Ketidaksantunan linguistik dan pragmatik berbahasa antar mahasiswa Program Studi PBSID angkatan 2009-2011 Universitas Sanata Dharma - USD Repository

Gratis

0
0
272
3 months ago
Preview
Full text

  

KETIDAKSANTUNAN LINGUISTIK DAN PRAGMATIK BERBAHASA

ANTARMAHASISWA PROGRAM STUDI PBSID ANGKATAN 2009 —2011

  

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

SKRIPSI

  Diajukan untuk Memenuhi Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

  Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah Disusun oleh:

  Caecilia Petra Gading May Widyawari 091224015

  PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA, SASTRA INDONESIA, DAN DAERAH JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA

  

KETIDAKSANTUNAN LINGUISTIK DAN PRAGMATIK BERBAHASA

ANTARMAHASISWA PROGRAM STUDI PBSID ANGKATAN 2009 —2011

  

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

SKRIPSI

  Diajukan untuk Memenuhi Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

  Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah Disusun oleh:

  Caecilia Petra Gading May Widyawari 091224015

  PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA, SASTRA INDONESIA, DAN DAERAH JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA

  

MOTO

Jika kamu ingin mengatakan sesuatu, katakanlah. Jika kamu ingin melakukan sesuatu,

lakukanlah. Jangan berpikir bahwa kamu akan jatuh dan sakit. Yang terpenting adalah

kamu selalu menggunakan hatimu (Mis Jul)

  

Kita tidak dapat melakukan hal-hal hebat, kita hanya bisa melakukan hal-hal kecil dengan

cinta yang berlimpah (Ibu Teresa)

  

PERSEMBAHAN

Kupersembahkan skripsi ini untuk: Tuhan Yesus Kristus dan Bunda Maria yang selalu menjadi sahabat dan pelindungku dalam setiap langkah dan keputusanku

  Orang tua tercinta, Bapak Alexandre Suramto dan Ibu Theresia Nur Istiyani yang selalu memberikan cinta, doa, dukungan, dan kesabaran yang begitu besar untukku

  Mas dan adik tersayang, Gregorius Advent Gilang Arlingga dan Yohanes Febbry Bagas Pamungkas yang selalu memberikan semangat, doa dan canda tawa serta pertengkaran lucu setiap kita bertemu

  Mbah Putri, Mbah Gumi, dan Om Kunto yang selalu mendukung, membantu dan memberikan semangat, serta menemaniku selalu

  Teman-temanku ‘sepayung’, Rita, Galuh, dan Melisa yang selama ini jatuh-bangun dan berjuang bersama-sama dalam menyelesaikan skripsi ini

  ABSTRAK Widyawari, Caecilia Petra Gading May. 2013. Ketidaksantunan Linguistik dan Pragmatik

  Berbahasa Antarmahasiswa Program Studi PBSID Angkatan 2009 —2011 Universitas Sanata Dharma. SKRIPSI. Yogyakarta: PBSID, JPBS, FKIP, USD.

  Penelitian ini membahas ketidaksantunan linguistik dan pragmatik berbahasa yang dituturkan antarmahasiswa Program Studi PBSID Angkatan 2009 —2011 di Universitas

  Sanata Dharma. Tujuan penelitian ini adalah: (1) mendeskripsikan wujud ketidaksantunan linguistik dan pragmatik berbahasa, (2) mendeskripsikan penanda ketidaksantunan linguistik dan pragmatik berbahasa, dan (3) mendeskripsikan makna ketidaksantunan berbahasa yang digunakan antarmahasiswa PBSID Angkatan 2009

  —2011 di Universitas Sanata Dharma. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Sumber data penelitian ini adalah mahasiswa PBSID Angkatan 2009

  —2011 di Universitas Sanata Dharma. Instrumen penelitian berupa panduan wawancara (daftar pertanyaan), pertanyaan pancingan, dan pernyataan kasus. Metode pengumpulan data yakni, pertama metode simak dengan teknik dasar berupa teknik sadap dan teknik lanjutan berupa teknik simak libat cakap dan teknik cakap, kedua metode cakap dengan teknik dasar berupa teknik pancing dan dua teknik lanjutan berupa teknik lanjutan cakap semuka dan tansemuka. Beberapa teknik tersebut diwujudkan peneliti dengan cara menginventarisasi, mengidentifikasi, dan mengklasifikasi.

  Dalam analisis data, peneliti mengutip data beserta konteksnya. Selanjutnya, peneliti menginterpretasi wujud, penanda dan makna ketidaksantunan linguistik dan pragmatik tuturan-tuturan yang telah dikutip dengan memerhatikan konteks yang melingkupi terjadinya tuturan itu. Analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan metode kontekstual.

  Simpulan hasil penelitian ini adalah: (1) wujud ketidaksantunan linguistik dapat dilihat dari tuturan antarmahasiswa yang terdiri dari melecehkan muka, sembrono, mengancam muka dan menghilangkan muka. Lalu wujud ketidaksantunan pragmatik dapat dilihat berdasarkan konteks (penutur, mitra tutur, situasi, suasana, tindak verbal, tindak perlokusi dan tujuan tutur), (2) penanda ketidaksantunan linguistik yang ditemukan berupa nada, tekanan, intonasi, dan diksi. Penanda ketidaksantunan pragmatik dapat dilihat berdasarkan konteks tuturan yang berupa penutur dan mitra tutur, situasi dan suasana, tindak verbal, tindak perlokusi, dan tujuan tutur, dan (3) makna ketidaksantunan berbahasa yaitu: a) melecehkan muka, ejekan penutur kepada mitra tutur dan dapat melukai hati, b) memain- mainkan muka, membingungkan mitra tutur dan itu menjengkelkan, c) kesembronoan, bercanda yang menyebabkan konflik, d) menghilangkan muka, mempermalukan mitra tutur di depan banyak orang, dan e) mengancam muka, menyebabkan ancaman pada mitra tutur.

  Saran penelitian ini untuk para mahasiswa adalah hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai referensi atau gambaran umum mengenai ketidaksantunan berbahasa, supaya para mahasiswa dapat mengurangi dan menghindari ketidaksantunan berbahasa itu. Lalu untuk peneliti berikutnya dapat memperdalam penelitian ketidaksantunan tentang cara orang melecehkan muka, mengancam muka dan menghilangkan muka serta tentang penanda ketidaksantunan dalam hal nonkebahasaan.

  

ABSTRACT

  Widyawari, Caecilia Petra Gading May. 2013. Linguistic and Pragmatic Language

  

Impoliteness among PBSID Students of the Academic Year 2009

—2011 in Sanata Dharma University. THESIS. Yogyakarta: PBSID, JPBS, FKIP, USD.

  This research discussed the forms of impoliteness utterance among PBSID students of the Academic Year 2009 —2011 in Sanata Dharma University. The purposes of this research are: (1) describe a form of linguistic and pragmatic language impoliteness, (2) describe a sign of linguistic and pragmatic language impoliteness, and (3) describe the meaning of impoliteness among PBSID students of the Academic Year 2009

  —2011 in Sanata Dharma University. Type of this research is descriptive qualitative. The data sources of this research were the PBSID students of the Academic Year 2009

  —2011 in Sanata Dharma University. The instruments used in this research are interview, elicitation, and cases studies using language impoliteness theory. The roundup data method used are grouping and interview.

  The collecting data method uses tapping method as a basic method, the continuation technique is direct interview and the last technique is written data recording. Interview technique is an elicitation technique as a basic technique. The follow up technique is direct interview and indirect interview. Both the techniques can be applied both in grouping and interview. The researcher can use those two techniques both in grouping and interview by inventoring, indentifying, and clarifying the data. In analyzing the data, the research cites the data and the spoken language. The final step done by the researcher is interpreting the meaning of the language. The data analysis used in this research is contextual analysis method.

  The conclusions of this research are: (1) the linguistics impoliteness form can be seen from the spoken language used among students consisting face-aggravate, face- gratuitous, face-threaten, and face-loss. Then pragmatic impoliteness form can be observed based on contextual (speaker, receiver, situation, condition, verbal act, perlocutionary act, and purpose of speech). (2) the sign of linguistic impoliteness can be observed based on tone, stress, intonation, and diction. The sign of pragmatic impoliteness can be observed based on the context consists of speaker, receiver, situation, condition, verbal act, perlocutionary act, purpose of speech. (3) the meaning of impoliteness are (a) face-aggravate, taunt from the speaker to the receiver and it hurts the person. (b) Face expression which confuses the speaker and receiver and it is annoying. (c) face-gratuitous, intended jokes which cause a conflict. (d) face-loss, mortifies somebody in front of the people. (e) face-threatening which cause a threat to the person.

  Suggestion of this research for students is the results of this study can be used as a

KATA PENGANTAR

  Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa sehingga dengan berkat dan penyertaan-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul

  

Ketidaksantunan Linguistik dan Pragmatik Berbahasa Antarmahasiswa Program Studi

PBSID Angkatan 2009 —2011 Universitas Sanata Dharma ini dengan baik. Sebagaimana

  disyaratkan dalam Kurikulum Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah (PBSID), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta, penyelesaian skripsi ini guna memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah.

  Kelancaran dan keberhasilan proses pelaksanaan dan penyusunan skripsi ini tentunya tidak terlepas dari bantuan, bimbingan, dan dukungan dari berbagai pihak. Oleh sebab itu, penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada: 1.

  Rohandi, Ph.D. selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma.

  2. Dr. Yuliana Setiyaningsih, selaku Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah, dan selaku dosen Pembimbing II yang dengan penuh kesabaran dan ketelitian telah mendampingi, membimbing, memotivasi, dan memberikan berbagai masukan yang sangat berharga bagi penulis mulai dari proses awal hingga akhirnya penulis boleh menyelesaikan skripsi ini dengan baik.

  3. Rishe Purnama Dewi, S.Pd., M.Hum., selaku Wakil Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah Universitas Sanata Dharma.

  4. Dr. R. Kunjana Rahardi, M. Hum., selaku dosen Pembimbing I yang dengan pengertian dan kesabaran, membimbing, memotivasi, dan memberikan berbagai masukan yang sangat berharga bagi penulis mulai dari proses awal hingga akhirnya penulis boleh menyelesaikan skripsi ini dengan baik.

  5. Segenap dosen Program Studi PBSID yang dengan penuh dedikasi mendidik, membimbing, memberikan dukungan, bantuan, dan arahan yang sangat bermanfaat bagi penulis dari awal kuliah sampai selesai.

  6. Robertus Marsidiq sebagai karyawan sekretariat PBSID yang selalu sabar memberikan

  7. Kedua orang tua tercinta, Alexandre Suramto dan Ibu Theresia Nur Istiyani, yang telah memberikan cinta, doa dan dukungan, baik secara moral maupun material bagi penulis selama menjalani masa kuliah.

  8. Mbah putri Maryati, Mbah Gumi dan Om Kunto, yang telah memberi semangat, bantuan, dan doa bagi penulis.

  9. Rita, Melisa dan Galuh, teman ‘sepayung’ dan seperjuangan yang sudah bersama-sama berjuang dengan skripsi ini.

  10. Mas dan adik tersayang, Mas Gilang dan Febbry yang sudah memberikan semangat, doa dan perhatian dalam menyelesaikan skripsi ini.

  11. Para mahasiswa PBSID Angkatan 2009—2011 USD Yogyakarta yang telah bersedia dijadikan sebagai sumber data dalam penelitian ini.

  12. Fajar, Asa, Tofan, Melisa, Woro yang telah berjuang belajar bersama dalam perkuliahan dan bersedia menemani, memberikan semangat, bantuan, dan perhatian kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

  13. Uli, Fina, dan Puput yang masih menjaga persahabatan dengan penulis dan tak lelah memberikan motivasi, semangat dan doa kepada penulis.

  14. Teman-teman Mahasiswa PBSID Sanata Dharma Angkatan 2009 s.d. 2012; melalui kebersamaan selama berproses dan kuliah ini saya dapat merasakan bagaimana arti sebuah keakraban dan kesetiakawanan. Penulis menyadari bahwa penulisan dan penyusunan laporan skripsi ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, penulis memohon maaf apabila laporan skripsi ini masih terdapat banyak kekurangan. Untuk itu, penulis sangat mengharapkan berbagai saran dan kritik dari para pembaca. Penulis berharap agar laporan skripsi ini dapat bermanfaat bagi para pembaca.

  Yogyakarta Penulis

  DAFTAR ISI Hal.

  

HALAMAN JUDUL ................................................................................................ i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ....................................................

  ii

  

HALAMAN PENGESAHAN .................................................................................. iii

HALAMAN MOTO ................................................................................................. iv

HALAMAN PERSEMBAHAN .............................................................................. v

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA .................................................................. vi

PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI .................................................. vii

ABSTRAK ................................................................................................................ viii

ABSTRACT ............................................................................................................... ix

KATA PENGANTAR .............................................................................................. x

DAFTAR ISI............................................................................................................. xii

DAFTAR TABEL .................................................................................................... xvii

  

BAB I PENDAHULUAN ......................................................................................... 1

1.1 Latar Belakang Masalah .....................................................................................

  1 1.2 Rumusan Masalah ................................................................................................

  6 1.3 Tujuan Penelitian .................................................................................................

  7 1.4 Manfaat Penelitian ...............................................................................................

  7 1.5 Definisi Istilah ......................................................................................................

  8

  BAB II LANDASAN TEORI ..................................................................................

  34 2.3.4 Rangkuman ................................................................................................

  2.4.1.4 Aspek-aspek Fisik

  ‘Language Users’ ........................... 45

  2.4.1.3 Aspek-aspek Sosial dan Budaya

  ‘Language Users’ ............................................ 43

  2.4.1.2 Aspek-aspek Mental

  ‘The utterer’ dan ‘The Interpteter’ .................................................... 42

  2.4.1.1

  40

  36 2.4.1 Penutur dan Lawan Tutur ..........................................................................

  36 2.4 Konteks Tuturan...................................................................................................

  30 2.3.3 Tindak Perlokusi ........................................................................................

  11 2.1 Penelitian yang Relevan .......................................................................................

  29 2.3.2 Tindak Ilokusi ............................................................................................

  28 2.3.1 Tindak Lokusi ............................................................................................

  27 2.3 Tindak Tutur ........................................................................................................

  25 2.2.6 Rangkuman ................................................................................................

  24 2.2.5 Teori Ketidaksantunan Berbahasa dalam Pandangan Locher and Watts ..

  22 2.2.4 Teori Ketidaksantunan Berbahasa dalam Pandangan Terkourafi ..............

  19 2.2.3 Teori Ketidaksantunan Berbahasa dalam Pandangan Culpeper ................

  16 2.2.2 Teori Ketidaksantunan Berbahasa dalam Pandangan Bousfield ...............

  15 2.2.1 Teori Ketidaksantunan Berbahasa dalam Pandangan Locher ....................

  11 2.2 Teori Ketidaksantunan Berbahasa .......................................................................

  ‘Language Users’ ................................................ 48

  2.4.5 Tuturan Sebagai Produk Tindak Verbal ....................................................

  54 2.4.6 Rangkuman ................................................................................................

  55 2.5 Bunyi Suprasegmental .........................................................................................

  56 2.5.1 Tinggi-Rendah (Nada, Tona, Pitch) ..........................................................

  56 2.5.2 Keras-Lemah (Tekanan, Aksen, Stress) ....................................................

  57 2.5.3 Intonasi.......................................................................................................

  58 2.5.4 Rangkuman ................................................................................................

  59 2.6 Pilihan Kata ..........................................................................................................

  60 2.6.1 Bahasa Standar dan Nonstandar ................................................................

  62 2.6.2 Kata Ilmiah dan Kata-kata Populer ............................................................

  63 2.6.3 Jargon .........................................................................................................

  64 2.6.4 Kata Percakapan ........................................................................................

  65 2.6.5 Kata Slang ..................................................................................................

  66 2.6.6 Idiom ..........................................................................................................

  67 2.6.7 Bahasa Artifisial ........................................................................................

  67 2.6.8 Kata Seru....................................................................................................

  67 2.6.9 Kata Fatis ...................................................................................................

  68 2.6.10 Rangkuman ..............................................................................................

  68 2.7 Kerangka Berpikir ................................................................................................

  70 BAB III METODE PENELITIAN ......................................................................... 71

  3.3 Metode dan Teknik Pengumpulan Data ...............................................................

  72 3.4 Instrumen Penelitian ............................................................................................

  74 3.5 Metode dan Teknik Analisis Data........................................................................

  74 3.6 Sajian Analisis Data .............................................................................................

  76 3.7 Trianggulasi Hasil Analisis Data .........................................................................

  77 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN .......................................

  78 4.1 Deskripsi Data ......................................................................................................

  78 4.2 Hasil Analisis Data ..............................................................................................

  84 4.2.1 Melecehkan Muka......................................................................................

  84 4.2.1.1 Wujud Ketidaksantunan Linguistik....................................................

  86 4.2.1.2 Wujud Ketidaksantunan Pragmatik....................................................

  87 4.2.1.3 Penanda Ketidaksantunan Linguistik .................................................

  88 4.2.1.4 Penanda Ketidaksantunan Pragmatik .................................................

  89 4.2.1.5 Makna Ketidaksantunan Berbahasa yang Melecehkan Muka ...........

  91 4.2.2 Memain-mainkan Muka .............................................................................

  92 4.2.2.1 Wujud Ketidaksantunan Linguistik....................................................

  94 4.2.2.2 Wujud Ketidaksantunan Pragmatik....................................................

  95 4.2.2.3 Penanda Ketidaksantunan Linguistik .................................................

  96 4.2.2.4 Penanda Ketidaksantunan Pragmatik .................................................

  97

  4.2.2.5 Makna Ketidaksantunan Berbahasa yang Memain-mainkan Muka... 100

  4.2.3.3 Penanda Ketidaksantunan Linguistik ................................................. 104

  4.2.3.4 Penanda Ketidaksantunan Pragmatik ................................................. 105

  4.2.3.5 Makna Ketidaksantunan Berbahasa yang Berupa Kesembronoan yang Disengaja ........................................................................................................ 107

  4.2.4 Menghilangkan Muka ................................................................................ 108

  4.2.4.1 Wujud Ketidaksantunan Linguistik.................................................... 110

  4.2.4.2 Wujud Ketidaksantunan Pragmatik.................................................... 111

  4.2.4.3 Penanda Ketidaksantunan Linguistik ................................................. 112

  4.2.4.4 Penanda Ketidaksantunan Pragmatik ................................................. 113

  4.2.4.5 Makna Ketidaksantunan Berbahasa yang Menghilangkan Muka ...... 116

  4.2.5 Mengancam Muka Sepihak ...................................................................... 116

  4.2.5.1 Wujud Ketidaksantunan Linguistik.................................................... 119

  4.2.5.2 Wujud Ketidaksantunan Pragmatik.................................................... 119

  4.2.5.3 Penanda Ketidaksantunan Linguistik ................................................. 121

  4.2.5.4 Penanda Ketidaksantunan Pragmatik ................................................. 122

  4.2.5.5 Makna Ketidaksantunan Berbahasa yang Mengancam Muka ........... 124

  4.3 Pembahasan.......................................................................................................... 125

  4.3.1 Melecehkan Muka...................................................................................... 125

  4.3.2 Memain-mainkan Muka ............................................................................. 142

  4.3.3 Kesembronoan yang Disengaja ................................................................. 157

  

BAB V PENUTUP.................................................................................................... 201

  5.1 Simpulan .............................................................................................................. 201

  5.2 Saran .................................................................................................................... 206

  

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................... 208

LAMPIRAN.............................................................................................................. 211

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

  

DAFTAR TABEL

Hal.

  Tabel 1 Tuturan yang Melecehkan Muka ........................................................................... 79 Tabel 2 Tuturan yang Memain-mainkan Muka .................................................................. 80 Tabel 3 Tuturan Kesembronoan yang Disengaja ................................................................ 81 Tabel 4 Tuturan yang Menghilangkan Muka...................................................................... 82 Tabel 5 Tuturan yang Mengancam Muka sepihak .............................................................. 83

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

  Bahasa merupakan alat yang digunakan oleh manusia untuk berkomunikasi, berinteraksi, dan bekerja sama satu sama lain. Peranan bahasa dalam kehidupan manusia membuat bahasa penting untuk dikaji lebih dalam. Adapun ilmu yang mempelajari mengenai bahasa adalah linguistik. Sosok linguistik sebagai ilmu bahasa yang meneliti dan mengkaji seluk-beluk bahasa natural manusia, tidak saja aspek-aspek internal tetapi juga bagian-bagian eksternalnya, di dalam perkembangannya memiliki beberapa cabang atau ranting-ranting ilmu (Rahardi, 2007:9). Sebagai ilmu kajian bahasa, linguistik memiliki berbagai cabang ilmu yaitu fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, dan pragmatik. Secara umum, linguistik menganalisis bahasa mengenai aspek yang berhubungan dengan struktur kebahasaannya (fonologi, sintaksis, semantik, morfologi).

  Percabangan ilmu bahasa menunjukkan bahwa pragmatik merupakan cabang ilmu linguistik yang terakhir. Pragmatik merupakan studi tentang makna yang disampaikan oleh penutur (atau penulis) dan ditafsirkan oleh pendengar (atau pembaca) (Yule, 2006:3). Pendapat lain dikemukakan oleh Levinson (melalui Nugroho, 2009:118), pragmatik adalah kajian ihwal hubungan antara bahasa dan konteks yang digramatikalisasikan atau dikodekan di dalam struktur bahasa.

  Dalam hal ini pragmatik mengkaji mengenai bagaimana bahasa dipakai untuk berkomunikasi, terutama hubungan antara kalimat dengan konteks dan situasi pemakaiannya.

  Konteks penting dalam kajian pragmatik karena konteks digunakan untuk memahami semua faktor yang berperan dalam produksi dan komprehensi tuturan (Jumanto melalui Nugroho, 2009:123). Menurut Rahardi (2006:20) konteks tuturan dapat pula diartikan sebagai semua latar belakang pengetahuan (background

  

knowledge ) yang diasumsikan sama-sama dimiliki dan dipahami bersama oleh

  penutur dan mitra tutur, serta yang mendukung interpretasi mitra tutur atas apa yang dimaksudkan oleh si penutur itu di dalam keseluruhan proses bertutur. Menurut Leech (melalui Nugroho, 2009:119), konteks dalam pragmatik adalah aspek-aspek yang terdapat di dalam situasi tuturan atau

  „speech situation‟ itu dapat dibedakan

  menjadi lima macam, yakni: (1) penutur dan lawan tutur, (2) konteks tuturan, (3) tujuan tuturan, (4) tuturan sebagai tindak verbal, dan (5) tuturan sebagai produk tindak verbal. Dengan demikian, konteks memiliki fungsi yang penting dan memang harus ada untuk membuat sebuah tuturan benar-benar bermakna.

  Penekanan konteks dalam pragmatik memberikan kejelasan mengenai analisis perbedaan pragmatik dengan ilmu lain termasuk linguistik. Jika pada analisis linguistik struktur yang dikaji adalah aspek yang berhubungan dengan struktur kebahasaannya (fonologi, morfologi, sintaksis, semantik) sedangkan pada kajian pragmatik yang dikaji adalah situasi tutur yang dapat menimbulkan makna sebenarnya secara tidak langsung. Oleh sebab itu, perpaduan analisis kajian linguistik dan pragmatik semakin memperjelas maksud penggunaan bahasa dalam berkomunikasi (lisan maupun tulis).

  Lebih dari itu, salah satu kajian pragmatik adalah mengupas mengenai kesantunan dan ketidaksantunan penggunaan bahasa oleh para pemakainya.

  Pembahasan mengenai kesantunan dan ketidaksantunan berbahasa penting dilakukan untuk membantu keberhasilan proses interaksi dan komunikasi penutur dan mitra tuturnya. Memang sudah banyak peneliti yang mengkaji mengenai kesantunan berbahasa, namun untuk masalah ketidaksantunan berbahasa masih jarang peminatnya. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Rahardi (2010) yang mengemukakan bahwa sampai dengan tahun 2008, yakni tahun diterbitkannya buku

  

Impoliteness in Language oleh Bousfield et al (Eds.) yang sesungguhnya merupakan

  salah satu wujud keprihatinan linguis khususnya yang berkecimpung dalam pragmatik, ihwal ketidaksantunan berbahasa itu belum pernah dikaji secara komperehensif dan mendalam. Hal ini menimbulkan ketimpangan kajian antara kesantunan dan ketidaksantunan berbahasa itu. Dengan kata lain, terdapat ketidakseimbangan mengenai pembahasan dua kajian tersebut. Terlalu banyak penelitian mengenai kesantunan berbahasa di berbagai ranah kehidupan tetapi belum ada penelitian mengenai ketidaksantunan berbahasa.

  Penelitian mengenai bahasa memang menarik untuk dilakukan terlebih mengenai ketidaksantunan berbahasa. Salah satu alasan pokoknya bahasa merupakan alat komunikasi, berkomunikasi merupakan interaksi antara penutur dengan mitra karakter seseorang. Hal ini dapat dibuktikan dari penggunaan bahasanya baik lisan maupun tulisan. Kesantunan berbahasa ditunjukkan dari penggunaan bahasa yang lemah lembut, sopan, santun, teratur, sistematis, jelas dan lugas sehingga dapat mencerminkan pribadi yang baik oleh penuturnya. Sebaliknya, ketidaksantunan berbahasa ditunjukkan melalui penggunaan bahasa yang kasar, menghina, memaki, memfitnah, mengejek atau melecehkan yang akan menggambarkan pribadi yang tidak baik. Dengan demikian, sifat dan kepribadian seseorang dapat pula dicerminkan dari penggunaan bahasanya itu.

  Penggunaan bahasa dapat dilakukan di mana saja salah satunya di perguruan tinggi. Pada prinsipnya perguruan tinggi merupakan satuan pendidikan tertinggi sebagai penghasil kaum intelektual muda yaitu mahasiswa yang cerdas, kreatif dan kompetitif. Dalam hal ini, mahasiswa di perguruan tinggi dapat dikatakan sebagai pelajar di ranah tertinggi pendidikan. Sebagai pelajar tertinggi, mahasiswa harus dapat memiliki sikap yang berbeda dengan orang-orang yang masih memiliki tingkat pendidikan di bawah perguruan tinggi bahkan dengan orang yang kurang berpendidikan. Sikap berbeda itu terutama dalam hal berkomunikasi dengan orang lain.

  Bahasa yang dipakai dalam lingkungan perguruan tinggi tentu saja berbeda dengan yang berada di luar lingkungan. Hal ini disebabkan perguruan tinggi menjadi salah satu tempat interaksi sosial orang-orang berpendidikan. Orang-orang yang berpendidikan tinggi seharusnya dapat bertutur santun karena mereka diajarkan satu alasan mengapa kesantunan berbahasa sangat diutamakan dalam lingkungan perguruan tinggi. Sebagai orang yang memiliki pendidikan tinggi, mahasiswa harus memahami dan menguasai kesantunan dalam berbahasa. Tujuannya selain untuk menghormati orang lain, yang lebih hakiki adalah bahwa berlaku santun justru untuk menjaga harkat dan martabat diri (mahasiswa) sebagai penutur bahasa (Pranowo, 2009:150). Ironisnya masih banyak mahasiswa yang kurang santun ketika berbicara.

  Ketidaksantunan berbahasa yang dilakukan khususnya antarmahasiswa sering kali terjadi baik di lingkungan perguruan tinggi maupun di luar. Ketidaksantunan tersebut terjadi karena berbagai alasan yaitu adanya kedekatan antarmahasiswa, kebiasaan berbahasa tidak santun, latar belakang keluarga, kurang adanya pengetahuan mengenai bahasa yang santun, bahkan bahasa tidak santun digunakan untuk bersosialisasi antarmahasiswa kelompok tertentu. Contoh kalimat yang diutarakan Pie kabare cuk?, Bajingan, soal ujiane susah-susah. Hal-hal seperti ini dapat berakibat fatal apabila sedang terjadi komunikasi, terlebih komunikasi yang dilakukan dengan mitra tutur seperti orang-orang besar dan berpendidikan tinggi.

  Pada dasarnya fenomena seperti di atas telah terjadi di berbagai lingkup ranah pendidikan seperti halnya di perguruan tinggi. Penulis secara khusus memilih untuk meneliti ketidaksantunan berbahasa para mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah Angkatan 2009

  —2011 Universitas Sanata Dharma yang notabene para mahasiswanya berasal dari berbagai pelosok daerah di Indonesia yang juga memiliki tata karma dan cara berbahasa masing-masing. Hal kekhasan tersendiri dalam berkomunikasi karena mereka lebih mendalami kajian bahasa daripada mahasiswa program studi lain. Selain itu, kedekatan penulis dengan para mahasiswa PBSID tersebut juga menjadi salah satu faktor utama pemilihan subjek penelitian ini.

  Berdasarkan fakta di atas, seharusnya para mahasiswa khususnya mahasiswa PBSID dapat menghindari penggunaan bahasa yang kurang santun baik dengan sesama mahasiswa maupun dengan orang yang lebih tua bahkan berpendidikan tinggi. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk mendeskripsikan ketidaksantunan linguistik dan pragmatik terutama dalam komunikasi antarmahasiswa di Program Studi PBSID Angkatan 2009 —2011 Universitas Sanata Dharma.

1.1 Rumusan Masalah

  Berdasarkan latar belakang masalah seperti di atas, masalah-masalah yang akan diteliti dalam penelitian ini meliputi: a.

  Wujud ketidaksantunan linguistik dan pragmatik berbahasa apa sajakah yang digunakan antarmahasiswa Program Studi PBSID Angkatan 2009 —2011 di

  Universitas Sanata Dharma? b. Wujud penanda ketidaksantunan linguistik dan pragmatik berbahasa apa sajakah yang digunakan antarmahasiswa Program Studi PBSID Angkatan

  2009 —2011 di Universitas Sanata Dharma? c.

  Apa makna ketidaksantunan berbahasa yang digunakan antarmahasiswa

  1.2 Tujuan Penelitian

  Sesuai dengan rumusan masalah seperti di atas, maka tujuan penelitian ini secara rinci sebagai berikut.

  a.

  Mendeskripsikan wujud ketidaksantunan linguistik dan pragmatik berbahasa yang digunakan antarmahasiswa Angkatan 2009 —2011 di Universitas Sanata Dharma.

  b.

  Mendeskripsikan wujud penanda ketidaksantunan linguistik dan pragmatik berbahasa yang digunakan antarmahasiswa Program Studi PBSID Angkatan 2009 —2011 di Universitas Sanata Dharma.

  c.

  Mendeskripsikan makna ketidaksantunan berbahasa yang digunakan antarmahasiswa Program Studi PBSID Angkatan 2009 —2011 di Universitas Sanata Dharma.

  1.4 Manfaat Penelitian

  Penelitian ketidaksantunan berbahasa dalam ranah pendidikan ini diharapkan dapat bermanfaat bagi para pihak yang memerlukan. Terdapat dua manfaat yang dapat diperoleh dari pelaksanaan penelitian sebagai berikut.

  a.

  Manfaat teoretis Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan memperluas kajian serta memperkaya khasanah teoretis tentang ketidaksantunan dalam berbahasa sebagai fenomena pragmatik baru. Penelitian ini dapat dikatakan dikemukakan oleh para ahli dapat digunakan sebagai tambahan pengetahuan baru dan referensi untuk menghindari ketidaksantunan berbahasa dalam berkomunikasi.

  b.

  Manfaat Praktis Penelitian ketidaksantunan berbahasa ini juga diharapkan dapat memberikan masukan khususnya bagi mahasiswa dalam berkomunikasi untuk menghindari penggunaan bahasa yang kurang santun. Demikian pula, penelitian ini akan memberikan masukan kepada para praktisi dalam bidang pendidikan terutama bagi dosen, guru, mahasiswa, siswa, dan tenaga kependidikan untuk mempertimbangkan adanya ketidaksantunan berbahasa dalam komunikasi yang harus dihindari.

1.5 Batasan Istilah a.

  Ketidaksantunan Ketidaksantunan berbahasa menurut Culpeper (2008:3) adalah

  , ‘Impoliteness,

  as I would define it, involves communicative behavior intending to cause the “face loss” of a target or perceived by the target to be so.‟ Dengan kata lain

  ketidaksantunan dapat dilihat dari penekanan pada fakta ‘face loss‟ atau fakta ‘kehilangan muka’.

  b. Linguistik Linguistik adalah ilmu tentang (aspek) bahasa, dalam arti salah satu ilmu yang sebagai objek sasarannya atau ilmu yang mengkaji seluk beluk bahasa (Kesuma melalui Sudaryanto, 1995:5)

  c. Pragmatik Pragmatik sebagai studi bahasa yang mempelajari relasi bahasa dengan konteksnya. Konteks yang dimaksud telah tergramatisasi dan terkodifikasi sehingga tidak pernah dapat dilepaskan dari struktur bahasanya. (Levinson melalui Rahardi, 2009:20) d. Konteks

  Konteks tuturan dapat diartikan sebagai semua latar belakang pengetahuan (background knowledge) yang diasumsikan sama-sama dimiliki dan dipahami bersama oleh penutur dan mitra tutur serta yang mendukung interpretasi mitra tutur atas apa yang dimaksudkan oleh si penutur itu di dalam keseluruhan proses bertutur (Rahardi, 2006:20).

1.6 Sistematika Penyajian

  Sistematika penulisan penelitian dijabarkan beberapa hal, yang meliputi pendahuluan, kajian teori, metode penelitian, hasil penelitian dan pembahasan, dan penutup.

  Bab I adalah pendahuluan, yang berisi beberapa sub bab, yaitu (1) latar belakang, (2) rumusan masalah, (3) tujuan penelitian, (4) manfaat penelitian, (5) batasan istilah, dan (6) sistematika penyajian.

  Bab II adalah kajian teori yang berisi tiga pokok bahasan yaitu (1) penelitian yang relevan, (2) kajian pustaka, dan (3) kerangka berpikir. Bab III metode penelitian yang berisi enam hal yaitu (1) jenis penelitian, (2) subjek penelitian, (3) metode dan teknik pengumpulan data, (4) instrumen penelitian, (5) metode dan teknik analisis data, (6) hasil analisis data.

  Bab IV hasil dan pembahasan yang berisi tiga hal yaitu (1) deskripsi data, (2) hasil analisis data, dan (3) pembahasan. Bab V penutup yang berisi dua hal yaitu (1) kesimpulan dan (2) saran. Selain beberapa bab di atas, peneliti juga menyajikan daftar pustaka dan lampiran-lampiran yang mendukung penelitian ini.

BAB II KAJIAN TEORI

2.1 Penelitian yang Relevan

  Penelitian yang relevan dengan ketidaksantunan berbahasa di Indonesia masih belum ditemukan oleh peneliti. Hal ini disebabkan penelitian mengenai ketidaksantunan berbahasa merupakan bahan kajian baru yang belum ditelaah oleh para peneliti bahasa secara lebih mendalam. Sebaliknya, sudah banyak ditemukan penelitian mengenai kesantunan berbahasa di berbagai ranah kehidupan. Terlebih dalam ranah pendidikan, sudah banyak penelitian mengenai kesantunan berbahasa yang dapat ditemukan salah satunya pada penelitian mahasiswa PBSID Universitas Sanata Dharma. Selain itu, adanya fakta dalam et al. pada tahun 2008 yang

  buku Impoliteness in Language oleh Bousfield

  diterbitkan sebagai wujud keprihatinan linguis khususnya yang berkecimpung dalam pragmatik, masalah ketidaksantunan berbahasa itu masih belum pernah dikaji secara komperehensif dan mendalam. Fakta kebahasaan yang demikian itu menunjukkan bahwa masih langkanya studi ketidaksantunan pragmatik khususnya di dalam bahasa Indonesia.

  Pada prinsipnya, penelitian mengenai kesantunan berbahasa ini dapat dikatakan sebagai penelitian pionir dalam mengkaji ketimpangan kajian antara kesantunan dan ketidaksantunan berbahasa. Oleh karena itu, peneliti

  12

  berbahasa. Peneliti menemukan empat penelitian mengenai kesantunan berbahasa yang akan dipaparkan secara ringkas sebagai berikut.

  Penelitian dilakukan oleh Weny Anugraheni (2011) dengan judul penelitian

  

“Jenis Kesantunan dan Penyimpangan Maksim Kesantunan dalam Tuturan Imperatif

Guru Kepada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Pringsurat Temanggung dalam Mata

Pelajaran Bahasa Indonesia.”. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif

  kualitatif dan metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik simak dan teknik catat. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa ada dua jenis kesantunan dalam tuturan imperatif yaitu kesantunan imperatif tuturan deklaratif dan kesantunan imperatif tuturan imperatif. Kedua jenis tuturan tersebut masih dibagi lagi menjadi bermacam-macam jenis sesuai dengan tuturan. Berdasarkan penelitian dapat disimpulkan bahwa guru bahasa Indonesia SMP Negeri 1 Pringsurat Temanggung masih melakukan penyimpangan kaidah berbahasa kepada siswa. Hal ini disebabkan oleh (1) tidak konsistennya keinginan guru dalam praktik pemakaian tuturan, (2) kaidah kesantunan belum sepenuhnya dimiliki oleh guru, (3) guru bahasa belum sepenuhnya memahami bagaimana pemakaian bahasa yang baik dan santun.

  Penelitian lain dilakukan oleh Ayuningtyas Kusumastuti (2010) dengan judul

  

“Kesantunan Berbahasa Indonesia Pembawa Acara Stasiun Televisi Swasta

Nasional.” Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dan metode

  pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode simak berupa teknik sadap sebagai teknik dasar, serta teknik simak bebas libat cakap dan teknik

  13

  kelompok tuturan santun pembawa acara televisi, yaitu (1) tuturan yang menunjukkan

  

sikap menghargai terhadap mitra tutur, (2) tuturan yang menunjukkan sikap peduli

terhadap mitra tutur, (3) tuturan yang mengandung upaya menarik minat pemirsa,

(4) tuturan yang berisi nasihat, (5) tuturan yang menunjukkan prioritas terhadap

mitra tutur berjarak paling jauh, dan (6) tuturan yang menunjukkan sikap rendah

hati . Untuk mewujudkan keenam tuturan tersebut, ditemukan empat strategi yang

  dapat digunakan para pembawa acara televisi, yaitu strategi bertutur dengan

  

kesantunan positif, strategi bertutur lugas, strategi bertutur samar-samar, dan

strategi bertutur dengan kesantunan negatif. Ditemukan penanda bahasa verbal dan

  nonverbal yang menunjukkan kesantunan berbahasa para pembawa acara televisi, yaitu nomina pengacu dan nomina penyapa, adverbial modalitas, gaya bahasa,

  interjeksi, jenis kalimat, serta bahasa nonverbal yang menyertai tuturan.

  Penelitian sejenis juga pernah dilakukan oleh Oratna Sembiring (2011) berjudul

  

Bentuk-bentuk Tindak Tutur Imperatif dan Penanda Kesantunan Berbahasa

Indonesia Studi Kasus di Komunitas Suster SCMM Pringwulung-Yogyakarta.

  Penelitian ini ditinjau dari dua segi, dari segi metode penelitian ini termasuk penelitian kualitatif naturalistik. Dari segi sumber data, penelitian ini merupakan studi kasus. Penelitian ini mendeskripsikan tentang bentuk-bentuk tindak tutur imperatif dan penanda kesantunan berbahasa dalam bentuk tindak tutur imperatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik rekam dan teknik catat. Adapun hasil penelitian ini adalah ditemukannya bentuk-bentuk tindak

  14

  kesantunan berbahasa Indonesia di komunitas suster SCMM Pringwulung- Yogyakarta. Bentuk-bentuk tindak tutur imperatif di Komunitas Suster SCMM Pringwulung-Yogyakarta meliputi (1) bentuk tindak tutur imperatif langsnung literal, (2) bentuk tindak tutur imperatif tidak langsung literal, (3) tindak tutur imperatif langsung tidak literal, dan (4) tindak tutur imperatif tidak langsung tidak literal.

  Penanda kesantunan berbahasa Indonesia di komunitas suster SCMM Pringwulung- Yogyakarta meliputi (1) penanda kesantunan faktor kebahasaan dan (2) penanda kesantunan faktor nonkebahasaan. Penanda kesantunan faktor kebahasaan meliputi (1) diksi, (2) gaya bahasa, (3) penggunaan pronominal, (4) penggunaan kata keterangan (modalitas), dan (5) bentuk tuturan. Penanda kesantunan faktor nonkebahasaan meliputi (1) topik pembicaraan, (2) budaya, dan (3) konteks situasi komunikasi.

  Penelitian juga dilakukan oleh Rahardi (1999) dalam penelitiannya yang berjudul Imperatif dalam Bahasa Indonesia: Penanda-penanda Kesantunan

  

Lingustiknya. Penelitian tersebut mendasari adanya empat pemarkah kesantunan

  lingustik (linguistic politeness) tuturan imperatif dalam bahasa Indonesia. Keempat pemarkah tersebut adalah (1) panjang pendek tuturan, (2) urutan tutur, (3) intonasi dan isyarat kinesik, (4) ungkapan-ungkapan penanda kesantunan.

  Keempat penelitian di atas merupakan penelitian mengenai kesantunan berbahasa. Ternyata dalam beberapa hasil penelitian tersebut dapat ditemukan pula bentuk penyimpangan dan pelanggaran kaidah kesantunan berbahasa. Selain itu,

  15

  dilakukan misalnya oleh Weni Anugraheni (2011) yaitu jenis penelitian deskriptif kualitatif dan metode pengumpulan data adalah teknik simak dan teknik catat, membuat peneliti semakin yakin untuk menggunakan beberapa penelitian kesantunan tersebut. Selain fakta dan kesamaan yang ditemukan penulis, berkaitan dengan kelangkaan studi ketidaksantunan berbahasa ini, dipaparkan oleh Miriam A Locher (2008)

  ‗enormous imbalance exists between academic interest in politeness

  phenomena as opposed to impoliteness phenomena

  .‘ Jadi, tidak saja ketimpangan dalam pengertian yang biasa saja, tetapi ‗enormous imbalance‘ itu berarti terdapat ketimpangan besar sekali antara studi ketidaksantunan dan kesantunan dalam berbahasa. Adanya kelangkaan studi ketidaksantunan tersebut menyebabkan sulitnya menemukan sumber-sumber, referensi-referensi, bahkan penelitian-penelitian yang relevan dengan kajian itu. Oleh karena itu, beberapa penelitian kesantunan berbahasa yang telah dipaparkan tersebut dapat peneliti gunakan sebagai acuan dan pijakan dalam mengkaji fenomena ketidaksantunan berbahasa khususnya dalam ranah pendidikan yang selama ini belum ada peneliti yang mengkaji lebih dalam.

2.2 Teori Ketidaksantunan Berbahasa

  Pada prinsipnya ketidaksantunan berbahasa merupakan bentuk pertentangan dengan kesantunan berbahasa. Apabila kesantunan berbahasa berkaitan dengan penggunaan bahasa yang baik, santun, dan sesuai dengan tatakrama, ketidaksantunan berbahasa berkaitan dengan penggunaan bahasa yang tidak baik,

  16

  santun banyak ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, baik secara lisan maupun tulisan. Lebih dari itu, penggunaan bahasa yang tidak santun tersebut tidak hanya dilakukan oleh masyarakat tak berpendidikan, tetapi juga oleh masyarakat yang berpendidikan (kaum intelektual). Adapun beberapa teori para ahli yang mengemukakan ketidaksantunan berbahasa sebagai berikut.

2.2.1 Teori Ketidaksantunan Berbahasa dalam Pandangan Locher

  Menurut Miriam A Locher (2008:3), ketidaksantunan dalam berbahasa dapat dipahami sebagai berikut,

  „…behaviour that is face-aggravating in a particular context.‟ Perilaku ketidaksantunan berbahasa itu menunjuk pada

  perilaku ‗melecehkan‘ muka (face-aggravate) yang sesungguhnya lebih dari sekadar

  „mengancam‟ muka (face-threaten), seperti yang ditawarkan dalam

  banyak definisi kesantunan klasik Leech (1983), Brown and Levinson (1987), atau sebelumnya pada tahun 1978, yang cenderung dipengaruhi konsep muka Erving Goffman (cf. Rahardi, 2009).

  Interpretasi lain yang berkaitan dengan definisi Locher terhadap ketidaksantunan berbahasa ini adalah bahwa tindakan tersebut sesungguhnya bukanlah sekadar perilaku

  „melecehkan muka‟, melainkan perilaku yang „memain-mainkan muka‟. Tindakan bertutur sapa akan dikatakan sebagai

  tindakan yang tidak santun bilamana muka (face) dari mitra tutur dipermainkan, atau setidaknya dia telah merasa bahwa penutur memain-

  17

  bahwa ketidaksantunan berbahasa dalam pemahaman Miriam A. Locher adalah sebagai tindak berbahasa yang melecehkan dan memain-mainkan muka, sebagaimana yang dilambangkan dengan kata ‗aggravate‘ itu.

  Konsep mengenai perilaku ketidaksantunan berbahasa ini dapat diperjelas dengan contoh tuturan berikut.

  Cuplikan 1

  Mahasiswa 1: ―Tujuh puluh delapan pak‖ (diulang dua kali)

  Mahasiswa 2: ―Nek ngomong jangan kayak orang kumur-kumur” (1)

  Cuplikan 2

  Mahasiswa 1: ―Eh ini soalnya ditulis nggak? Soalnya ditulis enggak pak?‖

  Mahasiswa 2: ―Enggak, dimakan!‖ (2)

  Informasi indeksal

  Tuturan (1) pada contoh di atas dituturkan oleh seorang mahasiswa laki- laki kepada teman mahasiswi di kelas ketika perkuliahan sedang berlangsung.

  Pada saat itu, mahasiswi berusaha menyampaikan hasil koreksi kuis yang baru saja dikoreksinya kepada dosen. Mahasiswi itu baru beberapa waktu menggunakan behel sehingga masih kesusahan untuk berbicara. Tuturan (2) dituturkan oleh seorang mahasiswa kepada teman mahasiswa di dalam kelas.

  Pada saat perkuliahan berlangsung diadakan sebuah kuis, seperti kebiasaan dosen membacakan soal dan para mahasiswa mencatat soal tersebut.

  Mahasiswa itu menanyakan soal yang dibacakan dosen kepada temannya sehingga menimbulkan kegaduhan.

  Tuturan (1) dan (2) merupakan bentuk ketidaksantunan berbahasa yaitu

  18

  mitra tutur secara langsung di depan mitra tutur. Tuturan (1) penutur mengatakan dengan sindirannya bahwa mitra tutur berbicara seperti orang yang berkumur secara langsung. Pernyataan tersebut dapat mengakibatkan mitra tutur merasa dihina atau dilecehkan oleh penutur. Tuturan (2) penutur mengatakan secara singkat sindirannya untuk memperingatkan mitra tutur yang telah menimbulkan kegaduhan ketika kuis berlangsung. Tuturan (2) juga dapat menimbulkan luka hati bagi mitra tuturnya.

  Selain itu, Locher (2008) juga mendefinisikan bahwa ketidaksantunan adalah bentuk memain-mainkan muka. Tuturan (3) pada bagian berikut dapat memperjelas pernyataan ini.

  Cuplikan 3

  Mahasiswa 1: ―Hai nona, mau ngapain eh kamu?‖ Mahasiswa 2:

  ―Yauda sii biasa aja!‖ (3)

  Informasi indeksal

  Tuturan (3) dituturkan oleh seorang mahasiswa kepada teman mahasiswa lain. Tuturan terjadi ketika jeda kuliah, beberapa mahasiswa masuk ke dalam kelas untuk mencari tempat duduk. Seorang mahasiswa menyapa dan menggoda teman mahasiswa itu. Seperti kebiasaan, teman mahasiswa itu selalu menanggapi godaan temannya dengan santai, tetapi saat itu dia tidak bertingkah demikian. Tuturan tersebut termasuk bentuk ketidaksantunan yaitu memain-mainkan muka karena tindakan teman mahasiswa yang biasa ramah berubah menjadi galak dan terkesan tidak ramah saat itu. Tindakan

  19

  ketidakramahan tersebut dapat pula menimbulkan kebingungan dan bahkan mengakibatkan luka hati bagi mitra tuturnya. Dengan demikian, tuturan (1), (2), dan (3) merupakan contoh bentuk ketidaksantunan yaitu melecehkan muka dan memain-mainkan muka. Tuturan melecehkan muka terjadi apabila penutur tidak menyukai tindakan mitra tutur yang dirasa penutur tidak nyaman, sedangkan memain-mainkan muka terjadi apabila tuturan yang tidak biasa dikeluarkan atau dilontarkan kepada penutur, saat itu terjadi karena adanya keadaan yang tidak disukai penutur terhadap mitra tutur. Tuturan yang melecehkan dan memain-mainkan muka itu dapat pula menimbulkan luka hati bagi mitra tuturnya.

2.2.2 Teori Ketidaksantunan Berbahasa dalam Pandangan Bousfield

  Menurut Bousfield (2008:3), ketidaksantunan dalam berbahasa dipahami sebagai, ‗The issuing of intentionally gratuitous and conflictive face-

  threatening acts (FTAs) that are purposefully perfomed.‟ Bousfield

  memberikan penekanan pada dimensi

  „kesembronoan‟ (gratuitous), dan konfliktif (conflictive) dalam praktik berbahasa yang tidak santun itu.

  Jadi apabila perilaku berbahasa seseorang itu mengancam muka, dan ancaman terhadap muka itu dilakukan secara sembrono (gratuitous), hingga akhirnya tindakan berkategori sembrono demikian itu mendatangkan konflik, atau bahkan pertengkaran, dan tindakan tersebut dilakukan dengan kesengajaan (purposeful), maka tindakan berbahasa itu merupakan realitas

  20

  Ada beberapa indikasi penentu kesembronoan yatiu tuturan dinyatakan secara langsung, tuturan negatif, tuturan positif, tuturan mengandung implikatur, dan kesantunan yang ditahan. Tuturan

  • –tuturan pada bagian berikut akan memperjelas pernyataan ini.

  Cuplikan 4

  Mahasiswa 1: ―Potong model opo to kowe?‖

  Mahasiswa 2: ―Kowe potong koyo pitik gering‖ (4)

  Cuplikan 5

  Mahasiswa 1: ―Pie laporan PPLmu?‖

  Mahasiswa 2: ―Kurang tanda tangan guru pamong‖

  Mahasiswa 1: ―Lha guru pamongmu neng ndi?‖

  Mahasiswa 2: ―Palestina‖ (5)

  Cuplikan 6

  Mahasiswa 1: ―Mau kemana buk? Ngajar? (melihat mahasiswa 2

  menggunakan baju rapi seperti layaknya guru ke perpustakaan memberi komentar sambil tertawa kecil )

  ‖ (6) Mahasiswa 2:

  ―Iya mau ngajar aku.‖

  Cuplikan 7

  Mahasiswa 1: ―Iya ini kuliah Psikolinguistik, kamu kuliah apa e mbak?‖ Mahasiswa 2:

  ―Kuliah sama kamu‖ (sambil tertawa kecil) (7)

  Cuplikan 8

  (8) Mahasiswa 1: ―Ni buat kamu‖ (sambil memberikan coklat)

  Mahasiswa 2: ―Oh iya.‖

  Informasi indeksal

  Tuturan (4) dituturkan oleh seorang mahasiswa kepada teman mahasiswa di depan ruang kelas saat menunggu kelas berikutnya dengan suasana santai dan ramai. Penutur mengomentari model rambut mitra tutur yang baru secara langsung dan sembrono. Tuturan (5) dituturkan oleh seorang mahasiswa kepada teman mahasiswa lain yang sudah berteman lama dan satu kelas.

  21

  Tuturan tersebut merupakan tuturan yang sembrono pula. Kata palestina bisa diartikan tidak santun apabila mitra tuturnya tidak memiliki relasi yang dekat dan akrab dengan penutur, tetapi apabila penutur sedang mengharapkan jawaban yang serius seperti dalam cuplikan 5 dapat pula terjadi konflik sekalipun penutur dan mitra tutur berteman akrab. Tuturan (6) dituturkan oleh mahasiswi kepada teman mahasiswi lain yang sedang memasuki perpustakaan. Mahasiswi tersebut mengenakan baju rapi layaknya guru sehingga menimbulkan komentar dari temannya. Komentar tersebut dituturkan secara langsung dan sembrono di depan penutur. Tuturan (7) dituturkan oleh seorang mahasiswa sebagai kakak tingkat kepada adik tingkatnya di depan ruang kelas. Wujud kebahasaan tersebut disampaikan secara langsung dan sembrono untuk menimbulkan gelak tawa. Tuturan (8) dituturkan oleh mahasiswa kepada teman mahasiswinya ketika sedang menunggu jeda kuliah. Mahasiswa tersebut memberikan coklat kepada temannya. Penutur berasumsi bahwa mitra tutur akan mengucapkan terima kasih ternyata mitra tutur tidak mengatakan hal tersebut. Tuturan tersebut termasuk wujud ketidaksantunan karena dapat menimbulkan konflik di antara keduanya.

  Berdasarkan ilustrasi yang telah dikemukakan, dapat disimpulkan bahwa teori ketidaksantunan berbahasa dalam pandangan Bousfield (2008) ini lebih menitikberatkan pada bentuk penggunaan ketidaksantunan tuturan oleh

  22

  tuturnya dengan tanggapan semaunya secara sengaja dan dapat memungkinkan adanya konflik diantara penutur dan mitra tutur.

2.2.3 Teori Ketidaksantunan Berbahasa dalam Pandangan Culpeper

  Pemahaman Culpeper (2008:3) tentang ketidaksantunan berbahasa adalah , ‗Impoliteness, as I would define it, involves communicative behavior

  intending to cause the “face loss” of a target or perceived by the target to be so.

   Dia memberikan penekanan pada fakta „face loss‟ atau „kehilangan muk a‟—kalau dalam bahasa Jawa mungkin konsep itu dekat dengan konsep „kelangan rai‟ (kehilangan muka). Culpeper memberikan penekanan pada

  fakta ‗face loss‟ atau fakta ‗kehilangan muka‘ untuk menjelaskan konsep ketidaksantunan dalam berbahasa itu. Sebuah tuturan akan dianggap sebagai tuturan yang tidak santun jika tuturan itu menjadikan muka seseorang hilang. Setidaknya tuturan yang menghilangkan muka itu dirasakan oleh sang mitra tutur sendiri.

  Dengan demikian, ketidaksantunan (impoliteness) dalam berbahasa itu merupakan perilaku komunikatif yang diperantikan secara intensional untuk membuat orang benar-benar kehilangan muka (face loss), atau setidaknya orang tersebut

  „merasa‟ kehilangan muka.

  Konsep mengenai perilaku ketidaksantunan berbahasa ini dapat diperjelas dengan contoh berikut.

  23 Cuplikan 9

  Mahasiswa 1: ―Menurut saya judul makalah Anda kurang spesifik, masih banyak variabel sehingga terkesan boros kata-kata jadi perlu diperbaiki.

  ‖ Mahasiswa 2:

  ―Terima kasih atas masukannya, sebenarnya judul saya ini sudah direvisi oleh dosen. Jadi saya tidak mengubahnya lagi.

  ‖ (9)

  Cuplikan 10

  Mahasiswa 1: ―Yah buka sepatu nih.‖ (sambil membuka sepatu)

  Mahasiswa 2: ―Ihh kakimu cantik ya kayak cewek.‖ (10)

  Informasi indeksal

  Tuturan (9) dituturkan oleh seorang mahasiswa kepada teman mahasiswa di dalam kelas. Pada saat perkuliahan berlangsung, terdapat sesi presentasi dan pemberian tanggapan. Penutur sebagai pemakalah mendapat tanggapan dari pembahas umum yaitu mitra tutur. Mitra tutur mengatakan bahwa judul penutur kurang spesifik, lalu penutur memberikan konfirmasi dari tanggapan tersebut. Konfirmasi penutur yang disampaikan secara langsung di depan mitra tutur, teman satu kelas, dan dosen pengampu. Tuturan (10) dituturkan oleh seorang mahasiswi kepada teman mahasiswa ketika akan memasuki ruang laboratorium bahasa. Para mahasiswa harus melepas sepatu mereka ketika masuk laboratorium bahasa. Mitra tutur mengomentari kaki penutur dengan suara keras dan menimbulkan perhatian teman lain sehingga banyak teman yang menertawakannya. Tuturan (9) dan (10) merupakan tuturan yang termasuk ke dalam ketidaksantunan berbahasa yang menghilangkan muka mitra tuturnya karena tuturan tersebut membuat mitra tutur merasa dijatuhkan

  24

  Berdasarkan ilustrasi yang telah dikemukakan, dapat disimpulkan bahwa teori ketidaksantunan berbahasa dalam pandangan Culpeper ini lebih menitikberatkan pada bentuk penggunaan ketidaksantunan tuturan oleh penutur yang memiliki maksud untuk mempermalukan mitra tuturnya di depan umum.

2.2.4 Teori ketidaksantunan berbahasa dalam pandangan Terkourafi

  Terkourafi (2008:3-4) memandang ketidaksantunan sebagai,

  „impoliteness occurs when the expression used is not conventionalized relative to the context of occurrence; it threatens the addressee‟s face but no face- threatening intention is attributed to the speaker by the hearer.‟ Jadi perilaku

  berbahasa dalam pandangannya akan dikatakan tidak santun bilamana mitra tutur (addressee) merasakan ancaman terhadap kehilangan muka (face

  threaten), dan penutur (speaker) tidak mendapatkan maksud ancaman muka itu dari mitra tuturnya.

  Konsep mengenai perilaku ketidaksantunan berbahasa ini dapat diilustrasikan dengan contoh berikut.

  Cuplikan 11

  Mahasiswa 1: ―Weh kertasku mana?‖ (sambil menyentuh badan mahasiswa 2) Mahasiswa 2:

  ―Apa lho kamu tu gak usah pegang-pegang! Asem kok.‖ (11)

  Informasi indeksal

  Tuturan (11) dituturkan oleh mahasiswi kepada teman mahasiswanya di kelas ketika selesai pengoreksian kuis para mahasiswa. Tuturan tersebut

  25

  menunjukkan bahwa mahasiswa 1 berusaha meminta respon mahasiswa 2, namun mahasiswa 1 meminta dengan cara yang membuat mahasiswa 2 tidak nyaman dengannya yaitu dengan menyentuh badan mahasiswa 2. Mahasiswa 1 bertutur dengan intonasi tanya sedangkan mahasiswa 2 bertutur dengan nada keras dan sinis. Dari percakapan di atas dapat diketahui bahwa mahasiswa 2 menanggapi dengan rasa kesal yang mengancam muka secara sepihak mahasiswa 1. Hal tersebut membuat mahasiswa 1 sebagai mitra tutur merasa terancam dan malu dengan tanggapan dari mahasiswa 2 dengan tuturan (11) itu.

  Berdasarkan ilustrasi yang telah dikemukakan, dapat disimpulkan bahwa teori ketidaksantunan berbahasa dalam pandangan Terkourafi (2008) ini lebih menitikberatkan pada bentuk penggunaan ketidaksantunan tuturan oleh penutur yang memiliki maksud untuk mengancam muka sepihak mitra tuturnya tetapi di sisi lain penutur tidak menyadari bahwa perkataannya menyinggung mitra tutur.

2.2.5 Teori Ketidaksantunan Berbahasa dalam Pandangan Locher and Watts

  Locher and Watts (2008:5) berpandangan bahwa perilaku tidak santun adalah perilaku yang secara normatif dianggap negatif (negatively marked

  behavior), lantaran melanggar norma-norma sosial yang berlaku dalam

  masyarakat. Juga mereka menegaskan bahwa ketidaksantunan merupakan peranti untuk menegosiasikan hubungan antarsesama (a means to negotiate

  26

  berikut ini,

  „…impolite behaviour and face-aggravating behaviour more generally is as much as this negation as polite versions of behavior.‟ (cf.

  Lohcer and Watts, 2008:5).

  Setiap daerah mempunyai norma atau peraturan yang mengatur perilaku masyarakat. Peraturan itu bersifat wajib dan mengikat. Selain daerah atau wilayah tertentu, suatu organisasi atau lembaga pendidikan pasti mempunyai peraturan yang berfungsi mengatur perilaku atau tindakan semua warga yang bernaung di lembaga tersebut. Universitas adalah salah lembaga pendidikan, warga masyarakat di lembaga universitas adalah dosen, mahasiswa, dan karyawan.

  Norma yang telah ditetapkan itu adalah bentuk kesempakatan bersama antara yang membuat norma dan pelaksana norma. Norma juga suatu bentuk kerja sama antar hubungan sesama bila norma mampu direalisasikan dengan baik tidak akan ada perselisihan. Namun, bila terjadi pelanggaran norma akan terjadi pertengkaran

  • – bentuk kebahasan ketidaksantunan – konflik antar penutur dan mitra tutur. Konsep mengenai perilaku ketidaksantunan berbahasa ini dapat diperjelas dengan contoh berikut.

  Cuplikan 12

  Mahasiswa 1: ―Udah dari tadi po rapate? Mahasiswa 2: ―Udaa sekitar 15 menit yang lalu, sekarang giliran bendahara laporan‖ Mahasiswa 1: ―Oohh gitu tha‖ Mahasiswa 3: ―Kamu gak inget apa kata ketua? Kita harus on time ee kamu

  27

  Mahasiswa 1: ―Hehehee lupaa, emang pada patuh ama omongan ketua

  po

  ?!‖ (12) Mahasiswa 3: ―Iyalaah itu kan udah komitmen panitia!‖

  Informasi indeksal

  Tuturan (12) disampaikan oleh mahasiswa 1 yang terlambat datang ke rapat panitia dengan santai tanpa rasa bersalah membuat mahasiswa 2 dan 3 meresponnya dengan nada sinis dan jengkel. Dari percakapan di atas dapat diketahui bahwa mahasiswa 1 tidak menghiraukan komitmen panitia yang sudah disepakati bersama yaitu on time. Sebaliknya mahasiswa 1 tanpa merasa bersalah menanggapi dengan tuturan (12). Tuturan tersebut merupakan tuturan yang tidak santun karena telah mengacuhkan dan melanggar komitmen panitia yang menjadi sebuah norma dalam kelompok panitia tersebut.

  Berdasarkan ilustrasi yang telah dikemukakan, dapat disimpulkan bahwa teori ketidaksantunan berbahasa dalam pandangan Locher and Watts (2008) ini lebih menitikberatkan pada bentuk penggunaan ketidaksantunan tuturan oleh penutur yang secara normatif dianggap negatif, karena dianggap melanggar norma-norma sosial yang berlaku dalam masyarakat (tertentu).

2.2.6 Rangkuman

  Berdasarkan sejumlah teori ketidaksantunan yang disampaikan di bagian depan, dapat ditegaskan bahwa

  28

  1. ketidaksantunan berbahasa dalam pandangan Miriam A. Locher sebagai tindak berbahasa yang melecehkan dan memain-mainkan muka

  2. ketidaksantunan berbahasa dalam pandangan Bousfield adalah perilaku berbahasa yang mengancam muka dilakukan secara sembrono

  (gratuitous), hingga mendatangkan konflik 3. ketidaksantunan berbahasa dalam pandangan Culpeper adalah perilaku berbahasa untuk membuat orang benar-benar kehilangan muka (face

  loss), atau setidaknya orang tersebut „merasa‟ kehilangan muka

  4. ketidaksantunan berbahasa dalam pandangan Terkourafi adalah perilaku berbahasa yang bilamana mitra tutur merasakan ancaman terhadap kehilangan muka, dan penutur tidak mendapatkan maksud ancaman muka itu dari mitra tuturnya

  5. ketidaksantunan berbahasa dalam pandangan Locher and Watts adalah perilaku berbahasa yang secara normatif dianggap negatif, lantaran melanggar norma-norma sosial yang berlaku dalam masyarakat.

  Kelima teori ketidaksantunan berbahasa itu, semuanya akan digunakan sebagai kacamata untuk melihat praktik berbahasa yang tidak santun antarmahasiswa Progam Studi PBSID Angkatan 2009--2011 di Universitas Sanata Dharma.

2.3 Tindak Tutur

  Yule (1996:81) menjelaskan bahwa dalam usaha untuk

  29

  mengandung kata-kata dan struktur-struktur gramatikal saja, tetapi penutur juga memperlihatkan tindakan-tindakan melalui tuturan-tuturan itu. Tindakan- tindakan yang ditampilkan lewat tuturan itu biasanya disebut tindak tutur. Austin (1962) membedakan tiga jenis tindakan yang bekaitan dengan ujaran. Ketiganya adalah tindak lokusioner, tindak ilokusioner, dan tindak perlokusioner atau singkatnya lokusi, ilokusi, dan perlokusi. Searle melalui bukunya Speech Acts An Essay in The Philosophy of Language (dalam Wijana, 2011:21) mengemukakan bahwa secara pragmatis setidak-tidaknya ada tiga jenis tindakan yang dapat diwujudkan oleh seorang penutur, yakni tindak lokusi (locutionary act), tindak ilokusi (illocutionary act), dan tindak perlokusi (perlocutionary act).

2.3.1 Tindak Lokusi

  Tindak lokusi adalah tindak tutur untuk menyatakan sesuatu (Wijana, 2011:21). Tindak tutur ini dinamakan the act of saying something . Konsep lokusi sendiri berkenaan dengan proposisi kalimat.

  Kalimat di sini dipandang sebagai suatu satuan yang terdiri dari dua unsur, yakni subjek/topik dan predikat/comment (Nababan, 1987:4 dalam Wijana:22). Sebagai satuan kalimat, pengidentifikasian tindak lokusi cenderung dapat dilakukan tanpa menyertakan konteks tuturan yang tercakup dalam situasi tutur. Jadi, tindak tutur lokusioner adalah tindak tutur dengan kata, frasa, dan kalimat sesuai dengan makna yang

  30

  atau menurut Yule (1996:83) tindak dasar tuturan atau yang menghasilkan suatu ungkapan linguistik yang bermakna.

  Perhatikan contoh berikut.

  (1) Aku pulang dulu ya. (2) Kamu cantik hari ini. (3) Yogyakarta diguyur hujan malam tadi.

  Kalimat (1) dan (2) dituturkan oleh penuturnya semata-mata untuk menginformasikan sesuatu tanpa tendensi untuk melakukan sesuatu, apalagi untuk mempengaruhi lawan tuturnya. Pada kalimat (1), informasi yang dituturkan adalah penutur pulang lebih dulu, dan kalimat (2) mitra tutur cantik. Kalimat (3) juga berfungsi untuk mengutarakan informasi, yaitu memberitahukan bahwa kota Yogyakarta hujan tadi malam.

  Berdasarkan contoh-contoh itu, dapatlah dilihat bahwa ihwal maksud tuturan yang disampaikan oleh penutur tidak dipermasalahkan sama sekali.

  Dengan demikian, tindak tutur lokusioner adalah tindak menyampaikan informasi yang disampaikan oleh penutur.

2.3.2 Tindak Ilokusi

  Sebuah tuturan berfungsi untuk mengatakan atau menyampaikan sesuatu dan untuk melakukan sesuatu. Tuturan yang berfungsi untuk menyampaikan sesuatu disebut tindak lokusi, sedangkan tuturan yang berfungsi untuk melakukan sesuatu dinamakan tindak ilokusi (Wijana,

  31

  2011:23). Tindak tutur ini disebut the act of doing something. Tindak tutur ilokusioner merupakan tindak melakukan sesuatu dengan maksud dan fungsi tertentu di dalam kegiatan bertutur yang sesungguhnya. Tindak tutur ilokusioner cenderung tidak hanya digunakan untuk menginformasikan sesuatu, tetapi juga melakukan sesuatu sejauh situasi tuturnya dipertimbangkan dengan seksama. Perhatikan contoh-contoh berikut ini.

  (4) Di sini dingin sekali ya. (5) Pemulung dilarang masuk. (6) Baju kotormu sudah menumpuk di sana.

  Kalimat (4) s.d (6) ini tidak saja memberi informasi tertentu (sesuai isi kalimat itu) tetapi juga untuk melakukan sesuatu jika dipertimbangkan situasi tuturnya berikut ini. Kalimat (4) bila diutarakan oleh mahasiswa kepada temannya yang berada di ruang ber-AC, tidak hanya berfungsi untuk menyatakan sesuatu, tetapi untuk melakukan sesuatu, yakni bisa saja meminta untuk mengecilkan ACnya. Informasi keinginan penutur dalam hal ini kurang begitu penting karena besar kemungkinan mitra tutur sudah mengetahui hal itu. Kalimat (5) yang biasa ditemui di bagian depan gang perumahan tidak hanya berfungsi untuk membawa informasi, tetapi untuk memberi peringatan kepada pemulung. Kalimat (6) bila diucapkan oleh ibu kepada anaknya, mungkin berfungsi untuk menyatakan suruhan untuk segera mencuci baju kotor itu.

  32

  Gambaran contoh-contoh di atas menunjukkan bahwa tindak ilokusi sangat sukar diidentifikasi karena terlebih dahulu harus mempertimbangkan siapa penutur dan lawan tutur, kapan dan di mana tindak tutur itu terjadi, dan sebagainya. Selain itu, tindak ilokusi ditampilkan melalui penekanan komunikatif suatu tuturan. Itulah sebabnya tindak ilokusi menjadi bagian yang sentral untuk memahami tindak tutur.

  Tindak tutur ilokusi sering menjadi kajian utama dalam bidang pragmatik (Rahardi, 2009:17). Searle (1983, dalam Rahardi: Ibid. dan Rahardi: 2005:36-37) menggolongkan tindak tutur ilokusi dalam lima macam bentuk tuturan, yakni

  (1) Asertif (assertives) atau representatif, yaitu bentuk tutur yang mengikat penutur pada kebenaran proposisi yang diungkapkan, misalnya menyatakan (stating), menyarankan (suggeting), membual (boasting), mengeluh (complaining), dan mengklaim (claiming).

  (2) Direktif (direcitives) yakni bentuk tutur yang dimaksudkan penuturnya untuk membuat pengaruh agar si mitra tutur melakukan tindakan, misalnya memesan (ordering), memerintah (commanding), memohon (requesting), menasihati (advising), dan merokomendasi (recommeding).

  33

  (3) Ekspresif (expressives) yakni bentuk tutur yang berfungsi untuk menyatakan atau menunjukkan sikap psikologis penutur terhadap suatu keadaan, misalnya berterima kasih (thinking), memberi selamat (congrangtulating), meminta maaf (pardoning), menyalahkan (blaming), memuji (praising), dan berbelasungkawa (condoling).

  (4) Komisif (cummissives) yaitu bentuk tutur yang berfungsi untuk menyatakan janji atau penawaran, misalnya berjanji (promosing), bersumpah (vowing), dan menawarkan sesuatu (offering).

  (5) Deklarasi (declarations) yaitu bentuk tutur yang menghubungkan isi tuturan dengan kenyataannya, misalnya berpasrah (resigning), memecat (dismissing), membaptis (christening), memberi nama (naming), mengangkat (appointing), mengucilkan (excommuningcating), dan menghukum (sentencing)

  Kelima fungsi umum tindak tutur beserta sifat-sifat kuncinya ini terangkum dalam tabel berikut.

  34

  Tabel : Lima Fungsi umum tindak tutur (menurut Searle, dalam Yule, 1996:95)

  

Tipe tindak tutur Arah penyesuaian P = penutur; X = situasi

  Deklarasi Kata mengubah dunia P menyebabkan X Representatif Kata disesuaikan dengan dunia P meyakini X Ekspresif Kata disesuaikan dengan dunia P merasakan X Direktif Dunia disesuaikan dengan kata P menginginkan X Komisif Dunia disesuaikan dengan kata P memaksudkan X

2.3.3 Tindak Perlokusi

  Tuturan juga seringkali mempunyai daya pengaruh (perlocutionary force), atau efek bagi yang mendengarkannya. Efek atau daya pengaruh ini dapat secara sengaja atau tidak sengaja dikreasikan oleh penuturnya. Tindak tutur yang pengutaraannya dimaksudkan untuk mempengaruhi lawan tutur disebut dengan tindak perlokusi (Wijana, 2011:24). Tindak tutur ini disebut the act of affecting something. Perhatikan beberapa contoh berikut.

  (7) Saya lapar, tapi uang saya habis. (8) Gelap sekali ruangan ini. (9) Charger laptopku hilang.

  Kalimat (7), (8), dan (9) mengandung lokusi dan ilokusi bila dipertimbangkan konteks situasi tuturnya, serta perlokusi jika penutur mengkreasikan daya pengaruh tertentu kepada lawan tuturnya. Bila

  35

  kalimat (7) diutarakan oleh seorang mahasiswa kepada teman mahasiswanya, maka ilokusinya adalah secara tidak langsung meminta uang kepada temannya itu. Adapun efek perlokusi yang mungkin diharapkan agar mitra tutur meminjamkan uang atau mentraktir si penutur. Bila kalimat (8) diutarakan oleh seorang dosen kepada mahasiswanya yang baru saja masuk ke ruang kelas yang gelap, kalimat ini merupakan tindak ilokusi untuk meminta menyalakan lampu di ruangan tersebut, dan perlokusi (efeknya) yang diharapkan adalah mitra tutur menyalakan lampu. Bila kalimat (9) diutarakan oleh seseorang kepada temannya ketika di perpustakaan, kalimat ini tidak hanya mengandung lokusi, tetapi juga ilokusi yang berupa permintaan untuk membantu menemukan chargernya yang hilang, dengan perlokusi mitra tutur membantu mencari chargernya.

  Tindak tutur perlokusioner mengandung daya pengaruh bagi lawan tutur. Contoh lain yang dikemukakan Wijana (2011:25) adalah

  (10) Baru-baru ini Walikota telah membuka Kurnia Department Store yang terletak di pusat perbelanjaan dengan tempat parkir yang cukup luas.

  Kalimat (10) selain memberikan informasi, juga secara tidak langsung merupakan undangan atau ajakan untuk berbelanja ke department

  store bersangkutan. Letak department store yang strategis dengan

  tempat parkirnya yang luas diharapkan memiliki efek untuk membujuk

  36

  para pembacanya. Wacana seperti ini seringkali dijumpai pada bentuk wacana iklan. Secara sepintas, wacana iklan seperti ini merupakan berita, tetapi daya ilokusi dan perlokusinya sangat besar terlihat.

2.3.4 Rangkuman

  Seperti yang telah dipaparkan oleh Searle (1983), tindak tutur dapat dikategorikan menjadi tiga macam yang meliputi (1) tindak lokusi dinamakan the act of saying something atau tindak tutur untuk menyatakan sesuatu, (2) tindak ilokusi disebut the act of doing

  something atau tindak melakukan sesuatu dengan maksud dan fungsi

  tertentu di dalam kegiatan bertutur yang sesungguhnya, dan (3) tindak perlokusi disebut the act of affecting something atau tindak tutur untuk mempengaruhi lawan tutur. Selanjutnya Searle (1983) juga menggolongkan tindak tutur ilokusi menjadi lima macam yang meliputi asertif, direktif, ekspresif, komisif, dan deklarasi yang kelima macam itu memiliki fungsi komunikatif tersendiri.

2.4 Konteks Tuturan

  Pada dasarnya di dalam penggunaan bahasa sehari-hari terdapat unsur penting yang memengaruhi pemakaian bahasa itu. Unsur penting yang dimaksud adalah konteks. Konteks sangat memengaruhi bentuk bahasa yang digunakan oleh seorang penutur. Adanya teori mengenai konteks merupakan angin segar bagi para peneliti bahasa karena konteks

  37

  dan bagaimana sebuah tuturan atau kalimat itu muncul. Seperti yang diketahui, dahulu konteks belum terlalu diperhatikan oleh ahli bahasa sehingga penelitian mereka hanya mengkaji bahasa dari segi fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik. Hasil penelitian tersebut lazimnya berupa sistem bahasa yang bentuknya gramatikal saja. Oleh karena itu, sejak permulaan tahun 1970-an para ahli linguistik menyadari pentingnya konteks dalam penafsirkan kalimat atau tuturan itu.

  Jauh sebelum para pakar linguistik dan pragmatik lain, Malinowsky pada tahun 1923, berbicara tentang konteks itu sendiri, khususnya konteks yang berdimensi situasi atau ‗context of situation‟. Secara khusus Malinowsky mengatakan, seperti yang dikutip di dalam Vershueren (1998:75),

  „Exactly as in the reality of spoken or written languages, a word without linguistics context is a mere figment and stands for nothing by itself, so in the reality of a spoken living tongue, the utterance has no meaning except in the context of situation.‟ Dengan

  demikian, di dalam pandangannya sesungguhnya dinyatakan bahwa kehadiran konteks situasi menjadi penting dan mutlak untuk menjadikan sebuah tuturan benar-benar bermakna.

  Hymes (1974) berpendapat bahwa konteks terdiri dari latar fisik dan psikologis (setting and scene), peserta tutur (participants), tujuan tutur (ends), urutan tindak (acts), nada tutur (keys), saluran tutur

  38

  Nugroho, 2009:119). Kedelapan komponen tutur dalam situasi tutur tersebut sering disingkat menjadi SPEAKING yang semuanya itu dapat memengaruhi tuturan seseorang.

  Penjelasan agak panjang terkait konteks juga dikemukan Levinson. Levison (1983:5) mengemukakan konteks dari definisi Carnap, yaitu istilah yang dipahami yang mencakup identitas partisipan, parameter, ruang dan waktu dalam situasi tutur, dan kepercayaan, pengetahuan, serta maksud partisipan di dalam situasi tutur. Selanjutnya Levinson (1983:22-23) menjelaskan bahwa untuk mengetahui sebuah konteks, seseorang harus membedakan antara situasi aktual sebuah tuturan dalam semua keserbaragaman ciri-ciri tuturan mereka, dan pemilihan ciri-ciri tuturan tersebut secara budaya dan linguistik yang berhubungan dengan produksi dan penafsiran tuturan. Untuk mengetahui konteks, Levinson mengambil pendapat Lyons yang membuat daftar prinsip-prinsip universal logika dan pemakaian bahasa, yaitu seperti di bawah ini: (1)

  Pengetahuan ihwal aturan dan status (aturan meliputi aturan dalam situasi tutur seperti penutur atau petutur, dan aturan sosial, sedangkan status meliputi nosi kerelativan kedudukan sosial);

  (2) Pengetahuan ihwal lokasi spasial dan temporal;

  (3) Pengetahuan ihwal tingkat formalitas;

  (4) Pengetahuan ihwal medium; kira-kira kode atau gaya pada sebuah

  39

  (5) Pengetahuan ihwal ketepatan sesuatu yang dibahas; dan

  (6) Pengetahuan ihwal ketepatan bidang wewenang (atau penentuan domain register sebuah bahasa). (melalui Nugroho, 2009:119-

  120). Mey (dalam Kunjana 1994:39),

  „… context is more than a matter of reference and of understanding what things are about, practically speaking. Context is also what gives our utterances their deeper m eaning.‟ Pada bagian lain Mey (1994:40) menegaskan „the context is also of paramaount importance in assigning a proper value to such phenomena as propositions, implicature, and the whole sets of context- oriented features

  …‟ Adanya kehadiran konteks itu, sebagaimana yang

  dimaksudkan Mey di atas, sangat dimungkinkan dipahami entitas kebahasaan secara lebih komprehensif dan mendalam, bukan sekadar menunjuk pada hal-hal yang sifatnya referensial. Memang secara referensial sudah terlihat jelas penuturnya dan mitra tutur siapa, di mana dan kapan peristiwa tutur itu terjadi tetapi lebih dari itu terdapat pernyataan yang terkandung dalam sebuah tuturan, ada pula implikatur dan segala hal yang melingkupi tuturan itu.

  Yule (melalui Nugroho, 2009:120) membahas konteks dalam kaitannya dengan kemampuan seseorang untuk mengidentifikasi referen-referan yang bergantung pada satu atau lebih pemahaman orang

  40

  Yule membedakan konteks dan koteks. Konteks ia definisikan sebagai lingkungan fisik di mana sebuah kata dipergunakan. Koteks menurut Yule adalah bahan linguistik yang membantu memahami sebuah ekspresi atau ungkapan. Koteks adalah bagian linguistik dalam lingkungan tempat sebuah ekspresi dipergunakan.

  Menurut Rahardi (2006:20), konteks tuturan diartikan sebagai semua latar belakang (background knowledge) yang diasumsikan sama- sama dimiliki dan dipahami bersama oleh penutur dan mitra tutur, serta yang mendukung interpretasi mitra tutur atas apa yang dimaksudkan oleh si penutur dalam keseluruhan proses bertutur.

  Pemaparan berikutnya terkait konteks, dipaparkan secara lebih mendalam oleh Leech (1983). Leech menyebut konteks tuturan dengan sebutan aspek-aspek situasi ujar. Berikut pemaparan Leech (1993:19) mengenai aspek-aspek situasi ujar yang meliputi lima hal.

2.4.1 Penutur dan Lawan Tutur

  Leech memberikan simbol bahwa orang yang menyapa atau ‗penutur‘ dengan n dan orang yang disapa atau ‗petutur‘ dengan t.

  Simbol- simbol ini merupakan singkatan untuk ‗penutur/penulis‘ dan ‗petutur/pembaca‘. Jadi, penggunaan n dan t tidak membatasi pragmatik pada bahasa lisan saja, melainkan juga dapat mencakup ragam bahasa tulis. Wijana (melalui Rahardi, 2007:19) menekankan bahwa aspek-

  41

  antaranya ialah jenis kelamin, umur, daerah asal, dan latar belakang keluarga serta latar belakang sosial-budaya lainnya yang dimungkinkan akan menjadi penentu hadirnya makna sebuah pertuturan.

  Aspek situasi ujar yang dipaparkan Leech (1983) mengenai penutur dan lawan tutur sejalan dengan pendapat Verschueren yang disebut dengan

  „speaker‟ and hearer‟ atau ada yang menyebutnya „speaker and interlocutor‟, atau dalam istilah Verschueren (dalam

  Kunjana 1998) disebutkan

  „utterer and interpreter‟, akan sangat

  berdekatan pula dengan dimensi usia, jenis kelamin, latar belakang pendidikan, latar belakang kultur, latar belakang sosial, latar belakang ekonomi, dan juga latar belakang fisik, psikis atau mentalnya, atau yang juga diistilahkan dalam Verschueren (1998) sebagai

  „physical world‟, „social world‟, dan „mental world‟. Selain hadirnya „penutur‟ dan „mitra tutur‟ atau „lawan tutur‟ dalam aspek konteks, sesungguhnya masih

  dimungkinkan hadirnya sebuah pertuturan itu bisa lebih dari semuanya itu.

  Selanjutnya Verschueren (1998:85) menggambarkan secara skematik sebagai ‗interpreter‟, atau yang banyak dipahami sebagai

  „hearer‟ atau „interlocutor‟ atau „mitra tutur‟ atau „lawan tutur‟. Dalam

  pandangannya,

  „hearer‟ atau „interlocutor‟ masih dapat dibedakan

  menjadi ‗interpreter‟ yang berperan sebagai „participant‟ dan „non-

  42

  dibedakan menjadi ‗adressee‟ dan „side-participant‟, sedangkan untuk

  „non-participant‟ masih dapat dibedakan menjadi „bystander‟, yakni

  orang yang semata-mata hadir, dan tidak mengambil peran apapun, dan yang terakhir sebagai

  „overhearer‟. Peran ‗overhearer‟ masih dapat

  dibedakan lagi menjadi

  „listener-in‟ dan„eavesdropper‟. Dengan

  demikian, apabila semuanya itu diperhitungkan sebagai salah satu dimensi dalam konteks situasi, tentu saja dimensi

  „hearer‟ itu akan

  menjadi kompleks karena jatidiri

  „hearer‟ sesungguhnya tidaklah sesederhana yang selama ini banyak dipahami oleh sejumlah kalangan.

  Lebih lanjut dijelaskan di dalam Verschueren (1998:76) bahwa bagi sebuah pesan (message), untuk dapat sampai kepada ‗interpreter‟

  (I) dari seorang

  „utterer‟ (U), selain akan ditentukan oleh keberadaan

  konteks linguistiknya (linguistic context), juga oleh konteks dalam pengertian yang sangat luas, yang mencakup latar belakang fisik tuturan (physical world of the utterance), latar belakang sosial dari tuturan (social world of the utterance), dan latar belakang mental penuturnya (mental world of the utterance). Jadi setidaknya, Verschueren menyebut empat dimensi konteks yang sangat mendasar dalam memahami makna sebuah tuturan. Berikut akan dijelaskan secara lebih rinci.

  2.4.1.1 ‘The utterer’ dan ‘The Interpteter’

  Pembicara dan lawan bicara, penutur dan mitra tutur, atau

  „the

  43

  dalam pragmatik. Pembicara atau penutur (utterer) itu memiliki banyak suara (many voices), sedangkan mitra tutur atau mitra wicara atau interpreter, lazimnya dikatakan memiliki banyak peran. Fakta kebahasaan demikian ini kian menegaskan bahwa penutur atau pembicara, atau yang lazim disebut

  „the speaker‟ dan „the utterer‟, memang memiliki banyak kemungkinan kata.

  Bahkan ada kalanya pula, seorang penutur atau

  „utterer‟ dapat

  berperan sebagai ‗interpreter‟. Jadi, dia sebagai penutur atau pembicara dapat berkomunikasi dan bertutur sapa dengan baik serta

  „utterer‟ harus dapat memfungsikan dirinya sebagai „interpreter‟.

  Dimensi-dimensi lain yang berkaitan erat dan tidak mungkin lepas darinya, seperti jenis kelamin, adat-kebiasaan, dan semacamnya, adalah perihal

  „the influence of numbers‟ alias

  ‗pengaruh dari jumlah‟ orang yang hadir dalam sebuah pertutursapaan. Hal tersebut akan menjadi sangat berbeda makna kebahasaan yang muncul bilamana sebuah pertutursapaan dihadiri orang dalam jumlah banyak, dan bilamana hanya dihadiri dua pihak saja, yakni penutur (utterer) dan mitra tutur (interpreter).

2.4.1.2 Aspek-aspek Mental

  ‘Language Users’

  Dimensi-dimensi mental penutur dan mitra tutur,

  „utterer‟ dan

  44

  pragmatik itu. Dimensi mental

  „langugae users‟ itu dekat dengan

  aspek-aspek kepribadian penutur dan mitra tutur itu. Seseorang yang kepribadiannya tidak cukup matang, sehingga terhadap segala sesuatu yang hadir baru cenderung

  „menentang‟ dan

  ‗melawan‟, sekalipun tidak selalu memiliki dasar alasan yang jelas dan tegas, akan sangat mewarnai bentuk kebahasaan yang digunakan di dalam setiap pertutursapaan. Demikian pula seseorang yang sudah sangat matang dan dewasa, akan dengan serta-merta berbicara sopan dan halus kepada setiap orang yang ditemuinya, karena dia mengerti bahwa setiap orang itu memang harus selalu dihargai dan dijunjung tinggi harkat dan martabatnya.

  Selain itu, dimensi

  „personality‟ yaitu aspek yang harus

  diperhatikan dalam kaitan dengan komponen penutur dan mitra tutur ini adalah aspek warna emosinya (emotions). Seseorang yang memiliki warna emosi dan temperamen tinggi, cenderung akan berbicara dengan nada dan nuansa makna yang tinggi pula. Akan tetapi, seseorang yang warna emosinya tidak terlampau dominan, dia cenderung akan berbicara sabar. Selain dimensi

  „personality‟

  dan

  „emotions‟ seperti yang disebutkan di depan itu, terdapat pula

  dimensi

  „desires‟ atau „wishes‟, dimensi ‗motivations‟ atau „intentions‟, serta dimensi kepercayaan atau „beliefs‟ yang juga

  45

  harus diperhatikan dalam kerangka perbicangan konteks pragmatik ini.

  Dimensi-dimensi mental pengguna berpengaruh besar pada dimensi kognisi dan emosi penutur dan mitra tutur dalam komunikasi sebenarnya. Verschueren (1998:90) menjelaskan bahwa dimensi kognisi hadir sebagai jembatan antara dimensi dimensi mental dan sosial dalam bentuk konseptualisasi dalam berlangsungnya interpretasi terhadap interaksi sosial. Adapun dimensi emosional menyediakan jembatan dalam bentuk fenomena yang seringkali berpengaruh pada sikap dalam berinteraksi. Dengan demikian, dimensi mental harus dilibatkan dalam analisis pragmatic karena semuanya berpengaruh terhadap warna dan nuansa interaksi dalam komunikasi.

2.4.1.3 Aspek-aspek Sosial dan Budaya

  ‘Language Users’

  Aspek-aspek sosial, atau dapat pula diistilahkan sebagai

  „social setting‟ alias seting sosial, selain juga aspek-aspek mental

  harus diperhatikan dengan benar-benar baik dalam analisis pragmatik yang dalam istilah Verschueren (1998) disebut

  „ingredient of the communicative context‟. Aspek kultur

  merupakan satu hal yang sangat penting sebagai penentu makna dalam pragmatik, khususnya yang berkaitan dengan aspek

  „norms

  46

  Berkaitan dengan hal ini, Verschueren (1998:92) menyatakan sebagai berikut,

  „Culture, with its invocation of norms and values has indeed been a favourite social-world correlate to linguistic choices in the pragmatic literatures.‟ Atau berarti budaya, dengan

  invokasinya terkait norma dan nilai memang menjadi jagat sosial favorit yang berkorelasi dengan pilihan-pilihan linguistik dalam literatur pragmatik. Lebih lanjut dia menegaskan bahwa dimensi- dimensi kultur yang harus diperhatikan dalam kerangka perbincangan konteks pragmatik ini adalah,

  „…the contrast between oral and literate societies, rural versus urban patterns of life, or a mainstream versus a subcultural environment.‟ Atau

  berarti kontras antara masyarakat lisan dan tulis, bentuk kehidupan pedesaan dan kota, ataupun lingkungan utama dan subkultur.

  Dimensi-dimensi sosial lain yang harus diperhatikan dalam pragmatik, khususnya dalam kaitan dengan konteks pragmatik, dalam pandangan Verschueren (1998:92) adalah:

  „…social class, ethnicity and race, nationality, linguistic group, religion, age, level of education, profession, kinship, gender, sexual preference…‟. Atau berarti kelas sosial, etnisitas dan ras,

  kebangsaan, kelompok linguistik, agama, usia, tingkat pendidikan, profesi, kekerabatan, gender, dan pilihan seksual. Jadi, ternyata

  47

  pragmatik, yang sekali lagi merupakan

  „ingredients‟ konteks komunikatif dalam pragmatik.

  Terkait dengan dimensi sosial salah satunya dimensi jenis kelamin dapat mempengaruhi bentuk bahasa seseorang. Biasanya bahasa untuk kaum laki-laki cenderung keras, sedangkan bahasa untuk kaum perempuan cenderung lebih lembut. Bidang atau topik yang dibicarakan antara kaum laki-laki dan perempuan pun berbeda. Bidang-bidang yang berkaitan dengan masalah politik, pekerjaan, pembangunan, dan masalah sosial lainnya yang cenderung berat dan rumit biasanya cenderung dibicarakan oleh kaum laki-laki. Akan tetapi, untuk bidang yang berkaitan dengan keluarga, kesehatan, keindahan atau estetika, biasanya menjadi bahan pembicaraan perempuan.

  Dimensi sosial berikutnya yakni usia juga dapat mempengaruhi bentuk bahasa seseorang. Namun kenyataannya, dimensi usia ini banyak diabaikan oleh orang-orang yang terlibat dalam praktik komunikasi. Lazimnya bahasa yang digunakan oleh penutur kepada orang-orang tua atau mereka yang dituakan, harus lebih sopan dan lebih halus dibandingkan dengan bahasa yang digunakan kepada mereka yang lebih muda. Bentuk-bentuk kebahasaan yang lengkap, tidak dipotong-potong, atau yang tidak

  48

  bentuk kebahasaan yang bersifat terbatas dan biasanya bentuk kebahasaan kepada orang tua cenderung lebih halus dan santun.

  Dimensi lain yang sangat menentukan bentuk kebahasaan yang digunakan seseorang adalah status sosial dan tingkat sosial.

  Orang yang berstatus sosial rendah dalam masyarakat lazimnya menggunakan bentuk-bentuk hormat kepada mereka yang berstatus sosial menengah, apalagi dengan mereka yang berstatus sosial tinggi.

2.4.1.4 Aspek-aspek Fisik

  ‘Language Users’

  Deiksis persona, menunjuk pada penggunaan kata ganti orang, misalnya saja dalam bahasa Indonesia kurang ada kejelasan kapan harus digunakan kata

  „kita‟ dan „kami‟ dalam bahasa Jawa,

  deksis persona

  „kula‟ artinya „saya‟ dan „kula sedaya‟ atau „aku kabeh‟ alias „kami‟ atau „kita‟ dalam bahasa Indonesia. Adapun „attitudinal deixis‟ berkaitan sangat erat dengan bagaimana kita

  harus memperlakukan panggilan-panggilan persona dengan tepat sesuai dengan referensi sosial dan sosietalnya. Deiksis-deiksis dalam jenis yang disampaikan di depan itu semuanya merupakan aspek fisik

  „language users‟, yang secara sederhana dimaknai

  sebagai ‗penutur‟ dan „mitra tutur‟, sebagai „utterer‟ dan „interpreter‟.

  49

  Selanjutnya masih berkaitan dengan persoalan diksis pula, tetapi yang sifatnya temporal, harus diperhatikan misalnya saja, kapan harus digunakan ucapan

  „selamat pagi‟ atau „pagi‟ saja

  dalam bahasa Indonesia. Perhatian juga harus diberikan tidak saja pada dimensi waktu atau

  „temporal reference‟ seperti yang

  ditunjukkan di depan tadi, khususnya dalam kaitan dengan deiksis-deiksis waktu.

  Pada dimensi tempat atau dimensi lokasi, atau yang oleh Verschueren (1998:98) disebut sebagai „spatial reference‟. Referensi spasial di dalam linguistik ditunjukkan, misalnya dengan pemakaian preposisi yang menunjukkan tempat, juga kata kerja tertentu, kata keterangan, kata ganti, dan juga nama-nama tempat. Pendek kata, konsep

  „spatial reference‟ seperti

  ditunjukkan di depan itu, semuanya menunjuk pada konsepsi gerakan atau

  „conception of motion‟, yakni gerakan dari titik tempat tertentu ke dalam titik tempat yang lainnya.

  Aspek-aspek fisik konteks lain di luar apa yang disebutkan di depan itu adalah tentang jarak spasial atau

  „space distance‟.

  Ketika orang sedang bertutur sapa, jarak spasial yang demikian ini sangat menentukan maksud, juga persepsi terhadap makna yang disampaikan oleh

  „interpreter‟. Fakta non-kebahasaan ini ternyata

  50

  Maka, semuanya ini berkaitan pula dengan

  „motion‟ atau gerakan

  untuk menentukan distansi atau jarak antara ‗utterrer‟ dan ‗interpreter‟. Pengaturan distansi atau jarak dalam pengertian bertutur demikian ini dilakukan bukan oleh

  „utterer‟ saja, atau „interpreter‟ saja, melainkan oleh kedua belah pihak secara

  bersama-sama.

2.4.2 Konteks Sebuah Tuturan

  Sejauh ini, setidaknya telah terdapat tiga macam konteks yang telah dibahas yaitu mencakup dimensi-dimensi linguistik atau yang sifatnya tekstual, atau yang sering pula disebut sebagai co-text, konteks yang sifatnya sosial-kultural, dan konteks pragmatik. Konteks linguistik lazimnya berdimensi fisik, sedangkan konteks sosiolinguistik lazimnya berupa seting sebuah sosio-kultural yang mewadahi kehadiran sebuah tuturan. Adapun konteks dalam pragmatic dijelaskan oleh Leech.

  Leech (1993:20) mengatakan bahwa konteks sebagai suatu pengetahuan latar belakang yang sama-sama dimiliki oleh n (penutur) dan t (mitra tutur) yang membantu t menafsirkan makna tuturan. Penjelasan yang agak panjang terkait dengan konteks dikemukakan Leech adalah mengenai

  „setting‟, yang dapat mencakup setting waktu

  dan setting tempat (spatio-temporal settings) bagi terjadinya sebuah

  51

  dapat dilepaskan dari aspek-aspek fisik dan aspek sosial-kultural lainnya, yang menjadi penentu makna bagi sebuah tuturan.

  Pada prinsipnya, di dalam pragmatik sesungguhnya titik berat dari konteks itu lebih mengarah pada fakta adanya kesamaan latar belakang pengetahuan (the same background knowledge) yang dipahami bersama penutur dan lawan tutur. Hal tersebut dapat dikatakan demikian karena sebuah proses komunikasi akan berhasil apabila hal-hal yang dibicarakan sama-sama dipahami oleh penutur dan mitra tutur, begitu pula sebaliknya. Pemikiran ini sejalan dengan pendapat Pranowo (2009: 12) bahwa komunikasi akan berhasil apabila didukung oleh beberapa faktor seperti ada kesepahaman topik yang dibicarakan antara penutur dengan mitra tutur.

2.4.3 Tujuan Sebuah Tuturan

  Leech memiliki preferensi untuk menggunakan istilah tujuan tutur, bukan istilah maksud tutur. Tujuan tutur lebih netral dan lebih umum sifatnya, tidak berkait dengan kemauan atau motivasi tertentu yang sering kali dicuatkan secara sadar oleh penuturnya. Tujuan itu memang lebih konkret, lebih nyata, karena memang keluar berbarengan dengan tuturan yang dilafalkan atau diungkapkannya itu. Akan tetapi, maksud, tidak serta merta sama dengan tujuan karena cenderung hadir sebelum tujuan itu dinyatakan. Artinya maksud itu belum berupa tindakan, masih berada

  52

  tindakan, karena memang tujuan hadir bersama-sama dengan keluarnya sebuah tuturan dari mulut seseorang.

  Tujuan tutur berkaitan erat dengan bentuk-bentuk tuturan yang digunakan seseorang. Pada dasarnya, tuturan dari seseorang akan dapat muncul karena dilatarbelakangi oleh maksud dan tujuan tutur yang sudah jelas dan amat tertentu sifatnya. Oleh karena itu, harus ditegaskan bahwa dalam pragmatik, bertutur itu selalu berorientasi pada tujuan, pada maksud, maka dikatakan sebagai

  „goal-oriented activity‘. Bentuk

  kebahasaan itu, secara pragmatik selalu didasarkan pada fungsi (function), bukan semata-mata bentuk (forms), karena setiap bentuk kebahasaan sesungguhnya sekaligus merupakan bentuk tindak verbal, yang secara fungsional selalu memiliki maksud dan tujuan. Jadi, dalam pragmatik pandangan yang dijadikan dasar selalu berfokus pada ‗fungsi‟ pada ‗kegunaan‟ atau „use‟, dan semuanya selalu harus didasarkan pada maksud atau tujuan.

  Contohnya, ketika kita masuk gang-gang tertentu di Yogyakarta atau mungkin daerah lainnya di Jawa, Anda akan mendapati peringatan seperti, ‗HATI-HATI, BANYAK ANAK‘. Secara fungsional pula, bentuk kebahasaan ‗HATI-HATI, BANYAK ANAK‘ digunakan untuk memberikan peringatan pada semua saja, khususnya para pengendara motor yang melewati gang atau lorong tertentu tersebut untuk ‗ekstrahati-

  53

  tempat itu. Dengan demikian, jelas bahwa setiap tuturan —bukan kalimat karena kalau sebutannya kalimat pasti berdimensi nonpragmatik

  —pasti berorientasi pada fungsi, bukan pada bentuk. Oleh karena itu, terlihat sekali pragmatik itu menggunakan paradigma fungsionalisme yang menitikberatkan pada fungsi, bukan paradigma formalisme seperti yang lazimnya dianut dalam gramatika. Hal tersebut sejalan dengan pendapat beberapa ahli seperti Mathesius (1975), Danes (1974), Halliday (1994), dan Givon (1995) yang mengemukakan bahwa pragmatik berorientasi pada teori linguistik fungsional (Baryadi, 2007:61).

2.4.4 Tuturan Sebagai Bentuk Tindakan atau Kegiatan: Tindak Ujar

  Tuturan sebagai bentuk tindakan atau wujud dari sebuah aktivitas linguistik, merupakan bidang pokok yang dikaji di dalam pragmatik karena pragmatik mempelajari tindak verbal yang sungguh-sungguh terdapat dalam situasi dan suasana pertuturan tertentu. Lebih lanjut, tuturan sebagai bentuk tindakan ialah maujud-maujud atau entitas-entitas kebahasaan yang sifatnya tidak dinamis dan selalu tetap saja keberadaannya. Leech (1983) menegaskan bahwa tuturan itu harus selalu dianggap sebagai tindak verbal. Tindak-tindak verbal (verbal acts) inilah yang menjadi titik fokus kajian pragmatik. Hal ini juga yang membedakan antara pragmatik yang memfokuskan kajiannya pada tindak-tindak verbal (verbal acts) dengan semantik yang berorientasi

  54

  pokok pada proposisi atau

  „proposisition‟, dan entitas-entitas kebahasaan, khususnya frasa dan kalimat dalam sintaksis.

2.4.5 Tuturan Sebagai Produk Tindak Verbal

  Tuturan dapat dikatakan sebagai produk dari tindak verbal di dalam aktivitas bertutur sapa karena pada dasarnya tuturan yang muncul di dalam sebuah proses pertuturan itu adalah hasil atau produk dari tindakan verbal dari para pelibat tuturnya, dengan segala macam pertimbangan konteks situasi sosio-kultural dan aneka macam kendala konteks yang melingkupi dan mewadahinya. Jadi jelas, bahwa sebenarnya tuturan atau ujaran itu tidak dapat disamakan dengan kalimat. Kalimat pada hakikatnya adalah entitas produk struktural atau produk gramatikal, sedangkan tuturan atau ujaran itu merupakan hasil atau produk dari tindakan verbal yang hadir dalam proses pertuturan.

  Berkaitan dengan kenyataan ini maka sesungguhnya sebuah tuturan dapat dianggap sebagai maujud tindak tutur, atau sebagai manifestasi dari tindak ujar, tetapi pada sisi lain dapat juga dianggap sebagai produk dari tindak ujar itu sendiri (Rahardi, 2007:22).

  Sebagai contoh saja sebagai seorang dosen di dalam kelas Anda mengatakan,

  „Papan tulisnya kotor!‟ kepada para mahasiswa, maka

  sesungguhnya produk tindak verbal yang diharapkan dari tuturan itu adalah supaya ada tindakan membersihkan papan tulis itu oleh salah

  55

  kepada anaknya laki-laki yang berambut gondrong tidak rapi,

  „Salon sebelah masih buka!‟, maka yang diharapkan dari tuturan itu adalah

  supaya anak laki-laki itu segera berangkat pergi ke salon untuk memotong dan merapikan rambutnya. Sebenarnya itulah sesungguhnya tuturan yang berdimensi produk tindak verbal.

2.4.6 Rangkuman

  Berdasarkan beberapa definisi konteks yang telah dikemukakan di atas, jelas bahwa konteks sangat penting dalam mengkaji pemakaian bahasa di antara penutur dengan mitra tuturnya supaya tuturan menjadi lebih bermakna. Secara sederhana pengertian konteks dapat didefinisikan sebagai segala sesuatu yang berkaitan dengan situasi dan kondisi penutur dan mitra tutur yang mempunyai latar belakang dan asumsi yang sama terhadap sesuatu hal. Aspek konteks tersebut meliputi hal-hal yang berhubungan dengan penutur dan mitra tutur yakni siapa penutur dan mitra tutur, usia, jenis kelamin, karakter, emosi, motivasi, kepercayaan antara penutur dan mitra tutur itu, status sosial, budaya, kapan dan di mana tuturan itu terjadi, tujuan tutur, serta hal-hal yang mendukung sebuah tuturan dalam keseluruhan proses komunikasi.

  56

2.5 Bunyi Suprasegmental

  Bunyi-bunyi yang bisa disegmentalkan disebut bunyi segmental, misalnya bunyi vokoid dan bunyi kontoid. Bunyi-bunyi yang tidak dapat disegmen- segmen karena kehadiran bunyi tersebut selalu diiringi, atau ditemani bunti segmental (baik vokoid maupun kontoid) bunyi tersebut disebut bunyi suprasegmental atau bunyi nonsegmental. Bunyi-bunyi suprasegmental dikelompokkan menjadi empat jenis aspek yaitu (a) tinggi-rendah bunyi (nada), (b) keras-lemahnya bunyi (tekanan), (c) panjang-pendek bunyi (tempo), dan (d) kesenyapan (jeda). (Muslich, 2008:61-63).

2.5.1 Tinggi-Rendah (Nada, Tona, Pitch)

  Ketika bunyi-bunyi segmental diucapkan selalu melibatkan nada baik nada tinggi, sedang, atau rendah. Hal ini disebabkan adanya faktor ketegangan pita suara, arus suara, dan udara pita suara ketika bunyi itu diucapkan. Makin tegang pita suara yang disebabkan oleh kenaikan arus udara dari paru-paru makin tinggi pula bunyi tersebut. Nada menjadi perhatian fonetis karena secara linguistik berpengaruh dalam sistem linguistik tertentu. Misalnya nada turun biasanya menandakan kelengkapan tutur sedangkan nada naik menandakan ketidaklengkapan tuturan.

  Dalam penuturan bahasa Indonesia, tinggi-rendahnya suara tidak fungsional atau tidak membedakan makna. Ketika penutur mengucapkan

  57

  maknanya sama saja. Oleh karena itu, dalam kaitannya dengan pembedaan makna nada dalam bahasa Indonesia tidak fonemis. Namun, ketidakfonemisan ini tidak berarti nada tidak ada dalam bahasa Indonesia. Hal ini disebabkan oleh adanya faktor ketegangan pita suara, arus udara, dan posisi pita suara saat bunyi itu diucapkan. (Muslich, 2008:112).

  Aspek nada dalam bertutur lisan memengaruhi santun tidaknya tuturan seseorang. Nada adalah naik turunnya ujaran yang menggambarkan suasana hati penutur ketika sedang bertutur. Jika suasana hati sedang senang, nada bicara penutur menaik dengan ceria sehingga terasa menyenangkan. Jika suasana hati sedang sedih, nada bicara penutur menurun dengan datar sehingga terasa menyedihkan. Jika suasana hati sedang marah, emosi, nada bicara penutur menaik dengan keras, kasar sehingga terasa menakutkan.

2.5.2 Keras-Lemah (Tekanan, Aksen, Stress)

  Tekanan pada bunyi ialah besarnya tenaga yang digunakan untuk mengucapkan bunyi dan tergantung kepada desakan udara ke luar dari paru-paru (Lubis, 1985:22). Ketika bunyi-bunyi segmental diucapkan tidak lepas dari keras atau lemahnya bunyi. Hal ini disebabkan keterlibatan energi otot ketika bunyi itu diucapkan. Suatu bunyi dikatakan mendapatkan tekanan apabila energi otot yang dikeluarkan lebih besar

  58

  mendapatkan tekanan apabila energi otot yang dikeluarkan lebih kecil ketika bunyi itu diucapkan.

  Praktiknya, kerasnya bunyi juga berpengaruh pada ketinggian bunyi. Buktinya tekanan keras dengan nada rendah pun bisa diucapkan oleh penutur bahasa, Hal ini sangat tergantung pada fungsinya dalam komunikasi. Variasi tekanan dapat dibedakan menjadi empat yaitu (1) tekanan keras, (2) tekanan lemah, (3) tekanan lemah, dan (4) tidak ada tekanan. Penekanan makna dibedakan menjadi dua tataran yaitu tataran kata, tekanan yang bersifat silabis dan tataran kalimat, tekanan leksis.

  Tekanan dalam tuturan bahasa Indonesia berfungsi membedakan maksud dalam tataran kalimat (sintaksis) tetapi tidak berfungsi membedakan makna dalam tataran kata (leksis) (Muslich, 2008:113). Tidak semua kata dalam kalimat ditekanan sama, hanya kata-kata yang dianggap penting atau dipentingkan yang mendapatkan tekanan. Oleh karena itu, pendengar atau mitra tutur harus mengetahui maksud di balik makna tuturan yang didengarkannya.

2.5.3 Intonasi

  Aspek intonasi dalam bahasa verbal lisan sangat menentukan santun tidaknya pemakaian bahasa. Ketika penutur menyampaikan maksud kepada mitra tutur dengan menggunakan intonasi keras, padahal mitra tutur berada pada jarak yang sangat dekat dengan penutur, sementara

  59

  penutur menyampaikan maksud dengan intonasi lembut, penutur akan dinilai sebagai orang yang santun. Namun, intonasi kadang-kadang dipengaruhi oleh latar belakang budaya masyarakat. (Pranowo, 2009:76- 77)

  Pada tataran kalimat, variasi-variasi nada pembeda maksud disebut intonasi yang ditandai dengan intonasi datar turun yang biasa terdapat dalam kalimat berita, intonasi datar naik yang biasa terdapat dalam kalimat tanya, dan intonasi datar tinggi yang biasa terdapat dalam kalimat perintah.

2.5.4 Rangkuman

  Berdasarkan pemaparan yang telah dikemukakan di atas, dapat dijelaskan bahwa bunyi suprasegmental dibedakan menjadi empat aspek yaitu (a) tinggi-rendah bunyi (nada), (b) keras-lemahnya bunyi (tekanan), (c) panjang-pendek bunyi (tempo), dan (d) kesenyapan (jeda). Bunyi-bunyi suprasegmental tersebut dapat menentukan kesantunan berbahasa seseorang. Adapun beberapa aspek bunyi suprasegmental yang dapat mempengaruhi santun tidaknya bahasa seseorang adalah nada, tekanan, intonasi. Nada merupakan naik turunnya ujaran yang menggambarkan suasana hati penutur ketika sedang bertutur. Tekanan mempengaruhi bunyi dan arti sebuah tuturan, sedangkan intonasi merupakan perpaduan antara nada dan tekanan ketika

  60

  tuturan itu diujarkan. Aspek intonasi kadang-kadang dipengaruhi oleh latar belakang budaya masyarakat tertentu.

2.6 Pilihan Kata

  Menurut keraf (1981:22-23) istilah pilihan kata atau diksi bukan saja dipergunakan untuk menyatakan kata-kata mana yang dipakai untuk mengungkapkan suatu ide atau gagasan, tetapi juga meliputi persoalan, fraseologi, gaya bahasa, dan ungkapan. Lebih lanjut dipaparkan mengenai diksi.

  Pertama, pilihan kata atau diksi mencakup pengertian kata-kata mana yang dipakai untuk menyampaikan suatu gagasan, bagaimana membentuk pengelompokan kata-kata yang tepat atau menggunakan ungkapan-ungkapan yang tepat, dan gaya mana yang paling baik digunakan dalam suatu situasi.

  Kedua, pilihan kata atau diksi adalah kemampuan membedakan secara tepat nuansa-nuansa makna dari gagasan yang ingin disampaikan, dan kemampuan untuk menemukan bentuk yang sesuai (cocok) dengan situasi dan nilai rasa yang dimiliki pendengar. Ketiga, pilihan kata yang tepat dan sesuai hanya dimungkinkan oleh penguasaan sejumlah besar kata atau kosa kata bahasa itu.

  Dalam bertutur, seorang penutur seharusnya dapat menggunakan diksi secara tepat dan sesuai dalam sebuah tuturan untuk membantu keberhasilan proses berkomunikasi. Ketepatan diksi menyangkut kesanggupan sebuah kata untuk menimbulkan gagasan-gagasan yang tepat pada imajinasi pembaca atau

  61

  Kesesuaian diksi menyangkut apakah sebuah kata yang dipergunakan itu tidak merusak suasana atau menyinggung perasaan orang yang hadir.

  Lebih lanjut dijelaskan oleh Pranowo (2009:16) bahwa kesanggupan memilih kata seorang penutur dapat menjadi salah satu penentu santun tidaknya bahasa yang digunakan. Pilihan kata yang dimaksud adalah ketepatan pemakaian kata untuk mengungkapkan makna dan maksud dalam konteks tertentu sehingga menimbulkan efek tertentu pada mitra tutur. Setiap kata, di samping memiliki makna tertentu juga memiliki daya (kekuatan tertentu). Jika pilihan kata yang digunakan menimbulkan daya bahasa tertentu dan daya bahasa yang timbul menjadikan mitra tutur tidak berkenan, penutur akan dipersepsi sebagai orang yang tidak santun. Sebaliknya, jika pilihan kata menimbulkan daya bahasa yang menjadikan mitra tutur berkenan, penutur akan dipersepsi sebagai orang yang santun. Dengan demikian, penggunaan kata-kata yang dipilih harus dipergunakan secara hati-hati agar tidak merusak suasana komunikasi.

  Sebab itu ada beberapa hal yang perlu dipergunakan tidak akan mengganggu suasana dan tidak menimbulkan ketegangan antara penulis atau penutur dengan mitra tutur (Keraf,1985:103). Syarat-syarat tersebut sebagai berikut.

  (1) Hindarilah sejauh mungkin bahasa atau unsur substandar dalam suatu situasi yang formal

  (2) Gunakanlah kata-kata ilimiah dalam situasi khusus saja. Dalam situasi yang umum hendaknya penulis dan pembicara mempergunakan kata-kata

  62

  (3) Hindarilah jargon dalam tulisan untuk pembaca umum. (4)

  Penulis atau pembivara sejauh mungkin menghindari pemakaian kata- kata slang.

  (5) Dalam penulisan jangan mempergunakan kata percakapan. (6)

  Hindarilah ungkapan-ungkapan usang (idiom yang mati) (7) Jauhkan kata-kata atau bahasa yang artifisial.

  Semua persyaratan di atas diuraikan lebih lanjut sebagai berikut.

2.6.1 Bahasa Standar dan Nonstandar

  Kata-kata bukan saja menunjukkan barang-barang atau sikap orang tetapi merefleksikan juga tingkah laku sosial dari orang-orang yang mempergunakannya. Pemakaian bahasa dipengaruhi oleh latar belakang si penutur yang berpendidikan atau tidak. Misalnya pada waktu yang sama sebuah pertanyaan seperti ―Tahukah Tuan di mana tempat tinggal Ahmad?‖, ada kemungkinan kita mendapatkan jawaban sebagai berikut ―Saya tidak tahu‖ atau ―Saya tidak mengerti‖. Kedua jawaban mungkin sama jelasnya namun perbedaan bentuk jawaban tersebut dipengetahui suatu penafsiran situasi. Bentuk pertama tersebut disebut bahasa standar

  (bahasa baku) serta bentuk kedua disebut bahasa nonstandar (bahasa nonbaku) (Keraf, 1985:104).

  Bahasa standar adalah dialek kelas dan dibatasi sebagai tutur dari mereka yang mengenyam kehidupan ekonomis atau menduduki status

  63

  orang yang terpelajar, misalnya pejabat pemerintahan, ahli-ahli bahasa, ahli-ahli hukum, dokter, guru, dan sebagainya. Bahasa nonstandar adalah bahasa dipergunakan oleh mereka yang tidak memperoleh kedudukan atau pendidikan yang tinggi. Pada dasarnya, bahasa ini dipakai untuk pergaulan biasa, tidak dipakai dalam tulisan-tulisan. Kadang-kadang unsur nonstandar dipergunakan juga oleh kaum terpelajar dalam bersenda gurau, berhumor, atau untuk menyatakan sarkasme atau menyatakan ciri- ciri kedaerahan.

  Bahasa standar lebih ekspresif dari bahasa nonstandar. Pergunaan ungkapan-ungkapan atau unsur-unsur yang nonstandar akan mencerminkan bahwa latar sosial ekonomis si pemakai masih terbelakang atau masih rendah. Itu sebabnya, orang-orang yang terpelajar juga segan mempergunakan unsur-unsur tadi. Dengan demikian, pilihan kata seseorang harus sesuai dengan lapisan pemakaian bahasa. Dalam suatu suasana formal harus dipergunakan unsur-unsur bahasa standar dan pemakaian unsur-unsur nonstandar tidak boleh menyelinap masuk dalam tutur seseorang.

2.6.2 Kata Ilmiah dan Kata-kata Populer

  Tidak semua orang yang menduduki status sosial yang tinggi mempergunakan gaya yang sama dalam aktivitas bahasanya. Mereka akan mempergunakan beberapa macam variasi pilihan kata yang sesuai

  64

  dengan kesempatan yang dihadapi seseorang dapat dibagi atas beberapa macam kategoti sesuai dengan penggunaannya. Salah satu di antaranya adalah kata-kata ilmiah dan kata populer.

  Kata-kata populer adalah kata yang dipakai dalam komunikasi sehari- hari baik mereka yang berada di lapisan atas maupun antara mereka yang di lapisan bawah atau antara lapisan atas dan lapisan masyarakat maka kata-kata ini dikenal oleh seluruh lapisan masyarakat. Kata-kata ilmiah dipakai dalam pertemuan-pertemuan resmi, diskusi-diskusi khusus. Dengan demikian perbedaan kata-kata ilmiah dan kata-kata populer membantu pengarang atau penutur memilih kata sesuai sasaran mitra tuturnya. Bila yang menjadi sasaran adalah suatu kelompok khusus yang diikat oleh suatu bidang ilmu tertentu maka harus mempergunakan kata- kata ilmiah tetapi bila yang menjadi sasarannya adalah masyarakat umum maka kata yang dipilih adalah kata-kata populer. Bila penulis atau penutur tidak memperhatikan hal ini akan menganggu suasana.

2.6.3 Jargon

  Keraf (1985:107) menjelaskan bahwa kata jargon mengandung beberapa pengertian. Pertama-tama jargon mengandung makna suatu bahasa. Dialek, atau tutur yang dianggap kurang sopan atau aneh. Selain itu istilah tersebut juga mengacu semacam bahasa atau dialek hidrid yang timbul dari percampuran bahasa-bahasa dan sekaligus dianggap sebagai

  65

  ketumpangtindihan dengan bahasa ilmiah. Dalam hal ini, jargon diartikan sebagai kata-kata teknis atau rahasia dalam suatu bidang tertentu dalam bidang seni, perdagangan, kumpulan rahasia, atau kelompok-kelompok tertentu lainnya.

  Oleh karena itu, jargon merupakan bahasa yang khusus sekali sehingga tidak banyak artinya bula dipakai untuk suatu sasaran yang umum. Sebab itu, hendaknya dihindari pemakaian unsur jargon dalam sebuah tulisan umum.

2.6.4 Kata Percakapan

  Kata percakapan adalah kata-kata yang biasa dipakai dalam percakapan atau pergaulan orang-orang yang terdidik. Termasuk di dalam kategori ini adalah ungkapan-ungkapan umum dan kebiasaan menggunakan bentuk-bentuj gramatikal tertentu oleh kalangan ini. Selain mencakup kata-kata populer dan kontruksi idiomatis, bahasa percakapan juga menjackup kata-kata ilmiah atau kata-kata yang tidak umum (slang) yang biasa dipakau oleh golongan terpelajar saja. Suatu bentuk dari bahasa percakapan adalah singkatan-singkatan misalnya, dok, prof, kep masing-masing bentuk untuk dokter, profesor, dan kapten. Penulis dapat menggunakan kata-kata percakapan ini untuk melukiskan bahasa percakapan itu sendiri seperti dalam drama dan dialog-dialog naratif. Namun, bahasa umum ataupun dalam bahasa ilmiah unsur-unsur

  66

2.6.5 Kata Slang

  Kata-kata slang adalah semacam kata percakapan yang tinggi atau murni. Kata slang adalah kata-kata nonstandar yang informal yang disusun secara khas; atau kata-kata biasa yang diubah secara arbitrer; atau kata-kata kiasan yang khas, bertenaga dan jenaka yang dipakai dalam percakapan. Kadangkala kata slang dihasilkan dari salah ucap yang disengaja atau kadangkala berupa pengrusakan sebuah kata biasa untuk mengisi suatu bidang makna yang lain. Kata-kata slang dipergunakan oleh semua kalangan masyarakat. Setiap lapisan masyarakat dapat menciptakan istilah yang khusus atau mempergunakan kata-kata umum dan pengertian-pengertian yang khusus yang berlaku untuk kelompoknya.

  Kata-kata slang mengandung dua kekurangan yaitu pertama, hanya sedikit yang dapat hidup dan yang kedua pada umumnya kata-kata slang selalu menimbulkam ketidaksesuaian. Kata-kata slang yang suatu waktu tumbuh secara populer namun kata-kata tersebut akan hilang dari pemakaian. Kata-kata slang misalnya rapi jali, mana tahan, eh ketemu

  lagi, dan sebagainya. Kesegarannya dan gaya gunanya hanya dirasakan

  pada saat pertama kali dipakai namun terlalu sering dipakai mengakibatkan kata-kata tersebut segera lusuh dan kehilangan tenaganya.

  67

  2.6.6 Idiom

  Idiom merupakan pola-pola struktural yang menyimpang dari kaidah- kaidah bahasa yang umum, biasanya berbentuk frasa, sedangkan artinya tidak bisa diterangkan secara logis atau secara gramatikal, dengan bertumpu pada makna kata-kata yang membentuknya. Untuk mengetahui makna sebuah idiom, setiap orang harus mempelajarinya sebagai seorang penutur asli, tidak mungkin hanya melalui makna dari kata-kata yang membentuknya. Idiom bersifat tradisional dan bukan bersifat logis, maka bentuk-bentuk idiom hanya bisa dipelajari dari pengalaman-pengalaman, bukan melalui peraturan-peraturan umum bahasa.

  2.6.7 Bahasa Artifisial

  Bahasa artifisial adalah bahasa yang disusun secara seni. Bahasa yang artifisial tidak terkandung dalam kata yang digunakan, tetapi dalam pemakaiannya untuk menyatakan suatu maksud. Fakta dan pernyataan- pernyataan yang sederhana dapat diungkapkan dengan sederhana dan langsung tidak perlu disembunyikan.

  2.6.8 Kata Seru

  Kata-kata yang digunakan untuk mengungkapkan perasaan batin, misalnya kaget, terharu, marah, atau sedih disebut kata seru (Chaer, 2011:194) Dilihat strukturnya ada dua macam kata seru yaitu

  (1) Kata seru yang berupa kata-kata singkat, seperti wah, cih, hai, o,

  68

  (2) Kata seru yang berupa kata-kata biasa, seperti aduh, celaka, gila,

  kasihan, bangsat, ya ampun . Serta kata serapan astaga, masya Allah, allhamduliliah, dan sebagainya.

  Kata seru yang berupa kata-kata singkat dapat digunakan dengan fungsi untuk menyatakan berbagai perasaan batin tergantung dengan intonasinya.

2.6.9 Kata Fatis

  Kata fatis adalah kata-kata dalam bahasa lisan (percakapan) dengan fungsi- fungsi ‗tertentu‘. Misalnya kata sih, kan, ya, lho,seperti dalam kalimat

  (1) Dia sih enak gajinya besar

  (2) Suaminya kan pegawai kantor pajak

  Dalam ragam bahasa nonformal kita dapati juga kata fatis yang lain seperti dong, kek, koq, dan mah (Chaer, 2011:196).

2.6.10 Rangkuman

  Berdasarkan uraian di atas, pilihan kata dapat pula mempengaruhi kesantunan berbahasa seseorang. Kesanggupan memilih kata oleh seorang penutur dapat menjadi salah satu penentu santun tidaknya bahasa yang digunakan. Pilihan kata yang dimaksud adalah ketepatan pemakaian kata untuk mengungkapkan makna dan maksud dalam konteks tertentu sehingga menimbulkan efek tertentu pada mitra tutur. Keraf membagi pilihan kata

  69

  kata ilmiah dan kata populer, (3) jargon, (4) kata percakapan, (5) kata slang, (6) idiom, dan (7) bahasa artifisial. Terdapat pula kata seru, dan kata fatis yang digunakan untuk menunjukkan fungsi bahasa tertentu. Beberapa pilihan kata tersebut dapat digunakan seorang penutur secara tepat dan sesuai dalam sebuah tuturan untuk membantu keberhasilan proses berkomunikasi.

  70

2.7 Kerangka Berpikir

  FENOMENA KETIDAKSANTUNAN BERBAHASA DI PERGURUAN TINGGI TEORI KETIDAKSANTUNAN BERBAHASA LOCHER BOUSFIELD LOCHER AND CULPEPER TEUKORAFI (2008) (2008) WATTS (2008) (2008) (2008)

  JENIS DESKRIPTIF KUALITATIF METODE PENGUMPULAN DATA: METODE SIMAK DAN METODE CAKAP METODE DAN TEKNIK ANALISIS DATA:

  KONTEKSTUAL HASIL PENELITIAN PENANDA WUJUD MAKNA

BAB III METODE PENELITIAN

  3.1 Jenis Penelitian

  Jenis penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif. Penelitian deskriptif menurut Widi (2010:47) merupakan penelitian yang mencoba untuk memberikan gambaran secara sistematis tentang situasi, permasalahan, fenomena, atau layanan atau program. Penelitian kualitatif menurut Moleong (2006: 6) adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dll., secara holistik, dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode ilmiah.

  3.2 Subjek Penelitian

  Subjek penelitian ini adalah mahasiswa PBSID Angkatan 2009 —2011

  Universitas Sanata Dharma. Penulis secara khusus memilih untuk meneliti ketidaksantunan berbahasa para mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah Universitas Sanata Dharma angkatan 2009

  —2011 yang notabene para mahasiswanya berasal dari berbagai pelosok daerah di Indonesia yang juga memiliki tata karma dan cara berbahasa masing-masing. Hal penting lainnya yaitu mahasiswa PBSID dipandang bahasa daripada mahasiswa prodi lain. Kedekatan penulis dengan para mahasiswa PBSID tersebut juga menjadi salah satu faktor utama pemilihan subjek penelitian ini.

3.3 Metode dan Teknik Pengumpulan Data

  Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Penelitian ini berusaha mendeskripsikan suatu gejala, peristiwa, kejadian yang terjadi saat ini. Penelitian deskriptif memusatkan perhatian kepada masalah-masalah aktual sebagaimana adanya pada saat penelitian berlangsung. Melalui penelitian deskriptif, peneliti berusaha mendeskripsikan peristiwa dan kejadian yang menjadi pusat perhatian tanpa memberikan perlakuan khusus terhadap peristiwa tersebut. Penelitian deskriptif ini menjadi dasar untuk menguraikan fenomena ketidaksantunan berbahasa karena peneliti akan menguraikan peristiwa tutur antarmahasiswa PBSID Universitas Sanata Dharma.

  Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini ialah metode simak dan metode cakap. Metode simak memiliki teknik dasar yang berwujud teknik sadap (Mahsun, 2005:92). Teknik sadap disebut sebagai teknik dasar dalam metode simak karena pada hakikatnya penyimakan diwujudkan dengan penyadapan. Dalam arti, peneliti dalam upaya mendapatkan data dilakukan dengan menyadap penggunaan bahasa para mahasiswa. Selanjutnya, teknik sadap ini diikuti dengan teknik lanjutan yang berupa teknik simak libat cakap. Dalam teknik simak libat cakap, peneliti melakukan penyadapan itu dengan cara menyimak pembicaraan. Dalam hal ini, peneliti terlibat langsung dalam dialog (Mahsun, 2005:93), penyimakan ini diwujudkan ke dalam pencatatan dengan teknik catat. Teknik catat adalah teknik lanjutan yang dilakukan peneliti ketika menerapkan metode simak dengan teknik lanjutan di atas.

  Selain itu, peneliti juga menggunakan metode cakap. Metode penyediaan data berupa percakapan antara peneliti dengan informan (Mahsun, 2005:95). Metode cakap memiliki teknik dasar berupa teknik pancing, karena percakapan yang diharapkan sebagai pelaksanaan metode tersebut hanya dimungkinkan muncul jika peneliti memberi stimulasi (pancingan) pada informan untuk memunculkan gejala kebahasaan yang diharapkan oleh peneliti. Selanjutnya, teknik dasar tersebut dijabarkan ke dalam dua teknik dasar lanjutan, yaitu teknik lanjutan cakap semuka dan cakap tansemuka.

  Teknik lanjutan cakap semuka berarti peneliti langsung melakukan percakapan dengan pengguna bahasa sebagai informan dengan bersumber pada pancingan yang sudah disiapkan ( berupa daftar tanya) atau secara spontanitas, maksudnya pancingan dapat muncul di tengah-tengah percakapan. Teknik lanjutan cakap tansemuka berarti peneliti tidak secara langsung melakukan percakapan dengan pengguna bahasa (menyajikan kasus atau situasi).

  Kedua teknik tersebut dapat dilengkapi dengan pencatatan atau perekaman, baik secara langsung maupun tidak langsung, baik secara terbuka maupun tersembunyi, sehingga hasilnya dapat diperoleh data kebahasaan yang berupa ketidaksantunan itu. Teknik rekam dilakukan dengan menyiapkan alat rekam yang sudah siap pakai. Teknik catat dipilih untuk mengamati dan sekaligus mencatat hal-hal penting yang terjadi selama proses komunikasi berlangsung.

  3.4 Instrumen Penelitian

  Instrumen yang digunakan dalam penelitian ketidaksantunan ini ialah panduan wawancara (daftar pertanyaan), pancingan, dan kasus dengan bekal teori ketidaksantunan berbahasa. Kedua teori tersebut akan digunakan untuk menganalisis penggunaan bahasa antarmahasiswa. Data-data yang didapat akan dicatat untuk kemudian dianalisis lebih lanjut. Data akan dimasukkan ke dalam blangko yang telah dipersiapkan seperti di bawah ini.

  No: Tuturan: Wujud ketidaksantunan: Penanda ketidaksantunan: Makna ketidaksantunan:

  3.5 Metode dan Teknik Analisis Data

  Metode analisis data dilakukan dengan metode analisis kontekstual, yakni berhasil dikumpulkan, diidentifikasi, dan diklasifikasikan. Metode analisis kontekstual ini dapat disejajarkan dengan metode analisis padan. Metode padan itu dapat dibedakan menjadi dua, yaitu metode padan yang sifatnya intralingual dan metode pada yang sifatnya ekstralingual (cf. Mahsun, 2005 melalui Rahardi 2009:36).

  Metode analisis data secara linguistik menggunakan metode padan intralingual yaitu metode analisis dengan cara menghubung-bandingkan unsur- unsur yang bersifat lingual, baik yang terdapat dalam satu bahasa maupun dalam beberapa bahasa yang berbeda (Mahsun, 2005:118). Teknik yang digunakan adalah teknik dasar teknik hubung banding yang bersifat lingual.

  Metode analisis data secara pragmatik menggunakan metode padan ekstralingual yaitu metode analisis dengan cara menghubung-bandingkan unsur- unsur yang bersifat ekstralingual, seperti hal-hal yang menyangkut makna, informasi, konteks tuturan, dan lain-lain. Teknik yang digunakan adalah teknik dasar teknik hubung banding yang bersifat ekstralingual. Setelah data dikumpulkan danm diinventarisasi, langkah analisisnya adalah sebagai berikut:

  1. Data diidentifikasi berdasarkan ciri-ciri penanda khas yang ditemukan di setiap data.

  2. Setelah data diidentifikasi, kemudian diklasifikasi berdasarkan kriteria tertentu tertentu.

  3. Atas dasar hasil klasifikasi, setiap data diinterpretasi atau dimaknai berdasarkan teori yang dijadikan acuan seperti diuraikan di bab dua.

  4. Langkah analisis data terakhir adalah mendeskripsikan data dalam bentuk sajian hasil analisis.

3.6. Sajian Analisis Data

  Sajian analisis data dalam penelitian kualitatif bersifat induktif dan berkelanjutan. Tujuan akhir analisis data kualitatif adalah untuk memperoleh makna, menghasilkan pengertian-pengertian, konsep-konsep serta mengembangkan hipotesis atau teori baru. Analisis data kualitatif adalah proses mencari serta menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan bahan-bahan lainnya sehingga mudah dipahami agar dapat diinformasikan kepada orang lain.

  Analisis data penelitian kualitatif dilakukan dengan mengorganisasikan data, menjabarkannya ke dalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting dan mana yang akan dikaji dimulai sejak sebelum peneliti memasuki lapangan, dilanjutkan pada saat peneliti berada di lapangan secara interaktif dan berlangsung terus menerus sampai tuntas sehingga datanya jenuh. Kejenuhan data ditandai dengan tidak diperolehnya lagi data atau informasi baru (Sahid, 2011).

3.7 Trianggulasi Hasil Analisis Data

  Menurut Lexy J. Moleong (1989:195), trianggulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data dengan memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data untuk keperluan pengecekan atau pembanding terhadap data. Dalam penelitian ini, peneliti membuat trianggulasi dengan tujuan untuk melakukan pengecekan terhadap validitas dan keterpercayaan hasil temuan.

  Trianggulasi dalam penelitian ini meliputi dua hal, yaitu trianggulasi teori dan trianggulasi logis. Trianggulasi teori peneliti gunakan untuk membandingkan beberapa teori ketidaksantunan berbahasa dari beberapa ahli bahasa dengan tujuan untuk melihat kelebihan dan kekurangan masing-masing. Peneliti juga melakukan trianggulasi logis, yaitu dengan melakukan bimbingan bersama dosen pembimbing yaitu Dr. R. Kunjana Rahardi, M.Hum. sebagai pembimbing I dan Dr. Yuliana Setiyaningsih sebagai pembimbing II.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Deskripsi Data

  Data penelitian ini berupa tuturan antarmahasiswa Program Studi PBSID Angkatan 2009

  —2011 di Universitas Sanata Dharma selama bulan November- Desember 2012. Data yang terkumpul sebanyak 76 tuturan. Data berupa tuturan yang tidak santun yang terbagi dalam lima jenis ketidaksantunan: (a) melecehkan muka, (b) menain-mainkan muka, (c) kesembronoan yang disengaja, (d) mengancam muka, dan (e) menghilangkan muka. Data-data itu dapat disimak pada halaman lampiran skripsi ini. Berikut disajikan data-data yang akan dianalisis dan dibahas pada penelitian ini.

  1. Melecehkan Muka Berikut tuturan yang termasuk ke dalam tuturan tidak santun yang melecehkan muka mitra tuturnya yang berjumlah 20 tuturan. Tuturan yang melecehkan muka memiliki maksud bahwa tuturan tersebut dapat mengarah pada rasa kejengkelan mitra tutur. Tuturan juga dapat menimbulkan rasa sakit hati karena mitra tutur merasa seperti dihina oleh penutur dengan tuturannya itu.

  Tabel 1 Tuturan yang Melecehkan Muka

  11. Ngopo sur kowe ndadak mangkat, wes pinter rasah mlebu wae! (A11)

  19. Iih penghianat! (A19)

  18. Eh kok kamu makan bakso kayak gitu? (A18)

  17. Halah tugas dikit gitu ae gek dikerjake to, sikak kok kowe! (A17)

  16. Eehh indah gimana to kamu malah ngobrol! (A16)

  15. Oo basio ki malah dilecek-lecek! (A15)

  14. Nek ngomong ki jangan kayak orang kumur-kumur (A14)

  13. Aah pelit kamu! (A13)

  12. Kae lhoo munyuke potong rambut. (A12)

  10. Woo, asem dicatet kok pie, munyuk ki! (A10)

  No Tuturan Kode

  9. Itu lama-lama idungmu bisa pesek lhoo gara-gara kacamata. (A9)

  8. Kok kamu keringetan, gak dijemput cowokmu po? (A8)

  7. Kalo jawab tu yang bener, iyaa gitu.. masak apa, apa itu? (A7)

  6. Wiih, jati wes pendadaran kowe? (A6)

  5. Sebentar to, ini baru mau dijelasin! (A5)

  4. Aah tu kan kamu kebiasaan! (A4)

  3. Enggak, dimakan! (A3)

  2. Kamu dapet B Linguistik.. dapet C aku, asem kok! (A2)

  1. Asu kowe! (A1)

  20. Asu, biasa aja kali! (A20)

  2. Memain-mainkan Muka Berikut tuturan yang termasuk ke dalam tuturan tidak santun yang memain- mainkan mitra tuturnya yang berjumlah 16 tuturan. Tuturan yang memain-mainkan muka memiliki maksud bahwa tuturan tersebut dapat mengarah pada rasa kebingungan mitra tutur dan rasa dipermainkan oleh penutur karena perilaku bertutur penutur tidak seperti biasanya.

  Ratna… huu cantik bangett.

  14. Ncen kawit mbiyen to kowe ndeso (B14)

  Heeh… ra ngerti wong ganteng neng kene po? (B13)

  12. Pil.. rambute anyaar ciee (B12) 13.

  11. Sep, septi cie cie.. bantuin gih sep (B11)

  10. Emang jelek kan fotomu. (B10)

  9. Wes putus belom, nyuk? (B9)

  (B8)

  7. Baajigur tenan, gandengan bertiga, kayak anak kecil tau! (B7) 8.

  Tabel 2 Tuturan yang Memain-mainkan Muka

  6. Iih nilai 100 gak diakui.. mak jleb jleb! (B6)

  5. Wih dapet 100 ok pie, basio ki! (B5)

  4. Bajumu bagus, sesuatu kayak syahrini. (B4)

  3. Wong stress! (B3)

  2. Yauda sii biasa aja! (B2)

  1. Kita belajar dengan semau-maunya! (B1)

  No Tuturan Kode

  15. Udah selesai kuleah nii, kamu bersih-bersih ya! (B15)

  3. Kesembronoan yang Disengaja Berikut tuturan yang termasuk ke dalam tuturan tidak santun yang mengarah pada kesembronoan yang disengaja yang berjumlah 10 tuturan. Tuturan yang sembrono memiliki maksud bahwa tuturan tersebut dapat menimbulkan rasa tersinggung, kejengkelan bahkan konflik bagi mitra tuturnya karena tuturan dikatakan secara sembrono dan disengaja oleh penutur.

  Tabel 3 Tuturan Kesembronoan yang Disengaja

  No Tuturan Kode

  1. Masalah buat loe! (C1) 2.

  Kuliah sama kamu ….

  (C2) 3. Hehe goyang asik… goyang itik

  (C3)

  4. Ignatius Cahyo gak masuk, dugem! (C4)

  5. Hey model! (C5)

  6. Iya po? Aku gak ngerti kamu ngomog apa (C6)

  7. Cocotmu! (C7)

  8. Potong model pitik jago yoo? (C8)

  9. Kowe potong koyo pitik gering (C9)

  10. Itu lhoo tanah di pot dikeluarkan dulu trus buat tempat baksonya. (C10)

  4. Menghilangkan Muka Berikut tuturan yang termasuk ke dalam tuturan tidak santun yang menghilangkan muka mitra tuturnya yang berjumlah 13 tuturan. Tuturan menghilangkan muka memiliki maksud bahwa tuturan tersebut dapat menimbulkan rasa tersinggung bahkan rasa malu yang mendalam bagi mitra tuturnya karena tuturan dikatakan oleh penutur di depan orang banyak.

  Tabel 4 Tuturan yang Menghilangkan Muka

  (D7)

  13. Terima kasih atas masukannya, sebenarnya judul saya ini sudah direvisi oleh ibu Yuli. Jadi saya tidak mengubahnya lagi (D13)

  12. Saya tidak perlu memberikan contoh konkretnya, toh di sini semuanya mahasiswa! (D12)

  11. Sirik banget si jadi orang, suka-suka akulah.. emang situ OK? (D11)

  10. Sial bener ni orang! Banyak bacot lu! (D10)

  9. Bajingan, keparat, kowe ngapusi wong! (D9)

  8. Anggere untune wes mancung! (D8)

  7. Danang ki koyo cewek tenan wes sikile koyo ngono neh rambute gondrong.

  No Tuturan Kode 1.

  6. Ztt berisik kamu! (D6)

  5. Mel, sekarang kamu pose, trus kamu keluar. (D5)

  4. Iih kakimu cantik yaa kayak cewek. (D4)

  (D3)

  (D2) 3. Iih gak usah pake yang pertama kedua kali! Kelamaan‼

  Iyaa bener, nanti dikasih pak Wid! Yaa ampuun… (D1) 2. Seno azis tu cocok.

  5. Mengancam Muka Secara Sepihak Berikut tuturan yang termasuk ke dalam tuturan tidak santun yang mengancam muka sepihak memiliki maksud bahwa tuturan tersebut dapat menyinggung dan memberikan sebuah ancaman bagi mitra tuturnya tetapi penutur tidak memahami tuturan yang telah disampaikannya.

  Tabel 5 Tuturan yang Mengancam Muka Sepihak

  No Tuturan Kode

  1. Bener yaa? Kamu gak bohong? (E1)

  2. Ngopo to kowe, aku gak ngerti! (E2)

  3. Ngopo demok-demok, asem ki! (E3)

  4. Wes lungguhe neng ngarep ae, manut aku, dong ora! (E4)

  5. Hey dia kan orangnya sok intelektual! (E5)

  6. Ooh jadi sekarang kamu nguping pembicaraan orang ya? (E6)

  7. Buat siapa? Ini dikasih racun ya? (E7)

  8. Wes to meneng, ki mumet le nggawe ini lho! (E8)

  9. Kowe ki meneng to, asem kok! (E9)

  10. Ngopo to sok takon-takon? (E10)

  11. Asu rung rampung kok! Wes diajak kumpul do gak moro (E11) bajigur to kowe!

  12. Kamu sekarang sombong banget mel! (E12)

  13. Nek entuk elek tak tuntut kowe! (E13)

  14. Engko kabari aku, aku neng kantin. Aku tenanan ini cuk! (E14)

  15. Yo ben! Ben mati sekalian! (E15)

  16. Lain kali aku gak mau sekelompok lagi sama kamu! Males! (E16)

  17. Asu! Kamu tu gila yaa syukur-syukur uda aku pinjemin! (E17)

4.2 Hasil Analisis Data

  Hasil penelitian ini disajikan dengan urutan yaitu (a) wujud ketidaksantunan linguistik dan pragmatik berbahasa, (b) wujud penanda ketidaksantunan linguistik dan pragmatik berbahasa, dan (c) makna ketidaksantunan linguistik dan pragmatik berbahasa. Pembahasan lebih lanjut mengenai ketidaksantunan linguistik dan pragmatik berbahasa antarmahasiswa sebagai berikut.

4.2.1 Melecehkan Muka

  Miriam A Locher (2008:3) berpendapat bahwa ketidaksantunan dalam berbahasa dapat dipahami sebagai berikut,

  „…behaviour that is face-aggravating in a

particular context.‟ Perilaku ketidaksantunan berbahasa itu menunjuk pada perilaku

  „melecehkan‟ muka (face-aggravate). Perilaku melecehkan muka lebih mengarah pada sebuah tuturan yang disampaikan penutur tidak hanya menimbulkan kejengkelan tetapi dapat melukai hati mitra tuturnya. Dengan demikian, sebuah tuturan dapat dikatakan tidak santun jika tuturan tersebut telah menyinggung dan membuat sakit hati mitra tuturnya. Berikut beberapa cuplikan tuturan yang melecehkan muka.

  Cuplikan Tuturan 6

  Penutur: mahasiswa laki-laki, umur 21 tahun Mitra tutur: mahasiswa laki-laki, umur 22 tahun

  M1: “Hey bro, gek ngopo e kamu?”

  M1: “Wiih, jati wes pendadaran kowe?” (A6)

  (konteks tuturan: tuturan terjadi ketika duduk di depan sekretariat, mitra tutur

  

memegang proposal skripsi dan sedang menunggu dosen pembimbing. Datang

penutur menghampiri dan bertanya kepada mitra tutur. Suasana agak gaduh dan

  )

  santai Cuplikan Tuturan 7

  Penutur: mahasiswa perempuan, umur 19 tahun Mitra tutur: mahasiswa perempuan, umur 19 tahun

  D1: “Stela… Stela mana?”

  M1: “Eh apa bu? Saya”

  M2: “Kalo jawab tu yang bener, iyaa gitu.. masak apa, apa itu?” (A7)

  (konteks tuturan: tuturan terjadi ketika perkuliahan menyimak di laboratorium

  

bahasa, dosen memanggil nama mitra tutur. Suasana dalam laboratorium bahasa

serius dan tenang. Mitra tutur menjawab sekenanya panggilan dosen. Posisi duduk

penutur duduk di depan mitra tutur. Penutur menanggapi mitra tutur ) Cuplikan Tuturan 10

  Penutur: mahasiswa perempuan, umur 21 tahun Mitra tutur: mahasiswa perempuan, umur 21 tahun

  M1: “Eh kalo kalian ngomong gak santun nanti aku catet lho!”

  M2: “Woo, asem dicatet kok pie, munyuk ki!” (A10)

  M1: “Makanya ati-ati kalo ngomong.” (konteks tuturan: tuturan terjadi ketika sedang berkumpul di perpustakaan, lima

  

mahasiswa sedang mengerjakan proposal skripsi masing-masing. Beberapa

mahasiwa berbincang dengan serunya. Mitra tutur mencatat obrolan penutur untuk

melengkapi data skripsi. Penutur mengetahui dan berkomentar pedas kepada mitra

tutur ) Cuplikan Tuturan 14

  Mitra tutur: mahasiswa perempuan, umur 21 tahun M1:

  “Tujuh puluh pak” (suara tidak terlalu jelas karena memakai behel) M2:

  “Nek ngomong ki jangan kayak orang kumur-kumur!” (A14) M1:

  “Yaa maklumlah” (konteks tuturan: tuturan terjadi ketika setelah kuis Penyuntingan selesai, lalu

dilanjut dengan koreksi lembar jawab oleh mahasiswa, suasana kelas agak gaduh.

  

Penutur tahu bahwa mitra tutur baru beberapa waktu menggunakan behel sehingga

masih kesusahan untuk berbicara. Penutur mengomentari cara bicara mitra tutur ) Cuplikan Tuturan 16

  Penutur: mahasiswa perempuan, umur 21 tahun Mitra tutur: mahasiswa perempuan, umur 21 tahun

  D1: “Siapa yang mengoreksi punya Natalia Kristanti?”

  M1: “Eehh indah gimana to kamu, malah ngobrol!” (A16)

  M2: “Eehh iya- iya, 75 pak.”

  (konteks tuturan: tuturan terjadi ketika dosen memanggil nama mahasiswa untuk

  

konfirmasi nilai, ada mahasiswa yang tidak menyadarinya. Suasana kelas agak

gaduh. Penutur dan mitra tutur merupakan teman akrab. Penutur mengingatkan

mitra tutur yang telah mengoreksi hasil kerjanya untuk disampaikan ke dosen )

4.2.1.1 Wujud Ketidaksantunan Linguistik

  Wujud ketidaksantunan linguistik tuturan di atas berupa hasil transkrip tuturan lisan tidak santun antarmahasiswa yang melecehkan muka. Berikut masing-masing wujud ketidaksantunan linguistik tuturan yang melecehkan muka tersebut.

  a.

  Tuturan (A6): “Wiih, jati wes pendadaran kowe?” b. Tuturan (A7): “Kalo jawab tu yang bener, iyaa gitu.. masak apa, apa itu?” c. Tuturan (A10): “Woo, asem dicatet kok pie, munyuk ki!” d.

  Tuturan (A14): “Nek ngomong ki jangan kayak orang kumur-kumur!” e. Tuturan (A16): “Eehh indah gimana to kamu, malah ngobrol!”

4.2.1.2 Wujud Ketidaksantunan Pragmatik

  Wujud ketidaksantunan pragmatik tuturan yang melecehkan muka dapat dilihat berdasarkan konteks yang melingkupi tuturan itu. Berikut uraian konteks sebagai wujud ketidaksantunan pragmatik masing-masing tuturan yang melecehkan muka.

  Konteks tuturan (A6): tuturan terjadi ketika duduk di depan sekretariat, mitra tutur memegang proposal skripsi dan sedang menunggu dosen pembimbing.

  Datang penutur menghampiri dan bertanya kepada mitra tutur. Suasana agak gaduh dan santai.

  Konteks tuturan (A7): tuturan terjadi ketika perkuliahan menyimak di

  laboratorium bahasa, dosen memanggil nama mitra tutur. Suasana dalam laboratorium bahasa serius dan tenang. Mitra tutur menjawab sekenanya panggilan dosen. Posisi duduk penutur duduk di depan mitra tutur. Penutur menanggapi mitra tutur.

  Konteks tuturan (A10): tuturan terjadi ketika sedang berkumpul di perpustakaan, lima mahasiswa sedang mengerjakan proposal skripsi masing-masing.

  Beberapa mahasiwa berbincang dengan serunya. Mitra tutur mencatat obrolan penutur untuk melengkapi data skripsi. Penutur mengetahui dan berkomentar pedas

  Konteks tuturan (A14): tuturan terjadi ketika setelah kuis Penyuntingan

  selesai, lalu dilanjut dengan koreksi lembar jawab oleh mahasiswa, suasana kelas agak gaduh. Penutur tahu bahwa mitra tutur baru beberapa waktu menggunakan behel sehingga masih kesusahan untuk berbicara. Penutur mengomentari cara bicara mitra tutur.

  Konteks tuturan (A16): tuturan terjadi ketika dosen memanggil nama

  mahasiswa untuk konfirmasi nilai, ada mahasiswa yang tidak menyadarinya. Suasana kelas agak gaduh. Penutur dan mitra tutur merupakan teman akrab. Penutur mengingatkan mitra tutur yang telah mengoreksi hasil kerjanya untuk disampaikan ke dosen.

4.2.1.3 Penanda Ketidaksantunan Linguistik

  Penanda ketidaksantunan linguistik tuturan yang melecehkan muka dapat dilihat berdasarkan nada, tekanan, intonasi, dan diksi. Berikut uraian masing-masing penanda ketidaksantunan linguistik tuturan yang melecehkan muka.

  a.

  Tuturan (A6) dikatakan penutur dengan nada sedang. tekanan sedang, intonasi tanya, sedangkan pilihan kata dalam tuturan tersebut menggunakan kata nonstandar yaitu kata seru dan penggunaan bahasa daerah Jawa.

  b.

  Tuturan (A7) dikatakan penutur dengan nada sedang, tekanan sedang, intonasi tanya, sedangkan pilihan kata menggunakan kata nonstandar yaitu kata fatis dan kata tidak baku. c.

  Tuturan (A10) dikatakan penutur dengan nada tinggi, tekanan sedang, intonasi Tanya, sedangkan pilihan kata menggunakan kata nonstandar yaitu kata fatis, bahasa Jawa, dan kata jargon/umpatan.

  d.

  Tuturan (A14) dikatakan penutur dengan nada sedang, tekanan sedang, intonasi perintah, sedangkan pilihan kata menggunakan kata nonstandar yaitu kata fatis, kata tidak baku.

  e.

  Tuturan (A16) dikatakan dengan nada tinggi, tekanan sedang, intonasi perintah, sedangkan pilihan kata menggunakan kata nonstandar yaitu kata fatis, kata tidak baku.

4.2.1.4 Penanda Ketidaksantunan Pragmatik

  Penanda ketidaksantunan pragmatik tuturan yang melecehkan muka dapat dilihat pula berdasarkan konteks yang melingkupi tuturan itu. Adapun uraian konteks meliputi penutur dan mitra tutur, situasi dan suasana, tujuan tutur, tindak verbal, serta tindak perlokusi. Berikut uraian konteks masing-masing tuturan yang melecehkan muka.

  Konteks tuturan (A6) meliputi waktu terjadinya tuturan pada tanggal 22

  November 2012 pukul 13.10 WIB ketika duduk di depan sekretariat, mitra tutur memegang proposal skripsi dan sedang menunggu dosen pembimbing. Datang penutur menghampiri mitra tutur. Penutur belum mengambil mata kuliah skripsi. Penutur melihat proposal skripsi yang dibawa oleh mitra tutur, lalu penutur bertanya agak gaduh dan santai. Penutur dan mitra tutur laki-laki merupakan mahasiswa Angkatan 2009, mereka pernah bekerja sama dalam satu kepanitiaan dalam kegiatan prodi. Tindak perlokusi tuturan (A6) yaitu penutur berharap mitra tutur tidak menyombongkan diri.

  Konteks tuturan (A7) yaitu tuturan terjadi pada 21 November 2012 pukul

  13.15 WIB ketika perkuliahan Menyimak di laboratorium Bahasa, dosen memanggil nama mitra tutur. Penutur dan mitra tutur perempuan merupakan mahasiswa angkatan 2011, mereka teman satu kelas dan posisi duduk penutur duduk di depan mitra tutur. Suasana dalam laboratorium Bahasa serius dan tenang. Mitra tutur menjawab sekenanya panggilan dosen. Penutur menanggapi mitra tutur dengan suruhan yang dikatakan dengan memaksa dan sinis yang menunjukkan tindak verbal direktif. Tindak perlokusi untuk tuturan (A7) yaitu penutur berharap mitra tutur menjawab panggilan dosen dengan benar.

  Konteks tuturan (A10) yaitu tuturan terjadi pada tanggal 23 November 2012

  pukul 10.45 WIB ketika sedang berkumpul di perpustakaan, lima mahasiswa sedang mengerjakan proposal skripsi masing-masing. Beberapa mahasiwa berbincang dengan serunya. Penutur dan mitra tutur merupakan mahasiswa angkatan 2009 dan mereka teman sekelas. Mitra tutur mencatat obrolan penutur untuk melengkapi data skripsi. Penutur mengetahui dan berkomentar pedas kepada mitra tutur yang menunjukkan tindak verbal ekspresif. Tindak perlokusi tuturan (A10) yaitu penutur berharap agar mitra tutur tidak mencatat lagi omongan penutur.

  Konteks tuturan (A14) yaitu tuturan terjadi pada tanggal 28 November 2012

  pukul 14.25 WIB ketika setelah kuis Penyuntingan selesai, lalu dilanjut dengan koreksi lembar jawab oleh mahasiswa, suasana kelas agak gaduh. Penutur laki-laki dan mitra tutur perempuan merupakan mahasiswa angkatan 2009 dan mereka teman sekelas. Penutur tahu bahwa mitra tutur baru beberapa waktu menggunakan behel sehingga masih kesusahan untuk berbicara. Penutur menanggapi cara bicara mitra tutur dengan suruhan yang menunjukkan tindak verbal direktif. Tindak perlokusi tuturan (A14) yaitu penutur berharap agar mitra tutur berbicara sewajarnya saja.

  Konteks tuturan (A16) yaitu tuturan terjadinya tuturan pada tanggal 28

  November 2012 pukul 14.25 WIB ketika dosen memanggil nama mahasiswa untuk konfirmasi nilai, ada mahasiswa yang tidak menyadarinya. Suasana kelas agak gaduh.

  Penutur dan mitra tutur perempuan merupakan mahasiswa angkatan 2009, mereka teman sekelas dan duduk bersebelahan. Penutur mengingatkan mitra tutur yang telah mengoreksi hasil kerjanya untuk disampaikan ke dosen dengan agak kesal dan sinis yang menunjukkan tindak verbal ekspresif. Tindak perlokusi tuturan (A16) yaitu penutur berharap agar mitra tutur tidak berbicara sendiri dan memperhatikan dosen.

4.2.1.5 Makna Ketidaksantunan Berbahasa yang Melecehkan Muka

  Secara umum, makna ketidaksantunan berbahasa yang melecehkan muka yaitu penutur mengejek, menyindir, menghina, dan melukai hati mitra tuturnya. berikut uraian masing-masing makna dari tuturan yang melecehkan muka. a.

  Tuturan (A6) memiliki makna berupa godaan/hinaan penutur kepada mitra tutur yang sedang berusaha bimbingan skripsi.

  b.

  Tuturan (A7) memiliki makna berupa hinaan penutur kepada mitra tutur yang menjawab sekenanya.

  c.

  Tuturan (A10) memiliki makna berupa hinaan dari penutur kepada mitra tuturnya dengan umpatan munyuk itu.

  d.

  Tuturan (A14) memiliki makna berupa hinaan dari penutur karena cara bicara mitra tutur yang aneh setelah memakai behel.

  e.

  Tuturan (A16) memiliki makna berupa hinaan penutur karena mitra tutur tidak memerhatikan panggilan dosen, sedangkan lembar koreksi yang dipegang mitra tutur milik penutur.

4.2.2 Memain-mainkan Muka

  Interpretasi lain yang berkaitan dengan definisi Locher terhadap ketidaksantunan berbahasa ini adalah bahwa tindakan tersebut sesungguhnya bukanlah sekadar perilaku

  „melecehkan muka‟, melainkan perilaku yang „memain-

mainkan muka‟. Tindakan bertutur sapa akan dikatakan sebagai tindakan yang tidak

  santun bilamana muka (face) dari mitra tutur dipermainkan, atau setidaknya dia telah merasa bahwa penutur memain-mainkan muka sang mitra tutur itu. Dengan demikian, sebuah tuturan dikatakan tidak santun jika tuturan tersebut menimbulkan kerugian yang berupa kejengkelan hati bagi mitra tuturnya.

  Cuplikan Tuturan 22

  Penutur: mahasiswa perempuan, umur 20 tahun Mitra tutur: mahasiswa perempuan, umur 20 tahun

  M1: “Ngapaen e kamu di sini?” (sambil tertawa kecil)

  M2: “Yauda sii biasa aja!” (B2)

  (konteks tuturan: tuturan terjadi ketika jeda kuliah, beberapa mahasiswa masuk ke

dalam kelas untuk mencari tempat duduk. Suasana dalam kelas agak gaduh, santai.

  Mitra tutur berjalan di depan penutur dan menggodanya ) Cuplikan Tuturan 23

  Penutur: mahasiswa perempuan, umur 20 tahun Mitra tutur: mahasiswa perempuan, umur 20 tahun

  M1: “Haayy nonaa” (sambil melambaikan tangan dan tersenyum)

  M2: “Wong stress.” (B3)

  (konteks tuturan: tuturan terjadi ketika jeda kuliah, beberapa mahasiswa masuk ke

dalam kelas untuk mencari tempat duduk. Suasana kelas agak gaduh tetapi santai.

  Mitra tutur menyapa penutur dengan suara menggoda ) Cuplikan Tuturan 28

  Penutur: mahasiswa perempuan, umur 22 tahun Mitra tutur: mahasiswa perempuan, umur 21 tahun

  M1: “hay Mel”

  M2: “Ratna… huu cantik bangett.” (B8) (sambil melihat M1 dengan

  tertawa)

  M1: “Ahh enggak ahh, biasa aja.”

  (konteks tuturan: tuturan terjadi ketika menunggu kelas selanjutnya beberapa

  

mahasiswa angkatan 2009 duduk-duduk di kelas sambil berbincang. Datang mitra

tutur dengan potongan rambut barunya. Suasana dalam kelas santai dan gaduh.

  Cuplikan Tuturan 32

  Penutur: mahasiswa laki-laki, umur 21 tahun Mitra tutur: mahasiswa laki-laki, umur 21 tahun

  M1: “Pil.. rambute anyaar ciee” (B12) (sambil melihat M2 dan tertawa

  kecil)

  M2: “Iyoolah biasaaa”

  (konteks tuturan: tuturan terjadi ketika sedang menunggu kelas berikutnya. Beberapa

  

mahasiswa duduk-duduk dan berbincang satu sama lain di luar kelas. Suasana gaduh

dan santai. Mitra tutur menghampiri mahasiswa yang berkumpul di depan kelas.

Penutur mengomentari rambut mitra tutur yang baru ) Cuplikan Tuturan 36

  Penutur: mahasiswa perempuan, umur 22 tahun Mitra tutur: mahasiswa perempuan, umur 22 tahun

  M1: “Aku mau ikut jadi mitra perpustakaan.”

  M2: “Kamu yakin mau ikut mi?” (B16) (sambil tertawa kecil)

  M1: “Iya aku uda isi formulirnya kok”

  (konteks tuturan: tuturan terjadi ketika sedang mengerjakan tugas di perpustakaan,

  

suasana agak gaduh. Penutur dan mitra tutur teman sekelompok. Mitra tutur

menjelaskan bahwa dia ingin menjadi mitra di perpustakaan. Penutur menanggapi

pembicaraan mitra tutur. Penutur tahu bahwa mitra tutur tidak bisa memiliki

kegiatan yang banyak karena daya tahan tubuhnya kurang bagus dan dia susah

mengatur waktu )

4.2.2.1 Wujud Ketidaksantunan Linguistik

  Wujud ketidaksantunan linguistik tuturan di atas berupa hasil transkrip tuturan lisan tidak santun antarmahasiswa yang memain-mainkan muka. Berikut masing- masing wujud ketidaksantunan linguistik tuturan yang memain-mainkan muka tersebut.

  a.

  Tuturan (B2): “Yauda sii biasa aja!” b. Tuturan (B3): “Wong stress.” c. Tuturan (B8): “Ratna… huu cantik bangett.” d. Tuturan (B12): “Pil.. rambute anyaar ciee” e. Tuturan (B16): “Kamu yakin mau ikut mi?”

4.2.2.2 Wujud Ketidaksantunan Pragmatik

  Wujud ketidaksantunan pragmatik tuturan yang memain-mainkan muka dapat dilihat berdasarkan konteks yang melingkupi tuturan itu. Berikut uraian konteks sebagai wujud ketidaksantunan pragmatik masing-masing tuturan yang memain- mainkan muka.

  Konteks tuturan (B2): tuturan terjadi ketika jeda kuliah, beberapa mahasiswa

  masuk ke dalam kelas untuk mencari tempat duduk. Suasana dalam kelas agak gaduh, santai. Mitra tutur berjalan di depan penutur dan menggodanya.

  Konteks tuturan (B3): tuturan terjadi ketika jeda kuliah, beberapa mahasiswa

  masuk ke dalam kelas untuk mencari tempat duduk. Suasana kelas agak gaduh tetapi santai. Mitra tutur menyapa penutur dengan suara menggoda.

  Konteks tuturan (B8): tuturan terjadi ketika menunggu kelas selanjutnya

  beberapa mahasiswa angkatan 2009 duduk-duduk di kelas sambil berbincang. Datang mitra tutur dengan potongan rambut barunya. Suasana dalam kelas santai dan gaduh.

  Mitra tutur duduk di depan penutur lalu penutur memberi komentar kepada mitra tutur.

  Konteks tuturan (B12): tuturan terjadi ketika sedang menunggu kelas

  berikutnya. Beberapa mahasiswa duduk-duduk dan berbincang satu sama lain di luar kelas. Suasana gaduh dan santai. Mitra tutur menghampiri mahasiswa yang berkumpul di depan kelas. Penutur mengomentari rambut mitra tutur yang baru.

  Konteks tuturan (B16): tuturan terjadi ketika sedang mengerjakan tugas di

  perpustakaan, suasana agak gaduh. Penutur dan mitra tutur teman sekelompok. Mitra tutur menjelaskan bahwa dia ingin menjadi mitra di perpustakaan. Penutur menanggapi pembicaraan mitra tutur. Penutur tahu bahwa mitra tutur tidak bisa memiliki kegiatan yang banyak karena daya tahan tubuhnya kurang bagus dan dia susah mengatur waktu.

4.2.2.3 Penanda Ketidaksantunan Linguistik

  Penanda ketidaksantunan linguistik tuturan yang memain-mainkan muka dapat dilihat berdasarkan nada, tekanan, intonasi, dan diksi. Berikut uraian masing- masing penanda ketidaksantunan linguistik tuturan yang memain-mainkan muka.

  a.

  Tuturan (B2) dikatakan dengan nada sedang, tekanan sedang, intonasi perintah, sedangkan pilihan kata menggunakan kata nonstandar yaitu tidak baku, kata fatis.

  b.

   Tuturan (B3) dikatakan penutur dengan nada sedang, tekanan sedang, intonasi

  berita, sedangkan pilihan kata menggunakan kata nonstandar yaitu interferensi ke dalam bahasa Jawa.

  c.

  Tuturan (B8) dikatakan dengan nada rendah, tekanan sedang, intonasi berita, sedangkan pilihan kata menggunakan kata nonstandar yaitu kata tidak baku dan kata fatis.

  d.

  Tuturan (B12) dikatakan dengan nada rendah, tekanan sedang, intonasi berita, sedangkan pilihan kata menggunakan kata nonstandar yaitu kata fatis dan bahasa Jawa.

  e.

  Tuturan (B16) dikatakan dengan nada sedang, tekanan sedang, intonasi Tanya, sedangkan pilihan kata menggunakan kata nonstandar yaitu kata tidak baku.

4.2.2.4 Penanda Ketidaksantunan Pragmatik

  Penanda ketidaksantunan pragmatik tuturan yang memain-main muka dapat dilihat pula berdasarkan konteks yang melingkupi tuturan itu. Adapun uraian konteks meliputi penutur dan mitra tutur, situasi dan suasana, tujuan tutur, tindak verbal, serta tindak perlokusi. Berikut uraian konteks masing-masing tuturan yang memain- mainkan muka.

  Konteks tuturan (B2) yaitu tuturan terjadi pada tanggal 20 November 2012

  pukul 12.30 WIB ketika jeda kuliah, beberapa mahasiswa masuk ke dalam kelas mitra tutur perempuan merupakan mahasiswa angkatan 2010 dan mereka teman sekelas. Mitra tutur berjalan di depan penutur dan menggodanya. Penutur menyuruh mitra tutur dengan suara tinggi dan keras serta sinis menunjukkan tindak verbal direktif. Hal tersebut membuat mitra tutur kaget karena biasanya penutur ramah ketika disapa tetapi saat itu penutur berperilaku yang tidak seperti biasanya. Tindak perlokusi untuk tuturan (B2) yaitu penutur berharap mitra tutur tidak menggodanya.

  Konteks tuturan (B3) yaitu tuturan terjadi pada tanggal 20 November 2012

  pukul 12.30 WIB ketika jeda kuliah, beberapa mahasiswa masuk ke dalam kelas untuk mencari tempat duduk. Suasana dalam kelas agak gaduh, santai. Penutur dan mitra tutur perempuan merupakan mahasiswa angkatan 2010 dan mereka teman sekelas. Mitra tutur menyapa penutur dan menggodanya. Penutur menanggapi mitra tutur dengan suara keras dan sinis yang menunjukkan tindak verbal ekspresif. Hal tersebut membuat mitra tutur kaget karena biasanya penutur menanggapi dengan ramah tetapi saat itu ia berperilaku yang tidak seperti biasanya. Tindak perlokusi tuturan (B3) yaitu penutur berharap mitra tutur tidak menggodanya.

  Konteks tuturan (B8) yaitu tuturan terjadi pada tanggal 20 November 2012

  pukul 14.45 WIB ketika menunggu kelas selanjutnya beberapa mahasiswa angkatan 2009 duduk-duduk di kelas sambil berbincang. Penutur dan mitra tutur perempuan merupakan mahasiswa angkatan 2009 dan mereka teman sekelas. Suasana dalam kelas santai dan gaduh. Datang mitra tutur dengan potongan rambut barunya. Perilaku penutur tidak seperti biasanya, tiba-tiba penutur berkomentar mengenai mitra tutur kepada mitra tutur dengan tuturan (B8) yang menunjukkan tindak verbal ekspresif. Tindak perlokusi tuturan tersebut yaitu penutur berharap mitra tutur tersanjung dan memberi komentar atas pujiannya.

  Konteks tuturan (B12) yaitu tuturan terjadi pada tanggal 28 November 2012

  pukul 13.50 WIB ketika sedang menunggu kelas berikutnya. Beberapa mahasiswa duduk-duduk dan berbincang satu sama lain di luar kelas. Suasana gaduh dan santai.

  Penutur dan mitra tutur laki-laki merupakan mahasiswa angkatan 2009 dan mereka teman sekelas. Mitra tutur menghampiri mahasiswa yang berkumpul di depan kelas.

  Penutur jarang berkomentar mengenai mitra tutur. Penutur mengomentari rambut mitra tutur yang baru dengan godaan yang menunjukkan tindak verbal ekspresif. Hal tersebut menimbulkan perhatian bagi teman-temannya. Tindak perlokusi tuturan (B12) yaitu penutur berharap agar mitra tutur menjelaskan rambutnya yang baru.

  Konteks tuturan (B16) yaitu tuturan terjadi pada tanggal 4 Desember 2012

  pukul 12.40 WIB ketika sedang mengerjakan tugas di perpustakaan, suasana agak gaduh. Penutur dan mitra tutur teman sekelompok dan teman sekelas serta merupakan mahasiswa angkatan 2009. Mitra tutur menjelaskan bahwa dia ingin menjadi mitra di perpustakaan. Penutur menanggapi pembicaraan mitra tutur dengan sindiran yang menunjukkan tindak verbal ekspresif. Penutur tahu bahwa mitra tutur tidak bisa memiliki kegiatan yang banyak karena daya tahan tubuhnya kurang bagus dan dia susah mengatur waktu sehingga penutur jarang mengejek mitra tutur. Tindak perlokusi tuturan (B16) yaitu penutur berharap mitra tutur berpikir kembali untuk

4.2.2.5 Makna Ketidaksantunan Berbahasa yang Memain-mainkan Muka

  Secara umum, makna ketidaksantunan berbahasa yang memain-mainkan muka yaitu penutur membuat bingung dan jengkel mitra tuturnya karena tingkah penutur yang tidak seperti biasanya.

  a.

  Tuturan (B2) memiliki makna berupa ejekan dari penutur terhadap godaan mitra tuturnya.

  b.

  Tuturan (B3) memiliki makna berupa ejekan dari penutur terhadap godaan mitra tuturnya.

  c.

  Tuturan (B8) memiliki makna berupa pujian penutur mengenai rambut baru mitra tutur. Selain itu, tuturan (B8) dapat pula bermaksud untuk mengejek mitra tutur mengenai penampilan barunya.

  d.

  Tuturan (B12) memiliki makna berupa ejekan penutur kepada mitra tutur yang memiliki model rambut baru.

  e.

  Tuturan (B16) memiliki makna berupa ejekan penutur kepada mitra tutur yang ingin menjadi mitra perpustakaan USD.

4.2.3 Kesembronoan yang Disengaja

  Bousfield (2008: 3) berpendapat bahwa ketidaksantunan dalam berbahasa dipahami sebagai perilaku berbahasa seseorang yang mengancam muka, dan ancaman terhadap muka itu dilakukan secara sembrono (gratuitous), hingga akhirnya tindakan berkategori sembrono demikian itu mendatangkan konflik, atau bahkan pertengkaran, berbahasa itu merupakan realitas ketidaksantunan. Dengan demikian, sebuah tuturan dikatakan tidak santun jika tuturan tersebut menimbulkan kerugian berupa kejengkelan bahkan dapat menimbulkan konflik karena tuturan tersebut disampaikan secara sembrono dengan kesengajaan kepada mitra tuturnya.

  Cuplikan Tuturan 39

  Penutur: mahasiswa perempuan, umur 20 tahun Mitra tutur: mahasiswa perempuan, umur 20 tahun

  M1: “Hey bajumu tu lho kebuka, keliatan perutmu.”

  M2: “Hehe goyang asik… goyang itik.” (C3)

  (konteks tuturan: tuturan terjadi ketika setelah mengoreksi lembar jawab mahasiswa

  

pada kuis psikolinguistik. Suasana kelas agak gaduh. Mitra tutur mengomentari baju

penutur yang terbuka. Mitra tutur duduk sebelahan dengan penutur ) Cuplikan Tuturan 43

  Penutur: mahasiswa laki-laki, umur 22 tahun Mitra tutur: mahasiswa laki-laki, umur 21 tahun

  M1: “Guru pamongmu kemana e?”

  M2: “Palestina.” (C7)

  (konteks tuturan: tuturan terjadi ketika di luar kelas. Beberapa mahasiswa duduk-

  

duduk dan berbincang satu sama lain sedang menunggu kelas berikutnya. Suasana

gaduh dan santai. Penutur menanyakan guru pamong kepada mitra tutur. Penutur

tahu bahwa mitra tutur masih mengurusi laporan PPL. Penutur dan mitra tutur

merupakan teman sekelas ) Cuplikan Tuturan 44

  Penutur: mahasiswa laki-laki, umur 21 tahun Mitra tutur: mahasiswa laki-laki, umur 21 tahun

  M1: “Kowe potong rambut model opo to?”

  M2: “Potong model pitik jago yoo?” (C8) (melihat mitra tutur dan tertawa kecil)

  (konteks tuturan: tuturan terjadi ketika di luar kelas. Beberapa mahasiswa duduk-

  

duduk dan berbincang satu sama lain sedang menunggu kelas berikutnya. Suasana

luar kelas gaduh dan santai. penutur dan mitra tutur merupakan teman sekelas.

Penutur berkomentar mengenai model rambut mitra tutur ) Cuplikan Tuturan 45

  Penutur: mahasiswa laki-laki, umur 21 tahun Mitra tutur: mahasiswa laki-laki, umur 21 tahun

  M1: “Dudu pitik jago.”

  M2: “Lha model opo?”

  M1: “Kowe potong koyo pitik gering.” (C9)

  (konteks tuturan: tuturan terjadi ketika di luar kelas. Beberapa mahasiswa duduk-

  

duduk dan berbincang satu sama lain sedang menunggu kelas berikutnya. Suasana

luar kelas gaduh dan santai. penutur dan mitra tutur merupakan teman akrab.

Penutur berkomentar mengenai model rambut mitra tutur ) Cuplikan Tuturan 46

  Penutur: mahasiswa laki-laki, umur 33 tahun Mitra tutur: mahasiswa perempuan, umur 22 tahun

  M1: “Kamu mau makan bakso enggak dari plastiknya langsung tapi pake tempat?

  ” M2:

  “Emang pake apaan?” M1:

  “Itu lhoo tanah di pot dikeluarkan dulu trus buat tempat baksonya.”

  (C10)

  (konteks tuturan: tuturan terjadi ketika beberapa mahasiswa sedang duduk di depan

  

dari bungkus plastik. Penutur memberikan saran untuk menggunakan pot sebagai

mangkok tempat bakso sambil tertawa kecil )

  4.2.3.1 Wujud Ketidaksantunan Linguistik

  Wujud ketidaksantunan linguistik tuturan di atas berupa hasil transkrip tuturan lisan tidak santun antarmahasiswa yang berupa kesembronoan yang disengaja.

  Berikut masing-masing wujud ketidaksantunan linguistik tuturan yang berupa kesembronoan yang disengaja tersebut.

  a.

  Tuturan (C3): “Hehe goyang asik… goyang itik.” b. Tuturan (C7): “Palestina.” c. Tuturan (C8): “Potong model pitik jago yoo?” d. Tuturan (C9): “Kowe potong koyo pitik gering.” e. Tuturan (C10): “Itu lhoo tanah di pot dikeluarkan dulu trus buat tempat baksonya.”

  4.2.3.2 Wujud Ketidaksantunan Pragmatik

  Wujud ketidaksantunan pragmatik tuturan yang berupa kesembronoan yang disengaja dapat dilihat berdasarkan konteks yang melingkupi tuturan itu. Berikut uraian konteks sebagai wujud ketidaksantunan pragmatik masing-masing tuturan yang berupa kesembronoan yang disengaja.

  Konteks tuturan (C3): tuturan terjadi ketika setelah mengoreksi lembar

  jawab mahasiswa pada kuis psikolinguistik. Suasana kelas agak gaduh. Mitra tutur mengomentari baju penutur yang terbuka. Mitra tutur duduk sebelahan dengan penutur

  Konteks tuturan (C7): tuturan terjadi ketika di luar kelas. Beberapa

  mahasiswa duduk-duduk dan berbincang satu sama lain sedang menunggu kelas berikutnya. Suasana gaduh dan santai. Penutur menanyakan guru pamong kepada mitra tutur. Penutur tahu bahwa mitra tutur masih mengurusi laporan PPL. Penutur dan mitra tutur merupakan teman sekelas.

  Konteks tuturan (C8): tuturan terjadi ketika di luar kelas. Beberapa

  mahasiswa duduk-duduk dan berbincang satu sama lain sedang menunggu kelas berikutnya. Suasana luar kelas gaduh dan santai. penutur dan mitra tutur merupakan teman sekelas. Penutur berkomentar mengenai model rambut mitra tutur.

  Konteks tuturan (C9): tuturan terjadi ketika di luar kelas. Beberapa

  mahasiswa duduk-duduk dan berbincang satu sama lain sedang menunggu kelas berikutnya. Suasana luar kelas gaduh dan santai. penutur dan mitra tutur merupakan teman akrab. Penutur berkomentar mengenai model rambut mitra tutur.

  Konteks tuturan (C10): tuturan terjadi ketika beberapa mahasiswa sedang

  duduk di depan secretariat dan berbincang-bincang. Mitra tutur sedang menikmati bakso langsung dari bungkus plastik. Penutur memberikan saran untuk menggunakan pot sebagai mangkok tempat bakso sambil tertawa kecil.

4.2.3.3 Penanda ketidaksantunan Linguistik

  Penanda ketidaksantunan linguistik tuturan yang berupa kesembronoan yang masing-masing penanda ketidaksantunan linguistik tuturan yang berupa kesembronoan yang disengaja.

  a.

  Tuturan (C3) dikatakan dengan nada rendah, tekanan lemah, intonasi berita, sedangkan pilihan kata menggunakan kata slang.

  b.

  Tuturan (C7) dikatakan dengan nada sedang, tekanan lemah, dan intonasi berita.

  c.

  Tuturan (C8) dikatakan dengan nada sedang, tekanan sedang, intonasi Tanya, sedangkan pilihan kata menggunakan kata nonstandar yaitu kata fatis dan interferensi ke dalam bahasa Jawa.

  d.

  Tuturan (C9) dikatakan dengan nada sedang, tekanan sedang, intonasi berita, sedangkan pilihan kata menggunakan kata nonstandar yaitu bahasa Jawa.

  e.

  Tuturan (C10) dikatakan dengan nada sedang, tekanan sedang, intonasi berita, sedangkan pilihan kata menggunakan kata nonstandar yaitu kata fatis dan kata tidak baku.

4.2.3.4 Penanda Ketidaksantunan Pragmatik

  Penanda ketidaksantunan pragmatik tuturan yang berupa kesembronoan yang disengaja dapat dilihat pula berdasarkan konteks yang melingkupi tuturan itu.

  Adapun uraian konteks meliputi penutur dan mitra tutur, situasi dan suasana, tujuan tutur, tindak verbal, serta tindak perlokusi. Berikut uraian konteks masing-masing tuturan yang berupa kesembronoan yang disengaja.

  Konteks tuturan (C3) yaitu tuturan terjadi pada tanggal 20 November 2012

  pukul 14.30 WIB ketika setelah mengoreksi lembar jawab mahasiswa pada kuis Psikolinguistik. Suasana kelas agak gaduh. Penutur dan mitra tutur perempuan merupakan mahasiswa angkatan 2010 dan mereka teman sekelas. Mitra tutur duduk sebelahan dengan penutur. Mitra tutur mengomentari baju penutur yang terbuka. Tanggapan penutur tidak menanggapi secara serius peringatan dari mitra tutur mengenai baju penutur yang terbuka tetapi lebih mengarah untuk menggoda mitra tutur yang menunjukkan tindak verbal ekspresif. Tindak perlokusi tuturan (C3) yaitu penutur berharap mitra tutur tertawa dengan candaan penutur.

  Konteks tuturan (C7) yaitu tuturan terjadi pada tanggal 21 November 2012

  pukul 13.50 WIB ketika di luar kelas. Beberapa mahasiswa duduk-duduk dan berbincang satu sama lain sedang menunggu kelas berikutnya. Suasana gaduh dan santai. Penutur dan mitra tutur laki-laki merupakan mahasiswa angkatan 2009 dan mereka teman sekelas. Penutur menanyakan guru pamong kepada mitra tutur. Penutur tahu bahwa mitra tutur masih mengurusi laporan PPL. Penutur menanggapi mitra tutur sekenanya seperti pada tuturan (C7) yang menunjukkan tindak verbal ekspresif.

  Tindak perlokusi tuturan tersebut yaitu penutur berharap agar mitra tutur tertawa.

  Konteks tuturan (C8) yaitu tuturan terjadi pada tanggal 21 November 2012

  pukul 13.55 WIB ketika di luar kelas. Beberapa mahasiswa duduk-duduk dan berbincang satu sama lain sedang menunggu kelas berikutnya. Suasana gaduh dan santai. Penutur dan mitra tutur laki-laki merupakan teman sekelas dan mereka dengan sindiran seperti pada tuturan (C8) yang menunjukkan tindak verbal ekspresif. Tindak perlokusi tuturan tersebut yaitu penutur berharap agar mitra tutur menjelaskan model rambut barunya.

  Konteks tuturan (C9) yaitu tuturan terjadi pada tanggal 21 November 2012

  pukul 13.55 WIB ketika di luar kelas. Beberapa mahasiswa duduk-duduk dan berbincang satu sama lain sedang menunggu kelas berikutnya. Suasana gaduh dan santai. Penutur dan mitra tutur laki-laki merupakan teman sekelas dan mereka mahasiswa angkatan 2009. Penutur berkomentar mengenai model rambut mitra tutur dengan sindiran yang menunjukkan tindak verbal ekspresif. Tindak perlokusi untuk tuturan (C9) yaitu penutur berharap mitra tutur menjelaskan model rambut barunya.

  Konteks tuturan (C10) yaitu terjadi pada tanggal 22 November 2012 pukul

  13.45 WIB ketika beberapa mahasiswa sedang duduk di depan sekretariat dan berbincang-bincang. Penutur laki-laki dan mitra tutur perempuan merupakan mahasiswa angkatan 2009 dan mereka teman sekelas. Mitra tutur sedang menikmati bakso langsung dari bungkus plastik. Penutur memberikan saran untuk menggunakan pot sebagai mangkok tempat bakso sambil tertawa kecil seperti pada tuturan (C10) yang menunjukkan tindak verbal ekspresif. Tindak perlokusi tuturan tersebut yaitu penutur berharap mitra tutur tertawa dengan candaan penutur.

  

4.2.3.5 Makna Ketidaksantunan Berbahasa yang berupa Kesembronoan yang

Disengaja

  Secara umum, makna ketidaksantunan berbahasa yang berupa kesembronoan terhibur. Tuturan (C3), (C7), (C8), (C9), dan (C10) memiliki makna berupa godaan atau candaan penutur kepada mitra tutur walaupun yidak menutup kemungkinan akan terjadinya konflik diantara keduanya.

4.2.4 Menghilangkan Muka

  Pemahaman Culpeper (2008: 3) tentang ketidaksantunan berbahasa adalah, „Impoliteness, as I would define it, involves communicative behavior intending to cause the “face loss” of a target or perceived by the target to be so.‟ Culpeper memberikan penekanan pada fakta

  „face loss‟ atau „kehilangan muka‟ dalam bahasa Jawa dapat diartikan „kelangan rai‟ (kehilangan muka). Konsep kehilangan muka ini dapat diartikan pula dengan adanya rasa malu yang mendalam yang dirasakan bagi mitra tutur di depan orang banyak. Dengan demikian, sebuah tuturan akan dianggap sebagai tuturan yang tidak santun jika tuturan itu menjadikan muka seseorang hilang atau merasakan malu yang mendalam di depan orang banyak. Setidaknya tuturan yang menghilangkan muka itu dirasakan oleh sang mitra tutur sendiri.

  Cuplikan Tuturan 50

  Penutur: mahasiswa perempuan, umur 19 tahun Mitra tutur: mahasiswa laki-laki, umur 19 tahun

  M1: “Duh.. susah banget ni buka sepatu.”

  M2: “Iih kakimu cantik yaa kayak cewek.” (D4)

  M1: “Ahh iya kakiku emang gini kok.”

  (konteks tuturan: tuturan terjadi ketika sebelum masuk ke dalam laboratorium

  

Suasana agak gaduh. Mitra tutur membuka sepatunya. Penutur mengomentari kaki

mitra tutur dengan suara keras di tengah teman mahasiswa yang lain sehingga

menimbulkan tawa ) Cuplikan Tuturan 51

  Penutur: mahasiswa perempuan, umur 21 tahun Mitra tutur: mahasiswa perempuan, umur 22 tahun

  M1: “Hai, lagi ngomongin apa e?”

  M2: “Mel, sekarang kamu pose, trus kamu keluar.” (D5)

  (konteks tuturan: tuturan terjadi ketika para mahasiswa sedang menunggu kelas

  

berikutnya di dalam kelas. Mitra tutur menghampiri beberapa mahasiswa. Suasana

gaduh tetapi santai. Mitra tutur berdiri di depan penutur dan penutur berkomentar

padanya ) Cuplikan Tuturan 52

  Penutur: mahasiswa laki-laki, umur 19 tahun Mitra tutur: mahasiswa laki-laki, umur 19 tahun

  M1: “Eh iya kan kemaren sore aku belanja baju murah-murah lho!” M2:

  “Mosok sii? belanja dimana e kamu?” M1: “Itu lhoo deketnya KFC namae De Pujja tu lagi diskon” M3:

  “Ztt berisik kamu!” (D6) (konteks tuturan: tuturan terjadi ketika perkuliahan Sintaksis, ada mahasiswa yang

  

duduk di belakang berbincang dengan mahasiswa yang duduk di depan dengan suara

keras. Penutur merasa terganggu dengan mitra tutur yang terus berbicara padahal

perkuliahan sedang berangsung dan dosen sedang menjelaskan materi. Penutur

memperingatkan mitra tutur ) Cuplikan Tuturan 57

  Penutur: mahasiswa perempuan, umur 19 tahun Mitra tutur: mahasiswa perempuan, umur 19 tahun

  M2: “Hoo, warnane nubruk-nubruk.”

  M1: “Aneh tau diliat tuu”

  M3: “Sirik banget si jadi orang, suka-suka akulah.. emang situ OK?”

  (D11)

  (konteks tuturan: tuturan terjadi ketika ada beberapa mahasiswa berkumpul di hall

  

student tengah. Suasana di sekitar hall ramai dan santai. Penutur dan mitra tutur

teman sekelas. Penutur menghampiri mitra tutur yang sedang duduk berkumpul

dengan teman lain. Mitra tutur mengomentari dan menyindir penampilan penutur

berkali-kali dengan suara keras di depan banyak orang ) Cuplikan Tuturan 59

  Penutur: mahasiswa perempuan, umur 21 tahun Mitra tutur: mahasiswa perempuan, umur 21 tahun

  M1: “Jika dilihat dari judul, judul kurang spesifik sehingga membuat pembaca tidak begitu jelas. Untuk pemakalah dapat merevisi judul makalahnya.

  ” M2:

  “Terima kasih atas masukannya, sebenarnya judul saya ini sudah direvisi oleh ibu Yuli. Jadi saya tidak mengubahnya lagi.

  ” (D13)

  (konteks tuturan: tuturan terjadi ketika sedang presentasi makalah dalam kelas, ada

  

sesi tanggapan dari pembahas utama untuk pemakalah. Suasana kelas serius dan

tenang. Penutur sebagai pemakalah dan mitra tutur sebagai pembahas utama.

Penutur menanggapi mitra tutur mengenai komentar judul makalahnya )

4.2.4.1 Wujud Ketidaksantunan Linguistik

  Wujud ketidaksantunan linguistik tuturan di atas berupa hasil transkrip tuturan lisan tidak santun antarmahasiswa yang menghilangkan muka. Berikut masing- masing wujud ketidaksantunan linguistik tuturan yang berupa menghilangkan muka tersebut. b.

  Tuturan (D5): “Mel, sekarang kamu pose, trus kamu keluar.” c. Tuturan (D6): “Ztt berisik kamu!” d. Tuturan (D11): “Sirik banget si jadi orang, suka-suka akulah.. emang situ

  OK?” e. Tuturan (D13): “Terima kasih atas masukannya, sebenarnya judul saya ini sudah direvisi oleh ibu Yuli. Jadi saya tidak mengubahnya lagi.”

4.2.4.2 Wujud Ketidaksantunan Pragmatik

  Wujud ketidaksantunan pragmatik tuturan yang menghilangkan muka dapat dilihat berdasarkan konteks yang melingkupi tuturan itu. Berikut uraian konteks sebagai wujud ketidaksantunan pragmatik masing-masing tuturan yang menghilangkan muka.

  Konteks tuturan (D4): tuturan terjadi ketika sebelum masuk ke dalam

  laboratorium bahasa, para mahasiswa melepaskan sepatunya di depan laboratorium bahasa. Suasana agak gaduh. Mitra tutur membuka sepatunya. Penutur mengomentari kaki mitra tutur dengan suara keras di tengah teman mahasiswa yang lain sehingga menimbulkan tawa

  Konteks tuturan (D5): tuturan terjadi ketika para mahasiswa sedang

  menunggu kelas berikutnya di dalam kelas. Mitra tutur menghampiri beberapa mahasiswa. Suasana gaduh tetapi santai. Mitra tutur berdiri di depan penutur dan penutur berkomentar padanya.

  Konteks tuturan (D6): tuturan terjadi ketika perkuliahan Sintaksis, ada

  mahasiswa yang duduk di belakang berbincang dengan mahasiswa yang duduk di depan dengan suara keras. Penutur merasa terganggu dengan mitra tutur yang terus berbicara padahal perkuliahan sedang berangsung dan dosen sedang menjelaskan materi. Penutur memperingatkan mitra tutur.

  Konteks tuturan (D11): tuturan terjadi ketika ada beberapa mahasiswa

  berkumpul di hall student tengah. Suasana di sekitar hall ramai dan santai. Penutur dan mitra tutur teman sekelas. Penutur menghampiri mitra tutur yang sedang duduk berkumpul dengan teman lain. Mitra tutur mengomentari dan menyindir penampilan penutur berkali-kali dengan suara keras di depan banyak orang.

  Konteks tuturan (D13): tuturan terjadi ketika sedang presentasi makalah

  dalam kelas, ada sesi tanggapan dari pembahas utama untuk pemakalah. Suasana kelas serius dan tenang. Penutur sebagai pemakalah dan mitra tutur sebagai pembahas utama. Penutur menanggapi mitra tutur mengenai komentar judul makalahnya.

4.2.4.3 Penanda Ketidaksantunan Linguistik

  Penanda ketidaksantunan linguistik tuturan yang menghilangkan muka dapat dilihat berdasarkan nada, tekanan, intonasi, dan diksi. Berikut uraian masing-masing penanda ketidaksantunan linguistik tuturan yang menghilangkan muka.

  a.

  Tuturan (D4) dikatakan dengan nada sedang. tekanan sedang, intonasi berita, sedangkan pilihan kata menggunakan kata nonstandar yaitu kata tidak baku b.

  Tuturan (D5) dikatakan dengan nada sedang, tekanan sedang, intonasi perintah, sedangkan pilihan kata menggunakan kata nonstandar yaitu kata tidak baku dan kata populer.

  c.

  Tuturan (D6) dikatakan dengan nada tinggi, tekanan keras, intonasi berita, sedangkan pilihan kata menggunakan kata nonstandar yaitu kata fatis.

  d.

  Tuturan (D11) dikatakan dengan nada tinggi, tekanan sedang, intonasi Tanya, sedangkan pilihan kata menggunakan kata nonstandar yaitu kata fatis dan kata tidak baku.

  e.

  Tuturan (D13) dikatakan dengan nada sedang, tekanan sedang, intonasi berita, sedangkan pilihan kata menggunakan kata ilmiah.

4.2.4.4 Penanda Ketidaksantunan Pragmatik

  Penanda ketidaksantunan pragmatik tuturan yang menghilangkan muka dapat dilihat pula berdasarkan konteks yang melingkupi tuturan itu. Adapun uraian konteks meliputi penutur dan mitra tutur, situasi dan suasana, tujuan tutur, tindak verbal, serta tindak perlokusi. Berikut uraian konteks masing-masing tuturan yang menghilangkan muka.

  Konteks tuturan (D4) yaitu tuturan terjadi pada tanggal 21 November 2012

  pukul 13.05 WIB ketika sebelum masuk ke dalam laboratorium Bahasa, para mahasiswa melepaskan sepatunya di depan laboratorium Bahasa. Suasana agak gaduh. Penutur perempuan dan mitra tutur laki-laki merupakan mahasiswa angkatan 2011 dan mereka teman sekelas. Mitra tutur membuka sepatunya. Penutur mengomentari kaki mitra tutur dengan suara keras di tengah teman mahasiswa yang lain sehingga menimbulkan tawa. Tanggapan penutur dengan sindiran menunjukkan tindak verbal ekspresif. Tindak perlokusi untuk tuturan (D4) yaitu penutur berharap mitra tutur merasa diperhatikan oleh penutur dan merespon penutur.

  Konteks tuturan (D5) yaitu tuturan terjadi pada tanggal 21 November 2012

  pukul 14.55 WIB ketika para mahasiswa sedang menunggu kelas berikutnya di dalam kelas. Penutur dan mitra tutur perempuan merupakan mahasiswa angkatan 2009 dan mereka teman sekelas. Mitra tutur menghampiri beberapa mahasiswa yang sedang berkumpul bersama penutur. Suasana gaduh tetapi santai. Mitra tutur berdiri di depan penutur dan penutur berkomentar padanya. Penutur menyuruh mitra tutur untuk berpose kemudian ke luar kelas di depan banyak teman sehingga menimbulkan gelak tawa. Suruhan penutur dengan sindiran menunjukkan tindak verbal direktif. Tindak perlokusi untuk tuturan (D5) yaitu penutur berharap mitra tutur mengikuti omongan penutur.

  Konteks tuturan (D6) yaitu tuturan terjadi pada tanggal 21 November 2012

  pukul 11.35 WIB perkuliahan Sintaksis, ada mahasiswa yang duduk di belakang berbincang dengan mahasiswa yang duduk di depan dengan suara keras. Penutur laki- laki dan mitra tutur perempuan merupakan mahasiswa angkatan 2011 dan mereka teman sekelas. Penutur merasa terganggu dengan mitra tutur yang terus berbicara padahal perkuliahan sedang berlangsung dan dosen sedang menjelaskan materi. Penutur memperingatkan mitra tutur dengan suara keras dan sinis seperti pada tuturan

  (D6) menunjukkan tindak verbal ekspresif. Tindak perlokusi untuk tuturan tersebut yaitu penutur berharap agar mitra tutur diam dan tidak menganggu penutur.

  Konteks tuturan (D11) yaitu tuturan terjadi pada tanggal 5 Desember 2012 pukul 10.00 WIB ketika ada beberapa mahasiswa berkumpul di hall student tengah.

  Suasana di sekitar hall ramai dan santai. Penutur dan mitra tutur perempuan merupakan mahasiswa angkatan 2011 dan mereka teman sekelas. Penutur menghampiri mitra tutur yang sedang duduk berkumpul dengan teman lain. Mitra tutur mengomentari dan menyindir penampilan penutur dengan suara keras di depan banyak orang. Penutur menanggapi sinis mitra tutur seperti pada tuturan (D11) yang menunjukkan tindak verbal ekspresif. Tindak perlokusi untuk tuturan tersebut yaitu penutur berharap mitra tutur berhenti mengomentari penutur.

  Konteks tuturan (D13) yaitu tuturan terjadi pada tanggal 29 November 2012

  pukul 15.30 WIB ketika sedang presentasi makalah dalam kelas, ada sesi tanggapan dari pembahas utama untuk pemakalah. Suasana kelas serius dan tenang. Penutur dan mitra tutur perempuan merupakan mahasiswa angkatan 2009, dan mereka teman sekelas dan sekelompok. Penutur sebagai pemakalah dan mitra tutur sebagai pembahas utama. Penutur menanggapi mitra tutur mengenai komentar judul makalahnya. Penutur menanggapi sinis mitra tutur seperti pada tuturan (D13) yang menunjukkan tindak verbal ekspresif. Tindak perlokusi tuturan tersebut yaitu penutur berharap agar mitra tutur memberi masukan yang lain kepada penutur.

4.2.4.5 Makna Ketidaksantunan Berbahasa yang Menghilangkan Muka

  Secara umum, makna ketidaksantunan berbahasa yang menghilangkan muka yaitu penutur mempermalukan mitra tutur di depan orang banyak. Berikut uraian makna masing-masing tuturan yang menghilangkan muka.

  a.

  Tuturan (D4) memiliki makna yaitu mempermalukan mitra tuturnya yang memiliki kaki seperti perempuan.

  b.

  Tuturan (D5) memiliki makna yaitu mempermalukan mitra tuturnya untuk berpose seperti model.

  c.

  Tuturan (D6) memiliki makna yaitu mempermalukan mitra tuturnya yang sudah berisik.

  d.

  Tuturan (D11) memiliki makna yaitu mempermalukan mitra tuturnya dengan ejekan.

  e.

  Tuturan (D13) memiliki makna yaitu mempermalukan mitra tuturnya yang telah memberikan komentar terhadap hasil presentasinya.

4.2.5 Mengancam Muka Sepihak

  Terkourafi (2008: 3-4) memandang ketidaksantunan sebagai,

  „impoliteness

occurs when the expression used is not conventionalized relative to the context of

occurrence; it threatens the addressee‟s face but no face-threatening intention is

attributed to the speaker by the hearer.‟ Jadi perilaku berbahasa dalam pandangannya

  akan dikatakan tidak santun bilamana mitra tutur (addressee) merasakan ancaman maksud ancaman muka itu dari mitra tuturnya. Dengan demikian, mitra tutur mengalami kerugian berupa sebuah ancaman malu dan tersinggung perasaannya atas tuturan penutur, sedangkan penutur tidak memahami bahwa tuturan yang disampaikan telah menyinggung dan memberikan sebuah ancaman bagi mitra tuturnya.

  Cuplikan Tuturan 63

  Penutur: mahasiswa perempuan, umur 21 tahun Mitra tutur: mahasiswa perempuan, umur 21 tahun

  M1: “Eh lungguh neng mburi ae yok?”

  M2: “Wes lungguhe neng ngarep ae, manut aku, dong ora!” (E4)

  (konteks tuturan: tuturan terjadi ketika para mahasiswa sedang menunggu kelas

berikutnya sambil duduk di dalam kelas, ada dua mahasiswa mencari tempat duduk.

  

Suasana kelas gaduh. Mitra tutur ingin duduk di belakang tetapi penutur tidak

memperbolehkan mitra tutur ) Cuplikan Tuturan 67

  Penutur: mahasiswa perempuan, umur 21 tahun Mitra tutur: mahasiswa perempuan, umur 20 tahun

  M1: “Eh cowoknya ki temen mudikamu po?”

  M2: “Iyoo, bener”

  M1: “Lha kok bisa kenal gitu?”

  M2: “Yoo isolah.. kan dikenalke karo Roni”

  M3: “Wes to meneng, ki mumet le nggawe ini lho!” (E8)

  (konteks tuturan: tuturan terjadi ketika sedang berkumpul di perpustakaan, lima

  

mahasiswa sedang mengerjakan proposal skripsi masing-masing. Beberapa

mahasiwa berbincang dengan serunya. Mitra tutur berbicara dengan keras dan

  

mengganggu penutur. Penutur berkomentar sinis karena merasa terganggu dengan

suara mitra tutur ) Cuplikan Tuturan 70

  Penutur: mahasiswa laki-laki, umur 21 tahun Mitra tutur: mahasiswa laki-laki, umur 21 tahun

  M1: “Wes rampung laporane Jo?”

  M2: “Asu rung rampung kok! Wes diajak kumpul do gak moro bajigur

  to kowe! ” (E11)

  (konteks tuturan: tuturan terjadi ketika di luar kelas. Beberapa mahasiswa duduk-

  

duduk dan berbincang satu sama lain sedang menunggu kelas berikutnya. Suasana

luar kelas gaduh dan santai. Mitra tutur menanyakan tentang laporan PPL yang

merupakan satu kelompok dengan penutur. Penutur dan mitra tutur merupakan

teman akrab. Penutur menanggapi dengan agak emosi ) Cuplikan Tuturan 72

  Penutur: mahasiswa laki-laki, umur 21 tahun Mitra tutur: mahasiswa laki-laki, umur 21 tahun

  M1: “Aku sik ngoreksi nggonamu.”

  M2: “Nek entuk elek tak tuntut kowe!” (E13)

  (konteks tuturan: tuturan terjadi ketika setelah kuis Penyuntingan selesai, lalu

dilanjut dengan koreksi lembar jawab oleh mahasiswa. Suasana kelas agak gaduh.

  

Penutur dan mitra tutur merupakan teman akrab. Penutur memberikan ancaman

terkait hasil koreksi yang akan dilakukan bagi mitra tutur ) Cuplikan Tuturan 75

  Penutur: mahasiswa laki-laki, umur 19 tahun Mitra tutur: mahasiswa perempuan, umur 19 tahun

  M1: “Eh mosok si mereka putus?”

  M2:

  M3: “Eh kalian ini diem kenapa to?”

  M1: “Apaan sii kamu”

  M3: “Lain kali aku gak mau sekelompok lagi sama kamu! Males!” (E16)

  (konteks tuturan: tuturan terjadi ketika sedang diskusi kelompok di kelas. Suasana

  

dalam kelas tenang dan serius. Dalam kelompok, ada dua mahasiswa yang sibuk

berbincang-bincang sendiri. Penutur dan mitra tutur teman satu kelompok. Mitra

tutur asyik berbincang sendiri. Penutur memperingatkan mitra tutur tetapi tidak

dihiraukannya. Penutur mengungkapkan kekecewaannya )

  4.2.5.1 Wujud Ketidaksantunan Linguistik

  Wujud ketidaksantunan linguistik tuturan di atas berupa hasil transkrip tuturan lisan tidak santun antarmahasiswa yang mengancam muka sepihak. Berikut masing- masing wujud ketidaksantunan linguistik tuturan yang berupa mengancam muka sepihak tersebut.

  a.

  Tuturan (E4): “Wes lungguhe neng ngarep ae, manut aku, dong ora!” b. Tuturan (E8): “Wes to meneng, ki mumet le nggawe ini lho!” c. Tuturan (E11): “Asu rung rampung kok! Wes diajak kumpul do gak moro bajigur to kowe!” d.

  Tuturan (E13): “Nek entuk elek tak tuntut kowe!” e. Tuturan (E16): “Lain kali aku gak mau sekelompok lagi sama kamu! Males!”

  4.2.5.2 Wujud Ketidaksantunan Pragmatik

  Wujud ketidaksantunan pragmatik tuturan yang mengancam muka sepihak dapat dilihat berdasarkan konteks yang melingkupi tuturan itu. Berikut uraian konteks sebagai wujud ketidaksantunan pragmatik masing-masing tuturan yang mengancam muka sepihak.

  Konteks tuturan (E4): tuturan terjadi ketika para mahasiswa sedang

  menunggu kelas berikutnya sambil duduk di dalam kelas, ada dua mahasiswa mencari tempat duduk. Suasana kelas gaduh. Mitra tutur ingin duduk di belakang tetapi penutur tidak memperbolehkan mitra tutur.

  Konteks tuturan (E8): tuturan terjadi ketika sedang berkumpul di perpustakaan, lima mahasiswa sedang mengerjakan proposal skripsi masing-masing.

  Beberapa mahasiwa berbincang dengan serunya. Mitra tutur berbicara dengan keras dan mengganggu penutur. Penutur berkomentar sinis karena merasa terganggu dengan suara mitra tutur.

  Konteks tuturan (E11): tuturan terjadi ketika di luar kelas. Beberapa

  mahasiswa duduk-duduk dan berbincang satu sama lain sedang menunggu kelas berikutnya. Suasana luar kelas gaduh dan santai. Mitra tutur menanyakan tentang laporan PPL yang merupakan satu kelompok dengan penutur. Penutur dan mitra tutur merupakan teman akrab. Penutur menanggapi dengan agak emosi.

  Konteks tuturan (E13): tuturan terjadi ketika setelah kuis Penyuntingan

  selesai, lalu dilanjut dengan koreksi lembar jawab oleh mahasiswa. Suasana kelas agak gaduh. Penutur dan mitra tutur merupakan teman akrab. Penutur memberikan ancaman terkait hasil koreksi yang akan dilakukan bagi mitra tutur.

  Konteks tuturan (E16): tuturan terjadi ketika sedang diskusi kelompok di yang sibuk berbincang-bincang sendiri. Penutur dan mitra tutur teman satu kelompok. Mitra tutur asyik berbincang sendiri. Penutur memperingatkan mitra tutur tetapi tidak dihiraukannya. Penutur mengungkapkan kekecewaannya.

4.2.5.3 Penanda Ketidaksantunan Linguistik

  Penanda ketidaksantunan linguistik tuturan yang mengancam muka sepihak dapat dilihat berdasarkan nada, tekanan, intonasi, dan diksi. Berikut uraian masing- masing penanda ketidaksantunan linguistik tuturan yang mengancam muka sepihak.

  a.

  Tuturan (E4) dikatakan dengan nada tinggi, tekanan keras, intonasi perintah, sedangkan pilihan kata menggunakan kata nonstandar yaitu penggunaan bahasa Jawa.

  b.

  Tuturan (E8) dikatakan dengan nada tinggi, tekanan keras, intonasi perintah, sedangkan pilihan kata menggunakan kata nonstandar yaitu kata fatis dan bahasa Jawa.

  c.

  Tuturan (E11) dikatakan dengan nada tinggi, tekanan keras, intonasi berita, sedangkan pilihan kata menggunakan kata nonstandar yaitu kata fatis, bahasa Jawa, dan kata jargon.

  d.

  Tuturan (E13) dikatakan dengan nada sedang, tekanan sedang, intonasi berita, sedangkan pilihan kata menggunakan kata nonstandar yaitu bahasa Jawa.

  e.

  Tuturan (E16) dikatakan penutur dengan nada tinggi, tekanan sedang, intonasi berita, sedangkan pilihan kata menggunakan kata nonstandar yaitu kata tidak

4.2.5.4 Penanda Ketidaksantunan Pragmatik

  Penanda ketidaksantunan pragmatik tuturan yang mengancam muka sepihak dapat dilihat pula berdasarkan konteks yang melingkupi tuturan itu. Adapun uraian konteks meliputi penutur dan mitra tutur, situasi dan suasana, tujuan tutur, tindak verbal, serta tindak perlokusi. Berikut uraian konteks masing-masing tuturan yang mengancam muka sepihak.

  Konteks tuturan (E4) yaitu tuturan terjadi pada tanggal 21 November 2012

  pukul 14.50 WIB ketika para mahasiswa sedang menunggu kelas berikutnya sambil duduk di dalam kelas, ada dua mahasiswa mencari tempat duduk. Suasana kelas gaduh. Penutur dan mitra tutur perempuan dan merupakan mahasiswa angkatan 2009 dan teman sekelas yang biasanya duduk bersebelahan. Mitra tutur ingin duduk di belakang tetapi penutur tidak memperbolehkan mitra tutur. Mitra tutur berbicara secara biasa dengan penutur tetapi penutur menanggapi dengan suruhan agak sinis yang menunjukkan tindak verbal direktif. Tindak perlokusi untuk tuturan (E4) yaitu penutur berharap agar mitra tutur mengikuti kemauannya untuk duduk di depan.

  Konteks tuturan (E8) yaitu tuturan terjadi pada tanggal 23 November 2012

  pukul 11.30 WIB ketika sedang berkumpul di perpustakaan, lima mahasiswa sedang mengerjakan proposal skripsi masing-masing. Beberapa mahasiwa berbincang dengan serunya. Penutur dan mitra tutur perempuan merupakan mahasiswa angkatan 2009, mereka teman sekelas. Mitra tutur berbicara dengan keras dan mengganggu penutur. Penutur menyuruh dengan sinis karena merasa terganggu dengan suara mitra tutur seperti pada tuturan (E8) yang menunjukkan tindak verbal direktif. Tindak perlokusi untuk tuturan tersebut yaitu penutur berharap agar mitra tutur diam dan tidak menganggu penutur.

  Konteks tuturan (E11) yaitu tuturan terjadi pada tanggal 28 November 2012

  pukul 13.55 WIB ketika di luar kelas. Beberapa mahasiswa duduk-duduk dan berbincang satu sama lain sedang menunggu kelas berikutnya. Suasana luar kelas gaduh dan santai. Mitra tutur menanyakan tentang laporan PPL yang merupakan satu kelompok dengan penutur. Penutur dan mitra tutur laki-laki merupakan mahasiswa angkatan 2009. Penutur menanggapi dengan sinis dan agak emosi seperti pada tuturan (E11) yang menunjukkan tindak verbal ekspresif. Tindak perlokusi untuk tuturan tersebut yaitu penutur berharap mitra tutur segera menyelesaikan laporan PPL.

  Konteks tuturan (E13) yaitu tuturan terjadi pada tanggal 28 November 2012

  pukul 14.20 WIB ketika setelah kuis Penyuntingan selesai, lalu dilanjut dengan koreksi lembar jawab oleh mahasiswa. Suasana kelas agak gaduh. Penutur dan mitra tutur merupakan mahasiswa angkatan 2009. Penutur duduk di belakang mitra tutur. Penutur memberikan ancaman terkait hasil koreksi yang akan dilakukan bagi mitra tutur seperti pada tuturan (E13). Tanggapan sinis dengan suara keras penutur menunjukkan tindak verbal ekspresif. Tindak perlokusi untuk tuturan tersebut yaitu penutur berharap mitra tutur mengoreksi dengan benar.

  Konteks tuturan (E16) yaitu tuturan terjadi pada tanggal 27 November 2012

  pukul 14.30 WIB ketika sedang diskusi kelompok di kelas. Suasana dalam kelas teman satu kelompok. Mitra tutur asyik berbincang sendiri. Penutur memperingatkan mitra tutur tetapi tidak dihiraukannya. Penutur mengungkapkan kekecewaannya dengan sinis seperti pada tuturan (E16) yang menunjukkan tindak verbal ekspresif. Tindak perlokusi untuk tuturan tersebut yaitu penutur berharap mitra tutur sadar akan tingkahnya dan meminta maaf kepada penutur.

4.2.5.5 Makna Ketidaksantunan Berbahasa yang Mengancam Muka

  Secara umum, makna ketidaksantunan berbahasa yang mengancam muka sepihak yaitu penutur memberikan ancaman atau tekanan kepada mitra tutur sehingga mitra tutur merasa terpojok dan tidak memiliki pilihan.

  a.

  Tuturan (E4) memiliki makna berupa ancaman dari penutur kepada mitra tutur untuk mengikuti penutur supaya duduk di bagian depan.

  b.

  Tuturan (E8) memiliki makna berupa ancaman dari penutur pada mitra tutur agar diam dan tidak berisik.

  c.

  Tuturan (E11) memiliki makna berupa ancaman kemarahan penutur karena mitra tutur menunda-nunda dalam penyelesaian laporan PPL.

  d.

  Tuturan (E13) memiliki makna berupa peringatan dan ancaman dari penutur karena mitra tutur yang akan mengoreksi hasil kerjanya.

  e.

  Tuturan (E16) memiliki makna berupa ancaman dari kekesalan penutur karena mitra tutur tidak menghiraukan peringatan penutur.

4.3 Pembahasan

  Hasil kajian yang dilakukan terhadap tuturan yang ada di dalam interaksi antarmahasiswa PBSID angkatan 2009 —2011 ditemukan beberapa tuturan yang mengandung ketidaksantunan. Tuturan yang termasuk ke dalam tuturan yang tidak santun tersebut terbagi menjadi jenis ketidaksantunan (a) melecehkan muka, (b) menain-mainkan muka, (c) kesembronoan, (d) mengancam muka, dan (e) menghilangkan muka. Data tuturan yang diperoleh menunjukkan bahwa terdapat penanda ketidaksantunan linguistik dan pragmatik yang digunakan sebagai acuan untuk menentukan ke dalam jenis ketidaksantunan tertentu. Adapun penanda ketidaksantunan linguistik meliputi nada, tekanan, intonasi dan pilihan kata, sedangkan penanda ketidaksantunan pragmatik meliputi situasi, suasana, dan implikatur tambahan.

4.3.1 Melecehkan muka

  Berdasarkan data yang telah didapatkan oleh peneliti sebanyak 76 tuturan yang tidak santun, terdapat 20 tuturan yang termasuk ke dalam ketidaksantunan yang melecehkan muka. Tuturan-tuturan tersebut merupakan tuturan tidak santun yang dituturkan oleh para mahasiswa Program Studi PBSID Angkatan 2009

  —2011 di Universitas Sanata Dharma. Tuturan yang berjumlah 20 itu memiliki penanda ketidaksantunan linguistik dan juga penanda ketidaksantunan pragmatik yang dapat dilihat dari konteks tuturan yang melingkupinya. Berbicara mengenai ketidaksantunan yang melecehkan muka, Miriam A Locher (2008: 3) berpendapat bahwa ketidaksantunan dalam berbahasa dapat dipahami sebagai berikut,

  „…behaviour that is face-aggravating in a particular

context.‟ Perilaku ketidaksantunan berbahasa itu menunjuk pada perilaku

  „melecehkan‟ muka (face-aggravate). Perilaku melecehkan muka lebih mengarah pada sebuah tuturan yang disampaikan penutur tidak hanya menimbulkan kejengkelan tetapi dapat melukai hati mitra tuturnya. Dengan demikian, sebuah tuturan dapat dikatakan tidak santun jika tuturan tersebut telah menyinggung dan membuat sakit hati mitra tuturnya. Contoh:

  (A6) Wiih, jati wes pendadaran kowe?

  (konteks tuturan: tuturan terjadi ketika duduk di depan sekretariat, mitra tutur

  

memegang proposal skripsi dan sedang menunggu dosen pembimbing. Datang

penutur menghampiri dan bertanya kepada mitra tutur. Suasana agak gaduh dan

santai ) (A7) Kalo jawab tu yang bener, iyaa gitu.. masak apa, apa itu?

  (konteks tuturan: tuturan terjadi ketika perkuliahan menyimak di laboratorium

  

bahasa, dosen memanggil nama mitra tutur. Suasana dalam laboratorium bahasa

serius dan tenang. Mitra tutur menjawab sekenanya panggilan dosen. Posisi duduk

  )

  penutur duduk di depan mitra tutur. Penutur menanggapi mitra tutur (A10) Woo, asem dicatet kok pie, munyuk ki!

  (konteks tuturan: tuturan terjadi ketika sedang berkumpul di perpustakaan, lima

  

mahasiswa sedang mengerjakan proposal skripsi masing-masing. Beberapa

mahasiwa berbincang dengan serunya. Mitra tutur mencatat obrolan penutur untuk

melengkapi data skripsi. Penutur mengetahui dan berkomentar pedas kepada mitra

tutur ) (A14) Nek ngomong ki jangan kayak orang kumur-kumur

  (konteks tuturan: tuturan terjadi ketika setelah kuis Penyuntingan selesai, lalu

dilanjut dengan koreksi lembar jawab oleh mahasiswa, suasana kelas agak gaduh.

  

Penutur tahu bahwa mitra tutur baru beberapa waktu menggunakan behel sehingga

masih kesusahan untuk berbicara. Penutur mengomentari cara bicara mitra tutur ) (A16) Eehh indah gimana to kamu, malah ngobrol!

  (konteks tuturan: tuturan terjadi ketika dosen memanggil nama mahasiswa untuk

  

konfirmasi nilai, ada mahasiswa yang tidak menyadarinya. Suasana kelas agak

gaduh. Penutur dan mitra tutur merupakan teman akrab. Penutur mengingatkan

mitra tutur yang telah mengoreksi hasil kerjanya untuk disampaikan ke dosen )

  Kelima tuturan tersebut merupakan wujud ketidaksantunan linguistik berupa tuturan lisan yang telah ditranskrip. Sama halnya Pranowo (2009:76) mengatakan bahwa aspek penentu kesantunan dalam bahasa verbal lisan antara lain aspek intonasi, aspek nada bicara, faktor pilihan kata dan faktor struktur kalimat, penanda ketidaksantunan linguistik kelima tuturan itupun dapat dilihat berdasarkan nada, tekanan, intonasi, dan pilihan kata. Dalam tuturan (A6), (A7), (A11), dan (A14), penutur menyampaikan tuturannya dengan nada sedang. Nada tuturan yang sedang itu sindiran itu untuk menunjukkan suasana hati penutur yang kesal dengan tingkah laku mitra tutur.

  Berbeda dengan tuturan (A10) dituturkan penutur dengan nada tinggi. Nada tuturan tinggi identik dengan suasana hati yang sedang marah, emosi. Seperti pada tuturan (A10) dituturkan dengan nada bicara yang cenderung menaik keras dan kasar oleh penuturnya karena penutur marah pada tingkah mitra tutur. Hal tersebut sejalan dengan Pranowo (2009:77) bahwa nada bicara penutur selalu berkaitan dengan suasana hati penuturnya. Oleh karena itu, semakin suasana hati penutur itu buruk, tuturan yang dituturkan cenderung semakin tidak santun. Lebih lanjut dipaparkan Pranowo (2009:77) aspek nada dalam bertutur lisan dapat memengaruhi kesantunan berbahasa seseorang.

  Kelima tuturan itu dapat dipersepsi memiliki kesantunan yang rendah karena pada nada tuturan (A6), (A7), (A11), dan (A14) dikatakan dengan nada sedang berupa sindiran pada mitra tutur, terlebih pada nada tuturan (A10) dituturkan dengan nada bicara yang menaik dengan keras dan kasar. Selain itu, dapat dipersepsi pula bahwa seorang penutur dapat melukai hati mitra tuturnya apabila nada tutur yang dipakai adalah nada sedang dan tinggi. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa nada sedang dan tinggi merupakan salah satu penanda linguistik untuk tuturan yang melecehkan muka.

  Selanjutnya, mengenai tekanan dan intonasi dapat diuraikan sebagai berikut. Kelima tuturan itu dikatakan dengan tekanan sedang. Muslich (2008:113) mengatakan tidak semua kata dalam kalimat ditekankan sama, hanya kata-kata yang dianggap penting atau dipentingkan yang mendapatkan tekanan. Hal tersebut dapat dilihat pada masing-masing dari lima tuturan itu. Pada tuturan (A6) terdapat tekanan pada pengucapan tuturan wes pendadaran kowe. Pada tuturan (A7) pengucapan tuturan kalo jawab tu yang bener, iya gitu lebih ditekankan penuturnya. Tuturan (A10) terdapat penekanan pada pengucapan kalimat asem, dicatet kok, munyuk. Tuturan (A11) pengucapan tuturan wes pinter rasah mlebu wae lebih ditekankan penuturnya. Tuturan (A14) terdapat penekanan tuturan jangan kayak orang kumur-

  

kumur oleh penuturnya. Beberapa bagian tuturan yang ditekankan pada kelima

  tuturan tersebut merupakan bagian tuturan yang dipentingkan penutur ketika mengungkapkan sindiran dan kekesalannya.

  Lebih lanjut pembahasan mengenai intonasi. Aspek intonasi dalam bahasa lisan sangat menentukan santun tidaknya pemakaian bahasa (Pranowo, 2009:76).

  Menurut Muslich (2008:115) pada tataran kalimat, variasi-variasi nada pembeda maksud disebut intonasi. Intonasi pada sebuah tuturan terdiri dari tiga pola yaitu pola kalimat berita yang ditandai dengan pola intonasi datar turun, kalimat Tanya yang berpola datar naik, dan kalimat perintah yang berpola datar tinggi. Selanjutnya dipaparkan oleh Pranowo (2009:76) bahwa aspek intonasi merupakan keras yang berpola datar naik yang menunjukkan ekspresi rasa ingin tahu penutur mengenai tingkah mitra tutur, tetapi kedua tuturan itu memiliki perbedaan. Bedanya, tuturan (A6) dikatakan penutur dengan intonasi suara yang lembut tetapi dalam rupa sindiran, sedangkan tuturan (A7) dikatakan dengan intonasi suara keras berupa sindiran yang disampaikan pada jarak yang dekat dengan mitra tutur. Pada tuturan (A10), (A11), dan (A14) memiliki intonasi berita yang berpola datar turun yang menunjukkan pemberitahuan kepada mitra tuturnya. Ketiga tuturan tersebut sama-sama dikatakan dengan suara keras disertai nada sindiran di depan mitra tuturnya.

  Dalam hal ini, kelima tuturan itu dapat dipersepsi sebagai tuturan yang memiliki kadar kesantunan yang rendah. Hal tersebut dapat dikatakan demikian karena kelima tuturan itu dikatakan dengan nada menyindir, terlebih tuturan (A7), (A10), (A11), dan (A14) dikatakan dengan suara yang keras, sementara jarak penutur dan mitra tutur dekat menyebabkan rendahnya kadar kesantunan itu. Selain itu, tuturan yang disampaikan dengan tekanan sedang dan intonasi yang lembut tetapi sindiran serta intonasi keras dapat pula berpotensi melukai hati mitra tuturnya.

  Dengan demikian, penanda ketidaksantunan linguistik berikutnya untuk tuturan yang melecehkan muka adalah tekanan sedang dan intonasi lembut berupa sindiran serta intonasi keras.

  Pembahasan berikutnya mengenai pilihan kata. Keraf (1981:23) mengatakan pilihan kata atau diksi mencakup pengertian kata-kata mana yang dipakai untuk yang tepat atau menggunakan ungkapan-ungkapan yang tepat, dan gaya mana yang paling baik digunakan dalam suatu situasi. Pilihan kata dalam kelima tuturan itu meliputi kata nonstandar berupa kata tidak baku, kata fatis, kata seru dan interferensi ke dalam bahasa Jawa serta terdapat pula kata jargon berupa umpatan. Kata nonstandar berupa kata seru dapat ditemukan dalam tuturan (A6) yaitu wiih yang menunjukkan ekspresi heran penutur. Terdapat kata nonstandar berupa kata tidak baku yaitu kalo, bener, masak, gitu dalam tuturan (A7), dan kata tidak baku seperti

  

nek, kayak pada tuturan (A14). Untuk kata nonstandar yang berupa kata fatis terdapat

  pada tuturan (A7) yaitu tu, tuturan (A10) yaitu kok, woo, ki, dan pada tuturan (A14) yaitu ki. Kata fatis itu digunakan untuk memberikan penegasan pada tuturan yang diujarkan. Ada pula penggunaan bahasa Jawa pada tuturan (A6) yaitu wes, kowe, tuturan (A10) yaitu dicatet, pie, munyuk, dan pada tuturan (A11) semua merupakan tuturan dalam bahasa Jawa. Adanya penggunaan bahasa Jawa menunjukkan kedekatan antara penutur dan mitra tutur.

  Penggunaan pilihan kata nonstandar oleh penutur yang notabene seorang mahasiswa sejalan dengan pendapat Keraf (1985:104) yang mengatakan bahwa kata nonstandar dipergunakan juga oleh kaum terpelajar dalam bersenda gurau, berhumor, atau untuk menyatakan sarkasme atau menyatakan ciri-ciri kedaerahan. Pada tuturan (A10) ditemukan pula kata jargon yang berupa umpatan yaitu asem, munyuk. Adanya penggunaan umpatan pada tuturan (A10) menunjukkan kadar kesantunan yang jargon mengandung makna suatu bahasa, dialek, atau tutur yang dianggap kurang sopan atau aneh.

  Penjelasan lebih rinci terkait pilihan kata akan dijabarkan pada masing-masing tuturan itu sebagai berikut. Dalam tuturan (A6) terdapat kata pendadaran yang disampaikan penutur pada mitra tutur yang sedang membawa proposal skripsi. Pilihan kata itu memberikan arti berupa sidang ujian akhir bagi mahasiswa. Selanjutnya, dalam tuturan (A7) terdapat kalimat kalo jawab yang bener yang disampaikan penutur setelah mitra tutur selesai menjawab panggilan dosen. Pilihan kata itu memberikan arti bahwa jawaban mitra tutur salah. Pada tuturan (A10) terdapat kata asem, munyuk ki yang disampaikan penutur terkait omongannya yang dicatat oleh mitra tutur. Pilihan kata itu memberikan arti bahwa mitra tutur diumpat dengan kata asem dan disebut dengan sebutan munyuk atau monyet oleh penuturnya.

  Pada tuturan (A11) terdapat kata wes pinter rasah mlebu wae yang disampaikan ketika mitra tutur datang ke kampus dan tuturan (A14) terdapat kata ngomong jangan

  

kumur-kumur yang disampaikan penutur pada mitra tutur yang baru saja memakai

behel memberikan arti larangan dalam bentuk sindiran.

  Semua pilihan kata yang terdapat dalam kelima tuturan itu dapat dikategorikan sebagai pilihan kata yang kurang santun. Hal tersebut disebabkan arti dari pilihan kata itu dapat menimbulkan ketidaknyamanan bagi mitra tuturnya yang cenderung berupa rasa tersinggung dan luka hati. Bisa saja kelima tuturan itu tuturan (A6) menggunakan kata bimbingan, tuturan (A7) kata kurang tepat, (A10) tanpa mengumpat dengan menggunakan kata tolong jangan dicatat, tuturan (A11)

  

lagi teko neng kampus yo, dan tuturan (A14) menggunakan kata ngomongnya biasa

saja . Pada prinsipnya, pemilihan kata penting dilakukan oleh seseorang ketika

  bertutur sapa. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Pranowo (2009:16) bahwa kesanggupan memilih kata seorang penutur menjadi salah satu penentu santun tidaknya bahasa yang digunakan. Dengan pilihan kata yang tepat ketika menyampaikan makna dan maksud dalam konteks tertentu dapat menggambarkan pemakaian bahasa yang santun oleh penuturnya.

  Pembahasan berikutnya terkait wujud ketidaksantunan dan penanda ketidaksantunan pragmatik pada kelima tuturan dapat dilihat dari konteks yang melingkupi tuturan tersebut. Hal ini dapat dikatakan demikian karena ilmu pragmatik berkaitan erat dengan konteks. Seperti yang telah dipaparkan Levinson (dalam Rahardi, 2007:14) bahwa pragmatics is the study of those relations between language

and context that are grammaticalized, or encoded in the structure of a language .

  Lebih lanjut ditegaskan oleh Rahardi (2011: 161) bahwa kehadiran konteks adalah sebuah keharusan, terutama dalam pertuturan lisan. Konteks situasi pertuturan itu dapat mencakup aspek-aspek luar kebahasaan seperti penutur dan lawan tutur, konteks tuturan, tujuan tuturan, tuturan sebagai bentuk tindak verbal, dan tuturan sebagai produk tindak verbal (Leech dalam Rahardi, 2009:18-19).

  Adapun konteks tuturan dapat diuraikan mulai dari dimensi penutur dan mitra tutur. Kelima tuturan tersebut dituturkan oleh mahasiswa kepada mahasiswa. Hal yang membedakan adalah dimensi sosial penutur dan mitra tutur pada kelima tuturan itu yang berupa dimensi jenis kelamin, umur, dan tahun angkatan. Tuturan (A6) dan (A14) penutur dan mitra tuturnya adalah mahasiswa laki-laki, sedangkan tuturan (A7), (A10), dan (A11) penutur dan mitra tuturnya adalah mahasiswa perempuan.

  Berkaitan dengan dimensi jenis kelamin, bahasa untuk laki-laki cenderung keras, sedangkan bahasa perempuan cenderung lebih lembut (Rahardi, 2011:161). Namun, ternyata dalam tuturan (A7), (A10), dan (A11) dapat ditemukan tuturan yang keras sekalipun yang menuturkan adalah perempuan.

  Selanjutnya, dimensi umur biasanya cenderung disesuaikan dengan tahun angkatan. Dalam tuturan (A6), (A10), (A11), dan (A14) penutur dan mitra tuturnya merupakan mahasiswa angkatan 2009 yang berumur 21 tahun, sedangkan tuturan (A7) penutur dan mitra tuturnya mahasiswa angkatan 2011 yang berumur 19 tahun.

  Adanya kesamaan jenis kelamin, umur, dan tingkat angkatan itu cenderung mendorong adanya kedekatan tertentu antara penutur dan mitra tuturnya. Dimensi sosial ini seperti yang dipaparkan Verschueren (1998) termasuk pula dimensi solidaritas dan kuasa, atau ketergantungan dan kekuasaan. Penutur seorang mahasiswa bertutur dengan rekan mahasiswa lain lebih terlihat dimensi solidaritas atau ketergantungannya sehingga mereka cenderung berbahasa yang menurut mereka nyaman untuk digunakan seperti bahasa tidak baku, bahasa daerah, bahkan umpatan tertentu.

  Aspek lain yang berkaitan dengan penutur dan mitra tutur adalah dimensi mental pengguna bahasa (Verschueren, 1998) yang dalam kelima tuturan tadi dituturkan oleh para mahasiswa. Sudah sewajarnya seorang mahasiswa memiliki kepribadian yang matang, tetapi pada kelima tuturan tersebut cenderung ditemukan kepribadian yang belum cukup matang. Kelima tuturan itu menunjukkan bahwa para mahasiswa masih cenderung labil dari segi mental bertutur terlebih ketika bertutur dengan teman sebayanya. Pendapat ini sejalan dengan Rahardi (2011:158) bahwa seseorang yang kepribadiannya tidak cukup matang, sehingga terhadap sesuatu yang hadir baru cenderung menentang dan melawan, sekalipun tidak selalu memiliki dasar yang jelas dan tegas, akan sangat mewarnai bentuk kebahasaan yang digunakan di dalam setiap pertutursapaan.

  Lebih lanjut berkaitan dengan dimensi mental adalah mengenai aspek warna emosi. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, nada bicara berkaitan dengan suasana hati. Dalam paparan sebelumnya, dijelaskan bahwa nada tutur pada kelima tuturan itu adalah nada sedang dan tinggi. Dengan nada yang demikian itu penutur cenderung memiliki warna emosi buruk, kesal, jengkel, marah, bahkan meledak- ledak, sehingga makna tuturan yang dituturkan berpotensi menimbulkan ketidaknyamanan bagi mitra tuturnya. Hal ini sejalan dengan pendapat Rahardi

  (2011:159) bahwa seseorang yang memiliki warna emosi dan temperamen tinggi, cenderung berbicara dengan nada dan nuansa makna yang tinggi pula.

  Selanjutnya, konteks tuturan meliputi pula waktu terjadi, tempat, suasana dan latar belakang pengetahuan penutur dan mitra tutur. Berikut akan dijelaskan lebih rinci masing-masing tuturan itu. Tuturan (A6) terjadi pada tanggal 22 November 2012 pukul 13.10 WIB di depan sekretariat PBSID. Suasana di sekitar sekretariat agak gaduh dan santai. Penutur dan mitra tutur laki-laki merupakan mahasiswa angkatan 2009, mereka pernah bekerja sama dalam satu kepanitiaan dalam kegiatan prodi. Saat itu, mitra tutur memegang proposal skripsi dan sedang menunggu dosen pembimbing. Datang penutur menghampiri mitra tutur. Penutur belum mengambil mata kuliah skripsi. Penutur melihat proposal skripsi yang dibawa oleh mitra tutur, lalu penutur bertanya kepada mitra tutur. Topik pembicaraan mereka mengenai masalah skripsi, hal itu disebabkan mereka sama-sama satu angkatan dan masalah yang dihadapi terkait kuliah juga cenderung sama. Tujuan tutur dalam tutuan (A6) yaitu penutur bertanya pada mitra tutur. Berbicara mengenai tindak verbal dan produk tindak verbal tuturan (A6) sebagai berikut. Pertanyaan penutur yang menyindir dengan sinis yang menunjukkan tindak verbal ekspresif sedangkan tindak perlokusi tuturan (A6) yaitu penutur berharap mitra tutur tidak menyombongkan diri.

  Tuturan (A7) terjadi pada 21 November 2012 pukul 13.15 WIB ketika perkuliahan menyimak di laboratorium Bahasa. Pada saat itu dosen memanggil nama mereka teman satu kelas dan posisi duduk penutur duduk di depan mitra tutur. Suasana dalam laboratorium Bahasa serius dan tenang. Mitra tutur menjawab sekenanya panggilan dosen. Topik pembicaraan mereka mengenai cara menjawab mitra tutur terhadap panggilan dosen yang baru saja disampaikannya. Tujuan tutur dalam tuturan (A7) yaitu penutur mengomentari tindakan mitra tutur. Penutur menanggapi mitra tutur dengan suruhan yang dikatakan dengan memaksa dan sinis yang menunjukkan tindak verbal direktif. Tindak perlokusi untuk tuturan (A7) yaitu penutur berharap mitra tutur menjawab panggilan dosen dengan benar.

  Selanjutnya, konteks tuturan (A10) terjadi pada tanggal 23 November 2012 pukul 10.45 WIB ketika sedang berkumpul di perpustakaan. Pada saat itu ada lima mahasiswa sedang mengerjakan proposal skripsi masing-masing. Beberapa mahasiwa berbincang dengan serunya. Penutur dan mitra tutur merupakan mahasiswa perempuan angkatan 2009 dan mereka teman sekelas. Mereka duduk dalam satu meja. Mitra tutur mencatat obrolan penutur untuk melengkapi data skripsi. Topik pembicaraan mereka berkaitan dengan masalah skripsi. Tujuan tutur dalam tuturan (A10) yaitu penutur menanggapi mitra tutur. Penutur mengetahui tindakan mitra tutur dan berkomentar pedas kepadanya yang menunjukkan tindak verbal ekspresif. Tindak perlokusi tuturan (A10) yaitu penutur berharap agar mitra tutur tidak mencatat lagi omongan penutur.

  Konteks tuturan (A11) meliputi waktu terjadinya tuturan pada tanggal 22 berkumpul di Realino lalu bertemu dengan rekan mahasiswa PBSID yang lain. Penutur dan mitra tutur perempuan merupakan mahasiswa angkatan 2009, mereka teman sekelas dan pernah bekerja sama dalam satu kepanitiaan. Suasana di Realino ramai dan santai. Mitra tutur menghampiri penutur. Penutur tahu bahwa mitra tutur termasuk mahasiswa yang ber-IP tinggi, teorinya sudah habis tetapi masih datang ke kampus. Topik pembicaraan mengenai kedatangan mitra tutur. Tujuan tutur dalam tuturan (A11) yaitu penutur menanggapi mitra tutur. Penutur menanggapi mitra tutur dengan suruhan yang dikatakan dengan sinis yang menunjukkan tindak verbal direktif. Tindak perlokusi tuturan (A11) yaitu penutur berharap agar mitra tutur merespon omongan penutur.

  Tuturan (A14) terjadi pada tanggal 28 November 2012 pukul 14.25 WIB di kelas. Pada saat itu setelah kuis Penyuntingan selesai, lalu dilanjut dengan koreksi lembar jawab oleh mahasiswa. Suasana kelas agak gaduh. Penutur laki-laki dan mitra tutur perempuan merupakan mahasiswa angkatan 2009 dan mereka teman sekelas.

  Penutur tahu bahwa mitra tutur baru beberapa waktu menggunakan behel sehingga masih kesusahan untuk berbicara. Topik pembicaraan mengenai cara berbicara mitra tutur. Tujuan tutur dalam tuturan (A14) yaitu menanggapi cara bicara mitra tutur. Tanggapan penutur dengan suruhan pada mitra tutur yang menunjukkan tindak verbal direktif. Tindak perlokusi tuturan (A14) yaitu penutur berharap agar mitra tutur berbicara sewajarnya saja.

  Berdasarkan uraian konteks yang telah dipaparkan di atas, kelima konteks tersebut dapat membantu memperjelas makna yang terdapat pada setiap tuturan yang dituturkan oleh penutur itu. Hal ini sejalan dengan pendapat Rahardi (2011:156) bahwa konteks pragmatik adalah segala macam aspek yang sifatnya luar bahasa yang menjadi penentu pokok bagi kehadiran sebuah makna kebahasaan. Selain menunjukkan makna dari sebuah tuturan, konteks juga dapat membantu apakah tuturan itu dapat dikatakan sebagai tuturan yang santun atau tidak. Seperti yang diungkapkan Pranowo (2009:97-98) bahwa konteks situasi tertentu dapat memengaruhi kesantunan pemakaian bahasa.

  Dalam konteks tuturan (A6) terlihat bahwa penutur seperti merasa iri dengan mitra tutur yang telah memulai untuk bimbingan skripsi sedangkan penutur belum mengambil mata kuliah itu. Walaupun tuturan (A6) dikatakan dengan teman sebaya, tetapi tanggapan yang sinis dengan sindiran disertai dengan penggunaan pilihan kata yang tidak sesuai menyebabkan tuturan menjadi tidak santun. Begitu pula dengan konteks tuturan (A7) yang terlihat bahwa penutur sangat tidak menyukai tindakan mitra tutur dalam menanggapi panggilan dosen. Terlebih tuturan dikatakan dengan keras ketika suasana kelas sedang serius dan tenang, sedangkan posisi duduk penutur dan mitra tutur berdekatan membuat tuturan (A7) menjadi tidak santun.

  Selanjutnya, dalam konteks tuturan (A10), terlihat bahwa penutur sangat tidak menyukai tindakan mitra tutur yang telah mencatat tuturan-tuturan yang tidak santun umpatan yang serta merta disampaikan dengan nada keras, sedangkan posisi mereka duduk dalam satu meja menyebabkan tuturan (A7) menjadi tidak santun. Pada konteks tuturan (A11) dapat diketahui bahwa penutur seperti iri dengan mitra tutur yang merupakan mahasiswa yang ber-IP tinggi, teorinya sudah habis sedangkan mitra tutur yang masih datang ke kampus, membuat penutur berkomentar pedas dalam bentuk sindiran sehingga membuat tuturan (A11) menjadi tidak santun. Dalam konteks tuturan (A14) terlihat bahwa penutur tidak menyukai cara bicara mitra tutur yang aneh walaupun penutur tahu mitra tutur baju saja memakai behel. Terlebih tanggapan penutur dengan suruhan disertai suara keras membuat kadar kesantunan tuturan (A14) menjadi rendah. Perilaku ketidaksantunan dari kelima tuturan yang telah diuraikan di atas dapat berpotensi untuk menimbulkan luka hati bagi mitra tuturnya.

  Berbicara mengenai makna, kelima tuturan tersebut memiliki makna yang cenderung sama yaitu mengejek dan menghina mitra tuturnya. Tuturan (A6) memiliki makna berupa ekspresi godaan yang menghina dari penutur kepada mitra tutur. Selain itu, adanya tuturan (A6) tersebut dapat pula digunakan mitra tutur sebagai motivasi untuk cepat menyelesaikan skripsinya. Tuturan (A7) memiliki makna berupa hinaan penutur kepada mitra tutur yang menjawab sekenanya. Tuturan (A10) memiliki makna berupa hinaan penutur kepada mitra tuturnya dengan umpatan munyuk itu. Tuturan (A11) memiliki makna berupa hinaan penutur pada mitra tuturnya yang terlihat sibuk di area kampus. Tuturan (A14) memiliki makna berupa hinaan dari penutur karena cara bicara mitra tutur yang aneh setelah memakai behel.

  Berdasarkan uraian di atas, kelima tuturan yang disampaikan penutur tersebut lebih mengarah ke perilaku berbahasa yang melecehkan muka mitra tuturnya. Seperti yang telah dipaparkan oleh Miriam A Locher (2008: 3) bahwa ketidaksantunan dalam berbahasa dapat dipahami sebagai berikut,

  „…behaviour that is face- aggravating in a particular context.‟ Perilaku ketidaksantunan berbahasa itu

  menunjuk pada perilaku „melecehkan‟ muka (face-aggravate). Ketidaksantunan yang melecehkan muka itu mengarah pada sebuah tuturan yang dapat melukai hati mitra tuturnya. Semua mitra tutur pada kelima tuturan itu seperti dilecehkan atau tidak dihargai oleh penutur yang tuturannya disampaikan secara langsung dan terus terang di depan mitra tutur yang menyebabkan timbulnya kerugian bagi mitra tuturnya. Kerugian tersebut seperti merasa terhina dan tersinggung perasaan si mitra tuturnya itu bahkan tidak menutup kemungkinan timbulnya luka hati bagi mitra tutur. Hal tersebut dapat dikatakan demikian berdasarkan uraian dari penanda ketidaksantunan linguistik dan pragmatik yang telah dipaparkan sebelumnya.

  Seperti yang telah dipaparkan, penanda ketidaksantunan linguistik dapat dilihat dari penggunaan nada tutur yang sedang dan tinggi, tekanan yang cenderung sedang, intonasi berita yang dituturkan dengan suara yang lembut berupa sindiran, intonasi tanya dituturkan keras ada pula intonasi Tanya dituturkan dengan suara yang umpatan, dan kata nonstandar. Sementara itu, penanda ketidaksantunan pragmatik dapat dilihat dari konteks tuturan itu. Konteks tuturan meliputi penutur dan mitra tutur yaitu para mahasiswa PBSID Angkatan 2009

  —2011 Universitas Sanata Dharma, situasi tuturan dapat terjadi di mana saja seperti di kelas, di sekretariat, di laboratorium bahasa, di perpustakaan dan di sekitar kampus dengan suasana yang cenderung santai dan ada pula yang serius. Terdapat pula implikatur tambahan berupa tindak verbal yaitu tindak verbal direktif dan ekspresif, dan tindak perlokusi yaitu mitra tutur merespon atau menanggapi penutur. Secara umum, makna tuturan tidak santun yang melecehkan muka yaitu menyindir, mengejek dan menghina mitra tuturnya.

4.3.2 Memain-mainkan Muka

  Berdasarkan data yang telah didapatkan oleh peneliti sebanyak 76 tuturan yang tidak santun, terdapat 16 tuturan yang termasuk ke dalam ketidaksantunan yang memain-mainkan muka. Tuturan-tuturan tersebut merupakan tuturan tidak santun yang dituturkan oleh para mahasiswa Program Studi PBSID Angkatan 2009

  —2011 di Universitas Sanata Dharma. Tuturan yang berjumlah 16 itu memiliki penanda ketidaksantunan linguistik dan juga penanda ketidaksantunan pragmatik yang dapat dilihat dari konteks tuturan yang melingkupinya.

  Interpretasi lain yang berkaitan dengan definisi Locher terhadap ketidaksantunan berbahasa ini adalah bahwa tindakan tersebut sesungguhnya bukanlah sekadar perilaku

  „melecehkan muka‟, melainkan perilaku yang „memain-

mainkan muka‟. Tindakan bertutur sapa akan dikatakan sebagai tindakan yang tidak

  santun bilamana muka (face) dari mitra tutur dipermainkan, atau setidaknya dia telah merasa bahwa penutur memain-mainkan muka sang mitra tutur itu. Dengan demikian, sebuah tuturan dikatakan tidak santun jika tuturan tersebut menimbulkan kerugian yang berupa kejengkelan hati bagi mitra tuturnya.

  Contoh:

  (B2) Yauda sii biasa aja!

  (konteks tuturan: tuturan terjadi ketika jeda kuliah, beberapa mahasiswa masuk ke

dalam kelas untuk mencari tempat duduk. Suasana dalam kelas agak gaduh, santai.

  Mitra tutur berjalan di depan penutur dan menggodanya ).

  (B3) Wong stress.

  (konteks tuturan: tuturan terjadi ketika jeda kuliah, beberapa mahasiswa masuk ke

dalam kelas untuk mencari tempat duduk. Suasana kelas agak gaduh tetapi santai.

  Mitra tutur menyapa penutur dengan suara menggoda ) (B8) Ratna… huu cantik bangett.

  (konteks tuturan: tuturan terjadi ketika menunggu kelas selanjutnya beberapa

  

mahasiswa angkatan 2009 duduk-duduk di kelas sambil berbincang. Datang mitra

tutur dengan potongan rambut barunya. Suasana dalam kelas santai dan gaduh.

Mitra tutur duduk di depan penutur lalu penutur memberi komentar kepada mitra

  )

  tutur

  (konteks tuturan: tuturan terjadi ketika sedang menunggu kelas berikutnya. Beberapa

  

mahasiswa duduk-duduk dan berbincang satu sama lain di luar kelas. Suasana gaduh

dan santai. Mitra tutur menghampiri mahasiswa yang berkumpul di depan kelas.

Penutur mengomentari rambut mitra tutur yang baru ) (B16) Kamu yakin mau ikut mi?

  (konteks tuturan: tuturan terjadi ketika sedang mengerjakan tugas di perpustakaan,

  

suasana agak gaduh. Penutur dan mitra tutur teman sekelompok. Mitra tutur

menjelaskan bahwa dia ingin menjadi mitra di perpustakaan. Penutur menanggapi

pembicaraan mitra tutur. Penutur tahu bahwa mitra tutur tidak bisa memiliki

kegiatan yang banyak karena daya tahan tubuhnya kurang bagus )

  Kelima tuturan di atas merupakan wujud ketidaksantunan linguistik yang telah ditranskrip. Kelima tuturan itu pula memiliki penanda ketidaksantunan linguistik yang dapat dilihat berdasarkan nada, tekanan, intonasi, dan pilihan kata. Hal tersebut sama halnya dengan pendapat Pranowo (2009:76) bahwa aspek penentu kesantunan dalam bahasa lisan antara lain aspek intonasi, aspek nada bicara, faktor pilihan kata, dan faktor struktur kalimat. Apabila dilihat dari nada tutur, tuturan (B2), (B3), (B8), (B12), dan (B16) sama-sama memiliki nada yang sedang. Nada tutur sedang identik dengan nada bicara yang menyindir mitra tuturnya. Seperti yang telah dipaparkan Pranowo (2009:77) bahwa nada adalah naik turunnya ujaran yang menggambarkan suasana hati penutur ketika sedang bertutur, maka nada bicara yang menyindir pada kelima tuturan itu dapat menunjukkan suasana penutur yang sedang kesal atau jengkel terhadap tingkah laku mitra tuturnya. Penggunaan nada yang berupa sindiran oleh penutur itu cenderung pula berpotensi menimbulkan rasa kesal dan jengkel bagi mitra tuturnya.

  Berbicara mengenai tekanan, dalam tuturan (B2), (B3), (B8), (B12), dan (B16) juga memiliki tekanan yang sedang. Tekanan ini digunakan untuk menunjukkan bagian kata yang mana yang dipentingkan penutur ketika bertutur. Hal ini sejalan dengan pendapat Muslich (2008:113) bahwa tidak semua kata dalam kalimat ditekankan sama, hanya kata-kata yang dianggap penting atau dipentingkan yang mendapatkan tekanan. Pada tuturan (B2) bagian yang dipentingkan yaitu biasa

  

aja , tuturan (B3) terdapat tuturan stress yang ditekankan penuturnya, tuturan (B8)

  bagian yang diberi tekanan yaitu huu cantik banget, selanjutnya pada tuturan (B12) terdapat penekanan pada tuturan rambute anyar cie, tuturan (B16) terdapat penekanan pada kata yakin. Bagian kata yang dianggap penting atau dipentingkan dalam kelima tuturan itu digunakan untuk mengungkapkan sindiran penutur pada mitra tuturnya.

  Penanda ketidaksantunan linguistik berikutnya adalah intonasi. Menurut Sunaryati (melalui Rahardi, 2010:123) intonasi adalah tinggi-rendah suara, panjang- pendek suara, keras-lemah suara, jeda, irama, dan timbre yang menyertai tuturan.

  Aspek intonasi juga dapat berpengaruh pada santun tidaknya tuturan lisan pengguna bahasa. Hal ini sejalan dengan pendapat Pranowo (2009:76) bahwa aspek intonasi dalam bahasa lisan sangat menentukan santun tidaknya pemakaian bahasa. Berikut uraian mengenai masing-masing intonasi kelima tuturan itu. Tuturan (B2) memiliki penutur kepada mitra tutur. Pada tuturan (B2) cenderung dituturkan dengan intonasi yang keras, terlebih tuturan menunjuk pada sebuah suruhan atau perintah pada mitra tuturnya. Tuturan (B16) memiliki intonasi Tanya yang berpola datar naik yang menunjukkan ekspresi rasa ingin tahu penutur kepada mitra tutur. Pada tuturan (B3), (B8), dan (B12) memiliki intonasi berita yang berpola datar turun merupakan ekspresi pemberitahuan penutur pada mitra tuturnya. Intonasi pada tuturan (B3), (B8), (B12), dan (B16) cenderung dituturkan dengan suara yang lembut tetapi dengan nada menyindir.

  Kelima tuturan itu dapat dipersepsi sebagai tuturan yang memiliki kesantunan yang rendah. Hal tersebut dapat dilihat pada tuturan (B2). Penggunaan intonasi perintah yang dituturkan dengan intonasi yang keras dan agak memaksa itu menunjukkan kurang santunnya tuturan itu. Selanjutnya, pada tuturan (B3), (B8), (B12), dan (B16) pun dapat dipersepsi sebagai tuturan yang memiliki kesantunan rendah walaupun menggunakan intonasi Tanya dan berita yang dituturkan dengan suara yang relatif lembut tetapi terdapat unsur sindiran didalamnya sehingga tuturan menjadi kurang santun. Penggunaan intonasi keras dan lembut tetapi menyindir ini berpotensi untuk menimbulkan ketidaknyamanan bagi mitra tuturnya. Ketidaknyamanan itu dapat berupa rasa kesal, jengkel, marah, bahkan apabila itu terlalu berlebihan dapat melukai hati sang mitra tutur.

  Pembahasan berikutnya mengenai pilihan kata. Pilihan kata merupakan salah diujarkan. Hal ini sejalan dengan pendapat Pranowo (2009:77) bahwa pilihan kata merupakan salah satu penentu kesantunan dalam bahasa lisan maupun dalam bahasa tulis. Berikut pembahasan masing-masing pilihan kata dari kelima tuturan itu. Pada tuturan (B2) terdapat penggunaan kata nonstandar berupa kata tidak baku yaitu yauda dan aja, juga terdapat kata fatis sii. Dalam tuturan (B3) ditemukan interferensi ke dalam bahasa Jawa yaitu wong, sedangkan dalam tuturan (B8) terdapat penggunaan kata tidak baku banget dan kata fatis huu. Selanjutnya pada tuturan (B12) terdapat kata fatis cie dan penggunaan bahasa Jawa rambute anyar dan pada tuturan (B16) dapat ditemukan kata tidak baku mao. Ternyata dalam kelima tuturan itu banyak ditemukan kata nonstandar berupa kata tidak baku, kata fatis, dan penggunaan bahasa Jawa. Adanya kata tidak baku dan bahasa Jawa menunjukkan kedekatan antara penutur dan mitra tuturnya, sedangkan kata fatis digunakan untuk penegasan di setiap tuturan yang diujarkan.

  Dalam bertutur, seorang penutur seharusnya dapat menggunakan diksi secara tepat dan sesuai dalam sebuah tuturan untuk membantu keberhasilan proses berkomunikasi. Hal ini sejalan dengan Keraf (1985:102-103) bahwa dalam persoalan ketepatan kita bertanya apakah pilihan kata yang dipakai sudah setepat-tepatnya, sehingga tidak akan menimbulkan interpretasi yang berlainan antara pembicara dan pendengar, atau antara penulis dan pembaca; sedangkan dalam persoalan kesesuaian kita mempersoalkan apakah pilihan kata dan gaya bahasa yang dipergunakan tidak tuturan (B2), (B8), (B12), (16) sudah dapat dikatakan sebagai tuturan yang santun karena tuturan dikatakan dengan sewajarnya, sudah tepat dan sesuai. Berbeda dengan tuturan (B3) yaitu wong stress, tuturan itu memberikan arti orang tidak normal. Pilihan kata wong stress itu termasuk dalam tuturan tidak santun karena selain memiliki arti yang tidak baik dapat pula membuat mitra tuturnya jengkel, kesal terlebih dikatakan dengan sindiran. Dengan demikian, penggunaan pilihan kata yang tidak sesuai, terlebih memiliki arti yang tidak baik mengakibatkan sebuah tuturan tidak santun. Lebih lanjut, pilihan kata dapat dikatakan sebagai penanda ketidaksantunan linguistik berbahasa yang memain-mainkan muka apabila dilihat berdasarkan konteks tuturannya.

  Berikut pembahasan mengenai wujud dan penanda ketidaksantunan pragmatik. Pada prinsipnya, ilmu pragmatik sangat berkaitan erat dengan konteks.

  Hal ini sejalan dengan pendapat Mey (melalui Rahardi, 2007:15) bahwa pragmatics

  

is the study of the conditions of human language uses as these are determined by the

context of society. Oleh karena itu, wujud dan penanda ketidaksantunan kelima

  tuturan tersebut dapat dilihat berdasarkan konteks yang melingkupi tuturan tersebut. Konteks tuturan dapat mencakup salah satunya dimensi penutur dan mitra tutur. Pada kelima tuturan tadi, penutur dan mitra tuturnya adalah para mahasiswa PBSID, USD.

  Dimensi sosial penutur dan mitra tutur ini dapat terbagi menjadi tiga yang meliputi dimensi jenis kelamin, umur, dan tingkat angkatan.

  Apabila dilihat dari dimensi jenis kelamin, penutur dan mitra tutur pada tuturan (B2), (B3), (B8), dan (B16) adalah mahasiswa perempuan, sedangkan tuturan (B12) penutur dan mitra tuturnya adalah mahasiswa laki-laki. Pada umumnya, bahasa perempuan lebih santun bila dibanding dengan bahasa kaum laki-laki. Hal ini sejalan dengan pendapat Rahardi (2007:64) bahwa orang yang berjenis kelamin wanita, lazimnya juga memiliki peringkat kesantunan yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan orang yang berjenis kelamin laki-laki. Namun, kenyataannya dalam kelima tuturan tadi kebanyakan perempuanlah yang bertutur tidak santun. Selanjutnya, berbicara mengenai dimensi umur cenderung dapat dilihat dari tingkat angkatannya. Pada tuturan (B2) dan (B3) dituturkan oleh penutur dan mitra tutur mahasiswa angkatan 2010 yang berumur masing-masing 20 tahun, sedangkan penutur dan mitra tutur pada tuturan (B8), (B12), dan (B16) adalah mahasiswa angkatan 2009 yang berumur masing-masing 21 dan 22 tahun.

  Adanya kesamaan jenis kelamin, umur, dan tingkat angkatan itu cenderung mendorong adanya kedekatan tertentu antara penutur dan mitra tuturnya. Dimensi sosial ini seperti yang dipaparkan Verschueren (1998) termasuk pula dimensi solidaritas dan kuasa, atau ketergantungan dan kekuasaan. Penutur seorang mahasiswa bertutur dengan rekan mahasiswa lain lebih terlihat dimensi solidaritas atau ketergantungannya sehingga mereka cenderung berbahasa yang menurut mereka nyaman untuk digunakan seperti bahasa tidak baku, bahasa daerah, bahkan umpatan

  Aspek lain yang berkaitan dengan penutur dan mitra tutur adalah dimensi mental pengguna bahasa (Verschueren, 1998) yang dalam kelima tuturan tadi dituturkan oleh para mahasiswa. Sudah sewajarnya seorang mahasiswa memiliki kepribadian yang matang, tetapi pada kelima tuturan tersebut cenderung ditemukan kepribadian yang belum cukup matang. Kelima tuturan itu menunjukkan bahwa para mahasiswa masih cenderung labil dari segi mental bertutur terlebih ketika bertutur dengan teman sebayanya. Pendapat ini sejalan dengan Rahardi (2011:158) bahwa seseorang yang kepribadiannya tidak cukup matang, sehingga terhadap sesuatu yang hadir baru cenderung menentang dan melawan, sekalipun tidak selalu memiliki dasar yang jelas dan tegas, akan sangat mewarnai bentuk kebahasaan yang digunakan di dalam setiap pertutursapaan.

  Lebih lanjut berkaitan dengan dimensi mental adalah mengenai aspek warna emosi. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, nada bicara berkaitan dengan suasana hati. Dalam paparan sebelumnya, dijelaskan bahwa nada tutur pada kelima tuturan itu adalah nada sedang. Dengan nada yang demikian itu penutur cenderung memiliki warna emosi yang cukup tinggi tingkat kekesalannya, kejengkelannya, sehingga makna tuturan yang dituturkan berpotensi menimbulkan ketidaknyamanan bagi mitra tuturnya. Hal ini sejalan dengan pendapat Rahardi (2011:159) bahwa seseorang yang memiliki warna emosi dan temperamen tinggi, cenderung berbicara dengan nada dan nuansa makna yang tinggi pula.

  Pembicaraan konteks selanjutnya masing-masing tuturan diuraikan sebagai berikut. Tuturan (B2) dan (B3) terjadi pada tanggal 20 November 2012 sekitar pukul

  12.30 WIB ketika jeda kuliah, beberapa mahasiswa masuk ke dalam kelas untuk mencari tempat duduk. Suasana dalam kelas agak gaduh, santai. Penutur dan mitra tutur perempuan merupakan mahasiswa angkatan 2010 dan mereka teman sekelas. Mitra tutur berjalan di depan penutur dan menyapa penutur dengan godaan. Pada tuturan (B2) penutur menyuruh mitra tutur dengan suara tinggi dan keras serta sinis menunjukkan tindak verbal direktif, sedangkan pada tuturan (B2) penutur menanggapi mitra tutur dengan suara keras dan sinis yang menunjukkan tindak verbal ekspresif. Hal tersebut membuat mitra tutur kaget karena biasanya penutur ramah ketika disapa tetapi saat itu penutur berperilaku yang tidak seperti biasanya. Tindak perlokusi untuk tuturan (B2) yaitu penutur berharap mitra tutur tidak menggodanya.

  Berikut uraian konteks tuturan (B8). Tuturan tersebut terjadi pada tanggal 20 November 2012 pukul 14.45 WIB ketika menunggu kelas selanjutnya beberapa mahasiswa angkatan 2009 duduk-duduk di kelas sambil berbincang. Penutur dan mitra tutur perempuan merupakan mahasiswa angkatan 2009 dan mereka teman sekelas. Suasana dalam kelas santai dan gaduh. Datang mitra tutur dengan potongan rambut barunya. Perilaku penutur tidak seperti biasanya, tiba-tiba penutur berkomentar mengenai mitra tutur dengan genitnya. Mitra tutur duduk di depan penutur lalu penutur memberi komentar kepada mitra tutur dengan tuturan (B8) yang menunjukkan tindak verbal ekspresif. Tindak perlokusi tuturan tersebut yaitu penutur berharap mitra tutur tersanjung dan memberi komentar atas pujiannya.

  Konteks tuturan (B12) diuraikan sebagai berikut. Tuturan terjadi pada tanggal 28 November 2012 pukul 13.50 WIB ketika sedang menunggu kelas berikutnya.

  Beberapa mahasiswa duduk-duduk dan berbincang satu sama lain di luar kelas. Suasana gaduh dan santai. Penutur dan mitra tutur laki-laki merupakan mahasiswa angkatan 2009 dan mereka teman sekelas. Mitra tutur menghampiri mahasiswa yang berkumpul di depan kelas. Penutur jarang berkomentar mengenai mitra tutur. Penutur mengomentari rambut mitra tutur yang baru dengan godaan yang menunjukkan tindak verbal ekspresif. Hal tersebut menimbulkan perhatian bagi teman-temannya. Tindak perlokusi tuturan (B12) yaitu penutur berharap agar mitra tutur menjelaskan rambutnya yang baru.

  Selanjutnya tuturan (B16) terjadi pada tanggal 4 Desember 2012 pukul 12.40 WIB ketika sedang mengerjakan tugas di perpustakaan, suasana agak gaduh. Penutur dan mitra tutur teman sekelompok dan teman sekelas serta merupakan mahasiswa angkatan 2009. Mitra tutur menjelaskan bahwa dia ingin menjadi mitra di perpustakaan. Penutur menanggapi pembicaraan mitra tutur dengan sindiran yang menunjukkan tindak verbal ekspresif. Penutur tahu bahwa mitra tutur tidak bisa memiliki kegiatan yang banyak karena daya tahan tubuhnya kurang bagus dan dia susah mengatur waktu sehingga penutur jarang mengejek mitra tutur. Namun, saat itu Tindak perlokusi tuturan (B16) yaitu penutur berharap mitra tutur berpikir kembali untuk mempertimbangkan keputusannya.

  Berdasarkan pemaparan konteks dari lima tuturan di atas, dapat digunakan untuk menguraikan makna yang terkandung di dalam setiap tuturan itu. Hal tersebut dapat dikatakan demikian karena adanya konteks sangat menentukan pemaknaan kebahasaan. Hal ini sejalan dengan pendapat Rahardi (2011:156) bahwa konteks pragmatik adalah segala macam aspek yang sifatnya luar bahasa yang menjadi penentu pokok bagi kehadiran sebuah makna kebahasaan. Selain menentukan makna, konteks dapat menunjukkan kadar kesantunan sebuah tuturan. Hal tersebut dapat diuraikan sebagai berikut. Dalam konteks tuturan (B2), terlihat bahwa penutur menanggapi dengan sinis sapaan mitra tuturnya. Hal tersebut menyebabkan kebingungan bagi mitra tuturnya, karena penutur berperilaku tidak seperti biasanya yang ramah pada mitra tutur. Terlebih tuturan (B2) dikatakan dengan intonasi perintah disertai dengan suara keras menyebabkan tuturan tersebut menjadi kurang santun. Dalam konteks tuturan (B3) terlihat bawa penutur menanggapi dengan sinis mitra tuturnya, sedangkan biasanya penutur ramah dengan mitra tutur. Selain itu, terdapat pilihan kata berupa wong stress yang memiliki arti orang tidak normal menyebabkan tuturan menjadi kurang santun, terlebih tuturan itu dikatakan secara langsung di depan mitra tuturnya. Hal ini sejalan dengan skala ketidaklangsungan Leech (1983) bahwa semakin tuturan itu bersifat langsung, to the point, apa adanya, tidak berbelit-belit, tidak basa basi, akan cenderung dianggap semakin tidak santunlah tuturan yang demikian itu.

  Pada konteks tuturan (B8) terlihat bahwa penutur menanggapi mitra tutur dengan perilaku yang tidak biasanya. Perilaku penutur yang tidak seperti biasanya itu tiba-tiba ia berkomentar mengenai mitra tutur dengan genitnya. Tutuan (B8) yang demikian itu dapat menimbulkan dua persepsi bahwa penutur bermaksud mengejek rambut baru mitra tuturnya atau penutur memang memuji mitra tuturnya itu. Selanjutnya pada konteks tuturan (B12) terlihat bahwa penutur menanggapi mitra tutur yang memiliki potongan rambut baru. Tanggapan penutur itu menimbulkan kebingungan mitra tuturnya karena penutur jarang berkomentar apapun mengenai mitra tutur, tetapi saat itu dia berkomentar yang menarik perhatian teman-teman yang lain. Tuturan (B12) itu juga dapat menimbulkan dua persepsi seperti pada tuturan (B8). Berikutnya, dalam tuturan (B16) terlihat bahwa penutur yang sudah sangat mengenal mitra tuturnya, jarang sekali mengejek mitra tuturnya itu tiba-tiba saat itu mengomentari mitra tuturnya dengan sindiran. Hal ini dapat menimbulkan ketidaknyamanan bagi mitra tuturnya berupa rasa bingung dan aneh dengan tingkah mitra tutur yang tidak seperti biasanya itu.

  Setelah pemaparan konteks, pembahasan berikutnya mengenai makna yang terdapat dalam kelima tuturan tersebut. Kelima tuturan tersebut cenderung memiliki makna yang berupa ekspresi kekesalan dan ejekan penutur yang dilakukan tidak dengan perilaku penutur itu. Tuturan (B2) dan (B3) memiliki berupa ekspresi kekesalan penutur terhadap godaan dari mitra tutur. Terlebih dalam tuturan (B3) penutur seolah menyamakan mitra tutur dengan orang gila atau stress dengan tuturannya itu. Tuturan (B8) dan (B12) memiliki makna berupa pujian penutur mengenai rambut baru mitra tutur. Selain itu, tuturan (B8) dan (B12) dapat pula bermaksud untuk mengejek mitra tutur mengenai penampilan barunya. Tuturan (B16) memiliki makna berupa ejekan penutur kepada mitra tutur.

  Berdasarkan uraian di atas, kelima tuturan yang disampaikan penutur tersebut lebih mengarah ke perilaku berbahasa yang memain-mainkan muka mitra tuturnya.

  Seperti yang telah dipaparkan oleh Miriam A Locher (2008: 3) bahwa ketidaksantunan dalam berbahasa dapat dipahami sebagai berikut,

  „…behaviour that is face- aggravating in a particular context.‟ Perilaku ketidaksantunan berbahasa itu

  menunjuk pada perilaku „melecehkan‟ muka (face-aggravate). Interpretasi lain yang berkaitan dengan definisi Locher terhadap ketidaksantunan berbahasa ini adalah bahwa tindakan tersebut sesungguhnya bukanlah sekadar perilaku

  „melecehkan

muka‟, melainkan perilaku yang „memain-mainkan muka‟. Tindakan bertutur sapa

  akan dikatakan sebagai tindakan yang tidak santun bilamana muka (face) dari mitra tutur dipermainkan, atau setidaknya dia telah merasa bahwa penutur memain- mainkan muka sang mitra tutur itu. Ketidaksantunan yang memain-mainkan muka itu mengarah pada sebuah tuturan yang dapat membuat kesal dan jengkel mitra tuturnya. bingung dengan tingkahnya yang demikian itu. Mitra tutur seperti dipermainkan dengan tingkah laku penutur yang tidak seperti biasanya. Kelima tuturan itu dapat berpotensi menimbulkan rasa tersinggung dan jengkel mitra tuturnya. Hal tersebut dapat dikatakan demikian berdasarkan uraian dari penanda ketidaksantunan linguistik dan pragmatik yang telah dipaparkan sebelumnya.

  Seperti yang telah dipaparkan, penanda ketidaksantunan linguistik dapat dilihat dari penggunaan nada tutur yang sedang dan tinggi, tekanan yang cenderung sedang, intonasi berita dan intonasi Tanya yang dituturkan dengan suara lembut berupa sindiran, intonasi perintah yang dituturkan dengan suara keras serta pilihan kata yang tidak sesuai, terdapat pula kata nonstandar. Sementara itu, penanda ketidaksantunan pragmatik dapat dilihat dari konteks tuturan itu. Konteks tuturan meliputi penutur dan mitra tutur yaitu para mahasiswa PBSID Angkatan 2009

  —2011 Universitas Sanata Dharma, situasi tuturan dapat terjadi di mana saja seperti di luar kelas, di dalam kelas, dan di perpustakaan dengan suasana yang cenderung santai dan ada pula yang serius. Terdapat pula implikatur tambahan berupa tindak verbal yaitu tindak verbal direktif dan ekspresif, tindak perlokusi yaitu mitra tutur memberi penjelasan dan berhenti menimbulkan kejengkelan. Secara umum, makna tuturan tidak santun yang memain-mainkan muka yaitu menimbulkan kejengkelan dan kebingungan bagi mitra tutur terhadap tingkah penutur yang tidak seperti biasanya.

4.3.3 Kesembronoan yang Disengaja

  Berdasarkan data yang telah didapatkan oleh peneliti sebanyak 76 tuturan yang tidak santun, terdapat 10 tuturan yang termasuk ke dalam ketidaksantunan yaitu kesembronoan yang disengaja. Tuturan-tuturan tersebut merupakan tuturan tidak santun yang dituturkan oleh para mahasiswa Program Studi PBSID Angkatan 2009

  — 2011 di Universitas Sanata Dharma. Tuturan yang berjumlah 10 itu memiliki penanda ketidaksantunan linguistik dan juga penanda ketidaksantunan pragmatik yang dapat dilihat dari konteks tuturan yang melingkupinya.

  Bousfield (2008: 3) berpendapat bahwa ketidaksantunan dalam berbahasa dipahami sebagai perilaku berbahasa seseorang yang mengancam muka, dan ancaman terhadap muka itu dilakukan secara sembrono (gratuitous), hingga akhirnya tindakan berkategori sembrono demikian itu mendatangkan konflik, atau bahkan pertengkaran, dan tindakan tersebut dilakukan dengan kesengajaan (purposeful), maka tindakan berbahasa itu merupakan realitas ketidaksantunan. Dengan demikian, sebuah tuturan dikatakan tidak santun jika tuturan tersebut menimbulkan kerugian berupa kejengkelan bahkan dapat menimbulkan konflik karena tuturan tersebut disampaikan secara sembrono dengan kesengajaan kepada mitra tuturnya. Contoh: (C3) Hehe goyang asik… goyang itik.

  (konteks tuturan: tuturan terjadi ketika setelah mengoreksi lembar jawab mahasiswa

  

pada kuis psikolinguistik. Suasana kelas agak gaduh. Mitra tutur mengomentari baju

  )

  penutur yang terbuka. Mitra tutur duduk sebelahan dengan penutur (C7) Palestina

  (konteks tuturan: tuturan terjadi ketika di luar kelas. Beberapa mahasiswa duduk-

  

duduk dan berbincang satu sama lain sedang menunggu kelas berikutnya. Suasana

gaduh dan santai. Penutur menanyakan guru pamong kepada mitra tutur. Penutur

tahu bahwa mitra tutur masih mengurusi laporan PPL. Penutur dan mitra tutur

merupakan teman akrab ) (C8) Potong model pitik jago yoo?

  (konteks tuturan: tuturan terjadi ketika di luar kelas. Beberapa mahasiswa duduk-

  

duduk dan berbincang satu sama lain sedang menunggu kelas berikutnya. Suasana

luar kelas gaduh dan santai. penutur dan mitra tutur merupakan teman sekelas.

Penutur berkomentar mengenai model rambut mitra tutur ) (C9) Kowe potong koyo pitik gering.

  (konteks tuturan: tuturan terjadi ketika di luar kelas. Beberapa mahasiswa duduk-

  

duduk dan berbincang satu sama lain sedang menunggu kelas berikutnya. Suasana

luar kelas gaduh dan santai. penutur dan mitra tutur merupakan teman akrab.

Penutur berkomentar mengenai model rambut mitra tutur ) (C10) Itu lhoo tanah di pot dikeluarkan dulu trus buat tempat baksonya.

  (konteks tuturan: tuturan terjadi ketika beberapa mahasiswa sedang duduk di depan

  

secretariat dan berbincang-bincang. Mitra tutur sedang menikmati bakso langsung

dari bungkus plastik. Penutur memberikan saran untuk menggunakan pot sebagai

  Lima tuturan di atas merupakan tuturan yang termasuk ke dalam jenis ketidaksantunan yaitu kesembronoan yang disengaja. Lima tuturan tersebut merupakan wujud ketidaksantunan linguistik berupa tuturan lisan yang telah ditranskrip. Selain wujud linguistik, kelima tuturan tersebut juga memiliki penanda ketidaksantunan linguistik. Seperti yang dipaparkan Pranowo (2009:76) bahwa aspek penentu kesantunan dalam bahasa verbal lisan antara lain aspek intonasi, aspek nada bicara, faktor pilihan kata dan faktor struktur kalimat. Penanda ketidaksantunan linguistik itu cenderung sama dengan aspek penentu kesantunan bahasa lisan yang meliputi nada, tekanan, intonasi, dan pilihan kata.

  Pembahasan mengenai nada kelima tuturan dapat diuraikan sebagai berikut. Pada tuturan (C3) dituturkan oleh penutur dengan nada rendah. Nada rendah dituturkan penutur identik dengan candaan atau gurauan yang santai. Nada rendah ini menunjukkan suasana hati penutur yang cenderung senang. Sama halnya dengan pendapat Pranowo (2009:77) bahwa jika suasana hati sedang senang, nada bicara penutur menaik dengan ceria sehingga terasa menyenangkan. Tuturan (C7), (C8), (C9), (C10) memiliki nada yang sedang. Penggunaan nada sedang ini identik dengan tuturan yang menyindir. Keempat tuturan itu dikatakan dengan nada sedang oleh penuturnya ketika suasana hati cenderung kesal kepada mitra tuturnya. Hal ini sejalan dengan pendapat Pranowo (2009:77) bahwa nada bicara penutur selalu berkaitan dengan suasana hati penuturnya. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa semakin suasana hati penutur itu buruk, tuturan yang dituturkan cenderung semakin tidak santun.

  Lebih lanjut dipaparkan Pranowo (2009:77) aspek nada dalam bertutur lisan dapat memengaruhi kesantunan berbahasa seseorang. Dari lima tuturan di atas, tuturan (C7), (C8), (C9), dan (C10) memiliki nada tutur sedang, dapat dikategorikan sebagai tuturan yang kurang santun. Hal tersebut dapat dikatakan demikian karena keempat tuturan itu dituturkan dengan suasana hati yang cenderung kesal, dan tuturan dikatakan dalam bentuk sindiran. Selain itu, dengan bentuk tuturan yang demikian itu empat tuturan tersebut dapat berpotensi menimbulkan ketidaknyamanan bagi mitra tuturnya.

  Selanjutnya mengenai tekanan dalam kelima tuturan di atas. Tekanan pada sebuah tuturan sebenarnya digunakan untuk menunjukkan bagian mana dari tuturan itu yang dipentingkan oleh penuturnya ketika berujar. Dalam tuturan (C3) memiliki tekanan yang cenderung lemah. Tekanan lemah identik dengan tuturan yang sifatnya bercanda atau bergurau santai. Berbeda dengan tekanan dalam tuturan (C7), (C8), (C9), dan (C10) memiliki tekanan sedang. Pada tuturan (C7) bagian yang dipentingkan yaitu palestina. Pada tuturan (C8) bagian yang ditekankan yaitu potong

  

model jago yoo . Selanjutnya, pada tuturan (C9) bagian yang diberi tekanan yaitu koyo

pitik gering, dan pada tuturan (C10) bagian yang dipentingkan penutur yaitu itu lhoo

tanah di pot dikeluarkan, buat tempat bakso. Beberapa bagian dari kelima tuturan

  Pembahasan berikutnya mengenai intonasi. Pada tataran kalimat, variasi- variasi nada pembeda maksud disebut intonasi. Intonasi datar turun yang biasa terdapat dalam kalimat berita, intonasi datar naik yang biasa terdapat dalam kalimat tanya, dan intonasi datar tinggi yang biasa terdapat dalam kalimat perintah (Muslich:2008,114). Selanjutnya, menurut Pranowo (2009:76) aspek intonasi dalam bahasa lisan sangat menentukan santun tidaknya pemakaian bahasa. Aspek intonasi yang dimaksud berkaitan dengan keras lembutnya suara seorang penutur. Pada tuturan (C3), (C7), (C9), dan (C10) terdapat intonasi berita yang berpola datar turun.

  Intonasi pada keempat tuturan tersebut cenderung dituturkan dengan suara yang lembut. Berbeda dengan tuturan (C8) memiliki intonasi Tanya yang berpola datar naik. Intonasi pada tuturan (C8) cenderung dituturkan dengan suara yang relatif keras.

  Baik intonasi berita maupun intonasi Tanya yang terdapat dalam kelima tuturan itu, dituturkan dalam bentuk tuturan berupa sindiran oleh penuturnya. Apabila kesantunan lima tuturan itu dilihat dari penggunaan intonasi, pada tuturan (C8) yang intonasinya cenderung keras menyebabkan tuturan tersebut terasa kurang santun, sedangkan tuturan (C3), (C7), (C9), dan (C10) masih dapat dikategorikan sebagai tuturan yang santun karena dituturkan dengan intonasi lembut walaupun tidak dipungkiri secara bentuk dan maksud keempat tuturan itu bisa dimasukkan dalam tuturan tidak santun.

  Selanjutnya mengenai pilihan kata. Menurut Keraf (1985:24) pilihan kata atau mengungkapkan sesuatu ide atau gagasan, tetapi juga meliputi persoalan fraseologi, gaya bahasa, dan ungkapan. Berikut uraian masing-masing pilihan kata dari kelima tuturan tadi. Dalam tuturan (C3) terdapat pilihan kata berupa kata slang yaitu goyang

  

itik . Kata goyang itik merupakan kata populer pada saat itu. Hal ini sejalan dengan

  pendapat Keraf (1985) bahwa kata slang merupakan kata-kata biasa yang diubah secara arbitrer, tetapi sekarang diterima sebagai kata populer.

  Pada tuturan (C8) dan (C9) menggunakan kata nonstandar berupa penggunaan bahasa Jawa. Tuturan (C8) terdapat bahasa Jawa yaitu pitik, sedangkan pada tuturan (C9) yaitu kowe potong koyo pitik gering. Adanya penggunaan bahasa Jawa tersebut menunjukkan kedekatan antara penutur dan mitra tutur. Selanjutnya, pada tuturan (C8) dan (C10) terdapat pilihan kata nonstandar berupa kata fatis. Kata fatis tuturan (C8) yaitu yoo, sedangkan pada tuturan (C10) yaitu lho. Penggunaan kata fatis ini untuk menegaskan tuturan yang diujarkan. Pada tuturan (C10) juga terdapat kata nonstandar berupa kata tidak baku yaitu trus, buat. Adanya kata tidak baku tersebut dapat pula menunjukkan kedekatan penutur dan mitra tutur.

  Berkaitan dengan santun tidaknya pemakaian bahasa, Pranowo (2009:77) juga berpendapat bahwa pilihan kata merupakan salah satu penentu kesantunan dalam bahasa lisan maupun dalam bahasa tulis. Ketepatan dan kesesuaian dalam menggunakan pilihan kata oleh seorang penutur dapat membangun persepsi bahwa penutur itu termasuk orang yang santun. Berikut uraian lebih rinci terkait pilihan kata. goyangan seperti itik. Pilihan kata pada tuturan (C7) yaitu palestina yang memiliki arti nama sebuah Negara. Pada tuturan (C8) terdapat pilihan kata yaitu potong model

  

pitik jago yang memiliki arti model rambut seperti ayam jago, sedangkan pada

  tuturan (C9) yaitu potong model pitik gering memberikan arti berupa sebuah model seperti ayam kurus. Pilihan kata pada tuturan (C10) yaitu tanah di pot dikeluarkan

  

buat tempat bakso , memberikan arti bahwa pot digunakan sebagai tempat makanan

  bakso. Beberapa pilihan kata dalam kelima tuturan tersebut dapat dipersepsi sebagai tuturan yang santun manakala dilihat berdasarkan konteks yang melingkupi tuturan itu.

  Pemaparan mengenai wujud dan penanda ketidaksantunan pragmatik dapat dilihat dari konteks yang melingkupi tuturan tersebut. Hal tersebut dapat dikatakan demikian karena studi tentang pragmatik tidak mungkin dipisahkan dari konteks situasi tuturnya. Hal ini sejalan dengan pendapat Parker (melalui Rahardi, 2007:14) bahwa studi tentang pragmatika mutlak harus dikaiteratkan dengan konteks situasi tutur tersebut. Adapun konteks kelima tuturan dapat mencakup salah satunya dimensi penutur dan mitra tutur. Pada kelima tuturan tadi, penutur dan mitra tuturnya adalah para mahasiswa PBSID, USD. Dimensi sosial penutur dan mitra tutur ini dapat terbagi menjadi tiga yang meliputi dimensi jenis kelamin, umur, dan tingkat angkatan. Apabila dilihat dari dimensi jenis kelamin, penutur dan mitra tutur pada tuturan (C3) adalah mahasiswa perempuan dan tuturan (C10) mitra tuturnya mahasiswa perempuan. Pada tuturan (C7), (C8), (C9) dituturkan oleh mahasiswa laki- laki, sedangkan pada tuturan (C10) penuturnya laki-laki.

  Pada umumnya, bahasa perempuan lebih santun bila dibanding dengan bahasa kaum laki-laki. Hal ini sejalan dengan pendapat Rahardi (2007:64) bahwa orang yang berjenis kelamin wanita, lazimnya juga memiliki peringkat kesantunan yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan orang yang berjenis kelamin laki-laki. Hal tersebut terlihat dari kelima tuturan yang dikategorikan sebagai kesembronoan yang disengaja, ternyata memang banyak penutur laki-laki yang bertutur kurang santun dalam berbahasa dengan teman sebayanya. Selanjutnya, berbicara mengenai dimensi umur cenderung dapat dilihat dari tingkat angkatannya. Pada tuturan (C3) dituturkan oleh penutur dan mitra tutur mahasiswa angkatan 2010 yang berumur masing-masing 20 tahun, sedangkan penutur dan mitra tutur pada tuturan (C7), (C8), (C9) dan (C10) adalah mahasiswa angkatan 2009 yang berumur masing-masing 21 dan 22 tahun, terkhusus untuk penutur laki-laki dalam tuturan (C10) dituturkan oleh seorang romo berumur 33 tahun.

  Adanya kesamaan jenis kelamin, umur, dan tingkat angkatan itu cenderung mendorong adanya kedekatan tertentu antara penutur dan mitra tuturnya. Dimensi sosial ini seperti yang dipaparkan Verschueren (1998) termasuk pula dimensi solidaritas dan kuasa, atau ketergantungan dan kekuasaan. Penutur seorang mahasiswa bertutur dengan rekan mahasiswa lain lebih terlihat dimensi solidaritas nyaman untuk digunakan seperti bahasa tidak baku, bahasa daerah, bahkan umpatan tertentu.

  Aspek lain yang berkaitan dengan penutur dan mitra tutur adalah dimensi mental pengguna bahasa (Verschueren, 1998) yang dalam kelima tuturan tadi dituturkan oleh para mahasiswa. Sudah sewajarnya seorang mahasiswa memiliki kepribadian yang matang, tetapi pada kelima tuturan tersebut cenderung ditemukan kepribadian yang belum cukup matang. Kelima tuturan itu menunjukkan bahwa para mahasiswa masih cenderung labil dari segi mental bertutur terlebih ketika bertutur dengan teman sebayanya. Pendapat ini sejalan dengan Rahardi (2011:158) bahwa seseorang yang kepribadiannya tidak cukup matang, sehingga terhadap sesuatu yang hadir baru cenderung menentang dan melawan, sekalipun tidak selalu memiliki dasar yang jelas dan tegas, akan sangat mewarnai bentuk kebahasaan yang digunakan di dalam setiap pertutursapaan.

  Lebih lanjut berkaitan dengan dimensi mental adalah mengenai aspek warna emosi. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, nada bicara berkaitan dengan suasana hati. Dalam paparan sebelumnya, dijelaskan bahwa nada tutur pada kelima tuturan itu adalah nada rendah dan sedang. Dengan adanya nada rendah dapat dikatakan penutur cederung memiliki emosi yang senang, gembira, sedangkan adanya nada sedang penutur cenderung memiliki warna emosi yang cukup tinggi tingkat kekesalannya, kejengkelannya, sehingga makna tuturan yang dituturkan berpotensi Rahardi (2011:159) bahwa seseorang yang memiliki warna emosi dan temperamen tinggi, cenderung berbicara dengan nada dan nuansa makna yang tinggi pula.

  Tuturan (C3) terjadi pada tanggal 20 November 2012 pukul 14.30 WIB ketika setelah mengoreksi lembar jawab mahasiswa pada kuis Psikolinguistik. Suasana kelas agak gaduh. Penutur dan mitra tutur perempuan merupakan mahasiswa angkatan 2010 dan mereka teman sekelas. Mitra tutur duduk sebelahan dengan penutur. Mitra tutur mengomentari baju penutur yang terbuka. Tanggapan penutur tidak menanggapi secara serius peringatan dari mitra tutur mengenai baju penutur yang terbuka tetapi lebih mengarah untuk menggoda mitra tutur yang menunjukkan tindak verbal ekspresif. Tindak perlokusi tuturan (C3) yaitu penutur berharap mitra tutur tertawa dengan candaan penutur.

  Konteks berikutnya mengenai tuturan (C7) terjadi pada tanggal 21 November 2012 pukul 13.50 WIB ketika di luar kelas. Beberapa mahasiswa duduk-duduk dan berbincang satu sama lain sedang menunggu kelas berikutnya. Suasana gaduh dan santai. Penutur dan mitra tutur laki-laki merupakan mahasiswa angkatan 2009 dan mereka teman sekelas. Penutur menanyakan guru pamong kepada mitra tutur. Penutur tahu bahwa mitra tutur masih mengurusi laporan PPL. Penutur menanggapi mitra tutur sekenanya seperti pada tuturan (C7) yang menunjukkan tindak verbal ekspresif. Tindak perlokusi tuturan tersebut yaitu penutur berharap agar mitra tutur tertawa.

  Berikut uraian konteks tuturan (C8). Tuturan tersebut terjadi pada tanggal 21 November 2012 pukul 13.55 WIB ketika di luar kelas. Beberapa mahasiswa duduk- duduk dan berbincang satu sama lain sedang menunggu kelas berikutnya. Suasana gaduh dan santai. Penutur dan mitra tutur laki-laki merupakan teman sekelas dan mereka mahasiswa angkatan 2009. Penutur berkomentar mengenai model rambut mitra tutur secara sembrono dengan sindiran seperti pada tuturan (C8) yang menunjukkan tindak verbal ekspresif. Tindak perlokusi tuturan tersebut yaitu penutur berharap agar mitra tutur menjelaskan model rambut barunya.

  Tuturan (C9) terjadi pada tanggal 21 November 2012 pukul 13.55 WIB ketika di luar kelas. Beberapa mahasiswa duduk-duduk dan berbincang satu sama lain sedang menunggu kelas berikutnya. Suasana gaduh dan santai. Penutur dan mitra tutur laki-laki merupakan teman sekelas dan mereka mahasiswa angkatan 2009.

  Penutur berkomentar mengenai model rambut mitra tutur secara sembrono dengan sindiran yang menunjukkan tindak verbal ekspresif. Tindak perlokusi untuk tuturan (C9) yaitu penutur berharap mitra tutur menjelaskan model rambut barunya.

  Selanjutnya, tuturan (C10) terjadi pada tanggal 22 November 2012 pukul

  13.45 WIB ketika beberapa mahasiswa sedang duduk di depan sekretariat dan berbincang-bincang. Penutur laki-laki dan mitra tutur perempuan merupakan mahasiswa angkatan 2009 dan mereka teman sekelas. Mitra tutur sedang menikmati bakso langsung dari bungkus plastik. Penutur memberikan saran secara sembrono pada tuturan (C10) yang menunjukkan tindak verbal direktif. Tindak perlokusi tuturan tersebut yaitu penutur berharap mitra tutur tertawa dengan candaan penutur.

  Berdasarkan konteks masing-masing dari lima tuturan tadi, dapat membantu menguraikan apakah masing-masing tuturan tersebut dapat dikategorikan sebagai tuturan yang santun atau tidak. Selain itu, adanya konteks juga dapat menentukan pilihan kata dari masing-masing tuturan itu santun atau tidak serta makna yang terkandung di dalamnya. Hal ini sejalan dengan pendapat Rahardi (2011:156) bahwa konteks pragmatik adalah segala macam aspek yang sifatnya luar bahasa yang menjadi penentu pokok bagi kehadiran sebuah makna kebahasaan. Pada konteks tuturan (C3) dapat diketahui bahwa penutur telah menjawab secara sembrono peringatan dari mitra tuturnya mengenai baju penutur yang terbuka. Tanggapan secara sembrono tersebut ditunjukkan dengan pilihan kata yaitu kata slang goyang

  itik.

  Dalam konteks tuturan (C7) dapat terlihat bahwa penutur sengaja menjawab sekenanya pertanyaan mitra tutur. Hal tersebut dikarenakan pertanyaan mitra tutur mengenai guru pamong PPL dijawab serta merta oleh penutur dengan kata palestina. Selanjutnya, pada konteks tuturan (C8) dijelaskan bahwa penutur menanyakan model rambut mitra tuturnya yang baru dengan pertanyaan yang sembrono dengan pilihan kata koyo pitik jago, sedangkan pada tuturan (C9) dapat diketahui bahwa penutur melontarkan pendapat terkait model rambut baru mitra tuturnya dengan sembrono

  (C10) dipaparkan bahwa penutur sengaja memberikan saran yang sembrono kepada mitra tuturnya terkait tempat untuk bakso yang dimakan oleh mitra tutur yaitu di pot tanaman.

  Selanjutnya, berbicara mengenai makna dengan makna kelima tuturan tersebut umumnya memiliki makna berupa candaan atau godaan. Berikut uraian lebih rinci mengenai makna masing-masing tuturan. Tuturan (C3) dan (C7) memiliki makna berupa godaan atau candaan penutur kepada mitra tutur. Tuturan (C8) dan (C9) memiliki makna berupa godaan atau candaan penutur kepada mitra tutur. Pada tuturan (C10) dapat pula dimaksudkan untuk bercanda dengan mitra tutur.

  Seperti yang telah dipaparkan, dapat diketahui bahwa kelima tuturan tersebut dituturkan oleh penutur dalam situasi yang santai dan bermaksud untuk bercanda dengan mitra tuturnya. Namun, adanya tanggapan yang sembrono tersebut dapat dikategorikan dalam jenis ketidaksantunan berbahasa yaitu kesembronoan yang disengaja. Hal ini sejalan dengan pendapat Bousfield (2008: 3), bahwa ketidaksantunan dalam berbahasa dipahami sebagai,

  „The issuing of intentionally

  

gratuitous and conflictive face-threatening acts (FTAs) that are purposefully

perfomed.‟ Bousfield memberikan penekanan pada dimensi „kesembronoan‟

(gratuitous), dan konfliktif (conflictive) dalam praktik berbahasa yang tidak santun

  itu. Perilaku berbahasa seseorang yang dilakukan dengan sengaja secara sembrono ini dapat menyebabkan timbulnya kerugian bagi mitra tuturnya. Kerugian tersebut yaitu perasaan. Apabila mitra tuturnya menanggapi secara serius dapat menimbulkan konflik diantara keduanya. Hal tersebut dapat dikatakan demikian berdasarkan uraian dari penanda ketidaksantunan linguistik dan pragmatik yang telah dipaparkan sebelumnya.

  Seperti yang telah dipaparkan, penanda ketidaksantunan linguistik dapat dilihat dari penggunaan nada tutur yang rendah dan sedang, tekanan yang cenderung sedang, intonasi berita yang dituturkan dengan suara lembut berupa sindiran, intonasi Tanya yang dituturkan dengan suara keras serta pilihan kata yang tidak sesuai, terdapat pula kata nonstandar. Sementara itu, penanda ketidaksantunan pragmatik dapat dilihat dari konteks tuturan itu. Konteks tuturan meliputi penutur dan mitra tutur yaitu para mahasiswa PBSID Angkatan 2009/2011 Universitas Sanata Dharma, situasi tuturan dapat terjadi di mana saja seperti di luar kelas, di dalam kelas, dan di depan sekretariat PBSID dengan suasana yang cenderung santai. Terdapat pula implikatur tambahan berupa tindak verbal yaitu tindak verbal ekspresif, tindak perlokusi yaitu mitra tutur terhibur. Secara umum, makna tuturan tidak santun yang termasuk kesembrononan yang disengaja yaitu sebuah candaan bagi mitra tuturnya, tetapi tidak menutup kemungkinan candaan tersebut dapat menimbulkan konflik di antara keduanya.

4.3.4 Menghilangkan Muka

  Berdasarkan data yang telah didapatkan oleh peneliti sebanyak 76 tuturan yang tidak santun, terdapat 13 tuturan yang termasuk ke dalam ketidaksantunan yang menghilangkan muka. Tuturan-tuturan tersebut merupakan tuturan tidak santun yang dituturkan oleh para mahasiswa Program Studi PBSID Angkatan 2009

  —2011 di Universitas Sanata Dharma. Tuturan yang berjumlah 13 itu memiliki penanda ketidaksantunan linguistik dan juga penanda ketidaksantunan pragmatik yang dapat dilihat dari konteks tuturan yang melingkupinya.

  Pemahaman Culpeper (2008: 3) tentang ketidaksantunan berbahasa adalah, „Impoliteness, as I would define it, involves communicative behavior intending to cause the “face loss” of a target or perceived by the target to be so.‟ Culpeper memberikan penekanan pada fakta „face loss‟ atau „kehilangan muka‟ dalam bahasa Jawa dapat diartikan „kelangan rai‟ (kehilangan muka). Konsep kehilangan muka ini dapat diartikan pula dengan adanya rasa malu yang mendalam yang dirasakan bagi mitra tutur di depan orang banyak. Dengan demikian, sebuah tuturan akan dianggap sebagai tuturan yang tidak santun jika tuturan itu menjadikan muka seseorang hilang atau merasakan malu yang mendalam di depan orang banyak. Setidaknya tuturan yang menghilangkan muka itu dirasakan oleh sang mitra tutur sendiri.

  Contoh:

  (konteks tuturan: tuturan terjadi ketika sebelum masuk ke dalam laboratorium

bahasa, para mahasiswa melepaskan sepatunya di depan laboratorium bahasa.

  

Suasana agak gaduh. Mitra tutur membuka sepatunya. Penutur mengomentari kaki

mitra tutur dengan suara keras di tengah teman mahasiswa yang lain sehingga

menimbulkan tawa ) (D5) Mel, sekarang kamu pose, trus kamu keluar.

  (konteks tuturan: tuturan terjadi ketika para mahasiswa sedang menunggu kelas

  

berikutnya di dalam kelas. Mitra tutur menghampiri beberapa mahasiswa. Suasana

gaduh tetapi santai. Mitra tutur berdiri di depan penutur dan penutur berkomentar

padanya ) (D6) Ztt berisik kamu!

  (konteks tuturan: tuturan terjadi ketika perkuliahan Sintaksis, ada mahasiswa yang

  

duduk di belakang berbincang dengan mahasiswa yang duduk di depan dengan suara

keras. Penutur merasa terganggu dengan mitra tutur yang terus berbicara padahal

perkuliahan sedang berangsung dan dosen sedang menjelaskan materi. Penutur

memperingatkan mitra tutur ) (D11) Sirik banget si jadi orang, suka-suka akulah.. emang situ OK?

  (konteks tuturan: tuturan terjadi ketika ada beberapa mahasiswa berkumpul di hall

  

student tengah. Suasana di sekitar hall ramai dan santai. Penutur dan mitra tutur

teman sekelas. Penutur menghampiri mitra tutur yang sedang duduk berkumpul

dengan teman lain. Mitra tutur mengomentari dan menyindir penampilan penutur

berkali-kali dengan suara keras di depan banyak orang )

(D13) Terima kasih atas masukannya, sebenarnya judul saya ini sudah direvisi

oleh ibu Yuli. Jadi saya tidak mengubahnya lagi.

  (konteks tuturan: tuturan terjadi ketika sedang presentasi makalah dalam kelas, ada

  

sesi tanggapan dari pembahas utama untuk pemakalah. Suasana kelas serius dan

tenang. Penutur sebagai pemakalah dan mitra tutur sebagai pembahas utama.

Penutur menanggapi mitra tutur mengenai komentar judul makalahnya )

  Kelima tuturan yang dipaparkan di atas merupakan wujud ketidaksantunan linguistik berupa tuturan lisan yang telah ditranskrip. Lima tuturan tersebut dapat dikategorikan sebagai tuturan tidak santun yang menghilangkan muka mitra tuturnya dengan melihat penanda ketidaksantunan linguistik dan pragmatiknya. Pranowo (2009:76) mengatakan bahwa aspek penentu kesantunan dalam bahasa verbal lisan antara lain aspek intonasi, aspek nada bicara, faktor pilihan kata dan faktor struktur kalimat. Penanda ketidaksantunan linguistik kelima tuturan itupun dapat dilihat berdasarkan nada, tekanan, intonasi, dan pilihan kata.

  Berikut penjelasan masing-masing penanda ketidaksantunan linguistik yang terdapat dalam kelima tuturan tadi. Apabila dilihat berdasarkan nadanya, tuturan (D4), (D5), dan (D13) dituturkan dengan nada sedang. Nada sedang ini identik dengan tuturan dalam rupa sindiran, dan penutur menggunakan nada sedang ketika suasana hatinya cenderung kesal atau jengkel. Pada tuturan (D6) dan (D11) dituturkan penutur dengan nada tinggi. Nada tinggi ini identik dengan suasana hati yang sedang marah, emosi. Seperti pada tuturan (D6) dan (D11) dituturkan dengan nada bicara yang cenderung menaik keras dan kasar oleh penuturnya karena penutur marah pada tingkah mitra tutur sehingga tuturan terasa menakutkan. Hal ini sejalan dengan pendapat Pranowo (2009:77) bahwa jika suasana hati sedang marah, emosi, nada bicara penutur menaik dengan keras, kasar sehingga terasa menakutkan.

  Berdasarkan penggunaan nada dalam kelima tuturan tersebut, dapat dikatakan bahwa lima tuturan tadi dapat dipersepsi sebagai tuturan yang kesantunannya rendah.

  Hal tersebut disebabkan penutur menggunakan nada sedang dan nada tinggi seperti dalam lima tuturan itu. Nada sedang cenderung dikatakan dalam suasana hati yang kesal yang menunjukkan tuturan berupa sindiran, sedangkan nada tinggi cenderung dituturkan dengan suasana hati yang marah dengan suara yang keras. Penggunaan nada-nada tersebut dapat pula berpotensi untuk melukai hati mitra tuturnya, terlebih penggunaan nada tinggi. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa penanda ketidaksantunan linguistik berupa nada untuk tuturan yang menghilangkan muka meliputi nada sedang dan nada tinggi.

  Selanjutnya mengenai penggunaan tekanan dalam lima tuturan itu. Adanya tekanan dalam sebuah tuturan digunakan untuk menunjukkan bagian tuturan mana yang dipentingkan penuturnya. Hal ini sejalan dengan pendapat Muslich (2008:113) bahwa tidak semua kata dalam kalimat ditekankan sama, hanya kata-kata yang dianggap penting atau dipentingkan yang mendapatkan tekanan. Berikut penjelasan masing-masing tekanan pada lima tuturan tersebut. Tekanan yang digunakan pada tuturan (D4), (D11), dan (D13) adalah tekanan sedang, sedangkan tekanan pada tuturan (D5) dan (D6) adalah tekanan keras. Pada tuturan (D4) bagian yang kamu pose, trus keluar. Selanjutnya, pada tuturan (D6) terdapat tuturan ztt berisik

  

kamu merupakan bagian yang diberi tekanan oleh penuturnya. Pada tuturan (D11)

  bagian yang dipentingkan yaitu suka-suka aku, emang situ OK, sedangkan pada tuturan (D13) bagian yang diberi tekanan yaitu sudah direvisi bu Yuli.

  Pemaparan berikutnya mengenai intonasi pada kelima tuturan tadi. Intonasi merupakan salah satu penanda untuk mengetahui tuturan santun atau tidak. Hal ini sejalan dengan pendapat Pranowo (2009:76) bahwa aspek intonasi dalam bahasa lisan sangat menentukan santun tidaknya pemakaian bahasa. Lebih lanjut dipaparkan bahwa aspek intonasi merupakan keras lembutnya suara oleh seorang penutur. Intonasi dapat dibedakan menjadi tiga macam yaitu intonasi berita yang berpola datar turun, intonasi Tanya yang berpola datar naik, dan intonasi perintah yang berpola datar tinggi. Intonasi yang digunakan pada tuturan (D4), (D6), dan (D13) adalah intonasi berita. Tuturan (D5) memiliki intonasi perintah dan tuturan (D11) memiliki intonasi tanya. Intonasi berita berpola datar turun digunakan untuk menunjukkan ekspresi pemberitahuan kepada mitra tutur. Intonasi berita cenderung dituturkan dengan suara yang lembut. Berbeda dengan intonasi pada tuturan (D11) dituturkan dengan intonasi Tanya yang berpola datar naik dan pada tuturan (D5) dituturkan dengan intonasi perintah yang berpola datar tinggi cenderung dituturkan dengan suara yang keras.

  Berdasarkan uraian di atas, kelima tuturan itu dapat dipersepsi sebagai tuturan

  (D6), dan (D13) walaupun dituturkan dengan suara yang relatif lembut, tuturan (D4) dan (D13) itu memiliki tekanan dan nada tuturan yang sedang yang menunjukkan tuturan dalam bentuk sindiran. Terlebih pada tuturan (D6) memiliki tekanan yang keras dan nada yang tinggi sehingga tuturan terasa menakutkan. Intonasi yang lembut namun dalam bentuk sindiran menyebabkan tuturan menjadi kurang santun. Demikian pula pada tuturan (D5) dan (D11) yang dituturkan dengan intonasi cenderung keras yang disampaikan penutur itu. Terlebih kelima tuturan disampaikan secara langsung di depan mitra tutur.

  Penanda ketidaksantunan berikutnya yaitu pilihan kata. Ketika bertutur seseorang dituntut untuk memilih kata-kata yang tepat dan sesuai agar komunikasi berjalan lancar. Selain itu, pilihan kata merupakan salah satu aspek untuk menunjukkan tuturan itu santun atau tidak. Hal ini sejalan dengan pendapat Pranowo (2009:77) bahwa pilihan kata merupakan salah satu penentu kesantunan dalam bahasa lisan maupun dalam bahasa tulis. Ada beberapa pilihan kata yaitu bahasa nonstandar berupa kata tidak baku, kata fatis, kata seru, dan interferensi ke dalam bahasa Jawa; kata ilmiah dan populer, jargon, kata percakapan, idiom, kata slang, dan bahasa artifisial (Keraf, 1985:104-110). Berikut uraian pilihan kata masing-masing dari kelima tuturan itu. Pilihan kata nonstandar dapat ditemukan pada tuturan (D4) berupa kata tidak baku yaitu kayak, cewek dan kata fatis ihh, tuturan (D5) kata tidak baku

  

trus dan kata populer pose, tuturan (D6) terdapat kata nonstandar berupa kata seru ztt, tuturan (D13) terdapat kata ilmiah yaitu direvisi. Kata nonstandar digunakan untuk menunjukkan kedekatan antara penutur dan mitra tutur.

  Pembahasan lebih rinci terkait penggunaan pilihan kata sebagai berikut. Pada tuturan (D4) terdapat pilihan kata yaitu kakimu cantik ya yang memiliki arti bahwa kaki mitra tutur cantik. Pada tuturan (D5) terdapat kata pose yang memiliki arti bergaya. Pada tuturan (D6) terdapat kata ztt yang memiliki arti diam. Pada tuturan (D11) terdapat kalimat emang situ OK? yang memiliki arti apakah mitra tutur lebih baik atau tidak. Apabila pilihan kata pada masing-masing tuturan itu dipakai dalam konteks yang sesuai, kelima tuturan tersebut dapat dikatakan sebagai tuturan yang santun begitu pula sebaliknya. Untuk mengetahui sebuah pilihan kata itu santun atau tidak, dapat diketahui dari konteks yang melingkupi tuturan itu.

  Konteks tuturan merupakan wujud dan penanda ketidaksantunan pragmatik. Hal ini dapat dikatakan demikian karena pragmatik dan konteks tuturan merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Sama halnya dengan pendapat Levinson (1983:9) bahwa pragmatics is the study of those relations between language and

  

contexs that are gramaticalized, or encoded in the structure of a language. Jadi,

  pragmatik sebagai studi perihal ilmu bahasa yang mempelajari relasi-relasi antara bahasa dengan konteks tuturannya. Berikut uraian konteks masing-masing dari lima tuturan tadi. Uraian konteks berikut didasarkan pada pendapat Leech (melalui Rahardi, 2007:19) yaitu mencakup penutur dan lawan tutur, konteks tuturan, tujuan

  Pembahasan konteks diuraikan dari dimensi penutur dan lawan tutur. Pada kelima tuturan tadi, penutur dan mitra tuturnya adalah para mahasiswa PBSID, USD.

  Dimensi sosial penutur dan mitra tutur ini dapat terbagi menjadi tiga yang meliputi dimensi jenis kelamin, umur, dan tingkat angkatan. Apabila dilihat dari dimensi jenis kelamin, penutur pada tuturan (D4), (D5), (D6), (D11), dan (D13) adalah mahasiswa perempuan. Mitra tutur pada tuturan (D4) dan (D5) adalah mahasiswa laki-laki, sedangkan pada tuturan (D6), (D11), dan (D13) mitra tuturnya adalah mahasiswa perempuan.

  Pada umumnya, bahasa perempuan lebih santun bila dibanding dengan bahasa kaum laki-laki. Hal ini sejalan dengan pendapat Rahardi (2007:64) bahwa orang yang berjenis kelamin wanita, lazimnya juga memiliki peringkat kesantunan yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan orang yang berjenis kelamin laki-laki. Ternyata banyak penutur perempuan yang bertutur kurang santun dalam berbahasa dengan teman sebayanya. Hal tersebut terlihat dari kelima tuturan yang dikategorikan sebagai ketidaksantunan yang menghilangkan muka.

  Selanjutnya, berbicara mengenai dimensi umur cenderung dapat dilihat dari tingkat angkatannya. Pada tuturan (D4) dituturkan oleh penutur dan mitra tutur mahasiswa angkatan 2010 yang berumur masing-masing 20 tahun, sedangkan penutur dan mitra tutur pada tuturan (D5) dan (D13) adalah mahasiswa angkatan 2009 yang berumur masing-masing 21 dan 22 tahun. Pada tuturan (D6) dan (D11) dituturkan jenis kelamin, umur, dan tingkat angkatan itu cenderung mendorong adanya kedekatan tertentu antara penutur dan mitra tuturnya. Dimensi sosial ini seperti yang dipaparkan Verschueren (1998) termasuk pula dimensi solidaritas dan kuasa, atau ketergantungan dan kekuasaan. Penutur seorang mahasiswa bertutur dengan rekan mahasiswa lain lebih terlihat dimensi solidaritas atau ketergantungannya sehingga mereka cenderung berbahasa yang menurut mereka nyaman untuk digunakan seperti bahasa tidak baku, bahasa daerah, bahkan umpatan tertentu.

  Berkaitan penutur dan mitra tutur, Verschueren (melalui Rahardi, 2011:158) berpendapat bahwa dimensi mental penutur dan mitra tutur sangat penting dalam kerangka perbincangan konteks pragmatik. Dimensi mental itu berkaitan salah satunya dengan aspek kepribadian dan aspek warna emosi. Kelima tuturan tersebut dituturkan oleh mahasiswa yang sudah dapat dikatakan memiliki kepribadian yang matang. Namun dalam kenyataannya dapat dikatakan mereka masih memiliki kepribadian yang belum cukup matang. Hal ini telah Nampak pada kelima tuturan itu. Sejalan dengan pendapat Rahardi (2011:158-159) bahwa seseorang yang kepribadiannya tidak cukup matang, sehingga terhadap segala sesuatu yang hadir baru cenderung menentang dan melawan, sekalipun tidak terlalu memiliki dasar alasan yang jelas dan tegas, akan sangat mewarnai bentuk kebahasaan yang digunakan di dalam setiap pertutursapaan.

  Lebih lanjut mengenai aspek warna emosi. Seperti yang telah dijelaskan dijelaskan bahwa nada tutur pada kelima tuturan itu adalah nada sedang dan tinggi. Dengan nada yang demikian itu penutur cenderung memiliki warna emosi buruk, sedang kesal, jengkel, marah, bahkan meledak-ledak, sehingga makna tuturan yang dituturkan berpotensi menimbulkan ketidaknyamanan bagi mitra tuturnya. Hal ini sejalan dengan pendapat Rahardi (2011:159) bahwa seseorang yang memiliki warna emosi dan temperamen tinggi, cenderung berbicara dengan nada dan nuansa makna yang tinggi pula.

  Hal lain yang juga mutlak diperhatikan dan diperhitungkan dalam kaitannya dengan penutur dan mitra tutur adalah perihal pengaruh jumlah orang yang hadir dalam sebuah pertutursapaan (Rahardi, 2011:158). Penutur bertutur dengan mitra tutur yang banyak cenderung bentuk kebahasaannya akan lebih santun, sedangkan penutur yang bertutur di depan mitra tutur tunggal cenderung menggunakan bentuk bahasa yang senyamannya penutur itu. Dalam konsep menghilangkan muka ini, penutur lebih cenderung bertutur dengan bentuk kebahasaan yang tidak santun kepada mitra tuturnya di depan orang banyak sehingga menimbulkan rasa seperti kehilangan muka bagi mitra tuturnya itu. Hal ini dapat dilihat pada masing-masing tuturan dari kelima tuturan tadi. Sangat terlihat jelas bahwa penutur berusaha mempermalukan mitra tuturnya seperti pada kelima tuturan itu.

  Lebih lanjut pemaparan mengenai konteks situasi tutur. Konteks tuturan (D4) terjadi pada tanggal 21 November 2012 pukul 13.05 WIB ketika sebelum masuk ke laboratorium Bahasa. Suasana agak gaduh. Penutur perempuan dan mitra tutur laki- laki merupakan mahasiswa angkatan 2011 dan mereka teman sekelas. Mitra tutur membuka sepatunya. Topik pembicaraan mengenai kaki mitra tutur, dan penutur berkomentar mengenai hal tersebut. Penutur mengomentari kaki mitra tutur dengan suara keras di tengah teman mahasiswa yang lain sehingga menimbulkan tawa. Tanggapan penutur dengan sindiran menunjukkan tindak verbal ekspresif. Tindak perlokusi untuk tuturan (D4) yaitu penutur berharap mitra tutur merasa diperhatikan oleh penutur dan merespon penutur.

  Berikut uraian konteks tuturan (D5). Tuturan tersebut terjadi pada tanggal 21 November 2012 pukul 14.55 WIB ketika para mahasiswa sedang menunggu kelas berikutnya di dalam kelas. Penutur dan mitra tutur perempuan merupakan mahasiswa angkatan 2009 dan mereka teman sekelas. Suasana gaduh tetapi santai. Mitra tutur menghampiri beberapa mahasiswa yang sedang berkumpul bersama penutur. Mitra tutur berdiri di depan penutu. Topik pembicaraan terkait mitra tutur yang baru saja datang, penutur menanggapi mitra tutur itu. Penutur menyuruh mitra tutur untuk berpose kemudian ke luar kelas di depan banyak teman sehingga menimbulkan gelak tawa. Suruhan penutur dengan sindiran menunjukkan tindak verbal direktif. Tindak perlokusi untuk tuturan (D5) yaitu penutur berharap mitra tutur mengikuti omongan penutur.

  Tuturan (D6) terjadi pada tanggal 21 November 2012 pukul 11.35 WIB mahasiswa yang duduk di depan dengan suara keras. Penutur laki-laki dan mitra tutur perempuan merupakan mahasiswa angkatan 2011 dan mereka teman sekelas. Suasana kelas serius dan tenang. Penutur merasa terganggu dengan mitra tutur yang terus berbicara padahal perkuliahan sedang berlangsung dan dosen sedang menjelaskan materi. Penutur memperingatkan mitra tutur dengan suara keras dan sinis seperti pada tuturan (D6) menunjukkan tindak verbal direktif. Tindakan penutur menarik perhatian teman-teman disekitarnya. Tindak perlokusi untuk tuturan tersebut yaitu penutur berharap agar mitra tutur diam dan tidak menganggu penutur.

  Selanjutnya tuturan (D11) terjadi pada tanggal 5 Desember 2012 pukul 10.00 WIB ketika ada beberapa mahasiswa berkumpul di hall student tengah. Suasana di sekitar hall ramai dan santai. Penutur dan mitra tutur perempuan merupakan mahasiswa angkatan 2011 dan mereka teman sekelas. Penutur menghampiri mitra tutur yang sedang duduk berkumpul dengan teman lain. Topik pembicaraan terkait penampilan penutur. Mitra tutur mengomentari dan menyindir penampilan penutur dengan suara keras di depan banyak orang. Penutur menanggapi sinis mitra tutur seperti pada tuturan (D11) yang menunjukkan tindak verbal ekspresif. Tindak perlokusi untuk tuturan tersebut yaitu penutur berharap mitra tutur berhenti mengomentari penutur.

  Konteks tuturan (D13) terjadi pada tanggal 29 November 2012 pukul 15.30 WIB ketika sedang presentasi makalah dalam kelas, ada sesi tanggapan dari mitra tutur perempuan merupakan mahasiswa angkatan 2009, dan mereka teman sekelas dan sekelompok. Penutur sebagai pemakalah dan mitra tutur sebagai pembahas utama. Penutur menanggapi mitra tutur mengenai komentar judul makalahnya. Penutur menanggapi sinis mitra tutur seperti pada tuturan (D13) yang menunjukkan tindak verbal ekspresif. Tindak perlokusi tuturan tersebut yaitu penutur berharap agar mitra tutur memberi masukan yang lain kepada penutur.

  Berdasarkan paparan konteks di atas, dapat diketahui kelima tuturan tadi dikatakan penutur dalam situasi yang ramai, banyak orang di sekitarnya. Apabila dikaitkan dengan pilihan kata yang terdapat dalam kelima tuturan itu dapat dikatakan bahwa lima tuturan itu termasuk ke dalam tuturan yang memiliki kesantunan yang rendah. Seperti pada tuturan (D4) dengan pilihan kata kakimu cantik sedangkan tuturan itu ditujukan pada mitra tutur laki-laki, sementara situasi saat itu sedang banyak teman disekitarnya. Terlebih penutur mengatakan hal tersebut dengan nada suara yang sedang berupa sindiran.

  Selanjutnya, pada tuturan (D5) dapat diketahui bahwa penutur menanggapi mitra tutur yang baru saja datang dengan suruhan. Terlihat pada pilihan kata pose trus

  

keluar yang dituturkan dengan nada sedang dan intonasi keras di depan sekelompok

  temannya. Pada tuturan (D6) terlihat bahwa penutur menyuruh mitra tutur untuk diam, dikatakan dengan intonasi keras dan nada bicara yang keras pula, sementara situasi saat itu sedang pembelajaran serius di dalam kelas. Pada tuturan (D11) dapat yang keras pula, sementara mereka sedang berkumpul di student hall yang tempat tersebut ramai dengan orang. Beralih pada tuturan (D13) terlihat bahwa penutur menanggapi mitra tutur dengan situasi yang serius di dalam kelas serta banyak teman dan dosen di sana. Tanggapan dikatakan dengan nada sedang yang identik dengan sindiran.

  Lebih lanjut, dengan konteks pula dapat mengetahui makna yang terkandung dalam kelima tuturan. Hal ini sejalan dengan pendapat Rahardi (2011:156) bahwa konteks pragmatik adalah segala macam aspek yang sifatnya luar bahasa yang menjadi penentu pokok bagi kehadiran sebuah makna kebahasaan. Pada prinsipnya, ketidaksantunan berbahasa yang menghilangkan muka memiliki makna sebuah tuturan yang mempermalukan mitra tuturnya di depan umum. Pada tuturan (D4) memiliki makna yaitu mempermalukan mitra tuturnya terkait kaki mitra tutur yang seperti perempuan. Tuturan (D5) memiliki makna yaitu mempermalukan mitra tuturnya dengan ejekan dari penutur. Tuturan (D6) memiliki makna yaitu mempermalukan mitra tutur dengan peringatan penutur yang keras. Tuturan (D11) dan (D13) memiliki makna yaitu mempermalukan mitra tutur karena penutur merasa telah dipermalukan di depan umum oleh mitra tutur.

  Dengan demikian, kelima tuturan tersebut dapat dikatakan sebagai tuturan yang tidak santun dan dapat dikategorikan ke dalam jenis ketidaksantunan yang menghilangkan muka mitra tuturnya. Dalam konteks yang melingkupi setiap tuturan bahkan kemarahan di depan orang banyak. Situasi yang demikian menimbulkan ketidaknyamanan bagi mitra tuturnya. Mitra tutur seperti dipermalukan di depan umum oleh tuturan dari penuturnya itu. Hal ini sejalan dengan pendapat Culpeper (2008: 3) tentang ketidaksantunan berbahasa adalah

  , „Impoliteness, as I would define

  it, involves communicative behavior intending to cause the “face loss” of a target or perceived by the target to be so.

   Dia memberikan penekanan pada fakta „face loss‟

  atau

  „kehilangan muka‟. Pendapat ini ditegaskan oleh Rahardi (2011:72-73) bahwa

  fenomena ketidaksantunan alam berbahasa itu merupakan perilaku komunikatif yang diperantikan secara intensional oleh seseorang, untuk membuat orang benar-benar menjadi kehilangan muka (face loss), atau setidaknya orang tersebut merasa kehilangan muka karena telah dipermalukan penutur. Hal tersebut dapat dijelaskan pula berdasarkan uraian dari penanda ketidaksantunan linguistik dan pragmatik yang telah dipaparkan sebelumnya.

  Seperti yang telah dipaparkan, penanda ketidaksantunan linguistik dapat dilihat dari penggunaan nada tutur yang sedang dan tinggi, tekanan yang cenderung sedang dan keras, intonasi berita yang dituturkan dengan suara lembut berupa sindiran, intonasi perintah dan Tanya dituturkan dengan suara keras, terdapat pilihan kata yang tidak sesuai dan kata nonstandar. Sementara itu, penanda ketidaksantunan pragmatik dapat dilihat dari konteks tuturan itu. Konteks tuturan meliputi penutur dan mitra tutur yaitu para mahasiswa PBSID Angkatan 2009

  —2011 Universitas Sanata Dharma, situasi tuturan dapat terjadi di mana saja seperti di laboratorium bahasa, di ada pula serius. Terdapat pula implikatur tambahan berupa tindak verbal yaitu tindak verbal ekspresif dan direktif, tindak perlokusi yaitu mitra tutur merespon penutur dan segera melakukan sesuatu. Secara umum, makna tuturan tidak santun yang menghilangkan muka yaitu mempermalukan mitra tutur di hadapan orang banyak.

4.3.5 Mengancam Muka Sepihak

  Berdasarkan data yang telah didapatkan oleh peneliti sebanyak 76 tuturan yang tidak santun, terdapat 17 tuturan yang termasuk ke dalam ketidaksantunan yang mengancam muka sepihak. Tuturan-tuturan tersebut merupakan tuturan tidak santun yang dituturkan oleh para mahasiswa Program Studi PBSID Angkatan 2009

  —2011 di Universitas Sanata Dharma. Tuturan yang berjumlah 17 itu memiliki penanda ketidaksantunan linguistik dan juga penanda ketidaksantunan pragmatik yang dapat dilihat dari konteks tuturan yang melingkupinya.

  Terkourafi (2008: 3-4) memandang ketidaksantunan sebagai, „impoliteness occurs when the expression used is not conventionalized relative to the context of occurrence; it threatens the addressee‟s face but no face-threatening intention is attributed to the speaker by the hearer.‟ Jadi perilaku berbahasa dalam pandangannya akan dikatakan tidak santun bilamana mitra tutur (addressee) merasakan ancaman terhadap kehilangan muka (face threaten), dan penutur (speaker) tidak mendapatkan maksud ancaman muka itu dari mitra tuturnya. Dengan demikian, mitra tutur mengalami kerugian berupa sebuah ancaman malu dan tersinggung perasaannya atas tuturan penutur, sedangkan penutur tidak memahami bahwa tuturan yang disampaikan telah menyinggung dan memberikan sebuah ancaman yang mempermalukan mitra tuturnya. Contoh:

  (E4) Wes lungguhe neng ngarep ae, manut aku, dong ora!

  (konteks tuturan: tuturan terjadi ketika para mahasiswa sedang menunggu kelas

berikutnya sambil duduk di dalam kelas, ada dua mahasiswa mencari tempat duduk.

  

Suasana kelas gaduh. Mitra tutur ingin duduk di belakang tetapi penutur tidak

memperbolehkan mitra tutur ) (E8) Wes to meneng, ki mumet le nggawe ini lho!

  (konteks tuturan: tuturan terjadi ketika sedang berkumpul di perpustakaan, lima

  

mahasiswa sedang mengerjakan proposal skripsi masing-masing. Beberapa

mahasiwa berbincang dengan serunya. Mitra tutur berbicara dengan keras dan

mengganggu penutur. Penutur berkomentar sinis karena merasa terganggu dengan

suara mitra tutur )

(E11) Asu rung rampung kok! Wes diajak kumpul do gak moro bajigur to

kowe!

  (konteks tuturan: tuturan terjadi ketika di luar kelas. Beberapa mahasiswa duduk-

  

duduk dan berbincang satu sama lain sedang menunggu kelas berikutnya. Suasana

luar kelas gaduh dan santai. Mitra tutur menanyakan tentang laporan PPL yang

merupakan satu kelompok dengan penutur. Penutur dan mitra tutur merupakan

teman akrab. Penutur menanggapi dengan agak emosi )

  (konteks tuturan: tuturan terjadi ketika setelah kuis Penyuntingan selesai, lalu

dilanjut dengan koreksi lembar jawab oleh mahasiswa. Suasana kelas agak gaduh.

  

Penutur dan mitra tutur merupakan teman akrab. Penutur memberikan ancaman

terkait hasil koreksi yang akan dilakukan bagi mitra tutur ) (E16) Lain kali aku gak mau sekelompok lagi sama kamu! Males!

  (konteks tuturan: tuturan terjadi ketika sedang diskusi kelompok di kelas. Suasana

  

dalam kelas tenang dan serius. Dalam kelompok, ada dua mahasiswa yang sibuk

berbincang-bincang sendiri. Penutur dan mitra tutur teman satu kelompok. Mitra

tutur asyik berbincang sendiri. Penutur memperingatkan mitra tutur tetapi tidak

dihiraukannya. Penutur mengungkapkan kekecewaannya )

  Lima tuturan di atas merupakan tuturan yang termasuk ke dalam jenis ketidaksantunan yang mengancam muka sepihak mitra tuturnya. Lima tuturan tersebut merupakan wujud ketidaksantunan linguistik berupa tuturan lisan yang telah ditranskrip. Selain wujud linguistik, kelima tuturan tersebut juga memiliki penanda ketidaksantunan linguistik. Seperti yang dipaparkan Pranowo (2009:76) bahwa aspek penentu kesantunan dalam bahasa verbal lisan antara lain aspek intonasi, aspek nada bicara, faktor pilihan kata dan faktor struktur kalimat. Penanda ketidaksantunan linguistik itu cenderung sama dengan aspek penentu kesantunan bahasa lisan yang meliputi nada, tekanan, intonasi, dan pilihan kata.

  Pembahasan mengenai nada kelima tuturan dapat diuraikan sebagai berikut. Pada tuturan (E4), (E8), (E11), dan (E16) memiliki nada tutur yang tinggi, sedangkan tuturan (E13) memiliki nada tutur yang sedang. Nada tinggi identik dengan tuturan yang dikatakan dengan suara yang keras dan cenderung kasar. Penggunaan nada tinggi ini biasanya terpengaruh dari suasana hati mitra tuturnya yang sedang emosi dan marah. Berbeda dengan nada sedang yang identik dengan tuturan berupa sindiran, biasanya dituturkan ketika suasana hati penutur sedang kesal dan jengkel. Hal ini sejalan dengan pendapat Pranowo (2009:77) bahwa nada bicara penutur selalu berkaitan dengan suasana hati penuturnya. Penggunaan nada yang demikian ini dapat membuat kelima tuturan berpotensi sebagai tuturan yang tidak santun.

  Pembahasan berikutnya mengenai tekanan dan intonasi. Tekanan digunakan dalam sebuah tuturan lisan untuk mengetahui bagian mana dari tuturan yang dipentingkan oleh penuturnya. Hal ini sejalan dengan pendapat Muslich (2008:113) bahwa tidak semua kata dalam kalimat ditekanan sama, hanya kata-kata yang dianggap penting atau dipentingkan yang mendapatkan tekanan. Pada tuturan (E4), (E8), dan (E11) dituturkan dengan tekanan keras. Bagian yang diberi tekanan pada tuturan (E4) yaitu neng ngarep ae, manut aku, dong ora. Pada tuturan (E8) bagian yang dipentingkan yaitu wes to meneng,sedangkan pada tuturan (E11) kalimat asu

  

rung rampung kok, do gak moro, bajigur to kowe merupakan bagian yang

  dipentingkan penutur. Berbeda dengan tuturan (E13) dan (E16) dituturkan dengan tekanan sedang. Pada tuturan (E13) bagian yang ditekankan yaitu elek, tak tuntut

  

kowe, sedangkan pada tuturan (E16) terdapat kalimat gak mau sekelompok sama

kamu, males.

  Selain tekanan, aspek intonasi juga penting digunakan dalam menentukan santun tidaknya sebuah tuturan. Hal ini sejalan pendapat Pranowo (2009:76) bahwa aspek intonasi dalam bahasa lisan sangat menentukan santun tidaknya pemakaian bahasa. Intonasi ditandai dengan intonasi datar turun yang biasa terdapat dalam kalimat berita, intonasi datar naik yang biasa terdapat dalam kalimat tanya, dan intonasi datar tinggi yang biasa terdapat dalam kalimat perintah. Selain itu, intonasi juga berhubungan dengan keras lembutnya suara penutur ketika berujar. Dari kelima tuturan tadi, tuturan (E11), (E13), dan (E16) memiliki intonasi berita yang berpola datar turun. Intonasi berita ini cenderung dituturkan dengan suara yang relatif lembut dan pelan. Walaupun ketiga tuturan tersebut dikatakan dengan suara yang relatif lembut dan pelan, ketiga tuturan itu dikatakan penutur dalam bentuk sindiran dan memaksa. Berbeda dengan tuturan (E4) dan (E8) yang dituturkan oleh penutur dengan intonasi perintah. Intonasi perintah ini cenderung dikatakan dengan suara yang keras dan kasar. Ternyata pada tuturan (E4) dan (E8), selain dituturkan dengan suara yang keras dan kasar juga terdapat semacam paksaan didalamnya.

  Berdasarkan uraian di atas, kelima tuturan dapat dikategorikan sebagai tuturan yang tidak santun. Hal tersebut terlihat dari penggunaan intonasi berita yang lembut tetapi berupa sindiran dan paksaan serta intonasi perintah yang cenderung keras dan kasar dan ada pula paksaan didalamnya. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa nada yang sedang dan tinggi, tekanan yang sedang dan keras, intonasi yang lembut merupakan penanda ketidaksantunan linguistik dalam jenis ketidaksantunan yang mengancam muka sepihak.

  Pembahasan berikutnya mengenai pilihan kata. Menurut Pranowo (2009:16) kesanggupan memilih kata seorang penutur dapat menjadi salah satu penentu santun tidaknya bahasa yang digunakan. Pilihan kata yang dimaksud adalah ketepatan pemakaian kata untuk mengungkapkan makna dan maksud dalam konteks tertentu sehingga menimbulkan efek tertentu pada mitra tutur. Ada beberapa pilihan kata yaitu bahasa nonstandar berupa kata tidak baku, kata fatis, kata seru, dan interferensi ke dalam bahasa Jawa; kata ilmiah dan populer, jargon, kata percakapan, idiom, kata slang, dan bahasa artifisial (Keraf, 1985:104-110).

  Berikut uraian masing-masing pilihan kata kelima tuturan tersebut. Kata nonstandar berupa penggunaan bahasa Jawa dapat ditemukan pada tuturan pada tuturan (E4), (E8), (E11), dan (E13). Pada tuturan (E4) yaitu wes, lungguhe nek,

  

ngarep ae, manut, dong, ora. Pada tuturan (E8) wes, meneng, mumet, nggawe. Pada

  tuturan (E11) yaitu rung rampung kok! Wes diajak kumpul do gak moro to kowe, sedangkan pada tuturan (E13) yaitu nek entuk elek tak tuntut kowe. Adanya bahasa Jawa tersebut menunjukkan kedekatan antara penutur dan mitra tutur. Pada tuturan (E8) dan (E11) terdapat kata fatis yaitu to, ki, le, lho dan kok, to, do. Ada pula kata nonstandar berupa kata tidak baku pada tuturan (E16) yaitu gak, sama, males.

  Selanjutnya, pada tuturan (E11) ditemukan pula pilihan kata jargon berupa umpatan

  Penggunaan pilihan kata nonstandar oleh penutur yang notabene seorang mahasiswa sejalan dengan pendapat Keraf (1985:104) yang mengatakan bahwa kata nonstandar dipergunakan juga oleh kaum terpelajar dalam bersenda gurau, berhumor, atau untuk menyatakan sarkasme atau menyatakan ciri-ciri kedaerahan. Pada tuturan (E11) ditemukan pula kata jargon yang berupa umpatan yaitu asu, bajigur. Adanya penggunaan umpatan pada tuturan (E11) menunjukkan kadar kesantunan yang rendah. Hal ini sejalan dengan pendapat Keraf (1985:107) yang mengatakan bahwa jargon mengandung makna suatu bahasa, dialek, atau tutur yang dianggap kurang sopan atau aneh.

  Penggunaan pilihan kata tersebut dapat dikategorikan sebagai pilihan kata yang tidak santun atau tidak dan pilihan kata itu dapat dikatakan sesuai ataupun tidak manakala kelima tuturan dilihat berdasarkan konteks yang melingkupinya. Dengan adanya konteks itu, pilihan kata akan dapat diidentifikasi dengan jelas, bahkan makna dibalik penggunaan pilihan kata itu pun dapat diketahui dengan jelas. Hal ini sejalan dengan pendapat Rahardi (2011:161) bahwa konteks harus dilibatkan dan diperhitungkan dalam memaknai bahasa, baik bahasa dalam pengertian entitas kebahasaan sebagai elemen, maupun bahasa dalam pengertian umum yang jauh lebih holistik dan lebih luas. Dengan demikian, uraian konteks masing-masing tuturan harus diperjelas. Berikut paparan konteks kelima tuturan tadi berdasarkan pendapat leech (1983) yang mencakup aspek penutur dan lawan tutur, konteks tuturan, tujuan Aspek konteks menurut Leech ini dielaborasikan dengan pendapat Verschueren terkait dimensi konteks.

  Uraian konteks ini merupakan wujud dan penanda ketidaksantunan pragmatik. Hal ini sejalan dengan pendapat Rahardi (2011:1661) bahwa pragmatik adalah studi bahasa yang terikat konteks. Oleh karena itu, konteks dan kajian pragmatik merupakan dua hal yang tak bisa dipisahkan. Adapun konteks tuturan dapat diuraikan mulai dari dimensi penutur dan mitra tutur. Kemila tuturan dituturkan oleh mahasiswa kepada mahasiswa. Hal yang membedakan kelima tuturan itu terkait aspek penutur dan mitra tutur adalah dimensi jenis kelamin, umur, dan tahun angkatan. Tuturan (E11),(E13), dan (E16) penutur dan mitra tutur adalah mahasiswa laki-laki, kecuali untuk tutran (E16) mitra tuturnya dalah mahasiswa perempuan.

  Pada tuturan (E4) dan (E8) penutur dan mitra tuturnya adalah mahasiswa perempuan. Berkaitan dengan dimensi jenis kelamin, bahasa untuk laki-laki cenderung keras, sedangkan bahasa perempuan cenderung lebih lembut (Rahardi, 2011:161). Namun, ternyata dalam tuturan (E4) dan (E8) dapat ditemukan tuturan yang keras sekalipun yang menuturkan adalah perempuan.

  Selanjutnya, dimensi umur biasanya cenderung disesuaikan dengan tahun angkatan. Dalam tuturan (E4), (E8), (E11), dan (E13) penutur dan mitra tuturnya merupakan mahasiswa angkatan 2009 yang berumur 21 tahun, sedangkan (E16) penutur dan mitra tuturnya merupakan mahasiswa angkatan 2011 berumur 19 tahun. mendorong adanya kedekatan tertentu antara penutur dan mitra tuturnya. Dimensi sosial ini seperti yang dipaparkan Verschueren (1998) termasuk pula dimensi solidaritas dan kuasa, atau ketergantungan dan kekuasaan. Penutur seorang mahasiswa bertutur dengan rekan mahasiswa lain lebih terlihat dimensi solidaritas atau ketergantungannya sehingga mereka cenderung berbahasa yang menurut mereka nyaman untuk digunakan seperti bahasa tidak baku, bahasa daerah, bahkan umpatan tertentu.

  Berkaitan dengan dimensi mental penutur dan mitra tutur yang dalam kelima tuturan tadi dituturkan oleh para mahasiswa, cenderung ditemukan kepribadian yang belum cukup matang. Hal tersebut terlihat dalam pertuturan mereka ketika bertutur dengan teman sebaya seperti pada kelima itu. Kelima tuturan itu menunjukkan bahwa para mahasiswa masih cenderung labil dari segi mental bertutur terlebih ketika bertutur dengan teman sebayanya. Pendapat ini sejalan dengan Rahardi (2011:158) bahwa seseorang yang kepribadiannya tidak cukup matang, sehingga terhadap sesuatu yang hadir baru cenderung menentang dan melawan, sekalipun tidak selalu memiliki dasar yang jelas dan tegas, akan sangat mewarnai bentuk kebahasaan yang digunakan di dalam setiap pertutursapaan.

  Lebih lanjut berkaitan dengan dimensi mental adalah mengenai aspek warna emosi. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, nada bicara berkaitan dengan suasana hati. Dalam paparan sebelumnya, dijelaskan bahwa nada tutur pada kelima cenderung memiliki warna emosi buruk, sedang kesal, jengkel, marah, bahkan meledak-ledak, sehingga makna tuturan yang dituturkan berpotensi menimbulkan ketidaknyamanan bagi mitra tuturnya. Hal ini sejalan dengan pendapat Rahardi (2011:159) bahwa seseorang yang memiliki warna emosi dan temperamen tinggi, cenderung berbicara dengan nada dan nuansa makna yang tinggi pula.

  Uraian konteks berikutnya pada tuturan (E4) dipaparkan sebagai berikut. Tuturan terjadi pada tanggal 21 November 2012 pukul 14.50 WIB ketika para mahasiswa sedang menunggu kelas berikutnya sambil duduk di dalam kelas, ada dua mahasiswa mencari tempat duduk. Suasana kelas gaduh. Penutur dan mitra tutur perempuan dan merupakan mahasiswa angkatan 2009 dan teman sekelas yang biasanya duduk bersebelahan. Mitra tutur ingin duduk di belakang tetapi penutur tidak memperbolehkan mitra tutur. Tujuan tutur itu agar mitra tutur mengikuti suruhan penutur. Mitra tutur berbicara biasa dengan penutur tetapi penutur menanggapi dengan suruhan agak sinis dan memaksa yang menunjukkan tindak verbal direktif. Tindak perlokusi untuk tuturan (E4) yaitu penutur berharap agar mitra tutur mengikuti kemauannya untuk duduk di depan.

  Konteks tuturan (E8) diuraikan sevagai berikut. Tuturan terjadi pada tanggal

  23 November 2012 pukul 11.30 WIB ketika sedang berkumpul di perpustakaan, lima mahasiswa sedang mengerjakan proposal skripsi masing-masing. Beberapa mahasiwa berbincang dengan serunya. Penutur dan mitra tutur perempuan merupakan dan mengganggu penutur. Penutur menyuruh dengan sinis karena merasa terganggu dengan suara mitra tutur seperti pada tuturan (E8) yang menunjukkan tindak verbal direktif. Tindak perlokusi untuk tuturan tersebut yaitu penutur berharap agar mitra tutur diam dan tidak menganggu penutur.

  Tuturan (E11) terjadi pada tanggal 28 November 2012 pukul 13.55 WIB ketika di luar kelas. Beberapa mahasiswa duduk-duduk dan berbincang satu sama lain sedang menunggu kelas berikutnya. Suasana luar kelas gaduh dan santai. Mitra tutur menanyakan tentang laporan PPL yang merupakan satu kelompok dengan penutur.

  Penutur dan mitra tutur laki-laki merupakan mahasiswa angkatan 2009. Penutur menjawab pertanyaan dari mitra tutur. Penutur menanggapi dengan sinis dan agak emosi seperti pada tuturan (E11) yang menunjukkan tindak verbal ekspresif. Tindak perlokusi untuk tuturan tersebut yaitu penutur berharap mitra tutur segera menyelesaikan laporan PPL.

  Selanjutnya konteks tuturan (E13). Tuturan terjadi pada tanggal 28 November 2012 pukul 14.20 WIB ketika setelah kuis Penyuntingan selesai, lalu dilanjut dengan koreksi lembar jawab oleh mahasiswa. Suasana kelas agak gaduh. Penutur dan mitra tutur merupakan mahasiswa angkatan 2009. Penutur duduk di belakang mitra tutur.

  Penutur memberikan ancaman terkait hasil koreksi yang akan dilakukan bagi mitra tutur seperti pada tuturan (E13). Tanggapan sinis dengan suara keras penutur menunjukkan tindak verbal ekspresif. Tindak perlokusi untuk tuturan tersebut yaitu

  Berikut dipaparkan mengenai konteks tuturan (E16). Tuturan terjadi pada tanggal 27 November 2012 pukul 14.30 WIB ketika sedang diskusi kelompok di kelas. Suasana dalam kelas tenang dan serius. Penutur dan mitra tutur merupakan mahasiswa angkatan 2011 dan teman satu kelompok. Mitra tutur asyik berbincang sendiri. Penutur memperingatkan mitra tutur tetapi tidak dihiraukannya. Penutur mengungkapkan kekecewaannya dengan sinis seperti pada tuturan (E16) yang menunjukkan tindak verbal ekspresif. Tindak perlokusi untuk tuturan tersebut yaitu penutur berharap mitra tutur sadar akan tingkahnya dan meminta maaf kepada penutur.

  Berdasarkan uraian konteks masing-masing dari lima tuturan di atas, dapat membantu menguraikan pilihan kata dan juga makna yang terkandung di dalam setiap tuturan itu. Pada tuturan (E4) terdapat pilihan kata manut aku, dong ora yang dituturkan oleh mahasiwa perempuan kepada temannya ketika sedang mencari tempat duduk. Tuturan (E4) itu cenderung dikatakan dengan suruhan yang memaksa mitra tuturnya untuk mengikuti penutur. Mitra tutur seolah mendapat sebuah ancaman dari penutur seperti pada tuturan (E4) itu. Pada tuturan (E8) terdapat pilihan kata wes to

  

meneng yang dituturkan oleh penutur ketika sedang mengerjakan proposal skripsi di

  perpustakaan. Penutur mengatakan tuturan (E8) dengan nada keras dan penekanan kata meneng kepada mitra tuturnya. Peringatan dari penutur itu seolah mitra tutur diberikan ancaman agar segera diam.

  Selanjutnya pada tuturan (E11) dituturkan dengan pilihan kata asu rung

  

rampung, do gak moro, bajigur to kowe dikatakan penutur ketika mitra tutur bertanya

  padanya. Dengan suasana hati penutur yang sedang kesal dan marah, dia serta merta mengumpat mitra tuturnya dengan kata asu dan bajigur itu. Pilihan kata dengan umpatan itu selain terdengar keras dan kasar juga memiliki kesantunan yang rendah. selain itu, tuturan (E11) terasa seperti mengancam mitra tuturnya yang tidak ikut berkumpul mengerjakan laopran PPL. Berikutnya pada tuturan (E13) dituturkan dengan pilihan kata entuk elek tak tuntut kowe dituturkan penutur ketika hasil kuis akan dikoreksi oleh mitra tutur. Tuturan (E13) itu menunjukkan secara jelas sebuah ancaman bagi mitra tuturnya yang akan mengoreksi hasil kuis penutur. Pada tuturan (E16) terlihat penggunaan kata gak mau sama kamu, males yang dituturkan penutur ketika mitra tuturnya tidak bisa diperingatkan. Tuturan (E16) itu sebagai peringatan dan seolah seperti ancaman bagi mitra tutur bahwa penutur tidak akan bersedia untuk satu kelompok dengannya lagi.

  Pembahasan berikutnya mengenai makna dari masing-masing tuturan itu. Seperti yang telah dipaparkan bahwa konsep ketidaksantunan berbahasa yang mengancam muka bilamana mitra tutur mendapat ancaman dari penuturnya. Dari uraian sebelumnya, kelima tuturan itu cenderung mengarah pada sebuah tuturan yang menyuruh atau memerintah. Selain itu, tuturan menunjukkan adanya sebuah ancaman keterpojokan bagi mitra tuturnya. Tuturan (E4) memiliki makna berupa ancaman bagian depan. Tuturan (E8) memiliki makna berupa ekspresi ancaman suruhan dari penutur pada mitra tutur agar diam dan tidak berisik. Tuturan (E11) memiliki makna berupa ekspresi ancaman dari kemarahan penutur karena mitra tutur menunda-nunda dalam penyelesaian laporan PPL. Tuturan (E13) memiliki makna berupa ancaman peringatan dan ancaman dari penutur karena mitra tutur yang akan mengoreksi hasil kerjanya. Tuturan (E16) memiliki makna berupa ancaman dari kekesalan penutur karena mitra tutur tidak menghiraukan peringatan penutur.

  Berdasarkan uraian konteks masing-masing tuturan telah menunjukkan bahwa kelima tuturan itu tergolong dalam ketidaksantunan yang mengancam muka sepihak.

  Hal ini diperkuat dengan adanya pilihan kata dari setiap tuturan berpotensi untuk memberikan ancaman bagi mitra tuturnya. Hal ini sejalan dengan pendapat Terkourafi (2008: 3-4) memandang ketidaksantunan sebagai,

  „impoliteness occurs

when the expression used is not conventionalized relative to the context of

occurrence; it threatens the addressee‟s face but no face-threatening intention is

attributed to the speaker by the hearer.‟ Jadi perilaku berbahasa dalam pandangannya

  akan dikatakan sebagai perilaku berbahasa yang tidak santun bilamana mitra tutur merasakan ancaman terhadap ancaman kehilangan muka dari penutur, dan penutur tidak mendapatkan maksud ancaman muka itu dari mitra tuturnya. Hal tersebut dapat dijelaskan pula berdasarkan uraian dari penanda ketidaksantunan linguistik dan pragmatik yang telah dipaparkan sebelumnya.

  Seperti yang telah dipaparkan, penanda ketidaksantunan linguistik dapat sedang dan keras, intonasi yang dipakai berupa intonasi berita yang dituturkan dengan suara lembut berupa sindiran dan intonasi perintah yang dituturkan dengan suara keras serta pilihan kata yang tidak sesuai, kata nonstandar, dan kata jargon berupa umpatan. Sementara itu, penanda ketidaksantunan pragmatik dapat dilihat dari konteks tuturan itu. Konteks tuturan meliputi penutur dan mitra tutur yaitu para mahasiswa PBSID Angkatan 2009/2011 Universitas Sanata Dharma, situasi tuturan dapat terjadi di mana saja seperti di dalam kelas, di luar kelas dan di perpustakaan dengan suasana yang cenderung tegang dan serius. Terdapat pula implikatur tambahan berupa tindak verbal yaitu tindak verbal ekspresif dan direktif, tindak perlokusi yaitu mitra tutur melakukan yang diminta penutur dengan terpaksa. Secara umum, makna tuturan tidak santun yang mengancam muka sepihak yaitu memberikan ancaman atau tekanan sehingga menimbulkan keterpojokan bagi mitra tuturnya.

BAB V PENUTUP Dalam bab ini akan diuraikan dua hal, yaitu (1) simpulan dan (2) saran. Simpulan meliputi rangkuman atas keseluruhan penelitian ini. Saran meliputi hal-

  hal relevan yang kiranya perlu diperhatikan, baik untuk mahasiswa jurusan pendidikan bahasa maupun penelitian lanjutan.

5.1. Simpulan

  Dari hasil analisis data ditemukan tuturan yang tidak santun dalam interaksi antarmahasiswa Program Studi PBSID Angkatan 2009 —2011

  Universitas Sanata Dharma. Simpulan hasil analisis dapat dikemukakan sebagai berikut.

1. Wujud Ketidaksantunan Linguistik dan Pragmatik

  Wujud ketidaksantunan linguistik yang ditemukan antarmahasiswa Program Studi PBSID Angkatan 2009

  —2011 Universitas Sanata Dharma berupa tuturan lisan yang tidak santun yakni tuturan yang melecehkan muka, memain-mainkan muka, kesembronoan yang disengaja, menghilangkan muka, dan mengancam muka sepihak, sedangkan wujud ketidaksantunan pragmatiknya berupa uraian konteks yang melingkupi tuturan itu yakni penutur dan mitra tutur, situasi dan suasana, tujuan tutur, tindak verbal, dan tindak perlokusi.

1. Penanda Ketidaksantunan Linguistik

  Penanda ketidaksantunan linguistik yang ditemukan berupa nada, tekanan, intonasi, dan diksi yang dapat diuraikan dalam masing-masing jenis ketidaksantunan berbahasa sebagai berikut.

  a.

  Melecehkan muka Tuturan yang melecehkan muka ditandai dengan nada tutur sedang dan tinggi; tekanan sedang; intonasi berita, intonasi tanya, dan intonasi perintah; serta diksi bahasa nonstandar.

  b.

  Memain-mainkan muka Tuturan yang memain-mainkan muka ditandai dengan nada tutur dan tekanan yang sedang; intonasi berita dan intonasi tanya; serta diksi bahasa nonstandar.

  c.

  Kesembronoan yang disengaja Tuturan yang termasuk dalam kesembrononan yang disengaja ditandai dengan nada tutur rendah dan sedang; tekanan sedang; intonasi berita dan intonasi tanya; serta diksi bahasa nonstandar.

  d.

  Menghilangkan muka Tuturan yang menghilangkan muka ditandai dengan nada tutur sedang dan tinggi; tekanan sedang dan keras; intonasi berita, intonasi tanya, dan intonasi perintah; serta diksi bahasa nonstandar. e.

  Mengancam muka sepihak Tuturan yang mengancam muka sepihak ditandai dengan nada tutur sedang dan tinggi; tekanan sedang dan keras; intonasi intonasi berita, intonasi tanya, dan intonasi perintah; serta diksi bahasa nonstandar.

  3. Penanda Ketidaksantunan Pragmatik Penanda ketidaksantunan pragmatik dapat dilihat berdasarkan konteks tuturan berupa penutur dan mitra tutur, situasi dan suasana, tindak verbal, dan tindak perlokusi. Adapun penutur dan mitra tutur yaitu antarmahasiswa Program Studi PBSID Angkatan 2009

  —2011 Universitas Sanata Dharma, situasi terjadinya dapat terjadi di mana saja seperti di kelas, depan kelas, laboratorium bahasa, perpustakaan dll, sedangkan uraian konteks berikutnya diuraikan dalam masing-masing jenis ketidaksantunan sebagai berikut.

  a.

  Melecehkan muka Tuturan terjadi dengan suasana yang cenderung santai dan ada pula yang serius. Tindak verbal dalam tuturan yang melecehkan muka berupa tindak verbal ekspresif dan direktif, sedangkan tindak perlokusi yaitu agar mitra tutur merespon tuturan dari penutur. b.

  Memain-mainkan muka Tuturan terjadi dengan suasana yang cenderung santai dan ada pula yang serius. Tindak verbal dalam tuturan yang memain- mainkan muka berupa tindak verbal ekspresif dan direktif, sedangkan tindak perlokusi yaitu agar mitra tutur memberikan penjelasan atas tuturan penutur.

  c.

  Kesembronoan yang disengaja Tuturan terjadi dengan suasana yang cenderung santai. Tindak verbal dalam tuturan yang sembrono berupa tindak verbal ekspresif, sedangkan tindak perlokusi yaitu agar mitra tutur terhibur.

  d.

  Menghilangkan muka Tuturan terjadi dengan suasana yang cenderung santai dan ada pula yang serius. Tindak verbal dalam tuturan yang menghilangkan muka berupa tindak verbal ekspresif dan direktif, sedangkan tindak perlokusi yaitu agar mitra tutur merespon tuturan dari penutur.

  e.

  Mengancam muka sepihak Tuturan terjadi dengan suasana yang cenderung tegang dan serius.

  Tindak verbal dalam tuturan yang mengancam muka berupa tindak verbal ekspresif dan direktif, sedangkan tindak perlokusi yaitu agar melakukan apa yang diminta penutur walau dengan terpaksa dan di bawah tekanan.

  4. Makna Ketidaksantunan Linguistik dan Pragmatik Ketidaksantunan berbahasa tidak hanya dilihat dari penanda linguistik dan didukung dengan penanda pragmatiknya namun lebih dari itu makna yang melingkupi tuturan tersebut juga memengaruhi santun tidaknya tuturan tersebut. Makna ketidaksantunan dari masing-masing jenis ketidaksantunan tersebut diuraikan sebagai berikut.

  a.

  Makna ketidaksantunan melecehkan muka adalah penutur menyindir, mengejek, menghina dan melukai hati mitra tutur.

  b.

  Makna ketidaksantunan memainkan muka adalah penutur membuat jengkel dan bingung mitra tuturnya dengan tingkah penutur yang tidak seperti biasanya.

  c.

  Makna ketidaksantunan kesembronoan yang disengaja adalah penutur bercanda sehingga mitra tutur terhibur namun candaan tersebut dapat menimbulkan konflik apabila candaan tersebut berlebihan dan ditanggapi pula oleh mitra tuturnya secara berlebihan.

  d.

  Makna ketidaksantunan menghilangkan muka adalah penutur mempermalukan mitra tutur di depan banyak orang.

  e.

  Makna ketidaksantunan mengancam muka adalah penutur memberikan ancaman atau tekanan kepada mitra tutur yang menyebabkan mitra tutur

5.1. Saran

  Berdasarkan hasil temuan dalam penelitian ini, peneliti memberikan beberapa saran bagi peneliti yang ingin melanjutkan penelitian yang sejenis. Saran tersebut sebagai berikut.

1. Bagi Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa

  Fenomena ketidaksantunan berbahasa merupakan fenomena baru dalam kajian ilmu pragmatik. Dengan hasil penelitian yang telah diuraikan, sebagai mahasiswa PBSID yang mempelajari ilmu bahasa termasuk pragmatik seharusnya dapat menghindari penggunaan bahasa yang tidak santun baik dengan rekan mahasiswa maupun dengan orang lain. Lebih dari itu, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai acuan atau gambaran umum mengenai bentuk ketidaksantunan berbahasa itu sehingga dengan adanya acuan ketidaksantunan berbahasa para mahasiswa dapat mengurangi bahkan menghindari bertutur yang tidak santun, sebaliknya dapat bersikap dan berperilaku yang santun dengan rekan mahasiswa dan orang lain. Mahasiswa PBSID berikutnya juga dapat mengembangkan penelitian sejenis ini dengan karakteristik analisis yang berbeda agar penelitian ketidaksantunan berbahasa ini dapat menjadi lebih baik.

  2. Bagi Penelitian Lanjutan a.

  Penelitian ini hanya meneliti ketidaksantunan berbahasa linguistik dan pragmatik lingkup pendidikan saja. Bagi peneliti lain, dalam penelitian dikembangkan lebih lanjut agar menjadi lebih baik dengan subjek dan ranah yang berbeda seperti ranah keluarga, agama, pedagang, perusahaan, pabrik dan lain-lain.

  b.

  Intrumen dalam penelitian ini masih dirasa peneliti sebagai instrumen yang kaku, sehingga untuk peneliti selanjutnya dapat mengembangkan instrumen yang lebih luwes dan tidak kaku seperti angket, kuisioner dll.

  c.

  Faktor kedekatan penutur dan mitra tutur, sebaiknya juga diteliti lebih dalam lagi untuk memperdalam pemahaman ketidaksantunan.

  d.

  Selain bidang ilmu pragmatik, data tuturan yang dianalisis dari segi wujud, penanda, dan makna ketidaksantunan berbahasa linguistik dan pragmatik dapat dianalisis pula dari beberapa bidang ilmu lain seperti Psikologi, Sosiologi, dan Etnografi.

  e.

  Penelitian ini hanya sebatas analisis mengenai wujud, penanda, dan makna ketidaksantunan berbahasa. Oleh sebab itu, untuk peneliti selanjutnya dapat memperdalam konsep ketidaksantunan ini mengenai cara-cara penyampaian tuturan dari masing-masing jenis ketidaksantunan itu.

DAFTAR PUSTAKA

  Anugraheni, Weny. 2011. Jenis Kesantunan dan Penyimpangan Maksim

  Kesantunan dalam Tuturan Imperatif Guru kepada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Pringsurat Temanggung dalam Mata Pelajaran Bahasa

Indonesia . Skripsi S1. PBSID. Yogyakarta: USD. Tidak Diterbitkan.

  Austin, J.L.1962. How to do things with words. Cambridge, Mass: Harvard University Press

  Bousfield, Derek dan Miriam A. Locher. 2008. Impoliteness in Language. New York: Mouton de Gruyter. Chaer, Abdul. 2011. Tata Bahasa Praktis Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta. Ihromi. 1994. Pokok-pokok Antropologi Budaya. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Keraf, Gorys. 1981. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: PT Gramedia. __________.1985. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: PT Gramedia. Kusumastuti, Ayuningtyas. 2010. Kesantunan Berbahasa Indonesia Pembawa

  Acara Stasiun Televisi Swasta Nasional. Skripsi S1. PBSID. Yogyakarta: USD. Tidak Diterbitkan.

  Leech, Geoffrey. 1993. Prinsip-prinsip Pragmatik. Jakarta: Universitas Indonesia. _____________. 1983. Principles of Pragmatics. London and New York: Longman.

  Levinson, Stephen C. 1983. Pragmatics. Cambridge: Cambridge University Press. Lubis, Syaron dan Baren Umar Siregar.1985. Pengantar Linguistik Umum.

  Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pembinaan dan Kebudayaan

  Mahsun. 2005. Metode Penelitian Bahasa Tahapan Atrategi, Metode, dan Tekniknya. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Moleong, Lexy J. 2006. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Muslich, Masnur. 2008. Fonologi Bahasa Indonesia: Tinjauan Deskriptif Sistem Bunyi Bahasa Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara.

  Pranowo. 2009. Kesantunan Berbahasa Tokoh Masyarakat Ditinjau Dari Aspek Pragmatik . Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma. Purwo, Bambang Kaswanti. 1993. PELBA 6: Pertemuan Linguistik Lembaga Bahasa Atma Jaya Keenam. Yogyakarta: Kanisius. ______________________. 1994. PELBA 7: Pertemuan Linguistik Lembaga Bahasa Atma Jaya Ketujuh. Yogyakarta: Kanisius. Rahardi, Kunjana. 2010. Dimensi-dimensi Kebahasaan Aneka Masalah Bahasa Indonesia Terkini. Jakarta: Erlangga. ______________. 2009. Sosiopragmatik. Jakarta: Erlangga. ______________. 2007. Berkenalan dengan Ilmu Bahasa Pragmatik. Malang: Dioma. ______________. 2005. Pragmatik: Kesantunan Imperatif Bahasa Indonesia.

  Jakarta: Erlangga. ______________. 2001. Sosiolinguistik, Kode, dan Alih Kode. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

  ______________. 1999. Imperatif dalam Bahasa Indonesia: Penanda-penanda Kesantunan Linguistik. Disertasi S3. Yogyakarta: UGM. Sahid, Rahmat. 2011. Analisis data Penelitian Kualitatif Model Miles dan

  Huberman Pendidikan dan Guru , (online),

  

  sember 2012).

  Sembiring, Oratna. 2011. Bentuk-bentuk Tindak Tutur Imperatif dan Penanda Kesantunan Berbahasa Indonesia . Skripsi S1. PBSID. Yogyakarta: USD.

  Tidak Diterbitkan. Subagyo, Ari P. 2009. Peneroka Hakikat Bahasa. Yogyakarta: USD. Sudaryanto. 1995. Metode Linguistik ke Arah Memahami Metode Linguistik.

  Yogyakarta: Gajah Mada University Press. Verschueren, Jef. 1998. Understanding Pragmatics. New York: Oxford University Press Inc.

  Widianto, Bambang dan Iwan Meulia Pirous. 2009. Perspektif Budaya. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.

  Wijana, I Dewa Putu dan Muhammad Rohmadi. 2011. Analisis Wacana Pragmatik, Kajian Teori dan Analisis. Yogyakarta: Yuma Pustaka. Yule, George. 1996. Pragmatics. Oxford: Oxford University Press. ___________. 2006. Pragmatik (terj.). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

KORPUS DATA DAN TABULASI DATA KETIDAKSANTUNAN BERBAHASA YANG MELECEHKAN MUKA

NO. TUTURAN KODE PENANDA KETIDAKSANTUNAN PERSEPSI KETIDAKSANTUNAN

  Tindak perlokusi: mt tidak mengagetkan pt

  Tujuan: Penutur menyindir MT karena MT mendapat nilai yang lebih bagus

  Penutur dan MT perempuan Angkatan 2011 berumur 19 tahun

  Tuturan terjadi di depan ruang K30 pukul 12.45 WIB tanggal 20 November 2012

  Penutur memberitahu nilai yang jelek pada MT Melecehkan muka

  Saat jeda kuliah, beberapa mahasiswa perempuan berbincang sambil berdiri di depan kelas K30

  Nada tutur: sedang (sinis, sindiran) Tekanan: sedang Pilihan kata: kata nonstandar yaitu penggunaan kata tidak baku: dapet, penggunaan kata fatis: kok; kata jargon yaitu penggunaan

  Intonasi perintah (tinggi) dengan tangan kanan mengepal

  (A2)

  Linguistik.. dapet C aku, asem kok! (sambil mengepalkan tangan dan melihat ke arah

  2. Cuplikan Tuturan 2 M1: eh aku tadi ketemu pak wid, semester kemaren aku dikasih B lho mata kuliah linguistik hehee. M2: Kamu dapet B

  211

  INFORMASI INDEKSAL LINGUAL NONLINGUAL (Topik dan Situasi)

  Tujuan: Penutur marah karena MT mengagetkannya

  Penutur laki-laki, MT perempuan Angkatan 2011 berumur 19 tahun

  Tuturan terjadi di depan ruang K30 pukul 12.45 WIB tanggal 20 November 2012

  MT Melecehkan muka

  Datang MT mengagetkan penutur Secara serta merta penutur menanggapi kasar

  Saat jeda kuliah, salah satu mahasiswa duduk di depan kelas sambil membaca buku, suasana ramai, santai

  (jengkel, marah) Pilihan kata: nonstandar yaitu penggunaan interferensi ke dalam bahasa jawa: kowe; jargon yaitu penggunaan umpatan: asu

  Intonasi perintah (tinggi) Tekanan: sedang Nada tutur: tinggi

  (A1)

  M2: Asu kowe! M1: yaa biasa ajaa… M2: kaget aku…

  badan mahasiswa 2 )

  1. Cuplikan Tuturan 1 M1: dooooooooorrrr (sambil memegang

  Tindak verbal: ekspresif (jengkel)

KORPUS DATA DAN TABULASI DATA KETIDAKSANTUNAN BERBAHASA YANG MELECEHKAN MUKA

  4. Cuplikan Tuturan 4 D1: ooh jadi pacarmu tu Aziz namanya? Ini ada tulisannya di handoutmu. Diberi love-love lagi. M1: bukan pak.. itu yang nulis bukan saya… M2: hehee maaf ya..

  Tindak ilokusi: mt tidak

  Tindak verbal:ekspresif (kesal)

  Tujuan: Penutur mengejek MT yang memiliki kebiasaan buruk

  20 November 2012 Penutur dan MT perempuan berumur 20 tahun mahasiswa Angkatan 2010

  K303 pukul 14. 25 WIB

  Melecehkan muka Tuturan terjadi di ruang

  Dosen menggoda mahasiswa tersebut, suasana gaduh penutur berkata kepada MT dengan kesal

  fatis: tu, kan Saat setelah kuis berlangsung, dosen mengambil handout salah satu mahasiswa yang di dalam handout tersebut terdapat tulisan mahasiswa.

  aah; penggunaan kata

  (jengkel, kecewa) Tekanan: sedang Pilihan kata: kata nonstandar yaitu penggunaan kata seru:

  Intonasi berita Nada tutur: tinggi

  (A4)

  M1: Aah tu kan kamu

  212 M1)

  M3: lhah aku juga dapet C kok umpatan: asem

  Tujuan: Penutur menanggapi MT Tindak verbal: direktif

  Penutur dan MT laki-laki Angkatan 2010 berumur 20 tahun

  K303 pukul 14.00 WIB 20 November 2012

  Melecehkan muka Tuturan terjadi di ruang

  Penutur menanggapi sinis MT

  Salah satu mahasiswa menanyakan soal dicatat atau tidak

  Saat perkuliahan psikolonguistik berlangsung, diadakan kuis, suasana tenang, serius. Dosen membacakan soal, para mahasiswa mencatat soal

  Intonasi perintah Nada tutur: sedang (sinis, sindiran) Tekanan : sedang Pilihan kata: kata nonstandar yaitu penggunaan kata tidak baku: enggak

  dimakan! (A3)

  M2: Enggak,

  melihat dosen membacakan soal kuis )

  3. Cuplikan Tuturan 3 M1: eh pak, ini soalnya ditulis pak? (sambil

  Tindak perlokusi: Mt tidak menyombongkan nilainya

  Tindak verbal: ekspresif (jengkel)

  (sinis) Tindak perlokusi: mt mencatat soal kuis

KORPUS DATA DAN TABULASI DATA KETIDAKSANTUNAN BERBAHASA YANG MELECEHKAN MUKA

  menunjukkan proposal skripsi )

  Tujuan: Penutur menghina Mt yang sedang

  Penutur (21th) dan MT laki-laki (22th) mahasiswa Angkatan 2009

  13.10 WIB 22 November 2012

  Melecehkan muka Tuturan terjadi di depan secretariat PBSID pukul

  Datang mahasiswa angkatan 2009 (pt), dengan suasana agak

  Saat duduk di depan sekre, seorang mahasiswa angkatan 2009 (mt) memegang proposal skripsi dan sedang menunggu dosen pembimbing

  wes, kowe

  interferensi bahasa jawa:

  wiih; penggunaan

  (sindiran) Tekanan: sedang Pilihan kata: kata nonstandar yaitu penggunaan kata seru:

  Intonasi Tanya Nada tutur: sedang

  pendadaran kowe? (A6)

  M1: Wiih, jati wes

  213 kebiasaan!

  mengulanginya lagi 5.

  Tindak verbal: direktif Tindak perlokusi: mt lebih bersabar

  Tujuan: Penutur menanggapi MT yang mendesaknya

  Penutur perempuan dan MT laki-laki mahasiswa Angkatan 2010 berumur 20 tahun

  K303 pukul 14.55 WIB 20 November 2012

  Melecehkan muka Tuturan terjadi di ruang

  MT bertanya berkali-kali pada penutur Penutur merasa jengkel dengan MT

  Penutur sedang mempersiapkan hal-hal yang akan disampaikan

  Saat setelah perkuliahan psikolinguistik berakhir, beberapa mahasiswa memberikan pengumuman mengenai lomba bulan bahasa, suasana agak gaduh, santai

  (jengkel, kecewa) Tekanan: sedang Pilihan kata: kata nonstandar yaitu penggunaan kata tidak baku: mau, dijelasin; penggunaan kata fatis: too

  Intonasi perintah Nada tutur: tinggi

  baru mau dijelasin! (A5)

  M1: dike.. sekalian dijelasin syarat lombanya.. dik.. dike sekalian syarat lombanya dijelasin ke temen-temen biar jelas M2: Sebentar to, ini

  Cuplikan Tuturan 5

  6. Cuplikan 6 M1: hey bro, gek ngopo e kamu? M2: biasalaah.. (sambil

KORPUS DATA DAN TABULASI DATA KETIDAKSANTUNAN BERBAHASA YANG MELECEHKAN MUKA

  Tindak verbal: direktif Tindak perlokusi: mt menjawab yang benar

  ) dan MT perempuan ( 21 th) mahasiswa Angkatan 2009

  th

  Penutur (20

  Tuturan terjadi di ruang K22 pukul 14.55 WIB tanggal 24 november 2012

  Datang MT dengan tergopoh-gopoh dan Melecehkan muka

  Saat menunggu kelas berikutnya, para mahasiswa berbincang- bincang di dalam kelas, suasana gaduh

  (sindiran) Tekanan: lemah Pilihan kata: kata nonstandar yaitu penggunaan kata fatis:

  Intonasi Tanya Nada tutur: sedang

  keringetan, gak (A8)

  M2: Kok kamu

  mencari tempat duduk )

  (tergopoh-gopoh

  8. Cuplikan Tuturan 8 M1: duh capeknya..

  214

  gaduh dan santai Pt belum mengambil mata kuliah skripsi PT dan Mt pernah dalam satu kepanitiaan Penutur bertanya dan menggoda MT menunggu dosen pembimbing

  Penutur dan MT perempuan berumur 19 tahun mahasiswa Angkatan 2011

  13.15 WIB tanggal 21 November 2012

  Tuturan terjadi di ruang laboratorium bahasa pukul

  MT cara menjawab yang benar dengan suara keras Melecehkan muka

  MT Penutur memberi tahu

  Suasana serius, tenang MT menjawab sekenanya panggilan dosen Penutur duduk di depan

  kata fatis: tu Saat perkuliahan menyimak di lab bahasa, dosen memanggil nama salah satu mahasiswa.

  masak, gitu; penggunaan

  (sindiran) Tekanan: sedang Pilihan kata: nonstandar yaitu penggunaan kata tidak baku: kalo, bener,

  Intonasi Tanya Nada tutur: sedang

  masak apa, apa itu? (A7)

  M2: Kalo jawab tu yang bener, iyaa gitu..

  7. Cuplikan Tuturan 7 D1: stela… stela mana? M1: eh apa bu? Saya..

  Tindak verbal: ekpresif Tindak perlokusi: mt tidak menyombongkan diri

  Tujuan: Penutur memperingatkan MT untuk menjawab panggilan dosen dengan benar

KORPUS DATA DAN TABULASI DATA KETIDAKSANTUNAN BERBAHASA YANG MELECEHKAN MUKA

  Penutur berkomentar kepada MT Melecehkan muka

  Penutur dan MT perempuan (21th) mahasiswa Angkatan

  Melecehkan muka Tuturan terjadi di perpustakaan ruang diskusi USD tanggal 23 November 2012

  Saat sedang berkumpul di perpustakaan, lima mahasiswa sedang mengerjakan proposal skripsi masing-masing. Beberapa mahasiwa berbincang dengan

  (jengkel, kecewa) Tekanan: sedang Pilihan kata: kata nonstandar yaitu penggunaan kata fatis:

  Intonasi berita Nada tutur: tinggi

  kok pie, munyuk ki! (A10)

  10. Cuplikan Tuturan 10 M1: eh kalo kalian ngomong gak santun nanti aku catet lho… M2: Woo, asem dicatet

  Tindak verbal: ekspresif Tindak perlokusi: mt mengganti kacamata atau memakai softlens

  Tujuan: Penutur mengejek MT yang sering memakai kacamata

  Penutur (21th) dan MT perempuan (21th) mahasiswa Angkatan 2009

  Tuturan terjadi di ruang K22 pukul 14.50 WIB tanggal 21 November 2012

  215 dijemput cowokmu po? kok, po; penggunaan kata

  tidak baku: gak bercucuran keringat Penutur bertanya kepada

  enggunaan kata tidak baku: gara-gara Saat menunggu kelas berikutnya, para mahasiswa berbincang- bincang di dalam kelas, suasana gaduh

  p

  Intonasi berita Nada tutur: sedang Tekanan: lemah Pilihan kata: kata nonstandar penggunaan kata fatis: lhoo;

  (A9)

  M2: itu ngejek ato ngepaske? M1: ngepaske hehehe

  hidungmu bisa pesek lhoo gara-gara kacamata.

  9. Cuplikan Tuturan 9 M1: Itu lama-lama

  Mt tertawa dengan godaan pt

  Tindak verbal: ekspresif Tindak perlokusi:

  Tujuan: Penutur mengejek MT yang datang tergopoh- gopoh

  MT dengan maksud menyindir karena penutur tahu bahwa MT tidak memiliki pacar

  MT lewat di depan penutur MT merupakan mahasiswa yang sering menggunakan kacamata karena matanya minus dan memiliki hidung yang kurang mancung

KORPUS DATA DAN TABULASI DATA KETIDAKSANTUNAN BERBAHASA YANG MELECEHKAN MUKA

  Melecehkan muka Tuturan terjadi di realino

  Tujuan: Penutur mengejek MT yang baru saja potong rambut

  Penutur dan MT perempuan (21th) mahasiswa Angkatan 2009

  Melecehkan muka Tuturan terjadi di depan ruang K22 tanggal 22 november 2012

  Penutur tahu bahwa MT baru saja memakai behel dan memotong rambutnya

  Penutur melihat dari jauh MT datang

  interferensi ke dalam bahasa jawa: kae, Suasana jeda kuliah, sedang menunggu kelas berikutnya, beberapa mahasiswa berbincang- bincang

  lhoo; penggunaan

  (sindiran) Tekanan: sedang Pilihan kata: kata nonstandar yaitu penggunaan kata fatis:

  Intonasi berita Nada tutur: sedang

  (A12)

  munyuke potong rambut. (sambil melihat mitra tutur yang menghampirinya

  12. Cuplikan Tuturan 12 M1: sopo to sik potong rambut? M2: hoo, sopo to? M3: Kae lhoo

  Tujuan: Penutur mengejek kedatangan MT Tindak verbal: direktif Tindak perlokusi: mt merespon pt

  USD tanggal 22 november 2012 Penutur dan MT perempuan (22th) mahasiswa Angkatan 2009

  216

  M1: makanya ati-ati kalo ngomong

  Suasana ketika beebrapa mahasiswa PBSID angkatan 2009 berkumpul di realino lalu bertemu dengan rekan mahasiswa PBSID yang lain,

  ngopo kowe ndadak mangkat wes pinter rasah mlebu wae

  (sindiran) Tekanan: sedang Pilihan kata: kata nonstandar yaitu penggunaan interferensi ke dalam bahasa jawa:

  Intonasi perintah Nada tutur: sedang

  (A11)

  M1: weh yoo rapopo to dolan kene.

  ndadak mangkat, wes pinter rasah mlebu wae!

  11. Cuplikan Tuturan 11 M1: gek ngopo e kowe? M2: Ngopo sur kowe

  MT yang mencatat tuturan tidak santunnya Tindak verbal: ekspresif Tindak perlokusi: mt tidak mencatat omongan pt

  2009 Tujuan: Penutur mengejek

  Penutur mengetahui dan berkomentar pedas kepada MT

  MT mencatat obrolan penutur untuk melengkapi data skripsi

  interferensi dalam bahasa jawa: dicatet, pie; kata jargon yaitu penggunaan umpatan: asem, munyuk serunya

  kok, woo, ki; penggunaan

  MT menghampiri penutur Penutur tahu bahwa MT termasuk mahasiswa dengan IP tinggi

KORPUS DATA DAN TABULASI DATA KETIDAKSANTUNAN BERBAHASA YANG MELECEHKAN MUKA

  14. Cuplikan Tuturan 14 M1: tujuh puluh pak (suara tidak terlalu

  Tujuan: penutur menyindir cara bicara MT

  Penutur laki-laki dan MT perempuan (21th) mahasiswa angkatan 2009

  WIB tanggal 28 november 2012

  Melecehkan muka Tuturan terjadi di depan ruang K21 pukul 14.25

  Penutur tahu bahwa MT baru beberapa waktu menggunakan behel

  Saat setelah kuis penyuntingan selesai, lalu dilanjut dengan koreksi lembar jawab oleh mahasiswa, suasana agak gaduh

  (sindiran) Tekanan: lemah Pilihan kata: kata nonstrandar yaitu penggunaan kata fatis: ki; penggunaan kata tidak baku: nek, kayak

  Intonasi perintah Nada tutur: sedang

  jangan kayak orang kumur-kumur! (A14)

  M2: Nek ngomong ki

  jelas karena memakai behel )

  217 tanpa berkomentar kepada penutur) munyuke sehingga penutur

  berkomentar pedas Tindak verbal:ekspresif Tindak perlokusi: mt merasa diperhatikan dan merespon pt

  ) mahasiswa angkatan 2009 Tujuan: penutur mengungkapkan kekecewaannya kepada MT

  th

  Penutur laki-laki (21th) dan MT perempuan (20

  WIB tanggal 28 november 2012

  Melecehkan muka Tuturan terjadi di depan ruang K21 pukul 14.05

  MT tidak bisa mengabulkan permintaan penutur hingga penutur berkata pedas dengan suara keras

  Suasana setelah kuis penyuntingan, lalu dilanjutkan dengan koreksi lembar jawab. Beberapa mahasiswa berbincang, situasi agak gaduh penutur dan MT merupakan teman akrab penutur meminta pulsa kepada MT

  ahh

  (jengkel, kecewa) Tekanan: sedang Pilihan kata: kata nonstandar yaitu penggunaan kata fatis:

  Intonasi berita Nada tutur: tinggi

  (A13)

  13. Cuplikan Tuturan 13 M1: Cil, isiin pulsaku donk.. M2: duh aku gek gak punya saldo pulsa dit M1: Aah pelit kamu!

  Tindak verbal: ekspresif Tindak perlokusi: mt mengabulkan permintaan pt

KORPUS DATA DAN TABULASI DATA KETIDAKSANTUNAN BERBAHASA YANG MELECEHKAN MUKA

  Saat dosen memanggil nama mahasiswa untuk konfirmasi nilai, ada mahasiswa yang tidak menyadarinya, suasana agak gaduh

  M2: eehh iya- iya, 75 pak.

  (A16)

  Intonasi perintah Nada: tinggi Tekanan: sedang Pilihan kata: kata nonstandar yaitu penggunaan kata fatis:

  eeh, too; penggunaan

  kata tidak baku: gimana,

  malah, ngobrol

  Penutur dan MT merupakan teman akrab penutur mengingatkan

  16. Cuplikan Tuturan 16 D1: siapa yang mengoreksi punya Natalia Kristanti? M1: Eehh indah

  MT yang telah mengoreksi hasil kerjanya untuk disampaikan ke

  Melecehkan muka Tuturan terjadi di depan ruang K21 pukul 14.25

  WIB tanggal 28 november 2012

  Penutur dan MT perempuan (21th) mahasiswa angkatan 2009

  Tujuan: penutur mengingatkan MT untuk menyampaikan nilainya kepada dosen

  Tindak verbal: ekspresif

  gimana to kamu, malah ngobrol!

  218

  M1: yaa maklumlah Penutur mengomentari cara bicara MT yang memakai behel

  oo, ki; kata jargon yaitu

  Tindak verbal: direktif Tindak perlokusi: mt berbicara sewajarnya

  15. Cuplikan Tuturan 15 M1: ni kertasmu..

  M2: Oo basio ki malah

  dilecek-lecek! (A15)

  Intonasi berita Nada tutur: tinggi

  (jengkel, kecewa) Tekanan: sedang Pilihan kata: kata nonstandar yaitu penggunaan kata fatis:

  penggunaan umpatan :

  Tujuan: penutur menyampaikan kekesalan pada MT karena kertasnya yang sudah lecek

  basio; penggunaan kata

  tidak baku: malah Saat setelah koreksi lembar jawab mahasiswa dalam kuis Penyuntingan, lalu lembar jawab dikembalikan lagi kepada pemiliknya

  MT mengembalikan lembar jawab penutur dalam bentuk tidak rapi

  Penutur menungkapkan kekesalannya kepada MT Melecehkan muka

  Tuturan terjadi di depan ruang K21 pukul 14.25 WIB tanggal 28 november 2012

  Penutur dan MT laki-laki (21th) mahasiswa angkatan 2009

  Tindak verbal:ekspresif Tindak perlokusi: mt meminta maaf kepada pt

KORPUS DATA DAN TABULASI DATA KETIDAKSANTUNAN BERBAHASA YANG MELECEHKAN MUKA

  Penutur (21th) perempuan dan MT (21th) laki-laki mahasiswa angkatan 2009

  (22th) perempuan mahasiswa angkatan 2009 Tujuan: penutur menyindir cara makan MT Tindak verbal:ekspresif Tindak perlokusi: mt memperbaiki cara

  13.45 WIB tanggal 30 november 2012 Penutur(21th) dan MT

  Melecehkan muka Tuturan terjadi di depan secretariat PBSID pukul

  Penutur merasa aneh dengan MT yang sedang menikmati baksonya karena kuah bakso dan mienya dibungkus secara

  Situasi ketika beberapa mahasiswa sedang duduk di depan secretariat dan berbincang-bincang, ada mahasiswa sedang menikmati bakso dari bungkus plastik

  (sindiran) Tekanan: lemah Pilihan kata: penggunaan kata fatis: eh, kok, penggunaan kata tidak baku: kayak, gitu

  Intonasi Tanya Nada tutur: sedang

  makan bakso kayak gitu? (A18)

  18. Cuplikan Tuturan 18 M1: duh kuah ama mienya pisah coba.. yauda ahh makan satu- satu.. M2: Eh kok kamu

  Tindak verbal: direktif Tindak perlokusi: mt mengerjakan tugasnya

  Tujuan: penutur menyindir MT yang belum mengerjakan tugasnya

  219

  dosen Tindak perlokusi: mt segera menyampaikan nilai hasil koreksi

  Melecehkan muka Tuturan terjadi di depan secretariat PBSID pukul

  Penutur menanggapi dengan kesal karena tugas MT tidak susah dan tidak banyak untuk dikerjakan

  Penutur dan MT teman sekelas Penutur mengajak mt pergi ke pantai MT menanyakan tugasnya yang belum diselesaikan

  Situasi dua mahasiswa sedang berbincang di depan secretariat PBSID, suasana agak gaduh

  kata seru: halah; kata jargon yaitu penggunaan umpatan: sikak

  dikerjake; penggunaan

  interferensi ke dalam bahasa jawa: kowe; penggunaan kata tidak baku: dikit, gitu, gek,

  too, kok, ae; penggunaan

  Intonasi perintah Nada tutur: sedang Tekanan: sedang Pilihan kata: kata nonstandar yaitu penggunaan kata fatis:

  gitu ae gek dikerjake to, sikak kok kowe! (A17)

  17. Cuplikan Tuturan 17 M1: yuuk kita kepantai.. M2: ayoklaah.. lha tapi tugasku pie? M1: Halah tugas dikit

  13.35 WIB 29 november 2012

KORPUS DATA DAN TABULASI DATA KETIDAKSANTUNAN BERBAHASA YANG MELECEHKAN MUKA

  M2 )

  Tindak verbal: direktif Tindak perlokusi: mt minta maaf pada pt

  Tujuan: penutur menyampaikan kekesalannya

  WIB 30 november 2012 Penutur dan mt (20th) mahasiswa perempuan angkatan 2011

  Melecehkan muka Tuturan terjadi di depan ruang K22 pukul 13.50

  MT, tetapi MT berkata ketus Penutur menanggapi dengan suara tinggi

  Penutur dan MT teman sekelas MT sedang sibuk dengan laptopnya Penutur menghampiri

  Saat menunggu jeda kuliah, beberapa mahasiswa sedang duduk di depan kelas. Suasana ramai

  Intonasi perintah Nada tutur:tinggi (jengkel) Tekanan: sedang Pilihan kata: penggunaan kata nonstandar: aja, kali, penggunaan kata jargon berupa umpatan: asu

  kali! (A20)

  M1: Asu, biasa aja

  melemparkan tangan ke arah M1 )

  M2: apa sii… (sambil

  220

  terpisah dan mt memakannya satu-satu Penutur dan mitra tutur teman sekelas makannya

  20. Cuplikan Tuturan 20 M1: eh lagi apa ee kamu? Sibuk banget..

  Tujuan: penutur menyindir MT Tindak verbal: ekspresif Tindak perlokusi: mt memberi penjelasan

  Penutur (21th) dan MT (22th) perempuan mahasiswa angkatan 2009

  K22 mata kuliah analisis wacana pukul 16.15 WIB 29 november 2012

  Melecehkan muka Tuturan terjadi di ruang

  MT membalas dengan tertawa Penutur menanggapi dengan sinis

  Penutur mengonfirmasi MT tentang bajunya

  Saat perkuliahan analisis wacana, ada mahasiswa yang memakai baju jurnalistik padahal dia mahasiswa BIPA, suasana serius, tenang

  (sindiran) Tekanan: sedang Pilihan kata: penggunaan kata fatis: ihh

  Intonasi berita Nada tutur: sedang

  (A19)

  19. Cuplikan Tuturan 19 M1: kok kamu bisa punya baju jurnalistik si? Kan kamu bipa? M2: bisa donk hehehe… M1: Iih penghianat!

  (sambil menghampiri

  

KORPUS DATA DAN TABULASI DATA

KETIDAKSANTUNAN BERBAHASA YANG MEMAIN-MAINKAN MUKA

PENANDA KETIDAKSANTUNAN PERSEPSI NO. TUTURAN KODE NONLINGUAL

  INFORMASI INDEKSAL LINGUAL KETIDAKSANTUNAN (Topik dan Situasi)

  1. Cuplikan Tuturan 21 (B1) Memain-mainkan muka

  Intonasi berita Saat setelah Tuturan terjadi di kelas K29 perkuliahan, suasana setelah mata kuliah filsafat Nada tutur: rendah

  M1: kita dinilai bro… agak ramai, dua ilmu tanggal 20 november (pemberitahuan)

  M2: kita belajar mahasiswa berbincang 2012 pengetahuan pukul 11.30

  Tekanan: sedang dengan keceriaan.. di dalam kelas WIB

  Pilihan kata:kata M3: Kita belajar mengenai proses nonstandar yaitu

  Penutur dan MT mahasiswa

  dengan semau-

  belajar yang baru saja laki-laki Angkatan 2010 penggunaan kata tidak

  maunya. (lalu pergi

  selesai berumur 20 tahun baku: semau-maunya

  begitu saja)

  Datang mahasiswa ikut Tujuan: Penutur menanggapi obrolan memberitahukan cara dua mahasiswa belajarnya tersebut

  Tindak verbal: ekspresif Penutur menanggapi

  Tindak perlokusi: Pt dan Mt MT dengan sekenanya belajar lebih baik lalu pergi keluar kelas.

  2. Cuplikan Tuturan 22 (B2) Memain-mainkan muka

  Intonasi perintah Saat jeda kuliah, Tuturan terjadi di kelas K29 beberapa mahasiswa pukul 12.30 WIB tanggal 20 Nada tutur: sedang

  M1: ngapaen e kamu masuk ke dalam kelas november 2012

  (sindiran, sinis) di sini? (sambil K29 untuk mencari

  Penutur dan MT perempuan Tekanan: sedang

  tertawa kecil )

  tempat duduk, suasana Angkatan 2010 berumur 20

  Pilihan kata: kata M2: Yauda sii biasa agak gaduh, santai tahun nonstandar yaitu

  aja!

  penggunaan kata tidak MT berjalan di depan Tujuan: Penutur menanggapi penutur godaan MT baku: yauda, aja; penggunaan kata fatis:

  Penutur menanggapi Tindak verbal: direktif sinis pertanyaan mitra

  sii

  Tindak perlokusi: Mt tidak

  

221

KORPUS DATA DAN TABULASI DATA KETIDAKSANTUNAN BERBAHASA YANG MEMAIN-MAINKAN MUKA

  tutur yang menggoda pt menggodanyxa

  3. Memain-mainkan muka

  Cuplikan Tuturan 23 (B3)

  Intonasi berita Saat jeda kuliah, Tuturan terjadi di kelas K29 beberapa mahasiswa pukul 12.30 WIB tanggal 20 Nada tutur: sedang

  M1: haayy nonaa… masuk ke dalam kelas november 2012

  (sindiran, sinis) (sambil melambaikan

  K29 untuk mencari Tekanan: sedang

  Penutur dan MT perempuan

  tangan dan

  tempat duduk, suasana Angkatan 2010 berumur 20 Pilihan kata: kata

  tersenyum )

  agak gaduh, santai tahun nonstandar yaitu M2: Wong stress. penggunaan MT menyapa penutur

  Tujuan: Penutur menanggapi dengan nada interferensi ke dalam godaan MT menggoda bahasa Jawa: wong

  Tindak verbal: ekspresif (sinis) Penutur menanggapi

  Tindak perlokusi: pt tidak sinis MT menggoda mt

  4. Cuplikan Tuturan 24 (B4) Memain-mainkan muka

  Intonasi berita Saat setelah kuis Tuturan terjadi di ruang K303 psikolinguistik, salah pukul 14.00 WIB tanggal 20 Nada tutur: rendah

  M1: weits bajumu (pemberitahuan) satu mahasiswa november 2012 baru yaa mengomentari baju

  Penutur laki-laki, MT Tekanan: sedang

  M2: Bajumu bagus, mahasiswa lain. perempuan

  Pilihan kata: kata

  sesuatu kayak

  Suasana agak gaduh Angkatan 2010 berumur 20 nonstandar yaitu

  syahrini.

  tahun penggunaan kata tidak Penutur duduk satu

  M3: iyaa po biasa aja deret dengan mitra baku: kayak

  Tujuan: Penutur mengejek ahh tutur baju baru MT

  Penutur melihat baju Tindak verbal: ekspresif

  MT yang baru pertama (bercanda) kali dipakai

  Tindak perlokusi: mt memberitahu tempat dimana membeli baju

  222

KORPUS DATA DAN TABULASI DATA KETIDAKSANTUNAN BERBAHASA YANG MEMAIN-MAINKAN MUKA

  Tuturan terjadi di ruang K303 pukul 14.15 WIB tanggal 20 november 2012

  Intonasi berita Nada tutur: sedang

  (sindiran, sinis) Tekanan: sedang Pilihan kata: kata nonstandar yaitu penggunaan kata fatis:

  iih, mak, jleb;

  penggunaan kata tidak baku: gak Saat setelah dosen memanggil nama mahasiswa untuk konfirmasi nilai, ada mahasiswa yang belum dipanggil oleh dosen, suasana agak gaduh

  MT menyampaikan nilainya kepada dosen Penutur menanggapi

  MT dengan sekenanya Memain-mainkan muka

  Penutur perempuan dan MT laki-laki berumur 20 tahun mahasiswa Angkatan 2010

  M1: seratus pak… M2: bapak wahyu dapat seratus… M3: Iih nilai 100 gak

  Tujuan: Penutur mengejek MT yang mendapatkan nilai bagus Tindak verbal: ekspresif Tindak perlokusi: mt tidak menyombongkan nilainya

  7. Cuplikan Tuturan 27 M1: yuk gandengan

  (B7)

  Intonasi berita Nada tutur: sedang

  (sindiran, sinis) Saat berjalan di lorong depan secretariat

  PBSID tiga mahasiswa Memain-mainkan muka

  Tuturan terjadi di lorong secretariat PBSID pukul 13.15 WIB tanggal 22 november

  diakui.. mak jleb jleb! (B6)

  223

  5. Cuplikan Tuturan 25 M1: eh berapa e nilai hasil koreksimu? M2: Wih dapet 100

  interferensi ke dalam bahasa Jawa: ok, pie,

  ok pie, basio ki! (sambil melihat pemilik kertas jawaban)

  Wih dapet 100 ok pie, basio ki!

  (B5)

  Intonasi berita Nada tutur: sedang

  (sindiran, sinis) Tekanan: sedang Pilihan kata: kata nonstrandar yaitu penggunaan kata tidak baku: dapet; penggunaan kata seru:

  wih; penggunaan

  ki; kata jargon yaitu

  Tindak verbal: ekspresif Tindak perlokusi: Mt mengajari pt 6.

  penggunaan umpatan:

  basio

  Saat setelah kuis, para mahasiswa mengoreksi Jawaban mahasiswa yang lain, suasana agak gaduh, serius

  Penutur mengoreksi lembar kerja Mt Penutur mengomentari hasil koreksinya dan menyampaikan kepada mt

  Memain-mainkan muka Tuturan terjadi di ruang K303 pukul 14.15 WIB tanggal 20 november 2012

  Penutur dan MT perempuan Angkatan 2010 berumur 20 tahun

  Tujuan: Penutur menyindir MT yang mendapat nilai bagus

  Cuplikan Tuturan 26

KORPUS DATA DAN TABULASI DATA KETIDAKSANTUNAN BERBAHASA YANG MEMAIN-MAINKAN MUKA

  huu; penggunaan kata

  Memain-mainkan muka Tuturan terjadi di perpustakaan ruang diskusi USD tanggal 22 november 2012 pukul 11.30

  (sindiran) Saat sedang berkumpul di perpustakaan, lima mahasiswa sedang

  Intonasi Tanya Nada tutur: sedang

  (B9)

  M1: sebel deh

  Cuplikan Tuturan 29

  Tindak verbal: ekspresif Tindak perlokusi: mt tersanjung dan member komentar atas pujian pt 9.

  Tujuan: Penutur menyindir MT yang memiliki potongan rambut baru

  Penutur perempuan berumur 22 tahun, MT perempuan berumur 21 tahun mahasiswa Angkatan 2009

  Memain-mainkan muka Tuturan terjadi di ruang K22 pukul 14.45 WIB tanggal 20 november 2012

  MT duduk di depan penutur Penutur memberi komentar kepada MT

  Datang mahasiswa dengan potongan rambut barunya, suasanan santai, gaduh

  tidak baku: banget Saat menunggu kelas selanjutnya beberapa mahasiswa angkatan 2009 duduk-duduk di kelas sambil berbincang.

  224

  bertiga M2: Bajigur tenan,

  (B8)

  M1: ahh engga ahh, biasa aja…

  Ratna… huu cantik bangett. (sambil melihat M1 dengan tertawa)

  8. Cuplikan Tuturan 28 M1: hay mel… M2:

  Tindak verbal: ekspresif Tindak perlokusi: mt tberhnti menggandeng tangan pt

  Angkatan 2011 Tujuan: Penutur mengejek MT yang sedang menggandeng tangannya

  2012 Penutur dan MT perempuan mahasiswa berumur 19 tahun

  angkatan 2010 berjalan sambil bergandengan, suasana santai penutur merasa tidak nyaman dengan Mt yang menggandeng tangannya

  bajigur

  penggunaan kata tidak baku: kayak, tau; kata jargon yaitu penggunaan umpatan:

  gandengan;

  Tekanan: sedang Pilihan kata: kata nonstandar yaitu penggunaan interferensi ke dalam bahasa Jawa: tenan,

  gandengan bertiga, kayak anak kecil tau!

  Intonasi berita Nada tutur: sedang Tekanan: sedang Pilihan kata: kata nonstandar yaitu penggunaan kata fatis:

  

KORPUS DATA DAN TABULASI DATA

KETIDAKSANTUNAN BERBAHASA YANG MEMAIN-MAINKAN MUKA

225

  kan

  Tujuan: Penutur mengejek foto MT

  ) dan MT (21th) laki-laki mahasiswa Angkatan 2009

  th

  11.30 WIB Penutur perempuan (20

  22 november 2012 pukul

  Memain-mainkan muka Tuturan terjadi di perpustakaan ruang diskusi USD tanggal

  MT memberi tahu temannya bahwa ada foto yang jelek jika dipasang sebagai foto profile di facebook

  Datang mahasiswa laki-laki, menunjukkan foto-foto yang ada di laptopnya

  Saat sedang berkumpul di perpustakaan, lima mahasiswa sedang mengerjakan proposal skripsi masing-masing. Beberapa mahasiwa berbincang dengan serunya

  (pemberitahuan) Tekanan: sedang Pilihan kata: kata nonstandar yaitu penggunaan kata tidak baku: emang; penggunaan kata fatis:

  brantem mulu ama tu orang.. M2: kenapa si bisa brantem gitu? M3: Wes putus

  Intonasi berita Nada tutur: rendah

  (B10)

  10. Cuplikan Tuturan 30 M1: eh aku ada fotoku yang keren-keren nii M2: mana coba liat M1: nii liat bagus kan, ganteng kan aku, duh tapi fotoku ini jelek banget eh nek buat foto profile… M3: Emang jelek kan fotomu.

  Tindak verbal: ekspresif Tindak perlokusi: mt memberikan penjelasan kepada pt

  Angkatan 2009 Tujuan: Penutur bertanya hubungan MT dengan pasangan namun dengan panggilan yang kasar

  WIB Penutur (21th) dan MT perempuan (20th) mahasiswa

  Penutur bertanya kepada MT tentang hubungan MT dengan pacarnya, tetapi tidak menggunakan panggilan nama MT

  Tekanan: sedang Pilihan kata: kata nonstandar yaitu penggunaan interferensi dalam bahasa Jawa: wes; penggunaan kata tidak baku: belom mengerjakan proposal skripsi masing-masing. Beberapa mahasiwa berbincang dengan serunya

  belom, nyuk?(sambil melihat M1)

  Tindak verbal: asertif Tindak perlokusi: mt tidak menganggu pt

  

KORPUS DATA DAN TABULASI DATA

KETIDAKSANTUNAN BERBAHASA YANG MEMAIN-MAINKAN MUKA

  11. Cuplikan Tuturan 31 (B11) Memain-mainkan muka

  Intonasi perintah Saat perkuliahan Tuturan terjadi di ruang K22 semantik, dosen mata kuliah semantik jam Nada tutur: sedang

  M1: Sep, septi cie menyuruh salah satu

  14.00 WIB tanggal 28 (sindiran) cie.. bantuin gih sep. mahasiswa untuk november 2012

  Tekanan: sedang M2: kok aku si yang menghidupkan viewer

  Penutur dan MT perempuan Pilihan kata: kata

  th

  suruh bantu? karena remote

  (20 ) mahasiswa Angkatan nonstandar yaitu M3: nah kamu kan viewernya tidak ada.

  2010 penggunaan kata fatis: itunya dia hehee

  gih, Penggunaan kata Mahasiswa laki-laki

  Tujuan: Penutur menggoda mengambil kursi dan tidak baku: bantuin dan mengejek MT naik di atas kursi

  Tindak verbal: direktif Penutur berkomentar

  Tindak perlokusi: mt ikut kepada MT karena tertawa dengan godaan pt penutur tahu bahwa

  MT mantan pacar mahasiswa laki-laki tersebut

  12. Cuplikan Tuturan 32 Memain-mainkan muka

  (B12)

  Intonasi berita Suasana di luar kelas, Tuturan terjadi di depan ruang sedang menunggu K21 pukul 13.50 WIB tanggal Nada tutur: sedang

  M1: Pil.. rambute kelas berikutnya. 28 november 2012

  (sindiran)

  anyaar ciee (sambil

  Beberapa mahasiswa Penutur dan MT laki-laki

  Tekanan: sedang

  melihat M2 dan

  duduk-duduk dan (21th) mahasiswa Angkatan

  Pilihan kata: kata

  tertawa kecil)

  berbincang satu sama 2009 nonstandar yaitu

  M2: iyoolah biasaaa lain, gaduh penggunaan kata fatis:

  Tujuan: Penutur mengejek Mt yang baru saja potong rambut

  cie; penggunaan MT menghampiri

  mahasiswa yang interferensi ke dalam Tindak verbal: ekspresif berkumpul di depan bahasa Jawa: rambute,

  Tindak perlokusi: mt kelas

  anyar

  menjelaskan rambutnya yang Penutur dan MT sudah baru menjadi teman akrab Penutur mengomentari

  

226

  

KORPUS DATA DAN TABULASI DATA

KETIDAKSANTUNAN BERBAHASA YANG MEMAIN-MAINKAN MUKA

227

  Tujuan: penutur menyapa MT Tindak verbal: ekspresif Tindak perlokusi: mt melihat dan menyapa pt

  K21 pukul 13.55 WIB tanggal 28 november 2012 Penutur laki-laki dan MT perempuan (21th) mahasiswa angkatan 2009

  Memain-mainkan muka Tuturan terjadi di depan ruang

  Suasana di luar kelas, sedang menunggu kelas berikutnya. Beberapa mahasiswa duduk-duduk dan berbincang satu sama lain, gaduh penutur dan MT merupakan teman sekelas penutur menanggapi MT yang sedang mengeluh kedinginan

  kawit, mbiyen, kowe, ndeso

  interferensi ke dalam bahasa Jawa: ncen,

  too; penggunaan

  (pemberitahuan) Tekanan: lemah Pilihan kata: kata nonstandar yaitu penggunaan kata fatis:

  Intonasi berita Nada tutur: rendah

  mbiyen to kowe ndeso (B14)

  14. Cuplikan Tuturan 34 M1: aku ki ndeso tenan yoo.. mosok mlebu secretariat langsung masuk angin gara-gara disana ada ACne M2: Ncen kawit

  K21puluk 13.55 WIB tanggal 28 november 2012 Penutur dan MT laki-laki mahasiswa angkatan 2009 berumur 21 tahun

  rambut MT yang baru dengan suara keras sehingga menimbulkan tawa teman-temannya

  Memain-mankan muka Tuturan terjadi di depan ruang

  Suasana di luar kelas, sedang menunggu kelas berikutnya. Beberapa mahasiswa duduk-duduk dan berbincang satu sama lain, gaduh penutur dan MT merupakan teman akrab penutur menyapa MT yang berjalan begitu saja

  wong, neng, kene

  interferensi ke dalam bahasa Jawa:ora ngerti,

  po; penggunaan

  Intonasi Tanya Nada: sedang (sindiran) Tekanan: sedang Pilihan kata: kata nonstandar yaitu penggunaan kata fatis:

  Heeh… ora ngerti wong ganteng neng kene po? (B13)

  M2:

  begitu saja di depan M2 )

  13. Cuplikan Tuturan 33 M1: lha iyoo, proposalku durung rampung kok M2: yoo podo aku yoo durung (sambil lewat

  Tujuan: penutur mempertegas ucapan MT Tindak verbal: eskpresif Tindak perlokusi: mt menyadari kekurangannya

  

KORPUS DATA DAN TABULASI DATA

KETIDAKSANTUNAN BERBAHASA YANG MEMAIN-MAINKAN MUKA

228

  16. Cuplikan Tuturan 36 M1: aku mau ikut jadi mitra perpustakaan M2: Kamu yakin

  USD pukul 12.40 WIB tanggal 4 desember 2012 Penutur dan MT (22th) perempuan mahasiswa angkatan 2009

  Memain-mainkan muka Tuturan terjadi di perpustakaan

  Penutur tahu bahwa daya tahan tubuhnya kurang bagus dan susah mengatur waktu

  PT dan MT teman sekelompok Mt menjelaskan bahwa dia ingin menjadi mitra di perpustakaan, Pt menanggapi pembicaraan Mt

  Saat sedang mengerjakan tugas di perpustakaan, suasana agak gaduh

  (sindiran) Tekanan: sedang Pilihan kata: kata nonstandar yaitu kata tidak baku: mao

  Intonasi Tanya Nada tutur: sedang

  (B16)

  M1: iya aku uda isi formulirnya kok

  mau ikut mi? (sambil tertawa kecil)

  Tujuan: penutur bercanda kepada MT Tindak verbal: direktif Tindak perlokusi: mt tertawa dengan candaan pt

  setelah masuk secretariat PBSID yang baru saja dipasang AC 15.

  (21th) mahasiswa angkatan 2009

  K21 pukul 13.55 WIB tanggal 28 november 2012 Penutur dan MT perempuan

  Memain-mainkan muka Tuturan terjadi di depan ruang

  Penutur menghampiri MT dan berkomentar dengan pedas tetapi nada bercanda

  tidak baku: udah Saat setelah perkuliahan selesai, beberapa mahasiswa keluar kelas, beberapa masih membereskan barang-barangnya, suasana gaduh

  nii; penggunaan kata

  (sindiran) Tekanan: sedang Pilihan kata: kata nonstandar yaitu penggunaan kata fatis:

  Intonasi perintah Nada tutur: sedang

  kuliah nii, kamu bersih-bersih ya! (B15)

  M1: cepet banget kuliahnya.. M2: Udah selesai

  Cuplikan Tuturan 35

  Tujuan: penutur menyindir mt Tindak verbal: ekspresif Tindak perlokusi: mt berpikir lagi untuk mempertimbangkan keputusannya

  

KORPUS DATA DAN TABULASI DATA

KETIDAKSANTUNAN BERBAHASA KESEMBRONOAN YANG DISENGAJA

PENANDA KETIDAKSANTUNAN PERSEPSI NO. TUTURAN KODE NONLINGUAL

  INFORMASI INDEKSAL LINGUAL KETIDAKSANTUNAN (Topik dan Situasi)

  1. Cuplikan Tuturan 37 (C1) Kesembronoan yang

  Intonasi berita Saat menunggu jam Tuturan terjadi di kelas K29 disengaja kuliah, beberapa pukul 12.00 WIB tanggal 20

  Nada tutur: sedang M1: eh ngapaen kamu mahasiswa masuk ke november 2012

  (sindiran, sinis) disini? kelas untuk mencari

  Penutur dan MT dari mahasiswa Tekanan: sedang

  M2: Masalah buat tempat duduk, suasana perempuan Angkatan 2010

  Pilihan kata: kata

  loe! (tertawa kecil)

  agak ramai, santai berumur 19 tahun nonstandar penggunaan kata tidak baku: buat; Salah satu mahasiswa

  Tujuan: Penutur menanggapi bertanya dengan nada pertanyaan MT penggunaan kata slang: bercanda kepada rekan

  loe

  Tindak verbal: ekspresif mahasiswa lain yang (menunjukkan ketidaksukaan ingin mencari tempat kepada Mt) duduk

  Tindak perlokusi: diharapkan Mt Pt dan mt teman sekelas tidak menggoda Pt Penutur menanggapi sinis

  MT

  2. Cuplikan Tuturan 38 (C2) Kesembronoan yang

  Intonasi berita Jeda kuliah, suasana Tuturan terjadi di kelas K29 disengaja santai, agak gaduh di pukul 12.00 WIB tanggal 20

  Nada tutur: rendah M1: kamu kuliah apa dalam kelas K29. november 2012

  (pemberitahuan) ini? Mahasiswa angkatan

  Penutur perempuan Angkatan Tekanan: lemah

  M2: aku kuliah aliran 2009 bertanya kepada 2009 (22th), mitra tutur laki-laki

  Pilihan kata: kata

  th

  linguistik mbak, kamu mahasiswa angkatan 2010 berumur (20 ) angkatan 2010 nonstandar yaitu kuliah apa? tentang mata kuliah penggunaan kata tidak

  Tujuan: Penutur menanggapi M1: Kuliah sama dengan sembrono baku: sama Penutur bertanya wajar

  kamu …. (sambil

  kepada MT, kemudian Tindak verbal: ekspresif (candaan

  tertawa kecil)

  MT balik bertanya dengan pt) pertanyaan yang sama

  Tindak perlokusi: Mt tertawa

  

229

  

KORPUS DATA DAN TABULASI DATA

KETIDAKSANTUNAN BERBAHASA KESEMBRONOAN YANG DISENGAJA

230

  Intonasi berita Nada tutur: sedang

  (sindiran) Saat menunggu kelas berikutnya, para mahasiswa berbincang-

  Intonasi berita Nada tutur: sedang

  (C5)

  5. Cuplikan Tuturan 41 M1: hay dit…

  Mt tertawa dengan candaan pt

  Tujuan: Penutur mengejek teman yang bernama Ignatius Cahyo Tindak verbal: ekspresif Tindak perlokusi;

  Penutur laki-laki dan MT perempuan berumur 20 tahun mahasiswa Angkatan 2010

  Kesembronoan yang disengaja Tuturan terjadi di ruang K303 pukul 14.15 WIB tanggal 20 november 2012

  MT menJawab panggilan dosen dengan wajar Penutur menganggapi MT dengan sembrono

  Saat setelah pengoreksian lembar Jawabkuis psikolinguistik, dosen memanggil nama mahasiswa untuk meminta konfirmasi nilai. Suasana agak gaduh

  (sindiran) Tekanan: sedang Pilihan kata: kata nonstandar yaitu penggunaan kata tidak baku: gak; penggunaan kata slang: dugem

  gak masuk, dugem! (C4)

  Penutur menJawab dengan sembrono dengan candaan Pt

  4. Cuplikan Tuturan 40 D1: Ignatius Cahyo berapa nilainya? M1: dia gak masuk pak M2: Ignatius Cahyo

  (bercanda) Tindakan perlokusi: mt tertawa dengan candaan pt

  Tujuan: Penutur menanggapi MT sembrono, bercanda Tindakan verbal: ekspresif

  Penutur dan MT perempuan berumur 20 tahun mahasiswa Angkatan 2010

  Kesembronoan yang disengaja Tuturan terjadi di ruang K303 pukul 14.30 WIB tanggal 20 november 2012

  MT mengomentari baju penutur yang terbuka MT duduk sebelahan dengan penutur Penutur menJawab sembrono

  Saat setelah mengoreksi lembar Jawab mahasiswa, kuis psikolinguistik, suasana agak gaduh

  goyang itik

  (pemberitahuan) Tekanan: lemah Pilihan kata: kata slang:

  Intonasi berita Nada tutur: rendah

  (C3)

  3. Cuplikan Tuturan 39 M1: hey bajumu tu lho kebuka, keliatan perutmu M2: Hehe goyang asik… goyang itik.

  Kesembronoan yang disengaja Tuturan terjadi di ruang K22 pukul 14.50 WIB tanggal 28 november 2012

KORPUS DATA DAN TABULASI DATA KETIDAKSANTUNAN BERBAHASA KESEMBRONOAN YANG DISENGAJA

  M2: Hey model! bincang di dalam kelas,

  Tekanan: sedang Penutur laki-laki dan MT

  (sambil tertawa kecil)

  suasana gaduh perempuan berumur 21 tahun

  Pilihan kata: kata mahasiswa Angkatan 2009 nonstandar yaitu

  Datang MT mencari tempat duduk penggunaan kata seru:

  Tujuan: Penutur mengejek MT yang bergaya seperti model

  hey

  Penutur menyapa MT yang gayanya seperti Tindak verbal: ekspresif model Tindak perlokusi: mt bergaya dan bertingkah sewajarnya

  6. Cuplikan Tuturan 42 (C6) Kesembronoan yang

  Intonasi berita Saat perkuliahan sistaksis, Tuturan terjadi di K29 mata disengaja beberapa mahasiswa yang kuliah sintaksis pukul 11.30 WIB

  Nada tutur: rendah M1: kamu kemaren duduk di belakang tanggal 21 november 2012

  (pemberitahuan)

  th

  hanya liat sisi berbincang-bincang

  ) dan MT Penutur laki-laki (19

  Tekanan: lemah

  th

  maskulinku aja to gak (19 ) perempuan mahasiswa

  MT memberitahukan Pilihan kata: kata sisi femininku, iya bahwa dia memiliki sisi Angkatan 2011 nonstandard yaitu kan? feminine dan maskulin, penggunaan kata fatis:

  Tujuan: Penutur menanggapi MT M2: Iya po? Aku gak dan kemarin yang muncul sekenanya

  po; penggunaan kata ngerti kamu

  adalah sisi feminine tidak baku: gak, ngerti Tindak verbal: asertif

  ngomong apa

  sedangkan sekarang Tindak perlokusi: mt tidak adalah sisi maskulinnya. menganggu pt

  Penutur menanggapi sekenanya

  7. Kesembronoan yang

  Cuplikan Tuturan 43 (C7)

  Intonasi berita Suasana di luar kelas, Tuturan terjadi di depan ruang disengaja sedang menunggu kelas K21 pukul 13.50 WIB tanggal 21

  Nada tutur: sedang M1: guru pamongmu berikutnya. Beberapa november 2012

  (sindiran, sinis) kemana e? mahasiswa duduk-duduk

  Penutur (22th) dan MT (21th) Tekanan: lemah

  M2: Palestina dan berbincang satu sama laki-laki mahasiswa Angkatan

  Pilihan kata: palestina lain, gaduh 2009

  Penutur menanyakan guru Tujuan: Penutur menanggapi MT pamong kepada MT sekenanya

  Penutur tahu bahwa MT Tindak verbal: ekspresif

  231

  

KORPUS DATA DAN TABULASI DATA

KETIDAKSANTUNAN BERBAHASA KESEMBRONOAN YANG DISENGAJA

  masih mengurusi laporan Tindak perlokusi: mt tertawa

  PPL Penutur dan MT merupakan teman sekelas

  8. Cuplikan Tuturan 44 (C8) Kesembronoan yang

  Intonasi Tanya Suasana di luar kelas, Tuturan terjadi di depan ruang disengaja sedang menunggu kelas K21 pukul 13.55 WIB tanggal 21

  Nada tutur: sedang M1: kowe potong

  (sindiran) berikutnya. Beberapa november 2012 rambut model opo to? mahasiswa duduk-duduk

  Penutur dan MT laki-laki (21th) Tekanan: sedang

  M2: Potong model

  dan berbincang satu sama mahasiswa Angkatan 2009 Pilihan kata: kata

  pitik jago yoo?

  lain, gaduh nonstandar yaitu Tujuan: Penutur mengejek model

  (melihat mitra tutur

  rambut MT yang baru penggunaan kata fatis: penutur dan MT

  dan tertawa kecil)

  merupakan teman sekelas

  yoo; penggunaan

  Tindak verbal:ekspresif interferensi dalam penutur berkomentar

  Tindak perlokusi: Mt mengenai model rambut bahasa Jawa: pitik menjelaskan model rambutnya

  MT

  9. Cuplikan Tuturan 45 (C9) Kesembronoan yang

  Intonasi berita Suasana di luar kelas, Tuturan terjadi di depan ruang sedang menunggu kelas disengaja K21 pukul 13.55 WIB tanggal 21 Nada tutur: sedang

  M1: dudu pitik jago berikutnya. Beberapa november 2012

  (sindiran) M2: lha model opo? mahasiswa duduk-duduk

  Penutur dan MT laki-laki (21th) Tekanan: sedang

  M1: Kowe potong dan berbincang satu sama mahasiswa angkatan 2009

  Pilihan kata: kata koyo pitik gering. lain, gaduh nonstandar yaitu

  Tujuan: penutur merespon MT untuk bahan tertawaan teman- penggunaan interferensi penutur dan MT merupakan teman sekelas teman ke dalam bahasa Jawa: kowe, koyo, pitik, gering penutur memberi Tindak verbal: ekspresif komentar kepada MT

  Tindak perlokusi: mt menjelaskan terkait rambut MT yang model rambut barunya baru

  10. Kesembronoan yang

  Cuplikan Tuturan 46 (C10)

  Intonasi berita Situasi ketika beberapa Tuturan terjadi di depan disengaja mahasiswa sedang duduk secretariat PBSID pukul 13.45

  Nada tutur: sedang M1: kamu mau makan di depan sekretariat WIB tanggal 22 november 2012

  (sindiran)

  

232

KORPUS DATA DAN TABULASI DATA KETIDAKSANTUNAN BERBAHASA KESEMBRONOAN YANG DISENGAJA

  233

  bakso enggak dari plastiknya langsung tapi pake tempat? M2: emang pake apaan? M1: Itu lhoo tanah di

  pot dikeluarkan dulu trus buat tempat baksonya.

  Tekanan: sedang Pilihan kata: kata nonstandard yaitu penggunaan kata fatis:

  lhoo;

  penggunaan kata tidak baku: trus, buat PBSID dan berbincang- bincang, ada mahasiswa sedang menikmati bakso dari bungkus plastik

  Penutur memberikan saran untuk menggunakan pot sebagai mangkok tempat baksodengan tertawa

  Penutur (33th) laki-laki dan MT (22th) perempuan mahasiswa angkatan 2009

  Tujuan: penutur menggoda MT yang sedang makan bakso Tindak verbal: ekspresif Tindak perlokusi: mt tertawa dengan candaan pt

KORPUS DATA DAN TABULASI DATA KETIDAKSANTUNAN BERBAHASA YANG MENGANCAM MUKA SEPIHAK

NO. TUTURAN KODE PENANDA KETIDAKSANTUNAN PERSEPSI KETIDAKSANTUNAN

  M2: Ngopo to kowe,

  Tindak verbal: ekspresif

  Tujuan: Penutur menyampaikan kemarahannya terhadap MT yang telah memegangnya

  Penutur dan MT perempuan Angkatan 2010 berumur 20 tahun

  Tuturan terjadi di ruang K303 pukul 14.15 WIB tanggal 20 november 2012

  Penutur menJawab sinis Mengancam muka sepihak

  MT mencari kertas Jawabannya dengan memegang badan penutur

  Saat setelah para mahasiswa mengoreksi Jawaban mahasiswa yang lain, kertas Jawaban dikembalikan kepada pemiliknya, suasana agak gaduh

  (marah) Tekanan: keras Pilihan kata: kata nonstandar yaitu penggunaan kata tidak baku: gak, ngerti; penggunaan interferensi k dalam bahasa Jawa: ngopo, to,

  Intonasi berita Nada tutur: tinggi

  aku gak ngerti! (E2)

  234

  INFORMASI INDEKSAL LINGUAL NONLINGUAL (Topik dan Situasi) 1. Cuplikan Tuturan 60

  2. Cuplikan Tuturan 61 M1: eh mana kertasku? (sambil

  Tindak perlokusi: Mt memberi jawaban yang sebenarnya kepada mt

  Tindak verbal: ekspresif (ketidakpercayaan pt kepada mt)

  Tujuan: Penutur mendesak MT mengenai handout mata kuliah filsafat ilmu

  Penutur laki-laki dan MT perempuan, mahasiswa Angkatan 2010 berumur 20 tahun

  Mengancam muka sepihak Tuturan terjadi di kelas K29 pukul 12.00 WIB tanggal 20 november 2012

  Saat setelah perkuliahan berakhir, mahasiswa dari kelas yang berbeda berbincang dengan mahasiswa yang baru saja mengikuti perkuliahan di dalam kelas, suasana agak gaduh, santai. Penutur bertanya berkali- kali pada MT mengenai handout perkuliahan

  kan

  (sindiran) Tekanan: sedang Pilihan kata: kata nonstandar yaitu penggunaan kata tidak baku: bener, gak; Penggunaan kata fatis:

  Intonasi Tanya Nada tutur: sedang

  Kamu gak bohong? (E1)

  M1: bener ya nanti dikasih? M2: iya nanti dikasih pak wid M1: Bener yaa?

  memegang badan M2 ), kertasku mana?

KORPUS DATA DAN TABULASI DATA KETIDAKSANTUNAN BERBAHASA YANG MENGANCAM MUKA SEPIHAK

  Mengancam muka sepihak Tuturan terjadi di ruang K22 pukul 14.50 WIB tanggal 21 november 2012

  neng ngarep ae, manut aku, dong ora! (E4)

  Intonasi perintah Nada tutur: tinggi

  (marah) Tekanan: keras Pilihan kata: kata nonstandar yaitu penggunaan interferensi ke dalam bahasa Jawa: wes

  lungguhe neng ngarep ae, manut dong ora

  Saat para mahasiswa sedang menunggu kelas berikutnya sambil duduk di dalam kelas, ada dua mahasiswa mencari tempat duduk, suasana gaduh

  MT ingin duduk di belakang tetapi penutur tidak memperbolehkan MT

  Penutur dan MT perempuan berumur 21 tahun mahasiswa Angkatan 2009

  Tindak verbal: ekspresif Tindak perlokusi: mt tidak memegang pt

  Tujuan: Penutur memaksa MT untuk mengikuti kemauannya

  Tindak verbal: direktif Tindak perlokusi: mt mengikuti pt untuk duduk di depan 5.

  Cuplikan Tuturan 64 (E5)

  Intonasi berita Nada tutur: sedang

  Saat menunggu kelas berikutnya, para Mengancam muka sepihak

  Tuturan terjadi di ruang K22 pukul 14.50 WIB tanggal 20

  4. Cuplikan Tuturan 63 M1: eh lungguh neng mburi ae yok? M2: Wes lungguhe

  235 kowe MT

  (jengkel) Tindak perlokusi: mt tidak menganggu pt

  demok- demok, asem ki; penggunaan kata

  3. Cuplikan Tuturan 62 M1: eh agak sini dong bukune biar aku bisa baca.. (sambil

  memegang badan M2 )

  M2: Ngopo demok-

  demok? asem ki! (E3)

  Intonasi Tanya Nada tutur: tinggi

  (marah) Tekanan: keras Pilihan kata: kata nonstandar yaitu penggunaan interferensi ke dalam bahasa Jawa: ngopo,

  jargon yaitu umpatan:

  ) dan MT laki-laki (21th) mahasiswa Angkatan 2010

  asem

  Saat setelah kuis psikolinguistik satu selesai, dosen memberikan jeda waktu belajar untuk kuis yang kedua, suasana tenang, serius

  MT belajar bersama penutur, dan memegang badan penutur

  Penutur menanggapi MT jengkel Mengancam muka sepihak

  Tuturan terjadi di ruang K303 pukul 14.35 WIB tanggal 20 november 2012

  Penutur perempuan (20

  th

  Tujuan: Penutur marah kepada MT yang telah memegang badannya

KORPUS DATA DAN TABULASI DATA KETIDAKSANTUNAN BERBAHASA YANG MENGANCAM MUKA SEPIHAK

  M1: wiih bawaane (sindiran) mahasiswa berbincang- november 2012 sekarang proposal bincang di dalam kelas,

  Tekanan: sedang Penutur laki-laki (21th) dan skripsi neh suasana gaduh

  MT perempuan (21th) Pilihan kata: kata

  M2: Hey dia kan mahasiswa Angkatan 2009 nonstandar: enggunaan

  Datang MT membawa

  orangnya sok

  proposal skripsi kata fatis: kan; Tujuan: Penutur menyindir intelektual. menghampiri penutur dan penggunaan kata tidak

  MT yang membawa proposal mencari tempat duduk baku: sok; penggunaan skripsinya kata ilmiah: intelektual

  Penutur berkomentar sinis Tindak verbal: ekspresif Tindak perlokusi: mt tidak sombong

  6. Cuplikan Tuturan 65 (E6) Mengancam muka

  Intonasi Tanya Saat menunggu kelas Tuturan terjadi di ruang K22 sepihak berikutnya, para pukul 14.50 WIB tanggal 20

  Nada tutur: sedang M1: iya kan waktu mahasiswa berbincang- november 2012

  (sindiran) kemaren itu aku sakit bincang di dalam kelas,

  Penutur (21th) dan MT Tekanan: sedang

  th

  jadi gak masuk kuliah suasana gaduh perempuan (20 ) mahasiswa

  Pilihan kata: kata M2: ohh kamu sakit

  Angkatan 2009 nonstandar yaitu Penutur duduk di apa ee? belakang MT penggunaan kata fatis:

  Tujuan: Penutur menyindir M1: iyaa aku demam

  MT yang sedang ikut

  ya; penggunaan kata

  MT ikut mendengarkan M3: (hanya ikut obrolan rekan mahasiswa berkumpul dengan rekan tidak baku: nguping;

  mendengarkan

  lain mahasiswa penggunaan kata seru:

  percakapan teman- ooh

  Penutur berkomentar sinis Tindak verbal: ekspresif

  teman )

  pada mitra tutur karena Tindak perlokusi: mt tidak

  M4: Ooh jadi penutur tahu tujuan mitra menyimak pembicaraan

  sekarang kamu

  tutur adalah untuk orang lain.

  nguping

  mengumpulkan data

  pembicaraan orang

  skripsinya

  ya? (sambil melihat M3)

  7. Cuplikan Tuturan 66 (E7) Mengancam muka

  Intonasi Tanya Saat menunggu kelas Tuturan terjadi di ruang K22 sepihak berikutnya, para pukul 14.55 WIB tanggal 20

  Nada tutur: sedang M1: ni (sambil mahasiswa berbincang- november 2012

  236

KORPUS DATA DAN TABULASI DATA KETIDAKSANTUNAN BERBAHASA YANG MENGANCAM MUKA SEPIHAK

  th memberikan coklat) (sindiran) bincang di dalam kelas,

  ) perempuan dan Penutur (20

  M2: Buat siapa? Ini suasana gaduh

  MT laki-laki (21th) Tekanan: sedang

  dikasih racun ya?

  mahasiswa MT membagi-bagikan

  Pilihan kata: kata coklat kepada teman- Angkatan 2009 nonstandar yaitu teman termasuk kepada penggunaan kata tidak

  Tujuan: Penutur mengejek penutur baku: buat, dikasih;

  Mt yang membagi-bagikan penggunaan kata fatis: coklat kepada teman-teman

  Penutur berkomentar sinis

  ya karena mitra tutur tidak

  Tindak verbal: ekspresif memberikan penjelasan Tindak perlokusi: mt ketika membagikan memberikan penjelasan coklatnya kepada penutur ketika memberikan coklatnya

  8. Cuplikan Tuturan 67 (E8) Mengancam muka

  Intonasi perintah Saat sedang berkumpul di Tuturan terjadi di perpustakaan, lima sepihak perpustakaan ruang diskusi Nada tutur: tinggi

  M1: eh cowoknya ki mahasiswa sedang USD tanggal 23 november

  (marah) temen mudikamu po? mengerjakan proposal 2012 pukul 11.30 WIB

  Tekanan: keras

  th

  M2: iyoo, bener skripsi masing-masing.

  ) Penutur (21th) dan MT (20

  Pilihan kata: kata M1: lha kok bisa perempuan mahasiswa nonstandar yaitu Beberapa mahasiwa kenal gitu? berbincang dengan Angkatan 2009 penggunaan kata fatis:

  M1: yoo isolah.. kan serunya

  too, ki,le, lho;

  Tujuan: Penutur menyuruh dikenalke karo roni MT untuk diam penggunaan interferensi

  MT berbicara dengan M3: Wes to meneng, ke dalam bahasa Jawa: keras dan mengganggu

  Tindak verbal: direktif

  ki mumet le nggawe

  penutur

  wes, meneng, mumet,

  Tindak perlokusi: mt diam

  ini lho! nggawe

  Penutur berkomentar sinis karena merasa terganggu dengan mt

  9. Cuplikan Tuturan 68 (E9) Mengancam muka

  Intonasi perintah Saat sedang berkumpul di Tuturan terjadi di perpustakaan, lima sepihak perpustakaan ruang diskusi Nada tutur: tinggi

  M1: eh ini pie sii mahasiswa sedang USD tanggal 23 november

  (marah) kajian pustakane? mengerjakan proposal 2012 pukul 12.10 WIB

  Tekanan: keras Pake buku yang mana skripsi masing-masing.

  Penutur dan MT perempuan Pilihan kata: kata

  237

KORPUS DATA DAN TABULASI DATA KETIDAKSANTUNAN BERBAHASA YANG MENGANCAM MUKA SEPIHAK

  rampung kok! Wes diajak kumpul do gak moro bajigur to (E11)

  Penutur menanggapi sinis Mengancam muka sepihak

  Tuturan terjadi di ruang K22 mata kuliah semantic pukul

  14.35 WIB tanggal 22 november 2012 Penutur dan MT perempuan

  (20th) mahasiswa Angkatan 2010

  Tujuan: Penutur menanggapi MT sekenanya

  Tindak verbal: ekspresif Tindak perlokusi: mt bertanya kepada orang lain

  11. Cuplikan Tuturan 70 M1: wes rampung laporane Jo? M2: Asu rung

  Intonasi berita Nada tutur: tinggi

  penggunaan kata tidak baku: sok Saat perkuliahan semantik, ada dua mahasiswa yang duduk di belakang.

  (marah) Tekanan: keras Pilihan kata: kata nonstandar yaitu penggunaan kata fatis:

  kok, to, do; penggunaan

  interferensi ke dalam Suasana di luar kelas, sedang menunggu kelas berikutnya. Beberapa mahasiswa duduk-duduk dan berbincang satu sama lain, gaduh

  MT menanyakan tentang laporan PPL yang merupakan satu kelompok

  Mengancam muka sepihak Tuturan terjadi di depan ruang K21 pukul 13.55 WIB tanggal 28 november 2012

  Penutur dan MT laki-laki (21th) mahasiswa Angkatan 2009

  Tujuan: Penutur menyampaikan kemarahannya kepada MT

  MT bertanya kepada penutur tentang temannya yang duduk di depan

  238

  coba? M2: Kowe ki meneng

  Penutur berkomentar pedas pada MT (21th) mahasiswa Angkatan 2009

  to, asem kok!

  nonstandar yaitu penggunaan kata fatis:

  ki, to, kok; Penggunaan

  interferensi dalam bahasa Jawa: kowe,

  meneng; penggunaan

  kata jargon yaitu umpatan: asem Beberapa mahasiwa berbincang dengan serunya

  MT berbicara dengan kerasnya dan penutur terganggu

  Tujuan: Penutur menyuruh MT diam

  penggunaan interferensi ke dalam bahasa Jawa: ngopo,

  Tindak verbal: direktif Tindak perlokusi: mt diam 10.

  Cuplikan Tuturan 69

  M1: eh cewek sing nanggo klambi kembang-kembang kae sopo yoo? Sik lungguh neng ngarep kae lho? M2: Ngopo to sok

  takon-takon? (E10)

  Intonasi Tanya Nada tutur: sedang

  (sindiran) Tekanan: sedang Pilihan kata: kata nonstandar yaitu penggunaan kata fatis:

  too;

  takon-takon;

KORPUS DATA DAN TABULASI DATA KETIDAKSANTUNAN BERBAHASA YANG MENGANCAM MUKA SEPIHAK

  kowe! bahasa Jawa: rung, dengan penutur

  Tindak verbal: asertif

  rampung, gak, moro,

  Penutur dan MT Tindak pelokusi: mt

  kowe; penggunaan kata

  merupakan teman akrab menyelesaikan laporan PPL jargon yaitu umpatan: Penutur menanggapi

  asu, bajigur

  dengan agak emosi

  12. Cuplikan Tuturan 71 (E12) Mengancam muka

  Intonasi berita Suasana di luar kelas, Tuturan terjadi di depan sepihak sedang menunggu kelas ruang K21 pukul 13.55 WIB

  Nada tutur: sedang M1: ngapain e kamu berikutnya. Beberapa tanggal 28 november 2012

  (sindiran) mel? mahasiswa duduk-duduk

  Penutur (21 th)dan MT (22th) Tekanan: sedang

  M2: gak ngapa- dan berbincang satu sama perempuan mahasiswa

  Pilihan kata: kata ngapain kok lain, gaduh angkatan 2009 nonstandar yaitu

  M1: Kamu sekarang penggunaan kata tidak penutur dan MT Tujuan: penutur

  sombong banget mel!

  merupakan teman akrab menyampaikan baku: banget kekecewaannya atas tingkah penutur mengutarakan kekesalannya karena MT MT tidak memberikan respon

  Tindak verbal: ekspresif yang baik pada penutur Tindak perlokusi: mt memberikan respon yang penutur menyampaikan kekecewaannya dengan baik suara keras

  13. Cuplikan Tuturan 72 (E13) Mengancam muka

  Intonasi berita Saat setelah kuis Tuturan terjadi di depan sepihak penyuntingan selesai, lalu ruang K21 pukul 14.20 WIB

  Nada tutur: sedang M1: aku sik ngoreksi dilanjut dengan koreksi tanggal 28 november 2012

  (sindiran) nggonamu lembar Jawab oleh

  Penutur dan MT laki-laki Tekanan: sedang

  M2: Nek entuk elek mahasiswa, suasana agak

  (21th) mahasiswa angkatan Pilihan kata: kata

  tak tuntut kowe!

  gaduh 2009 nonstandar yaitu penggunaan interferensi

  Penutur dan MT Tujuan: penutur mengancam merupakan teman akrab MT ke dalam bahasa Jawa:

  neg, entuk, elek, tak,

  Penutur memberikan Tindak verbal: ekspresif ancaman terkait hasil

  kowe

  Tindak perlokusi: mt koreksi yang dilakukan mengoreksi dengan benar

  239

KORPUS DATA DAN TABULASI DATA KETIDAKSANTUNAN BERBAHASA YANG MENGANCAM MUKA SEPIHAK

  13.45 WIB tanggal 23 november 2012 Penutur (22th) dan MT (21th) perempuan mahasiswa angkatan 2009

  (marah) Tekanan: keras Pilihan kata: kata nonstandar yaitu penggunaan interferensi ke dalam bahasa Jawa:

  yo, ben

  Situasi ketika beberapa mahasiswa sedang duduk di depan secretariat dan berbincang-bincang, ada mahasiswa sedang menikmati bakso dari bungkus plastik

  Beberapa teman menyindir dan menertawakan penutur

  Penutur menanggapi dengan ketus Mengancam muka sepihak

  Tuturan terjadi di depan secretariat PBSID pukul

  Tujuan: penutur menanggapi ketus MT Tindak verbal: ekspresif Tindak perlokusi: mt berhenti menertawakan pt

  mati sekalian! (E15)

  16. Cuplikan Tuturan 75 M1: eh mosok si mereka putus?

  (E16)

  Intonasi berita Nada tutur: tinggi

  (marah) Saat sedang diskusi kelompok di kelas, ada dua mahasiswa yang

  Mengancam muka sepihak Tuturan terjadi di kelas mata kuliah pengembangan media

  BIPA pukul 14.30 WIB

  Itonasi berita Nada tutur: tinggi

  240

  oleh MT 14.

  engko, neng, tenanan;

  Cuplikan Tuturan 73

  M1: aku neng kene ae lah M2: yowes aku tak neng kantin sik, engko kabari aku M1: (diam) M2: Engko kabari

  aku, aku neng kantin. Aku tenanan ini cuk!

  M1: ohh (sibuk

  dengan hanponenya ) (E14)

  Intonasi berita Nada: tinggi (marah) Tekanan: keras Pilihan kata: kata nonstandar yaitu penggunaan interferensi ke dalam bahasa Jawa:

  penggunaan kata jargon yaitu umpatan: cuk Suasana di depan secretariat PBSID beberapa mahasiswa sedang menunggu untuk bertemu dengan dosen.

  tertawa )

  Penutur dan MT merupakan satu kepanitiaan

  Penutur memperingatkan MT dengan nada tinggi untuk mengabarinya karena MT tidak terlalu merespon omongannya

  Mengancam muka sepihak Tuturan terjadi di depan sekretariat PBSID pukul

  13.15 WIB tanggal 30 november 2012 Penutur (22th) dan MT (20th) laki-laki mahasiswa angkatan

  2010 Tujuan: penutur memperingatkan MT Tindak verbal: direktif Tindak perlokusi: mt memberi kabar pada pt pt

  15. Cuplikan Tuturan 74 M1: kok kamu makan bakso kayak gitu mel? eh itu plastiknya kamu makan juga? (sambil

  M2: Yo ben! Ben

KORPUS DATA DAN TABULASI DATA KETIDAKSANTUNAN BERBAHASA YANG MENGANCAM MUKA SEPIHAK

  (marah) Tekanan: keras Penggunaan kata fatis:

  Tindak verbal: ekspresif Tindak perlokusi:mt member penjelasan yang lebih jelas

  Tujuan: penutur menyampaikan kekecewaannya terhadap sikap mt

  Penutur dan mt (20th) laki- laki mahasiswa angkatan 2011 USD

  Tuturan terjadi di depan ruang lab bahasa pukul 11.00 WIB tanggal 22 november 2012

  MT Mengancam muka sepihak

  MT merespon sekenanya Penutur menyampaikan kekecewaannya kepada

  Penutur dan MT teman sekelas Penutur hendak mengonfirmasi uang yang telah dipinjamkannya untuk membayar uang kuliah pada MT

  Saat sedang jeda kuliah, di depan kelas, suasana ramai

  Pilihan kata: kata nonstandar yaitu penggunaan kata tidak baku: uda, pinjemin; penggunaan kata jargon yaitu umpatan: asu

  tu, yaa

  241

  M2: iyaa kok, kamu gak tau po? Distatus fbnya kan ada M3: eh kalian ini diem kenapa to? M1: apaan sii kamu…. M3: Lain kali aku

  gila yaa syukur- syukur uda aku pinjemin! (E17)

  M1: Asu! Kamu tu

  melemparkan tangan kepada M1 )

  17. Cuplikan Tuturan 76 M1: gimana SKSnya uda kamu bayar? M2: aahh taulaah pusing aku (sambil

  Tindak verbal: ekspresif Tindak perlokusi: mt sadar akan tingkah lakunya dan meminta maaf pada pt

  Tujuan; penutur menyampaikan keekcewaannya kepada MT

  Penutur (19th) laki-laki, MT (19th) perempuan mahasiswa angkatan 2011

  MT tetapi MT menghiraukannya Penutur mengungkapkan kekecewaannya tanggal 27 november 2012

  Penutur dan MT teman satu kelompok MT asyik berbincang sendiri Penutur memperingatkan

  Tekanan: sedang Pilihan kata: kata nonstandar yaitu penggunaan kata tidak baku: gak, sama, males sibuk berbincang- bincang sendiri, suasana tenang, serius

  gak mau sekelompok lagi sama kamu! Males!

  Intonasi berita Nada tutur: tinggi

  

KORPUS DATA DAN TABULASI DATA

KETIDAKSANTUNAN BERBAHASA YANG MENGHILANGKAN MUKA

242

NO. TUTURAN KODE PENANDA KETIDAKSANTUNAN PERSEPSI KETIDAKSANTUNAN

  1. Cuplikan Tuturan 47 M1: bener yaa nanti dikasih? M2: iya nanti dikasih pak wid M1: bener yoo? M2: Iyaa bener,

  (D2)

  Tujuan: Penutur mengejek teman yang bernama Seno Tindak verbal: ekspresif Tindak perlokusi: mt ikut

  K303 pukul 14.15 WIB tanggal 20 november 2012 Penutur dan MT perempuan berumur 20 tahun mahasiswa Angkatan 2010

  Menghilangkan muka Tuturan terjadi di ruang

  Mt ikut menggoda pt Penutur mengomentari godaan mereka

  Saat setelah para mahasiswa mengoreksi jawaban mahasiswa yang lain, dosen menggoda salah satu mahasiswa perempuan

  tu

  (sindiran) Tekanan: lemah Pilihan kata: kata nonstandar yaitu penggunaan kata fatis:

  Intonasi berita Nada tutur: sedang

  2. Cuplikan Tuturan 48 D1: ini tulisannya hesti love aziz.. kalo kamu Seno aziz ya? M1: hahaha seno aziz M2: Seno azis tu cocok.

  nanti dikasih pak Wid! Yaa ampuun… (D1)

  INFORMASI INDEKSAL LINGUAL NONLINGUAL (Topik dan Situasi)

  Angkatan 2010 berumur 20 tahun Tujuan: Penutur menanggapi pertanyaan MT yang berkali-kali diutarakan

  12.00 WIB tanggal 20 november 2012 Penutur perempuan dan MT laki-laki, mahasiswa

  Menghilangkan muka Tuturan terjadi di kelas K29 setelah mata kuliah filsafat ilmu pengetahuan pukul

  Saat setelah perkuliahan berakhir, mahasiswa dari kelas yang berbeda menghampiri dan berbincang dengan mahasiswa yang baru saja mengikuti perkuliahan di dalam kelas, suasana agak gaduh, santai. Penutur menanggapi MT dengan intonasi tinggi karena MT bertanya terus menerus dan seolah tidak mengindahkan jawaban penutur

  yaa ampuun

  (marah, kcewa) Tekanan: sedang Pilihan kata: kata nonstandar yaitu penggunaan kata tidak baku: bener, dikasih; penggunaan kata seru:

  Intonasi berita Nada tutur:tinggi

  Tindak verbal: ekspresif Tindak perlokusi: Mt percaya pada pt

  

KORPUS DATA DAN TABULASI DATA

KETIDAKSANTUNAN BERBAHASA YANG MENGHILANGKAN MUKA

243

  cantik yaa kayak cewek.

  Tujuan: Penutur mengejek MT yang memiliki kaki seperti anak perempuan

  ) dan mitra tutur laki-laki (19th) mahasiswa Angkatan 2011

  th

  13.05 WIB tanggal 21 november 2012 Penutur perempuan (19

  Menghilangkan muka Tuturan terjadi di depan laboratorium bahasa pukul

  MT membuka sepatunya Penutur mengomentari kaki MT dengan suara keras di tengah teman mahasiswa yang lain sehingga menimbukan tertawaan

  Saat sebelum masuk ke dalam lab bahasa, para mahasiswa melepaskan sepatunya di depan lab. Suasana agak gaduh

  iih

  (sindiran) Tekanan: sedang Pilihan kata: kata nonstandar yaitu penggunaan kata tidak baku: kayak, cewek; penggunaan kata fatis:

  Intonasi berita Nada tutur: sedang

  (D4)

  M1: ahh iya kakiku emang gini kok.

  4. Cuplikan Tuturan 50 M1: duh.. susah banget ni buka sepatu M2: Iih kakimu

  tertawa dengan candaan pt

  Tindak perlokusi: mt mengikuti cara penyampaian nilai PT kepada dosen

  Tindak verbal: direktif (kesal)

  Tujuan: Penutur memberitahu cara menyampaikan nilai kepada dosen

  K303 pukul 14.15 WIB tanggal 20 november 2012 Penutur perempuan, MT laki-laki berumur 20 tahun mahasiswa Angkatan 2010

  Menghilangkan muka Tuturan terjadi di ruang

  Terdapat dua kuis sehingga ada dua nilai MT menyampaikan nilai kepada dosen Penutur kesal dengan cara penyampaian mt

  Saat setelah pengoreksian lembar jawab, dosen memanggil nama mahasiswa dan mencatat nilainya, suasana agak gaduh tapi serius

  ihh, kali

  (marah) Tekanan: keras Pilihan kata: kata nonstandar yaitu penggunaan kata tidak baku: gak, usah, pake; penggunaan kata fatis:

  Intonasi perintah Nada tutur: tinggi

  pake yang pertama kedua kali! Kelamaan‼ (D3)

  3. Cuplikan Tuturan 49 D1: Elisabeth berapa nilainya? M1: nilai yang pertama tujuh puluh, nilai yang kedua seratus pak M2: Iih gak usah

  Tindak verbal: ekpresif

  

KORPUS DATA DAN TABULASI DATA

KETIDAKSANTUNAN BERBAHASA YANG MENGHILANGKAN MUKA

244

  Intonasi berita Nada tutur: tinggi

  ) perempuan mahasiswa Angkatan 2011 Tujuan: Penutur memperingatkan MT yang berisik

  th

  ) dan MT (19

  th

  Penutur laki-laki (19

  WIB tanggal 21 november 2012

  Menghilangkan muka Tuturan terjadi di K29 mata kuliah sintaksis pukul 11.35

  Penutur mempringatkan MT

  Penutur merasa terganggu dengan MT yang terus berbicara padahal perkuliahan sedang berangsung dan dosen sedang menjelaskan materi

  Saat perkuliahan sistaksis, ada mahasiswa yang duduk di belakang berbincang dengan mahasiswa yang duduk di depan dengan suara keras

  (marah) Tekanan: keras Pilihan kata: kata nonstandar yaitu penggunaan kata seru: ztt

  kamu! (D6)

  Tindak perlokusi: mt merasa diperhatikan

  6. Cuplikan Tuturan 52 M1: eh iya kan kemaren sore aku belanja baju murah- murah lhoo M2: mosok sii? belanja dimana e kamu? M1: itu lhoo deketnya KFC namae De Pujja tu lagi diskon M3: Ztt berisik

  Tindak verbal: direktif Tindak perlokusi: mt mengikuti omongan pt

  Tujuan: Penutur mengejek MT

  K22 pukul 14.45 WIB tanggal 21 november 2012 Penutur perempuan berumur 21 tahun dan MT perempuan berumur 22 tahun mahasiswa Angkatan 2009

  Menghilangkan muka Tuturan terjadi di ruang

  MT berdiri di depan penutur Penutur berkomentar kepadanya

  Saat para mahasiswa sedang menunggu kelas berikutnya, MT menghampiri beberapa mahasiswa, suasana gaduh, santai

  pose

  (sindiran) Tekanan: sedang Pilihan kata: kata nonstandar yaitu penggunaan kata tidak baku: trus; kata populer:

  Intonasi perintah Nada tutur: sedang

  kamu pose, trus kamu keluar. (D5)

  5. Cuplikan Tuturan 51 M1: hay, lagi ngomongin apa e? M2: Mel, sekarang

  Tindak verbal: eskpresif Tindak perlokusi: mt tidak berisik lagi

  

KORPUS DATA DAN TABULASI DATA

KETIDAKSANTUNAN BERBAHASA YANG MENGHILANGKAN MUKA

245

  th

  Tujuan: penutur merespon MT untuk bahan tertawaan teman-teman

  Penutur dan MT laki-laki (21th) mahasiswa angkatan 2009

  WIB tanggal 28 november 2012

  Menghilangkan muka Tuturan terjadi di depan ruang K21 pukul 13.55

  Suasana di luar kelas, sedang menunggu kelas berikutnya. Beberapa mahasiswa duduk-duduk dan berbincang satu sama lain, gaduh penutur dan MT merupakan teman sekelas penutur menanggapi MT yang membicarakan hidung yang kurang mancung tetapi dengan kata pedas dan suara

  anggere, untune, wes

  (sindiran) Tekanan: sedang Pilihan kata: kata nonstandar yaitu penggunaan interferensi ke dalam bahasa jawa:

  Intonasi berita Nada tutur: sedang

  wes mancung! (D8)

  8. Cuplikan Tuturan 54 M1: wes apik kok potongan rambutmu M2: tapi ono sik kurang eh M1: opo sik kurang? M2: irunge kurang mancung M3: Anggere untune

  Tujuan: Penutur mengejek cara berdiri MT Tindak verbal: asertif Tindak perlokusi: mt membenarkan cara berdirinya

  ) mahasiswa Angkatan 2011

  ) dan MT laki-laki (20

  7. Cuplikan Tuturan 53 M1: lha iyo, ayo dolan neng endi ngono lhoo.. cumplng ki aku M2: yok dolan, neng Joglo Manis we yoo M3: Danang ki koyo

  th

  Penutur perempuan (20

  Menghilangkan muka Tuturan terjadi di depan ruang K29 setelah mata kuliah sintaksis pukul 12.05 WIB tanggal 21 november 2012

  Penutur berkomentar dengan suara keras sehingga menimbulkan tawa pada teman-teman yang disekitarnya

  Penutur teman sekelas MT

  MT berdiri dengan posisi kaki kanan menyilang di depan kaki kiri

  Saat setelah perkuliahan sintaksis, beberapa mahasiswa berkumpul dan berbincang-bincang di depan ruang K29, suasana santai dan gaduh

  tenan, wes, sikile, ngono, neh, rambute

  interferensi ke dalam bahasa jawa: koyo,

  ki; penggunaan

  (sindiran) Tekanan: sedang Pilihan kata: kata nonstandar yaitu penggunaan kata fatis:

  Intonasi berita Nada tutur: sedang

  cewek tenan wes sikile koyo ngono neh rambute gondrong. (D7)

  Tindak verbal:ekspresif Tindak pelokusi: mt ikut tertawa dengan candaan pt

  

KORPUS DATA DAN TABULASI DATA

KETIDAKSANTUNAN BERBAHASA YANG MENGHILANGKAN MUKA

246

  Tuturan terjadi di depan ruang K21 pukul 14.05 WIB tanggal 28 november 2012

  Menghilangkan muka Tuturan terjadi dalam kepanitiaan bulan dan pekan bahasa tanggal 1 desember 2012

  MT teman penutur, dan MT memiliki jabatan

  Saat dalam acara prodi, beberapa panitia sedang berkumpul untuk melihat jalannya acara, suasana ramai, meriah

  (marah) Tekanan: keras Pilihan kata: kata nonstandar yaitu penggunaan kata fatis:

  Intonasi berita Nada tutur: tinggi

  (D10)

  10. Cuplikan Tuturan 56 M1: ini gimana kok banyak masalah gini? M2: aku udah siapin semuanya dari kemaren, mereka aja

  Tindak verbal: ekspresif Tindak perlokusi: mt minta maaf dan tidak membohongi pt

  Tujuan: penutur menyampaikan kekecewaan MT yang telah membohonginya

  Penutur dan MT laki-laki (21th) mahasiswa angkatan 2009

  MT dengan kata pedas Menghilangkan muka

  keras sehingga menimbulkan gelak tawa

  suasana di dalam kelas mata kuliah penyuntingan, akan dimulai kuis pertama, beberapa mahasiswa sedang berbincang, agak gaduh penutur menyampaikan kepada teman-teman bahwa salah satu mahasiswa tidak bisa hadir mengikuti kuis tetapi tiba-tiba mahasiswa tersebut muncul dan duduk di depan penutur penutur merasa dipermalukan oleh mahasiswa itu (MT) penutur menyampaikan kekecewaannya kepada

  bajingan, keparat

  kata jargon yaitu penggunaan umpatan:

  kowe, ngapusi, wong;

  (marah) Tekanan: keras Pilihan kata: kata nonstandar yaitu penggunaan interferensi ke dalam bahasa jawa:

  Intonasi berita Nada tutur: tinggi

  (D9)

  M3: aku ketinggalan kereta..

  keparat, kowe ngapusi wong!

  9. Cuplikan Tuturan 55 M1: lho kok kowe mlebu, jarene bali? M2: Bajingan,

  Penutur dan MT (21th) laki- laki mahasiswa angkatan 2010

  

KORPUS DATA DAN TABULASI DATA

KETIDAKSANTUNAN BERBAHASA YANG MENGHILANGKAN MUKA

  tu yang gak nii; kata jargon yaitu yang lebih tinggi dalam Tujuan: penutur konfirmasi ke pihak penggunaan umpatan: kepanitiaan menyampaikan kita. sial, bacot; penggunaan keekcewaannya kepada MT

  MT memarahi penutur di M1: aku gak mau tau, kata slang: lu depan banyak orang

  Tindak verbal: ekspresif slesein masalah ini Penutur mengungkapkan

  Tindak perlokusi: mt secepetnya. Tanggung kekecewaannya instropeksi diri dan mitra jawablah kamu CO maaf kepada pt perkap

  M2: Sial bener ni

  orang! Banyak bacot lu!

  11. Cuplikan Tuturan 57 (D11) Menghilangkan muka

  Intonasi Tanya Saat ada beberapa Tuturan terjadi di ruang mahasiswa berkumpul di K46 pukul 13.50 WIB Nada tutur: tinggi

  M1: eh kamu itu lho, hall tengah, suasana tanggal 5 desember 2012

  (marah) celana ama baju kok ramai, santai

  Penutur dan mt perempuan Tekanan: sedang

  th

  gak match gitu to (19 ) mahasiswa angkatan

  Penutur dan mt teman Pilihan kata: kata

  M2: hoo, warnane sekelas

  2011 nonstandar yaitu nubruk-nubruk penggunaan kata faris:

  Penutur menghampiri Tujuan: penutur M1: aneh tau diliat

  MT menyampaikan

  si; penggunaan kata tuu..

  kekesalannya tidak baku: banget, MT mengomentari dan

  M3: Sirik banget si menyindir penampilan

  emang, situ

  Tindak verbal: ekspresif

  jadi orang, suka-

  penutur berkali-kali Tindak perlokusi: mt

  suka akulah.. emang

  dengan suara keras di berhenti menghina pt

  situ OK?

  depan banyak orang

  12. Cuplikan Tuturan 58 (D12) Menghilangkan muka

  Intonasi berita Saat sedang presentasi di Tuturan terjadi di ruang kelas, terdapat sesi K22 pukul 15.55 WIB Nada tutur: tinggi

  M1: dari tadi Anda Tanya jawab dan ada ketika presentasi makalah

  (marah) hanya menjelaskan mahasiswa yang mata kuliah seminar

  Tekanan: sedang teori-teori saja dan mengajukan pertanyaan tanggal 29 november 2012

  Pilihan kata: kata

  

247

  

KORPUS DATA DAN TABULASI DATA

KETIDAKSANTUNAN BERBAHASA YANG MENGHILANGKAN MUKA

  itupun hanya berputar- nonstandard yaitu p MT mendesak dan Penutur dan mt (21th) laki- putar. Tolong enggunaan kata fatis: menyindir penutur yang laki mahasiswa angkatan dijelaskan juga contoh toh; kata ilmiah: konkret presentasinya tidak 2009 konkretnya supaya mencantumkan contoh

  Tujuan: penutur saya dan teman-teman konkret dalam menanggapi pertanyaan mt jelas dengan makalahnya

  Tindak verbal: ekspresif presentasi Anda! Penutur menanggapi

  Tindak perlokusi: mt M2: Saya tidak perlu dengan sinis mengganti pertanyaan atau

  memberikan contoh

  tidak bertanya lagi kepada

  konkretnya, toh di

  pt

  sini semuanya mahasiswa!

  13. Cuplikan Tuturan 59 (D13) Menghilangkan muka

  Intonasi berita Saat sedang presentasi Tuturan terjadi di ruang makalah dalam kelas, K22 pukul 15.30 WIB Nada tutur: sedang

  M1: jika dilihat dari ada sesi tanggapan dari ketika presentasi makalah

  (sindiran) judul, judul kurang pembahas utama untuk mata kuliah seminar

  Tekanan: sedang spesifik sehingga pemakalah, suasana tanggal 29 november 2012

  Pilihan kata: kata ilmiah membuat pembaca serius, tenang yaitu direvisi

  Penutur dan mt (21th) tidak begitu jelas. perempuan mahasiswa

  Penutur pemakalah dan Untuk pemakalah

  MT pembahas utama angkatan 2009 USD dapat merevisi judul Penutur menanggapi Tujuan: penutur memberi makalahnya. tanggapan dari MT kejelasan/menegaskan

  M2: Terima kasih mengenai judul terhadap masukan mt

  atas masukannya,

  makalahnya Tindak verbal: ekspresif

  sebenarnya judul

  Tindak perlokusi: mt

  saya ini sudah

  memberi masukan yang lain

  direvisi oleh ibu Yuli. Jadi saya tidak . mengubahnya lagi

248

  PARAMETER PENENTU KETIDAKSANTUNAN BERBAHASA Lingual Nonlingual No Jenis Implikatur Contoh Cuplikan . Ketidaksantunan Tambahan Tuturan Nada Tekanan Intonasi Diksi Situasi Suasana

  1. Kesembronoan Tuturan Tuturan Intonasi Nonstandar Tempat Keadaan 1. (mitra tutur diminta tindak verbal dikatakan dikatakan berita terjadinya sekitar ekspresif

  guru maju ke depan

  dengan dengan (turun) dan suatu sesuatu/ 2. kelas ) tindak nada sedang tekanan intonasi tuturan: di dalam perlokusi

  A: “Semangat yaah (sindiran) sedang tanya (naik) mana saja lingkungan umumnya Desti babon.

  

  dan nada sesuatu: membuat

  B: (diam saja) rendah santai mitra tutur

  (pemberi- terhibur, tahuan) tetapi tidak menutup kemungkinan kesembronoan yang disengaja tersebut dapat menimbulkan konflik

  2. Memain-mainkan Tuturan Tuturan Intonasi Nonstandar Tempat Keadaan 1.

  A: “Hari ini kita kuis tindak verbal

  Muka dikatakan dikatakan berita terjadinya sekitar ekspresif, lagi ya? ” dengan dengan (turun) dan suatu sesuatu/ tindak verbal

  B: “Soalnya berapa nada sedang tekanan intonasi tuturan: di dalam asertif, dan pak?

  ” (sinis, sedang tanya (naik) mana saja lingkungan tindak verbal

  A: “50 soal” sindiran) sesuatu: direktif

  B: “Soalnya 50? Yaa santai,

  2. ampun pak!

  

  tindak serius perlokusi: umumnya mitra tutur memberi penjelasan,

  249

PARAMETER PENENTU KETIDAKSANTUNAN BERBAHASA

  berhenti menimbulkan kejengkelan

  3. Melecehkan Muka Tuturan Tuturan Intonasi Nonstandar Tempat Keadaan 1.

  A: “Pak ini tindak verbal dikatakan dikatakan berita terjadinya sekitar ekspresif dan nyimpannya di mana dengan dengan (turun), suatu sesuatu/ tindak verbal sih pak? Dinilai gak nada sedang tekanan intonasi tuturan: di dalam direktif Pak?

  ” (sinis, sedang tanya mana saja lingkungan 2.

  B: “Ini latihan saja tindak sindiran) (naik), dan sesuatu: perlokusi: supaya kalian ingat dan nada intonasi santai dan umumnya lagi. Simpan saja di D, tinggi perintah serius mitra tutur beri nama kalian (marah, (tinggi) merespon masing-masing.

  ” kecewa) tetapi

  B: “Aah susah-susah terpaksa bikin gak dinilai karena luka Pak!

  

  hati

  4. Mengancam Muka Tuturan Tuturan Intonasi Nonstandar Tempat Keadaan 1.

  A: “Eh sik ngoreksi tindak verbal dikatakan dikatakan berita terjadinya sekitar ekspresif dan nggonamu aku lhoo

  ” dengan dengan (turun), suatu sesuatu/ tindak verbal B:

  “Hoo po?” nada tinggi tekanan intonasi tuturan: di dalam direktif A:

  “Hoo laah” (marah, keras dan tanya mana saja lingkungan 2.

  B: “Neg entuk elek tindak kecewa) tekanan (naik), dan sesuatu: perlokusi: tak tuntut kowe!

  

  dan sedang sedang intonasi tegang, umumnya (sindiran, perintah serius mitra tutur sinis) (tinggi) melakukan sesuatu yang diminta penutur walaupun secara terpaksa

  250

PARAMETER PENENTU KETIDAKSANTUNAN BERBAHASA

  251

  5. Menghilangkan Muka

  Tuturan dikatakan dengan nada tinggi (marah, kecewa) dan nada sedang (sindiran)

  Tuturan dikatakan dengan tekanan keras dan tekanan sedang

  Intonasi berita (turun), intonasi tanya (naik), dan intonasi perintah (tinggi)

  Nonstandar Tempat terjadinya suatu tuturan: di mana saja

  Keadaan sekitar sesuatu/ dalam lingkungan sesuatu: tegang, serius, dan santai 1. tindak verbal ekspresif dan tindak verbal direktif

  2. tindak perlokusi: umumnya mitra tutur merespon dan segera melakukan sesuatu

  A: “Pak gak keliatan.”

  B: “Yang mana?”

  A: “Pak tulisannya gak jelas

  ”

  B: “Kalau kamu gak

  bisa liat jelas cepat maju sini! gak tahu diri.

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

  Caecilia Petra Gading May Widyawari, dilahirkan di Jepara tanggal 19 Mei 1992. Ia menamatkan pendidikan tingkat sekolah dasar di SD Negeri 2 Bugo, Jepara, Jawa Tengah. Ia melanjutkan ke SMP dan menamatkan pendidikan sekolah menengah pertama di SMP Negeri 1 Welahan, Jepara pada tahun 2006. Tiga tahun kemudian menamatkan pendidikan sekolah tingkat menengah atas di SMA Negeri 1 Jepara pada tahun 2009. Setelah lulus SMA, ia menempuh studi di Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Ia lulus dari Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah pada tahun 2013.

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Kesantunan berbahasa dalam kegiatan diskusi kelas mahasiswa PBSI Universitas Sanata Dharma angkatan 2014.
2
18
333
Ketidaksantunan linguistik dan pragmatik berbahasa antara dosen dan mahasiswa Program Studi PBSID, FKIP, USD angkatan 2009-2011.
0
0
2
Ketidaksantunan linguistik dan pragmatik berbahasa antar mahasiswa Program Studi PBSID angkatan 2009-2011 Universitas Sanata Dharma.
5
12
274
Ketidaksantunan linguistik dan pragmatik berbahasa antara guru dan siswa di SMA Stella Duce 2 Yogyakarta tahun ajaran 2012/2013.
0
1
257
Hubungan antara jenis pekerjaan orang tua dan prestasi belajar dengan minat berwirausaha mahasiswa : studi kasus mahasiswa Program Studi Pendidikan Ekonomi angkatan 2003-2004 Universitas Sanata Dharma Yogyakarta - USD Repository
0
0
107
Persepsi mahasiswa tentang metode pengajaran dosen Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Sanata Dharma - USD Repository
0
0
121
Profesi, posisi jabatan, dan kebutuhan peningkatan kualitas SDM alumni Program Studi Pendidikan Ekonomi Universitas Sanata Dharma : studi kasus alumni Program Studi Pendidikan Ekonomi Universitas Sanata Dharma angkatan 2001 s.d 2003 - USD Repository
0
0
121
Studi deskriptif tentang androgenitas pada mahasiswa fakultas psikologi Universitas Sanata Dharma - USD Repository
0
0
186
Studi deskriptif motivasi berorganisasi pada mahasiswa Universitas Sanata Dharma - USD Repository
0
0
133
Perilaku mahasiswa dalam mengkonsumsi buku : studi pada mahasiswa Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta - USD Repository
0
0
122
Studi deskriptif conflict management style mahasiswa Universitas Sanata Dharma - USD Repository
0
0
120
Studi deskriptif kuantitatif persepsi mahasiswa mengenali nilai-nilai Universitas Sanata Dharma - USD Repository
0
0
109
Pengaruh jiwa berwirausaha dan latihan berwirausaha terhadap minat berwirausaha mahasiswa : studi kasus pada mahasiswa Program Studi Pendidikan Akuntansi dan Pendidikan Ekonomi angkatan 2008 Universitas Sanata Dharma - USD Repository
0
0
151
Deskripsi motivasi belajar mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma angkatan tahun 2010 - USD Repository
0
0
92
Ketidaksantunan linguistik dan pragmatik berbahasa antara guru dan siswa di SMA Stella Duce 2 Yogyakarta tahun ajaran 2012/2013 - USD Repository
0
0
255
Show more