Ah. Fawaid Isu isu Polemis dalam Diskursus ulum al Quran di Mesir Kontemporer

Gratis

0
0
172
8 months ago
Preview
Full text

ISU-ISU POLEM IS DALAM DISKURSUS

  ‘ULŪM AL DI MESIR KONTEM PORER T esis Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Magister Agama Oleh: Ah. N asaruddin Umar, MA Dr.

LEMBAR PERNYATAAN

  Untuk menjawab permasalahan ini perlu didukung denganpertanyaan-pertanyaan sebagai berikut: a) Apa saja corak dan kecenderungan dalam perkembangan penulisan ‘ulu> m al-Qur’a> n di Mesir kontemporer?; b)Bagaimana potret debat intelektual dalam disiplin ilmu Al-Qur’an itu berlangsung di Mesir kontemporer? Setidaknyaada empat corak umum karya-karya ‘ulu> m al-Qur’a> n yang berkembang saat ini, yaitu: 1) corak penulisan disiplin ilmu Al-Qur’an dalam dokumen utuh;2) corak penulisan ilmu Al-Qur’an secara tematik; 3) corak polemik; dan 4) corak penulisan ilmu Al-Qur’an secara ensiklopedik.

KATA PENGANTAR

  Berkat dorongan beliaulah risetpustaka itu berhasil saya lakukan, dan tesis ini bisa saya selesaikan walau dalam waktu yang tidak singkat. Akhirnya, kepada yang terkasih dan tersayang, istriku tercinta, UlyaFikriyati yang meskipun mengandung tetap tidak jemu mendorong dan memompakan semangat lahir dan batin demi tuntasnya proses ini.

PEDOMAN TRANSLITERASI

Padanan AksaraHuruf Arab Huruf Latin Keterangan  b be t te s\ es dengan titik atas  j je h} Ha dengan titik bawah kh ka dan ha d de z\ zet dengan titik atas r er z zet  s es sy es dan ye  s} es dengan titik bawah d} de dengan titik bawah  t} te dengan titik bawah z} zet dengan titik bawah ‘ koma terbalik di atas hadap kanan  gh ge dan ha f ef  q ki  l el m em  n en w we  h ha ` apostrof  y ye V okal Panjang Tanda Vokal Arab Tanda Vokal Latin Keterangan a> a dengan garis di atasnya  i> i dengan garis di atasnya u> u dengan garis di atasnya V okal Rangkap Tanda Vokal Arab Tanda Vokal Latin Keterangan ai a dan i aw a dan u Gaya Selingkung Dalam tulisan ini, penulis menggunakan model transliterasi sebagaimana digambarkan di atas, kecuali penulisan beberapa kosa katakhusus, yaitu: Nama Muhammad, bukan Muh}ammad (untuk nama Nabi Muhammad Saw)Khalafulla> h, bukan Khalaf Alla> hRasulullah, bukan Rasululla> h, Rasu> l Alla< h >Abdulla> h, bukan Abd Alla> hMasjidil Haram, bukan masjid al-h}ara> mZayd, bukan zaid

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kajian mengenai Al-Qur’an dan disiplin ilmu yang menopangnya

  Kajian tentang perkembangan ‘ulu> m al-Qur’a> n di Mesir inilah yang menjadi kajian tulisan ini dengan menfokuskan pada dua isu yang diperdebatkan dalam disiplin ‘ilmu al-8 Qur’a> n, yaitu nasakh dan kisah dalam Al-Qur’an. Persoalan di atas inilah yang hendak penulis angkat dalam penelitian tesis yang berjudul “ISU-ISU POLEMIS DALAM DISKURSUS ‘ULU> M AL-QUR’A< < N DI MESIR KONTEMPORER.”9 Dalam konteks konsep nasakh, bermunculan buku yang di satu sisi mendukungkeberadaan nasakh, dan di sisi lain muncul buku yang membantahnya.

B. Identifikasi, Pembatasan, dan Perumusan Masalah

1. Identifikasi Masalah

  Sehingga bisadikatakan bahwa kajian Al-Qur’an merupakan kajian yang paling banyak mendapat perhatian dalam karya kesarjanaan. Kajian Al-Qur’an semacam ini berkembangpesat di pusat-pusat kajian Islam, tidak hanya di dunia Islam seperti Mesir, melainkan juga di pusat-pusat kajian Islam di Barat.

2. Pembatasan Masalah

  Dari identifikasi di atas, maka penelitian ini hendak membatasi kajianAl-Qur’an di Mesir yang beragam dan luar biasa dinamis ini hanya pada ‘ulu> m al-Qur’a> n. Ini terlihat dari banyaknyaalumni di berbagai perguruan tinggi di Mesir, terutama Al-Azhar, yang menjadi medium transfer of knowledge yang begitu efektif dalamtransformasi intelektual di Nusantara.

11 Jala> l al-Di> n ‘Abd al-Rah}ma> n al-Suyu> t}i> , A l-Itqa> n fi> ‘Ulu> m al-Qur’a> n, (Kairo: Da> r

  al-Hadis\, 2004) Mengingat begitu luasnya cakupan ilmu Al-Qur’an, maka penelitian ini membatasi diri pada dua isu dalam ilmu Al-Qur’an yang paling seringdiperdebatkan dalam ranah akademis Mesir sepanjang tahun 70-an hingga saat ini. Artinya, penelitian ini hanya membatasi diri pada karya-karyatentang studi ilmu Al-Qur’an yang ditulis oleh orang Mesir, dan dicetak diMesir, sepanjang 70-an hingga saat ini dengan penekanan pada dua isu utama: nasakh dan kisah dalam Al-Qur’an.

3. Perumusan Masalah

Dari identifikasi dan pembatasan masalah di atas, maka masalah yang hendak dikaji dalam penelitian ini dapat dirumuskan dengan: Kenapapolemik dalam ilmu Al-Qur’an begitu sengit terjadi dalam perkembangannya di Mesir kontemporer? Untuk menjawab permasalahan ini perlu didukungdengan pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut:

a. Apa saja corak dan kecenderungan dalam perkembangan penulisan

  Bagaimana potret debat intelektual dalam disiplin ilmu Al-Qur’an itu berlangsung di Mesir kontemporer?c. Bagaimana kepentingan dan ideologi seseorang berpengaruh dalam debat intelektual tentang beberapa isu polemis dalam ‘ulu> m al-Qur’a> ndi Mesir kontemporer?

C. Tujuan Penelitian

  Melihat rumusan masalah yang telah diajukan di atas, penelitian ini dimaksudkan untuk meneliti dan mengkaji beberapa pola dan kecenderunganpenulisan karya ilmu Al-Qur’an di Mesir dulu dan kini, serta bagaimana beberapa isu dalam disiplin ilmu Al-Qur’an itu diperdebatkan. Arab dan Yahudi di satu sisi, dan relasai antara Islam dan Yahudi (Al-Qur’an dan Taurat) di sisi yang lain.

D. Kegunaan Penelitian

  Secarateoretis, hasil penelitian ini hendak membuktikan bahwa corak dan kecenderungan penulisan ilmu Al-Qur’an di Mesir kontemporer tidaktunggal, bahkan mengalami pengayaan corak dibandingkan dengan era sebelumnya. Secara praktis, penelitian ini hendak memperkenalkan ragam corak dan kecenderungan penulisan buku ilmu Al-Qur’an di Mesir kontemporer,dan bagaimana model polemik yang disuguhkan buku-buku ilmu Al-Qur’an kepada khalayak pembaca.

E. Tinjauan Pustaka

  Apa yang dilakukan al-Z|ahabi> tersebut tidak semata mengkaji perkembangan tafsir secara periodik, melainkan juga mengkajiragam tafsir secara taksonomik dengan mengangkat kecenderungan- kecenderungan dan orientasi masing-masing tafsir. Selain itu, buku ini tidakmengkaji tafsir yang berkembang di wilayah tertentu, melainkan beragam tafsir sejak awal pertumbuhan, perkembangannya hingga era modern, denganmenekankan pada pembahasan mengenai metode serta kecenderungan dan corak-coraknya.

14 Ada dua versi cetakan buku ini. Ada yang dicetak dua jilid, dan ada pula yang

  Karya yang relatif lengkap ini tidak hendak diulang dalam karya ini kecuali sekilas tentang asal-usul perkembangan studi Al-Qur’an di Mesirpada masa-masa awal untuk disambungkan dengan kajian yang hendak penulis uraikan dalam tesis ini. Kalau karya al-Barri> berupaya melacak asal-usul kajian Al-Qur’an dan ‘ulu> m al-Qur’a> n di Mesir pada masa yang relatif dini, maka apa yang hendak penulis lakukan dalam tesis ini lebih padapelacakan isu-isu dalam ‘ilm al-Qur’a> n yang diperdebatkan di Mesir pada era kontemporer, sebuah masa yang membentang pasca kekalahan Arab (Mesir) Qur’a> n yang muncul pada rentang inilah yang menjadi perhatian penulis dalam tesis ini.

E. Metodologi Penelitian

  Kehadirannya mewakili semangat masanya yang tentunya pemikirannya secara dialektis berjalin-berkelindan dengan Metode analitis-kritis berupaya mencermati seberapa jauh pemikiran yang dituangkan dalam karya-karya tentang studi ilmu Al-Qur’an itumerespon masanya dan seberapa jauh ruang dan waktu itu berpengaruh pada strategi mereka dalam menyuguhkan kajiannya. Sedangkan analisa ideologis digunakan untuk membaca aspek ideologis yang terkandung dalampemikiran tersebut, dalam hal polemik yang terjadi atas beberapa isu dalam ‘ilm al-Qur’a> n yang menjadi fokus penelitian ini.

F. Sistematika Pembahasan

DALAM DISKURSUS DI MESIR

  Melengkapi pembahasan mengenai potret umum, corak, dan kecenderungan ‘ulu> m al-Qur’a> n di Mesir awal, dalam bab27 Melengkapi kajian pada bab II, maka pembahasan pada bab III(POLEMIK ‘ILM A L-QUR’A < N DI MESIR KONTEMPORER) ini lebih dikerucutkan pada debat intelektual menyangkut dua isu dalam studi ilmuAl-Qur’an. Bab ini akan diisi dengan pembahasan mengenai pembahasan mengenai konsep nasakh dan kisah dalam Al-Qur’an dan bagaimana dua isuitu dipolemikkan.

BAB II DISKURSUS ‘ULU> M AL-QUR’A< < N DI MESIR KONTEMPORER

  Definisi ini sekaligus sebagai penolakan atasdefinisi-definisi lain yang mengatakan bahwa ‘ulu> m al-Qur’a> n juga mencakup semua ilmu yang lahir dan tumbuh dari akar Al-Qur’an sebagaimana yang disebutkan oleh MuhammadAbd al-Az}i> m al-Zarqa> ni> , Mana> hil al-‘Irfa> n fi> ‘Ulu> m al-Qur’a> n, (Beirut: Da> r al-Kutub al- ‘Ilmiyyah, 2003), jilid 1, h. Sebaliknya kita harus membatasinya pada ilmu-ilmu dankajian-kajian yang memiliki hubungan erat dengan Al-Qur’an dan menjadi acuan untuk Fakta inilah yang menjadi argumentasi bahwa kehadiran ilmu bantu sebagai disiplin yang independen semacam ‘ulu> m al-Qur’a> n belum dianggapsebagai kebutuhan yang mendesak saat itu.

A. Geneologi ‘Ulu> m al-Qur’a> n di Mesir

  Bahkan tidak berlebihan jika Abd al-Lat}i> f Hamzahmengatakan bahwa apa yang disebut dengan karakteristik ke-Mesiran(syakh  iyyah mi  riyyah) memiliki sejarahnya yang panjang, jika tidak yang30 terpanjang dalam sejarah. Artinya, sebelum penulis membincang perkembangan ilmu Al-Qur’an di Mesir, penjelasan mengenai apa itu ‘ulu> mal-Qur’a> n dan bagaimana perkembangannya secara umum masih relevan untuk ditegaskan kembali dalam tulisan ini.30 Abd al-Lat}i> f H{amzah, A l-H{arakah al-Fikriyyah fi Mis}r fi al-‘A srayn al-A yyu> bi>wa al-Mamlu> ki> al-A wwal, (Kairo: Al-Hay’ah al-Mis}riyah al-‘A< mmah li al-Kita> b, 1999), h.

3. T{a> ha> H{usain dengan cukup meyakinkan menegaskan bahwa Mesir tidak mungkin

  Secara historis, Mesir, tepatnya identitas ke-Mesir-an, terbentuk oleh ragam latar sejarah yang   meliputi era Firaun (al- iqbah al-fir auniyyah) yang kemudian diikuti eraYunani-Romawi dan berlanjut pada era Koptik dan Islam. Era Firaun yang membentang sepanjang tahun 3100 SM hingga 1085 SM ini ditandai denganterbentuknya sebuah peradaban yang mondial semisal mumi, prasasti, piramid, dan bangunan bersejarah lainnya yang menjadi saksi sejarah yangtidak bisa dipungkiri keabsahannya dalam membentuk citra kemajuan Mesir pada masa lalu, bahkan hingga kini.

31 Tujuh penyangga itu adalah, empat terkait dengan identitas budaya (Firaun

  Yunani dan Romawi, Koptik, dan Islam); tiga terkait dengan latar geografis (Arab, Afrika, Aspek historis ketiga yang membentuk identitas ke-Mesir-an adalah32 era Koptik. Namun kebanyakan sejarahwan, yang juga diikuti oleh H{anna> ,mengatakan bahwa era ini bermula pada tahun 284 M, ketika Mesir menegaskan penanggalan Koptik (al-taqwi> m al-qibt}i> ) sekaligus pada saatyang sama, tahun itu merupakan tahun ketika Mesir menunjukkan identitas dan peradaban barunya.

35 H{amzah, A l-H{arakah, h. 156. Hadirnya beragam arus pemikiran di Mesir

  memang tidak dilepaskan dari pengaruh faktor eksternal, namun bukan berarti menutup potensi internal Mesir yang menjadi wilayah yang kondusif bagi bersemainya beragam aruspemikiran di sana. Lihat Ah}mad Muh}ammad Ja> d ‘Abd al- Ra> ziq, Falsafah al-Masyru> ’ al-Had}a> ri> Bayna al-Ih}ya> ’ al-Isla> mi> wa al-Tah}di> s\ al-Gharbi> , , Vol.

1. Fath} Mis}r : Embrio Kajian Al-Qur’an di Mesir

  Mereka tidak saja membawa Al-Qur’an dalam ingatan, melainkan juga ada yang membawa catatan-catatan yang tertulis pada kulit kayu, tulang39 binatang, dedaunan dan semacamnya. Karena ternyata dari catatan sejarahtelah ada sejumlah mushaf yang dimiliki para pencatat Al-Qur’an sepanjang masa sejak pembebasan Mesir hingga terbitnya ‘mushaf resmi’ yang disebar38 Abdulla> h Khursyid al-Ba> ri> , A l-Qur’a> n wa ‘Ulu> muh fi> Mis}r [20 H-358 H], (Kairo: Da> r al-Ma’a> rif, 1969), h.

2. Potret Umum ‘Ulu> m al-Qur’a> n Masa Awal di Mesir

  283 dan seterusnya45 Dari sejumlah buku-buku awal terkait dengan ‘ulu> m al-Qur’a> n, penulis berkesimpulan bahwa karya al-Nah}h}a> s inilah yang mengawali kitab ilmu Al-Qur’an dengandua model: bagian dari tafsir (Ma’a> ni al-Qur’a> n) dan ilmu Al-Qur’an sebagai bagian yang mandiri (Kita> b al-Na> sikh wa al-Mansu> kh). Dia di samping menulis sebuah buku tematik tentang ilmu i’ra> b al-Qur’a> n dengan judul Kita> b I’ra> b al-Qur’a> n yang terdiridari 10 jilid, juga menulis kitab yang merangkum beragam disiplin ilmu Al-Qur’an atau kerap disebut dengan ‘ulu> m al-Qur’a> n.

3. Kecenderungan Ulu> m al-Qur’a> n di Era Awal Mesir

  Ini menunjukkan bahwa baik antara tafsirdan ‘ulu> m al-Qur’a> n, bahkan dengan hadis, menjadi bagian integral dalam penulisan disiplin ‘ulu> m al-Qur’a> n di masa-masa paling awal dalam sejarahperkembangan ‘ulu> m al-Qur’a> n, tidak saja di Mesir, tetapi juga di seluruh belahan dunia Islam. Karya yang lahir dalam situasi keterpurukan Islam, baik secara politik, sosial, dan budaya inilah yang mengantarkan spesialis ilmu Al-Qur’an untuk menghimpun dalam satu kesatuan yang utuh dalam kemasan yang praktis dan ringkas.

1. Sekilas tentang Mesir Kontemporer

  Hubungansimbiosis-mutualistis itulah yang menjadikan Arab-Islam menemukan persemaiannya di Mesir berdampingan dengan masyarakat Mesir-Koptiksaat itu.53 Ini misalnya ditegaskan oleh Gustave Lebon dalam bukunya bahwa karakter moderat yang dibawa ‘Amr ibn ‘A< s} inilah yang menjadikan masyarakat terpikat dengan Islam yang hadir ke sana. Begitu juga benih yang diimpor dari luar itu juga tidak akantumbuh subur, tanpa ditopang oleh lahan subur Mesir yang sangat menghargai peradaban.54 Ah}mad Muh}ammad Ja> d Abd al-Ra> ziq menegaskan bahwa gerakan ilmiah di Mesir berpusat di masjid-masjid, semisal Masjid ‘Amr ibn ‘A< s}, Masjid Ah}mad ibn T{a> lu> n, dan juga Masjid Al-Azhar yang didirikan olehDinasti Fatimiyah.

56 Proyek ini menerbitkan ribuan buku setiap tahunnya, meliputi karya-karya orang

  Kehadiran Bonaparte ini menandai sebuah era yang disebut dengan era nahd}ah dalam langgam pemikiran di Mesir khususnya dan Arab secara umum59 dengan bangkitnya kesadaran nasionalisme (qaumiyyah) akibat invasi itu. Pada saat yang sama, Hourani menjadikan tahun 1930-an sebagai penutup era liberal, karena pada tahun-tahunitu, aroma puritanisnik tampak mengemuka sebagaimana ditunjukkan dengan lahirnya organisasi-organisasi yang bernuansa fundamentalistik semisal al-Ikhwa> n al-Muslimu> n, ah Takfr wa al-Hijrah, dan lain-lain.

60 Lepas dari kesangsian ini, yang jelas invasi Eropa ke Mesir menjadi pemicu

  Kristalisasi gerakan dan pemikiran Islam—termasuk juga di Mesir— kian menemukan momentumnya setelah berdirinya negara Israel di Palestina61 Dampak ikutannya adalah raibnya mentalitas tenang dalam berpikir dan bertindak, mengayomi kelompok, membela negeri, keceriaan, dan terbuka digantikan dengan kesedihan, pasrah dengan takdir, meremehkan akal, dan raibnya kehendak. Rumitnya tipologi ini di samping karena beragamnya gagasan yang dimiliki,intelektual Arab juga tidak terikat oleh style pemikiran yang linear dan absolut melainkan senantiasa mengalami perubahan dan perkembanganseiring dengan tuntutan realitas.

64 Ibrahim M. Abu Rabi’, Intellectual Origins of Islamic Resurgence in The Modern

66 Mesir. Wafatnya tokoh kharismatik pengusung Sosialisme Arab

  Realitas sosial, politik, ekonomi, dan intelektual yang melingkupiMesir pasca kekalahan Arab pada Israel pada tahun 1967 M dan wafatnyaGamal Abd al-Na> s}ir pada tahun 1970 M inilah yang menjadikan titik pijak ulasan penelitian ini. Uraian berikut hendak menunjukkan tren dan kecenderungan karya dalam bidang ‘ulu> m al-Qur’a> n di Mesir kontemporer dengan mengacu padaberagamnya arus pemikiran yang berkembang di Mesir.

68 Abd al-Ra> ziq, Falsafah al-Masyru> , h. 269. Peta ini hanya bentuk simplifikasi dari

2. Potret di Mesir Kontemporer

  Masing-masing arus ‘Ulu> m al-Qur’a> n ‘Ali> Syawwa> kh Ish}a> q dalam bukunya, Mu’jam Mus}annafa> t al-Qur’an al-Kari> m, yang dicetak tahun 1984 M menghimpun tidak kurang dari 3881 judul buku dan manuskrip yang terkait dengan Al-Qur’an dan tafsir, termasuk di antaranya karya-karya yang ditulis orang Mesir dan dicetak di69 Mesir. Era transisi ini ditandaidengan kaburnya pola penulisan yang tidak lagi mengikuti alur penulisan di masa awal yang bermula dari corak penulisan ilmu Al-Qur’an sebagai bagiandari tafsir, kemudian menjadi karya tematik, dan menjadi disiplin yang utuh yang terhimpun dalam kategori ‘ulu> m al-Qur’a> n.

70 Dalam kunjungan penulis ke Mesir sepanjang 7 Juli-16Agustus 2005, penulis

  Kalau A l-Tas}wi> r al-Fanni> dan Al-Fann al-Qas}as}i berupaya untuk mengkaji secara tematik isu tentang kisah sebagai bagian dari ilmu Al-Qur’an, Qas}as} min al- Qur’a> n tidak secara tegas menjelaskan isu kisah sebagai bagian ilmu Al- Qur’an, melainkan hendak menjelaskan kisah-kisah yang tertuang dalam Al-Qur’an tanpa disibukkan untuk mengulas secara teoritis disiplin ilmu Al-75 Qur’an. Sementara Min Bala> ghah al-Qur’a> n lebih mengkaji aspek-aspek Qur’a> na> n?) Al-Qur’an masa kecil (Qur’a> n al-t}ufu> lah) yang menarik, mudah, dan memikatatau Al-Qur’an masa remaja (Qur’a> n al-syaba> b) yang sulit, rumit, dan terkoyak-koyak.

C. Tren dan Kecenderungan ‘Ulu> m al-Qur’a> n di Mesir Kontemporer

96 Diterbitkan oleh Lembaga Tinggi Urusan Islam (al-Majlis al-A ’la> Li al-Syu’u> n

  Kecenderungan konservatif yang dimaksud adalah orientasi pengkaji dan penulis ‘ulu> m al-Qur’a> n yang merasa cukup dengan ‘mengungkap ulang’pendapat ulama-ulama dan pemikir ilmu Al-Qur’an di masa lampau. Contoh dari kecenderunganini sangat banyak, bahkan karya model ini sangat dominan, di antaranya:99 Klasifikasi ini merupakan modifikasi dari klasifikasi yang digunakan Bassam al- Jamal dalam bukunya A sba> b al-Nuzu> l: ‘Ilman min ‘Ulu> m a-Qur’a> n (Beirut: al-Markaz al- S{aqafi> al-‘Arabi> , 2005) yang secara khusus mengkaji karya-karya dalam disiplin ilmu asba> bal-nuzu> l.

BAB II I POLEMIK ‘ILM AL-QUR’A< N DI MESIR KONTEMPORER Melengkapi gambaran umum dan kecenderungan karya-karya‘ulu> m

  Pembahasan ini akan mengacu pada sejumlah karya mutakhir mengenai dua isu dalam ilmu Al-Qur’an, yaitu nasakh dan kisah dalam Al-Qur’an. Tulisan ini hanya mengulasbeberapa poin krusial yang terus diperdebatkan kaitannya dengan isu nasakh dan kisah dalam Al-Qur’an.

A. Nasakh dalam Al-Qur’an

  Ini misalnya tampak dari pernyataan ulama, “Hanya orang yang mengetahui seluk-beluk na> sikh-mansu> kh yang103 boleh menafsirkan Al-Qur’an,” atau perkataan Sayyidina> ‘Ali> pada103 Tidak ada penjelasan siapa ulama yang dimaksud dalam kutipan ini, karena (hampir) semua karya yang mengulas pembahasan yang sama tidak menjelaskan ulama mansu> kh?” “Tidak,” jawab sang hakim. Sebagaimana Dari pembacaan penulis terhadap sejumlah karya yang berkembang diMesir saat ini, wilayah polemik berada tidak saja pada pengertian dan argumentasi konseptual nasakh, tetapi juga pada keberadaan dan posisi teksAl-Qur’an yang dianggap azali dan kekal.

B. Kisah dalam Al-Qur’an

  15-17; Mu> sa> Sya> hi> n La> syi> n memilahmacam kisah dalam Al-Qur’an hanya pada dua model: kisah yang terkait dengan para nabi Kedua, kisah masyarakat terdahulu kaitannya dengan Islam, seperti kisah penghuni gua (as}ha> b al-kahf); kisah Z|u> al-Qarnain, kisah Ya’ju> j danMa’ju> j; kisah ‘Uzair dan penghuni kebun, kisah Qa> ru> n dan lumbung hartanya; kisah Qa> bil dan Ha> bil, dll. Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas dibumi (Mesir) itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi), dan akankami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi dan akan kami perlihatkan kepada Firaun dan Hama> n beserta tentaranya apa yangselalu mereka khawatirkan dari mereka itu.

h, A l-Fann al-Qas}as}i> , h. 20

  Kalau faktualitas yang dituju, tentu Al-Qur’an tidakperlu mengulang-ulang kisah itu dan cukup disebutkan sekali secara 158 mendetail. Hal lain yang dapat menguatkan bahwa kisah dalam Al-Qur’anbukan fakta sejarah adalah materi kisah dan akurasinya.

h, A l-Fann al-Qas}as}i> , h. 29

  Argumentasi bahwa kisah Al-Qur’an ‘bukan kitab sejarah’ dan oleh karena itu kisah-kisah itu tidak harus relevan dengan fakta sejarah, makaKhalafulla> h juga sampai pada kesimpulan bahwa di antara elemen kisah- kisah dalam Al-Qur’an adalah kisah-kisah yang diadapdatasi dari mitos-mitos orang terdahulu (asa> t}i> r al-awwali> n). Setiap apa yang diungkap Al-Qur’an menyangkut mitos, bahwa Al-Qur’an sendiri tidak menegaskan penolakan diri159 keberadaan mitos-mitos dalam Al-Qur’an.

h, A l-Fann al-Qas}as}i> , h. 34

  Terkait dengan kelompok kedua ini, ada ada dua konsekuensi sikap, 1) Mereka akan membenarkanargumen-argumen historis yang ada dalam Al-Qur’an, atau 2) Menolak sikap mereka yang membenarkan argumen historis dalam Al-Qur’an dengan dalih metode historis dan seniyang digunakannya. Menurut al-Khu> li, apa yang dilakukan Khalafulla> hadalah menjelaskan bahwa Al-Qur’an adalah kitab sastra terbesar yang mengandung kemukjizatan dalam penuturannya, dan kisah dalam Al-Qur’anadalah bagian dari corak yang pilih Al-Qur’an untuk menyampaikan 176 pesannya.

BAB IV MEMPEREBUTKAN MAKNA: ISU-ISU POLEMIS DAN KEPENTINGAN IDEOLOGIS A. Politik Interpretasi: Jalinan Gagasan dan Kepentingan Dalam bab sebelumnya telah dijabarkan corak dan kecenderungan

  Pada saat yang sama, kelompok yang menolak keberadaan nasakh dalam Al-Qur’an menggunakan argumentasi normatif yang sama denganmengacu pada ayat dan surah yang sama dalam Al-Qur’an. 44192 Hadis ini diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-nya (hadis nomor 1623), al-Tirmiz\i> dalam Sunan-nya (hadis nomor 974), al-Nasa> ’i dalam Sunan-nya (hadis nomor 2005, 4353, 5558, 5559), Abu> Daud dalam Sunan-nya (hadis nomor 2816 dan 3212), IbnMa> jah dalam S unan-nya (hadis nomor 1560), Ah}mad ibn Hanbal dalam Musnad-nya (hadis Ketiga, tidak ada nash sahih dari Rasulullah yang menerangkan bahwa ayat “A” menasakh ayat “B”.

b, 1993), h.145

  Perdebatan serupa dengan argumendan landasan yang sama juga terjadi antara kalangan yang menganggap bahwa kisah dalam Al-Qur’an merupakan fakta sejarah yang bisa diujifaktualitasnya dengan kelompok yang menganggap bahwa kisah Al-Qur’an hanyalah cara Allah untuk menyampaikan pesan, tanpa peduli apakah kisahitu didasarkan pada fakta sejarah atau hanya imajinasi semata. Kasus serupa juga menimpa Nas}r H{a> mid Abu> Zayd yang gelar guru besarnya dalam bidang sastra dicekallantaran risalahnya mengkaji sosok al-Sya> fi‘i yang semestinya dikaji oleh orang yang Otoritarianisme manusia dengan dalih otoritas akademis inilah yang kerap menjadi penghalang terbukanya medan makna yang demikian luas danberagam.

Dokumen baru

Aktifitas terkini

Download (172 Halaman)
Gratis

Tags

Isu Isu Kontemporer Dalam Logistik Perik Isu Isu Kontemporer Dalam Jabatan Gerejawi Silabus Isu Isu Kontemporer Pend Isu Isu Kontemporer Manusia Indonesia Isu Isu Krusial Kontemporer Administrasi Publik Isu Isu Kontemporer Kekerasan Seksual Pada Anak Di Indonesia Isu Isu Pendidikan Di Indonesia Isu Isu Dalam Psikologi Klinis Isu Global Kontemporer Tentang Perempuan Khatam Al Qur An Isu Isu Pelaksanaannya
Show more

Dokumen yang terkait

Pesan Dakwah dalam Film 99 Cahaya di Langit Eropa (Studi Semiotika terhadap Film Karya Guntur Soeharjanto)
1
1
29
Metodologi al-Istifāḍah (kemasyhuran) dan al-Tasāhul (kelonggaran) dalam Kitab Barzanji
0
0
17
Preferensi Mahasiswa terhadap Kajian Keislaman di IAIN Surakarta (Analisis Konjoin terhadap Mata Kuliah Keislaman pada Mata Kuliah Wajib Institut IAIN Surakarta)
0
0
21
Sinkretisme Agama dan Budaya dalam Tradisi Sesajen di Desa Prenduan
0
0
16
4.1 Implikasi Perkembangan Dunia Cyber - Peraturan dan Regulasi di berbagai negara
0
0
21
Hardware dan Software yang Dibutuhkan untuk membuat Program dalam Bahasa JAVA
0
0
47
Memasuki dunia di balik nikmatnya main game
0
0
46
SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN UNTUK PENINGKATAN DAYA SAING PERUSAHAAN (Studi Kasus di Restoran X)
0
0
6
Analisis Resiko Kerja Pada Proses Start Up Boiler-Turbin Unit 1 Dengan Metode Enterprise Risk Management di PT X
0
0
6
hektar, berisi pohon-pohon yang tingginya lebih dari 5 meter, dengan tutupankanopi lebih dari 10 persen; atau pohon yang mampu mencapai ambang in situ. Tidak termasuk kawasan yang didominasi pertanian atau di bawah tata ruang perkotaan. (Catatan: Rincian
0
0
12
a. Peramalan - Aplikasi EOQ dalam Pengendalian dan Penghematan Persediaan Bahan Bakar
1
0
9
Sistem Pendukung Keputusan Untuk Menentukan Program Keahlian di SMK Syubbanul Wathon Magelang
0
0
6
M. Thohar al Abza KONTEKSTUALITAS AL QUR
0
0
202
Syamsuni Isra'iliyyat dan Penafsiran Bias Jender [Kajian tentang Isu Penciptaan perempuan dalam Tafsir al Thabari]
0
1
198
Abdul Aziz Muchammad Syariah dan Tafsir al Quran Elaborasi Maqashid dlm Tafsir Ibn Asyur
0
0
194
Show more