UNJUK KERJA PENGERING KOPRA ENERGI SURYA

Gratis

0
3
66
1 year ago
Preview
Full text

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

  Hasil penelitian menunjukkan efisiensi pengambilan kadar air maksimum sebesar 84,67% pada variasi laju aliran massa udara 0,2 kg/s, penutup kacaterbuka, kolektor ½ parabola dan massa kopra 1 kg. Efisiensi sistem pengering maksimum dicapai sebesar 9,69% pada variasi variasi laju aliran massa udara 0,2kg/s, penutup kaca tertutup, kolektor plat datar dan massa kopra 1 kg.

KATA PENGANTAR

  Puji Syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yesus Kristus atas berkat, kasih, rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan TugasAkhir ini sebagai salah satu syarat menyelesaikan studi di Program Studi Teknik Mesin, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Bapak Kasto dan Ibu Surati selaku orangtua penulis yang telah memberikan dukungan dana dan dukungan spiritual sehingga penulisantugas akhir ini dapat diselesaikan.

6. Kakakku Dody dan Ayun selaku keluarga penulis yang telah memberi dukungan spiritual dan memberi inspirasi

  38 Gambar 4.3 Grafik hubungan RH dan energi surya terhadap waktu pada data penelitian variasi tiga (aliran udara 0,2 kg/s, kaca tertutup, massa kopra 1 kg, kolektor ½ parabola) .................... 38 Gambar 4.4 Grafik hubungan RH dan energi surya terhadap waktu pada data penelitian variasi empat (aliran udara 0,2 kg/s, kaca terbuka, massa kopra 2 kg, kolektor ½ parabola) ....................

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

  Untuk memperoleh buah kopra kering yang berkualitas baik, mesin yang digunakan adalah mesin pengering yang sumber panasnya tidak langsung mengenaibahan yang dipanaskan. Apabila panas yang digunakan dari sumber energi surya, maka batok kelapa dan sabut kelapa yang menjadi sisa dari pengolahan kopra dapat diolah menjadi suatu produk yang memiliki nilai tambah.

1.2 Perumusan Masalah

  Energi surya yang digunakan untuk mengeringkan kopra dapat digunakan secara langsung atau tidak langsung. Pengeringan dengan energi surya tak langsung menggunakan penukar kalor, dimana energi surya digunakan untuk memanaskan air.

3. Pengeringan dengan energi surya, secara langsung ke ruang pengeringan

  Pada ruang pengeringan di bagian atasnya dipasang kaca untuk meneruskan energi termal surya sekaligus sebagai penjebak gelombangenergi termal dari surya. Sebuah kipas ditambahkan untuk membuat aliran udara masuk ke ruang pengering.

1.3 Tujuan dan Manfaat

  Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah: 1. Membuat model pengering kopra energi surya jenis aliran paksa.

2. Hasil dari penelitian ini diharapkan mempu untuk diaplikasikan secara nyata dalam pembuatan pengering kopra energi surya

  3. Ketergantungan sumber panas dari energi pembakaran biomass dapat dikurangi, sehingga dapat tercipta lingkungan yang bebas polusi udara dansehat bagi pekerja pembuat kopra.

1.4 Batasan Masalah

  Pada peneltian ini dibuat sebuah model pengering tenaga surya secara tidaklangsung menggunakan penukar kalor, dimana fluida yang digunakan berupa air dengan sumber energi panas dari energi surya. , luas kolektor jenisLuas kolektor model ½ reflektor parabola adalah ± 1 m 2plat datar 0,5 m dan luas penampang penerima cahaya matahari secara 2 langsung ke dalam ruang pengering adalah 0,279 m .

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Dasar Teori

  Blower Kolektor Plat DatarRuang Pengering Sedangkan prinsip kerja dari alat pengering energi surya pada Gambar 2.2 dan Gambar 2.3 adalah udara yang masuk lewat pipa bagian bawah laluditeruskan melewati kolektor plat datar untuk dipanaskan. Sistem plat datar seperti pada Gambar 2.4 (b) adalah jenis kolektor yang terbuat dari sebuah plat logam yang diberi warna hitam.

C. Beberapa pengembangan dari sistem termal ini salah

  satunya adalah penemuan dari Wolfgang Scheffler yang menemukan reflektor yang dinamai dari dirinya sendiri yakni parabola scheffler dimana titik fokusdari parabola ini tetap pada suatu titik tanpa harus memindahkan titik fokus sesuai arah datangnya sinar matahari. Gambar 2.6 Bagian parabola scheffler di parabola biasa Sistem termal Heliostat merupakan sistem kolektor yang menggunakan banyak sekali reflektor datar yang disusun mengelilingi suatu titik di menaraatau bangunan, lihat Gambar 2.7.

2.2 Persamaan yang Digunakan

  ….(4)dengan: : Kalor yang dibutuhkan untuk menguapkan uap air (MJ/kg) : laju massa air yang menguap (kg/detik) : Entalpi uap jenuh (kJ/kg) Unjuk kerja sistem pengering dapat diketahui dengan menghitung efisiensidari kolektor, efisiensi sistem pengering dan efisiensi pengambilan kadar air. .dengan : : laju massa air yang menguap (kg/detik) : kalor laten dari air yang menguap saat temperatur pengering (J/kg) 2 A C : luas kolektor surya (m ) 2: intensitas energi surya yang datang (W/m ) .

2.3 Penelitian Terdahulu

  Pengeringan didefinisikan sebagai operasi perpindahan panas secara simultan dengan perubahan fase untuk memindahkan sejumlah relatif kecil air dan cairanlainnya dari suatu system yang terdiri dari banyak komponen, sehingga diperoleh bahan padat kering yang masih mengandung sejumlah sisa air yangaman untuk dapat disimpan lama (Taib, Said dan Wiratmaja, 1988). Didalam proses pengeringan akan terjadi beberapa proses : a) proses pemindahan panasdari udara pengering kedalam bahan lembab yang akan dikeringkan, b) proses pemindahan massa air (uap air) dari dalam bahan kepermukaan yangdikeringkan dan kemudian diikuti oleh pemindahan uap air dari permukaan bahan masuk kedalam aliran udara pengering.

BAB II I METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Skema Alat

  Pada penelitian ini rancangan sistem pengering berbeda dengan sistem pengering tenaga surya pada umumnya. Ruang Pengering KacaPenerima Kalor Penukar Kalor Kolektor ½ ParabolaKipas Pompa Sirkulasi Fluida Air Gambar 3.1 Skema alat penelitian dengan kolektor ½ parabola.

3.2 Langkah Penelitian

  Data yang dicatat adalah konstanta energi surya yang datang (G), temperatur kering dan basah udara masuk penukar kalor (T1 dan T 2 ), temperatur keringdan basah udara keluar penukar kalor (T 3dan T 4), temperatur kering dan basah udara keluar ruang pengering (T 5 dan T 6 ), temperatur air masukpenukar kalor (T 7 ), temperatur air keluar penukar kalor (T 8 ), Temperatur penerima kolektor surya (T 9 ) dan penurunan massa bahan yang dikeringkan (M). Hubungan efisiensi kolektor, efisiensi pengambilan kadar air dan efisiensi sistem pengering dengan energi surya yang datang.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian

  Data variasi satu adalah data yang diambil saat kondisi laju aliran massa udara yang masuk ke ruangpengering sebesar 0,2 kg/s, penutup kaca diatas ruang pengering dilepas, berat kopra sebesar 1 kg dan menggunakan kolektor ½ parabola. Data variasi kedua adalah data yang diambil saat laju aliran massa udara yang masuk keruang pengering sebesar 0,1 kg/s, penutup kaca diatas ruang pengering dilepas, berat kopra sebesar 1 kg dan menggunakan kolektor ½ parabola.

4.2 Pembahasan

  29,18 = 9,69 %� = 0,5 .602 100 940 90 920) % 80( ²) H900 R 70/m f/W ti 60( la 880a e RH in Penukar Kalor (%)ry 50 Ru nS a 860 RH out Penukar Kalor (%) 40si p aia b RH out Ruang Pengering(%)id 30 840ma R le e 20 Gt (Energi Surya)K 820 10 80050 100 150 Waktu (menit) Gambar 4.1 Grafik hubungan RH dan energi surya terhadap waktu pada data penelitian variasi satu (aliran udara 0,2 kg/s, kaca terbuka, massa kopra 1 kg, kolektor ½ parabola). Gambar 4.2 Grafik hubungan RH dan energi surya terhadap waktu pada data R a id ia si S u ry a ( W /m ²) K e le m b a p a n R e la ti f/ R H ( % ) Waktu (menit)RH in Penukar Kalor (%) RH out Penukar Kalor (%)RH Out Ruang Pengering(%) Gt (Energi Surya) 90 10050 100 150 80 70 60 50 40 30 20 10 100 200300 400500 600700 800900 1000 90 10050 100 150 penelitian variasi dua (aliran udara 0,1 kg/s, kaca terbuka, massa kopra 1 kg, kolektor ½ parabola).

8.71 Var 2 ( Aliran udara 0,1 kg/s, Kaca

  Dari grafik batang pada Gambar 4.7 dan Gambar 4.8 diketahui bahwa efisiensi sistem pengering dengan menggunakan kolektor plat datarpada variasi lima meningkat 121,62% daripada menggunakan kolektor ½ parabola pada variasi tiga. Gambar 4.8 Grafik efisiensi sistem pengering pada variasi 3 dan 5 Efisiensi sistem pengering pada variasi 1 dan 3 pada Gambar 4.9 menunjukkan bahwa nilai efisiensi dari tertutupnya kaca pada ruang pengering meningkat 22,76%dibanding penutup kaca yang terbuka.

BAB V PENUTUP

  Efisiensi pengambilan kadar air maksimum dicapai sebesar 84,67% dengan variasi laju aliran massa udara 0,2 kg/s, penutup kaca terbuka, kolektor ½parabola dan massa kopra 1 kg. Penurunan massa kopra maksimum sebesar 210 gram dengan variasi laju aliran massa udara 0,2 kg/s, penutup kaca terbuka, kolektor ½ parabola danmassa kopra 2 kg.

3. Bahan yang digunakan untuk penelitian mempunyai sifat-sifat yang sama untuk tiap percobaan, agar data penelitian dapat optimal

DAFTAR PUSTAKA

  Said, Gumbira dan Wiraatmadja, Sutedja, (1988), Operasi Pengeringan Pada Pengolahan Hasil Pertanian. Menteri Energi Dan Sumber Daya Mineral, (2003), Kebijakan Pengembangan Energi Terbarukan Dan Konservasi Energi (Energi Hijau), Departemen Energi Dan SumberDaya Mineral, Jakarta Scanlin, D., (1997), The Design, Construction And Use Of An Indirect, Through-Pass, Solar Food Dryer, Home Power , Issue No.

Dokumen baru

Dokumen yang terkait

AGENSI DAN KEKUASAAN DALAM RELASI KERJA PERKEBUNAN KALIKLATAK KABUPATEN BANYUWANGI
24
460
54
ANALISIS OVEREDUCATION TERHADAP PENGHASILAN TENAGA KERJA DI INDONESIA BERDASARKAN SURVEI ANGKATAN KERJA NASIONAL 2007
6
226
19
ANALISIS PENGARUH PENGELUARAN PEMERINTAH, INVESTASI SWASTA, DAN TENAGA KERJA TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI DI EKS KARESIDENAN BESUKI TAHUN 2004-2012
13
276
6
ANALISIS PENGARUH PERSEPSI TRANSPARANSI DAN AKUNTABILITAS TERHADAP KINERJA LAYANAN PUBLIK SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH KABUPATEN BANYUWANGI
19
243
18
STUDI ANALISA PERHITUNGAN RENCANA ANGGARAN BIAYA GEDUNG KULIAH STIKES SURYA MITRA HUSADA KEDIRI JAWA TIMUR
22
192
1
HUBUNGAN DUKUNGAN SOSIAL TERHADAP TINGKAT DEPRESI PADA LANSIA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PANDANWANGI MALANG
36
206
19
PENGARUH TERAPI TERTAWA TERHADAP PENURUNAN TEKANAN DARAH SISTOLIK PADA PENDERITA HIPERTENSI DI KLUB SENAM SASANA SUMBERSARI WILAYAH KERJA PUSKESMAS DINOYO MALANG
34
238
24
EVALUASI OPTIMALITAS MODAL KERJA PADA PERUSAHAAN ALAS KAKI YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA
1
33
40
HUBUNGAN SELF EFFICACY DENGAN KESIAPAN KERJA PADA SISWA SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN
12
139
19
BEBAN KERJA MENTAL, SHIFT KERJA, HUBUNGAN INTERPERSONAL DAN STRES KERJA PADA PERAWAT INSTALASI INTENSIF DI RSD dr. SOEBANDI JEMBER
14
97
97
DISKRIMINATOR KELAYAKAN KREDIT MODAL KERJA BAGI UKM PADA PT BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO) TBK. CABANG LUMAJANG
5
61
16
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEJADIAN KURANG ENERGI PROTEIN (KEP) PADA BALITA NON KELUARGA MISKIN (NON GAKIN) DI KECAMATAN SUKORAMBI KABUPATEN JEMBER
4
89
1
ABSTRAK PENGARUH MOTIVASI DAN BUDAYA ORGANISASI TERHADAP KEPUASAN KERJA DAN DAMPAKNYA TERHADAP KINERJA AKUNTAN PENDIDIK (DOSEN AKUNTANSI)
14
74
125
PENGARUH KEPEMIMPINAN DAN LINGKUNGAN KERJA TERHADAP KINERJA KARYAWAN DI KANTOR KESATUAN BANGSA DAN POLITIK KOTA METRO
14
96
59
RANCANG BANGUN PENGGERAK OTOMATIS PANEL SURYA MENGGUNAKAN SENSOR PHOTODIODA BERBASIS MIKROKONTROLLER ATMEGA 16.
20
115
60
Show more