarik baginya. Hal lain yang tidak kalah penting adalah usaha dan kemampuan mahasiswa sendiri merupakan imbalan yang memuaskan dirinya dan ini akan memotivasi dirinya untuk terus mempertahankan usahanya dalam belajar meskipun ada kendala. Melalui proses tersebut mahasiswa dapat membuktikan kompetensi dirinya untuk mencapai kesuksesan akademis.

  Hasil analisis data menunjukkan bahwa ada hubungan antara aspek perilaku dengan prestasi akademis mahasiswa. Dalam hal ini berarti mahasiswa mampu menciptakan, memanipulasi, dan mempertahankan kondisi-kondisi belajar yang optimal dan dapat membawa kepada tujuan yang materi kuliah dari lingkungan belajarnya dengan lebih aktif sehingga memiliki informasi yang lebih banyak dan beragam. Mahasiswa juga lebih efektif dalam memproses dan menggunakan informasi tersebut. Hal ini memungkinkannya untuk memanipulasi lingkungan belajarnya ke arah yang lebih kondusif sesuai dengan kebutuhannya, misalnya mengatur waktu belajar, mengurangi kebisingan dan menata tempat belajar. Proses ini dapat menunjang kegiatan belajarnya sehingga mahasiswa dapat mengoptimalkan prestasi akademisnya.

  Data dari statistik deskriptif menunjukkan bahwa pada skala SRL mean empirik yaitu 299,75 lebih besar dari rata-rata teoritik yaitu 207,5.

  Perbedaanya signifikan dengan jarak perbedaan mean sebesar 92,25 sehingga dapat disimpulkan bahwa kecenderungan subjek melakukan SRL relatif tinggi.

  Berdasarkan penghitungan persamaan untuk tiap aspek SRL ditemukan bahwa aspek SRL tentang motivasi memiliki mean tertinggi apabila dibandingkan dengan aspek metakognisi dan aspek perilaku. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan motivasi merupakan kemampuan yang paling dominan dalam usaha mahasiswa untuk mengelola belajarnya dibandingkan dengan aspek SRL yang lain. Aspek motivasi yang tinggi pada mahasiswa juga berkaitan dengan tempat tinggal mahasiswa. Data yang ada menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa bertempat tinggal di kos. Hal ini berarti mahasiswa yang tinggal di kos semakin termotivasi karena pendukung kegiatan belajar mahasiswa. Mahasiswa juga semakin termotivasi karena mereka dapat mengatur diri dalam belajar. Hai ini sesuai dengan teori yang dikemukan oleh Bandura (dalam Zimmerman,1989) yang mengatakan bahwa lingkungan memiliki peran terhadap pengelolaan diri dalam belajar, yaitu sebagai tempat individu melakukan aktivitas belajar dan memberikan fasilitas kepada aktivitas belajar yang dilakukan, apakah fasilitas tersebut cenderung mendukung atau menghambat aktivitas belajar. 2 Dalam penelitian ini, peneliti menemukan taraf koefisien determinasinya

  (r ), yaitu sebesar 0,396. Hal ini berarti SRL menyumbang sebesar 39,6% terhadap prestasi akademis mahasiswa, hal ini dapat diartikan bahwa ada faktor lain sebesar 60,4% yang mempengaruhi prestasi akademis mahasiswa. Manurut Syah (2008), faktor lain yang dapat mempengaruhi prestasi akademis mahasiswa adalah a) faktor internal siswa, yakni aspek fisiologis dan aspek psikologis yang meliputi inteligensi, bakat, minat, sikap, motivasi berprestasi;

  b) faktor eksternal siswa, yakni lingkungan sosial yang meliputi keluarga, sekolah, masyarakat dan lingkungan nonsosial, misalnya gedung sekolah, tempat tinggal siswa, dan waktu belajar; c) faktor pendekatan belajar, yakni pendekatan surface (permukaan), pendekatan deep (mendalam), pendekatan

  achieving (pencapaian prestasi tinggi).

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Kesimpulan dari penelitian ini adalah adanya hubungan signifikan dan

  positif antara self regulated learning (SRL) dengan prestasi akademis mahasiswa yang ditunjukkan oleh koefisien korelasi 0,725 dengan taraf signifikansi 0,00 (p>0,01). Hal ini berarti semakin tinggi SRL maka semakin tinggi pula prestasi akademis mahasiswa, sebaliknya semakin rendah SRL maka semakin rendah pula prestasi akademis mahasiswa. Dalam penelitian ini SRL memberikan sumbangan sebesar 39,6% terhadap prestasi akademis mahasiswa. Sumbangan sebesar 60,4% terhadap prestasi akademis mahasiswa diperoleh dari faktor lain.

  Kesimpulan lain berkaitan dengan aspek SRL yang menunjukkan bahwa koefisien korelasi untuk aspek metakognisi dan variabel prestasi akademis adalah 0,671 dengan taraf signifikansi 0,00 (p<0,01). Analisis data ini membuktikan bahwa ada hubungan signifikan dan positif antara aspek metakognisi dengan prestasi akademis mahasiswa. Hal ini berarti semakin tinggi aspek metakognisi maka semakin tinggi pula prestasi akademis mahasiswa, sebaliknya semakin rendah aspek metakognisi maka semakin rendah pula prestasi akademis mahasiswa.

  Selanjutnya, koefisien korelasi untuk aspek motivasi dan variabel prestasi ini membuktikan bahwa ada hubungan signifikan dan positif antara aspek motivasi dengan prestasi akademis mahasiswa. Hal ini berarti semakin tinggi aspek motivasi maka semakin tinggi pula prestasi akademis mahasiswa, sebaliknya semakin rendah aspek motivasi maka semakin rendah pula prestasi akademis mahasiswa.

  Aspek berikutnya adalah aspek perilaku dengan koefisien korelasi sebesar 0,454 dengan taraf signifikansi 0,00 (p<0,01). Analisis data ini membuktikan bahwa ada hubungan signifikan dan positif antara aspek motivasi dengan prestasi akademis mahasiswa. Hal ini berarti semakin tinggi aspek perilaku maka semakin tinggi pula prestasi akademis mahasiswa, sebaliknya semakin rendah aspek perilaku maka semakin rendah pula prestasi akademis mahasiswa.

B. Saran

  1. Bagi Mahasiswa Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya hubungan signifikan dan positif antara SRL dengan prestasi akademis mahasiswa maka diharapkan mahasiswa dapat menerapkan perilaku SRL agar dapat mencapai prestasi akademis yang optimal dan sukses dalam studinya di perguruan tinggi.

  2. Bagi Penelitian selanjutnya Bagi peneliti yang berminat untuk meneliti bidang yang sama, sumbangan SRL terhadap prestasi akademis dan berupaya mengontrol faktor tersebut. Diharapkan juga peneliti selanjutnya dalam meneliti SRL dapat membedakan dan lebih memperluas subjek penelitian, misalnya tidak hanya fokus pada mahasiswa tingkat tertentu, sehingga diharapkan hal tersebut dapat lebih memperkaya penelitian mengenai keterkaitan antara SRL dengan prestasi akademis mahasiswa.

DAFTAR PUSTAKA

  Ablard, K.E., & Lipschultz, R.E. (1998). Self-regulated learning in high achieving students: Relations to advanced reasoning, achievement, goals and gender.

  Journal of Educational Psychology , 90, 94-101.

  Ajisuksumo, C.R.P. (1996). Self regulated learning in higher education. Jakarta: Atma Jaya Research Centre. Azwar, S. (2000). Validitas dan reliabilitas (ed. ke-3). Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Azwar, S. (2003). Penyusunan skala psikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Azwar, S. (2009). Metode penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Biggs, J.B. (1984). Learning strategies, student motivation patterns & subjectively perceived succes . Florida: Academic Press, Inc. Butler, D.L. (1998). The strategic content learning approach to promoting self- regulated learning: A report of three students. Journal of Educational

  Psychology , 90, 682-697.

  Chang, Agnes. (Ed.). (2004). Thingking about thingking: What educators need to know . Singapore: Nanyang Technological University. Corno, L., & Mandinach, E. (1983). The role of cognitive engangement in classroom learning and motivation. Educational Psychologist, 18, 88-108. Hadi, S. (1996). Statistik jilid 2. Yogyakarta: Andi Offset. Hall, C.S., & Lindzey, G. (1993). Teori-teori holistik (Editor Supratiknya).

  Yogyakarta: Media Abadi. Howard-Rose, D., & Winne, D.H. (1993). Measuring component and sets of cognitive processes in self-regulated learning. Journal of Educational

  Psychology , 85, 591-604.

Kamus besar bahasa indonesia . (1991). Departemen Pendidikan dan Kebudayaan:

Balai Pustaka.

  

Keputusan menteri pendidikan nasional republik indonesia nomer 232/u/2000:

Pedoman penyusunan kurikulum pendidikan tinggi dan penilaian hasil belajar mahasiswa . Dipungut

  18 Mei, 2009, dari http://www.dikti.go.id/Archive2007/kepmen232-2000.txt. Mahmud, M.D. (1990). Psikologi pendidikan suatu pendekatan terapan.

  Yogyakarta: BPFE. Pintrich, P.R., & De Groot, E.V. (1990). Motivational and self-regulated learning components of classroom academic perfomance. Journal of Educational

  Psychology , 82, 33-40.

  Purdie, N., Hottie, J., & Douglas, G. (1996). Student conceptions of learning & their use of self-regulated learning student strategies: A cross-cultural comparison. Journal of Educational Psychology, 88, 87-100. Purwanto, M. (2007). Psikologi pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Rahmawati, A. (2006). Motivasi berprestasi mahasiswa ditinjau dari pola asuh.

  Skripsi yang Tidak Diterbitkan. Yogyakarta: Universitas Gajah Mada, Fakultas Psikologi. Sugiyono. (2008). Statistika untuk penelitian. Bandung: Alfabeta. Sulistiyanti, A. T., & Rosidah. (2003). Manajemen sumber daya manusia:

  Konsep, teori dan pengembangan dalam konteks organisasi . Yogyakarta: Graha Indo.

  Supratiknya, A. (2006). Menggugat sekolah: Kumpulan esai psikologi dan pendidikan . Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma. Suryabrata, S. (1983). Proses belajar mengajar di perguruan tinggi. Yogyakarta: Penerbit Andi Offset. Suryabrata, S. (2006). Psikologi pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo Pustaka. Syah, M. (2008). Psikologi pendidikan dengan pendekatan baru (Ed. rev.).

  Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Trihendradi, C. (2005). Step by step SPSS 13 analisis data statistik. Yogyakarta: Andi Offset.

  Winkel, W.S. (2004). Psikologi pengajaran (Ed. rev). Yogyakarta: Media Abadi.

  Wolters, C.A. (1998). Self-regulated learning and college students’ regulation of motivation. Journal of Educational Psychology, 90, 224-235. Wolters, C.A. (2003). Understanding procrastination from a self-regulated learning perspective. Journal of Educational Psychology, 95, 179-187. Wolters, C. A., Pintrich, P.R., & Karabenick, S.A. (2003, March). Assesing

  academic self-regulated learning . Makalah disajikan dalam pertemuan Indicators of Positive Development Conference, Michigan, USA.

  Zimmerman, B.J. (1989). A social cognitive view of self-regulated academic learning. Journal of Educational Psychology, 81, 329-339. Zimmerman, B.J., & Martinez-Pons, M. (1988). Construct validation of a strategy model of student self-regulated learning. Journal of Educational

  Psychology , 80, 284-290.

  Zimmerman, B.J., & Martinez-Pons, M. (1990). Student differences in self- regulated learning: relating grade, sex, and giftedness to self-efficacy and strategy use. Journal of Educational Psychology, 82, 51-59.

  .

  

LAMPIRAN

  Lampiran A (Uji Coba)

  FORMAT SKALA SELF REGULATED LEARNING (UJI COBA)

  FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA Dengan hormat,

  Pada kesempatan ini, peneliti memohon rekan-rekan mahasiswa sekalian untuk berpartisipasi dalam penelitian ini dengan mengisi angket yang tersedia. Angket ini berisi pernyataan-pernyataan tentang strategi belajar untuk mata kuliah secara umum dan terdiri dari sejumlah pernyataan yang diikuti oleh sejumlah alternatif jawaban.

  Pertama-tama anda diminta mengisi identitas anda pada kolom yang tersedia dengan benar. Lalu, anda diminta untuk membaca setiap pernyataan dengan teliti. Selanjutnya, anda dipersilakan memilih salah satu dari beberapa alternatif jawaban pada kolom yang ada.

  Setiap orang dapat memiliki jawaban yang berbeda. Setiap jawaban dianggap benar sepanjang jawaban tersebut sesuai dengan kondisi anda sendiri. Pilihlah jawaban yang sesuai dengan kondisi anda sendiri. Peneliti sangat mengharapkan keterbukaan dan kejujuran anda dalam mengisi angket. Usahakan jangan sampai ada satu nomer pun yang terlewatkan. Seluruh identitas dan jawaban anda akan peneliti rahasiakan

  Atas partisipasi dan kerjasama anda, peneliti mengucapkan terima kasih.

  Peneliti,

  Petunjuk Pengisian

  Berikut ini akan disajikan beberapa pernyataan. Pilihlah jawaban yang sesuai dengan kondisi anda dengan memberikan tanda silang (X) pada: a. Jawaban Sangat Tidak Sesuai (STS), bila anda sangat tidak sesuai dengan pernyataan tersebut.

  b. Jawaban Tidak Sesuai (TS), bila anda tidak sesuai dengan pernyataan tersebut.

  c. Jawaban Agak Tidak Sesuai (ATS), bila anda agak tidak sesuai dengan pernyataan tersebut.

  d. Jawaban Agak Sesuai (AS), bila anda agak sesuai dengan pernyataan tersebut.

  e. Jawaban Sesuai (S), bila anda sesuai dengan pernyataan tersebut.

  f. Jawaban Sangat Sesuai (SS), bila dengan pernyataan tersebut.

  Identitas Diri

  Nama Lengkap : NIM :

  IPK : Cuti Kuliah : pernah/tidak * Jenis Kelamin : pria/wanita * Tempat Tinggal : rumah/asrama/kos *

  • ) Coret yang tidak sesuai

  Pilihan Jawaban No. Pernyataan STS TS ATS AS S SS Saya mengalami kesulitan

  1. utnuk menaati jadwal belajar Meminta bantuan di kelas akan mempermudah untuk 2. menemukan jawaban yang saya butuhkan Saya meyakinkan diri sendiri 3. bahwa saya harus belajar sebanyak yang saya bisa Ketika belajar suatu mata kuliah, saya menentukan 4. tujuan-tujuan diri sehingga kegiatan-kegiatan saya menjadi lebih terarah Ketika belajar untuk suatu mata kuliah, saya menghafalkan

  5. materi kuliah tersebut pada diri sendiri secara berulang-ulang Meminta bantuan di kelas dapat menjadi satu petunjuk bahwa

  6. saya tidak cukup pintar mengerjakan tugas-tugas saya sendiri Saya mencoba menerapkan teori-teori dari mata kuliah 7. dalam aktivitas-aktivitas kelas seperti perkuliahan dan diskusi Saya menncoba menjauhi hal- 8. hal mengganggu saat belajar Jika saya kesulitan memahami suatu mata kuliah, saya akan 9. meminta bantuan mahasiswa lain Meminta bantuan berarti saya 10. tidak sepandai mahasiswa lain di kelas Ketika belajar untuk suatu mata kuliah, saya membaca catatan 11. dan diktat (handout) mata kuliah secara berulang-ulang Saya menantang diri sendiri untuk menyelesaikan tugas-

  12. tugas dan belajar sebanyak mungkin Meskipun tugas kuliah terlalu sulit untuk dikerjakan sendiri,

  Pilihan Jawaban No. Pernyataan STS TS ATS AS S SS Saya berusaha memahami seberapa jauh materi kuliah 14. tertentu sesuai dengan kehidupan saya Saya mengatakan pada diri 15. sendiri untuk tetap belajar semaksimal mungkin Ketika membaca materi suatu mata kuliah, saya membuat 16. pertanyaan-pertanyaan yang dapat membantu saya fokus pada materi tersebut Jika saya meminta bantuan, akan lebih mudah untuk

  17. memahami prinsip-prinsip dasar mata kuliah Saya makan atau minum 18. sesuatu agar saya tetap terjaga dan siap untuk belajar Saya berjanji pada diri sendiri jika saya telah menyelesaikan

  19. sejumlah pekerjaan, saya akan melakukan hal-hal yang menyenangkan Saya bertanya pada diri sendiri untuk meyakinkan diri bahwa 20. saya memahami materi yang telah saya pelajari Saya terus berbicara pada diri sendiri untuk melakukan

  21. sesuatu lebih baik daripada mahasiswa lain Saya mencoba mengaplikasikan materi kuliah di dalam

  22. kehidupan nyata dengan menghubungkannya ke dalam hal-hal yang ingin saya lakukan Saya mencoba mengingat dan mempelajari topik suatu mata 23. kuliah ketika sedang belajar tidak hanya membacanya saja Saya menetapkan target seberapa banyak saya harus belajar dan berjanji pada diri 24. sendiri untuk memberikan hadiah jika saya dapat

  Pilihan Jawaban No. Pernyataan STS TS ATS AS S SS Saya menghafalkan kata-kata kunci untuk membantu saya 25. mengingat konsep-konsep penting mata kuliah yang saya pelajari Saya memusatkan perhatian pada suatu yang menyenangkan

  26. agar saya dapat menikmati tugas yang sedang saya lakukan Saya berpikir untuk menjadi 27. yang terbaik pada apa yang sedang saya lakukan Saya mencoba menghubungkan

  28. materi kuliah dengan sesuatu yang menarik bagi saya Saya sering merasa tidak memahami isi materi kuliah

  29. walaupun saya sudah mempelajarinya Ketika mempelajari suatu mata kuliah, saya akan membaca

  30. diktat (handout) dan catatan saya dengan teliti dan mencoba menemukan ide-ide utamanya Saya mencoba memahami

  31. bahwa melakukan suatu tugas bisa menjadi menyenangkan Selama kuliah berlangsung, saya sering kehilangan hal-hal

  32. penting karena pikiran saya terfokus pada hal-hal lain di luar perkuliahan Saya membuat proses belajar lebih menyenangkan dengan 33. mengubahnya menjadi sebuah permainan Saya mengatakan pada diri sendiri untuk tetap berusaha

  34. keras guna melihat seberapa banyak hal yang dapat saya pelajari Saya memikirkan situasi yang dapat membantu saya untuk 35. memahami materi yang saya pelajari Ketika belajar untuk suatu mata

  Pilihan Jawaban No. Pernyataan STS TS ATS AS S SS Meminta bantuan dari seseorang di kelas akan 37. membantu keberhasilan saya tanpa harus bekerja keras Saya berusaha menghubungkan 38. apa yang telah saya pelajari dengan minat pribadi Saya mengatakan pada diri sendiri bahwa semua materi kuliah penting untuk dipelajari

  39. karena saya akan membutuhkannya di kemudian hari Saya membuat permainan untuk

  40. mempelajari materi atau menyelesaikan suatu tugas Saya meyakinkan diri sendiri 41. untuk bekerja keras hanya saat belajar saja Jika saya bingung membuat catatan di kelas, saya akan

  42. meringkasnya kembali setelah kelas selesai Saya memastikan sebisa mungkin hanya ada sedikit hal-

  43. hal yang bisa mengalihkan perhatian saya Mendapat bantuan di kelas dapat menjadi cara untuk

  44. memahami prinsip-prinsip dasar yang bisa saya gunakan untuk memahami materi kuliah Saya membuat bagan, diagram,

  45. atau tabel untuk membantu mengingat materi kuliah Saya mengatakan pada diri sendiri bahwa saya harus tetap

  46. belajar supaya bisa menguasai materi kuliah tersebut Saya memastikan untuk tetap membaca dan mengerjakan

  47. tugas setiap minggunya untuk suatu mata kuliah Sebelum mempelajari materi baru dalam suatu mata kuliah

  48. secara menyeluruh, saya sering

Dokumen baru

Download (120 Halaman)
Gratis

Tags

Dokumen yang terkait

Perbedaan Self Regulated Learning antara Mahasiswa Universitas Sumatera Utara yang Bekerja dengan yang Tidak Bekerja.
7
53
146
HUBUNGAN ANTARA MOTIVASI BERPRESTASI DENGAN SELF Hubungan antara Motivasi Berprestasi dengan Self Regulated Learning pada Siswa SMA Negeri 2 Wonogiri.
0
3
18
HUBUNGAN ANTARA MOTIVASI BERPRESTASI DENGAN SELF Hubungan antara Motivasi Berprestasi dengan Self Regulated Learning pada Siswa SMA Negeri 2 Wonogiri.
0
3
17
PENDAHULUAN Hubungan antara Motivasi Berprestasi dengan Self Regulated Learning pada Siswa SMA Negeri 2 Wonogiri.
0
2
8
DAFTAR PUSTAKA Hubungan antara Motivasi Berprestasi dengan Self Regulated Learning pada Siswa SMA Negeri 2 Wonogiri.
0
9
4
Perbedaan Self Regulated Learning Strategies pada mahasiswa yang mengikuti UKM dan tidak mengikuti UKM.
0
0
101
Hubungan antara kontrol diri dengan prestasi akademik pada mahasiswa
0
1
100
Hubungan antara Self Efficacy dan Self Regulated Learning dengan Prestasi Akademik Pada Mahasiswa Fakulats Psikologi Universitas Surabaya - Ubaya Repository
0
0
1
Hubungan Self Regulated Learning dengan
0
0
7
BAB II LANDASAN TEORI A. Self Regulated Learning 1. Definisi Self Regulated Learning - Gambaran Strategi Self Regulated Learning Siswa Sekolah Menengah Pertama di Masyarakat Pesisir Percut Sei Tuan
0
1
17
Hubungan antara Kepercayaan Diri dan Self Regulated Learning dengan Ketakutan akan Kegagalan pada Siswa SMA kelas XII di Kecamatan Banjarsari Surakarta - UNS Institutional Repository
0
0
18
Sistem informasi evaluasi prestasi akademik mahasiswa - USD Repository
0
0
130
Hubungan antara efikasi diri dan prestasi akademik - USD Repository
0
1
115
Hubungan kondisi sosial ekonomi orang tua dan prestasi akademik dengan motivasi mahasiswa dalam mengerjakan skripsi - USD Repository
0
0
107
Hubungan antara movitasi belajar, fasilitas belajar, dan perhatian orang tua dengan prestasi belajar mahasiswa Pendidikan Akuntansi - USD Repository
0
0
153
Show more