Pengaruh hydroxypropyl methylcellulose sebagai gelling agent dalam sediaan pasta gigi minyak kayu manis (cinnamomum burmannii bl.) - USD Repository

Gratis

0
0
113
7 months ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PENGARUH HYDROXYPROPYL METHYLCELLULOSE SEBAGAI GELLING AGENT DALAM SEDIAAN PASTA GIGI MINYAK KAYU MANIS (Cinnamomum burmannii Bl.) SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm) Program Studi Farmasi Oleh : Hans Gani NIM : 108114125 FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014 i

(2) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Persetujuan Pembimbing PENGARUH HYDROXYPROPYL METHYLCELLULOSE SEBAGAI GELLING AGENT DALAM SEDIAAN PASTA GIGI MINYAK KAYU MANIS (Cinnamomum burmannii Bl.) Skripsi yang diajukan oleh : Hans Gani NIM : 108114125 telah disetujui oleh : Pembimbing Utama Dr. T. N. Saifullah S., M.Si., Apt Tanggal 16 Juli 2014 Pembimbing Pendamping Agustina Setiawati, M.Sc., Apt. Tanggal 16 Juli 2014 ii

(3) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Pengesahan Skripsi Berjudul PENGARUH HYDROXYPROPYL METHYLCELLULOSE SEBAGAI GELLING AGENT DALAM SEDIAAN PASTA GIGI MINYAK KAYU MANIS (Cinnamomum burmannii Bl.) Oleh: Hans Gani 108114125 Dipertahankan di hadapan Panitian Penguji Skripsi Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma pada tanggal : ………………………… Mengetahui Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Dekan, Ipang Djunarko, M.Sc., Apt. Panitia Penguji : Tanda Tangan 1. Dr. T. N. Saifullah S., M.Si., Apt. ……………………………. 2. Agustina Setiawati, M.Sc., Apt. ……………………………. 3. Dr. Sri Hartati Yuliani, M.Si., Apt. ……………………………. 4. Melania Perwitasari, M.Sc., Apt ……………………………. iii

(4) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI HALAMAN PERSEMBAHAN nDerek Dewi Mariyah tamtu geng kang manah . . mBoten yen kuwatosa ibu njangkung tansah . . Karya ini kupersembahkan untuk : Papa, Mama, Kris, Leo, dan segenap Keluarga tercinta, sebagai rasa terimakasihku untuk dukungan dan penyertaan dalam doa Para sahabatku, Teman-teman Farmasi Angkatan 2010, atas kesempatan dan pengalaman berharga dalam masa mudaku. serta Almamaterku, Universitas Sanata Dharma, yang kubanggakan iv

(5) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PERNYATAAN KEASLIAN KARYA Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah. Apabila di kem udian hari ditemukan indikasi plagiarisme dalam naskah ini, maka saya bersedia menanggung segala sanksi sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Yogyakarta, 16 Juli 2014 Penulis Hans Gani v

(6) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS Yang bertandatangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma Nama : Hans Gani Nomor Mahasiswa : 108114125 Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul : PENGARUH HYDROXYPROPYL METHYLCELLULOSE SEBAGAI GELLING AGENT DALAM SEDIAAN PASTA GIGI MINYAK KAYU MANIS (Cinnamomum burmannii Bl.) Beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikannya secara terbatas, dan mempublikasikannya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis, tanpa perlu meminta izin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis. Demikian pernyataan ini yang saya buat dengan sebenarnya. Dibuat di Yogyakarta Pada tanggal : 16 Juli 2014 Yang menyatakan, Hans Gani vi

(7) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PRAKATA Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat dan penyertaan dari-Nya penulis diberi kelancaran dalam menyelesaikan penelitian yang berjudul “Pengaruh Hydroxypropyl Methylcellulose sebagai Gelling Agent dalam Sediaan Pasta Gigi Minyak Kayu Manis (Cinnamomum burmannii Bl.)”. Penelitian ini disusun tugas akhir studi perguruan tinggi untuk memperoleh gelar Sarjana Strata Satu pada Program Studi Farmasi (S.Farm). Terselesaikannya penelitian hingga penulisan laporan ini, tidak terlepas dari bantuan baik berupa bimbingan, dukungan, sarana, maupun finansial dari berbagai pihak. Dengan rendah hati penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada : 1. Ridwan Nugraha dan Elisabeth Lily Hardi, selaku orang tua penulis dan kakak, Kris Adam dan Leo Chandra, yang memberikan kesempatan dan dukungan penuh kepada penulis untuk menyelesaikan studi S1 di Yogyakarta. 2. Ipang Djunarko, M.Sc., Apt., selaku Dekan Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. 3. Dr. T. N. Saifullah S., M.Si., Apt., selaku dosen pembimbing pertama yang telah memberikan bimbingan, arahan, serta motivasi selama penelitian. 4. Agustina Setiawati, M.Sc., Apt., selaku dosen pembimbing kedua dan “ibu kedua” bagi penulis yang memberikan perhatian, saran, dukungan, dan motivasi sehingga penulis tetap bersemangat menyelesaikan penelitian. vii

(8) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 5. Dr. Sri Hartati Yuliani, M.Si., Apt., selaku dosen penguji atas kesediaannya menguji penulis, serta kritik dan saran yang membangun penulis. 6. Melania Perwitasari, M.Sc., Apt., selaku dosen penguji atas kesediaannya menguji penulis serta kritik dan saran yang membangun penulis. 7. Ibu C.M. Ratna Rini Nastiti, M.Pharm., selaku dosen pembimbing akademik yang telah mendampingi dan memberikan perhatian hingga penulis menyelesaikan perkuliahan dengan baik dan menjadi lebih dewasa. 8. Pak Musrifin, Pak Mukminin, Mas Agung, serta semua laboran dan karyawan yang telah membantu penulis selama penelitian. 9. CV Eteris Nusantara, yang telah membantu dalam pengadaan minyak kayu manis yang berkualitas sebagai bahan penelitian. 10. Rekan seperjuangan selama penelitian, Tora Bangun, Eliza Telamiana, Widya Agriani, Zufri Bella, dan Nita Rahayu untuk setiap kerjasama, dukungan, kebersamaan dari awal perencanaan, penelitian, dan penyusunan laporan. 11. Sahabat terbaik penulis, F.A. Dyan Kristianto, Tomas Indra, Angga Zakharia, Stefanus Indra, Agriva Devaly, Evan Gunawan, dan Daniel Pradipta, atas kebersamaannya yang tidak terlupakan. 12. Kristina Nety, Devina Permatasari, Lukas Surya, dan Isabela Anjani, untuk semangat dan motivasi di saat penulis mengalami kesulitan. 13. Rekan-rekan kerja di laboratorium, Lulu, Anis, Stephanie, Wulan, Odil, Maria, Yoanita, Niken, Juliana, Olivia, Sita, Samuel, Didit, Vivian, Kristin, viii

(9) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Rosiana, Verica, Vivi, Rani, Lia, Cindy, Juliana, Ajeng, Della, Sandi, Desti, Astri, atas saran dan kebersamaan selama penelitian. 14. Sandra Ruby, S.Farm., Apt. dan keluarga, atas kebersamaan selama penulis berkuliah di Yogyakarta. 15. Teman-teman Farmasi angkatan 2010, khususnya FST B 2010 untuk semua keceriaan, kenangan demi kenangan hingga berhasil menyelesaikan perkuliahan bersama-sama. 16. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu, yang telah membantu penulis dalam proses penelitian hingga penyusunan laporan akhir ini. Penulis menyadari bahwa penulisan tugas akhir ini masih memiliki banyak kekurangan karena keterbatasan pengetahuan serta hal-hal lain di luar kemampuan manusia. Oleh karena itu, dengan rendah hati penulis mengharapkan saran dan kritik membangun yang berguna bagi penelitian selanjutnya. Penulis berharap agar tugas akhir ini dapat bermanfaat bagi pembaca. Yogyakarta, 16 Juli 2014 Penulis ix

(10) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL..................................................................................................... i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING .......................................................... ii HALAMAN PENGESAHAN ..................................................................................... iii HALAMAN PERSEMBAHAN ................................................................................. iv PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ...................................................................... v LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS ................................................................... vi PRAKATA ................................................................................................................. vii DAFTAR ISI ................................................................................................................ x DAFTAR TABEL ..................................................................................................... xiii DAFTAR GAMBAR ................................................................................................ xiv DAFTAR LAMPIRAN .............................................................................................. xv DAFTAR SINGKATAN .......................................................................................... xvi INTISARI................................................................................................................. xvii ABSTRACT .............................................................................................................. xviii BAB I. PENGANTAR ................................................................................................. 1 A. Latar Belakang ................................................................................................. 1 1. Permasalahan ............................................................................................. 4 x

(11) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2. Keaslian penelitian .................................................................................... 4 3. Manfaat penelitian ..................................................................................... 5 B. Tujuan Penelitian ............................................................................................. 5 1. Tujuan umum ............................................................................................ 5 2. Tujuan khusus ........................................................................................... 6 BAB II. PENELAAHAN PUSTAKA.......................................................................... 6 A. Kayu Manis (Cinnamomum burmannii Bl.) .................................................... 7 B. Gigi ................................................................................................................... 9 C. Streptococcus mutans ..................................................................................... 12 D. Uji Daya Antibakteri ...................................................................................... 14 E. Pasta Gigi ....................................................................................................... 17 F. Hydroxypropyl Methycellulose ...................................................................... 22 G. Landasan Teori ............................................................................................... 24 H. Hipotesis......................................................................................................... 25 BAB III. METODOLOGI PENELITIAN ................................................................. 26 A. Jenis dan Rancangan Penelitian ..................................................................... 26 B. Variabel Penelitian ......................................................................................... 26 C. Definisi Operasional....................................................................................... 26 D. Bahan Penelitian............................................................................................. 28 E. Alat Penelitian ................................................................................................ 29 F. Tata Cara Penelitian ....................................................................................... 29 xi

(12) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI G. Analisis Data .................................................................................................. 39 BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN .................................................................. 41 A. Identifikasi dan Verifikasi Bahan Penelitian.................................................. 41 B. Penentuan Konsentrasi Bunuh Minimum (KBM) Minyak Kayu Manis terhadap Streptococcus mutans ...................................................................... 42 C. Pengujian Sifat Fisik dan Stabilitas Pasta Gigi Minyak Kayu Manis ............ 45 D. Uji Aktivitas Antibakteri Pasta Gigi Minyak Kayu Manis terhadap Streptococcus mutans ..................................................................................... 53 E. Uji Iritasi Sediaan Pasta Gigi Minyak Kayu Manis ....................................... 54 BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN .................................................................... 56 A. Kesimpulan .................................................................................................... 56 B. Saran ............................................................................................................... 57 DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................ 58 LAMPIRAN ............................................................................................................... 63 BIOGRAFI PENULIS ............................................................................................... 95 xii

(13) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR TABEL Tabel I. Formula pasta gigi minyak kayu manis .................................................. 35 Tabel II. Verifikasi minyak kayu manis................................................................. 41 Tabel III. Pengamatan kejernihan media dilusi padat ............................................. 43 Tabel IV. Pengamatan organoleptis dan pengujian pH pasta gigi minyak kayu manis ....................................................................................................... 47 Tabel V. Perbandingan viskositas konsentrasi HPMC 0,25-0,75% berdasarkan nilai p-value ............................................................................................. 48 Tabel VI. Perbandingan viskositas konsentrasi HPMC 0,75-1,5% berdasarkan nilai p-value ............................................................................................. 48 Tabel VII. Perbandingan daya lekat konsentrasi HPMC 0,25-0,75% berdasarkan nilai p-value ............................................................................................. 50 Tabel VIII. Perbandingan daya lekat konsentrasi HPMC 0,75-1,5% berdasarkan nilai p-value ............................................................................................. 50 Tabel IX. Pergeseran viskositas dibandingkan hari ke-2 berdasarkan nilai p-value ..........51 Tabel X. Pergeseran daya lekat dibandingkan hari ke-2 berdasarkan nilai p-value ..........52 Tabel XI. Pengukuran diameter zona hambat pasta gigi minyak kayu manis, kontrol basis, kontrol positif, dan minyak kayu manis 7% ..................... 53 Tabel XII. Perbandingan aktivitas antibakteri antar formula berdasarkan p-value .. 54 Tabel XIII. Perhitungan persentase mukus yang dihasilkan ...................................... 55 xiii

(14) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR GAMBAR Gambar 1. Komponen utama minyak kayu manis.................................................... 7 Gambar 2. Struktur gigi ............................................................................................ 9 Gambar 3. Streptococcus mutans ........................................................................... 12 Gambar 4. Proses sintesisa sukrosa oleh Streptococcus mutans ............................ 13 Gambar 5. Struktur kimia hydroxypropyl methylcellulose ..................................... 22 Gambar 6. Bentuk kristal hydroxypropyl methylcellulose ...................................... 23 Gambar 7. Diagram pengukuran diameter zona hambat minyak kayu manis terhadap Streptococcus mutans ............................................................. 42 Gambar 8. Uji penegasan pertama konsentrasi minyak kayu manis 6-9%............. 44 Gambar 9. Uji penegasan kedua konsentrasi minyak kayu manis 6-9% ................ 44 Gambar 10. Pengaruh konsentrasi HPMC terhadap viskositas pasta gigi minyak kayu manis pada hari ke-2 .................................................................... 47 Gambar 11. Pengaruh konsentrasi HPMC terhadap daya lekat pasta gigi minyak kayu manis pada hari ke-2 .................................................................... 49 Gambar 12. Grafik pergeseran viskositas selama 28 hari penyimpanan .................. 51 Gambar 13. Grafik pergerseran daya lekat selama 28 hari penyimpanan ................ 52 xiv

(15) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1. Certificate of Analysis (CoA) minyak kayu manis Eteris Nusantara . 64 Lampiran 2. Surat keterangan Streptococcus mutans ............................................. 65 Lampiran 3. Sertifikat hydroxypropyl methylcellulose ........................................... 66 Lampiran 4. Pengujian karakteristik minyak kayu manis ....................................... 67 Lampiran 5 Perhitungan minyak kayu manis dalam formula. ............................... 69 Lampiran 6. Penentuan konsentrasi bunuh minimum (KBM) minyak kayu manis terhadap Steptococcus mutans ............................................................ 70 Lampiran 7. Perhitungan pengenceran dilusi padat ................................................ 73 Lampiran 8. Pengujian sifat fisik pasta gigi minyak kayu manis ........................... 74 Lampiran 9. Dokumentasi sifat fisik pasta gigi minyak kayu manis ...................... 76 Lampiran 10. Pengaruh konsentrasi HPMC terhadap viskositas pasta gigi minyak kayu manis .......................................................................................... 79 Lampiran 11. Pengaruh konsentrasi HPMC terhadap daya lekat pasta gigi minyak kayu manis .......................................................................................... 81 Lampiran 12. Pengaruh konsentrasi HPMC terhadap pergeseran viskositas pasta gigi minyak kayu manis...................................................................... 83 Lampiran 13. Pengaruh konsentrasi HPMC terhadap pergeseran daya lekat pasta gigi minyak kayu manis...................................................................... 86 Lampiran 14. Pengujian aktivitas antibakteri pasta gigi minyak kayu manis terhadap Streptococcus mutans .......................................................... 89 Lampiran 15. Uji iritasi sediaan pasta gigi minyak kayu manis ............................... 94 xv

(16) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR SINGKATAN CoA : Certificate of Analysis FTase : Fruktosil Transferase GTase : Glukosil Transferase KBM : Kadar Bunuh Minimum KHM : Kadar Hambat Minimum HPMC : Hydroxypropyl Methylcellulose MP : Mucus Production SMI : Slug Mucosal Irritation SNI : Standar Nasional Indonesia SLS : Sodium Lauril Sulfat TSA : Trypton Soya Agar TSB : Trypton Soya Broth xvi

(17) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI INTISARI Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh hydroxypropyl methylcellulose (HPMC) sebagai gelling agent dalam sediaan pasta gigi minyak kayu manis. Adanya HPMC sebagai gelling agent membentuk suatu matriks yang menjerat sinamaldehid, yang merupakan komponen utama minyak kayu manis sebagai senyawa antibakteri, sehingga stabil selama penyimpanan. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental murni. Tahapan penelitian diawali dengan menentukan Konsentrasi Bunuh Minimum (KBM) minyak kayu manis terhadap Streptococcus mutans, kemudian dilanjutkan dengan formulasi minyak kayu manis dalam sediaan pasta gigi dengan konsentrasi tersebut. Dalam formula dilakukan penambahan HPMC dengan variasi konsentrasi 0,25; 0,5; 0,75; 1,0; 1,25; 1,5% (b/b). Sifat fisik dan stabilitas sediaan dilihat berdasarkan pengukuran viskositas dan daya lekat. Aktivitas antibakteri sediaan diukur berdasarkan diameter zona hambat yang dihasilkan. Kedua respon tersebut dianalisis secara statistik dengan uji T tidak berpasangan menggunakan software R. 3.0.1 Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi HPMC sebesar memberikan pengaruh signifikan terhadap sifat fisik viskositas dan daya lekat, serta stabilitas viskositas sediaan pasta gigi minyak kayu manis. Peningkatan konsentrasi HPMC tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap stabilitas daya lekat. Peningkatan konsentrasi HPMC sebesar 1,25% memberikan pengaruh signifikan terhadap penurunan aktivitas antibakteri. Pasta gigi minyak kayu manis memberikan iritasi berat terhadap membran mukosa berdasarkan pengujian dengan metode SMI. Kata kunci : hydroxypropyl methylcellulose, pasta gigi, minyak kayu manis xvii

(18) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ABSTRACT This study aimed to examine the effect of hydroxypropyl methylcellulose (HPMC) as gelling agent in the preparation of Cinnamon oil toothpaste. The presence of HPMC as gelling agent to form matrix that ensure cinnamaldehyde which the main component of Cinnamon oil as an antibacterial agent, so it was stable during storage. This study was experimental. The research began with determining Minimum Inhibition Concentration (MIC) of Cinnamon oil against Streptococcus mutans, followed by formulation Cinnamon oil toothpaste with various concentration with 0,25; 0,5; 0,75; 1,0; 1,25; 1,5 % (w/w). The physical properties and stability of Cinnamon oil toothpaste seen by measuring viscosity and adhesion during 28 days of storage. Antibacterial activity of Cinnamon oil toothpaste seen by measuring diameter of inhibition zone which be created. The physical properties, stability of preparation, and antibacterial activity were statistically analyzed by T-test using the software R 3.0.1 The result showed that increasing the concentration of HPMC gave significant effect on the physical properties of Cinnamon oil toothpaste for viscosity, adhesion, and stability of viscosity. Increasing the concentration of HPMC didn’t give significant effect on the stability of adhesion. Increasing the concentration 1,25% HPMC gave significant effect on the reduction antibacterial activity. Cinnamon oil toothpaste gave severe irritation against mucosal based on SMI test method. Keywords : hydroxypropyl methylcellulose, toothpaste, Cinnamon oil xviii

(19) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB I PENGANTAR A. Latar Belakang Karies adalah sebuah penyakit infeksi yang merusak struktur gigi. Data yang dikeluarkan Departemen Kesehatan Republik Indonesia tentang Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007 menunjukkan 72,1% penduduk Indonesia mempunyai pengalaman gigi berlubang (karies) dan sebanyak 46,5% diantaranya karies aktif yang belum dirawat (Depkes RI, 2008). Jika tidak ditangani, karies dapat menyebabkan nyeri hingga terjadi penanggalan gigi, serta investasi bagi penyakitpenyakit kronis lain yang dapat menimbulkan kematian. Kemampuan bakteri pada rongga mulut untuk memfermentasi gula dalam lingkungan asam menyebabkan terjadinya kerusakan mineral pada lapisan enamel dan dentin gigi (Beighton, 2007). Penelitian Kidd dan Joyston (1992) menunjukkan bahwa Streptococcus mutans dan Lactobacillus merupakan bakteri yang berperan dominan dalam pembentukan plak dan perkembangan karies. Streptococcus mutans tumbuh subur dalam suasana asam dan dapat menempel pada permukaan gigi karena kemampuannya membuat polisakarida ekstrasel. Polisakarida ekstrasel terdiri dari polimer glukosa yang membentuk matriks plak, akibatnya bakteri terbantu untuk melekat pada gigi serta saling melekat satu sama lain sehingga menghambat fungsi saliva untuk melakukan aktivitas antibakteri (Pratiwi, 2005). Streptococcus mutans 1

(20) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2 merupakan flora normal dalam rongga mulut, tetapi apabila terjadi peningkatan populasi dapat berubah menjadi bakteri patogen. Pengendalian plak merupakan langkah untuk mencegah pembentukan karies dan penyakit periodontal. Pengendalian plak dapat dilakukan baik secara mekanis menggunakan sikat gigi, maupun secara kimiawi menggunakan obat kumur atau pasta gigi. Langkah preventif tersebut dapat mengontrol jumlah bakteri Streptococcus mutans dalam rongga mulut (McDonald dan Avery, 2000). Perkembangan pasta gigi dalam beberapa tahun terakhir membuat fungsinya tidak sebatas hanya sediaan kosmetik. Pasta gigi sudah ditambahkan bahan-bahan aktif seperti fluoride untuk memutihkan dan memperkuat email gigi, enzim bagi pengguna dengan gigi yang sensitif, atau chlorhexidine sebagai bahan antibakteri. (Pratiwi, 2005). Dalam rangka peningkatan peran tanaman dalam pengobatan tradisional perlu didukung upaya pengenalan, penelitian, pengujian, dan pengembangan khasiat serta keamanan suatu tumbuhan obat agar keberadaannya dapat dikenal di kalangan medis (Putrandana, 2003). Saat ini dilakukan banyak ekplorasi dan penelitian terhadap tanaman yang menghasilkan minyak atsiri termasuk minyak atsiri dari tanaman kayu manis. Adanya sifat menghambat dan merusak dari minyak atsiri dapat digunakan sebagai bakterisidal dan fungisidal, tetapi tidak semua minyak atsiri dapat menghambat pertumbuhan semua jenis bakteri (Guenther, 2006). Minyak atsiri dan ekstrak tumbuh-tumbuhan dapat dijadikan alternatif sebagai bahan antibakteri dalam pasta gigi (Pistorius, 2003). Minyak atsiri kayu manis (Cinnamomum burmannii Bl.) memiliki komponen utama sinamaldehid, yang diketahui mempunyai aktivitas

(21) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3 antibakteri terhadap bakteri Streptococcus mutans penyebab karies pada gigi (Dwijayanti, 2011). Pasta gigi minyak kayu manis merupakan pemanfaatan bahan alam untuk diformulasikan menjadi kosmetik. Pertimbangan utama dalam pemilihan bentuk sediaan pasta gigi adalah karena karakteristik minyak atsiri yang tidak stabil dalam penyimpanan dan lebih mudah teroksidasi menyebabkan kandungan sinamaldehid menjadi berkurang. Gelling agent merupakan bahan utama sediaan pasta gigi yang menjerat minyak kayu manis dalam suatu matriks sehingga terlindung dari proses oksidasi. Hydroxypropyl methylcellulose (HPMC) merupakan salah satu gelling agent yang umum digunakan sebagai thickening agent dan stabilizing agent dalam sediaan semi padat untuk meningkatkan viskositas dan mencegah pemisahan komponen padat dan cair di dalamnya. HPMC umum digunakan dalam formulasi sediaan farmasi, seperti sediaan oral, tetes mata, nasal, dan topikal. HPMC bersifat tidak toksik, tidak mengiritasi, serta stabil pada pH 3 hingga 11 (Rogers, 2009). Pada penelitian ini dibuat sediaan pasta gigi minyak kayu manis dengan HPMC sebagai gelling agent, kemudian diteliti pengaruh peningkatan konsentrasi HPMC terhadap sifat fisik dan kestabilan sediaan. Peningkatan konsentrasi HPMC memberikan pengaruh terhadap peningkatan viskositas dan daya lekat sediaan, terkait pada stabilitasnya selama penyimpanan. Dalam penelitian ini dilihat juga pengaruh peningkatan konsentrasi HPMC terhadap aktivitas antibakteri sediaan pasta gigi minyak kayu manis terhadap Streptococcus mutans. Konsentrasi gelling agent yang

(22) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4 tepat harus dapat menyediakan ikatan yang tidak terlalu kuat dengan minyak kayu manis, sehingga dapat terlepas dari sediaan. Pengaruh peningkatan HPMC sebagai gelling agent dalam sediaan pasta gigi minyak kayu manis dianalisis statistik menggunakan software R 3.0.1 untuk melihat signifikansi perbedaan antar formula dengan konsentrasi HPMC yang berbeda. 1. Permasalahan a. Bagaimana pengaruh peningkatan konsentrasi HPMC sebagai gelling agent terhadap sifat fisik dan kestabilan sediaan pasta gigi minyak kayu manis meliputi viskositas dan daya lekat? b. Apakah peningkatan konsentrasi HPMC dalam sediaan pasta gigi minyak kayu manis memberikan pengaruh dalam menghambat pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans? c. Apakah sediaan pasta gigi minyak kayu manis memiliki potensi dalam mengiritasi membran mukosa? 2. Keaslian penelitian Sejauh peneliti ketahui, berbagai penelitian mengenai HPMC sebagai gelling agent dalam sediaan pasta gigi minyak kayu manis belum pernah dilakukan. Adapun penelitian terkait yang telah dilakukan, yaitu Pengaruh Konsentrasi Sorbitol sebagai Humektan dalam Pasta Gigi Minyak Atsiri Kayu Manis (Cinnamomum burmanii Bl.) terhadap Karakteristik Fisik dan Stabilitas Sediaan (Fitria, 2013). Penelitian lainnya adalah Formulasi Gel Antijerawat

(23) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 5 Ekstrak Etanol Patikan Kebo (Euphorbia hirta L.) dengan Basis HPMC Tipe 2910 : Uji Sifat Fisik, Stabilitas Fisik, dan Aktivitas Antibakteri terhadap Staphylococcus epidermidis (Jaelani, 2012). 3. Manfaat penelitian a. Manfaat teoretis. Dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan ilmiah bagi perkembangan ilmu pengetahuan mengenai HPMC sebagai gelling agent dalam formulasi pasta gigi minyak kayu manis yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans. b. Manfaat praktis. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai pengaruh peningkatan konsentrasi HPMC terhadap sifat fisik sediaan pasta gigi minyak kayu manis meliputi viskositas dan daya lekat sediaan, serta aktivitas antibakteri dalam menghambat pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans. Penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai pasta gigi yang aman digunakan. B. Tujuan Penelitian 1. Tujuan umum Membuat sediaan pasta gigi yang mengandung minyak kayu manis sebagai bahan aktif.

(24) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 6 2. Tujuan khusus a. Mengetahui pengaruh peningkatan HPMC sebagai gelling agent terhadap sifat fisik dan kestabilan sediaan pasta gigi minyak kayu manis meliputi viskositas dan daya lekat. b. Mengetahui pengaruh peningkatan HPMC dalam sediaan pasta gigi minyak kayu manis dalam menghambat pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans. c. Mengetahui potensi iritasi sediaan pasta gigi minyak kayu manis terhadap membran mukosa.

(25) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB II PENELAAHAN PUSTAKA A. Kayu Manis (Cinnamomum burmannii Bl) 1. Kandungan kimia Pada kulit batang kayu manis mengandung paling banyak cinnamic aldehyde atau sinamaldehid, sedangkan pada daun lebih banyak mengandung eugenol dibandingkan sinamaldehid (Bisset dan Wichtl, 2001). Minyak kayu manis mengandung cukup banyak aldehid, di antaranya adalah cinnamaldehyde (70-88%), (E)-o-methoxy-cinnamaldehyde (3-15%), benzaldehyde (0,5–2%), salicylaldehyde (0,2– %), cinnamyl acetate (0–6%), eugenol (<0,5 %) dan coumarin (1,5 – 4 %) (Bruneton, 1999). Wang dkk. (2009) melaporkan bahwa komponen utama minyak atsiri pada tanaman kayu manis yang berasal dari Guangzhou, China, adalah transsinamaldehid (60,72%), eugenol (17,62%), dan kumarin (13,39%). Gambar 1. Komponen utama minyak kayu manis (Porel, 2014) Mallavarapu, et al. (1995) mengidentifikasi 53 senyawa pada daun tanaman kayu manis dengan eugenol, sebagai komponen utama sebanyak 81- 7

(26) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 8 84,5%. Jayaprakasha, et al. (1997) mengidentifikasi buah tanaman kayu manis dan menemukan 34 senyawa dengan (E)-cinnamyl acetate (42-54%) dan caryophyllene (9-14%) sebagai kandungan utama. Penelitian selanjutnya dari Jayaprakasha, et al. (2000) mengidentifikasi (E)-cinnamyl acetate (42%), transα-bergamotene (8%) dan caryophyllene (7%) pada bunga tanaman kayu manis. Senyawa α-bergamotene (27,4%) dan α-copaene (23,1%) merupakan komponen utama yang terdapat pada pucuk tanaman kayu manis (Jayaprakasha, et al., 2002). 2. Kegunaan dan khasiat Minyak atsiri mempunyai aktivitas sebagai antioksidan, anti-ulcer, antidiabetic, dan anti-inflammatory (Jakhetia, et.al., 2010). Selain itu, minyak atsiri dari kulit batang kayu manis juga berkhasiat sebagai antibakteri dan fungisidal karena adanya kandungan dari sinamaldehid (Bisset dan Wichtl, 2001). Penggunaan minyak kayu manis secara umum sebagai flavoring agent untuk bumbu masakan dengan aroma yang tajam maupun sebagai bahan dalam pengobatan tradisional, misalnya sebagai peluruh kentut (karminatif). Minyak kayu manis mempunyai sifat antiseptik (Robbers, Speedie, dan Tyler, 1996). Adanya sifat menghambat dan merusak dari minyak atsiri dalam proses kehidupan dapat digunakan sebagai bakterisidal dan fungisidal, tetapi tidak semua minyak atsiri dapat menghambat pertumbuhan semua jenis bakteri (Guenther, 1987).

(27) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 9 B. Gigi 1. Struktur gigi Gigi merupakan organ pertama dalam proses pencernaan, yang berfungsi untuk mengunyah (mastikasi), motilitas mulut yang melibatkan pengirisan, perobekan, penggilingan, dan pencampuran makanan oleh gigi. Gigi tertanam kuat di gusi dan menonjol dari tulang rahang. Bagian gigi yang terlihat dilapisi oleh email, struktur paling keras di tubuh. Email terbentuk sebelum gigi tumbuh oleh sel-sel khusus yang lenyap sewaktu gigi muncul (Sherwood, 2007). Secara makroskopik, gigi terdiri atas mahkota (bagian di atas gusi) dan akar (bagian yang tertanam dalam gusi), bagian yang memisahkan keduanya disebut leher (Rieger, 2000). Lapisan terluar gigi disebut enamel dan lapisan terdalam gigi adalah pulpa, lapisan diantaranya disebut dentin (Fonseca, 2006). Gambar 2. Struktur gigi (Simon, 2006) Lapisan luar gigi dibentuk oleh enamelum (email) yang sangat keras, di lapisan bawahnya terdapat lapisan dentinum dan di bawahnya lagi terdapat pulpa dentis yang berisi pembuluh darah dan saraf. Setiap gigi difiksasi di alveoli dentales oleh periodontium membentuk suatu sendi fibrosa. Perlu diperhatikan

(28) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 10 penggunaan istilah periodontium secara klinik yang mempunyai arti “cementum beserta membrane periodontium dan alveolus.” (Wibowo, 2009). 2. Karies gigi Karies gigi adalah penyakit jaringan keras gigi yang ditandai dengan terjadinya dekalsifikasi bagian anorganik dan diikuti dengan disintegrasi substansi organik gigi (Rieger, 2000). Hal ini diakibatkan oleh terganggunya keseimbangan antara email dengan lingkungan di sekitarnya yang disebabkan oleh pembentukan asam mikrobial dari medium makanan bakteri yang dilanjutkan dengan timbulnya destruksi komponen-komponen organik yang akhirnya terjadi kavitasi (pembentukan lubang) (Schuurs, 1993). Bakteri yang berperan penting dalam pembentukan plak gigi adalah bakteri yang mempunyai kemampuan untuk membentuk polisakarida ekstraseluler, yaitu Streptococcus. Bakteri Streptococcus yang ditemukan dalam jumlah besar pada plak penderita karies adalah Streptococcus mutans. Streptococcus mutans merupakan pemicu timbulnya plak gigi yang merupakan faktor primer terjadinya karies gigi. Plak yang terbentuk disebabkan sukrosa yang berasal dari makanan didegradasi oleh aktivitas enzimatik Streptococcus mutans menjadi glukosa dan fruktosa yang selanjutnya diubah secara fermentasi menjadi polisakarida ekstraseluler (glukan) dan asam dengan bantuan enzim glukosiltransferase yang dihasilkan dari Streptococcus mutans. Asam yang terbentuk dari hasil fermentasi ini membantu proses pembentukan plak. Akibat adanya pembentukan plak oleh polisakarida ekstraseluler (glukan) ini

(29) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 11 menyebabkan demineralisasi email. Jika proses ini terus menerus terjadi dan tidak dilakukan penanggulangan, hal inilah yang mampu memicu timbulnya karies gigi (Panjaitan,1997). Mekanisme saliva dalam menghambat pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans dalam rongga mulut : a. Enzim lisozim memutuskan ikatan β-1,4-glikosida antara asam-N-asetil glukosamin dengan asam-N-asetil muramat pada peptidoglikan sehingga dapat merusak dinding sel bakteri (protoplas). Kemudian air masuk ke dalam sel dan menyebabkan sel menggelembung dan lisis. Enzim lisozim dapat membunuh bakteri bila lingkungan tempat bakteri tersebut tumbuh tidak isotonis (konsentrasi zat terlarut di dalam sel dan di luar sel (lingkugan) seimbang, sehingga sekalipun dinding bakteri rusak, air tidak masuk ke dalam sel dan persitiwa lisis sel tidak terjadi (Madigan, Martinko, Dunlap, dan Clark, 2009). b. Imunoglobulin A (IgA) mengurangi kemampuan bakteri melekat dengan membran mukosa dan permukaan gigi (Doifode dan Damle, 2011). c. Laktoferin mempunyai kemampuan dalam mengikat ion besi pada bakteri, yang mana merupakan komponen penting dalam pertumbuhan bakteri (Adlerova, Bartoskova, dan Faldyna, 2008). d. Sistem enzim laktoperoksidase dan tiosianat dengan hidrogen peroksida sebagai kofaktor untuk membentuk hipotiosianat yang berpengaruh menghambat metabolisme bakteri. Hipotiosianat dapat menembus sel bakteri

(30) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 12 dan menghambat enzim glikolitik bakteri seperti heksokinase, aldolase, enolase, dan piruvatkinase yang mana pada enzim tersebut mengandung sulfihidril pokok dan histidin yang penting untuk pertumbuhan bakteri (Anonim, 2012). C. Streptococcus mutans Sel bakteri Streptococcus mutans berbentuk bulat atau lonjong dengan diameter 1-2 µm merupakan bakteri gram positif. Koloni berpasangan atau berantai, tidak membentuk spora, dan tidak bergerak (non motil). Steptococcus mutans bersifat anaerob fakultatif, mampu bertahan hidup pada lingkungan yang mengandung oksigen. Bakteri ini tumbuh secara optimal pada suhu 18 – 400C (Collier, Balows, dan Sussman, 1998). Gambar 3. Streptococcus mutans (Anonim, 2010). Jika tidak ditangani, infeksi dari bakteri Streptococcus mutans mampu meluas hingga mencapai bagian pulpa yang banyak terdapat pembuluh darah dan saraf sehingga bakteri Streptococcus mutans patogen dapat masuk ke dalam pembuluh darah dan menginfeksi jantung dan menyebabkan infeksi endocarditis.

(31) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 13 Pada kasus yang parah, bakteri dapat memicu kerusakan pembuluh jantung dan menyebabkan gagal jantung kongestif (Richard dan Huemer, 2008). Beberapa organisme diketahui ikut berperan dalam menyebabkan karies, yaitu Lactobacillus acidophilus, Streptococcus mutans, dan Actinomyces odontolyticus. Organisme tersebut merupakan flora normal yang terdapat dalam mulut dengan menghasilkan asam laktat melalui proses fermentasi karbohidrat dan kemudian melekat pada permukaan gigi (Cappucino dan Sherman, 2010). Streptococcus mutans dapat memproduksi enzim ekstraseluler glukosiltransferase (GTase) dan fruktosiltransferase (FTase) sehingga menghasilkan polisakarida ekstraseluler yaitu glukan dan fruktan. Polisakarida ini terutama glukan (dekstran) sangat penting dalam pembentukan plak gigi dan patogenesis karies gigi (Hamada dan Slade, 1980). Gambar 4. Proses sintesisa sukrosa oleh Streptococcus mutans (Cappucino dan Sherman, 2010)

(32) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 14 D. Uji Daya Antibakteri Tujuan dari pengujian ini adalah untuk mengetahui kemampuan suatu agen dalam menghambat maupun membunuh bakteri tertentu. Ada beberapa metode dalam melakukan pengujian daya antibakteri, yaitu : 1. Metode difusi Prinsip metode difusi adalah pengukuran potensi antibakteri berdasarkan pengamatan diameter daerah hambatan bakteri karena berdifusinya obat dari titik awal pemberian ke daerah difusi (Jawetz, Melnick, dan Adelberg, 1996). Ada beberapa cara dalam melakukan metode difusi ini, yaitu : a. Cara sumuran Cara ini dilakukan dengan menginokuasi bakteri ke media kemudian setelah memadat, dibuat sumuran dengan diameter tertentu dan tegak lurus dengan permukaan media. Selanjutnya ke dalam sumuran tersebut dimasukkan agen antibakteri. Daya antibakteri yang diukur adalah diameter zona jernih yang dihasilkan di sekitar sumuran (Pratiwi, 2008). b. Cara paper disc Cara ini dilakukan dengan menginokulasi bakteri ke media kemudian setelah memadat, paper disc diletakkan di atas media yang telah memadat dan ditetesi dengan agen antibakteri, sehingga agen antibakteri meresap ke dalam paper disc. Daya antibakteri yang diukur adalah diameter zona jernih yang dihasilkan di sekitar disc (Pratiwi, 2008).

(33) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 15 Agen antibakteri yang diformulasikan ke dalam suatu bentuk sediaan topikal memiliki beberapa faktor yang dapat mempengaruhi pelepasan agen antibakteri dari basis sediaan topical tersebut. Kecepatan pelepasan agen antibakteri dari basis memegang peran penting terkait aktivitas terapetik dari agen antibakteri. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pelepasan agen antibakteri dari basis sediaan topikal di antaranya adalah : a. Faktor fisika kimia Faktor fisika kimia yang dapat mempengaruhi pelepasan agen antibakteri dari basis sediaan topikal yaitu : 1) Kelarutan dari agen antibakteri atau afinitas agen terhadap pembawa. Agen antibakteri yang sangat larut dalam basis dan memiliki afinitas kuat terhadap bahan pembawanya, menunjukkan koefisien difusi yang rendah, sehingga pelepasan agen antibakteri dari bahan pembawa menjadi lambat, demikian pula sebaliknya. 2) Jenis basis sediaan topikal. Jenis basis dari sediaan topikal memiliki sifat yang berbeda-beda, misalnya mengenai pH, viskositas, polaritas, dan lain-lain, sehingga dapat mempengaruhi pelepasan agen antibakteri dari basis (Kavanagh, 1974). b. Faktor biologis Faktor biologis yang dapat mempengaruhi pelepasan agen antibakteri dari basis sediaan topikal yaitu :

(34) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 16 1) Pertumbuhan bakteri dalam media. Bakteri merupakan makhluk hidup bersel satu (uniseluler) yang memperbanyak diri dengan cara pembelahan sel. Agen antibakteri menghambat pertumbuhan bakteri tersebut. 2) Aktivitas antibakteri. Berdasarkan sifat toksisitas selektif, agen antibakteri dapat bersifat menghambat pertumbuhan bakteri (bakteriostatik) dan dapat bersifat membunuh bakteri (bakteriosida) (Jawetz, et.al., 1995) 2. Metode dilusi Metode dilusi dapat digunakan untuk menentukan kadar hambat minimal (KHM), yaitu konsentrasi terendah yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri, dan menentukan Kadar Bunuh Minimal (KBM) yaitu konsentrasi terendah yang dapat membunuh bakteri. Prinsip dari metode dilusi adalah pengenceran senywa antibakteri dalam beberapa konsentrasi dalam media cair yang ditambahkan bakteri uji hingga didapatkan larutan uji agen antibakteri pada kadar terkecil yang terlihat jernih tanpa adanya bakteri uji ditetapkan sebagai KHM. Larutan yang ditetapkan sebagai KHM selanjutnya dikultur ulang pada media cair tanpa penambahan mikrobia uji ataupun agen antibakteri. Media cair yang tetap terlihat jernih setelah inkubasi ditetapkan sebagai KBM (Pratiwi, 2008). Pada dilusi, masing- masing konsentrasi larutan uji ditambahkan suspensi bakteri dalam media cair kemudian diinkubasi dan diamati pertumbuhan

(35) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 17 bakteri uji yang tampak berdasarkan kekeruhan media. Media yang berisi konsentrasi senyawa antibakteri yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri terlihat memiliki kekeruhan yang paling tipis dibandingkan dengan konsentrasi senyawa antibakteri yang tidak menghambat pertumbuhan. Konsentrasi senyawa antibakteri yang dapat membunuh bakteri memberikan hasil berupa media yang tidak tampak adanya pertumbuhan bakteri pada saat di streak ke media lain. Potensi antibakteri dapat ditentukan dengan melihat konsentrasi terendah yang dapat menghambat/ membunuh bakteri (McKane dan Kandel, 1996). E. Pasta Gigi 1. Definisi Pasta gigi adalah sistem dispersi yang mengandung air dan cairan larut air, minyak maupun zat padat yang terlarut maupun tak terlarut. Oleh karena itu, pasta gigi merupakan dispersi padatan dalam pembawa cairan (Garlen, 1996). 2. Bahan-bahan dalam sediaan pasta gigi Pasta gigi pada umumnya terdiri atas : a. Abrasive berfungsi untuk membersihkan atau menghilangkan sisa-sisa makanan yang menyangkut pada gigi. Pada umumnya abrasive yang digunakan sebanyak setengah dari total formula (Young, 1972). Penggunaan abrasive dalam pasta gigi biasanya sebanyak 20-50% dari formulasi total (Garlen, 1996).

(36) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 18 b. Humektan berfungsi untuk menghindari terjadinya pengeringan dan pengerasan pasta. Bahan paling baik untuk digunakan adalah gliserin, karena gliserin mudah untuk membuat pasta menjadi non-drying paste (Young, 1972). Humektan yang biasanya digunakan pada pasta gigi adalah gliserin, sorbitol, propilen glikol dan polietilen glikol (Mitsui, 1997). c. Agen deterjen dan foaming berfungsi dalam membasahi gigi dan partikel makanan yang tertinggal pada gigi serta mengemulsikan mukus. Bahan yang sering digunakan adalah sodium lauril sulfat (Young, 1972). Agen pembentuk busa atau surfaktan yang biasanya digunakan pada level 0,5-2% untuk membentuk busa yang diinginkan (Garlen, 1996). d. Binder atau agen pengikat berfungsi untuk mencegah terjadinya pemisahan bahan pasta. Agen yang lazim digunakan adalah pati, gum tragacanth, sodium alginat, modified irish moss (sangat baik dan stabil), dan propilen glikol (Young, 1972). Binder digunakan untuk mencegah pemisahan fase padat dan fase cair pada pasta gigi, memberikan viskositas yang sesuai serta membentuk pasta gigi. Selain itu, binder juga memberikan pengaruh dalam dispersi dan pembilasan pasta gigi dalam rongga mulut (Mitsui, 1997). e. Pemanis berfungsi untuk memberikan rasa manis pada pasta atau memperbaiki rasa dari pasta gigi (Garlen, 1996). Yang sering digunakan adalah sakarin dengan konsentrasi 0.1 – 1.3 %. f. Flavour berfungsi untuk memberikan aroma atau rasa pada pasta. Yang sering digunakan adalah minyak peppermint (Young, 1972).

(37) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 19 g. Bahan pengawet. Pada umumnya, penggunaan air, humektan, dan gom alami pada sediaan pasta gigi memungkinkan untuk terjadinya pertumbuhan mikrobia. Oleh karena itu, adanya pengawet seperti metil paraben biasanya digunakan pada konsentrasi 0,05-0,2% (Garlen, 1996). Pengawet haruslah bersifat non toksik dan berfungsi untuk menjaga struktur fisik, kimia, dan biologi pasta, seperti sodium benzoat (Young, 1972). 3. Mekanisme pembersihan gigi oleh pasta gigi Abrasive pada pasta gigi mengangkat plak, pelikel, kotoran, sisa makanan, dan kotoran lainnya yang menempel pada permukaan gigi. Mekanisme pembersihan gigi oleh abrasive ini adalah secara mekanis yang dibantu dengan penggunaan sikat gigi. Dengan penggunaan sikat gigi maka abrasive juga dapat masuk sampai sela-sela gigi sehingga kotoran yang ada di sela-sela gigi dan plak yang terdapat pada permukaan gigi tersebut terangkat. Ketika kotoran dan plak pada gigi sudah terangkat maka kotoran dan plak tersebut dapat terangkat dengan mudah dan dibilas dengan air pada saat proses berkumur (Garlen, 1996). 4. Kontrol Kualitas Pasta Gigi Sifat fisik yang dipengaruhi oleh komposisi bahan dalam formula pasta gigi antara lain densitas, viskositas, cohesiveness, extrudability, dan sag. a. Densitas. Densitas pasta gigi merupakan gambaran konsentrasi abrasif, humektan dan air yang terkandung di dalam pasta gigi. Pasta gigi yang mengandung silika memiliki densitas sekitar 1,3 sedangkan pasta gigi yang mengandung kalsium fosfat dan kapur memiliki densitas 1,5 sampai 1,6.

(38) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 20 Penetapan nilai densitas pasta gigi berfungsi untuk mengetahui terjadinya aerasi berlebih pada proses pembuatan. Oleh karena itu, penetapan densitas dapat membantu verifikasi ketepatan proses pembuatan pasta gigi (Garlen, 1996). Densitas pasta gigi dapat diukur menggunakan piknometer alumunium. Alat ini dapat menjamin presisi volume pasta gigi. Densitas pasta gigi dapat diketahui dengan membagi massa pasta gigi dengan massa air pada volume yang sama (Garlen, 1996). b. Viskositas. Viskositas adalah tahanan dari suatu cairan untuk mengalir, semakin tinggi viskositas maka semakin besar tahanannya. Terdapat dua sistem penggolongan bahan menurut aliran dan deformasinya, yaitu sistem Newton dan sistem non-Newton. Pada sistem Newton diketahui bahwa peningkatan gaya geser (shear stress) dapat menaikkan kecepatan geser (shear rate). Sistem Newton ini berlaku pada senyawa dengan tipe Newtonian seperti air, alkohol, gliserin, dan larutan sejati. Pada tipe non Newtonian, viskositas tidak berbanding lurus dengan kecepatan geser. Sistem non-Newtonian berlaku untuk sistem dispersi antara fase cairan dan fase padatan seperti larutan koloid, emulsi, suspensi cair, salep, pasta dan produk serupa termasuk dalam sistem non Newton (Martin, et al., 1993). Idealnya suatu sediaan pasta gigi menunjukkan sifat aliran pseudoplastik dan tiksotropi (Pader, 1993). Viskositas adalah suatu tahanan yang mencegah zat cair untuk mengalir. Semakin tinggi viskositas maka semakin besar tahanan dengan kata lain semakin kental cairan, maka makin besar gaya yang

(39) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 21 dibutuhkan untuk membuatnya mengalir pada kecepatan tertentu (Voigt, 1994). c. Cohesiveness. Tidak ada standar industri dalam pengukuran cohesiveness. Meskipun demikian, cohesiveness dapat diukur dengan cara mengeluarkan pasta gigi dengan massa tertentu dari tube ke atas lapisan baja kemudian dialiri dengan aliran air yang kecepatannya konstan. Massa pasta gigi harus diketahui dengan tepat. Lama waktu yang dibutuhkan untuk menghilangkan semua pasta gigi pada lapisan baja tersebut dinilai sebagai cohesiveness. Pasta gigi yang ingin diuji dibandingkan dengan pasta gigi kontrol yang memiliki cohesiveness yang baik. Pengukuran ini terjamin keterulangannya jika massa, kecepatan alir dan tekanan aliran air dibuat konstan dan sama (Garlen,1996). d. Extrudability. Extrudability diukur sebagai kekuatan untuk menekan keluar pasta gigi dari dalam tube. Nilai extrudability dipengaruhi oleh kombinasi konsistensi pasta gigi dengan diameter tube. Uji extrudability dapat dilakukan dengan cara meletakkan tube pasta gigi yang telah dibuka tutupnya di atas sebuah kertas. Beban diletakkan di atas bagian horizontal tube. Peningkatan beban dilakukan setiap 100 gram hingga pasta gigi keluar dari tube (Garlen, 1996). e. Sag. Sag merupakan ketidakmampuan pasta gigi untuk mempertahankan bentuknya setelah dikeluarkan dari tube. Pasta gigi dengan nilai sag yang baik tidak terselip di antara bulu sikat gigi ketika diletakkan di atas sikat

(40) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 22 gigi. Sifat ini dapat diukur dengan cara menekan keluar pasta gigi dari tube ke atas sikat gigi, kaca atau lembaran kertas. Nilai sag pasta gigi sebaiknya sekecil mungkin setelah didiamkan selama 1 menit (Garlen, 1996). F. Hydroxypropyl Methylcellulose Hydroxypropyl methhylcellulose (HPMC) digunakan dalam formulasi gel karena dapat menghasilkan gel yang stabil dan jernih. Konsentrasi HPMC dalam sediaan topikal adalah 2-4%, stabil pada pH 5,5-8. (Rogers, 2009). Gambar 5. Struktur kimia hydroxypropyl methylcellulose (HPMC) (Rogers, 2009) HPMC merupakan selulosa eter nonionik yang berupa serbuk berwarna putih atau putih kekuningan. Nama lain dari HPMC adalah hypromellose, methocel, methylcellulose propylene glycol ether. HPMC biasa digunakan sebagai bahan pelapis (coating agent), agen pendispersi, agen pengemulsi, penstabil emulsi, foaming-agent, modified-release agent, thickening agent, bahan pengikat pada pembuatan tablet, peningkat laju disolusi (dissolution enhancer) (Bee dan Rahman, 2010).

(41) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 23 Gambar 6. Bentuk kristal hydroxypropyl methylcellulose (Rogers, 2009) Larutan HPMC berwarna transparan, namun ketika dipanaskan pada temperatur tertentu larutan HPMC dapat menjadi keruh dan membentuk larutan viskos seperti gel. Namun kembali menjadi larutan yang jernih kembali setelah didinginkan. HPMC dengan viskositas kecil maka memiliki kelarutan yang lebih tinggi (Bee dan Rahman, 2010). Hydroxypropyl methylcellulose mengalami proses hidrasi menggunakan pelarut yang sesuai untuk mengembang menjadi struktur matriks dengan bobot molekul yang tinggi dan rantai polimer yang panjang. Sifat alir suatu HPMC dipengaruhi oleh temperature, pH, dan keberadaan zat terlarut lain. Sifat dari polimer yang merupakan turunan selulosa dipengaruhi oleh gugus substitusi pada selulosa. HPMC mempunyai gugus substitusi hidroksipropil dan metoksi (Bhargava, 1996).

(42) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 24 G. Landasan Teori Bakteri yang berperan penting dalam pembentukan plak gigi adalah bakteri yang mempunyai kemampuan untuk membentuk polisakarida ekstraseluler, yaitu Streptococcus mutans. Plak yang terbentuk disebabkan sukrosa yang berasal dari makanan didegradasi oleh aktivitas enzimatik Streptococcus mutans menjadi glukosa dan fruktosa yang selanjutnya diubah secara fermentasi menjadi polisakarida ekstraseluler atau glukan (Panjaitan, 1997). Adanya kemampuan menghambat dan merusak dari sinamaldehid dalam minyak kayu manis dapat digunakan untuk menghambat pertumbuhan Streptococcus mutans (Dwijayanti, 2011). Formulasi pasta gigi minyak kayu manis merupakan cara alternatif untuk menghambat pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans. hydroxypropyl methylcellulose (HPMC) merupakan turunan selulosa yang umum digunakan dalam pembuatan sediaan topikal sebagai gelling agent. Kelarutan HPMC bervariasi bergantung pada viskositasnya. HPMC dengan viskositas kecil maka memiliki kelarutan yang lebih tinggi (Bee dan Rahman, 2010). Konsentrasi gelling agent yang tepat harus dapat menyediakan ikatan yang tidak terlalu kuat dengan obat, sehingga minyak kayu manis mudah terlepas dari sediaan. Pengujian kontrol kualitas terhadap sediaan pasta gigi minyak kayu manis meliputi pengamatan organoleptis, pH sediaan, viskositas, dan daya lekat (Garlen, 1996). Pengujian aktivitas antibakteri pasta gigi minyak kayu manis bertujuan untuk mengetahui kemampuan sediaan melepaskan zat aktif untuk menghambat maupun

(43) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 25 membunuh bakteri Streptococcus mutans. Salah satu metode yang digunakan adalah difusi sumuran (Pratiwi, 2008). Pengaruh peningkatan konsentrasi HPMC terhadap sifat fisik sediaan pasta gigi minyak kayu manis dianalisis statistik menggunakan software R 3.0.1. Sifat fisik dan stabilitas sediaan dilihat berdasarkan pengukuran viskositas dan daya lekat. Aktivitas antibakteri pasta gigi minyak kayu manis terhadap Streptococcus mutans diukur berdasarkan diameter zona hambat yang dihasilkan H. Hipotesis Peningkatan konsentrasi HPMC memberikan pengaruh yang signifikan terhadap sifat fisik dan kestabilan pasta gigi minyak kayu manis meliputi viskositas dan daya lekat. Peningkatan konsentrasi HPMC juga memberikan pengaruh signifikan terhadap aktivitas antibakteri pasta gigi minyak kayu manis dalam menghambat pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans. Pasta gigi minyak kayu manis tidak memberikan iritasi terhadap membrane mukosa berdasarkan pengujian dengan metode Slug Mucosal Irritation (SMI).

(44) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis dan Rancangan Penelitian Penelitian ini merupakan rancangan eksperimental murni. B. Variabel Penelitian 1. Variabel bebas. Variabel bebas pada penelitian ini adalah variasi konsentrasi hydroxypropyl methylcellulose (HPMC) sebagai gelling agent. 2. Variabel tergantung. Variabel tergantung pada penelitian ini adalah karakteristik fisik dan stabilitas pasta gigi meliputi organoleptis, pH, viskositas, dan daya lekat sediaan, serta diameter zona hambat pada pengujian aktivitas antibakteri. 3. Variabel pengacau terkendali. Variabel pengacau terkendali pada penelitian ini adalah lama penyimpanan, sifat dari wadah penyimpanan, dan intensitas cahaya. 4. Variabel pengacau tak terkendali. Variabel pengacau tak terkendali pada penelitian ini adalah suhu penyimpanan dan kelembaban ruangan. C. Definisi Operasional 1. Minyak kayu manis adalah bahan utama dalam penelitian yang memiliki kandungan sinamaldehid sebagai senyawa antibakteri yang diperoleh dari CV Eteris Nusantara. 26

(45) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 27 2. Pasta gigi adalah sediaan semi padat yang mengandung satu atau lebih bahan obat yang ditujukan untuk membersihkan, memutihkan, dan menghilangkan noda pada permukaan gigi. 3. Streptococcus mutans merupakan biakan murni yang diperoleh dari Laboratorium Balai Kesehatan Yogyakarta. 4. Daya antibakteri adalah kemampuan minyak kayu manis atau pasta gigi minyak kayu manis dalam menghambat atau membunuh Streptococcus mutans yang memiliki perbedaan bermakna dibandingkan dengan kontrol negatif. 5. Metode difusi sumuran adalah metode yang digunakan untuk mengukur daya hambat minyak kayu manis terhadap Streptococcus mutans dengan cara mengukur zona jernih (zona hambat) di sekitar sumuran. 6. KHM adalah konsentrasi minyak kayu manis terendah yang dapat menghambat pertumbuhan Streptococcus mutans. 7. KBM adalah konsentrasi minyak kayu manis terendah yang dapat membunuh Streptococcus mutans. 8. Metode dilusi padat adalah metode penentuan KHM dan KBM minyak kayu manis dengan cara membuat seri konsentrasi minyak, kemudian dicampurkan pada media yang mengandung bakteri uji. 9. Gelling agent adalah bahan yang digunakan untuk membentuk kekentalan atau pembentuk sifat alir sediaan pasta. Gelling agent yang digunakan dalam penelitian ini adalah hydroxypropyl methylcellulose (HPMC).

(46) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 28 10. Viskositas adalah suatu pertahanan dari suatu cairan untuk mengalir. Viskositas optimum pada penelitian ini adalah viskositas yang sesuai pasta gigi yang telah beredar di pasaran yaitu sebesar 300-600 d.Pa.s. 11. Stabilitas pasta gigi ditentukan dari besarnya nilai pergeseran viskositas antara sebelum dan sesudah penyimpanan selama 1 bulan yaitu <10%. 12. Slug Mucosal Irritation (SMI) assay adalah suatu metode pengujian kerusakan jaringan dan iritasi pada mukosa menggunakan slug. D. Bahan Penelitian Bahan-bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah minyak atsiri kayu manis (PT. Eteris Nusantara), bakteri Streptococcus mutans (Balai Laboratorium Kesehatan, Yogyakarta), Trypton Soya Agar (Oxoid), Trypton Soya Broth (Oxoid), hydroxypropyl methylcellulose (Shin-Etsu), sorbitol (pharmaceutical grade), gliserin (pharmaceutical grade), kalsium karbonat (pharmaceutical grade), metil paraben (pharmaceutical grade), xylitol (pharmaceutical grade), sodium laurel sulfat (pharmaceutical grade), minyak peppermint (pharmaceutical grade), etanol 96% (pharmaceutical grade) dan akuades (pH 7). Semua bahan diperoleh dari Laboratorium Formulasi Teknologi Sediaan Padat Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

(47) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 29 E. Alat Penelitian Alat-alat yang digunakan pada penelitian ini adalah Microbiological Safety Cabinet (Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta), autoklaf (MODEL KT-40, ALP Co. Ltd Midorigouka, Japan), oven (MEMMERT), timbangan (METTLER TOLEDO GB 3002, Switzerland), piknometer (Pyrex, Iwaki Glass), Viscometer seri VT 04 (Rion, Japan), mikropipet, alat-alat gelas (Pyrex), jarum ose, pelubang sumuran, mortir-stamper, dan tube pasta gigi. F. Tata Cara Penelitian 1. Identifikasi dan verifikasi minyak kayu manis a. Pengamatan organoleptis. Dilakukan pengamatan organoleptis terhadap minyak kayu manis yang digunakan dalam penelitian, meliputi : bentuk, warna, dan bau. b. Pengujian indeks bias. Indeks bias minyak kayu manis diukur menggunakan hand refractometer. Pentutup prisma dibuka kemudian diteteskan sebanyak 1 atau 2 tetes minyak kayu manis pada prisma utama. Penutup prisma ditutup perlahan sampai menyentuh prisma utama. Skala 1, 2, atau 3 diatur dengan memutar knob hingga tanda tergantung dari konsentrasi sampel yang diuji. Jarak jangkauan adalah skala 1 untuk indeks bias 1,333 – 1,404 (skala sebelah kiri), skala 2 untuk indeks bias 1,404 –

(48) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 30 1,468 (skala tengah), dan skala 3 untuk indeks bias 1,468 – 1,520 (skala sebelah kanan) Ujung hand refractometer diarahkan ke arah cahaya yang terang, dilihat melalui lensa sambil diputar-putar hingga skala terlihat jelas. Tampak garis batas yang memisahkan sisi yang terang dan gelap pada bagian atas dan bawah. Jika garis batas berwarna atau tidak jelas, maka ring diputar untuk menghilangkan warna hingga batas terlihat jelas. c. Penentuan bobot jenis. Piknometer ditimbang beserta termometer dan penutup pipa kapiler, kemudian diisi dengan air hingga penuh dan direndam dalam air es hingga suhunya ±20°C di bawah suhu percobaan. Kemudian piknometer ditutup dan pipa kapiler dibiarkan terbuka sampai mencapai suhu percobaan. Setelah itu, pipa kapiler piknometer ditutup dan dibiarkan suhu air dalam piknometer mencapai suhu kamar. Cairan yang menempel di dinding luar piknometer diusap dan ditimbang kembali dengan seksama, kemudian dibandingkan dengan tabel kerapatan air pada beberapa temperatur. Volume air yang didapatkan merupakan volume piknometer tersebut. Hal yang sama dilakukan dalam penentuan kerapatan minyak kayu manis menggunakan piknometer yang sama. Bobot minyak kayu manis sama dengan kerapatan minyak kayu manis dibagi kerapatan air pada suhu 25°C.

(49) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 31 2. Sterilisasi peralatan dan media Peralatan yang digunakan dalam penelitian (terutama yang berhubungan dengan bakteri uji seperti tabung reaksi dan cawan petri) disterilisasi menggunakan autoklaf pada suhu 121°C dan tekanan 1 atm selama 20 menit. Untuk pipet ukur disterilisasi menggunakan oven pada suhu 50°C. 3. Penyiapan media Media yang digunakan dalam penelitian ini adalah Trypton Soya Agar (TSA) dan Trypton Soya Broth (TSB). Pemilihan kedua media tersebut terkait nutrisi yang sesuai bagi pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans. Komposisi pembuatan adalah 1 gram TSA / 25 mL akuades dan 1 gram TSB / 33,2 mL akuades. Setelah media dipanaskan menggunakan hot plate dengan bantuan stearer, media tersebut disterilisasi menggunakan autoklaf pada suhu 121°C dan tekanan 1 atm selama 15 menit. Untuk penyiapan stok mikroba uji, media TSA yang sudah steril dikondisikan dalam keadaan miring di tabung reaksi. Setelah memadat, media siap digunakan untuk reisolasi bakteri Streptococcus mutans. 4. Pembuatan suspensi bakteri Sebanyak 1-3 ose isolat murni bakteri Streptococcus mutans diinokulasikan ke dalam tabung reaksi berisi 5 ml TSB, lalu divortex supaya tercampur merata dan diinkubasi pada suhu 37°C selama 24 jam. Untuk pembuatan suspensi bakteri, bakteri dalam media TSB yang sudah diinkubasi kemudian ditambahkan TSB steril hingga kekeruhannya setara dengan larutan

(50) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 32 standar Mc Farland 0,5. Pembuatan suspensi bakteri dilakukan di Microbiological Safety Cabinet (MSC). 5. Uji aktivitas antibakteri minyak kayu manis terhadap bakteri Streptococcus mutans dengan metode difusi sumuran. Pengujian potensi daya antibakteri minyak kayu manis terhadap bakteri Streptococcus mutans dilakukan dengan pembuatan sumuran pada media yang dibuat dengan menggunakan metode double layer, dimana sebanyak 10 mL media TSA dituang ke dalam petri sebagai base layer kemudian dibiarkan memadat terlebih dahulu. Sebanyak 0,2 mL suspensi bakteri Streptococcus mutans yang sudah disetarakan dengan larutan standar McFarland 0,5 diinokulasikan ke dalam 30 mL media TSA pada suhu 45-50°C (sebagai seed layer), lalu dituang ke dalam petri berisi base layer yang sudah memadat. Setelah memadat, lalu dibuat sumuran sampai batas antara base layer dan seed layer secara aseptis. Setiap petri yang berisi media TSA dibuat sumuran sebanyak 6 lubang menggunakan pelubang berdiameter 7 mm. Uji potensi daya antibakteri minyak kayu manis dilakukan replikasi sebanyak 6 kali, dimana setiap replikasi terdiri dari 2 petri (petri A dan petri B). Setiap sumuran pada petri A diisi minyak kayu manis dengan konsentrasi 1; 2; 3; 4; 5% dan parafin cair sebagai kontrol negatif masing-masing sebanyak 0,020 mL. Sedangkan untuk setiap sumuran di petri B diisi minyak kayu manis dengan konsentrasi 6; 7; 8; 9; 10% dan parafin cair

(51) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 33 sebanyak 0,020 mL. Proses pengerjaan dilakukan di Microbiological Safety Cabinet (MSC). Setelah diinkubasi selama 24 jam pada suhu 37°C, lalu diukur zona hambat yang terbentuk menggunakan jangka sorong digital. Diameter zona hambat yang terbentuk dikurangi diameter sumuran yang digunakan yaitu 7 mm. Daya antibakteri diamati berdasarkan diameter zona hambat yang dihasilkan dibandingkan dengan kontrol negatif. 6. Penentuan nilai KHM dan KBM minyak kayu manis a. Penentuan nilai KHM dengan metode dilusi padat. Media TSA dibuat dengan mencampurkan 9 gram serbuk TSA dan 225 ml akuades. Media TSB dibuat dengan mencampurkan sebanyak 0,6 gram serbuk TSB dan 20 mL akuades. Kedua media tersebut disterilisasi menggunakan autoklaf pada suhu 121°C dan tekanan 1 atm selama 15 menit. Sebanyak 15 mL media TSA dimasukkan ke dalam tabung reaksi, kemudian diinokulasikan sebanyak 0,2 mL suspensi bakteri Streptococcus mutans yang sudah disetarakan dengan larutan McFarland 0,5. Setelah itu dimasukkan sebanyak 0,2 mL minyak kayu manis dengan konsentrasi yang mempunyai potensi antibakteri berdasarkan metode difusi sumuran , lalu dituang ke dalam petri steril. Setelah diinkubasi selama 24 jam pada suhu 37°C, lalu bandingkan kekeruhan hasilnya dengan kontrol negatif dan diberi penilaian menggunakan notasi (+) untuk media yang tampak keruh dan (-) jika tidak

(52) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 34 ada kekeruhan. Hasil pengamatan dianalisis untuk mendapatkan konsentrasi atau Kadar Hambat Minimal (KHM) minyak kayu manis. b. Uji penegasan KHM dan KBM dengan metode streak plate. Media TSA dibuat dengan mencampurkan sebanyak 1,33 gram serbuk TSA dan 33 mL akuades. Kemudian media disterilisasi menggunakan autoklaf pada suhu 121°C dan tekanan 1 atm selama 15 menit. Setelah media TSA jadi, lalu dituang ke dalam petri steril dan biarkan hingga memadat. Kemudian dilakukan penggoresan bakteri dari hasil uji dilusi padat ke media TSA baru dengan metode streak plate. Diamati hasilnya setelah diinkubasi selama 24 jam pada suhu 37°C. Bila ditemukan adanya pertumbuhan, dilakukan uji penegasan kedua dengan melakukan penggoresan dari hasil uji penegasan pertama ke media TSA baru dengan metode streak plate. Setelah diinkubasi kembali selama 24 jam pada suhu 37°C, bila pada petri masih menunjukkan pertumbuhan bakteri maka dinyatakan sebagai nilai KHM. Sedangkan bila pada petri tidak menunjukkan pertumbuhan bakteri maka dinyatakan sebagai nilai KBM. 7. Penentuan kerapatan minyak kayu manis pada kadar bunuh minimum (KBM) Piknometer ditimbang beserta termometer dan penutup pipa kapiler, kemudian diisi dengan air hingga penuh dan direndam dalam air es hingga suhunya ±20°C di bawah suhu percobaan. Kemudian piknometer ditutup dan pipa kapiler dibiarkan terbuka sampai mencapai suhu percobaan. Setelah itu, pipa

(53) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 35 kapiler piknometer ditutup dan dibiarkan suhu air dalam piknometer mencapai suhu kamar. Cairan yang menempel di dinding luar piknometer diusap dan ditimbang kembali dengan seksama. Hitung  minyak kayu manis pada KBM. 8. Formula pasta gigi Tabel I. Formula pasta gigi minyak kayu manis (100 g) Bahan pasta gigi HPMC Sorbitol Gliserin Kalsium karbonat Xylitol Sodium lauril sulfat Pipermint Metil paraben Akuades Minyak kayu manis F1 (g) 0,25 15 23 43 1 0,8 4 0,2 4,75 8 F2 (g) 0,50 15 23 43 1 0,8 4 0,2 4,75 8 F3 (g) 0,75 15 23 43 1 0,8 4 0,2 4,75 8 F4 (g) 1,00 15 23 43 1 0,8 4 0,2 4,75 8 F5 (g) 1,25 15 23 43 1 0,8 4 0,2 4,75 8 F6 (g) 1,50 15 23 43 1 0,8 4 0,2 4,75 8 9. Pembuatan pasta gigi Bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan pasta gigi ditimbang sesuai dengan formula. HPMC dikembangkan dalam 18 mL gliserin selama 15 menit dalam mortir besar. Pada cawan porselen lainnya, metil paraben dan sodium lauril sulfat masing-masing dilarutkan dalam sisa gliserin. Minyak kayu manis dan minyak pipermint dicampurkan dalam cawan porselen, lalu diaduk menggunakan batang pengaduk sampai homogen. Sebagian sorbitol ditambahkan pada campuran HPMC yang sudah dikembangkan dengan gliserin dalam mortir selama 15 menit. Kemudian xylitol yang sudah dilarutkan dalam akuades dimasukkan ke dalam mortir. Metil

(54) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 36 paraben dan campuran minyak kayu manis dan pepermint dimasukkan dalam campuran. Setelah homogen, campuran ditambahkan kalsium karbonat sedikit demi sedikit. Bila campuran ini menjadi kering atau keras, tambahkan sodium lauril sulfat yang sudah dilarutkan gliserin sedikit demi sediki. Pada tahap akhir pembuatan, campuran ditambahkan sisa sorbitol dan diaduk selama 3 menit sampai homogen. 10. Pengujian sifat fisik pasta gigi minyak kayu manis a. Uji organoleptis. Pengamatan organoleptis terhadap pasta gigi minyak kayu manis, meliputi bentuk, warna, dan bau. b. Uji pH. Pengukuran pH pasta gigi dilakukan dengan menggunakan kertas indikator pH. Pengukuran pH dilakukan 48 jam setelah pembuatan, 7 hari, 14 hari, 21 hari, dan 28 hari penyimpanan. c. Uji viskositas. Pengukuran viskositas dilakukan dengan menggunakan alat Viscometer Rion seri VT 04. Pasta gigi dimasukan ke dalam wadah hingga penuh dan di pasang pada portable viscotester. Viskositas pasta gigi diketahui dengan mengamati gerakan jarum penunjuk viskositas. Uji ini dilakukan 48 jam setelah pembuatan untuk mengetahui efek faktor terhadap viskositas. Sedangkan untuk memonitor perubahan viskositas, dilakukan pengukuran viskositas pada 7 hari, 14 hari, 21 hari, dan 28 hari penyimpanan. d. Uji daya lekat. Pengukuran daya lekat dilakukan dengan menggunakan alat uji daya lekat. Sebanyak 0,25 gram pasta gigi ditempatkan pada gelas

(55) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 37 objek, kemudian ditutup bagian atasnya dengan gelas objek dan ditimpa menggunakan beban 1 kg selama 2 menit. Alat pengujian daya lekat dipreparasi sedemikin rupa, kemudian beban seberat 80 gram ditempatkan pada bagian ujung alat yang menggantung. Pengukuran dihentikan setelah kedua gelas objek terpisah. 11. Uji aktivitas antibakteri pasta gigi minyak kayu manis terhadap Streptococcus mutans dengan metode difusi sumuran. Media TSA dibuat dengan mencampurkan sebanyak 32 gram serbuk TSA dan 800 mL akuades. Media TSB dibuat dengan mencampurkan sebanyak 1,5 gram serbuk TSB dan 50 mL akuades. Kedua media tersebut disterilisasi menggunakan autoklaf pada suhu 121°C dan tekanan 1 atm selama 15 menit. Pengujian aktivitas antibakteri pasta gigi minyak kayu manis terhadap bakteri Streptococcus mutans dilakukan dengan pembuatan sumuran pada media yang dibuat dengan menggunakan metode double layer, dimana sebanyak 10 mL media TSA dituang ke dalam petri sebagai base layer kemudian dibiarkan memadat terlebih dahulu. Sebanyak 0,2 mL suspensi bakteri Streptococcus mutans yang sudah disetarakan dengan larutan standar McFarland 0,5 diinokulasikan ke dalam 30 mL media TSA pada suhu 45-50°C (sebagai seed layer), lalu dituang ke dalam petri berisi base layer yang sudah memadat. Setelah memadat, lalu dibuat sumuran sampai batas antara base layer dan seed layer secara aseptis.

(56) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 38 Untuk pengujian aktivitas antibakteri, setiap formula pasta gigi direplikasi sebanyak 3 kali menggunakan 3 petri. Setiap petri yang berisi media TSA dibuat sumuran sebanyak 4 lubang menggunakan pelubang berdiameter 7 mm. Setiap sumuran diisi dengan pasta gigi (sampel) sesuai formula, kontrol negatif (basis pasta), kontrol positif (pasta gigi merk X), dan minyak kayu manis KBM menggunakan spuit injeksi 1 ml masing-masing sebanyak 0,020 ml. Pembuatan lubang sumuran sampai batas antara base layer dan seed layer supaya destilat tidak menyebar pada dasar cawan petri. Proses pengerjaan dilakukan di Microbiological Safety Cabinet (MSC). Setelah diinkubasi selama 24 jam pada suhu 37°C, lalu diukur zona hambat yang terbentuk menggunakan jangka sorong digital. Diameter zona hambat yang terbentuk dikurangi diameter sumuran yang digunakan yaitu 7 mm. Aktivitas antibakteri diamati berdasarkan diameter zona hambat yang dihasilkan dibandingkan antar formulanya. 12. Uji iritasi pasta gigi minyak kayu manis dengan metode Slug Mucosal Irritation (SMI) assay. a. Penimbangan mukus. Slug (Arion lusitanicus) dipilih dan ditimbang dengan berat antara 2,5 – 3 gram. Petri kosong ditimbang dan ditambah dengan 500 mg sampel, kemudian petri dan sampel tersebut ditimbang kembali. Slug diletakkan di atas sampel dan didiamkan selama 30 menit. Slug kemudian dibersihkan dari mukus. Mukus yang terdapat pada petri ditimbang. Mukus yang diproduksi (MP) dihitung dengan rumus :

(57) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 39 𝑀𝑃 = 𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑚𝑢𝑘𝑢𝑠 (𝑔𝑟𝑎𝑚) × 100% 𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑠𝑖𝑝𝑢𝑡 (𝑔𝑟𝑎𝑚) MP tersebut diklasifikasikan menjadi 4 kategori yaitu tidak mengiritasi (non irritating) bila produksi mukus <15%, mengiritasi ringan (mild), bila produksi mukus 15-20%, mengiritasi sedang (moderate), bila produksi mukus 20-25%, dan mengiritasi berat (severe), bila produksi mukus >25% G. Analisis Data Data yang diperoleh dalam penelitian ini adalah data sifat fisik pasta gigi minyak kayu manis dan aktivitas antibakteri pasta gigi minyak kayu manis dengan variasi konsentrasi hydroxypropyl methylcellulose (HPMC). Analisis statistik data menggunakan software R versi 3.0.1. untuk melihat signifikansi perbedaan dari data yang diperoleh. Uji normalitas data menggunakan Shapiro-Wilk normality test. Suatu data dikatakan terdistribusi normal apabila mempunyai probability value (p-value) > 0,05. Kemudian dilakukan uji Levene’s Test dan Variances Test untuk mengetahui homogenitas dan variansi data. Untuk melihat pengaruh peningkatan konsentrasi HPMC terhadap sifat fisik sediaan, dilakukan analisis statistik parametrik yaitu ANAVA satu arah dengan tingkat kepercayaan 95% dan dilanjutkan uji post hoc menggunakan TukeyHSD untuk mengetahui signifikansi perbedaan sifat fisik dari 6 formula pasta gigi minyak kayu manis dengan variabel bebasnya adalah variasi konsentrasi HPMC. Dari hasil

(58) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 40 ANAVA, apabila diperoleh probability value (p-value) < 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa paling tidak terdapat perbedaan signfikansi dalam kelompok data. Dari hasil uji post hoc menggunakan TukeyHSD bila nilai p.adj < 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa data dua kelompok tersebut berbeda signifikan. Sedangkan untuk melihat pengaruh peningkatan konsentrasi HPMC terhadap stabilitas sediaan, digunakan analisis T berpasangan. Bila nilai p-value < 0,05 maka data dua kelompok yang dibandingkan berbeda signifikan. Analisis T tidak berpasangan digunakan untuk melihat pengaruh konsentrasi HPMC terhadap aktivitas antibakteri sediaan dengan nilai p-value <0,05 yang berarti data dua kelompok yang dibandingkan berbeda signifikan.

(59) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Identifikasi dan Verifikasi Bahan Penelitian Tujuan identifikasi bahan penelitian adalah untuk menjamin keaslian minyak kayu manis berdasarkan pengamatan organoleptis, bobot jenis, dan indeks bias. Bahan penelitian diperoleh dari CV Eteris Nusantara disertai dengan Certificate of Analysis (CoA). Minyak kayu manis merupakan suatu cairan kental yang mudah menguap, berwarna kuning hingga kecokelatan, dan memiliki rasa yang pedas serta aroma yang khas (Robbers, 1996). Hasil verifikasi minyak kayu manis dijabarkan dalam Tabel II. Tabel II. Verifikasi minyak kayu manis Pengujian Hasil Verifikasi Certificate of Analysis Pengamatan Organoleptis Berbentuk cair Berwarna kuning Berbentuk cair Berwarna kuning Aroma khas kayu manis Aroma tajam, khas kayu manis 1,013 1,580 Bobot jenis Indeks bias 1,0162 ± 0,0001 1,5621 ± 0,0099 Badan Standarisasi Nasional (2006) Berbentuk cair Berwarna kuning muda hingga cokelat muda Aroma khas kayu manis 1,008 – 1,030 1,559 – 1,595 Pengukuran bobot jenis minyak menggunakan piknometer, sedangkan pengukuran indeks bias menggunakan hand refractometer. Berdasarkan hasil identifikasi diketahui bahwa minyak kayu manis yang digunakan dalam penelitian 41

(60) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 42 sesuai dengan CoA dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh Badan Standarisasi Nasional sebagai minyak kayu manis yang terstandar. B. Penentuan Konsentrasi Bunuh Minimum (KBM) Minyak Kayu Manis terhadap Streptococcus mutans Penentuan konsentrasi bunuh minimum (KBM) minyak kayu manis bertujuan memperoleh konsentrasi terendah yang digunakan dalam formulasi pasta gigi minyak kayu manis untuk menghambat pertumbuhan Streptococcus mutans. Uji pendahuluan dilakukan sebagai langkah pertama untuk mengetahui potensi antibakteri minyak kayu manis dalam menghambat pertumbuhan Streptococcus mutans dan memprediksi rentang KBM minyak kayu manis dengan melihat zona hambat yang terbentuk dari beberapa konsentrasi. Hasil pengukuran diameter zona hambat minyak kayu manis terhadap bakteri Streptococcus mutans Diameter Zona Hambat (mm) disajikan pada Gambar 7. 16 14 12 10 8 6 4 2 0 5 6 7 8 9 10 Konsentrasi Minyak Kayu Manis (% v/v) Gambar 7. Diagram pengukuran diameter zona hambat minyak kayu manis terhadap Streptococcus mutans

(61) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 43 Berdasarkan hasil pengamatan diketahui bahwa semakin meningkat konsentrasi minyak kayu manis, maka semakin besar diameter zona hambat yang dihasilkan. Hasil ini sesuai dengan penelitian Dwijayanti (2011) yang membuktikan bahwa minyak kayu manis dapat menghambat pertumbuhan Streptococcus mutans. Kandungan utama dalam minyak kayu manis yang mempunyai aktivitas antibakteri dan fungsidal adalah sinamaldehid (Prasetya dan Ngadiwiyana, 2006). Burt (2004) melaporkan bahwa sinamaldehid dapat menghambat pertumbuhan bakteri dengan membentuk ikatan antara gugus karbonil sinnamaldehid dan enzim dekarboksilase pada bakteri sehingga proses replikasi dan sintesis protein terhambat. Mekanisme lain minyak atsiri dalam menghambat pertumbuhan bakteri antara lain dengan mendegradasi dinding sel, merusak membran sitoplasma dan membran protein, melisiskan komponen di dalam sel, dan mengurangi pergerakan bakteri. Tabel III. Pengamatan kejernihan media dilusi padat Konsentrasi Minyak Kayu Manis (% v/v) 5 [0,065] 6 [0,078] 7 [0,091] 8 [0,104] 9 [0,117] 10 [0,130] Kontrol positif Kontrol negatif Hasil Pengamatan Tidak jernih Jernih Jernih Jernih Jernih Jernih Tidak jernih Jernih Enam konsentrasi, yang menghasilkan zona hambat, ditentukan nilai konsentrasi hambat minimum (KHM) dan konsentrasi Bunuh Minimum (KBM) dengan metode dilusi padat. Pembuatan suspensi pengujian dilusi padat dilakukan dengan mengencerkan bakteri uji, minyak kayu manis, dan media pertumbuhan

(62) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 44 sehingga terjadi penurunan konsentrasi minyak kayu manis. Penentuan nilai KHM dan KBM berdasarkan pengamatan terhadap kejernihan media (Tabel III) yang ditanam bakteri Streptococcus mutans dan ditambahkan minyak kayu manis dengan konsentrasi tertentu. Berdasarkan hasil pengamatan diketahui bahwa pada konsentrasi 6-9% menunjukkan media yang digunakan pengujian jernih, maka dilakukan uji penegasan sebanyak dua kali untuk memperoleh nilai KHM dan KBM. Gambar 8. Uji penegasan pertama konsentrasi minyak kayu manis 6-9% ` Gambar 9. Uji penegasan kedua konsentrasi minyak kayu manis 6-9% Dari hasil yang ditampilkan pada Gambar 8 dan Gambar 9 dapat disimpulkan bahwa konsentrasi minyak kayu manis 6% merupakan konsentrasi terendah yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans (KHM). Konsentrasi minyak kayu manis 7% merupakan konsentrasi terendah yang

(63) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 45 dapat membunuh bakteri Streptococcus mutans (KBM) dan digunakan dalam formulasi pasta gigi minyak kayu manis. Berdasarkan penelitian Dwijayanti (2011), KBM minyak kayu manis yang sebesar 20%. Hal tersebut berbeda dengan hasil penelitian karena kemungkinan penggunaan bahan penelitian (minyak kayu manis) yang berasal dari produsen berbeda, sehingga kadar sinamaldehid berbeda dan kemampuan dalam menghambat pertumbuhan Streptococcus mutans juga berbeda. C. Pengujian Sifat Fisik dan Stabilitas Pasta Gigi Minyak Kayu Manis Pada penelitian ini, minyak kayu manis diformulasikan menjadi sediaan pasta gigi dengan variasi peningkatan konsentrasi HPMC untuk melihat pengaruhnya terhadap karakteristik fisik dan kestabilan sediaan, meliputi viskositas dan daya lekat. Pertimbangan utama pemilihan bentuk sediaan pasta gigi karena karakteristik minyak kayu manis mudah teroksidasi dan tidak stabil selama penyimpanan dalam waktu lama sehingga dikhawatirkan kandungan sinamaldehid menjadi berkurang. Komponen utama dalam sediaan pasta gigi adalah gelling agent yang berperan membentuk suatu matriks supaya minyak kayu manis terperangkap didalamnya dan stabilitas minyak kayu manis tetap terjaga. Gelling agent yang digunakan dalam penelitian ini adalah hydroxypropyl methylcellulose (HPMC), suatu polimer sintetik bersifat hidrofilik yang mengandung gugus methoxy dan gugus hydroxypropoxy (Rogers, 2009). Konsentrasi minyak kayu manis yang digunakan dalam formula adalah konsentrasi bunuh minimum (KBM) yang sudah ditentukan yaitu konsentrasi 7%

(64) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 46 (v/v). Bobot jenis minyak kayu manis tetap dipertimbangkan dalam perhitungan formula, maka konsentrasinya menjadi 8% (b/b) saat diformulasikan, sehingga konsentrasi minyak kayu manis dalam sediaan tetap memiliki konsentrasi yang sama dengan awal untuk membunuh bakteri Streptococcus mutans. Formula pasta gigi minyak kayu manis terdiri dari bahan-bahan eksipien yang mempunyai aktivitas antibakteri, seperti sorbitol, xylitol, dan metil paraben. Dalam penelitian perlu dibuat kontrol basis, yang berfungsi sebagai faktor koreksi dalam pengamatan aktivitas antibakteri, sehingga diketahui diameter zona hambat yang hanya berasal dari bahan aktif, yaitu minyak kayu manis. Kontrol positif yang digunakan dalam penelitian ini adalah pasta gigi merk X yang diklaim mempunyai aktivitas antibakteri karena kandungan triclosan sebagai bahan antiseptik. Kontrol positif digunakan untuk membandingkan aktivitas antibakteri antara pasta gigi minyak kayu manis dan produk pasta gigi yang telah beredar di masyarakat. Kontrol kualitas merupakan tahapan evaluasi sediaan dengan melakukan pengujian terhadap sifat fisik sediaan, meliputi pengamatan organoleptis, pH sediaan, viskositas dan daya lekat. Kontrol kualitas dilakukan sebagai parameter untuk mengetahui pengaruh peningkatan konsentrasi HPMC dalam formula terhadap sifat fisik serta mengetahui kestabilan sediaan. Pasta gigi harus stabil selama penyimpanan, harus mempertahankan viskositas, pH sediaan, dan konsentrasi zat aktif, dan stabil selama penyimpanan (Garlen, 1996).

(65) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 47 Berdasarkan hasil pengamatan organoleptis dan pengujian pH sediaan pada Tabel IV, dapat disimpulkan bahwa pasta gigi minyak kayu manis baik dari segi penampilan. Tabel IV. Pengamatan organoleptis dan pengujian pH pasta gigi minyak kayu manis. Konsentrasi HPMC (%) 0,25 0,5 0,75 1,0 1,25 1,5 Hasil Pengamatan Organoleptis pH sediaan Berbentuk semi-padat, berwarna putih, aroma khas minyak kayu manis. Berbentuk semi-padat, berwarna putih, aroma khas minyak kayu manis. Berbentuk semi-padat, berwarna putih, aroma khas minyak kayu manis. Berbentuk semi-padat, berwarna putih, aroma khas minyak kayu manis. Berbentuk semi-padat, berwarna putih, aroma khas minyak kayu manis. Berbentuk semi-padat, berwarna putih, aroma khas minyak kayu manis. 8 8 8 8 8 8 Pada pengujian viskositas pasta gigi minyak kayu manis hari ke-2 untuk melihat pengaruh peningkatan konsentrasi HPMC (Gambar 10), diketahui bahwa terjadi peningkatan viskositas hingga formula konsentrasi HPMC 0,75%, diikuti dengan penurunan viskositas hingga formula konsentrasi HPMC 1,5%. Viskositas (dPa.s) 450 400 350 300 250 200 0,25 0,5 0,75 1,00 1,25 1,50 Konsentrasi HPMC (%) Gambar 10. Pengaruh konsentrasi HPMC terhadap viskositas sediaan pasta gigi minyak kayu manis pada hari ke-2

(66) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 48 Pengaruh peningkatan konsentrasi HMPC terhadap penurunan viskositas sediaan dianalisis statisik menggunakan ANAVA dengan TukeyHSD sebagai uji post hoc. Dari Tabel V dan Tabel VI dapat disimpulkan bahwa peningkatan HPMC pada konsentrasi 0,25% hingga 0,5% memberikan pengaruh signifikan terhadap peningkatan viskositas, sedangkan peningkatan HPMC pada konsentrasi 0,75% hingga 1,25% memberikan pengaruh signifikan terhadap penurunan viskositas pasta gigi minyak kayu manis. Tabel V. Perbandingan viskositas konsentrasi HPMC 0,25 – 0,75% berdasarkan nilai p-value Perbandingan Formula p-value HPMC 0,25% VS HPMC 0,5% 0,03716* HPMC 0,25% VS HPMC 0,75% 0,00015* *p-value < 0,05 menunjukkan data berbeda signifikan Tabel VI. Perbandingan viskositas konsentrasi HPMC 0,75 - 1,5% berdasarkan nilai p-value Perbandingan Formula p-value HPMC 0,75% VS HPMC 1,0% 0,8514 HPMC 0,75% VS HPMC 1,25% 0,00040* HPMC 0,75% VS HPMC 1,5% 0,00001* *p-value < 0,05 menunjukkan data berbeda signifikan Pada pengujian daya lekat pasta gigi minyak kayu manis hari ke-2 untuk melihat pengaruh peningkatan konsentrasi HPMC (Gambar 11), sama halnya seperti pada pengujian viskositas bahwa terjadi peningkatan daya lekat hingga formula konsentrasi HPMC 0,75%, diikuti dengan penurunan daya lekat hingga formula konsentrasi HPMC 1,5%.

(67) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 49 Berdasarkan hasil statistik pada Tabel VII dan Tabel VIII dapat disimpulkan bahwa peningkatan HPMC pada konsentrasi 0,25% hingga 0,75% memberikan pengaruh signifikan terhadap peningkatan daya lekat, sedangkan peningkatan HPMC pada konsentrasi 0,75% hingga 1,25% memberikan pengaruh signifikan terhadap penurunan daya lekat pasta gigi minyak kayu manis. Daya Lekat (sekon) 6 5 4 3 2 1 0,25 0,50 0,75 1,00 1,25 1,50 Konsentrasi HPMC (%) Gambar 11. Pengaruh konsentrasi HPMC terhadap daya lekat sediaan pasta gigi minyak kayu manis pada hari ke-2 Peningkatan konsentrasi HPMC menyebabkan penurunan viskositas dan daya lekat pasta gigi minyak kayu manis. Hal tersebut tidak sesuai dengan teori yang menyebutkan bahwa semakin tinggi konsentrasi gelling agent, maka semakin tinggi viskositasnya (Zatz, 1996). Penurunan viskositas dan daya lekat pada penelitian ini disebabkan karena jumlah agen pendispersi gelling agent tidak mencukupi untuk membentuk polimer dengan struktur kompleks. HPMC yang seharusnya berinteraksi dengan komponen-komponen lain dalam formula tidak terjadi, sebaliknya

(68) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 50 membentuk ikatan hidrofobik antar molekul HPMC. Hal ini yang menyebabkan penurunan viskositas dan daya lekat seiring dengan peningkatan konsentrasi HPMC. Tabel VII. Perbandingan daya lekat konsentrasi HPMC 0,25 – 0,75% berdasarkan nilai p-value Perbandingan Formula p-value HPMC 0,25% VS HPMC 0,5% 0,99997 HPMC 0,25% VS HPMC 0,75% 0,03788* *p-value < 0,05 menunjukkan data berbeda signifikan Tabel VIII. Perbandingan daya lekat konsentrasi HPMC 0,75 - 1,5% berdasarkan nilai p-value Perbandingan Formula p-value HPMC 0,75% VS HPMC 1,0% 0,09579 HPMC 0,75% VS HPMC 1,25% 0,00121* HPMC 0,75% VS HPMC 1,5% 0,00029* *p-value < 0,05 menunjukkan data berbeda signifikan HPMC merupakan polimer karbon yang dimungkinkan dapat rusak karena faktor mikroorganisme yang berkembang di dalamnya. Namun hal tersebut tidak terjadi karena dalam formula sudah ditambahkan agen antibakteri yaitu metil paraben dan minyak kayu manis sendiri yang mempunyai aktivitas antibakteri. Pengaruh peningkatan konsentrasi HPMC terhadap stabilitas pasta gigi minyak kayu manis diteliti berdasarkan pergeseran viskositas dan daya lekat selama penyimpanan. Hasil pengukuran pada Gambar 13 menunjukkan bahwa terjadi penurunan viskositas selama penyimpanan 28 hari untuk masing-masing formula.

(69) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 51 Viskositas (dPa.s) 400 350 HPMC 0,25 % HPMC 0,5 % 300 HPMC 0,75 % 250 HPMC 1,0 % HPMC 1,25 % 200 HPMC 1,5 % 2 7 14 21 28 Waktu Pengukuran (hari) Gambar 12. Grafik pergeseran viskositas selama 28 hari penyimpanan Pengaruh peningkatan konsentrasi HPMC terhadap penurunan stabilitas viskositas dianalisis statistik menggunakan uji T berpasangan. Signifikansi perbedaan antar formula selama penyimpanan 28 hari disajikan pada Tabel IX. Tabel IX. Pergeseran viskositas dibandingkan hari ke-2 berdasarkan nilai p-value HPMC HPMC HPMC 0,25% 0,5% 0,75% Hari ke-7 0,067 0,5286 0,2254 Hari ke-14 0,118 0,0742 0,0572 Hari ke-21 0,074 0,0198* 0,0153* Hari ke-28 0,020* 0,0572 0,0039* *p-value < 0,05 menunjukkan data berbeda signifikan HPMC 1,0% 0,5286 0,2254 0,0198* 0,0202* HPMC 1,25% 0,4226 0,0198* 0,0634 0,0198* HPMC 1,5% 0,5286 0,3206 0,1107 0,0942 Berdasarkan hasil analisis statistik, setiap peningkatan konsentrasi HPMC sebesar 0,25% hingga pada konsentrasi 1,25% memberikan pengaruh signifikan terhadap stabilitas viskositas pasta gigi minyak kayu manis. Pada konsentrasi HPMC 1,5%, sediaan stabil selama penyimpan 28 hari. Pengaruh peningkatan konsentrasi HPMC terhadap pergeseran daya lekat pasta gigi minyak kayu manis diteliti berdasarkan pengujian selama 28 hari. Hasil

(70) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 52 yang diperoleh untuk pengukuran daya lekat masing-masing formula seperti disajikan Daya Lekat (sekon) pada Gambar 14. 5 4.5 4 3.5 3 2.5 2 1.5 1 HPMC 0,25 % HPMC 0,5 % HPMC 0,75 % HPMC 1,0 % HPMC 1,25 % HPMC 1,5 % 2 7 14 21 28 Waktu Pengukuran (hari) Gambar 13. Grafik pergeseran daya lekat selama 28 hari penyimpanan Dari hasil analisis statistik yang disajikan pada Tabel X, dapat disimpulkan bahwa peningkatan konsentrasi HPMC tidak memberikan pengaruh terhadap stabilitas daya lekat pasta gigi minyak kayu manis. Hal ini ditunjukkan dengan semua nilai p-value > 0,05 yang menyatakan bahwa tidak ada pengaruh signifikan karena peningkatan konsentrasi HPMC. Tabel X. Pergeseran daya lekat dibandingkan hari ke-2 berdasarkan nilai p-value HPMC HPMC HPMC 0,25% 0,5% 0,75% Hari ke-7 0,2221 0,8295 0,9201 Hari ke-14 0,5596 1,0000 0,4014 Hari ke-21 0,3085 0,1912 0,8839 Hari ke-28 0,4693 0,2445 0,7846 *p-value < 0,05 menunjukkan data berbeda signifikan HPMC 1,0% 0,4732 0,9533 0,7527 0,5804 HPMC 1,25% 0,7760 0,8621 0,8969 0,7134 HPMC 1,5% 0,6541 0,6189 0,5106 0,5021

(71) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 53 D. Uji Aktivitas Antibakteri Pasta Gigi Minyak Kayu Manis terhadap Streptococcus mutans Tujuan uji aktivitas antibakteri pasta gigi minyak kayu manis adalah untuk mengetahui kemampuan minyak kayu manis yang sudah diformulasikan menjadi sediaan pasta gigi dalam menghambat pertumbuhan Streptococcus mutans. Dalam pengujian ini diperlukan kontrol basis dan kontrol positif yang sudah dibuat sebelumnya, serta minyak atsiri kayu manis untuk mengetahui efektifitas pemilihan sediaan pasta gigi dalam memformulasikan minyak kayu manis. Dari hasil pengukuran rerata diameter zona hambat diketahui bahwa kontrol basis memberikan diameter zona hambat (Tabel XI) karena terdapat bahan eksipien yang mempunyai aktivitas antibakteri, seperti sorbitol, xylitol, dan metil paraben. Tabel XI. Pengukuran diameter zona hambat pasta gigi minyak kayu manis, kontrol basis, kontrol positif, dan minyak kayu manis 7% Diameter Zona Hambat (mm) Konsentrasi HPMC 0,25 % 0,5 % 0,75 % 1,0 % 1,25 % 1,5 % Pasta Gigi Minyak Kayu Manis 14,66 ± 0,41 14,52 ± 3,05 13,29 ± 1,14 13,22 ± 2,04 12,49 ± 1,45 12,17 ± 0,59 Kontrol Basis Minyak Kayu Manis 7% Kontrol Positif 10,99 ± 1,45 8,80 ± 3,32 8,72 ± 0,93 8,55 ± 0,39 8,17 ± 1,02 6,60 ± 1,41 9,96 ± 2,02 17,14 ± 2,02 Diameter zona hambat yang dihasilkan pasta gigi minyak kayu manis mengalami penurunan seiring dengan peningkatan konsentrasi HPMC. Hal ini disebabkan karena kemampuan pelepasan minyak kayu manis dari basis sediaan semakin menurun (Jaelani, 2012). Pengaruh peningkatan konsentrasi HPMC terhadap

(72) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 54 penurunan aktivitas antibakteri pasta gigi minyak kayu manis dianalisis uji T tidak berpasangan untuk mengetahui signifikansi perbedaan aktivitas antibakteri antar formula berdasarkan nilai p-value. Tabel XII. Perbandingan aktivitas antibakteri antar formula berdasarkan nilai p-value Perbandingan Formula p-value HPMC 0,25% VS HPMC 0,5% 0,9454 HPMC 0,25% VS HPMC 0,75% 0,03508 HPMC 0,25% VS HPMC 1,0% 0,2958 HPMC 0,25% VS HPMC 1,25% 0,06778 HPMC 0,25% VS HPMC 1,5% 0,00382* *p-value < 0,05 menunjukkan data berbeda signifikan Berdasarkan hasil analisis (Tabel XII), terdapat perbedaan aktivitas antibakteri yang bermakna pada konsetrasi 0,25% dan 1,5%. Maka dapat disimpulkan bahwa peningkatan konsentrasi HPMC sebesar 1,25% memberikan pengaruh signifikan terhadap aktivitas antibakteri pasta gigi minyak kayu manis. E. Uji Iritasi Sediaan Pasta Gigi Minyak Kayu Manis Pertimbangan perlu dilakukannya uji iritasi terhadap pasta gigi minyak kayu manis dikarenakan formula dalam sediaan mengandung bermacam-macam bahan. Baik bahan aktif maupun bahan eksipien, keduanya mempunyai potensi menyebabkan inflamasi sebagai manifestasi dari respon imun terhadap substansisubstansi dalam formula pasta gigi minyak kayu manis. Pengujian iritasi sediaan

(73) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 55 pasta gigi minyak kayu manis dengan menghitung persentase mukus yang dihasilkan oleh siput (Arion lusitanicus). Hasil perhitungan uji iritasi disajikan pada Tabel XIII. Tabel XIII. Perhitungan persentase mukus yang dihasilkan Uji Pasta Gigi Minyak Kayu Manis Kontrol Positif Kontrol Negatif Persentase mukus yang dihasilkan (%) 30,82 ± 4,49 20,51 ± 3,41 -5,90 ± 2,69 Persentase mukus yang dihasilkan pasta gigi minyak kayu manis adalah 30,82%. Sedangkan kontrol positif, yang dibuat dengan meningkatkan konsentrasi sodium lauril sulfat (SLS) dalam basis menjadi 2%, memberikan persentase mukus yang dihasilkan sebesar 20,51%. Dari hasi uji iritasi tersebut, menurut Adriaens (2006), sediaan pasta gigi minyak kayu manis diklasifikasikan ke dalam kategori iritasi berat. Hal tersebut disebabkan oleh karakteristik minyak kayu manis yang memberikan rasa panas, serta ketidakmampuan basis dalam mengurangi pelepasan minyak kayu manis dari sediaan sehingga memberikan iritasi pada mukosa mulut. SLS sebagai bahan pembusa memiliki potensi iritasi, sehingga perlu diperhatikan pula konsentrasinya pada sediaan.

(74) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan 1. Peningkatan HPMC pada konsentrasi 0,25% hingga 0,5% memberikan pengaruh signifikan terhadap peningkatan viskositas, sedangkan peningkatan HPMC pada konsentrasi 0,75% hingga 1,25% memberikan pengaruh signifikan terhadap penurunan viskositas pasta gigi minyak kayu manis. Peningkatan HPMC pada konsentrasi 0,25% hingga 0,75% memberikan pengaruh signifikan terhadap peningkatan daya lekat, sedangkan peningkatan HPMC pada konsentrasi 0,75% hingga 1,25% memberikan pengaruh signifikan terhadap penurunan daya lekat pasta gigi minyak kayu manis. Setiap peningkatan konsentrasi HPMC sebesar 0,25% hingga pada konsentrasi 1,25% memberikan pengaruh signifikan terhadap stabilitas viskositas pasta gigi minyak kayu manis, namun peningkatan konsentrasi HPMC tidak memberikan pengaruh terhadap stabilitas daya lekat pasta gigi minyak kayu manis. 2. Peningkatan konsentrasi HPMC sebesar 1,25% memberikan pengaruh signifikan terhadap penurunan aktivitas antibakteri pasta gigi mnyak kayu manis. 3. Pasta gigi minyak kayu manis memberikan iritasi berat terhadap membran mukosa berdasarkan pengujian dengan metode SMI. 56

(75) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 57 B. Saran 1. Pertimbangan jumlah bahan dalam formula yang cukup untuk mendispersikan gelling agent yang digunakan bila dilakukan penelitian selanjutnya. 2. Pengujian sifat fisik pasta gigi, seperti extrudibility dan sag sebagai kontrol kualitas sediaan. 3. Pengujian iritasi sediaan dilakukan sampai ke dalam jaringan dan menggunakan produk yang sudah beredar di pasaran sebagai kontrol pembanding.

(76) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 58 DAFTAR PUSTAKA Adlerova, L., Bartoskova, A., dan Faldyna, M., 2008, Lactoferrin: A Review, Veterinarni Medicina, 53(9), 457-468. Adriaens, 2006, The Slug Mucosal Irritaion assay : An Alternative Assay for Local Tolerance Testing, National Centre For The Replacement, Refinement, and Reduction of Animals in Research, 1-9. Anonim, 2010, Streptococcus mutans, http://www.yourreturn.org/Treatments/ Teeth/index.htm, diakses pada tanggal 19 Mei 2014. Anonim, 2012, Laktoperoksidase, http://www.enzim.com/amiloglucosidase-dalampasta-gigi-enzim, diakses pada tanggal 20 Mei 2104. Badan Standarisasi Nasioanl, 2006, Minyak Kulit Kayu Manis, SNI 06-3734-2006, Standar Nasional Indonesia, Jakarta, hal. 1-9. Bisset, N. G and Wichtl, M., 2001, Herbal Drugs and Phytopharmaceuticals, 2nd ed., Medpharm Scientific Publishers, Germany, pp. 67-69. Bee, T., dan Rahman, M., 2010, A Review of Major Technologies, Pharmaceutical Technology, 34(9) Beighton, D., 2007, Dental Caries and Pulpitis, in Ireland. R., (Eds), Dental Hygiene and Therapy, Blackwell Munksgaard, Oxford, 76-90. Bhargava, T., 1996. Topical Suspensions. In H.A. Lieberman, M.M. Rieger, G.S. Banker, Pharmaceutical Dosage Forms: Dysperse Systems Vol 1, Marcel Dekker Inc., New York, pp. 202-207. Bruneton, J., 1999, Pharmacognosy Phytochemistry Medicinal Plants, diterjemahkan oleh Caroline K. Hatton, 2nd ed., pp. 548-551, Lavoisier Publishing, France, pp. 25-29. Burt, S., 2004, Essential Oils: Their Antibacterial Properties and Potential Applications in Foods, International Journal of Food Microbiology, 94, 223253.

(77) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 59 Cappuccino, J.G., and Sherman, N., 2010, Microbiology: A Laboratory Manual, State University of New York, pp. 431-432. Collet, J. and Moretton, C., 2002, Modified Release Peroral Dosage Form, In Aulton, M. E., Pharmaceutics: The Science of Dosage Form Design, 2nd ed., Churcill, Livingstone, pp. 299-300. Collier, L., Balows, A., and Sussman, M., 1998, Microbiology and Microbial Infections, Oxford Universuty Press, Inc., New York, pp. 633-638. Depkes RI, 2008, Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2007, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, hal. 142. Doifode, D., dan Damle, S. G., 2011, Comparison of Salivary IgA Levels in Caries Free and Caries Active Children, International Journal of Clinical Dental Science, 2(1), 10-14. Dwijayanti, K.R., 2011, Daya Antibakteri Minyak Atsiri Kulit Batang Kayu Manis (Cinnamomum burmannii Bl.) terhadap Streptococcus mutans Penyebab Karies Gigi, Skripsi, 61, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Fitria, S., 2013, Pengaruh Konsentrasi Sorbitol Sebagai Humektan dalam Pasta Gigi Minyak Atsiri Kayu Manis (Cinnamomum Burmanii Bl.) terhadap Karakteristik Fisik dan Stabilitas Sediaan, Skripsi, 68, Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Yayasan Pharmasi, Semarang. Fonseca, S., 2006, Basic of Compounding for Dentistry, Part 1: Effective Approaches and Formulations, International Journal of Pharmaceutical Compounding, 10(2), 122. Garlen, D., 1996. Toothpastes. In H.A. Lieberman, M.M. Rieger, G.S. Banker, Pharmaceutical Dosage Forms: Dysperse Systems Vol 1, Marcel Dekker Inc., New York, pp. 423-442. Guenther, E., 1987, Minyak Atsiri, diterjemahkan oleh S. Ketaren, jilid IVA, hal. 241243, UI Press, Jakarta. Guenther, E., 2006, Minyak Atsiri, diterjemahkan oleh S. Ketaren, jilid I, hal. 170174, UI Press, Jakarta.

(78) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 60 Hamada, S., and Slade, H.H., 1980, Biology, Immunology and Cariogenicity of Streptococcus mutans, Microbiological Review, 44(2), 331-384. Jaekhatia, V., Patel, R., Khatri, P., Pahuja, N., Garg, S., Pandey, A., et.al., 2010, Cinnamon: A Pharmacological Review, Journal of Advanced Scientific Research, 1(2), 19-23. Jaelani, A. K., 2012, Formulasi Gel Antijerawat Ekstrak Etanol Patikan Kebo (Euphorbia Hirta L.) dengan Basis HPMC Tipe 2910 : Uji Sifat Fisik, Stabilitas Fisik Dan Aktivitas Antibakteri Terhadap Staphylococcus Epidermidis, Skripsi, 46-49, Universitas Muhammadiyah Surakarta, Surakarta. Jawetz, E.J.I., Melnick and Adelberg, E. A, 1996, Mikrobiologi Kedokteran, Edisi XX, EGC, Jakarta, hal. 286-290. Jayaprakasha, G.K., Rao, L.J., and Sakariah, K.K., 1997, Chemical Composition of The Volatile Oil from The Fruits of Cinnamomum zeylanicum Blume, Flav.Fragr.J., 12, 331-333. Jayaprakasha, G.K., Rao, L.J., and Sakariah, K.K., 2000, Chemical Composition of The Flower Oil of Cinnamomum zeylanicum Blume, J.Agric Food Chem., 48, 4294-4295. Jayaprakasha, G.K., Rao, L.J., and Sakariah, K.K., 2002, Chemical Composition of The Volatile Oil from Cinnamomum zeylanicum Buds, Flav.Fragr.J., 15, 990993. Kavanagh, F., 1974, Microbial Diffusion Assay, Pharmaceutical Technology, 63, 1459 – 1462. Kidd, E.A.M., and Joyston, S., 1992, Pencegahan Karies dengan Pengendalian Plak, diterjemahkan oleh Sumawinata, N., Faruk, S., hal. 141-154, EGC, Jakarta. Madigan, M.T., Martinko, J.M., Dunlap, P.V., dan Clark, D.P., 2009, Brock Biology of Microorganisms, 12th ed., Pearson Benjamin Cummings, San Fransesco, pp. 80-81, 814-815. Mallavarapu, G. R., Ramesh, S. Chandrasekhara, R. S., Rajeswara Rao, B. R., Kaul, P. N., Battacharya, A.K., 1995, Investigation of the Essential oil of Cinnamon Leaf Grown at Bangalore and Hyderabad, Flav. Frag. J., 10, 239-242.

(79) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 61 McDonald, R.,E. and Avery, D.R, 2000, Dentistry for The Child and Adolescent, 7th ed., Mosby Inc., St. Louis, pp. 247-253. McKane, L., and J. Kandel, 1996, Microbiology: Essentials and Applications, McGraw Hill Inc., New York, pp. 396-398. Mitsui, T., 1997, New Cosmetic Science, Elsevier, Netherlands, pp. 134-135, 479487, 501. Panjaitan, M., 1997, Etiologi Karies Gigi dan Penyakit Periodontal, USU Press, Medan, hal. 7-25. Porel, A., 2014, Simultaneous HPLC Determination of 22 Components of Essential Oils; Method Robustness with Experimental Design, Indian Journal of Pharmaceutical Sciences, 76(1), 19-30. Prasetya, N.B.A, dan Ngadiwiyana, 2006, Identifikasi Senyawa Penyusun Minyak Kayu Manis (Cinnamomun cassia) Menggunakan GC-MS., J. Sains dan Matematika, 34-46. Pratiwi, R., 2005, Perbedaan Daya Hambat terhadap Streptococcus mutans dari Beberapa Pasta Gigi yang Mengandung Herbal, Majalah Kedokteran Gigi (Dent. J.), 38(2), hal. 64-67. Pratiwi, S.T., 2008, Mikrobiologi Farmasi, Erlangga, Jakarta, hal. 188-191. Richard, P. and Huemer, M.D., 2008, Chewing Mastic Gum Can Prevent Tooth Decay, http://www.physorg.com/news80832481.html, diakses tanggal 13 Mei 2014. Rieger, M.M., 2000, Harry’s Cosmetology, 8th ed., Chemical Publishing Co. Inc., New York, pp. 594-596. Robbers, J.E., Speedie, M.K., and Tyler, V.E., 1996, Pharmacognosy and Pharmacobiotechnology, Williams and Wilkins, USA, pp. 95-96, 98-99. Rogers, T.L., 2009, Hypromellose, In R.C. Rowe, P.J. Sheskey, dan M.E. Quinn, Handbook of Pharmaceutical Excipients, 5th ed., Pharmaceutical Press and American Pharmacists Association, United Kingdom, pp. 326-329. Schuurs, A.H.B., 1993, Patologi Gigi Geligi, UGM Press, Yogyakarta, hal. 139.

(80) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 62 Sherwood, L., 2007, Human Physiology : From Cells to Systems, 6th ed., Cengange Leraning Asie Pte Ltd, Singapore, p.650. Simon, 2006, Structure of Tooth, http://bohone.wikispaces.com/file/view/ Structure_of_Tooth.jpg/30936867/Structure_of_Tooth.jpg, diakses pada tanggal 20 Mei 2014. Voigt, R., 1994, Buku Pelajaran Teknologi Farmasi, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta, hal. 102, 312, 335. Wang, R., dan Yang, B., 2009, Extraction of Essential Oils from Five Cinnamon Leaves and Identification of Their Volatile Compound Compositions, Innovative Food Science and Emerging Technologies, 10, 289-292. Wibowo, D.S., 2009, Anatomi Tubuh Manusia, Graha Ilmu, Jakarta, pp. 546-548. Young, A., 1972, Practical Cosmetic Science, The Garden City Press Limited, Great Britain, pp. 113-117. Zatz, J.L., 1996, Viscosity Imparting Agents in Disperse Systems. In H.A. Lieberman, M.M. Rieger, G.S. Banker, Pharmaceutical Dosage Forms: Dysperse Systems Vol 2, Marcel Dekker Inc., New York, pp.287-309.

(81) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 63 LAMPIRAN

(82) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 64 Lampiran 1. Certificate of Analysis (CoA) minyak kayu manis CV Eteris Nusantara

(83) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 65 Lampiran 2. Surat keterangan Streptococcus mutans

(84) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 66 Lampiran 3. Sertifikat hydroxypropyl methylcellulose (HPMC)

(85) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 67 Lampiran 4. Pengujian karakteristik minyak kayu manis a. Minyak kayu manis CV Eteris Nusantara b. Organoleptis Pengamatan Bentuk Warna Aroma c. Indeks bias Rumus : 𝑛𝑆 = 𝑛𝑃 + 0,0004 𝑇𝑃 − 𝑇𝑆 𝑇𝑃 = 250 𝐶 dan 𝑇𝑆 = 270 𝐶 Perhitungan Replikasi I 1,555 nP 1,5598 nS Rerata nS (indeks bias) Hasil Cair Kuning Khas kayu manis Replikasi II 1,59 1,5988 1,5758 ± 0,02 Replikasi III 1,56 1,5688

(86) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 68 d. Penetapan bobot jenis minyak kayu manis Rumus : 𝑀𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑚𝑖𝑛𝑦𝑎𝑘 𝑘𝑎𝑦𝑢 𝑚𝑎𝑛𝑖𝑠 𝜌 𝑚𝑖𝑛𝑦𝑎𝑘 𝑘𝑎𝑦𝑢 𝑚𝑎𝑛𝑖𝑠 = 𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑎𝑖𝑟 𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑗𝑒𝑛𝑖𝑠 𝑎𝑖𝑟 (2500 𝐶) Perhitungan Massa piknometer (g) Massa piknometer + air (g) Massa air ρ air pada suhu 250C (g/ml) Volume air (ml) Massa piknometer + minyak kayu manis (g) Massa piknometer (g) Massa minyak kayu manis (g) ρ minyak kayu manis (g/ml) Rerata ρ minyak kayu manis (g/ml) Replikasi I 24,3435 34,5252 10,1797 0,99707 10,1797 Replikasi II 24,3652 34,5652 10,2037 0,99707 10,2336 Replikasi III 24,3468 34,5473 10,2005 0,99707 10,2305 34,6885 34,7716 34,7246 24,3440 10,3445 1,0132 24,3960 10,3756 1,0138 24,3639 10,3607 1,0127 1,0132 ± 0,0006 e. Penetapan bobot jenis minyak kayu manis konsentrasi 7% Rumus : 𝑀𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑚𝑖𝑛𝑦𝑎𝑘 𝑘𝑎𝑦𝑢 𝑚𝑎𝑛𝑖𝑠 7% 𝜌 𝑚𝑖𝑛𝑦𝑎𝑘 𝑘𝑎𝑦𝑢 𝑚𝑎𝑛𝑖𝑠 7% = 𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑎𝑖𝑟 𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑗𝑒𝑛𝑖𝑠 𝑎𝑖𝑟 (2500 𝐶) Perhitungan Massa piknometer (g) Massa piknometer + air (g) Massa air ρ air pada suhu 250C (g/ml) Volume air (ml) Massa piknometer + minyak kayu manis 7% (g) Massa piknometer (g) Massa minyak kayu manis 7% (g) ρ minyak kayu manis 7% (g/ml) Rerata ρ minyak kayu manis 7% (g/ml) Replikasi I 24,3435 34,5252 10,1797 0,99707 10,1797 Replikasi II 24,3652 34,5652 10,2037 0,99707 10,2336 Replikasi III 24,3468 34,5473 10,2005 0,99707 10,2305 33,3287 33,3546 33.3719 24,3418 24,3766 24,3477 8,9869 8,9780 9,0242 0,8773 0,8773 0,8821 0,8789 ± 0,0028

(87) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 69 Lampiran 5. Perhitungan minyak kayu manis dalam formula 7% (𝑣/𝑣) = Replikasi I 7 𝑚𝐿 (𝑚𝑖𝑛𝑦𝑎𝑘 𝑘𝑎𝑦𝑢 𝑚𝑎𝑛𝑖𝑠 100%) 100 𝑚𝐿 (𝑚𝑖𝑛𝑦𝑎𝑘 𝑘𝑎𝑦𝑢 𝑚𝑎𝑛𝑖𝑠 7%) Massa kayu manis 100% = 7 mL × 1,0132 g/mL = 7,0924 gram Massa kayu manis 7% = 100 mL × 0,8773 g/mL = 87,73 gram Massa kayu manis massa kayu manis dalam formula = Massa kayu manis 7% massa total formula x 7,0924 gram = 100 gram 87,73 gram 𝐱 = 𝟖, 𝟎𝟖𝟒 𝐠𝐫𝐚𝐦 Replikasi II Massa kayu manis 100% = 7 mL × 1,0138 g/mL = 7,0966 gram Massa kayu manis 7% = 100 mL × 0,8773 g/mL = 87,73 gram Massa kayu manis massa kayu manis dalam formula = Massa kayu manis 7% massa total formula 7,0966 gram x = 87,73 gram 100 gram 𝐱 = 𝟖, 𝟎𝟖𝟗 𝐠𝐫𝐚𝐦 Replikasi III Massa kayu manis 100% = 7 mL × 1,0127 g/mL = 7,0889 gram Massa kayu manis 7% = 100 mL × 0,8821 g/mL = 88,21 gram massa kayu manis dalam formula Massa kayu manis = massa total formula Massa kayu manis 7% 7,0889 gram x = 88,21 gram 100 gram 𝐱 = 𝟖, 𝟎𝟑𝟔𝟑 𝐠𝐫𝐚𝐦

(88) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 70 Lampiran 6. Penentuan konsentrasi bunuh minimum (KBM) minyak kayu manis terhadap Streptococcus mutans a. Uji potensi daya antibakteri minyak kayu manis dengan difusi sumuran Diameter Zona Hambat (mm) Konsentrasi Rerata ± SD minyak kayu Rep Rep Rep Rep Rep Rep (mm) manis (%) I II III IV V VI 1 0 0 0 0 0 0 0±0 2 0 0 0 0 0 0 0±0 3 0 0 0 0 0 0 0±0 4 0 0 0 0 0 0 0±0 5 4,76 3,96 0 3,73 5,13 3,50 3,51 ± 1,83 6 6,60 4,60 4,13 4,33 4,00 5,33 4,83 ± 0,99 7 5,57 4,73 7,06 4,50 6,66 6,33 5,80 ± 1,04 8 9,06 9,03 12,26 9,00 6,33 9,33 9,17 ± 1,88 9 9,86 10,76 11,30 9,50 11,83 12,50 10,96 ± 1,15 10 13,40 13,36 7,30 9,83 14,30 11,66 11,64 ± 2,65 Kontrol negatif 0 0 0 0 0 0 0±0 (a) (b) (c) (d) (e) (f) Keterangan : Hasil uji potensi daya antibakteri minyak kayu manis dengan metode difusi sumuran konsentrasi 1-5% replikasi I (a), replikasi II (b), replikasi III (c), replikasi IV (d), replikasi V (e), dan replikasi VI (f)

(89) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 71 (a) (b) (c) (d) (e) (f) Keterangan : Hasil uji potensi daya antibakteri minyak kayu manis dengan metode difusi sumuran konsentrasi 6-10% replikasi I (a), replikasi II (b), replikasi III (c), replikasi IV (d), replikasi V (e), dan replikasi VI (f) b. Penentuan nilai konsentrasi hambat minimum (KHM) dengan dilusi padat (a) (b) (c) Keterangan : Hasil penentuan KHM dengan dilusi padat untuk konsentrasi minyak kayu manis 4% (a), 5% (b), dan 6% (c)

(90) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 72 (d) (e) (g) (f) (h) Keterangan : Hasil penentuan KHM dengan dilusi padat untuk konsentrasi minyak kayu manis 7% (d), 8% (e), 9% (f), 10% (g), dan kontrol positif (h) c. Uji penegasan dan penentuan nilai konsentrasi bunuh minimum (KBM) Keterangan : Hasil uji penegasan pertama penentuan KBM untuk minyak kayu manis konsentrasi 6-9% Keterangan : Hasil uji penegasan kedua penentuan KBM untuk minyak kayu manis konsentrasi 6-9%

(91) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 73 Lampiran 7. Perhitungan pengenceran dilusi padat Suspensi bakteri = 0,2 mL Minyak kayu manis = 0,2 mL Media pertumbuhan = 15 mL + Volume akhir = 15,4 mL a. Konsentrasi minyak kayu manis 5% V1 x C1 = V2 x C2 0,2 mL x 5% = 15,4 mL x C2 C2 = 0,065% b. Konsentrasi minyak kayu manis 6% V1 x C1 = V2 x C2 0,2 mL x 6% = 15,4 mL x C2 C2 = 0,078% c. Konsentrasi minyak kayu manis 7% V1 x C1 = V2 x C2 0,2 mL x 7% = 15,4 mL x C2 C2 = 0,091% d. Konsentrasi minyak kayu manis 8% V1 x C1 = V2 x C2 0,2 mL x 8% = 15,4 mL x C2 C2 = 0,104% e. Konsentrasi minyak kayu manis 9% V1 x C1 = V2 x C2 0,2 mL x 9% = 15,4 mL x C2 C2 = 0,117% f. Konsentrasi minyak kayu manis 10% V1 x C1 = V2 x C2 0,2 mL x 10% = 15,4 mL x C2 C2 = 0,130%

(92) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 74 Lampiran 8. Pengujian sifat fisik pasta gigi minyak kayu manis a. Organoleptis Konsentrasi HPMC (%) 0,25 0,5 0,75 1,0 1,25 1,5 Hasil Pengamatan Organoleptis Berbentuk semi-padat, berwarna putih, aroma khas minyak kayu manis. Berbentuk semi-padat, berwarna putih, aroma khas minyak kayu manis. Berbentuk semi-padat, berwarna putih, aroma khas minyak kayu manis. Berbentuk semi-padat, berwarna putih, aroma khas minyak kayu manis. Berbentuk semi-padat, berwarna putih, aroma khas minyak kayu manis. Berbentuk semi-padat, berwarna putih, aroma khas minyak kayu manis. b. pH sediaan pH sediaan Waktu Pengujian Hari ke-2 Hari ke-7 Hari ke-14 Hari ke-21 Hari ke-28 Rep HPMC HPMC HPMC HPMC HPMC HPMC 0,25% 0,5% 0,75% 1,0% 1,25% 1,5% I II III I II III I II III I II III I II III 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8

(93) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 75 c. Viskositas Viskositas (dPa.s) Waktu Pengujian Hari ke-2 Hari ke-7 Hari ke-14 Hari ke-21 Hari ke-28 Rep HPMC HPMC HPMC HPMC HPMC HPMC 0,25% 0,5% 0,75% 1,0% 1,25% 1,5% I II III I II III I II III I II III I II III 300 310 280 310 300 270 290 270 260 280 250 240 260 250 240 330 360 350 310 370 340 310 350 320 300 340 330 280 340 300 410 400 380 410 390 360 400 380 370 380 370 360 360 350 320 380 350 330 400 360 320 380 330 320 360 320 310 330 310 300 310 320 290 300 320 290 290 300 260 280 300 240 270 280 230 270 250 280 250 260 270 260 250 230 220 240 230 210 230 200 d. Daya Lekat Daya Lekat (sekon) Waktu Pengujian Hari ke-2 Hari ke-7 Hari ke-14 Hari ke-21 Hari ke-28 Rep HPMC HPMC HPMC HPMC HPMC HPMC 0,25% 0,5% 0,75% 1,0% 1,25% 1,5% I II III I II III I II III I II III I II III 3.27 2.56 2.93 3.81 3.01 2.89 2.57 3.4 3.91 3.95 3.72 2.72 2.84 3.16 3.83 3.88 2.26 2.86 2.52 3.15 3.9 2.92 2.63 3.45 4.08 3.69 3.38 3.81 2.79 3.67 4.72 3.95 5.01 5.41 4.36 4.08 4.69 4.01 5.74 3.94 5.60 4.52 3.88 4.36 5.09 3.74 3.55 2.25 2.37 3.14 2.67 3.1 2.69 3.91 3.48 2.72 2.88 3.00 2.61 2.93 2.05 1.91 1.87 1.43 1.83 2.28 2.21 1.62 1.92 2.71 1.92 1.35 1.5 1.55 2.37 1.52 1.91 1.05 0.89 1.18 1.71 1.43 1.39 1.28 0.95 1.58 1.34 1.22 0.97 1.39

(94) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 76 Lampiran 9. Dokumentasi sifat fisik pasta gigi minyak kayu manis (a) (b) (c) (d) (e) (f) Keterangan : Sifat fisik pasta gigi minyak kayu manis hari ke-2 dengan konsentrasi HPMC 0,25% (a), 0,5% (b), 0,75% (c), 1,0% (d), 1,25% (e), dan 1,5% (f) (a) (b) (c) (d) (e) (f) Keterangan : Sifat fisik pasta gigi minyak kayu manis hari ke-7 dengan konsentrasi HPMC 0,25% (a), 0,5% (b), 0,75% (c), 1,0% (d), 1,25% (e), dan 1,5% (f)

(95) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 77 (a) (b) (c) (d) (e) (f) Keterangan : Sifat fisik pasta gigi minyak kayu manis hari ke-14 dengan konsentrasi HPMC 0,25% (a), 0,5% (b), 0,75% (c), 1,0% (d), 1,25% (e), dan 1,5% (f) (a) (b) (c) (d) (e) (f) Keterangan : Sifat fisik pasta gigi minyak kayu manis hari ke-21 dengan konsentrasi HPMC 0,25% (a), 0,5% (b), 0,75% (c), 1,0% (d), 1,25% (e), dan 1,5% (f)

(96) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 78 (a) (b) (c) (d) (e) (f) Keterangan : Sifat fisik pasta gigi minyak kayu manis hari ke-28 dengan konsentrasi HPMC 0,25% (a), 0,5% (b), 0,75% (c), 1,0% (d), 1,25% (e), dan 1,5% (f)

(97) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 79 Lampiran 10. Pengaruh konsentrasi HPMC terhadap viskositas pasta gigi minyak kayu manis Viskositas sediaan (hari ke-2) Konsentrasi HPMC (%) 0,25 0,5 0,75 1,0 1,25 1,5 Viskositas (dPa.s) 296,67 ± 15,28 346,67 ± 15,28 396,67 ± 15,28 353,33 ± 25,17 306,67 ± 15,28 266,67 ± 15,28 Analisis statistik menggunakan R. 3.0.1 Input data viskositas hari ke-2 Uji normalitas dan homogenitas data

(98) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 80 ANAVA dengan taraf kepercayaan 95% Analisis post hoc menggunakan uji TukeyHSD Signifikansi perbedaan antar formula berdasarkan nilai p-value p-value HPMC 0,25% HPMC 0,5% HPMC 0,75% HPMC 1,0% HPMC 1,25% HPMC 1,5% HPMC 0,25% HPMC 0,5% HPMC 0,75% HPMC 1,0% HPMC 1,25% 0,03716* 0,00015* 0,03716* 0,01676* 0,99636 0,08154 0,97743 0,11940 0,00040* 0,05519 0,33863 0,00115* 0,00001* 0,00056* 0,11940 * Keterangan : p-value < 0,05 menunjukkan data berbeda signifikan HPMC 1,5%

(99) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 81 Lampiran 11. Pengaruh konsentrasi HPMC terhadap daya lekat pasta gigi minyak kayu manis Daya lekat sediaan (hari ke-2) Konsentrasi HPMC (%) 0,25 0,5 0,75 1,0 1,25 1,5 Daya Lekat (sekon) 2,92 ± 0,35 3,00 ± 0,82 4,56 ± 0,55 3,18 ± 0,81 1,94 ± 0,09 1,49 ± 0,43 Analisis statistik menggunakan R. 3.0.1 Input data daya lekat hari ke-2 Uji normalitas dan homogenitas data

(100) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 82 ANAVA dengan taraf kepercayaan 95% Analisis post hoc menggunakan uji TukeyHSD Signifikansi perbedaan antar formula berdasarkan nilai p-value p-value HPMC 0,25% HPMC 0,5% HPMC 0,75% HPMC 1,0% HPMC 1,25% HPMC 1,5% HPMC 0,25% HPMC 0,5% HPMC 0,75% HPMC 1,0% HPMC 1,25% 0,99997 0,03788* 0,05056 0,99203 0,99857 0,09579 0,34880 0,27656 0,00121* 0,15621 0,08133 0,06122 0,00029* 0,03198* 0,91994 * Keterangan : p-value < 0,05 menunjukkan data berbeda signifikan HPMC 1,5%

(101) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 83 Lampiran 12. Pengaruh konsentrasi HPMC terhadap pergeseran viskositas pasta gigi minyak kayu manis Viskositas sediaan (selama penyimpanan 28 hari) Konsentrasi HPMC (%) 0,25 0,5 0,75 1,0 1,25 1,5 Viskositas (dPa.s) Hari ke -2 Hari ke-7 Hari ke-14 Hari ke-21 296,67 ± 15,28 346,67 ± 15,28 396,67 ± 15,28 353,33 ± 25,17 306,67 ± 15,28 266,67 ± 15,28 293,33 ± 20,82 273,33 ± 15,28 326,67 ± 20,82 383,33 ± 15,28 343,33 ± 32,15 283,33 ± 20,82 246,67 ± 15,28 256,67 ± 20,82 323,33 ± 20,82 340 ± 30 386,67 ± 25,17 360 ± 40 303,33 ± 15,28 260 ± 10 370 ± 10 330 ± 26,46 273,33 ± 30,55 230 ± 10 Analisis statistik menggunakan R 3.0.1 Input data viskositas (setiap formula dengan variasi konsentrasi HPMC) Uji normalitas data Hari ke-28 250 ± 10 306,67 ± 30,55 343,33 ± 20,82 313,33 ± 15,28 260 ± 26,46 213,33 ± 15,28

(102) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 84 Uji T berpasangan Signifikansi perbedaan antar waktu pengujian (untuk setiap konsentrasi HPMC) berdasarkan nilai p-value HPMC 0,25% p-value Hari ke-2 Hari ke-7 Hari ke-14 Hari ke-21 Hari ke-28 Hari ke-2 Hari ke-7 0,667 Hari ke-14 0,118 0,074 Hari ke-21 0,074 0,032* 0,0378* Hari ke-28 0,020* 0,023* 0,0198* 0,4226 * Keterangan : p-value < 0,05 menunjukkan data berbeda signifikan HPMC 0,5% p-value Hari ke-2 Hari ke-7 Hari ke-14 Hari ke-21 Hari ke-28 Hari ke-2 Hari ke-7 0,5286 Hari ke-14 0,0742 0,1835 Hari ke-21 0,0198* 0,1296 0,6667 Hari ke-28 0,0572 0,0099* 0,0742 0,1994 * Keterangan : p-value < 0,05 menunjukkan data berbeda signifikan HPMC 0,75% p-value Hari ke-2 Hari ke-7 Hari ke-14 Hari ke-21 Hari ke-2 Hari ke-7 0,2254 Hari ke-14 0,0572 0,6667 Hari ke-21 0,0153* 0,1994 0,0572 Hari ke-28 0,0039* 0,0059* 0,0202* 0,0572 * Keterangan : p-value < 0,05 menunjukkan data berbeda signifikan Hari ke-28

(103) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 85 HPMC 1,0% p-value Hari ke-2 Hari ke-7 Hari ke-14 Hari ke-21 Hari ke-28 Hari ke-2 Hari ke-7 0,5286 Hari ke-14 0,2254 0,1999 Hari ke-21 0,0198* 0,0955 0,0572 Hari ke-28 0,0202* 0,0085* 0,0955 0,1296 * Keterangan : p-value < 0,05 menunjukkan data berbeda signifikan HPMC 1,25% p-value Hari ke-2 Hari ke-7 Hari ke-14 Hari ke-21 Hari ke-28 Hari ke-2 Hari ke-7 0,4226 Hari ke-14 0,0198* 0,0742 Hari ke-21 0,0634 0,0955 0,2254 Hari ke-28 0,0198* 0,0390* 0,0198* 0,0572 * Keterangan : p-value < 0,05 menunjukkan data berbeda signifikan HPMC 1,5% p-value Hari ke-2 Hari ke-7 Hari ke-14 Hari ke-21 Hari ke-2 Hari ke-7 0,5286 Hari ke-14 0,3206 0,4557 Hari ke-21 0,1107 0,0351* 0,2999 Hari ke-28 0,0942 0,0604 0,0634 0,1296 * Keterangan : p-value < 0,05 menunjukkan data berbeda signifikan Hari ke-28

(104) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 86 Lampiran 13. Pengaruh konsentrasi HPMC terhadap pergeseran daya lekat pasta gigi minyak kayu manis Daya lekat sediaan (selama penyimpanan 28 hari) Konsentrasi HPMC (%) 0,25 0,5 0,75 1,0 1,25 1,5 Daya Lekat (sekon) Hari ke -2 Hari ke-7 Hari ke-14 Hari ke-21 Hari ke-28 2,92 ± 0,35 3,00 ± 0,82 4,56 ± 0,55 3,18 ± 0,81 1,94 ± 0,09 1,49 ± 0,43 3,24 ± 0,50 3,19 ± 0,69 4,62 ± 0,70 2,73 ± 0,39 1,85 ± 0,43 1,26 ± 0,42 3,29 ± 0,68 3,00 ± 0,42 4,81 ± 0,87 3,23 ± 0,62 1,92 ± 0,30 1,37 ± 0,08 3,46 ± 0,65 3,72 ± 0,35 4,69 ± 0,84 3,03 ± 0,40 1,99 ± 0,68 1,29 ± 0,32 3,28 ± 0,51 3,42 ± 0,55 4,44 ± 0,61 2,85 ± 0,21 1,81 ± 0,49 1,19 ± 0,21 Analisis statistik menggunakan R 3.0.1 Input data daya lekat (setiap formula dengan variasi konsentrasi HPMC) Uji normalitas data

(105) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 87 Uji T berpasangan Signifikansi perbedaan antar waktu pengujian (untuk setiap konsentrasi HPMC) berdasarkan nilai p-value HPMC 0,25% p-value Hari ke-2 Hari ke-7 Hari ke-14 Hari ke-21 Hari ke-28 Hari ke-2 Hari ke-7 0,2221 Hari ke-14 0,5596 0,9406 Hari ke-21 0,3085 0,4719 0,8408 Hari ke-28 0,4693 0,9490 0,9220 0,8060 * Keterangan : p-value < 0,05 menunjukkan data berbeda signifikan HPMC 0,5% p-value Hari ke-2 Hari ke-7 Hari ke-14 Hari ke-21 Hari ke-28 Hari ke-2 Hari ke-7 0,8295 Hari ke-14 1,0000 0,5863 Hari ke-21 0,1912 0,4729 0,2108 Hari ke-28 0,2445 0,7026 0,2121 0,4833 * Keterangan : p-value < 0,05 menunjukkan data berbeda signifikan HPMC 0,75% p-value Hari ke-2 Hari ke-7 Hari ke-14 Hari ke-21 Hari ke-2 Hari ke-7 0,9201 Hari ke-14 0,4014 0,8152 Hari ke-21 0,8839 0,9385 0,8975 Hari ke-28 0,7846 0,8362 0,4152 0,6915 * Keterangan : p-value < 0,05 menunjukkan data berbeda signifikan Hari ke-28

(106) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 88 HPMC 1,0% p-value Hari ke-2 Hari ke-7 Hari ke-14 Hari ke-21 Hari ke-28 Hari ke-2 Hari ke-7 0,4732 Hari ke-14 0,9533 0,4179 Hari ke-21 0,7527 0,5689 0,6741 Hari ke-28 0,5804 0,7593 0,3224 0,3701 * Keterangan : p-value < 0,05 menunjukkan data berbeda signifikan HPMC 1,25% p-value Hari ke-2 Hari ke-7 Hari ke-14 Hari ke-21 Hari ke-28 Hari ke-2 Hari ke-7 0,7760 Hari ke-14 0,8621 0,8629 Hari ke-21 0,8969 0,8397 0,8371 Hari ke-28 0,7134 0,7708 0,7741 0,8011 * Keterangan : p-value < 0,05 menunjukkan data berbeda signifikan HPMC 1,5% p-value Hari ke-2 Hari ke-7 Hari ke-14 Hari ke-21 Hari ke-2 Hari ke-7 0,6541 Hari ke-14 0,6189 0,7439 Hari ke-21 0,5106 0,9052 0,7445 Hari ke-28 0,5021 0,7715 0,3775 0,7497 * Keterangan : p-value < 0,05 menunjukkan data berbeda signifikan Hari ke-28

(107) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 89 Lampiran 14. Pengujian aktivitas antibakteri pasta gigi minyak kayu manis terhadap Streptococcus mutans a. Hasil pengujian daya antibakteri sedian dan basis Diameter Zona Hambat (mm) Konsentrasi Uji Replikasi Replikasi Replikasi HPMC (%) I II III 0,25 15,08 14,27 14,63 0,50 14,22 11,64 17,71 0,75 12,12 13,34 14,40 Sediaan 1,00 15,57 12,14 11,94 1,25 14,12 11,32 12,04 1,50 11,80 11,86 12,85 0,25 11,37 9,39 12,22 0,50 10,09 11,29 5,03 0,75 8,48 9,74 7,93 Basis 1,00 9,00 8,32 8,14 1,25 9,01 8,46 7,03 1,50 5,03 7,00 7,77 Rerata ± SD 14,66 ± 0,41 14,52 ± 3,05 13,29 ± 1,14 13,22 ± 2,04 12,49 ± 1,45 12,17 ± 0,59 10,99 ± 1,45 8,80 ± 3,32 8,72 ± 0,93 8,55 ± 0,39 8,17 ± 1,02 6,60 ± 1,41 b. Hasil pengujian daya antibakteri minyak kayu manis 7% dan kontrol positif Rerata ± SD Uji Diameter Zona Hambat (mm) 9,58 8,91 9,08 7,87 9,27 14,56 Minyak kayu 7,41 7,95 9,03 9,95 8,69 8,26 9,96 ± 2,02 manis 7% 13,04 8,37 8,50 9,44 9,04 9,33 10,09 11,37 5,03 8,48 9,00 9,01 Kontrol 17,14 ± 11,29 9,39 7,00 9,74 8,32 8,46 positif 2,02 5,03 12,22 7,77 7,93 8,32 7,03 c. Analisis statistik menggunakan R. 3.0.1 Input data diameter zona hambat sediaan, basis, minyak kayu manis 7%, dan kontrol positif.

(108) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 90 Uji normalitas data Uji variansi data

(109) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 91 Uji T tidak berpasangan d. Signifikansi perbedaan antar formula sediaan berdasarkan nilai p-value p-value HPMC 0,25% HPMC 0,5% HPMC 0,75% HPMC 1,0% HPMC 1,25% HPMC 1,5% HPMC 0,25% HPMC 0,5% HPMC 0,75% HPMC 1,0% HPMC 1,25% 0,9454 0,121 0,5462 0,2958 0,5702 0,9611 0,06778 0,3564 0,4985 0,6433 0,00382* 0,2592 0,2065 0,4415 0,7392 * Keterangan : p-value < 0,05 menunjukkan data berbeda signifikan HPMC 1,5%

(110) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 92 e. Signifikansi perbedaan Sediaan VS Basis berdasarkan nilai p-value Kelompok Data p-value Sediaan HPMC 0,25% VS Basis HPMC 0,25% 0,01356* Sediaan HPMC 0,50% VS Basis HPMC 0,50% 0,04592* Sediaan HPMC 0,75% VS Basis HPMC 0,75% 0,00576* Sediaan HPMC 1,00% VS Basis HPMC 1,00% 0,01726* Sediaan HPMC 1,25% VS Basis HPMC 1,25% 0,01352* Sediaan HPMC 1,50% VS Basis HPMC 1,50% 0,003242* * Keterangan : p-value < 0,05 menunjukkan data berbeda signifikan f. Signifikansi perbedaan Sediaan VS Minyak Kayu Manis 7% berdasarkan nilai p-value Kelompok Data Sediaan HPMC 0,25% VS Minyak Kayu Manis 7% Sediaan HPMC 0,50% VS Minyak Kayu Manis 7% Sediaan HPMC 0,75% VS Minyak Kayu Manis 7% Sediaan HPMC 1,00% VS Minyak Kayu Manis 7% Sediaan HPMC 1,25% VS Minyak Kayu Manis 7% Sediaan HPMC 1,50% VS Minyak Kayu Manis 7% p-value 0,0009029* 0,003029* 0,01314* 0,01845* 0,05341 0,08129 * Keterangan : p-value < 0,05 menunjukkan data berbeda signifikan g. Signifikansi perbedaan Sediaan VS Kontrol Positif berdasarkan nilai p-value Kelompok Data Sediaan HPMC 0,25% VS Kontrol Positif Sediaan HPMC 0,50% VS Kontrol Positif Sediaan HPMC 0,75% VS Kontrol Positif Sediaan HPMC 1,00% VS Kontrol Positif Sediaan HPMC 1,25% VS Kontrol Positif Sediaan HPMC 1,50% VS Kontrol Positif p-value 0,0509 0,06525 0,004881* 0,005636* 0,001219* 0,000529* * Keterangan : p-value < 0,05 menunjukkan data berbeda signifikan

(111) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 93 h. Dokumentasi uji daya antibakteri pasta gigi minyak kayu manis (a) (b) (c) (d) (e) (f) Keterangan : Hasil uji daya antibakteri pasta gigi minyak kayu manis replikasi I (a), replikasi II (b), replikasi III (c), replikasi IV (d), replikasi V (e), dan replikasi VI (f). A = minyak kayu manis 7% B1 = basis dengan konsentrasi HPMC 0,25% B2 = basis dengan konsentrasi HPMC 0,5% B3 = basis dengan konsentrasi HPMC 0,75% B4 = basis dengan konsentrasi HPMC 1,0% B5 = basis dengan konsentrasi HPMC 1,25% B6 = basis dengan konsentrasi HPMC 1,5% C = kontrol positif (pasta gigi merk X) D1 = sediaan dengan konsentrasi HPMC 0,25% D2 = sediaan dengan konsentrasi HPMC 0,5% D3 = sediaan dengan konsentrasi HPMC 0,75% D4 = sediaan dengan konsentrasi HPMC 1,0% D5 = sediaan dengan konsentrasi HPMC 1,25% D6 = sediaan dengan konsentrasi HPMC 1,5%

(112) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 94 Lampiran 15. Uji iritasi sediaan pasta gigi minyak kayu manis a. Pengujian iritasi pasta gigi minyak kayu manis Perhitungan Bobot siput (g) Mukus (g) Mukus yang dihasilkan (% Mukus) Rerata % Mukus (%) Rep I 3,99 1,158 Rep II 3,96 1,028 Rep III 3,51 1,339 Rep IV 3,40 1,036 Rep V 3,63 1,107 29,02 25,96 38,15 30,47 30,50 30,82 ± 4,49 b. Pengujian iritasi kontrol positif (pasta gigi merk X) Perhitungan Bobot siput (g) Mukus (g) Mukus yang dihasilkan (% Mukus) Rerata % Mukus (%) Rep I 3,39 0,542 Rep II 3,21 0,786 Rep III 3,60 0,653 Rep IV 3,4 0,763 Rep V 3,02 0,649 15,99 24,49 18,14 22,44 21,49 20,51 ± 3,41 c. Pengujian iritasi kontrol negatif (menggunakan akuades p.i.) Perhitungan Bobot siput (g) Mukus (g) Mukus yang dihasilkan (% Mukus) Rerata % Mukus (%) Rep I 3,43 -0,17 Rep II 3,00 -0,31 Rep III 3,60 -0,21 Rep IV 3,92 -0,119 Rep V 3,72 -0,199 -4,96 -10,33 -5,83 -3,04 -5,35 -5,90 ± 2,69 Keterangan : Pengujian iritasi terhadap sediaan pasta gigi minyak kayu manis.

(113) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 95 BIOGRAFI PENULIS Hans Gani lahir di Bandung pada tanggal 25 Agustus 1991, merupakan anak ketiga dari tiga bersaudara lahir dari pasangan Ridwan Nugraha Sugiaman dan Elisabeth Lily Hardi. Penulis memulai pendidikan di TK Maria Bintang Laut pada tahun 1996-1998, SD Maria Bintang Laut pada tahun 1998-2004, SMP Santo Aloysius Sultan Agung pada tahun 2004-2007, SMA Santo Aloysius Sultan Agung pada tahun 20072010, dan Program Studi S1 Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta pada tahun 2010-2014. Selama menempuh pendidikan S1, penulis memiliki pengalaman sebagai asisten praktikum Biokimia (2013). Penulis juga terlibat dalam beberapa kepanitiaan, seperti anggota Divisi Penelitian dan Pengembangan BEMF periode 2011-2012, koordinator Divisi Pengabdian Masyarakat BEMF periode 2012-2013, anggota sie konsumsi TITRASI (Tiga Hari Temu Akrab Farmasi 2012), dan ketua Pelepasan Wisuda I (2012). Penulis juga terlibat di bidang pengabdian masyarakat dalam kegiatan Desa Mitra (2012) di Dusun Burikan, Sleman.

(114)

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Optimasi carbopol sebagai gelling agent dan virgin coconut oil sebagai fase minyak dalam sediaan emulgel sunscreen ekstrak lidah buaya dengan metode desain faktorial.
2
6
89
Pengaruh peningkatan konsentrasi sorbitol dalam sediaan pasta gigi karbopol yang mengandung minyak kayu manis (Cinnamomum burmannii (Bl.)).
5
21
115
Pengaruh kombinasi gom xanthan dan gom guar sebagai gelling agent dalam formula pasta gigi ekstrak etanol 70% daun jambu biji (psidium guajava l.) dalam bentuk gel - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository
0
0
14
Penggunaan carbomer 940 sebagai gelling agent dalam formula pasta gigi ekstrak buah apel (Malus sylvestris mill) dalam bentuk gel - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository
0
0
11
Penggunaan carbomer 940 sebagai gelling agent dalam formula pasta gigi ekstrak buah apel (Malus sylvestris mill) dalam bentuk gel - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository
0
1
10
Penggunaan CMC-Na sebagai gelling agent dari formula pasta gigi yang mengandung ekstrak buah apel (malus sylvestris mill.) dalam bentuk gel - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository
0
0
9
Penggunaan carbomer sebagai gelling agent dalam formula pasta gigi ekstrak air daun gambir (uncaria gambir roxb.) dalam bentuk gel. - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository
0
0
7
Formulasi sediaan sunscreen ekstrak rimpang kunir putih [Curcuma mangga Val.] dengan carbopol 940 sebagai gelling agent dan sorbitol sebagai humectant - USD Repository
0
0
117
Formulasi sediaan sunscreen ekstrak rimpang kunir putih [Curcuma mangga Val.] dengan carbopol 940 sebagai gelling agent dan propilen glikol sebagai humectant - USD Repository
0
0
107
Karakterisasi minyak atsiri kulit batang kayu manis (Coinnanomum burmanni Nees Ex BL.) - USD Repository
0
0
91
Optimasi tween 80 dan span 80 sebagai emulsifying agent serta carbopol sebagai gelling agent dalam sediaan emulgel photoprotector ekstrak teh hijau (Camellia sinensis L.) : aplikasi desain faktorial - USD Repository
2
4
132
Pengaruh peningkatan karbopol sebagai gelling agent dalam sediaan pasta gigi minyak kayu manis (cinnamon burmanii (bl.)) - USD Repository
0
0
115
Pengaruh peningkatan konsentrasi sorbitol dalam sediaan pasta gigi hpmc yang mengandung minyak kayu manis (cinnamomum burmannii bl.) - USD Repository
0
1
103
Pengaruh konsentrasi cmc-na sebagai gelling agent terhadap sifat fisik dan stabilitas sediaan gel hand sanitizer minyak atsiri daun mint (oleum mentha piperita l.) - USD Repository
0
0
86
Pengaruh konsentrasi carbopol 940 sebagai gelling agent terhadap sifat fisis dan stabilitas gel hand sanitizer minyak daun mint (oleum mentha piperita) - USD Repository
0
2
94
Show more