Hubungan antara dukungan sosial suami terhadap tingkat kecemasan istri dalam menghadapi masa menopause - USD Repository

Gratis

0
0
120
1 year ago
Preview
Full text

  

HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN SOSIAL SUAMI TERHADAP

TINGKAT KECEMASAN ISTRI DALAM MENGHADAPI

MASA MENOPAUSE

Skripsi

  

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi

Program Studi Psikologi

  

Oleh:

Alice M S Takdare

019114175

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI

  

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

  

M O T T O

“Kesabaran itu berbuah baik dan baik itu indah pada waktunya ”

  Halaman Persembahan

Skripsi ini kupersembahkan untuk Bapak dan Ibu Takdare

tersayang, keluarga dan seluruh insan yang dengan tulus dan

  

HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN SOSIAL SUAMI TERHADAP

TINGKAT KECEMASAN ISTRI DALAM MENGHADAPI

MASA MENOPAUSE

Alice MS. Takdare

019114175

  

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dukungan

suami dengan kecemasan menghadapi menopause pada wanita. Penelitian ini

mengajukan hipotesis sebagai berikut, ada hubungan yang negatif antara

dukungan suami dengan kecemasan menghadapi menopause, semakin tinggi

dukungan yang diberikan suami maka akan rendah tingkat kecemasan dalam

menghadapi menopause dan sebaliknya.

  Subyek penelitian ini adalah 80 wanita yang berdomisili di kawasan

Perumnas Condongcatur, Desa Condongcatur, Kecamatan Depok, Kabupaten

Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Pengumpulan data dilakukan dengan

metode skala. Dukungan sosial suami diungkap melalui skala dukungan sosial

yang disusun berdasarkan aspek-aspek dukungan sosial yang dikemukakan oleh

House (Cohen & Syme, 1985), yaitu aspek emosional, aspek penghargaan, aspek

informatif dan aspek instrumental yang diterima dari suami. Kecemasan

menghadapi menopause dalam penelitian diukur menggunakan Skala Kecemasan

Menghadapi Menopause berdasarkan aspek-aspek kecemasan yang dikemukakan

oleh Martaniah (1984) yang meliputi aspek kognitif, somatik, emosi dan perilaku.

Uji kesahihan butir pada skala dukungan suami terdiri dari 32 aitem valid dengan

reliabilitas sebesar

   = 0,957, sedangkan uji kesahihan butir skala kecemasan

menghadapi menopause dari 48 item ada 5 item gugur dengan koefisien

reliabilitas sebesar  = 0,972.

  Untuk mengetahui hubungan antara dukungan suami dan kecemasan

menghadapi menopause digunakan metode analisis dengan teknik product

moment menunjukkan korelasi negatif antara dukungan suami dengan kecemasan

menghadapi menopause, dengan r = -0,654, p<0,01. Semakin tinggi dukungan

sosial yang diterima dari suami maka semakin rendah tingkat kecemasan dalam

menghadapi menopause yang dirasakan dan semakin rendah dukungan sosial

yang diterima dari suami maka semakin tinggi tingkat kecemasan dalam

menghadapi menopause yang dirasakan.

  Kata Kunci: Kecemasan menghadapi menopause; dukungan suami

  

THE RELATION BETWEEN HUSBANDS SOCIAL SUPPORT

TO WIFE’S LEVEL OF ANXIETY ENCOUNTER OF THE MENOPAUSE

Alice MS. Takdare

019114175

  

ABSTRACT

The objective of this research was to know the relation between husbands

social support to wife’s level of anxiety encounter of the menopause. The

hypothesize proposed in this reserach was, there a negative corelation between

husbands social support and anxiety dealing menopause period on women. The

higher social support given by husband, the lower anxiety experienced by woman

during menopause period, vice versa.

  Subjects of this research was 80 women lived in Perumnas Condongcatur

area, Condongcatur Village, Depok Subvillage, Slamen District, DIY Province.

Data was collected by scale method. Husband social support was measured by

Husband social support scale using social support facets from House (Cohen &

Syme, 1985), which were emotional facet, affirmation facet, informatif facet and

instrument facet given by husband. Anxiety dealing with menopause period in this

research measured by anxiety dealing with menopause scale using anxiety

symptoms from Martaniah (1984) which were cognitif aspect, somatic aspect,

emotional aspect and behavioral aspect. Validation test on husband social support

scale consist of 32 aitems were valid with reliability score  = 0,957, and

validation test on anxiety dealing with menopause scale consist of 43 aitems valid

with reliability score

   = 0,972. To know the relation between husbands social support and anxiety dealing

menopause period on women, data was analyzed using corelation method with

product moment technique by Pearson. The result showed a significant corelation

between husbands social support and anxiety dealing menopause period on

women, with r = -0,654, p<0,01. The higher social support given by husband, the

lower anxiety experienced by woman during menopause period and vice versa.

  Keywords: Anxiety dealing with menopause period; husband social support

KATA PENGANTAR

  Puji syukur yang sebesar-besarnya kepada Tuhan Yesus Kriestus atas

berkat dan karuniaNya sehingga penulis berhasil menyelesaikan skripsi dengan

judul “Hubungan Antara Dukungan Sosial Suami Terhadap Tingkat Kecemasan

Istri Dalam Menghadapi Masa Menopause”.

  Skripsi ini merupakan salah satu syarat guna memperoleh gelar sarjana dalam Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

  Terwujudnya skripsi ini tidak lepas dari bimbingan, bantuan dan dorongan

dari semua pihak, maka dalam hal ini penulis mengucapkan terima kasih sedalam-

dalamnya kepada : 1. Ibu Sylvia Carolina MYM, S.Psi., M.Si , selaku Dosen Pembimbing.

  Terima Kasih atas waktu, dukungan, serta pengarahan yang diberikan pada saya.

  2. Ibu Agnes Indar E,. S.Psi., Psi., M.Si., selaku Dosen Pembimbing II, yang dengan penuh kesabaran senantiasa meluangkan waktu untuk menuntun dan membimbing untuk mencapai hasil yang maksimal. Terima kasih atas bimbingan dan dukungannya, Bu.

  3. Bapak Y. Heri Widodo, M.Psi., selaku Dosen Pembimbing III, yang dengan penuh kesabaran meluangkan waktu untuk menuntun dan mengajarkan saya untuk mencapai hasil yang maksimal. Terima kasih atas bimbingan dan dukungannya.

  5. Papa dan mama tersayang. Terima kasih atas doa dan ketulusannya.

  

6. Kak Nona, Kak Denny, Ethan, Bang Andre, Mba Hani, Kak Apin,

terimaksih atas doa dan dukungan kalian.

  

7. Andre Fabian, terimakasih atas doa, dukungan, waktu dan

pengertiannya selama ini.

  8. AB 3851 EF “Ijoku “ Tanpamu aku tidak bisa apa-apa...

  

9. Rosyana Putri “Utied”, banyak-banyak terimakasih buat kau...

  Pokoknya udah ga bisa keucap dengan kata-kata...

  

10. Oniek ma Lani (walopun udah ga dijogja), Ebonz, Bagus, Dali, Gatot,

Ria (Adek), Deden, Dika, semua keluarga besar GAYAM... Tempat berbagi suka dan duka terutama “atap” aku akan selalu merindukan kalian semua...

  

11. Teman-teman seperjuanganku, Dion, Dessy, Vemby, Jelly, Silva, Seto,

Anas, Yus, Mira, Rini, Roma, Justinus, Ory, Angga, Rini, Psikolgi

angkatan 2001, semangat-menyemangati kita selama ini ga sia-sia.

  

12. GARUDA 157B (Mba Helen, Sri, Icha, Dian, Bha, Nisa, Lina, Corry,

Anie, Krista, Kriman, Pak Marjono, Mobie, Bapak Soto, Kamar 11- ku). Mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi, suka dan dukaku, ini memang tempat yang menyenangkan, miss u guys..

  13. Mba fety dan Wawan, kalian memang pahlawanku..

  

14. Bayu, Nanda, Mando, Robert “Shiro”, Vero, temen-temen KKN 2006

  

15. Teman-teman yang bisa aku sebutin satu per satu, terimakasih atas

  Penulis berharap, semoga karya yang masih jauh dari sempurna ini dapat bemanfaat dan memberi masukan untuk pihak-pihak yang memerlukan.

  Yogyakarta, Oktober 2009 Penulis

  DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ............................................................................................ i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING...................................................... ii

HALAMAN PENGESAHAN ............................................................................... iii

HALAMAN MOTTO ........................................................................................... iv

HALAMAN PERSEMBAHAN ............................................................................ v

HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ............................................ vi

ABSTRAK ........................................................................................................... vii

ABSTRACT ......................................................................................................... viii

HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI PENELITI ....................................... ix

KATA PENGANTAR .......................................................................................... x

DAFTAR ISI ......................................................................................................... xiii

DAFTAR TABEL ................................................................................................

  

BAB I PENGANTAR ........................................................................................... 1

A. Latar Belakang Masalah ................................................................................... 1

B. Rumusan Permasalahan .................................................................................... 7

C. Tujuan Penelitian ............................................................................................. 7

D. Manfaat Penelitian ........................................................................................... 8

  1. Manfaat Teoritis ......................................................................................... 8

  2. Manfaat Praktis .......................................................................................... 8

  

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................ 9

  1. Pengertian Kecemasan dalam Menghadapi Menopause .............................. 9

  a. Pengertian kecemasan ............................................................................ 9

  b. Pengertian Menopause ........................................................................... 11

  c. Pengertian Kecemasan dalam Menghadapi Menopause .......................... 15

  2. Tahap-Tahap Masa Menopause .................................................................. 16

  3. Aspek-aspek Kecemasan dalam Menghadapi Menopause............................ 18

  4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kecemasan dalam Menghadapi

Menopause ................................................................................................. 21

B. Dukungan Sosial .............................................................................................. 24

  1. Pengertian Dukungan Sosial ....................................................................... 24

  2. Sumber-sumber Dukungan Sosial ............................................................... 25

  3. Aspek-aspek Dukungan Sosial ................................................................... 26

  C. Hubungan Antara Dukungan Sosial Suami dengan Kecemasan dalam

Menghadapi Menopause Pada Wanita .............................................................. 27

D.Hipotesa ........................................................................................................... 31

  

BAB III METODE PENELITIAN ........................................................................ 32

A. Identifikasi Variabel ......................................................................................... 32

B.Definifi Operasional Variabel ............................................................................ 32

  1. Kecemasan dalam Menghadapi Menopause ................................................ 32

  2. Dukungan Sosial ........................................................................................ 33

  

C. Subjek Penelitian .............................................................................................. 34

  

D. Metode Pengumpulan Data .............................................................................. 34

  2. Skala Dukungan Sosial ............................................................................... 36

  

B. Pelaksanaan Penelitian ..................................................................................... 43

  b. Uji Linearitas ......................................................................................... 48

  a. Uji Normalitas ....................................................................................... 48

  2. Uji Prasyarat .............................................................................................. 48

  b. Dukungan Sosial Suami ......................................................................... 46

  a. Kecemasan Menghadapi Menopause ...................................................... 45

  1. Deskripsi data ............................................................................................ 44

  

C. Hasil Penelitian ................................................................................................ 44

  b. Skala Dukungan Sosial Suami ............................................................... 42

  

E. Validitas, seleksi aitem dan Reliabilitas ............................................................ 38

  a. Skala Kecemasan Menghadapi Menopause ............................................ 41

  2. Uji Coba Alat ukur ..................................................................................... 41

  1. Orientasi Kancah ........................................................................................ 40

  BAB IV PELAKSANAAN PENELITIAN, HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ................................................................................................... 40

A. Persiapan Penelitian ......................................................................................... 40

  

F. Metode Analisis Data ........................................................................................ 39

  3. Reliabilitas ................................................................................................. 39

  2. Seleksi Aitem ............................................................................................. 38

  1. Validitas ..................................................................................................... 38

  3. Uji Korelasi ................................................................................................ 49

  

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ................................................................. 54

A. Kesimpulan ...................................................................................................... 54

B. Saran-saran ....................................................................................................... 54

  1. Saran Teoritis.............................................................................................. 54

  2. Saran Praktis .............................................................................................. 55

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 56

LAMPIRAN

  DAFTAR TABEL Tabel 1 : Distribusi Aitem Skala Kecemasan Menghadapi Menoopause

Sebelum Uji Coba .................................................................................. 36

Tabel 2 : Blue Print Aitem Skala Dukungan Sosial Sebelum Uji Coba .................. 37

Tabel 3 : Distribusi Aitem Skala Kecemasan Menghadapi Menopause

setelah Uji Coba ..................................................................................... 41

Tabel 4 : Distribusi Aitem Skala Dukungan Sosial setelah Uji Coba ..................... 42

Tabel 5 : Deskripsi Subjek Penelitian .................................................................... 44

Tabel 6 : Deskripsi Data Penelitian ....................................................................... 44

Tabel 7 : Kategorisasi Skor Kecemasan Menghadapi Menopause .......................... 46

Tabel 8 : Kategorisasi Skor Dukungan Suami ....................................................... 47

BAB I PENGANTAR A. Latar Belakang Masalah Pada setiap tahap perkembangan tentunya mengandung perubahan-perubahan

  

baik secara fisik maupun psikologis, tidak terkecuali pada tahap perkembangan usia

lanjut (Daradjat, dalam Nurliawati, 2006). Salah satunya adalah perubahan fisiologis

yang dialami oleh wanita, yaitu menopause. Menopause merupakan suatu gejala dalam

kehidupan wanita yang ditandai dengan berhentinya siklus menstruasi. Menopause adalah

fase alami dalam kehidupan setiap wanita yang menandai berakhirnya masa subur.

Menopause seperti halnya menarche dan kehamilan dianggap sebagai peristiwa yang

sangat berarti bagi kehidupan wanita. Menarche pada remaja wanita, menunjukkan mulai

diproduksinya hormon estrogen, sedang menopause terjadi karena ovarium tidak

menghasilkan atau tidak memproduksi hormon estrogen (Noor, 2001).

  Menopause merupakan suatu tahap dimana wanita tidak lagi mendapatkan siklus

menstruasi yang menunjukkan berakhirnya kemampuan wanita untuk bereproduksi.

  

Secara normal wanita akan mengalami menopause antara usia 40 tahun sampai 50 tahun.

Pada saat menopause, wanita akan mengalami perubahan-perubahan di dalam organ

tubuhnya yang disebabkan oleh bertambahnya usia (Kuntjoro, 2002). Sejalan dengan

  2

termasuk salah satu organ reproduksi wanita, yaitu ovarium. Terganggunya fungsi

ovarium menyebabkan berkurangnya produksi hormon estrogen, dan ini akan

menimbulkan beberapa penurunan atau gangguan pada aspek fisik, biologis, dan seksual.

  

Pada sebagian wanita, munculnya gejala atau gangguan fisik sebagai akibat dari

berhentinya produksi hormon estrogen, juga akan berpengaruh pada kondisi psikologis,

dan sosialnya.

  Beberapa gejala fisik yang biasanya dialami oleh wanita menjelang menopause

antara lain adalah ketidakteraturan siklus haid, gejolak rasa panas pada sekitar dada, leher

dan wajah, adanya ketidak-elastisan dan kekeringan pada sekitar vagina. Hal ini ditandai

dengan adanya rasa pusing, gangguan tidur (insomnia), cepat lelah, berat badan

meningkat, kulit kering, rambut rontok gangguan proses sensori dan osteoporosis

(pegeroposan tulang) (Zuccolo, 2006). Kuntjoro (2002) menggambarkan gejala-gejala

fisik yang dialami wanita menjelang menopause seperti ketidaknyamanan seperti rasa

kaku dan linu yang dapat terjadi secara tiba-tiba di sekujur tubuh, misalnya pada kepala,

leher dan dada bagian atas. Kadang-kadang rasa kaku ini dapat diikuti dengan rasa panas

atau dingin, pening, kelelahan, jengkel, resah, cepat marah, dan berdebar-debar (Hurlock,

1992).

  Sejalan dengan perubahan-perubahan fisiologis terutama pada fungsi-fungsi

reproduksi, masa premenopause juga ditandai dengan adanya gejala psikologis seperti

frustrasi yang berlebihan (Zuccolo, 2006). Hal ini dikuatkan oleh beberapa hasil

penelitian seperti penelitian O’Neill (1996) yang menyatakan bahwa tiga tahun sebelum

  3

seperti menurunnya gairah, sulit berkonsentrasi, mudah tersinggung, agresif, mudah lelah

dan gugup, tegang, depresi atau menarik diri, merasa kesepian yang tidak beralasan dan

kecemasan yang berlebihan. Penelitian lain oleh Rostiana (2007) secara kualitatif

mendeskripsikan bahwa wanita yang memasuki masa menopause mengalami

kekhawatiran terhadap suatu situasi yang tidak jelas. Kekhawatiran yang berlebihan ini

menjadi kecemasan yang muncul dalam rasa tegang, ketakutan, emosi yang sulit

dikendalikan, sulit tidur dan sebagainya.

  Fenomena kecemasan dalam menghadapi menopause juga nampak dalam

wawancara awal peneliti terhadap dua orang ibu yang berusia antara 40 – 55 tahun, yang

berdomisili di Perumnas Condongcatur, Ibu A (45 tahun) mengaku sudah mengalami

gejala menopause sejak sekitar satu tahun ini. Subjek mengaku bahwa haidnya mulai

tidak teratur, terkadang terlambat antara dua sampai tiga minggu dan frekuensinya

sedikit, tapi terkadang frekuensinya sangat banyak. Subjek juga mengatakan bahwa ia

tidak lagi menikmati dalam hubungan intim karena seringkali merasa sakit. Subjek

merasa mudah lelah dan mudah uring-uringan, kadang ia merasakan kesemutan, dan

pegal-pegal. Subjek juga mengaku mengalami kecemasan dalam menghadapi menopause.

Kecemasan yang dialami lebih pada ketakutan akan kehilangan cinta dari suami. Subjek

merasa takut jika suami akan menyeleweng karena ia merasa tak lagi mampu melayani

kebutuhan biologis suami. Apalagi menurut subjek, suami dalam masa ”puber kedua” dan

sedang berada dalam gejolak seksual yang tinggi, sehingga kecemasan yang dialami

menjadi semakin besar.

  4 Hasil wawancara dan uraian di atas menunjukkan bahwa semua wanita pasti

mengalami menopause, tetapi beberapa wanita tidak mampu menerima kenyataan

tersebut dengan baik sehingga mengalami kecemasan yang berlebihan dalam menghadapi

masa menopause. Kecemasan merupakan suatu kondisi yang pernah dialami oleh hampir

semua orang, hanya tingkatannya yang berbeda. Caplin (2000) berpendapat bahwa

kecemasan adalah perasaan campuran antara ketakutan dan keprihatinan mengenai masa

mendatang tanpa sebab khusus untuk ketakutan tersebut. Kecemasan merupakan

manifestasi dari berbagai proses emosi yang bercampur baur, tetapi ketika orang sedang

mengalami tekanan perasaan dan pertentangan batin atau konflik. Menurut Nadesul

(2003), kecemasan adalah suatu keadaan emosional yang tidak menyenangkan, yang

memiliki sumber yang kurang jelas. Perasaan yang tidak menyenangkan ini umumnya

menimbulkan gejala-gejala fisiologis (seperti gemetar, berkeringat, detak jantung

meningkat, dan lain-lain) dan gejala-gejala psikologis (seperti panik, tegang, bingung, tak

dapat berkonsentrasi, dan sebagainya).

  Wanita yang tidak siap menghadapi masa menopause akan mengalami gejala

kecemasan berlebihan yang dapat mengakibatkan gangguan psikologis dan berdampak

pada keharmonisan rumah tangga. Pada wanita memasuki masa menopause, kecemasan

terutama berhubungan dengan ketakutan tidak dapat lagi menjalankan fungsi

kewanitaannya, seperti melahirkan atau melayani suami dalam berhubungan intim.

Merujuk pada teori Buffering Hipothesis yang berpandangan bahwa dukungan sosial

mempengaruhi kesehatan dengan cara melindungi individu dari efek negatif stress. Hal

  5

dukungan moril yang positif, seringkali ia menjadi kurang percaya diri, merasa tidak

diperhatikan, tidak dihargai, merasa stres dan rasa prihatin yang berlebihan tentang

perubahan fisiknya yang tidak seindah dan sesehat ketika ia berusia muda, sehingga dapat

menimbulkan gejala psikologik seperti perasaan gelisah, cemas, perasaan takut, mudah

tersinggung, mudah marah, merasa tertekan, mudah merasa sedih, rasa hampa, rasa

bersalah, merasa kesepian saat berada ditengah orang ramai dan lain-lain.

  Pendapat di atas menunjukkan bahwa pada wanita yang mengalami kecemasan

dalam menghadapi masa menopause membutuhkan adanya dukungan yang positif dari

keluarga. Dukungan keluarga terutama dukungan yang didapatkan dari suami akan

menimbulkan ketenangan batin dan perasaan senang dalam diri isteri (Dugan, 2006). Hal

ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Gallo, dkk. (2003), bahwa relasi suami

isteri adalah sumber dukungan sosial yang paling berpengaruh pada usia dewasa. Lebih

lanjut dikemukakan bahwa dukungan sosial dari pasangan dapat memiliki pengaruh

positif terhadap kesehatan, yaitu berupa penurunan tingkat kecemasan dan dorongan

untuk hidup lebih sehat.

  Pada kenyataannya tidak semua suami dapat memahami dan memberikan

dukungan sosial yang dibutuhkan oleh isteri dalam menghadapi masa menopausenya

(Daradjat, 1994). Banyak suami yang bingung menghadapi perubahan-perubahan pada

isteri menjelang menopause, seperti mudah marah, mudah tersinggung dan menjadi

murung. Hal ini membuat suami juga tidak dapat memberikan dukungan sosial yang

dibutuhkan. Terutama ketika isteri juga tidak terbuka mengenai kebutuhan psikologisnya.

  6 Sarafino (1994) berpendapat bahwa dukungan sosial dapat diartikan sebagai

perasaan nyaman, perhatian dan penghargaan, ataupun bantuan yang diterima oleh

individu dari orang lain. Individu yang memiliki dukungan sosial yang tinggi akan

memiliki pandangan optimis terhadap kehidupannya. Sebaliknya individu yang tidak

memiliki dukungan sosial akan merasa tidak puas dengan kehidupannya, tidak memiliki

keyakinan dan kemampuan untuk mengendalikan situasi dalam menghadapi

permasalahan (Sarason, dkk., 1983). Lebih lanjut, Sue, Sue & Sue (1986) mengatakan

bahwa dukungan sosial yang didapat individu mampu meningkatkan kepercayaan diri.

  Wortman dan Conway (1985) menyebutkan beberapa sumber dukungan sosial

antara lain dari keluarga dan pasangan. Sedangkan Johnson dan Johnson (1991)

mengatakan bahwa dukungan sosial bersumber dari orang-orang yang dekat dengan

individu (significant others). Cohen dan Syme (1985) mengatakan bahwa efektivitas dari

dukungan sosial dipengaruhi oleh faktor pemberi dukungan, faktor jenis dukungan, faktor

penerima dukungan dan faktor permasalahan yang dihadapi. Hal ini sesuai dengan

penelitian Taylor (1995) yang menyatakan bahwa dukungan sosial dari orang yang

memiliki arti bagi individu seperti keluarga terdekat dapat mengurangi tekanan

psikologis, sehingga individu lebih mampu menghadapi permasalahannya dengan tenang.

  Wanita yang memasuki masa menopause merasa tidak percaya diri dan

mengalami ketidakstabilan emosi karena perubahan-perubahan yang terjadi pada dirinya.

  

Takut kehilangan suami karena merasa tidak bisa melayani suami membuat wanita

mengalami kecemasan. Wanita yang mengalami kecemasan membutuhkan dukungan dari

  7 Hal inilah yang menarik minat peneliti, menurut asumsi peneliti kecemasan

terhadap menopause timbul karena banyak wanita yang kurang memahami masalah

menopause dan mempunyai tanggapan yang keliru mengenai masalah menopause selain

itu kurangnya dukungan suami dapat mempengaruhi keadaan psikis mereka, sehingga

selalu diliputi perasaan cemas dan takut menjelang masa menopause. Belum adanya

penelitian yang meneliti tentang hubungan dukungan suami dan kecemasan istri dalam

menghdapi masa menopause membuat peneliti memutuskan untuk mengambil topik

tersebut.

  B. Rumusan Permasalahan Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas, maka peneliti mengajukan

rumusan permasalahan sebagai berikut: ”apakah ada hubungan antara dukungan suami

terhadap tingkat kecemasan istri dalam menghadapi masa menopause.”

  C. Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan permasalahan yang diajukan maka tujuan dari penelitian ini

adalah untuk menguji secara empiris hubungan antara dukungan suami terhadap tingkat

kecemasan istri dalam menghadapi masa menopause.

  8 D. Manfaat Penelitian

  1. Manfaat Teoritis Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan ilmu psikologi,

khususnya di bidang Psikologi Klinis dan Perkembangan untuk melihat hubungan antara

dukungan suami dengan tingkat kecemasan istri dalam menghadapi menopause.

  2. Manfaat Praktis Penelitian ini diharapkan dapat memberi masukan bagi para isteri yang sedang

menghadapi masa menopause maupun para suami agar dapat memperoleh gambaran

yang lengkap mengenai pengaruh dukungan suami pada istri yang sedang menghadapi

masa menopause dan dapat memberikan dukungan sosial yang dibutuhkan sehingga para

isteri tidak mengalami kecemasan yang berlebihan dan dapat menghadapi masa

menopause dengan baik.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Kecemasan Dalam Menghadapi Menopause

1. Pengertian Kecemasan dalam Menghadapi Menopause

a. Pengertian Kecemasan

  Kecemasan adalah suatu perasaan negatif yang pasti pernah dialami oleh

semua orang. Kecemasan sampai pada batas tertentu merupakan hal yang normal

bagi setiap orang. Akan tetapi makin lama kecemasan berlangsung dan makin

tinggi intensitasnya maka makin abnormal kondisi orang tersebut dalam

menghadapi keadaan yang akan muncul. Kecemasan dalam taraf normal dapat

berfungsi sebagai sistem alarm yang memberikan tanda-tanda bahaya bagi

seseorang yang mengalaminya untuk dapat lebih siap menghadapinya. Kecemasan

merupakan semacam kegelisahan, kekhawatiran dan ketakutan terhadap sesuatu

yang tidak jelas, difus/baur dan mempunyai ciri yang mengazab pada seseorang

(Kartini, 2002).

  Walgito (2002) mendefinisikan kecemasan secara umum sebagai suatu

keadaan psikologis pada diri individu yang terus-menerus berada dalam perasaan

khawatir yang ditimbulkan oleh adanya konflik di dalam diri individu itu sendiri.

Kekhawatiran ini dialami sebagai suatu ketidaktentraman yang kabur/perasaan

lain seperti takut, gelisah, mudah tersinggung, dan tertekan. Sedangkan menurut

Darajad (1994), kecemasan adalah manifestasi dari berbagai proses emosi yang

  10

bercampur baur, yang terjadi ketika seseorang mengalami tekanan perasaan dan

bertentangan dengan batin.

  Pendapat lain dikemukakan oleh Hurlock (1992), kecemasan digambarkan

sebagai suatu kekhawatiran umum mengenai suatu peristiwa yang tidak jelas dan

tidak pasti terhadap peristiwa yang akan datang. Kecemasan muncul ketika

menghadapi atau berfikir terhadap suatu peristiwa yang akan datang, dimana

masih merupakan suatu bayangan yang belum pasti. Hal senada juga diungkapkan

oleh Kaplan dan Sadock (1997) bahwa kecemasan merupakan suatu rasa

khawatir/ketakutan yang berasal dari pikiran atau harapan yang direpres. Individu

yang terlalu banyak merepres kekhawatiran dan ketakutan yang berasal dari

pikiran sendiri kemungkinan besar akan mengalami kecemasan.

  Pendapat lain dari Hawari (1997), mengemukakan bahwa kecemasan

merupakan reaksi psikis terhadap kondisi mental individu yang tertekan. Apabila

orang menyadari bahwa hal-hal yang tidak bisa berjalan dengan baik pada situasi

tertentu akan berakhir tidak enak maka mereka akan cemas. Kondisi-kondisi atau

situasi yang menekan akan memunculkan kecemasan. Davidoff (1991)

mengemukakan bahwa kecemasan adalah suatu emosi yang ditandai oleh perasaan

akan adanya bahaya yang diantisipasikan, termasuk juga ketegangan dan stress

yang menghadang dan oleh bangkitnya syaraf simpatetik.

  Definisi lain dari Calhoun dan Acocella (1995) menjelaskan kecemasan

sebagai perasaan ketakutan (baik realistis maupun tidak) yang disertai dengan

  11

(2001) yang mengemukakan kecemasan sebagai ketegangan yang dihasilkan dari

ancaman-ancaman terhadap keamanan baik secara nyata maupun imajiner.

  Chaplin (2000) secara lebih jelas mendefinisikan kecemasan sebagai suatu

perasaan ketakutan dan keprihatinan terhadap sesuatu yang tidak jelas dan

terkadang tidak dapat dimengerti, atau perasaan ketakutan dalam menghadapi

suatu keadaan atau masa yang akan datang. Menurut teori psikoanalisa,

kecemasan timbul apabila ego menghadapi suatu impuls yang dianggap sebagai

ancaman dan tidak dapat dikendalikan (Atkinson, 1996)

  Berdasarkan uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa kecemasan

merupakan suatu kondisi psikologis atau perasaan-perasaan yang tidak

menyenangkan yang mengancam diri individu sedangkan objek penyebab

kecemasan itu tidak jelas sehingga menyebabkan individu tersebut merasa takut,

khawatir, was-was, dan tidak tahu apa yang akan terjadi di masa yang akan

datang. Kecemasan juga dapat berupa keadaan emosionil yang dialami seseorang,

dengan disertai rasa tegang tanpa sebab yang nyata dan dapat memberikan

pengaruh yang tidak menyenangkan serta mengakibatkan perubahan-perubahan

pada tubuh, baik somatik maupun psikologis.

b. Pengertian Menopause

  Mappiare (1983), mengemukakan menopause sebagai akibat adanya

perubahan fisik dan psikis yang ditandai dengan berhentinya produksi sel telur

  12

ditandai dengan berhentinya siklus menstruasi. Menopause adalah fase alami

dalam kehidupan setiap wanita yang menandai berakhirnya masa subur.

Menopause seperti halnya menarche dan kehamilan dianggap sebagai peristiwa

yang sangat berarti bagi kehidupan wanita. Menarche pada remaja wanita,

menunjukkan mulai diproduksinya hormon estrogen, sedang menopause terjadi

karena ovarium tidak menghasilkan atau tidak memproduksi hormon estrogen

(Noor, 2001).

  Menopause merupakan suatu tahap dimana wanita tidak lagi

mendapatkan siklus menstruasi yang menunjukkan berakhirnya kemampuan

wanita untuk bereproduksi. Secara normal wanita mulai mengalami masa

menopause antara usia 40 tahun sampai 50 tahun. Pada saat menopause, wanita

akan mengalami perubahan-perubahan di dalam organ tubuhnya yang disebabkan

oleh bertambahnya usia (Kuntjoro, 2002). Secara singkat dapat dikatakan bahwa

menopause merupakan suatu proses peralihan dari masa produktif menuju

perubahan secara perlahan-lahan ke masa non produktif yang disebabkan oleh

berkurangnya hormon estrogen dan progesteron seiring dengan bertambahnya

usia. Sehubungan dengan terjadinya menopause pada wanita usia lanjut maka

biasanya hal itu diikuti dengan berbagai gejolak atau perubahan yang meliputi

aspek fisik maupun psikologis yang dapat mempengaruhi berbagai aspek

kehidupan individu tersebut.

  Istilah menopause merujuk pada masa transisi bagi seorang wanita dari

  13

ditandai dengan berhentinya fungsi ovarium menghasilkan sel telur dan

mengeluarkan hormon estrogen dan progesteron (Becker, dkk., 2001).

  Menopause sering dianggap sebagai krisis dalam hidup, karena dalam

periode ini banyak terjadi perubahan pada tubuh wanita disebabkan oleh aktivitas

hormonal. Perubahan ini disebut perubahan fisiologis. Perubahan fisiologis ini

misalnya penurunan produksi hormon perangsang folikel (Folicle Stimulating

Hormones) dan hormon Luteum (Luteinizing Hormones), sehingga terjadi

ketidakteraturan menstruasi sampai kemudian siklus haid mati atau berhenti

secara total (Spencer, 1991).

  Facteu (2002) mengemukakan beberapa gejala yang biasa dialami oleh

wanita selama masa menopause antara lain, menstruasi yang mulai tidak teratur

dan dalam jumlah yang sangat banyak hingga berkurang sedikit demi sedikit, kulit

menjadi kering, hot flash (serangan rasa panas di sekitar wajah dan leher), vagina

menjadi kering, mudah pusing, pengeroposan tulang, penurunan memori hingga

penurunan gairah seksual yang dapat menyebabkan terjadinya gejolak emosi,

depresi, mudah tersinggung, dan sulit tidur.

  Jin (1998) juga mengungkapkan bahwa beberapa gejala yang umumnya

dirasakan wanita seiring dengan penurunan produksi estrogen antara lain gejala

vasomotor, payudara dan rahim mengecil, rasa sakit dan nyeri ketika berhubungan

intim akibat kekeringan pada vagina, sehingga gejala-gejala ini menimbulkan

berbagai gejolak emosi seperti kecewa, kecemasan, depresi, sulit tidur dan

menurunnya gairah seksual.

  14 Sindrom menopause pada wanita ditandai dengan berhentinya menstruasi

secara mendadak atau arus menstruasi secara berangsur berkurang, siklus menjadi

lebih pendek dengan arus pendarahan yang lancar dan deras. Seiring dengan

pertambahan usia dimana sistem reproduksi menurun dan berhenti, penampilan

kewanitaanpun menurun, karena hormon–hormon estrogen diovariumnya

berkurang sehingga lekuk tubuh menjadi rata, tubuh menjadi gemuk, payudara

tidak kencang, bulu pubis menjadi lebih tipis, bibir dan kulit menjadi kering,

kurang halus dan kelenturannya berkurang, rambut beruban menipis dan mudah

rontok, selaput bening mata menjadi lebih kering (Maspaitella, 2006).

  Berbagai pengertian di atas dapat disimpulkan pengertian menopause

sebagai suatu masa dimana wanita secara bertahap tidak lagi mendapatkan siklus

menstruasi yang menunjukkan berakhirnya kemampuan wanita untuk

bereproduksi. Hal ini ditandai dengan menurunnya fungsi ovarium dalam

menghasilkan sel telur dan penurunan produksi hormon estrogen dan progresteron

pada seorang wanita. Pada umumnya masa menopause dialami oleh wanita paruh

baya berusia sekitar 40 – 50 tahun dan dalam rentang waktu antara 3 – 9 tahun

hingga menstruasi benar-benar berhenti. Menopause merupakan suatu peristiwa

yang wajar dan akan dialami oleh setiap wanita, namun gejala-gejala menopause

yang dialami seperti kekeringan dan nyeri pada vagina, kulit menjadi kering dan

keriput, hot flash, keringat berlebihan dan pengeroposan tulang dapat

menimbulkan kecemasan dalam diri wanita yang mengalami menopause yang

dapat mengancam egonya sebagai wanita.

  15

c. Pengertian Kecemasan dalam Menghadapi Menopause

  Masa menopause biasanya dimulai saat memasuki usia 48 tahun dan

berakhir pada usia sekitar 52 tahun (biasanya sekitar 3-9 tahun) dan bervariasi

pada setiap wanita (Becker, dkk., 2001). Masa ini banyak disebut sebagai masa

kritis, karena perubahan hormonal tersebut menimbulkan pengaruh psikologis

pada wanita yang mengalaminya (Ibrahim, 2002). Gejala – gejala menopause

yang dialami selama masa menopause dapat berdampak pada kualitas hidup dan

psikologis seseorang. Gejala menopause yang dialami wanita seringkali

menimbulkan depresi dan sikap negatif terhadap menopause (Chouzi, dkk., 1995).

  Kondisi atau gejala-gejala yang dialami tersebut membuat munculnya

konflik dalam diri wanita dalam mempertahankan fungsi kewanitaannya, hingga

terjadinya stagnasi pada organ reproduksinya. Wanita dalam masa menopause

mengalami semacam pertentangan antara ketakutan akan hilangnya fungsi

kewanitaannya hingga berusaha melakukan berbagai cara untuk menunda periode

menopause, usaha-usaha ini terkadang mengancam egonya sebagai wanita

sehingga menimbulkan kecemasan yang berlebihan (Ibrahim, 2002) .

  Sebagaimana telah diuraikan di atas bahawa kecemasan merupakan suatu

kondisi psikologis atau perasaan-perasaan yang tidak menyenangkan yang

mengancam individu. Objek penyebab kecemasan tidak jelas dan dapat

menyebabkan gangguan pada tubuh baik somatik maupun psikologis. Dalam

penelitian ini, wanita paruh baya menganggap menopause sebagai ancaman

terhadap fungsi kewanitaannya sehingga menimbulkan kecemasan yang

  16 Berdasarkan pengertian tentang kecemasan dan pengertian tentang

menopause, disimpulkan bahwa kecemasan dalam menghadapi menopause dapat

didefinisikan sebagai suatu kondisi psikologis atau perasaan-perasaan yang tidak

menyenangkan yang mengancam diri wanita yang sedang mengalami masa

menopause, yakni suatu masa dimana wanita secara bertahap tidak lagi

mendapatkan siklus menstruasi yang menunjukkan berakhirnya kemampuan

wanita untuk bereproduksi.

2. Tahap - Tahap Masa Menopause

  Santrock (2007) menjelaskan bahwa ada tiga tahap yang dilalui wanita

pada masa menopause sebelum menstruasi benar-benar berhenti. Ketiga tahap

tersebut adalah:

  

a. Tahap perimenopause atau biasa disebut juga tahap klimakterium, yaitu

merupakan masa peralihaan anatara masa reproduksi dan masa senium.

  Biasanya periode ini berlangsung sekitar 10 tahun dan ditandai dengan haid yang mulai tidak teratur baik waktu dan jumlahnya.

  

b. Tahap menopause, adalah saat haid terakhir, dimana wanita tidak

mendapatkan haid sama sekali selama satu tahun penuh.

  

c. Tahap pasca menopause atau tahap senium, adalah periode sesudah

menopause, yaitu ketika individu telah mampu menyesuaikan dengan kondisinya, sehingga tidak mengalami gangguan fisik dan psikologis Noor (2001) menjelaskan bahwa pada masa klimakterium fungsi

  17

yang menghadapi periode menopause, munculnya simtom-simtom psikologis

sangat dipengaruhi oleh adanya perubahan pada aspek fisiologis sebagai akibat

dari berkurang dan berhentinya produksi hormon estrogen. Pada perempuan yang

mengalami menopause keluhan yang sering dirasakan antara lain: merasa

cemas, takut, lekas marah, mudah tersinggung, suli konsentrasi, gugup, merasa

tidak berguna - tidak berharga, stres dan bahkan ada yang mengalami depresi.

Pada umumnya, gejala psikologis ini muncul pada tahap perimenopause, jika

wanita tersebut mampu mengatasi tahap perimenopausenya dengan baik, maka

sedikit demi sedikit akan mampu menerima kenyataan kondisi fisiknya dengan

baik sehingga gejala psikologis seperti kecemasan, stres dan depresi akan hilang

dengan sendirinya ketika sudah memasuki tahap pasaca menopause.

  Berdasarkan pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa masa menopause

terdiri dari tiga tahapan yaitu perimenopause atau klimakterium, menopause dan

pasca menopause atau senium. Gejala kecemasan pada wanita yang menghadapi

menopause biasanya muncul pada tahap perimenopause dan akan hilang ketika

sudah memasuki tahap pasca menopause dimana wanita tersebut telah dapat

menyesuaikan diri sehingga tidak lagi mengalami gangguan fisik dan psikologis.

  

Berdasarkan uraian tersebut, maka pada penelitian ini lebih difokuskan pada

subjek yang sedang berada pada tahap perimenopause.

  18

3. Aspek-aspek Kecemasan dalam menghadapi Menopause

  Zuccolo (2006), mengemukakan bahwa ada beberapa faktor yang dapat

menimbulkan kecemasan pada wanita dalam menghadapi masa menopause.

  Faktor-faktor tersebut umumnya dapat dibagi menjadi tiga, yaitu:

  

a. Kecemasan berkaitan dengan perubahan fisik yang dialami. Seiring dengan

menurunnya hormon estrogen, pada sebagian wanita akan mengalami kegemukan, bentuk tubuh yang berubah seperti payudara yang mengendur, bokong menurun dan perut gemuk. Hal ini menimbulkan kecemasan yang berlebihan bagi wanita yang mengutamakan penampilan. Perubahan bentuk tubuh dirasakan sebagai ancaman yang membuat dirinya kehilangan daya tarik. Bagi wanita seperti ini, cermin menjadi musuh terbesarnya (Mishra & Kuh, dalam Zuccolo, 2006).

  

b. Kecemasan yang berkaitan dengan gejala-gejala menopause. Sebagian wanita

merasa cemas dan bingung ketika mengalami suasana hati yang berubah, mudah tersinggung dan depresi sejalan dengan perubahan hormonal yang terjadi. Gejala-gejala menopause seperti hot flashes, insomnia dan menstruasi yang tidak teratur juga menimbulkan kecemasan tersendiri bagi sebagian wanita. Terutama gejala menurunnya gairah sexual, sebaigan besar wanita mengalami kecemasan bahwa dirinya tidak lagi bisa membahagiakan dan melayani suami dengan baik (Mc Carthy, dalam Zuccolo, 2006)

c. Kecemasan yang berkaitan dengan penyakit usia lanjut. Berkurangnya

produksi hormon estrogen dapat menimbulkan gangguan penyakit, yang

  19 menimbulkan kecemasan bagi para wanita usia paruh baya yang sedang mengalami masa menopause (Zuccolo, 2006).

  Kaplan dan Sadock (1997) menyatakan bahwa kecemasan mempunyai dua komponen, yaitu:

a. Kesadaran akan adanya sensasi fisiologis. Apabila seseorang mengalami

kecemasan maka akan muncul sensasi-sensasi fisiologis; seperti jantung berdebar-debar dan berkeringat.

  

b. Kesadaran sedang gugup/sedang mengalami ketakutan. Kecemasan akan lebih

berat apabila individu merasa malu saat ada orang yang tahu bahwa ia mengalami ketakutan.

  Adapun gejala-gejala psikologis adanya kecemasan bila ditinjau dari

beberapa aspek, menurut Blackburn dan Davidson (dalam Kuntjoro, 2002) adalah

sebagai berikut :

  

d. Suasana hati yaitu keadaan yang menunjukkan ketidaktenangan psikis,

seperti: mudah marah, perasaan sangat tegang.

  

e. Pikiran yaitu keadaan pikiran yang tidak menentu, seperti: khawatir, sukar

konsentrasi, pikiran kosong, membesar-besarkan ancaman, memandang diri sebagai sangat sensitif, merasa tidak berdaya.

  

f. Motivasi yaitu dorongan untuk mencapai sesuatu, sepert : menghindari situasi,

ketergantungan yang tinggi, ingin melarikan diri, lari dari kenyataan.

  

g. Perilaku gelisah yaitu keadaan diri yang tidak terkendali seperti : gugup,

  20 pusing, berdebar-debar, mual, mulut kering.

  Gangguan kecemasan dianggap berasal dari suatu mekanisme pertahanan diri yang dipilih secara alamiah oleh makhluk hidup bila menghadapi sesuatu yang mengancam dan berbahaya. Kecemasan yang dialami dalam situasi semacam itu memberi isyarat kepada makhluk hidup agar melakukan tindakan mempertahankan diri untuk menghindari atau mengurangi bahaya atau ancaman.

  Martaniah (1984) dalam penelitiannya mengatakan bahwa kecemasan mempunyai empat elemen yang digunakan sebagai aspek dari kecemasan, yaitu :

a. Respon Kognitif.

  

Respon kognitif yaitu respon terhadap kecemasan dalam pikiran manusia,

ketidakmampuan berkonsentrasi atau membuat keputusan, susah tidur dan

putus asa.

  b. Respon Somatik

Respon somatik yaitu reaksi tubuh terhadap bahaya, misalnya tangan dan kaki

dingin, diare, keringat berlebihan, dan sebagainya.

  c. Respon Emosi Respon emosi yaitu perasaan manusia dimana individu secara terus menerus khawatir, merasa takut terhadap bahaya yang mengancam.

  d. Respon Perilaku

Respon perilaku yaitu reaksi dalam bentuk perilaku manusia terhadap

ancaman, misalnya gelisah, gugup dan bingung.

  Berdasarkan uraian di atas, kecemasan dalam menghadapi menopause

  21

menopause yang dirasakan dan penyakit yang mungkin timbul. Kecemasan

sendiri dapat dilihat dari aspek psikologis dan fisiologis. Aspek psikologis

merupakan gejala-gejala atau reaksi-reaksi kecemasan secara psikologis seperti

sulit konsentrasi, gugup, takut dan sebagainya. Aspek fisiologis merupakan

rekasi-rekasi fisik ketika mengalami kecemasan seperti gemetar, keringat dingin

dan sebagainya. Kecemasan dalam menghadapi menopause adalah kecemasan

yang bersumber dari datangnya masa menopause yang dianggap sebagai ancaman

oleh sebagian wanita, sehingga pada dasarnya memiliki aspek yang sama dengan

kecemasan pada umumnya. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan aspek-

aspek menurut Martaniah (1984) untuk mengetahui atau mengukur tingkat

kecemasan seseorang khususnya wanita dalam menghadapi masa menopause.

4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kecemasan dalam Menghadapi Menopause

  Menurut Horney (1997) kecemasan secara umum dipengaruhi oleh dua faktor yaitu : a. Faktor Internal Kecemasan yang berasal dari dalam diri individu itu sendiri. Kecemasan ini dapat timbul karena individu mengalami hambatan untuk mendapatkan kebutuhan-kebutuhan, sehingga individu merasa bahwa dirinya tidak mampu, tidak percaya diri, merasa bersalah dan rendah diri. Dalam hal ini faktor internal yang mempengaruhi kecemasan seorang wanita dalam menghadapi

  22 penurunan fungsi reproduksinya, rasa takut akan perubahan fisik yang dialami selama masa menopause dapat mengganggu keberadaannya sebagai wanita dan sebagainya.

b. Faktor Eksternal Faktor eksternal merupakan faktor yang berasal dari lingkungan sosialnya.

  Kecemasan timbul karena lingkungan sosial tidak memberikan kebutuhan yang diharapkan individu seperti kehangatan, penghargaan serta berakibat timbulnya penolakan sosial, kritikan orang lain/hal-hal lain yang mengancam. Faktor eksternal yang berhubungan dengan kecemasan wanita dalam menghadapi menopause, biasanya datang dari mitos-mitos yang berkembang seperti bahwa wanita yang mengalami menopause sudah tua, tidak lagi menraik dan sebagainya yang dapat mempengaruhi kesiapan individu dalam menghadapi masa menopause, selain itu faktor eksternal seperti ada atau tidaknya dukungan sosial dari sekitarnya juga berpengaruh terhadap tingkat kecemasan individu.

  Maspaitella (2006) mengatakan bahwa mudah tidaknya seseorang

mengalami gangguan emosional sehubungan dengan terjadinya perubahan fisik

yang dialaminya antara lain tergantung dari kepribadiannya, gaya hidupnya,

kondisi kesehatan mental dan fisiknya secara menyeluruh, masalah-masalah

pribadi yang dialaminya, dan kondisi lingkungan psikososialnya yang

menimbulkan stress. Pada perempuan, penyesuaian diri terhadap perubahan fisik

  23

menurut penampilan lahiriahnya lebih dari apapun juga. Penekanannya diletakkan

pada kecantikan, mode, bentuk tubuh, dan kemudaan yang dapat dimanfaatkan

untuk menarik perhatian kaum pria untuk meningkatkan rasa penghargaan

terhadap diri sendiri. Hal tersebut menyulitkan bagi beberapa perempuan untuk

menilai diri sendiri setelah mereka mencapai usia Madya (40–50 tahunan), karena

bagi mereka akan merupakan bencana kalau suami atau kekasihnya

meninggalkannya untuk mendapatkan teman hidup yang lebih muda, yang

kadang-kadang terjadi dalam usia Madya/separuh baya.

  Apabila sesesorang tidak siap mental menghadapi periode klimakteriknya

ataupun fase Menopausenya dan lingkungan psikososialnya tidak memberikan

dukungan moril yang positif, seringkali ia menjadi kurang percaya diri, merasa

tidak diperhatikan, tidak dihargai, merasa stres dan rasa prihatin yang berlebihan

tentang perubahan fisiknya yang tidak seindah dan sesehat ketika ia berusia muda,

sehingga dapat menimbulkan gejala psikologik seperti perasaan gelisah, cemas,

perasaan takut, mudah tersinggung, mudah marah, merasa tertekan, mudah merasa

sedih, rasa hampa, rasa bersalah, merasa kesepian saat berada ditengah orang

ramai dan sebagainya (Maspaitella, 2006).

  Berdasarkan penjelasan di atas, faktor-faktor yang dapat mempengaruhi

kecemasan wanita dalam menghadapi menopause dapat dijabarkan dari menjadi

faktor internal, yaitu faktor dalam diri wanita itu sendiri seperti kesiapan mental,

tipe kebripadian, status pekerjaan, kesehatan dan sebagainya. Sedangkan faktor

eksternal adalah faktor yang berasal dari luar seperti mitos seputar menopause,

  24

fokus melihat faktor dukungan sosial dari suami sebagai faktor yang berpengaruh

terhadap kecemasan dalam menghadapi menopause pada wanita

B. Dukungan Sosial Suami

1. Pengertian Dukungan Sosial

  Lin, Woefel dan Light (1985) mengatakan bahwa dukungan sosial

merupakan kebutuhan seperti persetujuan, penghargaan dan pertolongan yang

diperoleh dari orang-orang yang mempunyai arti bagi individu. Dukungan sosial

menurut House (dalam Cohen & Syme, 1985) diartikan sebagai bentuk hubungan

yang bersifat menolong.

  Sarason, Levine & Basham (1983) mendefinisikan dukungan sosial

sebagai adanya pemberian informasi dan bantuan melalui hubungan sosial yang

akrab yang membuat seseorang merasa diperhatikan, bernilai dan dicintai.

Sedangkan Sarafino (1994) berpendapat bahwa dukungan sosial dapat diartikan

sebagai perasaan nyaman, perhatian, penghargaan ataupun bantuan yang diterima

individu dari orang lain.

  Dari berbagai pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa dukungan sosial

merupakan bantuan yang diberikan dalam suatu hubungan sosial yang akrab bagi

seseorang dari orang lain yang mempunyai arti dalam hidupnya sehingga merasa

diperhatikan, bernilai dan dicintai.

  25

2. Sumber-sumber Dukungan Sosial

  Cohen dan Syme (1985) menyatakan bahwa suatu sumber dukungan sosial

mungkin berarti bagi seseorang tetapi tidak bagi orang lain. Peran yang dipegang

oleh pemberi dan penerima, norma yang dianut, persamaan antara pemberi dan

penerima dukungan akan sangat menentukan keberhasilan dukungan sosial yang

diberikan. Misalnya, seseorang yang mengalami masalah di tempat kerja, maka

dukungan sosial dari atasan dan rekan kerja akan lebih efektif dibandingkan

dukungan sosial dari keluarga atau teman dekat.

  Wortman dan Conway (1985) menyebutkan beberapa sumber dukungan

sosial antara lain pasangan, keluarga, teman, rekan kerja dan atasan. Johnson dan

Johnson (1991) mengatakan bahwa dukungan sosial bersumber dari orang-orang

yang dekat dengan individu (significant others) yang memenuhi kriteria sebagai

berikut:

a. Seseorang yang bersedia bekerja bersama dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapi individu yang membutuhkan bantuan.

  

b. Seseorang yang mampu menyediakan kebutuhan-kebutuhan individu untuk

menyelesaikan masalah yang dihadapi (uang, alat, keahlian, informasi, nasehat, cinta, perhatian dan sebagainya).

  

c. Seseorang yang dapat membantu individu untuk mengerahkan kemampuan

atau sumber-sumber psikologis yang dimilikinya agar dapat digunakan dalam menghadapi masalah.

  Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa dukungan sosial dapat

  26

hidup individu seperti pasangan, keluarga, teman, rekan kerja maupun atasan.

  

Menurut Cohen dan Syme (1985) efektivitas dari dukungan sosial dipengaruhi

oleh faktor pemberi dukungan, faktor jenis dukungan, faktor penerima dukungan

dan faktor permasalahan yang dihadapi. Dalam penelitian ini, berdasarkan

permasalahan kecemasan dalam menghadapi menopause pada wanita,

diasumsikan bahwa yang lebih dibutuhkan adalah dukungan sosial dari pasangan,

yaitu suami. Maka pada penelitian ini lebih difokuskan pada dukungan sosial

suami.

3. Aspek-aspek Dukungan Sosial

  House (dalam Cohen dan Syme, 1985) membagi dukungan sosial atas empat aspek, yaitu:

a. Dukungan emosional, merupakan dukungan yang berupa empati, kepedulian

dan perhatian. Penelitian Mc Loyd dan Smith (2002) mengemukakan bahwa semakin tinggi dukungan emosional yang diterima, semakin rendah perilaku negatif yang muncul.

  

b. Dukungan penghargaan, berupa ungkapan hormat secara positif, dorongan

untuk maju atau persetujuan terhadap sikap dan perasaan individu. Rini (2001) dalam penelitiannya mengemukakan bahwa individu yang mendapat dukungan penghargaan yang cukup lebih mampu menghadapi masa pensiunnya dengan baik.

c. Dukungan informatif, berupa pemberian nasehat, saran, petunjuk dan umpan

  27 orang-orang terdekatnya cenderung membuat individu semakin dapat mengambil keputusan lebih baik dalam mengatasi masalahnya.

  

d. Dukungan instrumental, merupakan bentuk dukungan secara langsung seperti

bantuan alat, pekerjaan ataupun keuangan yang memudahkan individu dalam menyelesaikan permasalahannya.

  Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya, aspek-aspek

yang terdapat dalam dukungan sosial terdiri dari aspek emosional, aspek

penghargaan, aspek informatif dan aspek instrumental. Dalam penelitian ini

keempat aspek dari House (Cohen & Syme, 1985) tersebut digunakan untuk

mengungkapkan dukungan sosial suami.

  

C. Hubungan Antara Dukungan Sosial Suami dengan Kecemasan dalam

Menghadapi Menopause pada Wanita Menopause merupakan suatu tahap dimana wanita tidak lagi mendapatkan

siklus menstruasi yang menunjukkan berakhirnya kemampuan wanita untuk

bereproduksi. Secara normal wanita mulai mengalami masa menopause antara

usia 40 tahun sampai 50 tahun. Pada saat menopause, wanita akan mengalami

perubahan-perubahan di dalam organ tubuhnya yang disebabkan oleh

bertambahnya usia (Kuntjoro, 2002).

  Sindrom menopause pada wanita ditandai dengan berhentinya menstruasi

secara mendadak atau arus menstruasi secara berangsur berkurang, siklus menjadi

lebih pendek dengan arus pendarahan yang lancar dan deras. Seiring dengan

  28

kewanitaanpun menurun, karena hormon–hormon estrogen diovariumnya

berkurang sehingga lekuk tubuh menjadi rata, tubuh menjadi gemuk, payudara

tidak kencang, bulu pubis menjadi lebih tipis, bibir dan kulit menjadi kering,

kurang halus dan kelenturannya berkurang, rambut beruban menipis dan mudah

rontok, selaput bening mata menjadi lebih kering (Maspaitella, 2006).

  Sejalan dengan perubahan-perubahan fisiologis terutama pada fungsi-

fungsi reproduksi, masa premenopause juga ditandai dengan adanya gejala

psikologis seperti yang dikemukakan oleh Zuccolo (2006) bahwa gejala

menopause dapat menimbulkan frustrasi yang berlebihan pada wanita akibat

perubahan yang dialami. Hal ini dikuatkan oleh beberapa hasil penelitian seperti

penelitian O’Neill (1996) yang menyatakan bahwa tiga tahun sebelum menstruasi

benar-benar berhenti, wanita pada umumnya mengeluhkan gangguan emosi

seperti menurunnya gairah, sulit berkonsentrasi, mudah tersinggung, agresif,

mudah lelah dan gugup, tegang, depresi atau menarik diri, merasa kesepian yang

tidak beralasan dan kecemasan yang berlebihan.

  Ibrahim (2002) mengatakan bahwa wanita dalam masa menopause

mengalami semacam pertentangan antara ketakutan akan hilangnya fungsi

kewanitaannya hingga berusaha melakukan berbagai cara untuk menunda periode

menopause, usaha-usaha ini terkadang mengancam egonya sebagai wanita

sehingga menimbulkan kecemasan yang berlebihan. Lebih jauh dikatakan

Maspaitella (2001), apabila sesesorang tidak siap mental menghadapi periode

klimakteriknya ataupun fase Menopausenya dan lingkungan psikososialnya tidak

  29

diri, merasa tidak diperhatikan, tidak dihargai, merasa stres dan rasa prihatin yang

berlebihan tentang perubahan fisiknya yang tidak seindah dan sesehat ketika ia

berusia muda, sehingga dapat menimbulkan gejala psikologik seperti perasaan

gelisah, cemas, perasaan takut, mudah tersinggung, mudah marah, merasa

tertekan, mudah merasa sedih, rasa hampa, rasa bersalah, merasa kesepian saat

berada ditengah orang ramai dan sebagainya. Sejalan dengan pendapat tersebut,

Soares, dkk. (dalam Zuccolo, 2006) mengemukakan bahwa wanita yang

mengalami masa menopause membutuhkan pengharapan, penerimaan dan

toleransi dari lingkungan sosial terdekatnya, dalam hal ini adalah keluarga.

  

Wanita yang mendapatkan penerimaan dan dukungan sosial diharapkan dapat

menghadapi masa menopausenya dengan lebih baik.

  Kualitas perkawinan berpengaruh terhadap kesehatan wanita telah

dibuktikan dalam berbagai penelitian. Meskipun menopause adalah suatu tahap

perkembangan dan bukanlah suatu penyakit, namun sangat berhubungan dengan

kesehatan terutama fungsi reproduksi wanita, terbukti dalam penelitian bahwa

wanita yang perkawinannya tidak bahagia menderita lebih banyak gejala-gejala

menopause seperti sulit tidur, kecemasan dan depresi dibandingkan dengan wanita

yang perkawinannya bahagia (Kurpius dkk., 2001). Aspek lain adalah yang

berkaitan dengan kepuasan seksual, Mansfield, Koch, dan Voda (1998)

membuktikan bahwa kesulitan seksual selama masa menopause dapat lebih sering

dialami oleh wanita yang perkawinannya tidak bahagia, 60 % wanita yang

perkawinannya bahagia terbukti tidak mengalami masalah seksual selama masa

  30 Berbagai penjelasan bahwa wanita yang menghadapi masa menopause

seringkali mengalami kecemasan akibat adanya berbagai perubahan baik fisik

maupun psikologis akibat menurunnya fungsi reproduksinya dan berhentinya

menstruasi. Pada wanita yang mengalami kecemasan dalam menghadapi

menopause membutuhkan adanya dukungan sosial, khususnya dari suami sebagai

pasangan hidupnya. Dukungan sosial dari suami, seperti halnya perhatian emosi,

informasi, instrumental, penyediaan sarana dan penilaian positif diharapkan dapat

membantu mengatasi problem-problem yang dihadapi wanita pada masa

menopause. Suami mempunyai peranan penting untuk mengarahkan dalam

pemahaman tentang menopause terhadap istrinya, misalnya memberi perhatian

emosi saat istri sedang cemas menghadapi kehidupan tua, memberi informasi pada

saat merasa kehilangan daya tarik seksual. Memberi instrumen dan penilaian

positif pada saat merasa mulai kehilangan peranan sebagai isri bagi suami dan ibu

bagi anak-anaknya dan bukan saja karena keterdekatan fisik, tetapi juga untuk

melakukan aktivitas bersama memecahkan problem, mencapai cita-cita,

menikmati kegembiraan dan kemesraan di usia senja dan saling menerima diri

yang utuh. Hubungan dan penerimaan yang baik oleh suami diharapkan

memberikan rasa percaya diri pada istri bahwa dirinya sesuai dan berarti bagi

suami dan keluarganya meskipun tidak lagi produktif sebagai wanita.

  Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa dukungan sosial yang

diberikan suami, baik itu yang berupa penerimaan, pemberian motivasi, perhatian

diharapkan berpengaruh positif terhadap berkurangnya kecemasan yang dialami

  31

suami sebagai lingkungan sosial terdekat, diharapkan istri sebagai wanita dapat

melakukan penyesuaian diri yang lebih baik pada waktu mengalami menopause.

Dengan demikian adanya dukungan dari suami diharapkan dapat mengurangi

kecemasannya dalam menghadapi masa menopause. Dengan kata lain, wanita

dengan dukungan sosial yang tinggi dari suami akan memiliki tingkat kecemasan

yang rendah dalam menghadapi masa menopause dan sebaliknya, wanita yang

tidak mendapatkan dukungan sosial dari suami akan mengalami tingkat

kecemasan yang tinggi dalam menghadapi menopause.

D. Hipotesa

  Uraian di atas, maka dapat dirumuskan hipotesa sebagai berikut: ada

korelasi negatif antara dukungan suami dengan tingkat kecemasan dalam

menghadapi menopause pada wanita. Semakin tinggi dukungan sosial yang

diterima dari suami maka semakin rendah tingkat kecemasan dalam menghadapi

menopause yang dirasakan dan semakin rendah dukungan sosial yang diterima

dari suami maka semakin tinggi pula tingkat kecemasan dalam menghadapi

menopause yang dirasakan.

BAB III METODE PENELITIAN A. Identifikasi Variabel Variabel-variabel yang diteliti dalam penelitian ini adalah:

  1. Variabel Tergantung : Kecemasan dalam Menghadapi Menopause

  2. Variabel Bebas : Dukungan Sosial Suami

B. Definisi Operasional Variabel

  Definisi operasional variabel dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut:

1. Kecemasan dalam Menghadapi Menopause

  Kecemasan dalam menghadapi menopause didefinisikan sebagai suatu

kondisi psikologis atau perasaan-perasaan yang tidak menyenangkan yang

mengancam diri wanita yang sedang mengalami masa menopause, yakni suatu

masa dimana wanita secara bertahap tidak lagi mendapatkan siklus menstruasi

yang menunjukkan berakhirnya kemampuan wanita untuk bereproduksi.

  Kecemasan menghadapi menopause dalam penelitian ini akan diukur

menggunakan Skala Kecemasan Menghadapi Menopause berdasarkan aspek-

aspek kecemasan yang dikemukakan oleh Martaniah (1984) yang meliputi aspek

kognitif, somatik, emosi dan perilaku. Semakin tinggi skor yang diperoleh subjek

maka semakin tinggi tingkat kecemasan dialami oleh subjek dalam menghadapi

  33

menopause dan semakin rendah skor yang diperoleh subjek maka semakin rendah

pula tingkat kecemasan yang dialami oleh subjek dalam menhadapi menopause.

2. Dukungan Sosial

  Dukungan sosial merupakan bantuan yang diberikan dalam suatu

hubungan sosial yang akrab bagi seseorang dari orang lain yang mempunyai arti

dalam hidupnya sehingga merasa diperhatikan, bernilai dan dicintai. Dalam

penelitian ini, berdasarkan permasalahan kecemasan dalam menghadapi

menopause pada wanita, diasumsikan bahwa yang lebih dibutuhkan adalah

dukungan sosial dari pasangan, yaitu suami. Maka pada penelitian ini lebih

difokuskan pada dukungan sosial suami.

  Pada penelitian ini yang menjadi subjek adalah wanita yang sedang

mengalami masa menopause, sehingga dukungan sosial suami akan dilihat dari

persepsi subjek terhadap dukungan sosial yang diterima dari suami. Dukungan

sosial suami diungkap melalui skala persepsi terhadap dukungan sosial suami

yang disusun berdasarkan aspek-aspek dukungan sosial yang dikemukakan oleh

House (Cohen & Syme, 1985), yaitu aspek emosional, aspek penghargaan, aspek

informatif dan aspek instrumental yang diterima dari suami. Semakin tinggi skor

berarti semakin tinggi dukungan sosial yang diterima dan sebaliknya semakin

rendah skor berarti semakin rendah dukungan sosial yang diterima.

  34 C. Subjek Penelitian Subjek penelitian ini adalah wanita usia dewasa madya yang sedang

memasuki masa menopause. Jumlah subjek adalah sebanyak 80 responden.

Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling yaitu pemilihan

terhadap sampel yang sesuai dengan kriteria atau tujuan penelitian (Hadi, 2000).

  Kriteria yang ditetapkan dalam penelitian ini adalah:

  1. Wanita berusia 40 -55 tahun

  2. Menikah

  3. Sedang memasuki masa menopause (perimenopause) Penetapan kriteria di atas didasarkan pada pendapat O’Neill (1996) bahwa

bahwa tiga tahun sebelum menstruasi benar-benar berhenti, wanita pada

umumnya mengeluhkan gangguan emosi. Pendapat tersebut diperkuat oleh

Chowta & Chowta (2008) dalam penelitiannya yang menemukan bahwa wanita

pada tahap perimenopause mengalami gejala kecemasan yang lebih besar

dibandingkan wanita yang sudah berada dalam tahap post menopause.

D. Metode Pengumpulan Data

  Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah

metode skala yaitu serangkaian pernyataan yang akan direspon oleh responden

(Azwar, 2003). Hal ini dilakukan mengingat responden adalah orang yang paling

tahu mengenai dirinya (Azwar, 2003). Ada dua macam skala yang akan digunakan

dalam penelitian ini, yaitu skala kecemasan dalam menghadapi menopause dan

  35 1. Skala Kecemasan dalam Menghadapi Menopause.

  Skala Kecemasan Menghadapi Menopause disusun sendiri oleh peneliti dengan mengacu pada aspek-aspek kecemasan yang dikemukakan oleh Martaniah (1984), meliputi : a. Respon Kognitif.

  

Respon kognitif yaitu respon terhadap kecemasan dalam pikiran manusia,

ketidakmampuan berkonsentrasi atau membuat keputusan, berpikiran negatif,

dan sebagainya.

  b. Respon Somatik

Respon somatik yaitu reaksi tubuh terhadap bahaya, misalnya tangan dan kaki

dingin, diare, keringat berlebihan, dan sebagainya.

  c. Respon Emosi Respon emosi yaitu perasaan manusia dimana individu secara terus menerus khawatir, merasa takut, mudah tersinggung, dan sebagainya.

  d. Respon Perilaku

Respon perilaku yaitu reaksi dalam bentuk perilaku manusia terhadap

ancaman, misalnya agresif, diam, sulit tidur, dan sebagainya.

  Skala ini menggunakan aitem-aitem yang bersifat favorable dan unfavorable yang dibuat dalam format model Likert dengan 4 alternatif jawaban, yaitu Sangat Sesuai (SS), Sesuai (S), Tidak Sesuai (TS) dan Sangat Tidak Sesuai (STS). Skor terhadap pernyataan favorable (mendukung pernyataan) untuk jawaban SS = 4, S = 3, TS = 2, STS = 1. Sebaliknya untuk pernyataan

  36 = 3, STS = 4. Jumlah skor yang tinggi menunjukkan tingginya tingkat kecemasan dalam menghadapi menopause yang dialami oleh subjek dan skor yang rendah menunjukan rendahnya tingkat kecemasan dalam menghadapi menopause yang dialami oleh subjek. Adapun sebaran aitem Skala Kecemasan Menghadapi Menopause sebelum uji coba dapat dilihat pada Tabel 1.

  Tabel 1 Distribusi Aitem Skala Kecemasan Menghadapi Menopause Sebelum Uji Coba No Aspek No aitem Jumlah Favorabel Unfavorebel

  1 Kognitif 1, 9, 17, 25 5, 13, 21, 29

  8

  2 Somatik 2, 10, 18, 26 6, 14 22, 30

  8

  3 Emosi 3, 11, 19, 27 7, 15 23, 31

  8

  4 Perilaku 4, 12, 20, 28 8, 16, 24, 32

  8 Jumlah

  16

  16

  32 2. Skala Dukungan Sosial.

  

Skala dukungan sosial suami disusun oleh peneliti berdasarkan aspek-

aspek dukungan sosial yang dikemukakan oleh House (dalam Cohen dan Syme, 1985), yaitu:

  a. Dukungan emosional, merupakan dukungan yang berupa empati, kepedulian dan perhatian.

  b. Dukungan penghargaan, berupa ungkapan hormat secara positif, dorongan

  37

  

c. Dukungan informatif, berupa pemberian nasehat, saran, petunjuk dan umpan

balik. Semakin banyak informasi, nasehat, saran yang didapat individu dari orang-orang terdekatnya cenderung membuat individu semakin dapat mengambil keputusan lebih baik dalam mengatasi masalahnya.

  

d. Dukungan instrumental, merupakan bentuk dukungan secara langsung seperti

bantuan alat, pekerjaan ataupun keuangan yang memudahkan individu dalam menyelesaikan permasalahannya.

  Skala ini terdiri dari 32 aitem dengan empat alternatif jawaban Sangat

Sesuai (SS), Sesuai (S), Tidak Sesuai (TS) dan Sangat Tidak Sesuai (STS).

  

Penilaian jawaban bergerak dari angka 1 sampai 4. Cara penilaian untuk

pernyataan favorable dan unfavorable sama dengan cara penilaian pada skala

kecemasan dalam menghadapi menopause.. Sebaran aitem skala dukungan sosial

dapat dilihat pada Tabel 2 sebagai berikut:

  

Tabel 2.

Blue Print Item Skala Dukungan Sosial Sebelum Uji Coba

No Aspek Favorable Unfavorable Jumlah Bobot

  1. Dukungan 1, 9, 17, 25 5, 13, 21, 29 8 25% Emosional

  2. Dukungan 2, 10, 18, 26 6, 14, 22, 30 8 25% Penghargaan

  3. Dukungan 3, 11, 19, 27 7, 15, 23, 31 8 25% Informatif

  4. Dukungan 4, 12, 20, 28 8, 16, 24, 32 8 25% Instrumental

  16

  16 32 100% TOTAL

  38 E. Validitas dan Reliabilitas Suatu alat ukur yang baik harus memenuhi syarat validitas dan reliabilitas

untuk mencapai standar yang dapat memberikan hasil yang akurat dan dapat

diterima secara ilmiah (Hadi, 2000).

  1. Validitas Validitas adalah ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam

melakukan fungsi ukurnya. Alat ukur yang memiliki validitas yang tinggi apabila

alat ukur tersebut memberikan hasil ukur yang sesuai dengan maksud

dilakukannya pengukuran (Azwar, 1992). Validitas yang digunakan pada

penelitian ini adalah validitas isi (content validity) yaitu validitas yang

menunjukkan sejauh mana aitem-aitem tes mewakili aspek-aspek yang yang

hendak diukur (Azwar, 1992).

  2. Seleksi Aitem

Dilakukan dengan cara mengkorelasikan skor tiap aitem dengan skor totalnya.

  

Teknik yang digunakan untuk menghitung besarnya korelasi tersebut adalah

teknik korelasi product moment dengan rumus angka kasar dari Pearson (Hadi,

1991). Proses seleksi aitem dilakukan dengan cara memilih aitem-aitem yang

memiliki koefisien korelasi aitem-total (rbt) minimal

  ≥ 0,300, sedangkan aitem

dengan rbt dibawah 0,300 akan digugurkan. Hal ini sesuai dengan kriteria

validitas butir minimal yang dikemukakan oleh Azwar (1992).

  39

3. Reliabilitas

  Reliabilitas suatu alat ukur adalah konsistensi hasil pengukuran terhadap

subjek yang sama dalam waktu penyajian yang berbeda (Azwar, 1992). Uji

reliabilitas dilakukan pada aitem-aitem yang telah terpilih. Teknik reliabilitas

yang digunakan dalam penelitian ini adalah formulasi koefisien Alpha dari

Cronbach. Pedoman yang digunakan adalah apabila angka r α (koefisien alpha)

semakin mendekati angka 1,00 berarti skala tersebut semakin reliabel untuk

digunakan sebagai alat ukur dalam penelitian, sebaliknya koefisien yang semakin

mendekati angka 0,00 menunjukkan semakin rendahnya reliabilitas skala tersebut

(Azwar, 2001).

  Pengujian validitas dan reliabilitas kedua skala dalam penelitian ini dilakukan dengan bantuan program SPSS 11.0 for Windows.

F. Metode Analisis Data

  Data dianalisis dengan menggunakan teknik korelasi Product Moment dari

Pearson. Analisis ini digunakan untuk menguji hipotesis, yaitu ada hubungan

antara dukungan sosial suami dengan kecemasan dalam menghadapi menopause .

Analisis data dilakukan dengan bantuan program SPSS 11.0 for Windows.

BAB IV PELAKSANAAN PENELITIAN, HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Persiapan Penelitian

1. Orientasi Kancah

  Penelitian ini dilakukan di Perumnas Condongcatur, Desa Condongcatur,

Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Desa

Condongcatur berbatasan dengan kelurahan Minomartani (utara), Kelurahan

Caturtunggal (selatan), kelurahan Sinduadi (barat) dan kelurahan Maguwoharjo

(timur). Luas wilayah keseluruhan adalah 950 Ha, dengan luas pemukiman

sekitar 540 Ha. Jumlah penduduk secara keseluruhan adalah 34.903 orang dengan

kepala keluarga sebanyak 10.039 orang.

  Perumnas Condongcatur merupakan kompleks perumahan yang ada di

desa Condongcatur. Luas wilayah perumahan 21 Ha dengan jumlah penduduk

900 KK. Mayoritas penduduk di Perumnas Condongcatur adalah pensiunan yang

berusia di atas 45 tahun dengan jumlah total 753 orang yang terdiri dari 443 pria

dan 313 wanita. Hal inilah yang membuat peneliti tertarik untuk meneliti

kecemasan dalam menghadapi menopause di daerah perumnas Condongcatur.

2. Uji Coba Alat Ukur

  Persiapan penelitian meliputi uji coba pada kedua skala untuk mengetahui validitas dan reliabilitasnya. Uji coba dilakukan pada tanggal 12 – 20 Mei 2009 terhadap 40 ibu berusia 40 – 55 tahun yang tinggal di Perumahan Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta. Pengumpulan data dilakukan dengan menyebarkan skala dalam pertemuan ibu-ibu Gereja. Peneliti meminta ibu-ibu untuk mengisi skala di tempat dan dikumpulkan kembali sesuai dengan jumlah yang dibagikan.

  

Berikut hasil validitas dan reliabilitas skala kecemasan menghadapi

menopause dan skala dukungan suami:

a. Skala Kecemasan Menghadapi Menopause

  

Skala ini berjumlah 32 aitem dan diujicobakan terhadap 40 orang subjek,

dari uji validitas tersebut peneliti melakukan proses seleksi item dengan memilih 30 aitem yang memiliki koefisien validitas 0,450 ≤ rbt ≤ 0,906 (hasil perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran). Aitem - aitem yang digugurkan adalah nomor 8 dan 20, karena memiliki nilai koefisien validitas (rbt) < 0,300 (Azwar, 1992).

  Tabel 3 Distribusi Aitem Skala Kecemasan Menghadapi Menopause Setelah Uji Coba No Aspek No aitem Jumlah Favorabel Unfavorebel

  1 Kognitif 1, 8, 16, 23 5, 12, 19, 27

  8

  2 Somatik 2, 9, 17, 24 6, 13, 20, 28

  8

  3 Emosi 3, 10, 18, 25 7, 14, 21, 29

  8 Hasil pengujian terhadap reliabilitas skala kecemasan menghadapi

menopause pada aitem yang valid menunjukkan koefisien reliabilitas yang

diperoleh setelah proses seleksi item adalah  = 0,972 (hasil dapat dilihat pada

lampiran). Hal ini berarti angka koefisien reliabilitas skala kecemasan

menghadapi menopause tersebut cukup tinggi sehingga dapat dikatakan reliabel

dan layak untuk digunakan.

b. Skala Dukungan Suami

  Skala ini berjumlah 32 aitem yang diujicobakan pada 40 orang subjek

yang sama dengan skala kecemasan menghadapi menopause, dari uji validitas

tersebut peneliti melakukan proses seleksi item dengan memilih 26 aitem yang

memiliki koefisien validitas 0,370

  ≤ rxy ≤ 0,843 (hasil perhitungan selengkapnya

dapat dilihat pada lampiran). Aitem-aitem yang digugurkan adalah nomor 1, 8,

12, 14, 16 dan 17, karena memiliki nilai koefisien validitas (rbt) < 0,300 (Azwar,

1992).

  

Tabel 4.

Distribusi Item Skala Dukungan Sosial Setelah Uji Coba

No Aspek Favorable Unfavorable Jumlah

  1. Dukungan Emosional 7, 19 4, 10, 15, 23

  6

  2. Dukungan Penghargaan 1, 8, 12, 20 5, 16, 24

  7

  3. Dukungan Informatif 2, 9, 13, 21 6, 11, 17, 25

  8

  4. Dukungan Instrumental 3, 14, 22 18, 26

  5 TOTAL

  13

  13

  26 Hasil pengujian terhadap reliabilitas skala dukungan suami menunjukkan

koefisien reliabilitas yang diperoleh setelah proses seleksi item adalah  = 0,957

(hasil dapat dilihat dalam lampiran). Hal ini berarti angka koefisien reliabilitas

skala dukungan suami tersebut cukup tinggi sehingga dapat dikatakan reliabel

dan layak untuk digunakan.

B. Pelaksanaan Penelitian

  Sebelum mengadakan penelitian, peneliti terlebih dahulu meminta surat

ijin penelitian dari Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

dengan nomor 799/D/KP/Psi/USD/VI/2009. Setelah mendapatkan surat ijin

penelitian, peneliti mendatangi Ketua RW 04 untuk meminta ijin melaksanakan

penelitian. Dengan bantuan dari Ibu RW yang kebetulan juga sebagai ketua arisan

RW, maka peneliti diberi waktu untuk menyebarkan skala pada waktu arisan

bulanan, yaitu tanggal 07 Juni 2009. Karena data yang dibutuhkan masih kurang,

peneliti diberi waktu kembali dalam pertemuan ibu-ibu Gereja pada tanggal 15

Juni 2009. Seluruh skala yang dibagikan langsung diisi di tempat dan

dikembalikan pada peneliti.

  Skala yang disebar sejumlah 100 eksemplar, tetapi yang kembali hanya 95

eksemplar dan dari jumlah tersebut hanya 80 eksemplar yang dapat dianalisis.

  

Sebanyak 5 eksemplar skala ternyata tidak dikumpulkan kembali dan 15

eksemplar skala dari jumlah 95 yang kembali tidak diikutsertakan dalam analisis

karena tidak diisi secara lengkap. Berikut deskripsi subjek peneltian.

  Tabel 5 Deskripsi Subjek Penelitian (N=80) No Karakteristik Jumlah Persentase

  1 Usia: 40 – 45 17 21,25 % 46 – 50 16 20 % 51 – 55 23 58,75 %

  2 Usia Pernikahan: 15 – 20 tahun 13 16,25 % 21 – 25 tahun 25 31,25 % > 25 tahun 42 52,50 %

  3 Fase Gejala Menopause: 1 – 5 tahun 22 27,50 % 6 – 10 tahun 28 35 % > 10 tahun 30 37,50 %

C. Hasil Penelitian

1. Deskripsi Data

  Berdasarkan data yang diperolah kemudian dilakukan analisis data yang digunakan sebagai dasar pengujian hipotesis. Deskripsi data tentang kecemasan dalam menghadapi menopause dan dukungan sosial suami dapat dilihat pada Tabel 6 sebagai berikut:

  

Tabel 6.

Deskripsi Data Penelitian N = 80 Data Hipotetik Data Empirik Variabel Skor Skor M SD M SD Max Min Max Min

  Kecemasan 75 120 30 15 67,21

  89 33 13,698 Menopause Dukungan 65 104

  26 13 73,75

  98 56 8,528

a. Kecemasan menghadapi menopause

  Skala kecemasan menghadapi menopause teridiri dari 30 aitem sehingga

skor hipotetik minimal yang diperoleh subjek adalah 30 dan skor hipotetik

maksimal yang diperoleh subjek adalah 120, rerata hipotetik sebesar (120 + 30) :

2 = 75, jarak sebaran hipotetiknya 120 – 30 = 90, dan standar deviasi bernilai 90

: 6 = 15.

  Data empirik adalah data yang sesungguhnya, data hipotetik adalah data

berdasarkan jumlah aitem skala. Berdasarkan hasil analisis One Sample T-Test,

diperoleh hasil bahwa mean empirik lebih rendah daripada mean hipotetik dan p

= 0,000 artinya secara signifikan mean empirik berbeda dari mean hipotetik. Hal

ini berarti kecemasan menghadapi menopause subjek secara keseluruhan dalam

kategori ringan.

  Azwar (1999) mengemukakan bahwa untuk mengetahui skor penelitian

pada subjek termasuk tinggi atau rendah dapat dilakukan dengan menetapkan

kriteria-kriteria kategorisasi. Kategorisasi dilakukan untuk mengetahui tinggi

rendahnya skor yang diperoleh subjek. Skor skala kecemasan menghadapi

menopause dapat dikategorisasikan ke dalam 3 kategori, yaitu tinggi, sedang, dan

rendah. Kategori dan distribusi skor dapat dilihat pada Tabel 7.

  

Tabel 7.

Kategorisasi Skor Kecemasan menghadapi menopause

N = 80

Pedoman Skor Kategori Frek %

  (M + 1SD)

  90 Tinggi  X  X Sedang 58 72,5 % (M - 1SD)  X < (M + 1SD)

  

60 X< 90

X < (M – 1SD) X< 60 Rendah 22 27,5 % Ket: X = Skor kecemasan menghadapi menopause

  M = Mean hipotetik SD = Standar Deviasi Hasil kategorisasi skor skala kecemasan menghadapi menopause di atas

menunjukkan bahwa subjek yang memiliki tingkat kecemasan menghadapi

menopause berada pada kategorisasi tinggi sebanyak 0 orang (0 %), yang berada

dalam kategori sedang sebanyak 58 orang (72,5 %) dan yang berada dalam

kategorisasi rendah sebanyak 22 orang (27,5 %). Hasil kategori tersebut

menunjukkan bahwa sebagian besar subjek memiliki tingkat kecemasan

menghadapi menopause dalam kategori sedang.

b. Dukungan suami

  Skala dukungan suami terdiri dari 26 aitem sehingga skor hipotetik

minimal yang diperoleh subjek adalah 26 dan skor hipotetik maksimal yang

diperoleh subjek adalah 104, rerata hipotetik sebesar (26 + 104) : 2 = 65, jarak

sebaran hipotetiknya 104 - 26 =78, dan standar deviasi bernilai 78 : 6 = 13.

  Berdasarkan hasil analisis One Sample T-Test, diperoleh hasil bahwa

  

signifikan berbeda dari mean hipotetik. Hal ini berarti dukungan sosial suami

yang diterima subjek secara keseluruhan dalam kategori tinggi.

  Seperti pada skor kecemasan menghadapi menopause, skor dukungan

suami juga dikategorisasikan ke dalam 3 kategori, yaitu: tinggi, sedang, dan

rendah. Kategori dan distribusi skor dapat dilihat pada Tabel 8.

  

Tabel 8.

Kategorisasi Skor Dukungan suami

N: 80

  Pedoman Skor Kategori Frek % Tinggi 27 33,75 % (M + 1SD)

  78  X  X (M - 1SD)

  52 Sedang 53 66,25 %  X < (M + 1SD) X< 78 X < (M – 1SD) X< 52 Rendah Keterangan : X = total skor subjek

  M = rerata hipotetik SD = standar deviasi hipotetik Tabel di atas dapat dilihat bahwa secara keseluruhan subjek yang

memiliki dukungan suami tinggi, yaitu sebanyak 27 orang (33,75 %), subjek

yang memiliki dukungan suami sedang sebanyak 53 orang (66,25 %), dan subjek

yang berada dalam kategori dukungan suami rendah 0 (0 %). Sehingga dapat

disimpulkan bahwa sebagian besar subjek dalam penelitian ini memiliki tingkat

dukungan suami sedang.

2. Uji Prasyarat

  Sebelum melakukan analisis untuk menguji hipotesis, terlebih dahulu

dilakukan uji prasyarat. Uji prasyarat dilakukan untuk memenuhi kaidah uji

korelasi, yaitu distribusi data harus merupakan distribusi normal dan kedua

variabel berada dalam hubungan linier (Hadi, 1989).

a. Uji Normalitas

  Hasil uji normalitas dengan metode Kolmogorov-Smirnov Z bertujuan untuk melihat sebaran data kecemasan menghadapi menopause dan dukungan suami terdistribusi normal atau tidak. Pedoman yang digunakan dalam pengujian ini adalah jika harga p>0,05 maka sebarannya dikatakan mengikuti distribusi normal (Santosa, 2005). 1) Sebaran data kecemasan menghadapi menopause adalah mengikuti distribusi normal yang ditunjukkan dengan nilai Ks-z = 0,912 (p>0,05).

  Hasil selengkapnya dapat dilihat pada lampiran. 2) Data dukungan suami adalah normal dengan Ks-z = 0,771 (p>0,05).

  Berdasarkan hasil tersebut diatas dapat diketahui bahwa data yang diperoleh memenuhi asumsi distribusi normal. Hasil selengkapnya dapat dilihat pada lampiran.

b. Uji Linieritas

  Uji Linieritas dilakukan melalui Anova Test of Linierity untuk melihat apakah kedua sampel variabel berhubungan secara linier atau tidak. Pedoman berhubungan secara linier. Hasil uji linieritas dengan metode Test of Linierity menunjukkan skor F = 60,720 (p<0,01), berdasarkan hasil tersebut dapat diartikan bahwa variabel dukungan suami dan kecemasan menghadapi menopause memiliki hubungan linier. Hasil selengkapnya dapat dilihat pada lampiran.

3. Uji Korelasi

  Dari analisis data, menunjukkan koefesien korelasi antara variabel

dukungan suami dengan kecemasan menghadapi menopause sebesar rxy = -

0,654 (p<0,01). Hal ini menunjukkan bahwa hipotesis yang menyatakan bahwa

ada hubungan negatif antara variabel dukungan suami dengan kecemasan

menghadapi menopause dapat diterima. Hal tersebut berarti semakin tinggi

dukungan suami yang dimiliki subjek, maka semakin rendah kecenderungan

subjek mengalami kecemasan menghadapi menopause, dan sebaliknya semakin

rendah tingkat dukungan suami yang dimiliki, maka semakin semakin tinggi

kecenderungan subjek untuk mengalami kecemasan menghadapi menopause

  2

subjek. Hasil r = 0,428 menunjukkan kontribusi variabel kecemasan menghadapi

menopause terhadap penurunan dukungan suami sebesar 42,8 %, sedangkan

sisanya (57,2 %) dipengaruhi oleh variabel lainnya. Hasil penelitian

selengkapnya dapat dilihat pada lampiran.

D. Pembahasan

  Hasil penelitian ini membuktikan bahwa dukungan suami berpengaruh

terhadap tingkat kecemasan wanita dalam menghadapi menopause. Berdasarkan

hasil tersebut, maka hipotesis yang menyatakan bahwa ada korelasi negatif antara

dukungan suami dengan tingkat kecemasan dalam menghadapi menopause pada

wanita, diterima. Semakin tinggi dukungan sosial yang diterima dari suami maka

semakin rendah tingkat kecemasan dalam menghadapi menopause yang dirasakan

dan semakin rendah dukungan sosial yang diterima dari suami maka semakin

tinggi pula tingkat kecemasan dalam menghadapi menopause yang dirasakan.

  Subjek dalam penelitian ini adalah ibu-ibu berusia antara 40 – 60 tahun

yang tinggal di Perumnas Condongcatur, Yogyakarta. Rata-rata subjek memiliki

tingkat kecemasan dalam menghadapi menopause dalam kategori sedang dan

memiliki dukungan suami dalam kategori sedang. Hal ini menunjukkan bahwa

pada wanita, memasuki fase menopause memang mengalami kecemasan, namun

demikian tingkat kecemasan masih dalam batas wajar dan tidak tergolong tinggi.

  

Dukungan suami dalam kategori sedang menjelaskan bahwa masih banyak suami

yang tidak tahu cara memberikan dukungan sosial pada isteri yang memasuki

masa menopause serta menganggap bahwa menopause adalah hal yang wajar

dialami oleh wanita sama seperti menstruasi bulanan.

  Hasil penelitian ini menguatkan pendapat yang dikemukakan oleh

Kurpius dkk. (2001) bahwa wanita yang perkawinannya tidak bahagia menderita

lebih banyak gejala-gejala menopause seperti sulit tidur, kecemasan dan depresi

  

berpendapat bahwa gejala menopause dapat menimbulkan frustrasi yang

berlebihan pada wanita akibat perubahan yang dialami. Demikian juga hasil

penelitian O’Neill (1996) yang menyatakan bahwa tiga tahun sebelum menstruasi

benar-benar berhenti, wanita pada umumnya mengeluhkan gangguan emosi

seperti menurunnya gairah, sulit berkonsentrasi, mudah tersinggung, agresif,

mudah lelah dan gugup, tegang, depresi atau menarik diri, merasa kesepian yang

tidak beralasan dan kecemasan yang berlebihan. Hasil penelitian ini

membuktikan bahwa subjek penelitian ini secara umum berada dalam tahap

perimenopause dan memiliki tingkat kecemasan menghadapi menopause dalam

kategori sedang. Sebagaimana penelitian Chowta & Chowta (2008) bahwa wanita

pada tahap perimenopause mengalami gejala kecemasan yang lebih besar

dibandingkan wanita yang sudah berada dalam tahap post menopause.

  Hasil penelitian ini juga mendukung pendapat Maspaitella (2001), bahwa

seorang wanita yang tidak siap mental menghadapi periode klimakteriknya

ataupun fase menopausenya dan lingkungan psikososialnya seperti suami atau

keluarga tidak memberikan dukungan moril yang positif, seringkali ia menjadi

kurang percaya diri, merasa tidak diperhatikan, tidak dihargai, merasa stres dan

rasa prihatin yang berlebihan tentang perubahan fisiknya yang tidak seindah dan

sesehat ketika ia berusia muda, sehingga dapat menimbulkan gejala psikologik

seperti perasaan gelisah, cemas, perasaan takut, mudah tersinggung, mudah

marah, merasa tertekan, mudah merasa sedih, rasa hampa, rasa bersalah, merasa

kesepian saat berada ditengah orang ramai dan sebagainya.

  Pendapat yang sama dikemukakan oleh Dugan, dkk. (2006) bahwa

dukungan keluarga terutama dukungan yang didapatkan dari suami akan

menimbulkan ketenangan batin dan perasaan senang dalam diri isteri. Hasil

penelitian ini menguatkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Gallo, dkk.

  

(2003), bahwa relasi suami isteri adalah sumber dukungan sosial yang paling

berpengaruh pada usia dewasa. Lebih lanjut dikemukakan bahwa dukungan sosial

dari pasangan dapat memiliki pengaruh positif terhadap kesehatan, yaitu berupa

penurunan tingkat kecemasan dan dorongan untuk hidup lebih sehat.

  Penelitian Rostiana (2007) mengemukakan bahwa wanita yang

mengalami kesulitan dalam menghadapi menopause karena merasa belum siap

dan kurang informasi. Berkaitan dengan hasil dari penelitian ini, suami dapat

memberikan dukungan emosional, dukungan informatif, dukungan instrumen dan

dukungan penghargaan pada isteri yang sedang memasuki masa menopause agar

dapat lebih siap secara emosi dan tidak mengalami kecemasan yang berlebihan.

  

Dukungan dari suami dapat membantu isteri dalam mengatasi masalah-masalah

yang muncul dalam dirinya selama masa menopause.

  Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan di atas dapat disimpulkan

bahwa dukungan suami berpengaruh terhadap tingkat kecemasan isteri dalam

menghadapi masa menopause. Semakin tinggi dukungan yang didapat dari suami

maka semakin rendah tingkat kecemasan dalam menghadapi menopause.

  

Sebaliknya semakin rendah dukungan yang didapat dari suami maka akan

semakin tinggi tingkat kecemasan yang dialami dalam menghadapi masa

  

tahap perimanopause dan sebagian besar memiliki tingkat kecemasan

menghadapi menopause dalam kategori sedang.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa hipotesis yang

  

menyatakan bahwa ada korelasi negatif antara dukungan suami dengan tingkat

kecemasan dalam menghadapi menopause pada wanita, diterima. Semakin tinggi

dukungan sosial yang diterima dari suami maka semakin rendah tingkat

kecemasan dalam menghadapi menopause yang dirasakan dan semakin rendah

dukungan sosial yang diterima dari suami maka semakin tinggi pula tingkat

kecemasan dalam menghadapi menopause yang dirasakan.

B. Saran-saran

1. Saran Teoritis

  a. Berdasarkan hasil penelitian ini diperoleh bukti bahwa dukungan sosial keluarga, terutama dari suami berpengaruh dalam menurunkan tingkat kecemasan isteri dalam menghadapi menopause. Disarankan bagi peneliti selanjutnya agar dapat mencari variabel-variabel lain yang dapat menurunkan tingkat kecemasan wanita dalam menghadapi menopause seperti misalnya informasi tentang menopause, perbedaan tingkat kecemasan menghadapi menopause antara wanita karier atau ibu rumah tangga dan sebagainya. b. Bagi peneliti selanjutnya juga dapat mengembangkan hasil penelitian ini dengan melakukan penelitian kualitatif mengenai gejala-gejala kecemasan menghadapi menopause yang dialami dan strategi coping yang dilakukan dalam menghadapi kecemasan, sehingga dapat diperoleh gambaran yang lebih lengkap terhadap kecemasan menghadapi menopause.

2. Saran Praktis

  a. Bagi para wanita, penelitian ini memberikan informasi bagi para wanita yang sedang menghadapi menopause bahwa fase menopause adalah fase perkembangan yang dapat menimbulkan kecemasan bagi para wanita, meskipun semua wanita pasti mengalaminya. Maka disarankan para wanita yang berusia dewasa madya agar mempersiapkan diri sedini mungkin dengan mencari informasi mengenai menopause sehingga dapat menurunkan kecemasan dalam menghadapi menopause

  b. Bagi para suami, penelitian ini membuktikan bahwa dukungan suami dapat berpengaruh dalam menurunkan tingkat kecemasan wanita dalam menghadapi menopause. Maka disarankan bagi para suami agar dapat memberikan dukungan yang tepat, baik secara emosional, penghargaan, informasi maupun instrumen yang dibutuhkan isteri yang sedang mengalami masa menopause agar dapat menurunkan tingkat kecemasannya.

  

DAFTAR PUSTAKA

Azwar, S. 1992. Reliabilitas dan Validitas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset.

  

Azwar, S. 2003. Penyusunan Skala Psikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset.

Becker, D., M.D., Lomranz, J., PhD., Pines, A., M.D., Shmotkin, D., PhD., Nitza,

  E., M.A., Bennamitay, G., M.D., Mester, R., M.D. 2001. Psychological Distress Around Menopause. Journal Psychosomatics. Vol. 42: P. 252– 257

  

Calhoun, J. F, and Acocella, J. R. 1995. Psikologi Tentang Penyesuaian dan

Hubungan Kemanusiaan. Edisi Terjemahan oleh Satmiko, S. R.

  Semarang: IKIP Press. Chaplin, J.P. 2000. Kamus Lengkap Psikologi. Jakarta: PT. Raja Grafindo.

Chowta, N. K., Sebastian, J., Chowta, M. N. Comparative Study of Menopausal

Symptoms in Post Menopausal and Perimanopausal Women. Journal of

  Clinical and Diagnostic Research [serial online] 2008 August [cited: 2008 August 14]; 2: 959-962.

  

Cohen, S. & Syme, S. L. 1985. Issues in the Study and Application of Social

Support: Social Support and Health. London: Academic Press.

Chouzi, R.J., Helzlsouer, K.J., Fetting, J.F. 1995. Prevalence of Menopausal

Symptoms Among Women with a History of Breast Cancer and Attitudes

  Toward Estrogen Replacement Therapy. Journal of Clinical Oncology 13:2737–2744. Daradjad, Z. 1994. Menghadapi Masa Menopause (mendekati Usia Tua). Jakarta :Bulan Bintang.

  

Dugan, S. A., Powell, L. H., Kravitz, H. M., Rose, S. A. E., Karavolos, K., et al.

  2006. Musculoskeletal Pain and Menopausal Status. Clinical Journal of Pain, 22(4), 325-331.

Fecteau, N. 2002. Perceptions of Young Women Regarding Menopause. Second

Annual WELS and ELS. Undergraduate Research Symposium. CHARIS

  Institute of Wisconsin Lutheran College. Milwaukee, Wisconsin.

Gallo, L. C., Troxel, W. M., Matthews, K. A., Kuller, L. H. 2003. Marital Status

  

Hadi, S. 2000. Metodology Research II. Yogyakarta: Yayasan Penerbit Fakultas

Psikologi UGM.

Hall, C.S., Lindzey, G. 2001. Theories of Personality. London: John Willey and

Sons.

Hawari, D. 1997. Al-Qur’an Ilmu Kedokteran Jiwa dan Kesehatan. Yogyakarta :

Dana Bhakti Primayasa.

Hurlock, E. B. 1992. Psikologi Perkembangan. Suatu Pendekatan Sepanjang

rentang kehidupan. Edisi 6. Terjemahan. Jakarta : Erlangga.

  

Jin, Y. 1998. Handbook of Obstetrics and Gynecology in Chinese Medicine. An

Integrated Approach. Seattle: Eastbank Press.

  

Johnson, D. W., dan Johnson, F. P. 1991. Joining Together. Group Therapy and

Group Skill. Englewood, California: Prentice Hall

Kartini, K. 2002. Psikologi Wanita. Jilid 2. Wanita sebagai Ibu dan Nenek.

  Bandung: Penerbit Alumni.

Kuntjoro, Z. S. 2002. Menopause. Kategori lanjut Usia. http://www.e-

psikologi.com/usia/090402.htm . Diakses 17 Januari 2009.

  

Kurpius, S. E., Robinson, N., Megan, F., Maresh, S. E. Mood, Marriage and

Menopause. Journal of Counseling Psychology. Vol 48(1), Jan 2001, 77-

  84. Lin, N., Woefel, M. W., dan Light, S. C. 1985. The Buffering of Social Support Subsequent to an Important Life Event. Journal of Health and Social Behavior. 26, 263-274.

  Mappiare, 1983. Psikologi Orang Dewasa. Surabaya : Usaha Nasional.

Maspaitella, M.L., Dra., M.Psi. 2006. Mengatasi Gangguan Emosional Pada

  Wanita Menopause. Disampaikan dalam simposium Nasional PERKUMPULAN MENOPAUSE INDONESIA (PERMI ) : Tatalaksana Menopause “Apa yang harus kita lakukan sekarang ?” Jakarta: Sabtu 4 Februari 2006.

  

Martaniah, R.M. 1984. Penelitian Tentang Kecemasan Siswa-siswi yang

Bersekolah di SMU Daerah Istimewa Yogyakarta. Laporan Penelitian (tidak diterbitkan). Yogyakarta: Penelitian UGM.

  

Mc Loyd, V. C., dan Smith, J. 2002. Physical Dicipline and Behavior Problems

in African American, Europian American and Hispanic Children: Emotional Support as a Moderator. Journal of Marriage and Family. 64, 40-53.

  

Nadesul. 2003. Informasi Lengkap Tentang Penyakit Kecemasan Menyeluruh.

http://www.medicastore.com . Diakses tanggal 17 Januari 2009.

  

Noor, S. R., Tetap Bergairah Memasuki Usia Menopause: Sebuah Tinjauan

Psikologis. 2001. Disampaikan pada Seminar Ilmiah Populer Dengan Tema “Tetap Bergairah Dimasa Menopause” dalam Rangka Milad ke 78 RSU PKU Muhammadiyah Yogayakarta, 24 Februari 2001.

  

Nurliawati, L. 2003. Efektivitas Dzikir Untuk Mengatasi Kecemasan Dalam

Menghadapi Menopause. Skripsi. Tidak Diterbitkan. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.

Rostiana, T. 2007. Kecemasan Pada Wanita Yang Menghadapi Menopause.

  

Skripsi. Tidak Diterbitkan. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.

  Santrock, J.W. 2007. Life Span Development. Boston: Mac Graw-Hill.

Sarafino, E. P. 1994. Health Psychology Biopsychosocial Interactions. Singapore:

John Willey and Sons, Inc.

  

Sarason, I. G., Levine, H. M., & Basham, R. B. 1983. Assessing Social Support.

  The Social Support Questionnaire. Journal of Personality and Social. 44, 127-139.

Spencer, C. P., Godsland, I. F., Stevenson, J. C. 1991. Is there a menopausal

metabolic syndrome?. Journal of Gynaecol Endocrinol, Vol. 11; p. 341-

  355

Sue, D. & Sue, S. 1986. Understanding Abnormal Behavior. Boston: Houghton

Mifflin Company.

rd

Taylor, S. E. 1995. Health Psychology. 3 edition. New York: Mc Graw Hill.

  Walgito, B. 2002. Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta : Andi Offset

Wortman, C. B., dan Conway, T. L. 1985. Social Support and Recovery from

Illness. Dalam Cohen & Syme: Social Support and Health. Orlando, Florida: Academic Press.

  

Zuccolo, M. R. 2006. Physiopsychological Correlates in Menopause. Los

Angeles, September 2006.

  

LAMPIRAN

  

Blue Print Skala Kecemasan Menghadapi Menopause

1. Aspek Kognitif No Pertanyaan

F/UF

  

1 Akhir-akhir ini saya mulai mengalami gejala menopause yang F

membuat saya sulit berkonsentrasi

Gejala menopause yang sedang saya alami membebani pikiran

  9 F saya, dan membuat saya mudah lupa

Menghadapi masa menopause, saya sering memiliki pikiran negatif

  17 F berkaitan dengan kesehatan saya

  25 Gejala menopause yang saya alami sangat membebani pikiran saya F sehingga saya sulit mengambil suatu keputusan

Saya tetap dapat berpikir jernih meskipun memasuki masa

5 UF

  menopause

  

13 Pikiran saya tetap dapat fokus saat menyelesaikan suatu masalah UF

Saya percaya, meskipun saya memasuki usia menopause, saya akan

  21 UF tetap sehat.

  

29 Saya tetap dapat mengambil keputusan dengan baik meskipun UF

sedang mengalami gejala-gejala menopause

2. Aspek Somatik No Pertanyaan

F/UF

  

2 Saya menjadi sulit tidur karena tiba-tiba merasakan hot flash F

Badan saya sering berkeringat dingin tanpa sebab yang jelas

  10 F

  18 Saat saya panik tubuh saya berkeringat F

Akhir-akhir ini jika sedang cemas, tangan dan kaki saya menjadi

  26 F dingin

Saya dapat tidur dengan nyenyak tanpa memikirkan gejala

6 UF

  menopause yang sedang saya alami

Jantung saya tidak berdebar-debar ketika saya menyadari bahwa

  14 UF saya sedang mengalami gejala menopause

Meski memasuki masa menopause, saya tidak mengalami sakit

  22 UF kepala ataupun mual-mual

  

30 Saya tidak mengalami gangguan fisik selama masa menopause ini UF

3. Aspek emosi No Pertanyaan

F/UF

3 Saya kesulitan mengendalikan emosi saat menghadapi gejala F

  menopause saya

Memasuki masa menopause, saya sering merasa gelisah tak

  11 F menentu

  19 Memasuki masa menopause, saya sering merasa takut akan sesuatu F yang dapat mengancam kesehatan tubuh saya

  27 Semakin mendekati menopause, saya semakin kurang percaya diri F

Emosi saya tetap stabil meskipun saya sedang mengalami masa

  7 UF menopause

  

15 Saya merasa senang memasuki masa menopause UF

Saya merasa senang jika tidak lagi mendapatkan haid

  23 UF

  

31 Saya tidak merasa cemas menghadapi menopause saya UF

  4. Aspek Perilaku No Pertanyaan

F/UF

4 Saya sering marah-marah tanpa sebab terhadap anak atau suami F akhir-akhir ini.

  

Saya tiba-tiba menjadi gagap saat ditanya mengenai gejala

  12 F menopause yang sedang saya alami

  20 Akhir-akhir ini, saya sering lupa akan sesuatu F

Saya seringkali sulit mengontrol perilaku saya menghadapi masa

  28 F menopause ini

8 Saya tetap bersemangat dalam bekerja meskipun saat ini saya UF

  sedang mengalami masa menopause

Saat mengalami gejala menopause saya tetap dapat mengontrol

  16 UF perilaku saya

Saya tetap beraktivitas seperti biasa meskipun memasuki masa

  24 UF menopause

  

32 Aktivitas saya tidak terganggu meskipun saya sedang mengalami UF

menopause

SKALA DUKUNGAN SOSIAL SUAMI

1. Aspek Dukungan Emosional No Pernyataan

F/U

  1 Suami saya dapat memahami kesulitan saya menjelang menopause yang F saya alami

  2 Suami selalu memberi perhatian pada kesehatan saya, berkaitan dengan F masa menopause saya

  3 Akhir-akhir ini, suami saya lebih banyak mengalah karena saya mudah F sekali tersinggung memasuki masa menopause

  4 Saya merasa nyaman bila berada di dekat suami saya F

  

5 Suami saya akhir-akhir ini kurang perhatian pada saya U

  

6. Kami akhir-akhir ini sering bertengkar dan suami tidak bisa memahami U

perasaan saya

  

7 Suami saya akhir-akhir ini sering pulang terlambat dan jarang punya U

waktu untuk saya

  

8 Saya merasa suntuk jika berada di rumah U

  2. Aspek Dukungan Penghargaan No Pernyataan

F/U

  1 Suami selalu menghargai hal-hal kecil yang saya lakukan untuknya atau F keluarga kami

  2 Suami sering memuji penampilan atau masakan saya F

  3 Suami menghargai kemampuan saya dan mendorong saya untuk F mengembangkan diri

  4 Saya merasa diri saya berharga bagi suami dan keluarga saya F

  

5 Suami kurang menghargai kemampuan saya dan melarang saya untuk U

aktif di luar rumah

  

6 Semua yang saya lakukan untuk suami dan keluarga menjadi biasa saja U

dan tidak istimewa

  

7 Suami kurang menghargai pekerjaan apapun yang saya lakukan U

  

8 Suami kurang mendukung jika saya ingin melakukan sesuatu U

3. Aspek Dukungan Informatif No Pernyataan

F/U

  1 Suami saya selalu mendengarkan keluhan saya dan memberi masukan- F masukan ketika saya mempunyai masalah

  2 Saya selalu mendengarkan saran-saran suami atau keluarga sebelum F melakukan sesuatu

  3 Suami saya selalu memberikan informasi yang baik dan benar sehingga F saya selalu mengandalkan mereka ketika harus menyelesaikan masalah

  4 Setiap keputusan yang hendak saya ambil selalu saya diskusikan dulu F dengan suami saya

5 Saya jarang membicarakan masalah yang saya hadapi dengan suami saya U

  

6 Suami saya selalu melarang tanpa alasan yang jelas apapun yang ingin U

saya lakukan

  

7 Kami jarang mendiskusikan sesuatu, sehingga jika punya masalah saya U

harus berusaha menyelesaikannya sendiri

  

8 Saya lebih senang bertanya pada orang lain daripada dengan suami jika U

saya membutuhkan informasi atau saran

4. Aspek Dukungan Instrumental No Pernyataan

F/U

  1 Suami selalu berusaha memenuhi semua kebutuhan saya terutama yang F berkaitan dengan rumah tangga

  2 Saya memiliki akses untuk mendapatkan apa yang saya butuhkan dan F suami selalu mendukung saya

  3 Suami saya selalu dapat diandalkan ketika saya membutuhkan sesuatu F

  4 Suami sangat memahami kebutuhan saya dan berusaha agar saya bisa F mendapatkannya

  

5 Penghasilan suami saja tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan saya U

dan keluarga

  

6 Saya harus memenuhi kebutuhan saya sendiri dan tidak bergantung pada U

suami atau anak-anak

  

7 Jika saya membutuhkan sesuatu, suami jarang mau membantu saya U

  

8 Suami jarang menanyakan kebutuhan pribadi saya U

  Dengan kerendahan hati, saya memohon kesediaan Ibu untuk mengisi

kuisioner berikut ini. Kuisioner ini disusun dalam rangka penelitian di bidang

psikologi untuk penyelesaian tugas akhir peneliti yang nantinya diharapkan bisa

bermanfaat bagi semuanya.

  Tidak ada jawaban yang salah, semua jawaban tidak terkait dengan pihak

manapun dan hanya digunakan sepenuhnya untuk penelitian. Kerahasiaan

jawaban dijamin oleh etika penelitian dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab

peneliti. Untuk saya juga berharap Ibu berkenan menjawab dengan sungguh-

sungguh dan jujur sesuai dengan keadaan saat ini.

  Atas kesediaannya, saya ucapkan terima kasih.

  Yogyakarta, Juni 2009 Peneliti DATA DIRI Usia : Lama Menikah : Mengalami Gejala Menopause sejak ..... Bulan / Tahun Petunjuk Pengerjaan:

  

1. Berikut ini ada sejumlah pernyataan-pernyataan seputar diri Anda dan

Keluarga Anda. Anda dimohon untuk memilih salah satu jawaban yang paling sesuai dengan keadaan diri Anda, dengan cara memberi tanda (centang) pada kolom jawaban yang tersedia dengan pilihan jawabab sebagai berikut : SS : Artinya Anda Sangat Sesuai dengan pernyataan tersebut S : Artinya Anda Sesuai dengan pernyataan tersebut

  TS : Artinya Anda Tidak Sesuai dengan pernyataan tersebut STS: Artinya Anda Sangat Tidak Sesuai dengan pernyataan tersebut

  

2. Mohon untuk mengisi semua pernyataan dan usahakan jangan sampai ada

yang terlewat serta mengumpulkan kembali angket ini

  

3. Apapun jawaban Anda tidak ada yang salah, oleh karena itu jawablah

  SKALA A

Saya mengalami gejala-gejala JAWABAN

menopause seperti pernyataan di bawah SS S TS STS ini....

  1 Akhir-akhir ini saya mulai mengalami gejala menopause yang membuat saya sulit berkonsentrasi

  2 Saya menjadi sulit tidur karena tiba-tiba merasakan hot flash

  3 Saya kesulitan mengendalikan emosi saat menghadapi gejala menopause saya

4 Saya sering marah-marah tanpa sebab terhadap anak atau suami akhir-akhir ini.

  5 Saya tetap dapat berpikir jernih meskipun memasuki masa menopause

  6 Saya dapat tidur dengan nyenyak tanpa memikirkan gejala menopause yang sedang saya alami

  7 Emosi saya tetap stabil meskipun saya sedang mengalami masa menopause

  8 Saya tetap bersemangat dalam bekerja meskipun saat ini saya sedang mengalami masa menopause

  9 Gejala menopause yang sedang saya alami membebani pikiran saya, dan membuat saya mudah lupa

  10 Badan saya sering berkeringat dingin tanpa sebab yang jelas

  11 Memasuki masa menopause, saya sering merasa gelisah tak menentu

  12 Saya tiba-tiba menjadi gagap saat ditanya mengenai gejala menopause yang sedang saya alami

  13 Pikiran saya tetap dapat fokus saat menyelesaikan suatu masalah

  14 Jantung saya tidak berdebar-debar ketika saya menyadari bahwa saya sedang mengalami gejala menopause

  15 Saya merasa senang memasuki masa menopause

  16 Saat mengalami gejala menopause saya tetap dapat mengontrol perilaku saya

  17 Menghadapi masa menopause, saya sering memiliki pikiran negatif berkaitan dengan kesehatan saya

  19 Memasuki masa menopause, saya sering merasa takut akan sesuatu yang dapat mengancam kesehatan tubuh saya

  20 Akhir-akhir ini, saya sering lupa akan sesuatu

21 Saya percaya, meskipun saya memasuki usia menopause, saya akan tetap sehat.

  22 Meski memasuki masa menopause, saya tidak mengalami sakit kepala ataupun mual-mual

  23 Saya merasa senang jika tidak lagi mendapatkan haid

  24 Saya tetap beraktivitas seperti biasa meskipun memasuki masa menopause

  25 Gejala menopause yang saya alami sangat membebani pikiran saya sehingga saya sulit mengambil suatu keputusan

  26 Akhir-akhir ini jika sedang cemas, tangan dan kaki saya menjadi dingin

  27 Semakin mendekati menopause, saya semakin kurang percaya diri

  28 Saya seringkali sulit mengontrol perilaku saya menghadapi masa menopause ini

  29 Saya tetap dapat mengambil keputusan dengan baik meskipun sedang mengalami gejala-gejala menopause

  30 Saya tidak mengalami gangguan fisik selama masa menopause ini

  31 Saya tidak merasa cemas menghadapi menopause saya

  32 Aktivitas saya tidak terganggu meskipun saya sedang mengalami menopause

  Skala B

NO PERNYATAAN SS S TS STS

  1 Suami saya dapat memahami kesulitan saya menjelang menopause yang saya alami

  2 Suami selalu menghargai hal-hal kecil yang saya lakukan untuknya atau keluarga kami

  3 Suami saya selalu mendengarkan keluhan saya dan memberi masukan- masukan ketika saya mempunyai masalah

  4 Suami selalu berusaha memenuhi semua kebutuhan saya terutama yang berkaitan dengan rumah tangga

  5 Suami saya akhir-akhir ini kurang perhatian pada saya

  6 Suami kurang menghargai kemampuan saya dan melarang saya untuk aktif di luar rumah

  7 Saya jarang membicarakan masalah yang saya hadapi dengan suami saya

  8 Penghasilan suami saja tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan saya dan keluarga

  9 Suami selalu memberi perhatian pada kesehatan saya, berkaitan dengan masa menopause saya

  10 Suami sering memuji penampilan atau masakan saya

  11 Saya selalu mendengarkan saran-saran suami atau keluarga sebelum melakukan sesuatu

  12 Saya memiliki akses untuk mendapatkan apa yang saya butuhkan dan suami selalu mendukung saya

  13 Kami akhir-akhir ini sering bertengkar dan suami tidak bisa memahami perasaan saya

  14 Semua yang saya lakukan untuk suami dan keluarga menjadi biasa saja dan tidak istimewa

  15 Suami saya selalu melarang tanpa alasan yang jelas apapun yang ingin saya lakukan

  16 Saya harus memenuhi kebutuhan saya sendiri dan tidak bergantung pada suami atau anak-anak

  17 Akhir-akhir ini, suami saya lebih banyak mengalah karena saya mudah sekali tersinggung memasuki masa menopause

  18 Suami menghargai kemampuan saya dan mendorong saya untuk mengembangkan diri

  19 Suami saya selalu memberikan informasi yang baik dan benar sehingga saya selalu mengandalkan mereka ketika harus menyelesaikan masalah

  20 Suami saya selalu dapat diandalkan ketika saya membutuhkan sesuatu

  21 Suami saya akhir-akhir ini sering pulang terlambat dan jarang punya waktu untuk saya

  22 Suami kurang menghargai pekerjaan apapun yang saya lakukan

  23 Kami jarang mendiskusikan sesuatu, sehingga jika punya masalah saya harus berusaha menyelesaikannya sendiri

  24 Jika saya membutuhkan sesuatu, suami jarang mau membantu saya

  25 Saya merasa nyaman bila berada di dekat suami saya

  26 Saya merasa diri saya berharga bagi suami dan keluarga saya

  27 Setiap keputusan yang hendak saya ambil selalu saya diskusikan dulu dengan suami saya

  28 Suami sangat memahami kebutuhan saya dan berusaha agar saya bisa mendapatkannya

29 Saya merasa suntuk jika berada di rumah

  30 Suami kurang mendukung jika saya ingin melakukan sesuatu

  31 Saya lebih senang bertanya pada orang lain daripada dengan suami jika saya membutuhkan informasi atau saran

  32 Suami jarang menanyakan kebutuhan pribadi saya DATA TRY OUT Skala Kecemasan Menghadapi Menopause Sub/Itm

  1

  2

  3

  2

  2

  2

  2

  2

  1

  3

  27

  3

  3

  1

  2

  3

  1

  28

  2

  3

  2

  2

  2

  2

  2

  2

  26

  3

  3

  3

  2

  2

  3

  2

  1

  2

  3

  3

  3

  1

  3

  2

  2

  2

  3

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  30

  3

  2

  1

  2

  3

  2

  2

  2

  2

  2

  2

  1

  1

  2

  2

  2

  2

  2

  2

  2

  2

  2

  2

  2

  1

  2

  29

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  2

  2

  2

  2

  22

  2

  3

  2

  2

  2

  2

  2

  3

  2

  3

  2

  3

  2

  3

  3

  2

  2

  3

  3

  2

  2

  2

  2

  2

  2

  21

  1

  3

  2

  2

  2

  3

  2

  2

  2

  3

  3

  4

  23

  3

  2

  25

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  2

  2

  2

  1

  1

  1

  1

  2

  1

  2

  1

  1

  3

  2

  2

  2

  1

  1

  1

  1

  2

  4

  2

  2

  3

  2

  1

  24

  1

  1

  1

  1

  3

  2

  2

  2

  2

  2

  2

  2

  3

  2

  2

  3

  2

  3

  2

  38

  3

  3

  2

  2

  2

  2

  2

  2

  2

  3

  3

  2

  2

  2

  2

  2

  2

  3

  3

  2

  3

  2

  3

  3

  2

  37

  2

  2

  1

  2

  2

  3

  2

  40

  3

  3

  2

  2

  2

  2

  2

  1

  3

  3

  3

  3

  2

  3

  4

  3

  3

  3

  2

  3

  3

  3

  2

  3

  4

  2

  39

  3

  3

  2

  2

  2

  2

  2

  2

  2

  3

  36

  3

  3

  2

  2

  2

  2

  2

  2

  2

  2

  1

  1

  2

  2

  3

  2

  33

  1

  1

  2

  2

  2

  2

  1

  2

  31

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  32

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  2

  1

  2

  2

  1

  2

  1

  2

  35

  2

  3

  2

  2

  2

  2

  2

  2

  2

  2

  2

  3

  2

  2

  3

  2

  2

  2

  2

  2

  2

  1

  2

  2

  4

  34

  2

  1

  1

  3

  2

  1

  1

  1

  1

  2

  2

  2

  7

  2

  2

  2

  2

  2

  2

  2

  3

  1

  3

  2

  2

  2

  3

  2

  1

  2

  2

  2

  3

  2

  2

  1

  1

  1

  1

  2

  4

  2

  3

  1

  2

  1

  6

  2

  2

  1

  1

  1

  3

  3

  3

  3

  3

  2

  2

  2

  2

  2

  2

  2

  2

  9

  2

  2

  3

  3

  2

  10

  2

  3

  2

  2

  2

  2

  3

  4

  2

  8

  3

  3

  2

  2

  2

  3

  1

  1

  2

  3

  2

  3

  2

  3

  2

  3

  2

  3

  2

  2

  3

  2

  3

  2

  3

  2

  2

  2

  2

  3

  2

  2

  2

  3

  2

  2

  2

  2

  11

  3

  4

  5

  6

  7

  8

  9

  10

  12

  2

  13

  14

  15

  16

  1

  3

  3

  2

  2

  3

  3

  1

  4

  3

  3

  3

  2

  2

  2

  2

  2

  1

  3

  3

  3

  1

  3

  3

  2

  5

  1

  1

  3

  1

  3

  2

  3

  3

  2

  3

  1

  1

  1

  1

  2

  1

  2

  1

  1

  1

  1

  1

  2

  2

  2

  1

  3

  2

  17

  1

  1

  3

  2

  1

  2

  1

  2

  3

  2

  2

  1

  2

  1

  2

  3

  2

  1

  2

  2

  1

  2

  2

  3

  2

  16

  1

  2

  2

  2

  2

  2

  1

  2

  2

  1

  2

  18

  2

  3

  2

  2

  2

  3

  2

  3

  2

  3

  2

  2

  20

  2

  2

  2

  2

  2

  2

  2

  2

  2

  2

  2

  3

  2

  2

  2

  2

  2

  2

  2

  2

  2

  3

  2

  2

  3

  2

  19

  3

  3

  2

  2

  2

  1

  3

  2

  3

  4

  2

  12

  1

  1

  1

  3

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  3

  2

  1

  3

  2

  1

  2

  3

  2

  3

  1

  3

  2

  1

  11

  3

  3

  2

  2

  2

  3

  2

  1

  1

  2

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  15

  2

  1

  2

  2

  2

  1

  1

  1

  1

  13

  3

  3

  2

  2

  2

  2

  2

  2

  1

  3

  3

  3

  1

  2

  3

  1

  14

  2 Sub/Itm

  17

  3

  3

  3

  2

  1

  2

  3

  1

  2

  3

  27

  2

  1

  3

  2

  1

  69

  28

  2

  3

  2

  76

  2

  2

  2

  1

  54

  26

  3

  3

  3

  2

  3

  2

  1

  2

  2

  3

  3

  2

  2

  3

  2

  2

  2

  2

  3

  1

  1

  1

  1

  1

  32

  30

  3

  3

  1

  2

  2

  2

  3

  2

  2

  3

  3

  2

  1

  1

  2

  2

  2

  2

  2

  2

  2

  2

  2

  2

  2

  1

  65

  29

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  2

  1

  2

  2

  22

  2

  3

  3

  2

  2

  3

  3

  2

  2

  3

  3

  2

  2

  3

  3

  2

  77

  23

  81

  3

  3

  3

  2

  2

  2

  2

  65

  21

  3

  3

  2

  3

  2

  3

  3

  2

  2

  3

  4

  2

  2

  3

  3

  1

  25

  2

  1

  1

  1

  2

  2

  1

  43

  2

  1

  2

  1

  3

  1

  1

  3

  1

  1

  3

  1

  1

  4

  2

  1

  2

  2

  1

  2

  3

  3

  2

  2

  4

  1

  2

  69

  24

  1

  2

  1

  3

  1

  2

  2

  2

  3

  3

  3

  2

  2

  3

  3

  2

  2

  2

  2

  2

  75

  38

  3

  3

  3

  3

  2

  3

  2

  3

  3

  1

  3

  3

  3

  2

  2

  3

  3

  2

  3

  3

  2

  2

  1

  3

  3

  2

  76

  37

  2

  4

  3

  73

  3

  2

  77

  40

  3

  3

  3

  3

  2

  4

  3

  2

  3

  3

  3

  2

  2

  3

  3

  2

  3

  1

  3

  2

  3

  2

  2

  3

  3

  2

  85

  39

  3

  2

  3

  2

  2

  3

  4

  2

  2

  3

  2

  36

  2

  2

  2

  2

  2

  2

  3

  2

  2

  2

  2

  2

  2

  3

  2

  2

  65

  33

  2

  2

  2

  2

  2

  2

  2

  1

  75

  31

  1

  1

  2

  3

  2

  2

  1

  32

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  37

  1

  3

  2

  2

  2

  2

  2

  57

  35

  3

  3

  3

  2

  2

  2

  3

  2

  2

  3

  3

  2

  2

  2

  2

  2

  1

  61

  1

  2

  2

  2

  2

  3

  2

  2

  34

  2

  2

  2

  2

  2

  2

  1

  2

  2

  2

  2

  2

  18

  3

  1

  1

  2

  2

  2

  1

  54

  7

  3

  1

  3

  2

  2

  3

  4

  2

  3

  3

  3

  3

  1

  2

  2

  2

  2

  1

  2

  3

  3

  2

  2

  1

  3

  2

  69

  6

  2

  2

  1

  3

  1

  1

  2

  3

  4

  3

  3

  2

  2

  3

  3

  2

  2

  3

  2

  2

  2

  3

  2

  2

  75

  10

  3

  3

  2

  3

  9

  3

  3

  2

  83

  8

  3

  3

  3

  2

  2

  3

  75

  2

  1

  3

  2

  2

  2

  3

  3

  2

  1

  3

  2

  76

  1

  3

  2

  2

  1

  3

  3

  2

  2

  3

  3

  3

  3

  2

  2

  3

  3

  2

  2

  2

  3

  4

  27

  19

  20

  21

  22

  23

  24

  25

  26

  28

  2

  29

  30

  31

  32 Tot

  1

  3

  3

  3

  2

  3

  2

  3

  2

  3

  3

  3

  2

  2

  3

  1

  2

  3

  43

  3

  2

  2

  3

  2

  2

  76

  5

  3

  4

  1

  2

  3

  3

  3

  2

  81

  3

  1

  2

  2

  1

  2

  3

  1

  1

  1

  2

  1

  1

  1

  2

  2

  3

  2

  1

  2

  61

  17

  2

  2

  2

  2

  1

  2

  3

  2

  2

  2

  2

  2

  2

  2

  2

  2

  2

  2

  18

  2

  2

  2

  2

  3

  2

  2

  65

  16

  2

  2

  2

  2

  1

  2

  3

  1

  1

  2

  2

  57

  3

  2

  2

  2

  1

  3

  2

  2

  1

  3

  3

  76

  3

  20

  2

  3

  2

  2

  2

  2

  2

  2

  3

  2

  3

  3

  3

  2

  2

  2

  3

  2

  2

  3

  2

  2

  2

  2

  2

  2

  73

  19

  3

  3

  3

  2

  2

  3

  1

  2

  3

  3

  2

  83

  12

  1

  1

  1

  3

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  2

  3

  1

  1

  2

  2

  3

  3

  2

  2

  2

  2

  72

  3

  11

  3

  3

  3

  2

  2

  3

  4

  2

  1

  1

  3

  1

  2

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  1

  3

  1

  38

  15

  2

  2

  2

  2

  2

  2

  2

  2

  32

  2

  13

  2

  3

  3

  2

  1

  2

  3

  1

  3

  1

  3

  2

  1

  3

  2

  1

  69

  14

  2

  84 DATA TRY OUT Skala Dukungan Suami Subj/Itm

  1

  4

  2

  2

  3

  2

  3

  2

  4

  3

  2

  2

  3

  27

  2

  3

  4

  2

  3

  2

  3

  28

  3

  3

  3

  2

  3

  3

  1

  4

  4

  3

  26

  3

  2

  2

  3

  2

  3

  2

  4

  2

  2

  2

  4

  3

  3

  3

  4

  2

  3

  2

  2

  4

  4

  4

  1

  4

  4

  1

  4

  4

  4

  30

  3

  3

  4

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  4

  4

  3

  2

  3

  3

  2

  3

  3

  3

  2

  2

  3

  3

  3

  4

  3

  3

  29

  4

  4

  4

  4

  4

  4

  4

  4

  4

  2

  3

  2

  3

  22

  2

  2

  2

  3

  3

  3

  2

  3

  2

  3

  3

  3

  3

  2

  3

  2

  2

  2

  2

  2

  23

  3

  2

  3

  2

  2

  3

  3

  2

  3

  3

  3

  21

  2

  2

  3

  3

  2

  3

  3

  3

  2

  2

  2

  3

  3

  2

  3

  4

  3

  4

  25

  3

  3

  4

  4

  4

  4

  2

  4

  4

  4

  3

  3

  4

  4

  3

  4

  4

  1

  3

  3

  3

  4

  3

  3

  3

  2

  2

  2

  1

  1

  3

  2

  3

  3

  4

  2

  1

  1

  4

  1

  2

  2

  2

  24

  1

  3

  4

  3

  4

  4

  3

  2

  3

  3

  3

  3

  3

  2

  3

  2

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  2

  3

  38

  3

  3

  2

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  2

  2

  3

  3

  3

  3

  3

  4

  2

  2

  3

  3

  3

  3

  4

  4

  2

  4

  2

  3

  37

  3

  2

  4

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  40

  3

  3

  2

  3

  3

  3

  4

  3

  3

  3

  2

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  4

  3

  3

  3

  2

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  4

  3

  3

  39

  2

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  2

  3

  3

  3

  36

  3

  3

  3

  3

  3

  4

  3

  3

  3

  2

  3

  3

  3

  4

  3

  3

  2

  3

  2

  2

  33

  3

  3

  4

  3

  3

  3

  3

  3

  2

  3

  3

  31

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  32

  4

  3

  3

  3

  3

  3

  2

  3

  4

  3

  3

  3

  4

  2

  3

  1

  2

  4

  4

  3

  35

  3

  3

  3

  3

  3

  2

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  4

  3

  3

  3

  3

  3

  4

  4

  3

  4

  3

  2

  3

  3

  34

  3

  3

  4

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  2

  2

  3

  3

  4

  2

  4

  4

  1

  4

  4

  3

  7

  3

  3

  2

  2

  3

  3

  3

  4

  2

  3

  2

  3

  4

  3

  2

  1

  1

  1

  3

  2

  3

  3

  4

  2

  1

  2

  1

  3

  2

  2

  2

  6

  3

  4

  4

  3

  4

  4

  1

  3

  4

  2

  2

  2

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  2

  3

  3

  9

  3

  3

  3

  3

  3

  2

  3

  10

  3

  2

  2

  3

  3

  3

  3

  3

  4

  2

  3

  8

  2

  2

  3

  3

  3

  3

  2

  4

  2

  2

  3

  3

  3

  3

  4

  4

  2

  3

  2

  3

  3

  2

  2

  2

  3

  3

  3

  3

  4

  4

  2

  4

  3

  3

  2

  2

  2

  2

  3

  2

  3

  3

  3

  2

  2

  4

  3

  3

  13

  3

  4

  5

  6

  7

  8

  9

  10

  11

  12

  14

  3

  15

  16

  17

  18

  19

  20

  1

  2

  2

  3

  3

  2

  3

  3

  2

  4

  3

  2

  2

  3

  2

  3

  3

  4

  2

  2

  4

  3

  3

  3

  3

  4

  2

  3

  2

  2

  5

  4

  4

  4

  2

  3

  3

  3

  2

  3

  3

  3

  3

  1

  3

  4

  4

  2

  4

  4

  3

  3

  3

  3

  3

  4

  4

  4

  4

  3

  3

  3

  3

  2

  3

  3

  3

  17

  3

  4

  3

  3

  3

  3

  4

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  2

  4

  1

  2

  4

  3

  3

  3

  16

  3

  3

  3

  3

  4

  3

  2

  3

  2

  2

  3

  3

  3

  4

  3

  3

  4

  3

  3

  3

  3

  3

  4

  4

  18

  3

  4

  4

  2

  2

  3

  3

  3

  3

  4

  4

  3

  2

  3

  3

  20

  3

  3

  2

  3

  2

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  2

  3

  3

  3

  19

  2

  2

  3

  2

  3

  3

  4

  2

  4

  3

  3

  4

  2

  3

  12

  4

  4

  4

  3

  4

  4

  4

  4

  4

  4

  4

  4

  4

  1

  4

  3

  2

  1

  4

  1

  2

  2

  3

  3

  3

  3

  4

  3

  2

  2

  3

  2

  11

  3

  3

  2

  2

  3

  3

  3

  4

  2

  4

  4

  3

  3

  3

  3

  3

  2

  3

  4

  3

  3

  3

  3

  2

  3

  3

  4

  3

  3

  15

  3

  3

  3

  3

  3

  4

  3

  3

  4

  3

  4

  13

  3

  2

  2

  3

  2

  3

  2

  4

  2

  3

  2

  4

  3

  2

  3

  4

  2

  3

  2

  3

  14

  3 Subj/Itm

  21

  2

  3

  28

  83

  2

  2

  3

  3

  2

  2

  3

  3

  2

  2

  3

  27

  3

  89

  3

  3

  3

  3

  3

  2

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  26

  3

  3

  4

  4

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  4

  3

  3

  30

  4 4 122

  4

  4

  4

  4

  3

  4

  4

  4

  4

  4

  29

  88

  3

  3

  3

  4

  2

  2

  2

  4 3 110

  4

  3

  3

  2

  2

  3

  3

  2

  3

  3

  3

  3

  2

  3

  3

  22

  84

  2

  23

  3

  4

  2

  2

  3

  3

  3

  2

  3

  3

  21

  89

  3

  3

  80

  3

  3

  4

  4

  3

  4

  4

  4

  4

  4

  25

  4 3 115

  4

  4

  4

  4

  4

  4

  3

  3

  2

  3

  4

  2

  4

  4

  3

  4

  3

  1

  79

  24

  4

  4

  3

  3

  3

  3

  3

  4

  2

  3

  3

  3

  38

  91

  3

  3

  3

  4

  2

  2

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  37

  92

  2

  3

  3

  2

  3

  2

  3

  4

  2

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  2

  3

  4

  2

  3

  3

  3

  40

  92

  3

  3

  2

  3

  2

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  39

  95

  3

  3

  3

  3

  97

  3

  3

  3

  3

  33

  95

  3

  3

  4

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  4

  3

  32

  4 3 101

  3

  3

  4

  4

  4

  4

  3

  3

  3

  3

  31

  4

  4

  3

  35

  36

  95

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  4 3 102

  3

  4

  3

  3

  3

  3 3 103

  34

  3

  3

  4

  3

  4

  3

  3

  4

  4

  3

  3

  22

  3

  2

  2

  3

  3

  3

  3

  4

  3

  7

  4 3 110

  4

  4

  3

  4

  4

  4

  4

  4

  4

  4

  6

  70

  1

  3

  3

  3

  1

  1

  2

  1

  3

  3

  2

  9

  10

  89

  2

  3

  3

  3

  2

  2

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  92

  2

  2

  3

  3

  3

  3

  2

  3

  3

  3

  3

  4

  3

  8

  92

  3

  3

  3

  4

  3

  3

  2

  3

  3

  2

  93

  2

  3

  3

  3

  3

  2

  3

  3

  2

  3

  3

  3

  1

  32 Tot

  31

  30

  29

  28

  27

  26

  25

  24

  23

  3

  2

  3

  4

  5

  87

  3

  2

  3

  3

  3

  2

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  4 3 115

  4

  4

  3

  2

  3

  84

  3

  4

  4

  4

  4

  4

  4

  4

  4

  4

  3

  3

  2

  3

  4 3 102

  4

  4

  4

  3

  3

  4

  3

  3

  4

  3

  17

  3 3 101

  3

  3

  3

  3

  3

  4

  4

  3

  3

  3

  16

  95

  3

  3

  4

  3

  3

  18

  3

  3

  3

  2

  3

  3

  3

  3

  3

  20

  94

  2

  3

  3

  3

  3

  2

  4

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  95

  19

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  3

  4

  4

  4

  4

  4

  4

  12

  93

  2

  3

  4

  3

  2

  2

  4

  4

  3

  3

  4

  3

  11

  88

  2

  3

  3

  3

  3

  2

  3

  4

  4

  4

  3

  3

  3

  3

  3

  15

  4 3 101

  3

  3

  4

  4

  4

  4

  3

  3

  3

  14

  4

  3

  4 4 122

  13

  2

  3

  2

  2

  3

  84

  2

  2

  4

  3

  2

  2

  95

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Hubungan antara pemberian dukungan sosial dari suami dengan tingkat kecemasan menghadapi kelahiran bayi
0
4
181
Pengaruh attachment style dan dukungan sosial terhadap kecemasan menghadapi menarche pada remaja awal
4
15
139
Studi Fenomenologi pengalaman suami menghadapi istri yang memasuki masa menopause di Kelurahan Pisangan, Ciputat
0
9
118
hubungan kecerdasan emosi dan dukungan sosial dengan kecemasan menghadapi masa pensiun
3
15
115
HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN SOSIAL DENGAN KECEMASAN DALAM MENGHADAPI SBMPTN Hubungan antara dukungan sosial dengan kecemasan dalam menghadapi SBMPTN.
0
2
16
PENDAHULUAN Hubungan antara dukungan sosial dengan kecemasan dalam menghadapi SBMPTN.
0
2
9
HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN SOSIAL DENGAN KECEMASAN DALAM MENGHADAPI SBMPTN Hubungan antara dukungan sosial dengan kecemasan dalam menghadapi SBMPTN.
0
3
5
HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN SOSIAL DENGAN KECEMASAN DALAM MENGHADAPI SBMPTN Hubungan antara dukungan sosial dengan kecemasan dalam menghadapi SBMPTN.
0
3
19
Hubungan antara dukungan sosial dengan kecemasan menghadapi dunia kerja pada siswa SMK.
5
18
125
Hubungan antara dukungan sosial suami terhadap tingkat kecemasan istri dalam menghadapi masa menopause.
0
2
122
Hubungan antara tingkat kecemasan ibu hamil anak pertama pada trimester ketiga dan persepsi terhadap dukungan sosial dari suami.
1
2
142
hubungan antara tingkat dukungan sosial
0
0
9
Hubungan antara harga diri dengan kecemasan istri pelaut terhadap perselingkuhan suami yang berlayar - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository
0
0
41
Hubungan antara kemandirian istri dengan kecemasan mengasuh anak tanpa dampingan suami - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository
0
0
16
Hubungan antara kecemasan dan persepsi terhadap kepuasan seksual suami pada istri yang mengalami menopause - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository
0
0
38
Show more