EFEKTIFITAS PENGGUNAAN ALAT PERAGA DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA UNTUK MATERI PENGUKURAN DAN PENGGUNAAN ALAT UKUR PANJANG PADA SISWA SLB B (TUNARUNGU) KELAS D2 (SETARA KELAS 2 SD) SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana

Gratis

0
0
208
1 year ago
Preview
Full text

  

EFEKTIFITAS PENGGUNAAN ALAT PERAGA

DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA UNTUK MATERI

PENGUKURAN DAN PENGGUNAAN ALAT UKUR PANJANG

PADA SISWA SLB B (TUNARUNGU) KELAS D2 (SETARA KELAS 2 SD)

SKRIPSI

  

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Program Studi Pendidikan Matematika

  

Oleh:

Caecilia Shinta Siwi Januarini

NIM. 031414031

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA

JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

HALAMAN PERSEMBAHAN

  Dengan tanganMu, aku dapat menyelesaikan semuanya Dalam rencanaMu, Kau buat segalanya indah tepat pada waktunya

  Sungguh, tak ada yang sesetia Engkau Menemaniku dalam segala suasana Menopangku dalam keraguanku Hingga aku yakin pada kemampuanku

  Dan percaya, cintaMu adalah kekuatanku Skripsi ini ku persembahkan kepada: Jesus Christ dan Bunda Maria Bapak, ibu dan adikku tersayang Kekasihku Dony Istiawan Almamater

  

ABSTRAK

Caecilia Shinta Siwi Januarini. 2007. Efektifitas Penggunaan Alat Peraga

dalam Pembelajaran Matematika untuk Materi Pengukuran dan Penggunaan Alat

Ukur Panjang pada Siswa SLB B (Tunarungu) Kelas D2 (Setara Kelas 2 SD) .

  Program Studi Pendidikan Matematika, Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma: Yogyakarta

  Perumusan masalah dalam penelitian ini adalah (1) Bagaimana keterlibatan siswa SLB B dan hasil yang dicapai siswa SLB B dalam pembelajaran matematika dengan menggunakan alat peraga untuk materi pengukuran dan penggunaan alat ukur panjang? (2) Apakah penggunaan alat peraga dalam pembelajaran matematika untuk materi pengukuran dan penggunaan alat ukur panjang dapat meningkatkan minat siswa SLB B untuk mempelajari matematika? Tujuan dari penulisan skripsi ini adalah untuk mengetahui sejauh mana penggunaan alat peraga dalam pembelajaran matematika untuk materi pengukuran dan penggunaan alat ukur panjang dapat meningkatkan keterlibatan siswa SLB B dalam kegiatan pembelajaran matematika dan bagaimana hasil yang dicapai siswa SLB B dalam pembelajaran, serta untuk mengetahui apakah pembelajaran matematika untuk materi pengukuran dan penggunaan alat ukur panjang dengan menggunakan alat peraga dapat meningkatkan minat siswa SLB B. Penelitian ini dapat bermanfaat bagi: (1) Guru, (2) Siswa, (3) Mahasiswa, khususnya mahasiswa pendidikan, (4) Penulis.

  Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif, dalam penelitian ini peneliti mencoba untuk mendeskripsikan kejadian dengan cara mengamati dan mengumpulkan data kualitatif, yaitu data dalam bentuk apa adanya atau data yang tidak mengalami kuantifikasi dan manipulasi. Pengumpulan data dalam penelitian dilakukan dengan cara: (1) Mengamati tingkah laku dan respon siswa SLB B selama pembelajaran berlangsung. (2) Mengisi lembar observasi tentang kegiatan siswa, minat dan keterlibatan yang diisi oleh guru/pengamat. (3) Memberikan soal-soal yang berhubungan dengan pengukuran dan penggunaan alat ukur panjang. (4) Wawancara dengan guru, dilakukan setelah pembelajaran berakhir.

  Penelitian dilaksanakan pada akhir bulan Februari 2007 sampai dengan awal Maret 2007. Subjek penelitian adalah tiga siswa SLB B kelas D2, SLB B YAAT Klaten tahun ajaran 2006/2007. Penulis mengadakan penelitian dengan alat peraga berupa: (1) Manik-manik, (2) Senar, (3) Meteran penjahit, (4) Penggaris, (5) Benda-benda yang ada di dalam kelas dan (6) Kartu bilangan. Alat peraga tersebut digunakan dalam melakukan kegiatan pembelajaran matematika untuk materi pengukuran dan penggunaan alat ukur panjang. Alat peraga digunakan untuk membantu proses abstraksi siswa dan agar siswa dapat membangun sendiri konsep tentang pengukuran.

  Hasil penelitian berupa: (1) Peningkatan keterlibatan siswa SLB B dalam bersosialisasi dengan siswa lain, (4) Peningkatan hasil belajar siswa, (5) Siswa lebih cepat dalam memahami materi yang disampaikan, (6) Peningkatan minat siswa untuk belajar matematika, (7) Siswa semakin tertarik dengan kegiatan pembelajaran matematika, (8) Siswa tidak meninggalkan kelas. Penelitian ini mengindikasikan bahwa ada peningkatan keterlibatan, hasil belajar dan minat siswa SLB B dalam kegiatan pembelajaran matematika dengan menggunakan alat peraga. Secara umum, siswa menunjukkan peningkatan keterlibatan, hasil belajar dan minat dalam pembelajaran matematika dengan menggunakan alat peraga.

  Berdasarkan hasil penelitian di atas, peneliti dapat memberikan saran sebagai berikut: (1) Penelitian ini tidak dapat digeneralisasikan untuk semua kasus karena penelitian ini merupakan studi kasus. (2) Bagi pembaca yang ingin memperdalam penelitian ini, disarankan untuk mencari sekolahan yang mempunyai siswa dengan kehadiran yang tetap (masuk sekolah terus).

  

ABSTRACT

Caecilia Shinta Siwi Januarini. 2007. The Effectiveness of Teaching Aids

Used in Learning Mathematics for The Measurement Material and The Use of

Length Instrument for SLB B Students (Hard of Hearing) D2 Grade (Equal

Second Grade in Elementary School). Study Program of Mathematics Education,

  Department of Mathematics and Natural Sciences, Faculty of Teacher Training and Education, Sanata Dharma University: Yogyakarta Research problem were formulated: (1) How SL B B students are involved and the result which is reached by them in learning mathematic using the teaching aids for the measurement material and the use of length instrument? (2) Could the teaching aids used for the measurement material and the use of length instrument increase the SLB B students interest to study mathematic? This research is intended to know how far the teaching aids in learning mathematic for length material and the use of length instrument is able to increase SLB B students involvement in learning mathematic and how the result is reached by SLB B students in learning it, and to know could the mathematic learning for the measurement material and the use of length instrument by using the teaching aids increase SLB B students interest. This research is benefit for: (1) The teachers, (2) The students, (3) Students of university, especially education students, (4) Writer.

  This researcher uses descriptive qualitative method, in this research the researcher tries to describ the fact/phenomena by observing and collecting qualitative data, it is the real data/data which is not kuantifikasi and manipulation. Collecting data in this research by: (1) Observing SLB B students behaviour and respon during the learning process. (2) Completing the observation sheet about the students activities, interest and their involvement which is done by the teacher/observer. (3) Giving the questions related to the measurement and the use of length instrument. (4) Interviewing the teacher, done after the class activities end.

  The research was performed by the end of February 2007 up to early of March 2007. The subject of this research were three students of SLB B in D2 grade, SLB B YAAT Klaten for the academic year of 2006/2007. The writer observes by using the teaching aids such as: (1) Bead, (2) Senar, (3) Tailor gauge, (4) Ruller, (5) The things in the class room and (6) Number card. They are used in mathematic learning process for the measurement material and the use of length instrument. They are used to help the process of students abstraction so that the students are able to develop the concept of measurement.

  The result of the research are: (1) The increasing of SLB B students involvement in learning mathematics, (2) The increasing of students bravery in expressing their ideas, (3) The students wish to cooperate and have socialization with the others, (4) The increasing result of the students learn, (5) It is faster for the students to understand the material given, (6) The increasing of the students interest to learn mathematics, (7) The students prefer in learning mathematics, (8) learning by using the teaching aids. Generally, the students show the increase of involvement, the result of learning and interest in mathematic learning by using the teaching aids.

  Based on the result above, the researcher are able to give suggestion as follow: (1) This research is not able to be generalized for all cases since this research is case study. (2) For the readers who want to obtain deep this research, suggested to seek the shool having the fixed students attendance (enter the shool non-stoped).

KATA PENGANTAR

  Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas kasih, kekuatan, cinta dan semua yang telah dianugerahkanNya kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Efektifitas Penggunaan Alat Peraga

  

dalam Pembelajaran Matematika untuk Materi Pengukuran dan

Penggunaan Alat Ukur Panjang pada Siswa SLB B (Tunarungu) Kelas D2

(Setara Kelas 2 SD)” sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana

  Pendidikan pada Program Studi Pendidikan Matematika, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

  Keberhasilan penyusunan skripsi ini tidak terlepas dari dukungan dan bantuan dari berbagai pihak, baik berupa materiil maupun spiritual. Oleh sebab itu, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

  1. Bp. Dr. Y. Marpaung, selaku dosen pembimbing yang dengan sabar telah memberikan pengarahan, bimbingan, semangat, dan dukungan dari awal perencanaan penelitian, saat penelitian sampai penyusunan skripsi ini selesai.

  2. Bp. M. Andy Rudhito, S.Pd., M.Si dan Bp. Hongki Julie, S.Pd., M.Si, selaku dosen penguji yang telah berkenan memberikan saran dan kritik yang membangun.

  3. Bp. Narjo dan Bp. Sugeng, karyawan sekretariat Pendidikan Matematika yang memberikan bantuan dan kemudahan dalam mengurus surat-surat penelitian.

  4. Bp. Wardoyo, Kepala Sekolah SLB B YAAT yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk melaksanakan penelitian di SLB B YAAT

  5. Ibu Triningsih, selaku guru kelas D2 SLB B yang telah membantu penulis, memberikan dukungan dan semangat kepada penulis selama penelitian.

  6. Bapakku (M. Sunarto), Ibuku (Ch. Eni. D.A), dan adikku (Leonardo Sony. A) tersayang yang tak pernah henti memberikan kasih sayang, doa, perhatian, dan segala kebutuhan dalam penyusunan skripsi ini.

  7. Kekasihku tercinta, Dony Istiawan yang dengan sabar dan tak pernah jenuh memberikan kekuatan cinta, kasih sayang, doa, semangat dan segala bantuan.

  8. Liyox, Androx dan Upil, sahabat sejatiku. Terima kasih atas semuanya.

  9. Si Berat (Androx, Gendut, Oneng dan Ba) and Jajax, terima kasih atas persahabatan yang indah dan penuh warna yang telah kalian hadirkan.

  10. Nano, Anggey, Opang, Meta, Agung, Tanti, Widi dan Win yang selalu memberikan doa, semangat, bantuan dan keceriaan.

  11. Teman-teman Pendidikan Matematika angkatan 2003. Terima kasih atas segala yang telah kalian berikan.

  12. Semua pihak yang telah membantu penyusunan skripsi ini.

  Penulis menyadari bahwa skripsi ini jauh dari kesempurnaan. Oleh sebab itu, penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun. Akhirnya, penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat bagi para pembaca dan perkembangan ilmu pengetahuan, khususnya ilmu pendidikan.

  Penulis

  DAFTAR ISI

  Halaman HALAMAN JUDUL .................................................................................... i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING .......................................... ii HALAMAN PENGESAHAN....................................................................... iii HALAMAN PERSEMBAHAN ................................................................... iv PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ...................................................... v ABSTRAK ................................................................................................... vi

  ABSTRACT .................................................................................................... viii

  KATA PENGANTAR ................................................................................. x DAFTAR ISI................................................................................................ xii DAFTAR GAMBAR ................................................................................... xvi DAFTAR LAMPIRAN................................................................................. xvii BAB I PENDAHULUAN ...........................................................................

  1 A. Latar Belakang Masalah .........................................................................

  1 B. Rumusan Masalah ..................................................................................

  3 C. Tujuan Penelitian ....................................................................................

  4 D. Pembatasan Masalah ..............................................................................

  4 E. Pembatasan Istilah .................................................................................

  5 1. Siswa SLB B .............................................................................. ........

  5 2. Pembelajaran matematika ...................................................................

  5

  4. Keterlibatan ......................................................................... ...............

  5 5. Hasil yang dicapai siswa .....................................................................

  5

  6. Minat .................................................................................................. 6 7. Efektifitas............................................................................................

  6 F. Manfaat Penelitian .................................................................................

  6 BAB II LANDASAN TEORI ......................................................................

  7 A. Makna Belajar .........................................................................................

  7 B. Pengertian Matematika............................................................................

  7 C. Alat Peraga .............................................................................................

  10 D. Tunarungu ..............................................................................................

  11 1. Pengertian Anak Tunarungu ................................................................

  11 2. Klasifikasi dan Jenis Ketunarunguan ..................................................

  13 3. Penyebab Ketunarunguan .....................................................................

  14 4. Karakteristik Anak Tunarungu .............................................................

  15 5. Pendidikan Anak Tunarungu ..............................................................

  17 6. Komunikasi Bagi Anak Tunarungu ....................................................

  23 E. Hakekat Pengukuran................................................................................

  24 BAB III METODOLOGI PENELITIAN......................................................

  27 A. Jenis Penelitian........................................................................................

  27 B. Subjek Penelitian.....................................................................................

  27 C. Jenis Data ...............................................................................................

  27 D. Metode Pengumpulan Data ....................................................................

  28

  2. Wawancara ......................................................................................... 29 3. Dokumentasi .......................................................................... ............

  29 E. Keabsahan Data.......................................................................................

  30 F. Instrumen Penelitian ...............................................................................

  30 1. Lembar Pengamatan ............................................................................

  30 2. Lembar Wawancara ...................................................................... .....

  30 G. Prosedur Pelaksanaan Penelitian ...............................................................

  30 1. Tahap Persiapan .................................................................................

  30 2. Rencana Kegiatan ...............................................................................

  31 3. Alat Peraga yang Digunakan...............................................................

  32 4. Evaluasi Pembelajaran Siswa..............................................................

  35

  5. Rencana Pelaksanaan ......................................................................... 36 H. Analisis Data dan Penarikan Kesimpulan ...............................................

  36 BAB IV PELAKSANAAN PENELITIAN DAN HASIL OBSERVASI.....

  39 A. Pelaksanaan Penelitian ...........................................................................

  39 1. Observasi Sebelum Pembelajaran ......................................................

  40 2. Observasi Pada Waktu Pembelajaran .................................................

  42 a. Pertemuan pertama...........................................................................

  42 b. Pembahasan pertemuan pertama......................................................

  49 c. Pertemuan kedua .............................................................................

  50 d. Pembahasan pertemuan kedua ........................................................

  61 e. Pertemuan ketiga..............................................................................

  62

  g. Pertemuan keempat..........................................................................

  70 h. Pembahasan pertemuan keempat ....................................................

  83 i. Pertemuan kelima .............................................................................

  85 j. Pembahasan pertemuan kelima ........................................................ 116 k. Pembahasan secara keseluruhan ..................................................... 119

  B. Hambatan yang Terjadi .......................................................................... 123

  BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ......................................................... 124 A. Kesimpulan ............................................................................................. 124 B. Saran........................................................................................................ 125 DAFTAR PUSTAKA .................................................................................. 126 LAMPIRAN.................................................................................................. 127 BIOGRAFI PENULIS .................................................................................. 189

  

DAFTAR GAMBAR

  Gambar 1. Gambar-gambar Pertemuan Pertama ....................................... 127 Gambar 2. Gambar-gambar Pertemuam Kedua ........................................ 128 Gambar 3. Gambar-gambar Pertemuan Ketiga.......................................... 129 Gambar 4. Gambar-gambar Pertemuan Keempat ..................................... 130 Gambar 5. Gambar-gambar Pertemuam Kelima ....................................... 131

  

DAFTAR LAMPIRAN

  Lampiran 1. Surat keterangan telah melakukan penelitian di SLB B YAAT Klaten ..................................................................................... 132

  Lampiran 2. Rencana pembelajaran (untuk pertemuan pertama) ............... 133 Lampiran 3. Rencana pembelajaran (untuk pertemuan kedua).................... 135 Lampiran 4. Rencana pembelajaran (untuk pertemuan ketiga) ................... 137 Lampiran 5. Rencana pembelajaran (untuk pertemuan keempat)................ 139 Lampiran 6. Rencana pembelajaran (untuk pertemuan kelima) ................ 141 Lampiran 7. Instrumen observasi aktivitas siswa di kelas (pada pertemuan pertama) .................................................................................. 143 Lampiran 8. Instrumen observasi keterlibatan siswa dalam pembelajaran

  (pada pertemuan pertama) ...................................................... 144 Lampiran 9. Instrumen observasi minat siswa dalam pembelajaran (pada pertemuan pertama) .............................................................. 145 Lampiran 10. Instrumen observasi aktivitas siswa di kelas (pada pertemuan kedua) ................................................................................... 146 Lampiran 11. Instrumen observasi keterlibatan siswa dalam pembelajaran

  (pada pertemuan kedua) ....................................................... 147 Lampiran 12. Instrumen observasi minat siswa dalam pembelajaran (pada pertemuan kedua) ................................................................. 148 Lampiran 13. Instrumen observasi aktivitas siswa di kelas (pada pertemuan

  Lampiran 14. Instrumen observasi keterlibatan siswa dalam pembelajaran (pada pertemuan ketiga) ....................................................... 150

  Lampiran 15. Instrumen observasi minat siswa dalam pembelajaran (pada pertemuan ketiga) ................................................................. 151 Lampiran 16. Instrumen observasi aktivitas siswa di kelas (pada pertemuan keempat) ............................................................................... 152 Lampiran 17. Instrumen observasi keterlibatan siswa dalam pembelajaran

  (pada pertemuan keempat) ................................................... 153 Lampiran 18. Instrumen observasi minat siswa dalam pembelajaran (pada pertemuan keempat) ............................................................ 154 Lampiran 19. Instrumen observasi aktivitas siswa di kelas (pada pertemuan kelima) .................................................................................. 155 Lampiran 20. Instrumen observasi keterlibatan siswa dalam pembelajaran

  (pada pertemuan kelima) ...................................................... 156 Lampiran 21. Instrumen observasi minat siswa dalam pembelajaran (pada pertemuan kelima) ................................................................ 157 Lampiran 22. Transkrip wawancara............................................................. 158 Lampiran 23. Catatan kelas.......................................................................... 166 Lampiran 24. Data hasil belajar siswa ........................................................ 168 Lampiran 25. Lembar jawaban Wahyu........................................................ 169 Lampiran 26. Lembar jawaban Lia ............................................................. 170 Lampiran 27. Lembar jawaban Wahyu........................................................ 171

  Lampiran 29. Lembar jawaban Vera............................................................ 173 Lampiran 30. Lembar jawaban Wahyu......................................................... 174 Lampiran 31. Lembar jawaban Lia ............................................................. 175 Lampiran 32. Lembar jawaban Vera............................................................ 176 Lampiran 33. Lembar jawaban Vera............................................................ 177 Lampiran 34. Lembar jawaban Vera............................................................ 178 Lampiran 35. Lembar jawaban Vera............................................................ 179 Lampiran 36. Lembar jawaban Lia ............................................................. 180 Lampiran 37. Lembar jawaban Vera............................................................ 181 Lampiran 38. Lembar jawaban Lia ............................................................. 182 Lampiran 39. Lembar jawaban tes formatif Vera ....................................... 183 Lampiran 40. Lembar jawaban tes formatif Lia........................................... 185 Lampiran 41. Lembar corat-coret Vera........................................................ 187 Lampiran 42. Lembar corat-coret Lia ......................................................... 188

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Akhir-akhir ini, pembelajaran dengan menggunakan alat peraga

  sedang dilakukan di beberapa sekolah di Yogyakarta dan Klaten. Sekolah- sekolah di kota-kota itu mencoba untuk menggunakan pendekatan tersebut dalam pembelajaran, khususnya pembelajaran matematika. Diharapkan, penggunaan alat peraga ini dapat menarik minat siswa dalam belajar matematika, agar siswa semakin bersemangat untuk melaksanakan pembelajaran matematika yang selama ini dianggap sebagai momok oleh para siswa. Pembelajaran menggunakan alat peraga juga bertujuan untuk menciptakan model pembelajaran yang menyenangkan bagi siswa dan melatih siswa untuk berperan aktif dalam pembelajaran.

  Pada umumnya, sasaran dari metode-metode baru yang bermunculan akhir-akhir ini adalah sekolah formal. Seminar dan penyuluhan dilakukan untuk mengenalkan metode ini. Namun masyarakat kurang menyadari bahwa masih ada sekolah yang perlu mendapat perhatian, Sekolah Luar Biasa misalnya. Masyarakat kurang menyadari bahwa bukan hanya anak normal saja yang memerlukan pendidikan yang layak, tetapi anak yang mempunyai kelainan juga memerlukan pendidikan yang layak untuk kelangsungan hidup mereka, agar mereka dapat hidup mandiri, dan dapat tersebut adalah tunarungu. Anak tunarungu juga berhak untuk mendapatkan pendidikan yang layak dan sama seperti anak normal, termasuk pembelajaran dengan menggunakan metode-metode baru yang bermunculan akhir-akhir ini.

  Sebagian besar anak tunarungu mengikuti pendidikan luar biasa. Sekolah Luar Biasa bagian B atau sering disingkat dengan SLB B, merupakan sekolah bagi anak-anak tunarungu. Kurikulum dan materi yang dipakai di sekolah ini, sama seperti sekolah pada umumnya. Pembelajaran di sekolah luar biasa disesuaikan dengan kemampuan dan ketidakmampuan yang dimiliki anak tunarungu. Pada umumnya metode yang dipakai dalam melaksanakan pembelajaran adalah metode driil dan ceramah dengan pendekatan individual. Pendekatan individual adalah pendekatan di mana dalam pembelajaran tersebut, siswa belajar sesuai dengan kecepatannya masing-masing. Sedangkan metode driil adalah pembelajaran dengan cara mengulang materi yang dibahas dan mengulang kata-kata pada waktu penyampaian materi sampai siswa benar- benar mengerti. Metode ini digunakan karena anak tunarungu belum bisa mengerti apa yang dikatakan dan dimaksudkan guru hanya dengan satu kali guru berbicara. Alat peraga juga digunakan dalam pembelajaran pada anak tunarungu, khususnya untuk pelajaran matematika. Hal ini dilakukan untuk membantu anak dalam mengabstraksi. Penggunaan alat peraga dalam pembelajaran matematika bagi anak tunarungu masih sebatas pengembangan penggunaan alat peraga untuk membuat minat anak dalam belajar matematika semakin meningkat dan melatih anak untuk berperan aktif dalam pembelajaran.

  Dengan latar belakang seperti ini, penulis mencoba untuk melakukan pembelajaran matematika dengan menggunakan alat peraga pada Sekolah Luar Biasa bagian B (SLB B). Metode ini diharapkan dapat meningkatkan minat siswa SLB B dalam mempelajari matematika dan siswa tidak hanya pasif menerima pengetahuan, tetapi aktif dalam pembelajaran, sehingga tidak kalah bersaing dengan siswa normal.

B. Rumusan Masalah

  Penulis tertarik untuk merumuskan masalah-masalah yang terkait dalam bidang ini, yaitu:

  1. Bagaimana keterlibatan siswa SLB B dan hasil yang dicapai siswa SLB B dalam pembelajaran matematika dengan menggunakan alat peraga untuk materi pengukuran dan penggunaan alat ukur panjang?

  2. Apakah penggunaan alat peraga dalam pembelajaran matematika untuk materi pengukuran dan penggunaan alat ukur panjang dapat meningkatkan minat siswa SLB B untuk mempelajari matematika?

  C. Tujuan Penelitian

  Tujuan dalam penelitian ini adalah:

  1. Mengetahui keterlibatan siswa SLB B dan hasil yang dicapai siswa SLB B dalam pembelajaran matematika dengan menggunakan alat peraga untuk materi pengukuran dan penggunaan alat ukur panjang.

  2. Mengetahui minat siswa SLB B dalam pembelajaran matematika dengan menggunakan alat peraga untuk materi pengukuran dan penggunaan alat ukur panjang.

  D. Pembatasan Masalah

  Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan alat peraga dalam pembelajaran. Metode ini dipilih oleh peneliti karena dirasa tepat untuk siswa SLB B, mengingat siswa SLB B mengalami kesulitan dalam mengabstraksi suatu benda. Dengan pembelajaran ini, peneliti ingin mengetahui keterlibatan siswa, minat siswa dan hasil yang dicapai siswa dalam pembelajaran. Kegiatan belajar mengajar ini dilakukan untuk materi pengukuran dan penggunaan alat ukur panjang. Peneliti memilih materi pengukuran dan penggunaan alat ukur panjang karena materi ini sebagai dasar untuk belajar menjahit pada siswa SLB B. Menjahit merupakan salah satu keterampilan yang diberikan pada siswa SLB B, supaya pada akhirnya keterampilan ini dapat digunakan siswa SLB B untuk hidup mandiri.

E. Pembatasan Istilah

  1. Siswa SLB B Siswa SLB B adalah siswa sekolah dasar yang mengalami kelainan fisik yaitu tunarungu sehingga mereka mendapat pendidikan secara khusus.

  2. Pembelajaran matematika Pembelajaran matematika adalah suatu proses belajar mengajar dalam bidang matematika.

  3. Alat peraga pembelajaran matematika Alat peraga matematika merupakan suatu media dalam pembelajaran matematika yang digunakan untuk membuat pembelajaran lebih menarik, untuk memotivasi siswa, membantu siswa dalam proses abstraksi dan melatih siswa untuk berperan aktif dalam pembelajaran.

  4. Keterlibatan Keterlibatan dalam hal ini diartikan sebagai aktivitas yang dilakukan siswa dalam proses pembelajaran selama penelitian berlangsung.

  5. Hasil yang dicapai siswa Hasil yang dicapai siswa dalam hal ini meliputi hasil yang bersifat kuantitatif (seperti kemajuan dalam prestasi) dan hasil yang bersifat kualitatif, seperti keberanian menyatakan ide, kemampuan bernalar atau berargumentasi, perubahan sikap, kemandirian dan sebagainya.

  6. Minat Minat adalah suatu kecenderungan yang agak menetap pada pada diri siswa untuk berprilaku tertentu terhadap suatu objek, yaitu siswa merasa tertarik untuk belajar matematika.

  7. Efektifitas Efektifitas adalah suatu keberhasilan yang diharapkan dalam suatu kegiatan. Jika semakin tinggi efektifitasnya maka semakin tinggi keberhasilan suatu kegiatan itu.

F. Manfaat Penelitian

  1. Bagi Guru SLB B Guru dapat menemukan metode yang cocok untuk membuat pembelajaran matematika lebih menarik.

  2. Bagi Universitas Untuk menambah kepustakaan dan untuk acuan dalam penelitian sejenis; untuk melihat sisi lain dari dunia pendidikan yang selama ini belum tersentuh.

  3. Bagi Mahasiswa Sebagai bahan perbandingan antara teori dengan keadaan yang sesungguhnya.

BAB II LANDASAN TEORI A. Makna Belajar Suharyo Sumowidagdo mengatakan bahwa belajar merupakan

  proses kontinu/berkesinambungan yang merupakan kombinasi antara : proses untuk menguasai sesuatu yang baru, menggunakan sesuatu yang sudah dikuasai, dan mengajarkan sesuatu yang sudah dikuasai pada orang lain. (Tips dan Makna Belajar Secara Umum , pada 8 Oktober 2006).

  Salah satu pertanda bahwa seseorang telah belajar sesuatu adalah adanya perubahan tingkah laku dalam dirinya. Perubahan tingkah laku tersebut menyangkut perubahan yang bersifat pengetahuan (kognitif), ketrampilan (psikomotor), serta nilai dan sikap (afektif).

B. Pengertian Matematika

  Hingga saat ini belum ada kesepakatan yang bulat di antara para matematikawan tentang apa yang disebut matematika. Sedangkan sasaran penelaahan matematika itu sendiri sebagaimana kita tahu, tidaklah konkrit . melainkan abstrak Pengertian matematika sangat beragam tergantung pada siapa yang mengutarakan pengertian tersebut. Berikut ini adalah

  Dienes (dalam Ruseffendi, 1988: 160) mengatakan bahwa matematika adalah ilmu seni kreatif. Oleh karena itu, matematika harus dipelajari dan diajarkan sebagai ilmu seni. (Pembelajaran Matematika Menurut Teori Belajar Konstruktivisme, . Diakses pada 8 Oktober 2006).

  Bourne (dalam Romberg, 1992: 752) memahami matematika sebagai konstruktivisme sosial dengan penekanannya pada knowing how, yaitu siswa dipandang sebagai mahluk yang aktif dalam mengkonstruksi ilmu pengetahuan dengan cara berinteraksi dengan lingkungannya. Hal ini berbeda dengan pengertian knowing that yang dianut oleh kaum absolutis, di mana siswa dipandang sebagai mahluk yang pasif dan dapat diisi informasi (Dewey dalam Romberg, 1992: 752). (Pembelajaran Matematika Menurut Teori Belajar Konstruktivisme, . Diakses pada 8 Oktober 2006).

  Ruseffendi (dalam Erman, 2001: 21) mengatakan bahwa matematika terbentuk dari hasil pemikiran manusia yang berhubungan dengan ide, proses dan penalaran.

  Johnson dan Rising (dalam Erman, 2001: 22) mengutarakan bahwa yang logik. Matematika adalah bahasa yang menggunakan istilah yang didefinisikan dengan cermat, jelas dan akurat.

  Menurut Marpaung (dalam penelitian tindakan, 1995: 23), matematika adalah suatu ilmu yang objeknya bersifat abstrak, tidak dapat diamati dengan indera manusia. Objek-objeknya hanya ada dalam pikiran. Konsep-konsep matematika semuanya merupakan hasil rekayasa mental (mental construct) yang terjadi melalui proses abstraksi, generalisasi, idealisasi, deduksi, dan representasi objek matematika yang dapat diamati.

  Misalnya, kita tidak pernah melihat bilangan; yang dapat kita lihat adalah angka yang mempresentasikan secara simbolis bilangan itu.

  Perkembangan inteligensi manusia oleh Piaget dibagi dalam tahapan-tahapan yang berjenjang sebagai berikut:

  1. Tahap sensori-motor: pada umur 0-2 tahun;

  2. Tahap pre-operasi: pada umur 2-7 tahun;

  3. Tahap operasi konkrit: pada umur 8-11 tahun; 4. Tahap operasi formal: pada umur lebih dari 11 tahun.

  Siswa-siswa sekolah dasar (termasuk siswa SLB B), menurut klasifikasi Piaget tersebut diatas, berada pada tahap perkembangan kognitif ketiga, yang ditandai dengan kemampuan berfikir logis tetapi terkait dengan hal-hal konkrit. Oleh karena itu cara yang dirasa tepat untuk melaksanakan pembelajaran matematika pada siswa ini adalah dengan merepresentasikan matematika sedemikian rupa sehingga dapat konkrit; salah satu cara adalah dengan menggunakan alat peraga dalam pembelajaran.

C. Alat Peraga

  Alat peraga merupakan alat bantu yang menjadi bagian integral dari keseluruhan kegiatan belajar mengajar yang ikut menentukan keberhasilan dalam kegiatan belajar mengajar tersebut. Alat peraga sangat berperan penting dalam pembelajaran karena dengan penggunaan alat peraga, siswa terbantu dalam proses abstraksi, selain itu alat peraga dapat menarik perhatian dan meningkatkan minat siswa untuk belajar.

  Berikut ini adalah manfaat lain yang didapat dengan penggunaan alat peraga, yaitu: (Bab VI; Tim MKPBM)

  1. Proses belajar mengajar termotivasi, baik murid maupun guru.

  Terutama murid, minatnya akan timbul. Ia akan senang, tertarik dan karena itu ia akan bersikap positif terhadap pembelajaran matematika.

  2. Konsep abstrak matematika disajikan dalam bentuk konkrit, karena itu lebih mudah dipahami dan dimengerti dan dapat ditanamkan pada tingkat-tingkat yang lebih rendah.

  3. Hubungan antara konsep-konsep abstrak dengan benda-benda di alam sekitar akan lebih dapat dimengerti.

  4. Konsep-konsep abstrak yang disajikan dalam bentuk konkrit yaitu dalam bentuk model matematika yang dapat dipakai sebagai objek penelitian maupun sebagai alat untuk meneliti ide-ide baru dan relasi baru bertambah banyak.

  Bila kita akan membuat alat peraga, hal-hal yang perlu diperhatikan adalah: (Bab VI; Tim MKPBM)

  1. Tahan lama (dibuat dari bahan yang cukup kuat).

  2. Bentuk dan warna menarik.

  3. Sederhana dan mudah diolah (tidak rumit).

  4. Ukuran sesuai (seimbang) dengan ukuran fisik anak.

  5. Dapat disajikan (dalam bentuk riil, gambar atau diagram) konsep matematika.

  6. Sesuai dengan konsep.

  7. Dapat menunjukkan konsep matematika dengan jelas.

  8. Peragaan itu supaya merupakan dasar bagi tumbuhnya konsep abstrak.

  9. Jika kita mengharapkan agar siswa belajar aktif, alat peraga itu supaya dimanipulasi, yaitu dapat diraba, dipegang, dipindahkan, diotak-atik atau dipasang dan dicopot.

  10. Bila mungkin dapat berfaedah lipat (banyak).

D. Tunarungu 1. Pengertian Anak Tunarungu

  Istilah tunarungu diambil dari kata “Tuna” dan “Rungu”. Tuna artinya kurang dan rungu artinya pendengaran. Orang atau anak mampu mendengar suara. (Ortopedagogik Anak Tunarungu, 1995: 26) Secara umum, pengertian tunarungu adalah seseorang yang mengalami kekurangan atau kehilangan kemampuan mendengar baik secara sebagian atau seluruhnya yang diakibatkan karena tidak berfungsinya sebagian atau seluruh alat pendengaran, sehingga ia tidak dapat menggunakan alat pendengarannya dalam kehidupan sehari-hari yang membawa dampak terhadap kehidupannya secara kompleks. (Ortopedagogik Anak Tunarungu, 1995: 27)

  Dampak terhadap kehidupannya secara kompleks mengandung arti bahwa akibat ketunarunguan maka perkembangan anak menjadi terhambat, sehingga menghambat perkembangan kepribadian secara keseluruhan seperti perkembangan inteligensi, emosi, dan sosial.

  Hal yang perlu diperhatikan akibat dari ketunarunguan adalah hambatan dalam berkomunikasi, sedangkan komunikasi merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Kenyataan bahwa anak tunarungu tidak dapat mendengar membuatnya mengalami kesulitan untuk memahami bahasa yang diucapkan oleh orang lain dan karena mereka tidak dapat mengerti bahasa secara lisan atau oral maka mereka tidak dapat bicara jika mereka tidak dilatih bicara.

  Akibat kurang berfungsinya pendengaran, anak tunarungu mengalihkan pengamatannya melalui mata, maka anak tunarungu mencoba memahami bahasa lisan atau oral. Selain melihat gerakan dan ekspresi wajah lawan bicaranya, mata anak tunarungu juga digunakan untuk membaca gerak bibir orang yang berbicara. Pada anak tunarungu pengamatan melalui mata sangat penting, yaitu untuk dapat memahami bahasa orang lain. Dengan alasan tersebut, anak tunarungu lebih banyak membutuhkan waktu untuk memahami bahasa orang lain dan untuk berbicara. Waktu yang dibutuhkan tergantung pada masing-masing individu serta bantuan dari orang-orang di sekelilingnya.

2. Klasifikasi dan Jenis Ketunarunguan

  Pada umumnya anak tunarungu dapat dibagi atas dua golongan atau kelompok besar, yaitu tuli dan kurang dengar. Orang tuli adalah seseorang yang mengalami kehilangan kemampuan mendengar sehingga menghambat proses informasi bahasa melalui pendengaran, baik dengan memakai ataupun tidak memakai alat bantu mendengar. Orang kurang dengar adalah seseorang yang mengalami kehilangan sebagian kemampuan mendengar, akan tetapi ia masih mempunyai sisa pendengaran dan pemakaian alat bantu mendengar memungkinkan keberhasilan serta membantu proses informasi bahasa melalui pendengaran.

  Jenis kelainan pendengaran dapat dikelompokkan menjadi tiga berdasarkan anatomi fisiologis, yaitu: (Ortopedagogik Anak a. Tunarungu Hantaran (Konduksi) Tunarungu hantaran (konduksi) adalah ketunarunguan yang disebabkan kerusakan atau tidak berfungsinya alat-alat penghantar getaran suara pada telinga bagian tengah.

  b. Tunarungu Syaraf (Sensorineural) Tunarungu syaraf (sensorineural) adalah tunarungu yang disebabkan oleh kerusakan (tidak berfungsinya) alat-alat pendengaran bagian dalam syaraf pendengaran yang menyalurkan getaran ke pusat pendengaran pada Lobus temporalis.

  c. Tunarungu Campuran Tunarungu campuran adalah tunarungu yang mempunyai kelainan pendengaran yang disebabkan kerusakan pada penghantar suara dan kerusakan pada syaraf pendengaran.

3. Penyebab Ketunarunguan

  Secara umum faktor ketunarunguan dapat terjadi sebelum lahir (prenatal), ketika lahir (natal), dan sesudah lahir (post natal). Untuk lebih jelasnya, faktor-faktor penyebab ketunarunguan dapat dikelompokkan sebagai berikut: (Ortopedagogik Anak Tunarungu, 1995: 33, 34)

  a. Faktor dalam diri anak Ada beberapa hal dari dalam diri anak yang bisa menyebabkan ketunarunguan, antara lain:

  1) Disebabkan oleh faktor keturunan dari salah satu atau kedua orang tuanya yang mengalami ketunarunguan.

  2) Ibu yang sedang mengandung menderita penyakit Campak Jerman (Rubella).

  3) Ibu yang sedang mengandung menderita keracunan darah atau Toxaminia.

  b. Faktor luar diri anak 1) Anak mengalami infeksi pada saat dilahirkan atau kelahiran.

  2) Meningitis atau radang selaput otak. 3) Otitis Media (radang telinga bagian tengah). 4) Penyakit lain atau kecelakaan yang menyebabkan kerusakan alat pendengaran bagian tengah dan dalam.

4. Karakteristik Anak Tunarungu

  a. Karakteristik dalam segi inteligensi Pada umumnya anak tunarungu memiliki kemampuan inteligensi normal atau rata-rata, akan tetapi karena perkembangan inteligensi sangat dipengaruhi oleh perkembangan bahasa, maka anak tunarungu akan menampakkan inteligensi yang lebih rendah yang disebabkan oleh kesulitan memahami bahasa. Perkembangan inteligensi anak tunarungu tidak sama dengan mereka yang mendengar. Anak yang mendengar belajar banyak dari apa yang didengarnya, sedangkan hal tersebut tidak terjadi pada anak b. Karakteristik dalam segi bahasa dan bicara Kemampuan berbicara dan bahasa anak tunarungu berbeda dengan anak yang mendengar, hal ini disebabkan perkembangan bahasa erat kaitannya dengan kemampuan mendengar. Perkembangan bahasa dan bicara pada anak tunarungu memerlukan pembinaan secara intensif, sesuai dengan taraf ketunarunguan dan kemampuan-kemampuan yang lain. Karena anak tunarungu tidak bisa mendengar bahasa, kemampuan berbahasanya tidak akan berkembang bila ia tidak dididik atau dilatih secara khusus. Akibat dari ketidakmampuannya dibandingkan dengan anak lain yang mendengar dengan usia sama, maka perkembangan bahasanya akan jauh tertinggal.

  (Ortopedagogik Anak Tunarungu, 1995: 36)

  c. Karakteristik dalam segi psikologi, emosi dan sosial Ketunarunguan dapat menyebabkan terasing dari pergaulan sehari-hari, yang berarti mereka terasing dari pergaulan atau aturan sosial yang berlaku dalam masyarakat di mana ia hidup. Keadaan ini menghambat perkembangan kepribadian anak menuju kedewasaan. Akibat ketunarunguan dapat menimbulkan efek-efek negatif pada psikologi anak, seperti: 1) Egosentrisme yang melebihi anak normal.

  2) Mempunyai perasaan takut akan lingkungan yang lebih luas.

  4) Perhatian mereka lebih sukar dialihkan. 5) Lebih mudah marah dan cepat tersinggung.

  (Ortopedagogik Anak Tunarungu, 1995: 36) 5.

   Pendidikan Anak Tunarungu

  Pendidikan bagi anak tunarungu menggunakan beberapa sistem pendidikan, yaitu: a. Sistem pendidikan segregasi

  Sistem pendidikan segregasi adalah sistem pendidikan yang terpisah dari pendidikan anak normal. Pendidikan anak tunarungu melalui sistem pendidikan segregasi maksudnya adalah bahwa penyelenggaraan pendidikan dilaksanakan secara khusus dan terpisah dari penyelenggaraan pendidikan untuk anak normal. Dalam hal ini anak tunarungu diberikan layanan pendidikan khusus untuk anak luar biasa seperti Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB).

  Berikut ini adalah bentuk-bentuk sistem pendidikan segregasi: 1) Sekolah Luar Biasa untuk Anak Tunarungu (SLB/B)

  Pada umumnya struktur organisasi SLB/B berbentuk unit pendidikan, artinya penyelenggaraan sekolah mulai dari tingkat persiapan sampai tingkat lanjutan diselenggarakan dalam satu sekolah dengan seorang kepala sekolah. Dalam unit ini terdapat pengaturan jenjang kelas, yaitu:

  a) Tingkat persiapan dengan lama pendidikan 3 tahun Tingkat persiapan pada SLB ini setaraf dengan taman kanak-kanak biasa. Pada tingkat persiapan, anak tunarungu lebih banyak menerima kegiatan berbahasa daripada pada taman kanak-kanak biasa. Pada tingkat ini latihan gerak irama juga sangat dipentingkan. Kegiatan lainnya hampir sama.

  b) Tingkat dasar dengan lama pendidikan 8 tahun Tingkat dasar merupakan lanjutan dari tingkat persiapan. Pada tingkat ini program pengajarannya hampir sama dengan program pengajaran pada SD biasa kecuali pelajaran menyanyi. Pada program pengajaran dewasa ini, ada mata pelajaran khas pada sekolah bagi anak tunarungu, yaitu membaca ujaran (speech reading) dan pelajaran artikulasi/berbicara.

  Bagi anak tunarungu yang telah menyelesaikan pendidikannya pada tingkat SD dengan prestasi yang baik terutama dalam kemampuan bahasanya, diperbolehkan melanjutkan sekolahnya ke Sekolah Menengah Umum atau sekolah biasa pola tingkat SLTP. Dengan kata lain anak tersebut dapat berintegrasi pada sekolah biasa dan bisa berintegrasi pada sekolah biasa dapat melanjutkan pendidikannya ke tingkat lanjutan/kejuruan.

  c) Tingkat lanjutan/kejuruan dengan lama pendidikan 4 tahun Program pengajaran pada tingkat lanjutan/kejuruan lebih menekankan aspek praktek daripada teori, untuk mempersiapkan anak tunarungu hidup mandiri di masyarakat. Bidang pengajaran pada tingkat lanjutan/kejuruan ini meliputi berbagai keahlian yang diperlukan dalam kehidupan di masyarakat. Dalam hal ini penyelenggara sekolah dapat melakukan kerjasama dengan tenaga ahli atau dengan Balai Latihan Ketrampilan (BLK) setempat.

  Sistem pengajaran di SLB/B ini lebih diarahkan kepada penggunaan sistem pengajaran individual, artinya sistem pengajaran ini didasarkan kepada adanya perbedaan dalam kemampuan belajarnya, taraf ketunarunguannya, kemampuan dalam berbahasa, dsb. 2) Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB)

  Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB) merupakan salah satu bentuk pendidikan luar biasa untuk menunjang tercapainya pemerataan kesempatan bagi anak luar biasa termasuk anak tunarungu untuk memperoleh pendidikan. SDLB adalah kelainan yaitu tunanetra, tunarungu, tunagrahita, dan tunadaksa dalam satu atap. SDLB tersebut didirikan di tempat- tempat yang tidak ada SLB dan jumlah anak dari masing- masing kelainan relatif kecil, sehingga tidak mungkin mendirikan sekolah luar biasa untuk setiap jenis kelainan. SDLB ini juga didirikan dalam rangka menuntaskan wajib belajar pada tingkat sekolah dasar.

  Pada umumnya kegiatan belajar mengajar di SDLB sama seperti kegiatan belajar mengajar di SLB. Kegiatan belajar ini dapat dilakukan secara individu, kelompok, dan klasikal. Sedangkan sistem pengajarannya mengarah pada sistem pengajaran individual.

  Bahasa yang digunakan dalam kegiatan belajar mengajar di SDLB khususnya bagi anak tunarungu adalah bahasa oral (lisan), isyarat, tulisan, dan menggunakan sistem komunikasi total. Lama pendidikan pada SDLB adalah sama dengan lamanya pendidikan pada SLB konvensional, yaitu 8 tahun

  b. Sistem pendidikan integrasi/terpadu Sistem pendidikan integrasi adalah sistem pendidikan yang memberikan kesempatan kepada anak luar biasa untuk belajar bersama-sama dengan anak biasa (normal) di sekolah umum. Dengan demikian melalui sistem integrasi, anak tunarungu dapat

  Pada sistem ini, jumlah anak luar biasa dalam satu kelas maksimal 10% dari jumlah keseluruhan siswa. Selain itu, dalam satu kelas hanya ada satu jenis kelainan. Hal tersebut untuk menjaga beban guru tidak terlalu berat dibanding kalau guru kelas harus menangani anak dengan berbagai kelainan.

  Tujuan dari sistem pendidikan ini adalah memberikan pendidikan yang memungkinkan anak tunarungu memperoleh kesempatan mengikuti proses pendidikan bersama dengan siswa yang pendengarannya normal agar dapat mengembangkan diri secara optimal.

  Dalam melaksanakan kegiatan belajar, anak tunarungu dibantu dengan alat khusus. Berikut ini adalah alat bantu khusus yang dinilai sangat menunjang dalam proses belajar mengajar bagi anak tunarungu.

  a. Hearing aids Hearing aids merupakan alat bantu dengar bagi anak tunarungu. Alat dengar ini biasanya diselipkan di belakang telinga, dipakai pada saku kemeja, atau yang dipasang pada bingkai kacamata. Dengan menggunakan alat bantu dengar ini, anak tunarungu dapat berlatih mendengar, baik secara individu maupun secara kelompok.

  b. Mesin tulis bertelepon Mesin tulis bertelepon merupakan alat bantu bagi anak yang terketik menjadi tanda-tanda elektronik yang diterjemahkan secara tertulis.

  c. Mikrokomputer Mikrokomputer merupakan alat bantu khusus yang dapat memberikan informasi secara visual. Alat bantu ini sangat membantu bagi anak tunarungu yang mengalami kelainan pendengaran berat. Untuk dapat menggunakan alat ini, anak tunarungu tersebut harus dapat membaca atau paling tidak mampu menginterpretasikan simbol-simbol yang digunakan.

  d. Audiovisual Alat bantu audiovisual dapat berupa film, video-tapes, dan TV.

  Penggunaan audiovisual tersebut sangat bermanfaat bagi anak tunarungu, karena mereka dapat memperhatikan sesuatu yang ditampilkan sekalipun dalam kemampuan mendengar yang terbatas.

  e. Tape recorder Tepe recorder sangat berguna untuk mengontrol hasil ucapan yang telah direkam, sehingga kita dapat mengikuti perkembangan bahasa lisan anak tunarungu dari hari ke hari.

  f. Spatel Spatel merupakan alat bantu untuk membetulkan posisi organ bicara. Dengan menggunakan spatel, kita dapat membetulkan posisi lidah anak tunarungu, sehingga mereka dapat bicara dengan benar.

  g. Cermin Cermin dapat digunakan sebagai alat bantu bagi anak tunarungu dalam belajar mengucapkan sesuatu dengan artikulasi yang baik.

6. Komunikasi Bagi Anak Tunarungu

  Bahasa merupakan alat komunikasi yang paling penting dalam kehidupan manusia, karena melalui bahasa manusia berinteraksi dan berkomunikasi dengan manusia lainnya. Oleh karena itu, manusia dituntut untuk dapat menguasai bahasa yang digunakan sebagai alat berinteraksi dan berkomunikasi dengan manusia lainnya.

  Manusia untuk menguasai bahasa harus melalui proses, artinya sebelum manusia menguasai bahasa, manusia harus mendengar terlebih dahulu bahasa yang diucapkan orang lain.

  Anak normal dalam menguasai bahasa tidak begitu mengalami masalah karena mereka mendengar, tapi untuk anak tunarungu perlu bimbingan secara khusus. Berikut ini adalah cara untuk berkomunikasi dengan anak tunarungu: a. Metode oral

  Metode oral merupakan salah satu cara untuk melatih anak tunarungu dapat berkomunikasi secara lisan dengan lingkungan orang mendengar. Dalam metode ini, anak berbicara dengan menggerakkan mulutnya.

  b. Membaca ujaran Membaca ujaran disebut juga membaca bibir. Membaca ujaran yaitu suatu kegiatan yang mencakup pengamatan visual dari bentuk dan gerak bibir lawan bicara sewaktu dalam proses bicara.

  c. Bahasa isyarat atau ejaan jari Bahasa isyarat atau ejaan jari adalah komunikasi dengan menggunakan tangan dan jari sebagai alat untuk berkomunikasi.

  d. Komunikasi total Komunikasi total adalah komunikasi dengan melakukan semua cara komunikasi. Dengan kata lain, anak menggunakan metode oral, membaca ujaran, dan menggunakan bahasa jari.

E. Hakekat Pengukuran

  Pengukuran merupakan suatu topik dalam matematika sekolah yang diajarkan di setiap jenjang pendidikan. Secara umum, pengukuran dapat diartikan sebagai suatu aktivitas yang dilakukan untuk mengetahui besaran suatu objek. Sedangkan secara matematika, pengukuran merupakan suatu fungsi/pemetaan satu-satu dari suatu objek ke suatu bilangan tertentu. Hasil yang diperoleh dari suatu pengukuran disebut ukuran dari objek tersebut. Pengukuran yang dipelajari di sekolah dasar selain sebagai bekal dipelajari karena banyak aspek kehidupan yang berhubungan dengan pengukuran. Misalnya: dalam ilmu kedokteran, pengukuran digunakan untuk mengetahui tinggi suhu badan; pengukuran juga digunakan bagi para penjahit baju, yaitu untuk mengetahui panjang kain yang diperlukan untuk dibuat baju.

  Materi pengukuran yang dipelajari, khususnya pengukuran panjang, memiliki kaitan dengan konsep/materi yang lain, kaitan ini sering disebut jalinan (Inter-twinement). Kaitan pengukuran panjang dengan konsep/materi lain antara lain dengan materi: bilangan dan geometri.

  Kaitan pengukuran panjang dengan bilangan adalah dalam pengukuran panjang digunakan beberapa sub materi yang ada dalam materi bilangan, yaitu: membilang loncat, penjumlahan, pengurangan, meletakkan bilangan, lebih besar dari, lebih kecil dari, kurang dari, dan lebih dari.

  Sedangkan kaitan pengukuran panjang dengan geometri adalah pengukuran merupakan dasar untuk mempelajari geometri, karena dalam mempelajari geometri dilakukan banyak pengukuran; misalnya: pengukuran panjang suatu persegi, pengukuran keliling persegi panjang dan sebagainya.

  Dalam pengukuran panjang, untuk mengetahui hasil pengukuran, kita membutuhkan suatu alat untuk mengukur. Alat pengukuran adalah alat yang digunakan untuk mengukur besaran suatu benda. Pengukuran panjang dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai alat ukur dimulai maupun bagian dari tubuh manusia seperti misalnya jengkal, hasta ataupun kaki, sampai dengan pengukuran dengan menggunakan peralatan yang canggih. Pengukuran yang dilakukan dengan masing-masing alat ukur akan selalu memiliki tingkat keakuratan yang berbeda antara satu dengan yang lainnya.

  Hasil dari pengukuran panjang dinyatakan dengan satuan ukuran panjang. Satuan ukuran panjang tersebut dapat berupa satuan yang tidak dibakukan seperti: jengkal, hasta dan depa atau satuan yang bakukan seperti: centimeter dan meter.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah

  penelitian deskriptif kualitatif. Dalam penelitian ini, peneliti mencoba untuk mendeskripsikan kejadian dengan cara mengamati dan mengumpulkan data kualitatif, yaitu data dalam bentuk apa adanya atau data yang tidak mengalami kuantifikasi dan manipulasi.

  B. Subjek Penelitian

  Penelitian ini dilakukan terhadap 3 siswa SLB B kelas D2 di SLB B YAAT pada jenjang SDLB yang beralamatkan di Bendogantungan, Sumber Rejo, Klaten Selatan, Klaten, tahun ajaran 2006/2007. Kelas D2 terdiri dari 6 siswa dengan umur dan kemampuan inteligensi yang berbeda. Peneliti menggunakan subjek yang mempunyai umur dan kemampuan inteligensi yang setara. Subjek pada penelitian ini dipilih sendiri oleh peneliti dengan mengkonsultasikan dahulu dengan guru kelas.

  C. Jenis Data

  Peneliti menggunakan data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh secara langsung dari subjek penelitian selama pengamatan dan wawancara. Data sekunder adalah data yang diperoleh dari pihak lain, tidak diperoleh secara langsung dari objek yang diteliti.

  Data sekunder berupa keterangan dari guru mengenai proses belajar siswa dan hasil belajar siswa. Data tersebut merupakan data sekunder karena data tersebut merupakan data yang dibuat oleh guru dan peneliti tidak secara langsung mengumpulkan data tersebut dari siswa.

D. Metode Pengumpulan Data

  Untuk memperoleh data yang diperlukan dalam melakukan penelitian, peneliti menggunakan beberapa metode, yaitu:

  1. Pengamatan Pengamatan adalah kegiatan mengumpulkan data dengan cara mengamati kegiatan suatu subjek kemudian membuat dokumentasi kecil mengenai data tersebut.

  Pengamatan dilakukan untuk memperoleh data mengenai keterlibatan siswa dalam pembelajaran dan data mengenai minat siswa terhadap pelajaran matematika dengan menggunakan alat peraga untuk materi pengukuran dan penggunaan alat ukur panjang.

  Pengamatan akan dilakukan pada setiap pembelajaran. Pengamatan akan dibantu oleh guru kelas, karena peneliti melakukan kegiatan belajar mengajar. Pengamatan tersebut dilakukan dengan mencatat proses pembelajaran pada lembar observasi.

  2. Wawancara Wawancara adalah percakapan yang dilakukan oleh dua pihak yaitu pewawancara (interviewer) pihak yang mengajukan pertanyaan dan yang diwawancarai (interviewee) sebagai pemberi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan (Moleong, 1989: 148).

  Jenis wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara dengan pendekatan menggunakan petunjuk umum wawancara. Sebelum melakukan wawancara, peneliti menulis garis besar pertanyaan yang berkaitan dengan kegiatan belajar mengajar dan respon siswa terhadap pembelajaran.

  Wawancara ini dilakukan dengan guru yang mengampu subjek penelitian dan dengan siswa yang menjadi subjek penelitian. Tujuan dari wawancara ini adalah untuk mendapatkan data yang berkaitan dengan kegiatan pembelajaran, kesulitan yang dialami siswa, dan respon siswa terhadap pembelajaran. Wawancara dilakukan sesudah pembelajaran. Wawancara dengan siswa dibantu oleh guru.

  3. Dokumentasi Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan dokumentasi berupa foto dan video-recorder. Dengan dokumentasi ini, peneliti mendapat keterangan dalam pembelajaran berupa foto dan rekaman dalam video yang dapat dianalisis kembali untuk mendapatkan data. Dokumentasi ini sebagai bukti dalam penelitian.

  E. Keabsahan Data

  Dalam menguji keabsahan data, peneliti menggunakan tehnik triangulasi. Tehnik triangulasi adalah tehnik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu (Moleong, 1989: 195). Dalam penelitian ini, peneliti membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara.

  F. Instrumen Penelitian

  Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini antara lain:

  1. Lembar Pengamatan Lembar pengamatan ini berfungsi untuk mencatat hal-hal yang dilakukan siswa selama penelitian berlangsung.

  2. Lembar Wawancara Lembar wawancara berupa garis besar pertanyaan dan pertanyaan akan berkembang sesuai dengan jawaban dari informan.

  G. Prosedur Pelaksanan Penelitian 1. Tahap Persiapan

  Sebelum melaksanakan penelitian, peneliti melakukan beberapa persiapan, yaitu: a. Menghubungi kepala sekolah SLB B YAAT untuk memberitahu b. Berdiskusi dengan kepala sekolah mengenai siswa yang akan menjadi subjek penelitian dan materi untuk penelitian.

  c. Mencari dan menyiapkan alat peraga yang akan digunakan dalam penelitian.

  d. Melakukan diskusi dengan guru kelas mengenai pembagian tugas dan penggunaan alat peraga.

  e. Menyiapkan kelengkapan surat-surat penelitian dan beberapa instrumen pengumpul data.

  f. Mempelajari karakteristik siswa SLB B dan mempelajari bahasa jari.

2. Rencana Kegiatan

  Dalam penelitian ini, peneliti dibantu dengan guru kelas melakukan kegiatan belajar mengajar. Guru kelas membantu peneliti dalam berkomunikasi dengan siswa dan dalam menafsirkan jawaban (ide-ide) siswa, karena peneliti dihadapkan pada kendala komunikasi dengan siswa SLB B. Kegiatan yang akan dilakukan dalam penelitian ini antara lain:

  a. Berhubungan dengan kegiatan pembelajaran: 1) Membuat rencana pembelajaran.

  2) Mempraktekkan alat peraga. 3) Membuat alat peraga lebih menarik dengan melakukan variasi teknisnya. b. Untuk mengetahui keefektifan alat peraga dalam pembelajaran: 1) Mengamati tingkah laku siswa selama pembelajaran berlangsung.

  2) Mengamati respon dan reaksi siswa selama proses pembelajaran berlangsung.

3. Alat Peraga yang Digunakan

  a. Alat peraga Peneliti menggunakan beberapa alat peraga dalam melakukan pembelajaran, yaitu:

  1) Manik-manik 2) Senar 3) Meteran penjahit 4) Penggaris 5) Benda-benda yang ada di dalam kelas 6) Kartu bilangan

  b. Cara kerja Cara kerja dari alat peraga dalam pembelajaran matematika untuk materi pengukuran dan penggunaan alat ukur panjang adalah sebagai berikut:

  1) Tahap 1 (Meronce) − Masing-masing siswa diberi 50 butir manik-manik dengan dua warna yang berbeda (misalnya: 25 butir manik-manik warna putih dan 25 butir manik-manik warna merah).

  − Siswa diminta untuk meronce (menyusun) manik-manik yang telah dibagi dengan menggunakan senar, yang disusun sebanyak 50 butir manik-manik.

  Kegiatan ini bertujuan agar siswa lebih cepat dalam menghitung dan menghitung loncat serta untuk melihat kemampuan siswa dalam menemukan pola dan membangun konsep awal dalam pengukuran.

  2) Tahap 2 (Mengukur benda) − Siswa diminta untuk mengukur lingkar kepala teman, lingkar pergelangan tangan teman atau panjang tangan teman dengan menggunakan hasil roncean mereka, kemudian siswa diminta untuk mengutarakan ide mereka, menuliskan cara dan hasil pengukuran mereka. − Siswa diminta untuk mengukur panjang atau tinggi benda-benda yang ada di dalam kelas (misalnya: panjang papan tulis, panjang meja, tinggi kursi, dan lain-lain) dengan menggunakan roncean, kemudian siswa diminta untuk mengutarakan ide mereka, menuliskan cara dan hasil pengukuran mereka.

  Kegiatan ini dilakukan untuk melihat kemampuan awal siswa dalam melakukan pengukuran. Dengan kegiatan ini diharapkan siswa menemukan konsep pengukuran. 3) Tahap 3 (Membandingkan ukuran panjang benda)

  − Setelah melakukan pengukuran, siswa diminta untuk membandingkan ukuran benda yang telah mereka ukur (misalnya: membandingkan ukuran lingkar kepala teman yang satu dengan yang lain).

  Dengan kegiatan ini dapat dilihat kemampuan siswa dalam membandingkan ukuran benda.

  4) Tahap 4 (Meletakkan bilangan) − Siswa diminta untuk meletakkan kartu bilangan pada roncean manik-manik yang telah disiapkan oleh peneliti.

  − Siswa diminta untuk membandingkan bilangan yang lebih besar atau lebih kecil daripada bilangan yang lain.

  Dari kegiatan ini dapat dilihat apakah siswa telah menguasai konsep atau belum (kemampuan siswa dalam melakukan pengukuran). Selain itu, dapat dilihat kemampuan siswa membandingkan besar bilangan.

  5) Tahap 5 (Alat ukur baku) − Siswa diminta untuk membandingkan panjang dua roncean manik-manik (dengan besar manik-manik antara roncean yang satu dengan roncean yang lain mempunyai ukuran yang berbeda).

  − Memperlihatkan kepada siswa macam-macam alat ukur baku (misalnya: meteran penjahit, penggaris).

  − Siswa diminta untuk mengukur panjang atau tinggi benda-benda yang ada di dalam kelas dengan menggunakan meteran penjahit atau penggaris.

  Kegiatan ini bertujuan untuk mengenalkan siswa pada pengukuran dengan menggunakan alat ukur baku dan satuan pengukuran yang baku. Selain itu, dengan kegiatan ini dapat dilihat kemampuan siswa menaksir panjang atau tinggi benda.

4. Evaluasi Pembelajaran Siswa

  Untuk mengetahui tingkat pemahaman yang diperoleh siswa, peneliti bersama dengan guru kelas melakukan evaluasi hasil belajar siswa. Evaluasi ini berupa latihan soal dan tes formatif. Latihan soal merupakan latihan pada setiap bab. Kegiatan ini dilakukan setiap akhir bab. Sedangkan tes formatif merupakan tes yang mencakup keseluruhan bab. Kegiatan ini dilakukan satu kali, yaitu setelah seluruh bab selesai diberikan. Selain dengan latihan dan tes formatif, peneliti dan guru juga mengukur kemampuan siswa dengan mengamati respon dan tingkah laku siswa pada setiap kegiatan pembelajaran.

5. Rencana Pelaksanaan

  a. Pelaksanaan penelitian akan dilaksanakan minimal 1 bulan dengan pertimbangan bahwa alat peraga sudah digunakan dalam pembelajaran matematika pada siswa SLB B, tetapi masih sangat sederhana dan belum bervariasi.

  b. Peneliti akan melakukan penelitian kurang lebih sebanyak 12 jam pelajaran.

  c. Dalam pelaksanaan penelitian ini, peneliti akan dibantu oleh guru kelas dalam melaksankan pembelajaran.

  d. Pada observasi sebelum penelitian, peneliti mempunyai kesimpulan sementara bahwa pembelajaran matematika pada siswa SLB B sudah menggunakan alat peraga tetapi alat yang digunakan masih sangat sederhana dan kurang efektif.

H. Analisis Data dan Penarikan Kesimpulan

  Tehnik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif kualitatif dan analisis komparatif. Analisis deskriptif digunakan untuk menafsirkan kesimpulan secara umum. Analisis komparatif digunakan untuk menganalisis keterlibatan dan minat siswa dalam pembelajaran. Analisis komparatif ini dilakukan dengan cara membandingkan keterlibatan dan minat siswa dalam pembelajaran matematika dengan menggunakan alat peraga, apakah ada peningkatan

  Ukuran efektifitas alat peraga didapat dengan melihat minat, keterlibatan dan hasil yang dicapai siswa SLB B dalam pembelajaran. Alat peraga yang digunakan dalam pembelajaran matematika untuk materi pengukuran dan penggunaan alat ukur panjang pada siswa SLB B ini efektif bila dalam pembelajaran, semua siswa terlibat dan mau melakukan kegiatan yang ada dalam pembelajaran; siswa berminat untuk mengikuti pembelajaran; dan pemahaman serta hasil yang dicapai siswa meningkat.

  Untuk mengukur ketercapaian indikator/ukuran efektifitas, peneliti melakukan pengamatan terhadap minat, keterlibatan dan hasil yang dicapai siswa. Data mengenai keterlibatan siswa dan minat siswa terhadap pembelajaran diperoleh dengan cara mengamati tingkah laku dan respon siswa selama pembelajaran berlangsung, dengan memperhatikan indikator keberhasilan siswa sebagai berikut:

  1. Data mengenai keterlibatan siswa terhadap pembelajaran Indikator keberhasilan siswa: − Siswa mau melakukan kegiatan yang ada dalam pembelajaran.

  − Siswa aktif dalam menjawab pertanyaan, mengeluarkan gagasan, dan bertanya untuk hal yang belum diketahui.

  2. Data mengenai minat siswa terhadap pembelajaran Indikator keberhasilan siswa: − Siswa tertarik pada penjelasan peneliti.

  − Siswa memperhatikan penjelasan peneliti.

  − Siswa berkonsentrasi dalam melakukan kegiatan dalam pembelajaran.

  − Siswa bersemangat, merasa senang dan tidak mau diganggu. − Siswa tidak meninggalkan kelas pada waktu pembelajaran. − Perubahan sikap siswa terhadap pembelajaran matematika, yang tadinya kurang bersemangat menjadi sangat bersemangat.

  − Perubahan sikap siswa dari yang tadinya mau mengutarakan ide setelah diminta guru menjadi berani untuk mengutarakan ide tanpa diminta oleh guru. Data mengenai hasil yang dicapai siswa (yang bersifat kuantitatif) didapat dengan melihat skor siswa dalam mengerjakan latihan soal dan mengerjakan pekerjaan rumah serta dengan mengamati tingkah laku siswa selama pembelajaran berlangsung. Sedangkan data mengenai hasil belajar siswa yang bersifat kualitatif didapat dengan melihat indikator keberhasilan siswa.

  Selain dengan melihat indikator keberhasilan siswa, data juga didapat dari catatan kelas. Catatan kelas merupakan catatan mengenai hal- hal penting selama pembelajaran berlangsung.

BAB IV PELAKSANAAN PENELITIAN DAN HASIL OBSERVASI A. Pelaksanaan Penelitian Penelitian dilaksanakan di SLB B YAAT, Bendogantungan , Sumber Rejo, Klaten Selatan, Klaten pada tanggal 26 Februari 2007

  sampai tanggal 12 Maret 2007. Subjek pada penelitian ini adalah 3 siswa SLB B kelas D2. SLB B YAAT merupakan sekolahan yang didirikan oleh Yayasan Asuhan Anak-anak Tuna. Sekolah ini berbentuk unit pendidikan, artinya penyelenggaraan sekolah mulai dari tingkat persiapan sampai tingkat lanjutan diselenggarakan dalam satu sekolah dengan seorang kepala sekolah. Jenjang sekolah dari tingkat persiapan, SD, SLTP, sampai SMA terdapat di sekolahan ini. SD di sekolahan ini terdiri dari 8 kelas, yaitu mulai dari kelas satu atau sering disebut dengan D1 sampai kelas delapan atau D8.

  Dalam penelitian ini, peneliti berperan sebagai fasilitator yang menyediakan alat peraga dalam pembelajaran. Selain itu, peneliti juga membantu guru dalam melaksanakan pembelajaran dan sebagai pengamat. Peneliti mengambil materi pengukuran dan penggunaan alat ukur panjang. Hal ini dirasa tepat karena selain materi ini mempunyai alat peraga yang beragam, materi ini juga sebagai dasar bagi siswa SLB B untuk belajar menjahit, yang merupakan salah satu keterampilan yang akan mereka sebanyak 5 kali pertemuan, yang pada pertemuan kelima langsung dilanjutkan dengan tes formatif. Untuk mendapatkan data yang diperlukan, peneliti menggunakan lembar pengamatan, wawancara dan merekam pembelajaran dengan video-recorder.

1. Observasi Sebelum Pembelajaran

  Sebelum melaksanakan penelitian, peneliti melakukan observasi dalam pembelajaran sebanyak dua kali. Observasi ini dilakukan untuk mengetahui model pembelajaran yang dipakai oleh SLB B dalam melakukan pembelajaran dan untuk mengetahui karakteristik siswa SLB B, sehingga peneliti dapat mengambil tindakan yang tepat untuk merancang model pembelajaran yang sesuai untuk siswa SLB B dengan menggunakan alat peraga. Selain itu, observasi berfungsi untuk mengakrabkan diri dengan siswa SLB B karena mereka sulit bersosialisasi.

  Melalui observasi, peneliti menyimpulkan bahwa materi dan kurikulum yang dipakai SLB B dalam melaksanakan pembelajaran, sama dengan materi dan kurikulum yang dipakai SD pada umumnya. Dalam melaksanakan pembelajaran, guru menggunakan metode ceramah dengan pendekatan individu. Materi yang diberikan dan waktu yang dibutuhkan untuk memahami materi, masing-masing siswa berbeda, tergantung umur dan kemampuan. Oleh sebab itu, pendekatan individu diterapkan pada pembelajaran untuk siswa SLB B tapi masih sebatas untuk menunjukkan pada siswa benda yang dimaksud dalam pembelajaran. Pada dasarnya siswa SLB B menyukai pelajaran matematika dibandingkan pelajaran lain. Untuk ketiga siswa yang dijadikan subjek dalam penelitian, rata-rata mempunyai umur dan kemampuan yang sama. Dari hasil observasi, peneliti mengetahui karakteristik masing-masing siswa, antara lain:

  Lia, adalah siswa yang bersemangat dan antusias dalam melakukan kegiatan pembelajaran. Dia selalu ingin mengutarakan idenya meskipun tidak diminta oleh guru. Kemampuannya dalam memahami materi lebih rendah dibandingkan dengan dua siswa yang lain. Tetapi dia merupakan siswa yang selalu ingin tahu dan banyak bertanya.

  Vera, siswa yang rajin dan mudah dalam memahami materi ini adalah siswa pemalu. Dia tidak akan mau mengutarakan idenya jika tidak diminta oleh guru. Sosialisasi Vera dengan orang lain agak kurang.

  Wahyu, siswa yang paling minim kosakata bahasanya sehingga sangat sulit untuk melakukan komunikasi verbal dengan dia. Tapi siswa ini mudah dalam memahami materi yang diberikan dan mau mengutarakan idenya tanpa diminta oleh guru.

  Dalam melakukan pembelajaran dengan siswa SLB B ada beberapa hal yang harus diperhatikan, antara lain: b. Bahasa yang digunakan dalam pembelajaran adalah bahasa yang sederhana, konkrit dan sudah dipahami oleh siswa.

  c. Sebisa mungkin meminimalkan pemakaian abjad jari, agar siswa berusaha untuk bicara dengan suara.

2. Observasi Pada Waktu Pembelajaran

  Peneliti menggunakan model pembelajaran yang berpusat pada siswa. Dalam pembelajaran ini, peneliti menggunakan alat peraga yang dapat membuat siswa aktif melakukan pembelajaran. Model pembelajaran ini sebelumnya belum pernah digunakan oleh guru SLB B dalam melaksanakan pembelajaran. Berikut ini adalah uraian kegiatan pembelajaran selama penelitian berlangsung:

a. Pertemuan pertama

  Kegiatan pembelajaran pada pertemuan pertama ini dibagi menjadi beberapa tahap, yaitu: meronce manik, mengukur anggota tubuh dengan menggunakan manik dan membandingkan panjang/besar benda yang satu dengan yang lain. Berikut ini adalah kegiatan pembelajaran pada pertemuan pertama:

  G: Guru P: Peneliti L: Lia W: Wahyu V: Vera

  H: Hebda

  A: Agung S: Semua siswa

  Meronce Manik

  P : Selamat pagi anak-anak! S : Selamat pagi bu!

  S : Ya! (Berdoa beberapa menit) P : Hari ini kita akan belajar mengukur. Belajar apa? S : Mengukur.

  P : Coba lihat apa yang ibu bawa? (Lia dan Wahyu memperhatikan dengan baik).

  P : Ada yang tahu ini namanya apa? (Lia dan Wahyu menggeleng) .

  P : Ini namanya manik! Apa? L + W : Manik.

  P : Berkata apa? L + W : Manik.

  P : Manik bisa buat apa? L : Kalung. (Sambil memperagakan memakai kalung).

  P : Kalung, apa lagi? L : Gelang.

  P : Gelang, apa lagi? Wahyu? (Wahyu tersenyum sambil menggeleng).

  P : Yang dipakai ibu guru. (Sambil memperagakan membawa tas).

  L + W : Tas.

  P : Ya, tas. Nah sekarang, ini, ibu bagikan manik dan senar.

  Coba kalian masukkan manik-manik ini ke dalam senar. L : Buat kalung. P : Ya, seperti membuat kalung.

  (Lia dan Wahyu mulai meronce manik yang diberikan, demikian juga dengan dua siswa yang tidak menjadi subjek penelitian yaitu Agung dan Hebda. Mulanya mereka semua meronce manik dengan pola satu-satu, tapi kemudian Lia bertanya pada peneliti).

  L : Bu, harus seperti ini? (Sambil menunjukkan ronceannya). P : Tidak harus seperti itu, boleh yang lain. L : Ooo...(Kemudian Lia merubah ronceannya menjadi pola

  lima-lima). (Wahyu melihat Lia kemudian ikut merubah ronceannya menjadi pola lima-lima, sementara Hebda dan

Agung meronce dengan pola satu-satu).

  P : Sudah? S : Sudah.

  P : Sekarang dihitung, ada berapa manik-manik? Hebda? H : Satu, dua, ... , lima puluh. Lima puluh.

  P : Lima puluh. P : Sekarang punya Lia. Berapa manik Ya? L : Lima, sepuluh, lima belas, ..., lima puluh. Lima puluh.

  Sama. P : Lima puluh. Sama ya? Perhatikan menghitung Lia dengan menghitung Hebda, lama mana? P : Cepat mana? L + W : Lia.

  P : Jadi menghitungnya mudah mana? L + W : Lia.

  P : Punya Lia berapa-berapa? L + W : Lima-lima.

  P : Mudah mana? L + W : Lima-lima.

  Komentar: Pada pertemuan pertama ini, siswa sudah terlihat semangat dan senang. Keterlibatan dan keaktifan siswa juga terlihat dengan adanya beberapa siswa yang berani bertanya pada peneliti. Siswa merasa tidak canggung karena pada waktu observasi sebelum pembelajaran, peneliti berusaha untuk mengakrabkan diri dengan siswa. Ada beberapa hal yang menarik dalam kegiatan ini, dalam menghitung banyaknya manik yang mereka buat, meskipun Wahyu dan Lia sama-sama meronce dengan pola lima-lima, tetapi cara mereka dalam menghitung jumlah manik berbeda. Lia menghitung banyaknya manik dengan pola lima-lima, sedangkan Wahyu menghitung banyaknya manik dengan dihitung satu-satu (meskipun roncean manik sudah dalam pola lima-lima).

  Mengukur Anggota Tubuh temanmu ada berapa manik?

  (Semua siswa saling mengukur pergelangan tangan dengan roncean manik yang telah mereka buat. Guru membantu peneliti dalam melakukan pembelajaran karena peneliti mengambil dokumentasi).

  G : Sini, hasilnya ditulis di sini. (Sambil menulis di papan tulis).

  Guru menulis: Lia Hebda Agung Wahyu Pergelangan tangan ... ... ... ...

  G : Pergelangan tangan Lia berapa? L : Dua puluh.

  G : Dua puluh. Hebda? H : Sepuluh.

  G : Agung? L : Enam belas.

  G : Yo, Wahyu? W : Dua puluh.

  (Sementara guru menulis di papan tulis, peneliti mengambil alih pembelajaran).

  Guru menulis: Lia Hebda Agung Wahyu

  P : Sekarang ukur panjang lengan tangan temanmu.

  (Semua siswa saling mengukur panjang lengan tangan temannya).

  G : Berapa panjang lengan tangan Lia? L : Enam puluh.

  G : Hebda? Piro Da? (Maksudnya: Hebda? Berapa Da?). L : Lima puluh. G : Lima puluh, Agung? W : Empat puluh dua.

  G : Wahyu? W : Enam puluh dua.

  L : Bu Shinta. P : O ya, sini ukur panjang lengan tangan bu Shinta.

  (Lia mengukur panjang lengan tangan peneliti).

  G : Berapa Lia? L : Tujuh puluh.

  G : Sini ditulis sini, piye le ngetung? (Maksudnya: Sini ditulis sini, bagaimana cara menghitungnya?).

  (Lia maju, menulis jawaban di papan tulis). Jawaban Lia :

  50 _20_+

  70 G : Ya, bagus. Komentar: Semua siswa disibukkan dengan kegiatan dalam pembelajaran sehingga tidak ada siswa yang main keluar kelas seperti yang terjadi pada waktu observasi. Siswa sepertinya sangat tertarik dengan alat peraga yang digunakan.

  Membandingkan Panjang/Besar Benda

  G : Lihat, pergelangan tangan Lia dengan Hebda lebih apa? L + W : Besar.

  G : Lebih besar. Pergelangan tangan Lia lebih besar dari pada Hebda. (Sambil menulis di papan tulis).

   Guru menulis: Pergelangan tangan Lia lebih besar daripada pergelangan tangan Hebda.

  G : Lia dengan Wahyu? L + W : Sama.

  G : Pergelangan tangan Lia dengan Wahyu sama. (Sambil menulis di papan tulis).

   Guru menulis: Pergelangan tangan Lia sama dengan pergelangan tangan Wahyu.

  G : Hebda dengan Agung? L + W : Lebih kecil.

  (Karena bel tanda istirahat sudah berbunyi, peneliti dan guru mengakhiri pembelajaran sampai pada materi ini).

b. Pembahasan pertemuan pertama

  Pada pertemuan pertama ini, satu siswa yang menjadi subjek penelitian tidak masuk, sehingga hanya ada dua siswa yang menjadi subjek penelitian, yaitu: Wahyu dan Lia. Dua siswa yang lain (Agung dan Hebda) tidak menjadi subjek dalam penelitian, tetapi mereka ikut dalam pembelajaran. Peneliti melihat adanya minat dari kedua siswa yang menjadi subjek penelitian untuk melakukan pembelajaran. Kedua siswa tertarik untuk melakukan pembelajaran. Mereka tertarik dengan alat peraga yang digunakan dalam pembelajaran, karena sebelumnya mereka belum pernah menggunakan alat peraga seperti yang digunakan peneliti. Mereka melakukan kegiatan dengan senang, bersemangat, bahkan wajah mereka terlihat ceria. Pada dasarnya siswa SLB B memang lebih senang pada pelajaran matematika dibandingkan pelajaran lain karena pelajaran matematika menggunakan bahasa yang minim.

  Meskipun demikian, guru dan peneliti selalu menambahkan kosakata baru pada waktu pelajaran matematika. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan kemampuan berbahasa siswa SLB B.

  Seperti yang dikatakan Dienes bahwa matematika adalah ilmu seni kreatif dan harus dipelajari dan diajarkan sebagai ilmu menggunakan seni meronce dalam pembelajaran matematika, dan hasilnya siswa lebih tertarik dengan pembelajaran seperti yang disajikan peneliti daripada pembelajaran yang menggunakan metode ceramah.

  Pembelajaran matematika pada pertemuan pertama ini berjalan dengan baik, siswa serius melakukan kegiatan yang ada dalam pembelajaran dan tidak ada siswa yang meninggalkan kelas. Semua siswa terlibat dalam pembelajaran. Guru mengatakan bahwa dengan alat peraga yang digunakan dalam pembelajaran ini, selain materi yang disampaikan akan mudah dipahami siswa, siswa juga belajar untuk bekerjasama dengan siswa lainnya sehingga siswa belajar untuk bersosialisasi, dan ini sangat menguntungkan karena sebelumnya siswa SLB B sangat sulit untuk diajak bersosialisasi.

c. Pertemuan kedua

  Pembelajaran pada pertemuan kedua ini terdiri dari beberapa tahap, antara lain: mengukur panjang benda dan meletakkan kartu bilangan. Berikut ini adalah kegiatan pembelajaran yang dilakukan pada pertemuan kedua:

  G: Guru P: Peneliti L: Lia W: Wahyu V: Vera

  H: Hebda

  A: Agung S: Semua siswa

  Mengukur Panjang Benda

  S : Pagi bu Shinta. P : Mari kita berdoa dulu... Berdoa mulai... Selesai. P : Hari ini kita akan mengukur panjang benda. Berapa panjang pensilmu? Berapa?

  (Lia mengangguk-angguk, kemudian mulai mengukur panjang pensil menggunakan roncean manik-manik yang telah dia buat).

  G : Pensil berapa? Diukur. Pensilnya berapa? Diukur.

  (Sambil memperagakan cara mengukur benda) . Nah begitu...

  G : Panjang pensil... L : (Lia menghitung kemudian mengutarakan hasilnya).

  “Sembilan belas” (Berbicara dengan nada keras tetapi kurang jelas).

  P : Tulis dibukumu! (Peneliti berbicara pada Lia).

  (Guru menuliskan kalimat “Panjang pensil Lia adalah” di papan tulis. Hal ini dilakukan guru karena anak-anak masih kesulitan dalam kosakata dan menulis kalimat. Lia menulis hasil pengukuran di bukunya).

  G : Panjang pensil Wahyu berapa? W : Dua puluh tiga. (Menjawab dengan ragu-ragu).

  P : Berapa, Yu? Panjang pensilmu berapa?

  (Peneliti mengulangi pertanyaan guru, mendekati Wahyu dan

meminta Wahyu untuk menunjukkan cara mengukur).

  Komentar: Anak-anak terlihat gembira, senang dan ceria melakukan pembelajaran. Mereka sangat serius dan aktif melakukan kegiatan yang ada dalam pembelajaran sampai-sampai waktu peneliti meminta untuk mengukur pensil, mereka tidak hanya mengukur pensil mereka sendiri, tetapi juga penasaran untuk mengukur pensil teman-teman yang lain. Peneliti dan guru melakukan pembelajaran secara bersama-sama. G : Sekarang panjang buku. Panjang buku berapa? Berapa panjang buku?

  (Lia dan Wahyu langsung mengukur panjang buku mereka, tak lama kemudian Lia mengutarakan hasil pengukurannya).

  L : Bu, ibu, empat puluh tiga. (Berbicara dengan kurang jelas).

  G : Berapa Lia? L : Empat puluh tiga.

  (Wahyu bertanya pada Lia, kemudian mereka berdiskusi).

  G : Wahyu, berapa? W : Empat puluh satu. (Sambil memperagakan memakai abjad

  jari, kemudian mengukur lagi dan menghitung hasil pengukuran).

  G : Berapa? Hayo...! (Wahyu malah bingung dan merasa

  kesulitan untuk menghitung. Lalu tertawa dan memperagakan kata pusing sambil tersenyum).

  G : Berapa? Ngitung ngono we kok pusing... (Maksudnya: Berapa? Menghitung begitu saja kok pusing...).

  (Wahyu menghitung lagi, sementara Lia mengukur lebar bukunya).

  L : Bu, dua puluh delapan. Dua puluh delapan.

  (Lia mengutarakan hasil pengukuran lebar bukunya. Wahyu masih bingung). (Karena Wahyu masih kelihatan bingung, maka guru mendekati dia dan membantu Wahyu dalam menghitung hasil pengukurannya. Setelah itu, ibu guru membantu kedua siswa yang lain (Agung dan Hebda) untuk mengukur dan menghitung, sementara Lia dan Wahyu mengukur benda-benda lain dan berdiskusi mengenai hasil pengukuran).

  G : Berapa lebar bukumu? L : Bu, aku dua puluh delapan. Dua puluh delapan.

  G : Berapa? Lia dua puluh delapan. Wahyu piro?

  (Maksudnya: Berapa? Lia dua puluh delapan. Wahyu berapa?).

  (Wahyu mengukur kembali lebar bukunya kemudian mengutarakan hasil pengukurannya).

  P : Hitungnya gimana? Berapa? (Sambil memperagakan kata menghitung).

  W : Lima, sepuluh, limabelas, duapuluh, dua lima, dua delapan. Dua puluh delapan.

  (Wahyu menghitung roncean manik yang menunjukkan lebar

bukunya dengan pola lima-lima, kemudian tersenyum).

  Komentar: Sebenarnya Wahyu memiliki kemampuan inteligensi yang bagus, namun karena dia jarang masuk maka kosakata yang dimilikinya sangat minim dan ini sangat menghambat dia dalam melakukan pembelajaran. Pada pertemuan kedua ini, Wahyu menghitung banyaknya manik yang menyatakan lebar bukunya dengan pola lima-lima.

  Meletakkan Kartu Bilangan

  G : Panjang pensilmu tadi berapa? L : Sembilan belas.

  P : Lia sini, maju kedepan. L : Kedepan? (Kemudian maju kedepan). G : Sebentar...Panjang pensil, mana tadi panjang pensil? Apa tadi yang diukur? L : Pensil. (Sambil mengambil pensil yang dia ukur). G : Ooo...tau...

  L : Sembilan belas. G : Cari sembilan belas yang mana? Ambil! (Lia memilih

  kartu bilangan dengan tulisan angka sembilan belas,

kemudian kembali ke tempat duduk).

  P : Eh, dicenthelkan no! (Maksudnya: Eh, diletakkan di roncean manik ya).

  (Lia menghitung roncean manik yang dipasang di depan dengan pola lima-lima, kemudian menggantungkan kartu bilangan pada roncean manik itu).

  G : Sekarang Wahyu, ayo. Panjang pensilmu berapa? W : Dua puluh tiga.

  G : Dua puluh tiga, diambil yang dua puluh tiga. Coba dihitung mana yang dua puluh tiganya? (Wahyu

  menghitung roncean manik dengan pola lima-lima dan menggantungkan kartu bilangan pada roncean tersebut).

  G : Ooo nggih pun... (Maksudnya: Ooo ya sudah...).

  (Setelah meletakkan bilangan selesai, Lia dan Wahyu diminta untuk mengerjakan soal mengenai pengukuran panjang benda.

  Dalam pengerjaan soal, mereka perlu dibimbing untuk membaca kalimat pengantar yang ada pada soal. Mereka mengerjakan soal dengan sangat antusias dan serius. Dalam melakukan penghitungan panjang benda dengan menggunakan roncean,

  menghitung manik-manik yang menunjukkan panjang benda, sedangkan Lia dengan menggaris ke bawah tepi benda sehingga menyentuh manik, kemudian baru menghitung banyaknya manik yang menunjukkan panjang benda.

  Gambar:

Contoh cara Wahyu dalam mengerjakan soal latihan

Panjang jendela adalah 9 manik-manik

  Contoh cara Lia dalam mengerjakan soal latihan Panjang jendela adalah 9 manik-manik (Setelah siswa selesai mengerjakan soal dan soal selesai dibahas, peneliti meminta Lia dan Wahyu untuk menghitung panjang roncean manik yang sudah dipasang di depan kelas dengan roncean sebanyak 100 buah).

  P : Lia, maju! Hitung! panjang ini berapa? Hitung! (Sambil menunjukkan roncean manik di depan kelas).

  L : Panjang, berapa? (Mengulangi pertanyaan peneliti).

  (Kemudian Lia menghitung panjang roncean manik itu, dengan dihitung satu-satu).

  P : Kok begitu...

  (Setelah peneliti berbicara demikian, Lia mengubah cara menghitungnya dengan menghitung loncat sepuluh-sepuluh).

  L : Sepuluh, dua puluh, tiga puluh, empat puluh, lima puluh, enam puluh, tujuh puluh, delapan puluh, sembilan puluh, seratus. Seratus. P : Oke, sekarang Wahyu, coba hitung panjangnya berapa? (Wahyu maju dan menghitung dengan dihitung satu-satu.

  Sementara Wahyu sedang menghitung, Lia memperhatikan dan berkomentar).

  L : Salah, salah. Lama, lama. (Sambil tertawa). P : Berapa?

  (Wahyu tidak menjawab dan hanya senyum-senyum karena dia bingung).

  P : Coba Lia sekarang maju sini ya, Wahyu tetap disini. P : Coba Yu, perhatikan cara Lia menghitung.

  (Lia menghitung dengan pola sepuluh-sepuluh dan Wahyu memperhatikan).

  P : Sudah? (Wahyu mengangguk). P : Sekarang coba kamu hitung! (Wahyu menghitung tapi

  P : Coba Lia, Wahyu kamu bantu. (Kemudian Lia membantu Wahyu dalam menghitung panjang roncean).

  P : Berapa? L + W : Sepuluh, dua puluh, tiga puluh, empat puluh, lima puluh, enam puluh, tujuh puluh, delapan puluh, sembilan puluh, seratus. Seratus. P : Seratus? Lagi, lagi. Itung sendiri Yu! Lia, Lia kamu kesana Ya. (Sambil menunjuk tempat duduk Lia).

  (Wahyu kemudian menghitung dengan pola sepuluh-sepuluh).

  W : Sepuluh, dua puluh, tiga puluh, empat puluh, lima puluh, enam puluh, tujuh puluh, delapan puluh, sembilan puluh, seratus. Seratus. P : Seratus, oke. P : Wahyu, coba bandingkan. Cara menghitung Wahyu dengan menghitungnya Lia cepat mana? W : Lia. (Menunjuk Lia). L : Wahyu lama, lama. (Sambil merentangkan tangan). P : Wahyu menghitung berapa-berapa? W + L : Satu-satu.

  P : Lia? W + L : Sepuluh-sepuluh.

  P : Cepat yang mana?

  P : Sekarang, mbak punya kartu bilangan. (Sambil menunjukkan kartu bilangan bertuliskan angka 31).

  P : Yu, coba kamu letakkan kartu bilangan ini ke roncean itu.

  (Wahyu maju, menghitung dengan cepat dan meletakkan kartu bilangan tersebut pada roncean).

  P : Benar? Benar Lia? L : Benar.

  P : Sekarang kamu, Ya. Ini.

  (Lia maju dan meletakkan kartu bilangan tersebut).

  L : Sudah. P : Benar? W + L : Benar.

  (Dua murid yang lain, Agung dan Hebda di ampu oleh ibu guru tetapi mereka juga penasaran dengan alat peraga, kemudian ibu guru menyuruh mereka meletakkan kartu bilangan juga. Sementara itu, Lia dan Wahyu malah mengukur gulungan kertas manila yang dibawa peneliti untuk dijadikan alat peraga).

  P : Berapa panjang Ya? L : Seratus dua. (Lia menjawab sambil mengukur dan

  menghitung roncean manik yang menunjukkan panjang gulungan kertas manila itu dengan roncean manik sebanyak 50 buah). L : Lima puluh, seratus, dua. Seratus dua. P : Oke, coba ditulis dibukumu...

  Kemudian Lia menulis seperti ini : 50

  50 2 +

  (Tapi Lia masih bingung cara menghitung dan hanya senyum- senyum. Kemudian peneliti membantu Lia).

  P : Lihat ini...! nol tambah nol tambah dua, berapa? L : Dua.

  P : Dua, tulis. P : Lima tambah lima? L : Sepuluh.

  P : Sepuluh. Jadi hasilnya berapa? L : Seratus dua.

  (Sementara itu, Agung dan Hebda sudah selesai dalam meletakkan bilangan. Peneliti meminta Lia dan Wahyu untuk meletakkan kartu bilangan dengan angka yang lebih besar. Untuk angka-angka yang besar, Lia masih kurang teliti dalam menghitung sehingga masih salah-salah, demikian juga Wahyu, sehingga masih perlu diulang-ulang).

  Komentar: Wahyu masih perlu bimbingan dalam pembelajaran dan muncul. Pada tahap meletakkan kartu bilangan ini, siswa saling berebut untuk maju dan meletakkan kartu bilangan pada roncean manik.

d. Pembahasan pertemuan kedua

  Pada pertemuan kedua ini, satu siswa yang menjadi subjek penelitian tidak masuk lagi. Siswa yang tidak masuk adalah siswa yang pada pertemuan sebelumnya tidak masuk. Pertemuan kali ini terdiri dari beberapa kegiatan pembelajaran, diantaranya adalah mengukur panjang benda yang ada di dalam kelas dan meletakkan kartu bilangan pada roncean manik. Dalam kegiatan pembelajaran ini, peneliti dan guru juga mengkaitkan dengan materi yang sebelumnya sudah diterima siswa; antara lain mengkaitkan dengan penjumlahan bilangan dan menghitung loncat.

  Dalam pembelajaran ini, peneliti menekankan pembelajaran pada knowing how seperti yang dianjurkan Bourne. Dalam kegiatan pembelajaran ini, siswa diarahkan untuk aktif mengkonstruksi ilmu pengetahuannya sendiri dengan cara berinteraksi dengan lingkungannya.

  Pada pertemuan ini, siswa terlihat tambah bersemangat dalam melakukan pembelajaran. Rupanya siswa sangat tertarik dengan variasi alat peraga yang disajikan oleh peneliti sampai- sampai mereka berebut maju ke depan untuk mengerjakan soal, pendapatnya atau maju kedepan setelah disuruh oleh guru/peneliti. Siswa sangat aktif dalam pembelajaran dan ingin tahu. Mereka mulai berani bertanya untuk hal yang belum dimengerti. Selain itu, siswa kreatif dengan mengukur benda-benda lain dalam kelas tanpa diminta oleh guru/peneliti. Soal latihan yang diberikan juga dikerjakan dengan baik, hanya saja siswa masih memerlukan bantuan guru/peneliti dalam mengerjakan soal. Pada pertemuan kedua ini, sudah ada perubahan tingkah laku menyangkut perubahan yang bersifat keterampilan dan sikap siswa.

  Pembelajaran pada pertemuan ini dapat dikatakan lebih baik dari pembelajaran sebelumnya.

e. Pertemuan ketiga

  Pembelajaran pada pertemuan ketiga ini terdiri dari : mengurutkan bilangan, meletakkan tanda <, >, atau =. Rangkuman kegiatan yang dilakukan adalah sebagai berikut:

  G: Guru P: Peneliti L: Lia W: Wahyu V: Vera

  H: Hebda

  A: Agung S: Semua siswa

  Mengurutkan Bilangan

  P : Selamat pagi anak-anak! S : Selamat pagi bu...

  P : Ayo sikapnya yang baik! Kita berdoa dulu. (Siswa tenang).

  P : Kemarin kita belajar apa? L : Kartu, kartu. (Maksudnya: meletakkan kartu bilangan).

  P : Ok. Sekarang kita coba untuk mengurutkan bilangan.

  Apa anak-anak? V+W+L : Urut.

  P : Coba sekarang Vera sini! Coba kamu letakkan kartu bilangan ini pada roncean manik. (Peneliti

  memberikan kartu bilangan yang bertuliskan angka 56 dan 77).

  (Peneliti meminta Vera untuk maju karena pada pertemuan sebelumnya Vera tidak masuk. Hal ini dilakukan peneliti agar Vera juga melakukan kegiatan seperti yang dilakukan Wahyu dan Lia). (Vera kemudian maju dan melakukan apa yang diminta oleh peneliti).

  P : Coba lihat, 56 dengan 77 besar mana? (Sambil merentangkan tangan).

  V + W + L : Tujuh puluh tujuh. P : Kenapa? L : Panjang. (Maksudnya lebih panjang).

  P : Kecil mana? V + W + L : Lima puluh enam.

  L : Kecil. (Maksudnya lebih pendek). P : Ini Yu, mbak punya beberapa kartu bilangan.

  (Memberikan beberapa kartu bilangan ke Wahyu).

  Coba urutkan dari yang kecil ke besar. Kecil ke besar. (Sambil merentangkan dan menyempitkan

  tangan). (Wahyu maju ke depan dan mengurutkan kartu bilangan tersebut). Jawaban Wahyu:

  20

  48

  66

  

83

Mengurutkan Bilangan 100

  W : Sudah. P : Ya. Sekarang Vera, coba urutkan Ve. (Sambil

  memberikan beberapa kartu bilangan yang berbeda kepada Vera).

  (Vera maju dan mengurutkan bilangan). Jawaban Vera:

  37

  58

  73

  

81

Mengurutkan Bilangan

  90 P : Oke. Sekarang Lia, yok maju. (Memberikan kartu L : Kecil? Kecil? (Maksudnya: Dari yang kecil?). P : Ya, dari yang kecil. L : Sudah.

  Jawaban Lia: Mengurutkan Bilangan

  37

  49

  54

  

72

  94 P : Ya, sekarang urutkan dari yang besar ke kecil. Dari

  yang besar... ke kecil... (Sambil merentangkan kemudian menyempitkan tangan).

  (Peneliti memberikan kartu bilangan yang berbeda dengan yang diurutkan siswa sebelumnya).

  Setelah latihan untuk mengurutkan bilangan dirasa cukup, peneliti memberikan soal latihan mengenai meletakkan kartu bilangan pada roncean manik dan mengurutkan bilangan. Dalam pengerjaan soal latihan, siswa masih dibantu oleh guru/peneliti.

  Semua siswa menjawab dengan benar dalam mengerjakan soal latihan.

  Komentar: Siswa sedikit kesulitan menangkap apa yang dimaksud peneliti, mereka mengurutkan bilangan dari yang kecil ke yang besar seperti yang sebelumnya mereka lakukan sehingga peneliti perlu memberi penjelasan berulang-ulang.

  Setelah itu, pembelajaran dilanjutkan dengan meletakkan tanda <, >, atau =. Untuk mempermudah dalam memberikan penjelasan, guru menamai tanda < dengan “dicedhit” dan tanda > dengan “dirangkul” dan guru memberi pengertian bahwa kalau lebih kecil dicedhit (<) kalau lebih besar dirangkul (>) sambil memperagakan dengan gerakan; guru meminta juga siswa untuk memperagakan. (“dicedhit” = dibelakangi, “dirangkul” = dipeluk).

  Meletakkan Tanda <, >, atau =

  P : Lia, perhatikan. Ayo berilah tanda! (Peneliti memasang angka 95 dan 81 pada alat peraga).

  (Lia maju dan memilih lambang < dan diletakkan diantara angka 95 dan 81, seperti ini 95 < 81).

  Gambar: Berilah Tanda 95 <

  81 P : Sudah? L : Sudah. (Tersenyum).

  P : Hayo...95 lebih besar apa lebih kecil dari 81?

  P : Lebih besar, dicedhit opo dirangkul? (“dicedhit” = dibelakangi, “dirangkul” = dipeluk).

  L : Dirangkul. (Sambil memperagakan pelukan).

  (Lia mengambil tanda < diantara angka 95 dan 81 kemudian menggantinya dengan tanda >).

  Jawaban Lia: Berilah Tanda

  95 >

  81 P : Yok, sekarang Wahyu. (Peneliti memasang angka 69

dan 96 pada alat peraga).

  W : Lebih kecil. (Sambil memperagakan dengan tangan). P : Yoo, dipilih lambangnya.

  (Wahyu memilih lambang < dan meletakkannya diantara angka 69 dan 96).

  Jawaban Wahyu: Berilah Tanda 69 <

96 P : Vera, maju. (Peneliti memberikan angka 48 dan 90 untuk Vera).

  (Vera maju dan mengambil lambang > kemudian meletakkannya

  Gambar: Berilah Tanda 48 >

  90 P : Hmm, 48 lebih besar apa lebih kecil dari 90 ? (Vera tersenyum kemudian mengganti lambang > dengan lambang <). Jawaban Vera: Berilah Tanda

  48 <

  90 (Hanya satu siswa yang benar dalam meletakkan bilangan pada pembelajaran ini, sehingga peneliti memberikan banyak latihan). Pada akhir pembelajaran, peneliti memberikan pekerjaan rumah.

  Komentar: Peneliti mengulang kembali materi yang pada pertemuan sebelumnya telah diberikan, yaitu tentang meletakkan kartu bilangan pada roncean manik. Kemudian dilanjutkan dengan mengurutkan bilangan lebih kecil (<), lebih besar (>), atau sama dengan (=) bilangan lain. Hal ini dilakukan peneliti karena Vera, siswa yang pada dua pertemuan sebelumnya tidak masuk, pada pertemuan kedua ini masuk. Pada pertemuan ketiga ini, ketiga siswa yang menjadi subjek penelitian saling berebut ingin mengerjakan soal di depan.

f. Pembahasan pertemuan ketiga

  Pada pertemuan ketiga ini, semua siswa yang menjadi subjek penelitian masuk sekolah. Peneliti mengulang sebentar materi yang pada pertemuan sebelumnya dibahas. Hal ini dilakukan peneliti karena pada pertemuan sebelumnya ada siswa yang tidak masuk dan pada pertemuan ketiga ini, siswa tersebut masuk. Pembelajaran pada pertemuan ini adalah mengurutkan bilangan dan meletakkan tanda >,< atau =. Sebenarnya materi ini tidak terdapat pada materi pengukuran dan penggunaan alat ukur panjang, namun materi ini terkait dengan pengukuran yaitu untuk membandingkan suatu benda lebih panjang, lebih pendek atau sama dengan benda lain.

  Dari pertemuan ketiga, dapat dilihat bahwa minat dan keterlibatan siswa semakin meningkat. Siswa memberikan respon positif dan secara spontan siswa menanggapi apa yang diminta oleh guru/peneliti. Semua siswa bersemangat sekali dalam mengerjakan latihan dengan menggunakan alat peraga yang diberikan oleh peneliti. Sesekali para siswa berebut untuk maju kedepan atau mencoba memperbaiki jawaban siswa yang salah. Siswa menampakkan wajah ceria, senang dan semangat serta tidak Semua siswa konsentrasi dalam melakukan kegiatan pembelajaran. Meskipun siswa sedikit kesulitan dalam mengurutkan bilangan (siswa masih bingung antara mengurutkan bilangan “dari kecil ke besar” atau “dari besar ke kecil”) sehingga guru/peneliti memberikan lebih banyak latihan, tapi siswa tidak terlihat bosan atau malas melainkan siswa semakin senang dan penasaran dalam mengerjakan latihan. Siswa saling bersaing dalam mengerjakan latihan, mereka tidak mau kalah dengan teman yang lain.

  Pada pertemuan ketiga ini, dapat dilihat bahwa terjadi proses menguasai sesuatu yang baru dan menggunakan sesuatu yang sudah dikuasai siswa untuk masuk ke materi, sehingga dapat dikatakan bahwa makna belajar seperti yang dikemukakan Suharyo Sumowidagdo, telah terjadi dalam kegiatan pembelajaran matematika untuk siswa SLB B ini.

g. Pertemuan keempat

  Kegiatan yang dilakukan dalam pembelajaran matematika pada pertemuan keempat ini antara lain: mengukur panjang benda dengan jengkal, hasta, dan telapak kaki dan mengukur panjang benda menggunakan alat ukur baku. Sebelum melakukan kegiatan diatas, guru mengulang kembali materi pada pertemuan sebelumnya, mengenai lebih kecil, lebih besar, atau sama dengan G: Guru P: Peneliti L: Lia W: Wahyu V: Vera

  H: Hebda

  A: Agung S: Semua siswa G : Selamat pagi anak-anak.

  S : Selamat pagi bu guru! G : Yoo, jangan rame! Berdoa mulai...! (siswa dan guru berdoa).

  G : Vera sini, maju. Cobo inget ndak pelajaran kemarin? Nek lebih kecil di opo? Nek lebih besar di piye? (Maksudnya:

  Vera sini, maju. Coba ingat tidak pelajaran kemarin? Kalau lebih kecil diapakan? Kalau lebih besar bagaimana?). (Vera maju dan memperagakan).

  G : Nek lebih kecil, dicedhit. Nek lebih besar dirangkul.

  (Sambil memperagakan bersama dengan Vera). (Maksudnya: kalau lebih kecil dibelakangi. Kalau lebih besar dipeluk).

  P : Vera, PR yang kemarin mana? V : Ndak ada. (Menjawab tapi dengan wajah binggung).

  G : Vera, Vera! PR yang kemarin mana? PR! (Sambil memperagakan bentuk rumah dengan tangan).

   (Vera tersenyum kemudian mengambil PR di dalam tasnya).

  G : Sudah dikerjakan to?

  (Peneliti menggali pengetahuan siswa apakah siswa benar-benar sudah paham tentang mengurutkan bilangan atau belum dengan memberi latihan soal pada awal pertemuan. Vera mengerjakan soal dengan baik, hanya saja Vera masih kurang teliti dengan soal no.9 yaitu 16 ... 61. Vera memberi tanda =)

  P : Vera,Vera lihat no.9! Enam belas dan enam puluh satu, sama? (Vera tersenyum malu dan menggantinya dengan

  tanda <).

  Komentar: Untuk mengawali pembelajaran, guru mengulang kembali materi sebelumnya, yaitu mengurutkan bilangan lebih kecil, lebih besar atau sama dengan bilangan lain. Setelah itu peneliti memberi materi baru, yaitu: pengukuran dengan jengkal, telapak kaki, dan hasta. Peneliti memberi soal yang berhubungan dengan pengukuran dengan jengkal, hasta, dan telapak kaki. Dua siswa sebagai subjek penelitian, yaitu: Lia dan Wahyu tidak masuk pada pertemuan keempat ini sehingga peneliti mengikutkan Hebda dalam pembelajaran.

  Mengukur Panjang Benda dengan Jengkal, Hasta, dan Telapak Kaki P : Ve, ini soalnya.

  V : Mbak, baca. (Minta bantuan dalam membaca soal). pensilmu adalah, berapa jengkal? Jengkal tahu ya jengkal? V : Ya. (Sambil memperagakan satu jengkal).

  P : Terus panjang mejamu berapa hasta? Hasta yang mana? (Vera menggelengkan kepala).

  P : Ini hasta. (Sambil memperagakan satu hasta).

  (Vera mengangguk-angguk dan langsung mengukur panjang meja dengan jengkal. Nampaknya Vera belum memahami perintah yang ada dalam soal).

  P : Lho bukan! Pensil! Mana pensilmu? Diukur dengan jengkal.

  (Vera tersenyum, menunjukkan pensilnya kemudian mengukur pensilnya dengan jengkal).

  V : Satu. (Sambil menggangkat telunjuk). P : Yo, tulis disitu. G : Bisa? Cobo diterangkan dulu. Mengukur panjang, panjang meja boleh, panjang kelas boleh, panjang ubin boleh.

  (Sambil merentangkan tangan). Ukurlah benda-benda

  yang ada di dalam kelasmu. Ukurlah benda-benda! Benda- benda itu ya meja, papan tulis lantas pintu, lantas meja ping pong itu benda, benda. (Membaca soal sambil menunjukkan benda-benda yang disebut).

  V : Pensil.

  G : Ukurlah panjang benda dan isilah titik-titik. Titik-titik.

  (Menuliskan kata titik-titik di papan tulis). Iki opo? Vera ini apa? (Menunjukkan tulisan kata titik-titik).

  (Vera tersenyum sambil menggeleng).

  G : Nah, belum tahu tho. Perintahnya belum tahu. Ini lho titik- titik. (Menunjukkan titik-titik yang terdapat dalam soal).

  G : Ini lho, ini namanya titik-titik. (Menuliskan kata titik-titik di papan tulis).

  G : Jadi kalau ada kata-kata yang kira-kira sulit, dijelaskan dulu. Yang belum dimengerti anak. (Berbicara pada

  peneliti).

  G : Ukurlah! Ukurlah, mengukur. (Sambil merantangkan

  tangan). Benda itu ya ada meja ada papan tulis. Vera mana

  pensil? Diukur!

  (Vera menunjukkan pensil dan mengukur dengan jengkal; kemudian mengangkat telunjuknya, maksudnya panjang pensilnya adalah satu).

  G : O ya, panjang pensil Vera satu, satu jengkal. (Menuliskan di papan tulis).

  (Karena guru belum yakin benar dengan pemahaman siswa tentang jengkal, hasta dan telapak kaki, maka guru mengulang kembali).

  satu jengkal) . Jengkal! V : Jengkal. (Memperagakan satu jengkal).

  G : Hebda berapa Da panjang pensilmu? H : Dua. (Hebda mengukur kemudian mengutarakan hasil ukurannya).

  G : Ini nomor satu sudah. Sekarang nomor dua, nomor dua! Melihat, melihat. Bukunya dilihat. Penggarismu! Penggaris, saiki penggaris. (Menulis di papan tulis). Mana penggaris? Apa namanya?

  V : Penggaris. (Menunjukkan penggaris). G : Berapa, berapa jengkal? V : Dua. (Mengukur kemudian berbicara).

  G : Kamu berapa Da? H : Tiga. (Mengukur kemudian mengutarakan hasilnya).

  G : Selanjutnya, berapa hasta panjang mejamu? Hasta yang bagaimana?

  (Vera memperagakan satu hasta. Hebda melihat Vera kemudian memperagakan satu hasta).

  G : Tahu ya? Berapa, berapa panjangnya? V : Satu.

  G : Tulis, tulis neng bukumu. Nek gini tadi namanya apa?

  (Memperagakan satu hasta). Hasta. (Maksudnya: Tulis, V : Hasta. (Sambil memperagakan satu hasta). G : Hebda? H : Dua. (Sambil mengukur panjang meja dengan hasta).

  G : Sekarang nomor tiga. Panjang lantai ruang kelasmu, berapa telapak kaki? Ayo diukur pakai telapak kaki.

  (Vera dan Hebda mengukur panjang lantai ruang kelas dengan langkah).

  G : Eee,langkah! Itu langkah... soalnya pakai telapak kaki.

  

(Sambil memperagakan telapak kaki).

(Vera dan Hebda tersenyum kemudian mengulangi mengukur panjang lantai dengan telapak kaki).

  G : Berapa Ve? V : Dua puluh. (Sambil memperagakan angka dua puluh dengan tangan).

  G : Hebda, berapa? H : Dua puluh satu. (Menjawab dengan ragu-ragu).

  G : Bener ora? (Maksudnya: Benar tidak?).

  Ayo diulangi lagi ...!(Hebda mengulangi pengukurannya dan menjawab).

  H : Dua puluh dua. G : Terakhir, panjang papan tulis. Ukur pakai telapak kaki!

  (Vera dan Hebda mengukur panjang papan tulis dengan telapak

  G : Berapa Da? H : Dua belas.

  G : Vera berapa? V : Sepuluh. (Sambil memperagakan dengan tangan).

  G : Coba perhatikan hasil pengukuran antara Vera dengan Hebda sama atau beda? V : Beda.

  G : Kenapa beda? V : Hebda lebih kecil. (Maksudnya: karena ukuran jengkal, hasta dan telapak kaki Hebda lebih kecil daripada Vera).

  G : Ya, karena ukuran jengkal, hasta dan telapak kaki Hebda lebih kecil dari Vera ya? (Vera mengangguk-angguk).

  G : Perhatikan Ve! Benda yang diukur sama tidak? V : Sama.

  G : Hasil pengukuran antara Vera dan Hebda sama tidak? V : Beda.

  G : Oleh sebab itu, sekarang kita pakai alat pengukuran yang sudah dibakukan.

  Mengukur Panjang Benda menggunakan Alat Ukur Baku

  G : Yang ibu bawa ini namanya apa Ve? (Sambil menunjukkan penggaris).

  V : Penggaris. panjang garis dibawah ini dengan penggarismu! Mana garis? (Vera menunjukkan garis yang ada dalam soal.) Mana penggarismu? (Vera mengambil penggaris

kemudian menunjukkan kepada guru).

  G : Coba sekarang diukur.

  (Vera dan Hebda mengukur panjang garis yang ada dalam soal, dengan menggunakan penggaris. Vera mengukur dengan cepat dan menuliskan hasil pengukurannya. Hebda agak lambat dalam melakukan pengukuran. Hasil pengukuran Vera dan Hebda benar semua).

  G : Sudah? (Vera dan Hebda mengangguk). Hasilnya sama tidak? V + H : Sama. G : Selain penggaris, ada alat lain yang sudah dibakukan.

  Ini...! (Sambil menunjukkan meteran penjahit/metlen). Ada yang tahu, ini gunanya untuk apa? V : Penjahit.

  G : Ya, metlen ini digunakan penjahit untuk mengukur panjang kain yang dibutuhkan untuk membuat baju.

  Misalnya Vera ingin buat baju, diukur pakai ini. (Vera mengangguk-angguk).

  G : Sekarang kita pura-pura jadi penjahit. Vera pura-puranya mau membuat baju untuk Hebda. Coba ukur panjang lengan Hebda dengan metlen ini. (Sambil memberikan

  metlen kepada Vera). (Vera maju dan mengukur panjang lengan baju Hebda. Vera ternyata belum tahu yang dimaksud panjang lengan. Vera mengukur dari bawah leher/krah baju sampai lengan baju Hebda).

  G : Ee, panjang lengan kok dari situ. Dari sini sampai sini.

  (Sambil menunjukkan panjang lengan Hebda).

  G : Berapa panjangnya? V : Empat belas.

  G : Nah, panjang lengan Hebda empat belas. G : Sekarang gantian, Hebda ukur panjang lengan Vera.

  (Hebda mengukur panjang lengan Vera).

  G : Berapa? H : Lima puluh satu.

  G : Lima puluh satu, lima puluh satu.

  (Peneliti mengamati, ternyata Vera keliru. Vera memakai ukuran inch bukan cm)

  P : Bu, tadi Vera keliru. Vera bukan memakai satuan cm. G : Ooo, Vera keliru. Ayo diulangi Ve. (Vera agak bingung). G : Tadi kamu keliru. Yang dipakai yang ini (Menunjukkan

  metlen dengan ukuran cm) , bukan yang ini (Menunjukkan metlen dengan ukuran inch).

  (Vera tersenyum, kemudian mengukur panjang lengan Hebda).

  V : Enam puluh enam. G : Sekarang ukur lingkar perut Hebda.

  (Vera mengukur lingkar perut Hebda).

  G : Berapa? V : Lima puluh enam.

  G : Lima puluh enam. G : Gantian, Hebda ukur Vera.

  (Hebda mengukur lingkar perut Vera).

  G : Berapa? H : Enam tujuh.

  G : Enam puluh tujuh. Bicara apa? H : Enam puluh tujuh.

  G : Ukur lingkar lengan tangan Hebda! Berapa Ve? (Vera mengukur lingkar lengan tangan Hebda).

  V : Dua puluh sembilan.(Menjawab dengan ragu-ragu). G : Berapa? (Vera mengukur lagi kemudian menjawab).

  V : Dua puluh delapan. G : Sekarang Vera. Diukur Da!

  (Hebda mengukur lingkar lengan Vera, tapi masih bingung kemudian dibantu oleh Vera dan ibu guru).

  G : Berapa? H : Tiga puluh.

  G : Tiga puluh. Ya... G : Terakhir, ukur tinggi temanmu. Hebda dulu yang diukur.

  (Hebda merapat ke tembok dan diukur oleh Vera dengan cara angka nol pada metlen berada di bawah/pas sepatu Hebda kemudian ditarik ke atas hingga kepala Hebda. Vera mengukur dari bawah ke atas).

  G : Berapa?

  (Vera belum menjawab karena kesulitan dalam mengukur tinggi Hebda).

  G : Sekarang tak kasih cara, begini. (Hebda merapat ke

  tembok, kemudian guru menandai tinggi Hebda pada tembok). Sudah, sekarang diukur. (Vera mengukur tembok yang menyatakan tinggi Hebda tadi dengan cara dari bawah ke atas, dan Vera masih merasa kesulitan) .

  G : Dari atas ke bawah. (Kemudian Vera mengukur dari atas

  ke bawah, dan dengan cepat Vera dapat mengetahui hasilnya).

  G : Berapa?

  menunjukkan tinggi Hebda).

  G : Berkata apa? Kok ini. V : Seratus dua puluh tiga. G : Betul, seratus dua puluh tiga. G : Sekarang tinggi Vera?

  (Hebda mengukur tinggi Vera memakai cara yang sama dengan yang diberikan ibu guru. Hebda kesulitan karena panjang metlen tidak cukup untuk mengukur tinggi Vera).

  G : Wah, panjangnya kurang ya. Kalau Hebda masih kesulitan ini. Sini Ve, kamu ukur sendiri.

  (Vera mengukur tinggi tembok yang sudah ditandai yang menyatakan tinggi Vera).

  G : Berapa Ve? V : Seratus lima puluh G : Seratus lima puluh? Lha ini masih kurang. (Sambil menunjukkan sisa pengukuran tinggi Vera).

  (Vera tersenyum kemudian mengukur tinggi yang masih tersisa).

  G : Seratus lima puluh tambah piro? V : Tiga.

  G : Jadi, berapa? V : Seratus lima puluh tiga.

  G : Ya. Ditulis di papan tulis sana.

  Jawaban Vera: 150

  3 + 153

  Komentar: Pada pertemuan keempat ini, materi pembelajaran sudah sampai pada pengukuran dengan menggunakan alat ukur baku.

  Siswa sangat senang dengan kegiatan pembelajaran karena mereka bepura-pura menjadi penjahit dan mengukur anggota tubuh teman mereka dengan menggunakan metlen/meteran penjahit. Siswa sangat aktif dalam kegiatan pembelajaran dan mereka antusias dalam melakukan pembelajaran. Dalam mengerjakan soal, siswa perlu dibimbing karena mereka belum paham dengan kalimat yang ada dalam soal.

h. Pembahasan pertemuan keempat

  Untuk pertemuan keempat ini, materi yang diberikan adalah mengukur panjang benda dengan menggunakan jengkal, hasta, telapak kaki, penggaris, dan meteren penjahit (metlen). Peneliti menggunakan alat peraga berupa bagian tubuh siswa (jengkal, hasta dan telapak kaki), penggaris, dan meteran penjahit (metlen). Dalam pembelajaran, siswa diminta untuk mengukur panjang benda-benda yang ada di dalam kelas dengan menggunakan jengkal, hasta dan telapak kaki. Kemudian dilanjutkan dengan tangan) dengan menggunakan metlen. Setelah melakukan pengukuran, siswa diminta untuk mengutarakan hasil pengukurannya. Dalam pengukuran bagian tubuh ini, siswa berpura-pura menjadi penjahit. Meskipun alat peraga yang digunakan sangat sederhana, namun siswa senang, bersemangat dan aktif dalam melakukan kegiatan yang ada dalam pembelajaran. Begitu juga pada waktu mengutarakan hasil pengukurannya, siswa tidak ragu-ragu untuk mengutarakannya tanpa disuruh oleh guru/peneliti.

  Semua siswa terlibat dalam pembelajaran, karena dalam melakukan pengukuran menggunakan metlen, mereka pasti memerlukan bantuan siswa lain untuk diukur panjang lengan tangan atau lingkar lengan tangan. Hal ini juga merupakan sesuatu yang positif, karena siswa belajar untuk bekerjasama dan bersosialisasi dengan siswa lain. Selain itu, dalam pembelajaran ini, siswa mempraktekkan sendiri sehingga siswa lebih mudah dalam memahami materi dan mempunyai pengalaman. Semua kegiatan dalam pembelajaran ini dapat dilakukan siswa dengan baik.

  Pada pertemuan keempat ini, peneliti mempresentasikan pembelajaran matematika dengan melakukan kegiatan yang terkait dengan hal-hal konkrit, seperti menggunakan alat peraga dan Kegiatan ini disesuaikan dengan perkembangan inteligensi siswa SLB B kelas D2 yang menurut klasifikasi Piaget, siswa ini berada pada tahap perkembangan kognitif ketiga, yang ditandai dengan kemampuan berfikir logis tetapi terkait dengan hal-hal konkrit.

i. Pertemuan kelima

  Pada pertemuan kelima ini, peneliti mengenalkan satuan baku pada siswa, mengubah satuan (dari cm menjadi m atau dari m menjadi cm) dan melakukan kegiatan menaksir panjang benda. Setelah itu, peneliti memberikan tes formatif yang berfungsi untuk mengetahui pemahaman siswa pada materi yang telah diberikan.

  Berikut ini uraian pembelajaran pada pertemuan kelima.

  G: Guru P: Peneliti L: Lia W: Wahyu V: Vera

  H: Hebda

  A: Agung S: Semua siswa

  Satuan Baku

  G : Selamat pagi anak-anak! S : Selamat pagi bu! G : Tenang anak-anak. Kita berdoa dulu. (Berdoa beberapa menit).

  G : Untuk Vera dan Lia, hari ini kita akan belajar tentang satuan baku yang digunakan dalam pengukuran. Satuan baku! Bicara apa?

  L + V : Satuan baku!

  L + V : Cm! G : Cm, kepanjangannya apa? L + V : Centimeter.

  G : Ya, satuan dalam metlen ini adalah centimeter (Sambil

  menunjukan metlen dengan satuan centimeter). Satuan

  dalam penggarismu itu juga centimeter. Besok kalau Lia, Vera jadi penjahit; mengukur kain pakai satuan meter.

  Kainnya berapa meter. (Sambil memperagakan mengukur

  kain) . Apa itu meter? (Lia dan Vera tersenyum sambil menggelangkan kepala).

  Mengubah Satuan (“dari cm menjadi m” atau “dari m menjadi cm”).

  G : Perhatikan ini. (Guru menggambar anak tangga satuan ).

  Gambar : Km Hm Dam

  

M

  • 0

  Dm Cm

  • 0

  Mm

  G : Dari meter ke centimeter, naik atau turun? L + V : Turun.

  G : Kalau turun, nolnya ditambah atau diambil? L + V : Ditambah.

  G : Ditambah berapa? L + V : Satu.

  G : Kalau turun dua? L + V : Ditambah dua.

  G : Bagus. Contoh, 1 meter berapa centimeter? (Lia dan Vera masih bingung).

  G : Meter ke centimeter? Naik atau turun? L + V : Turun.

  G : Ditambah atau diambil? L + V : Ditambah.

  G : Ditambah berapa? L + V : Satu.

  G : 1 meter mau ke centimeter, melewati apa dulu? L + V : Dm.

  G : Dm, kepanjangan apa? (Lia dan Vera tersenyum sambil menggelengkan kepala).

  G : Desimeter. Apa? L + V : Desimeter.

  G : 1 meter berapa desimeter? V : 10 desimeter.

  L : 10 desimeter. G : 10 desimeter berapa centimeter? V : 100 centimeter.

  G : Lia? L : 100 centimeter.

  G : Jadi, 1 meter berapa centimeter? V + L : 100 centimeter.

  G : 1 meter sama dengan 100 centimeter.

  Gambar : Km Hm Dam

  

M

1 Dm

  

10

Cm 100 Mm Jadi 1 m = 100 cm

  G : Dari meter ke centimeter, naik atau turun? G : Kalau 2 meter sama dengan berapa centimeter? Vera maju sini...! (Guru menulis di papan tulis seperti ini :

   2 m = ... cm). (Vera maju ke depan kemudian menuliskan jawaban di papan tulis).

  Jawaban Vera: Km Hm Dam

  

M

  2 Dm

  20 Cm 200 Mm Jadi 2 m = 200 cm

  G : Betul ya? Betul.

  (Lia diam. Sepertinya Lia belum paham).

  G : Lia saiki kamu, maju sini...! Ini kerjakan. (Guru menulis di papan tulis seperti ini: 10 m = ... cm).

  (Lia maju dan menulis jawaban di papan tulis) Jawaban Lia: Km Hm

  Dam

M

  10 Dm

  10 Cm 100 Mm Jadi 10 m = 100 cm

  G : We lha ternyata belum paham tho cah iki. Lihat...! Lihat ini (Sambil menunjukkan gambar anak tangga satuan). 1 meter mau ke centimeter turun berapa? (Lia diam). Ini

  (Menunjuk satuan meter) kalau mau ke centimeter L : Dua. G : Dua. Jadi nolnya ditambah berapa? L : Dua.

  G : Dua. Jadi 10 meter sama dengan berapa centimeter? L : Seribu.

  G : Seribu. Bagus! Sekarang di tulis di papan tulis!

  (Lia menulis di papan tulis kemudian mau kembali ke tempat duduk).

  Jawaban Lia : Km Hm Dam

  

M

  10 Dm 100 Cm 1000

  Mm Jadi 10 m = 1000 cm

  G : Sebentar jangan kembali ke tempat duduk dulu. Vera sini, maju sini. Coba kerjakan ini! (Guru menulis: 5 m = ... cm).

  (Vera maju dan menuliskan jawaban). Jawaban Vera : Km

  Hm Dam

M

5 Dm

  50 Cm G : Ya, tahu ya. Kalau Vera tahu. Sekarang yang ini (Guru masih memberikan soal untuk Vera. 100 m = ... cm).

  Berapa? (Vera mengerjakan soal kemudian menjawab).

  Jawaban Vera : Km Hm Dam

  

M

Dm 100 Cm

  1000 10000 Mm Jadi 100 m = 10000 cm

  V : Sepuluh ribu. G : Sepuluh ribu, tulis sini.(Menunjukkan titik-titik pada soal).

  (Vera menulis 100 m = 10.000 cm).

  G : Ya, bisa ya?(Vera mengangguk) Kalau Vera bisa, sudah paham. Sekarang Lia. Vera boleh duduk. (Vera kembali ke

  tempat duduk).

  G : Lia, ini (Guru memberi soal seperti ini: 3 m = ... cm).

  (Lia mengerjakan dengan menggunakan anak tangga satuan, kemudian menuliskan jawaban pada papan tulis: 3 m = 300 cm).

  Jawaban Lia: Km Hm Dam

  M

3 Dm

  

30

Cm 300 Mm Jadi 3 m = 300 cm

  G : Berapa? Berkata apa? L : Tiga ratus.

  G : Sekarang ini. (Guru menulis 30 m = ... cm).

  (Lia mengerjakan dengan menggunakan anak tangga satuan). Jawaban Lia: Km

  Hm Dam M

  30 Dm 300 Cm 3000

  Mm Jadi 30 m = 3000 cm

  G : Berapa? L : Tiga ribu. (Menjawab dengan ragu-ragu).

  G : Berapa? Berkata apa? L : Tiga ribu.

  

(Lia menulis jawaban seperti ini: 30 m = 3000 cm).

  G : Lagi yo 7 m = ... cm. (Guru memberi latihan soal yang

  lebih banyak pada Lia karena guru merasa Lia masih kurang paham dateri ini).

  (Lia mengerjakan dengan menggunakan anak tangga satuan, kemudian menuliskan jawaban pada papan tulis).

  Jawaban Lia: Km Hm Dam

  

M

7 Dm

  

70

Cm 700 Mm Jadi 7 m = 700 cm

  G : Sudah, betul. Sudah, kembali ke tempat duduk. G : Sekarang coba perhatikan...! Kebalikannya, dari centimeter ke meter. 300 centimeter sama dengan berapa meter? (Guru menulis: 300 cm = ... m).

  G : Kalau naik, nolnya ditambah atau diambil? L + V : Diambil.

  G : Diambil berapa? L + V : Satu.

  (Guru bersama-sama dengan Lia dan Vera mengerjakan dengan menggunakan bantuan gambar anak tangga satuan kemudian menuliskan jawaban: 300 cm = 3 m). Gambar: Km

  Hm Dam

M

  

3 Dm

  30 Cm 300 Mm Jadi 300 cm = 3 m

  

(Guru membuat beberapa soal latihan di papan tulis).

  G : Lia kerjakan ini, 700 cm = ... m (Lia mengerjakan soal dan menuliskan jawaban: 700 cm = 7 m).

  Jawaban Lia : Km Hm Dam

  

M

  7 Dm

  

70

Cm 700 Mm Jadi 700 cm = 7 m

  G : Lagi, bawahnya. (Soal seperti ini: 400 cm = ... m).

  (Lia mengerjakan soal dan menuliskan jawaban: 400 cm = 4 m).

  Jawaban Lia: Km Hm Dam

  M

  4 Dm

  

40

Cm 400 Mm Jadi 400 cm = 4 m

  G : Ooo ya...bagus. Sudah, gantian Vera.

  

(Lia kembali ke tempat duduk, Vera maju ke depan).

  G : Vera kerjakan ini.

  (Guru menunjukkan soal: 200 cm = ... m).

  (Vera mengerjakan dengan bantuan gambar anak tangga satuan). Jawaban Vera: Km

  Hm Dam M

  2 Dm

  

20

Cm 200 Mm Jadi 200 cm = 3 m

  G : Berapa? V : Dua.(Tapi Vera menulis angka 3).

  G : Wee, lihat ini (Menunjukkan hasil kerjaan Vera). Piro?

  V : Dua. G : Lha ini piro? (Menunjukkan angka yang ditulis Vera pada jawaban).

  V : Tiga. G : Lha? Ayo dibenerke. (Maksudnya: Lha? Ayo dibetulkan).

  (Vera mengganti angka 3 dengan angka 2. Sehingga jawaban Vera: 200 cm = 2 m).

  G : Selanjutnya dikerjakan. (Soal: 500 cm = ...m).

  (Vera mengerjakan dengan bantuan gambar anak tangga satuan, kemudian menuliskan jawaban pada papan tulis: 500 cm = 5 m).

  Jawaban Vera: Km Hm Dam

  

M

Dm

  5

  

50

Cm 500 Mm Jadi 500 cm = 5 m

  G : Bagus...sudah kembali.

  (Vera kembali ke tempat duduk).

  G : Ini tidak berlaku untuk ini saja (menunjuk dari meter

  sampai centimeter) tapi untuk semua (menunjuk dari kilometer sampai milimeter ). Besok kalau kamu ada soal turun itu ditambah nol(sambil memperagakan dengan

  tangan), turun satu tingkat tambah nol satu, turun satu

  tambah nol satu. Nah kalau disini (menunjuk milimeter), dibawah dari milimeter keatas diambil nol satu, naik satu ambil nol satu. Tapi untuk pengukuran ini, kita ambil dari meter menjadi centimeter, atau dari centimeter menjadi meter dulu. Tahu ya? Sudah? (Lia dan Vera mengangguk-angguk).

  G : Lihat metlennya, lihat angka seratus.

  (Vera dan Lia masing-masing memegang metlen dan melihat angka seratus).

  G : Jadi seratus centimeter sama dengan... L : Satu. (Lia menyahut). G : Satu apa? Seratus centimeter sama dengan satu meter! (Sambil memperagakan dengan tangan).

  G : Satu meter, satu meter itu sekian ini. (Sambil merentangkan metlen sepanjang seratus centimeter).

  G : Berapa? Sekian ini berapa? (Sambil merentangkan metlen sepanjang seratus centimeter).

  L + V : Satu meter. G : Satu meter. Satu meter sama dengan seratus centimeter.

  Ya? (Lia dan Vera mengangguk). Tahu? G : Kalau anak-anak suruh mengukur. Misalnya besok anak- anak jadi penjahit, mau mengukur kain. Kainnya berapa meter? Anak-anak bisa mengukur dengan ini, memakai centimeter. Satu meter sama dengan seratus centimeter.

  (Sambil mempergakan mengukur kain ). Ya? Tahu? (Lia dan Vera mengangguk-angguk).

  G : Sekarang coba soal ini, Lia. (Soal: 3 m + 7 cm = ... cm) L : Nggak bisa. (Sambil maju kedepan).

  G : Bisa! Katanya bisa itu tadi. Ayo dicoba dulu.

  (Lia mengerjakan dengan menggunakan anak tangga satuan, kemudian menuliskan jawaban pada papan tulis. Jawaban Lia: 3 m + 7 cm = 307 cm). Jawaban Lia: Km

  Hm Dam

M

3 Dm

  

30

Cm 300 Mm 7 +

  307 Jadi 3 m + 7 cm = 307 cm

  G : Ya, yo gantian Vera. (Soal: 5 m + 15 cm = ... cm)

  (Vera mengerjakan dengan menggunakan anak tangga satuan,

  Jawaban Vera: Km Hm Dam

  M

5 Dm

  

50

Cm 500 Mm 15 +

  515 Jadi 5 m + 15 cm = 515 cm

  G : Berkata apa itu? V : Lima ratus lima belas.

  G : Ya, wis kembali. (Maksudnya: ya, sudah kembali). G : Kalau soalnya seperti ini: 100 cm + 2 m = ... m 100 centimeter sama dengan berapa meter? L + V : Satu. G : Satu meter ditambah dua meter sama dengan berapa? L + V : Tiga.

  Gambar: Km Hm Dam

  M 2 + 1 = 3 Dm

  10 Cm 100 Mm Jadi 100 cm + 2 m = 3 m G : Yo, soal selanjutnya. L + V : Aku, aku. (Lia dan Vera berebut ingin mengerjakan soal selanjutnya).

  G : Yo, Lia dulu trus Vera.

  (Lia mengerjakan soal: 800 cm + 4 m = ... m dengan menggunakan gambar anak tangga satuan kemudian menuliskan hasilnya: 800 cm + 4 m = 12 m). Jawaban Lia: Km

  Hm Dam

M

4+ 8 = 12

  Dm

  80 Cm 800 Mm Jadi 800 cm + 4 m = 12 m

  G : Saiki Vera. (Maksudnya : Ayo, sekarang Vera).

  (Vera mengerjakan soal : 400 cm + 5 m = ... m dengan menggunakan bantuan gambar anak tangga satuan kemudian menuliskan hasilnya : 400 cm + 5 m = 9 m) Jawaban Vera :

  Km Hm Dam

M

  Dm 5+ 4 = 9

  40 Cm G : Sudah? Bagus...

  (Setelah materi satuan baku dirasa cukup, guru dan peneliti melanjutkan materi selanjutnya yaitu menaksir panjang benda.

  Untuk memulai materi ini, siswa langsung diberikan soal yang berhubungan dengan menaksir panjang benda).

  Komentar: Siswa ternyata sudah mengenal satuan panjang, hal ini memudahkan peneliti dan guru dalam melaksanakan pembelajaran. Agar memudahkan siswa dalam pemahaman materi, pada materi mengubah satuan, guru memakai istilah “ditambah

  nol satu” dan “diambil nol satu” untuk menerangkan “dikali” dan “dibagi”.

  Menaksir Panjang Benda

  G : Coba lihat nomor satu...! Apa nama gambar itu? Apa nama? L + V : Pensil. G : Apa? Pensil...! G : Berapa? Panjang berapa? L + V : Sembilan.

  G : Sembilan. Sembilan tepat po? Enggak tho?

  (Lia dan Vera diam)

  G : Lihat, ini kan penggaris tho? Kalau sampai sini kan sepuluh (menunjuk ujung penggaris) kalau sampai sini sembilan tho? (menunjuk angka yang dekat dengan ujung

  pensil ) Lha kalau sampai sini, sembilan tepat po? (menunjuk ujung pensil).

  (Lia dan Vera menggelengkan kepala).

  G : Coba dihitung yang kecil-kecil ini berapa? L + V : Satu, dua, tiga, empat, lima, enam... Enam.

  G : Enam. Jadi panjang pensil kira-kira berapa? L + V : Sepuluh.

  G : Tepatnya? L + V : Sembilan koma enam.

  G : Ya, sekarang panjang sikat. Perkiraannya berapa? Kira- kira? L : Sebelas. G : Sebelas? Dilihat lagi gambarnya....! Berapa? L : Sepuluh.

  G : Tepatnya berapa? Betulnya berapa? Ini dihitung (sambil

  menunjuk milimeter yang terdapat pada penggaris) . Tahu

  ya? (Lia dan Vera mengangguk). Dihitung sekarang...!

  (Lia dan Vera mengambil pensil dan mulai menaksir panjang gambar benda yang ada dalam soal).

  (Peneliti memperhatikan jawaban dari Lia dan Vera, ternyata

  semua soal menaksir panjang benda, dengan jawaban 10. Rupanya Lia dan Vera belum paham yang dimaksud dengan perkiraan. Tetapi untuk ukuran sebenarnya, jawaban mereka sudah benar Kemudian peneliti membimbing Lia dan Vera untuk menemukan jawaban yang benar).

  P : Lia coba lihat panjang spidol berapa? Kira-kira berapa? L : Sepuluh.

  P : Sepuluh? Coba lihat, angka berapa yang paling dekat dengan ujung spidol? L : Tujuh. P : Nah, angka yang paling dekat dengan ujung spidol itulah yang disebut dengan perkiraan panjang. Jadi panjang spidol kira-kira berapa? L : Tujuh.

  P : Ya, benar.

  (Kemudian Lia dan Vera menghapus semua jawaban untuk perkiraan panjang dan mengerjakan ulang. Tetapi masih ada jawaban Vera yang salah yaitu soal point d mengenai perkiraan panjang gunting. Seharusnya jawaban perkiraan panjang gunting adalah 9 tetapi Vera menjawab 8. Peneliti kemudian membimbing Vera).

  P : Ve, lihat ini (menunjuk angka 8) dengan ini (menunjuk

  V : Ini (menunjuk angka 9). P : Nah, jadi perkiraan panjang gunting berapa? V : Sembilan.

  P : Nah, gitu. P : Sudah semua? L + V : Sudah.

  P : Sini dikumpulkan biar mbak lihat. Komentar:

  Siswa kesulitan dalam memahami materi menaksir panjang benda ini. Mereka belum paham arti kata menaksir meskipun guru dan peneliti sudah menerangkan secara berulang-ulang sehingga perlu bimbingan secara individual untuk masing-masing siswa.

  Demikian juga dalam pengerjaan soal membandingkan benda, guru dan peneliti harus memberikan keterangan tentang soal dan menerangkan ulang materi yang telah diberikan. Kesulitan dalam pengerjaan soal ini yaitu karena minimnya kosakata yang mereka miliki sehinggan mereka kesulitan dalam menuliskan jawaban.

  (Lia dan Vera memberikan jawaban pada peneliti. Karena materi sudah selesai, untuk latihan soal, peneliti memberikan soal lain yang berkaitan dengan membandingkan panjang. Ternyata mereka kesulitan dalam bahasa, mereka bingung mencari bahasa “lebih panjang dari” atau “lebih pendek dari”. Untuk

  lebih”. Kata-kata pada kalimat “lebih panjang dari” dibalik letaknya menjadi “dari panjang lebih”).

  Jawaban Vera : dari panjang lebih

  P : Vera, ini (menunjuk pensil yang lebih pendek) sama ini

  (menunjuk pensil yang lebih panjang) panjang mana? V : Ini. (menunjuk pensil yang lebih panjang).

  P : Okey, ini (menunjuk pensil yang lebih pendek) lebih apa? V : Kecil.

  P : Kecil bisa disebut pendek. Apa? V + L : Pendek.

  P : Jadi ini (menunjuk pensil yang lebih pendek) lebih apa dari ini (menunjuk pensil yang lebih panjang)? V : Pendek. P : Ya, tulis. (Vera menulis dan ternyata masih belum bisa.

  Vera menulis “Lebih dari”). Jawaban Vera :

lebih dari

(Peneliti menggambar dua pensil di papan tulis, pensil yang kiri lebih pendek dari pensil yang kanan; kemudian dibawahnya peneliti menggambar dua garis, garis yang kiri lebih panjang dari yang kanan).

  Gambar:

  P : Perhatikan garis ini (menunjuk gambar garis yang kiri) lebih apa dari garis ini (menunjuk gambar garis yang

  kanan )? V + L : Panjang.

  P : Ya. (Peneliti menulis “lebih panjang dari” diantara gambar garis kiri dan gambar garis yang kanan).

   Gambar : lebih panjang dari

  P : Sekarang kalau pensil ini (menunjuk gambar pensil yang

  kiri ) lebih apa dari pensil ini (menunjuk gambar pensil yang kanan )?

  V + L : Pendek. P : Bagus. (Peneliti menulis “lebih pendek dari” diantara gambar pensil kiri dan gambar pensil yang kanan).

   Gambar : lebih pendek dari (Lia dan Vera mengangguk-angguk kemudian mengerjakan soal).

  Test formatif Pada pertemuan kelima ini, dilakukan tes formatif.

  pengukuran dan titik yang terdapat pada garis, di mana antara titik yang satu dengan titik lainnya berjarak 1 cm.

  5) Soal no 5 2 m = ...... cm Komentar :

  Vera menjawab dengan 20 cm dan Lia menjawab soal no 5 dengan 200 cm. Jawaban dari Vera adalah jawaban yang salah, Vera hanya kurang teliti dalam menghitung menggunakan tangga satuan. Sedangkan jawaban dari Lia adalah jawaban yang benar. Kedua siswa mengerjakan dengan menggunakan anak tangga satuan.

  Jawaban Vera : 2 m = 20 cm Km

  Hm Dam

  M

  2 Dm

  20 Cm

  20 Mm Jawaban Lia : 2 m = 200 cm

  Km Hm

  Dam M

  2 Dm

  20 Cm 200

  Mm

  6) Soal no 6 1 meter + 25 centimeter = ........ centimeter Komentar : Jawaban dari Vera dan Lia adalah 125 centimeter, dan jawaban mereka benar. Siswa menggunakan anak tangga satuan untuk mengerjakan soal no 6 ini. Jawaban Vera :

  Km Hm

  Dam M

  1 Dm

  10 Cm 100

  Mm _25 + 125 1 meter + 25 centimeter = 125 centimeter

  Jawaban Lia : Km

  Hm Dam

  M

  1 Dm

  10 Cm 100

  Mm _25 + 125 1 meter + 25 centimeter = 125 centimeter

  7) Soal no 7

  Komentar : Kedua siswa menjawab soal dengan benar, yaitu : 7 meter.

  Mereka menggunakan bantuan anak tangga satuan dalam menyelesaikan soal.

  Jawaban Vera : Km

  Hm Dam

  M

  3 _4_+

  Dm

  30

  7 Cm 300 Mm 300 centimeter + 4 meter = 7 meter Jawaban Lia :

  Km Hm

  Dam M 4 + 3 = 7

  Dm

  30 Cm 300 Mm 300 centimeter + 4 meter = 7 meter

  8) Soal no 8 Evi menaksir panjang buku gambar adalah 30 cm dan taksiran Eva 36 cm, sedangkan panjang sesungguhnya adalah 35 cm.

  Komentar : Vera dan Lia menjawab soal diatas dengan 8. Cara mereka dalam menyelesaikan soal adalah dengan menghitung banyaknya jengkal yang terdapat pada gambar, yang menunjukkan panjang gambar papan tulis

  2) Soal no 3 Berapa meterkah 200 cm + 3 m? Jawab : ………

  Komentar : Jawaban dari Vera adalah 203 dan jawaban dari Lia adalah

  5. Lia menyelesaikan soal no 3 ini dengan bantuan anak tangga satuan, sedangkan Vera menyelesaikan dengan penjumlahan biasa. Jawaban Vera :

  200 3_+

  203 Jawaban Lia : 200 cm + 3 m = 5 meter

  Km Hm

  Dam M 3 + 2 = 5

  Dm

  20 Cm 200 Mm

  3) Soal no 4 Tinggi tiang bendera menurut taksiran Irsan adalah 4 meter lebih 60 centimeter, dan menurut taksiran Hendra adalah 5 meter lebih 20 centimeter. Jika tinggi tiang bendera yang sesungguhnya adalah 5 meter. Taksiran siapakah yang mendekati sesungguhnya? Jawab : ………

  Komentar : Jawaban dari Vera dan Lia adala Hendra. Berikut ini adalah cara kedua siswa dalam menyelesaikan soal no 4.

  Jawaban Vera : 5, 2

  5 4, 6 Irsan Hendra

  Tiang Yang dekat tiang adalah hendra

  sudah diberikan pada siswa. Hal ini dilakukan peneliti karena peneliti ingin memberikan tes formatif pada kedua siswa. Peneliti ingin mengingatkan siswa pada materi yang sebelumnya sudah diberikan.

  Pertemuan kelima ini berjalan dengan lancar. Minat siswa semakin meningkat, hal ini dilihat dari semakin banyak respon positif yang diberikan siswa dalam pembelajaran. Siswa tidak hanya melakukan kegiatan pembelajaran dengan baik, tetapi juga banyak bertanya untuk hal yang belum dimengerti dan tidak malu- malu lagi. Selain itu, siswa juga sangat terlibat dalam pembelajaran. Keaktifan siswa semakin meningkat, siswa mengutarakan jawaban/ide-ide tanpa disuruh oleh guru/peneliti.

  Siswa sudah tidak takut-takut lagi jika jawaban mereka salah dan siswa tidak malu untuk memperbaiki jawaban yang salah. Malah kadang mereka berebut untuk memperbaiki jawaban siswa lain yang salah. Untuk hasil yang dicapai siswa, pada pertemuan kelima ini siswa mudah memahami materi mengubah satuan (dari cm ke m atau sebaliknya). Siswa mengerjakan latihan mengenai materi ini dengan baik dan cepat. Untuk menaksir panjang benda, siswa sedikit mengalami kesulitan karena kosakata mereka yang sangat minim (mereka belum mengerti arti kata menaksir/kira- kira), tapi setelah diberi pengertian dan dibimbing, siswa dapat kesulitan sehingga perlu bimbingan secara khusus agar mereka tidak kesulitan lagi dalam mengerjakan soal.

  Untuk pertemuan kelima ini, dapat dilihat perubahan tingkah laku siswa. Siswa semakin mudah dalam pemahaman materi, mempunyai ide-ide yang beragam dan siswa semakin berani dalam mengutarakan pendapat dan bersosialisasi dengan baik.

  Pada pertemuan kelima ini juga, peneliti memberikan tes formatif. Tes formatif diberikan kepada Lia dan Vera. Wahyu, sebagai salah satu subjek penelitian yang tidak masuk, tidak ikut tes formatif. Peneliti mengambil keputusan untuk melakukan tes formatif tanpa salah satu siswa sebagai subjek penelitian karena menurut guru, wahyu memang sering tidak masuk karena hambatan biaya oleh karena itu tidak bisa diharapkan. Dalam pengerjaan tes formatif, Lia dan Vera masih harus dibimbing terutama untuk soal cerita. Vera lebih cepat dalam mengerjakan soal, tetapi kurang teliti sehingga beberapa jawaban masih salah.

  Sedangkan Lia masih banyak bertanya dan lebih lambat dalam pengerjaan soal. Untuk mengerjakan soal-soal dalam tes formatif ini, peneliti memberikan lembar corat-coret pada kedua siswa. Hal ini dilakukan untuk mengetahui proses yang dilakukan kedua siswa dalam mengerjakan soal.

  k. Pembahasan secara keseluruhan

  Pada pertemuan pertama, siswa sudah berminat untuk melakukan pembelajaran. Siswa penasaran dengan alat peraga yang dibawa peneliti. Siswa terlihat senang dan melakukan kegiatan yang ada dalam pembelajaran dengan baik. Siswa secara langsung terlibat dalam pembelajaran. Namun siswa masih malu- malu untuk bertanya dan mengutarakan ide-idenya. Siswa mau menjawab pertanyaan setelah disuruh oleh guru/peneliti terlebih dahulu. Pada pertemuan pertama ini, peneliti melakukan pembelajaran matematika dengan ilmu seni, seperti yang dikemukakan Dienes. Peneliti menggunakan seni meronce untuk membuat alat ukur. Dengan kegiatan seperti ini, siswa tidak lagi manganggap matematika sebagai momok. Guru mengatakan bahwa dengan penggunaan alat peraga dalam pembelajaran, siswa lebih mudah dalam memahami materi dan siswa belajar untuk bersosialisasi . Kegiatan pembelajaran pada pertemuan pertama ini dapat dikatakan berjalan lancar, hal ini juga diperkuat dengan pernyataan guru dalam wawancara yang menyatakan bahwa penguasaan kelas dapat terkuasai sehingga siswa tidak kesana kemari dan siswa sibuk dengan alat peraga.

  Pada pertemuan kedua, minat siswa semakin terlihat. siswa tertarik dengan variasi alat peraga yang digunakan dalam sebelum pembelajaran dimulai. Keterlibatan siswa semakin terlihat, siswa aktif dalam menjawab pertanyaan dan mengutarakan ide-idenya tanpa disuruh oleh guru/peneliti terlebih dahulu. Siswa kreatif untuk mengukur benda-benda lain selain benda yang diminta peneliti untuk diukur. Soal latihan yang diberikan dapat dikerjakan dengan baik. Perubahan tingkah laku seperti perubahan yang menyangkut keterampilan dan sikap mulai terlihat pada pertemuan ketiga ini.

  Pada pertemuan ketiga, siswa lebih berminat dan terlibat dalam pembelajaran. Siswa memberikan respon positif dan secara spontan memberikan menanggapi apa yang diminta guru/peneliti. Siswa melakukan kegiatan pembelajaran dengan serius dan tidak gaduh membahas hal lain. Tidak ada siswa yang meninggalkan kelas pada pertemuan ketiga ini. Siswa sangat aktif dalam melakukan kegiatan pembelajaran, sesekali siswa berebut untuk maju kedepan mengerjakan latihan. Meskipun sesekali siswa masih mengalami kesulitan dan guru/peneliti memberikan banyak latihan, tapi siswa tidak merasa bosan. Pada pertemuan ketiga ini, guru/peneliti menggunakan pengetahuan yang dimiliki siswa untuk mempelajari materi baru. Dalam wawancara, guru juga mengatakan bahwa keterlibatan dan minat siswa semakin meningkat.

  Pada pertemuan keempat, siswa terlihat berminat seperti pertemuan sebelumnya. Meskipun alat peraga yang digunakan bukan merupakan hal baru, tapi mereka tetap bersemangat dalam melakukan kegiatan pembelajaran. Semua siswa terlibat dalam pembelajaran, mereka bekerjasama dalam melakukan pengukuran. Pada pertemuan keempat ini, siswa mempraktekkan sendiri sehingga siswa mempunyai pengalaman dan membangun pengetahuannya sendiri. Soal latihan yang diberikan juga dapat dikerjakan dengan lancar.

  Pada pertemuan kelima, minat siswa terhadap pembelajaran semakin meningkat. Siswa lebih banyak bertanya untuk hal yang belum dimengerti atau belum paham mengenai materi yang dibahas. Keaktifan siswa semakin meningkat, siswa mengutarakan jawaban/ide-ide tanpa disuruh oleh guru/peneliti. Siswa sudah tidak takut-takut lagi jika jawaban mereka salah dan siswa tidak malu untuk memperbaiki jawaban yang salah. Malah kadang mereka berebut untuk memperbaiki jawaban siswa lain yang salah.

  Pada pertemuan kelima ini dapat dilihat bahwa telah terjadi perubahan tingkah laku siswa, baik perubahan yang bersifat pengetahuan, keterampilan, ataupun nilai dan sikap terhadap matematika. Latihan yang diberikan pada siswa juga diselesaikan dengan baik. Pada pertemuan kelima ini diberikan tes formatif. memahami bahasa yang digunakan dalam soal. Hasil dari tes formatif ini sangat memuaskan karena rata-rata siswa dapat menyelesaikan soal dengan baik dan benar. Selain itu dengan melihat lembar corat-coret, dapat dilihat proses yang digunakan siswa dalam mengerjakan tes.

  Dari kelima pertemuan, dapat disimpulkan bahwa semakin hari, minat siswa semakin meningkat. Siswa semakin bersemangat dalam melakukan kegiatan pembelajaran, siswa senang dan gembira. Siswa yang sebelumnya mondar-mandir di dalam kelas bahkan meninggalkan kelas, menjadi tenang dan tidak meninggalkan kelas. Semakin banyak respon positif yang diberikan siwa pada peneliti. Siswa juga terlibat dalam setiap pembelajaran. Keaktifan siswa semakin meningkat. Siswa yang dulu malu-malu untuk mengutarakan ide-idenya dan mau menjawab setelah disuruh oleh guru/peneliti, sekarang tidak malu- malu lagi dan berani bertanya untuk hal yang belum dimengerti. Pemahaman siswa terhadap materi semakin cepat, alat peraga sangat membantu siswa dalam memahami materi dan bersosialisasi. Hasil yang dicapai siswa juga meningkat. Peningkatan keterlibatan, minat dan hasil yang dicapai siswa ini diperkuat dengan pernyataan guru dalam wawancara.

B. Hambatan yang Terjadi

  Dalam melaksanakan penelitian selama kurang lebih satu bulan, peneliti mengalami beberapa hambatan yang membuat penelitian berjalan kurang lancar dari rencana sebelumnya. Hambatan yang terjadi antara lain:

  1. Pembangunan sekolahan pasca gempa yang membuat gaduh dan membuat kelas penuh dengan debu.

  2. Orang yang dipercaya peneliti untuk mengambil dokumentasi dan merekam jalannya pembelajaran, tidak datang; sehingga peneliti harus melakukan pembelajaran sambil mengambil dokumentasi dan merekam jalannya pembelajaran.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Dari penelitian yang dilaksanakan selama 5 (lima) kali pertemuan,

  dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut:

  1. Berdasarkan hasil penelitian, ada peningkatan keterlibatan siswa SLB B dan ada peningkatan hasil yang dicapai siswa SLB B dalam pembelajaran matematika dengan menggunakan alat peraga untuk materi pengukuran dan penggunaan alat ukur panjang, yaitu:

  a. Semakin hari, keberanian siswa untuk mengutarakan pendapat semakin meningkat. Siswa semakin berani untuk mengutarakan idenya tanpa disuruh terlebih dahulu.

  b. Siswa mau untuk berdiskusi dengan siswa lain.

  c. Siswa mau untuk bekerjasama dan bersosialisasi dengan siswa lain.

  d. Siswa mau menjawab soal yang diberikan peneliti.

  e. Siswa tidak gaduh membahas hal lain.

  f. Siswa lebih cepat dalam memahami materi.

  g. Prestasi anak semakin meningkat dilihat dari hasil yang dicapai siswa dalam mengerjakan soal latihan.

  h. Siswa semakin mandiri dalam melakukan kegiatan pembelajaran. i. Kemampuan siswa dalam bernalar, semakin hari semakin j. Siswa mempunyai ide-ide yang beragam. k. Siswa secara spontan mengutarakan ide-idenya.

  2. Berdasarkan hasil penelitian, ada peningkatan minat siswa SLB B dalam pembelajaran matematika dengan menggunakan alat peraga untuk materi pengukuran dan penggunaan alat ukur panjang, yaitu :

  a. Siswa semakin tertarik untuk melakukan kegiatan pembelajaran, dan dalam melakukan kegiatan tersebut, siswa terlihat ceria, senang dan tidak mau diganggu.

  b. Sebelum peneliti dan guru memberi penjelasan tentang pembelajaran dan alat peraga yang digunakan, siswa sudah bertanya terlebih dahulu dan ingin tahu.

  c. Siswa berebut untuk maju mengerjakan soal, padahal sebelumnya siswa harus disuruh terlebih dahulu.

  Kesimpulan akhir dari penelitian ini adalah alat peraga efektif digunakan dalam pembelajaran matematika untuk materi pengukuran dan penggunaan alat ukur panjang pada siswa SLB B kelas D2.

B. Saran

  1. Penelitian ini tidak dapat digeneralisasikan untuk semua kasus karena penelitian ini merupakan studi kasus.

  2. Bagi pembaca yang ingin memperdalam penelitian ini, disarankan untuk mencari sekolahan yang mempunyai siswa dengan kehadiran

DAFTAR PUSTAKA

  Anonim, Pengukuran, . Diakses pada 6 Februari 2007

  Dwijosumarto, Drs. Andreas, 1995, Ortopedagogik Anak Tunarungu, Bandung: Depdikbud Dirjen Pendidikan Tinggi Proyek Pendidikan Guru

  Faisal, Drs. Sanapiah, dkk., 1982, Metodologi Penelitian Pendidikan, Surabaya: Usaha Nasional

  Hamzah, Pembelajaran Matematika Menurut Teori Belajar Konstruktivisme, , Diakses pada 8 Oktober 2006

  J. Moleong. MA., Dr. Lexy, 1989, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: Remadja Karya CV

  Marpaung, Y. 1995, “Peningkatan Efektivitas Pengajaran Matematika Guru

  Kelas I dan II Dua Sekolah Di Yogyakarta ” Suatu Penelitian Tindakan,

  Yogyakarta Ruseffendi, E.T. 1980, Pengajaran Matematika Modern 5, Bandung: Tarsito Sadiman, M.Sc., Dr. Arief S., 1984, Media Pendidikan Pengertian,

  Pengembangan, dan Pemanfaatannya , Jakarta: PT Raja Grafindo Persada

  Sri Hartono, Murtini, 2004, Matematika Kelas 2 Sekolah Dasar, Yogyakarta: Kanisius

  Suherman, Ar. Erman, dkk, 2001, Strategi Pembelajaran Matematika

  Kontemporer , Tim MKPBM : UPI

  Sumowidagdo, Suharyo, 2004, Tips dan Makna Belajar Secara Umum , pada 8 Oktober 2006

  Suparno, Dr. Paul, 1997, Teori Perkembangan Kognitif Jean Piaget, Yogyakarta: Kanisius

  Gambar 1. Gambar-gambar Pertemuan Pertama

  Siswa sedang meronce manik Siswa sedang meronce manik Siswa sedang mengukur panjang lengan siswa lain

  Siswa sedang menghitung hasil pengukuran Siswa sedang menuliskan hasil pengukuran di buku

  Siswa sedang menulis hasil pengukuran di papan tulis

  Gambar 2. Gambar-gambar Pertemuan Kedua

  Siswa sedang mengukur panjang pensil Siswa sedang mengukur panjang buku Siswa sedang meletakkan kartu bilangan

  Siswa sedang mengerjakan latihan soal Siswa sedang mengerjakan latihan soal Siswa sedang menghitung banyak manik

  Gambar 3. Gambar-gambar Pertemuan Ketiga

  Siswa sedang mengurutkan bilangan Siswa sedang menulis jawaban di buku Siswa sedang mengerjakan latihan soal

  Siswa sedang meletakkan tanda <, >, atau = pada papan peraga Siswa sedang mengutarakan jawaban

  Siswa sedang membandingkan besar bilangan

  Gambar 4. Gambar-gambar Pertemuan Keempat

  Siswa sedang mengukur panjang Siswa sedang mengukur panjang penggaris dengan jengkal garis dengan penggaris Siswa sedang mengukur panjang Siswa sedang mengukur panjang kelas papan tulis dengan telapak kaki dengan telapak kaki

  Siswa sedang mengukur lingkar lengan Siswa sedang mengerjakan soal latihan siswa lain

  Gambar 5. Gambar-gambar Pertemuan Kelima

  Siswa sedang mengerjakan soal Siswa sedang mengerjakan soal latihan di depan kelas di papan tulis Siswa sedang membenarkan jawaban

  Siswa sedang menaksir panjang benda siswa lain Siswa sedang mengerjakan tes formatif Siswa sedang mengerjakan tes formatif

  Lampiran 2

RENCANA PEMBELAJARAN

  Nama Sekolah : SLB B YAAT Mata Pelajaran : Matematika Kelas : D2 Sem. / Tahun Pelajaran : 2 (Genap) / 2006-2007 Materi Pokok : Pengukuran dan Penggunaan Alat Ukur Panjang Alokasi Waktu : 2 x 35 menit Kompetensi Dasar : Melakukan pengukuran dan menggunakan dalam pemecahan masalah.

  Hasil Belajar : Siswa menunjukkan kemampuan mengukur dan menggunakan alat ukur panjang. Indikator : - Siswa dapat mengukur panjang benda dengan menggunakan roncean manik-manik sebagai alat ukur

  • Siswa dapat membandingkan benda yang lebih panjang, lebih pendek, atau sama panjang dengan benda lain

  A. Kegiatan Pembelajaran

  • Masing-masing siswa diberi 50 butir manik-manik dengan dua warna yang berbeda (misalnya: 25 butir manik-manik warna putih dan 25 butir manik- manik warna merah).
  • Siswa diminta untuk meronce (menyusun) manik-manik yang telah dibagi dengan menggunakan senar, yang disusun sebanyak 50 butir manik-manik.
  • Siswa diminta untuk mengukur lingkar tangan, lingkar kepala atau panjang lengan teman dengan menggunakan roncean manik-manik yang telah mereka buat.
  • Siswa diminta untuk mengutarakan ide mereka, menuliskan cara dan hasil pengukuran mereka.

  • Siswa diminta untuk mengamati hasil pengukuran mereka, kemudian meminta mereka membandingkan panjang/besar benda yang telah mereka ukur.

  B. Penilaian Penilaian dengan mengamati tingkah laku dan respon siswa selama pembelajaran berlangsung.

  Klaten, 26 Februari 2007 Guru Kelas

  Peneliti Triningsih

  Caecilia Shinta. S. J Lampiran 3

RENCANA PEMBELAJARAN

  Nama Sekolah : SLB B YAAT Mata Pelajaran : Matematika Kelas : D2 Sem. / Tahun Pelajaran : 2 (Genap) / 2006-2007 Materi Pokok : Pengukuran dan Penggunaan Alat Ukur Panjang Alokasi Waktu : 2 x 35 menit Kompetensi Dasar : Melakukan pengukuran dan menggunakan dalam pemecahan masalah.

  Hasil Belajar : Siswa menunjukkan kemampuan mengukur dan menggunakan alat ukur panjang. Indikator : - Siswa dapat mengukur panjang benda dengan menggunakan roncean manik-manik sebagai alat ukur

  • Siswa dapat membandingkan benda yang lebih panjang, lebih pendek, atau sama panjang dengan benda lain

  A Kegiatan Pembelajaran

  • Mengulang sedikit pembelajaran pada pertemuan sebelumnya yaitu mengenai pengukuran panjang.
  • Siswa diminta untuk mengukur panjang benda-benda yang ada di dalam kelas, seperti : panjang pensil, panjang buku, lebar buku.
  • Siswa diminta untuk mengutarakan ide dan hasil pengukuran mereka.
  • Siswa diminta untuk memilih kartu bilangan yang sesuai dengan hasil pengukuran yang telah mereka lakukan, kemudian siswa diminta untuk meletakkannya pada roncean manik.
  • Siswa diminta untuk mengamati kartu bilangan yang telah diletakkan pada roncean manik kemudian siswa diminta untuk membandingkan besar

  • Memberikan soal latihan mengenai mengukur panjang benda kepada siswa.

  B. Penilaian

  • Penilaian dengan mengamati tingkah laku dan respon siswa selama pembelajaran berlangsung.
  • Penilaian dengan melihat jawaban siswa pada waktu mengerjakan soal latihan.

  Klaten, 27 Februari 2007 Guru Kelas

  Peneliti Triningsih

  Caecilia Shinta. S. J Lampiran 4

RENCANA PEMBELAJARAN

  Nama Sekolah : SLB B YAAT Mata Pelajaran : Matematika Kelas : D2 Sem. / Tahun Pelajaran : 2 (Genap) / 2006-2007 Materi Pokok : Pengukuran dan Penggunaan Alat Ukur Panjang Alokasi Waktu : 2 x 35 menit Kompetensi Dasar : Melakukan pengukuran dan menggunakan dalam pemecahan masalah.

  Hasil Belajar : Siswa menunjukkan kemampuan mengukur dan menggunakan alat ukur panjang. Indikator : - Siswa dapat membandingkan benda yang lebih panjang, lebih pendek, atau sama panjang dengan benda lain

  A Kegiatan Pembelajaran

  • Mengulang sedikit pembelajaran pada pertemuan sebelumnya yaitu tentang meletakkan kartu bilangan pada roncean manik dan membandingkan besar bilangan.
  • Siswa diminta untuk meletakkan kartu bilangan pada roncean manik.
  • Siswa diminta untuk membandingkan bilangan yang lebih besar, lebih kecil atau sama dengan bilangan lain.
  • Siswa diminta untuk menuliskan jawaban di papan tulis.
  • Masing-masing siswa diberi beberapa kartu bilangan, kemudian siswa diminta untuk mengurutkan bilangan tersebut “dari bilangan yang kecil ke bilangan yang besar” atau “dari bilangan yang besar ke bilangan yang kecil.
  • Siswa lain diminta untuk mengamati apakah jawaban temannya sudah benar atau belum benar.

  • Memberikan soal latihan mengenai meletakkan kartu bilangan dan mengurutkan bilangan.

  B. Penilaian

  • Penilaian dengan mengamati tingkah laku dan respon siswa selama pembelajaran berlangsung.
  • Penilaian dengan melihat jawaban siswa pada waktu mengerjakan soal latihan.

  Klaten, 5 Maret 2007 Guru Kelas

  Peneliti Triningsih

  Caecilia Shinta. S. J Lampiran 5

RENCANA PEMBELAJARAN

  Nama Sekolah : SLB B YAAT Mata Pelajaran : Matematika Kelas : D2 Sem. / Tahun Pelajaran : 2 (genap) / 2006-2007 Materi Pokok : Pengukuran dan Penggunaan Alat Ukur Panjang Alokasi Waktu : 2 x 35 menit Kompetensi Dasar : Melakukan pengukuran dan menggunakan dalam pemecahan masalah.

  Hasil Belajar : Siswa menunjukkan kemampuan mengukur dan menggunakan alat ukur panjang. Indikator : - Siswa dapat mengukur benda dengan satuan baku yang sering digunakan.

  A Kegiatan Pembelajaran

  • Mengulang sedikit pembelajaran pada pertemuan sebelumnya yaitu mengenai membandingkan panjang benda.
  • Siswa diminta untuk mengukur panjang benda yang ada di dalam kelas dengan menggunakan jengkal, hasta, dan telapak kaki.
  • Siswa diminta untuk mengutarakan dan menuliskan hasil pengukuran mereka.
  • Siswa diminta untuk mengukur benda-benda yang ada dalam kelas dengan menggunakan alat ukur baku, seperti : penggaris dan meteran penjahit.
  • Siswa diminta untuk mengutarakan dan menuliskan hasil pengukuran mereka.
  • Memberikan soal latihan pada siswa.

  Klaten, 6 Maret 2007 Guru Kelas

  B. Penilaian

  • Penilaian dengan mengamati tingkah laku dan respon siswa selama pembelajaran berlangsung.
  • Penilaian dengan melihat jawaban siswa pada waktu mengerjakan soal latihan.

  Peneliti Triningsih

  Caecilia Shinta. S. J Lampiran 6

RENCANA PEMBELAJARAN

  Nama Sekolah : SLB B YAAT Mata Pelajaran : Matematika Kelas : D2 Sem. / Tahun Pelajaran : 2 (Genap) / 2006-2007 Materi Pokok : Pengukuran dan Penggunaan Alat Ukur Panjang Alokasi Waktu : 2 x 35 menit Kompetensi Dasar : Melakukan pengukuran dan menggunakan dalam pemecahan masalah.

  Hasil Belajar : Siswa menunjukkan kemampuan mengukur dan menggunakan alat ukur panjang. Indikator : - Siswa dapat mengukur benda dengan satuan baku yang sering digunakan (cm, m).

  • Menaksir panjang benda dengan satuan yang sesuai.

  A Kegiatan Pembelajaran

  • Mengulang sedikit pembelajaran pada pertemuan sebelumnya yaitu mengenai pengukuran panjang dengan menggunakan alat ukur baku.
  • Siswa diminta untuk mengerjakan contoh soal mengenai mengubah satuan panjang “dari cm menjadi m” atau “dari m menjadi cm”.
  • Siswa diminta untuk menaksir panjang benda dengan menggunakan penggaris.
  • Siswa diminta untuk mengutarakan dan menuliskan hasil pengukuran mereka.
  • Siswa diminta untuk mengerjakan soal latihan.
  • Siswa diminta untuk mengerjakan tes formatif.
B. Penilaian

  • Penilaian dengan mengamati tingkah laku dan respon siswa selama pembelajaran berlangsung.
  • Penilaian dengan melihat hasil jawaban siswa dalam mengerjakan soal latihan dan tes formatif.

  Klaten, 12 Maret 2007 Guru Kelas

  Peneliti Triningsih

  Caecilia Shinta. S. J

  Lampiran 22

TRANSKRIP WAWANCARA

  Hasil wawancara dengan guru kelas : 1.

   Pertemuan pertama

  P : Peneliti G : Guru kelas P : Bu, bagaimana kegiatan belajar mengajar hari ini? G : Sudah lumayan, penguasaan kelas anda dapat terkuasai karena ini, alat peraga sehingga siswa tersibuk dengan adanya alat bantu itu karena dia terpaku dengan alat bantu terus mampraktekkan em itu apa, penguasaan kelasnya dapat terkuasai. Kalau ndak terkuasai mungkin anak kesana kemari. P : Kendala dalam pembelajaran hari ini apa bu? G : Ya kendalanya itu tadi karena kurang kosakata. Anak SLB itu kan itu untuk bahasanya kan kurang dan tidak mendengar apa yang diucapkan guru, sehingga dia ndak tahu. Anda berbicara segala macem kan dia ndak tahu. Karena maka dari itu dia ndak tahu. Lha caranya gimana? secara individual, misalnya “Agung sini yok sini sini, sini yok lha sini sini” penyelesaiannya itu dipandu guru kelas dan secara individual dan ndak dapat secara klasikal. Kalau secara umum, secara klasikal tadi pengantar sudah, tapi kalau ke materi itu kalau dia mengerjakan harus dibantu satu- satu. Satu-satu itu kan ada yang salah ada yang kurang lha itu kita benerin. Kalau secara klasikal ya jelas kurang, nah harus secara individual dan sesuai dengan kemampuan anak. Cotohnya antara Lia dan Agung, yang kontras saja kan beda. Makanya materinya itu tidak disamakan. Lha itulah letak keindividualnya seperti itu. Seumpamanya kita kurang diterima anak ya kita harus itu tadi, yok mengambil hati anak biar bisa menerima. P : Bagaimana keterlibatan siswa dalam pembelajaran? G : Terlibat. Anak terlibat semua.

  P : Memang dari dulu itu siswa selalu dilibatkan dalam pembelajaran atau tidak bu?

  G : O iya no…misalkan ada anak yang melihat keluar yo saya bilang gini, kamu kok tidak menghargai ibu to, ini ibu disini. Misalnya ada apa lewat, anak kan menjadi tertarik karena ya kan mereka lebih tertarik dengan itu tadi barang baru itu tadi. Barang baru kan lebih menarik anak-anak. P : Kalau untuk minat anak bagaimana bu? G : Memang dari dulu anak lebih senang belajar matematika dibandingkan dengan bahasa misalnya. Mereka lebih mudah belajar matematika daripada bahasa. Wong belajar satu kata “meja” saja mereka butuh waktu satu semester kok dik. P : Hal-hal yang perlu diperhatikan lagi untuk pembelajaran berikutnya apa bu? G : Iya itu tadi, dikenal anak dulu, itu sudah merupakan modal itu. Terus bidang alat peraganya mungkin yang lain atau yang beda itu kan anak lebih tertarik karena kemarin sudah itu to? Nah besok mungkin apa lagi gitu kan lebih menarik siswa. Pokoknya intinya disini itu anak-anak itu, kita jangan menganggap kita itu guru saja, tapi juga kita teman, kita ibu. Terutama anak-anak disini kita ibu. Kita ibu, jadi untuk memasukkan ilmunya mudah sekali. Trus perasaan, misalkan tidak masuk itu ndak mau. Misalkan Vera saja, tidak masuk saja menyuruh ibunya sowan sini untuk minta ijin. P : Kalau komunikasi saya dengan anak bagaimana bu? G : Itu tadi, anak tunarungu kan tidak mendengar, otomatis guru memberi keterangan, dia ndak ngeliat kan? otomatis dia ndak, ndak dapat menerima to? Salah satunya cara ya harus face to face. Kalau mengajar anak ketat, non sense kalau kita bicara ndak ada artinya. Jadi kita walaupun bengak- bengok harus face to face. Saya yakin kalau kita ndak face to face tujuan pembelajaran kita ndak akan tercapai, karena tidak mendengar, gitu. Dan kosakata mereka juga sangat minim sekali.

2. Pertemuan kedua

  P : Peneliti G : Guru kelas

  G : Bagus sekali karena ada benda langsung yang istilahnya menunjang KBM itu sangat menunjang sekali. Akan berbeda kalau kita memberi pengertian ke anak misalnya ini panjang mana ya tanpa ada alat-alat bantu itu, akan lebih abstrak. Dan yang kedua, anak sangat tertarik sekali dengan pembelajaran dan alat peraga anda. Ya, hidup. Kelas hidup gitu ya, sehingga apa, penguasaan kelas anda dapat teratasi. Anak sangat tertarik sekali dan alat peraga ini sangat menunjang sekali. Alat peraga yang anda bawa dan sesuai dengan materi anak sehingga selama jam matematika ini anak tersibukkan dan tidak bermain sendiri. P : Untuk pembelajaran selanjutnya, saya perlu memperhatikan hal-hal apa lagi bu? G : Ya perlu, mungkin alat peraganya yang lain lagi agar dapat menarik anak.

  Mungkin materinya juga lain, maksudnya ada bentuk lain. Kemarin dengan sekarang juga beda to? mungkin kalau ini ada Vera dia akan sangat tertarik sekali. P : Hambatan yang ada dalam pembelajaran hari ini apa bu? G : Hambatan, ya itu tadi karena kemampuan anak kan beda-beda jadi kita harus menanamkan secara individu dan face to face gitu. Karena kan antara Agung sama Lia kan lain jadi perlu saya menerangkan Agung sendiri yang lain dipegang sama mbak. Makanya kita kita harus bisa menguasai kelas. Bisa saja kita pegang yang satu, sing siji mlayu. Ya karena kemampuan anak juga berbeda, umur berbeda, dan tingkat pendengaran berbeda. Ya karena itu kita harus menangani secara individual, secara klasikal, non sense kalau anak tidak melihat kita, harus melihat kita. P : Kalau untuk soal yang saya berikan bagaimana bu? Saya merasa kalau bahasa dalam soal itu terlalu panjang dan memakai kata yang anak tidak mengerti. Misalnya, tadi Lia tidak mengerti arti kata yang ada dalam soal, yaitu kata “perhatikan”. Apa bahasa dalam soal harus sesederhana mungkin atau bagaimana? bahasanya anak tunarungu ya mungkin kita digeguyu masyarakat.

  Misalnya panjang berapa? Cuma gitu to? Biar saja bahasanya seperti itu tapi ya kita perlu memberi pengertian pada anak, panjang berapa? Gitu. Nanti kalau kita pakai bahasa anak tunarungu, kalau di umum kan lucu karena hukum DM, diwalik dia bahasanya diwalik. Misalnya omong- omong guru padahal guru omong-omong kan? Jadi mereka perlu, istilahnya panduan. Jadi sebelum mengerjakan soal kita beri perintah dulu atau pengantar dulu. Saya juga terima kasih sekali karena ya gimana ya, dibantu lah cara menangani anak seperti itu untuk menolong dalam pembelajaran. Pembelajaran kami kan monoton, dengan adanya adik mungkin dapat menambah pembelajaran kami yang tadinya monoton dapat mendapat masukan juga jadi ndak cuma adik yang terbantu tapi juga kami dapat melihat model pembelajaran jaman sekarang karena kan jaman saya dulu pembelajaran ya cuma gitu-gitu saja. P : Menurut ibu, apakah terjadi peningkatan minat atau malah siswa terlihat bosan? G : Lha siswa tambah senang dan tertarik dengan alat peraga yang dibawa adik tho? Meningkat. Siswa semakin penasaran dengan alat peraga. P : Kalau mengenai keterlibatan siswa bu? Biasa saja atau meningkat dibandingkan dengan pertemuan pertama kemarin? G : Ya, sepertinya sedikit meningkat. Tadi siswa sudah mau menjawab tanpa disuruh. P : Hal-hal yang menghambat pembelajaran hari ini ada tidak bu? Kalau ada, apa dan bagaimana alternative penyelesaiannya? G : Kayaknya ya masih dalam komunikasi, kosakata siswa memang sangat ` minim. Penyelesaiannya ya siswa perlu dibimbing satu-satu biar benar- benar paham.

3. Pertemuan ketiga

  P : Peneliti G : Guru kelas P : Bagaimana pembelajaran hari ini bu?

  nggak kesulitan o iya tak bikin 20 atau 30 itu kan anak jadi nggak kesulitan. Untuk materinya kan beda dengan yang kemarin kan ya menarik anak juga. Yang saya tahu kan anak jadi penasaran, kalo sama materinya dengan yang kemarin kan anak juga bosen. P : Itu tadi saya lihat siswa mulai berani untuk minta maju kedepan. Menurut ibu bagaimana? G : He’emh... bagi yang belum tahu kan dia jadi tahu gitu. Ya seperti Agung perlu waktu, kalo Hebda diberi tahu besar kecil itu tadi, mengerjakan soal bisa kok dik. “Bisa Da, ini gimana Da?” (bertanya pada Hebda) nah dicandaki dewe to? Dicandaki sendiri itu tadi. Ya itu tadi dengan peragaan itu tadi, misalkan lebih kecil; 56 kan lebih kecil, itu tadi di nyedhit itu tadi. Kalo yang lebih besar dimakan, nah gitu yang lebih besar. Yo cuma itu kok. Misalkan alat peraganya kalo kontras, soalnya tolong juga yang kontras, kalo gitu nanti anak juga bisa membantu, membantu menghitungnya itu dengan yang kontras itu tadi. P : Untuk Lia, Wahyu sama Vera, kalo misalnya soalnya seperti ini, kesulitan nggak bu? G : Ya...bisa, bisa. P : Kesulitan nggak bu? G : Ndak, ndak... P : Tapi angkanya yang gede-gede itu ya ? G : He’emh, he’emh...kalo dulu saya menanamkan itu ya yang kecil seperti ini dulu. Seperti Hebda itu bisa menghitung satu sampai lima itu saya sudah senang sekali, ya kebetulan ini ada materi seperti ini ya saya masukkan, ya kan dia malah sudah tahu materi ini, jadi ya saya berterimakasih sekali dapat memasukkan Hebda untuk besar kecil dapat. Kalo itu nanti kan untuk yang gede kan lain, ya bisa untuk Vera dan Wahyu untuk yang besar. P : Langsung yang besar gitu nggak papa ya bu? G : Ya, langsung. Sudah tahu... Kalo yang Hebda itu memang hari ini baru

  menerima materi ini, jadi supaya sederhana dulu seperti lebih besar, lebih kecil. Kalo sama ya sama tandanya seperti ini. P : Trus bu, kalo minatnya itu meningkat nggak untuk mempelajari matematika? G : Iya, anak minat. Untuk matematika kan sejak dulu anak senang sekali karena pasti, pasti dia memang candakan’e itu, pasti gitu ya. Tapi kalo untuk bahan mungkin kesulitan untuk, untuk matematika memang yang nggak disenangi untuk soal cerita. Sulit, karena sulit dipahami. Perlu diterangke secara bodon. Melihat soal, misalkan sini kan sudah umum, misalkan test ya test nya kelas dua umum. Tapi kan untuk me...agar anak bisa ngerti kan harus kita pandu, misalkan opo? Kata “darimana”, itu kan harus diterangkan kata-kata satu baru anak ooo...ooo...gitu. P : Ini untuk materinya kira-kira mereka nangkep kan bu ya? G : Iya soalnya sudah pernah diberikan untuk kata-kata yang berkaitan dengan materi diterangkan dulu, baru ke materi. Kalo belum ya perlu waktu.

  Sekaligus ini untuk besar kecil kan sudah pernah diterima di kelas sebelumnya. P : Kalo besok, saya rencananya sudah masuk ke pengukuran jengkal, telapak kaki seperti itu gimana bu? G : Ndak papa, bisa anak tiga itu. P : Trus masuk ke pengukuran dengan menggunakan penggaris sama metlen. G : Iya, itu kan yang diharapkan kan memang materi yang mudah ke materi yang sulit. Ini sudah terlalui dengan baik, nanti langsung masuk ke materi yang sulit. Tujuan kita kan memang itu. Untuk keterampilan menjahit kan nggak mungkin pake jengkal, pakenya ukuran kan. Misalkan garisan itu kan dari mili, mili ke centi itu gimana, kan itu. P : Itu harus dari kilo atau langsung ke centi, atau gimana? G : Kalo untuk pengukuran ya centi sama mili itu, untuk ke materi ya nanti saya tak saya sendiri, besok itu untuk materi selanjutnya saya itu memahamkan itu.

  4. Pertemuan keempat

  P : Peneliti G : Guru kelas P : Bagaimana pembelajaran hari ini bu? G : Ya itu tadi, karena yang dua tidak datang berarti besok harus mengulang, kalo cuma satu orang kan nanti yang dibandingkan apa, nggak bisa membandingkan. Maksudnya membandingkan itu, eem..anak itu bisa saingan gitu lho; teman saya bisa, saya harus bisa gitu. Hmm, itu bagus ya, materinya lain-lain alat peraganya juga lain-lain. Tapi kendalanya ya itu dua anak nggak berangkat, menerangkan lima sama meneragkan tiga kan sama saja ya?

  P : Kalau ibu melihat keterlibatan siswa dari pertemuan sebelumnya dengan pertemuan keempat ini bagaimana? G : Saya lihat anak selalu terlibat dalam pembelajaran. Mereka melakukan kegiatan dengan baik dan tidak ada yang gaduh lagi. P : Untuk minat siswa apakah juga terjadi peningkatan atau biasa saja bu? G : Nek minatnya ya meningkat. Anak-anak suka dengan kegiatan yang adik sajikan dan mereka tidak spaneng. P : Untuk pertemuan berikutnya, apa yang perlu diperbaiki lagi bu? G : Sudah bagus. Ya tinggal nunggu anaknya semoga masuk semua ya.

  5. Pertemuan kelima

  P : Peneliti G : Guru kelas P : Gimana bu hari ini pembelajarannya? G : Karena tinggal post test kan? Kalo post test itu yang namanya anak-anak kan walaupun sudah diterangkan, kalo tidak dituntun dulu ya nggak bisa, terpaksa kan kita nuntun karena banyak kata-kata yang tidak dipahami anak. Seperti ini tadi kalo gambar kan anak langsung bisa, tapi kalo kata- kata kan ya harus nerangke satu-satu, apalagi untuk soal cerita itu kan ya kelemahane anak sini ya. Mengerjakannya harus dengan bimbingan guru.

  Tapi sekali diberi tahu juga bisa. Untuk KBM nya juga pemahamannya anak-anak ke materinya kan tidak begitu baru, tapi anak-anak sini P : Tadi tanpa alat peraga apa menurut ibu mereka juga tertarik untuk belajar matematika atau bosan? Tadi juga saya lihat mereka nggak disuruh, tapi mereka yang ingin maju sendiri untuk mengerjakan soal di papan tulis. G : O iya no, tertarik. Mereka antusias kok. Iya, tadi mereka saling berebut untuk maju makanya tadi aku bilang yo gentenan. Lia sama Vera kan saingan, tapi aku kalo Vera sama Lia ya harus tak jauhkan karena untuk berfikirnya Lia kadang-kadang mung njagakke Vera gitu tho. Untuk dipacu berfikir dia juga bisa untuk saingan gitu lho, saingan dalam pelajaran gitu lho. Kalo Vera maju, aku yo harus maju. Yo gitu, tapi juga anak dapat mengerjakan tho, kelemahannya cuma di soal cerita itu kita harus coro bodon’e ki piye men anak iso menerima ki piye, mungkin dengan kata-kata kita sendiri. P : Dilihat dari pertemuan pertama sampai pertemuan terakhir ini apa terjadi peningkatan minat siswa bu? G : Kalau peningkatan ya pasti ada ya. Semakin hari siswa semakin penasaran dengan pembelajaran matematika. Mungkin mereka bertanya-tanya dalam hati, kegiatan apa yang akan dilakukan besok. Gitu ya. P : Kalau keterlibatan siswa bu? G : Ya. Siswa semakin terlibat dan mandiri dalam melakukan kegiatan. P : Terakhir, untuk pemahaman siswa apa terjadi peningkatan atau? G : Ada, siswa lebih mudah dalam memahami materi dan soal-soal latihan juga dapat diselesaikan dengan baik dan benar. Mungkin mereka juga tertarik dengan gambar dan warna yang ada dalam soal.

  Lampiran 23

CATATAN KELAS

  1. Pertemuan pertama - Semua siswa terlihat bersemangat.

  • Siswa penasaran dengan alat peraga yang dibawa peneliti.
  • Ada siswa yang berani bertanya.
  • Siswa tidak meninggalkan kelas.
  • Siswa tidak ramai membahas hal lain.
  • Ada siswa yang berani meminta untuk mengukur pergelangan tangan peneliti.
  • Siswa mengutarakan pendapat setelah diminta oleh guru.

  2. Pertemuan kedua - Siswa tertarik dengan alat peraga yang dibawa peneliti.

  • Siswa berani mengutarakan hasil pengukuran tanpa diminta oleh guru/peneliti terlebih dahulu.
  • Siswa memerlukan bantuan guru/peneliti dalam melakukan kegiatan pembelajaran.
  • Siswa aktif mengukur benda-benda lain tanpa diminta oleh guru/peneliti.
  • Siswa tidak malu untuk mengakui kesalahan.Masing-masing siswa mempunyai cara yang berbeda dalam menyelesaikan soal.
  • Siswa masih perlu dibimbing dalam mengerjakan soal, khususnya dalam membaca perintah yang ada dalam soal latihan.
  • Siswa berebut untuk maju kedepan.

  3. Pertemuan ketiga - Siswa tertarik dengan alat peraga.

  • Siswa masih sedikit kesulitan mengenai materi mengurutkan bilangan.
  • Siswa berebut untuk maju mengerjakan soal.
  • Siswa tidak merasa bosan.

  4. Pertemuan keempat - Siswa masih memerlukan bantuan dalam mengerjakan soal.

  • Siswa melakukan apa yang diminta guru/peneliti.
  • Siswa senang melakukan kegiatan pembelajaran.
  • Siswa mempunyai ide dalam menyelesaikan masalah.
  • Siswa sangat aktif.
  • Siswa mengutarakn hasil pengukuran tanpa diminta oleh guru/peneliti.

  5. Pertemuan kelima - Siswa semangat.

  • Vera lebih cepat dalam memahami meteri.
  • Lia masih perlu latihan.
  • Siswa tidak malu mengakui kesalahan.
  • Siswa mau membetulkan jawaban yang salah.
  • Siswa mau membetulkan jawaban teman yang salah.
  • Siswa mau bertanya jika belum paham.
  • Siswa berebut untuk mengerjakan soal yang diberikan guru.
  • Siswa tidak mau kalah dengan siswa lain.
  • Siswa masih kesulitan untuk menaksir panjang benda.

  Lampiran 24

  

DATA HASIL BELAJAR SISWA

Nama Siswa Hasil Belajar Siswa

  Lia Vera Wahyu

  

Data kuantitatif Nilai Nilai Nilai

  1. Soal latihan untuk materi mengukur panjang 10 - 10 benda dengan menggunakan manik

  2. Soal latihan untuk materi meletakkan kartu 10 10 10 bilangan pada roncean manik

  3. Soal latihan untuk materi mengurutkan 10 10 10 bilangan

  4. Soal latihan untuk materi mengukur panjang 10 - -

  5. Soal latihan untuk materi membandingkan 9 9 - panjang benda

  6. Soal latihan untuk materi menaksir panjang 8,5 8,5 - benda

  7. Tes formatif 9,5 8,5

  Nama Siswa Hasil Belajar Siswa

  Lia Vera Wahyu

  Data kualitatif

  1. Ide siswa beragam K K K

  2. Siswa berani menyatakan ide S K S

  3. Siswa mandiri S S S

  4. Siswa aktif S S S

  5. Siswa kreatif S K S

  6. Siswa bertanya untuk hal yang belum dimengerti S K S

  7. Siswa menjawab pertanyaan S S S

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Diajukan Guna Memenuhi Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
0
0
17
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan NIKIE RAMSI TAMNGE NIM 20111112047
0
1
17
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar SARJANA PENDIDIKAN
0
0
14
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
0
2
15
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
0
0
17
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan LINDA ROHMAWATI NIM. 20121110045
0
0
13
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
0
1
26
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan DEWI KURNIASIH NIM. 20121110008
0
0
16
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan NUR AZIZAH NIM. 20121113025
0
0
15
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan SITI MULYATI NIM. 20131111105
0
0
14
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
0
0
14
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
0
0
16
SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat guna Memperoleh Gelar Sarjana dalam Hukum Islam
0
0
102
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana dalam Hukum Islam
0
0
121
Susukan Tahun 2010 ) SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana dalam Hukum Islam
0
0
84
Show more