Evaluasi Drug Related Problems (DRPs) pada pasien asma pediatri rawat inap : studi kasus di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta tahun 2013 - USD Repository

Gratis

0
0
141
9 months ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI EVALUASI DRUG RELATED PROBLEMS (DRPs) PADA PASIEN ASMA PEDIATRI RAWAT INAP (STUDI KASUS DI RSUP Dr. SARDJITO YOGYAKARTA TAHUN 2013) Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm.) Program Studi Farmasi Oleh: Anggun Indah Ciptanti NIM : 108114099 FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014

(2) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI EVALUASI DRUG RELATED PROBLEMS (DRPs) PADA PASIEN ASMA PEDIATRI RAWAT INAP (STUDI KASUS DI RSUP Dr. SARDJITO YOGYAKARTA TAHUN 2013) Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm.) Program Studi Farmasi Oleh: Anggun Indah Ciptanti NIM : 108114099 FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014 i

(3) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(4) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(5) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI HALAMAN PERSEMBAHAN iv

(6) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(7) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(8) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PRAKATA Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkat, rahmat dan penyertaan-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi yang berjudul “Evaluasi Drug Related Problems (DRPs) pada Pasien Asma Pediatri Rawat Inap (Studi Kasus di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Tahun 2013)” dengan baik sebagai salah salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Farmasi (S.Farm) program studi Farmasi Universitas Sanata Dharma. Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan skripsi ini tidak terlepas dari bantuan dan dukungan dari berbagai pihak secara langsung maupun tidak langsung baik berupa moral, materiil maupun spiritual. Oleh sebab itu, penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada : 1. Dekan Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma. 2. Ibu Aris Widayati, M.Si., Ph.D., Apt. selaku Dosen Pembimbing skripsi atas perhatian, kesabaran, bimbingan, masukan dan motivasi kepada penulis dalam proses penyusunan skripsi ini. 3. Ibu Maria Wisnu Donowati, M.Si., Apt. selaku Dosen Pembimbing skripsi atas perhatian, kesabaran, bimbingan, masukan dan motivasi kepada penulis dalam proses penyusunan skripsi ini. 4. Ibu Dita Maria Virginia, M.Sc., Apt. sebagai dosen penguji yang telah memberikan kritik dan saran yang membangun selama proses pembuatan skripsi. vii

(9) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 5. Ibu Iriati dan Mas Danang, selaku petugas Instalasi Catatan Medik (ICM) di RSUP Dr. Sardjito yang telah membantu penulis dengan memberi bantuan dan memberi saran dalam penyusunan skripsi ini. 6. Dokter-dokter di RSUP Dr. Sardjito yang telah membantu selama proses penelitian. 7. Papa dan mama tercinta atas doa, kasih sayang, semangat, dukungan, dan pengertian serta bantuan finansial hingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik. 8. Kakak-kakakku tersayang Teddy Prasetya, Adi Wibowo, Randy Julius yang telah membimbing penulis serta menjadi inspirasi dan motivasi bagi penulis dalam menyelesaikan skripsi. 9. Triwibowo Hertanto yang selalu memberikan doa dan sebagai pengingat yang selalu ada dengan memberikan dukungan dan semangat selama proses pembuatan skripsi ini. 10. Sahabatku Lilin, Rosi, Chelly, Nita, Henny, Verica terimakasih untuk tawa dan semangatnya selama pengerjaan skripsi ini. 11. Teman-teman seperjuangan dalam tim Jessi dan Mega untuk semangat, kerjasama, bantuan, dan informasi yang selalu di bagikan dalam proses penyusunan skripsi ini dari awal hingga akhir. 12. Teman-teman FSM C 2010 dan FKK B 2010, terima kasih atas kebersamaannya dan pengalaman yang tak terlupakan selama menjalani kuliah dan praktikum bersama peneliti selama penyusunan skripsi. viii

(10) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Penulis menyadari bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Demikian juga dengan tugas akhir ini yang belum sempurna dan masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua pihak agar skripsi ini dapat menjadi lebih baik. Akhir kata, penulis berharap semoga tugas akhir ini dapat bermanfaat bagi semua pihak terutama demi kemajuan pengetahuan di bidang Farmasi. Yogyakarta, 11 Agustus 2014 Penulis ix

(11) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL .................................................................................... i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING............................................. ii HALAMAN PENGESAHAN ....................................................................... iii HALAMAN PERSEMBAHAN .................................................................... iv PERNYATAANKEASLIAN KARYA ......................................................... v LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS........................................ vi PRAKATA ................................................................................................... vii DAFTAR ISI ................................................................................................ x DAFTAR TABEL ........................................................................................ xiv DAFTAR GAMBAR .................................................................................... xvi DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................. xvii INTISARI ..................................................................................................... xviii ABSTRACT ................................................................................................... xix BAB I. PENGANTAR .................................................................................. 1 A. Latar Belakang .................................................................................. 1 1. Perumusan Masalah ..................................................................... 3 2. Keaslian Penelitian ...................................................................... 4 3. Manfaat Penelitian ....................................................................... 7 B. Tujuan Penelitian .............................................................................. 7 1. Tujuan umum .............................................................................. 7 x

(12) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2. Tujuan khusus ............................................................................. 7 BAB II. PENELAAHAN PUSTAKA ........................................................... 9 A. Asma ................................................................................................. 9 1. Definisi ....................................................................................... 9 2. Epidemiologi ............................................................................... 10 3. Etiologi ....................................................................................... 10 4. Manifestasi klinik ........................................................................ 11 5. Faktor resiko ............................................................................... 11 6. Patofisiologi ................................................................................ 14 7. Diagnosis .................................................................................... 17 8. Klasifikasi ................................................................................... 20 9. Penatalaksanaan terapi ................................................................. 21 B. Drug Related Problems (DRPs) ......................................................... 28 1. Tidak perlu obat (unnecessary drug therapy) ............................... 29 2. Perlu obat (need for additional drug therapy) .............................. 29 3. Obat salah (wrong drug) .............................................................. 29 4. Dosis kurang (dosage too low)..................................................... 30 5. Efek samping obat dan interaksi obat (adverse drug reaction) ..... 30 6. Dosis berlebih (dosage too high) ................................................. 30 7. Ketidaktaatan pasien (noncompliance) ......................................... 30 C. Keterangan Empiris ........................................................................... 31 BAB III. METODE PENELITIAN ............................................................... 32 A. Jenis dan Rancangan Penelitian ......................................................... 32 xi

(13) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI B. Variabel dan Definisi Operasional ..................................................... 32 C. Subjek Penelitian............................................................................... 34 D. Bahan Penelitian ............................................................................... 36 E. Lokasi dan Waktu Penelitian ............................................................. 36 F. Tata Cara Penelitian .......................................................................... 36 1. Observasi awal ............................................................................ 36 2. Analisis situasi ............................................................................ 37 3. Permohonan ijin .......................................................................... 37 4. Pengambilan data ........................................................................ 37 5. Pengolahan data dan analisis hasil ............................................... 38 6. Kerahasiaan data pasien ............................................................... 40 G. Keterbatasan Penelitian ..................................................................... 40 BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ...................................................... 42 A. Karakteristik Pasien........................................................................... 42 1. Distribusi pasien berdasarkan umur ............................................. 42 2. Distribusi pasien berdasarkan jenis kelamin ................................. 43 3. Diagnosis kasus ........................................................................... 44 B. Pola Penggunaan Obat....................................................................... 44 1. Obat yang bekerja pada sistem pernafasan ................................... 46 2. Obat-obat hormonal ..................................................................... 48 3. Obat anti-infeksi .......................................................................... 49 4. Pemberian O2......................................................................................................................... 49 5. Obat yang bekerja pada sistem saluran cerna ............................... 50 xii

(14) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 6. Obat yang bekerja sebagai analgesik............................................ 50 7. Obat yang bekerja pada sistem saraf pusat ................................... 51 8. Obat yang mempengaruhi gizi dan darah ..................................... 52 C. Evaluasi Drug Related Problems (DRPs) .......................................... 52 1. Tidak perlu obat (unnecessary drug therapy) ............................... 53 2. Perlu obat (needs additional drug therapy) .................................. 54 3. Obat salah (wrong drug) .............................................................. 54 4. Dosis kurang (dosage too low)..................................................... 54 5. Efek samping obat (adverse drug reaction) dan interaksi obat ..... 54 6. Dosis berlebih (dosage too high) ................................................. 56 D. Outcome Pasien Setelah Mendapat Terapi ................................... 56 E. Rangkuman Evaluasi Drug Related Problems (DRPs) ................. 57 BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN........................................................ 59 A. Kesimpulan ....................................................................................... 59 B. Saran ................................................................................................. 59 DAFTAR PUSTAKA ................................................................................... 61 LAMPIRAN ................................................................................................. 65 BIOGRAFI PENULIS .................................................................................. 121 xiii

(15) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR TABEL Tabel I. Klasifikasi Asma Berdasarkan Berat Penyakit ............................ 20 Tabel II. Tatalaksana Pengobatan Asma ................................................... 22 Tabel III. Distribusi Kelas Terapi Obat Yang Digunakan Pada Pasien Asma Pediatri Di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Tahun 2013 ............................................................. 45 Tabel IV. Pengelompokan Obat yang Bekerja pada Sistem Pernafasan yang Digunakan sebagai Terapi Pasien Asma Pediatri di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Tahun 2013 …………………………………………………………… .......... 47 Tabel V. Pengelompokan Obat-obat Hormonal yang Digunakan sebagai Terapi Pasien Asma Pediatri di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Tahun 2013 ................................................ 48 Tabel VI. Pengelompokan Obat-obat Anti-infeksi yang Digunakan sebagai Terapi Pasien Asma Pediatri di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Tahun 2013 ................................................ 49 Tabel VII. Pengelompokan Obat-obat Saluran Cerna yang Digunakan sebagai Terapi Pasien Asma Pediatri di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Tahun 2013 ............................... 50 Tabel VIII. Pengelompokan Obat Analgesik yang Digunakan sebagai Terapi Pasien Asma Pediatri di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Tahun 2013 ................................................ 51 xiv

(16) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Tabel IX. Pengelompokan Obat Sistem Saraf Pusat yang Digunakan sebagai Terapi Pasien Asma Pediatri di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Tahun 2013 ............................... 51 Tabel X. Pengelompokan Obat yang mempengaruhi Gizi dan Darah yang Digunakan sebagai Terapi Pasien Asma Pediatri di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Tahun 2013 ............. 52 Tabel XI. Jenis DRPs Pada Pasien Asma Pediatri Rawat Inap di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Tahun 2013 ................................................ 53 Tabel XII. Hasil Evaluasi DRPs dan Status Keluar Pasien Asma Pediatri Rawat Inap di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Tahun 2013 ......... 57 xv

(17) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR GAMBAR Gambar 1. Definisi Asma ............................................................................ 9 Gambar 2. Mekanisme Terjadinya Asma ..................................................... 14 Gambar 3. Patofisiologi Asma ..................................................................... 17 Gambar 4. Skema Pemilihan Subjek Penelitian di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Tahun 2013 ............................................................. 35 Gambar 5. Persentase Distribusi Pasien Asma Pediatri di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Tahun 2013 Berdasarkan Jenis Kelamin ..... 43 Gambar 6. Persentase outcome pasien setelah mendapat terapi .................... 43 Gambar 7. Karateristik Kasus Asma Pediatri Berdasarkan Diagnosisnya ..... 44 Gambar 8. Persentase Outcome Pasien Setelah Mendapat Terapi ................. 56 xvi

(18) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1. Nilai rujukan hasil laboratorium pasien asma pediatri di RSUP Dr. Sardjito Yogyakata Tahun 2013 .......................................... 66 Lampiran 2. Analisis Drug Related Problems pada pasien asma pediatri di Instalasi rawat inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Tahun 2013…………………………………………………… ............ 67 Lampiran 3. Hasil wawancara dengan dokter yang bersangkutan .................. 118 Lampiran 4. Surat keterangan Ethics Committee Approval............................ 119 Lampiran 5. Surat ijin penelitian di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta .............. 120 xvii

(19) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI INTISARI Penyakit asma sering terjadi pada anak-anak dan sangat erat kaitannya dengan adanya alergi. Asma merupakan gangguan peradangan kronis dari saluran udara, yang menyebabkan hyperresponsive bronkus sehingga bronkus mudah terhambat dan aliran udara menyempit apabila terkena faktor resiko. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran DRPs mengenai penatalaksanaan obat asma pada pasien pediatri. Penelitian ini bersifat observasional dengan rancangan penelitian deskriptif dengan data retrospektif pada tahun 2013 yaitu data rekam medis pasien meliputi catatan keperawatan, diagnosis dan penatalaksanaan obat kemudian dibandingkan dengan standar pelayanan medis RSUP Dr. Sardjito dan pustaka yang sesuai. Kasus yang memenuhi kriteria inklusi sebagai subjek penelitian sebesar 20 kasus. Dari hasil penelitian, diperoleh persentase pola penggunaan obat sistem pernafasan yaitu sebanyak 100% pasien menggunakan obat anti asma serta 95% pasien menggunakan obat hormonal yaitu kortikosteroid. Hasil evaluasi DRPs diperoleh 6 kasus DRPs terkait dengan penatalaksanaan obat asma yaitu 6 kasus efek samping obat dan interaksi obat. Kata kunci : asma, DRPs (Drug Related Problems), pediatri xviii

(20) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ABSTRACT Asthma is common disease in children and is closely associated with allergies. Asthma is a chronic inflammatory disorder of the airways, which causes bronchial hyperresponsive that makes bronchus easily obstructed and airflow tighten when exposed to risk factors. This study aims to provide an overview of the management of DRPs asthma medication in pediatric patients This study is an observational descriptive study design with retrospective data in 2013 that is patient medical records includes nursing record, diagnosis and management of medications by use the patient's medical record, and then compared with the medical services standard of Dr. Sardjito hospital and appropriate literature. Cases that met the inclusion criteria as research subjects are 20 cases. From the research, obtained the percentage of respiratory drug usage pattern is 100% of patients taking anti-asthma and 95% of patients using hormonal drugs that are corticosteroids. The DRPs evaluation found 6 cases related to the management of asthma drug consist of 6 cases of asthma side effects and drug interactions. Keywords: asthma, DRPs (Drug Related Problems), pediatric xix

(21) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB I PENGANTAR A. Latar Belakang Pharmaceutical care merupakan tanggung jawab seorang apoteker dalam pelayanan obat terhadap pasien. Praktek pelayanan kefarmasian merupakan kegiatan yang bertujuan untuk mengidentifikasi, mencegah dan menyelesaikan masalah yang berhubungan dengan penggunaan obat atau drug-related problems (DRPs), termasuk hal-hal lain yang berhubungan dengan kesehatan pasien (Depkes RI, 2004). Praktek ini bertujuan untuk mencapai hasil pengobatan (outcome therapy) yang diinginkan serta dapat meningkatkan kualitas hidup pasien (patient’s quality of life). Asma adalah gangguan peradangan kronis dari saluran udara, yang menyebabkan hyperresponsive pada bronkus sehingga mudah terhambat dan aliran udara menyempit apabila terkena faktor resiko (Global Innitiative for Asthma, 2012). Asma menyebabkan saluran pernafasan menjadi lebih sensitif dan memberi respon yang sangat berlebihan jika mengalami rangsangan atau gangguan. Saluran pernafasan tersebut akan bereaksi dengan cara menyempit dan menghalangi udara yang masuk. Penyempitan atau hambatan ini bisa mengakibatkan salah satu atau gabungan dari berbagai gejala mulai dari batuk, sesak, nafas pendek, tersengal-sengal, hingga nafas yang berbuyi “ngik-ngik” (Vitahealth, 2005). Prevalensi asma di dunia sangat bervariasi dan penelitian epidemiologi menunjukkan bahwa penyakit asma semakin meningkat terutama di negara maju. 1

(22) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2 Di Amerika, 14 sampai 15 juta orang mengidap asma, dan kurang lebih 4,5 juta di antaranya adalah anak-anak. Namun, penyakit asma ini dapat terjadi pada segala usia. Jika dilihat secara keseluruhan di dunia sekitar 300 juta manusia menderita asma dan diperkirakan akan terus meningkat hingga mencapai 400 juta pada tahun 2025. Satu dari 250 orang yang meninggal adalah penderita asma (Ratnawati, 2011). Menurut Survei Kesehatan Nasional tahun 2001 (cit., Ikawati, 2007), penyakit saluran napas merupakan penyakit yang menyebabkan kematian terbanyak kedua di Indonesia. Prevalensi asma di Indonesia belum diketahui secara pasti, namun hasil penelitian pada anak sekolah usia 13-14 tahun dengan menggunakan kuisioner ISAAC (International Study on Asthma and Allergy in Children) tahun 1995 prevalensi asma masih 2,1%, sedangkan pada tahun 2003 meningkat menjadi 5,2%. Hasil survei ini dilakukan di beberapa kota di Indonesia (Medan, Palembang, Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Malang dan Denpasar) menunjukkan prevalensi asma pada anak SD (Sekolah Dasar) usia 6-12 tahun berkisar 3,7%-6,4%, sedangkan pada anak SMP (Sekolah Menengah Pertama) di Jakarta Pusat sebesar 5,8% tahun 1995, di Jakarta Timur sebesar 8,6%. Berdasarkan gambaran distribusi penyakit asma tersebut, terlihat bahwa asma telah menjadi masalah kesehatan masyarakat yang perlu diperhatikan lebih serius (Depkes RI, 2009). Meskipun sarana pengobatan asma mudah diakses namun asma masih sering tidak terdiagnosis dan tidak diobati secara tepat. Hal ini berpotensi terjadinya DRPs yang akan berdampak merugikan dan menurunkan kualitas hidup

(23) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3 pasien. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, maka penting dilakukan penelitian yang mengidentifikasi DRPs pada pengobatan yang diterima penderita asma. Identifikasi DRPs meliputi: tidak perlu obat (unnecessary drug therapy), perlu obat (need for additional drug therapy), obat salah (wrong drug), dosis kurang (dosage too low), efek samping obat dan interaksi obat (adverse drug reaction) dan dosis berlebih (dosage too high). 1. Perumusan masalah Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut ini. a) Seperti apa karateristik pasien asma pediatri yang menjalani rawat inap di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Tahun 2013? b) Seperti apa pola penggunaan obat pada pasien yang menderita asma di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta? c) Seperti apa Drug Related Problem (DRPs) pada pengobatan pasien asma tersebut, yang meliputi: 1) Tidak perlu obat (Unnecessary drug therapy)? 2) Perlu obat (Need for additional drug therapy)? 3) Obat salah (Wrong drug)? 4) Dosis kurang (Dosage too low)? 5) Efek samping obat dan interaksi obat (Adverse drug reaction)? 6) Dosis berlebih (Dosage too high)?

(24) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4 d) Seperti apa outcome therapy pasien asma yang dirawat di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta? 2. Keaslian penelitian Berdasarkan hasil penelusuran pustaka yang dilakukan penulis, penelitian serupa sudah pernah dilakukan yaitu : a. Penelitian dengan judul “Pola Pengobatan Penyakit Asma Bronkial untuk Pasien Rawat Inap Di Rumah Sakit Umum Daerah Wonosari Selama Tahun 1998”. Dari hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa persentase kasus asma bronkial sebesar 93,65%; asma bronkial dengan komplikasi sebesar 6,34%; balita (0-5 tahun) sebesar 3,38%, anak-anak (5-12 tahun) sebesar 5,08%, dewasa (12-65 tahun) sebesar 77,96%, dan lansia (>65 tahun) sebesar 13,55%. Variasi jumlah obat yang diberikan berkisar 4-10 jenis, dengan rata-rata jumlah obat sebesar 6 jenis. Golongan obat yang digunakan pada kasus asma bronkial yaitu antibiotika sebesar 86,44%, obat batuk sebesar 66,10%, analgesikantipiretik sebesar 44,06%, rehidrasi sebesar 100%, kortikosteroid sebesar 77,96%, xantin sebesar 94,91%, vitamin sebesar 11,86%, antialergi sebesar 8,47% dan golongan obat lain sebesar 6,775. Cara pemberian obat oral 100% dan parenteral 100%. Rata-rata lama perawatan yang dibutuhkan yaitu 3 hari (Anitawati, 2001). b. Penelitian dengan judul “Pola Pengobatan Penyakit Asma Bronkial Pada Pasien Anak Rawat Inap Di Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta Periode 1999-2001”. Dari hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa

(25) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 5 pada tahun 1999 ditemukan 8 kasus asma bronkial, tahun 2000 ditemukan 17 kasus asma bronkial, tahun 2001 ditemukan 6 kasus asma bronkial. Variasi jumlah obat yang diberikan 4-8 obat. Dari keseluruhan kasus selama 3 tahun yaitu 1999-2001 golongan obat yang diberikan adalah bronkodilator (simpatomimetik 74,2% dan xantin 64,5%), kortikosteroid 58,1%, antibiotic 87,1%, antialergi 38,7%, obat batuk 58,1%, analgetik antipiretik 25,8%, rehidrasi 51,6%. Cara pemberian obat pada periode 1999-2001 secara oral 91,9%, parenteral 13,0% dan inhalasi 5,1% (Yusriana, 2002). c. Penelitian dengan judul “Kajian Profil Persepan Pasien Asma Bronkial Di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Umum Daerah Bangli-Bali Tahun 2005”. Dari hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa pada tahun 2005 terdapat 18 kasus asma bronkial. Distribusi umur pasien dibagi menjadi 4 kelompok umur yaitu balita (0-5tahun) sebesar 33,3%, anakanak (5
(26) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 6 digunakan antara lain secara oral 55,4%, parenteral 25% dan inhalasi 19,6% (Wibowo, 2007). d. Penelitian dengan judul “Evaluasi Drug Related Problem (DRPs) Pada Pasien Asma Bronkial Di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rini Yogyakarta bulan Januari-Desember 2009”. Dari penelitian tersebut membahas karateristik pasien asma bronkial, pola pengobatan dan enam aspek DRPs yang meliputi; tidak perlu obat (unnecessary drug therapy), perlu obat (need for additional drug therapy), obat salah (wrong drug), pasien mendapat dosis kurang (dosage too low), efek samping obat (adverse drug reaction), pasien mendapat dosis berlebih (dosage too high). Terdapat 32 kasus dengan persentase umur terbesar pada umur 12
(27) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 7 drug reaction), dosis berlebih (dosage too high), serta outcome therapy setelah menjalani pengobatan di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta. Subjek penelitian yang akan diambil adalah pasien asma pediatri (rentang umur 1-18 tahun, sesuai dengan standar di RSUP Dr. Sardjito), semua kasus asma diambil berdasarkan diagnosis asma baik non-kompilkasi dan komplikasi. 3. Manfaat penelitian a. Manfaat teoretis Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu sumber informasi tentang Drug Related Problems (DRPs) pada pengobatan asma dan menambah referensi pengetahuan kesehatan mengenai asma. b. Manfaat praktis Hasil penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan pelayanan pengobatan pada pasien asma pediatri di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta. B. Tujuan Penelitian 1. Tujuan umum Memberikan gambaran mengenai karateristik dan pola pengobatan pada pasien asma pediatri yang mengalami DRPs terkait penggunaan obat asma di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta tahun 2013. 2. Tujuan khusus a. Mengidentifikasi karateristik pasien asma pada pasien rawat inap di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Tahun 2013.

(28) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 8 b. Mengindentifikasi pola penggunaan obat pada pasien dalam pengobatan asma. c. Mengidentifikasi Drug Related Problem (DRPs) pada pasien asma di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta d. Mengidentifikasi outcome pasien asma yang dirawat di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta setelah mendapat terapi pengobatan.

(29) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB II PENELAAHAN PUSTAKA A. Asma 1. Definisi Asma adalah gangguan peradangan kronis dari saluran udara, yang menyebabkan hyperresponsive bronkus sehingga mudah terhambat dan aliran udara menyempit apabila terkena faktor resiko (GINA, 2012). Berdasarkan faktor pemicunya asma bronkial dibagi menjadi dua, yaitu: a. Asma alergik (extrinsic) di sebabkan oleh alergen (misalnya: serbuk sari, binatang, makanan dan jamur) b. Asma idiosinkratik (intrinsic) tidak berhubungan dengan alergen spesifik. Faktor-faktornya seperti common cold, infeksi traktus respiratorius, emosi dan polutan lingkungan (Brunner dan Suddarth, 2002). Gambar 1. Definisi asma (NIH, 2012) 9

(30) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 10 2. Epidemiologi Menurut Survei Kesehatan Nasional tahun 2001 (cit., Ikawati, 2007), penyakit saluran napas merupakan penyakit yang menyebabkan kematian terbanyak kedua di Indonesia (Ikawati, 2007). Prevalensi asma di Indonesia belum diketahui secara pasti, namun hasil penelitian pada anak sekolah usia 13-14 tahun dengan menggunakan kuisioner ISAAC (International Study on Asthma and Allergy in Children) tahun 1995 prevalensi asma masih 2,1%, sedangkan pada tahun 2003 meningkat menjadi 5,2%. Hasil survei ini dilakukan di beberapa kota di Indonesia (Medan, Palembang, Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Malang dan Denpasar) menunjukkan prevalensi asma pada anak SD (Sekolah Dasar) usia 6-12 tahun berkisar 3,7%-6,4%, sedangkan pada anak SMP (Sekolah Menengah Pertama) di Jakarta Pusat sebesar 5,8% tahun 1995, di Jakarta Timur sebesar 8,6%. Berdasarkan gambaran distribusi penyakit asma tersebut, terlihat bahwa asma telah menjadi masalah kesehatan masyarakat yang perlu diperhatikan lebih serius (Depkes RI, 2009). 3. Etiologi Asma biasanya sering terjadi pada anak-anak yang sangat erat kaitannya dengan adanya alergi. Kelompok dengan resiko terbesar terhadap perkembangan asma adalah anak-anak yang mengidap alergi dan memiliki keluarga dengan riwayat asma. Banyak faktor yang dapat meningkatkan keparahan asma seperti rhinitis yang tidak di obati atau sinusitis, gangguan refluks gastroesofagal,

(31) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 11 sensitivitas terhadap aspirin, pemaparan terhadap sulfit atau obat golongan beta bloker, influenza, faktor mekanik dan faktor psikis seperti stress (Ikawati, 2007). 4. Manifestasi klinik Penanda utama untuk mendiagnosis adanya asma adalah sebagai berikut: a. Mengi (wheezing) pada saat menghirup nafas, hal tersebut terjadi karena adanya kontraksi otot polos bersama dengan hipersekresi dan retensi mukus yang menyebabkan pengurangan kaliber saluran nafas dan turbulensi aliran udara yang berkepanjangan (McPhee, 2007). b. Riwayat batuk yang memburuk pada malam hari, dada sesak yang terjadi berulang dan nafas tersengal-sengal, batuk yang terjadi akibat kombinasi penyempitan saluran nafas, hiperskresi mukus, dan hiperresponsivitas aferen saraf yang dijumpai pada peradangan saluran nafas (McPhee, 2007). c. Hambatan pernafasan yang reversibel secara bervariasi selama siang hari. d. Adanya peningkatan gejala pada saat olahraga, infeksi virus, eksposur terhadap alergen dan perubahan musim. e. Terbangun malam-malam dengan gejala seperti di atas (Ikawati, 2007). 5. Faktor resiko Secara umum faktor resiko asma dipengaruhi oleh faktor genetik dan faktor lingkungan.

(32) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 12 a. Faktor genetik 1) Atopi/alergi Penderita asma dengan penyakit alergi biasanya mempunyai keluarga dekat yang juga alergi. Dengan adanya bakat alergi ini, maka penderita sangat mudah terkena penyakit asma jika terpejan dengan faktor pencetus. Berbagai alergen seperti bulu binatang, jamur, tungau, debu merupakan pemicu utama terjadinya asma akut pada anak-anak yang memiliki alergi. Hampir 80% dari anak-anak memilki alergi (Wolf, 2004). 2) Hipereaktivitas bronkus Saluran nafas sensitif terhadap berbagai rangsangan alergen maupun iritan. 3) Jenis kelamin Sebelum usia 14 tahun, prevalensi asma pada anak laki-laki adalah 1,5-2 kali dibandingkan dengan anak perempuan. Tetapi menjelang dewasa perbandingan tersebut lebih kurang sama dan pada masa menopause perempuan lebih banyak. 4) Ras/etnik 5) Obesitas Obesitas atau peningkatan Body Mass Index (BMI), merupakan faktor resiko asma. Mediator tertentu seperti leptin dapat mempengaruhi fungsi saluran nafas dan meningkatkan kemungkinan terjadinya asma. Meskipun mekanismenya belum jelas, namun penurunan berat badan

(33) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 13 penderita obesitas dengan asma dapat memperbaiki gejala fungsi paru, morbiditas dan status kesehatan. b. Faktor lingkungan 1) Alergen dalam rumah, seperti tungau debu rumah, jamur spora, kecoa, serpihan kulit binatang (anjing, kucing, dan lain-lain) 2) Alergen luar rumah, seperti serbuk sari, asap rokok dan polusi udara c. Faktor lain 1) Alergen makanan, contohnya susu, telur, udang, kepiting, ikan laut, kacang tanah, jeruk, bahan penyedap rasa, dan pewarna makanan 2) Alergen obat-obatan tertentu, contohnya penisilin, sefalosporin, golongan beta laktam lainnya, eritrosin, tetrasiklin, analgesik dan antipiretik 3) Bahan yang mengiritasi, contohnya parfum 4) Ekspresi emosi berlebih Stress/gangguan emosi dapat menjadi pencetus serangan asma, selain itu juga dapat memperberat serangan asma yang sudah ada. Di samping gejala asma yang timbul harus segera diobati, penderita asma yang mengalami stress/gangguan emosi perlu diberi nasihat untuk menyelesaikan masalah pribadinya. Karena jika stresnya belum diatasi, maka gejala asmanya lebih sulit diobati. 5) Asap rokok bagi perokok aktif maupun pasif 6) Polusi udara dari luar dan dalam ruangan 7) Status ekonomi (Rengganis, 2008).

(34) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 14 6. Patofisiologi Asma erat kaitannya dengan adanya peradangan saluran nafas yang dimediasi oleh berbagai subtipe sel, sehingga terjadi hyperresponsive pada saluran udara yang akan membatasi aliran udara. Terjadinya bronkokontriksi pada saluran nafas diikuti oleh edema saluran nafas dan produksi lendir yang berlebihan disertai dengan respon yang berlebihan terhadap rangsangan atau bronchus hyperresponsiveness (BHR) dan diikuti dengan airway remodeling (Hill and Wood, 2009). Gambar 2. Mekanisme terjadinya asma (Kelly and Sorkness, 2008)

(35) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 15 Penyakit asma melibatkan interaksi yang kompleks antara sel-sel inflamasi, mediator inflamasi dan jaringan pada saluran nafas. Sel-sel inflamasi utama yang berperan antara lain sel mast, limfosit dan eosinofil, sedangkan mediator inflamasi utama yang terlibat yaitu histamine, leukotrien, faktor kemotaktik eosinofil dan beberapa faktor sitokin yaitu interleukin(IL)-4, IL-5, dan IL-13 (Ikawati, 2007). Asma dapat terjadi melalui 2 jalur, yaitu jalur imunologis dan saraf otonom. Jalur imunologis didominasi oleh antibodi IgE, merupakan reaksi hipersensitivitas tipe I (tipe alergi), terdiri dari fase cepat dan fase lambat. Reaksi alergi timbul pada orang dengan kecenderungan untuk membentuk sejumlah antibodi IgE abnormal dalam jumlah besar, golongan ini disebut atopi. Pada asma alergi, antibodi IgE terutama melekat pada permukaan sel mast pada interstisial paru, yang berhubungan erat dengan bronkiolus dan bronkus kecil. Bila seseorang menghirup alergen, terjadi fase sensitisasi, antibodi IgE orang tersebut meningkat. Alergen kemudian berikatan dengan antibodi IgE yang melekat pada sel mast dan menyebabkan sel ini berdegranulasi mengeluarkan berbagai macam mediator. Beberapa mediator yang dikeluarkan adalah histamin, leukotrien, faktor kemotaktik eosinofil dan bradikinin. Hal itu akan menimbulkan efek edema lokal pada dinding bronkiolus kecil, sekresi mukus yang kental dalam lumen bronkiolus, dan spasme otot polos bronkiolus, sehingga menyebabkan inflamasi saluran napas. Pada reaksi alergi fase cepat, obstruksi saluran napas terjadi segera yaitu 10-15 menit setelah pajanan alergen. Spasme bronkus yang terjadi merupakan respons terhadap mediator sel mast terutama histamin yang bekerja

(36) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 16 langsung pada otot polos bronkus. Pada fase lambat, reaksi terjadi setelah 6-8 jam pajanan alergen dan bertahan selama 16-24 jam, bahkan kadang-kadang sampai beberapa minggu. Sel-sel inflamasi seperti eosinofil, sel T, sel mast dan Antigen Presenting Cell (APC) merupakan sel-sel kunci dalam patogenesis asma (Rengganis, 2008). Pada jalur saraf otonom, inhalasi alergen akan mengaktifkan sel mast intralumen, makrofag alveolar, nervus vagus dan juga epitel saluran napas. Peregangan vagal menyebabkan refleks bronkus, sedangkan mediator inflamasi yang dilepaskan oleh sel mast dan makrofag akan membuat epitel jalan napas lebih permeabel dan memudahkan alergen masuk ke dalam submukosa, sehingga meningkatkan reaksi yang terjadi. Kerusakan epitel bronkus oleh mediator yang dilepaskan pada beberapa keadaan reaksi asma dapat terjadi tanpa melibatkan sel mast misalnya pada hiperventilasi, inhalasi udara dingin, asap, kabut dan SO2. Pada keadaan tersebut reaksi asma terjadi melalui refleks saraf. Ujung saraf eferen vagal mukosa yang terangsang menyebabkan dilepasnya neuropeptid sensorik senyawa P, neurokinin A dan Calcitonin Gene-Related Peptide (CGRP). Neuropeptida itulah yang menyebabkan terjadinya bronkokonstriksi, edema bronkus, eksudasi plasma, hipersekresi lendir, dan aktivasi sel-sel inflamasi (Rengganis, 2008).

(37) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 17 Gambar 3. Patofisiologi asma (Kelly and Sorkness, 2008) 7. Diagnosis Diagnosis asma didasari oleh gejala yang bersifat episodik, gejala berupa batuk, sesak napas, mengi, rasa berat di dada dan variabiliti yang berkaitan dengan cuaca. Anamnesis yang baik cukup untuk menegakkan diagnosis, ditambah dengan pemeriksaan jasmani dan pengukuran faal paru terutama reversibiliti kelainan faal paru, akan lebih meningkatkan nilai diagnosis (Mangunnegoro, 2004). a. Faal Paru Umumnya penderita asma sulit menilai beratnya gejala (dispnea dan mengi) dan persepsi mengenai asmanya, sehingga dibutuhkan pemeriksaan objektif yaitu faal paru. Pengukuran faal paru digunakan untuk menilai obstruksi jalan napas, reversibiliti kelainan faal paru, variabiliti faal

(38) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 18 paru serta sebagai penilaian tidak langsung hiperesponsif jalan napas (Mangunnegoro, 2004). Banyak parameter dan metode untuk menilai faal paru, tetapi yang telah diterima secara luas (standar) dan mungkin dilakukan adalah pemeriksaan spirometri dan arus puncak ekspirasi (APE) (Mangunnegoro, 2004). 1) Spirometri Spirometri berfungsi untuk mengukur volume ekspirasi paksa detik pertama (VEP1) dan kapasiti vital paksa (KVP). Untuk mendapatkan nilai yang akurat, diambil nilai tertinggi dari 2-3 nilai yang di periksa. Sumbatan jalan napas diketahui dari nilai rasio VEP1/KVP < 75% atau VEP1 < 80% nilai prediksi. Selain itu juga dapat memeriksa reversibilitas ditandai dengan perbaikan VEP1≥15% secara spontan, atau setelah inhalasi bronkodilator (uji bronkodilator), atau setelah pemberian bronkodilator oral 10-14 hari, atau setelah pemberian kortikosteroid (inhalasi/ oral) 2 minggu. Reversibilitas ini dapat membantu diagnosis asma dan menilai derajat berat asma (Depkes RI, 2007). 2) Arus Puncak Ekspirasi (APE) Nilai APE dapat diperoleh melalui pemeriksaan spirometri atau pemeriksaan yang lebih sederhana yaitu dengan alat peak expiratory flow meter (PEF meter) Nilai APE dapat memeriksa reversibiliti yang ditandai dengan perbaikan nilai APE >15% setelah inhalasi bronkodilator (uji

(39) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 19 bronkodilator), atau bronkodilator oral 10-14 hari, atau setelah terapi kortikosteroid (inhalasi/ oral , 2 minggu). Variabilitas APE ini tergantung pada siklus diurnal (pagi dan malam yang berbeda nilainya) dan nilai normal variabilitas ini adalah <20% (Depkes RI, 2007). b. Uji Provokasi Bronkus Uji provokasi bronkus membantu menegakkan diagnosis asma. Pada penderita dengan gejala asma dan faal paru normal sebaiknya dilakukan uji provokasi bronkus. Pemeriksaan uji provokasi bronkus mempunyai sensitivitas yang tinggi tetapi tingkat spesifiknya rendah, artinya hasil negatif dapat menyingkirkan diagnosis asma persisten, tetapi hasil positif tidak selalu berarti bahwa penderita tersebut asma. Hasil positif dapat terjadi pada penyakit lain seperti rinitis alergik, berbagai gangguan dengan penyempitan jalan napas seperti PPOK, bronkiektasis dan fibrosis kistik (Mangunnegoro, 2004). c. Pengukuran Status Alergi Komponen alergi pada asma dapat diindentifikasi melalui pemeriksaan uji kulit atau pengukuran IgE spesifik serum. Uji tersebut mempunyai nilai kecil untuk mendiagnosis asma, tetapi membantu mengidentifikasi faktor risiko/pencetus sehingga dapat dilaksanakan kontrol lingkungan dalam penatalaksanaan. Uji kulit adalah cara utama untuk mendiagnosis status alergi/atopi, umumnya dilakukan dengan prick test. Walaupun uji kulit merupakan cara yang tepat untuk diagnosis atopi, tetapi juga dapat menghasilkan positif

(40) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 20 maupun negatif palsu. Sehingga konfirmasi terhadap pajanan alergen yang relevan dan hubungannya dengan gejala harus selalu dilakukan. Pengukuran IgE spesifik dilakukan pada keadaan uji kulit tidak dapat dilakukan (antara lain dermatitis/kelainan kulit pada lengan tempat uji kulit, dan lain-lain). Pemeriksaan kadar IgE total tidak mempunyai nilai dalam diagnosis alergi/ atopi (Mangunnegoro, 2004). 8. Klasifikasi Tabel I. Klasifikasi asma berdasarkan berat penyakit (Depkes RI, 2009) Derajat asma I. Intermiten II. Persisten Ringan III. Persisten Sedang IV. Persisten Berat Gejala Siang hari ≤ 2 kali per minggu Malam hari ≤ 2 kali per bulan Serangan singkat Tidak ada gejala antar serangan Intensitas serangan bervariasi Siang hari > 2 kali per minggu, tetapi < 1 kali per hari Malam hari > 2 kali per bulan Serangan dapat mempengaruhi aktifitas Siang hari ada gejala Malam hari > 1 kali per minggu Serangan mempengaruhi aktifitas Serangan ≥ 2 kali per minggu Serangan berlangsung berhari-hari Sehari-hari menggunakan inhalasi β2-agonis short acting Siang hari terus menerus ada gejala Setiap malam hari sering timbul gejala Aktifitas fisik terbatas Sering timbul serangan APE = arus puncak ekspirasi FEV1 = volume ekspirasi paksa dalam 1 detik Fungsi paru Variabilitas APE < 20% VEP1 ≥80% nilai prediksi APE ≥ 80% nilai terbaik Variabilitas APE 20-30% VEP1 ≥80% nilai prediksi APE ≥ 80% nilai terbaik Variabilitas APE > 30% VEP1 60-80% nilai prediksi APE 60-80% nilai terbaik Variabilitas APE > 30% VEP1 < 60% nilai prediksi APE ≤ 60% nilai terbaik

(41) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 21 9. Penatalaksanaan Terapi a. Terapi non-farmakologi Terapi non-farmakologi meliputi 2 komponen utama, yaitu edukasi pada pasien atau yang merawat mengenai beebagai hal tentang asma, dan kontrol terhadap faktor-faktor pemicu serangan asma. Untuk memastikan alergen pemicu serangan asma pada pasien maka direkomendasikan untuk mengetahui riwayat kesehatan pasien serta uji kulit (skin test). Pasien juga diberikan edukasi mengenai pathogenesis asma, bagaimana mengenal pemicu asmanya, mengenal tanda dan gejala asma, cara penggunaan obat yang tepat (Ikawati, 2007). b. Terapi farmakologi Terapi farmakologi merupakan salah satu bagian dari penanganan asma yang bertujuan mengurangi dampak penyakit dan mempertahankan kualitas hidup, yang dikenal dengan tujuan pengelolaan asma. Pemahaman bahwa asma bukan hanya suatu penyakit episodik tetapi asma adalah suatu penyakit kronik menyebabkan pergeseran penanganan dari pengobatan hanya untuk serangan akut menjadi pengobatan jangka panjang dengan tujuan mencegah serangan, mengontrol atau mengubah perjalanan penyakit (Mangunnegoro, 2004). Berdasarkan Global Innitiative for Asthma (2012), tatalaksana pengobatan asma dapat dilihat pada tabel II.

(42) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 22 Tabel II. Tatalaksana Pengobatan Asma Tahap 1 SABA Pilihan obat pengontrol*** Tahap 2 Tahap 3 Tahap 4 Tahap 5 SABA Pilih salah Pilih salah Ke tahap 3, Ke tahap 4, satu satu pilih salah satu pilih salah satu ICS dosis ICS dosis ICS dosis Glukokortiko rendah* rendah dan sedang atau steroid oral LABA tinggi dan dalam dosis LABA rendah Modifikator ICS dosis Modifikator Anti Ig-E leukotrien** sedang atau leukotrien tinggi Teofilin ICS dosis sustained rendah dan release modifikator leukotrien ICS dosis rendah dan teofilin sustained release Keterangan : *ICS = inhalasi glukokortikosteroid **= Antagonis reseptor atau inhibitor sintesis ***= Pengobatan yang direkomendasikan (kolom berwarna) Berdasarkan penggunaannya, obat asma terbagi menjadi 2 golongan yaitu pengobatan jangka panjang (long-term medication) untuk mengontrol gejala asma, dan pengobatan cepat (quick-relief medication) untuk mengatasi serangan asma akut. Beberapa obat yang digunakan untuk pengobatan dalam jangka panjang antara lain inhalasi steroid, β2 agonis aksi panjang (LABA), sodium kromoglikat atau kromolin, nedokromil, modifier leukotrin dan golongan metil ksantin. Sedangkan untuk pengobatan cepat, obat yang sering digunakan adalah suatu bronkodilator (β2 agonis aksi cepat atau SABA, antikolinergik, metilksantin), dan kortikosteroid oral (sistemik).

(43) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 23 Obat-obat asma dapat dijumpai dalam bentuk oral, larutan nebulizer, dan metered-dose inhaler (MDI) (Matfin dan Porth, 2009). 1) Agonis β2 Merupakan bronkodilator yang paling efektif. Stimulasi reseptor β2-adenergik mengaktivasi adenil siklase, yang menghasilkan peningkatan AMP siklik intraseluler. Hal ini menyebabkan relaksasi otot polos, stabilisasi membrane sel mast, dan stimulasi otot skelet. Albuterol dan inhalasi agonis β2 selektif aksi pendek lain diindikasikan untuk penaganan episode bronkospasmus irregular dan merupakan pilihan pertama dalam penanganan asma akut. Karena agonis β2 inhaler aksi pendek maka tidak meningkatkan kontrol pada gejala jangka panjang, pemakaiannya dapat digunakan sebagai ukuran kontrol asma (Sukandar, Andrajati, Sigit, Adnyana, Setiadi dan Kusnandar, 2008). Agonis β2 ini dibagi menjadi 2, yaitu : a) Short-acting beta2-agonists (SABAs) Obat-obat yang termasuk kelas ini meliputi albuterol (proventil, ventolin), levalbuterol, (R)-enantiomer albuterol (xopenex), metaproterenol (alupent), terbutalin (brethaire) dan pirbuterol (maxair). Obat-obat ini digunakan untuk pengobatan inhalasi akut pada bronkospasme. Terbutalin (brethine, bricanyl), albuterol, dan meraproterenol juga tersedia dalam bentuk sediaan oral. Setiap obat inhalasi ini mempunyai onset sekitar 1-5 menit dan

(44) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 24 menyebabkan bronkodilatasi selama 2-6 jam (Bruton, Parker, Blumenthal and Buxton, 2008). b) Long-acting beta2-agonists (LABAs) Salmeterol xinafoat (severent) dan formoterol (foradil) adalah senyawa adrenergik kerja panjang dan selektivitasnya sangat tinggi terhadap subtipe reseptor β2, bronkodiltasi berlangsung lebih dari 12 jam. Mekanisme yang mendasari perpanjangan durasi kerja salmeterol berhubungan dengan sifat lipofiliknya yang tinggi. Setelah terikat dengan reseptor, agonis kerja pendek yang bersifat kurang lipofilik akan berpindah secara cepat dari lingkungan reseptor melalui difusi dalam fase cair, sedangkan salmeterol tetap berada dalam membrane dan hanya terurai secara lambat dari lingkungan reseptornya (Bruton et al., 2008). 2) Kortikosteroid Obat-obat kortikosteroid ini dapat menurunkan jumlah dan aktivitas sel yang terinflamasi dan meningkatkan efek obat beta adrenergik dengan memproduksi AMP siklik, inhibisi mekanisme bronkokonstriktor, atau merelaksasi otot polos secara langsung (Depkes RI, 2007). Kortikosteroid sistemik diindikasikan untuk pasien dengan asma akut yang tidak berespon dengan terapi awal menggunakan β2-agonis. Obat-obat ini merupakan adrenokortikal steroid sintetik dengan cara

(45) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 25 kerja dan efek yang sama dengan glukokortikoid. Glukokortikoid dapat menurunkan jumlah dan aktivitas dari sel yang terinflamasi dan meningkatkan efek obat beta adrenergik dengan memproduksi AMP siklik, inhibisi mekanisme bronkokonstriktor, atau merelaksasi otot polos secara langsung. Contoh obatnya: deksametason, metilprednisolon, prednisolon (Kelly and Sorkness, 2008). Kortikosteroid Inhalasi (ICS) hingga saat ini masih merupakan obat yang paling efektif untuk penatalaksanaan asma dan diindikasikan untuk pencegahan jangka panjang dan pengontrolan gejala asma. Steroid Inhalasi sangat lipofilik dan masuk secara cepat ke sel target di saluran nafas dan berikatan dengan reseptor glukokortikoid di sitosol (Ikawati, 2007). Keuntungan kortikosteroid inhalasi dibandingkan dengan yang oral adalah efek lokalnya langsung tanpa diserap kedalam darah. Dengan demikian, tidak menimbulkan efek samping sistemis yang serius seperti; osteoporosis, tukak, pendarahan dilambung, gipertensi dan diabetes (Tjay dan Rahardja, 2007). 3) Antikolinergik (Ipratropium bromida) Ipratropium bromida adalah suatu senyawa amina kuertener yang sulit diabsorpsi sehingga tidak banyak memberikan efek sistemik. Ipratropium bromida merupakan bronkodilator antikolinergik yang dapat mengurangi bronkokontriksi, hipersekresi lendir dan melawan batuk

(46) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 26 yang disebabkan oleh iritan dengan mengikat asetilkolin pada reseptor muskarinik di otot polos bronkus (Marcdante, Kliegman, Jenson, Behrman, 2011). Penggunaan antikolinergik inhalasi seperti ipratropium bromida umumnya menghasilkan perbaikan pada fungsi paru 10-15% dibandingkan dengan jika menggunakan β agonis saja (Ikawati, 2007). Mekanisme kerjanya yaitu memblok efek pelepasan asetilkolin dari saraf kolinergik pada jalan nafas dan menghambat reflek bronkokontriksi yang disebabkan oleh iritan (Mangunnegoro, 2004). 4) Metilxantin Mekanisme kerja dari metilxantin (teofilin, garamnya yang mudah larut dan turunannya) akan merelaksasi secara langsung otot polos bronki dan pembuluh darah pulmonal, merangsang sistem saraf pusat, menginduksi diuresis, meningkatkan sekresi asam lambung (Depkes RI, 2007). Teofilin merupakan metilxantin yang utama, menghasilkan bronkodilatasi dengan menginhibisi fosfodiesterase yang juga dapat menghasilkan antiinflamasi melalui inhibisi pelepasan mediator sel mast, penurunan pelepasan protein dasar eosinofil, penurunan poliferasi limfosit T, penurunan pelepasan sitokin sel T dan penurunan eksudasi plasma. Teofilin juga menginhibisi permeabilitas vaskuler, meningkatkan klirens mukosiliar, dan memperkuat kontraksi diafragma. Metilxantin tidak efektif dalam bentuk aerosol dan harus diberikan secara sistemik

(47) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 27 (p.o atau i.v). Rentang steady state 5-15 mcg/mL efektif dan aman untuk kebanyakan pasien (Kelly and Sorkness, 2008). 5) Obat anti alergi (Kromolin Natrium dan Nedokromil Natrium) Kromolin Natrium dan Nedokromil Natrium mempunyai efek menguntungkan yang merupakan hasil dari stabilisasi membrane sel mast, mengihinbisi respon terhadap paparan alergen dan bronkospasme yang diinduksi tetapi tidak menyebakan bronkodilatasi. Kromolin Natrium dan Nedokromil Natrium diindikasikan untuk profilaksis asma persisten ringan pada anak dan dewasa tanpa melihat etiologinya. Kromolin merupakan obat pilihan kedua untuk pencegahan bronkospasme yang diinduksi latihan fisik dan dapat digunakan bersama agonis β2 dalam kasus yang lebih parah namun tidak berespon pada tiap zat masing-masing. Kromolin Natrium dan Nedokromil Natrium hanya efektif jika dihirup dan tersedia sebagai obat inhalasi dosis terukur. Pasien pada awalnya menerima Kromolin Natrium atau Nedokromil Natrium 4x sehari, setelah stabilisasi gejala frekuensi dapat diturunkan hingga 2x sehari untuk nedokromil dan 3x sehari untuk kromolin (Kelly and Sorkness, 2008). 6) Modifikator Leukotrein Zafirlukas dan montelukas merupakan antagonis reseptor leukotrien lokal yang mengurangi proinflamasi (peningkatan

(48) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 28 permeabilitas mikrovaskular dan edema jalur udara) dan efek bronkokonstriksi leukotrien D4 (Sukandar dkk., 2008). 7) Omalizumab (Anti IgE) Omalizumab merupakan antibodi monoklanal manusia rekombinan dari subkelas IgG1k, yang di targetkan untuk melawan IgE. IgE yang terikat dengan omalizumab tidak dapat berikatan dengan reseptor pada sel mast dan basofil, sehingga mencegah reaksi alergi pada tahap proses yang sangat awal (Bruton et al.,2008). Obat ini hanya diindikasikan untuk pasien atopik bergantung kortikosteroid yang memerlukan kortikosteroid dosis tinggi dengan berlanjutnya gejala dan kadar IgE tinggi (Kelly and Sorkness, 2008). B. Drug Related Problems (DRPs) Drug Related Problems (DRPs) adalah suatu kejadian atau efek yang tidak diharapkan oleh pasien dalam proses terapi dengan obat dan secara aktual atau potensial terjadi bersamaan dengan outcome yang diharapkan (Cipolle, Strand and Morley, 2004). Kategori pemasalahan dalam Drug Related Problems (DRPs) menurut Cipolle, Strand dan Morley (2004), yaitu:

(49) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 29 1. Tidak perlu obat (unnecessary drug therapy) Pasien akan mengalami komplikasi akibat mendapat obat yang tidak diperlukan, pasien diberikan obat yang tidak sesuai dengan indikasi, pasien melakukan terapi obat yang berlebih dari yang dianjurkan, pasien mendapatkan pemberian obat kombinasi yang seharusnya cukup dengan satu obat saja dan pasien meminum obat untuk mencegah efek samping obat lain yang dapat dihindarkan. 2. Perlu obat (need for additional drug therapy) Pasien dalam kondisi kronik sehingga membutuhkan terapi obat lanjutan, pasien dalam kondisi pengobatan baru maka membutuhkan terapi obat yang sesuai pada saat itu, pasien membutuhkan obat untuk mencegah terjadinya resiko efek samping dan pasien dalam kondisi membutuhkan kombinasi farmakoterapi untuk mencapai efek yang diharapkan. 3. Obat salah (wrong drug) Obat yang diberikan kepada pasien tidak efektif dengan indikasi pengobatan, obat tersebut mempunyai kontraindikasi dengan obat lain yang dibutuhkan, pasien alergi terhadap pengobatan dan pemakaian obat infeksi yang sudah resisten.

(50) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 30 4. Dosis kurang (dosage too low) Dosis terapi yang diberikan kepada pasien terlalu rendah untuk mencapai efek terapetik dan durasi pemberian obat terlalu pendek untuk menghasilkan respon yang diinginkan. 5. Efek samping obat dan interaksi obat (adverse drug reaction) Obat yang diberikan menimbulkan efek yang tidak diharapkan, obat yang diberikan menimbulkan reaksi alergi, hasil laboratorium pasien berubah akibat penggunaan obat dan adanya interaksi dengan obat lain. 6. Dosis berlebih (dosage too high) Dosis terapi yang diberikan kepada pasien terlalu tinggi untuk mencapai efek terapetik, frekuensi pemberian obat yang terlalu pendek, dan konsentrasi obat dalam serum diatas jarak terpeutik yang diinginkan. 7. Ketidaktaatan pasien (noncompliance) Pasien lupa meminum obat, pasien tidak menerima regimen obat yang tepat, terjadinya medication error (peresepan, penyerahan obat dan monitoring pasien), pasien tidak menggunakan obat karena ketidakpercayaan dengan produk obat yang telah dianjurkan, pasien tidak menggunakan obat karena pasien tidak mengetahui cara pemakaian obat tersebut, pasien membeli obat yang disarankan karena mahal (Cipolle et al., 2004).

(51) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 31 C. Keterangan Empiris Penelitian ini diharapkan memberikan gambaran tentang Drug Related Problems (DRPs) pada pengobatan pasien asma, meliputi: tidak perlu obat (unnecessary drug therapy), perlu obat (need for additional drug therapy), obat salah (wrong drug), pasien mendapat dosis kurang (dosage too low), efek samping obat (adverse drug reaction) dan pasien mendapat dosis berlebih (dosage too high).

(52) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Rancangan Penelitian Jenis penelitian ini merupakan non eksperimental atau observasional deskriptif. Disebut non ekpserimental atau observasional karena tidak adanya perlakuan terhadap subyek penelitian (Kontour, 2003). Disebut deskriptif karena tidak adanya kontrol yang digunakan dalam penelitian dan penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai masalah kesehatan (Budiarto, 2002). Rancangan penelitian ini adalah cross-sectional, yang berarti proses pengambilan data dillakukan dalam satu kali waktu. Data yang digunakan bersifat retrospektif karena peneliti menggunakan data pada masa lalu yang diambil dari lembar rekam medis (Lapau, 2012). Penelitian ini menggunakan data secara retrospektif dengan melihat lembar rekam medis pasien asma pediatri di instalasi inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta. B. Variabel dan Definisi Operasional 1. Pola penggunaan obat pada pasien asma, meliputi: kelas terapi, golongan obat, banyaknya kasus yang menggunakan obat tersebut. a) Kelas terapi adalah kelompok obat berdasarkan fungsinya. b) Golongan obat adalah kelompok obat yang memiliki mekanisme yang sama. 32

(53) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 33 c) Banyaknya kasus yang menggunakan obat tersebut adalah jumlah kasus yang mendapat terapi pengobatan pada obat tertentu. 2. Penggolongan obat didasarkan pada Standar Pelayanan Medis di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta. 3. Evaluasi Drug Related Problems (DRPs) yang akan dibahas pada penelitian ini adalah mengenai obat-obat untuk asma, yang meliputi; tidak perlu obat (unnecessary drug therapy), perlu obat (need for additional drug therapy), obat salah (wrong drug), dosis kurang (dosage too low), efek samping obat dan interaksi obat (adverse drug reaction) dan dosis berlebih (dosage too high). a) Tidak perlu obat (unnecessary drug therapy) adalah pasien mendapatkan obat yang tidak sesuai dengan indikasi penyakit yang di derita. b) Perlu obat (need for additional drug therapy) adalah pasien yang membutuhkan terapi kombinasi atau penambahan obat agar mencapai efek terapetik yang diinginkan. c) Obat salah (wrong drug) adalah pasien menerima obat yang tidak efektif untuk indikasi pengobatan sehingga dapat menyebabkan komplikasi. d) Dosis kurang (dosage too low) adalah pasien mendapat dosis yang terlalu rendah untuk mencapai respon pasien sehingga pemberian obat menjadi kurang efektif. e) Efek samping obat dan interaksi obat (adverse drug reaction) adalah pasien mengalami efek samping obat yang diberikan, misalnya: kemerahan

(54) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 34 pada kulit, gatal-gatal, dan lain-lain serta adanya interaksi dengan obat lain yang diberikan. f) Dosis berlebih (dosage too high) adalah pasien mendapat dosis yang terlalu tinggi sehingga dapat menyebabkan over dosis. 4. Data outcome therapy akan didapatkan berdasarkan pernyataan dokter yang dinyatakan secara tertulis di lembar rekam medis (RM). 5. Pediatri merupakan pasien dengan usia 1-18 tahun (sesuai dengan standar di RSUP Dr. Sardjito). 6. Lembar rekam medis merupakan lembar catatan medis dari pasien yang berisi nomor rekam medis, umur, jenis kelamin, diagnosis masuk, diagnosis keluar, diagnosis lain, lama perawatan, jenis obat yang digunakan, dosis, frekuensi pemberian, interval pemberian, dan tes-tes penunjang seperti tes laboratorium. 7. Data pasien yang diambil adalah data pasien pada tahun 2013. C. Subjek Penelitian Subjek penelitian yaitu semua pasien asma pediatri rawat inap di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta tahun 2013. Kriteria inklusi pada penelitian ini adalah pasien pediatri dengan diagnosis utama asma yang menjalani rawat inap di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta tahun 2013. Kriteria ekslusi yang diberlakukan yaitu rekam medis yang tidak dapat dikonfirmasi dan tidak lengkap. Pemilihan subjek penelitian dipilih sesuai dengan kriteria inklusi yang telah ditetapkan. Terdapat 46 populasi kasus asma pediatri di RSUP Dr. Sardjito

(55) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 35 Yogyakarta tahun 2013 yang meliputi 21 kasus diantaranya termasuk dalam kriteria eksklusi karena data berupa rekam medis tidak ditemukan dan 25 kasus termasuk dalam kriteria inklusi. Selanjutnya dari 25 kasus tersebut terdapat 5 kasus yang dieksklusikan karena rekam medis tidak lengkap sehingga diperoleh jumlah subjek dalam penelitian ini sebanyak 20 kasus. 46 populasi kasus asma pediatri Eksklusi 21 kasus (RM tidak ditemukan) Subjek penelitian 20 kasus Inklusi 25 kasus Eksklusi 5 kasus (RM tidak lengkap) Gambar 4. Skema Pemilihan Subjek Penelitian di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Tahun 2013 Penelitian ini juga melibatkan dokter yang menangani pasien subjek penelitian yang dilakukan dengan wawancara. Hasil wawancara tersebut digunakan untuk melengkapi pembahasan pada hasil evaluasi DRPs. Hasil wawancara yang telah dilakukan dapat dilihat pada lampiran 3.

(56) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 36 D. Bahan Penelitian Bahan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah catatan rekam medis pasien pediatri yang memenuhi kriteria inklusi seperti tersebut di atas. Rekam medis pasien berisi nomor rekam medis, umur, jenis kelamin, berat badan, diagnosis utama, diagnosis sekunder, keluhan, lama perawatan, riwayat penyakit, keadaan pulang, jenis obat yang digunakan, dosis, frekuensi pemberian, interval pemberian, dan tes-tes penunjang seperti tes laboratorium. E. Lokasi dan Waktu Penelitian Pengambilan data dilakukan di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta yang beralamat di Jl. Kesehatan No. 1, Sekip, Yogyakarta. Proses pengambilan data rekam medis pasien dilakukan di ruang Instalasi Catatan Medis (ICM). Penelitian dilakukan pada bulan Januari-April 2014. F. Tata Cara Penelitian 1. Observasi awal Observasi awal dilakukan dengan mencari informasi yang terkait dengan topik penelitian ini, yaitu : a) Informasi tentang rata-rata jumlah kasus asma di instalasi rawat inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta. Informasi tersebut digunakan untuk menentukan lamanya periode pengambilan data untuk penelitian ini yang berkaitan dengan perkiraan jumlah kasus yang akan dievaluasi.

(57) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 37 b) Informasi terkait dengan tata cara perijinan dan tata cara pengambilan data yang akan digunakan dalam penelitian ini. 2. Analisis situasi Analisis situasi ini dilakukan dengan cara mencari data rekam medis pasien pediatri yang terdiagnosis asma baik non-komplikasi dan komplikasi di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Tahun 2013. 3. Permohonan ijin Permohonan ijin penelitian dilakukan dengan mengajukan Ethical Clereance (lampiran 4) ke Komisi Etik Penelitian Kedokteran dan Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada Yogyakarta. Permohonan ijin (lampiran 5) ini dilakukan untuk memenuhi etika penelitian dengan catatan rekam medis. Permohonan ijin selanjutnya ditujukan kepada Direktur SDM dan Pendidikan RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta. 4. Pengambilan data Data diambil dari lembar rekam medis pada analisis situasi dipilih sesuai dengan kriteria inklusi dan kriteria eksklusi yang telah ditetapkan. Diperoleh dari banyaknya populasi dalam penelitian ini adalah 46 kasus. Kemudian data yang dikumpulkan meliputi indentitas pasien, riwayat pengobatan, riwayat penyakit, keluhan, diagnosis utama, diagnosis sekunder,

(58) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 38 anamnesis data laboratorium, terapi yang diberikan, catatan keperawatan dan kondisi pasien ketika keluar dari rumah sakit. 5. Pengolahan data dan analisis hasil Pengolahan data dilakukan secara deskriptif dan evaluatif. a. Pengolahan data dilakukan secara deskriptif dengan memberikan gambaran mengenai karateristik subjek penelitian, pola penggunaan obat pada pasien dan outcome therapy pasien setelah mendapatkan terapi. Rinciannya sebagai berikut: 1) Karateristik pasien Karateristik pasien dikelompokkan berdasarkan distribusi umur dan jenis kelamin dalam bentuk persentasi. 2) Pola penggunaan obat pada pasien asma pediatri Pola penggunaan obat pasien diidentikasi dengan mengelompokkan obat-obatan yang digunakan selama proses terapi berdasarkan kelas terapinya, kemudian dihitung nilai presentasenya. 3) Outcome therapy pasien Data outcome therapy pasien dapat diidentifikasi dengan melihat status pulang pasien yang tercatat di rekam medis, data tersebut dikelompokkan menjadi 3, yaitu sembuh, membaik (rawat jalan) dan APS (Pulang Paksa) dalam bentuk persentasi. b. Pengolahan data dilakukan secara evaluatif dengan cara mengevaluasi DRPs pada pasien asma pediatri di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Tahun

(59) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 39 2013. Drug Related Problems (DRPs) yang akan dievaluasi meliputi; tidak perlu obat (unnecessary drug therapy), perlu obat (need for additional drug therapy), obat salah (wrong drug), pasien mendapat dosis kurang (dosage too low), efek samping obat dan interaksi obat (adverse drug reaction) dan pasien mendapat dosis berlebih (dosage too high). Kepatuhan pasien tidak diamati dalam penelitian ini karena penelitian ini bersifat retrospektif. Dokumentasi data dengan menggunakan sarana SOAP (Subjective, Objective, Assesment, Plan/Recommendation) kemudian dibandingkan dengan standar pelayanan medis di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta dan pustaka yang sesuai, seperti DIH (Drug Information Handbook), Medscape Drug Interaction Checker serta penunjang lainnya seperti Stockley’s Drug Interaction, 8thed. tahun 2008, dan jurnal terkait. Kemudian menghitung jumlah kasus yang terjadi DRPs dan dikelompokkan berdasarkan jenis DRPs c. Wawancara dengan dokter yang bersangkutan dimaksudkan untuk melengkapi pembahasan mengenai hasil evaluasi Drug Related Problems (DRPs). Hasil tersebut didapat melalui panduan pertanyaan yang didapatkan setelah mengevaluasi data rekam medis yang telah dianalisis berupa penatalaksanaan terapi pada pasien asma pediatri.

(60) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 40 6. Kerahasian data pasien Seluruh data pasien yang akan di ambil oleh peneliti yang berupa rekam medis akan digunakan sebagai bahan penelitian, mengenai hal tersebut seluruh data pasien akan dijaga kerahasiaanya sesuai dengan etika dan peraturan yang berlaku. G. Keterbatasan Penelitian Penelitian ini menggunakan data retrospektif memiliki beberapa kelemahan bila dibandingkan dengan data prospektif. Apabila menggunakan data yang bersifat prospektif maka pada proses penelitian dapat mengamati lebih lanjut mengenai perkembangan kondisi pasien yang sebenarnya berkaitan dengan analisis Drug Related Problems (DRPs) seperti kepatuhan pasien terhadap regimen terapi dan mempermudah dalam proses evaluasi. Oleh sebab itu, penelitian ini hanya mencakup 6 aspek DRPs karena aspek kepatuhan tidak dapat dilakukan. Penelitian ini tidak mengevaluasi DRPs dari keseluruhan penggunaan obat yang diberikan kepada pasien sebab evaluasi difokuskan pada obat asma disesuaikan dengan kondisi pasien jadi evaluasi tidak melihat keseluruhan peresepan obat yang diberikan pada pasien. Keterbatasan data retropektif lainnya peneliti hanya menulis data pada lembar rekam medis saja tanpa dilakukan konfirmasi lebih lanjut dengan perawat yang menulis pada lembar rekam medis. Keterbatasan lainnya yaitu kesulitan dalam membaca rekam medis yang dikarenakan tulisan yang kurang jelas, penggunaan bahasa daerah dalam

(61) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 41 penulisan catatan keperawatan yang bermacam-macam dan juga rekam medis yang tidak secara lengkap mencantumkan informasi yang dibutuhkan dalam penelitian seperti pemeriksaan tanda vital, keluhan pasien dan hasil laboratorium dikarenakan peneliti mengalami kesulitan dalam mengakses hasil laboratorium untuk beberapa lembar rekam medis dan data tidak dapat dikonfirmasikan lebih lanjut sehingga peneliti hanya dapat menuliskan data laboratorium berdasarkan yang dituliskan oleh perawat saat pasien menjalani rawat inap.

(62) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian yang berjudul “Evaluasi Drug Related Problems (DRPs) pada Pasien Asma Pediatri Rawat Inap (Studi Kasus di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Tahun 2013)” dilakukan dengan cara menelusuri data dari rekam medis pasien yang terdiagnosis asma baik non-komplikasi maupun komplikasi pada golongan pediatri (1-18 tahun). Berdasarkan data rekam medis pasien diperoleh 20 kasus sebagai bahan penelitian yang memenuhi kriteria inklusi dari penelitian ini; antara lain jenis kelamin, umur, diagnosis utama, diagnosis sekunder, lama perawatan, data yang relevan dan penggunaan obat asma. A. Karateristik Pasien 1. Distribusi pasien berdasarkan umur Pada distribusi pasien berdasarkan umur ini dibagi menjadi 3 bagian yaitu 1-4 tahun, 5-11 tahun dan 12-18 tahun (Kelly and Sorkness, 2008). Dari 18 pasien yang diperoleh dapat diketahui bahwa didapatkan persentase terbesar pada kelompok umur 1-4 tahun yaitu 8 pasien dengan persentase sebesar 45%. Hasil tersebut dapat digambarkan dari diagram di bawah ini. 42

(63) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 1-4 tahun 5-11 tahun 43 12-18 tahun 11% 45% 44% Gambar 5. Persentase Distribusi Pasien Asma Pediatri dii RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Tahun 2013 Berdasarkan Umur 2. Distribusi pasien berdasarkan jenis kelamin Diperoleh peroleh jumlah pasien asma pediatri yang berjenis kelamin perempuan n lebih banyak yaitu sebanyak 10 pasien sedangkan yang berjenis kelamin laki-laki laki hanya 8 pasien dari 18 pasien yang telah dievaluasi. Persentase entase distribusi pasien berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat pada diagram di bawah ini. laki-laki 44% perempuan 56% Gambar 6. Persentase D Distribusi Pasien Asma Pediatri dii RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Tahun 2013 Berdasarkan Jenis Kelamin

(64) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 44 3. Diagnosis kasus Pada penelitian ini data rekam medis yang diambil adalah data rekam medis pasien asma pediatri (1-18 tahun) yang menjalani rawat inap di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Tahun 2013. Setelah dilakukan evaluasi rekam medik, maka diperoleh jumlah kasus pasien asma pediatri pada tahun 2013 sebanyak 20 kasus dari 18 pasien. Dari data yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa kasus yang terdiagnosis asma komplikasi sebanyak 19 kasus dan kasus yang terdiagnosis asma non-komplikasi hanya 1 kasus. Asma komplikasi Asma non-komplikasi 5% 95% Gambar 7. Karateristik Kasus Asma Pediatri Berdasarkan Diagnosisnya B. Pola Penggunaan Obat Pola penggunaan obat pada pasien asma pediatri di RSUP Dr. Sardjito merupakan gambaran terapi pengobatan yang telah diberikan kepada pasien meliputi banyaknya obat, bentuk sediaan, golongan obat, dosis, frekuensi. Obat-

(65) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 45 obatan asma yang digunakan dibagi menjadi 8 kelas terapi berdasarkan Standar Pelayanan Medis RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta. Tabel III. Distribusi Kelas Terapi Obat Yang Digunakan Pada Pasien Asma Pediatri Di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Tahun 2013 No Kelas Terapi Jumlah Kasus (n=20) 20 Persentase (%) 1 Obat yang bekerja pada sistem pernafasan 100 2 Obat-obat hormonal 19 95 3 4 5 6 7 Obat anti-infeksi Pemberian O2 Obat yang mempengaruhi gizi dan darah Obat yang bekerja sebagai analgesik Obat yang bekerja pada sistem saluran cerna 12 7 2 2 1 60 35 10 10 5 8 Obat yang bekerja pada sistem saraf pusat 1 5 Dari tabel di atas dapat disimpulkan bahwa obat yang bekerja pada sistem pernafasan mendapat peringkat pertama dengan persentase 100% yang artinya semua pasien asma pediatri di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta diberikan terapi obat-obatan yang berkerja pada sistem pernafasan yang berfungsi untuk meredakan dan mengendalikan gejala asma karena terapi tersebut merupakan terapi utama bagi pasien asma. Obat-obatan hormonal memiliki peringkat yang kedua yaitu sebesar 95%. Macam obat-obatan hormonal yang digunakan dalam terapi ini adalah golongan kortikosteroid antara lain metilprednisolon, triamsinolon dan deksametason. Golongan kortikosteroid digunakan sebagai anti-inflamasi. Obat golongan kortikosteroid ini berfungsi untuk meningkatkan efek obat beta adrenergik dengan memproduksi AMP siklik serta merelaksasi otot polos secara langsung sehingga dapat mengurangi gejala asma dan frekuensi terjadinya serangan asma (Depkes RI, 2007).

(66) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 46 1. Obat yang bekerja pada sistem pernafasan Pada terapi asma yang dilakukan pada pasien asma yang telah menjalani rawat inap di RSUP Dr. Sardjito ini banyak digunakan preparat asma dengan cara pemberian nebulizer. Pemberian nebulizer ini digunakan pada sediaan Ventolin® dengan zat aktif Salbutamol dan Combivent® dengan zat aktif Ipratropium bromide. Penggunaan nebulizer ini memiliki beberapa keuntungan antara lain toleransi pasien terhadap inhalasi lebih baik dibandingkan dengan injeksi, meminimalkan efek samping (takikardia, muntah), keamanan terapi lebih luas dan dosis yang diberikan langsung pada jalan nafas (Depkes RI, 2005). Tabel IV berisi obat-obatan yang bekerja pada sistem pernafasan yang merupakan terapi utama bagi penderita asma. Dari tabel tersebut golongan obat anti asma paling banyak digunakan dalam penatalaksanaan terapi pada pasien pediatri di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta pada tahun 2013 yaitu sebesar 97,7% dari golongan tersebut terbagi menjadi beberapa kelompok yaitu teofilin, stimulan adrenoreseptor, bronkodilator muskarinik dan antihistamin. Zat aktif salbutamol mempunyai peran sebagai stimulan adrenoreseptor β-2 selektif yang termasuk golongan Short Acting Beta2-Agonist (SABA). Mekanisme kerjanya adalah merelaksasi otot polos saluran pernafasan serta memodulasi pelepasan mediator dari sel mast. Penggunaan terapi ini dilakukan pada serangan akut yang dapat disebut sebagai obat pereda/mengurangi gejala serangan asma bagi penderita asma.

(67) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 47 Pada golongan anti-asma terdapat kelompok anti-histamin dengan zat aktif ketotifen hidrogen fumarat yang berfungsi untuk mengatasi alergi dengan cara menghambat pelepasan mediator-mediator histamine oleh sel mast pada saluran pernafasan sehingga bronkus tidak mengalami kontriksi (Tjay, 2007). Golongan obat saluran pernafasan pada kelompok dekongestan hidung sistemik dengan zat aktif pseudoefedrin kombinasi. Obat ini digunakan dalam penatalaksanaan asma yang berfungsi untuk mengatasi flu karena alergi pada saluran nafas atas (MIMS, 2009). Penatalaksanaan asma di RSUP Dr. Sardjito tidak diberikan obat mukolitik dan antitusif karena apabila batuk atau dahak yang keluar sekiranya tidak mengganggu pasien maka tidak perlu diberikan. Menurut Global Innitiative for Asthma (2012), pemberian mukolitik tidak disarankan juga karena dapat memperparah batuk yang di derita pasien. Tabel IV. Pengelompokan Obat yang Bekerja pada Sistem Pernafasan yang Digunakan sebagai Terapi Pasien Asma Pediatri di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Tahun 2013 Golongan Kelompok Teofilin Anti Asma (97,7%) Stimulan adrenoreseptor Bronkodilator muskarinik Antihistamin Dekongestan Zat aktif Aminofilin Teofilin Salbutamol Salmeterol Ipratropium bromida Procaterol HCl Ketotifen hidrogen fumarat Pseudoefedrin kombinasi Jumlah kasus 4 1 5 16 1 Persentase (%) 9,1 2,3 11,3 36,4 2,3 Combivent® 13 29,5 Ataroc® 2 4,5 Profilas® 1 2,3 Tremenza® 1 2,3 44 100 Jenis obat Aminofilin Teofilin Salbutamol Ventolin® Seretide® Total

(68) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 48 2. Obat-obat hormonal Dari tabel V, penggunaan obat hormonal golongan kortikosteroid yang paling banyak digunakan adalah kelompok anti inflamasi sistemik dengan zat aktif metilprednisolon sebanyak 18 kasus (85,7%). Penggunaan kortikosteroid sistemik direkomendasikan untuk menangani pasien dengan asma parah akut yang tidak merespon pada pemberian agonis β2 inhaler secara agresif (setiap 20 menit untuk 3 atau 4 dosis). Sedangkan penggunaan kortikosteroid inhalasi merupakan terapi kontrol jangka panjang yang paling efektif untuk asma persisten (tanpa memperhatikan tingkat keparahan) dan merupakan satu-satunya terapi yang menunjukkan adanya penurunan resiko kematian yang disebabkan asma meskipun dalam dosis yang relatif kecil (Sukandar dkk., 2008). Pada pasien asma diberikan golongan kortikosteroid yang memiliki mekanisme dan efek terepeutik yang sama dengan glukokortikosteroid yang dapat menurunkan jumlah dan aktivitas sel yang terinflamasi dan meningkatkan efek dari obat beta adrenergik dengan memproduksi AMP siklik. Tabel V. Pengelompokan Obat-obat Hormonal yang Digunakan sebagai Terapi Pasien Asma Pediatri di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Tahun 2013 Golongan Kelompok Zat aktif Jenis obat Jumlah kasus Persentase (%) Kortikosteroid Anti inflamasi Metilprednisolon Dexamethasone Triamcinolone Metilprednisolon Dexamethasone Kenacort® Total 18 1 2 21 85,7 4,8 9,5 100

(69) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 49 3. Obat anti-infeksi Obat antiinfeksi dalam penatalaksanaan asma diberikan apabila ada dugaan infeksi yang menjadi pencetus timbulnya asma pada pasien, seperti pneumonia, sinusitis atau otitis media (Depkes RI, 2005). Antibakteri merupakan obat yang paling banyak digunakan pada infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Mekanisme kerja dari antibakteri yang termasuk dalam kelompok penisilin dan sefalosporin adalah menghambat sintesis atau merusak dinding sel bakteri seperti beta-laktam. Sedangkan golongan antibakteri dengan kelompok makrolid mekanisme kerjanya menghambat atau memodifikasi sintesis protein (Depkes, 2011). Pada tabel di bawah obat anti infeksi paling banyak digunakan yaitu kelompok penisilin sebesar 57,2% dengan zat aktif amoxicillin dan ampicillin. Tabel VI. Pengelompokan Obat-obat Anti-infeksi yang Digunakan sebagai Terapi Pasien Asma Pediatri di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Tahun 2013 Golongan Kelompok Penisilin (57,2%) Antibakteri Sefalosporin Makrolid Anti Tuberkulosis Zat aktif Amoxicillin Ampicillin Cefixime Azithromycin Rifampicin INH, Vit B6 Jenis obat Amoxicillin Ampicillin Cefixime Aztrin® Rifampicin Suprazid Forte® Total Jumlah kasus Persentase (%) 6 2 1 3 1 42,9 14,3 7,1 21,5 7,1 1 7,1 14 100 4. Pemberian O2 Pada penelitian ini diperoleh sebanyak 7 kasus yang diberikan terapi oksigen yaitu pada kasus 4b, 7, 8, 13b, 15, 17 dan 18. Pemberian terapi oksigen ini diberikan untuk menjaga saturasi oksigen agar >95% serta mengurangi

(70) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 50 kemungkinan terjadinya hipoksemia pada pasien (WHO, 2013). Hipoksemia adalah penurunan tekanan parsial oksigen dalam darah. Pada penyakit asma terjadi penyempitan bronkus sehingga aliran udara sulit masuk maka perlu diberikan O2 pada pasien asma untuk mengurangi gejala asma. 5. Obat yang bekerja pada sistem saluran cerna Pemberian obat yang bekerja pada sistem saluran cerna pada terapi asma diberikan kepada pasien yang mengalami gangguan atau adanya keluhan pada saluran pencernaannya. Pada tabel di bawah penggunaan obat yang bekerja pada sistem saluran cerna dalam penatalaksanaan asma adalah kelompok antagonis resptor H2 dengan zat aktif ranitidin. Ranitidin mempunyai indikasi untuk tukak lambung dan tukak duodenum, refluks esofagitis, dyspepsia episodik kronis, tukak akibat AINS (Sukandar, dkk, 2008). Tabel VII. Pengelompokan Obat-obat Saluran Cerna yang Digunakan sebagai Terapi Pasien Asma Pediatri di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Tahun 2013 Golongan Antitukak Kelompok Antagonis reseptor H2 Zat aktif Ranitidin Jenis obat Ranitidin Total Jumlah kasus Persentase (%) 1 100 1 100 6. Obat yang bekerja sebagai analgesik Obat analgesik yang sering digunakan apabila terdapat keluhan pasien berupa nyeri dan demam yang timbul akibat serangan asma maka diberikan obat golongan analgesik dengan zat aktif paracetamol. Paracetamol ini dipilih

(71) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 51 karena dianggap zat anti-nyeri yang paling aman dan biasanya jarang terjadi efek samping pada penggunaan yang sesuai. Tabel VIII. Pengelompokan Obat Analgesik yang Digunakan sebagai Terapi Pasien Asma Pediatri di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Tahun 2013 Golongan Kelompok Analgesik nonopioid Analgesik Zat aktif Jenis obat Paracetamol Paracetamol Total Jumlah kasus Persentase (%) 2 100 2 100 7. Obat yang bekerja pada sistem saraf pusat Tabel di bawah ini merupakan obat yang bekerja pada sistem saraf pusat yang digunakan oleh pasien yang terdiagnosis sekunder epilepsi. Obat golongan anti-epileptika dengan zat aktif Asam Valproat ini mekanisme kerjanya menghambat enzim yang menguraikan GABA, sehingga kadar neurotransmitter di otak akan meningkat (Tjay, 2007). Tabel IX. Pengelompokan Obat Sistem Saraf Pusat yang Digunakan sebagai Terapi Pasien Asma Pediatri di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Tahun 2013 Golongan Kelompok Antiepileptika Antikonvulsan Zat aktif Valproic acid Jenis obat Depakene® Total Jumlah kasus 1 Persentase (%) 100 1 100 8. Obat yang mempengaruhi gizi dan darah Obat yang mempengaruhi gizi dan darah yang paling banyak digunakan adalah Zinc yaitu pada kasus 6 dan 8. Penggunaan zinc pada pasien asma ini diterapkan bagi pasien yang mengalami diare dan BAB cair.

(72) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 52 Tabel X. Pengelompokan Obat yang mempengaruhi Gizi dan Darah yang Digunakan sebagai Terapi Pasien Asma Pediatri di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Tahun 2013 Golongan Nutrisi Kelompok Suplemen Jenis obat Zinc Total Jumlah kasus 2 Persentase (%) 100 2 100 C. Evaluasi Drug Related Problem (DRPs) Proses penatalaksanan pasien di rumah sakit perlu memperhatikan kerasionalan dalam penggunaan obat karena dalam pengobatan yang diberikan kepada pasien harus selalu dipertimbangkan antara keuntungan dan kerugian dari efek yang ditimbulkan setelah dilakukan pengobatan. Pada penelitian ini, proses evaluasi Drug Related Problem (DRPs) dilakukan dengan cara melihat informasi dari rekam medis pasien yang berupa keterangan subjektif, objektif dan penatalaksanaan obat yang diberikan pada pasien. Kategori DRPs yang akan dievaluasi adalah tidak perlu obat, perlu obat, obat salah, dosis kurang, efek samping obat dan dosis berlebih. Kajian mengenai evaluasi DRPs ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya kejadian DRPs pada penatalaksanaan pasien asma pediatri yang menjalani rawat inap di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Tahun 2013. Berdasarkan hasil evaluasi ditemukan adanya 20 subjek penelitian yang masuk dalam kriteria inklusi, kemudian didokumentasikan dengan SOAP yang meliputi kategori DRPs yang telah disebutkan di atas yang kemudian dibandingkan dengan Standar Pelayanan Medis RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta, GINA (2012) dan pustaka yang sesuai, seperti DIH (Lacy,

(73) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Armstrong, Goldman, and Lance, 2011) 53 dan Medscape Drug Interaction Checker. Dari hasil penelitian ditemukan 6 kasus DRPs dari 18 kasus yang telah memenuhi kriteria inklusi dan menjalani perawatan di instalasi rawat inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Tahun 2013 yaitu 6 kasus efek samping obat dan interaksi obat. Tabel XI. Jenis DRPs Pada Pasien Asma Pediatri Rawat Inap di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Tahun 2013 No 1 2 3 4 5 6 Jenis DRPs Tidak perlu obat (unnecessary drug therapy) Perlu obat (needs additional drug therapy) Obat salah (wrong drug) Dosis kurang (dosage too low) Efek samping obat (adverse drug reaction) dan interaksi obat Dosis berlebih (dosage too high) Nomor Kasus (seperti lampiran) 0 KasusDRPs (n=6) 0 0 0 0 0 2, 4a, 7, 9, 10, 16 0 0 6 0 0 Dari 20 subjek penelitian yang memenuhi kriteria inklusi dapat diketahui bahwa jenis DRPs yang paling banyak terjadi adalah efek samping obat (adverse drug reaction) yaitu sebanyak 6 kasus. 1. Tidak perlu obat (unnecessary drug therapy) Jenis DRPs tidak perlu obat (unnecessary drug therapy) tidak ditemukan pada penatalaksanaan pasien asma pediatri yang menjalani rawat inap di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Tahun 2013.

(74) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 54 2. Perlu obat (needs additional drug therapy) Jenis DRPs perlu obat (needs additional drug therapy) tidak ditemukan pada penatalaksanaan pasien asma pediatri yang menjalani rawat inap di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Tahun 2013. 3. Obat salah (wrong drug) Jenis DRPs obat salah (wrong drug) tidak ditemukan pada penatalaksanaan pasien asma pediatri yang menjalani rawat inap di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Tahun 2013. 4. Dosis kurang (dosage too low) Jenis DRPs dosis kurang (dosage too low) tidak ditemukan pada penatalaksanaan pasien asma pediatri yang menjalani rawat inap di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Tahun 2013. 5. Efek samping obat (adverse drug reaction) dan interaksi obat Pada umumnya interaksi obat dapat memberikan efek positif dan negatif. Pada kasus 2 terjadi interaksi obat antara Metilprednisolon dan Kenacort® (Triamcinolon) yang dapat menyebabkan terjadinya penurunan efek dari Triamcinolon dengan mempengaruhi metabolisme enzim CYP3A4 di hati atau usus (Medscape Drug Interaction Checker, 2014). Rekomendasi yang perlu dilakukan adalah monitoring pada penggunaan Metilprednisolon dan Triamcinolon secara bersamaan. Interaksi yang terjadi termasuk dalam DRPs

(75) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 55 potensial sebab tidak diketahui kebenarannya apakah interaksi obat tersebut terjadi dalam tubuh pasien atau tidak. Pada kasus 4a, 7, dan 9 terjadi interaksi antara Metilprednisolon dengan Aminofilin (Teofilin) yang dapat menyebabkan terjadinya penurunan efek dari Teofilin dengan mempengaruhi metabolisme enzim CYP3A4 di hati atau usus (Medscape direkomendasikan untuk Drug Interaction melakukan Checker, monitoring 2014) pada sehingga penggunaan Metilprednisolon dengan Teofilin secara bersamaan. Pada kasus Metilprednisolon 10, yang terjadi interaksi menyebabkan antara terjadinya Rifampisin penurunan dengan efek Metilprednisolon yang ditunjukkan dengan adanya studi farmakokinetik bahwa AUC Metilprednisolon akan berkurang sekitar 60% dan waktu paruhnya akan menurun 40-60% (Baxter, 2008). Pada kasus ini Metilprednisolon berfungsi untuk mengatasi inflamasi yang terjadi pada pasien. Rekomendasi yang terbaik adalah perlu dilakukan monitoring kondisi pasien terkait dengan tanda inflamasi seperti peningkatan suhu tubuh pasien pada penggunaan Rifampisin dan Metilprednisolon secara bersamaan. Pada kasus 16, penggunaan antara Teofilin dengan Salbutamol dapat meningkatkan pontensi terjadinya hipokalemia dan takikardi serta dapat meningkatkan gangguan pada jantung. Interaksi ini juga dapat mengurangi efek teofilin dalam plasma (Baxter, 2008). Rekomendasinya ialah dilakukan monitoring pada penggunaan Teofilin dan Salbutamol secara bersamaan karena dapat menimbulkan efek yang tidak diinginkan seperti takikardi dan

(76) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 56 hipokalemi, tetapi pada ada catatan rekam medis tidak diketahui apakah pasien mengalami hipokalemi atau tidak karena tidak terdapat hasil pemeriksaan kadar kalium pada hasil laboratorium dan tidak ada tanda-tanda tanda tanda pasien interaksi yang terjadi termasukk dalam DRPs mengalami takikardi, sehingga s potensial. 6. Dosis berlebih (dosage too high) Jenis DRPs dosis berlebih (dosage too high) tidak ditemukan pada penatalaksanaan pasien asma pediatri yang menjalani rawat inap di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Tahun 2013. D. Outcome Pasien Setelah Mendapat Terapi Outcome pasien merupakan pernyataan dokter yang dinyatakan secara tertulis di lembar rekam medis (RM). Berdasarkan penelitian yang dilakukan, diperoleh data outcome pasien yang sembuh sebanyak 3 pasien,, sedangkan outcome pasien yang dikatakan dikatak membaik sebanyak 15 pasien.. Hal tersebut digambarkan pada diagram dibawah ini. Outcome Pasien Setelah Mendapat Terapi 17% Sembuh Membaik 83% Gambar 8. Persentase Outcome Pasien Setelah Mendapat Terapi

(77) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 57 E. Rangkuman Evaluasi Drug Related Problems (DRPs) Pada hasil penelitian ditemukan 7 kasus DRPs yang terjadi pada penatalaksanaan terapi asma pada pasien pediatri yang menjalani rawat inap di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Tahun 2013. Kasus DRPs yang ditemukan tersebut meliputi 6 kasus efek samping obat dan interaksi obat dan 1 kasus tidak butuh obat. Jenis DRPs yang terjadi tersebut dibagi menjadi 2 yaitu aktual dan juga potensial. Jenis DRPs aktual merupakan DRPs yang benar-benar terjadi pada pasien sehingga mengakibatkan kerugian yang ditimbulkan akibat terjadinya DRPs tersebut. Jenis DRPs potensial adalah DRPs yang mungkin terjadi tetapi tidak terlihat dari keluhan dan hasil laboratorium pasien, namun dapat berpotensi menimbulkan DRPs. Pada nomer kasus 4a, 7, 9, 10, dan 16 terjadi DRPs potensial, namun status keluar pasien membaik sedangkan nomer kasus 2 terjadi DRPs potensial dan status keluar pasien sembuh. Hal tersebut dikarenakan pasien tidak mengalami DRPs tersebut. Tabel XII. Hasil Evaluasi DRPs dan Status Keluar Pasien Asma Pediatri Rawat Inap di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Tahun 2013 No. Kasus DRPs Jenis DRPs 1 - - 2 Efek samping obat 3 - 4a Efek samping obat 4b - - 5 - - 6 - - Status Keluar Pasien Membaik, diizinkan Potensial Sembuh, diizinkan - Membaik, diizinkan Potensial Membaik, diizinkan Membaik, diizinkan Membaik, diizinkan Sembuh, diizinkan

(78) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lanjutan tabel XII. Potensial Membaik, diizinkan - Membaik, diizinkan Efek samping obat Potensial Membaik, diizinkan 10 Efek samping obat Potensial Membaik, diizinkan 11 - - 12 - - Membaik, diizinkan 13a - - Membaik, diizinkan 13b - - Membaik, diizinkan 14 - - Membaik, diizinkan 15 - - Membaik, diizinkan 16 Efek samping obat 17 - - Membaik, diizinkan 18 - - Sembuh, diizinkan 7 Efek samping obat 8 - 9 DRPs = Drug Related Problems Potensial Membaik, diizinkan Membaik, diizinkan 58

(79) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Dari hasil penelitian mengenai “Evaluasi Drug Related Problems (DRPs) pada Pasien Asma Pediatri Rawat Inap (Studi Kasus di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Tahun 2013)” diperoleh hasil: 1. Karateristik pasien asma pediatri berdasarkan kelompok umur didapatkan persentase terbesar pada kelompok umur 1-4 tahun sebanyak 8 pasien dengan persentase sebesar 45%. Berdasarkan jenis kelamin menunjukkan persentase terbanyak pada jenis kelamin perempuan yaitu sebesar 56%. Berdasarkan diagnosisnya diperoleh 95% kasus dengan diagnosis asma komplikasi. 2. Pola penggunaan obat pasien asma pediatri diperoleh persentase terbesar pada kelas terapi obat yang bekerja pada sistem pernafasan yaitu 100%. 3. Drug Related Problems yang terjadi pada pasien asma pediatri yaitu sebanyak 6 kasus interaksi obat (terbanyak pada interaksi teofilin dan metilprednisolon) 4. Persentase outcome pasien setelah mendapatkan terapi yaitu 83% membaik dan 17% sembuh. B. Saran 1. Perlu dilakukan penelitian lanjutan mengenai evaluasi Drug Related Problems (DRPs) keseluruhan penggunaan obat pada pasien asma pediatri 59

(80) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 60 menggunakan data prospektif untuk mengetahui perkembangan kondisi pasien terkait dengan kondisi asma. 2. Peneliti perlu membuka akses lebih banyak untuk mendapatkan informasi obat yang lengkap terkait dengan tujuan terapi disesuaikan dengan kondisi pasien, dengan memilki ijin penelitian di Instalasi farmasi misalnya untuk mengetahui kekuatan obat yang tersedia di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta dan bila perlu dengan Instalasi laboratorium.

(81) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 61 DAFTAR PUSTAKA Anitawati, E., 2001, Pola Pengobatan Penyakit Asma Bronkial untuk Pasien Rawat Inap Di Rumah Sakit Umum Daerah Wonosari Selama Tahun 1998, Skripsi, Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Asdie, A.H., 1995, Harrison: Prinsip-prinsip Ilmu Penyakit Dalam, Volume 1, Edisi 13, EGC, Jakarta, pp.201. Baxter, K., 2008, Stockley’s Drug Interaction, 8th ed., Pharmaceutical Press, United Kingdom, pp. 1061, 1174. Brunner dan Suddarth, 2002, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Vol. 2, Edisi 8, EGC, Jakarta, pp. 661. Bruton, L., Parker, K., Blumenthal, D., Buxton, I., 2008, Goodman & Gilman’s Manual of Pharmacology and Therapeutics, EGC, Jakarta, pp.432, 436. Budiarto, E., 2002, Metodologi Penelitian Kedokteran Sebuah Pengantar, Penerbit Buku Kedokteran, EGC, Jakarta, pp.32-34. Cipolle, R.J., Strand, L.M., Morley, P.C., 2004, Pharmaceutical Care Practice; the clinician’s guide, 7th edition, McGraw-Hill, USA, pp.173-191. Depkes RI, 2004, Keputusan Menkes RI No. 1197/Menkes/SK/2004 tentang Standar Pelayanan Farmasi di Indonesia, Departemen KesehatanRI, Jakarta, pp.1. Depkes RI, 2005, Standar Pelayanan Medis RSUP Dr. Sardjito, Edisi III, Cetakan 1, Jilid 3, Medika Fakultas Kedokteran UGM, Yogyakarta, pp. 393-398, 405, 408-414. Depkes RI, 2007, Pharmaceutical Care Untuk Penyakit Asma, Departemen Kesehatan RI, Jakarta, pp. 6, 13, 40- 42. Depkes RI, 2009, Keputusan Menkes RI No. 1023/Menkes/SK/XI/2008 tentang Pedoman Pengendalian Penyakit Asma, Departemen Kesehatan RI, Jakarta, pp. 3-6. Depkes RI, 2013, Formularium RSUP Dr. Sardjito, Edisi Tahun 2013, Bakti Husada, Yogyakarta. Global Innitiative for Asthma (GINA), 2012, Pocket Guide For Asthma Management And Prevention, Global Initiative For Asthma, Canada, pp.5. Greene, R. J., 2008, Pathology And Therapeutics For Pharmacists: A Basis For Clinical Pharmacy Practice, Third edition, Pharmaceutical Press, USA.

(82) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 62 Handayani, Y., 2010, Evaluasi Drug Related Problems (DRPs) pada Pasien Asma Bronkial di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rini Yogyakarta Bulan Januari-Desember 2009, Skripsi, Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Hill, V.L. and Wood, P.R., 2009, Pediatric in Review; Asthma Epidemiology, Pathopysiology, and Initial Evaluation, Vol. 30 No.9, American Academy of Pediatrics, pp. 332. Ikawati, Z., 2007, Farmakoterapi Penyakit Sistem Pernafasan, Pustaka Adipura, Yogyakarta, pp.45, 46, 47, 49, 52, 56, 61. Kelly, H.W. and Sorkness, A.C., 2008, Asthma: in Dipiro, Joseph, T.D., Robert, L., Gary, R.M., Barbara, G.W., Michael, P., Pharmacotherapy A Pathophysiologic Approach, Seventh Edition, Mc Graw Hill, USA, pp. 465-466, 483-485, 487-489, 498. Kountour, R., 2003, Metode Penelitian, Untuk Penulisan Skripsi dan Tesis, Seri Umum No. 5, PPM, Jakarta, pp. 105, 139. Lacy, C.F., Armstrong, L.L., Goldman, M.P., Lance L.L., 2011, Drug Information Handbook, 20th Ed., Lexi-copm, Ohio, pp. 53-55, 1703. Lapau, B., 2012, Metode Penelitian Kesehatan, Metode Ilmiah Penulisan Skripsi, Tesis, dan Disertasi, Yayasan Pustaka Obor Indonesia, Jakarta, pp. 40, 47, 51, 52. Mangunnegoro, H., dkk, 2004, Asma; Pedoman Diagnosis & Penatalaksanaan di Indonesia, Balai penerbit FKUI, Jakarta, pp.23, 24, 75. Marcdante, K.J., Kliegman, R.M., Jenson, H.B., Behrman, R.E., 2011, Nelson Essentials of Pediatrics, 6th Edition, Saunder Elsevier, Canada. Matfin, G., Porth, C.M., 2009, Pathophysiology; Concepts Of Altered Health States, Eight Edition, Wolters Kluwer Health, Lippincott Williams & Wilkins, China, pp.710. McPhee, S.J., Ganang, W.F., 2007, Patofisiologi penyakit: Pengantar Menuju Kedokteran Klinis, Edisi 5, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta, pp.255. Medscape, 2014, Aminophylline, http://reference.medscape.com/drug/theo-24theochron-theophylline-343447, diakses tanggal 18 April 2014. Medscape, 2014, Ampicillin, http://reference.medscape.com/drug/ampi-omnipenampicillin-342475, diakses tanggal 12 April 2014. Medscape, 2014, Methylprednisolone, http://reference.medscape.com/drug/medrol-medrol-dosepakmethylprednisolone-342746, diakses tanggal 9 April 2014.

(83) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 63 Medscape Drug Interaction Checker, 2014, http://reference.medscape.com/druginteractionchecker, diakses tanggal 17 April 2014. MIMS, 2009, MIMS Edisi Bahasa Indonesia, Volume 10, PT. Bhuana Ilmu Popular, Jakarta. MIMS, 2014, Azithromycin, http://www.mims.com/Indonesia/drug/info/Aztrin/?q=Azithromycin &type=brief, diakses tanggal 29 April 2014. Muttaqin, A., 2008, Buku Ajar Asuhan Keperawatan Dengan Gangguan Sistem Pernafasan, PT. Salemba Medika, Jakarta, pp. 220. NIH, 2012, http://www.nhlbi.nih.gov/health/health-topics/topics/asthma/, diakses tanggal 26 Maret 2014. Ratnawati, 2011, Epidemiologi Asma, Jurnal Respirologi Indonesia, Vol.31 No. 4, 172. Rengganis, I., 2008, Majalah Kedokteran Indonesia, Volum: 58, Nomor: 11; Diagnosis and Management of Bronchial Asthma, Departemen Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. pp. 445, 446. Scottish Intercollegiate Guidelines Network (SIGN), 2012, British Guidline on the Management of Asthma, Healthcare Improvement Scotland, London, pp.5 Sukandar, E.Y., Andrajati, R., Sigit, J.I., Adnyana, I.K., Setiadi, A.A.P., dan Kusnandar, 2008, ISO Farmakoterapi, ISFI, Jakarta, pp. 448, 458. Sutedjo, A.Y., 2009, Buku Saku Mengenal Penyakit Melalui Hasil Pemeriksaan Laboratorium, Amara Books, Yogyakarta, pp. 25-33. Tjay, T.H., Rahardja, K., 2007, Obat-Obat Penting; Khasiat, Penggunaan dan Efek-efek Sampingnya, Edisi ke-6, PT Elex Media Komputindo, Jakarta, pp. 70, 422, 647. Vitahealth, 2005, Asma: Informasi lengkap untuk penderita dan keluarganya, Gramedia PustakaUtama, Jakarta, pp.17. WHO, 2013, Pocket Book of Hospital Care for Children; Guidelines for Management of Common Childhood Illnesses, Second edition, WHO publications, Switzerland, pp. 98, 100. Wibowo, S.A., 2007, Kajian Profil Persepan Pasien Asma Bronkial Di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Umum Daerah Bangli-Bali Tahun 2005, Skripsi, Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

(84) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 64 Wijaya, A.M., 2010, Penanganan Diare pada Bayi dan Anak Balita di Tingkat Rumah Tangga, http://www.infodokterku.com/component/content/article/22-informationof-diseases/penyakit-menular/81-penanganan-diare-pada-bayi-dan-anakbalita-di-tingkat-rumah-tangga, diakses tanggal 12 Mei 2014. Wolf, R. L., 2004, Essential Pediatric Allergy, Asthma & Immunology, McGraw Hill Companies, USA, pp. 64. Yusriana, C.S., 2002, Pola Pengobatan Penyakit Asma Bronkial Pada Pasien Anak Rawat Inap Di Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta Periode 19992001, Skripsi, Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

(85) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI LAMPIRAN 65

(86) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 66 Lampiran 1. Nilai rujukan hasil laboratorium pasien asma pediatri di RSUP Dr. Sardjito Yogyakata Tahun 2013 Parameter WBC RBC HGB HCT MCV MCH MCHC PLT MPV NEUT# LYMPH# MONO# EO# BASO# NEUT% LYMPH% MONO% EO% BASO% Nilai Rujukan Laki-laki Perempuan 3 (4,8-10,8)x103µl (4,8-10,8)x10 µl (4,7-6,1) x106µl (4,2-5,4) x106µl (14-18) g/dL (12-16) g/dL 42-52 % 37-47 % 79,0-99,0 fL 27,0-31,0 pg 33,0-37,0 g/dL (150-450) x103µl 7,2-11,1 fL (1,8-8) x103µl (0,9-5,2) x103µl (0,16-1) x103µl (0,045-0,44) x103µl (0-0,2) x103µl (50-70) % (25-40) % (2-8) % (2-4) % (0-1) %

(87) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 2. Analisis Drug Related Problems pada pasien asma pediatri di Instalasi rawat inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta tahun 2013 Kasus 1 (No. RM 01.63.60.19) Subjektif Jenis kelamin/Umur: Perempuan / 7th BB : 23 kg Masuk RS : 09/09/2013 – 16/09/2013 Riwayat : 3BSMRS : anak batuk(+), pilek(+), muntah (-), demam(-), sesak nafas(-), makan/minum berkurang,BAB&BAK tidak ada keluhan → periksa ke dokter didiagnosis asma kemudian diberi kenacort 3x¾tab, procaterol 2x¾tab, fluimucil 3x½tab, cetirizine 1x½tab 1MSMRS :batuk(+), pilek(+),muntah(-), sesak (-) hilang timbul 1HSMRS : anak demam (+), batuk, pilek cair, muntah tiap kali batuk, makan/minum berkurang, mendapat terapi domperidon 3x½. HMRS: sesak(+),batuk dan pilek, periksa ke poli diberi resep plucaterol dan metilprednisolon dan disarankan ke IGD untuk nebulisasi dan evaluasi. Objektif Hasil Laboratorium (Tgl.14/09/2013): WBC : 6,71x103µl RBC : 4,73 x106µl HGB : 11,9 g/dL(↓) HCT : 38,2% MCV :80,8 fL MCH : 25,1 pg(↓) PLT : 303x103µl (09/09/2013) RO thorax AP dan latheral view, supine, asimetris, inspirasi dan kondisi cukup, hasil : tampak perselubungan semiopak inhomogen batas tak tegas di perihiler dan paracardial pulmo dextra et sinistra, air bronchogram (+), kedua diagfragma licin dan tidak mendatar, tak tampak penebalan pleural space bilateral, cor CTR=0,47. Riwayat keluarga: Riwayat sakit asma dari keluarga (nenek) Riwayat rhinitis alergi (+) tante Riwayat DM (disangkal) Diagnosa Utama : asma serangan berat episode jarang Diagnosa Sekunder : pneumonia, gastritis Keluhan Utama : sesak nafas Keadaan Pulang : membaik (diizinkan) NEUT#: 2,91 x103µl LYMPH#: 2,52 x103µl MONO#: 0,49 x103µl EO#: 0,55 x103µl(↑) BASO#: 0,03 x103µl NEUT%: 43,3% (↓) LYMPH%: 37,5% MONO%: 7,4% EO%: 8,2%(↑) BASO%: 0,5% 67

(88) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Tanggal 9 10 11 12 13 14 15 16 38,5 36 37,4 36,2 36,5 36,5 36,2 37,5 37,5 36,7 36,4 36,5 37 36,6 115 130 115 114 118 112 110 128 101 100 30 34 34 24 28 22 24 30 95 - 98 - 97 - - 96 Sesak berkurang, masih ada batuk P S S M Sesak berkurang - P S P  5  6  12 Suhu Tubuh (oC) Tanda Vital Nadi (x/menit) RR (x/menit) SpO2 (%) Keluhan Penatalaksanaan Obat Ventolin® nebulizer 1resp Combivent® nebulizer 1resp Ranitidine inj. 20mg Ampicilin inj. 800mg Ampicilin inj. 600mg Metilpredisolon inj. 10mg Aminofilin inj. 70mg 140 40 Sesak nafas dan batuk P S S M  23.15 112 112 120 30 30 30 96 96 Batuk, sesak nafas P  01.30, 7 9 S S  12, 13 M  12  01.30  01  18 S M S S M P 97 S S M P S S M  6  6  6 23 30  18  12  12  18  12  18  12  20  18  12  18  12  18  6  20 68 P S S M

(89) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI       Aminofilin po 6 12 18 6 12 18 70mg  Amoxicilin po 5 350mg Assessment : Pasien diberi Combivent® Nebulizer dan Ventolin® Nebulizer untuk mengatasi bronkospasme (gejala asma) berupa sesak nafas. Penggunaan antikolinergik seperti ipratropium bromide umumnya menghasilkan perbaikan fungsi paru 10-15% dibandingkan dengan penggunaan β agonis saja (Ikawati, 2007), karena ipratropium bromide mempunyai efek meningkatkan bronkodilatasi agonis beta-2 kerja singkat pada serangan asma dan memperbaiki faal paru (Mangunnegoro, 2004). Metilprednisolon injeksi diberikan untuk mengurangi peradangan terutama pada penyakit asma (Muttaqin, 2008), dengan menurunkan jumlah dan aktivitas dari sel yang terinflamasi dan meningkatkan efek obat beta adrenergik dengan memproduksi AMP siklik, inhibisi mekanisme bronkokonstriktor, atau merelaksasi otot polos secara langsung (Kelly and Sorkness, 2008). Aminofilin diberikan untuk pengobatan dan profilaksis spasme bronkus yang berhubungan dengan asma, emfisema dan bronkitis kronis. Berdasarkan wawancara dari dokter, pasien menerima dosis aminofilin po lebih rendah dikarenakan untuk mengurangi terjadinya efek samping berupa takikardi selain itu juga adanya riwayat penggunaan obat sebelumnya pada pasien dengan dosis setengah dari biasanya karena dengan dosis normal pasien sudah mengalami takikardi. Pasien diberi terapi antibiotik berupa ampicilin dan amoxicillin karena adanya komplikasi pneumonia yang ditunjukkan dengan menurunnya jumlah neutrofil yang berarti bahwa terdapat infeksi (Sutedjo, 2009). Pada hari pertama rawat inap, suhu tubuh pasien mencapai 38,50C dimungkinkan pasien diberikan obat penurun panas atau demam namun tidak tercatat dalam penatalaksanaan obat, namun dapat dimungkinkan juga kondisi suhu tubuh pasien turun dengan sendirinya karena demam dapat disebabkan oleh adanya inflamasi, apabila inflamasi tersebut sudah teratasi maka suhu tubuh akan kembali normal. Batuk yang terdapat pada keluhan pasien dapat dimungkinkan efek samping dari penggunaan salbutamol dan ipratropium bromide atau batuk tersebut merupakan manifestasi klinik dari asma. Evaluasi DRPs:  Perlu obat tidak terjadi pada kasus ini karena pasien menerima obat sesuai dengan indikasi pasien.  Tidak perlu obat tidak terjadi pada kasus ini karena pasien sudah diberikan terapi kombinasi yang sesuai.  Obat salah tidak terjadi pada kasus ini kerena pasien tidak mengalami komplikasi dari obat yang telah diterima.  Dosis kurang tidak terjadi pada kasus ini karena obat yang diberikan kepada pasien telah mencapai efek terapeutik yang diinginkan, hal tersebut dapat dilihat dari tanda vital dan keluhan pasien yang semakin membaik atau keluhan sesak nafas berkurang.  Dosis berlebih tidak terjadi pada kasus ini karena dosis Combivent® nebulizer, Ventolin® nebulizer, Metilprednisolon dan Aminofilin yang diberikan sudah tepat.  Efek samping dan interaksi obat tidak ditemukan efek samping atau interaksi yang terjadi. Rekomendasi: - 69

(90) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Kasus 2 (No. RM 00.73.18.14) Subjektif Jenis kelamin /Umur: Laki-laki/4 th BB : 16 kg. TB: 107cm Masuk RS : 18/08/2013 -21/08 /2013 Riwayat : Anak terdiagnosis asma sejak usia 2th , frekuensi serangan ±1-2x/tahun. Mulai tahun 2013, serangan asma meningkat, 3x dalam 1th. Setiap kali serangan anak dibawa ke IGD dan mendapat nebulisasi 1x dan obat puyer. Objektif RO (18/8/2013) : Mengarah ke gambar alektasis lobus superior segmen aphial pulmo bronchitis RO (20/8/2013) : Infiltrat dengan limfaderopati hilus, tidak tampak gambaran alektosis Hasil Laboratorium: Tanggal Suhu Tubuh o ( C) Tanda Vital Nadi (x/menit) RR (x/menit) SpO2 (%) Diagnosa Utama : asma brokial Diagnosa Sekunder : atelectasis partial Keluhan Utama : batuk, sesak nafas, wheezing Keadaan Pulang : sembuh (diizinkan) 6jam SMRS: batuk, nafas tampak cepat, sulit berbaring, ada mengi, di IGD anak ada mengi, nafas cepat, RR 52x/menit, HR 144x/menit, SpO2 92% O2 rooms, dilakukan nebulisasi ventolin 1respul, setelah nebulizer, RR 32-37x/menit, HR 124128x/menit, SpO2 93-94% O2 rooms, wheezing berkurang. 19 36,8 20 36,8 36,5 21 36,7 100 113 100 48 24 110 113 24 24 - 98 98 - 98 36,9 18 Riwayat keluarga: Riwayat asma (+) dari kakek dan nenek Riwayat rhinitis (+) ibu Riwayat hipertensi, DM,stroke (kakek dari ayah, nenek dari ibu) 20 70

(91) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Keluhan Sesak nafas Tidak sesak, batuk berdahak, tidak pilek Batuk berdahak Batuk berdahak Penatalaksanaan Pagi Siang Sore Malam Pagi Siang Sore Malam Pagi Siang Sore Malam Pagi Siang Sore Malam Obat  24 6 Metil prednisolon 6 6 po 8mg  6 Kenacort® 6  24 18 (Triamcinolone) po 8mg Ventolin® 6 nebulizer (1resp)  Combivent®  6  12 6  22  24 18 nebulizer (1resp/6jam) Assessment : Pada hari pertama pasien datang ke RSUP Dr. Sardjito pukul 23.55 dengan keluhan batuk, sesak dan wheezing. Pasien diberikan Ventolin® nebulizer dan Combivent® nebulizer sebagai bronkodilator yang berfungsi untuk meredakan gejala serangan asma akut. Penggunaan antikolinergik seperti ipratropium bromide umumnya menghasilkan perbaikan fungsi paru 10-15% dibandingkan dengan penggunaan β agonis saja (Ikawati, 2007), karena ipratropium bromide mempunyai efek meningkatkan bronkodilatasi agonis beta-2 kerja singkat pada serangan asma dan memperbaiki faal paru (Mangunnegoro, 2004). Pemberian peroral Metilprednisolon berperan sebagai kortikosteroid dan berfungsi sebagai antiinflamasi terutama pada asma fase akut. Berdasarkan dari hasil wawancara dokter, pada tanggal 19, pasien menerima dosis metilprednisolon 16mg/hari, kemudian pada tanggal 20 dan 21 pasien menerima dosis lebih rendah yaitu 8mg/hari (maintenance dosage), adanya penurunan dosis pada penggunaan metilprednisolon ini dapat dilihat dari perkembangan kesehatan pasien yang membaik. Dosis metilpredisolon untuk anak dengan BB 16kg adalah 1627,2mg/hari (Medscape, 2014). Pasien terdiagnosis sekunder atelectasis partial, kemudian pasien diberikan Kenacort® (triamcinolone) yang merupakan golongan kortikosteroid yang berfungsi untuk mengatasi kelainan paru. Evaluasi DRPs:  Perlu obat tidak terjadi pada kasus ini karena pasien menerima obat sesuai dengan indikasi pasien.  Tidak perlu obat tidak terjadi pada kasus ini karena pasien sudah diberikan terapi kombinasi yang sesuai.  Obat salah tidak terjadi pada kasus ini kerena pasien tidak mengalami komplikasi dari obat yang telah diterima.  Dosis kurang tidak terjadi pada kasus ini karena obat yang diberikan kepada pasien telah mencapai efek terapeutik yang diinginkan, hal tersebut 71

(92) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI dapat dilihat dari tanda vital dan keluhan pasien yang semakin membaik atau keluhan sesak nafas berkurang.  Dosis berlebih tidak terjadi pada kasus ini karena dosis Metilprednisolon, Combivent® nebulizer, Ventolin® nebulizer yang diberikan sudah tepat.  Efek samping dan interaksi obat ditemukan pada kasus ini yaitu interaksi obat antara Metilprednisolon dan Kenacort® yang menyebabkan terjadinya penurunan efek triamcinolone dengan mempengaruhi metabolisme enzim CYP3A4 di hati/usus (Medscape Drug Interaction Checker, 2014). Berdasarkan data yang di dapat tidak dapat diketahui secara pasti apakah benar-benar terjadi penurunan efek dari triamcinolone, sehingga tidak diperlukan rekomendasi khusus dan tergolong dalam DRPs potensial. Rekomendasi: Monitoring pada penggunaan Kenacort® (Triamcinolone) dengan Metilprednisolon secara bersamaan. Kasus 3 (No. RM 01.66.00.39) Subjektif Jenis kelamin /Umur: Perempuan/ 3 th BB : 10kg Masuk RS : 15/11/2013 -18/11/2013 Riwayat : Riwayat asma dalam keluarga (+) Diagnosa Utama : asma bronkial serangan sedang Diagnosa Sekunder : common cold Keluhan Utama : sesak nafas disertai bunyi mengi Keadaan Pulang : membaik (diizinkan) 7HSMRS : anak batuk, pilek saat malam hari, kemudian sesak, tidak ada demam, dibawa ke puskesmas→sesak berkurang→anak rawat jalan. 1HSMRS: anak demam tinggi saat siang hari disertai batuk, pilek, sesak HMRS: saat dini hari anak sesak disertai bunyi mengi kemudian dibawa ke RSS Objektif Hasil Laboratorium : Tanggal Tanda Vital Suhu Tubuh (oC) 15 39 16 - 17 37 18 36,5 72

(93) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Nadi (x/menit) RR (x/menit) SpO2 (%) 120 - 104 120 30 30 28 30 - - - Sesak berkurang Pa Si So Sesak nafas Batuk Batuk Keluhan Penatalaksanaan Pa Si So Ma Ma Pa Si So Ma Pa Si So Ma Obat Salbutamol po 1mg  13  13  6  13  13  20  6  20  20  6  24  6 6 6 Metilprednisolon po  12 8mg Assessment : Pasien datang ke rumah sakit dengan keluhan sesak nafas disertai bunyi mengi. Pada kasus ini pasien memilki riwayat asma dari keluarga, dengan adanya riwayat asma dari keluarga pasien maka hal tersebut dapat dikatakan sebagai faktor resiko terjadinya asma (SIGN, 2012). Pasien diberi obat salbutamol dan metilprednisolon. Salbutamol diberikan sebagai bronkodilator dengan merelaksasi otot polos saluran napas (Mangunnegoro, 2004). Dosis pada anak 2-6 tahun 1-2mg diberikan 3-4x/hari (MIMS, 2009). Pasien diberikan dosis 1mg 3x/hari sehingga pasien menerima 3mg/harinya. Terapi salbutamol ini sudah sesuai. Metilprednisolon berperan sebagai antiinflamasi, diberikan untuk mengurangi peradangan terutama pada penyakit asma (Muttaqin, 2008). Dosis metilprednisolon untuk anak adalah 4-16mg/hari (MIMS, 2009). Pada tanggal 15 pasien menerima dosis metilprednisolon 8mg 2x/hari maka pasien menerima 16mg/hari, hal tersebut masih termasuk dalam range dosis sehingga dapat disimpullkan terapi yang diberikan sudah sesuai. Kemudian pada tanggal 16, 17 dan 18 pasien menerima dosis lebih rendah yaitu 8mg/hari (maintenance dosage), adanya penurunan dosis pada penggunaan metilprednisolon ini dapat dipertimbangkan dari keadaan pasien yang membaik. Pada hari pertama rawat inap (15/11/2013) suhu tubuh pasien mencapai 39oC dimungkinkan diberikan obat penurun panas atau demam namun tidak tercatat dalam penatalaksanaan obat, namun dapat dimungkinkan juga kondisi suhu tubuh pasien turun dengan sendirinya karena demam dapat disebabkan oleh adanya inflamasi, apabila inflamasi tersebut sudah teratasi maka suhu tubuh akan kembali normal. Keadaan pulang pasien membaik dan diizinkan. Keluhan pasien pada hari ke 3 dan 4 adalah batuk, namun batuk yang ditimbulkan tidak dapat diketahui secara pasti apakah batuk tersebut merupakan efek samping dari pemberian salbutamol karena pada hari ke 2 tidak ada keluhan batuk. Kemungkinan juga dapat disebabkan adanya manifestasi klinik dari asma. Keluhan batuk tidak diketahui pula apakah batuk yang dialami berdahak atau kering. 73

(94) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Evaluasi DRPs:  Perlu obat tidak terjadi pada kasus ini karena pasien menerima obat sesuai dengan indikasi pasien.  Tidak perlu obat tidak terjadi pada kasus ini karena pasien sudah diberikan terapi kombinasi yang sesuai.  Obat salah tidak terjadi pada kasus ini kerena pasien tidak mengalami komplikasi dari obat yang telah diterima.  Dosis kurang tidak terjadi pada kasus ini karena obat yang diberikan kepada pasien telah mencapai efek terapeutik yang diinginkan, hal tersebut dapat dilihat dari tanda vital dan keluhan pasien yang semakin membaik atau keluhan sesak nafas berkurang  Dosis berlebih tidak terjadi pada kasus ini karena dosis Salbutamol dan Metilprednisolon yang diberikan sudah tepat.  Efek samping dan interaksi obat tidak ditemukan dalam kasus ini. Rekomendasi : - Kasus 4a (No. RM 01.63.05.07) Subjektif Jenis kelamin /Umur: Perempuan/5th BB :16,5kg, TB: 103cm Masuk RS : 07/06/2013 – 09/06/2013 Riwayat : Riwayat alergi dingin pada nenek garis keturunan ibu, riwayat asma pada ibu. Sesak nafas,batuk,pilek sejak kemarin. Riwayat asma bronkial sering kambuh bulan lalu dan 2 bulan yang lalu. Objektif Hasil Laboratorium (Tgl. 07/06/2013): Thorax: simetris, retraksi, subcostal dalam dan tidak ada ketinggalan gerak. Tanggal Tanda Vital Suhu Tubuh (oC) Nadi (x/menit) Diagnosa Utama : asma bronkial Diagnosa Sekunder : rhinofaringitis akut Keluhan Utama : sesak nafas dan batuk Keadaan Pulang : membaik (diizinkan) 7 36,6 36,6 37,4 37 8 36,2 36,7 36 9 36 36 132 100 100 74

(95) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI RR (x/menit) SpO2 (%) Keluhan Penatalaksanaan Obat Ventolin® nebulizer (1resp/24jam) Combivent® nebulizer (1resp/2-4jam) Metilprednisolon i.v. 16mg Aminophilin inj. loading(100mg dalam D5% 50cc) Aminophilin inj. maintenen (120mg dalam D5% 50cc) 130 110 100 40 46 40 38 92 Sesak nafas, batuk tak berdahak, pilek berlendir warna jernih Pagi Siang Sore Malam  10  13 18  20  11  15.30  15  15 104 100 105 32 30 30 28 30 - - Batuk berkurang Pagi  24 8  20 6 Siang Tidak sesak Sore Malam  20 Pagi Siang Sore Malam 8 Assessment : Pasien berumur 5 tahun dengan riwayat asma yang diturunkan dari ibu dan riwayat alergi dingin dari nenek, dengan adanya riwayat asma dari keluarga pasien maka hal tersebut dapat dikatakan sebagai faktor resiko terjadinya asma (SIGN, 2012). Pasien diberi Combivent® nebulizer dan Ventolin® nebulizer secara selang-seling untuk menangani asma bronkial. Combivent® Nebulizer dan Ventolin® Nebulizer diberikan untuk mengatasi bronkospasme (gejala asma) berupa sesak nafas. Penggunaan antikolinergik 75

(96) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI seperti ipratropium bromide umumnya menghasilkan perbaikan fungsi paru 10-15% dibandingkan dengan penggunaan β agonis saja (Ikawati, 2007), karena ipratropium bromide mempunyai efek meningkatkan bronkodilatasi agonis beta-2 kerja singkat pada serangan asma dan memperbaiki faal paru (Mangunnegoro, 2004). Pasien diberi Metilprednisolon injeksi untuk menangani rhinofaringitis akut. Metilprednisolon dapat mengurangi peradangan dan berfungsi sebagai antiinflamasi. Pemberian dengan cara injeksi dimungkinkan untuk mempercepat terjadinya efek terapi pada pasien dibandingkan dengan penggunaan secara peroral. Dosis metilprednisolon pada anak 2mg/kgBB (Depkes RI, 2005), pasien dengan BB 16,5kg maka dosis yang seharusnya diterima adalah 33mg/hari. Pada kasus ini pasien diberikan dosis 16mg 2x sehari, maka dapat disimpulkan dosis yang diberikan sudah sesuai pustaka acuan. Aminophilin injeksi berfungsi menghilangkan gejala asma. Penggunaan aminofilin bersamaan dengan dextrose 5% untuk mengatasi hidrasi pada pasien (Depkes RI, 2005). Dosis awal pemberian aminofilin secara iv adalah 6-8mg/kgBB (WHO, 2013). Pasien dengan BB 16,5kg, maka dosis yang seharusnya diterima 99-132mg. Berdasarkan data di atas dosis yang diberikan pada pasien sudah sesuai. Dosis aminofilin di tingkatkan menjadi 120mg karena pada dosis tersebut masih adekuat atau masuk dalam range dosis yang ditetapkan. Pada tanggal 7, pasien mengalami takikardi karena adanya penyempitan bronkus maka otot jantung akan memompa darah ke dalam tubuh lebih cepat sehingga respirasi juga menjadi cepat. Keluhan pilek dengan lendir berwarna bening dimungkinkan adanya alergi terhadap cuaca yang dingin karena pasien juga memiliki riwayat alergi dingin dari nenek. Evaluasi DRPs:  Perlu obat tidak terjadi pada kasus ini karena pasien menerima obat sesuai dengan indikasi pasien.  Tidak perlu obat tidak terjadi pada kasus ini karena pasien sudah diberikan terapi kombinasi yang sesuai.  Obat salah tidak terjadi pada kasus ini kerena pasien tidak mengalami komplikasi dari obat yang telah diterima.  Dosis kurang tidak terjadi pada kasus ini karena obat yang diberikan kepada pasien telah mencapai efek terapeutik yang diinginkan, hal tersebut dapat dilihat dari tanda vital dan keluhan pasien yang semakin membaik atau keluhan sesak nafas berkurang.  Dosis berlebih tidak terjadi pada kasus ini karena dosis Combivent® nebulizer, Ventolin® nebulizer, Metilprednisolon dan Aminofilin yang diberikan sudah tepat.  Efek samping dan interaksi obat ditemukan pada kasus ini yaitu antara Metilprednisolon dengan Aminofilin yang menyebabkan terjadinya penurunan efek dari teofilin dengan mempengaruhi metabolisme enzim CYP3A4 di hati atau usus (Medscape Drug Interaction Checker, 2014). Berdasarkan data yang di dapat tidak dapat diketahui secara pasti apakah benar-benar terjadi penurunan efek dari Teofilin, sehingga tidak diperlukan rekomendasi khusus dan tergolong dalam DRPs potensial. 76

(97) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Rekomendasi : Monitoring pada penggunaan Metilprednisolon bersamaan dengan Teofilin secara bersamaan. Kasus 4b (No. RM 01.63.05.07) Subjektif Jenis kelamin /Umur: Perempuan/5th BB :16,5kg, TB : 106cm Masuk RS : 10/09/2013 – 13/09/2013 Riwayat : Anak terdiagnosis asma bronchial sejak 2 tahun. 7HSMRS: anak batuk, pilek, lalu orang tua memberi Ataroc dan nebulisasi. 4HSMRS: anak demam,semakin lama semakin tinggi (dikatakan hingga 390C), batuk, pilek, sesak, makan dan minum mau. Orang tua membawa ke dokter Sp. AK. Diberi terapi Cefixime, fluimucyl, nebulizer bila sesak. HMRS: keluhan menetap, demam naik turun, batuk, pilek, sesak nafas hilang timbul, makan berkurang minum mau, orang tua memberikan nebulizer per 4jam, sesak berkurang namun malam hari anak sesak dan demam kembali, orang tua membawa ke RSS. Diagnosa Utama : asma serangan sedang episode sering Diagnosa Sekunder : rhinofaringitis akut Keluhan Utama : demam dan sesak nafas Keadaan Pulang : membaik (diizinkan) Objektif 77

(98) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI NEUT#: 11,5 x103µl (↑) LMPYH#: 2,41 x103µl MONO#: 0,88 x103µl EO#:0,12 x103µl BASO#:0,02 x103µl NEUT%: 77,1% (↑) LMPYH%: 16,1% MONO%:5,9% EO%: 0,8% (↓) BASO%: 0,1% Hasil Laboratorium (Tgl. 11/09/2013): Thorax : simetris, retraksi tidak ada WBC : 14,93x103µl (↑) RBC : 4,68 x106µl HGB : 12,3g/dL HCT : 35,6% (↓) MCV :76,1 fL (↓) MCH : 26,3 pg (↓) PLT : 397x103µl Tanggal Suhu Tubuh (oC) Nadi (x/menit) Tanda Vital RR (x/menit) SpO2 (%) Keluhan 11 38,7 37,9 37,4 36,7 100 120 108 108 38 30 36 36 Sesak nafas berkurang, badan terasa panas 12 36,7 38,3 38,4 100 110 94 112 36 36 30 21 Demam, batuk, sesak berkurang 13 36,2 36 130 96 96 24 24 30 93 Sesak berkurang 78

(99) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Penatalaksanaan Obat O2 1L/menit Paracetamol sirup 160mg/5ml, 1½ cth Praxion forte® sirup 250mg/5ml, ¾ cth Cefixime po ½cth Ataroc® (Procaterol HCl ) po 15µg Metilprednisolon inj. 10mg Ventolin® nebulizer + NaCl 1resp tiap 4-6jam P   00.30 S M  21 7  00.30 ,7 S  18  13  18  21 P  6, 11 6  10 S S  18  18  15  15 M P S S M 6  22  22 6 6  12 Assessment : Pasien terdiagnosis asma sejak usia 2 tahun. Pasien masuk RSUP Dr. Sardjito pukul 23.15. Pasien diberikan Oksigen berfungsi untuk menjaga saturasi oksigen agar >95%(WHO, 2013). Pasien diberikan Ventolin® nebulizer, metilprednisolon injeksi dan ataroc untuk mengatasi asma. Ventolin® Nebulizer untuk mengatasi bronkospasme (gejala asma) berupa sesak nafas. Metilprednisolon Injeksi diberikan untuk mengurangi peradangan terutama pada penyakit asma (Muttaqin, 2008). Dosis metilprednisolon untuk anak dengan BB 16,5kg adalah 8,25-28,05mg/hari (Medscape, 2014). Pasien diberikan dosis metilprednisolon 10mg 2x/hari, maka dapat disimpulkan dosis yang diberikan sudah sesuai dengan pustaka acuan. Ataroc® untuk mengatasi dispnea atau sesak karena asma. Diagnosis sekunder pasien berupa rhinofaringitis akut dapat dilihat dari hasil laboratorium bahwa terjadi peningkatan pada jumlah neutrofil yang menunjukkan adanya infeksi (Sutedjo, 2009). Pasien diberikan Cefixime untuk mengatasi rhinofaringitis. Pasien diberikan Paracetamol sirup dan Praxion Forte® sirup untuk mengatasi demam yang muncul pada tanggal 11 dan 12. Paracetamol sirup digunakan pada tanggal 11 saat suhu tubuh pasien mencapai 38,7oC dengan adanya keluhan badan terasa panas, kemudian dilanjutkan dengan terapi praxion forte syrup dengan kekuatan obat 250mg/5ml karena suhu tubuh pasien masih tinggi. Evaluasi DRPs:  Perlu obat tidak terjadi pada kasus ini karena pasien menerima obat sesuai dengan indikasi pasien.  Tidak perlu obat tidak terjadi pada kasus ini karena pasien sudah diberikan terapi kombinasi yang sesuai.  Obat salah tidak terjadi pada kasus ini kerena pasien tidak mengalami komplikasi dari obat yang telah diterima.  Dosis kurang tidak terjadi pada kasus ini karena obat yang diberikan kepada pasien telah mencapai efek terapeutik yang diinginkan, hal tersebut dapat dilihat dari tanda vital dan keluhan pasien yang semakin membaik atau keluhan sesak nafas berkurang 79

(100) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI  Dosis berlebih tidak terjadi pada kasus ini karena dosis Ventolin® nebulizer, Metilprednisolon injeksi dan Ataroc® yang diberikan sudah tepat.  Efek samping obat dan interaksi obat tidak ditemukan pada kasus ini. Rekomendasi : - Kasus 5 (No. RM 01.57.92.69) Subjektif Jenis kelamin /Umur: perempuan/ 7th BB :20kg Masuk RS : 13/10/2013 – 16/10/2013 Riwayat : 1HSMRS : anak batuk pilek, tidak sesak dan tidak demam HMRS :anak tampak sesak, sudah dinebu 1x dengan Ventolin® dirumah 8jam SMRS, anak masih merasa sesak 4jam SMRS : anak datang ke RSS kemudian diberi Ventolin® nebulizer 1 respule (1x), respon baik, anak dipulangkan dan diberi terapi salbutamol 3x2mg p.o 4jam kemudian anak sesak lagi lalu dibawa ke IGD RSS. Anak terdiagnosis asma sejak ±4th yang lalu. Objektif Diagnosa Utama : asma episodik sering dalam serangan sedang Diagnosa Sekunder : pneumonia ringan Keluhan Utama : sesak nafas Keadaan Pulang : membaik (diizinkan) Hasil Laboratorium: Tanggal Tanda Vital Suhu Tubuh (oC) Nadi (x/menit) 13 36,7 - 14 37,5 - 15 - 16 36 127 123 141 133 130 110 - 112 80

(101) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 30 36 24 31 34 RR 33 21 (x/menit) 29 94 97 95 94 SpO2 94 95 (%) 96 Masih sesak, sudah diuap Sesak nafas Sesak nafas berkurang, batuk Batuk dan sesak berkurang berdahak (+) Ventolin®1x, masih batuk, Keluhan muntah 1x saat batuk, dahak sulit keluar Penatalaksanaan Pagi Siang Sore Malam Pagi Siang Sore Malam Pagi Siang Sore Malam Pagi Siang Sore Malam Obat    Metilprednisolon 18 18 18 iv 1x20mg         Ampicilin inj. 18 24 6 12 18 24 6 12 4x500mg  Ventolin® 12 nebulizer 1resp Assessment : Pasien terdiagnosis asma sejak ±4th yang lalu. Ventolin® Nebulizer diberikan untuk mengatasi bronkospasme (gejala asma) berupa sesak nafas. Pada tanggal 15 dan 16 keluhan sesak pada pasien sudah berkurang atau membaik. Namun pada lembar rekam medis tidak dituliskan tanda vital dari pasien ini. Metilprednisolon iv untuk mengurangi peradangan dan sebagai antiinflamasi. Dosis metilprednisolon untuk anak dengan BB 20kg adalah 10-34mg/hari (Medscape, 2014). Pasien menerima dosis metilprednisolon 20mg/hari, maka dapat disimpulkan dosis yang diberikan sudah sesuai karena masih terdapat dalam range dosis pada pustaka acuan. Evaluasi DRPs:  Perlu obat tidak terjadi pada kasus ini karena pasien menerima obat sesuai dengan indikasi pasien.  Tidak perlu obat tidak terjadi pada kasus ini karena pasien sudah diberikan terapi kombinasi yang sesuai.  Obat salah tidak terjadi pada kasus ini kerena pasien tidak mengalami komplikasi dari obat yang telah diterima.  Dosis kurang tidak terjadi pada kasus ini karena obat yang diberikan kepada pasien telah mencapai efek terapeutik yang diinginkan, hal tersebut 81

(102) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI dapat dilihat dari tanda vital dan keluhan pasien yang semakin membaik atau keluhan sesak nafas berkurang.  Dosis berlebih tidak terjadi pada kasus ini karena dosis Ventolin® nebulizer dan Metilprednisolon yang diberikan sudah tepat.  Efek samping obat dan interaksi obat tidak terjadi pada kasus ini. Rekomendasi : - Kasus 6 (No. RM 00.72.28.27) Subjektif Jenis kelamin /Umur: Laki-laki/11th BB : 44kg, TB :138cm Masuk RS : 30/06/2013 - 02/07/2013 Riwayat : 7HSMRS : Anak batuk(+), pilek (+), sesak nafas (-), dahak (+) kental, diberi bodrexin flu batuk (paracetamol, pseudoefedrin, GG, bromhexin, CTM)→tidak membaik, BAB & BAK normal. 3HSMRS : batuk (+) pilek (+) demam (+), sesak nafas (-), dahak (+) kental sulit keluar belum diperiksakan muntah (-), BAB & BAK normal. 1HSMRS :batuk (+), pilek (+), demam naik turun, sesak nafas (+), dahak kental (+)→Nebulizer di Puskesmas Mlati→membaik+tetapi sesak muncul lagi diberi obat (salbutamol 2mg, CTM) sudah diminum 1x. Objektif Hasil Laboratorium (Tgl. 30/06/2013): WBC : 9,54 x 103µL RBC : 4,80 x 106µL HGB : 13,0 g/dL (↓) HCT : 37,9 % (↓) PLT : 440 x 103µL MPV :9,7 fL Tanggal HMRS : batuk (+), pilek (+), sesak nafas (+), muntah 2x, BAB cair 3x sejak sore, lendir (-) darah (-)→ke dokter umum di beri ciprofloxacin 2x250mg, chlorfusin dan oralit, anak makin sesak, tripod position→RSS. Serangan asma terakhir 6 bulan yang lalu. Terdiagnosis sejak 6th yang lalu dan IGD 2x. Diagnosa Utama : asma bronkial serangan sedang episode jarang Diagnosa Sekunder : diare cair akut tanpa dehidrasi Keluhan Utama : sesak nafas Keadaan Pulang : sembuh (diizinkan) NEUT# : 6,58 x103µL LYMPH# :1,67x103µL MONO# :0,81 x 103µL EO# : 0,46 x 103µL(↑) BASO# :0,02 x 103µL 30 1 2 82

(103) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 37,1 37,5 36 Suhu Tubuh o ( C) 122 110 100 Nadi (x/menit) Tanda Vital 28 30 30 RR (x/menit) 99 - SpO2 (%) Keluhan Penatalaksanaan Obat Ventolin® nebulizer 1resp+NaCl 2cc Zink po 20 mg Combivent® nebulizer 1 resp+NaCl Metilprednisolon po Batuk (+), pilek (+), sesak nafas (+), BAB cair (+) Pagi Siang 36,7 36,7 36,4 36,5 36,5 100 104 90 122 90 24 24 22 24 22 94 96 Batuk berkurang, sesak berkurang, tidur tidak nyenyak Sore Malam Pagi       Siang Sore   Malam 36,8 36,9 118 100 20 - 95 - Sudah lebih baik, tidak sesak, semalam sesak →memakai MDI 7 puff Pagi Siang Sore Malam      83

(104) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 16mg MDI 1 puff 7puff Assessment : Combivent® Nebulizer dan Ventolin® Nebulizer diberikan untuk mengatasi bronkospasme (gejala asma) berupa sesak nafas. Penggunaan antikolinergik seperti ipratropium bromide umumnya menghasilkan perbaikan fungsi paru 10-15% dibandingkan dengan penggunaan β agonis saja (Ikawati, 2007) karena ipratropium bromide mempunyai efek meningkatkan bronkodilatasi agonis beta-2 kerja singkat pada serangan asma, memperbaiki faal paru (Mangunnegoro, 2004). Penambahan NaCl pada inhalasi dapat mengencerkan dahak. Metilprednisolon diberikan untuk mengurangi peradangan dan sebagai antiinflamasi. Dosis metilprednisolon untuk anak dengan BB 44kg adalah 22-74,8mg/hari (Medscape, 2014). Pasien menerima dosis metilprednisolon 16mg 3x/hari atau 48mg/hari, dosis yang diberikan pada pasien sudah sesuai dengan acuan pustaka. Pada kasus ini pasien diberikan MDI (Metered Dose Inhaler) namun tidak tertulis zat aktif yang digunakan pada alat MDI. Evaluasi DRPs:  Perlu obat tidak terjadi pada kasus ini karena pasien menerima obat sesuai dengan indikasi pasien.  Tidak perlu obat tidak terjadi pada kasus ini karena pasien sudah diberikan terapi kombinasi yang sesuai.  Obat salah tidak terjadi pada kasus ini kerena pasien tidak mengalami komplikasi dari obat yang telah diterima.  Dosis kurang tidak terjadi pada kasus ini karena obat yang diberikan kepada pasien telah mencapai efek terapeutik yang diinginkan, hal tersebut dapat dilihat dari tanda vital dan keluhan pasien yang semakin membaik atau keluhan sesak nafas berkurang.  Dosis berlebih tidak terjadi pada kasus ini karena dosis Combivent® nebulizer, Ventolin® nebulizer dan Metilprednisolon yang diberikan sudah tepat.  Efek samping dan interaksi obat tidak terjadi pada kasus ini. Rekomendasi : - Kasus 7 (No. RM 01.41.99.33) Subjektif Jenis kelamin /Umur: laki-laki/4th BB :9,5kg, TB: 87cm Masuk RS : 06/06/2013 – 13/06/2013 Riwayat : Diagnosa Utama : asma serangan sedang episode sering Diagnosa Sekunder : chronic lung disease, acute rhinopharyngitis, bronchitis, gizi kurang Keluhan Utama : sesak nafas 84

(105) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ±3hari batuk berdahak, pilek, tidak demam, tidak sesak nafas Keadaan Pulang : membaik (diizinkan) HMRS : sejak siang demam, sesak nafas, batuk berdahak, pilek, muntah tiap batuk, oleh orang tua diberikan oksigen & nebulizer dengan Ventolin® 3x, tidak diare, tidak kejang, makan & minum, serangan asma dalam 1 bulan 3x, diantara serangan aktivitas biasa. Objektif Hasil Laboratorium (Tgl.7/06/2013): Nilai normal : Hb : 13,7 g/dl Hb : 13-17 g/dl AL : 16.000/mmk(↑) Al (leukosit) : 5-11 (ribu/mmk) AT :311.000/mmk At (trombosit) : 150-450 (ribu/mmk) HCT :41% Hct (hemaktokrit) : 40-50% Batang : 4% Batang : 2-5% Segmen : 82%(↑) Segmen : 36-66% Limfosit :14%(↓) Limfosit : 22-40% Tanggal 6 7 8 9 10 11 36,9 37 36,8 36,6 36,7 Suhu 37 36 36,6 36,6 36,6 Tubuh 37 37 36,7 36,6 36,7 (oC) Tanda Vital Nadi (x/menit) RR (x/menit) SpO2 (%) Keluhan 12 36 37 36,9 13 36,5 36,5 130 148-150 120 120 - 120 110 110 110 100 - 100 102 120 100 103 110 40-42 32 30 36 - 28 30 26 32 30 - 36 26 30 44 26 28 26 - Tidak demam, batuk Tidak demam, masih batuk Tidak demam, batuk 97 Demam tidak ada, batuk 98 Masih sesak ,tidak Sesak demam, tidak berkurang, Pola nafas tidak efektif Tidak demam, tidak sesak, 100 100 85

(106) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI tidak ada, pilek tidak ada batuk tidak demam batuk berkurang berdahak, pilek, masih sesak berdahak, pilek, sesak berkurang berkurang, pilek, sesak nafas berkurang P S S M Penatalaksanaan P S S M P S S M P S S M P S S M P S S M P S S M P S S M Obat            Dexamethason inj. 24 8 16 24 6 13 20 6 6 13 2mg         Combivent® 6 1,4, 14 18 22 6 6 18 nebulizer 10 1resp+2cc NaCl 0,9% tiap 4-6jam    O2 nasal kanul 7 7 7 2L/menit  O2 nasal kanul 7 1L/menit  Seretide® 8 (Salmeterol) po 2x1 puff (50µg)                 Amoxicillin po 6 13 6 13 6 13 6 13 6 6 13 20 20 20 20 20 150mg        Metilprednisolon 20 6 13 20 6 6 13 po 3x2,5mg        Aminofilin 6 13 20 6 13 20 6 (Teofilin) po 3x30mg          Ventolin® 20 6 13 20 6 16 24 6 13 nebulizer 1A/8jam Assessment : Pasien diberi Combivent® Nebulizer untuk mengatasi bronkospasme pada asma, penggunaan Combivent® nebulizer ini pada tanggal 7-10, kemudian dilanjutkan dengan pemberian Ventolin® Nebulizer dikombinasikan dengan aminofilin dan metilprednisolon karena pasien mengalami sesak nafas kembali pada tanggal 11 dan 12. Penambahan NaCl pada Combivent® nebulizer dapat mengencerkan dahak. Dexamethason injeksi dan Metilprednisolon digunakan sebagai 86

(107) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI antiinflamasi dan untuk mengatasi adanya peradangan, penggunaan dexamethason dilakukan pada tanggal 6-10 kemudian dilanjutkan dengan penggunaan metilprednisolon pada tanggal 11-13, sedangkan Aminofilin digunakan untuk mengatasi spasme bronkus yang berhubungan dengan asma, emfisema dan bronchitis kronis. Oksigen berfungsi untuk menjaga saturasi oksigen agar >95% serta mengurangi terjadinya hipoksemia (WHO, 2013). Pasien diberikan Amoxicillin untuk mengatasi rhinofaringitis yang dapat ditunjukkan dengan adanya penigkatan jumlah limfosit pada hasil laboratorium yang berarti bahwa adanya infeksi dalam tubuh pasien (Sutedjo, 2009). Pasien diberikan Seretide® yang merupakan golongan LABA yang berfungsi untuk mengontrol gejala asma yang terjadi yang memiliki waktu paruh 12jam dan anti-radang (Bruton et al.,2008). Evaluasi DRPs:  Perlu obat tidak terjadi pada kasus ini karena pasien menerima obat sesuai dengan indikasi pasien.  Tidak perlu obat tidak terjadi pada kasus ini karena pasien sudah diberikan terapi kombinasi yang sesuai.  Obat salah tidak terjadi pada kasus ini kerena pasien tidak mengalami komplikasi dari obat yang telah diterima.  Dosis kurang tidak terjadi pada kasus ini karena obat yang diberikan kepada pasien telah mencapai efek terapeutik yang diinginkan, hal tersebut dapat dilihat dari tanda vital dan keluhan pasien yang semakin membaik atau keluhan sesak nafas berkurang.  Dosis berlebih tidak terjadi pada kasus ini karena dosis Combivent® nebulizer, Ventolin® nebulizer, Dexamethason, Metilprednisolon, Aminofilin dan Seretide® yang diberikan sudah tepat.  Efek samping dan interaksi obat ditemukan pada kasus ini yaitu interaksi antara Metilprednisolon dan Aminofilin (Teofilin) yang akan menurunkan tingkat atau efek teofilin dengan mempengaruhi metabolisme enzim CYP3A4 dihati atau usus (Medscape Drug Interaction Checker, 2014). Berdasarkan data yang di dapat tidak dapat diketahui secara pasti apakah benar-benar terjadi penurunan efek dari Teofilin, sehingga tidak diperlukan rekomendasi khusus dan tergolong dalam DRPs potensial. Rekomendasi: Monitoring pada penggunaan Metilprednisolon dan Teofilin secara bersamaan. Kasus 8 (No. RM 01.45.45.15) Subjektif Jenis kelamin /Umur: laki-laki/10th BB : 32kg Masuk RS : 19/08/2013 – 21/08/2013 Riwayat : Diagnosa Utama : asma episode jarang Diagnosa Sekunder : chronic sinusitis (rhinitis alergi presisten), ani with fisura (robekan di daerah anus) Keluhan Utama : sesak nafas 87

(108) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Riwayat asma dari ibu (+) dan alergi dari ibu (+) Saat usia 6 bulan, anak terdiagnosis asma. 1BSMRS : anak pilek, tidak batuk, tidak muntah, tanpa demam, tidak sesak 2MSMRS : anak batuk dan pilek, tidak muntah tidak demam, sesak nafas hilang timbul HMRS : sesak nafas bertambah, batuk dan pilek masih, mulai demam(tidak tinggi), anak mengeluh nyeri kepala. Oleh orang tua diberi nebulisasi Ventolin® 1 amp. Keluhan tidak membaik→RS. Sardjito Objektif Hasil Laboratorium (Tgl.20/08/2013): AL (leukosit) : 17.580 HB :12,6 HCT (hematokrit) :37,5 AT (trombosit) : 368.000 NEUT : 65,2% Tanggal 19 37,6 Suhu Tubuh (oC) Tanda Vital Nadi (x/menit) RR (x/menit) SpO2 (%) 120 46 Sesak nafas, nyeri karena sinusitis Keluhan Keadaan Pulang : membaik (diizinkan) 20 36,5 36,7 21 36,5 101 98 26 22 97 Pagi masih sesak. Tidak sesak, sakit kepala di ujung hidung (riwayat sinusitis), nyeri dianus jika sudah BAB, dikatakan tidak ada benjolan dan berdarah saat 100 25 97 Anak tidak demam, tak sesak, sakit dikepala masih, batuk dan pilek masih. BAB dan BAK tak ada keluhan. 88

(109) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB, batuk dan pilek, BAB cair. Malam Pagi Siang Sore Malam       Penatalaksanaan Obat Pagi Siang Sore Pagi Siang Sore Malam O2 NK 1L/menit Azitromizin po 480mg Ventolin® nebulizer 1resp  Paracetamol po 10mg/kg Metilprednisolon po 16 mg Zinc po 1x20mg  Tremenza® po 3x1 cth Assessment : Pasien memilki riwayat asma dan alergi dari keluarga, dengan adanya riwayat atopi dari keluarga pasien maka hal tersebut dapat dikatakan sebagai faktor resiko terjadinya asma (SIGN, 2012). Pada tanggal 19 pasien diberikan Oksigen karena adanya bronkokontriksi selain itu juga berfungsi untuk menjaga saturasi oksigen agar >95% (WHO, 2013). Keesokan harinya pasien diberikan Ventolin® Nebulizer untuk mengatasi bronkospasme (gejala asma) berupa sesak nafas. Metilprednisolon diberikan untuk mengurangi peradangan dan sebagai antiinflamasi. Dosis metilprednisolon untuk anak dengan BB 32kg adalah 16-54,4mg/hari (Medscape, 2014), dosis yang diberikan sudah sesuai. Evaluasi DRPs:  Perlu obat tidak terjadi pada kasus ini karena pasien menerima obat sesuai dengan indikasi pasien.  Tidak perlu obat tidak terjadi pada kasus ini karena pasien sudah diberikan terapi kombinasi yang sesuai.  Obat salah tidak terjadi pada kasus ini kerena pasien tidak mengalami komplikasi dari obat yang telah diterima.  Dosis kurang tidak terjadi pada kasus ini karena obat yang diberikan kepada pasien telah mencapai efek terapeutik yang diinginkan, hal tersebut dapat dilihat dari tanda vital dan keluhan pasien yang semakin membaik atau keluhan sesak nafas berkurang.  Dosis berlebih tidak terjadi pada kasus ini karena dosis Ventolin® nebulizer dan Metilprednisolon yang diberikan sudah tepat.  Efek samping dan interaksi obat tidak terjadi pada kasus ini. Rekomendasi: - 89

(110) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Kasus 9 (No. RM 01.64.60.62) Subjektif Jenis kelamin /Umur: Laki-laki/10th BB : 26kg Masuk RS :05/08/2013 – 07/08/2013 Riwayat : Riwayat asma (-) Riwayat alergi debu dari nenek ibu (+) Ada riwayat atopi pada keluarganya. Diagnosa Utama : asma bronchial Diagnosa Sekunder : rhinofaringitis akut bakterial Keluhan Utama : sesak nafas Keadaan Pulang : membaik (diizinkan) 3HSMRS : anak demam tidak tinggi, tidak menggigil, tidak batuk&pilek, makan minum baik, tidak muntah →diberi paracetamol. 2HSMRS : anak mulai batuk dan pilek, sesak nafas, mengi, makan dan minum menurun 1HSMRS : nafas bertambah sesak, nafas cepat, mengi bertambah → ke IGD kemudian terdioagnosis asma serangan ringan, nebulisasi Ventolin® 1x→membaik HMRS : anak mengeluh sesak lagi →ke IGD RSS Objektif Hasil Laboratorium (Tgl.05/08/2013): MCV : 82,1 fL MCH : 26,9 pg HB : 14,7 g/dL HCT : 44,9 % Tanggal Tanda Vital Suhu Tubuh o ( C) Nadi (x/menit) 5 37,2 38 37,5 37 6 37,6 37,4 36,6 130 130 110 100 115 110 Neu% : 86%(↑) Limp% : 8,3%(↓) Mono% : 2,5% Eo% : 1,8%(↓) Baso% : 0,3% RO Thorax : bronchitis, besar cor normal. 7 36,2 36,6 37 78 82 90 90

(111) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI RR (x/menit) SpO2 (%) 110 26 - - 18 19 - - 95% 96% - Sesak nafas Batuk, sesak berkurang Tidak sesak, membaik Keluhan Penatalaksanaan Pagi Siang Sore Malam Pagi Siang Sore Malam Pagi Siang Sore Malam Obat Amoxicilin po 6 13 6 13 20 20 500mg Aminofilin po 6 75mg Aminofilin inj. 16 4 240 mg+D5% 500cc Metilprednisolon 18 6 18 6 inj.13mg Ventolin® 20,24 8 12 16 6 inhalasi+NaCl 0,9% 2cc 18 Combivent® 22 4 24 18 inhalasi+NaCl 0,9% 2cc Assessment : Pasien mempunyai riwayat alergi debu dari keluarganya, dengan adanya riwayat atopi dari keluarga pasien maka hal tersebut dapat dikatakan sebagai faktor resiko terjadinya asma (SIGN, 2012). Combivent® Inhalasi dan Ventolin® Inhalasi diberikan untuk mengatasi bronkospasme (gejala asma) berupa sesak nafas. Penggunaan antikolinergik seperti ipratropium bromide umumnya menghasilkan perbaikan fungsi paru 10-15% dibandingkan dengan penggunaan β agonis saja (Ikawati, 2007), karena ipratropium bromide mempunyai efek 91

(112) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI meningkatkan bronkodilatasi agonis beta-2 kerja singkat pada serangan asma dan memperbaiki faal paru (Mangunnegoro, 2004). Penambahan NaCl pada inhalasi berfungsi untuk mengencerkan dahak. Metilprednisolon diberikan sebagai antiinflamasi, dosis untuk anak dengan BB 26kg yaitu 13-44,2mg/hari (Medscape, 2014), pasien menerima dosis 13-26mg/hari sehingga dapat dikatakan bahwa dosis yang diberikan sesuai. Aminofilin, digunakan untuk pengobatan dan profilakasis spasme bronkus yg berhubungan dengan asma, emfisema, bronchitis kronik. Pemberian kombinasi aminofilin dengan beta-agonis diragukan kegunaannya. Biasanya diberikan pada keadaan serangan asma ringan (Depkes RI, 2005). Dari hasil wawancara dokter, pasien menerima aminofilin injeksi secara infus pelan dengan menggunakan syrige dengan dosis maintenance pada tanggal 5 pukul 16.00 hingga 4 pagi. Pada tanggal 7 pemberian aminofilin digantikan secara peroral karena kondisi pasien sudah membaik dan dosis 75mg diketahui dari sediaan obat yang tersedia di RSUP Dr. Sardjito yaitu 150mg, dimungkinkan pemberian aminofilin tablet 150mg dibagi menjadi 2 bagian. Penggunaan aminofilin inhalasi dengan SABA berpotensial untuk terjadinya takikardi karena kedua obat tersebut memiliki efek samping takikardi, namun pada kasus ini pasien tidak mengalami takikardi. Batuk yang ditimbulkan pada keluhan pasien tidak diketahui secara jelas apakah batuk tersebut berdahak atau kering, dapat dimungkinkan hal tersbut merupakan efek samping dari pemberian salbutamol namun dapat dimungkinkan juga batuk yang ditimbulkan merupakan manifestasi klinik dari asma. Suhu tubuh pasien mencapai 38oC namun dapat dimungkinkan juga kondisi suhu tubuh pasien turun dengan sendirinya karena demam dapat disebabkan oleh adanya inflamasi, apabila inflamasi tersebut sudah teratasi maka suhu tubuh akan kembali normal. Evaluasi DRPs:  Perlu obat tidak terjadi pada kasus ini karena pasien menerima obat sesuai dengan indikasi pasien.  Tidak perlu obat tidak terjadi pada kasus ini karena pasien sudah diberikan terapi kombinasi yang sesuai.  Obat salah tidak terjadi pada kasus ini kerena pasien tidak mengalami komplikasi dari obat yang telah diterima.  Dosis kurang tidak terjadi pada kasus ini karena obat yang diberikan kepada pasien telah mencapai efek terapeutik yang diinginkan, hal tersebut dapat dilihat dari tanda vital dan keluhan pasien yang semakin membaik atau keluhan sesak nafas berkurang..  Dosis berlebih tidak terjadi pada kasus ini karena dosis Combivent® inhalasi, Ventolin® inhalasi, Metilprednisolon dan Aminofilin yang diberikan sudah tepat.  Efek samping dan interaksi obat ditemukan pada kasus ini. Pasien diberikan Aminofilin pada tanggal 6 pukul 4 pagi, kemudian pukul 6 pagi pasien diberikan Metilprednisolon injeksi, hal tersebut dapat menimbulkan adanya interaksi antara aminofilin dan metilprednisolon karena teofilin memiliki waktu paruh 3,7jam (Lacy et al., 2011). Interaksi tersebut menyebabkan terjadinya penurunan efek dari teofilin 92

(113) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI dengan mempengaruhi metabolisme enzim CYP3A4 di hati atau usus (Medscape Drug Interaction Checker, 2014). Berdasarkan data tersebut tidak dapat diketahui secara pasti apakah benar-benar terjadi penurunan efek dari teofilin, sehingga tidak diperlukan rekomendasi khusus dan tergolong dalam DRPs potensial. Rekomendasi : Monitoring pada penggunaan Metilprednisolon dan Teofilin secara bersamaan. Kasus 10 (No. RM 00.73.39.82) Subjektif Jenis kelamin /Umur: Laki-laki/ 2th BB : 13,5 kg Masuk RS : 08/07/2013 – 12/07/2013 Riwayat : 2MSMRS : pasien mengeluh batuk pilek disertai sesak nafas, diberi obat dokter tetapi keluhan tidak membaik. 4HSMRS: pasien masih batuk dan pilek, dibaawa ke RS Swasta dan mondok. HMRS : pasien meminta untuk di rawat di RSS, tidak muntah, masih batuk dipagi hari Objektif Nilai normal: Hb : 13-17 g/dl Leko : 5-11 ribu/mmk Eos : 1-4% Segmen : 36-66% Limf: 22-40% Mono : 4-8 % Hematokrit : 40-50 % Trombosit : 150-450 ribu/mmk Hasil Laboratorium (Tgl.09/07/2013): Hb : 13,1 g/dl Lekosit: 7,4 ribu/mmk Eos%: 5% (↑) Segmen : 28% (↓) Limf%: 65%(↑) Mono% :2 %(↓) Hematokrit : 39%(↓) Trombosit : 294 ribu/mmk Tanggal 8 Diagnosa Utama : asma Diagnosa Sekunder : tuberkulosis paru (bakteri), epilepsy Keluhan Utama : sesak nafas Keadaan Pulang : membaik (diizinkan) 9 10 11 12 93

(114) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Suhu Tubuh (oC) Tanda Vital Nadi (x/menit) RR (x/menit) SpO2 (%) Keluhan 36,7 36,2 36,2 36,8 36,4 100 - 120 110 96 28 26 20 100 - 30 98 Sesak berkurang, tidak demam, batuk Penatalaksanaan Pa Si So Ma Obat  Depakene® po 18 20mg  Metilprednisolon 18 po 4mg Rifampicin po 450mg Suprazid forte po 200mg Ventolin® nebulizer 1resp Assessment : Ventolin® Nebulizer dengan zat aktif 36,4 37 36,4 Masih batuk, pilek menjelang pagi, tidak muntah Pa Si Ma  18 6 6 So  13 100 112 100 Batuk, BAB lembek Pa Si 6 So 120 24 98 Ma  18 6  20 36,4  13 Tidak demam, batuk sedikit, sesak berkurang, BAB normal, tidak kejang Pa Si So Ma  20 Si So Ma 6 6 6 6 6 6  12 Pa 6 6 6 Tidak sesak nafas, batuk berkurang  12 salbutamol sulfate berfungsi untuk mengatasi bronkospasme atau gejala asma berupa sesak nafas. 94

(115) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Metilprednisolon diberikan untuk mengurangi peradangan terutama pada penyakit asma (Muttaqin, 2008), dengan menurunkan jumlah dan aktivitas dari sel yang terinflamasi dan meningkatkan efek obat beta adrenergik dengan memproduksi AMP siklik, inhibisi mekanisme bronkokonstriktor, atau merelaksasi otot polos secara langsung (Kelly and Sorkness, 2008). Pada hasil laboratorium didapatkan jumlah eosinofil dan limposit yang tinggi. Peningkatan jumlah eosinofil menunjukkan adanya peristiwa alergi dan infeksi parasit dan peningkatan limposit menunjukkan adanya infeksi virus (Sutedjo, 2009). Keluhan batuk pada pasien merupakan manifestasi klinik dari asma. Keluhan batuk tidak diketahui pula apakah batuk yang dialami berdahak atau kering. Evaluasi DRPs:  Perlu obat tidak terjadi pada kasus ini karena pasien menerima obat sesuai dengan indikasi pasien.  Tidak perlu obat tidak terjadi pada kasus ini karena pasien sudah diberikan terapi kombinasi yang sesuai.  Obat salah tidak terjadi pada kasus ini kerena pasien tidak mengalami komplikasi dari obat yang telah diterima.  Dosis kurang tidak terjadi pada kasus ini karena obat yang diberikan kepada pasien telah mencapai efek terapeutik yang diinginkan, hal tersebut dapat dilihat dari tanda vital dan keluhan pasien yang semakin membaik atau keluhan sesak nafas berkurang.  Dosis berlebih tidak terjadi pada kasus ini karena dosis Ventolin® nebulizer dan Metilprednisolon yang diberikan sudah tepat  Efek samping dan interaksi obat ditemukan pada kasus ini yaitu antara Metilprednisolon dan Rifampisin yang dapat menurunkan efek Metilprednisolon yang ditunjukkan dengan adanya studi farmakokinetik bahwa AUC Metilprednisolon akan berkurang sekitar 60% dan waktu paruhnya akan menurun 40-60% (Baxter, 2008). Berdasarkan data yang diperoleh tidak dapat diketahui secara pasti apakah benar-benar terjadi penurunan efek dari Metilprednisolon, sehingga tergolong dalam DRPs potensial. Rekomendasi: Monitoring kondisi pasien terkait dengan tanda inflamasi seperti peningkatan suhu tubuh pasien pada penggunaan Rifampisin dan Metilprednisolon secara bersamaan. Kasus 11 (No. RM 01.00.23.27) Subjektif Jenis kelamin /Umur: Perempuan/13th BB : 38kg Masuk RS : 07/11/2013 – 08/11/2013 Riwayat : Riwayat asma dari keluarga (-) ±7HSMRS: batuk (+), berdahak(-), mulai agak sesak (+), demam(-), pilek(-), makan dan Diagnosa Utama : asma bronkial serangan sedang episode sering Diagnosis Sekunder : acute nasopharingitis Keluhan Utama : sesak nafas Keadaan Pulang : membaik (diizinkan) 95

(116) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI minum mau, BAB & BAK normal, terdiagnosis asma sejak usia 3th, kelelahan. HSMRS: Semakin sesak nafas, bunyi ngik-ngik pagi, sudah di nebulizer Ventolin® 2x dirumah dan tidak membaik, lalu ke Sp. Anak di nebulizer 1x dan diberi metilprednisolon peroral tetapi tidak membaik, lalu ke RSS. Serangan asma terakhir bulan ini sampai saat ini anak juga masih batuk. Dalam 1th terakhir ini hampir setiap bulan ada serangan asma, aktivitas dan tidur terganggu karena asma. Objektif Hasil Laboratorium (Tgl. 07/11/2013): Thorax : simetris, ketinggalan gerak tidak ada, retraksi (-) HGB: 14,0 g/dL HCT : 39,4 % MCV : 76,1 fL (↓) MCH : 27,0 pg PLT : 337 x103µl Tanggal Tanda Vital Keluhan Suhu Tubuh (oC) Nadi (x/menit) RR (x/menit) SpO2 (%) NEUT# : 8,04x103µl (↑) LYMPH#: 2,85 x103µl MONO# : 0,90 x103µl EO# : 0,38 x103µl BASO#:0,04 x103µl 7 37 100 24 Anak merasa masih sesak dan ada wheezing 8 36,4 105 24 Sesak berkurang, batuk berdahak (+), nyeri untuk menelan (+) Pagi Siang Sore Malam Penatalaksanaan Obat Pagi Siang Sore Malam Amoxicillin po 500mg 6 Metilprednisolon po 16mg 1 Combivent®/Ventolin® 13 1,2 nebulizer 1 resp (selang-seling 46 jam) Assessment : Pasien tidak ada riwayat asma dalam keluarga. Combivent® Nebulizer dan Ventolin® Nebulizer diberikan untuk mengatasi bronkospasme (gejala 96

(117) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI asma) berupa sesak nafas. Penggunaan Combivent® nebulizer dan Ventolin® nebulizer selang-seling untuk mengatasi serangan asma akut yang terjadi. Metilprednisolon diberikan untuk mengurangi peradangan dan sebagai antiinflamasi. Dosis metilprednisolon untuk anak dengan BB 38kg adalah 1964,6mg/hari (Medscape, 2014). Pada tanggal 7 tidak diketahui secara pasti apakah pasien menerima metilprednisolon pada malam hari atau tidak, sehingga tidak dapat dikategorikan dalam DRPs dosis kurang. Evaluasi DRPs:  Perlu obat tidak terjadi pada kasus ini karena pasien menerima obat sesuai dengan indikasi pasien.  Tidak perlu obat tidak terjadi pada kasus ini karena pasien sudah diberikan terapi kombinasi yang sesuai.  Obat salah tidak terjadi pada kasus ini kerena pasien tidak mengalami komplikasi dari obat yang telah diterima.  Dosis kurang tidak terjadi pada kasus ini karena obat yang diberikan kepada pasien telah mencapai efek terapeutik yang diinginkan, hal tersebut dapat dilihat dari tanda vital dan keluhan pasien yang semakin membaik atau keluhan sesak nafas berkurang.  Dosis berlebih tidak terjadi pada kasus ini karena dosis Combivent® nebulizer, Ventolin® nebulizer dan Metilprednisolon yang diberikan sudah tepat.  Efek samping dan interaksi obat tidak ditemukan pada kasus ini. Rekomendasi : Kasus 12 (No. RM 01.65.96.67) Subjektif Jenis kelamin /Umur: Perempuan/8th BB : 18kg Masuk RS : 12/11/2013 – 13/11/2013 Riwayat : 2HSMRS : anak mulai batuk (+), pilek (+), demam (-), sesak (-), oleh ayah diberi obat flu dan ekspektoran. Keluhan batuk dan pilek belum membaik. 1HSMRS : anak mulai sesak(+), keluhan batuk pilek (+) menetap, demam (-)→ oleh orang tua diberi obat asma (isinya tidak tahu) dan metilprednisolon 2x1 puyer (dosis tidak tahu). HMRS: keluhan sesak menetap, nafas bunyi ngik-ngik (+)→dibawa ke RS Wirosaban, dilakukan nebulisasi Ventolin® 1 resp pkl 06.00 dan 10.00. keluhan dikatakan membaik namun karena respon dianggap parsial dan didapat riwayat VSD 3mm anak dirujuk ke RSS. Riwayat penyakit dalam keluarga: Riwayat asma pada ayah (+) Riwayat rhinitis alergi pada ayah (+) Riwayat dermatis atopic dalam keluarga disangkal Diagnosa Utama : predominantly allergic asthma Diagnosa Sekunder : ventricular septal defect Keluhan Utama : sesak nafas Keadaan Pulang : membaik (diizinkan) 97

(118) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Objektif Hasil Laboratorium (Tgl.12/11/2013): Thorax : simetris, ketinggalan gerak tidak ada, retrksi ada intercostal (+), subcostal (+) Tanggal 12 37 37 Suhu Tubuh (oC) 38 36,9 Nadi (x/menit) Tanda Vital RR (x/menit) SpO2 (%) 120 100 120 100 40 32 38 32 95 98 98 Sesak berkurang. Batuk(+) ,dahak(+), pilek (-) Pagi Siang Sore Malam 18 24 18 13 36 36,9 36,5 106 100 98 30 32 28 98 99 Sesak (-), batuk (+), pilek(+), demam (-) Keluhan Penatalaksanaan Obat Pagi Siang Sore Malam Metiprednisolon po 16mg Metilprednisolon po 8mg 6 12 Combivent® nebulizer 1resp+2cc NaCl 13 0,9% Assessment : Pasien mempunyai riwayat asma dari ibu. Riwayat atopi dari keluarga pasien dapat dikatakan sebagai faktor resiko terjadinya asma (SIGN, 2012). Combivent® Nebulizer diberikan untuk mengatasi bronkospasme (gejala asma) berupa sesak nafas dengan merelaksasi otot polos (Mangunnegoro, 2004). Pemberian NaCl pada Combivent® nebulizer berfungsi untuk mengencerkan dahak. 98

(119) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Metilprednisolon diberikan untuk mengurangi peradangan dan sebagai antiinflamasi. Pada tanggal 12 pasien diberikan loading dosage metilprednisolon sebesar 16mg pada sore hari. Dengan adanya perkembangan kesehatan dari pasien yang membaik sehingga pada hari yang sama pasien diberikan maintenance dosage sebesar 8mg. Evaluasi DRPs:  Perlu obat tidak terjadi pada kasus ini karena pasien menerima obat sesuai dengan indikasi pasien.  Tidak perlu obat tidak terjadi pada kasus ini karena pasien sudah diberikan terapi kombinasi yang sesuai.  Obat salah tidak terjadi pada kasus ini kerena pasien tidak mengalami komplikasi dari obat yang telah diterima.  Dosis kurang tidak terjadi pada kasus ini karena obat yang diberikan kepada pasien telah mencapai efek terapeutik yang diinginkan, hal tersebut dapat dilihat dari tanda vital dan keluhan pasien yang semakin membaik atau keluhan sesak nafas berkurang.  Dosis berlebih tidak terjadi pada kasus ini karena dosis Combivent® nebulizer dan Metilprednisolon yang diberikan sudah tepat.  Efek samping dan interaksi obat tidak ditemukan pada kasus ini. Rekomendasi : - Kasus 13a (No. RM 01.55.28.92) Subjektif Jenis kelamin /Umur: perempuan/6th BB : 19kg Masuk RS : 20/10/2013 – 21/10/2013 Riwayat : Diagnosa Utama : asma serangan sedang Diagnosa Sekunder : tonsilofaringitis akut Keluhan Utama : sesak nafas Keadaan Pulang : membaik (diizinkan) 2HSMRS : anak mulai batuk (+),pilek (+), dahak (+), demam(-), sesak (+)→oleh orang tua diberi ataroc 3xcth ½, actifed 3xcth½, profilac. 1HSMRS : anak mulai mengeluh sesak nafas, demam(-), batuk(+), pilek(+)→diberi Ventolin® nebulizer 1resp sore hari, keluhan membaik→nebu diulang pkl 24.00 HMRS: anak masih merasa sesak , batuk (+), pilek (+), demam(+)→diberi Ventolin® nebulizer pkl 08.00→keluhan sesak berkurang→dibawa ke RSS Objektif 99

(120) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Hasil Laboratorium (Tgl.20/10/2013): Thorax: simetris, ketinggalan gerak tidak ada, retraksi tidak ada. Hb: 14,1 g/dL HCT : 41,8% (↑) Trombosit : 299.000/mmk NEUT% : 79,6% (↑) LYMPH%: 11,6% (↓) Tanggal o Suhu Tubuh ( C) Tanda Vital Nadi (x/menit) RR (x/menit) SpO2 (%) 20 36,8 36,8 140 110 22 30 99 - 21 36,5 118 - Sesak nafas, batuk Sesak berkurang Keluhan Penatalaksanaan Obat Pagi Siang Sore Malam Pagi Siang Sore Malam Metilprednisolon inj. 10 mg 14 20,24 6 Ventolin® nebulizer 1 resp tiap 15 22 3,7 2-4 jam Assessment : Metilprednisolon merupakan golongan kortikosteroid, diberikan sebagai antiinflamasi serta mengurangi peradangan digunakan untuk mengatasi diagnosis sekunder pasien berupa tonsilofaringitis akut. Dosis metilprednisolon untuk anak dengan BB 19kg adalah 4-32,3mg/hari (Medscape, 2014). Pasien diberikan dosis metilprednisolon 10mg, sehingga dapat disimpulkan bahwa dosis yang diberikan sudah sesuai dengan acuan pustaka. Ventolin® Nebulizer dengan zat aktif salbutamol sulfate digunakan untuk mengatasi bronkospasme (gejala asma) berupa sesak nafas Pada keluhan pasien terdapat batuk, namun batuk yang ditimbulkan dapat dimungkinkan karena efek samping dari penggunaan salbutamol atau manifestasi klinik dari asma itu sendiri. Batuk yang dialami pasien juga tidak dapat diketahui secara pasti apakah batuk yang dialami merupakan batuk kering atau batuk berdahak. 100

(121) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Evaluasi DRPs:  Perlu obat tidak terjadi pada kasus ini karena pasien menerima obat sesuai dengan indikasi pasien.  Tidak perlu obat tidak terjadi pada kasus ini karena pasien sudah diberikan terapi kombinasi yang sesuai.  Obat salah tidak terjadi pada kasus ini kerena pasien tidak mengalami komplikasi dari obat yang telah diterima.  Dosis kurang tidak terjadi pada kasus ini karena obat yang diberikan kepada pasien telah mencapai efek terapeutik yang diinginkan, hal tersebut dapat dilihat dari tanda vital dan keluhan pasien yang semakin membaik atau keluhan sesak nafas berkurang.  Dosis berlebih tidak terjadi pada kasus ini karena dosis Ventolin® nebulizer dan Metilprednisolon yang diberikan sudah tepat.  Efek samping dan interaksi obat tidak ditemukan pada kasus ini. Rekomendasi : - Kasus 13b (No. RM 01.55.28.92) Subjektif Jenis kelamin /Umur: Perempuan/5th BB : 18kg, TB: 122 cm Masuk RS : 08/04/2013 – 10/04/2013 Riwayat : 1HSMRS: anak mulai batuk tidak berdahak, pilek, oleh orang tua diberi tremenza syrup1sdt. HSMRS: siang jam 13.00 anak demam tidak tinggi (37,40C), batuk berdahak, sesak, pilek→dinebu Ventolin® 1resp, parasetamol, profilas syrup→keluhan berkurang, namun sore jam 17.00 anak mengeluh sesak, batuk, pilek→oleh orang tua diberi nebulizer Ventolin® 1resp+NaCl 0,9% 2cc→keluhan tidak membaik Objektif Hasil Laboratorium (Tgl. 09/04/2013): HB: 15,0 g/dL Leukosit: 11,6 ribu/mmk Segmen: 86% (↑) AT: 298 ribu/mmk Limfosit : 44%(↑) Hmk : 45% Riwayat Penyakit Keluarga: Diabetes(+) dan hipertensi(+) dari kakek Jantung (+) dari nenek Diagnosa Utama : asma bronchial serangan sedang episode jarang Diagnosa Sekunder :Keluhan Utama : sesak nafas Keadaan Pulang : membaik (diizinkan) Nilai normal: Hb: 13-17 g/dL Leukosit 5-11 ribu/mmk Segmen:36-66 % AT : 150-450 ribu/mmk Limfosit: 22-40 % Hematokrit: 40-50% 101

(122) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Tanggal 8 36,8 9 37,5 37 37,2 10 37 136 100 86 140 30 30 36 - 100 Suhu Tubuh o ( C) Tanda Vital Nadi (x/menit) 48 RR (x/menit) 96 SpO2 (%) Keluhan Penatalaksanaan Obat Kenacort® po 4mg Ataroc® (Procaterol HCl) po 15µg Amoxicillin po 300mg Profilas® (Ketotifen) po 2x1 cth O2 NK 1-2L/menit Ventolin® nebulizer 1resp Combivent® nebulizer 1resp Assessment : Batuk, muntah setelah batuk, sesak Pagi Siang Sore Malam  23  23  23 24 96 Tidak bisa tidur, batuk berkurang, wheezing Pagi Siang Sore Malam 6  20 Batuk(+), dahak(+) 6  20 6 6 6  20 6 6 6  3, 10 Pagi 6 Siang Sore  18 102 Malam

(123) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Oksigen diberikan untuk menjaga saturasi oksigen agar >95% serta mengurangi terjadinya hipoksemia (WHO, 2013). Combivent® Nebulizer dan Ventolin® Nebulizer diberikan untuk mengatasi bronkospasme (gejala asma) berupa sesak nafas. Penggunaan antikolinergik seperti ipratropium bromide umumnya menghasilkan perbaikan fungsi paru 10-15% dibandingkan dengan penggunaan β agonis saja (Ikawati, 2007), karena ipratropium bromide mempunyai efek meningkatkan bronkodilatasi agonis beta-2 kerja singkat pada serangan asma dan memperbaiki faal paru (Mangunnegoro, 2004). Pada tanggal 19 pasien mengalami keluhan adanya wheezing sehingga pasien diberikan Kenacort®, Ataroc®, Profilas® dan Ventolin® nebulizer. Pasien diberikan Kenacort®, dengan zat aktif triamcinolon untuk mengatasi asma bronkial. Ataroc®, dengan zat aktif procaterol HCl untuk mengatasi dispnea karena asma bronkial. Perlu diperhatikan pada penggunaan procaterol HCl apabila pasien menderita penyakit jantung, DM dan hipertensi karena dapat menurunkan kadar kalium secara bermakna (MIMS, 2009). Karena pasien memiliki riwayat dari keluarga berupa penyakit jantung, DM dan hipertensi maka harus dilakukan monitoring kadar kalium dalam tubuh pasien pada penggunaan obat ataroc. Pada tanggal 9 pasien menerima dosis ataroc 30µg/hari dan tanggal 10 pasien sudah diperbolehkan pulang sehingga hanya diberikan ataroc 1 kali dengan kekuatan obat 15µg. Berdasarkan hasil wawancara dokter dosis ataroc tersebut lebih rendah dikarenakan untuk mengurangi terjadi efek samping obat berupa takikardi. Profilas®, dengan zat aktif ketotifen hidrogen fumarat untuk mengatasi profilaksis jangka panjang pada asma bronkial, rhinitis alergi dan dermatitis. Salah satu efek samping dari penggunaan Ataroc® dan Combivent® adalah muntah. Namun pada kasus ini di hari pertama rawat inap pasien belum diberikan terapi Ataroc dan Combivent® nebulizer, sehingga tidak dapat dikatakan bahwa penyebab terjadinya muntah adalah efek samping dari ataroc atau combivent®. Evaluasi DRPs:  Perlu obat tidak terjadi pada kasus ini karena pasien menerima obat sesuai dengan indikasi pasien.  Tidak perlu obat tidak terjadi pada kasus ini karena pasien sudah diberikan terapi kombinasi yang sesuai.  Obat salah tidak terjadi pada kasus ini kerena pasien tidak mengalami komplikasi dari obat yang telah diterima.  Dosis kurang tidak terjadi pada kasus ini karena obat yang diberikan kepada pasien telah mencapai efek terapeutik yang diinginkan, hal tersebut dapat dilihat dari tanda vital dan keluhan pasien yang semakin membaik atau keluhan sesak nafas berkurang.  Dosis berlebih tidak terjadi pada kasus ini karena dosis Combivent® nebulizer, Ventolin® nebulizer, Kenacort®, Ataroc® dan Profilas® yang diberikan sudah tepat.  Efek samping dan interaksi obat tidak ditemukan pada kasus ini. Rekomendasi : - 103

(124) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Kasus 14 (No. RM 01.45.37.95) Subjektif Jenis kelamin /Umur: Perempuan/12th BB : 45kg, TB:152cm Masuk RS : 25/02/2013 – 28/02/2013 Riwayat : Riwayat keluarga asma, hipertensi dan DM (disangkal) Diagnosa Utama : asma bronkial Diagnosa Sekunder : epistaxis anterior (perdarahan dihidung) Keluhan Utama : sesak nafas Keadaan Pulang : membaik (diizinkan) Terdiagnosis asma sejak TK, tidak control teratur, berobat bila kambuh saja. ±1HSMRS: anak batuk, pilek, kemudian sesak nafas, orang tua membawa ke klinik kemudian dinebulisasi Ventolin® (pagi) 1x anak merasa baikan. Sore hari anak sesak kemudian diberi nebu Ventolin® di K.24,membaik. Malam sesak lagi diberi salbutamol oral dan seretide. Anak mengalami batuk yang sangat keras dan keluar bercak darah di malam hari. HMRS : anak dibawa ke UGD RSS. Demam, batuk, pilek, sesak. Batuk dahak bercampur darah. Objektif NEUT#: 40,4 x103µl(↑) Hasil Laboratorium (Tgl.27/02/2013): Thorax : Infiltrat diperihiler bilateral dan paracardial dextra, besar cor LMPYH#: 48,0 x103µl(↑) MONO#: 6,1 x103µl(↑) normal 3 EO#: 0,7 x103µl (↑) WBC : 6,81 x10 µl 6 BASO#: 0,1 x103µl RBC : 4,71 x10 µl NEUT%: 2,75%(↓) HGB : 13,0g/dL LMPYH%: 3,27%(↓) HCT : 36,6 % (↓) MONO%: 0,42%(↓) MCV : 77,7 fL(↓) EO%: 0,05%(↓) MCH : 27,6 pg BASO%: 0,01% PLT : 420 x103µl Tgl 28/02/2013 *C (Sewaktu) BTA III (negative) BTA Sputum (negative) *A (Sewaktu) BTA I (negative) 104

(125) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Tanggal 25 36 26 36,4 36,1 80 110 100 24 35 28 92 95 96 93/71 97/68 Sesak nafas(+), lemah Masih sesak, batuk berdarah(+), dahak(+) P S S M  6 18  18 Suhu Tubuh o ( C) Nadi (x/menit) Tanda Vital RR(x/menit) SpO2 (%) Tekanan darah (mmHg) Keluhan Penatalaksanaan Obat Salbutamol po 2mg Azithromycin po 250mg P S S M 27 36 36,2 37 28 36,4 - 84 108 80 26 35 20 99 99 106/84 115/65 Jika batuk masih sesak P 6 S  13 S  18  18 M  20 96 100 24 28 97 108/64 Masih batuk P  6 S  13 S M 6 6 Ventolin® nebulizer  18 1A/12jam Assessment : Salbutamol diberikan sebagai bronkodilator untuk mengatasi bronkospasme (gejala asma) berupa sesak nafas. Dari hasil laboratorium terjadi peningkatan jumlah neutrofil dan limfosit yang menunjukkan adanya infeksi, serta adanya peningkatan jumlah eosinofil yang menyatakan adanya peristiwa alergi (Sutedjo, 2009), sehingga pasien diberikan Azithromycin. Pasien juga diberikan Ventolin® Nebulizer dengan zat aktif salbutamol sulfat untuk mengatasi bronkospasme kronis yang tidak memberikan respon terhadap 105

(126) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI terapi konvensional, serangan bronkospasme akut. Batuk berdarah yang ditimbulkan pada keluhan pasien tidak di ketahui secara jelas apakah warna darah yang di keluarkan berwarna merah segar atau merah gelap. Darah yang dikeluarkan berasal dari saluran pernafasan maka akan berwarna merah segar yang disebut hemoptisis, namun bila darah yang dikeluarkan berasal dari saluran pencernaan maka berwarna merah gelap yang disebut hematemesis (Asdie, 1995). Pada tanggal 26-28 pasien diberikan salbutamol secara peroral dan Ventolin® nebulizer yang memilki zat aktif salbutamol, kedua obat tersebut memilki indikasi yang sama dan hanya yang membedakan adalah cara pemberiannya dan kecepatan efek terapetik yang ditimbulkan dimana pemberian secara nebulizer akan menuju pada sasaran langsung sedangkan pemberian secara peroral merupakan pemberian sistemik. Dimungkinkan pemberian salbutamol secara peroral digunakan untuk maintenance dosage sedangkan pemberian Ventolin® nebulizer diberikan untuk mengatasi dengan segera serangan asma yang terjadi pada saat itu. Evaluasi DRPs:  Perlu obat tidak terjadi pada kasus ini karena pasien menerima obat sesuai dengan indikasi pasien.  Tidak perlu obat tidak terjadi pada kasus ini karena pasien sudah diberikan terapi kombinasi yang sesuai.  Obat salah tidak terjadi pada kasus ini kerena pasien tidak mengalami komplikasi dari obat yang telah diterima.  Dosis kurang tidak terjadi pada kasus ini karena obat yang diberikan kepada pasien telah mencapai efek terapeutik yang diinginkan, hal tersebut dapat dilihat dari tanda vital dan keluhan pasien yang semakin membaik atau keluhan sesak nafas berkurang.  Dosis berlebih tidak terjadi pada kasus ini karena dosis Ventolin® nebulizer dan Salbutamol yang diberikan sudah tepat.  Efek samping dan interaksi obat tidak ditemukan pada kasus ini. Rekomendasi : - Kasus 15 (No. RM 01.53.46.95) Subjektif Jenis kelamin /Umur: Perempuan/4th BB :14,5kg, TB: 100cm Masuk RS :26/04/2013 – 29/04/2013 Riwayat : Riwayat asma (+) dari nenek Riwayat alergi (-) Riwayat batuk lama/TB (-) Diagnosa Utama : acute moderate asthma Diagnosa Sekunder : faringitis akut Keluhan Utama : sesak dan batuk Keadaan Pulang : membaik (diizinkan) 106

(127) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3HSMRS: pilek(+), batuk(+), demam(-), sesak(-), hidung mampet(+) diberi obat Triaminie, keluhan tidak membaik 1HSMRS : batuk(+), berdahak namun tidak keluar, demam(-), sesak (-), hidung mampet(+), nafsu makan berkurang. HMRS : sesak (+), batuk(+), pilek(-), obat triaminie tidak membaik→ke RSS Objektif Hasil Laboratorium (Tgl.28/04/2013): RBC : 4,35x106µl HGB : 12,3 g/dL HCT : 35,3 %(↓) PLT : 225 x103µl AL : 9700 Tanggal Suhu Tubuh o ( C) Tanda Vital Nadi (x/menit) RR(x/menit) SpO2 (%) NEUT%: 72,5%(↑) LMPYH%: 17,3%(↓) MONO%:6,3% EO%:1%(↓) BASO%: 0,2% 26 37,5 38,1 38 38,7 27 38,7 38 37,1 28 36,9 37,5 37 36,8 29 36,8 132 110 120 110 40 30 38 30 96 - 110 108 110 116 120 120 110 28 26 32 30 - 100 30 32 30 - 32 - 107

(128) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Keluhan Penatalaksanaan Obat O2 NK1L/menit Combivent® nebulizer 1 resp Ventolin® nebulizer 1 resp Salbutamol po 2mg Metilprednisolon po 3mg Demam, sesak nafas, batuk dan pilek P S S M  20  20 - - P  S  8  10  6  6  12  12 S  M   16  22  18  18 Batuk (+) P S S M  6  12  18  24  6  6  12  12  18  18 P S S M  8 Assessment : Pasien memilki riwayat asma dari keluarga, dengan adanya riwayat atopi dari keluarga pasien maka hal tersebut dapat dikatakan sebagai faktor resiko terjadinya asma (SIGN, 2012). Oksigen diberikan untuk menjaga saturasi oksigen agar >95% serta mengurangi terjadinya hipoksemia (WHO, 2013). Pasien diberi Combivent® Nebulizer dan Ventolin® Nebulizer untuk mengatasi bronkospasme (gejala asma) berupa sesak nafas. Penggunaan antikolinergik seperti ipratropium bromide umumnya menghasilkan perbaikan fungsi paru 10-15% dibandingkan dengan penggunaan β agonis saja (Ikawati, 2007), karena ipratropium bromide mempunyai efek meningkatkan bronkodilatasi agonis beta-2 kerja singkat pada serangan asma dan memperbaiki faal paru (Mangunnegoro, 2004). Salbutamol, digunakan sebagai bronkodilator pada semua jenis asma bronkial, bronchitis kronis dan emfisema. Waktu paruh salbutamol 3,5-5jam (Lacy et al., 2011). Metilprednisolon diberikan untuk mengurangi peradangan terutama pada penyakit asma serta berfungsi sebagai antiinflamasi (Muttaqin, 2008), dengan menurunkan jumlah dan aktivitas dari sel yang terinflamasi dan meningkatkan efek obat beta adrenergik dengan memproduksi AMP siklik, inhibisi mekanisme bronkokonstriktor, atau merelaksasi otot polos secara langsung (Kelly and Sorkness, 2008). Dosis metilprednisolon yaitu 0,4-1,6mg/kgBB/hari (MIMS, 2009), pasien dengan BB 14,5kg seharusnya menerima 5,8-23,2mg/hari, berdasarkan penatalaksanaan obat di atas pasien menerima 9mg/hari, maka dapat disimpulkan bahwa dosis masih masuk dalam range yang telah ditentukan. Adanya diagnosis sekunder berupa faringitis akut, hal tersebut dapat dilihat dengan meningkatkan jumlah neutrofil dalam tubuh. 108

(129) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Peningkatan jumlah neutrofil ini terjadi apabila adanya peradangan dan infeksi akut (Sutedjo, 2009). Suhu tubuh pasien tinggi pada tanggal 26 dan 27, namun pada hari berikutnya suhu tubuh pasien kembali normal. Hal tersebut dapat dimungkinkan karena adanya inflamasi pada saluran pernafasan yang dapat menyebabkan suhu tubuh meningkat. Apabila inflamasi tersebut sudah teratasi maka suhu tubuh pasien akan kembali normal. Keluhan pasien berupa batuk dapat dimungkinkan efek samping dari salbutamol atau manifestasi klinik dari asma. Evaluasi DRPs:  Perlu obat tidak terjadi pada kasus ini karena pasien menerima obat sesuai dengan indikasi pasien.  Tidak perlu obat tidak terjadi pada kasus ini karena pasien sudah diberikan terapi kombinasi yang sesuai.  Obat salah tidak terjadi pada kasus ini kerena pasien tidak mengalami komplikasi dari obat yang telah diterima.  Dosis kurang tidak terjadi pada kasus ini karena obat yang diberikan kepada pasien telah mencapai efek terapeutik yang diinginkan, hal tersebut dapat dilihat dari tanda vital dan keluhan pasien yang semakin membaik atau keluhan sesak nafas berkurang.  Dosis berlebih tidak terjadi pada kasus ini karena dosis Combivent® nebulizer, Ventolin® nebulizer, Salbutamol dan Metilprednisolon yang diberikan sudah tepat.  Efek samping dan interaksi obat tidak ditemukan pada kasus ini. Rekomendasi : - Kasus 16 (No. RM 01.61.68.71) Subjektif Jenis kelamin /Umur: Laki-laki/2th BB : 12,5kg, TB: 96cm Masuk RS : 08/01//2013 – 15/01/2013 Riwayat : Riwayat asma (+)dari kakek Riwayat TB dan HT (disangkal) Anak mulai sesak sejak 5 bulan yang lalu, awalnya serangan 2x/bulan, pada bulan desember mengalami sesak nafas terus dan bebas sesak hanya 1 minggu, pencetus sesak : kecapaian, batuk pilek. 1HSMRS: demam (-),batuk (+),pilek(-), kemudian anak sesak, mengi(+)→diberi obat batuk 4x1cth oleh orang tua, puyer dari dokter 3x1 belum membaik→RS Diagnosa Utama : asma Diagnosa Sekunder : pneumonia, organism unspecified Keluhan Utama : sesak nafas Keadaan Pulang : membaik (diizinkan) 109

(130) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Nur Rohmah, di nebu Ventolin® 1resp 2x (pkl 13.00&15.00), ambroxol 1/3 tab, salbutamol 3x1mg, O2 NK 1L/menit→di rujuk ke RSS Objektif Hasil Laboratorium (Tgl.09/01/2013): WBC : 6,16x103µl RBC : 4,39x106µl(↓) HGB : 11,4g/dL(↓) HCT : 34,1%(↓) MCV :77,6 fL MCH : 26,0 pg(↓) PLT : 269x103µl Tanggal 8 36,2 36,2 37 9 36,3 38,6 37 10 37 38,4 37,2 36 11 36,3 37,6 36 Nadi (x/ menit) 140 132 120 125 88 90 120 100 94 RR (x/ menit) 48 34 30 34 22 30 SpO2 (%) 96 90 - 95 - 120 132 116 114 32 32 24 24 - Suhu Tubuh o ( C) Tand a Vital NEUT#: 2,88x103µl LMPYH#: 2,17 x103µl MONO#: 0,30 x103µl EO#: 0,52 x103µl(↑) BASO#: 0,03 x103µl NEUT%:46,8%(↓) LMPYH%:35,2% MONO%:4,9% EO%:8,5%(↑) BASO%:0,5% 12 36,5 36 13 37 36,7 36,8 14 37 37,4 36,1 35,9 94 123 110 108 113 26 23 26 28 24 28 26 24 93 - - - 94 104 102 104 26 28 28 26 - 15 36,2 100 26 97 110

(131) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Keluhan Penatalaksanaan Obat Sesak nafas dan batuk P S S Metilprednisolo n po 3x4mg Ventolin® nebulizer 1respul+NaCl 0,9% Combivent® nebulizer 1respul+NaCl 0,9% Amoxicylin syrup po 250mg/5ml 1cth Salbutamol po 0,6mg Teofilin po 30mg  1 7. 1 5 Sesak (+), menurun bila di nebulizer, batuk (+) M P S S M    2 6 1 0 3  1 9. 1 5 Sesak (+),batuk(+), wheezing masih ada P S S M    2 6 1 0 3   6 1 8 Sesak berkurang, batuk (+), mengi (-) P S S M P    2 6 1 0 3  2 0  1 3  2 0 - S S M P S S Batuk sedikit Sesak (-), demam (-), terkadang masih batuk M P S S M P S S M  1 2        1 2 1 2 1 2 1 3 0 3 0 3 0 3           6 1 1 6 1 1 6 1 1 6 2 8 2 8 2 8           6 1 1 6 1 1 6 1 1 6 2 8 2 8 2 8 Assessment : Pasien memilki riwayat asma dari keluarga, dengan adanya riwayat asma dari keluarga pasien maka hal tersebut dapat dikatakan sebagai faktor resiko terjadinya asma (SIGN, 2012). 111

(132) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Pasien diberi Combivent® Nebulizer dan Ventolin® Nebulizer untuk mengatasi bronkospasme (gejala asma) berupa sesak nafas. Penggunaan antikolinergik seperti ipratropium bromide umumnya menghasilkan perbaikan fungsi paru 10-15% dibandingkan dengan penggunaan β agonis saja (Ikawati, 2007), karena ipratropium bromide mempunyai efek meningkatkan bronkodilatasi agonis beta-2 kerja singkat pada serangan asma dan memperbaiki faal paru (Mangunnegoro, 2004).Penambahan NaCl pada nebulizer dapat mengencerkan dahak. Metilprednisolon diberikan untuk mengurangi peradangan dan sebagai antiinflamasi. Pasien diberikan kombinasi antara salbutamol dan teofilin pada tanggal 12-15 karena perkembangan kesehatan pasien sudah membaik. Salbutamol digunakan sebagai bronkodilator pada semua jenis asma bronkial, bronchitis kronis dan emfisema. Sediaan teofilin di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta yaitu 2mg dan 4mg, sehingga dapat dimungkinkan bahwa pasien menerima dosis 0,6mg dengan sediaan pulveres. Pasien menerima Teofilin berfungsi untuk menstimulasi SSP dan pernafasan (Tjay, 2007). Berdasarkan hasil wawancara dokter, pasien diberikan terapi kombinasi antara salbutamol dan teofilin oleh dokter dengan pemberian masing-masing dosis adalah setengah dari biasanya untuk mengurangi efek samping berupa takikardi. Pada hasil laboratorium, jumlah eosinofil meningkat yang menunjukkan adanya peristiwa alergi dan infeksi parasit. Sedangkan jumlah neutrofil menurun yang berarti adanya infeksi virus (Sutedjo, 2009). Karena adanya infeksi dalam tubuh pasien maka pasien diberikan Amoxicillin untuk mengatasi infeksi tersebut. Pada tanggal 9 dan 10, suhu tubuh pasien mencapai 38,6 oC dan 38,4oC, peningkatan suhu tubuh dapat disebabkan oleh adanya inflamasi, tetapi apabila inflamasi tersebut sudah teratasi maka suhu tubuh akan kembali normal. Evaluasi DRPs:  Perlu obat tidak terjadi pada kasus ini karena pasien menerima obat sesuai dengan indikasi pasien.  Tidak perlu obat tidak terjadi pada kasus ini karena pasien sudah diberikan terapi kombinasi yang sesuai.  Obat salah tidak terjadi pada kasus ini kerena pasien tidak mengalami komplikasi dari obat yang telah diterima.  Dosis kurang tidak terjadi pada kasus ini karena obat yang diberikan kepada pasien telah mencapai efek terapeutik yang diinginkan, hal tersebut dapat dilihat dari tanda vital dan keluhan pasien yang semakin membaik atau keluhan sesak nafas berkurang.  Dosis berlebih tidak terjadi pada kasus ini karena dosis Combivent® nebulizer, Ventolin® nebulizer, Metilprednisolon, Salbutamol dan Teofilin yang diberikan sudah tepat.  Efek samping dan interaksi obat ditemukan pada kasus ini yaitu antara Teofilin dan Salbutamol yang dapat meningkatkan pontensi terjadinya hipokalemia dan takikardi serta dapat meningkatkan gangguan pada jantung. Interaksi ini juga dapat mengurangi efek teofilin dalam plasma (Baxter, 2008). Rekomendasi : Monitoring pada penggunaan Teofilin dan Salbutamol secara bersamaan. 112

(133) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Kasus 17 (No. RM 01.47.24.83) Subjektif Jenis kelamin /Umur: Laki-laki/4th BB :22 kg, TB: 105cm Masuk RS : 30/01/2013 – 02/02/2013 Riwayat : 7HSMRS: Anak batuk bila cuaca dingin. Suara nafas mengi tidak terdengar 2HSMRS: batuk tambah ngikil sampai muntah, terlihat sesak nafas, dirumah diberi nebu Ventolin® 1x, keluhan batuk tidak berkurang. HMRS: batuk parah, sesak nafas bertambah parah, suara nafas terdengar mengi(+)→di rumah di nebu 5x (4x dengan Ventolin®, 1x flixotide)→tidak ada respon/perbaikan. Muntah lendir setelah batuk. Anak terdiagnosis asma sejak usia ±1th, serangan asma pada usia 1-2 th bisa 4x/bulan. Setelah usia >2th sudah jarang terkena serangan asma. Objektif Hasil Laboratorium (Tgl. 01/02/2013): HGB :13,7 g/dL (↓) Leukosit : 7,6 ribu/mmk Limfosit : 29% Monosit: 3% Tanggal 30 37,3 Suhu 37 Tubuh (oC) Tanda 140 Vital 120 Nadi (x/menit) RR 48 Riwayat penyakit pada keluarga: Ada riwayat asma (ayah,ibu) dan alergi Diagnosa Utama : asma bronkial serangan sedang episodic sering Diagnosa Sekunder : common cold Keluhan Utama : sesak nafas Keadaan Pulang : membaik(diizinkan) 31 36,8 37,4 37,3 36,7 1 36,5 36,6 2 36,1 120 110 110 100 26 100 104 110 28 28 113

(134) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI (x/menit) SpO2 (%) 26 93 96 26 28 28 97 Sesak berkurang Pa Si So 28 - Sesak, mengi, batuk, rewel Batuk Keluhan Penatalaksanaan Pa Si So Ma Ma Pa Si So Obat     Oksigen 2L/menit Metilprednisolon  24 8  16  24  8  16 iv (3x10mg)  22  15 Combivent®  14  24  6 nebulizer (1resp+NaCl 0,9% 3cc) Ventolin®  2, 6 nebulizer 10 (1resp+NaCl 0,9% 3cc) Aztrin® sIrup po  11 200mg/5ml (1x1cth) Assessment : Pasien memilki riwayat asma dari keluarga, dengan adanya riwayat atopi dari keluarga pasien maka hal resiko terjadinya asma (SIGN, 2012) dan adanya riwayat alergi dari keluarga. - Ma - Pa  24 8  19, 23  3, 7 Si So Ma 6 tersebut dapat dikatakan sebagai faktor Pasien diberi Combivent® nebulizer dan Ventolin® nebulizer secara selang-seling untuk menangani asma bronkial. Combivent® Nebulizer dan Ventolin® Nebulizer diberikan untuk mengatasi bronkospasme (gejala asma) berupa sesak nafas. Penggunaan antikolinergik seperti ipratropium bromide umumnya menghasilkan perbaikan fungsi paru 10-15% dibandingkan dengan penggunaan β agonis saja (Ikawati, 2007), karena ipratropium bromide mempunyai efek meningkatkan bronkodilatasi agonis beta-2 kerja singkat pada serangan asma dan memperbaiki faal paru (Mangunnegoro, 114

(135) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2004). Penambahan NaCl pada nebulizer dapat mengencerkan dahak. Pasien diberikan Oksigen karena untuk mengurangi terjadinya hipoksemia serta menjaga saturasi oksigen agar >95% (WHO, 2013). Metilprednisolon diberikan untuk mengurangi peradangan terutama pada penyakit asma (Muttaqin, 2008), dengan menurunkan jumlah dan aktivitas dari sel yang terinflamasi dan meningkatkan efek obat beta adrenergik dengan memproduksi AMP siklik, inhibisi mekanisme bronkokonstriktor, atau merelaksasi otot polos secara langsung (Kelly and Sorkness, 2008). Dosis metilprednisolon untuk anak dengan BB 22kg adalah 8,8-35,2mg/hari (MIMS, 2009). Pasien menerima dosis metilprednisolon 3x10mg maka dapat disimpulkan dosis yang diberikan sudah sesuai dengan acuan pustaka. Pasien mengalami takikardi (140x/menit) pada hari pertama rawat inap karena adanya penyempitan bronkus maka otot jantung akan memompa darah ke dalam tubuh lebih cepat sehingga respirasi juga menjadi cepat yaitu 48x/menit. Evaluasi DRPs:  Perlu obat tidak terjadi pada kasus ini karena pasien menerima obat sesuai dengan indikasi pasien.  Tidak perlu obat tidak terjadi pada kasus ini karena pasien sudah diberikan terapi kombinasi yang sesuai.  Obat salah tidak terjadi pada kasus ini kerena pasien tidak mengalami komplikasi dari obat yang telah diterima.  Dosis kurang tidak terjadi pada kasus ini karena obat yang diberikan kepada pasien telah mencapai efek terapeutik yang diinginkan, hal tersebut dapat dilihat dari tanda vital dan keluhan pasien yang semakin membaik atau keluhan sesak nafas berkurang.  Dosis berlebih tidak terjadi pada kasus ini karena dosis Combivent® nebulizer, Ventolin® nebulizer dan Metilprednisolon yang diberikan sudah tepat.  Efek samping dan interaksi obat tidak ditemukan pada kasus ini. Rekomendasi : - Kasus 18 (No. RM 01.64.18.25) Subjektif Jenis kelamin /Umur: Laki-laki/2th BB :12,5kg, TB: 95cm Masuk RS : 02/07/2013 – 04/07/2013 Riwayat : 2HSMRS: anak mulai batuk, tidak sesak nafas, tidak demam, aktifitas masih seperti biasa. 1HSMRS: anak masih batuk, tidak demam, mulai sesak nafas dibawa ke UGD Riwayat keluarga: riwayat asma dan alergi (disangkal) Diagnosa Utama : asma bronchial serangan sedang episode jarang Diagnosa Sekunder : rhinofaringitis akut Keluhan Utama : sesak nafas Keadaan Pulang : sembuh (diizinkan) 115

(136) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI RS.Sardjito dinebulisasi 2x dengan Ventolin®, respon parsial, disarankan mondok tetapi pasien menolak(APS), obat pulang dengan salbutamol 3x1mg & metilprednisolon 3x2mg. HMRS : anak kembali sesak dibawa ke UGD RSS, demam (+), bicara satu kalimat masih bisa, anak masih bisa berjalan. Objektif Hasil Laboratorium (Tgl.02/07/2013): Thoraks : simetris, ketinggalan gerak tidak ada, terdapat retraksi subcostal dan intercostals. Paru : terdapat wheezing Tanggal 2 37,6 37,4 o Suhu Tubuh ( C) 124 120 118 34 34 30 96 95 94 Nadi (x/menit) Tanda Vital RR (x/menit) SpO2 (%) Keluhan Penatalaksanaan Obat Metilprednisolon po 3x2mg Combivent® nebulizer 1resp Sesak berkurang, batuk P S S  15  15 M  21  21 3 36 36,8 36,5 4 36,9 36,9 36,2 110 125 92 38 32 24 96 - 120 116 120 32 31 30 97 97 - Sesak nafas berkurang, ada wheezing , batuk P S S 6  12  18  7, 11 Sesak berkurang, batuk membaik M P 6 7 S S 116 M

(137) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI O2 NK 1L/menit  21 Salbutamol po 3x1,2mg 7 Assessment : Combivent® Nebulizer dan Salbutamol diberikan untuk mengatasi bronkospasme (gejala asma) berupa sesak nafas. Penggunaan antikolinergik seperti ipratropium bromide umumnya menghasilkan perbaikan fungsi paru 10-15% dibandingkan dengan penggunaan β agonis saja (Ikawati, 2007), karena ipratropium bromide mempunyai efek meningkatkan bronkodilatasi agonis beta-2 kerja singkat pada serangan asma dan memperbaiki faal paru (Mangunnegoro, 2004). Pemberian salbutamol golongan SABA pada hari terakhir rawat inap dimaksudkan untuk maintenance dosage karena penggunaan obat secara peroral akan membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan penggunaan nebulizer. Dosis Salbutamol untuk anak berusia 2-6 tahun adalah 1-2mg diberikan 3-4x/hari (MIMS, 2009), pasien menerima dosis salbutamol 1,2mg sehingga dapat disimpulkan dosis yang diberikan sudah sesuai. Oksigen diberikan karena adanya bronkokontriksi selain itu juga berfungsi untuk menjaga saturasi oksigen agar >95% (WHO, 2013). Pasien diberikan Metilprednisolon diberikan untuk mengurangi peradangan dan antiinflamasi untuk mengatasi rhinofaringitis, dengan menurunkan jumlah dan aktivitas dari sel yang terinflamasi dan meningkatkan efek obat beta adrenergik dengan memproduksi AMP siklik, inhibisi mekanisme bronkokonstriktor, atau merelaksasi otot polos secara langsung (Kelly and Sorkness, 2008). Dosis metilprednisolon untuk pasien dengan BB 12,5kg adalah 5-20mg/hari (MIMS, 2009), pada kasus ini pasien menerima dosis metilprednisolon 3x2mg atau 6mg/hari. Dosis yang diberikan sudah sesuai karena masih masuk dalam range dosis pada pustaka acuan. Evaluasi DRPs:  Perlu obat tidak terjadi pada kasus ini karena pasien menerima obat sesuai dengan indikasi pasien.  Tidak perlu obat tidak terjadi pada kasus ini karena pasien sudah diberikan terapi kombinasi yang sesuai.  Obat salah tidak terjadi pada kasus ini kerena pasien tidak mengalami komplikasi dari obat yang telah diterima.  Dosis kurang tidak terjadi pada kasus ini karena obat yang diberikan kepada pasien telah mencapai efek terapeutik yang diinginkan, hal tersebut dapat dilihat dari tanda vital dan keluhan pasien yang semakin membaik atau keluhan sesak nafas berkurang.  Dosis berlebih tidak terjadi pada kasus ini karena dosis Combivent® nebulizer, Salbutamol dan Metilprednisolon yang diberikan sudah tepat.  Efek samping dan interaksi obat tidak ditemukan pada kasus ini. Rekomendasi : - 117

(138) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 118 Lampiran 3. Hasil wawancara dengan dokter yang bersangkutan 1. Kategori pasien pediatri di RSUP Dr. Sarjito Yogyakarta adalah pasien dengan range umur 1-18 tahun. 2. Penurunan dosis Ampicilin injeksi dan Metilprednisolon dimaksudkan untuk maintenance dosage yang dapat dilihat dari perkembangan kesehatan pasien tersebut. 3. Penurunan dosis Aminofilin pada pasien untuk mengurangi terjadinya efek samping berupa takikardi, selain itu juga adanya riwayat penggunaan obat sebelumnya pada pasien dengan dosis setengah dari biasanya karena dengan dosis normal pasien sudah mengalami takikardi. 4. Penurunan dosis Ataroc® (Procaterol HCl) untuk mengurangi terjadinya efek samping berupa takikardi pada pasien. 5. Penggunaaan kombinasi Teofilin dan Salbutamol yang keduanya diberikan dengan dosis setengah dari biasanya. Hal tersebut dikarenakan efek yang diberikan pada Salbutamol kurang maksimal sehingga diberikan terapi kombinasi tersebut. Diberikan dosis setengah dari biasanya untuk mengurangi efek samping yang ditimbulkan berupa takikardi.

(139) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 4. Surat keterangan Ethics Committee Approval 119

(140) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 5. Surat ijin penelitian di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta 120

(141) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 121 BIOGRAFI PENULIS Penulis skripsi dengan judul “Evaluasi Drug Related Problems (DRPs) pada Pasien Asma Pediatri Rawat Inap (Studi Kasus di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta tahun 2013” memiliki nama lengkap Anggun Indah Ciptanti. Penulis lahir di Purwokerto pada tanggal 29 Januari 1993, merupakan putri pertama dari empat bersaudara dalam keluarga pasangan Hatif Mahmud dan Go Tjien San. Penulis mengawali masa pendidikannya di TK Pius Bakti Utama Kutoarjo (1996-1998) kemudian melanjutkan pendidikan tingkat Sekolah Dasar di SD Pius Bakti Utama Kutoarjo (1998-2004). Pendidikan Sekolah Menengah Pertama ditempuh oleh penulis di SMP Pius Bakti Utama Kutoarjo (2004-2007), kemudian melanjutkan pendidikan Sekolah Menengah Atas di SMA Bruderan Purwokerto (2007-2010). Pada tahun 2010 penulis melanjutkan pendidikan ke jenjang Perguruan Tinggi di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Fakultas Farmasi. Selama menempuh kuliah, penulis aktif dalam berbagai kegiatan antara lain anggota seksi Sumpahan Apoteker Angkatan XXIII (2012), anggota seksi Aksi Hari Kesehatan Lingkungan Hidup (2012) dan anggota seksi Kegiatan dalam rangka Dies Natalis ke-56 (2012).

(142)

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Evaluasi Drug Related Problems (DRPs) pada pasien dewasa dengan diagnosis Autoimmune Hemolytic Anemia (AIHA) di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta periode 2009-2014.
3
16
145
Evaluasi Drug Related Problems (DRPS) pada pasien Autoimmune Hemolytic anemia (AIHA) dengan komplikasi Systemic Lupus Erythematosus (SLE) di instalasi rawat inap RSUP dr. Sardjito Yogyakarta periode tahun 2009-2014.
1
11
117
Evaluasi Drug Related Problems (DRPs) pada pasien lansia dengan diagnosis Autoimmune Hemolytic Anemia (AIHA) di instalasi rawat inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta periode 2009-2014.
1
17
110
Evaluasi Drug Related Problems (DRPs) pada pasien Autoimmune Hemolytic Anemia (AIHA) anak rawat inap di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta tahun 2009-2014.
1
9
161
Evaluasi Drug Related Problems (DRPs) obat antipeptik pada pasien dengan Peptic Ulcer Disease (PUD) non spesifik sekunder rawat inap RSUP. Dr. Sardjito Yogyakarta (studi kasus pada periode Januari 2013-Desember 2013).
3
36
157
Evaluasi drug related problems (DRPs) pada pasien anak dengue shock syndrome (DSS) di instalasi rawat inap RSUP. Dr. Sardjito Yogyakarta tahun 2008 - USD Repository
1
1
98
Evaluasi peresepan pada pasien hepatitis B kronis di instalasi rawat inap RSUP DR. Sardjito Yogyakarta periode 2005-2007 - USD Repository
0
0
102
Evaluasi Drug Therapy Problems penggunaan antibiotika selama rawat inap di RSUP. DR. Sardjito Yogyakarta : kajian terhadap kasus operasi hernia inguinal pada pasien geriatri periode Feruari 2006 - Oktober 2008 - USD Repository
0
0
141
Analisis kepuasan pasien rawat inap terhadap pelayanan medis : studi kasus pada Rumah Sakit Mata Dr. YAP, Yogyakarta - USD Repository
0
1
120
Evaluasi penggunaan analgetik dan antibiotik pada pasien kanker serviks di instalasi rawat inap RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta periode Oktober-Desember tahun 2008 - USD Repository
0
0
171
Evaluasi penatalaksanaan kasus mual-muntah pada kemoterapi kanker paru-paru di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta tahun 2008 - USD Repository
0
2
126
Evaluasi Drug Related Problems (DRPs) pada pasien asma bronkial di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Panti Rini Yogyakarta Bulan Januari-Desember 2009 - USD Repository
0
0
145
Evaluasi Drug Related Problems (DRPs) pada kasus terapi diabetes melitus tipe 2 rawat inap : studi kasus di RSUP. Dr. Sardjito Yogyakarta periode Maret-Desember 2013 - USD Repository
0
1
157
Kajian literatur rasionalitas peresepan antibiotika berdasarkan kriteria gyssens pada pasien pediatrik rawat inap di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta periode Januari 2013 - USD Repository
0
1
230
Medication error resep obat racikan pasien pediatri rawat inap di RSUP Dr. Sardjito pada periode Februari 2014 (tinjauan fase dispensing dan fase administration) - USD Repository
0
1
116
Show more