Skripsi Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi

Gratis

0
0
112
11 months ago
Preview
Full text

  PERBEDAAN KECEMASAN MENGHADAPI UJIAN NASIONAL (UN) ANTARA SISWA LAKI-LAKI DAN SISWA PEREMPUAN DI SMA Skripsi Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi Disusun oleh : Maria Agustina Trianna Puspita Dewi 06 9114 007 PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2010 ii

iii

iv

  MOTO DAN PERSEMBAHAN ..........................be your self.....................

  Karyaku ini kupersembahkan bagi: Tuhan Jesus Kristus dan Bunda Maria di Surga

  Ayahanda Bernardinus Rustamaji Ibunda Maria Suharmiyatun

  Thomas Aquino Ari Indratama Widiawan Polycarpus Ari Febriandita Twedihandoko v

  

PERBEDAAN KECEMASAN MENGHADAPI UJIAN NASIONAL (UN)

ANTARA SISWA LAKI-LAKI DAN SISWA PEREMPUAN DI SMA

Maria Agustina Trianna Puspita Dewi

  

ABSTRAK

  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kecemasan menghadapi Ujian Nasional (UN) antara siswa laki-laki dan siswa perempuan di SMA. Hipotesis yang diajukan adalah siswa perempuan memiliki kecemasan yang lebih tinggi dalam menghadapi Ujian Nasional (UN) dibanding siswa laki-laki. Berdasarkan hasil uji seleksi item pada skala yang digunakan diperoleh koefisien reliabilitas alpha sebesar 0,932, yang berarti bahwa reliabilitasnya sangat tinggi. Analisis data penelitian menghasilkan t-hitung sebesar 3,388 dan nilai p sebesar 0,002. Hasil ini menunjukkan bahwa p ฀ 0,05 = signifikan, yang berarti terdapat perbedaan kecemasan yang signifikan dalam menghadapi Ujian Nasional (UN) antara siswa laki-laki dan siswa perempuan di SMA. Hasil penelitian juga menghasilkan mean empiris siswa laki-laki 94,36, sedangkan mean empiris siswa perempuan 104,45. Karena mean empiris siswa perempuan lebih tinggi dari mean empiris siswa laki-laki, siswa perempuan memiliki kecemasan yang lebih tinggi dalam menghadapi Ujian Nasional (UN) dibanding siswa laki-laki. Hal tersebut membuktikan bahwa hipotesis dalam penelitian ini diterima. Berdasarkan hasil uji tambahan diperoleh pula mean teoritis yakni 112,5. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa mean empiris siswa laki-laki lebih kecil dari mean teoritis (94,36 ฀ 112,5) dengan p 0,000 dan mean empiris siswa perempuan lebih kecil dari mean teoritis (104,45

  ฀ 112,5) dengan p 0,000. Hal tersebut menunjukkan bahwa keseluruhan subyek di SMA Pangudi Luhur Van Lith Muntilan memiliki kecemasan yang rendah dalam menghadapi Ujian Nasional (UN).

  Kata kunci : kecemasan, Ujian Nasional, siswa laki-laki, siswa perempuan vi

  

THE DIFFERENCE OF ANXIETY WHILE HAVING NATIONAL

EXAMINATION BETWEEN MALE AND FEMALE STUDENTS IN

SENIOR HIGH SCHOOL

Maria Agustina Trianna Puspita Dewi

ABSTRACT

  The aim of this research is to know the difference of students’ anxiety while having

National Examination between male and female students in Senior High School. The hypothesis

is that female students have higher anxiety than male students in National Examination. Based on

item selection test scale used the researcher got coefficient alpha 0,932, means that the reliability

was high. The research data analysis results on t-content 3,388 and the value p 0,002. These result

showed p ฀ 0,005 = significant, means there is significant difference of anxiety while having

National Examination between male and female students in Senior High School. Result of the

research results on mean empirical the male students 94,36, whereas mean empirical the female

students 104,45. Mean empirical of female students was higher than mean empirical of male

students, female students have higher anxiety while having National Examination than male

students. This matter has stated that this research’s hypothesis is accepted. Based on the result of

“Uji Tambahan” the researcher got theoretical mean 112,5. Through the result can be concluded

that empirical mean of male students is smaller than theoretical mean (94,36 ฀ 112,5) with p

0,000 and empirical mean of female students is smaller than theoretical mean (104,45 ฀ 112,5)

with p 0,000. It shows that all the subjects in SMA Pangudi Luhur Van Lith Muntilan have low

anxiety while they are going to face National Examination.

  Keyword : anxiety, National Examination, male student, female student vii viii

KATA PENGANTAR

  ix

  Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Pengasih atas rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi ini dengan judul Perbedaan Kecemasan Menghadapi Ujian Nasional (UN) antara Siswa Laki-laki dan Siswa Perempuan di SMA.

  Skripsi ini ditulis sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Psikologi.

  Penulis merasakan bahwa banyak bantuan yang diberikan kepada penulis dalam menyusun skripsi ini. Oleh karena itu, penulis menyampaikan terima kasih yang tulus kepada:

  1. Y. Heri Widodo S. Psi., M. Psi, selaku Dosen Pembimbing yang setia dan sabar membimbing penulis dalam menyusun skripsi ini.

  2. Dr. Christina Siwi Handayani, selaku Dekan Fakultas Psikologi.

  3. Segenap dosen Psikologi yang telah memberikan pengetahuan, wawasan, dan ilmu pengetahuan yang berguna bagi penulis.

  4. Kedua orang tuaku Ayahanda Drs. Bernardinus Rustamaji dan Ibunda Maria Suharmiyatun yang telah memberikan banyak pelajaran hidup bagi penulis hingga penulis bisa menjadi seorang pribadi yang kuat dan tahan banting dalam menghadapi kenyataan hidup.

  5. Saudara kandungku, Thomas Aquino Ari Indratama Widiawan S.E dan Polycarpus Ary Febriandita Twedi Handoko yang telah memberikan dukungan moril bagi penulis dalam menyusun skripsi ini.

  6. Segenap staf karyawan perpustakaan yang dengan sabar membantu penulis dalam meminjam buku-buku di perpustakaan.

  7. Segenap teman-teman Psikologi angkatan 2006 yang telah menjadi teman seperjuangan dalam menjalani perkuliahan di Fakultas Psikologi.

  8. Bruder Warto selaku Kepala SMA Pangudi Luhur Van Lith Muntilan yang telah memberikan ijin penelitian dan Ibu Kiswanti selaku guru mata pelajaran Bimbingan Konseling (BK) SMA Pangudi Luhur Van Lith Muntilan yang telah membantu proses pengambilan data penelitian.

  9. Seluruh siswa-siswi kelas XII SMA Pangudi Luhur Van Lith Muntilan yang telah bersedia meluangkan waktunya untuk mengisi angket.

  10. Saudara-saudari serta semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu yang telah memberikan bantuan dan dukungan selama proses penyusunan skripsi ini.

  Yogyakarta, 15 April 2010 Penulis

  Maria Agustina Trianna P.D x

  

DAFTAR ISI

  Halaman HALAMAN JUDUL ...........................................................................................i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ................................................ii HALAMAN PENGESAHAN ...........................................................................iii HALAMAN MOTO DAN PERSEMBAHAN .................................................iv PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ............................................................ v ABSTRAK ........................................................................................................vi

  ABSTRACT .......................................................................................................vii

  LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ...........................vii KATA PENGANTAR ......................................................................................ix DAFTAR ISI .....................................................................................................xi DAFTAR TABEL............................................................................................. xvi DAFTAR BAGAN .......................................................................................... xvii DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................... xviii

  BAB I PENDAHULUAN .................................................................................. 1 A. Latar Belakang Masalah ............................................................................... 1 xi

  xii

  3. Faktor Penyebab Kecemasan ........................................................... 15

  2. Remaja Laki-laki .............................................................................. 20

  b. Tahap Perkembangan Remaja ...................................................... 19

  a. Pengertian Remaja ....................................................................... 18

  1. Remaja .............................................................................................. 18

  B. Siswa Laki-laki dan Siswa Perempuan ........................................................ 18

  4. Kecemasan Menghadapi Ujian Nasional (UN) ................................ 17

  2. Aspek Kecemasan ............................................................................ 13

  B. Rumusan Masalah ...................................................................................... 10

  1. Definisi Kecemasan ......................................................................... 13

  BAB II LANDASAN TEORI .......................................................................... 13 A. Kecemasan Menghadapi Ujian Nasional (UN) ........................................... 13

  2. Manfaat Praktis ............................................................................... 11

  1. Manfaat Teoritis .............................................................................. 10

  D. Manfaat Penelitian ...................................................................................... 10

  C. Tujuan Penelitian ........................................................................................ 10

  3. Remaja Perempuan............................................................................ 21

  C. Dinamika Antar Variabel ............................................................................ 23

  D. Hipotesis ...................................................................................................... 28

  BAB III METODOLOGI PENELITIAN ......................................................... 29 A. Jenis Penelitian ............................................................................................ 29 B. Identifikasi Variabel Penelitian ................................................................... 29 C. Definisi Operasional Variabel Penelitian ..................................................... 29

  1. Jenis Kelamin .......................................................................................... 29

  2. Kecemasan Menghadapi Ujian Nasional (UN) ...................................... 30

  D. Subyek Penelitian ........................................................................................ 31

  E. Metode dan Alat Pengumpulan Data ........................................................... 32

  1. Metode .................................................................................................... 32

  2. Alat Pengumpulan Data .......................................................................... 33

  F. Metode Analisis Data ................................................................................... 34

  1. Uji Validitas ..................................................................................... 34

  2. Uji Reliabilitas ................................................................................. 35

  3. Uji Asumsi ....................................................................................... 36

  a. Uji Normalitas .............................................................................. 36 xiii

  b. Uji Homogenitas .......................................................................... 36

  4. Uji Hipotesis .................................................................................... 36

  BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ................................. 38 A. Persiapan dan Pelaksanaan Penelitian ......................................................... 38

  1. Persiapan ........................................................................................... 38

  2. Pelaksanaan ....................................................................................... 39

  B. Deskripsi Data Penelitian ............................................................................ 39

  C. Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur ........................................................... 39

  1. Uji Validitas ..................................................................................... 39

  2. Korelasi Item Total .......................................................................... 40

  3. Reliabilitas ....................................................................................... 41

  D. Uji Asumsi .................................................................................................. 42

  1. Uji Normalitas .................................................................................. 42

  2. Uji Homogenitas .............................................................................. 42

  E. Hasil ............................................................................................................. 43

  1. Uji Hipotesis .................................................................................... 43

  2. Hasil Tambahan ............................................................................... 45

  3. Pembahasan ...................................................................................... 46 xiv

  BAB V PENUTUP ........................................................................................... 51 A. Kesimpulan ................................................................................................ 51 B. Saran ........................................................................................................... 52

  1. Bagi Siswa ....................................................................................... 52

  a. Siswa Perempuan ......................................................................... 52

  b. Siswa Laki-laki ............................................................................ 52

  2. Bagi Sekolah ................................................................................... 53

  3. Bagi Instansi Pendidikan dan Pemerintah ....................................... 53 DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 54 LAMPIRAN ..................................................................................................... 56 xv

  

DAFTAR TABEL

  Tabel Halaman

  Tabel 1 Tabel Spesifikasi Skala Kecemasan Menghadapi Ujian Nasional (UN) .................................................... 33

  Tabel 2 Pemberian Skor Skala Kecemasan Menghadapi Ujian Nasional (UN) ..................................................... 34

  Tabel 3 Tingkat Reliabilitas Berdasarkan Nilai Koefisien Alpha......................................................................... 35

  Tabel 4 Tabel Spesifikasi Skala Kecemasan Menghadapi Ujian Nasional (UN) ..................................................... 41 xvi

  

DAFTAR BAGAN

  Bagan Halaman

  Bagan 1 Dinamika Antar Variabel ................................................................. 27 xvii

  

DAFTAR LAMPIRAN

  Lampiran Halaman

  Lampiran 1 Korelasi Item Total dan Reliabilitas...................................56 Lampiran 2 Uji Asumsi..........................................................................65 Lampiran 3 Uji Hipotesis.......................................................................67 Lampiran 4 Uji Tambahan......................................................................68 Lampiran 5 Skala Kecemasan menghadapi Ujian Nasional (UN).........72 Lampiran 6 Verbatim Hasil Wawancara................................................78 Lampiran 7 Surat Keterangan................................................................83 Lampiran 8 Persetujuan Partisipasi dalam Penelitian............................84 xviii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Evaluasi adalah proses untuk mengetahui pencapaian hasil dan

  efektivitas pembelajaran. Dengan demikian, evaluasi merupakan salah satu komponen pokok yang selalu ada dalam pembelajaran. Dengan kata lain, pembelajaran tidak dapat dipisahkan dari kegiatan evaluasi. Istilah evaluasi berasal dari bahasa Inggris evaluation yang berarti “penilaian atau penaksiran” (“Pengembangan instrumen”, 2009).

  Penggunaan istilah evaluasi dalam dunia pendidikan sebenarnya dapat dikatakan masih relatif baru (“Pengembangan instrumen”, 2009). Rice, tokoh yang dianggap sebagai pemula kegiatan evaluasi di Amerika Serikat pada awal abad ini, belum menggunakan istilah evaluasi, meskipun pekerjaannya dapat dikategorikan sebagai pekerjaan evaluasi. Tyler baru mempergunakan istilah evaluasi dalam buku kecilnya yang terkenal berjudul Basic Principles

  of Curriculum and Instruction yang ditulis pada 1949. Tyler sebagaimana

  dikutip oleh Guba mendefinisikan evaluasi sebagai proses pembanding data empiris kinerja pembelajar dengan tujuan yang ditetapkan secara jelas/proses untuk menentukan sejauh mana tujuan telah direalisasikan. Sementara itu, Morrison sebagaimana dikutip oleh Oemar Hamalik merumuskan pengertian evaluasi sebagai perbuatan pertimbangan berdasarkan seperangkat kriteria yang disepakati dan dapat dipertanggungjawabkan. Dari rumusan Morrison tersebut, terdapat tiga faktor utama dalam evaluasi, yaitu (1) pertimbangan (judgment), (2) deskripsi objek penilaian, dan (3) kriteria yang dapat dipertanggungjawabkan (“Pengembangan instrumen”, 2009).

  Tujuan pendidikan mencakup domain kognitif, afektif, dan psikomotor. Ketiganya perlu dicapai secara komprehensif dan seimbang. Pencapaian tujuan domain kognitif akan menjadikan seseorang menjadi cerdas.

  Pencapaian tujuan domain afektif akan menjadikan seseorang menjadi berakhlak mulia, dan pencapaian tujuan psikomotor akan menjadikan seseorang menjadi terampil. Berdasarkan kondisi ini, evaluasi pendidikan yang ideal (seharusnya) mencakup ketiga domain tersebut secara komprehensif. Realitas menunjukkan bahwa evaluasi belum dilaksanakan secara komprehensif karena masih didominasi evaluasi pada domain kognitif (“Pengembangan instrumen”, 2009).

  Kesenjangan antara evaluasi yang ideal dan realitas evaluasi dapat divisualisasikan sebagai berikut. Realitas menunjukkan bahwa masih banyak yang mereduksi evaluasi sebagai kegiatan tes. Hal ini dibuktikan dengan kegiatan evaluasi yang menonjol di lembaga dan satuan pendidikan yang terwujud dalam pelaksanaan tes yang diselenggarakan setelah penyelesaikan pokok bahasan tertentu (kompetensi dasar tertentu) sebagai tes formatif, dan tes akhir semester yang dikenal dengan tes sumatif, serta tes yang diselenggarakan di akhir jenjang pendidikan tertentu dalam bentuk ujian akhir sekolah dan ujian nasional. Dari tes formatif, sumatif, hingga ujian akhir sekolah dan ujian nasional sebagian besar dalam bentuk tes, dan tes tersebut sebagian besar dalam bentuk tes tertulis. Padahal tes tertulis hanyalah salah satu bentuk tes (di samping tes lisan dan tindakan). Tes hanyalah salah satu dari teknik evaluasi (di samping teknik non tes/alternatif tes). Menggunakan teknis tes tertulis untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik yang mencakup berbagai domain (kognitif, afektif, dan psikomotor) tentu saja tidak dapat memberikan informasi yang valid dan reliabel, serta tidak selaras dengan prinsip kontinuitas, objektivitas, keseimbangan, dan komprehensifitas sebuah evaluasi. Tes tepat dipakai untuk mengukur pencapaian domain kognitif, tetapi tidak tepat untuk mengukur pencapaian ranah afektif. Padahal cakupan tujuan pendidikan, baik skala nasional, jenjang pendidikan, satuan pendidikan, bahkan hingga tujuan mata pelajaran (standar kompetensi mata pelajaran) meliputi domain kognitif, afektif, dan psikomotor (“Pengembangan instrumen”, 2009).

  Berdasarkan penjelasan di atas, ironis memang sebuah proses pembelajaran yang panjang, yakni 3 sampai dengan 6 tahun hanya ditentukan oleh hasil tes tertulis yang dilaksanakan beberapa jam pada mata pelajaran tertentu melalui Ujian Nasional (“Pengembangan instrumen”, 2009). Ujian Nasional juga menjadi suatu hal yang problematik karena perubahan dan peningkatan standar kelulusan terus dilakukan pemerintah dari tahun ke tahun (“Ujian nasional”, 2009). Maksud pemerintah sebenarnya baik, meningkatkan standar kompetensi siswa, akan tetapi upaya peningkatan itu tidak diiringi dengan dukungan perangkat pendidikan, terutama di daerah. Dibanding kota- kota di Pulau Jawa, perangkat pendidikan di daerah masih ketinggalan, baik fasilitas maupun profesionalitas. Setidaknya perlu waktu agar perangkat pendidikan di daerah bisa sama dengan perangkat pendidikan di kota-kota di Pulau Jawa. Hasil beberapa kali try out UN di Kalsel bisa menjadi bukti ada ketimpangan antara daerah dengan kota di Jawa. Seperti diketahui, try out UN di Kalimantan Selatan hasilnya jauh dari kata memuaskan. Dengan demikian, hasil buruk diraih sekolah pinggiran yang memang penuh keterbatasan (“Ujian nasional”, 2009).

  Hal di atas tentu saja bertolak belakang dengan kenyataan yang terjadi di negara Kanada, Amerika Serikat dan Swedia. Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa orang asing dari beberapa negara, antara lain murid asing yang sedang menjalani pendidikannya di sebuah lembaga bahasa di Yogyakarta yakni James yang berasal dari Kanada mengemukakan bahwa untuk lulus dari SMA, seorang siswa tidak perlu melaksanakan Ujian Nasional (UN) melainkan dapat dilakukan hanya dengan mencapai nilai atau target tertentu pada mata pelajaran yang diambil. Jika nilai atau target tersebut belum tercapai, seorang siswa tidak perlu mengulang melainkan memperbaiki nilainya tersebut melalui proses remedial (“Wawancara subyek 1”, 2010).

  Selain pendapat dari James, ada pula pendapat dari Henry Joshua yang merupakan warga negara Indonesia yang sejak lahir hingga SMA berada di negara Amerika Serikat karena ayahnya merupakan warga Amerika Serikat. Ia mengatakan bahwa Ujian Nasional (UN) hanya dilakukan sebagai syarat untuk masuk ke Perguruan Tinggi Negri, sedangkan bagi siswa yang ingin melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi swasta tidak perlu mengikuti

  Ujian Nasional (UN). Jadi, Ujian Nasional (UN) di Amerika Serikat mirip dengan UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negri) di Indonesia dan tidak menjadi penentu kelulusan siswa di jenjang SMA (“Wawancara subyek 2”, 2010). Pendapat serupa juga dikemukakan oleh Michele Tumiwa. Ia adalah seorang penduduk asli Indonesia yang pindah ke negara Swedia sejak SMP hingga ia lulus SMA kemudian pindah kembali ke Indonesia. Ia mengatakan bahwa negara Swedia merupakan negara bagian dari Uni Eropa dan Ujian Nasional (UN) hanya dilaksanakan untuk mendapatkan nilai standar Eropa yang akan digunakan sebagai syarat untuk masuk ke Perguruan Tinggi Negri (“Wawancara subyek 3”, 2010).

  Kemunculan UN (yang dulu juga disebut Ebtanas) yang memasuki tahun ke -5 ini memberikan warna tersendiri bagi dunia pendidikan. Dari masalah kebocoran soal, “tim sukses”, mark-up nilai, kecemasan dan ketakutan yang berlebihan, peserta ujian yang sakit, bahkan bunuh diri (”Pemilu ujian”, 2009). Hal ini terlihat dari beberapa kasus yang terjadi di beberapa wilayah di Indonesia, contohnya saja seperti kasus yang terjadi di kota Semarang. Sejumlah siswa kelas III jenjang SMP dan SMA Kota Semarang dilanda kecemasan menjelang pelaksanaan Ujian Nasional (UN) pada 22-24 Mei untuk SMP/MTs dan 16-18 Mei 2006 untuk SMA/MA serta SMK. Rasa was-was juga melanda orang tua. Mereka khawatir apabila peserta didik tidak bisa mencapai nilai minimal 4,26 untuk setiap mata pelajaran, atau tidak mampu mendapatkan di atas 4,50 nilai rata-rata tiga mata pelajaran sebagai syarat kelulusan (“Siswa mulai”, 2006). Selain kasus di atas, rasa cemas juga dialami oleh para siswa di kota Medan. Rasa cemas dan takut gagal dalam Ujian Nasional (UN) yang akan dilaksanakan serentak di seluruh Indonesia pada 20-24 April 2009 mulai melanda sejumlah siswa di Medan. “Meski jauh-jauh hari sudah mempersiapkan diri, tapi rasa cemas sangat sulit dihilangkan karena masa depan saya tergantung hasil ujian ini. Meskipun beberapa kali try out telah saya ikuti dan hasilnya cukup memuaskan, namun rasa cemas tetap saja sulit untuk dihilangkan”, kata Yusrizal, salah seorang siswa SMA ketika ditemui di lapangan Merdeka, Medan. Rasa cemas menghadapi Ujian Nasional (UN) juga dirasakan oleh Helmy, siswa SMA lainnya yang ditemui di tempat yang sama. Ia mengaku dalam beberapa hari ini selera makannya sedikit berkurang karena takut membayangkan gagal dalam Ujian Nasional (UN). “Bayangan tidak lulus UN selalu menghantui saya sehingga muncul rasa cemas.

  Meskipun begitu, saya tidak boleh larut karena mau tidak mau ujian harus dihadapi”, katanya (“Jelang UN”, 2009).

  Berdasarkan fenomena-fenomena di atas dapat disimpulkan bahwa kecemasan menghadapi ujian menjadi persoalan yang penting karena memiliki akibat luas, baik dalam area akademik maupun personal siswa. Cemas menghadapi ujian adalah respon seseorang terhadap situasi ujian, respon yang diperoleh dan ulangi sejak kecil, yang diperoleh sebagai hasil belajar lainnya, dan respon tersebut dapat diubah. Kecemasan dalam kadar yang proporsional tidak memiliki dampak yang negatif, malah memiliki dampak yang positif karena memotivasi kita untuk belajar lebih giat mempersiapkan diri menghadapi ujian. Secara akademik, kecemasan ini berakibat pada kegagalan akademik hingga penolakan terhadap sekolah (school refusal). Secara personal, kecemasan ini menyebabkan rendahnya harga diri siswa, ketergantungan, serta perilaku pasif dalam kehidupan sehari-hari (”Mengatasi cemas”, 2009).

  Dengan adanya berbagai persoalan yang terkait dengan kecemasan siswa, maka perlu diketahui beberapa faktor yang mempengaruhi kecemasan.

  Menurut Daradjat (1996) kecemasan dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain lingkungan sosial budaya, usia, dan jenis kelamin. Individu yang dihadapkan pada lingkungan sosial budaya yang mengancam akan sangat mempengaruhi kecemasannya. Selain lingkungan sosial budaya, kecemasan juga dipengaruhi oleh faktor usia. Usia sangat mempengaruhi tingkat kecemasan karena gangguan kecemasan banyak dialami oleh individu yang memasuki masa remaja hingga mendekati masa dewasa dini yaitu rata-rata timbul pada usia 16-21 tahun. Thornburg (dalam Dariyo, 2004) mengemukakan bahwa pada rentang usia 16-21 seseorang berada di jenjang pendidikan SMA atau perguruan tinggi. Hal ini diperkuat dengan adanya penelitian yang dilakukan oleh Frisca Panggabean (2006) yang menyatakan bahwa siswa SMA terutama siswa kelas 3 SMA memiliki tingkat kecemasan yang tinggi karena para pelajar yang duduk di kelas 3 SMA sudah mulai memiliki perencanaan untuk melanjutkan studi mereka ke tingkat perguruan tinggi ketika memasuki tahun-tahun akhirnya di tingkat menengah umum. Mereka memiliki harapan supaya mendapatkan pendidikan yang lebih baik lagi karena konsep pendidikan itu sendiri mengandung arti upaya mencerdaskan manusia atau subyek didik. Upaya untuk mendapatkan pendidikan lebih lanjut ini terwujud dalam melanjutkan studi ke perguruan tinggi baik Perguruan Tinggi Negeri (PTS), Perguruan Tinggi Kedinasan (PTK), maupun Perguruan Tinggi Swasta (PTS).

  Di samping usia, kecemasan juga turut dipengaruhi oleh faktor jenis kelamin, yakni perempuan dan laki-laki. Perempuan memiliki sifat feminin, peduli dan perhatian. Perempuan juga cenderung memusatkan perhatian secara pribadi, melibatkan rasa emosional dengan orang lain, menganggap bahwa kualitas penerimaan dari lingkungan sangat dibutuhkan, dan dipengaruhi oleh tekanan lingkungan. Dengan adanya sifat perempuan yang dipengaruhi oleh tekanan lingkungan, dan menganggap bahwa kualitas penerimaan dari lingkungan sangat dibutuhkan, perempuan menjadi lebih sensitif terhadap penerimaan lingkungan sosial, sehingga perempuan cenderung lebih rentan terhadap kecemasan terutama ketika akan merespon dan menghadapi objek- objek yang menjadi penyebab kecemasannya (Retno, 2007).

  Bertolak belakang dengan hal-hal di atas, sifat yang dimiliki laki-laki antara lain sifat maskulin, cenderung mementingkan pada tercapainya apa yang menjadi tujuan dan sasaran ketika mereka berhubungan dengan orang lain. Laki-laki juga lebih rileks dalam menghadapi kehidupan sehari-hari, berhubungan dengan orang lain maupun ketika berhadapan dengan lingkungan sekitarnya, serta berani mengambil risiko ketika berhadapan dengan lingkungannya. Dengan adanya sifat rileks dalam menghadapi kehidupan sehari-hari, berhubungan dengan orang lain maupun ketika berhadapan dengan lingkungan sekitarnya, serta berani mengambil risiko ketika berhadapan dengan lingkungannya membuat laki-laki kurang sensitif terhadap penerimaan lingkungan, sehingga laki-laki cenderung kurang rentan terhadap kecemasan.

  Selain itu, laki-laki juga cukup tangguh dalam menghadapi dan merespon objek-objek yang menjadi penyebab kecemasannya serta lebih rileks dalam menghadapi kehidupan sehari-hari (Retno, 2007).

  UN merupakan sebuah realita yang “membebani” banyak siswa baik perempuan maupun laki-laki, bahkan para guru juga orang tua siswa. Beban kecemasan dan kekhawatiran akan menggejala mulai dari diinformasikannya standar kelulusan, persiapan yang harus dilakukan pra-UN, saat pelaksanaannya, hingga mempersiapkan kondisi pasca UN. Memang, sebagai bagian dari sebuah sistem, UN memiliki tujuan yang ideal bagi proses pendidikan, terutama sebagai salah satu alat ukur keberhasilan pembelajaran formal. Namun, dalam praktiknya, tingkat kesiapan dan kematangan tiap sekolah, guru dan siswanya berbeda-beda, bergantung kepada besar kecilnya kendala yang dihadapi masing-masing. Dengan adanya perbedaan sifat dan karakteristik yang dimiliki oleh siswa perempuan dan laki-laki, maka kesiapan dan kematangan yang dimiliki oleh siswa perempuan dan laki-laki ketika akan menghadapi Ujian Nasional juga pasti berbeda (“Mengatasi sindrom”, 2010).

  Hal di atas menjadi gagasan penelitian yang dilakukan oleh Retno (2007) yang menyatakan bahwa terdapat perbedaan tingkat kecemasan antara siswa laki-laki dan siswa perempuan SMA Negri I Sewon- Bantul Yogyakarta. Tingkat kecemasan pada siswa perempuan lebih tinggi dibanding tingkat kecemasan pada siswa laki-laki.

  Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti merasa tertarik untuk meneliti lebih jauh mengenai perbedaan kecemasan antara siswa laki-laki dan siswa perempuan di SMA khususnya perbedaan kecemasan menghadapi Ujian Nasional (UN). Dengan demikian peneitian ini diharapkan mampu memberikan masukan bagi sekolah untuk merencanakan program yang dapat memberikan perlakuan yang berbeda kepada siswa laki-laki dan perempuan khususnya ketika akan menghadapi Ujian Nasional (UN).

  B. Rumusan Masalah

  Apakah ada perbedaan kecemasan menghadapi Ujian Nasional (UN) antara siswa laki-laki dan siswa perempuan di SMA?

  C. Tujuan Penelitian

  Mengetahui ada tidaknya perbedaan kecemasan dalam menghadapi Ujian Nasional (UN) antara siswa laki-laki dan siswa perempuan di SMA.

  D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritis

  a. Penelitian ini diharapkan mampu memberikan sumbangan di bidang psikologi klinis mengenai masalah kecemasan, khususnya mengenai perbedaan kecemasan menghadapi Ujian Nasional (UN) antara siswa laki-laki dan siswa perempuan di SMA.

  b. Penelitian ini diharapkan mampu memberikan sumbangan di bidang psikologi pendidikan, karena penelitian ini membahas mengenai Ujian Nasional (UN) di SMA.

  c. Penelitian ini diharapkan mampu memberikan sumbangan di bidang psikologi perkembangan, karena penelitian ini membahas mengenai siswa laki-laki dan siswa perempuan di SMA yang berada pada tahap masa perkembangan remaja tengah.

  d. Menjadi literatur bagi penelitian berikutnya.

2. Manfaat Praktis

  a. Penelitian ini diharapkan mampu memberikan sumbangan bagi sekolah khususnya SMA untuk lebih memperhatikan faktor-faktor penyebab kecemasan pada siswa laki-laki maupun siswa perempuan.

  b. Penelitian ini diharapkan mampu memberikan masukan bagi instansi pendidikan maupun pemerintah bahwa sistem evaluasi pendidikan di Indonesia khususnya evaluasi di akhir jenjang tingkat pendidikan menengah yakni Ujian Nasional (UN) kurang efektif dilaksanakan karena menimbulkan problematika dari tahun ke tahun. Oleh sebab itu, penelitian ini diharapkan dapat menjadi inspirator untuk meninjau kembali keefektifan sistem evaluasi pendidikan yang ada di Indonesia, khusunya evaluasi di akhir jenjang tingkat pendidikan menengah.

BAB II LANDASAN TEORI A. Kecemasan Menghadapi Ujian Nasional (UN)

  1. Definisi Kecemasan Menurut Mahler (dalam Retno, 2007) kecemasan merupakan kondisi di saat kita membuang-buang energi fisik dan psikis serta kondisi di saat kita kehilangan tanggapan diri sehingga membuat kita merasa kecil dan tidak berdaya. Kehilangan tanggapan diri ini oleh Suparno (2001) digambarkan sebagai keadaan emosi yang dihubungkan dengan rasa takut, akan tetapi objek dari rasa takut itu tidak begitu jelas.

  Keadaan emosi yang dihubungkan dengan rasa takut yang telah dikemukakan oleh Suparno (2001) dianggap oleh Nevid, Rathus dan Greene (2005) sebagai suatu keadaan aprehensi atau keadaan khawatir yang mengeluhkan bahwa sesuatu yang buruk akan segera terjadi.

  Jadi, kecemasan merupakan kondisi di saat kita membuang- buang energi fisik dan psikis yang dihubungkan dengan rasa takut sehingga mengeluhkan bahwa sesuatu yang buruk akan segera terjadi .

  2. Aspek Kecemasan Mahler (dalam Retno, 2007) menyatakan terdapat tiga aspek dalam kecemasan. Aspek-aspek tersebut adalah : a. Aspek afektif (emosional), yaitu munculnya kecemasan yang berkaitan dengan perasaan individu terhadap suatu hal yang dialami secara sadar dan mempunyai ketakutan yang mendalam. Misalnya cenderung selalu merasa khawatir akan sesuatu hal yang menimpanya, mudah tersinggung, tidak sabar, sering mengeluh, dan gampang marah.

  b. Aspek kognitif, yaitu ketakutan yang meningkat akhirnya mengganggu kemampuan seseorang untuk berpikir jernih dalam memecahkan masalah atau menangani tuntutan lingkungan. Aspek ini berkaitan dengan kekhawatiran individu terhadap konsekuensi- konsekuensi yang mungkin dialami, apabila meningkat dapat mengganggu kemampuan kognitif individu. Seperti sulit berkonsentrasi, sulit membuat keputusan, khawatir terhadap sesuatu yang mengerikan dan seolah-olah akan terjadi, pelupa, pikiran kacau, mudah panik, dan bingung.

  c. Aspek fisiologis, yaitu respon tubuh terhadap ketakutan untuk mengerahkannya menghadapi keadaan yang tidak menyenangkan.

  Secara fisik individu akan tampak berkeringat walaupun udara tidak panas, meningkatnya detak jantung, telapak kaki dingin, gangguan pencernaan, mulut dan tenggorokan terasa kering, muka tampak pucat, sering buang air kecil, otot dan persendian terasa kaku, sering mengalami gangguan tidur (susah tidur), mudah terkejut, tidak rileks, menggerakkan anggota tubuh secara berlebihan, membenahi dandanan atau tatanan rambut yang masih rapi.

  3. Faktor Penyebab Kecemasan Faktor penyebab timbulnya kecemasan menurut Collins

  (“Faktor-faktor penyebab”, 2009) bahwa kecemasan timbul karena adanya: a. Threat (ancaman) baik ancaman terhadap tubuh, jiwa atau psikisnya

  (seperti kehilangan kemerdekaan, kehilangan arti kehidupan) maupun ancaman terhadap eksistensinya (seperti kehilangan hak).

  b. Conflict (pertentangan) yaitu karena adanya dua keinginan yang keadaannya bertolak belakang, hampir setiap dua konflik, dua alternatif atau lebih yang masing-masing yang mempunyai sifat approach dan avoidance.

  c. Fear (ketakutan) kecemasan sering timbul karena ketakutan akan sesuatu, ketakutan akan kegagalan menimbulkan kecemasan, misalnya ketakutan akan kegagalan dalam menghadapi ujian atau ketakutan akan penolakan menimbulkan kecemasan setiap kali harus berhadapan dengan orang baru.

  d. Unfulled Need (kebutuhan yang tidak terpenuhi) kebutuhan manusia begitu kompleks dan bila ia gagal untuk memenuhinya maka timbullah kecemasan.

  Daradjat (1996) mengemukakan bahwa terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kecemasan yaitu : a. Jenis Kelamin Jenis kelamin sangat mempengaruhi kecemasan seseorang terhadap objek tertentu karena fisik, kondisi emosional, dan kondisi psikologis antara pria dan wanita itu berbeda terutama ketika akan merespon dan menghadapi objek-objek yang menjadi penyebab kecemasannya.

  b. Usia Usia sangat mempengaruhi tingkat kecemasan seseorang karena gangguan kecemasan banyak dialami oleh individu yang memasuki masa dewasa dini yaitu rata-rata timbul pada usia 16-21 tahun.

  c. Lingkungan Sosial Budaya Individu yang dihadapkan pada situasi dan kondisi lingkungan sosial-budaya yang mengancam akan sangat mempengaruhi kecemasannya. Lingkungan sosial yaitu tempat tinggal, sekolah, kampus, keluarga, pergaulan dengan teman, sedangkan lingkungan budaya yaitu daerah tempat asal, adat istiadat dan budaya setempat.

  Selanjutnya, Daradjat (1996) mengatakan bahwa rasa cemas timbul karena melihat dan mengetahui ada bahaya yang mengancam dirinya. Cemas ini lebih dekat kepada rasa takut karena sumbernya jelas terlihat dalam pikiran, misalnya seorang mahasiswa yang sepanjang tahun bermain-main saja, merasa cemas apabila ujian datang. Selain itu, cemas juga terjadi karena tidak terpenuhinya keinginan-keinginan seksuil, karena merasa diri (fisik) kurang dank arena pendidikan waktu kecil, atau sering terjadi frustrasi karena tidak tercapainya hal yang diinginkan baik material maupun sosial.

  4. Kecemasan Menghadapi Ujian Nasional (UN) Berdasarkan kesimpulan mengenai definisi kecemasan, kecemasan merupakan kondisi di saat kita membuang-buang energi fisik dan psikis yang dihubungkan dengan rasa takut sehingga mengeluhkan bahwa sesuatu yang buruk akan segera terjadi. Dengan demikian, kecemasan menghadapi Ujian Nasional (UN) merupakan kondisi di saat kita membuang-buang energi fisik dan psikis yang dihubungkan dengan rasa takut sehingga mengeluhkan bahwa sesuatu yang buruk akan segera terjadi di hari-hari menjelang Ujian Nasional (UN).

  Ujian Nasional (UN) merupakan suatu hal yang menimbulkan kecemasan karena Ujian Nasional (UN) dianggap sebagai penentu proses pembelajaran yang panjang yakni 3 sampai dengan 6 tahun (”Pengembangan instrumen”, 2009). Selain itu, Ujian Nasional juga menjadi penentu untuk melanjutkan studi ke tingkat perguruan tinggi (Panggabean, 2006). Dengan pentingnya peran Ujian Nasional (UN) bagi siswa menyebabkan para siswa menjadi cemas karena takut gagal dan tidak lulus dalam Ujian Nasional (UN) (”Jelang UN”, 2009).

B. Siswa Laki-laki dan Siswa Perempuan

  Dalam penelitian ini banyak digunakan teori tentang remaja karena subyek dalam penelitian ini adalah siswa laki-laki dan siswa perempuan yang duduk di bangku SMA dengan usia kira-kira 15-17 tahun. Usia tersebut masuk dalam kategori remaja tengah (Dariyo, 2004).

  1. Remaja

  a. Pengertian Remaja Remaja atau Adolescene berasal dari bahasa Latin adolescere yang berarti ”tumbuh” atau ”tumbuh menjadi dewasa”.

  Istilah ini mencakup kematangan mental, emosional, sosial dan fisik (Hurlock, 1999).

  Menurut Neidhart masa remaja (adolesensia) merupakan masa peralihan dan ketergantungan pada masa anak-anak ke masa dewasa, dimana ia sudah harus dapat berdiri sendiri. Sedangkan menurut E.H.Erikson masa remaja (adolesensia) merupakan masa terbentuknya suatu perasaan baru mengenai identitas. Identitas mencakup cara hidup pribadi yang dialami sendiri dan sulit dikenal oleh orang lain. Anna Freud mengemukakan bahwa masa remaja (adolesensia) merupakan suatu masa yang meliputi proses perkembangan dimana terjadi perubahan-perubahan dalam hal motivasi seksuil, organisasi ego, dalam hubungannya dengan orangtua, orang lain dan cita-cita yang dikejarnya (Gunarsa, 1981).

  Jadi, masa remaja merupakan masa peralihan di saat seseorang sudah dapat berdiri sendiri dan mengalami perubahan motivasi seksuil, organisasi ego, dalam hubungannya dengan orangtua, orang lain dan cita-cita yang dikejarnya.

  b. Tahap Perkembangan Remaja Menurut Thornburg (dalam Dariyo, 2004), masa remaja digolongkan dalam 3 tahap, yaitu 1) remaja awal (usia 13-14 tahun) 2) remaja tengah (usia 15-17 tahun) 3) remaja akhir (usia 18-21 tahun).

  Masa remaja awal, umumnya individu telah memasuki pedidikan di bangku sekolah menengah tingkat pertama (SLTP).

  Sedangkan masa remaja tengah individu sudah duduk di sekolah menengah atas (SMA). Kemudian, mereka yang tergolong remaja akhir, umumnya sudah memasuki dunia perguruan tinggi atau lulus SMA dan mungkin sudah bekerja.

  Menurut Daradjat (1996) salah faktor penyebab kecemasan adalah usia. Usia sangat mempengaruhi tingkat kecemasan karena gangguan kecemasan banyak dialami oleh individu yang memasuki masa remaja hingga mendekati masa dewasa dini yaitu rata-rata timbul pada usia 16-21 tahun. Dengan demikian, berdasarkan Thornburg, kecemasan dialami oleh seseorang yang berada pada tahap perkembangan remaja tengah hingga akhir yang duduk di Sekolah Menengah Atas (SMA) atau memasuki Perguruan Tinggi.

  2. Remaja Laki-laki Perubahan fisik yang terjadi pada remaja laki-laki antara lain pertumbuhan atau penebalan rambut di dada. Pembesaran buah dada pada remaja laki-laki tidak sama dengan pembesaran buah dada pada remaja perempuan. Bagian di sekitar putingnya akan lebih tua warnanya dan menebal. Penebalan tersebut sama seperti pembengkakan, yang bersifat tidak menetap dan akan menghilang. Hal ini sering menimbulkan kecemasan pada remaja laki-laki yang seharusnya tidak perlu dirisaukan (Gunarsa, 1981).

  Berdasarkan penelitian ”The Californian Adolescent Growth

  Study” menyatakan bahwa siswa laki-laki (usia 16-19 tahun) lebih

  menekankan pada ketrampilan sosial dan kemampuan bekerjasama dengan orang lain. Adapun bagi siswa laki-laki yang telah mencapai tingkat kematangan sosial yang lebih tinggi, memiliki ketertarikan di bidang olahraga, ketertarikan dalam hal-hal yang berkaitan dengan kemampuan intelektual dan pencapaian di bidang akademis, serta ketertarikan terhadap lawan jenis (Sarwono, 1989).

  Laki-laki juga lebih rileks dalam menghadapi kehidupan sehari- hari, berhubungan dengan orang lain maupun ketika berhadapan dengan lingkungan sekitarnya, lebih aktif dan eksploratif ketika mengungkapkan hal-hal yang disenangi atau tidak disukainya serta berani mengambil risiko ketika berhadapan dengan lingkungannya. Dengan adanya sifat rileks dalam menghadapi kehidupan sehari-hari, berhubungan dengan orang lain maupun ketika berhadapan dengan lingkungan di sekitarnya, serta berani mengambil risiko ketika berhadapan dengan lingkungannya membuat laki-laki kurang sensitif terhadap penerimaan lingkungan sosial, sehingga laki-laki cenderung kurang rentan terhadap kecemasan. Selain itu, laki-laki juga cukup tangguh dalam menghadapi dan merespon objek-objek yang menjadi penyebab kecemasannya serta lebih rileks dalam menghadapi kehidupan sehari-hari (Retno, 2007).

  3. Remaja Perempuan Menurut Muss (dalam Sarwono, 1989) perubahan fisik yang terjadi pada remaja perempuan antara lain pertumbuhan atau perubahan tinggi badan dan pembesaran payudara. Dengan adanya pertumbuhan atau perubahan tinggi badan yang mencolok dan pembesaran payudara yang cepat menyebabkan kecanggungan sehingga ia harus menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan yang terjadi pada dirinya. Selain itu, perubahan tinggi badan yang mencolok dan pembesaran payudara yang cepat membuat remaja perempuan cemas karena merasa tersisih dari teman-temannya.

  Pada masa ini seorang perempuan mengalami kematangan yang berlangsung secara lambat dan teratur. Masa ini merupakan kunci dari perkembangan seseorang, dimana introspeksi dan pencarian jati diri dimulai pada masa remaja. Oleh karena itu, perempuan yang matang dan berkepribadian banyak ditentukan oleh peristiwa-peristiwa dan pengalamannya pada masa remaja, baik itu pengalaman yang bersifat fisik maupun psikis (Kartono, 1977).

  Menurut Gilligan (1997), aspek kepedulian, perhatian, kasih sayang dan tanggung jawab terhadap orang lain lebih bayak ditemukan pada perempuan. Karena pada hakikatnya perempuan memiliki kecenderungan menjalin hubungan serta mempertahankan hubungan dengan orang lain. Perempuan juga cenderung memusatkan perhatian secara pribadi dan melibatkan rasa emosional dengan orang lain (Eagly & Crowley dalam Buss, 1995).

  Selain itu, perempuan juga menganggap bahwa kualitas penerimaan dari lingkungan sangat dibutuhkan, merasa tidak mampu menjalani tugas perkembangan sebagai perempuan dan menjalani fungsinya dalam masyarakat ataupun dalam keluarga, serta dipengaruhi oleh tekanan lingkungan. Dengan adanya sifat perempuan yang menganggap bahwa kualitas penerimaan dari lingkungan sangat dibutuhkan dan dipengaruhi oleh tekanan lingkungan membuat perempuan menjadi lebih sensitif terhadap penerimaan lingkungan, sehingga perempuan cenderung lebih rentan terhadap kecemasan terutama ketika akan merespon dan menghadapi objek-objek yang menjadi penyebab kecemasannya (Retno, 2007).

C. Dinamika Antar Variabel

  Menurut Mahler (dalam Retno, 2007) kecemasan merupakan kondisi di saat kita membuang-buang energi fisik dan psikis serta kondisi di saat kita kehilangan tanggapan diri sehingga membuat kita merasa kecil dan tidak berdaya. Menurut Collins (“Faktor-faktor penyebab”, 2009) ada beberapa penyebab timbulnya kecemasan. Salah satu di antaranya adalah fear (ketakutan). Fear (ketakutan) kecemasan sering timbul karena ketakutan akan sesuatu, ketakutan akan kegagalan menimbulkan kecemasan, misalnya ketakutan akan kegagalan dalam menghadapi ujian atau ketakutan akan penolakan menimbulkan kecemasan setiap kali harus berhadapan dengan orang baru.

  Berdasarkan penjelasan di atas, ujian merupakan salah satu faktor penyebab kecemasan yakni fear (ketakutan). Ujian Nasional (UN) merupakan suatu hal yang menimbulkan kecemasan karena Ujian Nasional (UN) dianggap sebagai penentu proses pembelajaran yang panjang yakni 3 sampai dengan 6 tahun (”Pengembangan instrumen”, 2009). Selain itu, Ujian Nasional juga menjadi penentu untuk melanjutkan studi ke tingkat perguruan tinggi (Panggabean, 2006). Dengan pentingnya peran Ujian Nasional (UN) bagi siswa menyebabkan para siswa menjadi cemas karena takut gagal dan tidak lulus dalam Ujian Nasional (UN) (”Jelang UN”, 2009). Dengan adanya kecemasan siswa karena takut gagal dan tidak lulus dalam Ujian Nasional (UN) (”Jelang UN”, 2009) dapat menjadi indikator penerimaan lingkungan sosial. Oleh sebab itu, kegagalan dalam indikator penerimaan lingkungan sosial akan membuat para siswa menjadi cemas.

  Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa kecemasan menghadapi Ujian Nasional (UN) merupakan kondisi di saat kita membuang- buang energi fisik dan psikis yang dihubungkan dengan rasa takut sehingga mengeluhkan bahwa sesuatu yang buruk akan segera terjadi di hari-hari menjelang Ujian Nasional (UN).

  Menurut Daradjat (1996) kecemasan dipengaruhi oleh beberapa faktor salah satunya adalah jenis kelamin. Jenis kelamin manusia ada 2, yakni perempuan dan laki-laki. Perempuan memiliki sifat feminin, peduli dan perhatian. Selain itu, perempuan juga cenderung memusatkan perhatian secara pribadi, melibatkan rasa emosional dengan orang lain, menganggap bahwa kualitas penerimaan dari lingkungan sangat dibutuhkan, dan dipengaruhi oleh tekanan lingkungan. Dengan adanya sifat perempuan yang dipengaruhi oleh tekanan lingkungan dan menganggap bahwa kualitas penerimaan dari lingkungan sangat dibutuhkan, perempuan menjadi lebih sensitif terhadap penerimaan lingkungan sosial, sehingga perempuan cenderung lebih rentan terhadap kecemasan terutama ketika akan merespon dan menghadapi objek-objek yang menjadi penyebab kecemasannya (Retno, 2007).

  Bertolak belakang dengan hal-hal di atas, sifat yang dimiliki laki-laki antara lain sifat maskulin, cenderung mementingkan pada tercapainya apa yang menjadi tujuan dan sasaran ketika mereka berhubungan dengan orang lain. Selain itu, laki-laki juga lebih rileks dalam menghadapi kehidupan sehari-hari, berhubungan dengan orang lain maupun ketika berhadapan dengan lingkungan sekitarnya, serta berani mengambil risiko ketika berhadapan dengan lingkungannya. Dengan adanya sifat rileks dalam menghadapi kehidupan sehari-hari, berhubungan dengan orang lain, maupun ketika berhadapan dengan lingkungan sekitarnya, serta berani mengambil risiko ketika berhadapan dengan lingkungannya membuat laki-laki kurang sensitif terhadap penerimaan lingkungan sosial, sehingga laki-laki cenderung kurang rentan terhadap kecemasan. Selain itu, laki-laki juga cukup tangguh dalam menghadapi dan merespon objek-objek yang menjadi penyebab kecemasannya serta lebih rileks dalam menghadapi kehidupan sehari-hari (Retno, 2007).

  Berawal dari hal-hal tersebut, maka dinamika tingkat kecemasan antara siswa laki-laki dan siswa perempuan menjadi berbeda. Perempuan menganggap bahwa kualitas penerimaan dari lingkungan sangat dibutuhkan oleh perempuan sehingga perempuan yang kurang diterima oleh lingkungan cenderung mengalami kecemasan dibandingkan laki-laki. Selain itu, kecemasan yang dialami siswa perempuan terjadi karena perempuan lebih sensitif sedangkan laki-laki lebih rileks dalam menghadapi kehidupan sehari- hari, berhubungan dengan orang lain, maupun ketika berhadapan dengan lingkungan sekitar (Retno, 2007). Perempuan juga cenderung dipengaruhi tekanan lingkungan dan terlalu mempertimbangkan kejadian yang akan menimpanya, sehingga kurang berani mengambil risiko ketika berhadapan dengan lingkungannya dibanding laki-laki (Kartono, 1977).

  Berdasarkan hal-hal di atas, dapat disimpulkan bahwa siswa perempuan mungkin akan cenderung lebih cemas dalam menghadapi Ujian Nasional (UN) dibandingkan siswa laki-laki karena perempuan lebih sensitif terhadap penerimaan lingkungan sosial yang ditunjukkan dengan adanya sifat yang menganggap bahwa kualitas penerimaan dari lingkungan sangat dibutuhkan, sensitif, kurang berani mengambil risiko ketika berhadapan dengan lingkungan dan dipengaruhi oleh tekanan lingkungan. Oleh sebab itu, jika perempuan tidak lulus atau gagal dalam Ujian Nasional (UN), ia akan merasa tidak diterima oleh lingkungannya.

  Berdasarkan penjelasan di atas, dapat dikatakan bahwa siswa perempuan cenderung memiliki kecemasan yang lebih tinggi dalam menghadapi Ujian Nasional (UN) dibanding siswa laki-laki di SMA.

D. Hipotesis

  Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah : Siswa perempuan memiliki kecemasan yang lebih tinggi dalam menghadapi Ujian Nasional (UN) dibanding siswa laki-laki di SMA.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian inferensial

  kuantitatif komparatif. Penelitian ini bertujuan untuk menguji perbedaan kecemasan menghadapi Ujian Nasional (UN) antara siswa laki-laki dan siswa perempuan di SMA.

  B. Identifikasi Variabel Penelitian

  Variabel bebas : jenis kelamin Variabel tergantung : kecemasan menghadapi Ujian Nasional (UN)

  C. Definisi Operasional Variabel Penelitian

  Variabel dalam penelitian ini adalah variabel jenis kelamin dan kecemasan menghadapi Ujian Nasional (UN):

  1. Jenis kelamin Jenis kelamin adalah ciri fisik yang dimiliki seseorang yang akan mengelompokkan individu dalam kelompok laki-laki atau perempuan.

  Pengelompokan jenis kelamin diperoleh dari identitas subyek penelitian yang diisikan pada bagian identitas skala kecemasan yang diberikan.

  2. Kecemasan menghadapi Ujian Nasional (UN) Kecemasan merupakan kondisi di saat kita membuang-buang energi fisik dan psikis yang dihubungkan dengan rasa takut sehingga mengeluhkan bahwa sesuatu yang buruk akan segera terjadi. Jadi, kecemasan menghadapi Ujian Nasional (UN) merupakan kondisi di saat kita membuang-buang energi fisik dan psikis yang dihubungkan dengan rasa takut sehingga mengeluhkan bahwa sesuatu yang buruk akan segera terjadi di hari-hari menjelang Ujian Nasional (UN).

  Kecemasan menghadapi Ujian Nasional (UN) diukur dengan skala kecemasan dengan aspek-aspek kecemasan berdasarkan teori milik Mahler (dalam Retno, 2007). Skor yang tinggi pada skala berarti kecemasannya tinggi, sedangkan skor yang rendah pada skala berarti kecemasannya rendah.

  Aspek-aspek dalam kecemasan meliputi :

  a. Aspek afektif (emosional), yaitu munculnya kecemasan yang berkaitan dengan perasaan individu terhadap suatu hal yang dialami secara sadar dan mempunyai ketakutan yang mendalam. Misalnya cenderung selalu merasa khawatir akan sesuatu hal yang menimpanya, mudah tersinggung, tidak sabar, sering mengeluh, dan gampang marah.

  b. Aspek kognitif, yaitu ketakutan yang meningkat akhirnya mengganggu kemampuan seseorang untuk berpikir jernih dalam memecahkan masalah atau menangani tuntutan lingkungan. Aspek ini berkaitan dengan kekhawatiran individu terhadap konsekuensi- konsekuensi yang mungkin dialami, apabila meningkat dapat mengganggu kemampuan kognitif individu. Seperti sulit berkonsentrasi, sulit membuat keputusan, khawatir terhadap sesuatu yang mengerikan dan seolah-olah akan terjadi, pelupa, pikiran kacau, mudah panik, dan bingung.

  c. Aspek fisiologis, yaitu respon tubuh terhadap ketakutan untuk mengerahkannya menghadapi keadaan yang tidak menyenangkan.

  Secara fisik individu akan tampak berkeringat walaupun udara tidak panas, meningkatnya detak jantung, telapak kaki dingin, gangguan pencernaan, mulut dan tenggorokan terasa kering, muka tampak pucat, sering buang air kecil, otot dan persendian terasa kaku, sering mengalami gangguan tidur (susah tidur), mudah terkejut, tidak rileks, menggerakkan anggota tubuh secara berlebihan, membenahi dandanan atau tatanan rambut yang masih rapi.

D. Subyek Penelitian

  Subyek penelitian adalah sumber utama data penelitian, yaitu yang memiliki data mengenai variabel yang diteliti. Subyek penelitian pada dasarnya adalah yang akan dikenai kesimpulan hasil penelitian (Azwar, 2000). Subyek dalam penelitian ini adalah siswa laki-laki dan siswa perempuan kelas XII SMA Pangudi Luhur Van Lith, Muntilan.

  Teknik pengambilan subyek menggunakan metode purposive sampling yaitu mengambil subyek dengan kriteria tertentu (Azwar, 2000).

  Adapun kriteria pemilihan subyek dalam penelitian ini berdasarkan :

  1. Usia dan tingkat pendidikan Subyek adalah individu dengan usia 17 sampai 18 tahun, dan duduk di kelas XII.

  2. Semester ini akan menghadapi Ujian Nasional (UN). Peneliti memilih SMA Pangudi Luhur Van Lith, Muntilan sebagai subyek penelitian karena meskipun SMA tersebut merupakan SMA favorit dan cukup terkenal dengan kualitasnya, SMA tersebut tetap memiliki catatan kelam, yakni ada 8 orang yang tidak lulus di tahun 2006 sehingga harus mengikuti ujian ulangan. Catatan ini digunakan peneliti sebagai landasan dalam melakukan penelitian. Selain itu, karena keterbatasan waktu dalam pengambilan data serta mudahnya perizinan yang didapat dari SMA ini membuat peneliti memutuskan untuk mengadakan penelitian di SMA Pangudi Luhur Van Lith Muntilan.

E. Metode dan Alat pengumpulan Data

  1. Metode Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini adalah dengan cara menyebarkan skala kepada subyek.

  2. Alat Pengumpulan Data Alat pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala Likert. Dalam skala Likert terdapat lima alternatif pilihan jawaban, namun penelitian ini hanya menggunakan empat alternatif pilihan jawaban yakni Tidak Pernah (TP), Jarang (JR), Sering (S), dan Sangat Sering (SS) karena menurut Azwar (1999) alternatif pilihan jawaban tengah yakni Kadang-kadang (K) diwujudkan sebagai N (netral) atau “tidak menentukan pendapat”. Azwar (1999) juga menganjurkan supaya jangan memberikan pilihan tengah sebagai “Ragu-ragu” karena respon yang diinginkan oleh peneliti adalah respon yang diyakini oleh subyek. Skala dalam penelitian ini diberi nama skala kecemasan menghadapi Ujian Nasional (UN) yang disusun berdasarkan definisi operasional variabel (kecemasan) yang terdiri dari aspek afeksi, kognisi dan fisiologis.

  

Tabel.1

Tabel Spesifikasi Skala Kecemasan Menghadapi Ujian Nasional (UN)

  No. Aspek Favorabel Unfavorabel Total

  1. Kognitif 1, 9, 16, 27, 34, 38, 42, 8, 12, 25, 26, 31, 49, 50, 55, 56, 57, 66, 43, 61, 62, 75, 76, 30 item

  71, 83,dan 87 77, 81, 82, dan 89

  2. Afektif 7, 14, 17, 18, 23, 24, 4, 6, 11, 28, 37, 39, 30 item 40, 41, 64, 65, 67, 68, 44, 45, 53, 63, 69, 70,

  78, 79 dan 84 72, 85, dan 90

  3. Fisiologis 3, 5, 13, 15, 22, 29, 30, 2, 10, 19, 20, 21, 33, 30 item 32, 46, 47, 51, 54, 58, 35, 36, 48, 52, 60, 74,

  59, 73, dan 86 80, dan 88 Jumlah 48 item 42 item 90 item Skala kecemasan menghadapi Ujian Nasional (UN) tersebut terdiri dari pernyataan yang favorable dan unfavorable dengan empat alternatif jawaban, yaitu: sangat sering (SS), sering (S), jarang (JR), dan tidak pernah (TP). Pemberian skor skala kecemasan dimulai dari angka 1 sampai 4 untuk item yang favorable. Sedangkan untuk item yang unfavorable, pemberian skor dimulai dari angka 4 sampai 1. Di bawah ini adalah tabel pemberian skor skala kecemasan dalam menghadapi Ujian Nasional (UN):

  Tabel.2 Pemberian Skor Skala Kecemasan Menghadapi Ujian Nasional (UN)

  Pernyataan Jawaban

  Favorable Unfavorable

  Sangat sering

  4

  1 Sering

  3

  2 Jarang

  2

  3 Tidak pernah

  1

  4 (Azwar, 2000)

F. Metode Analisis Data

  1. Uji Validitas Tujuan dari uji validitas adalah untuk mengetahui dan menentukan apakan item yang tersusun layak untuk diuji cobakan dan mampu memperoleh hasil yang sesuai dengan tujuan penelitian. Pada penelitian ini, validitas yang diuji adalah validitas isi. Uji validitas isi dilakukan untuk mengetahui sejauh mana isi dalam penelitian ini dapat mengukur apa yang akan diukur (Azwar, 2000).

  2. Uji Reliabilitas Uji reliabilitas dilakukan untuk mengukur keajegan hasil pengukuran. Dengan kata lain, uji reliabilitas diperlukan untuk melihat sejauh mana pengukuran itu dapat memberikan hasil yang relatif sama jika dilakukan pengukuran kembali dengan alat ukur yang sama.

  Reliabilitas dinyatakan oleh koefisien reliabilitas (rxx’) yang angkanya berada dalam rentang 0 – 1,00. Semakin koefisien reliabilitas mendekati 1,00 berarti semakin tinggi reliabilitasnya, sebaliknya semakin mendekati angka 0 berarti semakin rendah reliabilitasnya (Azwar, 2000). Di bawah ini disajikan tabel nilai koefisien berdasarkan nilai alpha yang dikelompokkan menjadi lima kelas:

  Tabel.3 Tingkat Reliabilitas berdasarkan Nilai Koefisien Alpha

  Koefisien Alpha Tingkat Reliabilitas 0,800 - 1,00 Sangat tinggi

  0,600 - 0,799 Tinggi 0,400 - 0,599 Cukup 0,200 - 0,399 Rendah kurang dari 0,200 Sangat rendah

  (Jogiyanto, 2008)

  3. Uji Asumsi

  a. Uji Normalitas Uji normalitas diperlukan agar dapat diketahui apakah sebaran untuk suatu variabel yang diteliti normal atau tidak.

  Karena hal ini sangat terkait dengan jenis statistik yang akan digunakan, parametrik atau non-parametrik. Pengujian normalitas mempergunakan Kolmogorof-Smirnov (K-S) dua ekor. Kriteria yang digunakan : p > 0,05 maka sebaran item dikatakan normal (Azwar, 2000).

  b. Uji Homogenitas Homogenitas dilakukan untuk mengetahui apakah varians dari sampel yang akan diuji tersebut sama. Cara melihat homogenitas yaitu dengan melihat nilai probabilitasnya. Apabila nilai probabilitasnya lebih besar dari 0,05 (p > 0,05) maka kedua kelompok sampel memiliki varian yang sama. Begitu pula sebaliknya, jika probabilitasnya kurang dari 0,05 (p < 0,05) maka kedua kelompok sampel memiliki varian yang tidak sama (Azwar, 2000).

  4. Uji Hipotesis Uji hipotesis penelitian ini menggunakan uji-t (Independent

  Sample t-test ) jika data berdistribusi normal dan menggunakan uji Mean Whitney Test jika datanya tidak berditribusi normal (Azwar, 2000).

  Untuk memudahkan penghitungan, analisis uji-t pada penelitian ini menggunakan program SPSS 15.0

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Persiapan dan Pelaksanaan Penelitian

  1. Persiapan Persiapan yang dilakukan untuk melaksanakan penelitian ini meliputi persiapan administrasi dan persiapan alat ukur. Persiapan administrasi berupa permohonan ijin untuk pengambilan data. Permohonan ijin diperoleh dari dosen pembimbing skripsi dan dekan fakultas psikologi. Setelah surat ijin dari fakultas diperoleh, kemudian meminta ijin kepada lembaga yang bersangkutan, yakni SMA Pangudi Luhur Van Lith Muntilan untuk melakukan proses pengambilan data (penelitian).

  Penyusunan alat ukur dimulai dengan pembuatan tabel spesifikasi skala kecemasan menghadapi Ujian Nasional (UN). Setelah tabel spesifikasi dibuat kemudian penyusunan butir item. Butir item meliputi pernyataan favorable dan pernyataan unfavorable. Butir item dinyatakan layak sebagai alat ukur jika sudah diuji validitas dan reliabilitasnya. Maka untuk menentukan kelayakan alat ukur tersebut, item-item pernyataan dikenai uji validitas dan uji reliabilitas.

  2. Pelaksanaan Penelitian dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 13 Februari

  2010. Subyek dalam penelitian ini adalah siswa laki-laki dan siswa perempuan yang duduk di kelas XII SMA Pangudi Luhur Van Lith, Muntilan, yang berjumlah 110 orang dengan rincian 55 siswa laki-laki dan 55 siswa perempuan.

  Penelitian ini dilakukan dengan memberikan skala pada subyek penelitian sebanyak 110 eksemplar. Setelah dilakukan proses seleksi ternyata semua skala memenuhi kriteria sehingga semua skala dapat diikut sertakan dalam analisis data.

  B. Deskripsi Data Penelitian

  Subyek dalam penelitian ini berjumlah 110 orang, dengan perbandingan siswa laki-laki sebanyak 55 orang dan siswa perempuan sebanyak 55 orang. Usia subyek penelitian berkisar antara 17 - 18 tahun, dengan kriteria tingkat pendidikan yang sama yaitu siswa kelas XII SMA Pangudi Luhur Van Lith, Muntilan dan semester ini akan menempuh Ujian Nasional (UN).

  C. Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur

  1. Uji Validitas Tujuan dari uji validitas adalah untuk mengetahui dan menentukan apakan item yang tersusun layak untuk diuji cobakan dan mampu memperoleh hasil yang sesuai dengan tujuan penelitian. Pada penelitian ini, validitas yang diuji adalah validitas isi. Uji validitas isi dilakukan untuk mengetahui sejauh mana isi dalam penelitian ini dapat mengukur apa yang akan diukur (Azwar, 2000).

  2. Korelasi Item Total Pengujian ini menggunakan taraf signifikasi 5% dengan N=110 yang terbagi dalam 55 siswa laki-laki dan 55 siswa perempuan. Item

  xy

  yang dianggap valid adalah item yang memiliki r ≥ 0,3. Dari hasil perhitungan, diperoleh koefisien korelasi item total yang berkisar antara 0,303 - 0,637. Hasil pengujian dari 90 item, terdapat 22 item yang gugur dengan perbandingan jumlah item di masing-masing aspek sebagai berikut :

  a. Aspek kognitif : 25 item

  b. Aspek afektif : 28 item

  c. Aspek fisiologis : 15 item Karena perbandingan jumlah item yang ada pada masing- masing aspek tidak seimbang, maka beberapa item yang memiliki koefisien korelasi item total terendah digugurkan untuk menyamaratakan jumlah item di masing-masing aspek. Susunan tabel spesifikasi item-item yang sahih adalah sebagai berikut :

  Tabel.4

Tabel Spesifikasi Skala Kecemasan Menghadapi Ujian Nasional (UN)

Setelah Uji Coba

  No. Aspek Favorabel Total Unfavorabel

  1. Kognitif 9, 16, 34, 38, 42, 55, 56, 57 15 item 61, 62, 75, 76, 77, 81, dan 82

  2. Afektif 7, 14, 17, 18, 23, 24, 41, 63, 15 item 64, 65, 67, 68, 70, 78, dan 84

  3. Fisiologis 10, 13, 15, 19, 20, 30, 33, 36, 51, 15 item 52, 54, 60, 74, 86, dan 88

  Jumlah 45 item

  3. Reliabilitas Uji reliabilitas skala kecemasan para siswa yang dihitung menggunakan pendekatan koefisien reliabilitas Alpha. Penghitungan reliabiltas Alpha ini menggunakan SPSS for Windows versi 15,00. Koefisien reliabilitas yang diperoleh sebesar 0,932 (dapat dilihat pada Lampiran 1, halaman 64). Jadi dapat dikatakan bahwa reliabilitas skala kecemasan menghadapi Ujian Nasional (UN) tinggi karena syarat nilai Alpha ฀ 0,50 terpenuhi.

D. Uji Asumsi

  1. Uji Normalitas Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui normal tidaknya sebaran data yang akan dianalisis (Arikunto, 2003). Uji normalitas dilakukan dengan menggunakan Kolmogorov-Smirnov

  Test dari program SPSS 15 for Windows, dengan melihat nilai

  probabilitasnya. Apabila nilai probabilitasnya sama dengan 0,05 (p=0,05) atau lebih besar dari 0,05 (p > 0,05), maka sebaran skor dinyatakan normal. Sebaliknya, apabila nilai probabilitasnya kurang dari 0,05 (p < 0,05), maka sebaran skor dinyatakan tidak normal. Uji normalitas dilakukan pada masing-masing kelompok.

  Berdasarkan hasil uji normalitas, diketahui bahwa nilai probabilitas pada siswa laki-laki adalah 0,866 (dapat dilihat pada Lampiran 2, halaman 65), sehingga p > 0,05 atau 0,866 > 0,05. Dengan demikian sebaran skor pada siswa laki-laki dinyatakan normal. Begitu pula pada siswa perempuan, nilai probabilitasnya adalah 0,819 (dapat dilihat pada Lampiran 2, halaman 66). Sehingga p > 0,05 atau 0,819 > 0,05 dan dengan demikian sebaran skor pada siswa perempuan dinyatakan normal.

  2. Uji Homogenitas Uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui apakah data varian sampel yang dikomparasikan itu homogen atau tidak

  (Sugiyono dan Wibowo, 2002). Uji homogenitas dilakukan dengan menggunakan program SPSS 15.0 for Windows yaitu melalui

  Levene’s Test for Equality Variance . Analisis Levene’s Test for Equality Variance dimaksudkan untuk mengetahui apakah varians

  populasi sama atau tidak (Purwanto dan Dyah, 2007). Cara melihat homogenitasnya yaitu dengan melihat nilai probabilitasnya.

  Apabila nilai probabilitasnya lebih besar dari 0,05 (p > 0,05) maka kedua kelompok sampel memiliki varians yang sama. Begitu pula sebaliknya, jika probabilitasnya kurang dari 0,05 (p < 0,05) maka kedua kelompok sampel memiliki varians yang tidak sama.

  Berdasarkan perhitungan uji homogenitas, diperoleh probabilitas sebesar 0,403 (dapat dilihat pada Lampiran 2, halaman 66). Artinya bahwa nilai probabilitas tersebut lebih besar dari 0,05 (0,403 > 0,05). Maka, data yang digunakan dalam penelitian ini memiliki varians yang sama dan berasal dari populasi yang sama.

E. Hasil

  1. Uji Hipotesis Uji hipotesis dilakukan setelah melakukan uji normalitas dan uji homogenitas. Penghitungan uji hipotesis dilakukan dengan menggunakan Independent Sample T-Test dengan bantuan program

  SPSS 15.0 for Windows . Hipotesis dalam penelitian ini menyatakan

  bahwa siswa perempuan memiliki kecemasan yang lebih tinggi dalam menghadapi Ujian Nasional (UN) dibandingkan siswa laki-laki di SMA.

  Dari Tabel Skor Rata-rata Siswa Laki-laki dan Siswa Perempuan (Lampiran 3, halaman 67), dapat dilihat bahwa dari 110 subyek yang terdiri dari 55 siswa laki-laki dan 55 siswa perempuan dikenai pengukuran skala kecemasan menghadapi Ujian Nasional (UN). Dari kelompok siswa laki-laki menghasilkan mean sebesar 94,36, dan siswa perempuan sebesar 104,45. Berdasarkan hasil uji hipotesis dan tabel Uji-t di atas tampak bahwa t hitung sebesar 3,388 (dapat dilihat pada Lampiran 3, halaman 67), sedangkan nilai p diperoleh angka sebesar 0,001. Karena p

  ฀ 0,05 atau 0,001 ฀ 0,05, maka dinyatakan signifikan. Pemilihan tes signifikan one tailed karena peneliti sudah memihak pada salah satu dari dua kelompok penelitian, yaitu siswa perempuan lebih cemas menghadapi Ujian Nasional (UN) dibanding siswa laki-laki. Oleh sebab itu, nilai p yang diperoleh dikalikan dua sehingga p menjadi 0,002.

  Pada Tabel Skor Rata-rata Siswa Laki-laki dan Siswa Perempuan (Lampiran 3, halaman 67) terlihat bahwa skor rata-rata siswa perempuan lebih tinggi dari skor rata-rata siswa laki-laki. Hal ini berarti bahwa siswa perempuan memiliki kecemasan yang lebih tinggi dalam menghadapi Ujian Nasional (UN) dibanding siswa laki-laki.

  Oleh sebab itu, hipotesis dalam penelitian ini terbukti.

  2. Hasil Tambahan Uji tambahan dalam penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apakah keseluruhan subyek di SMA memiliki kecemasan yang tinggi ketika menghadapi Ujian Nasional (UN) yakni dengan membandingkan antara mean empiris siswa laki-laki dan siswa perempuan di SMA (ME) dengan Mean Teoritis (MT). Jika ME

  ฀ MT, maka keseluruhan subyek di SMA memiliki kecemasan yang tinggi ketika menghadapi Ujian Nasional (UN). Untuk mengetahui besar MT digunakan rumus sebagai berikut :

  Sedangkan berdasarkan hasil perhitungan, diperoleh Mean Empiris siswa laki-laki dan siswa perempuan (ME), sebagai berikut :

  Mean Std. Error JK N Empiris Std. Deviation Mean

  Skor Perempuan 55 104.45 16.340 2.203 laki-laki

  55 94.36 14.863 2.004 Berdasarkan hasil perhitungan di atas, dapat diketahui bahwa,

  ME ฀ MT

  ME siswa perempuan 104,45 ฀ 112,5

  ME siswa laki-laki 94,36 ฀ 112,5

  Hasil penelitian juga menghasilkan p siswa laki-laki sebesar 0,000 dan p siswa perempuan sebesar 0,000 (Lampiran 4, halaman 68).

  Hal ini berarti bahwa keseluruhan subyek di SMA memiliki kecemasan yang rendah ketika menghadapi Ujian Nasional (UN).

  3. Pembahasan Berdasarkan temuan empiris dari hasil penelitian ini, hipotesis yang diajukan diterima, yakni siswa perempuan memiliki kecemasan yang lebih tinggi dalam menghadapi Ujian Nasional (UN) dibanding siswa laki-laki di SMA.

  Dari hasil perhitungan analisis statistik, dapat dilihat bahwa dari 110 subyek yang dikenai pengukuran skala kecemasan menghadapi Ujian Nasional (UN), dari kelompok siswa laki-laki menghasilkan mean sebesar 94,36, dan siswa perempuan sebesar 104,45. Berdasarkan hasil uji hipotesis dan tabel Uji-t di atas tampak bahwa t hitung sebesar 3,388, sedangkan nilai p diperoleh angka sebesar 0,002. Karena p

  ฀ 0,05 atau 0,002 ฀ 0,05, maka dinyatakan signifikan. Hal ini berarti bahwa ada perbedaan kecemasan yang signifikan dalam menghadapi Ujian Nasional (UN) antara siswa laki- laki dan siswa perempuan di SMA. Pemilihan tes signifikan one tailed karena peneliti sudah memihak pada salah satu dari dua kelompok penelitian, yaitu siswa perempuan memiliki kecemasan yang lebih tinggi dalam menghadapi Ujian Nasional (UN) dibanding siswa laki- laki. Hal ini dibuktikan dengan adanya skor rata-rata siswa perempuan yang lebih besar dibanding skor rata-rata siswa laki-laki.

  Siswa perempuan memiliki kecemasan yang lebih tinggi dalam menghadapi Ujian Nasional (UN) dibanding siswa laki-laki karena siswa perempuan lebih sensitif terhadap penerimaan lingkungan sosial yang ditunjukkan dengan adanya sifat yang menganggap bahwa kualitas penerimaan dari lingkungan sangat dibutuhkan, sensitif, kurang berani mengambil risiko ketika berhadapan dengan lingkungan dan dipengaruhi oleh tekanan lingkungan (Retno, 2007). Oleh sebab itu, jika siswa perempuan tidak lulus atau gagal dalam Ujian Nasional (UN), ia akan merasa tidak diterima oleh lingkungannya.

  Sedangkan siswa laki-laki cenderung tidak mudah cemas karena laki-laki memiliki sifat rileks dalam menghadapi kehidupan sehari-hari, berhubungan dengan orang lain maupun ketika berhadapan dengan lingkungan sekitarnya, serta berani mengambil risiko ketika berhadapan dengan lingkungannya. Dengan adanya sifat rileks dalam menghadapi kehidupan sehari-hari, berhubungan dengan orang lain, maupun ketika berhadapan dengan lingkungan sekitarnya, serta berani mengambil risiko ketika berhadapan dengan lingkungannya membuat siswa laki-laki kurang sensitif terhadap penerimaan lingkungan sosial, sehingga kurang rentan terhadap kecemasan (Retno, 2007). Selain itu, laki-laki juga cukup tangguh dalam menghadapi dan merespon objek- objek yang menjadi penyebab kecemasannya yakni Ujian Nasional (UN)

  Selain ada perbedaan kecemasan yang signifikan dalam menghadapi Ujian Nasional (UN) antara siswa laki-laki dan siswa perempuan di SMA, siswa perempuan memiliki kecemasan yang lebih tinggi dalam menghadapi Ujian Nasional (UN) dibanding siswa laki- laki, diperoleh pula hasil yang menyatakan bahwa keseluruhan subyek memiliki kecemasan yang rendah ketika menghadapi Ujian Nasional (UN). Menurut Santrock (2009), cara efektif untuk mempersiapkan para siswa ketika akan menghadapi ujian adalah dengan cara memastikan bahwa siswa mempunyai ketrampilan untuk mengikuti ujian dan mengkomunikasikan sikap positif mengenai ujian kepada siswa. Program bimbingan merupakan salah satu cara yang efektif untuk dapat mengurangi kecemasan dan keetakutan para siswa ketika akan menghadapi ujian serta dapat meningkatkan nilai ujian siswa.

  Dalam era pengujian penentuan, nilai pada ujian terstandardisasi dapat mempunyai konsekuensi serius bagi siswa, guru dan sekolah, banyak sekolah membentuk program yang dirancang untuk meningkatkan ketrampilan siswa mengikuti ujian (Payne dalam Santrock, 2009). Berdasarkan pernyataan tersebut, setiap sekolah memiliki kebijakan tersendiri dalam mempersiapkan siswa ketika akan menghadapi Ujian Nasional (UN).

  Salah satu kebijakan di SMA Pangudi Luhur Van Lith Muntilan adalah mengadakan program bimbingan. Menurut Santrock (2009), cara efektif untuk mempersiapkan para siswa ketika akan menghadapi ujian adalah dengan cara memastikan bahwa siswa mempunyai ketrampilan untuk mengikuti ujian dan mengkomunikasikan sikap positif mengenai ujian kepada siswa.

  Program bimbingan merupakan salah satu cara yang efektif untuk dapat mengurangi kecemasan dan ketakutan para siswa ketika akan menghadapi ujian serta dapat meningkatkan nilai ujian siswa.

  Program bimbingan di SMA Pangudi luhur Van Lith Muntilan terwujud dalam mata pelajaran Bimbingan Konseling (BK). Program bimbingan ini dapat dilakukan oleh guru BK di kelas maupun secara individu. Dalam program ini, guru BK memberikan banyak refleksi yang membangun dan menguatkan para siswa. Selain memberikan refleksi, guru BK juga memberikan banyak permainan yang dapat membuat para siswa menjadi lebih rileks di hari-hari menjelang Ujian Nasional (UN). Program bimbingan ini dilakukan secara kontinu sehingga para siswa menjadi lebih siap untuk menghadapi Ujian Nasional (UN).

  Selain program bimbingan, kebijakan lain yang ada di SMA Pangudi Luhur Van Lith Muntilan dengan mengadakan program yang dapat melatih para siswa mempersiapkan Ujian Nasional (UN).

  Program ini diwujudkan dengan adanya try out yang dilakukan sejak 3 bulan mendekati Ujian Nasional (UN). Program ini dapat menjadi gambaran para siswa ketika akan benar-benar menghadapi Ujian Nasional (UN), sehingga para siswa menjadi lebih siap menghadapi Ujian Nasional (UN).

  Selain program bimbingan dan pelatihan untuk menghadapi Ujian Nasional (UN), SMA Pangudi Luhur Van Lith Muntilan merupakan sekolah berasrama. Oleh sebab itu, di asrama terdapat waktu wajib untuk belajar. Hal ini merupakan salah satu kebijakan yang ada di SMA Pangudi Luhur Van Lith Muntilan. Hal tersebut diperkuat dengan adanya waktu khusus bagi siswa SMA Pangudi Luhur Van Lith Muntilan untuk belajar (lihat Lampiran 6, halaman 82). Waktu belajar ini dapat dimanfaatkan secara efektif oleh para siswa untuk belajar dan mempersiapkan diri dalam menghadapi Ujian Nasional (UN).

  Dengan adanya program bimbingan yang kontinu, program yang melatih para siswa untuk menghadapi Ujian Nasional (UN) yang dilakukan sejak 3 bulan menjelang Ujian Nasional (UN) serta dengan adanya waktu tertentu yang secara kontinu dan efektif dimanfaatkan untuk belajar dan mempersiapkan diri dalam menghadapi Ujian Nasional (UN) membuat siswa laki-laki dan siswa perempuan kelas

  XII SMA Pangudi Luhur Van Lith Muntilan memiliki kecemasan yang rendah dalam menghadapi Ujian Nasional (UN).

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan sebelumnya, maka

  dapat diambil kesimpulan ada perbedaan kecemasan yang signifikan dalam menghadapi Ujian Nasional (UN) antara siswa laki-laki dan siswa perempuan di SMA. Siswa perempuan memiliki kecemasan yang lebih tinggi dalam menghadapi Ujian Nasional (UN) dibanding siswa laki-laki di SMA. Kecemasan pada siswa perempuan timbul sebagai akibat dari adanya sifat-sifat perempuan yang berkaitan dengan indikator penerimaan lingkungan sosial, yakni sensitif, kurang berani mengambil risiko ketika berhadapan dengan lingkungannya, dipengaruhi oleh tekanan lingkungan, dan menganggap bahwa kualitas penerimaan lingkungan sangat dibutuhkan. Hal inilah yang membuat kecemasan siswa perempuan dalam menghadapi Ujian Nasional (UN) dibanding siswa laki-laki.

  Dari hasil penelitian dan pembahasan sebelumnya juga dapat disimpulkan bahwa keseluruhan subyek kelas XII SMA Pangudi Luhur Van Lith Muntilan memiliki kecemasan yang rendah dalam menghadapi Ujian Nasional (UN) karena di SMA tersebut terdapat program bimbingan yang diadakan secara kontinu, program yang melatih para siswa untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi Ujian Nasional (UN), serta terdapat waktu belajar tertentu yang secara kontinu dan secara efektif dapat dimanfaatkan para siswa untuk belajar dan mempersiapkan diri menghadapi Ujian Nasional (UN).

B. Saran

  1. Bagi Siswa

  a. Siswa perempuan Berdasarkan hasil penelitian dikatahui bahwa ada perbedaan kecemasan yang signifikan dalam menghadapi Ujian

  Nasional (UN) antara siswa laki-laki dan perempuan di SMA, kecemasan siswa perempuan lebih tinggi dibanding siswa laki-laki.

  Dengan demikian, penulis menyarankan bagi para siswa perempuan untuk mengurangi sifat sensitifnya, lebih berani mengambil risiko ketika berhadapan dengan lingkungannya, dan mengurangi anggapan dalam dirinya bahwa dirinya dipengaruhi oleh tekanan lingkungan serta kualitas penerimaan lingkungan sangat dibutuhkan.

  b. Siwa laki-laki Untuk siswa laki-laki diharapkan untuk tetap berani mengambil risiko ketika berhadapan dengan lingkungannya dan rileks dalam menghadapi kehidupan sehari-hari, berhubungan dengan orang lain dan ketika berhadapan dengan lingkungannya.

  2. Bagi Sekolah Penulis menyarankan kepada sekolah khususnya SMA Pangudi

  Luhur Van Lith Muntilan untuk tetap mengadakan program bimbingan secara kontinu, program yang melatih para siswa untuk dapat mempersiapkan diri ketika akan menghadapi Ujian Nasional (UN) dan waktu belajar tertentu di asrama yang dialokasikan secara khusus untuk belajar para siswa sehingga para siswa dapat secara efektif memanfaatkan waktu tersebut untuk belajar dan mempersiapkan diri menghadapi Ujian Nasional (UN). Selain itu, penulis juga menyarankan supaya SMA Pangudi Luhur Van Lith Muntilan mencari alternatif program lain yang secara khusus dapat mengurangi kecemasan siswa perempuan.

  3. Bagi Instansi Pendidikan dan Pemerintah Penulis menyarankan dan memberi masukan bagi instansi pendidikan dan pemerintah untuk meninjau kembali keefektifan sistem evaluasi pendidikan di Indonesia khususnya evaluasi di akhir jenjang tingkat pendidikan menengah yakni Ujian Nasional (UN).

DAFTAR PUSTAKA

  Arikunto, Suharsimi. (2003). Manajemen penelitian edisi baru. Jakarta: Rineka Cipta. Azwar, Saifuddin. (1999). Penyusunan skala psikologi. Yogyakarta : Pustaka

  Pelajar Azwar, Saifuddin. (2000). Reliabilitas dan validitas. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

  Buss, Arnold H. (1995). Personality : temperament, social behavior and the self.

  Usa : Allyn &Bacon. Darajat, Z. (1996). Kesehatan mental. Jakarta : Gunung Agung. Dariyo, Agoes. (2004). Psikologi perkembangan remaja. Jakarta : Ghalia Indonesia.

  Gilligan, Carol. (1997). Dalam suara yang lain. Jakarta : Penerbit Pustaka Tangga. Gunarsa, S.Y dan Gunarsa, D.S. (1981). Psikologi remaja. Jakarta : PT Gramedia. Hurlock, Elizabeth, B. (1999). Psikologi perkembangan : ”suatu pendekatan sepanjang rentang kehidupan” (terjemahan Istiwidayanti & Soedjarno) .

  Jakarta : Erlangga. Jelang UN Siswa di Medan Cemas. (2009, 19 April). Diunduh tanggal 18 Januari

  2010 dari http://sains.kompas.com/read/xml/2009/04/19/14492627/jelang.un.siswa.d i.medan.cemas.

  Jogiyanto. (2008). Pedoman survei kuesioner: mengembangkan kuesioner,

  mengatasi bias dan meningkatkan respon . Yogyakarta: Badan Penerbit Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM.

  Kartono, K. (1977). Gangguan-gangguan psikis. Bandung. Penerbit Sinar Baru. Kristiyani, Titik (2009, 12 November). Mengatasi cemas saat anak hendak ujian.

  Diunduh tanggal

  13 November 2009 dari http://e smartschool.co.id/index.php?option=com_content&task=view&id=355&It emid=1 Mengatasi sindrom Ujian nasional. (2010, 19 Maret). Diunduh tanggal 17 April 2010

  dari http://niahidayati.net/mengatasi-sindrom-ujian-nasional.html

  Nevid, Rathus & Greene. (2005). Psikologi abnormal, Edisi 5 Jilid 1. Jakarta : Penerbit Erlangga. Qomari, Rohmad. (2008). Pengembangan instrumen evaluasi domain afektif.

  Jurnal pemikiran alternatif pendidikan INSANIA . Vol. 13, Januari-April 2008, 87-109.

  Siswa Mulai Dilanda Kecemasan Menjelang Ujian Nasional. (2006, 17 April).

  Suara Merdeka . h.15.

  Ujian Nasional Bikin Cemas. (2009, 20 April). Diunduh tanggal 12 November 2009 dari http://www.smkn1-mrb.sch.id/v1.5/component/content/article/1- latest-news/63-un-bikin-cemas.html

  Widdiharto, Rachmadi & Kusaeri (2009, 4 April). Pemilu, ujian nasional (unas)

  dan masyarakat. Diunduh tanggal

  6 November 2009 dari http://222.124.164.132/web/detail.php?sid=195544&actmenu=39 Panggabean, Frisca. (2006). Studi deskriptif mengenai kecemasan pelajar kelas 3

  smu ketika hendak melanjutkan studi ke perguruan tinggi . Skripsi tidak diterbitkan, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, Indonesia.

  Purwanto, Erwan Agus., Dyah Ratih Sulistyastuti. (2007). Metode penelitian kuantitatif untuk administrasi publik dan masalah-masalah sosial .

  Yogyakarta: Penerbit Gava Media. Retno, Dewie. (2007). Perbedaan tingkat kecemasan antara siswa laki-laki dan

  siswa perempuan sma negri 1 sewon-bantul yogyakarta . Skripsi tidak diterbitkan, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, Indonesia.

  Santrock, John. W. (2009). Psikologi pendidikan (educational psychology). Edisi 3 Buku 2. Jakarta : Salemba Humanika. Sarwono, S. (1989). Psikologi remaja. Jakarta : Rajawali Pers. Sugiyono dan Wibowo, Eri. (2002). Statistika untuk penelitian. Bandung: Alfabeta. Suparno, Suhaenah. (2001). Membangun kompetensi belajar. Jakarta : Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional. Wangmuba, (2009, 13 Februari). Faktor-faktor penyebab kecemasan. Diunduh tanggal 16 November 2009 dari http://wangmuba.com/2009/02/13/faktor- faktor-penyebab-kecemasan/.

  LAMPIRAN 1 Korelasi Item Total dan Reliabilitas Tabel Reliabilitas Data Utuh Reliability Statistics

  Cronbach's Alpha N of Items

  .942

  90 Tabel Korelasi Item Total Data Utuh

  Item-Total Statistics

  Scale Mean if Item Deleted

  Scale Variance if Item Deleted Corrected

  Item-Total Correlation

  Cronbach's Alpha if Item

  Deleted item1 193.61 633.415 .408 .941 item2 192.53 650.710 -.092 .943 item3 194.11 637.493 .252 .942 item4 193.69 631.555 .465 .941 item5 194.22 639.860

  .185

  .942 item6 193.14 636.614 .306 .941 item7 193.20 625.483 .569 .940 item8 193.66 634.886 .355 .941 item9 193.35 624.690 .565 .940 item10 193.47 625.664 .356 .942 item11 193.46 638.728 .252 .942 item12 193.64 631.573 .435 .941 item13 194.03 627.274 .407 .941 item14 193.57 625.421 .534 .940 item15 194.05 632.859 .409 .941 item16 193.52 626.894 .509 .941 item17 193.75 626.866 .605 .940 item18 193.74 626.728 .535 .940 item19 193.19 636.303 .303 .941 item20 193.70 633.882 .381 .941 item21 194.08 639.342 .197 .942 item22 193.69 641.078

  .174

  .942 item23 193.69 629.720 .489 .941 item24 193.52 627.738 .480 .941 item25 193.27 638.163

  .224

  .942 item26 193.54 635.370 .321 .941 item27 193.45 630.911 .426 .941 item28 193.93 631.499 .474 .941 item29 194.54 642.269 .150 .942 item30 194.24 633.301 .351 .941 item31 193.70 640.707 .182 .942 item32 194.24 635.118 .304 .941 item33 194.22 633.934 .410 .941 item34 193.50 629.702 .501 .941 item35 194.12 637.041 .258 .942 item36 193.47 635.719 .361 .941 item37 193.50 635.995 .325 .941 item38 193.56 624.872 .572 .940 item39 193.54 635.756 .354 .941 item40 193.25 634.540 .379 .941 item41 193.28 630.553 .523 .941 item42 193.53 627.481 .562 .940 item43 193.60 634.572 .444 .941 item44 193.50 636.161 .351 .941 item45 193.65 638.925 .298 .941 item46 194.46 636.893 .331 .941 item47 194.25 641.655 .143 .942 item48 192.73 648.475 -.039 .943 item49 193.70 633.441 .431 .941 item50 193.79 633.139 .454 .941 item51 194.19 636.119 .321 .941 item52 193.74 632.930 .375 .941 item53 193.24 633.540 .364 .941 item54 193.93 630.453 .433 .941 item55 193.76 631.889 .429 .941 item56 193.56 628.340 .598 .940 item57 193.61 630.442 .498 .941 item58 194.57 643.293 .148 .942 item59 194.52 638.013 .311 .941 item60 193.30 632.579 .437 .941 item61 193.46 631.701 .527 .941 item62 193.43 631.348 .532 .941 item63 193.77 627.168 .504 .941 item64 193.85 631.098 .515 .941 item65 193.26 625.389 .509 .941 item66 193.40 639.325

  .253

  .942 item67 193.65 628.522 .500 .941 item68 193.71 627.382 .543 .940 item69 193.48 634.362 .396 .941 item70 193.42 631.108 .512 .941 item71 193.75 637.123 .302 .941 item72 193.75 633.214 .443 .941 item73 193.98 644.202 .082 .942 item74 193.32 634.182 .321 .941 item75 193.40 628.389 .612 .940 item76 193.51 632.913 .530 .941 item77 193.38 629.027 .604 .940 item78 193.91 627.074 .608 .940 item79 193.80 633.336 .421 .941 item80 193.39 642.791 .102 .942 item81 193.45 632.360 .454 .941 item82 193.35 634.304 .450 .941 item83 193.66 644.225 .084 .942 item84 193.72 629.177 .470 .941 item85 193.13 634.185 .407 .941 item86 193.82 629.857 .379 .941 item87 193.65 636.213 .333 .941 item88 193.25 632.958 .348 .941 item89 193.15 635.355 .448 .941 item90 193.41 629.950 .432 .941

  Tabel Reliabilitas Data Gugur Tahap 1 Reliability Statistics

  Cronbach's Alpha N of Items

  .948

  72 Tabel Korelasi Item Total Data Gugur Tahap 1

  Item-Total Statistics

  Scale Mean if Item Deleted

  Scale Variance if Item Deleted Corrected

  Item-Total Correlation

  Cronbach's Alpha if Item

  Deleted item1 156.24 531.503 .414 .948 item4 156.32 529.834 .470 .947 item6 155.76 534.476 .311 .948 item7 155.83 523.704 .591 .947 item8 156.29 533.291 .347 .948 item9 155.98 523.302 .576 .947 item10 156.10 526.348 .321 .949 item12 156.26 529.829 .441 .947 item13 156.65 526.815 .389 .948 item14 156.20 524.620 .527 .947 item15 156.68 531.173 .409 .948 item16 156.15 525.447 .517 .947 item17 156.38 525.376 .615 .947 item18 156.36 525.555 .535 .947 item19 155.82 534.370 .302 .948 item20 156.33 532.571 .366 .948 item23 156.32 527.724 .507 .947 item24 156.15 525.171 .516 .947 item26 156.16 533.679 .315 .948 item27 156.08 528.920 .439 .947 item28 156.55 530.103 .469 .947 item30 156.86 531.807 .345 .948 item32 156.86 534.284 .274 .948 item33 156.85 533.288 .372 .948 item34 156.13 528.277 .501 .947 item36 156.10 534.219 .346 .948 item37 156.13 533.360 .347 .948 item38 156.19 523.385 .586 .947 item39 156.16 533.716 .358 .948 item40 155.88 532.435 .389 .948 item41 155.91 528.707 .536 .947 item42 156.15 526.022 .569 .947 item43 156.23 532.838 .441 .948 item44 156.13 534.204 .351 .948 item46 157.09 535.588 .305 .948 item49 156.33 531.470 .439 .947 item50 156.42 531.658 .447 .947 item51 156.82 534.297 .317 .948 item52 156.36 532.215 .346 .948 item53 155.86 532.724 .336 .948 item54 156.55 528.726 .440 .947 item55 156.39 529.525 .453 .947 item56 156.19 526.780 .607 .947 item57 156.24 529.045 .496 .947 item59 157.15 536.749 .280 .948 item60 155.93 530.894 .438 .947 item61 156.09 529.716 .543 .947 item62 156.05 529.281 .552 .947 item63 156.40 525.361 .521 .947 item64 156.48 529.298 .525 .947 item65 155.89 524.704 .499 .947 item67 156.28 526.186 .531 .947 item68 156.34 525.693 .558 .947 item69 156.11 532.098 .412 .948 item70 156.05 529.163 .526 .947 item71 156.38 535.321 .294 .948 item72 156.38 530.990 .461 .947 item74 155.95 532.015 .331 .948 item75 156.03 526.761 .624 .947 item76 156.14 530.669 .553 .947

item77 156.01 527.789 .600 .947 item78 156.54 525.939 .606 .947 item79 156.43 531.843 .414 .948 item81 156.08 530.406 .465 .947 item82 155.98 532.605 .446 .947 item84 156.35 527.421 .481 .947 item85 155.75 532.462 .405 .948 item86 156.45 528.873 .367 .948 item87 156.27 533.668 .353 .948 item88 155.87 531.048 .354 .948 item89 155.77 533.755 .437 .948 item90 156.04 528.017 .446 .947

  Tabel Reliabilitas Data Gugur Tahap 2 Reliability Statistics

  Cronbach's Alpha N of Items

  .948

  69 Tabel Korelasi Item Total Data Gugur Tahap 2

  Item-Total Statistics

  Scale Mean if Item Deleted

  Scale Variance if Item Deleted Corrected

  Item-Total Correlation

  Cronbach's Alpha if Item

  Deleted item1 151.29 504.722 .414 .947 item4 151.37 503.190 .466 .947 item6 150.82 507.324 .320 .948 item7 150.88 497.041 .593 .947 item8 151.35 506.191 .356 .948 item9 151.04 496.567 .581 .947 item10 151.15 499.655 .321 .948 item12 151.32 503.008 .443 .947 item13 151.71 501.071 .366 .948 item14 151.25 498.155 .522 .947 item15 151.74 504.710 .399 .947 item16 151.20 498.620 .522 .947 item17 151.44 498.725 .616 .947 item18 151.42 498.851 .537 .947 item19 150.87 507.452 .303 .948 item20 151.38 505.945 .360 .948 item23 151.37 501.153 .503 .947 item24 151.20 498.418 .520 .947 item26 151.22 506.521 .325 .948 item27 151.14 501.770 .452 .947 item28 151.61 503.286 .471 .947 item30 151.92 505.635 .326 .948 item33 151.90 506.861 .357 .948 item34 151.18 501.673 .498 .947 item36 151.15 507.581 .338 .948 item37 151.18 506.352 .352 .948 item38 151.25 496.921 .582 .947 item39 151.22 507.035 .352 .948 item40 150.94 505.565 .391 .947 item41 150.96 501.889 .540 .947 item42 151.21 499.396 .568 .947 item43 151.28 505.947 .444 .947 item44 151.18 507.214 .356 .948 item46 152.15 508.878 .299 .948 item49 151.38 504.642 .440 .947 item50 151.47 504.857 .447 .947 item51 151.87 507.708 .308 .948 item52 151.42 505.879 .332 .948 item53 150.92 505.727 .341 .948 item54 151.61 502.185 .435 .947 item55 151.45 502.635 .458 .947 item56 151.25 500.242 .602 .947 item57 151.29 502.300 .496 .947 item60 150.98 504.000 .442 .947 item61 151.15 502.658 .555 .947 item62 151.11 502.227 .564 .947 item63 151.45 498.782 .519 .947 item64 151.54 502.691 .520 .947 item65 150.95 498.199 .496 .947 item67 151.34 499.491 .532 .947 item68 151.39 499.176 .554 .947 item69 151.16 505.074 .419 .947 item70 151.10 502.274 .532 .947 item72 151.44 504.083 .466 .947 item74 151.00 505.046 .336 .948 item75 151.08 499.856 .633 .947 item76 151.19 503.587 .566 .947 item77 151.06 500.959 .605 .947 item78 151.59 499.492 .599 .947 item79 151.48 505.518 .397 .947 item81 151.14 503.256 .478 .947 item82 151.04 505.613 .453 .947 item84 151.40 500.683 .483 .947

item85 150.81 505.367 .414 .947 item86 151.50 502.509 .358 .948 item87 151.33 506.791 .354 .948 item88 150.93 504.031 .361 .948 item89 150.83 506.933 .436 .947 item90 151.09 501.203 .449 .947

  Tabel Reliabilitas Data Gugur Tahap 3 Reliability Statistics

  Cronbach's Alpha N of Items

  .948

  68 Tabel Korelasi Item Total Data Gugur Tahap 3

  Item-Total Statistics

  Scale Mean if Item Deleted

  Scale Variance if Item Deleted Corrected

  Item-Total Correlation

  Cronbach's Alpha if Item

  Deleted item1 149.94 496.097 .417 .947 item4 150.02 494.752 .462 .947 item6 149.46 498.783 .319 .948 item7 149.53 488.508 .594 .946 item8 149.99 497.624 .356 .947 item9 149.68 488.182 .578 .946 item10 149.80 491.152 .321 .948 item12 149.96 494.476 .443 .947 item13 150.35 492.690 .363 .948 item14 149.90 489.779 .519 .947 item15 150.38 496.348 .392 .947 item16 149.85 490.114 .522 .947 item17 150.08 490.186 .617 .946 item18 150.06 490.445 .534 .947 item19 149.52 498.876 .303 .948 item20 150.03 497.403 .359 .947 item23 150.02 492.605 .504 .947 item24 149.85 489.948 .519 .947 item26 149.86 497.954 .325 .948 item27 149.78 493.163 .454 .947 item28 150.25 494.760 .470 .947 item30 150.56 497.092 .326 .948 item33 150.55 498.489 .350 .947 item34 149.83 493.080 .500 .947 item36 149.80 499.097 .335 .947 item37 149.83 497.667 .356 .947 item38 149.89 488.355 .584 .946 item39 149.86 498.467 .352 .947 item40 149.58 497.016 .390 .947 item41 149.61 493.249 .544 .947 item42 149.85 490.768 .572 .947 item43 149.93 497.297 .447 .947 item44 149.83 498.530 .360 .947 item49 150.03 496.045 .442 .947 item50 150.12 496.234 .449 .947 item51 150.52 499.243 .304 .948 item52 150.06 497.345 .331 .948 item53 149.56 497.257 .338 .948 item54 150.25 493.806 .430 .947 item55 150.09 493.973 .462 .947 item56 149.89 491.621 .606 .946 item57 149.94 493.656 .500 .947 item60 149.63 495.392 .444 .947 item61 149.79 494.093 .556 .947 item62 149.75 493.526 .570 .947 item63 150.10 490.476 .513 .947 item64 150.18 494.187 .519 .947 item65 149.59 489.638 .498 .947 item67 149.98 491.046 .530 .947 item68 150.04 490.696 .553 .947 item69 149.81 496.541 .419 .947 item70 149.75 493.678 .534 .947 item72 150.08 495.599 .463 .947 item74 149.65 496.488 .336 .948 item75 149.73 491.246 .637 .946 item76 149.84 495.019 .567 .947 item77 149.71 492.373 .608 .946 item78 150.24 491.026 .598 .946 item79 150.13 496.974 .397 .947 item81 149.78 494.613 .482 .947 item82 149.68 496.971 .456 .947 item84 150.05 492.227 .481 .947 item85 149.45 496.856 .413 .947 item86 150.15 494.162 .353 .948 item87 149.97 498.265 .353 .947 item88 149.57 495.385 .363 .947 item89 149.47 498.288 .439 .947 item90 149.74 492.691 .449 .947

  Tabel Reliabilitas Item Setelah Seleksi Item Reliability Statistics

  Cronbach's Alpha

  N of Items

  .932

  45

  LAMPIRAN 2 Uji Asumsi Tabel Uji Normalitas Seluruh Subyek One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

  Skor N

  110 Mean

  99.41 Normal Parameters(a,b) Std. Deviation 16.352

  Absolute .046 Positive .046

  Most Extreme Differences

  Negative -.046 Kolmogorov-Smirnov Z .482 Asymp. Sig. (2-tailed) .974 a Test distribution is Normal. b Calculated from data.

  Tabel Uji Normalitas Siswa Laki-laki One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

  Laki-laki N

  55 Normal Parameters(a,b)

  Mean

  94.36 Std. Deviation 14.863 Most Extreme Differences

  Absolute .081

  Positive .056 Negative -.081

  Kolmogorov-Smirnov Z .599 Asymp. Sig. (2-tailed) .866 a Test distribution is Normal. b Calculated from data.

  Tabel Uji Normalitas Siswa Perempuan One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

  Perempuan N

  55 Normal Mean 104.45

  Parameters(a,b) Std. Deviation 16.340

  Most Extreme Absolute .085

  Differences Positive .085 Negative -.053

  Kolmogorov-Smirnov Z .633 Asymp. Sig. (2-tailed) .819 a Test distribution is Normal. b Calculated from data.

  Tabel Uji Homogenitas Test of Homogeneity of Variances

  Levene df1 df2 Sig. Statistic

  .704 1 108 .403

  

LAMPIRAN 3

Uji Hipotesis

Tabel Skor Rata-rata Siswa Laki-laki dan Siswa Perempuan

  

Group Statistics

  JK N Mean Std.

  Deviation Std.

  Error Mean

  Skor perempuan 55 104.45 16.340 2.203 laki-laki 55 94.36 14.863 2.004

  

Tabel Uji-t

  Levene's Test for

  Equality of Variances t-test for Equality of Means

  95% Confidence Interval of the Difference

  F Sig. T Df Sig.

  (2- tailed) Mean Differe nce

  Std. Error Differe nce Lower Upper skor Equal variances assumed

  .704 .403 3.388 108 .001 10.091 2.978 4.187 15.995 Equal variances not assumed

  3.388 107.045 .001 10.091 2.978 4.187 15.995 Lower Upper Lower Upper Lower Upper Perempuan

  

LAMPIRAN 4

Uji Tambahan

One-Sample Statistics

  N Mean Std. Deviation Std. Error

  Mean Laki-laki

  55 94.36 14.863 2.004

  One-Sample Test

  Test Value = 112.5 t df Sig. (2-tailed) Mean

  Difference 95% Confidence Interval of the Difference

  Lower Upper Lower Upper Lower Upper Laki-laki

  • 9.050 54 .000 -18.136 -22.15 -14.12
  • 8.396 109 .000 -13.091 -16.18 -10.00

  

One-Sample Statistics

  N Mean Std. Deviation Std. Error

  Mean Perempuan

  55 99.41 16.352 1.559

  One-Sample Test

  Test Value = 112.5 t df Sig. (2-tailed) Mean

  Difference 95% Confidence Interval of the Difference

  Tabel Statistik Deskriptif (Jumlah subyek,skor minimal,skor maksimal, jumlah, rata-rata dan standar deviasi) Descriptive Statistics

  45

  45

  1 4 131 2.91 .848 s31

  45

  86 1.91 .733 s30

  4

  1

  45

  87 1.93 .580 s29

  3

  1

  45

  1 4 130 2.89 .647 s28

  80 1.78 .599 s27

  3

  3

  1

  45

  95 2.11 .487 s26

  3

  1

  45

  2 3 124 2.76 .435 s25

  45

  1 3 108 2.40 .618 s24

  45

  94 2.09 .821 s23

  1

  95 2.11 .383 s32

  1

  3

  45

  1 4 111 2.47 .894 s40

  45

  94 2.09 .468 s39

  3

  1

  45

  94 2.09 .288 s38

  3

  2

  45

  99 2.20 .726 s37

  1

  45

  45

  2 4 137 3.04 .562 s36

  45

  98 2.18 .936 s35

  4

  1

  45

  99 2.20 .757 s34

  3

  1

  45

  1 4 109 2.42 .988 s33

  4

  45

  N Minimum Maximum Sum Mean Std. Deviation s1

  1

  1

  45

  96 2.13 .625 s9

  3

  1

  45

  94 2.09 .514 s8

  3

  1

  45

  88 1.96 .673 s7

  4

  45

  83 1.84 .475 s10

  2 4 118 2.62 .576 s6

  45

  2 4 117 2.60 .539 s5

  45

  1 4 108 2.40 .654 s4

  45

  1 3 106 2.36 .645 s3

  45

  84 1.87 .786 s2

  4

  1

  45

  3

  45

  2 4 126 2.80 .505 s22

  45

  45

  1 4 116 2.58 .892 s21

  45

  1 4 113 2.51 .695 s20

  45

  1 4 104 2.31 .557 s19

  45

  88 1.96 .852 s18

  4

  1

  45

  1 4 105 2.33 .674 s17

  80 1.78 .599 s16

  2 4 117 2.60 .539 s11

  3

  1

  45

  88 1.96 .298 s15

  3

  1

  45

  1 3 107 2.38 .614 s14

  45

  1 4 118 2.62 .650 s13

  45

  1 4 126 2.80 .944 s12

  45

  1 3 109 2.42 .543 s41

  45

  45

  45

  1 4 103 2.29 .920 s72

  45

  1

  4

  83 1.84 .601 s73

  1

  3

  3

  79 1.76 .679 s74

  45

  2 3 108 2.40 .495 s75

  45

  1 4 118 2.62 .860 s76

  95 2.11 .438 s71

  1

  1

  45

  2

  70 1.56 .503 s66

  45

  1

  3

  64 1.42 .543 s67

  1 4 118 2.62 .747 s68

  45

  45

  1 4 102 2.27 .654 s69

  45

  1

  3

  99 2.20 .457 s70

  45

  4

  45

  92 2.04 .878 s85

  1 4 104 2.31 .973 s83

  45

  1 4 113 2.51 .895 s84

  45

  1

  4

  45

  68 1.51 .506 s82

  1 4 111 2.47 .815 s86

  45

  1 4 110 2.44 .755 s87

  45

  1

  2

  45

  2

  90 2.00 .640 s77

  4

  45

  1

  2

  74 1.64 .484 s78

  45

  1

  95 2.11 .647 s79

  1

  45

  1

  4

  85 1.89 .745 s80

  45

  1 4 115 2.56 .624 s81

  45

  1

  66 1.47 .505 s65

  1

  1 4 115 2.56 .755 s50

  1

  3

  89 1.98 .499 s48

  45

  1 4 139 3.09 .701 s49

  45

  45

  91 2.02 .723 s47

  1

  4

  97 2.16 .562 s51

  45

  1 4 113 2.51 .626 s52

  45

  45

  4

  45

  45

  4

  96 2.13 .919 s42

  45

  1

  3

  70 1.56 .546 s43

  1 4 107 2.38 .747 s44

  1

  45

  1 4 112 2.49 .589 s45

  45

  1

  3

  74 1.64 .679 s46

  45

  2 4 133 2.96 .673 s53

  1 4 120 2.67 .640 s54

  2

  45

  4

  81 1.80 .588 s61

  45

  1

  3

  90 2.00 .739 s62

  1

  45

  3

  83 1.84 .562 s63

  45

  1 3 106 2.36 .529 s64

  45

  1

  1

  1 4 111 2.47 .968 s60

  45

  86 1.91 .874 s57

  1 4 109 2.42 .753 s55

  45

  2 3 118 2.62 .490 s56

  45

  1

  4

  45

  45

  1

  3

  76 1.69 .633 s58

  45

  1

  4

  72 1.60 .915 s59

  66 1.47 .505 s88

  45

  4

  4

  98 2.18 .716 s101

  45

  1

  3

  93 2.07 .688 s102

  45

  1 4 111 2.47 .786 s103

  45

  1

  4

  92 2.04 .767 s104

  45

  1

  96 2.13 .694 s105

  45

  4

  45

  1 4 100 2.22 .795 s110

  45

  1 4 100 2.22 .765 s109

  45

  97 2.16 .852 s108

  1

  45

  45

  1 4 100 2.22 1.064 s107

  45

  76 1.69 .468 s106

  2

  1

  1

  80 1.78 .517 s100

  1 4 110 2.44 .624 s89

  2 3 103 2.29 .458 s92

  1 3 102 2.27 .688 s94

  45

  92 2.04 .475 s93

  3

  1

  45

  45

  1

  98 2.18 .650 s91

  4

  1

  45

  1 4 108 2.40 .889 s90

  45

  45

  3

  3

  1

  1

  45

  1 3 101 2.24 .570 s99

  45

  82 1.82 .614 s98

  3

  45

  90 2.00 .674 s95

  1 4 117 2.60 1.250 s97

  45

  95 2.11 .745 s96

  4

  1

  45

  1 4 116 2.58 .583

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Skripsi Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
117
Skripsi Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
145
SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
144
SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
2
125
SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
92
Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
130
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
120
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
169
Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
123
Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
121
Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
138
SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
2
181
Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
100
Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
1
148
Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi
0
0
132
Show more