Usaha menemukan makna sakramen Ekaristi demi pengembangan iman umat lingkungan Santo Antonius Joton Paroki Santo Yusuf Pekerja Gondangwinangun Klaten.

Gratis

0
9
155
2 years ago
Preview
Full text

  

ABSTRAK

  Judul skripsi USAHA MENEMUKAN MAKNA SAKRAMEN

  

EKARISTI DEMI PENGEMBANGAN IMAN UMAT LINGKUNGAN

SANTO ANTONIUS JOTON PAROKI SANTO YUSUF PEKERJA

GONDANGWINANGUN KLATEN dipilih berdasarkan kenyataan bahwa

  menghayati makna sakramen Ekaristi dalam kehidupan sehari-hari penting untuk ditingkatkan secara terus menerus bagi kehidupan umat Lingkungan Santo Antonius Joton Paroki Santo Yusuf Pekerja Gondangwinangun Klaten. Penulis mempunyai kesan bahwa umat dalam mengikuti Ekaristi masih sebatas kewajiban dan berhenti pada ritus saja misalkan umat datang ke Gereja hanya sekedar datang, duduk, dan mendengarkan saja tanpa ada perwujudan konkrit dalam kehidupan sehari-hari. Umat belum sungguh-sungguh menyadari pentingnya menghayati makna sakramen Ekaristi dalam kehidupan sehari-hari.

  Persoalan pokok pada skripsi ini adalah bagaimana umat beriman Kristiani dapat menemukan dan menghayati makna sakramen Ekaristi demi pengembangan iman mereka dalam kehidupan sehari-hari. Mengingat kehidupan umat yang banyak tantangan dan persoalan hidup, umat beriman Kristiani sangat membutuhkan pendampingan iman agar mereka memiliki kehidupan rohani yang kuat. Oleh karena itu untuk mengkaji persoalan yang dihadapi umat dibutuhkan data yang akurat. Untuk maksud itu, studi pustaka yang besumber dari Kitab Suci, dokumen-dokumen Gereja, dan pandangan dari para ahli serta penelitian untuk mendapatkan data diperlukan demi mendapatkan inspirasi yang dapat digunakan sebagi usulan program pendampingan iman bagi umat untuk semakin menemukan dan menghayati makna sakramen Ekaristi dalam kehidupan sehari-hari.

  Penulis dalam skripsi ini mengusulkan suatu program katekese model

  

Shared Christian Praxis (SCP) sebagai usaha untuk meningkatkan penghayatan

  umat akan makna sakramen Ekaristi dalam kehidupan sehari-hari. Umat melalui program ini diharapkan dapat semakin menemukan, mendalami, dan menghayati makna sakramen Ekaristi sehingga iman mereka dapat bertumbuh dan berkembang. Selain itu umat juga dapat mewujudkan pertobatan diri yang membawanya pada perubahan pola hidup demi Kerajaan Allah.

  

ABSTRACT

  This thesis takes EFFORT TO FIND THE MEANING OF

  

SACRAMENT EUCHARIST FOR FAITH DEVELOPMENT OF THE

COMMUNITY CHRISTIAN OF SAINT ANTONIUS JOTON THE

WORKER OF CHURCH SAINT JOSEPH GONDANGWINANGUN

KLATEN ENVIROMENT

  as it’s title base on the truth that know the true meaning of the Eucharist Sacrament in daily life are important to develop continuously for the life of the environment of Saint Antonius Joton the worker of church saint Joseph Gondangwinangun Klaten environment.

  The writer has an impression that people when they join the Eucharist Sacram ent they just do it because it’s their duty and stop only at a certain rite for example when people come to the church they just come, sit, and listen without concrete manifestation in daily life. People haven really know the importance of the Eucharist Sacrament in their daily life.

  The main issues in this thesis are how a Christian could and into the meaning of Eucharist Sacrament for the sake of their faith development in daily life. Remembering the life of people that have many challenge and life problem, Christian extremely needed the spiritual mentoring, so they have a strong spiritual life. Because of that in examining the issues that people face many accurate data are needed. For that purpose, reference that source of the Bible, Church documents, and from the expert point of view with some research to get the data that needed, to get an inspiration that can be used as a program’s suggestion of spiritual mentoring for people to found and into the meaning of Eucharist Sacrament in daily life.

  The writer of this thesis suggests a model of catechecital’s program of Shared Christian Praxis (SCP) as a way to develop people into the meaning of Eucharist Sacrament in daily life. Through this program people hoped can find, deep into and into the meaning of Eucharist Sacrament so their faith can grow and develop. More than that people can realize early repent that can make a new change in their life circle for the sake of the Kingdom of Heaven.

  USAHA MENEMUKAN MAKNA SAKRAMEN EKARISTI DEMI PENGEMBANGAN IMAN UMAT LINGKUNGAN SANTO ANTONIUS JOTON PAROKI SANTO YUSUF PEKERJA GONDANGWINANGUN KLATEN S K R I P S I

  Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

  Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik

  Disusun Oleh : Yulius Swantoro NIM : 081124043 PROGRAM STUDI ILMU PENDIDIKAN KEKHUSUSAN PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

  

PERSEMBAHAN

  Skripsi ini kupersembahkan kepada 

  Kedua orangtua , kakak, adik, sahabat, yang telah memberi motivasi saya untuk menyelesaikan skripsi ini. 

  Para pembimbing dan dosen yang telah membimbing penulis dengan sabar selama proses belajar di Kampus IPPAK 

  Seluruh umat Lingkungan Santo Antonius Joton Paroki Santo Yusuf Pekerja Gondangwinangun Klaten yang telah memberikan kesempatan bagi penulis untuk mengadakan penelitian demi kelancaran penulisan skripsi ini.

  .

  MOTTO

  Selesaikanlah segala perkerjaan tanpa berkeluh kesah: “Allah yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya

  …” (Flp. 1:6)

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

  Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.

  

PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI

KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

  Yang bertanda tangan di bawah ini, mahasiswa Universitas Sanata Dharma: Nama : Yulius Swantoro NIM : 081124043

  Demi pengembangan ilmu pengetahuan, penulis memberikan wewenang bagi Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah penulis yang berjudul

  

USAHA MENEMUKAN MAKNA SAKRAMEN EKARISTI DEMI

PENGEMBANGAN IMAN UMAT LINGKUNGAN SANTO ANTONIUS

JOTON PAROKI SANTO YUSUF PEKERJA GONDANGWINANGUN

KLATEN beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian penulis

  memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin maupun memberikan royalti kepada penulis, selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis.

  Demikian pernyataan ini penulis buat dengan sebenarnya.

  

ABSTRAK

  Judul skripsi USAHA MENEMUKAN MAKNA SAKRAMEN

  

EKARISTI DEMI PENGEMBANGAN IMAN UMAT LINGKUNGAN

SANTO ANTONIUS JOTON PAROKI SANTO YUSUF PEKERJA

GONDANGWINANGUN KLATEN dipilih berdasarkan kenyataan bahwa

  menghayati makna sakramen Ekaristi dalam kehidupan sehari-hari penting untuk ditingkatkan secara terus menerus bagi kehidupan umat Lingkungan Santo Antonius Joton Paroki Santo Yusuf Pekerja Gondangwinangun Klaten. Penulis mempunyai kesan bahwa umat dalam mengikuti Ekaristi masih sebatas kewajiban dan berhenti pada ritus saja misalkan umat datang ke Gereja hanya sekedar datang, duduk, dan mendengarkan saja tanpa ada perwujudan konkrit dalam kehidupan sehari-hari. Umat belum sungguh-sungguh menyadari pentingnya menghayati makna sakramen Ekaristi dalam kehidupan sehari-hari.

  Persoalan pokok pada skripsi ini adalah bagaimana umat beriman Kristiani dapat menemukan dan menghayati makna sakramen Ekaristi demi pengembangan iman mereka dalam kehidupan sehari-hari. Mengingat kehidupan umat yang banyak tantangan dan persoalan hidup, umat beriman Kristiani sangat membutuhkan pendampingan iman agar mereka memiliki kehidupan rohani yang kuat. Oleh karena itu untuk mengkaji persoalan yang dihadapi umat dibutuhkan data yang akurat. Untuk maksud itu, studi pustaka yang besumber dari Kitab Suci, dokumen-dokumen Gereja, dan pandangan dari para ahli serta penelitian untuk mendapatkan data diperlukan demi mendapatkan inspirasi yang dapat digunakan sebagi usulan program pendampingan iman bagi umat untuk semakin menemukan dan menghayati makna sakramen Ekaristi dalam kehidupan sehari-hari.

  Penulis dalam skripsi ini mengusulkan suatu program katekese model

  

Shared Christian Praxis (SCP) sebagai usaha untuk meningkatkan penghayatan

  umat akan makna sakramen Ekaristi dalam kehidupan sehari-hari. Umat melalui program ini diharapkan dapat semakin menemukan, mendalami, dan menghayati makna sakramen Ekaristi sehingga iman mereka dapat bertumbuh dan berkembang. Selain itu umat juga dapat mewujudkan pertobatan diri yang membawanya pada perubahan pola hidup demi Kerajaan Allah.

  

ABSTRACT

  This thesis takes EFFORT TO FIND THE MEANING OF

  

SACRAMENT EUCHARIST FOR FAITH DEVELOPMENT OF THE

COMMUNITY CHRISTIAN OF SAINT ANTONIUS JOTON THE

WORKER OF CHURCH SAINT JOSEPH GONDANGWINANGUN

KLATEN ENVIROMENT

  as it’s title base on the truth that know the true meaning of the Eucharist Sacrament in daily life are important to develop continuously for the life of the environment of Saint Antonius Joton the worker of church saint Joseph Gondangwinangun Klaten environment.

  The writer has an impression that people when they join the Eucharist Sacram ent they just do it because it’s their duty and stop only at a certain rite for example when people come to the church they just come, sit, and listen without concrete manifestation in daily life. People haven really know the importance of the Eucharist Sacrament in their daily life.

  The main issues in this thesis are how a Christian could and into the meaning of Eucharist Sacrament for the sake of their faith development in daily life. Remembering the life of people that have many challenge and life problem, Christian extremely needed the spiritual mentoring, so they have a strong spiritual life. Because of that in examining the issues that people face many accurate data are needed. For that purpose, reference that source of the Bible, Church documents, and from the expert point of view with some research to get the data that needed, to get an inspiration that can be used as a program’s suggestion of spiritual mentoring for people to found and into the meaning of Eucharist Sacrament in daily life.

  The writer of this thesis suggests a model of catechecital’s program of Shared Christian Praxis (SCP) as a way to develop people into the meaning of Eucharist Sacrament in daily life. Through this program people hoped can find, deep into and into the meaning of Eucharist Sacrament so their faith can grow and develop. More than that people can realize early repent that can make a new change in their life circle for the sake of the Kingdom of Heaven.

KATA PENGANTAR

  Puji dan syukur penulis haturkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, sebab karena berkat kasih karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul USAHA MENEMUKAN MAKNA SAKRAMEN EKARISTI DEMI

  

PENGEMBANGAN IMAN UMAT LINGKUNGAN SANTO ANTONIUS

JOTON PAROKI SANTO YUSUF PEKERJA GONDANGWINANGUN

KLATEN.

  Skripsi ini lahir dari pengalaman yang penulis saksikan dan amati sebagai umat di Lingkungan Santo Antonius Joton Paroki Santo Yusuf Pekerja

  Gondangwinangun Klaten

  . Sebagian besar umat telah menghayati makna sakramen Ekaristi namun penghayatannya masih membutuhkan pendampingan terus menerus sampai iman mereka berkembang secara dewasa. Skripsi ini merupakan sumbangan pemikiran kepada seluruh umat beriman Katolik agar mereka dapat semakin menghayati pentingnya makna sakramen Ekaristi dalam kehidupan sehari-hari.

  Selama proses penulisan dan penyusunan karya tulis ini, penulis mendapatkan banyak dukungan dan perhatian dari berbagai pihak, untuk itu penulis dengan tulus hati mengucapkan banyak terimakasih terutama kepada: 1.

  Drs. FX. Heryatno W.W., S.J., M.Ed. selaku Kaprodi IPPAK Universitas Sanata Dharma yang sekaligus sebagai dosen pembimbing akademik dan pembimbing utama yang selalu mendampingi, memberikan perhatian, dan memotivasi penulis serta dengan penuh kesabaran membimbing penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

  2. Dr. B. Agus Rukiyanto, S.J. selaku dosen penguji kedua yang telah berkenan memberikan arahan dan masukan-masukan yang sungguh berguna demi kelengkapan skripsi ini.

  3. P. Banyu Dewa HS, S. Ag, M.Si, selaku dosen penguji ketiga yang memberikan perhatian serta dukungan dalam menyelesaikan penulisan skripsi ini.

  4. Segenap staf dosen dan seluruh staf karyawan prodi IPPAK Universitas Sanata Dharma yang secara tidak langsung selalu memberikan dorongan kepada penulis.

  5. Keluarga tercinta: bapak, ibu, kakak, yang selalu mendoakan dan memberikan dorongan bagi penulis dalam menyelesaikan perkuliahan. Segenap sahabat- sahabat mahasiswa angakatan 2008 dan lintas angkatan yang dengan caranya telah mendukung, belajar bersama, berbagi suka-duka bersama demi menciptakan sebuah keluarga IPPAK yang akrab penuh persaudaraan.

  6. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu yang dengan tulus hati memberikan masukan dan dorongan sampai selesainya skripsi ini.

  Penulis menyadari bahwa karya tulis ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun demi perbaikan skripsi ini. Akhirnya semoga skripsi ini sungguh bermanfaat.

  

DAFTAR ISI

  HALAMAN JUDUL .................................................................................. i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ....................................... ii HALAMAN PENGESAHAN ..................................................................... iii HALAMAN PERSEMBAHAN ................................................................ iv MOTTO ..................................................................................................... v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA .................................................... vi PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI

  ………………………… vii ABSTRAK .................................................................................................. viii

  

ABSTRACT .................................................................................................. ix

  KATA PENGANTAR ............................................................................... x DAFTAR ISI .............................................................................................. xii DAFTAR SINGKATAN ............................................................................ xvii

  BAB I. PENDAHULUAN .......................................................................... 1 A. Latar Belakang .............................................................................. 1 B. Rumusan Masalah ......................................................................... 9 C. Tujuan Penulisan ........................................................................... 9 D. Manfaat Penulisan ......................................................................... 10 E. Metode Penulisan .......................................................................... 10 F. Sistematika Penulisan ................................................................... 11 BAB II. SAKRAMEN EKARISTI DEMI PENGEMBANGAN IMAN UMAT..

  ………………………………………………………….. 14 A. Sakramen Ekaristi ......................................................................... 15 1.

  Pengertian dan Makna Sakramen pada Umumnya .................. 15 a.

  Pengertian Sakramen ........................................................... 15 b.

  Makna Sakramen ................................................................. 18 2. Pengertian dan Makna Sakramen Ekaristi ............................... 19 a.

  Pengertian Sakamen Ekaristi ............................................... 19 b.

  Makna sakramen Ekaristi .................................................... 21

  1) Ekaristi sebagai Ungkapan Cinta Kasih Yesus yang

  Sehabis-habisnya ............................................................ 21 2)

  Ekaristi sebagai Perjamuan yang Mempersatukan Umat dengan Allah, Umat dengan Umat ........................ 23

  3) Ekaristi sebagai Permohonan Seruan datang-Nya

  Karunia Roh Kudus (Epiklese) ....................................... 24 4)

  Ekaristi Memampukan Kita untuk Tinggal dalam Kristus ................................................................. 25 5)

  Ekaristi sebagai Sumber untuk Memperoleh Kekuatan Hidup Umat dalam Menghadapi Persoalan Hidup ......... 27 B. Iman Umat ................................................................................... 27 1.

  Pengertian Iman........................................................................ 27 2. Iman Gereja akan Yesus Kristus .............................................. 28 3. Pentingnya Iman di dalam Hidup Umat ................................... 29 4. Dasar Iman Umat ..................................................................... 30 5. Ciri-ciri Iman Kristiani yang Dewasa ...................................... 32 C. Ekaristi sebagai Tempat Pengembangan Iman Umat ................... 33 1.

  Pengembangan Iman Umat ...................................................... 34 2. Ekaristi Memberikan Semangat untuk Berbagi kepada Sesama ......................................................................... 35

  3. Ekaristi Memampukan Umat untuk Bersaksi kepada Sesama ......................................................................... 37

  BAB III. PENGHAYATAN UMAT LINGKUNGAN SANTO ANTONIUS JOTON PAROKI SANTO YUSUF PEKERJA GONDANGWINANGUN KLATEN TERHADAP MAKNA SAKRAMEN EKARISTI DEMI PENGEMBANGAN IMAN ....................................................... 39 A. Paroki Santo Yusuf Pekerja Gondangwinangun Klaten ............. 40 1. Sejarah Paroki dan Perkembangannya ................................... 40 a. Tahun 1963-1970: Awal Berdiri ...................................... 40 b. Tahun 1980-2000: Gagasan Pembentukan Paroki ........... 40 c. Tahun 2001-2004: Pembentukan Paroki .......................... 42

  2. Situasi Umum Umat Paroki Santo Yusuf Pekerja Gondangwinangun Klaten ..................................................... 43 3. Gambaran Umum Umat Lingkungan Santo Antonius

  Joton Paroki Santo Yusuf Pekerja Gondangwinangun Klaten ..................................................................................... 45 a.

  Letak dan Batas-batas Geografis Lingkungan Santo Antonius Joton Paroki Santo Yusuf Pekerja Gondangwinangun Klaten ............................................... 45 b. Kegiatan Umat dalam Gereja maupun Masyarakat ......... 46 c. Situasi Sosial Kemasyarakatan ........................................ 48 d. Perkembangan Umat ........................................................ 48 B. Penelitian tentang Penghayatan Umat Lingkungan Antonius

  Joton Paroki Santo Yusuf Pekerja Gondangwinangun Klaten Terhadap Makna Sakramen Ekaristi........................................... 49 1.

  Desain Penelitian .................................................................. 49 a.

  Latar Belakang Penelitian ............................................... 49 b.

  Tujuan Penelitian ............................................................ 50 c. Jenis Penelitian ............................................................... 51 d.

  Instrumen Pengumpulan Data ........................................ 51 e. Responden ...................................................................... 53 f. Waktu Pelaksanaan ......................................................... 54 g.

  Variabel Penelitian ......................................................... 54 h. Kisi-kisi Instrumen ......................................................... 54 2. Laporan dan Pembahasan Hasil Penelitian ........................... 55 a.

  Laporan Hasil Penelitian ................................................ 56 1)

  Identitas ...................................................................... 62 2)

  Pemahaman Ekaristi ................................................... 62 3)

  Penghayatan Makna Sakramen Ekaristi ..................... 63 4)

  Faktor Penyebab umat mengikuti Ekaristi sebatas kewajiban dan ritus .................................................... 66

  5) Harapan umat untuk meningkatkan penghayatan

  Ekaristi demi pengembangan iman ............................ 67 b. Pembahasan Hasil Penelitian .......................................... 67 1.

  Identitas Responden .................................................. 68 2. Pemahaman Sakramen Ekaristi ................................ 69 3. Penghayatan Makna Sakramen Ekaristi ................... 72 4. Faktor Penyebab ....................................................... 80 5. Harapan umat untuk meningkatkan penghayatan

  Ekaristi demi pengembangan iman........................... 83 3. Refleksi ................................................................................. 84 4.

  Kesimpulan Penelitian .......................................................... 87

  BAB IV. KATEKESE MODEL SCP SEBAGAI USAHA UNTUK MENINGKATKAN PENGHAYATAN UMAT AKAN MAKNA SAKRAMEN EKARISTI .......................................... 90 A. Katekese Model SCP .................................................................. 91 1. Pengertian SCP ...................................................................... 91 a. Praxis ................................................................................ 91 b. Christian ............................................................................ 92 c. Shared ............................................................................... 92 2. Tujuan Katekse Model SCP ................................................... 93 3. Langkah-Langkah Katekese Model SCP ............................... 94 a. Langkah 0: Pemusatan Aktivitas ....................................... 94 b. Langkah I: Pengungkapan Pengalaman Hidup Faktual ............................................................................... 95 c. Langkah II: Refleksi Kritis atas Sharing Pengalaman Hidup Faktual ............................................... 95 d. Langkah III: Mengusahakan Supaya Tradisi dan Visi Kristiani Lebih Terjangkau .............................................. 96 e. Langkah IV: Interpretasi Dialektis Antara Tradisi dan Visi umat dengan Tradisi dan Visi Kristiani ..................... 97 f. Langkah V: Keterlibatan Baru demi Makin

  Terwujudnya Kerajaan Allah di Tengah-tengah Dunia .... 98 B. Usulan Program Katekese dengan Model SCP bagi Umat

  Lingkungan Santo Antonius Joton Paroki Santo Yusuf Pekerja Gondangwinangun Klaten ............................................. 98 1.

  Latar Belakang ....................................................................... 99 2. Tema dan Tujuan Program Katekese ..................................... 101 C. Gambaran Pelaksanaan Program ................................................ 104 D. Matriks Program ......................................................................... 105 E. Contoh persiapan Katekese Model SCP ..................................... 108 1.

  Identitas Pertemuan ................................................................ 108 2. Pemikiran Dasar ..................................................................... 109 3. Mengembangkan Langkah-Langkah ..................................... 110

  BAB V. PENUTUP ..................................................................................... 122 A. Kesimpulan ................................................................................. 122 B. Saran ........................................................................................... 124 DAFTAR PUSTAKA ................................................................................. 125 LAMPIRAN ................................................................................................ 127 Lampiran 1: Surat Penelitian untuk Paroki ........................................ (1) Lampiran 2: Surat Penelitian untuk Ketua Lingkungan .................... (2) Lampiran 3: Surat Pernyataan Penelitian .......................................... (3) Lampiran 4: Kuesioner Untuk Umat Lingkungan St. Antonius ........ (4) Lampiran 5: Teks Cerita “Si Anak Dan Ibu Yang Bijaksana” ......... (6)

DAFTAR SINGKATAN A.

   Kitab Suci

  Seluruh singkatan Kitab Suci dalam skripsi ini mengikuti Kitab Suci

  

Perjanjian Baru: dengan Pengantar dan Catatan Singkat. (Dipersembahkan

  kepada Umat Katolik Departemen Agama Republik Indonesia dalam rangka PELITA IV). Ende: Arnoldus, 1984/1985, hal.7-8.

  B. Dokumen Resmi Gereja

  CT : Catechesi Tradendae (Penyelenggaraan Katekese), Anjuran Apostolik Sri Paus Yohanes Paulus II kepada para Uskup, klerus, dan segenap umat beriman tentang Katekese Masakini,

  16 Oktober 1979. KGK : Katekismus Gereja Katolik KHK : Kitab Hukum Kanonik (Codex luris Canonici), diundangkan oleh

  Paus Yohanes Paulus II tanggal 25 Januari 1983 LG : Lumen Gentium, Konstitusi Dogmatik Konsili Vatikan II tentang Gereja, 21 November 1964.

  SC : Sacrosanctum Concilium, Konsili Vatikan II tentang Liturgi Suci, 4 Desember 1963.

  C. Daftar Singkat Lain

  Art : Artikel DSA : Doa Syukur Agung Kan : Kanon KK : Kepala Keluarga

  KWI : Konferensi Waligereja Indonesia KKGK : Kompendium Katekismus Gereja Katolik KLMTD : Kecil, Lemah, Miskin, Tersingkir dan Difabel LCD : Liquid Crystal Display MB : Madah Bakti OMK : Orang Muda Katolik Pr. : Praja PS : Puji Syukur PIA : Pembinaan Iman Anak PPDP : Pedoman Pelaksanaan Dewan Paroki § : Paragraf St : Santo SCP : Shared Christian Praxis WK : Wanita Katolik KAS : Keuskupan Agung Semarang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Gereja melalui Konsili Trente menetapkan bahwa ada tujuh Sakramen,

  yaitu sakramen Baptis, sakramen Ekaristi, sakramen Krisma, sakramen Perkawinan, sakramen Tobat, sakramen Minyak Suci, dan sakramen Imamat.

  Sakramen adalah tanda dan sarana keselamatan dari Allah (Janssen, 1993: 9). Melalui dan dalam sakramen, Gereja menjalin persatuan yang mesra dengan Allah dan seluruh umat-Nya (Lumen Gensium. Art.1). Di dalam Gereja Katolik, Ekaristi merupakan salah satu sakramen Gereja. Seluruh sakramen Gereja berpusat pada sakramen Ekaristi. Sakramen Ekaristi sebagai pusat karena di dalamnya Gereja merayakan dan mengenangkan misteri sengsara, wafat, dan kebangkitan Yesus Kristus, sekaligus Gereja menimba kekayaan rohani dan rahmat keselamatan dari Allah bagi umat-Nya.

  Sakramen Ekaristi mengingatkan umat-Nya bahwa penyelamat yakni Yesus Kristus mengadakan kurban tubuh dan darah-Nya. Hal ini sebagai jaminan hidup bagi umat yang percaya bahwa kelak kita diundang untuk masuk ke dalam kemuliaan bersama Kristus (zaman eskatologis). Melalui sakramen Ekaristi umat menimba kekuatan untuk bersatu dan bertindak sebagai murid-murid Yesus Kristus. Konsili Vatikan II dalam Lumen Gentium art.11 menegaskan bahwa:

  Dengan ikut serta dalam kurban Ekaristi, sumber dan puncak seluruh hidup Kristiani, mereka mempersembahkan Anak Domba ilahi dan diri sendiri bersama dengan-Nya kepada Allah; demikianlah semua menjalankan peranannya sendiri dalam perayaan liturgis, baik dalam persembahan maupun dalam komuni suci, bukan dengan campur baur, melainkan masing-masing dengan cara sendiri. Kemudian, sesudah memperoleh kekuatan dari Tubuh Kristus dalam perjamuan suci, mereka secara konkret menampilkan kesatuan umat Allah, yang oleh sakramen mahaluhur itu dilambangkan dengan tepat dan diwujudkan secara mengagumkan (Lumen Gentium, art.11).

  Pernyataan para Bapa Gereja ini, penting untuk dimengerti dan direnungkan oleh seluruh umat Allah. Melalui Ekaristi umat dapat memperoleh kekuatan, kesegaran hidup, serta kepenuhan rahmat yang berlimpah dari Allah. Umat yang sungguh memaknai Ekaristi memiliki relasi yang erat dengan Allah dan memiliki keberanian untuk bersaksi mewartakan kabar gembira dalam kehidupan sehari-hari.

  Sakramen Ekaristi merupakan suatu anugerah cinta kasih Allah yang membawa pembaharuan hidup manusia. Sakramen Ekaristi dikatakan sebagai anugerah, karena Ekaristi adalah sumber atau pusat dan puncak seluruh hidup Gereja (KGK, 1993: 336). Selain itu, Ekaristi juga menjadi jantung hidup Gereja (Sinaga, 2005: 6). Gereja mendapatkan aliran hidup, untuk bertumbuh, dan berkembang ke arah persatuannya dengan Allah sebagai tubuh mistik Kristus.

  Sakramen Ekaristi menjadi pusat dan puncak hidup Gereja karena semua kegiatan Gereja baik bersifat duniawi maupun rohani berhubungan erat dengan Kristus yang hadir dalam Ekaristi, yang memberi kekuatan sekaligus menguduskan tindakan Gereja dalam rangka karya keselamatan Allah di dunia.

  Umat hidup di dalam dunia dan menggarami dunia dengan nilai-nilai injili, hanya mungkin jika umat menimba kekuatan dari Ekaristi. Ekaristi memberikan penghidupan rohani, dan menjadikan kita taat dalam iman kepercayaan kepada Allah, sekaligus memiliki perhatian khusus dalam menjalankan hidup di dunia.

  Gereja mengajarkan kepada kita bagaimana memaknai perjamuan Ekaristi setiap kali kita merayakannya. Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh Yesus bersama dengan para murid sebelum Ia memasuki misteri sengsara dan wafat- Nya. Yesus menghendaki agar perjamuan makan ini selalu dikenang dan dilakukan oleh umat-Nya dalam perayaan suci yakni Ekaristi. Gereja setiap kali merayakan Ekaristi sebagai bentuk kenangan akan Paska Kristus. Yesus mengambil roti dan mengucap syukur dan membagikan kepada para murid sambil berkata “ Terimalah dan makanlah ! Inilah tubuhKu yang dikurbankan bagimu”. Setelah perjamuan Yesus mengambil Piala yang berisi anggur dan mengucap syukur sambil mengedarkannya dan berkata “Terimalah dan minumlah ! Inilah piala darahKu, darah perjanjian baru dan kekal, yang ditumpahkan bagimu dan bagi semua orang demi pengampunan dosa. Kenangkanlah Aku dengan merayakan peristiwa ini” (DSA). Apa yang telah dilakukan Yesus dilanjutkan oleh Gereja yang didoakan oleh imam pada waktu konsekrasi. Uskup atau imam menjadi pelayan sakramen Ekaristi, bertindak sebagai perantara pribadi Kristus sendiri. Ekaristi sebagai tindakan pengudusan yang paling istimewa oleh Allah terhadap umat beriman. Ekaristi sebagai pusat perjumpaan antara umat beriman dengan sang Ilahi, mengulang kembali peristiwa pemecahan roti, pengucapan syukur, pembagian roti seperti yang dilakukan Yesus dalam perjamuan malam terakhir bersama dengan para murid-Nya.

  Istilah perjamuan makan pada zaman para rasul, zaman sekarang Gereja menyebutkannya dengan perayaan Ekaristi. Melalui perayaan inilah Gereja di seluruh dunia mengenang anugerah cinta kasih yang telah diberikan oleh Allah melalui Yesus Kristus kepada umat manusia. Di dalam Ekaristi, Yesus menunjukkan kebersamaan-Nya dengan manusia, mau berelasi dengan siapa saja, dan bersatu menjadi satu keluarga (Grün, 1998: 29).

  Di dalam Perjanjian Baru ada empat kisah tentang perjamuan malam terakhir. Hal ini dapat kita temukan di dalam injil Sinoptik dan surat-surat Paulus yaitu Mat 26:26-29; Mrk 14:22-25; Luk 22:15-20; 1Kor 11:23-26 (Martasudjita, 2005: 219). Dari keempat kisah ini, ada peristiwa penting yang memberikan pengajaran atas Ekaristi yaitu tindakan kenabian Yesus yang melaksanakan rencana karya keselamatan Allah bagi umat-Nya di dunia. Konsekuensi dari Yesus melakukan tindakan kenabian adalah melalui persitiwa salib. Yesus melakukan tindakan simbolis untuk memperlihatkan bahwa diri-Nya menyerahkan diri secara total dan taat pada kehendak Bapa dengan rela wafat di kayu salib sebagai bukti cinta Yesus yang total kepada umat manusia. Sebagai murid Kristus kita diajak untuk meneladani sikap Yesus yang taat dan rela berkorban untuk banyak orang.

  Yesus menyatakan kehadiran diri-Nya dalam rupa roti dan anggur dalam Ekaristi. Roti melambangkan Tubuh Yesus yang diserahkan kepada manusia, dan untuk dipecah-pecahkan, dibagi-bagikan untuk banyak orang. Anggur melambangkan penumpahan darah-Nya yang menjadi Perjanjian Baru abadi antara Allah dan manusia, manusia dengan manusia. Kematian Yesus memiliki arti pengorbanan diri secara sukarela bagi para murid dan sebagai bentuk cinta kasih-Nya kepada semua manusia. Yesus mengajak para murid untuk ambil bagian dalam perjamuan maka secara langsung mengajak murid-murid-Nya untuk bersatu dalam kematian-Nya. Kita bersatu dengan Yesus secara pribadi berarti menerima undangan-Nya untuk masuk dalam kemuliaan-Nya, dan menerima rahmat pengampunan dosa. Ekaristi mempersatukan kita dengan Yesus melalui iman. Persatuan ini nampak dalam penghayatan umat dalam Ekaristi. Ekaristi memberikan kekuatan untuk hidup baru melalui pertobatan sejati.

  Yesus setelah mengucapkan syukur memberikan sebuah perintah untuk mengenangkan peristiwa perjamuan. Ekaristi menjadi suatu peristiwa untuk mengenang kembali pemecahan roti, doa syukur, dan penyambutan Tubuh dan Darah Kristus. Yesus hadir bagi kita melalui Ekaristi. Yesus hadir di dunia menjadi nyata melalui Gereja yakni cara hidup atau kesaksian yang dilakukan oleh para pengikut-Nya. Ekaristi menciptakan persaudaraan sejati tidak hanya sesama umat beriman melainkan antar umat beragama lain. Umat Kristiani yang hidup di tengah dunia dan berdampingan dengan umat beragama lain dengan latar belakang yang berbeda-beda dengan cara pandang yang sama bahwa umat di luar Gereja menjadi satu keluarga.

  Pemahaman Ekaristi dalam tulisan Yohanes lebih menekankan aspek cinta kasih yang ditunjukkan Yesus ketika Yesus membasuh kaki para murid-Nya.

  Peristiwa ini mengajak kita untuk menggali dan menemukan pokok-pokok makna Ekaristi yaitu perendahan diri yang dilukiskan dengan ungkapan kasih Yesus yang sehabis-habisnya, perendahan diri hingga wafat-Nya disimbolkan dengan pelayanan pembasuhan kaki peserta perjamuan, pembasuhan kaki melukiskan makna Ekaristi dan menjadi ungkapan kasih Yesus yang tetap kepada para muridNya. Ekaristi juga menjadi suatu misteri dan tanda iman. Artinya, Ekaristi menjadi suatu misteri Ilahi sekaligus tanda bagi perwahyuan diri Yesus seluruhnya dan menjadi tawaran bagi manusia untuk berpartisipasi dalam hidup Yesus (Martasudjita, 2005: 240-246).

  Ekaristi sebagai sumber persatuan mesra dengan Kristus. Umat menyambut Tubuh dan Darah Yesus Kristus serta turut serta dalam pengurbanan diri-Nya menunjukkan kesediaan untuk bersatu dengan-Nya, sebagaimana Kristus telah mengatakan-Nya

  , “Dia yang makan tubuh-Ku dan minum darahKu, tinggal dalam Aku dan Aku dalam Dia ” (Yoh 6: 57). Sakramen Ekaristi sesungguhnya merupakan makanan bagi hidup rohani, sebab dari sakramen mengalir kekuatan bagi jiwa dan raga menjadi lebih sempurna. Sempurna berarti kita dipenuhi oleh rahmat Allah dan terlindung dari dosa. Sakramen Ekaristi sebagai sumber kehidupan, rahmat dan anugerah cinta kasih bagi kita karena Yesus Kristus hadir di dalam-Nya. Ia hadir dalam sakramen Ekaristi dengan karya penebusan-Nya yang utuh.

  Umat Kristiani pada masa penganiayaan mengalami penderitaan dan dikejar-kejar. Mereka dikejar dan dibunuh bahkan tidak diperbolehkan melakukan upacara keagamaan. Umat Kristiani takut untuk merayakan dan menyambut Ekaristi secara terbuka selama penganiayaan. Mereka merayakan Ekaristi secara sembunyi-sembunyi. Umat Kristiani dalam menyambut Ekaristi diperbolehkan untuk membawa pulang Tubuh Kristus. Umat juga diperbolehkan untuk membawa hosti bagi orang lain, terutama bagi orang yang dipenjara yang menjalani hukuman mati sebagai saksi iman. Sebagai contoh; kisah Tarsisius yang mati karena iman yang melindungi hosti. Kisah ini menunjukan bahwa bahwa betapa bermaknanya hosti bagi umat Kristiani. Peristiwa ini menunjukkan pemaknaan yang konkret yaitu mengorbankan diri untuk melindungi hosti (Loret, 1989: 23).

  Gereja Santo Yusuf Pekerja Gondangwinangun Klaten merupakan Paroki hasil pemekaran dari Paroki Santa Maria Bunda Kristus Wedi Klaten. Gereja Santo Yusuf Pekerja Gondangwinangun Klaten memiliki umat yang tersebar di 7 wilayah, dan 23 lingkungan. Umat paroki Santo Yusuf Pekerja Gondangwinangun Klaten aktif di dalam mengikuti perayaan Ekaristi sebagai salah satu contohnya adalah lingkungan Santo Antonius Joton. Umat lingkungan Santo Antonius Joton menyediakan waktu untuk bersama Tuhan. Umat sungguh menghormati perayaan Ekaristi, lewat sikap liturgis dalam berdoa di dalam Gereja dan menunjukkan rasa hormat pada saat konsekrasi. Berdasarkan pengamatan penulis, umat sering ke Gereja dan mengikuti perayaan Ekaristi namun bersifat ritualis. Umat menghadiri perayaan Ekaristi hanya sampai pada hal-hal yang bersifat ritual, seperti: umat datang di gereja, duduk mendengarkan sabda, menerima komuni dan setelah mengikuti perayaan tidak ada perwujudan tindakan yang berkelanjutan dalam kehidupan sehari-hari, sebagai contoh umat kurang terlibat dalam pendalaman iman, ada kegiatan di masyarakat jarang kelihatan, kurang partisipasi terhadap orang yang menderita. Sikap semacam ini menjadi tanda bahwa umat perlu didampingi supaya iman mereka dapat lebih berkembang dalam kehidupan sehari- hari. Sumber kekuatan orang Kristiani adalah Ekaristi, karena di dalam Ekaristi, misteri akan sengsara, wafat, dan kebangkitan menjadi inti dari iman Kristiani akan Yesus Kristus.

  Penulis sebagai warga lingkungan St. Antonius mempunyai kesan kepada umat bahwa mereka masih mengikuti Ekaristi sebagai kewajiban dan berhenti pada hal bersifat ritualis. Mereka mengikuti perayaan Ekaristi belum sampai pada kedalaman dan menemukan maknanya bagi diri sendiri dan dalam kehidupan sehari-hari. Pada hal Ekaristi merupakan pusat dan puncak kekuatan hidup umat Kristiani. Selain itu umat diharapkan dalam mengikuti Ekaristi tidak cukup hanya hadir, duduk, dan mendengarkan tetapi juga sesudahnya diutus hadir ke tengah dunia yang menanti keterlibatan nyatanya yakni bersedia mencintai sesama sehabis-habisnya. Oleh sebab itu, melalui skripsi ini penulis bermaksud ingin memberikan sumbangan pemikiran sebagai usaha menemukan makna sakramen Ekaristi demi pengembangan iman umat di lingkungan St. Atonius Joton. Penulis merumuskan judul skripsi: USAHA MENEMUKAN MAKNA SAKRAMEN

  

EKARISTI DEMI PENGEMBANGAN IMAN UMAT LINGKUNGAN

SANTO ANTONIUS JOTON PAROKI SANTO YUSUF PEKERJA

GONDANGWINANGUN KLATEN.

B. Rumusan Masalah

  Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan di atas, dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:

  1. Apa makna sakramen Ekaristi untuk hidup umat? 2.

  Sejauh mana umat Lingkungan Antonius Joton Paroki Santo Yusuf Pekerja Gondangwinangun Klaten sudah menghayati makna sakramen Ekaristi demi pengembangan iman mereka?

  3. Model katekese macam apa yang dapat membantu umat Lingkungan Antonius Joton Paroki Santo Yusuf Pekerja Gondangwinangun Klaten menemukan makna sakramen Ekaristi untuk pengembangan iman mereka?

C. Tujuan Penulisan

  Tujuan yang ingin dicapai dalam penulisan ini adalah: 1.

  Menemukan makna sakramen Ekaristi demi pengembangan iman umat Lingkungan Antonius Joton Paroki Santo Yusuf Pekerja Gondangwinangun Klaten.

  2. Menggambarkan sejauh mana penghayatan sakramen Ekaristi di dalam pengembangan iman umat Lingkungan Antonius Joton Paroki Santo Yusuf Pekerja Gondangwinangun Klaten.

  3. Memberi sumbangan pemikiran yang berupa usulan program pendampingan model katekese yang dapat membantu umat Lingkungan Antonius Joton Paroki Santo Yusuf Pekerja Gondangwinangun Klaten semakin menemukan, memahami, dan menghayati makna sakramen Ekaristi khususnya dalam pengembangan iman mereka.

D. Manfaat Penulisan

  Penulisan ini diharapkan dapat memberikan manfaat: 1.

  Menambah wawasan dan pengetahuan bagi penulis tentang makna sakramen Ekaristi demi mengembangkan iman dalam kehidupan sehari-hari.

2. Membantu Umat Lingkungan Santo Antonius Joton Paroki Santo Yusuf

  Pekerja Gondangwinangun Klaten semakin menghayati akan sakramen Ekaristi demi pengembangan iman.

  3. Memberikan sumbangan kepada umat dalam memaknai sakramen Ekaristi demi pengembangan iman Umat Lingkungan Santo Antonius Joton Paroki Santo Yusuf Pekerja Gondangwinangun Klaten.

E. Metode Penulisan Dalam tugas akhir ini, penulis menggunakan metode deskriptif analisis.

  Dengan metode ini, penulis menggambarkan sejauh mana umat Lingkungan Antonius Joton Paroki Santo Yusuf Pekerja Gondangwinangun Klaten dapat menemukan makna sakramen Ekaristi demi pengembangan iman mereka. Penulis juga mencoba memahami apa yang menjadi hambatan umat untuk dapat menemukan makna sakramen Ekaristi demi pengembangan iman mereka.

  Kemudian penulis mengusulkan program katekese yang dapat membantu umat menemukan makna sakramen Ekaristi demi pengembangan iman umat

  Lingkungan Santo Antonius Joton Paroki Santo Yusuf Pekerja Gondangwinangun Klaten.

  Sistematika Penulisan F.

  Penulis dalam Skripsi ini memilih judul “Usaha Menemukan Makna

  Sakramen Ekaristi demi Pengembangan Iman Umat Lingkungan Santo Antonius Joton Paroki Santo Yusuf P ekerja Gondangwinangun Klaten”, untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas dari skripsi ini, maka penulis menyampaikan pokok- pokok uraian dalam lima bab.

  Bab I berisi pendahuluan, yang meliputi latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penulisan, manfaat penulisan, metode penulisan, serta sistematika penulisan yang hendak penulis susun.

  Bab II membahas sakramen Ekaristi demi pengembangan iman umat, yang meliputi makna sakramen Ekaristi yang bersumber pada Kitab Suci, dokumen- dokumen Gereja, serta pandangan dari para ahli. Dalam bab ini terdapat tiga bagian: bagian pertama membahas sakramen Ekaristi yang meliputi tentang pengertian dan makna sakramen pada umumnya, pengertian dan makna sakramen Ekaristi.

  Bagian kedua bab ini membicarakan tentang iman umat, yang meliputi pengertian iman, iman Gereja akan Yesus Kristus, pentingnya iman di dalam hidup umat, dasar iman umat, serta ciri-ciri iman Kristiani yang dewasa. Bagian ketiga bab ini membahas mengenai Ekaristi sebagai tempat pengembangan iman umat, yang meliputi pengembangan iman umat, Ekaristi memberikan semangat untuk berbagi kepada sesama, dan Ekaristi memampukan umat untuk bersaksi kepada sesama.

  Bab III membahas penghayatan umat Lingkungan Santo Antonius Joton Paroki Santo Yusuf pekerja Gondangwinangun Klaten terhadap makna sakramen Ekaristi demi pengembangan iman. Dalam bab ini terdapat dua bagian. Bagian pertama membahas Paroki Santo Yusuf Pekerja Gondangwinangun Klaten, yang meliputi sejarah paroki dan perkembangannya, situasi umum umat paroki Santo Yusuf Pekerja Gondangwinangun Klaten, gambaran umum umat Lingkungan Antonius Joton Paroki Santo Yusuf Pekerja Gondangwinangun Klaten.

  Bagian kedua menyampaikan penelitian tentang penghayatan umat Lingkungan Santo Antonius Joton Paroki Santo Yusuf Pekerja Gondangwinangun Klaten terhadap makna sakramen Ekaristi, yang meliputi desain penelitian, laporan dan pembahasan hasil penelitian, refleksi, serta kesimpulan penelitian.

  Bab IV membahas katekese model SCP sebagai usaha untuk meningkatkan penghayatan umat akan makna sakramen Ekaristi. Bab ini dibagi menjadi 5 bagian: Bagian pertama bab ini membicarakan katekese model SCP, yang meliputi pengertian SCP, tujuan katekese model SCP, langkah-langkah katekese model SCP. Bagian kedua menyampaikan usulan program katekese dengan model SCP bagi umat Lingkungan Santo Antonius Joton Paroki Santo Yusuf Pekerja Gondangwinangun Klaten, yang meliputi latar belakang, tema dan tujuan program katekese. Bagian ketiga memberikan gambaran pelaksanaan program. Bagian keempat dalam bab ini membahas matriks program. Pada bagian kelima contoh persiapan katekese model SCP yang meliputi identitas pertemuan, pemikiran dasar serta pengembangan langkah-langkahnya.

  Bab V merupakan bab terakhir sekaligus sebagai penutup dari seluruh pembahasan mengenai usaha menemukan makna sakramen Ekaristi demi pengembangan iman umat Lingkungan Santo Antonius Joton Paroki Santo Yusuf Pekerja Gondangwinangun Klaten, yang meliputi kesimpulan serta saran.

BAB II SAKRAMEN EKARISTI DEMI PENGEMBANGAN IMAN UMAT Bab II ini penulis menguraikan sakramen Ekaristi demi pengembangan

  iman umat yang memiliki kesinambungan dengan pembahasan pada bab sebelumnya. Dimana yang menjadi pokok permasalahan pada skripsi ini yakni keprihatinan penulis terhadap umat dalam memaknai Ekaristi, yang selama ini penulis melihat umat mengikuti Ekaristi masih bersifat ritualis dan kenyataannya tidak semua umat mampu menghayati sakramen Ekaristi dalam kehidupan beriman. Permasalahan inilah yang hendak penulis angkat dalam skripsi. Penulis memberikan sumbangan pemikiran dari berbagai sumber untuk membantu umat menemukan makna sakramen Ekaristi dalam kehidupan sehari-hari.

  Dalam bab ini, penulis membahas sakramen Ekaristi dan maknanya melalui Kitab Suci, dokumen-dokumen Gereja, dan juga pandangan dari para ahli.

  Seluruh sakramen Gereja berpusat pada sakramen Ekaristi. Sakramen Ekaristi sebagai pusat karena di dalamnya Gereja merayakan dan mengenangkan misteri sengsara, wafat, dan kebangkitan Yesus Kristus, sekaligus Gereja menimba kekayaan rohani dan rahmat keselamatan dari Allah bagi umat-Nya. Bersumber dari Ekaristi umat dapat memperkuat imannya untuk bertahan menghadapi berbagai persoalan hidup. Selain itu melalui Ekaristi umat mampu untuk mempersembahkan seluruh hidupnya bagi Allah. Ekaristi juga memampukan umat-Nya untuk berkarya di tengah dunia.

  Bab II lebih merupakan kajian pustaka. Penulis pada bab ini membagi uraian menjadi tiga bagian, yakni pada bagian pertama penulis menjelaskan sakramen Ekaristi pada umumnya. Pada bagian kedua penulis menjelaskan tentang iman umat. Kemudian secara khusus pada bagian ketiga penulis menjelaskan Ekaristi sebagai tempat pengembangan iman umat.

  Penulis pada bagian awal bab ini menjelaskan tentang sakramen Ekaristi yang bertujuan untuk membantu umat semakin memahami sakramen Ekaristi demi pengembangan iman dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini sangat penting bagi umat untuk memahami sakramen Ekaristi karena dengan Ekaristi umat diharapkan mampu menemukan nilai-nilai hidup rohani demi terwujudnya Kerajaan Allah di dunia. Melalui Ekaristi umat memperoleh kekuatan rohani untuk berkembang dalam iman serta menghadapi berbagai permasalahan hidup dan memampukan diri untuk bersaksi bagi sesama.

A. Sakramen Ekaristi 1. Pengertian dan Makna Sakramen pada Umumnya a. Pengertian Sakramen

  Sakramen yang berasal dari bahasa latin sacramentum, terdiri dari kata

sacro, sacer yang artinya kudus, suci, lingkungan orang kudus, bidang yang suci.

  

Sacrare berarti menyucikan, menguduskan, mengkhususkan sesuatu atau

  seseorang bagi bidang yang suci atau kudus. Jadi, sacramentum itu menunjuk pada suatu hal yang menguduskan (Martasudjita, 2003: 61).

  Penulis menyampaikan pengertian sakramen dari dokumen Gereja yakni

  

Kompendium Katekismus Gereja Katolik (2009: art. 224) yang menyatakan bahwa

  “sakramen merupakan tanda yang mendatangkan rahmat”. Sakramen-sakramen yang kita terima dari Gereja sungguh memberikan rahmat yang dapat dirasakan yakni kedamaian, ketentraman, persaudaraan, kerukunan, kasih sesama, dan sebagainya.

  Menurut Kitab Hukum Kanonik (KHK) 1983 Kan. 840: “sakramen merupakan tanda dan sarana yang mengungkapkan dan menguatkan iman

  ”. Sakramen yang kita terima dalam Gereja memberikan kekuatan, menciptakan dan memperkokoh persatuan umat. Umat Kristiani yang menerima sakramen sungguh dipersatukan dalam Gereja dalam persekutuan Roh Kudus, sekaligus umat dipersatukan dengan Allah dalam kemuliaan-Nya.

  Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) (1996: 400) mendefinisikan: “sakramen sebagai peristiwa konkret duniawi yang menandai, menampakkan, dan melaksanakan atau menyampaikan keselamatan Allah atau dengan lebih tepat Allah yang menyelamatkan

  ”. Jadi sakramen itu sungguh-sungguh nyata datang dari Allah yang menyelamatkan umat. Hanya saja keselamatan yang datang itu melalui sakramen-sakarmen dan dapat dirasakan ketika kita dapat menghayatinya dalam hidup sehari-hari.

  Menurut Janssen (1993: 38): “sakramen adalah suatu tanda lahir yang ditetapkan oleh Kristus dan terdiri dari suatu perbuatan (materi) dan perkataan yang menerangkannya sebagai lambang rahmat yang tidak kelihatan yang dikerjakan oleh Roh Kudus dalam diri si penerima

  ”. Umat Kristiani yang menerima sakramen dalam Gereja melambangkan kesatuan Allah dengan umat- Nya melalui rahmat dalam sakramen. Allah mencurahkan rahmat keselamatan bagi umat yang menerima sakramen, khususnya dalam sakramen Ekaristi, sebagaimana peristiwa keselamatan yang telah dilakukan oleh Yesus terhadap umat-Nya.

  Sakramen yang ada di dalam Gereja menunjukkan suatu “simbol atau lambang” keagaman. Simbol pada umumnya menyampaikan suatu hal yang konkret dalam kehidupan yang melambangkan kehadiran sang Ilahi. Dengan demikian simbol memiliki peran yaitu menghadirkan sang Ilahi dalam Gereja.

  Jadi sakramen menurut Groenen (1990: 20) ialah “simbol religius keagamaan”.

  Berdasarkan pengertian di atas, penulis lebih tertarik dengan pernyataan KWI yakni sakramen sebagai peristiwa konkret duniawi yang menandai, menampakkan, dan melaksanakan atau menyampaikan keselamatan Allah atau dengan lebih tepat Allah yang menyelamatkan. Sakramen sebagai peristiwa konkret duniawi dapat dilihat dalam Gereja yakni sakramen Pembaptisan, sakramen Komuni, sakramen Krisma, dan sakramen Tobat. Sakramen Pembaptisan menandakan bahwa umat dibebaskan dari dosa dan dilahirkan kembali sebagai putra-putri Allah serta menjadi anggota murid-murid Kristus yang dikasihi-Nya serta Gereja. Sakramen komuni menandakan, menampakkan dan melaksanakan perintah Tuhan sebelum wafat dan kebangkitan-Nya. Sakramen ini menunjukkan suatu kesatuan, ikatan cinta kasih yang sungguh dipenuhi oleh rahmat karunia Roh Kudus. Sakramen Penguatan menandakan penyempurnaan rahmat Pembaptisan yang telah dikaruniakan oleh Roh Kudus, dimana sakramen ini memberikan daya kekutan Roh Kudus supaya umat mampu bersaksi dalam hidup sehari-hari. Sakramen Tobat menandakan perolehan pengampunan dari belas Kasih Allah atas segala kesalahan yang membuat kekecewaan terhadap-Nya serta disatukan kembali dalam Gereja atas dosa yang telah dilakukan atas sesama dalam hidup dan membantu umat dalam pertobatan (KGK, 1993: 312-360). Hal ini menjadi peristiwa konkret yang penulis lihat, terima dan ini sungguh memberikan rasa kedamaian, kebahagian, kesatuan, dan persaudaraan yang terjadi dalam hidup.

b. Makna Sakramen

  Sakramen merupakan suatu misteri yang tak dapat dipahami secara tuntas oleh manusia. Misteri yang dimaksudkan di sini adalah rahasia karya keselamatan yang berasal dari Allah sendiri (KWI, 1996: 400). Kata misteri atau mysterion (Yunani) dipergunakan untuk menerjemahkan sebuah kata Ibrani sôd. Mysterion berasal dari kata my, kata kerja myein, yang memiliki arti menutup mulut atau mata sebagai reaksi atas pengalaman yang mengatasi nalar, pengalaman yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Dengan demikian mysterion memiliki sebuah makna dasar yaitu berhubungan dengan pengalaman akan Yang Ilahi, yakni suatu pengalaman batin yang tidak terlukiskan dengan kata-kata karena pengalaman perjumpaan dengan Yang Ilahi (Martasudjita, 2003: 62).

  Sakramen memiliki makna pengudusan yang bersumber dari tindakan Allah. Hal ini menjadi tanda bahwa aksi atau perbuatan baik manusia menjadi rahmat yang menguduskan sekaligus menunjukkan bahwa hal tersebut merupakan pekerjaan Allah. Aksi atau perbuatan yang baik dapat terwujud berkat adanya campur tangan Allah. Sakramen sungguh bermakna bagi manusia yang menerimanya ketika manusia itu mampu mewujudkan dalam kehidupan sehari- hari (KWI, 1996: 400).

2. Pengertian dan Makna Sakramen Ekaristi a. Pengertian Sakamen Ekaristi Ekaristi berasal dari bahasa Yunani eucharistia yang artinya puji syukur.

  

Eucharistia merupakan kata benda yang berasal dari kata kerja bahasa Yunani

eucharistein yang berarti memuji, dan mengucap syukur. Eucharistein dalam

  Perjanjian Baru, misal dalam Mat. 26: 27; Luk. 22: 19.20 digunakan bersama- sama dengan kata eulogein Mat. 26: 26; 1Kor 10: 16 yang memiliki arti memuji- bersyukur. Pengertian ini digunakan untuk menerjemahkan kata dari bahasa Ibrani

  

barekh artinya memuji dan memberkati. Barekh atau barekhah dalam tradisi

  liturgi Yahudi dipergunakan dalam konteks doa berkat perjamuan yang berisi pujian, syukur, dan permohonan. Doa berkat dalam tradisi Yahudi berlangsung dalam perjamuan makan Yahudi yakni doa berkat atas roti dan piala. Dengan demikian Ekaristi dapat dimengerti sebagai doa berkat yang berlangsung dalam perjamuan makan Yahudi (Martasudjita 2005: 28).

  Di samping ini penulis menyampaikan pengertian Ekaristi dari dokumen Gereja. Kompendium Katekismus Gereja Katolik (2009: 99) menyatakan Ekaristi sebagai kurban Tubuh dan Darah Tuhan Yesus sendiri yang ditetapkan-Nya untuk mengabadikan kurban salib selama perjalanan waktu sampai kembali-Nya dalam kemuliaan. Seluruh perjalanan hidup Yesus diabadikan di dalam Gereja. Gereja menjadi tempat yang dipercaya oleh-Nya untuk mengabadikan kenangan wafat dan kebangkitan-Nya. Hal ini menjadi tanda bahwa di dalam Ekaristi terlihat adanya kesatuan, ikatan cinta kasih, perjamuan paskah, dimana rahmat dan jaminan kemuliaan yang akan datang dicurahkan kepada umat-Nya. Ekaristi menurut KHK 1983 (kan. 899 § 1) adalah tindakan Kristus sendiri dan Gereja; di dalamnya Kristus Tuhan, melalui pelayanan imam, mempersembahkan diri-Nya kepada Allah Bapa dengan kehadiran-Nya secara substansial dalam rupa roti dan anggur, serta memberikan diri-Nya sebagai santapan rohani kepada umat beriman yang menggabungkan diri dalam persembahan-Nya.

  Di bawah ini penulis menyampaikan pengertian Ekaristi dari pandangan para Bapa Gereja. Santo Ignatius dari Antiokia berpendapat Ekaristi itu membangun kesatuan Gereja. Bilamana orang menerima Ekaristi maka ia disatukan dengan Yesus Kristus, Ekaristi bukanlah barang atau benda, melainkan peristiwa dan sarana untuk identifikasi dengan Kristus. Santo Yustinus juga berpendapat Ekaristi adalah kurban rohani sebab Ekaristi itu adalah doa yang benar dan pujian syukur yang tepat. Ekaristi itu merupakan kenangan akan penderitaan Yesus, sekaligus akan penciptaan dan penebusan. Dalam kenangan tersebut, peristiwa inkarnasi juga dihadirkan. Dan Santo Irenius berpendapat Ekaristi merupakan kurban pujian-syukur. Dia berpendapat demikian karena dalam Ekaristi diungkapkan pujian-syukur atas pencipataan, tentu saja atas peristiwa penebusan Yesus Kristus (Martasudjita 2005: 28).

  Sedang Sumarno (2009: 29) dalam manuskripnya yang berjudul

  

Pengantar Pendidikan Agama Katolik Paroki, menyatakan bahwa Ekaristi adalah

  “ungkapan iman dalam bentuk perayaan syukur, yang jauh dari tindakan resmi protokoler, suatu upacara formal dengan suatu aturan dan tata cara tertentu ”.

  Berdasarkan pengertian di atas penulis dapat menyimpulkan bahwa pengertian Ekaristi adalah suatu perayaan syukur untuk mengenangkan, menghadirkan, menghayati akan karya keselamatan Allah yang telah terwujud dalam diri Yesus Kristus dengan berpuncak pada kurban salib-Nya. Di dalam Ekaristi kita mengenangkan penderitaan Yesus sebelum penyerahan diri pada kayu salib untuk keselamatan seluruh umat beriman. Selain itu juga dalam Ekaristi kita berdoa memohon kehadiran Roh Kudus dalam perjamuan Ekaristi untuk memberkati roti dan anggur yang disantap bersama supaya menjadi santapan rohani. Roh Kudus juga yang menjadikan karya keselamatan Allah terwujud dalam dunia. Dan hal yang terpenting dalam Ekaristi kita diajak untuk menghayati seluruh karya keselamatan Allah dengan cara ikut ambil bagian di dalamnya.

b. Makna sakramen Ekaristi 1) Ekaristi sebagai Ungkapan Cinta Kasih Yesus yang Sehabis-habisnya

  Yesus selama hidup menumpahkan cinta kasih-Nya yang tanpa batas atau sehabis-habisnya kepada para murid-Nya. Hal ini tersirat dalam Yoh. 13:1 yang berbunyi “sementara itu sebelum hari raya Paskah mulai, Yesus telah tahu, bahwa saat-Nya sudah tiba untuk beralih dari dunia ini kepada Bapa. Sama seperti Ia senantiasa mengasihi murid-murid-Nya demikianlah sekarang Ia mengasihi mereka sampai kepada kesudahannya ”. Ia memberikan pelayanan dengan kasih yang sungguh luar biasa. Ia mengasihi murid-murid-Nya tanpa batas dan menyayangi mereka sampai akhir hayat. Yesus memberikan kasih-Nya secara total kepada mereka sampai pada kesudahan dan Ia rela memberikan nyawa-Nya demi keselamatan para murid serta seluruh umat beriman.

  Kematian Yesus di kayu salib mengungkapkan cinta kasih-Nya kepada para murid serta seluruh umat manusia demi persatuan dengan Allah. Ia mengorbankan diri di kayu salib demi memenuhi karya keselamatan dari Allah bagi umat-Nya. Ia memiliki jiwa pengorbanan yang sungguh luar biasa dan memiliki kasih yang sungguh total terhadap sahabat-sahabat-Nya. Hal ini dapat dilihat dalam Yoh 15: 13 yang berbunyi

  “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawa-Nya untuk sahabat-sahabatnya ”.

  Yesus memberikan teladan bagaimana memberikan kasih terhadap sesama. Yesus mengajarkan nilai cinta kasih yang sungguh-sungguh menyentuh hati bagi sahabat-sahabat-Nya, tiada kasih yang sempurna selain kasih yang rela memberikan nyawa-Nya untuk orang yang dikasihi-Nya.

  Yesus memberikan anugerah cinta kasih yang tanpa batas kepada para murid serta umat-Nya. Yesus telah memberikan kemenangan sejati dan keselamatan bagi semua orang. Oleh sebab itu untuk mengenang anugerah-Nya, Gereja mengabadikan dan mengenang-Nya dalam Ekaristi suci. Ekaristi menjadi suatu kenangan akan anugerah cinta kasih yang mendalam dan memiliki kekuatan untuk hidup rohani yang bersumber dari Allah (Martasudjita, 2005: 295-296).

  2)

Ekaristi sebagai Perjamuan yang Mempersatukan Umat dengan Allah,

  Umat dengan Umat

  Konsili Vatikan II mengajarkan Ekaristi sebagai perjamuan Paskah (SC 47). Hal ini dimengerti dalam keseluruhan perayaan Ekaristi sehingga Ekaristi menjadi tempat untuk mengenang seluruh karya keselamatan Yesus Kristus yang berakhir dengan wafat dan kebangkitan-Nya (Martasudjita, 2005: 297-298).

  Pada zaman dahulu perjamuan adalah pengalaman kebersamaan yang paling mendalam dengan para peserta perjamuan dan sekaligus dengan Allah (Grün, 1998: 29). Perjamuan ini menunjukkan bahwa Allah mengundang dan mengajak para murid serta umat untuk berkumpul bersama dengan-Nya menjadi satu kesatuan keluarga besar. Perjamuan ini membuat umat merasakan kerinduan untuk berkumpul bersama. Hal ini menjadi tanda bahwa Allah solider atau peduli dengan umat, dan umat peduli dengan sesama dalam suatu kebersamaan. Perjamuan memampukan umat untuk dapat saling menjalin relasi dengan orang lain, entah itu orang yang dikenal maupun orang yang sama sekali tidak dikenal.

  Perjamuan Ekaristi sungguh mempersatukan umat di dalam tubuh Kristus. Perjamuan Ekaristi memberikan kedamaian, kesadaran, kesembuhan, dan kerinduan untuk kembali bersatu dengan Allah. Perjamuan ini sebagai tanda bahwa Allah sungguh baik dan berbelas kasih kepada umat-Nya.

  Umat dalam mengikuti perjamuan Ekaristi diajak untuk bersatu dengan Allah melalui terang Roh Kudus (Koinonia). Koinonia merupakan bentuk keterlibatan umat untuk bersatu dengan Allah melalui Ekaristi dan membentuk suatu persaudaraan antar umat beriman dengan terang Roh Kudus. LG 7 menyatakan “Dalam pemecahan Ekaristi, kita secara nyata ikut serta dalam Tubuh Tuha n; maka, kita diangkat untuk bersatu dengan Dia dan bersatu antara kita”. Hal ini menjadi tempat dihimpunnya persatuan antara umat dengan Allah, umat dengan umat yang membentuk suatu Gereja. Allah selalu hadir di tengah hidup umat dalam setiap perkumpulan yang melibatkan kehadiran-Nya (Martasudjita, 2005: 358)

  . Tuhan Yesus sendiri Bersabda “Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka ” (Mat 18: 20).

  3)

Ekaristi sebagai Permohonan Seruan datang-Nya Karunia Roh Kudus

  (Epiklese)

  Epiklese merupakan bagian pokok dalam Doa Syukur Agung (DSA). Hal ini merupakan faktor utama terjadinya karya keselamatan Allah yang terlaksana dalam diri Yesus Kristus. Keselamatan yang datang tidaklah datang dengan begitu saja tetapi ada yang membawa atau mengkaruniakannya yaitu Roh Kudus. Roh Kuduslah yang membuat keselamatan itu dapat sampai pada semua orang beriman. Pada waktu Ekaristi imam dan umat berdoa bersama memohon kepada Allah supaya mengkuduskan persembahan yang berupa roti dan anggur melalui Roh-Nya agar menjadi Tubuh dan Darah Kristus. Di sinilah karunia Roh Kudus sungguh bekerja dan memberikan hidup bagi umat-Nya yang telah dikasihi oleh Allah. Tanpa kehadiran Roh Kudus keselamatan yang telah dipercayakan di dalam Gereja tidak terjadi dan rencana keselamatan Allah hanya terlihat abstrak tanpa ada perwujudan yang nyata. Berkat karya Roh Kudus rencana Keselamatan Allah sungguh-sungguh terjadi dalam diri Kristus dan di dalam Gereja (Martasudjita, 2005: 357-358).

  Epiklese bukan hanya doa permohonan untuk Roh Kudus supaya turun untuk mengkuduskan roti dan anggur sebagai Tubuh dan Darah Kristus. Epiklese juga mengkuduskan umat Allah yang sungguh beriman. Berkat Roh Kuduslah umat Allah yang beriman memperoleh kesatuan diri dengan Allah melalui Tubuh dan Darah Kristus. Dengan demikian umat yang telah dikuduskan melalui karya Roh Kudus memperoleh hubungan yang mesra dengan Allah dan umat menjadi buah karya Roh Kudus yang telah disucikan atas segala perbuatan yang baik (Martasudjita, 2005: 358).

4) Ekaristi Memampukan Kita untuk Tinggal dalam Kristus

  Di dalam Yohanes 1:39 Yesus bersabda: “Marilah dan kamu akan melihatnya. Mereka pun datang dan melihat di mana Ia tinggal, dan hari itu mereka tinggal bersama-sama dengan Di a”. Yesus mengundang para murid untuk tinggal bersama Dia. Yesus mengundang mereka untuk masuk dan bersatu dalam persekutuan dengan-Nya. Hal ini bertujuan agar para murid mengalami, merasakan, menghidupi dan mengalami sendiri misteri pribadi dan hidup Kristus.

  Dengan demikian para murid memiliki suatu pengalaman pribadi tinggal bersama Kristus dan pengalaman itu menjadi suatu misi dalam perutusan pewartaan kabar gembira ke seluruh dunia (Martasudjita, 2012: 21).

  Pengalaman pribadi para murid masuk dan tinggal bersama Kristus menjadi tujuan utama dari seluruh hidup umat beriman. Pengalaman pribadi ini menjadi salah satu wujud kesaksian untuk bersatu dengan Tuhan yang menjadi ujung tombak dalam bersaksi bagi orang lain. Hal ini nampak di dalam 1Yoh 1: 1-3 yang berbunyi,

  Apa yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami tentang Firman hidup -- itulah yang kami tuliskan kepada kamu. Hidup itu telah dinyatakan, dan kami telah melihatnya dan sekarang kami bersaksi dan memberitakan kepada kamu tentang hidup kekal, yang ada bersama-sama dengan Bapa dan yang telah dinyatakan kepada kami. Apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamu pun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus.

  Perikop ini mengungkapkan pengalaman tinggal dalam Kristus yang terlihat dalam pernyataan berikut: apa yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami tentang Firman hidup -- itulah yang kami tuliskan kepada kamu. Hal ini menunjukkan suatu kesatuan dan pengalaman iman yang luar biasa. Pengalaman tinggal bersama-Nya membuat kita sadar bahwa hidup bersama-Nya membawa suatu anugerah yang terindah, kedamain, cinta kasih, dalam seluruh hidup Kristus. Pengalaman inilah yang harus kita bawa bagi orang lain dalam hidup bersama di tengah-tengah dunia (Martasudjita, 2012: 22).

  Peristiwa tinggal bersama Kristus terwujud di dalam Ekaristi. Di dalam Ekaristi Yesus menjadi Roti Hidup yang diserahkan bagi umat-Nya. Roti Hidup ini memberikan kehidupan bagi umat di seluruh dunia. Melalui Ekaristi umat diajak untuk masuk dan bersatu di dalam misteri Ekaristi, yakni mengenangkan misteri wafat dan kebangkitan-Nya. Peristiwa tinggal bersama Kristus terwujud dalam penyambutan Komuni Suci. Kita merayakan Ekaristi, menyambut tubuh dan darah-Nya dalam

  Komuni Suci menjadi tanda bahwa kita “tinggal di dalam Kristus dan Kristus di dalam kita” (Martasudjita, 2012: 23).

  5)

Ekaristi sebagai Sumber untuk Memperoleh Kekuatan Hidup Umat

dalam Menghadapi Persoalan Hidup.

  Ekaristi merupakan sumber kekuatan orang Kristiani. Dengan Ekaristi umat Kristiani memperoleh kekuatan untuk menghadapi masalah hidup sehari- hari (Martasudjita, 2012: 57). Umat dalam kehidupan sehari-hari memiliki permasalahan hidup yang kompleks. Umat tentunya ingin keluar dari permasalahan dan ingin memecahkan permasalahan yang dihadapinya. Untuk itulah umat Kristiani selalu merayakan Ekaristi untuk menimba kekuatan dari Allah dalam menghadapi segala rintangan yang ada. Selain itu juga umat dapat memperoleh kekuatan untuk dapat mewartakan kabar gembira dari Allah kepada seluruh bangsa. Untuk itulah umat Kristiani tidak dapat berjalan sendiri tanpa adanya campur tangan Allah.

B. Iman Umat 1. Pengertian Iman

  Iman adalah anugerah cuma-cuma dari Allah dan tersedia bagi semua orang yang dengan rendah hati mencarinya. Iman adalah tindakan pribadi sejauh menjadi jawaban bebas pribadi manusia kepada Allah yang mewahyukan Diri- Nya (KKGK, art. 28).

  Iman adalah penyerahan total dari manusia kepada Allah yang menyatakan diri tidak karena terpaksa, melainkan dengan sukarela. (KWI, 1996: 128).

  Katekismus Gereja Katolik art. 153 dan 155 menyatakan iman adalah satu

  anugerah Allah, satu kebajikan adikodrati yang dicurahkan oleh-Nya. Iman adalah satu kegiatan akal budi yang menerima kebenaran ilahi atas perintah kehendak yang digerakan oleh Allah dengan perantaraan rahmat-Nya.

  Iman merupakan tanggapan bebas manusia terhadap Sabda Allah. Iman merupakan jawaban pribadi dan menyeluruh dari manusia terhadap Sabda Tuhan.

  Iman merupakan anugerah karya Allah sendiri (Adisusanto, 2011: 34, 3-5).

  Berdasarkan pengertian di atas menurut penulis, iman adalah tanggapan atau jawaban dari pihak manusia secara bebas terhadap wahyu atau Firman Allah, melalui kegiatan akal budi menerima kebenaran ilahi yang digerakkan oleh Allah dengan perantaraan rahmat-Nya. Rahmat yang dianugerahkan Allah kepada manusia melalui Gereja-Nya, memampukan manusia menerima kebenaran ilahi, yang terdapat dalam Kitab Suci, ajaran-ajaran Gereja, dan Tradisi Gereja. Oleh karena itu, sebagai manusia Kristiani kita dipanggil untuk selalu mensyukuri anugerah Allah yang secara cuma-cuma mengalir dalam hidup dan perutusan kita, melalui doa, refleksi dan kontemplasi, dan terwujud dalam perbuatan cinta kasih.

2. Iman Gereja akan Yesus Kristus Di dalam Gereja, yang menjadi pusat iman Kristiani adalah Yesus Kristus.

  Dari pewartaan yang telah dilakukan oleh Yesus, Gereja sungguh berpegang teguh dalam iman untuk mewartakan-Nya ke seluruh dunia. Peristiwa-peristiwa hidup Yesus Kristus menjadi sumber kekuatan hidup Gereja. Gereja menjadi tempat untuk memupuk iman Kristiani dan mewartakan pola hidup Yesus, sehingga hidup Yesus menjadi pola hidup murid-murid-Nya. Dengan menumbuhkan dan memupuk iman melalui Gereja berarti kita menghidupi dan mengambil bagian dari Gereja dan juga menanamkan sikap percaya bahwa Yesus Kristus selalu hadir di dalamnya.

  Peristiwa misteri paskah menjadi titik tolak kehidupan Gereja. Iman yang tumbuh dalam Gereja berasal dari Yesus Kristus yang telah mengalami sengsara, wafat, dan bangkit. Dengan peristiwa sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus membuat Gereja-gereja yang ada di dunia ini mulai berkembang. Berkembangnya Gereja berawal dari pengalaman kebangkitan Yesus dan juga pengalaman para murid-Nya yang mengalami kebangkitan-Nya. Kebangkitan Yesus Kristus yang telah dirasakan para murid mulai membentuk sebuah kelompok perdana yang lama kelamaan menjadi besar dan akhirnya terbentuk sebuah Gereja. Kehadiran Gereja sebagai tanda pengharapan kelanjutan misi Yesus Kristus untuk menyelamatkan umat-Nya dan menghantar mereka mencapai kepenuhan hidup.

  Gereja juga memiliki tugas yang penting yaitu mewartakan Injil ke seluruh bangsa. Dengan pewartaan Injil maka Gereja menjadi hidup seturut kehendak Allah (Martasudjita, 2010: 83-87).

3. Pentingnya Iman di dalam Hidup Umat

  Iman menjadi hal yang penting bagi umat dalam menjalani peziarahan hidup di dunia. Iman memampukan umat untuk dapat menemukan Allah yang hadir di dalam kehidupan mereka. Seperti dalam Mrk 10: 51-52 yang berbunyi “Tanya Yesus kepadanya: Apa yang kau kehendaki supaya Aku perbuat bagimu? Jawab orang buta itu: Rabuni, supaya aku dapat melihat! Lalu kata Yesus kepadanya: Pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau! Pada saat itu juga melihatlah ia, lalu ia mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya ”. Orang buta yang terdapat dalam perikop tadi menunjukkan bahwa iman yang dimilikinya menuntun untuk menemukan Tuhan yang hadir dalam diri Yesus. Iman membawanya pada suatu keselamatan yang sungguh luar biasa bagi orang yang percaya kepada-Nya.

  Iman mendorong umat untuk selalu mengikuti Tuhan. Tuhan memberikan sabda- Nya melalui Injil supaya umat mampu menemukan nilai-nilai kerajaan Allah yang memberikan peneguhan, kebahagiaan di dalam peziarahan hidup.

  Iman umat dapat memampukannya untuk memaknai, menghidupi, menemukan nilai hidup, dan bertahan dalam menghadapi persoalan hidup. Umat di tengah kenyataan dunia dan dengan segala pengalaman hidupnya mengalami banyak rintangan dalam penderitaan. Umat beriman dalam situasi seperti ini, memiliki harapan yang mengalir dari sikap iman: “Barang siapa menabur harapan menuai hidup baru” (Galatia 6:8). Situasi krisis multi dimensi yang berkepanjangan seperti sekarang ini mendorong umat untuk semakin dekat dengan Allah, dan dengan kekuatan dan kuasa Allah manusia mampu mengandalkan Allah menghadapi penderitaannya (KWI, 1996: 2-3).

4. Dasar Iman Umat

  Umat Kristiani memiliki dasar iman. Iman yang dimiliki tidaklah datang begitu saja tanpa sebuah dasar. Dasar iman yang dimiliki oleh umat Kristiani adalah iman para rasul. Yang dimaksudkan para rasul adalah murid-murid Yesus yang disebut dua belas rasul. Kelompok ini menjadi dasar bagi umat Kristiani untuk bersaksi melalui perbuatan, tindakan, dan mendengarkan ajaran Yesus Kristus. Apa yang dikerjakan oleh Yesus merupakan ajaran yang benar karena berasal dari Bapa yaitu ajaran cinta kasih yang memberikan suatu pertobatan bagi umat manusia.

  Yesus yang dihukum sampai mati membuat orang-orang yang terdekat merasa sedih. Apa yang telah mereka yakini seolah-olah hanya kebohongan karena orang yang dianggap Mesias telah mati dan misi yang telah dirintis-Nya dianggap telah gagal. Dengan kejadian yang telah dialami, murid Yesus berdoa memohon petunjuk dari Allah. Selama penyingkiran ke tempat yang tenang dan sampai pada hari ketiga kelompok kecil murid-murid Yesus (Maria Magdalena, Petrus dan Yohanes, dan dua orang murid yang berjalan ke Emaus) dan kelompok besar (10 murid, lalu 11 murid semuanya, kelompok besar 500 orang) menyatakan dan menyakini bahwa Yesus Kristus telah bangkit dari mati. Pengalaman- pengalaman mereka ini membuat mereka berfikir apa yang harus dilakukannya untuk ke depan. Mereka merenungkan dan berdoa memohon petunjuk pada Allah. Di dalam permenungan, mereka merasakan kehadiran Allah dalam diri sehingga mereka sungguh dipenuhi Roh Allah yang bekerja dan berkarya dalam diri mereka, merekapun pergi memberikan kesaksian (Michel, 2001: 45-46).

  Hal lain yang mendasari iman umat Kristiani yaitu wahyu Allah, melalui wahyu Allah, manusia disapa, Allah mengenalkan diri pada manusia. Dengan mewahyukan diri kepada manusia, Allah mengharapkan manusia untuk memberikan suatu tanggapan atas wahyu-Nya tentunya dengan sikap positif yakni mendengarkan sabda-Nya, menjalankan perintah-Nya, mewartakan kabar gembira dengan saling mengasihi. Hal ini terlihat dalam Roma 10: 14-17 yang berbunyi,

  Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya? Dan bagaimana mereka dapat memberitakan-Nya, jika mereka tidak diutus? Seperti ada tertulis: Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik! Tetapi tidak semua orang telah menerima kabar baik itu. Yesaya sendiri berkata: Tuhan, siapakah yang percaya kepada pemberitaan kami? Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus. Dengan demikian maka hubungan antara wahyu dan iman saling berkaitan. Hal ini memiliki hubungan karena dengan menanggapi wahyu Allah dengan iman maka sasaran akan lebih tepat yakni Allah mewahyukan diri-Nya dan manusia menanggapinya. Manusia menerima wahyu Allah berarti dapat mengenal siapa Allah itu dan bila ingin lebih mengenal maka ia harus bergaul dengan Allah dari hati ke hati seperti halnya manusia menyatakan cintanya kepada sesamanya.

  (Dister, 1991: 85-86) 5.

   Ciri-ciri Iman Kristiani yang Dewasa

  Iman Kristiani yang dewasa memiliki dimensi iman yakni adanya keyakinan, adanya hubungan yang penuh kepercayaan, dan kehidupan agape (cinta sejati) yang hidup. Ketiga hal inilah yang mampu membawa umat Kristiani pada arah iman yang dewasa. Dimensi iman menuju kedewasaan iman Kristiani dapat diekspresikan dalam tiga kegiatan iman sebagai kegiatan keyakinan (faith as

  

believing), iman sebagai kegiatan mempercayakan (faith as trusting), dan iman

  sebagai kegiatan melakukan (faith as doing). Kegiatan ini merupakan inti dari iman yang dewasa. Umat Kristiani diarahkan pada ketiga kegiatan ini, sehingga kedewasaan iman yang sudah ada dalam diri dapat tumbuh dan berkembang dan dimaknai dalam peziarahan hidup (Groome, 2010: 81).

  Iman Kristiani yang dewasa diwujudkan melalui kegiatan di dalam hidup bersama dengan umat beriman lain di dalam dunia yakni; memupuk persaudaraan sejati, pelayanan yang tanpa syarat, pewartaan, liturgi, dan kemartiran. Dengan demikian Gereja mewartakan nilai-nilai Kerajaan Allah sebagai buah-buah iman.

  Di sisi lain iman yang dewasa juga mampu menciptakan habitus baru yakni keberpihakkan pada keprihatinan Allah bagi umat-Nya yang tersinggkir dari dunia.

C. Ekaristi sebagai Tempat Pengembangan Iman Umat

  Ekaristi sebagai pusat perjumpaan antara umat beriman dengan sang Ilahi, dan juga merayakan peristiwa iman, mengenang misteri sengsara, wafat, dan kebangkitan Yesus Kristus. Iman akan Yesus yang bangkit, dirayakan dalam Ekaristi sebagai puncak seluruh aktifitas umat beriman. Melalui Ekaristi umat beriman bertumbuh dan berkembang dalam imannya melalui pembacaan sabda dalam Ekaristi, berkumpul dalam suasana persaudaraan sejati, salam damai, pemecahan roti dan komuni suci. Hal inilah yang membuat iman umat semakin berkembang dan memperoleh daya kekuatan untuk bertindak kebaikan bagi sesama. Umat yang berkembang nampak dalam suasana meningkatnya rasa persaudaraan sejati, hadir sebagai pembawa damai, peduli dan berbagi dengan sesama yang membutuhkan, dalam hidup sehari-hari yang mengalir dari Ekaristi.

  Dengan demikian Ekaristi merupakan tempat pengembangan iman umat yang sungguh relevan dan kontekstual dengan kehidupan sehari-hari, hal ini karena membawa pesan Ekaristi dan nilai-nilai yang diperjuangkan Kristus di tengah dunia (Soetomo, 2002: 59-60).

1. Pengembangan Iman Umat

  Wahyu yang datang dari Tuhan merupakan anugerah yang terindah untuk manusia. Manusia memberikan jawaban iman terhadap wahyu Allah. Wahyu merupakan pertemuan Allah dan manusia (KWI, 1996: 127). Pertemuan ini merupakan wujud kasih Allah yang ingin berelasi dengan manusia. Manusia dapat berelasi dengan mesra bersama Allah ketika manusia mampu menanggapi wahyu- Nya.

  Iman yang berkembang memiliki suatu kedewasaan untuk bertindak atas kebenaran dari wahyu Allah. Iman yang dewasa berarti iman yang berkembang semakin matang secara penuh dan bersifat holistik mencakup segi pemikiran, hati, dan praksis. Umat yang sudah mencapai suatu kedewasaan pastinya mampu untuk menghayati dan bertindak sesuai dengan kebenaran Ilahi. Umat dapat berkembang dan dewasa dalam iman bila ia mampu untuk mengampuni, mengandalkan Allah dalam hidupnya, menolak tahayul, bertobat, bekerjasama dengan rahmat Allah, bersikap terbuka diri terhadap sesama, melayani, mewartakan cinta kasih, selalu bersyukur, membangun relasi dengan Allah dan sesama, berdamai dengan siapa saja, rendah hati, serta tidak main hakim sendiri (Heryatno, 2008: 29).

  Umat yang sungguh-sungguh menghayati iman akan memperoleh kepenuhan dan kelimpahan hidup. Umat melalui penghayatan iman akan mengalami keselamatan dari Allah. Wahyu Allah memberikan suatu keselamatan yang membuat umat dapat mengalami kebebasan, kesejahteraan, kedamaian, keadilan, cinta kasih, kegembiraan, kebahagiaan, kerukunan, ketentraman, kesalingan (Heryatno W.W, 2008: 32). Situasi seperti inilah yang dikehendaki oleh Allah bagi umatNya. Kita mengakui iman dan iman harus dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari sehingga mencapai kepenuhan hidup (Dister, 1991: 69). Ada tertulis dalam surat rasul Yakobus 2: 17 yang berbunyi

  “demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati

  ”. Perbuatan yang dimaksudkan di sini tentunya tindakan baik bagi orang lain dalam hidup sehari-hari. Iman yang disertai perbuatan baik menunjukkan perwujudan yang konkrit dalam memperkembangkan iman yang ada dalam hidup.

2. Ekaristi Memberikan Semangat untuk Berbagi kepada Sesama

  Berbagi menjadi salah satu dari perbuatan iman umat. Berbagi merupakan suatu perbuatan iman umat yang memberikan sebagian dari miliknya untuk dibagikan kepada sesama atau orang lain. Umat dapat berbagi apa saja yang sekiranya baik bagi orang lain di mana pun berada dalam situasi yang santai, akrab, dan menyenangkan. Hal ini membuat umat merasakan kebahagian serta memperoleh kelegaan dalam hati, selain itu juga menciptakan suasana yang penuh persaudaraan. Berbagi menjadi salah satu ajaran Tuhan Yesus yang membangkitkan kepedualian terhadap sesama. Seperti halnya ajaran Yesus dalam Yoh 6:9 yang berbunyi

  “Di sini ada seorang anak, yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apakah artinya itu untuk orang sebanyak ini? ”. Ayat ini memberikan inspirasi bagi umat beriman untuk saling berbagi kepada sesama.

  Dalam konteks hidup sekarang ini berbagi dapat berupa apa saja entah itu berupa barang, kebahagiaan, kesedihan, tenaga, pelayanan, maupun pengalaman iman.

  Hal ini menjadi peristiwa iman yang juga diangkat dalam kongres Ekaristi Keuskupan Agung Semarang (KAS) I 22-29 Juni 2008 di Gua Maria Kerep Ambarawa untuk menggerakkan umat berbagi lima roti dan dua ikan pada zaman sekarang lebih dikenal dengan solidaritas antar sesama (Pujosumarto, 2008: 9-13).

  Kongres Ekaristi mengajak kita untuk melakukan tindakan berbagi lima roti dan dua ikan. Kongres Ekaristi mengajarkan pelayanan untuk semangat berbagi lima roti dan dua ikan dan sebagai kesempatan untuk menggerakkan umat untuk proaktif terhadap kenyataan hidup di sekitar, bersyukur atas pengalaman Ekaristi yang memberikan kekuatan untuk dapat bertindak berbagi kepada sesama, peduli kepada KLMTD (Kecil, Lemah, Miskin, Tersingkir dan Difabel), memaknai seluruh tindakan baik yang telah dilakukan bagi sesama (Pujosumarto, 2008: 24-25). Hal ini berkaitan dengan perutusan Ekaristi. Kita setelah menerima Ekaristi mendapat tugas pengutusan. Kita diutus untuk membagikan kasih dari Tuhan untuk sesama dalam kehidupan sehari-hari (Martasudjita, 2008: 24).

  Ekaristi memberikan kekuatan iman bagi kita. Dengan mengikuti perayaan Ekaristi kita siap untuk diutus mewartakan kabar gembira dari Allah dengan melakukan tindakan kebaikan bagi sesama. Yesus sendiri telah memberikan teladan bagi kita melalui pembasuhan kaki para murid pada malam perjamuan terakhir. Kita melalui teladan ini diharapkan mampu untuk memberikan pelayanan bagi sesama.

3. Ekaristi Memampukan Umat untuk Bersaksi kepada Sesama

  Yesus setelah bangkit mengutus para murid untuk bersaksi atas kebangkitan-Nya. Mereka diutus untuk mewartakan kabar gembira ke seluruh bangsa dan diberi kuasa untuk membaptis dalam nama Bapa, Putra dan Roh Kudus, sebagaimana yang tertulis dalam Matius 28: 18-20 yang berbunyi,

  Yesus mendekati mereka dan berkata: Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.

  Perikop ini mengungkapkan bahwa kita sebagai pengikut Kristus diberikan kuasa untuk bersaksi dan mewartakan kabar gembira bagi siapa saja. Kita sebagai pengikut Kristus diutus untuk bersaksi membawa kedamaian, ketentraman dan kasih di tengah dunia.

  Yesus sebelum naik ke Surga berpesan kepada para murid untuk menjadi saksi atas apa yang telah dilihat-Nya. Hal ini tersirat dalam Kis. 1: 8 yang berbunyi “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi

  ”. Mereka melaksanakan perutusan mewartakan kabar gembira dari Tuhan ke seluruh dunia. Mereka bekerja dan bersaksi di tengah dunia dengan semangat Kristus. Dengan melihat kesaksian para murid, kita mampu untuk memberikan kesaksian bagi sesama yakni dengan hidup, bertindak, dan berelasi di tengah hidup masyarakat, serta bekerja di tengah masyarakat dengan semangat injili (Magnis-Suseno, 2004: 56).

  Yesus mengharapakan murid-murid-Nya menjadi terang dan garam dunia. Seperti halnya garam dapur yang digunakan untuk menggarami sayuran supaya menjadi makanan yang lezat dan sempurna. Demikian juga kita menjadi garam di tengah dunia atau masyarakat supaya menggarami dunia ini dengan nilai-nilai Injili yang memberikan rasa damai, tentram, bebas, dan kasih, serta memberikan teladan hidup keluarga yang harmonis, partisipasi dalam hidup masyarakat, menunjukkan cara hidup yang jujur, kebaikan hati yang tidak membalas yang buruk, menghormati hak orang lain, bertanggung jawab atas pekerjaan, dan perhatian atau solider pada warga masyarakat yang miskin dan lemah. Hal inilah yang menjadi tugas perutusan dan kesaksian umat Kristiani di tengah dunia atau masyarakat (Magnis-Suseno, 2004: 57-59).

  

BAB III

PENGHAYATAN UMAT LINGKUNGAN SANTO ANTONIUS JOTON

PAROKI SANTO YUSUF PEKERJA GONDANGWINANGUN KLATEN

TERHADAP MAKNA SAKRAMEN EKARISTI DEMI PENGEMBANGAN

IMAN

Dalam bab II telah diuraikan tentang sakramen Ekaristi demi

  pengembangan iman umat. Pemahaman secara teoritis sakramen Ekaristi dan usaha menemukan maknanya demi mengembangkan iman umat melalui Kitab Suci, dokumen-dokumen Gereja, dan dari pendangan para ahli sungguh membantu umat untuk lebih memahami, menemukan makna dan mewujudkan nilai yang ditemukan dalam sakramen Ekaristi. Hal ini juga membantu umat agar mampu menentukan aksi perwujudan yang konkret dalam hidup sehari-hari.

  Pada bab III penulis membahas tentang penelitian penghayatan umat Lingkungan Antonius Joton Paroki Santo Yusuf Pekerja Gondangwinangun Klaten terhadap makna sakramen Ekaristi demi pengembangan iman. Dalam bab

  III ini penulis memulainya dengan menggambarkan sejarah dan perkembangan Gereja paroki Santo Yusuf Pekerja Gondangwinangun Klaten, situasi umum umat paroki Santo Yusuf Pekerja Gondangwinangun Klaten. Bagian selanjutnya menyampaikan gambaran umum umat lingkungan Santo Antonius Joton paroki Santo Yusuf pekerja Gondangwinangun Klaten. Hal ini meliputi letak dan batas- batas geografis, kegiatan umat dalam Gereja maupun masyarakat, situasi sosial kemasyarakatan, perkembangan umat atau jatuh bangun umat. Kemudian penulis menjelaskan metodologi penelitian yang nantinya akan dilaksanakan. Sesudah melaksanakan penelitian penulis membahas hasil penelitian yang telah diperoleh dalam laporan penelitian. Melalui hasil penelitian tersebut penulis berharap dapat mengetahui sejauh mana umat mampu menemukan makna sakramen Ekaristi demi pengembangan iman mereka. Penulis kemudian mengusulkan model katekese yang cocok untuk membantu umat menemukan makna sakramen Ekaristi demi pengembangan imannya.

A. Paroki Santo Yusuf Pekerja Gondangwinangun Klaten 1. Sejarah Paroki dan Perkembangannya

  Penulis dalam menguraikan sejarah paroki dan perkembangannya berdasarkan sumber data yang diperoleh dari sekertariat dan PPDP (2006: 1-2) a.

  Tahun 1963-1970: Awal Berdiri Tahun 1963 merupakan awal berdirinya Gereja di Gondangwingun dengan dibelinya tanah beserta bangunan rumah joglo di dukuh Minggiran, Desa

  Plawikan, Kecamatan Jogonalan, Kabupaten Klaten. Tahun 1964 bangunan kecil di atas tanah tersebut diberkati dan dijadikan sebagai kapel. Dengan peristiwa kepemilikan dan pemberkatan ini, kegiatan ibadat dan kegiatan-kegiatan kegerejaan semakin intensif dilaksanakan. Tahun 1969 - 1970 rumah joglo direhab dan dimodifikasi sedemikian rupa sehingga lebih layak sebagai gereja. Pada bulan juni 1970 kapel yang sudah selesai direhab diberkati dan sekaligus dipilih Santo Yusuf Jurukarya sebagai pelindung Gereja Gondangwinangun.

  Tahun 1973 Gereja Gondangwinangun menjadi Gereja Stasi yang merupakan bagian dari reksa pastoral Paroki Santa Maria Bunda Kristus Wedi Klaten.

  b.

  Tahun 1980-2000: Gagasan Pembentukan Paroki

  Tahun 1980 Paroki Santa Maria Bunda Kristus Wedi Klaten mengubah pola sentralisasi menjadi desentralisasi (lebih dikenal dengan istilah paroki federatif). Sejak tahun ini, stasi-stasi diberi kewenangan untuk mengelola pembangunan fisik, pembangunan jemaat dengan bimbingan dan didampingi oleh para Romo yang berkarya di Paroki Santa Maria Bunda Kristus Wedi Klaten.

  Gagasan tentang paroki muncul pertama kali ketika pada tahun 1980 diselenggarkan audiensi dengan Bapak Kardinal Yustinus Darmayuwana, Pr.

  Bapak Kardinal memberi saran supaya Gondang tidak usah minta menjadi paroki karena jika tiba saatnya dengan sendirinya akan menjadi paroki.

  Tahun 1985 Paroki Santa Maria Bunda Kristus Wedi Klaten menerapkan sistem kepengurusan “Pancapramana” yaitu kepengurusan dewan paroki yang terdiri dari pengurus-pengurus stasi yang ada di Paroki Santa Maria Bunda Kristus

  Wedi Klaten. Model ini semakin mempertegas Paroki Santa Maria Bunda Kristus Wedi Klaten sebagai paroki federatif. Sejak saat itu kepengurusan stasi semakin diberdayakan karena lebih mirip dengan kepengurusan sebuah paroki.

  Pada tahun 1998, gagasan sebagai paroki muncul lagi secara lebih serius. Gagasan ini ditanggapi secara positif oleh Presidium Dewan Paroki Santa Maria Bunda Kristus Wedi Klaten. Tanggapan tersebut kemudian disikapi oleh para pengurus Dewan Stasi Gondangwinangun. Para pengurus kemudian mengadakan persiapan secara lebih konkrit menyangkut hal-hal yang berkaitan dengan keparokian. Persiapan-persiapan tersebut berupa pembangunan jemaat dan pembangunan sarana fisik. Tahun 2000 keinginan untuk menjadi paroki disampaikan kepada Bapak Uskup Agung Semarang, Mgr. Ignatius Suharya, Pr., pada saat audiensi dengan wakil umat setelah penerimaan Sakramen Krisma di Gereja Santo Yusuf Jurukarya Gondangwinangun. Waktu itu Bapak Uskup memberi lampu hijau, tetapi masih ada kendala yaitu jumlah imam yang sangat terbatas. Pada kesempatan ini, dua dari tiga romo yang menggembalakan Paroki Santa Maria Bunda Kristus Wedi Klaten tengah menjalani perawatan di rumah sakit karena mengalami musibah kecelakaan lalu lintas.

  c.

  Tahun 2001-2004: Pembentukan Paroki Sejak tahun 2001 keinginan dan persiapan untuk menjadi paroki semakin intensif diupayakan. Mulai Januari 2003, persiapan Stasi Gondangwinangun menjadi Paroki diagendakan dalam rapat Presidium Dewan Paroki Santa Maria Bunda Kristus Wedi Klaten. Sejak itu segala persiapan dilaporkan kepada Dewan Paroki. Salah satu langkah yang ditempuh oleh Dewan Stasi Gondangwinangun adalah mengajukan permohonan secara resmi kepada Bapak Uskup Agung Semarang dengan harapan Bapak Uskup berkenan menanggapi dan meluluskan serta meresmikan Gereja Stasi Santo Yusuf Jurukarya Gondangwinangun menjadi Paroki.

  Permohonan itu diterima dan Gondangwinangun resmi menjadi Paroki pada 1 Mei 2004 dengan berlindung pada Santo Yusuf Pekerja. Pastor yang pernah berkarya di Paroki Santo Yusuf Pekerja Gondangwinangun sejak 1 Mei 2004:

  NO MASA TUGAS NAMA PASTOR DAN JABATAN

  1 1 Mei 2004 - 1 Agustus Pastor Bernardinus Saryanta Wiryaputra, Pr.

  2004 (Pejabat Pastor Kepala)

  2 Pastor Paulus Susanto Prawirowardoyo, Pr.

  1 Mei 2004 - (Pastor Pembantu)

  3 1 Agustus 2004 - 15 Juli Pastor Augustinus Toto Supriyanto Dw., Pr.

  2012 (Pastor Kepala)

  4 Ig. Sukawalyana, Pr

  12 Juli 2012 - (Pastor Kepala) 2.

   Situasi Umum Umat Paroki Santo Yusuf Pekerja Gondangwinangun Klaten

  Paroki Santo Yusuf Pekerja Gondangwinangun Klaten telah genap berusia 8 tahun. Usia ini termasuk muda bagi suatu paroki yang berdiri di dukuh Minggiran, desa Plawikan, Kecamatan Jogonalan, Kabupaten Klaten. Dalam usia yang relatif muda ini, paroki Santo Yusuf Pekerja Gondangwinangun Klaten memiliki potensi untuk dapat memberdayakan umat, serta meningkatkan kesatuan komunitas-komunitas lingkungan dalam Gereja paroki. Umat paroki Santo Yusuf Pekerja Gondangwinangun Klaten memiliki tugas untuk mengembangkan Gereja, meningkatkan rasa persaudaraan, dan mewartakan kabar gembira bagi orang lain dalam Gereja maupun masyarakat. Nilai-nilai Kristiani yang telah diperoleh umat dalam Gereja diharapkan menjadi motivasi, semangat untuk selalu terlibat dalam kegiatan menggereja dan memasyarakat.

  Umat paroki Santo Yusuf Pekerja Gondangwinangun secara teritorial memiliki 7 wilayah yang terdiri dari 23 lingkungan. Jarak antar lingkungan tidak begitu jauh dan mudah dijangkau dengan kendaraan. Dari 23 lingkungan yang memiliki tempat ibadat ada 4 lingkungan yakni lingkungan Fransiskus Xaverius Talun, Fransiskus Xaverius Klampokan, Santo Paulus Nganten, Tyas Dalem Rejoso. Jumlah umat paroki Santo Yusuf Pekerja Gondangwinangun kurang lebih 3, 318 jiwa dan 1,071 KK. Hal ini terdiri dari seluruh umat yang berasal dari keluarga Katolik maupun yang non-Katolik yang berpindah Katolik atau telah dibaptis.

  Umat paroki Santo Yusuf Pekerja Gondangwinangun terpencar di sekitar paroki. Kendati terpencar umat paroki Santo Yusuf Pekerja Gondangwinangun tetap merupakan satu kesatuan utuh. Sebagaimana Keuskupan Agung Semarang menyadari diri sebagai persekutuan (communio

  ) umat beriman “yang disatukan berdasarkan kesatuan Allah Tritunggal yakni Bapa, Putra dan Roh Kudus”.

  Demikian juga umat paroki Santo Yusuf Pekerja Gondangwinangun ada dalam kesatuan Allah Tritunggal Maha Kudus. Kesatuan Tritunggal menjadi model kesatuan dan tujuan hidup. Selain itu juga umat paroki Santo Yusuf Pekerja Gondangwinangun diajak untuk membangun Gereja yang mandiri dan hidup.

  Gereja yang mandiri dan Gereja yang hidup dalam habitus baru, berpengharapan, terlibat, bergairah, murah hati, dan peduli dalam seluruh aspek kehidupan umat.

  Adapun kegiatan rutin umat paroki Santo Yusuf Pekerja Gondangwinangun yakni: a.

  Umat paroki Santo Yusuf Pekerja Gondangwinangun melaksanakan perayaan Ekaristi setiap hari pukul 05.15. Hari Sabtu sore pukul 16.00 dan Minggu pagi pukul 06.30 dan Minggu sore pukul 16.00 untuk kapel yang menyelenggarakan Ekaristi. b.

  Kerja Bakti membersihkan Gereja dan menata hal-hal yang ada dalam Gereja sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan perwilayah atau lingkungan.

  c.

  Perayaan Ekaristi di salah satu wilayah atau lingkungan setiap bulannya sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan oleh masing-masing wilayah atau lingkungan.

  Kegiatan-kegiatan rutin inilah yang umat paroki Santo Yusuf Pekerja Gondangwinangun lakukan. Kegiatan ini membangkitkan semangat umat untuk lebih terlibat dalam menggereja. Hal ini merupakan awal untuk meneladani Santo Yusuf Pekerja, sebagai pelaksana sabda yang tanpa banyak kata, saleh dan

  

prasaja (sederhana), serta dapat hidup dan bekerja sama dengan siapa pun untuk

  menghadirkan Kerajaan Allah. Allah yang memulai pekerjaan baik di antara kita akan menyelesaikannya (Flp 1:6). Tetapi menurut penulis kegiatan rutin ini masih bersifat interen maksudnya terbatas hanya pada liturgi. Hal ini belum cukup sehat karena hanya berfokus satu aspek kegiatan pastoral. Pada hal ada beberapa aspek yakni kerygma (pewartaan), diakonia (pelayanan), koinonia (persaudaraan),

  

liturgia (liturgi), dan martiria (bersaksi) yang perlu mendapat perhatian secara

seimbang.

  3. Gambaran Umum Umat Lingkungan Santo Antonius Joton Paroki Santo Yusuf Pekerja Gondangwinangun Klaten a.

  Letak dan Batas-batas Geografis Lingkungan Santo Antonius Joton Paroki Santo Yusuf Pekerja Gondangwinangun Klaten

  Lingkungan santo Antonius Joton merupakan bagian dari paroki Santo Yusuf Pekerja Gondangwinangun Klaten. Lingkungan Santo Antonius terletak di 3 desa Jambon, Tangkilan, Tegalyoso, Kecamatan Jogonalan dan terletak di bagian utara paroki. Lingkungan ini merupakan pemekaran dari suatu wilayah yakni wilayah Matius Joton paroki Santo Yusuf Pekerja Gondangwinangun. Luas

  2

  lingkungan santo Antonius Joton kurang lebih 2 Km terdiri dari persawahan yang menjadi mata pencaharian umat.

  b.

  Kegiatan Umat dalam Gereja maupun Masyarakat Umat lingkungan Santo Antonius Joton memiliki gedung pertemuan untuk kegiatan. Gedung ini cukup luas dan selalu digunakan umat untuk pertemuan lingkungan. Gedung ini juga terbuka untuk pertemuan bagi masyarakat sekitar bila ingin memakainya. Gedung ini berdampingan dengan Gedung TK Indriasana sehingga terlihat lebih nyaman, rapi, dan terlihat luas.

  Kegiatan rutin umat adalah sembahyangan (pendalaman iman). Kegiatan ini diadakan sebulan sekali setiap tanggal 15. Pada setiap tanggal 15 tersebut, umat tidak hanya menyelenggarakan sembahyangan (pendalaman iman) tetapi juga arisan. Hal ini dilakukan umat untuk meningkatkan keakraban dan persaudaraan. Tempat kegiatan ini selalu berpindah-pindah dan untuk penentuan tempat dengan diundi. Kegiatan ini dimulai pukul 19.30 dan dihadiri oleh kelompok orang tua. Pada bulan Mei dan Oktober umat menyelenggarakan doa rosario. Kegiatan ini melibatkan seluruh umat lingkungan.

  Selain itu umat juga secara rutin berlatih paduan suara untuk tugas koor pada perayaan Ekaristi sesuai jadwal yang telah ditentukan oleh petugas liturgi. Kegiatan ini diadakan setiap hari Selasa dan Sabtu pukul 19.00, tempat kegiatan di gedung pertemuan. Kegiatan ini biasanya dihadiri oleh para orang tua dan keluarga muda. Selain kegiatan koor, umat juga memiliki kelompok ibu-ibu WK (Wanita Katolik) yang mengadakan pertemuan setiap minggu kedua pukul 16.00.

  Kegiatan ini biasanya diisi dengan renungan singkat dan kemudian dilanjutkan arisan.

  Lingkungan Santo Antonius juga memiliki kegiatan OMK dan PIA (Pembinaan Iman Anak). Kegiatan ini bertujuan mengaktifkan kaum muda untuk berlatih terlibat dalam kegiatan OMK (Orang Muda Katolik) dan juga memberikan hal positif bagi kaum muda. Setiap ada kegiatan OMK atau PIA di Gereja, OMK dan PIA selalu berkumpul dan ikut berpartisipasi dalam acara tersebut. Kegiatan ini sungguh didukung oleh seluruh umat, karena umat mengharapkan kaum muda Katolik memperoleh kegiatan yang positif untuk mengembangkan iman mereka. Dukungan mereka yakni dengan memberikan waktu kepada putra/putrinya untuk pergi mengikuti kegiatan Gereja serta menyediakan transportasi bagi mereka.

  Di samping itu umat memiliki kegiatan sosial. Kegiatan ini melibatkan seluruh umat lingkungan Santo Antonius Joton, misalnya mengunjungi orang sakit atau warga masyarakat yang terkena musibah. Dengan kegiatan ini umat memupuk persaudaraan dalam hidup memasyarakat dan meningkatkan kepedulian terhadap orang lain yang menderita. Dengan demikian secara otomatis umat memberikan rasa hidup yang damai, dan bahagia bagi sesamanya karena perhatiannya terhadap orang yang mengalami sakit atau terkena musibah. c.

  Situasi Sosial Kemasyarakatan Umat lingkungan Santo Antonius Joton merupakan bagian utuh dari masyarakat. Umat hidup dalam masyarakat pastinya kental sekali dengan tradisi, norma-norma, rasa persaudaraan, kesatuan, saling menghargai, peka terhadap orang lain, kegotongroyongan, berbagi dan lain sebagainya. Hal ini sungguh terlihat dalam suatu masyarakat. Untuk itu umat tidak lepas dari kebiasaan hidup dalam masyarakat. Mereka juga mencoba membangun hal itu dalam hidup bermasyarakat. Lingkungan Santo Antonius Joton memiliki kurang lebih 77 KK (Kepala Keluarga). Umat lingkungan Santo Antonius Joton sebagian besar berasal dari satu desa dan dahulu hampir seluruh warga desa beragama Katolik. Dan sekarang keadaan umat sudah tersebar di sekitar desa sehingga jarak rumah umat yang satu dengan yang lain cukup berjauhan tetapi jarak yang jauh itu tidak menjadi halangan untuk berkumpul bersama dan membaur dengan masyarakat.

  d.

  Perkembangan Umat Lingkungan Santo Antonius Joton cukup memiliki banyak umat dan mereka aktif untuk terlibat dalam kegiatan menggereja. Setiap ada kegiatan di gereja umat selalu berantusias untuk terlibat di dalamnya. Terlebih dalam tugas koor, umat selalu bersedia untuk menjalankannya. Umat lingkungan Santo Antonius Joton juga aktif untuk ke gereja mengikuti perayaan Ekaristi bahkan setiap hari raya besar selalu menyewa mobil untuk berangkat bersama-sama.

  Umat yang memiliki kendaraan sendiri membuat kesepakatan untuk berkumpul dan berangkat ke gereja bersama. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan rasa kebersamaan, keakraban, dan persaudaraan. Lingkungan Santo Antonius Joton memiliki umat kurang lebih 233 jiwa dari 77 KK (Kepala Keluarga). Hal ini terdiri dari anak-anak kurang lebih 27 orang dari usia 0 - 12 tahun, kaum muda kurang lebih 30 orang dari usia 12 - 40 tahun, orang tua kurang lebih 176 orang dari usia 40 ke atas.

  B.

  

Penelitian tentang Penghayatan Umat Lingkungan Antonius Joton Paroki

Santo Yusuf Pekerja Gondangwinangun Klaten Terhadap Makna Sakramen Ekaristi 1. Desain Penelitian a. Latar Belakang Penelitian

  Rencana penelitian ini bermula dari kesan penulis bahwa umat lingkungan Santo Antonius Joton paroki Santo Yusuf Pekerja Gondangwinangun Klaten dalam mengikuti Ekaristi hanya sebatas kewajiban dan ritualis. Mereka juga terlihat memisahkan antara Ekaristi dari kehidupan nyata sehari-hari. Maka dari itu penelitian ini bertujuan untuk mencari tahu atau menemukan data sejauh mana umat memahami sakramen Ekaristi, untuk mengetahui sejauh mana umat telah menghayati makna sakramen Ekaristi demi pengembangan iman mereka, untuk mengetahui faktor-faktor penyebab umat kurang menghayati Ekaristi, serta untuk mengetahui harapan atau gambaran umat dalam meningkatkan penghayatan Ekaristi demi pengembangan iman mereka. Penghayatan Ekaristi amatlah penting bagi umat, karena melalui sakramen Ekaristi umat menimba kekuatan yang memampukan mereka untuk hadir di tengah dunia dengan berbagai keterlibatannya yang nyata yakni mencintai sesama sebagaimana Kristus mencintai umat-Nya. Selain itu dari pihak umat yang merayakan Ekaristi dituntut untuk memiliki sikap pertobatan yang terus-menerus.

  Berdasarkan dokumen Gereja Ekaristi merupakan “sumber dan puncak seluruh hidup Kristiani” (Lumen Gensium, art.11). Sumber pada umumnya adalah mata air. Sumber biasanya dipakai orang untuk menimba air untuk keperluan hidup sehari-hari. Puncak pada umumnya adalah bagian yang di atas sekali, entah itu gunung, pohon maupun menara. Begitu juga dengan Ekaristi, melalui Ekaristi umat menimba kekuatan rohani untuk hidup dan bahkan sampai pada puncak yakni kemulian bersama Allah. Umat tidak dapat hidup sendiri tanpa adanya campur tangan Allah. Usaha untuk menemukan makna sakramen Ekaristi amatlah penting dalam menjalani hidup di tengah-tengah dunia.

  Melalui penelitian ini penulis berharap dapat mengetahui sejauh mana umat lingkungan Santo Antonius Joton telah memahami dan menghayati makna sakramen Ekaristi dalam hidup sehari-hari. Penelitian ini dilakukan untuk memberikan jawaban kepada penulis bahwa umat dalam mengikuti Ekaristi tidak hanya sebagai kewajiban dan ritualis. Melalui penelitian ini penulis berharap dapat menemukan gambaran serta model katekese yang cocok untuk membantu umat lingkungan Santo Antonius Joton Paroki Santo Yusuf Pekerja Gondangwinangun Klaten dalam meningkatkan penghayatan mereka akan makna sakramen Ekaristi dalam kehidupan sehari-hari.

b. Tujuan Penelitian

1) Untuk mengetahui sejauh mana umat telah memahami sakramen Ekaristi.

  2) Untuk mengetahui sejauh mana umat lingkungan Santo Antonius Joton Paroki

  Santo Yusuf Pekerja Gondangwinangun Klaten telah menghayati makna sakramen Ekaristi demi pengembangan iman mereka.

3) Untuk mengetahui faktor penyebabnya.

  4) Untuk mengetahui harapan umat dalam rangka meningkatkan penghayatan mereka akan makna Ekaristi demi pengembangan iman mereka.

  c. Jenis Penelitian

  Jenis penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif, indikasinya karena untuk menyelidiki objek yang tidak dapat diukur dengan angka-angka dan sumber data didapatkan melalui partisipasi penulis. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitis. Metode deskriptif analitis adalah metode yang menggambarkan dan menganalisis data yang diperoleh dari hasil penelitian melalui kuesioner yang disebarkan kepada responden dan didukung dengan studi pustaka.

  d. Instrumen Pengumpulan Data

  Dalam pengumpulan data, penulis mempergunakan kuesioner dengan model rating scale. Kuesioner adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawab. Teknik ini cocok digunakan untuk responden yang cukup besar dan tersebar di wilayah yang luas. Seperti halnya umat lingkungan Santo Antonius Joton di mana umat tersebar dalam wilayah dan populasi umat yang cukup banyak, sehingga cocok digunakan kuesioner dalam pengambilan data. Model rating scale adalah data mentah yang didapat berupa angka kemudian ditafsirkan dalam pengertian kualitatif. Responden menjawab, dengan pernyataan Sangat Setuju (SS) = 5, Setuju (S) = 4, Tidak Setuju (TS) = 3, Netral (N) = 2, Sangat Tidak Setuju (STS) = 1 (Sugiyono, 2009: 142).

  Adapun tujuan penyebaran kuesioner ialah untuk memperoleh informasi yang lengkap mengenai suatu masalah melalui jawaban responden dalam pengisian daftar kuesioner. Dalam penelitian ini penulis mempergunakan jenis kuesioner tertutup (kuesioner berstruktur). Kuesioner tertutup adalah kuesioner dengan pertanyaan yang mengharapkan jawaban singkat atau mengharapkan responden untuk memilih salah satu alternatif jawaban dari setiap pertanyaan yang telah tersedia. Penulis mempergunakan kuesiones tertutup dengan alasan karena dalam kuesioner tertutup pada setiap item sudah tersedia beberapa alternatif jawaban sehingga responden tinggal memilih salah satu jawaban yang sesuai (Sugiyono, 2009: 143).

  Rating Scale adalah pencatatan gejala menurut tingkat-tingkatnya. Adapun

  tujuannya adalah untuk memperoleh gambaran mengenai keadaan subyek menurut tingkat-tingkat subyeknya dalam hal ini adalah umat. Rating Scale umumnya terdiri dari suatu daftar yang berisi ciri-ciri tingkah laku yang harus dicatat secara bertingkat dan dalam hal ini peneliti harus mencatat pada tingkat yang bagaimana suatu gejala atau ciri tingkah laku itu nampak. Misalkan saja kategori tertentu dibuat macam-macam rating (Sutrisno Hadi, 2004: 171-172).

  Kuesioner rating scale ini dapat membantu umat untuk mengoreksi diri sejauh mana penghayatan umat lingkungan Santo Antonius Joton terhadap makna sakramen Ekaristi. Selain itu rating scale juga digunakan untuk mencari tahu model katekese yang sesuai dalam membantu umat menemukan dan menghayati makna sakramen Ekaristi.

e. Responden

  Penelitian ini mengambil populasi umat yakni umat lingkungan Santo Antonius Joton. Jumlah populasi umat lingkungan Santo Antonius Joton kurang lebih 233 orang yang terdiri dari 77 KK (Kepala Keluarga). Dari populasi ini diambil 40 KK masing-masing KK diambil satu orang sebagai responden untuk sampel penelitian. Dalam pengambilan sampel responden penelitian, penulis mendatangi rumah ke rumah calon responden dan menunggui mereka ketika mengisi angket. Adapun kriteria dalam pemilihan responden yakni misalnya umat yang aktif ke Gereja 60%, kurang aktif ke Gereja 40%.

  Dalam penelitian ini peneliti mempergunakan teknik purposive sampel. Hal ini penulis gunakan untuk mempermudah pencapaian tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian. Purposive sampling dilakukan dengan cara pemilihan sekelompok subjek didasarkan atas ciri-ciri atau sifat-sifat tertentu yang dipandang mempunyai sangkut paut yang erat dengan ciri-ciri atau sifat-sifat populasi yang sudah diketahui sebelumnya (Sutrisno Hadi, 2004: 91). Penulis memilih purposive sampling dengan alasan agar data diperoleh langsung dari sumber yang tepat dan sesuai dengan ciri-ciri atau sifat-sifat populasi yang telah ditentukan.

  f. Waktu Pelaksanaan

  Penelitian ini dilaksanakan di lingkungan Santo Antonius Joton Paroki Santo Yusuf Pekerja Gondangwinangun Klaten pada bulan November tahun 2012.

  Dengan proses pelaksanaan sebagai berikut: penulis pertama menentukan responden yang hendak dijadikan sampel penelitian, mendatangi rumah calon responden, memberikan angket kepada responden yang telah ditentukan dan menunggui ketika pengisian apabila responden ada di rumah, bila tidak ada angket dititipkan pada orang yang ada di rumah, setelah selesai mengisi angket responden diberi bolpoin sebagai ucapan terima kasih.

  g. Variabel Penelitian

  Deskripsi variable oprasional: 1)

  Pemahaman sakramen Ekaristi 2)

  Penghayatan makna sakramen Ekaristi 3)

  Faktor penyebabnya 4)

  Harapan umat untuk meningkatkan penghayatan Ekaristi demi pengembangan iman

  h. Kisi-kisi Instrumen

NO Variabel Indikator Jumlah

Item

  (1) (2) (3)

  1. Pemahaman sakramen Tersedianya data pemahaman

  6 Ekaristi sakramen Ekaristi

  2. Penghayatan makna sakramen Ekaristi Tersedianya data gambaran umat dalam penghayatan akan makna sakramen Ekaristi.

  17

  3. Faktor Penyebabnya Tersedianya data faktor penyebabnya

  5

  4. Harapan umat untuk meningkatkan penghayatan Ekaristi demi pengembangan iman

  Tersedinya data harapan umat untuk meningkatkan penghayatan Ekaristi demi pengembangan iman

  2 2.

   Laporan dan Pembahasan Hasil Penelitian

  Penulis dalam laporan dan pembahasan akan menggabungkan opsi pilihan dan mempersempit atau membagi opsi pilihan menjadi dua yakni positif dan negatif. Untuk bagian positif yakni opsi pilihan sangat setuju dan setuju menjadi satu, karena dua hal ini tidak jauh beda dan ini menjadi saling mendukung, sedangkan untuk bagian negatif yakni opsi pilihan tidak setuju, netral, sangat tidak setuju. Hal ini penulis lakukan karena memudahkan penulis dalam pengolahan dan pembahasan data penelitian. Dalam laporan dan pembahasan ini, penulis mengawalinya dengan identitas responden, pemahaman sakramen Ekaristi, penghayatan makna sakramen Ekaristi, faktor penyebab, harapan umat.

a. Laporan Hasil Penelitian

  Hasil penelitian dari 40 KK (Kepala Keluarga) dimana setiap KK diambil satu responden untuk dijadikan sampel penelitian tertera pada tabel berikut ini:

  

Tabel 1: Identitas Responden

(N= 40)

No Pernyataan Jmlh %

  1. Anggota keluarga: a.

  23 57,5 Bapak b.

  17 42,5 Ibu

  2. Orang tua berusia….

  a.

  6

  15 ≤ 30 tahun b.

  ≤ 40 tahun

  4

  10 c. ≤ 50 tahun

  12

  30 d. ≤ 60 tahun

  11 27,5 e. ≤ 70 tahun

  7 17,5

Tabel 2: Hasil Penelitian

(N= 40)

  N Pernyataan Jumlah Kepala Keluarga (KK) o Positif Negatif

A. SS % S % TS % N % ST %

   Pemahaman Ekaristi S

  Sakramen 1.

  27 67,5 13 32,5

  Ekaristi

  % %

  sebagai puncak dari segala aktivitas hidup umat Katolik Sakramen 2.

  25 62,5

  14

  35 1 2,5

  sebagai

  % % % tanda keselamatan Allah bagi umat manusia Sumber

  3. 20 50%

  18

  45 1 2,5 1 2,5

  kekuatan

  % % %

  orang Katolik diperoleh dari mengikuti Ekaristi Sakramen 4.

  16 40%

  22

  55 1 2,5 1 2,5

  yang kita

  % % %

  terima menyucikan hidup kita Saya hadir

  5. 9 22,5 13 32,5

  12

  30

  4

  10

  2

  5

  dan

  % % % % %

  merayakan Ekaristi sebagai kewajiban orang Katolik saja Ekaristi 6.

  27 67,5 12 30% 1 2,5

  menjadi

  % %

  kebutuhan orang katolik Positif Negatif B.

  

Penghayatan SS % S % TS % N % ST %

Makna

  S Ekaristi demi Pengembangan iman Mengikuti 7.

  26 65% 14 35%

  Ekaristi berarti membangun persaudaraan sejati sebagai murid Yesus Kristus Menghadiri

  8 17 42,5 22 55% 1 2,5

  Ekaristi

  % %

  membuat saya belajar berbagi pun seperti Yesus Kekuatan 9.

  14 35% 23 57,5 3 7,5

  yang

  % %

  diperoleh dari Ekaristi membuat saya semakin berani terlibat dalam hidup menggereja dan memasyarak at Saya

  10. 17 42,5 23 57,5

  semakin

  % %

  beriman karena adanya Ekaristi Saya peduli 11.

  6 15% 25 62,5 3 7,5

  6

  15

  dengan

  % % %

  KLMTD karena mendapat inspirasi dari Ekaristi Salah satu

  12. 17 42,5 20 50% 1 2,5 2 5%

  cara agar

  % %

  iman semakin dewasa adalah mengikuti Ekaristi Menyambut 13.

  24 60% 15 37,5 1 2,5

  Tubuh dan

  % %

  Darah Kristus membuat saya semakin berpengharap an pada Yesus Saya

  14. 29 72,5 11 27,5

  menghadiri

  % %

  Ekaristi berarti mempersatuk an diri dengan Allah dan sesama umat Katolik Allah 15.

  21 52,5 15 37,5 1 2,5 3 7,5

  mengundang

  % % % %

  saya untuk tinggal di dalam Dia dengan sesering mungkin mengikuti Ekaristi Saya 16.

  13 32,5 25 62,5 2 5%

  membantu

  % %

  korban merapi yang berbeda keyakinan adalah wujud iman yang dewasa Saya selalu

  17. 6 15% 22 55% 1 2,5 11 27,

  terlibat

  % 5%

  dalam kegiatan doa di lingkungan Saya 18.

  12 30% 23 57,5 5 12,

  meluangkan

  % 5%

  waktu untuk tetangga yang sedang mengalami musibah Kebangkitan

  19. 26 65% 14 35%

  Yesus adalah dasar iman orang Katolik Iman para 20.

  17 42,5 20 50% 3 7,5

  rasul menjadi

  % %

  dasar iman Gereja Katolik Iman

  21. 9 22,5 30 75% 1 2,5

  mendorong

  % %

  dan membuat saya semakin peduli dengan sesama KLMTD Iman adalah 22.

  12 30% 23 57,5 1 2,5 3 7,5 1 2,5

  anugerah

  % % % %

  dari Allah dan tanggapan secara bebas dari pihak manusia

  23. 17 42,5 22 55% 1 2,5

  Iman

  % %

  memampuka n saya menemukan Allah dalam setiap persoalan hidup

  Positif Negatif C. Faktor SS % S % TS % N % ST % penyebab umat S kurang menghayati Ekaristi

  Saya datang 24.

  21 52,5 17 42,5 2 5%

  lebih awal

  % %

  saat mengikuti Ekaristi dan pulang lebih awal sebelum berkat dalam perayaan Ekaristi Saya

  25. 15 37,5 21 52,5 3 7,5 1 2,5

  mengerti dan

  % % % %

  menyadari akan tata cara perayaan Ekaristi Saya senang,

  26. 3 7,5 6 15% 17 42, 9 22, 5 12,

  nyaman,

  % 5% 5% 5%

  aman bila mengikuti Ekaristi yang diadakan di lingkungan dari pada di Gereja Saya pergi ke 27.

  1 2,5 25 62,

  4

  10

  10

  25

  gereja

  % 5% % %

  dengan terburu-buru tanpa persiapan Saya sering 28.

  18 45% 16 40% 3 7,5 3 7,5

  terlibat

  % %

  dalam pendalaman iman di lingkungan

  Positif Negatif D.

  

Model SS % S % TS % N % ST %

Katekese

  S yang diharapkan Sharing 29.

  8 20% 31 77,5 1 2,5

  pengalaman

  % %

  hidup antar sesama umat membantu umat menemukan makna Ekaristi dalam hidup sehari-hari Katekese

  30. 7 17,5 28 70% 3 7,5 2 5%

  umat yang

  % %

  bertolak dari pengalaman tokoh dalam Kitab Suci membantu umat untuk menemukan makna Ekaristi

  1) Identitas

  Jumlah rata-rata responden orang tua berusia 41

  • – 70 tahun sebanyak 30 orang dengan jumlah prosentase 75%.

  Jumlah responden orang muda yang berusia 20

  • – 40 tahun sebanyak 10 orang dengan jumlah prosentase 25%.

  2) Pemahaman Ekaristi

  Pada variabel pemahaman Ekaristi dari tabel 2 di atas, pada item no. 1

  sebanyak menyatakan

  diketahui 40 orang dengan jumlah prosentase 100% bahwa sakramen Ekaristi sebagai puncak dari segala aktivitas hidup umat Katolik.

  Pada item no. 2, responden sebanyak 39 responden dengan jumlah menyatakan bahwa sakramen sebagai sarana dan tanda keselamatan

  prosentase 97,5%

  

Allah bagi umat manusia. Ada juga umat yang menyatakan negatif sebanyak 1

orang dengan jumlah prosentase 2,5%.

  Pada item no. 3, responden sebanyak 38 orang dengan jumlah prosentase 95%

menyatakan sumber kekuatan orang Katolik diperoleh dari mengikuti Ekaristi. Umat

  sebanyak 2 orang dengan jumlah prosentase 5% menyatakan negatif terhadap pernyataan ini.

  Pada item no. 4, responden sebanyak 38 orang dengan jumlah prosentase 95%

menyatakan bahwa Sakramen yang kita terima menyucikan hidup kita. Umat

  sebanyak 2 orang dengan jumlah prosentase 5% menyatakan negatif untuk pernyataan ini.

  Pada item no. 5, sebanyak sebanyak 22 orang dengan jumlah prosentase 55% menyatakan bahwa saya hadir dan merayakan Ekaristi sebagai kewajiban orang Katolik saja. Responden sebanyak 18 orang dengan jumlah prosentase 45% menyatakan negatif.

  Pada item no. 6, responden sebanyak 39 orang dengan jumlah prosentase 97,5% menyatakan bahwa Ekaristi menjadi kebutuhan orang Katolik. Umat sebanyak 1 orang dengan prosentase 2,5% menyatakan negatif.

3) Penghayatan Makna Sakramen Ekaristi

  Pada tabel 2 variabel penghayatan makna Ekaristi demi pengembangan iman, pada item no. 7, responden sebanyak 40 orang dengan jumlah prosentase 100% menyatakan bahwa mengikuti Ekaristi berarti membangun persaudaraan sejati sebagai murid Yesus Kristus.

  Pada item no. 8, responden sebanyak 39 orang dengan jumlah prosentase 97,5% menyatakan bahwa menghadiri Ekaristi membuat saya belajar berbagi kepada siapa pun seperti Yesus. responden 1 orang dengan jumlah prosentase 2,5% menyatakan negatif.

  Pada item no. 9, sebanyak 37 orang dengan jumlah prosentase 92,5% menyatakan bahwa kekuatan yang diperoleh dari Ekaristi membuat saya semakin berani terlibat dalam hidup menggereja dan memasyarakat. Umat sebanyak 3 orang dengan jumlah prosentase 7,5% menyatakan negatif.

  Pada item no. 10, 40 orang dengan jumlah prosentase 100% menyatakan bahwa saya semakin beriman karena adanya Ekaristi.

  Pada item no. 11, responden sebanyak 31 orang dengan prosentase 77,5% menyatakan bahwa saya peduli dengan KLMTD karena mendapat inspirasi dari Ekaristi. Umat sebanyak 9 orang dengan jumlah prosentase 23,5% menyatakan negatif.

  Pada item no. 12, responden sebanyak 37 orang dengan jumlah prosentase 92,5% menyatakan bahwa salah satu cara agar iman semakin dewasa adalah mengikuti Ekaristi. Umat sebanyak 3 orang dengan jumlah prosentase 7,5% menyatakan negatif

  Pada item no. 13, responden sebanyak 39 orang dengan jumlah prosentase 97,5% menyatakan bahwa menyambut Tubuh dan Darah Kristus membuat saya semakin berpengharapan pada Yesus. Umat sebanyak 1 orang dengan jumlah prosentase 2,5% menyatakan negatif.

  Pada item no. 14, jumlah responden sebanyak 40 orang dengan jumlah prosentase 100% menyatakan bahwa saya menghadiri Ekaristi berarti mempersatukan diri dengan Allah dan sesama umat Katolik.

  Pada item no. 15, responden sebanyak 36 orang dengan jumlah prosentase 90% menyatakan bahwa Allah mengundang saya untuk tinggal di dalam Dia dengan sesering mungkin mengikuti Ekaristi. Umat sebanyak 4 orang dengan jumlah prosentase 10% menyatakan negatif.

  Pada item no. 16, responden sebanyak 38 orang dengan jumlah prosentase 95% menyatakan bahwa membantu korban merapi yang berbeda keyakinan adalah wujud iman yang dewasa. Umat sebanyak 2 orang dengan jumlah prosentase 5% menyatakan negatif.

  Pada item no. 17, sebanyak 28 orang dengan jumlah prosentase 70% menyatakan bahwa saya selalu terlibat dalam kegiatan doa di lingkungan. Umat sebanyak 12 orang dengan prosentase 30% menyatakan negatif.

  Pada item no. 18, sebanyak 35 orang dengan jumlah prosentase 87,5% menyatakan bahwa saya meluangkan waktu untuk tetangga yang sedang mengalami musibah. Umat sebanyak 5 orang dengan jumlah prosentase 12,5% menyatakan negatif.

  Pada item no. 19, responden sebanyak 40 orang dengan prosentase 100% menyatakan bahwa kebangkitan Yesus adalah dasar iman orang Katolik.

  Pada item no. 20, responden sebanyak 37 orang dengan jumlah prosentase 92,5% menyatakan bahwa Iman para rasul menjadi dasar iman Gereja Katolik.

  Umat sebanyak 3 orang dengan jumlah prosentase 7,5% menyatakan negatif.

  Pada item no. 21, sebanyak 39 orang responden dengan jumlah prosentase 97,5% menyatakan bahwa iman mendorong dan membuat saya semakin peduli dengan sesama KLMTD. Umat 1 orang dengan jumlah prosentase 2,5% menyatakan negatif.

  Pada item no. 22, sebanyak 35 orang dengan prosentase 87,5% menyatakan bahwa Iman adalah anugerah dari Allah dan tanggapan secara bebas

  Umat sebanyak 5 orang dengan jumlah prosentase 12,5% dari pihak manusia. menyatakan negatif.

  Pada item no. 23, responden sebanyak 39 orang dengan jumlah prosentase 97,5% menyatakan bahwa Iman memampukan saya menemukan Allah dalam setiap persoalan hidup. Umat sebanyak 1 orang dengan jumlah prosentase 2,5% menyatakan negatif.

  4)

Faktor Penyebab umat mengikuti Ekaristi sebatas kewajiban dan ritus

  Pada item no. 24, Responden sebanyak 38 orang dengan jumlah prosentase 95% menyatakan positif bahwa mereka dating lebih awal saat mengikuti Ekaristi dan pulang lebih awal. Responden sebanyak 2 orang prosentase 5% menyatakan negatif bahwa saya datang lebih awal saat mengikuti Ekaristi dan pulang lebih awal sebelum berkat dalam perayaan Ekaristi.

  Pada item no. 25, sebanyak 36 orang dengan jumlah prosentase 90% menyatakan mengerti dan menyadari akan tata cara perayaan Ekaristi. responden sebanyak 4 orang dengan jumlah prosentase 10% menyatakan negatif bahwa saya mengerti dan menyadari akan tata cara perayaan Ekaristi.

  Pada item no. 26, 9 orang dengan jumlah prosentase 22,5% menyatakan positif bahwa mereka senang, nyaman, aman bila mengikuti Ekaristi yang diadakan di lingkungan dari pada di Gereja. Responden sebanyak 31 orang dengan jumlah prosentase 77,5% menyatakan negatif bahwa saya senang, nyaman, aman bila mengikuti Ekaristi yang diadakan di lingkungan dari pada di Gereja.

  Pada item no. 27, responden sebanyak 1 orang dengan jumlah prosentase 2,5% menyatakan positif bahwa umat pergi ke gereja dengan terburu-buru tanpa persiapan. Responden sebanyak 39 orang dengan jumlah prosentase 97,5% menyatakan negatif bahwa saya pergi ke gereja dengan terburu-buru tanpa persiapan.

  Pada item no. 28, responden sebanyak 6 orang dengan jumlah prosentase 15% menyatakan positif bahwa mereka jarang mengikuti kegiatan pendalaman iman di lingkungan. Responden sebanyak 34 orang dengan jumlah prosentase 85% menyatakan negatif bahwa saya jarang terlibat dalam pendalaman iman di lingkungan.

  5)

Harapan umat untuk meningkatkan penghayatan Ekaristi demi

pengembangan iman

  Pada item no. 29, responden sebanyak 39 orang dengan jumlah prosentase 97,5% menyatakan positif bahwa sharing pengalaman hidup antar sesama umat membantu mereka menemukan makna Ekaristi dalam hidup sehari-hari. Umat sebanyak 1 orang dengan jumlah 2,5% menyatakan negatif untuk pernytaan ini. Hal ini menunjukkan bahwa umat merasa sulit untuk menghayati makna sakramen Ekaristi melalui katekese model SCP.

  Pada item no. 30, responden sebanyak 35 orang dengan jumlah prosentase 87,5% menyatakan bahwa katekese umat yang bertolak dari pengalaman tokoh dalam Kitab Suci membantu umat untuk menemukan makna Ekaristi. Responden sebanyak 5 orang dengan jumlah prosentase 12,5% menyatakan negatif.

b. Pembahasan Hasil Penelitian

  Berdasarkan hasil penelitian yang penulis lakukan dengan menyebarkan kuesioner yang berupa angket kepada 40 responden, maka penulis akan membahas hasil penelitian tiap-tiap variabel sesuai dengan data yang telah diperoleh. Dalam pembahasan ini penulis mengelompokkan ke dalam 5 bagian yaitu: identitas responden, pemahaman Ekaristi, penghayatan makna Ekaristi, faktor penyebabnya, harapan umat untuk meningkatkan penghayatan Ekaristi demi pengembangan iman.

1. Identitas Responden

  Dari hasil penelitian pada tabel 1 dapat diketahui identitas responden yaitu 40 orang yang diambil dari 40 KK (Kepala Keluarga) dimana setiap KK diambil satu orang untuk dijadikan sampel penelitian. Jumlah responden 40 orang ini terdiri dari bapak dan ibu. Dari tabel 1 dapat dilihat jumlah bapak sebanyak 23 orang dengan jumlah prosentase 57,5% sedangkan untuk ibu sebanyak 17 orang dengan jumlah prosentase 42,5%. Dengan mengambil 40 KK sebagai responden dapat mewakili jumlah keseluruhan KK umat Lingkungan St. Antonius Joton yakni 77 KK.

  • – Pada tabel 1 juga dapat diketahui bahwa responden rata-rata berusia 41 70 tahun sebanyak 30 orang dengan jumlah prosentase 75%. Dengan usia ini tentunya mereka sudah cukup memiliki pengalaman dalam memahami serta menghayati Ekaristi. Pada usia 41
  • – 70 merupakan usia dewasa dan pada usia ini kemampuan untuk merefleksikan pengalaman hidup lebih mudah. Sedangkan usia muda di bawah 40 sebanyak 10 orang. Pada usia ini kemampuan merefleksi masih kurang dihayati karena mereka masih membutuhkan banyak pengalaman.
  • 2. Pemahaman Sakramen Ekaristi

      Berdasarkan tabel 2 di atas, diperoleh gambaran yang berkaitan dengan pemahaman responden akan Ekaristi.

      Pada tabel 2, item no. 1, responden sebanyak 40 orang dengan jumlah prosentase 100% menyatakan bahwa sakramen Ekaristi sebagai puncak dari segala aktivitas hidup umat Katolik. Hal ini dapat disimpulkan bahwa sakramen Ekaristi memang menjadi puncak dari segala aktivitas hidup umat Katolik.

      Ekaristi menjadi sasaran utama umat untuk mencapai kepenuhan hidup Kristiani. Ekaristi sebagai puncak hidup Kristiani merupakan ajaran Bapa Gereja dalam Konsili Vatikan II (LG, 11). Melalui Ekaristi umat diajak untuk menemukan Allah di dalam hidup sehari-hari dengan caranya sendiri. Dengan demikian umat memperoleh kekuatan yang mengagumkan yang memampukan mereka untuk tetap bersatu satu dengan yang lain.

      Pada item no. 2, sebanyak 39 responden dengan jumlah prosentase 97,5% menyatakan bahwa sakramen sebagai sarana dan tanda keselamatan Allah bagi umat manusia. Sakramen merupakan sarana dan tanda keselamatan Allah yang terwujud di dalam Gereja. Dalam hal ini Gereja dipercaya oleh Allah untuk mengambil bagian di dalam misi keselamatan Allah bagi umat-Nya di masa kini. Pada zaman sekarang ini keselamatan sungguh dibutuhkan oleh umat manusia. Seperti yang kita ketahui bersama perkembangan zaman yang begitu cepat mengakibatkan manusia masuk dalam godaan-godaan iman. Godaan-godaan pada zaman sekarang sangat menjatuhkan iman manusia apabila tidak disikapi dengan nilai positif. Untuk itulah keselamatan sungguh penting demi kesatuan antara manusia dengan manusia dan dengan Allah. Ada juga umat yang menyatakan negatif sebanyak 1 orang dengan jumlah prosentase 2,5%, hal ini menunjukkan bahwa umat kurang memahami akan sakramen Ekaristi dan ini menjadi hambatan bagi umat untuk menemukan Tuhan.

      Pada item no. 3, sebanyak 38 orang dengan jumlah prosentase 95% menyatakan bahwa sumber kekuatan orang Katolik diperoleh dari mengikuti Ekaristi. Ekaristi merupakan tempat dimana umat Katolik menimba kekuatan rohani. Kekuatan yang diperoleh dari Ekaristi memampukan umat untuk bangkit dari kondisi lelah, lesu dan berbeban berat. Ekaristi bermanfaat memperkuat iman umat yang sedang menghadapi berbagai permasalahan hidup. Umat sebanyak 2 orang dengan jumlah prosentase 5% menyatakan negatif terhadap pernyataan ini. Hal ini menunjukkan bahwa umat kurang memahami atau menyadari sumber kekuatan orang Katolik melalui Ekaristi.

      Pada item no. 4, sebanyak 38 orang dengan jumlah prosentase 95% menyatakan bahwa sakramen yang kita terima menyucikan hidup mereka.

      Sakramen yang ada dalam Gereja dan yang kita rayakan merupakan sarana untuk memperoleh keselamatan dari Allah. Selain itu juga sakramen menjadi salah satu pemersatu antara manusia dengan Allah. Umat yang menerima sakramen disucikan seluruh hidupnya menjadi milik Allah seutuh-Nya. Umat sebanyak 2 orang dengan jumlah prosentase 5% menyatakan negatif untuk pernyataan ini. Hal ini menunjukkan bahwa umat belum menyadari bahwa sakramen yang mereka terima menyucikan hidupnya.

      Pada item no. 5, responden sebanyak 22 orang dengan jumlah prosentase 55% menyatakan bahwa mereka hadir dan merayakan Ekaristi sebagai kewajiban orang Katolik saja. Ekaristi memang merupakan kewajiban bagi orang Katolik untuk merayakannya. Tetapi apabila Ekaristi dipahami sebatas kewajiban saja, maka Ekaristi hanyalah suatu rutinitas atau kegiatan ritual keagamaan.

      Pemahaman seperti ini adalah pemahaman yang keliru dan mengakibatkan tumpulnya iman umat. Ekaristi tidak hanya sebagai kewajiban orang Katolik tapi Ekaristi merupakan pintu masuk menuju suatu kebahagiaan bersama Allah. Responden sebanyak 18 orang dengan jumlah prosentase 45% menyatakan negatif bahwa mereka hadir dan merayakan Ekaristi sebagai kewajiban orang Katolik saja. Data ini menunjukkan bahwa umat dalam memahami Ekaristi tidak hanya sebatas kewajiban tetapi mereka sudah melangkah ke tahap penghayatan. Hal ini sungguh baik karena umat mampu menghayati Ekaristi, ini juga menjadi harapan dari Gereja. Gereja mengharapkan umat mampu mencapai pada suatu kedamaian, kebahagiaan bersama Allah. Untuk itu umat diharapkan tidak hanya memahami Ekaristi sebagai kewajiban, tetapi memahami Ekaristi lebih mendalam sampai pada lubuk hatinya sehingga sampai pada kesejahteraan dalam hidup.

      Pada item no. 6, responden sebanyak 39 orang dengan jumlah prosentase 97,5% menyatakan bahwa Ekaristi menjadi kebutuhan orang Katolik. Ekaristi menjadi suatu kebutuhan merupakan suatu hal yang mendalam bagi orang katolik.

      Ekaristi menjadi bagian dari hidup umat Katolik, bagian yang tidak terpisahkan. Ekaristi menjadi daya yang menyegarkan hati dikala sedang gundah atau gelisah. Umat yang sudah melekat dengan Ekaristi akan merasakan bahwa dirinya membutuhkan Ekaristi dan apabila ia belum mengikuti Ekaristi merasakan ada yang kurang dari dirinya. Umat sebanyak 1 orang dengan prosentase 2,5% menyatakan negatif, hal ini menunjukkan bahwa umat belum mencapai suatu kebutuhan dari Ekaristi.

    3. Penghayatan Makna Sakramen Ekaristi

      Pada item no. 7, responden sebanyak 40 orang dengan jumlah prosentase 100% menyatakan bahwa mereka mengikuti Ekaristi berarti membangun persaudaraan sejati sebagai murid Yesus Kristus. Ekaristi yang dirayakan serta disambut oleh umat menciptakan suatu persaudaraan sejati. Ekaristi sungguh mempersatukan umat-Nya menjadi satu saudara dalam keluarga besar.

      Terciptanya persaudaraan sejati dalam Ekaristi membuat umat dituntut untuk belajar menciptakan rasa persaudaraan sejati di tengah dunia.

      Pada item no. 8, responden sebanyak 39 orang dengan jumlah prosentase 97,5% menyatakan setuju bahwa menghadiri Ekaristi membuat mereka belajar berbagi kepada siapa pun. Berbagai merupakan ajaran Yesus sendiri seperti yang dikatakan dalam

      Yoh 6:9 yang berbunyi “Di sini ada seorang anak, yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apakah artinya itu untuk orang sebanyak ini?

      ”. Kutipan ayat ini sungguh menjadi inspirasi bersama untuk menyadarkan diri bahwa betapa pentingnya berbagi kepada sesama. Hal ini menjadi sikap iman yang harus dihidupi dalam diri umat. Kita hidup di dunia tidaklah sendiri melainkan saling membutuhkan, untuk itu berbagi kepada sesama berarti peduli dengan orang lain. Sedangkan responden 1 orang dengan jumlah prosentase 2,5% menyatakan negatif untuk pernyataan ini. Hal ini menunjukkan bahwa umat belum memahami akan makna Ekaristi sebagai tempat belajar berbagi. Padahal Yesus sudah mengajarkan kepada umatnya untuk berbagi seperti apa yang telah Ia lakukan pada perjamuan terakhir-Nya.

      Pada item no. 9, sebanyak 37 orang dengan jumlah prosentase 92,5% menyatakan setuju bahwa kekuatan yang diperoleh dari Ekaristi membuat mereka semakin berani terlibat dalam hidup menggereja dan memasyarakat. Keterlibatan menjadi suatu bentuk perwujudan iman yang harus dihayati oleh semua umat beriman. Hal ini merupakan kesadaran diri untuk berpartisipasi dan menyatu dengan lingkungan hidup demi terciptanya rasa persaudaran sejati di tengah dunia.

      Gereja juga sangat menganjurkan pada umat untuk terlibat. Keterlibatan kita dalam kegiatan bersama menjadi tahap perkembangan iman mereka yang dewasa.

      Umat sebanyak 3 orang dengan jumlah prosentase 7,5% menyatakan negatif untuk pernyataan ini. Hal ini menunjukkan bahwa umat belum menyadari bahwa melalui Ekaristi memberikan keberanian kepada mereka untuk terlibat menggereja dan memasyarakat.

      Pada item no. 10, 40 orang dengan jumlah prosentase 100% menyatakan bahwa mereka semakin beriman karena adanya Ekaristi. Ekaristi mempunyai daya kekuatan yang luar biasa. Umat yang sudah masuk dan bersatu dengan Ekaristi akan merasakan daya ikat yang erat untuk selalu mengikuti Ekaristi. Hal ini merupakan suatu perintah Yesus untuk selalu merayakan Ekaristi, seperti dalam Kitab Suci Luk 22:19 yang berbunyi

      “Lalu Ia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka, kata- Nya: “Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku”. Daya yang berasal dari Ekaristi memperkuat iman umat untuk tetap setia mengikuti ajaran yang benar dari Allah.

      Pada item no. 11, responden sebanyak 31 orang dengan prosentase 77,5% menyatakan bahwa mereka peduli dengan KLMTD karena mendapat inspirasi dari Ekaristi. Ekaristi yang kita rayakan bersama memberikan daya untuk peduli terhadap orang lain. Peduli terhadap KLMTD berarti peduli dengan ciptaan Tuhan yang mengalami ketidakadilan yang dilakukan oleh manusia yang tidak bertanggung jawab. Pada zaman sekarang ini banyak sekali ketidakadilan yang dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kuasa terhadap kaum kecil. Misalkan saja tindakan korupsi yang dilakukan oleh petinggi-petinggi negara yang mengakibatkan kesengsaraan bagi kaum kecil. Untuk itulah daya Ekaristi memberikan dorongan bagi umat untuk lebih jujur dan peduli terhadap mereka yang kecil. Umat sebanyak 9 orang dengan jumlah prosentase 23,5% menyatakan negatif untuk pernyataan ini. Hal ini menunjukkan bahwa umat belum mampu menemukan makna Ekaristi, Ekaristi memberikan inspirasi bagi umat-Nya untuk peduli dengan sesama.

      Pada item no. 12, responden sebanyak 37 orang dengan jumlah prosentase 92,5% menyatakan bahwa salah satu cara agar iman semakin dewasa adalah mengikuti Ekaristi. Ekaristi memberikan dorongan pada umat untuk bersikap dewasa terutama dalam hal iman. Umat di dalam merayakan Ekaristi diharapkan kesadarannya untuk terlibat ambil bagian dari Tubuh dan Darah Kristus.

      Keterlibatan umat dalam Ekaristi menunjukkan bahwa iman mereka bertumbuh secara dewasa. Hal ini terlihat dari kesadaran diri umat untuk terlibat ambil bagian dari Ekaristi. Umat sebanyak 3 orang dengan jumlah prosentase 7,5% menyatakan negatif untuk pernyataan ini. Hal ini menunjukkan bahwa umat belum menyadari untuk menjadi dewasa dalam iman salah satunya adalah mengikuti Ekaristi.

      Pada item no. 13, responden sebanyak 39 orang dengan jumlah prosentase 97,5% menyatakan sangat setuju bahwa menyambut Tubuh dan Darah Kristus membuat saya semakin berpengharapan pada Yesus. Umat menyambut Tubuh dan Darah Kristus menunjukkan bahwa mereka percaya dan yakin bahwa Yesuslah sang juru selamat. Umat percaya dan yakin bahwa Yesus akan selalu hadir di tengah-tengah mereka. Yesus menjadi suatu kerinduan umat untuk berkumpul dan merayakan Ekaristi. Umat sebanyak 1 orang dengan jumlah prosentase 2,5% menyatakan negatif untuk pernyataan ini. Hal ini menunjukkan umat tidak merasakan bahwa menyambut Tubuh dan Darah Kristus mendorongnya untuk semakin berpengharapan.

      Pada item no. 14, jumlah responden sebanyak 40 orang dengan jumlah prosentase 100% menyatakan bahwa mereka menghadiri Ekaristi berarti mempersatukan diri dengan Allah dan sesama umat Katolik. Umat yang menghadiri Ekaristi berarti dirinya bersedia untuk bersatu dengan Allah serta mau bersatu dengan sesamanya. Umat yang hadir di dalam Ekaristi sangatlah bermacam-macam, entah itu orang berada, entah itu orang tidak mampu, tetapi dalam Ekaristi umat yang bermacam-macam ini dipersatukan oleh Allah menjadi satu saudara. Allah memandang mereka sama dan tidak pilih kasih.

      Pada item no. 15, responden sebanyak 36 orang dengan jumlah prosentase 90% menyatakan bahwa Allah mengundang mereka untuk tinggal di dalam Dia dengan sesering mungkin mengikuti Ekaristi. Dari data ini terlihat bahwa umat menyadari akan Allah yang mengundang mereka untuk tinggal bersama-Nya. Allah menawarkan kepada umat-Nya untuk duduk bersama dalam kemuliaan- Nya. Hal ini menjadi bukti bahwa Allah sungguh peduli dengan umat-Nya. Allah sungguh mengasihi umat-Nya seperti seorang ayah yang mengasihi anaknya.

      Umat sebanyak 4 orang dengan jumlah prosentase 10% menyatakan negatif untuk pernyataan ini. Hal ini menunjukkan bahwa umat belum mencapai suatu penghayatan yang membawanya kepada Allah.

      Pada item no. 16, responden sebanyak 38 orang dengan jumlah prosentase 95% menyatakan bahwa mereka membantu korban merapi yang berbeda keyakinan adalah wujud iman yang dewasa. Umat di dalam memupuk iman yang dewasa tidaklah hanya secara interen saja tetapi hendaknya secara eksteren. Umat dapat mencapai iman yang dewasa apabila mereka mampu keluar dari dirinya dan mampu melakukan hal yang baik bagi orang lain. Hal ini juga menjadi salah satu perwujudan dari Ekaristi yang nyata di tengah dunia. Umat sebanyak 2 orang dengan jumlah prosentase 5% menyatakan negatif untuk pernyataan ini. Hal ini menunjukkan bahwa umat kurang menghayati imannya sehingga perwujudan iman yang dewasa terhambat.

      Pada item no. 17, sebanyak 28 orang dengan jumlah prosentase 70% menyatakan setuju bahwa mereka selalu terlibat dalam kegiatan doa di lingkungan. Data ini menunjukkan bahwa umat sadar untuk terlibat dalam kegiatan doa yang diadakan di lingkungan. Keterlibatan mereka merupakan wujud solidaritas diri dengan sesama maupun dengan Allah. Umat melalui doa lingkungan memampukan mereka untuk menemukan Allah dalam kehidupan sehari-hari. Allah selalu hadir dan mendampingi umat-Nya di manapun mereka berada. Umat sebanyak 12 orang dengan jumlah prosentase 30% menyatakan negatif untuk pernyataan ini. Hal ini menunjukkan bahwa umat kurang menyadari bahwa melalui doa mampukan mereka untuk menghayati makna sakramen Ekaristi. Doa merupakan sarana untuk berkomunikasi kepada Tuhan dan meminta segala sesuatunya pada-Nya demi menemukan petunjuk kebenaran dari Allah.

      Pada item no. 18, sebanyak 35 orang dengan jumlah prosentase 87,5% menyatakan setuju bahwa mereka meluangkan waktu untuk tetangga yang sedang mengalami musibah. Umat di dalam menjalankan hidup di dunia tidak dapat berjalan sendiri tanpa bantuan orang lain. Umat yang meluangkan waktu demi kepentingan orang lain merupakan wujud kepedulian mereka. Umat yang bertindak demikian merupakan suatu bentuk perhatian dan memberikan motivasi hidup bagi orang lain untuk mendapatkan kebahagian dari sesama. Umat sebanyak 5 orang dengan jumlah prosentase 12,5% menyatakan negatif untuk pernyataan ini. Hal ini menunjukkan bahwa umat kurang terlibat dalam kegitan di lingkungan dan ini menjadi suatu kendala bagi umat untuk menghayati makna sakramen Ekaristi.

      Pada item no. 19, responden sebanyak 40 orang dengan jumlah prosentase 100% yang menyatakan bahwa kebangkitan Yesus adalah dasar iman orang Katolik. Kebangkitan Yesus merupakan suatu pemenuhan akan janji Allah kepada umat-Nya, yakni keselamatan dan jaminan keselamatan hidup abadi. Melalui kebangkitan Yesus umat memperoleh kedamain dalam hidup dan kesatun kembali dengan Allah. Yesus merupakan dasar iman yang utama dan menjadi ujung tombak menuju kepada kemuliaan bersama Allah. Umat tidak akan mampu mencapai kemulian bersama Allah apabila meragukan keyakinannya akan kebangkitan Yesus sang pembawa damai.

      Pada item no. 20, responden sebanyak 37 orang dengan jumlah prosentase 92,5% yang menyatakan bahwa iman para rasul menjadi dasar iman Gereja Katolik. Iman para rasul merupakan dasar iman Gereja Katolik. Para rasul di sini adalah dua belas murid Yesus. Gereja ada, berkembang, dan berdiri berkat misi pewartaan para murid yang ingin menyebarluaskan karya keselamatan yang telah terlaksana dalam diri Yesus. Untuk itu iman para rasul menjadi dasar iman Gereja Katolik dalam mewartakan kebenaran yang telah dibawa oleh Yesus dan dibagikan kepada seluruh bangsa di dunia. Umat sebanyak 3 orang dengan jumlah prosentase 7,5% menyatakan negatif untuk pernyataan ini. Hal ini menunjukkan bahwa umat kurang menghayati akan imannya dan ini menjadi kendala bagi mereka.

      Pada item no. 21, sebanyak 39 orang responden dengan jumlah prosentase 97,5% menyatakan bahwa iman mendorong dan membuat mereka semakin peduli dengan sesama yang KLMTD. Data ini menunjukkan bahwa umat memiliki rasa kepekaan, kepedulian terhadap sesama karena dorongan imannya. Iman yang dimiliki umat merupakan kekuatan yang luar biasa. Iman yang dimilikinya memampukan mereka untuk memperoleh keselamatan serta menuntun mereka untuk menemukan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Umat 1 orang dengan jumlah prosentase 2,5% menyatakan negatif untuk pernyataan ini. Hal ini menunjukkan bahwa umat peduli dengan KLMTD bukan dorongan dari iman. Kemungkinan umat ini peduli karena merasa kasihan.

      Pada item no. 22, sebanyak 35 orang dengan prosentase 87,5% menyatakan setuju bahwa iman adalah anugerah dari Allah dan tanggapan secara bebas dari pihak manusia. Data ini menunjukkan bahwa umat mampu menghayati imannya. Iman merupakan anugerah yang diberikan oleh Allah secara cuma- cuma. Selain itu umat juga diberikan suatu kebebasan di dalam menyikapi pemberian Allah. Iman yang diberikan oleh Allah sungguh memiliki daya yang luar biasa, walaupun iman yang diberikan-Nya kecil tapi daya yang

      Mat. 17:20 yang

      dikeluarkannya sangat besar. Hal ini sangat nampak dalam

      berbunyi:

      Ia berkata kepada mereka: Karena kamu kurang percaya. Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu.

      

    Umat sebanyak 5 orang dengan jumlah prosentase 12,5% menyatakan negatif untuk

    pernyataan ini. Hal ini menunjukkan bahwa umat kurang menyetujui bahwa iman itu

    anugerah dari Allah dan tanggapan bebas dari dirinya. Umat yang kurang setuju

    dengan pernyataan ini mengakibatkan mereka sulit untuk menghayati nilai-nilai

    Kristiani dan bahkan menghayati Ekaristi pun juga akan sulit.

      Pada item no. 23, responden sebanyak 39 orang dengan jumlah prosentase 97,5% menyatakan bahwa iman memampukan mereka menemukan Allah dalam lepas dari persoalan. Umat akan mengalami berbagai cobaan iman yang mengincar hidup sehari-hari mereka. Akan tetapi persoalan-persoalan hidup yang dihadapi umat merupakan sarana untuk menyadarkan umat-Nya bahwa Allah selalu berkarya. Allah selalu terlibat dalam seluruh kegiatan manusia baik dalam perkara besar maupun kecil. Adapun umat sebanyak 1 orang dengan jumlah prosentase 2,5% menyatakan negatif untuk pernyataan ini. Hal ini menunjukkan bahwa umat kurang menghayati imannya untuk menemukan Allah dalam kehidupnya.

    4. Faktor Penyebab

      Pada item no. 24, responden sebanyak 38 orang dengan jumlah prosentase 95% menyatakan positif bahwa mereka datang terlambat saat mengikuti Ekaristi dan pulang lebih awal sebelum berkat dalam perayaan Ekaristi. Dari data ini, terlihat sebagian besar umat rajin dan tepat waktu dalam mengikuti Ekaristi. Umat yang setia mengikuti Ekaristi dari awal sampai berkat penutup menunjukkan keseriusannya dalam menghayati Ekaristi. Ekaristi sungguh berdaya guna jika umat serius dalam penghayatannya. Adapun responden sebanyak 2 orang dengan prosentase 5% menyatakan negatif bahwa mereka terlambat datang saat mengikuti Ekaristi dan pulang lebih awal. Hal ini menunjukkan bahwa umat yang seperti ini akan mengalami kesulitan dalam menghayati makna sakramen Ekaristi.

      Pada item no. 25, responden sebanyak 36 orang dengan jumlah prosentase 90% menyatakan positif bahwa mereka mengerti dan menyadari akan tata cara perayaan Ekaristi. Dari data ini, terlihat umat yang memahami tata cara perayaan Ekaristi tergolong banyak. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian umat tahu akan tata cara Ekaristi dan ini menjadikan umat dapat menghayati Ekaristi. Adapun responden sebanyak 4 orang dengan jumlah prosentase 10% menyatakan negatif bahwa mereka mengerti dan menyadari akan tata cara perayaan Ekaristi. Hal ini menunjukkan bahwa umat kesulitan menghayati makna Ekaristi karena disebabkan ketidaktahuan dan kesadaran akan tata cara perayaan Ekaristi. Umat yang kurang tahu tata cara Ekaristi kemungkinan besar dalam mengikuti Ekaristi hanya sebatas hadir dan ikut merayakan saja tanpa memahami untuk apa mereka hadir dalam perayaan Ekaristi.

      Pada item no. 26, responden sebanyak 9 orang dengan jumlah prosentase 22,5% menyatakan positif bahwa mereka senang, nyaman, aman bila mengikuti Ekaristi yang diadakan di lingkungan dari pada di Gereja. Hal ini menunjukkan bahwa umat akan lebih mudah menghayati makna sakramen Ekaristi apabila diadakan di lingkungan. Kemungkinan besar umat lebih merasa mengena jika Ekaristi diadakan dalam sekala kecil. Keheningan dan ketenangan kemungkinan dapat mereka rasakan. Adapun responden sebanyak 31 orang dengan jumlah prosentase 77,5% menyatakan negatif bahwa mereka senang, nyaman, aman bila mengikuti Ekaristi yang diadakan di lingkungan dari pada di Gereja. Dari data ini, menunjukkan bahwa mereka lebih senang, nyaman, dan aman mengikuti Ekaristi di Gereja.

      Pada item no. 27, responden sebanyak 1 orang dengan jumlah prosentase 2,5% menyatakan positif bahwa umat pergi ke gereja dengan terburu-buru tanpa persiapan. Hal ini menunjukkan bahwa umat mengalami kesulitan menghayati makna Ekaristi disebabkan kurang persiapan diri dalam mengikuti kebaktian di Gereja. Adapun responden sebanyak 39 orang dengan jumlah prosentase 97,5% menyatakan negatif bahwa mereka pergi ke Gereja dengan terburu-buru tanpa persiapan. Data yang diperoleh ini menunjukkan bahwa umat sebagian besar melakukan persiapan sebelum berangkat ke Gereja untuk mengikuti perayaan Ekaristi. Kita sebagai umat beriman memang sudah sepantasnya untuk melakukan persiapan diri sebelum berangkat ke Gereja. Persiapan yang paling pokok adalah persiapan hati, hati kita hendaklah tertata dengan baik. Apabila kita pergi ke Gereja dengan hati yang tidak tertata akan mengakibatkan sulitnya untuk merasakan kehadiran Tuhan, bahkan untuk menghayati Ekaristi pun tidak mengena dalam hati.

      Pada item no. 28, responden sebanyak 34 orang dengan jumlah prosentase 85% menyatakan positif bahwa mereka sering terlibat dalam pendalaman iman di lingkungan. Hal ini menunjukkan bahwa mereka cukup banyak yang terlibat dalam pendalaman iman. Tetapi penulis juga memiliki pendapat atau kecurigaan kepada umat, mereka datang ke pendalaman iman benar-benar pendalaman atau hanya sekedar datang dan menjadi pendengar saja. Pada hal pendalaman iman amatlah penting bagi umat beriman, karena memampukan mereka untuk menggali makna dari sakramen Ekaristi dan juga nilai-nilai Kristiani. Jadi sangat disayangkan apabila umat kurang terlibat dan serius dalam pendalaman iman.

      Adapun responden sebanyak 6 orang dengan jumlah prosentase 15% menyatakan negatif bahwa mereka sering mengikuti kegiatan pendalaman iman di lingkungan.

      Hal ini mengakibatkan umat kesulitan untuk menghayati Ekaristi. Umat melalui pendalaman iman memampukan mereka untuk menemukan hal baru dalam hidup mereka. Data yang diperoleh ini menunjukkan bahwa ada umat yang kurang terlibat dalam pendalaman iman di lingkungan. Hal ini cukup memprihatinkan, karena kesadaran mereka untuk terlibat masih kurang dan perlu ditingkatkan. Pada hal Gereja sudah mengajak umatnya untuk selalu hidup terlibat demi menemukan Allah dalam kehidupan sehari-hari.

    5. Harapan umat untuk meningkatkan penghayatan Ekaristi demi pengembangan iman

      Pada item no. 29, responden sebanyak 39 orang dengan jumlah prosentase 97,5% menyatakan setuju bahwa sharing pengalaman hidup antar sesama umat membantu mereka menemukan makna Ekaristi dalam hidup sehari-hari. Data ini menunjukkan bahwa sebagian besar umat merasa terbantu bila menggali makna Ekaristi melalui sharing pengalaman hidup. Sharing pengalaman hidup atau lebih dikenal dengan Shared Christian Praxis (SCP) merupakan salah satu model katekese yang berpusat pada pengalaman iman umat yang kemudian diolah melalui terang Injil. Berbagi pengalaman merupakan salah satu cara menumbuhkan iman yang dewasa dan kuat. Pengalaman iman merupakan pengalaman yang sangat berharga yang dapat meneguhkan umat yang satu dengan lainnya. Katekese dengan model sharing pengalaman hidup memang dirasa dapat membantu di dalam penghayatan Ekaristi. Umat sebanyak 1 orang dengan jumlah 2,5% menyatakan negatif untuk pernyataan ini. Hal ini menunjukkan bahwa umat merasa sulit untuk menghayati makna sakramen Ekaristi melalui katekese model SCP.

      Pada item no. 30, responden sebanyak 35 orang dengan jumlah prosentase 87,5% menyatakan bahwa katekese umat yang bertolak dari pengalaman tokoh dalam Kitab Suci membantu umat untuk menemukan makna Ekaristi. Data ini menunjukkan bahwa sebagian umat terbantu untuk menemukan makna sakramen Ekaristi melalui katekese umat yang bertolak dari pengalaman tokoh dalam Kitab Suci. Jumlah umat yang memilih katekese ini lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah umat yang memilih katekese model SCP. Umat lebih banyak memilih katekese model SCP kemungkinan dikarenakan katekese yang bertolak dari pengalaman tokoh dalam Kitab Suci kurang efektif, walaupun bisa kemungkinan hanyak kecil pengaruhnya dalam menemukan makna sakramen Ekaristi. Umat melalui katekese ini pastinya merasa kesulitan apabila harus memahami atau menafsir Kitab Suci hal ini disebabkan karena tidak semua umat dapat menafsirkannya. Adapun responden sebanyak 5 orang dengan jumlah prosentase 12,5% menyatakan negatif untuk pernyataan ini. Hal ini menunjukkan bahwa umat yang memilih katekese ini kurang terbantu dalam menemukan dan menghayati makna sakramen Ekaristi.

    3. Refleksi

      Setelah membahas hasil penelitian penulis menggaris bawahi hal yang penting dari setiap subvariabel yakni dari pemahaman sakramen Ekaristi, penghayatan makna sakramen Ekaristi, faktor penyebabnya:

      Pemahaman sakramen Ekaristi sebagai puncak dari segala aktivitas hidup umat Katolik. Hal ini sangat penting dan harus disadari, karena melalui Ekaristi umat mencapai suatu hal yang paling atas atau kemuliaan bersama Allah dan mereka memperoleh kepenuhan hidup bersama-Nya di akhir zaman. Selain itu melaui Ekaristi umat merayakan sengsara, wafat, dan kebangkitan Yesus Kristus. Umat melalui Ekaristi dapat mempersembahkan diri untuk bersatu dengan Allah dan sesama selain itu umat dapat berdoa, mengucapan syukur atas segala pemberian-Nya yang dapat dinikmati.

      Penghayatan sakramen Ekaristi sangat penting bagi umat terutama kesatuan dengan Allah serta sesama dalam menjalani hidup sehari-hari. Umat melalui kesatuan dalam sakramen Ekaristi dapat menemukan nilai-nilai hidup yang dapat membawa mereka pada persaudaraan, kesejahteraan, kedamaian, serta kebahagiaan bersama dan juga dapat membawa mereka pada kehidupan di dalam kerajaan Allah. Umat juga dapat belajar dari nilai-nilai kehidupan yang ada dalam sakramen Ekaristi sehingga memampukan mereka untuk menerapkan nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

      Umat yang jarang terlibat dalam pendalaman iman di lingkungan dapat menjadi faktor penyebab sulitnya menghayati makna sakramen Ekaristi. Hal ini menjadi penting karena pedalaman iman merupakan jalan atau sarana bagi umat untuk menyelami misteri-misteri karya Allah dan menemukan jalan kebenaran- Nya. Pendalaman iman merupakan hal penting di dalam menghayati makna sakramen Ekaristi. Di dalam pendalaman iman pengalaman-pengalaman iman diteguhkan dengan sabda Tuhan yang kemudian menjadi kekuatan umat beriman untuk menghayati makna sakramen Ekaristi. Untuk itu apabila umat jarang terlibat di dalamnya maka umat kurang peka akan lingkungan sekitar, kurang tanggap akan kehadiran Tuhan, imannya tidak berkembang dan segala sesuatu yang berkaitan dengan keagamaan hanya sebatas melaksanakan kewajiban dan ritus saja.

      Penulis setelah melihat hasil penelitian, responden kebanyakan condong memilih jawaban-jawaban yang positif untuk setiap item dalam angket. Hal ini membuat penulis berfikir kembali atas hasil penelitian yang telah diperoleh. Penulis curiga akan hal ini, apakah responden itu memilih berdasarkan hatinya atau responden memilih berdasarkan pikiran mereka. Tetapi hasil penelitian ini sudah menunjukkan gambaran umat Lingkungan Santo Antonius Joton di dalam menghayati makna sakramen Ekaristi. Umat di dalam menghayati makna sakramen Ekaristi terlihat sebagian dapat mewujudkannya yakni dengan terlibat dalam kegiatan lingkungan doa, misa lingkungan, menjenguk orang sakit tetapi ada juga umat yang kurang peka untuk terlibat dalam kegiatan lingkungan. Untuk itu umat lingkungan Santo Antonius Joton harus lebih meningkatkan penghayatannya akan makna sakramen Ekaristi demi mencapai kehidupan bersama yang tentram, damai, sejahtera, kekeluargaan, dan bahagia dalam kehidupan sehari-hari. Umat melalui penghayatannya akan makna sakramen Ekaristi memperoleh rahmat keselamatan Allah yang sungguh menyejukkan hati dan membangkitkan mereka dari belenggu dosa yang selalu mengincarnya dalam kehidupan sehari-hari.

    4. Kesimpulan Penelitian

      Melihat data yang telah terkumpul, umat Lingkungan Santo Antonius Joton cukup memahami sakramen Ekaristi. Hal ini terlihat dari pilihan jawaban pada tiap item pada pernyataan variabel pemahaman Ekaristi kebanyakan mereka memilih jawaban-jawaban yang positif pada tiap item yang tersedia. Umat cukup memahami Ekaristi sebagai puncak hidup umat beriman Katolik. Ekaristi sebagai puncak hidup beriman menunjukkan bahwa Ekaristi menjadi tempat untuk merayakan dan mengungkapkan iman akan Yesus Kristus yang telah menyelamatkan umat-Nya dari kuasa dosa. Melalui Ekaristi, umat merayakan sengsara, wafat, dan kebangkitan Yesus Kristus yang dikenal dalam perayaan paskah umat. Umat juga memahami Ekaristi sebagai kewajiban serta kebutuhan. Ekaristi memang merupakan suatu kewajiban bagi umat beriman Katolik untuk merayakannya. Tetapi apabila Ekaristi dipahami sebagai kewajiban saja maka hal ini menjadi pemahaman yang keliru, umat akan menjalankannya hanya sebatas ritual keagamaan dan Ekaristi tidak akan berdayaguna bagi mereka. Kemudian apabila Ekaristi dipahami dengan benar maka umat dapat merasakan bahwa dirinya membutuhkan Ekaristi, tanpa Ekaristi umat merasakan ada yang kurang dari dirinya. Apabila umat sudah merasa butuh dengan Ekaristi maka umat merasakan dirinya merindukan Ekaristi. Dengan demikian umat mencapai suatu kehidupan yang membahagiakan bersama Allah. Melihat data yang telah diperoleh memang ada beberapa umat yang mengikuti Ekaristi hanya sebatas kewajiban saja yakni 22 orang dengan prosentase 55%. Hal ini menunjukkan bahwa mereka belumlah memahami Ekaristi secara benar. Untuk itu umat harus meningkatkan pemahamanya akan makna sakramen Ekaristi.

      Sebagian besar umat lingkungan Santo Antonius Joton Paroki Santo Yusuf Pekerja Gondangwinangun Klaten telah menghayati makna sakramen Ekaristi demi pengembangan iman mereka. Hal ini terlihat dari respon positif yang diberikan oleh responden pada variabel penghayatan makna sakramen Ekaristi. Umat mampu memahami pernyataan-pernyataan yang berkaitan dengan makna Ekaristi. Ekaristi sungguh memberikan daya guna bagi umat. Ekaristi dapat berdaya guna apabila umat sungguh-sungguh menghayatinya dalam kehidupan sehari-hari. Tetapi respon positif yang telah diberikan haruslah tetap diwujudkan walaupun responnya berasal dari hasil pikiran dan bukan berasal dari hati mereka.

      Umat harus lebih meningkatkan penghayatan mereka akan makna sakramen Ekaristi apabila umat sungguh mengharapkan kehidupan yang damai, aman, nyaman, relasi penuh persaudaraan dalam hidup sehari-hari.

      Umat yang jarang terlibat di dalam kegiatan-kegiatan Gereja dapat menjadi faktor penyebab kurangnya menghayati makna sakramen Ekaristi. Selain itu juga pemahaman umat yang minimalis terhadap sakramen Ekaristi dapat menjadi faktor penyebabnya. Umat yang jarang terlibat dalam kegiatan pastinya sulit untuk menemukan makna sakramen Ekaristi. Umat juga kurang peka, tanggap terhadap keadaan lingkungan sekitarnya bahkan tidak dapat merasakan Tuhan yang hadir dalam hidup sehari-hari. Makna sakramen Ekaristi harus ditemukan dalam kehidupan sehari-hari demi mencapai suatu kehidupan yang rukun dan membahagiakan baik dalam keluarga maupun masyarakat.

      Model katekese yang diharapkan dapat membantu umat dalam menemukan makna sakramen Ekaristi adalah sharing pengalaman iman. Umat rata-rata memilih katekese dengan model sharing pengalaman iman. Sharing pengalaman iman memudahkan mereka menemukan realita hidup yang seharusnya dijalani sebagai murid-murid Kristus. Melalui sharing pengalaman iman, umat diajak untuk merefleksi pengalaman imannya dan memberikan komitmen untuk menentukan tindakan konkret yang hendak dilakukannya sehingga membawa mereka pada suatu perubahan baru dalam hidup.

      Kesimpulan dari penelitian ini akan menjadi titik tolak dalam penyusunan program katekese yang akan dilaksanakan di Lingkungan Santo Antonius Joton Paroki Santo Yusuf Pekerja Gondangwinangun Klaten dalam rangka meningkatkan penghayatan mereka akan makna sakramen Ekaristi.

    BAB IV KATEKESE MODEL SCP SEBAGAI USAHA UNTUK MENINGKATKAN PENGHAYATAN UMAT AKAN MAKNA SAKRAMEN EKARISTI Bab IV ini berisi tentang implementasi katekese model Shared Christian Praxis (SCP) dalam usaha untuk meningkatkan penghayatan umat akan makna

      sakramen Ekaristi. Umat yang dimaksud di sini adalah umat Lingkungan Santo Antonius Joton Paroki Santo Yusuf Pekerja Gondangwinangun Klaten. Penerapan katekese model Shared Christian Praxis (SCP) dapat membantu umat dalam meningkatkan penghayatannya akan makna sakramen Ekaristi. Tujuan SCP sendiri ialah sebagai sarana untuk mengungkapkan pengalaman iman umat.

      Caranya, yaitu dengan merefleksikan pengalaman iman tersebut agar kemudian ditemukan makna dari suatu pengalaman iman umat yang nantinya dapat dijadikan sebagi titik tolak dalam memperbarui hidup mereka menuju ke arah yang lebih baik. Dengan demikian, umat dapat menemukan inspirasi yang mengarahkan mereka pada pembaruan hidup demi terwujudnya nilai-nilai kerajaan Allah di tengah-tengah dunia.

      Sebagai tindak lanjut terhadap hasil penelitian ini, penulis berusaha memberikan sumbangan pemikiran berbentuk program katekese dengan menggunakan model SCP. Pemilihan model tersebut merupakan usaha penulis untuk membantu meningkatkan penghayatan umat akan makna sakramen Ekaristi demi pengembangan iman mereka. Selanjutnya, penulis akan membahas secara singkat mengenai pokok-pokok katekese model SCP yang meliputi pengertian, tujuan, serta langkah-langkahnya. Setelah itu penulis akan mengusulkan 4 tema pertemuan katekese dan menjelaskan proses pelaksanaan program katekese tersebut, serta membuat contoh satuan persiapan katekese model SCP.

    A. Katekese Model SCP 1. Pengertian SCP

      SCP merupakan model katekese yang menekankan proses dialogis- partisipatif supaya dapat mendorong umat (berdasar komunikasi antara kisah pengalaman iman secara pribadi maupun sosial, dengan kisah yang ada dalam Kitab Suci) agar baik secara pribadi maupun bersama, mereka mampu mengadakan penegasan dan pengambilan keputusan demi makin terwujudnya nilai-nilai kerajaan Allah di dalam kehidupan mereka. Model ini bertitik tolak dari pengalaman iman umat yang kemudian direfleksikan secara kritis supaya mereka dapat menemukan maknanya yang nantinya didialogkan dengan pengalaman iman Gereja sepanjang sejarah sehingga muncul pemahaman, sikap, dan kesadaran baru yang mendorong umat untuk ambil bagian mewujudkan nilai-nilai kerajaan Allah di tengah-tengah dunia.

      Menurut Thomas H. Groome dalam bukunya yang disadur oleh Heryatno Wono Wulung (1997: 2-4), terdapat 3 komponen SCP.

      a. Praxis

      Praxis merupakan pengungkapan pengalaman iman umat yang didukung

      oleh refleksi kritis dengan tujuan untuk mencapai suatu perubahan hidup yang baru. Hal penting bagi umat ketika mengungkapkan kisah pengalaman imannya harus mencakup tiga unsur yang berkaitan, yakni yang pertama aktivitas, mengungkapkan kisah pengalaman iman yang sudah terjadi, hal ini meliputi kegiatan mental dan fisik, kesadaran, tindakan personal dan sosial, hidup pribadi dan kegiatan publik, kemudian yang kedua refleksi, umat merenungkan kisah pengalaman iman yang telah diungkapkan dan berusaha untuk menemukan maknanya, dan yang terakhir atau ketiga setelah menemukan maknanya umat membuat suatu rencana perubahan hidup secara kreatif yang diterangi oleh sabda Tuhan sehingga mereka sampai pada suatu perubahan hidup.

      b. Christian

      Christian berkaitan dengan harta kekayaan iman Kristiani umat yang

      dihayati, dikembangkan dalam kehidupan sehari-hari. Harta kekayaan iman bersumber dari Kitab Suci. Isi Kitab Suci, yaitu kisah pengalaman iman sepanjang sejarah yang dapat menjadi inspirasi untuk mengarahkan umat pada pembaruan hidup. Kisah pengalaman iman dalam Kitab Suci dapat menjadi pertimbangan bagi umat beriman untuk semakin yakin mewujudkan nilai-nilai kerajaan Allah dalam hidup sehari-hari.

      c. Shared Istilah shared menunjuk pada komunikasi iman yang diungkapkan dalam suasana yang bersahabat, terbuka, dan akrab di tengah-tengah umat. Hal ini tentunya demi terwujudnya kesatuan umat beriman. Umat diajak untuk mengutamakan komunikasi iman yang timbal balik, sikap partisipasi aktif dan kritis, terbuka pada kedalaman diri serta kehadiran sesama maupun rahmat Tuhan.

      Umat dalam berkatekese diharapkan kesediaannya untuk mengkomunikasikan iman mereka. Umat dalam mengkomunikasikan iman dapat berupa buah pengalaman, pengetahuan, perasaan dan diharapkan dapat saling mendengarkan satu sama lain tidak hanya dengan telinga melainkan dengan hati sehingga akan menimbulkan unsur peneguhan, penegasan, dan hasrat untuk maju secara bersama berdasar pada nilai dan semangat Kristiani. Dengan demikian umat dapat mengonfrontasikan buah-buah refleksi pengalaman dengan nilai Kristiani yang mendasar, sehingga umat terdorong untuk menemukan nilai-nilai baru yang sesuai dengan konteks hidup mereka dan dapat mewujudkannya dalam kehidupan sehari- hari.

    2. Tujuan Katekese Model SCP

      Katekese model SCP bertujuan untuk membantu umat mengungkapkan pengalaman iman umat dan merefleksikannya supaya dapat menemukan makna dari kisah pengalaman mereka yang nantinya menjadi pegangan untuk memperbaharui hidup di masa mendatang. Umat dapat memperbaharui hidup apabila mereka dekat dengan Yesus Kristus dan menjalankan segala perintah- perintah-Nya. Umat dapat dekat dengan Yesus apabila dalam diri mereka ada suatu pertobatan baik secara pribadi maupun sosial. Dengan demikian umat akan memperoleh suatu kesatuan iman yang sungguh-sungguh hidup di tengah-tengah mereka. Hal inipun mendapat suatu penegasan dalam Catechesi Tradendae yakni dalam katekese umat Kristiani diajak untuk memasuki persekutuan hidup yang mesra dengan Yesus Kristus (CT no. 5), umat juga diajak untuk mengembangkan iman yang baru secara terus menerus dalam kehidupan sehari-hari (CT no. 20), dan yang menjadi penting umat diajak untuk memperoleh pengertian dan kesatuan iman dalam putra Allah sehingga iman mereka dapat bertumbuh dewasa sesuai dengan kehendak Kristus (CT no. 25).

    3. Langkah-Langkah Katekese Model SCP

      Menurut Thomas H. Groome dalam bukunya yang disadur oleh Sumarno (2005: 18-22) ada 5 langkah SCP.

      a.

      Langkah 0: Pemusatan Aktivitas Langkah 0 ini bertujuan untuk mendorong umat menemukan topik pertemuan yang bertolak dari kehidupan konkrit yang selanjutnya menjadi tema dasar pertemuan. Langkah ini tidak harus ada dalam proses pelaksanaan katekese dengan model SCP apabila tema pertemuan sudah ditemukan sebelumnya. Sarana yang dapat digunakan dalam langkah ini dapat berupa simbol, keyakinan, cerita, bahasa foto, poster, video, kaset suara, film, telenovela, atau sarana lain yang dapat menunjang. Langkah ini mengungkapkan keyakinan bahwa Allah selalu berkarya di tengah kehidupan manusia. Pemilihan tema dasar pertemuan sungguh- sungguh mendorong umat untuk terlibat aktif dalam pertemuan serta konsisten dengan model SCP dan tema dasar tidak bertentangan dengan iman Kristiani.

      Peran pembimbing dalam langkah ini menciptakan lingkungan psikososial dan fisik yang mendukung, memilih sarana yang tepat, membantu umat untuk merumuskan tema yang tepat. b.

      Langkah I: Pengungkapan Pengalaman Hidup Faktual Pada Langkah ini umat diajak mengungkapkan pengalaman hidup faktualnya. Sharing adalah salah satu cara yang dipakai oleh umat untuk mengungkapkan pengalaman hidupnya. Isi dari sharing pengalaman hidup dapat berupa pengalaman sendiri, kehidupan, atau permasalahan dalam kehidupan masyarakat. Langkah ini bertujuan agar umat semakin menyadari pengalaman hidupnya dan selanjutnya dapat mengkomunikasikannya kepada sesama umat yang nantinya dapat memberikan motivasi atau peneguhan bagi hidup mereka. Dalam langkah ini pembimbing berperan sebagai fasilitator yang menghidupkan suasana pertemuan dan bersikap ramah, sabar, hormat, bersahabat, peka terhadap latar belakang keadaan dan permasalahan umat.

      c.

      Langkah II: Refleksi Kritis Atas Sharing Pengalaman Hidup Faktual Pada langkah ini umat diajak untuk menemukan dan mendalami pengalaman hidupnya melalui refleksi kristis dan menenghubungkannya dalam

      Kitab Suci sehingga umat menemukan inti dari pengalamannya demi terwujudnya kehidupan umat yang damai. Ada 3 unsur yang harus umat olah dalam langkah ini, yakni pemahaman kritis umat dalam menemukan arti pada keterlibatan hidup konkritnya. Tentunya, yang berkaitan dengan pengalaman yang telah terjadi, setelahnya umat masuk pada kenangan analitis yakni umat menyadari untuk mengingat kembali peristiwa imannya dan menemukan maknanya, kemudian umat secara kreatif melalui imajinasinya merenungkan hal positif apa yang hendak dilakukan baik pribadi maupun sosial untuk di masa mendatang.

      Peran pembimbing dalam langkah ini mengajak umat menciptakan suasana yang menghormati dan mendukung satu dengan yang lain, mengajak mereka berefleksi secara kritis atas pengalamannya dan menemukan maknanya. Pendamping mendorong mereka untuk mengadakan dialog dan penegasan bersama. Umat diajak untuk menggeluti pengalaman imannya dan mengungkapkan pendapatnya dengan tuntunan pertanyaan dan yang menjadi lebih penting menyadari kondisi umat.

      d.

      Langkah III: Mengusahakan Supaya Tradisi dan Visi Kristiani Lebih Terjangkau

      Pada langkah ini umat diajak untuk menggali pengalaman iman Kristiani serta mengkomunikasikan nilai-nilai Tradisi dan visi Kristiani agar lebih terjangkau dan lebih mengena untuk kehidupan umat yang mempunyai konteks dan latar belakang kebudayaan yang berbeda. Tradisi dan visi Kristiani mengungkapkan pewahyuan diri dan kehendak Allah yang memuncak dalam misteri hidup dan karya Yesus Kristus serta mengungkapkan tanggapan manusia atas pewahyuan tersebut.

      Peran pembimbing dalam langkah ini mengajak umat untuk menafsirkan dan menghormati bacaan Kitab Suci yang telah dipilih sehingga mereka merasa terbantu dan mendapatkan informasi untuk memiliki nilai-nilai Tradisi dan visi Kristiani. Pembimbing melalui metode yang tepat membawa umat pada pengalaman iman mereka sehingga sasaran yang ingin dicapai dapat mengena serta menghantar mereka pada suatu kesadaran diri. Sikap pembimbing dalam langkah ini tidak menggurui, tidak menganggap bahwa pendapat sendirilah yang benar, kemudian pembimbing dalam menafsirkan hendaklah mengikutsertakan kesaksian iman, harapan, dan hidupnya sendiri, selain itu pembimbing juga harus melakukkan persiapan yang matang dan setudi sendiri sehingga menguasai bahan.

      e.

      Langkah IV: Interpretasi Dialektis Antara Tradisi dan Visi Umat dengan Tradisi dan Visi Kristiani Pada langkah IV ini umat diajak untuk mengkomunikasikan iman Kristiani dalam situasi hidup konkret. Umat melalui nilai Tradisi dan visi Kristiani diajak untuk menemukan nilai hidup, menyadari sikap yang kurang baik dalam diri untuk diperbaiki, dan menemukan nilai hidup baru yang hendak dikembangkan.

      Umat secara aktif dan kreatif memberikan keyakinan pada diri untuk melakukan perubahan hidup ke arah yang lebih baik. Langkah ini juga bertujuan untuk menekankan interpretasi yang dialektis antara tradisi dan visi umat dengan nilai tradisi dan visi Kristiani. Interpretasi tersebut dapat menciptakan kesadaran, sikap- sikap, dan niat-niat baru sebagai jemaat Kristiani yang mengutamakan nilai-nilai Kerajaan Allah.

      Peran pembimbing dalam langkah ini mengajak umat dengan suasana bebas menghormati hasil penegasan mereka untuk pembaharuan hidup yang akan dating. Umat diajak untuk menumbuhkan rasa keyakinannya bahwa mereka mampu menemukan nilai hidup yang hendak dihayatinya dan memberikan dorongan pada mereka untuk merubah sikap yang tadinya pendengar pasif menjadi pihak yang aktif. Hal yang penting yang perlu bagi pembimbing yakni kesediaaan mendengarkan dengan hati seluruh hasil pemikian umat. f.

      Langkah V: Keterlibatan Baru Demi Makin Terwujudnya Kerajaan Allah di Tengah-tengah Dunia

      Pada langkah V ini umat diajak untuk ambil suatu keputusan yang membawa mereka pada aksi konkrit. Penentuan aksi konkrit ini dipahami sebagai tanggapan umat terhadap wahyu Allah. Langkah ini bertujuan untuk mendorong umat pada keterlibatan baru dengan jalan mengusahakan metanoia; pertobatan pribadi dan sosial yang berkelanjutan.

      Peran pembimbing dalam langkah ini mengajak umat untuk bersikap optimis. Pembimbing juga memberikan rangkuman terhadap hasil langkah pertama sampai keempat supaya dapat lebih membantu umat. Pada langkah penutup umat diajak untuk memberikan keputusan pribadi atau bersama dan membuat suatu perayaan liturgi sederhana sebagai tanda bahwa Tuhan memberkati segala upaya yang akan dilakukan.

    B. Usulan Program Katekese dengan Model SCP bagi Umat Lingkungan Santo Antonius Joton Paroki Santo Yusuf Pekerja Gondangwinangun Klaten

      Katekese model SCP ini merupakan tindak lanjut dari hasil penelitian yang dilakukan penulis terhadap umat Lingkungan Santo Antonius Joton Paroki Santo Yusuf Pekerja Gondangwinangun Klaten. Katekese model SCP ini dibuat sebagai usaha pendampingan bagi umat Lingkungan Santo Antonius Joton Paroki Santo Yusuf Pekerja Gondangwinangun Klaten dalam meningkatkan penghayatan mereka akan makna sakramen Ekaristi demi pengembangan iman mereka.

      Penghayatan umat akan makna sakramen Ekaristi sangat penting bagi umat karena melalui Ekaristi umat dikuatkan untuk menghadapi segala persoalan hidup, selain itu juga umat memperoleh kepenuhan hidup bersama Kristus (Martasudjita, 2012: 57). Untuk itulah umat perlu meningkatkan penghayatannya akan makna sakaramen Ekaristi. Dengan demikian program pendampingan katekese ini diharapkan membantu umat Lingkungan Santo Antonius Joton Paroki Santo Yusuf Pekerja Gondangwinangun Klaten untuk menemukan makna sakramen Ekaristi.

    1. Latar Belakang

      Penghayatan umat akan makna sakramen Ekaristi pada zaman dulu sampai sekarang ini amatlah penting bagi umat Kristiani. Sakramen Ekaristi memang harus digali dan diketemukan maknanya demi pengembangan iman Gereja. Gereja sungguh mengharapkan umatnya mampu menghayati makna sakramen Ekaristi dalam kehidupan sehari-hari. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh diketahui bahwa umat Lingkungan Santo Antonius Joton Paroki Santo Yusuf Pekerja Gondangwinangun Klaten sebagian besar sudah menghayati makna sakramen Ekaristi. Hal ini terlihat dari hasil pilihan responden dalam angket yakni dari segi pemahaman, pemaknaan, dan tindakan mereka yang menggambarkan bahwa mereka setuju dengan pernyataan yang ada. Tetapi ada juga sebagian umat yang masih belum menyadari atau mengalami kesulitan di dalam menghayati makna sakramen Ekaristi. Umat dalam menghayati makna sakramen Ekaristi masih pada sebatas kewajiban dan ritus. Hal ini mengakibatkan kurang berkembangnya iman umat. Selain itu umat juga akan mengalami kegoyahan di dalam iman mereka. Gereja sangat menganjurkan kepada umat supaya lebih meningkatkan penghayatannya akan makna sakramen Ekaristi. Dengan ini umat diharapkan siap diutus untuk menyebarluaskan kabar gembira Allah kepada siapa saja.

      Setiap umat Kristiani memiliki kewajiban untuk mengembangkan imannya dan mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari melalui tindakannya. Seperti halnya dengan Ekaristi, umat melalui Ekaristi diajak untuk menyelami dan menghayatinya dalam kehidupan sehari-hari melalui perutusannya di tengah masyarakat. Umat yang sungguh-sungguh menghayati makna sakramen Ekaristi akan mengalami perubahan pola hidup dari yang buruk menjadi lebih baik. Umat juga akan berkembang imannya apabila mereka mewujudkan nilai kehidupan yang ada dalam Ekaristi. Untuk itu umat diharapkan semakin menghayati makna sakramen Ekaristi dalam kehidupan sehari-hari demi terwujudnya kehidupan yang lebih baik dan mencapai cita-cita hidup yang diharapkannya.

      Melalui usulan program ini penulis berharap umat Kristiani terlebih umat Lingkungan Santo Antonius Joton semakin menghayati makna sakramen Ekaristi dan mampu mewujudkannya dalam kehidupan keluarga, komunitas, dan masyarakat. Selain itu program ini juga diharapkan mampu menyadarkan umat betapa pentingnya menghayati makna sakramen Ekaristi dalam kehidupan sehari- hari. Alasan penulis mengusulkan program kegiatan katekese dengan model SCP karena katekese ini dirasa dapat membantu umat untuk menemukan makna sakramen Ekaristi melalui sharing pengalaman iman mereka yang nantinya diteguhkan melalui sabda Allah. Dengan demikian umat memperoleh pengetahuan, kesadaran, dan keyakinan bahwa dengan menghayati makna sakramen Ekaristi maka mereka mendapatkan inspirasi hidup untuk menuju kedamaian dan kebahagiaan dalam kehidupan sehari-hari.

    2. Tema dan Tujuan Program Katekese

      Pada kesempatan ini penulis memberikan sumbangan pemikiran yakni berupa kegiatan pendampingan katekese model SCP. Penulis memberikan sumbangan pemikiran ini demi membantu umat untuk menggali dan semakin menghayati makna sakramen Ekaristi yang akan membawa mereka pada perkembangan dan kedewasaan iman. Materi katekese model SCP disusun sesuai dengan hasil penelitian pada umat Lingkungan Santo Antonius Joton Paroki Santo Yusuf Pekerja Gondangwinangun Klaten. Adapun tema, tujuan, subtema, serta tujuan subtema dalam usulan program katekese model SCP yakni sebagai berikut: Tema umum : Usaha meningkatkan penghayatan umat akan makna sakramen Ekaristi dalam kehidupan sehari-hari.

      Tujuan umum : Agar umat Kristiani semakin menyadari dan menghayati makna sakramen Ekaristi demi meningkatkan semangat berbagi dalam kehidupan sehari-hari. Tema 1 : Ekaristi sebagai sumber hidup umat beriman Katolik

      Penulis melihat umat Lingkungan Santo Antonius Joton sebagian besar dapat memahami dan menghayati bahwa Ekaristi sebagai sumber hidup tetapi umat masih membutuhkan arahan untuk mencapai penghayatannya dalam kehidupan sehari-hari. Untuk itu melalui tema ini umat diajak untuk semakin memahami, mempunyai arah, dan menghayati Ekaristi sebagai sumber hidup umat dalam kehidupan sehari-hari.

      Tujuan : Umat beriman Kristiani semakin dapat menyadari dan menghayati bahwa Ekaristi sebagai sumber hidup umat beriman Katolik sehingga iman mereka dapat berkembang dan berbuah melimpah.

      Tema 2 : Ekaristi sebagai poros hidup umat beriman Penulis memilih tema ini karena supaya umat dapat menyadari bahwa

      Ekaristi sebagai poros hidup yang mendorong mereka untuk bertindak kebaikan bagi orang lain. Poros merupakan pusat tenaga yang memberikan gerakan bagi suatu benda seperti halnya poros roda pada kendaraan. Roda dapat bergerak karena ada poros yang memberikan daya. Begitu juga dengan umat, umat melalui tema ini diajak untuk semakin menghayati makna Ekaristi sebagai poros hidup supaya mereka memiliki daya untuk bertindak mewujudkan nilai-nilai kerajaan Allah di tengah-tengah dunia. Tujuan : Umat beriman semakin dapat menghayati Ekaristi sebagai poros hidup umat beriman sehingga mereka dapat mewartakan kabar suka cita Tuhan kepada sesama melalui sikap-sikap hidup yang menciptakan rasa damai, tentram, sejahtera, bahagia.

      Tema 3 : Ekaristi sebagai ungkapan cinta kasih, pemersatu umat dengan Allah, umat dengan umat

      Penulis melihat umat dapat menyadari dan menghayati bahwa Ekaristi sebagi ungkapan cinta kasih, pemersatu umat dengan Allah, umat dengan umat namun umat masih membutuhkan pendampingan yang terus menerus. Sebagai umat beriman pastinya sudah mengetahui bahwa Yesus wafat karena Ia sungguh- sungguh mencintai umat-Nya dan Ia pun rela memberikan nyawanya hanya untuk membebaskan umat-Nya dari belenggu dosa. Selain itu juga Ia ingin menyatukan umat-Nya dengan Bapa-Nya di surga sehingga kehidupan mereka pun aman dan damai. Untuk itu umat melalui tema ini diajak untuk semakin mengenangkan, merayakan, dan semakin menghayati makna Ekaristi sebagi ungkapan cinta kasih, pemersatu umat dengan Allah, umat dengan umat.

      Tujuan : Umat Kristiani semakin menghayati Ekaristi sebagai ungkapan cinta kasih, pemersatu umat dengan Allah, umat dengan umat, sehingga mereka dapat menanamkan pada dirinya akan nilai cinta kasih dan persaudaraan dalam hidup bermasyarakat melalui kesaksian hidupnya.

      Tema 4 : Ekaristi memberikan semangat untuk berbagi kasih dan bersaksi kepada sesama Penulis memilih tema ini karena berkaitan dengan kongres Ekaristi yang mengajak umat untuk saling berbagi kepada siapa saja. Umat Lingkungan Santo

      Antonius Joton juga diajak untuk saling berbagi kepada siapa saja. Untuk itu umat melalui tema ini diajak untuk lebih menyadari dan semakin menghayati makna Ekaristi yang memberikan semangat untuk berbagi kasih kepada sesama.

      Tujuan : Umat beriman Katolik semakin menyadari bahwa Ekaristi memberikan semangat untuk berbagi kasih kepada sesama sehingga mereka dapat memiliki sikap berbagi kasih kepada sesama dalam hidup sehari-hari.

      C. Gambaran Pelaksanaan Program

      Penulis dalam pelaksanaan program berencana akan melaksanakannya dalam jangka waktu 2 bulan dengan jumlah pertemuan 4 (empat) kali pertemuan pada bulan April dan Mei 2013. Kegiatan katekese direncanakan pada bulan tersebut karena setelah perayaan paskah umat dimana umat merayakan sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus Kristus dan umat diharapkan dapat merefleksikan diri untuk menghayati akan misteri paskah dalam kehidupan sehari-hari.

      Pendampingan katekese ini ditujukan kepada seluruh umat Lingkungan Santo Antonius Joton. Pada setiap pertemuan pendampingan katekese dilaksanakan dalam waktu kurang lebih 1,5 jam di tempat salah satu rumah umat Lingkungan Santo Antonius Joton. Bahan dalam pendampingan katekese ini bertolak dari kondisi umat yang telah diungkapkan dalam hasil penelitian yang penulis lakukan sehingga mengena pada umat. Berkaitan dengan pelaksanaan program katekese penulis menghubungi pengurus lingkungan terutama ketua lingkungan dan juga seksi pewarta. Penulis akan menawarkan program katekese pendampingan ini kepada pengurus lingkungan terutama seksi pewartaan dan ini juga menjadi alternatif bahan katekese. Untuk pemimpin dapat dari pengurus lingkungan tetapi penulis juga akan menawarkan diri sebagi fasilitator.

    D. Matrik Program Tema umum : Katekese, usaha meningkatkan penghayatan umat akan makna sakramen Ekaristi dalam kehidupan sehari-hari.

      Tujuan umum : ii Agar umat Kristiani semakin menyadari dan menghayati makna sakramen Ekaristi melalui katekese demi meningkatkan semangat berbagi dalam kehidupan sehari-hari.

      No Tema Tujuan Judul Pertemuan Tujuan Pertemuan Materi Metode Sarana Sumber Bahan

      (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) 1.

      Ekaristi sebagai sumber hidup umat beriman Katolik

      Umat beriman Kristiani makin dapat menyadari dan menghayati bahwa Ekaristi sebagai sumber hidup umat beriman Katolik sehingga iman mereka dapat berkembang dan berbuah melimpah.

    • Ekaristi sumber hidup bagi umat beriman
    • Bersama-sama pendamping, peserta semakin menyadari pentingnya Ekaristi bagi hidup umat beriman sehingga peserta memperoleh sumber kekuatan hidup beriman Katolik.
    • Artikel tentang “Si Anak dan Ibu yang Bijak Sana ”.
    • Cerita - Sharing - Refleksi Pribadi dan kritis
    • Kitab Suci - Konsili Vatikan

      59.

    • SC art 7
    • http://damai sertamu.blo gspot.com

      II

    • SC art 7 tentang “Kehadiran Kristus Dalam Liturgi Gereja ”.
    • Informasi - Pengambil an keputusan
    • Buku PS
    • Lilin - Salib - Speaker - Laptop - Yoh 6:25-
    • Pengalaman umat
    Umat beriman makin dapat menghayati Ekaristi sebagai poros hidup umat beriman sehingga mereka dapat mewartakan kabar suka cita Tuhan kepada sesama melalui sikap-sikap hidup yang menciptakan rasa damai, tentram, sejahtera, bahagia.

      2. Ekaristi

    • Ekaristi sumber pengharapan seluruh umat beriman Katolik - Bersama- sama pendamping, peserta semakin memahami Ekaristi sebagai pengharapan sehingga mereka dapat sungguh- sungguh mengikuti Ekaristi
    • Video klip t entang “Lilin Kehidupan ”
    • Nonton - Tanya Jawab - Sharing - Refleksi Pribadi dan kritis
    • Kitab Suci - KGK
    • Mateus 28: 9-20.

      sebagai poros hidup umat beriman.

    • DKV II SC art 11.
    • LG art 11
    • DKV II
    • Buah-buah Ekaristi - Sikap-sikap hidup yang harus dikembangka n dalam kehidupan sehari-hari.
    • Buku MB
    • KGK: buah- buah komuni. Art 1391-1401.
    • Lilin - Salib - Laptop - Speaker - LCD
    • Pengambil an keputusan
    • http://damais ertamu.blogs pot.com/201 1/03/ekaristi- sebagai- pusat-hidup- umat.html?z x=476e61ace d3124f7
    • Ekaristi menyatukan umat beriman dan mendorong mereka untuk mengasihi sesama secara total.
    • Bersama-sama pendamping, peserta semakin bersatu dan mengasihi sesama secara total sehingga mereka dapat menciptakan
    • Vidio klip tentang “Skedul Kehidupan ”
    • Kitab Suci - Buku MB
    • Yoh. 6:25- 59.
    • Martasudjita.

      dengan sepenuh hati.

      (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) 3.

      Ekaristi sebagai ungkapan cinta kasih, pemersatu umat dengan Allah, umat dengan umat

      Umat Kristiani semakin menghayati Ekaristi sebagai ungkapan cinta kasih, pemersatu umat dengan Allah, umat dengan umat, sehingga mereka

      2005.

    • Salib - Lilin - Speaker - Laptop - LCD

      Ekaristi: Tinjauan Teologis, Liturgis, Pastoral.

    • Ekaristi sebagai kesatuan kebersamaan hidup dengan Kristus - Nonton - Tanya Jawab - Sharing
    • Refleksi bersama, pribadi dan kritis
    • Pengambil an

      No. 243.

    • menanamkan dalam hidup Kanisius.

      dapat kedamaian keputusan Yogyakarta: Menentukan

      sikap yang pada dirinya sehari-hari. harus dimiliki akan nilai cinta dalam kasih dan mewujudkan persaudaraan nilai cinta dalam hidup kasih dan bermasyarakat kesatuan melalui dalam hidup kesaksian hidupnya.

    • Ekaristi Umat beriman

      4. Ekaristi Bersama- Video tentang Nonton Kitab Mat 14: 13-

    • memberika Katolik semakin mendorong sama

      Suci “Kesaksian

    • n semangat menyadari umat untuk pendamping, Pramugari: Buku MB Sharing Martasudjita.
    • untuk bahwa Ekaristi berbagi dan peserta Laura 2008.

      21. Informasi

      Refleksi Salib berbagi memberikan bersaksi. semakin Lazarus ”. kritis dan Kongres Lilin

    • kasih dan semangat untuk terdorong Pribadi Ekaristi:

      Langkah- Speaker bersaksi berbagi kepada untuk berbagi langkah Tentang Laptop - kepada sesama sehingga dan bersaksi merintis Ekaristi.
    • sesama. mereka dapat sehingga

      LCD

      Yogyakarta: gerakan memiliki sikap mereka dapat

      Kanisius berbagi lima berbagi kasih berpartisipasi roti dan dua Martasudjita.

    • kepada sesama untuk peduli 2005.

      ikan. dalam hidup terhadap

    • sehari-hari. sesama.

      Ekaristi: Ekaristi

      Tinjauan sebagai Teologis, pewartaan Liturgis, wafat Pastoral.Yog Kristus. yakarta: Kanisius.

    E. Contoh persiapan Katekese Model SCP 1. Identitas Pertemuan a. Judul pertemuan : Ekaristi sebagai sumber hidup bagi umat beriman.

      b. Tujuan : Bersama-sama pendamping, peserta semakin menyadari pentingnya Ekaristi bagi hidup umat beriman sehingga peserta memperoleh sumber kekuatan hidup beriman Katolik.

      c. Peserta : Umat Lingkungan St. Antonius Joton Paroki St.

      Yusuf Pekerja Gondangwinangun Klaten.

      d. Tempat : Lingkungan St. Antonius Joton

      e. Waktu/ Tanggal : 19.00-20.30/ 15 April 2013

      f. Model : Shared Chistian Praxis (SCP)

      g. Metode : - Sharing

    • Refleksi Pribadi - Informasi - Tanya Jawab - Dialog Sarana : - Teks cerita
    • Lilin dan salib
    • Kitab Suci - Konsili Vatikan II
    • Laptop - Speaker
      • Buku PS

        h. Sumber bahan : - Yoh 6: 25-59

      • SC art 7 http://damaisertamu.blogspot.com
      • 2.

         Pemikiran Dasar

        Sebagai umat beriman kepada Yesus Kristus, Ekaristi menjadi sumber hidup umat beriman Katolik. Umat dalam kenyataan hidup sekarang ini masih kurang menyadari bahwa Ekaristi merupakan sumber hidup. Penulis juga mempunyai kesan bahwa umat dalam mengikuti Ekaristi masih sebatas pada kewajiban dan ritus. Selain itu umat dalam hidup tidak lepas dari persoalan hidup yang membuat mereka lengah dan frustrasi di dalam menghadapinya. Dengan demikian umat membutuhkan suatu kelegaan hati yang membuat mereka merasakan hidup penuh kedamaian, bahagia, dan rukun dalam hidup sehingga mereka menemukan dan merasakan rahmat Allah yang menyelamatkannya

        Yoh. 6: 25-59 mengisahkan tentang roti yang memberikan kehidupan bagi umat beriman. Perikop ini mengisahkan bahwa melalui Yesus Kristus keselamatan akan terwujud bagi umat yang percaya pada-Nya dan keselamatan yang telah diperoleh tidak akan hilang. Yesus memberikan kehidupan bagi umat beriman yang percaya akan Dia yang menyelamatkan. Dia memberikan suatu kelegaan dan kesegaran bagi umat-Nya yang berbeban berat. Dia memberikan seluruh hidup-Nya bagi umat demi keselamatan. Ketika Yesus menyatakan bahwa diri-Nya adalah roti hidup dimaksudkan juga untuk menegaskan bahwa Ia adalah jawaban dari setiap keperluan dan persoalan manusia. Segala persoalan hidup manusia dapat diatasi di dalam Dia. Tidak hanya persoalan-persoalan yang berkenaan dengan kebutuhan jasmani, tapi juga hal-hal yang jauh lebih utama yaitu pengampunan dosa dan keselamatan kekal. Tuhan Yesus sudah mengorbankan tubuhNya sendiri di atas kayu salib untuk manusia:

        “...roti yang Kuberikan itu ialah daging-

        Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia.” Inilah sumber kehidupan yang sesungguhnya! Dari pertemuan ini umat diharapkan semakin diteguhkan dan dikuatkan sehingga umat mampu menyadari bahwa Ekaristi menjadi sumber hidup. Umat melalui injil akan semakin percaya dan berpengharapan pada Yesus Kristus bahwa Ia benar-benar sumber kehidupan. Dengan demikian umat akan memperoleh kekuatan yang memampukan untuk menghadapi segala rintangan dalam kehidupan ini.

      3. Mengembangkan Langkah-Langkah a. Pembukaan

        1) Pengantar

        Bapak/ibu, serta saudara/i yang terkasih dalam Yesus Kristus, kita berkumpul di tempat ini karena kasih Allah dalam Yesus yang sungguh dapat kita rasakan di malam hari ini. Kita berkumpul di sini sebagai satu keluarga besar dalam Tuhan. Kita yang hadir pada malam hari ini tentunya pernah mengalami persoalan hidup yang terkadang membuat lesu dan kurang semangat dalam menjalani hidup di dunia. Kita pun terkadang lupa dan kurang peka akan kehadiran Tuhan, bahkan dalam mengikuti Ekaristi kita kurang menyadari kehadiran-Nya. Yesus yang sengsara, wafat, dan bangkit yang dikenang dalam Ekaristi menjadi wujud cinta kasih-Nya kepada umat. Yesus hadir dalam Ekaristi berupa roti dan anggur memberikan kehidupan bagi umat, barang siapa yang sungguh percaya kepada-Nya maka ia akan memperoleh karunia keselamatan Allah dalam hidup. Dalam Injil Yoh 6: 25-59, kita dapat semakin menyadari bahwa Yesus adalah sumber kehidupan. Ia adalah sumber hidup yang selalu menyegarkan bagi orang yang lesu dan berbeban berat. Dengan demikian kita sebagai umat beriman Katolik akan belajar menyadari bahwa melalui Ekaristi Yesus hadir dan memberikan kehidupan yang menyegarkan kerohanian kita sehingga memperoleh kekuatan untuk menghadapi persoalan hidup.

        2) Lagu pembuka : Puji Syukur no. 330 “Dengan Gembira”

        3) Doa pembukaan

        Bapa yang maha-baik, kami bersyukur kepadamu dan berterima kasih atas rahmat yang telah Engkau berikan kepada kami. Kami juga mengucapkan banyak terimakasih karena pada kesempatan ini kami Engkau kumpulkan dalam kasihMu dan dalam rasa persaudaraan sejati. Saat ini kami akan bersama-sama menggali, merefleksikan sejauh mana kami dapat menyadari bahwa Ekaristi adalah sumber hidup umat beriman. Memang kami terkadang kurang menyadari bahwa Ekaristi sumber hidup. Bantulah dan bimbinglah kami untuk dapat semakin menyadari dan menghayatinya melalui sabda-Mu tentang roti yang memberi kehidupan. Bantulah kami untuk dapat memahami Firman-Mu sehingga kami yang berkumpul pada malam hari ini, yang kami bicarakan dan kami dalami bersama menjadi bekal dan kekuatan serta semangat bagi kami dalam menghadirkan-Mu dalam setiap peristiwa hidup kami. Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami, yang hidup dan berkuasa bersama dengan Dikau dalam persekutuan dengan Roh Kudus, Allah sepanjang segala masa. Amin b.

         Langkah I: Mengungkap Pengalaman Hidup Umat

        1) Pendamping membagikan teks cerita tentang “Si Anak dan Ibu yang

        Bijaksana ” kepada umat dan memberikan waktu untuk membaca dan mempelajari sendiri-sendiri terlebih dahulu.(cerita terlampir)

        2) Pendamping meminta salah satu umat untuk menceritakan dengan singkat . tentang isi cerita “Si Anak dan Ibu yang Bijaksana”

        3) Intisari cerita :

        Pada cerita yang berjudul “Si Anak dan Ibu yang Bijaksana” menggambarkan kehidupan orang yang sederhana (miskin) dan orang kaya.

        Kehidupan si ibu amat sederhana, tercukupi, rajin beribadah, selalu bersyukur dan si kaya kehidupannya suram, mengalami kebangkrutan, tidak pernah meluangkan waktu untuk Tuhan. Kehidupan si ibu hidup dalam krisis globalisasi tetapi si ibu tidak takut dan hal itu sudah menjadi biasa. Semangat dan ketekunan si ibu bekerja menjadi senjata dalam menghadapi kehidupan yang membelenggunya. Pada suatu ketika si anak bertanya kepada ibunya mengapa selalu pergi ke gereja pada hari minggu, pada hal tidak memperoleh apa-apa sehabis pulang dari gereja? Mending bekerja dapat hasil bu? Tetapi si ibu tidak menjawab langsung pertanyaan si anak dan si ibu mengujinya dengan menyuruhnya mengisi air di tong dengan keranjang. Si anak pun mematuhi perintah ibunya. Si ibu pun pergi ke gereja. Si anak pun sibuk mengisi tong dengan keranjang, akan tetapi selama pengisian si anak terlintas dalam pikirannya bagaimana tong ini dapat penuh, orang keranjangnya saja bolong. Si anak pun protes dengan ibunya sepulang dari gereja. Si ibu pun memberikan penjelasan pada si anak bahwa jangan pernah lupa akan apa yang pernah Tuhan berikan, pergi ke gereja kita bersyukur dan berdoa serta berterima kasih atas semua yang telah di berikan. Jadi beribadah ke gereja kita bersyukur dan menyambut Ekaristi untuk mensyukuri semua karunia Tuhan. Dengan demikian kita akan memperoleh sumber hidup yang dapat membawa pada kehidupan nyaman, damai, dan bahagia.

        4) Pengungkapan pengalaman: Peserta diajak untuk mendalami cerita “Si Anak dan Ibu yang Bijaksana

        ” dengan tuntunan pertanyaaan:

        a) Ceritakanlah pengalaman yang dialami oleh si ibu dalam mengajarkan kepada anaknya untuk menyadari bahwa Ekaristi sumber hidup yang memberi kekuatan dalam segala hal?

        b) Apakah saudara-saudari juga menyadari bahwa Ekaristi sumber hidup?

        5) Arah Rangkuman

        Cerita di atas mengisahkan seorang ibu yang menyadari Ekaristi sumber hidup. Ia selalu pergi kegereja untuk bersyukur dan mengikuti Ekaristi untuk memperoleh kekuatan dalam menjalani kehidupan. Walaupun kehidupan ibu itu hidup dalam krisis global, tetapi ia tetap dapat mencukupi kebutuhan sehari-hari, ia pun juga dapat menyekolahkan anaknya sampai SMP. Si ibu itu pun juga tidak pernah lupa akan Tuhan sehingga ia selalu pergi kegereja untuk bersyukur dan mengikuti Ekaristi. Ekaristi memberi kehidupan bagi keluarga si ibu, ia mampu bertahan hidup dalam situasi krisis.

        Begitu pula dengan pengalaman kita dalam kehidupan sehari-hari pastinya mengalami situasi hidup susah atau hidup dalam permasalahan. Permasalahan yang kita hadapi terkadang membuat putus asa dan membuat kita melakukan tindakan yang kurang baik. Ekaristi menjadi sumber hidup yang memberikan jalan bagi kita untuk menghadapi segala situasi hidup apapun. Ekaristi akan menguatkan kita untuk dapat bertahan hidup dan memberikan kebagiaan, kedamaian dan kerukunan. Untuk itu kita sebagai umat beriman sudah sepantasnya menyadari Ekaristi sebagai sumber hidup yang menyegarkan hati dan juga diharapkan untuk selalu mengucap syukur atas segala sesuatu yang telah kita terima.

      c. Langkah II: Mendalami Pengalaman Hidup Peserta

        1) Peserta diajak untuk merefleksikan sharing pengalaman dengan dibantu pertanyaan berikut ini:

        Mengapa bapak/ibu menyadari bahwa Ekaristi sumber hidup?

      • Makna apa yang dapat ambil dari pengalaman bapak/ibu?
      • 2)

        Dari jawaban yang diungkapkan oleh peserta pendamping memberikan arahan rangkuman singkat misalnya: Sebagai umat beriman tentunya banyak mengalami tantangan iman. Banyak sekali godaan yang selalu mengincar kehidupan, tetapi kita pastinya berusaha untuk lepas dari godaan-godaan tersebut. Oleh karena itu apabila kita ingin lepas dari godaan-godaan itu tentunya membutuhkan kekutan yang berasal dari Tuhan dan percaya kepada-Nya. Kita percaya bahwa Tuhan akan menolong dan menunjukkan jalan kebenaran bagi umat-Nya. Selain itu juga dengan mengikuti Ekaristi pada setiap hari minggu dapat menyadarkan kita bahwa Tuhan memberikan kesegaran yang membawa umat-Nya masuk ke dalam kehidupan bahagia serta mengutkan kita untuk menjalani hidup sesuai dengan jalan-Nya.

      d. Langkah III: Menggali Pengalaman Iman Kristiani

        1) Peserta membaca perikop Kitab Suci atau teks fotocopy yang dibagikan, Inji Yoh. 6: 25-59, salah seorang peserta dimohon membacakannya.

        2) Peserta diberi waktu hening untuk secara pribadi merenungkan dan menanggapi pembacaan kitab suci dengan dibantu beberapa pertanyaan: a)

        Ayat-ayat mana yang menunjukkan Ekaristi sumber hidup pada perikop tersebut? Mengapa? b)

        Sikap-sikap yang seperti apa yang ingin ditanamkan oleh Yesus melalui perikop tersebut dalam menyadarkan umat-Nya bahwa Ekaristi sumber hidup?

        3) Peserta diajak untuk menafsirkan isi dari bacaan Kitab Suci pada Injil Yoh 6:

        25-59 dan menghubungkannya dengan tanggapan peserta dalam hubungannya dengan tema dan tujuan: Ayat 32 dan 33, pada ayat ini terlihat bahwa roti yang berasal dari Allah yang terberkati memberikan kehidupan bagi orang yang menerimanya. Pada ayat ini sangat terlihat bahwa Allah sungguh peduli dengan manusia dan Ia tidak membiarkan manusia kelaparan. Perikop ini menampakkan roti yang benar dari surga yang membawa manusia pada keselamatan dalam hidup. Roti yang benar dari surga adalah Yesus Kristus, melalui Dia keselamatan dapat terwujud di dunia dan manusia dapat menikmati kehidupan yang damai.

        Ayat 47, 51, dan 54-58, pada perikop ini menggambarkan bahwa barang siapa yang percaya pada Yesus Kristus ia akan memperoleh hidup kekal. Manusia akan memperoleh hidup kekal apabila ia sungguh-sungguh percaya dan mengimani sang pemberi kehidupan. Ayat 51 terlihat bahwa Yesus mengorbankan dirinya di kayu salib untuk kelangsungan hidup manusia. Yesus mengorbankan diri di kayu salib menunjukkan bahwa Ia memberikan kehidupan yang baru bagi manusia yang terbebas dari belenggu dosa. Manusia yang percaya pada Yesus bahwa Ia sumber pemberi hidup tentunya memperoleh jalan kebenaran-Nya. Ayat 54-58 menunjukkan bahwa Yesus sungguh-sungguh sumber pemberi kehidupan. Ia rela memberikan seluruh kehidup-Nya untuk manusia. Yesus mati di kayu salib menjadi jalan untuk menggantikan kesalahan manusia sehingga manusia memperoleh hidup yang tentram, damai dan rukun di dunia.

        e.

        

      Langkah IV: Menerapkan Iman Kristiani Dalam Situasi Peserta Konkrit

        1) Pengantar

        Pada bacaan tadi kita sudah mengetahui bahwa Yesus adalah sumber pemberi kehidupan. Kita dapat memperoleh sumber hidup hanya dengan sikap percaya kepada-Nya serta mengandalkan-Nya dalam setiap melakukan aktifitas. Yesus selain menjadi sumber hidup bagi seluruh umat di dunia. Ia juga menjadi sumber kekuatan bagi kita dalam menghadapi berbagai rintangan yang menghadang. Untuk itu kita sebagai umat beriman sudah seharusnya menyadari bahwa sumber hidup dan kekuatan adalah Yesus Kristus. Kita tahu Yesus Kristus yang kita yakini tidak pernah meninggalkan umat-Nya. Yesus selalu setia mendampingi hidup kita, tetapi Yesus pastinya juga merindukan untuk berkumpul bersama dengan kita. Untuk itu Yesus meninggalkan kenangan yang sungguh luar biasa yakni sebuah perjamuan bersama sebelum Ia menderita dan hal ini menjadi kenang yang selalu kita rayakan dalam Gereja yakni Ekaristi. Ekaristi menjadi tempat untuk berkumpul bersama Yesus serta melepas kerinduan akan Dia yang memberi kesegaran hidup. Kita memang harus menyadari bahwa melalui Ekaristi dapat memperoleh hidup yang damai serta memperoleh kesegaran hidup. Dengan demikian kita harus semakin sadar bahwa mengikuti Ekaristi berarti bertemu dan berkumpul bersama Yesus Kristus sehingga kita lelalu memperoleh pembaharuan hidup melalui sabda-Nya.

        1) Sebagai bahan refleksi agar kita semakin mengahayati dan menyadari bahwa

        Ekaristi sumber kekuatan hidup maka mari kita merenung sejenak, dengan bantuan pertanyaan berikut ini: Sikap seperti apakah yang dapat bapak/ibu/saudara/I petik dari perikop tadi

      • supaya semakin menyadari bahwa Ekaristi menjadi sumber hidup?

        a) Saat hening peserta diberi kesempatan untuk mengendapkan apa yang sudah didapatkan. Kemudian peserta diberi kesempatan untuk mengungkapkan hasil renungannya.

        b) Arah Rangkuman

        Pada kehidupan zaman sekarang ini tentunya tidak lepas dari suatu permasalahan hidup. Bagi kita umat beriman permasalahan hidup merupakan sapaan Allah yang ingin menyadarkan umat-Nya. Terkadang kita merasa sendiri ketika menghadapi suatu permasalahan dan seakan kita tidak mempunyai daya untuk keluar dari permasalan itu. Kita pun terkadang bergulat dengan suara hati kita dan menyesali apa yang sudah terjadi. Dalam situasi seperti inilah kita harus peka dan tanggap bahwa apa yang telah di alami itu adalah suatu ujian hidup. Kita dapat kuat menghadapi rintangan apabila percaya bahwa Tuhan selalu hadir dan menunjukkan jalan keluar dari permasalahan itu. Untuk itu kita hendaklah selalu mengandalkan Allah dan meningkatkan rasa peka dalam hati kita akan keberadaan-Nya. Salah satu cara yang dapat kita lakukan untuk meningkatkannya adalah dengan mengikuti Ekaristi. Ekaristi merupakan sumber kekuatan hidup bagi kita. Kita melalui Ekaristi dapat menemukan jalan kebenaran yang membawa pada kehidupan baru. Ekaristi merupakan sumber hidup bagi kita. Kita hendaklah semakin sadar bahwa Ekaristi memberikan kekuatan bagi kita. Dengan demikian kita akan merasakan rahmat keselamatan Allah yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

      f. Langkah V: Mengusahakan Suatu Aksi Konkrit

        1) Pengantar

        Bapak ibu yang terkasih, dari awal kita telah melihat kisah hidup ibu yang bijaksana yang rajin kegereja untuk bersyukur dan memohon kekuatan untuk menghadapi situasi hidup yang ia jalani. Di dalam hidup yang nyata kita pastinya mengalami banyak kesulitan entah dalam keluarga, di masyarakat atau di tempat kerja. Tetapi kita sebagai umat beriman janganlah takut dalam menghadapi segala kesulitan yang dihadapi namun hendaklah kita percaya kepada Yesus yang hadir dalam Ekaristi. Kita melalui Ekaristi memohon kekuatan supaya Tubuh dan darah Kristus menjadi sumber kekuatan bagi kita untuk menguatkan hati kita dalam menghadapi segala kesulitan yang dihadapi. Kit percaya bahwa melalui Ekaristi yang disambut memberikan kekuatan. Hanya dengan percaya dan berusahalah kita dapat memperoleh hidup yang bahagia. Seperti halnya dalam bacaan Injil yang sudah kita bahas tadi, kita diajak untuk percaya bahwa Yesus adalah sumber pemberi hidup bagi seluruh umat di dunia. Untuk itu kita sebagai murid-murid Kristus hendaklah menyadari bahwa melalui Ekaristi yang disambut Yesus hadir untuk memberikan kekuatan bagi umat-Nya supaya kita tetap hidup dan setia mengikuti ajaran-Nya. Marilah sekarang kita memikirkan niat dan tindakan apa yang perlu kita buat agar kita semakin percaya, menyadari bahwa Ekaristi menjadi sumber hidup yang memberikan kekuatan bagi kita dalam menghadapi segala cobaan yang ada.

        2) Memikirkan niat-niat yang hendak di lakukan supaya dapat semakin menyadari bahwa Ekaristi sumber hidup. Peserta diberi pertanyaan panduan untuk membantu membantu membuat niat-niat:

      • bahwa Ekaristi sumber hidup yang memberikan kita kekuatan dalam menghadapi segala cobaan?

        Tindakan macam apa yang hendak anda lakukan untuk semakin menyadari

        3) Peserta diberi kesempatan hening untuk merenungkan keputusan mereka sendiri-sendiri dengan diiringi musik instrumen.

        4) Pendamping mengajak umat untuk mengungkapkan keputusan bersama sebagai sikap konkrit yang bisa langsung diwujudkan tanda membaharui hidup untuk semakin menyadari bahwa Ekaristi sumber hidup.

      g. Penutup

        1) Setelah selesai merumuskan niat pribadi dan bersama, lagu (diiringi dengan musik instrument”Kitaro”). Sementara itu lilin dan salib dapat diletakkan di tengah umat kemudian dinyalakan.

        2) Doa umat spontan yang diawali oleh pendamping dengan menghubungkan kebutuhan dan situasi setempat. Setelah itu doa umat disusul oleh peserta yang lain. Akhirnya doa umat ditutup dengan doa penutup dari pendamping.

        3) Doa penutup

        Bapa yang maha baik kami paguyuban-paguyuban murid-murid Yesus Kristus, kembali mengucap syukur karena atas kehadiran-Mu melalui Roh Kudus yang senantiasa setia menyertai kami. Kami berterima kasih kepada-Mu karena kami Engakau perkenankan belajar dari pengalaman seorang ibu yang bijaksana. Seorang ibu yang selalu mengucap syukur dan tidak pernah melupakan diri-Mu yang telah memberikan segalanya. Seorang ibu yang tidak pernah lupa untuk pergi kegereja dan menyambut Ekaristi. Seorang ibu yang percaya bahwa melalui Ekaristi ia memperoleh kekuatan dalam menghadapi hidup. Selain itu juga kami Engkau perkenankan untuk belajar dari Injil Yohanes yang mengisahkan bahwa Engkau adalah sumber hidup. Engkau adalah roti kehidupan yang menyegarkan kami ketika kami mengalami kesusahan dalam menjalani hidup. Engkau juga memperkenankan kami untuk membuat suatu niat yang dapat membantu semakin menyadari bahwa Ekaristi sumber hidup. Berkatilah semua yang telah kami pelajari ini Tuhan sehingga semuanya menjadi milik kami yang dapat membantu menemukan arah hidup yang Enagkau kehendaki. Demi Kristus,Tuhan dan Pengantara kami, yang hidup dan berkuasa bersama dengan Dikau dalam persekutuan dengan Roh Kudus, Allah sepanjang segala masa. Amin 4)

        Sesudah doa penutup, pertemuan diakhiri dengan lagu “Yesus diutus Bapa” (PS 691)

        

      BAB V

      PENUTUP Pada bab V penulis akan membuat kesimpulan dan saran sebagai penutup dalam karya tulis ini. A. Kesimpulan Umat Lingkungan Santo Antonius Joton dapat menemukan makna

        sakramen Ekaristi melalui Kitab Suci, dokumen-dokumen Gereja, dan juga menurut pandangan dari para ahli. Umat dapat menemukan makna sakramen Ekaristi sebagai ungkapan cinta kasih Yesus, pemersatu umat dengan Allah umat dengan umat, Epiklese, memampukan umat untuk tinggal di dalam Kristus, serta sumber kekuatan hidup umat. Ekaristi pun memampukan umat untuk peduli dan berbagi kepada siapa saja terutama pada orang yang sangat membutuhkan bantuan. Dengan demikian umat dapat merasakan dirinya memperoleh rahmat keselamatan dalam kehidupan sehari-hari.

        Umat Lingkungan Santo Antonius Joton Paroki Santo Yusuf Pekerja Gondangwinangun Klaten sebagian besar telah menghayati sakramen Ekaristi dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini dapat terlihat dari situasi hidup dan kegiatan umat di lingkungan. Situasi hidup umat terlihat damai, tentram, bahagia, rukun, saling tolong menolong, saling peduli sesama, saling mencintai, dan berbagi.

        Umat juga terlibat dalam kegiatan rohani, ikut pendalaman iman, kegiatan doa rutin, pergi ke Gereja. Umat walaupun telah menghayati makna sakramen Ekaristi tetapi mereka masih tetap membutuhkan pendampingan yang terus menerus, sehingga mereka dapat semakin mendalam dan menyadari betapa pentingnya menghayati makna sakramen Ekaristi dalam kehidupan sehari-hari. Umat juga masih harus meningkatkan keseriusannya di dalam mengikuti Ekaristi. Untuk itu umat tidak cukup hanya datang, duduk, mendengarkan, menyambut komuni saja tetapi umat hendaklah lebih bersikap hormat dan hikmat dalam mengikuti Ekaristi. Selain itu umat juga diharapkan lebih meningkatkan keterlibatannya di dalam kegiatan baik dalam masyarakat maupun komunitas, kemudian yang lebih penting lagi umat meningkatkan kesungguhannya dalam membaca Kitab Suci dan ikut terlibat dalam pendalam iman. Hal ini menjadi penting bagi umat beriman karena dengan meningkatkan penghayatan mereka akan makna sakramen Ekaristi dapat merasakan rahmat keselamatan Allah yang terjadi dalam kehidupan sehari- hari.

        Untuk itu dalam menanggapi hal ini penulis mengusulkan kegiatan pendampingan katekese dengan model Shared Christian Praxis (SCP) dengan tujuan agar umat Kristiani dapat menyadari betapa pentingnya menghayati makna sakramen Ekaristi demi pengembangan iman dalam kehidupan sehari-hari. Umat melalui katekese model SCP diharapkan dapat semakin meningkatkan penghayatan mereka akan makna sakramen Ekaristi dalam kehidupan sehari-hari sehingga umat dapat mewujudkan nilai-nilai kerajaan Allah dan dapat mewujudkan pertobatan diri yang membawanya pada pola hidup baru.

      B. Saran

        Umat Lingkungan Santo Antonius Joton sangat membutuhkan pendampingan yang terus menerus untuk lebih menyadari dan mendalami penghayatannya akan makna sakramen Ekaristi dalam kehidupan sehari-hari. Penulis dalam hal ini menyarankan supaya lebih ditingkatkan lagi untuk program katekese bagi umat dengan mengundang nara sumber dari pastor paroki atau birawan atau biarawatii maupun awam dan lebih baik lagi apabila diadakan rekoleksi umat yang bertemakan mengenai penghayatan umat akan makna sakramen Ekaristi. Dengan demikian umat dapat semakin menemukan, menyadari, dan menghayati makna sakramen Ekaristi dalam kehidupan sehari- hari. Selain itu umat dapat merasakan kegunaan Ekaristi dalam kehidupannya.

        

      DAFTAR PUSTAKA

      Adisusanto, FX. 2011. Katekese sebagai Pendidikan Iman. Praedicamus, 34, 3-5.

        

      Kitab Hukum Kanonik. (2005). (V. Kartosiswoyo, Lich.Iur.Can. dkk,

        Michel, Thomas. 2001. Pokok-pokok Iman Kristiani. (diterjemahkan oleh Adimasana. Dkk) Yogyakarta: Universitas Sanata dharma. NN . 2009. Catechismo della Chiesa Cattolica. KKGK: Kompendium Katekismus Gereja Katolik. (diterjemahkan oleh Harry Susanto, SJ) Cetakan 8.

        . 2010. Misteri Kristus.Cetakan 3.Yogyakarta: Kanisius. . 2012. Ekaristi: makna dan kedalamannya bagi perutusan di tengah dunia. Yogyakarta: Kanisius.

        . 2005. Ekaristi: Tinjauan Teologis, Liturgis, Pastoral. Yogyakarta: Kanisius. . 2008. Kongres Ekaristi: Tentang Ekaristi. Yogyakarta: Kanisius.

        Magnis-Suseno, Franz. 2004. Menjadi Saksi Kristus. Jakarta: Obor. Martasudjita, E. 2003. Sakramen-sakramen Gereja. Cetakan 5. Yogyakarta: Kanisius.

        Jakarta: Dok. Pen, KWI- Obor, 1993 Loret, Pierre. CSsR. 1989. Merayakan Misa Kudus. Jakarta: Yayasan Cipta Loka Caraka.

        Penerjemah). (Diundangkan oleh Paus Yohanes Paulus II). Bogor: Grafika Mardi Yuana (Cetakan pertama tahun 1983). Konferensi Waligereja Indonesia. (1996). Iman Katolik, Buku Informasi dan Referensi. Jakarta: Obor. Konsili Vatikan II. Dokumen Konsili Vatikan II. Terj. R. Hardawiryana, SJ.

        Janssen, P. 1993. Sakramentologi I. Modul mata kuliah Sakramentologi I untuk Mahasiswa Semester I, Program Studi Guru Pendidikan Agama Katolik Sekolah Dasar, Institut Pastoral Indonesia Malang. Manuskrip

        Dister, Nico Syukur. 1991. Pengantar Teologi. Cetakan 9. Yogyakarta: Kanisius. Groenen, C. 1990. Sakramentologi. Yogyakarta: Kanisius. Groome, Thomas H. 2010. Cristian Religius Education: Pendidikan Agama

        Berkatekese (Seri Puskat No. 356). Yogyakarta: Lembaga Pengembangan Kateketik Puskat (Buku asli diterbitkan 1991).

        Heryatno Wono Wulung, FX. (1997). Shared Christian Praxis: Suatu Model

        ”. Matakuliah Pendidikan Agama Katolik Di Sekolah untuk Mahasiswa Semester III, Program Studi IPPAK, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Manuskrip

        “Pokok-Pokok Pendidikan Agama Katolik di Sekolah

        Grün, Anselm. 1998. Ekaristi dan Perwujudan Diri. Ende: Nusa Indah. Heryatno Wono Wulung, FX. 2008.

        Kristen (Diterjemahkan oleh Daniel Stefanus). Jakarta: PT. BPK Gunung Mulia.

        Yogyakarta: Kanisius. NN . 1993. KGK: Katekismus Gereja Katolik. (diterjemahkan oleh P. Herman Embuiru SVD) Cetakan III. Ende: Nusa Indah. Pujasumarta, J. 2008. Ekaristi: Berbagi Lima Roti dan Dua Ikan. Yogyakarta: Kanisius. Sinaga, Anicetus B. Cap. 2005. Seri Dokumen Gereja No. 67: Ecclesia De

      Eucharistia. Jakarta: Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI.

      Soetomo, Greg. 2002. Ekaristi dan Pembebasan dalam Konteks Masyarakat Indonesia. Yogyakarta: Kanisius. Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R & D. Bandung: Alfabeta. Sumarno Ds., M. S.J,M.A. 2009.

        “Pengantar Pendidikan Agama Katolik Paroki”. Matakuliah Pengantar PAK Paroki untuk Mahasiswa Semester III, Program Studi IPPAK, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

        Manuskrip Sumarno Ds., M. S.J,M.A. 2011.

        “Program Pengalaman Lapangan Pendidikan Agama Katolik Paroki

        ”. Matakuliah PPL PAK Paroki untuk Mahasiswa Semester VI, Program Studi IPPAK, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Manuskrip Sutrisno Hadi. 2004. Metodologi Research I. Yogyakarta: Andi.

        . 2004. Metodologi Research II. Yogyakarta: Andi. Yohanes Paulus II. (1975). Cathecese Tradendae, Jakarta: Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI.

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Pengaruh keaktifan mengikuti perayaan Ekaristi terhadap keterlibatan tugas pelayanan (Diakonia) umat lingkungan Santo Xaverius Siyono Kuasi Paroki Santo Yusup Bandung Gunungkidul.
0
4
197
Pastoral kunjungan keluarga sebagai jalan membantu umat Paroki Administratif Santo Paulus Pringgolayan memperkembangkan iman mereka.
1
10
185
Katekese model SCP sebagai salah satu usaha peningkatan pelaksanaan pembinaan iman umat lingkungan Santo Yohanes Stasi Santo Yusup Balong Paroki Santa Theresia Lisieux Boro.
1
7
158
Peranan lagu rohani ekaristi dalam meningkatkan pemaknaan perayaan ekaristi bagi kaum muda Katolik di Paroki Santo Antonius Kotabaru.
0
3
146
Katekese sebagai usaha untuk meningkatkan penghayatan iman umat di Lingkungan Santo Longinus Naisau B Paroki Santa Sesilia Kotafoun-Atambua.
0
6
125
Sumbangan katekese umat dalam rangka meningkatkan penghayatan iman umat Lingkungan Santo Yusuf, Berut, Wilayah Santa Marta, Sumber, Paroki Santa Maria Lourdes, Sumber, Magelang, Jawa Tengah melalui Shared Christian Praxis.
9
72
209
Pengaruh sosok katekis terhadap minat umat dalam mengikuti katekese orang dewasa di Lingkungan Santo Yosef Benediktus Sagan Paroki Santo Antonius Kota Baru Yogyakarta.
0
1
173
Usulan meningkatkan pemahaman tentang makna sakramen Ekaristi demi pengembangan iman putera altar Kuasi Paroki Santo Yusup Bandung, Gunung Kidul, Yogyakarta.
0
5
149
Pengaruh keaktifan mengikuti perayaan Ekaristi terhadap keterlibatan tugas pelayanan (Diakonia) umat lingkungan Santo Xaverius Siyono Kuasi Paroki Santo Yusup Bandung Gunungkidul
0
2
195
Pengaruh sosok katekis terhadap minat umat dalam mengikuti katekese orang dewasa di Lingkungan Santo Yosef Benediktus Sagan Paroki Santo Antonius Kota Baru Yogyakarta
2
34
171
SEJARAH PERKEMBANGAN GEREJA KATOLIK SANTO YUSUF JURU KARYA GONDANGWINANGUN
1
1
148
USULAN MENINGKATKAN PEMAHAMAN TENTANG MAKNA SAKRAMEN EKARISTI DEMI PENGEMBANGAN IMAN PUTERA ALTAR KUASI PAROKI SANTO YUSUP BANDUNG, GUNUNG KIDUL, YOGYAKARTA SKRIPSI
0
1
147
SENI KARAWITAN SEBAGAI SARANA PENGHAYATAN IMAN UMAT AKAN EKARISTI DI PAROKI SANTO YAKOBUS, BANTUL, YOGYAKARTA SKRIPSI
0
1
151
USAHA MENEMUKAN MAKNA SAKRAMEN EKARISTI DEMI PENGEMBANGAN IMAN UMAT LINGKUNGAN SANTO ANTONIUS JOTON PAROKI SANTO YUSUF PEKERJA GONDANGWINANGUN KLATEN SKRIPSI
1
2
153
Makna perayaan ekaristi bagi anggota misdinar di Paroki Santo Antonius Padua Kotabaru Yogyakarta. - USD Repository
0
0
122
Show more