Formulasi sediaan sunscreen ekstrak rimpang kunir putih [Curcuma mangga Val.] dengan carbopol 940 sebagai gelling agent dan propilen glikol sebagai humectant - USD Repository

Gratis

0
0
107
4 months ago
Preview
Full text

  

FORMULASI SEDIAAN SUNSCREEN EKSTRAK RIMPANG KUNIR

PUTIH (Curcuma mangga Val.) DENGAN CARBOPOL ® 940 SEBAGAI

  

GELLING AGENT DAN PROPILEN GLIKOL SEBAGAI HUMECTANT

SKRIPSI

  Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm.)

  Program Studi Ilmu Farmasi Oleh:

  Tirza Ixora Veasilia NIM : 038114091

  

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

2007

HALAMAN PERSEMBAHAN

  

Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia

memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia

tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari

awal sampai akhir (Pengkotbah 3:11)

  

Faith is to believe what you do not yet see; the reward for this

faith is to see what you believe – Saint Augustine

Everyday is a wonderful opportunity to care, to love, to

smile, to pray, and to thank for the blessing - NN

  

Kupersembahkan karya ini untuk:

My beloved GOD and my Saviour Jesus Christ

Mama & Papa buat dukungan, kesabaran & doa yang selalu ada

dalam tiap langkahku

  

Friends, Best Friends & True Friend for being my inspiration

Chemistry 2003 buat persahabatan yang berharga

Almamaterku tercinta

KATA PENGANTAR

  Puji dan syukur senantiasa penulis haturkan kepada Tuhan Yesus Kristus atas kasih dan pertolongan-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan akhir yang berjudul Formulasi Sediaan Sunscreen Ekstrak Rimpang Kunir Putih

  (Curcuma mangga Val.) dengan Carbopol ® 940 sebagai Gelling Agent dan

Propilen Glikol sebagai Humectant. Skripsi ini disusun guna memenuhi salah satu

syarat memperoleh gelar Sarjana Strata Satu Program Studi Ilmu Farmasi (S.Farm).

  Dalam penyelesaian penelitian ini, penulis banyak mendapatkan bantuan dan dukungan dari berbagai pihak, baik bimbingan, dorongan, kritik maupun saran.

  Pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:

  1. Rita Suhadi, M.Si., Apt., selaku Dekan Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

  2. Sri Hartati Yuliani, M.Si., Apt., selaku dosen pembimbing yang telah memberikan bimbingan, pengarahan dan saran dalam penyelesaian skripsi ini.

  3. Rini Dwiastuti, S.Farm., Apt., selaku dosen penguji yang telah memberikan kritik dan sarannya.

  4. Dra. A. Nora Iska Harnita, M.Si., Apt., selaku dosen penguji atas masukan, kritik, kepedulian dan sarannya.

  5. Ign. Y. Kristio Budiasmoro, M.Si., atas diskusi, masukan, kepedulian dan saran dalam penyelesaian skripsi ini.

  6. Prof. Dr. Sudibyo Martono, M.S., Apt., atas diskusi, bantuan, masukan, kepedulian dan saran dalam penyelesaian skripsi ini.

  7. Yohanes Dwiatmaka, M.Si., atas diskusi dan masukan dalam penyelesaian skripsi ini.

  8. Dewi Setyaningsih, S.Si., Apt., atas dukungan, masukan dan semangat dalam proses penyelesaian skripsi ini.

  9. Sunscreen team, Eva dan Renny untuk doa, kesetiaan, dukungan, pengorbanan, semangat, kepercayaan, dan persahabatan yang luar biasa.

  10. Staf Laboratorium: Pak Musrifin, Mas Wagiran, Mas Agung, Mas Iswandi, Mas Otto, Mas Heru, dan Mas Andri atas bantuan dan kerjasamanya.

  11. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu untuk semua dukungan dan bantuan dalam menyelesaikan skripsi ini.

  Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih banyak kekurangan dan kelemahan. Harapan penulis skripsi ini dapat berguna dan bermanfaat bagi pembaca semua.

  Penulis

  

Intisari

  Dilakukan penelitian tentang optimasi formula gel sunscreen ekstrak rimpang kunir putih (Curcuma mangga Val.) dengan carbopol sebagai gelling agent dan propilen glikol sebagai humectant. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh komposisi optimum dari gelling agent dan humectant.

  Penelitian ini termasuk dalam rancangan eksperimental murni dengan variabel eksperimental ganda (desain faktorial). Tiap formula diuji untuk mengetahui respon daya sebar, viskositas dan pergeseran viskositas. Analisis hasil menggunakan perhitungan desain faktorial, grafik hubungan respon-carbopol dan respon-propilen glikol serta analisis Yate’s treatment untuk menentukan faktor dominan dalam menentukan respon gel. Uji efektivitas ekstrak rimpang kunir putih terhadap radiasi sinar ultraviolet (UV) dilakukan dengan uji SPF (Sun Pretection Factor) secara in

  

vitro . Optimasi komposisi formula gel sunscreen menggunakan persamaan desain

  faktorial dan grafik contour plot dengan variasi jenis dan level gelling agent dan yang digunakan. Optimasi dilakukan terhadap parameter sifat fisis gel dan

  humectant stabilitas sediaan dalam penyimpanan.

  Dari penelitian ini diketahui bahwa carbopol adalah faktor yang paling dominan dalam menentukan daya sebar dan viskositas gel. Interaksi antara carbopol dengan propilen glikol merupakan faktor yang paling dominan dalam menentukan pergeseran viskositas (stabilitas) gel. Propilen glikol tidak memberikan pengaruh yang bermakan secara statistik terhadap ketiga respon. Ditemukan area optimum berdasarkan contour plot superimposed yang meliputi daya sebar, viskositas, dan stabilitas gel level yang diteliti. Daya sebar optimal berkisar pada penyebaran kurang dari sama dengan 5 cm. Viskositas optimal berkisar antara 250 dPa.s sampai 260 dPa.s. Stabilitas gel ditunjukkan dengan pergeseran viskositas kurang dari 5%. Kata kunci: ekstrak rimpang kunir putih, sunscreen, carbopol, propilen glikol, desain faktorial

  

Abstract

  The research about optimizing Curcuma mangga rhizome extract sunscreen gel formula with carbopol as gelling agent and propylene glycol as humectant. Purpose of this research is to achieved optimum composition from gelling agent and humectant.

  This research including in pure experimental design with double experimental variable (factorial design). Every formula is tested to know spreadability, viscosity, and alteration of viscosity response. Analysis result using factorial design, relation response-carbopol curve and response-propylene glycol curve and also Yate’s treatment analysis with

  α 95% to determine dominant factor in response gel. Effectivity test Curcuma mangga rhizome extract for UV radiation is done with in vitro SPF test. Optimizing sunscreen gel formula composition using factorial design and contour plot curve with level of variation gelling agent and humectant. Optimizing is done for physical parameter and preparation stability in storage

  From this research, could be explained that carbopol is the most dominant factor in determining spreadability and viscosity gel. Interaction between carbopol and propylene glycol is the most dominant factor in determining alteration of viscosity (stability) of gel. Propylene glycol doesn’t has significance influence for all response. Optimum area of sunscreen gel formula based on contour plot superimposed including spreadability, viscosity, and stability at the researched level has been found. Optimum spreadability approximately less than 5 cm. Optimum viscosity lies between 250 dPa.s until 260 dPa.s.

  Key Word: Curcuma mangga rhizome extract, sunscreen, carbopol, propylene glycol, factorial design.

  

DAFTAR ISI

  5

  8

  7

  7

  C. Ekstrak .......................................................................................

  B. Kurkumin ....................................................................................

  Kunir Putih ..................................................................................

  A.

  6 BAB II. PENELAAHAN PUSTAKA ...............................................................

  6

  5

  1

  HALAMAN SAMPUL ....................................................................................... i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ................................................. ii HALAMAN PENGESAHAN ............................................................................ iii HALAMAN PERSEMBAHAN ......................................................................... iv KATA PENGANTAR ........................................................................................ v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ............................................................. vii

  1

  Tujuan Penelitian ........................................................................

  E.

  D. Manfaat Penelitian ......................................................................

  C. Keaslian Karya ............................................................................

  Perumusan Masalah ....................................................................

  B.

  A. Latar Belakang ............................................................................

  DAFTAR ISI ...................................................................................................... x DAFTAR TABEL .............................................................................................. xiii DAFTAR GAMBAR .......................................................................................... xiv DAFTAR LAMPIRAN ...................................................................................... xv BAB I. PENGANTAR .....................................................................................

  

ABSTRACT ......................................................................................................... ix

  INTISARI ........................................................................................................... viii

  9

  D.

  10 Gel ...............................................................................................

  E.

  10 Gelling Agent ..............................................................................

  F. Humectant ...................................................................................

  11 G.

  12 Sunscreen ....................................................................................

  H. Radiasi UV ..................................................................................

  15 I. Spektrofotometri UV ...................................................................

  18 J. Iritasi Primer ...............................................................................

  19 K. Metode Desain Faktorial .............................................................

  19 L.

  22 Landasan Teori ............................................................................ M. Hipotesis ......................................................................................

  24 BAB III. METODOLOGI PENELITIAN ..........................................................

  25 A. Jenis Rancangan Penelitian .........................................................

  25 B. Variabel dan Definisi Operasional ..............................................

  25 1.

  25 Variabel penelitian ..................................................................

  2. Definisi operasional ................................................................

  26 C.

  27 Bahan dan Alat ............................................................................

  D. Tata Cara Penelitian ....................................................................

  28

  1. Pengumpulan dan penyiapan simplisia rimpang kunir putih ........................................................................................

  28 2. Pembuatan serbuk rimpang kunir putih ..................................

  28 3.

  28 Pembuatan ekstrak rimpang kunir putih .................................

  4. Uji SPF ....................................................................................

  29

  5. Penetapan kadar kurkumin dalam ekstrak rimpang kunir putih

  secara spektrofotometri ...........................................................

  30 6.

  31 Optimasi proses pembuatan gel ..............................................

  7. Uji sifat fisis dan stabilitas gel sunscreen ekstrak rimpang kunir putih ...............................................................................

  32 8. Uji iritasi primer ......................................................................

  33 E.

  34 Analisis Data dan Optimasi .........................................................

  BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ..........................................................

  35 A. Pembuatan Ekstrak Rimpang Kunir Putih ..................................

  35 B.

  37 Uji SPF ........................................................................................

  C. Penetapan Kadar Kurkumin dalam Ekstrak Rimpang Kunir Putih ............................................................................................

  40 D. Sifat Fisik dan Stabilitas .............................................................

  42 1. Daya sebar ...............................................................................

  45 2.

  47 Viskositas ................................................................................

  3. Pergeseran viskositas ..............................................................

  50 E.

  53 Uji Iritasi Primer Ekstrak Rimpang Kunir Putih .........................

  F. Optimasi Formula .......................................................................

  54 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ..........................................................

  60 A.

  60 Kesimpulan .................................................................................

  B. Saran ............................................................................................

  60 DAFTAR PUSTAKA .........................................................................................

  61 LAMPIRAN .......................................................................................................

  66 BIOGRAFI PENULIS ........................................................................................

  92

  

DAFTAR TABEL

  Tabel I Formula Desain Faktorial ................................................................ 32 Tabel II Evaluasi Reaksi Iritasi Kulit ............................................................ 33 Tabel III Kriteria Iritasi .................................................................................. 34 Tabel IV Hasil Pengukuran Sifat Fisik Gel .................................................... 43 Tabel V Efek Penentu Sifat Fisik Gel ........................................................... 44 Tabel VI Analisis Yate’s Treatment untuk Respon Daya Sebar Gel .............. 47 Tabel VII Analisis Yate’s Treatment untuk Respon Viskositas Gel ................ 49 Tabel VIII Analisis Yate’s Treatment untuk Respon Pergeseran Viskositas Gel ...................................................................................................

  52 Tabel IX Skor Indeks Iritasi Hasil Percobaan ................................................ 53

  

DAFTAR GAMBAR

  Gambar 1. Struktur Kurkumin .................................................................... 9 Gambar 2. Struktur Umum Carbopol ..........................................................

  11 Gambar 3. Struktur Propilen Glikol ............................................................ 12 Gambar 4.

  Scanning

  Panjang Gelombang Ekstrak Rimpang Kunir Putih ...........................................................................................

  39 Gambar 5. Scanning Panjang Gelombang Larutan Kurkuminoid Standar .......................................................................................

  41 Gambar 6. Ikatan terkonjugasi (kromofor) dan gugus auksokrom pada struktur kurkumin .......................................................................

  42 Gambar 7. Hubungan Pengaruh Larutan Carbopol 3% b/v dan Propilen Glikol Terhadap Daya Sebar .....................................................

  46 Gambar 8. Hubungan Pengaruh Larutan Carbopol 3% b/v dan Propilen Glikol Terhadap Viskositas .......................................................

  48 Gambar 9. Hubungan Pengaruh Larutan Carbopol 3% b/v dan Propilen Glikol Terhadap Pergeseran Viskositas ....................................

  51 Gambar 10. Contour Plot Daya Sebar Gel ................................................... 55 Gambar 11. Contour Plot Viskositas Gel ..................................................... 56 Gambar 12. Contour Plot Pergeseran Viskositas Gel ...................................

  57 Gambar 13. Contour Plot Superimposed ...................................................... 59

  

DAFTAR LAMPIRAN

  Lampiran 1. Uji SPF .................................................................................... 66 Lampiran 2. Penetapan Kadar Kurkumin dalam Ekstrak Rimpang Kunir Putih Secara Spektrofotometri ................................................

  69 Lampiran

  3. Data Penimbangan, Notasi dan Formula Desain Faktorial ..................................................................................

  72 Lampiran 4. Data Sifat Fisik dan Stabilitas Gel .......................................... 73 Lampiran 5. Data Uji Iritasi Primer .............................................................

  75 Lampiran 6. Perhitungan Efek Sifat Fisik dan Stabilitas ............................ 77 Lampiran 7. Persamaan Regresi .................................................................. 79 Lampiran 8. Data ANOVA Yate’s Treatment ............................................. 84 Lampiran 9. Foto Tanaman, Rimpang, Serbuk dan Ekstrak Rimpang Kunir Putih ..............................................................................

  88 Lampiran 10. Foto Perkolator dan Spektrofotometer ....................................

  89 Lampiran 11. Foto Gel Sunscreen Ekstrak Rimpang Kunir Putih ................ 90 Lampiran 12. Foto Uji Iritasi Primer ............................................................. 91

BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Kehidupan manusia tidak pernah terlepas dari radiasi sinar ultraviolet (sinar UV). Sinar UV selalu ada meskipun matahari tidak bersinar atau cuaca berawan. Pada hari berawan, lebih dari 80% sinar UV mampu menembus atmosfer. Sinar UV

  juga dapat dipantulkan oleh permukaan kaca, air, tanah, permukaan metal, dinding berwarna terang, dan benda-benda berwarna terang lainnya (Anonim, 2004a).

  Radiasi UV merupakan bagian dari spektra elektromagnetik yang terletak antara sinar-X (X rays) dan sinar tampak, yaitu antara 40-400 nm. Spektra UV dibagi menjadi Vacuum UV (40-190 nm), UV jauh (190-220 nm), UVC (220-290 nm), UVB (290-320 nm), dan UVA (320-400 nm) (Zeman, 2007). Badan kesehatan dunia (WHO) membagi spektra UV menjadi UVC (200-290 nm), UVB (290-320 nm) dan UVA (320-400 nm), didasarkan pada efek biologis yang ditimbulkan masing-masing panjang gelombang (Lucas, McMichael, Smith, & Armstrong, 2006). UVC hampir tidak ditemukan di alam karena diabsorbsi seluruhnya oleh ozon di atmosfer dan memiliki panjang gelombang yang pendek (Zeman, 2007). Sekitar 90% UVB tertahan oleh lapisan ozon (Lucas et al., 2006). Akan tetapi pemanasan global yang terjadi menyebabkan penipisan lapisan ozon, sehingga radiasi UVB yang mencapai bumi semakin meningkat. UVA dengan panjang gelombang yang lebih besar merupakan tipe sinar UV yang paling banyak dijumpai di alam karena hanya diabsorbsi dengan jumlah yang sangat sedikit oleh lapisan ozon (Anonim, 2007c ; Anonim, 2006d ; Zeman, 2007).

  Sinar UV bermanfaat untuk meningkatkan aliran darah di kulit, membantu perubahan provitamin menjadi vitamin D, dan membantu mengaktifkan vitamin, hormon, dan enzim (Jellinek, 1970). Efek sinar UV pada kesehatan manusia tergantung dari jumlah dan jenis radiasi yang mengenai tubuh (Lucas et al., 2006).

  UVA dibutuhkan manusia untuk sintesis vitamin D. Paparan UVA berlebihan mempunyai efek awal yaitu pigmen semakin gelap (pigment darkening) diikuti oleh eritema jika paparan terus berlanjut, penekanan sistem imun, dan pembentukan katarak (Zeman, 2007). UVB juga dibutuhkan manusia untuk sintesis vitamin D.

  UVB merupakan bentuk radiasi UV yang paling merusak karena memiliki energi yang cukup untuk menyebabkan kerusakan fotokimia DNA seluler. Efek berbahaya dari UVB antara lain sunburn (eritema), katarak, pembentukan kanker kulit, dan penekanan sistem imun pada paparan jangka panjang (Anonim, 2006d). Oleh karena itu dibutuhkan perlindungan untuk mencegah kerusakan akibat radiasi sinar UV tersebut. Salah satunya adalah dengan penggunaan sunscreen. Pada umumnya

  sunscreen diaplikasikan dengan mengoleskannya pada permukaan kulit.

  Sunscreen adalah senyawa kimia yang mengabsorbsi dan atau memantulkan

  sinar UV sebelum mencapai kulit. Biasanya sunscreen merupakan kombinasi dari dua atau lebih zat aktif. Jika hanya digunakan satu zat aktif, sunscreen tersebut hanya mampu mengabsorbsi energi UV pada spektrum yang terbatas (Stanfield, 2003). Pada umumnya produk sunscreen yang beredar dipasaran mengandung bahan aktif berupa zat sintetik. Contoh bahan aktif yang telah beredar di pasaran antara lain octyl methoxycinnamate, octyl salicylate (UVB protection); Avobenzone (UVA protection); Octocrylene, titanium dioxide, zinc oxide (UVA/UVB protection) (Anonim, 2007b). Bahan aktif tersebut dapat bekerja baik sebagai UV absorber maupun UV reflectant. Pemilihan bahan aktif sebagai UV absorber didasarkan pada adanya ikatan rangkap terkonjugasi (kromofor) dan auksokrom. Pada struktur molekul zat sintetik tersebut yang berperan dalam penyerapan radiasi sinar UV adalah cincin aromatik yang terkonjugasi oleh gugus karbonil (Walters, Keeney, Wigal, Johnston, & Cornelius, 1997). Rimpang kunir putih mengandung senyawa antara lain flavonoid, kurkumin, saponin, minyak atsiri (Hutapea, 1993 ; Anonim, 2004b). Senyawa yang diduga bertanggung jawab pada penyerapan sinar UV adalah kurkumin. Adanya ikatan rangkap terkonjugasi (kromofor) dan cincin aromatik yang terkonjugasi oleh gugus karbonil dan gugus hidroksi menyebabkan kurkumin mampu mengabsorbsi radiasi sinar UV. Pemilihan bahan alam, dalam hal ini Curcuma

  

mangga , didasarkan pada kemampuan kandungan tanaman (pigmen) mengabsorbsi

  sejumlah besar radiasi UV yang akan merusak sel dan mengganggu metabolisme tanaman. Dengan demikian dapat diasumsikan bahwa bahan alam tersebut juga dapat melindungi kulit manusia terhadap radiasi UV, baik UVA maupun UVB (Muller, 1996).

  Bentuk sediaan sunscreen yang sudah dikembangkan umumnya berupa

  

cream maupun lotion. Namun kedua bentuk sediaan ini memiliki kelemahan antara

  lain kurang nyaman dalam penggunaanya pada kulit. Cream merupakan bentuk sediaan semi padat yang terdiri dari dua fase, yaitu fase minyak dan fase air.

  Kandungan minyak dalam cream menjadi masalah pada orang dengan produksi kelenjar sebasea berlebihan karena dapat merangsang timbulnya jerawat. Lotion mempunyai viskositas yang terlalu encer sehingga tidak dapat bertahan lama pada kulit. Hal ini akan mengurangi daya perlindungan dari sunscreen tersebut. Oleh karena itu perlu dikembangkan bentuk sediaan lain yang mempunyai sifat fisis lebih baik dan nyaman dalam penggunaannya.

  Penelitian ini merupakan salah satu usaha untuk memberikan inovasi baru bentuk sediaan sunscreen selain yang sudah banyak beredar dipasaran. Gel sebagai

  

sunscreen merupakan bentuk sediaan yang belum banyak beredar di pasaran (Allen

  Jr., 2002). Dalam penelitian ini digunakan carbopol sebagai gelling agent dan propilen glikol sebagai humectant dalam formula gel sunscreen dengan berbagai tingkat konsentrasi, untuk mendapatkan sediaan yang mempunyai sifat fisik baik dan mampu mempertahankan efektifitas pemakaian dalam jangka waktu yang lama.

  Carbopol sebagai gelling agent bekerja dengan menjerat air dan menahannya dalam struktur 3 dimensi “house of cards”. Pemilihan carbopol sebagai gelling agent juga dikarenakan kemampuannya membentuk lapisan film pada permukaan kulit dan stabil terhadap radiasi sinar UV jika ditambahkan UV absorber. Propilen glikol sebagai humectant berfungsi menjaga kelembaban kulit dengan menahan air yang ada dalam stratum corneum. Propilen glikol bersifat higroskopis sehingga dapat berfungsi mencegah penguapan berlebih dari sediaan. Penambahan propilen glikol sebagai humectant dalam sediaan sunscreen juga berfungsi untuk mencegah kerutan pada kulit dan efek merugikan lain dari paparan sinar UV jangka panjang. Dengan demikian sunscreen dapat berfungsi untuk mencegah penuaan dini (Johnson, 2002).

  

Sunscreen yang dihasilkan diharapkan memenuhi parameter kualitas fisik sediaan gel yang meliputi daya sebar, viskositas, stabilitas fisis maupun efektivitas dan keamanannya sebagai sunscreen.

  B.

  

Perumusan masalah

  1. Apakah ekstrak rimpang kunir putih memberikan serapan pada range panjang gelombang UVA dan UVB?

  2. Apakah ditemukan area komposisi optimum yang diprediksi sebagai formula optimum gel serta efek yang dominan dari carbopol sebagai gelling agent dan propilen glikol sebagai humectant dalam menentukan sifat fisik gel? C.

  

Keaslian Penelitian

  Sejauh penelusuran pustaka yang dilakukan penulis, penelitian tentang formulasi sediaan sunscreen ekstrak rimpang kunir putih (Curcuma mangga Val.) dengan carbopol sebagai gelling agent dan propilen glikol sebagai humectant belum pernah dilakukan.

  Adapun penelitian yang berhubungan dan pernah dilakukan yaitu “Cross-

  

regulin composition of turmeric-derived tetrahydrocurcuminoids (THC) for skin

lightening and protection against UVB rays ” tentang kemampuan kurkuminoid dan

  THC dalam menghambat aktivitas enzim tyrosinase, melindungi kulit terhadap radiasi UVB serta terhadap iritasi kimia, fisika dan biologi (Badmaev, 2003).

  D.

  

Manfaat Penelitian

1. Manfaat teoritis

  Menambah khasanah ilmu pengetahuan bentuk sediaan sunscreen yang berasal dari bahan alam.

2. Manfaat praktis

  Mengetahui serapan ekstrak rimpang kunir putih pada range panjang gelombang UVA-UVB, mengetahui efek dominan yang menentukan sifat fisik, dan mengetahui formula optimum berdasarkan contour plot superimposed sifat fisik gel.

  E.

  

Tujuan

  1. Mengetahui serapan ekstrak rimpang kunir putih pada range panjang gelombang UVA dan UVB.

  2. Mendapatkan formula sediaan sunscreen dengan zat aktif yang berasal dari bahan alam, yaitu ekstrak kunir putih (Curcuma mangga Val.).

  a. Mengetahui carbopol, propilen glikol atau interaksi keduanya sebagai gelling

  agent dan humectant yang lebih dominan dalam menentukan sifat fisik gel sunscreen kunir putih.

  b. Mengetahui area kerja optimal komposisi gelling agent carbopol dan humectant propilen glikol dari contour plot superimposed yang diprediksi sebagai formula optimum gel.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Kunir Putih 1. Sistematika Divisio : Spermatophyta Sub divisio : Angiospermae Classis : Monocotyledone Ordo : Zingiberales Familia : Zingiberaceae Genus : Curcuma Spesies : Curcuma mangga Val.

  (Hutapea, 1993) 2.

   Morfologi

  Kunir putih berupa semak dengan tinggi 1-2 meter. Berbatang semu, tegak, lunak, berwarna hijau, dan batang di dalam tanah membentuk rimpang. Daun tunggal, berpelepah, lonjong, tepi rata, ujung dan pangkal meruncing, panjang ± 1 m, lebar 10-20 cm, pertulangan menyirip, dan berwarna hijau. Bunga majemuk di ketiak daun, bentuk tabung, ujung terbelah, benang sari menempel pada mahkota, berwarna putih; putik silindris, kepala putik bulat berwarna kuning; mahkota lonjong berwarna putih. Buah berbentuk kotak-bulat berwarna hijau kekuningan. Biji berbentuk bulat berwarna coklat. Berakar serabut berwarna putih (Hutapea,

  3. Kandungan kimia

  Rimpang kunir putih mengandung saponin, flavonoid (Hutapea, 1993) serta beberapa senyawa antara lain golongan alkaloid, steroid, terpen dan minyak atsiri, juga mengandung senyawa aktif seskuiterpenalkohol yang terdiri dari zederon, zedoaron, furanodien, curzeron, currenon, furanodienon, isofuranodienon,

  

curdion , curcumenol, procurcumenol, curcumadiol, curcumol, dhydrocurdion, dan

curcumin (Anonim, 2004b). Selain itu rimpang kunir putih juga mengandung

  tanin, amilum, damar dan gula (Mulhizah, 1999 ; Gunawan, Soegihardjo, Mulyani, Koensoemardiyah, 1988).

  4. Kegunaan

  Rimpang kunir putih digunakan sebagai obat penyakit kulit, luka memar, penawar racun (Sayekti & Ernita, 1994 ; Muhlizah, 1999). Selain itu, rimpang kunir putih juga berkhasiat sebagai anti kanker, penurun kadar kolesterol darah, asam urat, dan pencegahan osteoporosis (Anonim, 2003).

  B.

  

Kurkumin

  Kurkumin adalah komponen warna kuning dari turmeric. Strukturnya yang rigid dan planar (adanya sistem konjugasi) membuat afinitas kurkumin terhadap lipid

  

bilayer menjadi besar, dan juga bertanggung jawab terhadap warna kuning yang ada

  (Nakayama, 1997). Kurkumin dapat mengabsorbsi sinar UV yang memiliki panjang gelombang 290-320 nm (UVB). Selain itu, kurkumin juga dapat menghambat aktivitas enzim tyrosinase, yaitu enzim yang berperan dalam pembentukan pigmen kulit atau melanogenesis (Badmaev, Prakash & Majeed, 2005)

  

O O

O O HO OH

  

Gambar 1. Struktur Kurkumin (Heinrich, Barnes, Gibbons & Williamson, 2004)

  Kurkumin melindungi keratinosit dari kerusakan yang disebabkan oleh xantin oksidase dan dapat digunakan sebagai antioksidan pada sediaan topikal (Anonim, 2000a). Kurkumin mempunyai aktivitas sebagai antisiklooksigenase, antioedema, antilipoksigenase, antioksidan, dan antilipidperoksidasi, sehingga dapat digunakan sebagai obat anti radang (antinflamasi), antihepatotoksik (lever), ambien (wasir), anti alergi, asma, menghambat proses penuaan, dan juga sebagai anti kanker (Anonim, 2004b).

  C.

  

Ekstrak

  Ekstrak adalah sediaan kering, kental, atau cair dibuat dengan menyari nabati atau hewani menurut cara yang cocok, diluar pengaruh cahaya matahari langsung. Cairan penyari yang biasa digunakan adalah air, eter, atau campuran etanol-air (Anonim, 1979). Penyarian simplisia dengan air dapat dilakukan dengan infundasi, dekok, atau destilasi, sedangkan penyarian simplisia dengan pelarut organik dapat dilakukan dengan maserasi, perkolasi, dan sokhletasi (Silva, Lee, & Kinghorn, 1998).

  Ekstrak rimpang kunir putih adalah ekstrak yang diperoleh dari hasil perkolasi rimpang kunir putih (C. mangga Val.) menggunakan pelarut etanol 70%.

  D.

  

Gel

  Gel didefinisikan sebagai suatu sistem setengah padat yang terdiri dari suatu dispersi yang tersusun baik dari partikel anorganik yang kecil atau molekul organik yang besar dan saling diresapi cairan (Ansel, 1989).

  Gel digolongkan berdasarkan 2 sistem klasifikasi. Sistem klasifikasi pertama membagi gel kedalam inorganik dan organik. Inorganik gel pada umumnya berupa sistem 2 fase, sedangkan organik gel berupa sistem 1 fase. Klasifikasi yang kedua membagi gel kedalam hidrogel dan organogel. Hidrogel mengandung bahan- bahan yang terdispersi sebagai koloid atau larut dalam air, sedangkan organogel mengandung pelarut non aqueous sebagai fase kontinyu (Allen Jr., 2002 ; Zatz & Kushla, 1996).

  Gel merupakan sistem penghantaran obat yang sangat baik untuk cara pemberian yang beragam dan kompatibel dengan banyak bahan obat yang berbeda (Allen Jr., 2002). Gel harus menunjukkan perubahan viskositas yang kecil pada berbagai temperatur, baik saat penyimpanan maupun penggunaan. Gel dengan tujuan penggunaan topikal tidak boleh lengket (less greassy) (Zatz & Kushla, 1996).

  E.

  

Gelling Agent

  Carbopol (carbomer) adalah polimer sintetik asam akrilat, berupa serbuk putih dengan bau yang khas, sangat mudah terion, sedikit asam, tidak larut dalam air dan sebagian besar pelarut, serta bersifat higroskopis. Dalam bentuk netral, carbopol larut dalam air, alkohol, dan gliserin serta akan membentuk gel yang jernih dan stabil. Pada larutan asam (pH 3,5-4,0) dispersi carbopol menujukkan viskositas yang rendah hingga sedang dan pada pH 5,0-10,0 akan menunjukkan viskositas yang optimal (Anonim, 2001).

  H

  2 H C C COOH n

  

Gambar 2. Struktur Umum Carbopol (Anonim, 2001)

Carbopol berfungsi sebagai pengental, surfaktan, stabilizer, dan emulsifier.

  Dalam sediaan kosmetik carbopol digunakan dalam bentuk netral pada pH 6,0-9,0, dengan konsentrasi dibawah 1,0%. Carbopol mengalami degradasi oksidatif ketika terpapar sinar matahari. Reaksi degradasi tersebut dikatalisis oleh logam. Dengan penambahan UV absorbers akan mencegah depolimerisasi katalisis logam sehingga hilangnya viskositas dan stabilitas sediaan dapat dihindari. Carbopol tidak diabsorbsi oleh jaringan dan menunjukkan potensial iritasi primer yang rendah (Anonim, 2001 ; Anonim, 2006a).

  F.

  

Humectant

  Propilen glikol berupa cairan kental, jernih, tidak berwarna, rasa sedikit tajam, dan higroskopik. Karena sifatnya yang higroskopik, maka sebaiknya disimpan pada wadah yang tertutup rapat. Propilen glikol dapat campur dengan air, alkohol, aseton, dan kloroform. Juga dapat larut dalam eter dan dapat melarutkan minyak menguap, tetapi tidak dapat campur dengan minyak lemak (Anonim, 1995 ; Windholz, 1976).

  OH HO

Gambar 3. Struktur Propilen Glikol (Anonim, 1995)

Fungsi propilen glikol adalah sebagai humectant, pelarut, dan plasticizer.

  Fungsi lain propilen glikol adalah sebagai pengawet pada konsentrasi 15-30%,

  

hygroscopic agent , desinfektan, stabilizer vitamin, dan pelarut pengganti yang dapat

  campur dengan air, misal pengganti gliserin (Anonim, 1983 ; Anger, Rupp, & Lo, 1996).

  Propilen glikol digunakan sebagai gelling agent pada konsetrasi 1%-5%, stabil pada pH 3-6 dan harus mengandung pengawet (Allen Jr., 2002). Propilen glikol merupakan bahan yang tidak berbahaya dan aman digunakan pada produk kosmetik dengan konsentrasi lebih dari 50% (Loden, 2001). Propilen glikol tidak menyebabkan iritasi lokal bila diaplikasikan pada membran mukosa, subkutan atau injeksi intramuskular, dan telah dilaporkan tidak terjadi reaksi hipersensitivitas pada 38% pemakai propilen glikol secara topikal (Anonim, 1983).

  G.

  

Sunscreen

  adalah senyawa kimia yang mengabsorbsi dan atau memantulkan

   Sunscreen

  sinar UV sebelum berhasil mencapai kulit. Biasanya sunscreen merupakan kombinasi dari dua atau lebih zat aktif. Jika hanya digunakan satu zat aktif,

  

sunscreen tersebut hanya mampu mengabsorbsi energi UV pada spektrum yang

terbatas (Stanfield, 2003).

  Kandungan penting dalam sunscreen biasanya berupa molekul aromatik terkonjugasi dengan gugus karbonil. Struktur seperti itulah yang membuat molekul dapat mengabsorbsi radiasi UV berenergi tinggi dan melepaskannya sebagai radiasi dengan energi yang lebih rendah. Dengan demikian radiasi UV yang dapat menyebabkan kerusakan kulit dapat dicegah agar tidak mencapai kulit. Saat terpapar sinar UV, zat aktif tersebut tidak mengalami perubahan kimia sehingga tetap mempunyai potensi sebagai UV absorber tanpa mengalami fotodegradasi (Anonim, 2007a). Sunscreen bekerja dengan 2 cara:

  1. Memantulkan sinar (light scattering). Mekanisme tersebut menyebabkan radiasi UV dipantulkan ke segala arah oleh permukaan kecil kristal dari beberapa pigmen.

  Prinsipnya adalah membentuk lapisan tipis buram pada permukaan kulit.

  2. Mekanisme lainnya adalah mengabsorbsi panjang gelombang pada range UVA dan UVB oleh suatu senyawa. Radiasi yang diabsorbsi kemudian dikeluarkan kembali sebagai panas oleh getaran deeksitasi pada keadaan eksitasi (Calder, 2005). Sunscreen mengabsorbsi radiasi UV dan mengalami eksitasi, kemudian secara cepat kembali ke keadaan dasar (ground state). Ketika berada pada ground

  state molekul dapat mengabsorbsi foton lain dan proses yang sama kembali

  terulang. Kemampuan molekul mengabsorbsi energi radiasi UV tergantung dari sistem konjugasinya (kromofor) serta jumlah dan jenis gugus fungsional yang ada, dalam hal ini auksokrom. Kromofor adalah molekul atau bagian dari molekul yang dapat mengabsorbsi energi UV kemudian mengubahnya menjadi energi panas (inframerah). Kromofor sunscreen biasanya tersubsitusi oleh gugus aromatik dengan derajat konjugasi yang tinggi. Sistem konjugasi merupakan sumber elektron π terdelokalisasi yang mengabsorbsi energi pada berbagai range panjang gelombang. Semakin panjang suatu sistem konjugasi, semakin banyak elektron

  π yang mengabsorbsi foton pada panjang gelombang yang lebih panjang. Semakin terkonjugasi suatu molekul, semakin besar panjang gelombang absorbsinya (Roberts, 2004).

  Kemanjuran suatu produk sunscreen dapat ditentukan dengan nilai SPF (Sun

  

Protection Factor ) yang tercantum pada label kemasan. Semakin besar nilai SPF,

  semakin besar pula perlindungan terhadap paparan radiasi UV yang dapat diberikan (Stacener, 2006). Walaupun demikian, SPF hanya mengukur efektivitas sunscreen terhadap paparan radiasi UVB. SPF merupakan perbandingan antara jumlah radiasi UV yang diperlukan untuk menghasilkan eritema (Minimal erythema dose = MED) pada kulit yang terlindungi dengan kulit yang tidak terlindungi sunscreen.

  MED in protected skin

  SPF =

  MED in non protected skin -

  (Walters et al., 1997) Disisi lain SPF menggambarkan besarnya radiasi UV yang diteruskan ke kulit. Nilai SPF berbanding terbalik dengan besarnya radiasi UV yang diteruskan (transmisikan) ke kulit.

  1 SPF = (Stanfield, 1993) T

  Beberapa produk sunscreen yang beredar di pasaran mengandung bahan aktif seperti ethylhexyl p-methoxycinnamate (Octinoxate), p-amino benzoic acid (PABA), octyl methoxycinnamate, octyl salicylate yang memberikan serapan pada range panjang gelombang UVB. Avobenzone, benzophenone, memberikan serapan pada range panjang gelombang UVA (Stanfield, 1993 ; Roberts, 2004). Ada juga senyawa yang dapat memberikan serapan pada panjang gelombang UVA maupun UVB seperti octocrylene, titanium dioxide, dan zinc oxide (Anonim, 2007b).

H. Radiasi UV

  Radiasi UV merupakan bagian dari spektra elektromagnetik yang terletak antara sinar-X (X rays) dan sinar tampak, yaitu antara 40-400 nm. Spektra UV dibagi menjadi Vacuum UV (40-190 nm), UV jauh (190-220 nm), UVC (220-290 nm), UVB (290-320 nm), dan UVA (320-400 nm) (Zeman, 2007). Badan kesehatan dunia (WHO) membagi spektra UV menjadi UVC (200-290 nm), UVB (290-320 nm), dan UVA (320-400 nm) (Lucas et al., 2006).

  Efek radiasi UV pada kesehatan manusia tergantung dari jumlah dan jenis radiasi yang mengenai tubuh. Efek tersebut juga dipengaruhi oleh konsentrasi ozon di atmosfer yang tersedia untuk mengabsorbsi radiasi UV, terutama UVB. Jumlah dan struktur spektra radiasi yang mencapai tubuh tergantung dari sudut dimana sinar matahari melewati atmosfer. Semakin dekat letak dengan equator (khatulistiwa), semakin intens radiasi UV yang mencapai tubuh, terutama sinar UV dengan panjang gelombang pendek. Semakin tinggi suatu tempat, intensitas radiasi UV akan semakin meningkat dengan menurunnya massa udara yang dilewati sinar matahari (Lucas et

  ., 2006).

  al

  UVC hampir tidak ditemukan di alam karena diabsorbsi seluruhnya di atmosfer. Pada manusia, UVC diabsorbsi pada lapisan sel epidermis paling luar (sel mati) (Zeman, 2007).

  UVB merupakan bentuk radiasi UV yang paling merusak karena memiliki energi yang cukup untuk menyebabkan kerusakan fotokimia DNA seluler dan hanya sekitar 90% UVB diabsorbsi ozon di atmosfer (Lucas et al., 2006). Namun pemanasan global yang terjadi menyebabkan penipisan lapisan ozon, sehingga radiasi UVB yang mencapai bumi semakin meningkat (Anonim, 2007c ; Anonim, 2006d). UVB hanya mampu mencapai epidermis yaitu lapisan kulit paling atas (Anonim, 2005). UVB dibutuhkan manusia untuk sintesis vitamin D. Efek berbahaya dari UVB antara lain sunburn (eritema), katarak, penurunan sintesis vitamin D pada paparan jangka pendek, pembentukan kanker kulit, dan penekanan sistem imun pada paparan jangka panjang (Anonim, 2006d; Zeman, 2007). Mekanisme UVB menginduksi pembentukan kanker: DNA mudah mengabsorbsi radiasi UVB yang akan menyebabkan kerusakan dan mendorong timbulnya kanker, seperti halnya pembentukan radikal bebas yang dapat merusak molekul dan struktur sel. Radikal bebas merupakan atom atau gugus atom yang mempunyai elektron tidak berpasangan. Kecuali dinetralkan dengan antioksidan, elektron tidak berpasangan pada radikal cenderung memindahkan atom hidrogen dari ikatan C–H pada basa pirimidin seperti urasil, timin, dan sistein. Pirimidin adalah cincin 6 heterosiklik dengan dua atom nitrogen yang terletak pada nomor 1 dan 3. Radiasi UV mendorong pembentukan ikatan kovalen antara residu timin pada rantai DNA, menghasilkan pirimidin dimer. Ikatan C–C pada cincin tersebut lebih pendek dibandingkan ikatan C–C pada cincin pirimidin normal. Hal tersebut menyebabkan DNA tidak mungkin untuk bereplikasi atau mengalami transkripsi. Jika tidak diatasi, dapat menyebabkan mutasi yang akan mendorong timbulnya kanker (Roberts, 2004).

  UVA merupakan tipe sinar UV yang paling sering dijumpai. UVA dengan panjang gelombang yang lebih besar hanya diabsorbsi dengan jumlah yang sangat sedikit oleh lapisan ozon UVA mampu mencapai dermis, yaitu lapisan kulit yang terletak di bawah epidermis. UVA dibutuhkan manusia untuk sintesis vitamin D.

  Akan tetapi, paparan berlebihan terhadap UVA mempunyai efek awal yaitu pigmen semakin gelap (pigmen darkening) diikuti oleh eritema jika paparan terus berlanjut, penekanan sistem imun, dan pembentukan katarak (Zeman, 2007). Paparan UVA jangka panjang menyebabkan kerusakan dan penciutan kolagen dan elastin yang terdapat pada lapisan dermis (Anonim, 2005).

  Radiasi UV dibutuhkan untuk merangsang sintesis vitamin D yang penting bagi kesehatan tulang dan otot. Kekurangan UV akan meningkatkan kemungkinan munculnya penyakit yang berhubungan dengan defisiensi vitamin D antara lain riketsia, osteomalasia dan osteoporosis. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa vitamin D juga mempunyai peranan penting dalam sistem imun. Kekurangan vitamin D dapat menyebabkan gangguan autoimun (Lucas et al., 2006).

  Radasi UV mempunyai efek sistemik dan efek lokal terhadap sel imun. Efek lokal radiasi UV yang utama adalah menghentikan respon sel imun kepada sel abnormal yang jika hal itu terjadi akan mendorong pembentukan kanker kulit, sedangkan efek sistemik pada sel imun adalah dengan menekan respon imun dari sel Th-1. Dengan tidak adanya respon pada sel Th-1, akan mendorong munculnya gangguan autoimun (autoimmune disorders) seperti multiple sclerosis, diabetes tipe I, dan rematik arthritis (Lucas et al., 2006).

I. Spektrofotometri UV

  Spektrofotometri ultraviolet adalah anggota analisis spektroskopik yang memakai sumber radiasi elektromagnetik ultraviolet dekat (190-380 nm) dengan instrumen spektrofotometer (Mulja dan Suharman, 1995). Spektrofotometri ultraviolet merupakan teknik yang digunakan untuk menganalisis suatu senyawa dengan struktur terkonjugasi (Anonim, 2007b).

  Molekul yang dapat memberikan absorbsi yang bermakna pada daerah panjang gelombang 190-780 nm adalah molekul-molekul yang mempunyai kromofor dan auksokrom. Kromofor adalah gugus fungsi yang mempunyai spektrum absorbsi karakteristik pada daerah ultraviolet atau sinar tampak. Gugus ini mengandung ikatan kovalen tak jenuh (rangkap dua atau tiga), contohnya: ikatan C=C, C=O, N=O, N=N (Silverstein, Bassler and Morril, 1991). Auksokrom adalah gugus fungsional dengan elektron bebas yang tidak mengabsorbsi pada daerah UV dan jika terikat pada kromofor akan mempengaruhi panjang gelombang dan intensitas absorbsinya. Contoh dari gugus auksokrom adalah OH, NH , CH (Silverstein et al., 1991 ;

  2

  3 Skoog, 1985).

  Spektrofotometri UV dapat melakukan penentuan terhadap sampel berupa larutan, gas atau uap (Mulja dan Suharman, 1995). Untuk sampel yang berupa larutan dapat digunakan semua cairan yang tidak mengandung sistem ikatan rangkap terkonjugasi pada struktur molekulnya, kemurniannya harus tinggi atau derajat untuk analisis dan dapat melarutkan dengan mudah senyawa yang hendak dianalisis dalam daerah ukur 200-400 nm. Pada umumnya pelarut yang sering dipakai dalam analisis spektrofotometri UV adalah air, etanol, sikloheksana dan isopropanol (Mulja dan Suharman, 1995 ; Roth and Blaschke, 1994).

  Pada analisis kuantitatif, pengukuran serapan dilakukan pada panjang gelombang maksimum. Panjang gelombang maksimum merupakan panjang gelombang dimana suatu senyawa memberikan absorbansi maksimum. Pada panjang gelombang maksimum, perubahan absorbansi untuk tiap satuan konsentrasi paling besar sehingga akan didapat kepekaan analisis yang maksimal (Mulja dan Suharman, 1995).

  J.

  

Iritasi Primer

  Iritasi primer adalah suatu reaksi kulit terhadap zat kimia misalnya alkali kuat, asam kuat, pelarut, dan deterjen. Beratnya bermacam-macam, dari hiperaemia, edema, dan vesikulasi sampai pemborokan. Iritasi primer terjadi di tempat kontak dan, umumnya pada sentuhan pertama (Lu, 1995).

  Suatu rangsangan kimia langsung pada jaringan disebabkan oleh zat yang mudah bereaksi dengan berbagai bagian jaringan. Biasanya zat ini tidak mencapai peredaran darah, karena langsung bereaksi dengan tempat jaringan yang pertama berhubungan. Organ tubuh yang terlibat terutama mata, hidung, tenggorokan, trakea, bronkus, epitel, alveolus, esophagus dan kulit (Ariens, Simons, & Mutschler, 1985).

  K.

  

Metode Desain Faktorial

  Desain faktorial adalah pendekatan eksperimental kuno yang dilakukan dengan meneliti efek dari suatu variabel eksperimental dengan menjaga variable lain konstan. Desain faktorial digunakan dalam percobaan untuk menentukan secara simulasi efek dari beberapa faktor dan interaksinya secara signifikan. Signifikan ini berarti adanya perubahan dari level rendah ke level tinggi pada faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan yang besar pada respon. Dengan demikian, metode ini merupakan metode yang sesuai untuk menentukan formula yang optimum dalam gel dengan adanya kombinasi dua basis yang digunakan dalam berbagai konsentrasi. Dengan metode ini dapat terlihat efek konsentrasi tiap basis dan hasil interaksi kedua basis tersebut (Bolton, 1997).

  Desain faktorial dua faktor dan dua level berarti ada dua faktor (misal sifat alir dan viskositas) yang masing-masing faktor diuji pada level yang berbeda, yaitu level rendah dan level tinggi. Dengan desain faktorial dapat didesain percobaan untuk mengetahui faktor yang dominan berpengaruh secara signifikan terhadap suatu respon ( Bolton, 1997).

  Optimasi campuran dua bahan (berarti ada dua faktor) dengan dua desain faktorial (two level factorial design) dilakukan berdasarkan rumus : Y = b + b

  1 (A) + b 2 (B) + b 12 (A)(B)...............................................(1)

  Dengan : Y = respon hasil yang diamati

  A, B = level bagian A dan B, yang nilainya tertentu dari minimum sampai maksimum b , b , b = koefisien, dapat dihitung dari hasil percobaan

  1

  2

  12

  b = rata-rata dari semua percobaan Pada desain faktorial dua level dan dua faktor diperlukan empat percobaan

  n masing-masing pada level rendah, (a) A pada level tinggi dan B pada level rendah, (b) A pada level rendah dan B pada level tinggi, (ab) A dan B masing-masing pada level tinggi (Bolton, 1997).

  Formula Faktor A Faktor B Interaksi (1) - - + a + - - b - + - ab + + +

  Keterangan : = level rendah - = level tinggi +

  Formula (1) = faktor I pada level rendah, faktor II pada level rendah Formula a = faktor I pada level tinggi, faktor II pada level rendah Formula b = faktor I pada level rendah, faktor II pada level tinggi Formula ab = faktor I pada level tinggi, faktor II pada level rendah

  Dari persamaan (1) dan data yang diperoleh dapat dibuat contour plot suatu respon tertentu yang sangat berguna dalam memilih komposisi campuran yang optimum (Bolton, 1997).

  Untuk mengetahui besarnya efek masing-masing faktor, maupun efek interaksinya dapat diperoleh dengan menghitung selisih antara rata-rata respon pada level tinggi dan rata-rata respon pada level rendah. Konsep perhitungan efek menurut Bolton (1997) sebagai berikut: 1 b )}

  • − + {( a ab ) ( Efek faktor A =

  2 {( b ab ) − + + ( 1 a )}

  Efek faktor B =

  2 1 ) ( a b )} − + + {( ab

  Efek interaksi =

  2 (Bolton, 1997) Desain faktorial memiliki beberapa keuntungan. Metode ini memiliki efisiensi yang maksimum untuk memperkirakan efek yang dominan dalam menentukan respon. Keuntungan utama desain faktorial adalah bahwa metode ini memungkinkan untuk mengidentifikasi efek masing- masing faktor, maupun efek interaksi antar faktor (Muth, 1999).

  M. Landasan Teori

  Sediaan sunscreen merupakan produk yang banyak digunakan secara luas untuk melindungi kulit dari radiasi sinar UV. Adanya gugus kromofor dan auksokrom pada kurkumin yang terkandung pada rimpang kunir putih diduga bertanggung jawab dalam penyerapan radiasi sinar UV.

  Agar sunscreen dapat digunakan dengan mudah, praktis, nyaman dan manjur maka diperlukan suatu bentuk sediaan farmasi yang dapat memenuhi persyaratan mutu tersebut. Bentuk sediaan farmasi yang akan diteliti adalah bentuk gel yang mengandung basis senyawa hidrofilik. Alasan pemilihan bentuk sediaan tersebut karena bentuk sediaan gel yang berbasis senyawa hidrofilik memiliki konsistensi lembut, dan memberikan rasa dingin pada kulit. Rasa dingin tersebut merupakan efek evaporasi air dan alkohol. Keuntungan lain dari bentuk sediaan yang dipilih adalah terbentuknya lapisan tipis (film) pada kulit akibat evaporasi air dan alkohol yang dapat dicuci dengan air. Hal sesuai dengan kriteria yang diinginkan dari

  

sunscreen yaitu mampu melekat dalam waktu yang lama untuk melindungi kulit dari

paparan sinar UV.

  Dalam penelitian ini dilakukan optimasi formula gel dengan bahan ekstrak rimpang kunir putih. Sebagai gelling agent digunakan carbopol dan sebagai

  

humectant digunakan propilen glikol. Gelling agent dan humectant merupakan bahan

  yang memegang peranan penting dalam sediaan gel. Carbopol sebagai gelling agent bekerja dengan menahan air dan menjeratnya dalam struktur 3 dimensi “house of

  

cards ”. Propilen glikol sebagai humectant bersifat higroskopis sehingga dapat

  berfungsi mencegah peguapan berlebih dari sediaan. Selain itu penambahan propilen glikol dalam sediaan sunscreen juga berfungsi untuk mencegah kerutan pada kulit dan efek merugikan lain dari paparan sinar UV jangka panjang. Dengan adanya carbopol sebagai gelling agent dan propilen glikol sebagai humectant diharapkan dapat diperoleh gel dengan sifat fisik dan stabilitas yang baik . Sifat dan stabilitas fisis formula dilihat dari formula yang memiliki viskositas tertentu yaitu memiliki konsistensi padat pada penyimpanan dan memiliki konsistensi cair sesaat setelah diaplikasikan pada kulit dan memiliki daya sebar baik, dalam arti tanpa tekanan besar mampu menyebar secara merata sehingga menjamin pemerataan dosis (efektif). Formula dengan konsistensi yang lebih encer diasumsikan memiliki daya sebar yang lebih baik (Garg et al., 2002). Untuk mengetahui nilai SPF dilakukan uji serapan ekstrak rimpang kunir putih menggunakan spektrofotometri UV dan untuk mengetahui keamanan pemakaian gel dilakukan uji iritasi primer dengan hewan uji kelinci albino.

  N.

  

Hipotesis

  Diduga terdapat pengaruh yang bermakna dari komposisi carbopol sebagai

  

gelling agent dan propilen glikol sebagai humectant formula gel sunscreen dalam

menentukan sifat-sifat fisik gel pada level yang diteliti.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis Rancangan Penelitian Penelitian ini merupakan rancangan eksperimental murni menggunakan

  metode desain faktorial dan bersifat eksploratif, yaitu mencari formula sunscreen ekstrak rimpang kunir putih yang memenuhi syarat mutu, yaitu aman (safe), manjur (effective), dan dapat diterima masyarakat (acceptable).

  B.

  

Variabel dan Definisi Operasional

1. Variabel Penelitian a. Variabel bebas

  Variabel bebas dalam penelitian ini adalah variasi jenis dan level gelling agent dan humectant, yaitu carbopol dan propilen glikol, masing-masing dengan level rendah dan tinggi.

  b. Variabel tergantung

  Variabel tergantung dalam penelitian ini adalah sifat fisik gel (daya sebar gel, viskositas gel, dan viskositas gel setelah penyimpanan selama satu bulan).

  c. Variabel pengacau terkendali

  Variabel pengacau terkendali dalam penelitian ini adalah, cahaya penyimpanan, lama penyimpanan, dan wadah penyimpanan.

d. Variabel pengacau tak terkendali

  Variabel pengacau tak terkendali dalam penelitian ini adalah suhu penyimpanan, suhu ruangan penelitian dan kelembaban ruangan penelitian.

2. Definisi Operasional

  a. Ekstrak rimpang kunir putih adalah ekstrak yang diperoleh dari hasil perkolasi rimpang kunir putih menggunakan pelarut etanol 70% v/v. Hasil perkolasi ini diasumsikan sebagai ekstrak rimpang kunir putih dengan konsentrasi 100%.

  b. SPF (Sun Protection Factor) ekstrak rimpang kunir putih menggambarkan kemampuan ekstrak sebagai zat aktif sunscreen untuk melindungi kulit dari eritema yang disebabkan oleh radiasi UVB. Pada penelitian ditentukan nilai SPF sediaan yaitu 30.

  c. Gelling agent adalah bahan pembentuk sediaan gel yang akan membentuk matriks tiga dimensi. Pada penelitian ini digunakan carbopol 3% b/v.

  d. Humectant adalah bahan yang membantu mempertahankan kelembaban pada permukaan kulit dengan cara menarik lembab dari lingkungan. Pada penelitian ini digunakan propilen glikol.

  e. Sifat fisik adalah sifat gel yang dapat dilihat kenampakan fisiknya dan dapat diukur secara kuantitatif meliputi daya sebar, viskositas dan perubahan viskositas selama penyimpanan.

  f. Faktor adalah jumlah gelling agent dan humectant yang digunakan yaitu carbopol 3% 28,33-38,33 g dan propilen glikol 10-20 g. g. Respon adalah sifat atau hasil percobaan yang diamati yaitu sifat fisik gel yang meliputi daya sebar, viskositas, dan stabilitas gel yang digambarkan dengan pergeseran viskositas yang terjadi.

  h. Level adalah nilai atau tetapan gelling agent dan humectant yang digunakan yaitu carbopol 3% b/v (28,33 g dan 38,33 g) dan propilen glikol (10 g dan 20 g). i. Komposisi optimum adalah area komposisi gelling agent dan humectant yang menghasilkan gel dengan daya sebar kurang dari sama dengan 5 cm, viskositas

  250 sampai 260 dPa.s, dan pergeseran viskositas kurang dari 5%. j. Contour plot adalah grafik yang merupakan hasil dari respon daya sebar, viskositas, dan perubahan viskositas selama penyimpanan gel. k. Contour plot superimposed adalah area pertemuan yang memuat semua arsiran dalam contour plot yang diprediksi sebagai area optimum gel. l. Iritasi adalah suatu reaksi kulit yang diakibatkan oleh paparan gel sunscreen ekstrak rimpang kunir putih. Iritasi primer terjadi di tempat kontak dan umumnya pada sentuhan pertama.

  C.

  

Bahan dan Alat

  Bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah ekstrak rimpang kunir putih (Curcuma mangga Val.), etanol (kualitas p.a), etanol (kualitas teknis), propilen glikol (kualitas farmasetis), carbopol (kualitas farmasetis), triethanolamine (TEA), aquades.

  Alat yang digunakan pada penelitian ini adalah alat-alat gelas (PYREX),

  TM mixer , viscotester seri VT 04 (RION-JAPAN), Spectrophotometer UV Genesys

  6

  (THERMOSPECTRONIC-USA), oven (Laboratorium Farmakognosi Fitokimia USD), lemari pendingin (Refrigerator Toshiba) D.

  

Tata Cara Penelitian

1. Pengumpulan dan penyiapan simplisia rimpang kunir putih

  Rimpang kunir putih (Curcuma mangga Val.) diperoleh dari Wates-Kulon Progo. Rimpang dicuci dengan air mengalir untuk menghilangkan kotoran kemudian dilakukan sortasi basah untuk memisahkan rimpang kunir putih dari kemungkinan adanya campuran rimpang lain atau dari bagian tanaman lain. Rimpang dikupas kulitnya lalu diiris tipis-tipis ( ± 3 mm). Pengeringan dilakukan dibawah sinar matahari dengan ditutup kain hitam dan menggunakan oven dengan suhu 30-40 ºC sampai rimpang kering ditandai dengan mudah dipatahkan atau hancur bila diremas. Setelah simplisia kering, dilakukan sortasi kering untuk memisahkan kemungkinan pengotor yang masih tertinggal dan simplisia yang rusak. Untuk menyempurnakan pengeringan, dilakukan pengeringan dengan oven

  o

  sebelum simplisia diserbuk, menggunakan suhu 50 C sampai simplisia kering ditandai dengan mudah dipatahkan atau hancur bila diremas.

  2. Pembuatan serbuk rimpang kunir putih

  Simplisia yang sudah kering diserbuk dengan mesin penyerbuk kemudian diayak dengan derajat kehalusan (20/30) (Anonim, 1986).

  3. Pembuatan ekstrak kunir putih

  Ekstrak kunir putih diperoleh dengan proses perkolasi serbuk rimpang kunir putih sebanyak 1000 g dengan cairan penyari berupa campuran etanol dan air dengan perbandingan 70 : 30 (etanol 70%). Proses perkolasi diawali dengan membasahi 1000 g serbuk rimpang kunir putih dengan etanol 70% sebanyak 1,5 L, kemudian didiamkan selama 24 jam (maserasi). Serbuk yang telah dibasahi dituang ke dalam perkolator yang telah diberi sekat berpori. Tuangkan cairan penyari (etanol 70%) perlahan-lahan ke dalam perkolator hingga bagian permukaan serbuk seluruhnya tergenang oleh cairan penyari. Cairan penyari harus selalu ditambahkan sehingga adanya lapisan cairan penyari di atas permukaan massa serbuk selalu terjaga. Kran perkolator dibuka dan diatur tetesannya 20-30 tetes/menit. Perkolat yang didapat ditampung dalam wadah bertutup dan disimpan dalam lemari pendingin. Etanol yang digunakan pada proses perkolasi sebanyak

  7 L.

4. Uji SPF

  a. Scanning serapan pada panjang gelombang UV (200-400 nm) Ekstrak rimpang kunir putih (konsentrasi 3% v/v) diukur absorbansinya dengan spektrofotometer UV pada panjang gelombang 200-400 nm. Dari range tersebut, diamati panjang gelombang yang memberikan serapan.

  b. Penetapan konsentrasi ekstrak kunir putih dengan nilai SPF 30 Dibuat suatu seri kadar sehingga diperoleh konsentrasi ekstrak rimpang kunir putih 8, 9, 10, 11, dan 12% v/v. Larutan tersebut diukur absorbansinya pada panjang gelombang 300 nm. Absorbansi yang didapat dihitung sebagai nilai SPF, menggunakan rumus:

  ⎛ ⎞

  I A = - log ⎜⎜ ⎟⎟ I ⎝ ⎠ I T = , maka A = - log

  10 (T) (Walters et al., 1997)

  I

  1

  1 SPF = T = (Stanfield, 2003) T SPF

  1 ⎛ ⎞

  A = - log

  10

  ⎜ ⎟ SPF

  ⎝ ⎠

  A = log 10 (SPF)

  c. Pembuatan larutan baku kurkumin Kurkumin baku dilarutkan dalam etanol p.a. Dibuat satu seri pengenceran menggunakan etanol dari larutan kurkumin tersebut, hingga diperoleh konsentrasi sebagai berikut: 4,0966; 5,1208; 6,1449; 7,1691; 8,7054 dan 9,2174 mg/100 mL. Larutan tersebut diukur serapannya pada panjang gelombang 300 nm dengan spektrofotometer. Pembuatan seri larutan baku dan pemeriksaan setiap konsentrasi diulangi 3 kali, kemudian dibuat persamaan garis regresi linear (kurva baku).

5. Penetapan kadar kurkumin dalam ekstrak rimpang kunir putih secara spektrofotometri

  a. Scanning serapan pada panjang gelombang UV-Vis (200-700 nm) Larutan kurkumin baku (konsentrasi 3% v/v) diukur absorbansinya dengan spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 200-700 nm. Dari range tersebut, diamati panjang gelombang yang memberikan serapan maksimum.

  b. Pembuatan larutan baku kurkumin Kurkumin baku dilarutkan dalam etanol p.a. Dibuat satu seri pengenceran menggunakan etanol dari larutan kurkumin tersebut, hingga diperoleh konsentrasi sebagai berikut: 0,1792; 0,2560; 0,3328; 0,4097 dan 0,4865 mg/100mL. Larutan tersebut diukur serapannya pada panjang gelombang maksimum yang diperoleh dari scanning panjang gelombang larutan baku kurkumin dengan spektrofotometer. Pembuatan seri larutan baku dan pemeriksaan setiap konsentrasi diulangi 3 kali, kemudian dibuat persamaan garis regresi linear (kurva baku).

  c. Pemeriksaan larutan sampel Ambil 10,0 mL ekstrak kunir putih (asumsi konsentrasi ekstrak cair 100%), larutkan dalam etanol p,a ad 100,0 mL. Larutan tersebut diambil 5,0 mL, kemudian diencerkan dengan etanol p.a ad 10 mL (konsentrasi 5%). Ekstrak 5% tersebut diukur serapannya pada panjang gelombang maksimum yang diperoleh dari scanning panjang gelombang larutan baku kurkumin dengan spektrofotometer. Pembuatan larutan sampel dan pemeriksaan tersebut diulangi 4 kali.

6. Optimasi proses pembuatan gel

  a. Formula i. Formula gel sunscreen menurut A Formulary of Cosmetic Preparation (1977)

  Ethanol (SD-40) 48,0 Carbopol 940 1,0 Escalol 106 (Glyceryl-p-amino benzoate) 3,0 Monoisopropilamine 0,09 Aquadest 47,91 Parfum 9,5 ii. Dalam optimasi formula ini dilakukan modifikasi formula :

  ®

  Carbopol 940 (3% b/v) 28,33-38,33 Propilen glikol 10-20 Aquadest

  40 Ekstrak kunir putih

  10 TEA qs

  

Tabel I. Formula Desain Faktorial

  Formula Carbopol Propilen glikol 1 28,33 10 a 38,33 10 b 28,33 20 ab 38,33

  20

  b. Pembuatan gel Carbopol dan aquades dicampur secara manual, menggunakan pengaduk, hingga homogen (fase A). Propilen glikol dan ekstrak juga dicampur secara manual, menggunakan pengaduk, hingga homogen (fase B). Fase A dan fase B dicampur menggunakan mixer dengan kecepatan 700 rpm selama 10 menit.

  Tambahkan TEA bertetes-tetes sambil terus diaduk menggunakan mixer selama 5 menit (total waktu pencampuran 15 menit).

7. Uji sifat fisis dan stabilitas gel sunscreen ekstrak rimpang kunir putih

  a. Uji daya sebar Uji daya sebar sediaan gel sunscreen ekstrak rimpang kunir putih dilakukan setidaknya 48 jam setelah pembuatan, dengan cara: gel ditimbang seberat 1 gram, diletakkan ditengah kaca bulat berskala. Di atas gel diletakkan kaca bulat lain ditambah dengan pemberat sehingga total berat diatas gel 125 gram. Setelah b. Uji viskositas Pengukuran viskositas menggunakan alat Viscotester Rion seri VT 04 dengan cara : gel dimasukkan dalam wadah dan dipasang pada portable viscotester.

  Viskositas gel diketahui dengan mengamati gerakan jarum penunjuk viskositas. Uji ini dilakukan dua kali, yaitu (1) segera setelah gel selesai dibuat dan (2) setelah disimpan selama 1 bulan.

8. Uji iritasi primer

  Sejumlah kecil (0,5 g) gel diletakkan di bawah kasa berukuran 1 inci persegi yang ditempatkan di atas bagian kulit yang telah dicukur. Kasa diikatkan dengan cermat pada hewan selama 24 jam. Pada akhir periode, kasa diambil dan reaksi kulit diberi angka sesuai dengan tingkat (1) eritema dan pembentukan kerak (eschar) dan (2) pembentukan edema. Reaksi kulit dibaca lagi setelah 48 dan 72 jam. Hasil uji 24, 48 dan 72 jam dari kedua kelompok itu digabungkan untuk mendapatkan indeks iritasi primer (Lu, 1995).

  

Tabel II. Evaluasi Reaksi Iritasi Kulit (Lu, 1995)

  Jenis Iritasi Skor Eritema Tanpa eritema

  Eritema hampir tidak tampak

  1 Eritema berbatas jelas

  2 Eritema moderat sampai berat

  3 Eritema berat (merah bit) sampai sedikit membentuk kerak

  4 Edema Tanpa edema Edema hampir tidak tampak

  1 Edema tepi berbatas jelas

  2

  3 Edema moderat (tepi naik ± 1 mm)

  Edema berat (tepi naik lebih dari 1 mm dan meluas keluar daerah

  4 pejanan) Skor eritrema dan edema keseluruhan ditambahkan dari jam ke-24 sampai jam ke- 74 dan skor rata-rata digabungkan. Dari perhitungan tersebut didapat indeks iritasi primer. Kriteria iritasi dicocokkan dengan tabel dibawah ini:

  Tabel III. Kriteria Iritasi (Lu, 1995) Indeks Iritasi Kriteria Iritasi Senyawa Kimia

  Kurang < 2 merangsang Iritan 2-5 Moderat

  Iritan >6 Berat E.

   Analisis Data dan Optimasi

  Data sifat fisik dan stabilitas yang terkumpul dianalisis dengan metode desain faktorial dan Yate’s treatment. Dari perhitungan desain faktorial akan diperoleh contour plot untuk masing-masing uji yang dilakukan. Contour plot tersebut kemudian digabungkan dalam contour plot superimposed untuk mendapatkan area optimum komposisi gelling agent dan humectant agar diperoleh sediaan gel seperti yang dikehendaki. Dari perhitungan Yate’s treatment dapat diketahui faktor yang memberikan pengaruh bermakna secara statistik.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Pembuatan Ekstrak Rimpang Kunir Putih Pembuatan ekstrak rimpang kunir putih dimulai dari pengumpulan rimpang. Rimpang kunir putih (Curcuma mangga Val.) diperoleh dari Wates, Kulonprogo. Rimpang yang telah dikumpulkan selanjutnya dipisahkan dari kotoran-kotoran yang

  melekat atau bahan-bahan asing seperti batang, daun, akar maupun adanya campuran rimpang lain seperti temulawak dan kunyit yang mempunyai bentuk yang hampir sama. Rimpang dicuci bersih di bawah air mengalir untuk menghilangkan kotoran- kotoran yang masih menempel. Rimpang yang telah dicuci kemudian dikeringkan di bawah sinar matahari untuk mencegah agar rimpang tidak ditumbuhi kapang atau jamur. Setelah kering, rimpang dibersihkan dari kulitnya, kemudian dipotong tipis (± 3 mm). Perajangan bertujuan agar proses pengeringan berlangsung lebih cepat. Rimpang yang telah dirajang kemudian dikeringkan kembali. Pengeringan rimpang dilakukan dengan menjemurnya di udara terbuka kemudian menggunakan oven dengan suhu tidak lebih dari 30 ºC. Penjemuran rimpang di udara terbuka dilakukan untuk membantu proses pengeringan rimpang. Rimpang tidak boleh secara langsung terpapar sinar matahari karena radiasi UV dapat menyebabkan reaksi kimia pada bahan aktifnya. Untuk menghindari paparan langsung sinar matahari, dalam menjemur rimpang ditutup dengan kain hitam. Setelah hampir kering, rimpang kemudian dipindahkan ke dalam oven untuk menyempurnakan pengeringan.

  Rimpang tidak langsung dikeringkan menggunakan oven karena kapasitas oven yang terbatas, sedangkan irisan rimpang yang akam dikeringkan jumlahnya sangat banyak (10 kg). Akhir pengeringan ditandai dengan mudah dipatahkannya bahan simplisia.

  Setelah proses pengeringan selesai kemudian dilakukan sortasi kering untuk menghilangkan pengotor-pengotor lain yang masih ada dan tertinggal pada simplisia kering. Simpleks rimpang kunir putih yang telah siap, diserbuk menggunakan mesin penyerbuk. Penyerbukan membantu penetrasi solven ke dalam sel pada jaringan tanaman, membantu melarutkan metabolit sekunder, dan meningkatkan hasil ekstraksi (Silva et al., 1998).

  Serbuk yang diperoleh kemudian diayak dengan dengan derajat kehalusan 20/30. Ekstraksi akan bertambah baik bila permukaan serbuk simplisia yang bersentuhan dengan cairan semakin luas. Dengan demikian, semakin halus serbuk simplisia makin baik ekstraksinya. Akan tetapi penyerbukan yang terlalu halus menyebabkan banyak dinding sel yang pecah, sehingga zat yang tidak diinginkan pun ikut ke dalam hasil penyarian (Anonim, 1986). Ekstrak diperoleh dengan cara perkolasi serbuk rimpang kunir putih. Metode ini merupakan salah satu metode ekstraksi dengan cara dingin. Dihindari penggunaan panas karena pada suhu tinggi (73-82ºC), butiran amilum yang terkandung dalam rimpang kunir putih akan mengembang (swelling). Butiran amilum yang mengembang tersebut akan mengelilingi dan menutupi pori-pori serbuk, sehingga menghalangi terekstraksinya senyawa-senyawa lain (Badmaev, Majeed, Shivakumar & Rajendran, 1995).

  Perkolasi adalah cara penyarian yang dilakukan dengan mengalirkan cairan penyari melalui serbuk simplisia yang telah dibasahi (Anonim, 1986). Pembasahan (maserasi) dilakukan selama 24 jam dalam bejana tertutup menggunakan pelarut etanol 70%. Maksud pembasahan disini untuk memberikan kesempatan sebesar- besarnya kepada cairan penyari memasuki seluruh pori-pori simplisia sehingga memudahkan penyarian selanjutnya. Kelebihan metode ini adalah adanya cairan penyari yang selalu baru memungkinkan zat yang larut dalam pelarut akan tersari hampir seluruhnya. Akan tetapi, ekstrak yang didapatkan secara perkolasi tidak dapat distandardisasi. Untuk ekstraksi dipilih campuran pelarut etanol-air dengan perbandingan 70:30 (etanol 70%). Pemilihan pelarut etanol-air karena diinginkan solubilitas yang optimum untuk ekstraksi sehingga dapat meningkatkan penyarian.

  Pelarut etanol dapat dengan efisien berpenetrasi ke dalam membran sehingga mendorong terekstraksinya sejumlah besar komponen endoseluler (Silva et al., 1998). Etanol dipilih sebagai penyari karena: lebih selektif, kapang dan kuman sulit tumbuh dalam etanol dengan kadar lebih dari 20%, absorbsinya baik, dapat bercampur dengan air pada segala perbandingan, dan panas yang diperlukan untuk pemekatan lebih sedikit (Anonim, 1986). Etanol dapat melarutkan alkaloida basa, minyak menguap, glikosida, kurkumin, kumarin, antrakinon, flavonoid, steroid, damar, dan klorofil (Anonim, 1986). Perkolasi dilakukan dengan kecepatan tetesan 20-30 tetes/menit hingga diperoleh perkolat berwarna jernih dan dibutuhkan pelarut etanol 70% sebanyak ± 7 L.

  B.

  

Uji SPF

Uji SPF bertujuan untuk mengetahui kemampuan ekstrak sebagai sunscreen.

  SPF menggambarkan kemampuan suatu produk melindungi kulit dari eritema yang disebabkan paparan sinar matahari (Stanfield, 2003) . SPF juga menjadi parameter kemanjuran suatu sediaan sunscreen. Semakin besar SPF, semakin besar pula perlindungan yang diberikan (Stacener, 2006). Nilai SPF suatu produk menyatakan perbandingan antara waktu yang dibutuhkan radiasi UVB untuk menimbulkan eritema pada kulit yang terlindungi dengan waktu yang dibutuhkan oleh kulit yang tidak terlindungi untuk menyebabkan eritema dengan tingkatan yang sama (Anonim, 2006b). Nilai SPF juga menyatakan banyaknya radiasi UVB yang dapat mencapai kulit (Stanfield, 2003).

  Uji SPF dilakukan dalam beberapa tahap. Pertama adalah scanning panjang gelombang. Scanning tersebut bertujuan untuk melihat apakah ekstrak rimpang kunir putih memberikan serapan pada range panjang gelombang UV. Dari hasil scanning dapat diketahui bahwa ekstrak rimpang kunir putih memberikan serapan pada range panjang gelombang UV, yaitu antara 200-400 nm. Hal ini disajikan pada gambar 4. Tahap selanjutnya dalam uji SPF adalah menetapkan konsentrasi ekstrak kunir putih yang akan memberikan nilai SPF 30 dengan menggunakan panjang gelombang 300 nm. Panjang gelombang tersebut memenuhi range panjang gelombang UVB, yaitu 280-320 nm. Dari pengukuran absorbansi ekstrak diketahui bahwa untuk mendapatkan nilai SPF 30, maka kadar ekstrak yang dibutuhkan adalah 10%.

  Absorbansi ekstrak 10% tidak memenuhi hukum Lambert-Beer. Oleh karena itu perlu dipastikan linearitas serapan ekstrak dengan cara mengukur serapan dari seri kadar larutan standar kurkuminoid yang memiliki range yang sama dengan seri kadar ekstrak yang digunakan untuk mencari nilai SPF. Dibuat kurva baku dari larutan standar kurkuminoid kemudian diukur absorbansinya pada panjang gelombang 300 nm. Dari analisis regresi diketahui bahwa nilai r yang didapat (0,9938) lebih besar dari nilai r tabel pada taraf kepercayaan 95% (0,811). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hubungan antara konsentrasi dan absorbansi adalah linear sehingga konsentrasi 10% yang digunakan untuk mendapatkan nilai SPF 30 dapat diterima.

  

Gambar 4. Scanning panjang gelombang ekstrak rimpang kunir putih

  Nilai SPF dalam sediaan ditentukan secara in vitro sebagai hasil antilogaritma nilai absorbansi ekstrak terukur. SPF yang diinginkan dalam sediaan adalah 30 yang diperoleh dari konsentrasi ekstrak 10% v/v. Hal itu berarti sediaan sunscreen dapat melindungi kulit dari paparan UVB tanpa menimbulkan eritema 30 kali lebih lama dibandingkan tanpa menggunakan sunscreen. Nilai SPF 30 juga menunjukkan sebanyak 3,3% radiasi UVB mampu mencapai kulit.

  1

1 SPF = T = T SPF

  1 T = = 0,033 = 3,3%

  30 SPF 30 dianggap sebagai nilai yang sesuai untuk penggunaan pada daerah radiasi UVB sebesar 97% (Anonim, 2006c). Selain itu SPF 30 dianggap sebagai nilai optimal bagi penggunaan sunscreen. Nilai SPF yang terlalu rendah dianggap kurang mampu melindungi kulit dari radiasi sinar UV, sedangkan nilai SPF yang terlalu tinggi membuat sinar UV tidak dapat masuk ke dalam kulit. Dengan tidak adanya sinar UV yang masuk ke dalam kulit, maka aktivasi tyrosinase menjadi terhambat atau tidak terjadi sama sekali. Tyrosinase adalah enzim yang berperan dalam pembentukan pigmen kulit (melanogenesis). Terhambatnya aktivasi tyrosinase akan menyebabkan terhambatnya pembentukan melanin. Seperti telah diketahui, melanin berfungsi sebagai pelindung alami kulit antara lain melindungi DNA terhadap paparan UV dan melindungi kulit dari radikal bebas. Jika pembentukan melanin terhambat, maka fungsi perlindungan melanin juga akan berkurang. Hal ini akan memperbesar kemungkinan munculnya kanker kulit.

  C.

  

Penetapan Kadar Kurkumin dalam Ekstrak Rimpang Kunir Putih

  Penetapan kadar kurkumin bertujuan untuk mengetahui kadar kurkumin dalam ekstrak rimpang kunir putih 10% yang menghasilkan SPF 30. Dalam hal ini kadar kurkumin yang terhitung sebagai kadar kurkuminoid digunakan sebagai senyawa identitas ekstrak rimpang kunir putih. Sebagai standar digunakan

  ®

  kurkuminoid dari E Merck . Kurkuminoid standar tersebut dilarutkan dalam etanol p.a., kemudian dibuat seri pengenceran dengan beberapa konsentrasi yang berbeda.

  Sebelumnya, terlebih dahulu dilakukan scanning larutan kurkuminoid standar untuk melihat kurva absorbansinya pada range panjang gelombang UV-Vis dan untuk mengetahui panjang gelombang maksimum dimana larutan kurkuminoid standar memberikan absorbansi maksimum. Dari hasil scanning dapat diketahui bahwa larutan kurkuminoid standar memberikan serapan maksimum pada panjang gelombang visibel, yaitu 425 nm. Namun, larutan kurkuminoid tersebut juga memberikan serapan pada range panjang gelombang UV. Hal ini dapat dilihat pada gambar 5.

  

Gambar 5. Scanning panjang gelombang larutan kurkuminoid standar

  Seri larutan kurkuminoid baku tersebut kemudian diukur serapannya menggunakan spektrofotometer UV dengan panjang gelombang maksimum yang didapat yaitu 425 nm. Penetapan kadar dapat dilakukan secara spektrofotometri karena kurkumin sebagai senyawa identitas mempunyai ikatan rangkap terkonjugasi dan auksokrom pada strukturnya. Dari analisis regresi antara konsentrasi dan absorbansi didapat persamaan kurva baku y = 1,5737x + 0,0034. Dari analisis regresi diketahui bahwa nilai r yang didapat (0,9972) lebih besar dari nilai r tabel pada taraf kepercayaan 95% (0,878). Dengan demikian persamaan tersebut dapat digunakan untuk menghitung kadar kurkumin dalam ekstrak.

  

O O

O O HO OH

  • Keterangan : krom
  • gugus auksokrom

  

Gambar 6. Ikatan terkonjugasi (kromofor) dan gugus auksokrom pada struktur kurkumin

  Dari uji SPF diketahui bahwa untuk mendapatkan nilai SPF 30, konsentrasi ekstrak yang diperlukan sebesar 10% v/v. Oleh karena itu, penetapan kadar kurkuminoid dilakukan terhadap ekstrak dengan konsentrasi 10% v/v. Pengukuran absorbansi ekstrak dilakukan pada panjang gelombang 425 nm. Dari pengukuran absorbansi, ekstrak 10% ternyata tidak memenuhi range kurva baku kurkuminoid standar. Maka dilakukan pengenceran terhadap ekstrak 10% v/v menjadi ekstrak 5% v/v, kemudian diukur absorbansinya pada panjang gelombang 425 nm. Dari perhitungan diperoleh kadar kurkuminoid dalam ekstrak 10% sebesar 5,3955 ± 0,1839 ppm.

  D.

  

Sifat Fisik dan Stabilitas

  Sifat fisik dan stabilitas merupakan unsur yang menjamin kualitas farmasetis suatu sediaan. Sifat fisik yang diukur dari sediaan gel sunscreen ini adalah daya sebar dan viskositasnya. Stabilitas sediaan dilihat dari pergeseran viskositas yang terjadi setelah gel disimpan selama satu bulan. Pengukuran daya sebar dilakukan dengan mengukur diameter penyebaran gel rata-rata pada 5 kali pengukuran pada dengan kaca bulat lainnya dan diberi beban sehingga total massa beban penutup 125 gram. Satu menit kemudian, dilakukan pengukuran diameter penyebaran gel. Daya sebar yang baik menjamin pemerataan gel saat diaplikasikan pada kulit. Nilai daya sebar yang direkomendasikan untuk sediaan semistiff yaitu

  ≤ 5 cm. Daya sebar berbanding terbalik dengan viskositas sediaan semipadat. Semakin besar daya sebar maka viskositas sediaan semipadat semakin kecil. (Garg et al., 2002).

  Pengukuran viskositas segera setelah pembuatan sediaan menunjukkan tingkat kekentalan gel, sedangkan pengukuran viskositas setelah penyimpanan selama satu bulan menunjukkan kestabilan gel. Apabila tidak terjadi pergeseran viskositas setelah penyimpanan, dapat dikatakan gel memiliki stabilitas yang baik.

  Hasil pengukuran sifat fisik gel sunscreen:

  

Tabel IV. Hasil pengukuran sifat fisik gel

  FORMULA DAYA SEBAR

  VISKOSITAS δ VISKOSITAS

  (cm) (dPa.s) (%) 1 4,41 ± 0,08 242,08 ± 7,59 7,59 ± 2,35 a 4,33 ± 0,07 267,91 ± 7,33 2,18 ± 1,37 b 4,39 ± 0,31 252,08 ± 10,01 2,47 ± 2,01 ab 4,37 ± 0,13 259,58 ± 7,21 4,07 ± 2,32

  Analisis data dilakukan berdasarkan pertimbangan dari 3 hal berikut:

  1. Perhitungan efek rata-rata dari tiap-tiap faktor maupun interaksinya untuk melihat pengaruh tiap faktor dan interaksinya terhadap besarnya respon. Perhitungan ini juga memuat arah perubahan respon.

2. Interpretasi grafik hubungan respon-carbopol 3% b/v dan grafik hubungan respon- propilen glikol.

  3. Yate’s treatment menganalisis secara statistik dengan bantuan ANOVA untuk menilai secara obyektif signifikansi pengaruh relatif dari berbagai faktor dan interaksi terhadap respon. Perhitungan Yate’s treatment tidak memuat arah respon.

  Perhitungan efek rata-rata secara desain faktorial dapat digunakan untuk mengetahui faktor mana yang paling dominan antara carbopol 3% b/v, propilen glikol atau interaksi antara carbopol 3% b/v dengan propilen glikol dalam menentukan viskositas, daya sebar dan pergeseran viskotas dari sediaan gel. Hasil perhitungannya adalah sebagai berikut

  Tabel V. Efek carbopol 3% b/v, efek propilen glikol dan efek interaksi antar keduanya dalam menentukan sifat fisik gel

  Efek Daya sebar Viskositas δ Viskositas

  Carbopol |-0,05| 16,66 |-1,91| Propilen glikol 0,01 0,83 |-1,61|

  Interaksi 0,03 |-9,16| 3,50 Dari perhitungan efek carbopol 3% b/v, efek propilen glikol dan efek interaksi antara carbopol 3% b/v dengan propilen glikol dapat diketahui efek yang paling dominan dalam menentukan sifat fisik dan stabilitas gel. Semakin besar nilai efek yang diperoleh maka semakin dominan dalam menentukan sifat fisik dan stabilitas gel. Bila efek yang diperoleh bernilai positif maka efek tersebut berpengaruh pada kenaikan sifat fisik dan stabilitas gel. Bila diperoleh efek yang bernilai negatif, maka efek tersebut berpengaruh pada penurunan sifat fisik dan stabilitas gel.

  Analisis data secara Yate’s Treatment dilakukan untuk menegaskan faktor dominan dalam menentukan respon sediaan gel. Hipotesis alternatif (H ) ditentukan

  1

  untuk melihat apakah respon yang dihasilkan benar-benar disebabkan oleh faktor ada regresi atau hubungan antara faktor (carbopol, propilen glikol dan interaksi keduanya) dengan respon, sedangkan H merupakan negasi dari H

  1 yaitu tidak ada

  regresi (hubungan) antara faktor dengan respon. Nilai F yang diperoleh (F hitung) dari perhitungan dengan analisis Yate’s Treatment dibandingkan dengan nilai F tabel.

  H

  

1 diterima dan H ditolak apabila nilai F hitung lebih besar daripada nilai F tabel

  (F 0,05 (1,3) = 10,128), yang berarti bahwa faktor tersebut memberikan pengaruh yang bermakna dalam menentukan suatu respon. Dipilih nilai F tabel dengan derajat kepercayaan 95%. Sebagai numerator (v

  1

  ) adalah faktor dan interaksi dengan derajat bebas 1. Sebagai denominator (v

  2 ) adalah kesalahan percobaan (experimental error) dengan derajat bebas 3.

1. Daya Sebar

  Berdasarkan perhitungan efek rata-rata secara desain faktorial daya sebar gel (tabel V) dapat dilihat bahwa efek carbopol 3% b/v dominan dalam menentukan daya sebar gel. Dalam hal ini carbopol 3% b/v dominan dalam menurunkan daya sebar gel karena efek carbopol 3% b/v bernilai negatif. Efek propilen glikol menunjukkan nilai yang positif. Hal ini berarti efek propilen glikol akan menaikkkan daya sebar gel namun kurang dominan dibanding efek carbopol 3% b/v. Efek interaksi antara carbopol 3% b/v dengan propilen glikol juga bernilai positif, artinya efek interaksi antara keduanya akan meningkatkan daya sebar gel. Dapat dilihat bahwa efek interaksi carbopol 3% b/v dengan propilen glikol lebih dominan meningkatkan daya sebar gel dibandingkan dengan efek propilen glikol.

  Pengaruh peningkatan penggunaan carbopol 3% b/v sebagai gelling agent dan propilen glikol sebagai humectant terhadap daya sebar gel dapat dilihat melalui grafik berikut: 4.43

  4,43 4.41 4,41 4.39 4,39 4,37 4.35 4.37 4,35

  4,33 4.33 4,31 4.31 4,

  29 4.29 4,

  27 4.27

  28

  30

  32

  34

  36

  38 9 11 13 15 17 19 21 Carbo po l 3% b/v (g) P ro pilen Gliko l (g)

Level Rendah P ro pilen Gliko l Level Rendah Carbo po l 3%

Level Tinggi P ro pilen Gliko l Level Tinggi Carbo po l 3%

   Gambar 7a Gambar 7b

Gambar 7. Hubungan pengaruh carbopol 3% b/v (a) dan propilen glikol (b) terhadap

daya sebar gel

  Semakin besar jumlah carbopol 3% b/v yang digunakan dalam formula pada penggunaan propilen glikol level rendah maupun level tinggi akan menurunkan daya sebar gel. Pada peningkatan carbopol 3% dari level rendah ke level tinggi, penurunan daya sebar lebih besar terjadi pada penggunaan propilen glikol level rendah dibandingkan penggunaan propilen glikol level tinggi (Gambar 7a).

  Semakin banyak jumlah propilen glikol yang digunakan dalam formula pada penggunaan carbopol 3% b/v pada level rendah akan menurunkan daya sebar gel, sedangkan semakin meningkat jumlah propilen glikol yang digunakan dalam formula pada penggunaan carbopol 3% b/v pada level tinggi akan meningkatkan daya sebar gel (Gambar 7b). Perhitungan Yate’s treatment dengan taraf kepercayaan 95% untuk respon daya sebar disajikan dalam tabel VII. Harga F yang diperoleh dari analisis secara

  Yate’s treatment memperlihatkan bahwa efek faktor carbopol 3% b/v dan efek

  interaksi antara carbopol 3% b/v dengan propilen glikol memberikan pengaruh bermakna secara statistik karena harga F hitung keduanya lebih besar dari harga F tabel (lebih dari 10,128). Hal ini menegaskan identifikasi bahwa carbopol 3% b/v dan interaksi antara carbopol 3% b/v dengan propilen glikol adalah faktor dominan dalam menentukan respon daya sebar gel.

  Tabel VI. Analisis Yate’s treatment untuk respon daya sebar gel Source of Degrees of Sum of square Mean square F variation freedom

  Replicate 1 0,00005 0,00005

Treatment 3 0,0081 0,002683

  Carbopol 1 0,0061 0,0061 73,4939 Propilen Glikol 1 0,0002 0,0002 2,4096 1 0,0018 0,0018 21,6867

  Interaction

Experimental 3 0,00025 0,000083

error

  Total 7 0,0084 Dari perhitungan efek rata-rata secara desain faktorial, interpretasi grafik dan analisis Yate’s treatment dapat ditegaskan bahwa efek carbopol 3% b/v adalah faktor dominan dalam menurunkan daya sebar gel, sedangkan efek interaksi antara carbopol 3% b/v dengan propilen glikol adalah faktor dominan dalam meningkatkan daya sebar gel. Dalam hal ini, carbopol 3% b/v merupakan faktor dominan dan bermakna dalam menentukan respon daya sebar gel.

2. Viskositas

  Perhitungan efek rata-rata secara desain faktorial viskositas gel (tabel V) Dalam hal ini carbopol 3% b/v dominan dalam meningkatkan viskositas gel karena efek carbopol 3% b/v bernilai positif. Efek propilen glikol juga bernilai positif, tetapi kurang dominan jika dibandingkan dengan efek carbopol 3%. Efek interaksi antara carbopol 3% dengan propilen glikol bernilai negatif. Hal ini menunjukkan bahwa interaksi carbopol 3% dengan propilen glikol berefek menurunkan viskositas gel.

  Pengaruh peningkatan penggunaan carbopol 3% b/v sebagai gelling agent dan propilen glikol sebagai humectant terhadap viskositas gel dapat dilihat melalui grafik berikut:

  270 270

  265 265 ) s

  .s) a.

  260 a

  260 P

  .P 255

  (d 255 on (d. on p

  250 sp

  250 Res

  Re 245

  245 240

  240

  9

  1

  1

  13

  15

  17

  19

  21

  28

  30

  32

  34

  3

  6

  3

  8 P ropilen Glikol (g) Carbopol 3% b/v (g) Level Rendah Carbopol 3%

  Level Rendah Propilen Glikol Level Tinggi Propilen Glikol Level Tinggi Carbopol 3% Gambar 8a Gambar 8b

  

Gambar 8. Hubungan pengaruh carbopol 3% b/v (a) dan propilen glikol (b) terhadap

viskositas gel

  Semakin besar jumlah carbopol 3% b/v yang digunakan dalam formula maka viskositas gel akan mengalami peningkatan baik pada penggunaan propilen glikol level rendah maupun level tinggi. Meningkatnya jumlah carbopol 3% b/v pada penggunaan propilen glikol level rendah lebih dominan dalam meningkatkan viskositas gel (Gambar 8a).

  Semakin besar jumlah propilen glikol yang digunakan dalam formula, viskositas gel semakin meningkat pada penggunaan carbopol 3% b/v level rendah dan mengalami penurunan pada penggunaan carbopol 3% b/v level tinggi (Gambar 8b).

  Perhitungan Yate’s treatment dengan taraf kepercayaan 95% untuk respon viskositas disajikan dalam tabel VII. Harga F yang diperoleh dari analisis secara

  Yate’s treatment memperlihatkan bahwa efek carbopol 3% b/v dan efek interaksi

  antara carbopol 3% b/v dengan propilen glikol memberikan pengaruh bermakna secara statistik karena harga F hitung keduanya lebih besar dari harga F tabel (lebih dari 10,128). Hal ini menegaskan identifikasi bahwa carbopol 3% b/v dan interaksi antara carbopol 3% b/v dengan propilen glikol adalah faktor dominan dalam menentukan respon viskositas gel.

  Tabel VII. Analisis Yate’s treatment untuk respon viskositas Source of Degrees of Sum of square Mean square F variation freedom

  

Replicate 1 5,5445 5,5445

Treatment 3 724,8333 241,6111

  Carbopol 1 555,4444 555,4444 44,4553 Propilen glikol 1 1,3944 1,3944 0,1116

  Interaction

  1 167,9945 167,9945 13,4455

  

Experimental 3 37,4834 12,4945

error

  Total 7 767,8612 Dari perhitungan efek rata-rata secara desain faktorial dan analisis Yate’s

  treatment dapat ditegaskan bahwa efek carbopol 3% b/v adalah faktor dominan

  dalam meningkatkan viskositas gel, sedangkan efek interaksi antara carbopol 3% b/v dengan propilen glikol adalah faktor dominan dalam menurunkan viskositas gel. Dalam hal ini carbopol 3% b/v merupakan faktor dominan dan bermakna dalam menentukan respon viskositas gel. Semakin meningkat konsentrasi polimer yang digunakan, dalam hal ini carbopol 3% b/v, semakin meningkat pula viskositas sediaan (Garg, et al., 2002). Dengan demikian diharapkan sediaan gel sunscreen dapat memberikan efek perlindungan yang lebih baik.

3. Pergeseran Viskositas

  Interaksi carbopol 3% b/v dengan propilen glikol dominan dalam menentukan pergeseran viskositas gel setelah penyimpanan selama 1 bulan. Hal ini dapat dilihat dari lebih besarnya efek interaksi carbopol 3% b/v dengan propilen glikol hasil perhitungan desain faktorial, dibandingkan dengan efek carbopol 3% b/v dan efek propilen glikol (tabel V). Efek interaksi carbopol 3% b/v bernilai positif, hal ini berarti interaksi tersebut dominan meningkatkan pergeseran viskositas gel setelah penyimpanan gel selama 1 bulan. Efek carbopol 3% b/v dan efek propilen glikol bernilai negatif. Efek carbopol 3% b/v bernilai lebih besar dibanding efek propilen glikol. Hal ini menunjukkan bahwa carbopol 3% b/v lebih dominan menurunkan pergeseran viskositas gel dibandingkan propilen glikol.

  Pengaruh peningkatan penggunaan carbopol 3% b/v sebagai gelling agent dan propilen glikol sebagai humectant terhadap pergeseran viskositas sebagai indikator stabilitas gel dapat dilihat melalui grafik berikut:

  10

  8

  8

  6 ) s) s a.

  a. P

  6 .P (d

  4 pon pon (d.

  4 es es R R

  2

  2

  9

  11

  13

  15

  17

  19

  21

  28

  30

  32

  34

  36

  38

  40 Propilen Glikol (g) Carbopol 3% b/v (g) Level Rendah Carbopol 3% Level Rendah Propilen Glikol Level Tinggi Carbopol 3% Level Tinggi Propilen Glikol

   Gambar 9a Gambar 9b

Gambar 9. Hubungan pengaruh carbopol 3% b/v (a) dan propilen glikol (b) terhadap

pergeseran viskositas gel

  Semakin besar jumlah carbopol 3% b/v yang digunakan dalam formula pada penggunaan propilen glikol level rendah, viskositas gel akan bergeser ke arah yang lebih kecil. Pada penggunaan propilen glikol level tinggi, peningkatan jumlah carbopol 3% menyebabkan viskositas bergeser ke arah yang lebih besar. Pada peningkatan carbopol 3% b/v dari level rendah ke level tinggi, pergeseran viskositas ke arah yang lebih besar pada penggunaan propilen glikol level tinggi lebih kecil dibandingkan pergeseran viskositas ke arah yang lebih kecil pada penggunaan propilen glikol level rendah. Dapat dikatakan peningkatan carbopol 3% b/v pada penggunaan propilen glikol level tinggi lebih stabil dibanding penggunaan propilen glikol level rendah (Gambar 9a).

  Semakin besar jumlah propilen glikol yang digunakan dalam formula pada penggunaan carbopol 3% b/v level rendah, viskositas gel akan bergeser ke arah yang lebih kecil. Pada penggunaan carbopol 3% b/v level tinggi, peningkatan jumlah propilen glikol menyebabkan viskositas gel bergeser ke arah yang lebih besar. Pada peningkatan larutan propilen glikol dari level rendah ke level tinggi, pergeseran viskositas ke arah yang lebih besar pada penggunaan carbopol 3% b/v level tinggi lebih kecil dibandingkan pergeseran viskositas ke arah yang lebih kecil pada penggunaan carbopol 3% b/v level rendah. Dapat dikatakan peningkatan propilen glikol pada penggunaan carbopol 3% b/v level tinggi lebih stabil dibanding penggunaan carbopol 3% b/v level rendah (Gambar 9b).

  Perhitungan Yate’s treatment dengan taraf kepercayaan 95% untuk respon pergeseran viskositas disajikan dalam tabel VIII. Harga F yang diperoleh dari analisis secara Yate’s treatment memperlihatkan bahwa efek interaksi antara carbopol 3% b/v dengan propilen glikol memberikan pengaruh bermakna secara statistik karena harga F hitung lebih besar dari harga F tabel (lebih dari 10,128). Hal ini menegaskan identifikasi bahwa efek interaksi antara carbopol 3% b/v dengan propilen glikol adalah faktor dominan dalam menentukan respon pergeseran viksositas gel.

  Tabel VIII. Analisis Yate’ treatment untuk respon pergeseran viskositas Source of Degrees of Sum of square Mean square F variation freedom

  Replicate 1 5,7291 5,7291 Treatment 3 37,0447 12,3482

  Carbopol 1 7,2771 7,2771 3,7746 Propilen glikol 1 5,2326 5,2326 2,7141

  Interaction

  1 24,5350 24,5350 12,7263 3 5,7839 1,9279

  Experimental error

  Total 7 48,5577 Dari perhitungan efek rata-rata secara desain faktorial dan analisis Yate’s

  treatment dapat ditegaskan bahwa efek interaksi carbopol 3% b/v dan propilen glikol adalah faktor dominan dan bermakna dalam meningkatkan pergeseran viskositas gel.

  E.

  

Uji Iritasi Primer Ekstrak Rimpang Kunir Putih

  Uji iritasi dimaksudkan untuk melihat apakah formula gel sunscreen ekstrak rimpang kunir putih dapat menimbulkan iritasi. Uji ini digunakan untuk melengkapi uji SPF bahwa formula gel ini selain efektif sebagai tabir surya juga aman digunakan dan bahan yang digunakan tidak menyebabkan iritasi. Pada uji ini digunakan kelinci albino sebagai hewan percobaan untuk memudahkan pengamatan iritasi yang terjadi yang ditandai dengan timbulnya eritema dan edema. Hasil pengukuran indeks iritasi primer adalah sebagai berikut :

  

Tabel IX. Skor indeks iritasi primer dari formula-formula gel sunscreen ekstrak

rimpang kunir putih pada punggung kelinci

Formula Indeks Iritasi Primer

  1 a b

ab 0,1

  Hasil uji iritasi primer dari formula gel sunscreen ekstrak rimpang kunir putih yang telah dilakukan terhadap kulit kelinci menunjukkan pada formula 1, a, dan b mempunyai nilai indeks iritasi primer yang sama yaitu 0, sedangkan pada formula ab didapat nilai indeks iritasi primer 0,1 (Tabel IX). Nilai indeks iritasi primer tersebut berarti keempat formula gel repelan yang telah dibuat bersifat kurang merangsang terhadap timbulnya iritasi primer pada kulit hewan uji (Lu, 1995).

  F.

  

Optimasi Formula

  Setelah dilakukan uji sifat fisik, stabilitas, dan iritasi primer selanjutnya dilakukan optimasi formula berdasarkan contour plot dari persamaan desain faktorial. Optimasi formula dilakukan untuk mendapatkan formula yang optimum, yaitu formula yang memenuhi karakteristik bentuk sediaan yang baik sesuai dengan yang dikehendaki. Dari contour plot sifat fisik dan stabilitas dapat ditentukan area optimum berdasarkan respon yang dikehendaki. Untuk mendapatkan komposisi optimum formula gel sunscreen, contour plot masing-masing uji digabungkan dalam contour plot super imposed .

  Optimasi formula gel sunscreen meliputi sifat fisik, yaitu daya sebar dan viskositas serta stabilitas yang dilihat dari pergeseran viskositas setelah gel disimpan selama satu bulan. Viskositas yang tinggi dapat mempersulit pengemasan maupun pengeluaran sediaan dari pengemasnya. Daya sebar yang rendah maupun yang tinggi dapat mempersulit pemerataan sediaan pada saat aplikasi. Formula optimum gel yang didapat dari hasil optimasi diharapkan memiliki viskositas yang

  sunscreen

  cukup dan daya sebar yang baik. Dari optimasi formula gel sunscreen terhadap stabilitas, diharapkan pergeseran viskositas yang terjadi adalah seminimal mungkin.

  Persamaan desain faktorial daya sebar gel yang diperoleh adalah y = 4,8443 – 0,0145X

  1 – 0,0189X 2 + 0,0006X

  2. Melalui persamaan ini dapat dibuat contour

  1 X

  plot sebagai berikut:

  

Gambar 10. Contour plot daya sebar gel sunscreen ekstrak rimpang kunir putih

  Dari contour plot daya sebar gel (Gambar 10), dapat ditentukan area komposisi optimum gel untuk memperoleh respon daya sebar seperti yang dikehendaki, terbatas pada jumlah bahan yang diteliti. Daya sebar gel yang optimal diharapkan dapat menjamin pemerataan gel sunscreen ekstrak rimpang kunir putih saat aplikasi ke kulit. Respon yang dipilih dalam optimasi adalah kurang dari sama dengan 5 cm karena diharapkan memiliki area daya sebar formula yang optimum sesuai nilai daya sebar yang direkomendasikan untuk sediaan semistiff yaitu

  ≤ 5 cm (Garg et al., 2002).

  1

  • Persamaan desain faktorial viskositas gel adalah y = 106,9795 + 4,4160X 6,1929X

  2 – 0,1833X

  1 X 2 . Melalui persamaan ini dapat dibuat contour plot sebagai

  berikut:

  

Gambar 11. Contour plot viskositas sunscreen ekstrak rimpang kunir putih

  Dari contour plot viskositas gel (Gambar 11), dapat ditentukan area komposisi optimum gel untuk memperoleh respon viskositas seperti yang dikehendaki, terbatas pada jumlah bahan yang diteliti. Besarnya nilai viskositas diharapkan cukup optimal yaitu tidak terlalu besar ataupun tidak terlalu kecil.

  Viskositas yang terlalu besar akan menyulitkan saat pengemasan sediaan gel dan tidak menjamin pemerataan gel saat diaplikasikan pada kulit, sedangkan viskositas yang terlalu kecil tidak disukai karena saat pengaplikasian pada kulit banyak sediaan terbuang. Respon yang dipilih pada optimasi adalah formula dengan nilai viskositas 250 dPa.s sampai 260 dPa.s. Pemilihan tersebut didasarkan pada subjective yang telah dilakukan terhadap formula 1, a, b, dan ab, dimana formula

  assessment

  yang memiliki nilai viskositas 250 dPa.s sampai 260 dPa.s memiliki konsistensi yang dapat diterima oleh konsumen.

  Persamaan desain faktorial untuk pergeseran viskositas gel adalah y = 47,8731 – 1,2411X

  1 – 2,4965X 2 + 0,07005X

  1 X 2 . Melalui persamaan ini dapat dibuat

  contour plot sebagai berikut:

  

Gambar 12. Contour plot pergeseran viskositas gel sunscreen ekstrak rimpang kunir putih

  Dari contour plot pergeseran viskositas gel (Gambar 12), dapat ditentukan area komposisi optimum gel sunscreen untuk memperoleh respon pergeseran viskositas seperti yang dikehendaki, terbatas pada jumlah bahan yang diteliti. Pergeseran viskositas gel dikehendaki minimal atau tidak terjadi, karena dengan adanya pergeseran viskositas yang merupakan pergeseran profil kekentalan setelah satu bulan memperlihatkan adanya ketidakstabilan sediaan selama penyimpanan (Zatz & Kushla, 1996). Penelitian tentang metilhidroksietilselulosa dengan menggunakan pernukuran satu titik untuk melacak stabilitas dari beberapa tingkat polimer pada berbagai temperatur memberikan hasil bahwa ada sedikit perubahan dalam viskositas pada penyimpanan selama 2 bulan pada temperatur ruangan maupun temperatur pendingin. Penyimpanan pada temperatur 40ºC biasanya menyebabkan penurunan viskositas 15% atau lebih (Zatz, Berry & Alderman, 1996).

  Metilhidroksietilselulosa merupakan polimer semi sintetik, sedangkan carbopol 940 adalah polimer sintetik yang tentunya lebih stabil daripada polimer semi sintetik.

  Oleh karena itu pergeseran viskositas dibuat lebih ketat yaitu kurang dari 5%. Pemilihan area pada contour plot pergeseran viskositas gel ini diharapkan yang optimum. Pada respon tersebut diharapkan pergeseran viskositas yang terjadi minimal sehingga dihasilkan formula yang optimum. Setelah dilakukan pengujian, perubahan viskositas sebesar kurang dari 5% setelah penyimpanan selama 1 bulan tidak memperlihatkan kenampakan fisis perubahan viskositas yang berbeda secara nyata dibandingkan viskositas gel segera setelah pembuatan.

  Formula optimum pada level gelling agent dan humectant yang diteliti dapat diperoleh melalui penggabungan area komposisi optimum dari seluruh uji sifat fisik dan stabilitas gel yang telah dilakukan. Dengan komposisi basis yang optimum diperoleh formula gel dengan karakteristik sifat fisik dan stabilitas yang diharapkan tanpa adanya resiko terjadinya iritasi pada kulit sebelum diaplikasikan pada masyarakat sebagai suatu sediaan farmasetis. Grafik area optimum dari masing- masing uji yang telah dipilih digabungkan menjadi satu dalam contour plot

  superimposed sebagai berikut:

  

Gambar 13. Contour plot superimposed sifat fisik dan stabilitas gel sunscreen ekstrak

rimpang kunir putih

  Gambar 13 menunjukkan area komposisi optimum gel sunscreen dengan

  

gelling agent carbopol 3% b/v dan humectant propilen glikol. Area komposisi

  optimum gel sunscreen dengan respon yang dikehendaki dalam batas jumlah bahan yang diteliti didasarkan pada contour plot sifat fisik gel dan stabilitas. Respon yang dipilih meliputi daya sebar kurang dari sama dengan 5 cm, viskositas antara 250-260 dPa.s dan pergeseran viskositas kurang dari 5%. Area tersebut diprediksi sebagai formula optimum gel tanpa adanya indikasi mengiritasi kulit. Pada area komposisi optimum memperlihatkan penggunaan carbopol 3% b/v tidak boleh terlalu rendah ataupun terlalu tinggi, sedangkan propilen glikol dapat digunakan baik pada level rendah maupun level tinggi.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan

  1. Ekstrak rimpang kunir putih dapat memberikan serapan pada panjang gelombang UVA dan UVB.

  2. Carbopol 3% b/v memberikan efek paling dominan dalam menentukan respon daya sebar dan viskositas gel. Interaksi antara carbopol 3% b/v memberikan efek paling dominan dalam menentukan pergeseran viskositas setelah penyimpanan selama satu bulan.

  3. Diperoleh area optimum formula gel sunscreen dengan carbopol 3% b/v sebagai

  

gelling agent dan propilen glikol sebagai humectant berdasarkan contour plot

superimposed yang meliputi daya sebar, viskositas dan stabilitas pada level yang

  diteliti.

  B.

  

Saran

  1. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut terhadap kandungan ekstrak rimpang kunir putih.

  2. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut terhadap kemungkinan perubahan nilai SPF dalam sediaan.

  3. Perlu dilakukan fraksinasi terhadap ekstrak rimpang kunir putih untuk mendapatkan senyawa-senyawa yang mampu mengabsorbsi UV.

  DAFTAR PUSTAKA

  Allen Jr., Loyd V., PhD., 2002, The Art, Science, and Technology of Pharmaceutical

  Compounding, Second edition , 301-310, American Pharmaceutical Association, USA.

  Anger, Claude B., Rupp, D., Lo, P., 1996, Preservation of Dispersed System, in Banker, Gilbert S., Lieberman, H.A., and Rieger, Martin M., (Eds.),

  nd Pharmaceutical Dosage Forms: Disperse System Vol. 1, 2 Ed., 389, Marcel Dekker Inc., New York.

  Anonim, 1983, Hand Book of Pharmaceutical Excipient, 241-242, American Pharmaceutical Association, Washington DC.

  • , 1986, Sediaan Galenik, 2-3, 6-7, 16, 19-21, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.
  • , 1979, Materia Medika Indonesia, Jilid III, 4, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.
  • , 1995, Farmakope Indonesia, Edisi IV, 712, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.
  • , 2000a, Curcuminoids-Pharmacological Efects. Curcuminoids [serial Online],

   . Diakses pada 13 Januari 2006.

  • , 2000c, Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat, 30-31, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.
  • , 2001, Final Report on the Safety Assessment of

  Carbomers-934, -910P, -940, -941, and -962 , http://www.personalcare.noveon.com/Toxicology/finalsafety.pdf. Diakses pada 19 November 2006.

  • , 2003, Kunir Putih, . Diakses pada 20 Februari 2006.
  • , 2004a, Sunblock is the Most Important Cosmetic You Will Ever Use,

  

. Diakses pada 13

November 2005.

  • , 2004b, Kunir Putih, . Diakses pada 10 Februari 2006.

  • , 2005, UVA-UVB Sun Rays, pada 13 November 2005
  • , 2006a, Water Soluble Carbomer for Thickening, Suspending, and Stabilizing , . Diakses pada tanggal 19 November 2006.
  • , 2006b, Increasing Use of High Sun Protection Factors in Sunscreen

  Products , 6 Januari 2007.

  • , 2006c, Commission Recommendation of 22 September 2006 on Efficacy of

  Sunscreen Products and The Claims Made Relating Thereto ,

  • , 2006d, Nature of UV Radiation,

  

  • , 2007a, Sunscreen, .

  Diakses pada 6 Januari 2007

  • , 2007b, Ultraviolet, http://en.wikipedia.org/wiki/Ultraviolet . Diakses pada 6 Januari 2007.
  • , 2007c, Ozon Depletion,

  Diakses pada 22 Februari 2007. Ansel, Howard C Ph.D., 1989, Introduction to Pharmaceutical Dosage Forms, Edisi

  IV, 390, diterjemahkan oleh Farida Ibrahim, Universitas Indonesia Press, Jakarta. Ariens, Y., Simons, C., Mutschler, E., 1985, General Toxicology, Edisi I, 127-134, diterjemahkan oleh Yoke, R. dkk, UGM Press, Yogyakarta. Ash, I., dan Michael, 1977, A Formulary of Cosmetic Preparations, Chemical Publishing Co., New York. Badmaev, Vladimir M.D Ph.D., Majeed, Muhammed, PhD., Shivakumar, Umar.,

  Ph.D., Rajendran, R., 1995, Curcuminoids: Antioxidant Phytonutrients, 23, Nutriscience Publisher, Inc., New Jersey.

  Badmaev, Vladimir M.D., 2003, Cross-regulin Composition of Turmeric-derived

  Tetrahydrocurcuminoids for Skin Lightening and Protection Against UVB Rays,

  Badmaev, Vladimir MD Ph.D., Prakash, Lakshmi., Majeed, Muhammed Ph.D., 2005, Topical and Nutraceutical Skin Care Naturals,

   th

  Bolton, S., 1997, Pharmaceutical Statistics Practical and Clinical Applications, 3 Ed., 326-337, Marcel Dekker Inc., New York. Calder, Vince, Ph.D., 2005, How Does Sunblock Blockout UV A and UV B Rays,

  . Diakses pada 17 November 2005

  Gunawan, D., Soegihardjo, C.J., Mulyani, S., Koensoemardiyah, 1998, Empon-

  empon dan Tanaman Zingiberaceae , 12, Perhimpunan Peneliti Bahan Obat Alami, Komisariat, Yogyakarta.

  Garg, A., Aggarwal, D., Garg, S., Singla, A.K., 2002, Spreading of Semisolid Formulation : An Update, Pharmaceutical Technology, September 2002, 84-102,

  Heinrich, M., Barnes, J., Gibbons, S., Williamson, Elizabeth M., 2004,

  Fundamentals of Pharmacognosy and Phytotherapy , 264, Elsevier Science Limited, UK.

  Hutapea, Johnny Ria DR., 1993, Inventaris Tanaman Obat Indonesia (II), 165, Badan Penelitian dan Pengembangan, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.

  Jellinek, J Stephan DR., 1970, Formulation and Function of Cosmetics, translated by G.L.Fenton, 323-325, John Wiley & Sons Inc., USA. Johnson, Anthony W., 2002, The Skin Moisturizer Marketplace, in Leyden, J.J.,

  Rawlings, A.V., (Eds), Skin Moisturization, 25, Marcell Dekker Inc., New York. Loden, Marie, 2001, Hydrating Substances, in Barel, A.O., Paye, M., Maibach, H.I.,

  Handbook of Cosmetic Science and Technology , Marcell Dekker, Inc., New York.

  Lu, F.C., 1995, Basic Toxicology: Fundamentals, Target Organs, and Risk

  Assesment , diterjemahkan oleh Edi Nugroho, Edisi III, 239-245, Universitas Indonesia Press, Jakarta. Lucas, R., McMichael, T., Smith, W., & Armstrong, B., 2006, Solar Ultraviolet Radiation: Global Burden of Disease From Solar Ultraviolet Radiation .

  Environmental Burden of Disease [Serial Online], 4, 8, 88 (No. 13): (258 screens), Available from URL: http// Muhlizah, F., 1999, Temu-temuan dan Empon-empon Budidaya dan Manfaatnya, 73- 76, Penerbit Kanisius, Yogyakarta. Mulja, Muhammad, Drs., dan Suharman, Drs., 1995, Analisis Instrumental, 26-31, Airlangga University Press, Surabaya. Muller, Alban, 1996, Herbal Complexes with Proven Efficacy, in Fridd, Petrina

  (Ed.), Natural Ingredients in Cosmetics-II, 156-157, Micelle Press, Wayemouth, England. Muth, J. E. De, 1999, Basic Statistics and Pharmaceutical Statistical Applications,

  265-294, Marcel Dekker, Inc., New York Nakayama, T., 1997, Affinities of Dietary Phenolic Antioxidants for Lipid Bilayers, in Shahidi, F., Ho, Chi-Tang. (Eds.), Phytochemicals and

  Phytopharmaceutical , 355-356, AOCS Press, USA.

  Roberts, Bryan. Dr., 2004, What is the difference between a sunscreen and a sun

  block? , 26 Januari 2007.

  Roth, H.J., and Blaschke, G., 1994, Pharmaceutical Analysis, diterjemahkan oleh Sarjoko Risman dan Slamet Ibrahim, 359-361, 373, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

  Sagarin, Edward, 1957, Cosmetics Science and Technology, 197, Interscience Publisher Inc., New York. Sayekti & Ernita, 1994, Prosiding Simposium Penelitian Bahan Obat Alami VIII,

  553-556, Perhimpunan Peneliti Bahan Obat Alami (PERHIBA) kerjasama dengan Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (BALITRO), Bogor. Silva, Lee, & Kinghorn, 1998, Special Problems with the Extraction of Plants, in

  Cannell, R.J.P. (Ed.), Natural Product Isolation, 343-351, Humana Press Inc., New Jersey. Silverstein, R.M., Bassler, G. Clayton., & Morril, Terence C., 1991, Spectrometric

  th Identification of Organic Compounds , 5 Ed., 289-314, John Willey & Sons, Inc., Singapore. th

  Skoog, Douglas A., 1985, Principles of Instrumental Analysis, 3 Ed., 160-214, CBS College Publishing, Japan. Stacener, M.D., 2006, Sunscreen vs Sunblock & Which One to Tan With,

   . Diakses pada 6 Januari 2007

  Stanfield, Joseph W., 2003, Sun Protectans: Enhancing Product Functionality with

  Sunscreens , in Schueller, R., Romanowski, P., (Eds.), Multifunctional Cosmetics , 145-148, Marcel Dekker Inc., New York.

  Walters, C., Keeney, A., Wigl, C.T., Johnston, C.R., and Cornelius, R.D., 1997, The Spectrophotometric Analysis and Modeling of Sunscreen. Journal of Chemical Education , 74, 1, 99-101.

  th

  Windholz, M., 1976, The Merck Index an Encyclopedia of Chemicals and Drugs, 9 Ed,. 343-344, Merck and G. Inc., Rahway, N.J., United States of America. Zatz, J.L., Berry, J.J., Alderman, D.A., 1996, Viscosity-Imparting Agents in Disperse

  System , in Banker, Gilbert S., Lieberman, H.A., Rieger, Martin M., (Eds.), nd

  Pharmaceutical Dosage Forms: Disperse System Vol. 1, 2 Ed., 291, Marcel Dekker Inc., New York.

  Zatz, J.L., Kushla, G.P., 1996, Gels, in Lieberman, H.A., Lachman, L., Schwatz,

  nd

  J.B., (Eds.), Pharmaceutical Dosage Forms: Dysperse System Vol. 2, 2 Ed.,400-401, Marcel Dekker Inc., New York. Zeman, Gary, ScD., CHP., 2007, Ultraviolet Radiation,

   . Diakses pada 22 Februari 2007.

  

LAMPIRAN

Lampiran 1. Uji SPF

1. Perhitungan SPF

  C A SPF SPF (%)

  I II III I II III 8 0,809 0,810 0,813 6,442 6,456 6,501 6,466 9 1,367 1,365 1,391 23,281 23,174 24,604 23,686

  10 1,485 1,482 1,474 30,549 30,339 29,785 30,224

  11 1,649 1,650 1,637 44,566 44,668 43,351 44,195 12 1,778 1,786 1,823 59,979 61,094 66,527 62,534 Absorbansi yang didapat dihitung sebagai nilai SPF, menggunakan rumus:

  1 ⎛ ⎞

  A = -log

  10 ⎜ ⎟ SPF ⎝ ⎠

  A = log

10 SPF

  Agar diperoleh sediaan dengan nilai SPF 30, maka konsentrasi ekstrak yang dibutuhkan adalah 10%

  1,485

  I SPF = 10 = 30,549

  1,482

  II SPF = 10 = 30,339

  1,474

  III SPF = 10 = 29,785

  30 , 549 30 , 339 + + 29 , 785

  SPF = = 30,224

  3

  2. Pembuatan Larutan Baku Kurkumin a.

  Penimbangan standar kurkuminoid Merck Bobot kertas = 0,1993 g Bobot kertas + zat = 0,2671 g = 0,26731 g Bobot kertas + sisa = 0,20330 g Bobot zat = 0,06401 g

  • Konsentrasi 4,0966 mg%
  • Konsentrasi 5,1208 mg%
  • Konsentrasi 6,1449 mg%

  V

  1 x C 1 = V 2 x C

  2 V 1 x 256,04 mg% = 10 mL x 7,1691 mg%

  V

  1 = 0,28 mL

  V

  1

  x C

  1

  = V

  2

  x C

  2 V 1 x 256,04 mg% = 10 mL x 8,7054 mg%

  1 = 0,34 mL

  = 0,24 mL

  V

  1

  x C

  1

  = V

  2

  x C

  2 V

  1

  x 256,04 mg% = 10 mL x 9,2174 mg%

  V

  1 = 0,36 mL

  d. Pengukuran absorbansi kurva baku

  V

  1

  Absorbansi (replikasi) Konsentrasi (mg%) 1 2 3 Absorbansi rata-rata 4,0966 0,729 0,700 0,700 0,709 5,1208 0,876 0,886 0,872 0,878 6,1449 1,158 1,151 1,191 1,167 7,1691 1,366 1,372 1,411 1,383 8,7054 1,589 1,570 1,578 1,579 9,2174 1,791 1,769 1,710 1,723 e.

  1

  b.

  Pembuatan larutan stok standar kurkuminoid 0,06401 g dalam 25 mL etanol p.a = 0,06401 ml

  25 g = 256,04 100 mL mg

  = 256,04 mg%

  c. Pembuatan seri kurva baku standar kurkuminoid

  V

  1

  x C

  1

  = V

  2

  x C

  2 V

  x 256,04 mg% = 10 mL x 4,0966 mg%

  V

  V

  1 = 0,16 mL

  V

  1 x C 1 = V 2 x C

  2 V

  1

  x 256,04 mg% = 10 mL x 5,1208 mg%

  V

  1

  = 0,20 mL

  V

  1 x C 1 = V 2 x C

  2 V 1 x 256,04 mg% = 10 mL x 6,1449 mg%

  • Konsentrasi 7,1691 mg%
  • Konsentrasi 8,7054 mg%
  • Konsentrasi 9,2174 mg%

  Analisis regresi linier Konsentrasi vs absorbansi rata-rata, didapat harga: A = -0,0084 B = 0,1964 r = 0,9938 diperoleh persamaan kurva baku y = 0,1964x – 0,0084 Dari analisi regresi didapat harga r hitung lebih besar dari r tabel (

  α = 0,05) yaitu 0,811. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hubungan antara konsentrasi dan absorbansi adalah linear sehingga konsentrasi 10% yang digunakan untuk mendapatkan nilai SPF 30 dapat diterima.

  • Konsentrasi 0,1792 mg%
  • Konsentrasi 0,2560 mg%
  • Konsentrasi 0,3328 mg%

  μL

  V

  1

  x C

  1

  = V

  2

  x C

  2 V 1 x 256,04 mg% = 10 mL x 0,4097 mg%

  V

  1 = 0,016 mL = 16

  V

  1 = 0,013 mL = 13

  1

  x C

  1

  = V

  2

  x C

  2 V

  1

  x 256,04 mg% = 10 mL x 0,4865 mg%

  V

  1 = 0,019 mL = 19

  μL

  V

  μL

  1

  

Lampiran 2. Penetapan kadar kurkumin dalam ekstrak rimpang kunir putih

secara spektrofotometri

  1. Pembuatan kurva baku standar kurkuminoid Merck a.

  Penimbangan standar kurkuminoid Merck Bobot kertas = 0,1993 g Bobot kertas + zat = 0,2671 g = 0,26731 g Bobot kertas + sisa = 0, 20330 g Bobot zat = 0,06401 g b.

  Pembuatan larutan stok standar kurkuminoid 0,06401 g dalam 25 mL etanol p.a = 0,06401 ml

  25 g = 256,04 100 mL mg

  = 256,04 mg%

  c. Pembuatan seri kurva baku standar kurkuminoid

  V

  1 x C 1 = V 2 x C

  2 V

  x 256,04 mg% = 10 mL x 0,1792 mg%

  2 V 1 x 256,04 mg% = 10 mL x 0,3328 mg%

  V

  1

  = 0,007 mL = 7 μL

  V

  1 x C 1 = V 2 x C

  2 V 1 x 256,04 mg% = 10 mL x 0,2560 mg%

  V

  1

  = 0,01 mL = 10 μL

  V

  1 x C 1 = V 2 x C

  • Konsentrasi 0,4097 mg%
  • Konsentrasi 0,4865 mg%

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Formulasi Bubur Bayi Instan dengan Substitusi Tepung Tempe danTepung Labu Kuning sebagai Alternatif Makanan Pendamping ASI
8
123
82
Formulasi dan Evaluasi Aktivitas Emulgel dari Kombinasi Avobenzone dan Oktilmetoksisinamat sebagai Tabir Surya
8
87
109
Formulasi dan Evaluasi Ekstrak Etanol Edamame (Glycine Max) sebagai Sediaan Krim Pemutih;
2
19
94
Uji efek hipoglikkemik ekstrak etanol gambir (uncaria gambir, roxb) pada tikus putih jantan dengan metode induksi aloksan dan toleransi glukosa
1
11
136
Uji potensi antifungi ekstrak etanol rimpang kecombrang (Nicolaia speciosa Horan) terhadap Trichohyton meniagrophyies dan Trichophyton rubrum
5
24
83
Formulasi tablet hisap ekstrak etanol gambir (uncaria gambir roxb) dengan variasi konsentrasi polyvinyil pyrrolidone (PVP) sebagai peningkat dan pengaruhya terhadap kadar CD4 dalam darah
5
29
113
Optimasi formula sediaan gel gigi yang mengandung ekstrak daun jambu biji (psidium guajaya L) dengan Na CMC sebagai gelling agent
3
11
71
Formulasi Gel Semprot Menggunakan Kombinasi Karbopol 940 dan Hidroksipropil Metilselulosa (HPMC) sebagai Pembentuk Gel.
9
53
57
Formulasi gel semprot menggunakan kombinasi karbopol 940 dan Hidroksipropil Metilselulosa (HPMC) sebagai pembentuk gel
3
34
57
Formulasi Gel Semprot Menggunakan Kombinasi Karbopol 940 dan Hidroksipropil Metilselulosa (HPMC) sebagai Pembentuk Gel
2
41
57
Formulasi Food Bar Tepung Bekatul dan Tepung Jagung sebagai Pangan Darurat
0
0
8
Aktivitas ekstrak etanol daun singawalang (Petiveria alliacea L.) dan fraksinya sebagai antidiabetes
0
0
7
Formulasi Bubur Bayi Instan dengan Substitusi Tepung Tempe danTepung Labu Kuning sebagai Alternatif Makanan Pendamping ASI
0
2
11
Pemanfaatan gel aloe vera dan ekstrak jahe sebagai edible coating buah jambu cincalo (Syzygium aqueum) selama penyimpanan suhu ruang - Repository Universitas Bangka Belitung
0
0
16
Formulasi Flakes Berbahan Dasar Tepung Milet Putih (Panicum miliaceum L.) dengan Penambahan Koya Ikan Gabus (Channa striata) dan Tepung Tempe sebagai Pangan Darurat - UNS Institutional Repository
0
1
12
Show more