PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAMS GAMES TOURNAMENT TERHADAP KEMAMPUAN MENGEVALUASI DAN MENARIK KESIMPULAN SISWA KELAS V SD SKRIPSI

Gratis

0
0
258
2 weeks ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAMS GAMES TOURNAMENT TERHADAP KEMAMPUAN MENGEVALUASI DAN MENARIK KESIMPULAN SISWA KELAS V SD SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Prorgam Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Oleh: Agnes Putri Wiraswasti NIM : 151134158 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2019

(2) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI SKRIPSI ii

(3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI SKRIPSI iii

(4) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PERSEMBAHAN Karya ilmiah ini Peneliti persembahkan kepada: 1. Tuhan Yesus dan Bunda Maria sebagai sumber kekuatan dalam hidupku 2. Kedua orang tuaku, Bapak Yakobus Paryono dan Ibu Theopilla Hariyani yang selalu mendukung dan selalu memberikan yang terbaik untukku 3. Kakakku Crisensia Bella Aprilyani dan adikku Paskalis Bagas Swastantyo yang selalu memberikan semangat dan penghiburan ketika lelah selama proses perkuliahan 4. Sahabat-sahabatku yang bersama berjuang, penghibur, dan penyemangat 5. Universitas Sanata Dharma, almamater yang saya banggakan iv

(5) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI MOTTO “Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan, yang menaruh harapannya pada Tuhan” Yeremia 17:7 “Orang yang menginginkan impiannya menjadi kenyataan, harus menjaga diri agar tidak tertidur” Richard Wheeler “Harapan adalah tiang yang menyangga dunia” Pliny the Elder v

(6) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PERNYATAAN KEASLIAN KARYA Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah. Yogyakarta, 23 Januari 2019 Peneliti Agnes Putri Wiraswasti vi

(7) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma: Nama : Agnes Putri Wiraswasti Nomor Mahasiswa : 151134158 Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul: “PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAMS GAMES TOURNAMENT TERHADAP KEMAMPUAN MENGEVALUASI DAN MENARIK KESIMPULAN SISWA KELAS V SD”, beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di Internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai peneliti. Demikian pernyataan ini yang saya buat dengan sebenarnya. Dibuat di Yogyakarta Pada tanggal: 23 Januari 2019 Yang menyatakan Agnes Putri Wiraswasti vii

(8) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ABSTRAK PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAMS GAMES TOURNAMENT TERHADAP KEMAMPUAN MENGEVALUASI DAN MENARIK KESIMPULAN SISWA KELAS V SD Agnes Putri Wiraswasti Universitas Sanata Dharma 2019 Latar belakang penelitian ini adalah keprihatinan terhadap rendahnya mutu pendidikan di Indonesia khususnya pada mata pelajara IPA berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh PISA pada tahun 2009, 2012, dan 2015. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) terhadap kemampuan mengevaluasi dan menarik kesimpulan siswa kelas V salah satu SD swasta di Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian quasi experimental tipe pretestposttest non equivalent group design. Populasi yang digunakan dalam penelitian adalah siswa kelas V sebanyak 42 siswa. Treatment dilakukan pada kelompok eksperimen menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT). Terdapat lima langkah model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) yaitu penyajian materi (presentation class), kelompok (teams), permainan (games), kompetisi (tournament), dan pengakuan kelompok (teams recognition). Hasil penelitian menunjukkan bahwa. 1) model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) berpengaruh terhadap kemampuan mengevaluasi. Rerata selisih skor yang dicapai pada kelompok eksperimen (M = 1,25, SE = 0,14) lebih tinggi daripada rerata selisih skor yang dicapai pada kelompok kontrol (M = 0,71, SE = 0,12). Perbedaan skor tersebut signifikan dengan t(40) = -3,00, p = 0,006 (p < 0,05); termasuk kategori efek menengah dengan r = 0,415 atau setara dengan 17% 2) Model pembelajara kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) tidak berpengaruh terhadap kemampuan menarik kesimpulan. Rerata selisih skor yang dicapai pada kelompok eksperimen (M = 1,17, SE = 0,16) lebih tinggi daripada rerata selisih skor yang dicapai pada kelompok kontrol (M = 0,86, SE = 0,11). Meskipun demikian, perbedaan skor tersebut tidak signifikan dengan t(40) = -1,62, p = 0,113 (p > 0,05); termasuk kategori efek kecil dengan r = 0,25 atau setara dengan 6%. Kata Kunci: model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT), kemampuan berpikir kritis, kemampuan mengevaluasi, kemampuan menarik kesimpulan. viii

(9) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ABSTRACT THE EFFECT OF IMPLEMENTATION COOPERATIVE LEARNING MODEL OF TEAMS GAMES TOURNAMENT TYPE ON EVALUATING AND CONCLUDING FOR FIFTH GRADE PRIMARY SCHOOL Agnes Putri Wiraswasti Sanata Dharma University 2019 The background of this research was the concern about the level of thinking ability of high-level students in science subject according study to PISA 2009, 2012, and 2015. This study aimed to determine the effect of application in cooperative learning type Teams Games Tournament on the ability to evaluating and concluding the students of grade V in one of privat elementary schools in Yogyakarta. This research was an experimental quasi-research with pretest-posttest nonequivalent group design type. The population used of this study were 42 students of the fifth grade V. The treatment for the experimental group was Teams Games Tournament model. There are five steps in cooperative learning model on Teams Games Tournament type including class presentation, teams, games, tournament, and team recognition. This result of this study showed that 1) cooperative learning model on the Teams Games Tournament type afect on the ability to evaluating. The mean score of the experimental group (M = 1,25, SE = 0,14) was higher than the mean score of control group (M = 0,71, SE = 0,12). This difference was significant t(40) = -3,00, p = 0,006 (p < 0,05), however it did represent a medium-sized effect r = 0,415 or equivalent to 17%. 2) cooperative learning model on Teams Games Tournament type did not significantly effect on the ability to concluding. The mean score the experimental group (M = 1,17, SE = 0,16) was higher than mean score of control group (M = 0,86, SE = 0,11). The difference was not significant with t(40) = -1,62, p = 0,113 ( p > 0,05), however it did represent a small-sized effect r = 0,25 or equivalent to 6%. Keywords: Cooperative Learning Model Of Teams Games Tournament Type, critical thinking skills, ability to evaluating, ability to concluding. ix

(10) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI KATA PENGANTAR Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan karunia-Nya sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi ini dengan lancar dan tepat waktu. Skripsi yang berjudul “PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAMS GAMES TOURNAMENT TERHADAP KEMAMPUAN MENGEVALUASI DAN MENARIK KESIMPULAN SISWA KELAS V SD” disusun sebagai salah satu memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Peneliti menyadari bahwa skripsi ini dapat terselesaikan berkat bantuan dan dukungan dari berbagai pihak. Peneliti mengucapkan terima kasih kepada: 1. Dr. Yohanes Harsoyo, S.Pd., M.Si. selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma. 2. Christiyanti Aprinastuti, S.Si., M.Pd. selaku Ketua Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar 3. Kintan Limiansih, S.Pd., M.Pd. selaku Wakil Ketua Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar 4. Gregorius Ari Nugrahanta, S.J., S.S., BST., M.A. selaku Dosen Pembimbing I yang telah membimbing dengan bijaksana. 5. Agnes Herlina Dwi Hadiyanti, S.Si., M.T., M.Sc. selaku Dosen Pembimbing II yang telah membimbing dengan penuh perhatian. 6. Christiyanti Aprinastuti, S.Si., M.Pd. selaku Dosen Penguji III yang telah memberikan masukan dalam penulisan penelitian ini. 7. Ari Kristiani, S.Pd. selaku Kepala Sekolah SD Budya Wacana I Yogyakarta yang telah memberikan izin untuk pelaksanaan penelitian 8. Ch. Wiji Widiastuti, S.Pd. selaku guru mitra yang telah membantu pelaksanaan penelitian 9. Siswa kelas V.1 dan V.2 SD Budya Wacana I Yogyakarta tahun ajaran 2018/2019 yang telah bersedia terlibat dalam penelitian x

(11) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 10. Sekretariat PGSD Universitas Sanata Dharma yang telah membantu proses perizinan penelitian skripsi 11. Kedua orang tuaku, Bapak Yakobus Paryono dan Ibu Theopilla Hariyani yang selalu sabar mendukung, mendampingi, dan memenuhi kebutuhan selama proses perkuliahan 12. Kakakku Crisensia Bella Aprilyani, Koko Rychard Rynaldy Yonathan, dan adikku Paskalis Bagas Swastantyo yang selalu memberi dukungan dan penghiburan dikala mengalami kejenuhan 13. Sahabat seperjuangan payung skripsi Yohana Fransiska Lintang dan Cordula Anggraeni Oktadayani yang sangat membantu selama proses penyelesaian skripsi 14. Sahabatku Yustin Paramitha Dewi dan Diana Putri Utami yang telah menjadi penghibur dan penyemangatku di setiap waktu 15. Sahabatku Sekar, Vanny, Ruth, Maria, Ajeng, Gis, Kikin, Vina, Asri, Bowo, dan Yoga yang selalu memberikan penghiburan di kala bosan dan penat walaupun jarak memisahkan 16. Kak Vero dan Tyas atas ketersediaannya untuk mengoreksi tata bahasa serta tulisan yang salah ketik dengan teliti 17. Teman-teman PPL Catur, Jacob, Yutta, Rika, Deta, Lintang, dan Rani atas kerja sama, dukungan, penghiburan selama pelaksanaan PPL di sekolah 18. Sahabat penelitian kolaboratif Halimah, Herlin, Niken, Anggun, Melsa, Clara, Popy, Felis, Erine yang telah memberikan bantuan selama penyelesaian skripsi 19. Semua pihak yang tidak dapat peneliti sebutkan satu per satu namun telah banyak membantu peneliti dalam menyelesaikan skripsi. Peneliti menyadari bahwa skripsi ini belum sempurna karena keterbatasan peneliti. Oleh karena itu, peneliti mengharapkan saran dan kritik yang membangun demi menyempurnakan skripsi ini. Peneliti berharap semoga skripsi ini berguna bagi semua pihak. Peneliti xi

(12) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL .................................................................................................. i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ....................................................... ii HALAMAN PENGESAHAN .................................................................................... iii HALAMAN PERSEMBAHAN ................................................................................ iv HALAMAN MOTTO ................................................................................................. v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA .................................................................... vi LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS ................................................................ vii ABSTRAK ................................................................................................................ viii ABSTRACT ................................................................................................................. ix KATA PENGANTAR ................................................................................................. x DAFTAR ISI .............................................................................................................. xii DAFTAR TABEL ..................................................................................................... xv DAFTAR GAMBAR ................................................................................................ xvi DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................................... xvii BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................ 1 1.1 Latar Belakang Masalah .......................................................................................... 1 1.2 Rumusan Masalah ................................................................................................... 6 1.3 Tujuan Penelitian .................................................................................................... 6 1.4 Manfaat Penelitian .................................................................................................. 6 1.5 Definisi Operasional................................................................................................ 7 BAB II LANDASAN TEORI ..................................................................................... 8 2.1 Kajian Pustaka......................................................................................................... 8 2.1.1 Teori yang Mendukung ........................................................................................ 8 2.1.1.1 Teori Perkembangan Anak ................................................................................ 8 2.1.1.2 Model Pembelajaran Kooperatif ..................................................................... 14 2.1.1.3 Tipe Teams Games Tournament (TGT) .......................................................... 17 2.1.1.4 Berpikir Kritis ................................................................................................. 20 2.1.1.5 Kemampuan Mengevaluasi ............................................................................. 22 2.1.1.6 Kemampuan Menarik Kesimpulan ................................................................. 23 2.1.1.7 Hakikat Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam ............................................. 24 2.1.1.8 Materi Sistem Pernapasan Pada Hewan .......................................................... 24 2.1.2 Penelitian-Penelitian Terdahulu yang Relevan .................................................. 26 2.1.2.1 Penelitian-Penelitian mengenai Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT ............. 26 2.1.2.2 Penelitian-Penelitian mengenai Kemampuan Berpikir Kritis ......................... 28 2.1.2.3 Literature Map ................................................................................................. 31 2.2 Kerangka Berpikir ................................................................................................. 31 2.3 Hipotesis Penelitian............................................................................................... 33 BAB III METODE PENELITIAN .......................................................................... 34 3.1 Jenis Penelitian ...................................................................................................... 34 3.2 Setting Penelitian................................................................................................... 36 xii

(13) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3.2.1 Lokasi Penelitian ................................................................................................ 36 3.2.2 Waktu Penelitian ................................................................................................ 36 3.3 Populasi dan Sampel ............................................................................................. 37 3.3.1 Populasi .............................................................................................................. 37 3.3.2 Sampel ................................................................................................................ 37 3.4 Variabel Penelitian ................................................................................................ 38 3.4.1 Variabel Independen .......................................................................................... 39 3.4.2 Variabel Dependen ............................................................................................. 39 3.5 Teknik Pengumpulan Data .................................................................................... 40 3.6 Instrumen Penelitian.............................................................................................. 42 3.7 Teknik Pengujian Instrumen ................................................................................. 43 3.7.1 Uji Validitas ....................................................................................................... 44 3.7.1.1 Validitas Permukaan ....................................................................................... 44 3.7.1.2 Validitas Isi ..................................................................................................... 45 3.7.1.3 Validitas Konstruk .......................................................................................... 46 3.7.2 Uji Reliabilitas ................................................................................................... 47 3.8 Teknik Analisis Data ............................................................................................. 48 3.8.1 Analisis Pengaruh Perlakuan ............................................................................. 48 3.8.1.1 Uji Asumsi ...................................................................................................... 49 3.8.1.2 Uji Perbedaan Kemampuan Awal ................................................................... 50 3.8.1.3. Uji Signifikansi Pengaruh Perlakuan ............................................................. 52 3.8.1.4 Uji Besar Pengaruh Perlakuan ........................................................................ 53 3.8.2 Analisis Lebih Lanjut ......................................................................................... 54 3.8.2.1 Uji Persentase Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I ................................. 54 3.8.2.2 Besar Efek Peningkatan .................................................................................. 56 3.8.2.3 Uji Korelasi antara Rerata Pretest dan Posttest I ............................................ 57 3.8.2.4 Uji Retensi Pengaruh Perlakuan...................................................................... 59 3.8 Ancaman Terhadap Validitas Internal Penelitian ................................................. 60 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN......................................... 66 4.1 Hasil Penelitian ..................................................................................................... 66 4.1.1 Implementasi Penelitian ..................................................................................... 66 4.1.1.1 Deskripsi Sampel Penelitian ........................................................................... 66 4.1.1.2 Deskripsi Implementasi Pembelajaran ............................................................ 67 4.1.2 Deskripsi Sebaran Data ...................................................................................... 72 4.1.2.1 Kemampuan Mengevaluasi ............................................................................. 73 4.1.2.1 Kemampuan Menarik Kesimpulan ................................................................. 75 4.1.3 Uji Hipotesis Penelitian I ................................................................................... 77 4.1.3.1 Uji Perbedaan Kemampuan Awal ................................................................... 78 4.1.3.2 Uji Besar Pengaruh Perlakuan ........................................................................ 83 4.1.3.3 Analisis Lebih Lanjut ...................................................................................... 84 4.1.4 Uji Hipotesis Penelitian II .................................................................................. 92 4.1.4.1 Uji Perbedaan Kemampuan Awal ................................................................... 93 4.1.4.2 Uji Besar Pengaruh Perlakuan ........................................................................ 99 4.1.4.3 Analisis Lebih Lanjut .................................................................................... 100 4.2 Pembahasan ......................................................................................................... 108 xiii

(14) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.2.1 Pengendalian Ancaman terhadap Validitas Internal ........................................ 108 4.2.2 Analisis Pengaruh Kemampuan Mengevaluasi................................................ 114 4.2.3 Analisis Pengaruh Kemampuan Menarik Kesimpulan .................................... 119 4.2.4 Pembahasan Lebih Lanjut ................................................................................ 123 BAB V PENUTUP ................................................................................................... 126 5.1 Kesimpulan ......................................................................................................... 126 5.2 Keterbatasan Penelitian ....................................................................................... 127 5.3 Saran .................................................................................................................... 127 DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................. 128 LAMPIRAN ............................................................................................................. 133 CURRICULUM VITAE ........................................................................................... 240 xiv

(15) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR TABEL Tabel 3. 1 Jadwal Pengambilan Data .......................................................................... 37 Tabel 3. 2 Matriks Pengembangan Instrumen............................................................. 43 Tabel 3. 3 Hasil Uji Validitas Instrumen .................................................................... 47 Tabel 3. 4 Hasil Uji Reliabilitas Instrumen ................................................................. 48 Tabel 3. 5 Kriteria Besar Pengaruh Perlakuan Menurut Field .................................... 54 Tabel 3. 6 Kriteria Besar Pengaruh Perlakuan Menurut Fraenkel, Wallen, dan Hyun54 Tabel 4. 1 Sebaran Data Kemampuan Mengevaluasi Kelompok Kontrol ................ 73 Tabel 4. 2 Sebaran Data Kemampuan Mengevaluasi Kelompok Eksperimen ........... 74 Tabel 4. 3 Sebaran Data Kemampuan Menarik Kesimpulan Kelompok Kontrol ....... 75 Tabel 4. 4 Sebaran Data Kemampuan Menarik kesimpulan Kelompok Eksperimen . 76 Tabel 4. 5 Hasil Uji Normalitas Distribusi Data Pretest Kemampuan Mengevaluasi 78 Tabel 4. 6 Hasil Uji Homogenitas Varian Skor Pretest Kemampuan Mengevaluasi . 79 Tabel 4. 7 Hasil Uji Perbedaan Rerata Pretest Kemampuan Mengevaluasi ............... 79 Tabel 4. 8 Hasil Uji Normalitas Distribusi Data Selisih Kemampuan Mengevaluasi 81 Tabel 4. 9 Hasil Uji Homogenitas Varians Kemampuan Mengevaluasi .................... 81 Tabel 4. 10 Hasil Uji Signifikansi Pengaruh Perlakuan Kemampuan Mengevaluasi . 82 Tabel 4. 11 Hasil Uji Effect Size ................................................................................ 84 Tabel 4. 12 Hasil Uji Normalitas Data Pretest dan Posttest I Mengevaluasi ............. 85 Tabel 4. 13 Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I Kemampuan Mengevaluasi .... 85 Tabel 4. 14 Hasil Uji Besar Efek Peningkatan Pretest ke Posttest I Mengevaluasi ... 88 Tabel 4. 15 Hasil Uji Korelasi antara Rerata Pretest dan Posttest I ........................... 89 Tabel 4. 16 Hasil Uji Normalitas Distribusi Data Skor Posttest I dan Posttest II ..... 90 Tabel 4. 17 Hasil Uji Retensi Pengaruh Perlakuan ..................................................... 90 Tabel 4. 18 Hasil Uji Signifikansi Skor Pretest ke Posttest II .................................... 92 Tabel 4. 19 Hasil Uji Normalitas Distribusi Pretest Menarik Kesimpulan ................ 94 Tabel 4. 20 Hasil Uji Homogenitas Varian Pretest Menarik Kesimpulan .................. 94 Tabel 4. 21 Hasil Uji Perbedaan Rerata Pretest Kemampuan Menarik Kesimpulan.. 95 Tabel 4. 22 Hasil Uji Normalitas Distribusi Data Selisih Menarik Kesimpulan ......... 96 Tabel 4. 23 Hasil Uji Homogenitas Varians Kemampuan Menarik Kesimpulan ....... 97 Tabel 4. 24 Hasil Uji Signifikansi Pengaruh Perlakuan Menarik Kesimpulan ........... 97 Tabel 4. 25 Hasil Uji Effect Size ................................................................................. 99 Tabel 4. 26 Hasil Uji Normalitas Data Menarik Kesimpulan ................................... 100 Tabel 4. 27 Peningkatan Rerata Kemampuan Menarik Kesimpulan ........................ 101 Tabel 4. 28 Hasil Uji Besar Peningkatan Pretest Posttest I Menarik Kesimpulan ... 103 Tabel 4. 29 Hasil Uji Korelasi antara Rerata Pretest dan Posttest I ......................... 104 Tabel 4. 30 Hasil Uji Normalitas Distribusi Data Skor Menarik Kesimpulan .......... 105 Tabel 4. 31 Hasil Uji Retensi Pengaruh Perlakuan ................................................... 106 Tabel 4. 32 Hasil Uji Signifikansi Skor Pretest ke Posttest II .................................. 107 Tabel 4. 35 Ancaman Terhadap Validitas Internal ................................................... 113 xv

(16) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR GAMBAR Gambar 2. 1 Zone of Proximal Development pada teori Vygotsky ............................ 13 Gambar 2. 2 Penempatan pada Meja Turnamen ......................................................... 20 Gambar 2. 14 Bagan Penelitian yang Relevan ............................................................ 31 Gambar 3. 1 Desain penelitian.................................................................................... 35 Gambar 3. 2 Penghitungan Pengaruh Perlakuan ......................................................... 36 Gambar 3. 3 Pemetaan Variabel Penelitian................................................................. 39 Gambar 3. 4 Rumus Besar Efek untuk Data Normal .................................................. 53 Gambar 3. 5 Rumus Besar Efek untuk Data Tidak Normal ........................................ 53 Gambar 3. 6 Rumus Persentase Pengaruh Perlakuan.................................................. 54 Gambar 3. 7 Rumus Besar Persentase Peningkatan Pretest ke Posttest I ................... 55 Gambar 3. 8 Rumus Gain score .................................................................................. 55 Gambar 3. 9 Rumus Besar Efek Peningatan Rerata Pretest ke Posttest I .................. 56 Gambar 3. 10 Rumus Besar Efek Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I .............. 56 Gambar 3. 11 Pengaruh Sejarah Terhadap Treatment ................................................ 61 Gambar 4. 1 Rerata Skor Pretest dan Posttest I..........................................................82 Gambar 4. 2 Diagram Rerata Selisih Skor Pretest-Posttest I ..................................... 83 Gambar 4. 3 Perbandingan Peningkatan Rerata Skor Pretest ke Posttest I ................ 85 Gambar 4. 4 Grafik Gain Score Kemampuan Mengevaluasi ..................................... 87 Gambar 4. 5 Perbandingan Skor Pretest, Posttest I, dan Posttest II ........................... 91 Gambar 4. 6 Grafik Rerata Skor Pretest dan Posttest I .............................................. 98 Gambar 4. 7 Diagram Rerata Selisih Skor Pretest-Posttest I ..................................... 99 Gambar 4. 8 Perbandingan Peningkatan Rerata Skor Pretest ke Posttest I .............. 101 Gambar 4. 9 Gain Score Kemampuan Menarik Kesimpulan.................................... 102 Gambar 4. 10 Perbandingan Skor Pretest, Posttest I, dan Posttest II ....................... 107 xvi

(17) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1. 1 Surat Izin Penelitian........................................................................... 134 Lampiran 1. 2 Surat Izin Validasi Soal ..................................................................... 135 Lampiran 2. 1 Silabus Kelompok Kontrol.................................................................136 Lampiran 2. 2 Silabus Kelompok Eksperimen ......................................................... 139 Lampiran 2. 3 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Kelompok Kontrol................... 143 Lampiran 2. 4 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Kelompok Eksperimen ............ 148 Lampiran 3. 1 Soal Uraian ........................................................................................158 Lampiran 3. 2 Kunci Jawaban ................................................................................... 166 Lampiran 3. 3 Rubrik Penilaian ................................................................................ 177 Lampiran 3. 4 Hasil Rekap Nilai Expert Judgment .................................................. 181 Lampiran 3. 5 Hasil Uji Validasi oleh Expert Judgment .......................................... 184 Lampiran 3. 6 Hasil Analisis SPSS Uji Validitas ..................................................... 193 Lampiran 3. 7 Hasil Analisis SPSS Uji Reliabilitas ................................................. 194 Lampiran 3. 8 Data Uji Validitas Instrumen ............................................................. 195 Lampiran 4. 1 Tabulasi Nilai Kemampuan Mengevaluasi .......................................196 Lampiran 4. 2 Tabulasi Nilai Kemampuan Menarik Kesimpulan ............................ 196 Lampiran 4. 3 Hasil SPSS Uji Normalitas Data ....................................................... 196 Lampiran 4. 4 Hasil SPSS Uji Perbedaan Kemampuan Awal .................................. 198 Lampiran 4. 5 Hasil SPSS Uji Signifikansi Pengaruh Perlakuan ............................. 203 Lampiran 4. 6 Perhitungan Manual Besar Pengaruh Perlakuan ............................... 204 Lampiran 4. 7 Perhitungan Persentase Peningkatan Pretest Ke Posttest 1............... 205 Lampiran 4. 8 Hasil SPSS Uji besar efek peningkatan rerata pretest ke posttest I .. 210 Lampiran 4. 9 Hasil SPSS Uji Korelasi Rerata Pretest dan Posttest I ...................... 213 Lampiran 4. 10 Hasil SPSS Uji Retensi Pengaruh Perlakuan ................................... 215 Lampiran 4. 11 Lembar Hasil Pretest dan Posttest Siswa ........................................ 220 Lampiran 5. 1 Foto-foto kegiatan..............................................................................236 Lampiran 5. 2 Surat Keterangan Melaksanakan Validasi ......................................... 238 Lampiran 5. 3 Surat Keterangan Melaksanakan Penelitian ...................................... 239 xvii

(18) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB I PENDAHULUAN Bab I ini berisi latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan definisi operasional. Latar belakang masalah berisi alasanalasan melakukan penelitian. Rumusan masalah berisi pertanyaan-pertanyaan yang mengacu pada latar belakang masalah. Manfaat penelitian berisi tentang manfaat dari penelitian ini bagi sekolah, guru, siswa, dan peneliti. Definisi operasional berisi pengertian kata-kata kunci dalam penelitian. Bagian-bagian tersebut akan dijelaskan sebagai berikut. 1.1 Latar Belakang Masalah Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi semakin pesat di era globalisasi sekarang ini dan di masa yang akan datang, namun terdapat permasalahan dalam kehidupan sehari-hari yang semakin kompleks. Kompetensi dan keterampilan yang diperlukan siswa dalam menghadapi kehidupan di abad ke-21 ditekankan pada tujuh keterampilan. Salah satu keterampilan tersebut yaitu kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah (Wagner, 2010). Para ahli psikologi dan pendidikan belakangan ini semakin menyadari bahwa anak-anak di sekolah tidak hanya harus mengingat atau menyerap secara pasif berbagai informasi baru, melainkan mereka perlu berbuat lebih banyak dan belajar bagaimana berpikir secara kritis (Desmita, 2007: 162). Peserta didik didorong untuk memiliki kesadaran akan diri dan lingkungannya, yang pada gilirannya terbentuk kesadaran berpikir secara kritis (Desmita, 2009: 156). Oleh sebab itu, dasar-dasar keterampilan berpikir kritis seharusnya sudah mulai dikembangkan sejak masa anak-anak, terutama pada usia sekolah dasar. Pada jenjang sekolah dasar, usia anak berkisar 7 sampai 12 tahun. Perkembangan kognitif berada pada tahap operasional konkret (Jean Piaget dalam Suparno, 2001: 5). Ciri unik pada siswa tahap operasional konkret yaitu siswa memiliki kecenderungan memecahkan masalah berdasarkan apa yang kelihatan nyata 1

(19) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI dan kecenderungan untuk kerja sama. Tahapan ini merupakan masa di mana siswa memecahkan masalah dengan bantuan orang yang lebih dewasa atau berkolaborasi dengan teman sebaya disebut Zone of Proximal Development (ZPD). Bimbingan atau bantuan bersifat fleksibel sehingga dapat dihentikan ketika siswa mampu menyelesaikan masalah secara mandiri disebut scaffolding. Ada enam kemampuan berpikir kritis yaitu kemampuan menginterpretasi, menganalisis, mengevaluasi, menarik kesimpulan, mengeksplanasi, dan meregulasi diri (Facione, 2010). Kemampuan mengevaluasi adalah kemampuan untuk menilai kredibilitas suatu pernyataan atau argumen dan menilai bobot logika suatu kesimpulan. Kemampuan menarik kesimpulan adalah mengidentifikasi dan memastikan elemen-elemen yang dibutuhkan untuk menarik kesimpulan yang masuk akal, merumuskan dugaan dan hipotesis mempertimbangkan informasi yang relevan dan memperkirakan konsekuensi-konsekuensi yang timbul dari data, pernyataan, bukti, prinsip, penilaian, kepercayaan, pertanyaan, dan konsep (Facione, 2010). Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan salah satu mata pelajaran yang membutuhkan kemampuan berpikir kritis. IPA adalah pengetahuan yang rasional dan objektif terhadap alam semesta beserta isinya (Samatowa, 2011: 2). Pembelajaran IPA pada perkembangan dunia modern saat ini tidak hanya terpaku pada kegiatan menulis dan mendengarkan ceramah dari guru saja, namun anak melatih berpikir kritis dan objektif (Samatowa, 2011: 4). Sebuah organisasai dalam naungan Organization Economic Cooperation and Development (OECD) yang bernama Program for International Students Assessment (PISA) telah mengadakan sebuah survei mengenai sistem pendidikan dan kemampuan dari siswa tiap tiga tahun sekali. Survei ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kemampuan siswa dalam menghadapi tantangan pada kehidupan nyata. Hasil penelitian yang dilakukan oleh PISA (Programme for International Student Assessment) 2009, Indonesia berada pada peringkat 57 dari 65 negara, dengan skor 383 pada mata pelajaran IPA (OECD, 2013:8). Sedangkan pada tahun 2012, Indonesia berada di peringkat ke 64 dari 65 negara, dengan skor 382 pada mata pelajaran IPA(OECD, 2013: 5). Pada hasil PISA tahun 2015, Indonesia berada pada 2

(20) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI peringkat 61 dari 70 negara dengan hasil skor literasi IPA sebesar 403 (OECD, 2016: 5). Data tersebut menunjukkan adanya peningkatan hasil skor literasi IPA dari 383 menjadi 403, namun peringkat Indonesia masih berada di 10 besar terbawah dari 70 negara peserta PISA tahun 2015. Dari hasil penelitian tersebut terlihat bahwa Indonesia mengalami permasalahan pada bidang matematika, membaca, dan juga sains. Rendahnya kemampuan berpikir kritis salah satu faktor penyebabnya adalah penerapan model pembelajaran yang kurang efektif. Salah satu kunci untuk mencapai fungsi dan tujuan pendidikan nasional adalah melalui penerapan model pembelajaran yang bervariasi, bermakna, menyenangkan, efektif, dan efisien (Shoimin, 2014: 25). Pada kenyataannya, beberapa guru di sekolah dasar masih menggunakan proses pembelajaran kurang baik sehingga siswa memiliki kemampuan berpikir kritis yang rendah. Hal ini dibuktikan pada sekolah tempat penelitian yang menggunakan proses pembelajaran yang bersifat konvensional. Model yang seperti ini cenderung membuat siswa bersikap individualis, sehingga membuat pembelajaran menjadi kurang efektif dan efisien (Susanto, 2013: 155). Guru lebih banyak mendominasi, sehingga proses pembelajaran cenderung bersifat monoton, mengakibatkan peserta didik (siswa) mudah jenuh dalam mengikuti pembelajaran, dan membuat siswa hanya terbatas pada kemampuan mengingat. Mencapai hasil belajar yang optimal, dianjurkan agar guru membiasakan diri menggunakan model pembelajaran yang bersifat kooperatif yakni, model pembelajaran yang tidak hanya melibatkan interaksi dinamis antara guru dengan siswa, melainkan juga melibatkan interaksi dinamis antara siswa satu dengan siswa yang lainnya sebagai bentuk kerjasama mereka dalam upaya memahami suatu materi pelajaran (Sutikno, 2012: 212). Standar baru diperlukan agar siswa kelak memiliki kompetensi yang dibutuhkan pada abad ke-21. Sekolah ditantang untuk menemukan cara dalam rangka memungkinkan siswa sukses dalam kehidupan melalui penguasaan keterampilan berpikir kritis, kreatif, mampu menyelesaikan masalah, berkolaborasi, dan berinovasi. Salah satu model pembelajaran yang inovatif yang dapat diterapkan oleh guru untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa adalah model pembelajaran 3

(21) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI kooperatif. Pembelajaran kooperatif adalah salah satu model pembelajaran di mana siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari 4-6 orang, dengan sturuktur kelompoknya yang bersifat heterogen (Slavin, dalam Solihatin & Raharjo, 2007 4). Model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) adalah salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang menempatkan siswa dalam kelompok-kelompok belajar yang beranggotakan lima sampai enam orang siswa yang memiliki kemampuan, jenis kelamin dan suku atau ras yang berbeda (Isjoni, 2009: 83-84). Komponen utama dalam pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) yaitu presentasi di kelas (class pressentation), kelompok (teams), permainan (games), kompetisi (tournament), dan penghargaan kelompok (teams recognition) (Slavin, 2008: 166-167). Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TGT ini memungkinkan siswa untuk memiliki pemahaman mendalam terhadap meteri pembelajaran, memiliki kebebasan berinteraksi dalam kelompok, lebih percaya diri, dan memiliki motivasi belajar yang tinggi sehingga dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa sehingga dapat meningkatkan kemampuan mengevaluasi dan menarik kesimpulan siswa. Berbagai jurnal penelitian diterbitkan untuk meningkatkan kemampuan kognitif pada siswa. Berdasarkan penelitian-penelitian sebelumnya, terlihat bahwa model pembelajaran kooperatif tipe TGT dapat meningkatkan penguasaan bilangan bahasa Jepang (Subandi dan Setyoningsih, 2014), model pembelajaran cooperative tipe TGT berpengaruh terhadap hasil belajar matematika siswa (Khasanah, 2015), model pembelajaran TGT dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran fisika (Nadrah dkk, 2017). Berbagai jurnal diterbitkan untuk mendukung pengembangan kemampuan berpikir kritis seperti, Syarifah dan Sumardi (2015) melakukan penelitian untuk mengetahui model pembelajaran Malcom’s Modeling Method dapat meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan motivasi belajar, Permana (2016) penerapan metode pembelajaran kooperatif tipe NHT dapat meningkatkan hasil belajar dan berpikir kritis siswa sekolah dasar pada mata pelajaran IPS dan Crismono (2017) outdoor learning dapat mempengaruhi 4

(22) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI kemampuan berpikir kritis matematika siswa, dan Berdasarkan hasil penelitian tersebut, TGT berpengaruh dan meningkatkan berbagai kemampuan siswa. Peneliti belum menemukan penelitian tentang penerapan TGT untuk mengetahui pengaruh terhadap kemampuan mengevaluasi dan kemampuan menarik kesimpulan dalam teori berpikir kritis menurut Peter Facione. Sehingga peneliti memiliki ketertarikan untuk mengetahui pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament terhadap kemampuan berpikir kritis yaitu mengevaluasi dan menarik kesimpulan. Penelitian ini dibatasai hanya pada pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) terhadap kemampuan mengevaluasi dan menarik kesimpulan dalam teori berpikir kritis menurut Peter Facione pada siswa kelas V salah satu sekolah dasar swasta yang ada di Yogyakarta pada tema 2 khususnya mata pelajaran IPA materi sistem pernapasan pada hewan. Pada penelitian ini, jenis penelitian yang digunakan eksperimental yaitu jenis quasi-experimental tipe pretest-posttest non equivalent group design, di mana menggunakan dua kelompok yaitu kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Penelitian ini dilaksanakan di salah satu sekolah dasar swasta yang ada di Yogyakarta pada tanggal 4 September 18 September 2018. Peneliti memilih SD tersebut karena memiliki kelas paralel yang tepat digunakan untuk penelitian eksperimental. Model pembelajaran kooperatif tipe TGT merupakan variabel independen dan kemampuan mengevaluasi dan menarik kesimpulan merupakan variabel dependen. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas V yang berjumlah 42 siswa. Instrumen tes uraian yang digunakan untuk mengukur kemampuan mengevaluasi dan menarik kesimpulan yang terlebih dahulu diuji validitas dan uji reliabilitas agar mendapat instrumen yang valid dan reliabel. 5

(23) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 1.2 Rumusan Masalah 1.2.1 Apakah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament berpengaruh terhadap kemampuan mengevaluasi siswa kelas V SD? 1.2.2 Apakah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament berpengaruh terhadap kemampuan menarik kesimpulan siswa kelas V SD? 1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Mengetahui pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament terhadap kemampuan mengevaluasi siswa kelas V SD. 1.3.2 Mengetahui pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament terhadap kemampuan menarik kesimpulan siswa kelas V SD. 1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Bagi Siswa Siswa memperoleh pembelajaran pengalaman belajar yang baru dengan model kooperatif tipe Teams Games Tournament sehingga dapat meningkatkan kemampuan mengevaluasi dan menarik kesimpulan. 1.4.2 Bagi Peneliti Peneliti memperoleh pengalaman baru tentang penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament untuk meningkatkan kemampuan mengevaluasi dan menarik kesimpulan siswa. 1.4.3 Bagi Guru Guru memahami model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament sehingga dapat menambah variasi model dalam mengajar dan mengembangkan kemampuan berpikir kritis pada siswa yaitu kemampuan mengevaluasi dan menarik kesimpulan. 6

(24) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 1.4.4 Bagi Sekolah Sekolah dapat mengembangkan wawasan tentang pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament untuk meningkatkan kemampuan mengevaluasi dan menarik kesimpulan. 1.5 Definisi Operasional 1.5.1 Model pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran kooperatif yang terdapat interaksi kegiatan belajar mengajar dalam kelompok kecil heterogen untuk menyelesaikan suatu masalah. 1.5.2 Model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament adalah model pembelajaran kooperatif yang menerapkan konsep bermain (games) dan dilakukan secara berkelompok (teams) dengan menggunakan sistem turnamen (tournament) sehingga memungkinkan siswa untuk terlibat secara aktif. 1.5.3 Kemampuan berpikir kritis adalah kemampuan untuk menganalisis argumen dan memunculkan wawasan pada tiap-tiap makna serta mengembangkan penalaran yang logis. Dalam kemampuan berpikir kritis memiliki enam unsur antara lain kemampuan menginterpretasi, menganalisis, mengevaluasi, menarik kesimpulan, mengeksplanasi, dan meregulasi diri. 1.5.4 Kemampuan mengevaluasi adalah suatu kemampuan menalar yang berkaitan dengan pernyataan, deskripsi, pertanyaan, atau ungkapan lainnya, dan terdiri dari dua sub kecakapan, yaitu kemampuan menilai sah tidaknya klaim-klaim dan menilai sah tidaknya argumen-argumen . 1.5.5 Kemampuan menarik kesimpulan adalah kemampuan untuk mengidentifikasi sehingga dapat menarik kesimpulan yang masuk akal dan terdiri atas keterampilan menguji bukti-bukti, menerka alternatif-alternatif, dan keterampilan menarik kesimpulan. 1.5.6 Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) adalah salah satu mata pelajaran yang pelajari di Sekolah Dasar yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. 7

(25) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB II LANDASAN TEORI Pada Bab II berisi kajian pustaka, hasil penelitian yang relevan, kerangka berpikir, dan hipotesis penelitian. Kajian pustaka membahas teori-teori yang mendukung dalam pelakasanaan penelitian yang dilakukan. Selanjutnya dirumuskan dalam kerangka berpikir yang berisi pemikiran, dan hipotesis penelitian yang berisi dugaan sementara dari rumusan masalah penelitian. 2.1 Kajian Pustaka 2.1.1 Teori yang Mendukung Teori yang mendukung merupakan teori-teori yang melandasi penelitian ini. Teori-teori tersebut terdiri dari teori perkembangan anak yaitu teori perkembangan kognitif menurut Piaget dan teori perkembangan kognitif sosiobudaya menurut Vygotsky, model pembelajaran kooperatif, berpikir kritis, kemampuan evaluasi, dan materi IPA yang akan diperjelas pada sub bab selanjutnya. 2.1.1.1 Teori Perkembangan Anak Perkembangan adalah sebuah proses perubahan yang berlangsung seumur hidup untuk mendapatkan kemampuan beradaptasi dengan situasi yang dipilih oleh seseorang, atau situasi di mana seseorang berada. Dua teori kognitif yang paling penting adalah teori perkembangan kognitif Piaget dan teori kognitif sosiobudaya Vygotsky (Papalia dkk, 2008: 24). 1. Teori Perkembangan Kognitif Piaget Jean Piaget (1896-1980) merupakan seorang psikolog Swiss. Teori Piaget adalah sebuah kisah yang menyeluruh dan umum mengenai bagaimana biologi dan pengalaman membentuk perkembangan kognitif (Santrock, 2012: 168). Pada tahun 1920, Piaget memutuskan untuk mempelajari anak ketika bekerja di Laboratorium Binet di Paris. Piaget merupakan seorang yang jenius dalam mengamati anak-anak. Observasinya yang dilakukan secara hati-hati telah 8

(26) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI memperlihatkan hal penting dalam perkembangan kognitif. Seperti peralihan dari pemikiran praoperasional menjadi operasional konkret (Santrock, 2009: 59). Teori perkembangan kognitif Piaget mengungkapkan bahwa anak-anak secara aktif membangun pemahaman mengenai dunia dan melalui empat tahap perkembangan kognitif (Santrock, 2012: 28). Anak-anak mengembangkan cara berpikir dan memahami melalui tindakan dan interaksi mereka dengan dunia secara fisik (Santrock, 2012: 251). Setiap tahap memiliki kaitan dengan usia dan mengandung cara berpikir tertentu, cara yang berbeda dalam memahami dunia. Piaget membagi perkembangan kognitif anak dalam empat tahap, yaitu: a. Tahap Sensorimotor (0-2 tahun) Dalam tahap ini, bayi membangun pemahaman mengenai dunianya dengan mengoordinasikan pengalaman-pengalaman sensoris (contohnya melihat dan mendengar) dengan tindakan-tindakan fisik dan motorik (Santrock, 2012: 28). Tahap pertama perkembangan Piaget terdiri atas enam tahapan yaitu: 1) Tahap 1 (lahir-1 bulan): penggunaan refleks-refleks seperti menatap, menggenggam, memukul, menendang. 2) Tahap 2 (1-4 bulan): reaksi-reaksi sirkuler primer melibatkan koordinasi bagian-bagian tubuh bayi sendiri. 3) Tahap 3 (4-10 bulan): reaksi-reaksi sirkuler primer sekunder, terjadi ketika bayi menemukan dan menghasilkan kembali peristiwa menarik di luar dirinya. 4) Tahap 4 (10-12 bulan): koordinasi skema-skema sekunder yaitu tindakan bayi menjadi lebih terbedakan untuk mengkoordinasi dua skema terpisah demi mendapatkan satu hasil. 5) Tahap 5 (12-18 bulan): reaksi-reaksi sirkuler tersier yaitu bereksperimen dengan tindakan-tindakan yang berbeda-beda untuk mengamati hasil yang berbeda-beda. 9

(27) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 6) Tahap 6 (18 bulan- 2 tahun): permulaan berpikir yaitu mulai memikirkan situasi secara lebih internal, sebelum akhirnya bertindak (Crain, 2007: 173-178). b. Tahap Praoperasi (2-7 tahun) Dalam tahap ini, anak-anak mulai melukiskan dunia dengan kata-kata dan gambar-gambar, melampaui hubungan sederhana antara informasi sensoris dan tindakan fisik (Santrock, 2012: 28). Tahap ini lebih simbolik daripada tahap sensorimotor, tetapi tidak melibatkan pemikiran operasional. Pada tahap ini lebih bersifat egosentris dan intuitif daripada logis. Pada pemikiran praoperasional bisa dibagi menjadi dua subtahap yaitu fungsi simbolik dan fungsi intuitif. Subtahap fungsi simbolik (symbolic function substage) yaitu anak melatih kemampuan untuk mewujudkan secara mental sebuah benda yang tidak ada. Hal ini akan memperluas dunia mental si anak menuju dimensi baru. Serta berkembangnya kemampuan untuk mempresentasikan sebuah objek yang tidak ada dan meningkatnya pemikiran yang simbolik; egosentrisme; dan animisme muncul (Santrock: 2009: 51). Subtahap pemikiran intuitif (intuitive thought substage) yaitu anak-anak mulai menggunakan pemikiran primitif dan ingin mengetahui jawaban untuk semua jenis pertanyaan. Anak-anak tampak sangat yakin dengan pengetahuan mereka dalam subtahap ini, tetapi tidak sadar akan bagaimana mereka mengetahui apa yang mereka ketahui (Santrock, 2009: 52). c. Tahap Operasional Konkret (7 – 11tahun) Dalam tahap ini, anak-anak dapat melakukan operasi yang melibatkan objek-objek dan juga dapat bernalar secara logis, sejauh hal itu diterapkan dengan contoh-contoh yang spesifik atau konkret (Santrock, 2012: 28). Operasi konkret adalah tindakan mental yang bisa bolak-balik dan berkaitan dengan objek yang nyata dan konkret. Serta memungkinkan anak untuk mengkoordinasi beberapa karakteristik daripada berfokus pada satu sifat benda (Santrock: 2009: 55). 10

(28) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI d. Tahap Operasional Formal (11- dewasa) Dalam tahapan ini, individu melampaui pengalaman-pengalaman konkret dan berpikir secara abstrak dan lebih logis. Serta mempersiapkan kemungkinan-kemungkinan di masa depan dan kagum dengan hal-hal yang dapat mereka lakukan (Santrock, 2012: 29). Pada tahap ini, individu-individu mulai mengambil keputusan berdasarkan pengalaman nyata dan berpikir lebih abstrak, idealis, dan logis (Santrock, 2009: 57). Dalam proses perkembangan kognitif anak, teori Piaget sangat relevan, karena ketika menggunakan teori ini, maka akan diketahui bahwa manusia memiliki tahap-tahap perkembangan berpikir sesuai dengan tingkatannya. Dalam pembelajaran, guru bisa memberikan perlakuan yang tepat yaitu dalam memilih cara penyampaian materi serta model pembelajaran yang digunakan sesuai dengan tahap kemampuan berpikir yang dimiliki oleh anak. Siswa Sekolah Dasar kelas V berusia antara 10-11 tahun. Pada teori perkembangan kognitif anak menurut Piaget, anak kelas V berada pada tahapan operasional konkret, maka anak membutuhkan teknik pengajaran yang tidak terlepas dari pengalaman-pengalaman konkret. 2. Teori Kognitif Sosiobudaya Menurut Vygotsky Lev Semyonovich Vygotsky (1896-1934) adalah seorang psikolog Uni Soviet yang tumbuh besar di Gomel, sebuah kota pelabuhan di Rusia sebelah barat. Di Moskow, Vygotsky menjadi pemikir. Teori Vygotsky adalah teori kognisi sosiobudaya yang berfokus pada bagaimana budaya dan interaksi sosial mengarahkan perkembangan kognitif. Vygotsky melukiskan perkembangan anak sebagai aspek yang tidak terpisahkan dari aktivitas sosial dan budaya (Crain, 2007: 334). Vygotsky memberikan fokus lebih besar terhadap pentingnya interaksi sosial dan budaya terhadap perkembangan kognitif (Santrock, 2012: 29). Dengan demikian, dalam suatu budaya anak-anak dapat belajar berhitung dengan bantuan komputer; di budaya lainnya, mereka dapat belajar berhitung dengan 11

(29) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI menggunakan bantuan manik-manik. Interaksi anak-anak dengan orang dewasa yang lebih terampil dan kawan-kawan sebaya tidak dapat dipisahkan dari perkembangan koginitif mereka. Melalui interaksi ini, mereka belajar menggunakan perangkat yang dapat membantu mereka untuk beradaptasi dan berhasil di dalam budayanya (Santrock, 2012: 29). Vygotsky menyatakan bahwa anak-anak mengembangkan konsep-konsep yang lebih sistematis, logis, dan rasional yang merupakan hasil dari dialog bersama pembimbingnya yang lebih terampil. Jadi dalam teori Vygotsky, orang lain dan bahasa memainkan peran kunci dalam perkembangan kognitif seorang anak (Santrock, 2009: 62). Teori konstruktivisme dikembangkan menjadi tiga zona yaitu, Zone of Actual Development, Zone of Proximal Development (ZPD), dan Zone of Potential Development. Taraf perkembangan belajar dibedakan menjadi dua yaitu, Zone of Actual Development dan Zone of Potential Development. Zone of Actual Development dilihat pada kemampuan anak memecahkan masalah secara mandiri. Dalam menyelesaikan tugas dan memecahkan masalah, anak boleh dibantu orang dewasa atau berkolaborasi bersama teman sebaya yang lebih kompeten (Huda, 2014: 40). Dengan demikian, anak mampu memecahkan masalah secara mandiri. ZPD mengandung arti jarak antara Zone of Actual Development dan Zone of Potential Development, di mana anak mampu memecahkan masalah oleh diri sendiri maupun dengan bantuan orang dewasa atau teman sebaya (Supratiknya, 2002: 30 & Salkind, 2009: 375). Zona perkembangan proksimalnya (Zone of Proximal Development-ZPD) adalah istilah Vygotsky untuk kisaran tugas-tugas yang terlalu sulit saat anak melakukannya sendiri, tetapi dapat dipelajari dengan bimbingan dan bantuan dari orang dewasa atau anak-anak yang terampil. ZPD memiliki batas bawah dan batas atas. Batas bawah ZPD adalah tingkat pemecahan masalah yang dapat diraih pada tugas-tugas yang dikerjakan oleh anak sendiri, sedangkan batas atas ZPD adalah tingkat tanggung jawab tambahan yang dapat diterima anak dengan bantuan seorang pengajar yang berkompeten (Santrock, 2009: 62-64). Pendukung ZPD adalah scaffolding. 12

(30) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI (Sumber: https://lifespandevelopmentac.weebly.com/cognitive-development.html) Gambar 2. 1 Zone of Proximal Development pada teori Vygotsky Scaffolding adalah bantuan untuk memecahkan masalah selama tahap awal perkembangan. Bantuan dikurangi setelah anak dapat memecahkan masalah sendiri. Anak berkesempatan mengambil alih tanggung jawab untuk mencapai taraf perkembangan yang lebih tinggi atau Zone of Actual Development (Fathurrohman, 2017: 229). Bantuan dapat dilakukan oleh guru atau teman sebaya berupa dorongan, petunjuk, peringatan, dan memberi contoh sehingga memungkinkan siswa tumbuh mandiri. Siswa dapat berkembangan dengan sendirinya tetapi tidak lepas dari kerja sama. Melalui kerja sama siswa belajar menyatukan ide-ide kemudian disampaikan kepada teman. Belajar secara berkolaborasi atau berpasangan dapat terjadi pada model pembelajaran kooperatif (Bransford, dalam Huda, 2014: 40). Pada teori kognitif sosiobudaya menurut Vygotsky, dalam mencapai Zone of Actual Development memerlukan keterlibatan anak untuk saling membantu. Hal ini merupakan salah satu ciri anak yaitu dapat mengerjakan sesuatu dengan lebih mudah apabila dikerjakan secara bersama atau dengan bantuan dari orang yang lebih dewasa. Pembelajaran dapat berupa pemecahan masalah secara berkelompok salah satunya dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif. Model pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran berdasarkan paham konstruktivisme yang memudahkan siswa menemukan dan memahami konsep yang sulit dengan berdiskusi (Trianto, 2007: 41). 13

(31) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2.1.1.2 Model Pembelajaran Kooperatif 1. Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif Model pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pembelajaran yang melibatkan siswa untuk belajar dalam kelompok-kelompok kecil yang memiliki tingkat kemampuan yang berbeda, saling bekerja sama dan membantu untuk memahami suatu bahan pembelajaran (Shoimin, 2014: 45). Secara umum pembelajaran kooperatif dianggap lebih diarahkan oleh guru, di mana guru menetapkan tugas dan pertanyaan-pertanyaan serta menyediakan bahan-bahan dan informasi yang dirancang untuk membantu peserta didik menyelesaikan masalah yang dimaksud (Suprijono, 2009: 54). Berdasarkan pendapat beberapa ahli tersebut, dapat ditegaskan bahwa pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang terdapat interaksi kegiatan belajar mengajar dalam kelompok kecil heterogen untuk menyelesaikan suatu masalah. Model pembelajaran kooperatif memiliki banyak tipe antara lain 1) Jigsaw, 2) Student Teams Achievement Division (STAD), Group Investigation (GI), 3) Teams Games Tournament (TGT), 4) Numbered Head Together (NHT), dan 5)Think Pair Share (TPS), dan sebagainya (Trianto, 2007: 49). 2. Unsur Dasar dalam Pembelajaran Kooperatif Lima unsur dasar dalam pembelajaran kooperatif yaitu 1) keberhasilan dalam penyelesaian tugas tergantung pada usaha yang dilakukan oleh kelompok, 2) setiap anggota kelompok mempunyai tugas dan tanggung jawab yang harus dikerjakan dalam kelompok, 3) memberikan kesempatan yang luas kepada setiap anggota kelompok untuk bertatap muka melakukan interaksi dan diskusi untuk saling memberi dan menerima informasi dari anggota kelompok lain, 4) melatih siswa untuk dapat berpartisipasi aktif dan berkomunikasi dalam kegiatan pembelajaran, dan 5) menjadwalkan waktu khusus bagi kelompok untuk mengevaluasi proses dan hasil kerja sama kelompok (Roger & David Johnson, dalam Rusman, 2012: 212). 14

(32) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Unsur dasar dalam pembelajaran kooperatif sebagai berikut a. Setiap anggota kelompok (siswa) bertanggung jawab atas segala sesuatu yang dikerjakan dalam kelompoknya b. Setiap anggota kelompok (siswa) harus mengetahui bahwa semua anggota kelompok mempunyai tujuan yang sama c. Setiap anggota kelompok (siswa) harus membagi tugas dan tanggung jawab yang sama diantara anggota kelompoknya d. Setiap anggota kelompok (siswa) akan dikenai evaluasi e. Setiap anggota kelompok (siswa) berbagi kepemimpinan dan membutuhkan keterampilan untuk belajar bersama selama proses belajarnya f. Setiap anggota kelompok (siswa) akan diminta mempertanggungjawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif (Nur dalam Daryanto, dkk, 2012: 242), Empat unsur dalam pembelajaran kooperatif yaitu 1) setiap anggota kelompok perlu membagi tugas sesuai dengan tujuan kelompoknya, 2) setiap anggota kelompok harus memiliki tanggung jawab sesuai dengan tugasnya, 3) pembelajaran kooperatif memberi ruang dan kesempatan yang luas kepada setiap anggota kelompok untuk bertatap muka saling memberikan informasi dan saling membelajarkan, dan 4) melatih siswa untuk dapat mampu berpartisipasi aktif dan berkomunikasi (Hamdayama, 2014: 64). Unsur-unsur dasar dalam pembelajaran kooperatif sebagai berikut 1) para siswa harus memiliki persepsi bahwa mereka “tenggelam atau berenang bersama”, 2) para siswa harus memiliki tanggung jawab terhadap siswa atau peserta didik lain dalam kelompoknya, 3) para siswa harus berpandangan bahwa mereka semua memiliki tujuan yang sama, 4) para siswa membagi tugas dan berbagi tanggung jawab diantara para anggota kelompok, 5) para siswa diberikan satu evaluasi atau penghargaan yang akan ikut berpengaruh terhadap evaluasi kelompok, 6) para siswa berbagi kepemimpinan sementara mereka memperoleh keterampilan bekerja sama selama belajar, 7) setiap siswa akan diminta 15

(33) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI mempertanggungjawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif (Lungdren dalam Isjoni, 2009: 16). Berdasarkan pendapat para ahli tersebut, dapat ditegaskan bahwa unsur-unsur dalam pembelajaran kooperatif adalah setiap siswa memiliki tanggung jawab sesuai dengan tugas yang diberikan, antar anggota kelompok saling berinteraksi dan saling bertatap muka untuk saling memberi dan menerima informasi sesuai dengan tugas, dan keberhasilan dipengaruhi oleh usaha setiap anggota dalam kelompok. 3. Ciri-ciri Pembelajaran Kooperatif Ciri-ciri model pembelajaran kooperatif sebagai berikut (Daryanto, dkk, 2012: 242) a. Siswa dalam kelompok secara kooperatif menyelesaikan materi belajar sesuai kompetensi dasar yang akan dicapai b. Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan yang berbedabeda, baik tingkat kemampuan tinggi, sedang, dan rendah. Jika mungkin anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku, yang berbeda serta memperhatikan kesetaraan gender c. Penghargaan lebih menekankan pada kelompok dari pada masing-masing individu. Ciri-ciri pembelajaran kooperatif adalah 1) pembelajaran secara tim, 2) didasarkan pada manajemen kooperatif, 3) kemauan untuk bekerja sama, dan 4) keterampilan bekerja sama (Rusman, 2012: 207). Ciri-ciri pembelajaran kooperatif yaitu 1) adanya peserta dalam kelompok, 2) adanya aturan kelompok, 3) adanya upaya belajar, 4) adanya tujuan yang harus dicapai (Hamdayama, 2014: 63). Berdasarkan uraian di atas dapat ditegaskan bahwa ciri-ciri pembelajaran kooperatif yaitu 1) pembelajaran dilakukan oleh setiap peserta di dalam kelompok, 2) setiap kelompok memiliki aturan, 3) kemauan untuk bekerja sama, 4) adanya tujuan yang harus dicapai. 16

(34) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4. Manfaat Model Pembelajaran Kooperatif Mengungkapkan manfaat menggunakan model pembelajaran kooperatif antara lain 1) meningkatkan harga diri yang pada gilirannya memotivasi peserta didik berpartisipasi dalam proses pembelajaran, 2) mengurangi kecemasan yang diciptakan oleh situasi kelas yang baru dan asing yang dihadapi oleh peserta didik, 3) mengembangkan sikap guru-siswa yang positif, 4) menetapkan inklusi, menciptakan suasana belajar di mana peserta didik merasa dihormati dan saling terhubung satu sama lain, 5) menciptakan dukungan sosial yang kuat, 6) meningkatkan respon positif, mengurangi kekerasan dalam pengaturan apapun, menghilangkan rasa takut dan menyalahkan, serta meningkatkan kepercayaan diri, keramahan, dan konsensus, dan 7) mendorong interaksi siswa di semua tingkat (Suprijono, 2016: 197). Manfaat pembelajaran kooperatif adalah siswa dapat meningkatkan hasil belajar akademik, siswa dapat menerima berbagai keragaman dari temannya, dan siswa dapat mengembangkan keterampilan sosial (Daryanto, dkk, 2012: 242). 2.1.1.3 Tipe Teams Games Tournament (TGT) Penyajian kelas dalam pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) tidak berbeda dengan pengajaran yang difokuskan pada materi yang sedang dibahas saja. Ketika penyajian kelas berlangsung mereka sudah berada dalam kelompoknya. Dengan demikian mereka akan memperhatikan dengan serius selama pengajaran penyajian kelas berlangsung sebab setelah ini mereka harus mengerjakan games akademik dengan sebaik-baiknya dengan skor mereka akan menentukan skor kelompok mereka (Taniredja dkk, 2014: 67). Dalam TGT siswa memainkan permainan dengan anggota-anggota tim lain untuk memperoleh skor tinggi bagi tim mereka masing-masing. Permainan disusun guru dalam bentuk kuis berupa pertanyaan yang berkaitan dengan materi pelajaran (Saco dalam Rusman, 2010: 224). 17

(35) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI TGT memiliki banyak kesamaan dinamika dengan STAD, tetapi menambahkan dimensi kegembiraan yang diperoleh dari penggunaan permainan. Teman satu tim akan saling membantu dalam mempersiapkan diri untuk permainan dengan mempelajari lembar kegiatan dan menjelaskan masalah-masalah satu sama lain, tetapi sewaktu siswa sedang bermain game temannya tidak boleh membantu, memastikan telah terjadi tanggug jawab individual. Materi yang sama yang digunakan dalam STAD dapat juga digunakan dalam TGT-kuis. Sebagian guru lebih memilih TGT karena faktor menyenangkan dan kegiatannya, sementara yang lain lebih memilih murni bersifat kooperatif (Slavin, 2008: 14). 1. Pengertian Teams Games Tournament Teams Games Tournament (TGT) adalah salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang menempatkan siswa dalam kelompok-kelompok belajar yang beranggotakan lima sampai enam orang siswa yang memiliki kemampuan, jenis kelamin, dan suku kata atau ras yang berbeda (Isjoni, 2009: 83). 2. Langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif Tipe Teams Games Tournament Model pembelajaran kooperatif tipe TGT terdiri dari lima langkah , yaitu penyajian kelas (class precentation), belajar dalam kelompok (teams), permainan (games), pertandingan (tournament), dan penghargaan kelompook (team recognition) (Slavin dalam Rusman, 2010: 225). Langkah-langkah dan aktivitas pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) adalah sebagai berikut: a. Class-Presentation (Penyajian/ presentasi kelas) Materi diperkenalkan dalam presentasi di dalam kelas. Ini merupakan pengajaran langsung seperti yang sering kali dilakukan atau diskusi pelajaran yang dipimpin oleh guru, tetapi juga bisa memasukkan presentasi audiovisual. Dalam langkah ini guru menanamkan kemampuan berpikir kritis siswa yaitu pada kemampuan mengevaluasi dan menarik kesimpulan. b. Team (Kelompok) Tim terdiri atas empat atau lima siswa yang mewakili seluruh bagian dari kelas dalam hal kinerja akademik, jenis kelamin, ras, dan etnis. Fungsi utama 18

(36) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI dari tim adalah memastikan bahwa semua anggota benar-benar belajar, dan lebih khususnya lagi adalah untuk mempersiapkan anggotanya bisa mengerjakan kuis dengan baik. Setelah guru menyampaikan materinya, tim berkumpul untuk mempelajari lembar-kegiatan atau materi lainnya. c. Game (Permainan) Game terdiri atas pertanyaan-pertanyaan yang kontennya relevan dan dirancang untuk menguji pengetahuan siswa yang diperoleh dari presentasi di kelas dan pelaksanaan kerja tim. Game dimainkan di atas meja dengan tiga orang siswa, yang masing-masing mewakili tim yang berbeda. Seorang siswa mengambil sebuah kartu bernomor dan harus menjawab pertanyaan sesuai nomor yang tertera pada kartu tersebut. Terdapat aturan tentang penantang memperbolehkan para pemain saling menantang jawaban masingmasing. Siswa yang menjawab dengan benar pertanyaan tersebut akan mendapatkan skor. d. Tournament (Pertandingan/ kompetisi) Turnamen adalah sebuah struktur di mana game berlangsung. Biasanya berlangsung pada akhir minggu atau akhir unit, setelah guru memberikan presentasi di kelas dan tim melaksanakan kerja kelompok terhadap lembarkegiatan. Pada turnamen pertama, guru menunjuk siswa untuk berada pada meja turnamen. Setelah turnamen pertama, para siswa akan bertukar meja tergantung pada kinerja mereka pada turnamen terakhir. Pemenang pada tiap meja “naik tingkat” ke meja berikutnya yang lebih tinggi. Dengan cara ini, jika pada awalnya siswa sudah salah ditempatkan, untuk seterusnya mereka akan terus dinaikkan atau diturunkan sampai mereka mencapai tingkat kinerja mereka yang sesungguhnya. e. Team-Recognize (Penghargaan-kelompok) Tim akan mendapatkan sertifikat atau bentuk penghargaan lain apabila skor rata-rata mereka mencapai kriteria tertentu (Slavin, 2008: 143-167). 19

(37) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Berikut adalah gambar penempatan meja turnamen model pembelajaran kooperatif Teams Games Tournament (Taniredja, 2011: 69) Gambar 2. 2 Penempatan pada Meja Turnamen 3. Manfaat tipe Teams Games Tournament Manfaat dari pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) adalah a) siswa memiliki kebebasan untuk berinteraksi dan menggunakan pendapatnya, b) memiliki rasa kepercayaan diri yang tinggi, c) perilaku mengganggu terhadap siswa lain menjadi lebih kecil, d) motivasi belajar bertambah, e) pemahaman yang mendalam terhadap pokok bahasan, f) meningkatkan kepekaan dan toleransi terhadap siswa lain, g) membuat interaksi belajar dalam kelas menjadi lebih hidup dan tidak membosankan (Taniredja, Faridli & Harmianto, 2011: 72-73). 2.1.1.4 Berpikir Kritis Silverman dan Smith (dalam Tawil, 2013: 8) mendefinisikan berpikir kritis sebagai berpikir yang memiliki maksud, masuk akal, dan berorientasi pada tujuan, serta kecapakan untuk menganalisis sesuatu informasi dan ide-ide serta lebih hati-hati dan logis dari berbagai macam perspektif. Berpikir kritis adalah sebuah proses yang menekankan sebuah basis kepercayaan-kepercayaan yang logis dan rasional, dan memberikan serangkaian standar dan prosedur untuk menganalisis menguji, dan mengevaluasi (Rudinow dan Barry dalam Tawil, 2013: 8). Sedangkan Liliasari 20

(38) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI (dalam Tawil, 2013: 8) mengemukakan bahwa berpikir kritis merupakan kemampuan untuk menganalisis argumen dan memunculkan wawasan terhadap tiap-tiap makna dan interpretasi, untuk mengembangkan pola penalaran yang kohesif dan logis, memahami asumsi bias yang mendasari tiap-tiap posisi. Berdasarkan pendapat para ahli tersebut, dapat ditegaskan bahwa kemampuan berpikir kritis adalah kemampuan untuk menganalisis argumen dan memunculkan wawasan pada tiap-tiap makna serta mengembangkan penalaran yang logis. Enam unsur keterampilan berpikir kritis yakni menginterpretasi, menganalisis, mengevaluasi, menarik kesimpulan, mengeksplanasi, dan meregulasi diri (Facione dalam Tawil, 2013: 8). Berikut ini diuraikan enam kecakapan berpikir kritis dimensi kognitif (Facione, 1990: 1) Menginterpretasi, merupakan kecakapan untuk memahami dan mengekspresikan makna dari berbagai pengalaman. 2) Menganalisis, merupakan kecapakan mengidentifikasi hubungan-hubungan logis dari pernyataan, pertanyaan konsep, uraian, atau bentuk ungkapan lain untuk mengemukakan kepercayaan, penilaian, pengalaman, penalaran, informasi, atau opini. 3) Mengevaluasi, merupakan kecapakan untuk menilai kredibilitas pernyataan atau opini seseorang untuk menimbang bobot dari suatu penalaran yang berkaitan dengan pernyataan atau ungkapan lainnya. 4) Menarik kesimpulan merupakan kecakapan mengidentifikasi dan memastikan elemen-elemen yang diperlukan untuk menarik alasan, merumuskan dugaan atau hipotesis, mempertimbangkan informasi-informasi yang relevan, dan menarik konsekuensi-konsekuensi yang mungkin timbul dari prinsip, bukti, penilaian, kepercayaan, atau bentuk ungkapan yang lainnya. 5) Mengeksplanasi merupakan kecapakan menjelaskan dan memberikan alasan-alasan dari bukti, konsep, metode, kriteria, dan konteks yang digunakan untuk menarik kesimpulan, dan untuk mengemukakan argumen-argumen logis yang kuat. 6) Meregulasi diri merupakan kecapakan memonitor aktivitas kognitifnya sendiri secara sadar, dan kecapakan untuk memonitor aktivitas mentalnya sendiri dalam menarik kesimpulan dengan menganaisis dan mengevaluasi penilaiannya sendiri. 21

(39) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2.1.1.5 Kemampuan Mengevaluasi Kemampuan mengevaluasi merupakan kecakapan untuk menilai kredibilitas pernyataan atau ungkapan lain yang mencerminkan persepsi, pengalaman, situasi, penilaian, kepercayaan, atau opini seseorang untuk menimbang bobot dari suatu penalaran yang berkaitan dengan pernyataan, deskripsi, pertanyaan, atau ungkapan lainnya (Facione dalam Tawil, 2013: 10). Sub kecakapan daam kemampuan evaluasi yaitu menilai klaim dan menilai argumen. 1. Menilai sah tidaknya klaim-klaim Misalnya: a. Menilai faktor-faktor yang relevan yang dapat digunakan untuk menguji kredibilitas sumber informasi. b. Menilai apakah suatu prinsip dapat diterapkan untuk situasi tertentu. c. Menilai apakah suatu klaim itu bisa dibenarkan atau tidak atas dasar pengetahuan yang dimiliki. d. Menilai relevansi pertanyaan, prinsip, aturan, arah. e. Menilai penerimaan kebenaran dari suatu pernyataan. 2. Menilai sah tidaknya argumen-argumen Misalnya: a. Menilai kebenaran suatu argumen yang diambil secara induktif atau deduktif. b. Menilai apakah suatu kesimpulan ditarik dari premis-premis yang benar. c. Menemukan apakah terhadap kekeliruan-kekeliruan dalam penalaran. d. Menilai bobot logis suatu keberatan. e. Mengantisipasi keberatan-keberatan terhadap suatu argumen. f. Menilai apakah suatu argumen didasarkan atas pemikiran hipotetis atau sebab-akibat. g. Menilai apakah suatu argumen didasarkan atas asumsi yang benar. h. Menilai relevansi suatu argumen untuk suatu permasalahan. 22

(40) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI i. Melihat apakah informasi-informasi tambahan atau baru dapat memperkuat atau memperlemah suatu argumen. 2.1.1.6 Kemampuan Menarik Kesimpulan Kemampuan menarik kesimpulan merupakan kemampuan dalam mengidentifikasi dan memastikan elemen-elemen yang dibutuhkan untuk menarik kesimpulan yang masuk akal, merumuskan dugaan dan hipotesis, mempertimbangkan informasi yang relevan dan memperkirakan konsekuensi-konsekuensi yang timbul dari data, pernyataan, bukti, prinsip, penilaian, kepercayaan, pertanyaan, konsep, dsm. 1. Menguji bukti-bukti Misalnya: a. Menilai premis-premis yang memerlukan dukungan informasi tambahan. b. Menguji informasi-informasi yang relevan untuk membuat kesimpulan. 2. Menerka alternatif-alternatif Misalnya: a. Merumuskan berbagai alternatif untuk memecahkan suatu permasalahan, mengembangkan berbagai rencana berbeda untuk mencapai suatu tujuan b. Memproyeksikan berbagai konsekuensi yang mungkin dari keputusan, teori, kepercayaan, kebijakan, atau posisi tertentu. c. Memperkirakan kesulitan-kesulitan sekaligus keuntungan-keuntungan yang akan muncul kalau skala prioritas tertentu digunakan. 3. Menarik kesimpulan Misalnya: a. Membuat eksperimen dan menerapkan teknik yang relevan untuk menguji benar tidaknya suatu hipotesis. b. Menguji pandangan-pandangan yang berbeda dan bertentangan, mengumpulkan data-data yang relevan, dan merumuskan kesimpulan kita sendiri mengenai suatu permasalahan. 23

(41) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI c. Menerapkan cara yang sesuai untuk menentukan posisi dan cara pandang yang harus diambil terhadap suatu permasalahan. d. Menggunakan berbagai cara berpikir yang mendukung penarikan kesimpulan (misalnya cara berpikir analogis, aritmetis, dialektis, ilmiah dsm). e. Menentukan kesimpulan-kesimpulan mana yang paling kuat menjamin suatu bukti dan mana yang harus ditolak karena tidak memadai. 2.1.1.7 Hakikat Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam Istilah IPA dikenal juga dengan istilah sains. Kata sains berasal dari bahasa Latin yaitu scientia yang berarti “saya tahu” dan science dalam bahasa Inggris yang berarti pengetahuan. IPA adalah pengetahuan yang rasional dan objektif tentang alam semesta dengan segala isinya (Samatowa, 2011: 2). Berdasarkan pendapat para ahli tersebut, dapat ditegaskan bahwa IPA adalah salah satu mata pelajaran yang dipelajari di Sekolah Dasar yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. IPA di Sekolah Dasar membuka kesempatan untuk memupuk rasa ingin tahu anak didik secara alamiah untuk membantu mengembangkan kemampuan bertanya dan mencari jawaban berdasarkan bukti yang ada. Dengan demikian, IPA memerlukan kemampuan berpikir kritis pada siswa dan mencari jawaban berdasarkan bukti-bukti yang ada. Dalam pembelajaran IPA, siswa dilatih untuk belajar mengeksplorasi lingkungan, dan melakukan penemuan-penemuan ilmiah. Dengan demikian, pembelajaran IPA di dekolah seharusnya melibatkan siswa dalam penyelidikan dengan menjalin interaksi antara siswa dengan guru dan siswa lainnya. 2.1.1.8 Materi Sistem Pernapasan Pada Hewan Materi pembelajaran pada penelitian ini diambil dari Tema 2 yaitu “Udara Bersih Bagi Kesehatan” dengan subtema 1 “Cara Tubuh Mengolah Udara Bersih” pada kelas V SD. Penelitian ini berdasarkan kompetensi dasar dengan subtema 1 pada kelas V, yaitu 3.2 menjelaskan organ pernapasan dan fungsinya pada hewan dan manusia serta cara memelihara kesehatan organ pernapasan manusia. 24

(42) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Sistem pernapasan pada hewan dibedakan menjadi tujuh golongan yaitu sistem pernapasan pada cacing tanah, serangga, ikan,amfibi, reptil, burung, dan mamalia. Cacing tidak mempunyai alat pernapasan khusus, cacing bernapas melalui permukaan kulit. Kulit cacing selalu basah dan berlendir untuk memudahkan penyerapan oksigen dari udara. Oleh karena itu, cacing menyukai tempat lembap untuk menjaga supaya kulit tubuhnya selalu basah dan berlendir. Serangga bernapas dengan mengisap oksigen dan melepaskan karbon dioksida. Alat pernapasan serangga berupa trakea, yaitu sistem tabung yang memiliki banyak percabangan di dalam tubuh. Percabangan trakea disebut trakeola. Trakea mengedarkan oksigen langsung ke semua sel tubuh dan organ serta menyerap karbon dioksida dari semua sel tubuh untuk dibuang. Ikan bernapas dengan insang berbentuk lembaran tipis berwarna merah muda dan selalu lembap. Insang terdapat tepat di belakang rongga mulut pada kedua sisi kepala ikan. Biasanya insang dilindungi oleh selaput atau rangka yang disebut tutup insang (operkulum). Insang juga berfungsi sebagai alat pengeluaran garam-garam dan sebagai penyaring makanan. Katak termasuk hewan amfibi, yaitu hewan yang hidup di darat dan di air. Saat masih berupa kecebong, katak hidup di dalam air dan bernapas menggunakan insang. Kecebong berkaki tumbuh menjadi katak kecil lalu menjadi katak dewasa. Setelah berubah menjadi katak dewasa, pernapasan dilakukan dengan menggunakan paru-paru. Katak juga bernapas melalui kulit. Agar pernapasan melalui kulit dapat berlangsung, kulit harus selalu dalam keadaan basah. Oleh karena itu, katak senang hidup di tempat berair, seperti di kolam, sungai, dan sawah. Hewan yang termasuk jenis reptil di antaranya ialah ular, kadal, cecak, buaya, dan biawak. Reptil bernapas mengunakan paru-paru. Udara masuk melalui hidung, lalu ke batang tenggorokan, lalu ke paru-paru. Burung bernapas dengan sepasang paru-paru. Burung menghirup udara sebanyak-banyaknya saat tidak terbang. Sebaliknya, saat terbang, burung tidak menghirup udara. Udara diembuskan dari kantong udara ke paru-paru. Mamalia adalah jenis hewan yang menyusui anaknya. Ada dua jenis mamalia, yaitu mamalia darat dan mamalia air. Mamalia darat misalnya kambing, sapi, kerbau, dan kuda. Mamalia air misalnya paus, duyung, dan 25

(43) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI lumba-lumba. Alat pernapasan mamalia darat terdiri atas hidung, pangkal tenggorok, batang tenggorok, dan paru-paru. Pada mamalia air, hidungnya dilengkapi dengan katup. Saat mamalia tersebut menyelam, katup akan menutup. Sebaliknya, saat mamalia tersebut muncul ke permukaan air, katup terbuka. Saat itulah mamalia air tersebut akan menghirup oksigen serta mengeluarkan karbon dioksida dan uap air. 2.1.2 Penelitian-Penelitian Terdahulu yang Relevan 2.1.2.1 Penelitian-Penelitian mengenai Pembelajaran Kooperatif Tipe Teams Games Tournament (TGT) Berikut ini akan disajikan beberapa penelitian tentang model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) dari penelitian-penelitian sebelumnya. Subandi dan Setyoningsih (2014) meneliti pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) dengan menggunakan media soal teka-teki silang terhadap penguasaan bilangan bahasa Jepang pada siswa kelas XII A di SMK Gajah Mada Mejayan tahun ajaran 2013/2014. Jenis penelitian yang digunakan yaitu penelitian kuantitatif dan kualitatif. Subjek yang digunakan dalam penelitian ini adalah soiswa kelas XII yang dengan jumlah keseluruhan 62 siswa. Jumlah siswa pada kelas eksperimen sebanyak 31 siswa dan 31 siswa sebagai kelas kontrol. Pada kelompok eksperimen menggunakan media soal teka-teki silang sebagai media pendukung dalam model pembelajaran kooperatif tipe TGT, sedangkan kelas kontrol hanya menggunakan media power point dengan metode ceramah. Jenis instrumen yang digunakan yaitu tes dan angket. Pada teknik menganalisa penelitian kualitatif dianalisis menggunakan model rating scale. Sedangkan pada penelitian kuantitatif dianalisis dengan melakukan uji normalitas terhadap data yang diperoleh dan kemudian dianalisis untuk mengetahui efektivitas pembelajaran yang dilakukan. Hasil data observasi menunjukkan bahwa terdapat perbedaan hasil pada kelompok kontrol dan eksperimen. Sehingga penelitian ini membuktikan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe TGT berpengaruh terhadap penguasaan siswa terhadap bilangan bahasa Jepang. 26

(44) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Khasanah (2015) meneliti pengaruh model pembelajaran Teams Games Tournament (TGT) terhadap hasil belajar matematika, ditinjau dari motivasi belajar siswa SD di kecamatan Depok. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan cara stratified cluster random sampling. Tahapan yang dilakukan yaitu seluruh sekolah dasar yang ada di kecamatan Depok dan dikelompokkan menjadi tingkatan yaitu tinggi sedang, dan rendah. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan sampel kelas IIA SD N Nanggulan, kelas IIB SD N Samirono, dan kelas IIA MI AlHuda sebagai kelas kontrol. Sampel kelas IIB SD N Nanggulan, kelas IIA SD N Samirono, dan kelas IIB MI Al-Huda sebagai kelas eksperimen. Hasil dari penelitian ini adalah 1) model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) memiliki hasil belajar matematika pada materi bilangan lebih baik daripada siswa yang mendapatkan pembelajaran dengan model pembelajaran langsung, 2) siswa memiliki motivasi belajar matematika tinggi dan sedang memiliki hasil belajar matematika pada materi bilangan lebih baik daripada siswa yang memiliki motivasi bekajar matematika rendah, dan 3) tidak terdapat interaksi antara model pembelajaran dengan motivasi belajar siswa terhadap hasil belajar siswa. Nadrah, Tolla, Ali, dan Muris (2017) meneliti pengaruh model pembelajaran kooperatif Teams Games Tournament (TGT) terhadap hasil belajar Fisika. Penelitian ini menggunakan penelitian kuasi eksperimental. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X (sepuluh) SMAN 2 Makassar yang terdiri dari 9 kelas dan jumlah siswa adalah 288. Peneliti menggunakan teknik sampling acak yang sederhana. Kelas yang terpilih adalah kelas X3 menggunakan TGT dan X9 menggunakan pembelajaran konvensional. Ada tiga variabel dalam penelitian ini yaitu variabel independen, variabel dependen, dan variabel moderator. Hasil penelitian ini adalah hasil belajar, motivasi kuat untuk belajar fisika siswa yang diajar menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TGT secara keseluruhan lebih tinggi daripada yang diajarkan kepada siswa dengan menggunakan model pembelajaran konvensional. 27

(45) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2.1.2.2 Penelitian-Penelitian mengenai Kemampuan Berpikir Kritis Syarifah dan Sumardi (2015) meneliti pengaruh model pembelajaran fisika berbasis Malcom’s Modeling Method terhadap keterampilan berpikir kritis dan motivasi belajar siswa. Subjek uji coba dilakukan di SMA N 7 Yogyakarta pada kelas eksperimen terdiri dari 36 orang siswa kelas X MIA 1 dan kelas kontrol terdiri dari 34 orang siswa kelas X MIA 5. Teknik analisis data menggunakan uji MANOVA dengan taraf signifikansi 5%. Kelas eskperimen memperoleh nilai gain rata-rata 0,33 sedangkan kelas kontrol memperoleh nilai gain rata-rata 0,17. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan peningkatan keterampilan berpikir kritis antara kelas eksperimen dan kelas kontrol, dimana kelas eksperimen memiliki peningkatan keterampilan berpikir kritis yang lebih baik. Tahap kontruksi model, siswa secara atif terlibat dalam keseluruhan tahap metode ilmiah meliputi merumuskan hipotesis, merancang langkah kerja, menganalisis data, dan menyimpulkan. Oleh karena itu, tahap konstruksi model dapat digunakan untuk melatih keterampilan berpikir kritis meliputi menganalisis, menginduksi, dan mempertimbangkan hasil induksi serta merancang strategi dan taktik. Permana (2016) meneliti pengaruh penerapan metode pembelajaran kooperatif Numbered Heads Together (NHT) pada hasil belajar dan berpikir kritis siswa sekolah dasar pada mata pelajaran IPS. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Jenis penelitian yang digunakan yaitu penelitian tindakan kelas dan dilaksanakan dalam dua siklus, pada setiap siklus meliputi 4 tahapan yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Subjek dalam penelitian ini adalah kelas V SDN Kota Blitar dengan jumlah siswa sebanyak 32 siswa. Alasan peneliti memilih memilih kelas V sebagai subjek karena nilai mata pelajaran IPS banyak yang belum tuntas dan siswa masih pasif dan kurang berpartisipasi aktif dalam berpikir kritis dalam proses pembelajaran berlangsung. Data yang dikumpulkan dengan cara observasi, tes, dokumentasi, dan kuesioner. Hasil analisis menunjukkan bahwa 100% indikator dalam deskripsi pelaksanaan kegiatan penelitian sudah tercapai. Persentase ketuntasan nilai mata pelajara IPS siswa kelas V SDN Kota Blitar meningkat yaitu menjadi 93,75%. Berdasarkan analisis data hasil belajar siswa yang telah dilakukan 28

(46) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI oleh peneliti baik pada siklus I dan II, penerapan metode pembelajaran NHT terbukti mampu meningkatkan hasil belajar dan berpikir kritis siswa. Crismono (2017) meneliti pengaruh outdoor learning terhadap kemampuan berpikir kritis matematis siswa. Metode penelitian yang digunakan adalah QuasiExperiment. Desain penelitian yang digunakan adalah Non Equivalent Control Group Design. Penelitian ini terdiri atas tiga variabel yaitu Outdoor Learning sebagai variabel bebas (independent), berpikir kritis matematis dan berpikir kreatif matematis sebagai variabel terikat (dependent). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII MTs.SA. Miftahul Ulum Al-Khairiyah Tempurejo Jember. Sedangkan sampel dari penelitian ini adalah siswa kelas VII B dan siswa kelas VII C. Siswa kelas VII B sebagai kelas eksperimen dan siswa kelas VII C sebagai kelas kontrol. Kelas eksperimen menggunakan metode Outdoor Learning, sedangkan kelas kontrol menggunakan metode konvensional yaitu ceramah. Hasil analisis data dalam penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan metode Outdoor Learning memberikan kontribusi terhadap pencapaian kemampuan berpikir kritis matematis siswa. Pada kelas Outdoor Learning diperoleh nilai rerata sebesar 15,354 untuk kemampuan berpikir kritis, sedangkan nilai rerata kemampuan berpikir kritis siswa yang menggunakan pembelajaran konvensional sebesar 13,612. Selain itu, berdasarkan temuan penelitian, dapat dikatakan bahwa metode Outdoor Learning memiliki pengaruh pada kemampuan menganalisa, menyelesaikan masalah, dan kemampuan kreatifitas yang lain serta mampu meningkatkan kemampuan kognitif, termasuk kemampuan berpikir kritis dan kreatif matematis. Penelitian-penelitian relevan di atas menggunakan populasi siswa SD, SMP, dan SMA. Dari penelitian-penelitian sebelumya sudah terdapat model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) yang digunakan sebagai variabel independen dalam penelitian. Dalam penggunaannya, model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament berpengaruh terhadap variabel dependen yang diteliti. Pada beberapa penelitian yang sudah pernah dilakukan, belum banyak yang melakukan penelitian untuk mengukur kemampuan berpikir kritis secara lebih mendetail pada enam keterampilan berpikir kritis menurut Peter Facione. Oleh karena 29

(47) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI itu, pada penelitian ini memiliki kekhasan yaitu peneliti mencoba menerapkan salah satu model pembelajaran yang inovatif yaitu TGT untuk mengetahui pengaruhnya terhadap kemampuan berpikir kritis menurut Peter Facione. Peneliti akan melakukan penelitian yang berbeda dari penelitian-penelitian sebelumnya yaitu suatu penelitian eksperimen untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament terhadap kemampuan berpikir kritis yaitu indikator mengevaluasi dan menarik kesimpulan siswa kelas V SD salah satu sekolah swasta yang ada di Yogyakarta. 30

(48) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2.1.2.3 Literature Map Model Pembelajaran Kooperatif tipe TGT Kemampuan Berpikir Kritis Subandi dan Setyoningsih (2014) Kooperatif tipe TGT- penguasaan bilangan bahasa Jepang Syarifah dan Sumardi (2015) Model pembelajaran fisikaketerampilan berpikir kritis dan motivasi Khasanah (2015) Kooperatif tipe TGT- motivasi belajar Permana (2016) Metode pembelajaran kooperatif NHT-meningkatkan hasil belajar dan berpikir kritis IPS Nadrah, dkk (2017) Kooperatif tipe TGT – hasil belajar Fisika Crismono (2017) Pengaruh Outdoor Learningkemampuan berpikir krtis matematika Yang akan diteliti: Kooperatif tipe TGT- Kemampuan Mengevaluasi dan Menarik kesimpulan Gambar 2. 3 Bagan Penelitian yang Relevan 2.2 Kerangka Berpikir Pendidikan yang berkualitas dipengaruhi oleh mutu proses pembelajaran, sedangkan mutu proses pembelajaran ditentukan oleh berbagai komponen yang saling terkait. Pendidikan perlu memperhatikan teori-teori yang mendukung dalam proses 31

(49) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI pembelajaran. Oleh karena itu, guru harus memilih model pembelajaran yang dapat mendukung proses pembelajaran sehingga dapat mencapai tujuan yang diharapkan. Teori Piaget menjelaskan bahwa perkembangan kognitif anak usia SD kelas V berada pada tahap operasional konkret. Hal tersebut ditandai dengan kemampuan anak untuk berpikir logis namun masih terbatas pada sesuatu yang konkret. Sedangkan Vygotsky menjelaskan bahwa kognitif anak akan berkembang dengan baik ketika mereka berinteraksi dengan teman sebayanya. Sesuai dengan kedua teori tersebut, untuk mendukung perkembangan kognitif anak, dibutuhkan model pembelajaran yang sesuai. Model pembelajaran yang dapat digunakan yaitu model pembelajaran kooperatif. Model pembelajaran kooperatif adalah salah satu model pembelajaran yang mampu melibatkan siswa secara aktif dalam proses belajar. Model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) dilakukan dalam kelompokkelompok kecil dan setiap kelompok akan bersaing untuk menjadi kelompok terbaik. Proses belajar dalam kelompok heterogen membuat siswa saling berkomunikasi, saling berbagi, dan melengkapi ilmu pengetahuan yang dimilikinya dengan siswa lain. Setiap kelompok mengumpulkan skor sebanyak-banyaknya, sehingga kelompok dengan skor terbanyak akan mendapatkan sebuah penghargaan. Selain itu, model kooperatif tipe Teams Games Tournament diyakini dapat meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi pada siswa. Salah satu jenis berpikir tingkat tinggi adalah berpikir kritis. Berpikir kritis merupakan sebuah proses yang terarah dan jelas yang digunakan dalam kegiatan seperti memecahkan masalah, mengambil keputusan membujuk, menganalisis asumsi, dan melakukan penelitian ilmiah. Elemen-elemen berpikir kritis adalah menginterpretasi, menganalisis, mengevaluasi,menarik kesimpulan, mengeksplanasi, dan meregulasi diri. Pada penelitian ini, peneliti hanya mengambil dua elemen dari berpikir kritis yaitu mengevaluasi dan menarik kesimpulan. Kemampuan berpikir kritis berhubungan dengan mata pelajaran IPA, karena dalam menyelesaikan mata pelajaran IPA diperlukan proses berpikir. Pembelajaran IPA merupakan salah satu pembelajaran yang memiliki cakupan yang 32

(50) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI sangat luas, namun dekat dengan kehidupan sehari-hari. Untuk itu, perlu adanya pembelajaran yang mampu mendorong siswa dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritisnya. Model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) dapat merangsang siswa untuk berdiskusi, bekerja sama, senang dalam mengikuti games dan bersifat sportif. Materi yang dipilih dalam pembelajaran adalah sistem pernapasan pada hewan. Kompetensi dasar yang dipilih Jika model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament digunakan dalam pembelajaran IPA materi organ pernapasan hewan. Kompetensi dasar yang dipilih adalah 3.2 menjelaskan organ pernapasan dan fungsinya pada hewan dan manusia, serta cara memelihara kesehatan organ pernapasan manusia. Jika model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) diterapkan pada pembelajaran di SD kelas V pada materi sistem pernapasan hewan, penerapan akan berpengaruh terhadap kemampuan berpikir kritis siswa yaitu mengevaluasi dan menarik kesimpulan. 2.3 Hipotesis Penelitian 2.4.1. Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament berpengaruh terhadap kemampuan mengevaluasi pada siswa kelas V SD. 2.4.2. Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament berpengaruh terhadap kemampuan menarik kesimpulan pada siswa kelas V SD. 33

(51) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB III METODE PENELITIAN Pada Bab III ini berisi delapan komponen yang digunakan dalam penelitian. Komponen tersebut meliputi jenis penelitian, setting penelitian, populasi, dan sampel penelitian, variabel penelitian, teknik pengumpulan data, instrumen penelitian, teknik pengujian instrumen, dan teknik analisis data. 3.1 Jenis Penelitian Penelitian ini menggunakan metode penelitian quasi-experimental tipe pretest-posttest non equivalent group design (Cohen, Manion, & Morrisin, 2007: 283). Metode eksperimen termasuk ke dalam metode penelitian kuantitatif. Metode penelitian eksperimental dapat diartikan sebagai metode penelitian yang digunakan untuk mencari pengaruh perlakuan (treatment) tertentu terhadap yang lain dalam kondisi yang terkendalikan (Sugiyono, 2015: 107). Eksperimen selalu dilakukan dengan maksud untuk melihat sebab akibat suatu perlakuan (Taniredja & Mustafidah, 2011: 53). Kelompok pembanding tidak diberi perlakuan khusus karena memang hanya diperlukan sebagai pembanding bagi kelompok-kelompok lain yang diberi perlakuan. Rancangan penelitian ini menggunakan quasi-experimental yaitu pengembangan dari true experimental design. Desain ini memiliki kelompok kontrol tetapi tidak berfungsi sepenuhnya mengontrol variabel-variabel luar yang mempengaruhi pelaksanaan eksperimen. Penentuan kelompok pada penelitian ini tidak dilakukan secara random tetapi menggunakan kelas yang sudah ada (Cohen, Manion, & Morrison, 2007: 283). Kelompok kontrol adalah kelompok yang tidak menerima perlakuan atau sebagai kelompok pembanding dari kelompok yang menerima perlakuan berbeda. Kelompok eksperimen adalah kelompok yang menerima perlakuan (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 266). Perlakuan khusus hanya berlaku pada kelompok eksperimen. Kedua kelompok tersebut diberi pretest dan posttest. Pretest bertujuan untuk mengetahui kemampuan awal siswa sebelum 34

(52) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI pembelajaran. Posttest bertujuan untuk mengetahui kemampuan siswa setelah pembelajaran. Desain penelitian yang digunakan dirumuskan sebagai berikut (Cohen, Manion, & Morrison, 2007: 283). Experimental Kontrol O1 X O3 Gambar 3. 1 Desain penelitian O2 O4 Keterangan : O1 = Rerata skor pretest pada kelompok eksperimen O2 = Rerata skor posttest pada kelompok eksperimen X = Perlakuan (treatment) dengan model pembelajaran kooperatif tipe TGT O3 = Rerata skor pretest pada kelompok kontrol O4 = Rerata skor posttest pada kelompok kontrol Garis putus-putus merupakan cara penentuan kelompok eksperimen dan kelompok kontrol yang dilakukan tidak secara random tetapi menggunakan kelompok atau kelas yang sudah ada (Cohen, Manion, & Morrison, 2007: 238). Garis putus-putus juga memiliki fungsi untuk memisahkan antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Pengaruh kausal perlakuan dihitung dengan menggunakan tiga langkah berikut: 1) Pada kelompok eksperimen, skor posttest dikurangi skor pretest; 2) Pada kelompok kontrol, skor posttest dikurangi skor pretest; 3) Hasil hitungan dari langkah I dikurangi hasil hitungan dari langkah II (Campbell & Stanley dalam Cohen, Manion, & Morrison, 2007: 276-277). Jika hasil perhitungan bernilai lebih besar dari nol, maka ada perbedaan. Apakah perbedaannya signifikan, maka dianalisis menggunakan SPSS. Jika perbedaan signifikan, maka ada pengaruh, jika perbedaan tidak signifikan maka tidak ada pengaruh. Dengan mengadaptasi rumus tersebut pengaruh perlakuan diperlihatkan sebagai berikut. 35

(53) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI (𝑂2 - 𝑂1 ) – (𝑂4 - 𝑂3 ) Gambar 3. 2 Penghitungan Pengaruh Perlakuan 3.2 Setting Penelitian 3.2.1 Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan di salah satu sekolah dasar swasta yang ada di Yogyakarta. SD tersebut beralamat di Jalan Kranggan No. 11, Cokrodiningratan, Jetis, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta, 55233. Fasilitas yang dimiliki memadai dan mendukung pembelajaran untuk jumlah siswa keseluruhan yaitu 332 siswa. Fasilitas terdiri dari 12 ruang kelas, ruang guru, ruang kepala sekolah, laboratorium komputer, kamar mandi guru dan siswa laki-laki dan perempuan. SD yang digunakan sebagai tempat pelaksanaan penelitian memiliki kelas paralel dengan total keseluruhan ada 14 kelas. Peneliti memilih SD tersebut sebagai tempat penelitian karena sekolah ini memiliki kelas yang paralel sehingga cocok digunakan untuk penelitian eksperimen. Selain itu, merupakan salah satu SD yang menggunakan Kurikulum 2013 di Yogyakarta. 3.2.2 Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada semester gasal tahun ajaran 2018/ 2019. Waktu pengambilan data dilaksanakan sesuai dengan kalender pendidikan SD yang dipilih sebagai tempat pelaksanaan penelitian. Pelaksanaan penelitian dilakukan kurang lebih 2 minggu untuk mengendalikan ancaman validitas internal yaitu sejarah (history), maturasi (maturation), dan mortalitas (mortality) (Krathwohl, 2004: 547). Jadwal pengambilan data yang dilakukan peneliti di SD ditunjukkan pada tabel berikut. 36

(54) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Kelompok Alokasi waktu 2 x 35 menit 2 x 35 menit Kontrol 2 x 35 menit 2 x 35 menit 2 x 35 menit 2 x 35 menit 2 x 35 menit Eksperimen 2 x 35 menit 2 x 35 menit 2 x 35 menit 2 x 35 menit Tabel 3. 1 Jadwal Pengambilan Data Hari, tanggal Materi Selasa, 14 Agustus 2018 Mengerjakan pretest Pertemuan I (Alat pernapasan mamalia, Selasa, 4 September 2018 serangga, reptil, dan unggas) Pertemuan II (Pernapasan ikan, amfibi, Kamis, 6 September 2018 cacing, dan ikan) Jumat, 07 September 2018 Posttest 1 Jumat, 14 September 2018 Posttest 2 Selasa, 14 Agustus 2018 Mengerjakan pretest Pertemuan I (Alat pernapasan mamalia, Selasa, 4 September 2018 serangga, reptil, dan unggas) Pertemuan II Jumat, 07 September 2018 (Pernapasan ikan, amfibi, cacing, dan ikan) Pertemuan III (Pelaksanaan games dan Senin, 10 September 2018 tournament) Rabu, 12 September 2018 Posttest 1 Selasa, 18 September 2018 Posttest 2 3.3 Populasi dan Sampel 3.3.1 Populasi Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek atau subjek yang memiliki kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2015: 117). Populasi adalah setiap kelompok individu yang memiliki satu atau lebih karakteristik yang sama dan menarik bagi peneliti (Best & Kahn, 2006:13). Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah semua siswa kelas V di salah satu SD swasta di Yogyakarta yang berjumlah 42 siswa. 3.3.2 Sampel Sampel adalah bagian kecil dari populasi yang dipilih untuk pengamatan dan analisis (Best & Kahn, 2006: 13). Sampel merupakan sebagian atau wakil dari populasi yang diteliti (Trianto, 2010: 256). Sampel merupakan sebagian dari populasi, sebagai contoh yang diambil menggunakan cara tertentu (Margono, 2007: 121). Artinya, tidak akan ada sampel jika tidak ada populasi (Darmawan, 2013: 138). 37

(55) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Sampel yang diambil dalam penelitian ini adalah kelas V.2sebagai kelompok kontrol yang berjumlah 21 siswa dan kelas V.1 sebagai kelompok eksperimen yang berjumlah 21 siswa. Teknik pengambilan sampel menggunakan desain non-probability sampling tipe convenience sampling. Convenience sampling adalah penggunaan sampel yang sudah tersedia untuk penelitian karena keterbatasan peneliti untuk memilih secara acak (random) (Best & Kahn, 2006: 18-19). Peneliti tidak memilih sampel secara acak namun menggunakan kelas yang sudah ada (Creswell, 2015: 294-295). Penentuan kelompok eksperimen maupun kontrol dilakukan dengan cara diundi yang disaksikan oleh guru kelas V. Hasil pengundian terpilih kelas V.2 sebagai kelompok kontrol dan kelas V.1 sebagai kelompok eksperimen. Guru mitra adalah guru kelas V.1 yang mempunyai peran untuk memberikan pelajaran kepada kedua kelompok yaitu kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Pembelajaran pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen akan dilaksanakan oleh guru yang sama. Hal ini dilakukan untuk mengontrol ancaman terhadap validitas internal penelitian berupa implementasi (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 284). Selain itu, agar tidak ada perbedaan kemampuan guru dalam mengajar setiap kelompok. Peneliti berperan sebagai pengamat, mengambil dokumentasi, dan fasilitator perlengkapan yang dibutuhkan guru mitra selama pembelajaran berlangsung di dalam kelas. 3.4 Variabel Penelitian Variabel merupakan kondisi atau karakteristik yang meliputi perlakuan eksperimental, kontrol, ataupun yang akan diobservasi (Best & Khan, 2006: 167). Pada penelitian ini, menggunakan dua variabel dalam penelitiannya, yaitu variabel independen (variabel bebas) dan variabel dependen (variabel terikat) (Setyosari, 2010: 109). 38

(56) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3.4.1 Variabel Independen Variabel independen adalah variabel stimulus atau variabel yang mempengaruhi variabel lain. Variabel independen digunakan untuk menentukan pengaruh terjadinya perubahan terhadap variabel lain (Sarwono, 2006: 54). Variabel ini disebut variabel bebas karena tidak tergantung dengan ada tidaknya variabel lain atau biasa disebut stimulus atau pengaruh. Dalam penelitian bidang pendidikan, sebuah variabel independen berupa metode belajar, jenis materi ajar, atau a reward (Best & Kahn, 2006: 168). Variabel independen pada penelitian ini adalah model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT). TGT memiliki lima langkah, yaitu presentasi di kelas (class pressentation), kelompok (teams), permainan (games), kompetisi (tournament), dan penghargaan kelompok (teams recognition) (Slavin, 2008: 166). 3.4.2 Variabel Dependen Variabel dependen adalah variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena adanya variabel independen (Sugiyono, 2016: 61). Kedudukan variabel dependen dalam penelitian kuantitatif adalah sebagai variabel yang dijelaskan dalam fokus penelitian. Penelitian ini menggunakan kemampuan mengevaluasi dan menarik kesimpulan sebagai variabel dependen yang akan dipengaruhi oleh variabel independen. Berikut merupakan bagan hubungan antara variabel independen-dependen Variabel Dependen Variabel Independen Model Pembelajaran Cooperative Learning tipe TGT Kemampuan Mengevaluasi Kemampuan Menarik kesimpulan Gambar 3. 3 Pemetaan Variabel Penelitian 39

(57) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3.5 Teknik Pengumpulan Data Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data dengan teknik tes. Tes adalah alat atau prosedur yang digunakan untuk mengetahui dan mengukur sesuatu dalam suasana, dengan cara dan aturan-aturan yang sudah ditentukan (Arikunto, 2013: 67). Tes juga dapat diartikan sebagai suatu cara untuk mengukur tingkat pencapaian siswa setelah menempuh proses belajar mengajar dalam jangka waktu tertentu yang berupa pertanyaan maupun perintah, sehingga menghasilkan nilai yang melambangkan prestasi siswa (Sudijono, 2011: 68). Berdasarkan dua pendapat ahli tersebut, dapat disimpulkan bahwa teknik tes adalah cara yang digunakan untuk mengukur pencapaian siswa melalui pertanyaan atau perintah setelah menempuh proses belajar, sehingga menghasilkan suatu nilai yang melambangkan prestasi belajar siswa. Bentuk tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes esai. Tes esai adalah salah satu bentuk tes tertulis yang susunannya terdiri atas item-item pertanyaan yang masing-masing mengandung permasalahan dan menuntut jawaban siswa melalui uraian-uraian kata yang merefleksikan kemampuan berpikir siswa (Sukardi, 2009: 94). Tes esai dapat digunakan untuk menilai hal-hal yang berkaitan erat dengan 1) mengukur proses mental para siswa dalam menuangkan ide ke jawaban item secara tepat, 2) mengukur kemampuan siswa dalam menjawab melalui kata dan bahasa mereka sendiri, 3) mendorong siswa untuk mempelajari, menyusun, merangkai, dan menyatakan pemikiran siswa secara aktif, 4) mendorong siswa untuk berani mengungkapkan pendapat serta menyusun dalam bentuk kalimat mereka sendiri, dan 5) mengetahu seberapa jauh siswa telah memahami dan mendalami suatu permasalahan atas dasar pengetahuan yang diajarkan di dalam kelas (Sukardi, 2009: 101). Bentuk tes esai memiliki beberapa kelebihan sebagai berikut (Nurgiantoro, 2010: 118). 1. Tes essay merupakan tes yang tepat untuk menilai proses berpikir tingkat tinggi. Peserta didik juga diberikan kesempatan untuk menerapkan pengetahuan, 40

(58) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI menganalisis, menghubungkan, menilai, dan memecahkan permasalahan sesuai dengan kemampuan cara berpikirnya. 2. Tes essay memberi kesempatan peserta didik untuk mengemukakan jawabannya ke dalam bahasa yang runtut sesuai dengan gaya peserta didik sendiri, keruntutan bahasa ini penting karena hal itu akan mencerminkan kualitas cara berpikir peserta didik. Proses berpikir yang jelas, runtut, dan menguasai masalah akan dapat memanifestasikan ke dalam bahasa yang jelas dan runtut pula. 3. Tes essay memberikan kesempatan peserta didik untuk mempergunakan pikirannya sendiri dan kurang memberikan kesempatan untuk bersikap untunguntungan. Hal yang demikian merupakan suatu hal yang mungkin sekali dilakukan dalam tes objektif. Itulah sebabnya bentuk tes essay disbut juga tes subjektif karena jawabannya akan bervariasi pada tiap peserta didik bergantung pada proses dan cara berpikirnya. 4. Bentuk tes ini mudah disusun, maka tidak banyak menghabiskan waktu. Selain kelebihan, tes essay juga memiliki kelemahan sebagai berikut. 1. Kadar validitas dan reliabilitas bentuk tes ini rendah. Rendahnya kadar validitas dan reliabilitas itu disebabkan 1) terbatasnya sampel bahan yang diteskan yang mewakili seluruh bahan, 2) jawaban yang diberikan peserta didik satu dengan yang lain bervariasi, dan 3) penilaian yang dilakukan bersifat subjektif. 2. Akibat terbatasnya bahan yang diteskan, dapat terjadi hal-hal yang bersifat kebetulan. Seorang peserta didik yang sebenarnya tergolong kompeten, mungkin mengalami kegagalan karena bahan yang diteskan kebetulan kurang berkompeten, mungkin justru memperoleh hasil yang baik karena bahan yang diteskan kebetulan saja banyak yang dipelajari. 3. Penilaian yang dilakukan terhadap jawaban peserta didik tidak mudah ditentukan standarnya. Tiap butir tentunya tidak sama persis bobotnya sehingga skor terhadapnya harus juga tidak sama. Di samping itu adanya variasi jawaban peserta didik menyulitkan guru untuk memberikan skor secara tepat dan 41

(59) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI memerlukan pertimbangan-pertimbangan tertentu. Selain itu, penyekoran yang dilakukan guru juga sulit untuk konsisten dan objektif. 4. Waktu yang diperlukan untuk memeriksa pekerjaan peserta didik relatif lama, apalagi jika jumlah peserta didik cukup banyak, sehingga terasa kurang efisien. Padahal, mengoreksi peserta didik yang berupa uraian tidak dapat diwakili kepada orang lain. Tes yang digunakan oleh peneliti yaitu pretest, posttest I, dan posttest II. Pada tahapan awal, kedua kelompok yaitu kelompok kontrol dan kelompok eksperimen diberikan pretest. Setelah pemberian pretest dilanjutkan dengan pemberian materi pelajaran IPA tentang sistem pernapasan pada hewan. Terdapat perbedaan dalam pemberian materi antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Pada kelompok kontrol tidak diberi treatment atau perlakuan, sehingga menggunakan model pembelajaran seperti biasa yang guru gunakan. Sedangkan pada kelompok eksperimen diberikan treatment berupa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament. Setelah pemberian materi, untuk mengetahui pengaruh dari treatment yang diberikan, maka kedua kelompok diberikan soal posttest. Posttest dilakukan sebanyak dua kali, yaitu posttest I dan posttest II. Tujuan pemberian posttest II adalah untuk mengetahui retensi pengaruh perlakuan (Krathwohl, 2004: 546). Seluruh instrumen penelitian yang berhubungan dengan penelitian akan disediakan oleh peneliti. 3.6 Instrumen Penelitian Instrumen adalah alat yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam suatu penelitian (Sumanto, 2014: 111). Penelitian ini menggunakan alat ukur berupa tes dalam bentuk soal essay. Penelitian ini menggunakan mata pelajaran IPA dengan materi sistem pernapasan pada hewan. Pada penelitian ini menggunakan Kompetensi Inti 3. yaitu: Memahami pengetahuan faktual dan konseptual dengan cara mengamati, menanya, dan mencoba berdasarkan rasa ingin tahu tentang dirinya, makhluk ciptaan Tuhan dan kegiatannya, dan benda-benda yang dijumpainya di rumah, di sekolah, dan tempat bermain dengan 42

(60) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI KD 3.2. yaitu menjelaskan organ pernapasan dan fungsinya pada hewan dan manusia serta cara memelihara kesehatan organ pencernaan manusia. Fokus materi penelitian ini yaitu tentang organ pernapasan dan fungsinya pada hewan. Dalam penelitian ini soal pretest dan posttest yang digunakan berjumlah 18 soal untuk mengukur 6 keterampilan berpikir kritis menurut Peter Facione antara lain menginterpretasi, menganalisis, mengevaluasi, menarik kesimpulan, mengeksplanasi, dan meregulasi diri. Instrumen pada penelitian ini digunakan oleh tiga peneliti, di mana masingmasing meneliti dua kemampuan. Soal nomor 1a, 1b, 1c, 2a, 2b, dan 2c adalah instrumen untuk mengukur kemampuan menginterpretasi dan menganalisis. Soal nomor 3a, 3b, 3c, 4a, 4b, dan 4c adalah instrumen untuk mengukur kemampuan mengevaluasi dan menarik kesimpulan. Soal nomor 5a, 5b, 5c, 6a, 6b, dan 6c adalah instrumen untuk mengukur kemampuan mengeksplanasi dan meregulasi diri. Namun peneliti ini hanya membahas dua variabel yaitu kemampuan mengevaluasi dan kemampuan menarik kesimpulan sehingga peneliti hanya akan membahas 6 soal. Berikut adalah tabel indikator kemampuan mengevaluasi dan menarik kesimpulan. Tabel 3. 2 Matriks Pengembangan Instrumen Variabel Indikator Mengevaluasi Menarik kesimpulan 3.3.1. Menilai kebenaran pernyataan organ pernapasan pada ikan 3.3.1. Menilai kebenaran pernyataan organ pernapasan pada paus 3.3.1. Menilai kebenaran penarikan kesimpulan mengenai pernapasan penyu 3.3.2. 3.3.2. 3.3.2. 3.7 Menguji informasi yang relevan tentang cara mengganti air dalam akuarium Membuat alternatif pemecahan masalah tentang pemilihan alat memindahkan ikan Membuat kesimpulan tentang manfaat filter pada akuarium Nomor Soal 3a 3b 3c 4a 4b 4c Teknik Pengujian Instrumen Sebelum instrumen penelitian diberikan kepada sampel, instrumen pada penelitian diujicobakan untuk mendapatkan instrumen yang valid dan reliabel. Tujuan pengujian instrumen untuk menghindari soal yang kurang jelas, memiliki makna 43

(61) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ganda, kurang dimengerti oleh siswa sebagai responden, dan untuk mengetahui kelayakan instrumen. Ancaman validitas internal penelitian yang mengancam adalah instrumentasi, sehingga perlu kehati-hatian dalam menguji instrumen. Teknik pengujian instrumen meliputi uji validitas dan uji reliabilitas. Berikut ini adalah penjelasan dari kedua uji tersebut. 3.7.1 Uji Validitas Validitas suatu instrumen digunakan untuk mengetahui seberapa jauh instrumen itu benar-benar mengukur apa (objek) yang hendak diukur (Yusuf, 2014: 234). Validitas berarti sejauh mana instrumen tersebut tepat dan cermat dalam melakukan fungsi ukurnya (Sumanto, 2014: 78). Semakin tinggi validitas suatu instrumen, maka akan semakin baik instrumen tersebut digunakan. Validitas penelitian secara umum dibedakan menjadi dua validitas yaitu validitas internal dan validitas eksternal. Penelitian ini menggunakan validitas permukaan (face validity), validitas isi (content validity), dan validitas konstrak (construct validity). 3.7.1.1 Validitas Permukaan Validitas permukaan menunjuk pada dua arti, yaitu 1) menyangkut pengukuran atribut yang konkret dan 2) menyangkut penilaian dari para ahli maupun konsumen alat ukur tersebut (Margono, 2007: 188). Validitas permukaan dilakukan untuk mengetahui kejelasan tiap butir soal. Pada penelitian ini, meminta para ahli atau expert judgement untuk menilai. Validitas permukaan diperoleh dari tiga ahli, yaitu dua guru kelas V SD dan dosen mata kuliah biologi salah satu Universitas swasta di Yogyakarta. Pada instrumen penelitian nomor 3a, 3b, 3c, 4a, 4b, dan 4c masih ada beberapa kalimat yang harus diperbaiki, sehingga dampaknya lebih baik dan konsisten. Serta lebih mudah untuk dipahami oleh siswa ketika mengerjakan. 44

(62) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3.7.1.2 Validitas Isi Validitas isi merupakan validitas yang diestimasi lewat pengujian terhadap isi tes dengan analisis rasional atau lewat expert judgment. Validitas ini mengukur sejauh mana item-item dalam tes mencakup keseluruhan kawasan isi objek yang hendak diukur dan tidak keluar dari batasan tujuan ukur (Azwar, 2008: 45). Validitas isi berkaitan dengan cakupan instrumen tes dengan keseluruhan materi yang akan diukur. Penelitian ini meminta para ahli atau expert judgement untuk menilai. Pengujian validitas instrumen diperoleh dari tiga ahli, yaitu dua guru kelas V SD dan dosen mata kuliah biologi salah satu Universitas swasta di Yogyakarta. Soal nomor 3 dari ketiga validator memberikan penilaian baik dan instrumen layak untuk diimplentasikan hanya dengan perbaikan kecil dengan skor rerata nomor soal 3a 3,33; nomor soal 3b 3,67; dan soal nomor 3c 3,67, sedangkan untuk soal nomor 4 dengan skor rerata nomor soal 4a 3,33; nomor soal 4b 3,33; dan soal nomor 4c 3,67. Validator 1 dan 2 tidak memberikan saran pada soal 3a, 3b, dan 3c. Validator 3 tidak memberikan saran pada soal nomor 3a dan 3b, sedangkan pada soal 3c memberikan saran untuk mengoreksi pernyataan bahwa amfibi dan reptil adalah golongan hewan yang berbeda. Validator 1 tidak memberikan saran pada soal 4a, 4b, dan 4c. Validator 2 tidak memberikan saran pada soal 4a, memberikan saran untuk membuat kalimat perintah menjadi lebih efektif agar dapat dipahami oleh siswa pada soal 4b dan 4c. Validator 3 tidak emmberikan saran pada soal 4a, 4b, dan 4c. Rerata skor dari validator 1 untuk semua variabel dengan nomor soal 1a hingga 6c yaitu 3,11, rerata dari validator 2 untuk semua variabel dari nomor soal 1a hingga 6c yaitu 3,72, dan rerata dari validator 3 untuk semua variabel dari nomor soal 1a hingga 6c yaitu 3,67. Hal tersebut berarti bahwa validator 1 memberikan penilaian dalam kategori instrumen layak diimplementasikan dengan perbaikan kecil, validator 2 memberikan penilaian dalam kategori instrumen layak diimplementasikan dengan perbaikan kecil, dan validator 3 memberikan penilaian dalam kategori instrumen layak diimplementasikan dengan perbaikan kecil. 45

(63) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3.7.1.3 Validitas Konstruk Validitas kontrak dilakukan untuk memastikan adanya keterkaitan yang jelas dari item tes dengan menggunakan uji empiris (Cohen, 2007: 163). Sebuah tes dikatakan memiliki validitas konstruk apabila butir-butir soalnya mengukur setiap aspek berpikir seperti diuraikan dalam standar kompetensi, kompetensi dasar, maupun indikator yang terdapat dalam kurikulum (Surapranata, 2009: 53). Instrumen diujicobakan pada sampel dari mana populasi diambil. Uji empiris dilakukan pada minimal 30 responden agar mendapatkan distribusi data normal (Field, 2009: 53-54). Setelah data ditabulasikan, maka pengujian validitas konstruk dilakukan dengan analisis faktor, yaitu dengan mengkorelasikan antar skor item instrumen dalam suatu faktor dan mengkorelasikan faktor dengan skor total. Validitas konstruk dilakukan dengan mengujicobakan data secara empiris di lapangan dan data yang terkumpul diuji dengan menggunakan uji korelasi Pearson. Uji validitas konstruk dapat dilakukan dengan dua cara yaitu, 1) menggunakan program komputer IBM SPSS Statistics 22 for Windows dengan tingkat kepercayaan yang digunakan adalah 95% dengan uji dua ekor (2-tailed). Kriteria yang digunakan adalah jika harga p < 0,05 atau jika rhitung > rtabel maka suatu item dinyatakan valid, sedangkan p > 0,05 atau jika rhitung < rtabel maka suatu item dikatakan tidak valid (Field, 2009: 177-178). Peneliti mengujikan instrumen soal pada siswa kelas V salah satu SD swasta di Yogyakarta untuk memperoleh validitas konstruk. SD tersebut beralamat di Sengkan, Jl. Kaliurang Km 7, Condoncatur, Depok, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Alasan peneliti memilih SD tersebut sebagai SD yang digunakan untuk validitas konstruk karena beberapa kelas antara lain memiliki kelas paralel, SD tersebut memiliki akreditasi A sama seperti SD yang digunakan sebagai tempat penelitian, dan SD tersebut menerapkan Kurikulum 2013. Pengerjaan soal dilaksanakan pada hari Senin, 4 Juni 2018 dengan waktu 2 x 35 menit. Jumlah responden 32 siswa. Hasil uji validitas dari variabel mengevaluasi dan menarik kesimpulan dapat dilihat pada tabel berikut. 46

(64) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI No 1 2 Tabel 3. 3 Hasil Uji Validitas Instrumen Variabel Mengevaluasi dan Menarik Kesimpulan Variabel Indikator r tabel r hitung p Keterangan Mengevaluasi Menilai kebenaran pernyataan organ 0,361 0,795** 0,000 Valid pernapasan pada ikan Menilai kebenaran 0,721** pernyataan organ 0,361 0,000 Valid pernapasan pada paus Menilai kebenaran 0,692** penarikan kesimpulan 0,361 0,000 Valid mengenai pernapasan katak Menarik Menguji informasi yang kesimpulan relevan tentang cara 0,757** 0,361 0,000 Valid mengganti air dalam akuarium Membuat alternatif pemecahan masalah tentang 0,725** 0,361 0,000 Valid pemilihan alat memindahkan ikan Membuat kesimpulan 0,679** tentang manfaat filter pada 0,361 0,000 Valid akuarium Keterangan: *korelasi signifikan pada level 0,05 *korelasi signifikan pada level 0,01 Berdasarkan hasil uji validitas di atas, peneliti menggunakan dua variabel yaitu variabel mengevaluasi dan menarik kesimpulan dengan mendapatkan harga p < 0,05, maka semua item soal pada variabel mengevaluasi dan menarik kesimpulan dinyatakan valid (lihat Lampiran 3.6). 3.7.2 Uji Reliabilitas Reliabilitas merupakan konsisten atau kestabilan skor suatu instrumen penelitian terhadap individu yang sama, dan diberikan dalam waktu yang berbeda (Yusuf, 2014: 242). Suatu instrumen reliabel apabila instrumen tersebut konsisten. Reliabilitas dinyatakan dengan angka-angka (koefisien), apabila koefisien tinggi maka menunjukkan reliabilitas yang tinggi pula (Sumanto, 2014: 81). Suatu instrumen dikatakan reliabel apabila instrumen tersebut diujicobakan kepada subjek yang sama secara berulang-ulang, namun hasilnya tetap relatif sama. 47

(65) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Penentuan reliabilitas dalam penelitian ini dilakukan dengan komputasi statistik yaitu IBM SPSS Statistics 22 for Windows dengan menggunakan teknik Alpha Cronbach. Nunnally (dalam Ghozali, 2009) menjelaskan bahwa suatu instrumen reliabel apabila harga Alpha Cronbach > 0,60. Perhitungan uji reliabilitas dilakukan dengan program komputer IBM SPSS statistics 22 dengan rumus Alpha Cronbach, hasilnya sebagai berikut (lihat Lampiran 3.5). Tabel 3. 4 Hasil Uji Reliabilitas Instrumen Variabel Mengevaluasi dan Menarik Kesimpulan Cronbach’s Alpha n Keterangan Uji reliabilitas instrumen 0,671 6 Reliabel Hasil uji reliabiltas instrumen tersebut memiliki nilai Alpha Cronbach > 0,60 yaitu sebesar 0,671. Dengan demikian, instrumen soal dikatakan reliabel dan layak untuk diterapkan dalam penelitian. 3.8 Teknik Analisis Data Analisis data merupakan salah satu langkah dalam kegiatan penelitian yang sangat menentukan ketepatan dan kesahihan hasil penelitian (Yusuf, 2014: 255). Teknik analisis data digunakan untuk menghitung data agar dapat disajikan secara sistematis dan dapat dilakukan interpretasi data (Priyatno, 2012: 1). Analisis data pada penelitian ini menggunakan program komputer IBM SPSS Statistics 22 for Windows dengan tingkat kepercayaan 95%. Teknik analisis data meliputi beberapa langkah pengujian data yang dilakukan sebagai berikut. 3.8.1 Analisis Pengaruh Perlakuan Analisis data merupakan salah satu langkah dalam kegiatan penelitiam yang sangat menentukan ketepatan dan kesahihan hasil penelitiaan (Yusuf, 2014: 255). Sebelum melakukan langkah-langkah analisis statistik untuk menguji hipotesis penelitian, diperlukan langkah-langkah yang berguna untuk memastikan syarat-syarat yang harus dipenuhi guna menentukan jenis-jenis uji statistik yang sesuai untuk pengujian selanjutnya. Analisis data pada penelitian ini menggunakan program komputer IBM SPSS Statistics 22 for Windows dengan tingkat kepercayaan 95%. 48

(66) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Teknik analisis data meliputi beberapa langkah pengujian antara lain uji normalitas distribusi data, uji homogenitas varian, dan uji perbedaan kemampuan awal. 3.8.1.1 Uji Asumsi 1. Uji Normalitas Distribusi Data Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah data tersebut berdistribusi normal atau tidak, sehingga dapat menentukan jenis statistik apa yang akan digunakan (Priyatno, 2012: 39). Pengujian dilakukan dengan uji KolmogorovSmirnov (Ghozali, 2006: 30). Caranya adalah menentukan terleih dahulu hipotesis pengujiannya sebagai berikut. Hnull : Tidak ada deviasi dari normalitas Hi : Ada deviasi dari normalitas Adapun kriteria yang digunakan untuk menarik kesimpulan menurut Priyatno (Priyatno, 2012: 29) adalah sebagai berikut: a. Jika harga p < 0,05 maka Hnull dierima dan Hi ditolak. Artinya distribusi data tidak normal. b. Jika harga p > 0,05 maka Hnull ditolak dan Hi diterima. Artinya distribusi data normal. Berdasarkan kriteria di atas, jika data normal maka uji statistik menggunakan statistik parametrik yaitu Independent samples t-test (Field, 2009: 326). Jika data tidak normal maka uji statistik menggunakan statistik non-parametrik yaitu MannWhitney U-test (Field, 2009: 345). Setelah data diuji normalitasnya, maka analisis data dapat ditentukan menggunakan statistik parametrik atau non-parametrik. Data untuk uji normalitas distribusi data diambil dari seluruh skor pretest, skor posttest I, skor posttest II, dan skor selisih pretest ke posttest I dari kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. 49

(67) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2. Uji Homogenitas Varian Uji homogenitas varian dilakukan untuk mengetahui apakah skor pretest dan selisih skor pretest dan posttest I pada kedua kelompok memiliki varian yang homogen. Kondisi dikatakan ideal jika variannya homogen. Uji homogenitas varian menggunakan Levene’s test. Jika data berdistribusi normal maka data yang digunakan adalah data pada baris pertama dari output IBM SPSS statistics 22 for Windowns dengan keterangan equal variances assumed (Field, 2009: 340). Jika varian tidak homogen maka data yang digunakan adalah data pada baris kedua dengan keterangan equal variances non assumed. Uji statistik menggunakan Test of Homogeneity of Variance untuk data berdistribusi tidak normal (Field, 2009: 150). Data yang digunakan baris Based on Median dan yang p pada sebuah variabel. Berikut hipotesis statistik uji homogenitas varian. Hnull : tidak ada perbedaan varian yang signifikan antara rerata skor pretest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Hi : ada perbedaan varian yang signifikan antara rerata skor pretes kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Kriteria untuk mengambil keputusan (Field, 2009: 150) sebagai berikut. a. Jika harga p < 0,05 maka Hnull ditolak dan Hi diterima. Hal ini menunjukkan ada perbedaan varian yang signifikan. Dengan kata lain, varian kedua kelompok tersebut tidak homogen. b. Jika harga p > 0,05 maka Hnull diterima dan Hi ditolak. Hal ini menunjukkan tidak ada perbedaan varian yang signifikan. Dengan kata lain, varian kedua kelompok tersebut homogen. Uji homogenitas varian menggunakan data skor pretest dan selisih skor pretest dan posttest I pada kedua kelompok. 3.8.1.2 Uji Perbedaan Kemampuan Awal Uji perbedaan kemampuan awal yaitu dengan menguji perbedaan kemampuan pretest. Hal tersebut dilakukan untuk mengetahui kemampuan mengevaluasi dan kemampuan menarik kesimpulan pada kelompok kontrol dan eksperimen dengan skor 50

(68) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI pretest. Uji perbedan dilakukan dengan membandingkan dan menganalisis skor pretest dari kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Kondisi yang ideal jika kelompok kontrol dan kelompok eksperimen memiliki kemampuan yang setara. Apabila kemampuan awal yang berbeda maka dapat menjadi ancaman validitas penelitian berupa karakteristik subjek dan jika dalam pretest kedua kelompok tersebut memiliki kemampuan awal yang sama, maka bias yang mungkin terjadi dianggap tidak ada (Neuman, 2013: 238). Sebelum analisis uji perbedaan dilakukan, dilakukan uji asumsi untuk memeriksa homogenitas varians dengan melihat Sig. Levene’s test. Kriteria yang digunakan untuk memeriksa homogenitas varians yaitu jika harga Sig. Levene’s test < 005 maka tidak terdapat homogenitas varians. Jika harga Sig. Levene’s test > 0,05 maka terdapat homogenitas varians dari kedua data yang dibandingkan (Field, 2009: 150). Analisis statistik uji perbedaan dengan menggunakan IBM SPSS Statistics 22 for Windows yang dilakukan dilakukan dengan statistik parametrik Independent samples t-test untuk data berdistribusi normal. Namun bila data berdistribusi tidak normal menggunakan statistik non-parametrik Mann-Whitney U test. Berikut adalah hipotesis yang digunakan (Priyatno, 2012: 40). Hnull : Tidak ada perbedaan yang signifikan antara rerata skor pretest pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Hi : Ada perbedaan yang signifikan antara rerata skor pretest pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Kriteria untuk mengambil keputusan (Priyatno, 2012: 24 & Santoso, 2015: 264) sebagai berikut. a. Jika harga p < 0,05 maka Hnull ditolak dan Hi diterima, artinya ada perbedaan yang signifikan antara skor pretest pada kedua kelompok. Dengan kata lain, kedua kelompok memiliki kemampuan awal yang tidak sama. b. Jika harga p > 0,05 maka Hnull diterima dan Hi ditolak, artinya tidak ada perbedaan yang signifikan antara skor pretest kelompok kelompok. Dengan kata lain, kedua kelompok memiliki kemampuan awal yang sama. 51

(69) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3.8.1.3. Uji Signifikansi Pengaruh Perlakuan Uji signifikansi pengaruh perlakuan dilakukan dengan cara menghitung selisih skor pretest dengan posttest I. Uji signifikansi pengaruh perlakuan digunakan untuk mengetahui pengaruh perlakuan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) terhadap pengaruh perlakuan kemampuan mengevaluasi dan menarik kesimpulan sesuai dengan rumus (O2-O1) - (O4-O3). Cara yang digunakan adalah dengan mengurangkan selisih skor posttest I-pretest pada kelompok eksperimen dan skor posttest I-pretest pada kelompok kontrol. Jika hasil selisih skor pretest-posttest I di atas 0 maka ada perbedaan pengaruh perlakuan. Uji statistik yang digunakan adalah Independent samples t- test jika distribusi data normal (Field, 2009: 325) atau Mann-Whitney U-test jika distribusi data tidak normal (Field, 2009: 345). Data untuk uji signifikansi pengaruh perlakuan diambil dari skor selisih pretest ke posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Teknik analisis data menggunakan tingkat kepercayaan 95%. Hipotesis statistiknya adalah sebagai berikut. Hnull : Tidak ada perbedaan yang signifikan antara selisih skor pretest-posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Hi : Ada perbedaan yang signifikan antara selisih skor pretest-posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Kriteria untuk menentukan pengaruh perlakuan signifikan adalah sebagai berikut (Priyatno, 2012: 24). a. Jika harga p < 0,05, Hnull ditolak dan Hi diterima. Artinya ada perbedaan antara selisih skor pretest-posttest pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Dengan kata lain penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament berpengaruh terhadap kemampuan mengevaluasi dan menarik kesimpulan. b. Jika harga p > 0,05, Hnull diterima dan Hi ditolak. Artinya tidak ada perbedaan antara selisih skor pretest-posttest pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Dengan kata lain penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe 52

(70) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Teams Games Tournament tidak berpengaruh terhadap kemampuan mengevaluasi dan menarik kesimpulan. 3.8.1.4 Uji Besar Pengaruh Perlakuan Uji besar pengaruh perlakuan bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) terhadap kemampuan mengevaluasi dan menarik kesimpulan. Mengukur sebuah efek dikenal sebagai effect size. Effect size adalah ukuran objektif dan standarisasi dari sebuah besarnya ukuran yang diamati (Field, 2009: 56). Teknik yang digunakan adalah koefisien korelasi Pearson (r) yang menggunakan skala antara 0 (tidak ada efek) dan 1 (efek sempurna). Effect size ini berguna untuk memberikan ukuran yang objektif tentang pentingnya efek suatu perlakuan (Field, 2009: 57). Ada dua cara untuk mengetahui uji besar pengaruh perlakuan. Jika distribusi data normal, digunakan rumus korelasi Pearson sebagai berikut (Field, 2009: 332). r= 𝑡2 𝑡 2 :𝑑𝑓 Gambar 3. 4 Rumus Besar Efek untuk Data Normal Keterangan: r = besar pengaruh (effect size) perlakuan dengan menggunakan koefiisien korelasi Pearson t = harga uji t df = harga derajat kebebasan (degree of freedom) Jika distribusi data tidak normal, digunakan rumus korelasi Pearson sebagai berikut (Field, 2009: 550). r= 𝑍 𝑁 Gambar 3. 5 Rumus Besar Efek untuk Data Tidak Normal 53

(71) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Keterangan: = korelasi Pearson yang digunakan untuk mengukur besar pengaruh r (effect size) Z = skor Z (dari ouput SPSS Mann-Whitney U-test) N = jumlah total responden dari kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Berikut ini merupakan kriteria yang digunakan dalam menentukan effect size (Field, 2009:57) r (effect size) 0,10 0,30 0,50 Tabel 3. 5 Kriteria Besar Pengaruh Perlakuan Menurut Field Kategori Persentase Efek kecil Setara dengan 1% pengaruh perlakuan Efek menengah Setara dengan 9% pengaruh perlakuan Efek besar Setara dengan 25% pengaruh perlakuan Kriteria untuk menentukan besar pengaruh perlakuan (Frankel, Wallen, & Hyun, 2012: 14) sebagai berikut. Tabel 3. 6 Kriteria Besar Pengaruh Perlakuan Menurut Fraenkel, Wallen, dan Hyun r (effect size) Interpretasi Efek tidak penting secara praktis, bisa jadi masih penting secara teoretis untuk 0,00-0,40 membuat prediksi 0,41-0,60 Efek cukup besar secara praktis dan teoretis 0,61-0,80 Efek sangat penting tetapi jarang diperoleh dalam penelitian pendidikan Kemungkinan terjadi kesalahan penghitungan, jika tidak, efeknya sangat 0,81-1,00 besar Untuk mengubah harga r menjadi persen digunakan koefisien determinasi 2 ) dikalikan 100% (Field, 2009: 179). Persentase pengaruh = 2 x 100% Gambar 3. 6 Rumus Persentase Pengaruh Perlakuan 3.8.2 Analisis Lebih Lanjut 3.8.2.1 Uji Persentase Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I Besar pengaruh model pembelajaran cooperative learning tipe TGT pada peningkatan rerata pretest ke posttest I dapat dilihat melalui perhitungan persentase peningkatan rerata pretest ke posttest I. Data yang digunakan untuk perhitungan 54

(72) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI persentase peningkatan diambil dari rerata pretest ke posttest I pada uji normalitas data menggunakan Kolmogorov-Smirnov test. Peningkatan persentase skor pretest ke posttest I dapat dicari dengan rumus sebagai berikut (Gunawan, 2009: 575). Persentase peningkatan = 𝑟𝑒𝑟𝑎𝑡𝑎 𝑝𝑜𝑠𝑡𝑡𝑒𝑠𝑡 𝐼;𝑟𝑒𝑟𝑎𝑡𝑎 𝑝𝑟𝑒𝑡𝑒𝑠𝑡) 𝑟𝑒𝑟𝑎𝑡𝑎 𝑝𝑟𝑒𝑡𝑒𝑠𝑡 𝑥 100% Gambar 3. 7 Rumus Besar Persentase Peningkatan Pretest ke Posttest I Uji statistik menggunakan IBM SPSS statistics 22 for Windows dengan tingkat kepercayaan 95% dengan hipotesis statistik sebagai berikut. Hnull : Tidak ada perbedaan yang signifikan antara rerata skor pretest dan posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Hi : Ada perbedaan yang signifikan antara rerata skor pretest dan posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Kriteria yang digunakan untuk mengetahui peningkatan adalah sebagai berikut (Priyatno, 2012: 31). a. Jika harga p > 0,05 maka Hnull diterima dan Hi ditolak. Artinya tidak ada perbedaan yang signifikan antara skor pretest dan posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Dengan kata lain, tidak ada peningkatan skor yang signifikan dari skor pretest ke posttest I. b. Jika harga p < 0,05 maka Hnull ditolak dan Hi diterima. Artinya ada perbedaan yang signifikan antara skor pretest dan posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Dengan kata lain, ada peningkatan skor yang signifikan dari skor pretest ke posttest I. Selain persentase peningkatan rerata pretest ke posttest I, dilakukan perhitungan persentase selisih skor pretest ke posttest I (gain score) dengan rumus sebagai berikut: Gain score = frekuaensi 𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑖𝑠𝑤𝑎 𝑥 100% Gambar 3. 8 Rumus Gain score 55

(73) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Frekuensi gain score yang diambil kurang lebih 50% didapat dari selisih pretest-posttest I kedua kelompok. Grafik poligon pada gain score menunjukkan perbandingan yang tepat pada rerata antara kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol (Fraenkel, 2012: 250-251). Frekuensi gain score yang diambil kurang lebih 50% dari skor tertinggi dari selisih pretest-posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Pada gain score terdapat grafik poligon yang menunjukkan bahwa perbandingan yang tepat pada rerata antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 250-251). 3.8.2.2 Besar Efek Peningkatan Uji besar efek peningkatan rerata pretest ke posttest I dilakukan untuk mengetahui besar efek peningkatan rerata pretest ke posttest I pada kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen.Teknik analisis yang digunakan jika data terdistribusi normal adalah Paired samples t-test, sedangkan jika data terdistribusi tidak normal adalah Wilcoxon signed-rank test (Field, 2009: 345). Jika data terdistribusi normal, digunakan rumus korelasi Pearson sebagai berikut (Field, 2009: 332). r= 𝑡2 𝑡 2 :𝑑𝑓 Gambar 3. 9 Rumus Besar Efek Peningatan Rerata Pretest ke Posttest I untuk Data Normal Keterangan: r = korelasi Pearson untuk mengukur besar pengaruh (effect size) t = harga uji t df = harga derajat kebebasan (degree of freedom) Jika data terdistribusi tidak normal, digunakan rumus korelasi Pearson sebagai berikut (Field, 2009: 550) r= 𝑍 𝑁 Gambar 3. 10 Rumus Besar Efek Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I untuk Data Tidak Normal 56

(74) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Keterangan: r = korelasi Pearson yang digunakan untuk mengukur besar pengaruh (effect size) Z = skor Z (dari output SPSS Wilcoxon signed rank test) N = 2 kali jumlah responden dalam satu kelompok yang sama. Untuk mengubah r menjadi persen, koefisien determinasi (R2) dikalikan 100% (Field, 2009: 179). Analisis statistik dengan menggunakan program komputer IBM SPSS Statistics 22 for Windows dengan tingkat kepercayaan 95%. Hipotesis statistiknya adalah sebagai berikut (Field, 2009: 53) Hnull : Tidak ada perbedaan yang signifikan antara selisih skor pretest dan posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Hi : Ada perbedaan yang signifikan antara selisih skor pretest dan posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Kriteria yang digunakan untuk menarik kesimpulan adalah sebagai berikut. a. Jika harga p > 0,05 maka Hnull diterima dan Hi ditolak, artinya tidak ada perbedaan yang signifikan antara skor pretest ke posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Dengan kata lain, tidak terdapat peningkatan skor yang signifikan dari pretest ke posttest I. b. Jika harga p < 0,05 maka Hnull ditolak dan Hi diterima, artinya ada perbedaan yang signifikan antara skor pretest ke posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Dengan kata lain, terdapat peningkatan skor yang signifikan dari pretest ke posttest I. 3.8.2.3 Uji Korelasi antara Rerata Pretest dan Posttest I Uji korelasi bertujuan untuk mengetahui apakah korelasi antara rerata pretest dan posttest I positif dan signifikan. Uji korelasi juga bertujuan untuk memastikan sejauh mana ancaman terhadap validitas internal penelitian terkait regresi statisik dapat terkontrol dengan baik atau tidak (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 283). Terdapat ancaman jika korelasinya negatif dan signifikan. Ancaman terhadap 57

(75) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI validitas internal penelitian berupa bias regresi statistik yaitu kecenderungan siswa dengan hasil pretest yang sangat tinggi (mencapai skor tertinggi dalam skala pengukuran) biasanya memperoleh skor posttest yang lebih rendah dan sebaliknya hasil pretest yang sangat rendah (mencapai skor terendah dalam skala pengukuran) biasanya memperoleh skor posttest yang lebih tinggi. Skor yang rendah pada pretest akan cenderung naik mendekati mean pada posttest dan skor yang tinggi pada pretest akan cenderung turun mendekati mean. Jika perubahan yang terjadi pada posttest diklaim sebagai hasil treatment penelitian, kesimpulan tersebut bisa diragukan karena efek regresi statistik ini. Hasilnya bisa diragukan karena hasil pretest dan posttest belum tentu memiliki korelasi yang sempurna (Johnson & Christensen, 2008: 263). Untuk itu digunakan program SPSS 22 for Windows dengan tingkat kepercayaan 95% untuk uji dua ekor atau Sig. (2-tailed) dengan menggunakan uji korelasi Pearson jika distribusi data normal dan uji korelasi Spearman jika distribusi data tidak normal. Pada kelompok kontrol, skor pretest dikorelasikan dengan skor posttest I dan pada kelompok eksperimen dilakukan langkah yang sama. Korelasi positif berarti: jika skor pretest tinggi, tinggi juga skor posttestnya; jika skor pretestnya rendah, rendah juga skor posttestnya. Korelasi negatif berarti: jika skor pretest tinggi, skor posttestnya rendah; dan jika skor pretest rendah, skor posttestnya tinggi. Kondisi dikatakan ideal jika korelasinya positif. Korelasi negatif merupakan ancaman terhadap validitas internal penelitian berupa regresi statistik. Signifikan berarti hasil korelasi tersebut bisa digeneralisasi pada populasi. Hipotesis statistiknya adalah sebagai berikut. Hnull : Tidak ada perbedaan hasil korelasi pretest-posttest I dengan P dan Q (atau P = Q) Hi : Ada perbedaan hasil korelasi pretest-posttest I dengan P dan Q (atau P ≠ Q) Keterangan: P : jika harga p < 0,05 Q : jika r negatif 58

(76) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Kriteria yang digunakan untuk mengetahui bentuk korelasinya adalah sebagai berikut. a. Jika hasilnya P dan Q, Hnull diterima. Artinya ancaman terhadap validitas internal penelitian berupa regresi statistik tidak dapat dikendalikan dengan baik. b. Jika hasilnya bukan P dan Q, Hnull ditolak. Artinya ancaman terhadap validitas internal penelitian berupa regresi statistik dapat dikendalikan dengan baik. Untuk uji korelasi ini, data diambil dari skor pretest dan posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. 3.8.2.4 Uji Retensi Pengaruh Perlakuan Posttest II yang dilakukan beberapa waktu sesudah posttest I bisa digunakan untuk memastikan dengan lebih akurat kekuatan pengaruh perlakuan (Krathwohl, 2004: 546). Dalam banyak kasus posttest I yang dilakukan langsung sesudah treatment sering kurang akurat menggambarkan hasil yang sesungguhnya karena efek emosi positif (euforia) yang timbul terhadap treatment yang bisa jadi merupakan metode yang baru sama sekali yang belum pernah dialami responden. Untuk itu dilakukan posttest II seminggu sesudah posttest I sehingga ada jeda waktu yang cukup dapat menetralisasi efek emosi yang mungkin timbul. Teknik statistik menggunakan SPSS 22 for Windows dengan tingkat kepercayaan 95% untuk uji dua ekor atau Sig. (2-tailed) baik untuk kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen. Jika data terdistribusi normal, digunakan paired samples t test dan jika data terdistribusi tidak normal, digunakan Wilcoxon signed rank test. Hipotesis statistiknya adalah sebagai berikut. Hnull : Tidak ada penurunan skor yang signifikan dari posttest I ke posttest II. Hi : Ada penurunan skor yang signifikan dari posttest I ke posttest II. Kriteria yang digunakan untuk mengetahui apakah retensi perlakuan masih sekuat posttest I adalah sebagai berikut. a. Jika harga p < 0,05 dan rerata posttest I > rerata posttest II, Hnull ditolak dan Hi diterima. Artinya terdapat penurunan skor yang signifikan dari posttest I ke posttest II. 59

(77) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI b. Jika harga p > 0,05 dan rerata posttest I > rerata posttest II, Hnull diterima dan Hi ditolak. Artinya tidak terdapat penurunan skor yang signifikan dari posttest I ke posttest II. Untuk uji retensi pengaruh perlakuan, data diambil dari skor posttest I dan posttest II pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. 3.8 Ancaman Terhadap Validitas Internal Penelitian Sesudah data dianalisis menggunakan analisis statistik SPSS Statistics 22 for Windows, maka diperoleh kesimpulan. Sebelum menarik kesimpulan akhir penelitian, maka perlu diperiksa terlebih dahulu apakah ancaman internal penelitian bisa dikendalikan. Sehingga akhirnya pengaruh yang dihasilkan sungguh-sungguh karena variabel dependen hanya disebabkan variabel independen, bukan diluar variabel independen. Ancaman terhadap validitas penelitian sudah diidentifikasi oleh Campbell dan Stanley (1963), Bracht dan Glass (1968), dan Lewis-Beck (1993). Ancaman terjadi lebih besar pada penelitian kuasi-eksperimental dibandingkan eksperimental murni karena dalam eksperimental murni seleksi sampel dilakukan secara random dan lebih terkontrol. 1. Sejarah (history) Setiap kejadian/perlakuan terhadap kelompok yang sedang diteliti yang terjadi di antara pretest dan posttest di luar treatment penelitian yang bisa mempengaruhi hasil posttest pada variabel dependen (Johnson & Christensen, 2008: 260, Cohen, Manion, & Morrison, 2007: 155). Pengaruh sejarah (history) bisa terjadi terhadap salah satu kelompok yang diteliti terutama jika penelitian dilakukan dalam jangka waktu yang lama (beberapa bulan/tahun). Perubahan atau peningkatan hasil yang terjadi pada salah satu kelompok tersebut disebabkan bukan melulu karena treatment penelitian, tetapi oleh faktor lain di luar treatment sehingga tidak bisa diklaim murni sebagai pengaruh treatment penelitian. Kejadian tersebut misalnya workshop, ekstrakurikuler, kursus, acara TV, dsb dengan perlakuan atau materi yang sama dengan yang digunakan sebagai treatment penelitian. Jika kelompok kontrol dan kelompok eksperimen juga 60

(78) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI sama-sama mengikuti acara tersebut, pengaruhnya terhadap hasil posttest akan seimbang sehingga tingkat ancaman terhadap validitas internal penelitiannya: rendah (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 283). Kejadian lain di luar treatment penelitian Pretest Posttest Gambar 3. 11 Pengaruh Sejarah Terhadap Treatment 2. Difusi treatment atau kontaminasi (diffusion of treatment or contamination) Ancaman ini terjadi ketika kelompok kontrol dan kelompok eksperimen diamdiam saling berkomunikasi dan sama-sama mempelajari treatment yang diberikan pada kelompok eksperimen. Solusi: kedua kelompok betul-betul dipisahkan dan berjanji untuk tidak saling mempelajari treatment yang diberikan pada kelompok eksperimen (Neuman, 2013: 130). Jika diabaikan, ancaman terhadap validitas internal penelitian: rendah sampai menengah. 3. Perilaku kompensatoris Ancaman ini terjadi jika treatment yang diberikan di kelompok eksperimen dirasa sangat berharga dan diketahui juga oleh kelompok kontrol yang tidak mendapatkan treatment tersebut. Keuntungan yang diperoleh oleh kelompok eksperimen dirasa jauh lebih banyak dibanding kelompok kontrol. Karena merasa didevaluasi, kelompok kontrol bisa jadi 1) berusaha menandingi kelompok eksperimen dengan belajar ekstra keras atau 2) mengalami demoralisasi sehingga marah dan tidak kooperatif (Neuman, 2013: 330). Solusi: kelompok kontrol diberi pengertian bahwa sesudah penelitian mereka juga akan mendapatkan treatment yang sama. Jika diabaikan, tingkat ancaman terhadap validitas internal penelitian: rendah sampai menengah (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 283). 61

(79) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4. Maturasi (maturation) Setiap perubahan biologis atau psikologis yang terjadi sepanjang waktu penelitian bisa berpengaruh terhadap posttest pada variabel dependen (Johnson & Christensen, 2008: 261). Misalnya perubahan yang terjadi karena penuaan, kebosanan, rasa lapar, rasa haus, kelelahan, atau tambahan pengalaman belajar di luar penelitian. Solusi: menggunakan kelompok kontrol dengan waktu pretest dan posttest yang sama dengan kelompok eksperimen. Jika memungkinkan, rentang waktu penelitian dirancang lebih pendek. Solusi: melakukan penelitian eksperimental dalam waktu yang relatif singkat untuk menghindari ancaman terhadap validitas internal penelitian akibat history, mortality, selection, and maturation (Krathwohl, 2004: 547). Jika diabaikan, tingkat ancaman terhadap validitas internal penelitian: rendah (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 283). 5. Regresi statistik (statistical regression) Kecenderungan umum bahwa partisipan dengan hasil skor pretest yang sangat tinggi (mencapai skor tertinggi dalam skala pengukuran) biasanya memperoleh skor posttest yang lebih rendah dan sebaliknya hasil pretest yang sangat rendah (mencapai skor terendah dalam skala pengukuran) biasanya memperoleh skor posttest yang lebih tinggi merupakan ancaman regresi statistik. Skor yang rendah pada pretest akan cenderung naik mendekati mean pada posttest dan skor yang tinggi pada pretest akan cenderung turun mendekati mean. Ancaman ini akan lebih besar terjadi pada penelitian terhadap kelompok yang di dalamnya ada yang berkebutuhan khusus slow learner dan talented. Pada pretest, kelompok slow learner akan mendapat skor yang sangat rendah. Sesudah treatment, mereka akan mendapatkan skor yang lebih tinggi. Sementara yang talented biasanya akan langsung mendapatkan skor yang sangat tinggi pada waktu pretest, tetapi akan mengalami penurunan pada posttest. Jika perubahan yang terjadi pada posttest diklaim melulu sebagai hasil treatment penelitian, kesimpulan tersebut bisa diragukan persis karena efek regresi statistik ini. Hasilnya bisa diragukan karena hasil pretest dan posttest belum tentu memiliki korelasi yang sempurna (Johnson & Christensen, 2008: 263). Hasil pretest atau posttest belum tentu 100% 62

(80) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI mencerminkan kemampuan objektif. Bisa jadi faktor-faktor lain ikut berpengaruh saat menjalani pretest atau posttest, misalnya stress saat mengerjakan test, kurang konsentrasi, kurang istirahat, salah menginterpretasikan pertanyaan, dsb. Solusi: kecermatan dalam melihat partisipan dengan skor pretest yang sangat tinggi atau sangat rendah dan membandingkannya dengan hasil posttest mereka. Penggunaan kelompok kontrol akan mengurangi ancaman ini karena keduanya kurang lebih memiliki partisipan khusus yang kurang lebih sama. Jika diabaikan, ancaman terhadap validitas internal penelitian: rendah (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 283). 6. Mortalitas (mortality) Perbedaan jumlah partisipan pada waktu pretest dan posttest akibat mengundurkan diri dalam penelitian sehingga tidak ikut posttest dapat berpengaruh terhadap validitas penelitian. Ancaman ini akan lebih besar untuk penelitian yang dilakukan dalam jangka waktu yang lama. Hasil posttest dari partisipan yang tersisa bisa jadi berbeda dengan jika dikerjakan oleh seluruh partisipan yang sama pada saat pretest. Solusi: digunakan kelompok kontrol sehingga kurang lebih jumlah partisipan yang mengundurkan diri sama. Jika diabaikan, tingkat ancaman terhadap validitas internal penelitian: menengah (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 282). 7. Pengujian (testing) Pretest pada awal penelitian bisa mempengaruhi hasil posttest sehingga hasil posttest menjadi lebih tinggi dari jika tanpa ada pretest (Cohen, Manion, & Morrison, 2007: 156). Dengan mengerjakan pretest kelompok yang diteliti sudah tahu tentang apa yang ditargetkan, sudah memiliki pengalaman awal, dan menjadi familier dengan materi tes sehingga lebih terfokus terhadap apa yang nantinya dikerjakan pada saat posttest. Sesudah mengerjakan pretest, orang bisa saja menyadari kesalahan-kesalahan yang telah dikerjakan dan mengantisipasi untuk mengerjakan posttest lebih baik lagi. Jika demikian, skor posttest yang lebih tinggi belum tentu sepenuhnya disebabkan oleh treatment penelitian. Jika penelitian hanya dilakukan terhadap satu kelompok eksperimen saja, ancaman 63

(81) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI terhadap validitas internal akan lebih tinggi (Johnson & Christensen, 2008: 262). Solusi: penggunaan kelompok kontrol yang sama-sama mengerjakan pretest akan mengurangi ancaman terhadap validitas internal ini karena kedua kelompok sama-sama mendapatkan pretest. Jika diabaikan, tingkat ancaman terhadap validitas internal penelitian: rendah (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 283). 8. Instrumentasi (instrumentation) Setiap perubahan atau perbedaan instrumen pretest dan posttest yang digunakan untuk mengukur variabel dependen akan meningkatkan ancaman terhadap validitas internal penelitian (Johnson & Christensen, 2008: 262). Instrumen yang tidak valid dan tidak reliabel menjadi ancaman serius terhadap hasil penelitian. Ancaman instrumentasi ini bisa terjadi dalam 3 kategori (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 283). a. Instrumen yang digunakan untuk mengukur mengalami kerusakan. Kondisi instrumen pada saat pretest ternyata sudah berbeda dari kondisi pada saat posttest. Solusi: instrumen diperiksa dengan seksama dan setiap perubahan diperbaiki sehingga kondisi instrumen pada saat posttest sama dengan saat pretest. Jika diabaikan, tingkat ancaman terhadap validitas internal penelitian: rendah. b. Karakteristik alat pengumpul data yang digunakan berbeda antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen atau untuk pretest dan posttest. Solusi: karakteristik alat pengumpul data yang digunakan harus sama untuk kedua kelompok dan sama untuk pretest dan posttest. Jika diabaikan, ancaman terhadap validitas internal penelitian: menengah. c. Bias alat pengumpul data bisa terjadi terutama jika digunakan teknik observasi. 9. Lokasi (location) Jika lokasi yang digunakan baik untuk pretest maupun posttest maupun untuk implementasi treatment pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen terlalu berbeda (misalnya ukuran ruang, kenyamanan ruang, kebisingan ruang, dsb), lokasi yang berbeda bisa menghasilkan skor posttest yang berbeda. Solusi: ruang 64

(82) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI yang digunakan harus kurang lebih sama. Jika diabaikan, tingkat ancaman terhadap validitas internal penelitian: menengah sampai tinggi (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 282). 10. Karakteristik subjek (subject characteristics) Karakteristik subjek yang berbeda antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen menjadi ancaman besar bagi validitas internal penelitian. Ancaman ini bisa dikelompokkan dalam dua bagian (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 282). a. Kemampuan awal yang berbeda pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen akan mempengaruhi hasil posttest. Solusi: pemilihan sampel kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dilakukan secara random. Perlu dicek dengan pretest apakah kedua kelompok tersebut memiliki kemampuan awal yang setara. Jika dalam pretest kedua kelompok tersebut memiliki kemampuan awal yang tidak berbeda, bias yang mungkin terjadi dianggap tidak ada (Neuman, 2013: 238). Jika diabaikan, ancaman terhadap validitas internal penelitian: tinggi. b. Jumlah kelompok gender yang berbeda pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen bisa berpengaruh terhadap posttest. Solusi: pemilihan kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dilakukan dengan penyetaraan jumlah laki-laki dan perempuan pada kedua kelompok tersebut (matching). Perlu pretest untuk memastikan kemampuan awal yang setara. Jika diabaikan, tingkat ancaman terhadap validitas internal penelitian: menengah. 11. Implementasi (implementation) Perbedaan guru yang mengajar pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen bisa berpengaruh pada skor posttest. Guru yang berbeda juga akan memiliki cara mengajar yang berbeda. Solusi: guru yang mengimplementasikan pembelajaran di kedua kelompok tersebut sama atau sama-sama dilaksanakan oleh guru yang berbeda-beda (banyak guru). Perlu kontrol implementasi pembelajaran yang lebih cermat. Jika diabaikan, tingkat ancaman terhadap validitas internal penelitian: tinggi (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 284). 65

(83) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Bab ini meliputi hasil penelitian dan hasil analisis data. Hasil penelitian ini berisikan implementasi penelitian yang meliputi deskripsi populasi dan deskripsi implementasi pembelajaran. Hasil analisis data berisi uji hipotesis penelitian I dan II yang meliputi analisis pengaruh perlakuan dan analisis lebih lanjut. Pada pembahasan diuraikan mengenai pengaruh perlakuan dan dampaknya. 4.1 Hasil Penelitian 4.1.1 Implementasi Penelitian Penelitian ini menggunakan dua kelas yang digunakan sebagai kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Penentuan kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dilakukan dengan cara undian yang disaksikan oleh guru mitra. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah non probability sampling tipe convenience sampling. Convenience sampling adalah kelompok dari individuindividu yang sudah bersedia untuk dijadikan sampel (Frankel, Wallen, & Hyun, 2012: 99). Hasil undian menunjukkan kelas V.1 terpilih sebagai kelompok eksperimen dan kelas V.2 sebagai kelompok kontrol. 4.1.1.1 Deskripsi Sampel Penelitian Populasi yang digunakan dalam penelitian adalah siswa kelas V salah satu SD swasta yang ada di Yogyakarta, terdiri dari dua kelas, yaitu kelas V.1 dan V.2 yang berjumlah 42 siswa. Sampel yang digunakan sebagai kelas kontrol adalah kelas V.2, sedangkan kelas eksperimen adalah kelas V.1. Kedua kelas tersebut memiliki prestasi yang sama karena siswa dikelompokkan dalam kelas secara acak. Sampel pertama dalam penelitian ini adalah kelas V.2 sebagai kelompok kontrol. Jumlah siswa pada kelas kontrol yaitu 21 siswa yang terdiri dari 4 siswa lakilaki dan 17 siswa perempuan. Siswa pada kelompok kontrol berasal dari berbagai latar belakang. Sebagian besar siswa berasal dari keluarga dengan kemampuan 66

(84) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ekonomi menengah ke atas dan berpendidikan. Saat pelaksanaan, seluruh siswa pada kelompok kontrol hadir. Sampel kedua dalam penelitian ini adalah kelas V.1 sebagai kelompok eksperimen. Jumlah siswa sebanyak 21 siswa yang terdiri dari 13 siswa perempuan dan 8 siswa laki-laki. Pekerjaan orang tua siswa kedua kelompok antara lain wiraswasta, PNS, karyawan swasta, dan pembisnis, sehingga termasuk dalam kemampuan ekonomi menengah ke atas. Pada saat pelaksanaan perlakuan, seluruh siswa hadir. 4.1.1.2 Deskripsi Implementasi Pembelajaran Pelaksanaan penelitian dimulai dengan pretest pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Pretest dilakukan untuk mengetahui kemampuan awal siswa dari kedua kelompok yaitu kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Pretest dilaksanakan pada hari Selasa, 14 Agustus 2018 selama 2 jam pelajaran (2 x 35 menit). Soal yang diberikan dalam bentuk uraian yang berjumlah 6 butir yang merupakan 6 kemampuan berpikir kritis. Waktu yang diberikan untuk pengerjaan soal selama 2 x 35 menit. Sebelum mengerjakan pretest, guru memberikan pengarahan dalam pengerjaan soal dan maksud dari setiap butir soal. Siswa juga diberikan kesempatan untuk bertanya apabila belum memahami soal yang diberikan. Dalam pengerjaan pretest baik kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen didampingi oleh guru mitra. Peneliti berperan sebagai pengamat dan mendokumentasikan kegiatan yang berjalan di kedua kelas tersebut. Berikut deskripsi implementasi kegiatan pembelajaran pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. 1. Deskripsi Implementasi Pembelajaran Kelompok Kontrol Implementasi pembelajaran di kelompok kontrol menggunakan model pembelajaran konvesional yaitu ceramah. Pembelajaran dilaksanakan oleh guru mitra di dalam kelas dan dilaksanakan selama dua kali pertemuan. Waktu yang dibutuhkan pada setiap pertemuan adalah 2 jam pelajaran atau 2 x 35 menit. 67

(85) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Pertemuan pertama dilaksanakan pada hari Selasa, 4 September 2018 pukul 07.10 – 08.20 WIB. Materi yang dipelajari yaitu sistem pernapasan pada golongan hewan mamalia, serangga, reptil, dan unggas. Kegiatan pembelajaran diawali dengan apersepsi dengan cara guru mitra melakukan tanya jawab dengan siswa terkait dengan pengalaman siswa melihat hewan golongan mamalia, serangga, reptil, dan unggas. Pada saat kegiatan inti, siswa dijelaskan materi tentang sistem pernapasan pada golongan hewan mamalia, serangga, reptil, dan unggas. Siswa mendengarkan penjelasan yang disampaikan oleh guru dan mencatat hal-hal penting berdasarkan penjelasan guru di buku masing-masing. Pada kegiatan akhir dilakukan dengan menyimpulkan materi dan bertanya jawab terkait dengan materi yang telah dipelajari oleh siswa. Siswa juga diberikan tindak lanjut berupa tugas untuk membuat langkahlangkah dalam mengganti akuarium menggunakan gayung, jaring, dan tangan. Pertemuan kedua dilaksanakan pada hari Kamis, 6 September 2018 pukul 09.10 – 10.20 WIB. Materi yang dipelajari yaitu sistem pernapasan pada golongan hewan amfibi, cacing, dan ikan. Kegiatan pembelajaran diawali dengan apersepsi dengan cara guru mitra melakukan tanya jawab dengan siswa terkait dengan pengalaman siswa melihat hewan golongan amfibi, cacing, dan ikan. Pada saat kegiatan inti, siswa dijelaskan materi tentang sistem pernapasan pada golongan hewan amfibi, cacing, dan ikan. Siswa mendengarkan penjelasan yang disampaikan oleh guru dan mencatat hal-hal penting berdasarkan penjelasan guru di buku masingmasing. Pada kegiatan akhir dilakukan dengan menyimpulkan materi dan bertanya jawab terkait dengan materi yang telah dipelajari oleh siswa. Siswa juga diberikan tindak lanjut berupa tugas untuk membuat gambar alat pernapasan pada hewan yang sudah dipelajari. Pada hari Jumat, 07 September 2018 siswa pada kelompok kontrol melaksanakan posttest I. Posttest I bertujuan untuk mengetahui pemahaman siswa setelah mendapatkan pembelajaran dengan model ceramah. Posttest II dilaksanakan tujuh hari setelah posttest I yaitu pada hari Jumat, 14 September 2018. Posttest II bertujuan untuk mengetahui pemahaman siswa setelah beberapa hari mendapatkan pembelajaran dengan model ceramah. Soal posttest I dan posttest II dikerjakan oleh 68

(86) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI siswa yang sama dengan soal yang sama seperti soal pretest yang telah dikerjakan oleh siswa sebelumnya. Soal nomor 3 digunakan untuk meneliti variabel mengevaluasi yang terdiri dari 3 sub soal yaitu nomor 3a, 3b, dan 3c. Soal nomor 4 digunakan untuk meneliti variabel menarik kesimpulan yang terdiri dari 3 sub soal yaitu nomor 4a, 4b, dan 4c. 2. Deskripsi Implementasi Pembelajaran Kelompok Eksperimen Pembelajaran pada kelompok eksperimen menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT). Pembelajaran dilakukan selama tiga kali pertemuan dengan materi yang berbeda pada setiap pertemuannya. Pembelajaran dilaksanakan oleh guru mitra di dalam kelas. Waktu yang dibutuhkan pada setiap pertemuan adalah 2 jam pelajaran atau 2 x 35 menit. Pelaksanaan pembelajaran pada kelompok eksperimen dilakukan dengan model pembelajaran kooperatif tipe TGT yang meliputi tiga kegiatan yaitu pendahuluan, inti, dan penutup. Kegiatan pendahuluan berisi salam, doa, apersepsi, orientasi, dan motivasi. Kegiatan inti berisi lima langkah model pembelajaran kooperatif tipe TGT, yaitu penyajian materi (class presentation), kelompok (teams), permainan (game), kompetisi (tournament), pengakuan kelompok (teams recognition). Kegiatan penutup berisi kesimpulan, refleksi, tindak lanjut, doa, dan salam penutup. Pertemuan pertama dilaksanakan pada hari Selasa, 4 September 2018 pada pukul 09.10 – 10.20 WIB. Materi yang dipelajari yaitu tentang sistem pernapasan pada golongan hewan mamalia, serangga, reptil, dan unggas. Pada kegiatan awal diawali dengan apersepsi dengan cara guru mitra melakukan tanya jawab dengan siswa terkait dengan pengetahuan awal siswa mengenai sistem pernapasan pada hewan yang ada di sekitar. Kemudian dilanjutkan dengan penyampaian tujuan pembelajaran (orientasi) dan memotivasi siswa agar bersemangat untuk mengikuti pembelajaran (motivasi). Pada kegiatan inti yang pertama, guru mitra menjelaskan materi mengenai sistem pernapasan pada golongan hewan mamalia, serangga, reptil, dan unggas. 69

(87) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Siswa juga diminta mengamati secara langsung beberapa hewan yang dibawa oleh guru. Siswa mendengarkan penjelasan oleh guru dan mencatat hal-hal penting pada buku catatannya. Kegiatan inti yang kedua yaitu kelompok (teams). Siswa dibagi ke dalam 3 kelompok heterogen untuk belajar dalam kelompok. Kelompok heterogen terdiri dari siswa yang memiliki kemampuan berbeda. Siswa saling berdiskusi terkait dengan materi pelajaran, dan memastikan seluruh anggota memahami materi yang sudah dipelajari. Pada kegiatan akhir dilakukan dengan menyimpulkan materi dan bertanya jawab terkait dengan materi yang telah dipelajari oleh siswa. Pertemuan kedua dilaksanakan pada hari Jumat, 07 September 2018 pada pukul 08.00 – 09.10 WIB. Materi yang dipelajari yaitu tentang sistem pernapasan pada golongan hewan amfibi, cacing, dan ikan. Pada kegiatan awal diawali dengan apersepsi dengan cara guru mitra melakukan tanya jawab dengan siswa terkait dengan pengetahuan awal siswa mengenai sistem pernapasan pada hewan yang ada di sekitar. Kemudian dilanjutkan dengan penyampaian tujuan pembelajaran (orientasi) dan memotivasi siswa agar bersemangat untuk mengikuti pembelajaran (motivasi). Pada kegiatan inti yang pertama, guru mitra menjelaskan materi mengenai sistem pernapasan pada golongan hewan mamalia, serangga, reptil, dan unggas. Siswa juga diminta mengamati secara langsung beberapa hewan yang dibawa oleh guru. Siswa mendengarkan penjelasan oleh guru dan mencatat hal-hal penting pada buku catatannya. Kegiatan inti yang kedua yaitu kelompok (teams). Siswa dibagi ke dalam 3 kelompok keterogen untuk belajar dalam kelompok. Kelompok heterogen terdiri dari siswa yang memiliki kemampuan berbeda. Siswa saling berdiskusi terkait dengan materi pelajaran, dan memastikan seluruh anggota memahami materi yang sudah dipelajari. Pada pelaksanaan kegiatan kompetisi (tournament), dilaksanakan pada pertemuan ketiga. Hal ini dikarenakan pada pertemuan pertama dan kedua digunakan untuk kegiatan pembahasan materi. Dengan alasan waktu yang tersedia kurang mamadai. Sehingga pada pertemuan ketiga fokus kegiatan yang dilakukan yaitu kompetisi (tournament). Pada kegiatan akhir dilakukan dengan menyimpulkan materi dan bertanya jawab terkait dengan materi yang telah dipelajari oleh siswa. 70

(88) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Pertemuan ketiga dilaksanakan pada hari Senin, 10 September 2018 pada pukul 08.00 – 09.10 WIB. Pada pertemuan pertama dan kedua sudah dilakukan langkah 1 dan 2 model pembelajaran kooperatif tipe TGT. Langkah selanjutnya yaitu games, tournament, dan recognition. Pada pertemuan ketiga diawali dengan apersepsi, dengan cara guru mitra melakukan tanya jawab dengan siswa terkait materi pelajaran yang telah diajarkan sebelumnya. Kegiatan inti pada pertemuan ini melaksanakan langkah TGT yang ketiga, yaitu games. Games terdiri atas pertanyaanpertanyaan untuk menguji penguasaan siswa terhadap materi presentasi kelas dan pelaksanaan kerja tim. Pertanyaan ditulis dalam kartu kecil yang sudah di siapkan. Games dimainkan di meja yang terdiri dari tiga orang siswa yang mewakili masingmasing tim yang berbeda. Dilakukan pengundian untuk menentukan siswa yang berperan sebagai pembaca soal, penantang I dan penantang II. Kegiatan inti selanjutnya tournament (kompetisi). Tournament merupakan proses berlangsungnya games. Setelah dilakukan pengundian, siswa yang berperan sebagai pembaca soal mengambil kartu bernomor yang telah disediakan dan membacakan soal serta pilihan jawaban dengan keras dan mencoba menjawab. Sesuai dengan arah jarum jam, siswa yang berada di sebelah kirinya (penantang I) boleh memberikan jawaban yang berbeda atau pass (jika jawaban sama atau ragu). Siswa sebelah kiri penantang I (penantang II) boleh memberikan jawaban jika penantang I melewatinya atau jika penantang II mau memberikan jawaban yang berbeda dari dua jawaban sebelumnya. Setelah penantang I dan II memberikan jawaban atau pass, penantang II memeriksa lembar kunci jawaban yang sudah tersedia di atas meja tournament. Jika pembaca soal menjawab dengan benar, pembaca soal mendapat 1 skor dan jika salah tidak mendapatkan sanksi. Jika salah satu penantang benar, penantang tersebut mendapat 1 skor, tetapi jika salah, penantang tersebut dikurangi 1 skor sebagai hukuman. Masingmasing siswa mencatat di lembar skor yang sudah disediakan. Kartu soal disimpan oleh siswa yang dapat menjawab dengan benar. Putaran berikutnya, bisa dilakukan sesuai dengan arah jarum jam. Pembaca soal menjadi penantang I, penantang I menjadi penantang II, dan penantang II menjadi pembaca soal. Permainan pada tournament I selesai, jika kartu soal sudah 71

(89) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI habis. Sesudah selesai permainan, setiap siswa mencatat skor yang diperoleh. Pada tournament II, siswa dengan skor paling tinggi naik ke tingkat meja dengan nomor urut yang lebih kecil (kecuali meja nomor 1), siswa dengan skor paling rendah turun tingkat ke meja dengan nomor urut yang lebih besar (kecuali meja nomor 7), dan siswa dengan skor tidak tertinggi dan tidak terendah, tetap berada pada meja tournament tersebut. Perpindahan itu dilakukan hingga tournament yang ketiga. Setelah siswa selesai mengikuti tournament, siswa kembali ke kelompok asal masing-masing. Kegiatan inti yang selanjutnya yaitu pengakuan tim (teams recognition). Pada kelompok asal, semua siswa menghitung perolehan skor yang didapatkan. Kelompok dengan perolehan skor tertinggi pertama mendapatkan penghargaan yaitu tim tersuper. Kelompok dengan perolehan skor tertinggi kedua mendapatkan penghargaan yaitu tim terhebat. Kelompok dengan perolehan skor tertinggi ketiga mendapatkan penghargaan yaitu tim terbaik. Pada kegiatan akhir dilakukan dengan menyimpulkan pembelajaran dan melakukan refleksi. Pada hari Rabu, 12 September 2018 siswa pada kelompok eksperimen melaksanakan posttest I. Posttest I bertujuan untuk mengetahui pemahaman siswa setelah mendapatkan pembelajaran dengan model kooperatif tipe TGT. Posttest II dilaksanakan enam hari setelah posttest I yaitu pada hari Selasa, 18 September 2018. Posttest II bertujuan untuk mengetahui pemahaman siswa setelah beberapa hari mendapatkan pembelajaran dengan model kooperatif tipe TGT. Soal posttest I dan posttest II dikerjakan oleh siswa yang sama dengan soal yang sama seperti soal pretest yang telah dikerjakan oleh siswa sebelumnya. Soal nomor 3 digunakan untuk meneliti variabel mengevaluasi yang terdiri dari 3 sub soal yaitu nomor 3a, 3b, dan 3c. Soal nomor 4 digunakan untuk meneliti variabel menarik kesimpulan yang terdiri daari 3 sub soal yaitu nomor 4a, 4b, dan 4c. 4.1.2 Deskripsi Sebaran Data Pada deskripsi sebaran data akan ditunjukkan perbedaan data pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen untuk setiap indikator. Hasil sebaran data dapat dilihat pada tabel berikut. 72

(90) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.1.2.1 Kemampuan Mengevaluasi 1. Kelompok Kontrol Tabel 4. 1 Sebaran Data Kemampuan Mengevaluasi Kelompok Kontrol N o 1 2 3 1 10 Skor Pretest 2 3 4 5 6 - 11 9 1 8 8 5 29 22 12 Indikator Menilai kebenaran tentang pernapasan pada ikan Menilai kebenaran tentang pernapasan pada paus Menilai kebenaran penarikan kesimpulan tentang pernapasan pada katak Jumlah frekuensi Total 21 1 - Skor Posttest I 2 3 4 Total 6 14 1 21 - 21 5 9 6 1 21 - 21 3 8 8 2 21 63 8 23 28 5 63 Berdasarkan tabel di atas terlihat bahwa hasil sebaran data soal pretest pada kelompok kontrol untuk ketiga indikator kemampuan mengevaluasi, siswa yang mendapat nilai 1 sebanyak 29 anak, siswa yang mendapat nilai 2 sebanyak 22 anak, siswa yang mendapat skor 3 sebanyak 12 anak, dan tidak ada siswa yang mendapat nilai 4. Nilai yang sering muncul pada 21 siswa yang mengerjakan soal pretest yaitu nilai 1 sebanyak 29 anak. Pada saat pretest tidak ada siswa yang mendapatkan nilai 4. Siswa yang mendapat nilai 1 paling banyak terdapat pada indikator kedua yaitu sebanyak 11 anak, yang mendapat nilai 2 paling banyak terdapat pada indikator ke 2 sebanyak 9 anak, dan yang mendapat nilai 3 paling banyak terdapat pada indikator ke 1 sebanyak 6 orang. Hasil sebaran data soal posttest I pada kelompok kontrol untuk ketiga indikator dari kemampuan mengevaluasi yaitu siswa yang mendapat nilai 1 sebanyak 8 anak, siswa yang mendapat nilai 2 sebanyak 23 anak, siswa yang mendapat nilai 3 sebanyak 28 anak, dan siswa yang mendapat nilai 4 sebanyak 5 anak. Hasil posttest I menunjukkan bahwa siswa yang paling banyak mendapat nilai 3 yaitu sebanyak 28 anak, sedangkan pretest siswa paling banyak mendapat nilai 1 yaitu sebanyak 29 anak. Hal ini terjadi peningkatan skor dari pretest ke posttest I. Selain itu, siswa yang mendapat nilai 1 berkurang, sedangkan siswa yang mendapat nilai 2, 3, dan 4 bertambah saat posttest I. 73

(91) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2. Kelompok Eksperimen N o 1 2 3 Tabel 4. 2 Sebaran Data Kemampuan Mengevaluasi Kelompok Eksperimen Skor Pretest Skor Posttest I Indikator 1 2 3 4 Total 1 2 3 4 Total 8 10 3 1 14 6 Menilai kebenaran 21 21 tentang pernapasan pada ikan 8 12 1 1 8 5 7 Menilai kebenaran 21 21 tentang pernapasan pada paus 6 6 8 1 1 12 8 Menilai kebenaran 21 21 penarikan kesimpulan tentang pernapasan pada katak 22 28 12 1 63 2 9 31 21 63 Jumlah frekuensi Berdasarkan tabel di atas terlihat bahwa hasil sebaran data soal pretest pada kelompok eksperimen untuk ketiga indikator kemampuan mengevaluasi, siswa yang mendapat nilai 1 sebanyak 22 anak, siswa yang mendapat nilai 2 sebanyak 28 anak, siswa yang mendapat nilai 3 sebanyak 12 anak, dan siswa yang mendapat nilai 4 sebanyak 1 anak . Nilai yang sering muncul pada 21 siswa yang mengerjakan soal pretest yaitu nilai 2 sebanyak 28 anak. Siswa yang mendapat nilai 1 paling banyak terdapat pada indikator kedua yaitu sebanyak 11 anak, yang mendapat nilai 2 paling banyak terdapat pada indikator ke 1 dan 2 sebanyak 8 anak, yang mendapat nilai 2 paling banyak terdapat pada indikator ke 2 sebanyak 12 orang, dan yang mendapat nilai 3 paling banyak terdapat pada indikator ke 3 sebanyak 8 orang. Hasil sebaran data soal posttest I pada kelompok eksperimen untuk ketiga indikator dari kemampuan mengevaluasi yaitu siswa yang mendapat nilai 1 sebanyak 2 anak, siswa yang mendapat nilai 2 sebanyak 9 anak, siswa yang mendapat nilai 3 sebanyak 31 anak, dan siswa yang mendapat nilai 4 sebanyak 21 anak. Hasil posttest I menunjukkan bahwa siswa yang paling banyak mendapat nilai 3 yaitu sebanyak 31 anak, sedangkan pretest siswa paling banyak mendapat nilai 2 yaitu sebanyak 11 anak. Hal ini terjadi peningkatan skor dari pretest ke posttest I pada kelompok ekperimen dengan penerapan model pembelajaran koopertif tipe Teams Games 74

(92) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Tournament (TGT). Selain itu, siswa yang mendapat nilai 1 dan 2 berkurang, sedangkan siswa yang mendapat nilai 3, dan 4 bertambah saat posttest I. 4.1.2.1 Kemampuan Menarik Kesimpulan 1. Kelompok Kontrol N o 1 2 3 Tabel 4. 3 Sebaran Data Kemampuan Menarik Kesimpulan Kelompok Kontrol Skor Pretest Skor Posttest I Indikator 1 2 3 4 Total 1 2 3 4 Menguji informasi yang 8 8 5 1 8 8 4 21 relevan tentang cara mengganti air dalam akuarium Mengemukakan 6 12 3 4 15 2 21 alternatif-alternatif untuk memecahkan masalah. Membuat kesimpulan 2 14 5 7 11 3 21 tentang manfaat filter pada akuarium Jumlah frekuensi 16 34 13 63 1 19 34 9 Total 21 21 21 63 Berdasarkan tabel di atas terlihat bahwa hasil sebaran data soal pretest pada kelompok kontrol untuk ketiga indikator kemampuan menarik kesimpulan, siswa yang mendapat nilai 1 sebanyak 16 anak, siswa yang mendapat nilai 2 sebanyak 34 anak, siswa yang mendapat skor 3 sebanyak 13 anak, dan tidak ada siswa yang mendapat nilai 4. Nilai yang sering muncul pada 21 siswa yang mengerjakan soal pretest yaitu nilai 2 sebanyak 34 anak. Pada saat pretest tidak ada siswa yang mendapatkan nilai 4. Siswa yang mendapat nilai 1 paling banyak terdapat pada indikator pertama yaitu sebanyak 8 anak, yang mendapat nilai 2 paling banyak terdapat pada indikator ke 3 sebanyak 14 anak, dan yang mendapat nilai 3 paling banyak terdapat pada indikator ke 1 dan 3 sebanyak 5 orang. Hasil sebaran data soal posttest I pada kelompok kontrol untuk ketiga indikator dari kemampuan menarik kesimpulan yaitu siswa yang mendapat nilai 1 sebanyak 1 anak, siswa yang mendapat nilai 2 sebanyak 19 anak, siswa yang mendapat nilai 3 sebanyak 34 anak, dan siswa yang mendapat nilai 4 sebanyak 9 anak. Hasil posttest I menunjukkan bahwa siswa yang paling banyak mendapat nilai 2 yaitu sebanyak 34 anak, sedangkan pretest siswa paling banyak mendapat nilai 2 75

(93) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI yaitu sebanyak 29 anak. Sehingga tidak terjadi peningkatan pada nilai 2 dalam pretest dan juga posttest siswa pada kelompok kontrol. Selain itu, siswa yang mendapat nilai 1 berkurang, sedangkan siswa yang mendapat nilai 3, dan 4 bertambah saat posttest I. 2. Kelompok Eksperimen N o 1 2 3 Tabel 4. 4 Sebaran Data Kemampuan Menarik kesimpulan Kelompok Eksperimen Skor Pretest Skor Posttest I Indikator 1 2 3 4 Total 1 2 3 4 Total Menguji informasi yang 7 6 8 1 3 10 7 21 21 relevan tentang cara mengganti air dalam akuarium Mengemukakan 8 7 6 4 11 6 21 21 alternatif-alternatif untuk memecahkan masalah. Membuat kesimpulan 8 8 4 1 4 9 8 21 21 tentang manfaat filter pada akuarium Jumlah frekuensi 23 21 18 1 63 1 11 30 21 63 Berdasarkan tabel di atas terlihat bahwa hasil sebaran data soal pretest pada kelompok eksperimen untuk ketiga indikator kemampuan menarik kesimpulan, siswa yang mendapat nilai 1 sebanyak 23 anak, siswa yang mendapat nilai 2 sebanyak 21 anak, siswa yang mendapat nilai 3 sebanyak 18 anak, dan siswa yang mendapat nilai 4 sebanyak 1 anak . Nilai yang sering muncul pada 21 siswa yang mengerjakan soal pretest yaitu nilai 1 sebanyak 23 anak. Siswa yang mendapat nilai 1 paling banyak terdapat pada indikator kedua dan ketiga yaitu sebanyak 8 anak, yang mendapat nilai 2 paling banyak terdapat pada indikator ketiga sebanyak 8 anak, yang mendapat nilai 3 paling banyak terdapat pada indikator ke 1 sebanyak 8 orang, dan yang mendapat nilai 4 paling banyak terdapat pada indikator ke 3 sebanyak 1 orang. Hasil sebaran data soal posttest I pada kelompok eksperimen untuk ketiga indikator dari kemampuan menarik kesimpulan yaitu siswa yang mendapat nilai 1 sebanyak 1 anak, siswa yang mendapat nilai 2 sebanyak 11 anak, siswa yang mendapat nilai 3 sebanyak 30 anak, dan siswa yang mendapat nilai 4 sebanyak 21 anak. Hasil posttest I menunjukkan bahwa siswa yang paling banyak mendapat nilai 3 yaitu sebanyak 30 anak, sedangkan pretest siswa paling banyak mendapat nilai 1 76

(94) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI yaitu sebanyak 23 anak. Hal ini terjadi peningkatan skor dari pretest ke posttest I pada kelompok ekperimen dengan penerapan model pembelajaran koopertif tipe Teams Games Tournament (TGT). Selain itu, siswa yang mendapat nilai 1 dan 2 berkurang, sedangkan siswa yang mendapat nilai 3, dan 4 bertambah saat posttest I. 4.1.3 Uji Hipotesis Penelitian I Hipotesis penelitian I adalah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) berpengaruh terhadap kemampuan mengevaluasi siswa kelas V SD di salah satu sekolah swasta di Yogyakarta. Variabel dependen pada hipotesis penelitian ini adalah kemampuan mengevaluasi, sedangkan variabel independennya adalah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT). Instrumen yang digunakan untuk mengukur variabel mengevaluasi terdiri dari 3 soal uraian yaitu soal nomor 3a yang memuat indikator menilai kebenaran tentang pernapasan pada ikan, soal nomor 3b yang memuat indikator menilai kebenaran tentang pernapasan pada paus, dan soal nomor 3c memuat indikator menilai kebenaran penarikan kesimpulan tentang pernapasan pada katak. Hasil analisis secara keseluruhan dihitung menggunakan program statistik IBM SPSS Statistics 22 for Windows dengan tingkat kepercayaan 95%. Tahap analisis data dilakukan adalah asumsi yaitu dengan melakukan uji normalitas distribusi data dengan tujuan untuk mengetahui data berdistribusi normal atau tidak, sehingga dapat digunakan untuk menentukan analisis selanjutnya menggunakan statistik parametrik atau nonparametrik, kemudian dilakukan uji homogenitas varian untuk memastikan apakah skor rerata dua kelompok yang dibandingkan memiliki varian homogen atau tidak. Setelah uji asumsi, kemudian dilakukan uji signifikansi pengaruh perlakuan yang diperoleh melalui tiga tahap yaitu uji perbedaan kemampuan awal, uji signifikansi, dan uji besar pengaruh. Selanjutnya dilakukan analisis lebih lanjut, dengan melakukan uji persentase rerata pretest ke posttest I yaitu dengan menghitung persentase peningkatan dan besar efek peningkatan, kemudian melakukan uji korelasi rerata pretest dan posttest I, serta uji retensi pengaruh perlakuan. 77

(95) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.1.3.1 Uji Perbedaan Kemampuan Awal 1. Uji Asumsi a. Uji Asumsi Normalitas Distribusi Data Uji perbedaan kemampuan awal dilakukan untuk mengukur apakah kelompok kontrol dan eksperimen memiliki kemampuan awal yang sama pada kemampuan mengevaluasi. Pengambilan sampel penelitian tidak dilakukan secara random, sehingga kemampuan kedua kelompok dapat dibandingkan. Uji ini juga dilakukan untuk mengontrol ancaman internal yaitu karakteristik subjek. Kemampuan awal yang berbeda pada kelompok kontrol dan eksperimen dapat mempengaruhi hasil posttest I (Neuman, 2013: 238). Oleh karena itu, perlu dilakukan pengecekan kemampuan awal kedua kelompok dengan pretest. Sebelum melakukan uji perbedaan kemampuan awal, perlu dilakukan uji asumsi. Uji asumsi yang dilakukan adalah uji normalitas distribusi data untuk mengetahui apakah distribusi data normal atau tidak dan uji homogenitas varian untuk memastikan apakah skor rerata dua kelompok yang dibandingkan memiliki varian yang homogen. Data yang diuji normalitas distribusi datanya adalah skor pretest dari kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Data diuji menggunakan OneSample Kolmogorov-Smirnov test. Kriteria untuk menolak Hnull yaitu jika harga p > 0,05 maka tidak ada deviasi (penyimpangan) dari normalitas distribusi data, artinya data terdistribusi normal. Hasil uji normalitas skor pretest kemampuan mengevaluasi kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dapat dilihat pada tabel berikut (lihat Lampiran 4.3.1). Tabel 4. 5 Hasil Uji Normalitas Distribusi Data Rerata Skor Pretest Kemampuan Mengevaluasi Kelompok p Keputusan Kontrol 0,124 Normal Eksperimen 0,086 Normal Tabel 4.5 menunjukkan harga p > 0,05 pada kelompok kontrol dan eksperimen, hal tersebut menunjukkan bukti bahwa skor pretest kelompok kontrol dan eksperimen memiliki distribusi data yang normal. 78

(96) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI b. Uji Asumsi Homogenitas Varian Setelah mengetahui normal tidaknya distribusi data, selanjutnya dilakukan uji homogenitas varian. Teknik pengujian yang dilakukan menggunakan Levene’s test. Uji homogenitas varians dilakukan untuk mengetahui apakah skor pretest dan selisih skor pretest pada kedua kelompok memiliki varian yang homogen. Kriteria untuk menolak Hnull yaitu jika harga p < 0,05 maka tidak ada perbedaan homogenitas varian yang signifikan pada kedua data yang dibandingkan. Dengan kata lain, varian kedua kelompok tersebut homogen. Hasil uji homogenitas varian untuk selisih pretest dari kelompok kontrol dan kelompok eksperimen pada kemampuan mengevaluasi dapat dilihat dalam tabel berikut (lihat Lampiran 4.4.1.2). Tabel 4. 6 Hasil Uji Homogenitas Varian Skor Rerata Pretest Kemampuan Mengevaluasi Uji Statistik F df1 df2 p Keputusan Levene’s Test Equality of Variences 0,082 1 40 0,776 Homogen Levene’s Test dengan tingkat kepercayaan 95% menunjukkan harga F (1,40) = 0,082 dan p = 0,776. Data tersebut menunjukkan bahwa terdapat homogenitas varian data karena harga p > 0,05. c. Uji Statistik Berdasarkan hasil uji asumsi, maka uji perbedaan kemampuan awal ini menggunakan statistik parametrik Independent sample t-test karena distribusi data normal dan homogen pada kedua kelompok, yaitu kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Kriteria yang digunakan untuk menolak Hnull adalah jika harga p < 0,05, artinya ada perbedaan yang signifikan antara skor pretest pada kedua kelompok. Dengan kata lain, kedua kelompok memiliki kemampuan awal yang tidak sama. (Priyatno, 2012: 24). Hasil uji perbedaan kemampuan awal untuk rerata pretest kelompok kontrol dan eksperimen dapat dilihat pada tabel berikut (lihat Lampiran 4.4.1.2). Tabel 4. 7 Hasil Uji Perbedaan Rerata Pretest Kemampuan Mengevaluasi Uji Statistik p Keputusan Independent samples t-test 0,35 Tidak ada perbedaan 79

(97) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Analisis dengan menggunakan statistik parametrik Independent samples t-test dengan tingkat kepercayaan 95% diperoleh harga p = 0,35, artinya Hi ditolak dan Hnull diterima. Sehingga dapat dikatakan bahwa tidak adanya perbedaan yang signifikan antara rerata pretest kelompok kontrol dengan rerata pretest kelompok eksperimen. Dengan kata lain, kedua sampel memiliki kemampuan awal yang sama, karena harga p > 0,05. 2. Uji Signifikansi Pengaruh Perlakuan Uji signifikansi pengaruh perlakuan dilakukan untuk mengetahui pengaruh perlakuan atau penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) terhadap kemampuan mengevaluasi, dengan melihat rerata skor pretest dan posttest I kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Untuk mengetahui pengaruh perlakuan menggunakan rumus: (O2-O1) - (O4-O3), yaitu dengan mengurangi selisih skor posttest I - pretest pada kelompok eksperimen dengan selisih skor posttest I - pretest pada kelompok kontrol (Cohen, Manion, & Morrison, 2007: 277). Apabila hasil perhitungan lebih besar dari 0 maka ada perbedaan. Hasil perhitungan menunjukkan selisih skor posttest I - pretest pada kelompok eksperimen sebesar 1,239 dan selisih skor posttest I - pretest pada kelompok kontrol sebesar 0,7148. Hasil perhitungan diperoleh angka 0,52 atau positif (didapat dari selisih 1,239-0,7148), sehingga ada perbedaan pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) terhadap kemampuan mengevaluasi. Untuk mengetahui apakah pengaruhnya signifikan atau tidak, akan dianalisis dengan statistik selanjutnya. a. Hasil Uji Asumsi Normalitas Distribusi Data Uji normalitas data digunakan oleh peneliti untuk mengetahui apakah data tersebut berdistribusi normal atau tidak, sehingga peneliti dapat menentukan jenis statistik apa yang akan digunakan (Priyatno, 2012: 39). Kriteria yang digunakan untuk menolak Hnull jika harga p > 0,05 dengan kata lain distribusi data normal. Hasil uji normalitas selisih skor pretest-posttest I 80

(98) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI kemampuan mengevaluasi kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dapat dilihat pada tabel berikut (lihat Lampiran 4.3.1). Tabel 4. 8 Hasil Uji Normalitas Distribusi Data Selisih Pretest-Posttest I Kemampuan Kelompok Kontrol Eksperimen Mengevaluasi Mengevaluasi p 0,068 0,085 Keputusan Normal Normal Tabel tersebut menunjukkan harga p > 0,05 pada kelompok kontrol yang menunjukkan bahwa skor selisih pretest-posttest 1 pada kelompok kontrol dan eksperimen memiliki distribusi data yang normal. Setelah mengetahui normal atau tidaknya distribusi data, selanjutnya dilakukan uji homogenitas varians. b. Hasil Uji Asumsi Homogenitas Varians Uji homogenitas varian dilakukan untuk mengetahui apakah skor pretest dan selisih skor pretest dan posttest I pada kedua kelompok memiliki varian yang homogen. Teknik pengujian yang dilakukan yaitu menggunakan Levene’s test. Jika harga p < 0,05, maka tidak terdapat homogenitas varians pada dua data yang dibandingkan sedangkan jika harga p > 0,05, maka terdapat homogenitas varian pada dua data yang dibandingkan (Field, 2009: 340). Kondisi dikatakan ideal jika variannya homogen. Hasil uji homogenitas varians kemampuan mengevaluasi kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dapat dilihat pada tabel berikut (lihat Lampiran 4.5.1). Tabel 4. 9 Hasil Uji Homogenitas Varians Rerata Pretest-Posttest I Kemampuan Mengevaluasi Uji Statistik Levene’s Test Equality of Variances F Sig. Levene’s test Keputusan 0,252 0,618 Homogen Levene’s test dengan tingkat kepercayaan 95% menunjukkan harga F = 0,252 dan harga Sig. Levene’s test = 0,618. Data tersebut menunjukkan bahwa terdapat homogenitas varians data karena harga Sig. Levene’s test > 0,05. 81

(99) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI c. Uji Statistik Uji signifikansi pengaruh perlakuan digunakan untuk mengetahui pengaruh perlakuan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) terhadap pengaruh perlakuan kemampuan mengevaluasi. Jika terdapat homogenitas varians, data uji statistik yang digunakan adlah Independent samples t-test. Data yang diambil adalah data pada baris pertama dalam analisis output IBM SPSS Statistics 22 for Windows (Field, 2009: 53). Hasil uji signifikansi pengaruh perlakuan dapat dilihat pada tabel berikut (lihat Lampiran 4.5.1). Tabel 4. 10 Hasil Uji Signifikansi Pengaruh Perlakuan Kemampuan Mengevaluasi Uji Statistik Independent samples t-test Keputusan Signifikan p 0,006 Rerata selisih skor pada kelompok eksperimen (M = 1,25, SE = 0,14) lebih tinggi dari pada rerata selisih skor pada kelompok kontrol (M = 0,71, SE = 0,12). Perbedaan tersebut signifikan dengan t(40) = -3,00 dan p = 0,006. Harga p < 0,05 maka Hnull ditolak dan Hi diterima, artinya ada perbedaan yang signifikan antara selisih skor pretest-posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Dengan kata lain penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) berpengaruh terhadap kemampuan mengevaluasi. Untuk lebih memperjelas perbedaan selisih anatra kedua kelompok dapat dilihat pada gambar berikut. 3,5 3,1114 3 Rerata 2,5 2 1,5 1 1,8724 2,4443 Kontrol Eksperimen 1,7295 0,5 0 Pretest Posttest1 Gambar 4. 1 Rerata Skor Pretest dan Posttest I 82

(100) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Gambar 4.1 menunjukkan bahwa rerata skor pretest pada kelompok kontrol adalah 1,73 dan rerata skor posttest I adalah 2,44, sedangkan rerata skor pretest pada kelompok eksperimen adalah 1,87 dan rerata skor posttest I adalah 3,11. Hasil perbandingan rerata selisih skor pretest ke posttest I terhadap kemampuan mengevaluasi pada kelompok kontrol dan kelompok ekperimen dapat dilihat pada diagram berikut. Gambar 4. 2 Diagram Rerata Selisih Skor Pretest-Posttest I Diagram di atas menunjukkan bahwa selisih skor pretest ke posttest I pada kelompok kontrol adalah 0,71, sedangkan selisih skor pretest ke posttest I pada kelompok ekperimen adalah 1,24. 4.1.3.2 Uji Besar Pengaruh Perlakuan Uji besar pengaruh perlakuan (effect size) bertujuan untuk mengetahui besar pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) terhadap kemampuan mengevaluasi. Data yang diperoleh berdistribusi normal sehingga menggunakan rumus koefisien Pearson (Field, 2009: 57). Independent samples t-test digunakan untuk mengambil t dalam melakukan uji besar pengaruh perlakuan. Persentase pengaruh perlakuan di dapat dengan menghitung koefisien determinasi (R2) dengan cara mengkuadratkan harga r (harga koefisien korelasi 83

(101) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Pearson yang didapat) selanjutnya dikalikan 100% (Field, 2009: 179). Berikut hasil perhitungan effect size terhadap kemampuan mengevaluasi (lihat Lampiran 4.6). Variabel Mengevaluasi t -2,887 Tabel 4. 11 Hasil Uji Effect Size t² df r (effect size) R² 8,334 40 0,415 0,17 % 17 Kategori Efek Menengah Berdasarkan tabel di atas, harga r (effect size) pada kemampuan mengevaluasi sebesar 0,415 yang setara dengan efek menengah. Harga R² yaitu 0,17 sehingga jika dikalikan 100% maka persentase besar pengaruh perlakuan pada kemampuan mengevaluasi yaitu 17%. Model pembelajaran kooperatif tipe TGT memberikan pengaruh sebesar 17% terhadap kemampuan mengevaluasi. Sedangkan 83% sisanya merupakan pengaruh dari variabel lain di luar variabel yang diteliti. Variabel lain tersebut misalnya inteligensi, motivasi, kesehatan tubuh, lingkungan kelas, atau latar belakang siswa (Kasmadi & Sunariah, 2013: 151). 4.1.3.3 Analisis Lebih Lanjut 1. Uji Persentase Rerata Pretest ke Posttest I Uji persentase peningkatan dilakukan untuk mengetahui seberapa besar persentase peningkatan rerata skor pretest ke posttest I dari kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. a. Uji Asumsi Normalitas Data Sebelum melakukan analisis perhitungan persentase peningkatan rerata pretest ke posttest I, perlu diketahui terlebih dahulu distribusi normalitas dari skor pretest dan posttest I. Skor skor pretest dan posttest I diuji normalitasnya menggunakan Kolmogorov-Smirnov. Kriteria untuk menolak Hnull yaitu jika harga p > 0,05 maka tidak ada deviasi (penyimpangan) dari normalitas distribusi data, artinya data terdistribusi normal. Hasil uji normalitas selisih skor pretest dan posttest I kemampuan mengevaluasi kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dapat dilihat pada tabel berikut (lihat Lampiran 4.3.1). 84

(102) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Tabel 4. 12 Hasil Uji Normalitas Data Rerata Skor Pretest dan Posttest I Kemampuan Mengevaluasi Kelompok Aspek p Keputusan Pretest 0,124 Normal Kontrol Posttest I 0,180 Normal Pretest 0,086 Normal Eksperimen Posttest I 0,120 Normal Tabel 4.11 menunjukkan bahwa harga p > 0,05 terdapat pada kedua kelompok yaitu kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Dengan kata lain, distribusi data pretest dan posttest I kelompok kontrol dan eksperimen normal. b. Uji Statistik Uji peningkatan dilakukan dengan menggunakan independent sample t-test atau paired sample t-test karena seluruh kelompok ekperimen dan kontrol terdistribusi normal. Berikut ini merupakan tabel hasil perhitungan persentase peningkatan kemampuan mengevaluasi dan hasil uji signifikansi peningkatan skor pretest ke posttest I (lihat Lampiran 4.7.1) Tabel 4. 13 Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I Kemampuan Mengevaluasi 1 2 Mean Kelompok Kontrol Eksperimen Pretest 1,729 1,872 Posttest I 2,444 3,111 3,5 Persentase (%) p Keputusan 41 66 0,000 0,000 Signifikan Signifikan 3,111 3 2,5 Rerata No 2 2,444 1,729 1,872 Pretest 1,5 Posttest I 1 0,5 0 Kontrol Eksperimen Gambar 4. 3 Perbandingan Peningkatan Rerata Skor Pretest ke Posttest I 85

(103) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Berdasarkan tabel 4.12 dan gambar 4.3, menunjukkan adanya peningkatan skor antara pretest ke posttest I pada kelompok kontol dan eksperimen. Nilai mean pretest pada kelompok kontrol sebesar 1,729 dan nilai mean posttest I sebesar 2,444. Persentase peningkatan skor pretest ke posttest I pada kelompok kontrol yaitu sebesar 41%. Data tersebut menunjukkan bahwa ada peningkatan pada skor pretest ke posttest I kelompok kontrol. Harga p untuk kelompok kontrol adalah 0,000, artinya kelompok kontrol memiliki nilai p < 0,05 maka Hnull ditolak dan Hi diterima. Dengan demikian dapat diketahui bahwa ada perbedaan yang signifikan antara rerata pretest ke posttest I pada kelompok kontrol. Sedangkan nilai mean pretest pada kelompok ekperimen sebesar 1,872 dan nilai mean posttest I sebesar 3,111. Persentase peningkatan skor pretest ke posttest I pada kelompok eksperimen yaitu sebesar 66%. Data tersebut menunjukkan bahwa ada peningkatan pada skor pretest ke posttest I kelompok kontrol. Harga p untuk kelompok eksperimen adalah 0,000, artinya kelompok eksperimen memiliki nilai p < 0,05 maka Hnull ditolak dan Hi diterima. Dengan demikian dapat diketahui bahwa ada perbedaan yang signifikan antara rerta pretest ke posttest I pada kelompok eksperimen. c. Gain Score Persentase peningkatan skor pretest ke posttest dapat dilihat jelas pada gambar 4.3 yaitu menggunakan grafik poligon untuk dapat melihat perbedaan selisih skor pretest-posttest I pada kedua kelompok yaitu kelompok kontrol dan kelompok ekperimen. Berikut grafik yang menunjukkan frekuensi selisih skor pretest ke posttest I (gain score) pada kedua kelompok. 86

(104) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Grafik Gain Score Kelompok Kontrol dan Eksperimen Pada Kemampuan Mengevaluasi 8 7 7 6 Frekuensi 6 5 5 5 3 3 2 Kontrol 4 4 1 1 3 2 1 Eksperimen 1 2 1 1 0 -0,33 0 0,33 0,67 1 1,33 1,67 2 2,67 Gambar 4. 4 Grafik Gain Score Kemampuan Mengevaluasi Berdasarkan gambar 4.4, gain score terendah pada kedua kelompok baik kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen sebesar -0,33. Gain score tertinggi pada kelompok kontrol sebesar 2, sedangkan gain score pada kelompok eksperimen sebesar 2,67. Hal ini menunjukkan bahwa selisih antara pretest ke posttest I pada kelompok eskperimen lebih besar daripada selisih pretest ke posttest I pada kelompok kontrol. Frekuensi siswa yang mendapat nilai > 1,00 pada kelompok eksperimen ada 15 siswa dan pada kelompok kontrol ada 8 siswa. Nilai 1 merupakan nilai tengah gain score yang didapat dengan menghitung 50% dari nilai tertinggi. Persentase gain score > 1,00 pada kelompok kontrol sebesar 38,09% sedangkan pada kelompok ekperimen sebesar 71,43%. Hal ini menunjukkan bahwa kelompok ekperimen dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe TGT memberi pengaruh yang lebih besar daripada kelompok kontrol dengan model pembelajaran ceramah. 2. Uji Besar Efek Peningkatan Uji besar efek peningkatan skore pretest ke posttest I dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui besar efek peningkatan skor pretest ke posttest I. Uji yang 87

(105) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI digunakan adalah statistik parametrik paired samples t-test, karena data yang diuji adalah data yang berdistribusi normal dan berasal dari kelompok yang sama (lihat Lampiran 4.8.1). Tabel 4. 14 Hasil Uji Besar Efek Peningkatan Skor Pretest ke Posttest I Kelompok Kontrol dan Eksperimen Variabel Kemampuan Mengevaluasi Kelompok t t2 df r R2 % Efek Kontrol Eksperimen 5,960 9,088 35,52 82,59 20 20 0,8 0,9 0,64 0,81 64 81 Besar Sangat besar Berdasarkan tabel 4.14, skor rerata pretest ke posttest I kelompok kontrol mengalami peningkatan sebesar 64% dengan kategori efek cukup besar dan skor rerata pretest ke posttest I kelompok eksperimen mengalami peningkatan sebesar 81% dengan kategori efek sangat besar. Berdasarkan hasil dari kedua tabel tersebut, besar efek peningkatan skor pretest ke posttest I kelompok eksperimen lebih tinggi jika dibandingkan dengan peningkatan skor pada kelompok kontrol. 3. Uji Korelasi Rerata Skor Pretest ke Posttest I Uji korelasi dilakukan untuk mengetahui korelasi yang terjadi antara skor pretest dan posttest I. Uji ini juga dilakukan unntuk mengontrol ancaman terhadap validitas internal penelitian berupa regresi statistik. Regresi statistik terjadi jika siswa yang mendapat skor pretest tinggi akan mendapat skor posttest yang lebih rendah, sedangkan siswa yang mendapat skor pretest rendah akan mendapat skor posttest lebih tinggi (Cohen, Manion, & Marisson, 2007: 155). Data yang digunakan adalah skor rerata pretest dan skor rerata posttest I pada kelompok kontrol dan eksperimen. Hasil uji normalitas menunjukkan data skor pretest dan posttest I pada kelompok kontrol dan eksperimen terdistribusi normal. Dengan demikian, analisis selanjutnya menggunakan rumus Pearson’s correlation coefficient untuk kedua data kelompok (Field, 2009: 177). Kriteria yang digunakan untuk menolak Hnull adalah jika harga p < 0,05 (Priyatno, 2012: 45). Berikut merupakan tabel uji korelasi antara rerata skor pretest ke posttest I kemampuan mengevaluasi (lihat Lampiran 4.9.1). 88

(106) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Tabel 4. 15 Hasil Uji Korelasi antara Rerata Pretest dan Posttest I Kelompok r p Keputusan Kontrol 0,420 0,058 Positif dan tidak siginifikan Eksperimen 0,095 0,681 Positif dan tidak signifikan Tabel 4.15 menunjukkan hasil uji korelasi antara pretest dan posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Harga p pada kedua kelompok lebih dari 0,05, artinya Hnull diterima dan Hi ditolak. Oleh karena itu, ada korelasi yang tidak signifikan antara rerata skor pretest ke posttest I pada kedua kelompok terhadap kemampuan mengevaluasi. Hasil correlation coefficient pada kedua kelompok menunjukkan nilai positif, maka siswa yang mendapat skor tinggi pada pretest akan mendapat skor tinggi pula pada posttest I terhadap kemampuan mengevaluasi. Skor korelasi yang diperoleh pada kedua kelompok tidak dapat digeneralisasikan ke populasi karena data tersebut tidak signifikan. 4. Uji Retensi Pengaruh Perlakuan Uji retensi pengaruh perlakuan dilakukan untuk mengetahui apakah perlakuan yang diberikan masih kuat atau memiliki efek yang sama setelah beberapa waktu. a. Uji Asumsi Normalitas Distribusi Data Untuk menentukan uji apa yang akan digunakan, perlu diketahui terlebih dahulu distribusi data skor posttest I dan posttest II. Skor posttest I dan posttest II diuji normalitasnya menggunakan Kolmogorov-Smirnov. Kriteria yang digunakan untuk menolak Hnull jika harga p > 0,05 dengan kata lain distribusi data normal. Hasil uji normalitas selisih skor pretest dan posttest I kemampuan mengevaluasi kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dapat dilihat pada tabel berikut (lihat Lampiran 4.3.1). 89

(107) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Tabel 4. 16 Hasil Uji Normalitas Distribusi Data Selisih Skor Posttest I dan Posttest II Kemampuan Mengevaluasi Kelompok Aspek p Keputusan Posttest I 0,180 Normal Kontrol Normal Posttest II 0,065 Posttest I 0,120 Normal Posttest II 0,095 Normal Eksperimen Tabel 4.16 menunjukkan bahwa harga p > 0,05 pada skor posttest I dan posttest II pada kedua kelompok yaitu kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Artinya, keempat data tersebut memiliki distribusi data normal. b. Uji Statistik Analisis data dilakukan dengan menggunakan statistik Paired samples t test. Data yang digunakan yaitu skor posttest II yang dilakukan kurang lebih 1 minggu setelah dilakukan posttest I. Hasil posttest II dibandingkan dengan posttest I untuk melihat apakah ada peningkatan skor. Kriteria untuk menolak Hnull adalah jika harga p < 0,05 maka ada perbedaan yang signifikan antara skor posttest I dan posttest II (Priyatno, 2012: 31). Berikut hasil uji Paired samples t test pada tabel 4.17 (lihat Lampiran 4.10). N o Tabel 4. 17 Hasil Uji Retensi Pengaruh Perlakuan Mean Peningkatan Kelompok p (%) Posttest I Posttest II Keputusan 1 Kontrol 2,44 2,39 -2 0,725 Tidak signifikan 2 Eksperimen 3,11 2,95 -5 0,267 Tidak signifikan Berdasarkan tabel 4.17, hasil retensi pengaruh perlakuan skor posttest I ke posttest II pada kelompok kontrol terhadap kemampuan mengevaluasi menunjukkan harga p sebesar 0,725 (p > 0,05). Dengan demikian, Hnull diterima dan Hi ditolak sehingga tidak ada perbedaan yang signifikan antara skor posttest I dan posttest II. Persentase peningkatan rerata skor posttest I ke posttest II pada kelompok kontrol sebesar -2%. Pada kelompok 90

(108) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI eksperimen harga p adalah 0,267 (p > 0,05). Dengan demikian, Hnull diterima dan Hi ditolak sehingga penurunannya tidak signifikan antara skor posttest I dan posttest II. Persentase peningkatan rerata skor posttest I ke posttest II pada kelompok kontrol sebesar -5%. Untuk memperjelas besar peningkatan dapat dilihat pada gambar berikut. 3,5 2,9524 3,1114 3 Rerata 2,5 2 1,8724 2,4443 2,3976 Kontrol 1,7295 1,5 Eksperimen 1 0,5 0 Pretest Posttest 1 Posttest 2 Gambar 4. 5 Perbandingan Skor Pretest, Posttest I, dan Posttest II Kemampuan Mengevaluasi Gambar 4.5 perbandingan pretest, posttest I, dan posttest II menunjukkan bahwa rerata pretest kelompok kontrol adalah 1,73, sedangkan kelompok eksperimen adalah 1,87. Rerata posttest I pada kelompok kontrol adalah 2,44, sedangkan kelompok ekpserimen adalah 3,11. Rerata posttest II kelompok kontrol adalah 2,4, sedangkan pada kelompok eksperimen adalah 2,95. Rerata skor pretest ke posttest I pada kedua kelompok yaitu kelompok kontrol dan kelompok eksperimen mengalami peningkatan. Sedangkan rerata skor posttest I ke posttest II pada kelompok kontrol dan eksperimen mengalami penurunan. Untuk memastikan capaian skor rerata posttest II berbeda atau tidak dengan pretest maka dilakukan analisis terhadap perbedaan skor pretest dan posttest II dengan menggunakan Paired samples t test karena data yang diuji adalah data berdistribusi normal dan dari kelompok yang sama (Field. 2009: 540). Kriteria untuk menolak Hnull adalah harga p < 0,05 (Field, 2009: 53). 91

(109) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Berikut adalah hasil uji signifikansi skor pretest ke posttest II yang dapat dilihat pada tabel berikut (lihat Lampiran 4.10). No Tabel 4. 18 Hasil Uji Signifikansi Skor Pretest ke Posttest II Rerata Kelompok p Keputusan Pretest Posttest II 1 Kontrol 1,73 2,4 0,00 Signifikan 2 Eksperimen 1,87 2,95 0,00 Signifikan Berdasarkan tabel 4.18 diketahui bahwa hasil uji signifikansi skor pretest ke posttest II pada kelompok kontrol dan eksperimen terhadap kemampuan mengevaluasi menunjukkan bahwa harga p sebesar 0,00 (p < 0,05), maka Hnull ditolak dan Hi diterima sehingga ada perbedaan yang signifikan dan tidak mengalami penurunan antara skor pretest dan posttest II. Hal ini menunjukkan bahwa pada kelompok eksperimen dengan model pembelajaran kooperatif tipe TGT dan kelompok kontrol dengan model ceramah sama-sama efektif untuk meningkatkan kemampuan mengevaluasi pada siswa. 4.1.4 Uji Hipotesis Penelitian II Hipotesis penelitian II adalah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TGT berpengaruh terhadap kemampuan menarik kesimpulan siswa kelas V SD di salah satu sekolah swasta di Yogyakarta. Variabel dependen pada hipotesis penelitian ini adalah kemampuan menarik kesimpulan, sedangkan variabel independennya adalah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT). Instrumen yang digunakan untuk mengukur variabel menarik kesimpulan terdiri dari 3 soal uraian yaitu soal nomor 4a yang memuat indikator menguji informasi yang relevan tentang cara mengganti air dalam akuarium, soal nomor 4b yang memuat indikator membuat alternatif pemecahan masalah tentang pemilihan alat memindahkan ikan, dan soal nomor 4c memuat indikator membuat kesimpulan tentang manfaat filter pada akuarium. 92

(110) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Hasil analisis secara keseluruhan dihitung menggunakan program statistik IBM SPSS Statistics 22 for Windows dengan tingkat kepercayaan 95%. Tahap analisis data dilakukan adalah asumsi yaitu dengan melakukan uji normalitas distribusi data dengan tujuan untuk mengetahui data berdistribusi normal atau tidak, sehingga dapat digunakan untuk menentukan analisis selanjutnya menggunakan statistik parametrik atau nonparametrik, kemudian dilakukan uji homogenitas varian untuk memastikan apakah skor rerata dua kelompok yang dibandingkan memiliki varian homogen atau tidak. Setelah uji asumsi, kemudian dilakukan uji signifikansi pengaruh perlakuan yang diperoleh melalui tiga tahap yaitu uji perbedaan kemampuan awal, uji signifikansi, dan uji besar pengaruh. Selanjutnya dilakukan analisis lebih lanjut, dengan melakukan uji persentase rerata pretest ke posttest I yaitu dengan menghitung persentase peningkatan dan besar efek peningkatan, kemudian melakukan uji korelasi rerata pretest dan posttest I, serta uji retensi pengaruh perlakuan. 4.1.4.1 Uji Perbedaan Kemampuan Awal 1. Uji Asumsi a. Uji Asumsi Normalitas Distribusi Data Uji perbedaan kemampuan awal dilakukan untuk mengukur apakah kelompok kontrol dan eksperimen memiliki kemampuan awal yang sama pada kemampuan menarik kesimpulan. Pengambilan sampel penelitian tidak dilakukan secara random, sehingga kemampuan kedua kelompok dapat dibandingkan. Uji ini juga dilakukan untuk mengontrol ancaman internal yaitu karakteristik subjek. Kemampuan awal yang berbeda pada kelompok kontrol dan eksperimen dapat mempengaruhi hasil posttest I (Neuman, 2013: 238). Oleh karena itu, perlu dilakukan pengecekan kemampuan awal kedua kelompok dengan pretest. Sebelum melakukan uji perbedaan kemampuan awal, perlu dilakukan uji asumsi. Uji asumsi yang dilakukan adalah uji normalitas distribusi data untuk mengetahui apakah distribusi data normal atau tidak dan uji homogenitas varian untuk memastikan apakah skor rerata dua kelompok yang dibandingkan memiliki varian yang homogen. 93

(111) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Data yang diuji normalitas distribusi datanya adalah skor pretest dari kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Data diuji menggunakan OneSample Kolmogorov-Smirnov test. Kriteria untuk menolak Hnull yaitu jika harga p > 0,05 maka tidak ada deviasi (penyimpangan) dari normalitas distribusi data, artinya data terdistribusi normal. Hasil uji normalitas skor pretest kemampuan menarik kesimpulan kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dapat dilihat pada tabel berikut (lihat Lampiran 4.3.2). Tabel 4. 19 Hasil Uji Normalitas Distribusi Data Rerata Skor Pretest Kemampuan Menarik Kesimpulan Kelompok p Keputusan Kontrol 0,103 Normal Eksperimen 0,092 Normal Tabel 4.5 menunjukkan harga p > 0,05 pada kelompok kontrol dan eksperimen, hal tersebut menunjukkan bukti bahwa skor pretest kelompok kontrol dan eksperimen memiliki distribusi data yang normal. Setelah mengetahui normal tidaknya distribusi data, selanjutnya dilakukan uji homogenitas varian. Teknik pengujian yang dilakukan menggunakan Levene’s test. Hasil uji homogenitas varian untuk selisih pretest dari kelompok kontrol dan kelompok eksperimen pada kemampuan menarik kesimpulan dapat dilihat dalam tabel berikut (lihat Lampiran 4.4.2.2). b. Uji Asumsi Homogenitas Varian Uji homogenitas varians dilakukan untuk mengetahui apakah skor pretest dan selisih skor pretest dan posttest I pada kedua kelompok memiliki varian yang homogen. Kriteria untuk menolak Hnull yaitu jika harga p < 0,05 maka tidak ada perbedaan homogenitas varian yang signifikan pada kedua data yang dibandingkan. Dengan kata lain, varian kedua kelompok tersebut homogen. Tabel 4. 20 Hasil Uji Homogenitas Varian Skor Rerata Pretest Kemampuan Menarik Kesimpulan Uji Statistik F df1 df2 p Keputusan Levene’s Test Equality of Variences 1,422 1 40 0,240 Homogen 94

(112) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Levene’s Test dengan tingkat kepercayaan 95% menunjukkan harga F (1,40) = 1,422 dan p = 0,24. Data tersebut menunjukkan bahwa terdapat homogenitas varian data karena harga p > 0,05. c. Uji Statistik Berdasarkan hasil uji asumsi, maka uji perbedaan kemampuan awal ini menggunakan statistik parametrik Independent samples t-test karena distribusi data normal dan homogen pada kedua kelompok, yaitu kelompok kontrol dan kelompok ekperimen. Kriteria yang digunakan untuk menolak Hnull adalah jika harga p < 0,05 (Priyatno, 2012: 24). Hasil uji signifikansi pengaruh perlakuan dapat dilihat pada tabel berikut (lihat Lampiran 4.4.2.2). Tabel 4. 21 Hasil Uji Perbedaan Rerata Pretest Kemampuan Menarik Kesimpulan Uji Statistik p Keputusan Independent samples t-test 0,994 Tidak ada perbedaan Analisis dengan menggunakan statistik parametrik Independent samples t-test dengan tingkat kepercayaan 95% diperoleh harga p = 0,994, artinya Hi ditolak dan Hnull diterima. Sehingga dapat dikatakan bahwa tidak adanya perbedaan yang signifikan antara rerata pretest kelompok kontrol dengan rerata pretest kelompok eksperimen. Dengan kata lain, kedua sampel memiliki kemampuan awal yang sama, karena harga p > 0,05. 2. Uji Signifikansi Pengaruh Perlakuan Uji signifikansi pengaruh perlakuan dilakukan untuk mengetahui pengaruh perlakuan atau penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) terhadap kemampuan menarik kesimpulan, dengan melihat rerata skor pretest dan posttest I kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Untuk mengetahui pengaruh perlakuan menggunakan rumus: (O2-O1) - (O4-O3), yaitu dengan mengurangi selisih skor posttest I - pretest pada kelompok eksperimen dengan selisih skor posttest I - pretest pada kelompok kontrol (Cohen, Manion, & Morrison, 2007: 277). Apabila hasil perhitungan lebih besar 95

(113) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI dari 0 maka ada perbedaan. Hasil perhitungan menunjukkan selisih skor posttest I - pretest pada kelompok eksperimen sebesar 1,1738 dan selisih skor posttest I pretest pada kelompok kontrol sebesar 0,8571. Hasil perhitungan diperoleh angka 0,32 atau positif (didapat dari selisih 1,1738-0,8571), sehingga ada perbedaan pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) terhadap kemampuan menarik kesimpulan. Untuk mengetahui apakah pengaruhnya signifikan atau tidak, akan dianalisis dengan statistik selanjutnya. a. Hasil Uji Asumsi Normalitas Distribusi Data Uji normalitas data digunakan oleh peneliti untuk mengetahui apakah data tersebut berdistribusi normal atau tidak, sehingga peneliti dapat menentukan jenis statistik apa yang akan digunakan (Priyatno, 2012: 39). Kriteria yang digunakan untuk menolak Hnull jika harga p > 0,05 dengan kata lain distribusi data normal. Hasil uji normalitas selisih skor pretest-posttest I kemampuan mengevaluasi kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dapat dilihat pada tabel berikut (lihat Lampiran 4.3.2). Tabel 4. 22 Hasil Uji Normalitas Distribusi Data Selisih Pretest-Posttest I Kemampuan Menarik Kesimpulan Kelompok p Keputusan Kontrol 0,132 Normal Eksperimen 0,124 Normal Tabel 4.22 tersebut menunjukkan harga p > 0,05 pada kelompok kontrol yang menunjukkan bahwa skor selisih pretest-posttest 1 pada kelompok kontrol dan eksperimen memiliki distribusi data yang normal. Setelah mengetahui normal atau tidaknya distribusi data, selanjutnya dilakukan uji homogenitas varians. Teknik pengujian yang dilakukan yaitu menggunakan Levene’s test. Hasil uji homogenitas varian. Hasil uji homogenitas varian untuk selisih pretest dari kelompok kontrol dan kelompok eksperimen pada kemampuan menarik kesimpulan dapat dilihat dalam grafik berikut ini. 96

(114) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI b. Hasil Uji Asumsi Homogenitas Varians Uji homogenitas varian dilakukan untuk mengetahui apakah skor pretest pada kedua kelompok memiliki varian yang homogen. Teknik pengujian yang dilakukan yaitu menggunakan Levene’s test. Jika harga p < 0,05, maka tidak terdapat homogenitas varians pada dua data yang dibandingkan sedangkan jika harga p > 0,05, maka terdapat homogenitas varian pada dua data yang dibandingkan (Field, 2009: 340). Kondisi dikatakan ideal jika variannya homogen. Hasil uji normalitas selisih skor pretest-posttest I kemampuan mengevaluasi kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dapat dilihat pada tabel berikut (lihat Lampiran 4.5.2). Tabel 4. 23 Hasil Uji Homogenitas Varians Rerata Pretest-Posttest I Kemampuan Menarik Kesimpulan Uji Statistik F Sig. Levene’s test Keputusan Levene’s Test Equality of Variances 1,117 0,297 Homogen Levene’s test dengan tingkat kepercayaan 95% menunjukkan harga F = 1,117 dan harga Sig. Levene’s test = 0,297. Data tersebut menunjukkan bahwa terdapat homogenitas varians data karena harga Sig. Levene’s test > 0,05. c. Uji Statistik Uji signifikansi pengaruh perlakuan digunakan untuk mengetahui pengaruh perlakuan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) terhadap pengaruh perlakuan kemampuan mengevaluasi. Jika terdapat homogenitas varians, data uji statistik yang digunakan adlah Independent samples t-test. Data yang diambil adalah data pada baris pertama dalam analisis output IBM SPSS Statistics 22 for Windows (Field, 2009: 53). Hasil uji signifikansi pengaruh perlakuan dapat dilihat pada tabel berikut (lihat Lampiran 4.5.2). Tabel 4. 24 Hasil Uji Signifikansi Pengaruh Perlakuan Kemampuan Menarik Kesimpulan Uji Statistik p Keputusan Independent samples t-test 0,113 Tidak signifikan 97

(115) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Rerata selisih skor pada kelompok eksperimen (M = 1,17, SE = 0,16) lebih tinggi dari pada rerata selisih skor pada kelompok kontrol (M = 0,86, SE = 0,11). Perbedaan tersebut tidak signifikan dengan t(40) = -1,62 dan p = 0,113. Harga p > 0,05 maka Hnull diterima dan Hi ditolak. Dengan kata lain penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) tidak berpengaruh terhadap kemampuan menarik kesimpulan. Untuk lebih memperjelas perbedaan selisih antara kedua kelompok dapat dilihat pada gambar berikut. 3,5 3,1271 3 2,8095 Rerata 2,5 2 1,5 1,95333 Kontrol 1,9524 Eksperimen 1 0,5 0 Pretest Posttest 1 Gambar 4. 6 Grafik Rerata Skor Pretest dan Posttest I Gambar 4.6 menunjukkan bahwa rerata skor pretest pada kelompok kontrol adalah 1,95 dan rerata skor posttest I adalah 2,81, sedangkan rerata skor pretest pada kelompok eksperimen adalah 1,95 dan rerata skor posttest I adalah 3,13. Hasil perbandingan rerata selisih skor pretest ke posttest I terhadap kemampuan menarik kesimpulan pada kelompok kontrol dan kelompok ekperimen dapat dilihat pada diagram berikut. 98

(116) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Gambar 4. 7 Diagram Rerata Selisih Skor Pretest-Posttest I Diagram di atas menunjukkan bahwa selisih skor pretest ke posttest I pada kelompok kontrol adalah 0,86, sedangkan selisih skor pretest ke posttest I pada kelompok ekperimen adalah 1,17. 4.1.4.2 Uji Besar Pengaruh Perlakuan Uji besar pengaruh perlakuan (effect size) bertujuan untuk mengetahui besar pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) terhadap kemampuan menarik kesimpulan. Data yang diperoleh berdistribusi normal sehingga menggunakan rumus koefisien Pearson (Field, 2009: 57). Independent samples t-test digunakan untuk mengambil t dalam melakukan uji besar pengaruh perlakuan. Persentase pengaruh perlakuan di dapat dengan menghitung koefisien determinasi (R2) dengan cara mengkuadratkan harga r (harga koefisien korelasi Pearson yang didapat) selanjutnya dikalikan 100% (Field, 2009: 179). Berikut hasil perhitungan effect size terhadap kemampuan menarik kesimpulan (lihat Lampiran 4.6). Variabel Menarik Kesimpulan t -1,618 Tabel 4. 25 Hasil Uji Effect Size t² df r (effect size) 2,618 40 0,25 R² 0,06 % 6 Kategori Efek Kecil Berdasarkan tabel di atas, harga r (effect size) pada kemampuan menarik kesimpulan sebesar 0,25 yang setara dengan efek kecil. Harga R² yaitu 0,06 sehingga 99

(117) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI jika dikalikan 100% maka persentase besar pengaruh perlakuan pada kemampuan menarik kesimpulan yaitu 6%. Model pembelajaran kooperatif tipe TGT memberikan pengaruh sebesar 6% terhadap kemampuan menarik kesimpulan. Sedangkan 94% sisanya merupakan pengaruh dari variabel lain di luar variabel yang diteliti. Variabel lain tersebut misalnya inteligensi, motivasi, kesehatan tubuh, lingkungan kelas, atau latar belakang siswa (Kasmadi & Sunariah, 2013: 151). 4.1.4.3 Analisis Lebih Lanjut 1. Uji Persentase Rerata Pretest ke Posttest I Uji persentase peningkatan dilakukan untuk mengetahui sebesrapa besar persentase peningkatan rerata skor pretest ke posttest I dari kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. a. Uji Asumsi Normalitas Data Sebelum melakukan analisis perhitungan persentase peningkatan rerata pretest ke posttest I, perlu diketahui terlebih dahulu distribusi normalitas dari skor pretest dan posttest I. Skor skor pretest dan posttest I diuji normalitasnya menggunakan Kolmogorov-Smirnov. Kriteria untuk menolak Hnull jika harga p > 0,05 maka tidak ada deviasi (penyimpangan) dari normalitas distribusi data, artinya data tersebut berdistribusi normal. Hasil uji normalitas selisih skor pretest dan posttest I kemampuan menarik kesimpulan kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dapat dilihat pada tabel berikut (lihat Lampiran 4.3.2). Tabel 4. 26 Hasil Uji Normalitas Data Rerata Skor Pretest dan Posttest I Kemampuan Menarik Kesimpulan Kelompok Aspek p Keputusan Pretest 0,103 Normal Kontrol Posttest I 0,109 Normal Pretest 0,092 Normal Eksperimen Posttest I 0,104 Normal Tabel 4.26 menunjukkan bahwa harga p > 0,05 terdapat pada kedua kelompok yaitu kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Dengan kata lain, tidak ada peningkatan skor yang signifikan dari skor pretest ke posttest 100

(118) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI I. Dengan demikian, distribusi data kelompok kontrol dan kelompok eskperimen normal. b. Uji Statistik Uji peningkatan dilakukan dengan menggunakan independent sample t-test atau paired sample t-test karena seluruh kelompok ekperimen dan kontrol terdistribusi normal. Berikut ini merupakan tabel hasil perhitungan persentase peningkatan kemampuan mengevaluasi dan hasil uji signifikansi peningkatan skor pretest ke posttest I (lihat Lampiran 4.7.1). Tabel 4. 27 Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I Kemampuan Menarik Kesimpulan No 1 2 Mean Kelompok Pretest 1,952 1,953 Kontrol Eksperimen Posttest I 2,81 3,127 Persentase (%) p Keputusan 43 60 0,000 0,000 Signifikan Signifikan 3,5 Rerata 2,5 3,127 2,81 3 1,951 2 1,953 Pretest 1,5 Posttest I 1 0,5 0 Kontrol Eksperimen Gambar 4. 8 Perbandingan Peningkatan Rerata Skor Pretest ke Posttest I Berdasarkan tabel 4.27 dan gambar 4.8, menunjukkan adanya peningkatan skor antara pretest ke posttest I pada kelompok kontol dan eksperimen. Nilai mean pretest pada kelompok kontrol sebesar 1,952 dan nilai mean posttest I sebesar 2,81. Persentase peningkatan skor pretest ke posttest I pada kelompok kontrol yaitu sebesar 43%. Data tersebut menunjukkan bahwa ada peningkatan pada skor pretest ke posttest I 101

(119) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI kelompok kontrol. Harga p untuk kelompok kontrol adalah 0,000, artinya kelompok kontrol memiliki nilai p < 0,05 maka Hnull ditolak dan Hi diterima. Dengan demikian dapat diketahui bahwa ada perbedaan yang signifikan antara rerata pretest ke posttest I pada kelompok kontrol. Sedangkan nilai mean pretest pada kelompok ekperimen sebesar 1,953 dan nilai mean posttest I sebesar 3,127. Persentase peningkatan skor pretest ke posttest I pada kelompok eksperimen yaitu sebesar 60%. Data tersebut menunjukkan bahwa ada peningkatan pada skor pretest ke posttest I kelompok eksperimen. Harga p untuk kelompok eskperimen adalah 0,000, artinya kelompok eksperimen memiliki nilai p < 0,05 maka Hnull ditolak dan i diterima. Dengan demikian dapat diketahui bahwa ada perbedaan yang signifikan antara rerta pretest ke posttest I pada kelompok eksperimen. c. Gain Score Persentase peningkatan skor pretest ke posttest dapat dilihat jelas pada gambar 4.8 yaitu menggunakan grafik poligon untuk dapat melihat perbedaan selisih skor pretest-posttest I pada kedua kelompok yaitu kelompok kontrol dan kelompok ekperimen. Berikut grafik yang menunjukkan frekuensi selisih skor pretest ke posttest I (gain score) pada kedua kelompok. Grafik Gain Score Kelompok Kontrol dan Eksperimen Pada Kemampuan Inferensi 8 Frekuensi 7 6 5 5 5 2 Kontrol 4 4 3 2 1 2 1 1 Eksperimen 3 1 1 1 0 0 0,33 0,67 1 1,33 1,67 2 2,33 3 Gambar 4. 9 Gain Score Kemampuan Menarik Kesimpulan 102

(120) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Berdasarkan gambar 4.9, gain score terendah pada kedua kelompok baik kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen sebesar 0. Gain score tertinggi pada kelompok kontrol sebesar 1,67, sedangkan gain score tertinggi pada kelompok eksperimen sebesar 3. Hal ini menunjukkan bahwa selisih antara pretest ke posttest I pada kelompok eskperimen lebih besar daripada selisih pretest ke posttest I pada kelompok kontrol. Frekuensi siswa yang mendapat nilai > 1,33 pada kelompok eksperimen ada 9 siswa dan pada kelompok kontrol ada 5 siswa. Nilai 1,33 merupakan nilai tengah gain score yang didapat dengan menghitung 50 dari nilai tertinggi. Persentase gain score > 1,33 pada kelompok kontrol sebesar 23,81% sedangkan pada kelompok ekperimen sebesar 42,86%. Hal ini menunjukkan bahwa kelompok ekperimen dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe TGT memberi pengaruh yang lebih besar daripada kelompok kontrol dengan model pembelajaran ceramah. 2. Uji Besar Efek Peningkatan Uji besar efek peningkatan skor pretest ke posttest I dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui besar efek peningkatan skor pretest ke posttest I. Uji yang digunakan adalah statistik parametrik paired samples t-test, karena data yang diuji adalah data yang berdistribusi normal dan berasal dari kelompok yang sama. Berikut hasil uji besar efek peningkatan skor pretest ke posttest I (lihat Lampiran 4.8.1.2). Tabel 4. 28 Hasil Uji Besar Efek Peningkatan Skor Pretest ke Posttest I Kelompok Kontrol dan Eksperimen Pada Kemampuan Menarik Kesimpulan Kelompok t t2 df r R2 % Efek Kontrol 7,709 59,43 20 0,87 0,76 76 Besar Eksperimen 7,324 53,64 20 0,85 0,72 72 Besar Berdasarkan tabel 4.28, skor rerata pretest ke posttest I kelompok kontrol mengalami peningkatan sebesar 76% dengan kategori efek besar dan skor rerata pretest ke posttest I kelompok eksperimen mengalami 103

(121) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI peningkatan sebesar 72% dengan kategori besar. Berdasarkan hasil dari kedua tabel tersebut, besar efek peningkatan skor pretest ke posttest I kelompok kontrol lebih tinggi jika dibandingkan dengan peningkatan skor pada kelompok eksperimen. 3. Uji Korelasi Rerata Skor Pretest ke Posttest I Uji korelasi dilakukan untuk mengetahui korelasi yang terjadi antara skor pretest dan posttest I. Uji ini juga dilakukan unntuk mengontrol ancaman terhadap validitas internal penelitian berupa regresi statistik. Regresi statistik terjadi jika siswa yang mendapat skor pretest tinggi akan mendapat skor posttest yang lebih rendah, sedangkan siswa yang mendapat skor pretest rendah akan mendapat skor posttest lebih tinggi (Cohen, Manion, & Marisson, 2007: 155). Data yang digunakan adalah skor rerata pretest dan skor rerata posttest I pada kelompok kontrol dan eksperimen. Hasil uji normalitas menunjukkan data skor pretest dan posttest I pada kelompok kontrol dan eksperimen terdistribusi normal. Dengan demikian, analisis selanjutnya menggunakan rumus Pearson’s correlation coefficient untuk kedua data kelompok (Field, 2009: 177). Kriteria yang digunakan untuk menolak Hnull adalah jika harga p < 0,05 (Priyatno, 2012: 45). Berikut merupakan tabel uji korelasi antara rerata skor pretest ke posttest I kemampuan menarik kesimpulan (lihat Lampiran 4.9.2). Tabel 4. 29 Hasil Uji Korelasi antara Rerata Pretest dan Posttest I Kelompok r p Keputusan Kontrol 0,017 0,943 Positif dan tidak siginifikan Eksperimen -0,061 0,793 Negatif dan tidak signifikan Tabel 4.29 menunjukkan hasil uji korelasi antara pretest dan posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Harga p pada kedua kelompok lebih dari 0,05, artinya Hnull diterima dan Hi ditolak. Oleh karena itu, ada korelasi yang tidak signifikan antara rerata skor pretest ke posttest I pada kedua kelompok terhadap kemampuan menarik kesimpulan. Hasil pearson correlation 104

(122) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI coefficient pada kelompok kontrol positif, sedangkan pada kelompok eksperimen negatif, artinya semakin tinggi skor pretest maka semakin rendah skor posttest I siswa pada kemampuan menarik kesimpulan. Skor korelasi yang diperoleh pada kedua kelompok tidak dapat digeneralisasikan ke populasi karena data tersebut tidak signifikan. 4. Uji Retensi Pengaruh Perlakuan Uji retensi pengaruh perlakuan dilakukan untuk mengetahui apakah perlakuan yang diberikan masih kuat atau memiliki efek yang sama setelah beberapa waktu. a. Uji Asumsi Normalitas Distribusi Data Untuk menentukan uji apa yang akan digunakan, perlu diketahui terlebih dahulu distribusi data skor posttest I dan posttest II. Skor posttest I dan posttest II diuji normalitasnya menggunakan Kolmogorov-Smirnov. Kriteria untuk menerima Hnull jika harga p > 0,05, maka tidak ada deviasi (penyimpangan) dari normalitas distribusi data, atrtinya data terdistribusi normal. Hasil uji normalitas selisih skor pretest dan posttest I kemampuan menarik kesimpulan kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dapat dilihat pada tabel berikut (lihat Lampiran 4.3.2). Tabel 4. 30 Hasil Uji Normalitas Distribusi Data Selisih Skor Posttest I dan Posttest II Kemampuan Menarik Kesimpulan Kelompok Aspek p Keputusan Posttest I 0,109 Normal Kontrol Normal Posttest II 0,074 Posttest I 0,104 Normal Posttest II 0,074 Normal Eksperimen Tabel 4.30 menunjukkan bahwa harga p > 0,05 pada skor posttest I dan posttest II pada kedua kelompok yaitu kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Artinya, keempat data tersebut memiliki distribusi data normal. 105

(123) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI b. Uji Statistik Analisis data dilakukan dengan menggunakan statistik Paired samples t test. Data yang digunakan yaitu skor posttest II yang dilakukan kurang lebih 1 minggu setelah dilakukan posttest I. Hasil posttest II dibandingkan dengan posttest I untuk melihat apakah ada peingkatan skor. Kriteria untuk menolak Hnull adalah jika harga p < 0,05 maka ada perbedaan yang signifikan antara skor posttest I dan posttest II (Priyatno, 2012: 31). Berikut hasil uji Paired samples t test pada tabel 4.17 (lihat Lampiran 4.10). Tabel 4. 31 Hasil Uji Retensi Pengaruh Perlakuan Mean Peningkatan p (%) Posttest I Posttest II N o Kelompok 1 Kontrol 2,81 2,67 -5 0,288 Tidak signifikan 2 Eksperimen 3,13 2,99 -4 0,468 Tidak signifikan Keputusan Berdasarkan tabel 4.31, hasil retensi pengaruh perlakuan skor posttest I ke posttest II pada kelompok kontrol terhadap kemampuan menarik kesimpulan menunjukkan harga p sebesar 0,288 (p > 0,05). Dengan demikian, Hnull diterima dan Hi ditolak sehingga tidak ada perbedaan yang signifikan antara skor posttest I dan posttest II. Persentase peningkatan rerata skor posttest I ke posttest II pada kelompok kontrol sebesar -5%. Pada kelompok eksperimen harga p adalah 0,468 (p > 0,05). Dengan demikian, Hnull diterima dan Hi ditolak sehingga penurunannya tidak signifikan antara skor posttest I dan posttest II. Persentase peningkatan rerata skor posttest I ke posttest II pada kelompok kontrol sebesar -4%. Untuk memperjelas besar peningkatan dapat dilihat pada gambar berikut. 106

(124) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3,5 Rerata 2,5 2 2,9843 3,1271 3 2,8095 1,9533 2,6662 Kontrol 1,9524 1,5 Eksperimen 1 0,5 0 Pretest Posttest 1 Posttest 2 Gambar 4. 10 Perbandingan Skor Pretest, Posttest I, dan Posttest II Kemampuan Menarik Kesimpulan Gambar 4.10 merupakan perbandingan pretest, posttest I, dan posttest II menunjukkan bahwa rerata pretest kelompok kontrol dan eksperimen adalah 1,95. Rerata posttest I pada kelompok kontrol adalah 2,81, sedangkan kelompok eksperimen adalah 3,13. Rerata posttest II kelompok kontrol adalah 2,67, sedangkan pada kelompok eksperimen adalah 2,98. Rerata skor pretest ke posttest I pada kedua kelompok yaitu kelompok kontrol dan kelompok eksperimen mengalami peningkatan. Sedangkan rerata skor posttest I ke posttest II pada kelompok kontrol dan eksperimen mengalami penurunan. Untuk memastikan capaian skor rerata posttest II berbeda atau tidak dengan pretest maka dilakukan analisis terhadap perbedaan skor pretest dan posttest II dengan menggunakan Paired samples t-test karena data yang diuji adalah data berdistribusi normal dan dari kelompok yang sama (Field. 2009:540). Kriteria untuk menolak Hnull adalah harga p < 0,05 (Field, 2009: 53). Berikut adalah hasil uji signifikansi skor pretest ke posttest II yang dapat dilihat pada tabel berikut (lihat Lampiran 4.10). No Tabel 4. 32 Hasil Uji Signifikansi Skor Pretest ke Posttest II Rerata Kelompok p Pretest Posttest II Keputusan 1 Kontrol 1,95 2,67 0,00 Signifikan 2 Eksperimen 1,95 2,98 0,00 Signifikan 107

(125) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Berdasarkan tabel 4.18 diketahui bahwa hasil uji signifikansi skor pretest ke posttest II pada kelompok kontrol dan eksperimen terhadap kemampuan menarik kesimpulan menunjukkan bahwa harga p sebesar 0,00 (p < 0,05), maka Hnull ditolak dan Hi diterima sehingga ada perbedaan yang signifikan dan tidak mengalami penurunan antara skor pretest dan posttest II. Hal ini menunjukkan bahwa pada kelompok eksperimen dengan model pembelajaran kooperatif tipe TGT dan kelompok kontrol dengan model ceramah sama-sama efektif untuk meningkatkan kemampuan menarik kesimpulan pada siswa. 4.2 Pembahasan Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TGT terhadap kemampuan mengevaluasi dan menarik kesimpulan pada siswa kelas V SD salah satu sekolah swasta di Yogyakarta. Penelitian kuantitatif dengan model quasi experimental dengan tipe pretest-posttest nonequivalent group design ini dilakukan dengan menerapkan metode ceramah pada kelompok kontrol dan model pembelajaran kooperatif tipe TGT pada kelompok eksperimen. Kegiatan yang dilakukan pada kelompok kontrol berbeda dengan kelompok eksperimen. Siswa pada kelompok kontrol mengikuti pembelajaran dengan mendengarkan penjelasan materi secara langsung dari guru, dan mencatat apa yang guru tulis di papan tulis. Siswa pada kelompok eksperimen mengikuti pembelajaran melalui kegiatan melakukan percobaan dan tournament dengan didampingi oleh guru. 4.2.1 Pengendalian Ancaman terhadap Validitas Internal Sesudah data dianalisis dengan menggunakan berbagai teknik pengujian statistik dan diperoleh kesimpulan, sebelum menarik kesimpulan penelitian secara final perlu diperiksa terlebih dahulu apakah sungguh terdapat hubungan kausalitas antara variabel independen dan variabel dependen. Penarikan kesimpulan dalam sebuah penelitian eksperimental memerlukan kehati-hatian. Perlu dipastikan bahwa 108

(126) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI perubahan yang terjadi pada variabel dependen hanya disebabkan karena variabel independen yang digunakan sebagai treatment penelitian. Pada penelitian kuantitatif sering dibedakan pengertian validitas internal dan validitas eksternal penelitian. Validitas internal mengacu pada pengertian apakah sebuah efek muncul pada variabel dependen itu sungguh disebabkan oleh variabel independen, dan bukan oleh faktor-faktor lain di luar variabel independen. Validitas internal penelitian bisa ditingkatkan dengan mengontrol faktor-faktor di luar variabel independen yang potensial ikut mempengaruhi variabel dependen. Faktor-faktor ini yang sering disebut sebagai ancaman terhadap validitas internal penelitian. Validitas eksternal mengacu pada pengertian apakah kesimpulan yang diperoleh dari suatu penelitian bisa digeneralisasi ke populasi yang lebih luas dengan subjek penelitian yang berbeda (population validity), setting penelitian yang berbeda (ecological validity), dan waktu penelitian yang berbeda (historical validity). Berikut ini jenis-jenis ancaman terhadap validitas internal penelitian dan cara pengendaliannya. 1. Sejarah (history) Setiap perlakuan terhadap kelompok yang sedang diteliti yang terjadi antara pretest dan posttest di luar treatment penelitian dapat mempengaruihi hasil posttest pada variabel dependen. Pengaruh sejarah dapat terjadi terhadap salah satu kelompok yang diteliti terutama jika penelitian dilakukan dalam jangka waktu yang lama. Pada penelitian ini dilakukan dengan waktu yang singkat yaitu selama dua minggu sehingga ancaman terhadap validitas internal penelitian pada jenis sejarah dapat terkendali dengan baik. 2. Difusi treatment atau kontaminasi (treatment diffusion or contamination) Ancaman treatment terjadi ketika kelompok kontrol dan kelompok eksperimen diam-diam saling berkomunikasi dan saling mempelajari treatment yang diberikan pada kelompok eksperimen. Pada penelitian ini, kelompok kontrol dan kelompok eksperimen betul-betul dipisahkan saat kelompok diberikan treatment. 109

(127) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3. Perilaku kompensatoris Ancaman ini terjadi ketika kelompok kontrol mengetahui bahwa treatment yang diberikan pada kelompok eksperimen sangat berharga. Pada penelitian ini, hanya kelompok eksperimen saja yang mendapatkan treatment model pembelajaran kooperatif tipe TGT sedangkan kelompok kontrol tidak. Dengan demikian, ancaman terhadap validitas internal berupa perilaku kompensatoris tidak dapat terkendali dengan baik. 4. Maturasi (Maturation) Ancaman maturasi dipengaruhi oleh adanya perubahan biologis atau psikologis yang terjadi sepanjang waktu penelitian dan berpengaruh terhadap posttest pada variabel dependen. Pada penelitian ini, pretest dan posttest I pada kelompok kontrol dan eksperimen dilaksanakan pada waktu yang hampir berdekatan dan penelitian dilaksanakan dalam waktu singkat yaitu selama 2 minggu. Dengan demikian, ancaman validitas internal berupa maturasi dapat terkendali dengan baik. 5. Regresi Statistik Ancaman regresi statistik yaitu kecenderungan umum bahwa partisipan dengan hasil skor pretest yang tinggi biasanya mendapat skor posttest yang sangat rendah dan sebaliknya hasil pretest yang sangat rendah biasanya memperoleh posttest yang lebih tinggi. Ancaman ini dapat dikontrol dengan menggunakan uji korelasi. Pada penelitian ini, kemampuan mengevaluasi, korelasi rerata pretest dan posttest I kelompok kontrol dan eksperimen positif dan tidak signifikan. Sedangkan pada kemampuan menarik kesimpulan, korelasi rerata pretest dan posttest I pada kelompok kontrol positif dna tidak signifikan, sedangkan kelompok eksperimen yaitu negatif dan tidak signifikan. Kondisi ini ideal karena korelasinya tidaklah negatif dan signifikan. Sehingga dalam penelitian, ancaman terhadap validitas internal penelitian berupa regresi statistik dapat dikendalikan dengan baik. 110

(128) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 6. Mortalitas (mortality) Ancaman mortalitas dipengaruhi karena adanya perbedaan jumlah partisipan pada saat pretest dan posttest akibat tidak mengikuti pretest dan posttest. Pada penelitian ini, ancaman mortalitas dapat dikendalikan dengan baik karena seluruh siswa hadir pada saat pelaksanaan pretest, posttest I, dan posttest II., 7. Pengujian (testing) Pretest pada awal penelitian dapat mempengaruihi hasil posttest sehingga hasil posttest menjadi lebih tingggi jika tanpa ada pretest. Ancaman ini dapat dikontrol dengan melakukan uji perbedaan kemampuan awal yaitu pretest pada kedua kelompok. Pada penelitian ini, kelompok kontrol dan kelompok eksperimen sama-sama mendapatkan pretest di hari yang sama dan instrumen sudah diuji kelayakannya. Dengan demikian ancaman terhadap validitas internal berupa instrumentasi dapat dikendalikan dengan baik. 8. Instrumentasi (instrumentation) Instrumen yang tidak valid dan tidak reliabel menjadi ancaman serius terhadap hasil penelitian. Pada penelitian ini, instrumen yang digunakan untuk kelompok kontrol dan kelompok eksperimen sama. Penelitian ini merupakan penelitian payung sehingga instrumen terdiri dari 18 soal esai, yang masingmasing mewakili tingkat berpikir kritis menganalisis, menginterpretasi, mengevaluasi, menarik kesimpulan, mengeksplanasi, dan meregulasi diri. Siswa pada kelompok kontrol dan eksperimen sama-sama mengerjakan insrumen yang sama, sehingga ancaman terhadap validitas internal berupa instrumentasi dapat dikendalikan dengan baik. 9. Lokasi (location) Perbedaan lokasi (misalnya ukuran ruang, kenyamanan ruang, dan sebagainya) pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen saat dilakukannya treatment. Lokasi yang berbeda akan menghasilkan skor yang berbeda pula. Pada penelitian ini, kelompok kontrol dan kelompok eksperimen menggunakan ruang kelas dengan kondisi yang kurang lebih sama, sehingga ancaman terhadap validitas internal berupa lokasi dapat dikendalikan dengan baik. 111

(129) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 10. Karakteristik subjek (subject characteristics) Karakteristik subjek yang berbeda antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen menjadi ancaman yang besar bagi validitas internal penelitian. Analisis ini dapat dikelompokkan dalam dua bagian yaitu a. Kemampuan awal yang berbeda pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen akan mempengaruhi hasil posttest. Pada penelitian ini, hasil uji perbedaan kemampuan awal menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan kemampuan awal yang signifikan antara rerata skor pretest pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen untuk kemampuan mengevaluasi dan menarik kesimpulan. Oleh karena itu, ancaman validitas internal penelitian dapat dikendalikan dengan baik. b. Jumlah kelompok gender yang berbeda pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen bisa berpengaruh terhadap posttest. Pada penelitian ini, jumlah gender atara kelompok kontrol dan eksperimen memiliki perbedaan. Pada kelompok kotrol terdiri dari 4 siswa laki-laki dan 17 siswa perempuan. Sedangkan pada kelompok eksperimen terdiri dari 8 siswa lakilaki dan 13 siswa perempuan. Namun, hasil dari posttest, skor posttest 4 siswa laki-laki pada kelompok kontrol lebih besar dari rerata posttest seluruh siswa. Sehingga ancaman valliditas internal dapat dikendalikan dengan baik. 11. Implementasi Perbedaan guru mitra pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dapat berpengaruh pada hasil posttest. Pada penelitian ini, proses pembelajaran pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dilaksanakan oleh guru mitra yang sama, sehingga ancaman terhadap validitas iternal penelitian berupa implementasi dapat dikendalikan dengan baik. 112

(130) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Berikut adalah tabel ancaman validitas internal yang dapat dikendalikan dan tidak dapat dikendalikan dengan baik. No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Tabel 4. 33 Ancaman Terhadap Validitas Internal Ancaman Tingkat Terkendali Cara Pengendalian Validitas Internal Ancaman (Ya/Tidak) Penelitian dilakukan dalam waktu yang Sejarah (history) Rendah √ singkat yaitu selama 2 minggu Difusi treatment Tidak ada komunikasi tentang model atau kontaminasi pembelajaran kooperatif tipe TGT Rendah√ (diffusion of kepada kelompok kontrol secara menengah treatment or sistematis contamination) Kelompok kontrol tidak diberikan Perilaku RendahX model pembelajaran kooperatif tipe kompensatoris menengah TGT sesudah penelitian selesai Pretest dan posttest I pada kelompok kontrol dan eksperimen dilaksanakan Maturasi pada waktu yang hampir berdekatan Rendah √ (maturation) dan penelitian dilakukan dalam waktu yang singkat yaitu selama 2 minggu. Hasil uji korelasi kemampuan mengevaluasi pada kelompok kontrol dan eksperimen positif dan tidak signifikan. Sedangkan pada Regresi statistik kemampuan menarik kesimpulan pada (statistical Rendah √ kelompok kontrol yaitu positif dan regression) tidak signifikan dan pada kelompok eksperimen hasil analisis korelasi yaitu negatif dan tidak signifikan. Penelitian dilakukan dalam waktu yang singkat yaitu selama 2 minggu. Seluruh Mortalitas Menengah √ siswa hadir saat pengujian pretest, (mortality) posttest I, dan posttest II Kedua kelompok yaitu kelompok Pengujian (testing) Rendah √ kontrol dan kelompok eksperimen diberikan pretest di hari yang sama Rendah- Instrumen sudah diuji kelayakannya Instrumentasi menengah- Digunakan instrumen yang sama √ (instrumentation) tinggi pada saat pretest dan posttest Lingkungan dan kondisi ruang kelas Menengahkelompok kontrol dan eksperimen Lokasi (location) √ tinggi kurang lebih sama Karakteristik Tidak ada perbedaan kemampuan awal subjek (subject pada kelompok kontrol dan kelompok Tinggi √ characteristics) eksperimen Kemampuan Awal Kelompok kontrol dan eksperimen Perbedaan Gender Menengah √ memiliki jumlah gender yang sama Pembelajaran diimplementasikan oleh Implementasi guru yang sama untuk kelompok Tinggi √ (implementation) kontrol dan kelompok eksperimen 113

(131) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Berdasarkan tabel 4.34 dan penjelasannya, dapat diketahui bahwa jenis ancaman validitas internal berupa perilaku kompensatoris tidak dapat dikendalikan dengan baik, sedangkan ancaman berupa sejarah, difusi treatment, maturasi, regresi statistik, mortalitas, pengujian, instrumentasi, lokasi, karakteristik subjek, dan implementasi dapat dikendalikan dengan baik. 4.2.2 Analisis Pengaruh Kemampuan Mengevaluasi Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TGT berpengaruh terhadap kemampuan mengevaluasi siswa kelas V SD. Hasil analisis data menunjukkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TGT berpengaruh secara signifikan terhadap kemampuan mengevaluasi. Hal tersebut dapat terlihat dari nilai harga p sebesar 0,006 (p < 0,05) artinya Hnull ditolak dan Hi diterima. Hasil analisis tersebut menggarisbawahi bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TGT berpengaruh terhadap kemampuan mengevaluasi. Ada beberapa faktor yang membuat penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TGT berpengaruh secara signifikan terhadap kemampuan mengevaluasi antara lain, siswa merasa gembira saat belajar bersama teman-temannya serta siswa merasa dirinya tertantang dengan adanya tournament saat pelaksanaan pembelajaran. Siswa merasa senang karena dapat dapat berkompetisi dengan temannya untuk mendapatkan poin. Hal ini selaras dengan teori dari Piaget yang menekankan pentingnya kegiatan siswa yang aktif dalam membangun pengetahuan sehingga siswa akan menguasai materi lebih baik seperti megungkapkan pemikirannya baik secara tulis maupun lisan (Suparno, 2001: 134-144). Berdasarkan teori perkembangan kognitif Piaget, siswa kelas V SD termasuk dalam tahapan operasional konkret. Sehingga pembelajaran akan efektif jika siswa belajar melalui hal-hal yang konkret. Pada sebaran data untuk kelompok kontrol dengan pembelajaran menggunakan model pembelajaran ceramah dari pretest ke posttest I mengalami peningkatan. Pada indikator menilai kebenaran pernyataan organ pernapasan pada 114

(132) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ikan, menunjukkan bahwa pada nilai pretest siswa paling banyak mendapat nilai 1 yaitu sebanyak 10 siswa dan pada saat posttest I tidak ada 1 siswapun yang mendapat nilai 1. Pada posttest I siswa paling banyak mendapatkan nilai 3 yaitu sebanyak 14 siswa. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan skor pretest ke posttest I. Pada indikator menilai kebenaran pernyataan organ pernapasan pada paus, menunjukkan bahwa pada nilai pretest siswa paling banyak mendapatkan nilai 1 yaitu sebanyak 11 siswa dan pada saat posttest mengalami penurunan yaitu hanya 5 siswa. Pada posttest I siswa paling banyak mendapat nilai 2 yaitu sebanyak 9 siswa. Pada indikator menilai kebenaran penarikan kesimpulan mengenai pernapasan katak, menunjukkan bahwa pada nilai pretest siswa paling banyak mendapatkan nilai 1 dan 2 yaitu sebanyak 8 siswa dan pada saat posttest I siswa yang mendapat nikai 1 sebanyak 3 orang dan yang mendapat nilai 2 masih sama dengan pretest yaitu sebanyak 8 siswa. Pada posttest I siswa paling banyak mendapat nilai 2 dan 3 yaitu masing-masing berjumlah 8 siswa. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan skor dari pretest ke posttest I. Hasil sebaran data menunjukkan bahwa pada kelompok kontrol siswa mendapat nilai pretest paling banyak pada nilai 1 sebanyak 29 siswa, sedangkan pada posttest I siswa paling banyak mendapat nilai 3 sebanyak 28 siswa. Selain itu, siswa yang mendapat skor 1 berkurang, sedangkan siswa yang mendapat skor 2,3, dan 4 bertambah pada saat posttest I. Pada sebaran data kelompok eksperimen dengan model pembelajaran kooperatif tipe TGT mengalami peningkatan dari pretest ke posttest I. Pada indikator menilai kebenaran tentang pernapasan pada ikan, menunjukkan bahwa pada nilai pretest siswa paling banyak mendapatkan nilai 2 yaitu sebanyak 10 siswa dan pada posttest I mengalami penurunan yaitu sebanyak 1 siswa. Pada posttest I siswa paling banyak mendapat nilai 3 yaitu sebanyak 14 siswa. Pada indikator menilai kebenaran tentang pernapasan pada paus, menunjukkan bahwa nilai pretest siswa paling banyak mendapat nilai 2 yaitu sebanyak 12 siswa dan pada saat posttest I mengalami penurunan menjadi 8 orang siswa. Pada posttest I siswa paling banyak mendapat nilai 2 yaitu sebanyak 8 siswa, pada nilai 3 dan 4 mengalami peningkatan. Pada indikator menilai kebenaran penarikan kesimpulan tentang pernapasan pada katak, 115

(133) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI menunjukkan bahwa pretest siswa yang paling banyak mendapatkan nilai 3 yaitu sebanyak 8 siswa dan pada posttest I nilai 3 mengalami peningkatan menjadi 12 siswa. Hasil sebaran data menunjukkan bahwa pada kelompok ekperimen siswa yang mendapat nilai pretest paling banyak pada nilai 2 sebanyak 28 siswa, sedangkan pada posttest I siswa paling banyak mendapatkan nilai 3 yaitu sejumlah 31 siswa. Selain itu, siswa yang mendapat skor 1 dan 2 berkurang, sedangkan siswa yang mendapat skor 3 dan 4 bertambah pada saat posttest I. Sehingga terlihat bahwa terjadi peningkatan skor dari pretest ke posttest I pada kelompok eksperimen dengan model pembelajaran kooperatif tipe TGT pada kemampuan mengevaluasi. Data hasil analisis menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TGT berpengaruh secara signifikan terhadap kemampuan mengevaluasi. Hal ini dibuktikan dengan uji signifikansi pengaruh perlakuan yang menunjukkan harga p sebesar 0,006 (p < 0,05), maka Hnull ditolak dan Hi diterima. Hal ini berarti bahwa ada perbedaan yang signifikan antara rerata selisih skor pretest ke posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Artinya penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TGT berpengaruh secara signifikan terhadap kemampuan mengevaluasi pada kelompok eksperimen. Hasil temuan penelitian ini didukung dengan penelitian yang dilakukan oleh Subandi dan Setyoningsih (2014) melakukan penelitian dengan tujuan mengetahui pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe TGT terhadap penguasaam bilangan bahasa Jepang. Dalam penelitian ini, memiliki perbedaan dengan penelitianpenelitian sebelumnya. Meskipun demikian, penelitian tersebut sama dengan penelitia yang dilakukan oleh peneliti yaitu menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament. Berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Khasanah (2015) bahwa model pembelajaran Teams Games Tournament (TGT) dapat mempengaruhi hasil belajar Matematika. Begitu juga dengan penelitian yang dilakukan oleh Puspasari (2017) melakukan penelitian dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran kooperatif Teams Games Tournament (TGT) peningkatan hasil belajar siswa mata pelajaran ekonomi. 116

(134) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Selain itu Syarifah dan Sumardi (2015) melakukan penelitian untuk mengetahui apakah model pembelajaran fisika berbasis Malcom’s Modeling Method dapat meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan motivasi belajar. Hasil dari penelitiannya ini yaitu tahap konstruksi model tersebut dapat digunakan untuk melatih keterampilan berpikir kritis yang meliputi menganalisis, menginduksi dan mempertimbangkan hasil induksi serta merancang strategi dan taktik. Penelitian tersebut sama dengan penelitian yang dilakukan peneliti dimana meneliti kemampuan berpikir kritis. Akan tetapi peneliti menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TGT untuk melihat pengaruhnya terhadap kemampuan berpikir kritis menurut Peter Facione. Pada uji besar pengaruh perlakuan menunjukkan pengaruh yang diakibatkan diakibatkan oleh variabel dependen yaitu kemampuan mengevaluasi adalah sebesar 17% yang dikategorikan dalam efek menengah. Model pembelajaran kooperatif tipe TGT memberikan pengaruh 17% terhadap kemampuan mengevaluasi, sedangkan 83% lainnya merupakan pengaruh yang disebabkan oleh variabel lain di luar variabel yang diteliti (Kasmadi & Sunariah, 2013: 151). Variabel lain tersebut dapat berasal dari diri siswa sendiri antara lain kesehatan, motivasi, minat, dan intelegensi. Selain itu terdapat variabel yang berasal dari lingkungan seperti kondisi lingkungan di sekitar dan latar belakang keluarga. Perbandingan rerata selisih skor pretest ke posttest I terhadap kemampuan mengevaluasi pada kelompok kontrol dan eksperimen dapat dilihat pada gambar 4.2. Kelompok eksperimen mengalami peningkatan rerata skor pretest ke posttest I lebih besar dibandingkan kelompok kontrol. Hal ini berarti terjadi peningkatan skor pretest ke posttest I pada kelompok kontrol dengan model ceramah maupun pada kelompok eksperimen dengan model pembelajaran kooperatif tipe TGT terhadap kemampuan mengevaluasi. Pada uji besar efek peningkatan rerata skor pretest ke posttest I menunjukkan bahwa persentase peningkatan skor pretest ke posttest I pada kelompok eksperimen dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TGT lebih besar daripada kelompok kontrol dengan penerapan model ceramah. Persentase peningkatan skor 117

(135) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI pretest ke posttest I pada kelompok eksperimen memiliki besar pengaruh yang setara dengan efek menengah dan persentase peningkatan skor pretest ke posttest I pada kelompok kontrol sebesar 6% dengan efek menengah. Hasil uji signifikansi rerata skor pretest ke posttest I kelompok kontrol dan kelompok eksperimen terhadap kemampuan mengevaluasi sama-sama memiliki harga p sebesar 0,006 (p < 0,05). Hal ini menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara rerata skor pretest ke posttest I terhadap kemampuan mengevaluasi pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Artinya terdapat peningkatan skor yang signifikan dari skor pretest ke posttest I terhadap kemampuan mengevaluasi pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Uji korelasi rerata skor pretest ke posttest I menunjukkan bahwa pada kelompok kontrol ada korelasi yang tidak signifikan antara hasil rerata skor pretest dan posttest I pada kemampuan mengevaluasi dan hubungannya menunjukkan hasil yang positif. Pada kelompok eksperimen, uji korelasi rerata skor pretest dan posttest I menunjukkan bahwa ada korelasi atau hubungan yang tidak signifikan antara hasil rerata skor pretest dan posttest I pada kemampuan mengevaluasi dan hubungannya menunjukkan hasil positif. Pengaruh model pembelajaran kooperatof tipe TGT tidak sekuat pada posttest I karena terjadi penurunan skor rerata pada posttest II terhadap kemampuan mengevaluasi. Setelah kurang lebih 1 minggu dari posttest I, kedua kelompok mengerjakan posttest II dengan tujuan untuk mengetahui apakah perlakuan yang diberikan memberikan efek yang sama setelah beberapa waktu. Hasil uji retensi pengaruh perlakuan menunjukkan bahwa pada kelompok kontrol dan eksperimen tidak terdapat penurunan skor yang signifikan dari posttest I ke posttest II pada kemampuan mengevaluasi. Kelompok eksperimen mengalami penurunan yang lebih tinggi yaitu sebesar 5% dibandingkan kelompok kontrol yang hanya menurun 2%. Namun penurunan pada kedua kelompok yaitu kelompok kontrol dan kelompok eksperimen tidak signifikan. 118

(136) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.2.3 Analisis Pengaruh Kemampuan Menarik Kesimpulan Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TGT tidak berpengaruh terhadap kemampuan menarik kesimpulan siswa kelas V SD. Hal tersebut dapat terlihat dari nilai harga p sebesar 0,113 (p > 0,05) artinya Hnull diterima dan Hi ditolak. Hasil analisis tersebut menggarisbawahi bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TGT tidak berpengaruh terhadap kemampuan menarik kesimpulan. Faktor yang membuat penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TGT tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kemampuan menarik kesimpulan antara lain, kondisi beberapa siswa yang kurang sehat saat pelaksanaan posttest I. Hal ini tentunya kurang sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Piaget bahwa kegiatan siswa yang aktif dalam membangun pengetahuan sehingga siswa akan menguasai materi lebih baik seperti mengungkapkan pemikirannya baik tulis maupun tulisan (Suparno, 2001: 134-144). Hal ini juga belum sesuai dengan manfaat model pembelajaran kooperatif yaitu bahwa siswa akan memperoleh hasil yang maksimal setelah penerapan model pembelajaran tersebut. Dengan demikian, pembelajaran yang aktif dan menyenangkan bagi siswa belum tentu efektif dalam meningkatkan kemampuan siswa. Pada sebaran data untuk kelompok kontrol dengan pembelajaran menggunakan model pembelajaran ceramah dari pretest ke posttest I mengalami peningkatan. Pada indikator menguji informasi yang relevan tentang cara mengganti air dalam akuarium, menunjukkan bahwa pada nilai pretest siswa paling banyak mendapat nilai 1 dan 2 yaitu sebanyak 8 siswa dan pada saat posttest I pada nilai 1 mengalami penurunan yaitu hanya 1 siswa yang mendapatkan nilai tersebut. Pada posttest I siswa paling banyak mendapatkan nilai 2 dan 3 yaitu sebanyak 8 siswa. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan skor pretest ke posttest I. Pada indikator mengemukakan alternatif-alternatif untuk memecahkan masalah, menunjukkan bahwa pada nilai pretest siswa paling banyak mendapatkan nilai 2 yaitu sebanyak 12 siswa dan pada saat posttest mengalami penurunan yaitu hanya 4 siswa. Pada posttest I siswa paling banyak mendapat nilai 3 yaitu sebanyak 15 siswa. Pada indikator 119

(137) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI membuat kesimpulan tentang manfaat filter pada akuarium menunjukkan bahwa pada nilai pretest siswa paling banyak mendapatkan nilai 2 yaitu sebanyak 14 siswa dan pada saat posttest I siswa yang mendapat nilai 2 mengalami penurunan yaitu yang mendapat nilai 2 sebanyak 7 siswa. Pada posttest I siswa paling banyak mendapat nilai 3 yaitu berjumlah 11 siswa. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan skor dari pretest ke posttest I. Hasil sebaran data menunjukkan bahwa pada kelompok kontrol siswa mendapat nilai pretest paling banyak pada nilai 2 sebanyak 34 siswa, sedangkan pada posttest I siswa paling banyak mendapat nilai 3 sebanyak 34 siswa. Selain itu, siswa yang mendapat skor 1 dan 2 berkurang, sedangkan siswa yang mendapat skor 3 dan 4 bertambah pada saat posttest I. Pada sebaran data kelompok eksperimen dengan model pembelajaran kooperatif tipe TGT mengalami peningkatan dari pretest ke posttest I. Pada indikator menilai menguji informasi yang relevan tentang cara mengganti air dalam akuarium, menunjukkan bahwa pada nilai pretest siswa paling banyak mendapatkan nilai 3 yaitu sebanyak 8 siswa dan pada posttest I mengalami peningkatan yaitu sebanyak 10 siswa. Pada posttest I siswa paling banyak mendapat nilai 3 yaitu sebanyak 10 siswa. Pada indikator mengemukakan alternatif-alternatif untuk memecahkan masalah menunjukkan bahwa nilai pretest siswa paling banyak mendapat nilai 1 yaitu sebanyak 8 siswa dan pada saat posttest I tidak ada siswa yang mendapatkan nilai 1. Pada posttest I siswa paling banyak mendapat nilai 3 yaitu sebanyak 11 siswa. Pada indikator membuat kesimpulan tentang manfaat filter pada akuarium, menunjukkan bahwa pretest siswa yang paling banyak mendapatkan nilai 1 dan 2 yaitu sebanyak 8 siswa dan pada posttest I tidak ada siswa yang mendapat nilai 1 dan nilai 2 mengalami penurunan yaitu sebanyak 4 siswa. Hasil sebaran data menunjukkan bahwa pada kelompok ekperimen siswa yang mendapat nilai pretest paling banyak pada nilai 1 sebanyak 23 siswa, sedangkan pada posttest I siswa paling banyak mendapatkan nilai 3 yaitu sejumlah 30 siswa. Selain itu, siswa yang mendapat skor 1 dan 2 berkurang, sedangkan siswa yang mendapat skor 3 dan 4 bertambah pada saat posttest I. Terlihat bahwa terjadi peningkatan skor dari pretest ke posttest I pada 120

(138) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI kelompok eksperimen dengan model pembelajaran kooperatif tipe TGT pada kemampuan menarik kesimpulan. Pada uji besar pengaruh perlakuan menunjukkan pengaruh yang diakibatkan oleh variabel dependen yaitu kemampuan menarik kesimpulan adalah sebesar 6% yang dikategorikan dalam efek kecil. Model pembelajaran kooperatif tipe TGT memberikan pengaruh 6% terhadap kemampuan menarik kesimpulan, sedangkan 94% lainnya merupakan pengaruh yang disebabkan oleh variabel lain di luar variabel yang diteliti (Kasmadi & Sunariah, 2013: 151). Variabel lain tersebut dapat berasal dari diri siswa sendiri antara lain kesehatan, motivasi, minat, dan intelegensi. Selain itu terdapat variabel yang berasal dari lingkungan seperti kondisi lingkungan di sekitar dan latar belakang keluarga. Perbandingan rerata selisih skor pretest ke posttest I terhadap kemampuan menarik kesimpulan pada kelompok kontrol dan eksperimen dapat dilihat pada gambar 4.7. Kelompok eksperimen mengalami peningkatan rerata skor pretest ke posttest I lebih besar dibandingkan kelompok kontrol. Hal ini berarti terjadi peningkatan skor pretest ke posttest I pada kelompok kontrol dengan model ceramah maupun pada kelompok eksperimen dengan model pembelajaran kooperatif tipe TGT terhadap kemampuan menarik kesimpulan. Pada uji besar efek peningkatan rerata skor pretest ke posttest I menunjukkan bahwa persentase peningkatan skor pretest ke posttest I pada kelompok kontrol dengan penerapan penerapan model ceramah lebih besar daripada kelompok eksperimen dengan model pembelajaran kooperatif tipe TGT. Persentase peningkatan skor pretest ke posttest I pada kelompok eksperimen memiliki besar pengaruh yang setara dengan efek sangat penting dan persentase peningkatan skor pretest ke posttest I pada kelompok kontrol sebesar 72%. Hasil uji signifikansi rerata skor pretest ke posttest I kelompok kontrol dan kelompok eksperimen terhadap kemampuan mengevaluasi sama-sama memiliki harga p sebesar 0,113 (p > 0,05). Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara rerata skor pretest ke posttest I terhadap kemampuan menarik kesimpulan pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Artinya tidak terdapat peningkatan skor yang signifikan dari 121

(139) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI skor pretest ke posttest I terhadap kemampuan menarik kesimpulan pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Uji korelasi rerata skor pretest ke posttest I menunjukkan bahwa pada kelompok kontrol ada korelasi yang tidak signifikan antara hasil rerata skor pretest dan posttest I pada kemampuan mengevaluasi dan hubungannya menunjukkan hasil yang positif. Pada kelompok eksperimen, uji korelasi rerata skor pretest dan posttest I menunjukkan bahwa ada korelasi atau hubungan yang tidak signifikan antara hasil rerata skor pretest dan posttest I pada kemampuan mengevaluasi dan hubungannya menunjukkan hasil negatif. Pengaruh model pembelajaran kooperatof tipe TGT tidak sekuat pada posttest I karena terjadi penurunan skor rerata pada posttest II terhadap kemampuan menarik kesimpulan. Setelah kurang lebih 1 minggu dari posttest I, kedua kelompok mengerjakan posttest II dengan tujuan untuk mengetahui apakah perlakuan yang diberikan memberikan efek yang sama setelah beberapa waktu. Hasil uji retensi pengaruh perlakuan menunjukkan bahwa pada kelompok kontrol dan eksperimen tidak terdapat penurunan skor yang signifikan dari posttest I ke posttest II pada kemampuan mengevaluasi. Kelompok kontrol mengalami penurunan yang lebih tinggi yaitu sebesar 5% dibandingkan kelompok eksperimen yang hanya menurun 4%. Namun penurunan pada kedua kelompok yaitu kelompok kontrol dan kelompok eksperimen tidak signifikan. Data hasil analisis menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TGT tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kemampuan menarik kesimpulan. Hal ini dibuktikan dengan uji signifikansi pengaruh perlakuan yang menunjukkan harga p sebesar 0,113 (p > 0,05), maka Hnull diterima dan Hi ditolak. Hal ini berarti bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara rerata selisih skor pretest ke posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Artinya penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TGT tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kemampuan menarik kesimpulan pada kelompok eksperimen. 122

(140) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.2.4 Pembahasan Lebih Lanjut Hasil dalam penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TGT berpengaruh secara signifikan terhadap kemampuan mengevaluasi dan berpengaruh secara tidak signifikan terhadap kemampuan menarik kesimpulan. Hal tersebut sesuai dengan penelitian yang relevan yang menunjukkan bahwa 1) model pembelajaran kooperatif tipe TGT berpengaruh terhadap hasil belajar Matematika (Khasanah, 2015), 2) model pembelajaran kooperatif tipe TGT dapat meningkatkan hasil belajar pada mata pelajaran ekonomi (Puspasari, 2017), 3) model pembelajaran kooperatif tipe TGT terhadap penguasaan bilangan bahasa Jepang (Subandi dan Setyoningsih, 2014). Pembelajaran kooperatif tipe TGT sama-sama berpengaruh terhadap variabel dependen, di mana pada penelitian ini variabel dependennya adalah kemampuan mengevaluasi dan menarik kesimpulan. Hasil penelitian yang dilakukan oleh PISA (Programme for International Student Assessment) pada tahun 2009 Indonesia menduduki peringkat 57 dari 65 negara di dunia (OECD, 2009: 1). Hasil PISA pada tahun 2012 menunjukkan bahwa Indonesia menduduki peringkat 64 dari 65 negara di dunia dengan skor 382 pada mata pelajaran IPA (OECD, 2013: 232). Pada mata pelajaran yang sama, hasil PISA pada tahun 2015, Indonesia menduduki peringkat 62 dari 70 negara di dunia (OECD, 2016:8). Berdasarkan hasil tersebut, menunjukkan bahwa Indonesia mengalami penurunan dari tahu 2009 ke 2012, kemudian pada tahu 2015 Indonesia mengalami peningkatan posisi. Meskipun demikian, peningkatan pada 2015 khususnya pada mata pelajaran IPA masih di posisi 10 terbawah. Adanya dugaan faktor rendahnya kemampuan siswa pada mata pelajaran IPA disebabkan karena sebagian besar guru yang menerapkan metode ceramah khususnya di SD dan guru berperan aktif sebagai sumber belajar siswa. Hal ini sesuai dengan pendapat Suyanto dan Jihad (2013: 6) yang menyatakan bahwa metode ceramah, siswa tidak dilibatkan dalam belajar terutama dalam mencari sumber belajar atau pasif. Meskipun telah ditemukan berbagai model pembelajaran inovatif di Indonesia, tetapi masih banyak pula guru yang menerapkan metode ceramah di berbagai jenjang 123

(141) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI pendidikannya. Harapannya, dengan penerapan model pembelajaran inovatif, semakin memudahkan siswa dalam mengembangkan kemampuannya agar lebih optimal. Salah satu model pembelajaran inovatif adalah model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) memiliki dimensi kegembiraan yang diperoleh dari penggunaan permainan (Slavin, 2008:14). Model pembelajaran kooperatif tipe TGT memiliki manfaat antara lain yaitu siswa memiliki kebebasan untuk berinteraksi menggunakan pendapatnya, motivasi belajar bertambah, dan pemahaman lebih mendalam terhadap pokok bahasan (Taniredja, Faridli, & Harmianto, 2011: 73). Melalui model pembelajaran kooperatif tipe TGT, setiap siswa memiliki tanggung jawab dalam pembagian tugas, dapat menjalin interaksi dan komunikasi antar siswa secara mandiri. Menjalin komunikasi antar siswa terjadi saat siswa bertukar informasi saat belajar dalam tim sesuai pada langkah dalam model pembelajaran kooperatif tipe TGT. Hal ini akan membantu meningkatkan pemahaman pada diri siswa. Upaya untuk meningkatkan kemampuan siswa pada mata pelajaran IPA salah satunya dengan mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa pada kemampuan mengevaluasi dan menarik kesimpulan. Kemampuan mengevaluasi merupakan kecakapan untuk menilai kredibilitas pernyataan atau ungkapan lain yang mencerminkan persepsi, pengalaman, situasi, penilaian, kepercayaan, atau opini seseorang untuk menimbang bobot dari suatu penalaran yang berkaitan dengan pernyataan, deskripsi, pertanyaan, atau ungkapan lainnya. Sedangkan kemampuan menarik kesimpulan merupakan kemampuan dalam mengidentifikasi dan memastikan elemen-elemen yang dibutuhkan untuk menarik kesimpulan yang masuk akal, merumuskan dugaan dan hipotesis, mempertimbangkan informasi yang relevan dan memperkirakan konsekuensi-konsekuensi yang timbul dari data, pernyataan, bukti, prinsip, penilaian, kepercayaan, pertanyaan, konsep, dsm (Facione dalam Tawil, 2014: 10). Suasana kelas dan aktivitas antara pembelajaran dengan metode ceramah dan model pembelajaran kooperatif tipe TGT menunjukkan adanya perbedaan. Suasana kelas dengan model pembelajaran kooperatif tipe TGT terasa sangat ramai karena 124

(142) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI adanya permainan dalam proses pembelajaran. Siswa saling bertukar pengetahuan dengan teman-teman kelompoknya sehingga siswa dapat menguasai materi secara lebih mendalam. Siswa juga sangat berperan aktif untuk mendapatkan poin sebanyakbanyaknya ketika pelaksanaan tournament. Dengan harapan akan memenangkan tournament sehingga tim siswa akan mendapatkan penghargaan. Piaget menekankan pentingnya kegiatan siswa yang aktif dalam membangun pengetahuan sehingga siswa akan menguasai materi lebih baik seperti mengungkapkan pemikirannya baik secara tertulis maupun lisan (Suparno, 2001: 134-144). Suasana di kelas dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TGT sangatlah berbeda dengan kelas yang menggunakan metode ceramah. Kelas dengan metode ceramah terasa sangat kondusif, siswa lebih banyak diam karena mendengarkan penjelasan yang diberikan guru. Guru berdiri di depan kelas dan seluruh siswa memperhatikan guru yang ada di depan, sehingga guru sebagai pusat belajar siswa. Siswa menerima materi hanya dari penjelasan yang diberikan oleh guru, baik secara lisan maupun tertulis. Dalam hal ini, guru berperan aktif menjadi sumber belajar, sedangkan siswa kurang diberikan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan dalam menyampaikan ide (Suyanto & Jihad, 2013: 6). Sehingga dalam proses pembelajaran di kelas, siswa terlihat tidak bersemangat dan mengantuk. Supaya kelas tidak terasa kaku, guru memberikan kesempatan pada siswa untuk bertanya berkaitan dengan materi yang telah diajarkan dan sebaliknya. Namun hasilnya, tidak banyak siswa yang bertanya, bahkan ketika guru bertanya tidak banyak siswa yang merespon. Dengan demikian, model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) dapat menjadi salah satu solusi untuk membantu memecahkan masalah pendidikan di Indonesia. Khususnya pada mata pelajaran IPA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TGT memberikan efek menengah terhadap kemampuan mengevaluasi dengan harga r = 0,415 atau setara dengan 17% dan memberikan efek kecil terhadap kemampuan menarik kesimpulan dengan harga r = 0,25 atau setara dengan 6%. 125

(143) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB V PENUTUP Bab ini berisi kesimpulan, keterbatasan penelitian, dan saran. Kesimpulan berisi hasil penelitian dan menjawab hipotesis penelitian. Keterbatasan penelitian berisi kekurangan yang ada selama penelitian dilaksanakan. Saran berisi masukan dari penliti untuk penelitian yang selanjutnya. 5.1 Kesimpulan 5.1.1 Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) berpengaruh terhadap kemampuan mengevaluasi pada siswa kelas V SD. Hasil analisis terhadap data penelitian mengafirmasi hipotesis penelitian. Rerata selisih skor pada kelompok eksperimen (M = 1,25, SE = 0,14) lebih tinggi dari pada rerata selisih skor pada kelompok kontrol (M = 0,71, SE = 0,12). Perbedaan tersebut signifikan dengan t(40) = -3,00 dan p = 0,006. Harga p < 0,05 maka Hnull ditolak dan Hi diterima, artinya ada perbedaan yang signifikan antara selisih skor pretest-posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen pada kemampuan mengevaluasi. Besar pengaruh perlakuan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TGT terhadap kemampuan mengevaluasi adalah r = 0,415 atau 17% yang setara dengan efek menengah. 5.1.2 Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) tidak berpengaruh terhadap kemampuan menarik kesimpulan siswa kelas V SD. Hasil analisis terhadap data penelitian menolak hipotesis penelitian. Rerata selisih skor pada kelompok eksperimen (M = 1,17, SE = 0,16) lebih tinggi dari pada rerata selisih skor pada kelompok kontrol (M = 0,86, SE = 0,11). Meskipun demikian perbedaan tersebut tidak signifikan dengan t(40) = -1,62 dan p = 0,113. Harga p > 0,05 maka Hnull tidak ditolak (failed to reject Hnull). Besar pengaruh perlakuan model pembelajaran 126

(144) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI kooperatif tipe TGT terhadap kemampuan menarik kesimpulan adalah r = 0,25 atau 6% yang setara dengan efek kecil. 5.2 Keterbatasan Penelitian 5.2.1 Ancaman validitas yaitu perilaku kompensatoris tidak dapat dikendalikan dengan baik. Meskipun demikian kelompok yang tidak mendapatkan treatment sudah diberikan pengertian sehingga tidak mengalami demoralisasi. 5.2.2 Hasil penelitian ini terbatas pada siswa kelas V SD Budya Wacana I Yogyakarta, sehingga hasil penelitian belum dapat digeneralisasikan pada SD lainnya. 5.3 Saran 5.3.1 Peneliti selanjutnya, sebaiknya meyakinkan kepada kelompok kontrol bahwa mereka juga akan mendapatkan treatment yang sama dengan kelompok eksperimen, begitu juga sebaliknya. 5.3.2 Penelitian ini perlu diujicobakan ke sekolah lain dengan penelitian yang serupa 127

(145) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR PUSTAKA Arifin, M., Nurjhani, M., & Muslim. (2009). Ilmu Pengetahuan Alam dan lingkunganku. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. Arikunto, S. (2013). Dasar-dasar evaluasi pendidikan Edisi 2. Jakarta: Bumi Aksara. Artz, A. F., & Newman Azwar, S. (2008). Reliabilitas dan validitas. Yogyakarta: Pustaka Belajar. Best, J. W., & Kahn, J. V. (2006). Research in education (10th ed). Boston: Pearson. Cohen, L., Manion, L., & Morrison, K. (2007). Research methods in education (6th ed.). London and New York: Routledge. Crain, W. (2007). Teori perkembangan konsep dan aplikasi. Yogyakarta: Pustaka Belajar. Cresswell, J. (2015). Riset pendidikan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi riset kualitatif & kuantitatif. Yogyakarta: Pustaka Belajar Crismono, P.C. (2017). Pengaruh outdoor learning terhadap kemampuan berpikir kritis matematis siswa. Jurnal Pendidikan Matematika dan Sains, IV (2), hal 106-113. Diakses pada tanggal 2 April 2018, dari http://jorunal.uny.ac.id/index.php/pgsd/article/view/15482 Darmawan, D. (2013). Metode penelitian kuantitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya, Daryanto & Rahardjo, M. (2012). Model pembelajaran inovatif. Yogyakarta: Gava Media. Desmita. (2007). Psikologi perkembangan. Bandung: Remaja Rosdakarya. Desmita. (2009). Psikologi perkembangan peserta didik. Bandung: Remaja Rosdakarya. Facione, P. (2010). Critical thinking: What it is and why it counts. Insight Assesment. Facione, P. A. (1990). Critical thinking: A statement of expert consens for purposes of educational assesment and instruction. Millbrae: California Academic Press. Fathurrohman, M. (2017). Belajar dan pembelajaran modern: Konsep dasar, inovasi, dan teori pembelajaran. Yogyakarta: Penerbit Garudhawaca. 128

(146) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Field, A. (2009). Discovering statistics using SPSS (3rd ed). Los Angeles: Sage. Fraenkel, R., & Wallen, E. (2012). How to design and evaluate research in education 8th edition. Boston: McGraw-Hill Higher Education. Ghozali, I. (2006). Aplikasi analisis multivariate dengan program SPSS. Undip. Ghozali, I. (2009). Aplikasi analisis multivariate dengan program SPSS. Semarang: Universitas Diponegoro. Gunawan, A. (2009). Buku pintar Selkolah Dasar. Jakarta: Lima Bintang Hamdayama, Jumanta. (2014). Model dan metode pembelajaran kreatif dan berkarakter. Bogor: Ghalia Indonesia. Huda, M. (2014). Cooperative learning: Metode, teknik, struktur dan model terapan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Isjoni. (2009). Pembelajaran kooperatif: Meningatkan kecerdasan komunikasi antar peserta didik. Yogyakarta: Pustaka Belajar. Johnson, B. & Christensen, L. (2008). Educational research: Quantitative, qualitative, and mixed approaches (3rd. Ed.). California: Sage Publications. Kasmadi & Sunariah, N. S. (2013). Panduan modern penelitian kuantitatif. Bandung: Alfabeta. Khasanah, F. (2015). Eksperimentasi pembelajaran matematika dengan model kooperatif tipe teams games tournament (TGT) terhadap hasil belajar matematika ditinjau dari motivasi belajar matematika siswa sekolah dasar sekecamatan depok. Likithapradnya,17(2).96-106. Diakses pada tanggal 16 Mei 2108, dari http://likhitapradnya.wisnuwardhana.ac.id/index.php/likhitapradnya/article/vie w/19 Krathwohl, D. R. (2004). Methods of educational and social science research, an integrated approach, second edition. Illinois: Waveland Press. Margono, S. (2007). Metodologi penelitian pendidikan. Jakarta: Rineka Putra. Nadrah, Tolla, I., Ali, M. S., & Muris. (2017). The effect of cooperative learning model of teams games tournament (TGT) and student’s motivation toward physics learning outcome. International Education Studies, 10 (2). 129

(147) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 123-130. Diakses tanggal 23 April 2018, dari http://scholar.google.co.id/scholar?hl=id&as_sdt=0,5&q=nadrah,+tolla+dan+ murid#d=gs_qabs&p=&u=%23p%DODPcXDX-CcUJ Neuman, W. L. (2013). Metodologi penelitian sosial: Pendekatan kualitatif & kuantitatif (Ed. 7). Jakarta: PT. Indeks. Nurgiyantoro, B. (2010). Penilaian pembelajaran bahasa. Yogyakarta: UNY. OECD. (2013). PISA 2012 result: What students know and can do-student performance in athematics, reading, and science. Diakses tanggal 2603-2018. Diakses dari www.oecd.ord.pisa/keyfinding/PISA-2012-resultsoverview.pdf OECD. (2016). PISA 2015 Result in focus. Diakses tanggal 25 Maret 2018, dari www.oecd.ord/pisa/pisa2015-results-in-focus.pdf. Papalia, D. E., Old, S.W., & Feldman, R.D. (2008). Human development (Psikologi Perkembangan). Jakarta: Kencana. Permana, E. P. (2016). Penerapan metode pembelajaran kooperatif numbered heads together (NHT) untuk meningkatkan hasil belajar dan berpikir kritis siswa pada mata pelajaran IPS SD. Diakses tanggal 27 Maret 2018. Jurnal Pendidikan Dasar Nusantara, 1 (2). 49-58. Diakses pada tanggal 01 April 2018, dari http://ojs.unpkediri.ac.id/index.php/pgsd/article/biew/210/140 Priyatno, D. (2012). Belajar praktis analisis parametrik dan non parametrik dengan SPSS & prediksi pertanyaan pendadaran skripsi dan tesis. Yogyakarta: Gava Media. Rusman. (2010). Model-model pembelajaran: Mengembangkan profesionalisme guru. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada. Rusman. (2012). Model-model pembelajaran : Mengembangkan profesionalisme guru edisi kedua. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada. Salkind, N. J. (2009). Teori-teori perkembangan manusia. Bandung: Nusa Media. Samatowa, U. (2011). Pembelajaran IPA Sekolah Dasar. Jakarta: PT. Indeks. Santrock, J. W. (2009). Psikologi pendidikan: Educational psychology edisi 3 buku 1. Jakarta: Salemba Humanika. Santrock, J. W. (2012). Life-span development: Perkembangan masa-hidup edisi ketigabelas jilid I. Jakarta: Erlangga. 130

(148) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Sarwono, J. (2006). Metode penelitian kuantitatif dan kualitatif. Yogyakarta: Graha Ilmu. Setyosari, P. (2010). Metode penelitian pendidikan dan pengembangan. Jakarta: Kencana Shoimin, A. (2014). 68 model pembelajaran inovatif dalam kurikulum 2013. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media. Slavin, R. E. (2008). Cooperative learning: Teori, riset dan praktik. Bandung: Nusa Media. Solihatin & Raharja. (2007). Cooperative learning analisis model pembelajaran IPS. Jakarta: PT Bumi Aksara. Subandi., Litt, M., & Setyoningasih, E. (2014). Pengaruh metode pembelajaran kooperatif tipe TGT (teams game tournament) dengan menggunakan media soal teka-teki silang terhadap penguasaan bilangan bahasa jepang pada siswa kelas XII A di SMK Gajah Mada Mejayan tahun ajaran 2013/2014. Hikari, 2(2). 35-43. Diakses pada 16 Maret 2018, dari http://jurnalmahasiswa.unesa.ac.id/index.php/kejepanganunesa/article/view/11139/14506 Sudijono, A. (2011). Pengantar evaluasi pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Sugiyono. (2015). Metode penelitian kuantitatif kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta. Sugiyono. (2016). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Bandung: CV Alfabeta. Sukardi. (2009). Evaluasi pendidikan: Prinsip dan operasionalnya. Jakarta: Bumi Aksara. Sumanto. (2014). Teori dan aplikasi metode penelitian. Jakarta: PT Buku Seru Suparno, P. (2001). Teori perkembangan kognitif Piaget. Yogyakarta: Kanisius. Supratiknya, A. (2002). Service learning, belajar dari konteks kehidupan masyarakat: Paradigma pembelajaran berbasis problem, mempertemukan Jean Piaget dan Lev Vygotsky. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma. Suprijono, A. (2009). Cooperative learning (teori dan aplikasi PAIKEM). Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 131

(149) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Suprijono, A. (2016). Model-model pembelajaran emansipatoris. Yogyakarta: Pustaka Belajar. Surapranata, S. (2009). Cooperative learning: Teori dan aplikasi PAIKEM. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Susanto, A. (2013). Teori pembelajaran di sekolah dasar. Jakarta: Prenada Media Group. Sutikno, S. (2012). Manajemen pendidikan: Langkah praktis mewujudkan lembaga pendidikan yang unggul. Holistica: Lombok. Syarifah & Sumardi, Y. (2015). Pengembangan model pembelajaran malcom’s modeling untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan motivasi belajar siswa. Jurnal Inovasi Pendidikan IPA, 1 (2). 237-247). Diakses pada 18 Agustus 2018, dari https://journal.uny.ac.id/index.php/jipi/article/view/7510 Tawil & Liliasari. (2013). Berpikir kompleks dan implementasinya dalam mata pelajaran ipa. Makasar: Badan Penerbit Universitas Negeri Makasar. Taniredja, T., & Faridli, M. (2014). Model-model pembelajaran inovatif dan efektif. Bandung: Alfabeta. Taniredja, T., & Mustafidah, H. (2011). Penelitian kuantitatif (sebuah pengantar). Bandung: Alfabeta. Tinio, V. L. (2003). ICT in education. http://www.apdip.net/publications/iespprimers/ICTinEducation.pdf Trianto. (2007). Model-model pembelajaran inovatif berorientasi konstruktivisme. Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher. Trianto. (2010). Model pembelajaran terpadu: Konsep, strategi, dan implementainya dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Jakarta: PT Bumi Aksara. Triwiyanto, T. (2014). Pengantar pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara. Yusuf, S. (2014). Psikologi perkembangan anak dan remaja. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. 132

(150) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI LAMPIRAN 133

(151) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 1. 1 Surat Izin Penelitian 134

(152) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 1. 2 Surat Izin Validasi Soal 135

(153) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 2. 1 Silabus Kelompok Kontrol 136

(154) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 137

(155) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 138

(156) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 2. 2 Silabus Kelompok Eksperimen 139

(157) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 140

(158) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 141

(159) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 142

(160) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 2. 3 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Kelompok Kontrol 143

(161) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 144

(162) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 145

(163) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 146

(164) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 147

(165) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 2. 4 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Kelompok Eksperimen 148

(166) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 149

(167) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 150

(168) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 151

(169) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 152

(170) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 153

(171) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 154

(172) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 155

(173) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 156

(174) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 157

(175) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 3. 1 Soal Uraian Nama: ........................................... Kelas: ........................................... No Urut: ...................................... Soal Uraian Petunjuk pengerjaan soal: 1. Siswa tidak diperbolehkan berdiskusi dengan teman lain! 2. Siswa tidak diperbolehkan membawa dan membuka buku catatan/pelajaran! 3. Siswa menjawab soal pada lembar soal! 4. Semua soal wajib dikerjakan! 5. Waktu pengerjaan soal 100 menit! Bacalah soal-soal di bawah ini dan jawablah dengan tepat! 1. Nana pergi bertamasya ke kebun binatang. Di sana Nana melihat berbagai macam hewan. Seperti macan, jangkrik, katak, monyet, belalang, kupu-kupu, ular, kuda nil, kijang, lebah, harimau, ikan, kumbang, burung, nyamuk, gajah, kecoa, cacing, kuda, lintah dan unta. a. Dapatkah kamu membantu Nana untuk mengelompokkan dengan menuliskan minimal empat hewan yang bernapas dengan paru-paru dan trakea, sesuai dengan hewan yang telah dilihat oleh Nana di kebun binatang! Hewan yang bernapas dengan paru-paru Hewan yang bernapas dengan trakea 158

(176) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI b. Perhatikan gambar alat pernapasan paru-paru pada hewan mamalia di bawah ini, kemudian berilah nama pada setiap bagian yang diberi tanda di bawah ini! 1. 2. 3. 4. 5. c. Jelaskan dua tahap pernapasan ikan dengan bahasamu sendiri! Tahapan inspirasi adalah Jawab:…………………………………………………………………………… …………………………........................................................................................ ................................................................................................................................ Tahapan ekspirasi adalah Jawab:…………………………………………………………………………… ………………………............................................................................................ ................................................................................................................................ 2. a. Jelaskan minimal empat ciri hewan mamalia dan serangga! Ciri-ciri hewan mamalia yang bernapas dengan paru-paru dan hidup di darat Jawab:…………………………………………………………………………… ………...……………………………………………………………..................... 159

(177) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI .....................................…………………………………………………………... Ciri-ciri hewan serangga yang bernapas dengan trakea Jawab:…………………………………………………………………………… ………..……………………………………………………………….................. ...................................…………………………………………………………..... b. Dodi memiliki ikan arwana yang diletakkan di dalam akuarium. Ketika libur sekolah, Dodi membersihkan akuarium tersebut. Dodi memindahkan ikan arwana tersebut ke dalam baskom berukuran kecil yang berisi air kotor. Setelah selesai membersihkan akuarium Dodi melihat ikan tersebut sudah lemas. Berdasarkan cerita di atas, apa penyebab ikan arwana milik Dodi lemas? Tuliskan minimal dua jawabanmu! Jawab:…………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………... c. Berdasarkan cerita Dodi di atas apa nama bagian tubuh ikan dan organ pernapasan ikan yang tidak berfungsi dengan baik, ketika berada di dalam baskom? Tuliskan dua jawabanmu! Jawab:…………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………... 3. Tentukan benar atau salah pernyataan berikut ini dengan melingkari jawaban yang dipilih dan dianggap tepat! Tuliskan alasannya! a. Katak dewasa adalah hewan amfibi yang bernapas dengan insang (Benar/Salah). Alasan: ................................................................................................................................ ................................................................................................................................ ................................................................................................................................ b. Paus merupakan golongan ikan yang bernapas menggunakan paru-paru (Benar/Salah) Alasan: 160

(178) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ................................................................................................................................ ................................................................................................................................ ............................................................................................................................... c. Tentukan benar atau salah kesimpulan pernyataan berikut ini dengan melingkari jawaban yang dipilih dan dianggap tepat! Tuliskan alasannya! Mayor: Hewan amfibi bernapas menggunakan paru-paru dan permukaan kulit Minor: Katak dewasa merupakan hewan amfibi Kesimpulan: Katak dewasa bernapas menggunakan paru-paru dan permukaan kulit. (Benar/Salah) Alasan: ................................................................................................................................ ................................................................................................................................ ................................................................................................................................ 4. Jawablah pertanyaan di bawah ini! a. Rino akan mengganti air dalam akuarium yang sudah kotor. Rino menggunakan tiga alat yaitu gayung, jaring, dan tangan. Tuliskan langkah-langkah mengganti air dalam akuarium dengan gayung, jaring, dan tangan tersebut agar ikan tidak mati! Jawab: ................................................................................................................................ ................................................................................................................................ ................................................................................................................................ ................................................................................................................................ ................................................................................................................................ ................................................................................................................................ ................................................................................................................................ ................................................................................................................................ ................................................................................................................................ ................................................................................................................................ 161

(179) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI b. Seandainya jarak antara akuarium dengan wadah sementara agak jauh, manakah dari gayung, jaring, dan tangan yang paling efektif? Tuliskan dua alasanmu! Jawab: ................................................................................................................................ ................................................................................................................................ ................................................................................................................................ ................................................................................................................................ c. Perhatikan gambar di bawah ini! Akurium filter Rino yang menggunakan menghasilkan gelembung-gelembung air. Filter di dalam akuarium dapat menyaring kotoran yang ada di dalam air. Jadi filter dapat menggantikan tugas Rino. Berdasarkan cerita di atas, buatlah tiga kesimpulan tentang manfaat filter pada akuarium! 162

(180) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Jawab: …………………………………………………………………………………… ……........................................................................................................................ ................................................................................................................................ ................................................................................................................................ 5. Perhatikan gambar di bawah ini! a. Ceritakan isi gambar di atas minimal dengan tiga kalimat yang berhubungan dengan sistem pernapasan kupu-kupu ! Jawab : …………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………… b. Setujukah kamu dengan yang dilakukan oleh Tina dan Tini pada gambar di atas terkait dengan sistem pernapasan kupu-kupu! Berikan alasanmu! Jawab: …………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………… ………………......……………………………………………………………… c. Perhatikan gambar berikut! 163

(181) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Ketika ikan berenang di dalam akuarium, ikan sering membuka dan menutup mulutnya dan mengeluakan gelembung-gelembung. Mengapa ikan harus membuka dan mentup mulutnya serta mengeluarkan gelembung saat berenang di dalam akuarium ? Sebutkan dua alasan! Jawab : …………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………... 6. Ketika kamu dan adikmu sedang bermain. Kamu melihat anak ayam yang tercebur ke dalam kolam yang berisi air sedalam setengah meter. Anak ayam tersebut tidak dapat berenang dan terlihat kesulitan untuk bernapas. a. Cara apa yang akan kamu lakukan untuk menyelamatkan anak ayam tersebut ? Sebutkan minimal dua alasan! Jawab : …………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………… b. Apabila setelah kamu menyelamatkan anak ayam tersebut. Ternyata adikmu melihat anak ayam itu kedinginan dan untuk menghangatkannya adikmu memegang leher anak ayam itu dengan kencang. Sehingga anak ayam itu tidak dapat bernapas dengan baik. Apakah : 1) Kamu menegur adikmu, kemudian memintanya melepaskan anak ayam dari genggamannya dan memasukkan anak ayam ke dalam kardus yang sudah ada lampu untuk penghangat 164

(182) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2) Kamu mengikuti adikmu menggenggam anak ayam itu dengan kencang supaya anak ayam itu tidak kedinginan Alasan : …………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………… c. Apakah tindakan yang kamu lakukan itu sudah tepat ? Berikan minimal dua alasan! Jawab : …………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………… 165

(183) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 3. 2 Kunci Jawaban 1. Menginterpretasi Nana pergi bertamasya ke kebun binatang. Di sana Nana melihat berbagai macam hewan. Seperti macan, jangkrik, katak, monyet, belalang, kupu-kupu, ular, kuda nil, kijang, lebah, harimau, ikan, kumbang, burung, nyamuk, gajah, kecoa, cacing, kuda, lintah dan unta. a. Dapatkah kamu membantu Nana untuk mengelompokkan dengan menuliskan minimal eempat hewan yang bernapas dengan paru-paru dan trakea, sesuai dengan hewan yang telah dilihat oleh Nana di kebun binatang! (Membuat kategori: membuat klasifikasi atas data-data dengan menggunakan skema tertentu) Kunci jawaban : Hewan yang bernapas dengan paru- Hewan yang bernapas dengan trakea paru Macan Jangkrik Monyet Belalang Gajah Kupu-kupu Kuda Nil Lebah Kijang Nyamuk Kuda Kumbang Harimau Kecoa b. Perhatikan gambar alat pernapasan paru-paru pada hewan mamalia di bawah ini, kemudian berilah nama pada setiap bagian yang ditandai atau diberi tanda di bawah ini! (Memahami arti: Menginterpretasikan gambar) 166

(184) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 1. 2. 3. 4. 5. Kunci jawaban: 1. Trakea 2. Bronkiolus 3. Alveolus 4. Alveolus diliputi pe,mbuluh darah 5. Bronkus c. Jelaskan dua tahap pernapasan ikan dengan bahasamu sendiri! (Menjelaskan makna: Membahasakan ulang apa yang dikatakan orang lain dengan kata-kata yang berbeda tanpa menghilangkan arti semula) Kunci jawaban: Tahapan Inspirasi merupakan tahapan pengambilan air terhadap insang. Proses tahap inspirasi insang menutup, mulut terbuka sehingga air masuk kedalam rongga mulut. Tahap Ekspirasi adalah tahap pengeluaran air. Setelah air masuk kerongga mulut celah mulut menutup, tutup insang membuka. Hal ini menyebabkan air keluar melawati celah insang. Pertukaran antara O2 dan CO2 terjadi pada tahap ekspirasi. 167

(185) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2. Menganalisis a. Jelaskan minimal empat ciri hewan di bawah ini! (Menguji gagasan-gagasan: mendefinisikan istilah yang abstrak) Ciri-ciri hewan mamalia yang bernapas dengan paru-paru dan hidup di darat Jawab:…………………………………………………………………………… ….……..……………………………………………………………..................... ................................................................................................................................ Ciri hewan yang bernapas dengan trakea Jawab:…………………………………………………………………………… …..……..………………………………………………………………................ ................................................................................................................................ Kunci jawaban : Ciri hewan mamalia yang bernapas dengan paru-paru dan hidup di darat : 1. Berkembangbiak dengan beranak 2. Berambut 3. Memiliki daun telinga 4. Memiliki ekor 5. Memiliki tulang belakang 6. Berdarah panas Ciri-ciri hewan yang bernapas dengan trakea 1. Tubuhnya beruas-ruas terbagi menjadi 3 bagian yaitu kepala, dada, dan perut 2. Memiliki 3 pasang kaki yang pangkalnya menyatu 3. Memiliki sepasang antena 4. Mata majemuk 5. Berkembangbiak dengan cara bertelur b. Dodi memiliki ikan arwana yang diletakkan di dalam akuarium. Ketika libur sekolah, Dodi membersihkan akuarium tersebut. Dodi memindahkan ikan arwana tersebut ke dalam baskom berukuran kecil yang berisi air kotor. Setelah selesai membersihkan akuarium Dodi melihat ikan tersebut sudah lemas. Berdasarkan cerita di atas, jelaskan dua penyebab ikan arwana milik 168

(186) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Dodi lemas? (Mengidentifikasi argument: menilai apakah suatu pernyataan (dari suatu artikel di Koran atau suatu paragraf sebuah buku) mendukung atau berlawanan dengan pandangan tertentu). Jawab:…………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………. …………………………………………………………………………………. Kunci Jawaban: 1. Baskom terlalu kecil untuk menampung ikan arwana 2. Air baskom yang digunakan kotor 3. Ikan arwana kekurangan oksigen 4. Jangka waktu dalam memindahkan ikan arwana terlalu lama c. Berdasarkan cerita Dodi di atas apa nama bagian tubuh ikan yang tidak berfungsi dengan baik, ketika ikan berada di dalam baskom? Tuliskan dua jawaban beserta alasannya! (Menganalisis argument: menganalisis rangkaian argument yang dikembangkan dan yang digunakan pengarang sebagai dasar untuk menarik kesimpulan tertentu) Jawab:…………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………... ………………....................................................................................................... Kunci jawaban: 1. Insang. karena oksigennya sedikit, 2. Mulut( karena tidak dapat bergerak dengan leluasa untuk menghirup udara), 3. Ekor (karena tidak leluasa untuk bergerak). 4. Sirip (karena sirip ikan tertekan oleh baskom yang kecil) 3. Mengvaluasi Tentukan benar atau salah pernyataan berikut ini dengan melingkari jawaban yang tepat! Tuliskan dua alasannya! (Menilai sah tidaknya klaim-klaim: menilai apakah suatu klaim itu bisa dibenarkan atau tidak atas dasar pengetahuan yang dimiliki) 169

(187) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI a. Katak dewasa adalah hewan amfibi yang bernapas dengan insang (Benar/Salah). Kunci Jawaban: Salah. Karena katak dewasa adalah hewan amfibi yang bernapas menggunakan paru-paru dan permukaan kulit. b. Paus merupakan golongan ikan yang bernapas menggunakan paru-paru (Benar/Salah) Kunci jawaban: Salah, karena paus tergolong hewan mamalia yang bernapas menggunakan paru-paru dan hidup di air. c. Tentukan benar atau salah kesimpulan pernyataan berikut ini dengan melingkari jawaban yang dipilih dan dianggap tepat! Tuliskan dua alasannya! (Menilai sah tidaknya argumen-argumen: menilai apakah suatu kesimpulan ditarik dari premis-premis yang benar) Mayor: Hewan amfibi bernapas menggunakan paru-paru dan permukaan kulit Minor: Katak dewasa merupakan hewan amfibi Kesimpulan: Katak dewasa bernapas menggunakan paru-paru dan permukaan kulit. (Benar/Salah) Kunci jawaban: Benar, karena katak dewasa adalah hewan amfibi yang bernapas menggunakan paru-paru dan permukaan kulit. Katak dewasa dapat hidup di air dan darat sama seperti buaya. 4. Menarik Kesimpulan a. Jawablah pertanyaan di bawah ini! Rino akan mengganti air dalam akuarium yang sudah kotor. Rino menggunakan tiga alat yaitu gayung, jaring, tangan. Tuliskan cara mengganti air dalam akuarium dengan tiga alat tersebut agar ikan tidak mati! (Menguji bukti-bukti: menguji informasi-informasi yang relevan untuk membuat kesimpulan) Kunci jawaban: 170

(188) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Cara 1 1. Carilah tempat penampungan ikan sementara (ukurannya lebih besar dari ukuran ikan, tidak bocor dan bersih) 2. Isi air dan diamkan air beberapa saat untuk menyesuaikan suhu 3. Hindari cahaya matahari yang menyorot langsung ke wadah sementara, yang dapat meningkatkan suhu air. 4. Pindahkan ikan dengan menggunakan gayung yang bersih dan memastikan wadah tersebut berdekatan 5. Pastikan ikan tetap berada di dalam air (tidak melompat) Cara 2 1. Carilah tempat penampungan ikan sementara (ukurannya lebih besar dari ukuran ikan, tidak bocor dan bersih) 2. Isi air dan diamkan air beberapa saat untuk menyesuaikan suhu 3. Hindari cahaya matahari yang menyorot langsung ke wadah sementara, yang dapat meningkatkan suhu air. 4. Pindahkan ikan dengan menggunakan jaring yang bersih dan memastikan wadah tersebut berdekatan 5. Pastikan ikan tetap berada di dalam air (tidak melompat) Cara 3 1. Carilah tempat penampungan ikan sementara (ukurannya lebih besar dari ukuran ikan, tidak bocor dan bersih) 2. Isi air dan diamkan air beberapa saat untuk menyesuaikan suhu 3. Hindari cahaya matahari yang menyorot langsung ke wadah sementara, yang dapat meningkatkan suhu air. 4. Pindahkan ikan dengan menggunakan tangan yang bersih dan memastikan wadah tersebut berdekatan 5. Pastikan ikan tetap berada di dalam air (tidak melompat) b. Seandainya jarak antara akuarium dengan wadah sementara agak jauh, manakah dari gayung, jaring, dan tangan yang paling efektif? Tuliskan dua alasanmu! (Menerka alternatif-alternatif: merumuskan berbagai alternatif 171

(189) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI untuk memecahkan suatu permasalahan, mengembangkan berbagai rencana berbeda untuk mencapai suatu tujuan) Kunci jawaban: Memindahkan ikan dengan menggunakan gayung Alasan: Ikan tidak terlempar atau melompat apabila dipindahkan menggunakan gayung Seluruh bagian tubuh ikan dapat masuk ke dalam gayung dengan sempurna Saat memindahkan menggunakan gayung, ikan masih bisa menghirup oksigen karena terdapat air di dalam gayung c. Perhatikan gambar di bawah ini! Rino mempunyai akuarium. Di dalam akuarium itu terdapat filter air, dengan adanya filter air Rino tidak perlu sering mengganti air yang ada di dalam akuarium. memberikan Filter gelembung air di juga dalam akuarium. Filter dapat memperlancar sirkulasi air pada akuarium. Jadi filter dapat menggantikan tugas Rino. 172

(190) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Berdasarkan cerita di atas, buatlah tiga kesimpulan tentang manfaat filter pada akuarium! (Menarik kesimpulan: menggunakan berbagai cara berpikir yang mendukung penarikan kesimpulan) Kunci jawaban: 1. Filter dapat membantu untuk menambah oksigen pada akuarium 2. Filter air dapat menyaring kotoran yang ada di dalam akuarium 3. Filter dapat membuat suhu air pada akuarium sesuai dengan suhu yang dibutuhkan ikan 4. Filter dapat memperlancar sirkulasi air 5. Mengeksplanasi Perhatikan gambar di bawah ini! a. Ceritakan isi gambar di atas minimal dengan tiga kalimat yang berhubungan dengan sistem pernapasan kupu-kupu ! (Menjelaskan hasil penalaran: Menjelaskan analisis dan penilaian terhadap suatu permasalahan) Jawab:……………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………… ……… Kunci Jawaban: Tina dan Tini menangkap kupu-kupu di taman saat mereka bermain. Kemudian Tina dan Tini memasukkan kupu-kupu tersebut ke dalam toples. Toples tersebut tidak diberi lubang sirkulasi udara. Hal ini tentunya 173

(191) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI menganggu sistem pernapasan kupu-kupu karena tidak adanya sirkulasi udara. Apabila dibiarkan terus-menerus, kupu-kupu tersebut akan mati. b. Setujukah kamu dengan yang dilakukan oleh Tina dan Tini pada gambar di atas terkait dengan sistem pernapasan kupu-kupu! (Membenarkan prosedur yang digunakan: Memaparkan strategi yang digunakan untuk mengambil keputusan secara rasional) Jawab:……………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………… ……… Kunci Jawaban: Tidak. Karena toples tidak diberi lubang sirkulasi udara untuk bernapasnya kupu-kupu. c. Perhatikan gambar berikut! Ketika ikan berenang di dalam aquarium, ikan sering membuka dan menutup mulutnya dan mengeluarkan gelembung-gelembung. Mengapa ikan harus membuka dan menutup mulutnya serta mengeluarkan gelembung saat berenang di dalam akuarium ? Sebutkan dua alasan! (Memaparkan argumen-argumen yang digunakan : Menuliskan alasan-alasan mengapa mengambil posisi atau kebijakan tertentu) Jawab:……………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………… …… Kunci Jawaban: 1. Mulut ikan selalu membuka dan menutup karena ikan sedang bernafas,denga memasukkan air ke dalam insang agar oksigen di air 174

(192) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI bisa disaring dan diedarkan ke seluruh tubuh ikan. Karena itu ikan akan terus membuka dan menutup mulutnya agar air bisa terus masuk. 2. Ikan mengeluarkan gelembung karena oksigen yang dihirup oleh insang ikan sudah tidak berbentuk gas namun berwujud oksigen yang sudah terlarut di air. Karbon dioksida yang dikeluarkan dari insang pun sudah tidak berwujud gas tetapi gelembung. 6. Meregulasi diri Ketika kamu dan adikmu sedang bermain. Kamu melihat anak ayam yang tercebur ke dalam kolam yang berisi air sedalam setengah meter. Anak ayam tersebut tidak dapat berenang dan terlihat kesulitan untuk bernapas. a. Cara apa yang akan kamu lakukan untuk menyelamatkan anak ayam tersebut ? Sebutkan minimal dua alasan! (Refleksi diri : merefleksikan cara berpikirnya sendiri, memverfikasi hasil, aplikasi, dan pelaksanaan kegiatan berpikir) Jawab:……………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………… ……….. Kunci Jawaban: 1. Menolong anak ayam keluar dari kolam dengan cara: 2. Menggunakan galah untuk menggiring anak ayam keluar dari kolam. 3. Turun ke kolam untuk mengambil anak ayam keluar dari kolam. b. Apabila setelah kamu menyelamatkan anak ayam tersebut. Ternyata adikmu melihat anak ayam itu kedinginan dan untuk menghangatkannya adikmu memegang leher anak ayam itu dengan kencang. Sehingga anak ayam itu tidak dapat bernapas dengan baik. (Menilai apakah ada kekeliruan dalam cara berpikir sendiri) Apakah : 1. Kamu menegur adikmu, kemudian memintanya melepaskan anak ayam dari genggamannya dan memasukkan anak ayam ke dalam kardus yang sudah ada lampu untuk penghangat 175

(193) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2. Kamu mengikuti adikmu menggenggam anak ayam itu dengan kencang supaya anak ayam itu tidak kedinginan Alasan:……………………………………………………………………… ……………………………….......................................................................... .............. Kunci Jawaban: Apabila adik saya memegang leher anak ayam tersebut dengan kencang maka saya akan: Saya menegur adik saya, kemudian memintanya melepaskan anak ayam dari genggamannya dan memasukkan anak ayam ke dalam kardus yang sudah ada lampu Karena apabila dibiarkan lama dan digenggam lehernya dengan kencang maka anak ayam tersebut tidak dapat bernapas dengan baik dan akan mati. Kemudian saya juga memasukkan ke dalam kardus yang sudah ada lampunya agar anak ayam itu tidak kedinginan dan tidak mati. c. Apakah tindakan yang kamu lakukan itu sudah tepat ? Berikan minimal dua alasan! (Koreksi diri : memastikan apakah koreksi-koreksi tersebut dapat mengubah posisi yang dipegang sebelumnya) Jawab:……………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………… ……….. Kunci Jawaban: Ya, tindakan yang saya lakukan sudah tepat karena : 1. Anak ayam tidak bisa bernapas bila di genggam lehernya dengan kencang maka genggaman tangan harus di lepaskan. Selain itu apabila anak ayam dibiarkan digenggam dengan kencang maka anak ayam tersebut dapat mati karena kehabisan oksigen utuk bernapas. 2. Meletakan anak ayam yang kedinginan di dalam kardus yang sudah diberi lampu dapat membuat tubuh anak ayam itu hangat. 176

(194) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 3. 3 Rubrik Penilaian No Soal Variabel Indikator Mengelompokkan dengan menuliskan hewan yang bernapas dengan paru-paru dan trakea 1 Menginterpretasi Memahami nama pada gambar paru-paru hewan mamalia Menjelaskan pengertian tahapan insprirasi dan tahapan ekspirasi Menjelaskan ciri hewan mamalia yang bernapas dengan paru-paru hidup di darat dan ciri hewan yang bernapas dengan trakea Menjelaskan penyebab ikan arwana lemas dari suatu bacaan Kriteria Jika mengelompokkan dengan menuliskan 8 jawaban dengan benar Jika mengelompokkan dengan menuliskan 6 jawaban dengan benar Jika mengelompokkan dengan menuliskan 4 jawaban dengan benar Jika mengelompokkan dengan menuliskan 2 jawaban dengan benar atau tidak ada jawaban yang benar Jika menuliskan 5 jawaban dengan benar pada gambar paruparu hewan mamalia Jika menuliskan 4 jawaban dengan benar pada gambar paruparu hewan mamalia Jika menuliskan 3 jawaban dengan benar pada gambar paruparu hewan mamalia Jika menuliskan 2 jawaban dengan benar pada gambar paruparu hewan mamalia atau jawaban salah Jika menjelaskan 2 tahap pernapasan ikan dengan benar Jika menjelaskan 1 tahap pernapasan ikan dengan benar dan 1 tahapan kurang tepat Jika menjelaskan 1 tahap pernapasan ikan dengan benar dan 1 tahapan tidak tepat Jika menjelaskan 2 tahap pernapasan tidak tepat Jika menjelaskan 8 ciri hewan yang bernapas dengan paru-paru dan trakea dengan benar Jika menjelaskan 6 ciri hewan yang bernapas dengan paru-paru dan trakea dengan benar Jika menjelaskan 4 ciri hewan yang bernapas dengan paru-paru dan trakea dengan benar Jika menjelaskan 2 ciri hewan yang bernapas dengan paru-paru dan trakea dengan benar Jika menjelaskan 2 penyebab ikan lemas dengan benar Jika menjelaskan 2 penyebab ikan lemas tetapi 1 penyebab Skor 4 3 2 1 4 3 2 1 4 3 2 1 4 3 2 1 4 3 177

(195) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2 Menganalisis Menjelaskan bagian tubuh ikan yang tidak berfungsi dengan baik, ketika ikan berada di dalam baskom yang berukuran kecil Menilai kebenaran pernyataan organ pernapasan pada ikan Menilai kebenaran pernyataan organ pernapasan pada paus 3 Mengevaluasi Menilai kebenaran penarikan kesimpulan mengenai pernapasan katak kurang tepat Jika menjelaskan 1 penyebab ikan lemas dengan benar Jika menjelaskan penyebab ikan lemas dengan tidak tepat atau tidak menjawab dengan benar Jika menjelaskan 2 jawaban dengan benar dan memberikan alasan dengan tepat Jika menjelaskan 2 jawaban dengan benar dan memberikan alasan kurang tepat Jika menjelaskan 1 jawaban dengan benar dan memberikan alasan dengan tepat Jika menjelaskan jawaban dengan tidak tepat atau tidak menjawab soal Jika menilai pernyataan dengan benar dan memberikan 2 alasan dengan tepat Jika menilai pernyataan dengan benar dan memberikan 2 alasan namun salah satu alasan kurang tepat Jika menilai pernyataan dengan benar dan memberikan 2 alasan namun kedua alasan kurang tepat Jika menilai pernyataan dengan salah dan memberikan 2 alasan namun kedua alasan salah Jika menilai pernyataan dengan benar dan memberikan 2 alasan dengan tepat Jika menilai pernyataan dengan benar dan memberikan 2 alasan namun salah satu alasan kurang tepat Jika menilai pernyataan dengan benar dan memberikan 2 alasan namun kedua alasan kurang tepat Jika menilai pernyataan dengan salah dan memberikan 2 alasan namun kedua alasan salah Jika menarik kesimpulan dengan benar dan memberikan 2 alasan dengan tepat Jika menarik kesimpulan dengan benar dan memberikan 2 alasan namun salah satu alasan kurang tepat Jika menarik kesimpulan dengan benar dan memberikan 2 alasan namun kedua alasan kurang tepat 2 1 4 3 2 1 4 3 2 1 4 3 2 1 4 3 2 178

(196) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Menguji informasi yang relevan tentang cara mengganti air dalam akuarium 4 Menarik Kesimpulan Membuat alternatif pemecahan masalah tentang pemilihan alat memindahkan ikan Membuat kesimpulan tentang manfaat filter pada akuarium Menjelaskan analisis dan penilaian terhadap suatu permasalahan melalui gambar 5 Mengeksplanasi Memaparkan strategi yang digunakan untuk mengambil keputusan secara rasional. Menuliskan alasanalasan mengapa mengambil posisi atau kebijakan tertentu. Jika menarik kesimpulan dengan salah dan memberikan 2 alasan namun kedua alasan kurang tepat Jika menuliskan 3 alat dan langkahlangkah yang tepat Jika menuliskan 2 alat dan langkahlangkah yang tepat Jika menuliskan 1 alat dan langkahlangkah yang tepat Jika menuliskan 1 alat dan langkahlangkah yang kurang tepat Jika memilih alat benar dan 2 alasan dengan tepat Jika memilih alat benar dan 1 alasan tepat Jika memilih alat benar dan alasan kurang tepat Jika memilih alat salah dan alasan kurang tepat Jika menuliskan 3 kesimpulan dengan tepat Jika menuliskan 2 kesimpulan dengan tepat Jika menuliskan 1 kesimpulan dengan tepat Jika menuliskan kesimpulan dengan tidak tepat Jika mampu menuliskan 3 kalimat dengan tepat Jika mampu menuliskan 2 kalimat dengan tepat Jika mampu menuliskan 1 kalimat dengan tepat Jika tidak menjawab sama sekali atau tidak menjawab dengan tepat Jika menjawab dengan benar dan memberikan alasan yang sangat tepat Jika menjawab dengan benar dan memberikan alasan yang tepat Jika menjawab dengan benar tanpa memberikan alasan Jika menjawab salah atau tidak menjawab pertanyaan Jika menjawab dengan benar dan memberikan 2 alasan yang sangat tepat Jika menjawab dengan benar dan memberikan 1 alasan yang tepat Jika menjawab dengan benar tanpa memberikan alasan Jika menjawab salah atau tidak menjawab pertanyaan 1 4 3 2 1 4 3 2 1 4 3 2 1 4 3 2 1 4 3 2 1 4 3 2 1 179

(197) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Refleksi diri: merefleksikan cara berpikirnya sendiri, memverfikasi hasil, aplikasi, dan pelaksanaan kegiatan berpikir 6 Meregulasi diri Refleksi diri : Menilai apakah ada kekeliruan dalam cara berpikir sendiri. Jika menjawab benar dan memberikan 2 alasan dengan tepat Jika menjawab benar namun salah satu alasan kurang tepat Jika menjawab benar dan memberikan 2 alasan namun keduanya kurang tepat Jika menjawab salah atau tidak menjawab pertanyaan Jika memilih jawaban tepat dengan alasan yang sangat tepat. Jika memilih jawaban tepat dengan alasan yang tepat. Jika memilih jawaban tepat dengan alasan yang kurang tepat. Jika memilih jawaban salah Koreksi diri : Memastikan apakah koreksi-koreksi tersebut dapat mengubah posisi yang dipegang sebelumnya Jika menjawab dengan tepat dengan 2 alasan yang sangat tepat. Jika menjawab dengan tepat dengan 2 alasan namun salah satu alasan kurang tepat Jika menjawab dengan tepat dengan 1 alasan yang tepat. Jika menjawab dengan tidak tepat atau tidak mejawab sama sekali 4 3 2 1 4 3 2 1 4 3 2 1 180

(198) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 3. 4 Hasil Rekap Nilai Expert Judgment Variabel Menginterpretasi Menganalisis Mengevaluasi Indikator Membuat kategori: membuat klasifikasi atas data-data dengan menggunakan skema tertentu Memahami arti: Menginterpretasikan gambar Menjelaskan makna: Membahasakan ulang apa yang dikatakan orang lain dengan kata-kata yang berbeda tanpa menghilangkan arti semula Menguji gagasangagasan: mengidentifikasi istilah yang abstrak Mengidentifikasi argument: menilai apakah suatu pernyataan (dari suatu artikel di Koran atau suatu paragraf sebuah buku) mendukung atau berlawanan dengan pandangan tertentu Menganalisis argument: menganalisis rangkaian argument yang dikembangkan dan digunakan pengarang sebagai dasar untuk menarik kesimpulan) Menilai sah tidaknya klaim-klaim: menilai apakah suatu klaim itu bisa dibenarkan atau tidak atas dasar pengetahuan yang dimiliki Menilai sah tidaknya klaim-klaim: menilai apakah suatu klaim itu bisa dibenarkan atau tidak atas dasar pengetahuan yang dimiliki Menilai sah tidaknya 1 2 Validator 3 Rerata 3 4 3 3,33 2 4 3 3 Saran Bagus dalam data-data dalam skema dan klasifikasinya Persempit contoh hewan yang disebutkan dalam soal Perbaiki kalimat pertanyaan Perbaiki kalimat pertanyaan. Kalimat sudah benar sesuai dengan bahasa yang baku 3 4 3 3 4 2 3,33 3 Tambahkan contoh hewan atau gambar Soal sudah sesuai 3 4 4 3,67 Soal sudah sesuai 3 4 4 3,67 Soal sudah sesuai 2 4 4 3,33 Dalam menilai klaim-klaim sudah dapat dibenarkan 3 4 4 3,67 3 4 4 3,67 Pahami konsep amfibi dan 181

(199) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Menarik Kesimpulan Mengeksplanasi Meregulasi Diri argumen-argumen: menilai apakah suatu kesimpulan ditarik dari premis-premis yang benar Menguji bukti-bukti: menguji informasiinformasi yang relevan untuk membuat kesimpulan Menerka alternatifalternatif: merumuskan berbagai alternatif untuk memecahkan suatu permasalahan, mengembangkan berbagai rencana berbeda untuk mencapai suatu tujuan Menarik kesimpulan: menggunakan berbagai cara berpikir yang mendukung penarikan kesimpulan Menjelaskan hasil penalaran: Menjelaskan analisis dan penilaian terhadap suatu permasalahan Membenarkan prosedur yan digunakan: Memaparkan strategi yang digunakan untuk mengambil keputusan secara rasional Memaparkan argumen-argumen yang digunakan : Menuliskan alasanalasan mengapa mengambil posisi atau kebijakan tertentu Refleksi diri : merefleksikan cara berpikirnya sendiri, memverfikasi hasil, aplikasi, dan pelaksanaan kegiatan berpikir Menilai apakah ada kekeliruan dalam cara reptil keduanya golongan hewan yang berbeda 3 4 3 3,33 3 3 4 3,33 Instrumen sudah layak diujicobakan Bukti yang diajukan kurang relevan dengan informasi yang dibuat Sudah tepat dalam merumuskan alternatif pemecahan masalah Perbaiki kalimat pertanyaan 4 3 4 3,67 Penalaran sudah dapat dijelaskan dengan tepat 4 4 4 4 Strategi yang digunakan sudah tepat 3 3 4 4 4 4 3,67 3,67 Instrument sudah layak diujicobakan Alasan-alasan yang ditulis sudah cocok dengan argument Cukup bagus dalam merefleksikan cara berpikir sendiri 4 3 4 3,67 3 4 4 3,67 Cukup bagus dalam menilai kekeliruan cara berpikir 182

(200) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI berpikir sendiri Koreksi diri : memastikan apakah koreksi-koreksi tersebut dapat mengubah posisi yang dipegang sebelumnya sendiri Perbaiki kalimat pertanyaan 3 4 4 3,67 183

(201) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 3. 5 Hasil Uji Validasi oleh Expert Judgment 3.5.1 Hasil Uji Validasi oleh Dosen 184

(202) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 185

(203) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 186

(204) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3.5.2 Hasil Uji Validasi oleh Guru 187

(205) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 188

(206) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 189

(207) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 190

(208) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 191

(209) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 192

(210) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 3. 6 Hasil Analisis SPSS Uji Validitas 3.6.1 Hasil Uji Validitas Semua Variabel Correlations TOTAL Pearson Correlation 1 Sig. (2-tailed) N 32 SOAL1 Pearson Correlation .615** Sig. (2-tailed) .000 N 32 SOAL2 Pearson Correlation .594** Sig. (2-tailed) .000 N 32 SOAL3 Pearson Correlation .538** Sig. (2-tailed) .001 N 32 SOAL4 Pearson Correlation .657** Sig. (2-tailed) .000 N 32 SOAL5 Pearson Correlation .639** Sig. (2-tailed) .000 N 32 SOAL6 Pearson Correlation .721** Sig. (2-tailed) .000 N 32 **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). *. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed). TOTAL 3.6.2 Hasil Uji Validitas setiap aspek kemampuan 3.6.2.1 Validitas Kemampuan Mengevaluasi Correlations Total Total Soal3a Soal3b Soal3c Soal3a Pearson Correlation Sig. (2-tailed) 1 Soal3b ** ,795 Soal3c ** ,692** ,721 ,000 ,000 ,000 N 32 32 32 32 Pearson Correlation Sig. (2-tailed) ** 1 * ,314 ,015 ,080 ,795 ,000 ,426 N 32 32 32 32 Pearson Correlation Sig. (2-tailed) ** * 1 ,200 ,721 ,426 ,000 ,015 N 32 32 32 32 Pearson Correlation Sig. (2-tailed) ** ,314 ,200 1 ,000 ,080 ,271 32 32 32 N ,692 ,271 32 **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). *. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed). 193

(211) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3.6.2.2 Validitas Kemampuan Menarik Kesimpulan Correlations Total Soal4a Pearson Correlation 1 N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) Soal4a N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) Soal4b N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) Soal4c N Soal4c ,757** ,725** ,679** Sig. (2-tailed) Total Soal4b ,000 ,000 ,000 32 32 32 32 ,757** 1 ,321 ,305 ,074 ,090 ,000 32 32 32 32 ,725** ,321 1 ,211 ,000 ,074 32 32 32 32 ,679** ,305 ,211 1 ,000 ,090 ,247 32 32 32 ,247 32 **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). Lampiran 3. 7 Hasil Analisis SPSS Uji Reliabilitas Case Processing Summary N Cases Valid Excludeda 32 % 100.0 0 0.0 Total 32 a. Listwise deletion based on all variables in the procedure. 100.0 Reliability Statistics Cronbach's Alpha .671 N of Items 6 194

(212) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 3. 8 Data Uji Validitas Instrumen Variabel Mengevaluasi dan Menarik Kesimpulan Mengevaluasi No Soal 3 Menarik Kesimpulan Total Soal 4 b c 1 3 1 1 2 2 1 1 4 2 2 3 7 3 3 3 4 10 4 4 3 11 4 3 1 2 6 2 2 4 8 5 3 2 2 7 4 2 4 10 6 4 2 3 9 2 4 4 10 7 2 1 2 5 3 1 3 7 8 1 2 3 6 3 3 4 10 5 a b c 2 1 1 Total a 4 9 1 1 2 4 2 2 3 7 10 2 1 4 7 4 3 3 10 11 3 3 2 8 4 3 4 11 12 3 2 3 8 3 2 4 9 13 3 4 3 10 3 3 4 10 14 2 3 2 7 2 4 4 10 15 2 2 3 7 4 4 4 12 16 3 2 3 8 1 1 3 5 17 4 4 4 12 4 4 4 12 18 2 2 4 8 4 3 4 11 19 1 1 1 3 2 1 1 4 20 4 3 3 10 1 1 3 5 21 4 1 4 9 2 4 3 9 22 1 1 3 5 1 2 4 7 23 3 3 4 10 2 4 1 7 24 4 4 1 9 1 3 2 6 25 3 2 3 8 2 1 3 6 26 3 2 4 9 3 1 2 6 27 1 2 3 6 1 2 3 6 28 4 1 4 9 1 4 4 9 29 4 2 3 9 4 4 2 10 30 1 1 1 3 1 3 1 5 31 3 2 3 8 2 1 4 7 32 3 2 3 8 1 2 2 5 195

(213) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4. 1 Tabulasi Nilai Kemampuan Mengevaluasi Kelompok Kontrol dan Kelompok Eksperimen Kelompok Kontrol Pretest No Indikator Kelompok Eksperimen Posttest1 x̅ Indikator 2 x̅ 3 Selisih Indikator x̅ 3 No 2 x̅ 3 2 x̅ 3 Indikator 2 2 2 2,00 3 3 4 3,33 1,33 4 3 4 3,67 1 2 2 2 2,00 2 2 4 2,67 0,67 3 2 3 2,67 3 2 2 2,33 3 2 2 2,33 0,00 3 3 2 2,67 2 2 2 3 2,33 2 1 3 2,00 -0,33 3 4 3 3,33 3 1 1 2 1,33 3 3 4 3,33 2,00 3 1 2 2,00 3 3 1 4 2,67 3 3 4 3,33 0,67 4 4 4 4,00 4 1 2 3 2,00 3 4 3 3,33 1,33 3 4 3 3,33 4 1 2 3 2,00 3 2 3 2,67 0,67 3 3 3 3,00 5 2 2 1 1,67 3 2 2 2,33 0,67 3 2 3 2,67 5 1 2 1 1,33 3 2 4 3,00 1,67 3 2 3 2,67 6 1 1 1 1,00 2 2 1 1,67 0,67 3 2 3 2,67 6 1 1 2 1,33 3 3 3 3,00 1,67 3 2 3 2,67 7 3 1 2 2,00 4 3 1 2,67 0,67 3 2 3 2,67 7 2 2 1 1,67 4 4 1 3,00 1,33 4 4 2 3,33 8 2 1 2 1,67 3 2 3 2,67 1,00 3 1 4 2,67 8 1 1 1 1,00 3 2 4 3,00 2,00 3 3 3 3,00 9 2 2 1 1,67 3 2 3 2,67 1,00 2 2 3 2,33 9 2 2 1 1,67 4 3 3 3,33 1,67 3 2 3 2,67 10 3 2 3 2,67 3 2 3 2,67 0,00 3 3 2 2,67 10 1 2 3 2,00 4 3 3 3,33 1,33 3 3 3 3,00 11 1 1 1 1,00 2 1 2 1,67 0,67 1 1 2 1,33 11 2 1 3 2,00 4 4 3 3,67 1,67 3 2 3 2,67 12 1 1 1 1,00 3 2 2 2,33 1,33 2 2 3 2,33 12 2 2 2 2,00 3 4 3 3,33 1,33 2 4 3 3,00 13 1 3 1 1,67 3 2 3 2,67 1,00 2 2 2 2,00 13 2 1 3 2,00 3 2 3 2,67 0,67 2 3 2 2,33 14 3 1 3 2,33 3 1 3 2,33 0,00 1 1 1 1,00 14 2 2 3 2,33 3 4 3 3,33 1,00 3 4 3 3,33 15 1 1 2 1,33 2 1 2 1,67 0,33 2 1 2 1,67 15 1 2 2 1,67 3 3 3 3,00 1,33 3 2 4 3,00 16 1 1 2 1,33 2 3 2 2,33 1,00 2 2 2 2,00 16 2 1 1 1,33 4 4 4 4,00 2,67 3 2 2 2,33 17 2 2 2 2,00 3 1 3 2,33 0,33 3 3 3 3,00 17 1 1 2 1,33 3 2 4 3,00 1,67 3 1 3 2,33 18 3 1 3 2,33 3 3 3 3,00 0,67 3 3 3 3,00 18 2 3 3 2,67 4 4 3 3,67 1,00 3 3 3 3,00 19 3 1 3 2,33 2 3 1 2,00 -0,33 3 3 3 3,00 19 3 2 2 2,33 3 4 4 3,67 1,33 4 4 3 3,67 20 1 2 1 1,33 3 1 2 2,00 0,67 2 1 2 1,67 20 1 2 1 1,33 3 2 3 2,67 1,33 3 1 3 2,33 21 1 2 1 1,33 2 2 2 2,00 0,67 2 2 2 2,00 21 3 1 3 2,33 3 2 4 3,00 0,67 4 4 3 3,67 3,11 1,24 1,87 1 2 x̅ 2 2,40 1 Selisih 1 0,71 1 Posttest2 Indikator 3 2,44 2 Posttest1 Indikator 2 1,73 1 Pretest 1 x̅ 1 Posttest2 3 2,95 Lampiran 4. 2 Tabulasi Nilai Kemampuan Menarik Kesimpulan Kelompok Kontrol dan Kelompok Eksperimen Kelompok Kontrol Pretest No Indikator 1 2 3 Kelompok Eksperimen Posttest1 x̅ Indikator 1 2 3 Posttest2 x̅ Selisih Indikator 1 2 3 Pretest x̅ No Indikator 1 2 3 Posttest1 x̅ Indikator 1 2 3 Posttest2 x̅ Selisih Indikator 1 2 3 x̅ 1 1 2 2 1,67 4 3 3 3,33 1,67 3 3 4 3,33 1 3 2 1 2,00 3 3 4 3,33 1,33 2 2 4 2,67 2 2 2 3 2,33 3 3 2 2,67 0,33 3 3 3 3,00 2 3 3 2 2,67 4 4 4 4,00 1,33 4 4 4 4,00 3 1 2 2 1,67 1 3 2 2,00 0,33 2 2 3 2,33 3 1 3 2 2,00 3 3 3 3,00 1,00 3 4 3 3,33 4 1 3 2 2,00 2 4 3 3,00 1,00 2 2 3 2,33 4 3 1 3 2,33 3 2 3 2,67 0,33 4 4 3 3,67 5 3 2 3 2,67 3 2 3 2,67 0,00 2 2 3 2,33 5 3 2 1 2,00 3 3 3 3,00 1,00 1 1 1 1,00 6 3 2 2 2,33 2 3 4 3,00 0,67 2 3 3 2,67 6 1 1 2 1,33 2 2 3 2,33 1,00 4 4 4 4,00 7 2 1 2 1,67 4 3 3 3,33 1,67 3 3 2 2,67 7 1 1 3 1,67 1 3 4 2,67 1,00 1 1 1 1,00 8 2 3 2 2,33 2 3 3 2,67 0,33 3 4 4 3,67 8 2 2 3 2,33 3 3 4 3,33 1,00 3 4 2 3,00 9 2 2 3 2,33 3 2 3 2,67 0,33 2 2 3 2,33 9 2 1 2 1,67 4 4 2 3,33 1,67 3 4 3 3,33 10 2 1 2 1,67 2 3 2 2,33 0,67 3 3 3 3,00 10 1 3 4 2,67 3 4 4 3,67 1,00 3 4 3 3,33 11 1 2 3 2,00 3 3 3 3,00 1,00 1 2 3 2,00 11 3 2 1 2,00 4 2 4 3,33 1,33 2 4 2 2,67 12 3 2 1 2,00 3 3 2 2,67 0,67 3 2 2 2,33 12 1 1 2 1,33 4 4 3 3,67 2,33 4 4 4 4,00 13 1 2 3 2,00 2 2 3 2,33 0,33 3 3 3 3,00 13 2 3 1 2,00 2 2 2 2,00 0,00 2 3 1 2,00 14 1 2 1 1,33 2 3 2 2,33 1,00 3 4 3 3,33 14 2 1 3 2,00 3 3 2 2,67 0,67 4 4 3 3,67 15 2 2 2 2,00 3 3 4 3,33 1,33 3 3 3 3,00 15 3 1 1 1,67 4 3 3 3,33 1,67 3 3 2 2,67 16 3 1 2 2,00 2 3 3 2,67 0,67 1 2 3 2,00 16 1 2 2 1,67 3 4 3 3,33 1,67 2 4 1 2,33 17 2 1 2 1,67 4 3 3 3,33 1,67 4 3 2 3,00 17 3 3 2 2,67 3 3 3 3,00 0,33 2 3 3 2,67 18 2 3 2 2,33 3 4 2 3,00 0,67 2 3 3 2,67 18 1 1 1 1,00 4 4 4 4,00 3,00 3 4 3 3,33 19 1 1 2 1,33 2 3 4 3,00 1,67 2 3 4 3,00 19 2 2 1 1,67 4 3 4 3,67 2,00 3 4 3 3,33 20 1 2 2 1,67 3 2 3 2,67 1,00 1 3 2 2,00 20 2 2 1 1,67 3 3 2 2,67 1,00 4 4 3 3,67 21 3 1 2 2,00 4 3 2 3,00 1,00 1 2 3 2,00 21 3 3 2 2,67 2 3 3 2,67 0,00 3 4 2 3,00 3,13 1,17 x̅ 1,95 2,81 0,86 2,67 1,95 2,98 196

(214) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4. 3 Hasil SPSS Uji Normalitas Data 4.3.1 Kemampuan Mengevaluasi One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test EvaKonP EvaKonP EvaKonS EvaKonP EvaEksP EvaEksP EvaEksS EvaEksP re ost1 el ost2 re ost1 el ost2 21 21 21 21 21 21 21 21 1,7295 2,4443 ,7148 2,3976 1,8724 3,1114 1,2390 2,9524 N Normal Mean Paramete Std. ,50141 a,b Deviation rs Most Absolute ,168 Extreme Positive ,168 Differenc Negative -,134 Test Statistic ,168 Asymp. Sig. (2,124c tailed) a. Test distribution is Normal. ,51895 ,54987 ,66391 ,47763 ,45089 ,62451 ,47524 ,159 ,159 -,127 ,159 ,182 ,151 -,182 ,182 ,183 ,106 -,183 ,183 ,177 ,158 -,177 ,177 ,169 ,169 -,164 ,169 ,177 ,150 -,177 ,177 ,174 ,174 -,111 ,174 ,180c ,068c ,065c ,086c ,120c ,085c ,095c b. Calculated from data. c. Lilliefors Significance Correction. 4.3.2 Kemampuan Menarik Kesimpulan One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test InfeKonP InfeKonP InfeKonS InfeKonP InfeEksP InfeEksP InfeEksS InfeEksP re ost1 el ost2 re ost1 el ost2 21 21 21 21 21 21 21 21 1,9524 2,8095 ,8576 2,6662 1,9533 3,1271 1,1743 2,9843 N Normal Mean Paramete Std. ,35334 a,b Deviation rs Most Absolute ,173 Extreme Positive ,169 Differenc Negative -,173 Test Statistic ,173 Asymp. Sig. (2,103c tailed) a. Test distribution is Normal. ,37301 ,51321 ,49487 ,47533 ,53170 ,73522 ,85938 ,171 ,170 -,171 ,171 ,166 ,166 -,134 ,166 ,180 ,180 -,179 ,180 ,175 ,175 -,133 ,175 ,172 ,138 -,172 ,172 ,168 ,165 -,168 ,168 ,180 ,119 -,180 ,180 ,109c ,132c ,074c ,092c ,104c ,124c ,074c b. Calculated from data. c. Lilliefors Significance Correction. 197

(215) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4. 4 Hasil SPSS Uji Perbedaan Kemampuan Awal 4.4.1 Kemampuan Mengevaluasi 4.4.1.1 Hasil Uji Asumsi Homogenitas Varians Descriptives Kelompok EvKonEksPre Evaluasi Kontrol Pretest Evaluasi Eksperimen Pretest Mean 95% Lower Confidence Bound Interval for Upper Mean Bound 5% Trimmed Mean Median Variance Std. Deviation Minimum Maximum Range Interquartile Range Skewness Kurtosis Mean 95% Lower Confidence Bound Interval for Upper Mean Bound 5% Trimmed Mean Median Variance Std. Deviation Minimum Maximum Range Interquartile Range Skewness Kurtosis Statistic 1,7295 Std. Error ,10942 1,5013 1,9578 1,7187 1,6700 ,251 ,50141 1,00 2,67 1,67 ,84 ,128 -1,050 1,8724 ,501 ,972 ,10423 1,6550 2,0898 1,8757 2,0000 ,228 ,47763 1,00 2,67 1,67 1,00 -,038 -,909 ,501 ,972 Tests of Normality KolmogorovSmirnova Statistic df Sig. Kelompok EvKonEksPre Evaluasi Kontrol ,168 Pretest Evaluasi Eksperimen ,177 Pretest a. Lilliefors Significance Correction Shapiro-Wilk Statistic df Sig. 21 ,124 ,931 21 ,144 21 ,086 ,934 21 ,165 198

(216) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.4.1.2 Hasil Uji Asumsi Homogenitas Varians Pretest Kemampuan Mengevaluasi Test of Homogeneity of Variances EvaKonEksPre Levene Statistic df1 ,082 df2 1 Sig. 40 ,776 ANOVA EvaKonEksPre Sum of Squares Between Groups Within Groups Total Mean Square df ,214 1 ,214 9,591 40 ,240 9,805 41 F Sig. ,894 ,350 4.4.1.3 Hasil Uji Asumsi Homogenitas Varians Selisih Kemampuan Menarik Kesimpulan Test of Homogeneity of Variances EvaKonEksSel Levene df1 Statistic ,252 df2 1 Sig. 40 ,618 ANOVA EvaKonEksSel Sum of Squares Between Groups Within Groups Total Mean Square df 2,886 1 2,886 13,847 40 ,346 16,733 41 F 8,337 Sig. ,006 199

(217) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.4.2 Kemampuan Menarik Kesimpulan 4.4.2.1 Hasil Uji Asumsi Homogenitas Varians Descriptives Kelompok InfKonEksPre Inferensi Kontrol Pretest Inferensi Eksperimen Pretest Mean 95% Confidence Interval for Mean Statistic 1,9524 Lower Bound Upper Bound Std. Error ,07711 1,7915 2,1132 5% Trimmed Mean Median Variance Std. Deviation Minimum Maximum Range Interquartile Range Skewness Kurtosis Mean 95% Confidence Lower Interval for Mean Bound Upper Bound 5% Trimmed Mean Median Variance Std. Deviation Minimum Maximum Range Interquartile Range Skewness Kurtosis 1,9480 2,0000 ,125 ,35334 1,33 2,67 1,34 ,66 ,028 -,453 1,9533 ,501 ,972 ,10373 1,7370 2,1697 1,9656 2,0000 ,226 ,47533 1,00 2,67 1,67 ,66 ,048 -,516 ,501 ,972 Tests of Normality Kolmogorov-Smirnova Kelompok InfKonEksPre Statistic Inferensi Kontrol Pretest Inferensi Eksperimen Pretest df Sig. Shapiro-Wilk Statistic df Sig. ,173 21 ,103 ,925 21 ,110 ,175 21 ,092 ,926 21 ,113 a. Lilliefors Significance Correction 200

(218) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.4.2.2 Hasil Uji Asumsi Homogenitas Varians Pretest Kemampuan Menarik Kesimpulan Test of Homogeneity of Variances InfeKonEksPre Levene Statistic df1 1,422 df2 1 Sig. 40 ,240 ANOVA InfeKonEksPre Sum of Squares Between Groups Within Groups Total Mean Square df ,000 1 ,000 7,016 40 ,175 7,016 41 F Sig. ,000 ,994 4.4.2.3 Hasil Uji Asumsi Homogenitas Varians Selisih Kemampuan Menarik Kesimpulan Test of Homogeneity of Variances InfeKonEksSel Levene df1 Statistic 1,117 df2 1 Sig. 40 ,297 ANOVA InfeKonEksSel Sum of Squares Between Groups Within Groups Total Mean Square df 1,053 1 1,053 16,079 40 ,402 17,132 41 F 2,619 Sig. ,113 201

(219) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.4.3 Hasil Uji Perbedaan Rerata Pretest 4.4.3.1 Kemampuan Mengevaluasi Group Statistics N Kelompok EvaKonEk 1 sPre 2 Mean F 21 1,7295 ,50141 ,10942 1,8724 ,47763 ,10423 Sig. ,082 Std. Error Mean 21 Levene's Test for Equality of Variances EvaKonEk Equal sPre variances assumed Equal variances not assumed Std. Deviation Independent Samples Test t-test for Equality of Means t ,776 Sig. (2tailed) df Mean Std. Error Difference Difference 95% Confidence Interval of the Lower Upper -,945 40 ,350 -,14286 ,15111 -,44827 ,16256 -,945 39,906 ,350 -,14286 ,15111 -,44829 ,16258 4.4.3.2 Kemampuan Menarik Kesimpulan Group Statistics N Kelompok InfeKonEk 1 sPre 2 Mean F 1,422 Std. Error Mean 21 1,9524 ,35334 ,07711 21 1,9533 ,47533 ,10373 Levene's Test for Equality of Variances InfeKonEk Equal sPre variances assumed Equal variances not assumed Std. Deviation Sig. ,240 Independent Samples Test t-test for Equality of Means t Sig. (2tailed) df Mean Std. Error Difference Difference 95% Confidence Interval of the Lower Upper -,007 40 ,994 -,00095 ,12925 -,26217 ,26026 -,007 36,933 ,994 -,00095 ,12925 -,26284 ,26094 202

(220) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4. 5 Hasil SPSS Uji Signifikansi Pengaruh Perlakuan 4.5.1 Kemampuan Mengevaluasi Group Statistics N Kelompok EvaKonEk 1 sSel 2 Mean 21 20 Levene's Test for Equality of Variances F EvaKonEk Equal sSel variances assumed Equal variances not assumed Sig. ,139 Std. Error Mean ,7148 ,54987 ,11999 1,2675 ,62661 ,14011 Independent Samples Test t-test for Equality of Means t ,712 Std. Deviation Sig. (2tailed) df Mean Std. Error Difference Difference 95% Confidence Interval of the Lower Upper -3,006 39 ,005 -,55274 ,18387 -,92466 -,18082 -2,996 37,783 ,005 -,55274 ,18447 -,92625 -,17922 4.5.2 Kemampuan Menarik Kesimpulan Group Statistics N Kelompok InfeKonEk 1 sSel 2 Mean F 1,117 Std. Error Mean 21 ,8576 ,51321 ,11199 21 1,1743 ,73522 ,16044 Levene's Test for Equality of Variances InfeKonEk Equal sSel variances assumed Equal variances not assumed Std. Deviation Sig. ,297 Independent Samples Test t-test for Equality of Means t Sig. (2tailed) df Mean Std. Error Difference Difference 95% Confidence Interval of the Lower Upper -1,618 40 ,113 -,31667 ,19566 -,71211 ,07878 -1,618 35,751 ,114 -,31667 ,19566 -,71358 ,08025 203

(221) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4. 6 Perhitungan Manual Besar Pengaruh Perlakuan Effect size kemampuan mengevaluasi √ √ √ √ Effect size kemampuan menarik kesimpulan √ 2 887) 2 887)2 40 8 334769 8 334769 40 8 334769 48 334769 √0 17243837 0 41525699 Persentase pengaruh penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe TGT pada kemampuan evaluasi sebagai berikut 2 = 2 2 = 0 41525699 2 0 17243827 2 0 17 Persentase = 2 100% = 0,17 x 100% = 17% √ √ √ 1 618) 1 618)2 40 2 617924 2 617924 40 2 617924 42 617924 √0 06142777 0 24784626 Persentase pengaruh penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe TGT pada kemampuan inferensi sebagai berikut. 2 = 2 2 = 0 24784626 2 0 06142777 2 0 06 Persentase = 2 100% = 0,06 x 100% = 6% 204

(222) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4. 7 Perhitungan Persentase Peningkatan Pretest Ke Posttest 1 4.7.1 Perhitungan Persentase Peningkatan Pretest Ke Posttest 1 Persentase Peningkatan Rerata Pretest Ke Posttest 1 Kemampuan Mengevaluasi Kelompok Kontrol Kelompok Eksperimen Persentase Persentase =( =( =( ; 2 4443 ; 1 7295 1 7295 7148 1 7295 ) x 100% ) x 100% ) x 100% = 0 413298) x 100% = 41% =( =( =( ; 3 1114;1 8724 1 8724 1 239 ) x 100% ) x 100% ) x 100% 1 8724 = 0 661717) x 100% = 66% Persentase Peningkatan Rerata Pretest Ke Posttest 1 Kemampuan Menarik Kesimpulan Kelompok kontrol Kelompok eksperimen Persentase Persentase =( =( =( ; 2 8 95;1 9524 1 9524 8571 1 9524 ) x 100% ) x 100% ) x 100% = 0 438998) x 100% = 43% =( =( =( ; 3 1271;1 9533 1 9533 1 1738 1 9533 ) x 100% ) x 100% ) x 100% = 0 60093) x 100% = 60% 205

(223) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.7.2 Uji Signifikansi Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I 4.7.2.1 Kemampuan Mengevaluasi 4.7.2.1.1 Kelompok Kontrol Paired Samples Statistics Mean Pair 1 EvaKonPr e EvaKonPo st1 Std. Deviation N Std. Error Mean 1,7295 21 ,50141 ,10942 2,4443 21 ,51895 ,11324 Paired Samples Correlations N Pair 1 EvaKonPr e& EvaKonPo st1 Correlation 21 ,420 Sig. ,058 Paired Samples Test Mean Pair 1 EvaKonPr eEvaKonPo st1 -,71476 Paired Differences 95% Confidence Interval of the Std. Std. Error Lower Upper Deviation Mean ,54957 ,11993 -,96492 -,46460 t -5,960 Sig. (2tailed) df 20 ,000 206

(224) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.7.2.1.2 Kelompok Eksperimen Paired Samples Statistics Mean Pair 1 Std. Deviation N Std. Error Mean EvaEksPre 1,8724 21 ,47763 ,10423 EvaEksPos t1 3,1114 21 ,45089 ,09839 Paired Samples Correlations N Pair 1 EvaEksPre & EvaEksPos t1 Correlation 21 Sig. ,095 ,681 Paired Samples Test Paired Differences 95% Confidence Interval of the Std. Std. Error Lower Upper Deviation Mean Mean Pair 1 EvaEksPre EvaEksPos t1 -1,23905 ,62478 ,13634 -1,52344 -,95465 t Sig. (2tailed) df -9,088 20 ,000 4.7.2.2 Kemampuan Menarik Kesimpulan 4.7.2.2.1 Kelompok Kontrol Paired Samples Statistics Mean Pair 1 InfeKonPr e InfeKonPo st1 Std. Deviation N Std. Error Mean 1,9524 21 ,35334 ,07711 2,8095 21 ,37301 ,08140 Paired Samples Correlations N Pair 1 InfeKonPr e& InfeKonPo st1 Correlation 21 ,017 Sig. ,943 Paired Samples Test Mean Pair 1 InfeKonPr eInfeKonPo st1 -,85714 Paired Differences 95% Confidence Interval of the Std. Std. Error Lower Upper Deviation Mean ,50950 ,11118 -1,08907 -,62522 t -7,709 Sig. (2tailed) df 20 ,000 207

(225) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.7.2.2.2 Kelompok Eksperimen Paired Samples Statistics Mean Pair 1 Std. Deviation N Std. Error Mean InfeEksPre 1,9533 21 ,47533 ,10373 InfeEksPo st1 3,1271 21 ,53170 ,11603 Paired Samples Correlations N Pair 1 InfeEksPre & InfeEksPo st1 Correlation 21 -,061 Sig. ,793 Paired Samples Test Mean Pair 1 InfeEksPre InfeEksPo st1 -1,17381 Paired Differences 95% Confidence Interval of the Std. Std. Error Lower Upper Deviation Mean ,73444 ,16027 -1,50812 -,83950 t -7,324 Sig. (2tailed) df 20 ,000 208

(226) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.7.3 Perhitungan Persentase Gain Score 4.7.3.1 Tabulasi Gain Score Kemampuan Mengevaluasi No Gain Score 1 2 3 4 Frekuensi -0,33 0 0,33 0,67 Kelompok Kontrol 1 3 2 7 Kelompok Eksperimen 1 0 0 5 5 6 1 1,33 4 3 2 6 7 1,67 0 5 8 2 1 1 9 2,67 0 1 4.7.3.2 Tabulasi Gain Score Kemampuan Menarik Kesimpulan No Gain Score 1 2 3 Frekuensi 0 0,33 0,67 Kelompok Kontrol 1 5 5 Kelompok Eksperimen 2 2 1 4 5 1 1,33 5 1 7 3 6 1,67 4 3 7 2 0 1 8 2,33 0 1 9 3 0 1 4.7.3.3 Perhitungan Persentase Gain Score ≥ 1 Kemampuan Mengevaluasi Kelompok Kontrol Kelompok Eksperimen Frekuensi gain score > 1 adalah 8 orang Frekuensi gain score > 1 adalah 15 orang Persentase gain score : Persentase gain score : Gain score= Gain score= 8 21 ℎ x 100% Gain score= 38,09% x 100% Gain score= Gain score= 15 21 ℎ x 100% x 100% Gain score= 71,43% 209

(227) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.7.3.4 Perhitungan persentase Gain Score ≥1,00 Kemampuan Menarik Kesimpulan Kelompok Kontrol Kelompok Eksperimen Frekuensi gain score > adalah 8 orang Frekuensi gain score > adalah 15 orang Persentase gain score : Persentase gain score : Gain score= Gain score= 5 21 ℎ x 100% x 100% Gain score= 23,81% Gain score= Gain score= 9 21 ℎ x 100% x 100% Gain score= 42,86% Lampiran 4. 8 Hasil SPSS Uji besar efek peningkatan rerata pretest ke posttest I 4.8.1 Perhitungan manual besar efek peningkatan rerata pretest ke posttest I 4.8.1.1 Kemampuan mengevaluasi Kelompok Kontrol Kelompok Eksperimen r= r= r= r= r= r= : : ;5 96 5 96 2 :2 35 52 35 52:2 35 52 55 52 r= r= r= r= : : ;9 88 9 882 : 2 82 59 82 59:2 82 59 1 2 59 r = 0 64 r = 0,8 r = 0 81 r = 0,9 R2 = 0,82 = 0,64 R2 = 0,92 = 0,81 Persentase pengaruh = R2 x 100% Persentase pengaruh = 0,64 x 100% Persentase pengaruh = 64% Persentase pengaruh = R2 x 100% Persentase pengaruh = 0,81 x 100% Persentase pengaruh = 81% 210

(228) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.8.1.2 Kemampuan menarik kesimpulan Kelompok Kontrol Kelompok Eksperimen r= r= r= r= r= r= : : r= ;7 7 9 r= 59 43 r= 7 7 9 :2 59 43:2 59 43 79 43 r = √0 75 r = 0,87 r= : : ;7 324 7234 : 2 53 64 53 64:2 53 64 73 64 r = 0 73 r = 0,85 R2 = 0,872 = 0,76 R2 = 0,852 = 0,72 Persentase pengaruh = R2 x 100% Persentase pengaruh = 0,76 x 100% Persentase pengaruh = 76% Persentase pengaruh = R2 x 100% Persentase pengaruh = 0,72 x 100% Persentase pengaruh = 72% 211

(229) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.8.2 Hasil SPSS Uji Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I 4.8.2.1 Kemampuan Mengevaluasi Paired Samples Test Mean Pair 1 EvKonPos t1 EvKonPre ,71476 Paired Differences 95% Confidence Interval of the Std. Std. Error Lower Upper Deviation Mean ,54957 ,11993 ,46460 t ,96492 Sig. (2tailed) df 5,960 20 ,000 Paired Samples Test Mean Pair 1 EvEksPost 1EvEksPre 1,23905 Paired Differences 95% Confidence Interval of the Std. Std. Error Lower Upper Deviation Mean ,62478 ,13634 ,95465 t 1,52344 Sig. (2tailed) df 9,088 20 ,000 4.8.2.2 Kemampuan Menarik Kesimpulan Paired Samples Test Mean Pair 1 InfeKonPo st1 InfeKonPr e ,85714 Paired Differences 95% Confidence Interval of the Std. Std. Error Lower Upper Deviation Mean ,50950 ,11118 ,62522 t 1,08907 Sig. (2tailed) df 7,709 20 ,000 Paired Samples Test Mean Pair 1 InfeEksPo st1 InfeEksPre 1,17381 Paired Differences 95% Confidence Interval of the Std. Std. Error Lower Upper Deviation Mean ,73444 ,16027 ,83950 1,50812 t Sig. (2tailed) df 7,324 20 ,000 212

(230) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4. 9 Hasil SPSS Uji Korelasi Rerata Pretest dan Posttest I 4.9.1 Kemampuan Mengevaluasi 4.9.1.1 Uji Korelasi Kelompok Kontrol dan Kelompok Eksperimen Correlations EvaKonPr EvaKonPo e st1 EvaKonPr Pearson e Correlation 1 ,420 Sig. (2tailed) N ,058 EvaKonPo Pearson st1 Correlation Sig. (2tailed) N 21 21 ,420 1 ,058 21 21 EvaEksPre EvaEksPos t1 1 ,095 Correlations EvaEksPre Pearson Correlation Sig. (2tailed) N EvaEksPos Pearson t1 Correlation Sig. (2tailed) N ,681 21 21 ,095 1 ,681 21 21 213

(231) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.9.2 Kemampuan Menarik Kesimpulan 4.9.2.1 Uji Korelasi Kelompok Kontrol dan Kelompok Eksperimen Correlations InfeKonPr InfeKonPo e st1 InfeKonPr Pearson 1 ,017 e Correlation Sig. (2tailed) N ,943 InfeKonPo Pearson st1 Correlation Sig. (2tailed) N 21 21 ,017 1 ,943 21 21 Correlations InfeEksPre InfeEksPre Pearson Correlation Sig. (2tailed) N InfeEksPo Pearson st1 Correlation Sig. (2tailed) N 1 InfeEksPo st1 -,061 ,793 21 21 -,061 1 ,793 21 21 214

(232) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4. 10 Hasil SPSS Uji Retensi Pengaruh Perlakuan 4.10.1 Kemampuan Mengevaluasi 4.10.1.1 Hasil SPSS Uji Retensi Perlakuan Posttest I ke Posttest II Paired Samples Statistics Mean Pair 1 EvKonPost1 EvKonPost2 Pair 2 EvEksPost1 EvEksPost2 Std. Deviation N Std. Error Mean 2,4443 21 ,51895 ,11324 2,3976 21 ,66391 ,14488 3,1114 21 ,45089 ,09839 2,9524 21 ,47524 ,10370 Paired Samples Correlations N Pair 1 Pair 2 Correlation Sig. EvKonPost1 & EvKonPost2 21 ,509 ,018 EvEksPost1 & EvEksPost2 21 ,051 ,825 Paired Samples Test Paired Differences Pair 1 Pair 2 EvKonPost1 EvKonPost2 EvEksPost1 EvEksPost2 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper Mean Std. Deviation Std. Error Mean ,04667 ,59940 ,13080 ,22618 ,31951 ,357 20 ,725 ,15905 ,63806 ,13924 ,13139 ,44949 1,142 20 ,267 T df Sig. (2tailed) 215

(233) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.10.1.2 Perhitungan Persentase Peningkatan Skor Posttest I ke Posttest II Perhitungan Persentase Peningkatan Skor Posttest I ke Posttest II Kelompok Kontrol Kelompok Eksperimen Persentase ; = = 2 39;2 44 = ; 2 44 5 2 44 x 100 % Persentase x 100% x 100% ; = = 2 95;3 11 = ; 16 3 11 3 11 x 100 % x 100% x 100% = - 0,02x 100% = - 0,05x 100% = -2% = -5% 4.10.1.3 Hasil SPSS Uji Retensi Perlakuan Pretest ke Posttest II Paired Samples Statistics Mean Pai r1 N Std. Error Mean EvaKonPre EvaKonPos t2 Pai r2 Std. Deviatio n 1,7295 21 ,50141 ,10942 2,3976 21 ,66391 ,14488 1,8724 21 ,47763 ,10423 2,9524 21 ,47524 ,10370 EvaEksPre EvaEksPost 2 Paired Samples Correlations Correlatio n N Pai r1 Pai r2 EvaKonPre & EvaKonPos t2 EvaEksPre & EvaEksPost 2 Sig. 21 ,423 ,056 21 ,659 ,001 216

(234) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Paired Samples Test Paired Differences Std. Error Mean Std. Deviation Mean 95% Confidence Interval of the Difference Uppe Lower r t df Sig. (2tailed ) Pai r1 EvaKonPre EvaKonPos t2 ,66810 ,64050 ,13977 ,95965 ,3765 4 4,780 20 ,000 Pai r2 EvaEksPre EvaEksPost 2 1,0800 0 ,39351 ,08587 1,2591 2 ,9008 8 12,57 7 20 ,000 4.10.2 Kemampuan Menarik Kesimpulan 4.10.2.1 Hasil SPSS Uji Retensi Perlakuan Posttest I ke Posttest II Paired Samples Statistics Mean Pair 1 N Std. Deviation Std. Error Mean InfeKonPost1 2,8095 21 ,37301 ,08140 2,6662 21 ,49487 ,10799 3,1271 21 ,53170 ,11603 2,9843 21 ,85938 ,18753 InfeKonPost2 Pair 2 InfeEksPost1 InfeEksPost2 Paired Samples Correlations Correlatio n N Pair 1 Pair 2 Sig. InfeKonPost1 & InfeKonPost2 21 ,058 ,801 InfeEksPost1 & InfeEksPost2 21 ,260 ,256 217

(235) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Paired Samples Test Paired Differences Pair 1 Pair 2 Mean Std. Deviation Std. Error Mean InfeKonPost1 InfeKonPost2 ,14333 ,60203 InfeEksPost1 InfeEksPost2 ,14286 ,88546 95% Confidence Interval of the Difference Sig. (2taile d) Lower Upper t df ,13137 ,13071 ,41738 1,0 91 2 0 ,288 ,19322 ,26020 ,54591 ,73 9 2 0 ,468 4.10.2.2 Perhitungan Persentase Peningkatan Skor Posttest I ke Posttest II Perhitungan Persentase Peningkatan Skor Posttest I ke Posttest II Kelompok Kontrol Kelompok Eksperimen Persentase ; = = 2 67;2 81 = ; 14 2 81 2 81 x 100% x 100% x 100 % Persentase ; = = 2 99;3 13 = ; 14 3 13 3 13 x 100 % x 100% x 100% = - 0,05x 100% = - 0,04x 100% = -5% = -4% 218

(236) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4.10.2.3 Hasil SPSS Uji Retensi Perlakuan Pretest ke Posttest II Paired Samples Statistics Mean Pair 1 N Std. Deviation Std. Error Mean InfeKonPost1 2,8095 21 ,37301 ,08140 2,6662 21 ,49487 ,10799 3,1271 21 ,53170 ,11603 2,9843 21 ,85938 ,18753 InfeKonPost2 Pair 2 InfeEksPost1 InfeEksPost2 Paired Samples Correlations N Pair 1 Pair 2 Correlation Sig. InfeKonPost1 & InfeKonPost2 21 ,058 ,801 InfeEksPost1 & InfeEksPost2 21 ,260 ,256 Paired Samples Test Paired Differences Mean Pair 1 Pair 2 Std. Deviation InfeKonPost1 InfeKonPost2 ,14333 ,60203 InfeEksPost1 InfeEksPost2 ,14286 ,88546 Std. Error Mean 95% Confidence Interval of the Difference Sig. (2tailed ) Lower Upper t df ,13137 ,13071 ,41738 1,0 91 20 ,288 ,19322 ,26020 ,54591 ,73 9 20 ,468 219

(237) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4. 11 Lembar Hasil Pretest dan Posttest Siswa Lampiran 4.11.1 Lembar Hasil Pretest Siswa 220

(238) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 221

(239) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 222

(240) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 223

(241) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 224

(242) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 225

(243) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 226

(244) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 227

(245) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4.11.2 Lembar Hasil Posttest Siswa 228

(246) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 229

(247) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 230

(248) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 231

(249) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 232

(250) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 233

(251) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 234

(252) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 235

(253) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 5. 1 Foto-foto kegiatan Kelompok Eksperimen Kelompok Kontrol 236

(254) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 237

(255) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 5. 2 Surat Keterangan Melaksanakan Validasi 238

(256) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 5. 3 Surat Keterangan Melaksanakan Penelitian 239

(257) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI CURRICULUM VITAE Agnes Putri Wiraswasti merupakan anak kedua dari pasangan Yakobus Paryono dan Theopilla Hariyani. Lahir di Bengkulu pada tanggal 21 Januari 1997. Pendidikan awal dimulai dari TK Sint Carolus tahun 2001-2003. Pendidikan dilanjutkan ke jenjang Sekolah Dasar Sint Carolus pada tahun 2003-2009. Peneliti melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Pertama Sint Carolus pada tahun 2009-2012. Kemudian peneliti melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Atas Sint Carolus pada tahun 2012 dan lulus pada tahun 2015. Peneliti melanjutkan pendidikan di Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Sanata Dharma pada tahun 2015. Berikut ini daftar kegiatan yang pernah diikuti peneliti selama menjadi mahasiswa Universitas Sanata Dharma. No 1 2 3 Nama Kegiatan Inisiasi Universitas Sanata Dharma Inisiasi Fakultas Inisiasi Program Studi PGSD Seminar “Reinventing Childhood Education” Pengembangan Kepribadian dan Metode Belajar (PPKMB I) Tahun 2015 2015 2015 Peran Peserta Peserta Peserta 2015 Peserta 2015 Peserta 6 Parade Gamelan Anak Ke-8 2015 7 Week-end Moral Pengembangan Kepribadian dan Metode Belajar (PPKMB I) 2016 Anggota Divisi Dekorasi Peserta 2016 Peserta 9 Malam Kreativitas PGSD 2016 2016 Koordinator Dekorasi 10 Kursus Pembina Pramuka Mahir Tingkat Dasar (KMD) 2016 Peserta 11 Inisiasi Fakultas 2016 Anggota Divisi Dampok 2016 Peserta 2016 Peserta 2017 Peserta 2017 Sekretaris I 4 5 8 12 13 14 15 Kuliah Umum “Masa Depan Toleransi di Tangan Guru” Temu Pembina III/2016 Tingkat Nasional Latihan Kepemimpinan Tingkat Dasar (LKTD) Inisiasi Mahasiswa Angkatan 2017 240

(258) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 16 Story Telling and Writing Contest 2017 2017 17 Lomba Kreativitas Mahasiswa 2017 2017 18 English Club for 4 Semesters Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) KE-31 Seminar Nasional FKIP 2018 Seminar Strategi Penyusunan Proposal Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Kemenristekdikti 2015-2017 Peserta Lomba Mading dan Pemenang Juara II Peserta 2018 Peserta 2018 Pemakalah 2018 Pembicara 19 20 21 Peserta 241

(259)

Dokumen baru

Download (258 Halaman)
Gratis

Tags

Dokumen yang terkait

KEEFEKTIFAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAMS GAMES TOURNAMENT PADA MOTIVASI BELAJAR DAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIKA
1
54
230
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAMS GAMES TOURNAMENT (TGT) DI KELAS X-8 SMA NEGERI 21 MEDAN.
0
2
14
PENGARUH METODE PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAMS GAMES TOURNAMENT TERHADAP PENGARUH METODE PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAMS GAMES TOURNAMENT TERHADAP PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA DITINJAU DARI KEMAMPUAN AWAL SISWA.
0
2
15
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN TEAMS GAMES TOURNAMENT (TGT) DALAM PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS PUISI ANAK DAN KOSAKATA SISWA KELAS V SD LABSCHOOL UPI BANDUNG.
2
25
42
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAMS GAMES TOURNAMENT (TGT) TERHADAP PRESTASI BELAJAR ILMU STATIKA DAN TEGANGAN SISWA KELAS X SMKN 5 BANDUNG.
0
0
40
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAMS GAMES TOURNAMENT (TGT) UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIS SISWA SMP.
0
1
34
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAMS GAMES TOURNAMENT UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPA MATERI PERISTIWA ALAM KELAS V SDN PREMULUNG.
0
0
18
PENGARUH MODEL KOOPERATIF TIPE TEAMS GAMES TOURNAMENT (TGT) TERHADAP KEMAMPUAN PENERAPAN KONSEP BANGUN RUANG PADA SISWA KELAS V SDN SE-KECAMATAN JATIYOSO TAHUN 2013.
0
0
20
PENGARUH MODEL KOOPERATIF TIPE TEAMS GAMES TOURNAMENT (TGT) TERHADAP KEMAMPUAN KONSEP BANGUN RUANG.
0
0
4
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAMS GAMES TOURNAMENT (TGT) UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR IPA SISWA KELAS V MI YAPPI PLANJAN CILACAP.
0
7
186
PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAM GAMES TOURNAMENT (TGT) TERHADAP PENINGKATAN KEAKTIFAN DAN HASIL BELAJAR IPA SISWA KELAS 4
0
0
15
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAMS GAMES TOURNAMENTS TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF MATEMATIKA
0
0
7
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAMS GAMES TOURNAMENT TERHADAP SIKAP SPORTIVITAS SISWA DALAM PENDIDIKAN JASMANI
0
0
12
EFEKTIVITAS PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAMS GAMES TOURNAMENT TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA
0
1
11
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAM GAMES TOURNAMENT (TGT) TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA SD
0
1
5
Show more